

Musibah Kala Melanda
Menemukan Rasa Aman di Dunia yang Rawan
DAFTAR ISI
Kala Musibah Melanda . . . 1
Sejumlah Ciri Umum
dari Musibah .
Perasaan yang Dialami
. 5
Kala Musibah Melanda . . 7
Musibah: Apa yang
Direnggutnya dari Kita . 12
Musibah: Apa yang
Ditinggalkannya .
Musibah: Apa yang
Dapat Diajarkannya . .
Hidup dengan
Keyakinan dalam Dunia
yang Penuh Bahaya .
Bagaimana Dapat Menolong
Tempat Perlindungan
dan Pengharapan
Kita yang Utama
Penerbit: RBC Ministries
Penulis: Tim Jackson
Editor Pelaksana: David Sper
Penerjemah: Yudy Himawan
Editor Terjemahan: Dwiyanto, Natalia Endah
Penata Letak: Jane Selomulyo
Diterjemahkan dari:
Discovery Series:
When Tragedy Strikes—Finding
Security in a Vulnerable World
Foto Sampul: Corbis
17
21
Kala Musibah Melanda
Menemukan Rasa aman di dunia yang Rawan
25
28
31
Kutipan ayat-ayat Alkitab dikutip
dari ALKITAB terjemahan LAI
© 2003 .
Copyright © 2013
RBC Ministries, Grand Rapids, Michigan Dicetak di Indonesia
Cetakan kedua .
AApakah ada TV di dekatmu?” tanya istri saya ketika saya menjawab teleponnya. “Tidak,” jawab saya, dan saya agak heran karena tidak mendengar sapaan darinya yang biasanya bersemangat. Waktu itu, saya sedang duduk di meja kerja mengerjakan tugastugas yang biasa saya kerjakan di setiap Selasa pagi. “Cepat, lihat TV!” desaknya. “Dua pesawat terbang baru saja menabrak gedung World Trade Center di New York. Banyak yang berpikir ini perbuatan para teroris!”
Beberapa saat kemudian saya bersamasama beberapa teman kerja berdesakan di depan layar TV kecil yang ada di ruangan penyuntingan video. Kami menatap TV dan terhenyak dalam keheningan menyaksikan rekaman gambar pesawat United Flight 175 dan American Flight 11 ketika menghantam dua menara kembar tersebut yang ditayangkan berulang-ulang. Ketika kami masih berusaha memahami betapa dahsyatnya peristiwa itu, menara Selatan pun runtuh dalam kepulan asap dan puing-puing reruntuhan. Tak lama kemudian, menara Utara runtuh juga. Sebelumnya, dua menara itu tegak berdiri di tempatnya. Lalu tiba-tiba keduanya “
runtuh dengan menelan sejumlah korban jiwa yang tidak terhitung banyaknya. Sepanjang hari itu, dan hari-hari berikutnya, saya terpaku menyaksikan setiap siaran berita untuk mendapatkan kabar sebanyak mungkin tentang nasib mereka yang terperangkap dalam salah satu peristiwa terdahsyat yang pernah saya saksikan. Gambar-gambar mengerikan yang saya saksikan itu akan tertanam dalam ingatan saya selamanya.
Pada hari itu dunia berubah, bagi kita semua dan bukan saja bagi penduduk di Amerika
Serikat. Aksi para teroris pada tanggal 11 September 2001 tersebut menyatakan bahwa tidak ada tempat di mana pun di dunia ini yang benar-benar aman. Jika negara adikuasa saja dapat dihantam sedemikian hebatnya, betapa rentannya kita semua. Seorang spesialis dalam bidang kedukaan menyatakan: “Tidak peduli kehilangan seperti apa yang kita alami, baik yang langsung maupun yang tidak, kita semua kehilangan sesuatu yang sangat bernilai. Kita telah kehilangan ilusi yang menyatakan bahwa kita aman-aman saja.”1
Ketika musibah melanda, rasa aman pun menguap.
Keamanan dirusak. Ketidakpastian menyebar. Rasa takut menyeruak masuk. Ketidakberdayaan manusia terkuak. Diperhadapkan pada kefanaan kita sendiri, kerentanan kita menjadi suatu kabut tak tertembus yang menyelimuti hati manusia. Namun, musibah tidaklah semata-mata hasil terorisme. Musibah dapat melanda dari segala sudut tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
Kehilangan yang dialami seseorang dalam bentuk apa pun dapat mengubah kehidupan mereka yang terkena dampaknya secara langsung. Namun, sejumlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dan sangat mengerikan dapat mengakibatkan trauma bagi masyarakat di sekitarnya.
Ketika sedang menulis buklet ini, saya menerima telepon yang memberitahukan bahwa di kota tempat saya dibesarkan telah terjadi peristiwa yang sangat tragis. Mayat keponakan kawan kami telah ditemukan oleh nelayan di danau setempat.
Keponakan tersebut berusia 26 tahun. Ia mati dicekik.
Musibah melanda paling dahsyat ketika ia melanda di waktu yang sangat tak terduga,
hingga itu meruntuhkan rasa aman kita dan mengguncangkan kita dengan perasaan kehilangan dan kerentanan.
Apakah yang kita pikirkan dan rasakan ketika hidup kita sendiri dilanda peristiwa buruk dalam skala besar yang tibatiba mengubah kehidupan kita?
Apakah kita akan kehilangan segala harapan kita? Atau apakah kita akan mengalami, seperti yang telah dialami orang lain, bahwa masih ada cara untuk bertahan hidup, dan bahkan untuk bertumbuh, ketika kita diperhadapkan pada bencana alam, kecelakaan besar, atau tindak kekerasan?
Bencana alam adalah
peristiwa yang terjadi secara tibatiba dan membawa akibat yang menghancurkan, berdampak pada kehilangan jiwa dan harta benda dalam jumlah besar. Peristiwaperistiwa seperti:
• angin puting beliung yang
memporak-porandakan banyak kota di wilayah tengah Amerika
Serikat
• lumpur longsor yang mengubur satu desa di Kosta Rika
• longsoran salju yang
memusnahkan satu kota di pegunungan Alpen di Swiss
• banjir bandang di Kamboja
• angin ribut di Malaysia
• kebakaran hutan di pegunungan Rocky Kanada
• angin topan di Laut Karibia
• letusan gunung berapi di Filipina
• gempa bumi di Turki, India dan Iran
Kecelakaan besar
adalah peristiwa yang tidak terduga dan tidak disengaja yang mengakibatkan luka-luka, kehilangan dan kerusakan. Peristiwa-peristiwa tersebut sering terjadi karena kegagalan mekanis atau kelalaian manusia.
• kecelakaan mobil
• kecelakaan pesawat terbang
• kecelakaan kerja
• kebakaran rumah
• tenggelamnya kapal laut Musibah kekerasan merupakan akibat dari tindak kekerasan yang disengaja dimana sasarannya adalah seseorang atau suatu kelompok, seperti:
• penyerangan
• kebakaran yang disengaja
• penculikan
• pembunuhan
• serangan teroris
• kasus penyanderaan
• peperangan
• pemusnahan besar-besaran suatu suku/kelompok tertentu
• penyiksaan
Meskipun kita telah berusaha untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih aman bagi kita dan anak-anak kita, dunia ini terus diwarnai dengan kekerasan, bencana, dan malapetaka. Di tahun 2003, terjadi 380 bencana alam dan malapetaka buatan manusia yang tercatat telah menelan korban 60.000 orang. Sigma, sebuah perusahaan
Swiss yang menyelidiki peristiwa bencana alam dan malapetaka yang disebabkan oleh manusia, menerbitkan angka-angka yang menyebut 2003 sebagai tahun yang menduduki peringkat
tertinggi ketujuh yang menelan korban jiwa terbesar dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Gempa
Desember 2003 di kota Bam di Iran, yang menelan korban sebanyak 41.000 orang, adalah yang paling mengenaskan—gempa terbesar keempat sejak tahun 1970.
Pertanyaan yang bertubi-tubi
melanda kita setelah keadaan yang mengenaskan ini terjadi: Apa yang masih kita miliki, ketika banyak hal telah musnah?
Bagaimana kita menghadapi musibah seperti ini? Bagaimana kita dapat bertahan hidup?
Apa yang kita rasakan? Apa yang sepatutnya kita rasakan?
4
Dapatkan kita merasa aman lagi? Apakah keadaan dapat kembali normal? Bagaimana kita dapat saling menolong dalam menghadapi musibah ini?
Banyak di antara kita bertanyatanya bagaimana kita dapat mengatasi ketidakberdayaan kita di tengah-tengah malapetaka yang terjadi. Itulah sebagian alasan mengapa film-film seperti Titanic begitu menarik perhatian.
Titanic menjadi film dengan penghasilan terbesar sepanjang masa, antara lain karena berisi kisah cinta tragis yang dilatarbelakangi suatu malapetaka di laut yang telah dikenal luas serta berdampak besar baik bagi orang banyak maupun dunia internasional. Demikian pula halnya dengan semua musibah. Kita melihatnya sebagai peristiwa-peristiwa yang sangat besar dan dahsyat. Namun, peristiwa-peristiwa bencana yang mengguncang dunia ini terdiri dari banyak kisah nyata yang tidak kalah penting dari orangorang biasa yang, sekalipun berada di tengah ketidakpastian, menemukan apa yang paling berarti bagi mereka yang masih terselamatkan.
Musibah dapat mendorong munculnya sikap terbaik atau
terburuk dari dalam diri kita. Suatu peristiwa yang mendorong pencuri menjarah daerah yang terkena bencana, juga dapat menjadi kesempatan bagi seseorang untuk mengulurkan tangan dan saling menolong, sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Bagaimana kita menanggapi apa yang terjadi berbicara banyak tentang siapa diri kita yang sebenarnya.
sejuMlah
daRi Musibah
benda akibat malapetaka yang mengerikan, tindak kekerasan, atau bencana alam. Peristiwanya terjadi secara tiba-tiba, dan tidak terduga. Hidup yang sedang berjalan baik-baik saja dan normal bagi kebanyakan orang tiba-tiba saja mengalami interupsi dan berubah selamanya tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
Seperti ledakan bom di kawasan pertokoan yang ramai atau gempa bumi dahsyat yang mengguncang, kerusakan hebat dari bencana tersebut menjalar luas ke sekitarnya.
KKetika kita membayangkan suatu musibah, kita tidak membayangkan seseorang yang telah menjalani kehidupan yang panjang, dan meninggal di usia 90-an dengan keluarga dan teman-teman yang mendampingi di akhir hidupnya. Hal seperti itu memang kehilangan yang menyakitkan, tetapi kita tidak akan menyebutnya sebagai suatu musibah. Akhir hidupnya sudah terbayang. Kita dapat memperkirakan waktunya.
Yang kita anggap sebagai suatu musibah biasanya adalah suatu kehilangan nyawa atau harta
Joanne Jozefowski telah mengenali sejumlah ciri umum dari bencana besar yang kemungkinan dapat memunculkan reaksi dukacita yang mendalam.2 Ketika Anda meninjau daftar ini, pikirkanlah seberapa banyak dari ciri-ciri ini yang muncul dalam peristiwa-peristiwa yang Anda alami, baik secara langsung atau tidak langsung.
Peristiwa Itu Tidak
Terduga. Musibah itu menghantam secara tiba-tiba, dahsyat, dan tidak terduga. Kita terhenyak dan terkejut, terguncang oleh hantaman keras yang membuat kita menjadi bingung dan linglung. Kita merasa kewalahan dan sungguh tak siap. 5
Peristiwa Itu Tidak
Terkendali. Musibah bukan
hanya terjadi secara tidak terduga, tetapi juga jauh melampaui kemampuan kita untuk mencegahnya, mengubahnya, atau mengendalikannya. Kita merasa tidak berdaya untuk menghentikan peristiwa yang sudah terjadi, dan merasa rentan karena kita sadar bahwa sebelum itu terjadi pun kita tidak mungkin mencegahnya.
Peristiwa Tersebut
Tidak Terbayangkan.
Kehancuran yang merupakan akibat dari suatu musibah sungguh melampaui pemahaman kita. Kita sama sekali tidak tahu bagaimana memahami selukbeluk dari apa yang kita alami. Kita melihatnya dengan mata kepala sendiri, tetapi kita tetap tidak dapat percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi. Sifat tak terbayangkan dari musibah inilah yang membuat kita terhenyak karena dulu kita anggap hal itu tidak mungkin dapat terjadi. Banyak orang menggambarkan peristiwa 11 September yang mereka lihat di layar TV sebagai pengalaman yang tak terbayangkan. Tayangan TV yang menampilkan pesawat-pesawat yang menabrakkan diri dan
gedung-gedung yang luluh lantak itu lebih terlihat seperti suatu adegan dalam film laga daripada kengerian yang sungguh-sungguh terjadi. Ribuan orang biasa seperti kita pagi itu berangkat ke tempat kerja dan tidak kembali lagi.
Peristiwa Tersebut
Belum Pernah Terjadi
Sebelumnya. Belum pernah musibah seperti ini kita alami secara langsung. Sering kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan atau bagaimana harus menanggapinya karena kita tidak pernah menghadapi hal seperti itu. Tanpa peristiwa lain yang sebanding dengan musibah ini, kita merasa tersesat, bergumul untuk mencari petunjuk.
Peristiwa Tersebut
Membuat Kita Merasa
Gamang dan Rentan.
Setelah musibah berlalu, kerapuhan hidup ini terlihat dengan jelas. Tak seorang pun dapat sepenuhnya memahami dampak luas dan jangka panjang dari musibah itu, baik bagi kita, keluarga, mata pencaharian, atau masa depan kita. Kita merasa terkoyak antara berpengharapan dan rasa takut, putus asa dan tak percaya. Kita tak ingin berhenti berharap, tetapi kita juga takut membiarkan diri kita terus