

DOA UTAMAKAN
Kuasa Doa dalam Pemberitaan Injil


pengantar
Utamakan Doa!
Kuasa Doa dalam Pemberitaan Injil
Suatu hari, setelah anak kami dewasa dan tidak
lagi tinggal bersama kami, ia mengunjungi perayaan Mardi Gras di New Orleans bersama teman-temannya. Ia pernah menderita kecanduan obat-obatan sehingga saya dan istri saya, Cari, mengkhawatirkan perjalanannya ke sana dan hal-hal yang mungkin ia lakukan. Kami terus mendoakannya. Pada hari pertama ia di sana, telepon kami berdering malam-malam, dan melihat namanya muncul di layar. Rasa cemas pun menyeruak. Apakah ia tertimpa masalah? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Namun, ketika kami mengangkat telepon, terdengar suaranya di seberang sana, jernih dan ceria, “Ayah,” katanya, “Barusan ada sesuatu yang
keren. Kami sedang berjalan lewat French Quarter, di suatu belokan ada segerombolan aktivis agama membawa spanduk sambil berteriak-teriak. Kami berjalan terus dan tiba di belokan berikutnya. Di situ ada sekelompok orang gereja datang mendekat. Mereka menyambut kami dengan ramah dan bertanya apakah ada yang bisa mereka bantu doakan.
Lalu kami semua berdoa di situ, di pinggir jalan. Asyik sekali. Ayah pasti senang mendengarnya.”
Walaupun baru dua tahun kemudian Allah melepaskan anak kami dari belenggu narkoba, malam itu adalah momen yang istimewa bagi saya dan Cari. Kuasa Allah tampak mulai bekerja dalam hati anak kami dan kami teringat akan tulisan Nabi Yesaya: “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar” (YESAYA 59:1) . Sekalipun anak kami sedang berfoya-foya di “negeri yang jauh” (LUKAS 15:13), lewat doa-doa kami, kemurahan Allah menjangkaunya di sana melalui kebaikan orang lain.
James Banks
daftar isi
Mengasihi Sesama Melalui Doa
Bertekun Sampai Akhir
EDITOR: Tim Gustafson, J.R. Hudberg, Peggy Willison
GAMBAR SAMPUL: © Shutterstock
PERANCANG SAMPUL: Stan Myers
PERANCANG INTERIOR: Steve Gier
PENERJEMAH: Timothy Daun
EDITOR TERJEMAHAN: Yudy Himawan, Jovita Aristya
PENYELARAS BAHASA: Dwiyanto, Bungaran Gultom
PENATA LETAK: Mary Chang
GAMBAR ISI: (hlm.1) © Shutterstock; (hlm.5) Mabel Amber via Pixabay.com; (hlm.9) rawpixel.com; (hlm.27) Jack Moreh via Freerangestockcom
Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI © 1974
© 2019 Our Daily Bread Ministries, Grand Rapids, MI
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dicetak di Indonesia.

Membuka Jalur Komunikasi
Peranan doa dalam menjangkau orang-orang yang jauh dari Allah tak boleh diremehkan. Salah satu buktinya terdapat dalam catatan Injil Lukas.
Ketika mengutus tujuh puluh murid ke kota-kota yang akan dikunjungi-Nya, Yesus berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lalu kata-Nya, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (LUKAS 10:2-3, PENEKANAN
DITAMBAHKAN) .
Perintah Yesus untuk meminta pertolongan Allah sebelum mulai melangkah menunjukkan pentingnya doa
dalam pemberitaan iman Kristen. Saat itu, Yesus mengutus murid-murid-Nya tanpa uang, bekal, maupun kasut cadangan (LIHAT LUKAS 10:4), tetapi Dia mengharuskan mereka berdoa. Mereka “seperti anak domba ke tengahtengah serigala”: tak berpengalaman dan terancam bahaya. Segala bentuk bantuan akan sangat berguna bagi mereka. Namun, Yesus bukannya memperlengkapi mereka dengan perbekalan atau metode penjangkauan. Yesus hanya memerintahkan mereka untuk berdoa.
Bila dipikirkan baik-baik, sebenarnya hal itu masuk akal. Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk mengabarkan datangnya Kerajaan Allah, suatu kerajaan yang umatnya memiliki hubungan baru dengan Allah (LIHAT YEREMIA 31:33-34), yaitu relasi dengan Bapa seperti yang Yesus nyatakan sepanjang hidup-Nya. Jadi, dalam pengutusan tersebut, Dia mendorong para murid untuk menghidupi relasi yang akan mereka beritakan itu.
Ini merupakan bagian dari kutipan Perjanjian Lama yang terpanjang dalam Perjanjian Baru� Ibrani 8:8-12 mengutip Yeremia 31:31-34� Ayat 33-34 dikutip lagi untuk kedua kalinya dalam Ibrani 10:16-17� Kita menanti-nantikan hari ketika kelak setiap orang hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah�
Yesus menyatakan kebergantungan-Nya kepada Bapa dalam segala sesuatu yang Dia lakukan. Kata-Nya, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri” (YOHANES 5:30) . Bentuk nyata dari kebergantungan itu ditunjukkanNya dengan senantiasa membuka jalur komunikasi lewat doa karena yakin bahwa Bapa “selalu mendengarkan” Dia (YOHANES 11:42) . Perjanjian Baru menegaskan, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan
doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan (IBRANI 5:7) . Yesus selalu berdoa, Dia menyerahkan hidup-Nya setiap saat kepada Bapa dan mendapat kekuatan dari-Nya.

“Ada tiga hal penting yang diperlukan dalam kebangunan rohani yang berhasil. Yang pertama, doa. Yang kedua, doa. Yang ketiga, doa.”
BILLY GRAHAM

Yesus juga mengajarkan bahwa kita, sebagai pengikut-Nya, harus terus bergantung kepada Dia. Kata Yesus kepada para murid, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” dan jika mereka tinggal dalam Dia, mereka akan “berbuah banyak” (YOHANES 15:5) . Melalui doa, kita dapat tetap dekat dengan Yesus setiap saat, maka firman Allah berkata, “Tetaplah berdoa” (1 TESALONIKA 5:17) . Melalui doa jugalah kita menerima petunjuk dan hikmat yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang Allah percayakan kepada kita.
Doa disebut sebagai “unsur percakapan dalam hubungan kasih dengan Allah.”1
Sama seperti murid-murid pertama yang Yesus utus, bila kita ingin berhasil mengajak orang lain masuk dalam relasi yang baru dengan Allah, kita harus mulai dengan doa yang setia dan berserah penuh. Billy Graham, salah
1 VanderGriend, Alvin J. Love to Pray, hlm.8
satu penginjil yang menjangkau sangat banyak jiwa pada abad ke-20, menegaskan keterkaitan antara berserah diri dalam doa dan pengabaran Injil Yesus, “Ada tiga hal penting yang diperlukan dalam kebangunan rohani yang berhasil. Yang pertama, doa. Yang kedua, doa. Yang ketiga, doa.” 2 Lewat doa yang penuh iman dan kerendahan hati, kita menemukan kuasa sejati untuk menjangkau sesama, yaitu kuasa Allah yang bergerak dengan setia dan penuh belas kasihan sebagai jawaban atas permohonan kita yang sungguh-sungguh bagi orang-orang yang kita kasihi.
2 Dikutip oleh Robert O. Bakke dalam The Power of Extraordinary Prayer (Wheaton, IL: Crossway Books, 2000), 129.
ANDA DAPAT MEMBERI
ANDA DAPAT MEMBERI DAMPAK YANG BERARTI!
DAMPAK YANG BERARTI!
Materi kami tidak dikenakan biaya. Pelayanan kami didukung oleh persembahan kasih dari para pembaca kami.
Materi kami tidak dikenakan biaya. Pelayanan kami didukung oleh persembahan kasih dari para pembaca kami.
Jika Anda ingin mendukung pelayanan kami, Anda dapat mengirimkan persembahan kasih melalui rekening “Yayasan ODB Indonesia”
Jika Anda ingin mendukung pelayanan kami, Anda dapat mengirimkan persembahan kasih melalui rekening “Yayasan ODB Indonesia”
BCA Green Garden A/C 253-300-2510
BCA Green Garden A/C 253-300-2510
BNI Daan Mogot A/C 0000-570-195
BNI Daan Mogot A/C 0000-570-195
Mandiri Taman Semanan A/C 118-000-6070-162
Mandiri Taman Semanan A/C 118-000-6070-162


Yayasan
Yayasan
ODB Indonesia
ODB Indonesia

QR Code Standar
QR Code Standar
Pembayaran Nasional
Pembayaran Nasional
Scan QR code ini untuk donasi dengan aplikasi
Scan QR code ini untuk donasi dengan aplikasi
e-wallet berikut:
e-wallet berikut:




Silakan konfirmasi persembahan kasih Anda melalui: WhatsApp: 0878.7878.9978
Silakan konfirmasi persembahan kasih Anda melalui nomor kontak kami di halaman belakang buklet ini.
E-mail: indonesia@odb.org SMS: 081586111002
Anda juga dapat mendukung kami dengan meng-klik tautan ini.

Baru-baru ini, tetangga di seberang rumah kami pindah. Cari dan saya mulai berdoa bagi tetangga baru yang akan datang. Ketika mereka tiba, kami berdoa agar ada kesempatan untuk membagikan kasih Allah kepada mereka. Beberapa bulan kemudian, Tom, tetangga baru itu, mengobrol dengan saya di depan rumah dan ia menyinggung soal lukisan dinding yang sedang digarapnya di kamar anak-anaknya. Ia juga menawarkan bantuan untuk gereja guna memenuhi tuntutan pelayanan masyarakat—aturan pemerintah di negara kami. Gayung bersambut, kami pun bekerja sama membuat lukisan dinding gereja yang menampilkan anak-anak kecil sedang berlari ke pelukan Yesus. Selama Tom mengerjakan mural
tersebut, ada sejumlah kesempatan bagi kami untuk mengobrol dari hati ke hati tentang kehidupan dan iman, dan saya menceritakan betapa hubungan dengan Yesus telah memberikan pengaruh besar dalam hidup saya dan orang-orang terkasih.
Saat kita mendoakan orang lain, Allah mengajak kita masuk dalam perjalanan menakjubkan—melihat perbuatan ajaib yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri. Dia “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (EFESUS 3:20) dan mempunyai cara-cara kreatif yang tiada habisnya untuk menggerakkan hati orang-orang yang hendak kita jangkau. Kita sungguh mengasihi sesama ketika berdoa bagi mereka, sebab doa kita mengundang hadirat Allah yang penuh kasih untuk bekerja dalam hidup mereka dengan cara yang baru dan berarti.
Melalui doa, Allah bekerja secara strategis membuka hati orang lain bagi Kabar Baik tentang Yesus.
Hal ini tampak melalui kehidupan Paulus, misionaris Kristen paling berpengaruh dalam sejarah. Paulus dan kawan-kawan sedang berada di “tempat sembahyang” di Filipi ketika mereka bertemu Lidia. “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus,” lalu

Allah bekerja secara strategis membuka hati orang lain bagi
“ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya” (KISAH PARA RASUL 16:13-15) .

Kabar Baik tentang Yesus.
Paulus dan Timotius menasihati orang Kristen di Kolose, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus” (KOLOSE 4:2-3, PENEKANAN DITAMBAHKAN) . Mereka juga berkata kepada orang percaya di Tesalonika, “Berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan” (2 TESALONIKA 3:1, PENEKANAN DITAMBAHKAN).
Paulus juga mengungkapkan kepada Timotius makna doa kita bagi orang lain di mata Allah, yang sangat mementingkan doa kita bagi keselamatan mereka, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang. . . . Itulah yang baik dan yang berkenan kepada
Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 TIMOTIUS 2:1,3-4, PENEKANAN DITAMBAHKAN).
Allah senang ketika kita mendoakan agar orang lain berpaling kepada Kristus dan meminta pengampunan dari-Nya.
Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa Allah memberikan kita tanggung jawab untuk mengasihi sesama dengan berdoa bagi mereka. Kita bisa belajar dari teladan Nabi Samuel. Ia berkata kepada bangsa Israel, “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu” (1 SAMUEL 12:23) .
Kita akan mempelajari beberapa cara alkitabiah untuk menjangkau sesama melalui doa, dengan harapan mereka mau menerima Kabar Baik itu dan mengakui Yesus
Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka. Pertama, ada sejumlah teladan doa dari Alkitab disertai cara membagikan iman dengan penuh doa dan lemah lembut, juga cara bertekun dalam doa. Kiranya Allah memberkati
Anda berlimpah-limpah—khususnya mereka yang
hendak Anda bawa kepada-Nya—saat Anda berdoa dan bertindak!
“Tariklah Ia Mendekat!”
Yesus berkata, “Sesungguhnya jika seorang tidak
dilahirkan dari . . . Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (YOHANES 3:5) . Kita dapat menerima
Tuhan sebagai Juruselamat dan dilahirkan kembali
hanya jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Sebelum Roh Kudus bisa tinggal dalam diri kita sebagai bukti
kita adalah pengikut Kristus, Dia harus menyingkapkan keberdosaan kita dan kebutuhan kita yang mendalam untuk menerima belas kasihan Allah. Saat kita datang kepada Yesus untuk diselamatkan, hal itu terjadi hanya karena Roh Kudus membuat kita sadar bahwa kita “diberi kesempatan . . . untuk bertobat” dari dosa-dosa kita dan “menghayati hidup yang sejati” (KISAH PARA RASUL 11:18 BIS) . Firman Tuhan menegaskan, “Tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1 KORINTUS 12:3) .
Yesus juga menjelaskan kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus
Aku” (YOHANES 6:44) . Jadi, berdoa kepada Bapa agar Dia mengirimkan Roh Kudus guna menarik seseorang adalah hal yang tepat. Ketika kita telah berulang kali mengajak
seseorang terkasih untuk percaya kepada Kristus dan perkataan kita tampaknya tidak membuahkan hasil, ketahuilah bahwa dengan kuasa dan kasih Allah, kita masih dapat menjangkau mereka lewat doa! Sama seperti orang percaya mula-mula “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” sebelum Roh Kudus menggerakkan hati banyak orang pada hari Pentakosta (KISAH PARA
RASUL 1:14), doa-doa kita kepada Allah untuk menarik orang lain kepada-Nya dapat memberikan dampak yang luar biasa dalam hidup mereka.
Pentakosta dirayakan pada hari Minggu ketujuh setelah Paskah untuk memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas muridmurid Tuhan Yesus�
Beberapa tahun lalu, seorang tukang pipa bernama
Jack terlibat dalam pekerjaan konstruksi gedung gereja kami. Seorang pengawas pembangunan memintanya untuk memindahkan pembuangan di bawah lantai beton sehingga ia sangat kesal dan mengumpat dengan katakata yang tidak patut diucapkan di dalam gedung gereja. Karena itu saya memutuskan untuk mendoakannya setiap hari. Ketika tahu bahwa saya mendoakannya, terkadang ia meminta agar saya berdoa untuk teman-temannya yang sedang sakit atau dirawat inap. Dengan tekun, saya berdoa selama tujuh tahun agar Allah menarik Jack dan menyelamatkannya.
Pada suatu Sabtu pagi, saat sedang menginap di luar kota dan bersaat teduh, saya tergerak untuk mendoakan supaya lebih banyak orang dibaptis di gereja kami. Saya pun mulai berdoa—seruan sederhana dari hati terdalam: “Ya Tuhan, berikanlah kami satu jiwa saja!”
Pada pukul 1.17 siang itu, telepon genggam saya berdering. Ternyata dari Jack. “James, saya perlu berbicara denganmu,” ujarnya dengan nada serius. “Saya baru saja didiagnosis mengidap kanker pankreas, dan saya belum siap.” Kami sepakat untuk bertemu setelah kunjungannya ke dokter pada Rabu berikutnya, dan ia menyetujui usulan saya agar jemaat lain juga turut mendoakannya. Dalam persekutuan doa hari Minggu malam itu di gereja, kami mendoakan kesembuhan Jack dan memohon Roh Kudus melembutkan hatinya agar menyadari bahwa ia sungguh membutuhkan keselamatan.
Rabu sore berikutnya, setelah berbincang dari hati ke hati, Jack berlutut dalam ruang doa di gereja serta menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ketika ia dibaptis pada hari Minggu berikutnya, saya bersaksi kepada jemaat bagaimana Allah berkarya menjawab semua doa yang kami naikkan dengan sungguh-sungguh.
Doa menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi karena kuasa Allah, bukan karena kemampuan kita. Ketika dengan rendah hati kita mengakui bahwa kita tak mampu memaksa orang lain datang kepada-Nya dengan kekuatan maupun kepandaian kita sendiri, saat itulah kita membuka pintu bagi Allah untuk mewujudkan apa yang mustahil kita lakukan. Jim Cymbala berkata, “Allah berkenan

bahwa segala sesuatu
terjadi karena kuasa Allah, bukan karena kemampuan kita.

atas kelemahan. Dia tidak akan menolak orang-orang yang dengan rendah hati dan jujur mengakui betapa mereka sangat membutuhkan-Nya. Kelemahan kita . . . memberi ruang bagi kuasa-Nya.”3 Itu sebabnya Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa pesan pemberitaannya “tidak [ia] sampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, . . . supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1 KORINTUS 2:4-5) .
Ketika kita meminta Roh Allah menarik seseorang kepada
Bapa, kita mengundang kuasa-Nya untuk bekerja, dan Dia mampu mengatasi apa pun yang tampak mustahil bagi kita. Dialah yang “membuka jalan” (MIKHA 2:13 BIS) .
Berikut adalah contoh doa permohonan agar Allah menarik seseorang kepada-Nya:
Tuhan Yesus, Engkau berfirman bahwa “tidak ada seorangpun” bisa datang kepada-Mu “jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” yang mengutus Engkau. Aku mengucap syukur kepada-Mu atas semua yang telah
Engkau lakukan bagiku di kayu salib dan oleh Roh-Mu! Terima kasih karena aku “beroleh jalan masuk kepada
Bapa” melalui-Mu! Ya Bapa, utuslah Roh Kudus untuk menarik _______ (nama) kepada-Mu. Engkau sanggup menggerakkan pikiran dan hatinya dengan cara-cara yang tak pernah terbayangkan, dan aku memohon agar Engkau melakukannya! Roh Kudus, jamahlah _______ (nama) supaya ia lebih terbuka untuk menerima kasih dan kebenaran-Mu. Tuhan Yesus, aku berdoa agar _______ (nama) mau bertobat dari segala dosanya dan kembali kepada-Mu supaya dosa-dosanya dihapuskan
3 Jim Cymbala, Fresh Wind, Fresh Fire, hlm.19
(KISAH PARA RASUL 3:19) . Aku tahu tiada yang mustahil bagi-Mu. Aku berdoa agar _______ mau menerima Engkau hari ini!
“Bukalah Matanya, ya Bapa!”
Pada awal suratnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus menceritakan bagaimana ia berdoa bagi mereka: “Supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (EFESUS 1:18) .
Dalam Alkitab, hati adalah pusat keberadaan atau jati diri manusia yang berperan sangat penting dalam membuat segala keputusan dan tindakan. Firman Allah berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu” (YEREMIA 17:9) . Yesus berfirman, “Dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan” (MARKUS 7:21-22) .
Memang, doa Paulus bagi jemaat Efesus itu ditujukan untuk orang yang sudah percaya, tetapi doa tersebut juga memberi kita pemahaman penting tentang bagaimana mendoakan orang yang belum percaya. Kitab Suci menyatakan bahwa musuh kita, Iblis, telah membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya “sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah” (2 KORINTUS 4:4) . Jadi, kita berdoa supaya Allah membukakan mata orang-orang yang hendak kita jangkau dengan kasih-Nya sehingga “mata hati [mereka] menjadi terang” (EFESUS 1:18) . Kita berdoa
agar mereka dapat melihat siapa Yesus dengan cara yang belum pernah mereka alami sebelumnya dan menanggapiNya secara pribadi.
Saya menyaksikan bagaimana ibu saya berdoa seperti itu untuk seorang sahabatnya yang hidup dalam kebutaan rohani yang dibicarakan Paulus. Linda sudah bertahuntahun menjadi sahabat dekat ibu saya. Mereka ikut klub paduan suara bersama-sama, dan Linda juga menjadi guru musik saya di sekolah dasar. Sewaktu saya masih kecil, keluarga kami sering saling giliran bertandang.

Ketika saya sudah lebih dewasa, ibu meminta saya untuk berdoa agar terang Allah menyinari hati Linda sehingga ia mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. “Aku sudah lama
sekali mendoakannya,” kata ibu. Kemudian ia menceritakan bahwa

supaya Allah membukakan
mata orangorang yang hendak kita jangkau dengan kasih-Nya sehingga “mata hati [mereka] menjadi terang”
orangtua Linda pernah terlibat okultisme ketika ia masih kecil dan hal itu mempengaruhi pandangan Linda tentang Allah. Setiap kali ibu berbicara kepada Linda tentang hal-hal rohani, ia merasa menemui jalan buntu.
Dalam doa-doanya yang setia bagi Linda, ibu menekankan kebenaran Alkitab bahwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa,
melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (EFESUS 6:12). Doa adalah senjata penting yang ampuh dalam perjuangan itu. Dengan belas kasihan Allah, doa memiliki kuasa “yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (2 KORINTUS 10:4) sehingga terang-Nya dapat menerobos masuk.
Sewaktu saya duduk di kelas 6, Linda memenuhi ajakan ibu ke gereja. Tak lama setelah itu, ia pun menerima Yesus dan kemudian disusul oleh suami serta anakanaknya. Linda pun menjadi orang Kristen yang setia dan mengajar di gereja yang sama. Allah memakainya secara luar biasa untuk mempengaruhi iman banyak orang. Hal itu tak pernah terbayangkan oleh ibu saya. Namun, doadoa penuh kasih yang dipanjatkannya kepada Allah agar mata Linda terbuka telah menghasilkan dampak kuat dan berlipat ganda hingga generasi-generasi selanjutnya.
Alkitab menyatakan bahwa Allah “telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (KOLOSE 1:13) . Ketika dengan tekun kita berdoa agar terang-Nya menyinari hati seseorang, kita sedang terlibat dalam misi penyelamatan Allah. Doa-doa kita melepaskan cahaya yang mencari ke dalam kegelapan untuk menarik mereka yang terhilang agar dapat melihat Injil dengan cara yang baru, menerimanya, dan “Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” (2 TIMOTIUS 2:25) . Saat Yesus memanggil Saulus (Paulus) untuk pertama kalinya, Dia berkata, “Aku akan mengutus engkau . . . untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah,
supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (KISAH PARA RASUL 26:17-18, PENEKANAN DITAMBAHKAN) . Kita telah menyaksikan betapa doa sangat penting dalam misi Paulus kepada dunia yang terhilang dalam kegelapan. Dalam teladannya, berikut ini contoh doa agar Allah berkenan membuka mata sesama kita:
Kiranya terang-Mu menyinari hati _______ (nama), ya Allah. Tuhan Yesus, Engkau datang untuk “memberitakan pembebasan kepada orangorang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta” (LUKAS 4:19) . Bukalah mata mereka, Tuhan! “Nyatakanlah kesetiaan-Mu untuk menyinari dan membimbing” _______ (nama). Bimbinglah mereka kepada-Mu, agar mereka dapat memahami betapa indah dan luar biasanya Engkau. Singkirkan penghalang apa pun yang menghambat, ya Tuhan, sehingga mereka bisa berkata, “Engkau telah membuka ikatan-ikatanku” (MAZMUR 116:16). Selamatkan dan bebaskanlah _______ (nama), ya Tuhan! Tolong mereka untuk “berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (KISAH PARA RASUL 26:18). Bawalah mereka keluar dari “kuasa kegelapan” ke dalam Kerajaan-Mu (KOLOSE 1:13), supaya kelak mereka dapat berdiri di kota tempat kemuliaan-Mu “meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya” (WAHYU 21:23) serta memuji Engkau selama-lamanya!
“Kirimkanlah Seorang Sahabat, ya Tuhan!”
Dalam perintah Yesus, “Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (LUKAS 10:2) terdapat dua penekanan. Pertama, Yesus menyuruh para murid untuk berdoa (“mintalah”), kemudian memberitahukan apa yang harus diminta (yaitu “mengirimkan pekerja”).
Ada keharusan yang mendesak dalam ucapan-Nya.
Pendengar mula-mula-Nya di Israel mempunyai latar belakang pertanian sehingga mereka memahami betapa kehidupan amat bergantung pada panen. Tidak banyak waktu untuk mengumpulkan tuaian yang berlimpah, dan bila pekerja hanya sedikit, kerugiannya akan sangat besar. Perintah Yesus menunjukkan satu kebenaran dasar yang tidak dapat ditawar: ada hubungan langsung antara doa dan lebih banyaknya pekerja yang diutus.
Allah tidak mungkin menyuruh kita meminta sesuatu yang tidak mau Dia berikan. Allah ingin mengutus para pekerja dan permintaan kita tentang hal itu merupakan bagian penting dari rencana-Nya untuk menjangkau orang lain dengan Injil. Ketika kita meminta Allah mengutus orang-orang menjadi sahabat bagi orang yang kita kasihi, kita sedang menaikkan doa yang akan Allah kabulkan dengan senang hati!
Jemaat mula-mula memahami hubungan penting antara
Sekilas ini terlihat seperti Allah sedang memohon� Namun, ada perbedaan besar antara menganggap bahwa Allah “membutuhkan” bantuan kita dan memahami bahwa Allah ingin kita ikut terlibat� Bapa kita di surga ingin bermitra dengan kita, dan doa senantiasa menguatkan kualitas hubungan kita dengan-Nya�
doa dan pengutusan seseorang untuk memberitakan
Kabar Baik. Mereka sedang “beribadah kepada Tuhan dan berpuasa” ketika Roh Kudus memerintahkan, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Mereka juga “berpuasa dan berdoa” serta “meletakkan tangan ke atas kedua orang itu” lalu kembali berdoa sebelum “membiarkan keduanya pergi” (LIHAT KISAH PARA RASUL 13:2-3). Para misionaris pertama itu diutus karena jemaat mendengarkan perintah Allah yang diberikan ketika mereka berdoa.
Berdoa agar Allah mengutus orang lain tidak sama dengan menghindari tanggung jawab kita sendiri untuk memberitakan Injil, melainkan suatu cara untuk memaksimalkan sumber daya Allah yang tidak terbatas. Doa juga menjadi pengakuan bahwa Allah mempunyai berbagai cara tak terduga untuk menjangkau orang lain. Ketika putra kami sedang menjalani rehabilitasi narkoba, saya dan istri saya mengalami kuasa doa yang meminta Allah mengutus orang percaya lain untuk menjangkau orang yang kita kasihi. Setelah meninggalkan rumah dan terjerat narkoba, anak kami tampaknya tak bisa mendengar seruan kami untuk kembali kepada Allah meskipun ia besar di gereja dan sekolah Minggu.
Sekeras apa pun usaha kita, adakalanya orang yang kita kasihi perlu mendengar kebenaran yang sama dengan cara yang berbeda dari orang lain sehingga mereka dapat menemukannya sendiri. Oleh sebab itu, kami pun mulai berdoa agar Allah mengutus seorang saudara seiman ke dalam hidup anak kami untuk bisa menjadi teladan iman dan kehidupan. Allah menjawab doa kami lewat Joel, seorang pemuda yang sebelumnya juga pernah
Sesama Melalui Doa
bergumul dengan hal yang sama, tetapi sekarang telah diberkati dengan karier yang sukses dan keluarga yang baik. Joel dan istrinya memperhatikan anak kami serta menyambutnya seperti keluarga sendiri. Ketika mereka membagikan iman dengan cara sederhana dan penuh kasih, anak kami pun menemukan jati dirinya yang baru dalam Kristus dan mengalami kemerdekaan hidup.
Rasul Paulus membahas identitas kita yang baru dalam Kristus. Ia menjelaskan bahwa kita dahulu “hidup jauh dari Allah” (KOLOSE 1:21)�
Namun, kita “sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (AY� 22)�
Kini anak kami melayani orang-orang yang mengalami pergumulan serupa. Dengan setia ia terlibat dalam pelayanan pemulihan dalam gereja di kota tempat ia pernah terlibat narkoba. Allah memakainya untuk merajut kehidupan yang rusak dengan cara yang indah. Karya perubahan Yesus dalam hidupnya terus mengingatkan kami akan belas kasihan Allah sebagai jawaban doa sederhana kami agar Dia “mengirimkan seorang sahabat.”
Berikut ini contoh doa yang dapat Anda naikkan agar hal tersebut terjadi dalam hidup orang yang Anda kasihi:
Bapa, aku berdoa agar Engkau berkenan mengutus seseorang kepada _______ (nama). Kirimkanlah seorang sahabat ke dalam hidupnya yang akan berbagi kabar baik tentang Yesus sedemikian rupa hingga ia bersedia mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan kiranya pesan tersebut benar-benar meyakinkannya. Tolong tempatkan anak-anak-Mu di jalan hidupnya, Tuhan. Kiranya mereka menaruh perhatian dan belas
kasihan kepada _______ (nama). Kirimkanlah orangorang dengan “kasih sayang yang besar” sehingga
mereka “bukan saja rela membagi Injil Allah,” tetapi “juga hidup” mereka (1 TESALONIKA 2:8) . Engkau yang tahu pasti apa yang diperlukan untuk menjangkau _______ (nama), ya Tuhan. Tiada yang mustahil bagiMu! (YEREMIA 32:27) . Utuslah seorang sahabat untuk
memberitakan Kabar Baik kepada _______ (nama) agar ia percaya kepada kebenaran itu, “berseru kepada nama Tuhan,” dan diselamatkan! (ROMA 10:13) .
“Adakah yang Bisa Kudoakan Untukmu?”
Kebanyakan orang segan membicarakan masalah iman dan kepercayaan dengan orang baru, tetapi terkadang mereka mau didoakan. Segera setelah Paulus menasihati jemaat Kolose untuk “bertekun” dalam doa, ia berkata, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada . Hendaklah katakatamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (KOLOSE 4:5-6, PENEKANAN DITAMBAHKAN) . Di gereja tempat saya melayani (Peace Church di Durham, North Carolina, Amerika Serikat) kami mendorong jemaat untuk “memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya” (KOLOSE 4:5 BIS) dan bercakap-cakap dengan orang lain dalam kasih sambil mengajukan pertanyaan sederhana: “Adakah yang bisa kudoakan untukmu hari ini?” Ternyata, kebanyakan orang yang belum kita kenal biasanya cukup terbuka dalam menceritakan kebutuhan pribadi mereka. Hal itu sering menjadi batu loncatan untuk melanjutkan perbincangan tentang iman di kemudian hari. Yang
Sesama Melalui Doa
mengejutkan, meski ada orang yang menolak didoakan atau berkata “Tidak ada,” kami tidak pernah menerima penolakan yang kasar terhadap pertanyaan tersebut. Bahkan, orang biasanya tersentuh karena ada yang peduli dan mau mendoakan mereka.
Kami mendorong jemaat untuk mengajukan pertanyaan itu dengan santai dan tidak dibuat-buat.
Misalnya, saat sedang makan siang di luar dan makanan baru saja diantarkan, mereka dapat bertanya sambil lalu kepada pramusaji, “Kami akan mengucap syukur kepada Allah untuk makanan ini. Adakah yang juga bisa kami doakan untukmu?” Lalu mereka menyimak jawabannya dengan saksama dan berdoa setelah pelayan tersebut pergi. Kami mendorong jemaat untuk bertanya dengan lembut dan rendah hati agar jangan sampai menarik perhatian atau terkesan “melakukan kewajiban agama [mereka] di hadapan orang supaya dilihat mereka”
(MATIUS 6:1) . Kami juga mengingatkan jemaat untuk memberi tip dengan murah hati setelah makan-minum— bahkan ketika pelayanannya kurang baik—sebagai lambang kasih karunia Allah yang tak layak kita terima.
Bila belum terbiasa menawarkan diri untuk berdoa bagi orang lain, mungkin Anda akan merasa canggung saat melakukannya. Hal yang sama juga terjadi pada Bob
Cerita tentang orang Kristen yang pelit dalam memberi tip sudah menjadi rahasia umum� Hal itu dijadikan bahan olok-olok yang mencoreng nama Tuhan� Kita memang tidak bisa mencegah perilaku buruk dari saudara seiman yang lain, tetapi interaksi kita dengan orang-orang yang melayani kita adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan kemurahan hati Juruselamat kita�
dan Pam, jemaat baru di gereja kami. Suatu hari Minggu, saya menantang jemaat untuk mengambil langkah iman dan menanyai orang-orang di lingkungan tempat tinggal mereka tentang kebutuhan yang bisa didoakan. Bob dan Pam mencobanya. Mereka makan malam di suatu restoran lalu bertanya kepada sang pramusaji, “Kami akan ke persekutuan doa malam ini di gereja. Adakah yang bisa kami doakan untukmu nanti?” Pramusaji itu terlihat sangat tersentuh akan perhatian mereka. “Tahukah kalian,” ujarnya hati-hati, “Saya belum pernah ke gereja seumur hidup. Keluarga saya tidak pernah, tetapi nenek saya pernah.” Dalam perbincangan selanjutnya, ia ingin tahu lebih lanjut tentang gereja tempat Bob dan Pam berbakti, dan juga tentang iman mereka.

cakaplah dengan
orang lain dalam kasih sambil mengajukan pertanyaan sederhana:
“Adakah yang bisa kudoakan untukmu hari ini?

Belakangan, Bob bercerita kepada saya, “Itulah salah satu peristiwa yang membuat saya merasa Allah sedang bekerja secara khusus. Malam itu, saat hendak tidur, saya teringat ayat berikut, “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 PETRUS 3:15) .
Di sekitar kita ada orang-orang yang perlu mendengarkan Kabar Baik tentang Yesus dan datang kepada-Nya untuk memperoleh keselamatan. Dia berkata, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladangladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (YOHANES 4:35) . Karena keinginan mereka yang tulus untuk menolong sesama melalui doa, Bob dan Pam mendapat kesempatan dari Allah untuk berbincang kembali dengan teman baru mereka tadi. “Waktu kami bertemu lagi dengannya,” kata Bob, “saya akan bertanya tentang masalah hidupnya yang telah kami doakan, lalu berbincang-bincang tentang Yesus, dan mengajaknya ke gereja.”

Bertekun Hingga Akhir
Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (LUKAS 18:1) . Bertekun dalam doa tidaklah mudah, tetapi Alkitab dan sejarah sarat dengan contoh yang membuktikan betapa pentingnya hal itu. Hana berdoa bertahun-tahun agar dikaruniai anak (1 SAMUEL 1:7), dan kelahiran Samuel, anak itu, mengubah sejarah Israel untuk selamanya. Paulus, Silas, dan Timotius memberi tahu orang Kristen di Tesalonika bahwa mereka didoakan “siang malam” (1 TESALONIKA 3:10) . Paulus juga mengatakan kepada jemaat Kolose bahwa Epafras “selalu bergumul dalam doanya” bagi mereka (KOLOSE 4:12) . Firman Allah berulang kali menekankan agar kita bertekun dan giat berdoa “dengan
permohonan yang tak putus-putusnya” (EFESUS 6:18) .
Namun, tetap saja adakalanya kita patah semangat, terutama setelah kita bertahun-tahun mendoakan agar seseorang datang kepada Kristus tetapi tidak melihat hasil yang nyata. Jangan menyerah! Justru di tengah keputusasaan, Nabi Yeremia diingatkan bahwa “tak habishabisnya rahmat [Tuhan], selalu baru tiap pagi” (RATAPAN 3:22-23) . Bila setiap hari diisi dengan rahmat Allah yang baru, maka setiap hari kegelapan pun sirna dan Kristus Sang “bintang timur terbit bersinar” (2 PETRUS 1:19) di dalam hati orang yang Anda kasihi seiring dengan ketekunan Anda berdoa. Hanya “kemurahan Allah” yang sanggup menuntun orang kepada pertobatan (ROMA 2:4) .
Nabi Yeremia bukan semata-mata putus asa� Bayangkan saja, ia sedang menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehancuran kotanya dan kejahatan perang terhadap bangsanya�
Ketika kita berdoa agar orang lain menerima Yesus dalam hidup mereka, yakinlah bahwa kita sedang meminta yang terbaik, dan Yesus mengingatkan bahwa Bapa kita di surga akan “memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (MATIUS 7:11) . Alkitab juga menegaskan bahwa Allah “menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 PETRUS 3:9) . Jadi, kita bisa berdoa dengan penuh pengharapan dalam iman karena tahu bahwa apa yang kita minta berkenan di hati Bapa, meskipun jawabannya tak selalu datang secepat yang kita harapkan. George Müller bercerita tentang seorang misionaris yang mengkhawatirkan keselamatan keenam putranya. Ia telah berdoa selama bertahun-tahun tanpa hasil,
lalu meminta nasihat Müller. Jawab Müller, “Teruslah berdoa bagi anak-anakmu, nantikan jawabannya, dan mengucap syukurlah kepada Allah.” Enam tahun kemudian, Müller bertemu misionaris itu lagi. Kini, lima dari enam anaknya sudah percaya kepada Tuhan. Kelimanya bertobat dalam rentang waktu delapan hari, dua bulan setelah pertemuan sang ayah dengan Müller.4 Sekarang ia berdoa dengan penuh keyakinan bagi anaknya yang keenam. Doa dengan iman menghasilkan pengaruh yang besar!


Kita harus berdoa dengan berani dan tekun, sekalipun adakalanya kita perlu menanti bertahun-tahun untuk menerima jawabannya.
Kita harus berdoa dengan berani dan tekun, sekalipun adakalanya kita perlu menanti bertahun-tahun untuk menerima jawabannya. Müller menceritakan kesaksiannya sendiri, “Setiap hari selama 52 tahun, saya mendoakan dua orang anak dari sahabat saya. Mereka belum percaya, tetapi kelak pasti!”5 Dua orang itu pun bertobat dan percaya kepada Kristus tak lama setelah Müller wafat. Saat berdoa, kita harus menyerahkan diri kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, mengutamakan
4 George Müller, Answers to Prayer, hlm.54, GeorgeMuller.org, http://www. georgemuller.org/uploads/4/8/6/5/48652749/_answers_to_prayer_book.pdf, diakses pada 30 Juli 2016
5 An Hour with George Müller, oleh Charles R. Parsons. Edisi Kindle, lokasi 73. Pensacola FL, 1998, Chapel Library
kehendak-Nya di atas kehendak pribadi, dan mencari tujuan-Nya melebihi segala hal lain. Firman-Nya berkata, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (YAKOBUS 5:16) . Doa syafaat yang tekun, termasuk yang disertai puasa, akan meninggalkan warisan kasih dan berkat dalam hidup orang lain, baik hasilnya langsung terlihat atau tidak. Yesus memberikan dua perumpamaan tentang doa yang menunjukkan bahwa keberanian dan kegigihan membuat suatu permohonan dikabulkan (bacalah perumpamaan tentang sahabat yang gigih dalam Lukas 11:5-13 dan janda yang gigih dalam Lukas 18:1-8). Perkataan Yesus tentang puasa dalam Matius 6:16, yaitu “Apabila kamu berpuasa” dapat pula diterjemahkan sebagai “Ketika kamu berpuasa,” menunjukkan bahwa itu sesuatu yang pasti dilakukan, bukan hanya andai-andai. Jelas Yesus ingin kita berdoa dengan penuh semangat dan komitmen untuk mencari
Kerajaan-Nya di atas segalanya. Bagaimana mungkin kita mengabaikannya jika yang dipertaruhkan begitu besar?
Dalam dua perumpamaan-Nya, Yesus tidak mengajar kita untuk meminta dengan lancang atau merengek-rengek kepada Allah�
Sebaliknya, Dia bermaksud menunjukkan bahwa jika manusia berdosa pun mau memberi ketika diminta, bukankah terlebih lagi
Bapa Surgawi akan memberikan kita hal-hal yang baik? Karena itu, berdoalah dengan penuh harap�
Karena kebaikan Allah yang kita terima melalui
Yesus Kristus, kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” (IBRANI 4:16), sambil memegang “janji-janji [Allah] yang berharga dan yang sangat besar” (2 PETRUS 1:4) dalam permohonan doa kita
atas mereka yang terhilang dan terancam menghadapi keterpisahan kekal dari Allah. Ketika kita mengasihi sesama melalui doa-doa kita, yakinlah bahwa Sang Juruselamat juga memberikan pertolongan dengan berdoa bagi kita sebagai “Pembela” kita (ROMA 8:34) .
Pada hari Pentakosta, ketika Petrus berkata kepada orang banyak, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masingmasing memberi dirimu dibaptis,” ia juga menambahkan, “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (KISAH PARA RASUL 2:38-39) . Yesus masih terus memanggil jiwa-jiwa yang terhilang untuk keluar dari kegelapan dan masuk ke dalam kasih serta terang-Nya yang tak berkesudahan. Kristus juga memanggil kita untuk mengikuti Dia ke tengah dunia yang sangat membutuhkan keselamatan dari Allah semata. Berdoa dan melangkahlah! “Tuan yang empunya tuaian” (LUKAS 10:2) sedang menunggu. Dia telah berjanji, “Kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (GALATIA 6:9) .
ANDA DAPAT MEMBERI
ANDA DAPAT MEMBERI DAMPAK YANG BERARTI!
DAMPAK YANG BERARTI!
Materi kami tidak dikenakan biaya. Pelayanan kami didukung oleh persembahan kasih dari para pembaca kami.
Materi kami tidak dikenakan biaya. Pelayanan kami didukung oleh persembahan kasih dari para pembaca kami.
Jika Anda ingin mendukung pelayanan kami, Anda dapat mengirimkan persembahan kasih melalui rekening “Yayasan ODB Indonesia”
Jika Anda ingin mendukung pelayanan kami, Anda dapat mengirimkan persembahan kasih melalui rekening “Yayasan ODB Indonesia”
BCA Green Garden A/C 253-300-2510
BCA Green Garden A/C 253-300-2510
BNI Daan Mogot A/C 0000-570-195
BNI Daan Mogot A/C 0000-570-195
Mandiri Taman Semanan A/C 118-000-6070-162
Mandiri Taman Semanan A/C 118-000-6070-162


Yayasan
Yayasan
ODB Indonesia
ODB Indonesia

QR Code Standar
QR Code Standar
Pembayaran Nasional
Pembayaran Nasional
Scan QR code ini untuk donasi dengan aplikasi
Scan QR code ini untuk donasi dengan aplikasi
e-wallet berikut:
e-wallet berikut:




Silakan konfirmasi persembahan kasih Anda melalui: WhatsApp: 0878.7878.9978
Silakan konfirmasi persembahan kasih Anda melalui nomor kontak kami di halaman belakang buklet ini.
E-mail: indonesia@odb.org SMS: 081586111002
Anda juga dapat mendukung kami dengan meng-klik tautan ini.
Berdoalah agar Orang
Lain Mengenal Allah!
Kita semua tentu mengenal sejumlah orang yang belum percaya kepada Yesus. Mungkin saja dalam hati kita ragu kalau mereka akan mau percaya. Namun, jangan abaikan pentingnya doa dalam menjangkau mereka yang jauh dari Allah. Melalui doa yang rendah hati dan penuh iman, kita menerima kuasa sejati dari Allah untuk menjangkau orang lain. Dengan setia dan penuh belas kasih Allah menjawab permohonan kita bagi jiwa-jiwa yang kita kasihi. Buklet ini menyajikan contoh-contoh doa yang spesifik dan dorongan bagi Anda untuk terus mendoakan sesama.
Dr. James Banks telah menulis banyak buku tentang doa, antara lain Prayers for Prodigals, Prayers for Your Children, Praying the Prayers of the Bible, Praying Together, dan Praying with Jesus. Beliau melayani sebagai gembala dan perintis gereja selama lebih dari dua puluh lima tahun. Bersama istrinya, Cari, mereka tinggal di Durham, Carolina Utara. Keduanya dikaruniai dua anak yang telah dewasa.