Skip to main content

FRI VOL XXI/06 2026

Page 1


FOODREVIEW INDONESIA

Teknologi Susu

Bebas Laktosa: Solusi Bioteknologi

Penerapan Teknologi

Kecerdasan Buatan (AI)

pada Industri

Susu Modern

STRUKTUR

MIKRO SUSU: Kunci Rekayasa

Tekstur, Rasa, & Stabilitas

Produk Dairy

INDUSTRI PENGOLAHAN SUSU MASA DEPAN

Bulan Juni selalu menjadi momentum krusial bagi insan pangan global. Di bulan ini, diperingati empat hari besar yang saling berkaitan, yaitu Hari Susu Sedunia (1 Juni), Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), Hari Keamanan Pangan Sedunia (7 Juni), dan Hari Gastronomi Berkelanjutan (18 Juni). Rangkaian peringatan mestinya menjadi sebuah refleksi kolektif mengenai bagaimana industri, industri pangan, dan khususnya industri pengolahan susu (dairy) harus bergerak ke depan: memenuhi kebutuhan gizi global, dengan persyaratan mutlak yang pertama dan utama yaitu menjamin keamanan pangan, tanpa mengorbankan kelestarian bumi. Industri susu saat ini menghadapi tantangan kompleks untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak lingkungan. Tantangan ini menjadi semakin krusial bagi Indonesia yang saat ini tengah mengimplementasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana susu ditempatkan sebagai salah satu jenis pangan yang diutamakan untuk memperbaiki status gizi generasi masa depan.

Kondisi ini menuntut adanya inisiatif nyata di dalam negeri, mulai dari percepatan peningkatan populasi dan produktivitas ternak perah lokal, penguatan kemitraan dengan peternak rakyat, hingga pembenahan rantai pasok dingin (cold chain) demi menjaga kualitas susu segar. Menjawab tantangan sistemik tersebut, penerapan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi transformasi besar di sektor global. Integrasi teknologi ini secara masif mengubah sistem konvensional, mulai dari optimalisasi pemeliharaan ternak di hulu demi efisiensi sumber daya, hingga penjaminan mutu produk di hilir guna memastikan standar keamanan pangan yang ketat.

Konsep keberlanjutan pangan dan gastronomi lokal juga memicu pergeseran tren di tingkat konsumen. Susu tidak lagi diposisikan hanya sebagai pangan konvensional, melainkan bertransformasi menjadi pangan fungsional. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki kekayaan produkproduk berbasis susu tradisional yang sangat potensial untuk dikembangkan dan dilindungi, seperti dadih (susu kerbau fermentasi khas Sumatra Barat) dan dangke (keju lokal khas Sulawesi Selatan). Salah satu inovasi yang prospektif adalah pengembangan keju fungsional bernilai tambah (value-added cheese melalui pemanfaatan bakteri asam laktat (BAL) seperti genus Lacticaseibacillus yang menghasilkan peptida bioaktif, serta integrasi

senyawa antioksidan dari bahan lokal potensial —seperti kecombrang, buah merah, temulawak, hingga daun kelor, dan lain-lain— industri dapat menciptakan produk yang tidak hanya lezat tetapi juga mendukung kesehatan preventif.

Di sisi lain, diversifikasi produk susu juga menjadi kunci penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor. Di tengah momentum ini, susu kambing muncul sebagai alternatif strategis. Memiliki keunggulan gizi yang hipoalergenik dan struktur globula lemak yang lebih mudah dicerna, susu kambing berpotensi besar untuk diintegrasikan dalam gastronomi modern.

Namun, ekspansi pasar susu kambing domestik masih terbentur oleh kendala akseptabilitas sensoris, yaitu aroma khas prengus (goaty flavour). Artikel di edisi ini mengupas tuntas berbagai strategi pengolahan teknis untuk mereduksi aroma tersebut, mulai dari pendekatan on-farm hingga teknologi off-farm seperti vacuum flash evaporation dan lain-lain. Kendati demikian, industri dituntut untuk bijak: rekayasa ini harus tetap mengedepankan prinsip pemastian keamanan pangan, kesimbangan zat gizi, keberlanjutan dan tentu saja hal yang terkait dengan mutu yang sesuai dengan tuntutan konsumen.

Melalui edisi Juni 2026 ini, FoodReview Indonesia mengajak para akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk melihat bahwa masa depan industri susu terletak pada pengembangan ekosistem yang memperhatikan keseimbangan antara potensi lokal, sumber daya manusia, praktik budidaya ternak yang baik (Good Dairy Farming Practices), dan aplikasi teknologi. Semoga edisi ini dapat memicu komitmen untuk mengakselerasi inovasi produk dan ekosistem industri pengolahan susu menuju produk yang aman, bergizi, bermutu, dan berkelanjutan, serta selaras dengan sumber daya dan kearifan lokal—khas dan berdaya saing global.

Selamat membaca, Purwiyatno Hariyadi https://phariyadi.foodreview.co.id/

daftar isi

VOL. XXI No. 6 Juni 2026

Penerapan Teknologi

OVERVIEW

30

Teknologi Susu

Bebas Laktosa: Solusi Bioteknologi

Mendengar kata “susu”, sebagian besar masyarakat akan langsung mengaitkannya dengan slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”, di mana susu berperan sebagai pelengkap zat gizi. Secara definisi, susu merupakan cairan bergizi berwarna putih yang disekresikan oleh kelenjar mamalia, seperti manusia, sapi, domba, kerbau, dan kuda.

42

Kecerdasan Buatan (AI)

pada Industri Susu Modern

ASOSIASI

Dinamika Biaya

52

Pengemasan: Faktor

Baru di Balik Kenaikan

Harga Pangan

Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris

Staf Redaksi: Fitria Bunga Yunita | Sales, Advertising & Activities: Tissa Eritha

Digital Marketing: Fetty Fatimah | Business Development: Andang Setiadi | Desain & layout: Yanu Indaryanto

IT dan Website: Gugun Hendi Gunawan | Keuangan: Kartini, Padmawati Zainab

Penerbit: PT Media Pangan Indonesia

Alamat PT Media Pangan Indonesia: Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 Telepon: (0251) 8372333, (0251) 8322732 | +62 811 1190 039 | Fax: (0251) 8375754

Website: www.foodreview.co.id | E-mail: redaksi@foodreview.co.id, marketing@foodreview.co.id ISSN: 1907-1280

INGRIDIEN

54

59

Pengembangan Keju Fungsional & Bernilai Tambah

Keju merupakan produk olahan susu yang secara tradisional dikonsumsi sebagai sumber protein, lemak, dan kalsium. Seiring berkembangnya ilmu pangan dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan, keju tidak lagi diposisikan hanya sebagai pangan konvensional, tetapi juga sebagai pangan fungsional yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan tambahan di luar nilai gizi dasarnya.

STRUKTUR MIKRO SUSU:

Kunci Rekayasa Tekstur, Rasa, & Stabilitas

Produk Dairy

TEKNOLOGI

68

SUSU KAMBING: Tantangan Aroma Prengus dan Strategi Pengolahannya

Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia pada susu sapi dan produk susu impor, susu kambing muncul sebagai alternatif strategis yang berpotensi memperkuat diversifikasi pangan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

menerima

Grup WhatsApp FoodReview

Indonesia

Kepada FoodReview Indonesia saya ingin menanyakan apakah FoodReview menyediakan grup WhatsApp atau platform sejenis sebagai wadah untuk saling berbagi informasi dan berdiskusi? Terima kasih.

Taufik

Jakarta

Jawab:

Untuk memfasilitasi komunikasi, berbagi informasi, serta ruang diskusi antarpembaca, FoodReview Indonesia menyediakan saluran komunikasi resmi berupa grup WhatsApp. Anda dapat bergabung ke dalam jaringan komunitas kami melalui tautan berikut: https://chat.whatsapp.com/ HfikIkWxnSZ1MuWNf8IDES?mode=gi_t Terima kasih.

Q&A

Penambahan Saldo Pustaka Pangan

Kepada FoodReview Indonesia

Bagaimana cara melakukan pengisian saldo khusus untuk pembelian majalah edisi satuan di Pustaka Pangan? Terima kasih.

Harun

Semarang

Jawab:

Setelah berhasil membuat akun atau melakukan registrasi, silakan masuk ke akun Anda. Akses menu “My Account” dan lanjutkan dengan memilih opsi “Top Up” yang tertera. Selanjutnya, pilih metode pembayaran yang diinginkan dan tentukan jumlah saldo yang akan diisi, seperti Rp20.000 atau Rp40.000, atau nominal lain sesuai kebutuhan Anda untuk pembelian majalah edisi satuan. Setelah proses pembayaran berhasil diselesaikan, mohon segera hubungi layanan pelanggan FoodReview melalui WhatsApp di nomor +628111190039 dengan menyertakan bukti transfer agar saldo Anda dapat segera kami proses. Terima kasih.

FoodReview Indonesia Edisi Dairy

Dear FoodReview Indonesia, Saya adalah seorang praktisi pangan yang bekerja di sektor Dairy. Apakah saya bisa memperolah artikelartikel terkait dengan Dairy dari majalah FoodReview Indonesia? Terima kasih.

Indah Malang

Jawab: Setiap tahunnya kami memiliki edisi khusus terkait dengan Dairy. Selain itu, kami juga menyediakan paket khusus terkait topik Dairy dari beberapa tahun. Silakan cek di e-commerce kami atau hubungi bagian penjualan secara langsung ke nomor berikut: +62 811 1190 039 (WA). Terima kasih.

KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA

Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.

Majalah cetak edisi 2016-2020 masih bisa diperoleh melalui loka pasar kami seperti Shopee (Media Pangan Indonesia) & Tokopedia (Toko Kulinologi). Silakan ketik ‘Majalah FoodReview’ pada kolom pencarian. Sedangkan untuk ketersediaan edisi-edisi tertentu silakan menghubungi 0811 1190 039.

UBapanas Perkuat Standardisasi Keamanan Pangan Nasional

paya menjamin keamanan pangan nasional memerlukan pengawasan ketat yang dimulai sejak proses produksi di tingkat petani, penanganan pascapanen, penyimpanan, hingga jalur distribusi. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa jaminan keamanan pangan merupakan investasi jangka panjang yang krusial untuk membangun sumber daya manusia yang sehat, aktif, dan produktif. Komitmen ini sekaligus memperingati

Hari Keamanan Pangan Sedunia

(World Food Safety Day) setiap tanggal 7 Juni, sebagai momentum bersama dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan yang aman bagi kesehatan masyarakat menuju visi Generasi Emas 2045.

Dalam mewujudkan ekosistem tersebut, penerapan pola kemitraan seperti contract farming antara pelaku usaha dan petani menjadi salah satu strategi efektif yang terus didorong oleh pemerintah. Melalui model kolaborasi ini, para petani tidak hanya mendapatkan kepastian pasar, melainkan juga menerima transfer

pengetahuan serta pendampingan intensif. Pembinaan ini memastikan para petani mampu menerapkan praktik budidaya yang memenuhi standar keamanan sejak di lahan, sehingga produk segar yang dihasilkan telah lolos kualifikasi sebelum masuk ke dalam rantai pasok dan sampai ke tangan konsumen akhir.

Di sisi lain, pemenuhan regulasi seperti administrasi pergudangan dan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) kini diperkuat melalui penyederhanaan layanan birokrasi oleh pemerintah. Proses penerbitan izin dan registrasi yang lebih cepat terbukti membantu pelaku usaha mempercepat distribusi produk di lapangan serta memberi dampak positif langsung bagi kesejahteraan mitra petani. Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani, diharapkan budaya keamanan pangan dapat mengakar kuat di seluruh rantai pasok guna menyediakan pangan yang aman, bermutu, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Fri-35

Transisi Menuju FSSC 22000 Versi 7

Di tengah ketatnya persaingan global, penerapan standar internasional sistem manajemen keamanan pangan menjadi krusial bagi industri untuk menjamin mutu produk, meminimalkan risiko kontaminasi, serta membangun kepercayaan konsumen lintas negara. Sebagai salah satu skema sertifikasi yang diakui secara global oleh Global Food Safety Initiative (GFSI), FSSC 22000 terus memperbarui standarnya guna merespons dinamika dan tantangan baru di industri rantai pasok pangan.

Sejalan dengan urgensi tersebut, SAFF Solution kembali menyelenggarakan webinar dengan topik “Introducing FSSC 22000 Version 7” pada Rabu, 13 Mei 2026, bekerja sama dengan Foundation FSSC. Webinar dibuka oleh Gilang

Anugrah Putra selaku Co-Founder SAFF

Solution yang menyoroti pentingnya kesiapan industri pangan dalam menghadapi perubahan persyaratan sertifikasi keamanan pangan global, khususnya setelah diterbitkannya FSSC 22000 Versi 7 pada 1 Mei 2026. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pemahaman terhadap perubahan persyaratan dan masa transisi menjadi langkah penting agar organisasi dapat menyesuaikan sistem secara terencana dan efektif, sekaligus memperkuat daya saing dan kepercayaan terhadap sistem keamanan pangan yang diterapkan.

Dalam kesempatan yang sama, Market Development Representative South Asia & Oceania Foundation FSSC, D.V. Darshane menjelaskan latar belakang pengembangan FSSC 22000 Versi 7 sebagai respons terhadap pembaruan GFSI Benchmarking Requirements

2024, integrasi seri ISO 22002-x:2025, penguatan aspek keberlanjutan, serta penyempurnaan skema sertifikasi keamanan pangan.

Beberapa poin utama yang dibahas meliputi penerapan ISO 22002-100 sebagai kerangka umum prerequisite programmes (PRPs) yang terintegrasi dengan seri ISO 22002 sektoral, penguatan keselarasan dengan GFSI

Benchmarking Requirements 2024, serta penyempurnaan sejumlah persyaratan tambahan FSSC. Versi terbaru ini juga memberikan perhatian lebih besar terhadap penguatan budaya keamanan pangan dan mutu, pengelolaan food

defense dan food fraud, pendekatan berbasis ilmiah dalam spesifikasi produk, serta kompetensi laboratorium dalam verifikasi dan validasi parameter kritis keamanan pangan sesuai prinsip ISO/IEC 17025.

Selain membahas perubahan persyaratan, webinar juga mengulas transisi implementasi dari FSSC 22000 Versi 6 menuju Versi 7. Peserta juga memperoleh gambaran mengenai masa transisi selama 12 bulan, di mana audit berbasis FSSC 22000 Versi 7 mulai diterapkan pada 1 Mei 2027. Gilang Anugrah Putra (RED)

CEGAH ANEMIA UNTUK GENERASI SEHAT & CERDAS

» Anemia di Indonesia

» Anemia Defisiensi Besi: Masalah Gizi Global yang Masih Terabaikan

» Pola Makan Gizi Seimbang: Kunci Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

» Intervensi Gizi & Gaya Hidup

» Resep Olahan Bahan Pangan Zat Besi pt media pangan indonesia

Development of Flavor Technologies for Enhancing Dairy Aroma and Taste

(Application of Hokkaido Milk Flavors and Milk Taste Powder)

Pendahuluan

Bahan baku susu banyak dimanfaatkan dalam berbagai produk makanan dan minuman, seperti susu segar, susu bubuk skim, dan krim.

Masing-masing memiliki karakteristik rasa dan tekstur yang khas serta memainkan peran penting dalam menentukan cita rasa dan kualitas produk akhir. Dalam beberapa tahun terakhir, preferensi konsumen menjadi semakin beragam sehingga mendorong pengembangan produk yang mampu memberikan cita rasa dan kepuasan yang lebih baik. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang sifat-sifat dasar susu, seperti flavor, mouthfeel, aroma, serta penerapannya secara optimal sesuai dengan tujuan produk akhir, menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya tarik produk

makanan dan minuman. Dengan latar belakang ini, OGAWA telah mengembangkan teknologi untuk mengekspresikan dan memanfaatkan karakteristik susu secara lebih efektif. Dan hasilnya adalah serangkaian perisa yang mampu memberikan rasa yang kaya dan segar dari susu Hokkaido, dengan design perisa tambahan yang mampu meningkatkan rasa manis alami dan rasa susu yang kaya.

Perisa yang mengekspresikan cita rasa susu Hokkaido

Selandia Baru dan negara negara Uni Eropa umumnya terletak di sekitar garis lintang 45 dan dikenal karena iklim yang sejuk dan stabil sehingga cocok untuk pemeliharaan sapi perah. Kesamaan kondisi geografis dan iklim ini,

menjadikan Hokkaido sebagai wilayah yang ideal untuk menghasilkan susu dengan kualitas tinggi dengan karakter rasa yang kaya dan berisi (full-bodied) serta clean (bebas dari off-flavor). Selain itu, Hokkaido memiliki padang rumput yang luas, sehingga menjadi lingkungan yang tepat dan ideal untuk pemeliharaan sapi perah. Produsen juga sangat berkomitmen terhadap kebersihan dan pengendalian mutu, serta didukung oleh sistem distribusi yang baik untuk menjaga kesegaran susu setelah pemerahan.

Perpaduan antara kondisi iklim dan alam yang mendukung, teknologi produksi yang maju serta sistem manajemen yang ketat, menjadikan susu Hokkaido sebagai produk susu berkualitas tinggi yang mewakili Jepang dan memperoleh apresiasi tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional. Dengan memanfaatkan bahan perisa alami dari bahan dasar susu Hokkaido, kami telah mengembangkan tiga jenis perisa, yaitu Fresh Milk, Cream, dan Sweetened Condensed Milk (lihat gambar di bawah).

Salah satu contoh efek penggunaan perisa Fresh Milk, ketika perisa tersebut ditambahkan ke dalam Whole Milk Powder (WMP), hasilnya terbukti bahwa karakter rasa produk menjadi lebih menyerupai profil rasa susu segar Hokkaido (lihat gambar di bawah).

“

MILK TASTE POWDER” untuk meningkatkan rasa manis dan kaya pada susu

Secara alami, susu memiliki rasa manis yang lembut serta karakter rasa yang tebal dan berisi. Dengan proses pengolahan yang tepat, kelezatan alami susu dapat terasa lebih kaya dan optimal. MILK TASTE POWDER (OGH14710) merupakan perisa alami yang terbuat dari bahan dasar susu dan dirancang khusus untuk meningkatkan aroma manis alami khas susu serta rasa susu yang mendalam.

Produk ini memberikan rasa manis susu yang seimbang, sedikit aroma karamel, dengan tekstur lembut di mulut, serta berpadu sangat baik dengan perisa berbasis susu yang sudah ada. Dalam bentuk bubuk, perisa ini mudah dalam penanganan dan memiliki stabilitas tinggi selama proses manufaktur, sehingga dapat diaplikasikan secara luas, tidak hanya pada minuman dan produk susu, tetapi juga pada berbagai jenis produk confectionery yang melibatkan proses pemanasan dengan suhu tinggi. (Lihat tabel)

Penutup

Rangkaian perisa ini dikembangkan dengan fokus pada karakteristik cita rasa alami susu, serta bertujuan untuk menonjolkan daya tarik bahan baku

susu secara alami. Perisa ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas di berbagai sektor industri pangan dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas rasa sekaligus memberikan nilai tambah pada produk, sejalan dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang dan semakin beragam.

Explore our flavor innovations at Food Ingredients Asia 2026. Visit us at Hall D1, Booth D1E28, 16-18 September 2026, at JIExpo Kemayoran.

Peluang Besar Industri Susu Nasional

Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan industri susu nasional melalui percepatan hilirisasi, peningkatan kualitas bahan baku, inovasi produk, serta penguatan kemitraan antara industri pengolahan susu dan peternak. Langkah strategis ini sejalan dengan momentum Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 untuk meningkatkan konsumsi susu masyarakat sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia yang tercatat sekitar 17,76 liter per kapita per tahun berdasarkan data tahun 2022 justru menjadi peluang besar bagi pertumbuhan sektor ini ke depan, mengingat 80% dari total kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional yang mencapai 5 juta ton per tahun saat ini masih dipenuhi melalui impor. Untuk mengurangi ketergantungan impor tersebut, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menegaskan pentingnya penguatan pasokan susu segar dalam negeri lewat ekosistem yang terintegrasi

antara peternak rakyat, koperasi, dan industri. Sebagai bentuk dukungan konkret di sektor hulu, Kemenperin telah mendorong digitalisasi dan penyediaan teknologi cooling unit di Tempat Penerimaan Susu (TPS). Hingga tahun 2024, program digitalisasi ini telah diterapkan pada 96 TPS di bawah naungan sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur dengan melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah. Selain itu, aplikasi pemantauan pasokan susu segar juga dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas ketersediaan bahan baku secara realtime. Pemerintah juga memberikan stimulus ekonomi melalui Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2024. Regulasi ini memberikan fasilitas pengembalian potongan biaya (reimbursement) hingga 35% untuk pembelian mesin serta peralatan baru bagi industri pengolahan susu, koperasi, maupun kelompok peternak mitra. Ke depan, peningkatan pendapatan masyarakat, tren gaya hidup sehat, serta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) diyakini akan menjadi katalisator kuat yang memacu investasi, produktivitas, dan kemandirian industri susu nasional secara berkelanjutan. Fri-35

INFO GAPMMI

� Pemerintah telah resmi menerbitkan

Surat Edaran Bersama (SEB) antara

Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala BKPM, Menteri Hukum, dan Kepala BPS (27/03) terkait implementasi penyesuaian KBLI 2025 dalam penyelenggaraan Perizinan

Berusaha Berbasis Risiko (PBBR), yang memastikan bahwa seluruh KBLI

2020 akan dikonversi secara otomatis menjadi KBLI 2025 melalui sistem OSS dan Sistem Ditjen AHU paling lambat 18 Juni 2026. Kebijakan yang dituangkan dalam SEB ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum, mempermudah pelayanan perizinan berusaha, serta menjadi pedoman teknis bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan implementasi penyesuaian klasifikasi usaha tersebut. Dokumen SEB dapat diunduh pada tautan https://bit.ly/ SEB_KBLI_2025

� GAPMMI secara proaktif mendukung kepatuhan pajak anggotanya dengan menyelenggarakan Coaching Clinic mengenai teknis pengisian SPT Tahunan 2025 melalui sistem Coretax DJP yang dihadiri oleh sekitar 30 pelaku usaha anggota GAPMMI.

� Pameran internasional Food Ingredients Asia (Fi Vietnam 2026) resmi dibuka di Saigon Exhibition & Convention Centre (SECC) (13/05), menghadirkan lebih dari 300 peserta pameran serta 9.000 pengunjung dari 40 negara sebagai salah satu forum terbesar di Asia Tenggara bagi

industri bahan baku pangan. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, hadir langsung dalam pembukaan tersebut untuk menegaskan peran strategis Indonesia sebagai motor penggerak industri makanan dan minuman (mamin) ASEAN sekaligus memperkuat diplomasi ekonomi regional.

� Koalisi Fortifikasi Indonesia (KFI) telah sukses menyelenggarakan Forum Strategis bertajuk “Meningkatkan Agenda Fortifikasi Pangan Indonesia: Memperkuat Sinergi, Bukti Ilmiah, dan Aksi Kolektif” di Hotel Borobudur, Jakarta (18/05). Forum yang didukung oleh TechnoServe ini bertujuan untuk memperkuat komitmen nasional dan kolaborasi multisektoral dalam meningkatkan efektivitas program Fortifikasi Pangan Skala Besar (LSFF) sebagai strategi kunci pemenuhan gizi masyarakat.

� GAPMMI menerima kunjungan

Duta Besar RI untuk Kuwait, Lena Maryana, di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, pada 22 Mei 2026 untuk mendiskusikan peluang kerja sama strategis guna meningkatkan ekspor

Fi Vietnam 2026 resmi dibuka di Saigon Exhibition & Convention Centre (SECC)

GAPMMI menerima kunjungan Duta Besar RI

untuk Kuwait

produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia ke pasar Kuwait. Diskusi ini merupakan tindak lanjut dari permohonan konsultasi bilateral dalam rangka penguatan hubungan dagang antara Indonesia dan Kuwait

� GAPMMI menerima kunjungan delegasi dari Anhui, Tiongkok, di Sekretariat GAPMMI, Jakarta (25/05), untuk menjajaki potensi kerja sama strategis di sektor industri makanan dan minuman. Dalam pertemuan tersebut, pihak delegasi Anhui menawarkan skema Original Equipment Manufacturer (OEM) untuk produk mi dan camilan sebagai langkah konkret dalam memperkuat penetrasi produk mereka ke pasar Indonesia.

� Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Mumbai bekerja sama dengan GAPMMI telah sukses menyelenggarakan kegiatan Virtual Business to Business (VB2B) Meeting (26/05) melalui zoom meeting, kegiatan ini sebagai upaya strategis dalam mendorong penetrasi produk makanan dan minuman Indonesia ke pasar India.

� GAPMMI menerima kunjungan delegasi Timor Leste yang dipimpin oleh Bpk. Jorge Ferreira selaku Director General of Industry RDTL

di kantor Indofood (26/05), dengan tujuan mendiskusikan peluang kerja sama strategis di sektor industri makanan dan minuman, termasuk pembahasan mengenai insentif investasi berupa pembebasan pajak selama 20 tahun, usulan penyederhanaan birokrasi perdagangan antarnegara, serta optimalisasi hilirisasi komoditas garam dan pengembangan perkebunan tebu di Timor Leste.

� Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menghadiri Opening Ceremony pameran FOOMA JAPAN 2026 yang akan diselenggarakan di Tokyo Big Sight, Jepang (02/06) Kehadiran Ketua Umum GAPMMI ini merupakan bentuk pemenuhan undangan dari pihak penyelenggara, The Japan Food Machinery Manufacturers’ Association (FOOMA.

� Wakil bendahara umum & team Kebijakan public GAPMMI, Khrisma Fitriasari hadir mewakili Ketua Umum GAPMMI dalam acara peer review Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelindungan Konsumen yang diselenggarakan oleh DPD RI (02/06). Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada perspektif pelaku usaha terkait keseimbangan pelindungan konsumen dan kepastian berusaha, implementasi kewajiban pelaku usaha dalam perdagangan konvensional maupun digital, serta dampak pengaturan terhadap sektor industri makanan, minuman, dan UMKM. Fri-27

Pameran Kemasan WEPI 2026

Segera

Dilaksanakan di Jakarta

Industri kemasan di Asia Tenggara bersiap menyambut gelaran The 2nd World Expo of Packaging Industry (WEPI) - Southeast Asia 2026 yang diselenggarakan oleh RX pada 27 hingga 29 Agustus 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Indonesia. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan ini, Indonesia melaju cepat menjadi jembatan penting bagi sektor manufaktur dan investasi asing. Lonjakan tersebut didorong oleh pesatnya pertumbuhan sektor bisnis digital seperti e-commerce, layanan pesan-antar makanan, industri pangan, hingga sektor farmasi yang secara konsisten memicu tingginya permintaan terhadap kemasan kertas, kemasan ramah lingkungan, serta teknologi kemasan pintar (smart packaging).

WEPI 2026 memperbarui skala kegiatannya melalui sinergi strategis bersama tiga pameran besar lainnya,

yaitu Paper Chain Expo, Pack Plus, dan Bakery ASEAN. Integrasi ini sukses menciptakan sebuah platform dagang internasional satu pintu (one-stop platform) yang merangkai seluruh rantai pasok industri secara komprehensif, mulai dari penyediaan bahan baku kertas dan zat kimia, manufaktur peralatan, proses cetak kemasan, hingga aplikasi pada produk akhir. Dalam memperkuat penetrasi pasar, pameran ini menggandeng Asosiasi Kotak Karton Gelombang Indonesia (AKKGI) yang akan membawa seluruh unit anggotanya untuk berpartisipasi sekaligus menyelenggarakan Konvensi Tahunan dan Gala Dinner 2026 di lokasi pameran. Guna memaksimalkan efisiensi bisnis, program pencocokan bisnis eksklusif bernama Targeted Attendee Program (TAP) akan mempertemukan para eksahibitor secara presisi dengan lebih dari 25.000 pembeli berkualitas tinggi. Tidak hanya menjadi ajang transaksi dagang, WEPI 2026 juga menjadi pusat edukasi tren masa depan lewat rangkaian forum tingkat tinggi yang mengupas tuntas isu manufaktur hijau, standardisasi kemasan pangan halal, integrasi rantai pasok, konsep pabrik digital, hingga terobosan aplikasi wadah kertas berbasis bubur kertas (pulp molding). Fri-35

Jasa Iradiasi Sinar Gamma & Electron Beam PT Rel-ion Sterilization Services

Dalam industri pangan modern, keamanan dan kualitas produk menjadi prioritas utama.

Sterilization Services hadir sebagai mitra strategis dengan layanan iradiasi sinar gamma dan electron beam yang terbukti efektif menjaga mutu sekaligus memperpanjang umur simpan produk. Teknologi ini mampu menekan pertumbuhan mikroorganisme berbahaya tanpa mengubah rasa, tekstur, maupun nilai gizi makanan. Tidak hanya untuk pangan, layanan iradiasi juga diaplikasikan untuk produk cosmetic, medical, pharmaceutical, pharmaceutical packaging, dan food packaging.

Iradiasi sinar gamma menggunakan sumber cobalt 60 yang menembus hingga ke inti produk, menjadikannya ideal untuk produk dengan kemasan

tebal atau padat. Sementara itu, electron beam menawarkan proses cepat, ramah lingkungan, dan efisien untuk produk dengan volume tinggi. Kedua metode ini telah diakui secara internasional sebagai teknik sterilisasi yang aman dan sesuai standar regulasi.

Dengan pengalaman panjang dan fasilitas berteknologi tinggi, PT Sterilization Services mendukung produsen pangan dan non pangan dalam memenuhi tuntutan pasar global yang semakin ketat. Layanan ini tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga membuka peluang ekspor dengan jaminan kualitas yang diakui dunia.

Melalui kombinasi inovasi dan komitmen terhadap standar internasional, Rel-ion menjadi solusi terpercaya bagi industri pangan, kesehatan, kemasan dan kosmetik.

Sinar Gamma Cobalt 60

Substansi Sains dan Data

di Balik Hari Keamanan Pangan Sedunia

Peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day) tahun ini membawa pesan mendalam yang melampaui seremoni tahunan melalui tema “From burden to solutions: safe food everywhere”. Fokus utama perayaan kali ini terletak pada peluncuran data berbasis sains oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai perkiraan beban global penyakit akibat pangan (foodborne diseases) periode 2000–2021 (Edisi 2026). Data ini memberikan gambaran komprehensif yang selama ini belum terpetakan mengenai kerugian manusia dan ekonomi, sehingga pemerintah di berbagai negara kini memiliki acuan berbasis data konkret untuk mengidentifikasi titik beban tertinggi, bahaya yang paling merugikan, serta populasi yang paling terdampak demi mengambil langkah politik dan kebijakan multisektoral yang tepat. Berdasarkan laporan tersebut, urgensi penanganan keamanan pangan global tercermin dari angka kasus yang masih sangat masif, di mana pangan

yang tidak aman menyebabkan 866 juta kasus penyakit di seluruh dunia dan hilangnya 57,1 juta tahun hidup sehat (disability-adjusted life years) pada tahun 2021. Laporan ini juga menyoroti kerentanan demografis yang mengkhawatirkan, di mana anak-anak menyumbang 29 persen dari total beban kesehatan masyarakat akibat penyakit bawaan makanan tersebut. Meski angkaangka tersebut tergolong tinggi, analisis tren jangka panjang WHO menunjukkan indikasi positif berupa penurunan insiden penyakit bawaan makanan secara global jika dibandingkan dengan data pada tahun 2000.

Penurunan tren penyakit ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis solusi yang nyata dan terarah di lapangan memberikan dampak yang signifikan. Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menegaskan bahwa data semata tidaklah cukup jika tidak ditransformasikan menjadi aksi nyata berupa penguatan sistem pengawasan pangan nasional serta efisiensi alokasi sumber daya. Solusi penurunan beban penyakit ini disokong kuat oleh kontribusi standardisasi teks Codex Alimentarius (FAO/WHO) yang menjadi panduan ilmiah mutakhir bagi negara dan industri global untuk memitigasi bahaya keamanan pangan utama, termasuk dalam tata laksana perdagangan pangan internasional. Fri-35

Pentingnya Investasi pada Budaya Keamanan Pangan dan Desain Higienis

Keamanan pangan kini telah bergeser menjadi investasi strategis, bukan hanya sekadar beban biaya. Urgensi ini diperkuat dengan data WHO per Juni 2026, bahwa pangan tercemar menyebabkan 866 juta orang sakit dan 1,52 juta kematian setiap tahunnya. Sedangkan bagi industri pangan, dampaknya sangat nyata mulai dari penarikan produk (product recall), tuntutan hukum, hingga hancurnya reputasi bisnis. Untuk memitigasi risiko tersebut dari hulu ke hilir, penerapan dua pilar utama berupa Budaya Keamanan Pangan (Food Safety Culture) dan Desain Higienis (Hygienic Design) menjadi mutlak diperlukan guna membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Dalam konteks penguatan pilar tersebut, Catalyst Consulting kembali menyelenggarakan forum tahunan yang kini memasuki pelaksanaan kali ketiga. Berlokasi di Bogor pada 11 Juni 2026. Mengusung topik “Indonesia Food Safety Leadership Forum 2026 – From Burden to Solutions: Safe Food Everywhere” forum ini sukses mempertemukan para

pakar dan praktisi lintas sektor untuk berbagi informasi, mengupas tuntas isu hygienic design, pemantauan lingkungan (environmental monitoring), hingga pengendalian risiko lingkungan produksi. Melalui ruang kolaborasi ini, para pelaku industri dapat saling bertukar wawasan terkait pembaruan standar terkini serta praktik-praktik terbaik (best practices) demi menjamin mutu dan keamanan produk di pasar nasional maupun global.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University sekaligus Keynote Speaker, Prof. Purwiyatno Hariyadi menyampaikan bahwa teknologi mutakhir tidak akan optimal tanpa komitmen perilaku. “Budaya keamanan pangan (food safety culture) yang melibatkan manajemen hingga semua pekerja adalah kunci utama. Selain itu, keamanan pangan tidak bisa hanya ditangani oleh satu lembaga atau satu sektor saja. Diperlukan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri, dan konsumen dengan dukungan lintas sektor melalui pendekatan One Health,” ungkapnya.

Salah satu pembicara sekaligus Founder & Director Catalyst Consulting,

Jamal Zamrudi, S.TP., M.P., menjelaskan pentingnya investasi pada desain higienis sejak tahap perencanaan agar industri pangan dapat mengeliminasi beban biaya operasional sekaligus membangun sistem keamanan pangan yang berkelanjutan. Merujuk prinsip European Hygienic Engineering and Design Group (EHEDG), desain higienis bukanlah sekadar pelengkap Prerequisite Programs (PRP).

Aspek desain higienis memegang peranan yang sangat fundamental. Salah satu elemen kritis dari desain ini yang sering kali tidak terlihat, namun menentukan stabilitas proses dan keamanan pangan (food safety), adalah sistem tata udara atau HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning).

Ir. Ade Maulana ST., M.M.T, Director of Shitshudo Thermal Engineering mengungkap lingkungan tropis seperti di Indonesia menjadi tantangan sendiri bagi industri pangan. Udara luar dengan temperatur rata-rata 35°C dan kelembapan relatif (Relative Humidity/ RH) 70% dapat mengandung hingga 24 gram air per meter kubik bisa menjadi sumber kehidupan utama pertumbuhan mikroba secara masif. Suhu tinggi akan menurunkan nilai RH, sementara suhu rendah akan menaikkannya. Oleh karena itu, pengaturan HVAC harus disesuaikan secara spesifik berdasarkan karakteristik produk (product-driven design), bukan sekadar mengikuti standar. Ade mencontohkan jika produk higroskopis seperti lini produksi cokelat, bubuk, dan gelatin maka memerlukan lingkungan yang dingin sekaligus kering

untuk mencegah produk menggumpal (caking) atau menjadi lengket sebelum dikemas. “Untuk produk roti (Bakery), proses pengembangan adonan memerlukan kondisi udara yang dingin namun tetap lembap agar tekstur luar tidak mengeras,” kata Ade. Tak hanya itu, perlu diperhatikan risiko kontaminasi fisik yang bisa terbawa melalui roda kendaraan/ troli (wheelborne) dan alas kaki pekerja (footborne). Menurut William Bimathesda dari PT Mahami Teknoclean Indonesia, pemanfaatan teknologi modern sebagai solusi pembersihan dan pengendalian kontaminasi secara otomatis atau mekanisme, seperti keset untuk roda kendaraan/troli yang efektif membersihkan kotoran yang menempel pada roda.

Kontaminasi silang juga bisa dicegah melalui Environmental Monitoring Program (EMP). EMP adalah sistem yang digunakan untuk melacak, mendeteksi, dan mengendalikan sumber kontaminasi di pabrik (terutama makanan, minuman, dan farmasi). Program ini berfungsi sebagai peringatan dini untuk mencegah penyebaran mikroba atau patogen sebelum mencemari produk akhir. Jun Barnes, Regional Customer Education Manager Neogen membagi fasilitas menjadi empat zona untuk menentukan frekuensi sampling, dan menawarkan Neogen Clean-Trace Luminometer, alat penguji ATP (Adenosine Triphosphate) untuk memverifikasi kebersihan permukaan pabrik pangan secara realtime. Fri-12

Modernisasi Rantai Pasok untuk Efisiensi

Distribusi

Japfa Food Indonesia, anak perusahaan dari Japfa Group yang bergerak di bidang industri agribisnis pangan, resmi memodernisasi perencanaan rantai pasoknya dengan mengadopsi platform perencanaan terpadu dari RELEX Solutions. Langkah strategis ini diambil guna menggantikan proses perencanaan manual berbasis spreadsheet yang dinilai kurang adaptif, seiring dengan melonjaknya permintaan pasar terhadap produk protein hewani di Indonesia.

Pada fase pertama yang saat ini telah berjalan di sembilan pabrik pengolahan utama, RELEX mendukung perencanaan operasional ayam hidup (live bird operations), termasuk mengoptimalkan rencana pemotongan agar pasokan lebih akurat dalam memenuhi permintaan pelanggan sekaligus menekan surplus produk. Menggunakan teknologi machine learning, platform tunggal ini mengintegrasikan perencanaan permintaan, master planning, distribusi,

serta inventaris demi menghasilkan perkiraan jangka pendek dan panjang yang lebih presisi. Melalui penyelarasan ini, Japfa Food Indonesia menargetkan peningkatan layanan pengiriman, pengurangan erosi margin, serta minimalisasi intervensi manual dalam operasional harian.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, tahapan selanjutnya diperluas divisi pengolahan lanjutan (further processing division) yang mencakup 7 pabrik tambahan dan 58 pusat distribusi. Ekspansi operasional ini akan menerapkan kapabilitas perencanaan terpadu yang sama guna memperkuat visibilitas di seluruh jaringan pasokan yang lebih luas. Melalui konektivitas sinyal permintaan ke dalam satu platform kontrol, perusahaan optimis dapat merespons dinamika pasar pangan dengan lebih lincah dan mendukung pertumbuhan bisnis protein yang berkelanjutan di Indonesia. Fri-35

Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day)

7 Juni 2026

Advanced Control Electronics Named Eriez 2025 APAC Merwin Award Winner

ERIE, PA — Eriez® announces Advanced Control Electronics Co., Ltd. (ACE), Thailand, has earned the 2025 Asia-Pacific (APAC) Merwin Award, acknowledging the company’s outstanding sales achievements and measurable impact across the region. This marks ACE’s second Merwin Award win, reinforcing its sustained performance and continued market momentum.

Presented annually, the APAC Merwin Award is given to a sales agent that exemplifies exceptional results, market leadership, and a steadfast commitment to advancing the Eriez brand. Named after the company’s founding family, the award reflects the vision and principles that established Eriez 84 years ago.

In 2025, Advanced Control Electronics surpassed annual sales targets,

delivered strong year-overyear growth, and expanded its footprint within key industries while elevating awareness and adoption of Eriez’ solutions across the APAC region.

“Advanced Control Electronics has played a key role in extending the reach of Eriez technologies,” said Ezio Viti, Regional Sales Director – APAC, Eriez. “Their ability to uncover new opportunities and build strong customer relationships continues to drive growth in the region.”

Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, flotation, metal detection, and material handling equipment. The company’s 1,000+ employees are dedicated to providing trusted technical solutions to the mining, food, recycling, packaging, aggregate, and other processing industries.

Headquartered in Erie, Pennsylvania, USA, Eriez designs, manufactures, and markets on six continents through 12 wholly owned international subsidiaries and an extensive sales representative network. For more information, visit eriez.com.

Dan Zimmerman Promoted to General Manager of Eriez-USA

ERIE, PA — Eriez® announces the promotion of Dan Zimmerman to General Manager of Eriez-USA. In this role, Zimmerman has full responsibility for leading the company’s U.S.-based business, including overall performance, commercial and financial execution, manufacturing, and supply chain management.

Zimmerman has been with Eriez since 2004 and most recently served as Director of Operations for EriezUSA. During his tenure, he has held a variety of leadership roles, including Metalworking Market Manager and Director of Business Development, contributing to the company’s growth, productivity, and overall performance.

“Dan has built a distinguished career at Eriez, marked by strong leadership, disciplined execution, and deep knowledge of our business and markets,” said Eric Nelson, Vice President, Global Operations at Eriez. “His broad cross-functional experience, spanning operations, commercial strategy, and financial leadership, positions him well to lead our U.S. organization into its next phase of growth.”

Throughout his career at Eriez, Zimmerman has played a key role in

expanding product offerings, strengthening manufacturing and supply chain capabilities, and advancing

continuous improvement initiatives across the organization.

Zimmerman earned a bachelor’s degree in finance from Gannon University and an MBA from the University of Pittsburgh. Prior to joining Eriez, he held roles in financial analysis, manufacturing operations, and business development with various global organizations.

Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, flotation, metal detection, X-ray inspection, and material handling equipment. The company’s 1,000+ employees are dedicated to providing trusted technical solutions to the mining, food, recycling, packaging, aggregate, and other processing industries. Headquartered in Erie, Pennsylvania, USA, Eriez designs, manufactures, and markets on six continents through 12 wholly owned international subsidiaries and an extensive sales representative network. For more information, visit eriez.com.

FOODREVIEW INDONESIA WEBINAR

Control of B. cereus in Food System: Mitigating Supply Chain Contamination from Raw Materials to Finished Products

Bacillus cereus (B. cereus) merupakan bakteri patogen yang kerap menjadi alasan di balik kasus keracunan pangan (foodborne disease outbreaks) global karena karakteristik sporanya yang sangat tangguh. Bakteri yang omnipresen di alam ini memiliki spora yang sangat resistan terhadap panas, asam, dan kondisi kering, sehingga mudah mencemari tanah, air, lingkungan pabrik, hingga komoditas pangan seperti beras, susu formula bayi, serta rempah-rempah seperti lada putih dan cabai akibat proses pascapanen yang kurang higienis. Di dalam fasilitas industri, spora patogen ini bahkan mampu menyusup melalui debu atau aliran udara dan membentuk lapisan biofilm yang menempel erat di bagian dalam pipa produksi stainless steel.

Untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri ini dari sampel produk pangan, biasanya media selektif seperti Mannitol

Egg Yolk Polymyxin (MYP) atau Bacara agar, di mana B. cereus akan menunjukkan reaksi positif terhadap enzim lesitinase tetapi tidak mampu menghidrolisis manitol. Melalui metode pengujian tersebut, keberadaan bakteri ini telah berhasil diisolasi dari berbagai pangan konsumsi, mulai dari nasi goreng hingga produk susu kedelai kemasan yang sempat ditarik dari pasar akibat suhu pemanasan pabrik yang tidak cukup kuat untuk mematikan spora. Menariknya, riset lokal pada kuliner tradisional menunjukkan bahwa penggunaan bumbu rempah pada rendang ternyata dapat membantu menghambat proses perkecambahan (germination) spora selama masa penyimpanan.

“Kelalaian dalam mengendalikan bakteri ini dapat memicu wabah Kejadian Luar Biasa (KLB) fatal melalui dua manifestasi klinis, yaitu sindrom diare akibat infeksi usus dan sindrom muntah akibat intoksikasi racun sereulide,” ujar Guru Besar Departemen

Ilmu dan Teknologi Pangan, Prof. Ratih

Dewanti, M.Sc. dalam FoodReview

Indonesia Webinar – Control of B. cereus in Food System: Mitigating Supply Chain Contamination from Raw Materials to Finished Products yang diselenggarakan beberapa waktu lalu secara Zoom. Rekam jejak keganasan racun ini tercatat dalam beberapa kasus tragis di dunia, seperti di Belgia pada tahun 2008 ketika seorang pemuda wafat mendadak setelah menyantap sisa spageti yang didiamkan selama 5 hari di suhu ruang dengan kadar sereulide mencapai 14.8 µg/g. Selain itu, kasus lasagna sisa

pada tahun 2022 juga menyebabkan seorang anak mengalami gagal fungsi multiorgan (multi-organ failure) seperti gagal hati akut, serta insiden salad pasta di Leuven pada tahun 2005 yang menewaskan seorang anak perempuan hanya dalam waktu 13 jam setelah dikonsumsi. Rentetan data ini menegaskan bahwa ketangguhan spora

B. cereus memerlukan pengawasan ketat, baik dalam manajemen rantai pasok industri maupun dalam kontrol suhu penyimpanan makanan di tingkat rumah tangga. Fri-35

AGENDA PANGAN

18-21

Juni 2026

25

Juni 2026

EASTFOOD INDONESIA 2026

Grand City, Surabaya

FOODREVIEW INDEPTH SEMINAR

PROTEIN MANAGEMENT:

TREN, INNOVATION AND TECHNOLOGY IN THE FOOD AND DAIRY SECTORS

IPB International Convention Center Bogor

9-12

Juli 2026

16-18

Juli 2026

28-29

Juli 2026

NUSANTARA FOOD & HOTEL

ICE BSD City, Tangerang

FOOD & HOSPITALITY

INDONESIA EXHIBITION

JIExpo, Kemayoran, Jakarta

FOOD MANUFACTURING INDONESIA

JIExpo, Kemayoran, Jakarta

16-18

Sept 2026

24

Sept 2026

FI ASIA 2026

JIExpo, Kemayoran, Jakarta

FOODREVIEW INDEPTH SEMINAR

INGREDIENTS FOR BETTER BAKERY PRODUCT

IPB International Convention Center Bogor

3-5

Nov 2026

4-7

Nov 2026

HEATECH INDONESIA

JIExpo, Kemayoran, Jakarta

KRISTA INTERFOOD

NICE PIK 2, Tangerang

IIFEX - EASTFOOD INDONESIA EXPO

The 16th International Exhibition on Food & Beverage Products, Ingredients, Technology and Services

Variolac® whey permeate: the functional milk solid for cost-effective foods

As rising ingredient costs continue to challenge food manufacturers, Variolac® whey permeate from Arla Foods Ingredients offers a smart solution by combining cost optimization with reliable dairy performance.

This high-quality whey permeate delivers a clean, mild dairy taste and a consistent mineral profile, supporting stable processing across applications such as recombined milk, dairy beverages, nutritional powders, as well as bakery and confectionery products. Its excellent dispersibility and low

hygroscopicity ensure smooth handling and consistent quality.

Naturally rich in lactose, Variolac® whey permeate enables balanced sweetness while helping reduce reliance on higher-cost milk solids.

To support growing demand, Arla Foods Ingredients is expanding its drying capacity, increasing output while ensuring products meet the same high standards as existing production. This investment strengthens supply reliability and scalability for customers in Indonesia and beyond.

Teknologi Susu Bebas Laktosa:

Solusi Bioteknologi

Oleh Nurhayati

THP FTP UNEJ; Pengurus PATPI Pusat; Pengurus FPTI; Anggota P3FNI; Anggota PBBMI

Mendengar kata “susu”, sebagian besar masyarakat akan langsung mengaitkannya dengan slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”, di mana susu berperan sebagai pelengkap zat gizi. Secara definisi, susu merupakan cairan bergizi berwarna putih yang disekresikan oleh kelenjar mamalia, seperti manusia, sapi, domba, kerbau, dan kuda. Namun, konsumsi susu juga mengandung risiko bagi sebagian populasi, yaitu khususnya bagi sebagian masyarakat Indonesia yang tidak dapat mencerna laktosa, sehingga justru bisa menjadi pemicu gangguan pencernaan.

Karakteristik visual cairan

susu yang khas ini membuat berbagai produk minuman berbasis tanaman (plant-based) yang berwarna putih serupa sering kali ikut dikategorikan sebagai “susu nabati”. Sebagai contoh, santan kerap disebut sebagai coconut milk, sementara sari kedelai dikenal dengan istilah soy milk.

Dalam mendukung program Makan

Bergizi Gratis (MBG), susu hadir sebagai

minuman ideal yang menyempurnakan komposisi menu bergizi seimbang. Namun, bagi konsumen dengan kondisi alergi protein susu, produk pengganti berbasis nabati menjadi solusi mutlak. Kondisi pasar inilah yang kemudian mempopulerkan dua istilah di tengah masyarakat, yakni susu hewani dan alternatifnya, susu nabati. Perbandingan keduanya tersebut diuraikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan minuman susu hewani dan susu nabati (Rachtan-Janicka et al., 2025)

Komponen pembanding

Jenis protein lengkap

Kalsium

Bioavailabilitas

Kandungan gula

Lemak hewani

Tahapan proses

Kandungan bioaktif alami

Protein lengkap dengan 9 asam amino esensial

Tinggi berasosiasi dengan kasein

Tinggi terutama untuk kalsium

Gula susu asli (laktosa)

Sumber energi tinggi

Lebih sederhana, 4-6 tahapan

Peptida aktif, α-laktalbumin, imunoglobulin, laktoferin, faktor pertumbuhan, glikomakropeptida, membran globula lemak susu, dan oligosakarida susu

nabati

Umumnya tidak lengkap (kecuali kedelai yang lengkap namun kadar metioninnya sangat rendah dibanding susu sapi)

Rendah sehingga perlu fortifikasi

Lebih rendah terhadap kalsium, fosfor, seng, besi

Tidak ada laktosa, gula lainnya alami ada atau ditambahkan seperti glukosa, fruktosa, sukrosa

Energi biasanya lebih ringan

Lebih kompleks, 13-15 tahapan

Tahapan proses pengolahan

Lebih sederhana: 1) pemerahan, 2) pemanasan (pasteurisasi), 3) pendinginan, 4) pengemasan, 5) penyimpanan

Fitosterol, β-glukan, dan senyawa antigizi (oksalat, fitat, lektin, saponin)

Lebih rumit/banyak: 1) persiapan bahan (pencucian, perendaman), 2) penggilingan (ekstraksi), 3) penyaringan, 4) pemanasan (pasteurisasi), 5) penambahan rasa (netralisasi), 6) pendinginan, 7) pengemasan

1

Keistimewaan susu hewani

Susu hewani seperti susu sapi, susu kambing, susu kerbau, susu kuda, termasuk ASI (air susu ibu) dan lainnya memiliki beberapa keistimewaan nutrisi dan fungsional jika dibandingkan dengan susu nabati. Keistimewaan susu hewani yaitu:

Profil asam amino lengkap, yang mengandung kesembilan asam amino esensial (leusin, isoleusin, valin, lisin, treonin, metionin, fenilalanin, triptofan, histidin) dalam proporsi yang optimal bagi tubuh manusia sebagai sumber protein yang sangat baik, terutama untuk pertumbuhan anak, pemulihan otot, dan kesehatan umum.

2

Kaya kalsium dan mineral penting, untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang serta gigi dan kandungan mineral (fosfor, magnesium, seng, dan kalium) sangat diperlukan untuk metabolisme dan fungsi saraf.

3

Sumber penyerapan vitamin, seperti vitamin A, D, B2 (riboflavin), B12, dan niasin dalam bentuk yang mudah diserap tubuh. Vitamin D alami pada susu juga membantu penyerapan kalsium secara optimal.

4

Kandungan lemak yang mendukung energi, untuk aktivitas tinggi seperti pada usia anak-anak dan orang dengan kebutuhan kalori lebih besar contohnya atlet, serta mengandung asam lemak rantai pendek dan menengah yang lebih mudah dicerna.

5

Mendukung sistem imun, dengan kandungan laktoglobulin, laktoferin, dan imunoglobulin (terutama dalam kolostrum), yang dapat membantu sistem imun tubuh.

6

Mendukung pertumbuhan dan perkembangan, dengan kandungan IGF-1 (Insulin-like Growth Factor 1) dalam susu sapi yang dikaitkan dengan stimulus pertumbuhan, terutama pada anak-anak.

7

Bersifat sinbiotik, jika difermentasi oleh bakteri asam laktat dengan tambahan prebiotik seperti fruktooligosakarida (FOS), galaktooligosakarida (GOS), inulin, dan lainnya. Produk susu terfermentasi seperti yoghurt, dadih, dan kefir mengandung probiotik yang mendukung kesehatan pencernaan dan kekebalan tubuh.

Laktosa berbahayakah?

Kandungan laktosa pada beragam jenis susu hewani berbeda-beda tergantung sumbernya seperti yang disajikan pada Tabel 2. Kandungan laktosa pada susu ibu (ASI) adalah paling tinggi dari lainnya. Akan tetapi ASI lebih adaptif bagi bayi dibandingkan susu sapi maupun ternak lainnya. Secara fisiologis, meskipun kandungan laktosa

Tabel 2. Kandungan laktosa

pada beragam jenis susu hewani (Anderson et al., 2026).

Jenis susu

Susu segar (g/100mL)

Susu ASI 6,5-7,0

Susu sapi 4,6-4,8

Susu kambing 4,3-5,0

Susu domba ~4,7

Susu kerbau ~4,9

Susu onta 4,5

Susu keledai 6,3

Produk susu olahan (g/100g)

Yogurt alami ~4,7

Greek yogurt 2,7-3,2

Kefir ~3,1

Keju cottage segar 2,7-2,9

Mozzarella 2,5

Camembert/Brie (keju lunak) 1,0-2,0

Hard cheeses (Parmesan, Cheddar, Gruyère) <0,01)

Susu kental manis 9,5-12,5

Ice cream ≥5,0

Mentega <0,1

Susu bebas laktosa <0,1

pada Air Susu Ibu (ASI) paling tinggi, sistem biologis bayi telah dilengkapi dengan produksi enzim laktase endogen secara alami. Enzim laktase mampu langsung memecah laktosa menjadi energi serta mendukung penyerapan nutrisi dan pembentukan mikrobioma usus yang sehat, tanpa memicu gangguan pencernaan.

Kandungan laktosa dalam susu sapi dapat menunjukkan sedikit variasi tergantung pada jenis sapi, tahap laktasi, dan praktik pemberian pakan musiman. Namun, fluktuasi tersebut umumnya kecil, seringkali dalam beberapa persepuluh persen. Misalnya, kadar laktosa pada sapi Holstein dan Jersey dilaporkan sekitar 4,5% dengan deviasi standar sekitar 0,2-0,3%, akan tetapi kadar lipid dan protein dapat berkurang secara progresif atau cepat menurun selama masa laktasi.

Keberadaan laktosa pada susu acapkali sebagai allergen bagi penderita intoleran laktosa. Prevalensi intoleransi laktosa di Indonesia tergolong masih tinggi yaitu dialami oleh sekitar 50-60% dari total populasi. Angka ini meningkat seiring bertambahnya usia akibat penurunan produksi enzim lactase (Herdian et al. (2024). Berdasarkan data klinis pada anak di Indonesia, prevalensi intoleransi laktosa tersebar sekitar 20,8% - 21,3% pada anak usia 3–5 tahun; 35,3-57,8% pada anak usia 6–11 tahun; dan 73% pada anak usia 12–14 tahun. Kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik yang umum terjadi pada populasi di kawasan Asia.

Intoleransi laktosa adalah kondisi umum yang disebabkan oleh penurunan aktivitas laktase-florizin hidrolase di usus halus. Pada individu dengan nonpersistensi laktase (LNP), laktosa yang tidak tercerna mencapai usus besar yang selanjutnya difermentasi oleh mikrobiota usus, menghasilkan gas dan asam lemak rantai pendek (SCFA). Selain itu, fermentasi laktosa di usus besar dapat secara selektif merangsang pertumbuhan bakteri sakarolitik, berkontribusi pada komposisi mikrobiota yang terkait dengan peningkatan metabolisme glukosa dan pengurangan peradangan tingkat rendah. Interaksi tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan genetika inang dan ekologi mikroba dalam mengevaluasi dampak konsumsi susu terhadap risiko diabetes.

Proses ini mendasari gejala gastrointestinal intoleransi laktosa, tetapi juga dapat memiliki konsekuensi metabolik sistemik. SCFA, khususnya asetat, propionat, dan butirat, memberikan berbagai efek baik bagi fisiologi tubuh yakni berfungsi sebagai sumber energi untuk kolonosit, mengatur integritas pembatas usus, dan bertindak sebagai molekul pemberi sinyal yang mempengaruhi sensitivitas insulin, metabolisme lipid, dan jalur inflamasi (Barać et al., 2026). Butirat berfungsi sebagai sumber energi utama bagi kolonosit, propionat dapat menghambat glukoneogenesis hati dan memodulasi lipogenesis, sementara asetat telah terlibat dalam pengaturan nafsu makan dan metabolisme lipid,

yang secara bersamaan menghubungkan fermentasi laktosa di usus besar dengan efek sistemik pada homeostasis glukosa. Akibatnya, fermentasi laktosa pada individu LNP, meskipun menimbulkan gejala, dapat berkontribusi secara tidak langsung pada manfaat metabolik.

Susu dan makanan setara laktosa dapat menimbulkan peningkatan glukosa darah yang moderat, namun juga menginduksi respons insulin yang sangat tinggi. Keberadaan komponen bioaktif dari matriks susu yaitu asam amino rantai bercabang dapat merangsang sekresi insulin secara langsung atau melalui hormon inkretin. Secara spesifik, asam amino rantai bercabang seperti leusin dan isoleusin dapat secara langsung merangsang

sekresi insulin dengan bekerja pada sel β pankreas. Di sisi lain, peptida bioaktif hasil hidrolisis protein susu dapat menstimulasi pelepasan hormon

inkretin, seperti Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) oleh sel usus, yang kemudian memperkuat respons sekresi insulin tersebut (Shkembi dan Huppertz, 2023). Laktosa memiliki efek fisiologis yang sangat dipengaruhi oleh matriks makanan di sekitarnya.

Teknologi Dairy Lactose-Free

Teknologi dairy lactose-free adalah inovasi pangan yang memecah laktosa (gula susu) menggunakan enzim laktase.

Teknologi ini memungkinkan konsumen dengan intoleransi laktosa dapat menikmati nutrisi dan kebaikan susu

sapi tanpa efek samping seperti perut kembung. Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang meluas yang disebabkan oleh defisiensi laktase (β-galaktosidase) dan bertanggung jawab atas katabolisme produk susu.

Keunggulan lain dari susu bebas laktosa selain aman bagi penderita intoleran laktosa yakni tetap mempertahankan vitamin dan kalsium alami yang ada pada susu hewani. Selain itu teknologi dengan penambahan enzim laktase akan memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa sehingga dapat memberikan rasa manis alami glukosa tanpa tambahan gula sederhana seperti sukrosa. Galaktosa sangat krusial untuk pembentukan jaringan otak dan sistem saraf bayi yang sedang berkembang pesat.

Tabel 3. Jenis mikroba dan aktivitas unit enzim yang dihasilkan

Jenis mikroba Spesies / Isolat

Bakteri Asam

Laktat (BAL)

Bakteri Asam

Laktat (BAL)

Bakteri Asam

Laktat (BAL)

Lactobacillus amylophilus GV6 89,94 U/ml

Lactobacillus plantarum 25,17 U/mg

Streptococcus thermophilus 10 U/ml

Bakteri Bacillus licheniformis 18-36 U/ml

Khamir / Yeast

Kluyveromyces lactis 2,82-3,56 U/ mg

Kapang / Fungi Aspergillus oryzae 185,52 U/mg

Eksplorasi laktase mikroba merupakan solusi terapeutik yang ampuh karena keunggulannya yaitu produktivitas/hasil yang tinggi, produksi berbasis fermentasi lebih hemat biaya, dan kemudahan manipulasi mikroba. Hal penting yang harus diperhatikan yakni faktor-faktor yang bertanggung jawab atas stabilitas enzim seperti imobilisasi, mikroenkapsulasi, dan pengembangan formulasi tahan asam dan empedu. Perkembangan terkini guna meningkatkan efisiensi katalitik dan sifat fungsional laktase mikroba yakni dengan penilaian keamanan, persetujuan peraturan, dan prospek masa depan pengintegrasian preparat laktase mikroba ke dalam makanan fungsional dan farmasi, yang pada akhirnya membuka jalan bagi solusi

pH 6,5; Suhu 37oC

pH 6,0 - 7,0; Suhu 37oC

/ Literatur

Mahalakshmi det al., 2013

Anbalagan & Vaithilingam, 2021

pH 6,8; Suhu 40oC Vikas et al., 2014

pH 7,0, Suhu 35oC, Amin et al., 2023

pH 6,5-7.0; , Suhu 30-35oC

Wellenbeck et al., 2016

pH 4,5 - 5,0; Suhu 50-55oC Shi et al., 2022

yang lebih efektif, mudah diakses, dan permanen bagi individu dengan intoleransi laktosa.

Proses fermentasi susu asam seperti yogurt, kefir dan keju dapat menurunkan bahkan menghilangkan kandungan laktosa pada susu. Bakteri starter yogurt seperti Lactobacillus bulgaricus dilaporkan dapat memproduksi enzim laktase yang berfungsi mengubah laktosa menjadi asam laktat.

Mikroba pendegradasi laktosa adalah kelompok Bakteri Asam Laktat (BAL) yang menggunakan enzim laktase untuk menghasilkan energi dan asam laktat sehingga menciptakan lingkungan asam pada produk olahan susu. Kelompok mikroba utama ini terbagi menjadi beberapa bakteri penting yaitu:

� Bakteri termofilik (suka panas): Contoh utamanya adalah Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Keduanya bekerja sama memfermentasi susu secara optimal pada suhu sekitar 45oC, biasa digunakan dalam pembuatan yoghurt.

� Bakteri mesofilik (suka suhu ruang): Contohnya meliputi

Lactobacillus acidophilus, L. casei, dan Lactiplantibacillus plantarum yang umumnya digunakan sebagai kultur stater untuk susu fermentasi seperti kefir dan buttermilk. Selain bakteri baik tersebut juga perlu diwaspadai terdapat kelompok mikroba kontaminan yang merusak susu (bakteri patogen) seperti Escherichia coli dan Salmonella sp. yang juga mampu memfermentasi laktosa

namun menghasilkan gas dan asam yang merugikan.

Secara tradisional, β-galaktosidase diperoleh dari Aspergillus spp., Kluyveromyces spp., Bifidobacterium dan Lactobacillus dengan aktivitas dan stabilitas yang tinggi, dan teknik fermentasi yang lebih mudah. Namun, ekstraksi enzim intraseluler laktase tetap mahal sehingga aplikasinya akan lebih mudah dengan menggunakan sel utuh. Kemajuan dalam teknologi DNA rekombinan telah memungkinkan terciptanya strain hasil rekayasa yang mengekspresikan β-galaktosidase dari berbagai sumber, memperluas aplikasi industrinya.

Casciano et al. (2026) mengembangkan strain Lactococcus cremoris hasil rekayasa untuk

mengurangi laktosa susu menggunakan pendekatan sel utuh, tanpa memerlukan pemurnian enzim. Strain rekombinan yang mengekspresikan β-galaktosidase bifidobakteri dikonstruksi dan diuji kemampuannya untuk menghidrolisis laktosa dalam susu UHT (Ultra High Temperature). Hasil menunjukkan bahwa strain L. cremoris mampu mensekresikan enzim laktase dan lebih efisien dalam menghilangkan laktosa dengan stabilitas dan kinerja yang tinggi, serta menghasilkan metabolit bermanfaat yaitu asam lemak rantai pendek. Devi et al. (2026) melaporkan potensi Eschericia coli menunjukkan aktivitas enzim laktase tertinggi (51 ± 2 U/mg), diikuti oleh Lactobacillus sp. (43,33 ± 1,53 U/mg) dan Fusarium sp. (27,67 ± 1,15 U/mg). Meskipun E. coli umumnya dikenal sebagai bakteri indikator sanitasi dan memiliki strain indigenus saluran pencernaan yang tidak berbahaya, pemanfaatannya dalam industri pangan komersial tetap memerlukan proses pemurnian (purification) isolat enzim laktase secara ketat agar terbebas dari material sel utuh demi memenuhi regulasi keamanan pangan.

Yuliany et al. (2026) juga mengeksplorasi bakteri indigenus pendegradasi laktosa yang diisolasi dari susu sapi FH asal Rembangan Jember sebagai kandidat pendegradasi laktosa yang nantinya akan diaplikasikan pada fermentasi minuman susu. Diperoleh 8 isolat bakteri unggul gram positif yang masih dalam tahap identifikasi

molekuler untuk memastikan strain bakteri tersebut.

Penelitian lebih lanjut dapat melakukan pengembangan strain penghasil laktase yang kuat dan berdaya hasil tinggi dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap formulasi produk susu bebas laktosa dan memperluas aplikasi bioteknologi dalam industri makanan, farmasi, dan nutrisi.

Referensi

Anderson, C. E., Ritchie, L. D., Whaley, S. E., & Chaparro, M. P. (2026). Infant intake of non-lactose carbohydrates in milk feeding is associated with lower diet quality scores for dairy and protein from ages 13-72 months. The Journal of Nutrition, 101556.

Barać, M., Barać, N., Taljić, I., & Sarić, Z. (2026). Lactose and type 2 diabetes: Nutritional and metabolic perspectives. Mljekarstvo: Dairy Experts Journal, 76(2), 63-78.

Casciano, F., Nissen, L., Gianotti, A., & Yebra, M. J. (2026). Engineering lactococci to reduce human lactose intolerance; biotechnology and risk/benefit assessment toward the gut microbiota of lactoseintolerants. Food Research International, 118579.

Devi, H.J., Singh, E.M., Devi, Y.A. (2026). Microbial production of b-galactosidase under submerged fermentation: isolation and screening of lactaseproducing strains from natural sources. Asian Jr of Microbiol Biotech Env Sc, 28 (1–2): 109-113

Herdian, R. B., Syafitri, M., & Fauzi, A. N. (2024). A qualitative content analysis on milklife instagram towards awareness of lactose-free milk on urban Indonesian consumer. Ilomata Int J Soc Sci, 5, 220236.

Rachtan-Janicka, J., Gajewska, D., Szajewska, H., Włodarek, D., Weker, H., Wolnicka, K., ... & Hamulka, J. (2025). The role of plant-based beverages in nutrition: An expert opinion. Nutrients, 17(9), 1562.

Shi, X., Wu, D., Xu, Y., & Yu, X. (2022). Engineering the optimum pH of β-galactosidase from Aspergillus oryzae for efficient hydrolysis of lactose. Journal of dairy science, 105(6), 4772-4782.

Yuliany, N.N., Arymurti, S., Nurhayati, N. (2026). Isolasi dan identifikasi bakteri penghasil laktase pada susu sapi asal Rembangan Jember. Progress Report Tesis Magister Biologi, FMIPA UNEJ.

Penerapan teknologi Kecerdasan Buatan (AI)

pada Industri Susu modern

Oleh Netty Kusumawati Program Studi Teknologi Pangan

Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Industri susu selalu menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, dan inovasi secara terus-menerus. Untuk menjawab tantangan tersebut, salah satu transformasi besar yang dilakukan di industri susu global adalah penerapan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI). Integrasi teknologi ini secara masif mengubah sistem konvensional, mulai dari optimalisasi pemeliharaan ternak di hulu hingga penjaminan mutu produk di hilir.

Kecerdasan buatan mengintegrasikan pembelajaran mesin (Machine Learning/ML), analitik big data (Data Analytic/DA), dan algoritma prediktif (Predictive Algorithms/PA) untuk mengoptimalkan proses, meningkatkan efisiensi, serta mendorong inovasi (Misra et al., 2022). Integrasi AI ke dalam industri susu dengan cepat mengubah praktik

tradisional di seluruh rantai, mulai dari manajemen peternakan sebagai penghasil bahan baku susu hingga pengembangan produk olahan susu. Penerapan sistem berbasis AI menjadi pilar penting seiring dengan tuntutan konsumen yang semakin tinggi atas keamanan, kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

AI dalam pengelolaan

peternakan sapi perah dan peningkatan produktivitas

Tahap awal rantai industri susu dimulai dari peternakan sapi perah. Pada tahap ini, kecerdasan buatan AI banyak digunakan untuk meningkatkan produktivitas ternak dan efisiensi operasional peternakan. Sistem otomatisasi peternakan memanfaatkan infrastruktur Internet of Things (IoT)—yaitu jaringan perangkat fisik yang terintegrasi, seperti sensor cerdas dan kamera pemantau—untuk mengumpulkan data perilaku serta kondisi fisiologis sapi secara real-time. Data masukan yang ditransmisikan melalui jaringan IoT tersebut kemudian diolah oleh algoritma AI guna menghasilkan analisis prediktif dan keputusan manajemen yang presisi.

Salah satu tantangan besar di industri susu adalah ketidakpastian produksi susu akibat fluktuasi cuaca, kondisi ternak, dan kualitas pakan. AI memungkinkan prediksi produksi susu dengan akurasi tinggi melalui analisis data historis dan faktor lingkungan yang memengaruhinya (Alwadi et al., 2024). Model prediktif berbasis AI dapat diterapkan untuk memprediksi produksi susu, pakan yang diperlukan, hingga potensi masalah dalam rantai pasok. Informasi tersebut penting bagi industri pengolahan untuk merencanakan kapasitas produksi dan distribusi produk susu secara lebih efisien.

AI memfasilitasi pemantauan dalam pemeliharaan dan penilaian kondisi hewan ternak perah seperti asupan pakan, deteksi kehamilan, pencegahan penyakit, serta hasil dankualitas susu. Teknologi AI digunakan untuk menyusun

strategi pemberian pakan yang optimal sesuai dengan kondisi hewan ternak (umur, periode laktasi, dan berat badan) guna menghasilkan produktivitas susu yang tinggi. Dengan demikian, penggunaan pakan menjadi lebih efisien. Sensor pintar dapat memantau aktivitas sapi, seperti pola makan, waktu istirahat, suhu tubuh, aktivitas berjalan, serta frekuensi pemerahan. Data tersebut dianalisis menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk mendeteksi kondisi kesehatan sapi lebih awal, seperti stres panas, gangguan metabolik, mastitis, maupun masalah reproduksi. Deteksi dini memungkinkan peternak melakukan tindakan cepat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius, sehingga dapat mengurangi kerugian ekonomi.

Teknologi pemerahan otomatis (milking robots) juga semakin berkembang di peternakan modern. Teknologi ini mengintegrasikan AI dan perangkat penampil visual untuk mengenali posisi pemerahan yang

tepat, melakukan proses pemerahan secara otomatis, serta menganalisis komposisi kimia dan karakteristik fisik yang mencerminkan kualitas susu. Pemantauan kualitas susu sejak awal memungkinkan pengendalian dini jika terjadi penyimpangan.

Penerapan AI untuk

mendukung keberlanjutan

Selain meningkatkan produktivitas, AI juga berkontribusi pada aspek keberlanjutan (sustainability). Salah satu isu yang sering dikaitkan dengan industri peternakan susu adalah keberlanjutan terkait emisi gas rumah kaca, penggunaan air, dan pengelolaan limbah peternakan. AI dapat memantau konsumsi energi, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan limbah secara lebih optimal. AI dapat memperkirakan emisi gas metana berdasarkan metabolisme sapi dengan pola pakan tertentu. Dengan pendekatan tersebut, peternak dapat menyusun strategi

pemberian pakan yang lebih ramah

lingkungan tanpa menurunkan hasil produksi susu. Teknologi ini sejalan dengan tren global menuju industri pangan yang berkelanjutan dan rendah karbon.

Penerapan AI dalam

pengolahan susu

Pada tahap pengolahan produk olahan susu, AI memiliki peran besar dalam otomatisasi proses dan pengendalian mutu. Industri susu modern menghasilkan volume data yang sangat besar dari berbagai parameter proses seperti suhu, tekanan, pH, viskositas,

homogenisasi, dan fermentasi. AI mampu mengolah data tersebut untuk memastikan proses berjalan secara optimal dan konsisten (Wang, 2025).

Dalam proses pasteurisasi, misalnya, AI dapat memonitor parameter suhu dan waktu secara real time untuk memastikan keamanan mikrobiologis produk tanpa menyebabkan kerusakan zat gizi yang berlebihan. Sistem ini juga dapat mendeteksi penyimpangan proses secara real time sehingga dapat diatasi lebih cepat dan mengurangi kerugian.

Pada industri pengolahan produk susu fermentasi, sistem berbasis AI dapat digunakan untuk memantau dan mengendalikan kondisi fermentasi

secara otomatis dan akurat (Adeleke et al., 2025). Sistem semacam itu mampu memprediksi titik akhir fermentasi berdasarkan perubahan pH, viskositas, dan aktivitas mikroba. Hal ini membantu menghasilkan kualitas produk yang lebih seragam serta mengurangi risiko kegagalan pada setiap batch.

Teknologi visi komputer berbasis AI juga semakin banyak digunakan untuk inspeksi mutu produk susu. Kamera dan sensor optik yang dapat mendeteksi perubahan warna, tekstur, keberadaan partikel asing, atau cacat kemasan secara otomatis dengan akurasi tinggi. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi inspeksi sekaligus mengurangi

ketergantungan pada pemeriksaan manual.

Penerapan AI dalam keamanan pangan, rantai pasok dan distribusi

Keamanan pangan sangat krusial dalam industri susu karena produk susu sangat mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme yang dapat berakibat pada penurunan mutu, kerusakan produk, bahkan keracunan pada konsumen. AI membantu meningkatkan sistem keamanan pangan melalui pemantauan data secara otomatis dan kontinu serta analisis risiko yang lebih cepat (Chhetri, 2024). Berdasarkan data kualitas bahan baku, parameter proses, dan kondisi penyimpanan, sistem berbasis AI dapat mendeteksi pola yang terkait dengan potensi kontaminasi mikrobiologis, sehingga tindakan korektif dapat dilakukan sebelum produk sampai ke konsumen. Integrasi AI dengan teknologi blockchain memungkinkan ketelusuran yang lebih besar (Casino et al., 2020). Konsumen dapat mengetahui asal susu, kondisi penyimpanan, proses distribusi, dan bahkan tanggal produksi dengan lebih akurat. Transparansi menjadi semakin penting karena konsumen semakin peduli terhadap keamanan pangan. Dalam kasus penarikan produk (product recall), sistem AI dapat membantu mengidentifikasi lot produk yang bermasalah dengan cepat sehingga meminimalkan dampak ekonomi dan reputasi perusahaan.

Terkait distribusi, sistem berbasis AI dapat melacak pergerakan produk

makanan melalui rantai pasokan (supply chain, yaitu sistem logistik yang menghubungkan proses produksi hingga konsumen), sehingga memungkinkan identifikasi dan penarikan produk yang terkontaminasi dengan cepat, serta menjamin keamanan pangan. Teknik pembelajaran mendalam (deep learning, yaitu cabang pembelajaran mesin yang menggunakan jaringan saraf buatan untuk menganalisis data kompleks) telah terbukti memberikan informasi mengenai risiko yang terkait dengan produk makanan serta potensi penarikannya dengan mengandalkan data historis. Produk susu memiliki umur simpan yang relatif pendek, sehingga pengelolaan rantai dingin (cold chain, yaitu sistem suhu terkontrol selama distribusi) menjadi sangat penting. Sensor pintar pada kendaraan untuk distribusi (perangkat yang secara otomatis mengukur dan melaporkan

data suhu) memungkinkan pemantauan suhu produk secara real time. Jika terjadi penyimpangan suhu yang dapat mengakibatkan kerusakan kualitas produk, sistem akan memberikan notifikasi secara otomatis. Teknologi ini sangat penting untuk menjaga mutu produk susu cair, yoghurt, es krim, maupun produk probiotik. AI membantu mengoptimalkan distribusi melalui analisis data permintaan pasar, kondisi transportasi, serta suhu penyimpanan. Selain itu, AI juga mampu mengoptimalkan rute distribusi sehingga dapat mengurangi biaya logistik dan emisi karbon.

Penerapan AI untuk pengembangan produk susu baru

Salah satu penerapan AI dalam industri pengolahan susu yang kini semakin populer adalah untuk

pengembangan produk baru atau inovasi (Khanashyam et al., 2025). Preferensi konsumen terhadap produk susu terus berubah, terutama terkait aspek kesehatan, rasa, tekstur, kandungan protein, kadar gula yang rendah, serta produk berbasis keberlanjutan.

Sistem berbasis AI memiliki kemampuan untuk memproses sejumlah besar data tidak terstruktur dari platform media sosial, ulasan daring, dan survei, yang akan membantu memahami preferensi yang muncul serta kesenjangan pasar, sehingga perusahaan dapat merancang produk baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Perkembangan industri pangan modern menunjukkan pergeseran paradigma dari pendekatan berbasis produksi (supply-oriented) menuju pendekatan yang berfokus pada kebutuhan dan preferensi konsumen (demand-oriented). Dalam industri susu, pendekatan tersebut menuntut

pengembangan produk yang berfokus pada pemenuhan ekspektasi konsumen terhadap rasa, aroma, tekstur, dan pengalaman sensori secara keseluruhan. Data hasil uji sensori dan preferensi konsumen menjadi sumber informasi yang sangat penting dalam perancangan produk baru. Metode konvensional seperti survei konsumen dan pengujian sensori memiliki kelemahan karena memerlukan biaya tinggi, waktu lama, serta menghasilkan data yang umumnya kompleks dan sulit untuk diinterpretasikan. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin dimanfaatkan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik produk dan tingkat penerimaan konsumen.

Melalui pemodelan berbasis data, AI mampu mengidentifikasi atribut sensori yang paling memengaruhi tingkat kesukaan konsumen sehingga dapat

memprediksi respons pasar terhadap suatu formulasi produk. Selain itu, kombinasi pembelajaran mesin dengan teknik optimasi cerdas memungkinkan simulasi berbagai alternatif formulasi secara virtual sehingga proses pengembangan produk menjadi lebih cepat dengan biaya yang lebih rendah. Untuk pengolahan produk olahan susu seperti yoghurt, sistem berbasis AI dapat menghubungkan data profil senyawa volatil, atribut sensori, dan preferensi konsumen guna menghasilkan formulasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Pendekatan ini mendukung pengembangan produk susu yang lebih inovatif sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan produk saat diluncurkan ke pasar (Bi et al., 2022).

Tantangan dan masa depan AI dalam industri susu

Di balik manfaat besar yang ditawarkan, teknologi AI menghadapi beberapa tantangan dan keterbatasan yang perlu diatasi dalam implementasinya. Salah satu kendala utama adalah investasi awal yang besar untuk pengadaan sensor, perangkat lunak, dan infrastruktur digital. Peternakan skala menengah dan kecil umumnya sangat terbatas dalam permodalan dan sumber daya manusia untuk mengadopsi teknologi ini. Ketersediaan data berkualitas, yang menjadi faktor penting dalam keberhasilan penerapan AI, juga menjadi kendala signifikan. Data yang kurang dari segi kuantitas maupun kualitas menyebabkan prediksi yang tidak akurat. Data yang andal dapat diperoleh

jika didukung dengan baik oleh dua hal, yaitu sistem digital yang digunakan dan operator yang kompeten. Selain itu, keamanan data dan privasi juga perlu diperhatikan saat menerapkan sistem berbasis AI, terutama pada sistem yang terhubung ke internet dan layanan komputasi awan. Industri harus memastikan data operasional dan rantai pasok terlindungi.

Perkembangan penerapan AI diperkirakan akan mempercepat perubahan industri susu menuju sistem produksi yang lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan. Teknologi AI meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas susu, sehingga mendukung penyediaan pangan yang aman, berkualitas, dan ramah lingkungan.

Referensi: https://pustakapangan.com/pdf/Referensi%20Artikel%20 Susu.pdf

ASOSIASI

Gabungan Produsen

Dinamika Biaya Pengemasan: Faktor Baru di Balik Kenaikan Harga Pangan

Adhi Lukman, Ketua Umum GAPMMI, usai menghadiri Rapat Koordinasi di Jakarta

Akselerasi kenaikan harga komoditas pangan pokok, seperti beras dan minyak goreng kemasan, umumnya diidentifikasi sebagai dampak langsung dari kelangkaan pasokan atau kegagalan panen di tingkat hulu. Namun, saat ini sektor industri pengolahan pangan domestik tengah menghadapi tantangan struktural baru yang bersumber dari keterbatasan pasokan bahan baku plastik untuk kemasan. Krisis komoditas polimer ini secara multiplikatif berpotensi meningkatkan biaya produksi pada industri pangan di Indonesia, yang pada akhirnya mendistorsi stabilitas harga produk pangan di tingkat konsumen.

Kondisi ini bukan sekadar isu jangka pendek. Sejumlah pemasok telah memberikan sinyal peringatan dini bahwa stok bahan baku kemasan akan segera habis. “Beberapa sudah menyatakan kehabisan bahan baku untuk kemasan. Ada yang menyebut Mei atau Juni sudah habis. Ini yang harus dicarikan solusinya,” ujar Adhi Lukman, Ketua Umum GAPMMI, perwakilan industri terkait, usai menghadiri Rapat Koordinasi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kelangkaan ini bukan satu-satunya masalah yang diadalami pelaku industri, karena harga bahan baku plastik yang melonjak tajam, antara 30 persen hingga 100 persen, sehingga menjadi beban berat. Angka ini mencakup berbagai jenis kemasan, mulai dari yang premium hingga yang sederhana seperti plastik untuk kemasan makanan ringan dan produk frozen food. Dampak dari kenaikan harga ini menciptakan efek domino yang tidak bisa dihindari. Jika kontribusi kemasan terhadap harga pokok produksi (HPP) mencapai 25

persen, maka lonjakan harga plastik sebesar 100 persen akan menyebabkan kenaikan biaya produksi yang sangat signifikan. Industri pun berada di posisi dilematis, mempertahankan harga jual tetapi merugi, atau menaikkan harga di tengah daya beli masyarakat yang terbatas.

“Katakan misalnya kontribusi kemasan itu 20 persen, kalau harganya naik 60 persen saja, berarti harga pokok naik sekitar 12 persen. Kalau kita hanya bisa menaikkan harga jual 5 persen, maka kita sudah tekor 7 persen,” imbuh Adhi. Menghadapi kebuntuan ini, pelaku industri mulai mendorong pemerintah untuk membuka opsi impor bahan baku dari negara

alternatif. “Mau tidak mau kita harus impor. Karena jika dalam negeri tidak tersedia, kita tidak punya pilihan lain untuk menjaga stabilitas harga produk pangan di pasar,” pungkasnya. Hingga solusi jangka panjang ditemukan, konsumen mungkin harus bersiap melihat label harga yang terus berfluktuasi. Di balik setiap kemasan yang kita buka setiap hari, terdapat pertarungan ekonomi yang sedang berlangsung, sebuah pengingat bahwa rantai pasok pangan kita ternyata sangat bergantung pada plastik. Rekaman terkait kenaikan harga kemasan dapat disimak di https://youtu.be/ dZD6UDfOmHU?si=vTVWfQaNFObpjlZ Fri27

INFO GAPMMI

� PT Lami Packaging Indonesia sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Aseptic Packaging Competitive Advantage During the Plastic Price Increasing” (21/04), di Cikande, Serang, dengan dukungan

Kementerian Perindustrian dan GAPMMI, guna membahas solusi strategis bagi industri makanan dan minuman dalam menghadapi lonjakan harga bahan baku plastik.

� Webinar ProPak Indonesia yang bertajuk “Challenges, Opportunities and Solutions in the Packaging Industry” (22/04) menghadirkan Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman, sebagai narasumber utama untuk membahas pentingnya kolaborasi strategis antara industri hulu dan

hilir dalam menghadapi tantangan global seperti tekanan geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang berdampak pada stabilitas biaya produksi industri makanan dan minuman serta manufaktur nasional. Fri-27

Sekretariat GAPMMI

ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park

Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27 Hp. 08156720614

Email: gapmmi@cbn.net.id Website: www.gapmmi.id

Pengembangan

Keju Fungsional & Bernilai Tambah

Prodi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian

Keju merupakan produk olahan susu dikonsumsi sebagai sumber protein, lemak, dan kalsium. Seiring berkembangnya ilmu pangan dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan, keju tidak lagi diposisikan hanya sebagai pangan konvensional, tetapi juga sebagai pangan fungsional yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan tambahan di luar nilai gizi dasarnya. Transformasi ini dicapai melalui pemanfaatan mikroorganisme probiotik, pembentukan peptida bioaktif selama fermentasi, serta integrasi senyawa antioksidan.

Pangan fungsional didefinisikan sebagai pangan yang mengandung komponen bioaktif yang secara ilmiah terbukti memberikan efek fisiologis positif bagi kesehatan ketika dikonsumsi secara teratur (Araujo et al., 2023).

Keju fungsional

Keju fungsional adalah produk keju yang diformulasikan atau diproses sedemikian rupa sehingga mengandung komponen aktif, seperti probiotik, peptida bioaktif, atau senyawa antioksidan, yang memberikan manfaat kesehatan tertentu. Sementara itu, konsep value-added cheese mencakup pengembangan produk keju dengan peningkatan nilai ekonomi dan fungsional, misalnya melalui fortifikasi zat gizi, modifikasi proses fermentasi, atau pemanfaatan bahan bioaktif tambahan (Chourasia et al., 2021).

Penggunaan mikroorganisme

probiotik dalam keju merupakan salah satu pendekatan utama dalam pengembangan keju fungsional. Keju dinilai sebagai matriks yang ideal bagi probiotik karena struktur padatnya mampu melindungi sel mikroba selama penyimpanan dan konsumsi. Penelitian menunjukkan bahwa berbagai strain bakteri asam laktat (BAL) seperti genus Lactobacillus dan Bifidobacterium dapat bertahan hidup dalam keju hingga akhir masa simpan dan memberikan efek positif terhadap kesehatan saluran pencernaan (Araujo et al., 2023). Selama proses fermentasi dan pematangan keju, protein susu mengalami proteolisis yang menghasilkan peptida bioaktif. Peptida ini diketahui memiliki aktivitas

antioksidan, antihipertensi, dan antimikroba. Studi oleh Liang et al. (2024) melaporkan bahwa fermentasi keju menggunakan kultur BAL tunggal maupun campuran mampu meningkatkan pembentukan peptida dengan aktivitas antioksidan yang signifikan. Temuan ini memperkuat peran keju sebagai sumber senyawa bioaktif alami yang mendukung kesehatan.

Penelitian penulis banyak menyoroti potensi senyawa antioksidan alami dari bahan pangan lokal, khususnya kecombrang (Etlingera elatior), yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Naufalin dan Mutia (2024) melaporkan bahwa penambahan bubuk kecombrang pada produk pangan fungsional mampu

meningkatkan aktivitas antioksidan secara signifikan. Walaupun penelitian tersebut tidak secara langsung diaplikasikan pada keju, konsep pemanfaatan bahan bioaktif alami ini dapat diadaptasi dalam pengembangan keju fungsional sebagai sumber antioksidan tambahan.

Pendekatan serupa juga diterapkan dalam penelitian yoghurt dengan penambahan ekstrak kecombrang, yang menunjukkan peningkatan aktivitas antioksidan tanpa menurunkan penerimaan sensoris produk (Nurhopipah et al., 2025). Hal ini membuka peluang bagi pengembangan keju fungsional berbasis bahan bioaktif lokal.

Inovasi pengembangan keju

Keju bernilai tambah tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga pada efisiensi produksi dan diversifikasi produk. Inovasi meliputi pengembangan keju rendah lemak, keju probiotik, keju dengan kandungan peptida bioaktif tinggi, serta

produk turunan seperti keju bubuk dan keju olahan. Inovasi ini bertujuan meningkatkan daya saing produk di pasar serta memenuhi preferensi konsumen yang semakin beragam (Chourasia et al., 2021). Pengembangan keju fungsional dan bernilai tambah merupakan tren penting dalam industri pangan modern. Integrasi probiotik, peptida bioaktif, dan senyawa antioksidan menjadi strategi utama untuk meningkatkan manfaat kesehatan produk keju. Konsep pemanfaatan bahan bioaktif alami, sebagaimana banyak dikaji dalam penelitian penulis, memberikan peluang besar untuk pengembangan keju fungsional berbasis sumber daya lokal. Dengan dukungan riset ilmiah yang kuat, keju fungsional berpotensi menjadi produk pangan yang tidak hanya lezat tetapi juga berkontribusi terhadap kesehatan konsumen.

Referensi: http://foodreview.co.id/pdf/Referensi%20Artikel%20Keju_ Jun26.pdf

STRUKTUR MIKRO SUSU:

Kunci Rekayasa Tekstur, Rasa, & Stabilitas Produk Dairy

Oleh Anang M. Legowo dan Lutfi Purwitasari Program Studi S1 Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro

Ketika mengonsumsi susu segar, yoghurt, ataupun es krim, konsumen sering kali menilai kualitas produk berdasarkan tekstur yang halus, rasa yang gurih (creamy), serta kenampakan yang homogen. Di balik setiap karakteristik spesifik dan kelembutan rasa tersebut, terdapat sistem struktur mikro yang sangat teratur sebagai hasil interaksi dari ratusan komponen susu pada skala mikro.

Susu adalah bahan pangan paling kompleks dalam ilmu pangan.

Secara fisik dan kimiawi, susu merupakan sistem emulsi minyak/ lemak dalam air, di mana droplet lemak mikroskopis tersebar dalam fase cair yang mengandung protein, laktosa, mineral, dan vitamin. Kualitas produk dairy sangat bergantung pada komponen-komponen yang menyusunnya serta bagaimana komponen tersebut berinteraksi satu sama lain.

Pemahaman terhadap struktur mikro susu telah membuka cakrawala baru dalam teknologi pangan. Bukan sekadar penjelasan ilmiah, pemahaman ini menjadi fondasi praktis dalam proses pengolahan, formulasi produk baru, dan inovasi menuju produk dairy yang lebih menyehatkan, lebih berkelanjutan, dan lebih sesuai kebutuhan konsumen modern. Creaminess yang kita rasakan, ternyata bukan hanya soal kadar lemak, melainkan hasil rekayasa struktur mikro yang cermat.

Susu sebagai sistem emulsi kompleks

Secara kimiawi, susu mengandung sekitar 2,8–6,3% lemak, 2,9–4% protein, 3,6–5,6% laktosa, serta sejumlah mineral dan vitamin. Komponenkomponen ini tidak sekadar tercampur, melainkan hadir dalam kompleks yang terstruktur. Lemak hadir sebagai jutaan droplet mikroskopis yang terdispersi merata dalam fase berair susu.

Droplet lemak dikenal sebagai globula lemak susu, memiliki ukuran

bervariasi, dengan diameter ratarata 3,5 mikrometer, atau berkisar 0,1-20 mikrometer. Distribusi ukuran ini ternyata bukan hal sepele. Globula berukuran besar cenderung lebih mudah naik ke permukaan akibat perbedaan densitas, fenomena ini disebut creaming yang menyebabkan produk tampak tidak homogen. Sebaliknya, globula berukuran lebih kecil dan merata menghasilkan produk yang lebih stabil dan terasa lebih lembut.

Globula lemak susu menjadi Istimewa karena lapisan pembungkus yang menyelimutinya yakni milk fat globule membrane (MFGM) atau membran globula lemak susu. Lapisan biologis setebal sekitar 10–20 nanometer ini bukan sekadar lapisan pelindung. MFGM tersusun dari fosfolipid,

glikoprotein, kolesterol, dan enzim (Liu et al., 2022). Komposisi tersebut yang membuatnya berperan sebagai penstabil alami, mencegah globulaglobula lemak bergabung (koalesensi) menjadi gumpalan yang lebih besar. Dalam sistem ini, lemak tidak larut secara langsung dalam fase cair, melainkan sebagai droplet mikroskopis yang terdispersi dan distabilkan oleh lapisan kompleks. Inilah mengapa susu segar yang baru keluar dari kelenjar ambing sapi mampu mempertahankan stabilitasnya secara alami dalam waktu tertentu, meski tanpa bahan tambahan pangan apapun.

Homogenisasi: rekayasa mikrostruktur untuk tekstur

creamy

Jika susu dibiarkan tanpa perlakuan, lapisan krim akan terbentuk di permukaan susu dalam beberapa jam. Proses ini terjadi karena globula

lemak berukuran besar mengapung akibat densitasnya yang lebih rendah dibandingkan fase air. Untuk mencegah hal ini terjadi dan menghasilkan produk dengan tekstur yang konsisten, industri dairy umumnya mengandalkan satu proses kunci yakni homogenisasi.

Homogenisasi adalah proses mekanis yang memaksa susu melewati celah yang sangat sempit di bawah tekanan tinggi, umumnya antara 10 hingga 20 megapascal. Ketika susu melewati celah tersebut, gaya geser, turbulensi, dan kavitasi bekerja secara sinergis untuk memecah globula lemak berukuran besar menjadi droplet-droplet jauh lebih kecil (Henao-Ardila, et al., 2024). Hasilnya, ukuran rata-rata globula lemak turun drastis menjadi kurang dari 1 mikrometer. Susu yang diolah dengan metode ini akan menghasilkan produk yang jauh lebih homogen, lebih stabil, dan memberikan sensasi lebih halus

ketika menyentuh lidah.

Namun, pemecahan globula lemak dapat menciptakan tantangan baru yakni luas permukaan total globula meningkat menjadi lebih tinggi. Jika sebelum homogenisasi satu globula besar memiliki luas permukaan tertentu, setelah dipecah menjadi ribuan droplet kecil, total luas permukaan keseluruhan meningkat puluhan kali lipat. Akibatnya lapisan MFGM asli tidak lagi cukup untuk menutupi semua permukaan baru yang terbentuk.

Pada titik inilah protein susu mengambil peran. Kasein dan whey protein yang terlarut dalam fase air bergerak menuju permukaan globula yang baru terbentuk dan mengadsorpsi atau bergabung kedalamnya membentuk lapisan protektif baru. Proses adsorpsi protein ini tidak hanya menggantikan fungsi MFGM yang terkikis, tetapi juga menciptakan karakteristik baru pada globula lemak yang memengaruhi karakteristik produk secara keseluruhan.

Proses homogenisasi memberi efek signifikan terhadap produk akhir. Susu yang telah dihomogenisasi tampak lebih putih karena partikel-partikel kecil memantulkan cahaya lebih efisien. Teksturnya terasa lebih creamy meski kadar lemak tidak berubah. Kestabilannya meningkat signifikan sehingga masa simpan produk dapat diperpanjang. Inilah bukti nyata bahwa creaminess bukan semata-mata soal seberapa banyak lemak dalam susu, melainkan bagaimana lemak tersebut tersusun dalam kompleks susu.

Interaksi protein–lemak dan pengaruhnya pada stabilitas

Terdapat dua kelompok utama protein susu dengan karakteristik berbeda. Kasein, sekitar 80% dari total protein susu, tidak berbentuk molekul tunggal yang terlarut bebas, melainkan membentuk agregat berukuran 100–300 nanometer sebagai misel kasein. Kelompok kedua whey protein yang di dalamnya terdapat beta-laktoglobulin dan alfa-laktalbumin sebagai protein globular terlarut dengan sifat sensitif terhadap panas.

Setelah homogenisasi, kasein menjadi bagian utama dalam menstabilkan permukaan globula lemak yang baru. Misel kasein dan fragmen kasein berperan dalam proses adsorpsi pada antarmuka lemak-air, menciptakan lapisan steric yang mencegah globulaglobula saling mendekat dan bergabung. Kekuatan lapisan pelindung tersebut menentukan stabilitas emulsi susu selama penyimpanan dan pengolahan lebih lanjut.

Whey protein, di sisi lain, menunjukkan peran yang lebih menonjol ketika susu mengalami pemanasan. Pada suhu di atas 70°C seperti dalam proses pasteurisasi atau sterilisasi UHT, whey protein mengalami denaturasi dan terekspos gugus reaktif yang sebelumnya tersembunyi. Gugus-gugus ini kemudian berinteraksi dengan kasein dan permukaan globula lemak, membentuk jaringan protein yang lebih kompleks. Jaringan inilah yang berkontribusi dalam peningkatan

viskositas dan perubahan tekstur pada produk dairy yang dipanaskan.

Relevansi interaksi protein–lemak ini terlihat jelas pada berbagai produk. Dalam yoghurt, koagulasi protein akibat penurunan pH membentuk gel tiga dimensi yang memerangkap globula lemak, menghasilkan tekstur kental yang khas. Dalam es krim, interaksi dinamis antara protein dan pengemulsi menciptakan struktur yang mampu menahan kristal es dan gelembung udara secara bersamaan. Rasio antara protein dan lemak serta ukuran globula

menentukan kemampuan produk untuk di-whip menjadi bertekstur ringan berbusa.

Interaksi protein–lemak tidak hanya menentukan kestabilan fisik, tetapi juga memengaruhi pelepasan flavor, persepsi kekentalan, dan struktur produk selama penyimpanan. Komponen flavor volatil, misalnya, sebagian terperangkap di sekitar globula lemak. Ukuran globula memengaruhi kecepatan dan intensifnya flavor terlepas, menjadikan mikrostruktur sebagai faktor penting penentu rasa dan aroma produk.

Implikasi untuk inovasi

pangan masa depan

Pemahaman mendalam tentang mikrostruktur susu telah menjadi landasan bagi inovasi produk dairy yang terus berkembang. Salah satu tantangan klasik industri saat ini adalah bagaimana menghasilkan produk rendah lemak yang tetap terasa creamy. Secara intuitif, mengurangi kadar lemak seharusnya mengorbankan tekstur. Namun, dengan merekayasa ukuran dan distribusi globula lemak serta memanfaatkan interaksi protein untuk memodifikasi viskositas, formulasi produk low-fat dairy yang memuaskan secara sensoris kini bukan lagi sekadar impian.

Di ranah yang lebih mutakhir, pemahaman mikrostruktur susu menjadi kunci dalam pengembangan dairy analog berbasis nabati. Minuman oat, kedelai, atau kacang almond pada dasarnya adalah sistem emulsi yang dibuat untuk meniru karakteristik fisik susu sapi. Keberhasilan maupun kegagalan produk-produk tersebut dalam menyerupai tekstur dan mouthfeel susu sangat bergantung pada seberapa baik mikrostruktur yang dirancang dan dimodifikasi untuk menyerupai emulsi susu alami.

Tren clean label dan minimally processed food juga mendorong riset untuk mengeksploitasi komponen alami susu terutama MFGM sebagai emulsifier dan stabilizer pengganti bahan sintetis. MFGM terbukti tidak hanya efektif secara fungsional, tetapi juga memiliki nilai gizi tinggi dan potensi manfaat

kesehatan seperti efek neuroaktif dan imunomodulator, menjadikannya solusi menarik sebagai bahan fungsional premium (Mohamed et al., 2022).

Lebih jauh lagi, konsep precision processing mulai mengintegrasikan pemahaman mikrostruktur dengan teknologi pengolahan yang lebih efisien energi. Pemahaman secara presisi kondisi globula lemak terpecah secara optimal dan protein berinteraksi pada berbagai suhu, proses produksi dapat dioptimalkan untuk menghasilkan kualitas tinggi dengan konsumsi energi dan bahan baku tertentu, sehingga terciptalah suatu keselarasan antara kualitas, keberlanjutan, dan efisiensi ekonomi.

Akhirnya, susu lebih dari sekadar cairan putih bergizi, namun suatu sistem emulsi mikro yang sangat terorganisir, di mana jutaan globula lemak, protein, dan komponen lainnya berinteraksi pada skala yang tidak kasat mata namun berdampak langsung pada apa yang kita rasakan saat mengonsumsinya. Kualitas tekstur, creaminess, stabilitas,

dan bahkan flavor sebuah produk dairy merupakan gambaran dari bagaimana mikrostruktur pada produk tersebut dirancang dan dikendalikan. Pemahaman atas beberapa mekanisme tersebut bukan sekadar relevan secara akademik, namun juga dapat berperan sebagai kompas bagi industri dairy dalam menciptakan produk yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen yang terus berkembang.

Referensi:

Henao-Ardila, A., Quintanilla-Carvajal, M.X., & Moreno, F.L. (2024). Emulsification and stabilisation technologies used for the inclusion of lipophilic functional ingredients in food systems. Heliyon, 10(11), e32150. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024. e32150

Liu, Y., Cheng, J., Sun, L., Li, X., Liu, L., Ma, Q., Ma, C., Jia, Z., Zhang, L., Zhang, Q., & Leng, Y. (2022). Stabilization of human milk fat analog emulsions using milk fat globule membrane material–coated lipid droplets: Structural and physical properties. LWT, 171, 114154. https://doi.org/10.1016/j.lwt.2022.114154

Mohamed, H.J.J., Lee, E.K.H., Woo, K.C.K., Sarvananthan, R., Lee, Y.Y., & Mohd Hussin, Z.A. (2022). Brain–immune–gut benefits with early life supplementation of milk fat globule membrane. JGH Open, 6, 454–461. https://doi.org/10.1002/jgh3.12775

SELAMAT HARI SUSU NUSANTARA

1 JUNI 2026

Tantangan Aroma Prengus dan Strategi Pengolahannya SUSU KAMBING:

Oleh Yoga Pratama

Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Diponegoro Ketua Food Research for Safety, Security, and Sustainability (FORC3S)

Di tengah tingginya ketergantungan Indonesia pada susu sapi dan produk susu impor, susu kambing muncul sebagai alternatif strategis yang berpotensi memperkuat diversifikasi pangan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. Meskipun secara historis produksinya didominasi oleh peternak skala kecil, komoditas ini kini mengalami pertumbuhan pasar yang pesat didorong oleh keunggulan nutrisinya yang hipoalergenik dan lebih mudah dicerna. Namun, ekspansi pasar susu kambing di tingkat konsumen domestik masih terbentur oleh satu kendala sensoris utama, yaitu penerimaan terhadap aroma khasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri susu kambing di Indonesia menunjukkan perkembangan yang pesat, didukung oleh populasi kambing perah yang mencapai 3,3 juta ekor dan tersebar di

berbagai sentra produksi seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kementan, 2024). Potensi pengembangan susu kambing di Indonesia juga didukung oleh keberagaman varietas kambing perah lokal, seperti Samosir, Benggala,

Jawarandu, Kacang, Kejobong, dan Gembrong (Pakpahan et al., 2023).

Tren konsumsi susu kambing terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan pasar susu kambing global dan meningkatnya kesadaran

masyarakat terhadap pangan bergizi dan menyehatkan. Susu kambing dikenal memiliki kandungan oligosakarida yang menyerupai ASI, asam lemak rantai pendek dan menengah yang tinggi, serta ukuran globula lemak yang lebih

kecil sehingga lebih mudah dicerna. Kandungan α-kasein pada susu kambing juga lebih rendah dibandingkan susu sapi sehingga bersifat hipoalergenik (Miller and Lu, 2019). Keunggulan tersebut mendorong meningkatnya minat konsumen terhadap berbagai produk olahan susu kambing, seperti susu pasteurisasi, susu steril, yoghurt, kefir, dan es krim. Dengan berbagai keunggulan tersebut, industri susu kambing memiliki prospek ekonomi yang cerah dan peluang pasar yang terus berkembang.

Tantangan industri susu

kambing: aroma prengus

Terlepas dari berbagai keunggulan, industri susu kambing menghadapi tantangan utama berupa karakteristik aroma khas yang dikenal sebagai aroma “prengus” atau goaty flavour. Secara ilmiah, aroma tersebut berasal dari keberadaan asam lemak rantai pendek seperti asam kaproat, kaprilat, dan kaprat yang secara alami terdapat dalam susu kambing. Selain itu, asam lemak bercabang seperti 4-methyloctanoic, 4-ethyloctanoic, dan 4-methylnonanoic juga turut berkontribusi terhadap karakter aroma khas tersebut. Di samping faktor intrinsik susu, kondisi eksternal seperti kebersihan kandang, teknik pemerahan, jenis pakan, serta penanganan dan penyimpanan susu turut memengaruhi intensitas aroma yang dihasilkan.

Keberadaan aroma prengus ini menimbulkan respons yang beragam di kalangan konsumen. Bagi sebagian konsumen, aroma tersebut justru dianggap sebagai penanda keaslian dan identitas khas susu kambing, sehingga dipersepsikan sebagai produk yang lebih alami dan autentik. Namun, bagi konsumen yang belum terbiasa, aroma ini kerap menjadi faktor yang menurunkan minat dan tingkat penerimaan. Oleh karenanya, aroma prengus menjadi salah satu kendala utama dalam perluasan pasar susu kambing, terutama untuk konsumen baru.

Strategi pengurangan

aroma prengus

Untuk meningkatkan penerimaan susu kambing, pelaku industri seyogyanya melakukan upaya untuk mengurangi, bukan untuk menghilangkan sepenuhnya, aroma khas prengus. Strategi pengurangan aroma prengus ini bisa dikelompokkan menjadi dua pendekatan utama, onfarm dan off-farm. Pendekatan onfarm yang paling mendasar mencakup perbaikan manajemen peternakan. Misalnya, menjaga kebersihan kandang, pemberian pakan modifikasi yang mengandung tanaman herbal, serta pemisahan kambing jantan dari area pemerahan, mengingat kambing jantan memiliki karakteristik bau yang dapat berkontribusi terhadap aroma prengus. Namun demikian, efektivitas manajemen ternak tersebut umumnya berkorelasi dengan skala usaha peternakan kambing perah.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang masih didominasi oleh peternak kecil (smallholders), di mana penerapan manajemen intensif sering kali terbatas oleh sumber daya, infrastruktur, dan praktik budidaya yang belum terstandardisasi.

Pengurangan aroma prengus secara off-farm utamanya dilakukan oleh industri pengolahan susu kambing. Dalam praktik industri susu di Indonesia, pengolah umumnya memperoleh bahan baku susu segar dari berbagai peternak dengan kondisi manajemen yang beragam. Variasi

dalam praktik peternakan tersebut menyebabkan perbedaan kualitas dan intensitas aroma prengus pada susu yang dihasilkan. Oleh karena itu, pendekatan off-farm menjadi strategi yang lebih menjanjikan karena dapat dilakukan secara lebih terkontrol dan konsisten dalam menghasilkan susu kambing dengan intensitas aroma prengus yang lebih rendah serta kualitas yang lebih seragam.

Salah satu strategi pengolahan yang paling sederhana adalah penggunaan masking flavor melalui penambahan aroma atau bahan berperisa. Penambahan bahan seperti sari buah dapat membantu menutupi aroma prengus pada produk susu kambing, terutama pada produk fermentasi seperti yoghurt. Pendekatan ini bahkan memiliki potensi nilai tambah melalui product claim tertentu yang dapat meningkatkan daya tarik produk, misalnya melalui penambahan sari kurma atau bahan alami lainnya yang identik dengan manfaat kesehatan. Akan tetapi, pendekatan ini memiliki keterbatasan. Aroma prengus pada dasarnya tidak benar-benar berkurang, melainkan hanya tertutupi oleh aroma tambahan. Selain itu, kombinasi antara aroma susu kambing dan bahan penambah rasa tidak selalu menghasilkan profil sensori yang harmonis, sehingga berpotensi menciptakan aroma baru yang belum tentu disukai oleh konsumen.

Oleh karenanya, berbagai teknik pengolahan yang secara langsung menargetkan pengurangan aroma

prengus terus dikembangkan. Penambahan bahan tambahan pangan seperti β-cyclodextrin atau polymerized whey protein diketahui dapat menurunkan intensitas aroma prengus susu kambing melalui mekanisme pengikatan (inclusion complex) dengan senyawa volatil penyebab bau. Selain itu, modifikasi asam lemak volatil secara enzimatis dapat dilakukan melalui penambahan enzim lipase, sedangkan pendekatan mikrobiologis dapat ditempuh melalui inokulasi bakteri asam laktat tertentu yang mampu mereduksi intensitas aroma prengus, bahkan menghasilkan flavor notes baru yang lebih diterima konsumen (Yu et al., 2024). Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penerapan berbagai teknologi tersebut adalah keseimbangan antara efektivitas pengurangan aroma, biaya proses, serta dampaknya terhadap karakter sensori dan nilai fungsional susu kambing itu sendiri.

Metode pengurangan aroma prengus tanpa penambahan bahan tambahan dapat dilakukan melalui teknik vacuum flash evaporation. Proses ini memanfaatkan penurunan tekanan vakum untuk menurunkan titik didih senyawa, sehingga dengan pemanasan pada suhu relatif rendah, senyawa volatil penyebab aroma prengus pada susu kambing dapat dihilangkan. Dalam praktiknya, pengurangan aroma dapat dilakukan setelah proses sterilisasi susu (misalnya UHT), dilanjutkan dengan flash vacuum pada tekanan sekitar 0,085 MPa dan suhu 65–75°C selama ±1 menit. Keunggulan utama metode ini

adalah efektivitasnya yang tinggi dalam menurunkan aroma prengus (hingga 80–90%), serta sifat proses yang lebih mild sehingga relatif lebih mampu mempertahankan kualitas nutrisi dan menghasilkan stabilitas sensori yang konsisten antar batch. Kendati demikian, metode ini membutuhkan investasi dan biaya operasional yang tinggi, serta kompleksitas proses yang dapat membatasi penerapannya pada industri skala kecil dan menengah.

Pendekatan terakhir adalah dengan mengeliminasi fraksi penyumbang aroma, khususnya asam lemak volatil, melalui teknik sentrifugasi, kemudian menggantinya dengan minyak nabati untuk mempertahankan tekstur dan mouthfeel agar tetap creamy. Produk hasil metode ini dikategorikan sebagai “susu minyak nabati” oleh BPOM.

Teknologi ini relatif lebih sederhana dan dapat diaplikasikan pada skala kecil hingga menengah dengan investasi alat seperti cream separator dan homogenizer. Keuntungannya tidak

hanya pada penurunan komponen penyebab aroma, tetapi juga potensi peningkatan profil nutrisi, seperti penurunan kolesterol serta peningkatan proporsi asam lemak tak jenuh dan komponen bioaktif tertentu seperti antioksidan. Di sisi lain, penambahan minyak nabati ke dalam sistem susu memerlukan strategi emulsifikasi yang tepat, karena stabilitas produk selama penyimpanan menjadi aspek kritis yang perlu diperhatikan.

Mengutamakan keamanan,

gizi, dan edukasi konsumen

Meskipun berbagai strategi pengurangan aroma prengus memberikan manfaat nyata terhadap peningkatan penerimaan konsumen, industri pangan tetap perlu memperhatikan peraturan dan standar penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) demi pemastian keamanan pangan. Penambahan perisa sintetik (artificial flavor), pengemulsi, stabilisator, maupun bahan aditif lainnya

harus dilakukan sesuai dengan tujuan teknologinya serta wajib berpedoman pada standar Codex Alimentarius, khususnya General Standard for Food Additives (GSFA).

Perlu diingat bahwa saat ini preferensi konsumen modern semakin bergeser ke arah produk dengan label bersih (clean label), di mana tingkat kemurnian dan keaslian pangan menjadi parameter kritis di samping nilai gizinya.

Produk yang mengalami modifikasi

formula secara masif sering kali dipersepsikan kurang alami oleh pasar, meskipun di sisi lain intervensi teknologi tersebut mampu mempertahankan komponen bioaktif yang tinggi.

Oleh karena itu, pengembangan hilirisasi susu kambing ke depan juga perlu disertai dengan edukasi yang masif kepada konsumen. Dari sisi teknologi, industri sebaiknya tetap menitikberatkan pada titik keseimbangan optimal antara peningkatan daya terima sensoris, pemeliharaan nilai fungsional, dan penerimaan pasar. Pendekatan holistik ini akan menjadi kunci krusial dalam mewujudkan industri susu kambing yang sehat, bernilai tambah tinggi, dan berkelanjutan.

Referensi:

Kementrian Pertanian Republik Indonesia. 2024. Kambing Perah, Jurus Baru Dukung Persusuan Nasional. https://www.pertanian.go.id/?show=news&act=view& id=6171

Miller, B.A., and Lu, C.D. 2019. Current status of global dairy goat production: an overview. Asian-Australasian Journal of Animal Sciences, 32(8)

Pakpahan, S., Widayanti, R., Artama, W.T., Budisatria, I.G.S., Raadsma, H.W., and Margawati, E.T. 2023.

MINI DIREKTORI

GNT Group B.V.

EXBERRY® is the leading brand of Coloring Foods for the food and beverage industry. Coloring Foods are made from fruits, vegetables, and edible plants using a physical manufacturing process processed with water.

+65 6659 4180

info-singapore@gnt-group.com

www.exberry.com

BENEO (BENEO Singapore - Asia Pacific Pte. Ltd.) Connecting nutrition and health

+65 42 245 8000 contact@beneo.com www.beneo.com

10 Science Park Road #03-21 / 22 / 23 / 24 117684 Singapore

Eriez Australia

Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, metal detection and material handling equipment.

+613 8401 7400

www.eriez.com

PT KH ROBERTS INDONESIA

At KH Roberts, we leverage our deep expertise in flavour science and strong understanding of consumers’ needs to craft future flavours that deliver delight to consumers around the world.

021 87900778 / 021 89700723

info.id@kh-roberts.com

www.kh-roberts.com

https://www.linkedin.com/company/kh-roberts/

LabIndonesia

The Only Platform for Future Lab Technology & Chemicals for Medical, Pharma, Education & Scientific Research in Indonesia

+ 62 21 2525 320

www.lab-indo.com

IG lab_indonesia Lab Indonesia

PTOgawaIndonesia

Ogawa & Co., Ltd. utilizes Japanese natural materials creating flavors and fragrances

021-8904218-19 / +62-811-1977-846

ade.auliya@ogawa-ogi.net

https://www.ogawa.net/en/

PT. Mitra Kualitas Abadi (Catalyst Consulting) Training, Consulting, Assesment/audit, Mystery Shopping Provider 021-3952 4220 +62 813-8250-7245

info@catalystconsulting.id www.catalystconsulting.id

Catalyst Consulting consulting.catalyst

Catalyst Consulting

PT. Brenntag

We are your food and nutrition partner for innovative and sustainable solutions

Graha Pratama Building, 17th Floor, Jl. M.T. Haryono Kav. 15 12810 Jakarta Selatan Indonesia

brenntag.com

PT INDESSO NIAGATAMA & PT INDESSO CULINAROMA INTERNASIONAL Snack Seasonings, Savory Ingredients, Aroma Chemicals, Essential Oils & Food Ingredients

021 386 3974

021 385 0538

contact@indesso.com

www.indesso.com

+81(3)6809-3745

+81(3)6809-3746

www.foomajapan.jp

mensterilkan

021-8836

021-8836

pangan, kemasan makanan, kosmetik, alat kesehatan, farmasi, kemasan farmasi, dan produk lainnya.

021-8836 3728

021-8836 3729

cs@rel-ion.co.id

www.rel-ion.co.id

Efektif mensterilkan produk pangan, kemasan makanan, kosmetik, alat kesehatan, farmasi, kemasan farmasi, dan produk lainnya

Edisi Mendatang |

Food Safety, Quality & Analysis

Meningkatnya kompleksitas rantai pasok global dan ancaman kontaminasi baru menuntut industri pangan untuk menerapkan sistem pengawasan yang jauh lebih ketat, presisi, dan berbasis data ilmiah. Di sisi lain, adopsi teknologi analisis cepat (rapid testing) dan digitalisasi laboratorium kini menjadi tren utama untuk mempercepat proses deteksi bahaya biologis maupun kimia tanpa mengorbankan akurasi hasil. Namun, industri juga dihadapkan pada tantangan besar terkait harmonisasi regulasi standar internasional yang terus diperbarui serta meningkatnya tuntutan konsumen akan transparansi total terhadap integritas dan autentisitas produk. Menanggapi dinamika tersebut, FoodReview Indonesia edisi mendatang akan mengulas tentang sistem keamanan, mutu, dan analisis pangan, mulai dari pemutakhiran skema sertifikasi global untuk mitigasi risiko, pemanfaatan teknologi ketertelusuran (traceability) berbasis digital, hingga metode analisis laboratorium mutakhir untuk menjamin kemurnian produk. Melalui penguatan budaya keamanan pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, industri diharapkan mampu meminimalkan beban penyakit akibat pangan sekaligus membangun kepercayaan pasar yang berkelanjutan.

Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi:

FOODREVIEW INDONESIA

telepon (0251) 8372333 | +62 811 1190 039

email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda.

lebih lengkap, berlipat

premium collector’s edition hadir untuk anda yang menghargai detail dan eksklusivitas.

(Rp 750.000*): 6 Majalah fisik + 12 Majalah Digital

(Rp 1.000.000*): 6 Majalah fisik + 12 Majalah Digital + 1 tiket gratis atau harga khusus untuk Webinar, Workshop dan Seminar FOODREVIEW Indonesia Pindai untuk berlangganan

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
FRI VOL XXI/06 2026 by FOODREVIEW Indonesia - Issuu