Dari penerbit
Our Daily Bread®

![]()
Dari penerbit
Our Daily Bread®

Seri Perjalanan Iman Ibrani
© 2018 oleh Robert M. Solomon
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Penerjemah:
Arvin Saputra, Bing Selomulyo, Chieko Dwi Suryani, Daniel Kurniawan, Didi Daryadi, Edi Joko Santoso, Elisabeth Chandra, Febe Agustina, FX Kurniawan, Glory Henriette, Grace Suwanti, Linda Sumayku, Olga Sihombing, Vely Megawati, Yoki Wijaya
editor:
Jovita Aristya, Monica Dwi Chresnayani
Penyelaras Bahasa:
Bungaran Gultom, Dwiyanto Fadjaray
Perancang Buku: Joshua Tan
Penata letak: Grace Goh, Mary Chang
Kutipan ayat diambil dari
Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974
ISBN 978-981-11-7625-8
Edisi bahasa Indonesia diterbitkan dan didistribusikan oleh
PT Duta Harapan Dunia www.dhdindonesia.com
Dicetak di Indonesia
Cetakan pertama: November 2018
Banyak pembaca mendapati kitab Ibrani sulit dipahami, kecuali dua pasal terakhirnya. Alasannya, karena penulis menujukannya kepada orang Kristen Yahudi dan menggunakan beragam rujukan dari kepercayaan dan tradisi Yahudi yang sebelumnya mereka anut. Hal itu dilakukan bukan untuk mendorong mereka tetap memeliharanya, sebaliknya untuk menjauhkan mereka dari godaan meninggalkan iman Kristen dan kembali kepada keyakinan lama.
Meski surat Ibrani cukup sulit dibaca dan dipahami, tetapi bila kita meluangkan waktu untuk mempelajarinya dengan saksama, kita akan mendapat pengertian mendalam dan berkat rohani yang melimpah. Di dalamnya terdapat pengajaran yang agung dan menggugah tentang Yesus yang sepenuhnya ilahi sekaligus manusia sejati. Aspek dari Yesus yang paling banyak dilukiskan dalam surat Ibrani adalah jabatan-Nya sebagai Imam Besar yang istimewa dan tak tergantikan. Dengan mengorbankan diri sebagai tebusan dosa, Dia telah memberikan jaminan keselamatan bagi kita melalui penumpahan darah-Nya yang berharga. Surat Ibrani menjabarkan peran Yesus sebagai pelopor dan penyempurna iman kita, Allah yang menjadi manusia demi mati bagi kita dan yang turut merasakan segala kelemahan kita selama hidup di dunia. Dialah yang akan datang kembali untuk menghakimi sebagai Imam Besar abadi dan menyediakan peristirahatan kekal bagi semua yang percaya kepada-Nya.
Temukan Dia dalam lembaran-lembaran surat menakjubkan yang ditulis tak hanya bagi orang Kristen zaman dahulu, tetapi juga bagi kita saat ini. Kiranya Roh Kudus menuntun kita memahami Allah yang terus berfirman hingga kini.
Segala kemuliaan bagi Dia, Robert M. Solomon

Kami senang Anda ikut serta dalam perjalanan iman untuk menjalin persekutuan yang lebih erat dengan Tuhan kita, Yesus Kristus!
Selama lebih dari 50 tahun, pelayanan kami dikenal karena bahan penuntun saat teduh harian yang kami terbitkan, Our Daily Bread (Santapan Rohani ). Banyak pembaca menyukai renungan-renungannya yang ringkas, inspiratif, dan relevan bagi kehidupan sehari-hari, yang membawa mereka makin mengenal Allah serta memahami hikmat dan janji-janji firman-Nya yang tidak pernah berubah.
Dengan dasar pengalaman itulah, kami menerbitkan Seri Perjalanan Iman untuk menolong orang percaya menjelajahi kitab demi kitab dari firman Tuhan dalam waktu mereka bersama-Nya. Kami percaya bahwa perenungan firman Tuhan yang dilakukan secara teratur akan membawa Anda kepada persekutuan yang makin erat dengan Allah di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.
BACA: Buku ini dirancang sebagai pendamping dari pembacaan Alkitab yang Anda lakukan. Penjelasan-penjelasan di dalamnya akan membantu Anda memahami Kitab Suci dari sudut pandang yang baru.
RENUNGKAN: Pertanyaan-pertanyaan perenungan dimaksudkan untuk membantu Anda menanggapi Allah dan firman-Nya, sehingga Dia dapat bekerja memperbarui hati dan hidup Anda sepenuhnya.
CATAT: Tersedia kolom kosong bagi Anda untuk mencatat segala hasil perenungan dan tanggapan Anda atas bagian yang telah Anda baca.
Menurut para pakar, surat Ibrani ditujukan kepada generasi kedua orang Kristen berlatar belakang Yahudi yang tengah menghadapi berkembangnya penganiayaan. Tak seorang pun tahu pasti siapa penulisnya. Kemungkinan besar ia juga seorang Kristen Yahudi dan penulisannya dilakukan tepat sebelum Romawi menghancurkan Yerusalem serta Bait Allah pada tahun 70 M.
Zaman itu, orang Yahudi dibebaskan dari keharusan menyembah kaisar, tetapi tidak orang Kristen. Mereka akan dianiaya jika tak mau melakukannya, sehingga banyak orang Kristen Yahudi yang tergoda untuk kembali kepada Yudaisme guna menghindari penyiksaan. Karena itu, penulis surat Ibrani mendesak mereka untuk tetap setia kepada Kristus dengan menunjukkan alasan mengapa Kristus “lebih baik/tinggi/besar/mulia” (muncul belasan kali)1 daripada malaikat, Musa dan hukum Taurat, imamat yang lampau, dan persembahan korban di Bait Suci sebelumnya. Penulis banyak mengutip Perjanjian Lama untuk memaparkan maksudnya; sebagian besar dikaitkan langsung kepada Allah tanpa menyebut pengantara manusia.2 Percaya dan mengikut Kristus bukanlah soal agama baru, melainkan mengakui-Nya sebagai penggenapan dari semua yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Oleh karena itu, alangkah bodohnya jika orang Kristen meninggalkan penggenapan penebusan dalam Kristus dan kembali kepada apa yang hanya merupakan bayangan dalam agama lama.
Bayangkan orangtua yang telah lanjut usia terus memandangi foto masa kecil putranya yang sudah dewasa, merantau, dan kini kembali ke rumah.
Bukankah aneh jika ia tidak bisa membedakan antara foto dan orang aslinya?
Itulah yang dimaksudkan penulis dengan menunjukkan bahwa Yesus adalah Pemberi hukum yang sempurna dan Imam Besar Agung penuh belas kasih yang mencurahkan darah-Nya di atas kayu salib demi menyelamatkan kita.
Alih-alih menjauh dari Kristus, kita justru harus mendekat kepada-Nya dan berpegang kepada Dia dengan iman, kesetiaan, dan ketekunan bahkan di tengah penganiayaan, sebab keselamatan yang pasti hanya ada di dalam Dia, sauh abadi bagi jiwa kita.
1 F. F. Bruce, The Epistle to the Hebrews (Grand Rapids: Eerdmans, 1964), 9.
2 W. H. Griffith Thomas, Hebrews: A Devotional Commentary (Grand Rapids: Eerdmans, 1987), 27.
Kerangka Surat Ibrani:
1:1–4:13 Keutamaan Kristus
4:14–7:28 Kristus sebagai Imam Besar yang Sempurna
8:1–10:39 Kelebihan Perjanjian Baru dalam Kristus
11:1–40 Warisan Iman yang Besar
12:1–13:19 Kehidupan Kristen yang Setia
13:20-25 Kristus Sang Gembala Agung
Ayat Kunci:
“Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.”
—Ibrani 3:14
Baca Ibrani 1:1-3
Surat Ibrani dimulai “secara dramatis seperti roket yang diluncurkan ke bulan”.3 Pesannya tanpa basa-basi langsung menyatakan keilahian Kristus dan jati diri-Nya sebagai Nabi, Imam, dan Raja yang tiada duanya.
Ibrani 1:1-3 merupakan Kristologi ringkas yang mengajarkan kebenaran mendasar tentang Yesus. Dia adalah Anak Allah (ay.2), yang ada sejak semula ketika Allah menciptakan alam semesta melalui-Nya. Dia juga menguasai masa depan karena Allah menetapkan Dia sebagai satu-satunya yang berhak “menerima segala yang ada” (ay.2).4 Yesus setara dengan Allah, karena Dia adalah “cahaya kemuliaan Allah” (sebagaimana matahari dan sinarnya saling terkait) dan “gambar wujud Allah” (ay.3). Frasa ini diterjemahkan dari kata Yunani yang bermakna “cetakan”—pola yang menghasilkan duplikat sama persis seperti aslinya.5 Yesus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa (ay.3; lihat Kolose 1:17). Dia adalah Allah sejati.
Tiga peran kunci dalam kepemimpinan Israel pada zaman dahulu adalah nabi, imam, dan raja. Penulis memperlihatkan bahwa Yesus memegang tiga jabatan itu sekaligus dengan cara yang luar biasa. Dialah Nabi di atas segala nabi, karena di masa lampau Allah berfirman melalui para nabi-Nya, tetapi kini Dia “telah
berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibrani 1:2). Dalam Yesus, kita mendengar firman Allah yang mutlak dan lengkap. Yesus juga telah “mengadakan penyucian dosa” (ay.3). Persembahan yang harus dilakukan berulang kali oleh para imam (karena perbuatan mereka hanya lambang dari tindakan sempurna Allah di masa depan) kini telah Yesus laksanakan dengan satu korban final di atas salib ketika Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai “pendamaian untuk segala dosa kita” (1 Yohanes 2:2). Setelah menunaikan semua ini demi keselamatan kita, Yesus duduk di tempat yang diperuntukkan bagi-Nya di sebelah kanan Allah Bapa. Dia memerintah sebagai Raja atas segala raja.
Dengan demikian, penulis menegaskan bahwa tak seorang pun yang seperti Yesus. Dia adalah Nabi yang melampaui semua nabi, Imam atas segala imam, dan Raja yang memerintah atas segala raja. Dia jauh melebihi orang-orang terbaik Israel yang ada sepanjang sejarah. Jadi, kita harus menanggapi Dia dengan sungguhsungguh.
3 Ray C. Stedman, Hebrews, IVP New Testament Commentary Series (Downers Grove: InterVarsity Press, 1992), 19.
4 Philip Edgcumbe Hughes, A Commentary on the Epistle to the Hebrews (Grand Rapids: Eerdmans, 1990), 39.
5 Leon Morris, “Hebrews”, dalam The Expositors Bible Commentary, ed. Frank E. Gaebelein, vol. 12 (Grand Rapids: Zondervan, 1981), 14.
Pikirkanlah setiap bukti keilahian Yesus dalam perikop ini. Bagaimana tanggapan Anda terhadap itu semua? Bagaimana Anda menjelaskan kepada orang lain bahwa Yesus adalah Allah sejati?
Renungkan bahwa Yesus adalah Nabi, Imam, dan Raja yang tiada taranya. Bagaimana Dia menjalankan ketiga peran itu dalam kehidupan Anda?
Baca Ibrani 1:4-14
Sebelum ini, kita telah membahas
bagaimana Yesus lebih tinggi
daripada apa pun yang ada dalam kepercayaan Yahudi. Bacaan hari ini memperlihatkan bahwa Dia jauh melebihi malaikat surgawi. Malaikat adalah makhluk ciptaan dan digambarkan sebagai makhluk mulia yang melayani Allah—kecuali Iblis dan malaikat lain yang jatuh bersamanya dalam pemberontakan. Namun, Yesus yang adalah Anak Allah jauh lebih tinggi daripada para malaikat itu. Tidak seperti dengan mereka, Dia bukan ciptaan.
Penulis Ibrani mengutip sejumlah perikop Perjanjian Lama untuk menjelaskan maksudnya. Dimulai dengan Mazmur 2:7 di mana Allah berfirman kepada Kristus bahwa Dia adalah Anak-Nya; hal itu tak pernah diucapkan kepada malaikat mana pun (Ibrani 1:5). Serupa dengan itu, 2 Samuel 7:14 dan 1 Tawarikh 17:13 juga dijadikan rujukan. Penulis mengutip pula terjemahan Septuaginta (terjemahan Kitab Suci Ibrani dalam bahasa Yunani) dari Ulangan 32:43 (“Semua malaikat Allah harus menyembah Dia”) untuk menunjukkan bahwa semua malaikat harus tunduk di hadapan Yesus (ay. 6). Yesus adalah yang “sulung” karena sebagai Allah yang tidak diciptakan, Dia telah ada sebelum semua ciptaan.6
Malaikat adalah para pelayan dan hamba Allah— seperti angin dan api—yang menjalankan perintah Allah (Ibrani 1:7, mengutip Mazmur 104:4), tetapi Yesus jauh lebih tinggi. Allah menyebut Yesus sebagai Allah! Allah berkata kepada Kristus, “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya” (bandingkan Mazmur 45:7-8) dan menyebut-Nya sebagai “Allah-Mu” (Ibrani 1:8-9). Untuk mengerti hal tersebut, kita perlu memahami asas Alkitab mengenai Tritunggal, yaitu bahwa ada satu Allah yang kekal dengan tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Penulis mengutip Mazmur 102:26-28 untuk menunjukkan bahwa Kristus hadir pada waktu penciptaan dunia dan Dia tetap sama sepanjang masa (Ibrani 1:10-12; lihat 13:8). Ia juga mengutip Mazmur 110:1, ayat yang suka dipakai oleh para penulis Perjanjian Baru (Matius 22:44; Kisah Para Rasul 2:34-35) untuk menyatakan keilahian Kristus (Ibrani 1:13). Tiada malaikat yang sanggup mencapai kemuliaan dan keilahian yang begitu tinggi. Meski malaikat adalah makhluk sorgawi dan mereka melayani Allah, adalah keliru bila kita memandang malaikat melebihi Kristus. Orang Yahudi zaman Perjanjian Baru terpikat pada malaikat; sebagian
mengagungkan malaikat sebagai pengantara yang patut disembah (lihat Kolose 2:18). Penulis Ibrani mengarahkan pembaca kepada Kristus yang lebih tinggi daripada para malaikat sekaligus pengantara satu-satunya (1 Timotius 2:5; kata Yunani untuk “pengantara” adalah istilah hukum yang artinya penengah/juru damai)7 yang membawa kita langsung kepada Allah.
6 Bruce, Epistle to the Hebrews, 15. 7 Morris, “Hebrews”, 76.
Menurut Anda, mengapa penulis menekankan bahwa
Yesus jauh lebih tinggi daripada para malaikat? Apa yang terjadi bila orang Kristen tidak mengakui keberadaan malaikat atau justru terlalu meninggikannya?
Yesus tetap sama sepanjang masa (Ibrani 1:12), Dia adalah yang awal dan yang akhir (Ibrani 1:10-12; Wahyu 1:8,17; 21:6). Bagaimana kebenaran itu mempengaruhi kehidupan Anda?