Skip to main content

Paper Isu Strategis KSK Ekonomi Kabupaten Sintang

Page 1

Kesiapan KSK Ekonomi (Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Dedai, dan Kecamatan Sungai Tabelian) sebagai Kawasan Agropolitan Kabupaten Sintang

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studio Analisis Wilayah 2021

Disusun Oleh: Qonieta Maulidya – 19/443547/TK/48743

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA DEPARTEMEN TEKNIK ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA 2021


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketimpangan atau kesenjangan pembangunan antar wilayah di Indonesia masih menjadi tantangan untuk diselesaikan dalam pembangunan ke depan. Berdasarkan Perpres 63 Tahun 2020 menyebutkan bahwa masih terdapat 62 Kabupaten di Indonesia yang masih termasuk kedalam daerah tertinggal. Selain itu juga masih terdapat permasalahan kesenjangan pembangunan antara wilayah desa dan kota. Ketimpangan wilayah ini merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak negara berkembang termasuk negara Indonesia. Ketimpangan pembangun desa-kota perlu ditangani secara serius dan tepat untuk mencegah terjadinya peningkatan laju urbanisasi yang nantinya akan memberikan beban dan masalah sosial perkotaan yang kunjung usai. Ketimpangan pembangunan yang terjadi berkaitan dengan pembangunan fasilitas umum dan sosial yang masih berpusat di kota sehingga wilayah perdesaan tidak dapat berkembang cepat dan mengejar ketertinggalan tersebut. Bank Dunia memproyeksikan pada tahun 2045 akan ada sebanyak 220 juta penduduk Indonesia yang akan meninggalkan perdesaan dan memilih untuk tinggal di kota-kota besar dan kecil. Hal itu menunjukkan adanya peningkatan laju persentase urbanisasi yang pada tahun 2019 berada di angka 56% menjadi 70%. Dikutip berdasarkan data dari Databoks.co.id, tingkat persebaran penduduk Indonesia yang tinggal di daerah urban merupakan yang kedua tertinggi setelah negara Malaysia. Fenomena urbanisasi di Indonesia menjadi masalah dikarenakan laju urbanisasi yang meningkat tanpa diimbangi dengan peningkatan pembangunan dan kesejahteraan yang sama cepatnya. Selain itu proses urbanisasi yang terjadi seringkali mendesak keberadaan sektor pertanian yang ditandai dengan adanya alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun ataupun bertransformasi menjadi kawasan lainnya. Akibat yang sangat logis dari kondisi ini yaitu penurunan produktivitas pertanian. Pembangunan perdesaan bukan menjadi tidak penting sehingga dipisahkan dari pembangunan perkotanaan. Namun sebaliknya perasalahan terkait kesenjangan pembangunan tersebut harus ditemukan solusi yang tepat. Hal ini dirasa perlu sebagai cara untuk menepis terjadinya urban bias yaitu keadaan dimana pengembangan perdesaan yang awalnya ditujukan untuk meningkatkan kawasan kesejahteraan masyarakat perdesaan namun yang terjadi malah sebaliknya yaitu tersedotnya potensi perdesaan ke perkotaan baik dari sumber daya manusia, alam, bahkan modal (Douglas,1986). Sesungguhnya Kawasan perdesaan sesungguhnya memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk mengatasi isu tersebut namun sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat. Berdasarkan isu yang dihadapi oleh kawasan perdesaan, pengembangan kawasan agropolitan dapat menjadi salah satu alternatif solusi yang dapat digunakan untuk mengembangkan kawasan perdesaan tanpa melupakan kawasan perkotaan. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh John Friedman (1976) bahwa konsep pengembangan kawasan agropolitan sangat cocok digunakan oleh negara-negara berkembang di Asia karena sesuai dengan karakteristik kawasan yang mayoritas memiliki ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan daya dukung lahan yang dimiliki sangat cocok digunakan untuk budidaya pertanian.


Pengembangan kawasan agropolitan diharapkan mampu memunculkan interaksi fungsional dan hierarki keruangan yang kuat antara system permukiman dan system agrobisnis. Melalui pendekatan ini, produk pertanian dari kawasan produksi akan diolah terlebih dahulu di pusat kawasan agropolitan sebelum dijual ke pasar yang lebih luas sehingga memiliki rantai nilai dan nilai tambah yang meningkat. Pengembangan kawasan agropolitan sebagai bagian dari pengembangan wilayah nasional tidak terlepas dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menjadi kesepakatan nasional. Hal itu sejalan dengan pengembangan kawasan agropolitan yang terdapat di Kabupaten Sintang merupakan amanat yang termuat didalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sintang Tahun 2016-2036. Berdasarkan RTRW Kabupaten Sintang 2016-2036 wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Dedai, dan Kecamatan Sungai Tabelian termasuk kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi yang dimaksudkan sebagai kawasan agropolitan. Peran dan fungsi utama dari wilayah ini yaitu sebagai pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Sintang dengan sebagai pengembangan potensi sumber daya alam. Selain itu sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan di Kabupaten ini masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat terbukti dari besarnya kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kabupaten Sintang sebesar 26.7% dan jumlah penyerapan tenaga kerja sebesar 62.5% dari total penduduk yang bekeja. Dengan adanya potensi tersebut diharapkan mampu mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada seoptimal mungkin sehingga tujuan dari pengembangan kawasan agropolitan tercapai. Keberhasilan dari suatu program tidak luput dari pengaruh faktor fisik dan faktor sosial. Faktor atau indicator yang digunakan dalam menilai kesiapan dan potensi menjadi kawasan agropolitan dalam penelitian ini difokuskan pada potensi fisik, agribisnis, komoditas, infrastruktur, dan kelembagaan. Kondisi fisik yang sesuai untuk pertanian, agribisnis yang sudah saling terintegrasi, komoditas unggulan sebagai keuntungan komparatif, infrastruktur yang memadai, dan terdapat kelembagaan yang menunjang kegiatan dapat dijadikan sebagai indicator yang menunjakan siap atau tidaknya kawasan tersebut menjadi kawasan agropolitan. Namun terlepas dari siap atau tidaknya, peneliti tetap akan memberikan rekomendasi strategi pengembangan untuk pengembangan kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagai kawasan agropolitan di Kabupaten Sintang. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana karakteristik kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang? b. Bagaimana kesiapan kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang? 1.3 Tujuan a. Mengetahui karakteristik kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. b. Mengetahui kesiapan kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. c. Memberikan rekomendasi strategi pengembangan bagi kawasan tersebut sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kawasan Agropolitan Konsep Agropolitan merupakan konsep pengembangan perdesaaan yang pertama kali diperkenalkan oleh Mc.Douglass dan Friedmann pada tahun 1974. Berdasarkan teoritis agropolitan berasal dari dua kata yaitu (Agro = Pertanian) dan (politan = kota), sehingga berdasarkan pengertian tersebut dapat dirangkum sebagai suatu kawasan tertentu yan berbasis pertanian. Menurut Rahardjo (2006:108) agropolitan merupakan kota yang berada di atau sekitar ladang pertanian untuk peroduksi tanaman pangan. Pendekatan model ini pada dasarnya memberikan pelayanan dan mendukung produktivitas petani dalam rangka kegiatan produksi, pemasaran, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan setiap kota-kota agropolitan ini akan Bersatu di dalam satu ruang spasial yang saling terhubung membentuk suatu kawasan agropolitan. Didalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, terdapat pengertian dari Kawasan Agropolitan yaitu suatu kawasan yang terdiri dai satu atau lebih pusat kegiatan pada satu wilayah perdesaan sebagai system produksi pertanian dan pengolahan sumberdaya alam tertentu yang ditujukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan heirarki keruangan suatu sistem permukiman dan sistem agribisnis. Diperkuat dengan pendapat Friedman dan Douglass (1976), Kawasan agropolitan meupakan kota diladang yang pembangunannya terkonsentrasi di wilayah perdesaan dengan jumlah penduduk sekitar 50.000-150.000 penduduk yang didmonasi oleh penduduk bekerja di sektor pertanian dan otoritas pembangunan dimiliki oleh masyarakat itu sendiri sehingga mereka memiliki tanggung jawab penuh terhadap perkembangan desanya sendiri. Tujuan umum dari pengembangan kawasan agropolitan yaitu dapat meningkatkan pendapatan perkapita penduduk dan juga kesejahteraan masyarakat melalui akselerasi pngembangan wilayah dan peningkatan implikasi hubungan desa-kota dengan mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkelanjutan, kerakyatan, dan terdesentralisasi di kawasan agropolitan. Menurut BPPSDMP Departemen Pertanian terdapat beberapa kriteria dari kawasan agropolitan antara lain: a. Memiliki daya dukung sumber daya alam dan potensi fisik wilayah yang memungkinkan mendapatkan sistem dan usaha agribisnis berbasis komoditas unggulan b. Komoditas unggulan yang dimaksud pada poin A yaitu yang dapat menggerakkan ekonomi kawasan c. Perbandingan luas kawasan dengan jumlah penduduk ideal untuk membangung sistem dan usaha agribisnis dalam skala ekonomi dan jenis usaha tertentu d. Terdapat prasana dan sarana produksi yang memadai seperti pengairan, listrik, transportasi, pasar lokal, dan kios sarana produksi e. Memiliki suatu lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pelayanan, penghubung dengan daerah atau kawasan desa -kota yang terintegrasi secara fungsional Sedangkan jika dilihat berdasarkan Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Agropolitan Tahun 2002, ciri-ciri dari kawasan agropolitan yaitu:


a. Kegiatan yang mendominasi sebagai kegiatan utama masyarakat yaitu kegiatan pertanian dan atau agribisnis yang dimulai dari agribisnis hulu, agribisnis pertanian primer, agribisnis hilir, dan jasa penunjang b. Terdapat keterkiatan antara kota dengan desa yang bersifat mutualisme dan saling membutuhkan. Kawasan pertanian di perdesaan mengembangkan usaha budi daya dan produk olahan sedangkan kawasan kota akan menyediakan fasilitas untuk berkembangnya kegiatan tersebut c. Kehidupan masyarakat di kawasan agropolitan tidak berbeda dari kehidupan kota karena adanya sarana prasarana yang sama dengan di kota. Gambar 2.1. Konsep Pengembangan Kawasan Agropolitan

Sumber: Soenarno, 2003 2.2 Infrastruktur pendukung pertanian Infrastruktur yang dimaksud digunakan untuk mendukung pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang utuh dan holistic pada kawasan agropolitan berua dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang sistem agribisnis hulu seperti bibit, benih, mesin, peralatan pertanian, pupuk, dan lainnya. Selain itu terdapat juga dukungan sarana dan prasara untuk menunjang subsistem pertanian guna peningkatan produksi dan produktivitas usaha budi daya. Dan yang terakhir adanya dukungan sarana dan prasarana untuk mendukung subsistem agribisnis hilir berupa industri pengolahan hasil pertanian sebelum dipasarkan guna memperpanjang rantai nilai dan nilai tambah dari komoditas pertanian tersebut. 2.3 Sistem Agribisnis Agribisnis merupakan kegiatan usaha yang meliputi mata rantai produksi, pengelolaan sampe ke pemasaran yanga da kaitannya dengan pertanian (Soekartawati, 2005). Sistem agribisnis mengedepankan keterkaitan antara kegiatan usaha yang menunjang pertanian dan kegiatan yang ditunjang oleh pertanian. Menurut Sutawi (2002) terdapat 5 sub sistem dari sistem agribisnis yaitu sub sistem agribisnis hulu (industri yang menghasilkan barang modal bagi pertanian), sub sistem usaha tani (kegiatan yang menggunakan barang modal dan sumber daya alam untuk menghasilkan komoditas primer), sub sistem pengolahan (industri yang mengolah komoditas primer menjadi barang setengah jadi atau jadi, sub sistem pemasaran (kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas) dann sub sistem jasa.


2.4 Sektor Unggulan Sektor unggulan perekonomian adalah sektor yang memiliki ketangguhan dan kemampuan tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai tumpuan harapan pembangunan ekonomi. Sektor unggulan dapat dikatakan sebagai tulang punggung dan penggerak perekonomian, sektor kunci, dan sektor pemimpin perekonomian suatu wilayah. Dikutip berdasarkan pendapat Departemen Pertanian (2015) struktur perekonomian suatu wilayah atau daerah dapat dicerminkan melalui sektor unggulan sebagai suatu karakteristik dari perkonomian wilayah tersebut. Pengemabangan ekonomi di Indonesia saat ini difokuskan pada pengembangan sektor ekonomi unggulan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas dan potensi masyarakat sekaligus sesuai dengan sumber daya ekonomi lokal. Menurut Sambodo dalam Usya (2006), suatu sektor dapat dikatakan sebagai sektor unggulan jika memenuhi beberapa persyartan seperti: a. Sektor tersebut memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi b. Sektor tersebut mampu menyerap tenaga kerja yang relative besar c. Sektor tersebut memiliki keterkaitan ekonomi kedepan dan kebelakang (forwardbackward linkages) d. Sektor tersebut mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi


BAB III KAJIAN DOKUMEN 3.1 RTRW Kabupaten Sintang Tahun 2016-2036 Tujuan dari penataan ruang Kabupaten Sintang yaitu “Untuk mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Sintang yang aman, nyaman, produktif dan berkualitas menuju kabupaten mandiri, demokratis, dan sejahtera berbasis pertanian, perkebunan dan pariwisata yang didukung oleh sistem permukiman dan pengelolaan sumberdaya yang berdaya saing dan berkelanjutan, serta pengembangan kawasan perbatasan negara sebagai beranda depan”. Tujuan tersebut secara jelas memberikan arahan penataan ruang Kabupaten Sintang akan berbasis pada pertanian dan perkebunan dimana berkaitan dengan konsep pengembangan kawasa agropolitan. Salah satu strategi yang direncanakan yaitu “mengarahkan pengembangan budidaya pertanian dan perkebunan sesuai dengan rencana perkebunan kabupaten di luar kawasan lindung dan kawasan berfungsi lindung dan mengarahkan pada komoditi unggulan daerah untuk meningkatkan perekonomian wilayah kabupaten serta mendukung perwujudan Kabupaten Sintang sebagai daerah agribisnis”. Pada rencana pola ruang Kabupaten Sintang Tahun 2016-2036, kawasan budidaya yang direncakan salah satunya kawasan peruntukan peruntukan permukan perdesaa, daerah tertinggal, dan transmigrasi yang salah satunya meliputi kawasan Agropolitan di Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Dedai, dan Kecamatan Sungai Tebelian. Selain itu pemerintah kabupaten juga menetapkan kawasan strategis yang terdiri atas kawasan strategis nasional, kawasan strategis provinsi, dan kawasan strategis kabupaten. Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagaimana yang dimaksud pada poin tersebut salah satunya meliputi Kawasan Agropolitan yang terdapat di Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Dedai dan Kecamatan Sungai Tebelian. 3.2 RPJPD Kabupaten Sitang Tahun Berdasarkan RPJPD Kabupaten Sintang Tahun 2006-2025 memuat visi pembangunan “Kabupaten Sintang Tahun 2006-2025 yaitu Kabupaten Sintang Maju, Mandiri, dan Sejahteran Tahun 2025”. Dalam mewujudkan visi tersebut ditempuh elalui 8 misi pembangun namun disini hanya disembutkan pada misi yang berkaitan dengan topik pembahasan yaitu misi nomer 1 yang menitik beratkan percepatan pertumbuhan ekonomi pelalui peningkatan inevstasi yang diorientasikan pada peningkatan kemampuan produksi pertanian dan perkebunan serta pengolahan hasil akhir produk. Misi ini dirasa dapat terwujud dan bersinergi dengan konsep pengembangan kawasan agropolitan pada kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi. 3.3 RPJMD Kabupaten Sintang Tahun 2021-2026 Visi pembangunan dalam dokumen RPJMD pada periode 2021-2026 adalah “Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Sintang yang Cerdas, Sehat, Rukun, Sejahtera, Maju dan Lestari didukung Penerapan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik Dan Bersih pada Tahun 2026”. Pada visi ini terdapat aspek sejahtera dimana kebutuhan masyarakat terpenuhi secara optimal, adil dan merata. Masyarakat Kabupaten Sintang yang lebih sejahtera akan dicapai melalui berbagai upaya yang difokuskan pada (1) Pembangunan perekonomian daerah berbasis potensi lokal yang berdaya saing tinggi dan (2) Pengembangan investasi yang berbasis potensi lokal melalui perwujudan sinergitas UMKM dan dunia usaha skala menengah dan besar.


Selain itu salah satu cara untuk mewujudkan visi tersebut yang tertuang dalam misi adalah mengembangkan ekonomi Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis pedesaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu mendorong peningkatan kegiatan ekonomi sesuai dengan potensi ekonomi daerah dan desa untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis perdesaan dengan konsep agropolitan secara tidak langsung menjadi mandate Kabupaten Sintang yang berujung pada penetapan strategi dan arah kebijakan.


BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan bersifat sekunder dan merupakan data yang berkaitan dengan perekonomian, sektor industri, serta data sarana prasarana. Data berasal dari berbagai sumber, antara lain BPS, Bappedalitbang Kabupaten Sintang, dokumen perencanaan, peraturan perundang-undangan, website resmi pemerintah dan berbagai literatur online. 4.2 Metode Pengolahan Data Metode pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Analisis Deskriptif dilakukan dengan menganalisis, menggambarkan, dan melihat keterkaitan dari berbagai data untuk menghasilkan suatu gambaran akurat mengenai kesiapan Kawasan Strategis dari sudut kepentingan ekonomi sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. 4.3 Metode Analisis Data Metode Analisis Data yaitu dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), Metode LQ dan Metode Growth Share. Selanjutnya, dilakukan analisis AHP guna menentukan atau menilai prioritas setiap variable yang berpegaruh dalam kesiapan kawasan strategis. Teknik analisis LQ digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan tertentu. Dalam penelitian ini metode analisis LQ digunakan untuk mengetahui kemampuan setiap jenis komoditas pertanian di Kecamatan Sungai Tebelian, Kecamatan Kayan Hilir, dan Kecamatan Dedai yang termasuk dalam cakupan kawasan agropolitan. Metode analisis Growth share untuk menentukan sektor unggulan yang kompetitif dan memiliki peluang untuk dikembangkan. Metode ini tindak lanjut dari analisis LQ.


4.4 Kerangka Berpikir Gambar 4.1. Kerangka Berpikir

Sumber: Olahan Penulis, 2021


BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Ekonomi Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi ditetapkan sebagai kawasan agropolitan berdasarkan RTRW Kabupaten Sintang 2016-2036. Berdasarkan penetapan tersebut lokasi pengembangan kawasan agropolitan terdapat di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Sungai Tebelian, Kecamatan Dedai, dan Kecatan Kayan Hilir. Sedangkan komoditas yang diunggulkan adalah holtikultura, peternakan, perkebunan, perikanan budidaya, pangan, dan peternakan. Indikator yang digunakan untuk mengukur kesiapan kawasan strategis ini sebagai kawasan agropolitan antara lain potensi fisik, agribisnis, komoditas, infrastruktur, dan kelembagaan. Pengambilan indicator tersebut mengacu pada Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional dan Daerah tahun 2002. Total luas Kabupaten Sintang secara keseluruhan yaitu 21.638 km2 dan persentase luas wilayah kawasan strategis terhadap luasan Kabupaten Sintang yaitu 10,38%. Tabel 5.1. Luas Daerah Kawasan Strategis

Kecamatan Kayan Hilir Dedai Sungai Tebelian Kawasan Strategis

Luas 1,050.46 599.53 597.64 2,247.63

Desa 43 31 26 100

Sumber: Kabupaten Sintang Dalam Angka 2020 Luas keseluruhan Kawasan Strategis adalah 2.247,63 km2 dan jumlah desa sebanyak 100 desa. Wilayah yang memiliki kawasan paling luas adalah Kecamatan Kayan Hilir sedangkan kawasan yang memiliki luasan paling kecil yaitu Kecamatan Sungai Tebelian. Kawasan Strategis ini terletak di timur Kota Sintang yang berbatasan dengan: Gambar 5.1 Peta Administrasi Kabupaten Sintang

Sumber: Olahan Penulis Sebelah Utara: Kabupaten Kapuas Hulu Sebelah Timur: Kecamatan Kayan Hulu Sebelah Selatan: Kecamatan Serawai Sebelah Barat: Kecamatan Sintang


5.1.1 Potensi Fisik Dalam penilaian potensi fisik didasarkan atas lima indikator antara lain agroklimat (iklim, suhu, dan curah hujan), jenis tanah, morfologi (ketinggian dan kemiringan), keberadaan sumber air (sungai, mata air, waduk dan sumur) dan yang terakhir adalah penggunaan lahan pertanian. A. Iklim Iklim merupakan ukuran rata-rata variabilitas kuantitas yang relevan dari variable seperti temperature, curah hujan atau angin pada periode waktu tertentu. Pembahasan iklim pada penelitian ini termasuk didalamnya jenis iklim, suhu, climate soil (pembentuk tanah) 𝑟 dan curah hujan. Menghitung climate soil menggunakan rumus R = 𝑡 , dimana R adalah faktor hujan, r adalah curah hujan (mm) dan t adalah temperatur (°C). Faktor hujan mengambil batasa (range) nilai sebagai berikut: Tabel 5.2. Klasifikasi Climate Soil No 1 2 3 4

Faktor Hujan Lang R = 40 R < 40 R > 40 R = 120

6

R > 120

Keterangan Daerah Kering Tanaman kurang baik tumbuh di daerah ini Daerah ini memiliki tanah yang baik Daerah ini tanahnya sangat baik Tanah akan menjadi humus yang berlebihan dan menjadi gambut

Sumber: Olahan Penulis, 2021 1. Kecamatan Kayan Hilir Jenis iklim di Kecamatan Kayan Hilir adalah tropis, memiliki suhu sekitar 26,5°C dan memiliki curah hujan 467 mm/th. Climate soil (pembentukan tanah) termasuk dalam R<40 yang artinya tanah yag terbentuk kurang baik di daerah ini. 2. Kecamatan Dedai Jenis iklim di Kecamatan Kayan Hilir adalah tropis, memiliki suhu sekitar 27°C dan memiliki curah hujan 482 mm/th. Climate soil (pembentukan tanah) termasuk dalam R<40 yang artinya tanah yag terbentuk kurang baik di daerah ini. 3. Kecamatan Sungai Tebelian Jenis iklim di Kecamatan Kayan Hilir adalah tropis, memiliki suhu sekitar 27,4°C dan memiliki curah hujan 540 mm/th. Climate soil (pembentukan tanah) termasuk dalam R<40 yang artinya tanah yag terbentuk kurang baik di daerah ini. Tabel 5.3. Jenis Iklim Kecamatan Kayan Hilir Dedai Sungai Tebelian KSK Ekonomi

Iklim Tropis Tropis Tropis Tropis

Suhu 26.5 27 27.4 26.97

Curah Hujan (mm/th) Climate Soil Interpretasi 467 17.62 R<40 482 17.85 R<40 540 19.71 R<40 496.33 18.39 R<40


Sumber: Kabupaten Sintang Dalam Angka 2020 dan Olahan Penulis, 2021 B. Tanah Tanah adalah faktor penting dalam mengembangkan komoditas pertanian. Jenis tanah yang terdapat di empat kecamatan tersebut terbagi menjadi dua yaitu podsolik dan latosol. Tanah podsolik merupakan tanah yag terbentuk karena curah huan yang tinggi dan sangat rendah. Tanah ini memeiliki kesuburanyang relative rendah dan banyak tersebar di daerah dekat katulistiwa termasuk Kalimantan. Tanah ini cocok untuk ditumbuhi tanaman kelapa, karet, jambu mete, dan kelapa sawit. Dengan pemupukan yang teratur, jenis tanah ini bisa dimanfaarkan untuk pertanian dan perkebunan. Sedangkan tanah latosol yaitu tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan sedimen yang tidak terlalu subur karena mengandung zat besi dan alumunium. 1. Kecamatan Kayan Hilir Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Kayan Hilir adalah podsolik dan latosol. Jenis tanah podsolik memiliki luasan yang paling besar yaitu 81,902.61 Ha. 2. Kecamatan Dedai Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Kayan Hilir adalah podsolik. Jenis tanah podsolik memiliki luasan yang besar yaitu 57,413.68 Ha. 3. Kecamatan Sungai Tebelian Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Kayan Hilir adalah podsolik dan latosol. Jenis tanah podsolik memiliki luasan yang besar yaitu 50,034.40 Ha. Tabel 5.4. Jenis Tanah Kecamatan Kayan Hilir Dedai Sungai Tebelian KSK Ekonomi

Jenis Tanah (Ha) Podsolit Latosol 81,902.61 23,036.29 57,413.68 0.00 50,034.40 3,217.40 189,350.69 26,253.69

Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 C. Morfologi Klasifikasi kemiringan dibagi menjadi empat, yaitu datar, landai, agak curam dan sangat curam. Kabupaten Sintang mempunyai topografi dan kontur tanah yang beraneka ragam yakni datar, berombak, bergelombang dan terjal dengan rata-raa 15-44%. Namun untuk kawasan strategis ini masuk ke dalam kategori dataran rendah dengan kemiringan rata-rata 02%. 1. Kecamatan Kayan Hilir Kemiringan atau relief yang dimiliki adalah datar antara 0-2% dan 14-40% serta memiliki ketinggian kurang dari 500 m dpl.


2. Kecamatan Dedai Kemiringan atau relief yang dimiliki adalah datar antara 0-2% dan 14-40% serta memiliki ketinggian kurang dari 500 m dpl. 3. Kecamatan Sungai Tebelian Kemiringan atau relief yang dimiliki adalah datar antara 0-2% dan memiliki ketinggian kurang dari 500 m dpl. Tabel 5.5. Kemiringan Kecamatan

0-2% 98,915.88 59,400.41 57,446.42 215,762.71

Kayan Hilir Dedai Sungai Tebelian KSK Ekonomi

Kemiringan 2-15% 15-40% 1,260.50 4,028.20 49.39 1,055.95 1.08 2.90 1,310.97 5,087.05

>40% 1,502.17 162.60 0.00 1,664.76

Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 Klasifikasi kelerengan: 1. 0-2% (datar) 2. 2-15% (landai) 3. 15-40% (agak curam) 4. >40% (sangat curam) Tabel 5.6. Ketinggian Kecamatan Kayan Hilir Dedai Sungai Tebelian KSK Ekonomi

<500 104,478.44 60,668.33 57,450.41 222,597.18

Ketinggian 500-700 1,215.37 0.00 0.00 1,215.37

>700 12.99 0.00 0.00 12.99

Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 D. Hidrologi Pengairan sawah petani di Kabupaten Sintang menggunakan jaringan irigasi yang dibuat mandiri oleh masyarakat. Sumber air yang digunakan berasal dari air sungai dan danau yang ada di Kabupaten Sintang. Namun tidak seluruh kecamatan yang masuk ke dalam kawasan strategis dan kawasan pengembangan agropolitan di lalui sungai. Kecamatan Sungai Tebelian tidak dialiri sungai. Sedangkan Kecamatan Dedai dialiri sungai Melawi dan Kecamatan Kayan Hilir dilalui Sungai Kayan. Potensi debit air dari Sungai Kayan yang dapat digunakan untuk mengairi sawah yaitu 1000 m3/tahun. Seluruh Kecamatan dialiri dan masuk kedalam wilayah DAS yang tertera pada tabel 5.7. Namun, untuk kecamatan yang masuk ke


dalam kawasan strategis sumber aliran air tidak ada yang berasal dari danau. DAS Kayan mendominasi luas wilayah yang dilayani sebesar 36.95%. Tabel 5.7. Sumber Air Kecamatan Kayan Hilir

Sungai Sungai Kayan

Dedai

Sungai Melawi

Sungai Tebelian

-

Sumber Air DAS DAS Kayan DAS Kayan, DAS Lebang dan Kebiyau DAS Melawi, DAS Tempunak

Danau -

Sumber: RPJMD Kabupaten Sintang 2021-2026 Tabel 5.8. Daerah Aliran Sungai No 1 2 3 4

DAS DAS Kayan

Kecamatan Kayan Hilir Dedai DAS Melawi Kayan Hilir Sungai Tebelian DAS Lebang Dedai dan Kebiyau DAS TempunakSungai Tebelian

Luas (Ha) 102,545.74 3,433.54 3,217.63 15,913.23

Rasio 36.95% 1.24% 0.66% 3.28%

686.71

0.62%

41,579.56

26.35%

Sumber: RPJMD Kabupaten Sintang 2021-2026 D. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Kawasan Strategis Kabupaten Sintang tersebut berbagai macam seperti 16 jenis guna lahan. Sedangkan di kawasan strategis ini terdapat 11 guna lahan yang dikerucutkan 4 guna lahan yaitu pemukiman, pertanian, hutan, dan lainnya. Penggunaan lahan pertanian meliputi sawah, tegalan dan perkebunan. 1. Kecamatan Kayan Hilir Penggunaan lahan paling luas adalah untuk pertanian sebesar 87,492.48 Ha atau 83%. Kemudian penggunaan lahan untuk permukiman sebesar 0 Ha atau 0%. Terlihat bahwa penggunaan lahan pertanian lebih mendominasi dari guna lahan lainnya. Gambar 5.2. Penggunaan Lahan Kayan Hilir


Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 2. Kecamatan Dedai Penggunaan lahan paling luas adalah untuk pertanian sebesar 51,035.84 Ha atau 84%. Kemudian penggunaan lahan untuk permukiman sebesar 105.09 Ha atau 1%. Terlihat bahwa penggunaan lahan pertanian lebih mendominasi dari guna lahan lainnya. Gambar 5.3. Penggunaan Lahan Kecamatan Dedai

Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 3. Kecamatan Sungai Tebelian Penggunaan lahan paling luas adalah untuk pertanian sebesar 99,712.10 Ha atau 94%. Kemudian penggunaan lahan untuk permukiman sebesar 686.59 Ha atau 1%. Terlihat bahwa penggunaan lahan pertanian lebih mendominasi dari guna lahan lainnya. Gambar 5.4. Penggunaan Lahan Kecamatan Dedai


Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 Tabel 5.9. Penggunaan Lahan Kawasan Strategis Kecamatan Guna Lahan Permukiman Pertanian Hutan Lainnya Jumlah

Kayan Hilir Luas (Ha) % 0.00 0% 87,492.48 83% 8,557.60 8% 9,818.38 9% 105,868.46 100%

Dedai Luas 105.09 51,035.84 3,768.88 5,758.51 60,668.31

% 1% 84% 6% 9% 100%

Sungai Tebelian Luas % 686.59 1% 99,712.10 94% 4,300.32 4% 1,661.08 1% 106,360.10 100%

Kawasan Strategis Luas % 791.68 1% 238,240.42 87% 16,626.80 6% 17,237.97 6% 272,896.87 100%

Sumber: SHP Jenis Tanah Kabupaten Sintang 2020 5.1.2 Agribisnis Pembahasan agribisnis ini meliputi kegiatan pertanian seperti agribisnis hulu, usaha tani primer dan agribisnis hilir. Selain itu dapat dilihat juga jumlah penduduk menurut lapangan pekerjaan yang ada di Kabupaten Sintang. Hal ini diperjelas di Pedoman Pengolahan Ruang Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional dan Daerah (Agropolitan) bahwa ciri-ciri kawasan agropolitan salah satunya kegiatan sebagian besar masyarakat adalah pertanian atau agribisnis dalam suatu kesisteman yang utuh dan terintegrasi mulai dari agribisnis hulu, usaha tani primer dan agribisnis hilir. A. Agribisnis Hulu Agribisnis hulu meliputi industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal bagi pertanian seperti industri pembenihan atau pembibitan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat dan vaksin ternak) dan industri alat dan mesin. 1. Kecamatan Kayan Hilir Kecamatan Kayan Hilir tidak memiliki unit usaha pembibitan untuk bibit tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Petani biasanya memperoleh bibit adri tokotoko/kios pertanian yang tercepat di Kecamatan Kayan Hilir dan Kecamatan Sintang. Toko/kios pertanian lebih berpusat di Kecamatan Sintang yang dapat ditempuh selama 1 jam 30 menit dari pusat kecamatan. Untuk mendapatkan pupuk atau pertisida para petani mendapatkan dari kios atau toko-toko pertanian yang tersebar di Kecamatan Kayan Hilir. Petani di Kecamatan Kayan Hilir memiliki 2 distributor pupuk yaitu dari Kios Pupuk Karya


Pratama dan MSA Pupuk Agro Mulyo. Pengolahan lahan pertanian di Kecamatan ini masih dilakukan secara sederhana. Pengolahan untuk peternakan juga dilakukan dengan cara sederhana dengan dibuatkan kendang yang terbuat dari kayu. Sedangkan perikanan pemeliharaannya sederhana dengan dibuatkan kolam sederhana dari tanah dan semen di depan halam rumah. 2. Kecamatan Dedai Kecamatan Ngoro tidak memiliki unit usah pembibitan untuk tanaman pangan, holtikultura maupun perkebunan. Petani biasanya memperoleh bibit adri toko-toko/kios pertanian yang tercepat di Kecamatan tetangga dan Kecamatan Sintang. Toko/kios pertanian lebih berpusat di Kecamatan Sintang yang dapat ditempuh selama 1 jam 27 menit dari pusat kecamatan. Pengolahan lahan pertanian di Kecamatan ini masih dilakukan secara sederhana. Pengolahan untuk peternakan juga dilakukan dengan cara sederhana dengan dibuatkan kendang yang terbuat dari kayu. Sedangkan perikanan pemeliharaannya sederhana dengan dibuatkan kolam sederhana dari tanah dan semen di depan halam rumah. Pakan ternak biasanya diperoleh dari rumput hasil pertanian atau rumput dari lahan hijau lainnya. 3. Kecamatan Sungai Tebelian Kecamatan Sungai Tebelian merupakan kecamatan dengan toko/kios-kios yang menjual alat kebutuhan pertanian paling banyak dibandingkan dua kecamatan lainnya. Terdapat 8 Kios Usaha yang menjual bibit dan pupuk untuk pertanian dan 1 kios usaha yang khusus menjual bibit buah durian unggul. Berikut merupakan daftar kios usaha tani: a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Kios Mutiara Tani pupuk Kios Tani Sidolaris Toko Usaha Tani Hoki Jaya Gudang pupuk karya tani Toko Karya Tani Kios Pertanian Plaza Central Tani Bibit buah durian unggul Toko Barokah

Namun sama dengan kecamatan lainnya, pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan masih dikelola dengan cara yang sederhana. Kolam dari semen dan kendang dari kayu masih mendominasi menjadi media untuk mengembangbiakan hewan. B. Usaha Tani Primer Usaha tani primer merupakan kegiatan budi daya yang menghasilkan komoditas seperti tanaman pangan, holtikultura, tanaman perkebunan, perikanan dan perternakan. Berdasarkan RPJMD Kabupaten Sintang 2021-2026, Kabupaten sintang memiliki banyak komoditas unggulan baik dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, dan ertambangan. Komoditi utama dari sektor pertanian yang dikembangkan di Kawasan Strategis ini adalah padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan kacang tanah. Komoditi perkebunan yang menonjol adalah kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, kunyit. Sedangkan komditi sektor peternakan diantaranya adalah ternak sapi, kerbau, babi dan kambing. 1. Kecamatan Kayan Hilir


Kecamatan Kayan Hilir memiliki usaha tani promer di sektor pertanian pangan, perkebunan, dan peternakan. Komoditas pangan yang memiliki rata-rata produksi paling besar yaitu ubi jalar sebesar 69 ton/ha. Sedangkan paling rendah yaitu padi sebesar 4 ton/ha. Komoditas perkebunan yang memiliki rata-rata produksi tertinggi yaitu kunyit sebesar 8.43 ton/ha sedangkan yang terendah yaitu kopi 0.04 ton/ha. Sektor peternakan yang memiliki ratarata produksi tertinggi yaitu kerbau sebesar 26 kg/ekor dan yang terendah yaitu kambing sebesar 12 kg/ekor.

2. Kecamatan Dedai Kecamatan Dedai memiliki usaha tani promer di sektor pertanian pangan, perkebunan, dan peternakan. Komoditas pangan yang memiliki rata-rata produksi paling besar yaitu ubi jalar sebesar 69.60 ton/ha. Sedangkan paling rendah yaitu kacang tanah sebesar 3 ton/ha. Komoditas perkebunan yang memiliki rata-rata produksi tertinggi yaitu kunyit sebesar 8.43 ton/ha sedangkan yang terendah yaitu kopi 0.04 ton/ha. Sektor peternakan yang memiliki ratarata produksi tertinggi yaitu kerbau sebesar 26 kg/ekor dan yang terendah yaitu kambing sebesar 12 kg/ekor.


3. Kecamatan Sungai Tebelian Kecamatan Sungai Tebelian memiliki usaha tani promer di sektor pertanian pangan, perkebunan, dan peternakan. Komoditas pangan yang memiliki rata-rata produksi paling besar yaitu ubi jalar sebesar 69.50 ton/ha. Sedangkan paling rendah yaitu kacang tanah sebesar 3.01 ton/ha. Komoditas perkebunan yang memiliki rata-rata produksi tertinggi yaitu lengkuas sebesar 14.23 ton/ha sedangkan yang terendah yaitu kelapa sawit 0.30 ton/ha. Sektor peternakan yang memiliki rata-rata produksi tertinggi yaitu kerbau sebesar 26 kg/ekor dan yang terendah yaitu kambing sebesar 12 kg/ekor.


Table 5.10. Produksi Usaha Tani Primer Kawasan Strategis Sektor Pangan Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah

Ton 6,966.50 427.00 959.00 69.00 0.00

Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Peternakan Sapi Kerbau Babi Kambing

Ton 20,782.25 12.00 1,680.00 1.80 0.91 0.64 0.41 1.18 Kg 3,720.00 0.00 59,904.00 936.00

Kayan Hilir Rata-rata Produksi Ha Ton (Ton/Ha) 1,712.00 4.07 8,847.20 30.67 13.92 552.00 21.00 45.67 434.00 1.00 69.00 87.00 0.00 0.00 3.00 Rata-rata Produksi Ha Ton (Ton/Ha) 9,966.94 2.09 6,416.25 73.20 0.16 15.00 6,477.00 0.26 4,029.00 44.50 0.04 5.00 0.17 5.54 6.00 0.08 8.36 5.00 0.07 5.81 1.50 0.14 8.43 12.20 Ekor Kg/Ekor Kg 155.00 24.00 30,432.00 0.00 26.00 494.00 3,328.00 18.00 89,802.00 78.00 12.00 8,424.00

Dedai Ha 2,139.00 39.67 9.50 1.25 1.00 Ha 3,607.34 39.00 11,590.00 9.00 0.39 0.20 0.10 0.71 Ekor 1,268.00 19.00 4,989.00 702.00

Rata-rata Produksi Ton (Ton/Ha) 4.14 4,135.60 13.91 557.00 45.68 640.00 69.60 139.00 3.00 4.00 Rata-rata Produksi Ton (Ton/Ha) 1.78 5,925.26 0.38 57.00 0.35 4,103.00 0.56 6.50 15.38 1.38 25.00 0.93 15.00 0.70 17.18 0.98 Kg/Ekor Kg 24.00 30,192.00 26.00 546.00 18.00 114,246.00 12.00 8,052.00

Sungai Tebelian Rata-rata Produksi Ha (Ton/Ha) 910.50 4.54 40.00 13.93 14.00 45.71 2.00 69.50 1.33 3.01 Rata-rata Produksi Ha (Ton/Ha) 19,561.92 0.30 186.00 0.31 8,626.00 0.48 18.00 0.36 0.19 7.24 0.07 14.23 0.09 7.78 0.09 10.89 Ekor Kg/Ekor 1,258.00 24.00 21.00 26.00 6,347.00 18.00 671.00 12.00

Sumber: Olahan Penulis, 2021 C. Agribisnis Hilir Agribisnis hilir meliputi industri dan pemarasan. Industri yang mengelola komoditas pertanian primer menjadi olahan seperti industri makanan atau minuman, industri pakan atau industri yang lainnya. 1. Kecamatan Kayan Hilir Kecamatan Kayan Hilir memiliki dua industri olahan hasil pertanian yaitu Industri Minyak Mentah Kelapa Sawit (PT.Bina Tani Nusantara) dan Industri barang dari karet (Koperasi Serba Usaha Bima Mandiri). Hasil panen pertanian petani dijual ke tengkulak kemudian dikirim ke pengepul setelah itu di jual ke pasar lokal. Industri olahan masih berbasis pengolahan bahan mentah yang belum dijadikan barang jadi atau barang setengah jadi sehingga masih memiliki nilai produksi rendah. Berdasarkan pendapat DPMPTSP Kabupaten sintang Begitupun dengan hasil peternakan dan perikanan yang biasa dijual untuk skala lokal dan mencukupi kebutuhan masyarakar karena sejatinya hasil produksi itu sendiri belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga belum bisa dilakukan transaksi penjualan ke daerah luar. 2. Kecamatan Dedai Berdasarkan observasi melalui google maps dan studi literatur, tidak ditemukannya industri olahan produk pertanian, perkebunan, dan peternakan di Kecamatan Dedai. 3. Kecamatan Sungai Tebelian Kecamatan Sungau Tebelian memiliki dua industri olahan yaitu Industri produk obat tradisional (Alif Snack) dan Industri Tahu Kedelai (Kakung dan Pandan Wangi). Industri produk obat tradisional biasanya mengelola hasil produksi tanaman rempah-rempah atau hortikultura seperti jahe, lengkuas, kencur, dan kunyit. Sedangkan industri tahu kedelai tidak mengolah hasil produksi dari kecamatan ini dikarenakan tidak berkembangkan komoditas kacang kedelai di daerah ini dan lebih sering digunakan untuk mengolah hasil produski dari


kecamatan tetangga. Hasil industri olahan dari kecamatan ini juga masih digunakan untuk konsumsi masyarakat sekitar dan skala distribusinya masih skala lokal. D. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Agropolitan Tahun 2002, sebagian besar masyarakat di kawasan agropolitan didominasi oleh kegiatan pertanian 76 untuk melihat persentase seberapa besar kegiatan pertanian di Kawasan Strategis dapat dilihat dari jumlah penduduk menurut lapangan kerja. Namun akibat minimnya data, peneliti melakukan pendekatan dengan menggunakan jumlah penduduk menurut lapangan kerja se-Kabupaten Sintang. Sektor pertanian, perkebunan, perburuan, dan perikanan masih menjadi lapangan pekerjaan yang didominasi oleh masyarakat Kabupaten Sintang hingga saat ini dengan persentase sebesar 64.55% dari total pekerja yang ada. Sedangkan sektor yang paling sedikit menyerap tenaga kerja yaitu sektor listrik, gas, dan air minum.

Tabel 5.11. Mata Pencaharian Kabupaten Sintang

Sumber: Kabupaten Sintang Dalam Angka 2020 Gambar 5.4. Persentase Sebaran Mata Pencaharian Masyarakat Kabupaten Sintang

Sumber: Kabupaten Sintang Dalam Angka 2020


5.1.3 Komoditas Komoditas yang akan dibahas berdasarkan RPJMD Kabupaten Sintang Tahun 20212026 komoditas yang akan dikembangkan adalah tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu dan kacang tanah. Tanaman perkebunan adalah kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, kunyit, sedangkan peternakan adalah ternak sapi, kerbau, babi dan kambing. Karakteristik komoditas adalah menentukan komoditas unggulan dengan menggunakan analisis LQ dan Growth Share. 1. Kecamatan Kayan Hilir Berdasarkan hasil analisis LQ, komoditas yang menjadi basis di Kecamatan Kayan Hilir yaitu Padi, Kelapa Sawit dan hewan ternak babi. Dikatakan komoditas tersebut menjadi sektor basis karena memiliki nilai LQ > 1 yang berarti kecamatan tersebut mengekspor jenis komoditas unggulan tersebut. Setelah itu, sektor basis ini dianalisis lebih lanjut dengan analisis growth share untuk menunjukkan kemungkinan sektor tersebut juga merupakan sektor unggulan dari Kecamatan Kayan Hilir. Berdasarkan hasil analisis growt share ditemukan bahwa sektor padi dan kelapa sawit merupakan sektor unggulan dan sektor ini dijadikan base sektor kecamatan ini. Sedangkan sektor peternakan babi merupakan Sektor dominan yang nantinya mampu menjadi base sector dengan adanya perlakuan-perlakuan khusus. Tabel 5.12. Perhitungan LQ Kecamatan Kayan Hilir Sektor Pangan(Ton) Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Perkebunan (Ton) Kelapa Sawit Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Peternakan (Kg) Sapi Kerbau Babi Kambing

Kecamatan Kayan Hilir Produksi Jumlah 1 2

Kabupaten Sintang Produksi Jumlah 3 4

6,966.50 427.00 959.00 69.00 -

8,421.50 8,421.50 8,421.50 8,421.50 -

79,365.70 8,034.00 14,117.00 3,873.00 57.00

105,446.70 105,446.70 105,446.70 105,446.70 105,446.70

1.10 0.67 0.85 0.22 -

Basis Non Basis Non Basis Non Basis -

20,782.25 12.00 1,680.00 1.80 0.91 0.64 0.41 1.18

22,479.19 22,479.19 22,479.19 22,479.19 22,479.19 22,479.19 22,479.19 22,479.19

323,703.89 309.40 39,267.00 83.07 31.28 31.57 9.02 37.93

363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16

1.04 0.63 0.69 0.35 0.47 0.33 0.73 0.50

Basis Non Basis Non Basis Non Basis Non Basis Non Basis Non Basis Non Basis

3,720 59,904 936

64,560 64,560 64,560

162,144 1,794 1,215,090 40,356

1,419,384 1,419,384 1,419,384 1,419,384

0.50 1.08 0.51

Non Basis Basis Non Basis

LQ

Hasil

(1/3)/(2/4)

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Tabel 5.13. Perhitungan Growth Share


Sektor Pangan (Ton) Padi Perkebunan (Ton) Kelapa Sawit Peternakan (Kg) Babi

Kecamatan Kayan Hilir 2020 2019 1 2

Kabupaten Growth Sintang 3 [(1-2)/2]*100 Hasil

6,966.50

6,253.50

79,365.70

11.40

20,782.25

17,345.00

323,703.89

59,904.00

65,808.00

1,215,090.00

Share

Hasil

(1/3)*100

Hasil

+

8.78

+

Unggulan

19.82

+

6.42

+

Unggulan

-8.97

-

4.93

+

Dominan

Sumber: Olahan Penulis, 2021 2. Kecamatan Dedai Berdasarkan hasil analisis LQ, komoditas yang menjadi basis di Kecamatan Dedai yaitu padi, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, kunyit dan hewan ternak sapi, kerbau, dan kambing. Dikatakan komoditas tersebut menjadi sektor basis karena memiliki nilai LQ > 1 yang berarti kecamatan tersebut mengekspor jenis komoditas unggulan tersebut. Setelah itu, sektor basis ini dianalisis lebih lanjut dengan analisis growth share untuk menunjukkan kemungkinan sektor tersebut juga merupakan sektor unggulan dari Kecamatan Dedai. Berdasarkan hasil analisis growt share ditemukan bahwa sektor padi, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, hewan ternak sapi dan kambing merupakan sektor unggulan dan sektor ini dijadikan base sector kecamatan ini. Sedangkan komoditas kunyit dan hewan ternak kerbau merupakan Sektor dominan yang nantinya mampu menjadi base sector dengan adanya perlakuan-perlakuan khusus. Tabel 5.14. Perhitungan LQ Kecamatan Dedai Sektor Pangan(Ton) Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Perkebunan (Ton) Kelapa Sawit Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Peternakan (Kg) Sapi Kerbau Babi Kambing

Kecamatan Dedai Produksi Jumlah 1 2

Kabupaten Sintang Produksi Jumlah 3 4

8,847.20 552.00 434.00 87.00 3.00

9,923.20 9,923.20 9,923.20 9,923.20 9,923.20

79,365.70 8,034.00 14,117.00 3,873.00 57.00

105,446.70 105,446.70 105,446.70 105,446.70 105,446.70

1.18 0.73 0.33 0.24 0.56

Basis Non Basis Non Basis Non Basis Non Basis

6,416.25 15.00 4,029.00 5.00 6.00 5.00 1.50 12.20

10,489.95 10,489.95 10,489.95 10,489.95 10,489.95 10,489.95 10,489.95 10,489.95

323,703.89 309.40 39,267.00 83.07 31.28 31.57 9.02 37.93

363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16

0.69 1.68 3.56 2.09 6.65 5.49 5.76 11.15

Non Basis Basis Basis Basis Basis Basis Basis Basis

30,432 494 89,802 8,424

129,152 129,152 129,152 129,152

162,144 1,794 1,215,090 40,356

1,419,384 1,419,384 1,419,384 1,419,384

2.06 3.03 0.81 2.29

Basis Basis Non Basis Basis

LQ

Hasil

(1/3)/(2/4)

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Tabel 5.15. Perhitungan Growth Share


Kecamatan Dedai 2020 2019 1 2

Sektor Pangan (Ton) Padi Perkebunan (Ton) Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Peternakan (Kg) Sapi Kerbau Kambing

Kabupaten Sintang 3

[(1-2)/2]*100

Hasil

(1/3)*100

Hasil

Growth

Share

Hasil

8,847.20

7,920.33

79,365.70

11.70

+

11.15

+

Unggulan

15.00 4,029.00 5.00 6.00 5.00 1.50 12.20

15.00 4,024.00 5.00 3.62 3.52 1.17 15.66

309.40 39,267.00 83.07 31.28 31.57 9.02 37.93

0.00 0.12 0.00 65.84 41.92 28.21 -22.09

+ + + + + + -

4.85 10.26 6.02 19.18 15.84 16.63 32.16

+ + + + + + +

Unggulan Unggulan Unggulan Unggulan Unggulan Unggulan Dominan

30,432.00 494.00 8,424.00

23,232.00 780.00 4,512.00

162,144.00 1,794.00 40,356.00

30.99 -36.67 86.70

+ +

18.77 27.54 20.87

+ + +

Unggulan Dominan Unggulan

Sumber: Olahan Penulis, 2021 3. Kecamatan Sungai Tebelian Berdasarkan hasil analisis LQ, komoditas yang menjadi basis di Kecamatan Sungai Tebelian yaitu padi, jagung, kacang tanah, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur dan hewan ternak sapi, kerbau, dan kambing. Dikatakan komoditas tersebut menjadi sektor basis karena memiliki nilai LQ > 1 yang berarti kecamatan tersebut mengekspor jenis komoditas unggulan tersebut. Setelah itu, sektor basis ini dianalisis lebih lanjut dengan analisis growth share untuk menunjukkan kemungkinan sektor tersebut juga merupakan sektor unggulan dari Kecamatan Sungai Tebelian Berdasarkan hasil analisis growt share seluruh sektor basis tersebut merupakan sektor unggulan dan sektor ini dijadikan base sector kecamatan ini. Tabel 5.16. Perhitungan LQ Kecamatan Dedai Sektor Pangan(Ton) Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Perkebunan (Ton) Kelapa Sawit Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Peternakan (Kg) Sapi Kerbau Babi Kambing

Kecamatan Sungai Tebelian Produksi Jumlah 1 2

Kabupaten Sintang Produksi Jumlah 3 4

LQ

Hasil

(1/3)/(2/4)

4,135.60 557.00 640.00 139.00 4.00

5,475.60 5,475.60 5,475.60 5,475.60 5,475.60

79,365.70 8,034.00 14,117.00 3,873.00 57.00

105,446.70 105,446.70 105,446.70 105,446.70 105,446.70

1.00 1.34 0.87 0.69 1.35

Basis Basis Non Basis Non Basis Basis

5,925.26 57.00 4,103.00 6.50 1.38 0.93 0.70 0.98

10,095.74 10,095.74 10,095.74 10,095.74 10,095.74 10,095.74 10,095.74 10,095.74

323,703.89 309.40 39,267.00 83.07 31.28 31.57 9.02 37.93

363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16 363,473.16

0.66 6.63 3.76 2.82 1.58 1.05 2.79 0.93

Non Basis Basis Basis Basis Basis Basis Basis Non Basis

30,192 546 114,246 8,052

153,036 153,036 153,036 153,036

162,144 1,794 1,215,090 40,356

1,419,384 1,419,384 1,419,384 1,419,384

1.73 2.82 0.87 1.85

Basis Basis Non Basis Basis

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Tabel 5.17. Perhitungan Growth Share


Sektor Pangan (Ton) Padi Jagung Kacang Tanah Perkebunan (Ton) Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Peternakan (Kg) Sapi Kerbau Kambing

Kecamatan Sungai Tebelian 2020 2019 1 2

Kabupaten Sintang 3

[(1-2)/2]*100

Hasil

(1/3)*100

Hasil

Growth

Share

Hasil

4,135.60 557.00 4.00

3,915.45 625.00 10.00

79,365.70 8,034.00 57.00

0.03 0.14 4.00

+ + +

5.21 6.93 7.02

+ + +

Unggulan Unggulan Unggulan

57.00 4,103.00 6.50 1.38 0.93 0.70

57.00 4,105.00 13.00 1.71 1.29 2.90

309.40 39,267.00 83.07 31.28 31.57 9.02

1.75 0.02 3.85 47.30 56.15 8.35

+ + + + + +

18.42 10.45 7.82 4.41 2.95 7.76

+ + + + + +

Unggulan Unggulan Unggulan Unggulan Unggulan Unggulan

30,192.00 546.00 8,052.00

26,928.00 936.00 7,836.00

162,144.00 1,794.00 40,356.00

0.00 0.06 0.01

+ + +

18.62 30.43 19.95

+ + +

Unggulan Unggulan Unggulan

Sumber: Olahan Penulis, 2021 5.1.4 Infrastruktur Infrastruktur adalah sarana pendungkung untuk mengembangkan kawasan agropolitan. Infrastruktur agribisnis adalah gudang penyimpanan saprotan, tempat bongkar muat saprotan, sub terminal pengepul, gudang penyimpanan hasil pertanian, industri olahan hasil pertanian, sarana perdagangan, sub terminal agribisnis dan fasilitas perbankan. 1. Kecamatan Kayan Hilir Infrastruktur yang terdapat di Kecamatan Kayan Hilir adalah industri olahan dan simpan pinjam. Di Kecamatan Kayan Hilir masih minim infrastruktur yang menunjang kegiatan agribisnis. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.18. 2. Kecamatan Dedai Infrastruktur yang terdapat di Kecamatan Dedai adalah sarana perdagangan toko dan koperasi simpan pinam. Sedangkan fasilitas infrastruktur agribisnis yang lain masih belum terpenuhi. Di Kecamatan Dedai masih minim infrastruktur yang menunjang kegiatan agribisnis. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.18. 3. Kecamatan Sungai Tebelian Infrastruktur yang terdapat di Kecamatan Sungai Tebelian adalah sub terminal pengepul, gudang penyimpanan hasil pertanian, industri olahan, pasar desa, toko, koperasi dea, dan koperasi simpan. Di Kecamatan Sungai Tebelian sudah memiliki banyak fasilitas penunjang agribisnis dibandingkan dua kecamatan lainnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.18.


Tabel 5.18. Infrastruktur Kawasan Strategis Kecamatan Infrastruktur Gudang penyimpanan saprotan Tempat bongkar muat saprotan Sub terminal pengepul Gudang penyimpanan hasil Pertanian Industri olahan Sub terminal agribisnis Sarana Perdagangan Pasar Kecamatan Pasar desa Pasar hewan Toko Fasilitas Perbankan Bank Koperasi desa Koperasi simpan pinjam Jumlah

Kayan Hilir

Dedai

-

-

-

Kawasan Sungai Strategis Tebelian -

0

-

-

0

-

1

1

-

-

3

3

2 -

-

2 -

4 0

-

1

2 6

0 2 0 7

1 3

1 2

1 1 16

0 1 3 21

Sumber: RPJMD Kabupaten Sintang 2021 dan Google Maps 2021 4.1.5 Kelembagaan Adanya kelembagaan di kawasan agropolitan adalah syarat dalam mendukung pengembangan kawasan agropolitan itu sendiri. Lembaga pendidikan ini meliputi penyuluhan, pelatihan dan penelitian. Di tiga kecamatan yang termasuk ke dalam Kawasan Strategis belum dilengkapi dengan lembaga penyuluhan, pelatihan, dan penelitian yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan para petani. Berdasarkan pendapat Kepala Badan Pelaksanan Penyuluh Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sintang mentakan bahwa terhambatnya pengembangan potensi sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan dikarenakan kurangnya tenaga penyuluh dan tenaga ahli untuk membantu mendampingi dan mengedukasi petani agar selalu update dengan perkembangan zaman dan teknologi. Selama ini tenaga penyuluh berasal dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang yang berkantor di Kecamatan Sintang. Namun tiga kecamatan tersebut memiliki kelompok tani yang tersebar sebagai berikut: Tabel 5.19 Daftar Kelompok Tani Kawasan Strategis No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Nama Kelompok Kecamatan Imbun Jaya Inggar Mandiri Kayan Hilir Bukit Lestari Payun Bersatu Beringin Jaya Setia Subur Makmur Sungai Tebelian Usaha Tani Mulya Bersama Agro Tani Mandiri Dedai Junjung Bersama

Sumber: arthawisesa.com


5.2 Penilaian Kesiapan Kawasan Strategis Sebagai Kawasan Agropolitan Kabupaten Sintang Penilaian kesiapan menggunakan analisis pembobotan atau skoring. Penilaian skoring ini bertujuan untuk mengetahui bobot setiap kriteria pada setiap kecamatan, sehingga setiap kecamatan memiliki bobot atau skor dan dapat diketahui potensi dukungan terhadap pengembangan kawasan agropolitan. Kriteria tersebut meliputi potensi fisik, agribisnis, komoditas, infrastruktur dan kelembagaan. Pemberian scoring ditunjukkan untuk menilai beberapa parameter terkait karakteristik kawasan agropolitan. Nilai setiap kriteria dalam penelitian ini ditetapkan dengan skor dan bobot. Pemberian skor pada setiap sub variabel terdapat nilai yang berbeda sehingga ditetapkan bobot tertinggi yaitu 10 dan terendah 2,5 dengan rentang skor 1 sampai dengan 4 untuk menyamakan agar setiap sub variabel menjadi sama pentingnya. Tabel 5.20. Skoring

Skor 4 3 2 1

Bobot 10 7.5 5 2.5

Keterangan Nilai bobot didapat dari 4/4x10 Nilai bobot didapat dari 3/4x11 Nilai bobot didapat dari 2/4x12 Nilai bobot didapat dari 1/4x13

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Setelah dilakukan pembobotan dari setiap faktor diatas dan dikalkulasikan selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui tingkat potensi dukungan faktor-faktor tersebut terhadap pengembangan kawasan agropolitan, dengan dibagi menajdi tiga kelas yaitu mendukung, kurang mendukung, dan tidak mendukung dengan mempertimbangkan bobot terendah, bobot tengah, dan bobot tertinggi. 5.2.1 Potensi Fisik Potensi fisik dibagi menjadi beberapa sub variable yaitu iklim, suhu, climate soil, curah hujan, jenis tanah, ketinggian, kemiringan, keberadaan sumber air, dan penggunaan lahan pertanian. Kondisi iklim dibagi menjadi empat yaitu tropis, sedang, sejuk, dan dingin. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.21. Tabel 5.21 Pembobotan Potensi Fisik Indikator Iklim Climate Soil

Pembobotan Tropis 10 R=120 10

Regosol, litosol, Jenis Tanah organosol dan rezina

Ketinggian Kemiringan Guna Lahan

2 0-500 10 0-2% 10 >50% 10

Sedang 7.5 R>40 7.5 Andosol, laterite grumosol, podsol dan podsolik 4 500-1500 7.5 2-15% 7.5 25-50% 6,7

Sejuk 5 R<40 5 Brown forest soil, non calcic brown dan mediteranian 6 1500-2500 5 15-40% 5 <25% 3,3

Dinging 2.5 R>120 2.5

Latosol

8 >2500 2.5 >40% 2.5

Alluvial, tanah clay, planosol, hidromorf kelabu, 10

Sumber: Diolah berdasarkan Pranoto, Lincah (2013)


Tabel 5.22. Pembobotan Potensi Fisik Kawasan Strategis Indikator

Iklim

Keterangan Tropis

Kecamatan Dedai

Tropis

Kecamatan Sungai Tebelian

Tropis

Kawasan Strategis

Tropis

Kecamatan Kayan Hilir

R<40

Kecamatan Dedai

R<40

Kecamatan Sungai Tebelian

R<40

Climate Soil

Jenis Tanah

Kondisi Eksisting Kecamatan Kayan Hilir

Kawasan Strategis

R<40

Kecamatan Kayan Hilir

Podsolit, Latosol

Kecamatan Dedai

Podsolit

Kecamatan Sungai Tebelian

Podsolit Latosol

Kawasan Strategis

Podsolit, Latosol <500mdpl, 500700mdpl, dan >700mdpl <500mdpl

Ketinggian

Kecamatan Kayan Hilir Kecamatan Dedai Kecamatan Sungai Tebelian

Kecamatan Kayan Hilir

<500mdpl <500mdpl, 500700mdpl, dan >700mdpl 0-2%, 2-5%, 1540%, dan >40% 0-2%, 2-5%, 1540%, dan >40% 0-2%, 2-5%, 1540% 0-2%, 2-5%, 1540%, dan >40% Pertanian 84%

Kawasan Strategis Kecamatan Kayan Hilir Kecamatan Dedai Kemiringan Kecamatan Sungai Tebelian Kawasan Strategis

Guna Lahan

Kecamatan Dedai

Pertanian 84%

Kecamatan Sungai Tebelian

Pertanian 94%

Kawasan Strategis

Pertanian 87%

Bobot

10

5

8

10

10

10

Jumlah

53

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Kawasan strategis memiliki nilai keseluruhan dari faktor potensi fisik sebesar 53 yang artinya dukungan potensi fisik sangat pesar terhadap pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Perlu adanya perlakuan lebih dan khusus terhadap climate soil karena variabel tersebut kurang mendukung untuk ditanami semua jenis komoditas pertanian. 5.2.2 Agribisnis Pembobotan untuk variabel agribisnis dibagi menjadi empat yaitu agribisnis hilir, usaha tani primer dan agribisnis hilir dengan pembobotan sebagai berikut: Tabel 5.23. Pembobotan Agribisnis Unsur Agribisnis

Unsur agribisnis hulu

Unsur usaha tani primer

Unsur agribisnis hilir Penduduk >50% </=50%

Keterangan Jika semua unsur agribisnis hulu terpenuhi Jika unsur agribisnis hulu terpenuhi sebagian Jika unsur agribisnis hulu tidak terpenuhi Jika memiliki tiga komoditas pertanian Jika memiliki dua komoditas pertanian Jika memiliki satu komoditas pertanian Jika memiliki industri olahan dan pemasaran Jika memiliki salah satu antara inudstri olahan atau pemasaran Jika tidak memiliki keduanya Jika penduduk yang bekerja di sektor pertanian

Bobot 10 6.7 3.3 10 6.7 3.3 10 6.7 3.3 10 5


Sumber: Diolah berdasarkan Pranoto, Lincah (2013) Tabel 5.24 Pembobotan Agribisnis Kawasan Strategis Unsur Agribisnis

Unsur agribisnis hulu

Unsur usaha tani primer

Unsur agribisnis hilir

Penduduk

Kondisi Eksisting Kecamatan Kayan Hilir memiliki 2 industri agribisnis hulu Kecamatan Dedai tidak memiliki industri agribisnis hulu Kecamatan Sungai Tebelian memiliki 8 industri agribisnis hulu Kecamatan Kayan Hilir memiliki 16 jenis komoditas Kecamatan Dedai tidak memiliki 17 jenis komoditas Kecamatan Sungai Tebelian memiliki 17 jenis komoditas Kecamatan Kayan Hilir memiliki 2 industri agribisnis hilir Kecamatan Dedai tidak memiliki industri agribisnis hulu Kecamatan Sungai Tebelian memiliki 2 industri agribisnis hilir Kabupaten Sintang memiliki penduduk sektor pertanian 64.55%

Jumlah

Bobot 6.7

10

6.7

10 33.4

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Kawasan Strategis memiliki nilai keseluruan agribisnis sebesar 33.4 yang artinya dukungan agribisnis sangat besar terhadap pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Terdapat faktor yang kurang pada agribisnis seperti tidak terdapatnya industri agrokimia, industri agro otomotif, dan industri olahan hasil pertanian masih sedikit dan pemasaran yang belum dilakukans secara giat, sehingga hasil pertanian yang dijual berupa bahan mentah. 5.2.3 Komoditas Pembobotan variabel komoditas dibagi menjadi dua, yaitu komoditas unggulan dan pemasaran. RPJMD Kabupaten Sintang Tahun 2021-2026 komoditas yang akan dikembangkan adalah tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu dan kacang tanah. Tanaman perkebunan adalah kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, kunyit, sedangkan peternakan adalah ternak sapi, kerbau, babi dan kambing. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.24.


Tabel 5.24. Pembobotan Komoditas Komoditas Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Kelapa Sawit Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Pemasaran

Keterangan

Bobot

Jika komoditas unggulan sesuai dengan pedoman yang sudah ditetapkan

10

Jika komoditas unggulan tidak sesuai dengan pedoman yang sudah ditetapkan

5

Jika memiliki potensi daerah pemasaran luar wilayah Jika memiliki potensi daerah pemasarn lokal

10 5

Sumber: Diolah berdasarkan Pranoto, Lincah (2013) Tabel 5.25. Pembobotan Komoditas Kawasan Strategis Komoditas Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Kelapa Sawit Kelapa Karet Kopi Jahe Lengkuas Kencur Kunyit Pemasaran

Keterangan

Bobot

Kecamatan Kayan Hilir komoditas unggulan padi dan kelapa sawit Kecamatan Dedai komoditas unggulan padi, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, kunyit

10

Kecamatan Sungai Tebelian memiliki komoditas unggulan padi, jagung, kacang tanah, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, dan kencur Daerah pemasaran hasil komoditas unggulan Kawasan Strategis mayoritas digunakan untuk kebutuhan lokal

Jumlah

5 15

Sumber: Olahan Penulis Kawasan Strategis memiliki nilai keseluruan komoditas sebesar 15 dan masuk kedalam klasifikasi kurang mendukung yang berarti dukungan komoditas besar terhadap pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Komoditas unggulan sudah sangat beragam namun kurangnya pemasaran komoditas ke wilayah yang lebih luas lagi sehingga rantai produksinya masih sebatas skala lokal. 5.2.4 Infrastruktur Pembobotan variabel infrastruktur didasarkan pada jumlah sarana agribisnis. Indikator infrastruktur agribisnis adalah gudang penyimpanan saprotan, tempat bongkar muat saprotan, sub terminal pengepul, gudang penyimpanan hasil pertanian, industri olahan hasil pertanian, sarana perdagangan, sub terminal agribisnis dan fasilitas perbankandan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.26.


Tabel 5.26. Pembobotan Infrastruktur Unsur infrastruktur agribisnis Gudang penyimpanan saprotan Tempat bongkar muat saprotan Sub terminal pengepul Gudang penyimpanan hasil Pertanian Industri olahan Sub terminal agribisnis Sarana Perdagangan Pasar Kecamatan Pasar desa Pasar hewan Toko Fasilitas Perbankan Bank Koperasi desa Koperasi simpan pinjam

Infrastruktur Agribisnis Hulu

Bobot

Jika semua unsur infrastruktur agribisnis terpenuhi

10

Jika unsur infrastruktur agribisnis terpenuhi sebagian saja

6.7

Jika unsur infrastruktur agribisnis tidak terpenuhi semua

3.3

Sumber: Diolah berdasarkan Pranoto, Lincah (2013) Tabel 5.27. Pembobotan Infrastruktur Kawasan Strategis Unsur infrastruktur agribisnis Gudang penyimpanan saprotan Tempat bongkar muat saprotan Sub terminal pengepul Gudang penyimpanan hasil Pertanian Industri olahan Sub terminal agribisnis Sarana Perdagangan Pasar Kecamatan Pasar desa Pasar hewan Toko Fasilitas Perbankan Bank Koperasi desa Koperasi simpan pinjam

Infrastruktur Agribisnis Hulu

Bobot

Kecamatan Kayan Hilir memiliki industri olahan, fasilitas perbankan, namun tidak memiliki sarana perdagangan

Kecamatan Dedai hanya memiliki sarana perdagangan dan fasilitas perbankan

6.7

Kecamatan Sungai Tebelian memiliki sub terminal pengepul, gudang penyimpangan hasil pertanian, industri olahan,

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Kawasan Strategis memiliki nilai keseluruan infrastruktur sebesar 6,7 yang artinya dukungan infrastruktur kurang terhadap pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Terdapat faktor yang kurang pada infrastruktur seperti belum terdapatnya gudang penyimpanan saprotan, tempat bongkar muat saprotan, sub terminal agribisnis, pasar kecamatan, pasar hewan, bank dan industri olahan hasil pertanian yang masih sedikit. 5.2.5 Kelembagaan Pembobotan variabel kelembagaan dibagi menjasi dua, yaitu terdapatnya lembaga pendidikan dan kelompok tani. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5.28.


Tabel 5.28. Kriteria Kelembagaan Unsur Penyuluhan Pelatihan agribisnis Penelitian Terdapat kelompok tani atau tidak

Lembaga Pendidikan Jika semua unsur terpenuhi Jika unsur hanya beberapa saja yang terpenuhi Jika semua unsur tidak terpenuhi Jika terdapat kelompok tani dan masih aktif Jika terdapat kelompok tani dan tidak aktif

Bobot 10 6.7 3.3 10 5

Sumber: Diolah berdasarkan Pranoto, Lincah (2013) Tabel 5.29. Pembobotan Kelembagaan Kawasan Strategis Unsur

Kondisi Eksisting

Bobot

Penyuluhan

Kecamatan Kayan Hilir, Dedai, dan Pelatihan agribisnis Sungai Teblian tidak memiliki lembaga penyuluhan, pelatihan Penelitian agribisnis, dan penelitian Kecamatan Kayan Hilir memiliki kelompok tani dengan jumlah 5 unit Kecamatan Kayan Dedai memiliki Terdapat kelompok kelompok tani dengan jumlah 2 unit tani atau tidak Kecamatan Sungai Tebelian memiliki kelompok tani dengan jumlah 4 unit Jumlah

3.3

10

13.3

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Kawasan Strategis memiliki nilai keseluruan kelembagaan sebesar 13.3 dan masuk kedalam kategori kurang mendukung yang artinya dukungan kelembagaan besar terhadap pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Namun terdapat faktor yang kurang seperti kurang maksimalnya kinerja kelompok tani dikarenakan tidak tersedianya fasilitas penyuluhan, pelatihan agribisnis, dan penelitian bagi petani di setiap kecamatan pada Kawasan Strategis.


5.3 Penentuan Kesiapan Kawasan Strategis Sebagai Kawasan Agropolitan Dalam penentuan kesiapan Kawasan Strategis sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang didasarkan atas analisis AHP. Dari hasil pembobotan setiap variabel pada masingmasing kecamatan sebelumnya dikalikan hasil bobot yang didapat dari AHP. Tabel 5.30. Perbandingan Variabel dalam AHP Kriteria A

Potensi Fisik

Agribisnis Komoditas Infrastruktur

9 9 9 9

8 8 8 8

7 7 7 7

6 6 6 6

5 5 5 5

4 4 4 4

3 3 3 3

2 2 2 2

1 1 1 1

2 2 2 2

3 3 3 3

4 4 4 4

5 5 5 5

6 6 6 6

7 7 7 7

8 8 8 8

9 9 9 9

Kriteria B Agribisnis Komoditas Infrastruktur

9 9 9 9 9 9 9

8 8 8 8 8 8 8

7 7 7 7 7 7 7

6 6 6 6 6 6 6

5 5 5 5 5 5 5

4 4 4 4 4 4 4

3 3 3 3 3 3 3

2 2 2 2 2 2 2

1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2

3 3 3 3 3 3 3

4 4 4 4 4 4 4

5 5 5 5 5 5 5

6 6 6 6 6 6 6

7 7 7 7 7 7 7

8 8 8 8 8 8 8

9 9 9 9 9 9 9

Kelembagaan Komoditas Infrastruktur Kelembagaan Infrastruktur Kelembagaan Kelembagaan

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Selanjutnya dilakukan perbandingan antar elemen kriteria dan perbandingan antara elemen alternatif untuk setiap kriteria. Selanjutnya menentuka nilai tingkat kepentingan elemen dalam bentuk pendapat kualitatif dan kuantitatif. Baik kriteria kualitatif maupun kriteria kuantitatif dapat dibandigkan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Berikut merupakan bobot dari setiap kriteria dan alternatif ari setiap variabel: Tabel 5.31. Bobot AHP Setiap Variabel

Variabel Potensi Fisik Agribisnis Komoditas Infrastruktur Kelembagaan CR

Priority Vektor 0.334 0.308 0.19 0.103 0.064 1.99%

Prioritas 1 2 3 4 5

Sumber: Diolah berdasarkan Pranoto, Lincah (2013) Berdasarkan hasil perhitungan AHP, diketahui urutan bobot untuk masing-masing indikator atau variabel berdasarkan besarannya. Indikator atau variabel yang memiliki nilai tertinggi adalah potensi fisik dengan nilai 0,334. Sedangkan indikator atau variabel yang memiliki nilai terendah adalah kelembagaan dengan nilai 0,064. Selanjutnya, untuk menentukan kategori kesiapan didapat dari perkalian bobot dari hasil pembobotan dikali bobot dari AHP. Hasil pembobotan atau skoring memiliki nilai terendah dan nilai tertinggi pada setiap variabel, kemudian nilai tersebut dikalikan dengan nilai bobot dari analisis AHP dengan perhitungan sebagai berikut:


Tabel 5.32. Menilai Kategori Kesiapan No 1 2 3 4 5

Bobot AHP

Kriteria

1 0.334 0.308 0.19 0.103 0.064

Potensi Fisik Agribisnis Komoditas Infrastruktur Kelembagaan Jumlah

Bobot dari analisis pembobotan Bobot Terendah Bobot Tertinggi Bobot Nilai Bobot Nilai 2 (1x2) 3 (1x3) 15.3 5.11 60 20.04 14.9 4.59 40 12.32 10 1.90 20 3.80 3.3 0.34 10 1.03 8.3 0.53 20 1.28 12.47 38.47

Sumber: Olahan Penulis, 2021 Dari tabel 5.32 di atas dapat diketahui nilai terendah dari semua variabel adalah 12,90 dan nilai tertinggi adalah 38,47 kemudian dibagi menjadi tiga kelas dalam menentukan kategori kesiapan sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Ruang Kawasan Agropolitan Tahun 2002 dengan menggunakan rumus interval. L=

𝑅 𝑘

Keterangan: P = lebar kelas R = range atau jangkauan yang didapat dari nilai tertinggi dikurangi nilai terendah k = banyaknya kelas Menentukan kelas kesiapan sebagai kawasan agropolitan

L=

38.47−12.47 3

= 8.7 Tabel 5.33. Kategori Kesiapan Kategori Siap Kurang Siap Tidak Siap

Kategori Kesiapan >29.88 21.17 - 29.87 <21.17

Sumber: Olahan Penulis 2021 Setiap indikator atau variabel telah memiliki bobot kemudian dikalikan dari hasil pembobotan atau skoring sebelumnya dan kemudian dijumlah setiap variabel. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 5.34. Tabel 5.34. Total Nilai Kesiapan Keseluruhan Kawasan Strategis No 1 2 3 4 5

Kriteria

Bobot AHP 1 0.334 0.308 0.190 0.103 0.064

Potensi Fisik Agribisnis Komoditas Infrastruktur Kelembagaan Jumlah

Kawasan Strategis Bobot Nilai 2 (1x2) 53.00 17.70 33.40 10.29 15.00 2.85 6.70 0.69 13.30 0.85 32.38

Sumber: Olahan Penulis 2021


Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui kesiapan Kawasan Strategis sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang termasuk kedalam kategori siap dengan perolehan nilai total sebesar 32.38. Siap menjadi kawasan agropolitan ini dilihat dari faktor potensi fisik, agribisnis, komoditas, infrastruktur, dan kelembagaan. Walaupun sudah dikatakan siap, kawasan strategis masih memiliki kekurangan pada faktor komoditas, infrastruktur, dan kelembagaan yang masih dalam kategori mendukung pengembangan kawasan strategis sebagai kawasan agropolitan.


BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Pada bagian awal penelitian disebutkan bahwa tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi karakteristik Kawasan Strategis dan kesiapan Kawasan Strategis sebagai kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Adapun kesimpulannya sebagai berikut: 6.1.1 Karakteristik Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Ekonomi 1. Potensi fisik kawasan strategis termasuk ke dalam kategori mendukung untuk dikembangan sebagai kawasan agropolitan dan luas lahan pertanian adalah 87%. Luas pertanian di masing-masing kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hilir sebesar 83%, Kecamatan Dedai sebesar 84%, dan Kecamatan Sungai Tebelian sebesar 94%. 2. Potensi agribisnis kawasan strategis termasuk dalam kategori mendukung untuk dikembangkan sebagai kawasan agropolitan. Namun masih terdapat permasalahan terkait penyediaan infrastruktur penunjang kegiatan agribisnis hulu, usaha tani primer dan agribisnis hilir. Sebanyak 63% penduduk menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai petani di bidang agrikultur. 3. Potensi komoditas kawasan strategis termasuk dalam kategori kurang mendukung untuk dikembangkan sebagai kawasan agropolitan. Dikatakan kurang mendukung karena tidak adanya fasilitas pemasaran untuk produk unggulan yang dihasilkan untuk mencapai pasar yang lebih luas lagi. Komoditas unggulan Kecamatan Kayan Hilir yaitu kelapa sawit dan hewan ternak babi. Komoditas unggulan Kecamatan Dedai yaitu padi, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur, kunyit dan hewan ternak sapi, kerbau, dan kambing. Sedangkan komoditas unggulan Kecamatan Sungai Tebelian yaitu padi, jagung, kacang tanah, kelapa, karet, kopi, jahe, lengkuas, kencur dan hewan ternak sapi, kerbau, dan kambing 4. Potensi infrastruktur kawasan strategis termasuk dalam kategori kurang mendukung terhadap pengembangan kawasan agropolitan. Terdapat faktor yang kurang pada infrastruktur seperti belum terdapatnya gudang penyimpanan saprotan, tempat bongkar muat saprotan, sub terminal agribisnis, pasar kecamatan, pasar hewan, bank dan industri olahan hasil pertanian yang masih sedikit. 5. Potensi kelembagaan kawasan strategis termasuk dalam kategori kurang mendukung untuk dikembangan kawasan agropolitan. Tidak tersedianya lembaga pendidikan untuk penyuluhan, pelatihan agribisnis, dan penelitian yang menyebabkan faktor tersebut kurang mendukung. Namun terdapat potensi lain yaitu terdapat 11 kelompok tani aktif yang tersebar di tiga kecamatan tersebut. 6.1.2 Kesiapan Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Ekonomi Berdasarkan hasil perhitungan analisis AHP diperoleh bobot tertinggi dimiliki oleh faktor potensi fisik dengan nilai 0,334 dan indikator terendah adalah kelembagaan dengan nilai 0,064. Hasil perkalian bobot dari pembobotan dengan bobot dari AHP dilihat dari faktor potensi fisik, agribisnis, komoditas, infrastrukur dan kelembagaan didapat nilai kesiapan Kawasan Strategis sebesar 32.38. Nilai tersebut masuk ke dalam kategori siap yang artinya Kawasan Strategis siap untuk dikembangkan atau dijadikan kawasan agropolitan Kabupaten Sintang. Akan tetapi perlu adanya perbaikan pada faktor komoditas, infrastruktur, dan kelembagaan untuk mengoptimalkan potensi yang sudah ada.


6.2 Rekomendasi 1. Perlu adanya perpanjangan rantai nilai dari setiap komoditas dengan pengadaan industri pengolahan untuk mengolah hasil produksi dari sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Selama ini hasil produksi masih dijual ke pasar dalam bentuk bahan mentah yang memiliki nilai jual rendah dibandingkan produk olahan jadi atau setengah jadi. Industri pengolahan yang ada saat ini masih terpusat di bagian pusat kota yaitu Kecamatan Sintang. Tujuan lain adanya industri pengolahan di kawasan strategis tersebut yaitu untuk menghemat total transport cost yang dikeluakan. 2. Berdasarkan hasil penelitian, dibutuhkan pengembangan agribisnis dari hulu, usaha tani primer, dan hilir. Penambahan infrastruktur seperti gudang penyimpanan saprotan, tempat bongkar muat saprotan, sub terminal pengepul, sub terminal agribisnis dan industri olahan hasil pertanian. Selain itu pembangunan Lembaga pendidikan untuk penyuluhan sangat dibutuhkan sebagai wadah bagi petani untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Perlu adanya tenaga ahli yang berperan dalam mendampingi dan memberdayakan petani lewat sosialisasi dan pengembangan kemampuan dengan intervensi teknologi. Dengan kata lain konsep agropolitan saat ini di tingkatkan menjadi agro-technopolitan. Hal ini dapat mendorong peningkatan kualitas SDM dan peningkatan produktivitas hasil produksi sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan 3. Berdasarkan hasil perhitungan analisis LQ dan Growth Share dapat menunjukkan komoditas unggulan dari masing-masing kecamatan. Ternyata komoditas unggulan dari masing-masing kecamatan berbeda. Hal ini menunjukkan perlunya pengoptimalan pemanfaatan sumber daya tersebut yang berfokus pada komoditas unggulan dari kecamatan tersebut. Hal ini akan membentuk klister-klaster dari setiap kecamatan sehingga bisa menggali potensi sumber daya dengan treatment khusus. 4. Perlu adanya pengoptimalan urban-rural linkage antara pusat kota yaitu Kecamatan Sintang dengan Kawasan Strategis yang masuk kedalam kawasan perdesaan. Adanya hubungan yang baik dapat membentuk kolaborasi dan mengintegrasikan sistem pangan perkotaan dan perdesaan. Selain itu menguatkan sistem pangan regional dan membuka interaksi langsung antara petani dan konsumsi tanpa harus melewati alur distribusi yang panjang. Adanya urban-rural linkage menjadi solusi terhadap pemerataan pembangunan dan mengurani ketimpangan wilayah.


DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Rahardjo. 2006. Pembangunan Pedesaan Dan Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. 2002. Pengertian Kawasan Agropolitan. 10 Desember 2021 Basuki, A.T., 2012. Pengembangan kawasan agropolitan. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 13(1), pp.53-71. Douglass, Mike. (1986) A Regional Network Strategy for Reciprocal Rural-Urban Linkages: An Agenda for Policy Research with Reference to Indonesia. Third World Planning Review 20 (1). Friedmann, John dan Mike Douglass. (1974) Pengembangan Agropolitan : Sebuah Siasat Baru Perencanaan Regional di Asia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Indonesia. Peraturan Presiden 63 Tahun 2020 Tentang Daerah Tertinggal 2020-2024 Pranoto, L., 2013. Kesiapan Wilayah Pengembangan Mojowarno Sebagai Kawasan Agropolitan Kabupaten Jombang (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya). RTRW Kabupaten Sintang Tahun 2016 – 2036 Soekartawi. 2005. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Raja Grafindo Persada: Jakarta Soenarno. (2003) Pengembangan Kawasan Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Wilayah. Jakarta: Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Suroyo, B.T. and Handayani, W., 2014. Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 25(3), pp.234-261. Sutawi. (2002) Manajemen Agribisnis. Malang: Bayu Media dan UMM Press.

Usya, N. (2006). Analisis Struktur Ekonomi dan Identifikasi Sektor Unggulan di Kabupaten Subang. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. IPB. Bogor.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Paper Isu Strategis KSK Ekonomi Kabupaten Sintang by qonieta maulidya - Issuu