Skip to main content

Sampel Booklet Mendobrak Zaman Mengubah Jiwa

Page 1


MUSA: Amarahnya dan Harga yang Harus Dibayarnya

MUSA: Amarahnya dan Harga

yang Harus Dibayarnya

Tokoh Musa dalam kisah mengenai Sepuluh Perintah Allah sering dianggap sebagai seorang legenda moral, lebih istimewa daripada orang kebanyakan. Namun, pribadi yang ada dibalik kisah itu sesungguhnya adalah seorang manusia biasa, yang menurut Alkitab lebih menyerupai kita daripada apa yang dibayangkan orang.

Selain pergumulannya dengan keengganan bertindak dan rasa ragu terhadap diri sendiri, Musa juga bermasalah dengan amarahnya. Dan pelampiasan amarahnya ternyata membawa akibat demi akibat yang serius.

Tak seorang pun di antara kita yang tidak perlu memahami perbedaan antara sikap marah yang sehat dengan luapan atau letupan amarah yang berakibat buruk. Dalam buklet ini, Bill Crowder, Associate Bible Teacher dari Our Daily Bread Ministries, menolong kita untuk memahami jati diri Musa yang sebenarnya sekaligus jati diri kita sendiri. —Mar tin R. DeHaan II

“TAK SEMUDAH ITU!”

Selama masa-masa awal Perang Dunia I, ada kecemasan besar terhadap kapal-kapal selam Jerman dan kemampuan rahasia mereka. Dikisahkan seorang penulis humor, Will Rogers, sedang ditanya oleh seorang wartawan mengenai bagaimana ia akan mengatasi ancaman hadirnya kapal-kapal selam tersebut. Dengan gaya yang lugas dan apa adanya, Rogers menyatakan bahwa ia telah menemukan solusi untuk mengatasi kapal selam tersebut. “Yang perlu Anda lakukan,” katanya, “cukup dengan merebus lautan tersebut. Ketika air lautnya menjadi sangat panas dan tak tertahankan lagi, kapal-kapal selam itu akan naik ke permukaan, dan Anda pun dapat menangkap mereka!”

Wartawan tersebut membalas, “Lalu, bagaimana caranya Anda dapat melakukan hal itu?” Dengan segera Rogers menjawab, “Saya cuma menyumbang ide koq. Biar orang lain yang memikirkan bagaimana caranya.”

Ada Banyak Persoalan Hidup yang Rumit

Kelakar Rogers mengingatkan kita bahwa peliknya hidup ini tidak bisa kita selesaikan hanya dengan solusi-solusi yang terlalu sederhana. Manusia adalah makhluk yang rumit, demikian juga berbagai keadaan yang kita hadapi.

Masalah-masalah kita perlu dimengerti dalam konteks dan sudut pandang yang tepat:

• Jika yang kita ketahui tentang Nuh hanyalah masalahnya dengan alkohol pada Kejadian 9, kita akan mengira bahwa ia adalah seorang pecundang yang melarat. Namun, ia digambarkan Allah sebagai “seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya” ( KEJ. 6:9).

• Jika yang kita ketahui tentang Daud hanyalah perzinahannya dengan Batsyeba, kita tidak akan mengira

Segala kepelikan

dalam hidup ini

tidak bisa kita selesaikan hanya dengan solusisolusi yang terlalu sederhana.

Amarahnya

bahwa ia, dalam sebagian besar hidupnya, adalah “seorang yang berkenan di hati [Tuhan]” (1SAM. 13:14).

• Jika yang kita ketahui tentang Saulus dari Tarsus hanyalah usahanya untuk membunuh para pengikut Kristus, kita tidak menyangka bahwa ia akan menuliskan separuh dari kitab-kitab dalam Perjanjian Baru.

Hal yang sama juga berlaku untuk Musa. Jika yang kita ketahui tentang Musa hanyalah amarah yang sewaktu-waktu menguasai dirinya, kita tidak akan melihat betapa dirinya menjadi teladan penting bagi kita semua.

Kita Semua Bergumul

Anda dan saya mengetahui kegagalankegagalan kita sendiri lebih daripada orang lain. Di luar rumah mungkin kita dapat menampilkan kesan bahwa kita mampu mengendalikan segala sesuatu. Namun, pasangan, anak-anak, dan temanteman terdekat kita sering kali melihat sisi lain dari diri kita. Alangkah bahagianya kita jika saat-saat yang paling memalukan yang kita alami biasanya hanya diketahui oleh segelintir orang saja!

Musa mengalami sejumlah kegagalan yang sangat disesalkan, dan semua itu tercatat dalam Alkitab untuk sepanjang masa dibaca semua orang di dunia.

Musa tak seberuntung itu. Pemimpin yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi ini mengalami sejumlah kegagalan yang sangat disesalkan, dan semua itu tercatat dalam Alkitab untuk sepanjang masa dibaca semua orang di dunia. Sebagai dampaknya, mereka yang membaca kisah Musa dengan saksama akan melihatnya sebagai seorang pria yang kehilangan kesabaran dan akal sehatnya di saatsaat kritis. Tampaknya Musa telah berjuang keras seumur hidup untuk memerangi amarahnya—sebuah pergumulan yang dijalaninya dengan jatuh-bangun. Namun, meski Musa memiliki kelemahan diri, Allah memakainya untuk:

• Membebaskan bangsanya dari belenggu perbudakan di Mesir.

• Memimpin orang Israel supaya memiliki identitas dan rasa kebangsaan.

• Menetapkan tatanan hukum dan struktur bagi suatu budaya yang baru terbentuk.

• Memimpin bangsa Israel menjadi sebuah komunitas yang teguh beribadah kepada Allah yang telah lama terlupakan.

• Memberi nasihat dan petunjuk untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsanya.

• Memimpin dengan tujuan jelas dan efektif di tengah kritikan tajam yang dilontarkan oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Bagaimanapun cara kita menilainya, Musa memang memiliki rekam jejak yang luar biasa. Namun, sementara itu, amarah menjadi kelemahan utama yang menggerogotinya. Hal itu membayangbayangi langkahnya seumur hidup.

Kita Semua Rentan

Saya percaya bahwa konsep tentang kelemahan diri inilah yang jelas-jelas dimaksud oleh penulis kitab Ibrani di Perjanjian Baru ketika ia menyatakan: Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita ( IBR. 12:1).

Kelemahan apa yang dengan

mudah menjerat kita, yang mengancam untuk menjegal kita di saat-saat kritis dalam hidup kita?

“Dosa yang begitu merintangi kita” adalah masalahnya. Petrus bergumul dengan sifat impulsifnya, Salomo dengan mata yang mudah tergoda, dan Abraham dengan niat untuk memperdaya. Masalah apa yang merintangi kita? Kelemahan apa yang dengan mudah menjerat kita, yang mengancam untuk menjegal kita di saat-saat kritis dalam hidup kita?

Bagi Musa, jelas amarah yang menjadi kelemahan utamanya.

DAYA AMARAH

Pada masa kini, tampaknya kita lebih mudah tersulut amarah dan mengambil jalan kekerasan dibandingkan pada masa lalu. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak dan pasangan, pertikaian antar kelompok, tawuran di jalanan, dan penyerangan pribadi semakin berkembang ke tingkat yang sangat memprihatinkan. Laporan media mengindikasikan bahwa Amerika Serikat telah menjadi sebuah “masyarakat yang membara”— dan statistik tampaknya mendukung pendapat tersebut. Namun, media yang melaporkan kekerasan tersebut, pada saat yang sama juga mempromosikannya. Beragam acara bincang-bincang berusaha memaksakan terjadinya konflik yang dibumbui kekerasan di layar kaca; berbagai film dan acara televisi menampilkan dengan glamor pertikaian-pertikaian yang diwarnai amarah; dan dunia olahraga tampaknya belum berhasil mengurangi kekerasan yang terjadi di atas lapangan, yang mencederai sejumlah atlet, tetapi yang justru digilai oleh para penggemar.

Pada Suatu Tempat di Masa Lalu

Kita bukanlah budaya pertama yang disuguhi begitu banyak kemarahan dan kekerasan. Zaman Mesir Kuno pun mengalami tingkat kekerasan yang sama. Meski mereka dianggap sebagai masyarakat yang paling maju dan beradab pada masanya, tetaplah Mesir Kuno mencapai kemajuannya dengan melakukan eksploitasi yang kejam terhadap tenaga budak, dan sebagian besar di antara mereka adalah orang Israel. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Selama bertahun-tahun, populasi bangsa Ibrani berkembang pesat di Mesir dibawah pengaruh Yusuf, putra kesebelas dari Israel (Yakub). Namun, Keluaran 1:8 menyatakan bahwa “kemudian bangkitlah seorang raja

Kita bukanlah budaya pertama yang disuguhi begitu banyak kemarahan dan kekerasan.

Dari catatan dan lembaran hitam

sejarah

Amerika Serikat sendiri, kita mengerti betapa tragis dan menetapnya dampak yang dialami

oleh suatu peradaban yang pernah menjunjung perbudakan.

baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf”—dan ia tidak merasa perlu untuk memelihara kaum sebangsa Yusuf. Firaun ini menekan dan memperbudak bangsa Ibrani.

Dari catatan dan lembaran hitam sejarah Amerika Serikat sendiri, kita mengerti betapa tragis dan menetapnya dampak yang dialami oleh peradaban yang pernah menjunjung perbudakan. Roots, sebuah miniseri televisi yang berpengaruh, menunjukkan akibat yang merendahkan nilai moral dan kemanusiaan dari praktik perbudakan di tanah Amerika pada awal sampai pertengahan abad ke-19. Warta berita televisi pun berulang kali menggambarkan konsekuensi yang masih dialami dari tragedi tersebut dimana bangsa Amerika terus bergumul dengan ketegangan rasial yang berakar pada praktik kejam perbudakan di masa lalu.

Tak pelak lagi, beban yang sama dialami di Mesir, baik dalam sikap maupun tindakan:

• Sikap Mesir yang merendahkan para budak Ibrani, dan kemarahan yang muncul di antara orang Ibrani terhadap para mandor mereka.

• Kekerasan bangsa Mesir untuk mempertahankan kendali terhadap bangsa Israel yang mereka perbudak, dan pemberontakan yang muncul di antara para budak ketika beban pekerjaan dan penderitaan mereka terasa semakin berat.

Selama 400 tahun Israel menanggung tindakan brutal dan perlakuan tidak manusiawi ini. Kemarahan dan kekerasan yang timbul sebagai akibat dari perbudakan memang tragis, tetapi tidak bisa terhindarkan.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Sampel Booklet Mendobrak Zaman Mengubah Jiwa by Our Daily Bread Ministries - Issuu