ISSN: 1410-4416 EDISI 113 JANUARI 2017
2
Edisi 113 - Januari 2017
GARASI FOTO
Foto Story
Teks dan Foto: Ari, Dhessa, dan Feri
P
apan berkayu menempel pada besi berkarat menggelantung di atas sungai itu menghubungkan dua kabupaten, Boyolali dan Karanganyar. Nampak pepohonan hijau turut melendot ke arahnya. Di bawahnya, jurang sedalam 20 meter menjadi aliran irigasi areal persawahan milik warga. Setiap hari, warga menggunakan jembatan ini untuk memperpendek jarak ke Kota Solo. Tidak hanya pejalan kaki, pengguna sepeda angin dan motor tak jarang terlihat melintas papan kayu dengan lebar 1,5 meter ini. Setiap pagi, jembatan itu riuh oleh warga yang akan melintasinya. Mereka harus rela mengantre bila ada yang melintas. Pengendara motor harus memanfaatkan kedua tangannya. Tangan kiri menempel ditubuh jembatan sebagai pegangan utama. Sementara tangan kanan digunakan untuk mengontrol gas. Adapun pejalan kaki, harus mengalah bila ada pengguna motor yang melintas. Tentu rasa kehati-hatian dibutuhkan sehingga tidak tergelincir ke dalam jurang. Warga menyebutnya jembatan Plempungan. Jembatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Masyarakat memanfaatkannya sebagai akses penghubung terdekat antara dua Desa yaitu Desa Plempungan, Kabupaten Karanganyar dan Desa Suro Kabupaten Boyolali. Dengan cara menambahkan kayu diatas besi yang melintang di saluran irigasi.
Jembatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Masyarakat memanfaatkannya sebagai akses penghubung terdekat antara dua Desa yaitu Desa Plempungan, Kabupaten Karanganyar dan Desa Suro Kabupaten Boyolali.
Terbayang kondisinya bukan? Tak ada pilihan lain, meski pernah merenggut korban jiwa, warga tetap memanfaatkan jembatan ini untuk akses terdekat. Masyarakat lebih memilih melalui jembatan ini daripada harus memutar lebih jauh untuk menuju desa sebrang. Fotografer Pabelan Pos merasa penasaran untuk melihat dengan langsung kondisi jembatan itu. Berbekal kamera yang mengalung di tangan, kami merekam sebagian aktivitas warga dalam melintasi jembatan itu. Matahari belum memunculkan cahayanya, namun langkah kami diturut untuk sampai di sana. Berikut rekaman aktivitas di jembatan Plempungan yang berhasil direkam oleh Fotografer Pabelan Pos, 7 Desember 2016.
3
Edisi 113 - Januari 2017
BERANDA LPM PABELAN
Editorial
Pustaka Pusaka Mahasiswa
Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan
Pemimpin Umum Verlandy Donny Fermansah Sekretaris Umum Rizki Pemimpin Redaksi Pabelan-online.com Ratih Kartika Pemimpin Redaksi Koran Pabelan Ritmika Serenady Pemimpin Redaksi Tabloid Pabelan Pos Depi Endang Sulastri Pemimpin Redaksi Majalah Pabelan Dwi Astuti Pemimpin Penelitian dan Pengembangan Aisyah Arminia Pemimpin Perusahaan Daryanti Manajer Hubungan Masyarakat Syarifudin Aji Pamungkas Manajer Teknologi dan Informasi Achmad Midun Sanjaya Manajer Logistik Dendy Pratama Manajer Personalia Muhammad Taufik Manajer Pelatihan Hammam Nur Bagaskara Manajer Diskusi Darlin Rizki Manajer Data dan Penelitian Putri Muthmainah Manajer Iklan dan Pemasaran Ummu Azka Amalina Manajer Produksi dan Distribusi Afif Abdurrahman D
I
N
A
M
I
K
A
I
N
T
E
L
E
K
T
U
A
L
M
A
H
A
S
I
S
A
pa yang menjadi pusaka mahasiswa, bila bukan pustaka? Siapakah pusaka itu bila bukan buku? Lalu, bagaimana mahasiswa menempatkan buku itu? Buku merupakan sarana informasi dan pengetahuan yang penting. Perpustakaan menjadi rumahnya dan kampus telah menyediakannya. Bila perpustakaan kampus tak jua terjamah olehnya (mahasiswa –red). Kini, ada perpustakaan jalanan yang memanfaatkan ruang terbuka sehingga memberi kemudahan baginya. Perpustakaan jalanan memanfaatkan ruang terbuka/ruang publik untuk membangun nilai-nilai kemajuan. Hal itu meru-
Ilustrasi: Prazetio / Pabelan Pos W
A
Pemimpin Redaksi Depi Endang Sulastri
Redaktur Pelaksana Zulfa Rahmatina
Tim Isu Aisyah Arminia Muhammad Taufik Ratih Kartika Ritmika Serenady Syarifuddin Aji Pamungkas Verlandy Donny Fermansah
Editor Depi Endang Sulastri Ratih Kartika; Ritmika Serenady Zulfa Rahmatina
Reporter Achmad Midun Sanjaya; Afif Abdurrahman; Aulia Arsinta; Aisyah Arminia; Ari Susanto; Daryanti Dhessa Yudi Aviarti; Dina Ayu Lestari; Dziya Ulhikmah; Feryanto Setiawan Hammam Nur Bagaskara; Hanifah Indrianti Livia Purwati; Metanisha Rofti Hamtani Muhammad Taufik,; Putri Muthmainah Ratih Kartika; Ritmika Serenady Rizki; Sofi Filda Izzati; Ummu Aska Amalina Verlandy Donny Fermansah; Widy Setiawan Fotografer Afif Abdurrahman Ari Susanto Dhessa Yudi Aviarti Feryanto Setiawan Hammam Nur Bagaskara Intan Juli Astuti Widy Setiawan
Ilustrator: Kurnia Siti Mahaniyah Nadya Vicky Putri Pribadi Prasetiyo Leksono Nur Widodo Vivi Furtining Dewi Layouter: Dina Ayu Lestari Hanifah Indriyanti Indra Hartanto Rizki Setyo Widarto Achmad Midun Sanjaya Syarifuddin Aji Pamungkas Ryan Eko Nugroho Verlandy Donny Fermansah
Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta Terbit setiap tiga bulan berdasarkan SK Rektor No. 103/1/2000
Alamat Student Center Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan, Kartasura, Surakarta 57102.
lpm pabelan
@infopabelan
@lpmpabelan
lpmpabelanums@gmail.com
pakan manifestasi dari tindakan-tindakan kreatif perlawanan yang cukup damai dan tanpa kekerasan. Perpustakaan jalanan secara umum dirawat setidaknya dengan karekter keberanian, daya tahan & ketegaran, dan kreatifitas tinggi. Tak ada maksud lain, kecuali untuk membudayakan minat baca mahasiswa. Lapal-lapak gelaran mereka dimaksudkan untuk mengenalkan buku. Alternatif ruang terbuka dimaksudkan untuk memberi kemudahan akses membaca kepada mahasiswa. Lalu, pantaskan mahasiswa mengabaikannya? Seharusnya mahasiswa bermula dari buku dan berakhir dengan buku. Sendisendi aktivitas mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari buku. Namun, mahasiswa terlelap seakan buku hanya pendamping perkuliahan. Mereka membutuhkan buku, jika masa akhir sebagai seorang mahasiswa sudah hampir usai.
Dari Redaksi
F
enomena malas membaca bukan hal yang sangsi lagi. Kebutuhan akan membeli buku belum tumbuh di masing-masing sanubari. Buku bukan menjadi nomor satu. Buku hanyalah tumpukan lembaran-lembaran hasil karya seseorang. Bahkan, buku hanya menjadi pelengkap kebutuhan. Dan membutuhkan buku ketika diperintah seseorang untuk membelinya. Itu lebih baik daripada sama sekali tidak pernah sama sekali. Tentu, beragam upaya dilakukan untuk mendekatkan manusia dengan buku. Mereka yang peduli dengan buku-buku berupaya untuk menumbuhkan minat baca. Mereka memberi akses buku dengan membuka perpustakaan di ruang tebuka. Ruang dimana setiap orang berkumpul dan dengan mudah melihat buku. Setidaknya, ketertarikan itu akan muncul oleh sebuah pandangan. Adanya latar belakang tersebut, edisi ini, edisi pungkasan 2016, Pabelan Pos 113 memaparkan kepedulian sekelompok orang dalam menumbuhkan minat baca dengan membuka perpustakaan alternatif. Perpustakaan jalanan yang
diprakarsai mahasiswa UMS, KOPERJAS dan perpustakaan Ganesha yang didirikan oleh warga negara Amerika Serikat untuk Warga Solo. Selain itu, pemaparan terkait perpustakaan UMS dengan segudang prestasi dan budaya konsumsi mahasiswa, dalam hal ini budaya membaca turut dihadirkan. Hal-hal tersebut sengaja dipilih sebagai upaya untuk menggalakkan cinta buku, terlebih di kalangan mahasiswa. Mahasiswa berawal dari buku dan berakhir dengan buku. Tentu, pembahasan lain turut dihadirkan. Ada pula rubrik yang mengula s tokoh pust aka
wan Amerika Serikat, Jorge Luis Borges. Referensi liburan akhir tahun pun ada, Dolan Yogja, Wisata Cagar Budaya. Fenomena Mannequin Challenge yang tengah populer turut dihadirkan dalam rubrik Gaya Hidup. Tentu, rubrik-rubrik lain menanti untuk dibaca. Keredaksian berharap, rubrik-rubrik yang dihadirkan membawa manfaat bagi pembaca. Terkhusus mendorong pembaca untuk lebih mencintai buku-buku, membaca buku-buku itu, dan buku adalah kebutuhannya, layaknya Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez. Akhirnya, keredaksian mengucap-kan terima kasih kepada pembaca setia Pabelan Pos. Semoga tema-tema yang telah diulas Pabelan Pos 110, 111, 112, dan 113 menjadi inspirasi pem-baca. Nantikan wajah baru Pabelan Pos edisi 114 pada 2017 mendatang. Pandanglah buku, bukalah, lalu letakkan dengan tangganmu sendiri! Saat pandangmu menyisakan ketertarikan, kamu akan menemukan buku itu kembali. Cintailah buku mulai dari sekarang!
Usaha Gempur Buta Baca Gempur...!
Ruang Baca Publik, Dongkrak Minat Baca Galakkan dan Dukung!
Membaca, Gaya dan Pengorbanan Membaca butuh berkorban juga lho...
Ilustrasi: Kurnia Siti Mahania / Pabelan Pos
4
Edisi 113 - Januari 2017
PABELAN DOELOE Psikologi
Buku, Penikmatmu Kian Terkikis Waktu Reporter: Putri Muthmainah Penikmat buku kian terkikis oleh waktu. Ungkapan tersebut dinilai tepat untuk menggambarkan jumlah pembaca buku yang kian waktu kian menurun. Hal ini terjadi bukanlah tanpa sebab, banyak alasan ataupun faktor yang melatarbelakangi seseorang akhirnya meninggalkan buku.
P
adahal, buku adalah jendela dunia. Rendahnya minat baca di Indonesia, entah itu dari kalangan akademisi ataupun masyarakat bukanlah hal baru. Masalah ini pernah diulas dalam Tabloid Pabelan Pos edisi 78 tahun 2008, dalam Rubik Liput dengan judul Budaya Membaca = Membangun Budaya Beradab yang didalamnya mengulas rendahnya minat baca Mahasiswa sekitar tahun 2008. Sebagai kaum intelektual, membaca adalah suatu keniscayaan. Dan buku seharusnya menjadi kebutuhan bagi mahasiswa. Mahasiswa yang dulu diidentikkan dengan predikat sebagai orang yang gemar membaca, berdiskusi, melakukan penelitian, dan mendedikasikan dirinya di masyarakat, sehingga mahasiswa yang bergelar insinyur (sekarang sarjana -red) tidak diragukan lagi kualitasnya. Namun, sepertinya paradigma tersebut telah bergeser, bisa dibilang hanya sedikit mahasiswa yang mendedikasikan dirinya untuk masyarakat. Derasnya arus globalisasi dan moderenisasi kemudian memunculkan hedonisme telah merasuki alam bawah sadar mahasiswa.
Membaca adalah suatu keniscayaan. Dan buku adalah kebutuhan bagi mahasiswa
Mahasiswa semakin enggan menyentuh buku ilmiah dan lebih suka membaca novel, bahkan masih banyak mahasiswa yang mengesampingkan membaca buku. Hal ini dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti menjamurnya budaya lisan (Berbicara-red) dari pada budaya membaca.
Kurangnya minat membaca dipengaruhi oleh kemauan diri pribadi untuk membaca. Meskipun fasilitas yang disediakan sudah memadai tidak akan bernilai jika tidak ada kesadaran diri untuk mau membaca.
Tabloid Pabelan Pos edisi 78 tahun 2008, dalam Rubik Liput dengan judul Budaya Membaca = Membangun Budaya Beradab yang didalamnya mengulas rendahnya minat baca Mahasiswa sekitar tahun 2008. Foto: Verlandy Donny Fermansah/Pabelan Pos
Budaya lisan lebih disukai karena merupakan bahasa yang paling mudah dipahami, karena hanya melibatkan proses satu arah saja yang tentu saja mudah hilang (Lupa -red) jika tidak ditulis. Lain halnya dengan membaca yang menuntut pembaca untuk berfikir, berimajinasi, melatih intelektualitas dan kreativitas, serta munculnya kemauan untuk menidaklanjuti apa yang telah dibaca. Ulasan Pabelan Pos edisi 78 tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa lebih suka mendengarkan, berbicara daripada membaca, padahal porsi antara mendengar, membaca dan berbicara harus seimbang agar mahasiswa memiliki pola pikir yang kritis. Endang, mahasiswa FKIP Biologi dan Nursuci, mahasiswa FKIP bahasa Inggris mengungkapkam alasan mereka kurang berminat membaca buku Ilmiah. Menurutnya,
buku ilmiah dinilai kurang menarik dan mudah membuat bosan. “Meskipun saya tidak suka membaca buku ilmiah, tetapi saya hobi membaca buku jenis lain (Novel -red),” tutur Nursuci saat ditemui Pabelan Pos ketika itu tengah asik membaca Novel di perpustakaan UMS. Salah satu pakar pendidikan UMS, Budi Murtiyasa yang ditemui Pabelan Pos kala itu menjelaskan beberapa faktor yang memengaruhi minat baca mahasiswa. Pertama adalah faktor reading habit. Faktor tersebut ialah kebiasaan membaca tidak bisa muncul secara instan saat menjadi mahasiswa atau masuk perguruan tinggi melainkan harus ditanamkan sejak dini. Faktor kedua dipengaruhi oleh metodologi pembelajaran yang artinya peran dosen dalam mendorong budaya membaca dikalangan mahasiswa. Kemudian faktor ke-
tiga yang memengaruhi minat baca mahasiswa adalah pemanfaatkan dan ketersediaan fasilitas yang ada. “Dari beberapa beberapa faktor tersebut, indikator dari lemahnya minat baca dikalangan akademisi lebih dikarenakan adanya sifat malas dan kurangnya sifat bekerja keras dari mahasiswa sendiri,” jelas dosen Pendidikan Matematika tersebut. Melihat rendahnya minat baca mahasiswa, UMS mempunyai berbagai progam. Program tersebut seperti politic insurance yaitu pelatihan active learning untuk dosen dibawah naungan Quality Assurance Control (QAC) UMS. Selain itu, progam yang mewajibkan mahasiswa untuk memiliki buku pegangan mata kuliah sendiri, meskipun hal tersebut tidak menjamin mahasiswa mau membaca buku tersebut kecuali sedang mengerjakan tugas dari dosen. Dari segi fasilitas, UMS telah memiliki perpustakaan yang bisa dibilang cukup lengkap untuk menunjang kebutuhan mahasiswa. Perpustakaan juga selalu menambah koleksi bukunya secara berkala sebagai usaha untuk menyediakan referensi bagi mahasiswa. Gunawan yang merupakan kepala perpustakaan UMS saat itu mengatakan perpustakaan mempunyai strategi sendiri, misalnya meningkatkan peminjaman buku berbahasa Asing yaitu dengan membatasi jumlah peminjaman buku berbahasa Indonesia dan bahasa Asing. “Kami (Perpustakaan-red) menghimbau kepada dosen agar tidak hanya memberikan referensi buku berbahasa Indonesia saja tapi juga buku bahasa asing,” tambahnya. Liputan Pabelan Pos eidisi 78 menunjukkan bahwa kurangnya minat membaca dipengaruhi oleh kemauan diri pribadi untuk membaca. Meskipun fasilitas yang disediakan sudah memadai, adanya banyak program untuk menggiatkan membaca buku, semua itu tidak akan efektif untuk meningkatkan minat baca, bila tidak ada kesadaran dari diri sendiri untuk giat membaca.
5
Edisi 113 - Januari 2017
KILAS KAMPUS
Museum Mampir UNS
U Reporter: Rizki
niversitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Museum Goes to Campus (MGtC) (8-13/11/16). Mengusung tema ‘Menjaga Memori Kolektif Bangsa’, pameran tersebut dimaksudkan untuk memudahkan publik mendapatkan akses informasi terkait museum, nilai sejarah, dan memori kolektif bangsa. Ketua Panitia sekaligus Koordinator Komunitas Tali Sejarah, Agus H.K., Soetomo mengungkapkan acara tersebut diikuti 24 museum dan/atau lembaga dari Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Sukoharjo, dan Blitar. Tujuannya untuk mengenalkan profil museum yang ada di Indoneisa dan menghadirkan nilai sejarah ke tengah publik. “Biasanya hanya dikenalkan melalui buku saja”, jelasnya saat ditemui di MGtc, Sabtu (12/11). Agus menambahkan, kalangan masyarakat sekarang, khususnya pelajar dan mahasiswa telah banyak melupakan nilai-nilai kebangsaan dan sejarah. Menurutnya, hal tersebut dapat menyebabkan suatu bangsa kehilangan arah. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah menyempatkan diri datang ke
museum. UNS telah membuka akses kesempatan berkunjung, tanpa perlu datang jauh-jauh. Terlebih tanpa dipungut biaya. Tinggal masyarakat memanfaatkan. “Karena berkunjung ke museum merupakan pilihan yang tepat. Kita dapat belajar, research, dan rekreasi bersama keluarga,” tutupnya.
Ketidakadilan Ruang Baca Publik UMY Reporter: Metanisha Roffi Hamtina
Silakan bawa buku-buku kalian pulang, kalian tidak mempunyai izin, apalagi kalian ilegal di dalam kampus ini.
B
egitulah kutipan perkataan birokrat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam kronologi pembubaran Perpustakaan Jalanan Rakyat Sastra (21/9). Dalih dari birokrat karena mereka (Perpus-takaan Jalanan Rakyat Sastra –red) tidak mempunyai surat izin dan tidak ada legitimasi dari universitas. Padahal, kehadiran perpustakaan tersebut dapat mengundang minat membaca mahasiswa dan dosen, walaupun hanya sekadar membaca buku di tempat. Dari situ, mahasiswa dapat mengenal pendidikan alternatif di luar kelas. Sementara itu, semangat pendirian 9 November 2015 untuk menumbuhkan budaya literasi di kampus dan memudahkan mahasiswa untuk mem-baca
maupun berdiskusi terhalang sudah. Koordinator Komunitas Rakyat Sastra, Muhammad Idra Faudu, menyatakan bahwa membaca buku adalah hak mahasiswa yang telah menjadi kebiasaan dan tak perlu legal formal. “Yang terpenting adalah tanggung jawab terkait buku-buku yang disediakan benar-benar menjunjung tinggi hakikat pengetahuan,” ungkapnya melalui sambungan WhatsApp. Membaca buku adalah budaya akademik mahasiswa. Adapun perpustakaan jalanan merupakan alternatif untuk menunjang budaya membaca, literasi, dan berdiskusi bagi mahasiswa. “Sudah sepatutnya pihak universitas mendukung kegiatan tersebut untuk terus berkembang di lingkungan kampus sebagai salah satu cara untuk menunjang kemajuan akademik di universitas itu sendiri,” harap Mahasiswa Agriculture UMY tersebut.
Tiga Sekawan: Teman Bermain hingga Teman Juara
N
Reporter: Sofi Filda Izzati
ovember 2016 menjadi bulan m e nye n a n g k a n b a g i t i g a mahasiswa teknik UMS. Pasalnya, mereka berhasil meraih juara satu tingkat nasional lomba karya tulis ilmiah dalam serangkaian acara Gebyar Lomba Karya Tulis Ilmiah (GALAKSI) yang diadakan oleh Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa, Universitas Negeri Surabaya (UKIM Unesa). GALAKSI diikuti oleh puluhan universitas negeri maupun swasta. Tiga sekawan itu memilih untuk menulis mengenai pembuatan tol bawah laut. Ide itu tercetus karena banyak waktu yang dihabiskan saat menyeberangi selat Bali. Selain itu, juga karena tidak diperbolehkan adanya jembatan yang dianggap akan melebihi tinggi pohon kelapa yang disakralkan di Bali. Tak tanggungtanggung, mereka berhasil meraih dua piala sekaligus. Juara pertama, serta juara kategori the best speaker.
Diakui Wayan Setiadi, Meda Aji Saputro, dan M. Afan Muhlasin bahwa mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan lomba tersebut meski di tengah lelah dalam menjalani UTS (Ujian Tengah Semester). Ketika mengetahui bahwa karyanya lolos lima puluh besar dan akan bertanding melawan 30 universitas, mereka pun lebih serius mengerjakannnya. Lomba tersebut bukanlah yang pertama mereka ikuti. Sejak di awal bangku perkuliahan, berbagai lomba hingga PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) telah mereka ikuti meski belum mendapatkan hasil sesuai harapan. Walau begitu, pertemanan yang positif menjadi sebuah ikatan yang terjalin di antara mereka. Dari berbagai pengalaman tersebutlah mereka terus memperbaiki diri dan akhirnya berhasil. “Habiskan dulu jatah kalahnya, maka yang tersisa nanti hanyalah kemenangan,” terang mereka saat ditanya reporter Pabelan Pos.
Nersaha: Kiprah Mahasiswa Kesehatan
B
erawal dari mata kuliah entrepreneur, mahasiswa semester tujuh Fakultas Ilmu Kesehatan mampu menciptakan dan mengelola usaha. Mahasiswa menginisiasi untuk menciptakan usaha ‘Nersaha’, hasil pengembangan teori dan ilmu dalam bidang keperawatan. Nersaha pertama dibuka Sabtu, 26 November 2016. Nersaha, karya usaha mahasiswa keperawatan bergerak dibidang produk dan jasa. Muhammad Miftahul Ulum atau yang kerap disapa Aan selaku instruktur Nersaha menuturkan bahwa Nersaha menawarkan dua hal, yakni di bidang produk dan jasa.
Dalam bidang jasa, Nersaha membuka pelayanan cek tekanan darah, cek gula darah, cek asam urat, cek kolesterol, dan hypnotherapy. Dibidang produk, Nersaha memiliki produk makanan sehat seperti fruit salad, infused water, dan puding. “Kami membuatnya dengan bahan-bahan yang sehat, karena kami ingin menerapkan kepada masyarakat atau pada mahasiswa UMS khususnya untuk mengonsumsi makanan-makanan atau minuman yang sehat,” jelasnya saat ditemui dikantornya, Rabu (30/11). Tidak hanya di lingkungan kampus, Nersaha turut merambah di tempat lain.
Dok. Pribadi
Reporter: Aulia Rosinta
Selaku koordinator (CO) dibidang jasa, Meidilla mengatakan bahwa Nersaha memiliki agenda rutin yang diadakan pada hari sabtu dan minggu guna untuk meningkatkan promosi dan pengenalannya kepada mayarakat luas. “Untuk hari sabtu, mahasiswa pengelola Nersaha biasanya pergi ke tempat-tempat wisata. Kemudian untuk hari minggu, Nersaha dengan dibagi menjadi beberapa tim pergi ke acara Car Free Day di Solo, Wonogiri, Karanganyar, dan Sukoharjo,” terangnya. Menambahkan, Ketua Laboratorium
(KaLab) dasar, Faizah Betty Rahayuningsing sekaligus pembimbing mata kuliah entrepreneur menmberikan apresiasi atas karya mahasiswa tersebut. Karya tersebut menjadi penanda awal keperawatan UMS membuka usaha mandiri yang dikelola oleh mahasiswa. Menurutnya, dalam ilmu keperawatan mahasiswa menerima lebih dari 230 keterampilan perasat, jika mahasiswa mampu mempelajari lebih dalam, mahasiswa pasti mampu mengembangkan dan menjadikannya sebagai peluang.
6
Edisi 113 - Januari 2017
TEROPONG Film Lawas
Restorasi Film, Hidupkan Film Lawas Reporter: Dziya Ulhikmah
R
Foto: Istimewa
ibuan pita seluloid lawas tersusun rapi di gudang penyimpanan film Sinematek. Sebagian besar pita itu butuh perawatan khusus agar memori yang ada di dalamnya dapat diputar kembali dan dinikmati pada masa mendatang. Lintang Gitomartoyo, salah seorang dalam proses restorasi film Tiga Dara mengungkapkan bahwa menyelamatkan pitapita film memberi napas baru untuk film tempo dulu. Lintang melakukan perbaikan (reparasi) terhadap gulungan pita-pita film itu di laboratorium L'Immagine Ritrovata, Bologna, Italia, pada 2015 lalu. Ini tentu bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, Lintang harus bertanggung jawab untuk mereparasi 38 rol film Tiga Dara dengan panjang masing-masing 100 meter seorang diri. "Saya di sana ditugaskan mereparasi fisik seluloid Tiga Dara yang 38 reel tadi itu. Untuk yang reparasi fisik di Bologna ini saya sendiri," ungkap Lintang seperti di kutip dalam Kompas VIK. Pada proses reparasi, Lintang memulai pekerjaannya dengan melakukan inspeksi kondisi setiap gulungan pita, dimulai dari mencatat keterangan film, mendata jenis seluloid, tahun pembuatannya, hingga sutradara, editor, dan lainnya. Selanjutnya, ia memeriksa tingkat kerusakan pita film sampai di mana. Apakah ada pita yang sobek, apakah kaitan antar pitanya kuat atau tidak, penyusutan peforasinya (lubang pinggiran pita) berapa persen, adakah serangga menempel, debu, jamur, dan sebagainya. Saat ini, film yang berhasil direstorasi barulah dua film yaitu, Lewat Djam Malam dan Tiga Dara. Keduanya sama-sama karya Usmar Ismail. Lewat Djam Malam dengan hasil restorasi 90 persen diputar di National Museum of Singapore pada 28 Maret 2012. “Bisa saja dari judul film itu sendiri sangat layak untuk untuk dilestarikan sehingga di restorasi,” ungkap Iswahyudi, salah seorang Dosen Ilmu Komunikasi UMS. Hasil restorasi mampu membuat Tiga Dara menarik perhatian pasar sebab konten filmnya variatif. Drama, musik dan tarian menyatu dalam sebuah rangkaian film. Selain itu, Tiga Dara menawarkan kisah yang ringan serta menghibur bagi penontonnya. Dialog-dialog yang terkesan natural, juga kultur kisah cinta remaja tahun 50-an nyatanya tidak jauh berbeda dengan kisah cinta remaja zaman ini sehingga masih bisa dinikmati meskipun telah terpendam puluhan
tahun. Tidak heran, jika film ini merupakan salah satu film yang berjaya pada masanya. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang didapatkan, salah satunya penghargaan Piala Citra untuk kategori Tata Musik Terbaik pada Festifal Film Indonesia 1960. Iswahyudi Tejoyuwono mengungkapkan restorasi merupakan proses pengembalian ke bentuk semula. Film lama biasanya sudah berjamur ataupun rusak karena kondisi yang sudah rapuh, restorasi sangat diperlukan sebagai proses memunculkan kembali bagian-bagian yang hilang. “Semisal ada bintikbintik ataupun pencahayaannya yang kurang, itu bisa dikembalikan lagi dengan proses restorasi,” jelasnya saat ditemui reporter Pabelan Pos di tengah-tengah kesibukannya.
Saat pertama ditemukan, seluloid Tiga Dara sudah terdapat banyak kerusakan diantaranya jamur, sidik jari, bekas lem, bekas tekukan, goresan, termasuk serangga yang menempel
Saat pertama ditemukan, seluloid Tiga Dara sudah terdapat banyak kerusakan diantaranya jamur, sidik jari, bekas lem, bekas tekukan, goresan, termasuk serangga yang menempel sehingga mengharuskan untuk dibersihkan terlebih dahulu. Namun, tidak berhenti sampai di situ, masih ada proses digitalisasi dimana kerusakan pada frame harus diperbaiki. Sekitar 150.000 frame yang terdapat dalam film berdurasi hampir dua jam tersebut membutuhkan penanganan khusus. Untuk itu sangat dibutuhkan stamina, ketelitian, kesabaran serta penuh kehati-hatian, sebab bukanlah hal yang mudah dalam merestorasi film terlebih saat mengecek kecacatan dalam setiap frame yang total besar filenya hingga 12 terabyte. Itulah serangkaian proses dalam merestorasi film Tiga Dara dari bentuk seluloid ke bentuk format 4K, kualitas tertinggi video dengan resolusi horizontal hingga 4000 pixel. Efeknya menghasilkan gambar dan suara yang ditampilkan semakin tajam dan jernih. Proses restorasi bukan merupakan hal yang mudah untuk dijangkau saat ini sebab kecanggihan teknologi yang digunakan
Sejatinya, film merupakan medium fana yang rentan jika tidak dijaga keberadaannya.
menuntut perbaikan. Tiga Dara sendiri digarap di dua negara yaitu Italia dan Indonesia selama kurang lebih tujuh belas bulan. Hal itu tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Iswahyudi turut menambahkan bahwa menjaga eksistensi film lawas merupakan nilai lebih bagi orang-orang dalam negeri, sebab bisa menjadi referensi para pembuat film sekarang. “Bagi pencinta film, dengan restorasi kita bisa melihat hasil sempurna dari sebuah film itu seperti apa,” jelasnya. Dengan banyak merestorasi maka akan semakin banyak referensi yang didapat. Hanya saja, permasalahannya adalah penyimpanan di Indonesia yang sampai saat ini belum terlalu baik. “Dalam menjaga sebuah film butuh suhu dan perlakuan khusus, seperti tidak bisa lembab ataupun panas dan sebagainya,” tambahnya.
Foto: Istimewa
Film karya legendaris Usmar Ismail yang tayang pada tahun 1956 silam tentu sudah tidak asing lagi bagi penikmat film klasik. Film garapan sutradara Usmar Ismail tersebut kini tayang kembali di tahun 2016 dengan versi dan kualitas gambar yang lebih baik. Hal tersebut berkat proses restorasi.
Bagi Iswahyudi, pentingnya menjaga dan melestarikan film lawas telah menjadi bagian dari sejarah Indonesia. “Apa jadinya ketika kita ngomong bahwa kita pernah membuat film Lutung Kasarung, namun kita tidak bisa melihat buktinya seperti apa,” terangnya kemudian. Sejatinya, film merupakan medium fana yang rentan jika tidak dijaga keberadaannya. Terutama film-film yang lahir pada kisaran tahun 50-an. Film kelahiran tahun tersebut perlu mendapat perawatan khusus, misalnya suhu yang tetap stabil agar terhindar dari jamur, serangga, maupun hal-hal lain yang dapat menyebabkannya rusak. Mengulas film lawas seperti mengulang sejarah masa silam, sejarah penting bangsa Indonesia. Restorasi sinema lokal tak berhenti di Tiga Dara. Selanjutnya restorasi akan menyentuh tiga film klasik nasional, yakni Tjoet Nja' Dhien (1988) karya sutradara Eros Djarot, serta Tjenderal Kantjil (1958) dan Matt Dower (1969) karya oleh Nya Abbas Akup.
7
Edisi 113 - Januari 2017
GRIYA WACANA Komentar & Tanggapan
Ruang Baca Publik, Dongkrak Minat Baca Reporter: Livia Purwati
J
angan heran mengapa hasil survei PISA terkait tingkat literasi anak di Indonesia pada tahun 2009 berada pada urutan ke 62 dari 72 negara. Pada tahun 2012, Indonesia urutan 64 dari 65 negara yang diteliti. Hasil survei tersebut, memang tidak merefleksikan perkembangan kualitas, tetapi cukup untuk membuat berpikir tentang paradigma dan berbagai hal yang dianggap sepele selama ini seperti implikasi dari gerakan literasi (Sandiah, 2015). Pemerintah tidak pernah menganggap kebutuhan buku setara atau lebih penting dari anggaran belanja untuk perlengkapan perang. Menanggapi hal itu, beberapa pihak mulai menggencarkan untuk menumbuhkan minat baca dengan memanfaatkan ruang publik, entah di taman kota, Car Free Day (CFD) atau yang lainnya. Tujuannya, tentu sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca Indonesia yang terbilang minim tersebut. Kali ini Pabelan Pos akan menampilkan tanggapan mahasiswa seputar minat baca dan kehadiran ruang baca publik.
Dok. Pribadi
Diana Fitrianingsih Mahasiswi Perfilman, Jogja Film Academy
A
kses baca yang diperoleh mahasiswa sudah terbilang cukup meskipun pemerintah hanya membangun satu perpustakaan daerah tanpa cabang. Tapi, perpustakaan swasta, kampus dan perorangan juga banyak berdiri. Selain perpustakaan beberapa lapak buku pun menyediakan kelengkapan dengan harga murah, bahkan di beberapa toko buku dapat menikmati secara gratis buku sampel. Dari pengamatan sederhana, minat baca mahasiswa sudah cukup baik, sudah mulai membaca karena kesadaran pribadi bukan beban tugas. Bahkan beberapa mulai menularkan minat baca kepada yang lain, sebagian yang lain juga membuka perpustakaan berjalan secara independen. Fenomena ruang baca publik seperti perpustakaan berjalan yang mulai menjamur banyak memberikan keuntungan, selain menambah wawasan dan meningkatkan minat baca. Bisa pula sebagai ajang untuk memulai pertemanan dengan seseorang yang sehobi. Kerugian? Saya pribadi percaya hal baik tidak akan mendatangkan kerugian. Visi misi dari ruang baca publik tidak hanya memberikan kemudahan akses dan minat baca secara pribadi tapi secara luas menyeluruh. Semakin berkembangnya ruang baca publik ini, semoga saja bisa menumbuhkan budaya baca yang kemudian akan menjadi salah satu skala prioritas utama setiap orang. []
Dok. Pribadi
Al Ikhlas Kurnia Salam Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Muhammadiyah Surakarta
S
ecara khusus, minat baca mahasiswa yang berhubungan dengan perkuliahan hanya menjadi sebuah kewajiban untuk menyelesaikan tugas. Sedangkan secara umum, minat baca mahasiswa yang tidak berhubungan dengan perkuliahan sangat rendah. Hal ini terbukti dari beberapa penelitian yang ada. Berkembangnya teknologi membuat akses membaca menjadi lebih banyak, namun sejak awal masyarakat tak pernah diajarkan mencintai buku. Sehingga meskipun banyak gadget yang canggih, aplikasi seputar e-book sangat sedikit bahkan bisa jadi tidak ada. Ada banyak cara untuk mensosialisasikan buku salah satunya dengan menghadirkan ruang baca publik, sehingga akses baca publik lebih dekat. Ruang baca publik memiliki wacana yang besar dari sebagai media penambah akses buku yaitu mengadakan dan menawarkan berbagai kegiatan menarik yang bisa meningkatkan minat baca. Saya pribadi optimis dengan adanya ruang baca publik minat baca bisa bertambah. Beberapa pihak yang beranggapan daerah publik seperti jalan dan taman adalah tempat untuk senang-senang mungkin akan merasa risih. Pegiat ruang baca publik juga harus bisa menjaga kebersihan daerah yang digunakan. Hadirnya ruang baca publik diharapkan mahasiswa dan masyarakat bisa ikut mengapresiasi dan meramaikannya. Tentunya semoga minat baca bertambah sehingga tidak mudah dibodohi yang kemudian bisa saja menyebabkan sejarah penjajahan terulang.[]
Ilustrasi: Vivi F. / Pabelan Pos
Dok. Pribadi
Dyah Valentina A. K. Management SBM, Institut Teknologi Bandung
M
inat baca mahasiswa sekarang bisa dibilang lumayan, tidak terlalu tinggi namun tidak terlalu rendah pula. Akses membaca yang diberikan dan yang dapat diperoleh juga sudah cukup baik dan terbuka. Misal, perpustakaan online dengan koleksi yang lumayan banyak dan akses pendaftaran yang terbilang mudah juga telah tersedia. Untuk lingkup daerah kampus koleksi buku yang disediakan perpustakaan juga lengkap mulai dari bacaan berat hingga ringan seperti majalah dan beberapa koleksi lainnya. Menanggapi hadirnya ruang baca publik yang semakin meningkat memang merupakan ide yang bagus. Namun, harus tepat sasaran dan menarik sehingga bisa tepat sasaran sesuai dengan tujuan pembentukannya. Misal, mobil pintar yang disediakan Satoe Indonesia (SI) berisi buku untuk anakanak Sekolah Dasar mulai dari materi sekolah hingga buku cerita. Sasarannya adalah anak SD, jadi tidak cocok apabila diberikan kepada anak-anak SMA. Kemudian harus menarik dengan mengadakan acara sosialisasi yang sedemikian rupa yang dapat meningkatkan rasa penasaran mereka. Alhasil, ketika mopin atau mobil pintar berkeliling desa anak-anak tersebut telah terbiasa dan memanfaatkan mopin dengan baik pula. Tujuan akan mudah tercapai bila sasarannya sesuai pula, begitu pula ruang baca publik untuk mahasiswa. Berikan konten yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, sehingga ruang baca publik menjadi tepat guna. []
Sulityowati
Dok. Pribadi
Mahasiswi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang
B
ersliweran gawai-gawai canggih di abad ke-20 ini membuat mahasiswa menjadi malas membaca buku kemudian trend santai ria di cafĂŠ atau berbelanja kala waktu luang di kalangan mahasiswa juga membuat minat baca menjadi sangat kurang. Banyak yang tidak menyadari dengan membaca buku, wawasan yang didapat akan bertambah dan informasi yang diperoleh juga banyak serta menarik. Di UB, untuk akses baca sudah memadai, tersedianya perpustakaan pusat kemudian perpustakaan di setiap fakultas dan beberapa perpustakan di Unit Kegiatan Mahasiswa-meskipun terbatas. Perpustakaan pusat kota di Malang pun ada dengan fasilitas tempat yang nyaman untuk membaca. Adanya akses membaca yang memadai ini tentunya harus dibarengi dengan kemauan membaca dari mahasiswa. Satu dua ruang baca publik yang menjelma menjadi perpustakaan berjalan, mulai hadir untuk meningkatkan minat baca dengan menyediakan buku yang lengkap. Namun, hadir saja tidak cukup tapi juga harus ada ajakan untuk membaca buku dan penyediaan fasilitas yang baik. Dan perlu diingat ruang baca publik merupakan fasilitas publik pula, jadi harus membuat agar tetap terjaga dengan baik. Adanya ruang baca publik memang bisa meningkatkan minat baca namun belum terlalu signifikan menurut saya. []
8
Edisi 113 - Januari 2017
LIPUT Liputan Utama
Membaca, Gaya dan Pengorbanan Reporter: Depi Endang Sulastri Berapa jam sehari yang bisa saya peruntukkan buat membaca? Paling banter empat, lima jam. Saya kerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tidak enteng tanggung jawabnya. Tapi, sepanjang waktu itu saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. Di gua inilah –izinkan saya menggunakan istilah itu- saya luangkan beberapa jam yang menyenangkan sampai pukul sepuluh... Carlos Maria Dominguez (Novelis Argentina)
K
apan terakhir kali Anda berdiam diri untuk membaca buku? Jika Anda berpikir untuk mengingat-ingat, sudah barang tentu Anda tidak berkorban untuk membaca buku. Aforisme tersebut nampaknya bersesuaian dengan budaya literasi bangsa ini. Hal tersebut bersesuaian dengan hasil pemeringkatan lembaga internasional yang menempatkan Indonesia pada posisi yang memprihatinkan. Terbaru, Most Literate Nations in the World yang dipublikasikan oleh Central Connecricut State University. Peringkat literasi Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti berdasar variabel ketersediaan perpustakaan, koran/majalah, input, dan output pendidikan, serta aksesibilitas komputer (Jawa Pos, 11 September 2016). Fenomena tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah maupun gerakan sipil. Kampanye peningkatan perpustakaan dan akselerasi minat baca buku digalakkan. Hal tersebut tentu menarik. Beragam kegiatan-kegiatan unik dilakukan untuk membudayakan membaca. Misalnya, Muhammad Fauzi (34), penerima penghargaan Nugra Jasamada Pustaloka Perpustakaan RI, Agustus 2016. Fauzi Baim, begitu panggilan akrabnya, menjajakan jamu dalam wadah botol-botol plastik dan ditata rapi di atas keranjang sepeda motor bebeknya. Berbeda dengan penjual jamu lainnya, Fauzi membawa serta sekitar 80 buku. Bukubuku tersebut ditata di bagian belakang keranjang kayu dan dibubuhi tulisan 'Sak Iki Jamane Moco' atau 'Sekarang Zamannya Membaca'. Buku-buku tersebut disediakannya untuk pelanggan jamu secara gratis. Bahkan, para pembeli dapat meminjam buku hingga dua pekan (Kompas, 25 November 2016). “Saat ini mencari orang yang suka membaca buku itu sulit sekali. Makanya saya ingin mengajak orang-orang terutama pembeli jamu saya untuk mulai membaca,” katanya setelah tak ditemukan seorang pun membawa pulang buku yang dibawanya. Ia pun meyakini bahwa kesulitan memperoleh buku karena harga yang tidak terjangkau tengah dialami sebagian masyarakat saat ini. Hal tersebut kemudian mendorongnya untuk membuka akses membaca bagi masyarakat. Mulai 2011, ia membangun perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat di Sukorejo. Tak puas dengan perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat, pada 2013, Fauzi mulai membawa buku-bukunya berkeliling sambil
Ilustrasi: Nadya Vicky Putri / Pabelan Pos
buku dapat ditafsirkan fungsi dan perannya dalam kehidupan sosial dengan sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut disebabkan bahwa di era pascamodern, entitas buku tidak Peringkat literasi Indonesia selalu berkolerasi dengan sumber ilmu berada di posisi kedua pengetahuan. Buku hanya sebagai komoditas terbawah dari 61 negara nilai tanda bukan nilai guna. Nilai tanda tersebut tergambar dari feyang diteliti berdasar nomena perilaku membaca untuk kesenangvariabel ketersediaan an (reading to pleasure) bagi anak-anak muda perpustakaan, (remaja) urban di Surabaya. Hal itu mengacu koran/majalah, input, dan studi Rahma Sugihartati, Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme: Kajian tentang output pendidikan, serta Reading for Pleasure dari Perspektif Cultural. aksesibilitas komputer Rahma me-nunjukkan gejala reading pleasure dapat di-lihat dari ramainya beberapa toko buku di Surabaya oleh kehadiran remaja yang jualan jamu. “Tidak semua orang bisa datang membaca buku di sana. ke perpustakaan. Makanya, saya yang menPemandangan tersebut tentu menyenangdatangi mereka,” tuturnya seperti dikutip dari kan. Di tengah keprihatinan banyak pihak, hal Kompas (25/11/2016). itu menjadi citra positif. Namun, Rahma meKemunculan tersebut tak lain karena tum- lampaui asumsi tersebut. Rahma justru mengbuhnya keyakinan bahwa buku dapat mem- kritisi dengan melempar pertanyaan, “Apa bangun kesadaran kolektif. “Buku mampu sebenarnya yang terjadi di balik banyaknya menggerakkan perubahan”, terang David remaja urban meluangkan waktu untuk Efendi, pegiat Rumah Baca Komunitas di berkunjung ke toko buku dan membaca di Yogja. sana?” Menurutnya, pekerja literasi, pencinta Jawabannya, mayoritas responden mengbuku, pembaca buku merupakan pekerjaan akui bahwa membaca buku di toko buku mauyang tak pernah sia-sia. Beragam manfaat pun tempat-tempat umum (kafe, taman kota, dapat diperoleh dari kegiatan membaca. Salah mal) tidak hanya untuk memperbarui inforsatunya, membaca mampu meningkatkan masi dan pengetahuan. Akan tetapi, untuk kapasitas intelektual. memperbarui gaya hidup. Hal itu kemudian Adapun Mohammad Afifuddin, Sosiolog, memunculkan tren aktivitas membaca yang
Apa sebenarnya yang terjadi di balik banyaknya remaja urban meluangkan waktu untuk berkunjung ke toko buku dan membaca di sana? bukan semata kehausan pengetahuan tetapi update gaya hidup (Jawa Pos, 11 September 2016). Di lain sisi ada permasalahan yang cukup mengusik, muncul kekhawatiran masa depan buku cetak. Hal itu mencuat karena fakta bahwa mulai banyak orang membaca buku digital. Bila dibandingkan dengan bacaan cetak, kehadiran buku digital memang menawarkan banyak kelebihan. Kelebihan tersebut seperti praktis dan memungkinkan pembaca melakukan eksplorasi luas tanpa hambatan. Di balik kelebihan yang dimiliki, hasil penelitian menunjukkan sebaliknya. McKnight (1997) menemukan bahwa pada umumnya orang-orang tidak suka membaca dari layar/ screen. Mereka memilih mencetak dokumen elektronik agar mudah membacanya. Studi AlShaali dan Varshney (2005) menemukan bahwa membaca dari monitor 30 persen lebih lambat daripada membaca teks tercetak. Dosen dan Ketua Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Universitas Airlangga, Rahma Sugihartati mengungkapkan bahwa bacaan digital dan cetak bukanlah dua hal yang harus diposisikan sebagai hal yang berlawanan atau saling meniadakan. “Keduanya akan saling bersinergi dan menguntungkan pembaca,” tulisnya di Jawa Pos, 16 Oktober 2016. Terlepas dari segala hal di atas, buku adalah kebutuhan, baik cetak maupun digital. Membacanya membutuhkan pengorbanan dan membeli buku adalah kewajiban. Seperti ungkapan Malala Yousafjai, penerima Nobel Perdamaian asal Pakistan, One Child, One Pen, One book, and one teacher can change the world (satu anak, satu pulpen, dan satu guru dapat mengubah dunia).
9
Edisi 113 - Januari 2017
LIPUT Akses Buku
Pustaka, Akses, dan Gairah Baca Mahasiswa Reporter: Ritmika Serenady “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas” – Mohammad Hatta “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi” – Tan Malaka “Indonesia tidak akan dinilai dari hal-hal lain, selain adanya buku-buku bermutu” – P.K. Ojong “Untuk bisa membaca banyak buku, diperlukan dua hal di mana uang dan waktu tidak termasuk di antaranya. Dua hal tersebut adalah gairah dan kerendahan hati bahwa kita banyak tak tahu” – Helvy Tiana Rosa
A
da buku, ada gairah, ada akses, maka ada kebebasan dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Gairah semacam ini, dimulai dari mana lagi kalau bukan dari kaum terpelajar. Terlebih bagi kaum penghuni Kawah Candra Dimuka, mahasiswa. Mahasiswa sudah sepatutnya bergumul dengan buku. Setidak-tidaknya hal ini dikemukakan oleh Mustofa saat Pabelan Pos bertandang di ruangan Kepala Perpustakaan UMS selepas waktu salat zuhur. Pria jangkung paruh baya itu menyambut hangat di ruangannya yang beralaskan karpet biru, lengkap dengan furnitur dan perlengkapan kerja serta satu unit televisi layar datar di salah satu sudut ruangan. Udara yang keluar dari pendingin ruangan tak sedikitpun mengurangi kehangatan dan keramahannya. Di antara hembusan udara pendingin, detik jarum jam dinding, dan suara letuk-letuk keyboard komputer di ruangan sebelah, kami pun memulai percakapan. Pria yang memulai jabatannya sebagai Kepala Perpustakaan UMS 2015 tersebut membuka percakapan dengan memaparkan perihal mahasiswa, buku, dan akses yang mendukung minat baca mahasiswa. Menurutnya, koleksi buku yang dimiliki Perpustakaan UMS sudah cukup lengkap, terutama bukubuku penunjang kegiatan perkuliahan. Pihaknya juga membuka kesempatan untuk para civitas akademika agar memberikan usulan judul buku yang dibutuhkan. “Kalau masalah minat baca itu tergantung mahasiswanya itu sendiri. Tapi kita sebagai perpustakaan, peran dan fungsinya kan untuk memfasilitasi agar mahasiswa lebih meningkatkan minat bacanya. Karena ilmu-ilmu yang kita dapatkan rata-rata berasal dari buku. Jadi kalau banyak membaca insyaallah akan menjadi semakin berkembang,” tutur pria yang akrab disapa Pak Mus itu.
Akses Buku
Akses Pendukung Minat Mahasiswa
Sebagai perpustakaan, peran dan fungsinya kan untuk memfasilitasi agar mahasiswa lebih meningkatkan minat bacanya.
Perpustakaan UMS terus berupaya meningkatkan kinerja, mutu layanan, dan kelengkapan koleksi. Berdasarkan data yang diperoleh Pabelan Pos dari artikel berjudul Universitas Muhammadyah Surakarta (UMS): Melayani Sepenuh Hati untuk Meraih Prestasi yang ditulis oleh Triyono, koleksi buku yang tersedia saat ini berjumlah 38.000 judul/ 49.000 eksemplar. Koleksi E-book berjumlah 824 judul, koleksi majalah berjumlah 170 judul, surat kabar 15 judul, dan CD 1.216 judul. Sehubungan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang diikuti perkembangan penerbitan dan tuntutan kebutuhan pemustaka, Perpustakaan UMS selalu memperbarui koleksinya. Penambahan buku teks dari sumber pembelian berkisar antara 1.000 sampai dengan 2.000 judul setiap tahunnya. Penambahan koleksi dari sumber pembelian diprioritaskan untuk judul atau subyek dari usulan para pemustaka. Terlebih dengan seiring pesatnya
S
elain perpustakaan, ada satu lagi unit di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang menyediakan akses baca mahasiswa: UMS Bookstore. Seperti yang sudah diketahui oleh mahasiswa UMS, setiap semester UMS Bookstore menyediakan fasilitas berupa voucher senilai Rp 100.000 kepada mahasiswa aktif untuk ditukarkan dengan buku yang telah tersedia. Data yang diperoleh dari store.ums.ac.id menuliskan bahwa ada sejumlah 55 kategori buku, yang jika digabungkan, maka kesemuanya ada sekitar 5.552 judul. Namun, menurut Manajer UMS Bookstore, Syaiful Achyar, ketersediaan stok yang ada secara langsung di bookstore tergantung dari jumlah buku yang dipesan dari pihak lain. “Biasanya pihak kami sudah memesan sebanyak jumlah yang dipesan. Tapi tergantung supplier-nya menyanggupi atau enggak.
kemajuan teknologi informasi, Perpustakaan UMS berupaya memberikan kemudahan dan kecepatan akses informasi. Semua layanan yang ada kini sudah terkomputerisasi. Hal ini dibuktikan dengan tersedianya layanan penelusuran informasi berbasis web dengan sentuhan teknologi informasi dalam setiap aktivitasnya. Informasi yang dimiliki perpustakaan dapat diakses tidak hanya terbatas pada civitas akademika UMS saja, tetapi juga oleh masyarakat umum atau mahasiswa di luar UMS dengan alamat library.ums.ac.id. Proses penyediaan akses untuk pendukung minat baca mahasiswa, tentunya Perpustakaan UMS tidak berpuas diri, harus terus berbenah, berupaya melakukan kegiatan pengembangan dan peningkatan di bidang layanan dan kelengkapan koleksi. “Karena segala aspek yang ada itu kan terus berkembang. Kalau kami mudah berpuas diri nanti akan ketinggalan. Untuk pengembangan SDM, kami setiap tahun pasti mengirimkan delegasi pelatihan-pelatihan di tingkat nasional,
regional, maupun lokal. Kemudian koleksi juga begitu. Memang sebagian besar koleksi kami untuk mendukung kegiatan akademik, tapi koleksi yang saat ini baru atau istilahnya best seller itu ya pustakawan harus tahu. Jadi itu tugasnya bagi yang pengadaan. Intinya kami memang harus terus berbenah diri, punya inovasi-inovasi, juga harus ikut menyesuaikan perkembangan zaman,” akunya kepada Pabelan Pos.
Ilustrasi: Nadya Vicky Putri / Pabelan Pos
Tidak berminat karena tidak ada persediaan buku yang disukai, atau tidak berminat karena tidak memiliki gairah baca sama sekali.
Untuk pemasokan buku sendiri diambil dari penerbit langsung seperti dari Jogja, Solo, Surabaya, Jakarta, dan paling banyak adalah dari Jogja,” tuturnya, seperti dikutip dari Koran Pabelan edisi Kamis, 6 Oktober 2016.
Pada kenyataannya tidak banyak mahasiswa yang memanfaatkan voucher tersebut dengan baik. Ada banyak yang antusias, ada banyak pula yang tak acuh. Tak acuh pun ada berbagai macam spesiesnya. Ada yang tidak mempergunakan voucher sama sekali hingga batas waktu penggunaan voucher habis, ada yang menjual voucher milik pribadi kepada orang lain dengan separuh harga atau seutuhnya, ada juga yang memberikannya secara cuma-cuma kepada orang lain. Mahasiswa semacam ini biasanya adalah para mahasiswa yang tidak menaruh minatnya: tidak berminat karena tidak ada persediaan buku yang disukai, atau tidak berminat karena tidak memiliki gairah baca sama sekali.
10
Edisi 113 - Januari 2017
JELAJAH Referensi Wisata
Dolan Jogya, Destinasi Wisata Cagar Budaya Reporter: Afif Abdurrahman dan Intan Juli Astuti
Foto: Feriyanto S. / Pabelan Pos
Foto: Feriyanto S. / Pabelan Pos
Foto: Feriyanto S./ Pabelan Pos
C
uaca di Kompleks Wisata Tebing Breksi, Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguyur hujan (Minggu, 30/11). Meski demikian, para wisatawan terus-menerus hilir mudik ke sejumlah bagian Tebing yang menarik untuk dijadikan swafoto. Kabut putih berarak-arakan menemani rerintikan hujan yang terus mengguyur. Pemandangan bukit dari segala arah cukup terlihat meski kabut menutupi. Merapi, Merbabu tak kalah megah dipandangi. Alam lestari menentramkan hati, membuat kami (Tim Pabelan Pos–red) tetap melangkahkan kaki untuk menikmati area wisata Tebing Breksi. Tebing Breksi, kawasan bekas tambang kapur yang bertahun-tahun menjadi sumber mata pencaharian warga, kini dihentikan. Pemerintah daerah melarang kegiatan penambangan setelah hasil penelitian menunjukkan batuan kapur breksi adalah endapan abu vulkanik Gunung Api Purba Nglanggeran. “Dulu, warga (Nglengkong–red) memperoleh pendapatan dari sini,� terang seorang pengelola kawasan Breksi, Muhammad Abidin sembari menunjuk ke arah tebing menjulang. Pemerintah kemudian memutuskan kawasan tersebut tergolong cagar budaya dan harus dilestarikan. Sama halnya dengan keberadaaan Gunung Api Purba Nglanggeran, Candi Ijo, Situs Ratu Boko, dsb. Tebing Breksi kemudian dikenal sebagai Taman Tebing Breksi. Warga sekitar kemudian mengelola bekas penambangan tersebut, dan kini ramai dikunjungi. Cobalah berlibur untuk mengetahui sejarah! Beralih dari Breksi, Tim Pabelan Pos beranjak pulang karena malam telah datang. Hari selanjutnya, suasana cerah menyelimuti pelataran kawasan Taman Tebing Breksi dan Candi Ijo. Keesokan harinya, kami kembali. Nampaknya, kami beruntung. Pemandangan di sekitar breksi lebih terasa hidup. Perpaduan warna cokelat dan putih serta lekukanlekukan hasil tambang nampak memikat. Keleluasan merekam kebersamaan pun terjadi daripada hari lalu yang terhalang air hujan. Hanya dengan Rp 2.000, dua bola mata bebas memandang keindahan alam Indonesia.
Matahari bersahabat, langkah kaki pun diajak beralih ke Candi Ijo. Candi yang dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit Hijau atau Gumuk Ijo dengan ketinggian 375 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Candi Ijo merupakan candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta. Terbayang keindahan panorama alam perbukitannya bukan? Wisatawan cukup mengisi daftar hadir di pos satpam sebelum masuk candi dan membayar parkir sebesar Rp 2.000 untuk motor dan Rp 3.000 untuk mobil. Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras pundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling delapan buah lingga patok. Di teras terakhir adalah candi utama yang berdiri lengkap dengan tiga candi perwara. Tentu, berlibur bukan hanya untuk menyegarkan pikiran saja, menambah pengetahuan juga diperlukan. Berlibur ke Taman Tebing Breksi dan Candi Ijo menjadi pilihan yang tepat. Terlebih menikmati liburan tahun baru. Dari segala penjuru mata angin, Taman Tebing Breksi dan Candi Ijo menawarkan secara gratis pemandangan alam Yogyakarta dengan hembusan angin yang menyejukkan. Akses termudah menuju Komplek Wisata tersebut adalah dengan melalui Jalan Solo menuju Pasar Prambanan yang berada di seberang Kompleks Candi Prambanan. Sesampainya di pasar itu, wisatawan tinggal menuju arah tenggara kurang lebih 7 km hingga menemui penunjuk arah kecil menuju Taman Tebing Breksi dan Candi Ijo. Ikuti arah tersebut hingga gerbang masuk Sambisari, yang menandai jalan menanjak hingga sampai di Candi Ijo. Sebelum sampai di sana, Taman Wisata Tebing Breksi berada di kiri jalan sebelum Candi Ijo. Belum puas dengan dua tempat wisata tersebut, tidak jauh dari sana, wisatawan bisa mengunjungi Candi Sambisari. Terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, DIY, 4 km sebelum kompleks Candi Prambanan. Cukup membayar retribusi Rp 3.000 per orang, wisatawan bebas menelusuri jejak sejarah sekaligus meneguk keanggunan yang terletak 6,5 meter lebih rendah dari permukaan tanah. Penjelajahan memang menelan biaya, namun mendatangkan pengalaman. Datangilah alam dan jelajahlah, dengan begitu Anda akan kenal Sejarah!
Foto: Feriyanto S. / Pabelan Pos
Foto: Feriyanto S. / Pabelan Pos
Foto: Feriyanto S./ Pabelan Pos
Edisi 113 - Januari 2017
WAJAH
11
Jorge Luis Borges
Penulis Cum Pustakawan Fanatik Buku Reporter: Muhammad Taufik
Menurut kalian, siapa tokoh literasi dunia paling menyebalkan yang pernah ada? Penulis kawakan Indonesia, A.S Laksana menyematkan posisi itu kepada sosok Jorge Luis Borges, penulis, penyair, penerjemah, sekaligus pustakawan asal Argentina yang telah wafat 30 tahun silam.
A
pa pasal A.S Laksana memilih Jorge Luis Borges sebagai tokoh yang menyebalkan dalam jagad literasi Internasional? Yang jelas, ia dianggap menyebalkan bukan karena sikap atau sifatnya yang menjengkelkan. Borges dinilai menyebalkan dari kualitasnya. Kualitas yang membuat para pembacanya terperangah kagum. Agaknya, Borges telah menginspirasi pelbagai penulis di pentas sastra dunia. Ia menciptakan gaya baru dalam lajur kepenulisan sastra Amerika Latin. Menurut J.M Coetze
peraih nobel sastra tahun 1987, Borges telah mengilhami banyak penulis berbahasa Spanyol seperti Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, serta Jose Danoso (Parabel Cervantes dan Don Quxiote: 2016) Eka Kurniawan sebagai penulis Indonesia yang tengah naik daun sempat menyatakan bahwa ia berhutang budi pada cara Borges menyihir pembaca untuk beberapa cerita pendeknya. Sedangkan pemikir Postmodernisme Jean Baudillard menuturkan jika ia mendapat inspirasi untuk menelurkan konsep Simulakra dari cerita pendek Borges yang berjudul Lotere in Babilonia (Sepak Bola Seribu Tafsir: 2015) Cerita pendeknya, Es ist Percippi merisalahkan perihal industri sepak bola yang kelak di kemudian hari akan bersandar pada tayangan televisi. Cerita ini dikarang Borges pada pertengahan tahun 1960-an dimana saat itu industri sepak bola belum segila sekarang, belum menggurita seperti masa kini.
Realisme Magis melembutkan segala realitas yang ada. Sedangkan realisme yang latino itu adalah realisme yang keras.
Tapi, cerita sepak bolanya itu jadi kenyataan saat ini. Industri sepakbola mendapat pemasukan besar dari tayangan televisi. Cerita Lotere in Babilonia juga jadi sebuah fenomena yang dipotret oleh Jean Baudillard dengan teori Postmodern-nya. Kemampuan Borges mengarang cerita ini tak belaka mengarang. Tapi ia juga mampu memberi ide yang segar, serta memprediksi kejadian apa yang datang di suatu hari.
Borges juga yang kini membuka jalur baru di panggung sastra Amerika Latin dan dunia yaitu, Realisme Magis. Realisme Magis, meski populer sebagai genre yang dipelopori sastrawan Amerika Latin salah satunya, Gabriel Garcia Marquez, namun genre ini bukanlah genre yang paling tepat mewakili kondisi kesusasteraan Amerika Latin. Sastra Amerika Latin tak selembut Realisme Magis yang dicetuskan oleh Borges. Menurut Ronny Agustinus, dalam artikelnya di Kompas 25 Januari 2005. Realisme Magis melembutkan segala realitas yang ada. Sedangkan realisme yang latino itu adalah realisme yang keras. Realisme yang menggambarkan kondisi masyarakat di Amerika Latin seiring dengan mewabahnya gejala pascakolonialitas di daerah tersebut.
Borges
Pustakawan Gila Buku
D
i kolom Ruang Putih Jawa Pos, 14 Agustus 2016, A.S Laksana menyebut Borges adalah salah satu penulis yang memiliki kewibawaan di setiap tulisannya. Dia ibarat seorang filsuf yang membuat kita ragu tatkala dihamparkan pemikiranpemikirannya. Sedangkan Borges membuat kita ragu dengan tulisan-tulisan yang menyuguhkan fakta dan fiksi yang dibaurkan sedemikian kompleks olehnya. Fakta-fakta yang diolah Borges merupakan bukti ilmiah dan nyata dalam teks yang pernah dibuat oleh orang-orang besar terdahulu. Sedangkan fiksinya adalah fiksi yang bersumber pada imajinasinya. Ia memadu kedua unsur tersebut menjadi sebuah karya yang bakal membuat kita jengkel atau terpana membacanya. Sebagai contoh ia menulis cerita pendek yang berjudul Burak. Ia menuliskan beberapa sumber yang menuliskan keberadaan Burak tersebut dari kitab suci umat Islam dan
Borges dengan kata lain telah menipu para pembacanya. Ia menulis sebuah kritik buku yang tak pernah ada. Membuat para pembacanya sebal.
beberapa literatur lainnya. Borges kemudian mereka cerita Burak tersebut menjadi sebuah cerita yang menampilkan Burak sebagai burung yang berkelana kemana-mana. Berkelana dari kitab ke kitab, dari kejadian ke kejadian. Di lain kesempatan, ia pernah menulis kritik sastra terhadap sebuah buku. Kritik sastra tersebut lalu diterbitkannya ke dalam sebuah jurnal ilmiah dan segera disebarluaskan ke publik. Setelahnya, terang para pembaca jurnal ilmiah yang dibuat oleh Borges tersebut penasaran hingga kemudian
dia mencari karya yang dikritik oleh Borges dalam jurnal ilmiah tersebut. Setelah membaca dan mencari karya yang dimaksud oleh Borges, terkejutlah mereka semua saat mengetahui karya-karya tersebut ialah karya fiksi semata. Borges dengan kata lain telah menipu para pembacanya. Ia menulis sebuah kritik buku yang tak pernah ada. Membuat para pembacanya sebal. Kejadian tersebut sebenarnya telah menunjukkan kerja Borges yang gemar mencampur fiksi dan fakta. Ia telah berhasil memporakporandakan sebuah fakta (kritik sastra) yang seperti muskil untuk dimasuki sebuah imajinasi dan fiksi (buku yang ia kritik). Borges juga sesungguhnya telah membuka jalan baru untuk masuknya pelbagai penulis–penulis yang nantinya akan mengguncang dunia sastra. Fakta-fakta yang sering dibawa oleh Borges ke dalam segala cerita atau karyakarya tulis lainnya merepresentasikan betapa kayanya kepustakaan yang dipunyai oleh
Borges. Antologi Cerpen, Parabel Cervantes dan Don Quixote menggambarkan derasnya pengetahuan yang ia miliki selaku pustakawan. Ia pernah membawa Al-Qur'an dalam ceritanya, mencatut Injil di cerita pendeknya, menukil salinan-salinan karya tulis yang langka. Dan yang paling menarik, Borges pernah menyebut sumber historis Jawa dalam ceritanya yang berjudul Zahir. Sungguh melimpah pengetahuannya atas buku. Benarlah, Borges bukanlah seorang pustakawan biasa. Ia bisa meraih pencapaian seorang penulis yang didapat oleh seorang pustakawan. Ia juga tak berhenti atas kepustakawanan yang konvensional. Borges memperlihatkan bahwa profesi selaku pustakawan dapat menghasilkan sebuah pembaharuan di perbukuan dengan akses buku yang luas. Memberi sesuatu yang baru dan langka dalam dunia literasi. Dan jua kita bisa mengingat kebutaan yang dialami oleh Borges, terang memberi kita gambaran bahwa Borges adalah seorang penggila buku tulen.
12
Edisi 113 - Januari 2017
LIPSUS
Perpustakaan Alternatif
Mendobrak Kesan Perpustakaan Gaya Konvensional
Kaku, sunyi, hening, administrasi rumit, dan tempat para kutu buku berkacamata berkumpul. Mungkin itulah sekelumit persepsi yang kita bayangkan jika mendengar orang menyebut kata Perpustakaan. Namun, jika Anda menyambangi Perpustakaan Ganesha di Jalan Songgolangit No.30, Gentan, Sukoharjo, persepsi awal terkait perpustakaan tadi akan berganti.
Reporter: Muhammad Taufik
S
uasana hangat akan Anda rasakan ketika pertama kali sampai di depan pintu masuk perpustakaan. Di sana, di sebelah pintu masuk, pegawai perpustakaan bagian administrasi telah siap sedia untuk memberi pelayanan maksimal. Dengan sapa ramah serta senyum yang terpancar dari wajah pegawai administrasi berjilbab itu, kesan pertama kaku dari perpustakaan niscaya akan serta merta pudar. “Silahkan isi form dulu, Mas, kalau belum punya kartu,” ucap pegawai perpustakaan itu sembari menyodorkan sehelai kertas formulir pendaftaran dengan menyunggingkan senyum. Dengan segera tim Pabelan Pos mengisinya. Selesai mengisi formulir administrasi, kami bertanya pada pegawai tersebut apakah boleh sembari menunggu kartu perpustakaan jadi, kami masuk untuk melihat-lihat koleksi buku perpustakaan.
Kami pun diperkenankan. Segera alas kaki dilepas dan kaki melangkah kemudian mulai menggeser pintu depan perpustakaan untuk memasuki ruang koleksi sekaligus ruang baca Perpustakaan Ganesha. Memasuki ruangan tersebut, kesan sunyi yang jamak dibayangkan tentang perpustakaan akan meluruh. Berkebalikan dengan ruang baca perpustakaan di kampus-kampus. Ruang baca Perpustakaan Ganesha menjadi satu dengan ruang koleksi buku. Di sana, pengunjung tak hanya dibolehkan duduk bersila atau dengan kursi saja, tetapi boleh membaca dengan memasang posisi apa saja dan di mana saja, dengan karpet yang digelar di segala penjuru ruangan sebagai alas tempat duduk. Disediakan pula meja oval berkaki rendah serta bantal empuk untuk menyamankan kegiatan membaca buku pengunjung. Jadi, tak perlu takut untuk dimarahi pegawai perpustakaan karena posisi bersila di lantai atau
duduk tak sopan. Yang penting adalah tidak bersandar di rak buku supaya rak-rak buku bergeser dari sisi ke sisi. Tanda katalog turut dibubuhkan di setiap rak. Hal itu memungkinkan para pengunjung untuk mencari buku dengan mudah. Tak kurang jua, mesin pencari buku dengan komputer juga telah dipersiapkan. Jadi jika pengunjung lelah mencari buku dari rak ke rak, pengunjung dapat mencarinya dengan cepat dan otomatis lewat komputer. Satu hal yang harus diperhatikan adalah meskipun telah dipasangkan koneksi wifi dan Internet, pengunjung dilarang berselancar di dunia maya menggunakan komputer pencari katalog. Kesan sunyi dan hening juga akan hilang tatkala mengamati keadaan sekitar ruang baca. Ruang baca tersebut tak sekedar ruang baca, tetapi sebagai ruang berinteraksi para pengunjung. Bercakap-cakap dalam ruang baca tidaklah haram. Tidak seperti ruang baca perpustakaan Harry Potter atau ruang
baca perpustakaan lainnya. Karenanya, berdiskusi sehabis membaca buku di ruangan itu menjadi hal yang memungkinkan dan ideal. Apalagi pendingin ruangan selalu menyala, mengondisikan para pengunjung untuk berbetah-betah di sana. Sementara katalog buku yang tersedia dirasa cukup menunjang pengetahuan. Karya sastra klasik Victor Hugo, Charles Dickens atau Flaubert, misalnya, juga terdapat di katalog. Buku-buku agama, filsafat, teknik, dan hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga juga tersedia. Koleksi yang lumayan banyak dan berkualitas tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi perpustakaan yang didirikan oleh Warga Negara Amerika Serikat, Michael Mrowka dan Debra Lunn pada 2009 lalu.
Perpustakaan
Koleksi Bagus Jadi Problem Tersendiri
P
engunjung perpustakaan tak cuma didominasi oleh satu kalangan, yaitu mahasiswa. Kala tim Pabelan Pos bertandang ke sana, tim melihat beberapa anak berusia sekitar belasan tahun berkunjung ke perpustakaan tersebut. Alan namanya, ketika ditanya tentang kunjungannya ke perpustakaan ini, ia mengatakan bahwa koleksi buku di sini bagus. Ensiklopedia juga komplit. “Makanya kalau ada tugas dari sekolah, Mamah nyuruh aku ke sini sama teman-teman,” ujarnya diselingi derai tawa dengan kawan-kawan seusianya. Sedangkan pengunjung kalangan dewasa yang tim wawancarai, Yuni, pegawai di sebuah perusahaan swasta menyatakan alasannya ke perpustakaan ini karena mendengar info dari media massa, jika pendiri serta pendonornya adalah warga asing. ”Saya suka karya-karya klasik mancanegara, bisa jadi karena pendonornya adalah warga asing jadi banyak buku bacaan luar negeri,” tuturnya. Kesan kesekian yang tersemat sebagai tempat para kutu buku berkacamata sudah seharusnya dihapus. Di samping itu, buku-buku sumbangan jadi salah satu pemasukan buku yang cukup lumayan untuk persediaan buku pinjaman. Haerul Afandi, salah satu yang diserahi tang-
Koleksi yang selalu diperbarui setiap bulannya seperti buku-buku klasik dan buku-buku bagus lainnya yang tersedia menjadi godaan tersendiri bagi para pengunjung.
gung jawab oleh Micahel dan Debra untuk mengelola perpustakaan mengatakan bila dirinya juga sering berbelanja buku baru setiap bulannya empat juta. Ia yang juga sebagai Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Ganesha mengatakan bahwa sudah lama berhubungan dengan kedua orang asing tersebut. “Mereka sering berkirim e-mail dengan saya. Dan rupanya melihat gelagat kalau saya juga tergerak jadi social worker professional. Setelah itu kami sepakat mengawali kerja sama Ganesha sampai saat ini,” terangnya seperti dikutip di Solopos (24/6/2015). Koleksi yang selalu diperbarui setiap bulannya seperti buku-buku klasik dan bukubuku bagus lainnya yang tersedia menjadi godaan tersendiri bagi para pengunjung. Mungkin ada godaan untuk tidak mengemba-
likannya, atau bahkan ada keinginan untuk berlama-lama mengembalikannya. Dan inilah yang jadi salah satu kesukaran pengelola Perpustakaan Ganesha dalam mengontrol buku pinjaman yang keluar masuk katalog. Tantangan ini kemudian ditanggulangi dengan cara mengirimkan SMS atau sekadar peringatan kepada para peminjam yang belum mengembalikan bukunya. “Kami buat yang gratis ini tidak lepas dari tanggung jawab. Buat yang belum mengembalikan, akan kami kirimi SMS. Setelah tidak ada respons, buku kami jemput ke rumah peminjam,” te-
rang Haerul, dilansir Solopos. Tiga puluh menit telah terlewati sejak kami memasuki ruang baca. Setelah dirasa cukup mengamati sekeliling ruangan serta memilih-milih buku yang akan dibaca serta akan dibawa pulang, pegawai bagian administrasi memanggil kami, ”Mas Muhammad Taufik, kartunya sudah jadi.” Kesan terakhir tentang perpustakaan, administrasi yang rumit pun terbuyarkan sudah.
13
Edisi 113 - Januari 2017
LIPSUS
Perpustakaan Jalanan
Usaha Gempur Buta Baca Reporter Aisyah Arminia
R
emang-remang cahaya HIK Babe menambah romantis Brondy Sasciki dengan gawainya. Malam yang semakin larut tidak ia hiraukan. Jari-jarinya asyik menggelitik layar smartphone tanpa peduli sekelilingnya. Adhitya Yoga Pratama yang duduk di sampingnya, mengamati mahasiswa Ilmu Komunikasi semester V Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu sedari tadi. Kecemasan Yoga kian mengusik batinnya. Ia meresahkan mahasiswa yang kini sibuk dengan gawai dan melupakan kewajibannya, membaca buku. Di kampus, di dalam bis, di HIK, dan dimana pun bukannya buku yang dipegang melainkan gawai. “Moco buku, dolanan hp wae (baca buku, mainan hp sajared),” sergahnya kepada Brondy. Lantas Brondy meletakkan gawainya, benda elektronik itu ia masukkan ke dalam saku celananya. Hatinya tergugah, ia balas meminjam buku kepada Yoga. Dua mahasiswa itu kini berbincang menyatakan keprihatinannya terhadap mahasiswa yang tak acuh dengan buku. Celetukan ide perpustakaan jalanan terungkap malam itu. Brondy setuju, ia langsung mengumpulkan bukubuku yang ia punya dan mengajak dua temannya, Nurul Anisa Fauzana dan Elvira Dyahajeng Syavala. Jauh-jauh hari sebelum malam itu, Yoga Perpustakaan Jalanan
Berawal dari Keresahan
F
enomena ruang baca publik sebenarnya sudah ada walaupun baru terjamah di kota-kota besar. Selain KOPERJAS, ada Rumah Baca Srawung (RBS) yang turut digagas oleh sekelompok mahasiswa UMS. Berangkat dari keresahan mereka terhadap rendahnya literasi mahasiswa. Kata Cahyo Setiawan salah satu penggiatnya, RBS berdiri sebagai bukti kepedulian keilmuan. Hampir bersamaan dengan KOPERJAS, berdiri sebuah komunitas yang berlokasi di
Indonesia tidak perlu khawatir krisis generasi muda yang tak acuh dengan bangsanya. Buktinya masih ada generasi muda yang menginginkan negara ini maju dengan meningkatkan literasi.
sudah menggagas perpustakaan jalanan dengan beberapa kawannya. Kantin Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) kampus 2 UMS menjadi tempat nongkrong untuk berdiskusi kecil-kecilan. Brondy, Mahendra, dan Muhammad Salman Abdul Aziz (biasa dipanggil Emot) yang juga mahasiswa FKI UMS, ditambah Yoga. Ke empat aktivis ini beradu ide, saling tukar konsep untuk mendirikan komunitas. Jiwa Yoga semakin tertantang ketika ia mengetahui banyak perpustakaan jalanan yang digusur aparat setempat, seperti di Jogja dan Bandung. “Yen awake dhewe gawe digusur ora, ya (kalau kita buat digusur enggak ya -red)?” tanya mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS ini. Kabupaten Banjarnegara, Komunitas Baca Bersama (Kobar) pada 24 Agustus 2016. Tri Mei Lestari mengatakan kalau Kobar mempunyai visi untuk mendorong kembali semangat literasi di semua lapisan masyarakat dan memberikan ruang yang cukup bagi para pencinta buku. Komunitas ini mengagendakan bedah buku dan grup diskusi. Tri sebagai penggagas telah mengumpulkan 27 anggota aktif dari berbagai kalangan di daerah itu, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga guru. Setiap dua minggu sekali anggota aktif mengumpulkan review buku yang telah dibaca. Kobar pun memanfaatkan WhatsApp untuk menggiatkan anggotanya. Lebih luas, ada komunitas Pecandu Buku (PB) yang telah merambah ke berbagai kota di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Makassar, Jogjakarta, dan beberapa kota besar lainnya. Berawal dari dua mahasiswa pemikir Aulia Angesti dan Fiersa Besari, PB mulai bergeliat di Kota Bandung pada Juli 2015. Komunitas ini dikenal di Instagram dengan nama @pecandubuku. Salah satu penggiatnya, Thesa Nurmanarina, penggiat PB ditanamkan untuk
Minggu pagi di Car Free Day (CFD) Solo terlihat biasa bagi sebagian orang. Sekelompok mahasiswa yang biasa bertukar pikiran di kantin dan HIK sekitaran kampus terlihat menggelar alas dan menata buku-buku bacaan. Kardus cokelat di balik, di atasnya tertulis kata “Baca Gratis” dengan pilok berwarna merah. MMT berukuran kecil berkelebat di samping buku-buku itu, bagian belakang yang tak terpakai tertulis nama komunitas dengan pilok berwarna merah pula. Tulisan “KOPERJAS” di bawahnya diberi tanda kurung “Komunitas Perpustakaan Jalanan Solo”. Itulah komunitas yang digodok Yoga, dkk beberapa malam. Minggu, 25 September 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi Yoga, Brondy, Jaya, Nizar, Akmam, Reza, Akmal, Nurul, dan Elvira. Hari itu, lapak perdana KOPERJAS di muka umum. Yoga yang ditemui Pabelan Pos di Griya Mahasiswa tidak menampik bahwa KOPERJAS dibentuk karena pegiatnya menginginkan minat baca masyarakat Kota Solo kian tumbuh. Katanya, KOPERJAS hadir untuk menyediakan fasilitas buku, menggerakkan buku pada tingkat kesadaran meskipun buku adalah benda mati namun buku perlu bergerak dari tangan satu orang ke orang lain. “Selama ini kita kan baca buku sendiri di kos. Orang baca buku sendiri kan budrek. Makanya harus diskusi setelah itu atau
menulis,” kata Yoga. Bagaikan magnet, di awal kehadirannya KOPERJAS mampu menarik perhatian masyarakat di CFD. Mulai orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Bahkan di saat itu banyak donatur yang menyumbangkan buku untuk perpustakaan jalanan ini. “Ada bapak dan ibu dari Jakarta, enggak sengaja mereka lewat KOPERJAS terus bilang punya komik dan novel bekas punya anaknya. Mereka tanya bisa nyumbang enggak? Ya dengan senang hati kita bilang bisa, akhirnya mereka ngirim paket ke Solo satu kardus besar,” kata Yoga. Tak ada gading yang tak retak, peribahasa ini cocok untuk menggambarkan KOPERJAS. Menurut Yoga, perjalanan KOPERJAS penuh dengan tantangan dan hambatan. Permasalahannya adalah penghasilan untuk regulasi. Yoga menginginkan penambahan bukubuku yang lebih baru namun dukungan dana sementara berasal dari iuran anggota. Ia pun menginginkan adanya sistem yang tepat agar administrasi perpustakaan dapat berjalan. Selain itu, diakuinya tantangan terbesar ada di dalam diri pegiat-pegiat KOPERJAS, konsisten membaca buku. Begitu pun Yoga atasi dengan memberikan ketegasan pada pegiat perpustakaan untuk menyelesaikan satu buku dalam seminggu.
menyebarkan virus membaca dalam hal apapun, baik membawa nama PB atau tidak. “Jadi kalau gerak ya gerak aja, yang penting tujuannya literasi kan?” kata mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) semester VII ini. PB memiliki agenda rutin yaitu Pecandu Buku Bersila dan menggelar lapak baca sama halnya dengan KOPERJAS. Bedanya, untuk menarik perhatian masyarakat yang berada di sekitar lapak, penggiat PB melakukan tadarus puisi atau kegiatan serupa agar mau singgah sebentar membaca buku yang disediakan. KOPERJAS, RBS, Kobar, dan PB adalah empat dari sekian banyak komunitas yang menggeluti bidang literasi. Tentu, komunitas-komunitas lainnya yang memiliki nama dan konsep kreatif untuk mengetuk hati masyarakat agar mau membaca ada. Indonesia tidak perlu khawatir krisis generasi muda yang tak acuh dengan bangsanya. Buktinya masih ada generasi muda yang menginginkan negara ini maju dengan meningkatkan literasi. Tinggal, pemerintah menyokong kegiatan itu.
14
Edisi 113 - Januari 2017
GAYA HIDUP
Mannequin Challenge
Sisi Lain Video Patung Manusia Reporter: Hanifah Indrianti
B
erakhirnya video Pine-PineappleApple-Pie (PPAP) rupanya diikuti dengan kemunculan sebuah trend lain ya n g s e d a n g n a i k d a u n ya i t u Mannequin Challenge. Mannequin Challenge merupakan cuplikan video singkat yang menampilkan orang-orang yang mematung layaknya Mannequin saat tengah melakukan suatu aktivitas tertentu. Kemudian kamera akan berputar dan merekam mengitari patung-patung manusia tersebut. Lagu yang sering dipakai untuk menambah kesan unik pada video ini adalah Black Beatles yang dinyanyikan oleh Rae Sremmurd. Namun, banyak pula yang menentukan lagu lain sesuai dengan hati mereka. Cuplikan video unik berdurasi singkat ini mampu membuat heboh dan memikat hati masyarakat. Video yang menampilkan sekumpulan orang dengan gaya seolah-olah menjadi sebuah patung boneka berhasil menarik perhatian publik. Bahkan, saking maraknya, salah satu video sejenis telah dibagikan lebih dari 900.000 kali. Video yang meraih lebih dari 900.000 kali share tersebut, menurut data yang dilansir Kompas.com merupakan video seorang calon presiden dalam pemilu 2016 dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Ia bersama tim kampanyenya melakukan Mannequin Challenge di dalam pesawat sehingga terlihat dari video tersebut ada yang mengedit kegiatan kampanye itu, menjepret dan merekam Hillary saat mengobrol, hingga melakukan high five dan lain-lain. Saat ini, jejaring sosial dihebohkan dengan video Mannequin Challenge. Dari para politikus, artis hingga kalangan masyarakat umum ramairamai memenuhi akun YouTube, Instagram,
Mannequin Challenge
Mannequin Challenge Ajang Aktualisasi Diri?
Facebook maupun media sosial lain dengan videovideo challenge, terutama video Mannequin. Dengan mengetik kata kunci video Mannequin Challenge, YouTube telah menyediakan sekitar 1,2 juta video tersebut. Video yang telah beredar di media sosial seolah-olah memperlihatkan adanya kompetisi antar pemilik akun. Demi mendapatkan beriburibu viewer mereka rela melakukan challenge di jalan raya bahkan bergaya dengan kaki di atas layaknya cheersleaders. Namun, berbeda dengan Chandarani, mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia mengaku bahwa video Mannequin Challenge yang diunggahnya selain mengikuti trend, hanya sebuah keisengan belaka setelah seharian praktikum di gedung jurusannya. “Untuk coping stress, biar kami bisa lebih bahagia lagi. Biasanya juga foto-foto, tapi dapet ide dari Ardy bikin Mannequin Challenge,” tuturnya. Chandarani memaparkan unggahan video Mannequin Challenge yang terdapat di akunnya dibuat dengan menggunakan Viva Video melalui smartphone disertai lagu Love the Sky yang menjadi pilihannya. Ia bersama rekan asisten praktikum berada di ruang kelas. Ada yang memegang bola, melempar bola, merapikan bola, bercengkrama bersama teman sebelahnya dengan smartphone, memberikan bunga pada teman, bahkan ada yang memasang ekspresi unik yang terlihat berbeda dari patung-patung manusia lainnya dalam video tersebut. Pada kurun waktu 53 detik, video Instagram unggahan @chandaranips mendapatkan 107 likes, lumayan bukan?
M
araknya video Mannequin Challenge mendapat respon cepat khususnya di kalangan remaja. Dosen Fakultas Psikologi UMS, Aulia Kirana mengutarakan bahwa Mannequin Challenge bukan sebagai sarana aktualisasi diri, namun lebih sebagai sarana untuk unjuk kreativitas, ekspresi diri dan refreshing. Hal ini nampak dari pelaku Mannequin Challenge mayoritas adalah awam bukan profesional pelaku seni pertunjukkan atau ahli di bidang broadcast media. Pelaku lebih menggunakan Mannequin Challenge sebagai sarana untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan menjadikan video tersebut sebagai penghilang rasa penat. Sisi negatif dan positif pada video Mannequin Challenge dapat dilihat dari faktor resiko. Media sosial merupakan akses yang mudah dan tentu bukan hanya segelintir yang mengakses, sehingga harus disadari bahwa banyak challenges yang dilakukan di ruang privat, dan tentu hal itu adalah ranah privasi. Selain itu, bagi orang yang menggunakan
Foto: Istimewa / LeBron James and Cleveland Cavaliers Mannequin Challenge with First Lady Michelle Obama
Foto: Istimewa / Hillary Clinton Election Day 2016 - Jon Bon Jovi Mannequin
video Mannequin Challenges untuk bersaing dan saling berkompetisi dengan lawan mainnya, harus lebih berhati-hati karena viralnya video yang diunggah pasti akan dilihat oleh orang lain, sehingga harus menyadari resiko tersebut. "Seperti halnya selfi, itu kan sudah ada korban jiwa menchallenge dirinya untuk menghasilkan karya yang lebih unik dan lebih baik dari rekannya,” ujarnya. Respons pada video ini terbukti sangat cepat untuk kalangan remaja. Dosen muda tersebut mengakui bahwa video Mannequin Challenge unik karena tidak meminta pelaku menchallenge dirinya untuk melakukan aktivitas-aktivitas seperti pada flash mob maupun swafoto yang populer sebelumnya, tapi lebih pada menonjolkan diri untuk diam dan menjadikan diri seperti patung. Semakin hari, semakin banyak yang tertantang, video tersebut dengan sendirinya akan menjadi viral di media sosial, hingga dapat menciptakan daya untuk berkompetisi dengan kelompok lawan main. Akibatnya,
masing-masing kelompok tersebut akan berusaha membuat video yang lebih baik, unik, dan sempurna dibandingkan dengan video challenge yang telah beredar. Persaingan tersebut dikhawatirkan membuat esensi video yang pada awalnya lebih sebagai sarana make memory yaitu membuat kenangan yang lebih dari sekadar foto, menjadi sebuah solusi berbeda agar terlihat lebih trendy dari yang lain. “Tujuan yang awalnya sebagai kenangan, menjadi kejar-kejaran hal yang bersifat materil,” tuturnya menyesalkan. Aulia pun menambahkan, media sosial tidak dibangun atas kebutuhan pribadi, melainkan kebutuhan untuk dibagikan ke publik. Karena hakikatnya media sosial adalah milik atau konsumsi publik, maka segala sesuatu yang telah diunggah melalui media sosial harus dapat dipertanggungjawabkan. “Selain keamanan yang harus dipertimbangkan, tunjukkan kreativitas mahasiswa tapi bertanggungjawab,” pungkasnya.
15
Edisi 113 - Januari 2017
WAWANCARA Dian Sasmita, Sahabat Kapas
Buku Muter, Gempur Dinding Penjara Reporter: Verlandy Donny Fermansah.
S
el tahanan identik dengan hal yang menakutkan. Jeruji besi, pagar yang kokoh menjulang, dinding dan lantai yang beku, ruang yang pengap menyesakkan, ingatan pada vonis yang dijatuhkan, panjang penantian, serta hal-hal lain yang membuat kita membayangkannya pun enggan. Pada kondisi tersebut, ditambah dengan beragam kepribadian Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), akses buku sepertinya merupakan sesuatu yang jauh dari jangkauan. Namun, saat Tuhan sudah berkehendak dengan menggerakkan hati sekumpulan orang yang peduli dengan kondisi tersebut, mustahilkah semua itu terjadi? Berikut wawancara Pabelan Pos dengan Febi Dwi Setyaningsih, Manajer Kantor Sahabat Kapas, yayasan yang mengusung kepedulian dan pembinaan anak-anak dalam kondisi khusus dan rentan (AKKR), khususnya anak-anak yang menjadi penghuni Rumah Tahanan.
S
ahabat Kapas menjadi organisasi sosial untuk mendampingi ABH di lapas. Bagaimana awal mula untuk bergerak memberikan pendampingan pada mereka?
“Berawal dari kepedulian founder Sahabat Kapas, Mbak Dian, atas kondisi anak di dalam Lapas/Rutan (dulu belum ada LPKA), akhirnya Mbak Dian bersama beberapa teman yang memiliki kepedulian yang sama membentuk sebuah LSM yang diberi nama Sahabat Kapas. Sahabat Kapas mendampingi anak dalam kondisi khusus dan rentan, khususnya anak berhadapan hukum (ABH). Sejak terbentuk, Sahabat Kapas rutin memberikan pendampingan ke anak-anak di dalam Lapas/Rutan/LPKA dengan berbagai kegiatan.”
Apa dan bagaimana cara mengumpulkan buku untuk para ABH? “Awalnya, buku-buku yang kami pinjamkan untuk anak adalah buku milik relawan Sahabat Kapas. Sejak akhir tahun 2014, kami mulai menyisihkan dana donasi individu maupun dukungan dari funding untuk pembelian buku. Permintaan buku yang semakin bertambah mendorong kami membuat program Buku Muter tahun 2016 ini. Melalui program ini, kami mengajak masyarakat untuk bisa mendonasikan buku bacaan yang mereka punya untuk anak di Lapas/Rutan/LPKA.”
Memilih terjun menyalurkan buku untuk ABH, kenapa buku dan ABH? “Anak di dalam Lapas/Rutan/LPKA masih memiliki banyak waktu luang di antara kegiatan yang mereka ikuti. Biasanya mereka menggunakan waktu luangnya untuk melamun, mengingat-ingat rumah dan keluarga, tidur-tiduran. Buku menjadi pilihan karena di dalam Lapas/Rutan/LPKA ada larangan penggunaan HP dan internet. Bahkan di beberapa Lapas/Rutan/LPKA, TV adalah benda yang dilarang. Dengan kata lain, buku adalah benda yang paling memungkinkan untuk menjadi sumber hiburan, ilmu, imajinasi anak di dalam Lapas/Rutan/LPKA.”
Bagaimana sebenarnya akses buku –perpustakaan publik, pasar buku, sumber buku- apakah mudah di akses di dalam lapas? “Kondisinya berbeda-beda untuk Lapas/Rutan/LPKA yang kami dampingi, yaitu Lapas Klaten, Rutan Surakarta, Rutan Wonogiri dan LPKA Kutoarjo. Di Lapas
Program Buku Muter adalah solusi untuk minimnya pilihan buku yang ada di perpustakaan di dalam Lapas Data Narasumber: Nama Febi Dwi Setyaningsih Manajer Kantor Sahabat Kapas TTL : Surakarta, 7 Februari 1988 Pendidikan : S1 Psikologi UNS (2006 - 2011) Email/No.Telp : febi.dwi.s@gmail.com, 085647258665 Klaten, kami terlibat dalam pembuatan perpustakaan di sana. Bantuan buku dari berbagai pihak kami titipkan di perpustakaan Lapas Klaten untuk bisa dimanfaatkan oleh warga binaannya. Di Rutan Surakarta, Rutan Wonogiri dan LPKA Kutoarjo, perpustakaan sudah ada namun belum optimal penggunaannya. Rutan Surakarta termasuk beruntung karena ada mobil perpustakaan keliling yang rutin masuk ke sana setiap hari Kamis.
beberapa halamannya untuk dijadikan rokok adalah sederet pengalaman yang membuat petugas sempat melarang kami meminjamkan buku ke anak. Namun perkembangannya, dengan membangun komitmen bersama anak terkait Buku Muter, petugas menaruh kepercayaan dan ikut mendukung keberadaan buku untuk anak.”
Bagaimana para ABH merespon kehadiran gerakan Buku Muter? “Awalnya anak tidak antusias terhadap Program Buku Muter adalah solusi untuk buku. Hal yang sangat wajar karena latar belakang kehidupan anak memang jauh dari minimnya pilihan buku yang ada di buku. Sangat sedikit anak yang pada perpustakaan di dalam Lapas/Rutan/LPKA. dasarnya suka membaca. Buku Muter bukan Agar pilihan buku yang ada bervariasi dan hanya tentang membawa banyak jenis buku bermanfaat bagi anak di keempat untuk anak. Ada proses membangun rasa Lapas/Rutan/LPKA, secara berkala kami cinta anak terhadap buku. Kami dampingi selalu menukar buku dari satu tempat ke anak dari mereka tidak mau memegang buku tempat lainnya.” sama sekali, merobek buku, hingga sekarang Dalam menyalurkan donasi ke lapas, bisa mencintai buku dan selalu menagih buku baru setiap bertemu.” diceritakan apa saja kendala untuk menyalurkan ke dalam lapas? Dalam konteks pendidikan, apa yang “Awalnya, tantangan Buku Muter adalah meyakinkan pihak Lapas/Rutan/LPKA untuk sebenarnya mereka butuhkan untuk mengijinkan anak membaca buku yang kami menunjang kegiatan belajar? “Kegiatan belajar formal belum bisa pinjamkan, bahkan ketika mereka di dalam menjangkau anak di dalam kamar. Pengalaman tidak menyenangkan Lapas/Rutan/LPKA. Kejar Paket juga belum terkait akses anak ke perpustakaan di bisa optimal dilaksanakan. Butuh perhatian Lapas/Rutan/LPKA membuat petugas melarang anak meminjam buku. Buku sobek, lebih banyak pihak untuk bisa mendukung adanya pendidikan untuk anak di dalam tidak dijaga sehingga hilang, diambil
Lapas/Rutan/LPKA, baik SDM dan segala fasilitas yang mendukung. Sahabat Kapas tidak terlibat penuh dalam pemberian materi belajar seperti di sekolah-sekolah. Namun, kami mengajak anak untuk bisa mengembangkan diri mereka. Belajar banyak hal di luar kurikulum sekolah kebanyakan.”
Bagaimana peran pemerintah dalam pendidikan di dalam lapas? “Pemerintah masih belum serius dalam menyediakan pendidikan di Lapas/Rutan/LPKA. Jangankan pendidikan formal, Kejar Paket saja harus memenuhi beberapa persyaratan yang tidak jarang menyulitkan pihak Lapas/Rutan/LPKA. Tidak semua Lapas/Rutan dimana anak menjalani masa hukuman memenuhi persyaratan tersebut.
Adakah kisah inspiratif dari ABH yang pernah disampaikan kepada Sahabat Kapas? “Tentunya banyak cerita menarik dan inspiratif dari anak-anak di dalam Lapas/Rutan/LPKA. Terkait pendidikan, ada anak yang bisa kembali ke bangku sekolah formal setelah menjalani masa hukuman. Program Buku Muter juga telah merubah perilaku sebagian besar anak di LPKA Kutoarjo. Anak yang awalnya tidak tertarik memegang buku akhirnya sangat menunggu jadwal pergantian buku. Bahkan beberapa anak mengajukan diri menjadi penanggung jawab peminjaman dan pengembalian buku di sana.”
Bagaimana relawan Sahabat Kapas konsisten dalam gerakan buku muter ini? “Buku Muter menjadi program unggulan di tahun 2016 ini. Melihat antusiasme anak setelah program ini berjalan menjadi tambahan semangat untuk kami mengembangkan program. Komitmen kami untuk memfasilitasi terwujudnya kepentingan terbaik bagi anak menuntut kami untuk selalu konsisten. Hal yang tidak mudah namun tidak mustahil dilakukan.”
Apa dan bagaimana rencana Sahabat Kapas ke depan dalam menjalankan gerakan sosial ini? “Harapannya, Buku Muter tidak hanya tentang penyediaan buku bacaan untuk anak dan meminjamkannya kepada anak. Merekam proses anak sebelum dan setelah mereka mengenal buku menjadi catatan penting bagi kami. Berbagai kegiatan menarik juga harus kami persiapkan agar antusiasme anak terhadap Buku Muter tidak hilang.”
16
Edisi 113 - Januari 2017
OPINI Opini
Literasi Jalanan dan Perebutan Ruang Publik David Efendi & Fauzan A Sandiah*
*Pegiat Rumah Baca Komunitas & @mabacaKomunitas
“…Kebahagiaan terbesar dari pegiat literasi adalah manakalah dapat mengantarkan buku-buku kepada orang tua asuhnya, pembacanya.” -Tagline Perpustakaan Jalanan RBK-
B
ulan November lalu Rumah Baca Komunitas bersama Komunitas literasi lainnya mempetisikan Jokowi dan Kemendikbud di laman change.org untuk mewujudkan buku murah untuk rakyat. Selain itu, secara implisit itu juga membela ruang publik untuk dimanfaatkan sebagai ruang literasi. Negara tak mungkin bisa menggerakkan literasi sendiri tanpa kekuatan publik: pembaca, penggiat literasi, Komunitas, dan industri penerbitan. Semua itu harus bersatu berkolaborasi secara tulus. Buku merupakan sarana informasi dan pengetahuan yang penting. Perkembangan teknologi terbukti tak mampu menggantikan peran buku cetak sebagai sumber informasi. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, peran buku cetak tidak saja sekedar penting, melainkan menjadi indikator bagaimana sulitnya pemenuhan indeks hak literasi negara terhadap masyarakat. Konstitusi mengamanatkan bahwa literasi merupakan bagian dari hak dasar yang wajib dipenuhi negara sebagai bentuk kebebasaan dan kesejahteraan. Hingga akhir tahun 2016, tantangan buku cetak di Indonesia tak banyak bergeser dengan apa yang dialami sejak tahun 1990an, yakni mahalnya harga buku cetak dan ketatnya kontrol terhadap kebebasan literasi. Harga buku yang murah akan menjadi faktor penting bagi perayaan hak-hak literasi.
Prolegnas 2016 memberikan sedikit angin segar bagi dunia perbukuan Indonesia dengan RUU Sistem Perbukuan. Namun, hingga akhir Oktober 2016, tidak terlihat perkembangan signifikan. Ketua IKAPI, Irma Permanasari melihat RUU Sistem Perbukuan tidak akan banyak memberi perubahan bagi literasi Indonesia. Persoalannya terletak pada watak RUU Sistem Perbukuan yang cenderung memprioritaskan buku pendidikan dan kontrol terhadap konten buku pendidikan. Adalah suatu kesempatan berharga saya bertemu dengan seorang pegiat literasi Jalanan asal Ternate, Adlun Fikri. Nama ini sudah terkenal lantaran ia dijebloskan ke penjara akibat memakai kaos yang identik dengan PKI. Padahal PKI itu hanya kependekan dari Pencinta Kopi Indonesia. Dilalah, itu menjadi musibah sekiligus hikmah. Adlun merupakan anak muda yang kreatif bukan hanya dalam menggelar lapak tetapi juga dalam dunia sastra dan musik. Dalam kesempatan pertemuan di Jogja ia mengkisahkan kalau Rumah belajar bersama yang ia dapat pinjaman dari seorang pemilik toko itu dibongkar. 'betapa sedihnya,' pikiranku melayang. Situasi itu hanyalah satu dari jutaan peristiwa 'memalukan' bangsa akibat dari salah urus ruang publik. Ruang belajar publik sangatlah terbatas, sudah begitu banyak sekali ruang publik berubah menjadi arena pertempuran ekonomi keseharian. Banyak alun-alun dan taman kota yang tidak lagi berfungsi sebagai ruang edukatif tetapi menjadi ruang berebut penghasilan. Bukan hanya melibatkan PKL sebagai kambing hitam, ada banyak perusahaan besar bermerk dagang toko modern atau perusahaan yang
membuka jualan di jalanan. Ada mobil Box bahkan di alun-alun kidul juga ada truk yang jualan roti. Ini adalah ironisme ruang publik yang semakin tidak dimiliki publik. Buku dan ruang publik menjadi suatu keniscayaan manakala negara tidak memfasilitasi hasrat berpengetahuan masyarakat. Ada puluhan perpustakaan bergerak atau perpustakaan jalanan di republik ini. Ada buku-buku yang diangkut ke pegunungan, ada yang melalui sungai dan lautan. Itu adalah hasanah yang luar biasa untuk mendekonstruksikan bahwa pengetahuan hanya didominasi oleh kaum terdidik di lembaga pendidikan formal (sekolah atau perguruan tinggi). Stigma itu memang harus secepatnya diruntuhkan.
Ketegaran di jalanan Gerakan literasi bukannya tanpa ujian atau kedap kekerasan. Gerakan literasi kontemporer ternyata menjadi ancaman bagi 'kekuasaan'. Tuduhan komunis, anarkis, dan illegalitas kerap menjadi konsumsi keseharian pegiat. Di perpustakaan jalanan akan menemukan pemalakan, premanisme, pengusiran, ancaman, terror, penangkapan, dan sebagainya. Kasus-kasus kekerasan yang menimpa pegiat literasi dalam setengah tahun ini sudah terjadi dua kali. Pada 10 Mei 2016, dua pegiat asal Maluku dari Literasi Jalanan ditangkap dengan dugaan “menyebarkan” paham komunis. Tuduhan tersebut tentu saja abu-abu. Pembuktian mengenai “paham” berada pada analisis yang dalam, tidak melalui interogasi atau debat. Kasus lainnya terjadi pada 20 Agustus 2016. Tiga pegiat Perpustakaan Jalanan di Bandung mengalami tindak kekerasan aparat Kodim III Siliwangi. Tiga pegiat Perpustakaan Jalanan yang saat itu tengah
Gerakan literasi kontemporer ternyata menjadi ancaman bagi ' kekuasaan'. Tuduhan komunis, anarkis, dan illegalitas kerap menjadi konsumsi keseharian pegiat.
membuka lapak baca buku tiba-tiba didatangi oleh aparat Kodim III Siliwangi dan memukul kepala dan wajah mereka. “Sehari-hari kami bekerja, sehingga waktu luang yang kami miliki hanya di akhir pekan. Akhir pekan adalah 'hari raya' kecil bagi para pekerja. Hari dimana kawan dan sahabat bersua, sekadar melepas rindu dan berbagi cerita penuh kehangatan,” tulis akun FB Perpustakaan Jalanan.” Negara melalui Kementerian yang berkaitan langsung seharusnya punya perspektif “adil sejak dalam pikiran”—sebuah ungkapan khas yang kerap muncul untuk menolak kekerasan atas dasar pikiran picik terhadap manusia. Menteri Pendidikan dan kebudayaan (mendikbud) harus mengambil bagian dalam mendukung dan memproteksi komunitas literasi. Negara tidak hadir itu lebih baik ketimbang hadir untuk menciptakan neraka kecil di berbagai tempat.
Opini
Ruang Membaca Oleh: Sharifah Nursyahidah Syed Annuar*
* Penulis Sharifah Nursyahidah Syed Annuar ialah asli Malaysia tetapi sering ke Indonesia. Ia juga pendiri Buku Jalanan Kota Kinabalu, Malaysia dan dosen di Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan di Universiti Kebangsaan Malaysia. Setiap kali kalian membaca buku yang bagus, di suatu tempat di dunia pintu terbuka untuk memungkinkan lebih banyak cahaya -Vera Nazarian-
C
ara terbaik untuk memperluas cara berpikir adalah dengan membaca. Sayangnya, kebiasaan membaca menurun hari demi hari. Adanya perkembangan teknologi justru menjadikan kebiasaan membaca berubah. Selain itu, harga buku-buku terkadang melambung tinggi sehingga tidak semua orang bisa menjangkaunya. Terlebih, perpustakaan umum tidak memberikan pilihan beragam buku. Pada waktu bersamaan, di tengah lemahnya kondisi budaya baca di banyak tempat, pemerintah juga ketara tidak berpihak dengan gerakan membaca atau perpustakaan keliling di ruang publik. Kejadian penggusuran selalu terjadi di Indonesia, misalnya pernah dialami oleh Komunitas Perpustakaan Jalanan Kota Bandung. Padahal, lapak baca semacam ini adalah gerakan yang menggunakan pendekatan bottom-up karena kegagalan pemerintah dalam menumbuhkan budaya baca. Ini menunjukkan, pemerintah tidak pernah benar-benar serius dalam mendorong membudayaan membaca. Di sisi lain, mereka tidak menghormati ranah publik yang harus dimanfaatkan oleh masyarakat.
Kemerosotan fungsi ruang publik jelas menunjukkan keengganan pemerintah untuk memerhatikan dan merawat ruang publik. Apakah pemerintah menganggap budaya baca di ruang publik satu ancaman yang begitu besar dan berbahaya?
Kemerosotan atau kekosongan fungsi ruang publik jelas menunjukkan keengganan pemerintah untuk memerhatikan dan merawat ruang publik. Apakah pemerintah menganggap budaya baca di ruang publik satu ancaman yang begitu besar dan berbahaya? Dari sini dapat dilihat bahwa budaya membaca tidak bisa dibangun oleh pemerintah. Mereka memang tidak boleh diharapkan. Oleh sebab itu, muncul komunitas-komunitas yang membangun budaya baca di ruang publik. Harus diingat bahwa gerakan membaca di ruang publik merupakan satu upaya untuk mengenalkan budaya literasi di masyarakat dan sebagai satu bagian penting dari proses pendidikan yang menjadi hak setiap warga.
Semakin banyak gerakan membaca, maka akan semakin mendorong budaya membaca. Ruang baca publik menjadi identitas bagi tiap-tiap kota yang mau menunjukkan budaya literasi sebagai kegiatan prioritas warganya. Lagi pula, ruang baca di publik adalah satu solusi supaya masyarakat yang tidak mampu dapat membaca buku tanpa keluar uang. Bahkan, perpustakaan jalanan atau perpustakaan keliling menggunakan konsep yang cukup sederhana; siapa pun dapat membaca dan meminjam secara gratis. Buku-buku, majalah-majalah dan koleksi lainnya yang dipamerkan dapat dipinjam secara gratis. Koleksi itu milik mereka sendiri ataupun donasi dari masyarakat yang memahami matlamat (tujuan –red) baik mereka. Bahkan, ada perpustakaan jalanan yang menerbitkan zine (majalah –red), koran atau buletin mereka sendiri, misalnya Komunitas Perpustakaan Jalanan Solo yang mengeluarkan buletin setiap minggu. Keberadaan perpustakaan jalanan atau apa saja gerakan membaca di ruang publik harus didukung sebagai tanda kepedulian. Hal itu menjadi penegasan terhadap nilai yang mengikat masyarakat seperti ilmu, kesetaraan dan solidaritas. Hegemoni memang mendominasi hak warga termasuk akses dan penggunaan ruang publik. Pemerintah selalu saja menggunakan kekuasaan untuk menyatakan bahwa mereka
yang memiliki hak penuh atas ruang publik cenderung mendiskriminasi orang-orang biasa. Namun, jika kita paham, ruang itu harus dibagikan untuk kepentingan melayani masyarakat terlepas dari latar belakang apa pun. Oleh karena itu, ruang publik harus menjadi situs budaya dan praktek politik. Hal ini karena didalamnya terjadi bagaimana masyarakat terstruktur dalam perilaku sipil dan politik yang demokratis. Dinamika ini pula dapat ditafsirkan mampu membangun masyarakat untuk aktif berpartisipasi. Justru, jika ruang publik dikelola dengan baik, memungkinkan masyarakat memiliki pandangan luas dan meningkatkan disposisi mereka terhadap yang lain. Ruang publik untuk warga kolektif, bukan pemerintah. Ruang publik menjadi arena untuk siapa saja dalam melakukan sesuatu bagi dirinya dan untuk memenuhi kebutuhan warga lain. Di sini, kebebasan diwujudkan dalam kolektif dan upaya sukarela. Kemampuan membaca merupakan fondasi untuk pendidikan yang baik. Tanpa itu, tidak dapat dipahami segala hal yang terjadi di dunia. Bagian dari membaca juga harus memahami pentingnya buku dan gerakan membaca. Kurangnya membaca akan mengurangi kemampuan dalam menghasilkan pikiran yang kreatif dan untuk menemukan cara dalam penyelesaian masalah. Ayo, kita baca buku di manapun!
17
Edisi 113 - Januari 2017
TEKNOLOGI
Foto: Kompas.com
Putar Pandanganmu dengan Video 360º Reporter: Afif Abdurrahman dan Achmad Midun Sanjaya
1. Buat Video Ada beberapa kamera 360 yang kompatibel dengan YouTube dan sudah tersedia di pasaran yaitu Ricoh Theta, Kodak SP360, dan IC Real Tech Allie. Kalian bisa membuat video dengan rig kamera custom dan software stitching pihak ketiga seperti Kolor Autopano. Untuk mendapatkan hasil terbaik, salin video kalian ke resolusi tinggi dan sesuai spesifikasi YouTube. YouTube mendukung video 360º dengan 24, 25, 30, 48, 50 dan 60 frames per second. Kalian disarankan untuk mengunggah video dengan rasio 16:19 dalam resolusi 4K (3.840 X 2.160).
ketika tidak menggunakan navigasi via smartphone. Tepat di bawahnya, ada layar kecil PMOLED berukuran 0,5 inch. Layar ini untuk melihat menu yang dipilih dan status perekaman selain via smartphone. Gear 360 mepunyai tripod bawaan berukuran mini yang bisa dibuka dan ditutup. Untuk kebutuhan perekaman standar, tripod bawaan ini cukup membantu. Dalam kondisi tertentu untuk mendapatkan angle di luar standar, Gear 360 bisa dipasangkan tripod kamera lain yang beredar di pasaran. Kedepannya akan diterapkan ke teknologi VR (Virtual Reality). Video 360º ini akan ditonton menggunakan VR handset, untuk saat ini VR handseat yang sedang populer adalah google cardboard, dan orculus rift. Nantinya, diharapkan jika seseorang melihat sebuah video, orang tersebut akan terasa berada didalam video dan melihat serta merasakan momen apa yang terjadi dalam video itu melalui penglihatan 360 derajat. User bisa melihat bebas kedepan, belakang, kiri, kanan, atas, dan bawah seperti benar-benar dalam video tersebut.
Foto: detikINET
360º, tetap bisa digunakan untuk membuat foto semacam itu. Beberapa kamera yang sudah memiliki kemampuan itu, seperti Ricoh Theta S, Samsung Gear 360, dan LG Cam 360. Piranti video 360 derajat Sebagai perangkat baru kamera 360º mungkin belum banyak yang tahu tentang perangkat baru ini. Maka dari itu, simak dan kenali bagian-bagian kamera 360º, misalnya pada Samsung Gear 360. Gear 360 punya desain bulat, sekilas tampak seperti bola mata. Berdimensi 56,3 x 66,7 x 60,1, kamera ini pas dalam genggaman tangan. Pada sisi depan dan belakang kamera, terdapat kamera fish-eye yang masing-masing beresolusi 15 Megapixel. Ketika digabungkan, dua kamera ini akan menangkap angle 360º. Di sisi kanan ditempatkan baterai 1.350 mAh, slot micro SD dan port USB 2.0. Semua komponen ini disembunyikan secara apik dengan penutup berlogo Samsung. Tak jauh di samping penutup dengan logo Samsung, dibenamkan konektivitas NFC. Pada sisi kiri, terdapat dua tombol. Pertama, tombol berlogo bluetooth. Tombol ini, selain untuk menghubungkan kamera dengan smartphone melalui konektivitas Bluetooth, juga berfungsi untuk memilih menu. Kedua, tombol back yang berfungsi untuk mengatur navigasi menu kamera dan menghidupkan serta mematikan kamera. Beralih ke bagian atas kamera, terdapat tombol bulat berwarna hitam dengan titik merah di bagian tengah. Tombol ini berfungsi untuk merekam video langsung dari perangkat
Foto: detikINET
G
oogle telah merilis berita teknologi baru yaitu video 360 derajat. Melalui teknologi tersebut, para pengguna Youtube dapat melihat keseluruhan bagian dari video yang diputar di Youtube. Sejak Januari 2015, video 360º telah tersiar di Youtube. Namun akhirnya, Maret 2015 barulah Google merilis berita mengenai teknologi anyar tersebut. Para pengguna Android yang mengakses Youtube dapat menggunakan layar touch screen untuk menggeser sudut pandang video yang ingin dilihat. Youtube akan menyediakan empat tombol navigasi dalam memudahkan menonton video 360º secara lebih leluasa. Selain google, Facebook juga merilis video 360º. Dilansir dari Kompas.com Facebook sudah menghadirkan fitur foto 360º sejak Juni 2016 lalu. Namun, hingga saat ini, belum tentu semua pengguna mengetahui cara mengunggah atau membuat foto dengan format seperti itu di Facebook. Menariknya, cara membuat foto 360º di Facebook sangatlah mudah. Bahkan, pengguna tak perlu memiliki kamera khusus untuk membuat konten yang hendak dibagi ke Facebook. Caranya, pengguna hanya mengunggah foto panorama ke Facebook. Sistem akan secara otomatis mengubah foto tersebut ke tampilan 360º. Cara unggahnya pun sama seperti biasa. Pengguna tinggal memilih Update Status atau tab Photo, pilih foto panorama, tulis caption, lalu pilih lokasi atau tag teman jika diinginkan, kemudian tinggal tekan tombol Post. Namun, jika memiliki kamera berformat
Foto: gopego.com
Tips Unggah Video 360º di Youtube Dilansir dari tekno.liputan6.com, berikut tips untuk mengunggah video 360º di Youtube. Nah, jika tertarik, kalian bisa mengikuti beberapa langkah berikut:
2. Persiapan Upload File video kamu memerlukan metadata tertentu untuk bisa mengaktifkan playback 360. Kamu harus mengunduh aplikasi Metatada Video 360 untuk Mac dan Windows sesuai dengan saran Google. Kemudian un-zip file, lalu buka aplikasi tersebut dan pilih file video. Setelah itu, pilih opsi Spherical dan klik Save As. Google mengingatkan untuk tidak memilih opsi 3D Top-bottom. Ketik nama untuk file video yang akan dibuat dan simpan file tersebut. Sebuah file baru akan dibuat secara otomatis di lokasi yang sama dengan file asli. Lalu, unggah file baru itu ke YouTube dan tunggu proses efek 360 berlangsung. Proses ini akan memakan waktu sekira satu jam.
3. Proses Upload Ketika mengunggah video 360, jangan mengedit video menggunakan tool Video Editor dan Enhancements YouTube di desktop atau perangkat mobile. Keduanya itu belum kompatibel dengan video 360. Sebelum mempublikasikannya, kamu bisa memastikan playback 360 bisa digunakan atau tidak, dengan menonton video tersebut di komputer terlebih dahulu. Butuh waktu sekira satu jam untuk membuat playback video 360 tersedia. Setelah itu ada beberapa hal lagi yang harus dipastikan untuk mengonfirmasi bahwa video kalian sudah dalam format 360. Video 360 memiliki tombol geser di sisi kiri atas dan bisa diputar menggunakan tombol WASD. Sumber : www.maxmanroe.com inet.detik.com tekno.liputan6.com
18
Edisi 113 - Januari 2017
WIRAUSAHA
Foto: Ari Susanto / Pabelan Pos
Usaha
Pundi Seni yang Takkan Mati Reporter: Ummu Azka Amalina
B
erawal dari hobi yang ditekuni dalam memainkan warna, bermodal bakat dan dana yang tak seberapa, tak dinanya, u p aya - u p aya i t u m e l e j i t menghantarkan bisnis yang dirintisnya mencapai pasaran Asia. Terik siang itu, reporter Pabelan Pos mengunjungi sebuah rumah yang terletak di tengah pemukiman penduduk. Cukup sulit mencari sebuah tempat yang lokasinya serupa dalam labirin gang. Tetapi usai menyusurinya, kami sampai jua. Tampak dari bagian depan rumah yang kami tuju, sebuah mobil bak berwarna kuning berhias lukisan tangan terparkir dengan anggunnya. Di sudut lain halaman yang cukup luas itu, terdapat beberapa tumpuk kayu yang sengaja dilapukkan, lalu nantinya akan diolah menjadi karya seni yang unik. Menyulap limbah barang bekas menjadi sebuah karya seni merupakan asal-usul dikenalnya seniman ini. Dani Kus, begitu biasa ia disapa, mulai menggeluti bisnis di bidang seni lukis sejak Februari lalu. Bermula dari rasa empati terhadap lingkungan, juga ketersediaan banyak media yang bisa disalurkan dengan seni, tetapi dianggap tidak berguna dan berakhir pada penelantaran yang memungkinkan akan merusak lingkungan dan memperburuk pemandangan, ia menggagas ide sederhana tersebut. Di samping itu, media lukis yang cukup mahal menjadikan Dani Kus lebih memilih menggunakan media barang bekas ketimbang kanvas. Misalnya saja, pemanfaata n limbah ba-
rang bekas sebagai bahan dasar seni seperti pada gulungan kabel yang didapatnya dari sub Pembangkit Listrik Negara (PLN). Ia berhasil memodifikasinya menjadi sebuah lukisan dinding. Menurutnya, memadukan seni yang dihasilkan oleh tangan dan seni yang terbentuk lewat pelapukan alam dapat mengubah barang tak berharga menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi. “Padahal ini juga limbah kotor tapi bagaimana bisa masuk ke hotel, aku bikin yang jarang dilihat orang, kalau yang sering di toko saja banyak,” ungkapnya. Seiring berjalannya waktu, media yang digunakan bertambah dengan menggunakan kertas karton atau spanduk bekas yang dilukis dengan cat air, spidol, tinta stempel dan lain-lainnya. Selain dari segi grafisnya, supaya lebih menarik dipadukan dengan alumunium atau kuningan. Sebagai pelengkap, Dani Kus meletakkan hasil lukisannya ke dalam bingkai agar lebih menarik dan dapat dijadikan sebagai hiasan dinding. Konsep yang digunakan pun sama sebagaimana pada gulungan kabel, berbentuk bulat dengan lukisan memusat di tengah, “Biar saya punya image, Dani itu pelukis yang bulet-bulet itu lho, walaupun tetap ada yang kotak,” tuturnya. Adapun konsep gambar yang digunakan biasanya memanfaatkan momen hari raya atau gambar ilustrasi yang mempunyai pesan tertentu, seperti lukisan pada gulungan kabel yang dicat dengan warna kuning, di dalamnya terdapat kepala blewah Hallowen dengan menggunakan jas yang menggambarkan setan yakni para pengusaha serakah yang akan membabat habis hutan demi kepentingan pribadi mereka sehingga menyebabkan
Foto: Ari Susanto / Pabelan Pos
Seniman besar kalau nggak bisa menginspirasi namanya bukan seniman, yang penting tetep harus berkarya, jangan sampai gara-gara tidak ada modal jadi tidak bisa berkarya banjir. “Ada kata-kata O-N-E itu tujuannya, ditambah 'M' dan 'Y' jadinya M-O-N-E-Y, tujuannya, ya buat uang,” jelasnya. Selain menggunakan media lukis, seniman yang satu ini menggunakan kayu-kayu lapuk yang akan diolah jadi arang sebagai media seni yang berbeda dibanding karyakaryanya yang lain. Kayu-kayu bakar ini akan dibentuk menjadi sebuah patung sebagai hiasan ruangan. Menurutnya, dengan memanfaatkan pelapukan alam yang terjadi pada kayu tersebut dan menambah sedikit ukiran, juga warna pada kayu lapuk tersebut dapat memberikan kesan artistik yang unik, “Coba bayangin! di tengah hotel ada patung yang aneh itu, pasti menarik,” urainya.” Persaingan antarseniman di dunia bisnis banyak terjadi, jika tidak mempunyai keunikan yang berbeda dalam menghasilkan sebuah karya, besar kemungkinan tidak akan mempunyai harga jual di pasaran. Masingmasing seniman memiliki keunikannya sendiri, tinggal bagaimana cara menuangkan kreatifitasnya. Banyak seniman yang meng-
gunakan kanvas sebagai media lukis, “Harus berbeda, kalau ini keluar pertamanya pakai kanvas, saya tidak akan dikenal, gak bakalan bisa kalau cuma cari nama pakai kanvas saja, akhirnya pakai sampah,” terangnya. Persaingan bisnis tak lepas dari seorang produsen menghasilkan barang yang berkualitas tinggi, karena seunik apapun karya yang dihasilkan tidak akan bernilai jual bila tidak melalui proses pemasaran. Bermodalkan akun pribadi dan grup-grup di Facebook, seniman yang satu ini dapat memasarkan produknya sampai ke dataran Asia. Melalui para art hunter atau kolektor seni dari beberapa negara di Asia seperti Vietnam, Singapura, sampai dengan Hongkong. “Bisa sampai Hongkong hanya lewat FB. Saya cari informasi malah dari Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong, tanya di sana kayak gini kejual gak?,” urainya. Melalui para art hunter pula, bisnis seni ini mendapat dukungan untuk menggelar pameran tunggal di Jakarta. Rencananya setelah berhasil menggelar pameran tunggal akan dilanjutkan dengan mengadakan kampanye bertema Stop Buang Percuma di beberapa event. Sehingga dapat memberikan edukasi mengenai olah limbah kepada masyarakat umum dan akan berdampak pula pada bisnis yang sedang dirintisnya. “Seniman besar kalau nggak bisa menginspirasi namanya bukan seniman, yang penting tetep harus berkarya, jangan sampai gara-gara tidak ada modal jadi tidak bisa berkarya,” pesan Dani.
19
Edisi 113 - Januari 2017
SUPLEMENT Globalisasi
Foto: Verlandy Donny F. / Pabelan Pos
Ketika Internet Menjadi Candu Reporter: Dina Ayu Lestari
M
engapa internet menjadi candu pemakainya? Ada ungkapan menarik, pengguna internet dan pemakai narkoba sama-sama disebut user. Keduanya disebut user, sebab mereka sulit melepaskan diri dari ketergantungan terhadap objeknya. Beragam fasilitas membuat seseorang betah berselancar di internet. Chatting, browsing,
Tips
Yuk Biasakan Periksa Sumber!
ditambah aplikasi canggih seperti video conference yang mulai merebak. Pada satu sisi, internet mampu membantu beragam kinerja mulai dari tugas kampus, berkirim email, membaca berita, dan mencari data serta informasi. Mengirim kabar dari satu benua ke benua lain bisa tiba dalam hitungan menit bahkan detik. Mencari data dan informasi semudah mengklik mouse dengan jari. Informasi di internet tidak diatur kualitas dan akurasinya. Hal itu berbeda dengan informasi di surat kabar maupun siaran televisi. Serupa dengan dunia nyata, di dunia maya pun berlaku hukum Yin dan Yang. Dimana ada kebaikan, ada pula keburukannya. Ada jutaan website Foto: Verlandy Donny F. / Pabelan Pos
Yang dijerat bukan hanya yang membuat, tapi justru yang mendistribusikan dan mentransmisikannya - Revisi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) telah berlaku 28 November 2016.
aktif di dunia yang memiliki kebebasan berbicara dan antisensor. Internet menjadi jalannya. Insiden Tolikara mengajarkan bagaimana merespons hal yang belum jelas kebenarannya. Terutama media online yang lebih mengedepankan kecepatan dibanding verifikasi pemberitaan. Media yang semestinya menjadi rujukan publik untuk melihat kasus ini secara jernih, memperkeruh suasana. Akhirnya terjadi disinformasi: apa yang dibakar? Tempat ibadah itu dibakar atau terbakar? Benarkah ada pembubaran salat Id, atau yang terjadi adalah larangan menggunakan speaker? Informasi lalu lalang di dunia internet
bebas menyeruak. Jika kita mencoba berbagi berita secara retweet, forward, share, atau broadcast terbukti berita palsu, kita akan dikenal seba-gai orang yang buruk tentang informasi. Tujuan kita baik, agar masyarakat lebih tahu. Tetapi yang terjadi, justru orang akan makin kalut akibat pesan berantai yang tidak jelas kebenarannya. Jika memang berita tidak terklarifikasi dengan benar, alangkah baiknya informasi tersebut berhenti di tangan kita dan tidak perlu disebarkan. Mulailah cerdas menggunakan internet!
Infografis
Tips Mencari Sumber Terpercaya 1
2
3
keandalan
menunjukkan organisasi nonprofit
4
5 terbaik
6
disetujui
kemungkinan
20
Edisi 113 - Januari 2017
RESENSI Foto: Istimewa
Resensi Film
Makhluk Sihir Kembali Berpetualang Oleh: Ratih Kartika Seperti angin atau hantu tapi hitam Aku melihat matanya Putih bersinar
I
tulah sepenggal percakapan yang memulai awal film berjudul Fantastic Beast And Where Find To Them ini. Adaptasi novel J.K Rowling, berlatar di New York tahun 1926-an, 70 tahun sebelum era Harry Potter. Kisahnya berfokus pada Newt Scamander yang menulis ulang buku yang dimiliki Harry Potter. Buku tersebut menjadi pedoman bagi siswa di sekolah Harry Potter, Hogwarts. Scamander diceritakan sebagai seorang magizoologist, sering memperlajari dan menciptakan makhluk sihir aneh. Makhluk sihir ciptaannya itu, selalu disimpannya dalam sebuah koper. Suatu ketika, koper tersebut tertukar sehingga makhluk-makhluk sihir berkeliaran di Britania Raya. Ia harus menangkap kembali makhluk-makhluk itu. Dibantu oleh Jacob Kowalsky, dirinya pergi dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengambil kembali makhlukmakhluk yang terlepas tadi. Scamander merasa takut apabila hewan-hewan peliharaannya dianiaya manusia yang notabenenya bukan seorang penyihir atau bangsanya biasa menyebutnya muggle. Petualangan dan pencarian mereka penuh intrik dan liku. Hingga pada suatu waktu mereka bertemu dengan Obscurus. Obscurus adalah kekuatan gelap yang Resensi Buku
Manusia, Buku dan Takdirnya Oleh: Daryanti “Tak ada orang yang mau lupa menaruh buku. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya sebagai emosi yang jauh dan lama rindu.�
B
luma Lennon, seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, membeli satu eksemplar buku Poems karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho. Saat membaca puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal. Awal mula Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, sastrawan kelahiran Argentina yang bermukim dan berkarya di Monteviedo, Uruguay. Sebuah awal yang membuat
tidak stabil. Mereka muncul dan menyerang, lalu menghilang. Mereka tidak ada selama berabad-abad. Dulu, para Obscurus masih banyak dan masih ada. Sebelum penyihir bersembunyi, saat masih diburu muggle (manusia yang tidak memiliki ilmu sihir). Penyihir muda terkadang menahan kekuatan mereka, agar tidak disiksa. Alih-alih belajar atau mengendalikan kekuatan mereka. Mereka malahan menciptakan Obscurus. Tak ayal, Scamander didakwa karena para petinggi-petinggi penyihir tidak mengetahui kalau kekacauan itu disebabkan oleh ulah Obscurus. Mereka menuduh Scamander sebagai biang masalah karena mengira Scamander membiarkan hewanhewan yang ada di dalam koper terlepas dan menimbulkan masalah. Scamander lalu ditangkap dan diadili kongres penyihir dan dipenjarakan, karena tuduhan bahwa hewan-hewan liar itu telah membunuh salah satu senator Amerika, Shaw. Ia pun dihukum. Hingga pada puncak konfliknya, Graves salah satu pekerja di kementerian sihir Amerika menemui Credence seorang anak yatim piatu yang ternyata adalah Obscurus yang masih bisa bertahan hidup, meskipun lebih dari 10 tahun. Graves yang ternyata adalah Grindelwald sang buron sihir memaki Credence, hingga berubahlah ia menjadi sosok Obscurus yang menakutkan. Scamander dan Goldstein berusaha menenangkan Credence yang sangat murka, namun sia-sia belaka akibat kemarahannya pada Grindelwald yang berubah wujud menjadi Graves. pembacanya ingin segera melahap lembar demi lembar novel setebal 76 halaman ini. Setelah peristiwa tragis tersebut tokoh 'Aku' yang tidak disebutkan namanya hingga akhir novel ini menggantikan posisi Bluma. Pada suatu pagi, ia menerima paket yang dialamatkan pada almarhum Bluma Lenon. Paket berperangko Uruguay tanpa nama dan alamat pengirim tersebut berisi sebuah buku edisi lama La linea de sombra karya Joseph Conrad, yang membuat heran adalah sampul depan dan belakang buku tersebut menempel kerak bekas adukan semen. Novel ini menyajikan cerita cukup sederhana, pencarian tokoh Aku terhadap asalusul buku aneh yang diterima oleh koleganya yang telah meninggal. Pencarian inilah yang mengantarkan pembaca memasuki dunia para bibliofil. Penikmat dunia yang tergilagila dengan buku, Carlos Brauer. Dan, pemilik buku toko lawas yang sering memperhatikan jenis-jenis pemburu buku, Delgado. Terdorong rasa penasaran apa motif pengiriman buku tersebut, tokoh Aku berusaha mencari identitas si pengirim hingga akhirnya didapatinya sebuah nama bernama Carlos Brauer, seseorang bibliofil yang menjadi salah satu pendengar konferensi penulis yang pernah dihadiri Bluma di Montterrey, Mexico. Tokoh Aku menempuh jarak ribuan kilometer, melintas benua untuk menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarkannya bertemu dengan Delgado yang juga seorang bibliofil yang mengenal Brauer dan kegilaannya terhadap buku.
Graves yang ternyata adalah Grindelwald sang buron sihir memaki Credence, hingga berubahlah ia menjadi sosok Obscurus yang menakutkan.
Dunia sihir yang menutup rapat jati dirinya pun tak lepas khawatir usai Obscurus Credence dihancurkan. Sebab, seluruh penduduk kota telah mengetahui kejadian yang sedang berlangsung. Pembersihan dengan penghilangan ingatan tidak mungkin dilakukan untuk seluruh kota. Scamander kemudian maju dan menawarkan diri untuk membantu. Ia mengeluarkan Frank si rajawali raksasa untuk membantu pembersihan kota. Diakhir cerita,para auror langsung membersihkan kekacauan yang terjadi. Ditengah hujan, intrik paling menguras batin terjadi. Film ini menjadi rekomendasi menarik, terlebih bagi para Potter-head. Setiap adegan dalam film terlihat alami. Hampir seluruh pemain berkostum awal abad ke-20. Suasana kota klasik dan megah turut ditonjolkan. Hanya J.K. Rowling yang menyajikan se-buah cerita (novel ataupun film) dengan cerdas dan membuat pembaca/penontonnya tak ingin berhenti mencari tahu kelanjutan kisahnya.
Judul: Fantastic Beast and Where to Find Them Sutradara: David Yates Skenario: J.K. Rowling Pemain: Eddie Redmayne, Katherine Waterson, Alison Sudol, Samantha, Miller, Colin Farrel, Jon Voight, Ron Perlman, Dan Fogler, Carmen Ejogo, dan Gemma Chan Rilis: 18 November 2016
Buku bisa melindungimu dari angin dan hujan serta musim dingin yang membekukan nadi.
Tokoh tersebut menunjukkan kepada pembaca akan kegilaannya terhadap buku. Membaca menjadi pekerjaan penuh waktunya. Buku tersebut memenuhi seisi rumahnya. Brauer memiliki dua puluh ribu lebih buku-buku yang tersimpan dalam rakrak buku besar dari lantai sampai ke plafon. Cara membaca buku Brauer turut menjadi perhatian. Ia memiliki kebiasaan membaca seperti penulis-penulis Perancis abad ke-19, membaca diterangi cahaya lilin yang menjadi awal bencana. Kebiasaan tersebut membakar habis lemari indeks buku beserta isinya. Akhirnya, Brauer menjual rumahnya dan pergi ke Rocha la Paloma, Uruguay bersama buku-bukunya. Di sana, Brauer memiliki obsesi yang aneh. Puluhan ribu koleksinya digunakan sebagai pelindung diri. Ia menyuruh para kuli untuk membangun rumah dengan bahan buku-bukunya. Rumah Kertas direkomendasikan untuk dibaca, terlebih mahasiswa. Sejak halaman pertama, pembaca dibawa pada takdir seseorang dengan buku. Banyak hal yang diperoleh saat membaca tiap lembar yang disajikan. Mulai dari gambaran kecintaan
Judul: Rumah Kertas (La Casa de Papel) Penulis: Carlos Maria Dominguez Penerjemah: Ronny Agustinus Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: 1, September 2016
Tebal: vi+76 hlm, 12 x 19 cm ISBN: 978-979-1260-62-6
seseorang terhadap buku, sikap seseorang terhadap buku, dan akhir kisah seseorang bersama buku. Membaca buku ini mengingatkan pada Bung Hatta yang membawa enam belas peti berisi buku-bukunya saat diasingkan ke Boven Digul dan Banda Neira. Percayalah, menyentuh tiap halaman kertas akan meninggalkan jejak-jejak pada setiap lembarannya. Maka, bacalah buku mulai sekarang!
21
Edisi 113 - Januari 2017
SASTRA Cerpen
Ada Ayam Jantan di Lambungnya Oleh: Praztio*
D
elapan hari sebelum ia menjadi bangkai busuk dan enam hari sebelum ia menjadi mayat pucat, Handoko adalah seorang pengelana. Layaknya seorang pengelana, hidupnya terus memijaki pelataran bumi menuju ke arah barat. Hal yang membuatnya ke arah barat ialah di suatu hari ia dibentak ibunya karena shalat menghadap timur. “Shalat itu ke arah Kiblat. Dan kiblat itu ke arah barat!� lalu sepotong tangan meninju jidat Handoko. Itu sudah yang ke tiga kali. Handoko semakin geram ketika menatap bayangnya di cermin. Terpampang bekas luka yang sudah kering dan menghitam di jidatnya. Karena hal itu, Handoko, dengan berapi-api minggat dari rumah ke arah barat berbekal rasa benci. Awalnya nyaman, ia merasa bisa bergerilya dengan berlapar-lapar diri. Tak ada lagi yang memaksanya makan, termasuk ibunya, atau perutnya sendiri. Namun, di suatu malam pelarian kedua, ia merasa bahwa seekor ayam jantan yang pernah ia makan sedang hidup di lambungnya. Meskipun sebenarnya, Handoko tak pernah merasakan nikmatnya daging ayam secara utuh, kecuali sepotong kepala ayam jantan yang disedekahi oleh tetangga pada saat Hari Raya. Setiap waktu, ia merasa ayam jantan di lambungnya berkokok parau dan menyebabkan getaran menyakitkan. Handoko kebingungan, berkali-kali ia mencoba memukul perutnya untuk menyuruh ayam jantan itu diam. Tapi, ayam jantan itu terus berkokok, menyisakan getar yang semakin menyakitkan. Dengan rasa gusar, Handoko mencari pisau untuk menusuk perutnya agar ayam jantan di dalam lambungnya mati. Ia pun berjalan di setiap tempat dan bertanya pada setiap orang, “Apa kau punya pisau?" Terus ke arah barat, dan bertanya lagi, "Apa kau punya pisau?" Seorang pengemis tuli yang sedang duduk di depan emperan toko memandang Handoko dengan bingung. Pengemis itu mengamati gerak-gerik Handoko yang berjalan dari sebongkah kepala ke kepala dengan bibir bergetar mengucap sesuatu. Ia berharap Handoko juga datang menghampirinya dan berteriak tepat pada lubang telinganya tentang hal yang sama seperti yang dikatakan kepada orang lain. Ia begitu penasaran. Tapi ketika Handoko berjalan ke arahnya, langkah Handoko tak kunjung berhenti dan melewatinya begitu saja. Ia kemudian mengutuk Handoko dalam hati dan mulutnya meracau seiring dengan derap kaki Handoko yang bergontai pergi. Selama sehari penuh Handoko mencari sebilah pisau, tetapi setiap kepala yang ia temui bergerak teratur secara horizontal. Tubuhnya serasa ringkih dengan seketika. Ia terduduk di depan sebuah warung sederhana setelah berjalan cukup jauh. Mulutnya terus mencaci ayam jantan yang tak bisa berhenti berkokok barang sejenak di dalam lambungnya. Sampai suatu ketika pandangan membawanya pada sebongkah paha mulus yang berada di dalam warung. Sontak wajah Handoko seperti menatap pemandangan langka. Matanya berbinar-binar dan mulutnya
Pada esok hari di suatu siang, pengemis tuli yang duduk di emperan toko dua hari lalu, melihatnya lagi. Pengemis tuli benar-benar mengingatnya
Ilustrasi: Prazetio / Pabelan Pos
Sampai suatu ketika pandangan membawanya pada sebongkah paha mulus yang berada di dalam warung. Sontak wajah Handoko seperti menatap pemandangan langka.
condong setengah menganga serupa serigala yang melolong. Untuk pertama kalinya, Handoko merasakan jatuh cinta. Dari kaca jendela, paha itu terlihat begitu kenyal tertutup tirai merah yang terbuka seperempat. Handoko semakin penasaran dan langsung berkelebat ke dalam warung sederhana itu. Ia mendekat dan melongok ke dalam sebuah mangkuk. Paha mulus itu begitu memikat, disaput oleh minyak kuah merah dan beberapa taburan bawang goreng. Bibir Handoko sekarang bergetar ketika melihat paha mulus itu tak hanya sendirian, ia ditemani sepasang sayap dan sebongkah dada. Terasa ada gemuruh di lidah Handoko. Dan ayam jantan di lambungnya kini seakan berkokok sambil berlari-lari menyusuri usus
besar dan kemudian menuju saluran pankreas. Secara tak sadar tangan Handoko meraih mangkuk penuh kari ayam dan berjalan pergi. Terdengar suara pekikan pemilik warung, "Pencuri ... pencuri ... pencuri!!" Handoko sudah cukup jauh dari warung dan merasa harus berjalan cepat ketika mengetahui di belakangnya beberapa pria berlari ke arahnya. Dengan rasa khawatir jika para pria di belakangnya merasa jatuh cinta pada paha yang ia genggam, Handoko melumat habis paha itu. Tak lama berselang, kepalan tangan menghantam deras moncong Handoko. Tendangan kemudian menyusul. Ia tersungkur dan terdengar beberapa suara, "... Ahh, itu orang gila ..." "Ya, sepertinya dia gila." Handoko baru saja bangun ketika langit mulai gelap. Dengan tatapan nanar, ia melirik sekitar. Ia kemudian berjalan dengan sebuah pertanyaan besar: ke mana arah barat? Sedikit bergeming, ia akhirnya memutuskan berjalan meski tak tahu jelas ke mana. Kini, ia sedikit tersenyum karena ayam jantan di lambungnya tak lagi berkokok meskipun memar di sekujur tubuhnya serasa menusuknusuk. Pada esok hari di suatu siang, pengemis tuli yang duduk di emperan toko dua hari lalu, melihatnya lagi. Pengemis tuli benar-benar mengingatnya sebab Handoko masih meng-
gunakan baju dan celana yang sama. Perbedaannya, kini, Handoko berjalan dari arah timur dengan memar di wajahnya, bukan lagi dari arah barat. Pengemis tuli tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia berjalan ke arah Handoko dan bertanya tentang hal yang membuatnya penasaran dua hari yang lalu. "Pada semua orang yang kau temui, apa yang kau katakan?" Handoko diam beberapa saat, ia merasa bahwa pengemis di hadapannya adalah orang gila dan tak perlu diladeni. "Hei, apa yang kau katakan?" pengemis tuli mengulang pertanyaannya. Tapi pria di depannya masih diam dan tak kunjung memberi jawaban, seketika itu ia merasa sedang berbicara dengan orang gila. Mereka bertatap mata beberapa saat sebelum pergi sendiri-sendiri. Pengemis tuli kembali ke emperan toko untuk memintaminta, dan Handoko kembali berjalan lurus ke arah yang menurutnya barat. Tak disangka perjalanannya sudah mencapai hari ke enam. Ia kembali merasakan ayam jantan di lambungnya berkokok. Sekarang kokokan ayam jantan membuat nyeri hingga ia menggeliat di sebuah belukar dekat bangunan tua peninggalan Belanda. Ia tak berdaya lagi, bahkan hanya untuk memaki ayam jantan di lambungnya. Ia pun mengunyah-ngunyah belukar di sekitarnya untuk sedikit membuat reda. Tak lama terdengar bahana bergema. Itu adzan isya. Ia terbawa kebiasaannya sebelum minggat dari rumah: berlari untuk shalat. Ia tertatihtatih berdiri dan memperagakan gerakan shalat. Mulutnya komat-kamit seolah membaca bacaan shalat. Saat memperagakan bagian sujud, tubuhnya bergeming, kecuali belukar di sekelilingnya yang bergoyang dihentak angin. Handoko resmi menjadi mayat dan membusuk dua hari setelah itu. Ia tamat dalam keadaan menghadap Kiblat, dan seperti kata-kata ibunya, “Kiblat itu ke arah barat!�
Penulis:
Prasetyo Leksono Nur Widodo Mahasiswa Teknik Industri, UMS
Foto: Dok. Foto
22
Edisi 113 - Januari 2017
WARTA PABELAN Pabelan
Mengemasi Kenangan: Upaya Merekam Keabadian Reporter: Zulfa Rahmatina Barangkali karena kita tidak punya kuasa untuk memaku waktu, kita mengenang keindahan yang kita jumpai dalam kata-kata—rentetan aksara yang bisa kapan saja kita baca. –Azhar N. Ala
M
ungkin, seperti itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh LPM Pabelan di penghujung periode akhir kepengurusan 2016. Mengemasi kenangan, menyatukan jejak-jejak perjuangan serta mengikat keabadian dalam sebuah buku yang didedikasikan penuh untuk lembaga yang telah mewadahi proses diri. Proses yang penuh liku, daya juang, pengabdian, pengorbanan, hingga rajutan mimpi-mimpi. “Untuk itulah, kita akan menerbitkan buku. Pabelan ini banyak produk, banyak prestasi. Tapi kenapa tidak ada satu pun medium yang dapat merekam semua itu?” tutur Verlandy Donny Fermansah, Pemimpin Umum LPM Pabelan 2016 ketika ditanya mengenai motif Pabelan membuat buku. Donny juga berharap, proyek buku yang sedang dirintis tidak hanya berhenti pada buku ini saja. Ia membayangkan jika seandainya pada periode selanjutnya, Pabelan memiliki satu produk baru berupa buku.
termasuk jalan terjal yang ditempuhnya seperti saat episode pembredelan Majalah Mentari karena dianggap mengkritik kebijakan Rektor.
Grafis /Pabelan Pos
Benarlah yang dikatakan Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Merekam jejak dengan tulisan adalah satu langkah tepat untuk mengabadikan keabadian itu sendiri. Pada bab 1 buku Pabelan, misalnya, bab yang berjudul Awal Semula LPM Pabelan ini merangkum sejarah Pabelan—yang saat itu masih bernama UPKM Mentari—dalam tulisan Jejak Awal Koran Mentari oleh Agus Sumiyanto, perintis UPKM Mentari. Pada bagian inilah dikisahkan mengenai titik awal dibentuknya lembaga pers kampus UMS, lembaga pers yang merupakan sebuah bagian dari tradisi intelektual mahasiswa Indonesia dan mempunyai sejarah yang berkait dan berkelindan dengan gerakan kemahasiswaan. Tulisan lain dalam bab 1 juga masih menceritakan perjuangan pendahulu dalam menjaga eksistensi dan visi misi lembaga, termasuk jalan terjal yang ditempuhnya seperti saat episode pembredelan Majalah Mentari karena dianggap mengkritik kebijakan Rek-
tor. Peristiwa itu berakibat pada penutupan Majalah Mentari. Meski dibredel, penerbitan mahasiswa terus menggelorakan perjuangan dengan nama Warkat Warta yang pada akhirnya kembali dibredel sebab memberitakan perilaku dosen. Dilanjut pada bab 2 tentang cikal bakal produk Pabelan. Perkembangan-perkembangan produk seperti tabloid, majalah, koran dan online. Pun juga peristiwa atau liputan berita penting sepanjang sejarah Pabelan seperti diskusi panel yang dilakukan Pabelan yang pernah menjadi headline harian Kompas tentang prostitusi di suatu daerah. Bab 3 penuh dengan prestasi-prestasi yang berhasil LPM Pabelan torehkan seperti juara pertama tabloid Pabelan Pos tahun 1995 untuk kategori tata letak perwajahan isi dalam (desain grafis) versi koran mahasiswa tingkat nasional dari Majalah Gatra pada edisi “Menunggu Gong 98”, dimuat dalam tulisan berjudul Prestasi dari Kandang Kambing oleh Kun Prastowo. Prestasi terhangat pada akhir tahun 2015, dua dari tiga kategori penghargaan berhasil diperoleh Pabelan.
Foto : Dok. Pabelan
Selanjutnya LPM Pabelan berhasil menjadi pemenang lomba koran kampus yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia Group tercatat dalam tulisan Koran Kampus Terbaik.
Pada perayaan milad Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Semarang. Peringkat pertama untuk kategori desain grafis dan peringkat kedua untuk kategori analisis isi, dibingkai dalam tulisan oleh Aisyah Arminia berjudul Dewi Sempat Mampir ke Kantor. Selanjutnya LPM Pabelan yang berhasil menjadi pemenang lomba koran kampus yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia Group tercatat dalam tulisan Koran Kampus Terbaik.
Foto : Dok. Pabelan
Lembar berikutnya memaparkan tentang hal-hal yang menjadi tantangan bagi LPM Pabelan yang sudah harus siap untuk dihadapi lembaga. “Tantangannya banyak. Seperti tantangan pemahaman tentang dunia pers atau jurnalistik itu sendiri, persiapan untuk menguatkan pondasi online, bahkan Pabelan itu sebenarnya banyak yang tidak paham media itu sendiri bagaimana, karakternya seperti apa, itu juga masuk dalam tantangan,” terang Donny. Semua itu terangkum dalam tulisan Pers Harus Melek Hak dan Kewajiban, Bola Panas Itu Bernama Media dan Tantangan Pers Mahasiswa di Era Informatika. Pabelanisme yang merupakan judul bab 5 berisi tentang nilai-nilai dasar yang terdapat di LPM Pabelan seperti Pabelan dan tradisi keilmuan, ideologisasi Pabelan hingga idealisme Pabelan. Terakhir, bab Alumni dalam tulisan Potensi Alumni Pabelan, Dibuang Sayang Dipakai Belum Bisa oleh Pujoko. Tulisan tersebut memberikan gambaran tentang sumber daya alumni yang belum bisa memberikan sesuatu yang produktif untuk lembaga. “Yang terjadi saat ini adalah, masingmasing individu alumni Pabelan menghidupi hidup dan kehidupan mereka masing-masing. Sambil sesekali memberi informasi menarik atau usaha bersama atau memperlihatkan capaian-capaian dari potensi besar yang bisa mereka keluarkan dari dalam diri,” tulis Pujoko. Aisyah Arminia, Pemimpin Departemen Litbang 2016 yang menjelaskan bahwa mengumpulkan data sejarah lembaga Pabelan merupakan program kerja dari Manajer Data yang selama ini dieksekusi dan diolah oleh Litbang, memberikan komentarnya terhadap proyek bersama yang pendanaannya berasal dari crowdfunding ini. Menurutnya, mendokumentasikan sejarah adalah sesuatu yang penting. “Penting banget, banyak anggota yang tidak mengerti sejarah Pabelan, banyak anggota yang tidak mengenal alumninya. Jujur aku sendiri gara-gara ngumpulin tulisan alumni jadi kenal banyak alumni yang tadinya belum aku kenal. Mudah-mudahan dengan buku ini kita bisa tahu banyak hal. Tentang lembaga, cikal bakal produk, perjuangan alumni dan lainnya,” pungkas wanita yang kerap dipanggil Ais. Terkait distribusi, buku ini rencananya akan diedarkan untuk anggota, perpustakaan-perpustakaan UMS, dan alumni yang telah berpartisipasi dalam crowdfunding.
Foto : Dok. Pabelan
PabelanConnected Dekat Mudah
- K o s t E x e c l u s i v e -
Lokasi SANTIKA FIDELA
- K o s t E x e c l u s i v e -
@blackforest.studio
083-138-969-300
Jl. Melon Raya RT 7/3, Gang Blewah 14, Karangasem Laweyan Surakarta (rumah warna kuning)