

1&2Timotius
Awasi Dirimu dan Ajaranmu
Kitab
Timotius1&2
Awasi Dirimu dan Ajaranmu
PerjalananImanbersamaRobertM.Solomon
Kitab 1 & 2 Timotius: Awasi Dirimu dan Ajaranmu © 2015 oleh Robert M. Solomon Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Penerjemah:
Chieko Maylani, Michael Daniel Kurniawan, Febe Agustina, Glory Henriette, Helena Simatupang, Jenni Linardi, Jimmy Firmansyah, Lau Mi, Timothy Daun, Vely Megawati, Yunias Monika
editor:
Dwiyanto, Natalia Endah, Yudy Himawan
Penyelaras Bahasa: Bungaran Gultom, Charles Christian, Indrawan
Perancang samPul: Alex Soh
Penata letak Joshua Tan, Mary Chang
Foto Sampul: Sri Lanka, Alex Soh © Our Daily Bread Ministries
Kutipan ayat diambil dari Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974
ISBN 978-1-62707-584-8
The Journey Series: Daily Insights to Instruct and Inspire
Edisi bahasa Indonesia diterbitkan dan didistribusikan oleh PT Duta Harapan Dunia www.dhdindonesia.com
Dicetak di Indonesia.
Cetakan pertama: Oktober 2016
Indonesian Journey Series “1 & 2 Timothy—Watch Your Life and Doctrine”
Pengantar
Selama 50 hari ke depan, Anda akan membaca dan merenungkan surat 1 dan 2 Timotius, dua surat terakhir yang ditulis oleh Rasul Paulus. Kedua surat itu berisi wejangan dari sang rasul yang telah lanjut usia kepada Timotius, seorang muda yang menggembalakan jemaat di Efesus. Meskipun bersifat pribadi, surat-surat tersebut mempunyai relevansi luas bagi setiap orang Kristen maupun bagi gereja.
Pesan inti dari surat 1 Timotius adalah pentingnya berpegang teguh pada kebenaran dari Injil Yesus Kristus sebagai satusatunya hal yang sanggup mengubah hidup manusia. Keyakinan membuahkan perilaku; maka sangatlah penting seseorang memiliki keyakinan yang benar agar dapat menjalani hidup yang baru di dalam Kristus. Prinsip tersebut terangkum dengan baik lewat perintah Paulus di 1 Timotius 4:16, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu”. Di dalam 2 Timotius, saat Paulus berada di ambang hukuman mati, ia mendorong Timotius untuk rela menderita demi Injil. Pernyataan Paulus dalam 2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” menjadi kesaksian dan teladan yang agung bagi setiap orang Kristen.
Saya berdoa agar selama 50 hari ke depan, Anda akan mengizinkan Allah berbicara kepada Anda lewat surat-surat kuno ini. Kiranya firman Allah yang abadi menantang Anda untuk meninjau kembali keyakinan dan perilaku Anda, sehingga semangat Anda untuk setia kepada Kristus terus berkobar hingga akhir.
Kasih Karunia dan Damai Sejahtera,
RobertM.Solomon

Kami senang Anda ikut serta dalam perjalanan iman untuk menjalin persekutuan yang lebih erat dengan
Tuhan kita, Yesus Kristus!
Selama lebih dari 50 tahun, pelayanan kami dikenal karena bahan penuntun saat teduh harian yang kami terbitkan, Our Daily Bread (Santapan Rohani ). Melalui renungan-renungannya yang inspiratif, bermakna, dan relevan bagi kehidupan sehari-hari, banyak pembaca telah dibawa semakin mengenal Allah dan menikmati hikmat serta janji-janji dari firman-Nya yang tidak berubah.
Dengan dasar pengalaman itulah, kami menerbitkan Journey Series (Seri Perjalanan Iman) untuk menolong orang percaya menjelajahi kitab demi kitab dari firman Allah dalam waktu mereka bersama-
Nya. Kami berharap perenungan firman Allah yang dilakukan secara teratur akan membawa beragam pribadi maupun keluarga pada persekutuan yang semakin erat bersama Allah di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.
Cara Menggunakan Seri Perjalanan Iman
BACA: Buku ini dirancang sebagai pendamping dari pembacaan Alkitab yang Anda lakukan. Penjelasan-penjelasan di dalamnya akan membantu Anda memahami Kitab Suci dari sudut pandang yang baru.
RENUNGKAN: Pertanyaan-pertanyaan perenungan dimaksudkan untuk membantu Anda menanggapi Allah dan firman-Nya, sehingga Dia dapat bekerja memperbarui hati dan hidup Anda sepenuhnya.
CATAT: Tersedia kolom kosong bagi Anda untuk mencatat segala hasil perenungan dan tanggapan Anda atas bagian yang telah Anda baca.
Kitab 1 & 2 Timotius: Awasi Dirimu dan Ajaranmu
Tinjauan Umum
Kedua surat Paulus kepada Timotius ditulis menjelang akhir hidupnya, yakni pada tahun 64 M dan 66/67 M. Kedua surat itu sangat bersifat pribadi dan membahas halhal seputar pelayanan sebagai gembala jemaat. Timotius mempunyai sifat pemalu dan perlu menerima dorongan dan penguatan dalam mengerjakan pelayanan yang diteruskan Paulus kepadanya. Paulus mendesak Timotius untuk selalu mengingat panggilannya, tetap setia kepada Kristus, dan terus memegang kebenaran Injil. Timotius harus menangani para guru palsu di dalam gereja. Ia memerlukan bimbingan mengenai apa yang harus diajarkan kepada jemaatnya dan bagaimana caranya. Ia juga perlu tahu bagaimana mengatur jemaat dan pelayanan di dalam gereja dengan baik agar perilaku mereka dapat membuat dunia meyakini kebenaran Injil dan kuasanya yang mengubah hidup manusia. Agar dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai gembala jemaat, Timotius didorong untuk terus mengawasi dirinya dan ajarannya sebagaimana telah diteladankan oleh Paulus.
Susunan kitabnya membahas tema-tema berikut:
1 Timotius
1:1-2 Salam
Guru Palsu versus Pengajar yang Setia
(1:3-20)
1:3-11 Peringatan terhadap guru palsu
1:12-20 Menjadi pengajar yang setia
Perilaku Jemaat sebagai Keluarga Allah (2:1–6:21)
2:1-15 Ibadah dalam gereja
3:1-16 Memilih pemimpin gereja
4:1-16 Menghadapi ajaran sesat
5:1-16 Menolong para janda
5:17-25 Menghormati pemimpin gereja
6:1-2 Hubungan budak dan tuan
6:3-10 Peringatan bagi mereka yang kaya
6:11-19 Nasihat bagi sang gembala
6:20-21 Pesan penutup dan ucapan berkat
2 Timotius
Disatukan dengan Kristus (1:1-18)
1:1-2 Mengenali identitas dan panggilan
1:3-7 Mengenali warisan iman Kristen
1:8-18 Disatukan dengan Kristus dalam pelayanan dan penderitaan
Berguna bagi Kristus (2:1-26)
2:1-13 Sikap yang benar dalam melayani
2:14-19 Perenungan dan penerapan
Kitab Suci
2:20-26 Melayani yang terhilang
Tidak Serupa dengan Dunia (3:1–4:5)
3:1-9 Dunia yang rusak dan para penghuninya
3:10-17 Karakter Kristen di dunia yang rusak
4:1-5 Pelayanan di dunia yang rusak
Setia sampai Akhir (4:6-22)
4:6-8 Persiapan menjelang akhir hidup
4:9-15 Kebutuhan pribadi di akhir hidup
4:16-22 Setia sampai akhir hidup

Dalam ketiga belas suratnya di Perjanjian Baru, Rasul Paulus memulai dengan ucapan
salam—suatu hal yang lazim dilakukan pada masa itu. Penulis dan penerima surat disebutkan di awal surat dengan tambahan sebuah salam. Tiga surat Paulus mencantumkan salam yang sangat berbeda dari surat-surat lainnya. Ketiganya disebut sebagai surat-surat
Pastoral, yakni 1 Timotius, 2 Timotius, dan Titus. Ketiga surat itu ditujukan kepada pribadi-pribadi tertentu dan memakai ungkapan yang intim seperti: “anakku yang sah di dalam iman” (1 Timotius 1:2); “anakku yang kekasih” (2 Timotius 1:2); “anakku yang sah menurut iman kita bersama” (Titus 1:4).
Kecuali Filemon, semua surat Paulus yang lain ditujukan kepada jemaatjemaat secara lebih umum.
Sifat yang lebih pribadi dan intim dari surat-surat Pastoral itu semakin dikuatkan lewat salam yang tercantum dalam dua surat di antaranya. Paulus menggunakan istilah “kasih karunia” dan “damai sejahtera” di setiap salam pembuka dari suratnya. Namun, dalam dua suratnya kepada Timotius, ia menambahkan kata “rahmat”.
Orang Yahudi terbiasa menyapa satu sama lain dengan ucapan “shalom” (damai sejahtera). Maka tidak heran apabila Yesus menyapa murid-muridNya dengan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu” (Yohanes 20:19,26). Orang Kristen meneruskan tradisi itu, bahkan menambahkan kata-kata “kasih karunia” pada salam itu, suatu konsep penting
dalam doktrin iman Kristen (Roma 3:2324; Efesus 2:8). Itulah sebabnya orang Kristen biasa menggunakan kata-kata “kasih karunia dan damai sejahtera” dalam salam mereka, seperti yang kita lihat dalam surat-surat Paulus.
Dalam 1 dan 2 Timotius, Paulus menambahkan kata “rahmat” di salam pembukanya karena ia menyadari betapa berlimpahnya rahmat Allah (Efesus 2:4) yang telah diterimanya. Ia sungguh menyadari bahwa dirinya telah diampuni Allah. Dua kali Paulus menyatakan bahwa ia telah “dikasihani”, atau menerima rahmat Allah (1 Timotius 1:13,16).
Rahmat berarti Anda
tidak menerima apa yang sepantasnya Anda terima, sedangkan kasih karunia berarti Anda menerima apa yang tidak sepantasnya Anda terima. Dengan mengampuni pengkhianatan kita terhadap-Nya, menerima kita kembali sebagai anak-Nya, dan melimpahi kita dengan kasih-Nya, Allah telah menunjukkan kasih karunia dan rahmat-Nya kepada kita. Alhasil kita menerima damai sejahtera yang utuh (di dalam dan di setiap hubungan kita) sebagaimana terkandung dalam kata “shalom”. Kita harus sungguhsungguh merenungkan kasih karunia dan rahmat Allah yang ajaib, serta senantiasa menghayatinya. Dengan demikian damai sejahtera dari Allah akan mengenyahkan segala kegelisahan hati kita.
PerjalananIman
Renungkanlahkasih karunia,rahmat,dandamai sejahteraAllahyangAnda alamididalamhidupAnda sendiri(lakukanlahdengan mengingat-ingattentang salibKristus).Bagaimana caraAndabersyukurkepada AllahatassegalapemberianNyaitudanbertumbuh semakinteguhdidalamnya?
Kapanwaktuyangbaikbagi Andauntukmenceritakan kepadaoranglaintentang artikasihkarunia,rahmat, dandamaisejahteraAllah bagidiriAnda?

Paulus meninggalkan Timotius di Efesus untuk mewakilinya memimpin jemaat di sana (ay.3). Ada beberapa urusan yang harus dibereskan. Salah satu masalah yang timbul adalah kehadiran para pengajar yang mencurigakan di dalam gereja. Karena berbagai alasan, para pengajar itu telah menjadi “sesat” (ay.6). Mereka menjadi sombong dan tinggi hati. Sebenarnya mereka adalah pengajarpengajar bodoh yang “[tidak] mengerti perkataan mereka sendiri” (ay.7).
Para pengajar itu bukan saja mencurigakan, tetapi juga sangat berbahaya. Mereka menyebarkan ajaran palsu dan menyesatkan orang Kristen. Dengan memusatkan perhatian pada segala hal yang sia-sia seperti dongeng (kemungkinan dongeng Yahudi dan budaya kafir) dan “silsilah yang tiada putus-putusnya” (kemungkinan silsilah Yahudi yang berbelit-belit atau mistis), mereka menyebabkan banyak kebingungan dan persoalan di tengah jemaat (ay.3-4). Injil Yesus Kristus menjadi terlupakan sementara para pengajar palsu itu menyesatkan banyak orang dari jalan pemuridan Kristen yang benar.
Salah satu cara untuk menguji apakah suatu pengajaran sejalan dengan kebenaran Allah adalah dengan menguji hasilnya. Keyakinan akan menentukan perilaku. Maka Paulus mendesak agar para pengajar palsu
itu ditegur dan ditolak. Mempercayai kebenaran Allah akan menuntun seseorang pada kesalehan yang sejati. Hidup saleh itu (ay.5) ditandai dengan adanya “hati yang suci” (hidup kudus), “hati nurani yang murni” (motivasi yang bersih), dan “iman yang tulus ikhlas” (tidak munafik). Bandingkan itu dengan dampak buruk dari pengajaran sesat: adanya “persoalan” (ay.4), “omongan yang sia-sia” (ay.6), dan penyesatan (ay.6).
Para pengajar yang memberitakan firman Allah dengan benar bertujuan agar para pendengarnya mempunyai kasih yang ilahi (ay.5). Pelayanan mereka akan mendukung pekerjaan Allah, bukan menghalanginya. Sementara itu, para pengajar palsu tidak akan menghasilkan kesalehan dalam hidup atau pelayanan mereka. Kita dapat mengenali pengajar palsu dan ajaran palsu yang mereka bawa dengan cara membandingkannya dengan Kitab Suci, dan menguji isi, motivasi, serta hasil dari pengajaran itu. Kita juga perlu menguji hidup kita sendiri—apakah pengajaran yang kita terima memang menghasilkan kesalehan sejati di dalam diri kita. Pengujian seperti itu sangat diperlukan pada masa sekarang ini, mengingat beragamnya informasi yang tersebar dan beredar di dunia maya.
PerjalananIman
DapatkahAnda menyebutkanapasaja “dongeng”dan“silsilah” yangberedardiantara orangKristenmasakini? Mengapasemuaitu berbahaya?
MenurutAnda,apa hubunganantarahatiyang suci,hatinuraniyangmurni, danimanyangtulusikhlas denganhadirnyakasihilahi didalamdiriseseorang?

1 Timotius 1:8-11
Kita tidak tahu dengan pasti pengajaran dari para pengajar palsu di Efesus. Namun dari
tulisan Paulus, kita dapat menduga bahwa pengajaran mereka ada kaitannya dengan hukum Taurat dari
Perjanjian Lama. Mereka mengangkat diri sebagai pengajar hukum Taurat (ay.7). Kemungkinan mereka menyimpangkan Injil (“ajaran sehat”, ay.10) dengan mengajarkan iman Kristen yang legalistik—menyatakan bahwa manusia diselamatkan lewat ketaatan pada praktik keagamaan. Mereka mengajarkan agama yang didasarkan pada kedagingan, dengan keselamatan yang diperoleh seseorang lewat usahanya sendiri dan yang akhirnya memuliakan diri sendiri.
Di setiap zaman dalam sejarah gereja, iman Kristen yang legalistik seperti itu selalu muncul dan menjauhkan orang dari “Injil dari Allah yang mulia” (ay.11). Bagaimana caranya untuk terhindar dari pengajaran sesat tersebut? Salah satu cara yang diusulkan adalah membuang hukum Taurat dan mengabaikannya sama sekali. Jika demikian, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa “kasih karunia itu baik, hukum Taurat itu buruk”. Kita pun memakai slogan dari gerakan Reformasi—semua hanya karena anugerah—dan menolak sama sekali peran hukum Taurat di dalam kehidupan Kristen. Akan tetapi, seorang reformator agung bernama John Calvin tidak sependapat.
Calvin menyatakan, bahwa menurut Alkitab, hukum Taurat memiliki tiga tujuan. Pertama, hukum Taurat menjadi
cermin yang menunjukkan karakter Allah sekaligus keberdosaan diri kita. Kedua, hukum Taurat berperan untuk mencegah kejahatan di tengah masyarakat—bayangkan kekacauan yang akan terjadi apabila tak ada kesadaran akan hukum ilahi. Ketiga, hukum Taurat menunjukkan apa yang berkenan kepada Allah dan untuk menuntun segala perilaku kita.
Ketiga tujuan itu dapat ditemukan di bagian ini. Hukum Taurat ditujukan bagi “para pelanggar hukum, para penjahat” (ay.9 BIS). Paulus mengutip sebagian dari Sepuluh Perintah Allah di perikop ini (ay.9-10). Ia juga menyebut tentang “penculik” (sekarang pelaku perdagangan manusia) dan “pemburit” (kaum homoseks). Hukum Taurat menyingkapkan, dan sampai tingkat tertentu juga membatasi, gerak-gerik para pelanggar hukum ini.
Namun, kita juga membaca bahwa “hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan” (ay.8). Hukum Taurat menjadi penuntun bagi perilaku seorang Kristen. Kita tidak diselamatkan karena menaati hukum Taurat; melainkan Allah menyelamatkan kita dan dengan pertolongan RohNya memampukan kita menaati hukum moral-Nya, hukum yang mencerminkan karakter-Nya dan tujuan kita diciptakan oleh-Nya. Hukum Taurat itu baik jika kita menggunakannya seperti itu.
PerjalananIman
Apakahkasihkarunia AllahdanhukumAllahitu terpisahdantidaksaling terkait?Sebutkanalasan darijawabanAnda. BagaimanahukumTaurat telahdisalahartikan, disalahgunakan,atau sebaliknya,digunakan dengantepatolehorang Kristenselamaini?Tuliskan secarasingkatpengalaman Andadalammenggunakan hukumAllah.

1 Timotius 1:12-17
Ajaran Injil Yesus Kristus yang sehat akan menghasilkan perubahan hidup yang luar biasa. Salah satu buktinya adalah hidup Paulus sendiri. Ia mengakui bahwa pada suatu masa, sebelum mengenal Yesus, ia adalah “seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas” (ay.13). Sebagai seorang Farisi yang membanggakan dirinya sendiri atas prestasi dan semangat keagamaannya (Filipi 3:5), ia menyangka bahwa dirinya sedang melayani Allah. Namun sebenarnya ia terjebak dalam ketidaksadaran (ia gagal mengenali siapa Yesus yang sesungguhnya) dan ketidakpercayaan (ia tidak menanggapi dengan serius informasi sekecil apa pun yang diketahuinya tentang Yesus). Akibatnya, ia menjadi penganiaya yang sangat ganas bagi orang Kristen.
Namun, Allah melimpahkan kasih karunia dan belas kasihanNya kepada Paulus (ay.13,14,16), mempertobatkannya, dan hebatnya, memakainya menjadi rasul yang besar. Pilihan Allah untuk melimpahkan kasihNya itu memang tak terselami oleh kita, karena Dia sering melakukannya kepada orang-orang yang sama sekali tidak kita perhitungkan. Mengapa Allah memilih Anda dan saya untuk menjadi anak-anak-Nya?
Dalam perjalanan iman kita, adakalanya kita lupa betapa besar belas kasihan Allah kepada kita. Mungkin kita mulai berpikir bahwa Allah yang
beruntung telah memilih kita masuk ke dalam kerajaan-Nya! Ketika usia Paulus semakin bertambah, ia sendiri semakin menyadari keberdosaannya dan kebutuhannya yang amat besar akan pengampunan dan belas kasihan Allah. Oleh sebab itu, walaupun Paulus telah mengungkapkan dalam surat-surat yang ditulis di awal masa pelayanannya (pada tahun 49 M) bahwa ia sama baiknya dengan rasul-rasul lain (Galatia 1:1; 2:11), enam tahun kemudian ia menyebut dirinya sebagai “yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul” (1 Korintus 15:9). Lima tahun kemudian, ia menganggap dirinya sebagai “yang paling hina di antara segala orang kudus” (Efesus 3:8).
Akhirnya, di kitab 1 Timotius (empat tahun kemudian), Paulus menyebut dirinya sebagai “yang paling berdosa” sampai dua kali (1 Timotius 1:15-16).
Semakin bertumbuh pengenalan Paulus akan Allah, semakin ia merendahkan dirinya. Itu jelas menandakan bahwa hidupnya semakin dekat dengan Allah. Perhatikan bagaimana Paulus melukiskan keagungan dan kemuliaan Allah (ay.17) dan kesabaran Kristus yang tiada batasnya (ay.16). Sebagai seseorang yang telah menerima kasih karunia dan rahmat Allah yang mengubahkan hidupnya, Paulus meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat orang berdosa (ay.15). Itulah sebabnya ia berkomitmen penuh untuk mengabarkan Injil (ay.12).
PerjalananIman
MenurutAnda,mengapa Paulusmenganggapdirinya sebagaiyangpaling berdosadiantaraorang berdosa?ApakahAnda jugamerasakanhalyang sama?Benarkahorang yangpalingberdosajuga adalahorangyangpaling menghargaibelaskasihan Allah(lih.Lukas7:47)?
Dalamaspekapakah pengenalanAndaakan Allahbertumbuhselama ini?Halapakahyangsaat iniAndakenalidariAllah yangtidakAndakenali dari-Nya5atau10tahun yanglalu?

1 Timotius 1:18-20
Surat ini dimulai dan diakhiri dengan penugasan Paulus kepada Timotius. Paulus memulai dengan mendesak Timotius untuk mengoreksi pengajaran palsu dan menghadapi dengan serius orangorang yang menyebarkan ajaran yang membahayakan itu di tengah jemaat. Ia mengakhiri pesannya dengan memerintahkan Timotius untuk mengawasi dirinya dan ajarannya sendiri (1 Timotius 4:16).
Timotius telah ditahbiskan atau ditugaskan lewat penumpangan tangan oleh para penatua (1 Timotius 4:14), termasuk Paulus sendiri (2 Timotius 1:6). Pada saat itu Timotius juga menerima sebuah nubuat yang kemungkinan berhubungan dengan pelayanan yang hendak dijalaninya. Selain itu ada “karunia” dari Allah yang diberikan kepada Timotius. Jelaslah bahwa Allah sendiri yang telah memanggil Timotius untuk melayani-Nya. Dia juga telah memperlengkapi Timotius untuk melakukan tugas pelayanan tersebut. Oleh sebab itu, Paulus mendesak Timotius untuk mengingat segala kebenaran tersebut dan hidup sesuai dengan panggilannya.
Dengan menaati panggilan Allah dan menghidupinya, Timotius akan dapat “memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni” (ay.18-19). Salah satu metafora yang sering dipakai Paulus untuk menggambarkan pemuridan dan pelayanan Kristen adalah kata
“perjuangan”. Kata itu mengacu pada pertandingan gulat di arena olahraga Yunani kuno sekaligus juga realitas perjuangan dalam kehidupan Kristen yang menuntut seseorang untuk ulet dan disiplin. Banyak orang memilih jalan yang lebih mudah dengan berkompromi dan menyimpang dari iman. Pada akhirnya, mereka bisa saja bertahan hidup atau meraih keberhasilan di tengah dunia yang cemar ini, tetapi kehilangan nyawa mereka (Markus 8:36). Timotius didesak untuk berpegang teguh pada iman yang tulus ikhlas dan hati nurani yang murni (1 Timotius 1:5) dan jangan pernah menyerah.
Sangatlah penting untuk memilih jalan yang benar dan bukan jalan yang mudah—bahkan ketika kita dianiaya dan hidup menjadi sulit. Janganlah kita menjadi seperti Himeneus (ay.20; 2 Timotius 2:17) dan Aleksander (ay.20), yang telah “kandas imannya” (ay.19). Kedua orang itu kemungkinan adalah pemimpin dari para pengajar sesat, dan mungkin akibatnya mereka dikucilkan dari gereja. Ayat 20 mengatakan bahwa mereka telah “[diserahkan] kepada Iblis” agar tidak lagi menghujat (indikasi dari kesesatan yang mereka ajarkan tentang Allah). Mereka tidak serta-merta dibiarkan agar binasa, tetapi gereja perlu dilindungi dari pengaruh mereka. Pintu pengampunan tetap terbuka apabila mereka mau bertobat.
PerjalananIman
BagaimanaorangKristen dapatmembuatkandas imannya?Langkah-langkah apayangharusAndaambil untukberpegangteguh padaimansupayaAnda dapatberjuangdalam perjuanganyangbaik? Parapengajarpalsu diserahkankepadaIblis. Bayangkanlahapayang akanterjadipadamereka. Bagaimanadenganmenjadi bagiandarigereja,iman kitaakanterjagadari penyesatan?
Misi kami adalah menjadikan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup dapat dimengerti dan diterima oleh semua orang.
Anda dapat mendukung kami dalam melaksanakan misi tersebut melalui persembahan kasih. Klik link di bawah ini untuk informasi dan petunjuk dalam memberikan persembahan kasih. Terima kasih atas dukungan Anda untuk pengembangan materi-materi terbitan Our Daily Bread Ministries.
Persembahan kasih seberapa pun dari para sahabat memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun.