Skip to main content

KINTAKA 03 Selebrasi Memori dan Momentum

Page 1

2025

03


IFCS: H U B LOT

J A K A R TA : P L A Z A I N D O N E S I A + 6 2 21 310 7 715


IFCS: H U B LOT

C O D E 11. 5 9 B Y A U D E M A R S P I G U E T


Surat Editor Di balik tema besar edisi ini, “Selebrasi Memori dan Momentum,” tersimpan keyakinan bahwa waktu adalah lensa paling jujur untuk memahami dunia gaya hidup. Ia memberi ruang bagi warisan untuk membangun reputasinya, kreativitas untuk berevolusi menjadi versi terbaiknya, serta manusia untuk berhenti sejenak menafsirkan perjalanannya. Melalui perspektif itu, kami merangkai cerita tentang bagaimana objek, pengalaman, dan gagasan menjadi berarti karena perjalanan waktu yang melingkupinya. Edisi ini mengajak Anda untuk menelisik cara kerja dan peran waktu di berbagai sudut industri gaya hidup. Terkadang ia menjadi saksi bisu melalui memori yang terekam dan kemudian membentuk identitas hari ini. Di lain waktu, ia hadir sebagai momentum dalam rupa kesempatan, pencapaian, maupun pelajaran yang amat berharga.

SHANNON HARTONO Pemimpin Redaksi

4

Dalam bidikan kamera Leica, semua itu terdokumentasi dari masa ke masa. Berawal dari kamera portabel pertama di dunia, Leica merevolusi cara kita merekam realitas. Baik di tangan para jurnalis yang memotret kenyataan di medan perang, maupun seniman yang membentuk ikon budaya, Leica berperan dalam membentuk memori kolektif akan


berbagai peristiwa monumental. Kini, lewat M EV1 terbaru, sang jenama melangkah ke era modern dengan semangat yang sama untuk senantiasa mencatat momen autentik dengan presisi. Pada segmen KARYA, kami menyaksikan bagaimana kenangan dirayakan kembali oleh Clemence Ellery melalui layanan Revamp. Di tangan artisan mereka, perhiasan warisan memperoleh pembaruan rupa agar lebih selaras dengan pemiliknya kini. Dari dunia mode, kami juga menelusuri evolusi desain tas berkelana kreasi Louis Vuitton yang ikonis. Sejak abad ke-18, sang jenama telah menemani perjalanan permaisuri Prancis, selebriti, hingga atlet.

yang menunjukkan bahwa musik adalah arsip waktu paling personal. Dari ranah teknologi, kami berbincang dengan tiga praktisi estetika yang memercayakan teknologi BTL Aesthetics dalam meremajakan kulit layaknya mesin waktu. Sementara di dunia sinema, Yandy Laurens memaknai waktu sebagai dimensi naratif dalam karya sinematografinya. Segmen CERITA menyoroti jaket Bar karya Dior sebagai medium berekspresi pascaperang hingga menjadikannya ikon feminitas yang melampaui zaman, bahkan gender. Dalam dunia wiski, waktu berperan sebagai arsitek rasa

dan karakter, sebagaimana terdapat di dalam botol The Balvenie Fifty Collection Second Edition yang juga mengemas craftsmanship istimewa dan preservasi tradisi ratusan tahun. Melalui kurasi lintas industri dan generasi ini, kami mengajak Anda untuk merayakan waktu dalam bentuknya yang paling manusiawi: penuh kenangan, bergerak maju, namun selalu menyisakan ruang untuk jeda dan apresiasi. Selamat menikmati edisi ini. Semoga setiap halamannya menjadi undangan untuk merayakan perjalanan Anda sendiri, pada ritme yang paling Anda percaya.

Beralih ke segmen PERSONA, kami mendengarkan dialog intim tiga pasangan keluarga musisi—Iis Dahlia dan Salshadilla Juwita, Harvey Malaihollo dan Mikha Tambayong, serta Riafinola Ifani dan Naura Ayu—

(Bawah) Di halaman 30, Clemence Ellery menghadirkan kilau baru pada perhiasan warisan (Kanan) Temukan peran waktu dalam kematangan rasa wiski The Balvenie di halaman 134

S O R O TA N

5


Redaksi

Penerbit

Pemimpin Redaksi

Manajer Bisnis

IRWAN MUSSRY

SHANNON HARTONO

AMELIA WIDHARATNA

Manajer Redaksi

Eksekutif Periklanan

Eksekutif Editorial

ERIKA TANIA D.

NETANYA GABRIELLE

CHARLENE ATALIE

Eksekutif Multimedia

Eksekutif Media Sosial

Multimedia Junior

KRISTY GABRIELLA

ATHIRAH NURFILZAH

MATTHEW HARTONO

SAPA KAMI

Informasi Berlangganan: kintaka@time.co.id Periklanan dan Kolaborasi: netanya.gabrielle@time.co.id DITERBITKAN OLEH

TIME INTERNATIONAL PUBLICATIONS PT Komunikasi Perkasa Internasional Centennial Tower lantai 28, Jalan Gatot Subroto Kav. 24-25. Jakarta 12930

6


KO N T R IB U TO R

Videografer / JENDELA.CO

Editor Video Editor Video

Penata Rias

Videografer / JENDELA.CO

Penulis

@abrahambrianw

@calvionita

@claudyaachrp

@daudchriswanto

@dwilukita_

Penata Rambut

Fotografer / Jan.ji.co

Penulis

Videografer / JENDELA.CO

@thereal.ekahair

@gvnpareira

@givaniadc

@hafizraka_

KENNETH LAZULI

Videografer / JENDELA.CO

Fotografer / Jan.ji.co

Videografer / JENDELA.CO

Fotografer / Jan.ji.co

Fotografer

@laurensuria

@martinkho

@raymondahari

@songsujan

@kevinputra_k

ABRAHAM BRIAN W.

EKAHAIR

LAUREN SURIA

CALVIONITA

GAVIN PAREIRA

MARTIN KOSASIH

CLAUDYA CHRISTIANI

GIVANIA DIWIYA C.

RAYMOND AHARI

DAUD CHRISWANTO

HAFIZ RAKA

SONG SUJAN

DWI LUKITA

Penulis

KEVIN PUTRA

ABRAHAM BRIAN W. Sutradara muda yang selalu dapat menenangkan tim maupun itc saat produksi tidak berjalan sesuai rencana.

HAFIZ RAKA Sinematografer yang hobi menangkap momen dan objek apa pun dan mengubahnya menjadi sebuah pengalaman sinematik.

CLAUDYA CHRISTIANI Seorang penata rias yang suka menuangkan kreativitas imajinasinya ke dalam kanvas berupa wajah di bidang kecantikan dan mode.

KEVIN PUTRA Fotografer yang tak hanya memotret, tetapi juga merancang visual artistik, seperti pada sampul KINTAKA edisi ini.

CALVIONITA Editor video di ranah kampanye konten finansial sekaligus pencinta dunia visual.

KENNETH LAZULI Di sela kesibukan menulis, ia gemar menonton film komedi romantis klasik dari era ‘90-an.

DAUD CHRISWANTO

Pria bertutur lembut yang sedang membangun masa depannya menjadi seorang sutradara.

LAUREN SURIA Seorang istri, ibu, dan salah satu pendiri JENDELA.CO yang gemar belajar dan mencoba hal baru.

DWI LUKITA Penulis yang gemar bercanda dan dijadikan bahan bercanda.

MARTIN KOSASIH Penafsir visual yang berupaya menangkap kejujuran momen melalui fotografi yang natural dan spontan.

EKAHAIR Penata rambut yang berkarya di industri fesyen sejak 2017 dengan pemahaman mendalam terhadap kebudayaan Indonesia.

RAYMOND AHARI Pendiri JENDELA.CO dengan idealisme kuat, tapi selalu punya ruang untuk membuka diri dan terhubung dengan orang lain.

GAVIN PAREIRA Seorang fotografer yang suka mengeksplorasi ekspresi, rasa, dan momen.

SONG SUJAN Seorang pencinta seni yang gemar berkarya dengan tangan, mata, dan hatinya.

GIVANIA DIWIYA C. Mantan editor majalah yang kini memeluk peran sebagai ibu, serta penulis lepas bergairah pada topik seputar gaya hidup dan isu wanita. 7


Daftar Isi 01

K A RYA

S U R AT E D I T O R

004

Pengantar dari Pemimpin Redaksi

R E DA KS I

006

Kenali sosok-sosok di balik setiap lembar yang Anda baca

KO N T R I B U TO R

007

Deretan persona kreatif yang membantu kami mewujudkan makna dan cerita

SAMPUL

014

Leica merayakan satu abad sejak lahirnya kamera portabel pertama di dunia

DIREKTORI Temukan detail seputar jenama yang Anda baca di edisi ini

158

FOKUS

024

FOKUS

030

Rolex Awards for Enterprise mengundang KINTAKA untuk menelusuri siklus ladang ke lemari SukkhaCitta di Jawa Tengah

Clemence Ellery menghidupkan kembali kilau perhiasan lama lewat layanan Revamp

FOKUS

034

The Sayan House Villas dengan kurasi perabot tak lekang oleh waktu

FITUR

038

SIKLUS

058

IMAJI

064

TELITI

072

Kurasi karya horologi tahun 2025 yang terdiri dari 30 mahakarya estetis dan teknis

Louis Vuitton dengan tas berkelana ikonisnya dari masa ke masa

Ekspresi visual dari sepatu yang merekam jejak waktu dalam setiap langkah

Koktail sebagai ritual senja dengan segelas rasa dari empat bar pilihan di Jakarta

EDISI 03


INT ERWOV E N STORIE S, FI F T Y YE AR S IN THE MA K ING.

T H E B A LV E N I E F I F T Y C O L L E C T I O N


02

PERSONA

SOSOK

080

SOSOK

088

KO L E K TO R

094

Harmoni lintas genre dan generasi yang menampilkan Iis Dahlia dan Salshadilla Juwita, Harvey Malaihollo dan Mikha Tambayong, serta Riafinola Ifani dan Naura Ayu

BTL Aesthetics mempersembahkan teknologi peremaja kulit yang dipercayai oleh tiga praktisi estetika dari Superb Clinic, LOVLOV House of Beauty, dan Altruva Aesthetic Clinic

Michael Hartono dengan koleksi jam tangan Swatch yang membangkitkan nostalgia

S U D U T PA N D A N G

100

S U D U T PA N D A N G

106

S U D U T PA N D A N G

112

IMAJI

118

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengenai kripto sebagai instrumen investasi modern

Sutradara di balik film Sore: Istri dari Masa Depan (2025), Yandy Laurens, berbagi dimensi waktu dalam semesta sinemanya

Kajian seni dan budaya bersama pimpinan ArtMoments, Sendy Widjaja

Reinterpretasi gaya rias dan rambut lintas dekade: 1950-an, 1970-an, hingga 1990-an

EDISI 03


03

C E R I TA

WAWA S A N

128

WAWA S A N

134

WAWA S A N

140

JURNAL

146

Dior dengan kreasi jaket Bar yang menjadi simbol feminitas dan kebebasan

The Balvenie mengungkap komitmen kerajinan tradisional dari ladang ke botol wiskinya

Memori yang dirayakan lewat menjamurnya layanan dokumentasi sesuai permintaan

Tissot mengajak KINTAKA bertandang ke Mandalika untuk menyaksikan MotoGP™

K ATA K I N TA K A

Apakah membeli tas mewah berharga mewah masih relevan?

EDISI 03

152


SP: BELL & ROSS

e st .2 017 - @j a n .ji .co


SAMPUL

Seabad Leica: Dari Revolusi Cahaya ke Ikon Budaya

Seratus tahun lalu, Leica mengubah cara manusia melihat dan merekam dunia. Di saat fotografi masih terjebak pada perangkat besar yang kaku dan seremonial, Leica menghadirkan kamera kecil yang revolusioner: ringkas, senyap, dan cukup cepat untuk menangkap kehidupan sebagaimana adanya. Dengan inovasi format 35 mm dan desain yang memungkinkan fotografer bergerak bebas tanpa mengganggu kenyataan yang mereka potret, Leica membuka babak baru dalam sejarah visual: dari studio menuju jalanan, dari pose menuju spontanitas, dari dokumentasi menuju pengalaman hidup yang autentik.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Dok. Leica

VIDEOGRAFI Dok. Leica

14

Sejak itu, Leica hadir dalam denyut peristiwa besar yang membentuk abad modern. Ia berada di tangan para jurnalis yang membekukan kenyataan paling keras di medan perang, tetapi juga di tangan para seniman dan ikon budaya yang mencari kedekatan dan kejujuran visual. Banyak gambar yang kini menjadi memori kolektif dunia lahir dari lensa kecil itu. Foto-foto yang mengubah opini publik, memicu empati, atau menangkap sisi manusia yang tersembunyi di balik sorotan sejarah dan hingar-bingar kultur pop. Seabad kemudian, jejak revolusi itu tetap hidup dalam setiap momen yang tertangkap, setiap memori yang terabadikan, dan setiap potret yang melampaui waktu.

S O R O TA N


15


JEJAK REVOLUSI Perjalanan yang membawa perusahaan optik Jerman, Leitz, ke dunia fotografi sudah dimulai pada awal abad ke-20. Sebelum dikenal dengan produk kamera, Leitz merupakan pembuat mikroskop dan alat optik lain dengan reputasi tinggi pada presisi dan kualitas lensa. Situasi berubah ketika Oskar Barnack— seorang insinyur sekaligus fotografer amatir di Leitz—merasa frustrasi terhadap perangkat fotografi pada masanya: kamera berukuran besar dan berat yang menggunakan lempengan kaca atau pelat film, sehingga sulit dibawa ke luar ruangan. Karena mengidap asma, Oskar mendambakan perangkat yang ringan dan portabel agar ia bisa memotret tanpa kesulitan membawa beban berat.

Salah satu prototipe kemudian dibawa oleh Ernst Leitz II dalam kunjungan bisnis ke New York. Perjalanan itu penuh risiko: keputusan masa depan proyek ini ada di tangan seorang pemimpin perusahaan yang sama sekali bukan fotografer. Namun tanpa sepengetahuan siapa pun di pabrik, kamera kecil itu mulai membentuk sebuah album pribadi berisikan kumpulan gambar spontan, beragam gaya, dan adegan jalanan yang mencerminkan denyut kehidupan modern. Pengalaman langsung dan emosional inilah yang diyakini menjadi percikan keputusan besar Leitz kelak: menyetujui produksi sebuah kamera kompak yang akan menandai awal revolusi fotografi.

Di tahun 1914, Barnack mulai bereksperimen secara diam-diam di ruang riset Leitz. Menjabat sebagai Head of Development for Cinema and Measurement Technology, ia merancang apa yang kemudian dikenal sebagai Ur-Leica (Leitz Camera), kamera kecil menggunakan film 35 mm dari industri film bioskop. Ide revolusionernya: memutar film secara horizontal untuk menghasilkan negatif ukuran 24×36 mm—jauh lebih besar daripada format frame film bioskop vertikal (sekitar 18×24 mm), sehingga menghasilkan cetakan foto berkualitas dengan kamera portabel. Eksperimen Barnack menghasilkan sebuah perangkat yang bukan hanya lebih ringkas, melainkan juga mudah digunakan. Penggunanya tidak perlu memiliki pengetahuan teknis mendalam atau proses eksposur rumit, seperti kamera lain pada zamannya. Kesederhanaan ini justru membuka ruang bagi siapa pun untuk memotret secara intuitif, tanpa pelatihan khusus. Karena itu, tahap uji paling menentukan terjadi jauh dari Wetzlar— tanpa kehadiran Barnack sama sekali.

16

S O R O TA N

Setelah beberapa tahun menyempurnakan prototipe, pada 1 Maret 1925 versi finalnya diperkenalkan di Leipzig Spring Fair sebagai Leica I, kamera kecil 35 mm yang kemudian mengubah arah fotografi dunia. Hanya dalam beberapa tahun, dampaknya mulai terasa luas. Pada 1928, Leica I membuka bahasa visual baru dalam jurnalisme: foto spontan menggantikan pose kaku dan ilustrasi buatan, menghadirkan perspektif yang bergerak, dekat, dan manusiawi. Tulisan di surat kabar dan majalah pun memperoleh kedalaman baru karena kini bisa merujuk langsung pada gambar yang berbicara sendiri, bukan lagi mendeskripsikan adegan secara


(Kiri Atas) Sosok di balik terciptanya kamera Leica, Oskar Barnack, di meja kerjanya di manufaktur Hausertorwerk di Wetzlar, Jerman, pada 1934 (dok. Archive of Leica Camera AG © Julius Huisgen) (Bawah) Leica I merupakan kamera 35 mm pertama di dunia yang diproduksi secara massal dan menjadi fondasi revolusi visual abad ke-20

(Kiri Bawah) Hasil foto spontan pertama menggunakan Ur-Leica di Iron Market, Wetzlar, pada tahun 1914 yang menangkap kehidupan sebagaimana adanya (dok. Archive of Leica Camera AG © Oskar Barnack)

panjang lebar. Dunia mulai melihat realitas sebagaimana adanya—hidup, dinamis, dan penuh emosi—dan semua itu dimungkinkan oleh sebuah kamera kecil yang lahir dari keberanian membayangkan format baru. Revolusi berlanjut pada 1932 dengan hadirnya Leica II, model pertama yang memiliki rangefinder bawaan. Inovasi ini menghadirkan mekanisme bidik “dua mata” yang memungkinkan fokus lebih cepat dan presisi tanpa harus memindahkan pandangan ke alat lain. Desainnya yang segera dikenali—dan kelak banyak ditiru—menjadi identitas visual baru yang membedakan Leica dari kamera lain di masanya. Setahun kemudian, lahirlah Leica III, dengan dial tambahan untuk eksposur panjang serta konstruksi yang lebih kokoh dan ringkas, menetapkan standar baru bagi fotografi portabel.

SAMPUL

Kamera ini menjadi andalan para jurnalis di garis depan selama masa perang dan menjadi saksi bisu berbagai peristiwa yang membentuk abad ke20. Lewat Leica III pula lahir beberapa foto paling ikonik dalam sejarah kemanusiaan, seperti The Falling Soldier (1936) karya Robert Capa dan Sunday on the Banks of the Seine (1938) karya Henri Cartier-Bresson. Di masa kelam propaganda Nazi, Joseph Goebbels bahkan menyebut Leica sebagai “senjata” dalam pertempuran ideologi, sebuah pengakuan pahit atas kekuatan gambar dalam memengaruhi opini publik. Setelah perang mencapai akhirnya pada 1945, Leica kembali menjadi saksi momen yang menandai babak baru sejarah dunia. Di Times Square, Alfred Eisenstaedt memotret pelaut yang mencium seorang perawat berbaju

17


putih dalam euforia kemenangan atas Jepang. Foto berjudul V-J Day in Times Square (1945) menjadi simbol abadi kelegaan pascaperang, sebuah representasi spontan dari harapan yang kembali lahir setelah tragedi panjang. Dari medan tempur hingga perayaan perdamaian, Leica bukan hanya mencatat sejarah, tetapi ikut membentuk cara dunia mengingatnya. Selama dekade-dekade berikutnya, Leica terus mendorong batas kemungkinan dengan melahirkan berbagai inovasi yang mencatatkan banyak pencapaian “pertama di dunia” dan mengokohkan dirinya sebagai pelopor fotografi modern. Pada 1988, divisi kamera resmi berdiri mandiri sebagai Leica GmbH, membuka babak baru bagi sebuah nama yang telah mengubah cara dunia merekam realitas. Hingga kini, posisinya tetap tak tergoyahkan: ikon yang merayakan keberanian melihat dengan jernih, menjaga integritas visual dalam setiap era, dan terus menembus zaman.

18

(Atas) Proses pemasangan lensa Summicron yang menjadi standar baru bagi ketajaman, kontras, dan kejernihan pada Leica M3 di tahun 1953 (dok. Archive of Leica Camera AG © Liesel Springmann) (Bawah) Suasana produksi Leica I sekitar tahun 1925-1932 di manufaktur Leitz Werke, Jerman (dok. Archive of Leica Camera AG © Nikolaus Befort)

S O R O TA N


MOMENTUM SELEBRASI Tahun 2025 menandai tepat seratus tahun sejak dunia menyaksikan kelahiran Leica I. Untuk memperingati tonggak penting ini, Leica menghadirkan rangkaian perayaan berskala global, termasuk peluncuran sejumlah edisi terbatas. Di antaranya Leica M11 100 Years of Leica “Wetzlar Germany” yang hanya dibuat 100 unit bersama rilisan eksklusif, seperti Leica D-Lux 8, Sofort 2, dan teropong Trinovid 10×40. Sorotan utama jatuh pada set Leica M11-D yang juga diproduksi terbatas sebanyak 100 unit saja dan dilengkapi dua lensa, di mana unit pertamanya merupakan kamera Leica M ke1.000.000 yang diproduksi oleh Leica dengan nomor seri 6000000. Kamera tersebut dipamerkan berdampingan dengan Leica I #126 dari tahun 1925, menyatukan satu abad warisan dalam satu ruang simbolik.

Sarah M. Lee, dan Dominic Nahr, yang menyoroti bagaimana Leica menjadi medium untuk berkisah tentang kemanusiaan. Buku 100 Leica Stories juga merangkum seratus kisah yang menelusuri momen legendaris, inovasi teknis, dan pengalaman personal yang membangun identitas Leica selama satu abad. Penutup selebrasi berlangsung lewat Leitz Photographica Auction ke-46 pada Juni lalu, yang mencatat sejarah baru: Leica 0-Series No.112 dari tahun 1923 terjual dengan harga sekitar €7,2 juta, menjadikannya salah satu kamera termahal yang pernah dilelang dan

mencerminkan besarnya penghargaan kolektor terhadap nilai historis Leica. Lelang amal berupa Leica MP berukir tangan King Nerd juga menarik perhatian, dengan seluruh hasilnya didonasikan kepada inisiatif sosial Licht ins Dunkel. Semua itu menegaskan bahwa selebrasi ini bukan sekadar nostalgia, melainkan perayaan energi kreatif yang terus hidup dalam setiap generasi pengguna Leica. Seratus tahun sejak kemunculannya, Leica tetap menjadi magnet budaya—ikon yang melintasi waktu, dihormati atas warisannya dan dirayakan karena kemampuannya menjaga relevansi di tengah dunia yang terus berubah.

Selain peluncuran produk, perayaan ini juga diisi oleh program budaya yang luas, termasuk tiga pameran di Wetzlar yang berlangsung pada Juni hingga September 2025 lalu. Ernst Leitz Museum menampilkan retrospektif The Pleasure of Seeing karya Joel Meyerowitz, Leica Gallery Wetzlar menghadirkan Witness karya Édouard Elias, serta pameran personal These Are the Days oleh musisi dan fotografer Jamie Cullum. Berbagai proyek publik digelar di kota Wetzlar sebagai penghormatan terhadap tempat kelahiran Leica, menghubungkan sejarah industri dengan komunitas yang hidup di sekitarnya. Antusiasme terhadap selebrasi satu abad ini terasa kuat jauh melampaui acara seremonial. Film dokumenter Leica, A Century of Vision karya Reiner Holzemer mendapatkan sambutan positif, menampilkan refleksi para fotografer penting, seperti Steve McCurry, Sebastião Salgado, JR,

Untuk merayakan 100 tahun kelahiran Leica I, sang jenama merilis sejumlah edisi terbatas—M11 100 Years of Leica “Wetzlar Germany”, set M11-D, D-Lux 8, Sofort 2, dan Trinovid 10x40—dan buku 100 Leica Stories

SAMPUL

19


Hasil karya fotografi Dr. Tompi menggunakan Leica M EV1 menampilkan cahaya lembut, warna yang tenang, dan sedikit efek motion blur, sebuah momen yang terasa lebih seperti ingatan daripada rekaman

TEKNOLOGI TERKINI Saat ini, Leica memasuki babak baru dengan memperkenalkan M EV1: model pertama dari lini M-Camera yang menggantikan jendela bidik optik tradisional dengan electronic viewfinder (EVF) terintegrasi. Inovasi ini membuka pintu bagi fotografer yang mencari keseimbangan antara warisan estetika klasik M-System dan kenyamanan teknologi modern. Bodi logam yang dirakit tangan di Wetzlar, desain minimalis khas M-Camera, serta material premium memberi kesan bahwa Leica tak pernah meninggalkan DNA “kamera jangka panjang”, namun kini dengan kemampuan yang jauh lebih fleksibel. Teknologi di balik M EV1 pantas disebut terobosan. Kamera ini memakai sensor full-frame BSI-CMOS 60 MP dengan Triple Resolution Technology yang memungkinkan pemotretan di 60, 36, atau 18 MP sesuai kebutuhan. Dipadu prosesor Maestro III, pengguna mendapatkan rentang dinamis luas,

20

reproduksi warna natural, serta keseimbangan antara detail tinggi dan fleksibilitas file. EVF-nya menampilkan pratinjau gambar secara real-time— termasuk pencahayaan, warna, dan framing sesuai lensa dan bukaan— sehingga tingkat ketepatan komposisi jauh lebih terjamin daripada sistem rangefinder optik konvensional. Fitur-fitur modern lainnya menegaskan bahwa Leica memahami tuntutan fotografi masa kini. M EV1 terhubung mulus ke aplikasi resmi melalui Wi-Fi, Bluetooth, atau USB-C yang memungkinkan transfer gambar, backup, bahkan editing dasar langsung ke ponsel. Sistem autentikasi foto Content Credentials pun hadir sebagai jawaban atas isu keaslian di era digital: setiap foto bisa diberi tanda tangan digital untuk memverifikasi asal dan memastikan integritas pasca-proses. M EV1 layaknya “jembatan” antara tradisi dan inovasi, menjadikannya

S O R O TA N

ideal bagi fotografer M-System lama yang menginginkan kemudahan tanpa kehilangan karakter, maupun pemula yang tergerak mencoba estetika Leica. Meski tanpa rangefinder mekanik yang membuatnya begitu dicintai oleh kaum puris, M EV1 tetap mempertahankan jiwa Leica: tubuh ramping, kontrol manual, dan hasil foto yang elegan, hanya saja sekarang dibantu kemudahan visual dan digital. Secara keseluruhan, M EV1 menunjukkan bahwa Leica tak sekadar berpegang pada nostalgia. Mereka mengolah warisan menjadi inovasi nyata. Kamera ini membuktikan bahwa tradisi craftsmanship dan estetika klasik bisa hidup bersama teknologi mutakhir. Bagi siapa saja yang ingin merasakan Leica di zaman sekarang— bukan hanya sebagai alat legendaris, tapi sebagai medium relevan dan canggih—M EV1 menjadi bukti bahwa tradisi bisa berevolusi tanpa kehilangan identitas.


(KIri) Leica M EV1 merupakan model pertama dari lini M-Camera yang menggantikan jendela bidik optik tradisional dengan electronic viewfinder (EVF) terintegrasi (Bawah) Kontras tegas dan warna jernih pada bidikan Abiprayadi dengan Leica M EV1 menghadirkan detail yang terasa begitu hidup

SAMPUL

21


22


Karya T E N TA N G Ulasan mendalam mengenai produk lintas industri. Mulai dari rilisan terkini, hingga kreasi klasik yang tak lekang oleh waktu.

23


24


FOKUS

Rolex Awards for Enterprise: Siklus Ladang ke Lemari SukkhaCitta

Bagi kebanyakan orang, pakaian berwarna biru hanyalah pakaian berwarna biru. Ketika warnanya gelap, ia memancarkan elegansi. Ketika warnanya terang, ia merefleksikan keluguan. Di mata Denica Riadini-Flesch, warna biru dalam intensitas apapun menandakan sebuah proses yang panjang. Tak hanya soal teknik produksi tekstil, tetapi juga kesadaran dalam memilih cara dan dampak terbaik untuk kualitas, komunitas, dan ekosistem yang harmonis.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Dok. Rolex

VIDEOGRAFI Dok. Rolex

Melalui konsep ladang-ke-lemari yang menjunjung tinggi integritas dalam hal pemberdayaan wanita, pelestarian tradisi, dan pertanian regeneratif, Denica mendirikan SukkhaCitta sebagai label pakaian dengan misi yang melampaui penampilan penuh gaya. Setiap warna, setiap motif, dan setiap kain menjadi platform apresiasi dan kontribusi terhadap masa depan yang lebih baik. Maka, ketika Denica menjadi salah satu penerima Rolex Awards for Enterprise 2023, kemenangan itu tidak hanya menjadi miliknya saja, tetapi juga para petani dan perajin yang akan memperoleh dukungan kian berkelanjutan. Kemenangan yang menjadikan inspirasi dan dampak SukkhaCitta dapat dilipatgandakan ke semakin banyak wilayah di Indonesia, bahkan ke berbagai belahan dunia.

K A R YA

25


DARI TANAH HINGGA TEKSTIL Bersama Rolex, KINTAKA melihat langsung realita di balik komitmen mereka kala mengunjungi Rumah SukkhaCitta di Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah. Fasilitas produksi dan edukasi ini merupakan yang pertama dari total lima fasilitas yang kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di sini, helaian kain bukan berasal dari pabrik, melainkan langsung dari tanah yang kami pijak.

(Atas) Sebuah desa di Jawa Tengah, tempat para petani menanam kapas yang kemudian diolah menjadi pakaian SukkhaCitta (Bawah) Petani SukkhaCitta menanam kapas berdampingan dengan berbagai tanaman lain. Pendekatan ini membantu meningkatkan hasil panen sekaligus meregenerasi tanah

“Mengurangi dampak buruk tak lagi cukup. Kita harus melakukan reparasi, restorasi, dan regenerasi,” ungkap Bertram Flesch, Chief Operating Officer SukkhaCitta. Prinsip tersebut nyatanya menjadi pedoman kerja yang diimplementasikan secara konsisten dalam setiap tahap, dimulai dari penanaman kapas yang menjadi langkah pertama dalam siklus produksi mereka. Melalui riset bertahun-tahun, SukkhaCitta mempelajari kembali metode Tumpang Sari yang dulu menjadi andalan para leluhur sebelum bahan kimia memasuki dunia pertanian. Pendekatan ini bukan hanya menghidupkan kearifan lokal, tetapi juga memperkaya kesuburan lahan secara alami. Di sini, kapas tidak tumbuh sendirian. Ia berkembang dalam kebersamaan dengan tanaman lain, membentuk ekosistem yang saling menopang, tanpa membutuhkan irigasi maupun pestisida. Dalam ekosistem ini, kacang tanah memperkaya kandungan nitrogen

26

K A R YA


Batik dibuat dengan cara menggambar pola pada kain menggunakan lilin, memakai alat tradisional yang disebut canting

yang menyuburkan tanah. Ubi kayu dan labu menutup permukaan lahan, sehingga mengurangi erosi sekaligus menjaga kelembapan. Cabai berperan sebagai perisai hama, sedangkan jagung memberi hasil panen cepat sebagai pemasukan sementara kapas berkembang. Dengan demikian, para petani memiliki beragam sumber panen, sehingga pendapatan mereka lebih stabil dan terlindungi dari risiko ketergantungan pada satu komoditas. Dari panen kapas, benang dipintal lalu ditenun menjadi kain katun. Bukan sekadar bahan, melainkan jejak transformasi dari tanah menjadi tekstil. Tiap lembarnya menyimpan hubungan ekologis yang menopangnya, berakar pada lahan

yang kini telah dipulihkan hingga 30 hektar oleh SukkhaCitta. Di titik ini, perjalanan beralih ke lokakarya di mana kisah alam berpindah ke tangan para artisan, siap memasuki babak baru dalam proses kreatif.

KEMBALI KE TRADISI Goresan pensil yang lembut namun presisi mengalir di atas kain katun di lokakarya, membentuk sketsa awal yang menjadi panduan para pembatik. “Batik bukanlah motif. Batik adalah proses,” ujar Denica, meluruskan persepsi bahwa batik sekadar corak etnik. Sebab batik sejatinya adalah teknik: lilin panas dituangkan untuk melindungi area tertentu agar tak

FOKUS

menyerap warna saat pencelupan, memberi ruang bagi motif untuk lahir. Di sekeliling ruangan, sudut-sudut kerja para pembatik menampilkan belanga berisi lilin organik—terbuat dari getah Pohon Damar dengan resep turun-temurun—yang terus dijaga hangat di atas kompor, serta canting yang siap digunakan. Kainkain katun yang telah diberi sketsa pun perlahan dibubuhi lilin panas oleh para artisan yang begitu ahli menguasai kompleksitas aliran lilin berkat pengalaman bertahuntahunnya. Dengan ketelitian dan ritme yang terlatih, kotak-kotak kecil bermunculan, membentuk Bintang Utara yang diperkenalkan lewat koleksi Angkasa.

27


(Atas) Rolex Awards Laureate dan pendiri SukkhaCitta, Denica Riadini-Flesch, memegang daun indigo yang dipanen dari kebun di Jawa Tengah, Indonesia (Kanan) Dengan menggunakan pewarna alami dari hasil fermentasi daun indigo, SukkhaCitta telah mencegah lebih dari 3 juta liter bahan kimia beracun mencemari sungai-sungai di Indonesia sejak didirikan

Motif tersebut mungkin Anda kenal sebagai gaun biru yang dikenakan Sheila Dara dalam film Sore: Istri dari Masa Depan (2025). Untuk mendapatkan warna biru tersebut, SukkhaCitta memadukan tradisi dan sains dengan pendekatan yang berlandaskan keberlanjutan. Daun indigo memang telah lama digunakan sebagai pewarna alami, namun beberapa varietasnya masih berpotensi merugikan ekosistem. Misalnya indigofera yang lazim tumbuh di Indonesia, tetapi membutuhkan paparan sinar matahari intensif sehingga dapat mendorong deforestasi dalam skala produksi besar.

28

K A R YA


Indigo™. Usai diaktivasi, pasta indigo dilarutkan dalam air hingga siap digunakan sebagai medium pencelupan. Rona biru muda biasanya baru muncul setelah kurang lebih 20 kali celup, dan warna akan terus menggelap dengan akumulasi lapisan warna.

SEIRING RITME ALAM

Dengan menawarkan upah layak kepada para perajin wanita di wilayah pedesaan, SukkhaCitta telah mendorong generasi yang lebih muda untuk kembali menekuni kerajinan tradisional ini

Sebagai respons, Denica melalui riset berkelanjutan menemukan varietas dari Himalaya yang justru menghindari matahari. Tanaman ini dapat tumbuh subur dengan metode tumpang sari di bawah naungan pepohonan buah yang tinggi dan teduh. Kini, SukkhaCitta bekerja sama dengan lebih dari 100 petani untuk membentuk sistem wanatani— perhutanan tani—di berbagai desa sebagai habitat indigo yang selaras dengan ekologi setempat. Perjalanan warna ternyata berlanjut di luar ladang. Tantangan berikutnya muncul dalam tahap fermentasi daun indigo, di mana rendaman daun yang telah mengendap selama beberapa hari berubah menjadi pasta pekat. Pasta ini tidak serta merta menjadi pewarna. Ia harus “dibangunkan” terlebih dahulu agar mampu menempel pada serat kain. Pada praktik tekstil konvensional, aktivasi ini umumnya mengandalkan reduktor sintetis, seperti kapur atau bahan kimia bersifat basa. Riset Denica menemukan alternatif yang jauh lebih lembut untuk bumi: gula kelapa. Dari sinilah lahir proses yang kini dikenal sebagai Sweet

FOKUS

Ketika warna telah meresap sempurna, langkah berikutnya membawa kain pada bentuk finalnya di fasilitas Daur Naik & Penjahitan. Di sini, setiap potongan sisa menemukan tujuan baru; tidak ada yang terbuang, potongan kain sekecil apa pun kembali masuk ke siklus guna. Prinsip berkelanjutan SukkhaCitta lahir dari ritme alam di mana mode tidak lagi bergegas mengikuti tren, tetapi berjalan seiring musim panen dengan waktu sebagai pengarah dan bumi sebagai penentu tempo. Seiring ritme alam yang membimbing setiap proses di SukkhaCitta, langkah Denica pun terus bergerak maju. Melalui Perpetual Planet Initiative sebagai bagian dari Rolex Award, ia kini memiliki landasan yang lebih luas untuk memekarkan dampak SukkhaCitta. “Yang luar biasa dari Rolex adalah mereka memberi kita mikrofon untuk menyuarakan nilai-nilai yang kita yakini, agar orang lain terinspirasi melakukan hal yang sama. Sudah terkandung dalam DNA Rolex untuk mendukung para pionir,” ujar Denica. Dengan dukungan tersebut, ia berencana melipatgandakan jumlah Rumah SukkhaCitta dengan target dampak bagi 10.000 kehidupan sekaligus regenerasi 1.000 hektar lahan. Ia juga meluncurkan aplikasi berisi kurikulum pertanian dan kerajinan dalam format digital yang memungkinkan edukasi bagi wanita di komunitas terpencil di berbagai pulau. Upaya-upaya ini bukan sekadar memperluas jangkauan; mereka menenun masa depan di mana mode dan keberlanjutan berjalan seiring, menciptakan dampak nyata bagi kehidupan sekaligus lanskap yang menopangnya.

29


FOKUS

Clemence Ellery: Kilau Baru dari Kenangan Abadi Terdapat ketenangan yang istimewa dalam kemewahan. Bukan soal kepemilikan bernilai tertentu yang menyimbolkan kesejahteraan, melainkan rasa tenang yang muncul saat seseorang benar-benar memegang kendali atas waktu, diri, dan maknanya. Inilah filosofi yang dihidupi oleh Clemence Ellery, jenama perhiasan basis Jakarta. “Kemewahan adalah kebebasan untuk melakukan apa pun yang kita inginkan dalam ritme waktu kita sendiri, sebagai bentuk ekspresi diri,” ujar Jenifer Patricia, Co-Founder & CEO Clemence Ellery. Kebebasan itu menjadi roh di balik setiap desain Clemence Ellery. Lihat saja bagaimana mereka menafsirkan keanggunan dengan cara yang tak terduga. Mulai dari bandul berbentuk donat, segelas matcha, hingga raket padel. Di saat yang sama, keberanian mereka juga tampak dalam eksplorasi batu permata yang jarang dilirik, seperti turmalin dwiwarna dan safir pelangi yang pertama kali mereka populerkan pada tahun 2020. Tak ada yang berlebihan, tetapi juga tak ada yang biasa-biasa saja.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Abraham Brian W. / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Andika Dewa / JENDELA.CO Christian Valentino / JENDELA.CO

30

Lebih dari sekadar estetika, perpaduan antara elegansi dan selera humor yang manis ini membawa misi serius: menghadirkan kemewahan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami ingin mendobrak stigma bahwa perhiasan hanya pantas dikenakan pada acara tertentu. Oleh karena itu, kami mengkreasikan perhiasan yang membebaskan pemiliknya untuk menggunakannya lebih sering daripada hanya menyimpannya di dalam laci,” ungkap Jenifer. Namun mungkin, wujud paling pribadi dari filosofi kebebasan Clemence Ellery terwujud dalam layanan bespoke mereka, khususnya Revamp. Melalui layanan ini, pelanggan diajak memberi kehidupan baru pada perhiasan lama sekaligus mengabadikan kenangan di dalamnya. Sebuah cincin warisan, kalung dari masa lalu, atau hadiah yang kini tak lagi “kita”, semuanya bisa terlahir kembali dengan desain yang lebih personal dan selaras dengan siapa kita hari ini.

K A R YA


31


Gelang emas putih dengan sentuhan akhir brushed dan berlian marquise berbentuk kupu-kupu ini mencerminkan kepekaan detail yang lahir dari craftsmanship tangan para artisan Clemence Ellery

Begitu pula dengan Rajnikania Sarwono yang memercayakan Clemence Ellery untuk memperbarui perhiasan warisan dari sang nenek. “Saya percaya setiap benda memiliki energi, termasuk perhiasan milik eyang mama yang diberikan kepada saya,” tuturnya. “Saya ingin menyambung energinya lewat desain yang lebih mencerminkan diri saya tanpa menghapus identitasnya yang kuat dan berani. Ia tetap menjadi inspirasi saya.” Proses Revamp dirancang layaknya perjalanan kreatif yang intim antara klien dan desainer. Setiap proyek dimulai dari cerita, dilanjutkan dengan eksplorasi gaya, referensi visual, dan diskusi mendalam tentang detail yang diinginkan.

32

Dari sana, tim kreatif menghadirkan beberapa rancangan untuk dipilih dan dikembangkan bersama. “Kami membiarkan klien memimpin arah desainnya, lalu menaburkan sedikit “sihir” khas kami untuk mewujudkannya,” ungkap Jenifer. Selera Rajnikania mencerminkan kecintaannya pada keanggunan yang melampaui waktu. “Saya selalu tertarik pada gaya Edwardian dan Art Deco, sederhana tapi tetap modern,” ujarnya. “Seiring waktu, saya belajar memahami apa yang benar-benar cocok untuk saya. Gaya yang saya pilih kini membuat saya lebih percaya diri dan selaras dengan diri sendiri.” Ia mengakui, menerjemahkan ide menjadi desain bukan hal mudah, namun proses bersama Clemence Ellery terasa

K A R YA


begitu personal. “Mereka membuat saya merasa didengarkan dan berhasil mewujudkan setiap detail yang saya bayangkan dengan begitu indah.” Proses pengerjaan biasanya berlangsung antara satu hingga empat bulan, tergantung tingkat kompleksitas desain karena sekitar 80 persen kreasi Clemence Ellery masih dikerjakan dengan tangan para artisannya. Hasil akhirnya? Berbagai cincin, gelang, dan kalung serbaguna yang bisa dikenakan terpisah, ditumpuk, atau dipadupadankan dengan perhiasan lain. Semuanya fleksibel, modern, dan sarat makna. Menariknya, proses Revamp tidak mengurangi nilai sentimental maupun material dari perhiasan lama. “Layanan Revamp hanya menggunakan emas baru, sementara batu-batu permata tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Seluruh proses kami dokumentasikan melalui foto sebelum dan sesudah untuk menjaga autentisitas. Dengan desain baru dan emas yang segar, nilai perhiasan tersebut justru meningkat,” jelas Jenifer.

Lewat layanan Revamp dari Clemence Ellery, perhiasan lawas Rajnikania menemukan bentuk baru yang modern dan personal

FOKUS

Sebagaimana pepatah lama mengatakan bahwa “berlian bertahan selamanya”, Clemence Ellery membuktikan bahwa kenangan pun bisa demikian, asal diberi ruang untuk bertransformasi. Melalui Revamp, masa lalu tak lagi berdiam di dalam kotak perhiasan, melainkan hidup kembali dalam wujud yang lebih jujur dan relevan. Di tangan para artisan Clemence Ellery, setiap perhiasan menjelma menjadi medium untuk mengenali, merayakan, dan mengekspresikan diri dalam versi paling berkilau yang kita pilih sendiri.

33


34


FOKUS

Kurasi Perabot Tak Lekang Waktu di The Sayan House Villas

Bersemayam di atas lembah yang menghadap Sungai Ayung, kehadiran The Sayan House Villas bak permata yang melengkapi keindahan lanskap dramatis khas Ubud, Bali. Di antara latar hutan rimbun, aliran sungai yang membunyikan deru air, serta hamparan sawah yang membentang sebagai cakrawala hijau, The Sayan House Villas menyuguhkan tiga properti yang dirancang harmonis melebur bersama sang alam, yakni vila Bawa Number 12, Aalto’s Corner, serta Arie Smit Hibiscus.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Givania Diwiya C.

FOTOGRAFI Dok. The Sayan House Villas

VIDEOGRAFI Dok. The Sayan House Villas

Arsitek dari firma Sidarta and Sandjaja, bersama desainer interior Shota Kanazawa—pemilik Plan Do See Indonesia, korporasi di balik The Sayan House Villas—berperan penting dalam menghadirkan atmosfer tropis, luks, sekaligus artistik pada ketiga vila tersebut. Tengok saja ruangan-ruangan dalam vila yang mengalir tanpa sekat untuk memberikan respons ramah pada cahaya matahari, udara, serta panorama yang terakses bebas lewat jendela nan luas. Dikurasi secara personal oleh Shota, setiap sudut The Sayan House Villas memancarkan karakter hangat sekaligus berkelas lewat perpaduan anyaman rotan, kerajinan kayu, serta aksen kontras dalam spektrum terakota yang kian menyelaraskan estetika vila dengan ritme alam sekitarnya. Di antara ketiga vila, Bawa Number 12 menonjol dengan deretan perabotan dari berbagai dekade silam yang memperkaya pengalaman menginap para pelancong—baik untuk berelaksasi, fokus berkarya, maupun bermukim temporer di Ubud.

K A R YA

35


VISIONER DARI MASA LAMPAU Dalam interior vila Bawa Number 12, terdapat narasi yang menceritakan tentang pengalaman, kultur, dan inovasi di balik sejumlah kreasi furnitur. Contohnya, kursi 699 Superleggera karya desainer sekaligus arsitek asal Italia, Gio Ponti, yang dapat ditemukan pada pojok area kerja. Kursi yang dirilis tahun 1957 itu masih menjadi objek paling diingat sepanjang sejarah desain industrial di abad ke-20 berkat kestabilan, keringanan massa kursi (hanya 1,7 kg saja!), ketahanan, rancangan modis, dan kenyamanan maksimal yang ditawarkannya. Tak heran jika kursi serbaguna tersebut masih terus didamba untuk tersemat dalam ragam hunian masa kini. Begitu pula dengan lampu baca di ruang bersantai vila yang bertajuk The Water Pump Lamp karya desainer inovatif asal Denmark, Poul Henningsen. Di era 1950-an, lampu ini diperkenalkan di hadapan publik dengan ‘lengan’ yang dapat disesuaikan panjangnya dan bisa diubah posisi pencahayaannya ke arah atas maupun bawah—ya, fungsi serupa pegangan pompa air, sesuai namanya. Bukan hal yang mengejutkan pula jika lampu baca ini lantas menjadi furnitur penghias hunian yang digemari lintas generasi untuk memberikan ambiens pencahayaan hangat dalam ruangan, maupun sebagai objek seni yang— secara harafiah—berdiri sendiri.

36

Kursi 699 Superleggera memiliki dudukan rotan dari India dan ditopang secara stabil dengan kaki, serta sandaran dari struktur kayu ash alami

DESAIN IKONIS LINTAS ERA Lebih dari sekadar perabot fungsional yang memenuhi ruangan, kurasi karya furnitur di vila Bawa Number 12 seolah mengajak para penghuninya untuk melintasi perjalanan desain dari masa ke masa. Di sini, terdapat juga berbagai rancangan ikonis yang terbukti tetap relevan hingga kini meski telah melalui beberapa dekade dan tren estetika yang silih berganti. Seperti Tulip Chair dan Side Table kreasi Eero Saarinen yang ‘memahat’ wujud kursi menyerupai bunga tulip, serta meja tanpa empat kaki kaku yang lazim menopangnya. Meski— secara teori—terkesan kontras dengan atmosfer Ubud nan tropis, seperangkat kursi dan meja dari pertengahan 1950-an tersebut justru menghadirkan warna di ruang makan vila lewat gaya Mid-Century yang tipikal dengan estetika eklektik.

K A R YA

Komposisi Tulip Chair yang ditata di ruang makan bermeja panjang terilhami dari potret Geoffrey Bawa yang menggunakannya di studio kerjanya


(Kiri) Koleksi revolusioner Eero Saarinen yang termasuk meja tanpa empat kaki ini diriset dan dirancang selama lima tahun, hingga sukses dirilis pada tahun 1956 (Bawah) Kreasi Butterfly Chair terinspirasi dari sebuah model kursi lipat yang terbuat dari kayu, serta kulit Italia bernama La Tripolina dari akhir abad ke-19

Beralih ke ruang bersantai vila, terdapat Butterfly Chair karya desainer sekaligus arsitek Antonio Bonet, Juan Kurchan, dan Jorge Ferrari Hardoy. Ketiganya mengkreasikan kursi berkaki logam dengan selempang dudukan dari kulit (atau bisa juga dari kanvas) yang menggantung dari titik tertinggi rangka, sehingga memberikan sensasi dipeluk oleh kenyamanan. Duduk santai di Butterfly Chair terasa seperti sedang menikmati waktu yang bergulir perlahan, jauh dari kebiasaan bergesa-gesa yang menjadi ritme harian ibu kota. Menelusuri vila Bawa Number 12, setiap ruang menghadirkan percakapan antara masa lalu dan masa kini lewat kurasi perabotan yang diperlakukan layaknya objek seni tak lekang oleh waktu. Para pengunjung seolah diizinkan untuk berada di momen ini—menikmati kenyamanan duduk, pencahayaan, hingga fungsi mendasar dan serbaguna dari sebuah meja—dalam nuansa vila rumahan yang demikian kerasan.

The Water Pump Lamp dalam edisi terbatas berwarna amber memberikan kilau hangat yang ideal menerangi vila di kala senja

FOKUS

37


FITUR

Sorotan Horologi di Sepanjang Tahun 2025

Tahun 2025 hadir sebagai kelanjutan tradisi horologi yang selalu menjanjikan cerita baru untuk dirayakan. Dalam ritme yang teratur, kalender horologi sepanjang tahun dimeriahkan oleh berbagai pekan jam tangan internasional yang hadir silih berganti, menyuguhkan lanskap yang mempertemukan inovasi teknis, kreasi artistik, dan legasi ke dalam satu ruang. Ajang-ajang inilah yang menjadi sarana perkenalan rilisan terbaru, serta momen krusial penentu arah tren industri untuk satu tahun ke depan. Sebagaimana lima tahun belakangan, rangkaian agenda tahun ini dibuka oleh LVMH Watch Week di bulan Januari silam. Pekan horologi yang diinisiasi oleh grup produk mewah Louis Vuitton Moët Hennessy tersebut menampilkan koleksi terbaru dari sembilan rumah horologi di bawah naungannya.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Arinta Wirasto

VIDEOGRAFI Calvionita

38

Selanjutnya perhatian beralih ke Watches and Wonders Geneva, ekshibisi berskala besar—dengan total partisipan sebanyak 60 jenama—yang dianggap sebagai tolok ukur lanskap horologi global. Tak ketinggalan, Geneva Watch Days, memberi ruang bagi berbagai jenama independen yang menghembuskan angin segar di tengah dominasi nama-nama terkemuka. Momentum-momentum tersebut menegaskan bahwa dunia horologi merupakan panggung di mana makna dan reputasi berpadu dalam lintasan waktu. Melalui reportase ini, kami menghadirkan kurasi jam tangan terbaik tahun ini, di mana tradisi dan modernisasi berjalan beriringan untuk melahirkan sesuatu yang patut diapresiasi.

K A R YA


39


PIAGET ANDY WARHOL Jam tangan Piaget favorit Andy Warhol bereinkarnasi lewat tiger’s eye dial dan temali aligator cokelat yang berkontras apik dengan bezel emas putih 18 karat, menjadikannya idaman para kolektor.

40

K A R YA


A. LANGE & SÖHNE ODYSSEUS HONEYGOLD

PATEK PHILIPPE ANNUAL CALENDAR MOON PHASES REF. 4946R

Layaknya bunglon, case dan bracelet terintegrasi dari edisi terbatas Odysseus hadir dalam material berpaten Honeygold®—emas eksklusif khas sang jenama—dengan rona madu hangat yang memantulkan gradasi cahaya dan menghadirkan kesan dinamis yang tak pernah serupa di tiap sudut pandang.

Perkawinan antara dial cokelat kastanya berfinis shantung dengan subdial yang menunjukkan perpetual calendar dan cakram fase bulan, serta jendela tanggal di posisi angka 6 menyeimbangkan estetika dan kemahiran teknis mutakhir.

AUDEMARS PIGUET ROYAL OAK SELFWINDING PERPETUAL CALENDAR 41 MM

FITUR

Iterasi terbaru Royal Oak mendefinisikan ulang kata ergonomis lewat crown serbaguna yang menyederhanakan pengaturan perpetual calendar secara intuitif, sebuah kemudahan yang lahir berkat kemutakhiran Calibre 7138 dan dedikasi sang rumah horologi dalam hal presisi dan akurasi.

41


LONGINES ULTRA-CHRON CARBON

OMEGA SPEEDMASTER MOONPHASE METEORITE

Jam ini kian mengukuhkan asosiasi Speedmaster dengan luar angkasa melalui dial bermaterialkan batu meteorit dan fitur moonphase bertahtakan dua cabochon yang berpendar mengikuti perubahan cahaya bulan di belahan utara dan selatan.

ZENITH G.F.J.

42

Kecil-kecil, ultra presisi; jam yang mengusung case bermaterialkan serat karbon dan bezel titanium dengan bobot hanya 80 gram ini mampu menghasilkan 36.000 vibrasi per jam berkat Calibre L.836.6 berfrekuensi 5Hz yang berjasa di balik performanya.

K A R YA

Merayakan 160 tahun perjalanannya, Zenith menghadirkan penghormatan kepada sang pendiri, Georges FavreJacot, lewat jam yang dipersenjatai oleh pembaruan Calibre 135, movement kronometer legendaris dengan prestasi terbanyak di dunia.


BELL & ROSS BR-03 SKELETON LUM CERAMIC Skeleton dial berlapis Super-LumiNova® C3 menyingkap Calibre BR-CAL.328 yang menenagainya, sekaligus menjamin keterbacaan optimal dalam berbagai kondisi pencahayaan. Mesin otomatis ini juga dibekali cadangan daya 60 jam, menjadikannya aksesori tangguh dalam berbagai eksplorasi alam.

FITUR

43


CARTIER PRIVÉ TANK À GUICHETS Mekanisme jumping hour nan ikonis pada jam tangan Cartier rilisan tahun 1928 kembali hadir dengan detail yang setia pada sang pendahulu: mulai dari jendela jam dan menit, crown di posisi pukul 12, hingga vertical brushed finish pada case.

44

K A R YA


CHANEL J12 BLEU 28 MM SAPPHIRE Evolusi J12 berlanjut dengan Bleu, menghadirkan tona biru hasil pengembangan selama lima tahun. Masih mengusung keramik, pesonanya kian berkilau dengan 196 safir biru berpotongan baguette pada bezel, indeks, dan bracelet.

FITUR

45


VACHERON CONSTANTIN TRADITIONNELLE TOURBILLON RETROGRADE DATE OPENFACE Tak melulu berfokus pada dress watch, manufaktur horologi tersohor ini menampilkan kesan kontemporer lewat komplikasi tanggal retrograde di paruh atas dial, sementara cakram tourbillon di posisi angka 6 mendemonstrasikan keahlian mekanis sekaligus stabilitas akurasi mesin.

46

K A R YA


GRAND SEIKO TENTAGRAPH SLG009

ARNOLD & SON PERPETUAL MOON 41.5 CLIFF GREY EDITION

Selain mengusung keunggulan teknis yang terangkum dalam namanya—Ten (10 detak per detik), Three (tiga hari cadangan daya), Automatic winding, dan Graph (kronograf)—jam ini juga semakin istimewa dengan case bermaterialkan Brilliant Hard Titanium buatan Grand Seiko yang lebih berkilau dibandingkan titanium biasa.

Sebagai penghormatan terhadap tanah kelahiran sang pendiri sekaligus pelabuhan keberangkatan Raja Inggris, dial jam ini menampilkan warna abuabu serupa tebing Cornwall, imaji bulan berbahan mother-of-pearl, serta konstelasi Ursa Major dan Cassiopeia sebagai simbol navigasi laut.

BREGUET CLASSIC SOUSCRIPTION 2025

FITUR

Interpretasi modern dari jam saku Souscription menjadi magnet bagi pencinta gaya minimalis berkat grand-feu enamel dial berwarna putih yang menjadi latar dari jarum penanda, logo, dan numeral bergaya Arab khas Breguet.

47


MONTBLANC 1858 GEOSPHERE ANNUAL CALENDAR

LOUIS VUITTON TAMBOUR TAIKO SPIN TIME AIR FLYING TOURBILLON

Sejak pertama diperkenalkan, mekanisme Spin Time telah memukau dengan presentasi waktu lewat kubus berotasi bak melayang. Kini, kehadiran flying tourbillon di pusat dial kian mengangkat keajaiban teknisnya.

HERMÈS ARCEAU ROCABAR DE RIRE

48

Calibre MB M14.58 menandai babak baru bagi Minerva—perusahaan movement yang diakuisisi Montblanc— dengan tiga komplikasi sekaligus pada dial: jendela tanggal ganda, kalender tahunan, serta world time berupa bola dunia tiga dimensi yang berotasi mengikuti pergerakan belahan utara.

K A R YA

Upaya menjadi jenaka diwujudkan Hermès lewat jam dengan ilustrasi kuda yang dihasilkan oleh teknik marquetry dan ukiran. Tekan tombol di posisi angka 9 dan saksikan animasi sang kuda menjulurkan lidah, sebuah gestur usil yang mengundang senyum.


JAEGER-LECOULTRE REVERSO TRIBUTE ENAMEL ‘SHAHNAMEH’ Acapkali keistimewaan lini Duoface memang terletak pada sisi belakangnya. Pada edisi terbatas ini, Anda dapat menemukan interpretasi lukisan Persia bertitel Siyavush Plays Polo Before Afrasiyab yang digarap dengan teknik dekorasi paillonné enamel.

FITUR

49


HUBLOT BIG BANG UNICO MAGIC CERAMIC Sesuai namanya, jam tangan ini menjadi manifestasi terbaru dari "sihir" Hublot di ranah material. Setelah pengembangan selama empat tahun, sang jenama memperkenalkan keramik multiwarna pertama di dunia dalam motif polkadot biru berlatarkan warna dasar abu-abu.

50

K A R YA


IWC BIG PILOT’S WATCH SHOCK ABSORBER TOURBILLON SKELETON XPL Untuk melindungi mekanisme tourbillon, IWC mendobrak batasan dengan menyematkan teknologi baru bernama SPRIN-g PROTECT® yang terbuat dari Bulk Metallic Glass (BMG). Sistem yang telah dipatenkan oleh sang jenama ini mampu meredam guncangan hingga lebih dari 10.000 gauss.

FITUR

51


ROGER DUBUIS EXCALIBUR GRANDE COMPLICATION Mahakarya mutakhir ini mengusung tampilan retrograde ganda nan intuitif dengan indikator hari di sisi kiri, tanggal di sisi kanan, cakram bulan, serta flying tourbillon bersangkar titanium yang berjasa menstabilkan akurasi, semuanya dapat dinikmati lewat dial berkonsep openwork.

52

K A R YA


TUDOR BLACK BAY 58 BURGUNDY DIAL

BULGARI SERPENTI AETERNA

Meski berusia relatif muda (13 tahun), lini kultus Tudor ini terus berevolusi. Estetikanya kini diremajakan lewat dial burgundi metalik berfinis sunburst dan bezel senada, lengkap dengan ukiran Master of Chronometer pada dial yang merepresentasikan mesin MT5400-U bersertifikasi COSC & METAS yang menenagainya.

Seperti ular berganti kulit, Serpenti Aeterna menanggalkan ornamen klasiknya dan lahir dalam siluet minimalis menyerupai gelang. Evolusinya hadir lewat material emas merah muda 18 karat berhiaskan berlian berpotongan brilian yang berpadu harmonis dengan taburan berlian bergaya pavé yang menyelimuti dial.

TAG HEUER FORMULA 1 SOLARGRAPH

FITUR

Interpretasi modern berdiameter 38 mm dari arsip terpopuler TAG Heuer di tahun 1986 ini mengusung sejumlah pembaruan keberlanjutan, seperti bezel bermaterialkan TH-Polylight yang ramah lingkungan dan mesin bertenaga surya, Solargraph, sembari mempertahankan warna vibran dan tipografi khas sang lini.

53


ORIS BIG CROWN POINTER DATE CALIBRE 403

BAUME ET MERCIER RIVIERA M0A10828

Melengkapi ragam kronograf dalam portofolio Riviera, edisi terbatas sejumlah 73 buah ini hadir dengan fitur flyback yang menyederhanakan proses reset dan mampu menghitung beberapa objek secara bergantian dengan cepat, serta dilengkapi oleh skala telemeter dan takimeter untuk mengukur jarak dan kecepatan.

NORQAIN WILD ONE SKELETON 39 MM

54

Meski tampil layaknya dress watch pada umumnya, jam ini menyuguhkan kinerja prima tak tertandingi di kelasnya berkat movement otomatis Cal. 403 yang membanggakan akurasi -3/+5 detik per hari—melampaui mesin bersertifikasi kronometer—dengan cadangan daya hingga 120 jam, serta ketahanan tinggi terhadap magnet.

K A R YA

Iterasi terbatas ini hadir dalam balutan warna hijau mint, memadukan material polimer bio-resin NORTEQ® yang ramah lingkungan dan peredam karet tahan guncangan. Meski hanya berbobot 64 gram, performa jam tetap terjamin berkat Calibre NB08S yang tersingkap lewat dial bergaya skeleton.


BREITLING TOP TIME B01 RACING LIMITED EDITION Estetika lawas yang hangat kembali dihadirkan Breitling lewat koleksi Top Time. Kali ini nuansa nostalgia kian kental lewat berbagai elemen desain khas era 1960-an, seperti cushion case, squircle subdials, dan dial serupa dashboard yang mengingatkan asosiasi eratnya dengan dunia balap.

FITUR

55


PANERAI LUMINOR PERPETUAL CALENDAR GMT PLATINUMTECH™ Dirancang untuk penggemar Luminor dengan berbagai elemen khasnya, jam ini diperkaya oleh fitur perpetual calendar yang tersingkap pada dial safir biru transparan dan GMT yang ditunjukkan oleh jarum penanda zona waktu kedua. Sementara, indikator siang dan malam dapat dilacak lewat subdial di posisi angka 9.

56

K A R YA


L.U.C QUATTRO SPIRIT 25 STRAW MARQUETRY EDITION Lewat teknik marquetry jerami nan langka dari abad ke-17, Chopard menyuguhkan dial hijau bermotif sarang lebah. Prosesnya dicapai dari mengolah jerami gandum hitam asal Prancis, sebelum diwarnai, dibelah, lalu dipotong heksagonal, dan disusun rapat di atas emas merah muda etis yang melatarinya.

FITUR

57


58


SIKLUS

Berkelana dari Masa Ke Masa dengan Louis Vuitton

Hari ini kita mengenal Louis Vuitton sebagai jenama mewah yang merayakan kreativitas dalam segala bentuknya, sebagaimana tercermin lewat portofolio produk yang terus bertumbuh. Mulai dari ranah fashion, horologi, perhiasan, kecantikan, wewangian, dekorasi rumah, hingga perlengkapan hobi. Filosofi Art of Travel atau seni berkelana kemudian menjadi pemersatu semuanya. Namun pertanyaannya: bagaimana kisah ini bermula?

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Kenneth Lazuli

FOTOGRAFI Dok. Louis Vuitton

VIDEOGRAFI Dok. Louis Vuitton

Untuk menjawabnya, kita perlu mengembara ke tahun 1835, saat di mana sosok Louis Vuitton berusia 13 tahun mengambil keputusan berani untuk meninggalkan kota kelahirannya, Anchay, dan berjalan kaki menuju Paris. Selama dua tahun menapaki perjalanan itu dengan tekad dan rasa ingin tahu, ia bekerja serabutan sembari belajar dari setiap tantangan. Pengalaman panjang di jalan itu tidak hanya membentuk karakternya, tetapi juga cara pandangnya tentang perjalanan sebagai sebuah seni yang memadukan ketertiban, kenyamanan, dan keindahan. Dari sinilah lahir seorang perintis yang kelak menghadirkan definisi baru atas perjalanan mewah melalui tas berkelana yang mengutamakan presisi desain, kualitas material, serta keanggunan dalam fungsi.

K A R YA

59


INOVATOR DI MASA LALU Sesampainya di Paris pada tahun 1837, Louis Vuitton bekerja di sebuah perusahaan pembuat kotak kemas milik Monsieur Maréchal. Kala itu, kereta kuda, kapal laut, dan kereta api menjadi moda transportasi utama dan standar keamanan barang masih jauh dari ideal. Para pelancong pun membutuhkan koper dan jasa pengemasan yang bisa melindungi barang berharga mereka.

(Atas) Louis, Georges, Gaston-Louis Vuitton (berbaring di atas trunk bed) berfoto bersama para pekerja di lokakarya Louis Vuitton di Asnières pada tahun 1888 (Bawah) Departemen Making and Packing Louis Vuitton di salah satu manufakturnya di New Bond Street, London

Louis mempelajari teknik pembuatan koper dengan tekun, sambil mengamati kebutuhan setiap pelanggan. Pada tahun 1853, determinasi dan ketelitiannya membuat Louis dipercaya menjadi ahli pengepakan pribadi Permaisuri Prancis, Eugénie de Montijo, istri Napoleon Bonaparte III. Setahun kemudian, ia membuka lokakaryanya sendiri di 4 Rue Neuvedes-Capucines, dekat Place Vendôme. Pada tahun 1858, berbekal pengalaman dan pemahaman mendalam terhadap gaya hidup kliennya, Louis menciptakan koper berpenutup datar yang terbuat dari bahan kanvas ringan. Sebuah inovasi besar pada zamannya karena semua koper sebelumnya dibuat dengan penutup melengkung. Rancangannya yang ergonomis dan mudah ditumpuk segera mendapat sambutan hangat. Di tahun 1859, produksi pun berkembang pesat hingga ia memindahkan lokakarya sekaligus rumah keluarganya ke Asnières, lokasi yang masih menjadi pusat produksi para artisan Louis Vuitton hingga kini. Jejak inovasi Louis tak berhenti di sana. Pada tahun 1872, ia memperkenalkan motif garis merah-putih yang menjadi identitas visual baru. Tiga tahun kemudian, ia merancang koper khusus busana yang memungkinkan pakaian digantung tanpa dilipat sebagai solusi elegan yang mengubah cara orang bepergian. Lalu pada 1886, Louis bersama putranya, Georges Vuitton,

60

K A R YA


(Atas) Sistem kunci tunggal dengan dua pengait pegas menjadi terobosan keamanan pada zamannya (Kanan) Pada tahun 1896, Georges Vuitton memberi penghormatan bagi sang ayah lewat kreasi monogram yang mengintegrasikan inisial namanya

menciptakan sistem kunci tunggal dengan dua pengait pegas, sebuah terobosan di ranah keamanan yang sangat maju untuk zamannya. Georges bahkan menantang Harry Houdini, pesulap pelolos diri legendaris, untuk mencoba melarikan diri dari koper Louis Vuitton yang terkunci rapat. Harry tidak pernah menanggapi tantangan tersebut dan sejak saat itu, keandalan kunci Louis Vuitton menjadi legenda. Namun seiring kesuksesan bisnisnya, Louis Vuitton harus berhadapan dengan gelombang imitasi. Sebagai respons, Louis memperkenalkan motif Damier yang menjadi cetak biru desain abadi bagi rumah mode ini. Kualitasnya pun diakui dunia, termasuk melalui medali emas di Exposition Universelle

tahun 1889, ajang inovasi paling bergengsi pada masa tersebut. Setelah Louis wafat pada tahun 1892, tongkat estafet pun berpindah ke tangan putranya, Georges. Melanjutkan warisan sang ayah sekaligus memperkuat identitas jenama, pada tahun 1896 Georges memperkenalkan monogram ikonis yang kita kenal

SIKLUS

hingga kini. Terinspirasi dari simbol keluarga Jepang (mon), desain ini menggabungkan tiga lambang: bintang bersudut empat sebagai penanda keberuntungan, bunga berkelopak empat sebagai simbol kebahagiaan, serta bintang dalam wajik sebagai cerminan semangat. Semuanya bersanding harmonis dengan inisial sang ayah, “LV”.

61


KANVAS KREATIF DI MASA KINI Kini bisnis Louis Vuitton memang telah berekspansi jauh melampaui tas berkelana. Namun kreasi ikonis ini tetap menjadi simbol perjalanan sekaligus sumber inspirasi bagi sejumlah desainer yang mengembangkan lini rumah mode ini. Bahkan kini, tas berkelana Louis Vuitton masih dapat dipesan melalui situs resminya, dengan proses yang tetap melibatkan pendampingan personal dari butik sebagai bagian dari tradisi layanannya. Dalam kurasi model yang ditawarkan, beberapa siluet klasik tampil menonjol. Courrier Lozine menghadirkan siluet memanjang bak peti kemas aristokrat. Cabine Lozine pun dirancang dengan dimensi yang disesuaikan bagi kabin kapal laut. Sementara Malle Haute menawarkan profil lebih ringkas tanpa kehilangan karakter historisnya.

62

Tak hanya dalam balutan kanvas monogram klasik, pilihan kini meluas hingga aluminium berkilau, motif Damoflage yang menyatukan Damier dan kamuflase, hingga versi transparan yang terbuat dari akrilik kaca. Modernisasi trunk menjadi salah satu poros kreativitas yang diwariskan mendiang Virgil Abloh dalam masa jabatannya sebagai Direktur Kreatif busana pria Louis Vuitton. Eksperimen material, warna, dan proporsi menjadikannya simbol dialog antara arsip dan masa depan, sebuah semangat yang kini diteruskan oleh Pharrell Williams, yang kerap menempatkan trunk sebagai pernyataan visual maupun ideologis dalam setiap koleksinya. Sementara itu, Nicolas Ghesquière mengambil jalur yang lebih subtil

K A R YA

(Atas) Pharrell Williams menampilkan kreasi trunk transparan di panggung peragaan koleksi busana pria Louis Vuitton untuk musim Gugur/Dingin 2025 (Bawah) Trunk kreasi mendiang Virgil Abloh lengkap dengan pickleball set yang dirilis pada tahun 2021 silam sebagai edisi terbatas


dalam lini busana wanita. Alih-alih mempertahankan bentuk trunk secara literal, ia menerjemahkan warisan tersebut ke dalam ragam tas yang lebih fungsional dan intim. Walau tampil dalam format baru, detail-detail kunci dari trunk—proporsi, struktur, dan bahasa desainnya—tetap hadir. Sebuah pengingat akan filosofi lahirnya kreasi trunk itu sendiri: bukan sekadar objek penyimpanan, tetapi manifestasi gaya hidup yang dinamis, merayakan perjalanan dalam segala bentuknya.

PERSONALISASI YANG ABADI Lebih dari 160 tahun sejak tas berkelana pertama diciptakan, dunia perjalanan telah berubah pesat. Trunk memang tak lagi menjadi pilihan utama untuk bepergian, namun eksistensinya tak pernah benarbenar hilang. Kini, ia beralih menjadi simbol kemewahan dan personalitas melalui layanan personalisasi dari Louis Vuitton. Tradisi ini telah lama menjadi ciri khas rumah mode tersebut, dari koper pesanan desainer legendaris Paul Poiret yang dilukis dengan namanya pada tahun 1911, hingga layanan di era 1920-an yang memungkinkan klien menciptakan monogram sendiri. Seiring waktu, personalisasi berkembang menjadi bentuk artistik yang lebih luas dan pragmatis, seperti koper untuk permainan mahjong, perlengkapan minum teh, hingga kue ulang tahun. Pada tahun 2023, Louis Vuitton bahkan berkolaborasi dengan petenis Carlos Alcaraz dalam merancang koper khusus untuk perlengkapan tenisnya. Seolah tak ada batasan desain dalam pemesanan, setiap pesanan khusus dikerjakan

Layanan Mon Monogram memungkinkan kustomisasi pada ragam aksesori perjalanan, seperti koper berinisial yang begitu personal

dengan presisi dan ketelatenan layaknya karya seni, menguji keterampilan dan dedikasi para artisan. Kini, layanan personalisasi pun melampaui tas berkelana. Pelanggan dapat menyematkan inisial pada beragam aksesori perjalanan. Mulai dari tas, hingga sampul paspor. Jika

SIKLUS

dahulu trunk Louis Vuitton lahir untuk mempermudah mobilitas, kini ia menjelma menjadi simbol ekspresi diri. Sebab pada akhirnya, sebuah perjalanan bukan hanya tentang destinasi, melainkan tentang bagaimana kita membawa cerita dan identitas, terpatri elegan dalam setiap sentuhan personal Louis Vuitton.

63


IMAJI

Jejak Waktu dalam Setiap Langkah Sarat Kisah

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENGARAH KREATIF Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Abraham Brian W. / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Andika Dewa / JENDELA.CO Dio Indo C. / JENDELA.CO

64

Setiap pasang sepatu menyimpan lebih dari sekadar jejak. Ia merekam perjalanan hidup. Dari langkah gugup di hari pertama sekolah, degup jantung di pertemuan pertama yang manis, hingga langkah mantap menuju altar kehidupan baru. Waktu bergerak, tapi kenangan tertinggal di setiap sol yang pernah menapak di mana setiap tanda bekas pakai menyimpan kisahnya masing-masing. Melalui enam pasang sepatu dan benda-benda kecil yang menyertainya, KINTAKA menghadirkan potret diam tentang momen-momen yang membentuk diri: masa muda yang polos, cinta yang tumbuh, hingga komitmen yang abadi. Sebuah perayaan visual atas memori dan momentum karena dalam setiap langkah, selalu ada cerita yang layak dikenang.

K A R YA


65


Sepatu Handball Spezial Red, adidas

66


Sepatu Mary Jane Lowpro Mauvewood Pink, Vans Premium

67


Sepatu SOHO, Coach

68


Sepatu Cecilie Bahnsen x Gel-Terrain, Asics

69


Sepatu hak bertali belakang Garavani Bowow 85 Leather, Valentino

70


Sepatu Alessandro Démesure Leather Oxford, Berluti

71


72


TELITI

Kala Koktail: Senja dengan Segelas Rasa Ada sesuatu yang magis ketika hari perlahan meredup dan lampu-lampu kota mulai menyala. Di sela riuh hidup yang tak pernah benar-benar berhenti, cocktail hour menjadi jeda yang kita rayakan. Segelas koktail bukan sekadar ramuan alkohol dan hiasan cantik, melainkan sebuah ritual untuk menandai waktu: dari penutup hari yang panjang, pembuka malam yang menjanjikan, hingga alasan sederhana untuk kembali mengecap hidup. Jakarta pun punya caranya merayakan ritual ini. Kota yang selalu terjaga ini menjadi rumah bagi bar-bar dengan koktail berkarakter, di mana rasa meninggalkan ingatan lebih lama daripada jejak alkoholnya. KINTAKA merangkum empat destinasi di mana kreativitas para mixologist bertemu bahan terbaik, menghasilkan sensasi yang tak hanya diminum, tetapi dinikmati sebagai pengalaman penuh.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

Memusatkan koktail klasik sebagai poros kreativitasnya, Pantja menjadi tempat di mana sejarah dan inovasi berjalan beriringan. Mulai dari interpretasi ulang racikan legendaris, hingga penghormatan terhadap bartender kulit hitam abad ke-19 yang kontribusinya sempat terhapus dari buku sejarah mixology. Kontras dengan nuansa historis Pantja, Phoenix mengajak lidah menjelajahi cita rasa Nusantara dan Asia melalui koktail yang terinspirasi minuman tradisional dan kuliner autentik, layaknya paspor rasa yang membawa kita berpindah budaya dalam setiap tegukan.

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co Song Sujan / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Abraham Brian W. / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Kevin Asi / JENDELA.CO Dio Indo C. / JENDELA.CO

Sementara itu, Puero menghadirkan gaya Italia-Amerika dengan filosofi Rule of Three: tiga pancaindra yang dihidupkan melalui pengalaman sensorik, tiga bahan inti yang diramu secara harmonis, dan tiga langkah presisi. Di sisi lain, The St. Regis Bar Jakarta menawarkan pengalaman elegan berbalut narasi budaya. Dipimpin oleh mixologist peraih penghargaan Paulo Naranjo, bar ini membanggakan inovasi cita rasa yang memadukan resep klasik New York dengan kejutan bahan lokal yang tak terduga. Mana pun yang akan Anda coba, biarkan setiap gelas menjadi penanda kecil bahwa waktu layak dirayakan.

K A R YA

73


MKHO4657

KOMPOSISI Citadelle Old Tom Gin, anggur putih Mancino Sakura Vermouth, teh hojicha, sirup pomelo (jeruk bali) beralkohol, lemon segar, putih telur, dan minyak wijen

CITA RASA Perpaduan aroma minyak wijen dan sakura yang menjadi plot twist pada koktail klasik ini akan meninggalkan impresi yang bertahan selepas tegukan pertama. Kemudian, rasa asam dari sirup pomelo dan kesan nutty dari teh hojicha memperkaya kesegarannya

INSPIRASI Stone Sour klasik karya Thomas Bullock, bartender kulit hitam yang merilis buku manual koktail legendaris, The Ideal Bartender (1917)

PENDAMPING Pasta Bucatini yang creamy menjadi penyeimbang unik bagi koktail ringan ini

PANTJA SAKURA STONE SOUR 74


CITA RASA Segar dari tomat dan sitrus pada tegukan pertama, lalu berkembang menjadi sensasi pedas sambal, gurih umami saus ikan, dan kehangatan rempah Nusantara dengan sentuhan tropis dari arak

INSPIRASI Kekayaan kuliner multikultural Indonesia dengan membanggakan arak lokal, cuka, dan sambal oelek sebagai manifestasi identitas rasa kota Batavia pada Bloody Mary klasik

PENDAMPING Javanese Corn Rib atau Rice Crispy Fried Prawn akan menyatukan bumbu lokal yang memperkuat karakter gurih dan pedas koktail ini

KOMPOSISI Gin, arak, tomat, jeruk nipis, dan racikan rempah

THE ST. REGIS BAR JAKARTA THE BATAVIA MARY


MKHO4657

INSPIRASI

CITA RASA

Bellini, koktail klasik asal Italia, yang dikenal sebagai minuman menyegarkan berkat kombinasi ekstrak buah dan prosecco (anggur putih bersoda)

Perpaduan buah persik, parutan kulit jeruk nipis, gelatin, gula, dan asid dalam sorbet dielevasi oleh rempah khas Italia: sage. Koktail dengan rasa fruity dan floral ini disempurnakan oleh kesegaran prosecco

KOMPOSISI

PENDAMPING

Persik sage, sorbet sitrus, dan prosecco

Teguk koktail ini sebagai palate cleanser pasca menikmati sepiring Spaghettini Arrabbiata layaknya warga Italia sejati

PUERO BELLINI SORBET 76


CITA RASA Sensasi gurih aromatik dari foam pandan menghadirkan kesan awal yang autentik. Selanjutnya, muncul campuran menyegarkan dari pahit khas tequila dan sentuhan asam dari sitrus yang kemudian diseimbangkan oleh manis fruity nan lembut dari milk punch

KOMPOSISI Altos Tequila Reposado, kelapa, Palmyra Milk Punch, sitrus, dan foam pandan

PENDAMPING Buta Popcorn memiliki karakter rasa yang kontras—pedas dan asin—dengan The Putu Sour, namun ketika dinikmati bersama akan saling menyeimbangkan

INSPIRASI Sesuai namanya, koktail ini mengambil inspirasi dari kue putu dengan kombinasi manis dan gurih yang berbalut aroma pandan

PHOENIX THE PUTU SOUR 77


78


Persona T E N TA N G Wawancara inspiratif serta profil mendalam mengenai sosok-sosok yang membentuk, menggerakkan, dan mengembangkan industri gaya hidup.

79


80


SOSOK

Harmoni Lintas Genre dan Generasi AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co Gavin Pareira / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Raymond Ahari / JENDELA.CO Abraham Brian W. / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Andika Dewa / JENDELA.CO Christian Valentino / JENDELA.CO Christopher Kenzi / JENDELA.CO

PENATA BUSANA Charlene Atalie

PENATA RIAS Claudya Christiani Rommy Andreas Dicky Agung S. Apriliza Neosevituri A.

PENATA RAMBUT Kristalianti Arinda P. Jooe Yunedi

LOKASI MOIE, Jakarta

Ada sesuatu yang begitu menyentuh ketika musik menjadi bahasa keluarga. Bukan sekadar profesi, melainkan cara mencintai, membesarkan, dan saling memahami tanpa perlu banyak kata. Dalam edisi ini, kami merayakan harmoni lintas genre dan generasi bersama tiga pasangan musisi: Iis Dahlia dan Salshadilla Juwita, Harvey Malaihollo dan Mikha Tambayong, serta Riafinola Ifani dan Naura Ayu. Di luar panggung, mereka berbagi musik sebagai percakapan yang menjadi cara sederhana untuk saling terhubung dan meneruskan cerita. Di tengah suasana hangat yang terasa seperti ruang keluarga sendiri, mereka duduk berdampingan, berbagi sepasang earphone, tenggelam dalam lagu-lagu yang pernah menjadi pelukan, pengingat, dan penanda perjalanan. Melalui percakapan jujur di mana keduanya saling bertanya satu sama lain, mereka membuka cerita tentang ingatan pertama mengenai musik di rumah, tekanan dan kebanggaan membawa nama keluarga, perjalanan menemukan suara sendiri dan pelajaran yang dibawa sepanjang karier musik. Di jeda obrolan dan tawa, muncul satu lagu yang terasa paling dekat bagi masing-masing pasangan, lagu yang membawa kembali ingatan, rasa, dan perjalanan yang pernah mereka lewati bersama. Karena pada akhirnya, kedekatan keluarga akan selalu menemukan medium untuk saling mendengar. Kadang melalui gemuruh panggung, kadang melalui detik-detik hening yang hanya diisi napas dan ketukan lembut ritme di antara sepasang earphone yang dibagi bersama.

PERSONA

81


Iis Dahlia & Salshadilla Juwita

Iis Dahlia (ID): Apa ingatan pertama kali Kakak mendengar musik di rumah kita? Salshadilla Juwita (SJ): Musik pertama yang aku dengar sepertinya lagu dari acara televisi Tweenies (1999) dan Teletubbies (1997). Dulu aku tidak boleh menonton tayangan televisi lndonesia karena banyak sinetron. Kata Mama, “Nanti kamu jadi cinta-cintaan.” Jadi yang aku tonton dulu adalah Hannah Montana (2006), High School Musical (2006), dan Cheetah Girls (2008). Karena itu, aku sangat menyukai pentas musikal. ID: Setiap keluarga kita liburan keluar negeri, kamu memang suka sekali pergi sendirian untuk menonton langsung pentas musikal. SJ: Iya. Maka dari itu, aku senang sekali mimpiku menjadi aktor musikal terwujud melalui Mamma Mia! The Musical Re-Run bersama Jakarta Art House pada Mei-Juni lalu.

SJ: Selama hampir 40 tahun Mama berkarya, apa yang Mama pelajari dari musik dan ingin teruskan ke anak-anak Mama? ID: Dulu Mama pernah ditipu. Ada yang menjanjikan Mama pasti akan tampil di festival musik. Ternyata, tidak. Zaman dulu label musik hanya beberapa saja. Untuk menjadi penyanyi susah sekali. Walaupun tidak banyak saingan, kesempatan pun juga tidak banyak. Sekarang sangat mudah, ada banyak pencarian talenta atau semua orang bisa membuat konten-konten di media sosial sendiri. Kakak dan Adik (Devano Danendra) sudah bisa menulis lagu dan mengaransemen sendiri, kemudian hanya perlu mengumpulkan teman-teman berbakat yang bisa membantu produksi musiknya. Jadi, Kakak silakan berkreasi. Apa pun genre musik pilihan Kakak dan Adik, Mama bebaskan, yang penting tetap berkomitmen dan bertanggung jawab pada setiap proses pekerjaan yang dijalani.

ID: Apakah Kakak merasa terbebani menjadi anak dari Iis Dahlia? SJ: Iya karena genre musikku berbeda dengan Mama. Banyak orang yang bertanya padaku, “Kenapa jadi aktor

82

musikal? Kenapa tidak jadi penyanyi dangdut?” Padahal bukan aku tidak mau, tapi menyanyi lagu dangdut itu susah. Aku sudah beberapa kali mencobanya tapi memang tidak bisa. Aku berbakat di dunia musik, namun memang jalanku bukan di genre dangdut.

SJ: Adakah momen yang membuat Mama bangga melihatku? ID: Banyak sekali. Mama masih ingat menemani Kakak les vokal sewaktu masih kecil. Lalu, Kakak aktif ikut kombalomba di mal untuk belajar tampil. Selain itu, Kakak juga ikut ekskul menari di sekolah. Ada satu momen ketika Mama akan melahirkan Adik di rumah sakit tapi kamu lagi ada lomba menari di Ancol, Jakarta. Hanya itu satu-satunya momen Kakak lomba yang tidak Mama temani. SJ: Aku ingat itu terjadi saat aku masih TK. Waktu kecil, aku juga sering sekali menemani Mama syuting ataupun tampil di atas panggung sebagai seorang penyanyi. ID: Mama memang ingin Kakak juga terjun di dunia hiburan. Karena itu, sejak kecil, Mama membekali Kakak dengan les vokal dan les piano. Sekarang Kakak sudah besar dan berkarya di panggung-panggung musikal. Awalnya Kakak mencoba menyanyi lagu pop lndonesia, tapi tiba-tiba Kakak bikin lagu sendiri dengan teman-teman Kakak dalam bahasa Inggris hingga merilis dua singel: Albuquerque dan Train One Take Live di tahun 2023 lalu. Itu membuat Mama sangat bangga karena ternyata Kakak bisa menciptakan sesuatu yang menurut Mama keren.

SJ: Menurut Mama, apa lagu yang mewakili hubungan kita? ID: Lagu Beribu Cerita (Dongeng) (2025) yang Adik ciptakan. Waktu itu, Adik tiba-tiba mengajak kita ke studio di lantai atas rumah karena ingin membuat kenangan dengan kita semua. Kita diminta ikut menyanyikan lirik yang berbunyi, “Pada akhirnya waktu berlalu, tersimpan rindu yang menggebu.” Walaupun kita hanya menyanyikan sedikit bagian di lagu itu, Mama rasanya ingin menangis setiap mendengarnya. Mungkin menurut Adik kita punya kesibukan masing-masing, sehingga jarang memiliki waktu bersama. Kemudian, Adik tuangkan perasaannya lewat lagu itu.

PERSONA


Iis Dahlia:

Kardigan dan rok, Tory Burch Salshadilla Juwita:

Kardigan dan rok, Valentino

Beribu Cerita (Dongeng) Devano

SOSOK

83


Harvey Malaihollo:

Atasan, jaket, dan celana, FENDI Mikha Tambayong:

Atasan dan rok, Ami Paris

Terima Kasih Cinta Harvey Malaihollo

84

PERSONA


Harvey Malaihollo & Mikha Tambayong Harvey Malaihollo (HM): Mik, apa ingatan paling awal kamu tentang musik di keluarga kita?

seperti kedisiplinan, cara bertahan di industri hiburan, lalu komitmen terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Aku juga termotivasi untuk selalu belajar menjadi lebih baik dan tentunya mengikuti jejak Papa Ani.

Mikha Tambayong (MT): Dari umur tujuh atau delapan tahun, aku memang sudah ingin jadi penyanyi dan aku rasa pengaruh terbesarnya dari rumah. Apa lagi, aku melihat Papa Ani sudah menjadi seorang musisi sukses di lndonesia, bahkan membawa nama baik tanah air di luar negeri. Kalau orang-orang menanyakan identitas keluarga kita, aku rasa musik adalah salah satunya. Musik telah menjadi bagian dari pola pikir, gaya hidup, dan DNA kita.

MT: Adakah momen yang membuat Papa Ani bangga kepadaku?

MT: Papa Ani sudah melalui banyak hal selama 50 tahun berkarier di dunia musik. Apa pelajaran yang ingin Papa Ani bagikan? HM: Dalam bermusik, tidak hanya talenta saja yang dibutuhkan, tetapi juga kedisiplinan. Menurutku, itu adalah nilai yang tidak akan lekang oleh waktu dan menjadi faktor pendukung perjalanan kita dalam berkarya. Selain itu, aku harap kamu bisa memperkenalkan musik atau seni ke generasi muda di keluarga kita. Tak harus seni suara, ada juga seni lukis, seni tari, dan sebagainya. Aku yakin setiap anggota keluarga kita memiliki talentanya masing-masing dan terserah mereka apakah akan menjadi pelaku seni atau tidak nantinya. Namun bagiku, memperkenalkan seni ke mereka adalah sebuah keharusan karena orang-orang yang mencintai seni memiliki empati yang besar terhadap lingkungan sekitarnya.

HM: Dulu, Papa Ani berada di bayangbayang Bram “Aceh” Titaley yang dijuluki “Buaya Keroncong.” Kalau suaraku bagus, orang tidak akan heran karena aku anaknya Bram Titaley. Tapi, kalau nyanyianku tidak bagus, orang pasti berkomentar tidak enak. Sebagai keponakan Harvey Malaihollo, kamu merasakan beban yang sama, tidak? MT: Tentunya iya, Papa Ani. Tapi, setelah sekian lama, aku merasa tekanan tersebut akhirnya berubah menjadi kebanggaan karena aku jadi punya privilese-privilese yang bisa aku gunakan untuk membantu karierku. Tidak hanya soal bermusik, tetapi juga tentang hal-hal lain,

HM: Waktu itu mendiang Mamamu—yang juga Adikku— pernah bilang kepada Papa Ani bahwa ia sangat berharap kamu bisa menjadi seperti Papa Ani. Saat itu aku hanya berkata bahwa kalau kamu memang punya kemampuan bernyanyi, kamu akan menjadi dirimu sendiri, dengan porsimu sendiri. Karena itu, Mama mencoba membimbingmu lewat dunia modeling dan hal-hal lainnya. Menurutku, tidak ada yang salah dengan itu dan akhirnya kamu bisa merilis album, Bekas Pacar (2010), dan mengeluarkan beberapa singel setelahnya, seperti yang terbaru It’s My Time (2025). Mama pasti melihat dari “atas” bahwa apa yang dulu kami bicarakan kini mulai terjadi dan akan terus berkembang. Mungkin Papa Ani bukan orang yang terlalu ekspresif, tetapi kamu harus tahu bahwa kamu selalu ada dalam doa Papa Ani, dan aku sangat bangga padamu. MT: Terima kasih, itu sangat berarti buatku.

HM: Menurut kamu, apa lagu yang bisa menggambarkan hubungan keluarga kita? MT: Lagu Terima Kasih Cinta (2000) karya Papa Ani punya makna yang sangat personal untukku. Bukan hanya karena itu lagu Papa Ani, tetapi karena lagu tersebut mengisi banyak momen penting dalam hidupku. Aku menikah diiringi lagu itu dan banyak pernikahan saudarasaudara kita juga memilih lagu yang sama. Setiap kali mendengarnya, aku langsung terhubung pada rasa cinta dalam keluarga kita. Ada emosi yang muncul begitu cepat, seolah mengingatkan betapa bersyukurnya aku memiliki keluarga yang hangat dan penuh kasih. HM: Kalau bagi Papa Ani, Terima Kasih Cinta itu lebih tentang makna cinta itu sendiri. Cinta itu sesungguhnya adalah kasih, nilai yang selalu menjadi dasar keluarga kita. Cinta juga bisa dimaknai sebagai wujud syukur kepada Tuhan, bahwa kita dilahirkan dalam keluarga yang penuh kasih setiap harinya. Di sisi lain, cinta juga bisa ditujukan kepada orang-orang di luar keluarga: teman-teman media yang selalu mendukung, penggemar yang setia, dan semua yang menemani perjalanan kita di industri ini. Bagi Papa Ani, lagu itu punya makna yang sangat luas dan universal.

SOSOK

85


Riafinola Ifani & Naura Ayu

Riafinola Ifani (R): Apa ingatan awal Kakak tentang musik di rumah kita? Naura Ayu (NA): Mama. Karena aku anak pertama, dari kecil—bahkan baru lahir—aku sudah diajak Mama menyanyi ke mana-mana. Aku sering ikut Mama latihan, jadi baik di rumah maupun di luar, ingatan pertamaku tentang musik selalu berasal dari Mama. Lalu dari orang tua Mama juga, Omagu (nenek) dan almarhum Opagu (kakek), yang juga mencintai musik. Mereka sering bernyanyi bersama dengan Kakak. Jadi, semuanya berawal dari rumah.

NA: Pelajaran apa yang Mama dapatkan dari musik dan ingin Kakak teruskan? RI: Kejujuran dan kerja keras, itulah nilai yang ingin Mama wariskan. Bagi Mama, seni adalah cara untuk membahagiakan banyak orang sekaligus membahagiakan diri sendiri, dan kebahagiaan itu hanya bisa dicapai ketika kita berkarya dengan hati yang jujur. Sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati; ia bisa menghibur, menguatkan, dan memberi manfaat bagi orang lain. Mama berharap Kakak terus melakukan hal yang membuat Kakak bahagia, sambil membawa kebaikan bagi banyak orang. Biarlah karya Kakak menjadi ladang rezeki. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi mereka yang terlibat dalam perjalanan ini. Semoga itu menjadi doa yang baik dan menjadi berkah yang luar biasa bagi Kakak.

NA: Momen apa yang paling bikin Mama bangga sama Kakak? RI: Setiap momen membuat Mama bangga karena setiap langkah adalah tangga yang membawa Kakak menuju prestasi berikutnya. Dari perjalanan awal—ditolak di sana-sini, sampai akhirnya menemukan label—kita melewati semuanya bersama. Kita membangun dari nol: membuat akun Instagram, merekam video klip hanya dengan ponsel, mengadakan sayembara sendiri, sampai akhirnya dalam satu tahun Kakak bisa menggelar konser pertama dan tiketnya terjual habis. Tahun-tahun berikutnya pun sama, hingga tujuh kali konser dengan antusiasme luar biasa, bahkan di saat musik anak sempat mati suri. Ketika masa peralihan datang—walaupun Kakak sempat ragu melanjutkan bermusik—Kakak justru menemukan suara dan tujuanmu sendiri. Kakak menulis lagu, menciptakan konsep, dan menumpahkan isi hati dalam karya. Bagi Mama, itulah pencapaian yang paling membanggakan: melihat Kakak tumbuh menjadi diri yang jujur, berani, dan setia pada prosesnya.

NA: Apa lagu yang mewakili hubungan kita?

RI: Karena Mama juga berkarier sebagai penyanyi, apakah Kakak merasa terbebani? NA: Tidak pernah terasa sebagai beban. Justru aku sangat bangga dan mengagumi perjalanan Mama. Mulai dari dulu sebagai AB3, Be3, hingga sekarang. Meskipun banyak orang berpikir bahwa anak musisi belum tentu bisa seperti orang tuanya, aku tidak pernah melihat itu sebagai tekanan. Sebaliknya, aku justru merasa termotivasi. RI: Walaupun kamu dinilai sebagai nepo baby? NA: Memang benar, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku seorang nepo baby dengan privilese tertentu. Tapi

86

menurutku, hal terbaik yang bisa kulakukan adalah melanjutkan privilese itu dengan cara yang bertanggung jawab, menggunakannya untuk bekerja keras, berkembang, dan memberi karya yang berarti. Walaupun jalanku mungkin tidak sama beratnya seperti orang lain yang tidak memiliki privilese, bukan berarti aku tidak berusaha.

RI: Sahabat Setia (2016) adalah lagu yang setiap kali kita nyanyikan, selalu membuat kita menangis. Dari dulu, saat Kakak masih belum mengerti maknanya, sampai sekarang ketika Kakak sudah memahami dengan sepenuhnya. Di setiap konser, aku hampir selalu fales saat menyanyikannya karena perasaan yang begitu dalam. Bagi aku, lagu itu adalah isi hati seorang orang tua untuk anaknya. NA: Iya dan ternyata, Sahabat Setia yang selama ini aku nyanyikan betul-betul menjadi kenyataan dalam hidupku. Di setiap momen pendewasaan yang sudah aku lewati, Mama selalu menjadi sahabat setiaku.

PERSONA


Riafinola Ifani:

Kemeja dan celana, FENDI Naura Ayu:

Jaket dan rok, CELINE

Sahabat Setia Naura & Nola

SOSOK

87


SOSOK

BTL Aesthetics: Mesin Waktu Peremaja Kulit

Penuaan kini bukan lagi soal usia, melainkan refleksi dari cara kita hidup hari ini. Rutinitas yang padat, paparan layar tanpa henti, polusi tak kasat mata, hingga pola makan dan tidur yang sering dikompromikan, semuanya menjadi jejak halus di kulit. Akibatnya, tanda-tanda penuaan muncul lebih cepat dari yang seharusnya. Dunia kecantikan pun berputar sama cepatnya. Setiap minggu, seolah selalu ada perawatan yang harus dicoba, dicatat, atau dihindari. Informasinya begitu melimpah hingga terasa menyesakkan. Banyak orang akhirnya berhenti karena terlalu banyak pilihan membuat mereka tidak tahu harus memulai dari mana.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Daud Chriswanto / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Andika Dewa / JENDELA.CO Ivan Mosqueda / JENDELA.CO

88

Di tengah kebisingan itu muncullah teknologi estetika modern yang berkembang bukan untuk membuat kita berubah, melainkan untuk membantu kita merawat diri tanpa drama, rasa sakit berlebihan, dan downtime panjang yang tidak realistis di tengah rutinitas yang serbapadat. Untuk memahami arah baru ini, KINTAKA berbincang dengan tiga praktisi estetika yang mengintegrasikan teknologi anti-penuaan dengan hasil natural dan berkelanjutan dari BTL Aesthetics ke dalam praktik mereka. Karena merawat kulit bukan lagi soal mengejar keajaiban instan untuk memutar balik usia, melainkan tentang menemukan ritme yang memungkinkan kita kembali merasa utuh dan nyaman dengan kulit kita sendiri—hari ini, esok, dan seterusnya.

PERSONA


89


teknologi EMFACE® dari BTL Aesthetics yang dapat menjadi solusi untuk berbagai perawatan anti-penuaan. Karena bersifat non-invasif, alat ini tidak menyebabkan kerusakan pada permukaan kulit. Maka, sangat aman untuk digunakan segala usia ataupun jenis kulit.

Apa yang membuat teknologi EMFACE® berbeda dengan perawatan kulit lainnya? Mayoritas alat yang digunakan dalam perawatan antipenuaan hanya berfokus pada pengencangan dengan basis panas. Padahal tidak hanya kekenduran kulit yang terjadi, tetapi juga pengurangan volume pada massa wajah di mana lemak berkurang, kulit menipis, dan otot juga mengecil. Tindakan filler kerap menjadi pilihan instan bagi kebanyakan orang, namun sesungguhnya dapat menimbulkan ketergantungan. Maka, perawatan dengan EMFACE® menjadi superior karena ia merupakan satu-satunya alat yang mengencangkan kulit, mengembalikan struktur awal wajah dengan menambah massa otot, sekaligus meningkatkan tonus otot yang memberikan efek lifting.

Berapa banyak sesi yang dibutuhkan hingga hasil perawatan EMFACE® mulai terlihat?

dr. Danu Mahandaru, Sp.BP-RE, FICS

Sebetulnya dalam satu kali perawatan dengan EMFACE®, efek lifting sudah langsung terlihat. Untuk volume yang lebih terisi biasanya membutuhkan perawatan sekitar 2-4 kali. Meski tidak instan, hasil dari perawatan EMFACE® lebih aman dan berkelanjutan dengan penampilan natural yang tidak terlihat seperti hasil dari perawatan estetika pada umumnya.

SUPERB CLINIC Kapan sebaiknya seseorang mulai mempertimbangkan perawatan di klinik? Tergantung dari kebutuhan atau masalah yang timbul dalam perjalanan usia. Contohnya, jika pada usia 15 tahun sudah mengalami kondisi jerawat yang kompleks, tentu kita harus segera ke klinik untuk mengatasinya sekaligus menghindari problem bekas luka jerawat berkepanjangan. Oleh karena itu, menurut saya, konsultasi dengan praktisi ahli di klinik dapat dilakukan sedini mungkin ketika sudah muncul permasalahan pada kulit wajah.

Apa kesalahan umum yang sering dilakukan orang saat memilih perawatan kulit? Banyak orang yang mengira bahwa perawatan di klinik estetika itu selalu melibatkan tindakan ekstrem. Padahal tidak semua perawatan di klinik pasti invasif, seperti halnya

90

Bagaimana memastikan hasil dari perawatan kulit dapat berkelanjutan? Kualitas hidup harus diperbaiki dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga rutin, mengurangi stres, dan meminimalkan penggunaan gadget dengan paparan sinar biru yang mengakselerasi penuaan. Kalau ingin mendapatkan sesuatu yang lebih lewat tindakan tertentu, penting untuk mengetahui prosedur lengkap dengan potensi komplikasinya, serta alternatif tindakan lain. Saat ini klinik kecantikan semakin menjamur, namun tidak semua memiliki profil dokter yang transparan. Itulah mengapa, setiap dokter di Superb Clinic harus memiliki setidaknya 10 tahun pengalaman di bidang estetika. Demi hasil yang lebih aman dan efektif, kami juga memadukan perawatan dengan teknologi AI.

PERSONA


Kapan sebaiknya seseorang mulai mempertimbangkan perawatan di klinik? Banyak klien yang belum sepenuhnya mengetahui kondisi kulit mereka. Mulai dari jenisnya, masalah yang sedang terjadi, hingga solusi yang paling tepat. Karena itu, konsultasi langsung di klinik bersama dokter dan pakar kecantikan yang berpengalaman akan memberikan arahan yang lebih akurat. Berbeda dari perawatan rumahan, klinik memiliki teknologi-teknologi mutakhir yang mampu memberikan hasil nyata dan terukur.

Apa kesalahan umum yang sering dilakukan orang saat memilih perawatan kulit? Banyak klien cenderung mengikuti tren. Misalnya, saat laser pico sedang populer, semua merasa harus menjalani laser pico padahal tidak semua jenis kulit membutuhkannya. Tren seperti ini justru kerap merusak skin barrier, sehingga kondisi kulit makin sensitif dan sulit merespons perawatan apa pun. Itulah mengapa, kami menggunakan EMFUSION® dari BTL Aesthetics untuk memulihkan pertahanan kulit.

Apa yang membuat teknologi EMFUSION® berbeda dengan perawatan kulit lainnya? Perawatan dengan EMFUSION® serupa dengan facial, namun jauh lebih aman untuk kulit sensitif yang tidak selalu bisa ditawarkan oleh alat exfoliating lain. Karena fokus utamanya adalah memperkuat skin barrier, EMFUSION® memaksimalkan hasil tindakan invasif maupun ablatif, seperti laser atau microneedling. Seminggu sebelum tindakan, kami menyarankan EMFUSION® agar kulit lebih bersih dan terhidrasi. Lalu satu minggu setelah tindakan, exfoliating dapat dilakukan dengan EMFUSION® untuk kulit yang lebih halus dan merata.

Berapa banyak sesi yang dibutuhkan hingga hasil perawatan EMFUSION® mulai terlihat? Kami biasanya menyarankan facial dengan EMFUSION® tiga sampai empat minggu sekali untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang perlu dibersihkan. Tidak ada batasan khusus, sebagaimana alat ini ideal sebagai maintenance bulanan.

Yuli Yuwono

LOVLOV HOUSE OF BEAUTY

Kebanyakan klien yang mencoba EMFUSION® justru antusias mengulang perawatan berikutnya karena kulit mereka tampak lebih glowing, flawless, dan terlihat lebih muda pasca facial dengan EMFUSION®. Semua itu didapat tanpa downtime dan rasa sakit karena EMFUSION® tidak melibatkan tindakan invasif maupun jarum.

Bagaimana memastikan hasil dari perawatan kulit dapat berkelanjutan? Ketepatan adalah kunci dalam perawatan kulit. Tanpa pendekatan yang sesuai, produk maupun teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil yang optimal. Di LOVLOV House of Beauty, kami menghadirkannya melalui kombinasi produk premium, detoksifikasi dengan teknik holistik, serta teknologi bersertifikat yang didukung bukti uji klinis. Maka dari itu, hampir seluruh perangkat yang kami gunakan berasal dari BTL Aesthetics, brand tepercaya dengan portofolio teknologi berstandar global.

SOSOK

91


BTL Aesthetics memungkinkan pendekatan yang lebih terpersonalisasi melalui teknologi presisi. Kami percaya bahwa perawatan yang semakin tepat sasaran akan menunjukkan hasil yang jauh lebih efektif.

Apa yang membuat teknologi EXION® berbeda dengan perawatan kulit lainnya? EXION® menonjol karena punya kecerdasan artifisial, RF, dan ultrasonografi tertarget, sehingga energinya bisa disalurkan lebih presisi tanpa rasa sakit dan dengan downtime minimal. Tidak hanya merangsang kolagen dan elastin, EXION® juga dapat menstimulasi produksi hyaluronic acid, sehingga hasilnya lebih lengkap. Keunggulan lainnya, EXION® dapat mencegah hilangnya kolagen pada pasien berusia 20-an. Sedangkan, untuk usia 30-an ke atas, EXION® dapat merestorasi kolagen. Jadi, ini adalah alat serbaguna untuk perawatan kulit lintas generasi.

Berapa banyak sesi yang dibutuhkan hingga hasil perawatan EXION® mulai terlihat? Kepuasan terhadap hasil akhirnya sangat bergantung pada objektif dan kondisi awal pasien. Untuk kasus bekas luka yang dalam, biasanya dibutuhkan 3–4 sesi karena pematangan kolagen memerlukan waktu 2–3 bulan. Sementara itu, untuk pasien dengan kulit relatif baik, 1–2 sesi saja sudah dapat menunjukkan perubahan signifikan. Meski begitu, yang kita kejar bukan perubahan cepat, melainkan ketahanannya. Berdasarkan penelitian, hasil jangka panjang yang stabil membutuhkan setidaknya tiga sesi berurutan dengan jeda sebulan. Setelah itu, hasil dapat bertahan hingga sekitar satu tahun sebelum evaluasi ulang.

dr. Olivia Aldisa M.Sc. Aesthetic Med. (UK) ALTRUVA AESTHETIC CLINIC Kapan sebaiknya seseorang mulai mempertimbangkan perawatan di klinik? Skincare adalah fondasi utama, terutama untuk perlindungan sehari-hari. Namun, seiring bertambahnya usia, kerusakan kulit tidak lagi terjadi hanya di lapisan permukaan. Elastisitas mulai menurun, produksi kolagen berkurang, dan perubahan terjadi lebih dalam. Pada tahap inilah intervensi medis di klinik estetika dibutuhkan untuk memberikan perbaikan yang tidak dapat dicapai oleh skincare saja.

Apa kesalahan umum yang sering dilakukan orang saat memilih perawatan kulit? Sering kali pasien lebih mengikuti tren ketimbang memahami kondisi kulitnya sendiri, padahal setiap orang memiliki kondisi biologis kulit yang berbeda. EXION® dari

92

Bagaimana memastikan hasil dari perawatan kulit dapat berkelanjutan? Penting untuk lebih sadar terhadap apa pun yang kita aplikasikan ke tubuh dan wajah karena semua membutuhkan proses dan konsistensi. Perawatan di klinik estetika seharusnya menjadi perpanjangan dari gaya hidup yang sehat: 80 persen hasil datang dari kebiasaan seharihari dan 20 persen dari tindakan estetika. Jangan dibalik. Di Altruva Aesthetic Clinic, saya membangun pendekatan regenerative contouring. Mulai dari kurasi alat, teknik, hingga peta perjalanan tiap pasien, semuanya berfokus pada regenerasi, bukan koreksi berlebihan. Kami ingin menjadi partner jangka panjang bagi pasien agar mereka dapat melewati tahun demi tahun dengan kulit sehat dan penampilan yang tetap mencerminkan karakter asli mereka.

PERSONA


EMFACE ® : REJUVENASI KULIT DAN OTOT WAJAH

EMFUSION ® : MEMPERKUAT PERTAHANAN KULIT

EXION ® : SOLUSI CERDAS DAN TERPADU

Terdapat alasan mengapa banyak orang mengandalkan injeksi filler untuk penampilan seketika lebih muda. Tak hanya mengatasi kerutan, filler juga dapat menambah volume pada area tertentu untuk menyegarkan penampilan. Namun, sebagaimana prosedur instan kebanyakan, hasil filler tidak bertahan lama yang kemudian memancing ketergantungan pasien dan berakibat pada overfill syndrome.

Kita tahu bahwa skin barrier yang rapuh membuat kulit lebih rentan terhadap stresor eksternal, seperti sinar UV, patogen, dan polusi, sehingga lebih mudah iritasi dan kusam, serta terjadi penuaan dini. EMFUSION® menjawab masalah ini melalui kombinasi terobosan teknologi DYNAMiQ dan bahan aktif khusus yang memulihkan proteksi alami kulit hingga 80 persen.

Lima prosedur perawatan kulit hingga bagian terintim terangkum menjadi satu di EXION®. Clear RF memperhalus tampilan pada kulit dengan ablasi mikro, mereduksi lesi akibat penuaan maupun paparan sinar matahari. Sedangkan, Fractional RF mengurangi kulit tidak rata, kerutan, bahkan stretch mark pada tubuh.

Oleh karena itu, EMFACE® hadir dengan teknologi RF yang merangsang produksi kolagen dan elastin pada lapisan dalam kulit, sementara HIFES™ menstimulasi otot-otot wajah yang mulai melemah seiring waktu. Hanya 20 menit per sesi, perawatan non-invasif ini memungkinkan perbaikan struktur pendukung wajah secara lebih komprehensif dengan hasil natural yang berkelanjutan.

Aman untuk berbagai jenis kulit termasuk yang sensitif, EMFUSION® mengeksfoliasi sel-sel kulit mati secara lembut tanpa jarum maupun downtime. Menghasilkan kulit yang bersih dan terhidrasi, EMFUSION® ideal untuk pemeliharaan rutin selayaknya facial yang memaksimalkan penyerapan skincare, serta perawatan sebelum dan sesudah tindakan invasif maupun ablatif untuk persiapan dan penyembuhan yang optimal.

SOSOK

Untuk area tubuh lain, EXION® Body memadukan pemanasan dan pendinginan untuk mengencangkan kulit dan mengurangi lemak terlokalisasi. Kemudian, EXION® Face meremajakan kulit, mengatasi kulit kendur, serta meningkatkan hyaluronic acid hingga 224 persen melalui stimulasi mekanis dan termal. Terakhir, EMFEMME 360 merejuvenasi bagian intim secara menyeluruh dalam sesi 8 menit. Dengan EXION®, rangkaian teknologi bekerja saling melengkapi untuk memberikan perawatan yang presisi dan nyata.

93


94


KO L E K TO R

Koleksi Swatch Sarat Nostalgia Michael Hartono Melalui koleksi jam tangan Swatch miliknya, Michael Hartono seolah mengajak kita kembali ke dekade ‘80-an, era di mana mengoleksi sesuatu masih menuntut usaha fisik dan dedikasi waktu. Ada sensasi berdiri semalaman di depan butik, perjalanan spontan ke kota bahkan negara lain demi memburu satu model yang diincar, dan detak adrenalin ketika akhirnya menemukan yang dicari. Tentu, beberapa kolektor mungkin masih menjalankan praktik serupa hingga sekarang. Namun, keterbatasan akses informasi pada masa itu menciptakan dinamika dan romansa yang berbeda. Belum ada internet yang selalu siap menjawab rasa penasaran dalam hitungan detik; belum ada unggahan media sosial berisi bocoran rilisan baru. Setiap informasi terasa langka dan begitu berharga. AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Abraham Brian W. / JENDELA.CO Daud Chriswanto / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Christopher Kenzi / JENDELA.CO

LOKASI Bar Kotak, Jakarta

Tanpa algoritma yang sigap memandu setiap langkah, para penggemar jam harus berusaha secara aktif: bertanya, membaca, berburu kabar dari mulut ke mulut. Semuanya membuat wawasan terasa eksklusif dan keanggotaan dalam komunitas pencinta jam menjadi rangkaian momen yang memanjakan jiwa. Saat berhasil melengkapi koleksi, kepuasan yang dirasakan pun meledak lebih tinggi daripada sekadar checkout beberapa etalase sekaligus di e-commerce. Dalam pengalaman Michael, perjalanan mengoleksi Swatch sering dibentuk oleh kebetulan-kebetulan indah, momen-momen tak terduga yang membuatnya terasa begitu personal. Meski kini pergelangan tangan Michael saat bekerja sebagai Direktur Pemasaran dan Komunikasi di Rekso Nasional Food lebih sering dihiasi jam-jam mekanis, kenangannya akan masa-masa mengoleksi Swatch masih terasa segar, seakan baru terjadi kemarin sore.

PERSONA

95


Bagi Michael, keragaman desain dan warna pada jam tangan Swatch membuatnya selalu memikat dan jauh dari kata membosankan

Masa remaja Michael bertepatan dengan periode pascakrisis kuarsa, era ketika jam tangan Swiss yang diagungkan karena kemewahan mekanisnya dipaksa berhadapan dengan realita baru: jam baterai asal Jepang yang lebih praktis dan presisi. Di tengah guncangan itu, sosok Nicolas G. Hayek muncul bagaikan rockstar yang menyelamatkan industri horologi Swiss dengan Swatch: jam baterai berbadan plastik yang tetap menyandang status “Swiss Made”. “Semasa saya SMA, Swatch sangat trendi karena berhasil mendobrak stigma dengan jam tangan buatan Swiss berharga terjangkau. Langkah berani pendiri Swatch Group, mendiang Nicolas G. Hayek, begitu inspiratif bagi saya. Oleh karena itu, hasil menabung dari uang jajan pun akhirnya saya gunakan untuk membeli jam tangan pertama saya, yaitu Swatch warna hitam polos,” kenang Michael.

96

“Suatu waktu di momen perayaan Ketika kuliah di Amerika Serikat, Paskah, Swatch menantang anggota minat Michael terhadap Swatch komunitasnya untuk mewarnai atau menemukan konteks yang kian mendalam. “Kebetulan teman kuliah menambahkan gambar pada ilustrasi telur yang mereka sediakan, lalu saya juga menyukai jam tangan Swatch. Saya banyak belajar darinya, mengirimkannya kembali kepada mereka. Saya beruntung menjadi termasuk mengenai nilai jam ini di pasar sekunder yang menjadikannya salah satu pemenangnya, sehingga semakin menarik. Kami berdua pun mendapatkan akses untuk membeli jam akhirnya bergabung sebagai anggota tangan edisi khusus Paskah tersebut,” komunitas resmi Swatch,” kata Michael.cerita Michael penuh antusias. Dari situlah perjalanan Michael sebagai Layaknya kenangan yang tak bisa kolektor benar-benar dimulai. digenggam, semakin bertambahnya Sebagai seorang marketer, Michael jam tangan Swatch yang dimiliki memiliki naluri tajam dalam melihat Michael justru menjadi semakin jarang ia kenakan di pergelangannya. kekuatan sebuah storytelling dan Esensinya sebagai penunjuk waktu baginya, Swatch adalah maestro dalam hal ini. Mulai dari peluncuran seolah bergeser menjadi karya seni produk dengan desain tematik yang yang ia pandang dengan penuh selaras antara jam dan kemasannya, apresiasi. Kini, setiap kotak jam dalam hingga deretan edisi terbatas, serta koleksinya tak hanya menyimpan tantangan eksklusif yang membuat sebuah objek, tetapi juga cerita mepara penggemar seolah terlibat dalam narik yang melekat pada perjalanan hidup Michael Hartono. sebuah permainan penuh kejutan.

PERSONA


SWATCH GENT PROSPEROUS FISH GB226 (2005) “Sejujurnya, saya memang suka memancing dan memelihara ikan. Ketika sedang jalan-jalan dan kebetulan menemukan jam tangan ini, saya langsung jatuh cinta. Bagi saya, ikan merupakan simbol keberuntungan. Oleh karena itu, jam tangan ini menggambarkan kepribadian sekaligus harapan saya.”

SWATCH SHAKE THE WORLD - NO 19 SUJZ102 (2006) “Salah satu alasan mengapa saya sangat terkesan dengan Swatch adalah pendirinya, yaitu Nicolas G. Hayek. Saya mengagumi beliau sejak membaca artikel mengenainya di Harvard Business Review. Nicolas adalah seorang inovator. Ia berhasil mengubah paradigma dengan menjual banyak sekali jam tangan Swiss bertenaga baterai lewat Swatch. Hal itu luar biasa bagi saya dan merupakan terobosan di zamannya. Suatu hari, saya memperoleh kesempatan untuk meminta tanda tangan beliau di kotak jam tangan ini. Bahkan, saya masih menyimpan dengan baik spidol yang beliau gunakan saat menandatanganinya. Oleh karena itu, jam ini bernilai sangat personal dalam koleksi saya. Saya bangga sekali mendapatkan tanda tangan dari sosok yang menjadi inspirasi saya.”

KO L E K TO R

97


SWATCH TEQUILA GO102 (1994) “Jam tangan ini membangkitkan nostalgia bagi saya. Saya masih ingat betul betapa populernya jam ini hingga terjual habis saat pertama kali dirilis semasa saya berkuliah di Amerika Serikat. Desainnya cukup unik karena berwarna cerah dengan gambar kaktus pada dial. Jam ini diberi nama Tequila karena terinspirasi oleh kota Quila, Meksiko. Meski sempat cukup lama tidak berhasil mendapatkannya, ternyata jam ini diproduksi kembali. Menariknya, saya menemukan jam ini secara kebetulan ketika sudah pulang ke Indonesia. Saat berada di sebuah mal, saya mengunjungi toko Swatch dan sangat kaget waktu melihat jam ini. Terus terang, senyum saya lebar luar biasa karena saya tidak menyangka dapat menemukan jam yang saya inginkan selama ini dan membelinya dengan harga sesuai peritel resmi.”

SWATCH ART SPECIALS BERSAMA MIKA: KUKULAKUKU SUOZ171 (2013) “Sebagai pencinta seni, saya sangat menikmati bagaimana Swatch sering berkolaborasi dengan berbagai seniman. Salah satu yang cukup terkenal adalah Keith Haring. Banyak orang yang mencari jam tangannya, sehingga harga jual satu seri lengkap bisa mencapai ribuan dolar Amerika Serikat di pasar sekunder. Meski saya tidak berhasil mendapatkan jam tersebut, saya justru memperoleh jam kolaborasi lain yang sangat unik dan personal. Pertama, jam ini adalah hasil kerja sama dengan seniman bernama Mika yang namanya mirip dengan saya, Michael. Kedua, saya sebenarnya seorang introver, tapi jam ini mengingatkan bahwa ada bagian yang berwarna dalam diri saya.”

98

PERSONA


SWATCH GOLDFINGER SCM100 (1991) “Penampilan klasik menjadikan jam tangan ini sangat populer. Di saat hampir semua jam tangan Swatch dilengkapi oleh temali plastik, jam ini justru menandai pertama kalinya Swatch merilis temali kulit. Dari segi desain, jam tangan ini juga tampak berbeda dari model lain yang biasanya lebih playful dengan banyak warna. Fitur kronograf dengan nuansa krem, cokelat, dan emas mewakili nama koleksi ini, Goldfinger. Maka wajar saja

bila jam ini tak hanya dikoleksi dan disimpan, tetapi juga dipakai oleh kalangan eksekutif. Dalam rangkaian koleksi Chrono yang diperkenalkan Swatch untuk pertama kalinya di tahun ‘90-an, model ini salah satu yang paling sulit didapatkan. Saat itu banyak yang menjualnya di pasar sekunder dengan harga tinggi, namun saya tetap berupaya mencarinya di toko.

KO L E K TO R

Secara kebetulan, saya menemukan jam ini di sebuah toko Swatch di Portland, Oregon, Amerika Serikat. Saya merasa sangat beruntung saat mendapatkannya. Tak hanya karena jam ini tinggal satu-satunya di toko tersebut, tetapi saya juga berhasil membelinya dengan harga ritel dan tanpa pajak, mengingat Oregon memang merupakan salah satu negara bagian yang tidak memberlakukan pajak penjualan.”

99


S U D U T PA N D A N G

Momentum Investasi di Pasar Kripto

Barangkali sejak manusia pertama mengenal sistem ekonomi kapitalis, investasi selalu menjadi upaya paling sunyi untuk bernegosiasi dengan masa depan. Setiap keputusan yang kita ambil hari ini—entah membeli logam mulia, saham, maupun aset daring—adalah cara kita menitipkan harapan pada waktu. Sepanjang sejarah, prinsip itu tidak banyak berubah, kecuali dalam dua hal: ritme dan kesadaran masyarakat. “Pernikahan” janggal antara ketidakpastian ekonomi global dan pesatnya perkembangan teknologi, ternyata melahirkan generasi yang lebih waspada dalam mengelola keuangan. Namun kesadaran ini tumbuh bukan dari kenyamanan, melainkan kegamangan. Persepsi bahwa investasi itu rumit dan eksklusif memang mulai luntur, tetapi kemudahan akses justru memunculkan tantangan baru: bahwa tidak sedikit yang melihat investasi masa kini sebatas “mekanik ajaib untuk melipatgandakan uang”.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Dwi Lukita

Hadirnya sosok yang memahami irisan halus antara manusia, teknologi, dan momentum pun menjadi krusial. Tuntutannya jelas tidak ringan, dan bahkan Calvin Kizana, selaku CEO dari Tokocrypto, mengakui bahwa ia masih terus belajar mengurai dinamika tersebut. Walau begitu, latar belakangnya di dunia teknologi informatika, dipadu perjumpaannya yang unik dengan dunia investasi, justru membentuk pendekatan Tokocrypto yang terasa lebih membumi dan tepat sasaran.

FOTOGRAFI Jimmy Balia Dok. Narasumber

VIDEOGRAFI Calvionita

100

Dalam perbincangan langsung dengan KINTAKA, Calvin bercerita penuh semangat tentang perjalanannya. Refleksi yang pada akhirnya menjadi sebuah pengingat bahwa investasi bukan hanya soal hitungan, tetapi tentang kesiapan pribadi menyambut momentum yang datang.

PERSONA


101


Mari bernostalgia. Apa investasi pertama Anda? Dulu saya sempat sangat ketagihan mengoleksi beberapa seri Gundam yang tergolong langka. Tapi lucunya, tidak saya rakit. Alasannya selain tidak ada waktu, ada perasaan “sayang” untuk membuka kotaknya. Tanpa saya sadari, kegiatan ini berubah menjadi bentuk investasi awal saya. Nilainya memang tidak melonjak luar biasa, tetapi tetap ada kenaikan, terlebih karena kondisinya masih tersegel. Setelah itu, barulah saya mengenal saham. Mulai dari saham lokal, lalu beralih ke saham global. Dari sana, saya semakin paham bahwa investasi itu sangat bergantung pada momentum. Ketika waktu dan instrumennya tepat, hasil jangka panjangnya bisa sangat bermakna.

Bagaimana perkenalan Anda dengan mata uang kripto? Di pertengahan tahun 2016, seorang teman, yang sempat menjadi kolega kerja ketika masih di Amerika Serikat, memperkenalkan Bitcoin dan meyakinkan bahwa aset digital ini punya potensi besar untuk masa depan. Saya mulai beli sedikit, lalu karena saya punya latar belakang informatika, saya membaca dokumen-dokumen formalnya. Di situlah saya merasa tertarik. Jika konsepnya benar berjalan, lanskap finansial dunia pasti berubah.

Ceritakan perjalanan dan latar belakang Anda sampai di posisi sekarang. Saya kuliah di jurusan teknologi informatika dengan fokus pada pemrograman. Setelah lulus, saya sudah berniat mengambil S2 di bidang bisnis agar seimbang antara sisi teknis dan bisnisnya. Maka sebelum menempuh S2, saya sempat kerja terlebih dahulu untuk memenuhi syarat negara. Di masa ini, saya mencicipi bekerja di beberapa negara, seperti Singapura dan Amerika Serikat, sebagai pengembang program. Lalu saya kembali ke Indonesia dan mendirikan perusahaan pertama saya di bidang pengembangan situs, aplikasi, dan aset digital. Pada 2012, perusahaan itu saya jual ke investor. Saya kemudian membangun PicMix yang saat itu sempat disebut sebagai Instagram-nya BlackBerry. Namun ketika Instagram dibeli oleh Facebook dan bertepatan pandemi datang, PicMix akhirnya harus tutup pada 2020. Setelah itu, saya bergabung dengan Gojek untuk membantu pembangunan platform OTT GoPlay. Tidak lama kemudian, saya direkrut Meta sebagai Country Director WhatsApp Indonesia. Hingga akhirnya, salah satu figur penting mengajak saya masuk lebih jauh ke dunia Web3 dan blockchain yang kemudian membuka jalan bagi saya untuk memimpin Tokocrypto sejak Januari 2025.

Tokocrypto dan Binance menggelar panel diskusi Web3 bertajuk Beach House di Tabanan, Bali, yang dihadiri oleh 2.500 peserta

102

PERSONA


Apa yang membedakan Tokocrypto dengan bursa jual beli aset kripto lainnya? Kami selalu menempatkan edukasi sebagai fondasi utama. Tujuannya, masyarakat harus memahami instrumen investasi sebelum terjun, bukan sekadar ikut-ikutan tren atau mengejar iming-iming keuntungan cepat. Tahun lalu, Tokocrypto mengadakan sekitar 300 acara edukasi, mendatangi berbagai kota di Indonesia. Materinya pun tidak seputar kripto saja, tetapi mencakup pengetahuan finansial dasar, profil risiko, hingga perbandingan berbagai instrumen. Kami percaya komunitas selalu memegang peran terpenting dalam ekosistem kripto ini. Jadi, kami merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi audiens, terutama fakta bahwa pada akhirnya, pengguna sendirilah yang harus menentukan pilihan investasinya. Tentu dengan mempertimbangkan preferensi pribadi dalam mengambil keputusan yang sehat dan terhindar dari praktik yang berbahaya, seperti judi berkedok investasi. Berbicara soal fitur, pada akhirnya semua bursa akan mengarah ke fitur yang sama. Begitu pula terkait biaya transaksi, misalnya. Semua akan bersaing di sana. Untuk itu, kantor kami pun secara aktif kami jadikan tempat mengadakan pertemuan rutin antar komunitas. Inklusivitas pada finansial pun menjadi misi penting. Siapa pun bisa mulai berinvestasi di kripto hanya dengan modal kecil karena seluruh aset di platform telah melalui proses kurasi dan pengawasan regulator, termasuk OJK. Dengan pendekatan ini, Tokocrypto tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual-beli aset kripto, tetapi sebagai ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang aman bagi investor pemula.

Sejak tahun 2022 lalu, Tokocrypto menyediakan ruang diskusi dan pertemuan komunitas kripto di T-Hub Bali

Namun di luar itu, bentuk pengembangan apa yang kini sedang menjadi fokus? Apakah ada layanan khusus atau fitur baru yang tengah dipersiapkan oleh Tokocrypto? Kami punya Prestige, sebuah layanan prioritas bagi para investor dengan volume transaksi besar. Konsepnya mirip seperti nasabah prioritas di perbankan, di mana mereka mendapatkan sejumlah keistimewaan, seperti biaya transaksi lebih rendah, batas transaksi lebih tinggi, hingga akses informasi yang lebih cepat dan personal. Selain itu, regulasi baru kini membuka peluang bagi institusi untuk menempatkan aset kripto di dalam neraca keuangan mereka. Kami merespon ini dengan menempuh proses yang jauh lebih ketat untuk bekerja sama dengan perusahaan. Mulai dari edukasi terkait bisnis, validasi sumber dana, hingga pendampingan teknis oleh account manager khusus. Ke depannya, kami juga tengah mempersiapkan fitur Futures untuk menjawab kebutuhan pengguna yang ingin melakukan trading dengan leverage. Kehadiran Futures diharapkan dapat menambah kedalaman pasar sekaligus memberikan alternatif strategi bagi para trader yang lebih berpengalaman.

S U D U T PA N D A N G

103


Apa saran Anda bagi mereka yang ingin lebih dalam mempelajari dunia aset kripto? Tergantung tujuannya. Jika ingin memahami kripto dari sisi fundamentalnya, belajarlah tentang blockchain. Dari sana, Anda akan bertemu berbagai konsep terdesentralisasi lainnya, seperti smart contract dan Web3. Saat ini, banyak sektor teknologi yang sedang bermigrasi ke arah Web3, bahkan beririsan dengan perkembangan AI, sehingga memahami fondasi ini menjadi semakin relevan. Namun jika fokus Anda lebih pada ‘jual-beli’, pelajari prinsip makroekonomi dan mikroekonomi, biasakan membaca berita, memahami sentimen pasar, dan mengikuti faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga—sebenarnya mirip dengan dinamika saham. Pada akhirnya, apa pun instrumennya, edukasi tetap fondasi utama sebelum terjun lebih jauh.

104

Bila pendekatannya serupa, lantas apa yang membuat kripto lebih menarik daripada saham dalam pandangan Anda? Keduanya adalah instrumen investasi. Perbedaannya terletak pada sifat asetnya. Saham melibatkan perusahaan yang sudah beroperasi. Ada kinerja dan aset fisiknya. Sedangkan, pasar kripto adalah tempat untuk berinvestasi di proyek-proyek yang sebagian masih berlandaskan proposal. Justru karena itu, tetap ada kajian fundamental, seperti di pasar saham. Kita harus melakukan peninjauan mendalam mengenai pendiri, produk, konsumen, likuiditas, hingga kapitalisasi pasar untuk meyakinkan kita dalam berinvestasi kepadanya di pasar kripto. Yang membuat kripto lebih menarik daripada saham adalah volatilitasnya. Dengan volatilitas yang lebih tinggi daripada

PERSONA


saham, potensi keuntungan di pasar kripto pun menjadi lebih besar. Bagi sebagian orang, memahami dinamika kripto dinilai lebih bersahabat karena berbasis pada perkembangan teknologi, berbeda dengan saham yang cakupannya sangat luas dan kemungkinan memerlukan lebih banyak riset fundamental.

Sebagai penutup, seberapa besar peran teknologi dalam ekosistem kripto; baik dari sisi keamanan, inovasi produk, maupun adopsinya di masyarakat? Teknologi adalah fondasi dari dunia kripto; seluruh ekosistemnya berdiri di atas itu. Mulai dari keamanan, operasional bursa, hingga inovasi produk, semuanya berbasis teknologi. Blockchain, Web3, hingga integrasi terbaru dengan AI—semua ini menunjukkan betapa besar pengaruh teknologi terhadap cara industri ini bergerak dan berkembang. Dari sisi keamanan, kami diawasi oleh OJK, namun auditnya tidak berhenti di sana. Selain audit internal dan audit regulator, kami juga diwajibkan menggunakan pihak ketiga untuk memastikan standar keamanan data dan infrastruktur kami selalu terpenuhi. Sertifikasi seperti ISO untuk sistem cloud dan perlindungan data menjadi kewajiban yang harus terus dipertahankan. Semua itu diperlukan demi memastikan platform tetap aman, andal, dan terpercaya bagi para pengguna.

(Kiri Atas) Sejak 2024, Tokocrypto mengadakan Indonesia’s Crypto Outlook (ICO) sebagai acara tahunan untuk mempertemukan regulator, key opinion leader, komunitas, hingga media dalam ekosistem aset kripto (Kanan) Tokocrypto meraih penghargaan The Most Innovative Future Finance 2025 dalam kategori Financial Technology dari Innovative Future Finance Award 2025

S U D U T PA N D A N G

105


106


S U D U T PA N D A N G

Dimensi Waktu dalam Semesta Sinema Yandy Laurens Dalam semesta sinema Yandy Laurens, waktu tak sekadar bergulir tetapi turut memainkan peranan penting sebagai pusat ketegangan dan penyembuhan. Melalui tiga tokoh utama pada tiga film terakhirnya—Bagus, Moko, dan Sore— waktu muncul sebagai kekuatan naratif yang berbeda: waktu yang diabadikan lewat medium film dalam Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), waktu yang dikorbankan demi keluarga dalam 1 Kakak 7 Ponakan (2024), serta waktu yang dimanipulasi dalam Sore: Istri dari Masa Depan (2025).

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania

FOTOGRAFI Dok. Narasumber

VIDEOGRAFI Calvionita

Melihat karya-karya Yandy melalui lensa waktu membuat cerita-ceritanya semakin relevan, sebab hubungan manusia dan waktu adalah bagian tak terpisahkan dari proses pendewasaan di mana kita belajar gigih, sabar, dan berdamai dengan ritme hidup yang tidak selalu sejalan dengan harapan. Mungkin karena itu, karakter-karakter ciptaan Yandy terasa begitu hidup: hadir seperti seorang teman, atau bahkan cerminan diri pada fase kehidupan tertentu yang pernah (atau sedang) kita alami. Lebih dari sekadar tokoh fiksi, mereka sesungguhnya representasi dari banyak Bagus, Moko, dan Sore di luar sana. Manusia-manusia yang bergulat dengan waktu dalam bentuknya yang paling personal. Sebelum menelusuri bagaimana waktu bekerja dalam kisah Bagus, Moko, dan Sore, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu: apa sebenarnya waktu bagi Yandy Laurens?

PERSONA

107


WAKTUNYA YANDY Bagi Yandy Laurens, waktu adalah konsekuensi yang tak bisa ditawar. Dalam pandangannya, setiap manusia—sekuat apa pun kuasanya, sebanyak apa pun hartanya, atau sehebat apa pun keahliannya—pada akhirnya harus berhadapan dengan waktu. “Konsekuensi paling nyata yang tidak bisa ditolak siapapun adalah konsekuensi waktu.” Karena itu, waktu baginya bukan sekadar garis kronologis, melainkan ruang emosional tempat manusia bertumbuh di tengah keterbatasan, kehilangan, dan harapan.

ruang bagi kolaborasi. “Penting untuk mendengarkan pendapat aktor dan kru di proses baca naskah agar ceritanya tulus dan tidak berkutat pada ego penulis.” Melalui ketulusan mencintai karya dan disiplin untuk terus mengoreksi diri, Yandy menyeimbangkan kejujuran emosional dan manipulasi naratif dalam mempresentasikan ceritanya. Saat cerita mencapai akhir, Yandy memperlakukan karakternya sebagai

manusia yang berdiri sendiri. “Bagus, Moko, dan Sore tumbuh menjadi karakter yang saya hormati, sekalipun saya penciptanya. Akhir cerita yang kami pilih adalah bentuk penghormatan terhadap mereka sebagai manusia. Sensasinya seperti mencari rumah—Anda tahu ketika sudah menemukannya.” Bersama karakter-karakter itu, definisi waktu baginya terus berevolusi, mengikuti fase hidup yang ia jalani saat masingmasing film dibuat.

Dalam linimasa hidupnya sendiri, Yandy berhadapan dengan keterbatasan yang justru menjadi inspirasi tanpa batasnya dalam berkarya kini. “Lahir dan besar di Makassar, saya tumbuh besar di lingkungan yang cukup diskriminatif, jadi tidak banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sampai usia 18 tahun, hidup saya dihabiskan di rumah, sekolah, gereja, dan lapangan basket saja,” kenangnya, mengingat dua gelombang kerusuhan terhadap etnis Tionghoa pada 1997 dan 1998. Di tengah keterasingan itu, keluarga menjadi jangkar. “Ada banyak momen menyenangkan. Saya ingat ketika papa dan mama pergi belajar menyetir, jadi hanya anak-anak saja di rumah. Kami tidur di lantai, kaki naik ke atas meja, dan ada banyak makanan di sekitar kami. Lalu, kami menonton televisi bersama,” cerita Yandy. Tanpa disadari, kehangatan momen-momen itulah yang melahirkan kecenderungannya membuat film yang berpusat pada keluarga. Meski pendekatannya sangat personal, Yandy menjaga agar egonya tidak menguasai karya. Karena itu ia mengandalkan intuisi dan keterbukaan dalam proses kreatif. “Gagasan awal saat menulis cerita sepertinya dipandu oleh alam bawah sadar berdasarkan pengalaman hidup,” ujarnya. Namun seiring pengembangannya, ia memberi

108

Setelah menyutradarai sejumlah film pendek, video musik, dan serial web, Yandy Laurens melakukan debut layar lebarnya lewat film Keluarga Cemara (2018)

PERSONA


2024 ini nyatanya terdapat sebuah proses pendewasaan profesional. “Di tengah proses menulis naskahnya, saya menonton sebuah film yang membuat kesal karena mengaku mengangkat isu penting tanpa ada kepedulian nyata terhadap isu tersebut di dalam filmnya. Saya merasa ‘Ah, film itu hanya menunggangi isu saja agar terasa penting, padahal tidak ada keberpihakan terhadap korban.’ Namun, pengalaman itu justru membuat saya bertanya ke diri sendiri, ‘Apakah saya sekadar menunggangi romansa supaya film ini terasa bagus?’ Setelah merenungkannya, saya kemudian menangis,” aku Yandy. Ia merasa naif karena telah mengedepankan cinta Bagus secara sepihak, tanpa benarbenar memahami Hana dan dukanya pasca kewafatan sang suami.

Pada penyelenggaraan Festival Film Indonesia 2024, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) memborong 11 nominasi dan membawa pulang 7 penghargaan

WAKTUNYA BAGUS Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) bercerita tentang, Bagus, seorang penulis sekaligus sutradara yang membuat film sebagai surat cinta untuk teman SMA yang baru menjanda. Menariknya, film ini memadukan format hitam-putih dan warna untuk memisahkan realitas dari fiksi yang ia ciptakan, menjadikan waktu sebagai materi estetika sekaligus ruang refleksi. Di balik karya yang memberikan Yandy penghargaan Penulis Skenario Asli Terbaik dari Festival Film Indonesia

S U D U T PA N D A N G

Pemahaman itu kemudian menjadi titik balik struktur cerita. “Pada awalnya, akhir cerita akan sesuai seperti impian Bagus di mana Hana tidak sengaja menemukan naskahnya, lalu Bagus menyatakan cinta dan hidupnya kembali berwarna. Namun sesungguhnya, pernyataan cinta tidak serta-merta dapat menghapus duka Hana. Oleh karena itu, kami ubah alur dan akhir ceritanya, sehingga Bagus memberikan naskah tersebut ke Hana sebelum mengajukannya ke produser, Pak Yoram. Kekeliruan yang saya alami itu kemudian menjadi false belief sekaligus true belief karakter Bagus,” jelas Yandy. Setelah ilusi romansa dirobohkan, karakter Bagus seolah membangun ruang waktu untuk menemani Hana memproses dukanya tanpa perlu terburu-buru. “Ketika belum bersama, waktu terasa sebagai musuh karena rasanya ingin cepat memiliki. Setelah bersama, waktu menjadi tenang. Pada akhirnya, cara kita mengelola waktu menunjukkan kedewasaan kita,” ungkap Yandy.

109


WAKTUNYA MOKO Dalam 1 Kakak 7 Ponakan (2024), Moko meninggalkan rencana studi dan menunda mimpi demi mengasuh keponakan-keponakannya setelah tragedi keluarga. Waktu yang semula miliknya—untuk berkarier, mencintai, dan mengenali dirinya sendiri— menjelma menjadi komoditas yang ia korbankan untuk tanggung jawab.

Di sinilah makna keluarga dan kasih sayang teruji. “Budaya Indonesia itu kata kuncinya satu: sungkan. Rasa sungkan yang begitu mendarah daging. Tak hanya ketika berkaitan dengan keluarga, tetapi juga pembawaan diri sendiri. Mulai dari pilihan diksi, gestur badan,

hingga cara menatap dan memberi jeda di antara kalimat. Pada akhirnya, semua ini memengaruhi pengambilan keputusan,” jelas Yandy mengenai pengaruh budaya Indonesia dalam film-filmnya dan rasanya begitu kental terlihat melalui dinamika keluarga Moko dan orang-orang di sekitarnya. Dalam proses baca naskah, aktris Amanda Rawles yang memerankan Maurin—kekasih Moko—memahami rasa sungkan yang dirasakan Moko. “Ketika Moko lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anakanak daripada Maurin, ia merasa serbasalah karena tidak mau egois kepada siapa pun. Aku mengerti perasaan Moko,” cerita Yandy yang kemudian menulis dialog panjang untuk merepresentasikan perasaan itu melalui karakter Maurin. Di akhir film, dialog tersebut muncul dalam sebuah momen di mana kesungkanan terbukti menjadi sesuatu yang kolektif dalam keluarga Moko. Sebagaimana keponakankeponakan Moko memutuskan untuk membantunya membiayai kebutuhan keluarga dengan bekerja. “Awalnya produser kami di Cerita Films, Mita, khawatir dengan adegan anak-anak di bawah umur ini bekerja. Namun pada dasarnya, mereka bukan bekerja karena merasa berhutang, melainkan karena merasa disayang. Jadi pemaknaannya kami pertegas,” kisah Yandy.

Film 1 Kakak 7 Ponakan (2024) merupakan adaptasi dari sinetron berjudul sama di era 1990-an karya Arswendo Atmowiloto

110

PERSONA

Pada akhirnya, kisah Moko mengingatkan bahwa waktu yang diberikan untuk orang lain tidak pernah hilang; ia kembali dalam bentuk yang berbeda. Kadang melalui tangan-tangan yang membantu, kadang melalui pemahaman yang tumbuh pelanpelan. Waktu, dalam pengertian ini, menjadi bukti bahwa kedewasaan sering lahir dari pilihan untuk mendahulukan “kita” di atas “aku.”


WAKTUNYA SORE Melalui Sore: Istri dari Masa Depan (2025), Yandy menempatkan waktu sebagai medium korektif. Tokoh utamanya, Sore, datang dari masa depan untuk menyelamatkan suaminya, Jonathan, dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Dalam film ini, waktu tidak hadir secara linier, melainkan siklus yang berputar: hadir, hilang, kembali dengan pesan yang belum tuntas. Di penghujung siklus itulah muncul lapisan tema yang lebih dalam: memaafkan. Kompleksitas emosional film ini memuncak ketika Sore menyadari akar pergumulan Jonathan dengan ayahnya. “Kita tidak bisa memaafkan hal yang tidak kita ketahui. Untuk mengetahuinya, kita perlu marah. Marah itu seperti obor yang menerangi luka sebenarnya,” jelasnya. Berdasarkan riset dan refleksi itu, Yandy menemukan bahwa banyak orang yang memiliki tendensi untuk mengunci lukanya rapat-rapat demi menghindari konflik berlebih. Kesadaran itu kemudian mendorong keputusan kreatif yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih jujur dalam adegan Jonathan bertandang ke rumah ayahnya. “Sesungguhnya menggoda sekali untuk mempertemukan Jonathan dan ayahnya, Pak Seno. Kami memiliki Dion Wiyoko dan Mathias Muchus, dramatiknya pasti mantap. Namun ternyata, memaafkan adalah tindakan memberi. Kita tidak perlu orang yang melukai kita untuk melakukan sesuatu agar dimaafkan. Karena, memaafkan datang dari kesadaran kita untuk membebaskan diri,” tutup Yandy.

Dalam semesta sinema Yandy Laurens, waktu adalah teman, lawan, guru, sekaligus saksi. Waktu bergerak dari musuh menjadi sahabat, dari luka menjadi penyembuh, dari penyesalan menjadi pengertian. Seperti yang ia ungkapkan, “Waktu bisa jadi teman yang baik untuk orang memaafkan, atau setidaknya menyiapkan diri untuk memaafkan.” Pada akhirnya, waktu tidak hadir untuk menghapus pengalaman, tetapi memberi ruang bagi manusia untuk menyiapkan dirinya sendiri, seperti kata Sore: “Aku di sini. Kalau kamu siap, aku di sini.”

S U D U T PA N D A N G

Film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) resmi dipilih sebagai wakil Indonesia dalam kategori Best International Feature Film pada ajang Academy Awards 2026 mendatang

111


S U D U T PA N D A N G

Kajian Seni dalam Momen Monumental Sendy Widjaja

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania Givania Diwiya C.

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co Dok. Sendy Widjaja

VIDEOGRAFI Abraham Brian W. / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Andika Dewa / JENDELA.CO Ivan Mosqueda / JENDELA.CO

LOKASI ISA Art Gallery, Jakarta

112

Di lanskap seni Indonesia, hadirlah sosok Sendy Widjaja, seorang visioner yang peka terhadap karya autentik, inovatif, namun tetap menyentuh akar kemanusiaan di era modern yang kian terdigitalisasi. Melalui peran profesionalnya selaku CEO Momentum Group dan dedikasi personalnya lewat konten seni edukatif di media sosial, Sendy menyuguhkan narasi di mana seni bukan hanya dikaji sebagai objek visual, melainkan sebuah wadah meditasi dan sarana berdialog dengan kehidupan. Di balik wawasan seninya yang begitu matang, perjalanan Sendy justru dibentuk oleh pengalaman lintas disiplin yang panjang. Sebelum terjun ke dunia seni, Sendy berkecimpung dalam dunia edukasi, teknologi informasi, dan filantropi, berbekal latar pendidikan di ranah pemasaran, serta gelar doktor di bidang manajemen akuntansi. Setiap momen dalam keragaman perjalanannya mengasah cara ia memaknai seni sebagai medium yang mampu memberdayakan, membuka perspektif baru, dan mendorong perubahan.

PERSONA


113


SAAT SENI MENYAPA Meski perjalanan Sendy di dunia seni tidak berjalan secara linier, ketertarikannya pada seni bukanlah sesuatu yang acak dan datang begitu saja. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan karya seni melalui galeri milik kerabatnya. “Pada saat saya sekolah dan kuliah, saya sering sekali diundang oleh tante saya, Martha Gunawan, pendiri salah satu galeri seni komersial pertama di Indonesia, Mon Decor (kini berganti nama menjadi Art:1 New Museum). Keluarga kami memang kerap menghadiri pameran, mengoleksi karya, bahkan terlibat dalam dunia seni sejak dekade 1980-an,” kenangnya. Namun panggilan yang benar-benar menggugah justru hadir jauh setelah itu. Pengalaman yang mengubah arah hidupnya terjadi ketika ia pertama kali dibuat terkesima oleh sebuah karya di Taiwan. “Pada tahun 2016, saya mengikuti retret di Hsinchu. Di museum yang terdapat di dalam biara, saya melihat sebuah karya seni di atas medium kayu berumur ratusan tahun. Ternyata, kayu itu berasal dari rel kereta, lengkap dengan paku-paku besar khas pembangunan zaman kolonial. Ketika kayu yang biasanya kita abaikan itu disajikan di museum dan diberi makna dengan pandangan seni, kayu itu jadi mempunyai kehidupan kedua yang abadi,” kisah Sendy. Sepulang ke Jakarta, sebuah momen yang benar-benar tidak direncanakan kembali menggugah dirinya. Saat tak sengaja menghadiri pameran tunggal Erica Hestu Wahyuni, Sendy merasa karya-karya yang terpajang seolah mengajaknya berdialog. “Saya heran kenapa karya-karya ini sangat bercerita kepada saya. Saking penasarannya, saya mengirim pesan ke Erica melalui media sosial untuk memastikan apakah perasaan dan energi yang saya rasakan saat melihat karyanya juga yang ia rasakan ketika

114

Sampul buku Decoding Indonesia (2017) karya Sendy Widjaja yang menampilkan lukisan-lukisan karya Erica Hestu Wahyuni

menciptakannya. Ternyata pemaknaan kami selaras,” ceritanya antusias. Dari pengalaman itu, Sendy kemudian berkonsultasi dengan sepupunya yang berprofesi sebagai ahli restorasi untuk sejumlah museum di Belanda tentang langkah awal yang sebaiknya ia tempuh jika ingin menapaki dunia seni. Dia bilang, ‘Jangan ragu-ragu. Beli saja karya seninya.’ Maka, saya langsung membeli 125 karya seni

PERSONA

Erica Hestu Wahyuni,” kenangnya sambil tertawa. Kekaguman itu lalu mengantar Sendy pada terbitnya buku Decoding Indonesia (2017) yang menampilkan karya lukisan Erica untuk mengilustrasikan sejarah budaya Indonesia melalui sudut pandang visual yang kaya warna. “Untuk meluncurkan buku tersebut di sebuah bursa seni, saya diwajibkan untuk sekaligus memamerkan koleksi


pribadi saya. Menariknya, 120 karya Erica—lima karya terbaiknya tetap saya simpan—terjual habis, begitu pula bukunya. Jujur saya kaget karena saya dengan tulus menikmati dan mencintai seni apa adanya, bukan karena faktor komersialnya. Dari situ, saya memahami bahwa ketika sebuah karya kreatif terlahir dari cinta, hasilnya akan luar biasa,” ujarnya.

BERPERAN DALAM SENI Peran Sendy dalam industri seni pun kian matang pasca pertemuannya dengan mendiang Leo Silitonga yang menggandengnya dalam pendirian ArtMoments. “Pada tahun 2018, saya diajak oleh almarhum Leo Silitonga

untuk berinvestasi di ArtMoments. Saya pikir, mungkin itu jalan yang dikasih oleh Yang Maha Kuasa untuk menorehkan dan menuangkan kreativitas yang dititipkan ke saya lewat penyelenggaraan bursa seni tahunan ini,” ungkapnya. Sepeninggalan Leo pada tahun 2022, Sendy melanjutkan warisan visi dan komitmen ArtMoments untuk menghadirkan seni sebagai bagian integral dari keseharian masyarakat dengan penekanan pada inklusivitas dan aksesibilitas. Di bawah kepemimpinan Sendy sebagai Co-Founder dan Fair Director, ArtMoments terus menyuguhkan kurasi dan inisiatif inovatif yang menjembatani karya seni tradisional, kontemporer, urban, hingga digital dengan para pembeli di pasar seni Indonesia maupun di level internasional.

Co-Founder dan Fair Director ArtMoments, Sendy Widjaja, di tengah kerumuman pengunjung dalam penyelenggaraannya di Jakarta pada bulan Agustus lalu

S U D U T PA N D A N G

115


Berbicara tentang lanskap seni di Indonesia, Sendy menyoroti kesenjangan apresiasi terhadap seniman tanah air di panggung lokal dan global. “Perilaku dalam komunitas seni kita masih seperti gembala. Ketika ada satu seniman yang sedang naik daun, semua mata ikut memandangnya. Sorotan itu pun bergilir dari satu nama ke nama lain,” ungkap Sendy. Fenomena ini sejatinya lumrah dalam industri kreatif yang sangat dipengaruhi selera. Namun, dengan masih minimnya literasi, edukasi, dan platform apresiasi seni di dalam negeri, tak sedikit seniman Indonesia justru lebih dihargai di luar negeri ketimbang oleh penikmat seni di tanah airnya sendiri. “Sebenarnya yang paling penting adalah memperkuat karya seni modern (akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20) Indonesia. Jika pemahaman sejarah dan fondasi seni modernnya lemah, seni kontemporer (akhir abad ke-20 hingga sekarang) pun akan kehilangan arah dan sulit berkembang. Oleh karena itu, setiap tahun kami memperkuat fondasi itu dengan mendorong edukasi

dan apresiasi terhadap senimanseniman modern Indonesia melalui ArtMoments,” tegas Sendy. Salah satu contoh seniman modern Indonesia yang tengah menjadi sorotan ArtMoments adalah Sudjana Kerton, maestro seni rupa asal Bandung yang sempat mengenyam pendidikan di Belanda, Prancis, hingga Amerika Serikat. “Awalnya beliau mengambil teknik surealis seperti Salvador Dali, serta teknik formalisme dan kubisme seperti Pablo Picasso dengan tema kebudayaan Indonesia. Namun semenjak sempat diculik oleh alien saat kembali ke Bandung, teknik pada karyanya menjadi jauh lebih kompleks dan canggih lewat gerakan cepat dengan cat ringan dan warna unik, sehingga sulit untuk diduplikasi. Karya Sudjana bahkan lebih langka daripada Affandi,” jelas Sendy. Setelah sempat vakum dari ruang publik selama 23 tahun, karya-karya Sudjana kembali meraih momentumnya melalui pameran tunggal bertajuk The Hidden Treasures of Sudjana Kerton di Art:1 New Museum, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian

Salah satu lukisan berteknik kompleks karya Sudjana Kerton—seniman modern Indonesia yang tengah disoroti oleh ArtMoments—pasca diculik oleh alien

116

PERSONA

ArtMoments Jakarta 2025. Untuk itu, Sendy berbagi, “Menurut saya, karya Sudjana merupakan sebuah terobosan pada zamannya dan konteksnya, sehingga beliau pantas mendapatkan panggung lebih di ekosistem seni rupa Indonesia.”

SENI BERBUDAYA Dengan menyoroti kembali karyakarya Sudjana Kerton, Sendy berharap langkah kecil ini dapat memicu gelombang baru dari karya yang berpijak pada identitas Indonesia. “Indonesia adalah negara adidaya budaya. Kita memiliki warisan lokal yang kaya, sehingga peluang bagi seniman untuk terus menggali tradisi Nusantara amatlah besar,” ungkapnya. Kekayaan itu telah tercermin melalui jejak para seniman modern, seperti Sudjana Kerton, Raden Saleh, Hendra Gunawan, Srihadi Soedarsono, hingga Affandi—tokoh-tokoh yang tak hanya dihormati di dalam negeri, tetapi juga mendapat pengakuan dunia. Karya mereka kini terhimpun dalam koleksi permanen berbagai museum


mancanegara sebagai representasi visual dari wajah budaya Indonesia. Generasi kontemporer kemudian melanjutkan estafet tersebut. Seniman seperti Eko Nugroho, Heri Dono, dan F.X. Harsono mengolah isu sosial, politik, hingga kemanusiaan secara universal dengan bahasa visual yang relevan dengan zamannya tanpa melepaskan akar lokal. Gerakan kreatif ini bukan sekadar tren, melainkan proses evolusi seni Indonesia yang terus hidup dari generasi ke generasi— mulai dari semangat nasionalisme dan dekolonisasi, hingga pergulatan identitas di tengah arus global. Dalam lanskap yang dinamis itu, Sendy membawa misinya sendiri. “Saya pernah melihat karya Henri Affandi yang menjahit kain tradisional dari 38 provinsi dan menamainya Ibu Pertiwi. Saya memaknainya begini: kita sedang berupaya membangun identitas Indonesia, tetapi banyak daerah justru mulai kehilangan identitasnya sendiri. Faktanya, memang itu yang sedang terjadi saat ini. Maka, harapan saya adalah menampilkan dan memasarkan budaya dari penjuru tanah air, untuk Indonesia dan dunia,” ujarnya.

Sendy Widjaja mengemban misi personal untuk menampilkan dan memasarkan budaya Indonesia melalui seni

S U D U T PA N D A N G

Karena itu bersama ArtMoments, Sendy berkomitmen memperkuat edukasi seni bagi seniman Indonesia agar mereka tidak sekadar muncul lalu menghilang, tetapi memiliki fondasi yang memungkinkan mereka bertumbuh. Mulai dari galeri yang menaungi, hingga pasar yang memahami nilai karyanya. Dengan dialog yang semakin terbuka antara seniman, kurator, galeri, dan para pencinta seni, ada optimisme baru yang mulai terbangun. Seni Indonesia tidak lagi sekadar menjadi cermin budaya; mungkin kini ia sedang menemukan momentumnya sebagai salah satu jendela dunia.

117


118 118


IMAJI

Reinterpretasi Gaya Rias dan Rambut Lintas Dekade

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENGARAH KREATIF Erika Tania

FOTOGRAFI Martin Kosasih / Jan.ji.co

VIDEOGRAFI Abraham Brian W. / JENDELA.CO Hafiz Raka / JENDELA.CO Andika Dewa / JENDELA.CO Christopher Kenzi / JENDELA.CO

PENATA RIAS Claudya Christiani

PENATA RAMBUT Ekahair

PENATA GAYA Charlene Atalie

MODEL Elmo / AMOR Tanya / TWENTYONEMM

Setiap dekade meninggalkan jejak keindahan yang tak lekang oleh waktu. Mulai dari pesona elegan nan bersahaja dari era 1950-an, pancaran bebas dan ekspresif khas 1970an, hingga keberanian eksperimental yang mendefinisikan 1990-an. Tiga masa yang berbeda, namun masing-masing menghadirkan identitas estetika yang masih hidup dalam memori kolektif hingga kini. Melalui karya visual ini, KINTAKA menafsirkan ulang gaya-gaya ikonis tersebut melalui lensa kontemporer, di mana nostalgia berpadu dengan inovasi. Dengan arahan para ahli rias dan penata rambut, setiap tampilan klasik diperkaya teknik dan tekstur modern agar selaras dengan ritme masa kini tanpa kehilangan esensi aslinya. Hasilnya adalah selebrasi lintas waktu: perjalanan estetika yang membuktikan bahwa gaya sejati tak hanya mengikuti zaman, tetapi berevolusi bersamanya.

PERSONA

119


1950

-an

F O R M U L A G AYA Pompadour = rambut bervolume di bagian atas yang disisir ke belakang

K I AT A H L I Aplikasikan pomade berkilau menggunakan sisir yang rapat

PRODUK PILIHAN Moving Rabber Spiky Edge, Gatsby • Jaket, FENDI

120


F O R M U L A G AYA Bibir merah + cut crease natural + wing liner + alis melengkung + rambut gelombang bervolume

K I AT A H L I (1) Gunakan eyeshadow atau contour bernuansa cool tone dengan matte finish untuk mempertegas lipatan mata (2) Bangun volume rambut dengan mousse, kemudian kunci dengan hairspray saat menatanya

PRODUK PILIHAN Airbrush Flawless Finish Setting Powder, Charlotte Tilbury • Perfect Edge Brush Pen Liner warna hitam, Sister Ann • Master Mattes® Eyeshadow Palette warna The Original, Makeup by Mario • Eye Definer warna Noir, BLP Beauty • Powder Blush warna Behave (900) dan Powermatte High-Intensity Lip Pencil warna Cruella (185), NARS • Glued Blasting Freeze Hairspray dan Volumaniac Mousse, Got2b • Gaun, FENDI

IMAJI

121


1970

-an

F O R M U L A G AYA Keriting disko = rambut gelombang natural dengan tekstur acak

K I AT A H L I Gunakan krim khusus rambut gelombang saat kondisi rambut setengah basah, kemudian tambahkan mousse untuk mempertahankan bentuk, lalu keringkan dengan diffuser

PRODUK PILIHAN Volumaniac Mousse, Got2b • Protein Recharching Leave-in Treatment, Real Shea by Rated Green • Kemeja motif, Valentino

122


F O R M U L A G AYA Bibir vibran dan glossy + eyeshadow cerah dan berkilap + rambut bervolume dengan poni tirai

K I AT A H L I (1) Aplikasikan eyeshadow bertona lebih gelap di bagian terluar kelopak dan warna kulit pada tulang alis untuk menghadirkan dimensi (2) Gunakan mousse untuk mempertahankan volume, kemudian tata dengan hairspray untuk mengunci tekstur

PRODUK PILIHAN Jawbreaker Palette, Jeffree Star • The Mothership I Subliminal, Pat McGrath • Eye Definer warna Noir, BLP Beauty • ThunderLash Mascara, Rosé All Day • Triangular Eyebrow Pencil warna Medium Brown, Judydoll • Light Reflecting™Luminizing Powder warna Electra, NARS • Les Symboles de Chanel Le Camélia warna Pearly White dan Rouge Coco Flash Lipstick warna Sunset (264), CHANEL • Translucent Loose Setting Powder, Laura Mercier • Designing Air Hair Spray Super Hard, Lucido-L • Volumaniac Mousse, Got2b • Kemeja garis bertali, Tory Burch

123


1990

-an

F O R M U L A G AYA Rambut belah tengah + tekstur acak

K I AT A H L I Gunakan wax berfinis matte untuk menghasilkan tekstur berantakan yang natural, lalu kunci dengan hairspray

PRODUK PILIHAN Natural Hair Powder, Cave • Moving Rubber tipe Grunge MAT, Gatsby • Designing Air Hair Spray Super Hard, Lucido-L • Blazer denim, Valentino

124


F O R M U L A G AYA Alis tipis + bronzer tegas + bibir berwarna kulit yang terbingkai lip liner gelap + rambut spike bergaya grunge

K I AT A H L I (1) Gariskan lip liner gelap hanya pada lekukan bibir atas dan tengah bibir bawah, baurkan tepian garis dengan lip liner lebih muda, kemudian pulaskan pewarna bibir bertona kulit (2) Optimalkan tekstur sleek dengan wax stick yang mudah diaplikasikan pada gaya rambut terikat rapi

PRODUK PILIHAN Face Glow warna Coconut dan Lash Bash Mascara, BLP Beauty • Sculpt Contour Stick warna Terra, Guele • Les Beiges Healthy Glow Bronzing Cream warna Soleil Tan Medium Bronze (392), CHANEL • Powder Blush warna Torrid (252), NARS • Major Dimension III Matte Eyeshadow Palette, Patrick Ta • Triangular Eyebrow Pencil warna Medium Brown, Judydoll • Thunder-Lash Mascara, Rosé All Day • Lip Liner warna Toasted Brown dan Lip Coat warna Butter Fudge, BLP Beauty • Styling Stick Extra Hard, Lucido-L • Glued Blasting Freeze Hairspray, Got2b • Atasan denim, CELINE

125


126


Cerita T E N TA N G Kupas tuntas berbagai fenomena, makna, dan dampak di balik dinamika industri gaya hidup.

127


128


WAWA S A N

Jaket Bar Dior: Ikon Feminitas dan Kebebasan

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Kenneth Lazuli Erika Tania

FOTOGRAFI Dok. Dior

VIDEOGRAFI Dok. Dior

Di balik keindahan siluet jam pasir yang membentuk tubuh lewat padanan jaket berpinggang kecil dan rok lebar khas Dior, terdapat sebuah narasi transformatif yang tak kalah memukau daripada wujudnya sendiri. Tampilan yang kelak menjadi ikon itu pertama kali diperkenalkan pada 12 Februari 1947 dalam presentasi perdana Christian Dior saat membuka rumah modenya kepada dunia. Debut itu menuai respons positif yang menggema, hingga sang karya mendapat julukan “The New Look”, sebagai tanda kelahiran babak baru bagi mode wanita. Namun, di balik gemuruh pujian, siluet ini juga memantik gelombang sosial yang jauh melampaui estetika: menghadirkan perdebatan, menyalakan optimisme, dan menggoyahkan struktur nilai pascaperang. Dari sinilah perjalanan itu berhembus, tentang bagaimana kehadirannya mengguncang dunia, menjelajah lintas era, dan meninggalkan gema pengaruh yang terus berlanjut hingga hari ini.

C E R I TA

129


KELAHIRAN SANG IKON FEMINITAS Ketika mode tampil sebagai seni, ruang dialog pun terbuka dan perbedaan pandangan menjadi bagian wajar dari dinamika kreatifnya. Di tengah apresiasi yang meluas terhadap “The New Look”, muncul pula suara yang mempertanyakan arahnya—termasuk dari komunitas Little Below the Knee Club di Amerika Serikat yang menolak hemline panjang dan mengaitkannya dengan isu kebebasan bergerak wanita pascaperang. Kritik mengenai penggunaan kain yang dianggap berlebihan turut mengemuka, menyoroti ketegangan antara praktikalitas dan dorongan untuk menegaskan kembali jati diri wanita pada masa pemulihan sosial. Padahal, gagasan awal Dior berangkat dari kebutuhan yang justru sangat manusiawi: mengembalikan kesempatan berekspresi yang sempat

direbut oleh perang. Selama konflik, wanita mengambil peran publik yang lebih besar, mengenakan seragam fungsional, dan mengorbankan banyak hal termasuk kesempatan merayakan diri. Industri mode pun meredup dalam keterbatasan dan suasana yang muram. Di tengah situasi itu, Dior merasakan urgensi untuk menghadirkan kembali sentuhan kelembutan dan optimisme dalam kehidupan wanita. “Kita baru saja melewati masa perang—masa seragam dan wanitawanita yang tampil seperti prajurit dengan proporsi layaknya petinju. Saya membayangkan sosok wanita bak bunga: dengan bahu lembut, dada yang merekah, pinggang ramping seperti sulur, dan rok lebar menyerupai kelopak,” tulis Dior dalam autobiografinya. Dari visi tersebut,

Dalam pembuatannya, selain menggunakan mesin, jaket Bar juga masih mengandalkan jahitan tangan

130

C E R I TA


lahirlah sebuah jaket ikonis yang dinamai sederhana: Bar—diambil dari hotel Plaza Athénée, tempat Dior kerap membayangkan bagaimana wanita bersantai sore dengan anggun, membebaskan kembali dirinya dari beban hari-hari yang kompleks. Terlepas dari perbedaan pandangan yang mengiringinya, jaket Bar justru mencatat keberhasilan signifikan di ranah komersial. Melansir Vogue, desain ini segera menjadi salah satu busana terlaris pada masanya dan terus dipertahankan Dior sebagai elemen penting di setiap koleksi adibusana. Fondasi keberhasilan jaket Bar terletak pada kualitas pengerjaan yang cermat dan berlapis proses.

(Kiri) Pada koleksi debutnya sebagai direktur kreatif Dior, Jonathan Anderson menghadirkan dinamisme melalui kombinasi jaket Bar dengan celana kargo pendek (Bawah) Kreasi orisinal jaket Bar dari tahun 1947 saat dipamerkan dalam ekshibisi bertajuk Christian Dior: Designer of Dreams pada tahun 2020 lalu

Mulai dari sketsa awal, penyusunan pola yang presisi, penyusunan struktur tubuh, hingga penyelesaian akhirnya, jaket Bar masih mengandalkan teknik jahit tangan di samping mesin. Konon, satu jaket memerlukan hingga sekitar 150 jam kerja dan lebih lama lagi untuk versi dengan detail kompleks. Ketekunan inilah yang menjadikan jaket Bar bukan hanya simbol estetika feminin pascaperang, tetapi juga representasi ketelitian couture yang membangun daya tahan sebuah desain melampaui masanya.

METAMORFOSIS LINTAS DEKADE Sepeninggalan mendiang Christian Dior pada tahun 1957, rumah mode Dior—sekaligus jaket Bar yang menjadi salah satu pilar estetikanya— mengalami transformasi masif. Yves Saint Laurent, penerus pertama Dior, membuat busana bersiluet baru bernama Trapeze yang merupakan pengembangan dari jaket Bar dengan bagian pinggang lebih lebar. Marc Bohan yang menggantikan Yves Saint Laurent pada tahun 1960 turut menginterpretasikan jaket Bar menjadi sebuah tampilan baru yang disebutnya sebagai The Slim Look. Siluet ramping jaket Bar dibuat menjadi lebih lurus sembari mempertahankan potongan bawah

WAWA S A N

131


jaket yang menyerupai kelopak. Bohan juga memasangkan jaketnya dengan rok berpotongan lurus alih-alih rok lebar bersiluet A kreasi Christian Dior. Gianfranco Ferré, desainer yang dijuluki sebagai arsitektur mode, memilih untuk kembali berfokus pada siluet yang ramping. Pembaruan ia hadirkan lewat potongan oversized dengan bahu dibuat lebih tegas, serta kehadiran saku dan pilihan kancing. Barulah di era kepemimpinan John Galliano pada tahun 1996, jaket Bar mengalami perubahan signifikan sebagai kanvas eksperimennya. Satu

waktu, Galliano membuat kerah jaket menjadi lebih tinggi dan lebar yang ia padankan dengan rok panjang, lalu di musim berikutnya ia mempercantik sang jaket dengan bordir dan payet, bahkan menghiasnya dengan corak zebra, hingga merekonstruksinya menjadi bernuansa budaya tradisional Jepang. Pendek kata, di era Galliano, jaket Bar adalah busana yang ekspresif. Semua berubah ketika Raf Simons mengambil alih. Ia lebih berfokus pada sisi formal dan elegan dari jaket Bar. Simons menyukai aksentuasi yang bernuansa modern, seperti ikatan

tali pada pinggang dan detail lipit bercorak bunga pada bagian belakang jaket. Sementara itu, Maria Grazia Chiuri—desainer wanita pertama yang mengepalai lini adibusana Dior— menampilkan sosok wanita modern yang tangguh lewat jaket Bar kreasinya. Pada koleksi busana siap pakai pertamanya, Chiuri memasangkan jaket Bar dengan kaus bertuliskan slogan “We Should All be Feminist”. Desainer asal Italia tersebut juga mencoba membuat jaket Bar lebih sporty dengan memasangkan bersama celana legging. Chiuri juga berinovasi dengan sentuhan teknologi. Pada koleksi busana siap pakai musim gugur 2022, ia memperkenalkan perangkat mirip bantalan bahu yang disematkan pada jaket Bar untuk menyesuaikan suhu tubuh pemakai dengan kondisi sekitar. Teknologi ini memungkinkan jaket memberikan sensasi lebih sejuk ketika pengguna merasa gerah, menjaga kenyamanan tanpa mengubah esensi siluetnya. Perkembangan mode membawa pengaruh jaket Bar ke ranah busana pria. Kris Van Assche dan Kim Jones, dua desainer yang pernah mengawasi lini busana pria Dior, menerjemahkan kreasi ikonis tersebut ke dalam jas rancangan mereka. Jasnya memang masih bergaya maskulin, namun siluet ramping pada pinggang membuat jas tersebut terlihat lebih flamboyan namun tetap elegan. Seperti setelan Dior rancangan Kim Jones yang dikenakan oleh Pedro Pascal saat menghadiri Cannes Film Festival 2025.

Pedro Pascal mengenakan setelan Dior rancangan Kim Jones dengan siluet ramping pada pinggang namun tetap terlihat maskulin saat menghadiri Cannes Film Festival 2025

132

C E R I TA

Jonathan Anderson yang baru saja menjadi direktur kreatif Dior juga tak mau ketinggalan untuk menginterpretasi jaket Bar. Pada koleksi pria, ia memasangkan jaket Bar dengan celana pendek kargo. Sementara untuk koleksi busana siap pakai wanita, Anderson membuat jaket Bar lebih pendek dengan potongan di atas pinggang, dan memasangkannya dengan rok mini aksen lipit. Sabrina Carpenter menjadi yang pertama mengenakannya meski ia memakai versi yang cukup berbeda.


(Kiri) Salah satu interpretasi Jonathan Anderson ialah memadukan jaket Bar dengan rok lipit pendek, sebagaimana dikenakan oleh Sabrina Carpenter (Atas) Putra Rihanna yang baru berusia dua tahun, Riot, tampak mengenakan jaket Bar versi mini

LEGENDA ABADI Mendiang Christian Dior mungkin awalnya membayangkan jaket Bar sebagai busana untuk wanita bersantai di sore hari, namun realitas pemakaiannya jauh melampaui bayangan awal itu. Kini, ia hadir dalam beragam konteks dan dipakai oleh figur dari lintas generasi dan latar. Kate Middleton mengenakannya dalam balutan pastel lembut saat menyambut kunjungan kenegaraan Presiden

Prancis; penyanyi Prancis Yseult dan aktris Monica Barbaro menjadikannya pilihan untuk karpet merah; bahkan Riot—putra kecil Rihanna yang baru berusia dua tahun—telah memakainya dalam versi mini rancangan Jonathan Anderson. Kehadirannya di ruang kenegaraan, panggung pop, dan momen intim keluarga menunjukkan bahwa jaket Bar telah bergerak bebas melampaui kategori.

WAWA S A N

Hampir delapan dekade berlalu, jaket Bar membuktikan bahwa desain yang abadi bukanlah yang terpaku pada masa lalu, melainkan yang terus menemukan cara baru untuk relevan. Ia tidak sekadar simbol dari Dior, tetapi penanda bagaimana mode mampu menangkap denyut zaman, menghubungkan tradisi dengan inovasi, dan nostalgia dengan masa depan.

133


WAWA S A N

The Balvenie: Kematangan Rasa dan Kultur dalam Sebotol Wiski

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania Givania Diwiya C.

FOTOGRAFI Dok. Balvenie

VIDEOGRAFI Dok. Balvenie

134

Waktu adalah elemen paling menentukan dalam wiski single malt. Ia bukan sekadar penanda usia pada label, melainkan kekuatan yang membentuk karakter, kedalaman, dan kompleksitas rasa. Sebuah botol yang dinikmati hari ini telah melewati perjalanan panjang: dari ladang jelai, melalui proses distilasi, hingga puluhan tahun berdiam dalam kayu. Setiap tegukan menyimpan jejak kesabaran manusia, ketelitian, dan sejarah yang terpelihara dengan penuh dedikasi. The Balvenie memahami filosofi waktu yang jarang dimiliki distillery lain. Berdiri sejak 1892 di Dufftown, Speyside, distillery The Balvenie mempertahankan craftsmanship tradisional yang semakin langka di era automasi. Alih-alih mengejar volume produksi, mereka menjaga kualitas melalui pendekatan berbasis manusia, tradisi, dan ritual pembuatan wiski yang diwariskan antargenerasi. Lewat setiap mahakarya wiskinya, kita diajak menghormati sejarah, menghargai craftsmanship, dan merenungkan dampak lebih jauh dari produksi wiski pada komunitas dan alam.

C E R I TA


xxxx

135


WARISAN DAN TRADISI Melacak proses Five Rare Crafts yang dijalankan The Balvenie berarti mengikuti perjalanan penuh disiplin dan keterampilan di setiap tahap pembuatan wiski. Tahap pertama dimulai dari home-grown barley. Mulai dari menanam jelai sendiri di lahan Balvenie Mains, hingga memastikan kontrol kualitas sejak akar bahan baku. Setelah panen, beralih ke keterampilan kedua di mana jelai dikirim ke floor malting tradisional, salah satu metode paling langka yang masih bertahan di industri modern. Di lantai malting ini, para malt men—sebutan bagi para perajin yang melakukan proses ini— membalik jelai dengan tangan setiap beberapa jam, menjaga suhu agar perkecambahan berlangsung merata. Sentuhan manual ini membentuk fondasi karakter rasa sebelum cairan memasuki penyulingan, sebuah pendekatan yang menuntut ritme, ketelitian, dan kesabaran.

(Atas) The Balvenie setia menjadi satu dari sedikit distillery di Skotlandia yang menumbuhkan sendiri jelainya (Tengah) Hasil panen jelai dibalik dengan sekop oleh para malt men setiap beberapa jam agar perkecambahan berlangsung merata (Bawah) Para coopers sedang mengelas bentuk dan struktur pot still tembaga untuk proses distilasi

136

C E R I TA

Craftsmanship ketiga terjadi dalam proses distilasi dengan pot still tembaga yang dipelihara sendiri oleh para coppersmith. Mereka memastikan bentuk dan struktur pot still selalu konsisten, sebagaimana akan menentukan karakter distilat. Tong kayu yang dipakai untuk pematangan juga dirawat oleh coopers internal sebagai wujud keterampilan keempat. Mereka memperbaiki, memodifikasi, dan


menyiapkan tong yang akan berkontribusi hingga 60-80 persen terhadap rasa akhir sang wiski. Sentuhan manusia dalam tahap ini memastikan proses pematangan wiski tetap terarah, menjaga keseimbangan antara waktu yang bekerja perlahan dan pengaruh kayu yang membentuk karakter rasanya. Puncak keterampilan dalam metode Five Rare Crafts berada di tangan sang Malt Master, sebuah peran yang memadukan intuisi, pengalaman, dan ilmu sensorik. Mereka mencicipi wiski dari tahun ke tahun, menilai

kapan ia mencapai puncak karakter, dan memutuskan apakah cairan perlu dikawinkan atau finishing dalam cask kedua, sembari mempertahankan DNA rasa The Balvenie yang khas. Melalui perjalanan ini, kita belajar bahwa waktu bukan sekadar agen pasif dalam pembuatan wiski; ia adalah partner dialog. Label usia pada botol—baik 14 tahun, 21 tahun, atau lima dekade—lebih dari sekadar angka. Ia menandai fase kematangan, perubahan, dan transformasi, serupa perjalanan hidup yang berkembang melalui pengalaman dan kesabaran.

WAWA S A N

Tong kayu yang dipakai untuk pematangan dimodifikasi, dirawat, dan diperbaiki oleh para coopers The Balvenie

137


Dalam pengawasan Kelsey McKechnie selaku Malt Master, setiap sampel dicicipi dan dinanti dengan sabar demi menjaga kualitas karakter wiski

MAHAKARYA DALAM BOTOL The Balvenie dikenal memiliki spektrum koleksi wiski yang luas. Mulai dari core range yang mudah diakses hingga serial langka berusia panjang. Kesuksesan mereka sebagai pionir teknik cask finishing pada era 1980-an dan 1990-an di bawah Malt Master David C. Stewart menjadi titik balik industri: teknik tersebut kemudian diadopsi banyak distillery lain di seluruh dunia. Keberanian bereksperimen inilah yang turut mendorong pertumbuhan penjualan scotch dari single malt di pasar Amerika Serikat hingga melampaui dua kali lipatnya, yakni sebanyak 13 persen dari yang tadinya hanya sebesar 4 persen. Koleksi berusia panjang seperti Fifty Collection merupakan bentuk perayaan atas 50 tahun kematangan melalui edisi trilogi spesial yang dirilis bertahap selama tiga tahun. First Edition dirilis pada 2024 dan Second Edition didistribusikan secara global pada November lalu dalam jumlah sangat terbatas, hanya 97 botol di seluruh dunia. Rilisan terbaru tersebut menjadi penghormatan terhadap waktu dan craftsmanship: perkawinan dua tong langka berisi cairan dari tahun 1973—European oak refill butt dan American oak hogshead—yang menghasilkan profil rasa seimbang antara madu lembut, buah kering matang, dan kayu ek hangat. Keputusan Malt Master Kelsey McKechnie untuk mempertemukan

138

kedua tong tersebut bukan sekadar eksperimen teknis, melainkan upaya menyambungkan sejarah dan masa depan, sembari mengintegrasikan identitas The Balvenie. Seperti disampaikan McKechnie, “Koleksi ini merupakan tribut kepada para pembuat, perajin, dan penjaga yang telah merawat wiski ini selama lima dekade. Suatu kehormatan memilih cask yang membentuk perayaan warisan kami.”

C E R I TA

Lebih dari sekadar wiski mewah nan langka, koleksi ini menjadi pengingat bahwa kesabaran dan dedikasi adalah bagian integral dari nilai sebuah karya: cairan yang diawasi sejak 1973 akhirnya hadir sebagai pengalaman rasa yang menyatukan masa lalu dan masa depan dalam satu momentum. Edisi ketiga dari Fifty Collection direncanakan hadir pada 2026, melengkapi narasi perjalanan memori cair dari generasi ke generasi.


(Kiri) Proses pematangan di dalam tong memengaruhi 60-80 persen karakter rasa akhir sang wiski (Atas) The Balvenie Fifty Collection Second Edition merayakan 50 tahun kematangan European oak refill butt filled dan American oak hogshead dari tahun 1973

KOMUNITAS DAN KULTUR Komitmen The Balvenie terhadap craftsmanship membawa dampak lebih luas daripada sekadar kualitas produk. Dengan mempertahankan pekerjaan tradisional di Speyside— seperti petani barley, malt men, coopers, dan coppersmith—distillery ini menciptakan ekosistem ekonomi dan budaya yang hidup. Bertahan dalam tradisi berarti juga memberi ruang generasi baru untuk belajar melalui program apprenticeship dan pelatihan profesional yang dibuka di fasilitas mereka. Dampak sosial dan budaya ini menjalar ke luar Skotlandia. Di Indonesia, misalnya, The Balvenie hadir sebagai katalisator kreativitas melalui The Makers Project, yang menghubungkan Five Rare Crafts

dengan seni kontemporer. Kolaborasi dengan seniman visual dan desainer, seperti Diela Maharanie, Alvin Tjitrowirjo, dan studio Lianggono menafsirkan narasi craftsmanship dalam medium instalasi dan karya desain. Instalasi Wang Sinawang di Bali Festival Park pada 2025, memvisualisasikan perjalanan waktu, kerajinan, dan penantian sebagai bentuk pengalaman sensori yang mengedepankan keindahan dari proses, bukan hasil instan. Kontribusi semacam ini menunjukkan bahwa wiski dapat menjadi bahasa budaya: medium yang merayakan nilai manusiawi seperti kesabaran, presisi, dan rasa hormat terhadap tradisi. Nilai yang sama memberi daya tarik global terhadap The

WAWA S A N

Balvenie—menjadi referensi kualitas dalam lanskap wiski dunia dan ikon di wilayah Speyside yang kini menjadi destinasi turisme wiski internasional. Setiap botol The Balvenie pada akhirnya menjadi lebih dari minuman. Ia adalah saksi bisu dari ratusan tangan yang merawat bahan, membentuk cairan, dan menunggu waktu bekerja dengan tenang. Ia mengingatkan kita bahwa karya terbaik lahir dari dedikasi yang tidak terburu-buru, dari kepercayaan bahwa kualitas memerlukan ruang untuk tumbuh. Dalam ritme cepat dunia modern, filosofi The Balvenie mengajak kita kembali merayakan jeda, menghormati proses, dan menemukan makna dalam momentum yang diciptakan waktu.

139


140 140


WAWA S A N

Merayakan Memori: Layanan Dokumentasi Sesuai Permintaan

Fotografi, sejak awal kemunculannya, selalu berangkat dari kebutuhan manusia untuk merekam dan menjaga kehadiran, sebuah usaha menahan waktu agar tidak sepenuhnya berlalu. Seperti yang ditegaskan oleh Roland Barthes dalam buku Camera Lucida (1980), setiap foto adalah bukti bahwa sesuatu pernah ada, pernah hidup. Itulah akar terdalam mengapa kita memotret: untuk mengingat dan tetap terkoneksi dengan sesuatu yang tak akan pernah terulang.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Erika Tania Dwi Lukita

FOTOGRAFI Dok. Narasumber

VIDEOGRAFI Calvionita

Seiring waktu, kebutuhan itu berkembang mengikuti budaya dan teknologi. Dari medium yang dulu terbatas dan hanya digunakan pada momen-momen tertentu, fotografi kini menjadi bahasa visual yang universal, kasual, dan hadir dalam keseharian. Ketika setiap orang membawa kamera di saku, fotografi bukan lagi privilese, melainkan bagian dari cara kita mengekspresikan diri, membangun hubungan, dan berbagi cerita. Di Indonesia, transformasi ini terlihat jelas melalui menjamurnya layanan fotografi dan videografi sesuai permintaan (on demand). Jika dahulu penyedia jasa profesional identik dengan produksi berskala besar—pernikahan mewah, iklan televisi, atau kampanye billboard—kini layanan yang sama hadir lebih fleksibel dan mudah diakses. Mulai dari dokumentasi liburan bersama teman dan keluarga, hingga momen hangat bersama hewan peliharaan.

C E R I TA

141


(Atas) Lewat sentuhan sinematik JENDELA.CO, kolaborasi SMEG dan Didiet Maulana menangkap kehangatan dapur sebagai ruang kreasi yang selaras dengan gaya hidup masa kini (Kanan) Di era ketika video vertikal menjadi bahasa visual terdepan, JENDELA.CO menghidupkan narasi jenama mode, Two Stitches, melalui konten yang dirancang untuk media sosial

PERANAN TRANSFORMASI TEKNOLOGI Untuk memetakan fenomena ini, KINTAKA berbincang dengan empat pendiri layanan fotografi dan videografi masa kini yang bergerak dalam bidang dan fokus subjek yang berbeda. Mereka adalah David Soong dari SweetEscape, Reynaldo Tjandra dari DERAI, Agus Santoso dari Pettophoto, dan Raymond Ahari dari JENDELA.CO. Keempatnya samasama melihat bahwa percepatan teknologi menjadi fondasi penting yang mendorong tumbuhnya layanan dokumentasi sesuai permintaan. Raymond menegaskan perubahan paling signifikan berada pada percepatan alur produksi: “Dulu

142

perangkat berkualitas tinggi harganya mahal dan sulit diakses; sekarang banyak pilihan dengan harga dan spesifikasi kompetitif. AI juga mengubah cara kami bekerja: storyboard yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini bisa selesai dalam hitungan jam, bahkan menit.” Bagi para pelaku industri kreatif, kecepatan ini membuka ruang eksplorasi yang lebih besar dan meningkatkan kemampuan merespons kebutuhan klien secara efisien. Lebih jauh, teknologi tidak hanya berdampak pada ruang produksi, tetapi juga cara karya beredar dan dinikmati publik. Media sosial menjadi sistem distribusi visual sekaligus etalase

C E R I TA

portofolio yang strategis. “Media sosial sangat membantu industri fotografi untuk dikenal oleh khalayak luas, baik dalam maupun luar negeri, sehingga membuka lebih banyak kesempatan kolaborasi maupun menggaet calon klien,” ujar Agus. Sementara itu, Reynaldo melihat dampak lainnya pada ranah estetika dan keberagaman ekspresi visual. “Saya senang melihat arah perkembangan fotografi lokal. Semakin banyak ‘rasa’ dan variasi karya yang memperkaya lanskap kreatif kita. Era media sosial membuat referensi begitu mudah ditemukan dan diadaptasi ke karya masing-masing,” tuturnya.


DARI DOKUMENTASI KE REPRESENTASI Di kalangan pengguna aktif media sosial yang mengandalkan visual, kebutuhan akan foto dan video yang menarik kini menjadi kebutuhan nyata. Meski hampir semua orang memiliki ponsel dengan kamera canggih, kemampuan teknis maupun sensibilitas estetik tidak otomatis mengikuti. Dari celah kebutuhan inilah peluang muncul dan di sini David melihat kesempatan untuk mendirikan SweetEscape. “Ide ini lahir dari pengalaman pribadi. Saya sering travelling, tetapi selalu kesal karena kalau minta tolong turis lain, hasil fotonya kurang memuaskan. Akhirnya saya pikir, ‘Kenapa tidak bikin cara simpel untuk traveller punya foto bagus di mana pun?’ Dari situ SweetEscape lahir,” kenangnya. Layanan yang ia bangun pada 2017 itu kini hadir di lebih dari 500 kota di seluruh dunia, menghubungkan fotografer lokal dengan individu, pasangan, grup pertemanan, dan keluarga yang ingin mengabadikan momen perjalanan mereka. SweetEscape tumbuh bersama kebiasaan berbagi visual di media sosial, di mana kedekatan dan keaslian menjadi nilai utama, maka estetika candid yang ringan terbukti paling beresonansi dengan pengguna. Mereka ingin terlihat seperti diri mereka sendiri. “Orang ingin tampil autentik, bukan kaku. Banyak klien bilang, ‘Foto kami apa adanya saja.’ Menurut saya, dalam kesederhanaan itu justru terdapat emosi yang paling jujur. Saya selalu mengejar cerita, bukan sekadar gaya,” cerita David.

melahirkan kebutuhan visual baru: bukan sekadar dokumentasi, tetapi kesempatan tampil layaknya model kampanye fashion versi pribadi. Dalam lanskap inilah JENDELA.CO memainkan peranannya. Mereka menangani kebutuhan videografi berbagai jenama, mulai dari Franck & Co. hingga SMEG, termasuk produksi konten vertikal yang kini menjadi format strategis di media sosial. Pergeseran tersebut memperlihatkan bagaimana konten komersial kini bergerak mengikuti ritme distribusi digital yang cepat dan kompetitif. “Permintaan klien jauh lebih dinamis dan fleksibel, tidak hanya dokumentasi. Klien sekarang punya tuntutan yang lebih tinggi karena mereka sudah memiliki referensi visual yang spesifik dan ekspektasi yang jelas,” ungkap Raymond.

(Atas) Dengan kehadiran fotografer SweetEscape, semua bisa ikut hadir sepenuhnya dalam momen spesial tanpa ada yang tertinggal di balik kamera (Bawah) Tersedia di lebih dari 500 kota di berbagai belahan dunia, SweetEscape menghubungkan pengguna dengan fotografer lokal untuk mengabadikan momen berharga di mana pun berada

Namun seiring pertumbuhan media sosial sebagai ruang presentasi diri, standar visual pengguna pun meningkat. Muncul gelombang baru yang didorong oleh jenama gaya hidup, influencer, hingga komunitas kreatif yang menyajikan konten dengan pendekatan artistik dan editorial. Keinginan untuk tampil “tidak biasa”

WAWA S A N

143


Di sisi lain, panggung eksplorasi estetika ini menjadi ladang permainan bagi DERAI. Lewat pendekatan visual yang bernafaskan seni, DERAI mempresentasikan momen pertunangan, pre-wedding, hingga pernikahan sebagai karya editorial dengan sentuhan fashion. “Permainan garis, peletakan ruang kosong, visual hook—pendekatan kami selalu tidak bisa ditebak,” jelas Reynaldo. Dengan permintaan lebih dari 40 klien per bulan—termasuk dalam portofolionya ialah pasangan selebriti, seperti Al Ghazali dan Alyssa Daguise, serta Luna Maya dan Maxime Bouttier—DERAI memperlihatkan bagaimana selera visual masyarakat kian bergerak ke arah ekspresi artistik yang lebih berani. Di antara dua arus besar—candid dan editorial—Pettophoto menjadi pengingat bahwa estetika klasik tidak pernah kehilangan tempatnya. “Klien selalu suka hal yang klasik dan abadi,” kata Agus. Pengalaman Agus di peternakan hewan memberinya pemahaman intuitif menangkap gestur dan emosi secara natural. Hasilnya adalah potret studio hewan peliharaan yang terasa hangat dan tak lekang oleh waktu. Meski bergerak dengan gaya dan fokus yang berbeda, keempatnya dipersatukan oleh satu keyakinan: kejujuran adalah fondasi setiap karya visual yang bermakna. “Ketika karya kita hanya mengikuti tren tapi tidak jujur, kita akan jenuh,” ujar Raymond. “Saya percaya barometer karya adalah diri kita sendiri. Kalau kita bisa menikmatinya, orang lain akan merasakannya.”

144

(Atas) Lewat lensa DERAI, pernikahan Al Ghazali dan Alyssa Daguise menjelma layaknya kampanye fashion yang kaya detail estetik (Bawah) Melalui komposisi garis, ruang kosong yang strategis, dan fokus pada visual hook, DERAI merumuskan foto pre-wedding yang puitis dan tidak konvensional

EKOSISTEM KREATIF SARAT KOLABORASI Tingginya minat terhadap layanan fotografi dan videografi sesuai permintaan melahirkan dinamika baru di industri ini. Jumlah penyedia layanan kian meningkat; dari paket ekonomi hingga premium, dari kreator individu hingga studio berskala besar, pilihan bagi para pengguna kini semakin luas. Persaingan pun tak terelakkan, namun para pelaku di lapangan justru melihatnya sebagai tanda pertumbuhan yang sehat. “Kompetisi akan selalu ada. Ketika ada kompetisi, di sana kita melihat market bertumbuh,” ujar Reynaldo. Pandangan tersebut senada dengan David yang melihat kompetisi bukan sebagai

C E R I TA


ancaman, tetapi peluang untuk edukasi dan peningkatan standar pasar. “Saya justru senang. Itu bikin pasar makin aware soal value. Mereka akan belajar membedakan: kapan cukup dengan ‘teman motret’, kapan butuh fotografer profesional. Jadi ini kesempatan edukasi, bukan ancaman,” jelasnya. Semangat ini beresonansi dengan budaya kolaboratif yang berkembang di industri. Raymond menambahkan bahwa semakin banyak pelaku justru memperkuat solidaritas dan ruang berbagi di antara mereka. “Karena banyaknya personel di industri ini, kami saling dukung satu sama lain. Kami

sering berbagi teknik terbaru hingga cara mengatasi kesulitan,” ceritanya.

melainkan sparring partner yang membuat kita lebih baik,” ujarnya.

Menurut Agus, kompetisi justru menjadi alasan untuk terus menjaga profesionalisme. “Setiap fotografer punya karakteristik yang berbeda. Di tengah berkompetisi, kita harus tetap profesional dan optimis,” tuturnya. Sejalan dengan itu, Raymond menambahkan bahwa daya tahan dalam industri bergantung pada kesiapan untuk terus belajar dan berkembang. “Pengembangan diri itu penting. Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal jauh. Mereka yang ada di industri ini bukan kompetitor,

Pada akhirnya, melampaui perannya dalam ekosistem ekonomi kreatif, para pelaku industri ini melihat dokumentasi visual sebagai ruang kolaborasi, edukasi, dan komunitas yang begitu sakral, sebagaimana karya mereka akan hidup di ruang tamu, album keluarga, dan hati banyak orang. Di titik itulah fotografi kembali pada esensinya yang paling manusiawi: upaya untuk mengenali diri, merayakan waktu, dan menyimpan kehadiran yang tak akan pernah terulang, satu jepretan demi jepretan.

(Kiri) Pettophoto menawarkan pengalaman fotografi studio bergaya klasik dengan hasil yang timeless dan melampaui tren sesaat (Atas) Dengan kepekaan dan pengalaman, Pettophoto menghadirkan gestur dan ekspresi hewan peliharaan dalam versi terbaiknya

WAWA S A N

145


JURNAL

Menelusuri DetikDetik MotoGP™ Bersama Tissot

Sejak tahun 1853, Tissot berdiri sebagai salah satu pilar horologi Swiss, memadukan tradisi, inovasi, dan kemampuan teknis yang terus melampaui zaman. Di jantung setiap kreasinya, terdapat satu DNA yang tegas: komitmen pada presisi. Lebih dari estetika atau akurasi mekanis, presisi bagi Tissot adalah cara memandang dunia. Sebuah prinsip yang juga menjadi ruh dalam dunia olahraga, di mana setiap detik memiliki arti dan setiap milidetik mampu mengubah sejarah.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

Di dunia yang bergerak cepat, di mana performa dan keandalan diuji dalam kondisi paling ekstrem, Tissot menemukan panggung idealnya. Di sinilah presisi horologi bertemu dengan tuntutan akurasi di arena olahraga. Selama lebih dari satu abad, Tissot mengembangkan instrumen waktu yang tidak hanya indah dipandang, namun akurat secara ilmiah. Produk-produk pionir, seperti Tissot Touch dan T-Touch Connect Solar menjadi bukti bahwa Tissot merupakan inovator yang tetap berpegang pada tradisi.

PENULIS Netanya Gabrielle

FOTOGRAFI Dok. Tissot

VIDEOGRAFI Dok. Tissot

146

Komitmen inilah yang membawa Tissot ke jantung berbagai ajang olahraga kelas dunia. Di pertandingan basket internasional, mereka dipercaya oleh NBA dan FIBA. Di ranah balap sepeda, mereka menjadi saksi ketatnya Tour de France dan La Vuelta. Di dunia motorsport, khususnya MotoGP™, Tissot tidak hanya jadi pengamat—mereka adalah penentu waktu, pengawal akurasi, dan penjaga integritas kompetisi.

C E R I TA


147


KOLABORASI PRESISI MotoGP™ adalah puncak balap motor dunia: cepat, bertenaga, ekstrem, namun sarat strategi dan presisi teknik. Di lintasan, para pembalap dapat melesat lebih dari 340 km per jam lalu dalam hitungan detik melakukan pengereman keras— menurunkan kecepatan dari 318 km per jam ke sekitar 74 km per jam dalam 5,5 detik. Di tengah ritme ekstrem itu, setiap manuver berlangsung secepat kilat, nyaris tak kasat mata. Di sinilah Tissot mengambil perannya sebagai Official Timekeeper MotoGP™, memastikan setiap momen yang tak terlihat tetap tercatat. Sejak memulai kolaborasi pada tahun 2001, Tissot telah menghadirkan teknologi pencatatan waktu yang mampu mengukur setiap milidetik dengan akurasi luar biasa. Kemitraan ini

bukan sekadar kolaborasi komersial, melainkan bukti sinergi antara dua disiplin yang sama-sama dibangun atas fondasi presisi dan performa. Kehadiran Tissot di MotoGP™ melahirkan sebuah lini horologi yang lekat dengan dunia balap. Inspirasi dari mesin, suspensi, rangka motor, hingga material serat karbon, hadir dalam desain dan mekanisme koleksi Tissot T-Race. Koleksi pertama MotoGP™ yang diluncurkan pada tahun 2003 sontak menjadi ikon. Dua dekade kemudian, desain berbagai edisi khusus MotoGP™ kian berevolusi tetapi setia pada esensi yang sama: merayakan adrenalin dan ketepatan waktu. Tahun ini, Tissot T-Race MotoGP™ Automatic Limited Edition, hadir dengan movement Valjoux A05.951 bercadangan daya impresif hingga 68 jam.

Pada tahun 2023, MotoGP™ memasuki era baru dengan diperkenalkannya Sprint Race—sesi yang kemudian resmi dikenal sebagai Tissot Sprint. Hadir sebagai babak tambahan di hari Sabtu, Tissot Sprint memberi kesempatan bagi pembalap untuk meraih poin ekstra sekaligus menyajikan pertarungan yang lebih padat dan mendebarkan bagi para penggemar. Sebagai versi ringkas dari Grand Prix hari Minggu, Sprint Race berlangsung dengan jarak setengah dari balapan utama, begitu pula dengan jumlah poin yang diperebutkan. Namun pemadatannya justru membuat setiap detik terasa lebih bernilai di mana setiap manuver menjadi jadi lebih agresif, strategi harus dieksekusi tanpa cela, dan kesalahan sekecil apa pun dapat mengubah hasil.

Pesona Tissot T-Race MotoGP™ Automatic Chronograph Limited Edition dengan skeleton movement yang memberikan pandangan tanpa batas pada kinerja mekanis nan presisinya

148

C E R I TA


(Kanan) Angga Yunanda tampil sporty dengan Tissot T-Race Powermatic 80 dan Shenina Cinnamon tampak elegan dengan Tissot Le Locle Lady 20th Anniversary (Bawah) Di tengah ritme ekstrem dan manuver secepat kilat, momen ketika para pembalap melahap tikungan menjadi istimewa karena di sanalah setiap detail terlihat paling jelas

DENYUT ADRENALIN MANDALIKA Pada September 2025, KINTAKA berkesempatan menyaksikan langsung dinamika di balik layar MotoGP™ bersama Tissot di Mandalika. Sebuah privilese langka yang membuka akses ke ruang-ruang privat: tempat para teknisi, insinyur, dan pembalap mengatur ritme salah satu ajang balap paling intens di dunia. Mandalika sendiri menawarkan pengalaman yang tak tergantikan. Sebagai satu-satunya sirkuit MotoGP™ di Indonesia, berada di sana berarti menyaksikan bagaimana negeri ini berdiri sejajar di panggung balap global. Konteks ini membuat undangan Tissot terasa semakin istimewa. Bukan sekadar menyaksikan balapan, tetapi menjadi bagian dari sebuah momen kebanggaan nasional. Bersama aktor Angga Yunanda dan aktris Shenina Cinnamon, KINTAKA memasuki dunia Tissot VIP Experience, sebuah perjalanan eksklusif yang mempertemukan kami dengan adrenalin MotoGP™ tepat di pusat aksinya. Perjalanan dimulai dari VIP Village, area hospitality paling eksklusif di MotoGP™. Dari balkon yang menghadap lintasan, kami menyaksikan langsung dinamika balapan: suara mesin yang menggetarkan udara, aroma bahan bakar, dan ketegangan yang terasa dalam setiap lap.

JURNAL

149


Deretan monitor dan server yang mencatat setiap milidetik gerakan pembalap di Timekeeping Room MotoGP™.

Momen paling berkesan adalah ketika kami memasuki Timekeeping Room, ruang kendali yang menjadi nadi dari kompetisi. Deretan monitor menampilkan setiap pergerakan pembalap dalam hitungan milidetik, sementara teknologi bekerja tanpa henti di balik layar. Salah satu elemen terpenting adalah transponder dua arah yang dipasang pada setiap motor. Generasi terbaru transponder Tissot tidak hanya mengirim sinyal waktu, tetapi mencatat setiap detail lap sekaligus menyampaikan informasi penting, seperti peringatan bendera kuning, langsung ke dashboard pembalap. Di ruangan ini, sinyal dari setiap motor diproses secara riil melalui jaringan radio dan sensor berlapis. Data tersebut kemudian diteruskan

150

C E R I TA

ke tim balap, penyelenggara, hingga publik. Untuk momen penentuan, Tissot menyiapkan sistem cadangan yang tak kalah teliti, termasuk kamera photo-finish berkecepatan tinggi, siap digunakan ketika selisih kemenangan hanya terpaut beberapa milidetik. Privilese lain yang kami dapatkan adalah kesempatan mengendarai BMW M3 Touring, Safety Car resmi MotoGP™. Bertenaga 510 hp dan mampu melesat 0–100 km per jam dalam 3,6 detik, mobil ini bertugas memimpin lap formasi, memastikan lintasan aman, serta mengatur ritme balapan saat terjadi insiden. Dari balik kemudi, terasa jelas bagaimana kombinasi tenaga, traksi, dan stabilitas menjadikan mobil ini tak sekadar pengawal keamanan, tetapi penjaga tempo bagi ajang balap roda dua tercepat di dunia.


JEJAK MENUJU PODIUM Melangkah ke Pit Box layaknya memasuki garasi surgawi bagi para pencinta teknik dan kecepatan. Di area ini, para teknisi bergerak cepat namun terukur, menyesuaikan mesin, memeriksa tekanan ban, membaca data elektronik, dan memastikan motor siap melintas di sirkuit. Sebelum balapan dimulai, kami mendapat akses ke Grid, titik paling sakral di MotoGP™. Di sini, teknisi saling berkoordinasi untuk melakukan pemeriksaan akhir. Saat motor dinyatakan siap, para pembalap

menempati posisi masing-masing, menunggu dalam hening yang mendebarkan. Tujuh menit sebelum start, kami digiring ke sisi sirkuit untuk menyaksikan hitungan mundur yang membuat jantung kian berdebar, dan dalam sekejap, gemuruh suara mesin menggema saat motor melaju di lintasan. Puncaknya, kami menyaksikan seremoni podium dari jarak hanya beberapa meter yang diiringi sorak penonton dan senyum para juara, menciptakan euforia yang begitu

nyata. Di Mandalika, Fermín Aldeguer keluar sebagai pemenang, diikuti Pedro Acosta dan Alex Márquez. Momen ketika sampanye menghujani udara menjadi penutup sempurna dua hari yang penuh intensitas. Pada akhirnya, di balik gemuruh mesin dan dentuman sorak penonton, waktu—sebagaimana dicatat oleh Tissot sebagai Official Timekeeper MotoGP™—menjadi saksi paling setia bagi setiap putaran, setiap duel, dan setiap kemenangan yang mengukir sejarah.

Kiri ke kanan: Pedro Acosta, Fermín Aldeguer, dan Álex Márquez merayakan kemenangan di MotoGPTM Mandalika 2025

JURNAL

151


152


K ATA K I N TA K A

Tahukah Anda, mengamati tren tas masa kini sejatinya sama dengan menelusuri pola konsumsi mode sekaligus memahami persepsi publik terhadap industri barang mewah? Dalam dunia mode, tas tak sekadar aksesori fungsional yang memuat kebutuhan harian. Ia adalah perwujudan kreativitas desainer, bukti inovasi craftsmanship, dedikasi para artisan, serta simbol eksklusivitas sebuah rumah mode.

AKSES KONTEN MULTISENSORI

PENULIS Kenneth Lazuli

VIDEOGRAFI Calvionita

Tak heran, bagi desainer maupun jenama baru, menciptakan tas yang diterima pasar hingga menyandang status “ikonis” kini menjadi tolok ukur kesuksesan. Mereka yang sudah meraih pencapaian ini pun tak lantas berpuas diri. Di tengah derasnya arus media sosial, menjaga popularitas dan minat konsumen menjadi tantangan tersendiri. Rumor mengenai desain terbaru, bocoran kenaikan harga, atau isu kualitas pengerjaan dapat memengaruhi bisnis, bahkan mengubah pandangan konsumen tentang relevansi pembelian tas mewah. Dampaknya bisa meluas, hingga berpotensi mengguncang ekosistem industri barang mewah secara keseluruhan. Lantas, di tengah cepatnya perputaran tren dan semakin tingginya kesadaran untuk mengonsumsi mode secara bijak, apakah alasan prestise dan kreativitas di balik sebuah tas masih relevan untuk membenarkan pembelian tas impian? Pertanyaan itu kami telusuri dari berbagai sisi.

C E R I TA

153


klien mereka. Tapi bukankah, sebagai konsumen, kita juga penasaran seberapa kompleks sebenarnya proses pembuatan tas tersebut dan siapa saja pihak yang terlibat di baliknya? Apalagi, kerumitan pengerjaan kerap menjadi alasan utama ketika jenama mewah menjelaskan mengapa harga produk mereka menyandang harga premium. Perihal transparansi, Hermès menjadi salah satu contoh menarik. Rumah mode asal Prancis ini pernah membuka pintu ruang kerjanya untuk Vogue dan program 60 Minutes di YouTube. Dalam tayangan tersebut, publik melihat langsung tahapan pembuatan tas—mulai dari sketsa, pembuatan prototipe, hingga akhirnya siap dijual. “Selama ini, saya selalu mendengar Hermès itu mahal. Bukan mahal, tapi bernilai. Biaya adalah harga riil untuk membuat sebuah objek dengan benar melalui ketelitian dan perhatian penuh, hingga melahirkan kualitas sejati. Mahal adalah sebaliknya: produk yang gagal memenuhi janji, namun dibayar mahal, lalu mengecewakan,” ujar Pierre-Alexis Dumas, Direktur Artistik Hermès, dalam wawancara bersama 60 Minutes.

Direktur Artistik Hermès Pierre-Alexis Dumas (dok. Julien Oppenheim)

TRANSPARANSI MENJADI TUNTUTAN Pada bulan April lalu, media sosial diramaikan oleh konten sejumlah manufaktur asal Tiongkok yang mengklaim sebagai pemasok komponen untuk perakitan tas berbagai label mewah. Ada pula yang menyebut kualitas pengerjaan mereka setara dengan rumah mode berusia ratusan tahun, bahkan memasarkan tas buatan mereka dengan harga jauh lebih rendah. Dari sudut pandang ekonomi, kemunculan konten yang bertepatan

154

dengan rencana pengumuman tarif dagang baru Amerika Serikat ini tak ubahnya propaganda perang dagang. Namun dari perspektif mode, isu yang diangkat justru menyentuh topik yang jarang dibicarakan: transparansi. Mengetahui bahwa tas kesayangan Anda menyandang label “Made in France” atau “Made in Italy” kini terasa belum cukup. Memang lazimnya, manufaktur resmi yang ditunjuk sebagai vendor oleh sejumlah rumah mode tak akan membocorkan daftar

C E R I TA

Menurut Pierre-Alexis, tantangan terbesar dalam memenuhi permintaan tas ikonis seperti Birkin dan Kelly adalah keterbatasan jumlah artisan. Salah satu keahlian wajib di Hermès adalah teknik jahit saddle, detail yang tak bisa diduplikasi oleh mesin dan hanya bisa dikerjakan dengan tangan. Para artisan pun butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. Dalam tayangan 60 Minutes, seorang artisan terlihat merakit tas Kelly tanpa mesin atau buku panduan. Ia hanya


Craftsmanship di balik pembuatan tas Dior Saddle melibatkan kinerja tangan para artisan ahli (dok. Dior)

mengandalkan keterampilan, memori, dan insting. Di era serba instan, proses tradisional seperti ini terasa hampir radikal. Namun, barangkali di sanalah letak nilai sejati sebuah kemewahan: kemampuan untuk memperlambat waktu ketika dunia justru berpacu dengannya—di mana setiap detik, bersama keahlian yang menuntut kesabaran, menjadi bagian dari harga yang kita bayar untuk sebuah tas mewah.

MOMENTUM PASAR SEKUNDER Kesabaran dan penghargaan terhadap proses mungkin menjadi pelajaran yang ingin disampaikan Hermès dan rumah mode sejenis. Namun, di tengah perubahan pola

konsumsi, cara pandang konsumen terhadap kemewahan pun ikut bergeser. Kini, memiliki tas impian tidak selalu identik dengan antrean panjang atau daftar tunggu eksklusif. Pasar sekunder—mulai dari platform preloved hingga reseller tepercaya— hadir sebagai alternatif yang lebih mudah diakses. Fenomena ini memang bukan hal baru, tetapi dulu membeli tas bekas sering dianggap kurang prestise dan sarat risiko pemalsuan. Kini, persepsi itu perlahan berubah. Meski pengalaman berbelanja langsung di butik—lengkap dengan layanan personal dan purna jualnya—tetap memiliki daya tarik emosional tersendiri, pasar sekunder mulai mendapat tempat sebagai bagian dari ekosistem kemewahan yang lebih inklusif dan dinamis.

K ATA K I N TA K A

155


Alasan di balik popularitasnya beragam: mulai dari keinginan memiliki tas lawas yang ikonis, harga yang lebih bersahabat, hingga dorongan untuk berbelanja secara lebih sadar—selaras dengan prinsip mode berkelanjutan yang kini begitu dijunjung generasi muda. Pertumbuhan pasar sekunder juga tercermin pada laporan The RealReal, platform barang mewah bekas pakai asal Amerika Serikat, yang mencatat kenaikan profit hingga 13 persen di semester pertama 2025.

Minat kian tinggi terhadap pasar sekunder tentunya juga tidak lepas dari nilai jual kembali sejumlah tas ikonis, seperti Hermès Birkin dan CHANEL Flap yang terus meningkat dari waktu ke waktu, bahkan tak jarang menjadi objek bernilai fantastis di ajang lelang bergengsi. Laporan Credit Suisse dan Deloitte (2022) bahkan menempatkan tas CHANEL dalam kategori produk dengan nilai kolektibilitas tinggi yang menguntungkan sebagai instrumen investasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa tas mewah masih relevan asal memiliki nilai intrinsik yang bertahan, bukan sekadar logo yang sedang tren.

DAYA TARIK NOSTALGIA Fenomena tas bekas juga mencerminkan kecenderungan mode untuk “melawan” siklus waktunya sendiri. Di satu sisi, mode adalah tentang pembaruan; di sisi lain, nostalgia terbukti masih menjadi strategi penjualan yang efektif. Banyak rumah mode kini membangkitkan kembali tas-tas ikonis mereka dan membuktikan bahwa desain yang kuat tak lekang oleh waktu.

(Atas) Tas CHANEL Flap yang disebut memiliki nilai kolektibilitas tinggi menarik minat penggemar mode lintas genre, termasuk penyanyi asal Korea Selatan, G-Dragon (dok. Getty Images) (Bawah) Tahun ini menandai usia genap 10 tahun usia tas Puzzle kreasi Loewe yang berhasil menyandang status “it bag” (dok. Loewe)

156

C E R I TA

Dior sukses mengembalikan kejayaan tas Saddle pada 2018. Prada menghadirkan lini Re-Edition dari tahun 2000 dan 2005. Louis Vuitton membuka arsipnya untuk kolaborasi legendaris bersama Takashi Murakami dan Yayoi Kusama. Musim gugur 2025, Chloé menghidupkan lagi tas Paddington dengan detail gembok khasnya, sementara Loewe


merayakan satu dekade tas Puzzle lewat edisi khusus terbatas. Fendi pun tak ketinggalan, membawa kembali tas seri Spy yang sempat menjadi primadona di era 2000-an. Lalu, apakah tren nostalgia ini membuat desain baru kehilangan tempat? Tentu tidak. Justru dinamika industri mode membentuk lanskap konsumsi yang lebih berlapis. Konsumen masa kini bukan lagi sekadar mengikuti tren musiman, melainkan menjadi kurator bagi gaya personal mereka sendiri sekaligus kolektor yang menghargai nilai artistik dan eksklusivitas. Laporan The State of Fashion 2025 dari Business of Fashion dan McKinsey menyebutkan bahwa 62 persen pembeli barang mewah kini mempertimbangkan “warisan desain” sebagai faktor utama dalam keputusan mereka, sementara 48 persen lainnya tertarik pada produk yang memiliki nilai kolektibilitas tinggi. Artinya, di tengah maraknya kehadiran tren baru, desain yang kuat secara naratif—baik dari arsip maupun hasil inovasi kontemporer—tetap memiliki ruang apresiasi yang seimbang. Pada akhirnya, kini membawa tas bukan hanya soal fungsi maupun gengsi, melainkan pernyataan personal sekaligus penyimpan cerita. Hiaslah tas Anda sesuka hati, seperti mendiang Jane Birkin yang menempelkan gantungan dan stiker pada Birkin miliknya. Gunakan tanpa ragu, seperti Kate Moss yang dengan santai membawa Kelly ke pantai. Atau maksimalkan setiap pemakaian, layaknya Mary-Kate Olsen yang pernah tertangkap kamera menenteng Hermès Kelly usang dan Balenciaga City bernoda anggur merah.

Di era kultur kolektibilitas, tas mewah telah bergeser menjadi aset budaya dan investasi emosional. Kepemilikan tas mewah tidak lagi berpusat pada logo yang tersemat padanya, tetapi berperan sebagai platform untuk menjadi bagian dari legasi bahkan misi tertentu yang direpresentasikan oleh para rumah mode. Jadi, ketika kesempatan itu datang, belilah tas impian Anda. Mungkin hari ini ia sekadar pelengkap penampilan, tapi siapa tahu, beberapa tahun lagi ia berubah menjadi penanda waktu, warisan penuh kenangan, bahkan aset yang nilainya justru kian bertambah.

K ATA K I N TA K A

Zendaya membintangi kampanye istimewa tas Louis Vuitton dalam perayaan kolaborasinya dengan seniman kawakan, Takashi Murakami, yang ke-20 di tahun 2025 ini (dok. Louis Vuitton)

157


Direktori A. LANGE & SÖHNE

BLP BEAUT Y

ION Orchard, Singapura Level 1, Unit #02-04/05 Tel: (+65) 6509 1712

Kota Kasablanka, Jakarta Level 2, Unit 56 Tel: 0852 1691 1262

A D I DA S O R I G I N A L S

Living World, Denpasar Level LG, Unit LG-32 Tel: 0821 2115 2321

Plaza Indonesia, Jakarta Level 2, Unit E017 Tel: (021) 2992 1931/32

Tunjungan Plaza 6, Surabaya Level 2, Unit 41 Tel: (031) 9924 6301

BREGUET

Tersedia di butik The Time Place

BREITLING

A LT R U VA A E S T H E T I C CLINIC

A M I PA R I S

Rukan Permata Senayan C22-23 Patal Senayan, Jakarta Tel: (021) 5794 0758

ARNOLD & SON

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 133 Tel: (021) 2992 4110

Plaza Senayan, Jakarta Level 1, Unit 152C & 156C Tel: (021) 572 5660

Sincere Fine Watches Singapura Takashimaya #01-12 Tel: (+65) 6733 0618

ARTMOMENTS

www.artmoments.id

AUDEMARS PIGUET

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 170 Tel: (021) 2992 3982

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 133 Tel: (021) 2992 4110

Tunjungan Plaza 4, Surabaya Lantai UG, Unit 20-22 Tel: (031) 9925 3540

CHARLOTTE TILBURY

www.charlottetilbury.com Plaza Senayan, Jakarta Level 1, Unit 159C & 163C Tel: (021) 2967 8512

Jl. Ciasem 1 No.2, Jakarta Tel: 0812 1611 9392

C H A N E L F R AG R A N C E & BEAUT Y

BT L A E S T H E T I C S

BULGARI

Plaza Senayan, Jakarta Level 1, Unit 145C-147C-151C Tel: (021) 5790 6063

CARTIER

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 138-139 Tel: (021) 314 1916

C AV E M E N ’ S G R O O M I N G

C H O PA R D

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 182B Tel: 021 2992 4350

CLEMENCE ELLERY

Park Hyatt Hotel, Jakarta Level 1 Tel: (021) 5095 9945

C OAC H

Grand Indonesia, Jakarta West Mall, Level GF Unit 1 Tel: (021) 2358 1224 Kota Kasablanka, Jakarta Lantai GF Unit GF-27 Tel: (021) 2948 88518

DERAI

@derai.studio

DIOR

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 179A-181A Tel: (021) 2359 9380

B A R K O TA K

@cave.id Tel: 0852 8156 7705

BAUME ET MERCIER

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Main Atrium Tel: (021) 2359 9434

PIK Avenue, Jakarta Level GF, Unit D3 Tel: (021) 5011 6404

C E R I TA F I L M S

Senayan City, Jakarta Level LG, Unit L39-40 Tel: (021) 278 1687

The Bimasena, Jakarta Jl. Dharmawangsa Raya No.23 Tel: 0813 2662 2100

Tersedia di butik INTime

BELL & ROSS

Tersedia di butik INTime

BERLUTI

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1 No. 182A Tel: (021) 2992 4363

CELINE

@cerita_films

DY S O N

FENDI

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1 No. 66-71 Tel: (021) 2992 3755


J E F F R E E S TA R

Plaza Senayan, Jakarta Level 1, No. 117-119 Tel: (021) 5790 0159

www.jeffreestarcosmetics.com

G AT S B Y

@jendela.co

www.gatsby.co.id Tel: 0811 2230 1000

GOT2B

www.got2b.com

G R A N D S E I KO

Plaza Senayan, Jakarta Level 2, Unit 221A Tel: (021) 573 0929

GUÈLE

www.guele.id

HERMÈS

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit E002-E006A Tel: (021) 2992 3998 Pacific Place, Jakarta Level GF, Unit 88A Tel: (021) 5140 2798

HUBLOT

Tersedia di butik The Time Place

INTIME

Grand Indonesia, Jakarta West Mall, Unit G19 Tel: (021) 2358 1208 23 Paskal, Bandung Lantai 1, Unit 59 Tel: (022) 6318 5001

ISA ART GALLERY

www.isaartanddesign.com

IWC

Plaza Senayan, Jakarta Level 1, Unit 127A Tel: (021) 5790 5370

J A E G E R - L E C O U LT R E

Plaza Senayan, Jakarta Level 1, Unit 121A-129A Tel: (021) 5790 5371

J E N D E L A .C O J U DY D O L L

@judydollindonesia

LAURA MERCIER

Tersedia di Sephora

LEICA

Plaza Senayan, Jakarta Level 3, Unit 324B Tel: (021) 5790 6066

LOEWE

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 63-64 Tel: (021) 2358 0303 Pacific Place, Jakarta Level GF, Unit G-35A, B Tel: (021) 5797 3595

LONGINES

Tersedia di butik INTime

LOUIS VUITTON

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 2-011A, 179-180A/C, 186-187 Tel: 0811 8871 730 Pacific Place, Jakarta Level GF, Unit 67-70 tel: (021) 5140 0575

MERCEDES-BENZ

Jl. Mampang Prapatan No.69-70, Jakarta Tel: 0822 4651 9353

MOIE LIVING

Pacific Place, Jakarta Level 1, Unit 119A-121A Tel: 021 5790 5371

MOIE HAUS

Ashta District 8 Level GF, Unit 28 Tel: 0822 9999 6643

MONTBLANC

Pacific Place, Jakarta Level GF, Unit 27-28 Tel: (021) 5140 2762 Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 52-53 Tel: (021) 29924015

NARS

Tersedia di Sephora

N O R QA I N

Tersedia di butik INTime

OMEGA

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 28-30 Tel: (021) 2359 9502 Plaza Senayan, Jakarta Level 1, Unit #176C Tel: (021) 571 5663

ORIS

LOV LOV H O U S E OF BEAUT Y

Radiance Kota Kasablanka, Jakarta Level UG, Unit 19 Tel: (021) 5946 5019

LUCIDO-L

Central Watch Paris Van Java, Bandung Blok GLA No.5 Tel: (022) 8206 3606

Jl. Kano Permai III No.16A, Jakarta Tel: 0818 486 168

@lucidol_id

MAKEUP BY MARIO

@makeupbymario


PA N E R A I

Tersedia di butik The Time Place

PA N TJ A

Jl. Senopati No.37, Jakarta Tel: 0811 8683 010

PAT E K P H I L I P P E

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 34-38 Tel: (021) 2992 4555

PAT R I C K TA

www.patrickta.com

PETTOPHOTO

@pettophoto

PHOENIX GASTROBAR

Golf Island, Boulevard Pantai Indah Kapuk St No.1, Jakarta Tel: 0811 1922 3168

P I AG E T

Tersedia di butik The Time Place

PUERO

Jl. Senopati No.88, Jakarta Tel: 0819 9980 0418

ROGER DUBUIS

Tersedia di butik The Time Place

ROLEX

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit #69 & 70A Tel: (021) 2992 3982

R O S É A L L D AY

@roseallday.co

S C H WA R Z K O P F

@scawarzkopfproindonesia

SEPHORA

Central Park Mall, Jakarta Level G, Unit G-102 & G-103 Tel: (021) 2920 1095

Deli Park, Medan Level G, Unit GF-29 Tel: (061) 6200 0299

SISTER ANN

@sisterann.id

S U K K H A C I T TA

Ashta District 8, Jakarta Level GF, Unit 15 Tel: 0821 4102 1688

SUPERB CLINIC

Jl. Tirtayasa Raya No.12B, Jakarta Tel: 0822 610 610

S WAT C H

T H E T I M E P L AC E

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit 165–168 Tel: (021) 310 7715

Tunjungan Plaza 4, Surabaya Level UG, Unit 30–37 Tel: (031) 532 7991

TISSOT

Plaza Senayan, Jakarta Level 2, Unit 260C Tel: (021) 572 5241 Ciputra World, Surabaya Level GF, Unit 61 Tel: 0857 1363 6213

TO KO C RY P TO

Kota Kasablanka, Jakarta Level GF, Unit 33 Tel: (021) 2946 5105

www.tokocrypto.com

SWEET ESCAPE

Pacific Place, Jakarta Level GF, Unit 31A-31B Tel: (021) 5797 3583

TA G H E U E R

Tunjungan Plaza IV, Surabaya Level G, Unit #023-027 Tel: (031) 545 9561

www.sweetescape.com

Pacific Place, Jakarta Level GF, Unit 52-53 Tel: (021) 5797 3725 23 Paskal, Bandung Level 1, Unit #58A Tel: (022) 6318 5001

T H E B A LV E N I E

The Distillers Library Indonesia Bumi Pakubuwono Lantai 2, Jakarta Tel: 0822 2022 9989

T H E S AYA N H O U S E VILLAS

Jl.Raya Sayan No.70, Ubud, Bali Tel: 0812 4641 1944

T H E S T. R E G I S B A R J A K A R TA

The St. Regis Jakarta Tel: (021) 5094 8893

TORY BURCH

TUDOR

Tersedia di butik INTime

VA C H E R O N C O N S TA N T I N

ION Orchard, Singapura Level 2, Unit #02-07 Tel: +65 6509 8800

VA L E N T I N O

Plaza Indonesia, Jakarta Level 1, Unit D56 Tel: (021) 2992 1970

VA N S

Grand Indonesia, Jakarta Level 2 Skybridge, Unit SB2-17 Tel: (021) 2358 1351

ZENITH

Tersedia di butik The Time Place


THE CLA

EXPRESS YOUR DRIVE. Shine through every turn with the CLA.

www.mercedes-benz.co.id Specifications and colors may differs from the actual product in Indonesian market.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
KINTAKA 03 Selebrasi Memori dan Momentum by TIME International Publications - Issuu