Skip to main content

Menemukan Tujuan Hidup Anda

Page 1


Steve, teman saya, adalah orang yang berhasil berkat kerja kerasnya sendiri.

Meskipun tidak terlalu menonjol secara akademis, tetapi ia berbakat dalam bidang seni dan fotografi. Keluarganya tidak pernah mengira ia bakal berhasil dengan bakatnya itu, tetapi Steve tetap tekun mengasah keterampilan dan bekerja keras untuk menggapai cita-citanya menjadi fotografer pemenang penghargaan.

Pada akhirnya ia memang berhasil dan mendapatkan segala sesuatu yang diimpikan banyak orang: karier yang sukses, pernikahan yang bahagia, dan uang yang cukup untuk membeli apa saja yang ia inginkan. Ia juga dihormati di bidangnya, dan banyak fotografer muda yang belajar darinya.

Di mata masyarakat, Steve dianggap sudah “jadi orang”. Ia melakukan pekerjaan yang disukainya dan mendapat bayaran yang sangat besar untuk melakukannya. Ia bahkan didukung dan dipuji orangtuanya.

Berhasil, dikenal, dan dihormati. Masih adakah yang mungkin diinginkan Steve?

Meski demikian, dalam obrolan kami baru-baru ini, ia memberi tahu saya bahwa masih ada yang kurang dalam hidupnya.

“Aku mendapat uang, pergi berlibur, mencari uang lebih banyak, pergi berlibur lebih sering lagi . . .

tetapi lama-lama semua terasa begitu-begitu saja,” katanya. “Entah untuk apa aku melakukan semua ini. Apa yang pernah

terasa menyenangkan dan memuaskan, sekarang tidak lagi begitu. Seandainya aku mati besok, apa gunanya hidupku selama ini?”

Diciptakan untuk Tujuan yang Lebih Berarti?

Perkataannya terasa tidak masuk akal. Bagi saya—dan bagi banyak orang lain—Steve tampaknya sudah mendapatkan semua yang kita butuhkan untuk bisa hidup bahagia.

Setidaknya, itulah yang dijabarkan

oleh psikologi populer. Menurut psikolog Abraham Maslow, kita semua memiliki hierarki lima kebutuhan yang membuat kita merasa bahagia:

1. Kebutuhan fisiologis (makanan, air, perteduhan, istirahat)

2. Keamanan (perlindungan)

3. Rasa Memiliki (persahabatan dan hubungan dekat)

4. Penghargaan (prestise dan pencapaian)
5. Aktualisasi diri (mencapai potensi diri yang terbaik)

Apakah Anda menerima manfaat dari bacaan ini? Berikan tanggapan dan usul Anda di sini.

KOMENTAR

BACA ARTIKEL LAIN

Jika Anda ingin menerima

Seri Pengharapan Hidup terbaru secara rutin atau ingin membagikan materi ini kepada orang lain, silakan:

Daftar di sini

Model lain yang lebih baru

diajukan oleh motivator Tony Robbins. Menurutnya, kita memiliki enam

kebutuhan inti:

1. Kepastian (jaminan terhindar dari rasa sakit dan dapat memperoleh kesenangan)

2. Keragaman (kebutuhan akan sesuatu yang tidak diketahui, perubahan, dan rangsangan baru)

3. Signifikansi (merasa unik dan penting)

4. Koneksi (merasa dicintai atau kedekatan dengan seseorang atau sesuatu)

5. Pertumbuhan (perluasan kapasitas atau kemampuan)

6. Kontribusi (rasa ingin melayani dan fokus untuk membantu orang lain).

Menurut dua model di atas, Steve sudah memenuhi semua kriteria, dan seharusnya memiliki hidup yang sangat bahagia. Namun, ternyata bukan itu yang dialaminya. Meskipun semua kebutuhannya untuk merasa bahagia dan puas sudah terpenuhi, ia belum sungguh-sungguh puas. Masih ada yang kurang.

Adakah sesuatu yang luput dari kedua model ini?

Adakah tujuan lebih besar yang dapat ditemukan di luar kehidupan yang seluruhnya terpusat pada diri sendiri?

Bagaimana

kita dapat memutuskan apa

yang kita butuhkan, padahal

kita tidak tahu apa yang akan

terjadi di masa depan?

Tujuan di Luar Diri Sendiri

Mungkin inilah keterbatasan model psikologi populer: semua dimulai dari dan ditujukan bagi diri sendiri. Namun, memang demikian budaya modern— hati kita dan keinginannya menjadi pedoman bagi kehidupan. Kita diberi tahu bahwa apa yang kita rasakan dan inginkan adalah yang terpenting, dan kita didorong mengejar impian kita, karena semua itu pasti akan membawa kita ke tempat kita seharusnya berada.

Kita juga terus-menerus diingatkan untuk tidak mengizinkan orang lain mengatur hidup kita dan melarang kita melakukan apa saja yang kita inginkan.

Dalam dunia yang menjunjung

kebebasan dan kemandirian sebagai tujuan hidup, kita didorong untuk

meyakini bahwa hanya kita sendiri yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita.

Namun, menjadikan diri sendiri sebagai penentu arah hidup sungguh

berisiko. Kita mengira kita mengenal diri sendiri sepenuhnya. Akan tetapi,

bagaimana kita bisa mengetahui

apa yang terbaik untuk diri

kita sementara kita tidak selalu

dapat memahami pergumulan batin kita sendiri? Bagaimana

kita dapat memutuskan apa yang kita butuhkan, padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan?

Apa yang terjadi ketika kita

mendengarkan suara hati kita dengan jujur? Walaupun sebagian dari kita

mempunyai bayangan kehidupan seperti apa yang kita inginkan—sesuatu yang

memiliki tujuan, berarti, aman, penuh kasih—sering kali kita sama sekali tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Mungkin sebagian kita juga terjebak antara keinginan mengendalikan hidup dan merasa takut bertanggung jawab. Mungkin kita merasa tidak berdaya karena banyaknya pilihan yang tersaji di hadapan kita, atau tidak mampu menghadapi akibat dari pilihan-pilihan kita. Atau, kita takut dengan mengambil satu keputusan berarti kehilangan hal lain yang lebih baik . . . itu saja sudah membuat kita khawatir!

Karena itulah kita terus bingung

dengan berbagai nasihat yang diberikan dunia ini, lewat strategi mencapai kepuasan yang diusulkan buku-buku pengembangan diri, dan oleh perasaan kita sendiri. Sebagian kita mungkin akan mencoba semuanya, dengan harapan ada satu yang berhasil. Sebagian lagi lelah karena terus berupaya mengejar setiap strategi baru demi kebahagiaan dan kepuasan. Yang lain mungkin berhasil, seperti Steve, tetapi menyadari bahwa kebahagiaan dan kepuasan sejati ternyata tetap tidak bisa diraih.

Mengenal Siapa yang

Menciptakan Kita

Ketika sebuah perusahaan atau seorang penemu mengeluarkan perangkat terbaru yang inovatif, seperti telepon genggam

versi tercanggih, mereka kerap menyelenggarakan konferensi untuk

memamerkan dan menjelaskan cara menggunakan perangkat tersebut sesuai dengan rancangannya. Mereka tidak ingin kita melewatkan fitur-fitur terbaik perangkat tersebut, supaya kita tidak menggunakannya untuk tujuan yang salah.

Mereka juga memberi panduan pengguna, untuk menerangkan cara yang benar dalam menggunakan alat ciptaan mereka.

Tentu saja, kita masih dapat memakai perangkat itu untuk tujuan

lain. Kamera yang jarang dipakai, misalnya, bisa berfungsi sebagai pemberat kertas. Namun, jika kita ingin mendapatkan hasil maksimal dari perangkat tersebut, dan benarbenar memahami tujuannya, kita harus menemukan maksud awal pembuatan perangkat tersebut dari perancangnya.

Hanya perancangnya yang dapat memberi tahu kita untuk apa ia membuat perangkat tersebut.

Pikirkanlah bagaimana kebenaran ini juga berlaku untuk memahami tujuan hidup kita. Karena itu, untuk menemukan

tujuan hidup ini, kita perlu juga bertanya kepada Pribadi yang menciptakan kita.

Mungkin pertanyaannya bukanlah, “Untuk apa semua ini?”, melainkan: “Untuk Siapa semua ini?”

Anda adalah buah karya kasih, diciptakan untuk dikasihi dan dihargai oleh Allah.

Anda adalah Karya Agung Allah

Alkitab, dasar iman Kristen, berkata bahwa setiap manusia

adalah ciptaan khusus Allah, Sang Perancang Agung. Setiap hidup

bersifat unik dan dibuat untuk tujuan yang spesifik. Seorang raja pernah

menulis bahwa Allah “membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mazmur 139:13).

Menenun adalah kerajinan yang butuh ketelitian tinggi. Penenun harus mengikuti pola yang jelas dan terstruktur untuk menciptakan hasil yang diinginkan, seperti sehelai syal atau baju hangat. Menenun juga butuh semangat dan kesungguhan hati agar menghasilkan sesuatu yang indah dan berguna.

Jadi, kata “menenun” memperlihatkan proses dan kerinduan hati Allah yang mengagumkan ketika Dia menciptakan Anda. Allah mengerahkan segenap keterampilan dan kecintaan-Nya untuk membentuk inti diri Anda.

Anda tidak

secara kebetulan

hidup saat ini, melainkan telah ditenun dengan penuh kesungguhan dan kasih. Anda adalah karya agung Allah, hasil

karya tangan-Nya yang terbaik.

Menenun juga adalah proses yang sangat intim. Menenun bukanlah proses produksi massal yang tidak mengalami sentuhan pribadi. Tangan penenun terusmenerus menyentuh dan mengerjakan tenunan benang—ini menunjukkan betapa Allah membentuk Anda dengan begitu lembut. Anda adalah buah karya kasih, diciptakan untuk dikasihi dan dihargai oleh Allah.

Tidak heran jika sang raja lalu

menulis:

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

(Mazmur 139:14)

Alangkah luar biasanya mengetahui bahwa Pencipta alam semesta ini

membentuk Anda secara pribadi dan cermat untuk satu tujuan yang unik? Lebih dari itu, Dia sangat mempedulikan diri Anda.

Yang mengagumkan adalah

Allah tidak merahasiakan

rencana-Nya atas diri kita. Dia bahkan ingin

memberitahukan tujuantujuan-Nya kepada kita. Itulah

sebabnya Dia memberi kita Alkitab, “panduan pengguna” bagi hidup kita, agar kita mengetahui tujuan yang ditetapkan-Nya—dan mengenal diriNya sendiri.

Apakah Anda ingin mengenal Allah dan mengetahui tujuan-Nya atas hidup

Anda?

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang Allah dan rencana-Nya untuk

Anda, berbicaralah dengan seorang Kristen yang Anda percayai, atau kunjungi situs kami: https://santapanrohani.org/sph/ untuk membaca materi-materi yang dapat menolong Anda.

Buklet Kisah tentang Pengharapan dapat membawa Anda lebih mengenal pribadi Tuhan Yesus dan karya-Nya untuk diri Anda.

Pindai QR code ini untuk membacanya secara daring, atau hubungi kami untuk mendapatkan edisi cetaknya tanpa dikenakan biaya.

Nikmati materi-materi untuk pertumbuhan rohani Anda di santapanrohani.org

ANDA DAPAT MEMBERI DAMPAK YANG BERARTI!

Materi kami tidak dikenakan biaya.

Our Daily Bread Ministries

PO Box 15, Kilsyth, VIC 3137, Australia

Pelayanan kami didukung oleh persembahan kasih dari para pembaca kami.

Tel: (+61-3) 9761-7086, australia@odb.org

Our Daily Bread Ministries Ltd

PO Box 74025, Kowloon Central Post Office, Kowloon, Hong Kong

Tel: (+852) 2626-1102, Fax: (+852) 2626-0216, hongkong@odb.org

Jika Anda ingin mendukung pelayanan kami, Anda dapat mengirimkan persembahan kasih melalui rekening “Yayasan ODB Indonesia”

BCA Green Garden A/C 253-300-2510

ODB Indonesia

PO Box 2500, Jakarta 11025, Indonesia

BNI Daan Mogot A/C 0000-570-195

Mandiri Taman Semanan A/C 118-000-6070-162

Tel: (+62-21) 2902-8950, Fax: (+62-21) 5435-1975, indonesia@odb.org

Daily Bread Co. Ltd

PO Box 46, Ikoma Nara 630-0291, Japan

Our Daily Bread Berhad

Tel: (+81-743) 75-8230, Fax: (+81-743) 75-8299, japan@odb.org

Scan QR code ini untuk donasi dengan aplikasi e-wallet berikut:

PO Box 86, Taman Sri Tebrau, 80057 Johor Bahru, Malaysia

Tel: (+060-7) 353-1718, Fax: (+060-7) 353-4439, malaysia@odb.org

Our Daily Bread Ministries

© 2021 Our Daily Bread Ministries. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.

Tel: (+64-9) 444-4146, newzealand@odb.org

PO Box 303095, North Harbour, Auckland 0751, New Zealand

Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan

Baru Indonesia © LAI 1974.

Our Daily Bread Ministries Foundation

QR Code Standar Pembayaran Nasional Yayasan ODB Indonesia

PO Box 47-260, Taipei 10399, Taiwan R.O.C.

Penulis: Nicole Ong

Tel: (+886-2) 2585-5340, Fax: (+886-2) 2585-5349, taiwan@odb.org

Penerjemah: Helena Simatupang

Our Daily Bread Ministries Thailand

Editor Terjemahan: Dwiyanto Fadjaray, Monica Dwi

PO Box 35, Huamark, Bangkok 10243, Thailand

Silakan konfirmasi persembahan kasih Anda melalui nomor kontak kami di halaman belakang buklet ini.

Chresnayani

Tel: (+66-2) 718-5166, Fax: (+66-2) 718-6016, thailand@odb.org

Perancang Sampul dan Penata Letak: Felix Xu

Our Daily Bread Ministries Asia Ltd

Gambar Sampul dan Isi: Shutterstock.com

5 Pereira Road, #07-01 Asiawide Industrial Building, Singapore 368025

Tel: (+65) 6858-0900, Fax: (+65) 6858-0400, singapore@odb.org

Menerima edisi cetak secara triwulan.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Menemukan Tujuan Hidup Anda by Our Daily Bread Ministries - Issuu