Skip to main content

JOBIN BAB 1

Page 1


BAB I VERA

Vera, ini adalah kisah tentang kamu saat kamu masih seorang gadis SMA kelas tiga, tahun 2009 di Bandung.

Teman-temanmu mengenal kamu sebagai orang yang punya kepribadian kuat, baik hati, supel dan membumi, sehingga mereka merasa senang setiap berada di dekatmu. Selain itu, kamu juga memiliki aura yang sangat dewasa dan penuh perhatian. Kesan itu semakin terbantu oleh fakta bahwa tubuhmu sedikit lebih tinggi dari kebanyakan perempuan.

Secara fisik, sosokmu bagus, terawat dan bersih, yang ditingkatkan dengan fitur wajahmu yang cerdas, anggun, dan selalu tanpa riasan. Rambutmu tebal dan hitam, dipotong sampai pertengahan leher yang

ditata dengan poni dan beberapa helaian rambut yang dibiarkan tergerai di pipimu. Alismu tebal melengkung

dengan kilatan yang menantang di matamu. Setiap kamu tersenyum, lesung pipit kecil yang menggemaskan menarik pipimu.

Kamu sedikit berjiwa tomboi. Namun, kamu juga menikmati berdandan dan menampilkan pesona femininmu. Kamu tidak mengenakan pakaian untuk membuat tubuhmu terlihat bagus; tubuhmulah yang membuat pakaian yang kamu kenakan menjadi terlihat bagus. Orang-orang mengatakan bahwa kamu menarik, tapi kamu berusaha untuk tidak terlalu memperhatikannya.

Kamu adalah tipe gadis yang selalu bersemangat dan energik. Aktif berpartisipasi dalam acara sekolah, kompetisi, dan debat. Dari standar satu hingga sembilan, kamu selalu mendapat peringkat ketiga atau keempat di kelas. Jadi, pada dasarnya kamu adalah gadis yang cukup pintar, tapi di saat sedang “mood” kamu juga bisa nakal seperti siswa-siswa lainnya di masa itu. Kamu pernah ditegur oleh wali kelas gara-gara menyembunyikan papan tulis sebelum pelajaran dimulai, yang dibantu oleh teman-temanmu. Kamu juga pernah dimarahi oleh guru BP karena sudah membuat Azizah dan Elis berkelahi, padahal awalnya hanya adu omong masalah rebutan lelaki. Kemudian di depan guru

BP, kamu hanya menyeringai seolah apa yang kamu lakukan itu sepele dan tidak penting.

Kamu adalah anak tertua dari dua bersaudara dan tinggal bersama orangtua dan adik laki-lakimu. Ayahmu yang kamu panggil Papa, saat itu, berusia sekitar lima puluhan, bekerja di bidang telekomunikasi dan memiliki kinerja keuangan yang cukup baik.

Sedangkan ibumu, yang kamu panggil Mama, adalah seorang wanita yang berorientasi pada karier, termasuk rasa tanggung jawabnya sebagai seorang ibu rumah tangga dan pada keamanan masa depannya untuk memajukan kariernya sendiri. Dia berusia akhir empat puluhan, memiliki bisnis yang berkembang, tergabung dalam semua komunitas yang tepat dan mendapat rasa hormat dari komunitas bisnis.

Adik laki-lakimu, berusia enam belas tahun. Dia telah berkembang menjadi laki-laki muda yang suka bermain futsal. Sebagaimana papa dan mamamu, dia juga memanggil kamu “Teteh” atau “Teh” sebagai ungkapan penghormatan di kalangan orang Sunda, untuk merujuk pada perempuan yang lebih tua atau seorang kakak perempuan.

Melihat ke belakang, waktu kamu masih duduk di bangku kelas dua SMA, kamu pernah pacaran dengan Gagan. Dia adalah kakak kelasmu, yang populer sebagai salah satu dari sekelompok anak “keren” di sekolah.

Cenderung berpenampilan terbaik, memakai pakaian paling trendi, dan punya reputasi sebagai anak geng

motor yang tidak terlalu kamu permasalahkan, mungkin

karena kamu masih sangat muda saat itu.

Setelah tiga bulan pacaran, kamu mulai menyadari

ternyata dia hanya orang bodoh yang tidak punya otak.

Dia terlibat narkoba dan obat-obatan terlarang. Bagimu

hal itu tampak agak terbelakang dan kampungan. Kamu

sudah menasihatinya berulang kali, tetapi dia tidak mau berubah.

Selain itu Gagan juga menyeramkan, dia pernah menciummu dengan paksa di dalam gedung bioskop.

Kamu tidak mau karena itu buruk dan bagimu tidak ada yang baik dalam kemajuan hubungan seperti itu. Gagan marah. Kamu juga marah.

Setelah putus dengannya, Gagan terus melakukan apa pun yang dia perlukan untuk balikan denganmu, tapi tetap saja semua usahanya tidak mampu meluluhkan hatimu. Bahkan meskipun Gagan cuma ingin menjadi temanmu, kamu tetap tidak mau karena bagimu orang seperti Gagan itu sangat berbahaya.

Kemudian dia mulai menerormu melalui telepon.

Dia meneleponmu di tengah malam atau saat kamu sedang belajar. Dia juga mengirim lusinan email dan pesan BBM setiap hari, bergantian antara ancaman dan

upaya persuasi. Karena kesal, akhirnya kamu mengganti nomor teleponmu.

Dipikir-pikir, sungguh bodoh bagimu untuk memilih

dia menjadi pacarmu. Kemudian kamu mendengar

Gagan dijebloskan ke dalam penjara karena terlibat

peredaran narkoba. Itu sangat konyol tapi dengan begitu kamu jadi merasa nyaman di sekolah karena

tidak lagi diganggu oleh Gagan yang selalu menemuimu setiap hari.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook