SUSTAINABLE PACKAGING: Tantangan Industri Pangan Indonesia
Kemasan pangan berkelanjutan (sustainable packaging) kini menjadi isu penting bagi industri pangan Indonesia. Tuntutan untuk mereduksi limbah kemasan, meningkatkan penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan, serta mendukung ekonomi sirkular semakin menguat. Namun, dalam konteks industri pangan, transformasi kemasan tidak cukup hanya dipandang dari dimensi lingkungan semata.
Fungsi fundamental kemasan pangan adalah untuk memastikan keamanan pangan, menjaga mutu, memperpanjang masa simpan, mencegah kontaminasi, dan memastikan pangan tetap terlindungi keutuhan, keaslian dan integritasnya sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu, tantangan utama dalam pengembangan kemasan pangan berkelanjutan juga mencakup pemastian bahwa kemasan tersebut aman untuk kontak pangan dan tetap mampu menjalankan fungsi perlindungannya secara optimal. Prinsip keberlanjutan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keamanan pangan.
Urgensi isu ini juga mencuat ketika perhatian internasional semakin meningkat terhadap penggunaan material daur ulang untuk kemasan pangan. Codex Alimentarius, misalnya, sedang mempertimbangkan perlunya panduan internasional mengenai aspek keamanan pangan dalam penggunaan material daur ulang pada kemasan. Diskusi yang berkembang di Codex menunjukkan bahwa meskipun peningkatan penggunaan material daur ulang mendukung agenda keberlanjutan, hal tersebut juga dapat menimbulkan kekhawatiran terkait risiko keamanan pangan. Material daur ulang memang menjadi bagian vital dari solusi untuk menekan penggunaan bahan baku baru dan limbah. Namun, bagi industri pangan, material ini menghadirkan tantangan khusus karena riwayat penggunaannya tidak selalu jelas. Material pascakonsumsi berisiko telah terpapar produk nonpangan, zat kimia, detergen, minyak, tinta, atau kontaminan lainnya.
Pada kemasan plastik daur ulang, risiko utama yang diwaspadai adalah potensi migrasi senyawa kimia ke dalam pangan. Kontaminan dapat berasal dari residu penggunaan sebelumnya, bahan tambahan, tinta, perekat, pelumas, atau proses daur ulang yang tidak terkendali. Karena itu, klaim “daur ulang” atau “ramah lingkungan” tidak secara otomatis berarti aman untuk kontak pangan. Keamanan harus dibuktikan melalui pemilihan bahan baku yang tepat, proses dekontaminasi yang tervalidasi, pengujian migrasi, penilaian risiko, serta penerapan praktik produksi yang baik.
Di Indonesia, tantangan besar terletak pada aspek ketertelusuran (traceability) dan kesiapan infrastruktur.
Industri perlu mengetahui asal bahan daur ulang, serta bagaimana bahan tersebut dikumpulkan, dipilah, disimpan, dan diproses. Tanpa ketertelusuran yang baik, sulit memastikan bahwa bahan daur ulang benar-benar layak digunakan untuk kemasan pangan. Kondisi ini diperumit oleh sistem pengumpulan sampah di Indonesia yang masih sangat beragam dan melibatkan sektor informal yang belum selalu didukung dokumentasi serta pengendalian mutu yang memadai.
Selain itu, diperlukan regulasi yang jelas dan berbasis risiko. Industri membutuhkan kepastian mengenai jenis material yang dapat digunakan, sumber bahan yang diterima, proses yang divalidasi, hingga mekanisme pembuktian ketertelusuran. Regulasi yang baik tidak seharusnya menghambat inovasi, tetapi perlu memberi arah agar inovasi kemasan berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.
Kemasan pangan berkelanjutan juga harus dilihat sebagai bagian dari daya saing industri. Pasar global semakin menuntut produk pangan yang tidak hanya aman, tetapi juga dikemas secara bertanggung jawab. Jika Indonesia mampu membangun sistem kemasan berkelanjutan yang kredibel, hal ini dapat menjadi keunggulan kompetitif. Sebaliknya, ketidaksiapan dalam hal ini dapat menjadi hambatan baru bagi produk pangan Indonesia di kancah internasional.
Dengan demikian, kemasan pangan berkelanjutan bukan sekadar soal mengganti bahan atau meningkatkan kandungan material daur ulang. Isu ini adalah bagian integral dari sistem keamanan pangan, regulasi, inovasi, infrastruktur, dan daya saing. Bagi Indonesia, tantangannya adalah membangun ekosistem kemasan yang aman, fungsional, tertelusur, berbasis risiko, serta mendukung keberlanjutan. Jika dikelola dengan baik, agenda ini dapat memperkuat industri pangan nasional agar lebih tangguh dan kompetitif.
Melalui rangkaian tulisan utama FoodReview Indonesia edisi ini, diharapkan muncul komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem kemasan Indonesia yang menjamin keamanan pangan, mendorong keberlanjutan, serta meningkatkan daya saing produk dan industri pangan nasional.
Memasuki 2026, lonjakan harga bahan baku plastik (seperti PE, PP, PS) dilaporkan mencapai 40-100% pada Maret-April 2026 (lbs.id, kompas.id, umkm go.id). Lonjakan ini menyingkap dua persoalan mendasar yaitu: (1) tingginya ketergantungan konsumen dan industri Indonesia terhadap plastik, serta (2) belum tersedianya kapasitas produksi bahan baku plastik yang mandiri sehingga masih bergantung terhadap komoditas impor.
32
Berkelanjutan
untuk Industri Pangan Indonesia
ASOSIASI
Indonesia Perkuat
40
Posisi di ASEAN, Ketua GAPMMI Turut
Resmikan Fi Vietnam 2026
Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris
Prinsip ekonomi sirkular (circular economy) dimaknai sebagai sebuah siklus material dan energi yang bersifat tertutup, sehingga produk dan bahan dapat digunakan kembali, diperbaiki, atau didaur ulang sebagai upaya efisiensi penggunaan sumber daya.
REGULASI
Standardisasi
50
Keamanan Kemasan
Pangan PET Daur Ulang
Dominasi kemasan plastik pada rak-rak ritel modern membuktikan peran vital material ini dalam rantai pasok pangan. Lebih dari sekadar pembungkus, plastik berfungsi sebagai pelindung utama dari risiko kontaminasi biologis, kimiawi, dan fisik yang dapat mengancam mutu produk. Kombinasi sifatnya yang ringan, kokoh, dan fleksibel menjadikannya solusi paling efektif untuk menjaga stabilitas masa simpan dan keamanan pangan hingga ke tangan konsumen.
Penambahan Saldo Pustaka Pangan
Kepada FoodReview Indonesia
Bagaimana cara melakukan pengisian saldo khusus untuk pembelian majalah edisi satuan di Pustaka Pangan? Terima kasih.
Dini
Purwakarta
Jawab:
Setelah berhasil membuat akun atau melakukan registrasi, silakan masuk ke akun Anda. Akses menu “My Account” dan lanjutkan dengan memilih opsi “Top Up” yang tertera. Selanjutnya, pilih metode pembayaran yang diinginkan dan tentukan jumlah saldo yang akan diisi, seperti Rp20.000 atau Rp40.000, atau nominal lain sesuai kebutuhan Anda untuk pembelian majalah edisi satuan. Setelah proses pembayaran berhasil diselesaikan, mohon segera hubungi layanan pelanggan FoodReview melalui WhatsApp di nomor +628111190039 dengan menyertakan bukti transfer agar saldo Anda dapat segera kami proses. Terima kasih.
Q&A
Penukaran Doorprize Tiket Seminar
Dear FoodReview Indonesia, Saya adalah salah satu pemenang doorprize tiket gratis mengikuti kegiatan seminar FoodReview Indonesia selanjutnya. Saya ingin bertanya terkait syarat dan ketentuan penukarannya. Terima kasih.
Farah
Bogor
Jawab:
Penukaran tiket gratis hanya berlaku untuk kegiatan seminar/webinar pada bulan selanjutnya. Jika terlewat pada masa yang ditentukan, tiket akan kami anggap hangus. Untuk topik-topik seminar/ webinar dapat selalu dipantau pada situs web kami di www.foodreview.co.id. Apabila topik yang sedang berlangsung tidak sesuai dengan bidang Bapak/ Ibu, tiket gratis juga dapat diberikan kepada rekan atau kolega Bapak/Ibu dengan terlebih dahulu mengonfirmasi kepada panitia. Terima kasih.
FoodReview Indonesia Print on Demand
Kepada FoodReview Indonesia
Mohon info, apakah majalah FoodReview Indonesia untuk tersedia dalam bentuk fisik? Saya ingin berlangganan edisi cetak. Terima kasih.
Adam Jakarta
Jawab:
Terima kasih atas minat Anda. Mulai tahun 2026, kami menghadirkan layanan FoodReview Indonesia Print on Demand yang diterbitkan setiap dua bulan sekali (gabungan dua edisi dalam satu bundle fisik). Layanan ini tersedia dalam tiga pilihan paket (harga belum
termasuk ongkos kirim):
1. Paket 3: Rp600.000 (untuk 3 kali pengiriman bundle)
2. Paket 6: Rp1.000.000 (untuk 6 kali pengiriman bundle)
3. Satuan: Rp250.000 (per satu kali pengiriman bundle)
Menariknya, seluruh pelanggan versi cetak akan mendapatkan akses gratis edisi digital di Pustaka Pangan. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran langganan, silakan hubungi tim sirkulasi kami melalui nomor kontak: 0811-1190-039
KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.
Majalah cetak edisi 2016-2020 masih bisa diperoleh melalui loka pasar kami seperti Shopee (Media Pangan Indonesia) & Tokopedia (Toko Kulinologi). Silakan ketik ‘Majalah FoodReview’ pada kolom pencarian. Sedangkan untuk ketersediaan edisi-edisi tertentu silakan menghubungi 0811 1190 039.
KDMK: Motor Penggerak Daya Saing Kemasan Produk IKM Nasional
Kementerian Perindustrian terus memperkuat posisi produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) di pasar domestik maupun global melalui peran strategis Klinik Desain Merek dan Kemasan (KDMK). Dibentuk sejak tahun 2003 di bawah naungan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), KDMK berfungsi sebagai instrumen utama untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas visual dan fungsionalitas kemasan. Fasilitasi yang diberikan mencakup konsultasi pemilihan bahan, penerapan teknologi pengemasan, pengembangan desain label sesuai regulasi, hingga bantuan cetak kemasan.
Hingga April 2026, KDMK telah menunjukkan kontribusi nyata dengan memberikan fasilitasi perbaikan desain kepada 2.131 IKM serta bantuan cetak kemasan bagi 679 IKM sejak tahun 2015. Capaian ini mencerminkan tingginya urgensi inovasi kemasan sebagai elemen strategis untuk membangun identitas merek dan menarik minat konsumen.
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menekankan bahwa setiap desain yang dihasilkan melalui KDMK diarahkan agar mampu merepresentasikan identitas produk sekaligus menjawab ekspektasi target pasar yang spesifik.
Dalam operasionalnya, KDMK mengedepankan kolaborasi lintas sektor dengan membangun ekosistem yang melibatkan pemerintah daerah melalui rumah kemasan, institusi pendidikan, hingga asosiasi profesi. Sinergi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan usaha yang mendukung terciptanya kemasan yang tidak hanya kompetitif secara estetika, tetapi juga memenuhi aspek fungsionalitas dan efisiensi biaya. Selain itu, KDMK aktif mendorong lahirnya inovasi berkelanjutan melalui wadah kompetisi seperti INPACK Award sebagai respon terhadap tren pasar global yang semakin peduli pada isu lingkungan.
Untuk memperluas jangkauan layanan, KDMK kini telah bertransformasi ke ranah digital melalui platform e-Kemasan. Melalui situs e-Klinik Desain Merek dan Kemasan, tersedia secara lengkap rumah kemasan di berbagai wilayah, sehingga memudahkan pelaku usaha dalam mengakses dukungan pengembangan kemasan secara lebih cepat dan terintegrasi. Fri-35
Chef Expo 2026: Ruang Kolaborasi Strategis untuk Meningkatkan Daya Saing Industri
Gastronomi Indonesia
Industri gastronomi Indonesia kini tengah berada dalam momentum
pertumbuhan yang luar biasa, bertransformasi menjadi pilar strategis bagi perekonomian nasional dan diplomasi di tingkat global. Prestasi ini dipertegas dengan keberhasilan Indonesia meraih predikat Top 10
Best Cuisine in the World 2025 versi TasteAtlas, serta penghargaan Indonesia
New Destination Champion 2026 dari La Liste sebagai destinasi gastronomi yang berkembang pesat.
Perkembangan industri gastronomi tidak hanya sekadar soal rasa, namun membawa dampak luas bagi ekosistem ekonomi nasional. Sektor ini terbukti efektif dalam mendorong ekspor rempah, menggerakkan sektor pertanian, hingga membuka lapangan
kerja baru bagi tenaga kerja kuliner. “Saat ini, gastronomi menjadi faktor kunci dalam menentukan tujuan wisata; data menunjukkan bahwa 20% wisatawan melakukan perjalanan secara khusus untuk pengalaman kuliner, bahkan 50% diantaranya melakukan reservasi restoran sebelum memesan tiket pesawat,” tegas Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana dalam upacara pembukaan Chef Expo 2026 yang diselenggarakan di dalam pameran Food + Beverage Indonesia, pada 6-9 Mei 2026 di Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) PIK 2.
Salah satu peluang strategis yang tengah diakselerasi pemerintah adalah potensi Muslim-friendly tourism. Sebagai negara dengan populasi Muslim
terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan kuliner halal yang luas. Upaya memperkuat daya saing ini diwujudkan melalui inisiatif seperti Halatrip Gastronomy Awards 2026 Jakarta dan program Certified Halal Gourmet Chef (CHGC), yaitu pelatihan serta sertifikasi bagi para juru masak untuk menyajikan makanan halal berkualitas tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Chef Expo, Chef Slamet Jarwanto, menjelaskan bahwa asosiasi profesi yang dipimpinnya, di mana 90% anggotanya bergerak di bidang pariwisata, berkomitmen menjadikan pameran ini sebagai kekuatan untuk mengedukasi
masyarakat mengenai kuliner Indonesia beserta industri pendukungnya.
Memasuki perhelatan yang ke7, Direktur Wakeni, Rini Sumardi, menambahkan bahwa pameran Food + Beverage Indonesia beserta dengan Chef Expo 2026 dirancang sebagai panggung bagi talenta anak bangsa untuk memperkenalkan cita rasa Indonesia ke dunia. Dengan target 40.000 pengunjung selama empat hari, pameran ini diikuti oleh 287 eksibitor dari sektor Horeca. “Melalui ruang kolaborasi ini, diharapkan akan lahir ide-ide baru yang memperkuat posisi kuliner Indonesia di mancanegara,” ujarnya. Fri-35
CEGAH ANEMIA UNTUK
GENERASI
SEHAT & CERDAS
» Anemia di Indonesia
» Anemia Defisiensi Besi: Masalah Gizi Global yang Masih Terabaikan
» Pola Makan Gizi Seimbang: Kunci Pencegahan Anemia Defisiensi Besi
» Intervensi Gizi & Gaya Hidup
» Resep Olahan Bahan Pangan Zat Besi
pt media pangan indonesia
Biospringer Brings Yeast Protein to Indonesia
Biospringer by Lesaffre, a global leader in yeast extracts and fermentation-based ingredients backed by 170 years of expertise, is introducing its newly formulated yeast protein, Springer Proteissimo®, to the Indonesian market.
Derived from natural fermentation, Springer Proteissimo® is a complete yeast protein offering food and beverage manufacturers a dairy-free, clean-label protein solution with strong nutritional performance, neutral taste and color, and a stable supply independent of harvest cycles.
Tighter whey supply is opening the door for alternative proteins in Indonesia
Indonesia is becoming one of Asia's most dynamic emerging markets for new protein solutions, supported by rising health awareness, urban fitness culture, and more active lifestyles. However, several pressures are reinforcing this shift:
● Digestive tolerance. Lactose intolerance is highly prevalent in Indonesia, with studies reporting rates of around 73% in older children and 66% to 90% in adults.
● Whey supply pressure. Whey is becoming more expensive and harder to rely on. Between 2024
and 2025, global whey prices rose by roughly 35%, while Indonesia’s protein powder import volumes declined at a CAGR of around 8.1% between 2020 and 2024.
● Halal and clean-label expectations. Consumers now expect value, performance, digestive comfort, and familiar taste. In Indonesia, halal certification is a must and Springer Proteissimo® is BPJPH Halal certified. Together, these factors create a strong opening for alternative proteins that are digestible, reliable, halal-compliant, and easy to formulate into familiar everyday products.
Springer Proteissimo® Built for High-Performance Protein Formulation
A nutritional profile comparable to whey.
With around 80% protein, Springer Proteissimo® delivers a complete amino acid profile and achieves a PDCAAS score of 1, the highest possible rating for protein quality. It also contains nine essential amino acids and 21% branched-chain amino acids, including high levels of leucine and lysine.
Digestive Comfort Credentials.
Official Low FODMAP certification from Monash University gives brands
a science-backed platform to address digestive sensitivity and gut comfort.
Neutral Taste and Color.
Unlike some proteins that can create flavor and color challenges, Springer Proteissimo® works optimally across savory and sweet applications.
Clean Label and Globally Market-Ready.
Certified Halal, Kosher, vegan, glutenfree, GMO-free, and allergen-free, it offers manufacturers a single ingredient solution that can help simplify formulation and support compliance across international markets.
Stable and Sustainable Supply.
As a fermentation-derived ingredient, Springer Proteissimo® offers a harvestindependent supply model. It generates 6 kgCO₂eq/kg compared with 125.9
“Supply challenges are making manufacturers look beyond one protein source. To meet growing consumer demand, they need more flexible and diversified protein portfolios,” said Adi Kurnia, Business Manager, Biospringer Indonesia.
kgCO₂eq/kg for beef protein, with 95% lower water resource depletion and 90% lower land use.
With its combination of protein quality, digestive-comfort positioning, formulation versatility, and supply stability, Springer Proteissimo® is positioned to help Indonesia manufacturers respond to evolving consumer and market demands.
INFO GAPMMI
z Kementerian Ketenagakerjaan resmi
menerbitkan Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan (Permenaker)
Nomor 7 Tahun 2026 tentang
Pekerjaan Alih Daya. Aturan ini merupakan tindak lanjut Putusan
Mahkamah Konstitusi No. 168/PUUXXI/2023 dan Pasal 64 UU Cipta Kerja. Permenaker menegaskan bahwa outsourcing hanya diperbolehkan untuk pekerjaan penunjang. Pasal 3 ayat (2) menyebutkan kegiatan penunjang meliputi:
» layanan kebersihan;
» penyediaan makanan dan minuman;
» pengamanan;
» penyediaan pengemudi dan angkutan pekerja/buruh;
» layanan penunjang operasional;
» pekerjaan penunjang di bidang pertambangan, perminyakan, gas, dan ketenagalistrikan.
Pasal 4 mengatur bahwa perjanjian tertulis antara perusahaan pemberi pekerjaan dan perusahaan alih daya wajib memuat hak pekerja, termasuk upah, cuti, jaminan sosial, THR, serta ketentuan pemutusan hubungan kerja. Pasal 5 menegaskan kewajiban pencatatan perjanjian alih daya ke dinas ketenagakerjaan paling lambat 3 hari kerja setelah ditandatangani.
Perusahaan alih daya wajib memenuhi standar keselamatan, kesehatan kerja,
dan mencatatkan perjanjian alih daya (Pasal 6).
z Sebagai rangkaian pre-event ProPak Indonesia 2026, Indonesian Packaging Federation (IPF) berkolaborasi dengan GAPMMI dan Kementerian Perindustrian menggelar webinar bertema “Challenges, Opportunities and Solutions in the Packaging Industry”. GAPMMI menekankan pentingnya dukungan regulasi agar UKM pangan tetap kompetitif di tengah tekanan biaya operasional. Webinar ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri makanan dan minuman untuk memahami dinamika global, memperkuat kolaborasi, dan mencari solusi praktis menghadapi tantangan kemasan.
z Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menerima kunjungan Delegasi Anhui, Tiongkok, di Sekretariat GAPMMI, Jakarta. Pertemuan ini menjadi ajang penjajakan kerja sama perdagangan pangan antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya produk mi, camilan kacang tanah, dan sup instan. Delegasi Anhui yang terdiri dari sembilan orang perwakilan perusahaan hadir untuk memaparkan potensi produk mereka di pasar Indonesia. GAPMMI diwakili oleh pengurus bidang UKM dan kerja sama luar negeri, yang menekankan pentingnya adaptasi
rasa dan kepatuhan regulasi halal sebagai syarat utama masuk ke pasar domestik.
z Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan Sosialisasi
SAPA Kampus – KKN Tematik
Keamanan Pangan (KKNT KP) Batch 1 dengan melibatkan lima perguruan tinggi dan ±500 mahasiswa. Dalam kegiatan ini, Indrayana, Sekretaris
Jenderal GAPMMI, hadir sebagai salah satu pembicara utama. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai
Fasilitator Keamanan Pangan (FKP) dan Kader Keamanan Pangan (KKP). BPOM menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari SAPA Kampus Berdampak (SKB), yang sejak 2021 bertujuan membentuk fasilitator keamanan pangan berbasis SKKNI.
z Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengadakan pertemuan dengan KSO SCISI (Sucofindo – Surveyor Indonesia) untuk memperkuat kerja sama dalam verifikasi impor bahan baku pangan dan kemasan. Pertemuan ini dihadiri oleh Adhi
S. Lukman, Ketua Umum GAPMMI, bersama jajaran pengurus asosiasi
dan manajemen KSO SCISI. Diskusi menyoroti pentingnya verifikasi teknis impor sebagai upaya menjaga kualitas bahan baku, mencegah masuknya produk ilegal, serta mendukung transparansi rantai pasok.
z Puncak peringatan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) 2026 berlangsung meriah dengan kegiatan jalan sehat dan senam bersama di kawasan Sarinah, Jakarta. Menteri Perdagangan Budi Santoso bersama
Wakil Menteri Dyah Roro Esti melepas peserta jalan santai, sekaligus menyampaikan pesan penting tentang perlindungan konsumen di era digital. Selain jalan sehat, rangkaian acara juga mencakup senam bersama dan Ngobrol Santai dengan pelajar serta mahasiswa, yang menekankan pentingnya konsumen bijak bertransaksi, teliti membaca label, dan menyimpan bukti pembelian. Dengan tema “Konsumen Berdaya, Bijak Bertransaksi”, Harkonas 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pelaku usaha lebih transparan dan bertanggung jawab.
Pertemuan GAPMMI dengan KSO SCISI GAPMMI turut berpartisipasi dalam Harkonas 2026
Lab Indonesia
2026: Akselerasi Kemandirian
Teknologi dan Daya Saing Industri Nasional
Perhelatan pameran teknologi laboratorium terbesar di Indonesia, Lab Indonesia 2026, yang berlangsung pada 15-17 April 2026 di ICE BSD City, telah sukses diselenggarakan. Edisi kedelapan ini berhasil menjadi titik temu strategis bagi para pemangku kepentingan untuk menjawab tantangan standar kesehatan global dan memperkuat kualitas pengujian industri nasional melalui inovasi mutakhir.
Dengan partisipasi 305 perusahaan dari 16 negara, pameran ini telah menjadi wadah bagi pertukaran teknologi dan solusi laboratorium yang presisi. Kristi Wulandari, Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia, menyatakan kepuasannya atas kolaborasi yang tercipta selama tiga hari perhelatan. “Lab Indonesia tahun ini hadir dengan skala yang lebih besar, membuka peluang baru
bagi pelaku industri, akademisi, dan profesional untuk saling terhubung dan memperkuat posisi Indonesia di pasar strategis global,” ungkapnya.
Keberhasilan acara ini juga terlihat dari intensitas diskusi mengenai kemandirian teknologi. Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Prof. Dr. Ratno Nuryadi, M. Eng., dalam rangkaian acara tersebut menegaskan bahwa infrastruktur laboratorium yang andal adalah fondasi utama bagi kemajuan industri manufaktur berbasis teknologi tinggi. Menurut beliau, akselerasi transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM yang terjadi selama pameran sangat selaras dengan target Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).
Selain memamerkan 921 produk teknologi, Lab Indonesia 2026 juga sukses memfasilitasi transfer pengetahuan melalui 135 sesi LabTalk dan 21 konferensi ilmiah internasional. Kesuksesan penyelenggaraan ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang terhadap penguatan sistem pengujian di berbagai sektor strategis, sekaligus mengukuhkan komitmen Indonesia dalam membangun ekosistem riset yang mandiri dan berdaya saing global. Fri-35
Prof. Dr. Ir. Ratih Dewanti-Hariyadi, M.Sc.
Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University & Senior Scientist SEAFAST Center, IPB University
Peran Krusial Industri Pangan dalam Menjamin Keberlanjutan Fortifikasi Gizi
Masalah gizi buruk di Indonesia, terutama fenomena hidden hunger atau kekurangan zat gizi mikro, masih menjadi ancaman senyap yang berdampak sistemik terhadap kualitas sumber daya manusia dan produktivitas nasional. Melihat hal tersebut, Koalisi Fortifikasi Indonesia bersama dengan Gabungan Produsen
Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyelenggarakan webinar dengan topik “Peran Industri Pangan Olahan dalam Keberlanjutan Fortifikasi Pangan” pada 24 April 2026 lalu via Zoom.
Co-Director KFI, Prof. Drajat Martianto, menegaskan bahwa fortifikasi pangan adalah sebuah silent intervention yang sangat efisien secara biaya untuk menutup kesenjangan gizi tanpa memerlukan perubahan pola makan masyarakat secara drastis. Namun, keberhasilan intervensi ini sangat bergantung pada peran aktif industri pangan olahan sebagai garda terdepan dalam proses produksi dan distribusi pangan yang telah diperkaya zat gizi.
Mewakili Komite Regulasi Teknis
Pangan GAPMMI, Arum Maryudiani menjelaskan bahwa selama ini industri telah memberikan kontribusi nyata dengan secara konsisten menggunakan bahan baku wajib fortifikasi seperti garam beriodium, tepung terigu, dan minyak goreng sawit bervitamin A.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya berbagai tantangan teknis yang harus dihadapi pelaku usaha di lapangan, mulai dari dampak penambahan zat gizi terhadap kualitas visual produk hingga masalah stabilitas bahan selama proses distribusi.
Dalam paparannya, Arum Maryudiani menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak agar program ini tetap berjalan secara berkelanjutan. Beliau menyatakan, “Pelibatan akademisi dalam mempersiapkan bukti ilmiah sangat diperlukan untuk memberikan acuan bagi dunia usaha, serta kemandirian pengadaan fortifikan perlu menjadi fokus untuk menjamin keberlanjutan industri pangan olahan,” tuturnya.
Lebih lanjut, webinar tersebut juga menyoroti perlunya penguatan kapasitas laboratorium nasional untuk menyelaraskan hasil pengawasan teknis agar tidak menimbulkan hambatan administratif bagi industri. Kolaborasi yang erat antara regulator, akademisi, dan pelaku usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan yang tidak hanya maju secara bisnis, tetapi juga menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas hidup dan daya saing sumber daya manusia Indonesia di masa depan melalui produk-produk pangan yang lebih bergizi. Fri-35
Sinergi KKP - Barantin Tingkatkan Ekspor Hasil Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) resmi menyepakati penguatan kolaborasi dalam sistem penjaminan mutu dan keamanan produk perikanan. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing hasil laut Indonesia di pasar global sekaligus menghilangkan tumpang tindih regulasi yang sering memicu kebingungan perdagangan (trade confusion) bagi negara mitra.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa integrasi kewenangan ini sangat krusial untuk efisiensi dan daya tawar nasional. Dalam skema yang disepakati, KKP bertindak sebagai Competent Authority (CA) yang bertanggung jawab atas standar mutu dari hulu hingga hilir, termasuk registrasi perusahaan dari negara asal. Sementara itu, Barantin berperan sebagai otoritas pengendali utama di pintu pemasukan dan pengeluaran (border).
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menegaskan pentingnya menghilangkan ego sektoral dalam kerja sama ini. Ia menyoroti bahwa irisan kewenangan antara kedua lembaga harus disinergikan melalui pembagian peran yang tegas serta pertukaran data yang terstruktur. Fokus utamanya adalah memastikan pengawasan mutu dan kesehatan ikan berjalan dalam satu sistem nasional yang terpadu agar tidak menyulitkan para pelaku usaha dan mitra internasional.
Sinergi ini juga mencakup integrasi laboratorium dan sinkronisasi tata laksana impor hasil perikanan sesuai dengan regulasi keamanan pangan terbaru. Dengan pengawasan yang lebih efisien dan minim duplikasi proses, pemerintah optimistis kepercayaan pasar internasional terhadap produk perikanan Indonesia akan semakin kuat, yang pada akhirnya akan mengakselerasi pertumbuhan ekspor dan ekonomi nasional. Fri-35
Potensi Daur Ulang dalam Tren Kemasan Berkelanjutan
Evolusi pengemasan pangan terus berkembang secara berkelanjutan seiring dengan inovasi manusia dalam memformulasi sistem penyimpanan bahan pangan yang efektif. Dalam perspektif regulasi, merujuk pada UU No. 18 Tahun 2012, kemasan pangan bukan sekadar pembungkus, melainkan bahan yang digunakan untuk mewadahi pangan, baik yang bersentuhan langsung maupun tidak, dengan standar keamanan yang ketat.
Pembina Industri dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kimia, Farmasi & Kemasan Kementerian Perindustrian, Agustina Arianita, menekankan bahwa fungsi kemasan telah berkembang jauh melampaui sekadar pelindung. Kemasan modern harus memenuhi empat pilar utama: perlindungan dan pengawetan, kenyamanan bagi konsumen, wadah yang efektif, serta sarana komunikasi dan pemasaran. Namun, di atas semua fungsi tersebut, aspek keamanan tetap
menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
“Kemasan pangan harus dipastikan tidak bersifat toksik dan tidak meninggalkan residu. Selain mampu menjaga bentuk, rasa, serta gizi produk, sangat penting bagi kemasan untuk tidak mengalami migrasi komponen toksik ke dalam produk dan tetap mematuhi regulasi keamanan pangan yang berlaku,” ujarnya dalam Webinar Series Food & Packaging – Challenges, Opportunities and Solutions in the Packaging Industry yang diselenggarakan oleh Propak Indonesia pada 22 April 2026 via Zoom.
Ia juga menambahkan bahwa tren industri saat ini mulai bergeser ke arah kemasan ramah lingkungan (sustainable packaging) dan smart packaging yang mendukung efisiensi sekaligus keamanan. Transisi menuju kemasan berkelanjutan ini erat kaitannya dengan potensi industri daur ulang di tanah air. Organizational Development Committee Indonesian Plastics Recyclers (IPR), Suwandi Budinata, menyoroti bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam ekonomi sirkular karena ketersediaan bahan baku limbah yang melimpah serta permintaan pasar lokal yang tinggi. Selain itu, biaya konversi daur ulang di Indonesia relatif lebih kompetitif dibandingkan negara maju, yang membuka peluang besar bagi penghematan biaya produksi. Fri-35
IIFEX - EASTFOOD INDONESIA EXPO
The 16th International Exhibition on Food & Beverage Products, Ingredients, Technology and Services THE FOCUSED PLATFORM FOR YOUR FOOD, BEVERAGE & HOSPITALITY
Redesain, Substitusi, Efisiensi:
Strategi Hadapi Krisis Plastik
Oleh Cynthia Andriani
University of Auckland, New Zealand
Memasuki 2026, lonjakan harga bahan baku plastik (seperti PE, PP, PS) dilaporkan mencapai 40-100% pada Maret-April 2026 (lbs.id, kompas.id, umkm.go.id). Lonjakan ini menyingkap dua persoalan mendasar yaitu: (1) tingginya ketergantungan konsumen dan industri Indonesia terhadap plastik, serta (2) belum tersedianya kapasitas produksi bahan baku plastik yang mandiri sehingga masih bergantung terhadap komoditas impor. Ketergantungan tersebut membuat rantai pasok sangat rentan terhadap gejolak global: gangguan di jalur strategis perdagangan dunia dapat mengganggu pasokan petrokimia, sementara Indonesia masih mengimpor sekitar 50% kebutuhan bahan baku plastik melalui kawasan tersebut.
Plastik menyumbang sekitar 30% dari total konsumsi material untuk kemasan pangan di Indonesia (OECD, 2022), dan diperkirakan 50% produk makanan dan minuman olahan di retail dikemas dengan plastik (DS Smith). Keunggulan fungsional plastik menjelaskan dominasinya: (1) harga bahan baku yang relatif murah; (2) fleksibilitas bentuk dan kemudahan modifikasi; (3) sifat penghalang (barrier) yang baik terhadap air, CO₂, dan O₂ sehingga menjaga mutu produk serta kepatuhan terhadap legislasi; serta (4) ringan sehingga mengurangi biaya logistik (Piringer, 2000). Di sisi lain, tidak semua jenis plastik dapat didaur ulang atau terurai alami. Kondisi ini diperburuk oleh terbatasnya
infrastruktur pengelolaan limbah yang memperparah akumulasi sampah meski kampanye “sustainable packaging” semakin gencar. Akibatnya, sebagian besar plastik berujung sebagai limbah yang sulit diolah yang berdampak pada aspek sosio-ekonomi dan kesehatan manusia. Selain itu, aspek keamanan dan mutu pangan terkait penggunaan plastik perlu mendapat perhatian serius, seperti potensi migrasi mikroplastik ke dalam makanan, interaksi dengan bahan makanan tinggi lemak, serta keberadaan aditif yang bersifat reaktif (Najahi et al., 2025).
Kenaikan harga biji plastik bukan sekadar masalah produsen; biaya kemasan yang melonjak mendorong peningkatan biaya produksi,
penurunan margin, dan pada akhirnya mempengaruhi harga jual produk. Konsumen dihadapkan pada pilihan produk antara membayar harga lebih tinggi atau mengalami penurunan daya beli. Bagi pelaku UMKM dan produsen skala kecil, tekanan ini bisa sangat berat. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas alternatif strategi untuk mengatasi kenaikan biaya bahan baku kemasan: mulai dari redesain kemasan, substitusi bahan (material kemasan alternatif dan bioplastik), perbaikan rantai pasok serta pengembangan kapasitas produksi material kemasan lokal, hingga praktik pengelolaan limbah dan “circular economy” yang dapat mengurangi ketergantungan impor.
Plastik merupakan material polimer yang memiliki beragam karakteristik tergantung pada komponen penyusunnya. Umumnya plastik diproduksi dari biji plastik (pellet) melalui pemanasan dan pelelehan, lalu dibentuk melalui proses pencetakan (molding) dengan metode seperti penyuntikan (injection molding), ekstrusi (extruding), dan peniupan (blow molding).
Secara umum, plastik untuk kemasan pangan dapat dikategorikan menjadi tujuh jenis yaitu:
1. PET (Polyethylene Terephthalate) untuk botol kemasan air, botol soda, cup/tube/kontainer margarin, salad, selai; dengan karakteristik penampakan jernih, kuat, dan ringan.
2. HDPE (High-Density Polyethylene) untuk kemasan jerigen, botol, dan kontainer untuk produk susu dan produk lainnya; dengan karakteristik dapat didaur ulang dan tahan lama.
3. PVC (Polyvinyl Chloride) sering digunakan sebagai plastik pembungkus (cling wrap) transparan tipis yang elastis untuk membungkus bahan segar seperti daging dan keju.
4. LDPE (Low-Density Polyethylene) merupakan jenis material yang lembut dan fleksibel, umum pada kantong roti, botol tekan, dan cling film.
5. PP (Polypropylene) merupakan jenis plastik yang tahan panas dan tahan lama, standar untuk wadah makanan yang aman untuk dipanaskan di microwave.
6. PS (Polystyrene) sering digunakan untuk barang sekali pakai seperti wadah makanan cepat saji, gelas kopi, dan peralatan makan.
7. Plastik lainnya (Others) termasuk polycarbonate (PC) dan polylactic acid (PLA), yang sering digunakan sebagai bahan alternatif dan bioplastik.
Strategi menghadapi krisis
kemasan pangan berbasis plastik
Berikut tiga strategi alternatif yang dirumuskan untuk menghadapi krisis plastik, disusun berdasarkan risiko dan dampak berjangka.
1
Strategi efisiensi: low-risk and short-term
Untuk merespons krisis plastik dalam jangka pendek dengan risiko minimal, langkah paling realistis adalah mengganti kemasan plastik dengan material non-plastik siap pakai yang secara komersial telah umum digunakan. Substitusi penggunaan
plastik dapat dilakukan dengan menggunakan material lain yang memiliki fungsi serupa dan memenuhi persyaratan keamanan pangan. Sebagai contoh, produk minuman (cairan) dapat dikemas dalam botol kaca atau kemasan karton aseptik seperti Combibloc atau Tetra Pak, termasuk inovasi seperti paper bottle yang kini semakin populer (Gambar 1). Untuk produk berbentuk bubuk seperti tepung dan bumbu, kemasan kantong kertas berlapis komposit ramah lingkungan (bio-coated paper)dapat menjadi alternatif yang lebih efisien; sementara untuk pangan siap saji, kertas berlapis (kertas laminasi) yang memenuhi standar pangan dapat digunakan
Gambar 1. Berbagai contoh kemasan dari karton, gelas, alufoil, dan tin
Paket Premium Collector’s Edition untuk Anda yang menghargai eksklusivitas.
untuk Webinar, Workshop dan Seminar FOODREVIEW Indonesia
» Edisi Cetak Eksklusif Dua Bulanan: Majalah fisik premium dikirim langsung ke depan pintu Anda setiap 2 bulan.
» Arsip Tanpa Batas: Akses majalah digital selama 1 tahun melalui www.pustakapangan.com.
» Priority Access & Networking: Satu (1) Undangan mengikuti Webinar atau Seminar FOODREVIEW Indonesia dan dapatkan akses khusus ke komunitas Industri Pangan.
» Update Regulasi: Rangkuman kebijakan dan standar nasional dan internasional secara berkala.
Hubungi kami di
Pindai untuk berlangganan
JANUARI - FEBRUARI 2026
*harga belum termasuk biaya kirim
sebagai pengganti pembungkus plastik. Pendekatan ini memungkinkan produsen tetap menjaga distribusi produk tanpa terlalu bergantung pada plastik, sekaligus mengurangi dampak kenaikan biaya dan risiko pasokan
`Selain itu, efisiensi penggunaan plastik dapat dicapai dengan menjual produk dalam porsi lebih besar (bulk), sehingga jumlah kemasan per satuan produk berkurang. Pendekatan ini juga mendorong konsumen melakukan isi ulang (refill) menggunakan wadah yang sama sehingga kemasan dapat dipakai berulang kali. Model seperti ini sudah diterapkan oleh The Source Bulk Foods, yang mengedukasi pelanggan berbelanja tanpa plastik melalui sistem refill. Konsep serupa dapat diterapkan pada komoditas seperti minyak goreng, beras, gula, sirup, kecap, tepung, dan rempah, dengan catatan standar kebersihan dan keamanan pangan terpenuhi (serupa
dengan konsep penggunaan galon air mineral). Implementasi gagasan ini membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai seperti jaringan tempat refill, fasilitas sanitasi, dan logistik pengemasan ulang, serta insentif bagi produsen dan konsumen.
2Strategi
material alternatif (biobased): medium-high risk
Sebagai solusi jangka panjang dengan dampak yang lebih signifikan, pengembangan material plastik yang lebih ramah lingkungan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku plastik berbasis fosil dan menekan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu solusi yang berkembang adalah bioplastik berbasis hayati yang dapat terurai secara hayati, misalnya Polylactic Acid (PLA) (Gambar 2), Polyhydroxyalkanoates
Gambar 2. Perkembangan biodegradasi kemasan botol PLA dari hari ke-0 hingga 30 (Kale et al., 2007).
(PHA), serta plastik berbasis pati, selulosa, lignin, kitosan, dan rumput laut (Moshood et al. 2022).
Selain itu, kemasan yang dapat dimakan (edible packaging) (Gambar 3) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif, khususnya untuk produk sekali pakai. Konsep ini mengacu pada kemasan yang dapat dimakan atau mudah terurai dalam kondisi tertentu, misalnya kemasan larut air (watersoluble packaging), sehingga dapat mengurangi limbah. Secara komersial, konsep ini telah diaplikasikan pada produk kembang gula (confectionery) hingga produk pembersih, seperti kapsul
deterjen dan sabun, menggunakan film berbahan dasar rumput laut, gelatin, atau pati. Meskipun kemasan edible dan kemasan larut air dapat mengurangi limbah secara signifikan, namun pada penerapannya masih menghadapi beberapa tantangan seperti interaksi dengan bahan pangan, barrier properties yang umumnya rendah terhadap kelembapan, umur simpan produk, serta biaya produksi yang relatif tinggi dibandingkan dengan plastik konvensional.
Salah satu biomaterial yang sedang banyak dikembangkan untuk kemasan adalah miselium jamur (mushroom).
Gambar 3. Berbagai contoh bio-based dan edible material yang sedang banyak dikembangkan.
Biomaterial ini memiliki keunggulan tahan air, panas, biodegradable, dan dalam pembuatannya tidak menggunakan plasticizers apa pun. Kemasan berbahan miselium jamur dapat dibentuk sesuai kebutuhan baik sebagai kemasan primer maupun sekunder. Beberapa perusahaan telah mengembangkan kemasan berbasis biomaterial jamur namun memang belum banyak yang mengarahkannya untuk industri kemasan pangan (mushroom material, grown.bio). Hal ini sekaligus memberikan kesempatan ide bisnis baru dalam pengembangannya.
3
Strategi desain ulang produk: high impact and long-term
Sebagai bagian dari transformasi sistem pengemasan, inovasi tidak hanya perlu difokuskan pada bahan, tetapi juga pada desain dan bentuk produk itu sendiri. Pengembangan produk yang lebih efisien, misalnya dalam bentuk terkonsentrasi, padat, atau unit-dose
(satuan dosis tunggal), dapat secara signifikan mengurangi kebutuhan kemasan berlapis. Dengan memadatkan produk ke dalam bentuk padat sesuai takaran penggunaan, produsen dapat menghilangkan kebutuhan akan kemasan kecil sekali pakai untuk pembagian porsi, yang selama ini banyak bergantung pada plastik.
Perubahan bentuk (reformulasi) juga membuka peluang penghematan kemasan. Sebagai contoh, produk cair seperti sampo atau sabun dapat dikembangkan menjadi bentuk padat (batang (bar)) atau lembaran tipis (sheet) berbasis kertas, sehingga lebih mudah disimpan dalam penyimpanan massal (bulk), lebih ringan didistribusikan, dan memiliki umur simpan yang baik tanpa perlu kemasan plastik berlapis (Gambar 4). Pendekatan serupa juga dapat diterapkan pada produk lain seperti minuman instan atau bumbu, yang dapat direformulasi menjadi bentuk tablet, kapsul yang larut, atau konsentrat. Strategi ini tidak
Gambar 4. Berbagai contoh redesigned products untuk memudahkan pengemasan
hanya mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga meningkatkan efisiensi logistik (lebih ringan dan menghemat ruang), menekan biaya distribusi, serta mendukung model refill dan sistem bulk. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada penelitian formulasi, penerimaan konsumen, serta penyesuaian proses produksi agar kualitas dan keamanan produk tetap terjaga.
Krisis plastik di Indonesia, dipicu lonjakan harga 2026, lebih mencerminkan kelemahan sistem dan bukan sekadar masalah bahan. Solusi multilayer diperlukan: efisiensi dan substitusi jangka pendek (bulk/refill), pengembangan bioplastik/edible jangka menengah, serta desain ulang produk jangka panjang, semuanya didukung
oleh investasi kapasitas lokal, riset formulasi, infrastruktur, dan kebijakan untuk ekonomi sirkular.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Angeline Aprilina Arifin dan Mada Triandala Sibero atas kontribusi teknis yang memperkaya tulisan ini.
Referensi
Piringer, O.G., Plastic Packaging Materials for Food : Barrier Function, Mass Transport, Quality Assurance, and Legislation. 2000, Weinheim ;: Wiley-VCH.
Najahi, H., et al., Plastic pollution in food packaging systems: impact on human health, socioeconomic considerations and regulatory framework. Journal of Hazardous Materials Advances, 2025. 18: p. 100667.
Kale, G., et al., Compostability of bioplastic packaging materials: An overview. Macromolecular Bioscience, 2007. 7(3): p. 255-277.
Moshood, T.D., et al., Sustainability of biodegradable plastics: New problem or solution to solve the global plastic pollution? Current Research in Green and Sustainable Chemistry, 2022. 5: p. 100273.
Menuju Kemasan Berkelanjutan untuk Industri Pangan Indonesia
Oleh Wahyudi David Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie
Transisi menuju kemasan berkelanjutan bukan lagi sebuah pilihan—ia menjadi kebutuhan strategis untuk menurunkan jejak karbon, mengurangi sampah, dan memperkuat ketahanan rantai pasok. Di Indonesia, Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular 2025–2045 menempatkan kemasan sebagai salah satu fokus utama dalam upaya mengurangi penggunaan sumber daya dan meningkatkan tingkat daur ulang, terutama pada sektor ritel dan pangan. Langkah komprehensif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri yang lebih hijau sekaligus membuka peluang pasar baru yang berbasis pada nilai keberlanjutan.
Ekonomi sirkular didefinisikan sebagai model ekonomi yang menerapkan pendekatan sistemik untuk meminimalkan penggunaan sumber daya, mendesain suatu produk agar memiliki daya guna selama mungkin, dan mengembalikan sisa proses produksi dan konsumsi ke dalam rantai nilai.
Pentingnya kemasan sirkular
Circular packaging berarti mendesain kemasan agar dapat dipakai ulang, diperbaiki, atau didaur ulang sehingga material tetap berada dalam siklus ekonomi lebih lama. Pendekatan ini selaras dengan kerangka 9R (Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle,
Recover) yang menjadi dasar strategi nasional ekonomi sirkular. Implementasi pada sektor pangan menekankan pengurangan food loss and waste (FLW) serta pemanfaatan sisa pangan sebagai input baru (mis. pakan, kompos), sehingga penggunaan kemasan pangan dapat di optimalkan dengan pedekatan 9R.
Prinsip desain kemasan sirkular
Prinsip Eco-design merupakan pendekatan desain berkelanjutan menekankan pemilihan mono material yang mudah didaur ulang, sehingga mengurangi kompleksitas proses daur ulang. Upaya ini juga mencakup pengurangan penggunaan lapisan multi material yang sering kali menyulitkan pemrosesan kembali. Selain itu, penggunaan label dan perekat harus disesuaikan agar kompatibel dengan sistem daur ulang, sehingga tidak menjadi hambatan dalam proses pemulihan material. Berikutnya adalah prinsip, reuse dan refill, strategi ini berfokus pada pengembangan sistem isi ulang untuk produk cair maupun bahan kering. Contohnya adalah penerapan stasiun refill di ritel untuk konsumen akhir, serta penggunaan kemasan returnable dalam konteks bisnis-ke-bisnis (B2B). Dengan cara ini, siklus penggunaan kemasan dapat diperpanjang, mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi sumber daya. Berikutnya adalah prinsip recycled content, dengan memperbesar
porsi recycled content, ketergantungan terhadap virgin plastic dapat ditekan. Hal ini tidak hanya mendukung pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga memperkuat komitmen industri terhadap ekonomi sirkular.
Carbon labeling dan
FONP labelling: apa dan
bagaimana relevansinya
Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap dampak lingkungan, carbon labeling hadir sebagai alat komunikasi yang transparan. Label ini menyajikan informasi jejak emisi produk—mulai dari tahap cradle to gate hingga cradle to grave—sehingga konsumen dapat
memahami kontribusi karbon dari setiap pilihan yang mereka buat. Lebih jauh, konsep FONP (Food Origin and Nutritional Product) labelling kini dapat diperluas untuk memasukkan dimensi baru: jejak karbon, jejak air, hingga aspek sirkularitas kemasan. Dengan label yang jelas dan mudah dipahami, konsumen tidak hanya terbantu dalam memilih produk rendah emisi, tetapi juga mendorong produsen untuk berinovasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Namun, efektivitas skema label ini bergantung pada tiga pilar utama: pertama, harus berbasis metodologi Life Cycle Assessment (LCA) yang transparan; kedua, memiliki standarisasi nasional agar konsisten dan dapat
dipercaya; dan ketiga, disajikan dalam format yang mudah dipahami oleh konsumen. Dengan kombinasi tersebut, label bukan sekadar informasi tambahan, melainkan instrumen strategis yang menghubungkan konsumen, produsen, dan kebijakan dalam satu visi bersama: menurunkan emisi dan membangun masa depan yang lebih hijau.
Untuk mempercepat adopsi kemasan sirkular dan carbon FONP labelling di sektor pangan, diperlukan kombinasi kebijakan yang visioner dan langkah implementasi yang konkret. Pertama, pengembangan standarisasi teknis melalui SNI atau pedoman nasional menjadi fondasi penting. Standar ini harus mencakup aspek recycled content,
biodegradabilitas, serta metodologi pengukuran jejak karbon kemasan, dengan tetap menjamin keamanan pangan dan kompatibilitas daur ulang. Kedua, penerapan mekanisme Extended
Producer Responsibility (EPR) yang jelas, serta dukungan terhadap pembentukan
Producer Responsibility Organizations (PRO), akan memastikan pengelolaan pengumpulan, pemilahan, dan pendanaan daur ulang berjalan efektif.
Ketiga, insentif pasar melalui kebijakan
Sustainable Public Procurement dan preferensi fiskal bagi produk berlabel rendah karbon atau kemasan refillable dapat mendorong produsen beralih ke solusi berkelanjutan.
Selain itu, investasi pada infrastruktur daur ulang—mulai dari kapasitas pengumpulan terpisah, fasilitas pemilahan, hingga teknologi pengolahan material pangan—akan memperkuat ekosistem sirkular. Tidak kalah penting, edukasi konsumen melalui kampanye komunikasi yang menjelaskan arti carbon FONP label dan cara pembuangan kemasan akan meningkatkan partisipasi publik.
Bagi industri pangan, transisi menuju kemasan sirkular dan penerapan
carbon/FONP labelling bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan peluang bisnis yang nyata. Dengan adanya insentif fiskal dan preferensi pasar,
produsen yang berani berinovasi akan memperoleh akses ke segmen konsumen baru yang semakin peduli pada keberlanjutan. Produk dengan label rendah karbon atau kemasan refillable tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga membuka pintu ke pasar premium yang menghargai transparansi dan tanggung jawab lingkungan.
Lebih jauh, standar teknis yang jelas dan dukungan kebijakan publik akan menciptakan tingkatan playing field bagi pelaku industri. Produsen pangan yang lebih cepat mengadopsi prinsip sirkular akan menikmati reputasi positif, meningkatkan daya saing, dan memperkuat hubungan dengan mitra
ritel maupun konsumen. Dalam jangka panjang, investasi pada infrastruktur daur ulang dan kolaborasi lintas rantai nilai akan menurunkan biaya operasional, karena material daur ulang dapat kembali masuk ke siklus produksi.
Manfaat langsung lainnya adalah efisiensi bahan baku. Dengan meningkatnya penggunaan recycled content, ketergantungan pada virgin plastic berkurang, sehingga risiko fluktuasi harga bahan baku global dapat ditekan. Hal ini memberi stabilitas biaya produksi sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok. Ditambah lagi, kampanye edukasi konsumen akan memperluas kesadaran publik, sehingga
produk berlabel rendah karbon lebih mudah diterima dan dipilih di pasar.
Singkatnya, kebijakan ini bukan hanya tentang mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan nilai ekonomi baru. Industri pangan yang beradaptasi lebih cepat akan berada di garis depan, memetik keuntungan dari pasar berkelanjutan yang terus berkembang, sekaligus memperkuat citra sebagai pionir dalam membangun masa depan hijau Indonesia.
Peralihan ke circular packaging dan penerapan carbon/FONP labelling adalah peluang ganda: menurunkan dampak lingkungan sekaligus membuka nilai ekonomi baru—dari efisiensi bahan hingga pasar produk berkelanjutan. Dokumen Peta Jalan Ekonomi Sirkular menegaskan bahwa strategi terintegrasi (kebijakan, pendanaan, manajemen data, dan komunikasi) diperlukan agar inisiatif kemasan berkelanjutan dapat skala dan berdampak nyata.
Terakhir, kolaborasi lintas rantai nilai antara produsen pangan, produsen
kemasan, pengelola limbah, dan lembaga penelitian perlu difasilitasi. Kemitraan ini membuka ruang uji coba untuk solusi inovatif seperti sistem refill, desain mono material, dan penggunaan PCR (post-consumer recycled) berstatus food-grade yang aman. Dengan sinergi kebijakan, insentif, infrastruktur, edukasi, dan kolaborasi, transformasi menuju kemasan pangan yang sirkular dan rendah emisi bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju masa depan yang berkelanjutan.
Referensi:
Kementerian PPN/Bappenas. Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045
Ellen MacArthur Foundation. The New Plastics Economy: Rethinking the future of plastics & catalysing action (2016).
United Nations Environment Programme (UNEP). SingleUse Plastics: A Roadmap for Sustainability (2018).
ISO 14040 / ISO 14044. Environmental management — Life cycle assessment — Principles and framework; Requirements and guidelines.
Hopewell, J., Dvorak, R., & Kosior, E. “Plastics recycling: challenges and opportunities,” Philosophical Transactions of the Royal Society B (2009).
Gabungan Produsen
Makanan Minuman Indonesia
Indonesia Perkuat Posisi di ASEAN,
Ketua GAPMMI Turut Resmikan Fi Vietnam 2026
Delegasi GAPMMI dalam Fi Vietnam 2026
Pameran internasional Food
Ingredients Asia (Fi Vietnam 2026) resmi dibuka di Saigon
Exhibition & Convention Centre (SECC), menghadirkan lebih dari 300 peserta pameran dan 9.000 pengunjung dari 40 negara. Ajang ini menjadi salah satu forum terbesar di kawasan Asia Tenggara untuk mempertemukan produsen bahan baku pangan, pelaku industri makanan-minuman, serta buyer internasional.
Ketua Umum Gabungan Produsen
Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, turut hadir dalam acara pembukaan bersama perwakilan pemerintah Vietnam dan penyelenggara Informa Markets. Kehadiran GAPMMI menegaskan peran Indonesia sebagai motor penggerak industri makanan-minuman di ASEAN, sekaligus memperkuat diplomasi
ekonomi Indonesia di tingkat regional. Partisipasi GAPMMI bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari strategi diplomasi ekonomi. Melalui forum ini, Indonesia memperluas jejaring bisnis, memperkuat posisi dalam rantai pasok regional, serta membuka peluang ekspor bahan baku tropis dan produk olahan. Adhi S. Lukman menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada rempah, ekstrak herbal, dan pewarna alami, yang semakin diminati pasar global. Kehadiran
Indonesia di Fi Vietnam juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi dalam harmonisasi standar keamanan pangan ASEAN, sehingga produk lokal lebih mudah diterima di pasar regional. Fi Vietnam 2026 menyoroti tiga tren besar yang akan membentuk masa depan industri makanan-minuman:
z Produk menyehatkan dan fungsional: meningkatnya permintaan terhadap bahan baku alami, rendah gula, dan kaya zat gizi.
z Keberlanjutan: fokus pada bahan ramah lingkungan, efisiensi energi, dan pengurangan limbah.
z Digitalisasi rantai pasok: integrasi teknologi untuk transparansi dan efisiensi distribusi.
Dengan pasar Vietnam yang tumbuh lebih dari 8% per tahun hingga 2025, Fi
Vietnam menjadi pintu masuk strategis bagi produsen Indonesia. GAPMMI dapat memanfaatkan business matching untuk mempertemukan produsen lokal dengan buyer internasional, mempercepat penetrasi produk ke pasar ASEAN.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mengekspor bahan baku tropis seperti rempah, ekstrak herbal, dan pewarna alami. Produk-produk ini tidak hanya memenuhi tren global akan pangan sehat dan berkelanjutan, tetapi juga memperkuat citra Indonesia sebagai pemasok utama bahan baku alami di kawasan.
Kehadiran Ketua GAPMMI di Fi Vietnam 2026 memperkuat diplomasi
ekonomi Indonesia. Melalui forum ini, Indonesia dapat:
z Mendorong harmonisasi standar keamanan pangan ASEAN.
z Memperkuat posisi dalam negosiasi perdagangan regional.
z Menegaskan komitmen terhadap inovasi, keberlanjutan, dan kerja sama regional.
Fi Vietnam 2026 bukan sekadar pameran, melainkan arena strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di industri makanan-minuman ASEAN. Kehadiran GAPMMI menegaskan komitmen Indonesia terhadap inovasi, keberlanjutan, dan kolaborasi regional, sekaligus membuka jalan bagi ekspor bahan baku tropis yang semakin diminati pasar global. Fri-27
INFO GAPMMI
z Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) turut berpartisipasi dalam sejumlah pameran penting, antara lain FHTB (Food, Hotel & Tourism Bali), Morefood Expo, CBE, serta F+B Indonesia. Dalam keikutsertaan ini, GAPMMI secara khusus menampilkan UKM binaan. UKM diberi kesempatan untuk memperkenalkan produk inovatif, membangun jejaring dengan buyer, serta memperluas akses pasar di tingkat nasional maupun internasional. Partisipasi UKM di pameran ini menegaskan komitmen GAPMMI untuk mendukung ekosistem
industri makanan dan minuman yang inklusif, sekaligus mendorong daya saing produk lokal di tengah persaingan global.
Sekretariat GAPMMI
ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park
Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27
Hp. 08156720614
Email: gapmmi@cbn.net.id Website: www.gapmmi.id
Mengangkat Kearifan Lokal:
Potensi Ekonomi Sirkular Berbasis
Kemasan Alami
Oleh Eka Ruriani
Department of Agroindustrial Technology
Faculty of Agricultural Technology
University of Jember
Prinsip ekonomi sirkular (circular economy) dimaknai sebagai sebuah siklus material dan energi yang bersifat tertutup, sehingga produk dan bahan dapat digunakan kembali, diperbaiki, atau didaur ulang sebagai upaya efisiensi penggunaan sumber daya. Di tengah tantangan krisis lingkungan dan fluktuasi harga bahan baku global saat ini, transisi menuju sistem sirkular berbasis kemasan alami merupakan sebuah pilihan strategis yang memiliki potensi besar untuk menjaga keberlanjutan industri.
Implementasi ekonomi sirkular di Indonesia tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2020 – 2024, terutama pada prioritas nasional enam yaitu Pembangunan Rendah Karbon (PRK) untuk mencapai green economy
yang berfokus pada pengelolaan limbah, pembangunan energi berkelanjutan, dan pengembangan industri hijau. Strategi utama penerapan ekonomi sirkular bertujuan untuk mengurangi emisi global, sehingga tercapai zero waste melalui penggunaan teknologi ramah
lingkungan dan pengembangan teknologi hemat sumber daya. Industri
pengemasan memainkan peran penting dalam mencapai ekonomi sirkular melalui kebijakan penggunaan materi yang bersifat renewable, recycle biodegradable meminimalkan limbah yang dihasilkan. Selama ini penggunaan kemasan plastik tidak hanya menyebabkan migrasi senyawa aditif atau residu monomer ke dalam bahan pangan sebagai pemicu karsinogenik, tetapi juga menimbulkan timbunan sampah non-biodegradable mencemari tanah. Tercatat 20% dari sampah nasional berupa plastik dengan tingkat daur ulang hanya mencapai 22% (Kementerian Lingkungan Hidup dan BPLH 2025). Oleh karena itu, transisi menuju ekonomi sirkular dan pengemasan ramah lingkungan dipandang sebagai pilihan yang tidak bisa dihindari untuk mempercepat pembangunan sustainable living society dengan melibatkan peran serta pemerintah, industri, masyarakat umum, dan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengembangan green packaging dengan memanfaatkan kearifan lokal
produksi relatif terjangkau. Desain kemasan hijau juga diharapkan dapat memenuhi persepsi dan preferensi konsumen terhadap healthy dan green lifestyle yang semakin meningkat kesadarannya. Hasil kajian riset melaporkan bahwa permintaan konsumen terhadap kemasan ramah lingkungan mencapai 73%. Beberapa UMKM juga berhasil mengkonversi kemasan plastik dengan bahan alami dengan desain kemasan dan label etnik yang mengangkat tema kearifan lokal mampu meningkatkan nilai penjualan, bahkan mampu menembus pasar ekspor.
Green
packaging kearifan lokal
Di Indonesia, penggunaan kemasan alami berbasis kearifan lokal umumnya memanfaatkan bagian dari tanaman terutama daunnya, seperti daun pisang, daun jati, daun pandan, daun kelapa (janur), pelepah pisang, pelepah jagung (klobot), daun jambu biji.
Bahan kemasan tersebut digunakan dalam bentuk segar, daun kering atau digunakan dalam pengolahan pangan (pengukusan atau pemanggangan).
Daun-daun tersebut dapat digunakan untuk mengemas buah dan sayuran segar, serta umum digunakan untuk pangan olahan tradisional seperti dodol, tempe, lontong, ketupat, dan pudak. Daun pisang dan daun jati merupakan bahan kemasan yang banyak dimanfaatkan dan sangat potensial untuk digunakan sebagai kemasan ramah lingkungan.
Secara tradisional, daun pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengemas
primer untuk bahan pangan segar atau pangan olahan. Masyarakat pedesaan di Indonesia menggunakan pisang karena mudah diperoleh, murah terkadang hanya mengambil
dari pekarangan sendiri tanpa membeli, dan secara spesifik mampu memberikan aroma khas pada beberapa pangan olahan. Selain itu, daun pisang sangat ramah lingkungan karena aman, tidak toksik dan dapat terdegradasi jika dibanding plastik atau kertas. Lebih lanjut, selain memberikan flavour yang khas, daun pisang juga dapat memberikan sifat fungsional untuk kesehatan, sehingga potensi untuk dikembangkan sebagai active packaging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pisang mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenol, saponin, dan alkaloid yang memiliki aktivitas antimikroba dan antioksidan. Ekstrak daun pisang mengandung gallic acid tipe ketekin yang merupakan senyawa polifenol dan berfungsi sebagai antioksidan. Rahmadia et al. (2024) melaporkan bahwa ekstrak daun pisang kluthuk yang diinkroprasikan dalam kemasan berbasis pati singkong untuk mengemas jajanan tradisional dodol dapat menurunkan total mikroba dan melepaskan aktivitas antioksidan hingga 37% dalam masa penyimpanan
30 hari. Potensi ini menjadikan daun pisang sebagai sumber bahan tambahan alami yang tidak hanya memiliki nilai fungsional dalam memperpanjang masa simpan pangan, tetapi juga nilai ekonomi yang tinggi, terutama dalam pengembangan industri pangan lokal. Bahkan, saat ini daun pisang juga memiliki aplikasi lebih luas, tidak hanya bisa digunakan untuk mengemas makanan, tetapi juga minuman semi padat yaitu sebagai cup untuk es krim. Hal ini menjadi tidak hanya menjadi solusi yang inovatif dan efisien di tengah isu kenaikan harga kemasan plastik, tetapi juga meningkatkan nilai estetika bersifat etnis untuk industri makanan dan minuman.
Pohon jati (Tectona grandis) tumbuh di kawasan tropis dan tersebar di wilayah Jawa dan Kalimantan. Kayu jati dimanfaatkan sebagai struktur bangunan atau furnitur yang bernilai ekonomis sangat tinggi, sedangkan daunnya belum dimanfaatkan secara optimal. Daun jati (Tectona grandis L.f.) digunakan sebagai bahan pembungkus
makanan di masyarakat pedesaan secara tradisonal, padahal dengan sentuhan teknologi daun jati berpotensi sebagai bahan kemasan yang bernilai tambah tinggi. Permukaan daun jati memiliki lapisan lilin, struktur daun kuat, tidak mudah sobek, memberikan aroma khas karena adanya senyawa bioaktif. Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alami antosianin, pheophiptin, β-karoten, pelargonidin 3 glukosida, pelargonidin 3,7-diglukosida, dan klorofil yang berpotensi sebagai antioksidan. Kandungan senyawa
bioaktif dalam daun jati seperti tektokuinon, asam galat, dan asam tanat juga dapat dimanfaatkan sebagai antibacterial agent untuk pengembangan active-packaging (Okeniyi dan Akinlabi, 2020). Senyawa aktif tersebut menghambat pertumbuhan bakteri melalui mekanisme lisis membran sel, terlebih flavonoid dapat menyebabkan kerusakan struktur DNA bakteri sehingga menyebabkan kematian sel. Daun jati juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti Bacillus subtilis, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus, sehingga dapat digunakan sebagai bahan kemasan pengganti plastik untuk produk berbasis protein seperti daging, ikan atau telur untuk memperpanjang umur simpannya. Dengan menggunakan teknik ektraksi yang tepat, seperti microwave assisted extraction (MAE), aktivitas antibakterial ektrak daun jati dapat ditingkatkan (Sambodo et al. 2022).
Referensi:
Okeniyi JO, Akinlabi ST. 2020. Inhibition of Gramnegative and fungi strains of microbes inducing microbiologically-influenced-corrosion by Tectona grandis capped Fe-nanoparticle. Materials Today: Proceedings. 26(2):2471-2472
Sambodo DK, Marsel F, Sambodo HP, Arlesia N. 2022. Pengaruh perbedaan metode ekstraksi daun jati (tectona grandis l.f) terhadap aktivitas antibakteri pada Escherichia coli Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia 4(2):156-175
Rahmadia SN, Sigit NH, Juwitaningtyas T. 2024. Chemical properties and total plate count of dodol packaged in active packaging with the addition of klutuk banana leaf (Musa balbisiana colla). Journal of Functional Food and Nutraceutical. 5(2):87-95
STANDARDISASI KEAMANAN
KEMASAN PANGAN PET DAUR ULANG
Oleh Nuri Wulansari & Nur Arti Permatasari Badan Standardisasi Nasional
Dominasi kemasan plastik pada rak-rak ritel modern membuktikan peran vital material ini dalam rantai pasok pangan. Lebih dari sekadar pembungkus, plastik berfungsi sebagai pelindung utama dari risiko kontaminasi biologis, kimiawi, dan fisik yang dapat mengancam mutu produk.
Kombinasi sifatnya yang ringan, kokoh, dan fleksibel menjadikannya solusi paling efektif untuk menjaga stabilitas masa simpan dan keamanan pangan hingga ke tangan konsumen. Namun, ketergantungan yang tinggi pada material ini memicu tantangan lingkungan yang masif, sehingga mendorong industri untuk mengadopsi pendekatan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan polimer daur ulang seperti
PET (Polyethylene Terephthalate) tanpa mengorbankan standar keamanan produk.
Terlepas dari sifat fungsionalnya sebagai bahan kemasan, penggunaan plastik secara linier dengan pola “produksi-pakai-buang” telah memicu krisis lingkungan global. Menurut Najahi et al., produksi plastik global kini melampaui 400 juta metrik ton per tahun. Hal ini menjadikan limbah plastik sebagai tantangan besar yang harus dipecahkan, mengingat sebagian kecil saja yang berhasil didaur ulang, sementara sebagian besarnya langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) maupun dikelola dengan kurang
baik. Penumpukan sampah plastik kemasan yang tidak terkelola dengan baik menyebabkan degradasi ekosistem, baik di darat maupun di laut, yang dapat mengancam biodiversitas serta berpotensi masuk ke dalam rantai pangan sebagai “bahaya/hazard”. Permasalahan sampah plastik merupakan salah satu fokus utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Goal 12: Ensure sustainable consumption and production patterns. Di Indonesia, komitmen untuk mengatasi limbah plastik telah diintegrasikan ke dalam Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025 – 2045. Rencana aksi ini merekomendasikan daur ulang kemasan plastik menjadi secondary raw material (bijih/ cacahan plastik) yang digunakan untuk memproduksi kemasan plastik
baru. Konsep ekonomi sirkular mengubah paradigma “produksi-pakaibuang” menjadi sistem tertutup yang memaksimalkan pemanfaatan nilai material di sepanjang siklus hidupnya. Dengan pendekatan sistem tertutup ini, nilai material plastik dimaksimalkan sehingga tidak lagi terbuang ke TPA atau mencemari lingkungan.
Bahan daur ulang
Penggunaan material daur ulang dalam industri kemasan pangan kini semakin masif. Penggunaan bahan daur ulang yang tidak memenuhi standar berisiko menyebabkan migrasi kontaminan ke dalam pangan. Di antara berbagai jenis plastik, Polyethylene Terephthalate (PET) menjadi pilihan yang paling realistis untuk kemasan
pangan daur ulang karena memiliki sifat kuat tarik yang tinggi serta stabilitas kimia yang cukup baik. Karakteristik
PET memungkinkannya untuk diproses ulang tanpa mengalami degradasi fungsional yang signifikan, sehingga sangat ideal untuk digunakan kembali sebagai kemasan pangan seperti botol dan gelas.
PET daur ulang kini menjadi solusi strategis dalam menjawab tantangan terkait isu lingkungan, sekaligus mempertahankan fungsinya sebagai kemasan. Namun demikian, perlu dipastikan bahwa proses daur ulangnya mencakup langkah yang efisien dalam membersihkan kemasan plastik yang telah dipakai, menghilangkan residu zat dari penggunaan sebelumnya, serta memastikan potensi penyalahgunaan
penggunaan sebelumnya (misalnya selain untuk pangan). Melalui prosedur tersebut, PET daur ulang dapat dipastikan terbebas dari kontaminan hingga tingkat yang aman. Di tingkat internasional, the international organization for standardization (ISO) telah menetapkan ISO 15270:2008 Plastics — Guidelines for the recovery and recycling of plastics waste. Standar tersebut menetapkan beberapa pilihan untuk pemulihan limbah plastik (termasuk daur ulang) dan menetapkan persyaratan mutu yang harus dipenuhi dalam setiap tahapan proses pemulihan limbah plastik.
Standar tersebut juga memberikan rekomendasi umum yang dapat diintegrasikan ke dalam standar bahan, standar pengujian, dan spesifikasi produk.
European Food Safety Authority (EFSA) memandang bahwa penilaian keamanan dari plastik daur ulang tidak dapat dilakukan menggunakan pendekatan yang sama apabila kemasan diproduksi dengan plastik baru. Ketika yang digunakan adalah plastik baru, maka otoritas yang berwenang dapat menentukan komposisinya dan menentukan persyaratan kesesuaiannya misalnya terhadap batas
migrasi spesifik. Berbeda halnya jika yang digunakan adalah plastik daur ulang. Mengingat sifat kontaminan yang berpotensi terkandung dalam plastik daur ulang, maka otoritas yang berwenang dinilai tidak dapat mengetahui secara pasti zat apa saja yang terkandung dalam plastik daur ulang tersebut. Untuk itu, EFSA menetapkan bahwa pengendalian risiko keamanan pangan dalam plastik daur ulang difokuskan pada penerapan praktik produksi yang baik untuk memastikan bahan baku yang tepat, peralatan yang tepat dan kondisi pengoperasian yang tepat diterapkan
selama produksi. Regulasi EU Nomor 1616 tahun 2022 tentang recycled plastic materials and articles intended to come into contact with foods menetapkan kerangka kerja untuk menerapkan pendekatan tersebut.
Regulasi kemasan di Indonesia
Di tingkat nasional, penguatan aspek keamanan pangan dalam penggunaan plastik daur ulang telah dilakukan melalui penetapan beberapa regulasi, pedoman dan juga standar. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan Pedoman dan Kriteria Plastik Berbahan PET Daur Ulang yang Aman untuk Kemasan Pangan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pembuatan kemasan pangan dari bahan PET daur ulang sehingga kemasan tersebut dapat dinyatakan aman untuk digunakan. Melalui pedoman ini, setiap tahapan produksi kemasan, mulai dari pemilihan bahan hingga produk akhir, harus didasarkan pada pendekatan berbasis risiko (risk-based approach) untuk memastikan tidak adanya bahaya yang dapat mengancam kesehatan konsumen.
Selanjutnya, untuk memproduksi kemasan pangan dengan material daur ulang, diperlukan resin PET daur ulang yang terjamin mutu dan keamanannya. Kementerian Perindustrian juga telah mengupayakan pemastian produksi resin PET daur ulang yang aman melalui ketentuan dalam Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 4607 tahun 2025 tentang Pedoman Tata Cara Produksi Resin Polietilena Tereftalat
Daur Ulang untuk Kemasan Pangan yang Baik. Pedoman ini menjadi acuan
bagi produsen dalam memproduksi resin PET daur ulang untuk produksi kemasan pangan yang aman dan sesuai dengan mutu yang ditetapkan dalam SNI 8424:2023 Resin polietilena tereftalat (PET) daur ulang. SNI 8424:2023 menetapkan syarat mutu dan cara uji resin PET daur ulang sebagai bahan baku kemasan pangan. Berdasarkan SNI tersebut, jenis resin PET daur ulang dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori berdasarkan proses daur ulang yang dilakukan,
yaitu daur ulang mekanik secara umum, daur ulang mekanik dengan alkali, dan daur ulang mekanik dengan perlakuan lain. Untuk penggunaan sebagai kemasan pangan, resin daur ulang yang ditetapkan persyaratan mutunya adalah yang diproses mekanik dengan perlakuan lain seperti solid phase polycondensation (solid state polycondensation) dan penguapan vakum. Detail mengenai spesifikasi teknis dan batas maksimum migrasi senyawa terdapat pada Tabel 1.
Berkaitan dengan aspek keamanan pangan, pemenuhan persyaratan
Tabel 1 – Persyaratan mutu resin PET daur ulang
2 Kadar air % fraksi massa Maks. 1,0
3 Kontaminasi
Timbal (Pb)
Kadmium (Cd)
Raksa (Hg)
A) Jumlah total dari nilai batas migrasi spesifik untuk asetaldehida dan ester asam propionate – vinil.
B) Dalam bentuk antimoni (Sb).
C) Jumlah total dari nilai batas migrasi spesifik untuk etilena glikol, dietilena glikol dan ester asam stearat – etilena glikol.
Tabel 2 – Daftar SNI cara uji migrasi untuk kemasan plastik PET
Nomor SNI Judul SNI
SNI 7741:2013
SNI 81432:2017
SNI 82152:2017
Cara uji migrasi zat kontak pangan dari kemasan pangan Timbal (Pb), kadmium (Cd), kromium (VI) [Cr (VI)], dan merkuri (Hg) dari kemasan plastik
Cara uji residu zat kontak pangan dari kemasan pangan Bagian 2: Residu asetaldehida dalam kemasan pangan polietilena tereftalat (PET)
Cara uji migrasi total dari kemasan pangan Bagian 2: Kemasan plastik
ambang batas migrasi senyawa berbahaya dari kemasan ke dalam produk pangan merupakan hal yang krusial. Migrasi ini dapat terjadi akibat interaksi antara material kemasan dan pangan, yang dipengaruhi oleh kondisi tertentu seperti suhu yang tinggi, waktu kontak yang lama, atau sifat kimia pangan (misalnya asam). Di Indonesia, pengaturan mengenai batas aman migrasi senyawa kimia tidak hanya diterapkan pada tingkat bahan baku, seperti resin PET daur ulang, tetapi juga diatur untuk produk akhir kemasan pangan melalui Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Pemenuhan terhadap persyaratan tersebut harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium. Pengujian umumnya dilakukan menggunakan simulan pangan yang merepresentasikan berbagai jenis dan kondisi pangan. Untuk mendukung kesetaraan hasil pengujian antar laboratorium, Badan Standardisasi Nasional telah menetapkan beberapa SNI yang dapat
dijadikan acuan dalam pelaksanan uji migrasi tersebut, sebagaimana tercantum pada Tabel 2.
Secara keseluruhan, kerangka regulasi dan standardisasi ini menunjukkan bahwa pengembangan kemasan pangan berbasis PET daur ulang di Indonesia tidak hanya berorientasi pada aspek keberlanjutan lingkungan, tetapi juga mengedepankan aspek keamanan pangan sebagai prioritas utama. Pendekatan yang terintegrasi ini menjadi hal yang penting dalam memastikan bahwa penerapan ekonomi sirkular di Indonesia dapat berjalan tanpa mengesampingkan perlindungan terhadap kesehatan konsumen.
Referensi:
Najahi, et al. Plastic pollution in food packaging systems: impact on human health, socioeconomic considerations and regulatory framework. Journal of Hazardous Materials Advances. Volume 18, 2025
Peta Jalan & Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025 – 2045. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. 2024
European Commission. Plastic Recycling. https://food. ec.europa.eu/food-safety/chemical-safety/foodcontact-materials/plastic-recycling_en
MINI DIREKTORI
GNT Group B.V.
EXBERRY® is the leading brand of Coloring Foods for the food and beverage industry. Coloring Foods are made from fruits, vegetables, and edible plants using a physical manufacturing process processed with water.
+65 6659 4180
info-singapore@gnt-group.com
www.exberry.com
BENEO (BENEO Singapore - Asia Pacific Pte. Ltd.) Connecting nutrition and health
Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, metal detection and material handling equipment.
+613 8401 7400
www.eriez.com
PT KH ROBERTS INDONESIA
At KH Roberts, we leverage our deep expertise in flavour science and strong understanding of consumers’ needs to craft future flavours that deliver delight to consumers around the world.
021 87900778 / 021 89700723
info.id@kh-roberts.com
www.kh-roberts.com
https://www.linkedin.com/company/kh-roberts/
LabIndonesia
The Only Platform for Future Lab Technology & Chemicals for Medical, Pharma, Education & Scientific Research in Indonesia
+ 62 21 2525 320
www.lab-indo.com
IG lab_indonesia
Lab Indonesia
PTOgawaIndonesia
Ogawa & Co., Ltd. utilizes Japanese natural materials creating flavors and fragrances
Dairy Industry: Trends, Innovations, and Technology
Permintaan konsumen terhadap produk turunan susu kini semakin bergeser ke arah produk fungsional yang menawarkan manfaat kesehatan spesifik, seperti penguatan sistem imun dan kesehatan usus melalui probiotik serta protein tinggi. Di sisi lain, adopsi teknologi dan otomatisasi pada lini produksi menjadi tren utama untuk memastikan konsistensi kualitas serta efisiensi energi di pabrik pengolahan.
Namun, industri juga dihadapkan pada tantangan terkait standardisasi keamanan pangan yang lebih ketat serta tuntutan untuk beralih ke praktik peternakan yang lebih etis dan rendah emisi guna memenuhi net-zero global. Menanggapi dinamika tersebut, FoodReview Indonesia edisi mendatang akan mengulas tentang inovasi industri susu, mulai dari terobosan formulasi produk rendah lemak yang tetap lezat, pemanfaatan teknologi untuk ketertelusuran rantai pasok dari peternak ke konsumen, hingga optimasi proses produksi pada industri susu dan turunannya. Melalui kombinasi antara keandalan teknologi pengolahan dan strategi produk yang relevan dengan gaya hidup modern, industri susu diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjadi solusi gizi yang aman dan terpercaya bagi masyarakat luas.
Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi:
FOODREVIEW INDONESIA
telepon (0251) 8372333 | +62 811 1190 039 email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda.
Ms. Tissa Eritha - tissa@foodreview.co.id
Mr. Andang Setiadi - andang@foodreview.co.id
If you have a friend or colleague who would be interested in receiving FoodReview Indonesia, please feel free to share the latest issue, and our special digital subscription offer with them today.