Skip to main content

haduh gws

Page 1

; F, 12/2023


Awalnya, aku mau bikin zine ini untuk ulang tahunnya Haechan, tapi udah kelewat dari Juni lalu dan tentunya jumlahnya bukan 23 catatan seperti yang kurencanakan (dia ilang tahun ke-23) karena mentok ide.

selamat.

tersesat dalam zine yang masih asal-asalan ini.

p.s: may all beings be liberated.


Tetaplah di istanaku dan nyalakan dunia belum berlistrik itu dengan langkah-langkah konyol kita Jauh sudah kita jalan dan ceritamu berlanjut ke part 2 sebelum Pulang Float buat kita floating nggak pulang-pulang Jalan masih panjang, cerita 3 hari Untuk Selamanya kita genggam dalam ingatan Kapan kita akan merekah sebagai Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, kekasih?

Both of us thinking how could it can be, someone is speaking but he doesn't know I'm here modifikasi Here, There, and Everywhere, bahwa each one sudah percaya cinta bisa mati sih kataku, kan durasinya sudah habis dan kita hanya saling mencinta sepanjang durasi


Sebelum Jam 5 Malam masih lesap dan kau masih belum lelap Ada yang mau aku katakan sebelum kau terlelap Malam masih jam satu, kamu katanya baru bisa tidur pukul lima Sebelum pukul lima, kepalamu mikir tentang apa? Gim? Rekomendasi hotpot terenak? Keanu Reeves dalam filem kerennya? Atau kepalamu sedang kerja rodi memikirkan tentang apakah kamu hari ini bahagia, sedih, capek, atau justru di antara? Apa semuanya berkelindan satu per satu sebelum pukul lima? Aku harap lepas pukul lima, lepas pula keresahanmu, ketakutanmu, kemarahanmu.


Ursa Minor Hari ini kamu apa kabar? Aku ramai. Tubuhku ada di laboratorium biokimia dan menonton laboran membaca absorbansi pada spektofotometer. Sekitarku ramai. Kamu pun ramai (dari video yang kutonton). aku senang bercerita denganmu (tentu melalui bahasaku, dan aku nggak butuh alihbahasa), seperti ngobrol dengan diriku sendiri. seperti tiny safe space yang hanya diketahui aku saja untuk bercerita apa saja, utamanya, mimpi-mimpi. atau puisipuisi yang kadang aku geli sendiri. Men, aku sebenarnya harusnya oke aja ngga sih jika puisiku cringe? Sepenuhnya kebebasanku, kan? Nah, itu contohnya aku mengajak ngobrol, tapi biasanya jawabannya sudah kutemukan (atau kujawab) sendiri. Cerita-cerita itu menjadi konstelasi imajiner dan kamu menyimpan baik rahasiaku. Terima kasih sudah secara tidak langsung menyimpan rahasia. Ayo janji kelingking kapan-kapan.


Kaibaibo Hidup ini layak untuk dibercandakan, ngga? Jawaban seriusnya, nggak. Tapi kalau masalah datang dan mentok nggak nemu problem solving-nya, gimana? Tetep nggak bsia dibercandain. Untuk menikmatinya dan males dengan yang serius-serius, untuk keyakinan bahwa kita bisa usahakan kecil-kecilan dulu. tangan temanmu menggenggam tangannya dan kamu membentuk peace, apa lantas kamu menang dalam hidup? Nggak. apa kamu tetap berhak untuk senang? Ya. Apa Hidup ini layak untuk dibercandakan? Hidup emang bercanda sejak awal.


Mau Nangis Penuh sekali kepala kita dengan kecemasan yang ingin kita biarkan pecah, biar semua berceceran di lantai (atau di tanah nanti tumbuh menjadi akar lalu meninggi barang dan menjadi bunga-bunga mekar dari hasil mata air dan air mata) Aku mau menggenggam tanganmu lalu kita menangis bersama sambil dengerin rumahsakit yang duniawi (meskipun kita belum tau arti pastinya, memangnya, apa ada arti pastinya?), orang-orang nggak memperhatikan kita karena surabaya panas dan bikin emosi, nggak pernah slow down karena kejar-kejaran dengan setoran harian. selepas kita menangis, jalan sudah sampai ujung gang, kita lari-larian masih sambil menangis dan menuju kedai kopi favorit untuk membeli americano (untukmu) dan aku beli indomie (ga suka kopi). di sini, kita sudah nggak menangis karena takut dihakimi orang, karena malas kalau sampai tersedak, karena malas waktu lihat di kaca matanya sembab. sehabis itu malam jatuh dan kita keluar dari kedai kopi, memutuskan untuk menangis lagi, sambil berjalan ke indekos masing-masing, isi kepala masih berceceran, seluruhnya. tetapi lega rasanya bisa menangis dan membongkar satu-satu katakata.


Apa Kamu Takut Mati? Berkali-kali kubilang padamu bahwa nggak ada yang bisa menggantikan keberadaanmu di dunia ini dan berkali-kali pula kamu membantah. Harus bagaimana untuk membuatmu membenarkan apa yang kuteriakkan barusan saja? Aku takut sekali kalau besok kamu sudah berada di lembar epilogue buku ini sedangkan aku masih di halaman 21. Kamu seharusnya masih terus bersamaku. Oh tidak tidak, maksudku, asal kamu masih berada di lembaran-lembaran kecuali lembar epilogue, tidak masalah sekalipun nggak bersamaku. "Bagaimana kalau kupaksa menulis epilogue di lembar 22?" "Memang kamu yang berhak menuliskan epilogue ada di lembar berapa" "Ya, aku bisa" Bagaimana aku bisa membuatmu yakin untuk percaya pada hal-hal yang kubisikkan hari ini? Aku sangat takut kamu mati. Apa kamu tidak takut kamu mati? "Aku nggak takut mati, aku jauh lebih takut besok ruang kepalaku masih seperti hari ini." Katamu. "Kalau besok aku masuk ke ruang kepalamu kan berarti besok kondisi ruang kepalamu tidak seperti hari ini?" Aduh aku bodo amat banget, intinya aku mau masuk ke ruang kepalamu dan meyakinkanmu bahwa aku takut kamu mati dan kamu juga harus merasa seperti itu. Karena kita belum.


meredakan,

ita:

berap

ik

a

lama lag

memantaskan, mementaskan,

memerdekakan, mengabaikan, meng-ada-kan menihilkan

menjadi


Catatan ini berkali-kali stop karena ada perbaikan jalan, terperosok dan bercerai jadi puing-puing. Lalu puing-puing kata kembali menemukan jalan menujumu. (semoga) Bagaimana hari lahirmu? Kini hari akhir dari bulan lahirmu dan aku baru sampai tulisan ke-7. Selamat hari lahir dariku.


Jalan Puisi Waktu aku SD kelas empat, katanya baca puisi harus dengan suara bulat, mimik wajah dramatis, dan tangan seperti kampanye. Sekarang, caraku baca puisi justru seperti ngomong sama teman, wajahku sesuai dengan apa yang kubaca, dan tanganku sibuk pegang buku atau kertas puisi saja. Dulu, puisiku tentang bunga mawar dan deskripsi visualnya. Sekarang, puisiku tentang apa aku pun kadang bingung karena kata-kata memilih jalan awal dan jalan pulangnya sendiri. Seringnya dari jantungku dan menuju ke matamu yang lelah. Kata-kata akhirnya membentuk jalan puisi yang berkerikil dan jauh. Perumpamaan meloncat dari jantung ke mata ke jalan ke kerikil sebagai upaya merasa senang karena diksi puisiku kaya, tetapi bohong. Jalan puisiku adalah jalan sunyi kata-kata karena hanya aku yang paham makna sebenarnya. Aku mau agar kau paham sepaham-pahamnya makna dari puisi ini. Daritadi aku cuma ngoceh omong kosong karena sebenarnya aku mau bilang kalau aku raib, waktu kita sudah habis.


Malam ini kamu larut dalam Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka dan menjadi satu mekar dalam taman. Cahaya, entah dari lampu atau matahari, menyelinap dalam kantuk kita.

Kasih merekah-rekah Jari-jari kita bertaut rikuh

Sampai lupa kita pada kemarau dan hujan yang sudah tidak pandang cuaca akankah kita reda?


"Apa kamu tau tentang bintang jatuh?" "Tentang meteoroid yang jatuh ke atmosfer bumi dan membakar dirinya sendiri?" "Tapi kita sekarang nggak lagi membicarakan tentang itu” “Lalu? Tentang mitos kekanakan yang kita percayai bertahun-tahun lalu?” “Ya. Sekarang kita sedang butuh itu, sekalipun dia lahir dari mitos” “Memangnya, apa harapanmu?” “untuk selalu percaya harapan.”


Aku teringat adegan Jane dan Marco dalam Seribu KunangKunang di Manhattan, gimana Jane ngoceh berat tentang harinya yang bosan dan bagaimana Marco menanggapinya asal-asalan. Aku kesel banget sebetulnya mengingat adegan tersebut, tapi aku juga nggak bisa maksa apakah seseorang memiliki antusias yang sama denganku ketika membicarakan sesuatu. Kemudian Marco tergesa untuk pergi dari apartmen dan Jane yang nangis sendirian di kamarnya. Kesepian susah diakui. Susah juga untuk dimungkiri. Apa kita sudah karib dengan kesepian? Aku belum, karenanya aku selalu cari cara untuk pergi dari “sepi” itu, salah satunya dengan nonton cokipku. Tapi nggak bohong kadang masih ada “kosong” Apa beda sepi dan kosong?


Riuh Terangmu

Sebab kemarau sudah usai dan hujan hampir tiba. Begini, sepertinya ini waktu untuk kita melanjutkan jalan? Kamu selalu menjadi terang, dan aku waktu itu berada dalam jalan asing. Saat itu kamu juga sudah terang. Sampai sekarang kamu tetap menjadi terang. Kata berbatas nyata ketika menggambarkan dirimu. Yang pasti aku akrab dengan terangmu. Sebab kemarau hampir usai dan hujan bentar lagi tiba, aku ragu apa aku bisa berganti membawamu ke riuh terangku? Yang redup. Sepertimu yang dulu membawaku ke riuh terangmu. Yang selalu terang. Yang selalu nyala.


Hari ini 11 Juli, satu bulan lebih lima hari dari ulang tahunmu. Aku sudah berencana untuk bikin 23 tulisan, tetapi aku hanya bisa sebelas. Persis seperti tanggal hari ini. Bagaimana kamu meredamkan chaos di akhir hari, bagaimana kamu menjadi rumah aman bagi pikiran-pikiran yang masih lari-lari, bagaimana di rumah itu, rasa-rasanya semua baik-baik saja. Mungkin nggak selalu seperti itu dan nggak oke untuk selalu seperti itu, tapi menurutku sah-sah saja untuk memilih istirahat sebentar, untuk kemudian melanjutkan lari. Atau jalan. Jalan aja. Menurutku, kamu juga sudah menjadi bahagia bagi banyak orang. Waktu hari lahirmu, banyak orang yang juga merayakan dirinya sendiri. Dengan membeli kue, berdandan keren, ucapan-ucapan manis, yang secara tidak mereka sadari juga akan mereka ucapkan, mereka pikirkan, dan mereka aamiin-kan. Begitu juga aku.


k

kepalaku r a m a i jangan berkunjung a m u tidak akan terdengar


khawatir berkelindan, lulus sebentar lagi, mempertanyakan jawaban yang tak akan pernah tersedia dan tak akan mungkin tersedia, mimpi dan pilihan yang telanjur terajut, kehampaan yang akrab, kehilangan diri yang makin sering bahkan saat sedang tidak menstruasi, harapan yang meredup dan susah dinyalakan, sistem jelek

se

p ce

pa

re ke

t a t i d a k me

la

ju

mengakar dalam kita,

at ke

ma r i n?

ken

a


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
haduh gws by zantedescchia - Issuu