Skip to main content

Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Era Digital

Page 1

APLIKASI SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI ERA DIGITAL


UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i. Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv. Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).


APLIKASI SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI ERA DIGITAL

Ir. Maman Suryaman, M.T. Ir. Edi Kusniadi, M.P. Bambang Hermanto, S.E., M.M., M.B.A.


APLIKASI SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI ERA DIGITAL Maman Suryaman, Edi Kusniadi & Bambang Hermanto Desain Cover : Ali Hasan Zein Sumber : https://unsplash.com Tata Letak : Gofur Dyah Ayu Proofreader : Meyta Lanjarwati Ukuran : xiv, 121 hlm, Uk: 15.5x23 cm ISBN : No ISBN Cetakan Pertama : Mei 2022 Hak Cipta 2022, Pada Penulis Isi diluar tanggung jawab percetakan Copyright © 2022 by Deepublish Publisher All Right Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. PENERBIT DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA) Anggota IKAPI (076/DIY/2012) Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Jl.Kaliurang Km.9,3 – Yogyakarta 55581 Telp/Faks: (0274) 4533427 Website: www.deepublish.co.id www.penerbitdeepublish.com E-mail: cs@deepublish.co.id


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan selalu kepada Alloh SWT atas Rahmat, Taufiq, dan Hidayah yang diberikan, kami bisa menyelesaikan buku yang berjudul Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Era Digital. Tujuan dibuat buku adalah untuk membantu dan memudahkan Pelaku Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM) yang saat ini kesulitan dalam melakukan pencatatan dan pembukuan secara digital, hal ini terbukti pada saat kami melakukan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang berjudul “Model Digitalisasi Ekonomi Yang Rendah Interaksi Langsung Pada Usaha Konveksi Di Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengabdian Msyarakat (LPPM) ITB. Buku ini membahas tentang sistem pencatatan dan pembukuan usaha mikro kecil dan menengah kedalam sebuah aplikasi berbasis mickrosoft excel agar memudahkan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah dalam mencatat dan membuat laporan tentang jumlah dan Biaya Bahan, Laporan Rugi Laba, Laporan Neraca Keuangan dan Kinerja Usaha yang dibutuhkan oleh pihak kreditor dan investor serta pelaku usaha sendiri. Adapun materi dalam buku ini terdiri dari 5 materi yaitu : 1. Materi tentang Pengertian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Sistem perizinan berusaha yang berbetuk NIB (Nomor Induk Berusaha) untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Sistem Akses Permodalan Usaha Mikro Kecil dan Menengah 2. Materi tentang Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memuat tentang pengertian dan manfaat akutansi, Standar akutansi Keuangan (SAK) Entitas Mikro Kecil dan Menengah (EMKM), Sistem Perpajakan menuturut UU No.7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan

v


3.

4.

5.

Perpajakan (HPP) dan Sistem Perhitungan Zakat yang bersumber dari Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, SK BAZNAS Tahun 2021 Tentang Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2021, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi). Materi tentang Pengertian Microsoft excel, fitur dan bagian Penting dalam Microsoft excel, Sistem Pencatatan dan Pembukuan Berbasis Excel , cara membuat link antar sheet dan antar file. Materi tentang Kerangka Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro kecil dan menengah Secara Digital adalah bagaimana cara membuat aplikasi tentang Pembuatan Dashboard, Cara menghitung Harga Pokok Produksi, cara membuat Laporan Rugi Laba, Neraca Keuangan dan Kinerja Usaha dengan berpedoman pada standar Akutansi Keuangan (SAK) Entitas Mikro Kecil dan Menengah (EMKM) dengan mempertimbangkan sistem Perpajakan dan Sistem Zakat yang dikeluarkan oleh Baznas. Materi tentang Penggunaan Syistem Aplikasi Pencatatan dan Pembukuan Di Usaha Mikro Kecil dan Menengah berisi tentang bagaimana cara menggunakan aplikasi yang sudah dibuat dalam sebuah file (Kasus Pembuatan Jaket Almamater) yang terdiri dari menghitung Jumlah Produksi, Menghitung Jumlah bahan dan Biaya bahan, Menghitung Biaya Tenaga Kerja, Menghitung Biaya overhead, Menghitung Harga Pokok Produksi, Menghitung Jumlah Penjualan, Menghitung Biaya Komersial, Membuat Laporan Rugi Laba, Membuat Laporan Neraca Keuangan, Mengukur Kinerja Usaha dan Mencetak laporan.

Kami sadar bahwa penulisan buku ini bukan merupakan buah hasil kerja keras kami sendiri. Ada banyak pihak yang sudah berjasa dalam membantu kami di dalam menyelesaikan buku ini, seperti pengambilan data, pemilihan materi, dan lain-lain. Maka dari itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak terutama Ketua dan Sekertaris LPPM ITB, Dekan dan Wakil Dekan Sumber Daya Manusia Sekolah Arsitektur Perencanaan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Ketua vi


Keahlian Sistem Infrastruktur Wilayah Kota (SIWK) SAPPK ITB, Ketua Keahlian Sistem Permodelan Ekonomi (SPE) SAPPK ITB dan fihak lainnya yang telah membantu memberikan wawasan dan bimbingan kepada kami sebelum maupun ketika menulis buku ini .

Bandung, 15 Mei 2022 Tim Penulis

Maman Suryaman Edi Kusniadi Bambang Hermanto

vii


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... v DAFTAR ISI .......................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR ................................................................................. x DAFTAR TABEL ..................................................................................... xi BAB I

USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) .................................................................................... 1 1.1. Pengertian dan Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah ......................................................................... 1 1.2. Perizinan Usaha Berbasis Risiko ...................................... 2 1.3. Sistem Akses Permodalan Usaha Mikro Kecil dan Menengah .................................................................. 4

BAB II SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN DI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) .................................................................................. 12 2.1. Pengertian dan Manfaat Akuntansi ................................. 12 2.2. Jenis Akuntansi ............................................................... 13 2.3. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) .............................. 17 2.4. Sistem Pencatatan dan Pembukuan ................................. 19 2.5. Sistem Pajak ................................................................... 37 2.6. Sistem Zakat ................................................................... 43 BAB III MICROSOFT EXCEL ........................................................... 51 3.1. Pengertian Microsoft Excel ............................................ 51 3.2. Fitur Microsoft Excel ...................................................... 52 3.3. Sistem Pencatatan dan Pembukuan Berbasis Excel ............................................................................... 55

viii


3.4.

Cara Membuat Link Antar-Sheet dan Antar-File Excel ............................................................................... 68

BAB IV SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN BERBASIS MICROSOFT EXCEL ....................................... 71 4.1. Kerangka Aplikasi Pembuatan Dashboard ..................... 71 4.2. Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Harga Pokok Produksi ............................................................... 74 4.3. Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Laporan Rugi Laba........................................................................ 88 4.4. Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Neraca Keuangan ........................................................................ 92 4.5. Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Kinerja Usaha ............................................................................ 100 BAB V PENGGUNAAN SISTEM APLIKASI DALAM USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH ................... 103 5.1. Menghitung Jumlah Produksi........................................ 104 5.2. Menghitung Kebutuhan Bahan dan Biaya Bahan .......... 106 5.3. Menghitung Biaya Tenaga Kerja .................................. 108 5.4. Menghitung Biaya Overhead ........................................ 109 5.5. Menghitung Harga Pokok Produksi .............................. 109 5.6. Menghitung Jumlah Penjualan ...................................... 110 5.7. Menghitung Biaya Komersial ....................................... 110 5.8. Membuat Laporan Rugi Laba ....................................... 111 5.9. Membuat Laporan Neraca Keuangan ............................ 112 5.10. Mengukur Kinerja Usaha .............................................. 116 5.11. Mencetak Laporan ........................................................ 117 DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 118 PROFIL PENULIS ................................................................................. 120

ix


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1

Proses Pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB)................ 3

Gambar 2.1

Skema Hubungan Harga Pokok Produksi, Laba Rugi, Laporan Neraca dan Kinerja Usaha ........................ 36

Gambar 3.1

Bagian-Bagian Microsoft Excel ....................................... 55

Gambar 4.1

DASHBOARD Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.............. 73

Gambar 4.2

Hubungan Harga Pokok Produksi dengan Komponennya .................................................................. 74

Gambar 4.3

Hubungan antara Jumlah Produksi dengan Kebutuhan Biaya Bahan dan Komponennya .................... 75

Gambar 4.4

Hubungan antara Jumlah Produksi dan Kebutuhan Tenaga Kerja .................................................................... 84

Gambar 4.5

Hubungan Jumlah Produksi yang Dibuat dengan Biaya Overhead dan Komponennya ................................. 86

Gambar 4.6

Hubungan Laba Rugi dengan Komponennya ................... 88

Gambar 4.7

Hubungan Neraca Keuangan dengan Komponennya .................................................................. 92

Gambar 4.8

Hubungan antara Laporan Laba Rugi dengan Neraca Keuangan untuk Mengukur Kinerja Usaha......... 100

Gambar 5.1

Model Jaket Almamater ................................................. 103

Gambar 5.2

Model Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah............ 104

x


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Laporan Laba Rugi Single Step ............................................ 23

Tabel 2.2

Laporan Laba Rugi Multiple Step......................................... 24

Tabel 2.3

Laporan Neraca Keuangan Staffel 31 Desember 2021 ..................................................................................... 26

Tabel 2.4 Tabel 2.5

Laporan Neraca Keuangan Diskonto 31 Desember 2021 ..................................................................................... 28 Kinerja Usaha 31 Desember 2021 ....................................... 35

Tabel 2.6

Perbandingan Tarif dan Kriteria Pajak Penghasilan ............. 39

Tabel 2.7

Perhitungan Pajak Penghasilan ............................................ 39

Tabel 2.8 Tabel 2.9

Perbandingan Tarif PPH Badan ........................................... 40 Cara Perhitungan Pajak Penghasilan bagi Orang Pribadi dengan Peredaran Bruto Tertentu............................. 40

Tabel 2.10 Batas Nisab Zakat Penghasilan ............................................ 46 Tabel 4.1 Tabel 4.2

Daftar Pesan ......................................................................... 76 Daftar Persediaan Barang Jadi (Rumusan Excel) ................. 76

Tabel 4.3

Rencana Produksi Hasil Rumusan Excel .............................. 76

Tabel 4.4

Standar Kebutuhan Bahan Utama (1) ................................... 77

Tabel 4.4 Tabel 4.5

Standar Kebutuhan Bahan Penolong (2) .............................. 77 Daftar Harga Bahan Utama (1) ............................................ 78

Tabel 4.5

Daftar Harga Bahan Penolong (2) ........................................ 78

Tabel 4.6 Tabel 4.6

Persediaan Bahan Utama Awal Proses (1) ........................... 79 Persediaan Bahan Penolong Awal Proses (2) ....................... 79

Tabel 4.7

Kebutuhan Bahan Utama (1) ................................................ 80

Tabel 4.7

Kebutuhan Bahan Penolong (2) ........................................... 81

Tabel 4.8

Kebutuhan Biaya Bahan Utama (1) ...................................... 82

xi


Tabel 4.8

Kebutuhan Biaya Bahan Penolong (2) ................................. 83

Tabel 4.9

Tarif Produksi Biaya Tenaga Kerja (1) ................................ 84

Tabel 4.9 Tabel 4.9

Tarif Produksi Biaya Tenaga Kerja (2) ................................ 85 Tarif Produksi Biaya Tenaga Kerja (3) ................................ 85

Tabel 4.10 Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja (1)...................................... 85 Tabel 4.10 Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja (2)...................................... 85 Tabel 4.10 Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja (3)...................................... 85 Tabel 4.11 Kebutuhan Biaya Overhead (1) ........................................... 87 Tabel 4.11 Kebutuhan Biaya Overhead (2) ........................................... 87 Tabel 4.12 Harga Pokok Produksi (1) .................................................... 87 Tabel 4.12 Harga Pokok Produksi (2) .................................................... 88 Tabel 4.13 Jumlah Penjualan (1) ........................................................... 89 Tabel 4.13 Jumlah Penjualan (2) ........................................................... 89 Tabel 4.14 Biaya Administrasi Umum .................................................. 89 Tabel 4.15 Biaya Pemasaran .................................................................. 90 Tabel 4.16 Laporan Laba Rugi Sebelum Pajak ...................................... 90 Tabel 4.17 Laporan Laba Rugi untuk Pajak Penambahan Nilai dan Pajak Penghasilan ......................................................... 91 Tabel 4.18 Laporan Laba Rugi Setelah Pajak ........................................ 91 Tabel 4.19 Daftar Piutang Usaha ........................................................... 93 Tabel 4.20 Daftar Persediaan Barang Jadi Akhir (Rumusan Excel) .................................................................................. 93 Tabel 4.21 Persediaan Akhir Proses Bahan Utama ................................ 94 Tabel 4.22 Persediaan Bahan Akhir Proses Bahan Penolong ................ 94 Tabel 4.23 Daftar Pembayaran di Muka ................................................ 95 Tabel 4.24 Daftar Aktiva Tetap ............................................................. 95 Tabel 4.25 Daftar Utang Lancar (1) ....................................................... 96 Tabel 4.25 Daftar Utang Lancar (2) ....................................................... 96 Tabel 4.26 Daftar Utang Jangka Panjang (1) ......................................... 97 Tabel 4.26 Daftar Utang Jangka Panjang (2) ......................................... 97 Tabel 4.27 Daftar Modal Sendiri ........................................................... 98

xii


Tabel 4.28 Daftar Laba Ditahan ............................................................. 98 Tabel 4.29 Kerangka Neraca Laporan Keuangan ................................... 99 Tabel 4.30 Kinerja Usaha..................................................................... 102 Tabel 5.1 Daftar Pemesanan .............................................................. 105 Tabel 5.2

Persediaan Barang Jadi ...................................................... 105

Tabel 5.3

Jumlah Produksi yang Dibuat............................................. 105

Tabel 5.4 Tabel 5.5

Membuat Standar Kebutuhan bahan .................................. 106 Daftar dan Harga Bahan Utama dan Penolong ................... 106

Tabel 5.6

Persediaan Bahan Utama dan Penolong ............................. 107

Tabel 5.7 Tabel 5.8

Kebutuhan Bahan dan Biaya Bahan Utama dan Penolong ............................................................................ 108 Tarif Tenaga Kerja ............................................................. 108

Tabel 5.9

Daftar Biaya Tenaga Kerja ................................................. 109

Tabel 5.10 Daftar Biaya Overhead ...................................................... 109 Tabel 5.11 Biaya Harga Pokok Produksi ............................................. 110 Tabel 5.12 Daftar Penjualan ................................................................. 110 Tabel 5.13 Daftar Biaya Komersial ...................................................... 111 Tabel 5.14 Laporan Laba Rugi............................................................. 112 Tabel 5.15 Daftar Piutang Usaha ......................................................... 113 Tabel 5.16 Persediaan Barang Jadi Akhir Periode ............................... 113 Tabel 5.17 Persediaan Bahan ............................................................... 114 Tabel 5.18 Aktiva Tetap dan Aktiva Lainnya ...................................... 114 Tabel 5.19 Daftar Utang ...................................................................... 115 Tabel 5.20 Daftar Modal ...................................................................... 115 Tabel 5.21 Laporan Neraca Keuangan ................................................. 116 Tabel 5.22 Kinerja Usaha..................................................................... 117

xiii


Download Aplikasi Disini!

xiv


BAB I USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

Bab ini membahas tentang pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, perizinan, perlindungan, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terutama pada sistem pencatatan dan pembukuan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. 1.1.

Pengertian dan Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah usaha produktif yang dimiliki dan dikelola oleh perorangan maupun badan usaha yang telah memenuhi kriteria (PP 7 Tahun 2021) sebagai berikut. a. Usaha Mikro memiliki modal usaha sampai dengan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dan memiliki hasil penjualan tahunan sampai dengan paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah); b. Usaha Kecil memiliki modal usaha lebih dari Rpl.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dan memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah);

1


c.

1.2.

Usaha Menengah memiliki modal usaha lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dan memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah). Perizinan Usaha Berbasis Risiko

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam melakukan kegiatan usahanya harus memiliki Perizinan Berusaha. Perizinan Berusaha untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diberikan berdasarkan tingkat risiko kegiatan usaha dalam tiga bentuk yaitu  Nomor induk berusaha (NIB) untuk kegiatan usaha risiko rendah  Nomor induk berusaha (NIB) dan sertifikat standar untuk kegiatan usaha risiko menengah rendah dan menengah tinggi  Nomor induk berusaha (NIB) dan izin untuk kegiatan usaha risiko tinggi. Dalam hal kegiatan usaha yang dilakukan oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil termasuk dalam kegiatan usaha dengan tingkat risiko menengah atau risiko tinggi selain wajib memiliki Perizinan Berusaha, pelaku usaha wajib memiliki sertifikat standar produk dan atau standar usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. Perizinan Berusaha untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sendiri dilaksanakan melalui sistem Perizinan Berusaha terintegrasi secara elektronik yang dikelola oleh lembaga yang mengelola Perizinan Berusaha terintegrasi secara elektronik dengan persyaratan dan tata cara permohonan Perizinan Berusaha dilaksanakan sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang diatur dalam peraturan pemerintah mengenai penyelenggaraan Perizinan Berusaha berbasis risiko. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pendaftaran bagi Usaha Mikro dan Usaha Kecil untuk kemudahan Perizinan Berusaha dengan melakukan identifikasi dan pemetaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil berdasarkan tingkat risiko rendah, menengah, dan 2


tinggi dan pendaftaran pelaku Usaha Mikro dan Usaha Kecil melalui OSS (Online Single Submission) atau Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik untuk mendapatkan nomor induk berusaha, di mana langkah proses pembuatan NIB melalui OSS dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.1

Proses Pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB)

Agar proses pembuatan NIB berjalan mudah dan cepat, para pelaku usaha harus memahami terlebih dahulu apa saja jenis usaha yang menjadi subjek perizinannya, seperti badan usaha ataupun perorangan, usaha mikro, kecil, menengah maupun usaha besar, usaha yang baru dibangun serta yang sudah ada sebelum operasionalisasi sistem OSS, usaha dengan modal yang berasal dari dalam negeri maupun modal asing. Dalam hal pelaku Usaha Mikro dan Usaha Kecil tidak dapat mengakses Perizinan Berusaha secara daring, dinas, perangkat di tingkat kecamatan, dan/atau kantor kelurahan/kantor desa memfasilitasi pendaftaran Perizinan Berusaha dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah. Selain itu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan pendampingan bagi Usaha Mikro dan Usaha Kecil yang telah mendapatkan nomor induk berusaha dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan terhadap penerapan standar nasional Indonesia dan sertifikasi 3


jaminan produk halal bagi Usaha Mikro dan Usaha Kecil yang baru mendapatkan nomor induk berusaha; memenuhi persyaratan mendapatkan sertifikat standar dan atau izin. Pendampingan paling sedikit dilaksanakan melalui fasilitasi bimbingan teknis, konsultasi, dan/atau pelatihan, sedangkan bagi Usaha Mikro dan Usaha Kecil yang baru mendirikan usaha dapat langsung mengajukan permohonan nomor induk berusaha, sertifikat standar, dan atau izin melalui sistem Perizinan Berusaha. 1.3.

Sistem Akses Permodalan Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Pada umumnya pelaku UMKM mengawali bisnisnya dengan modal dari modal pribadi, tetapi Jika ternyata bisnis tersebut mampu berjalan hingga enam bulan bahkan mengalami perkembangan yang signifikan, bisnis tersebut memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan modal sebagai langkah ekspansi. Beberapa langkah untuk bisa melakukan akses pembiayaan adalah sebagai berikut. Lengkapi dokumen penunjang Dokumen menjadi salah satu kriteria yang harus dipenuhi jika ingin segera mendapatkan tambahan modal dari pihak bank. Salah satu dokumen yang paling krusial adalah dokumen laporan usaha yang juga disertai laporan keuangan dari bisnis yang kamu jalankan. Selain itu, sediakan juga proposal yang berisi informasi bisnis, visi misi, hingga prospek ke depannya. Susun anggaran dana Dalam mempertimbangkan nilai modal yang akan diberikan, pihak bank juga akan membandingkan laporan keuangan dan anggaran yang kamu ajukan. Maka dari itu, pastikan untuk menyusun anggaran dana pengembangan bisnis yang sesuai dengan nilai laporan keuangan dari bisnismu. Tuliskan rancangan dana tersebut serinci dan sedetail mungkin agar pihak bank lebih mudah dalam memahaminya. Selain itu, rancangan dana yang rinci dapat meningkatkan kepercayaan pihak bank.

4


Tetapkan metode pembayaran Jika rancangan dana sudah disusun, maka pastikan untuk menjelaskan jumlah dana yang diinginkan. Selain itu, tambahkan pula rencana pembayaran dari pinjaman tersebut. Pastikan metode dan jumlah pembayaran tersebut tidak memberatkanmu yang bisa saja justru menghambat pertumbuhan bisnismu. Seperti halnya menyusun anggaran dana, buat metode pembayarannya secara rinci dan detail. Perbanyak riset Meski kamu nantinya yang akan menerima modal dan menjaga kepercayaan, kamu juga harus mengetahui latar belakang dari para peminjam. Perbanyak riset dari berbagai bank, institusi di luar bank hingga berbagai investor yang terlibat atau kemungkinan besar akan terlibat di masa depan. Beberapa hal yang perlu kamu perhatikan adalah bentuk, jenis, dan persyaratan pinjaman. Pasalnya, setiap investor atau pihak pemberi pinjaman juga memiliki karakternya sendiri dalam menentukan UMKM yang ingin diajaknya kerja sama. Jika sudah mendapatkan tambahan modal, pastikan untuk mengelolanya dengan baik agar bisnis dapat terus tumbuh dan bisa membayar kewajiban yang telah disepakati dengan para investor. Mengenal ragam akses modal Jenis akses modal ada yang bersifat pinjaman (harus dicicil dan kembalikan). Ada yang penanaman modal atau ekuitas (tidak perlu dikembalikan, tetapi berbagi kepemilikan dan pengendalian perusahaan). Pinjaman atau kredit pun bermacam-macam jenisnya. Ada yang syariah, ada yang konvensional. Ada kredit investasi (untuk membiayai kebutuhan capex), ada kredit modal kerja (untuk membiayai opex), ada juga kredit sebagai dana talangan berupa invoice financing. Keseluruhan ragam akses modal ini perlu kita pahami lebih kurangnya, dikaitkan dengan kebutuhan spesifik perusahaan di saat tertentu. Aset tidak sama dengan nilai perusahaan. Keduanya perlu dihitung dalam negosiasi dengan calon investor.

5


Menghitung aset Dalam praktik, penyedia dana pinjaman saat ini ada yang konservatif (memegang prinsip-prinsip baku tradisional dunia perbankan) dan ada yang lebih progresif. Perbankan secara umum adalah yang konservatif, karena dalam mengevaluasi permohonan kredit, nilai aset yang dievaluasi hanya aset tetap, khususnya berupa tanah dan bangunan. Mesin, bahkan kendaraan umumnya tidak diterima. Sementara yang lebih progresif antara lain adalah perusahaan leasing yang memang kekhususannya di penyaluran kredit untuk membeli kendaraan, pegadaian (di mana laptop pun bisa diterima untuk digadai atau dijaminkan walau valuasi atau penilaiannya bisa membuat pemohon pinjaman rada gigit jari, misalnya, gadai laptop cuma dapat Rp1 juta). Mengevaluasi biaya modal Semakin besar modal yang ingin diakses, umumnya semakin banyak pihak yang ingin Anda temui agar bisa menambah referensi. Mengevaluasi biaya modal bunga pinjaman 12 persen per tahun apakah lebih mahal atau murah dibanding melepas saham 10 persen? Ada kebebasan jika meminjam modal titik bank tidak menuntut laporan selama pembayaran cicilan lancar. Jika melepas saham akan diminta laporan rutin tapi perusahaan juga justru bisa mendapat masukan dari mitra investor. Murah atau mahalnya tidak dapat dinilai dari biaya dan manfaat nominal uang saja aspek nonuang juga perlu dievaluasi Menurut penulis buku Easy Entrepreneurs dan Master Coach Formula Bisnis Indonesia, Gendro Salim, ada 3 alternatif permodalan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yakni full investor, supporting experience and capital, serta pinjaman. Full Investor Semua ide bisnis yang akan dijalankan oleh pelaku usaha bisa didukung permodalannya oleh investor hingga 100%. Hal itu menyebabkan pelaku usaha sebagai operator akan menerima saham kosong atas bisnis yang akan dijalankan. Biasanya pemodal akan menempatkan orang keuangan dalam usaha tersebut, guna mengontrol dan mempercepat proses keluar masuknya uang. Untuk perusahaan yang baru 6


mulai dan belum memiliki pengalaman bisnis atau belum memiliki pasar yang terbentuk, biasanya akan ditawarkan skema pembagian saham 10:90. Pelaku usaha akan mendapatkan 10% saham kosong dari 100% modal yang di-support oleh investor. Untuk kompensasi atas ide bisnis dan jasa operator, maka pelaku usaha berhak mengajukan gaji secukupnya sesuai dengan harga pasar, serta berhak mengajukan insentif atau bonus jika mencapai target yang telah disepakati. Supporting Capital Bentuk permodalan kedua bersifat sebagai support atau tambahan pendanaan, sehingga setoran modal adalah untuk menambah kekurangan dana yang dibutuhkan. Dalam hal ini, seorang penggagas ide harus sedapat mungkin mempertahankan posisi mayoritas 51% untuk menjaga ide dan visi misi perusahaan tetap terjaga. Ada dua macam partner yang dapat direkrut untuk bentuk permodalan ini, pertama, sebagai partner aktif yang diharapkan dapat menyetorkan dana yang diharapkan. Kriteria partner aktif ini harus memiliki energi yang sama, visi yang sama, pengalaman yang mendukung, serta jaringan yang diharapkan dapat menambah daya ungkit perusahaan. Partner berikutnya adalah silent partner yang hanya menutupi kekurangan modal yang dibutuhkan tanpa ikut aktif dalam mengurusi bisnis. Terkadang, mereka tidak mengerti atas bisnis yang sedang dijalankan, dan menaruh investasi berdasarkan kepercayaan dan prospek ROI yang bagus. Pinjaman Model permodalan ini tidak melibatkan investor sama sekali, karena dana yang diberikan berupa pinjaman dengan kompensasi bunga. Hal ini banyak dilakukan pengusaha yang telah memiliki jam terbang yang cukup, kredibilitas tinggi. Model permodalan ini dianggap lebih efektif karena tidak memiliki keterikatan selamanya dibandingkan dengan investor yang akan menaruh nama pada akta perusahaan sebagai jaminan kerja sama. Ada tiga pilihan pelaku usaha untuk mendapatkan pinjaman tersebut, yakni dari bank, keluarga atau saudara dan teman. Dalam mendapatkan pinjaman dari perbankan atau institusi keuangan lainnya, dinilai menjadi pekerjaan yang cukup berat, karena birokrasi dan persyaratannya sangat kompleks. 7


Sedangkan untuk pilihan kedua dan ketiga, pelaku usaha sebelumnya harus mempunyai tabungan emosional sebelumnya, melalui kedekatan secara pribadi. Berikut 8 jenis pinjaman modal usaha yang dapat dijadikan referensi sebelum memutuskan untuk melakukan pinjaman yaitu 1. Kredit Tanpa Agunan (KTA) Kredit Tanpa Agunan (KTA) adalah salah satu pinjaman modal usaha yang memberikan kredit tanpa membebankan jaminan berupa aset seperti kendaraan, rumah, tanah, surat berharga dan sebagainya. Pinjaman tanpa jaminan ini membuat KTA menjadi jenis pinjaman modal usaha yang cukup populer di kalangan pemilik bisnis. Alasan lain yang membuat pemilik bisnis lebih memilih KTA adalah karena bunga yang ditawarkan kurang dari satu persen. Untuk KTA, secara umum kreditur akan memberikan pinjaman dana maksimal sebesar IDR 200–300 juta sesuai dengan ketentuan dan persyaratan masing-masing bank tersebut. Jangka waktu pinjaman yang diberikan hingga 60 bulan atau 5 tahun. KTA bisa diajukan dengan membawa dokumen persyaratan seperti KTP, NPWP, SIUP, rekening koran, dan kartu kredit. Walaupun persyaratan dan prosesnya cukup gampang, namun peluang mendapatkan KTA sedikit sulit. Peminjam masih harus memenuhi syarat BI checking untuk memastikan tidak ada riwayat tunggakan dari kredit sebelumnya. 2.

Jenis Pinjaman Modal Usaha Kredit Usaha Rakyat (KUR) Seperti namanya, Kredit Usaha Rakyat atau KUR memang dicanangkan pemerintah untuk membantu usaha mikro, kecil dan menengah milik rakyat. KUR memberikan jenis pinjaman modal usaha terutama bagi usaha yang bergerak di sektor pertanian, perikanan dan kelautan, perindustrian, kehutanan, dan jasa keuangan simpan pinjam. Untuk menyukseskan program ini, pemerintah bekerja sama dengan beberapa bank BUMN seperti Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri dan Bank BNI Syariah. Pinjaman yang ditawarkan program KUR mencapai angka IDR 500 juta dengan bunga yang juga cukup rendah, yakni 7% pertahunnya atau hanya sekitar 0,58% perbulan. Jangka waktu pinjaman yang diberikan selama 6 tahun atau 72 bulan. Dokumen yang dibutuhkan untuk mendapatkan KUR berupa kartu identitas, akta pendirian usaha, 8


SIUP/TDP, laporan keuangan perusahaan, proposal usaha dan persyaratan lain yang mungkin diminta oleh pihak bank. Persyaratannya memang lebih banyak dibanding KTA. Sebab, pemerintah hanya memberi pinjaman bagi usaha yang memiliki kelayakan, potensi, prospek bisnis yang baik, dan mempunyai kemampuan untuk mengembalikan pinjaman. 3.

Kredit Investasi Kredit investasi merupakan jenis pinjaman modal usaha yang memang difokuskan untuk berbagai keperluan usaha. Pinjaman ini biasanya digunakan untuk perluasan atau penambahan usaha seperti membeli dan membuka pabrik baru, membangun proyek baru, pengadaan mesin dan bahan baku, membeli tanah dan juga bangunan untuk usaha baru, dan lain sebagainya. Pelunasan kredit investasi ini menggunakan uang hasil usaha yang baru saja dibiayai dengan modal tersebut. Jumlah dana tunai yang dikeluarkan oleh bank berbeda-beda tergantung kebijakan setiap bank. Namun untuk angka yang paling besar, bank bisa memberikan hingga IDR 40 milyar dengan jangka waktu sampai 15 tahun. Rata-rata bunga yang dikenakan di bawah 10% pertahunnya. Adapun dokumen yang disyaratkan untuk mendapatkan kredit investasi berupa kartu identitas, NPWP, SIUP, akta pendirian usaha, dan rekening tabungan. 4.

Kredit Modal Kerja (KMK) Kredit Modal Kerja atau KMK diberikan untuk tujuan pengembangan usaha menjadi lebih besar. Oleh karena itu dalam pinjaman ini ada syarat yang harus dipenuhi, yakni usaha telah memiliki izin dan berjalan selama kurang lebih 1 tahun. KMK merupakan jenis pinjaman modal usaha jangka pendek yakni hanya satu tahun saja. Dalam satu tahun tersebut nilai pencairan kredit maksimal 70% dari total kebutuhan akan modal kerja, dengan jaminan usaha itu sendiri. Pinjaman bisa ditarik berulang kali kapan saja selama tidak melebihi batas jumlah dana yang telah ditentukan. Dokumen yang harus disiapkan ketika melakukan pinjaman jenis ini berupa KTP, KK, buku tabungan, keterangan penghasilan dan bukti memiliki tanggungan dan cicilan.

9


5.

Jenis Pinjaman Modal Usaha Ventura Modal ventura adalah pinjaman dalam bentuk investasi di mana kreditur memberikan pembiayaan berupa penyertaan modal dengan adanya perjanjian kerja sama dalam jangka waktu tertentu. Konsep dasar yang dipegang oleh modal ventura sama halnya dengan saham. Hanya saja, modal yang diberikan ini berasal dari perusahaan ventura. Modal ventura termasuk investasi dengan risiko tinggi, namun dengan imbalan yang tinggi pula. Ada empat jenis pinjaman modal usaha ventura yang bisa dipilih, yakni equity financing yang memberikan pembiayaan langsung, semi equity financing yang memberikan pinjaman sebagian dalam bentuk saham dan obligasi, mendirikan usaha baru dan jenis bagi hasil yang pembagiannya telah disepakati sejak awal. Untuk mengajukan modal ventura perlu menyiapkan dokumen seperti akta pendirian usaha, SIUP, NPWP, profil usaha, laporan keuangan, rekening koran dan dokumen pendukung lainnya. 6.

Kredit Multiguna (KMG) Kredit Multiguna atau KMG adalah salah satu produk perbankan yang memberikan fasilitas pinjaman di mana peminjam diharuskan untuk memberikan agunan atau jaminan. Berbeda dengan jenis pinjaman sebelumnya, kredit multiguna mengharuskan peminjamnya memberikan sejumlah aset sebagai jaminan kepada kreditur. Bahkan jaminan inilah yang menentukan seberapa besar dana tunai yang akan dipinjamkan. Semakin besar jaminan yang diberikan maka semakin besar pula pinjaman yang bisa diterima. Bank berani mengucurkan dana hingga sebesar IDR 5 milyar dengan jangka waktu yang juga lama hingga lebih dari 10 tahun. Namun suku bunga yang ditawarkan jenis pinjaman modal usaha tersebut masih cukup tinggi dan menyesuaikan kondisi pasar. Apabila kondisi pasar baik maka bunga bisa di bawah 10%, namun apabila kondisi pasar sedang tidak stabil maka bisa melebihi 15%. Selain jaminan aset, peminjam juga perlu menyiapkan beberapa dokumen seperti formulir aplikasi pinjaman, KTP, KK, NPWP, rekening tabungan, rekap penghasilan, SIUP, foto usaha dan rekening listrik atau PBB.

10


7.

Kredit Online Salah satu yang sedang marak di dunia perkreditan saat ini adalah pinjaman online. Pinjaman jenis ini adalah fasilitas pinjaman uang yang diberikan oleh penyedia jasa keuangan yang beroperasi secara online. Penyedia pinjaman online ini biasa dikenal dengan sebutan fintech. Berdasarkan data OJK, jumlah penyedia jenis pinjaman modal usaha atau kredit online ini pada tahun 2017 telah mencapai 100.940 dengan dana pinjaman senilai 2,56 triliun. Peluang mendapatkan pinjaman dari kredit online cukup besar, fleksibel serta memiliki syarat yang simpel. jika ingin mengajukan kredit secara online umumnya cukup menyiapkan dokumen seperti contohnya slip gaji karyawan, KTP, NPWP, dan KK. Jenis produk pinjamannya beragam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. 8.

Pinjaman dari Kerabat Jenis pinjaman modal usaha lainnya adalah pinjaman dari kerabat atau orang terdekat. Walaupun kredit ini tidak seresmi pinjaman dari perusahaan penyedia pinjaman yang telah terdaftar, peminjam sebaiknya tetap membuat proposal yang rinci mengenai usaha yang dijalankan. Ini untuk kenyamanan bersama dan mencegah adanya permasalahan ke depannya karena tidak adanya batasan dan aturan yang jelas. Setelah mendapatkan pinjaman, hal yang tidak boleh dilupakan adalah melakukan pengelolaan terhadap uang tersebut untuk memudahkan dalam penggunaan dan pengembalian

11


BAB II SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN DI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

Bab ini membahas tentang pengertian, manfaat, jenis akuntansi, standar akuntansi keuangan (SAK) melalui untuk Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (EMKM) dan sistem pencatatan dan pembukuan serta komponennya untuk membentuk kerangka aplikasi sistem pencatatan dan Pembukuan berbasis Microsoft Excel. 2.1.

Pengertian dan Manfaat Akuntansi

Beberapa orang menganggap ilmu akuntansi merupakan suatu hal yang berkaitan dengan sistem hitung-menghitung, namun faktanya akuntansi atau accounting adalah sebuah proses pekerjaan yang tidak sederhana. Ilmu ini memiliki cukup banyak digunakan dalam penerapan sehari harinya, terutama terkait pada kegiatan bisnis. Akuntansi yang benar dan tepat memungkinkan manajemen perusahaan menjadi lebih memahami keuangan bisnisnya. Hal ini diperuntukkan agar mereka dapat merencanakan pengeluaran masa depan secara strategis untuk memaksimalkan keuntungan. Hal yang termasuk di dalam akuntansi sendiri seperti membuat laporan keuangan, jurnal penyesuaian, jurnal khusus. Menurut Soemarso S.R. (2004) definisi akuntansi atau accounting menurutnya adalah suatu proses mengidentifikasikan, mengukur dan juga melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian serta keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan

12


informasi tersebut, Warren dkk. (2005:10), definisi akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang memiliki sebuah aktivitas ekonomi serta kondisi perusahaan, S. Munawir (2005), akuntansi adalah sebuah seni daripada pencatatan, penggolongan dan peringkasan terhadap sebuah peristiwa yang setidak-tidaknya sebagian sifatnya keuangan dengan cara yang secepat-cepatnya dan petunjuk atau dinyatakan dengan uang, dan juga penafsiran yang timbul dari padanya, (Bastian dan Suhardjono (2006)), definisi akuntansi adalah seni mencatat, menggolongkan, dan mengikhtisarkan transaksi serta peristiwa yang bersifat keuangan dengan cara yang bermakna juga dalam satuan uang serta menginvestasikan hasilnya. Adapun manfaat akuntansi adalah sebagai informasi keuangan kepada pihak yang membutuhkan, sebagai bahan evaluasi keuangan, sebagai bukti keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan dan membantu pencatatan ekonomi keluarga. 2.2.

Jenis Akuntansi

Adapun jenis-jenis akuntansi yang perlu diketahui adalah sebagai berikut. 1. Jenis akuntansi pemeriksaan atau yang biasa disebut dengan audit. Dalam sebuah pemeriksaan akuntansi (auditing), dilakukanlah kegiatan pemeriksaan hasil pencatatan dan laporan dalam keuangan. Bidang tersebut berhubungan dengan audit yang secara bebas dilakukan di laporan yang telah dihasilkan oleh akuntansi keuangan. Dalam konsep tersebut, yang menjadi dasar sebuah auditing adalah objektivitas dan independensi dari seorang pemeriksa serta kerahasiaan dan pengumpulan bukti-bukti yang terbilang cukup signifikan. 2. Akuntansi biaya merupakan sebuah bidang akuntansi yang mencatat, menghitung dan menganalisis sebuah data biaya pada suatu perusahaan industri yang secara detail dibahas pada buku Akuntansi Biaya Teori dan Implementasi. Dengan adanya akuntansi biaya, didapatkan sebuah laporan harga untuk menyusun laporan keuangan. Bidang ini berfokus pada penetapan dan sebuah kontrol atas biaya. Akuntansi biaya akan mengacu pada penetapan biaya yang berdasarkan aktivitas (activity based costing). Fungsi dasarnya

13


3.

4.

5.

6.

14

mengumpulkan serta menganalisis data biaya, biaya yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Akuntansi keuangan berkaitan dengan akuntansi suatu unit ekonomi secara menyeluruh. Akuntansi keuangan mengacu kepada pelaporan keuangan untuk pihak-pihak di luar perusahaan. Laporan yang berhasil akan bersifat serba guna (general purpose). Kegiatannya terdiri dari pencatatan kegiatan finansial, bertujuan untuk dapat menyajikan laporan keuangan. Meliputi neraca, laporan laba rugi serta laporan perubahan modal atau laporan laba ditahan selama jangka waktu tertentu. Akuntansi manajemen adalah sebuah bidang akuntansi memiliki tujuan untuk memberikan informasi kepada manajemen dalam menjalani usahanya. Ada banyak hal dalam akuntansi biaya yang data-datanya yang digunakan oleh para akuntansi manajemen. Ketika kedua bidang akuntansi ini berbeda tujuannya, dalam sebuah pelaksanaannya tetap dapat dilakukan bersamaan. Kegunaan dari akuntansi manajemen yaitu untuk mengatur kegiatan perusahaan, mengontrol arus kas serta menilai alternatif dalam pengambilan sebuah keputusan. Pengendalian perusahaan melalui aktivitas yang dijalankan (activity based management), merupakan sebuah kebiasaan baru dalam akuntansi manajemen. Akuntansi perpajakan merupakan akuntansi yang kegiatannya berhubungan dengan arah penentuan objek pajak yang menjadi beban perusahaan serta perhitungannya mengacu kepentingan penyusunan laporan pajak. Dalam kegiatan akuntansi perpajakan berfungsi untuk membantu manajemen untuk menentukan pilihanpilihan transaksi yang akan terjadi, berhubungan dengan pertimbangan-pertimbangan perpajakan. Maka, akuntansi yang bekerja di bidang ini harus mengetahui jelas tentang undang-undang perpajakan yang berlaku. Jenis akuntansi budgeting adalah bidang akuntansi yang menyusun anggaran baik pendapatan maupun biaya. Anggaran merupakan sebuah pedoman penuh bagi perusahaan, perorangan maupun pemerintah dalam melakukan kegiatan finansialnya di masa mendatang. Bidang ini akan berhubungan dengan sebuah


penyusunan rencana keuangan yang terkait kepada kegiatan perusahaan untuk jangka waktu tertentu di masa yang akan datang dan juga analisis serta pengawasannya. Anggaran juga dapat dimaksudkan juga sebagai saran untuk memaparkan tujuan perusahaan, anggaran berisi rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dan nilai uangnya di masa akan datang. 7. Sistem akuntansi sendiri adalah bidang akuntansi yang menjalankan kegiatan dengan mengatur cara pencatatan akuntansi agar efektif dan efisien. Dimulai dari mengatur dokumen hingga menyusun prosedur pencatatannya. Unsur-unsur pokok sistem akuntansi menurut Mulyadi (2016: 3) yaitu a. Formulir merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya transaksi. Formulir sering disebut dengan istilah dokumen, karena dengan adanya formulir ini peristiwa yang terjadi dalam organisasi direkam (didokumentasikan) di atas secarik kertas. Formulir sering pula disebut media, karena formulir merupakan media untuk mencatat peristiwa yang terjadi dalam organisasi ke dalam catatan. Dengan formulir ini, data yang bersangkutan dengan transaksi direkam pertama kalinya sebagai dasar pencatatan dalam catatan. Dalam sistem akuntansi secara manual (manual system), media yang digunakan untuk merekam pertama kali data transaksi keuangan adalah formulir yang dibuat dari kertas (paper form). Dalam sistem akuntansi dengan komputer (computerized system) digunakan berbagai macam media untuk memasukkan data ke dalam sistem pengolahan data seperti: papan ketik (keyboard), optical and magnetic characters and code, mice, voice, touch sensor, and cats. b. Jurnal merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat, mengklasifikasikan, dan meringkas data keuangan dan data lainnya. Seperti telah disebutkan di atas, sumber informasi pencatatan dalam jurnal ini adalah formulir. Dalam jurnal ini data keuangan untuk pertama kalinya diklasifikasikan menurut penggolongan yang sesuai dengan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Dalam jurnal ini pula terdapat kegiatan peringkasan data, yang hasil peringkasannya (berupa jumlah rupiah transaksi tertentu) kemudian di-posting ke rekening yang 15


bersangkutan dalam buku besar. Contoh jurnal adalah jurnal penerimaan kas, jurnal pembelian, jurnal penjualan, dan jurnal umum. c. Buku besar (general ledger) terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalam jurnal. Rekening-rekening dalam buku besar ini disediakan sesuai dengan unsur-unsur informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Rekening buku besar ini di satu pihak dapat dipandang sebagai wadah untuk menggolongkan data keuangan, di pihak lain dapat dipandang pula sebagai sumber informasi keuangan untuk penyajian laporan keuangan. d. Buku pembantu. Jika data yang digolongkan dalam buku besar diperlukan rinciannya lebih lanjut, dapat dibentuk buku pembantu (subsidiary ledger). Buku pembantu ini terdiri dari rekeningrekening pembantu yang merinci data keuangan yang tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Buku besar dan buku pembantu merupakan catatan akuntansi akhir (books of final entry), yang berarti tidak ada catatan akuntansi lain lagi sesudah data akuntansi diringkas dan digolongkan dalam rekening buku besar dan buku pembantu. Buku besar dan buku pembantu disebut sebagai catatan akuntansi akhir juga karena setelah data akuntansi keuangan dicatat dalam buku-buku tersebut, proses akuntansi selanjutnya adalah penyajian laporan keuangan, bukan pencatatan lagi ke dalam catatan akuntansi. e. Hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan yang dapat berupa neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan laba yang ditahan, laporan harga pokok produksi, laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok penjualan, daftar umur piutang, daftar utang yang akan dibayar, daftar saldo persediaan yang lambat penjualannya. Laporan berisi informasi yang merupakan keluaran sistem akuntansi. Laporan dapat berbentuk hasil cetak komputer dan tayangan pada layar monitor komputer. 8. Akuntansi anggaran merupakan akuntansi yang memiliki kegiatan berkaitan dengan pengumpulan serta pengolahan data operasi keuangan yang telah terjadi, juga taksiran kemungkinan yang akan 16


terjadi, tentunya untuk kepentingan penetapan rencana operasi keuangan perusahaan (anggaran) dalam suatu periode tertentu. 9. Jenis akuntansi pemerintahan terbilang juga sebagai bidang akuntansi keuangan yang diterapkan di lembaga pemerintahan. Akuntansi pemerintahan memiliki tujuan untuk menyajikan sebuah laporan keuangan, mengatur dan pengawasan keuangan negara. Akuntansi dalam pemerintahan diharapkan perlu mengatur administrasi keuangan di negara dengan baik. Dalam bidang ini dikhususkan pada pencatatan serta pelaporan banyaknya transaksi di badan pemerintahan. 10. Jenis akuntansi yang terakhir adalah akuntansi perbankan. Secara umum dapat diketahui bahwa akuntansi perbankan merupakan sebuah metode akuntansi bank yang meliputi sebuah pencatatan, penganalisisan, pengklasifikasian, penafsiran data di keuangan bank yang dilakukan secara sistematis, untuk memenuhi kebutuhan para pihak yang memiliki berkepentingan baik internal dan juga eksternal. 2.3.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) ialah standar atau metode yang baku dalam melakukan penyajian informasi laporan keuangan dalam suatu kegiatan bisnis. Terdapat 5 Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia yaitu sebagai berikut. 1. PSAK-IFRS Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah standar akuntansi di Indonesia. Disusun dan ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan yang dibentuk oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar ini adalah aturan baku yang mengatur pencatatan, penyusunan, perlakuan, dan penyajian laporan keuangan. Dan juga digunakan oleh perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik yaitu entitas terdaftar. Misalnya seperti perusahaan publik, asuransi, perbankan, BUMN. PSAK resmi mengadopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS). IFRS sendiri adalah kelanjutan dari International Accounting Standards dan banyak dipakai sebagai standar akuntansi di negara lain.

17


2.

SAK-ETAP SAK ETAP ialah kepanjangan dari Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Digunakan oleh Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP), artinya entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan. Laporan keuangannya memiliki tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha misalnya kreditur. SAK ETAP memiliki tujuan memberikan fleksibilitas dalam penerapannya. Dan diharapkan memberi kemudahan akses ETAP kepada pendanaan dari perbankan. SAK ETAP adalah Standar Akuntansi Keuangan yang berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK Umum. Sebagian besar siklus akuntansinya menggunakan konsep biaya historis dan mengatur transaksi yang dilakukan oleh ETAP. Bentuk pengaturannya sederhana dalam hal perlakuan akuntansi dan relatif tidak berubah selama beberapa tahun. Untuk standar yang satu ini sudah pernah saya jelaskan secara rinci pada artikel sebelumnya. 3.

Standar Akuntansi Syariah (SAS) Standar Akuntansi Syariah (SAS) merupakan PSAK syariah yang ditujukan untuk entitas yang melakukan transaksi ekonomi syariah. Baik entitas lembaga syariah dan lembaga nonsyariah. SAS dilakukan dengan model SAK umum namun berbasis syariah tetapi mengacu kepada fatwa MUI. SAS ini memiliki kerangka konseptual yaitu penyajian laporan keuangan syariah, akuntansi murabahah, musyarakah, mudharabah, salam, istishna. 4.

Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) SAP ialah aturan baku yang dibuat oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan atau KSAP. SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah yang terdiri atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP), Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Laporan keuangan pokok menurut SAP adalah Laporan Realisasi Anggaran, Neraca (seperti neraca lajur, neraca saldo), Laporan Arus Kas, Catatan atas Laporan Keuangan. 18


5.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) EMKM Standar Akuntabilitas Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) disusun demi memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas ekonomi mikro. SAK EMKM ini mengacu pada UndangUndang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. SAK EMKM ini digunakan oleh entitas yang tidak atau belum mampu memenuhi persyaratan akuntansi yang diatur dalam SAK ETAP. Entitas yang laporan keuangannya menggunakan SAK EMKM sebagai pedoman. 2.4.

Sistem Pencatatan dan Pembukuan

Sistem pencatatan dan pembukuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dikelompok kedalam 4 bagian yaitu pencatatan dan pembukuan dalam menghitung Harga Pokok Produksi, Laporan Laba Rugi, Laporan Neraca Keuangan dan Kinerja Usaha dengan rasio keuangan. 2.4.1. Harga Pokok Produksi Menurut Supriyono (2013), yang menyatakan harga pokok produksi merupakan jumlah uang yang akan dibayarkan dalam rangka untuk memiliki produk atau jasa yang diperlukan perusahaan sebagai sarana untuk menghasilkan keuntungan. Unsur-unsur yang harus diperhitungkan dalam penentuan harga pokok produk ada tiga. Yaitu, biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan yang terakhir adalah biaya overhead pabrik atau perusahaan. 1. Biaya Bahan Baku Langsung Empat hal yang sangat penting untuk perhitungan harga pokok produk dan mereka mengandalkan sistem manajemen bahan baku untuk memiliki titik awal yang akurat. Empat hal tersebut adalah menghitung bahan baku, biaya bahan baku yang dibeli, total bahan baku yang ada di akhir periode, dan mengakhiri persediaan bahan baku.

19


2.

Biaya Tenaga Kerja Ini mungkin yang paling mudah dilacak. Praktik akuntansi standar dan catatan penggajian memastikan bahwa ini adalah penghitungan yang mudah diperoleh. Namun, ini harus mencakup tidak hanya upah langsung yang dibayarkan tetapi biaya manfaat yang terkait dengan tenaga kerja yang terlibat dalam produksi. 3.

Biaya Tidak Langsung/Overhead Manufaktur Ini bisa menjadi informasi yang paling menantang untuk dikumpulkan. Biaya paralel dengan biaya langsung meliputi bahan tidak langsung terdiri dari perlengkapan kantor hingga bagian perbaikan untuk peralatan pabrik, tenaga kerja tidak langsung terdiri dari sumber daya manusia, akuntansi, pembelian, personil pemeliharaan fasilitas, manajemen dan biaya overhead lainnya yaitu depresiasi bangunan pabrik, depresiasi peralatan pabrik, asuransi dan pajak pada setiap bangunan pabrik. Cara menghitung harga pokok produksi didasarkan pada jumlah pekerjaan dalam proses yang diselesaikan. Pekerjaan-dalam-proses ini termasuk biaya bahan langsung yang dimasukkan ke dalam produksi, ditambah tenaga kerja langsung dan overhead. 2.4.2. Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi merupakan laporan yang menyajikan informasi pengeluaran, pendapatan, serta laba atau rugi yang dihasilkan perusahaan selama periode tertentu dan berfungsi sebagai alat memonitor kemajuan dan kekurangan keuangan perusahaan. Laporan laba rugi termasuk ke dalam salah satu empat jenis laporan keuangan utama dan menjadi penghubung antara dua laporan neraca dalam periode berurutan. Biasanya para pengusaha membuat laporan laba rugi untuk menentukan profitabilitas dan juga nilai investasi perusahaan dan dibuat pada akhir tahun atau akhir periode. Unsur utama dari penyusunan laporan laba rugi adalah sebagai berikut. Pendapatan (revenue) Adalah peningkatan aktiva atau arus masuk perusahaan yang dihasilkan dari kegiatan operasional. Nilai pendapatan diperoleh dari total 20


pendapatan kotor perusahaan yang telah dikurangi potongan harga atau diskon, retur, dan tunjangan lainnya. Beban (expenses) Arus keluar atau pemakaian aktiva atau munculnya liabilitas dalam suatu periode tertentu dikarenakan pengiriman ataupun produksi barang. Keuntungan (profit) Peningkatan ekuitas karena terjadi transaksi perusahaan atau yang dihasilkan dari pendapatan atau investasi dari pemilik perusahaan. Kerugian (loss) Yaitu penurunan ekuitas yang disebabkan adanya transaksi yang dilakukan perusahaan atau akibat dari beban dan pendistribusian kepada pemilik perusahaan. Dalam penyusunan laporan laba rugi, terdapat beberapa jenis pembagian laba yaitu  Laba Kotor yaitu Pengukuran pendapatan langsung perusahaan dari penjualan produk dalam satu periode akuntansi. Laba kotor sama halnya dengan pendapatan dari hasil penjualan bersih setelah dikurangi harga pokok penjualannya. Laba kotor ini mengindikasikan seberapa jauh perusahaan bisa menutupi biaya produksinya.  Laba Operasi yaitu Selisih antara penjualan dan semua biaya dan beban operasi perusahaan. Umumnya, laba operasi ini dipakai sebagai alat ukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dari aktivitas bisnisnya.  Laba Sebelum Pajak yaitu Jumlah laba sebelum Pajak Penghasilan yang ditetapkan berdasarkan standar akuntansi keuangan. Laba sebelum pajak tidak mempengaruhi jumlah Pajak Penghasilan yang sebenarnya untuk pihak-pihak yang menggunakannya dalam mengambil keputusan.  Laba Bersih yaitu Laba bersih merupakan indikasi dari profitabilitas dari perusahaan. Sementara laba bersih adalah kelebihan keuntungan dalam penjualan bersih perusahaan terhadap 21


harga pokok penjualan dikurangi beban operasi dan Pajak Penghasilan. Dalam penyusunan laporan laba rugi terdapat dua bentuk yang umum digunakan oleh perusahaan, yaitu Bentuk Laporan Single Step (Langsung) Single step income statement adalah laporan laba atau rugi dari suatu perusahaan yang berisikan mengenai keseluruhan pendapatan serta keuntungan yang didapat, termasuk dari unsur operasi yang ada pada posisi awal laporan laba rugi. Kemudian selanjutnya adalah semua kewajiban dan juga kerugian yang masuk ke dalam kategori operasi yang ada di bawahnya. Penyajian laporan laba rugi dalam bentuk single step income statement adalah seperti di bawah ini.  Keseluruhan jumlah pendapatan dari hasil penjualan harus dijumlahkan dan dijadikan sebagai kelompok sendiri.  Total keseluruhan akun beban kemudian dijumlahkan beserta dibuat kelompok sendiri.  Total dari pendapatan harus dikurangi dengan keseluruhan total beban yang ditanggung.  Selisih dari pendapatan dan juga beban merupakan hasil keuntungan atau kerugian yang didapat oleh perusahaan. Laporan single step income statement digunakan oleh suatu perusahaan alasannya yaitu karena format pada laporan dalam bentuk ini lebih sederhana dan mudah untuk dibaca. Selain itu penggunaan dari laporan single step income statement yaitu karena perusahaan masih belum menyadari adanya laba yang didapatkan oleh perusahaan tersebut. Adapun bentuk laporan single step dapat dilihat pada tabel berikut ini.

22


Tabel 2.1

Laporan Laba Rugi Single Step Laporan Laba Rugi Toko Alat Tulis Mulia Adiyana Bulan September 2021

Pendapatan Pendapatan Penjualan Alat Tulis Pendapatan Sewa Tempat Parkir Pendapatan Jasa Pengetikan Jumlah Pendapatan Beban Usaha Beban Gaji Karyawan Beban Listrik dan Air Beban Sewa Ruko Beban Pajak 10% Jumlah Beban Laba Bersih

Rp10.900.000 Rp300.000 Rp150.000 Rp11.350.000 -

Rp3.000.000 Rp200.000 Rp1.000.000 Rp715.000 -

Rp4.915.000 Rp6.435.000

Bentuk Laporan Multiple Step (Tidak Langsung) Laporan multiple step income statement adalah bentuk laporan laba atau rugi yang di dalamnya berisikan mengenai langkah-langkah untuk dapat menentukan keuntungan bersih yang dihasilkan dalam suatu perusahaan. Bentuk penyajian laporan laba rugi bentuk multiple step income statement adalah sebagai berikut.  Pada akun pendapatan haruslah bedakan antara cara pendapatan yang berhubungan dengan bisnis dan pendapatan di luar bisnis.  Begitupun pada akun beban yang mana antara beban bisnis dan beban di luar bisnis haruslah dibedakan satu sama lain.  Pada akun pendapatan dan juga bukan bisnis ada pada bagian awal dalam laporan, Sedangkan untuk pendapatan dan beban awal masuk di luar bisnis terletak pada bagian setelahnya. Laporan multiple step income statement adalah pengelompokan akun pendapatan dan juga akun beban yang berbeda secara terpisah. Laporan ini juga memisahkan antara transaksi operasi dan juga transaksi nonoperasi. Selain itu terdapat pula perbandingan biaya dan juga perbandingan beban terhadap adanya suatu pendapatan. Adapun bentuk laporan multiple step dapat dilihat pada tabel berikut ini.

23


Tabel 2.2

Laporan Laba Rugi Multiple Step Laporan Laba Rugi Toko Alat Tulis Mulia Adiyana Bulan September 2021

Pendapatan Usaha Pendapatan Penjualan Alat Tulis Beban Usaha Beban Gaji Karyawan Beban Listrik dan Air Beban Sewa Ruko Jumlah Beban Usaha Pendapatan di Luar Usaha Pendapatan Sewa Tempat Parkir Pendapatan Jasa Pengetikan Laba di Luar Usaha Laba Total Sebelum Pajak Beban di Luar Usaha Beban Pajak 10% Laba Bersih Setelah Pajak

Rp10.900.000 -

Rp3.000.000 Rp200.000 Rp1.000.000 -

Rp4.200.000

Rp300.000 Rp150.000 Rp450.000 Rp7.150.000 -

Rp715.000 Rp6.435.000

2.4.3. Laporan Neraca Keuangan Neraca merupakan laporan keuangan yang di dalamnya terdapat informasi terkait akun-akun aktiva, modal serta kewajiban perusahaan pada satu periode tertentu. Pada umumnya, neraca ini terbagi dalam dua macam, yaitu bentuk vertikal (staffel) dan bentuk horizontal (skontro). Nilai modal yang ada pada neraca nilai yang tercantum dalam laporan perubahan modal. Pada laporan neraca bisa memperoleh keseimbangan karena terdiri dari pendapatan dan biaya yang tercantum pada laporan laba rugi. Apabila sebuah perusahaan gagal dalam menyusun neraca, bisa dibilang itu merupakan kegagalan dari seluruh manajemen perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan di dalam laporan neraca sendiri ada informasi sangat berguna untuk pihak-pihak yang memiliki kepentingan seperti pemegang saham, kreditur, pemerintah dan lainnya agar bisa menentukan kebijakan ke depannya sedangkan kegunaan neraca keuangan adalah untuk melihat apakah kondisi keuangan sebuah perusahaan sehat atau tidak, dapat dipakai untuk memperkirakan keadaan aliran kas di masa depan dan sebagai alat menganalisis likuiditas dan fleksibilitas keuangan perusahaan.

24


Komponen-komponen dalam neraca terbagi 3 yaitu aktiva (aset), pasiva (kewajiban/utang) dan modal. a. Aktiva Kekayaan dari perusahaan yang punya nilai manfaat untuk masa depan, seperti kendaraan, tanah, gedung, dan lainnya. Aktiva sendiri terdiri dari dua macam, yaitu aktiva lancar (current asets), dan aktiva tetap (tangible fixed asets). Aset lancar merupakan aktiva yang bisa dicairkan relatif lebih cepat, artinya bisa diubah menjadi sebuah kas dalam waktu setahun bahkan kurang. Sementara aset tetap adalah aset yang memiliki manfaat dalam waktu yang lama. b.

Kewajiban Kewajiban atau liabilitas terdiri dari beberapa macam, yaitu utang lancar (current liabilities), dan utang jangka panjang (long term liabilities). Namun, secara pengertiannya kewajiban merupakan utang yang dibayarkan oleh perusahaan kepada pemberi pinjaman atau kreditur dan pihak-pihak lainnya. Kewajiban utang lancar adalah kewajiban dengan jatuh tempo satu tahun. Contohnya, utang dagang, wesel tagihan, gaji dan pajak yang perlu dibayarkan. Kewajiban utang jangka panjang adalah kewajiban perusahaan untuk melakukan pembayaran dengan jatuh tempo lebih dari setahun. Contohnya, pinjaman berjangka dan obligasi dengan jatuh tempo lebih dari satu tahun. c.

Modal Kekayaan perusahaan yang berasal dari pemilik perusahaan. Modal perusahaan bisa terus bertambah apabila pemilik menambahkan investasi di perusahaannya dan memperoleh keuntungan. Akan tetapi, modal bisa juga berkurang jika pemilik perusahaan menarik dana investasinya atau prive dan apabila perusahaan mengalami kerugian. Pada bagian modal, terdapat dua komponen di dalamnya, yaitu Saham disetor Maksudnya adalah jumlah kas yang diserahkan oleh pemegang saham atau stakeholder kepada perusahaan. Dana dari saham tersebut 25


nantinya akan digunakan untuk berbagai kebutuhan perusahaan, misalnya membeli aset atau untuk modal kerja. Laba ditahan Arti dari laba ditahan adalah laba perusahaan yang tidak dishare atau dibagikan kepada para pemegang saham. Laba ditahan ini akan terus menerus terakumulasi dari waktu ke waktu saat sebagian keuntungan perusahaan tidak seluruhnya dibagikan sebagai bentuk dividen. Dari ketiga komponen penting pada laporan neraca tersebut, jika dihubungkan dengan prinsip akuntansi akan didapat persamaan dasar sebagai berikut. Aktiva = Kewajiban + Modal Bentuk dari laporan neraca ini ada dua macam. Bentuk laporan yang memanjang ke bawah disebut staffel. Lalu susunan laporan neraca dengan bentuk ke samping dinamakan skontro. Kedua bentuk ini bisa diterapkan oleh siapa pun. Namun, ada yang harus diperhatikan dalam penyusunannya supaya bisa disesuaikan dengan jumlah pos akun yang dipakai perusahaan. Jika akun yang digunakan banyak, neraca bentuk staffel lebih efektif. Sedangkan bentuk neraca skontro lebih mudah diterapkan di perusahaan yang punya akun dan jumlah nominalnya sedikit, seperti bisnis UKM. Adapun contoh laporan neraca bentuk staffel seperti di bawah ini. Tabel 2.3 No. A 1 2 3 4 5 6 7 B

26

Laporan Neraca Keuangan Staffel 31 Desember 2021

Aktiva (Aset) AKTIVA LANCAR Kas Piutang Usaha Persediaan Bahan Utama Persediaan Bahan Penolong Persediaan Barang Jadi Biaya yang Dibayar di Muka Aktiva Lancar Lainnya Total Aktiva Lancar AKTIVA TETAP Pembelian Tanah

Jumlah (Rp) 6.828.510 10.000.000 3.000.000 19.828.510 35.500.000


No.

C

No. A

B

C

Aktiva (Aset) Pembelian Bangunan Penyusutan Mesin dan Perlengkapan: Mesin Jahit Mesin Obras Mesin Overdeck Mesin Lubang Kancing Mesin Pasang Kancing Mesin Potong Total Aktiva Tetap AKTIVA LAINNYA Goodwill Total Aktiva Lainnya Jumlah Aktiva

Jumlah (Rp) 10.000.000 1.000.000 12.500.000 10.000.000 5.000.000 9.000.000 10.000.000 4.200.000 97.200.000 37.500.000 154.528.510

Pasiva (Kewajiban) HUTANG LANCAR Pinjaman Bank melalui KUR Pinjaman Koperasi Reguler Pinjaman Koperasi Usaha Pinjaman Bank Lainnya Pinjaman Koperasi Lainnya Uang Muka Pelanggan Total Utang Lancar HUTANG JANGKA PANJANG Pinjaman di Atas 3 Tahun Total Utang Jangka Panjang TOTAL PASIVA MODAL (EKUITAS) Modal Sendiri Laba Ditahan Tahun Sebelumnya Laba Ditahan Tahun Ini Total Modal (Ekuitas) Zakat Mal Pajak Penghasilan Laba Dibagikan Jumlah Pasiva

Jumlah (Rp) 22.916.667 4.500.000 9.000.000 4.500.000 1.800.000 7.192.598 49.909.264 48.611.111 48.611.111 98.520.375 50.000.000 4.506.101 54.506.101 0 0 1.502.034 154.528.510

27


Sedangkan neraca dengan bentuk skontro bisa dilihat pada contoh berikut ini. Tabel 2.4 No. A

Laporan Neraca Keuangan Diskonto 31 Desember 2021

Aktiva (Aset)

1

AKTIVA LANCAR Kas

2

Piutang Usaha

Jumlah (Rp)

No. A

6.828.510

1 2

10.000.000 3 4 5

6

7

B

Persediaan Bahan Utama Persediaan Bahan Penolong Persediaan Barang Jadi Biaya yang Dibayar di Muka Aktiva Lancar Lainnya Total Aktiva Lancar AKTIVA TETAP Pembelian Tanah Pembelian Bangunan Penyusutan Mesin dan Perlengkapan: Mesin Jahit Mesin Obras Mesin Overdeck

28

-

3 4 5

6 3.000.000

2

Total Utang Lancar HUTANG JANGKA PANJANG Pinjaman di Atas 3 Tahun -

3

-

B 19.828.510 35.500.000 10.000.000

1

1.000.000 12.500.000 10.000.000 5.000.000

Pasiva (Kewajiban) HUTANG LANCAR Pinjaman Bank Melalui KUR Pinjaman Koperasi Reguler Pinjaman Koperasi Usaha Pinjaman Bank Lainnya Pinjaman Koperasi Lainnya Uang Muka Pelanggan

C 1 2

Total Utang Jangka Panjang TOTAL PASIVA MODAL (EKUITAS) Modal Sendiri Laba Ditahan

Jumlah (Rp)

22.916.667 4.500.000 9.000.000 4.500.000 1.800.000

7.192.598 49.909.264 48.611.111 48.611.111 98.520.375 50.000.000 -


No.

C

Aktiva (Aset)

Mesin Lubang Kancing Mesin Pasang Kancing Mesin Potong Total Aktiva Tetap AKTIVA LAINNYA Goodwill Total Aktiva Lainnya JUMLAH AKTIVA

Jumlah (Rp)

No.

9.000.000

3

10.000.000 4.200.000 97.200.000 -

D

Pasiva (Kewajiban) Tahun Sebelumnya Laba Ditahan Tahun Ini Total Modal (Ekuitas) Zakat Mal Pajak Penghasilan Laba Dibagikan

Jumlah (Rp)

4.506.101 54.506.101 0 0 1.502.034

37.500.000 154.528.510

JUMLAH PASIVA

154.528.510

Dari contoh neraca skontro di atas, bisa dilihat posisi sebelah kiri laporan terdiri dari aktiva (kekayaan perusahaan), yang terbagi menjadi dua komponen yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Komponen aktiva ini termasuk dalam kelompok investasi pada manajemen keuangan perusahaan. Sementara pada posisi sebelah kanan, terdiri dari kewajiban (utang) dan modal (ekuitas) perusahaan. Keduanya merupakan sumber dana bagi perusahaan di dalam manajemen keuangan. 2.4.4. Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan atau financial ratio merupakan suatu alat analisis yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan masing-masing pos yang terdapat di laporan keuangan seperti laporan neraca, laba/rugi, dan arus kas dalam periode tertentu. Adapun fungsi dan rumus analisis rasio dapat dijelaskan berikut ini. 1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek suatu perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan

29


relatif terhadap utang lancarnya. Di mana jenis jenis likuiditas adalah sebagai berikut. Rasio lancar (current ratio) Tujuannya adalah mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo dengan aktiva lancar yang tersedia. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Berikut rumus rasio lancar: Current ratio = aktiva lancar/utang lancar x 100% Rasio cepat (quick ratio/acid test ratio) Rasio cepat mengukur kemampuan usaha dalam membayar utang jangka pendek menggunakan aktiva yang lebih mudah cair (liquid assets). Rumus rasio keuangan cepat adalah Quick ratio = kas + efek + piutang/utang lancar x 100% Rasio kas (cash ratio) Rasio kas berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya dengan kas yang tersedia dan juga surat berharga. Kas yang dimaksud merupakan uang perusahaan yang disimpan baik di kantor maupun bank dalam bentuk rekening koran. Sedangkan surat berharga merupakan harta setara kas yang dengan mudah diuangkan kembali. Adapun rumus rasio keuangan kas adalah berikut: Cash ratio = kas + efek/utang lancar Nilai ideal dari ketiga perhitungan di atas adalah sebesar-besarnya 150% yang berarti semakin besar hasil perhitungan rasio likuiditas maka semakin sehat kondisi perusahaan. 2.

Rasio Profitabilitas dan Rentabilitas (Profitability Ratio) Merupakan rasio yang menunjukkan tingkat imbalan atau perolehan dibanding penjualan atau aktiva. Rasio ini berguna untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan

30


berdasarkan nilai penjualan, aktiva, dan modal. Ada beberapa metode dalam perhitungan rasio profitabilitas yaitu Gross profit margin Sebagai pengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba kotor. Berikut rumus rasio keuangan untuk gross profit margin: Gross profit margin = penjualan netto–cost of good sold (harga pokok penjualan)/penjualan netto x 100% Operating income ratio Perhitungan ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba operasi sebelum bunga dan pajak dari penjualan. Berikut rumus rasio keuangan untuk operating income ratio: Operating income ratio = penjualan netto–cost of good sold (HPP )– earnings before interest & taxes (EBIT)/penjualan netto x 100% Net profit margin Net profit margin menghitung tingkat kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba bersih. Berikut rumus rasio keuangan untuk net profit margin: Net profit margin = laba bersih setelah pajak (EAT)/penjualan netto x 100% Earning power of total investment Mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola modal yang dimiliki dan diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva. Perhitungan ini sebagai acuan investor atau pemegang saham dalam mengukur tingkat keuntungan investasi yang ditanamkan dalam perusahaan. Rumus rasio keuangan untuk earning power of total investment sebagai berikut. Earning power of total investment = laba sebelum pajak dan bunga/jumlah aktiva x 100%

31


Return of investment Menghitung kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah laba bersih setelah pajak atau earnings after tax (EAT). Berikut rumus rasio keuangan untuk return of investment: Return of investment = EAT/jumlah aktiva x 100% Return on equity Kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba berdasarkan ekuitas. Berikut rumus rasio keuangan untuk equity:

bersih

Equity = earnings after tax (EAT)/jumlah equity x 100% Return on net worth Mengukur kemampuan modal sendiri yang diinvestasikan untuk menghasilkan pendapatan bagi pemegang saham. Berikut rumus rasio keuangan untuk return on net worth: Return on net worth = earnings after tax (EAT)/jumlah modal sendiri x 100% Semakin tinggi nilai hasil perhitungan rasio profitabilitas berarti semakin baik nilai keuntungan perusahaan. 3.

Rasio Solvabilitas Rasio ini bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Ada dua jenis dalam rasio ini, yaitu perbandingan kewajiban dengan aset (total debt to assets ratio) dan juga perbandingan dengan ekuitas (total debt to equity ratio). Total debt to aset ratio Bertujuan menghitung pengaruh besaran kewajiban terhadap pengelolaan aset perusahan. Selain itu, rasio ini berfungsi untuk mengukur berapa aktiva/aset perusahaan yang dibiayai oleh utang. Kunci dari total debt to asset ratio adalah semakin kecil rasionya maka semakin aman.

32


Total debt to equity ratio Menunjukkan hubungan antara jumlah utang jangka panjang dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan. Bagi pengusaha, besaran utang tidak boleh lebih dari jumlah modal sendiri. Sehingga Semakin kecil rasionya maka semakin aman bagi perusahaan. Nilai maksimal dari kedua rasio ini adalah 200% sebagai batas aman perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya. 4.

Rasio Aktivitas Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Dalam analisis ini, aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu mengakibatkan semakin besarnya dana lebih yang tertanam pada aktiva. Dana lebih ini yang di mana dampak dari aktivitas rendah menjadi lebih baik jika ditanamkan pada aktivitas yang lebih produktif. Perputaran piutang (receivable turnover) Digunakan untuk mengukur kualitas dan efisiensi tingkat perputaran piutang perusahaan dalam satu periode dengan membandingkan penjualan dengan rata-rata piutang. Semakin tinggi rasionya, maka semakin baik kualitas dan efisiensi perputaran piutang perusahaan. Berikut rumus rasio keuangan untuk perputaran piutang: Perputaran piutang (receivable turnover) = penjualan/piutang rata-rata x 100% Perputaran persediaan (inventory turnover) Digunakan untuk mengukur tingkat kualitas dan efisiensi perputaran persediaan perusahaan terhadap penjualan dalam satu periode tertentu. Semakin tinggi rasionya, maka pengelolaan persediaan yang dilakukan oleh perusahaan semakin efisien. Berikut rumus rasio keuangan untuk perputaran persediaan (inventory turnover): Perputaran persediaan (inventory turnover) = penjualan/persediaan x 100%

33


Perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover) Rasio ini berguna untuk mengukur dan mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktiva tetap secara efisien dalam rangka meningkatkan penjualan, semakin besar berarti semakin efektif perusahaan dalam mengelola aktiva tetapnya. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut. Perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover) = penjualan/aktiva tetap x 100% Perputaran aktiva total (total asset turnover) Rasio ini juga melibatkan aktiva lancar dan aktiva tetap. Di mana semakin besar rasionya, maka semakin efektif perusahaan bisa memanfaatkan seluruh aktivanya terhadap konversi penjualan. Berikut rumus rasio keuangan untuk perputaran aktiva total: Perputaran aktiva total (total asset turnover) = penjualan/total aktiva x 100% Perputaran rerata tagihan (average collection turnover) Rasio ini mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menerima tagihan dari konsumen dalam satu tahun. Rumus rasio keuangan untuk perputaran rerata tagihan (average collection turnover) adalah sebagai berikut. Perputaran rerata tagihan (average collection turnover) = piutang x 365/penjualan x 100% Perputaran modal kerja (working capital turnover) Mengukur tingkat perputaran modal kerja bersih yaitu perbandingan antara aktiva lancar dengan utang lancar terhadap penjualan dalam satu periode. Rumus rasio keuangan untuk perputaran modal kerja (working capital turnover) adalahnya adalah: Perputaran modal kerja (working capital turnover) adalah = penjualan/(aktiva lancar–utang lancar) x 100%

34


Adapun bentuk model kinerja usaha tersebut dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.5 No Urut

Kinerja Usaha 31 Desember 2021

Jenis Rasio Keuangan

1

Rasio Likuiditas

2

Rasio Solvabilitas

3

4

Rasio Profitabilitas

Rasio Aktivitas

Analisis Rasio Keuangan Rasio Lancar (CR) Net Working Capital (NWC) Total Kewajiban terhadap Asset (DAR) Persentase Penyediaan Dana (DER) Net Profit Margin (NPM) Return On Asset (ROA) Return On Equity (ROE) Receivable On Turnover (RTO) Total Asset Turnover (TATO)

Nilai Kinerja Usaha 42 %

Kinerja Tidak Baik

-58 %

Kinerja Tidak Baik

26 %

Kinerja Tidak Baik

37 %

Kinerja Tidak Baik

31 %

Kinerja Tidak Baik

9%

Kinerja Tidak Baik

12 %

Kinerja Tidak Baik

125 %

Kinerja Baik

10 %

Kinerja Tidak Baik

Kesimpulan

Keterangan: Rasio Likuiditas: Rasio Lancar (CR) CR = Aktiva Lancar/Kewajiban Lancar x 100 Net Working Capital (NWC) NWC = Aktiva Lancar–Kewajiban Lancar/Kewajiban Lancar x 100 Rasio Solvabilitas: Total Kewajiban terhadap Asset (DAR) DAR = Total Kewajiban/Total Aktiva x 100 Persentase Penyediaan Dana (DER) DER = Total Kewajiban/Total Ekuitas (Modal) x 100 Rasio Profitabilitas: Net Profit Margin (NPM) NPM = Laba Bersih/Pendapatan x 100

35


Return On Asset (ROA) ROA = Laba Bersih/Pendapatan x 100 Return On Equity (ROE) ROE = Laba Bersih/Rata-Rata Ekuitas x 100 Rasio Aktivitas Receivable On Turnover (RTO) RTO = Penjualan Bersih/Rata-rata Piutang Usaha x 100 Total Asset Turnover (TATO) TATO = Penjualan Bersih/Total Aktiva x 100

Dengan demikian, hubungan antara biaya pokok produksi, laporan laba rugi, laporan neraca keuangan dan kinerja usahanya dapat dilihat pada diagram berikut ini.

Gambar 2.1

36

Skema Hubungan Harga Pokok Produksi, Laba Rugi, Laporan Neraca dan Kinerja Usaha


2.5.

Sistem Pajak

Menurut Undang-Undang Perpajakan No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan terkait dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, materi tentang sistem perpajakan terdiri dari ketentuan umum dan tata cara perpajakan, Pajak Penghasilan (PPH) dan Pajak Penambahan Nilai (PPN). 2.5.1. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Ada beberapa ketentuan umum dan tatacara perpajakan yang disampaikan dalam Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) adalah sebagai berikut. 1) Penggunaan NIK sebagai NPWP orang pribadi digunakan untuk mengintegrasikan basis data kependudukan dengan sistem administrasi perpajakan dan mempermudah WP orang pribadi melaksanakan pemenuhan kewajiban hak dan kewajiban perpajakan 2) Besaran sanksi pada saat pemeriksaan dan sanksi dalam upaya hukum 3) Sanksi pemeriksaan dan WP tidak menyampaikan SPT/membuat pembukuan dengan uraian dan perbandingannya dapat dilihat berikut ini Uraian

KUP Lama

PPh kurang dibayar

50%

PPh kurang dipotong

100%

PPh dipotong tetapi tidak disetor PPN & PPnBM kurang dibayar

4)

RUU HPP Sanksi bunga per bulan → bunga acuan + uplift factor (maks. 24 bulan) Sanksi bunga per bulan → bunga acuan + uplift factor (maks. 24 bulan)

100%

75%

100%

75%

suku 20% suku 20%

Sanksi setelah upaya hukum namun keputusan keberatan/pengadilan menguatkan ketetapan DJP

37


Uraian Keberatan Banding Peninjauan Kembali

KUP Lama 50% 100%

RUU HPP 30% 60% 60%

5)

Kuasa wajib pajak Untuk keadilan dan kepastian hukum, kuasa wajib pajak dapat dilakukan oleh siapa pun, sepanjang memenuhi persyaratan kompetensi menguasai bidang perpajakan, pengecualian syarat diberikan jika kuasa yang ditunjuk merupakan suami, istri, atau keluarga sedarah/semenda 2 (dua) derajat. 6)

Penegakan hukum pidana pajak dengan mengedepankan pemulihan kerugian pendapatan negara  Menambah wewenang Penyidik Pajak untuk melakukan pemblokiran dan/atau penyitaan aset sebagai jaminan pemulihan kerugian pada pendapatan negara  Hingga tahap persidangan, WP diberikan kesempatan untuk mengembalikan kerugian pada pendapatan negara dengan membayar pokok pajak dan sanksi, sebagai pertimbangan untuk dituntut tanpa penjatuhan pidana penjara (ultimum remedium)

2.5.2. Pajak Penghasilan Menurut UU Perpajakan No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, ada bagian penting yang harus diketahui dalam menghitung objek dan besaran Pajak Penghasilan yaitu 1. Pajak Atas Natura dan/atau Kenikmatan Pemberian natura dan/atau kenikmatan kepada pegawai dapat dibiayakan oleh pemberi kerja dan merupakan penghasilan bagi pegawai. Natura tertentu bukan merupakan penghasilan bagi penerima antara lain Penyediaan makan/minum, bahan makanan/minuman bagi seluruh pegawai; Natura di daerah tertentu; Natura karena keharusan pekerjaan, contoh: alat keselamatan kerja atau seragam; Natura yang bersumber dari APBN/APBD/APBDes; Natura dengan jenis dan batasan tertentu.

38


2.

Tarif PPH Orang Pribadi Perubahan tarif dan perbandingan Pajak Penghasilan orang pribadi, agar mencerminkan keadilan, kriteria tarif PPH dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.6 Lapisan Tarif I II III IV V

Perbandingan Tarif dan Kriteria Pajak Penghasilan UU PPh Rentang Penghasilan 0 - Rp50 juta >Rp50 - 250 juta >Rp250 - 500 juta >Rp500 juta

RUU HPP Tarif

Rentang Penghasilan

Tarif

5% 15% 25% 30%

0 - Rp60 juta >Rp60 - 250 juta >Rp250 - 500 juta >Rp500 juta - 5 miliar >Rp5 miliar

5% 15% 25% 30% 35%

Sedangkan perhitungan Pajak Penghasilan dapat dijelaskan pada tabel berikut ini. Tabel 2.7

Perhitungan Pajak Penghasilan

Penghasilan Netto Per Bulan Penghasilan/Tahun PTKP(TK/0) Penghasilan Kena Pajak(PKP)

Perhitungan Pajak Penghasilan Terutang Total Pajak Penghasilan Terutang

5 Juta

9 Juta

10 Jt

60 Juta 54 Juta

108 Juta 54 Juta

120 Juta 54 Juta

6 Juta

54 Juta

66 Juta

UU PPH 5%x 6 Jt = Rp300 Rb

RUU HPP

UU PPH

RUU HPP

UU PPH

RUU HPP

5%x 6 Jt= Rp300 Rb

5%x 50 Jt= Rp2,5 Jt

5%x54 jt=2,7 Jt

5%x50 Jt= 2,5 Jt

5%x60 Jt= 3 Jt

-

-

15%X4 Jt = 600 Rb

-

15%x16 Jt = 2,4 Jt

15%x6 Jt = 900 Rb

Rp300 Rb

Rp300 Rb

Rp3,1 Jt

2.7 Jt

Rp4,9 Jt

Rp3,9 Jt

Perubahan tarif ini tidak menambah beban PPh bagi orang pribadi yang berpenghasilan s.d. Rp5 miliar setahun. Masyarakat berpenghasilan sampai dengan 4,5jt per bulan tetap tidak membayar PPh sama sekali. Data dari SPT tahun 2019, dari 11,5 juta WP yang melaporkan SPT hanya 4,9 juta WP yang membayar pajak.

39


Masyarakat dengan penghasilan di atas 4,5jt per bulan, mayoritas akan membayar pajak yang lebih rendah. 3.

Tarif PPH Badan Tarif PPh badan diputuskan tetap menjadi 22%, yang berlaku untuk tahun pajak 2022 dan seterusnya. Adapun perbandingan tarif untuk PPh badan dapat dijelaskan pada tabel berikut ini. Tabel 2.8

Perbandingan Tarif PPH Badan

UU PPh (Perppu 1/2020 jo. UU 2/2020) Tahun Pajak Tarif Tahun 2020 dan 2021 22% Tahun 2022 20%

RUU HPP Tahun Pajak Tahun 2022 dst.

Tarif 22%

4.

Batas Peredaran Bruto Tidak Kena Pajak Bagi orang pribadi pengusaha dengan peredaran bruto tertentu (WP OP PP 23), dengan peredaran bruto sampai Rp500 juta setahun tidak dikenai PPh. Adapun ilustrasi perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.9

No

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

40

Bulan

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah

Cara Perhitungan Pajak Penghasilan bagi Orang Pribadi dengan Peredaran Bruto Tertentu Peredaran Usaha (Rp) 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 1.200.000.000

Peredaran Usaha Kumulatif (Rp)

Peredaran Bruto Tidak Kena Pajak (Rp)

100.000.000 200.000.000 300.000.000 400.000.000 500.000.000 600.000.000 500.000.000 700.000.000 800.000.000 900.000.000 1.000.000.000 1.100.000.000 1.200.000.000

PPh Final PPh Final Peredaran Terutamg Terutang Usaha Kena Setelah Sebelum Pajak (Rp) RUU HPP RUU HPP (Rp) (Rp) 0 0 500.000 0 0 500.000 0 0 500.000 0 0 500.000 0 0 500.000 100.000.000 500.000 500.000 100.000.000 500.000 500.000 100.000.000 500.000 500.000 100.000.000 500.000 500.000 100.000.000 500.000 500.000 100.000.000 500.000 500.000 100.000.000 500.000 500.000 700.000.000 3.500.000 6.000.000


2.5.3. Pajak Penambahan Nilai 1. Pengertian PPN Pajak Penambahan Nilai (PPN) adalah jumlah yang diwajibkan sebagai kontribusi untuk transaksi baik berupa jasa maupun barang. Secara umum PPN adalah nilai yang harus kita bayarkan jika ingin membeli atau menggunakan sesuatu oleh badan wajib pajak maupun wajib pajak (perorangan). Penetapan PKP atau pengusaha kena pajak bisa dilakukan pada pengusaha atau perusahaan yang bertransaksi jual beli barang maupun jasa sebanyak Rp4,8 miliar setiap tahun. PKP yang sudah ditetapkan akan menyetorkan nilai pajak sesuai dengan dua ketentuan di bawah ini, yaitu  Pajak keluaran: PPN yang nantinya akan diambil ketika PKP berhasil menjualkan jasa maupun produk mereka.  Pajak masukan: PPN yang dibayarkan oleh pihak PKP ketika membuat, membeli dan memperoleh jasa maupun produk mereka tersebut. 2.

Tarif Pajak Penambahan Nilai (PPN) Dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), pemerintah mengatur kembali besarnya tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan direalisasikan pada Tahun 2022. Hal ini tertuang dalam Pasal 7 UU HPP yaitu 1) Tarif Pajak Pertambahan Nilai yaitu sebesar 11% (sebelas persen) yang mulai berlaku pada tanggal 1 April 2022. Kenaikan menjadi 12% (dua belas persen) yang mulai berlaku paling lambat tanggal 1 Januari 2025. 2) Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, Ekspor Jasa Kena Pajak. 3) Tarif pajak dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

41


3. Jenis barang yang tidak dikenai PPN adalah: 1) Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman, baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering, yang merupakan objek pajak daerah dan retribusi daerah. 2) Uang, emas batangan untuk kepentingan cadangan devisa negara, dan surat berharga. 4. Jenis Jasa yang Tidak Kena PPN 1) Jasa keagamaan 2) Jasa kesenian dan hiburan, meliputi semua jenis jasa yang dilakukan oleh pekerja seni dan hiburan yang merupakan objek pajak daerah dan retribusi daerah 3) Jasa perhotelan, meliputi jasa penyewaan kamar dan/atau jasa penyewaan ruangan di hotel yang merupakan objek pajak daerah dan retribusi daerah 4) Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum 5) Jasa penyediaan tempat parkir, meliputi jasa penyediaan atau penyelenggaraan tempat parkir yang dilakukan oleh pemilik tempat parkir atau pengusaha pengelola tempat parkir kepada pengguna tempat parkir yang merupakan objek pajak daerah dan retribusi daerah 6) Jasa boga atau katering, meliputi semua kegiatan pelayanan penyediaan makanan dan minuman yang merupakan objek pajak daerah dan retribusi daerah. 5. Kriteria PKP yang Dapat Menggunakan PPN UMKM 1) PKP yang punya peredaran usaha dalam 1 tahun buku tidak melebihi peredaran bruto tidak lebih dari Rp4,8 miliar setahun, PKP yang sudah mencapai omzet bruto di atas Rp4,8 miliar secara otomatis sudah wajib berstatus PKP 2) Melakukan kegiatan usaha tertentu, antara lain yang: o Mengalami kesulitan dalam mengadministrasikan pajak masukan 42


o Melakukan transaksi melalui pihak ketiga, baik penyerahan barang/jasa kena pajak maupun pembayarannya o Memiliki kompleksitas proses bisnis sehingga pengenaan PPN tidak memungkinkan dilakukan dengan mekanisme normal 3) Melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) tertentu, seperti: o BKP/JKP yang dikenai PPN dalam rangka perluasan basis pajak o BKP/JKP yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak 4) Pengecualian bagi pelaku usaha yang jumlah omzet brutonya masih di bawah Rp4,8 miliar, ia tidak wajib menjadi PKP, namun bisa mengajukan diri sebagai PKP sehingga memiliki kewajiban melaksanakan pemungutan PPN atas transaksi barang/jasa kena yang dilakukan. 6.

Mekanisme PPN Final atau PPN UMKM Mengacu pada dasar pengenaan pajak pertambahan nilai yang didasarkan atas peredaran usaha, maka mekanisme PPN Final ini artinya bersifat final yang dihitung dari peredaran usaha yang dikalikan dengan tarif PPN Final atau PPN UMKM, hal ini berbeda dengan pada PPN normal yang mana perhitungannya didasarkan pada Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yang meliputi Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, dan lainnya, dikalikan dengan tarif PPN. 2.6.

Sistem Zakat

2.6.1. Pengertian Zakat Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5). Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah menyucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan dan penyuci dari dosa-dosa.

43


Dalam Al-Qur'an disebutkan, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah [9]: 103). Menurut istilah dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifatsifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Orang yang menunaikan zakat disebut Muzakki. Sedangkan orang yang menerima zakat disebut Mustahik. Sementara menurut Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014, zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang Islam untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Zakat dikeluarkan dari harta yang dimiliki. Akan tetapi, tidak semua harta terkena kewajiban zakat. Syarat dikenakannya zakat atas harta di antaranya Harta tersebut merupakan barang halal dan diperoleh dengan cara yang halal, Harta tersebut dimiliki penuh oleh pemiliknya, Harta tersebut merupakan harta yang dapat berkembang, Harta tersebut mencapai nisab sesuai jenis hartanya, Harta tersebut melewati haul, Pemilik harta tidak memiliki utang jangka pendek yang harus dilunasi. 2.6.2. Jenis Zakat Secara umum zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat mal. 1. Zakat fitrah (zakat al-fitr) Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa baik lelaki dan perempuan muslim yang dilakukan pada bulan Ramadan.

44


2.

Zakat mal Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya, tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagai contoh, zakat mal terdiri atas uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, dan lain-lain, sebagaimana yang terdapat dalam UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014 yang telah diubah dua kali dengan perubahan kedua adalah Peraturan Menteri Agama No. 31/2019, dan pendapat Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi serta para ulama lainnya. Mal berasal dari kata bahasa Arab artinya harta atau kekayaan (al-amwal, jamak dari kata maal) adalah “segala hal yang diinginkan manusia untuk disimpan dan dimiliki” (Lisan ul-Arab). Menurut Islam sendiri, harta merupakan sesuatu yang boleh atau dapat dimiliki dan digunakan (dimanfaatkan) sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu dalam pengertiannya, zakat mal berarti zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Zakat mal terdiri atas simpanan kekayaan seperti uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, aset perdagangan, hasil barang tambang atau hasil laut, hasil sewa aset dan lain sebagainya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Fiqh uz-Zakah, zakat mal meliputi Zakat simpanan emas, perak, dan barang berharga lainnya; Zakat atas aset perdagangan; Zakat atas hewan ternak; Zakat atas hasil pertanian; Zakat atas hasil olahan tanaman dan hewan; Zakat atas hasil tambang dan tangkapan laut; Zakat atas hasil penyewaan aset; Zakat atas hasil jasa profesi; Zakat atas hasil saham dan obligasi. Begitupun dengan yang dijelaskan di dalam UU No. 23 Tahun 2011, zakat mal meliputi emas, perak, dan logam mulia lainnya; uang dan surat berharga lainnya; perniagaan; pertanian, perkebunan, dan kehutanan; peternakan dan perikanan; pertambangan; perindustrian; pendapatan dan jasa; dan rikaz. Adapun syarat harta yang terkena kewajiban zakat mal yaitu sebagai Kepemilikan penuh; Harta halal dan diperoleh secara halal; Harta yang dapat berkembang atau diproduktifkan (dimanfaatkan); Mencukupi nisab; Bebas dari utang; Mencapai haul; atau Dapat ditunaikan saat panen. a. Zakat Penghasilan Zakat mal yang wajib dikeluarkan atas harta yang berasal dari pendapatan/penghasilan rutin dari pekerjaan yang tidak melanggar 45


syariah Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan, penghasilan yang dimaksud ialah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lainnya yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai, karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya. Nisab dan Kadar Zakat Penghasilan Zakat penghasilan dikeluarkan dari harta yang dimiliki pada saat pendapatan/penghasilan diterima oleh seseorang yang sudah dikatakan wajib zakat. Seseorang dikatakan sudah wajib menunaikan zakat penghasilan apabila ia penghasilannya telah mencapai nisab zakat pendapatan sebesar 85 gram emas per tahun. Hal ini juga dikuatkan dalam SK BAZNAS Tahun 2021 tentang Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2021. Ada banyak jenis profesi dengan pembayaran rutin maupun tidak, dengan penghasilan sama dan tidak dalam setiap bulannya. Jika penghasilan dalam 1 bulan tidak mencapai nisab, maka hasil pendapatan selama 1 tahun dikumpulkan atau dihitung, kemudian zakat ditunaikan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nisab. Adapun batas nisab dapat dijelaskan pada tabel berikut ini. Tabel 2.10 Batas Nisab Zakat Penghasilan Nisab Zakat Penghasilan Kadar Zakat Penghasilan Haul

85 gram emas 2,5% 1 tahun

Sedangkan cara menghitungnya adalah sebagai berikut. 2,5% x Jumlah penghasilan dalam 1 bulan Contoh: Jika harga emas pada hari ini sebesar Rp938.099/gram, maka nisab zakat penghasilan dalam satu tahun adalah Rp79.738.415,00. Penghasilan Bapak Fulan sebesar Rp10.000.000/bulan, atau Rp120.000.000,00 dalam satu tahun. Artinya penghasilan Bapak Fulan sudah wajib zakat. Maka zakat Bapak Fulan adalah Rp250.000,00/bulan. 46


b. Zakat Emas dan Perak Zakat emas, perak, atau logam mulia adalah zakat yang dikenakan atas emas, perak dan logam mulia lainnya yang telah mencapai nisab dan haul. Dalil mengenai kewajiban zakat atas emas atau perak ini ada dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 34. “… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” Kewajiban zakat emas dan perak juga didasari dari beberapa hadits lainnya, salah satunya adalah hadits riwayat Abu Dawud rahimahullah: “Jika engkau memiliki perak 200 dirham dan telah mencapai haul (satu tahun), maka darinya wajib zakat 5 dirham. Dan untuk emas, Anda tidak wajib menzakatinya kecuali telah mencapai 20 dinar, maka darinya wajib zakat setengah dinar, lalu dalam setiap kelebihannya wajib dizakati sesuai persentasenya.” (HR. Abu Dawud) Syarat Emas dan Perak yang Wajib Dizakati Setelah mengetahui tentang kewajiban zakat emas dan perak, lalu selanjutnya kita perlu mengetahui apa saja syarat emas dan perak yang wajib dizakati. Adapun detailnya sebagai berikut.  Milik Sendiri, artinya kepemilikan atas emas dan perak tersebut dimiliki secara sempurna dan sah, bukan pinjaman atau milik orang lain.  Sampai Haulnya, artinya emas dan perak tersebut sudah tersimpan selama satu tahun berjalan.  Sampai Nisabnya, artinya emas dan perak yang dimiliki sudah mencapai batasnya untuk dikategorikan sebagai harta yang wajib dizakati. Untuk nisab zakat emas sendiri sebesar 85 gram emas dan untuk perak sebesar 595 gram. Nisab dan Cara Menghitung Zakat Emas dan Perak Zakat emas wajib dikenakan zakat jika emas yang tersimpan telah mencapai atau melebihi nisabnya yakni 85 gram (mengikuti harga buyback emas pada hari di mana zakat akan ditunaikan), kadar

47


zakat emas adalah 2,5%. Sementara itu, zakat perak wajib ditunaikan jika perak yang dimiliki telah mencapai atau melebihi nisab sebesar 595 gram, kadar zakatnya ialah 2,5% dari perak yang dimiliki. Berikut cara menghitung zakat emas/perak: 2,5% x Jumlah emas/perak yang tersimpan selama 1 tahun Contoh: Bapak Fulan memiliki emas yang tersimpan sebanyak 100 gram (melebihi nisab), maka emasnya sudah wajib untuk dizakatkan. Jika ingin menunaikan zakat emas dengan uang, maka emas tersebut perlu di konversikan dulu nilainya dengan harga emas saat hendak ingin menunaikan zakat, misalnya Rp800.000,00/gram, maka 100 gram senilai Rp80.000.000,00. Zakat emas yang perlu Bapak Fulan tunaikan adalah 2,5% x Rp80.000.000,00 = 2.000.000,00. c. Zakat Perdagangan Zakat perdagangan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga, sedangkan harta niaga adalah harta atau aset yang diperjualbelikan dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian maka dalam harta niaga harus ada 2 motivasi: Motivasi untuk berbisnis (diperjualbelikan) dan motivasi mendapatkan keuntungan. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Harta perdagangan yang dikenakan zakat dihitung dari aset lancar usaha dikurangi utang yang berjangka pendek (utang yang jatuh tempo hanya satu tahun). Jika selisih dari aset lancar dan utang tersebut sudah mencapai nisab, maka wajib dibayarkan zakatnya. Nisab zakat perdagangan senilai 85 gram emas dengan tarif zakat sebesar 2,5% dan sudah mencapai satu tahun (haul). Berikut cara menghitung zakat perdagangan: 2,5% x (aset lancar–utang jangka pendek)

48


Contoh: Bapak A memiliki aset usaha senilai Rp200.000.000,00 dengan utang jangka pendek senilai Rp50.000.000,00. Jika harga emas saat ini Rp622.000,00/gram, maka nisab zakat senilai Rp52.870.000,00. Sehingga Bapak A sudah wajib zakat atas dagangnya. Zakat perdagangan yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x (Rp200.000.000,00 - Rp50.000.000,00) = Rp3.750.000,00. d. Zakat Saham Zakat saham adalah zakat yang dilakukan atas kepemilikan saham atau surat bukti persero dalam suatu Perusahaan Terbatas (PT), sesuai dengan nilai dan jumlah lembar sahamnya. Zakat saham wajib ditunaikan jika total harga saham bersama dengan keuntungan investasi (dividen) sudah mencapai nisab dan sudah mencapai haul. Selain itu, zakat saham yang hendak dibayarkan oleh muzaki (pembayar zakat) dilakukan dalam bentuk saham yang ada di Daftar Efek Syariah (DES). Jika saham tidak tercantum dalam DES, namun bisnis utama saham penerbit tidak bertentangan dengan prinsip syariah, maka hanya dapat diterima sebagai sedekah/infak. Cara Menghitung Zakat Saham Adapun cara menghitung zakat saham dapat dimulai dengan mengetahui batas nisabnya. Nisab zakat saham sama nilainya dengan nisab zakat mal yaitu setara dengan 85 gram emas dengan kadar zakat 2,5% dan sudah mencapai satu tahun atau telah mencapai haul. Dalam praktiknya, zakat saham ini biasanya dilakukan setiap akhir tahun. Saham yang akan dikeluarkan zakatnya akan dinilai berdasarkan harga pasar/bursa saham, bukan berdasarkan harga pada waktu membelinya. Adapun cara menghitung zakat saham sebagai berikut. 2,5 % x (capital gain + dividen) Contoh perhitungan zakat saham di bawah ini. Bapak A selama 1 tahun penuh memiliki total asset account senilai Rp100.000.000,00. Jika harga emas saat ini Rp923.000,00/gram, maka nisab zakat senilai Rp78,455,000,00.

49


Sehingga Bapak A sudah wajib zakat. Zakat mal yang perlu Bapak A tunaikan sebesar 2,5% x Rp100.000.000 = Rp2.500.000,00. Cara perhitungan & pemindahbukuan portofolio saham: Bapak A memiliki saham XXXX sebanyak 100 lot di mana harga pasar/lembar sebesar Rp645,00 (1 lot sama dengan 100 lembar). Nilai zakat Bapak A dalam saham adalah Rp2.500.000: (Rp645,00 x 100 lembar) = 38,75 lot/pembulatan menjadi 39 lot. Untuk itu, Bapak A harus memindahkan 39 lot sahamnya sebagai zakat saham. e. Zakat Reksa Dana Zakat reksa dana ditetapkan berdasarkan kesepakatan para ulama pada Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H) bahwa hasil dari keuntungan investasi wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat reksa dana dapat ditunaikan jika hasil keuntungan investasi sudah mencapai nisab. Nisab zakat reksa dana sama nilainya dengan nisab zakat mal yaitu senilai 85 gram emas dengan tarif zakat 2,5% dan sudah mencapai satu tahun (haul). Cara menghitung zakat reksa dana pun sama dengan cara menghitung zakat mal yaitu menggunakan rumus sebagai berikut. 2,5% x Jumlah harta yang tersimpan selama 1 tahun.

50


BAB III MICROSOFT EXCEL

Bab ini membahas tentang bagaimana peran dan fungsi Microsoft Excel dalam sistem pencatatan dan pembukuan pada kerangka aplikasi yang terdiri dari pengertian Microsoft Excel, fitur Microsoft Excel, sistem pencatatan dan pembukuan berbasis Excel, cara membuat link antar-sheet dan antar-file Excel.

3.1.

Pengertian Microsoft Excel

Menurut Sumarno dalam buku Pengantar Teknologi Informasi dan Komunikasi (2020), Microsoft Excel merupakan salah satu produk perangkat lunak untuk pengolahan data yang dibuat oleh Microsoft. Agak berbeda dengan program aplikasi Microsoft lainnya, Excel berbentuk lembaran tabel yang tersebar atau yang sering disebut spreadsheet. Keahlian utama dari aplikasi ini adalah pengolahan data yang bersifat numerik (angka). Fungsi Excel dalam dunia pekerjaan maupun kehidupan adalah membuat dan mengelola administrasi, mengoperasikan data tabel, grafik dan statistika, menyusun laporan keuangan, software akuntansi, menyusun anggaran harian atau bulanan.

51


3.2.

Fitur Microsoft Excel

Microsoft Office Excel memiliki kumpulan fitur dan menu yang tersusun di beberapa bagian, di mana fitur-fitur tersebut terdiri dari: 1. Office Button Fitur ini adalah bagian yang berfungsi untuk mengakses fungsi umum dalam mengolah dokumen pada Microsoft Office 2007. Beberapa menu yang terdapat di dalam Office Button seperti New, Open, Convert, Save, Save As, Print, Publish, Close, Recent, Word Option, dan Exit. Untuk Office terbaru saat ini fitur Office Button sudah digantikan dengan versi baru. Pengguna langsung mengakses menu File untuk melakukan pengolahan dokumen. 2.

Quick Access Quick Access adalah bagian tool Excel yang terdiri dari kumpulan perintah (command button) yang seringkali dipakai. Beberapa di antaranya yaitu tool Save, Undo dan Redo, Gaya Teks, Sisipan Informasi, dan Kustomisasi Alat Akses Cepat. 3.

Size Button Pada bagian ini terdapat tiga bilah menu yang terdiri dari Minimize, untuk membuat tampilan layar secara minimal; Maximize, untuk membuat tampilan layar secara maksimal atau layar penuh; dan Close untuk menutup program Excel. 4.

Akun Pada bagian Akun, akan memungkinkan pengguna untuk login (masuk) ke dalam akun Microsoft Office agar terhubung langsung dengan pengguna Microsoft Office. 5.

Title Bar Bagian alat yang menampilkan judul atau file dokumen yang sedang dibuka atau kerjakan.

52


6.

Menu Bar Menu Bar adalah bagian yang mencakup menu-menu dengan beragam jenis tool. Tool-tool tersebut adalah ragam ikon yang dapat memudahkan pengoperasian data Excel. Tool atau ikon yang terdapat pada Menu Bar yaitu File, Home, Insert, Page Layout, Formula, Data, Review, View. 7.

Ribbon Menu atau Tool Bar Menu Tool Bar atau Menu Ribbon memiliki kumpulan ikon-ikon yang berada di bawah bagian Menu Bar saat mengakses atau meng-kliknya. Kumpulan ikon pada Tool Bar tersebut berisi berbagai macam perintah yang bisa dipakai untuk mengelola pekerjaan di lembar kerja. Contohnya saja di Menu Bar Layout (Tata Letak Halaman), terdapat berbagai perintah Ukuran kertas, Margin, Orientasi, Tema Halaman, dan lainlainnya. 8.

Name Box Name Box adalah bagian pada lembar kerja Excel, yang berguna untuk menampilkan sel yang sedang aktif atau dipilih. 9.

Formula Bar Terletak di bagian kanan Name Box terdapat bagian kolom yang berisi tulisan fx, kolom tersebut adalah Formula Bar. Kegunaan dari Formula Bar adalah untuk menampilkan dan mengisi jenis rumus Excel yang dipakai pada sel lembar kerja. 10. Active Cell (Sel Aktif) Sel Aktif merupakan bagian sel pada perpotongan baris dan kolom yang terletak di lembar kerja. Sel tersebut aktif karena dipilih atau diklik untuk diisikan data informasi maupun fungsi perintah. 11. Column (Kolom) Susunan yang menampilkan beberapa kolom pada lembar kerja dengan tanda huruf alfabet.

53


12. Row (Baris) Susunan yang menampilkan baris pada lembar kerja dan ditandai dengan penomoran atau angka. 13. Tab Worksheet Pada bagian pojok bawah dari arah kiri terdapat kolom-kolom Sheet dengan daftar 1, 2, 3, dst. Bagian Worksheet atau daftar Sheet merupakan karakter dari Microsoft Excel dan berbeda dengan Word. Tab Worksheet berguna untuk menambahkan jumlah bagian halaman atau lembar dengan daftar Sheet pada lembar kerja yang dibutuhkan. Dengan fitur Sheet ini kita dapat menyimpan beberapa jenis lembar kerja dalam banyak Sheet hanya dengan penyimpanan satu file saja. 14. Scroll Bar Scroll Bar seperti nama aslinya, bagian ini merupakan alat untuk menggeser bagian. Scroll Bar pada Excel terdapat dua bagian yaitu Vertical Scroll Bar (penggeser bagian atas dan bawah) dan Horizontal Scroll Bar (penggeser bagian kanan dan kiri). Sama seperti lainnya, semua jenis program Microsoft Office memiliki Scroll Bar ini untuk mengatur pergeseran halaman. 15. Quick Menu Zoom dan Layout Pada bagian Quick Menu ini terdapat fasilitas alat Zoom dan Layout. Terletak pada bagian pojok kanan bawah. Zoom untuk memperbesar maupun memperkecil halaman, sedangkan Layout adalah untuk mengubah tampilan lembar kerja dengan model Normal, Tata Letak Halaman, dan Pratinjau Pemisah Halaman.

54


Adapun gambar fitur-fitur Microsoft Excel dapat dilihat berikut ini.

Gambar 3.1 3.3.

Bagian-Bagian Microsoft Excel

Sistem Pencatatan dan Pembukuan Berbasis Excel

Sebelum membahas lebih jauh tentang cara pencatatan dan pembukuan berbasis Excel, alangkah baiknya jika mempertimbangkan hal berikut yaitu penghematan biaya untuk pembukuan, memahami setiap rumus yang tersedia di Excel, pastikan Excel layak sebagai media pembukuan, menguasai konsep dasar akuntansi. 1. Tahap-Tahap Pembentukan Sistem Pencatatan dan Pembukuan Cara membuat laporan pencatatan dan pembukuan di Excel yang benar harus melewati tahap-tahap yang telah ditetapkan. Terdapat sejumlah tahapan dalam pembentukan laporan pencatatan dan pembukuan

55


mulai dari transaksi, jurnal umum, buku besar, dan neraca saldo penyesuaian. a. Transaksi Transaksi merupakan unsur utama dalam pembentukan laporan keuangan. Transaksi menggambarkan aktivitas perusahaan dalam menjajakan barang atau jasa. Adanya transaksi biasanya disertai dengan bukti-bukti fisik seperti catatan, nota, atau faktur. b. Jurnal umum Jurnal umum berisi tentang uraian lengkap setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan. Keterangan tentang transaksi tersebut disertai dengan penggolongan nama akun. Berikut ini format tabel untuk jurnal umum dengan menggunakan Microsoft Excel:

c. Buku besar Buku besar memiliki bentuk yang lebih spesifik dibandingkan dengan jurnal umum karena hanya menampilkan aktivitas per akun. Setiap akun yang terletak pada jurnal umum diringkas sehingga menghasilkan nilai saldo akhir di buku besar. Berikut ini format tabel dari buku besar dengan menggunakan Microsoft Excel:

56


d. Neraca saldo yang disesuaikan Tahap pembuatan laporan keuangan yang selanjutnya adalah “Neraca saldo yang disesuaikan” atau “Neraca saldo penyesuaian”. Sejatinya, tahapan ini bersifat opsional. Akan tetapi, ketika menerapkan teori tentang cara membuat laporan keuangan di Excel, tahapan ini wajib ada. Tujuan utama dari neraca saldo adalah untuk memastikan bahwa arus kas yang masuk dan keluar sudah sesuai. Hal ini ditandai dengan kedua sisi saldo yang seimbang. Adapun format dari neraca saldo penyesuaian dengan menggunakan Microsoft Excel:

57


BENGKEL MULIA ADIYANA

e. Penyusunan laporan keuangan utama Setelah mengetahui tentang tahap-tahap pembentukan laporan keuangan. Selanjutnya, mulai menyusun laporan keuangan utama. yaitu “Laporan Laba Rugi (L/R)”, “Laporan Perubahan Modal”, dan “Neraca Keuangan”. Adapun format dari ketiga laporan utama dengan menggunakan Microsoft Excel adalah sebagai berikut.

58


2.

Fungsi dan Rumus Microsoft Excel dalam Sistem Pencatatan dan Pembukuan Adapun fungsi dan rumus Microsoft Excel yang digunakan dalam sistem pencatatan dan pembukuan terdiri dari: a. Rumus SUM adalah rumus Excel yang digunakan untuk menjumlahkan data dari beberapa sel. Penulisannya adalah sebagai berikut.=SUM(number1;[number2]:..). Berikut contoh penggunaan Fungsi SUM.

Caranya, letakkan kursor di sel total (tanda merah), selanjutnya tuliskan rumus SUM dengan cara penulisan seperti ini, =SUM(D13:D50) b. Fungsi dan rumus IF adalah fungsi logika yang paling banyak digunakan, terutama berkaitan dengan pengolahan banyak data dan keputusan bercabang. Ada dua dalam fungsi IF yaitu 1) IF Tunggal adalah fungsi dasar yang kegunaannya sederhana, yaitu untuk memeriksa nilai sebuah logika kemudian mengambil tindakan jika benar dan tindakan lain jika salah. Penulisan fungsi IF Tunggal adalah sebagai berikut. 59


=IF(logical_test;[value_if_true];[value_if_false]) logical_test: kriteria acuan yang dijadikan pembanding value_if_true: nilai untuk kondisi yang terpenuhi value_if_false: nilai untuk kondisi yang tidak terpenuhi Contoh Penggunaan IF Tunggal

Cara penulisan rumus IF-nya: =IF(D51=E51;“Seimbang”;“Tidak seimbang”) Keterangan rumus: Jika nilai sel D51 sama dengan nilai sel E51 maka hasilnya seimbang, Jika hasilnya tidak sama, maka tidak seimbang. 2) Fungsi dan rumus Excel IF Bercabang adalah rumus untuk memeriksa nilai sebuah logika yang jumlahnya lebih dari satu. Rumusnya:=IF(logical_test1;[value_if_true1];(IF(logical_test2; [value_if_true2];[value_if_false])) Lihat logical_test1, jika terpenuhi maka gunakan nilai true1 Jika logical_test1 tidak terpenuhi, maka lihat logical_test2 Bila logical_test2 terpenuhi, maka gunakan nilai true2 Jika logical_test2 tidak terpenuhi, maka gunakan nilai FALSE Berikut ini contoh penggunaan fungsi IF Majemuk untuk menghitung nilai penyusutan aktiva tetap.

60


Penulisan rumus Excel-nya seperti ini: =IF(ISBLANK($E$10);” “;IF(B25<$B$25+$F$14;B25+1;” “)) Keterangan rumus:  Jika sel E10 bernilai kosong maka hasilnya kosong  Jika nilai sel B25 lebih kecil dari hasil penjumlahan sel B25 ditambah sel F14 maka tambahkan nilai sel B25 dengan 1 c. Rumus Excel SUMIF adalah rumus Excel yang digunakan untuk menjumlahkan data pada range tertentu sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Penulisan rumusnya adalah sebagai berikut. =SUMIF(range;criteria;[sum_range])  range : range kriteria  criteria : kriteria yang menjadi acuan  sum_range : range jumlah dari kriteria Berikut ini contoh penggunaan rumus Excel SUMIF.

Caranya dengan meletakkan kursus di sel saldo akhir (perhatikan panah merah), kemudian menuliskan rumus lengkapnya sebagai berikut. IF(C11=””;””;H11+SUMIF(D18:D70;C11;total_harga)) 61


d. Pengertian rumus Excel COUNTA adalah rumus Excel yang digunakan untuk menghitung jumlah kolom dan baris yang tidak blank. Penulisan rumus ini adalah: =COUNTA(value1;[value2]; …)  value1 : nilai pada kolom/baris pertama  value2 : nilai pada kolom/baris kedua dan seterusnya Perhatikan contoh penggunaannya berikut ini.

Penulisan rumus lengkapnya adalah: =IF(ROW()>COUNTA(ListCustomer);OFFSET(ListSupplier; ROW()-1COUNTA(ListCustomer);0;1;1);OFFSET(ListCustomer;ROW()1;0;1;1)) Keterangan rumus: Rumus Excel di atas akan mengambil data kode customer pada range ListCustomer dan kode supplier pada range ListSupplier. e. Pengertian dan Fungsi Rumus SLN dan Rumus DB 1) Pengertian rumus Excel SLN adalah rumus Excel yang digunakan untuk Menghitung nilai penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode garis lurus (straight line method). Penulisan rumusnya adalah seperti berikut: =SLN(cost;salvage;life)  Cost : harga perolehan barang  salvage : taksiran nilai sisa (residu)  life : taksiran umur ekonomis

62


2) Pengertian dan fungsi rumus DB Pengertian rumus Excel DB adalah rumus Excel yang digunakan untuk menghitung nilai penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode saldo menurun (declining balance method). Penulisan rumusnya seperti ini: =DB(cost;salvage;life;period;[month])  cost : harga perolehan barang  salvage : taksiran nilai sisa (residu)  life : taksiran umur ekonomis  period : periode penyusutan  month : bulan ke berapa dalam periode penyusutan Contoh penggunaan rumus SLN dan DB Pada contoh ini, dua rumus Excel tersebut digunakan untuk menghitung nilai penyusutan aktiva tetap perusahaan yang dibundle sebagai aplikasi Excel:

Berikut penulisan rumus lengkapnya: =IF(OR($D$20=0;B25=”“);”“;IF($D$20=”Garis lurus”;SLN($C$16;$F$16;$F$14)/12*C25;IF($D$20=”Saldo menurun”; DB($C$16;$F$16;$F$14;COUNT($B$25:B25);C25)))) Keterangan rumus:  Jika sel D20 bernilai nol atau sel B25 bernilai kosong, maka hasilnya kosong.  Bila sel D20 bernilai garis lurus maka hitung penyusutan aset dengan metode garis lurus, hasilnya dibagi 12 bulan kemudian dikali dengan jumlah bulan di sel C25.

63


 Jika sel D20 bernilai saldo menurun, maka hitung penyusutan

aset dengan metode saldo menurun. f. Pengertian rumus Excel VLOOKUP adalah fungsi Excel yang digunakan untuk mengambil data dari tabel lain. Seringkali kita membutuhkan data dari tabel lain sebagai referensi atau acuan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan. Penulisan rumus VLOOKUP adalah: =VLOOKUP(lookup_value;table_array;col_index_number;[range_l ookup])  lookup_value: nilai yang dijadikan acuan untuk membaca tabel referensi. Nilai ini harus ada baik di tabel yang akan diisi dan tabel referensi  table_array: range dari tabel referensi  col_index_number: nomor urut kolom tabel referensi yang berisikan data yang akan diambil. Dimulai dari kolom paling kiri pada tabel referensi dengan nomor index 1 (satu) dan seterusnya  range_lookup: range jenis tipe data yang dicari. Jenis tipe data ini ada 2 (dua) yaitu True dan False Contoh pemakaian rumus VLOOKUP Pada contoh ini, rumus VLOOKUP digunakan untuk mengambil nilai saldo awal persediaan barang dagang dari tabel lain.

Pada tanda kotak merah, menunjukkan penggunaan rumus VLOOKUP untuk menghitung saldo awal persediaan barang. Saldo ini diambil dari tabel lain, pada contoh penggunaan di atas adalah dari tabel produk. Ini penulisan rumus lengkapnya: =IF(C11=””;””;VLOOKUP(C11;produk;6;0))

64


Keterangan rumus:  Jika sel C11 bernilai kosong maka hasilnya kosong.  Jika tidak maka isi dengan data saldo awal produk. g. Pengertian rumus Excel OFFSET adalah formula Excel yang digunakan untuk mengambil data pada suatu range berdasarkan pada sel awal, dengan menentukan jarak kolom dan baris pada posisi yang akan diambil. Penulisan rumusnya seperti ini: =OFFSET(reference;rows;cols;[height];[width])  reference : sel yang dijadikan sebagai acuan awal  rows : pergeseran baris dari acuan reference  cols : pergeseran kolom dari acuan reference  height : rentang baris data yang akan diambil  width : rentang kolom data yang akan diambil Berikut ini contoh penggunaan rumus OFFSET untuk menyusun tabel utang piutang perusahaan.

Berikut penulisan rumus lengkapnya: =IF(ROW()>COUNTA(ListCustomer);OFFSET(ListSupplier;RO W()-1-COUNTA(ListCustomer);0;1;1);OFFSET(ListCustomer; ROW()-1;0;1;1)) Keterangan rumus: Seperti pada penggunaan fungsi COUNTA, yaitu rumus Excel di atas akan mengambil data kode customer pada range ListCustomer dan kode supplier pada range ListSupplier. h. Pengertian rumus Excel INDEX adalah formula Excel yang digunakan untuk menentukan nilai berdasarkan letak baris dan kolom dari rentang data yang ada. Penulisan rumus ini adalah:

65


1) Penulisan Format Array: =INDEX(array, row_num, [column_num])  Array: range pada tabel nilai yang akan dicari.  row_num: nomor baris  column_num: nomor kolom 2) Penulisan Format Reference: =INDEX(reference, row_num, [column_num], [area_num])  Reference: nilai dari suatu range. Berikut ini contoh penggunaan rumus Excel INDEX untuk menyusun laporan neraca keuangan perusahaan dagang.

Ini bentuk penulisan rumus lengkapnya: =INDEX(kode_akun;MATCH(G13;nama_akun;0)) Keterangan rumus: Rumus di atas akan membandingkan nama akan pada sel G13 dengan data pada kolom nama akun lalu mengambil data kode akun dari tabel data akun. i. Pengertian rumus Excel ISBLANK adalah formula Excel yang digunakan untuk mengetahui atau memeriksa data kosong dalam suatu sel. Penulisan rumusnya adalah sebagai berikut: =ISBLANK(value) Value: nilai atau sel yang diperiksa Berikut contoh penggunaan rumus Excel ISBLANK berikut ini. Pada contoh ini, rumus Excel ISBLANK digunakan untuk memeriksa nilai kode akun dalam tabel jurnal umum perusahaan

66


Penulisan rumus lengkapnya adalah: =IF(ISBLANK(H9);” “;VLOOKUP(H9;akun;2;0)) Keterangan rumus: Jika sel H9 kosong maka hasilnya adalah kosong, jika maka ambil data nama akun dari tabel data akun sesuai dengan kode akun yang dipilih di sel H9. j. Pengertian rumus Excel LEFT & RIGHT adalah fungsi Excel yang digunakan untuk mengambil beberapa karakter dari suatu teks. Pengertian rumus Excel LEFT adalah fungsi Excel yang digunakan untuk mengambil beberapa karakter dari arah KIRI. Sedangkan rumus Excel RIGHT adalah fungsi Excel yang digunakan untuk mengambil sejumlah karakter dari arah KANAN. Berikut contoh penggunaan rumus Excel RIGHT dan LEFT berikut ini. Pada contoh ini rumus Excel LEFT dan RIGHT digunakan untuk menyusun tabel harga produk dan harga pokok penjualan.

Penulisan lengkap rumusnya adalah: =IF(ISBLANK(C10);” “;COUNTA(C$10:C10))&”-“&LEFT (D10;3)& RIGHT(D10;3) Keterangan rumus:  Jika sel C10 bernilai kosong maka hasilnya kosong.  Jika tidak maka buat kode produk dengan menggabungkan jumlah sel yang berisi nilai pada kolom C ditambah karakter “-“ kemudian 3 karakter sebelah kiri sel D10 dan 3 karakter sebelah kanan sel D10.

67


3.4.

Cara Membuat Link Antar-Sheet dan Antar-File Excel

Saat membuat sebuah laporan dengan Excel adakalanya kita perlu membuka atau melihat nilai data pada sheet lain, baik dalam satu worksheet yang sama atau dari worksheet lain. Agar lebih mudah, umumnya kita akan membuat link antar-sheet atau hyperlink antar-file Excel agar pengerjaan laporan di Excel jadi lebih mudah dan cepat. Link Excel antar-sheet ini digunakan untuk menampilkan keseluruhan sheet atau untuk menampilkan range nilai yang dibutuhkan saja. Contohnya jika dalam sebuah laporan keuangan dibutuhkan keterangan lebih detail tentang hasil sebuah perhitungan. Dengan link Excel atau hyperlink ini kita bisa mengarahkannya menuju sheet tempat perhitungan dijabarkan atau bahkan menuju file Excel lain tempat di mana data tersebut disimpan. Secara umum ada dua jenis hyperlink yang digunakan di Excel, yaitu link antarsheet dan link antar-file. 3.4.1. Membuat Link Antar-Sheet Excel Jika kita ingin menggunakan hyperlink hanya untuk mengetahui nilai sheet lain pada worksheet yang sama (masih satu file) kita dapat menggunakan beberapa cara berikut ini. 1. Menggunakan Fungsi Hyperlink pada Ribbon Cara ini merupakan yang paling sering digunakan pengguna Excel umumnya. Karena cara ini terbilang mudah, hanya perlu beberapa klik perintah saja. Misalnya kita ingin mengetahui perhitungan pendapatan bus kelas ekonomi secara rinci yang dijabarkan pada Sheet2. Maka kita perlu membuat link antar-sheet yang diarahkan ke Sheet2. Langkah-langkahnya seperti berikut: Klik pada sel yang akan dibuatkan hyperlink atau link antar-sheetnya, Kemudian pilih tab Insert → Hyperlink atau bisa juga menggunakan shortcut Ctrl + K. Setelah muncul dialog box Edit Hyperlink, pada bagian link to: pilih Place in This Document pada tab ke-2 dari atas di sebelah kiri. Dengan begitu, akan muncul beberapa sheet yang berada di dalam file Excel yang dibuka tadi, sheet1, sheet2 dan seterusnya, Klik pada sheet yang ingin dijadikan tujuan hyperlink, pada contoh ini dipilih sheet2 (penjabaran pendapatan bus kelas ekonomi) sebagai tujuan link antar-sheet-nya. Lalu klik OK, dan hyperlink sudah siap digunakan. 68


2.

Membuat Link Antar-Sheet dengan Fungsi Hyperlink Membuat link antar-sheet juga bisa menggunakan fungsi hyperlink. Dengan fungsi ini, membuat link antar-sheet dapat dilakukan dengan hanya mengetikkan fungsi dan sintaknya langsung di sel yang diinginkan. Penggunaan fungsi hyperlink terbagi beberapa cara seperti berikut: 3.

Menggunakan Alamat Sel Cara ini menggunakan alamat sel sebagai tujuan dari link antarsheet-nya. Misalnya pada contoh di atas kita ingin membuat hyperlink sel “Kelas Ekonomi” diarahkan menuju Sheet2 pada range sel A1:B8, maka penulisan fungsinya seperti berikut. =HYPERLINK("#Sheet2!A1:B8";"Kelas Ekonomi") #Sheet2!A1:B8: menunjukkan sheet dan range sel yang dituju. Kelas Ekonomi: menunjukkan penamaan sel. 4.

Menggunakan Range Name Sel Misalkan kita ingin membuat link antar-sheet, di mana sheet yang dituju merupakan range sel yang sudah diberi nama “Eksekutif“. Maka kita dapat dengan mudah membuat link antar-sheet Excel-nya menggunakan range name ini. Contoh fungsinya akan jadi seperti berikut: =HYPERLINK("#Eksekutif";"Eksekutif") #Eksekutif: menunjukkan range sel yang akan dituju dari hyperlink. Eksekutif: penamaan sel yang dibuatkan hyperlink sekaligus nama range name yang dituju. 3.4.2. Membuat Link Antar-File Excel Untuk membuat hyperlink ke file Excel lainnya kita bisa memanfaatkan fungsi hyperlink ataupun menggunakan fungsi di ribbon. Namun, kali ini saya hanya akan membahas cara membuat link antar-file Excel menggunakan fungsi atau rumus. Cara mudahnya seperti berikut. Untuk file yang masih terletak dalam satu folder kita dapat menggunakan rumus berikut.

69


=HYPERLINK("FileSayaA.xlsx";"FileA") FileSayaA.xlsx menunjukkan file yang akan dituju dari hyperlink dan masih satu folder dengan file sumber hyperlink, misalnya sama-sama di folder D:/. Untuk file yang berada dalam folder lain bisa disesuaikan alamat file-nya dengan melengkapi hierarki foldernya. Contohnya =HYPERLINK(“Folder\folderA\FileSayaA.xlsx”;”FileA”).

70


BAB IV SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN BERBASIS MICROSOFT EXCEL

Bab ini membahas tentang bagaimana kerangka atau cara membuat aplikasi sistem pencatatan dan pembukuan dengan menggunakan Microsoft Excel yang berpedoman pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (EMKM), yang terdiri dari Kerangka Aplikasi Pembuatan Dashboard, Kerangka Aplikasi Harga Pokok Produksi, Kerangka Aplikasi Laporan Laba Rugi, Kerangka Aplikasi Laporan Neraca Keuangan. 4.1.

Kerangka Aplikasi Pembuatan Dashboard

Kerangka aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan menggunakan Microsoft Excel diawali dengan membuat dashboard, di mana dashboard adalah gambar yang memberikan informasi paling penting untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi yang diatur dalam satu layar penuh sehingga informasi yang ditampilkan dapat dibaca dan dianalisis secara keseluruhan dalam satu tampilan. Langkah-langkah dalam membuat dashboard pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan menggunakan Microsoft Excel adalah: 1. Buka aplikasi Microsoft Excel lalu muncul Blank Workbook dan klik Blank Workbook tersebut dan muncul di layar dalam bentuk workbook dan sheet-sheet di bagian bawah.

71


2.

3.

4.

5.

6.

7.

72

Buat file dari Blank Workbook tersebut dengan menekan Save As lalu beri nama file (misal DASHBOARD APLIKASI) akan muncul di layar nama file-nya (DASHBOARD APLIKASI). Di dalam workbook yang sudah diberi nama file, di bagian bawah ada sheet dan ganti namanya dengan mengklik kanan pada mouse (muncul rename) lalu klik rename dan ganti nama sheet 1 tersebut dengan nama yang sesuai dengan tujuan pembuatan aplikasi (misal DASHBOARD atau HOME Laporan Keuangan atau Produksi dan lainnya). Di dalam workbook yang sudah ada nama file dan nama sheet, buatlah desain dari dashboard sesuai dengan tujuan pembuatan aplikasi dan diawali dengan memberi nama judul (Nama Perusahaan, Jenis Produk atau lainnya. Karena tujuan pembuatan aplikasi ini adalah untuk mengetahui kinerja usaha dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) pada Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (EMKM), maka dibutuhkan fitur-fitur yang membentuk kinerja usaha tersebut. Adapun fiturfitur tersebut sebagai inputan adalah Daftar Pesan, Persediaan Barang Jadi, Standar Kebutuhan Bahan, Persediaan Bahan (Bahan Utama dan Bahan Penolong), Nama Bahan dan Harga Bahan, Tarif Tenaga Kerja serta daftar output-nya antara lain Daftar Kebutuhan Bahan, Jumlah Produksi yang Dibuat Saat Ini, Daftar Penjualan, Harga Pokok Produksi, Laporan Laba Rugi, Neraca Keuangan serta Kinerja Usaha. Adapun cara membuat input tersebut ke dashboard adalah dengan mengklik INSERT di layar lalu klik Illustration (Excel 2019) lalu klik Shapes dan Pilih (gambar kotak, segitiga dan lainnya) lalu klik di workbook sesuai warna yang diinginkan lalu beri nama (Daftar Pesan). Dengan langkah yang sama buat untuk fitur input lainnya antara lain Persediaan Barang Jadi, Standar Kebutuhan Bahan, Daftar Bahan dan Harga, Persediaan Bahan dan Tarif Tenaga Kerja serta fitur-fitur output antara lain Daftar Kebutuhan Bahan, Jumlah Produksi yang Dibuat Saat Ini, Daftar Penjualan, Harga Pokok Produksi, Laporan Laba Rugi, Neraca Keuangan serta Kinerja Usaha yang menjadi


tujuan dari aplikasi ini serta fitur lainnya dari dashboard antara lain Cetak Laporan, Panduan Aplikasi dan Isi Panduan serta Keluar (Hasilnya dapat dilihat pada gambar 5.1). APLIKASI SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

PERUSAHAAN MULIA ADIYANA PRODUKSI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH LAPORAN KEUANGAN PER 31 DESEMBER 2022

CETAK PRINT LAPORAN LAPORAN

DAFTAR PESANAN

DAFTAR & HARGA BAHAN

STANDAR KEBUTUHAN BAHAN

TARIF TENAGA KERJA

DAFTAR PERSEDIAAN BARANG JADI

DAFTAR PERSEDIAAN BAHAN

DAFTAR KEBUTUHAN BAHAN

PRODUKSI YANG DIBUAT PERIODE INI

DAFTAR BIAYA TENAGA KERJA

HARGA POKOK PRODUKSI

JUMLAH PENJUALAN

LAPORAN RUGI LABA

NERACA KEUANGAN

KINERJA USAHA

SUMBER:Undang Undang No 7 tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Pajak UU No 11 Tahun 2020 Undang Undang Cipta Kerja PP 7 Tahun 2021 Kemudahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM SK BAZNAS No 31 tahun 2021 tentang Batas Nishab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2021 Dan Pendapat Syech Yusup Qordowi Permendikbud 45 tahun 2014 Tentang Seragam Di Sekolah

Gambar 4.1

KELUAR

PANDUAN PANDUAN APLIKASI APLIKASI LAPORAN KEUANGAN 1. klik tombol Daftar Pesan, Daftar Persediaan Barang Jadi (Awal Periode), Standar Kebutuhan Bahan, Daftar dan harga bahan, Daftar persediaan bahan, tarif tenaga kerja sebagai Input Data yang berwarna Hijau Pada Layar. 2. Isilah data datanya yang berwarna hijau tersebut sesuai dengan kondisi produksi yang di buat dan tekan tombol Home 3. Setelah Pengisian Data tersebut selesai, tekan tombol Daftar Kebutuhan Bahan, Daftar Biaya Tenaga Kerja, Produksi Yang dibuat periode ini, Jumlah Penjualan, Harga Pokok Produksi Jika Ingin Mengetahui Kebutuhan bahan, Tenaga Kerja, Penjualan. 4. Tekan Tombol Harga Pokok Produksi dan dan Tambahkan Biaya Overhead dengan menekan tombol Biaya Overhead dan isilah data data tersebut yang berwarna Hijau,setelah diisi dapat diketahui Harga Pokok Produksi Yang dibuat/ 4. Tekan Tombol Laporan Rugi Laba dan Tambahkan Data dengan menekan tombol Biaya Komersial dan isilah data data tersebut sesuai dengan kondisi aktivitas kegiatan (Warna Hijau), setelah dapat diketahui Laporan Rugi laba produk yang dibuat 5. Tekan Tombol Neraca Keuangan dan Tambahkan Data tentang Aktiva yang terdiri dari Piutang Usaha, Persediaan Barang Jadi Akhir Proses , Persediaan Bahan Utama dan Bahan Penolong Akhir Proses, Pembayaran Dimuka, Aktiva Tetap dan aktiva lainnya dan Data Passiva yang terdiri dariHutang yaitu Hutang jangka pendek, hutang Jangka panjang serta Data Modal yang terdiri dari Laba Di Tahan saat ini dan sebelumnya, Modal sendiri 6. Tekan Tombol Kinerja Usaha Untuk mengetahui Sampai sejauhmana Kinerja Usaha Yang dijalankan berdasarkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktivitas 7. Tekan KELUAR jika Pekerjaan Membuat Laporan Ini Selesai

Dibuat dan Di Publish Oleh Konsultan Mulia Adiyana

DASHBOARD Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

Setelah membuat DASHBOARD di atas, langkah berikutnya dalam membuat kerangka aplikasi adalah membuat sheet-sheet lain yang akan berkoneksi dengan DASHBOARD/HOME. Adapun cara untuk membuat kerangka aplikasi antar-sheet dalam satu file adalah sebagai berikut. 1. Di dalam workbook yang sudah diberi nama file, di bagian bawah ada sheet 2 dan sheet lainnya, dengan mengklik kanan pada mouse (muncul rename) lalu klik rename dan ganti nama sheet tersebut dengan nama yang sesuai dengan tujuan pembuatan aplikasi. adapun sheet-sheet tersebut adalah sheet Daftar Pesan, Persediaan Barang Jadi, Standar Kebutuhan Bahan, Persediaan Bahan, Nama Bahan dan Harga Bahan, Tarif Tenaga Kerja, Daftar Kebutuhan Bahan, Jumlah Produksi, Daftar Penjualan, Harga Pokok Produksi, Laporan Laba Rugi, Neraca Keuangan serta Kinerja Usaha. 73


2.

4.2.

Setelah pembuatan dashboard dan sheet-sheet yang tersebut pada poin 7, Dengan menggunakan Hyperlink pada Excel 2007 atau Link pada Excel 2019 bisa menghubungkan antar-sheet dengan cara klik di dashboard yang akan dihubungkan (Daftar Pesan) lalu INSERT terus klik Link atau Hyperlink akan muncul di layar beberapa pilihan Existing File or Web Page untuk menghubungkan antar-file dan Place in This Document untuk menghubungkan antar-sheet. Untuk itu menghubungkan dashboard dengan sheet (Daftar Pesan) atau antar-sheet-sheet yang lain dalam satu file yang tersebut di atas, maka pilih Place in This Document lalu klik sheet yang akan dihubungkan (Daftar Pesan atau lainnya yang berhubungan) satu sama lainnya. Dengan cara yang sama lakukan sheet lainnya yaitu Persediaan Barang Jadi, Standar Kebutuhan Bahan, Persediaan Bahan, Nama Bahan dan Harga Bahan, Tarif Tenaga Kerja, Daftar Kebutuhan Bahan, Jumlah Produksi, Daftar Penjualan, Harga Pokok Produksi, Laporan Laba Rugi, Neraca Keuangan serta Kinerja Usaha. Setelah semua terhubung lalu buat tabel isian masing-masing sheet sehingga pembuatan dashboard sudah selesai. Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Harga Pokok Produksi

Menurut Supriyono (2013), yang menyatakan harga pokok produksi merupakan jumlah uang yang akan dibayarkan dalam rangka untuk memiliki produk atau jasa yang diperlukan perusahaan sebagai sarana untuk menghasilkan keuntungan. Adapun kerangka untuk menentukan harga pokok produksi dalam aplikasi sistem pencatatan dan pembukuan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Kebutuhan Biaya Bahan Utama dan Penolong

Harga Pokok Produksi

Biaya Tenaga Kerja

Biaya Overhead

Gambar 4.2 74

Hubungan Harga Pokok Produksi dengan Komponennya


4.2.1. Kebutuhan Biaya Bahan Utama dan Penolong Untuk menghitung kebutuhan biaya bahan utama dan penolong, metode biaya yang digunakan adalah metode berdasarkan volume produksi yang dihasilkan dengan mempertimbangkan persediaan barang jadi dan persediaan bahan (bahan utama dan bahan penolong) pada awal periode. Adapun yang dimaksud dengan barang jadi pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah barang yang siap dijual sedangkan bahan utama adalah bahan yang menjadi komponen utama dari sebuah produk (misal kain untuk produksi jaket almamater) dan bahan penolong adalah bahan yang bukan komponen utama dari sebuah produk (benang jahit atau obras untuk produksi jaket almamater). Untuk lebih jelasnya korelasi dari komponenkomponen tersebut dapat dijelaskan pada gambar berikut ini.

Jumlah Pesan

Jumlah Produksi yang dibuat

Persediaan Barang Jadi

Daftar Harga Bahan

Kebutuhan Biaya Bahan Utama dan Penolong

Persediaan Bahan

Standar Kebutuhan Bahan

Gambar 4.3

Hubungan antara Jumlah Produksi dengan Kebutuhan Biaya Bahan dan Komponennya

Dengan melihat gambar 4.3 di atas, ada komponen utama yang saling berhubungan yaitu jumlah produksi yang dibuat dengan kebutuhan bahan sehingga kerangka aplikasi terdiri dari jumlah produksi dan kebutuhan biaya bahan. 1. Menentukan Jumlah Produksi Untuk membuat kerangka aplikasi jumlah produksi, langkahlangkahnya adalah sebagai berikut. a. Isilah tabel Daftar Pesan yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana tabel Daftar Pesan tersebut bentuknya dapat dilihat berikut ini.

75


Tabel 4.1

Daftar Pesan

Kolom 1 Baris

A

B

2

No Urut

Nama Produk

3

Isi

Isi

C D E Rencana Pesan dan Harga Jual Harga Tgl/Bln/Thn Jumlah Pesan Isi Isi Isi

b. Isilah tabel Daftar Persediaan Barang Jadi Awal Proses yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana tabel Persediaan Barang Jadi Awal Proses tersebut bentuknya dapat dilihat berikut ini. Tabel 4.2

Baris

Daftar Persediaan Barang Jadi (Rumusan Excel)

Kolom 1 2 3

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Barang ‟Daftar Pesan‟!B3

C

D

S

E F Ukuran Barang M L Jumlah

Isi

Isi

Isi

@sum(c4..e4)

c. Isilah kedua tabel tersebut, hitung jumlah produksi yang dibuat dengan menggunakan rumus Excel sebagai berikut. Tabel 4.3 Kolom 1 Baris

2 3

2.

Rencana Produksi Hasil Rumusan Excel A

B

C

D Jumlah Barang Jadi

E

No Urut

Nama Produk

Pesan

Persediaan

Produksi Yang Dibuat

+‟Daftar Pesan‟!A3

‟Daftar Pesan‟!B3

+‟Daftar Pesan‟!D3

+‟Daftar Persediaann‟!F3

C3-D3

Menentukan Kebutuhan Bahan dan Biaya Bahan Untuk membuat kerangka aplikasi menentukan kebutuhan bahan, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. a. Isilah tabel Standar Kebutuhan Bahan Utama dan Bahan Penolong yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana tabel Standar Kebutuhan Bahan Utama dan Bahan Penolong tersebut bentuknya dapat dilihat berikut ini.

76


Tabel 4.4

Standar Kebutuhan Bahan Utama (1)

Kolom 1 2

B Nama Produk ‟Daftar Pesan‟!B3

4 5 6 7 8 9 10

Tabel 4.4

C Komponen Produk

D Bahan Utama

E

F

Jml

Sat

A

Bhn A

1,5

Mtr

B C D

Bhn B Bhn C Bhn C

0,65 1,00 0,007

Yard Buah Gros

C Komponen Produk

G Bahan Utama

H

I

Jml

Sat

A

Bhn 1

0,003

Rol

B C D

Bhn 2 Bhn 3 Bhn 4 Bhn 5 Bhn 6 Bhn 7 Bhn 8

0,007 5,0 0,005 0,010 0,002 0,02 0,0001

Rol Buah Lus Buah Rim Buah Rol

Standar Kebutuhan Bahan Penolong (2)

Kolom 1 2 3 Baris

No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

3 Baris

A

4 5 6 7 8 9 10

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Produk ‟Daftar Pesan‟!B3

b. Isilah tabel Daftar dan Harga Bahan yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana Daftar dan Harga Bahan tersebut bentuknya dapat dilihat berikut ini.

77


Tabel 4.5

Daftar Harga Bahan Utama (1)

Kolom 1 2

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟!B3

4

Baris

5

6

Tabel 4.5

Nama bahan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D6

D Harga Satuan isi

isi

isi

isi

E Satuan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F6

Daftar Harga Bahan Penolong (2)

Kolom 1 2 3

4

Baris 5

6

7

78

C

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟!B3

C Nama bahan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G6 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G7

F Harga Satuan

G Satuan

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I3

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I4

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I5

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I6

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I7


Kolom

A

B

8

Baris

9

10

C +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G8 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G9 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G10

F

G

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I8

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I9

Isi

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I10

c. Isilah tabel Daftar Persediaan yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana Daftar Persediaan tersebut bentuknya dapat dilihat berikut ini. Tabel 4.6

Persediaan Bahan Utama Awal Proses (1)

Kolom 1 2

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟!B3

4

Baris

5

6

Tabel 4.6

C Nama bahan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D6

D Awal Proses

E Satuan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F6

1

1

1

1

Persediaan Bahan Penolong Awal Proses (2)

Kolom 1 2 Baris 3

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟!B3

C Nama bahan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G3

G Awal Proses 0,1

H Satuan +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I3

79


Kolom

A

B

C +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G6 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G7 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G8 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G9

4

5

6

7

Baris

8

9

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G10

10

G 0,2

0,3

0,1

0,2

0,3

0,1

0,2

H +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I6 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I7 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I8 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I9 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I10

Setelah mengisi data-data standar kebutuhan bahan, mengisi data daftar bahan dan harga bahan, data persediaan bahan awal proses baik bahan utama maupun bahan penolong, langkah berikutnya adalah menentukan kebutuhan dan biaya bahan baik bahan utama maupun bahan penolong. Adapun rumusan menghitung kebutuhan bahan baik bahan utama maupun bahan penolong dapat dijelaskan dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.7

Kebutuhan Bahan Utama (1)

Kolom 1 2 Baris 3

80

A

B Nama Produk

C

D E Kebutuhan No Urut Nama Bahan Satuan Bahan +‟Standar Kebutuhan +‟Standar +‟Standar +‟Daftar +‟Daftar Bahan Kebutuhan Kebutuhan Pesan‟!A3 Pesan‟!B3 '!E3*+‟Rencana Bahan ‟!D3 Bahan ‟!F3 Produksi '!E3


Kolom

A

B

4

Baris

5

6

Tabel 4.7 Kolom 1 2

3

4 Baris

5

6

C

D +‟Standar Kebutuhan +‟Standar Bahan Kebutuhan '!E4*+‟Rencana Bahan ‟!D4 Produksi '!E3 +‟Standar Kebutuhan +‟Standar Bahan Kebutuhan '!E5*+‟Rencana Bahan ‟!D5 Produksi '!E3 +‟Standar Kebutuhan +‟Standar Bahan Kebutuhan '!E6*+‟Rencana Bahan ‟!D6 Produksi '!E3

E +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F4

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F5

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F6

Kebutuhan Bahan Penolong (2) A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Produk

C Nama Bahan

G

H

Kebutuhan Bahan

Satuan

+‟Standar +‟Standar Kebutuhan Bahan +‟Daftar Kebutuhan '!H3*+‟Rencana Pesan‟!B3 Bahan ‟!G3 Produksi '!E3 +‟Standar +‟Standar Kebutuhan Bahan Kebutuhan '!H4*+‟Rencana Bahan ‟!G4 Produksi '!E3 +‟Standar +‟Standar Kebutuhan Bahan Kebutuhan '!H5*+‟Rencana Bahan ‟!D5 Produksi '!E3 +‟Standar +‟Standar Kebutuhan Bahan Kebutuhan '!H6*+‟Rencana Bahan ‟!G6 Produksi '!E3

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I6

81


Kolom

A

B

C

7

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G7

8

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G8

9

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G9

10

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G10

Baris

G +‟Standar Kebutuhan Bahan '!H7*+‟Rencana Produksi '!E3 +‟Standar Kebutuhan Bahan '!H8*+‟Rencana Produksi '!E3 +‟Standar Kebutuhan Bahan '!H9*+‟Rencana Produksi '!E3 +‟Standar Kebutuhan Bahan '!H10*+‟Rencana Produksi '!E3

H +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I7 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I8 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I9 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!I10

Adapun rumusan menghitung kebutuhan Biaya Bahan baik bahan utama maupun bahan penolong dapat dijelaskan dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.8 Kolom 1 2

A No Urut

B Nama Produk

C Nama Bahan

3

+‟Standar +‟Daftar +‟Daftar Kebutuhan Pesan‟!A3 Pesan‟!B3 Bahan ‟!D3

4

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D4

5

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D5

Baris

82

Kebutuhan Biaya Bahan Utama (1) D

E

Kebutuhan Biaya bahan

Jumlah

((+'Standar Kebutuhan Bahan'!E3*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!D3))*+'Daftar Bahan '!D3 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!E4*+Rencana @sum Produksi '!E3)(d3…d6) +'Persediaan bahan '!D4))*+'Daftar Bahan '!D4 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!E5*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!D5))*+'Daftar Bahan '!D5


Kolom

Baris

A

B

6

Tabel 4.8 Kolom 1 2

C

D ((+'Standar Kebutuhan +‟Standar Bahan'!E6*+Rencana Kebutuhan Produksi '!E3)Bahan +'Persediaan bahan ‟!D6 '!D6))*+'Daftar Bahan '!D6

Kebutuhan Biaya Bahan Penolong (2) A No Urut

B Nama Produk

C Nama Bahan

3

+‟Daftar +‟Standar +‟Daftar Pesan‟!B Kebutuhan Pesan‟!A3 3 Bahan ‟!G3

4

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G4

5

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!D5

6

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G6

7

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G7

8

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G8

9

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G9

Baris

E

G

H

Kebutuhan Bahan

Jumlah

((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H3*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G3)*+'Daftar Bahan '!F3 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H4*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G4)*+'Daftar Bahan '!F4 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H5*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G5)*+'Daftar Bahan '!G5 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H6*+Rencana @sum Produksi '!E3)(g3..g10) +'Persediaan bahan '!G6)*+'Daftar Bahan '!F6 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H7*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G7)*+'Daftar Bahan '!F7 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H8*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G8)*+'Daftar Bahan '!F8 ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H9*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G9)*+'Daftar Bahan '!F9

83


Kolom

Baris

A

B

C

G ((+'Standar Kebutuhan Bahan'!H10*+Rencana Produksi '!E3)+'Persediaan bahan '!G10)*+'Daftar Bahan '!F10

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G10

10

H

4.2.2. Menghitung Biaya Tenaga Kerja Untuk menghitung kebutuhan biaya tenaga kerja, metode yang digunakan adalah metode berdasarkan volume produksi yang dihasilkan oleh pegawai dengan mempertimbangkan tenaga kerja dari suatu produk. Untuk lebih jelasnya korelasi dari komponen-komponen tersebut dapat dijelaskan pada gambar berikut ini.

Jumlah Pesan

Jumlah Produksi yang Dibuat

Tarif Tenaga Kerja

Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja

Gambar 4.4

Persediaan Barang Jadi

Hubungan antara Jumlah Produksi dan Kebutuhan Tenaga Kerja

Dengan melihat gambar 4.4 di atas, ada komponen utama yang saling berhubungan yaitu jumlah produksi yang dibuat dengan kebutuhan tenaga kerja. Untuk menghitung jumlah tenaga kerja, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. a. Isilah tabel Daftar Tarif Tenaga Kerja yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana Daftar Tarif Tenaga Kerja tersebut bentuknya dapat dilihat berikut ini. Tabel 4.9

Baris

Tarif Produksi Biaya Tenaga Kerja (1)

Kolom 1 2 3

84

A

B

No Urut

Nama Produk

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

C Tarif Proses A

D Tarif Proses B

E Tarif Proses C

Isi

Isi

Isi


Tabel 4.9

Baris

Tarif Produksi Biaya Tenaga Kerja (2)

Kolom 1 2 3

Tabel 4.9

Baris

A

B

No Urut

Nama Produk

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

F Tarif Proses D

G Tarif Proses E

H Tarif Proses F

Isi

Isi

Isi

Tarif Produksi Biaya Tenaga Kerja (3)

Kolom 1 2 3

A

B

I Tarif Proses G

J Tarif Proses H

No Urut

Nama Produk

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

Isi

Isi

C

D

E

Proses A

Proses B

Proses C

Tabel 4.10 Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja (1) Kolom 1 2 Baris 3

A No Urut +‟Daftar Pesan‟ !A3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟ !B3

+‟Tarif Tenaga +‟Tarif Tenaga Kerja '!C3* Kerja '!D3* +‟Rencana +‟Rencana Produksi Produksi '!E3 '!E3

+‟Tarif Tenaga Kerja '!E3* +‟Rencana Produksi '!E3

Tabel 4.10 Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja (2) Kolom 1 2 Baris 3

A No Urut

B Nama Produk

+‟Daftar +‟Daftar Pesan‟!A Pesan‟!B3 3

F

G

H

Proses D

Proses E

Proses F

+‟Tarif Tenaga Kerja '!F3* +‟Rencana Produksi '!E3

+‟Tarif Tenaga Kerja '!G3* +‟Rencana Produksi '!E3

+‟Tarif Tenaga Kerja '!H3* +‟Rencana Produksi '!E3

Tabel 4.10 Kebutuhan Biaya Tenaga Kerja (3) Kolom 1 2 Baris 3

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟!B3

I

J

K

Proses G

Proses H

Jumlah

+‟Tarif Tenaga +‟Tarif Tenaga Kerja '!I3* Kerja '!J3* @sum(c3..j3) +‟Rencana +‟Rencana Produksi '!E3 Produksi '!E3

85


4.2.3. Menghitung Biaya Overhead Untuk menghitung biaya overhead pada aplikasi ini adalah dengan membandingkan biaya total (terdiri dari biaya listrik, biaya telekomunikasi, biaya internet, biaya pengiriman bahan dan barang setengah jadi (WIP), gaji pengawas, jasa pinjaman bank) dengan volume produksi setiap produk. Untuk lebih jelasnya korelasi dari komponenkomponen tersebut dapat dijelaskan pada gambar berikut ini. Jumlah Produksi yang DIbuat

Jumlah Pesan

Persediaan Barang Jadi

Jasa Pinjaman

Biaya Listrik

Biaya Telekomunikasi

Kebutuhan Biaya Overhead

Biaya Pengiriman Bahan

Biaya Pengirim WIP

Biaya Internet

Gaji Pengawas/Mandor

Gambar 4.5

Hubungan Jumlah Produksi yang Dibuat dengan Biaya Overhead dan Komponennya

Dengan melihat gambar 4.5 di atas, ada komponen utama yang saling berhubungan yaitu jumlah produksi yang dibuat dengan kebutuhan biaya overhead. Untuk menentukan biaya overhead, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. Isilah tabel Daftar Overhead yang sudah terhubung dengan dashboard. Di mana metode perhitungan dalam menghitung biaya overhead adalah membandingkan biaya total dari komponen biaya overhead yang terdiri dari biaya listrik, biaya telekomunikasi, biaya internet, biaya pengiriman bahan dan barang setengah jadi (WIP), gaji 86


pengawas, jasa pinjaman bank dengan volume produksi setiap produk. Rumusannya adalah menentukan dahulu masing-masing jumlah biaya listrik, biaya telekomunikasi dan biaya internet selanjutnya bagi dengan jumlah produksi yang dibuat. Dengan demikian rumusan Excel-nya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.11 Kebutuhan Biaya Overhead (1) Kolom 1 2 Baris 3

A No Urut +‟Daftar Pesan‟ !A3

B Nama Produk

C Jumlah Produksi

+‟Daftar Pesan‟ !B3

+‟Rencana Produksi ' !E3

D Biaya Listrik Jumlah Total Biaya Listrik/ C3

E Biaya Telekomunikasi Jumlah Total Biaya Telekomunikasi/ C3

F Biaya Internet Jumlah Total Biaya internet/ C3

Tabel 4.11 Kebutuhan Biaya Overhead (2) Kolom 1 2 Baris 3

G

H I J Biaya Biaya Kirim Gaji Jasa Pinjaman Kirim WIP Pengawas Bahan (+‟Daftar +‟Jumlah Jumlah Total Jumlah Total Utang '!K11 Total Biaya Biaya Biaya Kirim +‟Daftar Utang Kirim Pengawas/ WIP/C3 '!K15)/C3 Bahan/C3 C3

K Jumlah Overhead @sum (d3…j3)

Setelah menentukan biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead, langkah berikutnya adalah membuat kerangka aplikasi harga pokok produksi. Adapun kerangka aplikasi berbasis Microsoft Excel dalam menentukan harga pokok produksi dapat terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.12 Harga Pokok Produksi (1)

Baris

Kolom 1 2 3

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Produk +‟Daftar Pesan‟!B3

C Biaya bahan Utama +‟Daftar Biaya Bahan‟!E3

D Biaya bahan Penolong +‟Daftar Biaya Bahan‟!H3

87


Tabel 4.12 Harga Pokok Produksi (2) Kolom

A

B

1 2

No Urut

Nama Produk

3

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

Baris

4.3.

E Biaya Tenaga Kerja +‟Daftar Biaya Tenaga Kerja ‟!K3

F

G

Biaya Overhead

Jumlah

+‟Daftar Biaya Overhead‟!k3

@sum(C3..F3)

Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Laporan Rugi Laba

Laporan laba rugi merupakan laporan yang menyajikan informasi pengeluaran, pendapatan, serta laba atau rugi yang dihasilkan perusahaan selama periode tertentu, memperlihatkan kinerja keuangan dan berfungsi sebagai alat memonitor kemajuan dan kekurangan keuangan perusahaan. Adapun komponen rugi laba dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Jumlah Penjualan Harga Pokok Produksi

Laporan Rugi Laba Pajak Penghasilan

Biaya Komersial

Gambar 4.6

Hubungan Laba Rugi dengan Komponennya

Dengan melihat gambar 4.6 di atas, ada komponen utama yang saling berhubungan yaitu Jumlah Penjualan, Biaya Komersial, Pajak Penghasilan dan Pajak Penambahan Nilai dan Harga Pokok Produksi yang sudah dibahas sebelumnya. Dengan demikian kerangka aplikasi terdiri dari jumlah penjualan, biaya komersial dan pajak (Pajak Penambahan Nilai dan Pajak Penghasilan).

88


4.3.1. Menentukan Jumlah Penjualan Cara menentukan jumlah penjualan dalam kerangka aplikasi rugi laba adalah: Jumlah Penjualan = Jumlah Persediaan Awal Periode + Jumlah Produksi x Harga Jual Produk Jadi. Adapun rumusan Excel-nya dalam menentukan jumlah penjualan adalah sebagai berikut. Tabel 4.13 Jumlah Penjualan (1)

Baris

Kolom 1 2 3 4

A

B

No Urut

Nama Produk

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

C

D

E

Persediaan Barang Jadi Jumlah =+‟Persediaan Barang Jadi '!F3

Harga +‟Daftar Pesan‟!E3

Penjualan +C4*D4

Tabel 4.13 Jumlah Penjualan (2)

Baris

Kolom 1 2 3 4

A

B

No Urut

Nama Produk

+‟Daftar Pesan‟!A3

F

G

Bulan Penjualan

Jumlah +‟Daftar +‟Rencana Pesan‟!B3 Produksi‟!E3

Penjualan +f4*D4

H

I Total Penjualan/Tahun Jumlah Penjualan +C4+F4

+E4+G4

4.3.2. Menentukan Biaya Komersial Biaya komersial terdiri dari biaya administrasi dan umum dan biaya pemasaran. 1. Biaya administrasi dan umum yaitu biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kegiatan-kegiatan yang tidak diidentifikasikan dengan aktivitas produksi maupun pemasaran. Adapun dalam menentukan biaya administrasi umum dapat dijelaskan pada tabel berikut ini. Tabel 4.14 Biaya Administrasi Umum

Baris

Kolom 1 2 3 4

A

B

No Urut

Nama Produk

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

F

G H I Biaya Administrasi Umum Adm Tgl/bln/thn Adm Jumlah Lainnya +g4+H4

89


2.

Biaya pemasaran yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan usaha untuk memperoleh pesanan dan memenuhi pesanan. Antara lain perusahaan mengeluarkan biayabiaya untuk menarik minat pembeli dengan cara mengadakan promosi penjualan, advertensi, mengeluarkan biaya-biaya angkut barang jadi, biaya asuransi dan lain-lain agar produk perusahaan sampai ke tangan pemesan. Adapun untuk menghitung biaya pemasaran dengan menggunakan Microsoft Excel-nya dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.15 Biaya Pemasaran

Baris

Kolom

A

B

1 2 3

No Urut

Nama Produk

4

+‟Daftar Pesan‟!A3

+‟Daftar Pesan‟!B3

J

K L M Biaya Administrasi Umum Kirim Tgl/bln/thn Iklan Barang Jumlah Jadi isi

isi

isi

+K4+L4

Setelah penentuan penjualan, harga pokok produksi dan biaya komersial, maka kerangka aplikasi laporan laba rugi sebelum pajak dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.16 Laporan Laba Rugi Sebelum Pajak Kolom

2

A No Account 111000

3

112000

Harga Pokok Produksi

4 5

113000

6

113001

7

113002

1

Baris

8

90

B

C

Uraian

Jumlah (RP)

Penjualan

+‟Daftar Penjualan‟!I4 +‟Harga Pokok Produksi‟!G3 +C2–C3 +C6+C7

Laba Kotor Biaya Komersial Biaya Administrasi Umum Biaya Pemasaran Laba Bersih Sebelum Pajak

+‟Biaya Komersial‟!I4 +‟Biaya Komersial‟MI4 +C4-C5


4.3.3. Penentuan Pajak Adapun perhitungan pajaknya yang terdiri dari Pajak Penghasilan dan pajak penambahan nilai adalah sebagai berikut. 1. Pajak Penambahan Nilai Rumusan Pajak Penambahan Nilainya adalah harga jual x tarif PPN (11%) dan rumusan Excel-nya untuk besaran Pajak Penambahan Nilai adalah @IF(C2<=4.800.000000;"0 ";+C2*11%) 2.

Pajak Penghasilan (PPH) Perhitungan Pajak Penghasilan adalah selisih antara jumlah penjualan dengan penghasilan tidak kena pajak dikalikan 0,5% per bulan atau rumusannya adalah (Penjualan (Omzet)–PTKP) x 0,5% perbulan dan rumusan Excel-nya untuk besaran Pajak Penghasilan adalah @IF(C2<=500.000.000;"0";+(C2-500.000.000)*0,5%) per bulan Dengan demikian, kerangka aplikasi laporan rugi untuk pajak penambahan nilai dan pajak penghasilan dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.17 Laporan Laba Rugi untuk Pajak Penambahan Nilai dan Pajak Penghasilan Kolom

B

C

Uraian

Jumlah (RP)

9

Pajak Penambahan Nilai

10

Pajak Penghasilan

@IF(C2<=4.800.000000;"0 ";+C2*11%) @IF(C2<=500.000.000;"0 ";+(C2500.000.000)*0,5%) per bulan

1 Baris

A No Account

Adapun kerangka rugi laba setelah pajak dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4.18 Laporan Laba Rugi Setelah Pajak Kolom

2

A No Account 111000

3

112000

1 Baris

B

C

Uraian

Jumlah (RP)

Penjualan Harga Pokok Produksi

+‟Daftar Penjualan‟!I4 +‟Harga Pokok Produksi‟!G3

91


Kolom 4

A

5

113000

6

113001

7

113002

8 Baris 9 10 11 12 13

4.4.

B Laba Kotor Biaya Komersial Biaya Administrasi Umum Biaya Pemasaran Laba Bersih Sebelum Pajak Pajak Penambahan Nilai Pajak Penghasilan Laba Bersih Setelah Pajak Komposisi Laba Dibagikan Komposisi Laba Ditahan

C +C2–C3 +C6+C7 +‟Biaya Komersial‟!I4 +‟Biaya Komersial‟MI4 +C4-C5 @IF(C2<=4.800.000000;"0 ";+C2*11%) @IF(C2<=500.000.000;"0 ";+(C2500.000.000)*0,5%) per bulan +C8-C9-C10 +C11* Besarnya Komposisi Laba Yang dibagikan +C11* Besarnya Komposisi Laba Yang Ditahan

Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Neraca Keuangan

Neraca merupakan laporan keuangan yang di dalamnya terdapat informasi terkait akun-akun aktiva, modal serta kewajiban perusahaan pada satu periode tertentu. Adapun kerangka aplikasi untuk laporan neraca keuangan dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini. Hutang Lancar Ativa Lancar Laporan Neraca Keuangan

Aktiva Tetap

Hutang Jangka Panjang Modal Sendiri

Aktiva Lainnya Laba Ditahan

Zakat Perniagaan

Gambar 4.7 92

Hubungan Neraca Keuangan dengan Komponennya


Dengan melihat gambar 4.7 di atas, ada komponen utama yang saling berhubungan yaitu aktiva terdiri dari aktiva lancar, aktiva tetap dan aktiva lainnya, pasiva terdiri dari utang lancar dan utang jangka panjang serta modal terdiri dari modal sendiri dan laba ditahan. 4.4.1. Perhitungan Aktiva Aktiva adalah hak kekayaan perusahaan yang berkaitan dengan suatu arus kas. Aktiva juga ditemukan pada sisi kiri neraca dan bisa diklasifikasikan ke dalam berbagai jenis saat dicairkan sehingga masuk ke dalam arus kas perusahaan. Adapun perhitungan aktiva dengan menggunakan Microsoft Excel adalah sebagai berikut. 1. Aktiva lancar terdiri dari kas, piutang usaha, persediaan barang jadi, persediaan bahan utama, persediaan bahan penolong dan pembayaran di muka. a. Kas Total Pasiva - Piutang Usaha - Persediaan Bahan Utama–Persediaan Bahan Penolong - Persediaan Barang Jadi - Pembayaran di Muka b. Piutang Usaha Tabel 4.19 Daftar Piutang Usaha

Baris

Kolom 1 2 3 4 5 6

A No Urut isi isi Jumlah

B Tahun Berpiutang Usaha isi isi

C Daftar Piutang Usaha isi isi

D

E

Penanggung Jawab

Jumlah (Rp)

isi isi

isi isi @sum(E4..E5)

c. Persediaan Barang Jadi Akhir Periode Tabel 4.20 Daftar Persediaan Barang Jadi Akhir (Rumusan Excel)

Baris

Kolom 6 7 8

A No Urut +‟Daftar Pesan‟!A3

B Nama Barang ‟Daftar Pesan‟!B3

C

D E F Ukuran Barang M L Jumlah

G Jumlah Total S +F8*+‟Daftar isi isi isi @sum(C8..E8) Pesan‟!E3

93


d. Persediaan Bahan Utama Akhir Periode Tabel 4.21 Persediaan Akhir Proses Bahan Utama Kolom 1 2 3

A No Urut

B Nama Produk +‟Daftar +‟Daftar Pesan‟!A3 Pesan‟!B3

4 Baris 5

6

7

C E Nama Proses bahan Akhir +‟Standar isi Kebutuhan Bahan ‟!D3 +‟Standar isi Kebutuhan Bahan ‟!D4 +‟Standar isi Kebutuhan Bahan ‟!D5 +‟Standar isi Kebutuhan Bahan ‟!D6 Jumlah

F Satuan

G Jumlah Total

+‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F3 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F4 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F5 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!F6

+E3*+‟Daftar Harga‟!D3 +E4*+‟Daftar Harga‟!D4 +E5*+‟Daftar Harga‟!D5 +E6*+‟Daftar Harga‟!D6 @sum(g3..g6)

e. Persediaan Bahan Penolong Akhir Periode Tabel 4.22 Persediaan Bahan Akhir Proses Bahan Penolong Kolom 1 2 3

4

Baris 5

6

7

94

A

C H Nama Proses bahan Akhir +‟Standar +‟Daftar +‟Daftar Kebutuhan isi Pesan‟!A3 Pesan‟!B3 Bahan ‟!G3 +‟Standar Kebutuhan isi Bahan ‟!G4 +‟Standar Kebutuhan isi Bahan ‟!D5 +‟Standar Kebutuhan isi Bahan ‟!G6 +‟Standar Kebutuhan isi Bahan ‟!G7 No Urut

B Nama Produk

I

J

Satuan

Jumlah Total

+‟Standar +H3*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F3 Bahan ‟!I3 +‟Standar +H4*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F4 Bahan ‟!I4 +‟Standar +H5*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F5 Bahan ‟!I5 +‟Standar +H6*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F6 Bahan ‟!I6 +‟Standar +H7*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F7 Bahan ‟!I7


Kolom

A

B

8

Baris

9

10 11

C +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G8 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G9 +‟Standar Kebutuhan Bahan ‟!G10 Jumlah

H

I

J

isi

+‟Standar +H8*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F8 Bahan ‟!I8

isi

+‟Standar +H9*+‟!Daftar Kebutuhan Harga „!F9 Bahan ‟!F9

isi

+‟Standar Kebutuhan +H10*+‟!Daftar Bahan Harga „!F10 ‟!I10 @sum(j3..j10)

f. Pembayaran di Muka Tabel 4.23 Daftar Pembayaran di Muka

Baris

2.

Kolom 1 2 3 7 8 9

A No Urut isi isi Jumlah

B Tahun Berpiutang Usaha isi isi

C Daftar Piutang Usaha isi isi

D

E

Penanggung Jawab

Jumlah (Rp)

isi Isi

isi isi @sum(E4..E5)

Aktiva tetap memiliki sifat yang sulit untuk diubah menjadi kas, sehingga membutuhkan prosedur yang rumit dan waktu yang lama dalam menjual aset tersebut menjadi kas. Aktiva tetap memiliki komponen seperti tanah, bangunan, pabrik, mesin, peralatan, furnitur, kendaraan dan sebagainya.

Tabel 4.24 Daftar Aktiva Tetap Kolom 1 2 3 Baris

A No Urut

4

Isi

5

isi

B Jenis Aktiva Tetap Pembelian Tanah dan Bangunan Pembelian Mesin dan Peralatan

C Spesifikasi Aktiva Tetap

D Jumlah Aktiva Tetap

E

F

Harga Satuan

Jumlah Total

isi

isi

Isi

+D4*E4

isi

Isi

isi

+D5*E5

95


Kolom

A

B

6

Jumlah

C

D

E

F

Baris @sum(f4..f5)

4.4.2. Perhitungan Pasiva Pasiva adalah utang atau yang biasa disebut sebagai liabilitas dan menjadi suatu kewajiban perusahaan dalam melakukan pembayaran kepada pihak lainnya. Adapun perhitungan pasiva yang terdiri dari utang lancar dan utang jangka panjang dengan menggunakan Microsoft Excel adalah sebagai berikut. 1. Utang Lancar Tabel 4.25 Daftar Utang Lancar (1) Kolom 1 2 3 4 5

A

B

C

No Urut

Tanggal Pinjaman

Jenis Utang Lancar

isi

isi

6

isi

isi

7

isi

isi

8

isi

isi

9

isi

isi

10

isi

isi

Utang Bank Utang Koperasi Utang Pajak Penambahan Nilai Utang Pajak Penghasilan Utang Usaha Uang Muka Pelanggan

Baris

D

E

Masa Jasa Pinjaman Pinjaman

F Jumlah Pinjaman

isi

isi

isi

isi

isi

isi

isi

isi

+‟Laporan Laba Rugi‟!c9

isi

isi

isi

isi

isi

isi

+‟Laporan Laba Rugi‟!c10 isi +‟Laporan Laba Rugi‟!C2*Persentase

Tabel 4.25 Daftar Utang Lancar (2) Kolom 1 2 3 4

A No Urut

G H I Bulan Pembayaran Pokok dan Jasa Cicilan

Jasa

Jumlah

5

isi

+F5/$D$5

+$F5*$E5

+G5+H5

6

isi

+F6/$D$6

+$F6*$E6

+G6+H6

Baris

J K L Total Pembayaran Pokok dan Jasa Cicilan

Jasa

@sum (G5..G5) @sum (G6..G6)

@sum (H5..H5) @sum (H6..H6)

7 8 9

96

Jumlah +F5-K5 +F6-K6 +F7 +f8

isi

+F9/$D$9

+$F9*$E9

+G9+H9

@sum (G9..G9)

@sum (H9..H9)

+F9-K9


Baris

Kolom 10

A Isi

11

2.

G

H

I

J

K

@sum (F5..F10)

@sum (G5..G10)

@sum (H5..H10)

@sum (I5..I10)

@sum (J5..J10)

L +f10 @sum (L5..L10)

Utang Jangka Panjang

Tabel 4.26 Daftar Utang Jangka Panjang (1)

Baris

Kolom 1 2 3 4

A

B

C

D

E

F

No Urut

Tanggal Pinjaman

Jenis Utang Jangka Panjang

Masa Pinjaman

Jasa Pinjaman

Jumlah Pinjaman

12

isi

isi

isi

isi

isi

13 14

isi isi

isi isi

isi isi

isi isi

isi isi

Utang Bank di Atas 3 Tahun Obligasi Wesel Bayar

Tabel 4.26 Daftar Utang Jangka Panjang (2)

Baris

Kolom 1 2 3 4

No Urut

12

isi

13

isi

14

isi

15

A

G H I Bulan Pembayaran Pokok dan Jasa

J K L Total Pembayaran Pokok dan Jasa

Cicilan

Cicilan

Jasa

Jumlah

@sum (G12..G12) @sum +F13/$D$13 +$F13*$E13 +G13+H13 (G13..G13) @sum +F14/$D$14 +$F14*$E14 +G14+H14 (G14..G14) @sum @sum @sum @sum (G12..G14) (H12..H14) (I12..I14) (J12..J14) +F12/$D$12 +$F12*$E12 +G12+H12

Jasa @sum (H12..H12) @sum (H13..H13) @sum (H14..H14) @sum (K12..K14)

Jumlah +F12-J12 +F13-J13 +F14-J14 @sum (L12..L14)

4.4.3. Penentuan Modal Modal atau ekuitas adalah hak pemilik atas harta yang merupakan kekayaan bersih setelah dikurangi kewajiban, modal bisa bertambah jika pemilik usaha menambahkan investasinya saat mendapatkan keuntungan, sebaliknya modal akan berkurang saat perusahaan mengambil dana investasi atau saat perusahaan mengalami kerugian. Adapun perhitungan modal yang terdiri dari modal terdiri dari saham disetor, laba ditahan dengan menggunakan Microsoft Excel adalah sebagai berikut.

97


Tabel 4.27 Daftar Modal Sendiri

Baris

Kolom 1 2

A No Urut

B Pemilik Modal

3

isi

isi

4

isi

isi

5

Jumlah

C Jenis Modal Modal Sendiri Modal Sendiri

D Tanggal Modal

E

F Nama Bank

Jumlah

isi

isi

isi

isi

isi

isi

@sum(E3..E4)

Tabel 4.28 Daftar Laba Ditahan Kolom 1 2

A No Urut

B Pemilik Modal

3

isi

isi

Baris

C Jenis Modal Laba Ditahan

D Tanggal Modal isi

E Jumlah +‟Laporan Laba Rugi‟!C13

4.4.4. Menghitung Zakat Perniagaan Adapun rumusan zakat perniagaan adalah Aktiva Lancar–Utang Lancar) x 2,5% dengan memperhitungkan batas nisab dalam satu tahun yaitu 85 gram x harga emas. Dari asumsi harga emas tahun ini adalah Rp938.099 maka batas nisab perniagaan dalam satu tahun adalah 79.738.415. Dengan demikian maka rumus Excel-nya untuk besaran zakat perniagaan adalah @IF((+‟LaporanNeraca‟!C10 +‟Laporan Neraca‟!F10)<=Rp79.738.415;"0";+(+‟LaporanNeraca‟!C10 +‟Laporan Neraca‟!F10)*2,5%) Setelah menentukan besarnya aktiva, pasiva modal dan besarnya zakat perniagaan, langkah berikutnya adalah membuat kerangka aplikasi laporan neraca keuangan. Adapun kerangka aplikasi kerangka neraca keuangan dalam Excel dapat dilihat pada tabel berikut ini.

98


Tabel 4.29 Kerangka Neraca Laporan Keuangan Kolom A 1 No 2 Akun 06 3 061

D No Akun 07 071

Pasiva Utang Lancar

0711

Utang Bank

+‟Daftar Utang‟!L5

0712

Utang Koperasi

+‟Daftar Utang‟!L6

0713

Utang Pajak Penambahan Nilai

+‟Laporan Laba Rugi‟!c9

0714

Utang Pajak Penghasilan

+‟Laporan Laba Rugi‟!c10

0715

Utang Usaha

+‟Daftar Utang‟!L9

0716

Uang Muka Pelanggan

+‟Laporan Laba Rugi‟!C2*Persenta se

Jumlah

@sum(F3,...F9)

072

Utang Jangka Panjang

0721

Utang Bank di Atas 3 Tahun

+‟Daftar Utang‟!L12

0722

Obligasi

+‟Daftar Utang‟!L13

0723

Wesel Bayar

15 16 17

08

Jumlah Total Utang Modal

18

081

19

082

4

5

6

7

8

9 10 Baris

B

C

Uraian

Jumlah

Aktiva Aktiva Lancar

+F20-C5C6-C7-C8C9 +‟Daftar 0612 Piutang Usaha Piutang Usaha‟!E6 +‟Persediaan Persediaan Bahan 0613 Ba bahan Utama „!G7 +‟Persediaan Persediaan Bahan 0614 Ba bahan Penolong „!J11 +‟Persediaan Persediaan 0615 Barang Jadi Barang Jadi „!G8 +‟Daftar Biaya yang 0616 Piutang Dibayar di Muka Usaha‟!E9 @sum Jumlah (C4..C9) 0611

Kas

11

062

Aktiva Tetap

12

0621

Pembelian Tanah dan Bangunan

13

0622

Pembelian Mesin dan Peralatan

14

20 21 22

23

Jumlah

Jumlah Aktiva

+‟Daftar Aktiva Tetap‟!F4 +‟Daftar Aktiva Tetap‟!F5 @sum (C12..C13)

+C10+C14 090

E

F

Uraian

Jumlah

+‟Daftar Utang‟!L14 @sum (F12..F14) +f10+f15

+‟Daftar Modal‟!E5 +‟Laporan Laba Laba Ditahan Rugi‟!C13 Total Modal @sum(f18..f19) +f16+f20 Jumlah Pasiva @if((C10-F10)<= Zakat 79.738.415;”0”;+(c Perniagaan 10-f10)*2,5%) Jumlah Aktiva +c21-c22 Setelah Zakat Perniagaan Modal Sendiri

99


4.5.

Kerangka Aplikasi dalam Menentukan Kinerja Usaha

Kerangka aplikasi untuk mengukur kriteria usaha pada usaha mikro kecil menengah menggunakan 4 kriteria yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas dan rasio aktivitas.

LAPORAN RUGI LABA

Gambar 4.8

KINERJA USAHA

LAPORAN NERACA KEUANGAN

Hubungan antara Laporan Laba Rugi dengan Neraca Keuangan untuk Mengukur Kinerja Usaha

4.5.1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio) Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek suatu perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancarnya. Jenis rasio likuiditas adalah: 1. Rasio lancar (current ratio), rumus rasio lancar: current ratio = aktiva lancar/utang lancar x 100% 2. Rasio cepat (quick ratio/acid test ratio), rumus rasio keuangan cepat adalah quick ratio = kas + efek + piutang/utang lancar x 100% Nilai ideal dari ketiga perhitungan di atas adalah sebesar-besarnya 150% yang berarti semakin besar hasil perhitungan rasio likuiditas maka semakin sehat kondisi perusahaan. 4.5.2. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) Ada beberapa metode dalam perhitungan rasio profitabilitas yaitu:  Net Profit Margin menghitung tingkat kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba bersih. Berikut rumus rasio keuangan untuk net profit margin: Net profit margin = laba bersih setelah pajak (EAT)/penjualan netto x 100%  Return on Equity. Berikut rumus rasio keuangan untuk equity: equity = earnings after tax (EAT)/jumlah equity x 100%

100


Return of Investment. Berikut rumus rasio keuangan untuk return of investment: return of investment = EAT/jumlah aktiva x 100%

Semakin tinggi nilai hasil perhitungan rasio profitabilitas berarti semakin baik nilai keuntungan perusahaan. 4.5.3. Rasio Solvabilitas Rasio ini bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Ada dua jenis dalam rasio ini, yaitu perbandingan kewajiban dengan aset (total debt to assets ratio) dan juga perbandingan dengan ekuitas (total debt to equity ratio).  Total debt to asset ratio bertujuan menghitung pengaruh besaran kewajiban terhadap pengelolaan aset perusahan dan berfungsi untuk mengukur berapa aktiva/aset perusahaan yang dibiayai oleh utang, berikut rumusannya total kewajiban/total aktiva x 100%  Total debt to equity ratio menunjukkan hubungan antara jumlah utang jangka panjang dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan., berikut rumusannya total kewajiban/ total modal x 100% Nilai maksimal dari kedua rasio ini adalah 200% sebagai batas aman perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya. 4.5.4. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Dalam analisis ini, aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu mengakibatkan semakin besarnya dana lebih yang tertanam pada aktiva. Dana lebih ini yang di mana dampak dari aktivitas rendah menjadi lebih baik jika ditanamkan pada aktivitas yang lebih produktif.  Perputaran piutang (receivable turnover). Berikut rumus rasio keuangan untuk perputaran piutang: perputaran piutang (receivable turnover) = penjualan/piutang rata-rata x 100%

101


Perputaran aktiva total (total asset turnover). Berikut rumus rasio keuangan untuk perputaran aktiva total: perputaran aktiva total (total asset turnover) = penjualan/total aktiva x 100%

Semakin tinggi rasionya, maka semakin baik kualitas dan efisiensi perputaran piutang perusahaan. Adapun kerangka aplikasi untuk kinerja usaha dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini. Tabel 4.30 Kinerja Usaha Kolom A 1 No 2 Urut 3 1 4

B Jenis Rasio Keuangan Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)

5

6

C Analisis Rasio Keuangan Rasio lancar

Rasio cepat

Net profit margin 2

Rasio Profitabilitas

Return on equity

Baris 7

8

Return of investment 3 Rasio Solvabilitas

9

10

11

102

4

Rasio Aktivitas

Total debt to aset ratio Total debt to equity ratio Perputaran piutang Perputaran aktiva total

D

E

Nilai Kinerja

Kriteria Kinerja

+‟Laporan Neraca‟!c10/+‟Laporan Neraca‟!F10 (+‟Laporan Neraca‟!c4+‟Laporan Neraca‟!c5)/+ ‟Laporan Neraca‟!F10 +‟Laporan Laba Rugi‟!c11/+‟Laporan Laba Rugi‟!c2 +‟Laporan Laba Rugi‟!c11//+ ‟Laporan Neraca‟!F20 +‟Laporan Laba Rugi‟!c11//+ ‟Laporan Neraca‟!F21 +‟Laporan Neraca‟!F16/+‟Laporan Neraca‟!F21 +‟Laporan Neraca‟!F16/+‟Laporan Neraca‟!F20 +‟Laporan Laba Rugi‟!c2/+ ‟Laporan Neraca‟!c5 +‟Laporan Laba Rugi‟!c2/+ ‟Laporan Neraca‟!F21

@IF(d3>=150%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D4>=150%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D5>=15%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D6>=15%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D7>=15%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D8<=200%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D9<=200%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D10>=15%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ") @IF(D11>=15%;"Kinerja baik ";"Kinerja Tidak Baik ")


BAB V PENGGUNAAN SISTEM APLIKASI DALAM USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

Bab ini membahas tentang bagaimana menggunakan aplikasi yang sudah dibuat dalam sebuah file (dapat diakses di link https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan) dan memberikan simulasi dalam kegiatan produksi. Pada kasus akan dibahas bagaimana cara menggunakan aplikasi pada proses pembuatan jaket almamater mahasiswa seperti gambar di bawah ini.

Gambar 5.1

Model Jaket Almamater

103


Dengan menggunakan aplikasi yang sudah dibuat (dapat diakses di link https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan) yang gambarnya dapat dilihat pada gambar berikut ini. APLIKASI SISTEM PENCATATAN DAN PEMBUKUAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

PERUSAHAAN KONVEKSI MULIA ADIYANA JAKET ALMAMATER LAPORAN 31 DESEMBER 2022

CETAK PRINT LAPORAN LAPORAN

DAFTAR PESANAN

DAFTAR & HARGA BAHAN

STANDAR KEBUTUHAN BAHAN

TARIF TENAGA KERJA

DAFTAR PERSEDIAAN BARANG JADI

DAFTAR PERSEDIAAN BAHAN

DAFTAR KEBUTUHAN BAHAN

PRODUKSI YANG DIBUAT PERIODE INI

DAFTAR BIAYA TENAGA KERJA

HARGA POKOK PRODUKSI

JUMLAH PENJUALAN

LAPORAN RUGI LABA

NERACA KEUANGAN

KINERJA USAHA

SUMBER:Undang Undang No 7 tahun 2021 Tentang Harmonisasi Peraturan Pajak UU No 11 Tahun 2020 Undang Undang Cipta Kerja PP 7 Tahun 2021 Kemudahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM SK BAZNAS No 31 tahun 2021 tentang Batas Nishab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2021 Dan Pendapat Syech Yusup Qordowi Permendikbud 45 tahun 2014 Tentang Seragam Di Sekolah

Gambar 5.2

5.1.

KELUAR

PANDUAN PANDUAN APLIKASI APLIKASI LAPORAN KEUANGAN 1. klik tombol Daftar Pesan, Daftar Persediaan Barang Jadi (Awal Periode), Standar Kebutuhan Bahan, Daftar dan harga bahan, Daftar persediaan bahan, tarif tenaga kerja sebagai Input Data yang berwarna Hijau Pada Layar. 2. Isilah data datanya yang berwarna hijau tersebut sesuai dengan kondisi produksi yang di buat dan tekan tombol Home 3. Setelah Pengisian Data tersebut selesai, tekan tombol Daftar Kebutuhan Bahan, Daftar Biaya Tenaga Kerja, Produksi Yang dibuat periode ini, Jumlah Penjualan, Harga Pokok Produksi Jika Ingin Mengetahui Kebutuhan bahan, Tenaga Kerja, Penjualan. 4. Tekan Tombol Harga Pokok Produksi dan dan Tambahkan Biaya Overhead dengan menekan tombol Biaya Overhead dan isilah data data tersebut yang berwarna Hijau,setelah diisi dapat diketahui Harga Pokok Produksi Yang dibuat/ 4. Tekan Tombol Laporan Rugi Laba dan Tambahkan Data dengan menekan tombol Biaya Komersial dan isilah data data tersebut sesuai dengan kondisi aktivitas kegiatan (Warna Hijau), setelah dapat diketahui Laporan Rugi laba produk yang dibuat 5. Tekan Tombol Neraca Keuangan dan Tambahkan Data tentang Aktiva yang terdiri dari Piutang Usaha, Persediaan Barang Jadi Akhir Proses , Persediaan Bahan Utama dan Bahan Penolong Akhir Proses, Pembayaran Dimuka, Aktiva Tetap dan aktiva lainnya dan Data Passiva yang terdiri dariHutang yaitu Hutang jangka pendek, hutang Jangka panjang serta Data Modal yang terdiri dari Laba Di Tahan saat ini dan sebelumnya, Modal sendiri 6. Tekan Tombol Kinerja Usaha Untuk mengetahui Sampai sejauhmana Kinerja Usaha Yang dijalankan berdasarkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktivitas 7. Tekan KELUAR jika Pekerjaan Membuat Laporan Ini Selesai

Dibuat dan Di Publish Oleh Konsultan Mulia Adiyana

Model Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

Menghitung Jumlah Produksi

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis di atas, untuk menghitung jumlah produksi yang dibuat saat ini (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah sebagai berikut. 1) Menekan tombol Daftar Pemesanan lalu tulis no urut, nama produk, jenis produk, rencana pesan (tanggal, jumlah, harga jual satuan produk) dan keterangan seperti yang dilihat pada tabel berikut ini.

104


Tabel 5.1

2)

Daftar Pemesanan

Menekan tombol Daftar Persediaan Barang Jadi, lalu tulis no urut, nama jenis produk, persediaan barang jadi awal proses dan isi ukuran produk (untuk baju S, M, L dan lainnya) dan tulis jumlahnya setiap jenis produk dan ukurannya seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.2

Persediaan Barang Jadi

Setelah mengisi data jumlah pesan dan data jumlah persediaan barang jadi, langkah berikutnya adalah menekan tombol produk yang dibuat saat ini seperti terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.3

Jumlah Produksi yang Dibuat

105


5.2.

Menghitung Kebutuhan Bahan dan Biaya Bahan

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk menghitung jumlah bahan dan biaya bahan (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah sebagai berikut. 1) Menekan tombol Standar Kebutuhan Bahan dan isilah komponen produk sesuai dengan jenis produk/nama produk yang ditulis di daftar pesan dan isilah komponen bahan dan standar kebutuhan bahan per satuan produk baik bahan utama maupun bahan penolong seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.4

2)

Menekan tombol Daftar dan Harga Bahan dan isilah harga bahan (bahan utama dan penolong) sesuai dengan kondisi saat ini. Untuk nama produk, satuan, nama bahan utama maupun bahan penolong tidak perlu diisi karena itu secara otomatis bersumber dari data daftar pesan dan standar kebutuhan bahan yang diisi sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.

Tabel 5.5

106

Membuat Standar Kebutuhan bahan

Daftar dan Harga Bahan Utama dan Penolong


3)

Menekan tombol Persediaan Bahan dan isilah persediaan bahan awal proses (bahan utama dan penolong) sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini seperti terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.6

Persediaan Bahan Utama dan Penolong

Setelah mengisi data standar kebutuhan bahan, daftar dan harga bahan, persediaan bahan awal proses (bahan utama dan bahan penolong), langkah berikutnya adalah menekan tombol Daftar Kebutuhan Bahan dan hasilnya dapat dilihat jumlah kebutuhan bahan dan biaya bahan/pembelian bahan (bahan utama dan penolong) secara otomatis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel kebutuhan bahan utama dan daftar kebutuhan bahan penolong di bawah ini.

107


Tabel 5.7

5.3.

Kebutuhan Bahan dan Biaya Bahan Utama dan Penolong

Menghitung Biaya Tenaga Kerja

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk menghitung biaya tenaga kerja (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah sebagai berikut. Menekan tombol Tarif Tenaga Kerja selanjutnya isi tarif tenaga kerja proses utama, proses asesoris dan proses finishing dari produk seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.8

Tarif Tenaga Kerja

Setelah mengisi daftar tarif tenaga kerja setiap produk, langkah berikutnya adalah menekan tombol Daftar Biaya Tenaga Kerja dan hasilnya dapat terlihat pada tabel berikut ini.

108


Tabel 5.9

5.4.

Daftar Biaya Tenaga Kerja

Menghitung Biaya Overhead

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk menghitung kebutuhan biaya overhead (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah sebagai berikut. Menekan tombol Daftar Overhead (yang diawali menekan tombol Harga Pokok Produksi), dilanjutkan dengan mengisi jumlah biaya komponen overhead yang terdiri dari biaya telekomunikasi, listrik dan internet, jasa atau jasa pinjaman bank (mengambil dari daftar utang), biaya pengiriman bahan dan barang setengah jadi dan membandingkan biayabiaya tersebut dengan volume produksi setiap produk seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.10 Daftar Biaya Overhead

5.5.

Menghitung Harga Pokok Produksi

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk menghitung harga pokok produksi (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah sebagai berikut. Menekan tombol Harga Pokok Produksi secara otomatis dapat diketahui besaran harga pokok produksi setiap produk yang terdiri dari

109


biaya bahan utama, bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya overhead seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.11 Biaya Harga Pokok Produksi

5.6.

Menghitung Jumlah Penjualan

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk menghitung harga pokok produksi (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah: Menekan tombol Jumlah Penjualan secara otomatis dapat diketahui besaran jumlah penjualan setiap produk dengan mempertimbangkan persediaan barang jadi dan jumlah produksi yang dibuat saat ini. Seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.12 Daftar Penjualan

5.7.

Menghitung Biaya Komersial

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk menghitung biaya komersial (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah sebagai berikut.

110


Menekan tombol Biaya Komersial (yang diawali menekan tombol Laporan Laba Rugi) dan selanjutnya isilah besaran dari biaya komersial yang terdiri dari biaya administrasi umum dan biaya pemasaran seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.13 Daftar Biaya Komersial

5.8.

Membuat Laporan Rugi Laba

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk membuat laporan laba rugi (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan). Langkahnya adalah menekan tombol Laporan Laba Rugi secara otomatis dapat diketahui laporan laba rugi sebuah perusahaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang mempertimbangkan besaran Pajak Penambahan Nilai dan Pajak Penghasilan untuk menghadapi kebijakan pemerintah dengan dibuatnya Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan dan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu serta terhitung besaran zakat perniagaan/perdagangan untuk menuju keberkahan dari harta perniagaan yang diperoleh (Sumber: Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, SK BAZNAS Tahun 2021 tentang Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2021, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi).

111


Tabel 5.14 Laporan Laba Rugi

5.9.

Membuat Laporan Neraca Keuangan

Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk membuat laporan neraca keuangan (lihat tabel pada file aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan) yang terdiri 3 kelompok yaitu Aktiva (Piutang Usaha, Persediaan Barang Jadi Akhir Proses, Persediaan Bahan, Aktiva Tetap), Pasiva (Utang Lancar dan Utang Jangka Panjang) serta Modal (Modal Sendiri dan Laba Ditahan). Langkahnya adalah dengan menekan tombol Laporan Neraca Keuangan di dashboard, selanjutnya tekan tombol komponen-komponen laporan neraca keuangan berikut ini. 112


1.

Menekan tombol Piutang Usaha, dilanjutkan dengan mengisi data piutang usaha dan biaya yang dibayar di muka antara lain tanggal, daftar piutang dan pembayaran di muka, penanggung jawab dan jumlah piutang/pembayaran di muka setiap pelanggan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.15 Daftar Piutang Usaha

2.

Menekan tombol Persediaan Barang Jadi dilanjutkan dengan mengisi jumlah persediaan barang jadi akhir periode setiap produk untuk setiap ukuran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.16 Persediaan Barang Jadi Akhir Periode

3.

Menekan tombol Persediaan Bahan dilanjutkan dengan mengisi jumlah persediaan bahan (bahan utama dan bahan penolong) akhir periode untuk setiap ukuran seperti terlihat pada tabel berikut ini. 113


Tabel 5.17 Persediaan Bahan

4.

Menekan tombol Aktiva Tetap, selanjutnya mengisi data-data tentang aktiva tetap antara lain pembelian tanah dan bangunan, penyusutan, pembelian alat/mesin dan mengisi data aktiva lainnya antara lain pembelian tanah kosong dan goodwill. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.18 Aktiva Tetap dan Aktiva Lainnya

114


5.

Menekan tombol Daftar Utang, selanjutnya mengisi data-data tentang pinjaman jangka pendek (pinjaman bank, pinjaman koperasi dalam satu tahun, pinjaman lainnya, uang muka pelanggan), mengisi data utang jangka panjang (pinjaman di atas 3 tahun). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.19 Daftar Utang

6.

Menekan tombol Modal dengan mengisi data-data tanggal modal, pemilik modal, jumlah modal, jenis modal dan tempat penyimpanan modal (Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan Bank BSI, Bank BCA atau bank lainnya sebagai tempat penyimpanan uang) yang terpisah dengan rekening pribadi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5.20 Daftar Modal

115


Setelah Mengisi data-data aktiva, pasiva dan modal dapat dilihat hasil laporan keuangan berikut ini. Tabel 5.21 Laporan Neraca Keuangan

5.10. Mengukur Kinerja Usaha Dengan melihat kerangka aplikasi yang tertulis pada bab sebelumnya, untuk membuat laporan Kinerja Usaha (Lihat Tabel Pada File Aplikasi di https://tinyurl.com/AplSistemPencatatan), dengan menggunakan jenis rasio keuangan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktivitas dapat dilihat kondisi usaha pada tabel berikut ini. 116


Tabel 5.22 Kinerja Usaha

5.11. Mencetak Laporan Untuk mencetak laporan hasil dari aplikasi pencatatan dan pembukuan dengan mengikuti Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dari Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (EMKM), langkahnya adalah sebagai berikut. Menekan tombol cetak laporan dan bisa dilihat hasilnya dilayar dan jika ingin mencetak dipersiapkan printernya. Adapun yang tercetak dilayar adalah fitur-fitur yang dibutuhkan untuk mengukur kinerja usaha antara lain kebutuhan bahan, kebutuhan biaya tenaga kerja, harga pokok produksi, laporan laba rugi, laporan neraca keuangan dan kinerja Usaha.

117


DAFTAR PUSTAKA

A. 1.

Sumber Buku Bastian dan Suharjono .2006. Akutansi Perbankan, Penerbit Salemba Empat. Jakarta

2.

Carl S. Warren, Amir Abadi jusuf (dkk).2005, Pengantar Akutansi Adaptasi Indonesia, Penerbit Salemba empat, Jakarta

3.

Hamdani Lugina, S,Pd. 2016. Ciptakan Aplikasi Otomatis Di Excel, Penerbit Elek Gramedia, Jakarta

4.

Ikatan Akutansi Indonesia. 2020. Standar Akutansi Keuangan (SAK) Entitas Mikro Kecil dan Menengah Cetakan Ketiga, Penerbit Ikatan Akutansi Indonesia, Jakarta.

5.

Lilis Puspitawati, Dr.SE.2011. Penerbit Rekayasa Sains, Jakarta

6.

Matz Usry.2003 , Akuntansi biaya pengendalian. Jakarta, Penerbit Erlangga

7.

Mulyadi. 2016. Akutansi Biaya, Penerbit. Fakultas Ekonomi UGM, Jogjakarta

8.

S. Munawir, Drs. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Penerbit Liberty. Jakarta

9.

Sumarno .2020. Pengantar Teknologi Komunikasi,Penerbit Erlangga. Jakarta

10.

Sumarso S.R .2004 Akutansi Suatu Pengantar, Penerbit Salemba, Jakarta

118

Sistim Informasi Akutansi, perencanaan

Informasi

dan

dan


11.

Supriyono. 2013 Akuntansi biaya dan akuntansi manajemen, Penerbit. Fakultas Ekonomi UGM. Jogjakarta

B. 1.

Sumber Lainnya Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 267, Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, SK BAZNAS Tahun 2021 Tentang Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa tahun 2021, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi)

2.

Al Qur'an Surah At-Taubah Ayat 34 , Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019, Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003, dan pendapat Shaikh Yusuf Qardawi).

3.

Lembaran Negara Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2021 Tentang Kemudahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah

4.

Lembaran Negara Undang Undang No 7 Tahun 2021 Tentang Harmnisasi Peraturan Perpajakan

5.

Lembaran Negara Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki Peredaran Bruto tertentu

6.

SK BAZNAS Nomor 13 Tahun 2021 Tentang Penerimaan Zakat, Infak dan Sedekah Dalam Bentuk Saham Syariah

7.

UU No 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, Peraturan Menteri Agama No 52 Tahun 2014 yang telah diubah dua kali dengan perubahan kedua adalah Peraturan Menteri Agama No 31/2019, dan pendapat Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi serta para ulama lainnya.

119


PROFIL PENULIS

PENULIS 1 Ir. Maman Suryaman, M.T., mengabdi pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan kebijakan (SAPPK-ITB) pada kelompok keahlian Sistem Infrastruktur Wilayah dan Kota (SIWK). Beberapa mata kuliah yang pernah diampunya antara lain: Pengantar Manajemen Transportasi, Perencanaan Transportasi, Kewirausahaan, Studi Kelayakan, Ekonomi Teknik dan Akuntansi Biaya. Penulis aktif melakukan penelitian dan mengikuti berbagai pertemuan ilmiah, beberapa di antaranya yaitu: “Strategi Jitu Membangun Merek UMKM” (Litbang Kompas, 2020), “Pentingkah Membangun Merek bagi UMKM?” (Litbang Kompas, 2020), dan “Dialog UMKM” (Komunitas Ilmu Manajemen dan Bisnis Indonesia, 2020). Selain itu penulis juga aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, salah satunya yaitu Pendampingan Model Digitalisasi Ekonomi yang Rendah Interaksi Langsung pada Usaha Konveksi di Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung (2021).

120


PENULIS 2 Ir. Edi Kusniadi, M.P. mengabdi pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK-ITB) dan menggeluti bidang Sistem dan Pemodelan Ekonomika. Penulis aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Beberapa judul penelitiannya antara lain: “Analisis Dampak Pengembangan Waduk Jatigede terhadap Aspek Sosial dan Ekonomi Orang Terkena Dampak Pembangunan Waduk Jatigede” (2017), “Analisis Sistem Produksi Pengolahan Kopi dalam Peningkatan Kapasitas dan Nilai Tambah” (2018), dan “Kajian Kemanfaatan Infrastruktur Jalan dalam Pengembangan Pembangunan Ekonomi Daerah” (2019) yang ketiganya didanai oleh P3MI KK-ITB 2017. PENULIS 3 Bambang Hermanto, S.E., M.M., M.B.A. menempuh D-3 Akuntansi (lulus tahun 1984) di Ujung Pandang, S-1 Akuntansi (lulus tahun 1991) di Ujung Pandang, S-2 Program Magister Manajemen (lulus tahun 1993) di IPWI Jakarta, Pendidikan Professional MBA (lulus tahun 1996) di Jakarta, CMA tahun 2013 di Surabaya, CIBA tahun 2015 di Surabaya, dan CBV tahun 2017 di Surabaya. Ia merupakan anggota organisasi profesi IAI sejak 2009 s.d. sekarang dan ATPETSI sejak 2020 s.d. sekarang. Pengalaman mengajarnya yaitu pada Akademi Akuntansi Bina Insani-Bekasi tahun 2000–2002, STIE-MBI, Depok tahun 2009, Politeknik LP31-Jakarta tahun 2000–sekarang. Penulis aktif dalam berbagai kegiatan pertemuan ilmiah di tingkat nasional maupun internasional sebagai pemakalah. Selain itu, penulis telah memegang Sertifikat BNSP: Asesmen Uji kompetensi dan Pendamping Kewirausahaan, dan beberapa HAKI atas beberapa karya bukunya di bidang ilmu ekonomi.

121


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Aplikasi Sistem Pencatatan dan Pembukuan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Era Digital by lppmitb - Issuu