Hal 03_oke

Page 1

Laporan Utama

EDISI 0 1 8 TTAHUN AHUN I 01

3

“Massambayang Bukkuq” Laporan: Muh. Ridwan Alimuddin

yang diadakan di Kampung Bukku, Majene. Kegiatan shalat di Bukku dimulai oleh penganjur Islam kelahiran Pambusuang, K. H. Muhammad Shaleh. Belia dikenal dengan panggilan “Annagguru Shaleh”. KH. Muhammad Saleh dikenal sebagai salah seorang pionir ulama yang membawa, mengajarkan, dan mengembangkan Tarekat Qadiriyah di Mandar. Beliau lahir

--koranmandar/repro oleh m.ridwan--

Dalam kebudayaan Islam di Mandar, ada beberapa tradisi yang khas. Misalnya merayakan maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan kuda dalam mengarak anak yang baru khatam Al Quran, tradisi “Baca-baca neneqna Adam” di Lambanang, dan proses shalat 27 Ramadhan. Paling terkenal adalah “Massambayang Bukkuq”. Istilah itu bisa dimaknai dua: proses shalat beberapa kali sujud (banyak membungkuk) dan shalat

K. H. Muhammad Shaleh saat berumur 30an tahun

pada tahun 1913 di Pambusuang. Pendidikan keagamaan di masa kecil-remaja banyak didapatkan dari para ulama di Pambusuang. Pada usia 15 tahun ia ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelahnya, ia tidak langsung balik ke Mandar, melainkan belajar agama di Madrasah al-Falah. Setelah lima tahun menuntut ilmu, Muhammad Saleh mendapat kepercayaan untuk mengajar di Mesjid Haram, suatu presetasi tersendiri bagi santri yang berasal dari luar Arab Guru-guru di Mekkah yang memberi banyak ilmu kepada Muhammad Saleh tentang Al Quran, hadis, lugah, fiqih, dan tasauf antara lain, Sayyid Alwi alMaliki, Syekh Umar Hamdan, dan Sayyid Muhammad al-Idrus, Syekh Hasan al-Masysyat. Bukku (Buku), nama kampung yang terletak di punggung bukit Salabose, tak jauh dari kota Majene. Massambayang (di) Bukku mulai diperkenalkan Annangguru Saleh pada tahun 1966. Tradisi dilatarbelakangi pembicaraan K. H. Muhammad Saleh dengan murid-muridnya, bahwa dibutuhkan tempat yang lebih luas untuk menampung jamaah shalat 27 Ramadhan, yang sebelumnya dilaksanakan dari rumah ke rumah pengikut KH. Muhammad Saleh. Belakangan, sejak tahun 2007, tradisi shalat 27 Ramadhan yang dilaksanakan secara massal, baik di dalam mesjid maupun di lapangan, juga diadakan di Pambusuang, tepatnya di kompleks mesjid dan makam Kyai Haji Muhammad Saleh. Menurut KH. Ilham Saleh, putra K. H. Muhammad Shaleh,

pelaksanaan shalat 27 Ramadhan di Pambusuang guna mendekatkan penganut Tarekat Qadiriyah dengan (makam) K. H. Muhammad Saleh. Shalat 27 Ramadhan di kompleks makam K. H. Muhammad Saleh, Pambusuang yang berlangsung sejak 2008 lalu diikuti ratusan jamaah. Mesjid yang terdapat di kaki bukit yang menghadap ke Teluk Mandar tak mampu menampung, untuk itu, di sekitar mesjid banyak terdapat saf-saf jamaah. Ritual, yang kebanyakan berisi kegiatan shalat-shalat sunnat, dipimpin langsung KH. Ilham Saleh. Pengaruh Tarekat Qadiriyah di Mandar cukup besar. Beberapa tokoh masyarakat, pengusaha, dan pejabat di eksekutif dan legislatif adalah pengikut ajaran ini, minimal sebagai pendukung ajaran. Itu tercermin dari peran serta mereka dalam setiap aktivitas besar yang diadakan Jamaah Tarekat Qadiriyah (shalat 27 Ramadhan dan haul), baik dukungan moril (menghadiri acara) maupun materiil. Dalam kehidupan seharihari, tak ada perbedaan mencolok praktik beribadah Islam antara penganut ajaran K. H. Muhammad Saleh dengan yang bukan. Pada dasarnya sama saja. Mulai dari pelaksanaan ibadah wajib sampai ibadah sunnah. Perbedaan baru akan terlihat bila memasuki pembicaraan tentang masalah tarekat, khususnya praktek-praktek yang dianjurkannya. Untuk hal ini, ada pro-kontra terhadap ajaran Tarekat Qadiriyah. [ed-mra]


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.
Hal 03_oke by Radar Sulbar - Issuu