Skip to main content

November 2022

Page 1

Tren Perbankan ke Sektor Hijau | Pemasaran Digital Produk Properti

Near Cash – Near Future 2021, 2022, & Beyond By Hermawan Kartajaya English & Chinese sections inside

BUILDING A CULTURE OF INNOVATION November 2020 issue Rp 50.000,-


Prologue

Butuh Realisasi

unia tak lain merupakan jalinan sejarah berbagai inovasi. Kemajuan dunia yang kita nikmati hari ini merupakan hasil upaya dari para inovator. James Watt dengan mesin uapnya, Michael Faraday dengan listriknya, Thomas Alva Edison dengan lampu pijarnya, maupun Johannes Gutenberg dengan mesin cetaknya. Inovator-inovator ini telah mengubah dunia. Sejarah inovasi itu terus berlangsung hingga abad ini dengan temuan-temuan akbar, seperti internet, big data, artificial intelligence, teknologi robotik, dan sebagainya. Saban inovasi baru muncul, wajah industri hampir selalu berubah. Demikian pula dengan dunia pemasaran. Lanskap ini berubah seiring dengan perubahan teknologi. Saat ini, kita sedang memasuki era Marketing 5.0 – masa yang ditandai dengan teknologi yang makin kompleks dan tuntutan kolaborasi antara manusia dan teknologi tersebut. Technology for humanity, itulah pesan utama buku


Prologue

Marketing 5.0, buku teranyar Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan yang diterbitkan oleh John Wiley dan akan rilis Februari tahun depan. Menghadapi dunia yang berubah, pemasar juga harus berubah. Inovasi menjadi satu cara yang harus mereka lakukan untuk menjawab perubahan itu. Langkah ini menjadi keharusan bagi perusahaan yang ingin tetap relevan dengan zaman. Sebab itu, bila tidak melakukan inovasi, perusahaan itu bakal ditinggal oleh pelanggannya dan kemudian kolaps di kemudian hari. Sejarah membuktikan banyak perusahaan raksasa dunia yang akhirnya tutup teratur karena tidak melakukan adaptasi dan inovasi. Tepat sekali bila Marketeers menyajikan tema membangun kultur inovasi di edisi yang sedang Anda baca ini. Di masa sulit yang ditandai dengan porak porandanya bisnis, inovasi justru menjadi tantangan besar. Perusahaan-perusahaan ditantang melakukan inovasi di tengah pandemi ini dan merebut momentum. Sebab itu, dibutuhkan semangat entrepreneurship dalam berinovasi di masa sulit. Semangat ini diterjemahkan dalam kejelian melihat peluang, keberanian mengambil risiko, dan keterbukaan membangun jejaring. Dan, inovasi ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan visioner. Inovasi sudah di tingkat “mau tak mau” bagi perusahaan. Artinya, bila ingin eksis di masa sekarang, perusahaan harus berani melakukan inovasi. Tak perlu membuat inovasi besar sekelas inovator-inovator dunia tadi. Cukup dengan melakukannya sesuai kebutuhan agar tetap relevan dengan kemauan pelanggan.


Prologue

Perlu diingat, inovasi bukanlah rencana-rencana atau cetak biru perusahaan. Inovasi baru disebut inovasi ketika sudah dieksekusi. Persis seperti dikatakan oleh almarhum Ciputra: sebuah mimpi tidak akan menjelma menjadi sebuah inovasi bila tidak ada realisasi. Betul demikian?

Publisher Hermawan Kartajaya Chief Executive Stephanie Hermawan - Chief Business Officer Ence - Editor In Chief Iwan Setiawan - Managing Editor Hendra Soeprajitno. hendra@marketeers.com - Editor Sigit Kurniawan. sigit@marketeers.com - Ign. Eko Adiwaluyo. eko@marketeers.com - Editorial Secretary redaksi@ marketeers.com, info@marketeers.com - Assistant Editor: M. Perkasa Al Hafiz. hafiz@marketeers.com - Ramadhan Triwijanarko. ardhan@marketeers.com - Reporter: Annisa Bella. abel@marketeers.com Ellyta Rahma. ellyta@marketeers.com - Clara NT. clara@marketeers.com - Estu Dian Maranti. estu@ marketeers.com - Illustration: Arif Priambudi - Bedoel Achmad - Photographer Rizky Priya - Layout: M. Ottyawan Firdaus - Sanny Ismail - Advertisement: Nadia Indriani. nadia.indriani@markplusinc. com, +62 813 2464 6968, +62 21 5790 2338 - TV: Aji Radhyantomo. aji@marketeers.com - Nugraha Satia Permana. nugraha@marketeers.com - Online Activation: Widyamuktiwaskito - Offline Activation: Rachman Julistia. rachman.julistia@marketeers.com - +62 823 1616 5931 - M. Irvan Maulana. irvan. maulana@marketeers.com - +62 813 1550 9848 - Circulation: Taufik Abe. abe@marketeers.com +62 813 1555 6493 - Mulyadi. mulyadi@marketeers.com - P +62 852 9457 0003 +62 21 5790 2338 ext 409, F +62 21 5795 1103. - Printing: Gramedia Printing. Jl. Palmerah Selatan 22-28, Gelora, Jakarta 10270

Marketeers Magazine EightyEight@Kasablanka 8th floor Jl. Casablanca Raya Kav. 88 Jakarta 12870 Toll Free: 0 800 188 1111


Learn More


Nov 2020

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

BUILDING A CULTURE OF INNOVATION Inovasi menjadi keharusan bagi sebuah perusahaan agar eksis di masa sekarang dan masa-masa berikutnya. Inovasi membutuhkan

Outlook

banyak hal, dari ide-ide kreatif, investasi, sumber daya, alat ukur, hingga kepemimpinan. Dan, modal awal yang harus dimiliki adalah mindset inovatif itu sendiri.

Dr Jonathan A.J. Wilson Berawal dari manager periklanan, Jon kini memiliki sejumlah karier mulai dari akademisi, konsultan, trainer, pembicara, hingga kolumnis. Pria keturunan Skotlandia dan besar di Manchester ini menjadikan Islamic Marketing sebagai bidang yang dicintainya. Jon juga merupakan Pemimpin Redaksi Journal of Islamic Marketing dan Executive Trainer Al Jazeera Media Network di Qatar.


Nov 2020

Pemkab Trenggalek

Bangun Kota Berkelanjutan

Pemkab Trenggalek

Hampir 80% pertumbuhan ekonomi Kabupaten Trenggalek bertumpu pada potensi alam yang dimiliki, mulai dari sektor pertanian, perikanan, hingga produk UKM dan pariwisata. Meski demikian, Trenggalek masih menghadapi sejumlah tantangan.


Nov 2020 Pemkab Trenggalek

Pada tahun 2030, Kabupaten Trenggalek bercitacita menjadi kota yang berkelanjutan (sustainable city) dengan menerapkan konsep Sustainable Development Goals (SDGs) dalam pengembangan sumber daya yang dimiliki. Dengan menerapkan konsep SDGs diharapkan daerah Trenggalek tidak hanya maju dari sisi ekonomi tetapi juga tetap dapat melindungi lingkungan. Menurut Mochamad Nur Arifin, Bupati Trenggalek, penting bagi pemerintah untuk mengubah pola pikir dan perilaku dalam mengambil kebijakan yang ramah lingkungan. Pasalnya, jika alam tidak dijaga, sustainable economic growth hanya akan menjadi impian belaka. Pemerintah Kabupaten Trenggalek akan memastikan ekonomi dan ekologi dapat berjalan beriringan. Karena, jika hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan lingkungan tidak akan sebanding dengan disaster cost atau pengeluaran akibat kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan. “Jadi, jika kita tidak bisa mengambil kebijakan yang ramah lingkungan maka kita akan mengambil dampak yang lebih besar nantinya untuk mengakumulasi atau memperbaiki kerusakan alam yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi,” kata Arifin atau akrab disapa Cak Ipin. Tidak hanya dari sisi pemerintah, kesadaran kolektif dari masyarakat juga harus dibangun dalam menerapkan konsep SDGs. Cak Ipin


Nov 2020 Pemkab Trenggalek

menegaskan masyarakat tidak hanya harus kreatif, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan berbagai stakeholder untuk membentuk proses bisnis yang sirkular atau proses bisnis yang tidak menghasilkan residu atau polusi. “Masyarakat harus memiliki kesadaran terhadap pilar SDGs atau 5P (People, Prosperity, Planet, Partnership, dan Peace) untuk mencapai misi berkelanjutan tersebut. Kemudian, perlu diciptakan inklusivitas di mana setiap orang dari seluruh kelas dan lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam mencapai kesejahteraan,” kata Cak Ipin. Menuju Tahun 2030 Untuk merealisasikan sustainable city, Trenggalek memiliki program jangka panjang yang terdiri dari tiga fase pembangunan. Pada tahun 2020, ekonomi Indonesia dapat dikatakan sedang babak belur. Tetapi Cak Ipin optimis dalam kurun waktu dua tahun ekonomi Trenggalek dapat kembali pulih. Ini lah fase pembangunan pertama atau disebut recovery. Fase pertama akan berfokus pada ResourceBased Sustainable Collaborative Tourism Development yang bertujuan untuk membangun pariwisata berkelanjutan berbasiskan kondisi dan sumber daya alam di Kabupaten Trenggalek. Selain itu, diperlukan program yang dapat memberdayakan SDM lokal dengan melakukan berbagai kolaborasi.


Nov 2020 Pemkab Trenggalek

Fase pembangunan kedua disebut fase reform, di mana akan berfokus pada sektor agro atau pertanian dan perikanan. Kedua sektor ini dikatakan merupakan sektor unggulan dengan penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) teritinggi. Program yang akan dikembangkan bertema Sustainable Agro-Fisheries Industry. “Kedua sektor ini dapat mengembangkan bisnis model sirkular. Sebagai contoh, di sektor tambak yang memiliki limbah padat dan cair. Limbah padat dapat menjadi pupuk NPK yang dapat digunakan oleh para petani, sedangkan limbah cair dapat digunakan untuk penyiraman di kawasan bisnis wisata,” jelas Cak Ipin Kemudian, fase terakhir disebut fase rise. Pada fase ini, Kabupaten Trenggalek diharapkan dapat menjadi pionir dalam menciptakan Sustainable City and Communities in Indonesia di tahun 2030. Dengan mengedepankan lima pilar SDGs serta kebijakan push and pull, Trenggalek dapat maju dari segi ekonomi dengan mensejahterakan rakyatnya serta menjadi daerah yang peduli lingkungan. “Kenapa berkelanjutan? Karena percuma kita makmur tapi yang makmur bukan rakyat kita dan hanya bertahan satu dua tahun. Sehingga, pilar SDGs tersebut harus diterapkan dengan sungguhsungguh untuk mencapai kemakmuran bagi seluruh masyarakat,” tutup Cak Ipin.


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

Konsisten Mempermudah Perizinan, Menarik Minat Investor Saat pandemi, DKI Jakarta terus mempertahankan pertumbuhan positif dalam hal penanaman modal. Hal ini berhasil dicapai dengan ragam inovasi yang relevan.

City Evolution

CITY 1.0

CITY 2.0

- City government is administrator . - People are residents - Public is engaged through socialization

- City government is

service provider . - People are consumers. - Public is engaged through consultation .

CITY 3.0 - City government is facilitator . - People are participants . - Public is engaged through participation.

CITY 4.0 - City government is collaborator . - People are co-creators. - Public is engaged through collaboration .

Sumber: Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, Ph.D

Provinsi DKI Jakarta terus meningkatkan nilai realisasi investasi. Meskipun situasi tahun ini tidak terlalu menguntungkan bagi banyak pelaku industri, nyatanya realisasi investasi di DKI Jakarta terus menunjukkan hasil positif. Pada triwulan kedua tahun 2020 saja, Nilai realisasi investasi yang tercatat oleh Badan Koordinasi Penanaman Republik Indonesia (BKPM) sebesar Rp 30,1 triliun. Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, capaian ini membawa DKI Jakarta menempati posisi pertama sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi se-Indonesia. Rincian dari realisasi investasi tersebut berasal dari PMA (Penanaman Modal Asing) sebesar US$ 0,8 miliar


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

atau setara Rp 12,2 triliun. Sementara realisasi dari PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) sebesar Rp 17,9 triliun. Dengan demikian, realisasi investasi PMA dan PMDN DKI Jakarta selama semester I tahun 2020 mencapai Rp 50,2 triliun atau berkontribusi 12,5 % dari total realisasi investasi PMA dan PMDN Nasional, sebesar Rp 402,6 triliun. “Jakarta merupakan pusat perekonomian yang dengan konsisten dari tahun ke tahun investasi di Jakarta selalu meningkat dan bahkan melebihi target,” ujar Anies. Ucapan Anies ini dibuktikan dengan data penanaman modal di DKI, dari tahun 2017 selalu ada peningkatan angka penanaman modal di area DKI. Pada 2017 nilai penanaman modal mencapai Rp 108,6 triliun, pada tahun 2018 sekitar Rp 114,2 triliun, dan pada tahun 2019 mencapai Rp 123,9 triliun. Anies mengakui bahwa kondisi pandemi saat ini memang banyak memberatkan para pelaku usaha, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga untuk nasional dan global. Hal ini tercermin pada penurunan realisasi investasi PMA DKI Jakarta sebesar 10,29% pada triwulan II tahun 2020 bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 lalu. Namun, realisasi PMDN justru tumbuh. Pada triwulan kedua tahun ini, realisasi investasi PMDN DKI Jakarta menunjukkan performa positif dengan mengalami kenaikan sebesar 10,49%


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

bila dibandingkan dengan realisasi PMDN pada periode yang sama di tahun 2019 lalu. “Investasi di Jakarta cukup baik meskipun ada pandemi. Bahkan ketika Indonesia mengalami penurunan, tapi investasi di DKI menunjukkan angka yang lebih baik,” tutur Anies. Beberapa sektor yang menurut Gubernur mengalami peningkatan adalah sektor telekomunikasi, pergudangan, dan transportasi. Capaian ini menjadi bukti bahwa kebijakan DKI Jakarta terhadap situasi pandemi disambut baik oleh para investor. Hal ini juga terlihat dari upaya keras yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta melalui DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta dalam melakukan promosi sektor potensial kepada para calon investor.

Realisasi Investasi

DKI Jakarta Triwulan II Tahun 2020 Total Realisasi Investasi

DKI Jakarta

30,1

Rp

triliun

PMA Sektor Tertinggi

PMDN Sektor Tertinggi

Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran

Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi

US$ 308 juta

Rp 6,6 triliun Jakarta Utara Rp.3,4 triliun PMA Rp. 936 miliar PMDN Rp. 2,5 triliun

PMA

(Penanaman Modal Asing)

US$

0,8 miliar

Jakarta Barat Rp. 2,3 triliun PMA Rp. 430 miliar PMDN Rp. 1,9 triliun

PMDN

(Penanaman Modal Dalam Negeri)

Rp

17,9 triliun

Jakarta Selatan Rp. 13,5 triliun PMA Rp. 8,3 triliun PMDN Rp. 5,2 triliun

Jakarta Pusat Rp. 8,8 triliun PMA Rp. 1,7 triliun PMDN Rp. 7,1 triliun

Jakarta Timur Rp. 2 triliun PMA Rp. 799 miliar PMDN Rp. 1,2 triliun


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

Salah satu caranya adalah dengan optimalisasi teknologi melalui digitalisasi sistem perizinan. DKI Jakarta memiliki aplikasi perizinan bernama JAKEVO. DKI saat ini juga gencar mengupayakan agar segala pelayanan administrasi dan legalitas bisa dilakukan secara digital. DKI juga memiliki layanan AJIB (Antar Jemput Izin Bermotor) yang berfungsi untuk menjemput persyaratan pengajuan izin berdasarkan permintaan melalui call center, kemudian mengantar surat perizinan yang sudah jadi. “Kami saat pandemi juga melakukan inovasi tambahan untuk pengembangan UMKM. Biasanya pelaku UMKM mencari kita untuk mengurus izin, kini kami menjemput bola dengan berikan izin kepada mereka. dengan itu mereka bisa akses kredit dan akses legal yang memungkinkan mereka untuk berkembang lebih besar lagi,” terang Anies. Selama masa Relaksasi Perizinan IUMK, per tanggal 12 Oktober 2020, tercatat sebanyak 62.927 IUMK sudah diterbitkan bagi pelaku usaha binaan Jakpreneur maupun non binaan yang dimulai sejak 6 Juli 2020 lalu. Sebagai Gambaran, dari bulan Januari sampai dengan Juni sebelum ada relaksasi perizinan, IUMK yang diterbitkan adalah 6.952 IUMK sehingga untuk tahun 2020 sampai dengan 12 Oktober 2020, DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan sebanyak 69.879 IUMK, dengan omzet yang berhasil dicatat oleh para pelaku UMK sebesar Rp.482,68 miliar.


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

Di tengah situasi pandemi, Anies menjelaskan bahwa yang menjadi prioritas saat ini adalah penanganan masalah kesehatan. Ia menilai ketika permasalahan kesehatan bisa ditangani dengan baik maka masyarakat akan memiliki rasa percaya kepada pemerintah. “Kami mencoba transparan dengan masyarakat, semua fakta dan data terpampang nyata di website kami. Transparansi menjadi kunci pendekatan kami,” ujarnya.

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D, Gubernur Provinsi DKI Jakarta

Hermawan Kartajaya, Founder & Chairman MarkPlus, Inc.


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

Salah satu cara untuk melakukan pemulihan ekonomi dengan mendorong peningkatan kemudahan perizinan. Ia mencontohkan Mal Pelayanan Publik sebagai tempat interaksi antara pemerintah dengan warga untuk memfasilitasi beragam kebutuhan. Ia juga menilai tempat layanan publik di DKI sudah menerapkan prinsip customer oriented. “Tujuannya adalah memberikan solusi, bukan sekadar jawaban atas pertanyaan. Memberikan solusi agar warga terpenuhi kebutuhan perizinan dan administrasinya serta dapat cepat melakukan kegiatan usaha,” katanya. Anies memaparkan saat ini Kota Jakarta telah memasuki era dimana pemerintah sebagai kolaborator dan warganya sebagai ko-kreator. Keterlibatan masyarakat melalui kolaborasi. Jadi, bukan hanya antara kepala daerah dengan Aparatur Sipil Negara (ASN), melainkan seluruh warga dijadikan sebagai bagian dari pencipta solusi atas permasalahan kota. Hal ini merujuk pada visi City 4.0 yang mana pemerintah perannya melakukan kolaborasi dengan seluruh stakeholder kota. Kolaborasi ini diyakini bisa menjawab banyak kebutuhan dan solusi dari ragam masalah yang ada. Selain itu konsep ini juga mengikat warga untuk lebih terlibat dalam partisipasi publik. Sehingga ada rasa kepemilikan yang lebih terhadap kotanya bagi semua warga. Ia menuturkan bahwa saat ini perlu adanya


Nov 2020 Pemprov DKI Jakarta

pemerataan ide kreatif yang inovatif agar ide-ide tersebut tidak terpusat di satu lokasi saja. Dari sisi pemerintah, dengan melalui kolaborasi bersama warga bisa mendapat perspektif dan ide yang segar untuk memajukan kotanya.


1245pc

1215pc

131pc

Learn More


Learn More


With fresh and innovative marketing ideas, update your weekly marketing and business knowledge only on Marketeers TV YouTube Channel!

so You won’t miss it!

Learn More


Nov 2020

Discovery

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

Outlook

Kapitulis Bisnis Segar Pabrik Kata-Kata PrivyID Legalisasi Tanda Tangan Digital


Nov 2020

Discovery

Kapitulis

Bisnis Segar Pabrik Kata-Kata Berawal dari ketidaksengajaan, Kapitulis hadir sebagai kreativitas dan kemampuan mengolah kata-kata yang bisa dikomersialkan. Tidak hanya melayani pelanggan perorangan, tapi juga perusahaan. Oleh Ellyta Rahma

Kapitulis hadir sebagai bisnis segar yang muncul dari kreativitas seorang penulis dalam memasarkan karyanya. Berawal dari ide Zarry Hendrik, Founder Kapitulis yang juga seorang penulis dan komedian mengeluarkan ide pemasaran yang tidak biasa untuk buku barunya, Titik Lemah (2018). Buku ini merupakan kumpulan puisi karya Zarry.


Nov 2020

Discovery

Untuk memasarkan buku ini, Zarry mengambil langkah unik dengan menawarkan pembuatan caption secara gratis untuk postingan di media sosial. Strategi ini ternyata diminati, baik oleh pembaca atau pengikut akun media sosialnya. Dalam dua bulan pertama, Zarry mengaku kewalahan menerima permintaan pembuatan caption. Akhirnya, ia menggandeng kawan seprofesinya sebagai penulis, Al Muhtadi untuk membantu merangkai kata. Tidak disangka, animo terhadap strategi promosi ini sangat tinggi. Zarry dan Al menerima permintaan pembuatan caption yang tidak berhenti pada dua bulan pertama. Melihat fenomena ini, Zarry dan Al menyadari bahwa banyak orang kesulitan untuk sekadar menyampaikan perasaan lewat caption. Kesulitan tersebut beragam. Misalnya, ada pengguna media sosial yang kebingungan memberikan caption yang tepat dengan gambar yang diunggah. Ada pula yang ingin menyampaikan pesan spesifik lewat unggahan, namun tidak tahu bagaimana menyusun katakatanya. Kondisi ini membuka mata Zarry dan Al, bahwa ada peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan di tengah euforia pengguna media sosial. Keduanya tersadarkan bahwa jasa kreatif untuk konten media sosial, termasuk caption, merupakan peluang bisnis besar yang bisa dikembangkan.


Nov 2020

Discovery

“Akhirnya, muncullah ide untuk meresmikan bisnis ini sebagai sebuah usaha berbadan hukum. Pada tahun 2019, lahir PT Ragam Mahakata yang melahirkan brand Kapitulis,” jelas Al, Co-Founder dan COO Kapitulis lewat wawancara daring dengan Marketeers. Nama Kapitulis sendiri hadir dari kesadaran Zarry dan Al untuk memiliki merek yang bisa dikenal oleh pasar. Al bercerita ada diskusi panjang antara dirinya, Zarry, dan sejumlah penulis yang direkrut dalam penciptaan nama Kapitulis sebagai merek. Nama ini merupakan kepanjangan dan kapitalisasi penulis yang bermakna bahwa usaha ini merupakan bentuk dari monetisasi karya penulis-penulis yang ada di dalamnya. Saat Kapitulis baru muncul, tidak sedikit yang menyangsikan layanan yang ditawarkan. Apalagi, jika melihat jasa rangkai kata yang terkesan mudah dan bisa dilakukan semua orang. Namun nyatanya, permintaan pelanggan terus berdatangan. Saat pertama kali hadir, Kapitulis menghadirkan tagline yang berbunyi “Sudah ada kata-katanya?” dan berhasil menarik perhatian, baik dari personal individu maupun korporasi. Setelah membuat PT Ragam Mahakata, bisnis Kapitulis mulai berkembang. Proyek pertama dalam monetisasi tulisan yang dilakukan oleh Kapitulis adalah pembuatan gelas dengan desain caption media sosial untuk kedai kopi Forestry. Hingga kini, layanannya terus berkembang.


Nov 2020

Discovery

Mulai dari pembuatan surat, deskripsi sosial media, hingga ucapan-ucapan di momen spesial. “Kapitulis berkembang dari sisi bisnis dan layanan. Kami pernah terlibat dalam pembuatan lirik lagu, naskah pidato, hingga sekarang ikut berperan dalam pembuatan tagline dan nama brand dari berbagai skala,” kata Al. Lebih dari setahun beroperasi, kini Kapitulis mengembangkan bisnisnya menjadi empat unit bisnis, di antaranya Rangkai Kata, Rangkai Acara, Rangkai Media, dan Rangkai Citra. Sesuai namanya, tiap unit bisnis ini memiliki jenis layanannya masing-masing. Al menegaskan, jiwa Kapitulis ada di Rangkai Kata. Layanan ini berfokus pada ide utama Kapitulis sebagai layanan rangkaian kata untuk mempermudah pelanggannya dalam mengungkapkan perasaaan melalui kata-kata. Baik untuk caption media sosial, surat, dan kartu ucapan. Rangkai Acara menjadi perluasan bisnis Kapitulis di industri MICE. Rangkai Media dibentuk atas tingginya permintaan rangkai kata yang disertai dengan kebutuhan desain visual. Sementara itu, Rangkai Citra merupakan langkah Kapitulis dalam melihat peluang dari kebutuhan merek untuk mempromosikan produknya dalam bentuk susunan kata yang indah dan relevan, baik terhadap merek tersebut maupun dengan pasar. “Layanan yang ditawarkan memang nyerempet agensi, tapi fokus ke copywriting,” tambah Al.


Nov 2020

Discovery

Sebagai bisnis yang mengandalkan perasaan, banyak hal unik yang kerap dialami Kapitulis. Al bercerita, tidak jarang saat melayani pelanggannya, tim Kapitulis menerima curahan hati sang pelanggan yang kesulitan mengungkapkan perasaannya atau pesannya melalui kata-kata yang pas. Menurut Al, proses layanan inilah yang menjadikan bisnisnya sangat unik. Lewat curahan hati itu, perangkai jadi bisa memahami perasaan yang ingin diungkapkan oleh pelanggan. “Kami juga menerapkan tarif. Untuk rangkai kata, Kapitulis memberlakukan layanan rangkai kata berdasarkan paket waktu, semakin cepat, semakin mahal. Seperti paket Nyiksa Perangkai yang mana caption atau surat harus jadi dalam waktu satu hari. Artinya, dalam waktu yang singkat, perangkai—sebutan penulis di Kapitulis—harus memahami perasaan pelanggan dan mengungkapkannya dalam bentuk rangkaian kata,” jelas Al. Lebih lanjut, positioning yang diambil oleh Kapitulis memang sebagai ghostwriting. Pelanggan bisa mengklaim atas tulisan yang dipesannya di Kapitulis sebagai karyanya. Prinsipnya, para perangkai hanya menuangkan perasaan pelanggan ke dalam tulisan, namun semua makna dalam tulisan tersebut 100% milik pelanggan. “Kami juga menyeleksi pesanan yang masuk. Misalnya, tidak menerima pembuatan tulisan, caption, broadcast message untuk tujuan


Nov 2020

Discovery

penipuan, kejahatan, bahkan perselingkuhan,” tegas Al. Tumbuh Dua Kali Lipat Seiring dengan perkembangan media sosial sebagai platform interaksi dan ladang bisnis, bisnis Kapitulis juga ikut tumbuh. Al mengatakan dari aspek human resources, Kapitulis berhasil tumbuh dua kali lipat. “Pertumbuhan juga terjadi pada semakin banyak pengerjaan produk-produk penulisan yang datang kepada kami. Kapitulis juga mengerjakan voice over dan sejumlah naskah web series,” tambah Al. Kejelian Zarry dan Al dalam mengembangkan bisnis bisa dilihat dari strategi promosi yang minim biaya, namun memiliki dampak yang besar. Kapitulis merekrut penulis-penulis yang sudah terkenal di platform media sosial. Sehingga, tidak hanya memiliki talenta yang terjamin, mereka juga bisa mempromosikan Kapitulis ke pasar yang lebih besar lagi. “Sejalan dengan tujuan bahwa kami ingin para penulis bisa mendapatkan penghasilan tambahan di luar royalti bukunya. Di sisi lain, mengajak mereka berkembang dan mengasah kemampuan menulis,” tutup Al. Untuk menjaga kualitas, Kapitulis memastikan sekalipun perangkainya merupakan penulis profesional, namun setiap produk yang dihasilkan tetap melewati proses penyuntingan editor. Kapitulis juga bekerja sama dengan ahli bahasa


Nov 2020

Discovery

Ivan Lanin yang berperan sebagai penasihat dan pelatih para penulis di Kapitulis agar bisa mendapatkan eksposur kosakata yang lebih luas dan memiliki pengetahuan kepenulisan yang lebih baik lagi. Jadi, sudah ada kata-katanya?

“KAPITULIS BERKEMBANG DARI SISI BISNIS DAN LAYANAN. KAMI PERNAH TERLIBAT DALAM PEMBUATAN LIRIK LAGU, NASKAH PIDATO, HINGGA SEKARANG IKUT BERPERAN DALAM PEMBUATAN TAGLINE DAN NAMA BRAND DARI BERBAGAI SKALA.” Al Muhtadi Co-Founder dan COO Kapitulis


MPC_MARKETEERS.pdf

1

16/10/20

10.40

The 15th Annual

Marketing in Indonesia 2021

9 - 10 December 2020 09:00 - 17:00 WIB Online Event Via

10.000 Online Attendees

VISION Marketing Outlook

TREND Emerging Strategies

INSIGHT Research Reports

ACTION

Inspiration for Next Year

Early Bird

Regular

Until 8 Nov 2020

9 Nov - 8 Dec 2020

1 Person

IDR 500.000

IDR 750.000

5 Persons

IDR 2.000.000

IDR 3.500.000

10 Persons

IDR 2.500.000

IDR 6.000.000

CONFERENCE TICKET FEE

HORIZON INDUSTRY ENTREPRE Industry Outlook

Inspiration from Others

NEURSHIP Success Cases

EDU TAINMENT

WOW Concert

Information Anggun +62 812 1233 6502 KARTU KREDIT

Get your ticket now!

Aulia +62 856 9170 0203

shop.marketeers.com

info@markplusinc.com

Registration: bit.ly/daftarmpc2021

#MPC21

www.markplusconference.com Hosted by

Registration

Media Partner

Learn More


Nov 2020

LRT City Jatibening

Solusi Berbagai Masalah

LRT City Jatibening

Kemacetan dan polusi udara menjadi masalah krusial bagi masyarakat perkotaan. Hal tersebut karena padatnya populasi dan volume kendaraan yang juga tinggi. Proyek LRT City dari Adhi Commuter Properti hadir menjawab dua permasalahan tersebut.

Sebagai salah satu kota penyangga, Bekasi memiliki segudang potensi terutama dari segi pengembangan infrastruktur. Sudah banyak investor yang melirik Kota Bekasi sebagai daerah hunian karena letaknya yang strategis dekat dengan Jakarta dan daerah industri Cikarang. Meski saat ini pasar properti secara umum sedang terkoreksi karena pandemi COVID-19, kawasan Bekasi justru makin diminati oleh konsumen, baik dari end user maupun investor.


Nov 2020 LRT City Jatibening

Inilah yang menjadi faktor PT Adhi Commuter Properti (ACP) memilih Bekasi sebagai kawasan pengembangan tiga proyek LRT City salah satunya adalah LRT City Jatibening. Secara konsep, LRT City dibangun untuk mendukung mobilitas masyarakat yang menggunakan transportasi umum, khususnya LRT yang saat ini tengah dibangun. “LRT City dapat dikatakan merupakan selling point dari pengembang Adhi Commuter Properti. Kenapa dinamakan LRT City, karena hunian ini berada di kawasan 0 Km dari stasiun LRT yang dapat mendukung mobilitas masyarakat,” kata Windianto, Project Director LRT City Jatibening. LRT City Jatibening berjarak 0 kilometer dari LRT Jatibening dan menjadi lokasi strategis karena sangat dekat dengan Jakarta. Contohnya, untuk pergi ke daerah Halim hanya membutuhkan waktu sembilan menit. Untuk pergi ke lokasi perkantoran di Dukuh Atas, hanya membutuhkan 30 menit. LRT City Jatibening juga mengusung konsep urban resort dan private apartment. Menawarkan forest landscape, clear view, air circulation, green building facade, private, dan pedestrian friendly. Hunian yang ditawarkan LRT City Jatibening sendiri mengambil konsep menghutankan Kota Bekasi. Melalui LRT City Jatibening, Adhi Commuter Properti ingin membuat lahan hijau yang dapat memberikan kesejukan di tengah kota yang panas.


Nov 2020 LRT City Jatibening

Jadi, di kawasan hunian ini terdapat pusat penghijauan. Fasilitasnya lengkap ditambah dengan private garden dan coworking space. Hal ini merupakan upaya LRT City Jatibening memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam. “Kami membangun hutan di tengah kota dengan menyesuaikan lahan parkir yang semuanya berada di basement. Ini tidak seperti konsep apartemen kebanyakan. Di atasnya akan dibangun lanskap hutan dan floating stage tempat orang berkumpul,” pungkas Windianto. Selain itu, LRT City Jatibening juga mengusung konsep transit-oriented development (TOD) yang saat ini kian populer di wilayah Jabodetabek. TOD merupakan suatu pendekatan pengembangan kota yang bersifat compact dengan mengadopsi tata ruang campuran atau mixed use. “Dalam membangun hunian TOD, kami berfokus pada lima hal, yaitu densify, walkable, connect, shift and transit, dan mixed use. Konsep ini mendekatkan wilayah hunian dengan akses transportasi umum seperti KRL, MRT, dan LRT, serta dilengkapi dengan jaringan jalan pejalan kaki maupun bersepeda,” jelas Windianto.

Windianto Project Director LRT City Jatibening.


Nov 2020

Discovery

PrivyID

Legalisasi Tanda Tangan Digital Di saat semua transaksi sudah serba digital, keabsahan atau keauntetikan dokumen di dunia maya pasti dipertanyakan. PrivyID, sebuah perusahaan rintisan, melihat fenomena ini sebagai sebuah peluang. Oleh Estu Dian Maranti

Transaksi digital di Indonesia terus berkembang. Selama pandemi COVID-19, Bank Indonesia mencatat adanya kenaikan transaksi digital atau uang elektronik per April 2020 mencapai 64,48% secara year-on-year. Sedangkan dari segi volume transaksi meningkat sebesar 37,35% secara tahunan. Masifnya aktivitas transaksi digital membuka celah bagi kejahatan siber, terutama dalam hal


Nov 2020

Discovery

pemalsuan dokumen. Berkembangnya transaksi tanpa tatap muka membuat proses kesepakatan hitam di atas putih menjadi lebih digital. Ini menjadi tantangan karena masih banyak masyarakat yang mempertanyakan legalitas kesepakatan dokumen digital. PrivyID melihat potensi dan tantangan transaksi digital tersebut sebagai sebuah peluang. Perusahaan rintisan yang berdiri pada tahun 2014 ini mengisi celah dengan menyediakan platform sertifikasi tanda tangan elektronik yang dapat dipertanggungjawabkan legalitasnya. “Ketika transaksi fisik bergeser menjadi transaksi digital diperlukan suatu identitas atau tanda tangan yang memiliki keabsahan yang sama dengan tanda tangan basah. Identitas ini dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi digital dalam negeri yang sehat, legal, dan aman,” kata Marshall Purnama, CEO dan Co-Founder PrivyID. PrivyID menjadi pionir platform tanda tangan digital dan yang pertama mendapat pengakuan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo RI) sebagai penyelenggara sertifikasi elektronik untuk tanda tangan elektronik. Artinya, perusahaan ini memiliki otoritas untuk menerima pendaftaran, melakukan verifikasi, serta menerbitkan sertifikat elektronik dan tanda tangan elektronik bagi warga negara Indonesia. Marshall menjelaskan, yang ditawarkan oleh PrivyID kepada para pengguna dan mitra


Nov 2020

Discovery

adalah teknologi verifikasi identitas digital yang akuntanbel dan dapat dipercaya, dengan satu nomor induk kependudukan dan satu identitas digital. Legalitas tanda tangan elektronik dari PrivyID sudah melengkapi ketentuan yang ada pada Pasal 11 Ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. “Seluruh tanda tangan elektronik yang dibuat dengan aplikasi PrivyID memiliki kekuatan akibat hukum yang sah selayaknya tanda tangan basah,” pungkas Marshall. Berbicara mengenai model bisnis, PrivyID menawarkan efisiensi bagi para mitra korporasi dengan memberikan solusi bagi perusahaan untuk mengirim dan menerima dokumen tanda tangan elektronik. Nantinya, mitra perusahaan tidak hanya dapat menghemat waktu dalam pengerjaan dokumen, tetapi juga menghemat biaya. “Untuk positioning, kami selalu menempatkan pricing di bawah biaya dalam transaksi konvensional dengan hanya mengeluarkan Rp 3.500 per tanda tangan. Dengan harga segitu, pelanggan mendapatkan kekuatan dan akibat hukum yang sama dengan proses konvensional,” kata Marshall. Saat ini, makin banyak perusahaan penyedia tanda tangan elektronik dengan model bisnis yang sama dengan PrivyID. Tetapi, Marshall mengatakan, sampai saat ini hanya PrivyID yang


Nov 2020

Discovery

memiliki aplikasi untuk smartphone. Fitur-fitur yang lengkap juga menjadi diferensiasi dari perusahaan kompetitor lainnya. Diferensiasi lainnya yang ditawarkan oleh PrivyID adalah sistem keamanan. Marshall mengaku, perusahaannya telah berinvestasi mencapai US$ 5 juta untuk memperkuat infrastruktur keamanan. Investasi tersebut berasal dari pendanaan Pra-Seri A yang dipimpin oleh MDI Ventures dan Mandiri Capital Indonesia. PrivyID menggunakan teknologi asymmetric cryptography dan infrastruktur kunci publik. Tujuannya, tidak hanya menjamin keamanan informasi data pengguna, tetapi juga memudahkan proses verifikasi penandatanganan dan setiap perubahan yang dilakukan pada dokumen yang ditandatangani dapat diidentifikasi. Perusahaan rintisan ini juga menggunakan hardware berbasis militer untuk menyimpan data pembuatan tanda tangan elektronik. “Keamanan data bisa dikatakan sebagai daya jual kami. Semua data pembuatan tanda tangan elektronik disimpan di Hardware Security Module (HSM). Dengan hardware ini apabila ada yang ingin membobol, hardware tersebut akan selfdestruct,” jelas Marshall. Mendapat Pengakuan Pada awal berdiri, Marshall mengaku mendapatkan banyak tantangan. Masyarakat


Nov 2020

Discovery

maupun investor banyak yang mempertanyakan legalitas dari penggunaan tanda tangan elektronik. Tetapi, dengan berjalannya waktu, PrivyID telah mendapatkan banyak pengakuan dari berbagai institusi, termasuk perbankan. Beberapa waktu lalu, perusahaan rintisan ini baru mengumumkan kerja sama dengan enam bank besar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, BNI Syariah, Bank CIMB Niaga, dan Bank Mega. Perusahaan ini menjadi satu-satunya penyedia layanan tanda tangan digital yang lulus Ruang Uji Coba Terbatas dari Bank Indonesia. Selama masa pandemi COVID-19, perusahaan ini juga melihat adanya kenaikan permintaan tanda tangan digital. PrivyID mencatat, dari Februari hingga Maret total customer enterprise mereka naik 350%. Saat ini, telah ada 800 customer enterprise serta 6 juta pengguna individu yang telah bergabung dengan PrivyID. Sebelum pandemi, PrivyID sudah mendapat keuntungan dari kebijakan Ototritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan perusahaan teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) untuk menggunakan tanda tangan digital. Marshall mengatakan, sekitar 80% pengguna mereka berasa dari lembaga keuangan termasuk fintech lending. “Di industri fintech, kami ingin mewujudkan pure digital offering. Pengguna yang sudah memiliki akun di lembaga keuangan yang menjadi mitra kami telah melalui proses Customer


Nov 2020

Discovery

Due Dilligence sesuai dengan peraturan OJK tentang Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Dana Teroris,” jelas Marshall. PrivyID akan terus mengembangkan produk dan infrastruktur keamanan untuk menggaet lebih banyak customer enterprise. Marshall membeberkan, saat ini perusahaannya telah menjalin kerja sama dengan Microsoft Teams untuk melakukan penandatanganan secara langsung melalui conference call. Selain itu, ke depan akan menggandeng Microsoft Windows sehingga pengguna dapat melakukan tanda tangan digital dari dalam Word tanpa harus mengunggah dokumen ke aplikasi PrivyID. “Kami akan berfokus pada kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar baik dalam negeri maupun luar negeri. Harapannya, PrivyID dapat menjadi perusahaan Indonesia yang produknya juga dapat digunakan oleh perusahaan dunia,” tutup Marshall.

“KETIKA TRANSAKSI FISIK BERGESER MENJADI TRANSAKSI DIGITAL DIPERLUKAN SUATU IDENTITAS ATAU TANDA TANGAN YANG MEMILIKI KEABSAHAN YANG SAMA DENGAN TANDA TANGAN BASAH. IDENTITAS INI DAPAT MENJADI FONDASI BAGI PERTUMBUHAN EKONOMI DIGITAL DALAM NEGERI YANG SEHAT, LEGAL, DAN AMAN.” Marshall Purnama, CEO dan Co-Founder PrivyID.


2 020

Hermawan Kartajaya Town Hall 16 Desember 2020 Form Deadline Submission:

Monday, 18 November 2020 Categories: Campaign of the Year (Above-the-Line, Below-The Line, Public Relations, etc) Creative Brand of the Year New Product of the Year Service of The Year Corporate Social Responsibility of the Year Sales Promotion of the Year Innovation of the Year (Product, Brand, Service, etc) Community Engagement of the Year Tech Startup of the Year others

for more information please contact: +62.813.1555.6493

info@marketeers.com 035-068 Navigator.indd 56

25/09/2019 14:58:14

Learn More


Nov 2020

Adventure

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

Outlook

Celebrity Marketing Peluang Inovasi Bisnis Telemedisin

Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup


Nov 2020

Adventure

Celebrity Marketing Banyak merek yang menggunakan selebriti sebagai endorser. Ada yang sukses, tapi ada pula yang justru buang uang. Bagaimana penggunaan celebrity endorser yang tepat?

Oleh Ignatius Untung Praktisi Marketing & Behavioral Science


Nov 2020

Adventure

Agnes kok endorse motor? Begitu celetuk seorang teman saya menyikapi sebuah iklan merek sepeda motor skuter automatik (Skutik) yang dibintangi oleh Agnes Monica. “Kok ya ada yang percaya Agnes naik motor? Agnes gitu, loh!” Begitu lanjutnya. Sejak saat itu, menempel betul di benak saya fenomena bagaimana artis papan atas Indonesia dan salah satu yang diyakini berpenghasilan tertinggi di republik ini diposisikan seolaholah mengerti dan menggunakan skutik untuk mempersuasi calon konsumen. Waktu itu, Agnes memang belum berangkat dan berkarya di negeri Paman Sam, tapi tetap saja membayangkan Agnes naik motor saja kami sudah kesulitan. Ada yang lebih heboh lagi dari Agnes. Pesepakbola dunia, Christiano Ronaldo, mengendorse sebuah merek marketplace Asia, sambil joget-joget receh ala Indonesia pula. Ini memang bukan pertama kalinya Ronaldo menjadi endorser untuk merek yang ada di Indonesia. Beberapa belas tahun sebelumnya, Ronaldo menjadi endorser merek minuman berenergi. Meski tanpa joget-joget sekalipun, nampaknya profesi Ronaldo tidak begitu nyambung dengan merek yang diendorse. Beberapa tahun belakangan, penggunaan figur publik sebagai endorser semakin ngetren. Bukan saja endorser lokal macam almarhum Didi Kempot, Maudy Ayunda, hingga Dian Sastro. Juga artis mancanegara seperti BlackPink dan BTS


Nov 2020

Adventure

yang dipekerjakan dalam pertaruhan marketing ini. Penggunaan artis-artis global papan atas ini lalu mengingatkan saya pada sebuah merek minuman berenergi yang dulu merampas perhatian banyak orang karena untuk pertama kalinya menggunakan sosok figur publik papan atas dunia, seperti Del Piero. Saat itu, orang-orang kaget dan takjub karena sebelumnya tidak ada merek lokal yang mau menggunakan endorser internasional. Saya meyakini hasilnya sebanding karena di periode-periode selanjutnya endorser kelas yang sama, macam Luis Figo dan Christiano Ronaldo, juga masuk ke dalam jajaran pesepak bola dunia yang menjadi endorser merek tersebut. Tapi, otak sehat kita berkali-kali mempertanyakan tentang apa yang ada di benak para pemasar yang menggunakan teknik celebrity marketing ini? “Masak iya, Agnes Monica naik motor?” “Masak iya, Ronaldo joget-joget dan belanja di platform marketplace Asia Tenggara itu?”, “Masak iya, BTS yang asli Korea pakai marketplace yang asli Indonesia dan hanya punya kantor di Indonesia?” Begitu tanya kita. “Ini kita yang bodoh atau yang bikin yang gila. Mungkin konsumennya yang sudah kehilangan akal?” Begitu celetuk teman saya yang orang awam. Memang tidak logis, namun memang dalam marketing dan bisnis tidak semuanya harus logis. Love is blind, begitu kata Tiffany dalam lagu lawasnya. Banyak hal dalam hidup yang sama


Nov 2020

Adventure

sekali tidak masuk akal, tapi terjadi. Lebih rumitnya lagi, bahkan kita tidak bisa selalu menjelaskan fenomena ini secara logis. Hal tersebut karena ketika kita mengambil keputusan, termasuk keputusan membeli barang atau menyukai sesuatu, bukan sebagai produk otak logis kita semata. Seringkali justru didominasi oleh otak subconscious kita, yang acapkali tidak logis, ketimbang didominasi oleh executive brain kita yang diproses di prefrontal cortex kita. Sehingga, ketika kita ditanya mengapa suka terhadap sesuatu, maka jawaban yang muncul seringkali hanya rasionalisasi agar terdengar lebih masuk akal ketimbang benarbenar masuk akal. Untuk membuktikannya, coba Anda jelaskan bagaimana Anda menyukai sebuah lukisan, foto, musik atau lagu? Kita bisa menjelaskan bagian yang paling kita suka dari foto, lukisan, musik atau lagu, namun bagian itu tidak berdiri sendiri. Tanpa bagian lainnya maka kesukaan kita terhadap bagian yang spesifik tadi jadi terasa tidak begitu kuat lagi. Banyak hal dalam hidup kita yang terjadi dan kita lakukan tanpa kita ketahui proses di belakangnya, sehingga kita seringkali kesulitan untuk mengartikulasikan alasan spesifiknya. Seperti ucapan Rory Shuterland, Vice Chairmain Ogilvy Group, “When you demand logic you pay a hidden price: you destroy magic”. Marketing memang tidak selalu logis. Namun, bukan


Nov 2020

Adventure

berarti kita bebas berbuat semaunya dan bersembunyi di balik magic. Toh, merek-merek yang menggunakan figur publik sebagai endorser konon kabarnya memberikan hasil yang baik, walaupun penuh pertanyaan dari kita yang “masih punya akal sehat” ini. Pada tahap paling mendasar, penggunaan figur publik sebagai endorser bisa bermanfaat untuk mendapatkan atensi dari audiens yang dituju. Tidak bisa dipungkiri tokoh terkenal menjadi magnet attention. Kita ingin tahu apa yang dilakukan oleh Kim Kardhasian, Kyle Jenner, dan lainnya. Lantaran alasan itulah, politikus berlombalomba mengejar popularitas. Politikus kini tidak mau kalah dari selebgram dan YouTuber. Mereka beramai-ramai membangun popularitas agar bisa menarik perhatian. The mere-exposure effect menjelaskan bahwa kita cenderung akan memiliki ketertarikan pada sesuatu yang familiar atau dikenal. Oleh karenanya, penggunaan brand endorser dirasa bisa menjadi magnet attention untuk mendongkrak brand awareness. Fase selanjutnya atau tahap kedua, endorser juga bisa membawa pada tahap recognition. Fase ini membuat merek jadi diingat dan dikenali. Ini sejalan dengan bagaimana otak kita membentuk memori, yaitu dengan membentuk net association yang serupa dengan mind map. Satu kata bisa terkait dengan kata lain. Misalnya, ketika kita sebut merek Coca-Cola,


Nov 2020

Adventure

maka akan terbersit kata merah, Coke, botol, kebersamaan, dan lain sebagainya. Begitu juga ketika kita sebut merek Ikea, maka kata-kata, seperti Swedia, furnitur praktis, DIY, kuning biru, meatball muncul. Setiap kata memiliki meaning/ asosiasi yang bisa dibentuk keterhubungannya dengan yang lain. Semakin kuat memori terhadap satu kata maka semakin tebal jalur mindmap-nya terhadap kata lain yang terasosiasi dengannya. Semakin tebal artinya semakin diingat. Menggunakan selebriti sebagai endorser secara logis akan membangun jalur keterkaitan antara merek kita dengan selebriti yang sudah jelas memiliki memori yang luar biasa kuat karena sudah terkenal dan menempel. Pada tahap berikutnya, celebrity endorsement juga bisa digunakan untuk menciptakan persepsi atau bahkan mengatrol persepsi terhadap merek. Seperti kita ketahui otak kita adalah meaning making machine. Otak selalu berusaha memberikan meaning terhadap apa pun berdasarkan informasi yang tersedia. Tujuannya adalah agar kita bisa merespons dengan baik, apakah harus menghindar, atau menghargai dan memilikinya? Jika makna yang terbentuk positif, maka otak akan berusaha memilikinya. Sementara, ketika maknanya berbahaya maka kita akan cenderung menghindar. Permasalahannya tidak jarang otak kita kekurangan informasi yang bisa


Nov 2020

Adventure

digunakan sebagai informasi untuk menentukan makna. Informasi seperti cerita pengguna lain, komplain orang lain bisa menjadi berharga untuk membangun makna. Jika informasi tersebut ada, seperti kualitas kemasan, bagaimana produk dipajang, hingga berapa harga dari barang tersebut, bisa sangat berguna untuk menentukan makna terhadap merek tersebut. Tahapan keempat dari celebrity endorsement adalah menciptakan kedekatan. Ketika kita menyukai seseorang kita cenderung ingin menyerupai dengannya dari berbagai hal. Kita merasa dekat dengannya ketika kita menggunakan barang-barang yang juga dipakainya. Anda pasti pernah merasakan ketika masih SMP atau SMA, ketika Anda menyukai teman sekolah, melewati kompleks rumahnya saja sudah cukup bikin deg-deg ser. Hal ini terjadi karena otak kita sudah mengantisipasi dari apa yang sudah sebegitu dekat dengan yang kita sukai. Ini memicu hormon kebahagiaan. Begitu juga dengan menggunakan barang yang digunakan oleh selebriti yang kita sukai, kita merasa dekat dan hormon kebahagiaan dikeluarkan. Sayangnya, otak kita tidak terlalu pintar, ketika secara regular dan konsisten dalam periode tertentu hormon kebahagiaan kita keluar saat sebuah merek muncul bersama selebriti yang kita sukai. Otak kita akan membaca bahwa merek tersebut juga harus jadi bagian untuk memicu hormon kebahagiaan, bahkan ketika selebriti


Nov 2020

Adventure

kesukaan kita tidak ikut tampil. Di samping berbagai manfaat di atas, beberapa konsekuensi negatif bisa muncul dari penggunaan selebriti endorsement. Terutama, ketika tidak dikemas secara baik. Hal paling sering terjadi adalah munculnya penolakan dari otak audiens karena gap antara merek dengan endorser-nya terlalu jauh. Misalnya, ketika sosok Donald Trump digunakan untuk meng-endorse merek jamu tradisional, maka otak kita tidak bisa mempercayainya. Walaupun katanya love is blind, namun bahkan orang buta tidak gila. Sesuatu yang terlalu ekstrem lebih sulit untuk berhasil. Ketika ini terjadi, maka kedua pihak harus menanggung risiko, baik merek maupun endorser-nya. Ini karena orisinalitas pesan dan kejujuran kedua belah pihak dipertanyakan. Kesalahan berikutnya yang sering terjadi adalah kita ingat artis dan iklannya, namun tidak ingat apa mereknya. Ini bisa terjadi ketika merek, cerita dan endorser tidak dikemas secara sinkron. Asal tempel saja sementara persepsi terhadap endorser sangat kuat. Hasilnya ketika otak berusaha membentuk net memory maka merek kita tidak berhasil terekam karena kehilangan relevansinya akibat tidak adanya kesinkronan. Penyebab lain dari terjadinya hal ini adalah ketika endorser yang digunakan engage dengan banyak merek, sehingga otak kita kebingungan untuk menyimpan memori hubungan antara


Nov 2020

Adventure

endorser ini dengan merek kita. Begitu juga ketika endorser yang digunakan sudah sebegitu kuat terasosiasi dengan salah satu merek, maka merek kita tidak kebagian tempat di memori konsumen. Penting sekali untuk sebuah merek untuk melakukan celebrity endorsement dengan menggunakan selebriti yang asosiasinya terhubung dengan merek atau setidaknya dengan cerita dikomunikasikan. Penggunaan sosok James Bond akan terasa pas dan maksimal untuk membangun memori ketika mereknya ada hubungan dengan aksi jagoan itu. Sebagai contoh, smartphone kecil yang tahan banting. Ketika cerita dan merek tidak relevan dengan asosiasi yang dimiliki oleh selebriti maka endorser yang digunakan bisa dikatakan hanya jual tampang atau jual popularitas. Pada awal tahun 2000an, Bank Danamon pernah secara cerdik menggunakan selebriti papan atas, Krisdayanti. KD tampil bukan sebagai endorser, tapi sebagai KD mahabintang yang supermahal dan digambarkan dibayar untuk menyanyi di warung soto sederhana tempat sepasang suami istri makan. Iklan tersebut ingin mengomunikasikan promo dengan hadiah yang luar biasa besar, yang jika Anda menang, maka anda pun bisa mengundang KD untuk menyanyi di samping Anda, bahkan di warung sederhana layaknya pengamen. Saya percaya bahwa merek sebaiknya membangun kepercayaan dan positioning-nya


Nov 2020

Adventure

dulu yang kuat sebelum menggunakan endorser. Barulah ketika sudah memiliki asosiasi yang kuat, endorser bisa digunakan untuk memperkuat. Persis bagaimana yang terjadi dengan Nike yang bertahun-tahun membangun asosiasi sebagai merek yang meng-endorse determinasi dan persistent. Sehingga, ketika itu terbentuk dan pada akhirnya Nike bekerja sama dengan Colin Kaepernick, maka bukan Kaepernick yang mengatrol asosiasi Nike, namun justru saling memvalidasi dan menguatkan. Kaepernick sendiri adalah seorang atlet American Football yang menolak untuk berdiri tegak ketika lagu kebangsaan Amerika Serikat diperdengarkan sebelum pertandingan. Tindakan ini sebagai bentuk penentangan terhadap kekerasan rasial. Bahkan, ketika protes terhadap Kapernick dan Nike berlanjut dengan aksi bakar sepatu Nike, Nike tetap tegak berdiri dengan slogannya stands for something even it sacrifice everything dan ini menjadi testamen akan slogan itu sendiri. Jadi, akan lebih baik bila membangun merek dahulu. There’s no shortcut to success.


Nov 2020

Adventure

Peluang Inovasi Bisnis Telemedisin Masa sulit bisa dimanfaatkan untuk mencari terobosan dan peluang bagi inovasi. Dengan teknologi, Halodoc melakukan inovasi dalam bentuk layanan telemedisin yang makin digemari.

Oleh Jonathan Sudharta CEO & Cofounder Halodoc


Nov 2020

Adventure

Teknologi telah terbukti berhasil menciptakan ekosistem baru yang mempermudah kehidupan masyarakat. Salah satu contoh sukses adalah industri ride hailing atau e-commerce di Indonesia yang berdampak masif tidak hanya untuk mempermudah kehidupan masyarakat, namun juga berkontribusi bagi ekonomi dengan terciptanya lapangan pekerjaan baru. Telemedisin bukanlah hal yang terbilang baru. Halodoc telah memulai perjalanan menyederhanakan akses layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia sejak tahun 2016. Saat itu, data Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih mencatatkan rasio dokter di Indonesia berada di angka 3:10.000 populasi, sangat jauh dari rata-rata dunia yang ada di angka 14. Situasi ini semakin sulit dengan adanya disparitas jumlah dokter di kota besar dengan wilayah lain, khususnya bagi dokter spesialis. Tidak pernah ada yang menyangka bahwa tahun 2020 dunia dilanda pandemi COVID-19. Situasi ini membuat industri kesehatan ‘sesak napas’ dengan banjirnya jumlah pasien COVID-19. Sementara, jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas penunjang kesehatan terbatas, angka kematian tenaga kesehatan cukup tinggi, ditambah belum ditemukan metode terampuh untuk menangani pasien dan menangkal COVID-19. Banyak pihak frustasi. Namun di sisi lain, pandemi menjadi katalis bagi inovasi teknologi di bidang kesehatan untuk semakin berkembang.


Nov 2020

Adventure

Penggunaan telemedisin menjadi salah satu kebutuhan krusial yang dapat diobservasi dari Tiongkok yang telah lebih dulu mengalami pandemi COVID-19 dan juga terjadi di berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Bain & Company bahkan mencatatkan hingga 150% pertumbuhan YoY bagi penggunaan harian platform telemedisin di kuartal I 2020. Hal ini sejalan dengan tingginya pemanfaatan platform Halodoc semasa pandemi terutama pada masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di mana konsultasi online harian kami sempat menyentuh pertumbuhan sebanyak 28 kali dan peningkatan sebesar 687% saat puncak pandemi untuk layanan Toko Kesehatan yang memungkinkan pengguna untuk memesan produk kesehatan yang diantar ke rumah. Artikel dari McKinsey & Company menjelaskan tiga cara teknologi dapat berkontribusi bagi sektor kesehatan dalam merespons pandemi COVID-19 di Asia, yaitu dengan implementasi sistem track-trace-test yang ketat. Pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang meningkat drastis, mendorong komunikasi, informasi, edukasi yang transparan dan terkini. Di Indonesia, Halodoc telah berkontribusi mendorong tiga hal tersebut. Dengan kepercayaan dari pemerintah dan dukungan dari mitra kami, Halodoc menjadi platform telemedisin pertama yang memfasilitasi tes cepat (rapid) COVID-19 secara drive thru


Nov 2020

Adventure

pertama di Indonesia dan kini telah memperluas fasilitas layanan drive thru dengan pilihan jenis tes COVID-19 yang lengkap seperti tes swab/ PCR serta antigen di lima lokasi baik di Jakarta maupun Surabaya. Melalui layanan Chat Dokter dan Toko Kesehatan, kami juga membantu masyarakat Indonesia mendapatkan layanan konsultasi medis secara online dan pemesanan produkproduk kesehatan yang dapat dilakukan dari rumah. Saat terjadi kelangkaan masker di awal pandemi, Halodoc tetap berupaya menghadirkan produk kesehatan berupa masker, hand sanitizer hingga multivitamin dengan harga yang stabil bahkan di bawah harga pasaran saat itu. Kami juga mengimbau mitra apotik kami untuk dapat menjual produk kesehatan yang dibutuhkan masyarakat dengan harga yang wajar. Pandemi mendorong terciptanya inovasi teknologi dengan cepat yang melahirkan inovasi-inovasi baru di bidang kesehatan yang belum pernah ada sebelumnya, apalagi dengan kemajuan artificial intelligence (AI) dan robotik. Kombinasi dari 175 juta pengguna internet di Indonesia dengan adopsi teknologi yang terbilang cepat dan penyelesaian Palapa Ring, ditambah dengan situasi COVID-19 merupakan beberapa faktor yang mempercepat transformasi di ekosistem kesehatan, khususnya telemedisin. Hal ini juga mendapat dukungan dari pemerintah dengan memberikan ruang


Nov 2020

Adventure

bagi pelaku telemedisin untuk mengembangkan layanan dan inovasinya. Di masa pandemi, telemedisin juga banyak dimanfaatkan oleh beberapa kelompok masyarakat, seperti lansia, pasien yang memiliki riwayat penyakit kronis maupun bawaan, hingga masyarakat di daerah untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang merata. Ini juga diperkuat dengan laporan dari Market Data Forecast yang memprediksi bahwa pasar telemedisin di Asia Pasifik pada tahun 2025 akan bertumbuh menjadi US$ 22,5 miliar dari US$ 8,5 miliar pada tahun ini. Optimisme yang sama juga terlihat dari laporan Asia-Pacific Front Line of Healthcare Report 2020 dari Bain & Company yang bahkan dilakukan sebelum pandemi. Responden menyatakan bahwa akan menggunakan layanan digital health di lima tahun ke depan. Bahkan, 91% mengaku mereka akan menggunakan layanan ini jika biaya dapat ditanggung oleh perusahaan atau asuransi. Maka dari itu Halodoc menggandeng mitra perusahaan-perusahaan asuransi terkemuka untuk mengajak nasabahnya mendapatkan akses kesehatan yang lebih mudah secara digital melalui platform Halodoc. Kami percaya bahwa segala tantangan dapat dijadikan peluang selama berfokus dalam memberikan solusi atas permasalahan yang dialami oleh masyarakat. Guna mencapai misi mempermudah akses layanan kesehatan yang


Nov 2020

Adventure

merata bagi masyarakat Indonesia, sinergi merupakan kunci utama yang kami pegang teguh sejak pertama kali berdiri, saat ini, hingga nanti.

“PANDEMI MENDORONG TERCIPTANYA INOVASI TEKNOLOGI DENGAN CEPAT YANG MELAHIRKAN INOVASIINOVASI BARU DI BIDANG KESEHATAN DAN BELUM PERNAH ADA SEBELUMNYA, APALAGI DENGAN KEMAJUAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DAN ROBOTIK.”


Nov 2020

Adventure

Serial SDGs

SDGs & COVID-19:

Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Pandemi COVID-19 telah membuat bumi punya waktu untuk memperbaiki diri. Namun, itu hanya sementara. Ancaman perubahan iklim masih tetap menghantui. Bagaimana kita harus menyikapinya?

Oleh Yaya Winarno Junardy Ketua Senat, Indonesia Marketing Association (IMA) President, Indonesia Global Compact Network (IGCN)


Nov 2020

Adventure

Tulisan kali ini masih tentang COVID-19 dan kaitannya dengan SDGs, seperti sudah terbit di Marketeers September 2020. Suka tidak suka Pandemi COVID-19 telah mengubah dunia. Dalam beberapa bulan saja, badai COVID-19 menggoncang sektor ekonomi dan sosial. Sektor pariwisata yang merupakan salah satu primadona kita lumpuh. Turis tidak dapat berkunjung karena destinasi wisata ditutup. Transportasi berhenti beroperasi karena memang tidak ada penumpang dan komoditas yang diangkut. Pada gilirannya, hotel, restoran, dan toko-toko ikut bangkrut. Kondisi yang kurang lebih sama terjadi di industri lainnya. Terjadi efek domino. Memang, ada beberapa sektor yang justru berkembang, antara lain farmasi, rumah sakit, e-commerce, dan sebagainya. Namun, tidak sebanding dengan dampak negatif secara keseluruhan. Ada sekitar 8 juta orang terkena PHK, menambah jumlah 7 juta penganggur dan 25 juta penduduk miskin sebelum pandemi ini. Namun, kita harus tetap berjuang memulihkan perekonomian. Saat ini, pemerintah telah menerbitkan kebijakan dan insentif yang diperlukan, serta memberikan bantuan sosial bagi masyarakat miskin dan pekerja penganggur korban PHK. Bagi pebisnis, saat ini adalah kesempatan melakukan transformasi. Menelaah ulang model bisnis, mengadopsi teknologi digital, cara baru yang inovatif, kompetitif dan


Nov 2020

Adventure

berkelanjutan dengan mengacu pada Revolusi Industri 4.0. Harapannya, badai berlalu dan kita bisa bangkit kembali pada tahun 2021.

Sumber Gambar: Graeme MacKay/mackaycartoons.net

Lingkungan dan Perubahan Iklim Bisa dikatakan pandemi memang memberi efek positif sementara terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari kualitas udara yang membaik karena menurunnya pergerakan manusia dan kegiatan produksi. Kita menyadari bahwa kita akan berhadapan dengan badai yang lebih dahsyat dibanding COVID-19, yaitu Perubahan Iklim (Climate Change). Meminjam ucapan Prof. Emil Salim, Pandemi COVID-19 adalah wakeup call to the world, sebagai reaksi ulah manusia atas kerusakan lingkungan dan musnahnya keragaman hayati (biodiversity).


Nov 2020

Adventure

Laporan Global Risks Landscape 2020 yang diterbitkan Januari untuk Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) ke-50 di Davos juga menyimpulkan perubahan iklim sebagai risiko global yang paling kritis. Kenapa demikian? Karena perubahan iklim memberi dampak negatif yang dahsyat bagi keberlanjutan kita baik secara ekonomi, sosial, bahkan kehidupan itu sendiri. Sekjen PBB, António Guterres, menyatakan bahwa ancaman COVID-19 bersifat sementara, namun meningkatnya ancaman bencana kekeringan, banjir, badai dan lainnya yang berkaitan dengan perubahan iklim yang tanpa kendali akan menjadi malapetaka global. The world is irreversible, tidak bisa diputar balik lagi, katanya. Ibaratnya es kutub yang mencair karena pemanasan global (global warming) sehingga permukaan laut naik dan menenggelamkan daratan. Kita tidak bisa mengembalikan es ke kutub lagi. Karena itu, PBB mendesak adanya tindakan konkret secara global dari semua pihak termasuk dunia usaha untuk bersamasama mengatasi lajunya perubahan iklim dan pemanasan global. Pengolahan Limbah Bagian ini mengulas tentang SDG/TPB 12 Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan. Secara khusus, tentang pengelolaan limbah dengan menerapkan ekonomi sirkular (circular


Nov 2020

Adventure

economy) sebagai salah satu upaya dalam mengembangkan produksi yang berkelanjutan. Kenapa? Karena pengolahan limbah berkontribusi mereduksi emisi karbon sampai 10-20%, artinya ada kaitannya dengan perubahan iklim tadi. Ekonomi sirkular, sebagai alternatif produksi tradisional, memanfaatkan selama mungkin hasil produksi yang non-renewable. Pada saat yang sama mengembangkan produksi dengan bahan yang renewable dan menerapkan konsep 3R (recycle, reduce, reuse). Sebetulnya, alam tidak mengenal limbah. Kita juga harus mengubah pola pikir bahwa limbah adalah bukan limbah. Bayangkan, selama ini, kita membuang limbah pangan 1,2 miliar ton/tahun secara global. Padahal jumlah itu seandainya dikelola dapat mencukupi kebutuhan pangan untuk mengatasi kelaparan. Limbah plastik juga masalah lingkungan yang krusial. Pandemi ini malah menimbulkan lebih banyak sampah plastik akibat peningkatan belanja online hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya. Limbah plastik mengakibatkan pencemaran sungai dan laut, mengancam ekosistem dan bahkan berpotensi memusnahkan kehidupan biota sungai dan laut (SDG14). Akibatnya fatal, hilangnya mata pencaharian jutaan nelayan (SDG8), potensi hilangnya sumber pangan dan nutrisi yang kita perlukan di hari depan (SDG12), dan lebih serius lagi, musnahnya keragaman hayati dan kehidupan.


Nov 2020

Adventure

Beberapa hal yang bisa dilakukan, mengembangkan bisnis baru antara lain mengolah sampah organik menjadi biogas sebagai energi alternatif (SDG7), mengolah limbah air menjadi air minum (SDG5), mengelola kebutuhan air untuk pengairan pertanian dan perkebunan (SDG12)., dan mendaur ulang limbah plastik untuk dimanfaatkan kembali dalam siklus produksi (SDG12) Dalam jangka panjang, pandemi COVID-19 menyadarkan kita untuk mengubah pola hidup yang lebih sehat dan berwawasan lingkungan. Inisiatif untuk membangun lingkungan hidup yang sehat perlu sejalan dengan perbaikan dan pertumbuhan ekonomi. Harapannya pada saat kehidupan sosial ekonomi kembali stabil, di saat itu pola kehidupan yang sejalan dengan lingkungan hidup yang berkelanjutan sudah terbentuk di masyarakat. Pandemi COVID-19 ini juga meningkatkan kesadaran negara dan masyarakat internasional untuk meningkatkan kolaborasi di semua bidang dalam mengatasi tantangan global (SDG17). Pada saat ini, upaya memerangi Pandemi sebagai isu utama. Di samping itu, juga inisiatif global lain yang sangat penting untuk kehidupan yang berkelanjutan, yakni perubahan iklim.


Nov 2020

Navigator

Near Cash – Near Future 2021, 2022, & Beyond 近现金-近未来 2021,2022,&以后 by: Hermawan Kartajaya 陈就学

Dalam webinar pada 6 Oktober 2020, saya telah membahas situasi pandemi yang berdampak sangat besar. Tidak hanya berdampak besar pada masa pandemi saja, tapi juga masa setelahnya. Saya sudah seringkali mengatakan bahwa situasi tidak akan sama lagi seperti sebelum pandemi. Tanggapannya luar biasa. Meskipun diadakan pada malam hari, antusiasme peserta sangat terasa. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara padahal webinar ini tidak gratis. Lebih dari 1.400 orang yang bertahan sampai akhir acara. Memang perubahan terjadi sangat cepat di masa sekarang ini. Beda kuartal bisa jadi sangat berbeda juga situasinya. Sehingga langkah yang kita lakukan bisa sangat berbeda. Tergantung pada perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitar kita, seperti perubahan perilaku konsumen maupun manuver-manuver kompetitor.


Nov 2020

WHY: 5 Drivers in Last 6 Months

Navigator

Technology: Digital Capitalism? Baru-baru ini, saya menonton dua film dokumenter Netflix yang berjudul The Great Hack dan Social Dillema. Kedua film ini benarbenar membuka mata saja mengenai apa yang sedang terjadi di dunia digital khususnya media sosial beberapa tahun belakangan ini. Terutama mengenai tindakan dan kebijakan beberapa raksasa digital dunia yang sebenarnya belum tentu etis. Cukup mengerikan setelah mengetahui bahwa banyak perusahaan yang menjual belikan data penggunanya. Mulai dari informasi perilaku kita selama di dunia digital, preferensi yang dimiliki, sampai informasi yang sifatnya benar-benar pribadi. Semakin banyak dan dalam informasi yang didapatkan, semakin menarik pula suatu platform. Terlebih lagi di masa pandemi ini, justru semakin tinggi juga intensitas kita dalam menggunakan berbagai platform di internet. Political-Legal: Accelerated Deglobalization Salah satu ide utama dari globalisasi adalah setiap negara ataupun daerah mengkhususkan diri untuk menjadi spesialis penghasil produk tertentu. Idealnya setiap daerah memiliki spesialisasi tersendiri untuk produk-produk tertentu. Sehingga


Nov 2020

Navigator

proses produksi pun menjadi semakin efisien karena tenaga kerja di daerah tersebut semakin terampil di setiap prosesnya. Hal inilah yang mendorong perdagangan antara wilayah yang pada akhirnya saling melengkapi satu sama lain. Namun pada kenyataannya, globalisasi tidak semudah yang diperkirakan. Lihat saja China yang merajai sektor manufaktur dunia selama beberapa waktu terakhir sampai-sampai dijuluki factory of the world. Hingga akhirnya banyak negara yang mencoba mengurangi ketergantungan ini. Situasi pandemi ini akhirnya mempercepat proses deglobalisasi. Memaksa banyak negara untuk benar-benar memanfaatkan sumber daya domestik untuk bertahan di masa sulit seperti ini. Karena biar bagaimana pun banyak negara yang lebih memperhatikan situasi di negaranya sendiri dibandingkan masyarakat negara lain. Indonesia sendiri pun didorong untuk lebih mandiri di masa depan. Memang ke depannya tetap ada material-material yang perlu diimpor dari negara lain. Namun, setidaknya Indonesia dapat mandiri dalam beberapa sektor. Salah satunya, ketahanan pangan yang diwujudkan melalui program lumbung-lumbung nasional. Economy: Focus on ‘Engine’ Recovery Tahun 2020 menjadi tahun yang menarik untuk memperhatikan situasi perekonomian negaranegara Asia. Namun tidak sebatas mencermati


Nov 2020

Navigator

angka-angka pertumbuhan saja, tapi juga latar belakangnya. Karena memang angka-angka pertumbuhan ini memang menjadi realisasi dari kebijakan dan ketentuan yang diberlakukan. Setidaknya ada tiga negara yang menarik diperhatikan dalam penanganan pandemi. Pertama adalah Vietnam yang masih merupakan anggota ASEAN. Banyak pakar luar negeri yang memuji cara Vietnam menangani COVID-19. Mereka menilai langkah antisipasi dan penanganannya dilakukan sangat matang. Vietnam juga menjadi negara di Asia Tenggara yang dapat menjaga tingkat pertumbuhan yang positif. China memang menjadi episentrum COVID-19 pertama di dunia. Meskipun benar-benar tidak siap, mereka berhasil memulihkan keadaan dengan relatif cepat. Sebagai negara yang pertama kali terkena dampak, mau tidak mau, China memberlakukan berbagai kebijakan penanganan pertama kali tanpa ada contoh negara lain. Dengan penanganan yang baik, tingkat pertumbuhan positif tetap terjaga. Taiwan adalah negara yang saya kagumi sejak lama. Belajar dari pandemi SARS sebelumnya, Taiwan telah memiliki persiapan yang sangat matang dibanding negara lain untuk menangani wabah. Taiwan sebenarnya menjadi negara kecil yang terus menerus menghadapi tantangan besar. Karena dikucilkan China, mereka tidak dapat leluasa untuk membangun hubungan dengan


Nov 2020

Navigator

negara lain. Bahan baku material yang digunakan untuk produksi pun tidak semudah itu didapatkan. Meski demikian produktivitas Taiwan sudah tidak perlu ditanyakan kembali. Banyak produsen asal Taiwan yang memiliki reputasi tinggi di berbagai dunia. Social-Culture: From Fear to ‘Hope’ Pada tahun 2020, kondisi psikologis masyarakat dunia memang sangat berubah bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rencana liburan, kegiatan, aktivitas keseharian pun menjadi kacau karena adanya pandemi. Banyak orang yang untuk pertama kalinya pula seumur hidup menghadapi wabah dengan tersebar luas secara global. Begitu banyak kondisi baru yang dihadapi sekaligus, membuat banyak orang yang memiliki rasa takut yang tinggi. Apalagi jumlah penderita COVID-19 terus mengalami kenaikan secara konstan dari sejak awal pandemi masuk ke Indonesia. Tidak hanya takut tertular saja, tapi juga banyak orang yang takut terkena dampaknya dari aspek lain. Situasi akan berbeda pada tahun 2021 yang mana sejumlah harapan mulai terlihat. Contohnya, penemuan dan persebaran vaksin, pemulihan ekonomi, dan kelonggaran kembali dalam beraktivitas. Meskipun tidak sepenuhnya kembali pada situasi sebelum pandemi, namun hal ini jelas memberikan optimisme baik dari sisi konsumen ataupun produsen.


Nov 2020

Navigator

Market: Industry Situation Tahun 2021 dan 2022 bakal memberikan tantangan tersendiri lainnya. Apalagi industri yang terkait dengan pergerakan manusia tetap akan pulih paling lambat dibandingkan lainnya. Wajar saja karena krisis kali ini disebabkan karena virus yang menyebar melalui interaksi antarmanusia. Namun di saat yang sama, ada industri-industri yang justru tumbuh di masa seperti sekarang ini. Contohnya, e-commerce mengingat semakin banyak yang melakukan transaksi online. Atau dari industri telekomunikasi karena kebutuhan digital yang tentu semakin meningkat. Industri yang tengah berkembang pun memiliki tantangannnya sendiri. Para pemainnya lebih agresif berkompetisi di pasar yang sedang bertumbuh. Perlu diingat juga pertumbuhan ini tidak seperti di masa normal. Bisa jadi, pertumbuhan ini ada batasnya terutama karena penurunan daya beli konsumen ditambah Indonesia yang sempat mengalami masa resesi. Untuk mendalami situasi industri dan langkahlangkah pelaku bisnis, kami secara rutin mengadakan acara online industry roundtable. Di setiap acara, kami mengundang perwakilan asosiasi dan perusahaan untuk berdiskusi soal perkembangan situasi industri terkini. Diadakan setiap Selasa dan Jumat serta telah berjalan selama dua musim. Dalam masing-masing musim, ada 18 industri yang terlibat.


Nov 2020

Navigator

WHAT: Near Cash-Near Future Memang dibutuhkan adaptasi yang lincah agar kita tetap relevan di mata konsumen. Namun permasalahannya adalah adaptasi yang ideal tidak dapat secepat itu. Saya memperkenalkan dua pendekatan near cash dan near future. Near Cash pada intinya mengamati situasi jangka pendek yang dapat segera dimonetisasi. Sementara, near future lebih fokus pada masa depan namun masih dalam jangka pendek. Agar benar-benar tepat sasaran, hal tersebut harus diimbangi dengan pola pikir yang tepat. Saya selalu memakai kerangka analisis lingkungan bisnis yang fokus pada faktor perubahan yang sering saya sebut sebagai change atau 5 drivers. Kelimanya anatra lain Technology, Political-Legal, Economy, Socio-Culture, dan Market. (image 1) NEAR CASH

NEAR FUTURE

Q4 (2020)

2021 (Beyond) POWER

PEOPLE

CHANGE

TECH

ECONOMY

MARKET

Image 1 Near Cash & Near Value

5 DRIVERS


Nov 2020

Navigator

Di sini, Technology berbasiskan Marketing 5.0 yaitu teknologi yang bertujuan untuk kemanusiaan. Sehingga tidak hanya berfokus pada mesin dan digitalisasi, tapi juga kemanusiaan. Pola pikirnya bukan bagaimana mesin menggantikan manusia, tapi bagaimana mesin dan manusia dapat berkolaborasi untuk dunia masa depan. Driver kedua adalah political-legal yang tentu berkaitan dengan faktor power. Ini berkaitan erat dengan pemerintah yang memiliki otoritas untuk membuat peraturan, kebijakan, dan juga mengatur pergerakan masyarakat. Pada tahun 2020, pemerintah memang lebih fokus pada fase relief melalui banyak program stimulus dan kebijakan membantu kesehatan dan perekonomian masyarakat. Pada periode tahun 2021-2022, pemerintah akan mengambil kebijakan yang berfokus pada pemulihan ekonomi. Periode ini memang momentum terbaik karena situasi diprediksi jauh membaik. Tidak hanya adanya vaksin yang mulai didistribusikan tapi juga faktor drivers lain yang memang mendukung. Salah satunya tentu mengenai ekonomi yang mana pada tahun 2020 ekonomi di berbagai belahan dunia mengalami pukulan sangat kuat. Bahkan, banyak negara mengalami masa resesi termasuk Indonesia. Meski demikian, banyak lembaga yang memprediksikan tahun 2021 akan terjadi rebound sangat kuat di banyak negara. Faktor lain yang tidak kalah penting atau malah


Nov 2020

Navigator

sebenarnya memiliki dampak lebih besar adalah sisi socio-culture. Terutama karena tren masyarakat yang seringkali memiliki kekuatan besar untuk mengubah drivers lainnya. Pada tahun 2020, banyak orang yang pesimistis karena perubahan situasi yang mendadak dan tidak menguntungkan. Bukan hanya mengenai virus itu sendiri tapi juga banyak faktor lainnya, seperti gelombang PHK, pemotongan gaji, dan lainnya. Dari sisi market, banyak perusahaan besar yang tidak dapat lagi mengandalkan perdagangan antarnegara. Banyak negara yang telah melakukan deglobalisasi sehingga lebih mengandalkan kekuatan negaranya sendiri. Ada kecenderungan semakin banyak perusahaan yang lebih fokus pada pasar lokal. Bahkan, benar-benar mencakup lingkup yang kecil namun sangat terfokus. Barulah kemudian secara bertahap akan kembali menggarap pasar regional. Seiring dengan meningkatkan optimisme, ekonomi yang mulai rebound, kebijakan pemerintah yang memang berfokus pada pemulihan, dan juga didukung teknologi yang bertujuan untuk kemanusiaan. (image 2) Image 2 Akses QR code berikut untuk penjelasan near cash & near future dari Hermawan Kartajaya:


NEAR CASH

NEAR FUTURE

Q4 (2020)

2021 (Beyond)

M A R K ET I N G

Navigator

HOW: Entrepreneurial Marketing Ke depannya, kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan cara lama saja. Karena konsumen sudah sangat berubah, belum lagi situasi kompetisi pada masing-masing industri. Sehingga pendekatan marketing tentu harus memiliki berbagai penyesuaian yang lebih relevan pada situasi terkini. Dari sisi marketing, setidaknya ada tiga faktor penting yang tentu harus diperhatikan, yaitu pengelolaan Customer, Product, dan Brand. Masingmasing industri tentu memiliki situasi berbeda. Apalagi karakter masing-masing industri terbilang unik. Namun, ada saja faktor sama yang dapat menjadi karakter tersendiri. (image 3)

EN T R EP R EN EU R I A L

Nov 2020

CUSTOMER PRODUCT

BRAND OPPORTUNITY

RISK COLLABORATION

Image 3 Entrepreneurial Marketing

Pada pengelolaan Customer misalnya, kita harus memperhatikan anxiety dan desire. Pada masa


Nov 2020

Navigator

pandemi saat ini, kegelisahan masyarakat tentu sangat tinggi. Situasi seperti saat ini yang belum pernah dihadapi sebelumnya karena itu tidak heran bila banyak masyarakat yang kebingungan. Bila berhasil memenuhi anxiety ini, bukan tidak mungkin kita meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Di saat yang sama, ada juga desire dari Customer yang seringkali terpendam. Apalagi selama pandemi, banyak rencana kita yang batal karena situasi. Bukan hanya liburan saja, tapi berbagai impian lain yang tidak dapat diwujudkan. Ini menjadi peluang lain di mana kita dapat mewujudkan impian tersebut tentu tanpa menyalahi protokol kesehatan. Kita beranjak pada product management yang juga memiliki dua sisi. Pada masa pandemi, kita menganggap produk sebagai solusi pada permasalahan yang dihadapi konsumen. Menghadapi berbagai ketidakpastian, mereka membutuhkan produk yang dapat menjadi solusi paling jitu pada permasalahan yang dihadapi. Sedangkan untuk masa depan, kita tidak boleh melupakan aspek reliabilitas produk. Karena produk yang akan dipilih diharapkan tidak sekadar sebagai solusi, tapi dapat memenuhi impian mereka di masa mendatang. Terlebih lagi bila daya beli sudah pulih di masa mendatang. Pengelolaan brand tentu berbeda di masa pandemi. Banyak orang yang lebih memilih brand yang sudah sangat dikenal reputasinya. Karena itu,


Nov 2020

Navigator

fokus perhatian utama pada masa tersebut tentu dari segi integritas. Malah masa pandemi menjadi ujian besar bagi kita untuk selalu memberikan pelayanan terbaik di semua kondisi. Pada masa pemulihan ekonomi, tentu fokus perhatian terbesar pun kembali berubah. Brand image menjadi semakin penting, terutama untuk pengembangan di masa depan. Karena itu, setiap brand tidak hanya menjadi identitas saja tapi juga memiliki citra yang baik di mata masyarakat. Bila semua komponen dalam sisi marketing ini dijalankan dengan baik, kita dapat melewati masa krisis dengan baik. Sekaligus juga dapat mengoptimalkan upaya di masa pemulihan. Kita perlu dibekali dengan pemikiran entrepreneurship yang tepat. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu bagaimana kita mencermati peluang, risiko, dan dorongan untuk berkolaborasi. Peluang di masa pandemi dan masa pemulihan tentu akan berbeda karena situasinya terus berubah. Di masa pandemi, banyak perusahaan yang memiliki berbagai keterbatasan. Karena itu, mungkin kita tidak memiliki sumber daya yang dapat menggebrak. Sehingga pada masa-masa seperti ini akan lebih tepat bila kita memanfaatkan peluang yang ada. Masa pemulihan ekonomi akan menjadi masamasa perlombaan bagi banyak perusahaan untuk memenangkan persaingan kembali. Karena itu inisiatif yang kita lakukan pun harus benar-benar di luar kebiasaan. Inilah saat yang tepat bagi kita


Nov 2020

Navigator

untuk menciptakan peluang-peluang baru. Bukan sekadar menunggu momentum yang paling pas. Begitu pula sikap kita dalam menghadapi risiko. Konsumen maupun perusahaan akan bersikap lebih hati-hati di tengah pandemi seperti ini. Pendekatan yang kita lakukan sedapat mungkin berisiko kecil dan benar-benar memahami situasi yang mereka hadapi. Beda lagi bila pada masa pemulihan yang mana kita dapat lebih berani mengambil risiko namun dengan perhitungan yang benar. Begitu pula dari sisi konsumen yang lebih berani mencoba sesuatu yang baru, terlebih karena sudah terkekang beberapa waktu pada masa PSBB. Soal kolaborasi di masa pandemi dan masa pemulihan juga memerlukan pendekatan yang berbeda. Di masa sulit, banyak pengusaha yang mengalami berbagai keterbatasan. Tentu kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Bila dimungkinkan tetaplah berkolaborasi dengan pihak lain. Selain untuk berbagi sumber daya untuk mencapai keuntungan bersama, risiko yang dihadapi dapat diminimalisir melalui kolaborasi. Di saat bersamaan, peluang untuk berhasil cukup tinggi. Kolaborasi yang dilakukan cenderung untuk jangka pendek. Ini didasarkan pada efektivitas inisiatif yang dilakukan sekaligus mengakomodasi dinamika perubahan yang cepat di masa pandemi. Sedangkan pada masa pemulihan, kita dapat membangun kolaborasi dengan jangka yang lebih panjang. Keadaan memang akan relatif lebih stabil


Nov 2020

Navigator

sehingga penjajakan kerjasama dapat dipersiapkan lebih matang. (image 4) Gambar 2 Akses QR code berikut untuk penjelasan Entrepreneurial Marketing dari Hermawan Kartajaya:

In the webinar on 6 October 2020, I discussed how the pandemic situation has had a huge impact. Not only has a big impact during the pandemic but also in the aftermath. I have said many times that the situation will never be the same as it was before the pandemic. The response was overwhelming, even though it was held at night, the enthusiasm of the participants who participated was felt. This can be seen from the number of participants who took part in the event even though this webinar was not free. More than 1,400 people made it to the end of the event. Because change happens very quickly in the present. Different quarters can have very different situations as well. So that the steps we take can be very different too. Seeing the changes that occur in the environment around us, changes in consumer behavior, and also the maneuvers of competitors.


Nov 2020

WHY: 5 Drivers in Last 6 Months

Navigator

Technology: Digital Capitalism? I recently watched two Netflix documentaries called The Great Hack and Social Dillema. These two films have opened our eyes to what is happening in the digital world, especially social media in recent years. Especially regarding the actions and policies of some of the world’s digital giants, which are not necessarily ethical. It is quite terrible to find out that many companies are selling their user data. Starting from information about our behavior while in the digital world, our preferences, to truly personal information. The more and deeper the information you get, the more attractive the platform will be. Moreover, during this pandemic, the intensity of our use of various platforms on the internet will be higher. Political-Legal: Accelerated Deglobalization One of the main ideas of globalization is that each country or region specializes in being a specialist in producing certain products. Ideally, each region has its specialties for certain products. So that the production process becomes more efficient because the workforce in the area is increasingly skilled at each process. This is what encourages trade between regions which ultimately complement each other. But in reality, globalization is not as easy as it seems. Just look at China, which has dominated the world’s manufacturing sector for the past few years and has been dubbed the factory


Nov 2020

Navigator

of the world. Until finally many countries are trying to reduce this dependence. This pandemic situation has finally accelerated the process of deglobalization. Forcing many countries to fully utilize domestic resources to endure difficult times like these. Because after all, many countries pay more attention to the situation in their own country than the people of other countries. Indonesia itself is also encouraged to be more independent in the future. Indeed in the future, there will still be materials that need to be imported from other countries. But at least Indonesia can be independent in several sectors. One of them is food security which is manifested through the national barns program. Economy: Focus on ‘Engine’ Recovery 020 is an interesting year to pay attention to the economic situation of Asian countries. However, it is not limited to looking at the growth figures, but also the background. Because these growth figures are indeed the realization of the policies and regulations that are enacted. There are at least three countries that are interesting to pay attention to handling the pandemic. First is Vietnam, which is still a member of ASEAN. Many foreign experts have praised the handling of COVID-19 because the anticipation and handling steps are carried out very carefully. They are also a country in Southeast Asia that can maintain a positive growth rate. China has indeed become the world’s first COVID-19 epicenter. Though completely unprepared, they managed


Nov 2020

Navigator

to recover relatively quickly. As a country that was affected for the first time, inevitably they were also the ones implementing various policies for handling the first time without any examples from other countries. With good treatment, the positive growth rate is maintained. Taiwan is a country that I have admired for a long time. Learning from the previous SARS pandemic, Taiwan was very well prepared compared to other countries to handle the outbreak. Taiwan itself is a small country that continues to face big challenges. Because of being ostracized by China, they are not free to build relations with other countries. The raw materials used for production are not that easy to get. However, Taiwan’s productivity does not need to be asked again. Many Taiwanese producers have high reputations around the world. Social-Culture: From Fear to ‘Hope’ In 2020, the psychological condition of the world community has indeed changed greatly when compared to previous years. Vacation plans, activities, daily activities have become chaotic due to the pandemic. Many people are facing a global epidemic for the first time in their lives. So many new conditions are faced at once, making many people have high fear. Moreover, the number of COVID-19 sufferers has continued to increase constantly since the beginning of the pandemic entering Indonesia. Not only are they afraid of getting infected, but also many people are afraid of being affected by other aspects. The situation will be different in 2021, where some


Nov 2020

Navigator

hopes are starting to appear. Examples include the discovery and distribution of vaccines, economic recovery, and relaxation in activities. Although it does not fully return to the situation before the pandemic, it certainly provides optimism from both the consumer and producer side. Market: Industry Situation The years 2021 and 2022 also present other challenges, especially as industries related to human movement continue to recover at the slowest rate compared to others. Naturally, because of the crisis, this time was caused by a virus that spreads through human interactions. But at the same time, there are other industries that are actually growing in times like today. For example, such as e-commerce because more and more people are making online transactions. Or from the telecommunications industry because of the increasing digital needs. But even a developing industry has its own challenges. Because other players are more aggressive in competing in a growing market. It should also be borne in mind that this growth is not like normal times. In fact, this growth may have limits, especially due to the decline in consumer purchasing power plus Indonesia, which had experienced a recession. To learn more about the industry situation and the steps of business people, we regularly hold online Industry Roundtable events. At each event, we invite representatives from associations and companies to discuss the latest developments in the industry situation.


Nov 2020

Navigator

Held every Tuesday and Friday, this book has been compiled for two seasons. Where in each season, there are 18 industries involved. WHAT: Near Cash-Near Future Because of that, agile adaptations are needed, so that we remain relevant in the eyes of consumers. However, the problem is that the ideal adaptation cannot be that fast. I also introduce two near cash and near future approaches. Near Cash is primarily observing short-term situations that can be immediately monetized while the near future is more focused on the future but still in the short term. But of course, in order to be really on target, it must be balanced with the right mindset. I always use a business environment analysis framework that focuses on the factors of change which I often refer to as change or 5 drivers. The five are Technology, Political-Legal, Economy, Socio-Culture, and Market. (image 1) NEAR CASH

NEAR FUTURE

Q4 (2020)

2021 (Beyond) POWER

PEOPLE

CHANGE

TECH

ECONOMY

MARKET

Image 1 Near Cash & Near Value

5 DRIVERS


Nov 2020

Navigator

Where the Marketing 5.0-based technology is the technology that aims to humanity. So that it does not only focus on machines and digitization, but also humanity. So the mindset is not how machines replace humans, but how machines and humans can collaborate for the world of the future. Meanwhile, the second driver is political-legal which is, of course, related to the power factor. Because it is closely related to the government which has the authority to make rules, policies, and also regulates the movement of the people. Where in 2020, it is more focused on the relief phase through many stimulus programs and policies to help the health and economy of the community. In the years 2021-2022, the government will also take policies that focus on economic recovery. Because indeed the best momentum is in 2021-2022 because the situation is predicted to improve much. Not only have vaccines started to be distributed, but also other supporting drivers. One of them is of course regarding the economy, wherein 2020 the economy in various parts of the world will suffer a very strong blow. In fact, many countries are experiencing a recession, including Indonesia. However, even so, many institutions predict that 2021 will have a very strong rebound in many countries. Another factor that is no less important or actually has a bigger impact is in terms of socio-culture. Mainly because of the trend of society which often has great power to change other drivers. If in 2020, many people are pessimistic because of sudden and unfavorable situation changes. Not only about the virus itself but also many


Nov 2020

Navigator

other factors such as waves of layoffs, salary cuts, and many other factors. Meanwhile, from the market side, many large companies can no longer rely on trade between countries. Many countries have deglobalized their country so that they rely more on the strength of their own country. Because of that, there is a tendency that more and more companies focus more on the local market. Or even really with a small but very focused scope. Only then will gradually return to working on the regional market. Along with increasing optimism, the economy is starting to rebound, government policies are indeed focused on recovery, and are also supported by technology aimed at humanity. Access the following QR code for an explanation of near-cash & near future from Hermawan Kartajaya: (image 2) Image 2 Akses QR code berikut untuk penjelasan near cash & near future dari Hermawan Kartajaya:

HOW: Entrepreneurial Marketing In the future, we cannot rely solely on the old approach. Because consumers have changed greatly, not to mention the competitive situation in each industry.


NEAR CASH

NEAR FUTURE

Q4 (2020)

2021 (Beyond)

M A R K ET I N G

Navigator

So that the marketing approach must have various adjustments that are more relevant to the current situation. From the marketing side, there are at least three important factors that must be considered, namely in terms of customer, product and brand management. Indeed, in each industry, the situation is different, especially since the characteristics of each industry are unique. However, there are common factors that can be its characteristics. (image 3)

EN T R EP R EN EU R I A L

Nov 2020

CUSTOMER PRODUCT

BRAND OPPORTUNITY

RISK COLLABORATION

Image 3 Entrepreneurial Marketing

In customer management, for example, we must pay attention to anxiety and desire. Especially during the current pandemic, public anxiety is of course very high. This situation has never been faced before because it is not surprising that many people are confused. If we succeed in fulfilling this anxiety, we may leave a very deep impression. At the same time, there is also a desire from customers that are often hidden. Especially during the pandemic,


Nov 2020

Navigator

many of our plans were canceled because of the situation. Not just a vacation, but various other dreams that cannot be realized. This is another opportunity where we can make this dream come true without violating health protocols. We turn to product management which also has two sides. Where during a pandemic, we consider products as solutions to problems faced by consumers. Especially because they face various uncertainties, they need a product that can be the most effective solution to the problem at hand. As for the future, we must not forget the reliability aspect of the product. Because the product that will be selected is expected not only as a solution but can fulfill their dreams in the future. This is even more so if purchasing power has recovered in the future. Meanwhile, in terms of brand management, which is certainly different during a pandemic. Many people prefer brands that are well known for their reputation. Therefore, the main focus of attention at that time was of course integrity. In fact, during a pandemic, it is a big test for us to always provide the best service in all conditions. During the economic recovery period, of course, the biggest focus of attention has changed again. Where the brand image is becoming increasingly important, especially for future development. Therefore, every brand is not only an identity but also has a good image in the eyes of the community. If all components on the marketing side are executed well, we can pass through the crisis well. At the same time, it can also optimize efforts during the recovery


Nov 2020

Navigator

period. However, we also need to be equipped with the right entrepreneurial thinking. There are at least three things that need to be considered, namely how we look at opportunities, risks, and encouragement to collaborate. The opportunities during a pandemic and recovery period will certainly be different because the situation continues to change. During a pandemic, of course, many companies have various limitations. That’s why we probably don’t have the resources to kick it off. So that at times like this it will be more appropriate if we take advantage of existing opportunities. The period of economic recovery will be a period of competition for many companies to win the competition again. Therefore, the initiative we take must be completely out of the ordinary. So this is the right time for us to create new opportunities, not just waiting for the most appropriate momentum. Likewise, our attitude toward risk. Both from a consumer standpoint and a corporate perspective will be more careful amid a pandemic like this. Therefore, the approach we take is as much as possible with a small risk and also really understands the situation they face. It is different if during the recovery period, where we can be more willing to take risks but with the right calculation. Likewise, from the consumer side who are more willing to try something new, especially because it has been limited for some time during the PSBB period. Meanwhile, when we discuss collaboration, the pandemic and the recovery period also have different approaches. In difficult times, many entrepreneurs experience various limitations. But of course, we must


Nov 2020

Navigator

not give up on the situation, if possible, continue to collaborate with other parties. In addition to sharing resources to achieve mutual benefits. The risks faced can also be minimized through collaborative efforts. But at the same time, the chances of being successful are quite high. The collaboration that is carried out tends to be aimed at the short term because it sees the effectiveness of the initiatives being carried out as well as accommodating the dynamics of rapid change during a pandemic. Meanwhile, during the recovery period, we can have a longer-term collaboration. Because the situation is relatively more stable, the exploration of cooperation can be prepared more thoroughly. Access the following QR code for an explanation of Entrepreneurial Marketing from Hermawan Kartajaya: (image 4) Image 4 Akses QR code berikut untuk penjelasan Entrepreneurial Marketing dari Hermawan Kartajaya:

在2020年10月6日的线上研讨会上,我讨论了新冠 的巨大影响。不仅在大流行期间影响很大,而且在 善后方面也会有很大影响。我已经说过很多次,情 况永远不会回到新冠之前那样。


Nov 2020

Navigator

尽管研讨会是在晚上进行的,但参与者的反应却 是非常热情。从参加该活动的参与者数量可以看 出,即使该线上研讨会并非免费。活动结束时已有 1400多人参加。 目前一切变化非常迅速。不同的季度也可能有非 常不同的情况。这样我们采取的步骤也可以大不相 同。我们需要看到周围环境发生的变化,消费者行 为的变化以及竞争对手的操作。 WHY: 最近6个月的5个驱动力 技术:数字资本主义? 我最近看了两个Netflix的纪录片,名为《The Great Hack》和《Social Dillema》。这两部纪录片使 我们对数字世界(尤其是近年来的社交媒体)正在 发生的事情大开眼界。特别是对于一些世界级数字 巨头的行动和政策,这不一定是合乎道德的。 发现许多公司正在出售其用户数据是非常可怕的 一件事情。从有关我们在数字世界中的行为,我们 偏好的信息开始,再到真正的个人信息。您获得的 信息越多,越深入,平台将越有吸引力。 而且,在新冠期间,我们在互联网上使用各种平台 的强度将会更高。 政策-法律:加速全球化 全球化的主要思想之一是,每个国家或地区都专 门致力于成为生产某些产品的专家。理想情况下, 每个地区对某些产品都有其特色。由于该地区的劳 动力在每个过程中的技能越来越强,因此生产过程 变得更加高效。


Nov 2020

Navigator

这就鼓励区域之间贸易的最终互补。但实际上, 全球化并不像看起来那样容易。看看过去几年主导 世界制造业并被誉为世界工厂的中国。直到最后, 许多国家都在努力减少这种依赖性。 新冠情况最终加速了去全球化的进程。迫使许多 国家充分利用国内资源来忍受像这样的困难时期。 因为毕竟,许多国家比其他国家的人民更加关注本 国的局势。 还鼓励印度尼西亚在将来更加独立。的确,将来 仍然需要从其他国家进口材料。但是至少印度尼西 亚可以在几个领域独立。其中之一就是粮食安全, 这通过国家谷仓计划得以体现。 经济:专注于“引擎”恢复 2020年是关注亚洲国家经济状况的有趣的一年。 但是,它不仅限于查看增长数字,而且还包括背景。 因为这些增长数字的确是通过所制定政策和法规 的实现。 至少需要关注三个国家和地区应对新冠的方式。 首先是越南,它是东盟成员。许多外国专家赞扬了 它对疫情的处理,预期和处理步骤都非常仔细地执 行。它们还是东南亚唯一可能保持正增长速度的国 家。 中国确实是新冠疫情世界上第一个震中。尽管完 全没有准备,但他们设法相对较快地恢复了。作为 一个第一次受到影响的国家,它实施各种措施,而 且没有任何其他国家可以参考。通过良好的措施, 其经济保持正的增长率。 台湾是我长期以来仰慕的地方。台湾从先前的非 典大流行中吸取了教训,与其他国家相比,它为应 对疫情做好了充分的准备。台湾本身是一个仍然面


Nov 2020

Navigator

临巨大挑战的小国。由于被中国排斥,他们没有自 由与其他国家建立关系。 生产所用的原材料并非那么容易获得。但是,台 湾的生产力不需要质疑。许多台湾生产商在世界各 地享有很高的声誉。 社会-文化:从恐惧到“希望” 与往年相比,2020年国际社会的心理状况确实发 生了很大变化。由于疫情,假期计划,活动和日常活 动变得很混乱。许多人是一生中第一次面对全球流 行病。 面临如此之多的新情况,许多人感到高度恐惧。 此外,自新冠开始进入印度尼西亚以来,感染者的 人数持续增加。他们不仅害怕被感染,而且许多人 害怕受到其他方面的影响。 2021年情况将有所不同,会开始出现一些希望。 如发现和分发疫苗,经济复苏和放宽活动。尽管它 还没有完全恢复疫情前的状况,但它无疑会使消费 者和生产者双方都感到乐观。 市场:行业情况 2021年和2022年也带来了其他挑战,特别是与人 类活动相关的行业继续以相比其他行业最低的速 度复苏。 自然,由于疫情的缘故,这次是由通过人类 相互作用传播的病毒引起的。 但与此同时,还是有一些行业实际上在今天这样 的时代正在增长。 例如,电子商务,是因为越来越多 的人进行在线交易。 电信行业,由于越来越多的数 字需求。 但是,即使是发展中的产业也有其自身的挑战。 因 为其他参与者在不断发展的市场中竞争更加积极。


Nov 2020

Navigator

还应该记住,这种增长与正常时期不同。 实际上,这 种增长可能会受到限制,特别是由于消费者购买力 下降,经历了经济衰退的印度尼西亚。 要了解有关行业状况和商务人士步骤的更多信 息,我们会定期举办在线行业圆桌会议活动。 在每 次活动中,我们邀请协会和公司的代表讨论行业形 势的最新发展。 该会议每星期二和星期五举行一 次,已规划了两个季度。 每个季度涉及18个行业。 WHAT: 近现金-近未来 因此,我们需要进行敏捷的调整,以便我们在消 费者眼中保持相关性。但问题在于理想的适应不可 能那么快。我还将介绍两种近现金和近未来的方 法。近现金主要是观察短期情况,可以立即将其货 币化,而近未来更着眼于未来,但仍在短期内。 当然,要想真正实现目标,就必须在正确的思维方 式之间取得平衡。我始终使用一个业务环境分析框 架,该框架关注于变化因素,我通常将其称为变化 或5个驱动因素。这五个是技术,政策-法律,经济, 社会-文化和市场。(image 1) NEAR CASH

NEAR FUTURE

Q4 (2020)

2021 (Beyond) POWER

PEOPLE

CHANGE

TECH

ECONOMY

MARKET

Image 1 Near Cash & Near Value

5 DRIVERS


Nov 2020

Navigator

营销5.0的技术就是针对人的技术。 因此,它不仅 关注机器和数字化,而且关注人本身。 因此,思维方 式不是机器如何代替人类,而是机器和人类如何为 未来世界进行协作。 第二个驱动因素是政策-法律,这当然与权力因素 有关。 因为它与政府息息相关,后者有权制定规则, 政策,并规范人民的流动。 到2020年,它将通过许多 刺激计划和政策更加关注救济阶段,以帮助社区的 健康和经济。 在2021-2022年,政府还将采取侧重于经济复苏 的政策。 因为确实最好的势头在2021-2022,因为预 计情况将大大改善。 不仅开始分发疫苗,还会有其 他支持措施。 其中之一当然是关于经济,到2020年世界各地的 经济将遭受非常大的打击。 实际上,包括印度尼西 亚在内的许多国家正在经历经济衰退。 但是,即使 如此,许多机构预测,到2021年,许多国家将有非常 强劲的反弹。 另一个同样重要或实际上影响更大的因素是社会 文化。 主要是因为社会的趋势,它往往具有改变其 他驱动力的强大力量。 如果在2020年,许多人由于 突发而不利的形势变化而感到悲观。 不仅涉及病毒 本身,还涉及许多其他因素,例如裁员浪潮,减薪和 许多其他因素。 同时,从市场角度看,许多大公司不再能够依赖 国家之间的贸易。 许多国家已经使国家全球化,因 此它们更多地依靠自己国家的力量。 因此,有一种 趋势,越来越多的公司将更多的精力放在本地市场 上。 甚至实际上只有很小但很集中的范围。 只有这样,才能逐渐恢复在区域市场上的工作。 随着人们越来越乐观,经济开始回升,政府的政策


Nov 2020

Navigator

实际上着眼于复苏,并得到了针对人类的技术的支 持。 扫描以下QR码以了解陈就学对近现金和仅未来 的解释:(image 2) Image 2 Akses QR code berikut untuk penjelasan near cash & near future dari Hermawan Kartajaya:

HOW: 企业家精神营销 将来,我们不能仅仅依靠旧的方法。由于消费者 发生了巨大变化,更不用说每个行业的竞争状况 了。因此,营销方法必须进行与当前情况更相关的 各种调整。 从营销方面来看,至少必须考虑三个重要因素, 即在客户,产品和品牌管理方面。实际上,在每个行 业中,情况都是不同的,尤其是因为每个行业的特 征都是独特的。但是,有一些共同的因素可能是其 特征。 例如,在客户管理中,我们必须注意焦虑和渴望。 尤其是在当前的疫情期间,公众的焦虑感当然很 高。 这种情况以前从未遇到过,因为许多人感到困 惑并不奇怪。 如果我们成功地消除了这种焦虑,我 们可能会留下深刻的印象。(image 3)


NEAR FUTURE

Q4 (2020)

2021 (Beyond)

EN T R EP R EN EU R I A L

Navigator

NEAR CASH

M A R K ET I N G

Nov 2020

CUSTOMER PRODUCT

BRAND OPPORTUNITY

RISK COLLABORATION

Image 3 Entrepreneurial Marketing

同时,客户的需求也常常被隐藏。 特别是在疫情 期间,由于这种情况,我们的许多计划被取消了。 不 仅是假期,还有无法实现的其他各种梦想。 我们如 何在不违反卫生协议的情况下实现这一梦想,这又 是一个机会。 产品管理,它也有两个方面。 在疫情期间,我们将 产品视为解决消费者所面临问题的解决方案。 特别 是因为他们面临各种不确定性,因此他们需要一种 可以最有效解决当前问题的产品。 对于未来,我们一定不能忘记产品的可靠性。 因为 将要选择的产品不仅可以作为一种解决方案,而且 可以在将来实现他们的梦想。 如果将来购买力有所 恢复,情况就更是如此。 同时,在品牌管理方面,疫情期间肯定有所不同。 许多人喜欢以声誉着称的品牌。 因此,现在关注的 重点当然是完整性。 实际上,在疫情期间,始终提供 最佳服务对我们来说是一个巨大的考验。 当然,在经济复苏时期,最大的关注焦点再次发生 了变化。 品牌形象变得越来越重要的地方,尤其是


Nov 2020

Navigator

对未来发展而言。 因此,每个品牌不仅是一种身份, 而且需要在社区中具有良好的形象。 如果营销方面的所有部分都执行得当,我们就可 以顺利度过危机。 同时,它还可以优化恢复期间的 工作。 但是,我们还需要具备正确的创业思想。 至少 需要考虑三件事,即我们如何看待机遇,风险和鼓 励合作。 疫情期间和之后的恢复期的机会肯定会有所不 同,因为情况继续发生变化。 当然,在疫情期间,许 多公司都有各种局限性。 这就是为什么我们可能没 有足够的资源来启动它。 这样,在这样的时候,如果 我们利用现有的机会,它将更加合适。 经济复苏时期将是许多公司再次赢得竞争的竞争 时期。 因此,我们采取的主动行动必须完全与众不 同。 因此,这是我们创造新机会的恰当时机,而不仅 仅是等待最合适的势头。 同样,我们对风险的态度。 从消费者的角度和企业 的角度来看,在疫情期间都将更加谨慎。 因此,我们 采取的方法尽可能地降低风险,并且真正了解他们 所面临的情况。 如果在恢复期间,情况会有所不同,在恢复期间, 我们可以更愿意冒险,但要通过正确的计算。 同样, 从消费者的角度来看,他们更愿意尝试一些新的东 西,尤其是因为在大规模社会隔离(PSBB)时期它 受到了一定的限制。 同时,当我们讨论合作时,疫情期间和恢复期也有 不同的方法。 在困难时期,许多企业家遇到各种限 制。 但是,当然,我们绝不能放弃合作,如果可能的 话,继续与其他各方合作。 除了共享资源,实现互惠互利。 通过合作也可以 将面临的风险降至最低。 同时,成功的机会也很高。


Nov 2020

Navigator

所进行的合作往往是针对短期的,因为它看到了所 实施举措的有效性以及适应疫情期间快速变化的 动态。 同时,在恢复期间,我们可以进行长期合作。因为 局势相对稳定,所以可以更彻底地准备进行合作的 探索。 扫描以下QR码以了解陈就学对企业家精神营销 的解释:(image 4) Image 4 Akses QR code berikut untuk penjelasan Entrepreneurial Marketing dari Hermawan Kartajaya:


AMS_MARKETEERS.pdf

1

16/10/20

10.38

Presents

FUTURE ASEAN MOVING AHEAD WITH TECHNOLOGY 9th of November 2020 09.00 - 17.00 Jakarta Time

LIVE BROADCAST, ONLINE

Meet Our Speakers

Event will be broadcasted live from multiple studios worldwide

Jakarta Christian Sarkar

Farhana E. Devi Attamimi

CEO and Founder Double Loop Markering LLC

Executive Director Strategy Hakuhodo Network Indonesia

Dillon Seo

Hermawan Kartajaya

Co-Founder Oculus

Founder and Chairman MarkPlus Inc.

Bali

Insight from ASEAN to the World

Tokyo

San Francisco

Applicable Marketing & Business Strategy

Virtual Tour to Vietnam

Singapore

Summit Fees

KARTU KREDIT

Regular

Corporate Package IDR 30,000,000 / 50 Link*

IDR 1,000,000 / Link* Iwan Setiawan

Mrinmoy Chakraborty

CEO MarkPlus Inc.

IoT Expert, Vice President SOLiD Technologies

IDR 15,000,000 / 20 Link* IDR 9,000,000 / 10 Link*

shop.marketeers.com

*) One link can only be used for one device

aseanmarketingsummit.com

Information: Marthani +62 813 2577 3339 | marthani@markplusinc.com

Hosted by

Get your ticket now!

Partner

Learn More

Media Partner


Nov 2020

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum 36

Building a Culture of Innovation

39

Bersumber dari Ide

42

Tentukan Kiblat

46

Berani Keluar Modal

49

Arsenal Rahasia Perusahaan

52

Terus Diukur dan Divalidasi

56

Berani Lakukan Terobosan

60

Saling Melengkapi

Outlook


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Inovasi menjadi keharusan bagi sebuah perusahaan agar eksis di masa sekarang dan masa-masa berikutnya. Inovasi membutuhkan banyak hal, dari ide-ide kreatif, investasi, sumber daya, alat ukur, hingga kepemimpinan. Dan, modal awal yang harus dimiliki adalah mindset inovatif itu sendiri. Oleh Sigit Kurniawan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Dunia yang sarat turbulensi dan disrupsi menantang perusahaan maupun organisasi sekarang ini gesit atau agile dalam berinovasi. Tak sekadar melahirkan produk maupun layanan baru dan outstanding, inovasi tersebut harus menjadi kultur perusahaan alias mendarah daging di seluruh komponen organisasi. Apalagi perubahan berlangsung supercepat yang digerakkan oleh teknologi-teknologi kontemporer. Hal yang menggembirakan ketika di masa-masa sulit seperti sekarang, masih banyak perusahaan yang mengunggulkan inovasinya. Paling tidak, fenomena ini nampak dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh beberapa lembaga, seperti Boston Consulting Group (BCG) tentang perusahaan-perusahaan paling inovatif. Dalam laporannya berjudul The Most Innovative Company 2020, BCG menyebut lima besar perusahaan paling inovatif, yakni Apple, Alphabet, Amazon, Microsoft, dan Samsung. Mereka dinilai memiliki inovasi yang kuat dalam analitik, desain digital, dan platform teknologi. Pemeringkatan ini berdasarkan survei yang melibatkan 2.500 eksekutif global dan digelar pada periode Agustus-Oktober 2019. Ada beberapa perusahaan global yang baru pertama kalinya masuk dalam daftar 50 perusahaan dunia paling inovatif tersebut, seperti JD.com, Bosch, ABB, FCA, Novartis, dan Volvo. Nama-nama baru ini menandakan bahwa makin banyak perusahaan yang menyadari peran


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

inovasi bagi keberlangsungan bisnisnya. Salah satu yang menarik dari temuan BCG adalah makin bervariasinya industri yang mengembangkan inovasi dan tak didominasi oleh perusahaan teknologi, seperti industri kimia, otomotif, hingga pertanian. Pemanfaatan teknologi sensor, big data, internet of things (IoT) mendorong perusahaan-perusahaan itu menggarap model bisnis baru berbasis data dan kontrol real-time. Ada lima ranah inovasi yang dikembangkan oleh 50 perusahaan paling inovatif menurut BCG tadi, seperti inovasi pada produk baru, layanan baru, ekspansi pasar, proses internal, hingga model bisnis. Proses inovasi kelima ranah tersebut didorong atau didukung oleh faktor enabler, seperti teknologi analitik, platform teknologi, desain digital, dan kapabilitas mobile. Lima ranah dan empat enabler tadi dipraktikkan oleh beberapa perusahaan di industri yang berbeda. Secara umum, disimpulkan bahwa inovasi oleh perusahaan-perusahaan tersebut dilakukan untuk menjaga sustainability bisnis di era sekarang dan masa mendatang. Inovasi pada dasarnya cara terbaik perusahaan menyesuaikan diri dengan kondisi zaman, khususnya zaman yang semakin kompleks dengan ditandai oleh perkembangan teknologi yang supercepat. Teknologi ini menjadi pemicu perubahan pada perilaku konsumen, peta persaingan, kondisi pasar, dan sebagainya. Kutipan legendaris Peter Drucker (1909-2005),


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Bapak Manajemen Modern, yang berbunyi “innovate or die” masih sangat relevan untuk konteks sekarang. Inovasi ini tidak hanya berlaku bagi perusahaan-perusahaan besar seperti yang disebut BCG di atas. Berlaku pula untuk semua perusahaan dan organisasi dalam berbagai skala. Namun, survei BCG mengatakan 40% perusahaan besar adalah perusahaan-perusahaan yang selama ini memimpin inovasi. Mengingat pentingnya inovasi di masa disrupsi seperti sekarang dan diwarnai oleh pandemi, kami mengangkat cara membangun kultur inovasi dalam sebuah perusahaan. Kultur inovasi ini memiliki pengertian lebih luas ketimbang inovasi itu sendiri. Alasannya, kultur ini tidak sebatas perangkat teknologi, tapi juga menyangkut elemen lain dalam perusahaan. Tujuh Elemen Ada tujuh elemen membangun kultur inovasi yang kami sajikan dalam edisi yang ada di tangan Anda ini. Ketujuhnya, antara lain eksplorasi ide kreatif untuk inovasi, tujuan inovasi, perlunya investasi, organisasi dan sumber daya, tolok ukur keberhasilan, kepemimpinan inovatif, dan kolaborasi. Dalam banyak bahasan inovasi, kami mengusung CI-EL, konsep baru dari MarkPlus. CI-EL merupakan singkatan dari Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership. Kreativitas, kewirausahaan, dan kepemimpinan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

menjadi elemen tak terpisahkan dari inovasi. Eksplorasi ide-ide kreatif menjadi langkah awal proses inovasi. Pada tahap ini, perusahaan atau organisasi membuka ruang lebar-lebar bagi munculnya ide-ide kreatif. Tentunya, untuk mendukung keluarnya ide-ide tersebut, dibutuhkan suasana merdeka bagi semua tim dalam perusahaan. Mental tidak takut salah harus dibangun dalam perusahaan yang juga disebut house of creative ideas ini. Pada tahap kreativitas, perusahaan ditantang untuk melakukan eksplorasi ide-ide inovasi sebebas mungkin. Sumber daya yang ada dibebaskan untuk berimajinasi tentang ide-ide inovasi yang kemudian dikurasi dalam filter RARE (Raise, Add, Reduce, dan Eliminate). Raise merujuk pada upaya berinovasi dengan mengembangkan hal-hal yang sudah ada, add merujuk pada upaya memproduksi hal baru, reduce mengacu pada perampingan proses dan sumber daya dengan teknologi, dan eliminate alias menghilangkan yang sudah ada. Kemudian perusahaan menentukan skala prioritas atas ide-ide tersebut – khususnya menentukan mana yang urgen sesuai kebutuhan serta yang berdampak paling besar. Misalnya, quick wins atau upaya minimal namun dampaknya besar atau big bets sebagai upaya maksimal dengan dampak yang maksimal pula. Di edisi ini, kami mengangkat upaya Unilever dan ZAP Clinic yang melakukan eksplorasi sebelum


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

berinovasi dengan dua pendekatan, baik marketbased maupun resource-based. Selain itu, inovasi harus memiliki tujuan yang jelas. Tanpa arah yang pasti, inovasi tidak bisa maksimal. Tujuan ini bisa beragam, dari pengembangan marjin, mendongkrak penjualan, membangun pengalaman baru konsumen, mengefektifkan proses bisnis, dan sebagainya. Tujuan ini bisa dibingkai dalam tiga peran utama, yakni memecahkan masalah (problem solving), memenangkan pasar (market wining), dan menciptakan nilai (value creating). Bank BCA, misalnya, melakukan inovasi dengan mengusung problem solving di tengah pandemi. Di tengah aneka pembatasan, BCA berinovasi dengan mengoptimalkan layanan internet dan mobile banking, termasuk pembukaan akun hingga menambah limit transaksi harian. “Inovasi ini menjadi nilai tambah bagi nasabah, khususnya memecahkan masalah-masalah finansial mereka selama berada di rumah,” kata Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Selain itu, perusahaan harus berinvestasi atau memiliki modal untuk menjalankan seluruh proses inovasinya. Investasi ini bisa berupa modal, aset, pendanaan, hingga teknologi. Perusahaan yang serius dengan inovasi pasti mengalokasikan bujet khusus. Mungkin pada tahap awal, bujet itu nampak sebagai cost. Namun, sejatinya itu adalah investasi untuk masa depan perusahaan.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Tak sebatas dana, investasi bisa berwujud infrastruktur maupun teknologi yang dipakai. Infrastruktur dan teknologi ini mendukung terciptanya inovasi-inovasi perusahaan, baik dalam bentuk produk maupun layanan. Elemen penting lain dari inovasi adalah struktur organisasi dan sumber daya manusia. Pada tahap ini, perusahaan perlu membangun kultur inovasi. Kultur ini harus didukung struktur organisasi yang relevan. Tentunya, agar bisa gesit dalam berinovasi, perusahaan harus memiliki struktur yang ramping (lead company). Struktur yang ramping akan memangkas rantai birokrasi. Kerampingan ini mendukung kelincahan perusahaan dalam berinovasi. Semua itu bisa jalan bila seluruh elemen perusahaan, termasuk sumber daya manusianya, memiliki grow mindset. Berbeda dengan fixed mindest yang melihat tantangan sebagai hambatan, grow mindset memandang tantangan dan kesulitan sebagai peluang untuk tumbuh. Terkait dengan sumber daya, perusahaan bisa memfokuskan inovasi berdasarkan kecakapankecakapan yang ia miliki (capability-driven strategy). Artinya, perusahaan mengelaborasi kapabilitas-kapabilitasnya dengan inovasi sehingga makin memiliki keunggulan. Pada tahap ini, inovasi tidak sekadar soal teknologi, namun juga mindset orang-orang dalam perusahaan. Astra Daihatsu Motor (ADM), misalnya,


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

sangat kuat dalam membangun organisasi yang berorientasi pada inovasi. “ADM memiliki value perusahaan, yaitu I CARE. Dalam nilai ini, terkandung nilai Excelent Innovation. Karyawan diharapkan dapat memiliki semangat inovasi berkelanjutan atau Kaizen sebagai bagian perilaku setiap Karyawan ADM yang mandiri,” kata Amelia Tjandra, Marketing Director ADM. Selain itu, inovasi yang bagus membutuhkan tolok ukur keberhasilan. Artinya, ada alat ukur berupa Key Performance Indicators (KPI) untuk mengawal proses inovasi. Dengan ini, perusahaan bisa mengukur apakah inovasi sudah berjalan menuju arah yang benar atau tidak. Return of Investment (ROI) juga bisa menjadi patokan agar inovasi bukan sekadar bakar duit secara sia-sia, melainkan memberi dampak konkret seperti yang diharapkan dalam cetak biru inovasi. Elemen berikutnya yang tak boleh dilupakan adalah kepemimpinan. Kunci pertama pembangunan kultur inovasi ada dalam diri pemimpin perusahaan. Sebab itu, inovasi membutuhkan leadership yang kuat, yang berani membaca peluang dan mengambil risiko (entrepreneurial leadership), sekaligus memiliki cara pandang yang inovatif dan berorientasi pada pertumbuhan. Proses inovasi bisa berjalan baik bila dikawal dengan kepemimpinan kuat nan visioner. Bahkan, tak dipungkiri bahwa keputusan berinovasi tersebut berjalan secara top down.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Meski demikian, prosesnya dijalankan secara terbuka dan horizontal alias mengakomodasi ide-ide dari tim inovasi dalam perusahaan. Ini bisa terjadi bila CEO memiliki mindset inovasi itu sendiri. Mendiang Steve Jobs pernah bilang, inovasi pada akhirnya membedakan siapa yang sesungguhnya seorang pemimpin dan siapa yang sekadar pengikut. Semangat ini juga nampak pada diri para pemimpin perusahaan teknologi lain, seperti Satya Nadela di Microsoft, Elon Mask di Tesla, maupun Richard Branson di Virgin Group. Terakhir, perusahaan di era sekarang, perlu menyadari bahwa inovasi tak akan optimal bila dilakukan sendiri. Perusahaan perlu menggandeng perusahaan-perusahaan lainnya dalam kolaborasi. Kolaborasi ini bisa diwujudkan minimal tiga bentuk, yakni kolaborasi dengan konsumen (co-creation), kolaborasi antarperusahaan maupun antarmerek (cobranding), dan bahkan kolaborasi dengan pesaing (co-opetition). Kolaborasi saat ini cukup lumrah karena memungkinkan perusahaan bisa menggabungkan kapabilitas berbeda yang dimiliki oleh perusahaan lain untuk melakukan inovasi bersama. Ini terjadi tidak hanya antarperusahaan besar, melainkan perusahaan besar dengan perusahaan kecil dalam hal ini rintisan atau startup. Demikian tujuh hal yang diperlukan oleh


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

perusahaan untuk membangun kultur inovasi. Pada akhirnya, inovasi ini sebuah keharusan mengingat pasar sangat dinamis. Bila tidak berinovasi, perusahaan bakal lekas usang dan ditinggal pelanggan. Soal ini, Drucker memperingatkan cuma ada dua pilihan: berinovasi atau mati. Selamat membaca! The Top Innovation Priorities for Committed Innovators by Industry INNOVATION TYPE Chemicals Pharma

New product

Insurance Medtech

New service

Public sector Telco

Go-to-market

Travel and tourism

Internal process

Materials

Business model

Automotive

Energy

Advanced analytics

Technology platforms

INNOVATION ENABLER

Durables Industrial goods

Wholesale and retail

Transportation

Finance

Consumer goods

Media

Technology

Digital design

Mobile capabilities

Source: BCG Global Innovation Survey. Note: n = 1,014 (most innovative companies sample).

More Than 40% of Large Companies Are Innovation Leaders

LEADER

96

377

296

171

277

56%

48%

44%

42%

42%

52%

56%

58%

58%

$100–999 million

$1–4.9 billion

$5–10 billion

> $10 billion

% of sales from new products and services LAGGARD 44%

REVENUE

$10–99 million

Sources: BCG Global Innovation Survey; BCG i2i team. Note: n = 1,217 (most innovative companies and i2i samples); innovation leaders are defined as generating more output in terms of percentage of sales from products launched within the past three years than the industry peer median.

The 50 Most Innovative Companies of 2020 1

Apple (+2)

11

Tesla (–2)

21

Siemens (–5)

31

JD.com (new)

41

Toyota (–4)

2

Alphabet (–1)

12

Cisco (+5)

22

Target (return)

32

Volkswagen (+6)

42

Nestlé (return)

3

Amazon (–1)

13

Walmart (+29)

23

Philips (+6)

33

Bosch (new)

43

ABB (new)

14

Tencent (return)

24

Xiaomi (return)

34

Airbus (return)

44

3M (–5)

4

(+0)

5

Samsung (+0)

15

HP (+29)

25

Oracle (return)

35

Salesforce (–2)

45

Unilever (–13)

6

Huawei (+42)

16

Nike (return)

26

Johnson & Johnson (–12)

36

JPMorgan Chase (–16)

46

FCA (new)

7

Alibaba (+16)

17

Netflix (–11)

27

SAP (+1)

37

Uber (return)

47

Novartis (new)

8

IBM (–1)

18

LG Electronics (+0)

28

Adidas (–18)

38

Bayer (–14)

48

Coca-Cola (return)

9

Sony (return)

19

Intel (return)

29

Hitachi (return)

39

Procter & Gamble (return)

49

Volvo (new)

10

Facebook (–2)

20

Dell (+21)

30

Costco (return)

40

Royal Dutch Shell (–10)

50

McDonald’s (–29)

Source: BCG Global Innovation Survey. Note: Returnees have appeared on the ranking before but not in the prior year. Values in parentheses show change in ranking from 2019.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Eksplorasi Ide

Bersumber dari Ide

Navigator

Ide kreatif menjadi bahan bakar yang bisa memacu laju inovasi perusahaan agar bisa terus berjalan. Kemampuan eksplorasi diimbangi dengan ketepatan memetakan ide kreatif merupakan tombak keberhasilan suatu inovasi. Oleh Annisa Bella

1. Perluas eksplorasi pada aspek 5D 2. Pancing imajinasi dengan teknik RARE 3. Ukur ketepatan inovasi dengan D-F-V

Inovasi menjadi penyelamat bagi bisnis di tengah balada krisis. Melalui inovasi yang kreatif dan cocok dengan kebutuhan pasar, perusahaan dapat meraup keuntungan besar. Perbincangan soal inovasi tak bisa lepas dari kreativitas. Ide kreatif merupakan bahan bakar bagi perusahaan untuk inovatif. Tanpa adanya kemampuan berpikir kreatif, perusahaan tidak


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

akan dapat menemukan cara-cara unik untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada. Kemampuan berpikir kreatif dan bertindak inovatif menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan bisnis perusahaan. Hal ini terlihat dalam hasil penelitian yang dirilis Boston Consulting Group (BCG) pada tahun ini bertajuk The Serial Innovation Imperative. Dalam laporan tersebut, BCG mencatat jika jumlah perusahaan paling inovatif di dunia semakin besar. Pendapatan perusahaan kecil pada daftar BCG tahun ini dari 50 perusahaan paling inovatif menyentuh US$ 30 miliar atau naik lebih dari 170% dibandingkan dengan survei pertama pada tahun 2005 (US$ 11 miliar). Lebih dari itu, BCG menemukan jika perusahaan yang tergolong leading dalam hal inovasi juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang kurang inovatif. Perusahaan yang tergolong ke dalam kategori inovator menaruh 1,4 kali dana yang lebih besar untuk program inovasi mereka. Menariknya, mereka juga mendapatkan hasil yang jauh lebih besar mencapai empat kali lipat dibandingkan persentase penjualan perusahaan yang kurang inovatif. Masih merujuk pada data yang sama, perusahaan yang inovatif juga terlihat memiliki kebiasaan (culture) yang berbeda dibandingkan dengan perusahaan noninovatif. Inovator besar


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

terkemuka mengejar prioritas yang berbeda dan merancang sistem inovasi mereka dengan lebih hati-hati agar berdampak. Ketika perusahaan inovator merancang sistem inovasi yang lebih advance, perusahaan yang belum leading dalam hal inovasi justru masih fokus membenahi halhal dasar perihal inovasi. BCG memotret, perusahaan yang inovatif memiliki kebebasan dalam bertindak (freedom to act) yang lebih unggul dibandingkan perusahaan lain. Perusahaan dalam kategori ini lebih cepat dalam membangun ide-ide, playful, mengutamakan kolaborasi, dan memiliki prestise yang lebih tinggi. Fakta jika inovasi mampu mendorong pertumbuhan perusahaan mungkin telah disadari banyak pelaku bisnis. Tantangan yang kemudian muncul adalah bagaimana menemukan ide kreatif dan mewujudkan inovasi tersebut menjadi kenyataan? Energi Inovasi Melalui 5D Menjadi perusahaan yang inovatif tidak dapat tercipta jika perusahaan tidak memiliki ide kreatif. Kemampuan untuk menciptakan ide kreatif hanya dapat diperoleh jika perusahaan mampu mendeteksi permasalahan yang ada. Singkatnya, Anda harus mengetahui lebih dulu mengenai masalah apa yang terjadi, mencoba berhipotesis, dan kemudian menciptakan inovasi.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Pada model CI-EL (Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership) yang diperkenalkan oleh MarkPlus, Inc., kreativitas dimengerti sebagai konsep pertama yang bisa mendorong perusahaan untuk bertindak inovatif. Dalam menemukan ide kreatif, Anda dianjurkan untuk melakukan eksplorasi dari perubahan yang terjadi pada lima aspek, meliputi Science-Technology, Political-Legal, Economy-Business, Social-Culture, dan IndustryMarket. Hermawan Kartajaya, Founder and Chairman MarkPlus, Inc. menyebut, kelima hal ini dengan istilah Five Drivers (5D). Setiap lanskap perubahan yang terjadi pada aspek 5D perlu untuk dianalisis guna mengetahui dan memroyeksi bagaimana kondisi makro dapat berdampak pada bisnis Anda. Analisis ini diyakini Hermawan dapat membantu perusahaan untuk memperoleh gambaran besar (big picture) dari lanskap perubahan yang terjadi sehingga lebih mudah untuk memetakan langkah apa yang harus dilakukan. Perusahaan multinasional Unilever Indonesia menjadi salah satu contoh perusahaan yang menciptakan inovasi dari hasil analisis terhadap perubahan yang terjadi pada aspek 5D. Di tengah masa pandemi COVID-19, Unilever melihat terdapat perubahan pada aspek Science-Technology yang membuat adopsi konsumen terhadap kebutuhan teknologi


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

kian masif. Tidak hanya itu, Unilever juga mendeteksi terdapat perubahan pada aspek Social-Culture ketika banyak orang mengubah gaya hidup mereka ke arah yang lebih sehat. Bahkan, perubahan perilaku customer dalam berbelanja juga mengubah lanskap IndustryMarket, yakni konsumen tak lagi loyal dengan produk yang biasa mereka gunakan. Mereka lebih mengutamakan ketersediaan produk yang paling dekat dan terjangkau, meskipun harus menggunakan produk dari merek yang tidak biasa mereka gunakan. Berbagai perubahan ini ditangkap oleh Unilever dan diterjemahkan dalam inovasi. Perubahan pada aspek Science-Technology bermuara pada inovasi Unilever memperluas distribusi dan aksesibilitas penjualan melalui Unilever Home Delivery. Melalui inovasi ini, konsumen dapat membeli produk Unilever secara daring, baik melalui jaringan e-Commerce maupun WhatsApp. Sementara pada aspek Social-Culture, Unilever berinovasi dengan memprioritaskan Stock Keeping Unit (SKU) yang mendukung kesehatan dan kebersihan. Unilever menggenjot pasokan produk secara besar-besaran, mengakses kemasan baru, memproduksi, dan menghadirkan produk tersebut di pasaran. Unilever melipatgandakan produksi hand sanitizer Lifebuoy hingga 100 kali lipat dalam waktu beberapa minggu. Bahkan,


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

merek terbaru mereka, Sahaja, yang mengambil positioning sebagai produk untuk menjawab kebutuhan umat Islam pun dengan cepat ikut berinovasi. Dalam kurun waktu enam minggu, Sahaja meluncurkan inovasi produk spray higienis ke pasar. Terakhir, Unilever menjawab perubahan lanskap industry-market dengan memastikan ketersediaan produk mereka di pasaran. “Inovasi menjadi kunci utama Unilever dalam mempertahankan pertumbuhan positif. Di kuartal pertama 2020, kami mencatatkan 21 launch dan relaunch di berbagai segmen. Peluncuran inovasi-inovasi tersebut sejalan dengan strategi perusahaan untuk tetap relevan dan mampu bersaing di masa yang akan datang (future-fit). Unilever terus meluncurkan inovasi-inovasi baru untuk meraih peluang yang sesuai dengan aspirasi konsumen,” terang Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia pada pengumuman kinerja kuartal pertama 2020. Ekplorasi Ide Bukan hanya Unilever, ZAP Clinic melakukan hal serupa. Ketika bisnis klinik kecantikan menjadi salah satu lini bisnis yang paling terdampak pandemi, ZAP Clinic berinovasi menghadirkan klinik preventif, ZAP Health. Ide kreatif dari peluncuran inovasi klinik preventif ini dikatakan CEO ZAP Clinic


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Fadly Sahab berangkat dari hasil analisa mereka terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Di saat pandemi, banyak konsumen takut mendatangi rumah sakit, ZAP Health mengambil positioning sebagai klinik preventif yang ditujukan bagi konsumen yang sehat. Layanan yang diberikan berupa vaksinasi dan pemberian vitamin untuk mencegah orang terjangkit penyakit. Pada tahap awal kehadiran ZAP Health, layanan yang diberikan fokus pada imunisasi anak, berusia 0-18 bulan. ZAP Health kemudian memperluas portofolio layanan, seperti vaksinasi untuk dewasa hingga menghadirkan dokter spesialis obstetri (obgyn) dan ginekologi. Layanan ini merupakan respons ZAP atas kebutuhan dan kekhawatiran para ibu hamil untuk memeriksakan diri di tengah kondisi pandemi COVID-19. Alhasil, Fadly mengaku inovasi ini berdampak pada kenaikan untuk layanan kesehatan mencapai 500%. Membuat roda bisnis ZAP Clinic bisa terus berjalan. “Hal ini menandakan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan meningkat tajam, dan inovasi kami berhasil memenuhi kebutuhan tersebut,” jelas Fadly. Baik Unilever maupun ZAP Clinic sepakat terhadap pentingnya melakukan eksplorasi sebelum berinovasi. Pendekatan yang dapat dipilih pun bervariasi, bisa melalui marketbased atau resource-based. Jika merujuk


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

pada model CI-EL, Anda dianjurkan untuk bereksplorasi dengan pendekatan outside-in yang mengamati lingkungan makro yang ada pada aspek 5D untuk kemudian membawa hasil eksplorasi itu ke dalam lingkungan mikro (organisasi atau perusahaan). Dengan bereksplorasi, Anda akan terpancing untuk memikirkan mengapa beragam hal dapat terjadi. Berbagai hipotesis akan bermunculan jika diinkubasi dan diimajinasikan dapat menimbulkan berbagai ide kreatif. Guna memancing ide kreatif muncul, Anda dapat menggunakan teknik RARE (Raise, Add, Reduce, Eliminate). Perangkat RARE yang termasuk ke dalam konsep Creativity pada model CI-EL MarkPlus, Inc., dapat membantu Anda untuk berimajinasi membayangkan hal-hal apa yang mungkin dapat dilakukan guna menjawab berbagai tantangan. Mulailah mempertanyakan tiap elemen dalam perangkat RARE, Anda akan berimajinasi dan menemukan berbagai ide untuk menciptakan diferensiasi dan nilai tambah bagi bisnis. Mari melihat bagaimana Grab melalui salah satu unit bisnisnya, GrabFood berinovasi menciptakan efisiensi bagi perusahaan melalui GrabKitchen. Dalam hal ini, Grab mencoba berinovasi menggunakan teknik Raise pada elemen RARE. Grab mencoba mengembangkan layanan yang telah mereka miliki, yakni GrabFood


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

menjadi suatu layanan baru yang lebih efisien. Hal ini merupakan bentuk inovasi yang diciptakan melalui teknik Raise. Inovasi ini menjembatani gap antara supplydemand makanan dan minuman dengan membuat jaringan cloud kitchen. Tak perlu modal besar, Grab hanya menggabungkan mitra merchant mereka ke dalam satu tempat sekaligus yang mereka sebut dengan GrabKitchen. Ide ini memungkinkan para konsumen untuk melakukan pemesanan menu makanan dan minuman dari merchant yang berbeda di dalam satu tempat sekaligus. Alhasil, tercipta efisiensi bagi konsumen, mitra merchant, maupun Grab. Kemampuan Grab dalam menciptakan inovasi ini tak lepas dari langkah mereka dalam melakukan eksplorasi. “Inovasi ini berangkat dari persoalan para pengguna yang kami lihat kerap ingin memesan menu dari restoran yang berbeda dalam satu pemesanan saja. Misalnya, ketika melakukan rapat biasanya para anggota menginginkan menu dari restoran yang berbeda. Melalui fitur Multi Order, pengguna GrabFood dapat memesan makanan dan minuman di satu hingga empat tempat berbeda hanya dalam satu transaksi pemesanan saja,” ujar Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi. GrabKitchen menjembatani hal ini dengan membuat proses yang memungkinkan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

konsumen dapat memesan berbagai menu dari merchant berbeda dalam satu kali pemesanan. Hasilnya, konsumen memperoleh efisiensi biaya dan waktu, sedangkan mitra merchant dapat memperoleh lebih banyak pesanan. Di sisi lain, Grab jelas memperoleh keuntungan tambahan, baik dari sisi cost maupun operasional lainnya. Teknik raise membantu GrabFood untuk memberikan nilai tambah kepada para customer dan mitra merchant melalui cara-cara yang unik dan kreatif. Selama proses pencarian ide melalui teknik RARE berlangsung, Anda akan menemukan beragam ide yang muncul. Persoalan selanjutnya adalah memilih ide yang terbaik untuk dieksekusi. “Beragam ide kreatif yang muncul kemudian dikonvergensikan untuk dipilih yang terbaik dan paling memungkinkan untuk dieksekusi. Sebelum diwujudkan dalam bentuk inovasi, ide tersebut harus melalui tahap pengujian dari aspek customer, competitor, dan company,” terang Hermawan. Penuhi Elemen D-F-V Terdapat tiga elemen kunci yang menentukan apakah suatu inovasi terbilang tepat untuk diwujudkan atau tidak. Hal ini dapat dilakukan dengan mengukur tingkat Desirability, Feasibility, dan Viability (D-F-V) dari suatu


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

inovasi. Menurut Hermawan, Desirability merujuk pada apakah solusi dari inovasi tersebut mampu memenuhi keinginan pelanggan secara tepat atau tidak. Sementara, Feasibility berbicara mengenai kemampuan perusahaan untuk mewujudkan inovasi tersebut (sumber daya yang dimiliki). Sedangkan, Viability berbicara mengenai jangka waktu keberlangsungan inovasi tersebut bagi bisnis perusahaan. Ketika sebuah inovasi memiliki tingkat D-F-V yang tinggi, maka besar kemungkinan jika inovasi tersebut tepat untuk diluncurkan. Tentunya, inovasi tersebut harus melalui tahap pengujian pada aspek customer, competitor, dan company. Kira-kira, apakah inovasi yang akan Anda luncurkan dapat menjadi problem-solving bagi customer, value-creating dari aspek perusahaan, dan market-winning jika dibandingkan dengan competitor lain? Anda bisa memulainya dengan mengeksplorasi sekaligus menguji ide-ide Anda. INNOVATION MODEL CHANGE CREATIVE IDEAS Science Technology

PolLeg

COMPETITOR MARKET-WINNING

Economy Business

SosCul

Industry Market

D-F-V - Desirable - Feasible - Fisable

COMPANY VALUE-CREATING

INNOVATIVE SOLUTION Sumber: MarkPlus CI-EL Analysis (2020)

CUSTOMER PROBLEM SOLVING


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Leaders Invest 1.4x More and Take More Time but Deliver About Four Times the Output COMMITMENT % top three priority

1

INNOVATION INPUT

TIME TO MARKET

INNOVATION OUTPUT

in % of sales

noncore, in months

in % of sales

5 months longer

~4x

Navigator 61

66

27

20

1.4x

15

18 13

7

3x return Laggard:

C

Leader: > median output

Sumber: BCG Global Innovation Survey; BCG i2i team.

Large Company Leaders and Laggards Have Similar Cultural Characteristics Rigid

Freedom to act

Slow

Fast

Risk permitting

Cautious

Builds on ideas

Critical of ideas

Playful

Deliberate

Individualistic

Collaborative

Low prestige

High prestige

Companies with sales of ≥$1 billion Sumber: BCG Global Innovation Survey; BCG i2i team.

Laggard: ≤ median output

Leader: > median output


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Tujuan dan Arah Inovasi

Tentukan Kiblat

Navigator

Inovasi bukanlah tujuan, melainkan sarana yang dibutuhkan perusahaan untuk mencapai tujuantujuannya, seperti memberi solusi (problem solving), memenangkan pasar (market winning), dan menciptakan nilai (value creating). Sebab itu, sebelum memulai inovasi, perusahaan harus menentukan tujuan dengan jelas. Oleh Ellyta Rahma, Annisa Bella

1. Tujuan inovasi tak lepas dari hasil Identifikasi kebutuhan pasar 2. Inovasi bukan tujuan, melainkan sarana mencapai tujuan perusahaan 3. Jeli membaca kebutuhan pasar untuk dijadikan tujuan inovasi

Langkah pertama mengimplementasi strategi inovasi adalah tahu persis apa tujuan dari melakukan inovasi tersebut. Tujuan merupakan unsur utama, esensial, dan inti dari perencanaan sebuah inovasi. Tanpa tujuan, inovasi tidak dapat dilakukan secara maksimal.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

“Inovasi ini juga menjadi nilai tambah kepada nasabah, selain mengatasi masalah finansial mereka selama berada di rumah. Inovasi ini juga memperlihatkan komitmen BCA bahwa layanan yang dikembangkan harus menjawab kebutuhan nasabah.” Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA

Langkah pertama mengimplementasistrategi inovasi adalah tahu persis apa tujuan dari melakukan inovasi tersebut. Tujuan merupakan unsur utama, esensial, dan inti dari perencanaan sebuah inovasi. Tanpa tujuan, inovasi tidak dapat dilakukan secara maksimal. Tujuan inilah yang menjadi jawaban dari mengapa inovasi dilakukan, bagaimana inovasi diimplementasikan, dan ke arah mana inovasi berjalan. Tentunya, semua perusahaan mengharapkan hasil maksimal pada setiap tujuan dilakukannya inovasi. Dengan demikian, strategi inovasi dapat disusun rapi dan terarah sesuai dengan tujuannya. Jonny Fisher, Founder Idea Drop yang merupakan software manajemen inovasi asal Inggris membagi tujuan inovasi menjadi dua, yaitu makro dan mikro. Pembagian ini diukur dari sebesar apa dampak inovasi yang dilakukan terhadap perusahaan dan seberapa panjang dampak itu akan mempengaruhi perusahaan. Sesuai namanya, micro innovation goals berhubungan dengan tujuan inovasi yang bersifat jangka pendek dan hanya untuk aspek spesifik. Sebut saja seperti mengoptimalkan proses kerja yang sudah ada. Sementara itu, macro innovation goals berhubungan dengan rencana inovasi jangka panjang dan berpengaruh pada cara kerja perusahaan. Tujuan itu bisa beragam, seperti keinginan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

menjadi pemimpin pasar, membangun citra baik perusahaan maupun merek, hingga rencana mengungguli kompetitor. Sebagian besar perusahaan menjadikan macro innovations goals sebagai tujuan untuk berinovasi. Tujuan ini dapat dibingkai dalam tiga peran utama, yaitu problem solving, market winning, dan value creating. Peluang biasanya menjadi motor terbaik bagi perusahaan untuk menentukan tujuan inovasinya. Hal ini bisa dilihat dari kondisi pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Pandemi berhasil membentuk momentum yang berakselerasi menjadi peluang. Di dunia, di mana kultur inovasi sedang berkembang pesat, seorang pemimpin perusahaan tidak bisa melewatkan setiap peluang bisnis yang lewat di depannya. Laporan yang dirilis oleh lembaga riset McKinsey & Company pada bulan Juni 2020 berjudul Innovation in a crisis: Why it is more critical than ever mengatakan bahwa tiga per empat pemimpin perusahaan setuju bahwa perubahan yang dibawa oleh pandemi COVID-19 akan menjadi peluang besar untuk bisnis mereka, terutama untuk tumbuh. Peluang terbesar untuk perusahaan teknologi (85%), consumer goods (79%), dan farmasi dan layanan keuangan (73%). Perspektif yang sama terjadi di Indonesia. Sejumlah perusahaan berlomba berinovasi dengan tujuan jelas, yaitu


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

untuk tumbuh. Memenangkan Pasar PT Paragon Technology and Innovation menjadi salah satu perusahaan consumer goods yang memanfaatkan momentum pandemi dalam melancarkan strategi inovasi. Perusahaan yang merupakan rumah dari sejumlah beauty market-winning brand ini memang memiliki inovasi sebagai DNA-nya. Artinya, Paragon bisa saja menciptakan hal baru agar bisa tumbuh dan memenangkan pasar. Hal ini pun dilakukannya selama pandemi. Paragon tidak berhenti berinovasi. Pandemi justru dijadikan sebagai akselerator untuk memperlihatkan beragam inovasi yang dimilikinya demi memenangkan pasar. Langkah inovatif Paragon bisa dilihat dari bagaimana perusahaan ini memperkenalkan inovasi produk baru dari merek Wardah, yaitu Wardah Hydra Rose dan produk perawatan khusus lelaki, Kahf. Dengan tujuan inovasi yang jelas, maka Paragon dengan mudah menyesuaikan inovasinya yang dihadirkan dalam bentuk produk baru dengan kondisi pasar yang terjadi saat ini. “Kondisi pasar yang dinamis harus terhenti akibat COVID-19 yang menjadi tantangan tersendiri untuk industri kosmetik. Sebagai perusahaan yang terus berinovasi, Paragon melihat kebutuhan pasar dan menyesuaikannya


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

dengan inovasi yang akan kita luncurkan, sehingga pesan brand bisa sampai ke konsumen,” papar Salman Subakat, CEO PT Paragon Technology and Innovation Wardah Hydra Rose merupakan inovasi produk yang telah lama direncanakan Paragon dengan tujuan memperluas cakupan pasar dan memperkuat posisi Wardah sebagai merek kecantikan lokal dengan klaim halal nomor satu di Indonesia. Melalui produk ini, Paragon menawarkan inovasi produk perawatan untuk kulit kering dan dehidrasi dengan ekstrak bunga mawar asli dan teknologi kelembaban hingga 72 jam. Dengan tujuan inovasi yang jelas, Paragon dengan mudah menyesuaikan gerak inovasi dengan kondisi aktual pasar yang dinamis. Secara kreatif, paragon mengawinkan tujuannya dengan kondisi pasar, yaitu memanfaatkan peluang work from home yang mana kulit tetap harus dirawat dan dijaga hidrasinya, meskipun di rumah saja. Strategi ini bisa dikatakan berhasil dengan animo yang diterima Wardah atas inovasi produk barunya. Sementara itu, perkenalan produk Kahf menjadi cara Paragon untuk masuk ke pasar perawatan tubuh laki-laki. Menurut Salman, langkah ini diambil dari bagaimana Paragon melihat potensi pasar men’s grooming yang tumbuh di Indonesia dan berupaya untuk menjadi bagian dari pertumbuhan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

tersebut. Akhirnya, muncullah ide untuk mengembangkan Kahf. “Pasar produk perawatan pria secara global diperkirakan akan mencapai US$ 166 miliar dan Indonesia berpotensi menjadi pasar terbesar dengan data tahun 2019 yang mengatakan pasar ini sudah mencapai nilai Rp 3,2 triliun pada tahun 2019. Ini peluang besar yang harus diwujudkan. Untuk itu, kami melakukan inovasi melalui Kahf,” ungkap Salman. Sama seperti Wardah, Kahf mengawinkan nilai inovasi yang dibawanya dengan kondisi pasar di tengah pandemi. Melalui kampanye #JalanYangKupilih, Kahf tidak hanya menebarkan semangat, namun juga membawa nilai inspirasi bahwa kebersihan bisa menjadi pendukung untuk memberikan dampak kepada sekitar. Seperti di Paragon, tujuan Inovasi harus didesain secara jelas sebelum memulai inovasi itu sendiri. Jika membicarakan market winning, inovasi tersebut harus yang sejalan dengan cara perusahaan melihat kebutuhan pasar dan perkembangannya. Dengan demikian, inovasi akan tepat sasaran dalam kondisi apa pun. Pemecah Masalah Data McKinsey mengatakan bahwa pemimpin perusahaan dunia percaya bahwa pandemi memberikan peluang baru. Sekarang, teknologi seakan menjadi problem solver dalam


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

kehidupan sehari-hari. Sebut saja bekerja, belajar, bahkan berbelanja. Namun, tanpa disadari teknologi sebagai problem solver justru memberikan masalah baru. Contohnya, terbatasnya teknologi yang sudah diterapkan sehingga tidak memenuhi harapan dan kebutuhan pasar. Masalah ini dapat dilihat dari apa yang terjadi di industri perbankan. Inovasi perbankan berbasis teknologi memang sudah dikembangkan bertahun-tahun lalu. Saat itu, tujuannya untuk memperkaya produk demi mendorong pertumbuhan. Selain itu, menambah nilai pengalaman nasabah juga menjadi tujuan inovasi ini, yaitu menawarkan solusi perbankan yang muda diakses. Sayangnya, inovasi perbankan berbasis teknologi seperti internet banking dan mobile banking dianggap masih tidak memenuhi harapan nasabah yang ingin melakukan transaksi dalam jumlah besar. Akibatnya, saat peraturan pembatasan terjadi, timbul masalah baru di mana transaksi yang terbatas membuat proses transfer uang terhambat. Di tengah bisnis digital yang sedang berkembang, hal ini bisa menimbulkan efek domino dalam perputaran uang di masyarakat. BCA melihat masalah ini sebagai peluang untuk memperkuat inovasinya di layanan perbankan berbasis teknologi. Pada pertengahan Maret 2020, BCA menambah limit


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

transaksi harian di aplikasi KlikBCA dari 100 juta per hari menjadi 250 juta per hari. BCA mengampanyekan inovasi ini dengan hashtag #BankingFromHome yang berhasil menjadi solusi. “Inovasi ini juga menjadi nilai tambah kepada nasabah, selain mengatasi masalah finansial mereka selama berada di rumah. Inovasi ini juga memperlihatkan komitmen BCA, bahwa layanan yang dikembangkan harus menjawab kebutuhan nasabah,” kata Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA. BCA melihat inovasi sebagai problem solver tidak hanya dari bagaimana perusahaan ini menggunakan teknologi menyelesaikan masalah transaksi, tapi juga menghadapi tantangan finansial di masa pandemi. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana BCA mendesain inovasi kolaborasi dengan sejumlah perusahaan, seperti Gojek dengan tujuan meringankan beban mobil pengemudi GoCar. “Jika melihat raihan laba konsolidasi kuartal I tahun 2020 yang naik 8,6%, maka strategi inovasi kami selama pandemi bisa dibilang berhasil. Dapat diasumsikan peningkatan ini menunjukkan bahwa nasabah kami masih menaruh kepercayaan dengan layanan transaksi perbankan BCA,” pungkas Jahja. Keberhasilan Paragon dan BCA berinovasi karena penentuan tujuan atau kiblat yang jelas. Paragon, sebagai perusahaan yang bergerak


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

di consumer goods berupaya memahami kebutuhan dan kondisi pasar untuk mendesain tujuan inovasinya. Setiap inovasi yang dilakukan harus memberikan nilai tambah, baik untuk konsumen maupun perusahaan. Begitu juga dengan BCA. Bank ini menyuguhkan problem solving sebagai tujuan inovasi yang kemudian memberikan efek peningkatan kepercayaan nasabah terhadap layanannya. Hasilnya, melalui inovasi, BCA berhasil meretensi nasabahnya sekaligus meningkatkan citranya sebagai bank yang bertanggung jawab.


Learn More


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Investasi

Berani Keluar Modal

Navigator

“Inovasi telah menjadi core value dari Asuransi Astra. Beruntung, kami memiliki parent company (Astra International) yang selalu mendorong seluruh anak usaha untuk selalu melahirkan inovasi baru setiap tahunnya. SDM adalah investasi terbesar kami untuk membangun budaya inovasi ini.” Laurentius Iwan Pranoto, Senior Vice President Communications and Customer Service Management Asuransi Astra

Perusahaan yang serius menjadikan inovasi sebagai cara agar tetap eksis di masa sekarang dan masa depan seharusnya berani berinvestasi. Investasi ini bisa dalam bentuk modal, pendanaan, teknologi, hingga infrastruktur. Oleh Muhammad Perkasa Al Hafiz

Tidak ada makan siang gratis. Mungkin ungkapan ini cocok untuk perusahaan yang serius dalam berinovasi. Mau tidak mau, perusahaan harus menyiapkan modal agar keseluruhan proses inovasi tersebut bisa berjalan sesuai cetak biru yang sudah disusun. Besar kecilnya biaya inovasi tergantung pada seberapa besar output yang ingin dicapai dalam inovasi tersebut. Investasi ini bisa beragam bentuk, dari pendanaan, teknologi, hingga


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

1. Jangan pelit menggelontorkan duit demi terwujudnya inovasi 2. Investasi harus mencakup proses, teknologi, dan sumber daya manusia 3. Investasi diperhitungkan dengan matang sesuai tujuan inovasi yang sudah ditetapkan

infrastruktur. Semuanya itu tetap tergantung pada faktor sumber daya manusia yang menjalankannnya. Yang lumrah dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan inovasi adalah membentuk tim khusus untuk Research & Development (R&D). Divisi ini menjadi salah satu penggerak sekaligus pengolah ide-ide kreatif dan kemudian diterjemahkan dalam bentuk produkproduk inovatif. Elemen ini memang sangat penting. Bahkan, di banyak negara maju, R&D mendapat perhatian dan investasi yang besar. Investasi di bidang ini bisa berupa modal, aset, pendanaan, teknologi, hingga sumber daya manusia dan organisasi. Semua elemen ini memegang peranan kunci dalam membentuk kultur inovasi. UNESCO Institute for Statistics mencatat, per Juni 2020 belanja global untuk R&D telah mencapai rekor tertinggi hingga US$ 1,7 triliun. Sekitar 10 negara, menyumbang 80% dari pengeluaran tersebut. Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Finlandia, Swiss, Austria, Swedia, Denmark, Jerman, hingga Amerika Serikat menjadi top R&D spenders. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki perhatian yang minim soal R&D. Hanya sekitar 0,1% dari GDP negara ini yang digelontorkan untuk R&D. Sektor bisnis, pemerintahan, dan perguruan tinggi mendapat porsi terbanyak


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

dari total pengeluaran tersebut. Meski begitu, kondisi ini tidak membuat para pelaku bisnis di Tanah Air minim inovasi. Indonesia yang dinilai sebagai pasar besar, mendorong para perusahaan berlomba menghasilkan inovasi untuk menggaet konsumen. Bahkan, pandemi COVID-19 berperan dalam mengakselerasi berbagai inovasi baru. Investasi untuk inovasi bisa dalam beragam bentuk. Telkomsel, misalnya, berinvestasi dengan cara membuat anak usaha baru, Telkomsel Mitra Inovasi (TMI). Anak usaha yang 100% dimiliki Telkomsel ini bertugas melakukan aktivitas investasi serta proses sinergi dan kolaborasi di berbagai unit bisnis Telkomsel. Hal ini untuk mendorong proses transformasi Telkomsel menjadi digital telecommunication company. “Untuk mendorong inovasi yang muncul, Telkomsel melakukan transformasi dalam beberapa hal, yaitu people, process, dan technology. Pada aspek people, Telkomsel mendorong budaya kerja baru, mindset shifting, hingga capability building. Selain itu, kami juga mendorong tujuh budaya digital, meliputi open mindset, creativity, experimental, agility, networking, innovation, dan anticipatory,” jelas Andi Kristianto, CEO Telkomsel Mitra Inovasi. Dalam hal process, Telkomsel memastikan adanya perubahan bisnis proses yang dapat


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

mendorong munculnya inovasi. Adapun di aspek technology, Telkomsel melakukan internal digitization agar teknologi yang digunakan mendorong segala proses dapat dilakukan secara cepat dan efisien. Tiga elemen ini menjadi investasi dasar dari Telkomsel dalam melahirkan inovasi baru dan mensukseskan visi sebagai digital telecommunication company. Selain membentuk perusahaan baru sebagai langkah cepat menghadirkan inovasi, Telkomsel juga melakukan investasi yang umumnya dilakukan provider seluler. Di antaranya investasi aset infrastruktur, teknologi, serta sumber daya manusia. Kemudian, investasi dengan berkolaborasi bersama mitra, termasuk startup. Telkomsel menganggap investasi ke people yang paling penting disusul teknologi. Alasannya, saat ini teknologi terus berkembang pesat dan sebagai perusahaan besar, Telkomsel tidak kesulitan dana untuk membelinya. Namun, tanpa SDM yang andal, teknologi itu tidak bisa diaplikasikan. “Lalu, ketika siklus hidup produknya sudah selesai, apa ada hal yang baru? Kuncinya adalah terus berinovasi. Di sinilah, peran people yang tidak setiap saat bisa dibeli atau direkrut. SDM harus dikelola, dididik, disamakan frekuensinya, disambungkan budayanya, dan sebagainya. People adalah inti, subjek, maupun objek dari setiap inovasi,” tegas Andi.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Tak hanya di dalam. Telkomsel melalui TMI juga melakukan investasi ke luar, tepatnya ke para startup melalui sebuah kerja sama. Para startup yang berada di tahap awal (early-growth stage) adalah target dari investasi TMI yang juga berkolaborasi dengan MDI Ventures Telkom dan Singtel Innov8, sebuah corporate venture capital (CVC) milik Singtel. Pandangan ini kurang lebih sama dengan realme. Merek smartphone asal China ini memandang bahwa untuk menghasilkan inovasi, investasi harus fokus pada SDM dan teknologi. Bagi realme yang sedang memosisikan diri sebagai perusahaan Artificial Intelligence of Things (AIoT), investasi terbesar mereka adalah para talenta yang bekerja begitu giat dan kreatif bersama dengan teknologi yang perusahaan miliki. “Area yang sangat penting di realme adalah tim produk yang telah matang. Mereka menjadi aset terbaik yang kami miliki. Setiap saat, mereka bekerja dengan mendapat masukan dari pasar, media, dan konsumen secara langsung. Secara cepat kami kumpulkan data ini dan kami cocokkan ke pengembangan produk,” ujar Palson Yi, Marketing Director realme Indonesia. Secara umum, realme memiliki tim marketing dan produk yang diisi oleh para generasi muda. Kedua tim ini bekerja keras dan sangat solid meski menghadapi beragam projek


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

baru. Mereka juga bisa bekerja di satu waktu untuk proyek berbeda. Bahkan, mereka telah melakukan forecast untuk inovasi selanjutnya. Dari sini, realme kini tak hanya memproduksi smartphone saja. Untuk strategi produk, realme tengah memperbanyak portofolio mereka. Diversifikasi tidak hanya dikerahkan di lini produk smartphone. Perusahaan pun melakukan investasi di teknologi AIoT. Berbekal teknologi AIoT, realme merambah perangkat gawai lainnya, seperti realme watch, realme buds air, realme buds Q, realme band, dan realme smart TV. Hingga kini, produk AIoT telah menyumbang 30% penjualan realme di Indonesia. Kapabilitas dari SDM ini ditunjang pula oleh fasilitas riset yang ada di kantor pusar realme, di Shenzhen, China. Begitu juga dengan modal berupa cash. Sayangnya, Palson belum bisa membeberkan berapa besar anggaran mereka untuk R&D yang melahirkan setiap inovasi realme. “Dengan modal yang kami miliki sekarang, kami sedang membangun positioning baru dan keluar dari strategi perang harga. Respons konsumen beberapa waktu terakhir ini cukup positif dan advokasi mulai terbentuk untuk brand realme. Kami optimistis akan menempati posisi tiga besar di pasar Indonesia hingga akhir tahun 2020,” imbuh Palson Yi.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Investasi Berkelanjutan Investasi yang telah dikeluarkan jangan lupa untuk dirancang agar berkelanjutan. Bisa dipakai untuk jangka waktu lama. Dalam hal ini, perusahaan harus bisa melakukan justifikasi. Ketika umur sebuah produk atau inovasi itu pendek, maka justifikasi terhadap investasinya juga tidak bisa panjang. Begitu juga sebaliknya, aset harus pandai dijaga dan dikelola. Telkomsel percaya bahwa aset yang mereka miliki bisa bertahan untuk jangka panjang karena sifatnya yang unik. Contohnya, bisnis legacy mereka berupa layanan voice dan SMS. Saat ini, pemasukan dari dua produk ini semakin berkurang, namun Telkomsel punya sesuatu yang baru. “Orang pada dasarnya butuh berkomunikasi, hanya saja caranya mengalami perubahan. Tadinya, lebih banyak one-on-one, sekarang oneto-many, bisa menggunakan group chat, forum, web, media sosial, dan sebagainya. Selanjutnya, Telkomsel akan mengembangkannya dengan bisnis atau solusi yang disesuaikan dengan situasi tertentu. Tidak semuanya harus mulai dari nol,” kata Andi. Investasi yang berkelanjutan juga bisa diwujudkan ketika perusahaan berinvestasi di para talenta mereka. Seperti yang dilakukan oleh Asuransi Astra. Bisa dibilang, budaya inovasi telah mengakar di perusahaan.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Setiap tahunnya, seluruh SDM memiliki key performance indicator (KPI) untuk melahirkan inovasi baru. Untuk mendorong hal tersebut, Asuransi Astra memiliki ajang penghargaan untuk inovasi terbaru yang lahir dari karyawan mereka. Bertajuk Innovate, kompetisi ini mengajak setiap karyawan untuk melahirkan inovasi baru yang mendukung pekerjaan mereka seharihari. Program pelatihan dan para mentor juga dibekali kepada para peserta. Tak sekadar mencari ide kreatif, para karyawan juga dituntut untuk merealisasikan ide mereka. Pada Innovate 2020, ada lebih dari 450 proyek yang berhasil diimplementasikan. Angka ini lebih tinggi dari capaian tahun lalu yang mencapai sekitar 325 proyek. Tahun ini, Innovate memasang target dapat merealisasikan sekitar 90% ide baru yang lahir dari para karyawan Asuransi Astra di tahun ini. “Inovasi telah menjadi core value dari Asuransi Astra. Beruntung, kami memiliki parent company (Astra International) yang selalu mendorong seluruh anak usaha untuk selalu melahirkan inovasi baru setiap tahunnya. SDM adalah investasi terbesar kami untuk membangun budaya inovasi ini,” ujar Laurentius Iwan Pranoto, Senior Vice President Communications and Customer Service Management. Tidak sedikit, inovasi yang lahir dari para


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

talenta Asuransi Astra, mulai dari armada Mobil Gendong, hingga berbagai aplikasi, seperti Garda Mobile Otocare, Medcare, atau chatbot Garxia yang dilahirkan oleh sekitar 130 tim IT Asuransi Astra. Adanya inovasi dapat meningkatkan efektivitas proses bisnis, meningkatkan kepuasan pelanggan, hingga mendorong pendapatan Asuransi Astra.

TOP 15 R&D SPENDERS SHARE OF R&D EXPENDTURE BY THE BUSINESS SECTOR % OF GDP

$ BILLIONS

1

Share of business sector

2

3

Korea, Rep.

6

Japan

7

Sweden

11

4

Finland

8

Belgium

Germany

13

France

Switzerland

Austria

9

Denmark

12

5

10

United States

Slovenia

14

Australia

15

Singapore

Czech

Indonesia Financial Resources

Human Resources

89

0,1% R&D spending as % of GDP

Number of researchers per million inhabitants

$2,134.8M R&D spending in PPP$ R&D spending by sector of performance Business

$548,211.9k

Goverment

$840.945.7k

Universities

$745.620.4k

Unspecified

$0.0

Sumber: R&D Spending by Country, UNESCO Institute for Statistics, Juni 2020

FEMALE

31%

69% MALE


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Struktur dan Sumber Daya

Arsenal Rahasia Perusahaan

Navigator

Tidak semua industri secara khusus memerlukan divisi research & development. Namun, pada umumnya tiap perusahaan memiliki atau membentuk orangorang yang fungsinya menyiapkan inovasi perusahaan. Di sini, kultur dan struktur perusahaan juga harus dibangun untuk mendukung inovasi tersebut. Oleh Ign. Eko Adiwaluyo, Muhammad Perkasa Al Hafiz

1. R&D berada di bawah pengawasan level tertinggi perusahaan. 2. Divisi R&R punya garis koordinasi dengan divisi terkait 3. Semua level pemimpin mendorong inovasi

If you want something new, you have to stop doing something old. Kalimat tersebut merupakan salah satu kutipan terkenal dari salah satu tokoh kawakan di bidang manajemen, Peter Drucker. Kutipan ini cocok menjadi salah satu semangat untuk berkembang dan menghasilkan inovasi.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

“Kami melihat inovasi sebagai kunci sukses utama dalam menghadapi kompetisi dan menghasilkan pertumbuhan. Lebih penting lagi, kami meyakini inovasi itu menghasilkan invensi yang bisa dikomersialisasikan, namun harus memberi nilai tambah pada konsumen dan perusahaan.” Pre Agusta, Direktur Pharma R&D, PT Kalbe Farma Tbk.

Drucker mengajak untuk selalu mencari hal baru agar bisa adaptif dengan perkembangan terkini, baik itu dalam hal teknologi hingga perilaku konsumen. Terlebih lagi, bagi mereka yang bergelut di dunia pemasaran yang begitu dinamis. Pemasaran adalah bidang yang selalu menuntut kebaruan agar bisa diterima oleh pasar. Bahkan, merek besar sekalipun akan runtuh seketika bila melupakan inovasi dan tidak mau mengenali pasar. Ingat cerita Kodak, Friendster, Siemens, dan lainnya. Bahkan, pemain rintisan teknologi sekelas Uber juga harus pamit mundur dari berbagai negara. Singkat kata, jangan biarkan merek Anda senasib dengan mereka. Kunci untuk terus bertahan dan berkembang tidak lain adalah inovasi. Agar terus inovatif idealnya tidak dibebankan pada segelintir orang atau satu divisi saja. Semangat menghasilkan hal baru harus ada di jiwa semua pekerja, dari jenjang terendah hingga tertinggi. Perusahaan-perusahaan Jepang terkenal dengan semangat Kaizen, yakni perbaikan terus-menerus. Jiwa Kaizen ini tertanam di semua pekerja di semua lini perusahaan. Sehingga, tidak heran banyak perusahaan Jepang yang menjadi pemain dominan di berbagai industri pada tingkat global. Meski semua orang telah memiliki semangat inovasi, bukan berarti divisi research &


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

development (R&D) menjadi tidak penting. Sebaliknya, divisi ini justru menjadi core dari inovasi itu sendiri. Bahkan, beberapa perusahaan justru lahir dan berkembang besar justru mengawalinya dengan fokus pada R&D. Inilah yang terjadi pada PT Kalbe Farma Tbk. atau Kalbe Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan farmasi terbuka yang terbesar di Asia Tenggara. Kalbe Group lahir dari ruang laboratorium R&D milik Boenjamin Setiawan atau juga dikenal dengan nama Dr. Boen. Bisa dikatakan Dr. Boen ini mirip dengan Thomas Alva Edison, seorang inventor, yang merintis perusahaan hingga sekarang dikenal sebagai General Electric. “Kalbe Farma lahir dari laboratorium R&D, sehingga kami melihat inovasi sebagai kunci sukses utama dalam menghadapi kompetisi dan menghasilkan pertumbuhan. Lebih penting lagi, kami meyakini inovasi itu menghasilkan invensi yang bisa dikomersialisasikan, namun harus memberi nilai tambah pada konsumen dan perusahaan,” kata Pre Agusta Direktur Pharma R&D, PT Kalbe Farma Tbk. Ia menambahkan, Kalbe Group menempatkan R&D sebagai growth engine. Sehingga, secara struktur divisi R&D dipimpin oleh seorang direktur yang bertanggung-jawab langsung ke CEO. Sebagai tambahan, saat ini Kalbe Group bergerak di empat lini bisnis, yakni pharma yang memproduksi obat-obatan, consumer


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

health yang menghasilkan vitamin, nutrisi, dan distribusi. Kalbe Group membuat perusahaan yang berbeda untuk tiap lini bisnis tersebut. Ada empat divisi R&D yang dipimpin oleh seorang direktur yang secara organisasi langsung berada di bawah masing-masing CEO perusahaan tersebut. “Tidak mungkin R&D pharma dan nutrisi jadi satu karena produk yang dihasilkan berbeda,” tambah Pre. Secara informal, di tingkat grup ada namanya Corporate R&D. Namun, fungsinya lebih pada koordinasi dan berbagi informasi. Adanya Corporate R&D ini juga untuk menjaga agar tiap-tiap R&D di masing-masing lini mengembangkan produk sesuai bidangnya atau tidak terjadi duplikasi. Dirigen dari empat R&D ini biasanya adalah direktur pharma R&D. Meski menjadikan divisi R&D sebagai ujung tombak inovasi, Kalbe Group tetap menjadikan inovasi sebagai budaya perusahaan. Perusahaan ini memiliki nilai-nilai yang terangkum dalam Panca Sradha, yakni trust, mindfulness, innovative, strive to be the best, dan interconnectedness. “Artinya, semangat inovasi sudah menjadi pegangan bagi semua karyawan Kalbe Group. Bahkan, semua hal terkait inovasi menjadi perhatian semua level pimpinan hingga pemilik perusahaan. Tidak bisa dipungkiri pula sosok pendiri perusahaan yang seorang inovator


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

menginspirasi semua karyawan,” tambah Pre. Ketika merancang sebuah produk baru, Kalbe Group menerapkan dua pendekatan, yakni marketing driven dan technology driven. Keduanya dijalankan bersamaan. Pendekatan marketing driven adalah melihat sisi kebutuhan konsumen yang kemudian menjadi ide sebuah produk baru. Sedangkan technology driven adalah mengenalkan teknologi baru, seperti obat yang cukup dikonsumsi sekali seminggu, ke konsumen. “Biasanya, untuk produk ethical pendekatannya cenderung technology driven. Sedangkan bila produk itu semakin over the counter (OTC), porsi marketing driven lebih besar. Tapi, tidak ada yang 100% menggunakan satu pendekatan saja. Tetap ada kombinasi keduanya,” terang Pre. Bagaimana peran inovasi di masa pandemi seperti sekarang ini? Menurut Pre, kondisi sekarang mendorong perusahaan-perusahaan farmasi untuk berinovasi dan menghasilkan produk yang dibutuhkan konsumen. Ia menambahkan, walaupun orang beranggapan industri farmasi mendapat keuntungan, tapi pada dasarnya industri ini juga terimbas oleh pandemi. Sebabnya, rumah-rumah sakit cenderung sepi, apalagi yang menangani pasien COVID-19. Sehingga, konsumsi obat-obatan untuk berbagai penyakit lain turun.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Saat ini, industri farmasi bisa bertahan dengan mengandalkan produk-produk yang berkaitan dengan COVID-19, baik itu peningkat daya tahan tubuh, imunodulator, obat antiviral, hingga vaksin. Semua perusahaan farmasi berusaha membuat produk yang paling memungkinkan dibuat. Paling cepat dan mudah adalah vitamin. Pada masa pandemi ini perusahaanperusahaan farmasi meningkatkan perhatian mereka pada inovasi. Hal ini sejalan dengan riset McKinsey yang berjudul McKinsey Innovation Through Crisis Survey. Pada survei ini terlihat pemain-pemain di industri farmasi paling tinggi dalam meningkatkan fokus pada inovasi produk. Padahal, dalam kondisi normal, tingkat perhatian industri ini pada inovasi bukanlah yang tertinggi. Industri komunikasi, keuangan, dan lainnya justru lebih tinggi. Saat pandemi, hanya industri farmasi yang tingkat perhatian pada inovasi meningkat dari kondisi normal, ketika yang lain justru turun. Apakah Kalbe Farma meningkatkan biaya R&D di masa pandemi ini? Menurut Pre, saat ini Kalbe Group masih menggunakan anggaran yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. “Anggaran untuk R&D tetap 1%-1,5% dari omzet per tahun, angkanya sekitar Rp 200 miliar,” tegas Pre.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Inovasi di Semua Lini Seperti halnya industri farmasi, industri otomotif juga menjadikan R&D sebagai bagian penting dalam pertumbuhan bisnis. Menurut Amelia Tjandra, Marketing Director Astra Daihatsu Motor (ADM), tanpa inovasi perusahaan tidak akan berkembang, stagnan atau bahkan perusahaan akan mati. “ADM memiliki value perusahaan, yaitu I CARE. Dalam value ini, terkandung nilai Excellent Innovation. Karyawan diharapkan dapat memiliki semangat inovasi berkelanjutan atau Kaizen sebagai bagian perilaku setiap Karyawan ADM yang mandiri,” kata Amelia yang juga menjabat sebagai Corporate Planning & Communication Director ADM. Namun di ADM, inovasi tidak hanya pada produk dan terpusat di R&D saja. Ada tiga jenis inovasi yang dilakukan oleh ADM. Pertama, inovasi produk. Melibatkan divisi R&D ADM dan Daihatsu Motor Company (DMC). Kedua, inovasi produksi. Dilakukan oleh semua divisi yang terkait dengan proses manufacturing, mulai dari stamping, casting, engine, welding, painting, dan assembling. Terakhir, inovasi nonproduksi. Inovasi ini dikelola oleh HR Division melalui program QCC & SS yang dikompetisikan dua kali setahun. “Inovasi diterapkan di semua lini perusahaan. Karyawan diharapkan melakukan pekerjaan dengan semangat bisnis not as usual. Lalu di


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

setiap bagian, karyawan ditantang untuk selalu kreatif dan mencoba hal yang baru,” jelas Amelia. Meski begitu, tidak bisa disangkal divisi R&D ADM memiliki fungsi strategis untuk masa depan perusahaan. Berperan untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan membutuhkan investasi yang tidak kecil. Sehingga, mengingat pentingnya bagian ini, secara struktur divisi R&D berada di bawah CEO yang di ADM adalah vice president director (VPD). Terlebih lagi, ADM merupakan perusahaan otomotif pertama di Indonesia yang membangun fasilitas R&D terlengkap dan terbesar. ADM mulai membangun pusat R&D sejak tahun 2011 dan meresmikannya pada tahun 2017. Fasilitas ini memiliki luas area total sebesar 25 hektare (Ha). Meliputi design building dan engineering building serta dilengkapi dengan sarana test course. Sarana ini memiliki 24 macam kondisi jalan di Indonesia, 4 tipe tanjakan, tes banjir, dan lumpur. Total investasi untuk fasilitas R&D ini mencapai Rp 1,1 triliun. Melalui divisi R&D dan fasilitasnya ini, ADM berhasil menghasilkan berbagai produk yang merajai di setiap segmen pasar yang disasarnya. Sebagai contoh, untuk full model change, ADM secara parsial terlihat dalam empat model, yakni Cayla-Sigra new model dan Rush-Terios new model. Kemudian, untuk minor change ada


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

lima model, yakni Luxio, Rush-Terios, Agya-Ayla, Avanza-Xenia, dan Cayla-Sigra. “Selain memiliki fasilitas lengkap, kami juga melakukan people development. Kami mengirim karyawan ADM sebanyak 252 orang ke Jepang untuk mengikuti ICT program untuk belajar mengenai design, model dan engineering,” tambah Amelia. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, HRD ADM melakukan perekrutan dengan metode roadshow dan presentasi langsung ke universitas. Setelah direkrut, ADM mempunyai jalur karier khusus untuk specialist (expert track) maupun jalur karier umum untuk generalist. “SDM untuk divisi R&D rata-rata menempuh jalur specialist. Kami juga melakukan program Intra Company Transferee (ICT) yang mana SDM ADM bisa mendapatkan pengalaman bekerja langsung di Jepang,” tambah Amelia. Sedikit berbeda dengan dua industri tersebut, Telkomsel Mitra Inovasi, anak usaha Telkomsel, yang bergerak di industri telekomunikasi tidak secara spesifik membuat divisi R&D. Meski begitu, secara keseluruhan memastikan organisasi yang ada di dalamnya dapat menjawab tantangan kompetisi dan perubahan bisnis. “Selain itu, membuat tempat kerja bisa menjadi playground yang menarik bagi karyawan untuk berinovasi. Termasuk,


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

dengan terciptanya ekosistem yang memberi ruang kreativitas bagi karyawan untuk mengembangkan kapabilitasnya dalam berbagai proyek inovasi,” kata Andi Kristianto, CEO Telkomsel Mitra Inovasi (TMI). Andi menambahkan, terciptanya inovasi perlu didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Untuk itu, Telkomsel aktif melakukan program pengembangan bagi karyawannya untuk berbagai peran yang dianggap penting untuk masa depan. Berbagai program pengembangan itu, meliputi data science, data engineer, data analytics, UI design, UX design, dan UX research. Ada program internal perusahaan yang bernama Data Science Academy dan UX Academy. Tidak kurang dari 2.300 karyawan Telkomsel di berbagai fungsi dan area di Indonesia mengikuti proses seleksi. Data Science Academy dan UX Academy terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari bootcamp session capstone project, hingga showcasing. “Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan keterampilan digital secara strategis. Memperkuat kolaborasi antarkaryawan, serta menumbuhkan kepercayaan diri peserta dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dari waktu ke waktu,” kata Andi. Bisa dikatakan, divisi R&D adalah dapur yang meracik ramuan-ramuan inovasi


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

perusahaan. Menjadi arsenal rahasia yang siap menghadirkan produk-produk baru ke pasar. Sehingga, secara struktur organisasi berada dalam pengawasan langsung pemimpin tertinggi perusahaan. Across surveyed industries, only pharma and medical products has increased its focus on innovation during the COVID-19 crisis. Share of executives who list innovation as their No. 1 or No. 2 priority precrisis vs today, (%)

Precrisis normal Today

80

80

60

60

40

40

20

20

0

0 Basic Communication Healthcare materials services systems and services

Includes grocery-retail businesses. Sumber: McKinsey Innovation through Crisis Survey, April 2020 1

Consumer packaged goods1

Financial services

Industrial

Pharma and medical supplies

Retail


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Alat Ukur Keberhasilan

Terus Diukur dan Divalidasi

Navigator

Proses inovasi harus terus dikawal agar berjalan sesuai dengan tujuan yang ditentukan dan hasil yang diharapkan. Peta jalan, indikator keberhasilan, dan dampak yang diinginkan bisa dipakai sebagai alat ukur keberhasilan dari inovasi tersebut. Oleh Clara Ermaningtiastuti, Ellyta Rahma

1. Proses inovasi harus dikawal dengan KPI yang ditentukan 2. Salah satu alat ukur inovasi adalah tujuan inovasi itu sendiri 3. Tak segan untuk melakukan validasi terusmenerus

Inovasi yang bagus adalah inovasi yang terukur. Artinya, perusahaan memiliki alat ukur tingkat keberhasilan sebuah inovasi yang dilakukannya. Hanya dengan alat ukur inilah, perusahaan bisa menilai apakah inovasi tersebut sukses atau tidak. Ini dipakai untuk melihat kemajuan dari proses inovasi tersebut.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

“Dengan tolok ukur tersebut, perusahaan bisa menemukan apakah inovasi mereka bisa memberikan akses ke pasar yang lebih luas, berkontribusi meningkatkan keuntungan dan diterima konsumen, serta sulit ditiru oleh kompetitor.” Yosanova Savitry, Chief Operation Officer MarkPlus Institute

Ada banyak alat ukur yang dipakai. Salah satunya, kesesuaian proses inovasi dengan hasil atau tujuan inovasi yang sudah ditetapkan, entah itu problem solving, market winning, hingga value creating. Semua bergantung pada manajemen inovasi di setiap perusahaan. Sebab itu, penting untuk memastikan apakah ide baru tersebut memang dibutuhkan atau bisa membantu perusahaan. Intinya, diperlukan semacam peta jalan maupun Key Performance Indicators (KPI) untuk mengawal proses inovasi tersebut. KPI tersebut juga berfungsi sebagai panduan agar inovasi tidak salah arah. Riset Accenture bertajuk Rethink, Reinvent, Realize: How to successfully scale digital innovation to drive growth menunjukkan bahwa belum banyak perusahaan yang sukses dalam melakukan inovasi, dalam hal ini inovasi digital. Terlepas dari jumlah investasi yang mereka habiskan, hanya 22% perusahaan yang berhasil mendapatkan return on investment (ROI) melebihi ekspektasi. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, tepatnya sejak COVID-19 masuk ke Indonesia, banyak perusahaan melakukan berbagai inovasi untuk beradaptasi. Salah satu inovasi yang banyak dilakukan adalah yang berkaitan dengan teknologi digital. Perubahan dalam aktivitas masyarakat inilah yang meningkatkan percepatan dari adopsi digital. Banyak perusahaan harus melakukan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

penurunan biaya operasi karena pandemi. Tetapi, sebaliknya mereka meningkatkan biaya untuk inovasi. Bagi salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia seperti Telkomsel, hal ini dilihat sebagai tren positif karena setiap upaya yang dilakukan diyakini bisa mempercepat digital literacy yang akan baik bagi bisnis ke depannya. “Perubahan karena pandemi yang berlangsung cepat memang membuat para pelaku industri telekomunikasi kewalahan. Namun, kami harus cepat melakukan penyesuaian. Kami harus menghadirkan inovasi layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan, terutama yang berkaitan dengan digital,” ujar Direktur Network Telkomsel Hendri Mulya Syam. Berdasarkan laporan berjudul The Most Innovative Companies yang dirilis Boston Consulting Group (BCG), inovasi yang sukses akan memberikan keuntungan. Sebagai contoh, sebuah investasi senilai US$100 pada tahun 2005 di MSCI World Index bisa bernilai US$251 pada akhir tahun 2019. Hal ini menunjukkan perkembangan keuntungan yang bertahap. Performa serupa juga terlihat pada daftar 50 perusahaan paling inovatif versi BCG. Ketika berinvestasi pada perusahaan-perusahaan tersebut, investor bisa mendapatkan pertumbuhan hingga 30% atau lebih, dari US$100 sebagai investasi awal bisa berkembang


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

menjadi US$327. Namun, dari 50 perusahaan tersebut hanya 20 yang sukses masuk dalam daftar sebanyak 10 kali atau lebih. Beberapa nama di antaranya, Dell, Facebook, Siemens, Walmart, Intel, Nike, Samsung, dan Microsoft. Perusahaanperusahaan inilah yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan sistem inovasi yang baik mulai dari pengaturan ide, kolaborasi, pendukung inovasi yang terorganisir, hingga bagaimana mereka memanfaatkan teknologi dalam inovasi mereka. Perusahaan dengan sistem inovasi yang kuat, kemudian bisa menunjukkan output yang apik. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya mereka mengalami peningkatan 5%-20% pada penjualan produk atau layanan mereka. Selain ROI, hal lain yang bisa menjadi tolok ukur adalah dampak dari inovasi bagi konsumen. Apalagi, ekspektasi dari konsumen terus berubah bahkan meningkat. Para pelaku bisnis dituntut untuk peka dan mempersiapkan inovasi yang bisa menjadi jawaban bagi kebutuhan konsumen yang semakin kompleks. LOKET, platform penjualan tiket konser dan seminar melihat pentingnya inovasi yang berkaitan dengan event daring. Pasalnya, gelaran webinar dan konser secara online terus mengalami peningkatan. Hal tersebut dikarenakan adanya pembatasan berkumpul dalam jumlah massa yang banyak.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

LOKET menjadi salah satu pionir penyelenggaraan event secara daring di Indonesia. Vice President LOKET Ario Dimas mengungkapkan, kekhawatiran dan kecemasan sempat mereka alami karena berbagai kebijakan terkait pembatasan berkumpul yang diberlakukan pemerintah. Dimas dan rekan-rekannya sempat berpikir kalau industri yang berkaitan dengan event ini akan ambruk. Namun, mereka berusaha bangkit dan memikirkan cara bertahan di masa pandemi dan setelah pandemi. Mereka lalu melihat adanya peluang dari kebutuhan acaraacara daring mulai dari hiburan hingga yang sifatnya pengetahuan seperti webinar. LOKET banyak belajar dari Korea Selatan yang banyak menyelenggarakan acara secara daring, namun dengan tampilan layaknya acara luring. Penyelenggara tetap menyewa venue dan mengatur panggung dengan sedemikian rupa, sehingga penonton di rumah tetap merasa menyaksikan acara secara langsung. “Inovasi acara daring ternyata disambut baik dan bisa diterapkan oleh siapa pun. Sejak saat itu, kami dan sejumlah partner menggelar berbagai event, mulai dari webinar hingga konser musik. Hasilnya sangat memuaskan, hingga saat ini kami sukses menggelar lebih dari 500 event daring,” pungkas Dimas. Dimas melihat bahwa inovasi yang dilakukan saat ini dapat dikembangkan untuk bisnis ke


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

depannya. Tren penyelenggaraan event daring ini diyakini Dimas akan terus berlanjut bahkan semakin besar. Hal ini terlihat dari semakin nyamannya konsumen yang mendapatkan pengalaman konser dari rumah. Tolok ukur dari kesuksesan inovasi ini penting ditetapkan untuk bisa mengetahui apakah inovasi ini sudah sesuai dan cocok dengan strategi serta tujuannya. Karena, meskipun terlihat sederhana, tolok ukur ini pada dasarnya akan membantu kelanjutan dari produk yang dihasilkan. Jika membiarkan pengukuran ini salah, maka selanjutnya hal ini bisa menjadi kebiasaan dan performa produk yang dihasilkan pun tidak bisa diketahui kecocokannya untuk pasar. Chief Operation Officer MarkPlus Institute Yosanova Savitry menjelaskan bahwa saat berinovasi perusahaan harus bisa mengevaluasi apa yang dilakukan mereka memiliki kaitan erat dengan nilai perusahaan mereka. Untuk mengetahuinya, perlu ada tes yang dilakukan. Pertama, better-off test. Pada tes awal ini resource dan capability dibandingkan dengan kompetitor terdekat, market leader, dan industri pada umumnya. Melalui tes tersebut dapat ditemukan kekuatan dari inovasi produk itu sendiri. Kedua, valuable test. Di sinilah, perusahaan bisa melihat keunikan dari produk yang akan dihasilkan dan apa keuntungan yang bisa


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

didapatkan konsumen. Selanjutnya, dari sana bisa diketahui competitive advantage yang dimiliki oleh perusahaan. Competitive advantage sendiri pada dasarnya merupakan kemampuan untuk meningkatkan willingness dari konsumen untuk membayar lebih. Di waktu bersamaan, perusahaan bisa menekan biaya operasional. Jika tidak ada keuntungan itu, artinya inovasi tersebut tidak memiliki competitive advantage. Ketiga, rarity test, yaitu pengujian untuk menemukan apakah produk yang dihasilkan cukup langka, sulit ditiru, dan tidak bisa digantikan. Jika iya, maka perusahaan bisa mendapatkan competitive advantage yang sustainable. Keempat, market access test. Pada tes ini, perusahaan bisa menemukan apakah inovasi ini memberikan akses untuk masuk ke industri lain. “Dengan tolok ukur tersebut, perusahaan bisa menemukan apakah inovasi mereka bisa memberikan akses ke pasar yang lebih luas, berkontribusi meningkatkan keuntungan dan diterima konsumen, serta sulit ditiru oleh kompetitor,” ujar Yosanova. Saat berinovasi ada siklus yang tidak bisa dilewatkan, yaitu ciptakan, ukur, evaluasi. Semua prosesnya berjalan dengan cepat. Mulai dari peluncuran inovasi tersebut ke pasar, pengumpulan feedback, hingga perbaikan lebih lanjut.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Perlu digarisbawahi bahwa proses belum berakhir setelah hasil inovasi diperkenalkan ke pasar. Di sini, penting sekali proses validasi sebuah inovasi. Perusahaan harus menetapkan patokan keberhasilan dan menguji inovasinya dengan tahapan-tahapan yang tepat. Setelah mendapatkan tolok ukur yang tepat, siklus ini dapat dilakukan sebanyak yang dibutuhkan. Tujuannya, untuk terus menyempurnakan inovasi tersebut. Terus menguji produk inovasi tersebut bisa meningkatkan kualitas dan bisa membuat inovasi itu tetap relevan. Di sisi lain, mengetahui keberhasilan dari sebuah inovasi bisa mengukur sejauh mana pertumbuhan bisnis selanjutnya. Core Competence Identification

From Product Innovation to Core Competence

Resource

A

Competitive advantage

B

Strength

Sustainable competitive advantage

C

D

Core competence

Capability

VALUABLE TEST Unique and give customer benefit

BETTER -OFF TEST Compared to close competitors, market leaders, and industry average

RARITY TEST Rare, difficult to imitate, nonsubstituable

MARKET ACCESS TEST Giving access to other industries

Only 20 Companies (12%) Have Made the Top 50 List More Than Ten Times 48

26

Daimler

3M

BMW

Alphabet

Dell

GE

Cisco

Amazon

Facebook

Intel

Siemens

Nike

HP

Walmart

Procter & Gamble

IBM

Apple

Samsung

19 10

1

2

3

4

Toyota

13 9

5

6

9

7

6 8

1

1

9

10

Frequency of appearance on the BCG MIC50 list Sumber: BCG Global Innovation Survey.

5

5

11

12

8 2 13

14


Learn More


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Kepemimpinan

Berani Lakukan Terobosan

Navigator

Kultur inovasi dalam perusahaan tidak lepas dari peranan pemimpin perusahaan atau organisasi. Proses inovasi pun harus dikawal oleh kepemimpinan yang kuat dan gesit dalam menyikapi perubahan. Berani ambil risiko, cermat membaca peluang, dan membangun ruang kreatif menjadi karakter yang kudu dipunyai pemimpin model ini. Oleh Estu Dian Maranti, Annisa Bella, Sigit Kurniawan

“ Seorang pemimpin tidak akan berfungsi apaapa bila tim di belakangnya tidak mendukung. Karena itu, pemimpin harus bisa menggerakkan anak buahnya untuk melakukan inovasi dengan koordinasi yang baik.” Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA)

Peran pemimpin sangat berpengaruh dalam menciptakan perusahaan yang inovatif. Steve Jobs, CEO Apple pernah mengatakan, . Dengan kata lain, kepemimpinan yang baik dapat memberikan ruang terjadinya sebuah inovasi dalam tubuh organisasi.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

1. Berikan kebebasan karyawan dalam menyampaikan pendapat. 2. Pemimpin harus memiliki sifat inklusif. 3. Memiliki visi dan tujuan yang jelas untuk kemajuan perusahaan.

Membangun inovasi memang penuh dengan risiko kegagalan dan kerugian. Pasalnya, saat melakukan inovasi seringkali harus mengambil keputusan yang sulit. Salah mengambil keputusan dapat berakibat fatal pada organisasi atau perusahaan. Karena itu, erat kaitannya peran pemimpin dalam membangun perusahaan yang inovatif. Hermawan Kartajaya, Founder dan Chairman MarkPlus Inc. mengatakan, perusahaan harus memiliki kreativitas (), inovasi (), , dan atau disingkat CI-EL. Dalam konsep tersebut, kepemimpinanlah yang menyempurnakan tiga kunci pertama. Artinya, pemimpin tidak hanya dituntut dapat memimpin dengan baik organisasinya tetapi juga harus memiliki kemampuan manajerial untuk mengombinasikan banyak elemen. “Pemimpin itu harus bisa berpikir kreatif, inovatif, dan memiliki jiwa kewirausahaan atau . Tetapi, tidak hanya memanfaatkan kesempatan atau peluang yang ada, dalam masa krisis pemimpin juga harus memikirkan , sampai ,” kata Hermawan. Semakin jelas peran kepemimpinan dalam inovasi tersebut. Oleh sebab itu, perlu ada perubahan di kalangan petinggi perusahaan. Di tengah pasar yang dinamis dan sarat perubahan, pemimpin harus gesit dan berani melakukan terobosan baru. Dengan spirit tersebut, pemimpin melihat realitas


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

industri yang tak pasti sebagai peluang untuk berinovasi, khususnya di era sulit karena pandemi ini. Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey bertajuk memperlihatkan, lebih dari 70% senior eksekutif mengatakan inovasi setidaknya menjadi salah satu dari tiga pendorong pertumbuhan teratas bagi perusahaan selama tiga hingga lima tahun ke depan. Lebih lanjut, survei tersebut mengatakan, beberapa pemimpin melihat inovasi sebagai cara terpenting bagi perusahaan untuk mempercepat laju perubahan dalam lingkungan bisnis global saat ini. Pemimpin dengan pemikiran inovatif selalu berpikir ke depan. Tidak hanya produk atau layanan tetapi juga merintis inovasi dalam proses bisnis, distribusi, model bisnis, bahkan fungsi manajemen. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian dari Boston Consulting Group (BCG). Penelitian tersebut menyatakan, sebanyak 45% pemimpin perusahaan mengaku, inovasi merupakan strategi prioritas dan mereka mendukung komitmen tersebut dengan investasi yang signifikan. Selain itu, sebanyak 15% pemimpin dari perusahaan besar memprioritaskan inovasi pada model bisnis meskipun tidak seluruh industri menerapkan hal tersebut. Inovasi di tingkat model bisnis memungkinkan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

perusahaan untuk mempertahankan mesin laba yang ada, membuat penawaran baru sebagai respons terhadap kebutuhan konsumen, atau sekadar menyesuaikan model bisnis saat masa krisis. Pemimpin Gesit Bagaimana cara mengetahui apakah pemimpin inovatif atau tidak? Sebenarnya, tidak ada ukuran pasti dalam menakar kadar inovasi dalam diri seorang pemimpin. Setiap pemimpin memiliki caranya masing-masing dalam membangun lingkungan perusahaan yang inovatif. Meski demikian, jelas pemimpin yang inovatif harus memiliki kemampuan problem solving, berani mengambil keputusan, siap menerima risiko (risk taker), jeli melihat peluang (opportunity seeker), dan memiliki jiwa kewirausahaan. Menurut Hermawan, pemimpin yang baik harus dapat menyeimbangkan empat kemampuan, yaitu Physicality Quotient (PQ), Intellectuality Quotient (IQ), Emotionality Quotient (EQ), dan Sociability Quotient (SQ). Jika pemimpin memiliki keempat hal tersebut, diyakini bisa membuat Positioning, Differentiation, dan Brand (PDB) yang baik bagi perusahaan dan berdampak pada keuangan perusahaan itu sendiri. Seorang pemimpin juga perlu memiliki orientasi kepada konsumen. Dalam


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

menghadirkan inovasi, terutama inovasi dari segi produk atau layanan, pemimpin harus dapat memiliki sudut pandang dari sisi konsumen untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumennya. Indosat Ooredoo sebagai perusahaan telekomunikasi sepertinya mengerti akan hal ini. Ritesh Kumar Singh, Chief Marketing Officer Indosat Ooredoo mengatakan, pemimpin perlu membangun perusahaan yang sehingga inovasi yang dihadirkan dapat menangkap kebutuhan konsumen. “Kami percaya konsumen yang bahagia dapat memberikan . Fokus kami adalah memberikan nilai terbaik kepada para konsumen melalui inovasi pada produk, yang baik, serta kesenangan pelanggan,” ujar Ritesh. Tentu saja, dalam menghasilkan inovasi produk atau layanan yang dapat menjawab kebutuhan konsumen dibutuhkan tim yang solid. Ritesh menuturkan, . Artinya, seorang pemimpin harus mengedepankan inklusivitas atau dapat menempatkan diri ke dalam cara pandang orang lain. “Begitu seorang pemimpin benar-benar inklusif, mereka akan dapat melihat peluang yang ada dan dapat menciptakan inovasi bersama dengan timnya,” ujarnya. Hasil dari kepemimpinan Ritesh dapat terlihat dari kampanye pemasaran Indosat Ooredoo yang sukses di mata konsumen. Pada Ramadan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

tahun ini, Indosat Ooredoo meluncurkan kampanye yang viral dan mendapatkan banyak tanggapan positif dari masyarakat. Ritesh menjelaskan, dalam 24 jam pertama kampanye tersebut diluncurkan sudah dilihat oleh lebih dari 12,3 juta orang di platform YouTube dan menghasilkan 3.000 komen positif di semua media sosial. Tentu saja angka itu terus berkembang. “Situasi sekarang tidak akan permanen. Saya dan tim harus tangkas dalam menghadapi segala hal ke depannya. Merek yang mampu terhubung dengan pelanggan selama masa-masa sulit sekarang akan keluar sebagai pemenang untuk jangka panjang,” pungkas Ritesh. Model kepemimpinan yang dilakukan oleh Ritesh dengan berfokus pada kerja sama tim dalam melakukan inovasi juga dilakukan oleh Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja. Menurut Jahja, kepemimpinan memang berperan penting dalam kelangsungan bisnis sebuah perusahaan. Akan tetapi, kepemimpinan tidak cukup hanya diisi oleh orang hebat, tapi harus diisi oleh tim yang hebat pula. Ini yang dinamakan dengan . “Seorang pemimpin tidak akan berfungsi apaapa bila tim di belakangnya tidak mendukung. Karena itu, pemimpin harus bisa menggerakkan anak buahnya untuk melakukan inovasi dengan koordinasi yang baik,” tutur Jahja. Kebebasan untuk menyampaikan pendapat


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

dapat menjadi cara pemimpin untuk membangun kultur inovasi dalam tim. Jahja menambahkan, pemimpin harus memastikan setiap anggota tim berkontribusi secara seimbang dan tidak ada yang memenangkan ego masing-masing. “Kadang yang terjadi adalah orang mendengar siapa yang berbicara bukan apa yang disampaikan. Dengarkan dulu usulan dari setiap anggota tim, bisa diaplikasikan atau tidak menjadi masalah kedua,” kata Jahja. Berbeda dengan Indosat Ooredoo dan Bank BCA yang mengedepankan peran tim dalam melakukan inovasi, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) berpatokan pada visi pemimpin untuk membangun ruang inovasi. Pemimpin yang inovatif juga dapat menggambarkan dengan jelas visi mereka kepada para karyawan, sehingga dapat terealisasikan dengan baik. Visi dari pemimpin juga harus didukung dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan, seperti modal, anggaran operasional, karyawan atau sumber daya manusia, serta mendapat dukungan dari manajemen puncak. Nariman Prasetyo selaku Direktur Utama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mengerti betul kondisi sektor konstruksi yang terdampak pandemi COVID-19. Untuk tetap mempertahankan perusahaan, ia mengoreksi target kontrak baru di tahun 2020 senilai Rp 3,4


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

triliun. Nariman optimistis target tersebut dapat tercapai, melihat kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan dapat menjawab kebutuhan saat ini. Sebagai seorang pemimpin, Nariman juga mampu menangkap peluang yang ada pada masa pandemi COVID-19. Hal ini terlihat dari keterlibatan WEGE membantu pemerintah dalam pengadaan rumah sakit darurat untuk penanganan COVID-19 secara cepat menggunakan teknologi moduler. Teknologi moduler merupakan sebuah metode konstruksi yang mana pelaksanaan semua pekerja dilakukan di luar situs proyek atau . WEGE telah memiliki teknologi moduler sejak 2018. Dengan menggunakan teknologi ini, perusahaan dapat melakukan pembangunan secara cepat, efisien, serta berstandar kualitas lebih baik. “Inovasi yang kami lakukan dapat dikatakan sebagai praktik . Menggunakan sumber daya yang ada kami menyanggupi untuk menyelesaikan keperluan terhadap rumah sakit untuk pasien COVID-19 secara cepat. Langkah kami juga sebagai cara dalam memperkenalkan teknologi modular di sektor konstruksi,” kata Nariman. Sekali lagi, setiap pemimpin memiliki model kepemimpinan yang berbeda. Tidak ada yang salah atau benar. Namun, pemimpin yang baik dapat menciptakan ruang inovasi


Building a Culture of Innovation

One-Quarter of Companies Are Not Walking the Talk on Innovation % of firms

45% COMMITED

7 6

10 11

7

25% CONFUSED

1

Commitment and resource investment are indifferent or inconsistent

GH

0

(%

GH HI

ng di en

LO W

n RY VE

(ra )

nk

To p

io

LO W

+ 11

y

Innovation is clearly not a strategic or investment priotrity

no va t

4-

rit

io

pr

To p

ic

30% SKEPTICAL

sp

1

10

g te ra St

0

In

2-

3

10

sa

le

6

HI

1

13

9

s)

9

RY

6

Innovation is a strategic priority and they invest accordingly

VE

4

To p

Source: BCG Global Innovation Survey 2020. Note: n=1,014 (most innovative companies sample). Innovation spending includes cost and amortized investments, on the basis of industry-specific analyses

Many Leaders Are Pursuing Business Model Innovation …WHILE THE STATE OF ADOPTION DIFFERS ACROSS INDUSTRIES Leaders naming business model innovation a top 3 priority (%)

33

~15%

more likely than laggards to make it a top 3 innovation priority

Source: BCG Global Innovation Survey 2020.

30 30 29 27 27 26 26 25 25 23 22 22 20

17 16 14 13

Media

Pharma

Industrials

Technology

Travel

Telco

Wholesale and retail

Durable goods

Energy

Chemicals

Transportation

Medtech

Public sector

Consumer goods

Materials

Insurance

5 Finance

INNOVATION LEADERS PRIORITIZE BUSINESS MODEL INNOVATION…

Auto

Navigator

sebebas-bebasnya bagi karyawan untuk kemajuan perusahaan. Tapi tentu saja, harus mempertimbangkan dan sebelum inovasi tersebut dilakukan. Bagai nakhoda mengemudikan kapal di laut lepas, pemimpin harus dapat membawa organisasinya menuju kesuksesan.

To p

Nov 2020


Kabupaten Pamekasan Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

Regenerasi, Cara Lestarikan Batik Pamekasan Banyak tantangan harus dihadapi untuk melestarikan batik. Salah satunya adalah rendahnya minat generasi muda akan warisan budaya ini. Regenerasi diyakini menjadi elemen penting kelestarian batik di masa depan.

Perancang busana dan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Indonesia Samuel Wattimena mendorong produsen kain tradisional Indonesia untuk melakukan perluasan usaha. Caranya dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang filosofi yang ada pada kain serta melibatkan generasi muda.


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

Kain-kain tradisional yang memiliki ragam motif menggambarkan nilai dan karakteristik budaya di setiap daerah. Sebab itu, kain-kain tradisional ini menjadi produk lokal yang unggul. Pemerintah Kabupaten Pamekasan menyadari potensi kain tradisional yang berasal dari daerah mereka, yaitu batik Pamekasan. Sebab itu, pendekatan mengenai motif dan filosofinya penting dilakukan. Samuel mengungkapkan banyak desainer muda yang hanya fokus pada pendekatan terhadap motif, warna, dan bentuk tanpa mengetahui cerita di baliknya. Semua itu bukan karena mereka mengabaikan hal tersebut. Namun, lebih kepada ketidaktahuan tentang cara mendapatkan informasi. Batik Pamekasan sendiri dikenal dengan sebutan Seribu Warna karena banyaknya motif yang dimiliki. Dari satu motif dasar saja masih ada banyak turunannya, sehingga bisa menghasilkan berbagai corak kain tradisional. “Batik Pamekasan memiliki beberapa motif dasar. Beberapa di antaranya adalah sekar jagat, tong centong, dan sabet rante. Dari beberapa motif dasar tersebut bisa dikembangkan kembali menjadi berbagai motif kontemporer yang bisa disukai generasi milenial dan selanjutnya,” ujar Bupati Pamekasan Baddrut Tamam. Baddrut mengungkapkan dirinya sangat mendorong kerja sama antara para produsen kain untuk menciptakan tren warna setiap musimnya.


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

Karena, dalam fesyen sendiri ada empat musim, yaitu spring, summer, fall, dan winter. Pemikiran empat musim ini nantinya mampu memicu kreativitas. Sehingga, produsen kain bisa lebih teratur ketika mengekspos motif dan warna dalam satu kali produksi. Ada baiknya peluncuran motif dan warna ini dilakukan secara bertahap. “Ini merupakan pemikiran yang baik dari desainer Samuel Wattimena. Nantinya kami akan sosialisasikan dan menjadikan hal ini sebagai strategi pemasaran batik Pamekasan. Jadi, batik Pamekasan yang indah ini tidak langsung dikeluarkan semua motifnya dalam satu waktu. Masyarakat juga bisa lebih mengenal dengan tahapan yang teratur,” tutur Baddrut. Strategi empat musim ini menurut Baddrut juga bisa menjadi upaya yang baik agar generasi muda dapat mengenal dan menyukai batik Pamekasan. Sehingga, terjadi regenerasi peminat batik karena sebelumnya mayoritas penyuka batik hadir dari golongan usia 50 tahun ke atas. “Pendekatan yang dilakukan untuk menarik minat anak-anak muda biasanya dimulai dari warna. Namun, dengan konsep empat musim ini, bukan tidak mungkin kami bisa memperkenalkan filosofi di balik motif. Dan, bisa menanamkan kepada mereka bahwa batik ini merupakan warisan milik mereka,” ungkap Baddrut. Tidak hanya memiliki batik khas dari daerahnya saja, Kabupaten Pamekasan juga memiliki sentra batik yang merupakan pasar batik tulis


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

terbesar di Indonesia yaitu, Pasar 17 Agustus. Pasar ini memiliki keunikan karena pengunjung bisa mendapatkan kombinasi tiga pengalaman dalam satu tempat, yaitu wisata belanja, edukasi industri, dan budaya. Pasar ini terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas dari pengrajin sekaligus memberdayakan masyarakat. Sehingga, ke depannya bisa menghadirkan berbagai inovasi motif batik yang khas dari Pamekasan.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Kolaborasi

Saling Melengkapi

1. Kolaborasi berdasarkan kebutuhan konsumen 2. Selalu terbuka terhadap segala kemungkinan 3. Jangan takut gagal dan terus eksplorasi

Di era konektivitas, inovasi tidak bisa optimal bila tidak dijalankan secara kolaboratif. Banyaknya pemain dan sumber daya memungkinkan perusahaan melakukan kolaborasi dalam inovasi secara lebih prima, gesit, dan berdampak. Oleh Ramadhan Triwijanarko

Setiap perusahaan tentunya ingin menjadi yang terbaik di setiap lini. Semua berlomba untuk memberikan produk dan layanan yang paling mengena di hati konsumen. Dengan begitu, konsumen loyal dan penjualan terus meningkat


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

“Inovasi bagi kami tidak hanya soal menciptakan produk minuman dan makanan serta merchandise yang menarik. Tetapi, juga tentang customer experience, khususnya di tengah perubahan perilaku konsumen. Semuanya butuh untuk beradaptasi agar bisa relevan dengan konsumen.” Liryawati, Chief Marketing Officer PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks)

Untuk bisa mencapai ini semua perusahaan perlu adaptif terhadap situasi terkini agar bisa relevan dengan kebutuhan konsumen. Perusahaan perlu melakukan inovasi yang berkelanjutan. Banyak cara dan sumber dalam melakukan inovasi, baik secara internal dan eksternal. Inovasi bisa beragam bentuknya, mulai dalam bentuk budaya perusahaan hingga produk yang akan diluncurkan. Namun, inovasi tidak selalu harus dikerjakan sendiri. Di era sekarang, banyak perusahaan yang melakukan inovasi dengan berkolaborasi bersama mitra dan konsumen. Cara ini menjadi sebuah alternatif yang membuat perusahaan kian relevan dengan kebutuhankonsumen. Di Indonesia, ada beberapa perusahaan yang gemar berinovasi dengan melakukan kolaborasi. Contohnya, Jenius yang merupakan merek digital banking milik Bank BTPN dan peritel kopi Starbucks. Kedua merek ini menerapkan co-creation atau kolaborasi dengan pelanggannya masing-masing. “Inovasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Kami mendapatkan masukan untuk menemukan inovasi produk yang terbaru dengan melakukan kolaborasi bersama nasabah dan mitra. Sehingga, fitur yang kami hadirkan jadi lebih sesuai dan relevan,” ujar Irwan S. Tisnabudi, Digital Banking Head Bank BTPN. Budaya inovasi di Bank BTPN sudah terjadi


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

sejak lima tahun lalu. Bagi Irwan, untuk bisa menarik minat calon nasabah di era digital tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang konvensional. Inovasi di Bank BTPN sudah dimulai sejak mereka meluncurkan produk BTPN WOW dan Jenius. Sementara itu, menurut Liryawati, Chief Marketing Officer PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks) inovasi merupakan hasil karya dari gagasan dan kolaborasi antardivisi. Baginya, inovasi merupakan aset perusahaan yang harus dipertahankan dan menjadi budaya bagi setiap partner. “Inovasi bagi kami tidak hanya soal menciptakan produk minuman dan makanan serta merchandise yang menarik. Tetapi, juga tentang customer experience, khususnya di tengah perubahan perilaku konsumen. Semuanya butuh untuk beradaptasi agar bisa relevan dengan konsumen,” ujar Liryawati. Ia menjelaskan bahwa Starbucks sangat terbuka dengan ide-ide dari setiap mitra dan karyawan. Ia terus mendorong mitra dan karyawan untuk terus berinovasi, mulai dari inovasi untuk perkembangan diri sendiri, tim atau divisi terkait, hingga tingkat perusahaan. “Setiap mitra dan karyawan berhak berkontribusi membuat dan menyampaikan inovasinya. Inovasi sudah menjadi DNA bagi kami. Starbucks sudah dan akan terus berkembang menjadi yang terdepan dalam


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

industri kopi,” kata Liryawati. Selain dengan konsumen dan mitra, dua merek ini juga melakukan beragam kolaborasi dengan pemain lain, baik yang satu industri atau lintas industri. Sebagai contoh, Jenius melakukan kolaborasi dengan Tokopedia, GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja. Pada dasarnya Jenius memiliki visi untuk membuat sebuah ekosistem digital. Namun, merek ini menyadari bahwa untuk membuat ekosistem akan sulit akan tercapai bila dilakukan sendiri tanpa berkolaborasi. “Jenius tidak bisa jadi expert di segala bidang. Kami harus memahami apa kekuatan kami,” ujarnya. Irwan mengakui masih banyak orang yang mengira bahwa Jenius merupakan kompetitor bagi penyedia layanan e-wallet. Sehingga, ketika ada logo perusahaan e-money di Jenius atau sebaliknya banyak konsumen yang terheran-heran. Kolaborasi Jenius dengan pelaku e-money saling melengkapi dan membantu visi Jenius dalam membangun ekosistem digital, contohnya dengan menghadirkan fitur top-up untuk e-money melalui Jenius. Selain itu, kolaborasi juga dilakukan dengan Tokopedia. Dalam hal ini Jenius menghadirkan fitur Jenius Pay sebagai salah satu metode pembayaran digital di Tokopedia. Berdasarkan data, tidak semua konsumen merasa aman melakukan transaksi di e-commerce dengan


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

memasukan 16 digit angka kartu debit dan expired date. Seiring dengan meningkatkan penggunaan dan nilai transaksi pengguna Jenius di Tokopedia, maka hadirlah Jenius Pay. Menggunakan Jenius Pay, pengguna tidak perlu memasukan nomor kartu debit, hanya perlu memasukan cashtag, yakni nama lain untuk rekening dalam sistem Jenius dan melakukan verifikasi transaksi di aplikasi Jenius. Setelah melakukan kolaborasi Irwan mengakui hasilnya bisa lebih efektif. Semisal Jenius harus membuat e-wallet atau e-money sendiri, maka membutuhkan investasi yang besar untuk set-up merchant dan lainnya. Namun, dengan kolaborasi, Jenius bisa menggunakan jaringan masing-masing mitra untuk membuat solusi bagi tiap pengguna. “Digital ekosistem tidak bisa sendiri. Jika melakukan sendiri, effort dan investasinya sangat besar. Lebih baik bermitra dan bisa melengkapi satu sama lain, bukan malah berseberangan,” jelas Irwan. Serupa, Starbucks juga melakukan serangkaian kolaborasi. Belum lama ini di bulan September, seluruh gerai Starbucks di Indonesia secara bertahap mulai menghadirkan minuman air mineral dengan kemasan botol kaca yang lebih ramah lingkungan sebagai bagian dari gerakan Greener Nusantara. Untuk mencapai misi tersebut Starbucks melakukan kolaborasi


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

dengan AQUA Reflections. Keduanya juga berkolaborasi meluncurkan Reflections botol edisi khusus. Kemasan eksklusif ini dirancang oleh Purana, yang terinspirasi dari keindahan ragam flora di Indonesia. Reflections dan Starbucks percaya bahwa kekuatan kolaborasi ini dapat membawa dampak positif bagi keberlanjutan lingkungan dan industri kreatif di Indonesia. Penggunaan kemasan botol kaca diyakini akan mengurangi penggunaan lebih dari satu juta botol plastik setiap tahunnya. Pada Februari lalu, Starbucks juga meresmikan pembukaan gerai Community Store pertama mereka di Indonesia yang terletak di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Untuk pengembangan gerai ini Starbucks bermitra dengan dua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu Yayasan Komunitas Sahabat Anak dan Indonesian Street Children Organization (ISCO). Tujuannya untuk memberikan tempat pada anak-anak dan masyarakat di sekitar community store belajar dan berkegiatan positif lainnya. Selain itu, kehadiran gerai khusus ini Starbucks juga menghadirkan sejumlah menu baru yang lekat dengan budaya Betawi. Seperti, Betawi Latte, Kue Gambang, Puding Selendang Mayang, Cheesecake Sarang Semut, serta merchandise eksklusif yang menggambarkan masyarakat Tanah Abang.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

“Untuk semakin memperkaya dan mengembangkan inovasi, kami terbuka untuk melakukan kolaborasi dengan pihak lain. Terciptanya sebuah inovasi berkaitan erat dengan peran kolaborasi berbagai pihak sehingga kami menerima setiap saran dan masukan atupun undangan untuk berkolaborasi untuk menghasilkan yang terbaik,” ujar Liryawati. Memilih Mitra Dalam menentukan mitra, Starbucks bekerja dengan mitra terbaik di kelasnya baik internal dan eksternal untuk menghadirkan ide-ide revolusioner segar. Bagi Liryawati, penentuan mitra kolaborasi dilakukan dengan bekerja sama bersama mitra yang memiliki misi sejalan dengan misi perusahaan, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang mereka yakini. “Kami melihat pentingnya saling memahami nilai dan tujuan yang ingin dicapai dari kedua belah pihak. Saling memahami akan membantu langkah awal kolaborasi untuk melanjutkan ke tahap berikutnya,” terang Liryawati. Sedangkan, bagi Jenius dalam menentukan mitra kolaborasi diperlukan beberapa hal untuk menjadi landasan. Pertama, memiliki visi yang sesuai dan tidak ada konflik kepentingan. Kedua, memiliki prioritas yang sejalan. Ketiga, memiliki dampak kepada konsumen.


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

Navigator

Bagi Irwan, ide kolaborasi bisa datang dari dua pihak. Paling penting memahami bisnis masing-masing apakah sejalan atau tidak. Dari sisi mitra, pastikan juga memiliki kemampuan yang sejalan dengan nilai perusahaan. Jenius dan Starbucks juga kerap melakukan kolaborasi dengan konsumen masing-masing. Bagi Liryawati, kolaborasi dengan konsumen berarti menggabungkan keunggulan dari kedua pihak untuk menghasilkan sebuah inovasi baru yang sesuai dengan kosumen. “Melalui kolaborasi dengan konsumen, kita dapat saling melengkapi, sehingga produk yang dihasilkan mampu menjangkau lebih banyak konsumen,” katanya. Sementara bagi Irwan, kolaborasi dengan nasabah memungkinkan perusahaan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Ia mencontohkan, apabila inovasi produk selanjutnya dilakukan berdasarkan keinginannya atau tim, maka hasil produknya hanya cocok untuk dirinya dan tim. Ketika berencana memberikan promo atau hadiah, perusahaan harus melihat relevansi. Semisal, bonus hadiah mobil bisa saja tidak sesuai dengan keinginan nasabah. Namun, dengan melakukan kolaborasi perusahaan jadi paham bahwa ketimbang dikasih mobil nasabah lebih suka diberikan cashback untuk penggunaan transportasi umum. “Kalau kami tanyakan ke nasabah, itu bisa


Building a Culture of Innovation

Nov 2020

merepresentasikan orang yang ada di market,” tutup Irwan.

Navigator

Sharing

Crowd Sourcing Corporate R&D Individual led

Number of Participants Sumber: HBR

Innovation Co-Creation

Organizational Boundaries

Degree of Complexity


Nov 2020

Momentum

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

Outlook

Mendulang Manfaat Omnichannel Selamat Datang di Era Marketing 5.0

Jakarta CMO Club Kolaborasi Ideal Indonesia dan Singapura

Memahami Inovasi dalam Konteks CI-EL dan Kinerja


Nov 2020

Momentum

Mendulang Manfaat Omnichannel Masih banyak merek yang salah menafsirkan pengertian omnichannel. Padahal, dengan pemahaman dan pendekatan yang tepat, strategi omni bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi merek. Oleh Clara Ermaningtiastuti

Saat membahas omnichannel seringkali yang terlintas di pikiran adalah saluran berjualan saja, mulai dari toko offline atau online. Padahal, omnichannel mencakup berbagai macam interaksi dengan konsumen yang berlangsung melalui berbagai kanal dan terintegrasi. “Omnichannel terjadi bukan hanya saat konsumen berbelanja maupun bertransaksi saja. Melainkan dimulai saat konsumen mulai mengenal kita. Jadi, omnichannel merangkum semua saluran yang bisa membantu kita berinteraksi dengan konsumen,” ujar Yosanova


Nov 2020

Momentum

Savitry, Chief Operation Officer MarkPlus Institute pada acara Marketeers iClub bertajuk The Perks of Being An Omni Brand, bulan lalu. Saat merumuskan strategi omnichannel, menurut Yosanova, yang perlu dipahami terlebih dulu adalah konsumen sebagai target pasar. Saat ini, konsumen bisa dibedakan menjadi dua tipe, yaitu digital immigrants dan digital natives. Mereka yang tergolong digital immigrant biasanya datang dari generasi baby boomers dan Gen X. Sementara, digital natives merujuk para Gen Z & Gen Alpha yang sudah terbiasa hidup dengan teknologi digital. Sedangkan Gen Y atau milenial terbagi di dua kategori tersebut. “Selama pandemi, kedua tipe ini semakin menyatu. Salah satu faktornya adalah kebiasaan yang berubah. Contohnya, jika sebelumnya Gen X tidak melirik opsi berbelanja online, kini mereka mulai memanfaatkannya karena terdesak situasi,” jelas Yosanova. Tidak hanya berbelanja, kebutuhan mendapatkan pengalaman hiburan selain televisi juga mulai dicari oleh digital immigrants ini. Misalnya, menonton Netflix atau saluran streaming lainnya yang memberikan layanan entertainment. Namun, yang berubah bukan hanya digital immigrants saja. Lantaran harus tinggal di rumah, banyak kebiasaan digital native yang berubah. Jika sebelumnya tertarik dengan kegiatan yang bersifat daring, sekarang mereka justru mulai


Nov 2020

Momentum

tertarik menonton televisi dan membaca buku. “Perubahan-perubahan inilah yang harus disadari oleh merek sebelum melakukan upaya pemasaran. Memang, ada kemungkinan kedua tipe konsumen ini kembali ke kebiasaan lama seperti sebelum pandemi. Namun, jangan melewatkan kemungkinan lain bahwa mereka bisa menjadi lebih omni dari sebelumnya,” tutup Yosanova. Beberapa perusahaan sudah menerapkan strategi omnichannel. Campina, misalnya, menyerang pasar melalui dua kanal, yaitu online dan offline. Campina mulai memasarkan produk es krimnya secara online dengan membuat e-commerce, icecreamstore.com. Sementara itu, sisi penjualan offline diperkuat dengan distribusi ritel hingga warung-warung yang lebih luas ke seluruh Indonesia. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Sunpride yang melakukan pendekatan omni untuk kampanye Think Before You Pic dengan memanfaatkan kanal-kanal digital dan membuat konten kreatif yang relevan. Selain itu, menerapkan in-store activations hingga digitalisasi jalur distribusi yang kian transparan. Singkatnya, untuk menjadi omni, merek harus memahami konsep dari omni itu sendiri. Selanjutnya, merek memilah segmen mana yang tepat untuk digarap dengan strategi tersebut. Bila strategi ini bisa dijalankan dengan tepat, merek Anda akan terus berkibar. Selamat mencoba.


Nov 2020

Momentum

Selamat Datang di Era Marketing 5.0 Ilmu marketing terus berevolusi. Di mulai dari era tradisional yang disebut Marketing 1.0 hingga menuju Marketing 5.0 sekarang ini. Masing-masing era menggambarkan tren perubahan yang terjadi dan bagaimana pemasar perlu beradaptasi. Oleh: Ramadhan Triwijanarko dan Annisa Bella


Nov 2020

Momentum

Istilah Marketing 1.0, merujuk pada era ketika perusahaan fokus menciptakan produk-produk terbaik sehingga perusahaan bekerja dengan cara product-driven. Era ini terjadi ketika perekonomian di Amerika Serikat (AS) pada masa itu tengah berada pada kondisi yang sangat baik. Namun, lanskap dunia pemasaran berubah ketika AS mulai mengalami sejumlah kendala pada perekonomian mereka. Saat itu, muncul istilah Marketing 2.0 yang menitikberatkan pada customer-oriented. “Mulai muncul segmentasi di era Marketing 2.0 karena setiap customer memiliki kebutuhan yang berbeda. Perusahaan pun mulai menciptakan berbagai jenis produk dengan harga yang lebih terjangkau sesuai dengan sasaran customer yang dituju,” ungkap Iwan Setiawan, CEO of MarkPlus, Inc yang juga penulis buku Marketing 5.0 bersama Prof Phillip Kotler dan Hermawan Kartajaya. Di era Marketing 3.0, para pemasar dituntut untuk menangkap hidden needs dari customer. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus memperhatikan dampak yang diberikan oleh bisnis terhadap lingkungan sekitar dan komunitas sosial. Marketing 1.0 hingga 3.0 merupakan era bagi pemasaran tradisional. Kehadiran dunia digital kemudian mengubah lanskap tersebut dan memunculkan kehadiran era baru, yakni Marketing 4.0.


Nov 2020

THE NEXT TECH: THE NEXT TECH: HUMAN-INSPIRED BIONICS

HUMAN-INSPIRED BIONICS Momentum

MACHINE Artificial Intelligence Natural Language Processing Sensor Tech Robotics Mixed Reality IoT & Blockchain

HUMAN Thinking Communicating Sensing Moving Imagining Connecting

Marketing 4.0 berbicara mengenai pemasaran dalam konteks dunia digital (online dan offline). Pada era ini, dikenal pula New Customer Experience (CX) yang terjadi pada setiap tahapan customer journey. Terdapat lima tahapan customer journey yang disebut dengan 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). “Pada era Marketing 4.0, jejak customer berpindah-pindah dari online ke offline atau sebaliknya. Kami menyebut perilaku ini dengan omni experience. Namun, era ini belum berbicara mengenai Artificial Intelligence (AI), robotik, dan lain-lain,” terang Iwan. Era Marketing 4.0 sebatas berbicara mengenai dasar dari dunia digital, berbeda dengan


Nov 2020

Momentum

Marketing 5.0 yang berbicara mengenai teknologi yang jauh lebih canggih. Pergerakan ke arah Marketing 5.0 didorong oleh lima tren besar. Dimulai dari jumlah generasi digital-savvy yang besar, adopsi phygital lifestyle, dilema digitalisasi mulai dari dampak positif dan negatif, perkembangan teknologi yang matang, hingga simbiosis antara manusia dengan teknologi yang tidak bisa terpisahkan. Marketing 5.0 = Next Tech x New CX Pada dasarnya Marketing 5.0 berbicara mengenai Next Tech dan New CX. Pada era ini, optimalisasi bisnis dapat tercapai jika perusahaan mampu memanfaatkan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan. Kombinasi antara kekuatan teknologi dan manusia harus ditopang bersama. Hal ini disebut dengan istilah Next Tech atau bionics. “Artinya, teknologi yang maju selalu mencoba meniru manusia karena manusia adalah makhluk yang paling misterius. Manusia memiliki pemikiran, kreativitas, leadership, dan lain-lain yang tidak mudah untuk direplikasi ke dalam bentuk teknologi,” papar Iwan. AI misalnya, mencoba meniru bagaimana otak manusia bekerja. Kemampuan manusia dalam berkomunikasi yang tak jarang kerap tidak terstruktur juga telah dicoba untuk direplikasi dengan teknologi Natural Language Processing (NLP).


Nov 2020

Momentum

Tidak berhenti sampai di situ, kemampuan sensing manusia mendorong kehadiran sensor tech, kemampuan moving melahirkan robotik, kemampuan berimajinasi menghasilkan mixed reality, hingga cara manusia dalam berkoneksi direplikasi ke dalam bentuk Internet of Things (IoT) dan blockchain. Sedangkan, New CX berbicara mengenai jejak customer di setiap tahapan 5A yang bisa berpindah-pindah, entah dari kanal online ke offline atau sebaliknya. “Dengan menggabungkan Next Tech dan New CX, maka customer experience akan semakin efisien, meaningful, dan bisnis dapat meningkatkan value lebih bagi para customer,” tutur Iwan.

THE MARKETING EVOLUTION THE MARKETING EVOLUTION

Marketing 1.0 Product-driven

Marketing 2.0 Customer-Oriented

Marketing 3.0 Human-centric

Marketing 4.0 Moving to Digital New CX

Marketing 5.0 Moving to Digital World New CX x Next Tech

Segmentasi di Era Marketing 5.0 Salah satu komponen penting dalam marketing adalah persoalan segmentasi. Dengan memahami segmentasi kita bisa mengetahui kategori konsumen seperti apa yang mau kita sasar. Namun, di era digital pendekatan segmentasi pun kian berubah.


Nov 2020

ELEMENTS OF MARKETING 5.0

ELEMENTS OF MARKETING 5.0 3 APPLICATIONS

Momentum

PREDICTIVE MARKETING

CONTEXTUAL MARKETING

AUGMENTED MARKETING

Memasuki era Marketing 5.0, segmentasi konsumen sudah tidak bisa lagi menggunakan pendekatan konvensional. Misalnya hanya menyasar berdasarkan umur, jenis kelamin, dan pekerjaan. “Segmentasi yang konvensional dalam bentuk umur semakin ke sini semakin tidak relevan,” ujar Iwan. Di saat ini segmentasi sudah menggunakan pendekatan data-driven. Dengan kata lain dengan perkembangan teknologi, segmentasi bisa mengerucut kepada hal-hal yang lebih detail melampaui batasan umur dan jenis kelamin. Terdapat dua pendekatan segmentasi yang digarisbawahi oleh Iwan, yakni A Priori Segmentation dan Response-Based Segmentation. A Priori Segmentation merupakan pendekatan lama yang bermula dari profiling variables menuju response variables. Sementara, Response-Based Segmentation justru sebaliknya, dimulai dari response variables menuju profiling variables. Dalam A Priori Segmentation, biasanya perusahaan mengacu pada hal-hal yang sudah


Nov 2020

Momentum

diketahui secara umum dan mudah untuk dikenali, seperti umur, lokasi, jenis kelamin, dan lain-lainnya. Misalnya, menyebutkan perusahaan Anda menyasar kalangan milenial atau kalangan keluarga modern. “Tipe ini sangat stereotyping. Padahal belum tentu masing-masing milenial memiliki kebutuhan dan perilaku belanja yang sama,” jelas Iwan. Sementara pada pendekatan Response-Based Segmentation, perusahaan mencari tahu terlebih dahulu siapa-siapa saja yang membeli produk. Pendekatan dalam tipe ini mengacu pada riset pasar dan analitik data yang dimiliki. Biasanya dimulai dengan memahami data psikografis dan perilaku belanja lainnya. Misalnya, apakah konsumen Anda adalah tipe konsumen yang mengutamakan diskon atau tidak. “Pendekatan A Priori Segmentation cenderung untuk menebak. Sementara, Response-Based berdasarkan data. Di era data-driven seperti sekarang maka pendekatan Response-Based lebih sesuai,” katanya. Ada empat variabel utama ketika melakukan segmentasi, yakni berdasarkan geografis, demografi, psikografi, dan variabel perilaku. Setelah memahami empat variabel ini maka Anda bisa melakukan labeling pada masing-masing variabel tersebut. Label-label ini nantinya bisa menggambarkan perilaku dan kebiasaan masing-masing kategori


Nov 2020

Momentum

konsumen. Semisal melabeli segmen berdasarkan geografi dalam contoh ‘New-Yorker’ atau “Anak Jaksel’. Nah, dengan melabeli secara demografi maka Anda bisa memahami bagaimana perilaku mereka secara garis besar. Di mana mereka bekerja, makan siang, hingga mereka biasa hang out di mana. Labeling tidak hanya berlaku untuk variabel geografi semata, bisa juga diterapkan pada tiga variabel lainnya. Misalnya, Young Middle Class untuk label berdasarkan demografi, Social Climber untuk psikografi, hingga Brand Switcher bila mengacu pada variabel perilaku. Lantas bagaimana merek Anda bisa mengumpulkan data di era sekarang?. Ada banyak cara untuk mengumpulkan data seperti menggunakan social listening yang ada di media sosial, loyalty program, CRM system, analitik web, digital cashier, text mining, sensors, dan perangkat wearables.


Nov 2020

Momentum

Jakarta CMO Club

Kolaborasi Ideal Indonesia dan Singapura Indonesia dan Singapura berpotensi menjadi kekuatan besar jika racikan kolaborasi ideal bisa tercipta. Kekayaan sumber daya Indonesia diimbangi dengan popularitas Singapura di mata dunia berpotensi menggairahkan investasi di masing-masing negara. Oleh Annisa Bella

Potensi sumber daya Indonesia dan posisi strategis Singapura di mata dunia berpeluang menjadi kekuatan besar bagi perekonomian kedua negara. Apalagi, Indonesia dan Singapura memiliki hubungan bilateral erat. Berbagai kebijakan terkait urusan investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Singapura terus dipermudah.


Nov 2020

Momentum

Dua negara ini masuk dalam Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN yang telah menyepakati Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN yang menghapus bea masuk intraASEAN mencapai 99,65% dari pos tarif. Kedua negara ini juga menyepakati aturan keringanan pajak berganda yang diatur dalam Double Tax Avoidance Agreements (DTAs). Bahkan, untuk melindungi investasi antara kedua negara, disepakati Perjanjian Investasi Bilateral (IIA) pada 11 Oktober 2018. Alhasil, Singapura menjadi mitra dagang terbesar ketiga Indonesia. Sedangkan Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ke-enam Singapura versi data pemerintah Singapura pada tahun 2018. Sementara, Observatory of Economic Complexity (OEC) mencatat, Singapura menempati posisi kedua dari 203 negara sebagai mitra impor teratas Indonesia. Untuk urusan ekspor, Singapura berada di posisi ke-lima dari 205 negara tujuan ekspor teratas Indonesia. “Kekuatan yang dimiliki masing-masing negara berpotensi membawa keuntungan besar. Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya yang luar biasa dan Singapura memiliki ketenaran di mata dunia,” imbuh Founder and Chairman MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya dalam gelaran virtual Jakarta CMO Club. Tak mau kehilangan peluang, Asia Pacific Exchange (APEX) berkolaborasi dengan Bursa


Nov 2020

Momentum

Berjangka Jakarta (JFX) menjaring investasi perdagangan kontrak di Indonesia dan Singapura. APEX dan JFX mencoba menjembatani urusan investasi dan manajamen risiko para investor ke pasar Indonesia dan Singapura. Menurut President Director Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Stephanus Paulus Lumintang, Indonesia dapat berperan sebagai negara produsen dan Singapura menjadi pusat perdagangan (trading hub). APEX dan JFX melihat, terdapat potensi besar untuk kategori produk minyak kelapa sawit (palm oil). Pasalnya, Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. United States Department of Agriculture (USDA) mencatat, 58% produksi minyak kelapa sawit global berasal dari Indonesia. Minyak kelapa sawit menempati posisi kedua sebagai jenis produk ekspor tebesar dari Indonesia. “Kami akan menggali potensi yang ada di kedua negara. Seperti diketahui, Indonesia dapat menjadi negara produsen dan Singapura sebagai trading hub. APEX dan JFX dapat menjadi platform yang dapat memfasilitasi investor domestik untuk berkolaborasi,” ungkap Paulus. Kolaborasi ini diyakini Chairman APEX Hwee Hua Lim dapat membantu dalam penetapan tolok ukur harga CPO dengan harga APEX-JFX karena Indonesia adalah negara produsen utama kelapa sawit. Bahkan, mendorong kolaborasi gabungan dengan berbagai komoditas lain.


Nov 2020

Momentum

“Hampir genap setahun berkolaborasi, geliat investasi makin menggairahkan. Kami akan berkolaborasi untuk meningkatkan trading di Indonesia dan Singapura. Realisasi kolaborasi ini dapat terlihat tahun depan. Strategic partnership ini bisa memberikan win-win solution bagi kedua negara,” tutur Paulus.

Indonesia Trade Flows-Imports GDP (2018)

GDP GROWTH (2008 - 2018)

RANKED 16 OF 196

RANKED 27 of 196

US$ 1.04T

104%

PRODUCT EXPORTS (2018)

PRODUCT IMPORTS (2018)

US$ 197B

US$ 180B

TO 205 COUNTRIES

FROM 203 COUNTRIES

TOP IMPORT PARTNERS

TOP IMPORT PRODUCTS Refined Petroleum 8.9% China 24%

Others 42%

203 COUNTRIES

Crude Petroleum 4.6%

$180B

Singapore 14%

Singapore Japan Thailand

Telephones 1.9% Petroleum Gas 1.5%

Others 81.0%

Japan South Korea 9% Thailand 5% 6%

China

Vehicle Parts 2.1%

South Korea

Others

Refined Petroleum Telephones

Crude Petroleum Petroleum Gas

Vehicle Parts Others

Indonesia Trade Flows-Exports GDP (2018)

GDP GROWTH (2008 - 2018)

RANKED 16 OF 196

RANKED 27 of 196

US$ 1.04T

104%

TOP EXPORT DESTINATIONS

PRODUCT IMPORTS (2018)

PRODUCT EXPORTS (2018)

FROM 203 COUNTRIES

TO 205 COUNTRIES

TOP EXPORT PRODUCTS Coal Briquettes 11.2%

China 14%

Others 51%

US$ 197B

US$ 180B

205 COUNTRIES

Palm Oil 8.5%

Japan 10%

$197B United States 10%

Others 69.8%

India Singapore 8%

Petroleum Gas 5.5% Crude Petroleum 2.8% Rubber 2.2%

7% China

Japan

United States

India

Singapore

Others

Coal Briquettes Crude Petroleum

Sumber: Observatory of Economic Complexity, 2018

Palm Oil Rubber

Petroleum Gas Others


Nov 2020

Global Palm Oil Production and Exports • Indonesia is the world’s largest producer of palm oil Indonesia Palm Oil Export by Major Destination

GLOBAL PALM OIL PRODUCTION (UNIT: 1000MT) Nigeria, 1,015, 2%

Momentum

Colombia, 1,670, 2%

Others, 6,013, 8%

6.3

China

Indonesia, 43,500, 58%

India

3.1 3

1.5 2.1

Middle East

1.3

Pakistan 0.8

Bangladesh

0.6

2.5

2.5 2.2

1.3

United States

Source: USDA

5.8 5.7

2.7

Africa

Malaysia , 19,300, 26%

1.4 1.5 1.4 1.4 7.2

Others

4.1 0

1

2

3

2020 td July

Sumber: United States Department of Agriculture, 2020

7

5.2

3.2

EU

Thailand, 3,100, 4%

8.2

2.6

4

5

2019

6

2018

7

7.7 8

Mn Ton

9


Nov 2020

Momentum

Memahami Inovasi dalam Konteks CI-EL dan Kinerja Konsep inovasi telah menjadi bahasan penting para ahli. Hal ini menegaskan bahwa inovasi merupakan napas dari perusahaan. Apa yang terjadi bila kita berhenti bernapas? Oleh Jacky Mussry Deputy Chairman, MarkPlus, Inc. CEO, MarkPlus Institute


Nov 2020

Momentum

Istilah inovasi sudah dikenal sejak lama. Menurut Online Etymology Dictionary kata inovasi mulai dikenal sekitar tahun 1540-an dari kata innovacion yang berarti restorasi (restoration) atau pembaruan (renewal) yang berasal dari kata Latin innovationem yang merupakan past-participle dari kata innovare yang artinya to change, to renew. Bila dipecah lagi, ada penggalan kata in (dalam bahasa Inggris artinya into) dan novus (dalam bahasa Inggris artinya new). Singkatnya, kata itu memiliki arti perubahan baru, variasi eksperimental, hal baru yang diperkenalkan dalam suatu tatanan yang mapan. Inovasi memilik banyak sekali definisi tergantung interpretasi yang mendefinisikannya. Suatu komunitas Idea to Value mempublikasikan tulisan Nick Skillicorn yang mencoba mengumpulkan dari berbagi sumber terkait definisi inovasi. Skillicorn berbicara dengan 15 pakar inovasi terkemuka dunia untuk mendapatkan definisi mereka. Ternyata, variasi definisi mereka sangatlah beragam dan bahkan mengejutkan. Di antara semua jawaban yang didapat, Skillicorn melakukan analisis hal-hal yang terkait dengan definisi yang dikumpulkannya dari kelimabelas pakar tersebut. Dia mendapati bahwa 60% mengaitkan definisi inovasi dengan memilik suatu gagasan, 60% mengaitkannya dengan mengeksekusi suatu ide, 40% terkait dengan mengatasi tantangan nyata, 40% terkait


Nov 2020

Momentum

dengan menambah nilai bagi perusahaan, dan 40% dengan menambah nilai bagi pelanggan. Lalu 13% mengaitkannya dengan bergerak maju atau ke depan dan 7% mengaitkannya dengan memasuki pasar baru. Menariknya, ada 27% menunjukkan interpretasi definisi yang berbeda perspektif dan 13% malah menunjukkan ketidakpentingan definisi. Para pakar memberikan definisi yang sangat menarik. Burkus misalnya mengatakan bahwa kreativitas—kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dan berguna—adalah benih inovasi, tetapi jika tidak diterapkan dan diskalakan, masih hanya berupa sebuah ide belaka. Shapiro mengungkapkan bahwa inovasi adalah tentang bagaimana untuk tetap relevan. Alasannya, kita berada di pusaran perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga perusahaan harus selalu beradaptasi dan berkembang terhadap perubahan yang terus menerus tersebut. Foley menekankan pendekatan inovasi pada eksekusi dari ide yang hebat. Hobcraft menyinggung relevansi inovasi bagi pemegang saham dan para pemangku kepentingan sejalan dengan pendapat Shipulski yang melihat bahwa inovasi dapat secara radikal memperbaiki profitabilitas dan juga seperti yang diungkapkan oleh Baumgartner bahwa implementasi dari suatu ide kreatif akan meningkatkan pendapatan dan secara bersamaan dapat menurunkan berbagai biaya. Pendapat


Nov 2020

Momentum

menarik dari Lindegaard yang pada intinya tidak mau mendefinisikan inovasi, bahkan justru menyarankan agar kita harus membatasi penggunaan kata dan istilah inovasi tersebut. Boyd melihatnya sebagai sesuatu yang baru, berguna, dan surprising. Garber memandangnya sebagai penciptaan nilai secara organik yang baru dan bertumpu pada penerapan kreativitas serta hubungan mendalam dengan para pelanggan. Sedangkan Barba melihatnya dari pendekatan diferensiasi. Di antara semua pendapat para pakar tersebut, Skillicorn mencoba mengonvergensikannya dan menawarkan apa yang disebutnya sebagai the ultimate definition of innovation, yaitu executing an idea which addresses a specific challenge and achieves value for both the company and customer. Beberapa bulan belakangan ini, temanteman analis di MarkPlus Institute—yang hampir semuanya termasuk generasi milenial— dilibatkan dalam suatu proyek penting, yaitu mengembangkan konsep CI-EL yang merupakan kependekan dari creativity, innovation, entrepreneurship, dan leadership. Beberapa waktu lalu, di salah satu edisi majalah Marketeers, sudah pernah dibahas mengenai konsep OMNI House yang menjelaskan bahwa harus ada keterkaitan dan keseimbangan antara CIEL dengan PI-PM (productivity, improvement, professionalism, dan management).


Nov 2020

Momentum

Sementara, orang bisa dengan sangat mudahnya menerima logika konsep CI-EL yang dikembangkan oleh MarkPlus Institute tersebut. Namun, ada sebagian juga yang melihatnya sebagai suatu konsep yang masih memerlukan penjabaran lebih lanjut. Karena itu, ada baiknya melalui artikel ini ditunjukkan bahwa sebelum penyusunan konsep CI-EL tersebut sudah ada berbagai studi terdahulu yang melihat kaitan antara inovasi dengan tiga elemen CI-EL lainnya. Selain itu, perlu juga dipahami pengaruh inovasi terhadap kinerja perusahaan yang sudah banyak sekali diteliti dan dibahas dalam berbagi forum baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Inovasi dan Kreativitas Dalam Handbook of the Management of Creativity and Innovation: Theory and Practice, khususnya artikel di bab 18 bertajuk Essentials of the Management of Creativity and Innovation in Education, Business, and Engineering yang ditulis oleh Christian H. Werner dan Min Tang, dijelaskan bahwa pentingnya kreativitas dan inovasi semakin banyak mencuri perhatian meskipun sangat jarang kedua fenomena yang terkait erat ini dibahas hanya dalam lingkup satu buku. Mereka juga mengutip pendapat Zhou dan Shalley (2008) yang menyarankan pemisahan studi kreativitas dan inovasi. Mereka mengutip pendapat Sternberg dan Kaufman (2010) yang memperingatkan


Nov 2020

Momentum

bahwa kreativitas tidak dan tidak bisa hanya tentang duduk-duduk, bertukar pikiran, dan menghasilkan ide-ide imajinatif yang liar. Selalu ada kendala pada kreativitas. Apa yang telah mengubah dunia bukan hanya potensi kreativitas, tetapi kreativitas yang diwujudkan dalam produk fungsional. Apa yang dimaksud oleh Sternberg dan Kaufman di sini secara harfiah adalah apa yang dikenal dalam psikologi organisasi dengan sebutan inovasi. Peringatan Sternberg dan Kaufman mengindikasikan bahwa meskipun kreativitas dan inovasi tampak terkait dengan jelas dan logis namun kreativitas tidak selalu dapat diubah menjadi inovasi karena adanya berbagai kendala. Cambridge Assessment International Education dalam buku panduannya Developing the Cambridge Learner Attributes yang dipergunakan di lebih 160 negara mengungkapkan bahwa inovasi dan kreativitas merupakan hal mendasar untuk semua disiplin ilmu dan aktivitas pendidikan, tidak hanya seni. Inovasi terkait dengan kebaruan—ide, cara, metode, atau produk—yang memiliki nilai. Inovasi merupakan buah dari gagasan, benar-benar menghasilkan, membuat sesuatu terjadi atau menerapkan sesuatu yang baru. Inovasi melibatkan kerja keras untuk memastikan bahwa ide bagus akhirnya dapat direalisasikan. Kreativitas adalah proses aktif yang perlu terlibat dalam inovasi. Proses kreatif adalah inti dari inovasi.


Nov 2020

Momentum

Tulisan Nakano dan Wechsler (2018) bertajuk Creativity and Innovation: Skills for the 21st Century disebutkan bahwa kreativitas dan inovasi merupakan dua konstruksi yang independen, namun saling melengkapi. Mereka juga mengutip pandangan Ribeiro dan Moraes (2014) yang menyatakan bahwa kreativitas saja tidak selalu menghasilkan inovasi. Mereka mengutip pernyataan Zeng, Proctor, dan Salvendy (2011) yang menyatakan bahwa kreativitas membutuhkan sesuatu yang sesuai, ide, wawasan atau solusi yang memecahkan masalah. Sedangkan inovasi membutuhkan ide tersebut untuk diimplementasikan, dalam arti membuat beberapa kemajuan. Pada bagian penutup tulisannya, Nakano dan Wechsler mengutip penjelasan Amabile (1988) bahwa kreativitas digambarkan sebagai determinan terpenting dari inovasi. Işil Kiroğlu (2017) dalam tulisannya yang bertajuk Innovation, Creativity and Education menyebutkan bahwa kreativitas dan inovasi jelas saling terkait. Kreativitas dipandang sebagai sumber inovasi yang tak terbatas. Dengan pandangan seperti ini maka inovasi dapat dipersepsikan sebagai penerapan dan implementasi kreativitas seperti apa yang diungkapkan oleh Craft (2005). Heunks (1998) mendefinisikan kreativitas sebagai pemikiran divergen untuk mendapatkan ide-ide baru, sedangkan inovasi adalah


Nov 2020

Momentum

implementasi teknis dan ekonomi yang berhasil dari sebuah ciptaan. Heunks juga mengutip pendangan Nyström (1979) yang menyatakan bahwa jika kreativitas sebagai masalah pemikiran divergen harus menghasilkan inovasi, maka harus diikuti oleh pemikiran konvergen. Inovasi dan Kewirausahaan Nagaraju dan Reddy mengungkapkan dalam karya ilmiahnya yang dipublikasikan di International Journal of Management, IT & Engineering (2016) bahwa penggerak mikro inovasi adalah kewirausahaan. Kewirausahaan melibatkan inovasi. Mereka juga mengutip definisi paling terkenal tentang kewirausahaan yang diberikan oleh Schumpeter yang mendefinisikan wirausaha sebagai individu yang melakukan kombinasi baru, yaitu inovasi. Menurut Schumpeter, kewirausahaan didasarkan pada aktivitas yang bertujuan dan inovasi sistematis yang tidak terbatas hanya pada pengusaha independen tetapi juga direktur dan manajer perusahaan yang benar-benar menjalankan fungsi inovasi. Elbaz, Binkkour, dan Majdouline (2013) dalam conference paper mereka yang berjudul Innovation and Entrepreneurship: An Empirical Study of Moroccan Firms mengutip Herbig dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa inovasi membutuhkan tiga komponen dasar, yaitu infrastruktur, modal, dan kapasitas


Nov 2020

Momentum

kewirausahaan. Mereka juga mengutip Schumpeter yang menilai bahwa aktivitas kewirausahaan mengandung arti inovasi. Intinya, wirausaha adalah aktor yang menginisiasi dan melaksanakan inovasi. Mereka bertiga juga mempertimbangkan perspektif Drucker (1998) yang mengemukakan bahwa inovasi merupakan inti dari kegiatan kewirausahaan dan berkat inovasi itulah banyak wirausaha melakukan kegiatannya. Pada bagian akhir tulisannya, mereka bertiga menyimpulkan antara lain bahwa kewirausahaan dan inovasi terkait secara positif satu sama lain dan berinteraksi untuk membantu suatu organisasi menjadi makmur. Kewirausahaan dan inovasi saling melengkapi dan merupakan kombinasi penting untuk kesuksesan dan keberlanjutan perusahaan. Peter Drucker dalam bukunya Innovation and Entrepreneurship (1985) sebagaimana dikutip oleh William Gartner mengidentifikasi bahwa inovasi merupakan atribut kunci dari suatu perilaku kewirausahaan. Menurut perspektif Drucker, aktivitas kewirausahaan tentunya menunjukkan keinovatifan. Hubungan antara inovasi dan kewirausahaan juga diungkapkan oleh Suliaman Turay (2017) yang menjelaskan bahwa sebagian orang mungkin berpikir bahwa kedua istilah tersebut maksudnya sama, tetapi menggunakannya secara bergantian (interchangeably) merupakan


Nov 2020

Momentum

suatu kesalahan besar. Turay menjelaskan bahwa meskipun kedua hal tersebut berputar di sekitar ide yang sama namun sangat penting untuk memahami perbedaannya. Inovasi menerapkan kreativitas untuk menghasilkan ide atau solusi yang unik. Pada sisi lain, kewirausahaan berarti mampu menemukan peluang bisnis dengan mempergunakan inovasi dalam membangun peluang tersebut. Turay juga menjelaskan bahwa kewirausahaan menerapkan inovasi untuk mewujudkan impian/gagasan menjadi kenyataan. Singkatnya, pengusaha memanfaatkan peluang untuk menghasilkan uang dari inovasi. Pandangan Davidson (2015) dapat dipergunakan untuk memperkuat pernyataan Turay tersebut. Davidson menyatakan bahwa kewirausahaan merupakan hal yang lebih besar daripada inovasi. Davidson menyontohkan dengan kasus Kodak yang pada suatu masa tidak sekadar memiliki bisnis berbasis film yang berkembang pesat, namun mereka juga menemukan teknologi kamera digital pertama pada tahun 1975. Jadi, sebenarnya Kodak itu inovatif. Namun, alih-alih menyesuaikan bisnis mereka dengan produk dan teknologi baru ini—dan membantu menciptakan dunia digital yang selama ini kita anggap biasa—mereka tetap berpegang pada bisnis lama mereka. Menurut Davidson mereka yang bekerja di Kodak bukanlah wirausaha.


Nov 2020

Momentum

Inovasi dan Kepemimpinan Leif Denti dalam karya tulis ilmiahnya mengenai kepemimpinan dan inovasi dalam organisasi yang dipublikasikan dalam International Journal of Innovation Management (2012) mengungkapkan bahwa seorang pemimpin sebagai fasilitator merupakan faktor yang mendukung tim dan individu saat mereka mengubah upaya kreatif mereka menjadi inovasi. Pada sisi lain, pemimpin sebagai manajer adalah yang mengelola tujuan dan aktivitas organisasi yang ditujukan pada inovasi. Ulasan mereka berfokus pada kapan (variabel moderasi) dan bagaimana (variabel mediasi) kepemimpinan berhubungan dengan inovasi. Denti menyimpulkan bahwa sebagai variabel moderasi hubungan antara kepemimpinan dan inovasi tampak sangat kuat dalam organisasi yang memiliki budaya pendukung untuk inovasi dan di mana struktur organisasi informal dan terdesentralisasi. Sebagai variabel mediasi Denti menyimpulkan bahwa pemimpin dapat merangsang inovasi pada tingkat individu dengan memengaruhi creative self-efficacy. Guillaume Thiollière dan Tiffany Detouillon dalam artikelnya bertajuk What are the characteristics of leaders when managing innovation in organization? A combination of traits and skills (2011) menjelaskan bahwa sekarang ini organisasi berkembang dalam konteks yang dinamis dan kompleks akibat globalisasi. Untuk


Nov 2020

Momentum

menghadapi lingkungan yang kompleks ini, inovasi dikatakan sebagai faktor kunci untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Kepemimpinan adalah salah satu faktor penting untuk mengelola inovasi. Menurut mereka, di perusahaan yang inovatif para pemimpin bertanggung jawab untuk mengelola proyek inovatif dan berusaha membuatnya sukses. Untuk melakukan itu, para pemimpin perlu menggunakan ciri-ciri pribadi yang dikombinasikan dengan keterampilan khusus. Barsh, Capozzi, dan Davidson (2008) dalam artikel mereka berjudul Leadership and Innovation yang dipublikasikan dalam The McKinsey Quarterly menjelaskan bahwa dalam suatu survei global terhadap 600 eksekutif bisnis, manajer, dan profesional, para responden tersebut menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan prediktor terbaik dari suatu kinerja inovasi. Para responden yang menyatakan bahwa organisasinya lebih inovatif dari perusahaanperusahaan lainnya yang berada dalam satu industri yang sama menilai bahwa kapabilitas kepemimpinan di perusahaannya adalah kuat atau sangat kuat. Sebaliknya, para responden yang menyatakan bahwa kemampuan inovasi di perusahaannya berada di bawah ratarata ternyata menilai bahwa kapabilitas kepemimpinan di perusahaannya secara signifikan lebih rendah dan bahkan dalam beberapa kasus sangatlah buruk.


Nov 2020

Momentum

Anteseden Kinerja Perusahaan Telah banyak sekali riset ilmiah yang menempatkan konstruk inovasi sebagai anteseden terhadap kinerja perusahaan. Berbagai riset telah menunjukkan terdukungnya hipotesis bahwa semakin kuat kemampuan inovasi suatu perusahaan maka semakin baik pula kinerja perusahaan tersebut. Tuan dan kawan-kawan (2016) yang melakukan penelitian bertajuk The Effects of Innovation on Firm Performance of Supporting Industries in Hanoi – Vietnam yang dimuat dalam Journal of Industrial Engineering and Management menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kinerja proses, organisasi, dan pemasaran yang inovatif maka semakin baik tingkat kinerja perusahaan. Singkatnya, untuk meningkatkan kinerja inovatif dan perusahaan maka perusahaan-perusahaan pendukung industri harus berkonsentrasi tinggi pada proses, pemasaran, dan aktivitas inovasi organisasi daripada aktivitas inovasi produk. Atalay, Anafarta, dan Savan (2013) dalam paper mereka untuk The 2nd International Conference on Leadership, Technology and Innovation Management yang berjudul The Relationship between Innovation and Firm Performance: An Empirical Evidence from Turkish Automotive Supplier Industry menyatakan bahwa inovasi secara luas dianggap sebagai salah satu sumber terpenting keunggulan kompetitif


Nov 2020

Momentum

berkelanjutan dalam lingkungan yang semakin berubah karena mengarah pada peningkatan produk dan proses. Selain itu, inovasi juga membuahkan kemajuan berkelanjutan yang membantu perusahaan untuk bertahan hidup, tumbuh lebih cepat, lebih efisien, dan pada akhirnya lebih menguntungkan daripada perusahaan noninovator. Studi yang mereka lakukan pada tahun 2011 menunjukkan hasil analisis bahwa inovasi teknologi (inovasi produk dan proses) memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kinerja perusahaan. Studi ini berdasarkan survei terhadap manajer tingkat atas dari 113 perusahaan yang beroperasi di industri pemasok otomotif yang merupakan salah satu industri paling inovatif di Turki. Suhag dan kawan-kawan (2017) dalam penelitian bertajuk The Relationship of Innovation with Organizational Performance yang dilakukan di sektor telekomunikasi mempergunakan variabel bebas inovasi proses dan inovasi produk, sedangkan variabel moderasi mempergunakan inovasi organisasi yang merupakan budaya organisasi. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa inovasi produk, inovasi proses, dan inovasi organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi. Farhang dan kawan-kawan (2018) dalam penelitian mereka berjudul The Impact of Organizational Innovation on the Performance


Nov 2020

Momentum

of Manufacturing Firms through Innovation Capabilities in Process and Product menunjukkan bahwa organisasi dengan lebih banyak inovasi akan lebih berhasil dalam menanggapi lingkungan yang berubah. Mampu menciptakan pengembangan kemampuan baru yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara inovasi organisasi dengan kapabilitas inovasi proses. Ada juga hubungan positif antara inovasi dan kinerja organisasi melalui kapabilitas inovasi proses. Terlihat juga hubungan positif antara inovasi produk dan kinerja perusahaan dan hubungan positif antara inovasi organisasi dan kinerja melalui kapabilitas inovasi produk. Hasil penelitian Farhang dan kawan-kawan sejalan dengan hasil penelitian Anderson dan kawan-kawan (2018) yang bertajuk Innovation and Creativity in Organizations yang pada intinya menyatakan bahwa inovasi dan kreativitas dalam organisasi sangat penting untuk kesuksesan. Penelitian mereka menunjukkan dengan jelas bahwa proses ini menjadi pendorong yang semakin penting terhadap kinerja organisasi, kemampuan beradaptasi, dan bahkan kelangsungan hidup organisasi dalam jangka panjang.


Nov 2020

Momentum

Penutup Dari berbagai penjabaran tadi, dapat dilihat bahwa kapabilitas inovasi merupakan salah satu hal krusial yang harus dimiliki oleh suatu perusahaan untuk tetap kompeten dan relevan dalam lingkungan bisnis yang sangat dinamis. Suatu perusahaan yang kompeten artinya bisa memiliki competitiveness yang pada gilirannya akan dapat membentuk sustainable competitive advantages. Saya sendiri mendefinisikan competitiveness sebagai berikut; “Individuals or organizations who have the competencies built on strong capabilities and effective resources which allowing them to be able to compete with relevant competitors, based on a sound strategy, excellent tactics and productive execution, that in turn provide them with sustainable competitive advantage which ultimately enables them to maintain their long-run existence in a specific domain of competition” Perlu juga diingat bahwa inovasi tidaklah dapat berdiri sendiri dan dalam konteks konsep CI-EL dapat dilihat bahwa masih ada tiga unsur lainnya yang perlu diintegrasikan. Keempat elemen CI-EL tersebut juga masih harus dipasangkan dengan empat elemen PI-PM. Kita memang harus kreatif, namun kreativitas tersebut haruslah menghasilkan suatu produktivitas, inovasi harus menghasilkan suatu improvement (perbaikan) secara signifikan.


Nov 2020

Momentum

Entrepreneur (wirausaha) harus dapat melakukan proses penciptaan nilai (value creation) melalui cara-cara yang profesional. Sedangkan leader harus terus bertumpu pada nilai-nilai (values) sekaligus dapat memahami dan didukung oleh manajemen yang kuat. Ini menunjukkan bahwa paduan antara CI-EL dan PIPM merupakan suatu convergence of dichotomy. Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk tidak lagi membantah sejumlah pemikir terkemuka di berbagai belahan dunia yang telah bersusah payah menulis sekian banyak buku dan secara gamblang menyatakan pendapatnya bahwa kita harus terus berinovasi kalau tidak mau mati. Yes, innovate or die!

“SHAPIRO MENGUNGKAPKAN BAHWA INOVASI ADALAH TENTANG BAGAIMANA UNTUK TETAP RELEVAN. ALASANNYA, KITA BERADA DI PUSARAN PERUBAHAN YANG BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA SEHINGGA PERUSAHAAN HARUS SELALU BERADAPTASI DAN BERKEMBANG TERHADAP PERUBAHAN YANG TERUS MENERUS TERSEBUT.”


O

STRATEGIC MARKETING BATCH 2

20 NOVEMBER 2020 – 23 JANUARI 2021

KEUNGGULAN PROGRAM

SEKILAS PROGRAM Omni Executive MBA in Strategic Marketing adalah program pelatihan yang akan membahas intisari pemasaran stratejik mengacu pada silabus program unggulan studi S2 Executive MBA in Strategic Marketing yang merupakan kolaborasi antara School of Business & Management – Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB) bersama MarkPlus Institute.

Merupakan satu-satunya program eksekutif di Indonesia dalam ranah strategic marketing yang aplikatif

FACULTY MEMBERS FACILITATORS TEAM Program ini sarat denganFACULTY konsepMEMBERS dan tools pemasaran pada TOP ACADEMICIANS OF OF TOP ACADEMICIANS OF EXPERIENCED CONSULTANTS SBM-ITB INC. tataran strategis yang aplikatif disertai dengan berbagai SBM-ITB MARKPLUS, insights terkini. Seluruh sesi akan diselenggarakan secara online agar dapat diakses dengan mudah oleh para profesional maupun entrepreneur dari berbagai latar belakang industri.

Biaya sangat terjangkau dan tidak mengganggu jam kerja peserta

TEAM FACULTYadalah MEMBERS Total durasi program 12 minggu yang FACILITATORS terdiri PROF. dari KUNTORO MANGKUSUBROTO PROF. KUNTORO MANGKUSUBROTO DR.(H.C.) HERMAWAN KARTAJAYA TOP ACADEMICIANS OF EXPERIENCED CONSULTANTS OFChairman of Founder and Founder10 and Chairman of dan ditutup dengan Founder and Chairman sesi-sesi pembelajaran selama minggu SBM-ITB MARKPLUS, INC. School Advisory Council SBM ITB School Advisory Council SBM ITB of MarkPlus, Inc. final project yang harus diselesaikan dalam waktu 2 minggu. Seluruh sesi akan dilaksanakan setiap hari Jumat dan Sabtu masing-masing selama 3 jam pertemuan online.

Setiap sesi terdiri dari pemaparan konsep, pembicara tamu, sesi diskusi studi kasus, dan sesi DR.(H.C.) HERMAWAN KARTAJAYA TOP ACADEMICIANS OF pembahasan case Founder and study Chairman SBM-ITB

FACILITATORS TEAM PROF. KUNTORO MANGKUSUBROTO

DR. AGUNG WICAKSONO

EXPERIENCED CONSULTANTS OF Founder and Chairman of Academic Committee MARKPLUS, INC.

Membantu peserta untuk memahami esensi pemasaran stratejik dalam waktu relatif singkat

FACILITATORS TEAM

EXPERIENCED CONSULTANTS OF MARKPLUS, INC.

Dibawakan dalam Bahasa Indonesia oleh tim fasilitator yang merupakan paduan antara praktisi dan akademisi berpengalaman

FACULTY MEMBERS

of MarkPlus, Inc.

Setiap peserta akan memperoleh sertifikat dari SBM-ITB/MarkPlus Institute (syarat & ketentuan berlaku)

DR. AGUNG WICAKSONO DR. JACKY MUSSRY DR.(H.C.) HERMAWAN KARTAJAYA Academic Committee Founder and Chairman COO, MarkPlus, Inc. ITB MarkPlus Jakarta Campus of MarkPlus,SBM Inc. Dean, Institute

BEBERAPA FACULTY MEMBER

School Advisory Council ITB SBMSBM ITB Jakarta Campus

DR. (H.C.) HERMAWAN KARTAJAYA DR. AGUNG WICAKSONO DR. YOS SUNITIYOSO Founder and ChairmanAcademic Committee Director SBM-ITB Jakarta Campus MarkPlus, Inc. SBM ITB Jakarta Campus

DR. YOSSETIAWAN, SUNITIYOSO YUDO ANGGORO, PH.D DR. JACKY MUSSRY IWAN MBA Director Deputy Director CEO & Dean SBM ITB Jakarta Campus SBM-ITB Jakarta Campus MarkPlus Institute MarkPlus, Inc.

DR. JACKY MUSSRY COO, MarkPlus, Inc. Dean, MarkPlus Institute

PROF. KUNTORO MANGKUSUBROTO Founder and Chairman of School Advisory Council SBM ITB

IWAN SETIAWAN, MBA Chief Executive Officer MarkPlus, Inc.

DR. AGUNG WICAKSONO Academic Committee SBM-ITB Jakarta Campus

Selain yang disebutkan di atas, program ini juga melibatkan banyak faculty members lainnya yang pakar dalam bidangnya masing-masing.

DR. JACKY MUSSRYDR. YOS SUNITIYOSO PRIYANTONO PH.D LiveRUDITO, streaming via Director C-Level Marketer and COO, MarkPlus, Inc. JUMAT 18.30 – 21.30 WIB SBM ITB Jakarta CampusAcademia Dean, MarkPlus Institute SABTU

09.00 – 12.00 WIB

PRIYANTONO PH.D REGISTRATION: IWAN SETIAWAN, MBA RUDITO, BIAYA PARTISIPASI ONLINE C-Level Marketer and Academia MarkPlus, PER PESERTAInc.

RP15.000.000 (BELUM TERMASUK PAJAK 10%)

Registration

HTTPS://BIT.LY/OMNIMBA

INFORMATION:

DR. YOS SUNITIYOSO Director SBM ITB Jakarta Campus

Naya: +62 812 1847 066 nathaya.rattu@markplusinc.com

Learn More


Nov 2020

Outlook

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

Outlook

Perlu Jaga Momentum Transformasi Itu Mutlak Kredit ke Sektor Hijau Genjot Pemasaran Digital

Siap Tancap Gas Lagi


Nov 2020

Outlook

Fast-Moving Consumer Goods

Perlu Jaga Momentum Tren industri makanan dan minuman mulai memperlihatkan pertumbuhan. Namun kembali diterapkannya PSBB bisa menjadi sinyal waspada yang harus diperhatikan. Oleh Ramadhan Triwijanarko, Ellyta Rahma, Clara Ermaningtiastuti


Nov 2020

Outlook

Industri makanan dan minuman mengalami penurunan ketika kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid satu diterapkan pada April lalu. Namun, pada bulan-bulan berikutnya, menurut Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), tren pertumbuhan industri makanan dan minuman terus naik. Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman mengatakan, penurunan pada April dan Mei 2020 merupakan yang terendah. Secara umum, saat ini tren di industri makanan dan minuman sudah mengalami kenaikan. Namun, pada pertengahan September DKI Jakarta menetapkan PSBB jilid dua. “Sudah mulai terlihat pengaruhnya. Ada perlambatan, tetapi tidak separah kondisi yang pertama. Ini trennya agak melandai dan ada tendensi menurun sedikit. Tapi, kami optimistis industri makanan dan minuman akan membaik, khususnya pada tahun 2021,” ujar Adhi pada acara Industry Roundtable yang diselenggarakan oleh MarkPlus, Inc., bulan lalu. COOKING AID CATEGORY IS INCREASING DUE TO PEOPLE STAYING AT HOME AND FESTIVE SEASON. Demand for cooking aid is largely increasing due to combination of people staying at home and festive season Cooking Aid

Q2 vs Q1’20

Q2 vs LY

Soup Stock

+11-20 %

+5-10 %

Meal Maker

+11-20 %

+11-20 %

Flour Mix

+ >20 %

+ >20 %

Soy

+5-10 %

+5-10 %

Chili

+ >20 %

+ >20 %

YTD Jun’20 vs LY

Value

Volume

Minimarket

+11-20 %

+5-10 %

General Trade

+5-10 %

+0-4 %

Hyper/Super

+0-1 %

+0-1 %

Sumber: Kantar World Panel

Category

S/O

SWEET SOY SAUCE CHILLI SAUCE

Consumers tend to shop more in Minimarket

Source : Kantar World Panel

It allows us to enjoy a positive growth from Push and Pull perspectives.

SARDINES

Source : Internal data

Sumber: Internal Data

Home Panel Penetration


Nov 2020

Outlook

Outlook F&B Industry 2021 & Beyond: Actualizing The Post Normal Economy will be better (2020 the worst)

Consumption towards normal mode

Purchasing power of the Medium – Low income class will improve

the Upper Middle class will shop along with the loss of fear in the new normal

Millennials love to try new products & experiences

Consistency of the Government’s Economic Recovery program

2021

1. The economy is still overshadowed by the impact of the recession due to the Covid19 pandemic (IMF Predict global economic growth by 5.4%) 2. Optimistic economic growth will be better than 2020, although it has not returned to the way it was before 2019 3. Export market will be stable or even growing 4. Domestic market grow 5. F&B industry growth is predicted: 5-7%

Sumber: GAPMMI

Ia menilai stimulus yang diberikan oleh pemerintah bisa membantu pertumbuhan industri makanan dan minuman. Apalagi, jika stimulus diberikan secara konsisten, khususnya dalam mendorong daya beli masyarakat. Pada tahun 2021, Adhi berharap konsumsi masyarakat terus meningkat, terutama di kalangan menengah ke bawah. “Kalangan menengah ke atas harusnya sudah berani melakukan konsumsi lagi. Masalah mereka bukan di uang, tapi di ketakutan dan kekhawatiran,” jelas Ardhi. Untuk menyiapkan pertumbuhan pada tahun depan, Adhi mengingatkan pelaku di industri makanan dan minuman melakukan strategi ulang, baik pada produksi, pemasaran, bisnis model, dan metode pembayaran. Ia memperkirakan tahun depan ekspor industri ini cenderung stabil. Pertumbuhan industri makanan


Nov 2020

Outlook

dan minuman akan ada di kisaran 5%-7%. “Tahun 2021 akan lebih baik namun sepertinya belum seperti tahun 2019,” kata Adhi. Para pemain di industri ini melihat adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat dan kemudian menjawabnya dengan beragam strategi. Heinz ABC Indonesia misalnya, melihat permintaan bahan masakan meningkat. Sebut saja kaldu. Dalam satu kategori produk ini saja, perubahannya cukup signifikan. Kaldu mengalami peningkatan penjualan di kuartal kedua tahun ini sebesar 11%-20% dibandingkan kuartal pertama. Hal ini menunjukkan minat beli konsumen masih tinggi. Yang perlu diperhatikan lagi adalah tempat di mana konsumen berbelanja. Volume pembelian di minimarket meningkat sebesar 5%-10%. Sedangkan general trade mengalami peningkatan sebesar 0%-4%. Jumlah ini berbanding cukup jauh dengan hipermarket atau supermarket yang hampir tidak mengalami peningkatan (0%-1%). “Kami melihat kecenderungan konsumen untuk memilih tempat berbelanja yang terletak di dekat rumah. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh kebijakan stay at home dan juga pembatasan mobilitas yang diberlakukan,” ujar Sales Director PT Heinz ABC Indonesia Reynold Pandapotan. Melihat fenomena tersebut, Heinz ABC melakukan beberapa cara untuk menjangkau konsumen. Salah satunya dengan menyediakan


Nov 2020

Outlook

layanan antar. Pada periode Ramadan hingga Idul Fitri tahun ini, Heinz ABC menghadirkan layanan antar ke rumah. Ada dua sisi yang mereka sasar, yaitu general trade dan modern trade. “Kami berusaha adaptif dan agile. Kami harus melihat dan mempelajari data yang ada. Upaya ini dilakukan untuk menjadi lebih reaktif karena kami tahu ada peluang yang bisa kami dapatkan,” tutur Reynold. Menurut Ricky Afrianto, Global Marketing Director PT Mayora Indah Tbk, salah satu tantangan terbesar ada di bagian marketing. Baginya, ada dua aspek yang harus dilakukan pelaku industri makanan dan minuman untuk memulai penjualan secara digital terhadap bisnisnya, yakni logistik dan perilaku konsumen. “Tren pembelian produk FMCG via e-commerce memang meningkat, tapi hal itu tidak terjadi di Indonesia. Dibandingkan dengan China saja, kita ketinggalan hampir 13%. Pangsa pasar makanan dan minuman di platform e-commerce di China sudah mencapai 14%. Sementara, Indonesia masih di bawah 1%,” ungkapnya. Hal ini karena masih mahalnya biaya logistik di Indonesia yang disebakan oleh pembangunan infrastruktur yang belum merata. Di samping itu, perilaku konsumen menjadi faktor tantangan yang utama. Tingginya konsumsi produk FMCG via e–commerce di China dipengaruhi oleh perilaku konsumennya yang terbiasa membeli barang dalam jumlah besar. Sehingga, tidak


Nov 2020

Outlook

masalah jika membayar ongkos kirim 10-20% dari harga barang. Ia mencontohkan Kopi Torabika di China yang dalam sekali beli orang bisa membeli hingga 100 bungkus via e-commerce dengan ongkos kirim seharga satu sampai dua kopi. Di Indonesia, konsumen cenderung terbiasa membeli satu hingga lima bungkus kopi di warung terdekat. “Jadi, saat mereka didorong melakukan pembelian di e-commerce dengan ongkos kirim hingga Rp 10.000 dalam jumlah belanja yang sedikit, akan terhitung sangat berat,” jelas Ricky. Namun, Ricky percaya bahwa digital akan menjadi masa depan setiap industri, termasuk FMCG. Jadi, perlu ada pembelajaran lebih dalam bagaimana menaklukkan pasar digital di Indonesia dengan perilaku konsumen yang demikian. “Untuk itu, saya mengambil konsep MarkPlus yang mengatakan bahwa pelaku industri harus menerapkan omnichannel. Alasannya, sebesar apa pun potensi digital, pasar offline akan tetap menjadi bagian hidup konsumen,” tutupnya.


PERSONAL DEVELOPMENT PROGRAM Training & Certification

CI-EL COLLEGE

THE 4 SIGHTS OF ADAPTIVE LEADER Creativity – Innovation – Entrepreneurship - Leadership

PERSONAL

DEVELOPMENT

PROGRAM

SELF-PACED LEARNING & LIVE WEBINAR

SUMMARY CI-EL

E-MODUL 2 NOV

CI-EL IS THE SECRET OF ADAPTIVE LEADER INDONESIA GREAT 2030

MODULE 1

THE REAL CREATIVITY IS RARE SECRET OF THE CREATIVE PROCESS FINDING YOUR AHA MOMENTUM PRIORITIZING AND VALIDATING NEW IDEAS

E-MODUL 9 NOV

MODULE 2

DESIGN INNOVATION SOLUTION KEYS OF SOLUTIVE INNOVATION DEALING WITH CUSTOMER'S PROBLEM PREPARING TO WIN IN TOUGH COMPETITION

E-MODUL 16 NOV

MODULE 3

ENTREPRENEUR TRIANGLE THE MINDSET OF OPPORTUNITY SEEKER THE ATTITUDE OF SMART RISK TAKER THE PRACTICE OF NETWORK COLLABORATOR

E-MODUL 23 NOV

MODULE 3

LEADING ACROSS GENERATION BECOMING A WOW LEADER LEADING IN DIFFICULT TIMES DEALING WITH DIVERSE GENERATIONS

E-MODUL 30 NOV

SELF-PACED LEARNING: 24/7 - LMS MARKPLUS INSTITUTE LIVE WEBINAR:

10 17 24 01

NOVEMBER NOVEMBER NOVEMBER NOVEMBER

ONLINE TRAINING Rp2,500,000

| | | |

15:30 15:30 15:30 15:30

-

17:00 17:00 17:00 17:00

PACKAGE 3 PEOPLE Rp6,500,000

WIB WIB WIB WIB

9 NOVEMBER – 18 DESEMBER 2020 UNTUK SIAPA PROGRAM INI • Star Contributor dan Future leader • Mid-to-senior business leaders yang ingin mengembangkan dampak dan pengaruh ke organisasi • Individu yang mencari Advance Self-Development • Business Leader yang ingin mengembangkan organisasi

KEUNGGULAN PROGRAM • Wisdom dari Marketing Guru dunia dari mengamati para pemimpin bisnis yang sukses selama lebih 30 tahun • Diajarkan oleh multi-generation faculty member • Diadaptasi dari World-Class learning experience • Insight dari pemimpin perusahaan global atau multinational • Studi kasus dari berbagi perusahaan di Indonesia • 4 Sertifikat partisipasi dan 1 sertifikat kompetensi • Implementasi metode CI-EL di pekerjaan sehari-hari

METODE PEMBELAJARAN

PACKAGE 5 PEOPLE Rp10,000,000

• • • • •

10++ VIDEO MENARIK 4 SESI LIVE WEBINAR BERSAMA FACULTY MEMBER ALAT BANTU ATAU PRAKTIK CI-EL ASSIGNMENT DAN CASE STUDY CAPSTONE PROJECT UNTUK IMPLEMENT CI-EL

PROGRAM FACULTY HERMAWAN KARTAJAYA

JACKY MUSSRY

ARDHI RIDWANSYAH

Founder & Chairman, MarkPlus, Inc. dengan pengalaman konsultansi 29 tahun. Co-author 8 buku bersama bapak pemasaran modern dunia, Prof. Philip Kotler

CEO, MarkPlus Institute. dengan pengalaman konsultansi 24 tahun Doktor (Manajemen Stratejik), Universitas Indonesia

Senior Content Manager, MarkPlus, Inc. Msi. Applied Psychology, Universitas Indonesia

YOSANOVA SAVITRY

GIOVANNI ALEXANDER

Senior Vice President, MarkPlus Institute. MBA, Singapore Managemenet University.

Senior Associate, MarkPlus Institute. International Marketing, Binus University.

Learn More


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur

Siap Kembangkan ASN Jawa Timur Aparatur Sipil Negara (ASN) ditantang untuk semakin produktif, kreatif, dan inovatif dalam menjalankan tugas pelayanannya kepada masyarakat. Hal inilah yang lagi dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kemajuan sebuah daerah dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah faktor sumber daya manusia, dalam hal ini Aparatur Sipil Negara (ASN). Hal ini disadari benar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Demi pelayanan masyarakat yang optimal, diperlukan peningkatan kompetensi ASN dalam menghadapi masa pascapandemi.


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

“KAMI MENGINGINKAN ASN TETAP BERKARYA DAN MELAYANI MASYARAKAT DI MASA PANDEMI DAN SESUDAHNYA. MELALUI PELATIHAN INI, ASN JAWA TIMUR BISA LEBIH PRODUKTIF, KREATIF, SEKALIGUS INOVATIF.” Aries Agung Paewai Kepala BPSDM Jawa Timur

Oktober 2020 menjadi momentum spesial bagi Provinsi Jawa Timur. Pasalnya, provinsi ini melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur memutuskan untuk bekerja sama dengan MarkPlus, Inc. dalam rangka mengembangkan potensi dan kompetensi ASN dengan konsep CI-EL (Creativity, Innovation, Entrepreneurship, dan Leadership) dan Marketing 5.0. “Jawa Timur bisa dibilang menjadi pionir dari pemerintahan yang menggunakan konsep ini. Kami berharap, ini bisa menjadi pengembangan SDM nasional,” kata Hermawan Kartajaya, Founder and Chairman MarkPlus, Inc. Pernyataan ini diamini oleh Aries Agung Paewai, Kepala BPSDM Jawa Timur. Dalam pidatonya, Aries mengatakan pandemi berhasil


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

mengubah pola kerja ASN di seluruh Indonesia, termasuk Jawa Timur. Aturan pembatasan menyebabkan ASN tidak bisa bekerja di kantor secara maksimal. Tapi, mereka harus beradaptasi dengan siap bekerja dari mana saja, termasuk dari rumah. Sayangnya, ada indikasi turunnya produktivitas ASN selama masa pandemi. BPSDM Jawa Timur akan menggunakan konsep CI-EL dan Marketing 5.0 lewat kegiatan kediklatan, pendidikan, dan pengajaran untuk semua lapisan ASN. Menurutnya, kreativitas, berinovasi, jiwa wirausaha, dan kepemimpinan harus dimiliki oleh semua ASN di Jawa Timur. Dengan ini, ASN tetap produktif. Selain itu, konsep Marketing 5.0 yang mengharuskan penggunaan teknologi tanpa melupakan sisi kemanusiaan ditujukan agar ASN mampu beradaptasi secara maksimal menyusul akselerasi digital yang diakibatkan oleh pandemi, termasuk digitalisasi yang mulai diterapkan secara masif pada program pemerintah daerah dan pusat. “Kami menginginkan ASN tetap berkarya dan melayani masyarakat di masa pandemi dan sesudahnya. Melalui pelatihan ini, ASN Jawa Timur bisa lebih produktif, kreatif, sekaligus inovatif,” tambah Aries. Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur menegaskan, nantinya pengembangan SDM di lingkungan pemerintah provinsi akan menghasilkan ASN yang memiliki kepemimpinan dan kemampuan manajemen mumpuni.


Nov 2020 Pemprov Jawa Timur

Penerapan konsep CI-EL dan Marketing 5.0 ini sejalan dengan tujuan Provinsi Jawa Timur yang berencana untuk menjadi pusat inovasi di Indonesia. Hal ini tentu tidak bisa terjadi jika pemerintah daerah tidak membenahi diri dari dalam. Langkah penerapan konsep kerja dan pola pikir yang modern menjadi bukti bahwa Provinsi Jawa Timur, melalui BPSDM Provinsi Jawa Timur siap beradaptasi dan menyongsong era kenormalan baru.


Nov 2020

Outlook

Agriculture

Transformasi Itu Mutlak Turunnya permintaan membuat pelaku industri pertanian harus memutar otak untuk bisa melancarkan bisnis mereka saat dan pasca pandemi. Harus ada inovasi dan cara-cara yang tidak itu-itu saja. Oleh Ramadhan Triwijanarko, Estu Dian Maranti, Clara Ermaningtiastuti


Nov 2020

Outlook

Selama pandemi, sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Pada kuartal ketiga tahun 2020, sektor ini tumbuh hingga 16,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Wajar bila sektor ini diprediksi bisa menolong Indonesia dalam situasi resesi. Untuk mendukung sektor pertanian, Presiden Joko Widodo telah mengimbau agar dibentuk sebuah korporasi petani dan nelayan berbentuk koperasi. “Korporasi petani dan nelayan dibentuk dengan tujuan mendorong produktivitas pertanian, meningkatkan taraf hidup petani, dan nelayan. Selain itu, untuk mewujudkan transformasi ekonomi,” kata Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan dalam acara MarkPlus Industry Roundtable, bulan lalu.

Rincian Biaya Produksi Padi Per Kg (Rupiah) Komponen Biaya

Filipina

China

Indonesia

India

Thailand

Vietnam

Bibit

146

200

39

117

291

114

Pupuk

504

494

273

237

406

354

94

346

268

57

234

226

Buruh lepas

978

127

1,115

655

172

120

Pekerja keluarga

172

655

265

122

169

211

Hewan, alat mekanik, BBM

450

822

130

463

432

211

Irigasi

117

0

26

31

36

2

Sewa tanah

549

988

1,719

510

481

387

Bunga modal

112

3

81

23

18

21

Lain-lain

104

26

164

91

52

34

3,226

3,661

4,080

2,306

2,291

1,680

Pestisida

Total

Keterangan: BBM = bahan bakar minyak Sumber: International Rice Research Institute (IRRI) tahun 2016.

Petani kita kalah bersaing harga dengan negara-negara lain karena biaya produksinya masih tinggi terutama buruh lepas dan sewa lahan.


Nov 2020

Outlook

Winarno menambahkan, kondisi pertanian Indonesia masih kalah saing dengan negara tetangga terutama dari sisi tenaga kerja dan sewa lahan. Biaya produksi padi di Indonesia juga tercatat menjadi yang paling tertinggi dengan Rp 4.080 per kg. Sedangkan negara seperti Vietnam hanya sebesar Rp 1.680 per kg dan Thailand sebesar Rp 2.291 per kg. Industri pertanian dapat dibilang masih padat karya dan teknologi pertanian baru dimaksimalkan pada tahun 2014. Ini termasuk lamban bila dibandingkan dengan petani di Jepang yang telah menggunakan teknologi sejak tahun 1988. Para petani di Jepang dibantu oleh pemerintah untuk memiliki alat mesin pertanian, seperti traktor roda empat, mesin tanam, sampai mesin penggilingan besar. Peran pemerintah memang menjadi sangat penting untuk kemajuan sektor pertanian. Winarno berharap pemerintah Indonesia juga bisa membantu para petani. Meski para petani tidak merasa terganggu dalam proses produksi, tetapi daya beli masyarakat yang turun, terutama di sektor hortikultura sayur dan daging ayam. Akhirnya banyak produk pertanian yang hanya dijadikan makanan ternak dan tidak terjual. Untuk keberlangsungan petani dan nelayan berproduksi, pemerintah bisa membantu dari segi permodalan, teknologi, pemasaran lokal dan ekspor. Pemerintah daerah bisa mewajibkan


Nov 2020

Outlook

rumah makan atau hotel untuk membeli produk petani lokal. “Bantuan sosial untuk petani juga sebaiknya dalam bentuk hasil usaha tani yang dibeli oleh pemerintah dan dibagikan kepada masyarakat,” kata Winarno. Sentuhan Teknologi Salah satu sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi ujung tombak ekspor adalah kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan komoditas yang sangat kompetitif secara global. Karenanya, penting bagi perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit agar sadar akan pentingnya keseimbangan permintaan dan pasokan. Hal tersebut cukup menantang para pelaku industri di tengah situasi sulit akibat pandemi. Menurut Santosa, President Director PT Astra Agro Lestari, Tbk pada enam bulan pertama tahun 2020 atau Januari hingga Juni, ekspor crude palm oil (CPO) mengalami penurunan hingga 11,7%. “Sebagai komoditas, penurunan ini cukup signifikan bagi kelapa sawit. Hal ini disebabkan adanya lockdown dan penutupan banyak pelabuhan di berbagai wilayah, termasuk negara pengimpor kelapa sawit,” kata Santosa. Meski mengalami penurunan pada awal tahun, Santosa optimistis dengan sektor agroindustri yang terus menguat beberapa bulan terakhir. Pasalnya, China dan India mulai kembali mengimpor kelapa sawit dari Indonesia. Di sisi lain, Santosa menekankan pentingnya


Nov 2020

Outlook

transformasi digital di sektor agroindustri. Bukan hanya dari segi logistik tetapi untuk keseluruhan proses bisnis. Dengan digitalisasi, proses bisnis dapat lebih maksimal karena menggunakan data analitik. Penurunan ekspor CPO

11,7% Source data : Gapki, Rerata Januari-Juni 2020

UE -9% China -43% Timur Tengah -18% Negara tujuan ekspor menerapkan lockdown Operational tetap produktif dengan protokol Covid-19

Astra Agro Lestari telah melakukan digitalisasi sejak tahun 2017. Saat ini, perusahaan terus mengembangkan strategi digital mereka mulai dari proses penanaman hingga output dan logistik. “Dengan digitalisasi, kami dapat mengambil tindakan cepat tanpa perlu menunggu hingga closing atau akhir bulan berlandaskan data analitik,” kata Santosa. Astra Agro Lestari akan menerapkan digitalisasi di segi perawatan. Artinya, proses tracking maupun standarisasi akan diterapkan berdasarkan data dan didukung dengan machine learning sehingga memudahkan pekerjaan.


Nov 2020

Outlook

Hal yang kurang lebih sama dilakukan oleh Petrokimia Gresik. Menurut Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo, saat ini perusahaan dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Petrokimia Gresik melakukan inovasi melalui sumber daya yang ada. Inovasi dilakukan dengan melakukan digitalisasi dengan menggunakan big data. Teknologi big data diimplementasikan untuk mengumpulkan data yang selama ini dikumpulkan secara konvensional, seperti keperluan ketersediaan pupuk, survei pasar, dan data hasil panen. Perusahaan juga membuat aplikasi khusus terkait product knowledge, manajemen gudang, logistik, dan tren pasar. “Teknologi tersebut didukung oleh SDM kami yang sudah dilatih. Ini perangkat buat kami dalam melakukan transformasi mengatasi tantangan yang ada saat ini,” jelas Dwi. Terkait transformasi, Petrokimia Gresik membaginya dalam periode jangka pendek, menengah, dan panjang. Jangka pendek untuk penerapan teknologi yang sudah ada seperti di rantai pasokan untuk optimalisasi biaya. Bagi Dwi, integrasi data bisa mengurai silo yang ada dan mempercepat dalam membuat keputusan. “Transformasi menjadi tuntutan yang harus dilakukan karena adanya perubahan. Perubahan itu jawabannya cuman dua, diubah atau berubah. Transformasi bukan tantangan tapi merupakan kebutuhan kita,” tuturnya.


Nov 2020

Outlook

Banking Industry

Kredit ke Sektor Hijau Perbankan harus memaksimalkan penyaluran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke sektor-sektor yang sedang tumbuh. Selain itu, juga bisa membiayai proyek pemerintah. Oleh Ign. Eko Adiwaluyo, Clara Ermaniangtiastuti, Estu Dian Maranti

Untuk membangkitkan ekonomi negara, pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah menganggarkan sekitar Rp 695 triliun. Sekitar Rp 203 triliun dari nilai tersebut berkaitan dengan demand side, sedangkan yang sisanya untuk supply side. Bagaimana bank mengoptimalkan PEN ini? Dalam POJK 11/POJK.03/2020, bank boleh


Nov 2020

Outlook

memberikan restrukturisasi bagi yang terdampak COVID-19. Saat ini, nilai restrukturisasi sudah mencapai Rp 800 triliun. Pemerintah memprediksi angkanya bisa menembus Rp 1.000 triliun. Sektor UKM menjadi target dari restrukturisasi karena sektor ini yang terdampak lebih dulu dibanding korporasi. Segmen korporasi dianggap masih bisa bertahan antara 6-12 bulan. Pemerintah juga meminta OJK memberikan relaksasi pada perbankan yang memberikan restruktrurisasi. Artinya, dengan memberikan restrukturisasi tidak dianggap sebagai kenaikan nonperforming loan (NPL). Sehingga, saat ini tingkat NPL industri perbankan masih 3,22%. Masih terkait dana PEN, pemerintahan memang bisa menempatkan dana tersebut di perbankan, baik bank pemerintah, swasta atau bank daerah dengan bunga murah, tapi wajib disalurkan. Pemerintah juga memberikan jaminan sampai 80% untuk pinjaman hingga Rp 1 triliun melalui Jamkrindo, Askrindo, dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Masalahnya, sekarang ini belum ada permintaan kredit. Menurut Aviliani, Ekonom INDEF dan Komisaris Independen Bank Mega, hal ini mendorong munculnya dua hal yang patut diwaspadai. Pertama, kanibalisme, yakni mengambil kredit di bank lain, tapi tidak tumbuh, hanya pindah saja. Kedua, seolah tumbuh padahal tidak karena hanya menambah kredit UKM yang sedang tidak jalan usahanya.


Nov 2020

Outlook

“Hal ini bisa memicu kenaikan NPL saat pandemi sudah lewat. Jadi, tidak usah memaksa memberikan kredit pada masyarakat dan swasta. Sebaiknya, biayai dulu proyek-proyek pemerintah, sehingga kredit bank tumbuh,” kata Aviliani, pada acara Industry Roundtable: Actualizing The Post Normal: Year 2021 & Beyond. PERGI KE BANK SELAMA Pergi ke PANDEMI Bank selama Pandemi Transaksi hanya dapat dilakukan di… Cabang memiliki protokol kesehatan

24%

Lebih percaya atau aman jika…

23%

Jauh dari tempat tinggal

13%

Ya 55%

TUJUAN TETAP KE BANK SELAMA MASA PANDEMI Print buku tabungan atau rekening…

40%

Mendaftar Internet atau Mobile Banking

27%

Mengajukan komplain / mencari solusi…

22%

Mendaftar / mengambil deposito Mendaftar Kartu Kredit

Mendaftar / mengambil investasi Menanyakan informasi Produk ke CS Menutup rekening

18%

4% 2% 2% 1%

91%

Takut tertular COVID-19

30%

Dekat dari tempat tinggal

Transaksi uang dalam jumlah besar

Semua transaksi perbankan yang saya butuhkan dapat dilakukan…

55%

Tidak 45%

30% 5%

NASABAH YANG KE BANK SELAMA MASA PANDEMI BERDASARKAN USIA 48%

58%

51%

63%

62%

<24 y.o.

25-34 y.o.

35-44 y.o.

45-54 y.o.

>54 y.o.

TRANSAKSI YANG DILAKUKAN DARI RUMAH SELAMA MASA PANDEMI Transfer dana Cek saldo Membayar tagihan (Listrik, PDAM, dsb) Top up saldo E-Wallet (GOPAY, ovo,… Top up saldo E-Money (E-money,… Registrasi Produk Mengajukan komplain / mencari… Menanyakan informasi produk ke CS Produk mata uang asing

79% 76% 63% 59% 26% 25% 13% 9% 8%

Sumber: Industry Roundtable Presurvey Report, MarkPlus, Inc. (2020)

Seandainya, saat ini perusahaan perbankan ingin menyalurkan kredit, maka salurkan di sektor-sektor yang sedang tumbuh, seperti pangan dan kesehatan. Setelah mulai normal, sektor pariwisata dan turunannya bisa menjadi target kucuran kredit. “Pilih sektor dan destinasi yang sudah hijau terlebih dulu untuk diberi kredit,” tambahnya. Terkait resesi, mengacu pada tanda-tandanya Indonesia memang akan masuk ke masa resesi. Terlihat dari dua triwulanan berturut-turut pertumbuhan ekonomi negara ini negatif. Namun, sebenarnya resesi bukanlah hal yang


Nov 2020

Outlook

perlu dikhawatirkan. Apalagi, sejak tahun 2008 hingga saat ini, negara ini sudah melewati 8 krisis. “Jadi, anggap saja krisis ini menjadi bagian hidup kita. Sehingga, dalam hidup harus ada manajemen resiko. Perbankan sudah pasti punya hal ini, tapi individu dan UKM belum menyiapkan manajemen resiko ini. Selalu punya tiga skenario, optimistis, pesimistis, dan moderat,” tambah Aviliani. Kondisi Perbankan Saat ini, dari sisi laba industri perbankan mengalami penurunan karena dengan memberikan restrukturisasi, cash flow dan pendapatan berkurang. Di sisi lain, kredit perbankan hanya tumbuh 1,4% saja. Jadi, problem perbankan adalah kinerja masih bagus, tapi laba berkurang. Sementara itu, Biaya Operasional, Pendapatan Operasional (BOPO) naik karena revenue turun dan di sisi lain cost tetap ada. Namun, untuk bank yang tidak mengandalkan kredit atau punya fee based income tinggi, biasanya BOPO tetap rendah. Meski begitu, industri perbankan tidak bisa disamaratakan karena ada bank Buku 1, Buku 2, Buku 3, dan Buku 4 yang daya tahannya bedabeda. “Sejauh ini BOPO masih bagus, tapi perlu tetap terus melakukan efisiensi. Apalagi, akan ada investasi besar di sektor digital,” tambah Aviliani. Tidak hanya bank umum saja yang kinerjanya


Nov 2020

Outlook

masih bagus, kondisi bank syariah juga terlihat masih stabil. Perbankan syariah yang mengambil porsi 6% dalam market share masih terus mengalami perkembangan. “Kami di perbankan syariah masih tumbuh cukup baik. Bahkan, pertumbuhan yang kami dapatkan secara umum lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional,” tutur Direktur Finance, Strategy & Treasury, PT Bank Syariah Mandiri Ade Cahyo Nugroho. Jika dibandingkan dengan bank konvensional, jangkauan bank syariah lebih terbatas karena jumlahnya yang tidak sebanyak bank konvensional. Lalu, bagaimana bank syariah bisa bertahan di tengah persaingan ini, ditambah lagi dengan kehadiran fintech. Ade menjelaskan, ketika bicara mengenai bank syariah, sebenarnya yang dibicarakan adalah individu. Sebab, ketika menanyakan apakah syariah penting bagi sebuah perusahaan, jawabannya akan lebih kepada rate dan seberapa lama processing time dari financing yang ditawarkan. “Berbeda ketika kami menyasar ke individu, nilai syariah bagi masyarakat Indonesia masih cukup tinggi. Prinsip syariah yang ditawarkan masih relevan untuk mereka. Itulah yang menyebabkan secara umum bank syariah bermain di ritel individual dan menjadi motor pertumbuhan di tengah situasi sulit seperti sekarang ini,” ujar Ade.


Nov 2020

Outlook

Digitalisasi Saat ini, bank-bank buku 3 dan 4 sudah melakukan digitalisasi sebelum pandemi. Jadi, bisa dikatakan perbankan dan lembaga keuangan lainnya disebut yang paling siap menghadapi pandemi. Tapi, tantangan bank cukup berat karena berkompetisi dengan financial technology (fintech) yang nilai peer-to-peer lending sudah sangat besar. “Bank harus mau berkolaborasi dan memiliki ekosistem. Harus ada sharing revenue dan sharing cost. Sehingga, dalam konsolidasi perbankan OJK memberi jalan menuju kolaborasi dengan memberikan ketentuan bila tidak setor Rp 3 triliun bisa masuk ke bank lain atau ada yang bertanggung jawab terhadap ekosistemnya,” jelas Aviliani. Menurut Sis Apik Wijayanto, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia Tbk., pandemi COVID-19 mempercepat proses digitalisasi di seluruh industri, termasuk industri perbankan. Ia mengamini perbankan sebenarnya sudah lama melakukan inovasi digitalisasi, seperti pengembangan mobile banking dan aplikasi perbankan lainnya. “Kami melihat tren perubahan konsumen ke arah digital sudah lama. Sejak tahun 2018, industri perbankan sudah dituntut untuk memiliki mobile banking yang mana sudah interkoneksi dan memudahkan pelanggan untuk bertransaksi di mana saja dan kapan saja,” kata


Nov 2020

Outlook

Sis Apik. Digitalisasi yang sudah dilakukan oleh para pemain perbankan ini membuat operasional bisnis tetap bisa berlangsung selama pandemi. Bank-bank bisa memberikan layanan secara omni ke nasabah. Hal ini sejalan dengan survei yang dilakukan MarkPlus, Inc., bertajuk Pre-Survey Industry Roundtables: Banking Sector. Dalam survei ini terlihat bahwa 55% nasabah masih datang ke kantor cabang sedangkan sisanya, 45% melakukan transaksi lewat kanal digital dari rumah. Nasabah yang ke kantor cabang umumnya bersifat administratif, seperti cetak buku tabungan, daftar kartu kredit, dan lainnya. Sedangkan transaksi yang dilakukan dari rumah, antara lain transfer dana, bayar tagihan, dan sebagainya. Terkait dengan pergeseran perilaku nasabah ini, Sis Apik mengatakan, bank harus memperkuat sistem proteksi. Pasalnya, dengan bergesernya perubahan yang lebih digital ini juga meningkatkan digital attacker. Sehingga di masa pandemi, perbankan juga perlu melakukan proteksi terhadap produk maupun konsumen. “Selain itu, perbankan juga perlu terus melakukan risk assesment karena melihat adanya perubahan profil dan kebutuhan konsumen akibat pandemi. Pelaku perbankan juga perlu meningkatkan kebutuhan likuiditas dan transaksi maupun akusisi,” kata Sis Apik.


Nov 2020

Outlook

Property Industry

Genjot Pemasaran Digital Di tengah masa sulit, para pelaku bisnis properti mulai beralih pada kampanye pemasaran digital. Selain itu, menjaga arus kas menjadi tantangan tersendiri agar operasional bisnis tetap terjaga dan bertahan melewati masa pandemi. Oleh Sigit Kurniawan, Ellyta Rahma, Estu Dian Maranti


Nov 2020

Outlook

Pembatasan sosial selama pandemi mendorong para pelaku bisnis properti memutar otak untuk mencari cara promosi dan transaksi yang paling relevan. Perubahan perilaku belanja ke arah daring mendorong mereka memanfaatkan platform digital untuk pemasaran properti. Salah satu pemain yang menggenjot aktivasi online tersebut adalah Sinar Mas Land. Menurut Alim Gunadi, Managing Director Strategic Business & Service Sinar Mas Land, perusahaannya gencar melakukan kampanye pemasaran secara online. Sebelum pandemi, 70% pemasarannya dilakukan secara offline dan 30% sisanya melalui kanal online. Namun, ketika terjadi pembatasan aktivitas fisik, strategi pemasaran diubah sebaliknya, 70% online dan 30% online.

BIG MOMENTUM IN SURVIVING THE COVID-19 Momentum 1

2

Government Policies & Incentives • •

• •

• • • •

Foreign ownership relaxation Tax incentives • Interest difference subsidies and down payment assistance for low-income people (MBR) • The relaxation of PPh 21 and PPh 25 taxes for various industrial sectors, including construction and real estate Lower BI Rate • Jan’20: 5.00%; Sept’20: 4.00 % Government regulations that can encourage the growthh of property industry

3 •

Changes in Consumer Behavior

Demographic Trend

COVID-19 causes millennials want to have their own house

•

They seek for residential property as their 1 st house, with affordable price

22-29 yo

13%

36%

22%

Stay at home lifestyle Health-oriented Online for everything More seek for open -air space

13% 11%

30-39 yo 40-49 yo

2.0 - 3.0 B

1.3 - 2.0 B

16%

0.6 - 1.3 B

49%

50-59 yo

29%

> 3.0 B 11%

< 0.6 B

Source: katadata.com, Jones Lang Lasalle, Bank Indonesia, 1H 2020

ROAD TO POST-COVID-19

Sumber: Katadata.com, Jones Lassalle, Bank Indonesia, 2020 During SARS in 2003, ERA Wyndham recorded sales dropped by -40% in Singapore but then increased by 147.4% nearly end of pandemic. Indonesia may expect the same as even during pandemic, sales increased by 89% QoQ 1.

Are You Prepared For The Recovery?

Units

As investors are still in wait & see attitude, property market is likely to be dominated by end-user, more specifically 1 st home buyer. Our strategies focus on attracting new customers & retaining the existing ones

•

Recovery

5000

4000

Private Transactions

SARS Period

5905 6000

More digital presence •

7000

3920 3633

Knee Jerk Reaction

Digital marketing: to stay relevant & connected to customers Customer service : Customers can reach us through multiple channels

+ 147.4% 3481

-40.8%

3399

3342

3168

2.

2880

3000

2469

2380

Product diversification •

2605

2000

1407

We listen and do research about the needs of our existing customers & untapped market and to prepare them with suitable product and service.

1000

3.

Strengthening brand values


growthh of property industry

3 •

Demographic Trend

COVID-19 causes millennials want to have their own house

•

They seek for residential property as their 1 st house, with affordable price

22-29 yo

13%

36%

22%

13% 11%

30-39 yo 40-49 yo

2.0 - 3.0 B

1.3 - 2.0 B

16%

0.6 - 1.3 B

49%

50-59 yo

29%

> 3.0 B 11%

< 0.6 B

Source: katadata.com, Jones Lang Lasalle, Bank Indonesia, 1H 2020

Nov 2020

ROAD TO POST-COVID-19 During SARS in 2003, ERA Wyndham recorded sales dropped by -40% in Singapore but then increased by 147.4% nearly end of pandemic. Indonesia may expect the same as even during pandemic, sales increased by 89% QoQ 1.

Are You Prepared For The Recovery?

Units

As investors are still in wait & see attitude, property market is likely to be dominated by end-user, more specifically 1 st home buyer. Our strategies focus on attracting new customers & retaining the existing ones

•

Recovery

5000

3920

4000

3633

Knee Jerk Reaction

Digital marketing: to stay relevant & connected to customers Customer service : Customers can reach us through multiple channels

+ 147.4% 3481

-40.8%

2.

3399

3342

3168 2880

3000

2380

2469

2605

4Q2003

1Q2004

Product diversification •

2000

1407

We listen and do research about the needs of our existing customers & untapped market and to prepare them with suitable product and service.

1000

3.

0

1Q2002

2Q2002

3Q2002

4Q2002

1Q2003

2Q2003

3Q2003

2Q2004

3Q2004

4Q2004

•

Jabodetabek-Banten Landed Residential Sold Unit # of unit sold

Units

89% 2.478

1.229

2.319

0

3.042

2.000

4.

growth

4.000

2Q19

3Q19

4Q19

1Q20

2Q20

Strengthening brand values •

2003 Q1 + Q2 + Q3 + Q4 = 10,386 units transacted

2.257

Outlook

Private Transactions

SARS Period

5905 6000

More digital presence •

7000

100% 0%

More usage of data analytics tool to better understand market & deliver better services Consistently delivering company’s value propositions

More Service Focused •

Continuouslyupgrading our Service Level to improve living comfort of our customer, this is reflected in improvement of SML customer loyalty index

-100%

Source: Era Wyndham Webinar 1Q20, Indonesia Property Watch Report 3Q20

Sumber: ERA Wyndham & Indonesia Property Watch Report 2020

“Bentuk pemasaran produk properti secara digital bisa beragam. Kami menggelar tur virtual hingga menggandeng key opinion leader dan influencer untuk mengomunikasikan produkproduk kami,” ujar Alim Gunadi di acara MarkPlus Industry Roundtable, bulan lalu. Selain itu, kebiasaan konsumen yang saat ini banyak melakukan aktivitas di rumah menjadi salah satu faktor rumah tapak menunjukkan kenaikan penjualan. Survei dari Indonesia Property Watch pada kuartal dua tahun 2020 tercatat penjualan rumah atau landed residential mencapai 2.00 unit atau meningkat 89% dibanding kuartal sebelumnya. “COVID-19 membuat orang membutuhkan hunian yang lebih nyaman lebih sehat, dan mendukung kegiatan bekerja dan belajar dari rumah. Terutama untuk kaum milenial atau first jobber. Ini adalah ceruk yang harus kita ambil,” kata Alim.


Nov 2020

Outlook

Milenial muda di umur 22-29 tahun mendominasi pembelian rumah tapak sebesar 36%, kemudian diikuti oleh millenial umur 30-39 tahun dengan angkat 29%. Sebanyak 49% milenial mencari properti residensial sebagai rumah pertama. Menurut Alim, fenomena ini dapat menjadi momentum pengembang untuk menyediakan rumah dengan harga terjangkau bagi milenial di kisaran Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar. Sinar Mas Land menyiapkan strategi untuk menangkap pasar. Selain menggunakan kanal digital untuk melakukan strategi komunikasi, produk juga disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Asal tahu saja, segmen residensial ini masih menjadi penopang utama penyumbang penjualan selama semester I senilai Rp1,6 triliun atau 57% terhadap total prapenjualan. “Dengan adanya tren demografi tersebut, kami mencoba menangkap pasar milenial. Dari awal kami telah mendesain rumah yang kecil tetapi fungsional khusus untuk milenial. Harganya pun terjangkau dan dibantu dengan program Move in Quickly yang menyediakan berbagai subsidi,” katanya. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BDSE) telah membukukan pra-penjualan sebesar Rp 2,9 triliun sepanjang kuartal pertama tahun 2020. Setara dengan 40% dari target tahunan yang sebesar Rp 7,2 triliun. Hal yang sama juga dilakukan oleh PT


Nov 2020

Outlook

Belaputra Intiland, pengembang Kota Baru Parahyangan di Bandung dan Wiraland Property Group, pengembang properti asal Medan. Keduanya memanfaatkan platform digital untuk memperkuat kampanye pemasarannya. Menurut Ryan Brasali, Direktur PT Belaputra Intiland, kampanye digital cukup memberikan efek berlipat. Pada awal pandemi, penjualan memang menurun. Namun, memasuki Juni, mulai terjadi kenaikan sebesar Rp 15% atau 13% di atas target. Pada Agustus lalu, Ryan mengatakan kenaikan penjualan tembus 200%. “Sampai akhir tahun nanti, kami memperkirakan kenaikan penjualan sebesar 30% dibanding tahun 2019,” katanya. Sementara, Wiraland mengalokasikan anggaran digital 90% dari total anggaran iklan selama pandemi. “Strategi ini juga mampu memperbaiki layanan dengan baik, seperti merespons cepat kebutuhan pelanggan. Termasuk memutus rantai komplain,” kata Antonio Onasio, General Manager Sales & Marketing Wiraland. Jaga Arus Kas Menghadapi kondisi sulit, para pelaku bisnis properti diharapkan memperhatikan arus kas (cash flow) karena tanpa ini, operasional perusahaan akan terseok-seok. Tren penurunan harus disikapi dengan cerdas. Hal ini yang disarankan oleh Paulus Totok Lusida, Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI).


Nov 2020

Outlook

Ia mengatakan, terjadi penurunan 85% untuk mal, okupansi hotel turun 90%, perkantoran turun 74,6%, dan rumah komersial turun 50-80%. “Hanya rumah subsidi yang masih bertahan saat masa pandemi ini. Ini dikarenakan oleh konsumen yang masih antusias terutama di daerah dan anggaran stimulus Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) yang sudah dikucurkan sebesar Rp 1,5 triliun,” ujar Paulus. Meski demikian, sambung Paulus, industri ini terhambat oleh sejumlah hal, seperti potensi konsumen yang berkurang karena pembatasan segmen yang mana karyawan kontrak dan berpenghasilan tidak tetap tidak bisa mengakses. Hambatan lain datang dari masalah teknis layanan perbankan maupun proses akad yang terhambat oleh pembatasan sosial. Menghadapi masa sulit seperti sekarang, Paulus menegaskan pentingnya menjaga arus kas (cash flow). Sebab itu, REI mengusulkan langkahlangkah penyelamatan arus kas untuk jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, misalnya, REI mengusulkan penurunan tarif PPh final sewa tanah dan bangunan dari 10% menjadi 5% selama masa pandemi untuk jangka waktu 1218 bulan. Untuk tarif PPh final jual beli tanah dan bangunan, REI mengusulkan penurunan tarif dari 2,5% menjadi 1%. Terkait Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), REI mengusulkan pengurangan


Nov 2020

Outlook

50% dari PBB yang seharusnya dibayar. Untuk ongkos operasional, REI mengusulkan subsidi pemerintah pada PLN untuk pembayaran beban minimal pemakaian listrik dan pembayaran 50% penggunaan listrik. Sementara, untuk jangka menengah panjang, REI mengusulkan peningkatan ekosistem investasi dan kemudahan berusaha. Terkait hunian berimbang, misalnya, REI mengusulkan ketentuan kewajiban hunian berimbang dihapus dan mengacu pada Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Paulus berharap pemerintah peduli pada industri properti ini mengingat ada empat peran strategis yang diusungnya. Pertama, mendukung pemerintah, seperti berkontribusi pada PDB nasional sebesar 2,7%, penyediaan rumah rakyat dengan rata-rata 250 hingga 300 ribu unit per tahun, peningkatan PAD, dan penerima pajak sebesar 30-70% dari transaksi. Kedua, meningkatkan pertumbuhan industri hulu dengan 175 industri. Ketiga, mendorong pertumbuhan investasi baru. Keempat, berkontribusi pada lingkungan dengan penyerapan tenaga kerja, peningkatan kualitas lingkungan dan ekonomi lokal. “Pemerintah sebaiknya juga mengacu pada data-data mikro di industri properti saat ini akan bisa mengeluarkan kebijakan yang tepat demi pemulihan industri,” pungkas Paulus.


Nov 2020

Outlook

Automotive

Siap Tancap Gas Lagi Industri otomotif Indonesia mengalami pelemahan pada tahun ini. Konsumen memilih menunda pembelian mobil dan motor. Di sisi lain, ada penurunan daya beli masyarakat. Meski begitu, pasar di negara ini masih sangat potensial. Oleh Annisa Bella, Ellyta Rahma, Estu Dian Maranti


Nov 2020

Outlook

Sektor otomotif terdampak signifikan oleh pandemi COVID-19. Tren penjualan mobil dan sepeda motor nasional lesu. Hal ini karena konsumen cenderung memilih mengalokasikan dana ke pemenuhan barang yang lebih mendesak. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan, angka penjualan sepeda motor nasional dari Januari hingga Juli 2020 minus 42% dibandingkan periode yang sama pada 2019. Padahal, pada tiga bulan pertama tahun ini (sebelum pandemi melanda), tren penjualan sepeda motor terus meningkat. Secara berturut-turut, penjualan motor dari Januari hingga Maret, yaitu 462.984 unit, 545.741 unit, dan 561.739 unit. Namun, bulan-bulan berikutnya terjun bebas hingga terparah pada Mei penjualan motor hanya 21.851 unit. Penjualan sepeda motor mulai meningkat ketika PSBB masa transisi diberlakukan. Tercatat, pada Juni 2020, penjualan sepeda motor meningkat lebih dari 669% menjadi 167.992 unit. Berlanjut Juli, terjadi peningkatan penjualan hingga 73,9% dengan angka penjualan 292.000 unit. “Angka penjualan motor pernah menyentuh di atas 8 juta unit pada tahun 2011. Tahun ini, total pasar diperkirakan hanya menyentuh 3,6 juta unit sampai 3,7 juta unit atau turun 42%-45% dibandingkan tahun 2019,” ungkap Sigit Kumala, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda


Nov 2020

Outlook

Motor Indonesia (AISI). Situasi serupa terjadi pada penjualan kendaraan bermotor roda empat. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) memprediksi hanya 600.000 kendaraan roda empat yang akan terjual di tahun ini. Padahal, industri ini berhasil menjual satu juta kendaraan roda empat pada tahun lalu. Kukuh Kumara, Sekretaris Umum GAIKINDO mengatakan, penurunan ini juga terjadi pada penjualan ekspor kendaraan roda empat dari Indonesia. Saat ini, Indonesia telah mengekspor ke 80 negara di dunia. Tahun lalu, Indonesia mengekspor 300.000 unit kendaraan. Tahun ini, angka tersebut diprediksi hanya akan mencapai 175.000 unit kendaraan ekspor. Penurunan daya beli terhadap kendaraan bermotor juga membuat penjualan pelumas kendaraan menurun. Namun, Asosiasi Pelumas Indonesia (Aspelindo) masih optimistis terhadap masa depan industri pelumas di Indonesia. Hal ini dikarenakan pemilik kendaraan tetap harus merawat kendaraan mereka meskipun tidak digunakan. Harapan ini semakin positif dengan keberhasilan ragam inovasi yang dilakukan oleh pelaku industri. Inovasi tersebut di antaranya kejelian pelaku industri memanfaatkan kanal digital untuk melakukan penjualan, dan kehadiran layanan home service yang menyediakan perawatan kendaraan dari rumah. Kedua


Nov 2020

Outlook

inovasi ini menjadi senjata ampuh bagi para pelaku industri untuk tetap melayani konsumen dan survive selama pandemi. “Pelaku industri pelumas harus mulai mengatur ulang target dan strategi, melakukan optimalisasi telemarketing, launching produk secara virtual, menggelar pelatihan daring, menyediakan home delivery service, pemanfaatan aplikasi dan konten daring, serta pembatasan interaksi dengan pihak luar melalui penerapan protokol kesehatan,” ungkap Ketua Aspelindo Andria Nusa. National Motorcycle Market Trend Indonesia Domestic Sales (Excluding Export Sales)

Weakening Global Economy

Europe Economy Crisis -11.8%

8.7%

1.6%

9.6%

-17.6% -8.5%

8,013

7,373

7,064

7,744

7,867

6,480

5,931

1.6%

8.4%

-0.8%

5,886

6,487

6,383

Ytd Jul 2019 vs Ytd Jul 2020 -42%

2,176 In thousand unit

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Sumber: Kemenperin, Diolah AISI

YTD Domestic Motorcycle Market Trend A slight decline in Q1 due to several natural disasters and weakening consumer purchasing power.

January – July 2020 17.9%

600,000 500,000

-78.0%

2.9%

545,741

Motorcycle market in June began to show an increase to 167K

561,739

462,984

73.9%

400,000 669%

300,000

292,205

-82.3%

200,000

167,992

123,782

100,000

21,851

0

Jan

• •

Feb

First Indonesian Coronavirus cases Relaxes loan settlements

Sumber: Kemenperin, Diolah AISI

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Announced large scale social restrictions (PSBB) à factories were asked to stop production


Nov 2020

Outlook

Perubahan Perilaku Pasar Survei yang dilakukan MarkPlus, Inc., bertajuk Industry Roundtable Presurvey Report: Automotive Industry Perspective menunjukkan, terdapat sejumlah perubahan perilaku konsumen yang terjadi di industri otomotif. Para pemain perlu mengantisipasi perubahan ini agar dapat memberikan produk dan layanan yang tepat bagi para konsumen. Mayoritas responden semula berencana membeli kendaraan pada Q1 dan Q2. Namun, berbagai alasan memaksa mereka untuk menunda pembelian. Sekitar 87% responden mengaku menunda pembelian lantaran harus menyiapkan dana cadangan di tengah situasi ini. Sementara, 32% responden mengaku belum terlalu membutuhkan kendaraan karena pembatasan sosial yang dilakukan di sejumlah daerah. Meski demikian, para responden masih aktif mencari informasi. Hampir 70% responden rutin melakukan pencarian melalui internet, atau pun rekan mereka. Yang menarik, sales person ternyata masih memegang peran penting meski di masa pandemi saat ini. “Peran sales person masih sangat diperlukan. Meski calon pelanggan dapat mencari informasi sendiri melalui internet, mereka masih lebih percaya dengan informasi dari sales person. Informasi yang diperoleh melalui sales person dianggap memiliki tingkat validasi yang


Nov 2020

Outlook

lebih tinggi. Tak jarang, mereka melakukan pencarian di internet, kemudian mencari validasi hal tersebut kepada sales person,” ungkap James Djoni, Senior Business Analyst MarkPlus, Inc. Pada sisi after sales, mayoritas pelanggan yang memiliki mobil dan motor tetap melakukan servis, terutama di bengkel resmi (63%). Jumlah servis di bengkel resmi pada survei ini meningkat dibandingkan riset terdahulu pada First Wave Industry Roundtable Presurvey Report. Hal ini lantaran mereka tidak mau mengambil risiko jika harus beberapa kali mengunjungi bengkel. Dengan memilih bengkel resmi, para pemilik kendaraan memperoleh kepastian layanan yang aman dan berkualitas. Selain itu, mayoritas responden lebih banyak membeli spare part di authorized dealer (41%) dibandingkan secara online (19%). Banyak pula dari mereka yang sama sekali tidak membeli spare part (40%). Namun, pembelian spare part yang bersifat fastmoving, seperti oli (85%) masih terus berjalan. Tidak kalah penting, para pemain harus mampu menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Tidak berhenti sampai di situ, praktik ini juga harus dikomunikasikan dengan baik kepada calon pelanggan. Pasalnya, 71% responden mengharapkan penerapan protokol kesehatan dan keselamatan di dealer, bengkel, maupun workshop. Konsistensi layanan juga harus tetap prima dan sesuai


Nov 2020

Outlook

dengan kebutuhan pelanggan (43%). Responden juga mengharapkan diskon dan promosi lain, seperti bundling di tengah situasi saat ini (41%). Ketersediaan spare part (37%) dan jam operasional yang jelas (37%) perlu diperhatikan untuk diinformasikan dengan baik kepada para pelanggan. “Para responden berharap, mereka dapat melakukan pemesanan dan konsultasi terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi. Mereka juga ingin memastikan ketersediaan produk yang mereka inginkan sebelum memutuskan datang ke lokasi dealer atau bengkel. Virtual consultation dapat menjadi solusi,” ujar James.

SSpare Part Buying Behavior (N = 68)

Spare Part Purchase Authorized Dealer 41%

None 40%

Online 19%

Parts Purchased Oil

85%

Battery

24%

Brake Pads

24%

Tire

32%

Variation

30%

Sumber: Industry Roundtable Presurvey Report, MarkPlus, Inc. (2020)

Perubahan perilaku konsumen ini telah lama diamati dan diantisipasi oleh Toyota Astra Motor (TAM). Perusahaan ini berhasil menjaga angka permintaan di tengah kondisi yang tidak mudah berkat kemampuan perusahaan dalam melakukan transformasi digital.


Nov 2020

Outlook

Salah satu hal yang dilakukan adalah menyelenggarakan virtual expo yang melibatkan semua dealer di Jakarta pada Juli lalu. TAM juga bekerja sama dengan Google menggelar pameran otomotif online, Indonesia Otomotif Online Festival. Menariknya, TAM mengaku memperoleh hasil penjualan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil pameran langsung yang umum diadakan di pusat perbelanjaan. “Pada gelaran virtual event Juli lalu, kami menghasilkan 220 unit Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) dalam waktu dua hingga tiga hari. Sementara, pada Indonesia Otomotif Online Festival, kami mencetak 660 unit SPK. Ini fenomena yang menarik. Digitalisasi memang telah menjadi tools marketing yang harus kita terus pelajari dan kembangkan terus menerus,” jelas Marketing Director Toyota Astra Motor Anton Jimmi Suwandy. Tantangan yang lebih besar diperkirakan akan melanda industri otomotif di Indonesia. Menyusul ketentuan baru mengenai pajak berdasarkan emisi gas buang, pelaku industri disarankan untuk bersiap dan mulai menyesuaikan produksi dengan ketentuan baru ini. Ketentuan ini didorong dengan rencana pemerintah dalam mengurangi emisi gas buang dari kendaraan bermotor. “Indonesia sendiri sudah masuk ke one million club, yaitu negara yang berhasil memproduksi lebih dari satu juta kendaraan roda empat


Nov 2020

Outlook

per tahun. Potensi ini tentu sangat besar mengingat share yang cukup seimbang `terjadi di pasar. Saat ini, yang diperlukan adalah beradaptasi dengan lanskap industri yang semakin digital dan ramah lingkungan,” tutup Kukuh.


Nov 2020

CMO

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

Outlook

JAKARTA CHIEF MARKETING OFFICER CLUB

The Jakarta CMO Club was officiated by the Philip Kotler Center for ASEAN Marketing (PK-CAM) and was established as a platform to empower marketing to a higher level beyond function. Only highly regarded business and marketing leaders will be invited for its membership. The Jakarta CMO Club was launched on February 25, 2008

Navin Jain Country Manager of Mastercard Indonesia Establishing an Inclusive Digital Economy

Prof Dr Jonathan A.J. Wilson The Branding consultant with two doctorates

MISSION

To Promote the Strategic Role of Marketing in Indonesia

Understanding the Magic Triangle of Advertising, Brands and Social Media Influencers

VISION

To become the premiere community for Marketing Executives who have strong passion for Marketing in Indonesia

TRI-FOUNDERS OF PKCAM

Philip Kotler | Hermawan Kartajaya | Hooi Den Huan

NOVEMBER 2020 www.marketeers.com Email: cmoclub@markplusinc.com www.jakartacmoclub.com


Nov 2020

Navin Jain Country Manager of Mastercard Indonesia

Establishing an Inclusive Digital Economy

Building an inclusive digital economy is a big dream that Mastercard has brought to Indonesia. Under the lead of Navin Jain as Country Manager of PT Mastercard Indonesia, various attempts were made to realize the vision.


Nov 2020

As a professional marketer, Navin has contributed for dozen years to Mastercard’s business in many countries. He has also gone through various economic evolution phases until now he has entered a new phase when society is prepared to become what we knew as a cashless society. Navin brings rejuvenation to the Mastercard business by proposing new initiatives to realize an inclusive digital economy in the country. Together with Annisa Bella from Marketeers, here are several exciting talk points that Navin shared with us. First, let’s talk about your professional journey and association with Mastercard in Indonesia. I have been with Mastercard for more than 13 years. In the meantime, I got in different roles across Dubai, Mumbai, and Jakarta. In May 2020, I was appointed as Country Manager of PT Mastercard Indonesia, and before this role, I was a former Head of the Market Development of PT Mastercard Indonesia. Throughout my journey with Mastercard Indonesia, my goal is to leverage Mastercard’s technologies to accelerate the growth of the digital payments space in the country. I completed my Chartered Accountancy and earned my MBA degree in India. I started my career in Enterprise Technology, before shifting to Banks and finally joining Mastercard in 2007. Every day of my professional life, especially at Mastercard, I feel exhilarated with never a dull


Nov 2020

moment. I was fortunate enough to be part of the industry that has evolved, reshaped, and completely altered the way people live and work in record time. As we know, Mr. Navin has been elected as the new leader for Mastercard. What kind of rejuvenation that you consider bringing into your leadership? It is truly an honor to be selected by our regional leadership to be in charge of our business initiatives in the country. Mastercard Indonesia is already a strong-performing-market under the supervision of Safdar Khan, who is now positioned as Division President for SEA Emerging Markets. I am genuinely humbled by the opportunity Mastercard has provided me. My job isn’t to rejuvenate the operation but rather to continue its upward trajectory and further accelerate Indonesia’s cashless agenda. I am also genuinely fortunate to lead such a fantastic team that brings a great blend of commitment, experience, knowledge and youth to the table. Our collective dedications are meant to support the Indonesian government, the regulators, our bank customers and the share of digital payments in consumer and commercial transactions. Those are what fuels my teammates and me here.


Nov 2020

Can you give us a peek into the current business landscape? COVID-19 has driven momentum towards the digital economy in Indonesia and Southeast Asia by necessitating the rapid adoption of digital platforms such as e-Commerce and even accelerated digital and contactless payments. Additionally, the imminent need for social distancing and to minimize contact has brought cashless payments method, especially contactless or “contact-free” payments, to the forefront of consumer’s shopping experience – signaling a “new normal” in payments behavior, especially at checkout counters. Governments are focusing on ensuring the safety and well-being of their citizens to reduce the spread of the virus and simultaneously to help economies digitize to boost recovery. In Indonesia, the government has recognized the need for the digital world and aimed to carry out 10 million micro, small and medium enterprises (MSMEs) to go digital by the end of 2020 to ease the financial burden of the pandemic that these businesses fields are facing. What are the intriguing aspects of Indonesia as a market? Indonesia is one of the most exciting markets in the Asia Pacific for Mastercard. Even before the pandemic, the SEA 2019 E-conomy report by Google Temasek and Bain & Company predicted


Nov 2020

that Indonesia’s internet-based economy is the largest and fastest-growing in Southeast Asia. It is anticipated to cross the US$130 billion mark by 2025. This impacts on the digital payments sector as well, which is expected to show an annual growth rate (CAGR 2020-2024) of 15.7%. Indonesia has also made tremendous progress in leading the people to get into the financial system over the last few years – more than half of Indonesia’s adults are now having a bank account. The continuous rise of the internet and smartphone penetration rates, aggressive infrastructure investments by the government, and a rapidly growing middle class combined with a young and tech-savvy population have made Indonesia one of the world’s most exciting and essential digital markets payments ecosystem.

“Establishing an inclusive digital economy is more than just having businesses turned out into online platforms, and having people purchase and transact money via digital platforms. It is about integrating digital mechanisms and solutions for everyday living that can broaden economic opportunities and having people at all levels of society to enjoy the benefits of a modernized digital economy.”


Nov 2020

The nation’s progress in cashless payments is primarily due to regulators’ commitment to growing the electronic payments landscape and collaborating with companies like Mastercard to bring the best solutions for business and people’s seamless payment experiences. Based on your opinion, what is the biggest obstacle to realizing of an inclusive digital economy in Indonesia? We found out that a tendency to change consumer and merchant affinity for cash is primary obstacle in Indonesia’s journey towards becoming a cashless society. Establishing an inclusive digital economy is more than just having businesses turned out into online platforms and having people purchase and transact money via digital platforms. It is about integrating digital mechanisms and solutions for everyday living that can broaden economic opportunities and having people at all levels of society to enjoy the benefits of a modernized digital economy. Yes, I am looking forward to it. So, what’s the right approach in dealing with these problems? To resolve this challenge, it requires financial institutions and fintech to work together to identify solutions and methods that instill a greater understanding of the safety, convenience,


Nov 2020

and benefits of cashless payments. This will help to boost confidence among consumers and merchants for cashless, especially digital payments, and also give them some peace of mind that their data and transactions are secured from end to end. Could you elaborate a bit about your overarching marketing strategy in Indonesia, especially in a view of the business imperatives and how’s the result? Together with our partners, we have been creating initiatives that incentivize and motivate consumers in Indonesia to optioning for noncash payments for all transactions, no matter how small. Our initiatives have also been designed to keep in mind the changing times and needs due to the pandemic. For instance, Ramadan celebrations this year could not happen with the same rigor and festivities due to the lockdowns and restrictions. At Mastercard, we understand these traditions’ role during such times in keeping values intact and optimism levels up. We overcame the challenges in celebrating Ramadan by bringing specially curated offers, ranging from discounts on food to apparels, with our e-Commerce partners in Indonesia to enable people to access what they need to bring the spirit of Ramadhan home. To complement these offers, we ran a marketing campaign to


Nov 2020

gets cardholders excited about online shopping discounts while encouraging socially conscious behavior to celebrate Ramadan securely at home. We are also evolving our offerings to keep up with the new ways people live and work now. Globally, we used our long-established Priceless experiences platform to ensure consumers can connect with their passions during this time. We adapt our traditional sponsorships, leveraged our partnerships, and created new digital ways of bringing once-in-a-lifetime moments into people’s homes. People will be able to enjoy intimate acoustic musical performances, gameplay insights from the pros, private cooking lessons from celebrity chefs, training sessions with renowned fitness experts, behind-the-scenes tours of some of the world’s most famed destinations, and more, all from the comfort and safety of their homes. What is Mastercard trying to do to seize this opportunity and not lose the momentum? At Mastercard, everything we do is driven by our commitment and vision to create a world beyond cash. We have long said that the digital world’s promise rests on the integrity of the payment ecosystem. We have been actively working, creating, innovating, and collaborating to provide seamless, ubiquitous and secure payments for everyone at any time, anywhere.


Nov 2020

We are accelerating digital payments in Indonesia by leveraging our partnership with Artajasa to bring its state-of-the-art, globally deployed safety, security, fraud monitoring and scoring to bear for all domestic debit card transactions. Additionally, Mastercard is also focused on leveling Artajasa’s capacity and capability in payment transaction processing. More than that, Mastercard is investing in and innovating several new solutions that leverage AI and machine learning, biometric solutions and more robust data analytics to strengthen cybersecurity continuously. What about SMEs? Does Mastercard also carry out specific strategies to target them as a target market? Of course, we are supporting small businesses to improve their journey through Mastercard’s approach, partnerships, products, and solutions. As digital commerce and connectivity continue to grow exponentially, Mastercard is focused on partnering with issuers and digital partners to deliver a seamless digital and innovative experience to SMEs. We also launched educational programs and workshops for merchants, issuers, acquirers, and individuals to help them better harness digital payments’ power and potential and enable them to implement these technologies into their businesses and for their customers.


Nov 2020

As a business leader and a marketer, what do you think of how marketing has transformed? And what’s the outlook of marketing? How is it going to look like? There is no doubt that marketing has transformed over the years, even more so this year. There will be no longer, a marketer’s role about focusing on messaging centered on the perfect product fit or based on bringing the best offers to consumers. A marketer role has evolved to provide greater awareness about the benefits of the products in everyday lives and inspire confidence in a buyer’s decision. To quote our global CMO, Raja Rajamannar, “now is a time to serve, not sell.” Last question, what is the best advice you have received in your career, regarding marketing that you would like to share with other marketers? Marketers need to focus on their decisions and strategies on initiatives that make people feel empowered and secured whenever they are using our products and services. Generating trust and confidence is substantial in communicating our commitment to stand with customers in the harshest times. If it is done successfully, this will ensure customers stay with us for a long time.


PERJALANAN AKAN SEMAKIN MUDAH DENGAN KAI ACCESS Mulai tanggal 16 September 2020 KAI bersinergi dengan Bluebird memberikan pelayanan pesan taksi kepada pelanggan kereta. *Update KAI Access di Play Store/App Store untuk menikmati layanan ini.


Nov 2020

Understanding the Magic Triangle of Advertising, Brands and Social Media Influencers

In a mobile first integrated marketing communications brandscape, the way marketers find ways to grab attention and engineer engagement has never been easier and more challenging at the same time. Because the reality is that consumer attention spans are shorter, and being marketed to, most of the time, is an unwanted intrusion. In this article, I present a new conceptual model - designed to explain the process behind how Brands, Advertising and Influencers can work together to drive consumer purchase intention. Prof Dr Jonathan A.J. Wilson The Branding consultant with two doctorates @drjonwilson www.drjonwilson.com


Nov 2020

Social media influencers are part of the new wave in a marketer’s arsenal of techniques intended to deliver our messages natively and with authenticity - to increasingly distracted, sceptical and opinionated consumers. With their rise as vehicles for marketing promotional activities, the terms of engagement between social media influencers and industry have become more standardised. They are based on a series of metrics, which are used to calculate a return on investment and effectiveness – and usually are evaluated according to an influencer’s number of social media followers, perceived fit, ability to broadcast desired messages to as many consumers as possible, and engagement. Also, more recently, with the growing pool of influencers and data on them, it is apparent that a U-shaped curve exists between engagement and number of followers – where influencers with large or small numbers of followers offer the best returns. Puerto Rican, Laura Arroyo came to London and graduated with a MSc in Digital Marketing from Loughborough University. During her masters degree, she was my student on the Digital Practices for Customer Engagement module, and I was her dissertation supervisor. Her dissertation focussed on micro-influencers and their affects, with regards authenticity, participation, reciprocity, and purchasing behaviour. Following a series of qualitative interviews with heavy


Nov 2020

Instagram users, she found five emerging key themes concerning the relationship between influencers and followers: 1. Inspiration 2. Genuineness 3. Trust 4. Mental health 5. Vulnerability Laura found that one of the reasons people follow micro-influencers is because they have motivational and educational content. Interestingly, participants in her interviews also appeared to hold contradictory views - stating they feel more comfortable purchasing a product that is recommended by a micro-influencer, whilst thinking at the same time that microinfluencers are not always genuine or trustworthy when promoting products and services, because often they portray an unrealistic lifestyle. Currently, we’re working on putting the finishing touches to her findings, which we’ll be publishing in an academic journal. I found this research topic fascinating and it inspired me to think about going even deeper into understanding the flow of decision-making processes, and then attempt to map them out within a conceptual model. When consulting, lecturing or researching, recently I’ve been reflecting on how many of the marketing models that we use need updating – to stay


Nov 2020

in-line with the developments in social media marketing. Digital marketing is no longer a subset of conventional marketing – it is marketing. Furthermore, what we classify and create as advertisements are evolving and expanding. And, our understanding of branding is now much more comfortable with the notion that people (personal branding) right up to countries (nation branding) can and are branded in the same way as happens with companies, products, and services. Let’s look at some of those changes.

Understanding Branding Creating a brand and doing branding, in many ways is so simple, but not necessarily that easy to do well. Because if it was, then everyone who tried to, could succeed in fulfilling its basic remit – to deliver value. If you follow the rules, playbooks, theories, and definitions then they should work - and if you managed it before, then you should be able to do it again.


Nov 2020

But for many brands that doesn’t happen. They become almost like wallpaper - meaning that they don’t make the statement, hold the status, or evoke the feelings that we engineered them for. You wanted to be the focal point of the room and create a piece of iconic art, but all you managed to do was create a covering for cracks in the walls of your business. When this happens, brands are forgotten, and their functional value diminishes. Also, we only hear of the brand success stories and failures after they occur – so are those explanations the real truth, as understood during the journey of creating a brand? In addition, we seldom look at the vast number of average brand performers, who may in fact be doing almost identical things to successful and failing brands. With these thoughts in mind, I came up with the following definitions: A Brand buys you something, which is a blend of tangible and intangible functions. It is a human form of cultural expression, designed to communicate meaning and deliver current or future value, which may accrue over time. Branding is a strategic and concise means of expressing, amplifying, and controlling: who you are, what you do, who you are associated with, and what you own - for competitive gains, using a variety of communication methods and media, that are both collaborative and measurable. By Prof J.A.J. Wilson


Nov 2020

Laura Arroyo, MSc in Digital Marketing

The key word here is value. How you want to define value and from whose perspective is open to your own interpretations, time horizons, and strategic objectives. But what we must hold onto is that brands and branding have to do something that other business functions or activities cannot fulfil, and they have to help you make money or save money – whether you’re a business or a consumer. So for example, I totally get why consumers would buy an expensive branded watch, which is no better at telling the time, but in addition communicates status, success, aligns them with a community, and makes them happy. But if that consumer wanted to step onto the other side of the street, branding themselves and raising their perceived value, then that consumption has to deliver them some form of financial value. We can see this mindset with the rise of influencers and personal branding.


Nov 2020

I discuss these areas in more detail in my new article in the Journal of Marketing Management, called ‘Understanding Branding is Demanding…’ which interestingly also has an entire section written in spoken-word and rhyme. You can catch me reading it out in a video on my YouTube channel, DRJONWILSON.

Is everything an Advertisement? Let’s get real, professionals have kicked against saying this, while in everyday life this is what people actually think: “it’s all advertising”. We can give them technical classifications: Public Relations, sponsorship, endorsements, product placement, events, and now influencers – but really, they’re trying to be and do advertising. By this what I mean is that advertising offers you the ultimate control of your message - but advertisers are only too aware of the trade-off, which is that


Nov 2020

it’s an interruption, they can be annoying, too inyour-face, and people are funny about being told what to do a lot of the time. Therefore, marketers have to use less of these intrusive methods, which they know offer less message control, in order to maintain relevance and effectiveness. Plus, these other methods of marketing communications are becoming increasingly more expensive, contractual, and governed by regulations that essentially make them very similar to advertisements – not to mention the fact that often they are handled by the same departments as marketing communications becomes more integrated. Also, with more companies uploading their adverts on social media platforms like YouTube for free, in addition to the regular paid-for advertising spots: is this content still an advert? Well it looks like one and works like one, so let’s ignore the technical terms, nerds, and academics and just call it an advert. Are Influencers Brands or Advertisements? Social media Influencers were born into a world tired of marketing propaganda. We wanted real people, who dedicate their time for free, offering real personal views, that are authentically their own, with values and principles. Well that didn’t last long did it - before marketers saw a hack and influencers found a hustle and new career path.


Nov 2020

Classification of Influencers and the U-shaped curve • Mega: over 1million [2-5% Audience Engagement (AE)] • Macro: 100K-1million [5-25% AE] • Micro: 1-100K [25-50% AE] • Nano: less than 1K [50% AE] Source: Gartner L2 By Prof J.A.J. Wilson

The reality is that if influencers have millions of followers, then the numbers are so big that they get sizeable engagement. However, microinfluencers also are the ones to watch. They’re much cheaper, they tend to know most of their followers and therefore drive engagement through responding to comments. Following a landmark case, according to the UK Advertising Standards Authority (ASA), anybody with more than 30,000 followers on social media is now defined as a ‘celebrity’ and that means they are governed by advertising codes of conduct, which mean they have to declare any paid agreements and use the designated hashtags indicating this. So, this poses further challenges for those who appear on reality television shows and become overnight successes with a spike in followers – because what they post suddenly comes under this scrutiny, which they may be unaware of.


Nov 2020

So here we go: we’re back to square one, because influencers were supposed to offer us something different to celebrities being paid to promote items. Maybe the motivational talks, memes, LinkedIn posts, and t-shirts were right – everyone’s a celebrity and a brand. Yes and no. Go back to my brand definition and think – are they getting more money, power, and success? So, are influencers brands and producing advertisements? It seems so… The Magic Marketing Triangle Having made the argument for the rise in significance of these three areas, we can see also how in a digital, increasingly mobile first environment, where social media permeates and punctuates many of our everyday behaviours, these three domains have emerged as the engine room driving marketing communications today.

Brand

Consumers Advertising

Influencers

Figure 1. The Magic Marketing Triangle By Prof J.A.J. Wilson


Attitude

Influence

Influencer (i)

Peripheral route

Ai

Central route

Indirect

C ad

Aad DI

Brand (b)

Cb

PI

Ab

II

Advertisement (ad)

Ability

Motivation

Sponsored Message

Ci

Cognition

Nov 2020

Direct

Figure 2. Influencer Dual-Process Mediation Model By Prof J.A.J. Wilson

Understanding the Magic Triangle process of shaping Consumer Behaviour Here, I’d like to present my new Influencer Dual Process Mediation Model, which is an adaptation and blending of the traditional Elaboration Likelihood Model and the Dual Mediation Hypothesis Model of Advertising Processing. Looking in more detail, this model maps out the conditions of cognition (thinking), resulting in elicited attitudes (emotions) and influence - resulting finally in a cued intention, which is an inclination towards making a purchase. But the difference I’m arguing here is that attitudes towards influencers and advertisements follow a double loop, which affects attitudes towards the brand. In addition, the attitudes towards influencers operate independently via a peripheral route, partly eliciting indirect influence.


Nov 2020

In short, assuming that if a consumer notices a message, can be bothered to engage with it, and has the ability to do so: then they have positive, negative, or neutral thoughts, feelings and actions towards that message. Secondly, as with conventional advertising theory, I am saying that attitudes towards advertisements affect the future cognition of brands, and now in addition influencers. Essentially, advertisements are created to serve brands and influencers are there to support this process. But in the beginning, consumers on social media engage with influencers over and above advertisements and brands. However, as consumers become more engaged, this draws associations with the influencer into a cyclical ecosystem, which I’ve called the Magic Triangle. Finally, I’m suggesting that purchase intention can be judged along a blended scale, where at the extremities: • Consumers engaging via a peripheral route (where they are less engaged with the core message and make surface judgements) are more highly involved with influencers than the associated brand • Consumers engaging via the Central route are more highly involved with the brand and its core intended message, than the associated influencer. In contrast to consumer behavioural dichotomies, that argue for rational or emotional


Nov 2020

constructs in explaining the way that consumers process messages: I argue instead that, de facto, all involvement is predominantly emotional due to the way that involvement is elicited both individually and collectively with influencers, advertisements, and brands. Advertisements, brands and especially influencers are designed to elicit emotional responses. Because they use images, videos, colours, music, slogans and descriptions – designed to engage our feelings. Also, this is happening especially where consumers’ interest and preference for processing advertising messages is influencer-led. However, having made this point, influencers, advertisements, and brands also do attempt to evoke rational thought, by driving depth of consumer involvement. This at times may be a form of post-rationalisation and dissonance reducing behaviour, in order to remove cognitive dissonance - that would reduce consumer motivation, ability and therefore cognition. What I mean here is that if consumers are not thinking and feeling to a sufficient level, then they will ignore the sponsored message – but if they are engaged, then consumers create meanings to support their reality. These arguments go some way to explaining the paradoxical opinions expressed by participants in Laura’s dissertation. 2020 is proving to be a truly unique and challenging year - full of sadness and bitter sweetness. It will be the year remembered for


Nov 2020

COVID-19, BlackLivesMatter, Zoom fatigue, staycations, lockdowns, working from home, face masks, spectatorless sporting events and a host of other things. It has accelerated our reliance on mobile devices, consumption of social media, and appetite for asymmetric on-demand media. With the economic pressures that COVID-19 is putting on businesses and drops in advertising revenues, we have to find new and innovative ways to market. My top tip to you all, is get to know how to do video really well, quickly and cheaply – in short, medium, long and really long formats. Try building a pop-up studio, in your workplace or home. Experiment with pre-recorded and live streaming – each of which requires different approaches and techniques. Get smart with using your smart phone – it’s your James Bond gadget.


EEP_MARKETEERS.pdf

1

16/10/20

17.00

T H E F IR S T OM N I -V ERSION EEP

SCIENCE & ART OF SALESFORCE MANAGEMENT Building Winning Salesforce in Unpredictable Market 23—27 NOVEMBER 2020 10.00 - 15.00 WIB

ABOUT THE PROGRAM Di pasar dengan tingkat persaingan tinggi dan pertumbuhan yang tidak menentu akibat lanskap bisnis yang sangat dinamis, tim penjualan akan menghadapi tugas yang lebih menantang untuk mencapai target penjualan. Perusahaan yang unggul berhasil membangun tim penjualan yang fleksibel dengan berbagai pendekatan sales structure, territory management, sales development, sales compensation dan sales performance management yang mendukung. Executive Education Program kali ini akan membahas berbagai pendekatan tersebut melalui metode Case Method and Participant-Centered Learning ala Business School.

WHO SHOULD ATTEND

WHAT YOU WILL GET

First Line Sales Manager Area and Regional Sales Manager Sales Director Sales Human Resources Support Marketing Manager Individuals Who Plan and Implement Sales Strategic Decisions with Minimum Five Years of Experience in Marketing or Sales

How to Redesign the Sales Force for Agile Performance How to Match Sales Force Structure to Business Life Cycle How to Rearrange Territory for Better Productivity How to Get a Better Approach for Profiling & Developing Sales Force How to Design Sales Compensation for Motivating Sales Force

PROGRAM FACULTIES SPECIAL SESSION WITH

FOTO IS

FOTO AR

HERMAWAN KARTAJAYA

JACKY MUSSRY

IWAN SETIAWAN

YOSANOVA SAVITRY

ARDHI RIDWANSYAH

Founder & Chairman MarkPlus, Inc.

Chief Executive Officer MarkPlus Institute

Chief Executive Officer MarkPlus, Inc.

Chief Operation Officer MarkPlus Institute

Senior Content Manager MarkPlus Institute

FEES

DAILY PACKAGE:

RP1,200,000 PER PARTICIPANT PER DAY

5-DAY FULL PACKAGE

RP 5,000,000/PARTICIPANT RP 17,000,000/ 5 PARTICIPANTS RP 13,000,000/ 3 PARTICIPANTS RP 25,000,000/ 10 PARTICIPANTS

Supported by :

ANGGUN : 0812 1233 6502 / ANGGUN.JANNATIN@MARKPLUSINC.COM

Learn More


Nov 2020

Marketeers

Navigator

Adventure

Discovery

Momentum

Outlook

Animale Restaurant Sentuhan Alam di Tengah Kota Product Movie & Music


Nov 2020

Food

Animale Restaurant

Sentuhan Alam di Tengah Kota Konsep unik yang dikemas secara berkelas bisa langsung dirasakan ketika memasuki restoran ini. Tidak hanya memanjakan tamu lewat visual tampilan restoran saja, Animale juga menyuguhkan pengalaman lengkap untuk pancaindra Anda. Oleh Clara Ermaningtiastuti


Nov 2020

Food

Merangkum tiga elemen utama alam ke dalam satu tempat. Inilah konsep unik Animale Restaurant yang tercermin dalam interiornya. Namun, tamu tidak akan mendapatkan hal-hal berbau alam secara orisinal di restoran yang berlokasi di MD Place, Setiabudi ini. Sebaliknya, nuansa modern dan elegan justru sangat kental di setiap sudut restoran yang didesain secara kontemporer. Animale memberikan pengalaman unik untuk tamu dengan memperkenalkan habitat mereka. Pengalaman tersebut bahkan bisa dirasakan tamu sejak tiba di pintu utama restoran. Ocean menyambut tamu di pintu masuk restoran, kemudian perjalanan dilanjutkan ke land yang menawarkan suasana lebih hangat di ruangan yang banyak dihiasi material bebatuan dan bilah kayu.


Nov 2020

Food

Elemen terakhir adalah mountain yang menyajikan konsep al fresco dining, membangun kesan makan bersama di luar ruangan atau udara terbuka. Tema ini oleh Animale disempurnakan dengan pemandangan mengesankan khas ibukota. “Animale ingin memberikan pengalaman makan berkelas dengan atmosfer unik yang bisa memberikan kenangan tak terlupakan. Bukan hanya lewat makanan dan minuman yang disajikan tetapi secara keseluruhan ambience yang dihadirkan,” ujar Chief Marketing Officer MDA Restaurants Astrid Suryatenggara. Bicara mengenai restoran tentu saja makanan menjadi highlight. Untuk hal ini, Animale punya konsepnya sendiri dengan pendekatan pada hidangan Mediterania modern, namun dikembangkan secara progresif dengan sentuhan Amerika. Konsep ini membuat setiap hidangan menjadi lebih terbuka untuk berbagai teknik memasak dan memperkaya cita rasa.


Nov 2020

Food

Mengacu ke tema habitat, Animale menghadirkan pola pembagian menu yang tidak biasa. Jika pada umumnya restoran membagi menu dengan appetizer, main course, dan dessert. Animale membagi dari cara seperti tossed & turned, spread & stuffed, serta rolled & baked. Ada pula pembagian berdasarkan bahan baku yang digunakan seperti pada pasta. Chef Andri Dionysius sebagai chef owner memberikan opsi lebih dari 20 tipe pasta yang diproses langsung from the scratch di restoran ini. Tamu bisa melihat langsung prosesnya di meja kayu besar pada sisi lain ruang makan. Namun, di luar pasta, Animale juga menyuguhkan berbagai pilihan mulai dari finger food hingga makanan yang lebih berat. Para pencinta daging juga memiliki banyak pilihan menu di sini, mulai dari pork chops hingga wagyu dengan berbagai kondimennya.


Nov 2020

Food

“Kami punya pilihan charcuterie dengan dry aged steak yang kami siapkan sendiri dan bisa dilihat sendiri oleh tamu. Kami juga hanya menyajikan pasta yang house made, tamu juga bisa melihat langsung pembuatannya,” tutur Astrid. Animale menerapkan filosofi dari sang owner dalam menciptakan inovasi hidangan yang tidak hanya nikmat tapi juga interaktif. Sehingga, tamu bisa mendapatkan kenangan di setiap kunjungannya. Orisinalitas dari setiap aspek di Animale diyakini bisa membuat tamu ingin kembali ke restoran dengan pengalaman santap yang lain.

ANIMALE RESTAURANT Jl Setiabudi Selatan No. 7 MD Place 11th Floor, Kuningan 12910 HOURS Monday – Saturday : 12.00 – 14.30 17.30 – 22.00 Sunday : 12.30 – 14.30 17.30 – 22.00 PRICE Approx Rp500.000 for two people Without alcohol


Nov 2020

1

All-New Nissan Kicks e-POWER 100% Bertenaga Listrik

Product

Nissan resmi membawa all-new Nissan Kicks e-POWER ke pasar Indonesia. Hadir sebagai compact SUV bertenaga listrik, Kicks e-POWER dibekali dengan teknologi e-POWER. Teknologi ini memungkinkan penggunanya untuk menikmati sensasi berkendara mobil listrik tanpa perlu charger eksternal. Selain itu, mobil ini menjadi model pertama di Indonesia dengan teknologi One-Pedal Operation. Pada sistem e-POWER, roda-roda sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik. Sementara, mesin bensinnya hanya digunakan untuk mengisi baterai dan mengalirkan listrik untuk motor. Secara spesifik, All-New Nissan Kicks e-POWER dilengkapi dengan motor listrik EM57.


Nov 2020

Product

Mesin ini didukung dengan generator dan inverter yang menghasilkan tenaga listrik dari daya yang dihasilkan oleh mesin 1,2 liter DOHC 12-valve tiga silinder. Sistem e-POWER menawarkan tenaga maksimum 95 kilowatt (kW) (129 PS), torsi maksimum 260 Nm, dan baterai lithium-ion. Alhasil, tenaga instan layaknya mobil listrik dan efisiensi bahan bakar bisa didapat dari mobil seharga Rp 449 juta on the road (OTR) DKI Jakarta ini.


Nov 2020

2 Xpander Cross Rockford Fostagate Black Edition

Hitam Nan Elegan

Product

MMKSI mengeluarkan varian terbatas untuk Xpander dan Xpander Cross, yakni Mitsubishi Xpander Cross Rockford Fosgate Black Edition yang hanya tersedia 500 unit. Lalu, Mitsubishi Xpander Black Edition hanya dipasarkan 1.000 unit di seluruh Indonesia. Dua-duanya akan tersedia di pasar pada awal November 2020. Mitsubishi Xpander Cross Rockford Fosgate Black Edition memiliki ubahan pada bagian eksterior dan interior yang didominasi aksen hitam. Pada sisi eksterior, penyematan aksen hitam dan perubahan dapat ditemukan pada front lower bumper, rear lower bumper, alloy wheel, door mirror, beltline molding, roofrail, dan penyematan emblem “Rockford Fosgate Black Edition”.


Nov 2020

Product

Sedangkan ubahan pada bagian interior secara signifikan terdapat pada penyematan Premium Audio Rockford Fosgate (subwoofer dan amplifier), warna hitam pada interior dan jok kulit, serta aksen panel door trim dengan geometric pattern. “Kedua produk ini memiliki tagline, Adventure in Black. Menyasar konsumen pasangan dan keluarga urban yang aktif dan menikmati hidup, dengan karakter berjiwa petualang yang ekspresif, stylish, dan sporty,” kata Irwan Kuncoro, Director of Sales & Marketing Division PT MMKSI. Berapa harga yang dipatok? Xpander Cross Rockford Fosgate Black Edition dilengkapi transmisi otomatis, dan tersedia dengan dua pilihan warna, yakni quartz white pearl dan graphite grey, dan dipatok Rp 304, 7 juta on the road (OTR) DKI Jakarta.


Nov 2020

3

New Toyota Fortuner

Lebih Fresh

Product

Mengisi segmen Sport Utility Vehicle (SUV) 7 kursi, New Fortuner mendapat pembaruan di bagian eksterior, interior, fitur, dan berbagai fungsi di dalam mesin. Penyegaran rupa terlihat pada New Front Bumper Design, New Radiator Grille Design, New LED Head Lamp Design, New LED Fog Lamp Design, serta penambahan ornament chrome pada bumper, grille, dan fog lamp. Tidak hanya mewah, New Fortuner dilengkapi pula dengan fitur yang memanjakan penumpang. Mobil ini juga memiliki fitur wireless charger yang memberikan kemudahan isi ulang baterai smartphone tanpa kabel, termasuk fitur NFC dan Smartphone Connection di varian VRZ, SRZ dan TRD.


Nov 2020

Product

New Fortuner juga menyematkan safety feature, baik untuk model 4×2 maupun 4×4 yang sangat mumpuni di medan off-road. Aplikasi Variable Fluid Control (VFC) pada power steering tipe TRD Sportivo, VRZ, dan G membuat mobil ini mudah dan nyaman dikendalikan di berbagai tingkat kecepatan, termasuk saat manuever di medan berat. Hill Start Assist (HSA), Vehicle Stability Control (VSC), Emergency Brake Signal (EBS), Trailer Sway Control (TSC), Traction Control (TRC) juga terdapat di semua model. Tipe VRZ 4×4 memperoleh tambahan fitur Limited Slip Differential, sedangkan 7 Airbags terdapat di tipe VRZ 4×4 dan G 4×4. Soal tenaga, mesin 2GD-FTV 2.400 cc yang sanggup menghasilkan tenaga 149.6 PS dan torsi 40.8 kgm memeroleh sentuhan berupa penggunaan sistem pendingin air di rumah kompresor turbo. Perangkat ini untuk menurunkan suhu udara yang akan ditekan ke dalam ruang bakar sehingga tekanan udara meningkat. Langkah meningkatkan efisiensi mesin berikutnya adalah adopsi electronically controlled common-rail injection system dengan tekanan hingga 250 MPa yang membuat mobil yang dibanderol mulai dari Rp 504,9 juta ini semakin irit bahan bakar.


Nov 2020

More Than Family

Pencarian Sang Ayah

Oleh Estu Dian Maranti

Movie & Music

To-il, seorang mahasiswi berumur 21 tahun hamil di luar nikah dengan pacarnya yang baru berumur 19 tahun. Setelah lima bulan menyembunyikan kehamilannya, To-il akhirnya memberitahu sang ibu dan ayah tirinya bahwa ia akan hamil dan akan menikah. Namun, sebelum menikah ia bertekad untuk mencari ayah kandung yang tidak pernah ia temui sejak umur lima tahun. Film terbaru dari Krystal Jung ini menjadi salah satu film Korea yang paling dinanti. Pasalnya, More Than Family ditayangkan pada festival film bergengsi Busan International Film Festival untuk kategori Korean Cinema Today-Panorama. Film ini rencananya akan tayang di bioskop pada bulan November.


Nov 2020

Ma Rainey’s Black Bottom

Mother of the Blues

Oleh Estu Dian Maranti

Movie & Music

Ma Rainey’s Black Bottom, sebuah film adaptasi naskah dari penulis legendaris August Wilson tentang perjalanan Gertrude Ma Rainey akan tayang bulan November. Bersama dengan Viola Davis yang memerankan Rainey, film ini menampilkan Chadwick Boseman sebagai pemain trompet bernama Leeve. Ma Rainey’s Black Bottom juga akan tayang di Netflix pada 18 Desember 2020. Cerita film akan mengikuti perjalanan Rainey dengan sekelompok musisi saat mereka mengerjakan sesi rekaman di Chicago pada tahun 1927. Dikenal sebagai Mother of The Blues, Rainey merupakan salah satu artis blues AfrikaAmerika yang berhasil merekam karyanya.


Nov 2020

Bon Jovi

2020

Oleh Clara Ermaningtiastuti

Movie & Music

Penggemar Bon Jovi akan mendapatkan sensasi musik berbeda dari 2020. Pasalnya, kali ini Bon Jovi menyuguhkan banyak tembang bernuansa ballad, salah satunya Story of Love. Namun, tidak melepaskan ciri khasnya, Bon Jovi menambahkan dua lagu pada album yang seharusnya rilis 15 Mei lalu yaitu American Reckoning dan Do What You Can yang menjadi ajakan solidaritas di tengah pandemi.


Nov 2020

LANY

mama’s boy

Oleh Clara Ermaningtiastuti

Movie & Music

LANY menunjukkan sisi lain yang lebih karismatik lewat album terbaru mereka, mama’s boy. Jika lagu-lagu sebelumnya banyak bercerita tentang patah hati, kali ini mereka menyajikan kisah yang kian beragam. Seperti pada if this is the last time, vokalis LANY Paul Jason Klein menyampaikan surat cinta kepada orang tuanya dengan iringan lembut musik ballad.


Nov 2020

Mariah Carey

The Rarities

Oleh Clara Ermaningtiastuti

Movie & Music

Sangat pas rasanya jika The Rarities disebut rangkuman dari karier sang diva. Pada album kali ini, Mariah Carey menawarkan 32 lagu hasil kompilasi dari beberapa karya yang belum pernah dirilis sebelumnya dan B sides yang kurang mendapat perhatian. Tidak hanya bisa menikmati suara yang extraordinary, pendengar juga bisa melihat evolusi bermusik Carey.


Nov 2020

Travis

10 Songs

Oleh Clara Ermaningtiastuti

Movie & Music

Penggemar alternative pop kini mendapatkan opsi baru selain Halsey atau Lorde. Penyanyi asal New Zealand, Navvy memperkaya diskografinya dengan album The Final Pieces dengan empat lagu di dalamnya. Navvy menyajikan kualitas vokal apik dan cerita menarik di setiap lagu, pada Somebody Else, pendengar dapat menikmati tempo lebih cepat dan chorus yang catchy untuk measa lebih chill.


Learn More


Learn More


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
November 2022 by Satrio Kusuma - Issuu