20 22 Mitigation Landscape
Kawasan Sabodam Kali Gendol
Kelompok 2
Perencanaan Wilayah dan Kota
Kata Pengantar Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi kemudahan, kelancaran dan kesehatan selama proses penyusunan Excecutive Summary ini. Tidak lupa rasa terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang ikut andil dalam memberi bimbingan, masukan, serta evaluasi dalam menyelesaikan Excevutive Sumary ini, khususnya kepada: 1. Bapak Ir. Didik Kristiadi, MLA., M.Arch.UD. ;Bapak Retno Widodo Dwi Pramono, S.T., M.Sc., Ph.D.(2); dan Bapak Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku dosen pengampu Mata Kuliah Pilihan Perencanaan dan Peracangan Lansekap 2. Teman-teman Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2019 yang selalu berproses bersama. Excecutive Summary ini disusun guna memenuhi tugas besar Ujian Akhir Semester Perencanaan dan Perancanagan Lansekap Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada. Excecutive Summary ini berisi analisis VRM dan rekomendasi lansekap mitigasi di kawasan tambang pasir, Kali Gendol. Kami berharap Excecutive Summary ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi pembaca. Kami memohon maaf apabila dalam laporan ini terdapat kesalahan ataupun kekeliruan. Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk menjadi bahan perbaikan kami agar dapat terus menjadi lebih baik.
Yogyakarta, 12 Juni 2022 i
Daftar Isi i
Kata Pengantar
ii
1
Daftar Isi
SQRU dan KOP
2 5
Scenic Quality Evaluation
Sensitivity Level Analysys
6 7
Distance Zones
Inventory Classes
7 8
Management Classes
Contrast Rating
10
Rekomendasi ii
Profil Kawasan
Lokasi: Kali Gendol Luas: 20 Hektar Kawasan yang dipilih terletak di sebelah timur Merapi Golf Yogyakarta, lokasi tersebut merupakan tambang pasir yang sebagiannya sudah tidak digunakan dan berubah menjadi lanskap natural. Di dalamnya terdapat perpaduan elemen natural dan buatan, yaitu mata air yang mengalir dari tebing, kolam, sabo dam (bendungan lahar), dan vegetasi.
1
Analisis VRM VRM (Visual Resources Management) adalah sebuah analisis dalam perencanaan lansekap dengan bergantung pada kontras visual yang dibuat antara proyek dengan lansekap sekitarnya. VRM ini bertujuan untuk menciptakan keharmonisan dalam kualitas visual lansekap. VRM dikembangkan pertama kali oleh Beureau of Land Management (BLM) di Amerika Serikat.
SQRU dan KOP Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan Scenic Quality Rating Unit (SQRU) dan Key ObservationPoint (KOP). SQRU adalah kawasan yang akan diamati, sedangkan KOP adalah titik pantau dalam perspektif penilaiannya.
SQRU
KOP
KOP yang dipilih merupakan Sabo Dam atau bendungan lahar yang berfungsi sebagai mitigasi bencana letusan Gunung Merapi. Luas SQRU kurang kebih seluas 20 sektar
2
Scenic Quality Evaluation
Scenic Quality Evaluation (SQE) dilakukan untuk mengetahui kualitas visual landscape yang dinilai berdasarkan beberapa kriteria dan mengklasifikasikannya terhadap kelas tertentu. Berikut adalah hasil penilaiannya: Key Factors
Score
Rating Criteria
Landform
3
Memiliki kontur dengan ketinggian yang beragam, perbedaan kontur menambah daya tarik lingkungan yang terbentuk dari proses pertambangan.
Vegetation
5
Memiliki variasi vegetasi yang beragam baik di daratan maupun di kubangan air.
Water
3
Memiliki aliran air dari tebing, menggenang di sekitar lokasi, dan terlihat jelas dari atas tebing.
Color
3
Terdapat variasi warna yang beragam (tanah, vegetasi, dan batu) namun tidak dominan, tidak timbul efek kontras dengan lingkungannya.
Influent of Adjacent Scenery
5
Terdapat pemandangan gunung merapi yang meningkatkan kualitas visual dari KOP.
Scarcity
3
Memiliki bentuk dan biodiversitas yang khas namun terdapat kemiripan dengan tempat lain.
Cultural Modifications
-4
Keberadaan bendungan menimbulkan ketidakharmonisan visual.
Total
16 3
Total penilian tersebut diklasifikasikan ke beberapa kelas; Class A, Class B, dan Class C. Berdasarkan tabel penilaian Scenic Quality Evaluation (SQE) sebelumnya, didapatkan score penilaian sebesar 16. Nilai tersebut tergolong ke dalam Class B. Klasifikasi Class B ini didapatkan karena secara keseluruhan keterpaduan antar elemen pada KOP menciptakan keharmonisan yang indah. Namun, terdapat elemen buatan Sabo Dam yang mengurangi nilai keharmonisan. 4
Sensitivity Level Analysis Tahap selanjutnya adalah melakukan Sensitivity Level Analysis (SLA) yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepedulian masyarakat terhadap kualitas visual kawasan dan potensial pemgunjungnya. Analisis ini berupa penilaiam terhadap beberapa faktor yang dijadikan pertimbangan yang kemudian diklasifikasikan terhadap beberapa level, yaitu High, Medium, dan Low. Semakin tinggi rating yang didapatkan, semakin tinggi sensitifitas landscape tersebut. Factor to Consider
Explanation
Type of Sensitivity Level
Type of User
Mitigasi bencana, tambang, rekreasi, jasa ekosistem.
H
Amount of Use
Tidak digunakan lagi sebagai tambang pasir sehingga area terbengkalai.
L
Public Interest
Belum banyak masyarakat yang mengetahui.
L
Adjacent Land Use
Keberadaan area tambang aktif sangat mempengaruhi sensitivitas visual.
H
Special Areas
Terdapat area spesial atau unik yang membuat berbeda dengan keadaan sekitar.
M
Overall Rating
M
Didapatkan overall rating Medium dari hasil Sensitivity Level Analysis.
5
Distance Zone
KOP Foreground (f) Middleground (m) Seldom Seen (s/s) SQRU Pada analisis Distande Zones ini bertujuan untuk membagi kawasan SQRU ke dalam beberapa jenis yang ditetapkan berdasarkan jarak tanah terhadap kawasan yang sering dikunjungi masyarakat dan ketinggiannya. Dari hasil analisis Dostance Zones, kawasan di dalam SQRU paling banyak tergolong ke dalam seldom seen karena KOP berada pada sebuh cekungan, sehingga banyak kawasan yang berperan sebagai background landscape.
6
Inventory Classes Dari seluruh analisis yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian dirangkum ke dalam tabel Inventory Classes seperti pada di bawah ini. Klasifikasinya terdiri dari Kelas I, Kelas II, Kelas III, dan Kelas IV.
Management Classes Berdasarkan analisis Inventory Class, SOP tergolong ke dalam Kelas III. Bendungan lahar (sabo dam) dapat memunculkan public interest sebab bentuknya yang kontras dan/atau berbeda dengan lanskap. Sabo dam tidak bisa dihilangkan begitu saja karena fungsinya yang dibutuhkan ketika terjadi banjir lahar Gunung Merapi. Akan tetapi, Sabo dam dapat disesuaikan tampilan visualnya berupa form, line, color, dan texture agar dapattercipta harmonisasi dengan yang ada di sekitarnya. Selain itu, elemen air dan bebatuan yang terbentuk secara natural juga menambahkan nilai estetika pada KOP dan dapat berpotensi sebagai tempat yang lebih bernilai. 7
Contrast Rating Characteristic Landscape Description Land/Water
Vegetation
Structures (Building)
Form
Concave
Simple form by vegetative patterms
Steep
Line
Band
Weak and diverging
Geometric
Color
Earth tone
Light to dark green
Grey
Texture
Coarse
Medium density
Smooth
Characteristic Landscape Description adalah penilaian atau evaluasi terhadap form, line, color, texture pada kondisi existing KOP. Nantinya, penilaian ini akan menjadi dasar dalam merencanakan mitigasi lansekap KOP. Proposed Landscape Description Land/Water
Vegetation
Structures (Building)
Form
Smooth
Diverse
Steep
Line
Smooth transitional edge
Strong irregular line
Geometric
Color
Earth tone with glare
Dolor harmony
Dolor harmony
Texture
Directional
Directional
Smooth
Tabel di atas merupakan Proposed Landscape Description yang direncanakan. Untuk mencapai kategori seperti yang direncanakan tersebut, diperlukan adanya upaya perbaikan ataupun peremajaan kawasan. 8
9
Rekomendasi Melihat dari KOP yang tergolong ke dalam Kelas III dan memiliki potensi tinggi jika dirancang dan direncanakan dengan maksimal, akan direkomendasikan menjadi Destinasi Wisata, namun tanpa menghilangkan identitas awal kawasan. Untuk mencapai tersebut, tentunya akan dilakukan beneraps upaya yaitu:
Perbaikan aksesibilitas Pembangunan Amphiteater Naturalisasi Kolam Pembuatan Jalur Jeep Pengembangan Vertical Garden Pembuatan Spot Pariwisata
10
Parkiran Jeep Amphiteater Kolam
Ruang Bersantai
.
U
. .
Fasilitas Perdagangan
. . .
.
Jalan Masuk dan Keluar
.
Sabo Dam Vertical Garden 11
Kolam
Kolam akan dinaturalisasi dengan menambahkan unsur batu alam yang menyebar di sekitar embung. Selain itu elemen air akan diperluas hingga mendekati Sabo Dam.
Amphitheater
Amphitheater bertujuan untuk memberikan gradasi dari perubahan guna lahan vegetasi menjadi jalan yang juga berfungsi sebagai area duduk-duduk serta mengurangi run off. Sabo Dam & Jembatan
Sabo Dam akan ditambah dengan vertical garden agar dapat berharmonisasi dengan lansekap sekitarnya. Sabo Dam juga akan difungsikan sebagai jembatan untuk mengakses sisi sebelah timur.
Ruang Bersantai
Ruang di antara embung dan amphitheater dimanfaatkan sebagai ruang bersantai dengan menambahkan fasilitas tempat duduk nagi wisatawan ataupun masyarakat.
12
Jalan Masuk dan Keluar
Jalan masuk dan keluar hanya dapat dilintasi bagi Mobil Jeep dan pejalan kaki. Material yang dipilih adalah grass block agar masih dapat menyerap air.
Fasilitas Perdagangan
Fasilitas perdagangan ditambahkan di pinggir jalan menuju kawasan rencana untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Vertical Garden
Vertical garden akan ditambahkan di pinggir jalan menuju kawasan dan juga di Sabo Dam.
Parkiran Jeep
Jeep dibatasi hanya pada sampai parkiran agar masyarakat dapat menikmati lansekap dengan berjalan kaki.
13
Untuk video Master Plan dapat diakses dalam barcode berikut atau pada link berikut: bit.ly/MasterplanKelompok2
14
Tim Penyusun Kelompok 2
Almira S. N 19/446427/TK/49532
Muhammad Fathoni 19/446442/TK/49547
Naufal Habibi 19/439597/TK/48327
Qonieta Maulidya 19/443547/TK/48743
Terima Kasih
Perencanaan Landscape Perencanaan Wilayah dan Kota Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada