

Manusia SengsarA
Belas Kasihan dan Penghiburan Yesus
bagi Kita yang Menderita

Bill Crowder

pengantar
Manusia Sengsara
Belas Kasihan dan Penghiburan Yesus
bagi Kita yang Menderita
Setelah sutradara film Christopher Nolan dengan cemerlang membangun ulang
tokoh Batman dalam trilogi Dark Knight , DC Entertainment dan para rekanannya menyusul mereka ulang kisah Superman. Pada tahun 2013, Man of Steel tayang perdana dan sang putra Kripton yang legendaris pun kembali beraksi.
Dalam sebuah wawancara sebelum film tersebut dirilis, Amy Adams (pemeran Lois Lane di Man of Steel ), membuat pernyataan cerdas perihal daya tarik mitologi Superman yang tak pernah padam. Ia berkata kisah ini bertutur tentang hasrat terdalam manusia.
Katanya, “Siapa sih yang tidak ingin percaya bahwa seseorang akan datang untuk menyelamatkan kita dari keadaan kita?”
Pertanyaan yang sangat tepat. Dalam keputusasaan, kita berharap ada yang datang menolong—dan seseorang dengan julukan “Man of Steel” (Manusia Baja) terdengar seperti orang yang paling tepat untuk menyelamatkan kita. Namun, Kitab Suci mengisahkan hal berbeda. Ketika menubuatkan Mesias, Penebus, dan Juruselamat yang akan datang, Nabi Yesaya menulis:
Ia dihina dan dihindari orang, Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia
Dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, Dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, Padahal kita mengira dia kena tulah, Dipukul dan ditindas Allah.
(yesaya 53:3-4, penekanan ditambahkan)
Manusia baja? Bukan. Hanya ke dalam kerajaan yang sungsang itulah Sang Raja akan datang, tidak sebagai manusia baja, melainkan sebagai Manusia Sengsara.
Dalam nubuat Yesaya, tampaknya sang nabi melihat dua benang merah yang berjalan sejajar:
• Yesus menanggung dosa dan kesalahan kita.
• Yesus juga menanggung penyakit dan sengsara kita.
Pertanyaan pun bergulir dari dua kenyataan tersebut. Bagaimana Yesus menjalani hidup sebagai Manusia
Sengsara? Peristiwa apa saja yang memungkinkan Dia sungguh-sungguh dan sepenuhnya “menderita kesakitan”? Untuk menyimak saat-saat suram itu dan dampaknya atas diri Yesus, kita akan menyelami kitabkitab Injil dalam paruh pertama tulisan ini.
Bagaimana kita menyeimbangkan Dia yang menderita kesakitan secara pribadi sekaligus menanggung penyakit kita? Dengan kata lain, ketika Yesus menderita sengsara, apa buah dari penderitaanNya itu, selain keselamatan yang dimungkinkan oleh penyaliban dan kebangkitan-Nya? Surat kepada orang Ibrani akan menolong kita memahaminya. Kita akan menelisik pemikiran-pemikiran tersebut pada paruh kedua tulisan ini.
Tak diragukan lagi, selain untuk menanggung dosa
dan kesalahan kita, Manusia Sengsara juga datang untuk menanggung penyakit dan sengsara kita. Saat menelusuri sisi kelam pengalaman Kristus sebagai manusia, kita akan menemukan bahwa Dialah Imam Besar yang penuh rahmat dan setia, yang sanggup menopang kita dalam momen-momen terkelam hidup ini.
Bill Crowder
daftar isi
satu
Yang Dialami oleh Yesus
dua
Yang Dihasilkan
dari Penderitaan
Yesus
EDITOR: Tim Gustafson, J.R. Hudberg, Peggy Willison
GAMBAR SAMPUL: Terry Bidgood
PERANCANG: Steve Gier
PENERJEMAH: Yoki Wijaya
EDITOR TERJEMAHAN: Rosi L. Simamora
PENYELARAS BAHASA: Dwiyanto Fadjaray
PENATA LETAK: Mary Chang
GAMBAR ISI: (hlm.1) Terry Bidgood; (hlm.7) Titian, Domain Publik; (hlm.21) Rembrandt van Rijn, Domain Publik
Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI © 1974 dan Alk itab Kabar Baik dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari © LAI 1985
© 2022 Our Daily Bread Ministries, Grand Rapids, MI
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dicetak di Indonesia.
Indonesian Discovery Series “Man of Sorrows”

Yang Dialami oleh Yesus
Saya pernah mendengar seorang pengkhotbah mengatakan bahwa ada hal-hal dalam hidup ini yang lebih baik dialami daripada diceritakan. Maksudnya, hidup ini bukanlah teori semata. Hidup ini perlu dialami, dan tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman nyata tersebut. Coba tanyakan kepada para pemain yang berlaga di pertandingan final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Tak ada yang dapat menyiapkan mereka untuk liputan media yang ingar bingar, berada di muka publik terus-menerus, atau tekanan luar biasa besar untuk berlaga di pertandingan terpenting dalam hidup mereka, dengan disaksikan oleh miliaran pemirsa
televisi di seluruh dunia. Para pemain yang kemudian berlaga kembali dalam situasi serupa berbicara terus terang tentang keuntungan yang didapat dari pengalaman mereka sebelumnya. Sungguh suatu momen yang lebih baik dialami daripada diceritakan.
Ini salah satu alasan yang menjadikan inkarnasi Yesus begitu menakjubkan. Dia tidak semata-mata mengambil rupa manusia untuk menjadi penonton. Kristus datang untuk sepenuhnya dan seutuhnya mengalami kehidupan manusia. Yesus tidak datang ke dunia ini hanya untuk mengamati kehidupan di dunia yang rusak oleh dosa, melainkan untuk mengalami seluruhnya. Apa yang dialami-Nya mencakup saat-saat paling sulit dalam kehidupan manusia.
Sengsara Karena Ditolak. Kita semua pernah mengalami penolakan. Bagi sebagian orang, penolakan itu berupa hubungan yang gagal. Bagi yang lain, itu berupa pemutusan hubungan kerja yang tak disangka-sangka. Ada yang ditolak ketika tidak terpilih dalam regu olahraga atau gagal melangkah ke babak berikutnya pada suatu ajang pencarian bakat (atau apa pun yang setara dalam kehidupan sehari-hari).
Mengapa penolakan terasa begitu pahit? Penolakan secara halus (atau terkadang secara gamblang) memberi tahu bahwa kita tidak diinginkan, tidak dibutuhkan, atau tidak bernilai—dan semua isyarat itu melahirkan perasaan tidak berharga yang sangat kuat dalam diri kita. Meski begitu, pertanyaan yang lebih besar adalah: Jika penolakan
bisa membuat kita merasa tidak berharga, apa yang kita pikirkan ketika melihat Pribadi termulia di sepanjang sejarah juga mengalami penolakan? Kita menyaksikan hal itu terjadi pada dua tingkatan di Lukas 13:
Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkalikali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (lukas 13:31-35)
Perhatikan bahwa kisah penolakan terhadap Yesus oleh Yerusalem ini diawali dengan penolakan yang lebih kecil dan pribadi. Herodes Antipas adalah putra Herodes Agung dan raja wilayah Yudea yang berada di bawah
kendali Romawi. Di kemudian hari, Lukas menulis bahwa Herodes girang karena berharap Yesus akan mengadakan tanda-tanda ajaib setelah Dia ditangkap (lukas 23:6-12).
Namun, di sini, Herodes menganggap Yesus sebagai ancaman dan berniat membunuh-Nya. Mengapa? Lukas 9:7-9 bisa memberikan alasannya. Agaknya Herodes mengira bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang hidup kembali. Karena Herodes telah membunuh Yohanes, kini ia juga hendak membunuh Yesus. Sungguh penolakan yang sangat kuat!
Yang mengejutkan, justru orang-orang Farisi—yang biasanya memusuhi Yesus—yang memperingatkanNya akan bahaya tadi. Mengapa? The Bible Knowledge Commentary menawarkan kemungkinan ini:
Mengapa di sini orang Farisi justru melindungi Yesus? Agaknya peristiwa ini dapat dipahami sebagai
dalih orang Farisi untuk menyingkirkan Yesus. Yesus telah menyatakan dengan gamblang bahwa tujuanNya adalah mencapai Yerusalem, dan saat itu Dia sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Orang Farisi tampaknya berupaya menghalangi Dia untuk menunaikan tugas-Nya, menakut-nakuti supaya Dia menyimpang dari tujuan-Nya.
Namun, kunci dari Lukas 13 adalah kenyataan bahwa meskipun Yerusalem menjadi tujuan dan sasaran Yesus, Dia sudah tahu bahwa mereka telah menolak-Nya. Terlepas dari sambutan gegap gempita yang akan diterima-Nya saat memasuki Yerusalem, Yesus meratapi bahwa Dia
Kemungkinan lain mengapa orang Farisi melindungi Yesus dalam peristiwa ini adalah bahwa setidaknya sebagian dari mereka tidak ingin Yesus dicelakai� Nikodemus sudah beriman kepada Kristus sejak awal pelayanan-Nya� Di kemudian hari, Gamaliel menunjukkan akal sehat dan kebijaksanaan ketika ia melindungi hidup para rasul
(LIHAT KISAH PARA RASUL 5:33-39)� Selain itu, Yusuf dari Arimatea, “seorang anggota Majelis Besar” (belum tentu seorang Farisi) menunjukkan imannya kepada Yesus�
sesungguhnya rindu mengumpulkan mereka layaknya induk ayam mengumpulkan anak-anaknya (ay.34), tetapi mereka menolak datang kepada-Nya. Pengajar Alkitab Warren W. Wiersbe menulis:
Orang-orang telah diberi banyak kesempatan untuk bertobat dan diselamatkan, tetapi mereka menolak mendengarkan panggilan-Nya. “Rumah” merujuk kepada “keturunan” Yakub (“kaum Israel”)
sekaligus Bait Suci (“rumah Allah”), keduanya akan “ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Kota Yerusalem dan Bait Suci pun dihancurkan dan penduduknya diceraiberaikan.
Yerusalem menolak Yesus, dan mereka menuai buah kehancuran. Namun, Yesus sungguh terluka oleh karena penolakan tersebut, sebagaimana tecermin dari ratapanNya yang teramat pedih.
Sengsara Karena Dukacita. Kematian orang terdekat pertama yang pernah saya alami adalah kepergian mendadak dari Macauley Rivera, sahabat saya semasa kuliah. Mac dan kekasihnya, Sharon, tewas dalam
kecelakaan tragis. Saya merasakan kehilangan yang amat mendalam. Empat tahun kemudian, ayah saya berpulang dan kehilangan yang saya rasakan semakin kuat.
Kepedihan yang mengiringi kematian bisa terasa sangat menyesakkan—dan Yesus mengalami-Nya dalam catatan Yohanes yang terkenal mengenai kematian sahabat Tuhan kita, Lazarus.
Sepertinya itu bukan kali pertama Yesus menghadapi kematian orang terdekat. Dalam hidup-Nya saat itu, sangat mungkin Yesus sudah kehilangan ayah duniawi-Nya, Yusuf, tukang kayu dari Nazaret. Namun, Yohanes 11 mencatat untuk kali pertama dalam kitab-kitab Injil tentang Yesus di tengah situasi dukacita dan rasa kehilangan yang besar.
Meski Yusuf tidak banyak berperan dalam kitab-kitab Injil, tidak berarti ia tidak menjadi bagian dari hidup Yesus� Yesus menyadari jati diri dan panggilan-Nya sejak masa kanak-kanak, tetapi kita tidak boleh menyimpulkan bahwa Dia tidak memiliki hubungan dengan ayah duniawi-Nya� Tentulah kematian Yusuf membawa dukacita mendalam pada diri Yesus�
Konteksnya memberi tahu kita bahwa kedua saudara perempuan Lazarus mengabari Yesus tentang keadaan Lazarus yang sedang sekarat—tetapi Tuhan kita tidak segera menanggapinya, karena Dia tahu apa yang akan dikerjakan-Nya. Perhatikan:
Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (yohanes 11:4)
Kemudian:
Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu
Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” Maka kata muridmurid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati.” (yohanes 11:11-14)
Tak diragukan lagi, Yesus tahu apa yang akan dikerjakanNya. Meski begitu, ketika tiba di lokasi pemakaman dan mendapati kedua saudara perempuan Lazarus, Marta dan Maria, serta kerabat mereka sedang bersedih, Yesus tetap berduka. Lihatlah betapa pedihnya hati Yesus menyaksikan kematian sahabat-Nya:
Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orangorang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus . Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasihNya kepadanya!” Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke
kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. (yohanes 11:33-38, penekanan ditambahkan)
Kosakata yang digunakan Yohanes untuk melukiskan dukacita Yesus sangatlah kuat. Selain menggambarkan Sang Juruselamat “terharu” dan menangis, Yohanes menulis bahwa hati Yesus merasa “masygul” atas kematian sahabat-Nya.
The New Bible Commentary menulis bahwa istilah tersebut “menyiratkan kemarahan dan kegeraman, bahkan kemurkaan� Masalahnya, apa yang menyebabkan luapan perasaan itu? Beberapa pihak berpendapat itu adalah kegeraman moral terhadap dosa yang mengakibatkan kematian dan terhadap kesengsaraan yang mengikutinya� � � � Bisa juga itu adalah rasa duka atas penderitaan umat manusia yang begitu membebani Yesus, karena Dia tahu bahwa cawan penderitaan-Nya sendiri kian dekat�”
Yesus tahu bahwa Dia akan menggunakan kuasa
Allah untuk menghidupkan Lazarus kembali, tetapi tetap saja Dia merasa sangat berduka, bahkan dengan kepedihan yang amat mendalam. Ini sangat signifikan. Yesus datang untuk mengalahkan maut—dan di sini Dia bertemu dengan musuh-Nya. Jadi, Dia berduka atas kuasa dan akibat yang ditimbulkan oleh musuh yang hendak dihancurkan-Nya itu. Rasul Paulus menulis di kemudian hari, “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” (1 korintus 15:26). Maut bukanlah hal sepele—tidak pula bagi Allah kita, karena Mazmur 116:15 mengingatkan:
Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
Hati Allah bahkan tergerak oleh kematian orang-orang fasik. Nabi Yehezkiel mengatakan:
“Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (yehezkiel 18:23)
Dan:
“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (33:11)
Sengsara Karena Penderitaan yang Akan Dialami.
Pengalaman saya saat pertama kali memimpin kelompok belajar ke Israel sangatlah menakjubkan. Kami menghabiskan malam pertama di negara mungil itu dalam sebuah hotel di Gunung Karmel. Dari sana kami mengunjungi beberapa tempat penting dalam Alkitab (Megido, Danau Galilea, dan lainnya) atau bersejarah (Masada, Museum Peringatan Holocaust Yad Vashem).
Perjalanan itu sarat dengan proses belajar dan bertumbuh yang mendalam.
Namun, ada satu tempat yang melampaui tempat lainnya—lokasi yang rasanya sesuai dengan definisi sebuah tempat “suci”. Itulah Taman Getsemani, tempat penderitaan Yesus dimulai. Di sana, hati saya begitu
haru saat merenungkan pergumulan berat Yesus dalam doa di tempat kudus ini. Penulis Injil Matius dan Markus melukiskan pengalaman Yesus dalam taman itu dengan gaya bahasa yang mirip:
Lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (matius 26:38-39, penekanan ditambahkan)
Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara
Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kataNya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya . Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” (markus 14:32-34, penekanan ditambahkan)
Di sini kita menyaksikan kesengsaraan Yesus menjelang peristiwa penyaliban—kesengsaraan yang dapat disebut sebagai kengerian . Kesengsaraan itu telah diungkapkan dalam dua momen berbeda. Yang pertama disebutkan ketika Yesus mendengar tentang keinginan sekelompok orang bukan Yahudi untuk bertemu dengan-Nya di Bait Suci. Seolah menyiratkan rancangan Allah yang lebih
besar, Yesus menanggapi dengan berkata:
“Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan
Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini?
Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” (yohanes 12:27, penekanan ditambahkan)
Kemudian, momen kedua terjadi di ruang atas bersamaan dengan pengkhianatan Yudas terhadap Kristus.
Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu , lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” (yohanes 13:21, penekanan ditambahkan)
Pada dua peristiwa ini, Yohanes melukiskan bahwa Yesus terharu . Dalam versi terjemahan lain, digunakan kata-kata seperti sangat sedih , gelisah , gundah , berdukacita . Kita dapat membayangkan seseorang yang resah, tertekan, risau, atau galau. Meskipun sebagai Allah, Yesus tahu tujuan kedatangan-Nya ke dunia, Dia tetap merasakan kepedihan mendalam atas apa yang akan dijelang-Nya.
Saat-saat penuh sengsara itu menuntun kepada waktu yang dihabiskan Yesus di Getsemani, tempat Dia bergumul dengan kenyataan tak terelakkan yang menanti-Nya di kayu salib. Perasaan Yesus berubah dari terharu menjadi “sangat sedih” dan “takut”. Di Getsemani, kepedihan dalam batin itu kini menyeruak ke permukaan.
Di Getsemani, Yesus merasakan sepenuhnya beban berat dari apa yang akan ditanggung-Nya. Getsemani adalah tempat pemerasan minyak zaitun. Buah zaitun
yang dihancurkan dengan cara digiling menggunakan batu gerinda di tempat pemerasan minyak, membentuk gambaran yang tepat mengenai perasaan remuk redam yang mendorong Yesus berdoa agar diluputkan dari tanggung jawab tersebut. Seberapa besar kegundahan Yesus? Begitu besar hingga Dia berdoa untuk dilepaskan darinya sebanyak tiga kali. Namun, Yesus tetap tunduk pada kehendak Bapa dan kebutuhan kita—dengan memikul kesakitan serta kesengsaraan kita di atas kayu salib.
Ini membawa kita kepada salib itu sendiri.
Getsemani terletak di kaki Bukit Zaitun� Dalam bahasa Aram, nama itu bermakna “pemerasan minyak,” karena banyaknya pohon zaitun yang tumbuh di sana �
Sengsara Menanggung Salib. Pernahkah Anda sekonyongkonyong merasa memahami beratnya beban salib dan apa yang Yesus alami di sana dari sudut pandang yang baru? Bagi saya, hal itu terjadi pada tahun 1978 ketika saya sedang duduk di sebuah studio rekaman di Nashville, untuk mengerjakan album baru bagi grup musik kampus kami. Operator kami berkata bahwa ia ingin saya mendengarkan sesuatu yang hingga saat itu belum pernah didengar siapa pun. Ia menggelapkan ruangan, memutar rekaman, dan meninggalkan saya seorang diri di dalam studio—untuk menyimak akor pembuka dari lagu Phil Johnson yang sangat menggugah tentang penyaliban, “The Day He Wore My Crown” (Hari Dia Mengenakan Mahkota Duriku). Sungguh momen yang mencengangkan ketika saya merenungkan semua yang telah diderita Yesus bagi
dunia, dan bagi saya.
Kini, kita tiba di kayu salib—dan menyaksikan Manusia Sengsara menjalaninya.
Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? ” (matius 27:45-46, penekanan ditambahkan)
Ini membawa kita kembali ke titik awal. Kita memulai dengan melihat nubuat Yesaya mengenai Juruselamat yang menderita, terutama ketika ia berkata:
Ia dihina dan dihindari orang, Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan;
Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia
Dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, Dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, Padahal kita mengira dia kena tulah, Dipukul dan ditindas Allah. (yesaya 53:3-4, penekanan ditambahkan)
Kesengsaraan yang dilukiskan secara khusus oleh Nabi Yesaya adalah penderitaan yang akhirnya dialami
sepenuhnya oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib. Kini, kesengsaraan tersebut menjadi fokus saat Yesus mengutip perkataan Daud di Mazmur 22 dalam seruan-Nya karena ditinggalkan Bapa pada saat terkelam di Kalvari. Meski demikian, kesengsaraan Yesus menghadirkan berkat ajaib, yaitu pada akhirnya Dia mengalami sukacita:
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (ibrani 12:2, penekanan ditambahkan)
Seperti tindakan-Nya menanggung penyakit dan memikul kesengsaraan kita, pengorbanan Yesus di atas kayu salib itu menjadi ungkapan terbesar kasih-Nya bagi kita. Di sana, Dia bukan hanya menanggung penyakit dan kesengsaraan kita, melainkan juga menanggung dosa dan kesalahan yang mengakibatkan semua beban tersebut serta segenap penderitaan yang menyertainya. Itulah kemenangan paripurna Kristus atas kehancuran dunia kita, meskipun hal itu menggugah-Nya untuk berseru dalam kepedihan. Seruan kepedihan tadi akhirnya berujung pada pekik kemenangan yang mutlak. Pernyataan Yesus, “Sudah selesai!” (yohanes 19:30) adalah kemenangan atas kesengsaraan yang dialami-Nya sendiri dan atas segala rupa kesengsaraan yang dipikul-Nya demi kita.

dua Yang Dihasilkan dari
Penderitaan Yesus
Seuntai peribahasa Latin yang sering dikutip berujar bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Kita menyaksikan ini terus-menerus terwujud dalam segenap aspek kehidupan. Para ilmuwan terus menajamkan beragam teori dengan menggunakan hasil percobaan di masa lalu sebagai dasar bagi langkah mendatang. Para olahragawan dan musisi meningkatkan kemampuan melalui serangkaian latihan yang mengasah kecakapan mereka. Ikatan pernikahan diperkuat ketika pasutri bekerja sama selama bertahun-tahun melewati berbagai ujian hidup yang menghadang mereka. Pengalaman sungguh guru yang berharga dalam hidup.
Mungkin belajar dari pengalaman bukanlah sesuatiu yang baru bagi kita maupun bagi hubungan yang kita jalani, tetapi rasanya janggal membayangkan bahwa Yesus, Anak Allah, juga perlu belajar dari pengalaman. Akan tetapi, Kitab Ibrani menegaskan bahwa itulah yang Yesus lakukan.
Surat kepada orang Ibrani, yang dialamatkan kepada para pengikut Kristus yang sedang menderita, dengan panjang lebar berusaha membuktikan keunggulan Kristus atas segala sesuatu. Namun, meskipun keunggulan Kristus ditegaskan, penulis menyodorkan tiga jawaban penting atas pertanyaan mengenai penderitaan Yesus sebagai
Manusia Sengsara dan apa yang dicapai oleh penderitaanNya (selain keselamatan yang dihasilkan dari penyaliban dan kebangkitan-Nya). Jadi, apa yang dipelajari Yesus?
Dia Belajar Menjadi Taat
Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (ibrani 5:8)
Menariknya, The Bible Knowledge Commentary berkata bahwa di sini penulis Kitab Ibrani sedang bermain kata untuk menggarisbawahi kaitan antara penderitaan dan belajar: “Dia belajar [emathen] dan Dia menderita [epathen].”
Bagi para pembaca Yunani, rima dari permainan kata itu menekankan arti penting dari apa yang tengah diajarkan, karena ini lebih dari sekadar pemakaian bahasa yang cerdas. Ini adalah pesan mengenai pengalaman
Kristus dan arti penting dari pengalaman tersebut.
Meski demikian, di sisi yang lain, ini jelas merupakan
pernyataan yang sulit dalam ajaran Kristen. Kesulitan itu datang dari cara kita memaknai kenosis dalam Filipi 2. Kepada jemaat di Filipi, Paulus menyatakan bahwa, ketika datang ke dunia, Kristus “mengosongkan diri-Nya” (dalam Bahasa Yunani kenoo, akar kata dari kenosis) atau, “melepaskan semuanya” (ay.7 bis).
Karena itu, inilah inti dari kesulitan teologis yang dimaksudkan tadi: Dari apakah Yesus mengosongkan diriNya ketika Dia datang ke dunia? Para teolog menyodorkan beberapa argumen, antara lain atribut-atribut ilahi-Nya, sifat keilahian-Nya, atau wewenang keilahian-Nya. Debat ini telah berlangsung berabad-abad di antara para teolog. Ada satu penjelasan yang sangat membantu:
Memang tidak dapat dibantah bahwa ada unsur misteri di balik semua ini . . . Meski tak dapat dipahami sepenuhnya, Inkarnasi sungguh-sungguh memungkinkan Anak Allah yang Mahatahu dan Mahasempurna untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai kondisi manusia. Maka penderitaan menjadi kenyataan yang benar-benar dialami-Nya dan oleh karenanya, Dia dapat benar-benar turut merasakan apa yang dialami para pengikut-Nya. (the bible knowledge commentary)
Terlebih lagi, penulis Kitab Ibrani mengaitkan proses pembelajaran itu bukan kepada sembarang penderitaan, tetapi seperti pada ayat sebelumnya, mengaitkannya secara khusus kepada pengalaman di Getsemani yang kita jumpai di bagian terdahulu:
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan. (ibrani 5:7)
The New Bible Commentary melukiskan kaitan antara doa
Yesus di Taman Getsemani dengan pembelajaran yang diterima-Nya sebagai berikut:
Meski Dia Anak Allah, Yesus mengalami godaan untuk menyimpang dari menggenapi kehendak Bapa oleh karena penderitaan yang akan ditanggung-Nya. Dia perlu belajar menerapkan secara nyata makna ketaatan kepada Allah, sebagai manusia yang hidup di muka bumi, sehingga Dia dapat turut menyelami perasaan mereka yang mengalami ujian serupa, dan mengajar kita melalui teladan-Nya sejauh mana Allah patut ditaati dan dipatuhi.
Yesus belajar melalui pengalaman penderitaan-Nya, dan itu membuat-Nya sanggup untuk turut merasakan penderitaan kita. Inilah fokus selanjutnya dari apa yang dipelajari Yesus dari pengalaman manusiawi-Nya.
Dia Turut Merasakan
Dalam film Avengers: Endgame , kita memasuki jagat raya tempat separuh dari populasi makhluk hidup di dalamnya dibinasakan—dan separuh sisanya harus bergumul dengan kepedihan akibat pemusnahan itu. Setiap orang menanggapi dengan cara berbeda. Sebagian terjebak
dalam depresi, lainnya berusaha membalas dendam, ada juga yang menyibukkan diri dalam pekerjaan, dan sebagainya. Namun, intinya mereka semua berusaha memproses rasa sakit dan pergumulan dengan cara yang berbeda-beda. Secara pribadi. Seorang diri.
Kita pun demikian. Namun, ke dalam keterkungkungan kita hadirlah Manusia Sengsara. Penulis Kitab Ibrani menegaskan bahwa sebenarnya Anak Allah sangat memahami kita:
Imam Agung kita itu bukanlah imam yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.
Sebaliknya, Ia sudah dicobai dalam segala hal, sama seperti kita sendiri; hanya Ia tidak berbuat dosa.
(ibrani 4:15 bis)
Kata-kata kuncinya, tentu saja, adalah turut merasakan dan dicobai , dan keduanya saling terkait dalam hati Tuhan kita. Mari tengok dicobai terlebih dahulu. Akar katanya bisa bermakna ujian positif atau godaan negatif, dan konteks di sini mendukung kedua makna tersebut.
Dalam Matius 4, Yesus mengalami pencobaan yang sungguh-sungguh dari Iblis di tengah kelelahan jasmani yang teramat sangat. Namun, ini hanyalah sebagian kecil dari pencobaan yang dialami Yesus. Penulis Kitab Ibrani menjelaskan bahwa di sepanjang hidup-Nya sebagai manusia, Kristus dicobai “dalam segala hal” tetapi tidak berbuat dosa.
Frasa “dalam segala hal” juga sangat penting karena bersifat menyeluruh. Dalam kemanusiaan-Nya, Kristus
sepenuhnya mengalami seluruh ujian dan cobaan yang kita alami sebagai manusia. Ketika Anda merasa tak seorang pun mengetahui permasalahan yang Anda hadapi, ingatlah: Yesus sudah pernah mengalami semuanya, sepenuhnya, bahkan seutuhnya—tidak seperti kita. Biasanya kita sudah tersandung di awal ketika godaan datang menerpa, atau menyerah di bawah tekanan yang tidak seberapa, sehingga gagal bertahan sampai akhir. Itulah mengapa Yesus dapat turut merasakan (kata-kata kunci lain) kelemahan kita—Dia pernah mengalaminya dan berhasil mengatasinya. Wiersbe berkata, “Tiada cobaan yang terlampau besar, tiada godaan yang terlampau kuat, karena Yesus Kristus sanggup menganugerahkan belas kasih dan karunia yang kita butuhkan, tepat pada waktunya.”
Kepedulian-Nya tidak sebatas teori atau bersifat abstrak.
Kepedulian Anak Allah itu nyata, autentik, dan berakar pada pengalaman hidup-Nya sebagai Anak Manusia.
Dia Dapat Menolong
Pada Juli 1587, 117 pria, wanita, dan anak-anak asal Inggris mendarat di Pulau Roanoke, di lepas pantai wilayah yang kini menjadi negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Pulau tersebut gersang, dan dalam sekejap para pendatang itu kehabisan perbekalan. Mereka memohon agar Gubernur John White kembali ke Inggris untuk membawa perbekalan demi kelangsungan hidup mereka. Namun, meski White berupaya tanpa lelah, penundaan demi penundaan yang dialaminya membuat pertolongan
yang sangat dibutuhkan para pemukim itu tidak kunjung tiba. Ketika akhirnya White berhasil kembali ke Dunia Baru tiga tahun kemudian, semua pemukim tadi sudah lenyap tanpa bekas, dan ini menjadi salah satu misteri terbesar di Amerika hingga saat ini. Mungkin tidak akan ada yang pernah tahu ke mana mereka pergi. Alasan mereka pergi cukup jelas. Di tengah keputusasaan mereka, tak seorang pun datang menolong.
Meski bisa jadi tidak separah kisah di atas, kita semua pernah mengalami saat-saat ketika kita merasa ditelantarkan atau seruan minta tolong kita tidak didengar. Namun, sekalipun tidak ada yang menanggapi seruan kita, Manusia Sengsara mendengarnya.
Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. (ibrani 2:18)
The New Bible Commentary menawarkan penerapan penting ini, “Hanya karena Dia menjadi seperti kita, merasakan kerapuhan manusiawi, dan menderita ketika dicobai, Dia dapat memberikan pertolongan yang tepat bagi mereka yang sedang dicobai.”
Yesus memahami apa artinya menjadi manusia. Dalam Yohanes 4, kita membaca Dia “sangat letih oleh perjalanan,” sehingga Dia duduk di pinggir sumur (ay.6). Karena haus akibat letih berjalan di bawah terik matahari
Samaria, Dia meminta air minum kepada seorang perempuan (ay.7). Di saat lain dalam pelayanan-Nya, kita membaca bahwa Yesus begitu lelah sehingga Dia tertidur
di buritan perahu di tengah amukan topan yang sangat dahsyat (markus 4:36-38). Kemudian, dari atas kayu salib Dia berkata, “Aku haus!” (yohanes 19:28).
Jadi, Imam Besar seperti apakah Yesus bagi kita? Dua gagasan penting yang disodorkan penulis Kitab Ibrani sungguh menguatkan kita:
• Penuh belas kasih—Pertolongan-Nya bersumber dari hati yang penuh belas kasih, bukan penghakiman (lihat yohanes 3:17)
• S etia—Dia dapat diandalkan untuk menolong ketika kita membutuhkan-Nya (lihat ibrani 4:15-16)
Warren Wiersbe berujar, “Ketika berada di dunia, Yesus ‘menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya’, dalam pengertian bahwa Dia merasakan kelemahan watak manusia tetapi tanpa berdosa� Dia memahami bagaimana rasanya menjadi bayi yang tak berdaya, anak yang bertumbuh besar, pemuda yang beranjak dewasa� � � � Semua itu adalah bagian dari ‘pelatihan’ yang dijalani-Nya bagi pelayanan ilahiNya sebagai Imam Besar� ”
Kepedulian ini secara gamblang dilukiskan dengan kata-kata “dapat menolong”. Seorang penulis menyatakan bahwa itu artinya, “berlari menanggapi tangisan seorang anak.” Karena Yesus menjadi manusia, Dia sungguhsungguh sanggup melakukan hal tersebut untuk kita.
Jadi, entah kita menyerah dalam ujian atau tersandung ke dalam pencobaan, kita memiliki Imam Besar, atau seperti ditulis Yohanes, seorang Pengantara:
Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang
berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. (1 yohanes 2:1-2)
Kesimpulan
Kini, kita dapat memahami dengan lebih jelas nubuat
Yesaya tentang Kristus dan karya penebusan-Nya:
Ia dihina dan dihindari orang,
Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia
Dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
Dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, Padahal kita mengira dia kena tulah, Dipukul dan ditindas Allah. (yesaya 53:3-4)
Yesus adalah Manusia Sengsara, tetapi kesengsaraanNya bukanlah tanpa tujuan. Wiersbe menulis, “Apa pun ujian yang kita hadapi, Yesus Kristus sanggup memahami kebutuhan kita dan memberi kita pertolongan. Kita tidak perlu meragukan kesanggupan-Nya untuk turut merasakan kelemahan kita dan menguatkan kita. Perlu juga diingat bahwa terkadang Allah menempatkan kita
dalam masa-masa sulit supaya kita dapat memahami kebutuhan orang lain dengan lebih baik, dan dimampukan untuk menghibur mereka.”
Apakah Anda memperhatikan bagaimana Wiersbe sedikit membalikkan pokok permasalahannya?
Sebagaimana Yesus memahami kita karena apa yang telah Dia alami, kita juga dapat lebih baik memahami orang lain ketika kita menderita. Penyair Henry Wadsworth Longfellow menulis, “Jika kita bisa mengetahui sejarah terpendam dari musuh-musuh kita, kita akan mendapati bahwa setiap orang memiliki kesengsaraan dan penderitaannya sendiri, dan itu cukup untuk memupus semua perseteruan.” Dalam 2 Korintus 1:3-7, Paulus mengingatkan agar kita menghibur orang lain dalam penderitaan atau kegagalan mereka, dengan bermodalkan penghiburan yang kita peroleh dari Allah
melalui Putra-Nya:
Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan
kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga. Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami.
Bagaimana kita dapat menghibur orang-orang yang bergumul di tengah dunia yang mengharapkan kehadiran seorang Manusia Baja? Kita menawarkan Manusia Sengsara, yang mengetahui, memahami, dan mempedulikan duka dan lara mereka.
ANDA DAPAT MEMBERI DAMPAK YANG BERARTI!
Materi kami tidak dikenakan biaya. Pelayanan kami didukung oleh persembahan kasih dari para pembaca kami.
Jika Anda ingin mendukung pelayanan kami, Anda dapat mengirimkan persembahan kasih melalui rekening
a/n YAYASAN ODB INDONESIA
Green Garden 253-300-2510
Daan Mogot Baru 0000-570195
Taman Semanan Indah 118-000-6070-162
Scan QR code ini untuk donasi dengan aplikasi e-wallet.

Yayasan ODB Indonesia
Silakan konfirmasi persembahan kasih Anda melalui: WhatsApp: 0878-7878-9978
E-mail: indonesia@odb.org
Dukung kami dengan klik di sini.
Kuasa Salib Kristus
“Hati yang telah ditempa oleh sengitnya pertempuran dan perjuangan dalam dinas militer
sekalipun tidak berada di luar
jangkauan . . . kuasa salib Kristus,”
kata penulis Bill Crowder. Dalam buklet ini, Anda akan mencermati
dampak penyaliban Yesus pada seorang kepala pasukan di kaki
salib. Terimalah wawasan yang menolong Anda untuk mengenal
Yesus lebih dalam melalui kuasa dari pengorbanan-Nya.


