Skip to main content

FRI VOL XXI/03 2026

Page 1


FOODREVIEW INDONESIA

JAMU:

Tradisi Wellness dan Inspirasi Inovasi

POLIFENOL &WELLNESS: Kunci Inovasi Pangan Fungsional Modern

SERBUK PANGAN

DALAM ERA WELLNESS: Teknologi dan Peluang Aplikasi

Wellness: Arah Baru Inovasi Pangan

https://linktr.ee/foodreview.co.id

Wellness: Arah Baru Inovasi Pangan

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pangan global mengalami perubahan yang semakin nyata. Pangan tidak lagi dipandang sekadar sebagai sumber energi dan zat gizi, tetapi semakin sering dikaitkan dengan upaya menjaga kesehatan dan kualitas hidup. Pergeseran ini melahirkan sebuah tren besar yang kini dikenal sebagai wellness, sebuah pendekatan yang menempatkan pangan sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang lebih menyeluruh.

Konsumen modern masih tetap saja mencari produk pangan yang lezat dan praktis. Namun, tidak hanya itu, mereka juga semakin tertarik pada pangan yang memberikan manfaat kesehatan -apakah itu manfaat bagi kesehatan pencernaan, daya tahan tubuh, maupun kesehatan, kebugaran dan kesejahteraan tubuh (wellness) secara keseluruhan. Dalam konteks inilah istilah pangan fungsional semakin sering muncul dalam ekosistem pangan global.

Namun, berkembangnya perhatian konsumen terhadap konsep wellness dan pangan fungsional juga membawa tantangan baru. Ketika semakin banyak produk pangan dikaitkan dengan manfaat kesehatan tertentu, muncul pertanyaan penting mengenai sejauh mana manfaat tersebut didukung oleh bukti ilmiah yang memadai. Informasi mengenai manfaat tersebut sering kali disampaikan kepada konsumen melalui berbagai bentuk klaim pada label atau materi komunikasi produk. Oleh karena itu, landasan ilmiah yang kuat menjadi elemen penting untuk memastikan bahwa klaim kesehatan pada pangan tetap akurat, kredibel, dan tidak menyesatkan. Perhatian terhadap aspek ilmiah ini semakin penting ketika berbagai senyawa bioaktif mulai menjadi fokus pengembangan pangan (dan ingridien) fungsional. Kelompok senyawa seperti polifenol, yang banyak ditemukan pada tanaman, menarik perhatian karena potensinya dalam berbagai aplikasi pangan yang dikaitkan dengan kesehatan. Namun, pengembangan produk berbasis senyawa bioaktif tidak hanya bergantung pada keberadaan senyawa tersebut, melainkan juga pada teknologi formulasi yang mampu menjaga stabilitasnya, baik dari sisi kandungan maupun aktivitas biologisnya. Di sisi lain, perkembangan teknologi pengolahan membuka peluang baru dalam pemanfaatan bahan pangan. Teknologi pengeringan dan penepungan, misalnya, memungkinkan berbagai bahan pangan diolah menjadi serbuk pangan yang lebih stabil, praktis, dan

mudah diaplikasikan dalam berbagai formulasi produk.

Dalam hal ini, ketika dunia mulai mencari inspirasi dari bahan herbal dan bioaktif alami, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang luar biasa, antara lain melalui tradisi jamu. Tradisi yang telah hidup berabad-abad ini kini menemukan relevansi baru. Warisan tradisi dan budaya ini dapat berkembang menjadi inovasi industri apabila didukung oleh sains, teknologi, dan strategi pengembangan yang tepat. Masa depan inovasi pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghadirkan produk baru, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan berbagai elemen penting—sains, teknologi, regulasi, pengindustriannya, dan kepercayaan konsumen.

Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang strategis. Kekayaan tradisi dan biodiversitas sumber daya alam memberikan fondasi yang kuat bagi pengembangan berbagai pangan fungsional. Dengan dukungan riset ilmiah, inovasi teknologi pangan, serta kerangka regulasi yang kredibel, industri pangan nasional memiliki peluang untuk tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga untuk turut membentuk arah perkembangannya (trend setter). Yang tidak kalah penting, kekayaan tradisi dan sumber daya alam ini perlu dikelola dan dikembangkan di negeri sendiri. Jangan sampai kekayaan dan tradisi khas ini justru menemukan tempat tumbuhnya di negara lain, bukan di Indonesia.

Melalui rangkaian tulisan utama dalam FoodReview Indonesia edisi ini, diharapkan muncul komitmen bersama untuk terus mendorong inovasi pangan yang berkelanjutan. Inovasi tersebut pada akhirnya bukan hanya berkaitan dengan apa yang kita makan, tetapi juga dengan bagaimana pangan dapat berkontribusi pada masa depan kesehatan masyarakat.

Dengan kekayaan sumber daya alam serta kearifan lokal yang dimiliki Indonesia, pengembangan pangan fungsional berpotensi menjadi salah satu landasan penting dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan nasional di tingkat global.

Purwiyatno Hariyadi https://phariyadi.foodreview.co.id/

daftar isi

VOL. XXI No. 3 Maret 2026

Posbiotik

OVERVIEW

24 JAMU: Tradisi Wellness

dan Inspirasi Inovasi

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negeri yang tidak hanya kaya akan tradisi pangan, tetapi juga memiliki landasan filosofis yang kuat dalam memandang pangan sebagai sarana pemelihara kesehatan. Dalam berbagai praktik budaya, pangan tidak sekadar diposisikan sebagai sumber energi dan zat gizi, melainkan juga sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, serta bahkan menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya.

34

sebagai Ingridien Pangan Fungsional: Inovasi, Produksi, dan Tantangannya

ASOSIASI

Pandangan GAPMMI

Terhadap Perjanjian

42

Perdagangan RI-AS dan Dampaknya Bagi Industri Pangan

INGRIDIEN

44

POLIFENOL & WELLNESS: Kunci Inovasi Pangan Fungsional Modern

Industri pangan global saat ini tengah memasuki babak baru yang dikenal sebagai revolusi kebugaran (wellness). Fenomena ini merujuk pada pergeseran paradigma kesehatan yang bersifat kuratif menuju preventif dan holistik, kemudian didukung oleh digitalisasi informasi kesehatan, healthy aging awareness, dan pengalaman pandemi yang memerlukan peningkatan sistem imun.

Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris

Staf Redaksi: Fitria Bunga Yunita | Sales, Advertising & Activities: Tissa Eritha

Digital Marketing: Fetty Fatimah | Business Development: Andang Setiadi | Desain & layout: Yanu Indaryanto

IT dan Website: Gugun Hendi Gunawan | Keuangan: Kartini, Padmawati Zainab

Penerbit: PT Media Pangan Indonesia

Alamat PT Media Pangan Indonesia: Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 Telepon: (0251) 8372333, (0251) 8322732 | +62 811 1190 039 | Fax: (0251) 8375754

Website: www.foodreview.co.id | E-mail: redaksi@foodreview.co.id, marketing@foodreview.co.id ISSN: 1907-1280

TEKNOLOGI

Teknologi dan Peluang

Aplikasi

Gaya hidup sehat semakin menjadi bagian dari budaya masyarakat modern, seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap konsep wellness. Hal ini mendorong konsumen untuk mencari produk pangan yang lebih alami dan memiliki nilai fungsional.

REGULASI

KLAIM KESEHATAN

60

PRODUK P ANGAN: Urgensi Landasan Ilmiah

Seiring berkembangnya inovasi pangan yang dikaitkan dengan berbagai potensi manfaat kesehatan dalam konteks tren wellness, komunikasi manfaat kepada konsumen menjadi semakin penting.

PANGAN 4.0: Kecepatan, Kepercayaan dan Keberlanjutan

Memasuki 2026, industri pangan Indonesia menghadapi percepatan transformasi yang dipicu oleh digitalisasi rantai pasok, perubahan perilaku konsumen, serta meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, pangan fungsional, dan gaya hidup sehat (wellness).

redaksi

Penambahan Saldo Pustaka Pangan

Kepada FoodReview Indonesia

Bagaimana cara melakukan pengisian saldo khusus untuk pembelian majalah edisi satuan di Pustaka Pangan? Terima kasih.

Arif

Bogor

Jawab:

Setelah berhasil membuat akun atau melakukan registrasi, silakan masuk ke akun Anda. Akses menu “My Account” dan lanjutkan dengan memilih opsi “Top Up” yang tertera. Selanjutnya, pilih metode pembayaran yang diinginkan dan tentukan jumlah saldo yang akan diisi, seperti Rp20.000 atau Rp40.000, atau nominal lain sesuai kebutuhan Anda untuk pembelian majalah edisi satuan. Setelah proses pembayaran berhasil diselesaikan, mohon segera hubungi layanan pelanggan FoodReview Indonesia melalui WhatsApp di nomor +628111190039 dengan menyertakan bukti transfer agar saldo Anda dapat segera kami proses. Terima kasih.

Q&A

FoodReview Indonesia Edisi Food Safety

Dear FoodReview Indonesia, Saya adalah seorang praktisi pangan yang bekerja di bidang pengolahan pangan spesifik fokus pada sistem manajemen mutu dan keamanan pangan. Apakah saya bisa memperolah artikel-artikel terkait dengan food safety dari majalah FoodReview Indonesia? Terima kasih.

Sofia Karawang

Jawab:

Setiap tahunnya kami memiliki edisi khusus terkait dengan food safety. Selain itu, kami juga menyediakan paket khusus terkait topik food safety dari beberapa tahun. Silakan cek di e-commerce kami atau hubungi bagian penjualan secara langsung ke nomor berikut: +62 811 1190 039 (WA). Terima kasih.

Format Artikel FoodReview Indonesia

Kepada FoodReview Indonesia

Mohon informasinya, bagaimana cara berkontribusi artikel untuk majalah FoodReview Indonesia dan apa saja syarat dan ketentuannya. Terima kasih.

Nanda Purwokerto

Jawab:

Kami menerima artikel dalam lingkup ilmu dan teknologi pangan dengan panjang artikel dibatasi

maksimum 4 halaman (12,000 karakter), dengan Cambria 12 spasi 1,5. Untuk keperluan tata letak dan penyuntingan, kami akan melakukan perubahan tanpa mengubah makna dan isi. Artikel yang ditulis kami harapkan disertai dengan nama penulis, lengkap dengan lembaga/perusahaan/asosiasi tempat penulis beraktivitas. Jika dipandang perlu, artikel bisa juga diberi tambahan daftar referensi -maksimal 5 sumber pustaka. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan menarik.

KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.

Majalah cetak edisi 2016-2020 masih bisa diperoleh melalui loka pasar kami seperti Shopee (Media Pangan Indonesia) & Tokopedia (Toko Kulinologi). Silakan ketik ‘Majalah FoodReview’ pada kolom pencarian. Sedangkan untuk ketersediaan edisi-edisi tertentu silakan menghubungi 0811 1190 039.

8 - 11 APRIL 2026

Jogja Expo Center, D.I Yogyakarta

Exhibition Hours : 10.00 - 19.00 WIB

TECHNOLOGY

Strategi Indonesia Perkuat Dominasi

Industri Kakao di Pasar Global

Sektor industri pengolahan kembali mengukuhkan posisinya sebagai motor utama penggerak ekonomi nasional dengan performa yang menguat sepanjang tahun 2025. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan sektor ini mencapai 5,30%, sebuah capaian impresif yang berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,11%.

Menteri Perindustrian Agus

Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa kinerja positif ini didorong secara konsisten oleh industri agro yang menjadi pilar utama manufaktur nonmigas. Hingga Desember 2025, industri agro menyumbang kontribusi signifikan sebesar 52,09% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Angka ini mencerminkan peran vital sektor agro dalam memperkokoh struktur industri nasional. Dalam upaya memperkuat daya saing, Kementerian Perindustrian memberikan perhatian khusus pada hilirisasi kakao nasional. Berkolaborasi dengan Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), pemerintah berkomitmen memantapkan posisi Indonesia sebagai pusat pengolahan (grinding) kakao unggulan di kawasan Asia maupun global. Optimisme ini diperkuat dengan tren peningkatan ketersediaan biji kakao dalam negeri yang mulai terlihat sejak awal 2025.

Plt. Direktur Jenderal Industri

Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika,

menambahkan bahwa meskipun dunia sempat menghadapi disrupsi pasokan biji kakao pada 2024 akibat penurunan produksi di Afrika Barat, industri kakao Indonesia menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Pada tahun 2025, industri pengolahan kakao nasional tumbuh sebesar 4,43 persen dengan volume grind mencapai 422.176 ton, sekaligus menyumbang devisa negara senilai USD 3,42 miliar.

Pencapaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan terbesar keempat di dunia, yang memasok 8,46 persen kebutuhan global untuk produk seperti cocoa butter, liquor, cake, dan powder. Posisi strategis ini memungkinkan Indonesia menangkap peluang pasar internasional secara lebih optimal saat permintaan global kembali meningkat.

Untuk menjaga momentum ini, pemerintah secara konsisten menerapkan langkah strategis melalui integrasi komoditas kakao ke dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program ini difokuskan pada revitalisasi perkebunan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan riset dan inovasi dari hulu hingga hilir. Selain itu, Kemenperin menyediakan dukungan anggaran restrukturisasi mesin guna memodernisasi pabrik pengolahan cokelat demi meningkatkan efisiensi dan daya saing di pasar global. Fri-35

IIFEX - EASTFOOD INDONESIA EXPO

The 16th International Exhibition on Food & Beverage Products, Ingredients, Technology and Services THE FOCUSED PLATFORM FOR YOUR FOOD, BEVERAGE & HOSPITALITY

INFO GAPMMI

z Direktorat Jenderal Pajak (DJP)

melalui Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat menyelenggarakan

kegiatan edukasi pengisian Surat

Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Tahun Pajak 2025 menggunakan sistem Coretax bekerja sama dengan menggandeng GAPMMI di kantor pusat DJP (24/02). Acara diikuti sekitar 250 orang secara hibrida, dengan para narasumber secara luring di kantor pusat DJP dan peserta secara daring melalui zoom meeting. Melalui edukasi ini, DJP berharap para pelaku usaha yang tergabung dalam GAPMMI memiliki persiapan yang matang dalam menyampaikan SPT Tahunan 2025. Kegiatan edukasi ini menjadi jembatan bagi para anggota untuk lebih memahami sistem Coretax yang telah diimplementasikan sejak awal 2025, sehingga kewajiban perpajakan tahunan dapat terpenuhi

dengan akurat dan tepat waktu. Materi sosialisasi Edukasi SPT Tahunan dapat disimak melalui tautan https://s.kemenkeu.go.id/ MateriEdukasiSPT

z Working Group Advokasi Halal GAPMMI mengadakan audiensi

dengan Kepala BPJPH di kantor BPJPH (24/02) untuk membahas percepatan sisa delapan bulan masa transisi wajib halal, yang menghasilkan pemutakhiran positif berupa akselerasi pengakuan Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) bagi bahan baku impor serta pengadopsian usulan GAPMMI agar perubahan minor pada sertifikat halal tidak lagi memerlukan pendaftaran baru. Meski demikian, GAPMMI tetap berkomitmen melanjutkan advokasi terhadap sejumlah isu krusial yang masih mengkhawatirkan guna memastikan kelancaran operasional industri pangan.

Edukasi Pengisian SPT Tahunan melalui Coretax DJP

z Badan Pusat Statistik (BPS) resmi

menggelar Kick Off Publisitas Sensus

Ekonomi 2026 (SE2026) pada di Gedung BPS RI (26/02) dengan target ambisius untuk mendata sekitar 30 juta pelaku usaha di seluruh Indonesia. Kegiatan strategis nasional yang akan dilaksanakan mulai 1 Mei hingga 31 Juli 2026 ini bertujuan untuk memotret struktur ekonomi non-pertanian secara komprehensif, mencakup aktivitas konvensional hingga fenomena baru seperti shadow economy dan pelaku ekonomi digital seperti content creator. Melalui kolaborasi dengan Bakohumas dan berbagai asosiasi usaha seperti GAPMMI, APINDO, serta KADIN, BPS berharap pendataan ini dapat menjadi landasan akurat dalam perumusan kebijakan pembangunan dan

penguatan daya saing nasional di masa depan. Rekaman acara dapat disaksikan lewat Channel YouTube BPS Statistics (https://youtu.be/ vQDVJuJwrXw)

z Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM melakukan sosialisasi intensif implementasi PP Nomor 28 Tahun 2025 pada sistem OSS untuk mempercepat realisasi investasi melalui reformasi birokrasi, khususnya di sektor strategis seperti industri pangan. Langkah ini mencakup penerapan sistem fiktif positif guna menjamin kepastian waktu perizinan melalui penerbitan otomatis jika verifikasi melampaui batas waktu, serta kemudahan pernyataan mandiri KKPR bagi pelaku usaha mikro agar NIB terbit lebih cepat. Selain itu, pemerintah sedang memproses transisi ke KBLI 2025 yang ditargetkan rampung pada April 2026 demi menyelaraskan kategori industri dengan standar internasional. Rekaman sosialisasi dapat disimak di Channel YouTube OSS Indonesia (https://youtu.be/ BcBhOwV9DrA) sedangkan materi sosialisasi dapat diunduh pada https://bit.ly/Materi-PP28-26Fe Fri-27

SELAMAT HARI RAYA

Audiensi GAPMMI dgn BPJPH

FOOMA JAPAN 2026: Experience the Shift- Where the Future of Food Processing Unfolds

FOOMA JAPAN 2026, one of the world’s leading premier food processing expos, will be held from June 2 to June 5, 2026, at Tokyo Big Sight. The event attracts industry professionals from around the world who are eager to experience Japan’s high-quality, reliable, and highly automated food machinery, which continues to generate strong international interest. Approximately 1,000 exhibitors will present more than 7,000 solutions covering the entire

food industry, including processing, packaging, hygiene technologies, and related systems. A major highlight is the Innovation Hub, where startups, academia, and technology leaders showcase advanced AI, robotics, and food tech solutions, demonstrating future production models and making FOOMA JAPAN an unmissable destination for discovering the next generation of food processing innovation.

Inovasi Beras Fortifikasi untuk Tingkatkan

Kualitas Gizi pada Program MBG

Indonesia–Prancis resmi meluncurkan

Program FORTRIZ (Food Fortification for Nutrition Improvement) di IPB ICC (12/2/2026) sebagai langkah nyata meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sambutannya, perwakilan dari Kedutaan Besar Prancis, Jules Irrman mengungkap, peluncuran ini juga merupakan bagian dari Tahun

Inovasi Indonesia–Prancis 2026 sekaligus memperingati 50 tahun kehadiran French National Research Institute for Sustainable Development (IRD) di Indonesia. Jules berharap, program ini membawa dampak positif terhadap peningkatan kualitas gizi anak Indonesia. FORTRIZ berfokus

pada pengembangan beras yang diperkaya vitamin dan mineral. Hal ini dibutuhkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekolah pada program MBG. Sebelumnya diketahui Lebih dari 20 persen anak Indonesia mengalami kekurangan zat gizi mikro. Program ini akan dijalankan oleh IRD untuk Indonesia dan Timor Leste bekerja sama dengan beberapa mitra yakni SEAFAST Center IPB University, Savica Consultancy, dan World Food Programme (WFP) Indonesia. Prof. Adèle Martial Gros dari IRD kepada FoodReview Indonesia mengungkap beras fortifikasi ini siap diimplementasikan. Pada tahap awal, program ini akan dijalankan di empat wilayah di Indonesia dan melibatkan

sekitar 2.400 siswa. “Program akan berlangsung sekitar 2 tahun dengan target perluasan nasional jika hasilnya positif,” kata Prof. Adèle. Hadir juga dalam memberikan sambutan yakni perwakilan dari BRIN, BGN, dan Bappenas yang senada menyambut baik dan sangat antusias terhadap program

FORTRIZ untuk mendukung MBG serta meningkatkan status gizi anak Indonesia.

FORTRIZ mengembangkan beras kaya gizi dengan teknologi fortified rice kernel atau FRK. FRK ini diperkaya dengan vitamin dan mineral kemudian dibentuk seperti beras, lalu beras difortifikasi dengan mencampurkan FRK ini. Fortifikasi pangan telah diakui secara global sebagai salah satu

intervensi paling efektif dan terjangkau untuk mengatasi kekurangan zat gizi mikro. Di Indonesia, beras dipilih sebagai media fortifikasi karena dikonsumsi hampir setiap hari oleh sebagian besar masyarakat. Fortifikasi dinilai sebagai cara efektif dan terjangkau untuk membangun generasi yang lebih sehat.

Selain meningkatkan gizi, FORTRIZ juga mendorong pemberdayaan perempuan melalui pelatihan tenaga dapur sekolah di bidang gizi dan keamanan pangan. Program ini diharapkan memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memberikan dampak sosial ekonomi yang luas. Fri-12

CEGAH ANEMIA UNTUK GENERASI SEHAT & CERDAS

» Anemia di Indonesia

» Anemia Defisiensi Besi: Masalah Gizi Global yang Masih Terabaikan

» Pola Makan Gizi Seimbang: Kunci Pencegahan Anemia Defisiensi Besi

» Intervensi Gizi & Gaya Hidup

» Resep Olahan Bahan Pangan Zat Besi pt media pangan indonesia

Clinically Proven Postbiotic Ingredients for Multi-Category Applications

① Beneficial Bacteria (vs. Placebo) ↑

• Megamonas funiformis & Blautia : Strong SCFA producers and supports intestinal health

Harmful Bacteria (vs. Placebo) ↓

• Escherichia : Linked to inflammation & gastrointestinal infections

• Klebsiella : Opportunistic pathogen associated with metabolic dysfunction

< Advantages of Postbiotics >

» Stability

• Heat / Acid-resistant

• Long shelf life

• Consistent efficacy across formulations

» Safety

• No live-bacteria risk (no infection)

• No translocation concern

• Antibiotic-resistance free

② Ease gastrointestinal symptoms, Alleviate gut-related stress, and Improve digestive quality of life

• GSRS : Gastrointestinal Symptom Rating Scale

• PSS : Perceived Stress Scale

• DQLQ : Digestive Associated Quality of Life Questionnaire

< Why beLP1™ Postbiotics >

• 40+ Years of Experience on Postbiotics

• #1 Highest Concentration Technology 3 trillion intact cells / gram lowest cost per serving

• Plant-based, Kimchi-derived (L. plantarum)

• Only the Cells : does not alter with taste, color, smell

• Fine Powder – Easy to Formulate

• Stable for 2 Years, Room Temperature

Indonesia dan Uzbekistan Resmi Mulai

Perundingan Perjanjian Perdagangan

Bebas

Menteri Perdagangan RI Budi

Santoso dan Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan Laziz Kudratov secara resmi meluncurkan perundingan IndonesiaUzbekistan Free Trade Agreement (FTA) secara daring, Senin (2/3). Pertemuan ini ditandai dengan penandatanganan pernyataan bersama serta Persetujuan

Kerja Sama Perdagangan dan Investasi. Mendag Budi Santoso optimistis bahwa kemitraan ini akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus memperluas akses pasar bagi produk unggulan, penguatan rantai nilai, serta membuka peluang

bagi UMKM. Sebagai mitra strategis di Asia Tengah, posisi geografis Uzbekistan diharapkan menjadi pintu masuk produk Indonesia ke pasar kawasan yang lebih luas.

Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan Laziz Kudratov menegaskan bahwa ruang peningkatan kerja sama masih sangat besar, dan FTA ini akan menjadi fondasi sistematis untuk memperkuat hubungan bilateral. Pemerintah Indonesia berkomitmen menyelesaikan perundingan ini secara efektif dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional. Fri-35

Optimalisasi Sistem Resi Gudang untuk Perkuat Cadangan Pangan Nasional

Penguatan cadangan pangan nasional kini difokuskan pada optimalisasi infrastruktur

penyimpanan yang terintegrasi, salah satunya melalui pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG). Langkah sinergi ini menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas pasokan komoditas strategis seperti gabah, beras, dan jagung, guna mendukung target swasembada pangan yang tertuang dalam Program Asta Cita Pemerintah RI.

Menteri Perdagangan Budi Santoso, saat meninjau Gudang SRG di Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, Senin (23/2), menekankan bahwa gudanggudang SRG harus dimanfaatkan secara

maksimal oleh Bulog. Keberadaan fasilitas ini dinilai sangat krusial dalam menyediakan dukungan infrastruktur penyimpanan yang memadai, sekaligus berfungsi sebagai manajemen stok untuk mengatur distribusi bahan pangan secara efisien di tingkat daerah maupun nasional.

Sebagai bukti nyata, Gudang SRG di Kabupaten Pidie saat ini telah menampung sebanyak 2.300 ton beras Bulog untuk keperluan program bantuan pangan periode Februari–Maret 2026. Pola serupa juga telah diterapkan di beberapa titik lain di Aceh, seperti di Pidie Jaya dengan kapasitas 1.817 ton dan Bireuen sebesar 1.394 ton. Optimalisasi ini menunjukkan peran vital SRG dalam menjaga kelangsungan rantai pasok pangan.

Kedepannya, pemanfaatan SRG akan dilakukan secara berkelanjutan melalui siklus pengelolaan cadangan yang berkesinambungan. Setelah stok saat ini tersalurkan, gudang-gudang tersebut diproyeksikan akan segera diisi kembali dengan hasil panen tahun 2026. Melalui tata kelola yang profesional, seperti yang dilakukan oleh Koperasi Jasa Beumakmu di bawah pengawasan Bappebti, SRG diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Indonesia. Fri-35

BPOM Setujui Klaim “Live Culture” untuk

Probiotik BC30™ di Indonesia

Kerry secara resmi mengumumkan bahwa bahan probiotik unggulannya, BC30™ (Bacillus coagulans GBI-30, 6086), telah mendapatkan persetujuan regulasi dari BPOM RI untuk penggunaan klaim “Kultur Hidup” (live culture) pada kategori pangan umum. Keputusan ini menyusul pencantuman BC30™ dalam daftar mikroorganisme yang diizinkan berdasarkan PERBPOM No. 38/2023. Persetujuan ini memberikan peluang baru bagi produsen pangan di Indonesia untuk menjawab tingginya permintaan konsumen terhadap produk kesehatan pencernaan. BC30™ dikenal

sebagai probiotik dengan bentuk spora yang tangguh, sehingga tetap stabil dan aktif selama proses manufaktur, penyimpanan, hingga dikonsumsi.

Untuk menggunakan klaim ini, produk akhir harus memenuhi kriteria teknis

ketat, termasuk pencantuman nama galur secara spesifik dan pemenuhan jumlah minimal mikroorganisme sebesar 1x106 CFU per gram atau mililiter hingga akhir masa simpan. Langkah ini mempertegas komitmen Kerry dalam mendukung inovasi pangan fungsional berbasis sains yang patuh terhadap regulasi lokal. Fri-35

GAPMMI Optimistis Negosiasi Dagang AS Perkuat Ekspor Global

Sektor industri pangan Indonesia menyambut positif proses negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat yang bertujuan mengurangi ketidakpastian perdagangan (trade uncertainty). GAPMMI memandang bahwa penguatan kerja sama bilateral ini akan meningkatkan daya saing produk unggulan Indonesia di pasar internasional, terutama melalui insentif pengecualian tarif bagi komoditas strategis seperti kakao, kopi, sawit, dan produk turunannya.

Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman menjelaskan bahwa kepastian akses pasar serta tarif yang kompetitif memberikan ruang bagi pelaku industri untuk melakukan efisiensi biaya dan menjaga utilisasi kapasitas produksi.

Hal ini sangat penting bagi industri mamin yang telah terintegrasi dalam rantai pasok global untuk memperluas penetrasi pasar di Amerika Serikat melalui perencanaan investasi yang berorientasi ekspor.

GAPMMI menegaskan komitmennya untuk mendukung kebijakan pemerintah yang menyeimbangkan kepentingan nasional dengan daya saing industri. Melalui implementasi hasil negosiasi yang konsisten, diharapkan posisi produk pangan Indonesia semakin solid di pasar global, yang pada akhirnya memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional secara makro. Fri-35

Falmont Flavors Perkuat Komitmen Inovasi di Industri Pangan Nasional

Satu momentum penting hadir dalam perjalanan industri pangan Indonesia. Falmont Flavors, sebuah perusahaan perisa makanan dan minuman berskala nasional, resmi menghadirkan Falmont Flavors

Innovation Center (FFIC) pada 14

Februari 2026 sebagai wadah inovasi dan kolaborasi di industri pangan nasional.

FFIC yang berlokasi di Iconix Studio

Loft BSD, Tangerang, Banten menjadi ruang baru yang didedikasikan untuk pengembangan perisa masa depan,

penelitian berkelanjutan, serta kolaborasi lintas disiplin. FFIC dirancang untuk menginspirasi ide-ide terobosan, mencerminkan visi Falmont Flavors dalam membentuk masa depan industri perisa nasional.

Melalui gebrakan ini, Falmont Flavors semakin menegaskan eksistensinya sebagai perusahaan perisa yang memadukan inovasi riset para flavorist berpengalaman, warisan formula flavor otentik, serta kekuatan business knowledge management Falmont yang matang dengan

lebih dari dua dekade pengalaman menjadi fondasi kuat dalam memahami pasar dan inovasi produk di industri flavor.

Hadirnya Falmont Flavors Innovation Center menjadi media dan ruang diskusi pengembangan produk yang menjawab kebutuhan di industri pangan. David F Kurniawan, Direktur Utama PT Falmont Aroma International (Falmont Flavors), menjelaskan bahwa peresmian ini menandai awal dari babak baru penuh peluang, kreativitas, dan pencapaian.

Falmont Flavors optimistis bahwa langkah ini akan melahirkan berbagai inovasi yang tidak hanya menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga mengantisipasi tren masa depan. Dengan berfokus pada penyediaan layanan dan produk terbaik, Falmont Flavors secara konsisten beradaptasi dan berinovasi mengikuti kebutuhan pasar.

Sebagai perusahaan perisa, Falmont Flavors menyediakan produk berkualitas tinggi yang didukung oleh penelitian inovatif serta pemanfaatan teknologi modern. Pendekatan ini dirancang untuk

mendukung industri makanan dan minuman dalam menciptakan produk-produk unggulan yang mampu bersaing di pasar.

Dengan fokus pada kualitas, keandalan, dan kolaborasi, Falmont Flavors telah menjadi mitra strategis bagi para pelaku utama industri makanan dan minuman. Perpaduan antara tradisi yang kaya dan inovasi modern semakin membuka peluang bagi Falmont Flavor ini untuk terus tumbuh dan menghadirkan solusi perisa yang relevan, kompetitif, dan berstandar internasional.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan mengunjungi website kami: https://falmontflavors.com/id/

Kontak untuk informasi:

PT Falmont Aroma International info@falmontflavors.com 0251 8413668 +628111192673

JAMU:

Tradisi Wellness dan Inspirasi Inovasi

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negeri yang tidak hanya kaya akan tradisi pangan, tetapi juga memiliki landasan filosofis yang kuat dalam memandang pangan sebagai sarana pemelihara kesehatan. Dalam berbagai praktik budaya, pangan tidak sekadar diposisikan sebagai sumber energi dan zat gizi, melainkan juga sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, serta bahkan menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya. Dalam pengertian modern, cara pandang ini sejalan dengan konsep wellness, yaitu pendekatan yang menempatkan pangan sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga kualitas hidup dan kesehatan secara menyeluruh.

Salah satu manifestasi nyata dari pandangan tersebut adalah tradisi jamu. Jamu adalah suatu formula atau ramuan berbasis sumber daya alam (umumnya sumber daya tumbuhan) yang berdasarkan tradisi diyakini mempunyai khasiat untuk menjaga kebugaran, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung kesehatan sehari-hari.

Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Nusantara telah memanfaatkan berbagai tanaman herbal seperti kunyit, jahe, temulawak, kencur, dan berbagai rempah lainnya sebagai bagian dari pola konsumsi yang diyakini dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh. Praktik ini berkembang tidak hanya sebagai kebiasaan kesehatan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang diwariskan lintas generasi. Dalam konteks tersebut, jamu bukan sekadar

minuman tradisional, melainkan bagian dari kearifan kesehatan dan bahkan identitas masyarakat Indonesia. Di tengah modernisasi sistem pangan global, kedalaman kearifan ini sempat terpinggirkan oleh dominasi produk lain yang dianggap lebih modern. Namun, pada saat dunia kembali mencari pendekatan kesehatan yang lebih holistik, banyak prinsip kearifan telah lama hidup dalam tradisi jamu itu, kini justru menemukan relevansinya, khususnya dalam konteks konsep wellness masa kini.

Relevansi baru jamu dalam era modern

Dalam satu dekade terakhir, konsumen modern tidak lagi hanya mencari produk yang mengenyangkan atau praktis, tetapi juga pangan yang dapat memberikan dukungan terhadap

kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup, yang hal ini sering dikaitkan dengan konsep wellness. Perubahan ini mendorong berkembangnya berbagai kategori produk yang dikenal sebagai pangan fungsional, yaitu pangan yang selain memberikan nilai gizi dasar juga mempunyai manfaat fisiologis tertentu yang positif bagi kesehatan.

Perubahan tren ini membuka ruang bagi reinterpretasi berbagai tradisi pangan berkhasiat, termasuk jamu. Di berbagai kota besar, jamu kini hadir dalam format yang lebih kontemporer. Di hotel, spa, restoran, hingga kafe urban, minuman herbal seperti beras kencur, kunyit asam, atau temulawak disajikan bersama dengan jenis minuman “modern” lainnya, sama-sama dalam konsep dan tampilan estetis yang sesuai dan relevan dengan gaya hidup kekinian. Bahkan, di banyak hotel modern, produk-produk “tradisional” tersebut

sering diposisikan sebagai minuman herbal kebugaran khas yang dipadukan dengan tren gaya hidup sehat

Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber inspirasi bagi inovasi pangan yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat modern.

Dari tradisi ke industri

Transformasi jamu dari ramuan tradisional menjadi produk industri sebenarnya telah dimulai sejak beberapa dekade lalu. Paling tidak, sejak tahun 1980-an, industri nasional mulai mengembangkan produk jamu siap minum yang lebih stabil, aman, dan dapat dipasarkan secara luas. Salah satu contoh penting adalah inovasi yang dilakukan oleh industri nasional seperti PT Mustika Ratu, yang mengembangkan berbagai produk jamu seperti beras kencur, serbat, dan gula asam dalam format modern. Namun demikian, pengembangan jamu modern tidak hanya dilakukan oleh

satu perusahaan saja. Berbagai industri nasional lain juga turut berperan dalam mengembangkan produk jamu dan herbal modern, baik dalam bentuk minuman siap minum, ekstrak herbal, maupun produk herbal fungsional lainnya yang diproduksi secara lebih terstandar dan dapat dipasarkan secara luas. Teknologi pengolahan minuman tradisional ini menggunakan proses sterilisasi komersial, termasuk teknologi UHT, sehingga memungkinkan produksi minuman jamu yang aman, siap minum, serta memiliki masa simpan yang panjang tanpa mengorbankan cita rasa (Gambar 1).

Selain format minuman siap minum, industri juga mengembangkan berbagai bentuk produk lain seperti minuman herbal instan berbentuk serbuk, ekstrak herbal kering, serta berbagai inovasi minuman fungsional modern. Perkembangan ini menunjukkan bagaimana tradisi jamu

Gambar 1. Beberapa contoh produk minuman komersial yang mengadopsi konsep atau tradisi.

mulai diterjemahkan ke dalam bahasa teknologi pangan modern, sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Ini merupakan perkembangan yang menggembirakan. Mengingat potensi jamu yang sangat besar, diperlukan upaya yang lebih sistematis untuk menjadikannya sebagai kekuatan inovasi pangan fungsional. Untuk mencapai

Foto: Dok. FRI

tahap tersebut diperlukan ekosistem inovasi yang lebih matang—mulai dari dukungan riset ilmiah yang lebih kuat, pengembangan teknologi proses yang berkelanjutan, sistem rantai pasok bahan baku yang terstandar, hingga kerangka regulasi dan kebijakan yang mampu mendorong inovasi secara konsisten

Pengindustrian tradisi

Tradisi lama, yang kadang-kadang bersifat lokal dan khusus, merupakan potensi luar biasa yang perlu difasilitasi melalui pengembangan ekosistem inovasi agar benar-benar relevan dalam konteks pembangunan kesehatan konsumen. Di samping itu, tradisi ini juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sebagai salah satu simpul dalam rantai pasok pangan global. Dengan konsumen global yang semakin mencari produk dengan manfaat kesehatan tertentu, seperti dukungan terhadap sistem imun, kesehatan pencernaan, serta keseimbangan metabolisme, maka tradisi jamu dapat dipandang sebagai bukti historis pemanfaatan bahan alam yang aman dan berkhasiat.

Banyak bahan yang digunakan dalam jamu sebenarnya kaya akan senyawa bioaktif yang telah banyak diteliti dalam literatur ilmiah modern. Misalnya kurkumin pada kunyit, gingerol pada jahe, serta berbagai senyawa polifenol dan flavonoid yang terdapat pada berbagai tanaman herbal. Senyawasenyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi

memengaruhi berbagai fungsi fisiologis tubuh.

Banyak dari bahan-bahan tersebut merupakan sumber daya alam lokal, dan sebagian besar praktik peramuannya juga merupakan bagian dari tradisi serta kearifan lokal masyarakat. Semua itu merupakan potensi lokal yang perlu dikelola secara bijak melalui upaya pengindustrian tradisi jamu. Dalam tulisan ini, pengindustrian dipahami sebagai proses pengembangan praktik tradisional menjadi sistem produksi yang lebih terorganisasi, berbasis pengetahuan dan teknologi, serta terstandar mutunya, dengan tujuan menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus melestarikan nilai budaya. Dalam kerangka tersebut, potensi kekayaan berbagai sumber daya alam yang mengandung senyawa bioaktif perlu dikurasi dan dikembangkan secara sistematis. Upaya tersebut setidaknya memerlukan tiga prasyarat penting.

(I) Pertama, landasan ilmiah (scientific substantiation). Diperlukan buktibukti ilmiah yang memadai untuk menjelaskan manfaat senyawa bioaktif bagi kesehatan. Bukti ilmiah tersebut juga perlu dikomunikasikan secara kredibel kepada konsumen sehingga manfaat produk tidak hanya bersifat klaim, tetapi didukung oleh dasar pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

(II) Kedua, efektivitas proses dan stabilitas senyawa bioaktif. Berbagai teknologi pengolahan

Selamat Hari Raya
Idul Fitri 1447 H

seperti ekstraksi, pengeringan, dan pemanasan berpotensi

memengaruhi stabilitas senyawa bioaktif. Oleh karena itu diperlukan standardisasi proses pengolahan, termasuk aspek pengemasan, untuk memastikan stabilitas senyawa bioaktif selama proses produksi, distribusi, dan penyimpanan.

(III) Ketiga, relevansi budaya (cultural storytelling). Narasi mengenai asalusul bahan, tradisi penggunaannya, serta manfaat atau khasiatnya tidak hanya memperkuat identitas produk, tetapi juga meningkatkan relevansinya dengan gaya hidup konsumen modern—yang pada akhirnya memperkuat kepercayaan konsumen.

Ketiga faktor tersebut menunjukkan bahwa inovasi pangan fungsional tidak hanya merupakan hasil penerapan sains dan teknologi. Inovasi juga lahir dari

integrasi antara pengetahuan ilmiah, kemampuan teknologi pengolahan, serta narasi budaya yang memberi makna pada produk. Integrasi ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya berbagai model inovasi bisnis berbasis tradisi. Oleh karena itu, proses pengindustriannya tidak terjadi secara kebetulan, tetapi perlu difasilitasi secara sadar melalui desain ekosistem inovasi yang tepat.

Tantangan teknologi dan produksi

Prasyarat ilmiah, teknologi proses, dan relevansi budaya sebagaimana diuraikan sebelumnya pada praktiknya tidak selalu mudah diwujudkan. Justru pada tahap inilah berbagai tantangan teknologi dan produksi mulai muncul dalam upaya pengindustrian jamu dan pengembangan pangan fungsional berbasis herbal.

Paket Premium Collector’s Edition untuk Anda yang menghargai eksklusivitas.

untuk Webinar, Workshop dan Seminar FOODREVIEW Indonesia

untuk berlangganan

» Update Regulasi: Rangkuman kebijakan dan standar nasional dan internasional secara berkala. Lebih Lengkap, Berlipat Manfaat.

» Edisi Cetak Eksklusif Dua Bulanan: Majalah fisik premium dikirim langsung ke depan pintu Anda setiap 2 bulan.

» Arsip Tanpa Batas: Akses majalah digital selama 1 tahun melalui www.pustakapangan.com.

» Priority Access & Networking: Satu (1) Undangan mengikuti Webinar atau Seminar FOODREVIEW Indonesia dan dapatkan akses khusus ke komunitas Industri Pangan.

Salah satu tantangan utama adalah menjaga senyawa bioaktif setelah melalui proses pengolahan, seperti pemanasan, ekstraksi, atau pengeringan. Banyak senyawa bioaktif pada bahan herbal bersifat sensitif terhadap suhu, oksidasi, maupun kondisi proses lainnya. Karena itu, teknologi pengolahan harus dirancang agar manfaat biologisnya tetap terjaga.

Selain itu, konsistensi mutu bahan baku juga menjadi faktor penting. Kandungan senyawa fitokimia pada tanaman dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti varietas, kondisi tanah, iklim, waktu panen, serta metode budidaya. Oleh karena itu, pengindustrian jamu memerlukan sistem standardisasi bahan baku yang lebih baik, termasuk praktik budidaya yang terkontrol dan sistem rantai pasok yang lebih tertata.

Tantangan lain berkaitan dengan stabilitas produk selama penyimpanan. Produk minuman yang kaya polifenol, misalnya, sering menghadapi masalah perubahan warna, kekeruhan, atau perubahan rasa selama penyimpanan.

Di sisi lain, formulasi produk juga perlu mempertimbangkan preferensi konsumen modern, termasuk upaya mengurangi kadar gula tanpa mengorbankan karakter sensori khas dari minuman jamu.

Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan besar berupa biodiversitas rempah yang sangat kaya serta jaringan petani herbal yang luas. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi,

konsistensi mutu dan standardisasi proses agar produk herbal Indonesia mampu memenuhi tuntutan ritel modern sekaligus bersaing di pasar global.

Regulasi dan kepercayaan konsumen

Berbagai tantangan teknologi dan produksi sebagaimana diuraikan sebelumnya pada akhirnya bermuara pada satu hal yang sangat penting, yaitu kepercayaan konsumen. Dalam konteks pangan fungsional, kepercayaan tersebut tidak hanya dibangun melalui kualitas produk, tetapi juga melalui kerangka regulasi yang jelas, kredibel, dan berbasis sains.

Dalam pengembangan pangan fungsional berbasis herbal, inovasi produk perlu selaras dengan sistem regulasi yang mengatur keamanan pangan, evaluasi bahan aktif, serta penggunaan klaim gizi dan kesehatan. Regulasi berperan memastikan bahwa manfaat yang dikomunikasikan kepada konsumen benar-benar didukung oleh bukti ilmiah yang memadai.

Seiring meningkatnya minat konsumen terhadap produk yang dikaitkan dengan kesehatan, komunikasi manfaat kepada konsumen menjadi semakin penting. Dalam praktiknya, manfaat tersebut sering disampaikan melalui klaim pada label maupun materi promosi produk pangan. Oleh karena itu, klaim kesehatan perlu didukung oleh bukti ilmiah yang kuat agar informasi yang disampaikan tetap akurat, transparan, dan tidak menyesatkan.

Dalam konteks ini, peran otoritas pengawas seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjadi sangat penting, terutama dalam evaluasi keamanan bahan aktif, penilaian klaim kesehatan, serta pengawasan produk herbal yang beredar di pasar. Kerangka regulasi yang kuat tidak hanya melindungi konsumen, tetapi juga memberikan kepastian bagi industri untuk berinovasi dan berinvestasi secara lebih pasti dan berkelanjutan.

Peluang lokal? Global?

Gambar 2. Contoh produk siap minum yang dikembangkan di Thailand dengan inspirasi dari tradisi jamu Indonesia (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Pada sebuah konferensi di Bangkok, Thailand beberapa tahun lalu, penulis menjumpai sebuah “Jamu Herbal Beverage” dengan merek JAMULOGY yang diproduksi oleh perusahaan di Thailand. Produk yang mengusung konsep jamu dan dikembangkan oleh seorang wirausaha Thailand yang pernah hidup di Indonesia ini menarik perhatian. Sebagai informasi, saat ini produk tersebut dipasarkan secara luas melalui berbagai platform daring dengan beberapa varian, antara lain Turmeric Spicy Ginger Apple Cider (Gambar) serta berbagai kombinasi herbal lainnya.

Melihat produk tersebut secara langsung memunculkan pertanyaan reflektif: akankah jamu Indonesia justru dikembangkan oleh negara lain?

Jamu memang merupakan kekayaan luar biasa bagi bangsa Indonesia. Namun, potensi tersebut hanya akan menjadi kekuatan nyata apabila

Indonesia mampu mengembangkannya secara strategis, berbasis sains dan inovatif. Tanpa upaya tersebut, bukan tidak mungkin negara lain justru mengambil peran sebagai penggerak utama pengindustrian jamu—tradisi yang sesungguhnya berakar dari budaya Indonesia.

Jadi, kekayaan tradisi jamu perlu dilengkapi dengan komitmen dan keberanian pemerintah, pelaku industri, serta para pemangku kepentingan lainnya untuk mengindustrikannya secara terarah. Jika transformasi pengindustrian ini dilakukan secara sadar dan sistematis, jamu tidak sekadar bertahan sebagai warisan budaya, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu sumber inspirasi inovasi pangan fungsional dari Indonesia bagi dunia.

Posbiotik sebagai Ingridien Pangan Fungsional:

Inovasi, Produksi, dan Tantangannya

Oleh Lilis Nuraida SEAFAST Center

Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknik dan Teknologi - IPB University

Secara global permintaan konsumen terhadap pangan fungsional semakin meningkat, seiring dengan gaya hidup sehat dan konsep wellness. Pangan fungsional merupakan pangan yang selain menyediakan zat gizi juga memberikan manfaat kesehatan. Salah satu perhatian adalah pangan fungsional yang menyehatkan saluran pencernaan. Gangguan pada saluran ini dapat menyebabkan dominasi mikrobiota berbahaya, memicu berbagai penyakit akut dan kronis. Dalam perkembangannya, perhatian tidak hanya tertuju pada mikroorganisme hidup, tetapi juga pada komponen atau metabolit mikroorganisme yang tetap memberikan manfaat kesehatan meskipun mikroorganismenya telah diinaktivasi. Komponen tersebut dikenal sebagai posbiotik.

Probiotik, prebiotik dan sinbiotik

telah dikenal untuk memodulasi mikrobiota saluran pencernaan untuk memberikan manfaat kesehatan secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat probiotik tidak langsung diberikan ketika probiotik menjadi inaktif dan adanya metabolit-metabolit yang dihasilkan di dalam saluran pencernaan, terutama kolon. Penelitianpenelitian mengenai manfaat kesehatan probiotik yang sudah terinaktivasi dan metabolitnya menyebabkan munculnya terminologi biotik baru, antara lain posbiotik, paraprobiotik, ghostbiotics, metabiotik, probiotik non-viable, heatkilled probiotics, tyndallized probiotics, dan cell lysates.

Terminologi posbiotik lebih banyak digunakan, namun demikian definisi yang digunakan pada berbagai publikasi belum baku, misalnya paraprobiotik digunakan untuk sel utuh yang telah diinaktivasi, sementara posbiotik digunakan untuk metabolit dan komponen-komponen selnya.

Pada tahun 2019, The International Scientific Association of Probiotics and Prebiotics (ISAPP) menerbitkan konsensus mengenai definisi posbiotik yaitu sebagai sediaan mikroorganisme terinaktivasi dan/atau komponennya yang memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya (Salminen et al. 2021). Posbiotik dapat mengandung metabolit yang dihasilkan selama fermentasi.

Penggunaan posbiotik sebagai ingridien pangan fungsional atau suplemen memberikan alternatif terhadap probiotik dari sisi stabilitas dan viabilitasnya, karena produk posbiotik tidak mempersyaratkan viabilitas selama penyimpanan, sehingga umur simpan dapat lebih lama; tidak memerlukan penjaminan terhadap viabilitasnya, sehingga memudahkan penanganan dan transportasi. Selain itu, penggunaan posbiotik juga mengurangi risiko terjadinya translokasi mikroorganisme terutama pada populasi rentan. Selain sel yang diinaktivasi, posbiotik mencakup berbagai senyawa bioaktif yang merupakan hasil metabolisme mikroorganisme dan komponen-komponen sel yang memberikan manfaat kesehatan.

Persyaratan posbiotik

Selain menyepakati mengenai definisi posbiotik, ISAPP juga

mengusulkan kriteria sediaan untuk dapat dikategorikan sebagai posbiotik (Salminen et al. 2021):

a. Karakterisasi molekular untuk menilai keamanan mikroorganisme posbiotik;

b. Deskripsi detail prosedur inaktivasi dan matriksnya;

c. Konfirmasi inaktivasi mikroorganisme sehingga dipastikan tidak ada mikroorganisme hidup;

d. Uji klinis yang terkontrol untuk membuktikan manfaat kesehatan terhadap inang;

e. Deskripsi detail komposisi sediaan posbiotik;

f. Kajian keamanan sediaan posbiotik terhadap inang sesuai dengan tujuan penggunaan.

ISAPP menambahkan bahwa metabolit yang telah dipurifikasi tidak dikategorikan sebagai posbiotik. Vaksin

juga tidak dapat dikategorikan sebagai posbiotik. Posbiotik juga tidak harus berasal dari mikroorganisme probiotik, namun identitasnya harus diketahui dan ditentukan berdasarkan pada analisis molecular (Salminen et al. 2021). Oleh karena itu fermentasi pangan tradisional dengan proses fermentasi menggunakan kultur yang tidak teridentifikasi tidak dapat dikategorikan sebagai posbiotik. Mikroorganisme yang digunakan untuk membuat posbiotik kebanyakan berasal dari mikroorganisme yang sudah dikenal sebagai probiotik dari taksa Lactobacillaceae dan genus Bifidobacterium.

Bagaimana membuat

posbiotik?

Produksi posbiotik melibatkan proses bioteknologi untuk menghasilkan sediaan bioaktif secara konsisten dan

aman oleh karena itu jalur biosintesis dalam proses fermentasi perlu dipahami. Meena et al. (2025) menggambarkan 4 tahapan produksi posbiotik yaitu:

1. Produksi biomassa dan biosintesis metabolit dengan fermentasi, 2. Inaktivasi sel dan pemecahan sel,

3. proses hilir (pemisahan atau pemekatan sel, metabolit dan komponen sel,

4. pengawasan mutu dan karakterisasi.

Tahapan proses ini diawali dengan seleksi strain mikroorganisme yang menghasilkan metabolit yang memiliki manfaat kesehatan (Gambar 1).

Produksi probiotik sangat tergantung pada jenis mikroorganisme dan target senyawa bioaktif yang diproduksi, sehingga jenis substrat yang digunakan akan mempengaruhi bioaktivitasnya. Sebagai contoh posbiotik kaya akan

Gambar 1. Pengembangan, produksi dan komponen aktif posbiotik

asam lemak rantai pendek diproduksi dengan substrat prebiotik seperti fructooligosakarida, sedangkan posbiotik kaya akan asam teikoat diproduksi dari bakteri Gram positif yang diikuti dengan proses sonikasi dan posbiotik berbasis polisakarida diproduksi dengan menggunakan bakteri produsen polisakarida ekstraseluler pada media kaya gula (Meena et al. 2025).

Produksi posbiotik memerlukan proses inaktivasi mikroorganisme (tahap kedua) untuk menghentikan aktivitas metabolisme dan menjamin keamanan serta stabilitas sediaan posbiotik. Metode fisik dan kimia dapat digunakan untuk tujuan ini, seperti penggunaan metode termal yaitu pemanasan konvensional atau pemanasan dengan magnetic field dan metode non-termal seperti iradiasi, sonikasi, tekanan tinggi (high pressure), lisis enzimatik dan teknologi plasma (Meena et al. 2025, Sarkar 2024 dan Salminen et al. 2021). Proses ini akan mengubah struktur sel dan fungsi fisiologis mikroorganisme (Sarkar 2024) sehingga dapat memengaruhi nilai gizi dan karakteristik sensori sediaan posbiotik. Metode-metode tersebut akan menyebabkan terjadinya pemecahan sel dan pelepasan komponen intraselular seperti enzim atau protein sitoplasma, peptida, asam lemak rantai pendek, vitamin dan fragmen-fragmen dinding sel yang memiliki manfaat kesehatan. Teknik pemekatan yang dipilih harus dapat mempertahankan manfaat kesehatan posbiotik. Dari berbagai

teknik tersebut, pemanasan dengan memaparkan suspensi bakteri atau hasil fermentasi pada suhu antara 70 ℃–121 ℃ paling banyak dilakukan (Sarkar 2024, Meena et al. 2025). Suhu dan waktu perlu menjadi pertimbangan ketika inaktivasi mikroorganisme dengan pemanasan. Alternatif lain adalah dengan menggunakan kombinasi pemanasan dengan inkubasi terbatas pada suhu dingin yang dilakukan berulang atau proses tindalisasi. Metode ini lebih mempertahankan metabolit yang sensitif terhadap panas. Penyiapan posbiotik harus dilakukan secara konsisten dengan menggunakan teknologi yang telah terbukti menghasilkan posbiotik yang memiliki manfaat kesehatan. Perubahan metode penyiapan posbiotik harus disertai dengan verifikasi terhadap manfaat

kesehatannya (Salminen et al. 2021).

Tahap ketiga adalah pemisahan atau pemekatan metabolit untuk digunakan sebagai ingridien. Jika komponen posbiotik merupakan biomassa dan komponen sel yang tidak larut maka dilakukan sentrifugasi atau filtrasi untuk memisahkan biomassa, namun jika posbiotik merupakan sel, komponen sel dan semua metabolit, maka seluruh kultur hasil fermentasi digunakan. Untuk mempertahankan stabilitasnya, supernatant, biomassa atau seluruh kultur hasil fermentasi yang telah diinaktivasi diproses lebih lanjut dengan pengeringan menggunakan pengering semprot (spray drying), pengeringan vakum dan fluidized bed drying. Walaupun metode ini dapat menginaktivasi mikroorganisme karena penggunaan

panas, namun untuk memastikan tidak ada lagi sel yang viable, sebelum pengeringan dilakukan inaktivasi mikroorganisme. Perhitungan jumlah sel dalam posbiotik dilakukan sebelum proses inaktivasi mikroorganisme. Teknik mikroenkapsulasi dengan mikroenkapsulan alginat, kitosan atau maltodekstrin sering digunakan untuk memproteksi metabolit yang sensitif terhadap panas pada saat proses pengeringan.

Tahap keempat adalah pengawasan mutu dan karakterisasi fungsi. Untuk pengawasan mutu perlu dilakukan analisis terhadap metabolit atau dilakukan pembuatan profil kimia dengan menggunakan berbagai peralatan analisis seperti highperformance liquid chromatography (HPLC), gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), atau nuclear magnetic resonance (NMR), tergantung dari komponen-komponen utama posbiotik. Karakterisasi dilakukan terhadap aktivitas biologis seperti antioksidan, anti-inflamatori, antimikroba dan imunomodulatori atau dilakukan analisis metabolomik untuk memprediksi potensi bioaktivitasnya.

Jenis dan manfaat kesehatan posbiotik

Komponen aktif posbiotik dapat berasal dari komponen sel atau metabolitnya (Gambar 1). Asam lemak rantai pendek, polisakarida ekstraseluler, enzim dan protein, asam organik, lemak, vitamin dan

metabolit lainnya merupakan metabolit yang dihasilkan selama fermentasi. Komponen-komponen sel yang merupakan struktur sel mencakup peptida, protein sel, asam teikoat, polisakarida dinding sel, asam lemak dan komponen sel lainnya. Fungsi fisiologis dari komponenkomponen tersebut antara lain sebagai anti-obesogenik, antiokasidan, anti-inflamatori, antimikroba, antihipertensif dan imunomodulatori (Sarkar 2024, Meena et al. 2025). Sebagai ingridien fungsional, posbiotik seperti asam lemak rantai pendek bermanfaat untuk metabolisme, imunitas dan fungsi endokrin (Meena et al. 2025). Mekanisme aksi posbiotik mencakup mekanisme langsung dan tidak langsung. Mekanisme langsung melibatkan interaksi posbiotik dengan berbagai molekul atau reseptor yang menghasilkan efek penghambatan seperti antioksidan, imunomodulatori

dan antimikroba, sedangkan mekanisme tidak langsung melibatkan mikrobiota homestatis mikrobiota, metabolisme inang dan signaling pathways sehingga memberi pengaruh terhadap respon fisiologis (Chen et al. 2025). Pengujian bioaktivitas posbiotik pada manusia diringkas oleh Chen et al. (2025) antara lain untuk mencegah dan mengobati alergi, mencegah infeksi saluran pernapasan dan saluran pencernaan, dan adjuvant untuk terapi kanker.

Masa depan dan tantangan dalam pengembangan posbiotik

Manfaat kesehatan yang diberikan oleh posbiotik menjadikan posbiotik sebagai generasi baru ingridien fungsional. Berdasarkan data Future Market Insight, pasar posbiotik diproyeksikan mencapai USD 28.3 juta pada tahun 2032, dengan pertumbuhan diharapkan meningkat dari 7.6% (2016-

2021) menjadi 11.5% selama 20222032 (Chen et al. 2025). Posbiotik dapat digunakan sebagai ingridien berbagai produk pangan atau suplemen. Karena merupakan sediaan yang tidak mengandung mikroorganisme hidup, posbiotik dapat ditambahkan pada formulasi makanan yang pengolahannya melibatkan suhu tinggi. Namun demikian, beberapa tantangan masih dihadapi dalam pengembangan posbiotik. Berbeda dengan probiotik, regulasi dan standarisasi posbiotik ini belum ada, sehingga parameter pengujian untuk pengawasan mutu masih bervariasi.

Untuk mengantisipasi kenaikan pasar dan penggunaan posbiotik sebagai ingridien pangan dan suplemen, dukungan riset masih diperlukan yang mencakup produksi pada skala industri, formulasi yang dapat menjaga mutu dan stabilitas posbiotik selama produksi dan penyimpanan serta karakterisasi

fungsi dan uji klinis untuk menunjukkan manfaat kesehatan dan keamanannya. Untuk mendukung perluasan aplikasi dan diperolehnya posbiotik yang unik, perlu didukung dengan pengembangan teknologi antara lain eksplorasi berbagai substrat dan strain mikroorganisme yang sesuai dan optimasi fermentasi untuk menghasilkan komponen bioaktif yang ditargetkan serta evaluasi manfaat kesehatannya. Walaupun saat ini posbiotik diproduksi dengan menggunakan bakteri asam laktat, namun fungi berpotensi juga digunakan untuk mengembangkan posbiotik.

Selain itu regulasi untuk mengatur pemanfaatan posbiotik dan klaim yang diperbolehkan sangat diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan pasar posbiotik dan mendukung pengembangan posbiotik.

Referensi:

Chen X, Yuan C, He J, Li W and Liao C. 2025. Current research status and trends in the bioactivity of postbiotics. Front. Food Sci. Technol. 5:1692683. doi: 10.3389/frfst.2025.1692683

Meena KK, Joshi M, Gupta L, Meena S. 2025. Comprehensive insights into postbiotics: Bridging the gap to real-world application. Food Nutrition 1:100024. doi: 10.1016/j.fnutr.2025.100024

Salminen S, Collado MC, Endo A, Hill C, Lebeer S, Quigley EMM, Sanders ME, Shamir R, Swann JR, Szajewska H, Vinderola G. 2021a. The International Scientific Association of Probiotics and Prebiotics (ISAPP) consensus statement on the definition and scope of postbiotics. Nat Rev Gastroenterol Hepatol 18:649–667. DOI: 10.1038/s41575-021-00440-6

Sarkar S. 2024. Postbiotics: Potential as functional ingredients—A review. Food Nutrition Chemistry. 2(3): 241. doi: 10.18686/fnc241

Gabungan Produsen

Makanan Minuman Indonesia

Pandangan GAPMMI Terhadap

Perjanjian Perdagangan

RI-AS dan Dampaknya Bagi Industri Pangan

Adhi S. Lukman Ketua Umum GAPMMI menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah atas Kemajuan dalam

Negosiasi Perdagangan Indonesia- AS

Penandatanganan kesepakatan

perdagangan antara Presiden

Republik Indonesia, Prabowo

Subianto, dan Presiden Amerika

Serikat, Donald Trump, melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026, merupakan respons terhadap dinamika ekonomi bilateral yang sempat menegang. Secara faktual, kebijakan ini berawal dari penetapan tarif resiprokal unilateral sebesar 32% oleh pemerintah Amerika

Serikat pada April 2025 terhadap negara-negara yang menyebabkan defisit perdagangan bagi mereka, termasuk Indonesia. Bagi sektor industri pangan (makanan dan minuman), negosiasi ini bukan sekadar upaya peningkatan performa, melainkan

langkah krusial untuk menjaga kelangsungan hidup sekitar 6,7 juta tenaga kerja yang terserap dalam ekosistem industri ini pada tahun 2025. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menilai bahwa tanpa adanya perjanjian ini, daya saing ekspor produk mamin nasional akan tergerus signifikan di pasar global, mengingat besarnya beban tarif yang sebelumnya dikenakan secara sepihak oleh mitra dagang utama tersebut.

Dalam struktur perjanjian yang baru, terdapat kesepakatan penurunan tarif yang memberikan ruang napas bagi eksportir Indonesia. Produk unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, dan kakao kini mendapatkan tarif resiprokal 0%. Secara total, terdapat pengecualian tarif terhadap 1.819 produk Indonesia, di mana 124 diantaranya merupakan produk pertanian yang sangat relevan dengan anggota GAPMMI. Hal ini memberikan peluang bagi industri pangan untuk memulihkan margin keuntungan yang sempat tertekan dan mempertahankan pangsa pasar di

Amerika Serikat dari kompetisi negaranegara tetangga. Namun, kemudahan ekspor ini dibarengi dengan komitmen pembukaan akses pasar domestik yang luas bagi produk asal Amerika Serikat. Indonesia sepakat untuk membuka akses bagi 99% produk AS dengan tarif sebesar 0% yang mulai berlaku saat perjanjian ini dinyatakan efektif. Salah satu poin yang paling berdampak pada operasional industri pangan dalam negeri adalah kepastian pasokan bahan baku impor. Indonesia berkomitmen melakukan pembelian produk pertanian asal Amerika Serikat senilai USD 4,5 miliar, yang mencakup komoditas vital seperti kedelai, gandum, dan jagung. Khusus untuk jagung, industri pangan nasional membutuhkan pasokan bahan baku dengan standar mutu tertentu yang mencapai 1,4 juta ton pada tahun 2025. Melalui ART, produsen mamin diberikan alternatif sumber bahan baku yang lebih efisien dengan volume tertentu per tahun guna memastikan kecukupan produksi industri yang berkontribusi 7,13% terhadap PDB nasional. Selain itu, industri olahan daging seperti produsen sosis dan bakso juga mendapatkan akses terhadap bahan baku mechanically deboned meat (MDM) dengan estimasi volume 120.000 hingga 150.000 ton per tahun dari Amerika Serikat.

Di sisi lain, terdapat konsekuensi regulasi yang harus diadopsi oleh

Indonesia sebagai bagian dari kesepakatan resiprokal ini. Pemerintah berkomitmen untuk menghapus hambatan non-tarif, yang mencakup

penyederhanaan perizinan impor, penyesuaian ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk sektor tertentu, hingga pengakuan terhadap standar dan sertifikasi dari pihak Amerika Serikat. Dalam konteks keamanan pangan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini mengakui izin edar yang diterbitkan oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA) sebagai bukti pemenuhan standar keamanan dan mutu. Meskipun hal ini bertujuan untuk menghindari duplikasi pengujian teknis yang berbelit-belit, produk tersebut tetap diwajibkan melalui proses administrasi perizinan di bawah pengawasan BPOM. Terkait isu sensitif seperti sertifikasi halal, Indonesia tetap memberlakukan kewajiban sertifikasi halal untuk produk pangan, namun melalui skema Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan Lembaga Halal Luar Negeri di AS, label halal dari sana dapat diakui keabsahannya di Indonesia.

Secara keseluruhan, GAPMMI memandang bahwa perjanjian ART ini merupakan instrumen ganda yang membawa peluang sekaligus tantangan kompetisi yang lebih terbuka. Fri-27

ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27

Hp. 08156720614

Email: gapmmi@cbn.net.id

Website: www.gapmmi.id

Sekretariat GAPMMI

Kunci Inovasi Pangan Fungsional Modern POLIFENOL & WELLNESS:

Oleh Hilman Maulana Pusat Penelitian Teh dan Kina –PT Riset Perkebunan Nusantara

Industri pangan global saat ini tengah memasuki babak baru yang dikenal sebagai revolusi kebugaran (wellness). Fenomena ini merujuk pada pergeseran paradigma kesehatan yang bersifat kuratif menuju preventif dan holistik, kemudian didukung oleh digitalisasi informasi kesehatan, healthy aging awareness, dan pengalaman pandemi yang memerlukan peningkatan sistem imun. Dalam konteks ini, pangan semakin dipandang tidak hanya sebagai sumber gizi, tetapi juga sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup.

Pergeseran paradigma ini pun dipercepat dan diperkuat oleh konsumen—khususnya

Gen Z dan Milenial—yang memandang wellness sebagai bagian dari gaya hidup dan bukan sekadar intervensi medis saja.

Laporan McKinsey & Company (2025) mencatat bahwa wellness telah menjadi ekonomi besar, dengan estimasi nilai pasar global mencapai sekitar USD 2 triliun pada 2025 dan mengalami peningkatan pesat yang didorong oleh Gen Z dan Milenial. Namun, perlu digarisbawahi bahwa angka tersebut merupakan estimasi pemetaan perilaku konsumen di tingkat industri yang memakai definisi wellness secara luas (gabungan consumer health “essential” dan belanja “discretionary”),

sehingga bukan hasil perhitungan dan analisis yang langsung berasal dari survei atau riset primer. Dari laporan tersebut, salah satu kendaraan revolusi wellness ini adalah pangan fungsional, meskipun pada laporan itu dibahas pada ranah konsep, dan dibingkai dengan terminologi functional nutrition, yang secara konseptual beririsan dengan konsep pangan fungsional.

Kita akan coba definisikan istilah pangan fungsional, karena definisi pangan fungsional ini berbeda antarnegara terkait dengan konsepsi dan regulasi di masing-masing negara, akan tetapi secara umum dapat dipahami sebagai pangan yang memberikan manfaat fisiologis/kesehatan tambahan di luar pemenuhan gizi dasar. Perbedaan kerangka ini berdampak pada strategi inovasi dan klaim.

Melalui definisi dan konteks wellness tersebut, industri kemudian menanggapi dengan memperluas portofolio produk berbasis bahan aktif probiotik, prebiotik/serat, polifenol, omega-3, protein nabati, adaptogen, vitaminmineral fortifikasi, dan bioaktif lainnya yang membentuk suatu tren fungsional. Probiotik dan prebiotik, misalnya, berkembang sebagai pendorong inovasi kesehatan pencernaan dan imunitas. Di sisi lain, protein nabati dan protein alternatif menonjol karena kombinasi isu kesehatan, keberlanjutan, dan keamanan rantai pasok. Adaptogen dan herbal juga menguat dalam narasi manajemen stres dan energi, dengan ashwagandha sebagai salah satu contoh yang sering dikaji.

Di antara kandidat bahan aktif tersebut, polifenol menarik untuk dibahas karena spektrum bioaktivitasnya luas dan ketersediaannya tinggi pada bahan nabati. Polifenol hadir luas pada buah, sayur, rempah, teh, kakao, dan berbagai produk samping (by-product) industri pangan; sekaligus terkait dengan mekanisme biologis yang relevan untuk inflamasi, stres oksidatif, mikrobiota, dan metabolisme. Kemudian pada tataran produk, hadir sebagai pangan alami kaya polifenol (misalnya teh atau beri) maupun sebagai ekstrak terstandar untuk fortifikasi minuman dan suplemen.

Polifenol

Polifenol adalah kelompok besar senyawa alami pada tanaman yang

memiliki lebih dari satu gugus fenol. Bentuknya yang beragam—misalnya flavonoid, tanin—sehingga sumber dan kestabilannya berbeda-beda. Manfaatnya sering dikaitkan dengan antioksidan, inflamasi, enzim metabolik, dan mikrobiota usus. Praktisi industri menjadikan minuman fungsional polifenol jadi “arena utama” karena paling dekat dengan kebiasaan harian— mudah diminum, mudah ditambah ingridien lain, dan manfaatnya relatif cepat dikomunikasikan pada label maupun materi edukasi. Contoh yang sering dipakai antara lain teh tinggi katekin, minuman herbal, kopi dengan asam klorogenat, smoothie/jus beri kaya antosianin, sampai minuman rempah.

Menariknya, Indonesia memiliki modal budaya yang kuat—misalnya

teh, jamu dan aneka wedang—sehingga konsumen tidak asing dengan konsep “minum untuk rasa dengan manfaat”, rujukan mengenai hal tersebut, juga pernah dituliskan penulis dalam artikel

FoodReview Indonesia sebelumnya dengan judul Reformulasi Minuman: Inovasi Berbasis Ingridien Fungsional Indonesia, FoodReview Indonesia Vol. XX / No. 3 / Maret 2025. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan halhal terkait proses yang lebih modern, standar bahan baku yang konsisten, dan dukungan bukti ilmiah. Jika tiga hal ini rapi, minuman tradisional bisa naik kelas menjadi bagian portofolio wellness yang kredibel, bukan sekadar “warisan”.

“Arena” lainnya yang menjadi target industri adalah pasar suplemen. Polifenol biasanya hadir sebagai ekstrak terstandar (kapsul, tablet, atau serbuk) agar dosisnya lebih konsisten dibanding dari makanan/ minuman biasa. Contoh yang umum: ekstrak teh hijau atau ekstrak beri yang sering diposisikan untuk dukungan antioksidan, metabolisme, atau kesehatan kardiometabolik. Namun, suplemen polifenol menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, standardisasi bahan baku, karena kualitas tanaman dapat berbeda antarmusim, lokasi budidaya, dan proses pengolahan. Kedua, bioavailabilitas, karena sebagian polifenol memiliki tingkat penyerapan yang relatif rendah sehingga efeknya tidak selalu muncul secepat yang diharapkan. Ketiga, kepatuhan terhadap klaim dan mutu produk, di mana klaim manfaat harus sesuai dengan

ketentuan regulasi dan kualitas produk harus dijaga secara konsisten. Terakhir, pengawasan pasar pun krusial, produk yang tidak aman atau mutu di bawah standar cepat merusak kepercayaan konsumen—dan ujungnya merugikan merek yang serius membangun kategori ini.

Tantangan lainnya adalah ketahanan polifenol sejak masih bahan baku sampai jadi produk. Begitu masuk proses (pemanasan, paparan oksigen, paparan cahaya, perubahan pH) dan masuk tubuh (penyerapan yang tidak selalu tinggi), performa polifenol bisa turun. Karena itu, industri butuh Polyphenols Enabling Technology, teknologi “di balik layar” yang membuat polifenol tetap stabil, mudah diformulasikan, dan manfaatnya lebih konsisten sampai saluran pencernaan. Praktiknya mencakup mikro/nanoenkapsulasi, serta kompleks

polifenol–protein–polisakarida untuk proteksi dan pelepasan terarah; sekaligus optimalisasi ekstraksi–isolasi (termasuk dari by-product) agar biaya bahan aktif lebih efisien dan lebih berkelanjutan.

Memasuki 2026–2029, sinyal literatur ilmiah dan analisis pasar menempatkan polifenol sebagai bagian dari gelombang inovasi yang semakin terfokus pada tiga poros utama. Pertama, healthy aging dan pencegahan risiko kardiometabolik

melalui pendekatan preventif. Kedua, personalisasi (berbasis kebutuhan/ tujuan) yang diterjemahkan ke dalam segmentasi manfaat (mis. gut health, mood/stress, metabolic health) dan format yang mudah diadopsi konsumen. Ketiga, integrasi sains dengan warisan tradisional—misalnya pengembangan jamu modern yang lebih terstandar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sisi regulasi, tren yang berulang mengarah ke pengetatan klaim,

standardisasi, dan harmonisasi untuk menjaga keamanan dan efektivitas produk sekaligus membangun kepercayaan konsumen. Dalam konteks Indonesia, penguatan pengawasan terhadap produk yang tidak memenuhi syarat—terutama pada segmen suplemen dan herbal—menjadi faktor penentu kualitas pasar dan disiplin pelaku usaha.

Implikasi strategis yang timbul adalah perusahaan yang mampu

menggabungkan (i) bukti ilmiah dan bukti mutu (misalnya uji stabilitas, data keamanan, serta dukungan manfaat yang relevan), (ii) standardisasi bahan aktif dan konsistensi batch, serta (iii) desain produk yang enak dan mudah dikonsumsi, akan lebih siap menghadapi kompetisi berbasis claim and trust. Secara operasional, pendekatan ini mendorong pengembangan spesifikasi marker compound, kontrol proses dan masa simpan, serta penguatan narasi manfaat yang sejalan dengan batas klaim regulatori.

Inovasi hulu–hilir diproyeksikan menjadi diferensiasi penting: pemanfaatan by-product sebagai sumber polifenol, optimasi ekstraksi (termasuk pendekatan green extraction dari berbagai food wastes), hingga penerapan teknologi delivery system (misalnya mikroenkapsulasi) untuk perlindungan, peningkatan bioavailabilitas, dan controlled release.

Strategi

Keputusan hilir yang menentukan inovasi teknis akan berhasil di pasar wellness dengan basis bahwa konsumen semakin memandang makanan sebagai bagian dari pendekatan preventif terhadap kesehatan, sehingga kategori fungsional tumbuh pesat dan mendorong diferensiasi produk berdasarkan manfaat dan segmen penggunaan. Sejalan dengan itu, tren pasar menekankan bahwa inovasi minuman dan suplemen berbasis polifenol sering dipaketkan dengan klaim manfaat yang spesifik—misalnya

minuman kecantikan, minuman energi dan olahraga, serta minuman penunjang kognitif—untuk membuka segmen baru dan memperjelas proposisi nilai bagi konsumen.

Dari sudut desain portofolio, beberapa pola yang konsisten adalah: (a) pergeseran ke bahan alami dan “clean label” sebagai alternatif aditif sintetis, sehingga ekstrak tumbuhan kaya polifenol semakin sering dipilih untuk memenuhi preferensi produk bebas pengawet buatan; (b) personalisasi dan “paket fungsi” untuk tujuan tertentu, misalnya formula yang disesuaikan untuk kesehatan gut, mood/ stress, atau tujuan kardiometabolik, termasuk pendekatan “metabolic stack” yang menggabungkan protein tinggi dengan polifenol tertentu agar mudah dipasarkan karena menjawab tujuan konsumen secara langsung; serta (c) integrasi tradisi dengan sains— misalnya repositioning minuman teh dan minuman tradisional menjadi format modern yang lebih praktis dan selaras gaya hidup, tanpa melepaskan identitas bahan lokal.

Go-to-market yang efektif kemudian menjadi fungsi dari tiga keputusan. Pertama, pemilihan format disesuaikan dengan konteks konsumsi dan tradeoff sensori/stabilitas: misalnya RTD, serbuk saset larut minum, kapsul, gummy, hingga tablet effervescent yang memudahkan kepatuhan konsumsi sekaligus membuka variasi pengalaman sensori. Kedua, strategi kanal menekankan kombinasi edukasi dan distribusi: perusahaan menguatkan

komunikasi digital, memanfaatkan e-commerce/marketplace, model langganan, serta pendekatan omnichannel dengan mengintegrasikan toko fisik, apotek, dan layanan kesehatan/klinik dengan platform digital. Dalam konteks Indonesia, terjadinya percepatan belanja suplemen secara daring karena kemudahan mencari ulasan dan produk yang tidak selalu tersedia di apotek lokal. Ketiga, narasi nilai perlu konsisten dengan bukti dan regulasi: edukasi ilmiah, storytelling manfaat yang relevan dengan gaya hidup target, dan penggunaan bukti yang

proporsional—misalnya uji lab atau uji klinis kecil—berperan membangun kepercayaan konsumen teredukasi. Sebagai ringkasan praktis, kita mulai dari mengunci spesifikasi dan konsistensi batch (standardisasi), menutup batasan rasa/stabilitas (formulasi), memilih delivery system hanya jika dibutuhkan untuk kinerja biologis (teknologi), membangun paket bukti sesuai level klaim (regulasi), lalu memetakan SKU, format, dan kanal berdasarkan kebutuhan konsumen (portofolio dan go-to-market).

Referensi

Pione, A., Medalsy, J., Weaver, K., Callaghan, S., & Rickert, S. (2025, May 29). The $2 trillion global wellness market gets a millennial and Gen Z glow-up. McKinsey & Company. https://www.mckinsey.com/industries/ consumer-packaged-goods/our-insights/future-ofwellness-trends

Zhang, Z., Li, X., Sang, S., McClements, D. J., Chen, L., Long, J., Jiao, A., Jin, Z., & Qiu, C. (2022). Polyphenols as plant-based nutraceuticals: Health effects, encapsulation, nano-delivery, and application. Foods, 11(15), 2189. https://doi.org/10.3390/foods11152189

Fredsgaard, M., Fussy, A., Nybo, G. K., Papenbrock, J., Hulkko, L. S. S., Dadjoo, M., Chaturvedi, T., & Thomsen, M. H. (2026). Polyphenols in food and food wastes: Extraction, isolation, and health applications. Food Chemistry: Molecular Sciences, 12, 100351. https://doi.org/10.1016/j.fochms.2025.100351

Serbuk pangan dalam era Wellness:

Teknologi dan Peluang Aplikasi

Oleh Widya Dwi Rukmi Putri Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi, CoE Umbi dan Rimpang, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya Ketua PATPI Cabang Malang

Gaya hidup sehat semakin menjadi bagian dari budaya masyarakat modern, seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap konsep wellness. Hal ini mendorong konsumen untuk mencari produk pangan yang lebih alami dan memiliki nilai fungsional. Produk yang kaya antioksidan, tinggi serat, mendukung kesehatan pencernaan, serta memiliki klaim fungsional berbasis bukti ilmiah semakin mendapat perhatian sebagai bagian dari tren pangan fungsional.

Pangan tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber zat gizi, tetapi juga berperan dalam membantu mencegah berbagai penyakit. Oleh sebab itu pengembangan bahan pangan yang praktis, stabil, dan mudah diformulasikan menjadi sangat penting untuk menjawab kebutuhan

industri sekaligus tuntutan kesehatan masyarakat. Salah satu bentuk produk yang semakin diminati dalam pengembangan pangan fungsional adalah pangan berbentuk serbuk (food

powder). Food powder (serbuk pangan) merupakan salah satu inovasi penting dalam pengembangan pangan fungsional modern. Berbagai komoditas pangan termasuk bagian yang selama ini terbuang dapat diolah menjadi bentuk serbuk. Selama ini industri pangan banyak menghasilkan limbah kulit, ampas hasil ekstraksi atau biji yang belum termanfaatkan secara optimal, padahal bagian tersebut justru kaya akan senyawa bioaktif seperti pigmen, polifenol, flavonoid, vitamin atau mineral serta serat pangan yang memiliki aktivitas antioksidan dan potensi kesehatan lainnya. Melalui teknologi pengolahan yang tepat, terutama proses pengeringan dan penepungan, komponen bioaktif pada berbagai bagian komoditas pangan dapat dipertahankan kestabilannya dalam bentuk serbuk. Bagian komoditas yang dapat dimakan maupun yang selama ini belum termanfaatkan dapat diolah menjadi serbuk yang lebih mudah diaplikasikan pada berbagai produk pangan.

Teknologi produksi serbuk pangan

Pengolahan berbagai komoditas menjadi berbentuk serbuk perlu mempertimbangkan beberapa faktor penting yang mempengaruhi sifat fungsional dan aplikasinya pada pangan. Metode pengolahan yang dapat diterapkan diantaranya adalah:

a. Pretreatment/Perlakuan awal Tahapan sebelum dilakukan pengeringan adalah melakukan

perlakuan awal seperti blansing, fermentasi atau ekstraksi. Masingmasing pretreatment tersebut memiliki tujuan yang spesifik sehingga kualitas serbuk pangan yang dihasilkan dapat lebih optimal. Perlakuan awal ini dapat mengurangi aktivitas enzim, menstabilkan pigmen (antosianin/ β-karoten), memperbaiki sifat pati, serta meningkatkan efisiensi pengeringan karena waktu dapat lebih dipersingkat. Proses yang juga dapat dilibatkan sebagai tahap awal adalah ekstraksi senyawa bioaktif dan upaya perlindungannya dengan

metode enkapsulasi. Pregelatinisasi

juga dapat dilakukan pada

komoditas berpati seperti ubi-ubian untuk meningkatkan instanisasi serbuk pangan.

b. Pengeringan

Pengeringan menentukan kualitas dari serbuk pangan karena penurunan kadar air akan menjaga stabilitas produk. Suhu, waktu dan metode pengeringan akan mempengaruhi kandungan senyawa bioaktif, nilai gizi dan sifat fungsionalnya. Pengeringan yang tidak tepat akan menyebabkan degradasi zat gizi, bioaktivitasnya,

perubahan warna dan sifat sensoris lainnya. Pengeringan yang tidak optimal juga dapat menghasilkan produk serbuk yang lebih higroskopis, mudah menggumpal dan tidak stabil selama penyimpanan. Metode pengeringan dengan udara panas akan sesuai untuk bahan yang tidak sensitif terhadap panas. Sedangkan pengeringan dengan metode yang maju yaitu seperti pengering vakum, pengeringan drum, pengering semprot dan pengering beku yang akan menghasilkan kestabilan yang lebih baik.

c. Penggilingan/pengecilan ukuran Tahapan penepungan merupakan proses penting dalam menghasilkan serbuk pangan yang memiliki ukuran partikel seragam, stabil, dan sesuai dengan tujuan aplikasinya. Proses ini tidak hanya sekadar mengecilkan ukuran bahan kering menjadi serbuk, tetapi juga bertujuan mengoptimalkan sifat fisik dan fungsional produk akhir. Bahan yang sudah kering dilakukan penggilingan dengan peralatan seperti hammer mill, disc mill, pin mill atau grinder sesuai dengan karakteristiknya. Alat tersebut akan memecah struktur jaringan bahan menjadi partikel-partikel kecil, yang kemudian dilakukan pengayakan untuk memperoleh ukuran partikel yang seragam. Ukuran partikel ini akan menentukan sifat produk seperti daya larut, kemampuan rehidrasi, tekstur, serta stabilitas

saat penyimpanan.

d. Perlakuan tambahan lainnya Pengolahan lanjutan untuk meningkatkan kualitas serbuk pangan dapat dilakukan misalnya dengan agglomerasi. Agglomerasi adalah proses penggabungan partikel-partikel serbuk halus menjadi butiran yang lebih besar dan berpori (granul) untuk memperbaiki sifat alir, mengurangi debu, dan meningkatkan kemampuan rehidrasi. Partikel serbuk yang halus dapat digabungkan untuk meningkatkan porositasnya dengan menggunakan

(1) cairan pengikat (binder) seperti air atau larutan tertentu; (2) aplikasi gaya mekanik atau aliran udara panas, (3) pengeringan ulang setelah dilakukan pembasahan serbuk untuk membentuk struktur berpori yang stabil.

Karakteristik serbuk pangan

Karakteristik penting pada serbuk pangan adalah jenis komponen kimia (komponen makro dan senyawa bioaktif) dan ukuran partikel/granula karena dapat mempengaruhi sifat fisik, fungsionalitasnya, stabilitas bahkan bioavailabilitas senyawa bioaktifnya.

Pengembangan produk fungsional

berbentuk serbuk banyak difokuskan pada performanya pada sistem pangan. Beberapa karakteristik penting yang terkait diantaranya adalah:

1

Kemampuan pengikatan air

Partikel serbuk yang memiliki luas permukaan yang besar akan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam menyerap air pada suatu sistem pangan berbentuk padat ataupun cair. Pada produk minuman fungsional atau bubur instan, kemampuan ikat air juga mempengaruhi kelarutannya dan viskositas cairan yang terbentuk. Pada produk bakeri, mi dan daging

analog kemampuan pengikatan air akan mempengaruhi kelembaban, pengembangan adonan dan kekenyalan produk akhir.

2

Interaksi dengan minyak

Karakteristik ini memiliki peran saat serbuk digunakan sebagai ingridien produk-produk yang diolah dengan penggorengan, karena dapat mempengaruhi kecepatan produk matang saat digoreng dan jumlah minyak yang dapat keluar dari sistem setelahnya. Partikel dengan porositas baik dan ukuran optimal dapat meningkatkan penyerapan minyak sehingga memperbaiki mouthfeel dan retensi aroma pada produk-produk bakeri.

3

Kelarutan dan dispersibilitas

Kemampuan ini sangat dipengaruhi jenis komponen pada serbuk. Serbuk yang mengandung senyawa hidrofilik akan lebih mampu terlarut dalam air, sedangkan yang mengandung pengemulsi akan dapat mudah terdispersi pada sistem minyakair. Ukuran partikel juga akan mempengaruhi, dimana serbuk yang lebih kecil memiliki luas permukaan lebih besar sehingga meningkatkan kontak dengan air. Hal ini mempercepat hidrasi, meningkatkan kelarutan, dan memperbaiki dispersibilitas dalam minuman instan atau sistem cair. Sebaliknya, partikel terlalu halus dapat menyebabkan agglomeration (penggumpalan) jika sifat alirnya buruk.

4

Efek terhadap tekstur

Komponen kimia serbuk akan mempengaruhi tekstur pangan. Serbuk pangan yang kaya serat, pati termodifikasi, atau polisakarida hidrofilik (misalnya glukomanan, mucilage, pektin, atau pati resisten) seperti dari umbi-umbian, gum alami, atau protein nabati akan mampu membentuk gel atau jaringan tiga dimensi ketika terhidrasi dan dipanaskan. Jaringan ini berperan sebagai kerangka struktural produk dan memengaruhi kelembutan, elastisitas, kekenyalan produk dan kemampuan pembentukan gel.

5Stabilitas

Stabilitas mencakup ketahanan terhadap perubahan fisik, kimia dan

mikrobiologis selama penyimpanan. Kestabilan serbuk pangan dipengaruhi oleh sifat senyawa penyusunnya seperti kadar air, kandungan lemak tak jenuh, protein, pati, serta senyawa bioaktif (vitamin, polifenol, pigmen). Komponen yang higroskopis mudah menyerap air dan menyebabkan penggumpalan, sementara lemak tak jenuh rentan terhadap oksidasi yang menurunkan mutu sensori dan aktivitas fungsional. Karena berbentuk serbuk dengan kadar air rendah, serbuk pangan umumnya memiliki umur simpan lebih panjang, namun tetap rentan terhadap kelembapan, oksidasi, cahaya, dan suhu tinggi yang dapat menurunkan aktivitas antioksidan maupun mutu sensori.

Tabel 1. Komoditas bentuk serbuk, senyawa bioaktif dan aplikasinya

Komoditas Senyawa bioaktif utama Aplikasi serbuk pangan

Daun Moringa

Ubi jalar (ungu, oranye, kuning)

Garut

Rempah (kunyit, kayu manis, cengkeh, dll.)

Kayu manis

Kulit pisang

Kulit jeruk

Kulit buah naga

Polifenol, flavonoid, karotenoid, vitamin C, protein

Pigmen antosianin, betakaroten, serat pangan, polifenol

Pati resisten, serat larut

Kurkumin, sinamaldehid, polifenol

Sinamaldehid, polifenol

Serat pangan, polifenol

Naringin, flavonoid, vitamin C, pektin

Betasianin, flavonoid, serat

Aplikasi serbuk pangan sebagai ingridien pangan fungsional

Pangan berbentuk serbuk ini dapat menjadi bahan baku utama produk atau digunakan sebagai fortifikasi. Beberapa kelebihan pengolahan dalam bentuk serbuk, diantaranya adalah (1) kadar air yang rendah sehingga meningkatkan stabilitas dan memperpanjang umur simpan, (2) bentuk serbuk mempermudah pencampuran dalam formulasi produk seperti minuman instan, roti, biskuit, es krim, selai, saus, yoghurt, mi, dan berbagai produk pangan lainnya dan juga produk nutrasetikal. Beberapa contoh komoditas pangan mengandung senyawa bioaktif yang

Fortifikasi beras analog, mi, biskuit, minuman fungsional

Tepung premiks gluten free, minuman instan tinggi antioksidan, bakeri fungsional, es krim

Produk diet khusus, pangan disfagia, biskuit

Minuman herbal instan, suplemen, minuman fungsional

Minuman rempah, produk pengontrol gula darah, bakeri

Kukis tinggi serat, produk bakeri menyehatkan

Minuman instan, suplemen antioksidan

Pewarna alami, edible film, es krim

dapat diolah menjadi bentuk serbuk dan pemanfaatannya pada produk pangan adalah tersaji pada Tabel 1.

Penerapan teknologi pengolahan yang tepat akan mendorong inovasi serbuk pangan sebagai pangan fungsional yang mendukung keberlanjutan, efisiensi sumber daya, serta penguatan peran pangan sebagai instrumen peningkatan kesehatan di era wellness revolution.

Referensi:

Fournaise, T., Petit, J., and Gaïani, C. (2021).

Main powder physicochemical characteristics influencing their reconstitution behavior. Powder Technology, 383, 65-73. https://doi.org/10.1016/j. powtec.2021.01.056

Ueda, J., Morales, P., Fernández-Ruíz, V., Ferreira, A., Barros, L., Carocho, M., and Heleno, S. (2023). Powdered Foods: Structure, Processing, and Challenges: A Review. Applied Sciences, 13(22), https://doi.org/10.3390/app132212496

Klaim Kesehatan Produk Pangan:

Urgensi Landasan Ilmiah

Oleh Pratiwi Yuniarti Martoyo

Direktorat Standardisasi Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan

Seiring berkembangnya inovasi pangan yang dikaitkan dengan berbagai potensi manfaat kesehatan dalam konteks tren wellness, komunikasi manfaat kepada konsumen menjadi semakin penting. Salah satu bentuk komunikasi tersebut adalah melalui klaim pada label atau materi promosi produk pangan. Agar informasi yang disampaikan tetap akurat, transparan, dan tidak menyesatkan, klaim tersebut perlu didukung oleh bukti ilmiah yang memadai serta disampaikan sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.

Istilah wellness kini lebih sering muncul dalam berbagai diskusi di industri pangan global. Konsumen tidak lagi sekadar mencari produk yang memberikan rasa kenyang atau memenuhi kebutuhan gizi dasar, tetapi juga pangan yang menawarkan pengalaman sensori yang menarik serta dikaitkan dengan potensi manfaat kesehatan. Dalam perspektif ini, pola konsumsi tidak lagi dipandang semata sebagai pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup.

Perubahan cara pandang terhadap pangan tersebut turut mendorong perhatian terhadap pengembangan produk pangan yang memiliki manfaat

kesehatan tertentu, yang dalam literatur internasional sering dikaitkan dengan konsep pangan fungsional. Konsep ini merujuk pada pangan yang ketika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari, berpotensi memberikan manfaat kesehatan di luar fungsi gizi dasar. Jenis pangan ini umumnya mengandung komponen bioaktif yang berpotensi memengaruhi fungsi tubuh, seperti asam lemak tak jenuh ganda, probiotik, prebiotik, serta berbagai senyawa bioaktif tanaman.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa komponen tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai potensi manfaat kesehatan, misalnya berkaitan dengan pengendalian kadar kolesterol

atau membantu menjaga tekanan darah dalam kisaran normal. Apabila informasi mengenai manfaat tersebut disampaikan kepada konsumen melalui label atau informasi pada produk pangan, penyampaiannya perlu didukung oleh bukti ilmiah yang memadai agar tetap akurat dan tidak menyesatkan. Perkembangan inovasi pangan yang dikaitkan dengan

berbagai manfaat kesehatan tersebut kemudian mendorong kebutuhan untuk memastikan bahwa manfaat suatu pangan dapat disampaikan kepada konsumen secara tepat. Dalam praktiknya, informasi mengenai karakteristik atau manfaat suatu pangan umumnya dikomunikasikan melalui berbagai bentuk klaim pada label maupun media komunikasi lainnya.

Klaim pangan

Dalam kerangka internasional, Codex Alimentarius Commission dalam pedoman mengenai klaim pangan mendefinisikan klaim sebagai setiap bentuk pernyataan, gambaran, atau representasi yang menyatakan, menyarankan, atau mengimplikasikan bahwa suatu pangan memiliki karakteristik tertentu. Codex juga

menekankan beberapa prinsip penting dalam penggunaan klaim pangan. Klaim tidak boleh menyesatkan atau memberikan gambaran yang keliru mengenai karakteristik suatu pangan. Selain itu, klaim harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan pada umumnya tidak diperbolehkan menyatakan bahwa suatu pangan dapat mencegah, mengobati, atau menyembuhkan penyakit.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa komunikasi manfaat pangan perlu dilakukan secara hatihati. Di tengah meningkatnya minat konsumen terhadap produk yang dikaitkan dengan wellness, penyampaian klaim yang jelas, tidak menyesatkan, serta didukung oleh bukti ilmiah yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Dalam praktiknya, berbagai negara kemudian mengembangkan kerangka regulasi untuk mengatur penggunaan klaim pada pangan dengan mengacu pada prinsip-prinsip tersebut. Salah satu contoh yang sering dirujuk adalah sistem Foods for Specified Health Uses (FOSHU) di Jepang, yaitu kategori pangan yang diizinkan mencantumkan klaim mengenai efek fisiologis tertentu setelah melalui proses evaluasi ilmiah dan persetujuan otoritas yang berwenang. Produk FOSHU umumnya mengandung komponen yang telah terbukti memberikan manfaat kesehatan, seperti membantu mengendalikan tekanan darah atau kadar kolesterol. Sebelum memperoleh persetujuan, pangan tersebut harus melalui penilaian mengenai keamanan

serta efektivitas manfaatnya pada tubuh manusia.

Pendekatan yang pada prinsipnya serupa juga tercermin dalam pengaturan di Indonesia. Beberapa jenis klaim pada pangan olahan telah distandarkan dalam peraturan, sementara klaim lain yang belum secara spesifik diatur memerlukan evaluasi ilmiah sebelum memperoleh persetujuan untuk digunakan.

Bukti ilmiah

Meskipun berbagai komponen pangan telah banyak diteliti terkait manfaatnya bagi kesehatan, pembuktian

ilmiah terhadap hubungan antara suatu komponen pangan dengan manfaat kesehatan tidak selalu sederhana. Dalam ilmu gizi, kekuatan bukti ilmiah dapat bervariasi, mulai dari penelitian in vitro, studi pada hewan, hingga penelitian intervensi pada manusia. Temuan pada tingkat laboratorium sering kali memberikan indikasi awal mengenai potensi manfaat suatu komponen, namun belum tentu secara langsung mencerminkan efek yang sama ketika dikonsumsi dalam pola makan seharihari.

Selain itu, berbagai faktor lain seperti dosis konsumsi, bentuk matriks pangan,

serta karakteristik populasi juga dapat memengaruhi hasil penelitian. Hal ini menyebabkan interpretasi terhadap bukti ilmiah tidak selalu mudah, terutama ketika suatu komponen pangan diteliti dalam berbagai kondisi dan desain penelitian yang berbeda. Dalam menilai klaim pangan, berbagai otoritas regulasi umumnya mempertimbangkan keseluruhan bukti ilmiah yang tersedia, termasuk konsistensi hasil penelitian, kualitas desain studi, serta relevansi penelitian terhadap populasi sasaran. Pendekatan ini menekankan pentingnya evaluasi ilmiah secara menyeluruh sebelum suatu

manfaat kesehatan dikomunikasikan kepada konsumen melalui klaim pada produk pangan. Dengan demikian, tantangan utama bukan hanya pada pengembangan inovasi pangan, tetapi juga pada bagaimana memastikan bahwa manfaat yang dikomunikasikan kepada konsumen benar-benar didukung oleh bukti ilmiah yang memadai.

Perkembangan tren pangan yang dikaitkan dengan manfaat kesehatan membuka peluang besar bagi inovasi di industri pangan. Namun, perkembangan tersebut juga menuntut tanggung jawab dalam memastikan bahwa manfaat yang dikomunikasikan kepada konsumen benar-benar didasarkan pada bukti ilmiah yang memadai.

Dengan pendekatan yang berbasis sains serta komunikasi klaim yang bertanggung jawab, inovasi pangan tidak hanya mendorong pengembangan produk, tetapi juga dapat memperkuat kepercayaan konsumen sekaligus memberikan kontribusi bagi kesehatan masyarakat.

Referensi:

Codex Alimentarius Commission. (1997). Guidelines for Use of Nutrition and Health Claims (CAC/GL 23-1997). Ministry of Health, Labour and Welfare (MHLW). (n.d.). Food for Specified Health Uses (FOSHU). Government of Japan. https://www.mhlw.go.jp/english/topics/ foodsafety/fhc/02.html

Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan.

MODEL KEPEMIMPINAN

DALAM INDUSTRI PANGAN 4.0: Kecepatan, Kepercayaan, dan Keberlanjutan

Oleh Victoria Valentina Senior Regulatory Affairs Manager PT Frisian Flag Indonesia

Memasuki 2026, industri pangan Indonesia menghadapi percepatan transformasi yang dipicu oleh digitalisasi rantai pasok, perubahan perilaku konsumen, serta meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, pangan fungsional, dan gaya hidup sehat (wellness). Produk pangan kini tidak lagi dinilai semata dari rasa dan harga, tetapi juga dari nilai gizi, transparansi informasi, serta keberlanjutan proses produksi di sepanjang rantai pasok. Dalam situasi ini, pelaku industri dituntut untuk bergerak lebih cepat dalam berinovasi dan merespons dinamika pasar yang terus berubah. Namun percepatan ini juga menghadirkan tantangan baru.

Pelaku industri, asosiasi, hingga regulator semakin menyadari bahwa tantangan utama tidak semata pada penguasaan teknologi, melainkan pada kemampuan organisasi menjaga konsistensi, integritas, dan kepatuhan di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat.

Tantangan ini semakin menguat seiring meningkatnya perhatian konsumen terhadap isu kesehatan dan tren wellness. Dengan demikian, keunggulan industri tidak hanya ditentukan oleh kecepatan beradaptasi, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan publik serta memastikan keberlanjutan

sistem pangan (Saryatmo C. Sukhotu, 2021; Mayang Mangurai et al., 2024).

Kecepatan: realitas baru yang

tidak bisa

dihindari

Rantai pasok pangan kini bergerak dalam siklus yang lebih pendek. Pengembangan produk memerlukan data real-time. Platform digital menuntut respons cepat. Sementara itu, perubahan regulasi datang lebih sering, lebih rinci, dan lebih ketat (Saryatmo C Sukhotu, 2021; Mayang Mangurai et al., 2024).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saat ini tengah merumuskan dan mengharmonisasikan kebijakan yang dikenal sebagai Nutri-Level atau Nutri-Grade untuk pelabelan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada produk pangan olahan. Sistem ini dirancang memberi tingkat (Level A, B, C, D) berdasarkan jumlah GGL dalam produk. Sistem Nutri-Level bertujuan

membantu konsumen memahami kualitas zat gizi suatu produk secara cepat dan jelas, terutama untuk membatasi konsumsi GGL berlebih yang terkait dengan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung (Badan Pengawas Obat dan Makanan [BPOM], 2025).

Perubahan cepat juga terjadi di kanal distribusi digital. BPOM aktif memonitor penjualan produk melalui internet — termasuk e-commerce, loka pasar, media sosial, dan tautan penjualan daring— melalui patroli siber dan kerja sama dengan platform digital. (Direktorat Siber BPOM, 2025).

z Sepanjang 2025, puluhan ribu tautan konten ilegal (obat, kosmetik, makanan/minuman tanpa izin BPOM) diajukan untuk takedown dan sebagian besar berhasil dinonaktifkan (Direktorat Siber BPOM, 2025).

z Dalam satu periode pengawasan, ditemukan puluhan ribu tautan pelanggaran yang terus diproses bersama platform loka pasar (Direktorat Siber BPOM, 2025).

z Dalam konteks ini, kecepatan tanpa koordinasi internal dan tanpa pemahaman aturan terbaru justru dapat menjerumuskan perusahaan pada risiko reputasi dan risiko hukum.

Kepercayaan: aset yang menentukan nafas panjang industri

Industri pangan hidup dari kepercayaan publik. Sekali tercoreng, pemulihannya bisa sangat panjang. Karena itu, tahun 2026 membawa satu pesan besar: kepercayaan kini dibangun bukan hanya karena nama besar jenama, tetapi juga kualitas produk dan tata

kelola perusahaan.

Regulator menegaskan arah yang sama. Melalui Peraturan BPOM No. 16 Tahun 2025, masyarakat bukan lagi sekadar penerima informasi, tetapi diberi ruang formal untuk ikut mengawasi keamanan pangan. Artinya, sumber tekanan reputasi perusahaan kini datang dari dua arah: regulator dan konsumen (Badan Pengawas Obat dan Makanan [BPOM], 2025).

Di saat yang sama, pemerintah memulai implementasi kebijakan wajib halal terutama untuk produk pangan, memperkuat kredibilitas produk dalam negeri sekaligus meningkatkan standar pemrosesan pangan dari hulu ke hilir. Langkah lain seperti penguatan kebijakan jaminan produk halal— yang menekankan ketertelusuran bahan baku, pemisahan fasilitas produksi, serta pengawasan rantai pasok hingga distribusi—menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas halal sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan, dalam konteks baru ini, bukan hanya janji kepada konsumen; ia adalah indikator kedewasaan industri (BPJPH, 2025).

Keberlanjutan: pilar baru dalam arsitektur regulasi

Jika beberapa tahun lalu keberlanjutan dianggap sebagai nilai tambah, kini ia berkembang menjadi kewajiban strategis. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–

2029 dan agenda transformasi sistem pangan nasional mulai menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari kebijakan pangan (Bappenas, 2025; Badan Pangan Nasional, 2025; GAIN, 2024; CIPS, 2024).

Arah tersebut mencakup:

z Pengurangan kehilangan pangan (food loss) and limbah pangan (waste),

z Perbaikan praktik budidaya berbasis agroekologi,

z Model ekonomi sirkular dalam industri pangan, optimalisasi lahan marginal dan regenerasi petani,

z Penguatan pangan lokal dan diversifikasi sumber karbohidrat,

z Pertanian cerdas iklim (World Bank, 2021; Shofiyati et al., 2024). Keberlanjutan bukan hanya strategi reputasi; ia kini menjadi strategi bertahan.

Pelajaran penting bagi para pemimpin industri pangan

Era 4.0 tidak lagi mengizinkan pemimpin untuk sekadar adaptif. Mereka harus visioner sekaligus operasional. Tidak cukup cepat; harus akurat. Tidak cukup patuh; harus proaktif. Dan tidak cukup responsif; harus mampu membangun sistem yang dapat menjaga integritas tanpa menghambat inovasi (Jaafar et al., 2026; Mrugalska C Ahmed, 2021; Porkodi, 2024; Örnek C Camci, 2024).

Ada tiga tuntutan kepemimpinan yang semakin relevan tahun ini:

1. Memastikan organisasi siap berlari cepat—tanpa kehilangan arah Digitalisasi hanya akan efektif apabila

seluruh tim memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan, prioritas, dan peran masing-masing. Tanpa keselarasan tersebut, percepatan justru berpotensi menimbulkan friksi dan inefisiensi internal.

2. Menjadikan kepatuhan sebagai bagian dari budaya organisasi, bukan sekadar daftar pemenuhan Di tengah pengawasan publik yang semakin terbuka dan partisipatif, setiap keputusan dan tindakan perusahaan kini berada dalam sorotan. Kepatuhan yang bersifat reaktif tidak lagi memadai.

3. Menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi strategi bisnis

Pemimpin yang mampu menyeimbangkan kinerja finansial, keberlanjutan lingkungan, dan nilai sosial akan memiliki daya tahan dan relevansi jangka panjang.

Tahun 2026 menandai babak baru industri pangan Indonesia—bukan hanya soal bergerak lebih cepat, tetapi tentang membangun kepercayaan yang kokoh dan keberlanjutan yang memastikan industri ini tetap relevan di masa depan. Perusahaan yang mampu memadukan ketiganya—kecepatan, kepercayaan, dan keberlanjutan—akan menjadi penentu arah industri pangan di masa mendatang. Dan bagi para pemimpin, inilah momentum untuk menunjukkan karakter kepemimpinan yang bukan hanya responsif terhadap perubahan, tetapi mampu membentuk masa depan pangan Indonesia yang lebih aman, transparan, dan berdaya saing global.

Referensi

http://foodreview.co.id/pdf/Ref.%20Industri%20Pangan%204.0.pdf

MINI DIREKTORI

GNT Group B.V.

EXBERRY® is the leading brand of Coloring Foods for the food and beverage industry. Coloring Foods are made from fruits, vegetables, and edible plants using a physical manufacturing process processed with water.

+65 6659 4180

info-singapore@gnt-group.com

www.exberry.com

BENEO (BENEO Singapore - Asia Pacific Pte. Ltd.) Connecting nutrition and health

+65 42 245 8000 contact@beneo.com www.beneo.com

10 Science Park Road #03-21 / 22 / 23 / 24 117684 Singapore

Eriez Australia

Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, metal detection and material handling equipment.

+613 8401 7400

www.eriez.com

PT KH ROBERTS INDONESIA

At KH Roberts, we leverage our deep expertise in flavour science and strong understanding of consumers’ needs to craft future flavours that deliver delight to consumers around the world.

021 87900778 / 021 89700723

info.id@kh-roberts.com

www.kh-roberts.com

https://www.linkedin.com/company/kh-roberts/

LabIndonesia

The Only Platform for Future Lab Technology & Chemicals for Medical, Pharma, Education & Scientific Research in Indonesia

+ 62 21 2525 320

www.lab-indo.com

IG lab_indonesia

Lab Indonesia

PTOgawaIndonesia

Ogawa & Co., Ltd. utilizes Japanese natural materials creating flavors and fragrances

021-8904218-19 / +62-811-1977-846

ade.auliya@ogawa-ogi.net

https://www.ogawa.net/en/

PT. Mitra Kualitas Abadi (Catalyst Consulting) Training, Consulting, Assesment/audit, Mystery Shopping Provider

021-3952 4220

+62 813-8250-7245

info@catalystconsulting.id www.catalystconsulting.id

Catalyst Consulting consulting.catalyst

Catalyst Consulting

PT. Brenntag

We are your food and nutrition partner for innovative and sustainable solutions

Graha Pratama Building, 17th Floor, Jl. M.T. Haryono Kav. 15 12810 Jakarta Selatan Indonesia

brenntag.com

PT Falmont Aroma International

Falmont Flavors offers a wide range of high-quality flavors, crafted to elevate culinary creations and meet diverse needs, from sweet to savory, from liquid to powder.

0251 8413668

info@falmontflavors.com

www.falmontflavors.com

IInnovations in Food Flavor & Colorant Solutions

ndustri flavor dan pewarna pangan saat ini menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan tren clean label dengan stabilitas teknis bahan alami yang rentan terhadap suhu dan oksidasi. Kompleksitas ini mendorong para inovator R&D untuk terus mengoptimalkan sinergi antara bahan alami dan penggunaan bahan sintetis yang aman serta teruji secara regulasi guna memastikan konsistensi kualitas sensoris produk. Melalui pendekatan yang berbasis sains, integrasi teknologi canggih ini diharapkan mampu menghasilkan solusi pangan yang tidak hanya menarik secara visual dan rasa, tetapi juga tetap efisien, stabil, dan kompetitif di pasar global. Menanggapi dinamika tersebut, FoodReview Indonesia edisi mendatang mendatang akan mengulas beberapa teknologi terkini, seperti mikroenkapsulasi dan biosintesis, yang memungkinkan penciptaan profil rasa dan warna autentik tanpa mengorbankan masa simpan produk. Melalui inovasi ini, industri diharapkan mampu menjawab tuntutan konsumen akan produk yang lebih menyehatkan dan transparan, sekaligus mengatasi kendala efisiensi produksi dalam skala global.

Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi:

FOODREVIEW INDONESIA

telepon (0251) 8372333 | +62 811 1190 039

email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda.

Ms. Tissa Eritha - tissa@foodreview.co.id

Mr. Andang Setiadi - andang@foodreview.co.id

If you have a friend or colleague who would be interested in receiving FoodReview Indonesia, please feel free to share the latest issue, and our special digital subscription offer with them today.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
FRI VOL XXI/03 2026 by FOODREVIEW Indonesia - Issuu