PAPER RUANG DAN PERILAKU PENGARUH PERUBAHAN PERILAKU PENGUNJUNG TERHADAP PERSONAL SPACE DI MASJID POGUNG RAYA PADA MASA PANDEMIC COVID-19
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ruang dan Perilaku Disusun Oleh: Qonieta Maulidya 19/443547/TK/48743
PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA DEPARTEMEN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2021
KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat kemudahan dan keberkahan sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan Paper Tugas Besar Mata Kuliah Ruang dan Perilaku dengan kasus Masjid Pogung Raya daerah Pogung Dalangan, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan sebaik-baiknya. Penyusunan ini tentu tidak luput dari tantangan dan hambatan baik dalam pengumpulan data maupun pengerjaannya. Bantuan dari berbagai pihak sangat berarti bagi penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Oleh karena itu saya menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc, Ph.D, dan Bapak Ir. Agam Marsoyo, M.Sc. Ph.D selaku dosen mata kuliah ruang dan perilaku yang sudah memberikan ilmu dan bimbingannya. 2. Pengurus Masjid Pogung Raya yang telah memperbolehkan penulis melakukan observasi secara langsung dan bersedia untuk diwawancarai. 3. Partisipan yang telah mengisi kuesioner untuk penelitian Tugas Besar Ruang dan Perilaku 4. Serta pihak-pihak lain yang telah membantu dan tidak bisa disebutkan satu per satu. Tentunya laporan yang telah saya susun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan penulisan kedepannya. Penulis juga berharap laporan ini dapat memberikan informasi serta bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 26 November 2021
Penulis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengertian ruang menurut KBBI yaitu rongga yang berbatas atau terlingkung oleh bidang. Sedangkan perilaku merupakan tanggapan atau reaksi terhadap rangsangan atau lingkungan. Sehingga apabila dikaitkan antara dua pengertian tersebut didapatkan makna dari ruang dan perilaku yang keterkaitan antara tempat yang berbatas atau terlingkung oleh bidang dengan tanggapan atau reaksi terhadapnya. Dalam konteks perancangan lingkungan kedua hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena saling berkaitan dengan cara menginterpretasikan tentang suatu setting (tempat) oleh individu. Fenomena ini merujuk pada pola perilaku individu yang berkaitan dengan lingkungan fisik yang ada terkait dengan perilaku interpersonal dan sosial manusia. Kajian mengenai ruang dan perilaku erat kaitannya dengan kebutuhan privacy, personal space dan territory yang mempunyai kontribusi dalam hubungannya dengan kebutuhan manusia lainnya seperti rasa aman, afiliasi, dan penghargaan. Hubungan yang saling terkait antara manusia dan lingkungan berawal dari persepsi (psikis), rangsangan, dan dampak (lingkungan). Apabila dikaitkan dengan kondisi Pandemi Covid-19 saat ini, tentu terdapat perubahan pada perilaku individu terhadap ruang atau bagaimana setting ruang mempengaruhi perubahan perilaku individu dalam memanfaatkannya. Adanya pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia seakan-akan memberi pesan kepada setiap orang harus ada perubahan perilaku seperti perilaku cuci tangan, memakai masker, dan berjaga jarak. Selain itu terdapat berbagai kebijakan dari pemerintah yang mempengaruhi penggunaan ruang seperti pembatasan kapasitas di ruang-ruang yang dapat memicu keramaian salah satunya yaitu masjid yang berkedudukan sebagai public space. Fenomena ini menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian tentang “Personal Space” dalam lingkup ruang skala mikro terkait perubahan hal-hal yang dilakukan dalam segi perilaku dan perubahan setting tempat yang dilakukan dalam penanganan Covid-19 di Masjid Pogung Raya. Lokasi Masjid Pogung Raya berada di daerah Pogung Dalangan, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dekat dengan kos penulis karena dalam kondisi Covid-19 yang membatasi perjalanan dan kegiatan orang untuk keluar rumah. Banyaknya aspek dalam suatu ruang (masjid) yang dapat mempengaruhi personal space membuat penulis merasa perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh perubahan perilaku pengunjung terhadap personal space di masjid yang merujuk pada dibutuhkannya intervensi melalui desain serta rekayasa karakter dan fisik yang dimiliki ruang tersebut agar pengunjung merasa nyaman dan aman ketika beribadah di Masjid Pogung Raya. 1.2 Rumusan Masalah Masjid Pogung Raya merupakan ruang publik yang digunakan untuk beribadah umat islam yang terkena dampak dari adanya fenomena Pandemi Covid-19. Adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sebagai upaya pengendalian penularan penyakit Covid-19 seperti penutupan sementara ruang publik termasuk masjid, anjuran social distancing, larangan mengunjungi tempat yang memicu keramaian, penerapan protokol kesehatan 5M, dan anjuran untuk beribadah dari rumah menjadi alasan penulis dalam memilih topik penelitian ini. Sedangkan alasan dalam memilih objek penelitian yakni Masjid Pogung Raya dikarenakan dekat dengan kos penulis, penulis pernah beribadah di masjid tersebut, serta Masjid Pogung Raya aktif digunakan oleh masyarakat dan mahasiswa untuk beribadah, mendengar kajian, dan mengaji pada saat sebelum pandemi. Dasar permasalahan penelitian terletak pada user (pengguna ruang), dengan beberapa aspek yang akan ditinjau sebagai berikut: 1. Bagaimana Pandemi Covid-19 mempengaruhi perubahan perilaku dan pola penggunaan ruang pengunjung Masjid Pogung Raya? 2. Bagaimana Pandemi Covid-19 mempengaruhi persepsi pengunjung masjid terhadap personal space di Masjid Pogung Raya pada masa pandemi? 3. Bagaimana perubahan setting tempat yang tanggap terhadap kondisi Covid-19 dapat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan pengunjung masjid ketika beribadah di Masjid Pogung Raya? 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui perubahan perilaku dan pola penggunaan ruang pengunjung Masjid Pogung Raya pada saat Pandemi dan sebelum pandemi.
2. Mengetahui perubahan persepsi pengunjung masjid terhadap personal space di Masjid Pogung Raya pada masa pandemi. 3. Mengetahui rekayasa ruang Masjid Pogung Raya yang dapat digunakan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi Covid-19 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat praktik, memberikan rekomendasi perubahan setting tempat di Masjid Pogung Raya yang tanggap terhadap kondisi Covid-19 yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan pengunjung Masjid Pogung Raya. 2. Manfaat teoritis, memberi masukan studi dan memperkaya ilmu hubungan antara ruang terhadap perilaku manusia. 1.5 Kerangka Kerja Analisis Gambar 1.1 Kerangka Kerja Analisis
Sumber: Olahan Penulis, 2021
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PRESEDEN 2.1 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Perilaku Manusia Menurut Notoadmodjo (2007), perilaku manusia merupakan suatu aktivitas dari manusia itu sendiri baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku memiliki artian yang sangat luas antara lain yaitu berjalan, berbicara, tertawa, menangis, berlari, bekerja, dan lainnya yang dipengaruhi oleh sikap, adat, kebiasaan, nilai, emosi, kekuasaan, etika, genetik, dan persuasi. Perilaku juga dapat diartikan sebagai suatu reaksi seseorang terhadap lingkungannya yang terbagi menjadi reaksi pasif (tanpa tindakan nyata atau konkret) dan reaksi aktif (dengan tindakan konkrit. Dalam teknik perubahan perilaku terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan pengaruh hubungan antara organisasi dan juga dengan psikologis lingkungan yang berpengaruh pada kondisi biologis dan intrapsikis seseorang. Menurut Sunaryo (2004) terdapat beberapa faktor yang berperan penting terhadap perubahan perilaku manusia yaitu: 1. Faktor Genetik, merupakan konsepsi dasar atau modal untuk kelanjutan perkembangan perilaku makhluk hidup. 2. Faktor Eksogen, merupakan faktor dari luar individu seperti faktor lingkungan, pendidikan, agama, sosial ekonomi, dan kebudayaan. 3. Faktor lain seperti susunan saraf pusat, persepsi, dan emosi. 2.1.2 Personal Space Personal space didefinisikan sebagai area yang memiliki batas maya yang sedang mengelilingi dirinya yang secara tidak langsung melarang orang lain masuk kedalamnya (Robert, 1969). Berdasarkan pengertian berikut dapat dianalogikan bahwa personal space seperti bulatan yang tak terlihat dan berperan sebagai buffer zone individu ketika berinteraksi dengan orang lain, berpindah, dan bergerak. Buffer zone lebih menekankan pada fungsi protektif ruang personal daripada fungsi komunikasi (Hall, 1966). Dalam teori behaviorconstraint dijelaskan bahwa setiap individu perlu menjaga dan mempertahankan personal spacenya untuk mencegah stress dan kegelisahan dari kebebasan perilaku seseorang yang terlalu dekat dengan kita. Jika pengertian dan teori tersebut dirangkum, personal space memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi protektif dan fungsi komunikasi juga juga sebagai mekanisme seseorang dalam mengatur batasan interpersonalnya. Menurut Altman (1977), terdapat 4 klasifikasi spatial distance yaitu: 1. Intimate Distance: Batasan dari intimate distance yaitu 0-0,46 m dimana hanya terlihat kepala dan wajah seseorang, bisa mendapatkan tambahan sinyal sensori seperti sentuhan dan hembusan. 2. Personal Distance: Batasan dari personal distance yaitu 0,46-1,2 m dimana seluruh tubuh lawan bicara sudah terlihat dan merupakan jarak yang tepat untuk melakukan kontak dengan seseorang yang dekat. 3. Social Distance: Batasan dari social distance yaitu 1,2-3,7 m dimana biasa digunakan saat sedang bekerja dengan kondisi informal, formal, dan perlu untuk sedikit memperkeras suara. 4. Public Distance: Batasan dari public distance yaitu >3,7 m dimana jarak yang paling ama untuk melindungi diri dari orang dan lingkungan yang baru dikenal. 2.1.3 Territorial Menurut Storey (van Efferink, 2015), teritorial didefinisikan sebagai pengklaiman sebuah ruang oleh individu atau kelompok lebih mengarah kepada hubungan sosial dan wilayah, hasil dari praktek-praktek sosial dan prosesnya, dan melayani tujuan-tujuan tertentu. Apabila dilihat dari pengertiannya, teritorial cukup mirip dengan personal space yaitu samasama mendefinisikan mengenai batasan interpersonal dari masing-masing individu. Bedanya, personal space tidak memiliki batasan yang tidak jelas (maya), ikut berpindah (person centered), dan berkaitan dengan kedekatan jarak individu dalam berinteraksi. Sedangkan teritori merupakan batasan yang dapat dilihat secara nyata, relatif tidak bergerak, serta berkaitan dengan siapa saja yang boleh berinteraksi dalam ruang tersebut. Hubungan lain antara ruang personal dan teritorial yaitu sebuah mekanisme pengaturan batasan untuk mencapai tingkat
privasi pribadi dan privasi kelompok yang diinginkan. Menurut Altman (1975), terdapat tiga tipe dari teritori yaitu: 1. Primary Territory: Area utama yang dimiliki secara eksklusif, rasa kepemilikan tinggi, dan cenderung dimiliki secara permanen. Pemilik memiliki kontrol secara penuh pada area tersebut. Contoh: Kamar tidur dan ruang bekerja. 2. Secondary Territory: Area yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh seseorang, namun rutin digunakan, rasa kepemilikannya sedang, dapat dipersonalisasi sampai batas tertentu (temporary). Contoh: Ruang kelas dan kantin sekolah. 3. Public Territory: Area yang tidak dimiliki oleh siapapun, semua orang bebas untuk mengakses, rasa kepemilikannya rendah dan sulit sekali dikendalikan oleh seseorang karena biasanya dihuni atau digunakan oleh orang banyak. Contoh: Taman dan mall 2.1.4 Atribut dalam personal space pada Masjid Pembahasan personal space dapat dikaitkan dengan teori atribut menurut Weisman yang terdiri dari 5 atribut yaitu kesesakan, sosiabilitas, aksesibilitas, visibilitas, keamanan, dan kenyamanan. Namun dalam penelitian ini atribut yang paling berpengaruh pada perilaku jamaan terhadap personal space Masjid Pogung Raya yaitu: 1. Kenyamanan: Kondisi dimana lingkungan menyediakan rasa yang sinkron menggunakan panca indera dan disertai oleh fasilitas yang sinkron dengan kegiatan. 2. Privacy: Kemampuan untuk memonitor informasi visual dan auditory ke dan dari orang lain dalam lingkungan. Privacy yaitu suatu keinginan agar tidak diganggu kesendiriannya. 3. Kesesakan: Tingkat densitas yang diterima dalam lingkungan Selain itu terdapat atribut lain yang berkaitan dengan personal space terutama dalam penyesuaian diri yaitu teori adaptasi dan adjustment. Adaptasi merupakan kemampuan dalam melakukan penyesuaian guna mempertahankan hidup secara pasif Mempertahankan hidup sering dilihat sebagai bentuk pengaturan diri pasif, karena hanya membuat perbedaan pada diri sendiri tanpa mengubah keadaan di luar dirinya. Sedangkan Adjustment merupakan kemampuan diri melakukan penyesuaian sebagai bentuk usaha mempertahankan diri dan keadaan di luar dirinya yang berlangsung secara aktif dan menimbulkan suatu perubahan terhadap keadaan di luar dirinya. 2.1.5 Setting Perilaku (Behaviour Setting) Menurut Barker dalam Laurens (2004:131), behaviour setting dikenal juga dengan sebutan tatar perilaku yaitu pola perilaku manusia yang berkaitan dengan tatanan lingkungan fisiknya. Menurut Laurens (2007) juga mendefinisikan behaviour setting sebagai suatu kombinasi yang stabil antara aktivitas, tempat, dan perilaku manusia dengan kriteria sebagai berikut: 1. Terdapat suatu aktivitas yang berulang membentuk pola perilaku (standing pattern of behaviour). 2. Tata lingkungan yang berbentuk batas fisik dan temporal dari sebuah setting 3. Membuat suatu hubungan yang sama antara setting tempat dan perilaku 4. Dilakukan pada periode waktu tertentu 2.1.6 Setting Pemetaan (Behaviour Mapping) Behavior mapping merupakan salah satu metode penelitian yang dapat digunakan untuk mempelajari keterkaitan antara psikologi lingkungan dan perilaku. Sommer dalam Haryadi (2010) menyatakan bahwa behavioral mapping digambarkan dalam bentuk sketsa atau diagram area di mana orang melakukan aktivitas yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menggambarkan perilaku pada peta, mengidentifikasi jenis dan frekuensi perilaku, dan menunjukkan hubungan antara perilaku dan desain bentuk tertentu. Behaviour mapping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemetaan berdasarkan tempat (Place-centered Mapping) dan pemetaan berdasarkan individu (Person-centered Mapping). 2.2 PRESEDEN RENCANA Berikut merupakan gambaran umum dari rencana Revitalisasi Masjid Pogung Raya yang lebih mengedepankan aspek kenyamanan dan keamanan pengunjung: 1. Lantai 1 merupakan ruang utama kegiatan ibadah yang lebih didominasi ruangan outdoor kecuali ruangan sholat
2. Lantai 2 merupakan ruang sholat utama untuk jamaah wanita dan dapat digunakan juga untuk taman baca al-quran 2.2.1 Preseden Masjid Al Ikhlas, Sidoarjo Gambar 2.1 Masjid Al-Ikhlas
Sumber: Google Pict Masjid Al-Ikhlas merupakan salah satu masjid skala lingkungan yang berada di kompleks perumahan Sidoarjo yang lebih dikenal Masjid Sarang Lebah (Masjid Honeycomb). Masjid ini dirancang menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia dimana banyaklubanglubang yang secara alami menjadi jalur masuk dan keluarnya aliran udara sehingga ruangan lebih sejuk tanpa air conditioner (AC). Selain itu lubang-lubang ini bisa menjadi jalur masuknya sinar matahari yang menjadi sumber pencahayaan alami dan mencegah kelembaban guna mengurangi potensi penularan virus Covid-19. Masjid ini memang dirancang menggunakan konsep dan material yang ramah lingkungan, mudah dirawat, dan berkelanjutan. Luas dari masjid ini juga tidak terlalu besar sesuai dengan luas Masjid Pogung Raya yang juga tidak terlalu luas. Tidak terlalu banyak sekat sehingga ruang sholat utama terkesan luas dan tidak mengganggu sholat dengan penjarakan shaf seperti saat pandemi covid-19. 2.2.2 Preseden Abijo Mosque, Lagos, Nigeria Gambar 2.3 Masjid Abijo
Sumber: Google Pict
Gambar 2.4 Tempat Wudhu
Sumber: Google Pict Masjid ini dibangun pada tahun 1939 di Lagos hasil donasi Abijo community. Yang menjadikan masjid ini dirasa cocok untuk dijadikan contoh karena fokus dari masjid ini tidak hanya sebagai tempat beribadah namun juga sebagai tempat kegiatan pendidikan, dan sosial budaya yang berpusat pada masyarakat. Penggunaan ventilation brick wall membuat bangunan ini terasa sangat menyatu dengan lingkungan sekitar, sustainable, dan memanfaatkan cahaya alami dari matahari. Karakteristik masjid yang memiliki 3 sisi yang dapat diakses dengan pintu masuk terpisah dan adanya plaza di depan masjid serupa dengan karakteristik masjid pogung raya. Masjid ini memiliki tempat wudhu yang berada di area outdoor yang dapat dicontoh di Masjid Pogung Raya.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian dengan judul pengaruh perubahan perilaku pengunjung terhadap personal space di masjid pogung raya pada masa pandemic covid-19 bersifat studi eksplorasi. Metodologi penyajian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan aktivitas yang terjadi pada Masjid Pogung Raya. Terdapat empat dimensi yang penulis ingin dalami dalam penelitian ini yaitu pelaku, aktivitas, ruang, dan waktu. Untuk memenuhi unsur-unsur tersebut, penulis menggunakan metode tambahan yaitu metode behaviour mapping (pemetaan perilaku) dengan menggunakan tipe place-centered mapping. Metode behavior mapping yaitu teknik observasi sistematis yang digunakan untuk merekam aktivitas manusia di suatu ruang dalam periode waktu tertentu. Sedangkan tipe place-centered mapping yaitu variasi metode pemetaan perilaku yang dengan cepat merekam dan mencatat semua perilaku yang terjadi di tempat tersebut ke dalam peta dasar. Pengamatan perilaku tertuju untuk mengamati lima komponen: 1. Pelaku, merupakan subjek dari pengamatan perilaku dalam penelitian ini yaitu pengunjung masjid. 2. Kegiatan, yaitu berbagai aktivitas yang dilakukan dan memiliki keterkaitan satu sama lain (beribadah, mendengar kajian, belajar mengaji, bermain, berteduh, dan beristirahat). 3. Keterkaitan, keterkaitan hubungan spesifik antara pelaku dengan kegiatan 4. Konteks, suasana yang tergambarkan seperti apa? 5. Tempat Kegiatan, yaitu kegiatan dilakukan di dalam ruang seperti apa sehingga perilaku individu akan bergantung dengan kemampuan setting digunakan. 3.2 Jenis Data
Pengkajian topik yang diambil menggunakan jenis data kualitatif. Menurut Salim (2019) menyatakan Pendekatan kualitatif merupakan perolehan data dan informasi terhadap subjek bahasan secara mendalam dengan mengobservasi hal yang dapat dilihat oleh indera maupun yang tidak diamati oleh indera secara langsung di mana nilainya tidak dapat diukur secara tepat. Selain itu apabila berdasarkan sumbernya, data yang digunakan yaitu jenis data primer dimana penulis mengamati secara langsung pada satu periode waktu tertentu. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik koleksi data yang dilakukan untuk melakukan observasi penelitian dalam kasus studi ini dilakukan dengan tiga cara yakni mini tour secara luring, kuesioner, dan observasi melalui wawancara. Teknik mini tour digunakan untuk merekam situasi setting lebih spesifik dengan mengamati langsung ke lapangan. Mini tour dituangkan ke dalam peta dasar. Sedangkan untuk kuesioner disebar melalui tautan https://tinyurl.com/RuangdanPerilaku. Sedangkan metode observasi penelitian meliputi observasi peneliti sebagai complete as participant dimana penulis menjadi bagian dalam aktivitas namun status penulis sebagai observer tidak diketahui. Observasi dilakukan pada waktu yang telah disesuaikan dengan waktu ibadah masjid yaitu pada hari Kamis jam 11.40-12.10 dan 14.4015.10 dan di hari jumat pada waktu sholat jumat pukul 11.30-12.10. 3.4 Unit Amatan dan Unit Analisis 3.4.1.
3.4.2.
Unit Amatan Unit amatan dalam kajian ini adalah Kawasan Masjid Pogung Raya yang menjadi tempat utama dilakukannya penelitian dengan judul pengaruh perubahan perilaku pengunjung terhadap personal space di masjid pogung raya pada masa pandemic covid-19. Unit Analisis Unit analisis dalam kajian ini adalah before-after perilaku pengunjung terhadap personal space di masjid pogung raya yang mencakup gambaran umum, perilaku pengunjung masjid pogung raya, analisis korelas pola kegiatan dan setting tempat, serta rekomendasi intervensi desain sebagai solusi perencanaan.
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Masjid Pogung Raya Masjid Pogung Raya adalah sebuah masjid yang aktif digunakan untuk berbagai kegiatan mulai dari TPA, Buka Puasa, Nasi untuk jamaah, halaqah-halaqah ilmu dari instansi yang berada di Kawasan Pogung. Masjid ini biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar, anak-anak, dan pedagang yang berada di sekitaran masjid. Masjid ini terdiri dari dua lantai dimana lantai 1 digunakan untuk jamaah pengunjung laki-laki dan lantai kedua digunakan oleh jamaah perempuan. Total luasan masjid ini yaitu 1,162 m2. Masjid ini memiliki kapasitas maksimum sebesar 3.000 jamaah dimana sudah sesuai dengan standar SNI 03-1733-1989 tentang tata cara perencanaan kawasan perumahan kota yaitu 2.500. Pengunjung masjid ini juga beragam dari segala usia dikarenakan banyak aktivitas yang dapat dilakukan di Masjid maupun lingkungan sekitar masjid. MPR memiliki visi sebagai masjid yang terbuka bagi seluruh kaum muslimin. Misi dari MPR sendiri yaitu memberikan pelayanan terbaik yang nyaman, bersih, berfasilitas lengkap bagi jamaah kaum muslimin, tanpa membeda-bedakan baik jamaah mukim maupun jamaan dari luar. Gambar 4.1 Masjid Pogung Raya
Sumber: Instagram @bionmotret 4.2 Lokasi Penelitian Masjid Pogung Raya berlokasi di Pogung Dalangan RT.08/RW.50, Pogung Kidul, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, DIY. Masjid Pogung Raya berada di pusat permukiman masyarakat dan dekat dengan tempat tinggal mahasiswa pendatang dari segala penjuru. Jaraknya yang dekat dengan Universitas Gadjah Mada tak jarang bertemu dengan mahasiswa yang berkunjung di masjid tersebut. Masjid ini berbatasan dengan; Utara : JNE Amalia Selatan : Agen Travel Tourezia Barat : SDN Sinduadi Timur Timur : Perumahan Warga Blok F No.53 Gambar 4.2 Lokasi Penelitian
Sumber: Google Maps
4.3 Fasilitas Masjid Fasilitas yang disediakan di Masjid Pogung Raya yaitu: - Ruang Sholat Utama 2 Lantai. Lantai 1 digunakan untuk laki-laki dan sebagian perempuan. Sedangkan lantai 2 digunakan untuk wanita. - Kamar mandi laki-laki dan perempuan - Tempat parkir sepedah, motor, dan mobil - Taman baca Al-Quran Namun sebagai bentuk adaptasi dan adjustment terhadap kondisi Covid-19 dan ketentuan pemerintah yang mengharuskan seluruh fasilitas umum untuk melengkapi fasilitas yang menunjang protokol kesehatan, Masjid Pogung Raya menambahkan beberapa fasilitas antara lain: - Plaza masjid - Sitting space - Tempat cuci tangan - Pengukur suhu 4.4 Analisis Transformasi Perilaku Jamaah Masjid Pogung Raya Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 Pada saat sebelum pandemi, seluruh kegiatan ibadah, taman baca al-Quran, kajian berjalan seperti sedia kala. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan dan pada saat-saat tertentu seperti sholat jumat, sholat hari raya idul fitri dan idul adha, masjid selalu penuh dan ramai dikunjungi oleh pengunjung yang berasa dari mana saja. Lantai satu masjid digunakan untuk ibadah bagi jamaah laki-laki biasanya digunakan untuk jamaah mendengarkan kajian. Lantai dua dikhususkan bagi jamaah wanita dan pada sore hari digunakan untuk mengaji anak-anak.Pandemi Covid-19 telah merubah perilaku jamaah terhadap penggunaan ruang personal Masjid Pogung Raya. Pengunjung dihimbau untuk mengambil wudhu dari rumah dan membawa peralatan pribadi dari rumah. Sebelumnya, Masjid Pogung Raya menyediakan peralatan ibadah bagi jamaah yang tidak membawa seperti kain sarung, baju koko, mukena, dan sajadah. Namun sebagai bentuk adaptasi dan adjustment untuk mengurangi potensi penularan virus Covid-19, pengurus masjid tidak lagi menyediakan peralatan sholat. Selain itu kapasitas masjid dikurangi menjadi 50% dari kapasitas normal yaitu 1.500. Pada masa pandemi, seluruh kegiatan offline di Masjid Pogung Raya ditiadakan kecuali sholat berjamaah. Gambar 4.3 Pola Perilaku Pengunjung Masjid MPR Sebelum Pandemi Covid-19
Sumber: Olahan Penulis, 2021 Pengunjung datang dari parkiran, menuju mencuci tangan di bagian depan masjid kemudian berwudhu dan mayoritas tidak berwudhu lagi karena sudah mengambil wudhu dari rumah guna mengurangi kerumunan dan antrian di tempat wudhu yang indoor. Selanjutnya pengunjung mengukur suhu di depan pintu utama dan masuk menuju tempat beribadah. Di dalam masjid, pengunjung diberikan jarak shaf antar jamaah dengan ketentuan jarak 0,5 - 1 meter. Jarak 0,5 - 1 meter yang diberlakukan belum sesuai dengan anjuran pemerintah dengan jarak social distancing 2 meter. Namun jarak 0,5 - 1 meter jika dikaitkan dengan teori personal space sudah cukup menjaga personal distance dari setiap orang. Sebagian besar jamaah menggunakan masker saat sholat berjamaah. Pada saat pandemi terhadap perubahan perilaku masyarakat yang cenderung merasa tidak nyaman apabila diajak bersalaman dengan jamaah lain. Ini merupakan bentuk adaptasi dan adjustment dalam menjaga teritori dan ruang personal. Setelah beribadah jamaah membubarkan diri dengan beramai-ramai keluar melalui satu pintu yang menyebabkan intensitas tinggi pada pintu masuk dan keluar. Hampir tidak ada jarak diantara satu dengan yang lainnya sehingga tidak jarang jamaah yang menunggu sedikit lebih lama untuk kembali ke
parkiran. Gambar 4.4 Pola Perilaku Pengunjung Masjid MPR Saat Pandemi Covid-19
Sumber: Olahan Penulis, 2021 4.5 Hasil Analisis Korelasi Pola Kegiatan dan Setting Tempat Ruang Masjid Pogung Raya merupakan aktivitas bagi pengunjung dan jamaah Masjid Pogung Raya. Dalam mengidentifikasikan pola kegiatan dan setting tepat dilaksanakan menggunakan salah satu metode dalam pemetaan perilaku pengunjung masjid yaitu pemetaan menurut tempat (place centered mapping). Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu pemetaan menurut tempat dengan menggambar perilaku pengunjung terhadap tempat yang mencakup unsur fisik yang menghipnotis perilaku seseorang dalam menggunakan ruangan tersebut. Berdasarkan pemetaan dan hasil wawancara diketahui satu pola aktivitas pengunjung dalam dua periode waktu yaitu: A. Sebelum Pandemi Gambar 4.5 Pola Kegiatan Pengunjung Masjid Sebelum Pandemi
Sumber: Olahan Penulis, 2021 Pada saat sebelum pengunjung masjid didominasi oleh warga sekitar yang terdiri dari orang tua, remaja, dan anak-anak. Orang tua dan remaja biasanya datang tidak hanya di waktu ibadah saja namun juga berkunjung untuk mendengarkan kajian yang rutin dilaksanakan pada saat sebelum pandemi. Masjid ini juga dilengkapi dengan taman mengaji untuk anak-anak. Pada saat sebelum pandemi seluruh ruangan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Ruang sholat dapat diakses dari seluruh pintu masjid yang berada di bagian utara, selatan, selasar timur masjid. Sama halnya dengan ruang sholat yang berada di lantai 2 dapat diakses melalui seluruh pintu. Namun jamaah masjid setelah memarkirkan kendaraan cenderung masuk dan keluar melalui pintu selatan sehingga terjadi intensitas yang tinggi. Selanjutnya jamaah memasuki ruang sholat utama dan menjalankan ibadah di dalamnya. Pada saat sebelum pandemi Covid-19, seluruh aktivitas berjalan normal seperti biasanya. Berdasarkan
hasil wawancara, mayoritas masyarakat sekitar melakukan sholat 5 waktu di masjid dan tentu diikuti perasaan nyaman dan aman selama beribadah. Pengunjung yang tidak terlalu sering juga beranggapan yang sama dan merasa disambut baik dengan bersalam-salaman setelah selesai sholat yang membuat suasana masjid semakin hangat. B. Saat Pandemi Gambar 4.6 Pola Kegiatan Pengunjung Masjid Sebelum Pandemi
Sumber: Olahan Penulis, 2021 Pada saat pandemi Covid-19, terdapat perubahan pola kegiatan pengunjung Masjid Pogung Raya terhadap penggunaan ruang yang ada. Pengunjung Masjid laki-laki hanya dapat mengakses ruang sholat utama melalui salah satu pintu yang berada di bagian depan masjid. Sebagian besar jamaah sudah mengambil wudhu dari rumah namun apabila terdapat jamaah yang belum mengambil wudhu dipersilahkan berwudhu sebelum memasuki ruang sholat utama. Lalu pengunjung masjid akan diukur suhu tubuhnya, diberikan desinfektan dan dipastikan membawa peralatan sholat dari rumah. Terdapat syarat khusus bagi jamaah yang diperbolehkan masuk antara lain: Memakai masker, membawa peralatan sholat sendiri, sudah cuci tangan atau hand sanitizer, dan suhu tubuh dibawah 37,5 ℃. Apabila calon pengunjung tidak memenuhi ketentuan tersebut maka dipersilahkan untuk beribadah di selasar teras masjid. Terdapat penjarakan shaf 0,5 - 1 meter dan dilarang berinteraksi serta bersalaman sebelum, saat, atau setelah selesai ibadah. Pada saat pandemi covid-19 pengurus masjid memberlakukan ketentuan satu pintu sebagai upaya adaptasi dan adjustment terhadap kondisi pandemi. Ruang sholat wanita lantai 2 dapat diakses secara terbatas dan pada saat tertentu saja seperti sholat hari raya. Pengunjung atau jamaah wanita diharapkan menggunakan ruang sholat di lantai 1 yang sudah dipersiapkan juga alat pengukur suhu dan hand sanitizer. Tempat wudhu wanita yang berada di bagian luar belakang masjid juga ditutup dan jamaah wanita dihimbau untuk mengambil wudhu dari rumah atau di bagian belakang masjid yang menyatu dengan toilet. 4.5 Hasil Analisis Perubahan Persepsi Pengunjung terhadap personal space Masjid Pogung Raya di Masa Pandemi Berdasarkan hasil observasi dan kuesioner, pengunjung mengaku bahwa frekuensi berkunjung saat pandemi menjadi lebih jarang akibat perasaan takut terkait keamanan dan kenyamanan saat beribadah di masjid selama masa pandemi covid-19. Pemberlakuan ketentuan-ketentuan yang harus ditaati pada saat berkunjung ke masjid Pogung Raya seperti mentaati protokol kesehatan, mengambil wudhu dari rumah, membawa alat ibadah masing-masing, adanya penjarakan shaf dinilai tidak mengganggu kenyamanan dan ketertarikan untuk berkunjung dan beribadah di Masjid Pogung Raya. Selain itu, terdapat perubahan setting masjid yaitu penambahan plaza, tempat mencuci tangan,
pengecekan suhu, penjarakan shaf, penutupan beberapa pintu, dan pendekatan satu pintu. Plaza yang baru di bangun saat pandemi memiliki beberapa manfaat seperti dapat digunakan sebagai ruang bermain bagi anak-anak hingga remaja pada saat diluar waktu sholat. Selain itu, sebagai bentuk adaptasi dan adjustment, Plaza ini difungsikan menjadi tambahan ruang sholat ketika sholat jumat karena pengunjung yang jumlahnya bertambah dari biasanya namun ruang yang dimiliki bersifat tetap. Pendekatan satu pintu dinilai oleh penulis sebagai upaya yang kurang tepat karena hal ini menyebabkan adanya intensitas yang tinggi di pintu utama yang memicu adanya perilaku desakdesakan saat ingin masuk dan keluar masjid yang mengganggu ruang personal pengunjung.Ruang sholat utama dan tempat wudhu yang sangat tertutup dan minim ventilasi membuat sirkulasi udara didalam ruangan tidak baik dan menambah resiko penularan covid-19. Selain berdasarkan hasil observasi dan kuesioner merasa terganggu ketika diajak berjabat tangan, bersalaman, atau ketika ada orang lain mendekat/duduk disamping pengunjung saat berada di lingkungan masjid. Apabila dikaitkan dengan teori personal space dan teritorial maka dengan adanya pandemi covid-19 buffer zone dari masing-masing individu lebih dipertegas dengan membatasi interaksi dengan orang lain. Setiap individu merasa apabila ada pendekatan secara tiba-tiba atau ada perilaku desak-desakan, hal tersebut dapat mengancam personal space dan teritori individu tersebut. 4.6 Permasalahan yang Timbul Adanya covid-19 mendorong perlu adanya penyesuaian setting tempat terhadap perubahan perilaku pengunjung terkait rasa keamanan dan kenyamanan dan menjaga personal space Masjid Pogung Raya. Berikut ini beberapa permasalahan yang muncul akibat dampak covid-19 terhadap perubahan setting tempat sebagai upaya adaptasi dan adjustment yaitu: - Intensitas Tinggi Pada Pintu Masuk Utama dan akses tangga Adanya kebijakan satu pintu dimana pintu masuk dan keluar hanya dari pintu utama dikarenakan adanya antrian untuk pengukuran suhu dan pemberian hand sanitizer membuat terjadinya fenomena antri saat mau masuk dan desak-desakan saat mau keluar. - Tidak adanya disinfection chamber yang menyatu dengan alat pengukuran suhu Belum tersedianya fasilitas ini menyebabkan antrian memanjang pada saat waktu mendekati sholat dan pada saat sholat jumat. Disinfection chamber ini juga tidak hanya membersihkan tangan saja namun juga pakaian dan alat ibadah yang dibawa dari rumah. - Ruangan yang tertutup dan minim ventilasi Ruangan yang tertutup menyebabkan area dalam masjid lembab dan rentan terhadap penularan covid-19 dikarenakan tidak adanya sirkulasi keluar masuk udara dan sinar matahari secara langsung. - Ruangan wudhu yang bersifat indoor Sebenarnya tidak ada masalah serius terkait hal ini namun alangkah lebih baik jika area berwudhu ditempatkan di ruangan terbuka dan diberikan jarak antara satu dan lainnya. - Kurangnya vegetasi pada plaza masjid Area plaza masjid sering digunakan untuk sholat jumat dan bermain anak-anak. Di area ini sangat terasa panas dan gersang dikarenakan kurangnya vegetasi yang dapat menyerap energi panas dari matahari dan menciptakan rasa teduh dari kanopi pohon. - Sirkulasi pergerakan yang belum dioptimalkan Berkaitan dengan kebijakan satu pintu lalu munculan permasalahan mengenai sirkulasi pergerakan pengunjung. Setelah dilakukannya analisis people centered map memang terjadi intensitas tinggi dikarenakan alur pergerakan pengunjung masih bersatu sedangkan masih banyak akses lain yang dapat digunakan secara optimal apabila diatur dengan skema yang baik.
BAB V Solusi Perencanaan Munculnya permasalahan yang telah disebutkan di sub-bab 4.6 memerlukan penyelesaian yang segera dan tepat sasaran. Selain itu solusi yang diberikan tidak hanya mengatasi permasalahan jangka pendek ketika pandemi covid-19 saja namun tetap bisa diimplementasikan pada saat kondisi kembali normal. Solusi ini juga diharapkan dapat membuat pengunjung semakin nyaman dan merasa aman karena personal space di Masjid Pogung Raya tetap terjaga. Solusi yang dapat digunakan sebagai strategi dalam mengatasi permasalahan tersebut antara lain: 5.1 Menciptakan Alur Pergerakan Yang Meminimalisir Interaksi Antar Pengunjung Gambar 5.1 Rekomendasi Setting Tempat dan Alur Pergerakan Lantai 1 Masjid Pogung Raya
Sumber: Analisis Penulis Gambar 5.2 Rekomendasi Setting Tempat dan Alur Pergerakan Lantai 2 Masjid Pogung Raya
Sumber: Analisis Penulis A. Jamaah laki-laki Pola pergerakan yang direkomendasikan yaitu pengunjung memarkirkan kendaraannya di halaman parkir lalu mencuci tangan di tempat yang sama. Selanjutnya pengunjung memasuki plaza masjid dimana ada disinfection chamber yang harus dilalui. Apabila pengunjung sudah memiliki wudhu bisa langsung memasuki area utama sholat dan menggelar sajadah sesuai
dengan tanda shaf yang sudah ditentukan. Pengunjung yang belum memiliki wudhu dipersilahkan mengambil wudhu di area outdoor sambil barat masjid dan dapat memasuki area utama shalat melalui pintu belakang yang sudah disediakan. Setelah selesai melakukan ibadah, pengunjung diharapkan tidak berlama-lama di dalam masjid, tidak melakukan kontak fisik dengan jamaah lain dan langsung menuju pintu keluar yang berada di sisi selatan di samping pintu masuk. Pengunjung bisa mencuci tangan lagi lalu pulang. B. Jamaah Wanita Pola pergerakan yang direkomendasikan yaitu pengunjung jamaah perempuan bisa memarkirkan kendaraannya dan langsung menuju sisi timur masjid. Ruang sholat wanita lantai 1 hanya diperuntukan bagi lansia jika bukan lansia dapat menggunakan ruangan di lantai 2. Setelah mencuci tangan dan memasuki disinfection chamber bisa langsung mengambil wudhu di lantai 1 di bagian utara masjid lalu menuju lantai 2 masjid melalui akses tangga yang berada di sisi utara masjid. Setelah menuju ruang sholat utama, pengunjung wanita bisa keluar dari pintu sisi selatan masjid menuju tangga keluar yang berada di selatan masjid. Untuk jamaah wanita yang berada di lantai satu bisa keluar menggunakan pintu yang berada di bagian utara masjid dan langsung menuju parkiran. 5.2 Re-desain Masjid 1. Ventilasi Pemberian ventilasi dan penggunaan material yang dapat menyerap panas matahari dan memberikan ruang untuk sirkulasi udara dan cahaya secara alami. Selain itu guna mencegah kelembaban di dalam area masjid dan menjaga kesejukan tanpa harus menggunakan air conditioner. Gambar 5.3 Before Gambar 5.4 After
Sumber: Olahan Penulis, 2021 2. Tempat Wudhu Outdoor Tempat wudhu outdoor baik bagi pria dan wanita difungsikan untuk menjaga area wudhu tidak lembab. Selain itu area wudhu dan toilet juga dipisah guna menjaga kebersihan. Antara tempat wudhu dan toilet pria dengan wanita dibatasi oleh partisi guna menjaga privacy dan aurat dari masing-masing pengunjung. Tempat wudhu outdoor ini tidak terbuka secara utuh tetap ada kanopi yang menghalangi dari panas matahari secara langsung dan menghalangi air ketika hujan.
A. Pria Gambar 5.5 Before
Gambar 5.6 After
Sumber: Olahan Penulis, 2021 B. Wanita Gambar 5.7 Before
Gambar 5.8 After
Sumber: Olahan Penulis, 2021 3. Penghijauan Plaza Pada area plaza ditambahkan vegetasi untuk menerapkan energi panas dan meneduhkan suasana di Plaza. Dibagian plaza juga ditambahkan area bermain anak yang tidak
terlalu luas guna memberikan fungsi plaza yang dapat digunakan oleh seluruh umur. Gambar 5.9 Before Gambar 5.10 After
Sumber: Olahan Penulis, 2021 4. Pengadaan fasilitas penunjang Fasilitas penunjang seperti sitting space yang berada di halaman masjid juga menggunakan konsep pemberian jarak antara satu pengunjung dengan pengunjung lain. Selain itu terdapat juga tempat parkir sepedah yang berada di halaman depan masjid yang ditutupi kanopi sehingga tidak terjemur panas matahari. Selain itu dengan adanya disinfection chamber yang menyatu dengan pengukuran suhu meminimalisir antrian yang terjadi dan bisa membersihkan virus yang menempel di pakaian dan alat ibadah. Gambar 5.11 Before
Gambar 5.12 After
Sumber: Olahan Penulis, 2021
BAB VI Rekomendasi dan Kesimpulan 6.1 Rekomendasi Masjid Pogung Raya akan lebih nyaman dan aman bila ada perubahan setting tempat yang menyesuaikan dengan kondisi pandemi covid-19 namun tetap masih bisa digunakan ketika saat keadaan normal kembali. Terdapat kebijakan satu pintu yang apabila diteliti dan dikaitkan dengan teori personal space, teritori, adaptasi, dan adjustment masih perlu perbaikan. Penelitian ini masih belum dilakukan secara optimal dengan metode yang mengutamakan observasi pengamatan secara langsung dikarenakan penulis mengetahui kondisi Masjid Pogung Raya pada saat pandemi melalui cerita warga yang diinterpretasikan melalui sudut pandang penulis. Penulis merasa terbatasi untuk melakukan wawancara dan observasi secara langsung pada saat pandemi Covid-19 karena potensi penularan virus yang menular secara mudah dan cepat. 6.2 Kesimpulan Masjid Pogung merupakan masjid yang aktif digunakan oleh masyarakat, pedagang, dan mahasiswa UGM yang bertempat tinggal atau berdagang di sekitar area masjid. Sebelum adanya pandemi masjid ini aktif mengadakan kegiatan secara offline seperti TPA, Buka Puasa, Nasi untuk jamaah, halaqah-halaqah ilmu dari instansi yang berada di Kawasan Pogung. Masjid ini juga tidak hanya berfokus pada kegiatan ibadah namun juga pendidikan keagamaan dan sosial budaya yang berpusat pada masyarakat sekitar. Masjid ini menjadi tempat yang disenangi oleh pengunjung karena sangat terbuka bagi seluruh kaum muslimin yang ingin beribadah dan menuntut ilmu di sini. Namun sejak adanya pandemi terdapat beberapa perubahan seperti perubahan perilaku dan kegiatan pengunjung masjid terhadap setting tempat Masjid Pogung Raya. Terdapat juga beberapa kebijakan yang dikeluarkan pengurus masjid sebagai upaya adaptasi dan adjustment terhadap kondisi saat ini seperti penjarakan shaf, akses masuk dan keluar satu pintu, dan lainnya yang sudah diuraikan. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat keterkaitan antara perubahan perilaku pengunjung pada saat pandemi terhadap personal space di Masjid Pogung Raya. Selain itu setting tempat yang ada pada saat ini apabila dikaitkan dengan teori terkait ruang dan perilaku belum mampu menyesuaikan dengan adanya pandemi covid-19. Oleh karena itu perlu adanya rekomendasi terkait penciptaan alur pergerakan yang meminimalisir interaksi antar pengunjung dan redesain masjid. Seluruh solusi ini digunakan sebagai strategi meningkatkan perasaan aman dan nyaman pengunjung dan juga terjaganya personal space di Masjid Pogung Raya tidak hanya pada saat pandemi namun juga saat kondisi sudah kembali normal.
DAFTAR PUSTAKA Altman, I. and Vinsel, A.M., 1977. Personal space. In Human behavior and environment (pp. 181-259). Springer, Boston, MA. Hadi, S.A.S., 2006. Re-Desain Masjid Jogokariyan Yogyakarta Optimalisasi Fungsi Masjid Jogokariyan Sebagai Pusat Kegiatan Ibadah dan Muamalah. Hall, E. T. The hidden dimension New York: Doubleday, 1966 Indira Dewi, Happy. 2011. "ADAPTATION DAN ADJUSTMENT: SEBUAH STUDI TENTANG HUBUNGAN AKTIVITAS MANUSIA DENGAN RUMAHNYA PADA PERUMAHAN FORMAL". NALARS 10 (1). Laurens, Joyce Marcella. 2007. Arsitektur dan Perilaku Manusia. Jakarta: PT. Grasindo Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika. Pamungkas, Hariyo, and Yayi Arsandrie. "Behavioral Mapping Dan Adaptasi Terhadap Lingkungan Pada Squatter Settlement." NALARs 19, no. 2 (2020): 115-130. Robert, S., 1969. Personal Space; The Behavioral Basis of Design. Englewood Cliff. Setiawan,B. Dan Haryadi. 2010. Arsitektur, lingkungan dan perilaku. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sunaryo, R.G., 2004. Penataan Ruang Publik Yang Memadukan Pola Aktivitas Dengan Perubahan Fisik Kawasan. In Kasus Kawasan Tambak Bayan-Babarsari, Yogyakarta, Seminar & Lokakarya Nasional Ikatan Arsitek Indonesia, Jakarta. Van Efferink, L., 2015. Lebanon's Sovereignty-The Military, Social and Political Rise of Hezbollah. Exploring Geopolitics, 5. Weisman, G. D. 1981. ‘Modelling Environment Behavior System. A Brief Note’. Journal of ManEnvironment Relations 1 (2): 32–41. https://www.casaindonesia.com/article/read/6/2020/3403/Tetap-Sejuk-Ini-Desain-Masjid-Cocokuntuk-Iklim-Tropis