Skip to main content

PARAMITA Magazine KMBUI 49th Edition

Page 1

VENI VIDI AMAVI I came

I saw

I loved

LGBT (LESBIAN GAY TRANSGENDER BISEXUAL) Survei mengenai pendapat anggota aktif KMBUI mengenai isu LGBT yang sedang marak di masyarakat

IS IT LOVE OR LUST? Apakah benar perasaan yang kita rasakan selama ini adalah cinta? Yuk kenali perbedaannya!

SUDAHKAH ANDA MENYEBARKAN CINTA KASIH DENGAN MEDIA SOSIAL? Cari tahu apa saja yang bisa kita lakukan untuk menyebarkan cinta kasih melalui media sosial

TOP 3 INSTAGRAMMABLE SPOT DI BANDUNG

APAKAH ALAM RENDAH ITU NYATA?

Mau liburan tapi tidak tahu mau pergi ke mana? Tiga tempat ini mungkin akan membuat Anda jadi ingin ke Bandung!

Simak cerita tentang alam rendah melalui komik yang lucu dan menarik


Kalama Sutta Rakyat di kota Kalama bertanya, “Yang Mulia, banyak pertapa dan brahmana yang berkunjung, menerangkan dan membahas dengan panjang lebar ajaran mereka sendiri, tetapi mencaci maki, menghina, merendahkan, dan mencela ajaran orang lain. Lalu datang pula pertapa dan brahmana lain. Dan mereka ini juga menerangkan dan membahas dengan panjang lebar ajaran mereka sendiri, dan mencaci maki, menghina, merendahkan, dan mencela ajaran orang lain. Kami yang mendengar merasa ragu-ragu dan bingung, siapa di antara pertapa dan brahmana yang berbicara benar dan siapa yang berdusta.� Benar, warga Kalama, sudah sewajarnyalah kamu ragu-ragu, sudah sewajarnyalah kamu bingung. Dalam hal yang meragukan memang akan menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu, warga suku Kalama janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis dalam kitab-kitab suci, juga apa yang dikatakan sesuai dengan logika dan kesimpulan belaka, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu, atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu. Tetapi warga suku Kalama, kalau setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, `Hal ini tidak berguna hal ini tercela, hal ini tidak dibenarkan oleh para bijaksana hal ini kalau terus dilakukan akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan,` maka sudah selayaknya kamu menolak hal-hal tersebut. Tetapi setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, `Hal ini berguna, hal ini tidak tercela, hal ini dibenarkan oleh para bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,` maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.�

Dipersembahkan oleh: Pak Suhendra (buddho21@hotmail.com)


Editorial Namo Buddhaya! Manusia adalah makhluk sosial, tidak dapat hidup di dunia ini tanpa tergantung kepada orang lain. Karenanya, dalam hidupnya manusia akan selalu berinteraksi dengan orang lain dan masyarakat. Pastinya hampir semua dari kita pernah merasakan apa itu cinta kasih, entah itu cinta kasih yang berasal dari orang tua, saudara, sahabat, bahkan bisa saja dari orang tak dikenal. Pastinya kita mengharapkan bahwa perasaan-perasaan yang timbul akibat cinta kasih tersebut selalu ada dalam kehidupan kita. Bayangkan apabila semua orang di lingkungan kita menerapkan cinta kasih, betapa damai dan bahagianya lingkungan tersebut. Namun pada kenyataannya, dalam kehidupan, tidak jarang timbul perpecahan dan/ atau bentrokan kepentingan antara dua atau lebih pihak. Perpecahan tersebut, lebih sering diselesaikan dengan menimbulkan permasalahan lainnya, bagaikan mencoba memadamkan api dengan api itu sendiri. Padahal, permasalahan tersebut tidak akan muncul apabila semua orang mampu menerapkan cinta kasih (metta). Maka dari itu, melalui PARAMITA XLIX, kami mengangkat tema “Veni, Vidi, Amavi” yang diterjemahkan artinya “I came, I saw, I loved”. Pada edisi ini kami berusaha menyajikan tulisantulisan yang dapat membuka pikiran pembaca mengenai metta/cinta kasih. Segenap redaksi PARAMITA berharap selain dapat memberikan banyak manfaat, artikel-artikel yang kami sajikan juga dapat dinikmati oleh pembaca. Semoga PARAMITA tetap menjadi media dan bacaan favorit Anda. Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia! Salam hangat, Redaksi PARAMITA 2018

Majalah PARAMITA dipersembahkan oleh: PENANGGUNG JAWAB Raymond Tanujaya PEMBIMBING Levin Yohardi PEMIMPIN REDAKSI Harvin Kusuma, Manita Piyaputri MATERI DAN PENYUNTINGAN Koordinator Bidang Harvin Staf dan Freelance Andrrew P. J., Eddie Susanto, Fannia Veronica, Kevin Chow, Marvella Rustandy, Shierlen Octavia DESAIN DAN TATA LETAK Koordinator Bidang Manita Piyaputri Staf dan Freelance Andreas S. W., Fanny Jingga, Joey Irvine, Marco Kenata, Preticia Lee, Shiervine Angelica, Vivianie, Velicia Khoswan KONTRIBUTOR PENERBIT KMBUI Tromol Pos 909, Kampus UI Depok 16424 PENCETAK Percetakan Kanisius VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

1


Table of Contents

0004 - Wall of Arts design by Manita 06 - I Came, I Saw, I Loved. design by

Manita and Andreas

08 - Learning is a Necessary Part of Life design by

Preticia

0401 - Is it Love or Lust? design by Manita 03 - KMBUI Inside: PPMB 04 -

Top 3 Instagrammable Spot di Bandung design by Manita

06 - KMBUI Inside: Waisak KMBUI 07 - How We Should Live design by Levin

0100 -

Bermeditasi Ditemani Boneka design by

Vivianie

03 - Apakah Alam Rendah itu Nyata? 04 - KMBUI Inside: PPD 06 - PARAMITA Bertanya design by Preticia

0502 - Dari Mana Metta Berasal? design by

Marco

04 - Lessons from Two Spiritual Giants on Joy design by Andreas

06 - KMBUI Inside: Donor Darah KMBUI 07 - Saya Datang, Saya Melihat, Saya Mencintai design by Manita

Legends

0600 - What do They Say? design by Manita 01 - KMBUI Inside: RFK 02 - Menjadi Orang Baik? design by Shiervine

PARAMEDIC

PARADHAMMA

PARAPLUS

PARATRAVEL

PARAVIEW

PARAVISION

PARATAMA

PARATECHNO

PARAPROFILE

PARATANYA

PARAFICTION PARAFACTS #1 Juara 1 Lomba Artikel PARAMITA XLIX

2

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


02-

03-

00 - Hokki Sintaro: Figur Nyata dari

01 - KMBUI Inside: PSB

Keseimbangan antara Akademis dan Non-Akademis design by Vivianie

02 - Another Starting Point design by

03 - KMBUI Inside: Desa Binaan

04 - Lesbian, Gay, Bisexual,

05 - Metta Mini design by Shiervine 09

Manita

Transgender (LGBT) design by Manita

Kebiasaan Buruk Bagi Gigi: Memangnya Ada Ya? design by Preticia

07 - KMBUI Inside: Kunjungan Adik Asuh KMBUI

#1

08 - Sudahkah Anda Menyebarkan Cinta Kasih dengan Media Sosial? design by Manita

Credits

front cover photograph by: LĂŠa (flickr: LĂŠa)

back cover photograph by:

edited by: Manita Piyaputri

edited by: Manita Piyaputri

Drazen Tomic (flickr: Drazen Tomic)

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

3


PARAPLUS PARAPLUS

Wall of Arts #WOAPARAMITA #PARAMITAVeniVidiAmavi

@bernardzaimii @ricopalsu

@harvinkusuma @marcokenata

@bernardzaimii

4

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

@edwinlawisan


PARAPLUS PARAPLUS @vanyacendana

@my_megan

Editor’s Choice Congratulations Alvina

Liyandra !

@alvinaliyandra I’m not gonna lie. Am not the biggest fan when it comes to animals. By animals, I mean all kind of animals, yep including cute doggies or kittens. Just look at my weird hand trying to pet the deer LOL. Posting this kinda makes me a hypocrite. But that is not my point. During this visit to Ranca Upas, I had a realization. You know how people always say that everyone has a different way of showing their love? The same thing goes for this too. You don’t have to feed stray cats or be a vegetarian to be an animal lover. You don’t even have to have a pet. Just be kind to animals even if you don’t really like em. Meaning, do not hit them or torture them. If you decide to have a pet, treat them with all love and respect. They deserve it. I’m not saying that I will suddenly be a mother Teresa to all living creatures. Nope. Will still eat them tho, I mean, pft, who are we kidding right? But at the very least, I’ll try my best not to hurt or disturb them because, just like hoomans, they have every right to lead happy lives on Earth.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

5


PARATAMA Oleh Elvina Wijaya (FH 2017)

Itulah ungkapan seorang mahasiswa baru dari perantauan setelah bergabung dengan sebuah komunitas Buddhis di kampus perjuangannya. Di komunitas tersebut, dia datang, dia melihat, hingga akhirnya dia menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat disukai dari komunitas tersebut. Belajar Dhamma. Dhamma yang sangat universal membuat dia mempunyai pandangan universal, khususnya mengenai metta atau cinta kasih. Cinta kasih universal yang diterapkan kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan. Ungkapan cinta kasih universal ini tertuang di dalam Karaniya Metta Sutta khususnya bait ketujuh yang bunyinya, “Bagai seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya melindungi anaknya yang tunggal, demikianlah terhadap semua makhluk cinta kasih dalam pikiran dipancarkan tanpa batas.�

6

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARATAMA

Dalam hal ini, metta yang diterapkan bukan sebatas pada teman, saudara, ataupun orang tua kita, tetapi melebihi hal tersebut. Kepada hewan ataupun makhluk alam peta yang semata-mata lebih rendah derajatnya dari kita, kita harus mengembangkan metta. Metta membantu kita untuk mengikis ego kita, karena dengan memancarkan metta, kita tidak hanya berdoa untuk diri kita sendiri, namun kepada semua makhluk tanpa terkecuali. Tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun semua makhluk yang ada di 31 alam kehidupan ini. Begitulah cara cinta kasih yang universal ini bekerja. Dengan mempraktikkan metta, kita dapat menghindari pelecehan, tindakan ofensif, penganiayaan, tindakan pengrusakan, dan tindakan menyusahkan. Sebaliknya kita mengembangkan pikiran “semoga semua makhluk bersahabat dan tidak berseteru”, “semoga semua makhluk bahagia dan tidak menderita”, dan “semoga semua makhluk menikmati kesejahteraan dan tidak mengalami kemalangan”. Mengembangkan metta membuat kita mengikis sisi negatif dalam diri kita dan mengembangkan nilai-nilai kebajikan positif secara aktif.

Metta menjadi salah satu bagian pembelajaran Dhamma yang sangat penting. Praktik metta dalam kehidupan dapat kita lakukan kepada keluarga, sahabat, masyarakat, dan semua makhluk. Dengan melakukan praktik metta, kita akan memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Kita akan terbebas dari kebencian, keserakahan, dan kebodohan sehingga kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan senantiasa menghampiri kita. See you around! Love you! (FAN/MAR)

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

7


PARADHAMMA

Learning is S a Necessary part of life ! Oleh Luana Anastasia (Vokasi 2016)

Sumber gambar: https://pantip.com/topic/37369179 http://www.escuelalamilagrosa.cl/category/pastoral/

8

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

ebagai seseorang yang bertekad melatih diri dan menjalankan Pancasila Buddhis dengan baik seumur hidupnya, tentu menghindari hal-hal yang melanggar sila adalah suatu kewajiban. Namun, bukan berarti dengan hanya menghindari perbuatan jahat tersebut lantas akan membuat hidup kita bahagia. Kita tentu membutuhkan karma baik untuk mendapatkan kondisikondisi bajik yang akan mendukung kehidupan kita saat ini tetap bahagia. Oleh karena itulah, dibutuhkan cinta kasih atau metta. Buddha sudah menunjukkan pada kita bahwa berbagi kebahagiaan dengan semua makhluk adalah hal yang akan membawa kebahagiaan kepada diri sendiri. Misalnya, tujuan Buddha untuk mencapai pencerahan sempurna adalah membebaskan semua makhluk dari penderitaan terlahir kembali, sakit, tua, kematian, dan seterusnya hingga mereka semua mencapai pencerahan sempurna. Lebih dari itu, setelah Buddha telah mencapai pencerahan sempurna, Beliau masih terus menolong semua makhluk untuk dapat terbebas dari alam penderitaan ini. Hal tersebut sudah menjelaskan betapa besar cinta kasih Buddha kepada semua makhluk tanpa terkecuali, baik yang hidup di alam bahagia maupun di alam menyedihkan.


Setelah mengembangkan cinta kasih dan diimbangi dengan kebijaksanaan yang telah kita latih dengan belajar, maka kondisi-kondisi bajik akan berkumpul dalam kehidupan ini dan membuat kita dapat berbuat karma baik lagi agar kita dapat memperoleh kebahagiaan yang kita inginkan. Tanpa adanya kondisi-kondisi bajik, akan sulit bagi kita untuk dapat melakukan perbuatan bajik. Misalnya, kita ingin mendanakan makanan yang kita beli atau masak karena berlebih untuk kita sendiri. Namun bila tidak ada orang yang kelaparan dan membutuhkan bantuan dana makanan, maka kita tidak dapat mendanakan makanan tersebut. Perlu diingat, selain kehidupan ini, Buddha mengajarkan kita untuk memikirkan pula bekal kehidupan selanjutnya.

PARADHAMMA

Dengan menjadikan Buddha sebagai panutan kita, kita juga seharusnya dapat mempraktikkan metta dengan mudah. Dimulai dari merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk lain dan merasa sedih atas keadaan mereka, kita dapat membantu makhluk lain dengan pelimpahan jasa atas kebajikan yang telah kita perbuat, berdana, mengajarkan kebenaran, dan lain sebagainya. Setelah mengembangkan cinta kasih kita kepada semua makhluk, selanjutnya kita juga perlu mengembangkan wisdom atau kebijaksanaan kita untuk membuat karma baik yang kita lakukan menjadi bajik secara murni. Cara mengembangkan kebijaksanaan tersebut adalah dengan belajar Dhamma dan memperbanyak pengetahuan untuk menghapus kebodohan batin kita beserta ketidaktahuan akan kebenaran.

Kita sebagai umat Buddhis percaya akan adanya kelahiran kembali setelah kita meninggal dari kehidupan ini. Tanpa bekal karma bajik yang banyak, maka akan sulit untuk terlahir kembali menjadi manusia dengan tubuh lengkap sempurna tanpa kecacatan fisik maupun mental. Selain memperoleh tubuh lengkap sempurna, kita juga belum tentu memperoleh ajaran Dhamma pada kehidupan kita selanjutnya. Oleh karena itulah, dibutuhkan banyak perbuatan bajik untuk terus menambah tabungan karma baik kita. Hal ini untuk membantu kita dapat terlahir kembali sebagai manusia atau dewa di alam bahagia dan tidak terjatuh ke alam rendah. Karma baik juga dapat memperbesar kesempatan kita untuk dapat mendengarkan kembali ajaran Buddha Dhamma dan menjadi Sangha yang mau belajar lebih banyak lagi.

Bila ditarik kesimpulannya, kita seharusnya mengurangi perbuatan jahat yang dapat merugikan orang lain, memperbanyak perbuatan bajik dengan menambah cinta kasih dan melatih kebijaksanaan dengan banyak membaca. Tidak lupa, kita juga harus mendedikasikan seluruh hal bajik yang telah kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan di kehidupan ini, kehidupan selanjutnya, dan juga untuk kebahagiaan semua makhluk hingga terbebas dari penderitaan dan mencapai pencerahan sempurna sesegera mungkin. (KC/LEN) VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

9


PARAPLUS

Bermeditasi Ditemani Boneka Oleh Fannia Veronica (FPsi 2017)

Judul Buku Bear Meditation(Meditasi Menjinakkan Pikiran Liar Penulis Ajahn Brahm Halaman 254 Penerbit Ehipassiko Foundation Tanggal Terbit Maret 2018 Bahasa Indonesia

10

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAPLUS

CINTA KASIH

source image: www.shalombewithyou.com/ wp-content/uploads/yapb_ cache/bw_children_happy1.

Belajar cinta kasih tanpa syarat itu sama dengan belajar cara meditasi—ini soal membuka pintu hati Anda. Anda berlatih dengan duduk, pada momen kini, dengan semua kebodohannya, kelelahannya, keresahannya, dan setiap hal lain yang berlangsung dalam batin Anda, tidak menginginkan momen itu berbeda dari apa adanya. Cinta kasih dan melepas adalah hal yang sama. Ketika Anda belajar cara meditasi, cinta kasih tanpa syarat Anda tumbuh dan tumbuh (p. 36).

Teddy Bear! Siapa yang tidak tahu sebutan untuk boneka beruang satu ini? Begitu lucu dan menggemaskan. Bulu halusnya sangat lembut untuk dielus dan kapas empuknya sangat nyaman untuk dipeluk. Nah, siapa kira boneka Teddy Bear ini juga dapat membantu kita dalam melakukan meditasi? Ya, inilah salah satu anekdot cerita yang disuguhkan Ajahn Brahm dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai meditasi dan Buddhisme. source image http://felsdar.blogspot. com/2011_05_01_archive.html

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

11


PARAPLUS

Bear Meditation memiliki konsep konten yang cukup mirip dengan buku-buku Ajahn Brahm sebelumnya. Berfokuskan pada model tanya-jawab, bab-bab buku ini disusun sesuai dengan tema-tema tertentu, misalnya metta, napas dalam meditasi, nimitta (citra batin suatu cahaya yang merujuk pada hasil meditasi yang mendalam), juga tentang jhana. Pertanyaan-pertanyaan yang dipaparkan juga bervariatif, seperti pertanyaan mengenai perbandingan antara ritus agama Buddha dengan agama lain, kritik mengenai tradisitradisi ritual di agama Buddha, bahkan sampai membahas bagaimana meditasi dapat digunakan untuk mengatasi masalah mental. Meskipun membahas topik-topik yang cukup berat, buku ini sama sekali tidak membosankan Alasannya, seperti yang umum diketahui, Ajahn Brahm selalu santai dan jenaka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan berat tersebut. Walau ada beberapa lelucon yang kelucuannya lama. Alasannya, seperti yang umum diketahui, Ajahn Brahm selalu santai dan jenaka dalam menjawab pertanyaanpertanyaan berat tersebut. Walau ada beberapa lelucon yang kelucuannya lama untuk ditangkap karena mengalami lost in translation, hal tersebut tidak mengurangi keseruan buku ini. Utamanya, buku ini membahas tentang bagaimana kita dapat melepas—terutama melepaskan diri kita dalam kungkungan pemikiran negatif. Jika kita terus-terusan terperangkap dalam pikiran kita ketika bermeditasi, maka mau sudah berapa lama pun anda berlatih, hasilnya tidak akan tercapai. Jika kita terus-menerus mengharapkan hasil dari meditasi, bukannya mendapat manfaat melainkan kebuntuan. Oleh karena itu, Ajahn Brahm menganjurkan kita untuk melepas, baik hal baik maupun hal buruk.

12

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

source image (https://www.tumblr.com/search/relajacion)

Hal menarik lain yang menjadi sorotan adalah bagaimana Ajahn Brahm mengingatkan kita untuk tidak jahat kepada diri sendiri. Sebagai contoh, ketika kita berusaha untuk memaksa dan mengendalikan tubuh untuk melakukan meditasi, hal tersebut malah menghambat proses meditasi. Apabila tubuh memang merasa lelah, biarkan tubuh beristirahat. Itu bukan berarti malas ataupun manja. Itu artinya peduli terhadap tubuh kita. Setelah siap, barulah kegiatan meditasi dapat dilakukan secara optimal. Akan tetapi, bukan berarti buku ini terlepas dari kekurangan. Apabila Anda sebelumnya sudah pernah membaca bukubuku Ajahn Brahm, konten berupa tanyajawab ini menjadi agak monoton. Selain itu, setiap kali ada mengutip penelitian tertentu, tidak ada sitasi atau daftar pustaka yang dapat dirujuk oleh pembaca. Ada baiknya jika dimungkinkan untuk mencantumkan sitasi sehingga pembaca juga dapat membaca penelitian yang dimaksud secara langsung dan dapat membuktikan validitasnya. Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Bahkan saya pun menemukan pertanyaan yang sejak dulu belum terjawab dan akhirnya terjawab di buku ini. Mungkin saja pertanyaanpertanyaan Anda juga ada di buku ini, dengan begitu Anda dapat menemukan jawabannya.


PARAPCOMIC

APAKAH ALAM RENDAH ITU NYATA? Story by Viriya Paramita (FE 2008) Illustration by Shierlen Octavia (FPsi 2015)

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

13


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Pekan Penghayatan Dhamma Oleh Victoria Diora Artha (FH 2017)

P

ekan Penghayatan Dhamma (PPD) merupakan kegiatan rohani tahunan KMBUI. Pada tahun 2018, kegiatan ini diadakan oleh Departemen Kalyanamitta KMBUI XXVI. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 16-23 Agustus 2018 di Vihara Bodhigiri Balarejo, Wlingi, Blitar. Tema PPD KMBUI 2018 adalah MAGGA yang merupakan kepanjangan dari Mindfulness and Good Guidance to Achieve Enlightenment dan Magga dalam bahasa Pali berarti ‘jalan’. PPD KMBUI 2018 bertujuan untuk

14

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

mendapatkan pelajaran Dhamma dan juga praktik Dhamma serta membangun kekeluargaan antara anggota aktif serta alumni KMBUI. Pada sore hari tanggal 15 Agustus 2018, rombongan PPD KMBUI 2018 berangkat dari Pasar Senen menuju Blitar dan sampai pada tanggal 16 Agustus 2018. Pada hari pertama, peserta mengunjungi beberapa tempat wisata di Blitar seperti Kampung Coklat dan Bukit Bunda, diakhiri dengan perjalanan menuju Vihara Bodhigiri di Wlingi. Pada tanggal 17 Agustus 2018, rangkaian acara


Beberapa topik yang dibawakan pada PPD KMBUI 2018 bukan hanya materi teoritis seperti Tisarana, Empat Kebenaran Ariya, Tilakkhana, Alam Rendah, Paticca Samuppada, dan lain-lain, tetapi juga terdapat pengenalan meditasi dan pengenalan mengenai Vihara Bodhigiri. Pada akhir dhammadesana juga selalu ada tanyajawab untuk menambah pemahaman para peserta sekaligus berkonsultasi mengenai penerapan dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Selain mendengarkan dhammadesana, peserta PPD KMBUI 2018 juga diajak berjalanjalan untuk melihat sendiri keindahan Vihara Bodhigiri yang dijadikan sebagai tempat semedi untuk para yogi.

PARAPLUS

inti PPD KMBUI 2018 dimulai dengan pengambilan atthasila yang dibimbing oleh Y.M. Bhikku Uttamo Mahathera. Atthasila bertujuan untuk melatih moralitas dengan cara menahan diri sendiri dari melakukan hal-hal yang merugikan bagi orang lain demi mengurangi kekotoran batin diri sendiri. Setelah pengambilan atthasila, kegiatan dilanjutkan dengan dhammadesana. Pembicara dhammadesana pada PPD KMBUI 2018 di antaranya adalah Y.M. Bhikku Uttamo Mahathera, Pak Handaka Vijjananda, Romo Sugianto, Ko Hendra Wijaya, dan Ko Attha Surya Dharma.

Tidak hanya dekat dengan alam; bangunan, tugu, bahkan tangga di Vihara Bodhigiri memiliki makna simbolis yang sangat indah dan berkaitan erat dengan Buddhisme. Selain tur keliling Vihara Bodhigiri, praktik yang juga dilakukan adalah belajar bermeditasi, terutama meditasi duduk dan jalan. Jam istirahat di PPD KMBUI 2018 dimanfaatkan untuk bermeditasi di spot-spot khusus, seperti di gazebo Bodhi Sukha, gua-gua kecil, serta dhammasala. Setiap paginya, para peserta melakukan puja serta meditasi selama 45 menit di dhammasala terbuka. Kegiatan selama 7 hari PPD KMBUI 2018 ditutup dengan pengambilan pancasila, sesi foto-foto dan jalanjalan ke beberapa tempat di Blitar seperti Makam Bung Karno, Candi Penataran, pusat perbelanjaan oleholeh dan Kampung Belimbing. Dengan diadakannya PPD KMBUI 2018, diharapkan peserta dapat mempraktikkan dhamma yang telah dipelajari dengan memperbanyak perbuatan baik dan juga merealisasikan mindfulness dalam kehidupan sehari-sehari.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

15


PARATANYA

PARAMITA BERTANYA 1

dengan Bhante Hendry Frilly

Saya pernah dengar setiap orang membawa karma masing-masing, lalu bagaimana mekanisme pelimpahan jasa terhadap karma tersebut, bagi orang lain maupun diri sendiri?

Praktik pelimpahan jasa dapat ditelusuri asalnya baik dari Sutra Theravada maupun Mahayana, misalnya kitab Pettavathu dan Ulambana Sutta dan masih banyak rujukan sutra lainnya. Melalui dua sutra tersebut, kita dapat melihat bagaimana Arya Sariputta dan Arya Mogallana menolong ibu mereka yang menderita di alam rendah. Sementara untuk mekanisme pelimpahan jasa sendiri, tentu saja mekanisme yang berlaku adalah hukum karma dan berhubung cara kerja karma merupakan hal yang subtil, saya rasa, saya tidak sanggup menjelaskan mekanisme secara terperinci. Namun demikian, dari sutra-sutra yang disebutkan di atas, kita dapat lihat bahwasannya sukacita para almarhum terhadap kebajikan yang dilakukan oleh anak mereka memungkinkan mereka menghimpun karma baik yang kemudian berakibat kelahiran mereka di alam tinggi. Contoh lainnya adalah dalam tradisi Mahayana Tibetan dan di biara saya sendiri adalah suatu praktik yang umum dan sangat baik yakni pada saat menjelang atau sesudah kematian dari orang tua dan kerabat terdekat, kita mendanakan harta dan barang materi mereka kepada ladang kebajikan yang unggul yaitu Triratna yang merupakan kebajikan yang luar biasa besar dan mampu membantu mereka dalam menjalani proses kematian dengan pikiran yang bajik. Contoh lain adalah setelah kremasi menggunakan abu dari mendiang untuk dijadikan tsatsa (patung buddha dari bahan gypsum) untuk kemudian dimasukkan ke dalam stupa, dengan demikian almarhum secara tak langsung terlibat dalam pembuatan patung Buddha begitu juga pendirian stupa. 16

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


sendiri maupun orang lain. Lalu, suatu hal yang teramat bajik jika kita mengingat bahwa tidak hanya di kehidupan saat ini saja, tapi sudah tak terhitung kehidupan kita memiliki orangtua pula; karenanya dedikasikan, limpahkan kebajikan kita untuk semua makhluk.

PARATANYA

Penjelasan lainnya adalah berhubung tubuh kita berasal dari sperma dan sel telur kedua orang tua kita, kebajikan yang kita himpun pun akan bermanfaat bagi mereka. Hal ini disampaikan oleh Upajaya saya Yang Maha Suci Dalai Lama XIV dalam upacara pentahbisan. Ibarat tubuh kita adalah barang pinjaman orangtua yang dipakai untuk menghasilkan keuntungan kebajikan.

Ringkasnya, saya menyarankan untuk mempelajari lebih lanjut praktik pelimpahan jasa melalui kitab Pettavathu, Ulambana Sutta, Lebih lanjut, hal yang menarik dari praktik serta kitab Pembebasan di Tangan Kita jilid 2 pelimpahan jasa ini justru menitikberatkan mengenai topik karma. pada betapa pentingnya karma baik atau kebajikan dari praktik spiritual, praktik dharma dalam menghadapi kematian baik untuk kita

Apakah ada perbedaan apabila kita membaca paritta dalam bahasa Pali maupun bahasa lain?

2

Selain perbedaan bahasa dan kefamiliaran kita terhadap bahasa tertentu, semua dharma yang diajarkan Buddha adalah sama dalam artian sama-sama berfungsi mengikis kekotoran batin, mengembangkan kualitas bajik, dan membawa pada kebahagiaan sejati.

karenanya, penting untuk memperhatikan motivasi kita ketika membaca paritta ataupun teks dharma lainnya agar sepenuhnya aktivitas kita menjadi suatu hal yang bajik, menghasilkan karma baik yang lengkap sepenuhnya; alihalih suatu tindakan netral ibarat burung beo Kecenderungan kita membedakan harus mengucapkan kata-kata tanpa mengerti artinya. Lebih lanjut pelajari topik mengenai jalan diperhatikan, jangan menjurus ke pemahaman bahwa ajaran Buddha berbahasa A lebih baik karma atau karmapatha. Kita dapat merujuk dari bahasa B dan sejenisnya, karena hal ini ke “Working on Kamma� karya Pauk Sayadsama dengan menolak ajaran Buddha dan aw, serta kitab-kitab Lamrim terkait topik jalan merupakan ketidakbajikan yang besar. Oleh karma.

3

Agama Buddha merupakan agama non-teis. Jika ada seseoarang yang percaya dengan adanya Tuhan namun tetap menjalankan ajaran Buddha, apakah orang tersebut dianggap beragama ganda atau bagaimana?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mendalami lebih lanjut filosofi Tisarana, karena definisi umat Buddha adalah mereka yang ber-tisarana. Ada beberapa jenis kepercayaan atau

keyakinan atau saddha antara lain keyakinan berupa kekaguman, keyakinan tak tergoyahkan, dan keyakinan emulative (yang ingin meraih kualitas yang sama dengan objek yang diyakini).

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

17


PARATANYA

Jika kita menghargai sosok Tuhan di luar ajaran Buddha, mungkin dikarenakan kita merasa dekat (karena kita mempelajari sosok tersebut semasa sekolah kita), atau sekedar kagum mendengar kualitas tertentunya, atau sekedar rasa hormat terhadap seorang tokoh agama/spiritual, namun keyakinan kita terhadap Triratna tak tergoyahkan dalam artian kita yakin Triratna-lah pelindung terunggul bagi diri kita dan mengandalkan Triratna terutama (dalam artian mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha); maka tidak ada kesalahan dalam praktik tisarana kita. Jika kemudian kita meragukan kemampuan Triratna melindungi kita dari berbagai masalah samsara pun dunia, bahkan malah merasa ada objek perlindungan lain

4

Melihat banyak konflik di Indonesia saat ini, apakah benar welas asih dapat menyelesaikan segalanya?

Seorang Buddha dapat dijelaskan sebagai makhluk yang telah sempurna kualitas welas asih dan kebijaksanaanya, sehingga dengan demikian mampu mengatasi penderitaannya pribadi begitu juga semua makhluk. Otomatis dengan demikian, berbagai masalah pun dapat diatasi baik masalah dunia saat ini ataupun yang akan datang melalui praktik dari ajarannya. Kualitas welas asih yang mampu mengatasi segala konflik di sini tidak sekedar merujuk kualitas welas asih biasa, yang sebenarnya dengan mudah kita bangkitkan pada orang terdekat kita, misalnya kerabat, kekasih, pun teman dekat, karena welas asih pada kasus tersebut bersifat bias. Namun, welas asih yang disertai kebijaksanaan yang mengikis sifat dan pandangan mementingkan 18

PARAMITA

yang lebih tepat dan unggul, maka di sinilah dikatakan kita ‘mendua’ dan ketika itulah secara teknis anda dikatakan sebagai nonbuddhis. Periksalah diri kita, bila kita lebih patuh, yakin, dan percaya diri terhadap ajaran-ajaran non-buddhis atau bahkan ajaran sekuler duniawi (sains, ideologi tertentu, dsb) dibandingkan ajaran Buddha, maka ternyata kita sudah tidak lagi menjadi umat buddha. Lebih lanjut, perdalam mengenai Tisarana Pintu Gerbang untuk Memasuki Dharma dari Pembebasan di Tangan Kita karya Phabongka Rinpoche, serta penjelasan tisarana oleh bhiksu Bodhi https://www.accesstoinsight. org/lib/authors/bodhi/wheel282.html

VENI, VIDI, AMAVI

diri sendiri, inilah kualitas yang mampu menyelesaikan segala pertikaian dan masalah yang dalam tripitaka disebut sebagai bodhicitta terunggul. Lagipula dalam kitab suci dijelaskan sifat mementingkan diri sendiri adalah akar permasalahan makhluk hidup. Saya rasa dengan pemahaman ini kita akan lebih mampu memahami makna ‘pidato avenger’ Bapak Presiden Jokowi dalam World Economic Forum 2018 yang lalu, bahwa dengan tidak terjebak pada mindset zero-sum game yang egoistik dan lebih mempertimbangkan kemaslahatan semua pihak, kebahagiaan akan terwujud alih-alih kebinasaan dari konflik. Sampai di sini maka kita perlu mempelajari lebih lanjut mengenai bodhicitta baik aspek konvensional maupun tertinggi.


Saya mendorong kita semua untuk mempelajari lebih lanjut topik bodhicitta dari kitab Bodhipathapradipa karya YM Atisha, serta Pembebasan di Tangan Kita Jilid 3 yang menjelaskan bodhicitta dengan rinci sekaligus memuat instruksi khusus dari Guru Swarnadwipa.

Apakah gelar Dalai Lama dapat diberikan kepada perempuan?

PARATANYA

Ajaran bodhicitta sangat dekat dan malah berakar di bumi Indonesia. Sejarah mencatat seorang guru besar Buddhisme dari India yaitu Atisha Dipankara Srijnana berlayar ke Sriwijaya (kini dirujuk sebagai Palembang) untuk berguru pada Swarnadwipa Dharmakirti khususnya mengenai topik bodhicitta. Saya rasa, ini merupakan catatan sejarah penting bagi Buddhisme Indonesia yang sayangnya malah tercatat luas dan lebih sering diangkat oleh pihak luar Indonesia khususnya Buddhime Tibetan.

5

Di tahun 2013, pada sebuah wawancara, YMS Dalai Lama sempat menyiratkan bahwa penerusnya adalah memungkinkan seorang perempuan. Beberapa tahun setelahnya pun, pesan tersirat serupa juga disampaikan kembali. Saya rasa baik lakilaki maupun perempuan, terlepas dari jenis kelamin mereka, punya kesempatan yang sama merealisasikan kualitas-kualitas spiritual sama halnya dengan seorang Dalai Lama. Masalahnya terletak pada siapa yang lebih tulus dan berupaya.

Semoga bermanfaat, sarwa manggalam.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

19


PARAPROFILE

F

igur Nyata dari Keseimbangan antara Akademis dan Non-Akdemis Oleh Kevin (FT 2017)

J

ika kalian sedang merasa butuh motivasi dan inspirasi dalam menghadapi lelahnya dunia perkuliahan dan sederet tumpukan tugas kepanitiaan dan organisasi, maka kalian perlu bertemu dengan figure yang satu ini. Hokki Sintaro, yang biasa akrab disapa Hokki, merupakan seorang mahasiswa Arsitektur UI 2015 yang senang berkecimpung dalam bidang Leadership dan Entrepreneurship. Pria yang lahir di Medan tanggal 2 Februari 1997 menempuh pendidikan SMA di SMA Sutomo 1 Medan. Selama kuliah terlibat

dalam beberapa posisi dalam organisasi seperti Staf PIPTEK IMA FTUI 2016, Staf Ahli PIPTEK IMA FTUI 2017, Staf HALO KMBUI XXIV, Kepala Departemen KOMINFO KMBUI XXV, dan Kepala Komisi Eksternal KMBUI XXVI. Selain itu, Hokki juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Staf HPD Makrab KMBUI 2015, Vice Director of Design Sangha Dana KMBUI 2016, Director of Design Vesakh Day KMBUI 2017, dan Vice Director of Events PPMB KMBUI 2017. Tidak hanya aktif di organisasi dan kepanitiaan kampus, Hokki juga pernah mencicipi dunia luar kampus dengan lolos menjadi salah satu dari XL Future Leaders Batch 6. Selain itu, Hokki

hokki sintaro 20

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAPROFILE

pernah menjadi Delegation of StudentXCEO 2017 dan meraih penghargaan Best Team Fintech Idea. Baru-baru ini, Hokki juga menjadi Staf Humas BEKRAF 2018. Namun diluar semua kesibukannya tersebut, Hokki masih mampu mempertahankan sisi akademisnya dengan meraih TOP 3 IPK di Arsitektur dari tahun 2015 hingga 2017 dan menjadi Mahasiswa Berprestasi Departemen Arsitektur tahun 2018. Hokki membagikan banyak selama kuliah, ketika dia berhasil tips tentang bagaimana cara mencapai sebuah tujuan, akan dia meraih semua itu. aPoin muncul sebuah kesempatan untuk paling penting dari cara meraih membawa dia mencapai tujuan semua hal tersebut adalah yang lain. Kasus ini sering motivasi dari diri sendiri. disebut dengan efek domino. Hokki membuat komitmen Hal inilah yang membuat dia pada dirinya sendiri bahwa ia termotivasi lebih untuk mencapai harus lebih aktif semasa kuliah tujuan yang telah ia tetapkan satu dibandingkan masa SMA- persatu. nya.Ia juga merasa bahwa Hokki memiliki rumus tersendiri dalam usahanya mencapai semua tujuan tersebut yang biasa disebut dengan 3C+1H Comitment Contribution Consistent Honesty Menurutnya, komitmen sangat penting sebagai motivasi awal melakukan suatu tindakan. Setelah itu, usahakan segala tindakan kita bisa bermanfaat bagi orang lain karena kita hidup di tengah masyarakat (human center). Jangan jadi orang yang egois. Kemudian, berusaha untuk konsisten adalah kunci untuk menjaga langkah kita dalam mencapai tujuan. Terakhir, apapun tindakan kita, jangan lupa untuk selalu menjaga kejujuran.

Segalanya akan sia-sia apabila kita bertindak tanpa kejujuran. Hokki juga menyarankan kita untuk bergaul dengan lingkungan yang positif, terutama dengan terjun ke dunia profesional.

source image http://www.interessicomunjournal.it/edicola/societa/il-mal-di-vivere/ http://mistymorningme.tumblr.com/

Melalui wadah tersebut, Hokki merasa lebih terpacu untuk lebih disiplin karena dikelilingi oleh orang-orang yang high passionate. Selama berkuliah, Hokki juga menyarankan kita untuk memiliki role model sehingga bisa menjadi panutan bagi kita untuk belajar.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

21


M

PARAPROFILE

anajemen waktu juga merupakan hal yang sangat penting selama kita kuliah. Kita harus bisa membagi waktu untuk mengerjakan tugas akademis, quality time, dan jangan lupa untuk berolahraga. “Impian besar tanpa kesehatan itu nothing”, begitu kata Hokki. Jadi, usahakan untuk menjaga tubuh kita selalu fit. Kemudian, isilah waktu luang yang ada dengan membaca buku. Dengan banyaknya pencapaian Hokki selama ini, bukan berarti ia tidak pernah mengalami masa-masa jenuh hingga mencapai titik terendah dihidupnya. Namun, Hokki selalu punya solusi dalam menghadapi masalah ini. Menurut Hokki, teman-temannya merupakan penyemangat (support system) bagi dirinya ketika ia merasa down. Lalu, ketika meresa jenuh, sementara cukup ambil waktu untuk diri sendiri. “Take a breath for a while”. Disaat down, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Pada akhirnya, segera bangkit adalah jawaban terbaik disaat kita sedang berada di posisi tersebut. Jangan terlalu lama bersedih. Perjalanan kuliah Hokki tidak pernah terlepas dari adanya KMBUI. Menurutnya, KMBUI merupakan keluarga yang mana ia dapat bertemu dengan banyak teman untuk bertukar pengalaman, terutama bagi mahasiswa di luar Jabodetabek yang sedang merantau.

Melalui KMBUI, ia mendapatkan nilai-nilai kekeluargaan yang juga diiringi dengan nilai profesionalisme. Ia juga banyak bertemu dengan orang-orang hebat di KMBUI yang membantu ia terjun ke dunia profesional sesuai dengan efek domino yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sesuai dengan tema Paramita kali ini, Metta, Hokki punya pandangan sendiri terhadap salah satu dari Brahma Vihara tersebut. Menurutnya, Metta merupakan salah satu aplikasi dari rumus yang telah ia berikan sebelumnya, yakni Contribution. Ia ingin membagikan sekecil apapun yang ia miliki atas dasar cinta kasihnya dengan harapan makluk apapun yang menerimanya akan senantiasa berbahagia. Tindakan lain yang bisa dilakukan dalam mengembangkan metta adalah melalui Metta Bhavana (meditasi dengan menggunakan objek pancaran cinta kasih yang universal). Sukses terus Hokki! Semoga bisa selalu menjadi inspirasi bagi seluruh pembaca. Sadhu Sadhu Sadhu.

Terakhir, Hokki membagikan salah satu quotes favoritnya dari Founder of Alibaba Group, Jack Ma: “I told my son: you don’t need to be in the top three in your class, being in the middle is fine, so long as your grades aren’t too bad. Only this kind of person has enough free time to learn other skills”.

22

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Desa Binaan

Oleh Kevin Noventa (FT 2016)

D

esa Binaan atau yang akrab disingkat “desbin” adalah kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh Komisi Pengabdian Mayarakat KMBUI di desa sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Desa Binaan 2018 mengangkat tema “Dedikasi Bermanfaat” dan memiliki misi-misi untuk mengabdi kepada masyarakat, memberikan pendidikan, dan juga pembangunan ekonomi bagi warga Dusun Krecek. Kevin Noventa selaku Project Officer Desa Binaan tahun ini mengemukakan, “Kami berusaha mengadakan community development, yakni pemberdayaan masyarakat agar masyarakat berkembang dari sisi sosial, ekonomi, dan sektor lainnya. Karena

jika community service itu seperti baksos, cuman ngasih sesuatu terus ditinggal, efek dari kitanya itu sebentar.”, “Jenis kegiatan sosial ada dua macam, yaitu community service dan community development. Kami mengadakan community development, yakni pemberdayaan masyarakat agar masyarakat berkembang dari sisi sosial, ekonomi, dan sektor lainnya, dengan kata lain yaitu efek jangka panjang. Kalau community service, merupakan acara sosial yang efeknya pendek, contohnya seperti baksos.” Desa yang dikunjungi tahun ini adalah Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Temanggung. Jadwal Desa Binaan sempat berubah

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

23


PARAPLUS dari tanggal 2 Juni 2018 s.d. 8 Juni 2018 menjadi 25 Agustus 2018 s.d. 30 Agustus 2018. Kegiatan desbin kali ini diikuti oleh 35 peserta yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Universitas Indonesia angkatan 2016 dan 2017. Kegiatan yang dilakukan oleh peserta selama 6 hari di sana berupa kegiatan mengajar anak-anak sekolah minggu, pelatihan tentang pengolahan dan pemasaran biji kopi, Dhammasekha, pesta rakyat, mengajar PAUD, bermain voli, kerja bakti sosial yang berupa membongkar salah satu rumah warga, sosialisasi PHBS dan masih banyak lagi. Komisi Pengabdian Masyarakat juga mengundang dua pembicara yang ahli dalam masing-masing bidangnya. Pembicara pertama yang diundang adalah Pak Anas Hana Purwanto. Beliau adalah founder Temanggoeng Coffee yang memberikan pelatihan tentang memproses biji kopi yang benar dan baik. Di lain pihak, Pak Andika

24

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

Ajie selaku founder Dewaji Coffeee Lab membeberkan cara pemasaran yang baik sembari ingin membantu warga dalam memasarkan hasil panen biji kopi mereka. Acara desa binaan diakhiri dengan pesta rakyat yang spektakuler. Terdapat penampilan kuda lumping dari rakyat dusun krecek dan diakhiri dengan pentas drama oleh mahasiswa/I KMBUI. Sebelum acara selesai, lampu di sekitaran lokasi mati dan tiba-tiba mahasiswa/I masuk membawa lilin dan menyanyikan lagu perpisahan buatan mereka sendiri sebagai ungkapan terima kasih mereka kepada warga dusun krecek. Sambil bernyanyi, video tentang kegiatan mereka pun juga ditayangkan bersamaan. Sebagian warga senang hingga terharu atas aksi tersebut. Keesokan harinya, mahasiswa/I KMBUI berpamitan kepada seluruh warga Dusun Krecek. Mereka balik ke Jakarta dengan pengalaman baru dan wajah-wajah yang senang.


PARAVIEW Metta Ratana, mahasiswa lulusan S1 Public Relations di Universitas Binus dan sekarang sedang menempuh pendidikan Master of Communication di London School of Public Relations. Metta Ratana atau yang lebih dikenal dengan Metta Mini ini merupakan pendiri dari MettaMini Gallery (ig : @mettaminigallery). Metta Mini, seperti namanya, menyebarkan Metta kepada orang-orang yang berada disekitarnya, dan juga kepada orang lain melalui berbagai kegiatan sosial. sumber: instagram.com/mettamini

Berhubung nama Cici adalah bener ya kayaknya namanya Metta nih, apakah nilaihehehe. Tapi pasti setiap nilai Metta memang sudah orang tua punya maksud di ditanamkan oleh keluarga cici balik memberikan nama untuk sejak kecil? anaknya, tak terkecuali orang tuaku. Jadi kupikir, kedua “Ngomong-ngomong, nama orang tuaku ingin agar aku bisa asliku bukan Metta Mini mengembangkan cinta kasih ya, hehe, tapi Metta Ratana, seperti permata memancarkan Metta berarti Cinta Kasih, sinarnya. Gitu dehh.. dan Ratana berarti Permata, Nah, Metta sendiri itu jadi kalo digabung menjadi sebenarnya apa sih artinya, Permata Cinta Kasih. Berat aku sendiri juga masi belum

yakin bener sama definisi yang benar itu kayak apa. Lahir di keluarga Buddhis, yang aku tahu arti Metta adalah cinta kasih universal, tanpa syarat, kepada semua makhluk, tanpa mengharapkan imbalan, may all beings be happy. Kata Metta sendiri itu menurutku susah banget untuk di praktikkan, bayangin aja susahnya mencintai makhluk yang tidak tertampak, tidak usah yang

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

25


PARAVIEW

tidak tertampak de, mengasihi musuh kita aja kita belum tentu bisa. (I’m still learning on it too! HAHAHA). Jadi buat aku sendiri, mungkin Metta di kehidupanku bisa aku definisikan dengan bisa membuat diriku dan orang sekitarku bahagia dengan kehadiranku, or at least mereka tidak menderita karena pikiran, ucapan, atau perbuatanku. Nilai-nilai Metta yang diajarin di keluarga sejak kecil kurang lebih diajarkan dalam bentukbentuk sederhana seperti, kita harus mengambil inisiatif untuk membantu orang lain, harus peduli tidak boleh cuek. Saat orang lain membutuhkan, kita harus sigap dalam membantu. Dalam memberi kita harus memberikan yang terbaik dan dengan cara yang baik. Semisal, aku masih ingat dulu kalo mau kasih sedekah ke pengemis di jalan, aku harus sambil jongkok atau nundukin badan minimal, bukan dengan cara lempar uangnya dari atas, jadi memberi itu bukan cuman sekedar materinya tapi how to put the love on it too! Selain itu, dari kecil kalo kita merasa ada orang yang jahatin kita, kita ga boleh balas apalagi sampai mengharapkan dia celaka. Ga boleh menyiksa binatang, suka fangshen dan masih banyak lagi.”

"I believe, happiness is not something ready made, it comes from your own thoughts and actions." 26

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

Di bio IG Cici dan CV Cici ada tagline “Inspiration Seeker and Happiness Maker”. Apa maksudnya? “Inspirasi disini itu kan kayak ilham ya, hahaha, sesuatu yang menggerakan hati untuk menciptakan atau berbuat sesuatu. Nah dalam hidup aku pikir kita tidak boleh berhenti mencari inspirasi, baik dari dalam maupun luar diri kita. Ilham untuk apa? Ilham untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik lagi. Caranya gimana? Dengan memberikan perhatian kepada diri sendiri dan juga orang lain. Dengan sadar apa yang harus terus dilatih dan diperbaiki maka hidup seseorang akan terus bergerak ke arah lebih baik lagi. Di sisi lain, happiness maker berarti pembuat kebahagiaan. I believe, happiness is not something ready made, it comes from your own thoughts and actions. Jadi aku selalu berusaha untuk menciptakan kebahagiaan buat diriku sendiri dan juga orang sekitarku. Semoga demikian adanya ya. HAHAHA.” Bagaimana pandangan ci Metta tentang Metta itu sendiri. Menurut pandangan ci Metta kenapa kita harus menerapkan Metta dalam keseharian kita? “Ada sebuah pepatah mengatakan. If you like the flower, you’ll pick it up. If you love the flower, you’ll water it daily. Metta juga sama, kalo kamu mencintai sesuatu bukan berdasarkan ego, cinta kasih disini, tidak bersayarat dan tidak mengharapkan balasan. Dalam Karaniya Metta Sutta tertulis, cinta kasih Metta diibaratkan sebagai cinta seorang ibu mempertaruhkan

jiwanya untuk melindungi putra tunggalnya. Dan dalam praktiknya ini tidaklah mudah. Jadi sama seperti jawaban di nomor 1, buat aku sendiri, mungkin Metta di kehidupanku bisa aku definisikan dengan minimal bisa membuat diriku dan orang sekitarku bahagia dengan kehadiranku, or at least mereka tidak menderita karena pikiran, ucapan, atau perbuatanku. Kenapa harus mengembangkan Metta dalam keseharian kita? Menurut Sang Buddha, ada beberapa manfaat yang dapat dirasakan ketika mengembangkan Metta, diantaranya tidur dengan tenang, wajah berseri-seri, tidur nyenyak, dicintai banyak orang, disayang makhluk lain, kebal terhadap ilmu hitam, akan dilindungi dewa, mudah memusatkan pikiran, meninggal dengan tenang dengan wajah berseri. Kayaknya semuanya pasti mau kan manfaat ini, jadi yuk sama-sama berlatih mengembangkan Metta.”

"If you like t h e f l o w e r, you’ll pick it up. If you love t h e f l o w e r, you’ll water it daily."

credit: PicsArt


Bagaimana dampak dari mengembangkan Metta terhadap hidup ci Metta? Apakah untuk pencapaian Cici sampai sekarang ini, Metta memegang peranan penting dalam pencapaian tersebut? “Dengan mengembangkan Metta di hidupku itu membuat aku lebih bahagia, punya hubungan interpersonal yang baik dengan orang-orang sekitar, dan lebih merasa hidup bermanfaat, dan tidak menjalani hidup dengan penyesalan. Menurutku Metta memiliki peranan cukup penting untuk aku yang sekarang. Kan ada namanya tuh law of attraction, nah pas sehari-hari kita berusaha ngisi dengan penuh cinta, sadar tidak sadar orang-orang yang ada disekitar kita juga orang-orang yang pasti penuh cinta juga, penuh Metta. Karena hal itu, orang-orang disekitarku juga selalu support, selalu sayang, dan selalu kasih dampak yang positif, yang membuat aku bisa mengapresiasi diriku dan juga terus berusaha untuk jadi yang lebih baik lagi.�

VENI, VIDI, AMAVI

PARAVIEW

Bagaimana ci Metta mengembangkan Metta dalam kehidupan sehari-hari dan motivasi ci Metta dalam mengembangkan Metta? “Ada lima belas nilai-nilai kebajikan dalam Karaniya Metta Sutta yang penting bagi seseorang yang ingin mengembangkan cinta kasih. Beberapa diantaranya yang sudah mulai dipraktikan adalah cakap (berusaha keras dalam penghidupan dan dalam melakukan kebajikan), jujur, tulus, rendah hati, tidak sombong, merasa puas, dan tahu malu. Sisanya bisa dilihat di Karaniya Metta Sutta ya! Hehehe. Mengembangkan Metta menurutku bisa dimulai dari hal sederhana, pertama adalah mencintai diri sendiri terlebih dahulu, berdamai dengan diri sendiri, kemudian baru kepada yang lain, mungkin kamu bisa berbagi senyuman yang tulus hari ini, mengapresiasi kebaikan orang lain, dan memberikan perhatian kepada orang-orang terdekat. Motivasi mengembangkan Metta juga sebenarnya sederhana, do not do to others if you don’t want others do unto you, and do to others if you want other do to you. Nah dalam mengembangkan Metta dalam kehidupan sehari-hari diperlukan juga kebijaksanaan, apa yang kita pikir dapat membahagiakan orang belum tentu membahagiakan orang tersebut.�

PARAMITA

27


PARAVIEW

Sebagai seorang illustrator apakah ci Metta ada menyisipkan nilai-nilai Metta ke dalam karya-karya Cici? “Sure, I’ll always put the love inside it! Setiap kali buat ilustrasi itu umumnya kan di buat untuk hadiah, misal buat ulang tahun, wedding, anniversary, atau graduation. Nah, dalam proses pengerjaannya aku selalu buat sebaik mungkin dan tepat waktu supaya orang yang terima ilustrasinya itu bener-bener happy. Ga cuman dalam karya tapi hubungan kita sama klien dan muridku juga diusahakan selalu dalam hubungan yang baik, hubungan yang positif, dan saling mendukung satu sama lain.”

Apakah ada pengalaman Ci Metta yang menarik berkaitan dengan Metta? “Aku punya dua pengalaman yang menarik nih!

sadar air mata sudah netes aja, terharu banget. Kadang kita ga sadar perhatian kecil, kehadiran kita aja bisa buat mereka bahagia. Apalagi kalo kita bisa berbuat lebih buat mereka.

Cerita pertama itu, waktu aku jadi project manager event Cerita kedua, beberapa bulan sosial DV SOS 2015 untuk lalu aku di ajak buat partisipasi tunanetra. Kami mengadakan kasih donasi ke teman-teman di kunjungan ke salah satu panti Papua oleh salah satu temanku di Jakarta. Pada kesempatan yang mau pergi ke sana. Hari itu itu, kami belajar huruf Braille, aku kepikiran gimana kalau buat saat itu aku masih inget banget buku tulis tapi bukan buku tulis ada salah satu penghuni panti biasa, jadi aku buat covernya itu yang tunanetra menulis pake ada ilustrasi anak Papua, mereka huruf Braille, yang isinya: “Aku bisa tulis nama dan cita-cita senang banget kakak-kakak bisa mereka, ada table perkalian berkunjung ke sini, karena bi- pembagian, dan ada surat yang asanya dia merasa sepi di sana.” aku tulis di dalamnya. Nah Sambil itu kan hari pertama aku ninggalin alamat emailku belajar huruf Braille, sambil di hanya untuk kalo mereka raba satu demi satu hurufnya, ga sewaktu-waktu mau bertanya atau kontak mereka mudah gitu ya. everything with a good will. Start it Berdasarkan cerita temanku itu, mereka well, end it well. Dari pengalaman bagiinnya di bukit-bukit yang jauh banhidupku sejauh ini, misalnya, banyak get dari akses internet. Tapi, bulan ini, orang yang sudah belajar mati-matian, tiba tiba aku dapet email gitu dari salah dapet dosen rese eh nilainya dijelekin, satu adik yang dapet bukunya. Namanya tapi setelah bekerja ketemu dengan Achter. Isinya kurang lebih dia berterrekan kerja yang baik, akhirnya dia ima kasih banget sama bukunya dan bisa jadi sukses. Kalo kata pepatah tuh, termotivasi untuk giat belajar. I’m so orang yang jahat, meski bencana belum happy to receive that email. Sekali lagi, tiba tapi rejeki sudah mulai menjauh. segala perhatian yang kita curahkan Orang yang baik, meski rejeki belum dengan sungguh-sungguh itu pasti bisa tiba tapi bencana sudah mulai menjauh. membawa manfaat buat yang lain.” Jangan lelah berbuat baik. So, universe will conspire to make the good things Apakah ci Metta ada tips/nasihat happen. Karena hidup yang panjang untuk mengembangkan Metta? belum tentu baik, tapi hidup yang baik “Karena aku masih belajar juga nih. aku selalu cukup panjang. Buat hari ini ga punya tips dan nasihat khusus. Tapi penuh manfaat!” let’s start with the small things around us. Mulai dari hal mudah, belajar Apakah ci Metta ada pesan untuk peduli, bergaul dengan orang-orang teman-teman mahasiswa di KMBUI? yang mendukungmu melakukan banyak “You are in the right place! Hari ini kebajikan.” berkumpul dan bergaul dengan orangorang yang mengenal sila dan Dhamma, Apakah hal terpenting yang menurut adalah sebuah karma baik dan berkah ci Metta harus dimiliki generasi muda yang amat luar biasa! Jangan sia-siakan Buddhis di Indonesia? kesempatan kalian di KMBUI, do some“Jadi pintar, terampil, kerja keras, punya thing today that your future self will mimpi itu wajib dimiliki sebuah generthank you for! Love you, guys!” asi muda. Tapi generasi muda Buddhis harus punya satu nilai lain, yaitu senang melakukan kebaikan. You have to start credit: PicsArt

28

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAMEDIC

KEBIASAAN BURUK BAGI GIGI? Memangnya ada ya? Oleh Kezia Amelinda Prayogo (FKG 2016)

B

eberapa orang cenderung mengabaikan kesehatan gigi dan mulutnya. Apakah Anda salah satunya? Ternyata, ada beberapa kebiasaan buruk yang dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan gigi. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Jadi, ayo hindari dan cegah beberapa kebiasaan buruk ini untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut Anda beserta orang-orang yang Anda cintai!

1. Kurangnya kesadaran untuk menyikat gigi dua kali sehari dengan benar. Tahukah kamu, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, kebiasaan benar menyikat gigi penduduk Indonesia hanya 2,3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum menyikat gigi dengan benar. Kurangnya kesadaran untuk menyikat gigi di waktu yang tepat dan dengan cara yang benar dapat menimbulkan berbagai macam masalah mulut, misalnya gigi berlubang dan bau mulut. Menyikat gigi yang terlalu keras juga tidak baik karena dapat merusak gigi dan melukai gusi.

Sumber gambar: https://www.acomarket.ro/blog/cat/view/identifier/utile/page/utile//?dir=asc&order=user&p=3

2. Mengunyah es batu Kebiasaan yang satu ini mungkin cukup sering ditemui. Kebiasaan memakan es batu ini dapat menyebabkan gigi terkikis atau bahkan pecah. Tidak hanya itu, apabila sudah terdapat tambalan, maka tambalan pun dapat berpotensi pecah. Selalu ingat bahwa risiko mengunyah es batu lebih besar daripada kenikmatan yang didapat dari mengunyah es batu! VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

29


3. Menggunakan gigi sebagai alat bantu

PARAMEDIC

Kebiasaan yang ini mungkin sulit dipahami pada awalnya. Namun, salah satu contoh kebiasaan yang berkaitan dengan ini adalah membuka kemasan makanan menggunakan gigi. Gigi diciptakan untuk mengunyah makanan dan tidak bisa dijadikan pengganti gunting atau membawa sesuatu saat tangan Anda penuh. Kebiasaan ini meningkatkan risiko pecah atau retaknya gigi, melukai rahang, dan menelan sesuatu yang tidak seharusnya Anda telan. Oleh karena itu, cobalah berhenti menggunakan gigi sebagai alat bantu dan cobalah untuk mencari alat bantu lain, misalnya membuka kemasan makanan menggunakan gunting atau membuka tutup botol dengan pembuka tutup botol.

4. Merokok Tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan ini cukup banyak terjadi dimasyarakat. Dampak dari merokok pun tidak hanya pada kesehatan tubuh saja, tetapi juga pada kesehatan gigi dan mulut. Merokok telah terbukti menyebabkan beberapa masalah kesehatan gigi dan mulut, misalnya bau mulut, gigi berubah warna, penyakit periodontal, dan gigi berlubang. Oleh karena itu, merokok merupakan salah satu kebiasaan buruk yang perlu dihentikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan gigi dan mulut. Sumber gambar: https://www.kisspng.com/png-periodontitis-disease-gums-periodontology-dentistr-420263/download-png.html#

5. Kebiasaan menggigit kuku Kebiasaan menggigit kuku biasanya dilakukan oleh orang yang sedang khawatir. Ternyata, kebiasaan ini dapat membuat masalah pada sendi rahang kita. Beberapa cara untuk mencegah hal ini, misalnya dengan memegang sesuatu agar tangan kita sibuk atau dengan mengurangi stress. Demikian lima kebiasaan buruk yang dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan gigi dan mulut. Akhir kata, jangan lupa untuk selalu cek kesehatan gigi dan mulut Anda secara rutin minimal enam bulan sekali dan mengonsultasikan ke dokter gigi apabila ada masalah seputar gigi dan mulut. Referensi Mouthhealthy.org. (n.d.). Worst Habits for Your Teeth - American Dental Association. [online] Available at: https://www. mouthhealthy.org/en/bad-habits [Accessed 9 Oct. 2018]. Qiao, F., Chen, M., Hu, X., Niu, K., Zhang, X., Li, Y., Wu, Z., Shen, Z. and Wu, L. (2017). Cracked Teeth and Poor Oral Masticatory Habits: A Matched Case-control Study in China. Journal of Endodontics, 43(6), pp.885-889. Almas, K., Al-Hawish, A., Al-Khamis, W. (2003). Oral Hygiene Practices, Smoking Habits, and Self-Perceived Oral Malodor Among Dental Students. The Journal of Contemporary Dental Practice, 4(4), pp.077-090. Qiao, F., Chen, M., Hu, X., Niu, K., Zhang, X., Li, Y., Wu, Z., Shen, Z. and Wu, L. (2017). Cracked Teeth and Poor Oral Masticatory Habits: A Matched Case-control Study in China. Journal of Endodontics, 43(6), pp.885-889. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Lap Nas 2013. 2013;1–384.

30

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Pelepasan Sarjana Baru Oleh Rama A. Wongso (FT 2017)

S

etiap satu semester, Universitas Indonesia mengadakan wisuda untuk seluruh mahasiswa UI yang telah menyelesaikan program studinya masingmasing. Acara ini berlangsung di setiap penghujung semester di Balairung UI, Depok. Acara wisuda UI ini menjadi salah satu ajang untuk KMBUI berkumpul kembali dan memberi selamat kepada wisudawan KMBUI pada saat itu. Untuk itu, kegiatan ini dijadikan sebagai program kerja Departemen HALO KMBUI yang disebut dengan PSB (Pelepasan Sarjana Baru). Pelepasan Sarjana Baru KMBUI adalah kegiatan yang diadakan untuk menyambut dan merayakan kelulusan senior KMBUI yang telah wisuda. Program kerja ini dimulai pada saat mereka selesai sidang. Pada saat itu, Departemen HALO KMBUI beserta teman-teman dari KMBUI bersamasama menyambut dan memberi selamat kepada senior yang telah selesai sidang. PSB KMBUI dilanjutkan pada saat hari wisuda. PSB kali ini diadakan di hari Jumat,

31 Agustus 2018 dan Sabtu, 1 September 2018. Pada saat itu, seluruh mahasiswa anggota KMBUI yang telah terdata didaftar wisudawan KMBUI diundang oleh HALO untuk mengunjungi stand PSB KMBUI yang terletak di lingkungan Rotunda UI. Para wisudawan KMBUI juga diberikan berbagai souvenir dan kartu ucapan. Kemudian, ajang PSB KMBUI dilanjutkan dengan sesi foto-foto. Kegiatan PSB ini memiliki tujuan agar hubungan antara mahasiswa anggota aktif KMBUI dengan para mahasiswa yang telah lulus menjadi semakin erat. Selain itu, kegiatan PSB KMBUI ini dapat menjadi sarana untuk para mahasiswa berkenalan dengan senior KMB yang lain. Mahasiswa baru juga berkesempatan untuk bertemu dengan wisudawan serta anggota KMB yang lain saat PSB KMBUI. Dengan adanya kegiatan ini, kami semua memiliki harapan agar wisudawan KMBUI dapat terhibur dengan perayaan ini serta dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan yang lebih erat di KMBUI.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

31


9

PARAFICTION

Another Starting Point 9 Oleh Victoria Diora Artha (FH 2017)

D

ari kecil, aku suka sekali dengan angka sembilan. betapa gembiranya aku ketika menginjak usia ke9, padahal tidak ada perubahan berarti, kecuali bertambahnya umurku. Ketika akan mengakhiri usia ke-9, jiwa kanak-kanakku merasa sedih karena aku harus menunggu 10 tahun lagi untuk bertemu dengan angka 9 pada umurku. Hari berganti hari, berubah menjadi bulan, tahun, dan akhirnya satu dekadepun berlalu. Sejujurnya, aku sempat lupa kalau aku pernah sesuka itu dengan angka 9, dan aku tidak begitu senang saat ulang tahunku akan segera tiba. Aku yang sudah berumur 18 tahun berpikir bahwa ulang tahun hanyalah satu hari dengan tiupan lilin, potongan kue, ucapan dan sorakan teman-teman, tidak lebih dari itu. Mungkin aku pesimis dengan hari ulang tahun, aku berpikir bahwa ulang tahun tidak bisa menjamin aku akan bahagia di hari itu. Walaupun aku begitu menghindari bertambahnya hari, Sang Waktu tak pernah berjalan mundur, dan juga tak akan berhenti. Hari ulang tahunku pun tiba, ketukan di

pintuku membangunkanku dari tidur yang rasanya cukup lama, dan berdirilah temantemanku di hadapan, memegangi piring berisi kue kering dengan beberapa tancapan lilin. Serentak mereka menyanyikanku lagu ulang tahun dan menyuruhku meniup lilin. Setelah perayaan kecilkecilan tersebut, aku mengamati satu per satu wajah lelah mereka. Teman-teman yang baru kukenal selama satu tahun dan telah menemaniku selama ini, dengan wajah lelah, mengantuk, tetapi tak dapat menyembunyikan kegembiraan mereka saat itu. Di hari ulang tahunku saat itu, ada rasa hangat yang menjalariku, kalau rasa hangat tersebut bisa aku jelaskan dengan satu kata, mungkin kata itu adalah cinta. Lagi dan lagi aku merasakan hangat itu, melihat teman-temanku bermain peran untuk mengejutkanku dan temanku dengan sebuah kue.

18 Setelah kupikir-pikir, ulang tahun memang hanya sekadar hari, dan hari tersebut bisa menjadi spesial atau tidak menurut masing-masing orang. Pada tahun ini, rasanya aku mendapatkan sebuah kesadaran mengenai makna spesial dari ulang tahun, mungkin karena kehadiran orang-orang baru di hidupku pada umur 18 yang lalu dan merekalah yang selalu menemaniku memasuki lembaran baru dalam hidupku. Bersama mereka juga, aku bertemu dengan Dhamma.

32

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


19

PARAFICTION

Hari ulang tahunku yang ke-19 ini pun kututup dengan indah dengan kesadaran bahwa hari ini adalah hari peringatan aku datang ke dunia ini, melewati 19 tahun hidup penuh tawa dan tangis, merasakan cinta tetapi juga lara, dan memperingati bahwa setahun telah berlalu sejak ulang tahunku yang terakhir, hingga menyadari ternyata banyak sekali hal yang berubah. Dimulai dari memasuki lingkungan baru dengan jiwa pesimis dan melekat dengan zona nyaman terdahulu, hingga akhirnya aku bisa mulai membuka diri dan hati, kemudian menyadari bahwa aku telah menemukan rumah baru yang kembali mengajariku cara mencintai. Cinta yang hadir dalam tawa, perjalanan pulang

setelah rapat di malam hari, sekadar mengobrol dan makan bersama di dekat kos, mengikuti sebuah acara hanya untuk bertemu teman, atau rapat yang berujung jalan-jalan. Cinta juga hadir dalam sebuah tepukan punggung yang mengatakan semua akan baik-baik saja ketika semuanya seperti jatuh berantakan. Hari-hari yang kulewati bersama mereka juga merupakan hari-hari di mana aku bertemu dengan Dhamma yang telah mengajariku bahwa ada cinta yang lebih besar lagi yaitu belajar mencintai semua makhluk.

Aku kembali menyongsong umur baru seperti estafet, mengantar angka 18 dan menjemput umur ke-19. Dan suatu saat nanti pasti akan ada masa ketika aku akan kembali meninggalkan rumah, menemukan zona nyaman lain, bernaung di sana sejenak dan akhirnya berpindah lagi, sebab itulah kenyataan hidup. Namun yang kuyakini dengan pasti, cinta itu selalu ada, asal kita selalu membawanya ke mana pun kita pergi dan berpindah. Mungkin tulisan ini adalah tulisan yang akan mencerminkan perasaanku dalam rumahku sekarang. Aku datang ke rumah ini, menemukan persahabatan, dan belajar mencintai. (VIN/AND)

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

33


PARASPECTIVE

LGBT

Lesbian , Gay , Bisexual , Transgender Oleh Harvin (FH 2016) dan Eddie Susanto (FT 2017)

Maraknya Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) sangatlah terkait dengan tren negara-negara liberal yang memberikan pengakuan dan tempat bagi penyandang LGBT di tengah masyarakat sekarang ini. PERSEPSI PUBLIK TERHADAP LGBT (2016 - 2017) 58,9% mendukung*

negara yang melegalkan perkawinan sesama jenis. kebebasan dan hak asasi menjadi dasar atas kebijakan tersebut.

* walaupun bertentangan dengan beberapa agama di Indonesia Saiful Mujani Research Center (SMRC)

LGBT sampai saat ini masih tidak dilarang secara tegas oleh hukum (kecuali di Aceh dan Palembang)

Ada beberapa kelompok yang membela kaum LGBT baik dari kalangan yang mengatasnamakan HAM sampai pembela dari kalangan agama. Namun, banyak juga bermunculan kelompok-kelompok penentang kaum LGBT. Beberapa lembaga resmi yang secara tegas menolak LGBT

1

2

3

4

LGBT DALAM PERSPEKTIF BUDDHISME Ajaran Buddha tidaklah pernah secara ekplisit membahas tentang LGBT. Seluruh umat Buddha memang diharapkan mematuhi pancasila Buddhis sila ke-3 yang berbunyi

“

Saya berusaha melatih diri untuk menghindari perbuatan asusila

1. Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) 2. Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia 3. Komisi Keadilan dan Perdamaian Waligereja Indonesia 4. Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, mereka setuju bahwa hak kewarganegaraan kaum LGBT harus tetap dilindungi dan tidak boleh ada tindakan diskriminasi maupun kriminalisasi terhadap mereka.

Ketika ada kesepakatan antara pria dan wanita yang melakukan hubungan seksual dan bukanlah hubungan zina, serta tindakan seksual didasari oleh ekspresi cinta, rasa hormat, kesetiaan dan kehangatan, maka perbuatan tersebut tidaklah melanggar sila ke-3. Dalam Buddhisme bisa kita katakan bahwa bila hubungan seksual itu baik apabila dilandasi oleh sifat dan emosi.

34

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


Pandaka

PARASPECTIVE

Seringkali disinggung oleh Vinaya dalam menggambarkan seseorang yang berperilaku seksual tidak tepat. Sering diterjemahkan sebagai banci atau homoseksual yang berperilaku seperti wanita. Juga mencakup orang-orang yang memilki kelamin ganda atau tidak sama sekali, laki-laki yang libidonya meningkat dengan menyerap air mani pria lain, atau melihat hubungan seksual orang lain, pria atau wanita dengan disfungsi seksual, seperti impotensi atau siklus haid yang tidak teratur, seksualitasnya terbatas secara fisiologis, atau mereka yang impoten secara seksual. ela iran sebagai a aka a ala hasil dari karma buruk an gagasan ba a en a i a aka berasal dari perilaku buruk dalam kehidupan sebelumnya adalah hal umum dalam literatur Buddhis. Jadi, sebenarnya istilah dari pandaka itu sangat luas an ti ak secara s esifik eru uk ke a a kau LGBT.

Di dalam Vinaya, dikatakan bahwa seorang pandaka tidak tidak boleh ditahbiskan menjadi seorang Bhikkhu, apabila secara tidak sengaja telah ditahbiskan, orang tersebut akan dikeluarkan dari kelompok Sangha, hal ini disebabkan karena para pandaka tersebut tak luput dari nafsu dan keinginan seksual. Namun, seperti yang kita ketahui Vinaya adalah peraturan untuk para Sangha, sehingga kurang relevan apabila digunakan terhadap umat Buddhis secara umum.

PENDAPAT DALAI LAMA

Pada tahun 2014, pada wawancara dengan Larry King Dalai Lama menentang adanya Homophobia dan menyatakan bahwa hubungan seks sesama jenis boleh dilakukan asalkan dilakukan secara konsensual. Menurut beliau, masalah perkawinan sesama jenis adalah kebijakan dari setiap negara dan sebenarnya merupakan urusan pribadi setiap orang.

If two people – a couple – really feel that way (LGBT) is more practical, more sort of satisfaction, both sides fully agree, then OK.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

35


PARASPECTIVE

LGBT HASIL SURVEI

jumlah responden: 109 anggota aktif KMBUI

Disclaimer : Survei ini dilakukan hanya untuk mengetahui pendapat dari anggota aktif KMBUI semata, dan tidak merepresentasikan pandangan umat Buddhis secara umum di Indonesia.

Menurut Anda, Apakah LGBT dilarang dalam Buddhisme?

Menurut Anda, Apakah perbuatan LGBT sepatutnya dilarang di Indonesia? 70,6% 13,8% 11% 3,6%

46,8% 41,3% 8,3% 3,6%

Tidak, selama hal tersebut tidak mengganggu orang lain, maka perbuatan LGBT merupakan masalah privat Ya, namun hanya apabila perbuatan LGBT tersebut dilakukan di tempat umum Ya, karena tidak sesuai dengan ajaran beberapa agama di Indonesia Lainnya

Tidak, LGBT tidak dilarang dalam Buddhisme Tidak tahu Ya, LGBT dilarang dalam Buddhisme Lainnya (netral, tergantung, mungkin, dll.)

Apakah Anda keberatan untuk berteman/bergaul dengan orang LGBT? 81,7% 11,9% 6,4%

Seberapa keberatan kah Anda apabila seseorang dari keluarga anda merupakan LGBT? 35 30

Tidak

25

Ya Lainnya (tergantung gender, selama tidak diganggu, dll.)

Apakah Anda mendukung LGBT untuk mendapatkan hak-hak mereka? 46,8% 45% 4,6% 3,6%

20 15 10 5 0 tidak keberatan

Ya Netral Tidak Lainnya

36

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

sangat keberatan


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Kunjungan Adik Asuh KMBUI Oleh Celine Kevin (FT 2016)

P

ada 7 Oktober 2018 lalu, Departemen OSR KMBUI telah mengadakan Kunjungan Adik Asuh kedua. Kunjungan Adik Asuh merupakan acara yang diselenggarakan untuk memperkenalkan adik-adik asuh KMBUI kepada anggota aktif KMBUI, serta untuk melakukan bonding antara adik asuh dengan anggota aktif KMBUI. Biasanya, kegiatan dilakukan dengan mengajak peserta (anggota aktif KMBUI) untuk mengunjungi adik asuh di Vihara Tri Maha Ratna, Desa Belimbing. Namun, kunjungan kali ini diselenggarakan dengan konsep baru. Kali ini, departemen OSR mengajak peserta untuk mengunjungi adik asuh KMBUI di Tangerang City Mall, Kota Tangerang. Pertama-tama, dilakukan pengangkatan adik asuh baru KMBUI sebanyak 6 orang oleh perwakilan Departemen OSR KMBUI XVI di Vihara Tri Maha Ratna, Desa Belimbing. Kemudian, adik asuh KMBUI tersebut (total 10 orang) beserta pengurus Vihara diajak pergi ke Tangerang City Mall. Disana, OSR mengonsepkan dua kegiatan, yaitu makan

bersama adik asuh yang kemudian dilanjutkan dengan games. Games yang dilakukan adalah shopping games. Adik asuh dan peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan diberikan list barang belanja dalam bentuk kode. Mereka harus bekerja sama untuk menebak barang apa saja yang harus dibeli. Setiap kelompok diberikan sejumlah uang dan diberi waktu satu jam untuk membeli semua barang yang tertera. Saat timer mulai dinyalakan, masing-masing kelompok berlomba untuk membeli semua barang yang tertera di list dengan pengeluaran seminimal mungkin. Semua barang-barang yang telah mereka beli kemudian diberikan kepada adik asuh KMBUI, misalnya alat tulis, topi, sandal, makanan, dan minuman. Dalam games ini, diharapkan adik asuh beserta peserta (anggota aktif KMBUI) bisa belajar untuk membeli barang berguna yang mereka inginkan dengan pengeluaran seminimal mungkin. Semoga dengan diadakannya kunjungan ini, anggota aktif KMBUI dapat lebih mengenal adik asuh KMBUI dan terjalin bonding yang lebih erat.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

37


Pemenang Lomba Menulis Artikel PARAMITA

PARAPLUS

Sudahkah Anda Menyebarkan Cinta Kasih dengan Media Sosial? Oleh Imora Kamul (KMB Universitas Bunda Mulia – Akuntansi 2017) Sang Buddha mengajarkan kepada kita cinta kasih yang universal. Dijelaskan dalam Mettā Sutta, Khuddakapāñha, Khuddaka Nikāya yaitu bahwa: “Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.”

Saat ini manusia semakin rendah rasa cinta kasih terhadap sekitarnya. Salah satu hal yang menjadi sarana penghancuran metta pada masa kini adalah melalui media sosial. Media sosial adalah tempat sosialisasi secara online. Media sosial yang dimaksud contohnya Instagram, Facebook, Twitter, dan lainnya. Semakin banyak pengguna media sosial menimbulkan semakin banyak pula hilangnya rasa cinta kasih pada manusia.

Masalah masyarakat Indonesia yang terjadi baru-baru ini adalah semakin bertambahnya pengguna sosial media yang menebarkan dukkha. Media sosial menjadi sarana masyarakat Indonesia berbagi foto, video dan pesan. Namun, akibat yang ditimbulkan dari foto dan video yang dibagikan tersebut, muncul rasa iri, cemburu, dan tidak puas dengan apa yang dimiliki. Pada akhirnya, pengguna media sosial tersebut menghujat, memaki, menjelekkan dan mengomentari kehidupan orang lain yang bahkan tidak mereka kenal. Perasaan orang lain tidak lagi menjadi bahan pertimbangan. Semua komentar kejam dilakukan tanpa rasa bersalah. Masyarakat mulai merasa menjadi yang paling benar. Masyarakat mengajak massa untuk menghujat, menghakimi, menjatuhkan orang yang belum tentu bersalah.

Sebagai contoh: Seorang pria menggunggah fotonya di instagram bersama mobil baru nya. Masyarakat akan mulai berkomentar "Pamer! Sok Kaya! Uang orang tua!” Komentar tersebut dikeluarkan saja oleh mereka tanpa mengkonfirmasi kebenaran. Mungkin saja mobil itu hasil bekerja kerasnya selama bertahun-tahun, atau warisan dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia. Seharusnya sebagai masyarakat Indonesia, kita menciptakan metta (cinta kasih) bagi semua makhluk. Kita tidak selayaknya mencampuri urusan orang lain, mengomentari hidup orang lain, membenci dan dengki dengan orang lain.

38

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


1

Berkomentar positif kep ada orang lain dan menghi ndari ucapan kasar, negatif dan buruk. Sebagai masyar akat Indonesia yang secara tradisi memiliki tutur kata baik dan sopan, maka masyar akat bisa memberikan kom entar positif, memberikan masukan dengan bah asa halus atau bahkan mem uji hasil karya orang lain. Tentunya selain memban gun cinta kasih (metta) , kita juga bisa sambil memban gun persahabatan (mitta).

4

nci, kan rasa be Menghilang ap ad rh te ru bu m iri, dengki, ce orang lain. ki ili m di apa yang deo foto dan vi Penyebaran ia ed m di sosial kehidupan culkan un em m terkadang ru ngki, cembu rasa iri, de usia. an m a m sa se dan benci kita asyarakat , Sebagai m syukur a as er m seharusnya yang dengan apa dan bangga tidak ita K . ki ili sudah kita m lam da r campu perlu ikut orang n pa du hi masalah ke lain.

PARAPLUS

Metta (cinta kasih) seharusnya bisa dikembangkan melalui media sosial. Kita bisa melakukan banyak hal baik melalui sosial media. Cara membagi cinta kasih melalui media sosial adalah :

3

2 Menyebarkan informasi yang sudah dipastikan kebenarannya, mengurangi fitnah dan gosip. Informasi yang diterima oleh masyarakat harus disaring, dipertimbangkan, dan dikonfirmasi kebenarannya. Banyak dari masyarakat Indonesia membiarkan informasi yang tidak benar bahkan menyebar informasi tersebut. Hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran nama baik, dan menimbulkan perdebatan.

dana an Mengumpulk hkan tu bu em m bagi yang ia sosial ed m i lu ela m penyebar. sebagai media yang l sia so ia ed M acuni er m semakin masyarakat pikiran manfaatkan di bisa gumpulkan en m k tu un ksi yang ne Ko dana. ruh dunia lu se di as lu para ah ud memperm na da penggalang mau ng ya g an or maupun berdana.

5

Menyebarkan pesanpesan motivasi , renung an harian atau kutipan kutipan yang bersifa t membangun cinta kas ih. Sebagai manusia yan g memiliki metta , ada baiknya memanfaatk an media sosial untuk menyebar metta. Salah satunya den gan memposting kata-kata motivasi, renungan har ian atau pesan mengen ai cinta kasih kepada sem ua makhluk.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

39


Nah itu dia cara-cara dalam menyalurkan cinta kasih melalui sosial media. Lalu apa yang akan kita peroleh setelah menyebarkan cinta kasih kepada semua makhluk?

PARAPLUS

VENI VIDI AMAVI

1. Rasa damai dan tentram Saat kita berbagi cinta kasih kepada orang lain, kita akan merasa damai, tentram dan bahagia. Sebagai contoh, saat kita memberikan komentar positif kepada orang lain, maka kita akan membangun hubungan baik dengan orang tersebut dan tidak terjadi permusuhan bahkan kebencian

2. Menabung karma baik Perbuatan baik tentunya membuahkan karma baik. Perbuatan jahat membuahkan karma buruk. Oleh karena itu, dibandingkan menyebar hoax dan mendapat karma buruk, maka lebih baik menyebar pesan renungan harian dan motivasi lalu memperoleh karma baik. Karma baik yang diterima memang tidak langsung dirasakan, tetapi percayalah bahwa karma baik akan membawa kita pada kehidupan yang lebih baik.

3. Membantu sesama manusia Selain menumbuhkan rasa cinta kasih, penyebaran metta ini juga bisa membantu sesama manusia. Misalnya saat ada orang yang membutuhkan bantuan dana, kita membantu menyebarkan informasi kepada orang sekitar kita.

4. Membangun semangat hidup manusia Pesan-pesan positif, komentar positif dan renungan yang kita bagikan bisa membantu orang-orang yang sedang mengalami putus asa dalam menjalani hidup. Kehidupan mereka bisa lebih termotivasi dan terpacu dengan dorongan pesan positif yang kita berikan.

Jadi, masihkah kalian menyalahgunakan media sosial? Masihkah kalian tidak sadar hal positif apa yang bisa kalian lakukan menggunakan media sosial? Siapkah Anda menyebarkan cinta kasih melalui media sosial? Karma baik menunggu kita semua.

40

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAFACTS

oleh Harvin (FH 2016)

?

Cinta pada pandangan pertama. Apakah kalian percaya dengan fenomena itu? Apakah benar kita bisa mencintai seseorang hanya dengan sekali pandang?

Kita tidak tahu apa yang disukai orang tersebut, apa pekerjaan dia, apa hobi dia, bagaimana sifat dia yang sebenarnya, dan hal lainnya. Lalu apakah pada saat itu kita benar mencintai orang tersebut? Atau apakah itu hanya nafsu belaka? Penulis pribadi tidak setuju dengan kalimat ‘Love at the first sight’ ini, kalimat tersebut akan lebih tepat jika dikatakan ‘Lust at the first sight’. Banyak anak muda yang tidak bisa membedakan kedua hal ini, maka dari itu kita sering mendengar istilah “Cinta Monyet”. Love Lalu pertanyaannya adalah, kapan perasaan yang timbul tersebut merupakan Love (cinta) dan kapan perasaan tersebut merupakan Lust (nafsu)? Sebenarnya cinta lust dan nafsu ini adalah dua hal yang sangat sulit untuk dibedakan. Namun, sulit untuk dibedakan bukan berarti tidak bisa dibedakan. Dalam artikel ini penulis akan mencoba untuk menjabarkan perbedaan-perbedaan antara cinta dan nafsu.

lust

Love

Cinta adalah perasaan kasih sayang yang lebih mendalam dan tulus. Dalam cinta Anda tidak menjadikannya sebagai pilihan, tetapi menjadikannya sebagai tujuan utama untuk mendapatkan cintanya. Dalam hubungan yang dilandaskan oleh cinta, ada rasa perhatian dan rasa hormat.

VS.

Nafsu hanyalah sebuah ketertarikan secara fisik atas penampilannya yang memukau. Keinginan yang Anda rasakan untuk bersamanya hanya bersifat sementara bertujuan hanya untukmendapatkan dirinya secara fisik.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

41


lust

PARAFACTS

Love Anda benar-benar menerima dia apa adanya.

Anda hanya berfokus hanya pada penampilan luar saja.

Anda akan selalu berusaha secara tulus untuk membahagiakan dia.

Anda lebih peduli terhadap bagaimana cara agar bisa memikat perhatian dia.

Anda tentunya ingin mengetahui pribadi dari seseorang yang akan mendampingi hidup Anda nantinya.

Anda tidak begitu tertarik untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai dia secara pribadi.

Tidak peduli seberapa sering Anda bertengkar ataupun berdebat, pada akhirnya kalian akan tetap bersama. Anda akan benar-benar menghargai ketika pasangan Anda berbicara kebenaran meskipun itu menyakitkan. Anda berani meminta maaf hanya untuk mempertahankan hubungan tersebut, dan hal tersebut akan semakin mendekatkan kalian.

Anda pasti kurang berinisiatif untuk memperbaiki hubungan tersebut, malah kadang menyalahkan pasangan Anda. Anda lebih memilih untuk mencari pasangan lain yang lebih baik.

Mungkin contoh-contoh yang diberikan di atas tidak bisa memberikan perbedaan yang definit antara Cinta dengan Nafsu. Namun, contoh-contoh tersebut setidaknya bisa memberikan gambaran mengenai perbedaan antara dua kata tersebut. Perbedaan antara cinta dan nafsu ini sangatlah penting. Dalam kehidupan sehari-hari, pada kenyataannya kita bisa melihat bahwa banyak pasangan yang sangat cepat putus, atau bahkan berselingkuh dalam berhubungan. Peristiwa ini bisa terjadi karena mereka berpasangan bukan atas dasar saling mencintai, melainkan karena nafsu semata (baik nafsu dari satu pihak maupun kedua belah pihak). Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kebanyakan hubungan, perasaan nafsulah yang menjadi awal dari terbentuknya perasaan cinta. Maka dari itu, kita harus bisa pintar-pintar memilah manakah perasaan yang merupakan cinta dan manakah yang hanya merupakan nafsu belaka serta manakah hubungan yang baik dan manakah hubungan yang buruk. Sebagai umat Buddhis, tentunya kita tidak boleh hanya memberikan cinta kita kepada pasangan, keluarga dan orang terdekat kita. Dalam Buddhisme, kita diajarkan untuk mencinta seluruh makhluk yang ada di dunia ini (Metta). Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta Semoga semua makhluk hidup berbahagia. (AND) Referensi https://www.dokter.id/berita/benarbenar-jatuh-cinta-atau-hanya-nafsu https://www.psychologytoday.com/us/blog/emotional-freedom/201108/lust-vs-love-do-you-know-the-difference

42

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAPLUS

KMBUI Inside:

PPMB

Oleh Tirta Hema (FASILKOM 2016)

dan berkembang berlandaskan Metta (cinta kasih) bersama-sama di dalam satu wadah, KMBUI. Dengan jumlah anggota terbanyak dibanding angkatan-angkatan sebelumnya, besar harapan kami bahwa angkatan 2018 bisa membawa KMBUI ke arah yang lebih baik. Hal inilah yang kami usahakan melalui rangkaian acara yang melatih kebersamaan dan kerohanian dari setiap anggota. “Ini rumah kita� Kata-kata itu selalu erat dengan KMBUI sebagai wadah bagi seluruh mahasiswa Buddhis di Universitas Indonesia. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa KMBUI akan selalu menjadi rumah bagi anggotanya. Setiap tahun KMBUI selalu kedatangan anggota-anggota baru. Siapakah mereka? Mereka merupakan mahasiswa baru UI. Tahun ini, angkatan 2018 beragama Buddha berjumlah 151 orang. Angkatan 2018 merupakan angkatan dengan jumlah mahasiswa terbesar di KMBUI. Sudah menjadi tradisi di KMBUI untuk menyambut keluarga barunya melalui rangkaian acara Penerimaan dan Pembinaan Mahasiswa Baru KMBUI. Dimulai dari penyambutan mahasiswa baru jalur undangan dan jalur tulis, menemani selama kamaba, mengisi kegiatan rohani di setiap fakultas, dan ditutup dengan acara puncak bernama Family Gathering yang diadakan di Pondok Sadhana Amitayus. Melalui rangkaian selama lebih dari 3 bulan ini, kami membantu para mahasiswa baru untuk dapat beradaptasi di lingkungan kampus dan mengenalkan KMBUI sebagai rumah baru mereka di lingkungan baru mereka. Bertajuk With Metta We Grow Together, kami berharap KMBUI angkatan 2018 bisa bertumbuh

SABBAMITTO SABBASAKHO SABBABHUTANUKAMPAKO METTAM CITTANCA BHAVEMI ABYAPAJJHARATO SADA Aku adalah teman dan siap menolong semuanya; Aku bersimpati kepada semua makhluk hidup. Aku mengembangkan dengan penuh cinta kasih, dan selalu bergembira dengan kebaikan. (Theragatha. 648) Seluruh rangkaian PPMB KMBUI 2018 telah berakhir dan berjalan lancar. Kami selaku Panitia PPMB KMBUI 2018 berterima kasih kepada seluruh angkatan 2018 yang sangat antusias mengikuti rangkaian PPMB dan seluruh pihak yang sudah membantu berjalannya acara ini. Semoga karma baik selalu menyertai anda semuanya. Selamat datang keluarga baru kami, KMBUI angkatan 2018. Selamat berkarya dan membangun rumah baru kalian. KMBUI! ini rumah kita ! VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

43


3

PARATRAVEL

TOP

INSTAGRAMMABLE SPOT DI BANDUNG

Oleh Edwin Lawisan (FASILKOM 2016)

#JelajahiBandung

Samporasun! Kumaha, damang? Semoga baik-baik saja, ya! Jadi kali ini kita akan kongkow tentang kota Bandung…ya, Bandung! Pernahkah kamu ke Bandung? Seberapa akrabkah kamu dengan pelataran Kota Bandung? Mungkin banyak yang pernah ke Bandung, baik untuk menyicipi kuliner pecinan di Cibadak, belanja ke Paris Van Java, main-main ke Lembang, maupun studi di sana. Tapi semua kurang jika tidak ada yang bisa dipost ke Instagram atau ke social media lainnya, apalagi kalo mau pamerin foto couple ke temen-temen, yang jomblo tetap baca ya… Penulis jomblo juga kok… Here is the top 3 tempat instagramable di Bandung!

Kawah Putih, Ciwidey

1

Bagi pecinta alam tentunya tidak akan absen dari tempat ini. Kawah Putih sendiri adalah sebuah kawah yang terbentuk akibat letusan gunung Pateha. Butuh hanya 2 jam dari Kota Bandung, yang penuh hiruk pikuk untuk kesana. Suhunya yang dingin, bau belerangnya yang khas, dan pemandangannya yang indah merupakan daya tarik bagi semua. Boleh barangkali liat sunrise/sunset disana.

44

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARATRAVEL

Forest, 2 Orchid Cikole Kalau yang ini lebih romantis lagi kawan-kawan! Tenang... foto sendiri juga bagus kok. Orchid Forest merupakan taman anggrek terbesar di Indonesia. Luasnya 12 hektar dan didalamnya dibudidayakan 157 jenis bunga anggrek. Ekowisata yang baru setahun dibuka ini bagai paket lengkap. Pemandangan alam asri dengan udara sejuk, instalasi sarana yang aesthethic, berbagai spot foto yang Instagramable, serta fasilitas dan sub destinasi yang beragam.

Memang Situ Cileunca ini adalah sebuah danau buatan yang fungsi utamanya adalah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Namin danau dan area seluas hampir 1.400 hektar ini berada di daerah dingin dengan latar belakang perbukitan dan pegunungan yang sungguh indah. Situ Cileunca ini adalah salah satu destinasi wisata yang mengandalkan panorama alam amboy nan aduhai dan bisa menjamin memuaskan hasrat ingin menyatu dengan alam. Hanya 2 Jam dari Bandung dan biaya masuk hanya seharga 3 ribu rupiah, Anda dapat menikmati pemandangan yang sungguh indah ini.

3

Situ Cileunca, Pangalengan

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

45


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Waisak KMBUI

Oleh Velysia Sanjaya (FEB 2016)

W

aisak KMBUI merupakan perayaan tahunan yang diadakan oleh KMBUI dalam rangka merayakan Hari Raya Waisak. Pada tahun 2018, Waisak KMBUI mengangkat tema “Reaching for The True Happiness”. Tema tersebut bertujuan untuk menyebarkan ajaran Buddha Dhamma tentang pencapaian terhadap kebahagiaan sejati dengan melepas kebahagiaan yang bersifat duniawi. Meskipun seseorang memiliki kuasa dan harta, namun dia tidak mencapai kebahagiaan sejati jika masih memiliki keinginan dan kemelekatan. Kebahagiaan sejati diperoleh dengan cara mengikis keserakahan, kebencian, kebodohan, dan menyadari eksistensi diri seorang individu. The 30th Annual Waisak KMBUI terdiri dari dua rangkaian acara. Rangkaian pertama dimulai dengan perhelatan KMBUI Cup pada bulan Mei 2018 yang terdiri dari Buddhis Quiz dan Badminton Competition. KMBUI Cup menjadi media kolaborasi antara Departemen Humas KMBUI dan Waisak KMBUI 2018. Tujuan dari perhelatan ini adalah untuk mengenalkan nilai-nilai budhis melalui ilmu pengetahuan dan meningkatkan sportivitas antar mahasiswa budhis se-Jabodetabek. Rangkaian kedua merupakan acara puncak yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2018, yaitu talkshow bersama Bhikkhu dan tokoh

46

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

inspiratif budhis. Pembicara yang dihadirkan meliputi Bhikkhu Dhammiko Thera, Wenny Lo, Arya Vandana, dan Victor Osman. Topik yang dibahas dari talkshow berkaitan dengan pencapaian kebahagian sejati dalam pandangan budhis dan sharing pengalaman kehidupan dari para tokoh inspiratif mengenai arti kebahagiaan dalam hidup mereka. Peserta yang menghadiri acara puncak berasal dari berbagai kalangan usia, KMB/Vihara/organisasi budhis, dan perwakilan UKM kerohanian Universitas Indonesia. Acara puncak juga dilengkapi dengan pertunjukan kesenian oleh Revadha Dance, Chriselda, dan KMBUI Vaganza. Sebagai penutup dari rangkaian acara, Waisak KMBUI telah memberikan donasi kepada para korban bencana tsunami PaluDonggala melalui Yayasan Tzu Chi dan sumbangan untuk pembangunan Vihara Karuna Bodhi di Bogor. Dana donasi diperoleh dari para donatur Waisak KMBUI 2018. Semoga acara ini dapat memberikan wawasan baru dan kebajikan bagi para peserta dan panitia dalam mencapai kebahagian sejatinya sedikit demi sedikit. “Tetes demi tetes air memenuhi penampung air. Demikian juga orang bijak mengumpulkannya sedikit demi sedikit, memenuhi dirinya dengan kebajikan.”


I came, I saw, I loved merupakan sebuah ungkapan yang mungkin terdengar cukup klise.

Why we should love?

Mungkin pertanyaan tersebut pernah muncul di benak Oleh : Elvina (FEB 2015) kita. Victor Hugo, seorang penyair dari Prancis mengatakan bahwa the greatest happiness of life is the conviction that we are loved; loved for ourselves, or rather, loved in spite of ourselves. Ralph Wardo Emerson mengatakan bahwa tujuan dari kehidupan yang kita miliki bukanlah untuk menjadi bahagia, melainkan untuk menjadi berguna, terhormat, penuh dengan kasih sayang, dan dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi diri sendiri, maupun orang lain. Hidup ini penuh dengan pilihan. Agar dapat membawa perubahan yang lebih baik, banyak keputusan yang harus diambil dari berbagai pilihan yang ada. Sebagai seorang manusia,

kita dituntut untuk menggunakan integritas yang kita miliki dan bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Lalu, bagaimanakah kita mengambil keputusan yang ‘terbaik’? Adakah standar untuk menentukan bahwa keputusan yang diambil sudah merupakan keputusan yang ‘terbaik’? Utilitarianisme merupakan salah satu teori mengenai etika dan moral, yang memandu bagaimana cara kita mengambil keputusan. Pendekatan utilitarianisme ini pertama kali dikenalkan oleh Jeremy Bentham, dan selanjutnya dikembangkan oleh John Stuart Mill. Prinsip ini menekankan kepada ‘The Greatest Happiness’, yang memiliki makna bahwa setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan harus mampu menghasilkan kebahagiaan dan manfaat terbesar bagi lebih banyak pihak. Dengan kata lain, kita menguantifikasikan setiap

PARATAMA

How We Should LIVE

Veni, Vidi, Amavi

kemungkinan yang ada, dan menentukan net goods dari setiap opsi yang memiliki net goods terbesar.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

47


PARATAMA

Karena yang diukur adalah dampak atau konsekuensi dari perbuatan kita, terkadang pendekatan ini melupakan atau kurang memperhatikan baik/buruknya tindakan kita. Salah satu contohnya adalah ketika salah seorang teman Anda sedang dicari oleh pembunuh bayaran, dan saat itu teman Anda sedang bersembunyi di rumah Anda. Saat pembunuh bayaran tersebut mendatangi rumah Anda, hal apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan berbohong demi menyelamatkan teman Anda? Kita semua tentunya mengetahui bahwa berbohong merupakan perbuatan yang tidak baik. Namun, apabila dengan kebohongan tersebut Anda dapat menyelamatkan nyawa teman Anda yang tidak bersalah, maka menurut pendekatan utilitarianisme tindakan atau perbuatan Anda sudah tepat. Contoh lainnya adalah trolley problem, yakni sebuah eksperimen mengenai etika. Anda melihat sebuah troli bergerak menuju lima orang yang terikat di rel kereta. Pada saat itu, Anda berdiri di samping tuas yang mengontrol arah jalannya kereta. Apabila Anda menarik tuas tersebut, maka troli tersebut akan dialihkan ke jalur lainnya, dan lima orang yang ada di jalur utama tersebut dapat terselamatkan. Akan tetapi, di jalur samping tersebut terdapat satu orang yang berbaring di rel tersebut. Anda memiliki dua opsi, di mana opsi pertama adalah Anda tidak melakukan apapun dan membiarkan troli tersebut melindas lima orang yang terikat, atau opsi kedua, di mana Anda menarik tuas dan mengalihkan troli ke jalur samping yang nantinya akan melindas satu orang tersebut. Apabila kita melihat secara kuantitas, maka sudah pasti kita akan memilih untuk menyelamatkan lima orang tersebut. Menurut pandangan utilitarianisme, tindakan tersebut tidak hanya tepat, namun juga merupakan tindakan bermoral. Namun, apabila dalam kenyataan yang ada ternyata lima orang tersebut adalah teroris, sedangkan satu orang tersebut ternyata adalah seorang warga negara yang baik, apakah pilihan yang Anda lakukan sudah tepat? Pendekatan utilitarianisme ini akan sangat sesuai saat kita harus mengambil keputusan dengan cepat. Namun, hal ini tidak menjamin bahwa keputusan tersebut merupakan keputusan yang tepat. Terdapat banyak sekali dilema yang mungkin akan kita hadapi dalam mengambil sebuah keputusan. Agar dapat mengambil keputusan yang tepat, luangkanlah waktu Anda untuk berpikir secara mendalam, dan pertimbangkanlah tindakan serta konsekuensinya dari berbagai opsi yang ada. Tentu tidak semudah seperti yang dijabarkan. Namun, sebagai manusia kita memiliki kemampuan khusus berupa integritas dan kebijaksanaan. Oleh sebab itu, manfaatkanlah sebaik mungkin hak tersebut agar dapat berdampak positif bagi diri sendiri maupun orang lain. (AND/VIN)

“This one life, make the most out of it. If you do it right, one life is enough to make a DIFFERENCE.� 48

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAVISION

My Home, My Family Oleh Anonim (FEB 2018)

H

ari-hariku dipenuhi dengan banyak soal-soal. Pagi, siang, malam, aku belajar. Hanya 1 tujuanku kala itu. Masuk ke Universitas idaman. Beratus-ratus ribu calon mahasiswa baru akan berjuang pada 1 hari yang akan menentukan masa depan mereka. Tidak peduli sakit, tidak peduli alasan apapun. Aku, harus, berjuang. Saat menunggu pengumuman penerimaan di kampus idaman, hatiku berdegup kencang, tidak sabar menunggu homepage yang terusku refresh. Muncullah namaku di layar, terpampang jelas, diterima, isinya. Oh sungguh, seluruh hasil kerja kerasku selama ini tidak berkhianat. Kabar baik langsungku kabarkan ke keluargaku yang menyambut dengan hangat. Kami merayakannya dengan makan banyak hidangan lezat. Perayaan kecil-kecilan dalam keluargaku. Oh, sungguh bahagia dan bangga diriku saat itu. VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

49


PARAVISION Satu bulan kemudian, sampailah aku di kota di mana aku akan dibentuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, meninggalkan daerah kota asalku, mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru. Aku ingat benar hari itu, memakai baju putih-hitam, layaknya mahasiswa baru pada umumnya. Selesai mendaftar ulang pun aku disambut di berbagai tempat, salah satunya adalah organisasi keagaamaanku. Aku pun awalnya hanya mengikuti arahan. Sebab jika tidak, aku akan menjadi sendirian, tanpa sepupu dan tanpa teman. Aku tidak punya satupun kenalan di sini, daerah kota asalku adalah satu-satunya tempat aku belajar, bergaul, bermain, dan bertumbuh kembang. Di stand tersebut, dalam hati aku awalnya berpikir, orang-orangnya aneh. Terbesitlah di pikiran bahwa aku tidak akan aktif dalam organisasi itu. Namun karena mahasiswa baru diwajibkan mengikuti rangkaian acara dari organisasi keagamaan,jadilah aku melanjutkan kegiatan di dalam organisasi itu, mengikuti sharing keagaamaan, olahraga bersama, acara jumatan, dan sampai puncak acaranya yang hingga menginap 3 hari dan 2 malam. Semua hal tersebut kulakukan hanya demi absensi. Sekarang, tidak pernah sekali pun aku menyesali datang ke stand keagamaan pada hari itu. Aku menemukan sahabat-sahabat sejatiku di sana. Awalnya aku hanya sendiri, diam di sudut segala ruangan, menerjang kehidupan kampus ini sendiri. Akhirnya, aku tidak merasa sendiri lagi. 50

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

Aku pun akhirnya menjadi panitia dalam berbagai acara organisasi tersebut. Disanalah aku mengenal semakin dekat teman-temanku yang setia dalam terang maupun gelap, susah maupun senang. Aku sangat bersyukur atas mereka. Mengenal mereka semakin dalam, salah satunya mengenai apa yang mereka suka dan tidak suka. Sebagai tanda balas budi atas mereka telah sayang kepadaku seperti aku pada mereka, suka duka mereka, aku tanggung juga. Keseharianku di perkuliahan kuhabiskan dengan mereka, terutama dengan teman-teman anggota organisasi keagamaan yang satu fakultas denganku. Pagi kuliah bersama, siang makan bersama, malam bersenang-senang bersama. Tiada satu hari pun tidak kuhabiskan bersama dengan mereka.

Kami sudah bagai setumpuk jerami yang diikat bersama, kuat bersama dan tidak pernah lepas. Namun, pilihan terberatku terjadi pada semester lalu. Saat aku memutuskan untuk berpindah fakultas, namun masih tetap dalam satu Universitas. Aku sudah sangat kesulitan mengikuti seluruh pelajaran di fakultasku kala itu. Orang tuaku pun sudah berserah pada keputusanku, asal aku lulus, minimal mendapat gelar sarjana S1. Sebab itulah yang diinginkan pada dunia nyata ini, dunia nyata yang kejam ini. Lalu terpikirkan olehku. Apa yang akan dikatakan oleh sahabat-sahabatku? Apa yang harus aku katakan kepada mereka? Aku pun tak sanggup mengatakan kepada mereka. Walau begitu, aku sudah bertekad dan tetap mendaftarkan diri pada seleksi masuk yang selanjutnya.


salah satu keputusan terberat dalam hidupku. Hening… Setelah beberapa saat, satu-persatu sahabatku mengirim pesan pribadi kepadaku, masih tidak percaya akan kabar yang baru saja mereka baca dalam grup tersebut, dan aku pun mengatakan bahwa itu benar. Aku – akan – pindah… Kesedihan pun kembali melandaku. Pikirku, habislah sudah seluruh pertemananku. Mereka semua akan meninggalkanku. Mereka tidak akan pernah memaafkanku. Segala kata-kataku untuk berjuang bersama. Aku tidak akan berjuang bersama dengan mereka lagi. Mereka tidak akan mempercayaiku lagi. Aku tidak akan pernah dapat bertemu dengan mereka lagi. Selamanya. Namun mereka mengatakan “Tidak apaapa, kami mengerti. Jangan khawatir, kami tidak akan meninggalkanmu. Kami akan selalu ada bagimu.” Tangis haruku mengalir tanpa henti. Sampai sekarang aku masih berteman baik

dengan mereka. Walau berbeda gedung, walau jauh jarak yang harus ditempuh untuk bertemu, aku masih bersama mereka. Tertawa bersama, makan bersama, belajar bersama, kapanpun ketika kita ada kesempatan. Inilah yang dimaksud dengan cinta bagiku, bersamasama, saling menerima, apapun yang terjadi. Teman yang bagaikan saudara kandung, sering bertengkar, saling menjelekkan, namun tidak pernah saling membenci, tidak pernah saling dendam. Sungguh indah apa yang dunia ini telah berkati kepadaku. A little message from me. Strangers come and go, they leave without warning. It hurts to lose people. Enjoy whom you are with now. But fear not, because best friends will always be there. Once a good friend, always a good friend. This writing is devoted to you, the people whom I have spent a fraction of my life with. My home, my family, I thank you to all of you. I love you. (AND/VIN)

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

PARAVISION

Ketakutan terbesarku pun akhirnya terjadi. Aku diterima lagi, Kesenangan awal saat diterima yang pertama kali sangat berbeda dengan saat yang kedua. Aku menangis tersedu-sedu, bukan karena terharu, namun karena sedih aku akan meninggalkan sahabat-sahabatku. Perasaan bingung pun melanda. Bagaimana aku akan mengatakannya pada sahabatsahabatku? Pertanyaan tersebut terngiang selama beberapa hari dalam pikiranku. Akhirnya kuputuskan akan aku sampaikan kepada mereka semua melalui group chat. Aku pun mengirimkan screenshot kelulusanku, kutunggu hingga mereka membalas pesan dariku. Lalu aku akhirnya memberanikan diri, mengirim bukti bahwa aku diterima kembali. Mereka pun tertawa. Mengatakan bahwa candaanku sangat berniat sampai mengubah isi halaman penerimaan tersebut. Aku pun meyakinkan mereka bahwa aku tidak bercanda, mengatakan bahwa ini adalah

51


PARAMEDIC

DARI MANAKAH METTA BERASAL? OLEH HANSEL T. WIDJAJA (FK 2015)

P

ernahkah kita melakukan metta dalam hidup kita? Mungkin kebanyakan dari kita akan mengatakan pernah. Namun, bagaimana sesungguhnya penjelasan ilmiah dari metta, yang merupakan salah satu ajaran Buddha? Metta, yang dalam bahasa Inggris disebut juga sebagai compassion, masih belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Compassion ini sudah diteliti oleh berbagai peneliti dan merupakan hal yang berbeda dengan empati maupun altruisme, walaupun ketiga hal ini berhubungan satu sama lain. Empati lebih mengacu pada kemampuan kita untuk ikut merasakan dan melihat perasaan yang dirasakan oleh orang lain, sedangkan compassion muncul 52

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

ketika hal tersebut diikuti dengan keinginan untuk membantu. Di sisi lain, altruisme merupakan tindakan yang muncul karena adanya rasa compassion, meskipun rasa compassion sendiri dapat muncul tanpa adanya altruisme. Jadi, dari mana munculnya compassion ini? Dacher Keltner menyatakan bahwa compassion adalah suatu bagian alami dari manusia yang telah berevolusi dan mengakar dalam otak dan kondisi biologis manusia. Ternyata compassion ini juga merupakan insting, yang berperan untuk melestarikan hidup. Insting ini terbukti dari penelitian pada balita dan simpanse yang dianggap terlalu muda untuk mempelajari


rendah. Kedua kehidupan tersebut samasama penuh kesenangan, namun yang kedua lebih terfokus pada membuat orang lain merasa senang, yang tentunya merupakan suatu tindakan compassion. Apakah compassion tidak dapat dilatih? Meditasi dapat meningkatkan kita untuk melakukan compassion ini. Hal ini telah dibuktikan oleh suatu penelitian di tahun 2008 oleh Cendri Hutcherson dan James Gross, bahwa meditasi selama 7 menit lamanya sudah cukup untuk meningkatkan kedekatan dengan target dari meditasi tersebut. Meditasi juga berguna untuk meningkatkan emosi dan pikiran positif, sehingga

PARAMEDIC

compassion namun dapat melakukannya. Mengapa compassion ini begitu penting dalam melestarikan hidup kita? Salah satunya adalah karena manfaat yang begitu besar terhadap kesehatan fisik dan mental, serta rasa well-being. Dengan melatih metta, penelitian telah membuktikan bahwa hal tersebut dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik, serta mempercepat penyembuhan penyakit, bahkan dapat memperpanjang usia. Bagaimana compassion dapat meningkatkan kesehatan mental kita? Ternyata dikatakan bahwa tindakan memberi dapat memberikan sensasi yang sama baiknya dengan ketika seseorang mendapatkan hal yang sama. Hal ini

“MEDITASI SELAMA 7 MENIT SUDAH CUKUP UNTUK MENINGKATKAN KEDEKATAN DENGAN TARGET MEDITASI TERSEBUT� juga telah dibuktikan dengan adanya aktivitas pada pusat kepuasan (pleasure center) di otak, yang teraktivasi pada saat seseorang melakukan compassion. Mengapa compassion baik untuk dilakukan? Ternyata, salah satu penelitian lainnya menyatakan bahwa tingkat peradangan menjadi begitu tinggi pada orang yang dengan tingkat stress yang tinggi. Sehingga, orang dengan hidup senang memiliki tingkat peradangan yang relatif lebih rendah. Pada penelitian tersebut, ditemukan bahwa pada orang dengan hidup penuh kesenangan (hedonis), tingkat peradangan tetap tinggi. Namun, pada orang dengan hidup penuh arti dan tujuan, tingkat peradangannya ditemukan

meningkatkan kepuasan akan hidup. Sebagaimana ajaran Buddha mengenai ehipassiko, artikel ini telah menyebutkan pendekatan metta secara ilmiah. Oleh karena itu, para pembaca dapat melatih dan mempraktikkan metta, serta membuktikan sendiri manfaatnya! (FAN/MAR)

Referensi: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/compassionate_mind_healthy_ body

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

53


PARAPLUS

LESSONS FROM TWO

SPIRITUAL GIANTS ON

JOY

Oleh Jilly Tagore (FK 2015)

Judul Buku Penulis Halaman Penerbit Tanggal Terbit Bahasa

: The Book of Joy: Lasting Happiness in a Changing World : Dalai Lama, Desmond Tutu, dan Douglas Carlton Abrams : 368 : Penguin Random House : 20 September 2016 : Inggris

S

iapa yang tidak mau bahagia? Tentu semua ingin berbahagia. The Book of Joy adalah transkrip dari hasil diskusi yang berlangsung selama 5 hari antara dua guru spiritual terhormat; His Holiness The 14th Dalai Lama dan Archbishop Desmond Tutu mengenai cara untuk mencapai kebahagiaan dan rasa puas (contentment) meskipun dihadapkan dengan situasi yang penuh duka. Buku ini juga mengajarkan tentang kerendahan hati, metta, dan ketenangan batin. Buku ini dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu sifat dari kebahagiaan sejati, tantangan menuju kebahagiaan, dan yang terakhir delapan pilar utama kebahagiaan. Kebahagiaan sejati (true joy) bukanlah perasaan senang dan tersanjung yang dirasakan sewaktu teman kita memuji: “Wow kamu kurusan ya!� True joy didefinisikan sebagai keadaan batin tenang seimbang yang senantiasa dapat dipertahankan. Dalam artian yang lebih luas, true joy akan membuat hidup kita lebih bermakna. Untuk mencapai kondisi true joyfulness, seseorang harus memegang teguh delapan pilar utama kebahagiaan: perspektif, kerendahan hati, humor, acceptance, pengampunan, rasa syukur, welas asih, dan rasa murah hati.

54

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


PARAPLUS

Adapun tantangan joy adalah sebagai berikut: rasa takut, stress, gelisah, frustrasi, amarah, cemburu, dll. Buku ini ditutup dengan penjelasan mengenai latihan-latihan yang dapat dilakukan untuk menyokong pencapaian kebahagiaan sejati, salah satunya meditasi. The Book of Joy dikemas dengan bahasa yang mudah diikuti oleh umat awam dan tidak mengandung debat teologi yang menjelekkan kepercayaan yang satu terhadap yang lain. Buku ini tidak hanya menyuguhkan teori mengenai joy, namun contoh nyata bagaimana kedua pemuka agama tersebut dapat tetap hidup dengan penuh kebahagiaan walaupun pernah mengalami berbagai kesukaran; Dalai Lama setelah diasingkan dari tanah kelahirannya Tibet berpuluh-puluh tahun lamanya dan Desmond Tutu dengan konflik Apartheid, masa kanak-kanak yang dihabiskan dengan seorang ayah kasar pecandu minuman keras, dan kanker prostat yang sedang dia hadapi sekarang. Kedua tokoh ini mengajarkan bahwa semua orang akan mengalami kesengsaraan. Namun, mau atau tidaknya menghentikan kesengsaraan yang dialami adalah pilihan kita sendiri. Apabila kita senantiasa larut dalam kesengsaraan, pastilah kebahagiaan akan sulit dicapai. Buku ini juga memberikan gambaran secara rinci mengenai hubungan persahabatan yang terjalin antara kedua tokoh agama melalui interaksi mereka. Namun, beberapa detail dapat diringkas agar buku tidak menjadi bertele-tele. Selain itu, terdapat lumayan banyak ulangan materi dari satu bab ke bab lain sehingga beberapa pembaca mungkin akan kehilangan minat untuk menghabiskan bukunya. Akan tetapi, hal ini menjadi poin plus apabila pembaca memang membutuhkan pengulangan agar sesuatu pesan dapat diterima dengan baik. Douglas Abrams selaku co-author dan moderator diskusi terkesan terlalu mengelu-elukan Dalai Lama dan Desmond Tutu di beberapa bagian buku, dan alangkah baiknya apabila pembaca diberikan peluang untuk membentuk opini mereka sendiri terhadap hal yang dijabarkan oleh kedua tokoh agama tersebut. Terlepas dari kekurangan The Book of Joy, buku ini dipastikan dapat memberi pembacanya pengetahuan berharga yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sewaktu kita dihadapkan dengan berbagai macam kondisi. Buku yang memberikan perspektif yang berbeda- beda ini juga mengajarkan bahwa kita mungkin tidak selalu setuju dengan pendapat orang lain, namun terdapat keindahan dalam kemampuan untuk menghormati perbedaan tersebut.

“The ultimate source of happiness is within us.� - His Holiness The 14th Dalai Lama “We grow in kindness when our kindness is tested.� - Archbishop Desmond Tutu -

(VIN/FAN) VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

55


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Donor Darah KMBUI Oleh Christy (FEB 2017)

T

ahukah kamu bahwa Indonesia masih kekurangan stok kantong darah? Dari data Kementerian Kesehatan tahun 2013, diketahui bahwa Jawa Barat sendiri merupakan provinsi dengan proporsi kebutuhan ideal darah tertinggi, yaitu 18,5%. Maka dari itu, pada tanggal 8 September lalu, departemen Pengembangan Sosial KMBUI berkolaborasi dengan KMB BEM IKM FKUI menyelenggarakan Donor Darah KMBUI di RIK UI. Dalam penyelenggaraannya, acara Donor Darah ini juga bekerja sama dengan PMI Kota Depok. Sebelum mendonorkan darahnya, para donor harus mengisi form mengenai data diri yang juga mencakup berat badan dan tinggi badan serta melewati tes tekanan darah dan tes hemoglobin terlebih dahulu. Hanya para donor yang berhasil memenuhi kriteria

56

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

yang telah ditentukan yang akan ditransfusi darahnya. Kriteria yang harus dipenuhi antara lain berusia di atas 17 tahun, tingkat hemoglobin di atas 12,5-17 gram, dan tidak mengonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu 1 minggu. Adapun total kantong darah yang terkumpul adalah 57 kantong darah. Para donor yang telah mentransfusi darahnya dibawa ke area istirahat. Di area istirahat ini, para donor dapat menikmati snack yang telah disediakan KMBUI dan diberikan oleh PMI. Kantong darah yang telah terkumpul diharapkan dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Semoga dengan mengikuti Donor Darah ini, para donor dapat menjaga kesehatan mereka dan memupuk rasa solidaritas untuk kemanusiaan dalam individu masing-masing.


PARATAMA

Saya Datang, Saya Melihat, Saya Mencintai Oleh Kevin Chow (FT 2017)

“Veni, Vidi, Amavi...”

Veni, Vidi, Vici

P

Apabila kita telaah, ungkapan ‘Veni, Vidi, Vici’ ini terkesan menumbuhkan sifat Dosa (kebencian) didalam diri kita. Hal ini bertentangan dengan nilai-nilai Buddhisme yang terkenal akan sifat Metta (cinta kasih) secara universal. Pada akhirnya, kebencian tidak bisa ditaklukkan dengan kebencian itu lagi. Oleh karena itu, harus ada salah satu pihak yang mengalah. Cara untuk mengalah adalah dengan meredam rasa benci tersebut dan membangkitkan rasa cinta kasih terhadap orang yang dianggap sebagai musuh tersebut. Ibarat api yang tidak akan pernah padam apabila dibalas dengan api, kita butuh air atau bahan pemadam lainnya untuk memadamkan api tersebut. Api di sini adalah kebencian dan air adalah cinta kasih.

https://www.britannica.com/biography/ Julius-Caesar-Roman-ruler

Metta

><

ernahkah kalian mendengar ungkapan tersebut? Atau mungkin kalian akan lebih familiar dengan ungkapan ‘Veni, Vidi, Vici’. Ungkapan tersebut memiliki arti saya datang, saya melihat, saya menaklukkan/menang. Ungkapan ini adalah kalimat dalam Bahasa Latin yang terkenal, berasal dari Gaius Julius Caesar, seorang jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi untuk menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Ungkapan ini menjadi terkenal setelah pertempuran tersebut berhasil menghasilkan kemenangan yang nyata oleh Julius Caesar bagi rakyat dan negaranya.

Dosa

Jadi, orang-orang yang sepakat dengan penjelasan tersebut sepakat untuk mengganti ungkapan tersebut menjadi ‘Veni, Vidi, Amavi’ yang memiliki makna ‘Saya datang, saya melihat, saya mencintai’. Mereka merasa bahwa tidak semua hal yang mereka datangi dan lihat harus ditaklukkan. Justru, yang seharusnya muncul adalah rasa cinta terhadap hal tersebut. Contohnya, ketika mereka datang ke suatu tempatyang belum pernah dikunjungi sebelumnya, rasa yang muncul justru merupakan rasa mencintai dibandingkan rasa ingin

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

57


PARATAMA

â&#x20AC;&#x2DC;menguasaiâ&#x20AC;&#x2122; tempat tersebut. Tidak hanya terhadap suatu tempat, akan lebih baik lagi apabila sifat cinta kasih tersebut bisa dikembangkan terhadap hal-hal yang tidak disukai sekalipun. Inilah salah satu ciri-ciri unik di dalam Buddhisme yang menganjurkan kita untuk mengembangkan sifat cinta kasih yang universal terhadap segala hal, baik kepada hal-hal yang kita cintai sebelumnya, maupun hal-hal yang paling kita benci. Pandangan ini sangat jarang kita temui di konsep ajaran lain. Melalui konsep ini, kita diajarkan untuk mengembangkan cinta kasih kepada seluruh makhluk, baik yang kecil ataupun besar, yang tampak ataupun tak tampak, yang baik ataupun buruk, dan seterusnya. Cinta kasih pada konteks ini berbeda dengan perasaan suka ataupun perasaan lainnya yang masih diliputi oleh nafsu. Cinta kasih ini dikembangkan tanpa adanya kemelekatan terhadap objek tersebut, di mana kita benar-benar mengharapkan kebahagiaan makhluk tersebut.Metta sebagai salah satu poin dari Brahma Vihara selain Karuna (Belas Kasihan), Mudita (Simpati), dan Upekkha (Keseimbangan Batin) sepatutnya dikembangkan sedini mungkin oleh seluruh umat Buddhis. Beberapa cara sederhana dalam mengembangkan Metta adalah melalui meditasi dengan mengembangkan objek Metta Bhavana atau pun melalui pembacaan Karaniya Metta Sutta. Meditasi Metta Bhavana dapat dipraktekkan dengan berbagai cara yang pada intinya bertujuan untuk pengharapan kebahagiaan semua makhluk. Salah satunya adalah dengan membayangkan seluruh orang yang 58

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

Mudita Karuna

Brahma Vihara

Upekkha

Metta

Metta Bhavana

meditasi dengan mengembangkan Metta

bertujuan untuk pengharapan kebahagiaan semua makhluk

Pembacaan Karaniya Metta Sutta untuk kebahagiaan semua makhluk bisa tercapai

benci dapat berkurang secara perlahan.

Pelafalan â&#x20AC;&#x153;Sabbe Satta Bhavantu Sukhitattaâ&#x20AC;? mendedikasikan karma baik kita untuk mempercepat kondisi berbuahnya karma bajik semua makhluk.

kita cintai sedang duduk bersama di samping dan di belakang kita. Lalu, kita menempatkan orang-orang yang sangat kita benci sedang duduk tepat di depan kita. Kemudian, diatas kepala kita terdapat sebuah stupika Buddha yang memancarkan sebuah cahaya dari jantungnya dan memperlihatkan serombongan Buddha dan Bodhisatva yang sedang duduk bermeditasi di hadapan kita dan seluruh orang yang kita bayangkan sebelumnya. Sang Buddha dihadapan kita tersebut duduk bermeditasi dengan tenang dan memancarkan cahaya cinta kasihnya kepada kita dan seluruh orang-orang di sekeliling kita. Pada akhirnya, kita akan merasakan kehangatan cinta kasih Beliau yang bisa dirasakan oleh kita sendiri, orang-orang yang kita cintai, maupun orangorang yang sangat kita benci sekalipun. Dengan menerapkan objek meditasi ini secara rutin, diharapkan rasa benci kita terhadap orang-orang yang tidak kita senang dapat berkurang secara perlahan.


terjemahan ini juga hendaknya dilakukan dengan kesadaran penuh agar kita benarbenar mampu meresap maksud dari sutta ini, supayamanfaat dari sutta ini,yakni untuk kebahagiaan semua makhluk, juga bisa tercapai. Cara lainnya yang bisa kita lakukan adalah melalui pelafalan ‘Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta” yang bermakna ‘Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia”. Pelafalan ini bisa dilakukan kapan saja, terutama saat selesai pembacaan paritta atau saat melakukan dedikasi yang mana kita mendedikasikan seluruh karma baik yang telah kita perbuat untuk mempercepat kondisi berbuahnya karma bajik mereka sesuai dengan tumpukan karma mereka masing-masing.

PARATAMA

Cara selanjutnya adalah melalui pembacaan Karaniya Metta Sutta (Sutta tentang Cinta Kasih). Mayoritas umat Buddhis mengetahui sutta ini dan bahkan sering membacanya setiap minggu saat kebaktian. Namun, hanya sedikit dari mereka yang mengetahui arti dan maksud dari setiap kalimat yang dibacakan tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya sekadar membaca sutta tersebut hingga tuntas dan mereka menganggap bahwa itu sudah cukup. Alangkah lebih baik apabila pembacaan sutta ini diikuti dengan terjemahan Bahasa Indonesia dari sutta tersebut (seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa vihara/cetiya) atau langsung dibacakan dalam Bahasa Indonesia dari awal. Pembacaan

Melalui penjelasan diatas, semoga kita bisa mengaplikasikan konsep ‘Veni, Vidi, Amavi’ dengan baik dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga ketika kita “datang dan melihat”, kita benar-benar mampu mencintai segala hal tersebut secara universal, baik kepada yang kita suka atau benci. Berjuanglah dengan penuh kesadaran!

“Na hi verena verāni sammant’ idha kudācana averena ca sammanti, esa dhammo sanantano. Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.” Yamaka Vagga (5) (VIN/MAR) Referensi: https://id.wikipedia.org/wiki/Veni,_vidi,_vici

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

59


What do They Say? Oleh Marvella Rustandy (FE 2017)

PARAPLUS

?

Kepada siapakah kamu akan memberikan cinta kasih terbesarmu? Apa alasanmu memilih orang tesebut?

Kepada diri sendiri. Karena sebelum kita memberikan cinta kasih kepada orang lain, kita harus memberikan cinta kasih tersebut kepada diri kita sendiri. Dengan demikian, kita dapat mengetahui dan merasakan sendiri perlakuan yang tepat dan apa yang diperlukan oleh orang lain secara batin.

Agnes (FEB 2016) Orang tua karena mereka mencintai kamu apa adanya. Apapun yg kamu lakukan pasti orangtua akan tetap memberikan cintanya. Itulah sebabnya, orang pertama yang terlintas di pikiran adalah orangtua.

Shabrina Audinia (Mapres 2 Psikologi UI 2018) Saya akan memberikan cinta kasih terbesar saya kepada orang tua saya. Saya memilih mereka karena mereka berdua adalah orang yang paling bisa saya bergantung kepada. Mereka selalu ada disaat saya membutuhkan kehadiran seseorang. Mereka ada saat sedih maupun senang, mereka selalu ada dan mendukung saya. Walaupun kadang terdapat perselisihan pendapat, tetapi dengan sabar mereka memberi nasihat dan menuntun kembali ke pemikiran yang benar. Saya benar-benar berterima kasih kepada mereka untuk pengorbanan yang telah mereka beri sehingga saya dapat menjadi pribadi seperti sekarang ini. Oleh karena itu, kepada merekalah kasih sayang terbesar akan saya berikan. Merekalah selalu cinta pertama dan terakhir dalam hidup saya.

Wennesa L. (Mahasiswi Monash University) Orang tua karena ikatan keluarga paling dekat saat ini dengan orang tua. Saat ini yang akan pasti ada di saat tersulit dalam hidup adalah orang tua sehingga alangkah baiknya kalau saya juga bisa melakukan hal yang sama bagi mereka.

Dr. Phil. Edo Sebastian Jaya., M.Psi., Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia) Sosok tersebut adalah ayah saya sendiri, karena dia orang yang paling dekat dengan saya di keluarga. Saya terkadang cukup tertutup di keluarga saya mengenai urusan saya, karena mungkin beberapa hal sulit untuk diobrolkan. Namun, dia terkadang mampu menenangkan saya tanpa harus memaksa untuk tahu, dan bisa membuat saya lebih nyaman untuk bercerita. Selain itu, keluarga saya cukup konservatif dalam beberapa hal contohnya tentang perkuliahan. Saya harus meyakinkan tentang jalan yang saya pilih, yang mana itu berlawanan dengan yang diyakini keluarga saya. Namun, di saat beberapa anggota keluarga lain cukup ignorant, ayah saya mencoba menurunkan egonya untuk terus memahami saya dan meyakinkan dirinya sendiri tentang hal ini.

Retno Wulandari (Arsitektur UI 2016) 60

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI


KMBUI Inside:

PARAPLUS

Run for KMB Oleh Luana Anastasia (Vokasi 2016)

R

un for KMB, atau yang biasa disingkat dengan nama RFK, merupakan suatu program kerja KMBUI yang dinaungi oleh Komisi Internal Departemen Organization Community dan biasanya diadakan per semester. Kegiatan yang dilakukan dalam program kerja ini adalah bermain bersama anggota KMBUI lainnya dengan konsep rally games. Kunci utama diadakannya program kerja ini adalah mengajak anggota KMBUI untuk ikut aktif bermain bersama dan merasakan kebersamaan dari keluarga besar KMBUI agar menjadi lebih akrab dan dapat nyaman dengan anggota lain. Selain itu, diharapkan juga anggota KMBUI baru yang diterima di Universitas Indonesia yang berasal dari jurusan dan fakultas apapun dapat mengenal adanya keluarga yang akan berjuang dan bersenang-senang bersama hingga mereka lulus. RFK kedua pada kepengurusan KMBUI XXVI ini diadakan pada tanggal 15 September 2018 dengan tema â&#x20AC;&#x153;Crazy Rich Asianâ&#x20AC;? yang diangkat dari film yang sedang hits pada saat itu. Penanggung jawab kegiatan ini adalah Cindy Junita (FMIPAâ&#x20AC;&#x2122;17) dan Kalista Putri (FPsiâ&#x20AC;&#x2122;17). RFK ini dihadiri

oleh kurang lebih 65 orang yang terdiri dari anggota aktif KMBUI angkatan 2015 hingga anggota baru KMBUI angkatan 2018. Dimulai dari Halte Bikun Teknik, anggota yang hadir dibagi menjadi 12 kelompok yang masing-masing kelompoknya beranggotakan 5 - 6 orang. Setelah menemukan anggota kelompoknya, setiap kelompok berkelana mencari pos-pos yang sudah ditentukan di sekitar FIB, Fasilkom, Perpusat, Rektorat, dan Balairung. Setiap pos terdapat panitia yang berjaga untuk memberikan games dan hadiah amplop setelah bermain. Amplop yang didapat dari setiap pos akan dapat digunakan untuk final games di Rotunda. Pemenang di setiap pos tidak menjadi penentu kemenangan di final games. Namun, amplop yang didapat tersebut akan sangat mengejutkan saat kelompok tersebut memenangkan final games. Terlepas dari menang atau tidak, kami berharap dapat membantu anggota KMBUI untuk akrab satu dengan yang lain dan menikmati kebersamaan setelah penat dengan perkuliahan. Terima kasih kepada partisipan yang sudah ikut membantu berjalannya acara dan yang sudah ikut meramaikan acara sehingga acara dapat berjalan dengan baik.

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

61


PARADHAMMA

Menjadi Orang Baik? Oleh Vanya Cendana (FT-2015)

S

eberapa seringkah kalian berpikir atau merenung tentang diri kalian? Seperti bertanya tentang “seberapa baikkah diri saya?” atau “Apakah saya sudah cukup baik?”. Lalu, seperti apa kalian menilai diri kalian? Sebenarnya apa tujuan kalian untuk menjadi baik? Mungkin jawaban rata-rata dari pertanyaan diatas adalah “Belum, saya belum cukup baik. Masih banyak lagi hal yang perlu saya perbaiki” dan “Tentunya untuk membuat diri saya lebih baik lagi dari sebelumnya”. Tapi, apakah sebenarnya parameter dari “baik” itu? Sebagai umat awam yang bahkan terkadang masih suka lalai terhadap Pancasila dan pada harihari tertentu melaksanakan Atthasila, bagaimana menjadi orang baik? “Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan, dan membersihkan batin; inilah Ajaran Para Buddha.” – Dhammapada XIV:

62

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

183. Secara simpel, menjadi orang baik berarti mengembangkan kebajikan dan tidak melakukan kejahatan. Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha selama 45 tahun sangatlah banyak dan mendalam. Tetapi, bukan berarti ketika kita sebagai umat awam yang baru mengenal dan mengerti kulitnya atau lapisan luarnya saja tidak bisa mengembangkan kebajikan. Dhamma berisi begitu banyak kebajikan yang dapat kita kembangkan dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah Brahma Vihara (4 sifat luhur). Kita semua pasti sangat sering mengucapkan “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta” dan mengetahui artinya. Lalu mengapa kita harus mengucapkan kata tersebut? Sebenarnya kata ini adalah salah satu latihan untuk menanamkan “Metta” dalam diri kita. Metta artinya cinta kasih universal dan merupakan salah satu dari keempat sifat luhur (Brahma Vihara). Menurut saya,


Tetapi, jangan berpatokan bahwa saya harus melaksanakan Metta karena saya ingin mencapai hal-hal diatas. Itu sama saja kita masih belum mengikis Atta dalam diri kita. Selain itu, Metta juga dapat membantu kita mengikis Dosa (Kebencian). Dengan mengembangkan Metta pula, kita juga bisa belajar untuk mengembangkan tiga Brahma Vihara lainnya, yaitu Karuna (Belas Kasihan), Mudita (Perasaan Simpati), dan Upekkha (Keseimbangan Batin). Kok bisa? Bayangkan, bagaimana kalian bisa berbelas kasihan kepada orang yang bahkan tidak kalian kenal apabila kalian tidak memiliki perasaan cinta kasih terhadap orang tersebut? Bagaimana kalian bisa bersimpati pada musuh kalian ketika kalian tidak memiliki perasaan cinta kasih terhadap musuh kalian? Dan bagaimana kalian bisa memiliki keseimbangan batin apabila kalian masih menolak pada apa yang tidak menyenangkan bagi kalian dan hanya ingin mendapatkan apa yang menyenangkan bagi kalian? Metta membantu kita untuk belajar menebarkan cinta kasih secara universal, kepada seluruh makhluk di sekeliling kita, tidak hanya yang menyenangkan bagi kita, tetapi juga kepada hal-hal yang tidak menyenangkan. Setelah membaca hal-hal diatas, tentu saja sangat sulit sekali untuk mengembangkan sifat Metta dalam diri kita. Sebenarnya bukan sulit, tetapi membutuhkan tekad kuat. Sang Buddha pernah bersabda, “O para bhikkhu, kalian harus melatih diri kalian demikian: “Tanpa henti aku akan berjuang dan bertekad: ‘Biarlah hanya kulit, otot dan tulangku yang tersisa; biarlah darah dan daging di tubuhku mengering,

Metta artinya cinta kasih universal dan merupakan salah satu dari keempat sifat luhur (Brahma Vihara).

PARADHAMMA

Metta tidak mengenal adanya “aku (Atta)”. Metta dapat diumpamakan sebagai: “Seorang ibu yang melindungi anaknya yang tunggal, sekalipun mengorbankan kehidupannya”. Metta dapat mengikis Atta dalam diri kita. Lalu mengapa Metta harus dilatih? Dengan melaksanakan Metta, kita bisa memperoleh hal-hal seperti: 1. Tidur dengan tenang dan bahagia 2. Wajah berseri-seri 3. Tidur dengan nyenyak 4. Dicintai banyak orang 5. Disayang oleh makhluk lain (termasuk binatang) 6. Akan dilindungi oleh para dewa 7. Dengan mudah memusatkan pikirannya 8. Meninggal dengan tenang 9. Dengan pancaran cinta kasih, bila meninggal, wajahnya berseri-seri

namun aku tetap tidak akan mengendurkan energi sampai aku berhasil mencapai apapun yang dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia, energi manusia, usaha manusia!’ Demikianlah kalian harus melatih diri.” – Anguttara Nikaya (II, i, 5). Untuk itu, mari kita bulatkan tekad untuk mengembangkan Metta dalam diri. Kemudian, ada beberapa hal yang dapat dilatih dalam mengembangkan Metta melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan, yaitu:

1.

Menyayangi orang tua Hal ini merupakan hal termudah untuk mengembangkan Metta. Cinta kasih universal dimulai dari mencintai hal-hal yang kecil dahulu. Seperti perumpamaan Ibu yang mencintai anaknya, yuk berlatih menyayangi orang tua kita seperti mereka menyayangi kita. “O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah. – Anguttara Nikaya (II, iv, 2). Mungkin kalian berpikir menyayangi orang tua adalah hal yang semua orang bisa lakukan. Apakah itu benar? Coba refleksikan kembali ke diri masingmasing, apakah kalian yakin bahwa kalian memang sudah menyayangi orang tua kalian?

VENI, VIDI, AMAVI

PARAMITA

63


PARADHAMMA

2.

“Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan, dan membersihkan batin; inilah Ajaran Para Buddha.” – Dhammapada XIV: 183.

tidak membunuh hewan Metta berarti mengasihi musuhmusuh kita; hal ini tidak berarti kita menyukai musuh kita. Kita dapat mengasihi mereka dengan menjauhkan diri dari pikiranpikiran buruk, kedengkian, dan berbagai keinginan untuk membalas mereka. Meskipun kita mungkin tidak menyukai orang tersebut, kita dapat tetap bersikap baik, murah hati, serta toleran terhadap mereka. Hal ini tidak sulit kok untuk dilakukan. Yang kalian perlukan adalah hindari pikiran buruk dan kedengkian

4.

Menghilangkan “benci” Ini adalah hal yang mungkin sangat membutuhkan tekad untuk dilakukan. Tetapi, apabila kita rajin melatih Metta Bhavana dan membaca Karaniya Metta Sutta, akan sangat baik untuk pengembangan kita tidak hanya dari sisi praktik, tetapi juga secara spiritual. Demikian yang dapat saya sampaikan dalam mengembangkan kebajikan 64

PARAMITA

VENI, VIDI, AMAVI

Mengapa harus belajar untuk tidak membunuh hewan terlebih dahulu? Karena ini praktiknya juga lebih mudah dilakukan.

Coba belajar untuk tidak membunuh hewan di sekitar kita meskipun mengganggu.

terhadap mereka dan jangan membenci mereka. Turut bersimpati ketika mereka mencapai sesuatu yang lebih baik dari kita atau paling tidak janganlah merasa iri hati. Sering dengar pepatah “Air susu dibalas air tuba”, kan? Mari belajar untuk menjadi orang yang sebaliknya, yang membalas air tuba dengan air susu. Dengan demikian, kita akan belajar untuk mengikis “Aku” juga loh.

3.

Mungkin kalian berpikir seperti “Ah, saya jarang kok membenci”. Apakah itu benar? Membenci adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan dan diucapkan. Benci disini berarti tidak hanya ketika kita serius dalam melakukannya, tetapi juga

ketika kita tidak serius. Mengapa? Karena “Benci” adalah sumber dari ketidaksukaan kalian pada sesuatu, dan itu bertentangan dengan Metta. Mulai latihan untuk menghindari benci (Dosa) akan sangat baik untuk diri kita dan latihan pengembangan Metta kita.

melalui pengembangan Metta. Sebenarnya masih banyak sekali yang dapat dikembangkan (selain Metta) untuk mengembangkan kebajikan. Mari kita membulatkan tekad untuk melatih diri mengembangkan Metta dan mengembangkan kebajikan lainnya. Selamat berlatih!

5.

Mengasihi musuh

bermeditasi dan membaca paritta


mengucapkan Terima kasih kepada seluruh pengurus KMBUI XXVI Selamat berjuang KMBUI XXVII. Semoga sukses dan dapat membuat KMBUI menjadi lebih baik.


9


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
PARAMITA Magazine KMBUI 49th Edition by Paramita Magazine KMBUI - Issuu