Skip to main content

monster monster ganas dan menemukan pondok pesantren

Page 1


kata pengantar

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang dengan kehendak-Nya cahaya dan kegelapan diciptakan, kehidupan dan kehancuran berjalan beriringan, serta manusia diuji bukan hanya dengan nikmat, tetapi juga dengan akibat dari perbuatannya sendiri. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan bagi umat manusia, yang mengajarkan keseimbangan antara akal, iman, dan tanggung jawab terhadap alam semesta.

Novel ini disusun sebagai sebuah kisah fiksi yang menggambarkan ketakutan, penyesalan, dan kesadaran manusia ketika berhadapan dengan kekuatan yang selama ini mereka abaikan. Kota, yang sering dianggap sebagai simbol kejayaan dan kecerdasan manusia, dalam cerita ini ditampilkan sebagai saksi bisu dari kesalahan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui cerita ini, penulis tidak bermaksud menakut-nakuti, melainkan mengajak pembaca untuk merenung—bahwa segala sesuatu yang ditekan, disembunyikan, dan dikubur tanpa kebijaksanaan, suatu saat akan meminta pertanggungjawaban. Bahwa alam bukanlah musuh, namun juga bukan sesuatu yang bisa diperlakukan tanpa batas.

Semoga kisah ini dapat diambil sebagai pelajaran, bahwa kekuatan sejati manusia bukan terletak pada seberapa tinggi ia membangun, melainkan pada seberapa dalam ia memahami batasannya.

Dengan mengharap ridha Allah SWT, novel ini dipersembahkan kepada para pembaca

Bab 1 – Auman dari

Kedalaman

Metrovale terbangun bukan oleh cahaya pagi, melainkan oleh ketakutan.

Pukul 02.17, Maya Ardent terjaga di kursi operator pusat panggilan darurat. Lampu

neon di atasnya berkedip pelan, seperti kelelahan menjaga kota yang tak pernah

benar-benar aman.

Lalu suara itu datang. Bukan ledakan.

Bukan sirene.

Melainkan auman panjang, dalam, dan berat —seperti suara bumi yang dipaksa berbicara.

Semua layar bergetar. Panggilan masuk serentak.

“Tol—tolong… ada sesuatu di jalan—”

“Gedungnya retak—”

“Ini bukan gempa—”

Sambungan terputus satu per satu. Lampu mati.

Dan Metrovale memasuki kegelapan yang tidak alami.

Bab 2 – Retakan Kota

Jalan utama di distrik pusat terbelah seperti luka lama yang dibuka kembali. Dari dalamnya keluar bau tanah lembap, busuk, dan kuno—bau dunia yang seharusnya tetap terkubur.

Makhluk pertama muncul tanpa suara.

Terlalu tinggi. Terlalu besar. Terlalu salah.

Matanya menyala pucat, menatap gedunggedung seolah mengenali mereka. Saat ia

melangkah, aspal merintih. Kaca gedung pecah bukan karena benturan, melainkan karena tekanan keberadaannya.

Orang-orang tidak langsung berlari. Ketakutan membuat mereka diam.

Dan diam adalah undangan.

Bab 3 – Para Penyintas

Maya melarikan diri bersama tiga orang asing yang nasibnya saling bertaut:

Jonah Kallum, insinyur struktur kota, yang wajahnya pucat bukan karena monster— melainkan karena ia mengenali pola kehancuran.

Lena Maris, relawan medis, tangannya berlumur darah orang lain, suaranya tetap lembut di tengah neraka.

Rafe Donovan, mantan tentara, senjatanya terangkat tapi jarinya gemetar.

Mereka bergerak lewat lorong bawah tanah.

Di sana, suara tidak menggema—ia berbisik.

Lena menutup telinganya.

“Aku dengar suara,” katanya. “Tapi bukan di telinga.”

Rafe berhenti mendadak.

“Itu bukan kita yang berjalan,” bisiknya.

Bayangan besar bergerak di ujung lorong.

Kota kembali menjerit.

proyek pengeboran puluhan

Bab 4 – Kota yang Dipilih

dipimpin oleh Dr. Elias Verne, seorang geologi.

Di menit ke-43 rekaman, suara berhenti.

Lalu terdengar suara lain. Bukan manusia.

Catatan resmi menyebutnya gangguan akustik.

Lubang itu disemen. Proyek dilanjutkan.

Makhluk-makhluk itu tidak dibunuh.

Mereka dikubur hidup-hidup

Kota ini pernah sunyi. Kota ini pernah gelap.

Lalu manusia datang… dan menggali terlalu dalam.

Bab 6 – Gerbang Inti

pengaman. Tidak menyerang. menghalangi.

Seolah menunggu keputusan.

Maya mengerti sesuatu yang

dadanya sesak: Makhluk itu tidak memaksa.

Ia hanya membiarkan manusia kesalahan terakhirnya.

Maya menekan tombol itu.

Bab 7 – Kejatuhan

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
monster monster ganas dan menemukan pondok pesantren by Muhammad Fakhrul Tarmidzi - Issuu