Jl. Asem Raya 306 JakBar 085888503388 237DE149 Ehipassiko Foundation @ehipassikofoundation www.ehipassiko.net
BUKU DHARMA
FILM & MUSIK DHARMA KAOS & AKSESORI DHARMA
ABDI DESA
BEASISWA
CHARITY TOUR
BAKTI SOSIAL LINTAS AGAMA
BIMBEL GRATIS
LUKISAN BUDDHIS
KURSUS, RETRET, CERAMAH
KASIHAN HEWAN ONCE UPON A TIME MEDSOS PARAMITA DHARMA XLVI 1
Editorial Majalah PARAMITA dipersembahkan oleh: PENANGGUNG JAWAB Osel Sakadewa PEMBIMBING Alitalia Jeanny PEMIMPIN REDAKSI Shierlen Octavia MATERI DAN PENYUNTINGAN Harvin Kusuma, Cindy Kurniawan, Cynthia Kurniawan, Andrew Prasettya Japri, Felix Pratama DESAIN DAN TATA LETAK Chunairil Wijaya, Fenny Haliman, Manita Piyaputri Hartono, Ferren Alwie Juliana Silvia Onggani Winata, Velicia Khoswan, Velika Wijaya KEUANGAN Winarsih, Arie Chandra, Naomi Midori KONTRIBUTOR Alvina Liyandra, Angie Michaela Marella, Bodhiprajna, Elvan Adiyan Wijaya, Felix Pratama, Hema Mitta Kalyani, Kevin, Nicholas Giovanni, Nikita Ciamaudi, Sadha Satya Lotan, Steven Jonathan, Vanya Cendana, Viriya Paramita, Wilson PENERBIT KMBUI Tromol Pos 909, Kampus UI Depok 16424 PENCETAK Percetakan Kanisius
Namo Buddhaya! Mengusung tema “Once Upon A Time” pada edisi perdana di tahun 2017, terdapat filosofi bahwa perubahan dalam hidup adalah suatu kepastian. Namun di balik setiap detik yang telah terlewat, kita akan selalu menyimpan kisah baru di baliknya. Dan setiap kisah akan menjadi sejarah tersendiri bagi setiap orang. Bagaimana cerita Anda hari ini? Hal apa saja yang telah Anda torehkan di setiap waktu yang telah terlewat? Sudahkah Anda berbuat sesuatu yang mampu membuat diri Anda di hari esok berterimakasih pada Anda di hari ini? PARAMITA edisi XLVI kali ini hadir untuk berusaha menyajikan berbagai macam perubahan dan perkembangan “cerita” sambil membahas informasi unik pada setiap zaman sambil berusaha mengkajinya menggunakan kacamata mahasiswa dari seorang umat Buddhis. Pada edisi ini juga terdapat rubrik baru yang hendak menghadirkan nuansa kekeluargaan dan membantu temanteman dalam memuaskan rasa haus akan Dhamma melalui Paraprofil dan Paratanya. Akhir kata, selamat memetik sudut pandang baru dari setiap ide dan materi yang tertuang. Semoga PARAMITA tetap menjadi media terpercaya dan bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca dan semoga Anda berbahagia! Salam hangat,
Redaksi PARAMITA 2017
2
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
Contents Contents Editorial
2 3
Contents
5 Kenalan dengan Paratanya! 6 Wall of Art 8 Asal Mula Dunia 11 Sejarah Buddhisme di India 12 Perkembangan Upacara dalam Agama Buddha designed by Velika Wijaya
designed by Velicia Khoswan
designed by Shierlen Octavia
designed by Shierlen Octavia
designed by Manita Piyaputri Hartono
14 18 22
Protagonis atau Antagonis designed by Velicia Khoswan
Lung Cancer: It Takes Time... designed by Fenny Haliman
Vihara: Empat Senjata Revolusi designed by Ferren Alwie
Intervensi Informasi, Penyebab Budaya Merosot!
25
designed by Shierlen Octavia & Chunairil Wijaya
Wawancara dengan Yasa Paramita Singgih
designed by Manita Piyaputri Hartono
28
Buddhisme dan Seni
32
designed by Alitalia Jeanny
Evita Martha Dewi 34
Anggota KMBUI dengan Segudang Prestasi
designed by Ferren Alwie
ABOUT THE COVER FRONT Photo by: @wahegi & @svtd. project EDITED BY: Golddy nAIBAHO @goldday_
BACK Photo by: @robstrok EDITED BY: Golddy nAIBAHO @goldday_ ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
3
What Do They Say? designed by Manita Piyaputri Hartono
36
Existential Crisis
A Perspective on Anatta
38
designed by Manita Piyaputri Hartono
Mencapai Pencerahan Secara Digital, Mungkinkah? designed by Alitalia Jeanny
42
45
Aku (Tidak) Membenci Ibuku designed by Manita Piyaputri Hartono
48
Termasuk Generasi Apakah Kamu? designed by Shierlen Octavia
30th of February, Is It Real?! What Does One Year Actually Mean? designed by Velika Wijaya & Shierlen Octavia
56
in A Glimpse 59 Japan Three Cities, Million Stories designed by Shierlen Octavia
Degradasi Mental Belajar Mahasiswa
designed by Velicia Khoswan
62
Simak Liputan KMBUI INSIDE!
17, 41, 52-55
Yuk, cek artikel peserta lomba tulis PARAMITA! http://bit.ly/TerimaKasihPesertaLombaEdisi46 4
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARATANYA
Apakah arti cinta menurut agama Buddha? Cinta adalah lakon hidup manusia yang paling sering direnungkan, dibahas dan dirindukan dibandingkan lakon-lakon hidup yang lain. Sebuah teks Buddhis awal, Culla Niddessa, mendefinisikan cinta sebagai berikut, “Cinta berarti memiliki sifat bersahabat dan bersikap ramah.” Buddhagosha lebih spesifik ketika ia menulis, “Ciri-ciri cinta adalah memajukan kesejahteraan orang lain dan fungsi cinta adalah fokus pada kesejahteraan orang lain. Cinta bermanifestasi dengan menyingkirkan kejengkelan dan motivasinya yang terutama adalah melihat hakikat makhluk lain yang layak dicintai. Cinta berhasil ketika ia telah melenyapkan niat buruk dan cinta gagal ketika ia menimbulkan keterikatan.” Buddha mengatakan cinta yang tertinggi, yang paling spiritual dan paling mulia adalah metta/maitri. (REFERENSI: Shravasti Dhammika, “Menyatu Bagai Susu & Air”, Penerbit Karaniya, 2015)
Punya banyak pertanyaan dan rasa penasaran mengenai Dhamma yang sulit terjawab akibat kegiatan perkuliahan atau rutinitas yang padat? Kirimkan saja pertanyaanmu ke email paramitamagazine@gmail.com! (Identitas akan sepenuhnya dirahasiakan, kok! So, no worries ya gengs!) Spesial untuk edisi ini, redaksi telah menerima banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman se-Dhamma seputar pendalaman dan bahasan Buddha Dhamma. Terima kasih untuk seluruh teman yang telah antusias dalam mengirimkan pertanyaanpertanyaan ini, semoga jawaban yang diberikan dapat membimbing kita semua menuju realisasi.
Kenalan dengan Paratanya! Selamat kepada dua orang penanya “EDITOR’S CHOICE”! Dua penanya terpilih berhak mendapatkan hadiah istimewa dari redaksi. Bagi pertanyaan yang tidak dimuat di edisi kali ini, silakan cek jawaban selengkapnya di http://bit.ly/ paratanya46. Untuk teman-teman lainnya yang masih memiliki banyak pertanyaan dan ingin berkonsultasi mengenai jawabannya, langsung saja kirimkan pertanyaanmu. Dua pertanyaan terpilih akan spesial dimuat di edisi berikutnya!
(dibimbing oleh Bhante Nyanagupta)
Maitricittena, Redaksi PARAMITA KMBUI
Bagaimana seharusnya seorang Buddhis bersikap pada fenomena LGBT, mendukung atau menolak, bersikap atau membiarkan? Lalu jika menolak, mengapa? Karena sebenarnya LGBT sendiri tidak merugikan orang lain. Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat dulu bahwa sikap masyarakat dewasa ini terhadap isu LGBT sebagian besar didasari oleh pandangan agama samawi yang berkembang seiring dengan pandangan sempit tentang seksualitas itu sendiri. Sedangkan menurut budaya Timur, terutama India dan Tiongkok, seks bukan sesuatu yang kotor sehingga harus disembunyikan dan hanya dilakukan untuk tujuan melanjutkan keturunan. Hal ini dapat dilihat dari literatur, dan relief di candi-candi yang menggambarkan dengan gamblang berbagai variasi aktivitas seksual. Dalam pandangan Buddhis, seks disebabkan oleh nafsu keinginan, seperti halnya nafsu keinginan terhadap makanan, kekayaan, dan kekuasaan. Buddhisme menganggap semua itu adalah kemelekatan yang menyebabkan kita terbawa dalam arus samsara, kesemuanya lahir dari avijja/avidya (kekeruhan batin). Homeseksual maupun heteroseksual sama-sama lahir dari avijja, dan ini jelas bukan merupakan “dosa” seperti dalam pandangan agama samawi. Semua jenis aktivitas seksual menumbuh kembangkan nafsu keinginan, dan kemelekatan kita. Hanya dengan kebijaksanaan (prajna) dan pandangan terang (vijja/vidya) kita dapat melepaskan nasfu keinginan itu. Oleh karena itu sikap Buddhis tidaklah menolak atau mendukungnya, namun kita melihat kesemuanya dalam pandangan cinta kasih dan kebijaksanaan. Diskriminasi dalam bentuk apapun, terhadap isu agama, politik, suku bangsa, gender termasuk orientasi seksual tentu tidak selaras dengan sikap seorang Buddhis. (REFERENSI: DR. K. Sri Dhammananda, “Buddhism and Homosexuality”) ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
5
Wall of Art (WOA) PARAMITA adalah wadah anggota KMBUI untuk mengekspresikan karyanya melalui Instagram. Dalam edisi ini, WOA PARAMITA mengambil tema “Once Upon A Time”
6
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARAPLUS
Editors’ Choice
a n a i l e f a t i l @fer Selamat bagi satu orang yang terpilih menjadi Editor’s Choice dalam Wall of Art PARAMITA edisi 46! Pemenang berhak mendapatkan merchandise cantik spesial dari PARAMITA. Pengambilan hadiah dapat menghubungi 085759999180 (Shierlen) atau mengirimkan data diri melalui email ke paramitamagazine@gmail.com
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
7
PARATAMA
Asal Mula Dunia
st IN
1
W NER
Oleh Laura Haryo (Kamadhis UGM, FMIPA Matematika 2016)
Pemenang Lomba Tulis Artikel PARAMITA Edisi 46
D
alam ajaran Buddha, setiap hal yang kita hadapi pasti memiliki sebabmusabab yang saling berhubungan (paticcasamuppada). Dengan memahami kenyataan ini secara sempurna, kita akan menjadi tidak mudah percaya kepada segala sesuatu tanpa sebab dan bukti yang konkret. Dengan adanya rasa ingin tahu yang tinggi dan pegangan untuk tidak sekadar percaya tanpa adanya bukti, wajar apabila muncul suatu pertanyaan mengenai asal mulanya dunia. Karena beragamnya cara interpretasi dan kemampuan logika setiap orang, maka munculah beberapa paham yang berbeda mengenai asal mulanya dunia, antara lain: 1. Diciptakan oleh alam dengan sendirinya dan terus berubah. 2. Diciptakan oleh sesosok makhluk berkuasa yang bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi di dalamnya. 3. Tidak bisa dijelaskan.
Buddhis menganut paham ketiga, yakni asal mula dunia tidak bisa dijelaskan melalui kecerdasan keduniawian biasa. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya awal dan akhir terbentuknya dunia itu sendiri. Menurut Buddha, segala sesuatu di alam semesta selalu muncul, berubah, lapuk, dan kemudian musnah mengikuti roda kehidupan yang tiada hentinya (samsara) dan selimut ketidakpedulian untuk mengetahui kenyataan (avijja) tidak bisa ditemukan asal mulanya. Bagaimanapun, asal mula dunia dispekulasi, tidak akan ditemukan kepastian yang mutlak, semua pasti akan berbeda bergantung pada persepsi dari masing-masing individu. Sri Ramachandra menjelaskan, “Tak berhingga ruang langit, tak berhingga jumlah makhluk hidup, tak berhingga dunia-dunia di alam semesta yang luas, tak berhingga kebijaksanaan Buddha mengajarkan hal ini, tak berhingga kemuliaannya mengajarkan hal ini.�
Benar bahwa alam semesta yang kita tahu berevolusi dari alam semesta sebelumnya sesuai hukum sebab-musabab yang saling berhubungan (paticcasamuppada). Setelah masa revolusi tersebut berlalu, energi aktif yang tersisa akan berlanjut suatu saat ke alam semesta lain. Proses perpindahan energi tersebut berlangsung secara berulang-ulang bagaikan roda yang terus berputar. Proses berulang-ulang inilah yang merupakan penyebab tidak adanya awal dan akhir dunia. 8
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARATAMA
Ada beberapa tokoh lain yang juga menganut paham ini, diantaranya Bertrand Russell dan H. G. Wells. Bertrand Russell menjelaskan: “Tidak ada alasan untuk menebak bahwa dunia ada asal mulanya. Pemikiran bahwa setiap hal harus mempunyai sebuah awal, merupakan suatu pandangan yang dipengaruhi oleh adanya keterbatasan pemikiran.” Russell berpandangan bahwa apabila memandang dunia yang mempunyai awal dengan diciptakan seorang penguasa, pasti akan muncul lagi suatu pertanyaan, “Siapakah yang menciptakan penguasa?”. Sedangkan H. G. Wells menjelaskan asal mula dunia dalam bukunya yang berjudul “A Short History of the World”, yakni: “Sudah dikenal secara universal bahwa alam semesta di mana kita tinggal, harus pada setiap kemunculannya, telah ada keberadaannya dalam jangka waktu yang panjang dan mungkin selama waktu yang tak terhingga lamanya. Akan tetapi, pengertian bahwa alam semesta di mana kita hidup telah ada hanya selama enam atau tujuh ribu tahun lalu boleh dianggap sama sekali tidak masuk akal. Tidak ada kehidupan yang terjadi secara tiba-tiba di atas bumi.” Dengan kata lain, Wells berpandangan bahwa usahausaha untuk menetapkan waktu spesifik tidaklah mungkin bisa dilakukan. Buddha menjelaskan bagaimana seharusnya kita menanggapi pertanyaan mengenai asal mula dunia dalam Majjhima Nikaya LXII: 426 yang berisi kisah tentang beliau ketika menanggapi pertanyaan-pertanyaan Malunkyaputta, di mana di antara pertanyaanpertanyaan tersebut adalah meminta penjelasan tentang persoalan dunia: apakah kekal atau tidak kekal, apakah berhingga atau tidak berhingga. Malunkyaputta awalnya dengan teguh meminta jawaban pertanyaan tersebut dan rela menunggu jawabannya sampai kapanpun, asalkan dirinya belum meninggal. Meskipun demikian, Buddha juga dengan teguh tidak menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Buddha menjelaskan bahwa memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan menambahkan ilmu mengenai jalan keluar dari dukkha, yang merupakan pelajaran utama dari kehidupan ini. Buddha mengilustrasikan persoalan tersebut dengan menggambarkan orang yang mempertanyakan hal itu bagaikan orang yang terkena panah beracun. Pada situasi yang mencemaskan itu, dijelaskan bahwa sebenarnya, ada orang yang mau Be rtr dan bisa menolong untuk melepaskan an d Ru panah beracun tersebut.
ss
Tidak ada Brahma yang bisa ditemukan, pencipta roda kehidupan; fenomena dengan sendirinya terus-menerus berlangsung, bergantung pada sebabmusabab. (Visuddhimagga XIX: 617) ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
el
9
PARATAMA
Akan tetapi, orang yang terkena racun tersebut tidak mau panah tadi dilepaskan, ia malah meminta penjelasan siapa yang memanahnya terlebih dahulu sebelum bantuan diberikan. Padahal, ia seharusnya memprioritaskan untuk melepaskan panah beracun tersebut dari dirinya sebelum terlambat. Seperti ilustrasi itulah, Buddha menjelaskan bahwa tidak sepatutnya mengkhawatirkan awal dan akhir dunia, tetapi utamakan pemahaman dan praktik untuk terbebas dari dukkha, dengan menjalankan jalan mulia berunsur delapan (ariya atthangika magga). Buddha bukan mencari pengikut untuk meneruskan pelajaran karya-Nya, tetapi Beliau lebih mengutamakan untuk membabarkan kebenaran yang sudah ada di dunia kepada semua makhluk. Tujuan pembabaran kebenaran ini adalah untuk menyadarkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup kita. Pemahaman asal mula dunia tidaklah memberikan kontribusi signifikan atas jalan menuju tujuan hidup ini. Namun, adanya sababmusabab yang saling berhubungan (paticcasamuppada) dalam dunia ini sangatlah perlu untuk disadari. Demikian juga terhadap pelajaranpelajaran yang lebih bermanfaat, yaitu empat kebenaran mulia (cattari ariya saccani), tiga corak umum (tilakkhana), kamma dan tumimbal lahir (punabhava) untuk pencapaian cita-cita luhur (nibbana) sangatlah perlu untuk kita utamakan. (nibbana), perlu kita utamakan. (VIN/ AND)
REFERENSI: Anonim, 2017, The Buddha’s Teaching and the Origin of Life, http://anitya.org/articles/ buddhas-teaching-origin-life/, diakses pada tanggal 31 Maret 2017. Dhammananda, K.Sri, 2002, What Buddhists Believe, Kuala Lumpur: Buddhist Missionary Society Malaysia. Shansky, A., 2000, Bertrand Russell on Religion with Buddhist Commentaries, https:// philosophynow.org/issues/26/Bertrand_Russell_ on_Religion_with_Buddhist_Commentaries, diakses pada tanggal 31 Maret 2017.
Artikel lainnya bisa Anda cek di tautan pada daftar isi!
Bhikkhu K. Sri Dhammananda FOTO: http://2.bp.blogspot.com/_cA83vbeLe9A/TH-q9Jh0X-I/AAAAAAAAEhc/-y6xVZrgZ5M/s1600/Chief.gif https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c6/H_G_Wells_SWS_2906.jpg/170px-H_G_Wells_SWS_2906.jpg https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/ca/0b/95/ca0b950bb5d0dbb4e9c563779f0e3680.png http://thegraphicsfairy.com/wp-content/uploads/blogger/-YNxWVD24ZC0/T-y8Oq6GOGI/AAAAAAAASfk/yJtyrVQlgFM/s1600/ arcbanner-vintageimage-Graphics-Fairy-blu.jpg http://images.clipartpanda.com/award-ribbon-printable-award-ribbon-blue.jpg http://www.bucharestexpat.com/wp-content/uploads/2013/12/Newspaper-Background.png
10
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARAPLUS
Sejarah Buddhisme di India
Oleh Wilson (FE 2004)
Spesifikasi Buku Judul Penulis Harga ISBN Ketebalan Buku Dimensi buku Berat Distributor
: : : : : : : :
Sejarah Buddhisme di India Taranatha Rp. 80.000 978-602-8888-13-4 552 hlm 23 x 16 x 3 cm 640 gr Lamrimnesia (0812-2281-6044)
S
ejarah Buddhisme di India sangat menggambarkan sejarah India yang mencakup perspektif agama, raja-raja, dan dinasti yang silih berganti naik ke tampuk kekuasaan. Taranatha, sang cendekiawan Buddhis ini telah mengemas karyanya dengan sangat kreatif, buku ini dapat mendobrak sekat antara ‘sejarah sebagai urusan duniawi’ dan ‘agama sebagai urusan spiritual’. Para pembaca, terutama pengkaji sejarah maupun politik India, diajak untuk memahami milenium pertama dari sejarah India. Sebuah agama tak bisa dipisahkan dari konteks sosio-politik tempat ia tumbuh berkembang. Tak hanya pegiat sejarah dan politik, mereka yang berkecimpung dalam ranah sastra dan logika India juga akan meraup manfaat dari karya ini, yang memang pada dasarnya merupakan cuplikan karya sastra dan logika. Dalam sejarah India, Buddhisme ditelusuri mulai dari masa yang paling awal.
Termasuk di dalamnya adalah periode Raja Ajatashatru (yang bengis, tetapi akhirnya bertobat dalam jalan Buddhisme), periode Raja Ashoka (yang dikenang sebagai penyebar Buddhisme paling terkenal), periode Konsili Sangha ke3, periode tumbuh kembangnya Mahayana, periode Nagarjuna (selaku cendekiawan terbesar dalam sejarah Mahayana), periode cendekiawan generasi berikutnya (seperti Aryadewa dan dua bersaudara Asanga dan Wasubandhu), hingga periode Dignaga (selaku salah satu logikawan terbesar dalam sejarah umat manusia dan aneka periode penting lainnya). Sebagai sebuah catatan sejarah, karya ini membawa pembaca kembali ke masa lampau untuk menapak tilas detikdetik sejarah dari sebuah peradaban Buddhisme yang pernah ada di India. (VIN/ AND)
FOTO: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/04/fd/c1/04fdc124d0ef65ce49a87591d0a73b2f.jpg ONCE UPON A TIME http://blog.1worldsync.com/wp-content/uploads/2014/07/digital-footprint.jpg
PARAMITA XLVI
11
PARADHAMMA
perkembangan upacara dalam agama buddha Oleh Hema Mitta Kalyani (Fasilkom 2016)
M
engapa upacara ritual di setiap vihara bisa berbeda? Mengapa tata cara puja bakti di Indonesia berbeda dengan negara lain? Bagaimana yang sebenarnya Sang Buddha ajarkan? Apakah pernah terbersit dalam pikiranmu pertanyaanpertanyaan tersebut? Untuk dapat menjawabnya, perlu dipahami terlebih dahulu makna sebuah upacara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, upacara adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan tertentu menurut adat atau agama. Di sisi lain, jika ditinjau dari pendekatan Buddhisme, upacara dapat diartikan sebagai suatu cetusan hati nurani manusia terhadap suatu keadaan. Upacara merupakan manifestasi penghormatan kepada Tiratana. Dalam agama Buddha, upacara sifatnya tidak terikat, tetapi dapat disesuaikan dengan keadaan dan zaman, asalkan tetap didasari dengan pandangan benar. Mengapa demikian? Hal ini karena Buddha tidak pernah mengajarkan tentang upacara ritual. Buddha Dhamma sebagai ajaran universal hanya mengajarkan cara agar semua makhluk terbebas dari penderitaan.
Sekarang kita mengenal dua jenis upacara penghormatan dalam bentuk puja, yaitu Amisa Puja dan Patipatti Puja. Amisa Puja adalah penghormatan dengan materi atau benda. Amisa Puja bermula dari kebiasaan Bhikkhu Ananda, yang setiap hari mengatur tempat tidur, membersihkan tempat tinggal, membakar dupa, menata bunga, serta mengatur penggiliran umat untuk menemui atau memberikan dana makanan kepada Buddha. Sementara itu, Patipatti Puja adalah menghormat dengan melaksanakan Dhamma, mempraktekkan sila, samadhi, dan panna. Patipatti Puja bermula dari peristiwa Bhikkhu Tissa yang bertekad berpraktik Dhamma hingga berhasil mencapai arahat, empat bulan sebelum Buddha parinibbana. Sebelum Buddha parinibbana, terdapat suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh para Bhikkhu, yang disebut dengan “vattha�. Kewajiban itu meliputi merawat Buddha, membersihkan ruangan, mengisi air untuk minum Buddha, serta mendengarkan khotbah Buddha. Setelah Buddha parinibbana, para Bhikkhu tetap menjalankan kebiasaan tersebut untuk mengenang Buddha dan menghormat Tiratana. Kebiasaan tersebut lambat laun kemudian berkembang menjadi upacara yang kita kenal sekarang ini, yang dipengaruhi oleh kebudayaan setempat. 12
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARADHAMMA
Bagaimana dengan sesajen yang dipersembahkan dalam upacara ritual Buddhis? Kebiasaan mempersembahkan makanan di altar dimulai setelah Buddha parinibbana. Setelah Buddha parinibbana, para murid yang sudah berpuluh-puluh tahun membantu Buddha masih mempersiapkan makanan yang disajikan serta dibereskan pada waktu-waktu tertentu setiap harinya. Kebiasaan ini kemudian berlanjut hingga kini.
Bagaimana dengan penghormatan yang dilakukan saat puja bakti? Namakara atau bersujud merupakan kebiasaan yang dilakukan karena Buddha berasal dari India. Merupakan suatu tradisi sejak zaman dahulu di India, bahwa ketika seseorang bertemu dengan mereka yang dihormati, maka ia akan melakukan sujud dengan menempelkan dahi ke lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati. Merujuk pada apa yang disampaikan oleh Bhikkhu Uttamo, bersujud di depan altar merupakan bagian dari tradisi, maka umat boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk melakukan tindakan itu. Akan tetapi, dengan mampu bersujud, seseorang belajar bersikap rendah hati dan mengurangi keakuan yang akan mengakibatkan ia mempunyai kesempatan lebih besar untuk berbuat baik dengan badannya.
Terlepas dari semua perkembangan tata cara ritual atau upacara yang ada, kita sebagai seorang Buddhis, hendaknya mengerti makna dari upacara dan kebiasaan yang dilakukan. Hal ini agar kita bisa lebih menghormati dan tetap menjalankan tradisi Buddhisme tanpa kehilangan esensi dari ritual tersebut. (LIX/LEN)
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
13
PARADHAMMA
Protagonis atau Antagonis Oleh Nikita Ciamaudi (FMIPA 2016)
“Once “Once upon upon aa time time ...” ...”
B
egitulah umumnya sebuah dongeng klasik dimulai. Kata-kata tersebut seolah-olah menjadi magic word pada semua dongeng. Dongeng-dongeng tersebut umumnya menceritakan seorang tokoh protagonis yang hidup menderita dan diperburuk dengan kedatangan tokoh antagonis yang sangat jahat. “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkannya. Hebatnya, dengan segala macam kerja keras dan usaha, tokoh protagonis ini mampu meraih mimpi dan harapannya. Tidak sampai di situ saja, bahkan ia berhasil membuat tokoh antagonis menjadi orang yang baik dan kembali ke jalan yang benar. Menakjubkan bukan? Pertanyaannya, di manakah posisi Anda apabila Anda hidup dalam dunia dongeng? Sebagai tokoh protagonis atau justru antagonis? Disadari atau tidak, kita semua adalah fragmentasi dari masa lalu. Semua yang Anda alami adalah bagian dari masa lalu. Tidak perlu seorang pujangga hebat untuk menjelaskannya karena alam sendiri telah membuktikannya. Cepat rambat cahaya di ruang hampa adalah 299.792.458 m/s, sedangkan cepat rambat bunyi di medium udara umumnya adalah 343 m/s. Faktanya, Anda setidaknya membutuhkan 0.003 detik untuk dapat mendengarkan suatu bunyi yang bersumber 1 meter dari Anda. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selama 0.003 detik tersebut. Hal tersebut sesungguhnya menimbulkan ketakutan yang mendalam, apa yang terjadi selama 0.003 detik tersebut? Kesibukan yang kita jalani sehari-hari sering kali membuat kita lupa untuk memperhatikan hal-hal kecil. Kita seringkali menganggap bahwa perbuatan yang kita lakukan berdampak pada saat itu juga.
14
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARADHAMMA
Dalam Buddhisme, dampak inilah yang disebut sebagai karma. Kita lupa bahwa tidak ada yang terjadi secara instan di dunia ini, termasuk cahaya dan bunyi yang membutuhkan waktu untuk merambat. Begitu pula dengan karma, tidak pernah terjadi secara instan. Perihal baik atau buruk yang terjadi pada kehidupan kita sekarang adalah hasil rambatan yang berasal dari masa lalu. Namun, pernyataan ini sebenarnya menimbulkan suatu permasalahan filosofis yang lebih mendalam: “Siapakah aku? Diri ‘aku’ yang sekarang ini seakanakan telah dibentuk bahkan sebelum ‘aku’ lahir dan ‘aku’ bahkan tidak mampu untuk membentuk jati diri sesuai dengan kemauanku. Lebih jauh lagi, bahkan ‘aku’ tidak tepat untuk dirujuk sebagai kata ganti orang pertama. Apakah ‘aku’ ini hanyalah sejauh apa yang telah aku perbuat di masa lalu? Tidak. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf asal Jerman, pernah menulis esai yang berjudul “On the Uses and Abuses of History for Life”. Dalam esainya, secara sarkastik ia mengatakan bahwa sesungguhnya tidak penting untuk memahami sejarah dengan kompleksitas metode ilmiah yang akurat. Hal terpenting dalam memahami sejarah adalah bagaimana suatu kejadian di masa
lampau dapat memberikan kita suatu panduan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa sekarang. Hal serupa pernah dilontarkan oleh seorang sastrawan asal Amerika, Ralph Waldo Emerson. Dalam esainya yang berjudul “Self-Reliance”, ia mengatakan bahwa sejarah adalah suatu luka dan kesalahan. Sejarah seseorang bukanlah suatu alat yang dapat digunakan untuk mendefinisikan seseorang secara mutlak. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mendefinisikan dirinya sendiri sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Lebih lanjut, Emerson menulis suatu puisi dalam pembukaan esai tersebut:
“Man is his own star; and the soul that can Render an honest and a perfect man, Commands all light, all influence, all fate; Nothing to him falls early or too late.”
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
15
PARADHAMMA
Sang Buddha juga pernah mengatakan bahwa kita tidak perlu larut dalam masa lalu, karena kehidupan kita yang sekaranglah yang seharusnya difokuskan. Apabila Anda merasa bahwa kehidupan Anda sekarang ini tergolong menakjubkan, maka berterimakasihlah pada kehidupan Anda di masa lampau yang telah melakukan banyak kebajikan. Akan tetapi, apabila Anda merasa kurang puas dengan kehidupan Anda yang sekarang, maka berjuanglah dan jangan menyalahkan masa lampau Anda. Jadi, di manakah posisi Anda? Protagonis atau antagonis? Terlebih, apakah pertanyaan tersebut masih penting untuk dijawab? Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kehidupan lampau dan kehidupan Anda yang sekarang. Menjadi seorang tokoh protagonis atau antagonis sepenuhnya merupakan pilihan Anda sendiri. (CIN/CYN)
FOTO: http://buddhist.tharunaya.us/newsite/admin/uploads/56e643e046e59buddha-wallpaper-hd-of-lord-gautam-buddha_16.jpg
16
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
1
PARAPLUS
kmbui inside
Sangha Dana
“Thousands of candles can be lighted from a single candle, and the life of the single candle will not be shortened. Happiness never decreases by being shared”
R
angkaian kata-kata tersebut mungkin sudah pernah Anda dengar, namun sudahkah Anda mengimplementasikannya? Pada tanggal 11-13 November 2016, KMBUI melaksanakan Sangha Dana KMBUI 2016, dengan tema ‘Set Free the Greed’. Sangha Dana kali ini bertujuan untuk merayakan Kathina dan mengeratkan hubungan antar anggota KMBUI, juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran untuk mengurangi keserakahan serta menumbuhkan inisiatif untuk berbagi dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagi dengan orang lain merupakan salah satu praktik dhamma yang dapat dilakukan. Acara Sangha Dana selama 3 hari ini berlangsung di Vihara Vipassana Graha, Lembang. Sebagai bentuk implementasi dari tema yang diangkat, pada hari ketiga, peserta juga
diajak untuk mengunjungi Panti Jompo Muhammadiyah Rancabolang yang terletak di Bandung. Sesungguhnya, acara ini dapat terselenggara berkat adanya bantuan secara material dan non-material dari donatur, vihara-vihara, dan juga anggota KMBUI. Acara ini dapat berjalan dengan baik berkat antusiasme peserta, mulai dari pelaksanaan Kathina Puja, games, malam kesenian, hingga kunjungan ke panti jompo. Terima kasih kepada seluruh peserta yang terus menjaga semangatnya dan mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir dengan antusias. Dengan usainya rangkaian acara Sangha Dana KMBUI 2016, semoga semua pihak yang terlibat mampu mendapatkan pembelajaran dan dampak positif, terutama dalam hal berbagi dengan sesama.
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
17
PARAMEDIS
Karin adalah seorang mahasiswi fakultas kedokteran di sebuah kampus ternama, kampus yang menurut salah satu dosennya merupakan pusat ilmu budaya bangsa. Baru kemarin supir pribadinya berhenti bekerja karena didiagnosis menderita kanker paru. Sang supir yang hobi merokok sudah lama mengeluh nyeri pada bahu kanan yang tidak kunjung membaik dengan berbagai obat untuk menghilangkan rasa nyeri. Berat badannya pun turun drastis hingga tampak sangat kurus dalam waktu 3 bulan. Lalu, Karin mulai membaca buku-buku dan mencari artikel ilmiah untuk memperoleh informasi tentang kanker paru, seperti sedang membuat laporan tugas mandiri.
Lung Cancer: It Takes Time...
T
Oleh Steven Jonathan (FK 2007)
umor secara sederhana dapat diartikan sebagai pembelahan jaringan tubuh yang tidak normal dan tidak terkendali menjadi jaringan yang tidak fungsional. Kanker merupakan tumor ganas, dinilai dari kecepatannya memperbanyak diri dan kemampuannya menyebar ke organ tubuh lain (metastasis). Kanker paru adalah jenis kanker yang berada di peringkat nomor 1 untuk laki-laki, dan peringkat 5 untuk perempuan. Kanker paru yang terjadi dipengaruhi beberapa faktor risiko, yaitu usia (risiko meningkat pada usia lebih dari 40 tahun), jenis kelamin laki-laki, faktor genetik dan keluarga (riwayat kanker paru di keluarga dihubungkan dengan risiko yang sedikit lebih tinggi), pajanan asap rokok (risiko utama; perokok memiliki risiko 10-30 kali lebih tinggi), radiasi gas radon di rumah (radiasi alami yang dapat keluar dari tanah dan memasuki bangunan), serta pajanan bahan karsinogenik (penyebab kanker) di tempat kerja. 18
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
FOTO : https://www.etsy.com/listing/467494679/flower-lungscolorful-floral-lungs-flower
Perubahan yang terjadi pada kanker paru ada yang dapat diamati seperti dari perubahan jaringan epitel yang melapisi saluran napas/perubahan histologis-anatomis, dan yang tidak bisa diamati yaitu perubahan biomolekular di tingkat DNA. It takes time; perubahan ini tentunya membutuhkan waktu, mulai dari
Penanganan yang dapat dilakukan pun bervariasi, mulai dari pembedahan,
PARAMEDIS
waktu untuk menggandakan diri hingga waktu untuk memunculkan gejala. Kanker paru pada stage awal tidak menimbulkan gejala (penggunaan istilah ‘stadium’ adalah salah kaprah) sehingga seringkali pasien kanker paru berobat ketika kanker sudah bergejala sesungguhnya yaitu sudah berada di stage lanjut (sudah menyebar ke organ lain). Hal ini berbeda keadaannya dengan negara maju yang menerapkan cek kesehatan secara berkala sehingga kanker paru pada stage awal sudah bisa diidentifikasi untuk ditangani sebelum menyebar ke organ lain. FOTO: https://id.pinterest.com/ pin/474285404488491894/
kemoterapi, dan radiasi/radioterapi (pada lanjut). Pembedahan dilakukan pada stage awal/ketika belum ada penyebaran, bila ukuran tumor masih kecil, dan memenuhi syarat untuk operasi. Penanganan kanker paru sama seperti penanganan penyakit medis lainnya "it takes time", tidak ada sim salabim, dan tidak ada jaminan pasti sembuh. Karena tidak ada yang 100% pasti dalam dunia medis, maka seharusnya tidak ada praktisi medis yang gemar memberi jaminan pada pasien akan kesembuhan penyakitnya. Berbicara tentang kesembuhan, sesungguhnya tidak ada kanker paru stage lanjut yang dapat disembuhkan. Tujuan penanganannya hanya mencegah progresivitas penyakit dan memperbaiki kualitas hidup.
stage
FOTO: https://id.pinterest.com/ pin/474285404488491894/
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
19
PARAMEDIS
Karin adalah anggota aktif dari Keluarga Mahasiswa Buddhis di kampusnya. Ia juga seorang praktisi Dhamma yang gemar melihat segala sesuatunya dari aspek Dhamma. Sejenak, ia memalingkan wajahnya dari buku kedokteran dan laptopnya ke lemari buku Buddhis. Jarinya mulai memilah-milah koleksi buku Dhammanya. Dilihat dari kacamata Dhamma, hukum kamma berperan dalam proses hidup kita. Maka, sudah selayaknya sebagai seorang Buddhis kita mengakui eksistensi hukum kamma. Setiap penyakit adalah akibat dari suatu sebab, dimana ada sebab penyakit yang diketahui (secara medis) dan ada juga yang tidak diketahui. Namun, apakah setiap penyakit/rasa sakit disebabkan oleh kamma? Apakah segala sesuatunya terjadi karena kamma? Hukum kamma tidak berlaku untuk perbuatan yang tidak memiliki kesadaran khusus, seperti tidur, berjalan, dll. Arahat Nagasena dalam Milinda Panha Bab Delapan menyatakan bahwa tidak semua rasa sakit disebabkan oleh kamma. Menurut saya dari sudut pandang ini, hukum kamma hanya sedikit berperan sebagai penyebab langsung suatu penyakit, karena hal ini tentu sulit dijelaskan secara medis. Namun, bukan berarti hukum kamma tidak berperan sama sekali. Sesungguhnya konsep
FOTO: https://id.pinterest.com/ pin/294422894362425082/
20
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
sebab akibat suatu penyakit adalah bagian dari konsep hukum kamma itu sendiri. Cara berpikir lain yaitu kamma dapat dianggap berperan sebagai penyebab suatu penyakit secara tidak langsung. Kita ambil contoh yaitu kanker paru yang memiliki faktor risiko genetik dan rokok. Praktisi medis akan berpikir bahwa rokok menjadi faktor risiko utama kanker paru (bahkan dapat dibuktikan hubungan sebab akibat antara rokok
PARAMEDIS
dan kanker paru), tetapi praktisi medis lain yang merupakan seorang Buddhis juga boleh saja berpikir bahwa karena ada ikatan kamma kuat antara orang tua dengan anak, seorang anak dapat terlahir di suatu keluarga yang memiliki banyak riwayat kanker paru. Pada kasus ini secara Dhamma, kamma menjadi penyebab (tidak langsung) terjadinya kanker paru, yang secara medis dilihat sebagai faktor genetik. Tiga ciri semesta/Tilakkhana terdiri dari Anicca, Anatta, dan Dukkha: • Anicca menggambarkan fenomena dari segi waktu: segala sesuatu di alam semesta, baik jasmani maupun batin, selalu berubah. Sebagai contoh, once in time, paru dan pernapasan seseorang berada dalam kondisi baik; later in time, dapat berubah menjadi buruk fungsinya (kanker paru) karena berbagai faktor yang memengaruhi. It takes time dari paru sehat menjadi sakit. • Anatta menggambarkan fenomena dari segi ruang: segala sesuatu di alam semesta tersusun dari berbagai bagian yang juga terdiri dari bagian-bagian kecil. Sesuatu itu ada hanya jika bagian-bagian penyusunnya bergabung (tidak ada inti atau diri yang tetap). Kembali ke kasus kanker paru, karena sel penyusun saluran napas yang berubah (bermutasi), berubahlah bagian kecil organ paru tersebut, yang nantinya akan berubah menjadi sel-sel kanker. • Dukkha menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu di alam semesta yang bisa memberi kepuasan yang lengkap dan abadi karena perubahan terus menerus pada segala hal, disertai kemelekatan akan hal menyenangkan dan kecemasan bahwa hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Menilik kasus, kanker paru adalah perubahan yang membutuhkan proses. Perubahan ini pastinya tidak memberikan kepuasan. Dengan menyadari bahwa perubahan adalah hal tidak terhindarkan, kita dapat menerima bahwa hidup itu proses berurutan dari lahir, tua, sakit, dan mati. Proses menerima semua ini juga membutuhkan waktu.
Karin bergumam dalam hati,“Begitulah, kurang lebih intinya, proses terjadinya penyakit, proses penanganan penyakit. Semuanya butuh waktu. Termasuk kuliah kedokteran yang tak kunjung usai ini juga butuh waktu.”Lalu ia menutup buku dan laptopnya, berusaha untuk tidur setelah menunaikan hobi jaga malamnya di salah satu rumah sakit pendidikan. (CIN/ CYN) REFERENSI: Jusuf A (ed.). Dasar-dasar diagnosis kanker paru. Jakarta: UI-Press. 2017; p.1-43, 103, 203-5. Vijjananda H. Si lilin. Jakarta: Ehipassiko Foundation. 2010; p.63-70, 80-1. ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
21
PARADHAMMA
I : S A U R L A VIH A REVO AT J N E S T MPA )
014 asi 2
E
Oleh
V
k a (Vo iprajn Bodh
ihara? Tentunya kata ini sudah tidak asing lagi terdengar oleh kita. Secara harafiah, ihara merupakan sebuah tempat umum bagi umat Buddha untuk melaksanakan segala macam bentuk upacara atau kebaktian keagamaan menurut keyakinan dan kepercayaan agama Buddha (Peraturan Departemen Agama RI nomor H/III/BA.01.1/03/1/1992, Bab II). Pada zaman Buddha, vihara bukanlah sebuah tempat yang hanya untuk melaksanakan kegiatan ritual (pembacaan Paritta), melainkan lebih kepada pembabaran Dhamma dan Vinaya, latihan meditasi, dan tempat tinggal Bhikkhu. Parinibbana-nya Sang Buddha melatarbelakangi munculnya sebuah ide untuk membuat kesepakatan antar Sangha di Sidang Agung I (Konsili I, 543 SM), bahwa harus ada kegiatan pengulangan Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Buddha, sehingga ajaran beliau dapat tetap murni dan kuat. Tugas tersebut dilakukan oleh Y.A. Upali (mengulang Vinaya) dan Y.A. Ananda (mengulang Dhamma), yang mana pada zaman sekarang lebih dikenal dengan nama ‘kebaktian’ (kegiatan 22
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
membacakan Paritta tertentu). Ajaran Buddha sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh para Bhikkhu, melainkan diperuntukkan bagi semua orang. Tentu sangat tidak efektif jika Vihara melaksanakan kegiatan ritual yang mayoritasnya hanya dilaksanakan pada hari Minggu. Oleh karena itu, aktivitas yang terdapat di Vihara semestinya disesuaikan dengan aktivitas perumah tangga. Revolusi Vihara merupakan solusi yang tepat untuk menangani perkembangan aktivitas Vihara di masa depan. Setelah didiskusikan oleh para tokoh Buddhis, di masa depan, Vihara harus mempunyai 4 fungsi utama, yaitu sebagai tempat pusat keagamaan (ritual, puja bakti, meditasi, pembabaran Dhamma, tempat tinggal Bhikkhu), sebagai pusat pendidikan (sekolah, kampus, institut, dan lainnya), sebagai pusat pengembangan sosial budaya asli Indonesia (agama Buddha di Indonesia terlalu banyak intervensi budaya luar, sehingga menyebabkan banyaknya sekte dan ego, setiap petingginya ingin alirannya yang paling menonjol), dan sebagai pusat perekonomian umat Vihara tersebut (semacam koperasi). Poin Vihara sebagai pusat pendidikan sangatlah cocok untuk dibahas di kalangan mahasiswa, karena masalah sentral agama Buddha ialah
dan kota besar lainnya. Untuk level kampus, hanya ada beberapa Sekolah Tinggi Agama Buddha yang mana diperuntukkan untuk menghasilkan guru agama dan pandita (contoh: STAB Nalanda, STAB Mahaprajna, dan sebagainya). Ada satu institusi berbentuk kampus di Indonesia, yaitu Universitas Buddhi Dharma yang terdapat di Tangerang. Inilah salah satu bentuk potret minimnya penyebaran pendidikan berbasis agama Buddha di Indonesia.
PARADHAMMA
penderitaan yang mana disebabkan salah satunya oleh kebodohan (avijja). Bahkan di Patticasammupada, Buddha menempatkan avijja ini di urutan pertama. Selain itu, pendidikan adalah penerusan nilai, pengetahuan, kemampuan, sikap, dan tingkah laku, serta proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurnaan (Nibbana). Pendidikan dalam agama Buddha tidak memiliki watak feodalistik (hanya dimonopoli golongan tertentu), melainkan
komunalistik (mementingkan sama rasa dan sama rata). Dewasa ini, walaupun jumlahnya masih sangat sedikit, pendidikan agama Buddha di Indonesia sudah berhasil disalurkan melalui institusi agama, sekolah, penyiaran melalui berbagai media massa dan media informasi modern. Untuk level sekolah, masih sangat sedikit sekali lumbung umat Buddha di banyak daerah (selain Jabodetabek), misal Temanggung, Mataram, Lampung, Medan, Makassar,
Adanya institusi pendidikan berbasis agama Buddha tentu akan mendorong pembentukan Vihara maupun Cetiya di sekitar institusi tersebut. Aktivitas di vihara atau cetiya tersebut akan terus hidup walaupun weekday nantinya, sehingga fungsi lain (keagamaan, sosial budaya dan ekonomi) bisa terlaksana. Selain itu, perkembangan institusi pendidikan level kampus tentu akan berimbas kepada meningkatnya SDM Buddhis yang nantinya akan menjadi cendekiawan di bidangnya masing-masing. Bukan hanya rohaniwan (Bhikkhu) saja yang harus ditingkatkan, ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
23
PARADHAMMA
tetapi cendekiawan pun diharuskan, karena pemegang keputusan tertinggi di Indonesia lahir dari cendekiawan muda. Sebagai perbandingan, bisa dilihat agama lain yang mempunyai kedudukan strategis di Indonesia sampai saat ini (era Jokowi–Kalla). Islam sudah mencetak jutaan cendekiawan di bidangnya, mulai presiden, wakil presiden dan mayoritas menteri. Umat Katolik sudah memegang jabatan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (Ignasius Jonan). Umat Kristen memegang jabatan Menteri Hukum dan HAM Indonesia (Yasonna Hamonangan Laoly). Umat Hindu memegang jabatan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga). Hanya Buddha dan Konghucu (agama yang baru diakui) yang belum pernah menyumbang cendekiawan ke dalam kabinet pemerintahan. Sangat disayangkan apabila saat 100 tahun Indonesia telah merdeka, agama Buddha belum bisa memberikan sumbangsih yang besar untuk negeri ini. Oleh karena itu, kita sebagai cendekiawan muda harus mulai untuk berbenah diri. Mulailah memajukan aktivitas Vihara dengan membangun 4 fungsi utama (keagamaan, pendidikan, sosial budaya dan ekonomi). Aktivitas Buddhis di organisasi kampus tidaklah sama dengan aktivitas Vihara, karena sejatinya, kampus adalah tempat menimba ilmu dan bersifat edukatif, bukan spiritual layaknya Vihara. Perbanyaklah aktivitas di organisasi yang menunjang profesionalisme jurusan, sehingga nantinya SDM Buddhis akan semakin berkompeten dalam memberikan sebuah dampak yang besar bagi Indonesia. Penulis hanyalah seorang mahasiswa biasa yang saat ini hanya bisa ‘bermimpi di siang bolong’, melihat bagaimana perkembangan para cendekiawan Buddhis nantinya berbenah. Saran dan kritik sangat terbuka demi pengembangan dan penyempurnaan yang diperlukan di kemudian hari. (VIN/AND)
g
FOTO: https://kabarlgbt.files. wordpress.com/2016/02/joko-widodo-presiden-ri.jpg
FOTO: http://1.bp.blogspot. com/-9lOQ6dHpb64/VIHgdg_6s1I/ AAAAAAAALC8/mB_BnShP1qg/ s1600/Ignasius%2BJonan.jpg
FOTO: http://halloapakabar.com/ wp-content/uploads/2016/09/yasona-laoly..jpg
Appamadena Sampadetha! Berjuanglah dengan sungguh–sungguh!
24
FOTO: http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Borobudur.jpg http://karinacalver.com/wp-content/uploads/2015/07/ancient-buddhist-temple-15738868.jpg PARAMITA XLVI ONCE UPON A TIME http://www.touropia.com/famous-buddhist-temples/
FOTO: http://icsb2016.org/wp-content/uploads/2015/09/Anak-AgungGede-Ngurah-Puspayoga.jpg
PARATAMA
Intervensi Informasi, S penyebab budaya merosot!
Oleh Viriya Paramita (FE 2008)
ebuah wacana bahwa kebudayaan daerah Indonesia yang bersifat tradisional mulai menurun mungkin sudah banyak kita ketahui. Banyak anak muda yang sudah mulai kehilangan minat untuk melestarikannya. Menjamurnya budaya asing (faktor eksternal) yang akhirnya menggerus nilai-nilai tradisional adalah salah satu penyebab hal ini dapat terjadi. Akan tetapi ada faktor lainnya yang berpengaruh, yaitu informasi yang terlalu cepat didapat (faktor internal). Proses suatu budaya menjadi peradaban merupakan sesuatu yang terjadi dalam jangka waktu panjang. Kunci utama suatu kebudayaan untuk bisa diteruskan ke generasi berikutnya adalah dengan melestarikan nilai-nilai yang ada pada kebudayaan sampai meresap ke dalam diri kita sendiri.
FOTO: http://cdn.designbeep.com/wp-content/ uploads/2012/12/1.Crumpled-Paper-texture.jpg http://2.bp.blogspot.com/-KdQn4NwwDGU/ UKoK6UYi0YI/AAAAAAAAACI/SksJDu_nF_o/s1600/ wayang.png http://weazelteeth.com/catalog/weazelTeeth/ images/arrow_Right.gif
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
25
PARATAMA
Nilai inilah yang akan membentuk pola perilaku suatu kebudayaan (misalnya: budaya Jawa yang halus, budaya Batak yang keras dan suka merantau. Dari manakah sumber nilai ini berasal? Sumbernya cukup beragam, mulai dari agama mayoritas, kitab-kitab adat, geografis, dan faktor lainnya. Tetapi kuncinya tetap satu, yaitu melalui manusia itu sendiri. Proses internalisasi budaya terjadi di sepanjang hidup seseorang, dimulai saat kita masih kecil dan diajari oleh orang tua. Orang zaman dulu lebih polos dan lugu untuk menuruti kata-kata orang tuanya tanpa
Suatu tradisi diajarkan
Tradisi dilakukan
mempertanyakannya. Tradisi tersebut dilakukan sampai dia beranjak dewasa dan akhirnya nilai budaya tersebut tertanam dalam diri anak tersebut. Pada suatu saat, anak ini akan mengetahui makna sesungguhnya dari tradisi yang dia lakukan sehingga merasa bangga dan mendapatkan manfaat dari hal tersebut, atas dasar pengalaman tersebut, semakin mengakarlah budaya tradisionalnya dan dia akan meneruskannya ke anaknya. Tradisi Jawa mempunyai larangan untuk mengambil makanan sebelum orang yang lebih tua. Jika dilanggar, maka akan menjadi pamali bagi mereka.
Nilainilai tertanam pada diri
Mengetahui makna dari tradisi tersebut dapat manfaat
Kebudayaan semakin mengakar dalam diri
Proses internalisasi budaya pada generasi sebelumnya Akar tradisi ini adalah masyarakat Jawa menjunjung tinggi nilai kesopanan. Tradisi ini memiliki tujuan untuk mendidik anak-anak menjadi sopan dan menghargai orang yang lebih tua dan tidak durhaka nantinya. Saat masih kecil, tentunya anak akan menurut begitu saja dengan alasan pamali. Namun seiring berjalannya waktu, anak akan menumbuhkan nilainilai seperti rasa hormat dan kesopanan dalam dirinya yang akhirnya membuat dia menjadi orang baik. Barulah ketika dia dewasa, dia akan mengerti makna dari hal ini. Pada saat itu pastilah nilainilai tersebut sudah mengakar dalam dirinya. Generasi masa kini, yang sering disebut dengan Gen Y dan Millenial, tidak melewati proses di atas dengan baik. Saat suatu tradisi diajarkan, 26
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
mereka sudah mendapatkan akses informasi yang sedemikian luasnya sehingga timbul semacam sindrom yang disebut “terlalu cepat tahu”. Timing informasi yang kurang tepat telah menyebabkan generasi ini menciptakan orang-orang yang “terlalu” kritis dan logis. Mereka akan mempertanyakan segala hal yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan apa maknanya. Jika tidak diberitahu dengan dalih “nanti kamu juga akan tahu sendiri”, mereka bisa mencarinya di internet atau pun sumber lainnya. Akibatnya, suatu tradisi akan dilakukan dengan rasa yang tidak tulus, bahkan sering ada tradisi yang dimodifikasi sesuai dengan nilai-nilai pribadi yang mereka yakini. Hasilnya, manfaat yang didapatkan tidak maksimal dan akhirnya mereka cenderung meninggalkan tradisinya.
Tradisi dilakukan dengan modifikasi penyesuaian makna dan nilai-nilai pribadi
Manfaat yang dirasakan dari tradisi tersebut tidak maksimal
Tradisi ditinggalkan
Proses internalisasi budaya pada masa kini Pengetahuan ini akan membuat banyak pikiran yang menegasi budaya tersebut, seperti (budaya Jawa): “Saya tidak apa-apa mendahului makan, asalkan saya tetap hormat pada orang tua saya,” atau dia mengetahui bahwa pamali itu hanya mitos sehingga tidak ada dampak yang diterimanya. Hal-hal seperti ini yang membuat nilai-nilai budaya semakin merosot. Mayoritas memang sudah meninggalkan kebudayaan tradisional karena terseret nilai-nilai modern dan merasa hal itu lebih membuat nyaman mereka. Bukti bahwa hal ini terjadi sangatlah jelas terlihat dari populernya paham sekulerisasi agama dan atheisme pada anak-anak muda. Hal ini sebenarnya bukan mengenai benar atau salah, tetapi arah dari tren seperti ini akan menjauhkan kita dari kebahagiaan sebab hati kita sudah dialihkan oleh logika. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan fenomena sosial yang terjadi pada generasi muda yang merupakan efek dari begitu mudahnya suatu informasi didapatkan. Mungkin
“Tanpa sikap yang tepat, banyak tahu tidak selalu baik, apalagi jika terlalu cepat tahu.” banyak orang yang berdalih bahwa “Budaya itu tidak penting, toh ada nilainilai kebudayaan yang tidak produktif atau sifatnya aneh/negatif”, sehingga mereka merasa kebudayaan yang hilang tidak akan menjadi masalah besar nantinya. Padahal, budaya dan tradisilah yang bisa mempertahankan kita agar tetap menjadi ‘manusia’ yang seutuhnya. Melalui tulisan ini, yang penulis ingin tekankan adalah akan dibawa ke manakah arah perkembangan peradaban umat manusia nantinya? Melihat kini, generasi muda semakin memprioritaskan efisiensi, ekonomi, material, efektivitas, dan segala hal yang menggunakan logika. Apakah atas dasar itu, lantas sisi humanis diizinkan untuk semakin dikesampingkan? (VIN/DREW)
FOTO: https://inspiratorfreak.com/wp-content/uploads/2016/10/tari-saman-budaya-indonesia.jpg
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
27
PARATAMA
Suatu tradisi diajarkan
Mempertanyakan dan mencari maknanya (mendapat informasi dengan cepat)
PARAVIEW
T
ak dapat kita pungkiri, seiring berkembangnya teknologi masa kini, persaingan dalam dunia bisnis pun semakin ketat. Teknologi dalam media sosial misalnya, menjadi salah satu alat mutakhir untuk meningkatkan penjualan dan merajai pemasaran dalam berbagai bisnis. Lalu, bagaimana caranya kita bisa tetap keeping up dan bertahan dalam hal tersebut? Dalam kesempatan kali ini, tim PARAMITA berkesempatan untuk
28
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
menggali “rahasia� sukses seorang wirausahawan Buddhis, Yasa Paramita Singgih, yang telah meraup banyak dolar di usia 22 tahun. Dengan menyasar pria berusia 17-35 tahun sebagai pasar brand fashion-nya, Men’s Republic berhasil merebut hati banyak konsumen Tanah Air. Penasaran bagaimana pemuda Buddhis ini bisa berhasil dengan bisnisnya? Yuk, kita langsung intip wawancara redaksi dengan beliau!
Awalnya, saya hanyalah anak yang biasa-biasa saja. Orang tua saya pun juga bekerja sebagai seorang profesional di bidangnya masing-masing dan tidak ada cita-cita untuk menjadi entrepreneur sama sekali. Akan tetapi, saat saya berusia 15 tahun, Papa saya terkena serangan jantung yang pertama karena adanya 3 penyempitan pembuluh darah dan harus dilakukan operasi pemasangan ring segera. Sejak kejadian itu, saya jadi termotivasi untuk mandiri agar dapat membantu orang tua saya. Karena masih kecil, dan tidak punya KTP, maka saya tidak mungkin melamar kerja. Alhasil, saya iseng-iseng menjalani usaha. Sempat jatuh bangun memang, namun akhirnya bisa sampai di titik sekarang.
Bagaimana pandangan Koko terhadap perkembangan bisnis yang semakin pesat pada saat ini?
PARAVIEW
Apakah dorongan yang membuat Koko berubah untuk maju dan menjadi seorang entrepreneur muda?
Tentunya disyukuri, karena saya tidak menyangka bisa ada di posisi saat ini. Yang terpenting bagi saya adalah selalu punya keinginan untuk maju terus, never-ending improvement. Tapi juga jangan lupa untuk always be humble. Itu aja intinya.
Apakah pengalaman terberat yang pernah Koko rasakan dalam memperjuangkan karier? Banyak, mulai dari dipandang sebelah mata oleh banyak orang karena usia masih muda. Selain itu, harus manajemen waktu sambil bisnis, kuliah, aktif di organisasi sosial, dan lain-lain. Belum lagi waktu mengalami kebangkrutan dan rugi uang yang sangat besar. Namun, semuanya itu sangat berharga buat pengalaman dan pembelajaran ke depannya.
Dalam pengalaman, pastinya Ko Yasa pernah mengalami kegagalan. Salah satu yang pernah saya ketahui, dulu Ko Yasa pernah membuka coffee shop meskipun sepertinya belum bisa mendapatkan pasar di sana. Apa yang kemudian mendorong Koko untuk bangkit kembali? Intinya karena dua hal saja, yaitu karena punya tujuan hidup yang jelas hingga membuat saya terus semangat walaupun jatuh seperti apa pun juga dan karena punya situasi kepepet yang mau tidak mau harus dijalani. Saya sudah terbiasa mandiri dari usia 15 tahun, jadi ya udah terbiasa berjuang.
Saat Koko memulai bisnis dalam usia muda, bagaimana tanggapan keluarga dan teman-teman? Keluarga bisa dibilang men-support saya. Beda dengan orang tua teman-teman saya yang melarang anaknya berbisnis, keluarga saya memberi saya kebebasan untuk melakukan apapun selama bertanggung jawab dan saya sungguh-sungguh di sana. Teman-teman ada yang awalnya meremehkan, meledek, tapi ada juga yang ujungnya malah ikut-ikutan berbisnis. Secara keseluruhan, teman-teman mendukung saya.
Bagaimana cara Koko untuk benarbenar maksimal dalam mencapai tujuan Koko seperti saat ini? Punya 3 hal. attitude, motivation & strategy. Menurut saya, ini kunci keberhasilan setiap orang. Punya attitude yang baik sehingga orang mau berbisnis dengan kita, punya motivasi hidup yang jelas karena menurut saya kalau tidak punya motivasi ya mending tidak perlu hidup, dan terakhir harus punya strategi supaya tidak hanya modal semangat saja tapi harus tahu HOW-nya dengan jelas. ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
29
PARAVIEW
Sebagai mahasiswa, bagaimana Bagaimana cara Koko bertahan cara Koko mengatur waktu untuk dengan banyaknya pesaing bisnis berbisnis dan kuliah? Sebab cukup serupa? banyak yang punya mimpi seperti Punya value yang ingin disampaikan Ko Yasa tapi pada akhirnya tidak dari brand-nya lalu punya poin pembeda berjalan semulus itu. yang bisa jadi DNA khas brand kita. Sederhana saja, kurangi waktu bermain,
nyantai, nongkrong dan browsing-browsing web & social media yang nggak jelas. Perbanyak waktu luang untuk hal yang produktif. Menurut saya anak muda punya banyak waktu luang kok, hanya sayangnya tidak dimanfaatkan untuk hal yang produktif saja.
Selain berbisnis, mengapa Ko Yasa tertarik untuk menuliskan buku? Karena ada permintaan penerbit buku untuk menulis.
dari
Sebagai seorang Buddhis, apakah way of life dari seorang Buddhis membuat Koko dapat sukses seperti saat ini? Jujur, menurut saya yang membuat seseorang sukses bukan karena agamanya kok. Tidak harus jadi Buddhis untuk jadi sukses, agama apapun bisa. Makanya saya heran dengan orang yang pindah agama dengan tujuan supaya hidupnya lebih sukses, lebih kaya, lebih tajir, lebih berlimpah. Diketawain sama Bill Gates (orang terkaya no. 1 di dunia) yang tidak punya agama. Tapi tentunya ada prinsip-prinsip Buddhis yang saya terapkan, paling simple ya, hukum sebab akibat. Kita kerja, kita yang dapat hasilnya. Kita malas, ya kita yang dapat juga hasilnya. Kita dapat apa yang kita tanam.
Apa yang membuat Ko Yasa memilih menjadi seorang Buddhis? Karena dari keluarga saya memang Buddhis, lebih tepatnya keluarga saya penganut ajaran hidup Tridharma. Bukan hanya Buddhis. Melainkan Buddhis, Confucianis dan Taois. Lalu semakin dewasa saya semakin memahami way of life ini dan saya rasa ini yang paling cocok untuk saya.
Sebagai seorang Buddhis, bagaimana sikap Koko dalam memandang para pesaing bisnis? Biasa saja, tidak ada pandangan-pandangan khusus sebagai pebisnis. Saya menganggap kompetitor sebagai sparring partner yang membuat bisnis kita jadi lebih baik.
30
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
Adakah tokoh Buddhisme atau tokoh lain yang menjadi panutan Koko? Jika ada, siapa, dan mengapa? Dalai Lama. Saya suka dengan pemikiran-pemikirannya.
Sebutkan quotes Buddhisme favorit Ko Yasa, dong! Dalai Lama pernah bilang, “Agama terbaik bukanlah agamaku ataupun agamamu. Agama terbaik adalah apapun agama yang dapat membuat pengikutnya menjadi orang yang lebih memiliki cinta kasih�
Di satu sisi negatif, sayang banget masih banyak anak muda Buddhis yang tidak mengerti Buddhis itu apa. Mereka tidak pernah belajar Buddhis secara dalam tapi “sok tahu� dengan Buddhis itu apa, sehingga terlalu cepat mengambil keputusan mencap ini baik atau ngga. Ehipassiko. Lihat, datang, dan buktikan. Akan tetapi di sisi lain, sekarang makin banyak juga anak muda Buddhis yang makin semangat belajar & praktik Dharma plus bikin kegiatan-kegiatan yang kreatif bernuansa anak muda banget. Keren! Semoga semakin banyak perkembangan positifnya.
Apakah pesanpesan Koko untuk mahasiswa Buddhis di Indonesia? Rajin-rajin kebaktian, rajin-rajin belajar Dharma & rajin-rajin praktik Dharma kalau mau hidup yang lebih baik. Hehehe. (CIN/LEN)
Menjadi seseorang, terlepas dari apapun agama yang dianutnya tak menjadi halangan untuk mampu membuat kita menggapai kesuksesan. Akan tetapi, memiliki jodoh karma yang sungguh luar biasa untuk bertemu ajaran Buddha, sudah sepatutnya membuat kita berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menekuni impian kita. Yasa Singgih merupakan salah satu teladan bagi kita para umat Buddhis untuk bersikap optimis terhadap masa depan. Semoga kisah dan pengalaman Ko Yasa dapat menginspirasi kita semua untuk makin semangat dalam menjalani keseharian!
FOTO: http://www.bintang.com/success/read/2516886/eksklusif-yasasinggih-jejak-langkah-kesuksesan-mens-republic https://akimg3.ask.fm/assets2/110/630/415/360/normal/file.jpg http://www.readersdigest.ca/wp-content/uploads/2016/05/dalailama.jpg ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
31
PARAVIEW
Minta sedikit pendapat dong Ko, bagaimana pandangan Koko mengenai generasi muda Buddhis era ini?
PARATAMA Oleh Nicholas Giovanni (FT 2012)
D
hamma begitu indah, bermakna, dan penting bagi kehidupan. Dhamma memicu orang yang telah mengenalnya untuk membagikannya kepada orang lain. Selain penyebaran Dhamma secara lisan, terdapat banyak cara untuk menyebarkan Dhamma. Salah satunya adalah dengan mengekspresikan Buddhisme dalam wujud karya seni. Dengan diprakarsai oleh seniman-seniman di India, seni-seni bernuansa Buddhis turut menyebar mengiringi penyebaran Dhamma. Pada perkembangannya, pengaruh Buddhis bercampur dengan pengaruh Hindu. Hal ini menyebabkan seni-seni Buddhis yang berasal dari India cenderung sulit dibedakan dengan seni-seni Hindu. Pada awalnya, seniman-seniman ini menghindari representasi sang Buddha dalam wujud. Namun, adanya pengaruh seni gaya Eropa di kemudian hari menyebabkan munculnya representasi sang Buddha dalam wujud. Uniknya, saat ini seni bernuansa Buddhis cenderung diidentikkan dengan karya-karya seni yang menampilkan wujud sang Buddha, seperti pahatan-pahatan patung atau relief. Dalam perkembangannya mengikuti jalur penyebaran Buddhisme, yaitu rute utara yang ditempuh oleh Mahayana dan rute selatan yang ditempuh oleh Theravada, seni Buddhis mengalami penganekaragaraman/ diversifikasi sesuai dengan peradaban dan seni lokal yang dilaluinya.
32
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
hingga terdengar seperti lagu. Umumnya, musik-musik Buddhis digunakan untuk keperluan ritual atau meditasi. Tarian-tarian Buddhis juga diproduksi sebagai karya seni bernuansa Buddhis. Tarian dalam Buddhis merupakan perpaduan antara meditasi dan seni, dimana penari menerapkan kesadaran yang dikonsentrasikan dalam gerakangerakan yang diperagakan. Di Indonesia sendiri, penyebaran Buddhisme dipengaruhi oleh berkuasanya Kerajaan Sriwijaya di Indonesia. Sehingga, peninggalan karya seni Buddhis di Indonesia banyak ditemukan di wilayah bekas kekuasaan kerajaan tersebut, yaitu di Sumatra dan Jawa. Candi Borobudur yang dibangun oleh Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu bukti besar dari kejayaan agama Buddha di nusantara. Candi Borobudur dipandang sebagai wujud mahakarya dari seni yang dipengaruhi Buddhisme di Indonesia. Dinding candi umumnya dipahat membentuk gambar atau tulisan yang mengandung makna. Pahatanpahatan ini umumnya dikenal sebagai relief. Relief-relief yang tertempel pada Candi Borobudur mengukir beberapa cerita yang dipaparkan dalam wujud gambar-gambar, diantaranya yang paling terkenal adalah kehidupan sang Buddha. Cerita ini dapat diikuti dengan menyusuri candi searah jarum jam. Mengikuti relief-relief secara kronologis dapat membantu memahami makna dari setiap relief yang ada dan membantu mengapresiasi relief tersebut. Oleh karena itu, penting untuk disadari bahwa apresiasi seni erat hubungannya dengan familiaritas atau pemahaman penikmat terhadap karya seni. (CIN/CYN).
REFERENSI REFERENSI :: http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Buddhist_Art http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Buddhist_Art http://www.coreofculture.org/day-of-rare-buddhist-dances.html http://www.coreofculture.org/day-of-rare-buddhist-dances.html FOTO FOTO :: http://harjantoart.blogspot.co.id http://harjantoart.blogspot.co.id https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/02/9e/9b/029e9b9bda1c60b4ecb60021e3576177.jpg https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/02/9e/9b/029e9b9bda1c60b4ecb60021e3576177.jpg ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
33
PARATAMA
Perbedaan yang paling menonjol adalah penggambaran pakaian yang umumnya mengikuti budaya daerah. Jalur sutra merupakan jalur utama yang menghubungkan perdagangan di masa keemasannya. India yang berada ditengah jalur antara Eropa dan China, baik lewat jalur darat maupun jalur laut, adalah lokasi bisnis yang strategis. Berbagai macam benda eksotis menjadi komoditas besar dalam perniagaan masa itu, sehingga karyakarya seni bernuansa buddhis pun bergerak meluas. Jalur darat kemudian menjadi jalur penyebaran rute utara, sedangkan jalur laut menjadi jalur penyebaran rute selatan. Dibandingkan gaya orisinil yang berasal dari India, karya seni bernuansa Buddhis mengalami perubahan-perubahan menyesuaikan karya seni lokal. Seni yang berkembang melalui jalur utara dipengaruhi oleh aliran Mahayana. Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan Theravada, seni-seni yang berkembang sering kali menampilkan tidak hanya sang Buddha, tetapi juga dewadewa dan Bodhisatva yang dipercaya sebagai penyelamat yang membantu manusia terlepas dari penderitaan. Dalam perkembangannya, Buddhis dan seni bernuansa Buddhis membentuk siklus konstruktif. Siklus konstruktif yaitu dimana karya seni mempromosikan Buddhisme kepada orang awam dan penyebaran Buddhisme memacu perkembangan serta diferensiasi gaya seni Buddhis. Selain karya-karya seni material, Buddhis juga mempengaruhi seni non-material. Bukan hal yang aneh menemukan chanting yang dilafalkan dengan nada-nada yang indah atau diiringi dengan instrumen musik,
PARAPROFIL
Evita Martha Dewi - Anggota KMBUI dengan Segudang Prestasi -
Diliput oleh Cynthia Kurniawan (FMIPA 2016)
E
vita Martha Dewi atau yang akrab dipanggil Martha merupakan salah satu anggota KMBUI yang sangat berprestasi. Gadis kelahiran Denpasar, 21 Maret 1997 ini menempuh pendidikan SMA di SMAN 4 Denpasar. Berbeda dengan yang lain, Martha mampu masuk ke salah satu fakultas yang menjadi incaran banyak siswa SMA lainnya, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dengan cara yang luar biasa. Ia berhasil masuk dengan menggunakan free pass atau jalur olimpiade yang ia dapatkan saat meraih medali perak OSN. Peristiwa itulah yang menjadi alasan mengapa ia menjadi bagian dari FEB UI, meski pada awalnya ia justru lebih tertarik pada jurusan hukum karena pengalaman debat yang pernah ia tekuni. Tidak hanya di SMA, prestasi Martha semakin gemilang di tingkat universitas. Martha sangatlah aktif dalam berbagai organisasi, baik di tingkat jurusan maupun universitas. Di samping aktif dalam organisasi, ia juga mengikuti berbagai kepanitiaan seperti JGTC (Jazz Goes To Campus), KOMPeK dan masih banyak lagi. Sementara, untuk organisasi di tingkat universitas, Martha turut aktif dalam UI MUN Club
34
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
t
Let's take
Martha's
a look at
activities!
t
2017, Assistant Director of Indonesia MUN, dan USG Substance Indonesia MUN 2017. Martha juga memiliki prestasi lain, seperti Juara 1 OIM Debat Bahasa Indonesia, Juara 1 OIM PKM-GT, Medali Perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) Ekonomi 2014, dan Juara 2 KOMPeK FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) UI Economic Quiz 2015. Namun, dari seluruh prestasi yang pernah diraihnya, ia sangat bangga akan tiga prestasi yang pernah ia raih, antara lain mendapatkan medali perak OSN Ekonomi tahun 2014, Best Delegate President MUN 2016, dan Honorable Mention AMUNC 2016. Prestasi yang sangat membanggakan bukan? Selain karena kedua orang tuanya beragama Buddha, baginya agama Buddha dapat memberikan kenyamanan dalam hidupnya dan ia percaya bahwa Buddhisme tidak hanya sekedar agama, namun sebuah cara atau pandangan hidup (a way of life). Selama menjadi bagian dari KMBUI, Martha memiliki kesan yang baik. Baginya, KMBUI merupakan organisasi yang mampu menyatukan umat Buddhis di UI, sehingga tidak terasa adanya perbedaan antara umat Buddhis di fakultas. Ia berpesan agar KMBUI selalu kompak dan sukses.
PARAPROFIL
(Model United Nations). Di dalam MUN, Martha sempat menjabat sebagai kepala bidang. Berbagai prestasi selama di MUN yang pernah ia raih diantaranya adalah Best Delegate President MUN 2016 in UNSC (Jakarta), Honorable Mention Asia Pasific Model UN Conference 2016 (Kuala Lumpur), Indonesia Representative for JENESYS, Head Delegate of UI for Harvard National MUN 2017 (Boston, USA), Head Coach of UI for AMUNC
Sukses terus yaaa Martha! :) (VIN/AND)
s FOTO: http://reachedmedia.com/wp-content/uploads/2014/05/ Retro-WorshipBG-16-9-495x338.jpg ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
35
PARAPLUS PERKEMBANGAN APA SIH YANG PALING MENCENGANGKAN PADA ABAD INI?
P
erkembangan paling mencengangkan abad ini adalah perkembangan obat kanker. Sebelumnya kita mengenal obat kanker yang menghambat sel kanker, namun dapat mempengaruhi sel sehat yang secara normal membelah diri dengan cepat, misalnya yang berada di sekitar mulut, usus, serta rambut, sebagai akibat efek sampingnya. Riset terkini sudah mengembangkan obat kanker tersebut dengan carrier atau pembawa yang dapat membawa obat tersebut hanya langsung ke sel target (sel kanker) sehingga mengurangi kerusakan sel- sel sehat dan meminimalkan efek samping yang ditimbulkan.
P
erkembangan informasi adalah perkembangan paling mencengangkan dalam abad ini. Hal ini karena generasi saat ini sudah benar-benar menggunakan teknologi dan informasi dengan sangat
baik. Bahkan banyak teman-teman saya yang sekarang memiliki banyak penghasilan karena memanfaatkan teknologi informasi, yaitu dengan menggarap bisnis advertisement. Kembali lagi, akan tetapi orang-orang yang tidak mampu beradaptasi mungkin akan lama kelamaan tersingkir. Jadi ya, cepat-cepatlah beradaptasi. 36
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
B
erbicara mengenai teknologi yang paling berkembang di abad 21 mungkin pantas bila kita sematkan pada teknologi informasi, khususnya teknologi informasi yang mengubah bisnis angkutan. Salah satunya ialah Go-Jek yang berhasil mengalahkan maskapai Garuda Indonesia dan Blue Bird dalam kapitalisasi pasar (Market Cap) di bursa saham.
M
enurut gue, semua yang terjadi di kehidupan ini, gak ada yang mencengangkan, entah itu kejadian di tahun lalu, tahun ini, atau tahun depan. Karena gue yakin, kalo semua itu sudah dituliskan oleh Tuhan. Jadi ya, entah gue yang kurang kritis atau gimana, gue menganggap kalo semua ini terjadi atas kehendak Tuhan. Dan juga menurut gue, semua yang terjadi di kehidupan ini, terjadi secara bertahap.
M
enurut saya perkembangan yang paling mencengangkan pada abad ini adalah teknologi handphone. Buat saya cepat sekali perkembangannya, berbeda dengan komputer yang butuh waktu lama dalam perkembangannya. Perkembangan yang terlalu cepat ini membuat orang kayak saya ini susah untuk ngikutinnya. Jika dibuat fungsinya, perubahan terhadap fungsi waktunya cepet Semua terjadi melalui sebuah banget gitu, ibarat grafik yang proses. Jadi gak ada yang slope-nya sangat tajam. mencengangkan menurut gue.
M
enurut saya, perkembangan yang paling mencengangkan dalam abad ini adalah perkembangan dalam bidang digital economy. Perkembangannya massive banget. Hal tersebut sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan ini. Bisnis konvensional makin terpinggirkan, pemerintah menghadapi tantangan dalam hal pemajakan penghasilan dari digital economy ini.
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
37
PARADHAMMA
EXISTENTIAL CRISIS a perspective on anatta Oleh Elvan Adiyan Wijaya (FH 2015)
O
nce upon a time, there was a normal 9th grader. Sitting amidst a noisy classroom, he was quietly minding his own business and doing his assignment. After a while, the teacher stood up and told the class, “Don’t be noisy please, kids! Do your assignment quickly so you can finish it quickly.” It was the last session before school was over, and being a snotty little brat, the boy smirked and whispered to himself, “Heh, we might finish quickly but we still can’t go home any sooner. No point in doing that.” But, then, there came a sudden realization triggered by the teacher’s words. “What if I do the assignments quickly, finish quickly, take the exam quickly, graduate school quickly, go to college quickly, work quickly, marry quickly, have kids quickly, retire quickly, what then? Die quickly? What for?” It was at that moment that the boy realize he didn’t have any purpose in life, for he never gave a thought about it. Thus, the spiritual
38
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
journey of finding the true purpose of life began. That little boy was me. As I grew older, I grew interest in philosophy, particularly from the ancient Chinese. After being admitted to college, I began a more serious approach in learning Buddhism. There’s a concept about Tilakkhana, a.k.a. the Three Characteristics, which everything abides. Those are dukkha or suffering, anicca or impermanence, and anatta or no self. Everybody aspiring to achieve one of the four stages of enlightenment (sotapanna, sakadagami, anagami, and arahat) must be able to fully grasp the concept of Tilakkhana as one of the prerequisites. Such is the importance of Tilakkhana, and I feel particularly interested in sharing a piece of my mind in regard to anatta. Subjectively, dukkha and anicca are easier to comprehend, whereas anatta continues to baffle me as if to say “Come and catch me! You can’t, can ya?”
PARADHAMMA
IMAGINE THIS If you cut your pinky finger, which one is you? Is the pinky finger you or is the rest of your body you? Next, what if we scale it up and you cut your hand, arm, leg, body, and head? Which part of your ‘mutilated’ body can be referred as you? According to the Ship of Theseus paradox, every part of your ‘mutilated’ body is you. On the contrary, according to me (pertaining to anatta), NONE of your body parts can be called you. I’ll tell you why later. Next, sit or stand still for a while. Look all around you. Question yourself, is everything around you real? What if you close your eyes, does everything around you disappear or do YOU disappear? What if I rob you of your vision, hearing, sense of smell, touch, and taste (your five senses), can you still firmly state that you exist? What if all the things around you exist NOT because they do, but solely because YOU can perceive them? If you can’t perceive something and you don’t have any memory about something, does it still exist? Consider this possibility: everything might just be an illusion you made up in your mind. Without the mind to perceive, there is nothing left, literally. Because you won’t be able to grasp anything. Heck, if the whole world might just be an illusion your mind
made up, how can you be so sure that YOU yourself might not be just another illusion your mind made up too? I have never experienced being hypnotized before, but judging from others’ experiences, I can conclude something. If your mind is being manipulated to believe something to be real, even when it is not, it WILL become real to you. The same goes to the effect of using drugs, where not only imagination which can be distorted, but also the reality (at least for the ones whose mind were being manipulated). My point is, it’s very easy to fabricate reality. As easy as manipulating the mind. Up to this point, if I succeed in convincing you, you must have doubted what you used to believe to be the reality. ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
39
“
“
Quoting from Lamrim Outlines compiled by Karin Valham, it goes:
PARADHAMMA
How does the ‘I’ exist? By being merely labeled or imputed by the mind on the base, the five aggregates. That’s all!” ‘I’ here refers to self. Five aggregates are the basic building blocks of human from Buddhist perspective (form, feeling, recognition, compositional factors, and consciousness – also known as Panca Kandha/ Panca Skandha). Paraphrasing the statement above, it goes “I exist because my mind labels the five aggregates as me.
In other words, I exist merely because I THINK I exist. Similar to this statement is the statement from a famous 16th century French philosopher, Rene Descartes, who said the phrase “Cogito Ergo Sum”, which means “I think, therefore I exist.” The core concept might not be identical (Descartes was not a Buddhist), but at least the idea was not too far-fetched (which shows Buddhism is not totally unrelated to a more modern philosophy). By now, we can infer that the concept of existence has been around for a long time, even since the era of Sakyamuni Buddha, to the Western philosophers era, up to nowadays. Actually, it is more accurate to say Buddha taught about the opposite of existence (through the concept of anatta and nothingness, which is closely related to the ultimate goal, Nirvana/Nibbana), while modern philosophers talk about normal existence of things. My goal in writing this is to persuade you to look back to the past teachings of Buddha and withdraw yourself from the more and more materialistic community this world has become. I truly believe that if you are able to fully comprehend the concept of Tilakkhana, your life will be much better and balanced, as mine did. In the end, I shall raise this question,
"Are you still 100% sure that you really exist? Not so sure anymore, aren't you?" (LEN/VIN)
40
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
S
idang Musyawarah KMBUI yang ke-25 dilakukan pada tanggal 26 November 2016 dan bertempat di Gedung RIK UI. Adapun agenda dalam Sidang Musyawarah KMBUI pada kali ini ialah: 1. Laporan pertanggungjawaban KMBUI kepengurusan XXIV, 2. Pengesahan RGBPK menjadi GBPK oleh Dewan Penasehat KMBUI sekaligus pengangkatan ketua Dewan Penasehat KMBUI yang baru, 3. Pemilihan Ketua KMBUI XXV. Sidang musyawarah ini dipimpin oleh Andersen Yunan, Hendrick William, dan Margaretha sebagai perangkat sidang dan sidang dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Genderang UI, dan Mars KMBUI. Setelah itu, sidang musyawarah dilanjutkan dengan presentasi dari Ketua dan BPH KMBUI mengenai keseluruhan program kerja yang telah dikerjakan dan bagaimana ketercapaiannya. Kemudian, dilakukan sesi tanya jawab dari para anggota sidang. Sekitar pukul 12.00, sesi 1 laporan pertanggungjawaban
2
PARAPLUS
sidang Musyawarah KMBUI
telah selesai dan dilanjutkan dengan pengesahan RGBPK menjadi GBPK yang dilakukan oleh Dewan Penasihat KMBUI dan dipimpin oleh Adi Putra. Kemudian, para Project Officer kepanitiaan KMBUI juga diberikan penghargaan oleh Ketua KMBUI XXIV, yaitu Lukito Ongko. Di sesi itu pula, departemen dan staf terbaik juga diberikan penghargaan dengan harapan dapat meningkatkan semangat para pengurus KMBUI untuk berkontribusi dengan lebih baik lagi. Adapun departemen terbaik pada saat itu diraih oleh Departemen Paramita dan staf terbaik diraih oleh Mega Eka Putri dari Departemen Kalyanamitta. Setelah makan siang, Sidang Musyawarah KMBUI memasuki sesi yang paling ditunggu-tunggu, yaitu pemilihan ketua KMBUI kepengurusan XXV. Terdapat dua calon yang telah mendaftarkan diri dan lolos tahap validasi dan verifikasi yang dilakukan oleh panitia: Alfred dari Teknik Sipil 2014 dan Osel Sakadewa dari Teknik Kimia 2014. Pemilihan ketua KMBUI berlangsung seru yang dimulai dari presentasi masingmasing ketua yang dilanjutkan dengan tanya jawab dari anggota sidang. Setelah itu, sesi voting dimulai. Para anggota sidang yang merupakan anggota aktif KMBUI dipanggil ke depan oleh ketua sidang untuk mengisi surat suara yang telah disediakan. Dari sesi perhitungan suara yang berlangsung sengit, akhirnya diperoleh hasil bahwa Osel Sakadewa unggul dan menjadi Ketua KMBUI XXV. Sidang musyawarah KMBUI XXV ditutup dengan pemberian selamat dan foto bersama semua anggota sidang.
kmbui inside
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
41
PARADHAMMA
E MENCAPAI PENCERAHAN SECARA DIGITAL, MUNGKINKAH? Oleh Kevin (FT 2009)
42
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
ra modern. Saat ini, bayi yang baru berusia harian sudah diperkenalkan cara tersenyum di depan kamera smartphone bahkan sebelum mereka mengucapkan kata ‘Mama’ atau ‘Papa’. Ini sebuah fakta yang membuktikan bahwa perkembangan digital sangatlah pesat. Yang pasti, lebih pesat dari perkembangan ajaran Buddha. Zaman sekarang, adakah dari kalian yang tidak menggunakan smartphone? Bila ditanya mengenai alasan mempunyai smartphone sekitar 20 tahun lalu, maka jawabanmu adalah untuk berkomunikasi dengan orang tua. Misalnya, menelepon ayah untuk meminta dijemput. Akan tetapi, tujuan smartphone kini bukan hanya untuk menelepon saja, dengan jaringan internet yang semakin canggih, segala jenis aplikasi dapat diakses dengan mudah. Bahkan saat ini, biaya untuk menelepon lebih mahal dibandingkan biaya untuk streaming video. Bagaimana dengan tujuan mulia? Belajar Dhamma?
PARADHAMMA Dhamma dalam bentuk digital sudah beredar. Aktivis-aktivis yang peduli dan tanggap bermunculan dan membuat fitur-fitur untuk tujuan memperluas pengembangan Buddha Dhamma. Aplikasi tersebut bermacam-macam, mulai dari aplikasi untuk mendengar dan membaca paritta, aplikasi untuk menonton video Dhamma, dll. Pertanyaannya adalah:
“Apakah manusia dapat mencapai pencerahan melalui cara digital?� Berdasarkan survei empiris pribadi, sekitar 45% dari waktu manusia dalam sehari sejak tahun 2016 digunakan untuk melihat layar smartphone, baik untuk mengakses media sosial, membaca berita, bermain games, atau kegiatan lainnya baik dalam tujuan pendidikan, pekerjaan, maupun kemelekatan duniawi lainnya yang tidak membawa manfaat. Lihatlah contoh aplikasi yang berisikan paritta dan cara membacanya. Di
Playstore dan AppStore sudah ada beberapa aplikasi serupa. Artinya, mungkin sudah ada lebih dari satu manusia yang membuat aplikasi ini. Namun, apakah ada satu manusia yang dikenal menggunakan smartphone atau pun yang membuat aplikasi ini merealisasikan keBuddha-an? Sejauh ini belum terdengar berita itu. Kembali ke ruang
lingkup digital, sudah banyak sekali postingan mengenai Dhamma yang muncul di media sosial. Sangat banyak vihara atau organisasi Buddhis yang telah membuat akun Facebook untuk menyebarkan ungkapanungkapan atau cuplikan Dhamma. Konon katanya, hal itu dilakukan untuk memudahkan manusia agar di mana pun dan kapan pun ia berada, ia dapat belajar Dhamma. ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
43
PARADHAMMA
Sebagai “korban” media sosial, banyak user yang melihat minimal satu posting-an Facebook yang berisikan kata-kata mutiara dalam kaitannya dengan Dhamma setiap hari. Kemudian, seseorang akan merasa ‘tercerahkan’ selama beberapa detik dan berbagi posting-an tersebut di halamannya supaya orang lain yang melihat atau membacanya juga bisa
merasa ‘tercerahkan’. Setelah orang lain membacanya, user lain yang membaca posting-an tersebut dan menyukainya akan memberikan tanda suka dan mungkin menuliskan sedikit komentar. Lalu, muncul sebuah percakapan yang membahas Dhamma antara dua orang yang merasa ‘tercerahkan’. Mungkin ini merupakan
posting-an tersebut sudah tercerahkan. Kenyataannya? Kalau orang yang membuat postingan saja belum tentu tercerahkan, apalagi yang hanya melakukan postingan ulang? Sesungguhnya bila ada seseorang yang merasa tercerahkan oleh sebuah postingan, maka sebaiknya hal tersebut di-“posting” melalui tindakan konkret dengan berpraktik. Bila kita berpikir logis, apakah praktik atau posting-an Dhamma-kah yang akan membuatmu mencapai pencerahan? Digitalisasi Buddhisme memang merupakan sebuah cara yang bisa sangat efektif untuk menebarkan ajaran
permulaan yang baik untuk mencapai pencerahan. Di hari berikutnya, ada lagi orang lain yang melakukan hal serupa. Dan hari berikutnya juga. Lalu, hari-hari setelah hari berikutnya. Bila dihitung, seharusnya minimal ada satu orang yang tercerahkan dalam satu hari. Dalam satu tahun, juga minimal ada satu orang yang melakukan
Dhamma. Namun sesungguhnya, penyebaran paling ampuh adalah dengan melakukan praktik Dhamma. Melalui praktik Dhamma, kamu bisa merealisasikan ke-Buddha-an dan juga menyebarkan Dhamma yang sesungguhnya. Bukankah lebih baik jika kita bersama melatih pengembangan Dhamma secara nyata? Akhir kata, era digitalisasi yang semakin menjamur dapat menimbulkan banyak pertanyaan terkait hubungannya dengan Buddha Dhamma. Salah satu yang terlintas dalam benak saya saat tengah menuliskan ini, misalnya: Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, mungkinkah Buddha berikutnya, Buddha Maitreya, diajak untuk berfoto selfie ketika baru dilahirkan? (LEN/LIX)
FOTO : http://tivitysocial.com/wp-content/uploads/2015/03/tivitysocialblog_The-5-Big-Reasons-People-Arent-Following-Your-Social-Media-Accounts.jpg http://mandmglobal.com/wp-content/uploads/2016/03/Asia6.jpg https://www.jbs.cam.ac.uk/fileadmin/user_upload/infolib/carousel/toolbox-socialmedia-883x432.jpg http://i.huffpost.com/gen/1588164/images/o-TODDLER-SELFIES-facebook.jpg http://www.teamjimmyjoe.com/wp-content/uploads/2015/01/baby-selfies-mastered.jpg
44
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
Aku (Tidak) Membenci Ibuku
A
pa yang terlintas dalam pikiran kalian tentang hidup yang sempurna? Aku sangat yakin, hidup sempurna adalah seperti hidupku ini. Bagaimana tidak? Aku memiliki karier yang baik, suami yang tampan dan sangat kubanggakan, serta ibu mertua yang baik dan penyayang. Ibu mertuaku selalu mendukungku dan tidak pernah memarahiku. Namun, ada satu hal yang membuat hidupku menjadi tidak sempurna, yaitu ibuku. “Nak, ibumu telah tiada,” kata bibiku sambil menangis saat menelponku. “Yah, biarkan saja Bi. Tolong urus pemakamannya dan aku akan membayarmu,” kataku tidak peduli. “Sebaiknya kau pergi ke
merasakan kasih sayang ibuku sama sekali. Bagaimana tidak? Aku selalu dimarahi dan dilarang untuk melakukan sesuatu yang kuinginkan, meskipun hal itu tidak salah. Ketika pertama kali aku jatuh cinta ketika kuliah, ia adalah orang pertama yang melarangku berpacaran. Namun, kami tetap berpacaran saat kuliah hingga kini ia
PARAFIKSI
Oleh Vanya Cendana (FT 2015)
pemakamannya, Nak. Apakah kau tak mau melihat ibumu sebelum petinya ditutup untuk terakhir kalinya?” tanya bibiku. Belum sempat aku menjawab, suamiku berkata, “Kamu harus datang ke pemakaman ibumu, sayang. Kamu tidak boleh seperti itu pada orang tuamu sendiri.” Aku pun menuruti suamiku dan menjawab, “Ya Bi, aku akan datang membawa suamiku. Namun hanya sebentar saja, sebagai rasa hormat karena ia telah melahirkanku.” Suamiku begitu menyayangi ibuku, terlepas dari cerita dan kebencianku pada ibu. Aku tak merasa sedih karena ia meninggal. Aku dibesarkan oleh ayahku dan aku tidak pernah
menjadi suamiku. Bagiku, kehadiran ibuku hanyalah sebuah bencana. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, ia sakit-sakitan. Sebagai balas budiku karena telah melahirkanku, aku membiayai seluruh biaya pengobatannya. Satu-satunya alasanku patut mengucapkan terima kasih padanya adalah karena
ia telah melahirkanku sehingga aku bisa bertemu dengan suami sempurnaku ini. Ibuku selama ini tinggal di rumahnya bersama bibiku. Bibiku akan kembali ke Manado seperginya ibuku, dan tentu saja aku akan menjual rumah ibuku.
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
45
PARAFIKSI
“Rumah ini kumuh dan kecil sekali, Sayang. Aku rasa dijual pun tidak akan laku,” kataku kepada suamiku saat melihat rumah ibuku. “Kau tak merasa sedih sama sekali sepeninggal ibumu?” tanyanya. “Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal itu. Mari kita ke kamarnya dan melihat adakah barang-barang di sana yang dapat disumbangkan,” kataku. Suamiku hanya menggelengkan kepala. Mungkin dia sudah menyerah menasihatiku. Kami pun memasuki kamar ibuku. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sini. Kamar ini sangat kecil, berukuran 3 x 2 meter. Ketika masuk dan menoleh ke bawah, aku melihat tikar tempat ia biasa tidur dan lemari bajunya yang kecil. Aku pun melihat-lihat temboknya untuk mencari perbaikan yang harus kulakukan. Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat tembok kamar ini dipenuhi foto-fotoku. Selain itu, begitu banyak bekas bocoran yang selalu ditambal pada tembok ini. “Tembok ini banyak ditambal seadanya, bagi ibumu, yang terpenting adalah semua fotomu tidak basah dan tetap bisa ditaruh di sana,” kata bibiku. “Besok bibi akan kembali ke Manado,” tambahnya. Aku pun memandang foto-foto yang tertempel disana. Foto pertama, yaitu saat aku digendong ketika masih bayi. Ia menuliskan: 1 bulan pertama Bella, gadis paling berhargaku. Semoga kelak, hidupmu bahagia, Nak. Sebahagia dan sesempurna hidupku karena memilikimu.
Foto kedua adalah ketika aku berulang tahun yang pertama. Ada foto aku dipeluk oleh ibuku di sana, dan kue bertuliskan selamat ulang tahun Bella. Di sana tertulis: Bella kini berusia 1 tahun. Kau sangat cantik, Nak.
Aku kembali melihat foto lainnya, kini ketika aku merayakan ulang tahun ke-5 di sekolahku. Saat itu, ia tidak bisa hadir karena sedang bekerja. Saat itulah aku mulai merasa ia tidak menyayangi dan memperhatikanku. Namun, ia menulis:
Ibu sedih tidak dapat datang ke ulang tahunmu ini, tetapi ibu yakin, kau bahagia dan menyukai kue itu. Kau sangat cantik, Nak hari itu. Kemudian, ada foto-foto ketika aku wisuda TK, SD, SMP, SMA, dan S1. Semua foto ini memang dijual oleh seorang pencetak foto jalanan, namun aku tidak pernah tahu bahwa ibuku membelinya. Di setiap foto itu, ia menuliskan: Selamat anakku, kau memang membanggakan. Aku berharap, semua pendidikanmu akan membuatmu sukses kelak. Aku mendoakanmu, meski kau tidak mau berfoto denganku. 46
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARAFIKSI
Lalu, ada foto ketika aku berulang tahun ke-17 yang dirayakan oleh ayahku. Ketika itu, aku tidak mau ia datang dan menghadiri ulang tahunku. Ia menuliskan: Selamat ulang tahun yang ke-17, Anakku. Andai kita bisa berfoto di sini, ketika anakku mulai tumbuh menjadi gadis cantik. Bahagia selalu ya, Nak.
Foto selanjutnya adalah ketika aku berfoto dengan pacarku yang sekarang menjadi suamiku. Di foto ini, ia menuliskan: Anakku telah menemukan seseorang yang dapat menjaganya dengan baik.
Dan terakhir adalah foto pernikahanku. Ia datang ke pernikahanku karena suamiku memaksa mengajaknya. Foto ini adalah ketika aku berfoto bertiga dengannya dan suamiku. Ketika aku membaca sebuah kalimat dalam foto tersebut, aku tak kuasa menahan tangisku. Aku telah berhasil mengantarmu pada hidup sempurna, dan aku senang.
“Kau tidak tahu kan, Nak? Dia yang selama ini terlihat tidak peduli dan tidak menyayangimu, selalu berkorban untukmu. Kau tahu? Ia membelikanmu baju baru, tetapi ia tidak pernah membeli baju baru untuk dirinya sendiri. Semua baju miliknya adalah pemberian dari kami, kakak dan adiknya. Kau tahu? Dia begitu senang ketika dulu kau lahir di dunia ini dan bertekad akan membahagiakanmu bagaimanapun caranya. Kenapa dia melarangmu? Karena dia begitu menyayangimu. Kenapa dia membuatmu merasa kurang mendapat perhatian? Karena ia telah bekerja keras untukmu. Akhirnya kau mengetahui ini semua, meskipun terlambat,” ujar bibiku. Seketika, hatiku terasa hancur. Aku menangis sejadi-jadinya dan memutuskan untuk tidak menjual rumah kenangan bersama ibuku, meskipun hampir tidak ada jejak kenangan diriku di sana.
“Don’t close your eyes even if it is just for a while. Don’t make your warm heart being cold, even if it is just for a while. Once you open your eyes and have a warm heart again, you will regret that while” - unknown (CIN/CYN)
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
47
PARATAMA
Termasuk Termasuk Generasi Generasi Apakah Apakah Kamu? Kamu? Oleh Angie Michaela Marella (FPsi 2012)
G
enerasi merupakan sekelompok individu yang lahir pada tahun yang sama, dimana mereka mengalami kejadian-kejadian serupa yang khusus atau unik, seperti bencana alam tertentu, perubahan munculnya teknologi baru, perubahan sistem politik secara global, dan sebagainya. Kejadiankejadian tersebut berdampak terhadap tahap perkembangan kritis mereka, sehingga hal tersebut mengembangkan nilai-nilai, kepribadian, dan sistem kepercayaan tertentu yang cukup kuat dalam hidup mereka. Generasi dapat dibedakan berdasarkan tahun kelahirannya. Pada umumnya, Generasi Baby Boomer dilahirkan pada tahun 1941-1960, Generasi X pada tahun 1961-1980, dan Generasi Y pada tahun 19812000. Akan tetapi, tidak ada patokan mutlak mengenai batas tahun kelahiran setiap generasi karena setiap tokoh mendefinisikannya berbedabeda.
48
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
Sesuai dengan definisinya, setiap generasi mengalami pengalaman atau kejadian hidup yang unik bagi generasi tersebut. Mari kita ingat kembali kejadian apa yang dialami oleh generasi-generasi tersebut dan bagaimana kejadian tersebut membentuk karakteristik mereka. Generasi Baby Boomer Generasi Baby Boomer, yaitu generasi yang sering disebut sebagai generasi yang terlupakan, generasi Woodstock, generasi Sandwich, dan generasi Vietnam. Generasi ini telah mengalami stres pascaperang dan kemakmuran; aktif terlibat dalam perubahan sosial radikal termasuk munculnya gerakan Civil Rights, Perang Vietnam, dan gerakan perempuan; menyaksikan pembunuhan Presiden Kennedy dan Martin Luther King; mengalami kerusuhan sosial, revolusi seksual, dan perang dingin; walk on the moon; mengalami teknologi yang berubah cepat; serta berada pada era di mana eksperimen obat-obatan terlarang mulai marak dilakukan.
Baby Generasi Boomers lahir selama atau setelah Perang Dunia II dan dibesarkan di era optimisme, peluang dan kemajuan ekstrem. Sebagian besar Baby Boomers dibesarkan di rumah tangga dengan kedua orang tua, sekolah yang aman, keamanan kerja dan kemakmuran pascaperang. Baby Boomers dididik untuk mandiri dan yakin bahwa mereka mampu mengontrol takdir mereka. Generasi ini merupakan generasi yang idealis, dan optimis mencari peluang dan kemajuan. Namun, generasi ini juga menyaksikan kelemahan politik, pemimpin agama, dan bisnis, sehingga memiliki rasa hormat untuk kesetiaan, otoritas dan lembaga sosial yang rendah, dan lebih memilih kepuasan diri sendiri. Generasi X Generasi X dikenal sebagai Busters Baby, Post boomer, Slackers, generasi Shadow, Generasi 2000, dan generasi MTV. Generasi X lahir setelah Boomers di mana
PARATAMA
Apakah kamu tahu, kamu termasuk generasi apa? Apakah kamu tahu apa itu generasi?
terjadi perubahan iklim sosial resesi ekonomi dengan cepat. Beberapa peristiwa penting pada Generasi X yaitu bencana Challenger, Iran-Contra, malaise sosial, dan wabah
terhadap otoritas, status kompeten secara teknikal quo dan hubungan hierarkis; dan sangat nyaman dengan serta berharap mendapatkan rasa hormat berdasarkan kebajikannya daripada gelarnya.
keragaman, perubahan, dan kompetisi. Mereka menerapkan kemampuan mengasah yang baik dan pendekatan praktis untuk
AIDS. Mereka dibesarkan dalam bayangan generasi Boomer yang berpengaruh. Sebagian besar dari mereka tidak dibesarkan dalam keluarga yang utuh dan ideal. Mereka dibesarkan pada era dimana pemutusan hubungan kerja kerap terjadi, teknologi dan informasi berkembang pesat, dan ketidakamanan keluarga karena tingginya angka perceraian, keragaman, dan kurangnya tradisi yang solid. Melihat orang tua mereka diberhentikan, menjadikan diri mereka cenderung mandiri; independen; agak skeptis
Mereka juga menghindari kesalahan orang tua mereka dan tumbuh ke dalam generasi yang menilai pendidikan kerja keras dan kekuasaan uang. Mereka memiliki kemampuan multi-tasking yang baik dan menikmati bekerja pada proyek simultan. Walaupun demikian, mereka lebih memilih menyeimbangkan pekerjaan mereka dan kehidupan pribadi daripada menghabiskan waktu di tempat kerja. Generasi X merupakan generasi yang informal, pembelajar yang cepat, dan mengenal teknologi. Mereka
memecahkan masalah. Mereka menginginkan rasa memiliki/ kerjasama tim, kemampuan untuk belajar hal-hal baru, otonomi, kewirausahaan, fleksibilitas, umpan balik, dan penghargaan jangka pendek. Mereka mengembangkan perilaku independen, resiliensi dan kemampuan beradaptasi yang lebih kuat dibanding generasi sebelumnya. Namun, walaupun generasi ini mendukung liberalisme sosial dan environmentalisme, mereka mempertahankan nilai-nilai keluarga konservatif lebih kuat daripada Baby Boomer. ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
49
PARATAMA
Generasi Y keselamatan dan keamanan Generasi Y dikenal sebagai mereka. milenium, Next Generation, Mereka dididik secara Generation me, Echo boomer, lebih global, memandang dirinya Nexters, Boomlet, generasi dengan keyakinan, ketegasan, digital, generasi Dot com, Net dan hak, sangat optimis, serta Generation, N-Gens, Generasi berorientasi pada tujuan dan WWW, Digital native, generasi idealis. Selain itu, mereka juga Nintendo, generasi Sunshine, didorong untuk membuat pilihan Do or Die generation, the mereka sendiri dan diajarkan Wannabes, the Nothing is sacred untuk mempertanyakan otoritas. generation, Cyberkids, the Feel Mereka memiliki keinginan good generation, dan generasi menyuarakan pendapat mereka keluarga Non-nuklir. dan berorientasi kerja. Generasi Y lahir dari orang Generasi ini memiliki selftua Baby Boomer dan awal esteem yang tinggi, dimana Generasi X dimana arus teknologi mereka merupakan generasi tinggi dan di tengah masa neo- trophy yang memungkinkan optimise. Generasi Y dibesarkan setiap anak memperoleh medali selama era “pemberdayaan� dan tidak ada yang tertinggal. dimana semua orang menang Mereka juga memiliki reputasi dan mendapat medali. Millennials positif untuk energi, semangat, dibesarkan di era globalisasi, dan kemampuan mereka. pekerjaan outsourcing, investasi Meskipun demikian, mereka asing, proliferasi teknologi tidak se-independen Generasi informasi dan komunikasi, serta X. Mereka mendukung kerja telah melihat orang tua mereka tim dan lebih memilih untuk dalam situasi ketidakpercayaan. mengikuti petunjuk selama Mereka juga telah melihat ada fleksibilitas bagi mereka bencana alam seperti tsunami untuk menyelesaikan pekerjaan dan gempa bumi, dan serangan tersebut. teroris, termasuk serangan Mereka menganggap 9/11 di Amerika. Namun, bahwa memiliki makna dalam mereka dibesarkan oleh orang pekerjaan merupakan hal yang tua yang memelihara, menata penting, sehingga mereka ingin hidup mereka, dan menjamin membuat dunia menjadi tempat
yang lebih baik. Mereka ingin membuat dampak penting pada proyek-proyek di mana mereka terlibat, mencari kepuasan dan kesempatan untuk menjadi unggul. Mereka juga mewakili generasi dengan teknologi yang paling mahir. Mereka terbiasa berkomunikasi melalui situs jejaring sosial dan pesan teks, sehingga mengharapkan umpan balik instan dan pengakuan. Akibat ketergantungan dengan teknologi, mereka kadangkadang dianggap memiliki kemampuan berkomunikasi dan memecahkan masalah yang buruk. Mereka adalah peserta didik yang cepat dan cenderung tidak sabar. Mereka juga dianggap lebih sehat dan lebih aman secara ekonomi daripada generasi sebelumnya. Mereka memiliki harapan yang tinggi dari diri sendiri dan pengusaha, serta percaya dalam work life balance. Namun, mereka seringkali dikritik kurang perhatian dan keengganan untuk melakukan tugas sederhana.
Jadi, Jadi, termasuk termasuk generasi generasi apakah apakah kamu? kamu? Apakah Apakah karaktermu karaktermu sesuai sesuai dengan dengan karakter karakter generasimu generasimu pada pada umumnya? (CIN/CYN) umumnya? (CIN/CYN) 50
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARATAMA
REFERENSI: Beutell, N. J., & Wittig-Berman, U. (2008). Work-family conflict and work-family synergy for generation X, baby boomers, and matures. Journal of Managerial Psychology, 23(5), 507-523. doi:http://dx.doi.org/10.1108/02683940810884513 Beutell, N. J. (2013). Generational differences in work-family conflict and synergy. International Journal of Environmental Research and Public Health, 10(6), 2544-59. Retrieved from http://search.proquest.com docview/1413253547?accountid=17242 Burch, R. F. V., & Strawderman, L. (2014). Leveraging generational differences to reduce knowledge transfer and retention issues in public administration. Public Administration Research, 3(2), 61-75. Retrieved from http://search proquest.com/docview/1627083490?accountid=17242 Gursoy, D., Chi, C. G., & Karadag, E. (2013). Generational differences in work values and attitudes among frontline and service contact employees. International Journal of Hospitally Management, 32 , 40-48. Gursoy, D., Maier, A.T, & Chi, C.G. (2008). Generational differences: An examination of work values andgenerational gaps in the hospitality workforce. International Journal of Hospitality Management, 27, 448458. Harding, A.D. (2011). Multigenarational workforce: Are we using the literature effectively?. Journal of Emergency Nursing, 7, 75-6. Kapoor, C. & Solomon, C.(2011). Understanding and managing generational differences. Worldwide Hospitality and Tourism Themes, 3 (4), 308-318. Meier, J., Austin, S. F., & Crocker, M. (2010). Generation Y in the workforce: Managerial challenges. The Journal of Human Resource and Adult Learning, 6, 68 79. Diunduh dari http://www.hraljournal.com/Page/8%2 Justin%kA20Meier.pdf.. Queiri, A., Yusoff, W. F. W., & Dwaikat, N. (2014). Generation-Y employees’ turnover: Work-values fit perspective. International Journal of Business and Management, 9(11), 199-213. Retrieved from http://search.proquest com/docview/1629701813?accountid=17242 Sessa, V. I., Kabacoff, R. I., Deal, J., & Brown, H. (2007). Generational differences in leader values and leadership behaviors. The Psychologist-Manager Journal, 10(1), 47-74. doi:http://dx.doi org/10.1080/10887150709336612 Smith, J. P., II. (2011). The effects of self-efficacy and spirituality on the job satisfaction and motivation to lead among redeploying soldiers as moderated by transformational leadership (Order No. 3447893). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (859584898). Retrieved from http://search.proquest com/docview/859584898?accountid=17242 Srinivasan, V. (2012). Multi generations in workforce: Building collaboration. IIMB Management Review, 24, 48-66. Twenge, J. M. (2010). A Review of the empirical evidence on generational differences in work attitudes. Journal Business Psychology, 25, 201-210. doi: 10.1007/s10869-010-9165-6 Twenge, J. M., & Campbell, S. M. (2008). Generational differences in psychological traits and their impact on the workplace. Journal of Managerial Psychology, 23(8), 862-877. doi:http://dx.doi org/10.1108/02683940810904367 Westerman, J. W., & Yamamura, J. H. (2007). Generational preferences for work environment fit: Effects on employee outcomes. Career Development International, 12(2), 150-161. doi:http://dx.doi org/10.1108/13620430710733631
FOTO: http://www.misaelphotography.com/wp-content/uploads/2013/06/Blackerbys-1.jpg https://texturefabrik.files.wordpress.com/2016/03/texturefabrik_tornpaper_02.jpg http://18674-presscdn.pagely.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2014/07/iStock_000023029188Small.jpg
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
51
kmbui inside
PARAPLUS
3
care on children (c c) o
T
ahun ini, KMBUI melakukan suatu bentuk baru dalam melakukan kegiatan sosial. Kegiatan ini bernama CoC (Care on Children), yaitu dalam bentuk pengabdian dengan mengajar kepada anak-anak di unit TK Sekolah Masjid Terminal (Master), Depok Baru. Kegiatan yang akan dilaksanakan secara rutin sebulan sekali selama satu tahun kepengurusan ini telah dilaksanakan sebanyak 2 kali, yaitu pada Jumat, 17 Februari 2017 dan Kamis, 16 Maret 2017. CoC, sebagai program kerja Departemen Pengembangan Sosial ini bertujuan agar anggota-anggota KMBUI dapat menyadari bahwa tidak selamanya berbuat baik identik dengan memberikan materi, namun juga dapat dilakukan dengan meluangkan waktu, tenaga, dan perhatian kepada orang lain. Dalam dua kunjungan tersebut, total telah 6 orang anggota KMBUI yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kendati diadakan pada hari dan jam kuliah, ternyata masih ada yang mau meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan ini. Materi yang disampaikan adalah mengajarkan mereka untuk membaca dan berbicara dalam bahasa Inggris sesuai tema yang sudah ditentukan oleh guru-guru di sana. Selain mengajarkan materi, anggota-anggota KMBUI yang terlibat dalam kegiatan ini juga mengajak anak-anak untuk bermain dan bernyanyi bersama. Banyak cerita dan tawa yang ingin mereka bagikan dan kami merasa sangat senang bisa hadir untuk mendengarkan mereka. Inilah nilai bonus dari mengikuti kegiatan ini, di mana kebahagiaan berada di dekat anak-anak dapat membantu kita untuk lebih bersyukur dan melepas sejenak permasalahan yang kita hadapi. Nah, jadi pengen ikut kan? Makanya nantikan kehadiran CoC berikutnya di semester akhir 2017 yaa!
vapati (waktunya praktik sati) - puja vihara
P
4
ada Minggu, 19 Februari 2017 lalu, Departemen Kalyanamitta bersama temanteman perwakilan KMBUI pergi mengunjungi Vihara Theravada Buddha Sasana dalam rangka mengikuti puja dan perayaan Magha Puja. Magha Puja merupakan salah satu dari hari besar agama Buddha yang memperingati empat
52
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
5
P
PARAPLUS
peristiwa penting, yaitu: 1. 1250 orang bhikkhu datang berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. 2. Mereka semuanya telah mencapai tingkat kesucian arahat. 3. Mereka semuanya memiliki enam abhinna. 4. Mereka semua ditasbihkan oleh Sang Buddha dengan ucapan “Ehi Bhikkhu”. Upacara puja bakti dan perayaan Magha Puja dilaksanakan bersama-sama selama dua jam. Setelah puja bakti berakhir, teman-teman dari KMBUI meluangkan waktu sebentar untuk berbincangbincang bersama teman-teman dari Buddhist Reborn. Kedua pihak saling bertukar informasi tentang hal-hal terkait regulasi dan pelaksanaan organisasi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama di ruang puja bakti pemuda. Pada Magha Puja, Sang Buddha membabarkan Ovada Patimokkha yang baiknya kita pahami dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengunjungi vihara dan turut mengikuti puja merupakan awal yang baik dalam melatih diri. Dengan melaksanakan puja, rasa hormat dan bakti akan tumbuh dan hal ini merupakan poin penting dalam melatih diri di kehidupan sehari-hari. Meluangkan dua jam dalam satu minggu untuk mengenal Dhamma merupakan salah satu dari sekian banyak cara untuk membina masa depan yang bahagia.
BAKTI SOSIAL KMBUI "VIRIYA: SPREADING LOVE THROUGH SERVICE IN HEALTHCARE"
ada tanggal 25-26 Februari 2017, Bakti Sosial “Viriya” KMBUI 2017 telah berhasil dilakukan di SDN Sukabudi 02, Desa Sukabudi, Kab. Bekasi, Jawa Barat. Ada segudang acara yang dilakukan pada 2 hari tersebut. Pada hari pertama, acara yang dilakukan, antara lain ialah penyuluhan gigi dan umum untuk murid SD, penyuluhan kesehatan untuk orang tua, sunatan massal, dan juga bazar barang murah. Antusiasme pada hari pertama sangatlah kentara, terutama pada acara bazar barang murah. Penyuluhan gigi dan umum ditutup dengan aksi gosok gigi massal, di mana para murid terlihat penuh semangat menggunakan gosok gigi
kmbui inside
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
53
kmbui inside
PARAPLUS
baru yang mereka peroleh. Hari kedua diisi dengan acara-acara yang lebih berbau medis, seperti pengobatan massal, pengobatan gigi, dan juga yang terbaru di tahun ini, yaitu akupunktur. Meskipun flow acara kesehatan harus diganti satu hari sebelum hari-H, eksekusi acara bisa dibilang cukup sukses. Banyak orang datang berobat dan lebih mengejutkan lagi, banyak warga yang penasaran akan akupunktur dan akhirnya menjadi pasien. Dua hari tersebut lalu diakhiri dengan foto bersama dan ucapan terima kasih terhadap warga desa. Panitia dan peserta bakti sosial lalu pulang menggunakan bis kuning UI. Baksos tahun ini bisa dikatakan cukup sukses. Teman-teman panitia mengucapkan terima kasih terhadap pihak-pihak yang sudah dengan “viriya” menyalurkan bantuannya demi keberlangsungan kegiatna ini. Semoga kerja keras yang telah kita perbuat membawa manfaat bagi mereka dan semoga mereka lebih bahagia dan berbahagia selalu!
kunjungan adik asuh kmbui di desa belimbing
6
“Niat yang hanya disimpan di dalam hati dan tidak diterapkan dalam kehidupan nyata, bagaikan menggarap sawah tanpa menyebarkan benih, hanyalah menyianyiakan jalinan jodoh (kesempatan) baik” – Master Cheng Yen
P
ada tanggal 4 Maret 2017, Departemen Organization of Social Responsibility (OSR) telah mengunjungi adik asuh KMBUI dan pengurus vihara yang selama ini menghubungkan KMBUI dengan adik asuh yang berada di Desa Belimbing. Saat ini, adik asuh KMBUI berjumlah 5 orang, yakni Metta, Tamara, Pany, Dina, dan Lie Giok Wah. Perlu diketahui bahwa tujuan utama dari departemen OSR ialah berperan dalam tanggung jawab sosial KMBUI dalam bidang pendidikan adik-adik Buddhis. Uang yang telah dikumpulkan dari donatur digunakan untuk membiayai uang sekolah adik-adik asuh. Kunjungan ini dilakukan di Vihara Tri Maha Ratna, Desa Belimbing, Banten. Vihara ini merupakan tempat adik-adik asuh melakukan kebaktian/sekolah minggu di setiap minggunya. Kondisi lingkungan di daerah ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan di Jakarta dan agak mempersulit akses menuju lokasi karena minimnya kendaraan umum yang ada. Rangkaian acara yang diadakan dalam kunjungan ini terdiri atas saling berkenalan (kepengurusan baru), mengecek mengenai kondisi dan perkembangan
54
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
7
K
PARAPLUS
adik asuh, serta menyelesaikan seluruh administrasi yang tertunda di kepengurusan sebelumnya. Setelah itu, diadakan makan siang bersama di tempat makan sekitar vihara dan dilanjutkan dengan sharing mengenai kehidupan di sana serta perencanaan menambah jumlah adik asuh. Acara diakhiri dengan sesi foto pengurus OSR bersama adik-adik asuh dan pengurus vihara. Harapan dari kegiatan ini ialah dapat mempererat hubungan KMBUI dengan adik asuh serta mengajak anggota KMBUI untuk turut membantu keberlangsungan pendidikan adik asuh KMBUI.
Kaderisasi dan pemantapan organisasi (KPO)
aderisasi dan Pemantapan Organisasi adalah salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh KMBUI sebagai salah satu wadah untuk memfasilitasi dan membantu mengarahkan pertumbuhan karakter, kemampuan, dan jiwa kepemimpinan dari anggota-anggota KMBUI yang kedepannya akan menjadi pengurus KMBUI. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa sebagai sebuah organisasi, KMBUI membutuhkan anggota baru yang berkualitas demi terciptanya regenerasi, keberlangsungan, pembaharuan, serta perkembangan KMBUI di masa mendatang.
Kegiatan ini juga berfungsi sebagai media untuk mengakrabkan anggota baru KMBUI dengan anggota lama dan alumni. Di samping itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk membekali anggota dengan ilmu-ilmu yang akan diperlukan untuk dapat bekerja dengan baik dalam sebuah kepanitiaan. Bekal yang telah didapat di KMBUI diharapkan dapat membantu para anggota KMBUI untuk terus mengembangkan KMBUI di masa yang akan datang. KPO KMBUI 2017 mengusung tema ‘Leadership: Making A Difference’ yang mana bertujuan untuk memberi wawasan dari sudut pandang profesional kepada anggota aktif KMBUI dalam pedoman hidup mahasiswa pada sudah melek terhadap era digital. Peran aktif dari seorang pemimpin yang didapat oleh anggota aktif juga tidak hanya terbatas pada melakukan hasil yang terbaik pada setiap tugas ataupun proyek, tetapi bagaimana seorang pemimpin dapat menciptakan pemimpin yang baru dan bermanfaat bagi sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Akhir kata, semoga ilmu yang telah diterima oleh anggota aktif KMBUI, khususnya pada angkatan 2015 dan 2016 agar dapat terus mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik lagi, terutama bagi sekitarnya.
kmbui inside
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
55
30
of February, often used to refer something that will never happen. Maybe all of you think that 30th of February only exists in jokes or in our imagination. But hey, it’s actually real! Let’s take a little detour to understand the history behind 30th of February. First of all, one year, is defined as the length of time required for the earth to complete one revolution against the sun. Generally, we know it as 365 days. In fact, it takes 365¼ days, which cause the existence of leap year (tahun kabisat) once in every 4 years. However, specifically it actually takes 365 days 5 hours 49 minutes. There is a deviation as much as 11 minutes per year compared to our previous number. Mathematically, after 128 years, the 11 minutes per year errors will accumulate into one day error. Imagine what will happen after thousands of year! In the past, the calendar system was named Julian Calendar which assumed that 1 year is equivalent to 365¼ days. Through Julian Calendar, we have a leap year with th
PARAFUNFACT
TH 30TH OF FEBRUARY? FEBRUARY? OF 30 IS IT IT REAL?! REAL?! IS By Sadha Satya Lotan (FT 2016)
29th of February (leap day) on the year divisible by 4 such as 1000, 1004, 1008, and so on. As it had been mentioned, the accumulation of 11 minutes per year cause some errors in the definition of one year. As time passed, the errors grow bigger and significant due to the usage of inaccurate Julian Calendar, which had grown into several days when people realized the errors. In order to fix those errors, the calendar system is replaced with Gregorian Calendar, the one we are currently using. Gregorian Calendar was first introduced in 1582, with almost exactly the same criteria as Julian Calendar, with however one more rule, the year divisible by 100 but not 400 is not a leap year. Therefore, 1600, 1688, 1932 are examples of leap year. On the contrary, despite being divisible by 4, year 1700, 1800, and 1900 are not leap year due to their indivisibility by 400. This rule arises as the compensation of the one day error for every 128 years.
56
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARAFUNFACT
After learning the errors in Julian Calendar compared to Gregorian Calendar, what can we conclude temporarily? First of all, we know that Gregorian Calendar is more accurate. Next, let’s do some simple calculation. At year 100, there are 365 days in Gregorian Calendar but 366 days in Julian Calendar (including 29th of February). Julian Calendar has more leap days (29th February) than in Gregorian Calendar, causing Julian Calendar to be “slower” than Gregorian Calendar – It may sound weird, but here is an analogy. Julian has February 29th when Gregorian does not. As the result, Gregorian reaches the date 1st of March earlier, when Julian is still stuck on February 29th – Now, what were the things required to be done to allow the error fixation? Simple. Several dates were omitted from the calendar. The way the calendar was fixed, was not the same for every country. United States for example, 11 consecutive days were directly omitted from the calendar. They were 3–13 September 1752. So, after 2nd of September 1752, it was 14th of September. But hey! We are talking about the existence of 30th of February! What actually made 30th of February to exist?
WHAT DOES “ONE YEAR” ACTUALLY MEAN? In the attempt to fix the calendar system, 30th of February had come into existence in Swedish Empire. Unlike United States and other countries, Swedish Empire planned to omit the dates slowly by removing the leap days in year 1700–1740. So in year 1700, 1704, 1708, …, 1740, there were not leap days or 29th of February in Swedish Empire. At first, they succeeded in doing so in the year 1700. Unfortunately, the Great Northern War began (occurred in 1700–1721, it was a conflict involving the Swedish Empire).
PHOTOS: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/af/de/94/ afde9404382765c5f4bd31100d457b40.png https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/ https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/ea/fe/3c/ eafe3cfc0eb6c723c3fb0d7dd727ec10.jpg originals/03/19/81/03198181eea4be33211ab2852d8f2651. jpg
ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
57
PARAFUNFACT
The Great Northern War diverted the Swedish Empire’s attention from their calendar in 1704 and 1708. The plan to omit the leap day in those two leap years did not succeed as they had put their attention to the war. To avoid further confusion and mistakes, they returned to the Julian Calendar system. However, since they had already removed one leap day in 1700, they needed to add one extra day, which was 30 February 1712. Later in 1753, they removed the last 12 days of February for the sake of shifting to Gregorian Calendar. Now, or to be precise in the period of year 1901–2099, Julian Calendar is 13 days behind the Gregorian Calendar. For some additional information, Russia celebrates Christmas using the Julian Calendar system, on 25th of December in Julian, or equivalent to the Gregorian 7th of January. So, don’t get surprised knowing that 30 February existed and Russia celebrate Christmas on 7th of January. These all are the result of shifting from Julian to Gregorian Calendar due to the flaw definition of one year. However, that was not the only problem caused by the flaw definition. Another thing is the Lunisolar Calendar, where the years are based on solar years and months are based on lunar months. Solar year has similar definition as the normal one year that we know based on Gregorian Calendar, the time taken for
Sun to return to the same position as seen from Earth, which is 365 days 5 hours 49 minutes. Lunar month is the time between two successive syzygies (new moon or full moon) which consist alternately 29 or 30 days. In one lunar year, there is 12 lunar months, making it to have 354 days per year. Since we want the lunar months while maintaining solar year, several rules for the Lunisolar Calendar were given. Every 19 years, there will be 7 extra months of 30 days added, and every 57 years, 11 extra days are added. These addition of days are done to maintain the consistency of Lunisolar Calendar with lunar months and tropical years. The system of Lunisolar Calendar is implemented to invent Buddhist Calendar (also known as Buddhist Era). There are several versions of Buddhist Era such as based on Burmese Buddhist tradition or based on Thai lunisolar and solar calendars. Commonly, the year 0 of Buddhist Era usually starts at year 544 BC, the date believed to be* when Siddhārtha Gautama attained parinibbāna. That is why in this year of 2017, we are celebrating Vesak 2561 BE, as Siddhārtha Gautama had attained parinibbāna for 2561 years. HAPPY VESAK DAY 2561 BE! (LIX/VIN) *it should be noted that it is “believed to be”, because there are several different versions about timeline of the events
REFERENCES Cantrell, A. (2014). 5 Dates You Won’t Find on Your Calendar. [online] Mentalfloss.com. Available at: http://mentalfloss.com/article/54238/5-dates-you-wont-find-your-calendar [Accessed 5 Mar. 2017]. Rodionova, Z. (2017). Why people are celebrating Christmas on January 7. [online] The Independent. Available at: http://www.independent.co.uk/life-style/orthodox-christmas-when-why-how-russia-celebrate-date-14-januarygreek-greece-catholic-church-a7512666.html [Accessed 5 Mar. 2017]. Timeanddate.com. (n.d.). From Julian to Gregorian Calendar. [online] Available at: https://www.timeanddate.com/ calendar/julian-gregorian-switch.html [Accessed 5 Mar. 2017].
58
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
PARAWISATA
Dress till you drop in Kyoto, eat till you drop in Osaka.
Japan In In Japan
A Glimpse Glimpse A
Three Cities, Million Stories By Alvina Liyandra (FISIP 2015) There are definitely a lot of tourist spots you can visit when you are in Japan. But I’ve picked some of my favorites place to visit where you can enjoy both the cultural and the modern side of Japan in three cities: Tokyo, Osaka and Kyoto.
O
TOKY
Disneyland
O
pened in 1983, this is the first Disney theme park and resort outside US. It has always attracted not only tourists from all over the world, but also Japan’s own citizens because of its strategic location which is close to the metropolitan area. Once you get off from Maihama Station, you can take Disney’s private monorail to Disneysea, Disneyland and Disney’s official hotels. I personally only visited its Disneysea as it is the only one in the world, but both Disneyland and Disneysea, in my opinion, are just as fun despite your age. And, oh, when you’re there, don’t miss out on their world-famous parades at night and enjoy their fireworks! There is something about this place that makes the whole experience magical. It is indeed the happiest place in the world. ONCE UPON A TIME PARAMITA XLVI 59
PARAWISATA
PHOTOS: http://static.asiawebdirect.com/m/phuket/portals/japan-hotels-ws/homepage/tokyo/nightlife/pagePropertiesImage/ tokyo-nightlife.jpg https://www.flickr.com/photos/tombricker/8758632287 http://www.disneytouristblog.com/1-day-tokyo-disneyland-plan/ https://disneyparks.disney.go.com/blog/2015/01/disney-parks-after-dark-mount-prometheus-at-tokyo-disneysea/ https://rgt603.wordpress.com/
meiji jingu
I
visited this Shinto shrine on the second day of new year and experienced my first Japanese tradition of making wishes on New Year. The area was filled with people who wanted to say their prayers on New Year and I did the same thing. I threw a coin into the area marked in front of the temple then I said my prayers. The complex itself consists of two parts; the Naien, the inner precinct, in which are the shrine buildings, and the Gaien, which is the outer precinct. The most interesting part at the Gaien is the hundreds of barrels you will see on the way to the Naien. Apparently, the barrels are empty sake (rice wine) barrels for the purpose of decoration. The sake barrels are offered every year to the enshrined deities at the shrine, while the sake itself is drunk during festivals in Japan.
OSAKA
P
robably second happiest place in the world! Like Disneyland, it is also a theme park, but the vibe is totally different. Officially opened in 2001, USJ soon gained its popularity and was awarded as world’s fastest amusement park to achieved 10 million milestones in 2001, 338 days after its opening.1 And, do you know what the most exciting part is? For you Harry Potter fans, USJ has added the tenth area, which is The Wizarding World of Harry Potter since 2014. If you love Universal’s movies, or its characters (like those little yellow creatures we call minions), make sure you spare one day in Osaka to visit this place! Ps. Check out its opening hours; sometimes they close earlier (eg. On New Year’s Eve).
60
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
al Studio Univers Japan
Dotonbori
kyoTO
A
nationally historic district on western Kyoto. Arashiyama itself actually refers to Mount Arashi. There are a few tourist spots in this area. Have you ever seen people posing in a picture, in which the background is a thick bamboo forest? Yep, it’s the infamous Sagano Bamboo Forest. The bamboo forest path is beau-ti-ful. You get that calm and peaceful atmosphere just by walking through the path and feeling the sunshine through the thick bamboos. There is also a shrine called Tenryuji Temple near the area, one of the most respectable Zen temples in Kyoto. Another famous spot is the Togetsukyo Bridge, which separates two rivers; Hozu river in one side and Katsura River in the other. The bridge and the scenery around it looks absolutely breathtaking in all four seasons. All of the spots mentioned can be accessed by foot. (LEN)
Arashiyama
PHOTOS: https://blog.gaijinpot.com/neon-lights-dotonbori/ http://moderateindulgence.com/2015/12/28/where-to-eat-ramen-in-tokyo-kyoto-osaka-the-indulgent-travel-guide-tojapan-part-1/ http://www.amusingplanet.com/2012/04/sagano-bamboo-forest-at-arashiyama.html http://tour.joaw-ying.com/guide
http://www.kanpai-japan.com/tokyo/meiji-jingu https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g1066456-d1373780-i131765601-Meiji_Jingu_Shrine-Shibuya_Tokyo_Tokyo_Prefecture_ Kanto.html http://www.rappler.com/life-and-style/travel/125550-wizarding-world-harry-potter-tips-universal-studios-osaka-japan-guide ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
61
PARAWISATA
F
ood plus entertainment equals exciting night life! This area is located in the Namba district in Osaka. In 1612, Yasui Doton decided to expand the Umezu River with a canal with the hope to increase commerce in the area. “Bori” itself means canal; thus the name Dotonbori. From 1621 till now, the area is made as the entertainment district of Osaka. Restaurants and cafes, karaoke bars, shops, and hotels line up the whole streets. When you’re there, do NOT forget to try out one of the best ramen in the world: Ichiran Ramen. I swear that this bowl of ramen tastes like heaven! You can customize your own ramen: the texture and softness of the noodles, sauce, garlic, chili, eggs or bacon. Definitely worth the long queue!
PARAPLUS
Degradasi Mental Belajar Mahasiswa Oleh Felix Pratama (FT 2015)
FOTO: http://4.bp.blogspot.com/-ht7dznW5-5E/Vj5UOARRI_I/AAAAAAAAG3g/Cqluz4BdadM/s1600/Cara%2BBenar%2BBelajar%2Byang%2BEfektif%2Bbagi%2BMahasiswa.png
62
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
Walaupun penelitian atau proyekproyek karya mahasiswa berjumlah banyak, namun jumlah yang berkualitas tidak sebanding dengan jumlah yang kurang berkualitas. Kualitas ini tidak hanya dilihat dari hasil, tetapi juga dari perilaku dan pola pikir. Kita dapat mengambil contoh nyata yang sering terjadi. Ketika masa pengisian rencana perkuliahan semester, mereka cenderung memilih kelas dengan dosennya yang sesuai kemauan mereka. Permasalahannya adalah dosen yang dimaksud diipilih karena baik dalam pemberian nilai, gabut tanpa tugas, gampang kuliahnya, tidak ribet, dan sebagainya. Ujian saling menyontek, absen titip teman, dan tugas copy-paste
sana-sini sudah menjadi budaya turun temurun. Nah, kalau begini terus, kapan mereka mau maju dan berkembang? Bagaimana akan terbentuk SDM yang berkualitas? Apakah kalian mau menjadi lulusan yang kopong ilmunya?
PARAPLUS
D
unia pendidikan saat ini semakin berkembang seiring dengan munculnya berbagai bidang ilmu/jurusan baru guna memenuhi kebutuhan di dunia kerja. Sebagai imbas dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tingkat persaingan dunia kerja di Indonesia pun menjadi semakin ketat. Sehingga, agar dapat bertahan dalam persaingan ini diperlukan kemampuan sumber daya manusia harus semakin ditingkatkan guna mencapai generasi emas di 100 tahun Indonesia merdeka. Akan tetapi, generasi emas yang digadang-gadang ini terancam gagal, mengapa? Berkaca dari pengalaman dan pengamatan penulis mengenai generasi muda zaman saat ini, terutama mahasiswa/i, mahasiswa zaman sekarang masih jauh dari kata generasi emas akibat dari degradasi mental belajar mahasiswa. Padahal mahasiswa saat ini mempunyai potensi yang jauh lebih besar mengingat sudah tersedianya internet yang dapat diakses setiap saat.
Degradasi mental belajar mahasiswa ini juga seringkali dipengaruhi oleh organisasi mahasiswa, mengapa? Mengikuti organisasi mahasiswa itu sangatlah penting karena akan berguna di dunia kerja, namun mereka harus tau prioritas di perguruan tinggi itu adalah belajar, bukan berorganisasi. Kenyataannya, saat ini prioritas tersebut mulai bergeser di mana organisasi lebih penting daripada belajar. Banyak waktu luang yang dihabiskan untuk mengurus organisasi dari pada belajar dan akhirnya belajar secara SKS (Sistem Kebut Semalam). Selain itu, mereka yang berkelakuan seperti ini dapat merepotkan temantemannya jika ada tugas kelompok. Hal tersebut berbeda jauh dengan mahasiswa zaman dahulu yang mau belajar keras di mana dosendosennya strict sehingga memacu produktivitas mahasiswa. Walaupun teknologi belum berkembang, mereka tetap mau berusaha untuk mencari informasi. Sedihnya, mahasiswa sekarang dapat dikatakan sebagai generasi manja yang hanya menunggu dan menunggu dari dosennya saja. Jika tidak ada, ya sudah lewat begitu saja. Oleh karena itu, perlu ada suatu trigger untuk menyadarkan kembali para mahasiswa ini guna menciptakan generasi emas dan bertahan dalam persaingan yang semakin ketat. ONCE UPON A TIME
PARAMITA XLVI
63
PARAPLUS
Bagaimana kalau kemauan mereka kita ubah menjadi seperti ini: dosen yang objektif, mengajar dengan benar, memberikan tugas sebagai review pelajaran dengan wajar, dan memberikan feedback yang membangun serta memacu motivasi mahasiswanya untuk mengeksplor jauh lebih dalam. Sehingga diharapkan kita dapat mencetak mahasiswa yang mau belajar keras demi menggapai citacitanya dan menjadi manusia yang berkualitas. Hendaknya orang yang bijaksana memiliki pola pikir dan perilaku seperti ini karena hanya orang yang bijaksanalah yang mampu memberikan perubahan yang berarti. Seperti syair Sang Budhha dalam Dhammapada bagian Pandita Vagga yang berbunyi:
Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahankesalahannya, seperti orang menunjukan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu. Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana (CIN/CYN)
Donatur Mega Yap Deny Tirta Wijaya NN NN Luana Anastasia Jessica Tantiono Budi Purnama & Kel. Ricky Fuardy NN NN NN Angkatan 2004 NN Winarsih
Thanks to 64
PARAMITA XLVI
ONCE UPON A TIME
100.000 100.000 100.000 50.000 50.000 300.000 750.000 100.000 200.000 150.791 500.000 400.000 70.000 288.000
“Berdana akan membawa hasil, apabila kita merasakan tiga jenis perasaan murni: mereka bergembira sebelum pemberian itu diberikan, memberi dengan penuh rasa hormat, dan merasakan kesenangan setelahnya. Itulah pemberian yang sempurna.�
PROFIL KAMI kmbui Keluarga Mahasiswa Budhhis Universitas Indonesia (KMBUI) berdiri sejak September 1988 dengan Hendra Sidin sebagai Ketua Umum pertama. KMBUI adalah sebuah organisasi kemahasiswaan berbentuk kekeluargaan yang berkedudukan di Universitas Indonesia yang bergerak di bidang keagamaan dan juga sosial kemasyarakatan. Adapun tujuan dari dibentuknya KMBUI adalah untuk menghimpun atau mempererat persaudaraan seluruh mahasiswa Buddhis UI dan memperjuangkan kepentingan-kepentingannya dalam bidang kemahasiswaan dan perkuliahan hingga tercapainya kesarjanaan, serta mengerahkan aktivitas dan kreativitas mahasiswa Buddhis kepada bangsa dan negara Indonesia serta keagungan Buddha Dhamma. Pada kepengurusan KMBUI XXIII, terdapat 10 komisi yang di dalamnya terdiri dari 17 departemen.
PARAMITA PARAMITA merupakan salah satu departemen KMBUI yang bergerak dalam bidang jurnalistik dan desain sebagai media informasi dan ekspresi kreativitas KMBUI. PARAMITA terbit sejak 1989 sebanyak dua kali dalam setahun dan dibagikan secara gratis kepada anggota aktif dan alumni KMBUI, Unit Kegiatan Mahasiswan lain di Universitas Indonesia (UI) maupun di universitas lain, vihara-vihara, yayasan Buddhis, maupun Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) di luar UI. PARAMITA berdiri sebagai sebuah departemen untuk menyalurkan kreasi dan kreativitas para anggota aktif serta alumni KMBUI.
Tromol Pos 909, Kampus UI, Depok 16424 paramitamagazine@gmail.com KELUARGA MAHASISWA BUDDHIS UNIVERSITAS INDONESIA Email : infokmbui@yahoo.com Website : www.kmbui.ui.ac.id Facebook : Ukm Kmbui Instagram : @ukm_kmbui Twitter : @ukm_kmbui Path : UKM KMBUI
KRITIK DAN SARAN
085759999180 (Shierlen) PEMASANGAN IKLAN DAN DONASI
BCA 1810409769 a/n Shierlen Octavia