Dari penerbit
Our Daily Bread®

![]()
Dari penerbit
Our Daily Bread®

Seri Perjalanan Iman Ester
© 2019 oleh Peter Lau
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Penerjemah:
Daniel Kurniawan, Didi Daryadi, Febe Agustina, FX Kurniawan, Gandhi Manalu, Helena Simatupang, Linda Sumayku, Olga Sihombing, Suliani Simon Hartono, Vely Megawati
editor:
Jovita Aristya, Monica Dwi Chresnayani
Penyelaras Bahasa: Bungaran Gultom, Dwiyanto Fadjaray
Perancang Buku: Joshua Tan
Penata letak: Grace Goh, Mary Chang
Kutipan ayat diambil dari Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974
ISBN 978-981-11-7289-2
Edisi bahasa Indonesia diterbitkan dan didistribusikan oleh
PT Duta Harapan Dunia www.dhdindonesia.com
Dicetak di Indonesia
Cetakan pertama: Maret 2019
Sebagian orang Kristen mendengar kisah Ester pertama kalinya dari cerita Sekolah Minggu dalam versi yang disederhanakan, yakni tentang seorang wanita yang memenangi kontes kecantikan. Dari gadis Yahudi yatim piatu yang malang, Ester menjadi Ratu Kerajaan Persia dan hidup bahagia selamanya— layaknya kisah Cinderella versi Yahudi.
Namun, saat membacanya dengan lebih teliti, kita mendapati beberapa bagian yang mengusik. Bahkan umat Tuhan tidak diceritakan melakukan sesuatu yang religius, misalnya berdoa. Selama berabad-abad, orang Kristen juga kesulitan memahami kitab ini. Bagaimana kita menilai tindakan para tokoh utamanya, yaitu Mordekhai dan Ester, orang-orang Yahudi? Bagaimana kita menyikapi pembunuhan yang terjadi pada akhir kitab? Apa hubungan antara Purim— perayaan Yahudi yang memperingati peristiwa itu—dengan orang Kristen zaman sekarang?
Di balik permasalahan tersebut, ada pertanyaan yang lebih mendesak: di manakah Allah? Dia tak disebutkan satu kali pun dalam seluruh kisah ini.
Dengan membaca dan merenungkan kitab Ester, kita akan melihat bahwa Allah bukan tidak ada, melainkan tersembunyi. Dengan “kebetulan demi kebetulan” yang terjadi, satu-satunya kesimpulan yang mungkin adalah bahwa sesungguhnya tangan Allah bekerja di balik pemutarbalikan dramatis yang menyelamatkan hidup umat-Nya.
Kiranya Allah mengaruniakan wawasan baru dari firman-Nya dalam kitab Ester. Wawasan tentang jalan-jalan Allah bagi kita yang hidup di luar Tanah Perjanjian, di dalam dunia yang kehadiran-Nya sering tidak terlihat; wawasan tentang cara hidup yang bijaksana di tengah dunia yang memusuhi kita; dan yang terpenting, kesegaran baru dalam cara kita menghargai kesetiaan-Nya yang terwujud dalam Yesus, Pribadi yang memberi kelepasan terbesar.
Kemuliaan hanya bagi Allah, Peter Lau

Kami senang Anda ikut serta dalam perjalanan iman untuk menjalin persekutuan yang lebih erat dengan Tuhan kita, Yesus Kristus!
Selama lebih dari 50 tahun, pelayanan kami dikenal karena bahan penuntun saat teduh harian yang kami terbitkan, Our Daily Bread (Santapan Rohani ). Banyak pembaca menyukai renungan-renungannya yang ringkas, inspiratif, dan relevan bagi kehidupan sehari-hari, yang membawa mereka makin mengenal Allah serta memahami hikmat dan janji-janji firman-Nya yang tidak pernah berubah.
Dengan dasar pengalaman itulah, kami menerbitkan Seri Perjalanan Iman untuk menolong orang percaya menjelajahi kitab demi kitab dari firman Tuhan dalam waktu mereka bersama-Nya. Kami percaya bahwa perenungan firman Tuhan yang dilakukan secara teratur akan membawa Anda kepada persekutuan yang makin erat dengan Allah di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.
BACA: Buku ini dirancang sebagai pendamping dari pembacaan Alkitab yang Anda lakukan. Penjelasan-penjelasan di dalamnya akan membantu Anda memahami Kitab Suci dari sudut pandang yang baru.
RENUNGKAN: Pertanyaan-pertanyaan perenungan dimaksudkan untuk membantu Anda menanggapi Allah dan firman-Nya, sehingga Dia dapat bekerja memperbarui hati dan hidup Anda sepenuhnya.
CATAT: Tersedia kolom kosong bagi Anda untuk mencatat segala hasil perenungan dan tanggapan Anda atas bagian yang telah Anda baca.
Peristiwa dalam kitab Ester terjadi pada masa setelah pembuangan ke Babel, tepatnya di ibukota Susan selama pemerintahan Kerajaan Persia— kerajaan besar yang berkuasa setelah Babel (539 SM), hingga kemudian jatuh ke tangan Kekaisaran Yunani oleh Iskandar Agung (333 SM). Raja dalam kisah Ester adalah Xerxes (juga dikenal sebagai Ahasyweros; Ester 1:1), yang memerintah selama 486–465 SM. Ia menggantikan ayahnya, Darius I (memerintah 522–486 SM), yang pada zamannya pembangunan
Bait Suci kedua di Yerusalem selesai dibangun (Hagai 2:1-10; Ezra 6:15; 516 SM). Raja-raja pendahulunya antara lain adalah Kambisus II (530–522 SM) dan Koresh (559–530 SM). Dalam pemerintahan Koresh, orang Israel yang diangkut ke Babel diizinkan pulang dan membangun kembali Yerusalem serta Bait Suci (539 SM; 2 Tawarikh 36:22-23; Ezra 1:1-4). Namun, kebanyakan orang Yahudi tetap tinggal di negeri asing dan tersebar di berbagai wilayah (diaspora), termasuk dua tokoh Yahudi utama dalam kitab ini, yaitu Mordekhai dan sepupunya, Ester. Nenek moyang mereka diangkut ketika raja Babel, Nebukadnezar, menghancurkan Yerusalem (2 Raja-Raja 25:1-21; Ester 2:5-6).
Bila diurutkan, alur kitab Ester tampak seperti pembalikan. Sejak Haman ditinggikan (D) dan dikeluarkannya keputusan untuk menghancurkan orang Yahudi (E), alur mulai menikung. Titik baliknya kelihatan sangat sepele, yaitu ketika raja tidak bisa tidur, yang kemudian menghasilkan upacara kerajaan untuk menghormati Mordekhai (H). Hal ini pada gilirannya memicu serangkaian peristiwa “kebetulan” yang berakhir dengan pembebasan Allah bagi bangsa Yahudi dan penghancuran musuh-musuh mereka.
A: Kebesaran Ahasyweros (1:1-8)
B: Perjamuan orang Persia (1:1-8)
C: Ester dikenali sebagai non-Yahudi (2:10-20)
D: Naiknya Haman (3:1)
E: Perintah Haman untuk membinasakan orang Yahudi (3:12-15)
F: Pembicaraan antara Mordekhai–Ester (4:10-16)
G: Perjamuan Ester yang pertama (5:6-8)
H: Upacara Kerajaan (6:1-14)
A’: Kebesaran Ahasyweros dan Mordekhai (10:1-3)
B’: Perjamuan orang-orang Yahudi (9:20-32)
C’: Non-Yahudi masuk menjadi Yahudi (8:17)
D’: Naiknya Mordekhai (8:15)
E’: Perintah Mordekhai untuk menyelamatkan orang Yahudi (8:9-14)
F’: Pembicaraan antara Ahasyweros dan Ester (7:1-6)
G’: Perjamuan Ester yang kedua (7:1-6)
Ayat Kunci:
“Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” —Ester 4:14
1
Baca Ester 1:1-8
Pada permulaan narasi, tampillah
Raja Ahasyweros. Seandainya hidup di zaman sekarang, mungkin ia bisa menjadi bintang acara televisi yang bertajuk, “Gaya Hidup OKB (Orang Kaya dan Berkuasa)”. Ayat 1 mencatat bahwa ia memerintah
Kerajaan Persia yang terbentang luas, membentang dari India hingga Sudan dan meliputi tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa.
Raja Persia yang sangat berkuasa ini gemar memamerkan kekayaannya. Pada tahun ketiga pemerintahannya, ia menggelar pesta bagi semua bangsawan, pembesar, pejabat militer, dan para pemimpin daerah (1:3). Pesta ini berlangsung selama enam bulan! Kemudian, ia mengadakan pesta lain, kali ini bagi rakyat di dalam benteng (1:5). Ayat 4 mengatakan bahwa sang baginda “memamerkan kekayaan kemuliaan kerajaannya dan keindahan kebesarannya yang bersemarak.”
Bacalah kembali ayat 6 dan bayangkan kemegahan istana serta pesta itu.
Ada orang kaya yang gemar berpakaian nyaman meskipun usang, ada pula yang suka memamerkan kekayaan dengan berbusana mewah. Kelihatan jelas bahwa raja Ahasyweros termasuk kategori yang kedua. Istana dan perjamuannya glamor, berlebihan, dan luar biasa mewah.
Ahasyweros memang bukan raja biasa. Kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya berlimpah ruah. Namun, apakah ia menggunakannya dengan baik?
Saat menonton acara-acara televisi yang menampilkan para selebriti kaya dan berpengaruh, bisa jadi kita merasa iri. Gaya hidup mereka yang mewah dan ketenaran sebesar itu membuat kita berharap bisa memilikinya sedikit saja. Namun, kekayaan dan pengaruh ibarat pedang bermata dua; jika disalahgunakan, hal itu akan menentukan dan mengendalikan hidup kita. Alkitab memperingatkan: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. . . . Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selamalamanya” (1 Yohanes 2:15-17).
Sepanjang kitab Ester, kita akan melihat bahwa Allah tetap memegang kendali sekalipun pemerintahan dunia dikuasai oleh mereka yang bodoh dan bebal.
Bacalah 1 Timotius 6:6-10,17-19 untuk melihat sudut pandang Alkitab tentang kekayaan dan kekuasaan. Apa yang selama ini Anda anggap berharga dan dapat diandalkan?
Bila Anda seorang yang kaya dan berpengaruh, bagaimana Anda telah memakai berkat tersebut?
Hal apa yang Anda sayangi dan hargai?