Skip to main content

Excerpt - Keindahan yang Hilang

Page 1


pengantar

Keindahan

yang Hilang

Memaknai Kembali Seksualitas

Menurut Rancangan Allah

Daya pikat seksualitas sangatlah luar biasa.

S eks itu menjual. Perusahaan-perusahaan menggunakannya untuk mengundang orang membeli segala jenis kebutuhan, mulai dari baju dan kosmetik hingga mobil dan rencana liburan. Kita dibombardir dengan gambar-gambar sensual di majalah, film layar lebar dan televisi, musik, papan iklan, dan yang paling banyak, di Internet. Singkatnya, kita hidup dalam masyarakat yang pikirannya dipenuhi hasrat seksual dan mendapatkan kepuasannya dari sana.

Di halaman-halaman selanjutnya dari buklet ini, kita

ingin membangun pemahaman yang kuat tentang

karunia seks yang indah dari Allah menurut Alkitab.

Dengan demikian, kita dapat mengerti mengapa Allah memberikannya kepada kita dan mengenali berbagai

tantangan yang terus-menerus kita hadapi akibat dosa yang telah memutarbalikkan rancangan Allah.

Ingatlah bahwa moralitas seksual bukanlah sekadar menghindari sesuatu yang keliru dan berdosa, melainkan menghormati sesuatu yang sangat berharga, demi

kebaikan kita dan demi kemuliaan Allah.

Gary Inrig

EDITOR: J. R. Hudberg

GAMBAR SAMPUL: Ira Heuvelman-Dobrolyubova via Getty Images

PERANCANG SAMPUL: Stan Myers

PERANCANG INTERIOR: Steve Gier

PENERJEMAH: Lidia Torsina

EDITOR TERJEMAHAN: Dwiyanto Cheung, Elisabeth Chandra

PENYELARAS BAHASA: Bungaran Gultom, Natalia Endah

PENATA LETAK: Mary Chang

Gambar Isi: Ira Heuvelman-Dobrolyubova via Getty Images (hlm.1); Stella Bogdanic via RGBStock.com (hlm.5); PixelAnarchy via Pixabay.com (hlm.9); LoggaWiggler via Pixabay.com (hlm.15); Dorota Kaszczyszyn via FreeImages.com and Pezibear via Pixabay.com (hlm.21); Bjorn de Leeuw via FreeImages.com (hlm.27).

Dikutip dari Pure Desire karya Gary Inrig, © 2010 oleh Gary Inrig. Digunakan seizin Discovery House. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.

Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI © 1974

© 2017 Our Daily Bread Ministries, Grand Rapids, MI

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dicetak di Indonesia.

Indonesian Discovery Series "Paradise Lost"

Keindahan yang Hilang

Berjalan menyusuri Siq, ngarai sempit menuju Petra, sebuah kota kuno di Yordania, adalah pengalaman yang tak terlupakan. Panjangnya mencapai 1,5 km lebih dan lebarnya kurang dari enam meter. Di sepanjang dindingnya berjajar ceruk-ceruk tempat benda atau simbol keagamaan pernah diletakkan. Terlihat juga bekas-bekas saluran air serta pos penjaga yang pernah berfungsi hampir 2000 tahun yang lalu, saat kota di padang gurun ini dihuni oleh sekitar 30.000 penduduk.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba pemandu wisata meminta kami berhenti dan berbaris ke belakang, meletakkan tangan di pundak orang yang ada di depan kami, lalu menutup mata dan berjalan maju perlahan sampai ia memberi kami aba-aba

untuk membuka mata. Ketika aba-aba terdengar, kami pun membuka mata, dan dari celah sempit di ujung ngarai itu terpampanglah sebuah pemandangan yang menjadi tujuan perjalanan kami: kemegahan bangunan Treasury yang sangat terkenal. Bangunan istimewa yang dipahat pada batu cadas di sisi ngarai yang menjulang tinggi ini menjadi pemandangan pertama kami saat memasuki Petra, kota kuno yang dijuluki "a rose-red city " (kota semerah mawar—disebut demikian karena semua bangunannya dipahat pada batu cadas berwarna kemerahan).

Meski sebelum pergi ke sana bangunan tersebut sudah berulang kali Anda lihat melalui film atau foto, Anda akan tetap terpesona saat melihat langsung bangunan aslinya. Menyusuri bagian-bagian lain dari kota Petra membuat hati bertanya-tanya bagaimana kehidupan suku Nabath, para penghuni gurun itu, ribuan tahun yang lalu. Terlepas dari lingkungan yang gersang, kehidupan masyarakat di sana berkembang pesat hingga terjadi serangkaian gempa dahsyat pada tahun 6 Masehi yang menyebabkan mereka meninggalkan kota Petra.

Tahun demi tahun saya mendapat kesempatan istimewa untuk mengunjungi sejumlah reruntuhan bersejarah yang sangat mengesankan, seperti kota Petra ini, juga Koloseum di Roma, kuil Parthenon di Athena, benteng Masada di Israel, dan kota Efesus di Turki modern. Meski sudah hancur di sana sini, reruntuhan-reruntuhan tersebut masih mengagumkan, saksi bisu dari kemegahan yang dahulu pernah ada. Kemegahan itu masih tersisa, tetapi hancur sanasini, bentuknya rusak, tak lagi sempurna.

Dulunya indah luar biasa, tetapi kini hancur sana sini, rusak, tak lagi sempurna—tidak berbeda dengan kehidupan kita manusia. Secara khusus, sebagaimana tema yang akan kita

bahas dalam buklet ini, kita bergumul dengan hasrat seksual yang sudah rusak dan tidak lagi kudus. Bagaimana kerusakan itu bermula?

Jika Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya, dan pernikahan dikaruniakan oleh-Nya, apa yang membuat seks bermasalah? Jika Allah sendiri yang memberikan seks kepada manusia, seks itu seharusnya baik, indah, dan kudus.

Namun, mengapa kemudian seks menjadi sumber dari banyak kehancuran hati, rasa bersalah dan malu, serta berbagai masalah lainnya? Bagaimana sesuatu yang baik bisa menjadi sedemikian rusak dan menjadi kebiasaan yang memperbudak kita? Mengapa pernikahan dan hubungan-hubungan dengan sesama lebih sering membuat kita frustrasi daripada membuat kita puas? Mengapa godaan yang sama berulang kali datang dan perjuangan kita melawannya seolah tidak pernah tuntas?

Kitab Suci menyatakan dengan jelas bahwa keintiman seksual adalah pemberian Allah� Seks adalah berkat dalam konteks yang dikehendaki Allah (pernikahan) dan dirancang untuk tujuan spesifik, yaitu untuk menghasilkan keturunan, mempererat hubungan, memahami dan mengasihi, dan saling memberi kenikmatan�

Tanpa mendiagnosis masalah dengan benar, kita tidak mungkin mengatasinya dengan benar. Jika akar dari pergumulan seksual kita adalah kurangnya pengetahuan, kita dapat mencari jalan keluarnya lewat penelitian atau pendidikan. Jika akar masalah kita adalah tekanan sosial dan pengaruh kelompok mayoritas, kita dapat mencari orang yang dapat menolong kita keluar dari tekanan dan pengaruh tersebut. Namun, jika akar masalahnya ternyata adalah kondisi rohani yang rusak, kita harus memandang melampaui masalah yang tampak dari luar dan mencari pertolongan dari Allah sendiri.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Excerpt - Keindahan yang Hilang by Our Daily Bread Ministries - Issuu