UKDW Yogyakarta

UKDW Yogyakarta
Alamat Redaksi:
Gedung Hagios Lantai 1
Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta


Koran Kampus UKDW korankampus@staff ukdw ac id
![]()
UKDW Yogyakarta

UKDW Yogyakarta
Alamat Redaksi:
Gedung Hagios Lantai 1
Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta


Koran Kampus UKDW korankampus@staff ukdw ac id


Komitmen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta dalam mendukung pengembangan kepemimpinan perempuan kembali terlihat melalui partisipasi dosen Fakultas
Bioteknologi UKDW, Catarina Aprilia Ariestanti, S.T.P., M.Sc., dalam program internasional Women's Leadership in Asia (WoLA) 2026
Program yang mengangkat tema “Breaking Barriers, Building Futures” tersebut diselenggarakan secara daring pada 11–21 Mei 2026 oleh United Board for Christian Higher Education in Asia (UB-CHEA) bersama Ewha Womans University, Korea Selatan. Catarina mengikuti kegiatan ini melalui skema beasiswa bersama 40 peserta dari 13 negara dan 28 institusi. Forum ini membahas berbagai isu kepemimpinan perempuan dan gender equality dalam pendidikan maupun masyarakat global.


Fakultas Teologi UKDW dan UEM
Berbagai materi dibahas dalam kegiatan ini, mulai dari feminist leadership, gender & AI, relational leadership, sustainable resilience, leadership for safety, hingga transformative leadership Melalui diskusi tersebut, peserta diajak memahami tantangan perempuan di tengah stereotip gender dan tuntutan peran sosial yang terus berkembang.
Dalam program tersebut, UKDW turut berpartisipasi sebagai volunteer pada sesi sustainable resilience Catarina mengangkat keterkaitan antara resiliensi dan konsumsi pangan dari perspektif teknologi pangan.
Melalui materi pembuka nourishing resilience, peserta diajak merefleksikan pentingnya asupan gizi sebagai fondasi kesehatan dan ketahanan diri Pembahasan ini tidak hanya menyoroti aspek teknologi pangan, tetapi juga mengaitkannya dengan tantangan sosial dan stereotip terhadap perempuan di era modern.
Setiap sesi menghadirkan pemimpin perempuan dari berbagai negara dan bidang profesi. Selain mengikuti diskusi kelompok, peserta juga menuliskan refleksi harian melalui learning diary untuk memperkuat pemahaman yang aplikatif.
Menurut Catarina, program ini memberi-kan manfaat besar dalam memperluas wawasan dan meningkatkan kesadaran me-ngenai berbagai perkembangan global dari perspektif perempuan.

Pada hari terakhir, WoLA menghadirkan sejumlah pemimpin perempuan in-ternasional, yaitu Dr. Gisela D.A. Luna dari Trinity University of Asia, Filipina, Dr. J. Princi Merlin dari Bishop Heber College, India, dan Dr. Sunmee Choi dari Vin University, Vietnam. Ketiganya membagikan pengalaman mengenai tantangan, pengorbanan, dan upaya menjaga keseimbang-an antara kehidupan profesional dan keluarga dalam perjalanan kepemimpinan mereka. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyusunan action plan dalam collaborative future action groups UKDW tergabung dalam kelompok sustainable leadership yang membahas pentingnya membangun ke-pemimpinan berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri, termasuk melalui perhatian terhadap kesehatan mental dan keseimbangan peran personal maupun profesional.

Gelar Pelatihan Trauma Healing bagi Fasilitator Komunitas di Asia 5
“Forum seperti WoLA membantu saya melihat dunia yang lebih luas dari sudut pandang perempuan di dunia akademik. Melalui kegiatan ini, kami saling berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain bahwa gender inequality merupakan per-soalan nyata yang disadari atau tidak, me-mengaruhi kehidupan sehari-hari. Namun, perempuan tidak berjalan sendiri. Kita perlu berani memberdayakan diri dan memanfaat-kan kesempatan di sekitar kita untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Mahasiswa PBI UKDW Raih Bronze
Partisipasi dalam Women's Leadership in Asia 2026 menegaskan komitmen UKDW dalam mendukung inklusivitas, pemberdaya-an perempuan, dan pengembangan sivitas akademika agar mampu berkontribusi dalam forum global melalui kepemimpinan, kolaborasi, dan pemikiran transformatif. [caa]
ahasiswa Program Studi Pen-
Mdidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim mahasiswa PBI UKDW berhasil meraih Bronze Medal dalam Olimpiade Penelitian Indonesia (OPI) 2026 yang diselenggarakan oleh Bimbel Jurnal di bawah naungan PT Akademika Riset Indonesia–Pubmedia Digital Sains pada 9 Mei 2026.
Prestasi tersebut diraih oleh tim yang terdiri atas Yosafat Febby Aleno Yahya, Ester Nurhana Kusumawati, dan Kezia Kharen Sunarinto dengan bimbingan Dr Paulus Widiatmoko, M.A. Dalam kompetisi tersebut, mereka mengangkat penelitian berjudul “Penggunaan Artificial Intelligence untuk Pembelajaran dan Kajian Etika Akademik: Studi Kasus di Sebuah Universitas Swasta di Yogyakarta.”
Melalui penelitian tersebut, tim mengkaji pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik mahasiswa sekaligus menelaah implikasinya terhadap etika akademik Topik ini dipilih karena penggunaan AI semakin berkembang di lingkungan perguruan tinggi dan menjadi bagian dari proses belajar mahasiswa seharihari. Penelitian menunjukkan bahwa AI dapat

membantu mahasiswa mencari informasi, mendukung proses penulisan, serta meningkatkan efisiensi belajar Namun, pemanfaatan teknologi tersebut juga menghadirkan sejumlah tantangan, seperti potensi plagiarisme, ketergantungan pada teknologi, berkurangnya orisinalitas karya, hingga menurunnya kemampuan berpikir kritis jika digunakan tanpa pertimbangan yang tepat.
Karena itu, tim menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan tanggung jawab akademik AI dinilai dapat menjadi alat pendukung pembelajaran yang efektif selama penggunaannya tetap mengedepankan integritas akademik dan proses berpikir mandiri.
Dalam proses penelitian, tim menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari menentukan

fokus kajian yang relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI hingga mengumpulkan data dan referensi yang sesuai Selain itu, mereka juga harus membagi waktu antara perkuliahan, penyusunan penelitian, dan persiapan presentasi kompetisi.
Meski demikian, kerja sama antaranggota tim menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan penelitian tersebut. Setiap anggota berkontribusi dalam
p e n y u s u n a n i n s t r u m e n p e n e l i t i a n , pengumpulan data, analisis hasil, hingga persiapan presentasi. Bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing juga membantu tim menyusun penelitian yang sistematis dan relevan dengan perkembangan dunia pendidikan.
Yosafat mengungkapkan rasa syukur atas

pencapaian yang diraih timnya “Kami bersyukur atas penghargaan ini karena proses penelitian memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran bagi kami. Tidak hanya belajar mengenai penelitian, tetapi juga belajar bekerja sama, mengelola waktu, dan memahami bahwa perkembangan AI perlu disikapi secara kritis dan etis dalam dunia pendidikan,” ujarnya. Raihan Bronze Medal ini menunjukkan bahwa mahasiswa PBI UKDW tidak hanya unggul dalam bidang bahasa dan pendidikan, tetapi juga mampu menghasilkan penelitian yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan pendidikan masa kini. Prestasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UKDW dalam mendorong budaya riset, inovasi, dan prestasi akademik di kalangan mahasiswa. [yosa]

lorencia Paramitha tidak pernah membayangkan wajahnya akan menghiasi sampul Petrus Magazine, majalah yang diterbitkan oleh Protestantse Kerk in Nederland di Belanda Bagi mahasiswi Program Magister Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), momen itu bukan
bad
, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam menemukan makna iman, keberanian untuk bertanya, dan keyakinan pada potensi diri yang terus bertumbuh.
Kesempatan itu datang melalui Program Bridging Gaps 2025, program internasional yang mempertemukan mahasiswa teologi dari berbagai negara untuk belajar bersama tentang teologi kontekstual dan interkultural di Amsterdam, Belanda Melalui program tersebut, kisah hidup dan perjalanan iman Florencia menarik perhatian hingga diangkat dalam edisi khusus Petrus Magazine
Menariknya, langkah menuju Belanda tidak pernah masuk dalam rencana besar Florencia. Ia mengaku sempat ragu untuk mendaftar dan baru mengirimkan proposal penelitian setelah mendapat dorongan dari teman-teman seangkatannya Proposal itu lahir dari kegelisahan yang selama ini ia rasakan tentang hubungan antara iman dan kehidupan sosial.
Florencia melihat semakin banyak orang kehilangan kepedulian terhadap realitas sosial dan kehidupan berbangsa Baginya, iman tidak seharusnya berhenti di ruang ibadah, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat dan mendorong keterlibatan terhadap persoalan bersama.
“Saya merasa sebagai orang Kristen kita perlu melek politik dan peduli terhadap kehidupan bersama,” ungkapnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia g u m u l i j u s t r u m e n j a d i p i n t u y a n g
membawanya lolos seleksi program. Selama tiga bulan, Florencia mengikuti program yang diselenggarakan melalui kerja sama Centre for Contextual Biblical Interpretation (CBBI), School of Religion and Theology di Vri
Protestant Theological University
Di Amsterdam, ia bertemu peserta dari Asia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Eropa Timur Mereka belajar bersama, berdiskusi, mengikuti seminar, mengunjungi gereja-gereja, dan tinggal bersama jemaat lokal. Beragam perjumpaan tersebut memperluas cara pandangnya tentang bagaimana iman dipahami dan dihidupi dalam konteks budaya, sosial, dan politik yang berbeda-beda.
Meski berada di lingkungan akademik internasional, Florencia tidak merasa asing. Ia justru menemukan suasana belajar yang mengingatkannya pada pengalaman selama menempuh studi di Fakultas Teologi UKDW.
Menurutnya, proses pembelajaran di Belanda menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif yang diajak berdiskusi, mempresentasikan gagasan, dan mempertanggungjawabkan argumen yang dibangun. Pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari bahwa kemampuan berpikir kritis dan berdialog yang selama ini diasah di UKDW menjadi bekal berharga ketika berinteraksi dalam forum akademik internasional.
“Di sana dosen tidak banyak berceramah.

Mahasiswa lebih banyak presentasi, berdiskusi, dan menjawab pertanyaan. Saya merasa pengalaman belajar di UKDW membuat saya tidak minder karena pola pembelajarannya mirip,” tuturnya.
Di tengah perjalanan itu, datang kejutan yang sama sekali tidak ia duga. Florencia terpilih menjadi wajah sampul Petrus Magazine Kisah hidup dan perjalanan imannya dinilai mampu menghadirkan inspirasi bagi pembaca gereja di Belanda.
Bagi Florencia, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang tampil di halaman depan sebuah majalah. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk merefleksikan perjalanan yang telah membentuk dirinya, mulai dari pergulatan memahami realitas kehidupan gereja hingga pencarian akan iman yang tetap relevan di tengah tantangan sosial. “Awalnya saya tidak pernah membayangkan bisa sampai pada titik ini,” katanya.
Di balik berbagai pengalaman yang ia jalani, Florencia melihat pentingnya ruang yang memungkinkan seseorang bertumbuh dan menemukan potensinya Lingkungan belajar yang terbuka, dialogis, dan menghargai pertanyaan menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri selama menempuh pendidikan.
“Saya tidak pernah membayangkan Tuhan
membawa saya sejauh ini Perjalanan di UKDW dan pengalaman di Belanda membuat saya sadar bahwa saya bukan orang bodoh. Saya punya kemampuan dan potensi yang bisa berkembang,” ungkapnya.
Perjalanan Florencia sendiri tidak bermula dari dunia teologi. Sebelum menempuh studi Magister Filsafat Keilahian, ia merupakan lulusan Program Studi Informatika dan telah berkarier selama delapan tahun di berbagai bidang profesional Keputusannya melanjutkan studi di UKDW didorong oleh adanya kajian pelayanan kependetaan yang membuka kesempatan bagi lulusan berbagai disiplin ilmu untuk mendalami teologi secara akademis.
Baginya, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman profesional, kepedulian sosial, dan refleksi iman dalam satu proses pembelajaran yang utuh Pilihan itu semakin dikuatkan oleh karakter Fakultas Teologi UKDW yang mengembangkan pendekatan ekumenis dan interdisipliner. Mahasiswa diajak berdialog dengan beragam tradisi teologi, perspektif gereja, dan berbagai bidang ilmu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Florencia, pengalaman belajar dalam lingkungan yang terbuka terhadap keberagaman perspektif justru memperkaya
PENANGGUNG JAWAB : Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D.
PIMPINAN REDAKSI : Pdt. Jeniffer Fresy Porielly Wowor, M.A, Ph.D.
WAKIL PIMPINAN REDAKSI : Meilina Parwa
menerima tulisan dari
Kirim
pemahamannya tentang iman dan kemanusiaan.
“Ketika kita memahami berbagai pandangan, kita tidak mudah menghakimi orang lain Kita belajar memahami mengapa seseorang berpikir seperti itu dan bagaimana konteks membentuk keyakinannya,” jelasnya.
Saat diminta merangkum perjalanan yang membawanya dari ruang kelas UKDW hingga menjadi sosok yang menginspirasi pembaca di Belanda, Florencia memilih sebuah kalimat sederhana: “Melewati kegelapan menuju terang.”
Bagi Florencia, terang bukanlah tujuan yang dicapai dalam sekejap Terang hadir melalui keberanian untuk terus belajar, keterbukaan terhadap perbedaan, dan kesediaan untuk mempertanyakan banyak hal demi menemukan pemahaman yang lebih mendalam Sampul majalah di Belanda mungkin menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanannya, tetapi bukan akhir dari cerita. Ia masih terus melangkah, membawa pertanyaan, pengalaman, dan harapan untuk menghadirkan iman yang relevan bagi kehidupan bersama. [ria]

Beralih dari peran sebagai tim tuan
rumah Asian Academy for Campus Ministry (AACM) 2024 di Indonesia, perwakilan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menjadi peserta dalam AACM 2026 yang diadakan oleh United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA) di Payap University, Chiang Mai, Thailand pada tanggal 3 sampai 10 Mei 2026 Mengusung tema “Mental Health, Spiritual Development, and Ministry as a Calling”, momen ini menjadi sebuah ziarah spiritual dan profesional yang transformatif bagi para peserta.
Selama satu minggu penuh, Adham Khrisna Satria, M.A., hadir sebagai delegasi UKDW bersama sekitar 30 penasihat spiritual, kapelan, Pendeta, Romo, Suster dan staf pelayanan kampus dari 13 negara yang berkumpul untuk membedah satu visi besar: membangun “Culture of Care” (Kultur Kepedulian) yang melintasi batas-batas negara dan sekat-sekat dogmatis. Kehadiran delegasi dari UKDW terasa begitu bermakna karena pada tahun ini UBCHEA juga mempercayakan peran strategis kepada Pdt. Stefanus Christian Haryono, Ph.D sebagai salah satu pembicara utama sekaligus moderator diskusi panel dan Pdt Nani Minarni, S Si , M Hum sebagai fasilitator grup kerja.
Menyembuhkan Lewat Seni: Refleksi Sesi Drama dan Gerakan Workshop “The Edge of His Cloak: Healing through Drama and Movement” yang difasilitasi oleh Dorothy Wong dari Dream of Tomorrow (DOT) menjadi salah satu momen puncak yang paling membekas. Sesi ini mengeksplorasi secara mendalam narasi iman dalam Injil Markus mengenai perempuan yang mengalami pendarahan dan menemukan kesembuhan hanya dengan menyentuh ujung jubah Yesus Melalui pendekatan teater ekspresif, peserta diingatkan bahwa pelayanan kampus di tengah krisis kesehatan mental mahasiswa era Gen Z tidak bisa lagi hanya bersandar pada pendekatan verbal semata Ada kekuatan holistik yang bekerja secara aktif ketika tubuh, pikiran, dan emosi disatukan melalui seni pergerakan.
Sesi ini juga mengajarkan peserta tentang pentingnya "menghitung segenap bagasi kehidupan”. Campus Ministers (CM) tidak memulai pelayanan dengan tangan kosong.
CM membawa luka, kelelahan, dan kecemasan masa lalu diri sendiri. Sesi teater ini membimbing peserta melalui proses imajinasi aktif serta pendekatan yang bekerja secara tidak langsung melalui simbol dan metafora Para peserta belajar bahwa

mengenal dan berdamai dengan isi bagasi diri merupakan modal terbesar untuk menyediakan ruang waktu, emosi, dan perasaan yang tulus bagi orang lain. Seorang CM yang berani mengenali lukanya sendiri (the wounded healer) akan memiliki kapasitas empati yang lebih kokoh dalam menyediakan support system yang seimbang bagi kebutuhan spiritual dan psikis mahasiswa.
Dari "Ambulans" Menuju Transformasi Akar Masalah
Pelajaran reflektif tersebut mewujud secara nyata ketika peserta merumuskan rencana aksi masa depan dalam diskusi kelompok kecil. Salah satu kelompok yang beranggotakan peserta dari Thailand, Filipina, India, dan Sri Lanka menyepakati sebuah paradigma penting yaitu bahwa pelayanan kampus harus bergeser dari sekadar manajemen krisis yang bersifat reaktif seperti mobil ambulans (ambulancestyle management) menuju sebuah peta jalan strategis yang mampu mengidentifikasi dan menangani akar masalah (root causes) demi transformasi yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk draft Action Plan, kelompok tersebut menyusun rancangan komprehensif yang memadukan pertolongan pertama psikologis (psychological first aid), formasi spiritual, dan kompetensi lintas iman. Rancangan ini turut diperkuat oleh inisiatif penyediaan layanan seperti InTACT Support untuk mendampingi mahasiswa baru serta optimalisasi pelayanan media sosial sebagai ruang alternatif konseling
digital yang aman.
Terkait Action Plan ini, Adham men y
Guardian Angel Project oleh Lembaga Pelayanan Kerohanian, Konseling, dan Spiritualitas (LPKKSK) UKDW yang telah dirintis sejak beberapa tahun lalu menjadi bagian penting dalam penyusunan rencana aksi sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran yang berharga. “Saya sangat bersyukur dapat mengintegrasikan dan memperkenalkan program inovatif LPKKSK UKDW yang disebut Guardian Angel Project ke dalam pilar Peerto-Peer Approach kelompok kami. Pencetus proyek ini adalah Pdt. Nani dan telah menggerakkannya sejak tahun 2016 ketika beliau memulai pelayanannya di UKDW Melalui proyek ini, mahasiswa akan dipasangkan untuk berjalan bersama sebagai 'jangkar' melalui weekly check-ins selama satu semester demi menumbuhkan rasa saling memiliki yang mendalam. Bagi saya pribadi, seluruh proses penyusunan rencana aksi bersama ini adalah momen enrichment & flourishment Ini melengkapi refleksi temanteman kelompok lainnya yang memaknai proses ini sebagai ruang pemulihan serta rajutan benang yang saling mengikat untuk pertumbuhan bersama,” ujarnya.
Ziarah Budaya, Sejarah Iman, dan Denyut Nadi Kota Chiang Mai Pengalaman kultural dan spiritual para peserta diperkaya secara luar biasa melalui rangkaian ziarah budaya di Chiang Mai
Peserta mengunjungi Wat Phra That Doi Suthep, kuil Buddha paling sakral di Chiang Mai yang dibangun pada tahun 1383, yang berdiri megah di atas gunung dengan stupa emasnya yang berkilau. Tidak berhenti di situ, peserta juga diajak untuk singgah di Wat Pha Lat, sebuah kuil yang tersembunyi di tengah hutan yang tenang Berbeda dengan Doi Suthep yang megah, Wat Pha Lat menawarkan atmosfer meditasi yang sunyi dengan suara gemericik air terjun dan lumut hijau yang menyelimuti bebatuan kuno sebuah ruang yang sempurna untuk refleksi batin dan ketenangan jiwa.
Ziarah semakin lengkap saat peserta mengunjungi The First Church di Chiang Mai. Peserta menelusuri kembali jejak-jejak awal dan sejarah panjang kekristenan di kota tersebut. Melalui arsip dan narasi sejarah, peserta belajar bagaimana para misionaris terdahulu membangun jembatan pelayanan melalui pendidikan, kesehatan, dan pendekatan budaya Ini menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana merajut relevansi iman di tengah masyarakat yang majemuk.
Di sela-sela kepadatan acara, peserta berkesempatan menikmati keunikan Kota Chiang Mai di malam hari. Menjelajahi pasar malam yang semarak dan pusat kuliner lokal yang kaya akan rasa tidak hanya menjadi sarana rekreasi, tetapi juga ruang informal di mana para peserta dari 13 negara, dapat bercengkrama akrab, meruntuhkan sekat formalitas, dan merayakan keberagaman dalam kebersamaan yang hangat.
Komitmen Institusional ke Depan
Setelah menyelesaikan program AACM 2026 , Ad h am me ne g as kan ke mb al i komitmennya untuk membawa hasil refleksi dan pembelajaran tersebut ke dalam pengembangan pelayanan mahasiswa di LPKKSK UKDW.
“Sekembalinya saya ke LPKKSK UKDW, refleksi ini tidak boleh berhenti sebagai catatan di atas kertas Dengan dukungan empat divisi pelayanan kampus Pengembangan Spiritual, Konseling, Pelayanan Kreatif, dan Pelayanan Sosial— kami akan mengadaptasi pendekatan capacity building, kreatif terapeutik, dan peer-to-peer ke dalam konteks lokal Melalui integrasi perawatan psikologis, pendekatan kreatif lintas budaya dan doa meditatif, serta penguatan jejaring rekan sejawat di Asia, kami berharap dapat menumbuhkan budaya kepedulian yang nyata dan mendukung pemulihan mahasiswa secara utuh,” ujarnya. [adham]”
UKDW Masuk Top 100 WURI 2026, Tegaskan Komitmen sebagai Kampus Inovatif dan Inklusif Berdampak Sosial
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) kembali mengukir prestasi di tingkat internasional dengan berhasil masuk dalam Top 100 World University Rankings for Innovation (WURI) 2026 pada kategori Empowerment-Based Management Pencapaian ini semakin menegaskan posisi UKDW sebagai kampus inovatif, inklusif, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. P r o g r
Pengakuan internasional tersebut menjadi bukti bahwa UKDW tidak hanya berfokus pada kualitas akademik, tetapi juga menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan masa d e p a n M e l a l u i b e r b a g a i p r o g r a m transformatif, UKDW terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan. WURI merupakan sistem pemeringkatan perguruan tinggi dunia yang menilai inovasi, dampak sosial, dan kontribusi universitas dalam menjawab tantangan global. Berbeda dengan pemeringkatan konvensional yang lebih berfokus pada publikasi ilmiah atau reputasi akademik, WURI menitikberatkan
p a d a k e m a m p u a n k a m p u s d a l a m
menghadirkan solusi kreatif, aplikatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat maupun industri.
P a d a a j a n g W U R I 2 0 2 6 , U K D W mengangkat inisiatif penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) melalui Program for Strengthening the Disability Service Unit (ULD) at Universitas Kristen Duta Wacana Program ini bertujuan meningkatkan kesiapan kampus dalam menyediakan layanan yang inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
peningkatan kapasitas civitas academica dala
penyusunan sistem dan mekanisme layanan disabilitas, serta penguatan aksesibilitas dalam proses pembelajaran maupun lingkungan kampus Inisiatif ini juga mendukung sustainable development goals ( S D G s ) a t a u t u j u a n p e m b a n g u n a n berkelanjutan, khususnya pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, dan pembangunan komunitas berkelanjutan.
Melalui program tersebut, UKDW dinilai berhasil menghadirkan tata kelola kampus
yang lebih inklusif, terbuka, dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Pendekatan k o l a b o r a t i f y a n g d i t e r a p k a n j u g a memperlihatkan kuatnya sinergi antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga mitra eksternal dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara dan ramah bagi semua.
Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, S T , M T , mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi di perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui pembelajaran dan riset, tetapi juga melalui kebijakan dan layanan kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Bagi UKDW, WURI bukan sekadar ajang pemeringkatan WURI menjadi ukuran strategis untuk melihat sejauh mana kampus mampu menghadirkan dampak nyata melalui inovasi dan kolaborasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan layanan disabilitas di UKDW merupakan bagian dari komitmen universitas dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman. “Kolaborasi yang kuat menjadi salah satu kunci UKDW dalam
membangun budaya kerja yang inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Melalui indikator WURI, UKDW juga terus didorong untuk memperkuat kontribusi s o s i a l , m e n i n g k a t k a n k o l a b o r a s i internasional, mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri, serta memperluas implementasi nilai keberlanjutan dalam berbagai program kampus.
Keberhasilan UKDW masuk dalam Top 100 WURI 2026 menunjukkan bahwa perguruan tinggi Indonesia mampu bersaing di tingkat global melalui inovasi yang berorientasi pada dampak sosial dan pemberdayaan masyarakat Prestasi ini sekaligus memperkuat komitmen UKDW dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjunjung nilai inklusivitas, kolaborasi, dan keberlanjutan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di masa depan. [mpk]

Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) Yogyakarta kembali menggelar EduCareer Connect 2026 bertajuk “From Campus to Career: Connecting Education, Opportunities, and Global Futures” di Atrium Agape UKDW, S e l a s a ( 1 2 / 5 / 2 0 2 6 ) K e g i a t a n i n i mempertemukan mahasiswa dengan berbagai perusahaan, lembaga pendidikan, dan mitra industri untuk membuka akses karier, magang, beasiswa, hingga peluang global.
EduCareer Connect 2026 terselenggara melalui kolaborasi antara Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Karir (Biro 3) bersama Biro Kerja Sama dan Relasi Publik (Biro 4) Acara ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa maupun masyarakat umum yang hadir sepanjang kegiatan.
EduCareer Connect 2026 menghadirkan tiga program utama, yaitu job fair, scholarship and study fair, serta internship and international program opportunities Melalui program tersebut, UKDW menyediakan ruang bagi mahasiswa dan alumni untuk memperoleh informasi pendidikan, pengembangan karier, hingga kesempatan membangun jejaring profesional secara langsung.
Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri perlu terus dikembangkan untuk mendukung pengembangan mahasiswa.
“Terima kasih sudah menjadi bagian dari EduCareer Connect Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama,” ujarnya.

SMenurut Wiyatiningsih, kerja sama antara kampus dan industri tidak hanya berkaitan dengan rekrutmen tenaga kerja. Kemitraan juga dapat diwujudkan melalui program beasiswa, kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengembangan kompetensi mahasiswa, hingga kolaborasi internasional.
Sesi talkshow pertama bertajuk “Bridging Academia and Industry: Preparing Students for the Future of Digital Innovation” menghadirkan General Manager Nexlence Technologies Pte. Ltd., Chris Wang, MBA dari China.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada perkembangan industri teknologi, tren inovasi digital, serta kompetensi yang dibutuhkan dalam ekonomi
modern. Pembahasan juga menyoroti pentingnya pengalaman praktis, pengembangan keterampilan relevan, dan pola pikir adaptif selama menempuh pendidikan tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Biro 4 UKDW, Pdt. Jeniffer Fresy Porielly Wowor, M A , Ph D , menyampaikan bahwa mahasiswa perlu memanfaatkan kegiatan ini untuk memperluas wawasan, membangun relasi, dan mengenal kebutuhan dunia kerja secara langsung.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga perlu memahami bagaimana ilmu yang dimiliki dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, sesi kedua bertajuk
“Kompetensi Unggul (Soft Skills dan Hard Skills) Lulusan Perguruan Tinggi yang Dibutuhkan dalam Dunia Kerja Saat Ini” menghadirkan Business International Group Director Orang Tua Group, Dr. Yosua Jap, SE., S.Th., M.Th., CBC, CHCCM. Dalam talkshow tersebut, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai kompetensi yang paling dibutuhkan di dunia kerja saat ini Pembahasan menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skills, seperti kemampuan teknis dan pengetahuan bidang studi, dengan soft skills, seperti komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi.
Melalui sesi ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami ekspektasi industri sekaligus menyusun strategi pengembangan diri sejak dini agar memiliki daya saing yang lebih kuat sebagai lulusan perguruan tinggi.
EduCareer Connect 2026 melibatkan berbagai perusahaan dan institusi pendidikan, di antaranya Olympic Group, Orang Tua Group, Toyota Astra Financial Services, Kapal Api Group, Bank Mandiri, Bank BPD DIY, Ambarrukmo Group Yogyakarta, RS Dr. Oen Solo Baru, Nusantara Sakti, Champion M
Consulting Indonesia, Nexlence Technologies
International Education, Taiwan Education Center, hingga Lembaga Indonesia Jerman.
Melalui EduCareer Connect 2026, UKDW terus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan industri guna mempersiapkan mahasiswa yang adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja global. [mpk]
entra Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Universitas Kristen Duta Wacana
m e n g g e l a r s e m i n a r b e r t a j u k
“Optimalisasi Peran Sentra HKI dalam Mendorong Peningkatan Luaran Kekayaan Intelektual di Perguruan Tinggi” pada 8 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UKDW memperkuat budaya inovasi dan meningkatkan kesadaran perlindungan kekayaan intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Seminar berlangsung di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono, Gedung Hagios Lt. 3 UKDW dan diikuti sivitas akademika UKDW Mayoritas peserta berasal dari Program Studi Desain Produk yang memiliki keterkaitan erat dengan proses penciptaan karya inovatif dan pengembangan desain industri.
Dalam sambutannya, Rektor UKDW, Wiyatiningsih menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga melahirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
“Dosen dan mahasiswa perlu memahami bahwa setiap karya kreatif maupun hasil riset memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut melalui proses hilirisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, perlindungan kekayaan intelektual menjadi langkah penting agar karya inovatif di perguruan tinggi tidak

berhenti sebagai luaran akademik, tetapi juga memiliki nilai tambah dan perlindungan hukum.
Perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Daerah Istimewa Yogyakarta, Kus Aprianawati menekankan pentingnya
m e m b a n g u n b u d a y a i n o v a s i y a n g berkelanjutan di lingkungan kampus Menurutnya, kesadaran terhadap HKI perlu ditanamkan sejak awal proses penciptaan karya.
“Perlindungan kekayaan intelektual penting agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga memiliki kepastian hukum,” katanya.
Ia juga mendorong penguatan sinergi antara Kanwil Kemenkum DIY dan UKDW melalui program pendampingan serta peningkatan kapasitas di bidang kekayaan
intelektual.
Dalam sesi materi, Analis Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum DIY, Andri
K r i s n a B u d i W i b o w o m e m a p a r k a n pentingnya perlindungan desain industri sebagai bentuk pengakuan terhadap orisinalitas karya Peserta memperoleh pemahaman mengenai unsur kebaruan, cakupan perlindungan desain industri, hingga peluang pemanfaatan HKI sebagai nilai tambah produk.
Pembahasan mengenai paten juga menjadi perhatian utama, khususnya terkait potensi hasil penelitian dan inovasi kampus yang dapat dikembangkan menjadi luaran bernilai ekonomi.
Narasumber berikutnya, Sri Mulyani dari Intellectual Property Management Office ( I P M O ) U n i v e r s i t a s G a d j
memaparkan praktik pengelolaan kekayaan intelektual di perguruan tinggi melalui berbagai pendekatan dan best practice.
Materi tersebut membahas strategi membangun budaya sadar HKI di kalangan dosen dan mahasiswa, mulai dari identifikasi potensi karya, proses pendampingan, hingga pendaftaran kekayaan intelektual.
Koordinator kegiatan, Andi Maesara Prakosa menyampaikan bahwa seminar ini menjadi bagian dari komitmen Sentra HKI UKDW dalam meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai pentingnya perlindungan kekayaan intelektual.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dan dosen semakin sadar bahwa setiap karya inovatif memiliki potensi untuk dilindungi Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga perlu mampu m e n g e l o l
a n intelektualnya secara optimal,” katanya.
Melalui seminar ini, UKDW terus mendorong terciptanya ekosistem inovasi kampus yang produktif, kompetitif, dan
perlindungan kekayaan intelektual dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. [amp]


Fakultas Teologi Universitas Kristen
Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta
b e k e r j a s a m a d e n g a n U n i t e d Evangelical Mission (UEM) menyelenggarakan program Trauma Healing Training for Community Facilitators di Yogyakarta Program ini diikuti oleh 14 peserta dari Indonesia, Filipina, dan Sri Lanka yang berasal dari kalangan pendeta, akademisi, serta praktisi gereja dan lembaga mitra UEM.
Pelatihan berlangsung dalam tiga tahap, yakni 18 Oktober–17 November 2025, 13 April–8 Mei 2026, dan 28 September–16 Oktober 2026. Melalui program ini, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis untuk mendampingi penyintas trauma, baik pada level individu maupun komunitas.
menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya memperkaya peserta dengan pengetahuan tetapi juga kemampuan praktis. "Tujuan pelatihan ini adalah memperlengkapi peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dasar pendampingan penyintas trauma, sehingga mereka mampu mengidentifikasi trauma serta memberikan pertolongan pertama dalam konteks pelayanan di gereja maupun lembaga gerejawi," ujarnya.
Pelatihan menghadirkan pengajar dari Fakultas Teologi UKDW serta sejumlah akademisi dan praktisi dari dalam maupun luar negeri. Dengan pendekatan yang holistik dan kontekstual, materi pelatihan mengintegrasikan berbagai perspektif, mulai dari teologi, spiritualitas, psikologi, psikiatri, hingga traumatologi dan isu-isu sosial yang relevan di kawasan Asia.
dampingan spiritual, pendampingan komunitas, serta keterampilan fasilitasi praktis," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa program ini juga mendorong pembelajaran lintas budaya dan kerja sama ekumenis di antara gereja-gereja anggota UEM serta lembaga mitra di Asia.
Bagi para peserta, pelatihan ini memberikan manfaat yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga praktis. Pdt. Callum R. Tabada dari The United Church of Christ in the Philippines (UCCP) mengaku bersyukur dapat mewakili gerejanya dalam program tersebut.
"Pelatihan ini akan sangat membantu gereja dalam melayani jemaat yang kerap menghadapi bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia," ungkapnya.

Sebagai lembaga persekutuan gereja yang menaungi wilayah Jerman, Afrika, dan Asia, UEM menginisiasi pelatihan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas para pelayan dan fasilitator komunitas dalam merespons berbagai situasi krisis dan trauma. "Pelatihan ini menerapkan pendekatan holistik dan kontekstual dengan mengintegrasikan dukungan psikososial, penKepala Departemen Diakonia Internasional UEM, Pdt Godwin D Ampony, menegaskan bahwa program ini mengedepankan pendekatan multidisipliner dalam proses penyembuhan trauma.
Kesan serupa disampaikan Diakones Derselli P. Silitonga, peserta asal Indonesia. Menurut-nya, pelatihan ini tidak hanya m e m
menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan empati.
Pdt Paulus S Widjaja, MAPS , Ph D , penanggung jawab program dari UKDW,
K“Pelatihan ini memberikan kesan yang mendalam bagi saya karena tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menanam-
kan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian, dan empati Saya merasa termotivasi untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan kerja saya di Sekolah Tinggi Diakones HKBP,” jelasnya.
Melalui perpaduan pembelajaran teori dan praktik, Trauma Healing Training for Community Facilitators diharapkan mampu melahirkan para fasilitator yang siap mendampingi penyintas trauma secara lebih holistik, sekaligus membawa dampak positif bagi komunitas yang mereka layani di negara masing-masing. [pemberian]
omitmen Universitas Kristen Duta
Wacana (UKDW) Yogyakarta dalam mendukung inovasi dan jejaring internasional kembali terlihat melalui keterlibatan dosen Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW, Dr. phil. Lucia Dwi Krisnawati, sebagai dewan juri dalam ajang internasional Falling Walls Lab Yogyakarta 2026
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Teatrikal Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr Sardjito Universitas Islam Indonesia (UII) pada Kamis (21/5/2026). Falling Walls Lab Yogyakarta 2026 merupakan hasil kolaborasi German Federal Foreign Office, German Academic Exchange Service (DAAD), UII, dan Euraxess, sebuah platform asal Eropa yang memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara peneliti, entrepreneur, universitas, serta pelaku industri dan bisnis.
Ajang ini mempertemukan inovator muda, akademisi, peneliti, praktisi, dan profesional dari berbagai bidang untuk mempresentasikan gagasan inovatif mereka. Sebanyak 21 peserta terpilih mengikuti kompetisi setelah melewati seleksi dari sekitar 120 proposal yang masuk.
Dalam kompetisi tersebut, setiap peserta mempresentasikan ide melalui sesi pitching selama tiga menit menggunakan maksimal tiga slide presentasi. Peserta terbaik akan mewakili Yogyakarta pada babak final internasional di Berlin, Jerman, pada November 2026.
Keterlibatan dosen UKDW dalam forum

internasional ini menunjukkan pengakuan terhadap kapasitas akademik civitas UKDW, sekaligus memperkuat komitmen universitas dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan berdampak bagi masyarakat.
Lucia menilai forum internasional seperti Falling Walls Lab menjadi ruang penting untuk memperluas kontribusi akademik sekaligus memperkenalkan UKDW di tingkat global.
“Saya melihat keterlibatan ini bukan hanya sebagai kontribusi pribadi, tetapi juga kesempatan membawa nama UKDW dalam forum internasional Kehadiran UKDW dalam ruang seperti ini penting agar semakin banyak pihak mengenal kapasitas akademik dan bidang keilmuan yang dimiliki UKDW, termasuk Program Studi Informatika,” ujarnya.
Menurut Lucia, tantangan perguruan tinggi saat ini bukan hanya membuka peluang kerja sama internasional, tetapi juga menjaga hubungan yang berkelanjutan dengan berbagai mitra global.
“Kolaborasi internasional perlu dibangun melalui komunikasi dan hubungan yang bermakna Ketika kepercayaan terbangun, kerja sama dapat berkembang menjadi berbagai peluang nyata, seperti proyek bersama, pendanaan, hingga keterlibatan dalam kegiatan akademik internasional lainnya,” jelasnya.
Dalam proses penjurian, Lucia menilai peserta berdasarkan aspek inovasi, relevansi solusi, dampak gagasan, serta kemampuan menyampaikan ide secara efektif dalam waktu terbatas.
Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, S.T., M.T., menegaskan bahwa keterlibatan civitas academica UKDW dalam forum internasional sejalan dengan visi Sustainable Entrepreneurial Research University “Dengan waktu yang singkat, peserta harus mampu menyampaikan ide secara tertulis maupun lisan dengan jelas dan terstruktur. Itu tentu bukan hal yang mudah,” katanya.
“Keterlibatan sivitas akademika UKDW dalam forum internasional seperti Falling Walls Lab menunjukkan komitmen
universitas dalam mendukung inovasi, kolaborasi global, dan pengembangan generasi muda yang adaptif terhadap tantangan dunia. Kami berharap mahasiswa UKDW semakin berani mengembangkan ide, riset, dan kontribusi nyata di tingkat internasional,” tuturnya.
Lucia juga menilai generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di forum internasional. Menurutnya, tantangan terbesar sering kali bukan kemampuan akademik, melainkan keberanian untuk mencoba dan terus belajar.
“Ajang internasional seperti Falling Walls Lab seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang, bukan sesuatu yang menakutkan atau hanya untuk kelompok tertentu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses mengikuti kompetisi internasional merupakan pengalaman berharga, baik saat berhasil maupun ketika menghadapi kegagalan. “Ketika seseorang berani mengirim proposal, mengikuti wawancara, hingga mempresentasikan ide, itu sendiri sudah menjadi proses pembelajaran yang penting,” katanya.
Melalui keterlibatan dalam Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, UKDW berharap semakin banyak generasi muda terdorong menghadirkan inovasi yang relevan bagi masyarakat serta berani terlibat dalam percakapan global melalui riset, kolaborasi, dan kreativitas. [drr]

Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) Yogyak
a kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung akses pendidikan tinggi yang inklusif melalui kegiatan Awarding UKDW Scholarship 2026 yang digelar pada Kamis, 7 Mei 2026 Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian seleksi penerimaan beasiswa UKDW yang telah berlangsung sejak awal pekan.
Program UKDW Scholarship membuka kesempatan bagi siswa berprestasi untuk menempuh pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan potensi akademik maupun non akademik di UKDW.
Rangkaian seleksi meliputi Tes Potensi Akademik (TPA), tes keterampilan olahraga dan seni, serta wawancara. TPA digunakan untuk mengukur kemampuan dasar akademik peserta sebagai salah satu indikator penilaian calon penerima beasiswa.
Pada tahap tes keterampilan, peserta menampilkan beragam kemampuan, mulai dari basket, taekwondo, catur, hingga olah vokal dan permainan musik. Melalui tahapan tersebut, UKDW tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga melihat potensi, kreativitas, karakter, serta talenta yang dapat terus berkembang selama masa studi.
Tahap wawancara diikuti oleh 37 peserta dan berlangsung di Ruang Seminar Pdt. Dr. Tasdik UKDW. Wawancara dilakukan oleh

para Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Promosi dari setiap fakultas di UKDW Dalam sesi ini, peserta dinilai berdasarkan motivasi, karakter, potensi kepemimpinan, dan kesiapan menjalani pendidikan tinggi.
Setelah seluruh proses seleksi selesai, UKDW menggelar acara awarding yang
Wiyatiningsih, S.T., M.T.; Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi, Dr. Parmonangan Manurung, S.T., M.T.; para Ketua Program Studi; peserta seleksi; serta orang tua dan wali peserta. Dalam acara tersebut, UKDW mengumumkan 20 peserta sebagai penerima UKDW

Scholarship Award berupa beasiswa penuh selama delapan semester. Sementara itu, 17 p
Pengembangan Fasilitas Pendidikan (DPFP) UKDW Award berupa beasiswa 100 persen DPFP.
Rektor UKDW, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti proses seleksi. “Selamat kepada seluruh awardee UKDW Scholarship 2026 Kami berharap kesempatan ini dapat menjadi awal untuk terus belajar, mengembangkan diri, meraih prestasi, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Acara awarding juga menghadirkan sesi testimoni dari awardee UKDW Scholarship 20
Mahasiswa Program Studi Desain Produk UKDW tersebut membagikan pengalamannya selama menjalani studi melalui program beasiswa UKDW.
“Hubungan dosen dan mahasiswa di Desain Produk UKDW sangat dekat dan terasa kekeluargaan. Saya merasa didukung, baik da
pengembangan diri selama kuliah,” kata Vincent.
Melalui UKDW Scholarship 2026, UKDW berharap dapat terus mendukung lahirnya generasi muda yang berprestasi, kreatif, dan mampu membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. [lia]

Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) Yogyakarta melalui Unit Pengembangan Institusi (UPI) meluncurkan Program Scholarship Funding UKDW pada Kamis, 7 Mei 2026. Program ini menjadi langkah nyata UKDW dalam memperkuat budaya berbagi dan kepedulian alumni terhadap mahasiswa yang mengalami kendala finansial selama menempuh studi. Peluncuran program tersebut dihadiri
Rektor, para Wakil Rektor, pengurus Keluarga Alumni Duta Wacana (KADUWA), serta Pegawai Akademik dan Pegawai Pendukung Akademik yang juga merupakan alumni UKDW.
Program Scholarship Funding UKDW hadir sebagai wadah bagi alumni dan sivitas akademika untuk membantu mahasiswa agar dapat melanjutkan pendidikan hingga lulus tanpa terhambat masalah biaya.
Kepala Unit Pengembangan Institusi UKDW, dr. Pindo Galih Prakoso, M.Biomed., AIFO-K., mengatakan masih ada mahasiswa yang terpaksa berhenti kuliah karena keterbatasan biaya, bukan karena kemampuan akademik.
“Kami ingin membuka jalan agar mahasiswa yang memiliki potensi tetap dapat melanjutkan studi di UKDW. Program ini juga menjadi bentuk kepedulian dan gotong royong keluarga besar Duta Wacana,” ujarnya.
Menurut dr. Pindo, kontribusi alumni tidak hanya membantu mahasiswa, tetapi juga memperkuat indikator pendanaan nonpemerintah dalam penilaian akreditasi perguruan tinggi Selain itu, dukungan alumni menunjukkan adanya kepercayaan terhadap tata kelola institusi yang transparan dan akuntabel.
UPI juga berkomitmen memberikan laporan perkembangan program secara berkala melalui website UKDW dan media sosial UPI sebagai bentuk transparansi pengelolaan dana.
Sebagai langkah awal, UPI menawarkan kemudahan berdonasi bagi Pegawai Akademik dan Pegawai Pendukung Akademik UKDW melalui sistem autodebet payroll setiap bulan. Selain itu, donasi juga dapat dilakukan melalui QRIS, transfer bank, dan berbagai platform digital lain yang akan segera dibuka.
Rektor, para Wakil Rektor, dan Ketua
KADUWA menjadi pihak pertama yang mengisi lembar komitmen donasi. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh dosen dan karyawan yang hadir dalam acara peluncuran.
Antusiasme para peserta mencerminkan kuatnya kepedulian dan rasa memiliki terhadap almamater Duta Wacana. Sebagai bentuk apresiasi, UPI juga menyiapkan berbagai merchandise menarik bagi para donatur.
Melalui Program Scholarship Funding UKDW, UKDW berharap semangat berbagi dapat terus tumbuh dan menjangkau alumni di berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
“Kiranya Scholarship Funding UKDW dapat menjadi api semangat bagi mahasiswa untuk terus belajar, sekaligus menjadi jalan berbagi yang membawa dampak positif bagi alumni, karyawan, dan seluruh sahabat UKDW,” kata dr. Pindo. [mira]
UKDW Jalin Kerja Sama dengan Pemkab Sleman melalui Program Beasiswa Sleman Pintar
niversitas Kristen Duta Wacana U(UKDW) resmi menjadi perguruan tinggi mitra Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam Program Beasiswa Sleman Pintar Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung pada Jumat (22/5/2026) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.
Penandatanganan PKS merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) sebelumnya Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Pemkab Sleman serta perwakilan perguruan tinggi mitra program Beasiswa Sleman Pintar.
Program Beasiswa Sleman Pintar meDari pihak Pemkab Sleman, PKS ditandatangani oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro, S I P , MPA Sementara itu, UKDW diwakili oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi, Dr Parmonangan Manurung, S.T., M.T., IAI.
rupakan kolaborasi Pemkab Sleman dan sejumlah perguruan tinggi mitra, termasuk UKDW, untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu di Kabupaten Sleman Melalui program ini, UKDW turut berperan dalam mendukung pembiayaan pendidikan bagi mahasiswa penerima beasiswa sebagai bentuk komitmen menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif dan terjangkau.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Drs. Susmiarto, M M , menyampaikan bahwa program ini merupakan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perluasan akses pendidikan tinggi Ia menegaskan bahwa Beasiswa Sleman Pintar diharapkan mampu membantu generasi muda Sleman melanjutkan pendidikan sekaligus menjadi langkah nyata dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen menghadirkan akses pendidikan
yang setara, khususnya bagi keluarga kurang mampu, dengan harapan setiap keluarga memiliki minimal satu sarjana,” ujarnya.
Dari sisi perguruan tinggi, Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., mengapresiasi langkah Pemkab Sleman dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Parmonangan menegaskan komitmen UKDW dalam mendukung perluasan akses pendidikan bagi masyarakat.
“UKDW menyambut baik kerja sama ini sebagai bentuk sinergi dengan pemerintah daerah Melalui Beasiswa Sleman Pintar, kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi diri,” ungkapnya.

UKDW berharap kerja sama ini dapat memperkuat upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih inklusif, terjangkau, serta berdampak bagi masyarakat Kabupaten Sleman dan sekitarnya Sebagai institusi pendidikan tinggi, UKDW terus berkomitmen mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui berbagai program dan kolaborasi strategis. [lia]

The use of AI in teaching and learning is
very popular today It continues to reshape how students complete academic tasks and how educators evaluate their performance In response to this emerging issue, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) held a seminar exploring the evolving role of artificial intelligence in language assessment.
The seminar, held on Friday, 10 April 2026, in the Harun Seminar Room, was moderated by Dr. Adaninggar Septi Subekti and featured Dr. Farah Akbar from the Moray House School of Education and Sport at the University of Edinburgh, as the keynote speaker. In her presentation titled “AI and the Future of Language Assessment: Opportunities, Challenges, and Practical Examples,” Dr Farah Akbar guided participants through three key stages: understanding the role of AI, rethinking current assessment practices, and applying new approaches in teaching.
She began by explaining how generative AI tools such as GPT and Gemini produce text by identifying patterns in data rather than through genuine human understanding. While these tools can generate well-structured and confident responses, they do not reflect actual reasoning processes. This distinction raises critical concerns in educational contexts, particularly in assessing students’ language abilities.
One of the main issues highlighted in the seminar is the growing uncertainty around

what teachers are evaluating. With AI capable of generating essays and even preparing spoken responses, the final output can no longer be considered a reliable indicator of students’ competence.
“Teachers see the output, but they do not see the thinking behind that,” she explained, emphasizing the gap between visible results and the cognitive processes that remain hidden.
To illustrate this challenge, participants were asked to distinguish between AIgenerated and human-written texts The activity revealed that AI outputs often appear highly structured and confident, making them difficult to differentiate from human work. However, such responses may lack depth in
Rather than focusing on detecting AI use, Dr. Farah Akbar encouraged educators to shift their attention toward redesigning assessment tasks. She argued that the real challenge is not identifying whether AI is used, but uncovering students’ thinking processes. reasoning and genuine understanding, highlighting the limitations of relying solely on final products for assessment.
“We are assessing output, not thinking. We are assessing what is produced, not how it is produced,” she noted.
Her perspective reflects a broader shift in educational philosophy that views learning as a process rather than simply a product. The use of AI, while beneficial in many ways, can reduce essential aspects of learning such as cognitive
The seminar also invited participants to rethink what counts as knowledge in the age of AI Questions about what is included, prioritized, and considered correct become increasingly relevant as AI tools can produce polished academic responses with ease. effort, decision-making, interpretation, and a sense of ownership over one’s ideas. These elements, according to Dr. Farah Akbar, are central to meaningful learning and should be reflected in assessment practices.
As part of the “apply” stage, Dr Farah Akbar provided practical examples of how assessment tasks can be redesigned For instance, instead of simply assigning an essay, educators can focus on evaluating the quality of analysis, the strength of justification, and the evidence of student's understanding. This approach shifts the emphasis from the final answer to the process of thinking behind it.
The seminar concluded with a call for educators to reflect on their assessment practices through several guiding questions: What decisions must students make? What ideas must they explain or justify? And what evidence can demonstrate their thinking process? These questions reinforced the seminar’s central message: in an era shaped by AI, assessment must move beyond measuring outputs to making students’ thinking visible. [agnes]
On Monday, 30 March 2026, Dr
Adaninggar Septi Subekti, M Sc , a lecturer of the English Education Department of UKDW, served as a resource person in a seminar and training session entitled “Nail Your Interview: Confidently Mastering English for Job Hunting Success” for approximately 120 graduate candidates of STIE YKPN. The event was conducted from 09 00 to 11 00 at the STIE YKPN campus located on Jl Seturan Raya, Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman The session aimed to equip graduating students with practical English communication skills needed to perform confidently in job interviews and succeed in today’s competitive workplace.
In her presentation, Adaninggar emphasized that successful job interviews are not primarily about speaking perfect English Instead, effective interviews depend on the ability to communicate ideas clearly, confidently, and in a structured manner This perspective encouraged participants to focus less on grammatical perfection and more on delivering meaningful and convincing responses during interviews.
The seminar explored several important
Recently, Maria Bunda Allah Church has
been filled with new energy The laughter of children, the curiosity of teenagers, and the enthusiasm of young adults echoed through its halls as students from UKDW’s English Language Education Department (ELED) stepped into the role of teachers.
The teaching initiative was part of ELED’s Technology-Enhanced Language Instruction course, which equips future educators with the skills to integrate digital tools into language learning. More than a classroom assignment, however, the program allowed students to apply their knowledge in a real-world community setting.
Teaching in a church community presented both challenges and valuable learning experiences. The student teachers worked with three groups: Pendamping Iman Anak (PIA), Pendamping Iman Remaja (PIR), and Orang Muda Katolik (OMK) For many ELED
aspects of interview preparation, particularly how to discuss personal strengths and weaknesses effectively Participants were guided to identify only a few strengths they could genuinely demonstrate, such as teamwork, responsibility, adaptability, or organizational skills. To help students provide more convincing answers, Adaninggar introduced the PAR model, consisting of Problem, Action, and Result Through this framework, students learned how to support their statements with concrete examples from their own experiences.
For example, instead of simply saying “I am a team player,” students were encouraged to explain situations in which they successfully collaborated with others, the actions they took to solve problems, and the positive outcomes they achieved Similarly, when discussing weaknesses, participants learned to present their shortcomings alongside the efforts they were making to improve themselves This approach demonstrated self-awareness and a willingness to grow, which are the qualities highly valued by employers.
Another important topic discussed during the seminar was how to answer the frequently
asked interview question, “Tell me about yourself ” Adaninggar introduced a simple structure consisting of present, past, and future elements Participants practiced introducing themselves by explaining their current educational background, describing relevant experiences or strengths, and expressing their future career goals and motivations for applying for a particular position. This structure enabled students to present themselves more professionally and systematically.
To create an engaging and interactive learning atmosphere, students participated in pair and group activities where they practiced interviewing one another Participants alternated roles between interviewer and interviewee, allowing them to apply the techniques discussed during the session directly. Several students also volunteered to present their responses in front of the class, providing opportunities for feedback and
significantly increased participants’ confidence and communication skills.
At the conclusion of the seminar, Adaninggar reminded participants to avoid negative expressions such as “I don’t know,” “I don’t
students, the program marked their first experience teaching beyond campus, where lesson plans had to meet the realities of diverse learners and unpredictable classroom dynamics.
Working with children in the PIA sessions proved both rewarding and demanding. The greatest challenge was not designing lesson plans but keeping up with the children's boundless energy. One moment, they were fully engaged, and the next, their attention had shifted elsewhere.
“Teaching PIA is like a roller coaster,” one student remarked.
Despite the challenges, the experience was deeply fulfilling The children's honesty, excitement, and sense of achievement as they learned a new word made every effort worthwhile.
The PIR sessions brought a different set of challenges Teaching adolescents requires students to navigate the emotional ups and
downs typical of the teenage years. The ELED students quickly realized that a conventional, teacher-centered approach would do little to sustain learners’ interest and participation. Instead, they adopted more interactive and student-centered strategies Through games, music, discussions, and collaborative activities, they encouraged active engagement and created opportunities for meaningful learning experiences. The goal was not simply to have students listen and observe, but to participate, explore, and learn together.
Meanwhile, the OMK sessions offered a different dynamic Most participants demonstrated a high level of self-discipline and motivation, making classroom management less of a concern. However, the student teachers encountered another challenge: varying levels of English proficiency among participants.
To address this, the ELED students took on the role of facilitators rather than teachers. They adapted learning materials to accommodate
have,” or “I don’t want” during interviews. Instead, students were encouraged to provide positive, solution-oriented responses and to support their answers with real examples. The seminar concluded with the message that
storytelling, structured communication, and confident delivery The event provided valuable preparation for the graduate candidates of STIE YKPN as they prepare to enter the professional world with stronger communication skills and greater selfconfidence In this training session, Adaninggar, as a lecturer at the English Language Education Department (ELED) UKDW, demonstrated the important role of higher education institutions in supporting students’ career readiness beyond academic knowledge alone. The activity also reflected the contribution of UKDW in helping the graduate candidates of Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN) strengthen their English communication skills and prepare themselves more confidently for the demands of the professional world. [adaninggar]
different ability levels, ensuring that beginners could follow the lessons comfortably while more advanced learners remained engaged and challenged.
Beyond teaching language skills, the experience offered valuable lessons about education itself. The students discovered that effective teaching is not simply about d
u t understanding learners, building connections, and responding to their needs at different stages of life.
For the ELED students, their time at Maria Bunda Allah Church was more than an academic requirement. It was a transformative
understanding of learners, and prepared them to become educators capable of making meaningful contributions to society.

Ada yang menarik jika kita mem-
perhatikan siapa saja yang sedang ngopi hari ini. Di angkringan dekat Stasiun Tugu, seorang bapak separuh baya menyeruput kopi tubruk pekat sambil berbincang santai dengan tukang becak Beberapa blok ke utara, di sebuah kafe yang baru buka di Kotabaru, seorang mahasiswi membuka laptop, memasang earphone, dan memesan dirty latte, tak lupa mengunggahnya ke Instagram Stories. Dua adegan ini bukanlah kontradiksi Keduanya adalah potret budaya ngopi Indonesia yang samasama legit, hanya lahir dari generasi yang berbeda.
Dan generasi memang berperan besar Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kedai kopi di Indonesia meningkat hampir tiga kali lipat. Konsumsi kopi nasional pada tahun 2024–2025 mencapai sekitar 288 ribu ton, dengan lebih dari 53 persen konsumennya berasal dari Gen Z dan millennial. Namun sebelum membahas siapa yang paling sering “nongkrong” di kedai kopi hari ini, menarik untuk melihat bagaimana praktik ngopi dan isi cangkirnya berubah dari waktu ke waktu.
Baby Boomers (1946–1964): Kopi sebagai Ritual Pagi
Bagi generasi ini, kopi tidak membutuhkan nama yang rumit. Cukup kopi tubruk, bubuk kopi kasar yang diseduh langsung dengan air panas, tanpa penyaring, tanpa susu, dan tanpa banyak gula Disajikan apa adanya, lengkap dengan ampas di dasar cangkir
Merek seperti Kapal Api atau Kopi Nusantara dibeli di warung kelontong, bukan di gerai modern Tempat menikmatinya pun sederhana, di teras rumah dengan ditemani udara pagi dan percakapan ringan.
Dalam konteks ini, ngopi bukan sekadar konsumsi kafein, melainkan aktivitas sosial. Warung kopi dan angkringan menjadi ruang terbuka yang egaliter, siapa saja boleh datang, duduk lama, dan berbincang tanpa sekat. Di Yogyakarta, ruang-ruang ini bahkan berfungsi sebagai third place: tempat berdiskusi, berbagi kabar, atau sekadar mengusir sepi. Bagi generasi ini, angkringan bisa jadi adalah “parlemen rakyat” paling demokratis Tempat aman dan nyaman membicarakan kebijakan pemerintah hingga keresahan sehari-hari.
Generasi X (1965–1980): Praktis, tapi Tetap Berkarakter
Generasi X membawa perubahan besar yakni kopi menjadi instan. Sachet menjadi simbol kepraktisan, cukup tuang, seduh, dan minum. Produk seperti Nescafé, Good Day, dan Torabika menawarkan efisiensi yang sesuai dengan ritme hidup yang semakin padat.
Namun, di saat yang sama, Yogyakarta melahirkan inovasi lokal yang ikonik yakni kopi joss Diperkenalkan oleh Lik Man di kawasan Malioboro sejak 1960-an, kopi ini dibuat dengan cara mencelupkan bara arang ke dalam kopi panas. Selain menghasilkan bunyi “cesss” yang khas, yang menjadi asalusul namanya, arang dipercaya mengandung karbon aktif yang dapat menetralkan

keasaman kopi.
J
modernisasi, maka kopi joss adalah bukti bahwa kreativitas lokal tetap hidup dan relevan. Hingga kini, kopi joss tetap diminati, bukan hanya karena posisinya sebagai ikon w
menghadirkan nostalgia dan suasana akrab di tengah perubahan zaman.
Milenial (1981–1996): Dari Gaya Hidup ke Kesadaran Rasa
Milenial memulai tren ngopi di ruang yang m
perbelanjaan Pada era tahun 2000-an, minum kopi di kafe seperti Starbucks menjadi simbol gaya hidup urban. Pesanan seperti caramel macchiato atau frappuccino bukan sekadar minuman, tetapi juga penanda identitas.
Namun, tren ini tidak berhenti di sana. Yogyakarta kembali memainkan peran penting melalui kemunculan tempat seperti Klinik Kopi. Di sini, kopi disajikan secara serius, tanpa gula, tanpa susu, hanya biji kopi asli dari berbagai daerah Indonesia Pengunjung, yang disebut “pasien”, diajak m e m a h a m i k o p i , b u k a n s e k a d a r meminumnya.
Kemudian hadir Filosofi Kopi, yang menggabungkan narasi sastra, film, dan pengalaman ngopi dalam satu ruang. Kedua tempat ini mendorong perubahan besar mulai dari konsumsi kopi sebagai gaya hidup menjadi pengalaman yang lebih reflektif dan intentional.
Milenial mulai meninggalkan kenyamanan kafe di mal dan mencari pengalaman yang lebih otentik bahkan jika itu berarti masuk ke gang sempit, toko buku, atau rumah tua Pemaknaan terhadap budaya ngopi pun semakin mendalam. Kopi tidak lagi sekadar minuman, tetapi juga bagian dari identitas dan nilai diri.
Dalam konteks ini, segmentasi tidak hadir untuk memecah, melainkan untuk mewadahi rasa kebersamaan, sebuah ruang bagi mereka yang merasa berada pada frekuensi yang sama Hal ini terlihat dari kemunculan
doc.Google
berbagai ruang ngopi dengan karakter kuat pada masanya, seperti Kedai Kopi dan Djendelo Koffie, yang menjadi titik temu antara selera, gaya hidup, dan cara pandang terhadap kopi itu sendiri.
Generasi Z (1997–2012): Kafe sebagai Ruang Hidup
Jika milenial mengubah cara minum kopi, Gen Z mendefinisikan ulang maknanya. Menu mereka lebih variatif seperti dirty latte, es kopi susu gula aren, cold brew, hingga oat milk latte Nama minuman bukan lagi sekadar pilihan rasa, tetapi juga ekspresi identitas generasi.
Data menunjukkan bahwa 63% konsumen kopi usia 18–34 tahun di Asia Tenggara mengunjungi coffee shop setidaknya sekali seminggu. Dari 1.115 responden Gen Z dalam s e b u a h s u r v e i , 8 9 6 d i a n t a r a n y a mengkonsumsi kopi secara rutin.
Namun yang menarik bukan hanya frekuensinya, melainkan fungsinya. Bagi Gen Z, kafe adalah ruang multifungsi mulai dari tempat bekerja, bersosialisasi, sampai dengan tempat beristirahat. Konsep Work From Café (WFC) dan Work From Anywhere (WFA) bukan lagi tren, melainkan kebutuhan. Coffee shop hari ini menggantikan fungsi kantor, perpustakaan, bahkan ruang tamu.
Di Yogyakarta, berbagai kafe lokal seperti Couvee, Cosan Kotabaru, Toko Kopi Tuku, hingga Space Coffee menawarkan kombinasi antara estetika, kenyamanan, dan kualitas kopi Namun lebih dari itu, yang dijual sebenarnya adalah convenience. Wi-Fi yang stabil, stop kontak di hampir setiap meja, kursi ergonomis, pencahayaan yang mendukung fokus, hingga tata ruang yang memungkinkan orang duduk sendiri tanpa merasa canggung, semuanya menjadi standar baru. Coffee shop tidak lagi sekadar tempat minum kopi, tetapi dirancang sebagai ruang yang “siap pakai” untuk berbagai kebutuhan, terutama bekerja secara mandiri.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjadikan ngopi sebagai aktivitas sosial utama, banyak Gen Z justru menemukan kenyamanan dalam bekerja sendiri di kafe.
Mereka datang, membuka laptop, mengenakan earphone atau AirPods, lalu tenggelam dalam layar tanpa perlu banyak interaksi. Datang sendirian bukan lagi hal yang dianggap janggal, melainkan bagian dari kebiasaan yang wajar.
Pola ini juga menunjukkan pergeseran cara bersosialisasi. Jika dulu interaksi terjadi secara langsung di meja kopi, kini Gen Z bisa tetap terhubung lintas batas melalui layar di hadapan mereka. Coffee shop, dalam hal ini, berfungsi sebagai ruang aman, tempat di mana mereka bisa produktif sekaligus tetap “terhubung” dengan dunia luar.
Meski demikian, fungsi sosial tidak sepenuhnya hilang Banyak juga yang memanfaatkan coffee shop sebagai titik temu untuk kerja kelompok atau rapat kegiatan kampus. Setiap kafe pada akhirnya memiliki pangsanya sendiri, ada yang lebih cocok untuk fokus individual, ada pula yang hidup dengan dinamika diskusi dan kolaborasi.
Berbeda dengan milenial yang sempat berada di persimpangan antara estetika dan kualitas, Gen Z datang dengan tuntutan yang lebih tegas, keduanya harus hadir dalam satu ruang. Bagi Gen Z, coffee shop bukan lagi sekadar tempat untuk bertemu orang lain tetapi tempat untuk menjadi diri sendiri, dengan cara yang paling nyaman bagi mereka.
Gen Alpha: Bagaimana dengan Mereka?
Generasi Alpha tumbuh di era teknologi yang bahkan belum sepenuhnya kita pahami. Bukan tidak mungkin, kopi mereka kelak dipesan melalui asisten AI, diseduh otomatis, dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh secara real-time.
Namun, ada kemungkinan lain yang justru lebih menarik. Setelah terlalu lama hidup dalam dunia digital, mungkin mereka akan merindukan pengalaman yang paling sederhana seperti kopi tubruk tanpa nama, tanpa Wi-Fi, tanpa distraksi Duduk di angkringan, berbincang, dan menikmati waktu yang berjalan pelan Seperti tren budaya lainnya, nostalgia selalu menemukan jalannya kembali.
Satu Cangkir, Banyak Cerita
Yang paling menarik dari budaya ngopi Indonesia bukanlah perubahannya, melainkan keberlanjutannya Kopi tubruk masih diseduh Angkringan tetap ramai Klinik Kopi masih dipenuhi antrian dan coffee shop modern terus berkembang.
D i Y o g y a k a r t a , s e m u a i n i h i d u p berdampingan tanpa saling menegasikan Kopi joss dan dirty latte tidak bersaing, mereka saling melengkapi Mungkin disitulah letak keistimewaannya. Kita tidak h a r u s m e m i l i h a n t a r a t r a d i s i d a n modernitas. Kita bisa menikmati keduanya, dalam satu waktu, dalam satu kota. Jadi, apa pun generasimu, mau Boomer, Gen X, milenial, atau Gen Z, kamu adalah bagian dari cerita panjang yang sama. Cerita tentang manusia Indonesia dan secangkir kopi Selamat ngopi! [ayln]


ARAPAN merupakan sebuah series yang
mengangkat kisah nyata seorang mahasiswa Magister Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta
W a c a n a ( U K D W ) , H e n g k i A r a p a n Simarmata. Ia merupakan seorang Pendeta yang lahir dari keluarga Batak Nama “Arapan” sendiri lahir dari sebuah kisah dan pengharapan keluarga. Dalam tradisi Batak, anak terakhir seringkali diharapkan
p e r e m p u a n N a m u n , T u h a n j u s t r u menganugerahkan seorang anak laki-laki Kelahirannya sempat mendapat penolakan dari keluarga besar, namun kakeknya melihat bahwa anak ini adalah sebuah harapan bagi keluarga. Sang kakek melihat bahwa anak ini adalah sebuah harapan bagi keluarga mereka. Karena itulah, ia diberi nama “Arapan”, yang berarti harapan. Sejak kecil, Hengki dikenal sangat rajin pergi ke gereja, berbeda dengan kakakkakaknya Kedekatannya dengan Tuhan membuat hatinya tergerak untuk terus hidup dalam pelayanan. Dari situlah tumbuh impian sederhana namun besar: menjadi seorang pendeta. Impian itu perlahan mulai terwujud setelah ia menyelesaikan studi S1. Hengki kemudian aktif melayani dan mendapat panggilan sebagai pendeta resort di GKPS. Perjalanan menuju titik tersebut tentu tidak mudah Namun, semakin ia melayani, semakin ia merasakan kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya Kerinduan untuk terus bertumbuh dalam p e l a y a n a n a k h i r n y a m e m b a w a n y a melanjutkan studi S2 Teologi di UKDW.

Sebagai mahasiswa S2, Hengki dikenal disiplin dan penuh semangat Di balik semangatnya itu, ada sosok yang selalu menjadi sumber dukungan dalam hidupnya, yaitu Silvia, mantan pacarnya yang kemudian menjadi pasangan hidupnya. Bersama Silvia, Hengki menjalani masa studi dengan baik. Ia rajin mengerjakan dan mengumpulkan tugas, hingga semester satu dan dua dapat dilaluinya tanpa hambatan berarti.
Namun, memasuki semester tiga, hidup Hengki berubah drastis Kondisi matanya semakin memburuk hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit: kehilangan penglihatannya Bagi Hengki, keadaan itu
Menengadah
seperti membuat hidupnya berhenti. Dunia yang selama ini terang tiba-tiba menjadi gelap. Hari-hari awal dilalui dengan penuh kesedihan. Hengki merasa kecewa, marah, dan sulit menerima kenyataan tersebut. Setiap hari ia menangis dan terus bergumul dengan rasa putus asa. Kesedihan itu juga dirasakan Silvia. Mereka melewati hari demi hari dengan air mata dan ketidakpastian. Namun perlahan, cahaya mulai hadir kembali dalam hidup mereka. Kesetiaan Silvia sebagai istri menjadi kekuatan besar bagi Hengki. Ia terus mendampingi, merawat, dan menguatkannya hingga sedikit demi sedikit Hengki mulai belajar menerima keadaannya.
Dukungan tidak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari orang-orang di sekitar mereka yang terinspirasi oleh semangat dan keteguhan hati Hengki Satu per satu kesempatan mulai datang, termasuk panggilan pelayanan pertamanya setelah mengalami kebutaan Awalnya Hengki merasa ragu dan mempertanyakan apakah dirinya masih layak menyampaikan firman Tuhan dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Namun di titik itulah Silvia kembali mengingatkannya tentang panggilan dan harapan yang selama ini ia perjuangkan Hengki akhirnya tersadar bahwa pelayanannya tidak berhenti karena kehilangan penglihatan Dengan keberanian baru, ia menerima kesempatan tersebut dan kembali melayani Tuhan dengan penuh semangat.
Dalam perjalanan itu, UKDW juga menjadi bagian penting yang mendukungnya Dukungan para dosen dan lingkungan kampus yang peduli membuat Hengki tetap mampu melanjutkan studinya. Dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, ia akhirnya berhasil menyelesaikan studi S2 Teologi di UKDW dengan baik ARAPAN adalah kisah tentang cahaya yang sempat padam, tetapi kembali menyala karena harapan, kasih, dan iman Sebuah cerita tentang bagaimana keterbatasan bukanlah akhir dari panggilan hidup, melainkan awal dari perjalanan baru untuk terus percaya kepada Tuhan. [devina & bagas]
melalui

Momentum Kenaikan Yesus Kristus
sering kali kita maknai sekadar
s e b a g a i a k h i r d a r i s e b u a h perjalanan pelayanan-Nya di dunia Kita cenderung membayangkannya sebagai upacara perpisahan yang mengharukan Namun, bagi kita yang hidup dan bergumul di lingkungan akademis Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), peristiwa teologis ini justru merupakan sebuah titik awal sebuah penugasan agung yang menuntut ketaatan yang radikal dan transformatif Jika kita menelisik catatan dalam Kitab Kisah Para Rasul, para murid mengajukan pertanyaan
yang sangat manusiawi sebelum Yesus terangkat: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Pertanyaan ini mencerminkan sebuah obsesi akan hasil instan, kepastian politis, dan pemenuhan ambisi kelompok.
Kisah Para Rasul 1:7-8 "Jawab-Nya: 'Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku...'"
Di ranah universitas, kita sering terjebak dalam jebakan psikologis yang serupa dengan
para murid Sebagai dosen, karyawan, maupun mahasiswa, kita kerap didikte oleh kecemasan akan hasil akhir: kejaran indeks prestasi (IPK), pendanaan riset yang kompetitif, kecepatan kelulusan, atau kepastian jenjang karier struktural. Kita ingin memegang kendali penuh atas "masa dan waktu" keberhasilan kita sendiri Namun, melalui peristiwa Kenaikan, Yesus memotong kecemasan itu dengan sebuah reposisi fokus. Ketaatan kepada Allah—atau yang kita hidupi di UKDW sebagai nilai Obedience to God—berarti kesediaan melepaskan kontrol atas hasil akhir dan mengalihkan seluruh energi kita untuk taat pada proses tugas kesaksian yang didelegasikan-Nya. Ketaatan akademik bukan sekadar rajin berdoa sebelum u j i a n , m e l a i n k a n k e b e r a n i a n mempertahankan integritas saat tidak ada orang lain yang melihat.
Ketaatan Mahasiswa: Jalan Integritas
Bagi mahasiswa UKDW, perwujudan Obedience to God diuji di ruang-ruang kelas dan laboratorium Ketaatan ini menuntut penolakan tegas terhadap segala bentuk jalan pintas akademis, seperti plagiasi, kecurangan ujian, atau pemalsuan data Ketika anda memilih untuk belajar dengan jujur di tengah t e k a n a n b e b a n s t u d i , a n d a s e d a n g mempraktikkan ketaatan yang sejati dan menjadi saksi Kristus yang hidup di lingkungan kampus.
Dedikasi Dosen & Tenaga Kependidikan Bagi para pendidik dan karyawan, Kenaikan
pelayanan belum selesai. Otoritas Kristus di surga diwujudkan melalui dedikasi kita di bumi. Menolak menjatuhkan martabat ilmu pengetahuan demi kesombongan intelektual pribadi, serta melayani mahasiswa dengan kasih pastoral dan profesionalisme tinggi, adalah bentuk ketaatan konkret kepada kehendak Bapa.
Menjadi Saksi Hingga ke Ujung Bumi
Mandat untuk menjadi "saksi sampai ke ujung bumi" memiliki signifikansi spasial dan kontekstual bagi UKDW. "Ujung bumi" kita adalah masyarakat luar yang menanti kontribusi nyata dari hasil riset, inovasi teknologi tepat guna, kebijakan sosial yang adil, serta pelayanan kesehatan yang berbelas kasih. Ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan kembangkan di UKDW bukanlah menara gading, melainkan instrumen kesaksian iman.
Menatap Masa Depan
Kenaikan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa pusat otoritas hidup civitas academica tidak lagi berada pada ego kita. UKDW bukan sekadar tempat mencari gelar atau nafkah Ini adalah medan formasi rohani di mana kita melatih ketaatan kita. Saat Kristus naik, pandangan kita tidak boleh terpaku pasif menatap langit, melainkan harus turun ke bumi untuk melayani dengan kuasa Roh Kudus. Amin. [pedro]


Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) Yogyakarta menggelar Wisuda Sarjana dan Pascasarjana periode Mei 2026 pada Jumat (16/5/2026) di Auditorium Koinonia UKDW. Sebanyak 189 wisudawan resmi dikukuhkan, terdiri atas 163 lulusan program sarjana dan 26 lulusan program pascasarjana.
Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, S.T., M.T., menegaskan lulusan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. “Hari ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal untuk mengambil peran di masyarakat dan dunia kerja,” ujarnya.
Ia mengatakan lulusan UKDW diharapkan menjadi generasi unggul yang tidak hanya berorientasi pada karier, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta semangat melayani masyarakat Menurutnya, nilai-nilai kedutawacanaan seperti Obedience to God, Walking in Integrity, Striving for Excellence, dan Service to the World perlu menjadi kompas dalam perjalanan hidup para lulusan.
Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Riset UKDW, Dr. Rosa Delima, S Kom , M Kom , melaporkan capaian
a k a d e m i k w i s u d a w a n p e r i o d e i n i menunjukkan hasil yang baik. Sebanyak 91 persen lulusan sarjana atau 149 dari 163 wisudawan meraih IPK di atas 3,00. Adapun 81 persen lulusan pascasarjana memperoleh IPK di atas 3,50.
Pada wisuda kali ini, sebanyak 16 wisudawan lulus dengan predikat cum laude, terdiri atas 12 lulusan sarjana dan empat lulusan pascasarjana “Capaian ini menunjukkan proses pembelajaran berjalan dengan baik dan mampu mendorong pencapaian akademik yang optimal,” terangnya.





Selain capaian akademik, ketepatan masa studi juga menjadi perhatian UKDW Sebanyak 61 persen lulusan sarjana berhasil menyelesaikan studi tepat waktu, sedangkan pada program magister angkanya mencapai 82 persen.
Tidak hanya unggul secara akademik, mahasiswa UKDW juga mengukir berbagai prestasi di tingkat nasional maupun internasional Salah satunya, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi berhasil meraih penghargaan internasional dalam kompetisi berbasis Web3 dan Artificial Intelligence (AI) Selain itu, Tim Ownafarm UKDW turut meraih juara internasional dalam Mantle Global Hackathon 2025. Prestasi lain juga diraih mahasiswa UKDW di bidang penelitian, perpajakan, hingga olahraga taekwondo tingkat nasional. Perwakilan wisudawan, Alma Artamia dari Program Studi Filsafat Keilahian, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan studi yang telah dilalui bersama seluruh wisudawan. Ia menilai UKDW tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan integritas mahasiswa.
Ia menambahkan wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk menghadirkan karya nyata bagi masyarakat. “Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Kami ingin membawa nilainilai yang telah kami terima untuk diwujudkan dalam karya nyata yang memberkati sesama,” katanya.
Melalui wisuda periode Mei 2026 ini, UKDW kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang unggul, berintegritas, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan siap berkontribusi bagi bangsa maupun dunia global. [mpk]
Berawal dari


Di tengah pesatnya perkembangan
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), Prof Dr Antonius Rachmat Chrismanto, S Kom , M.Cs. memiliki pandangan yang sederhana namun mendalam: teknologi harus tetap berpihak pada manusia Baginya, inovasi terbaik bukan sekadar yang paling canggih, melainkan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan banyak orang.
Pandangan tersebut lahir dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum AI menjadi topik yang ramai diperbincangkan seperti saat ini. Saat masih duduk di bangku SMP di Purwokerto, Jawa Tengah, Anton muda mulai mengenal dunia komputer melalui sebuah kursus yang kala itu belum banyak diminati teman-teman seusianya Ketertarikan yang berawal dari rasa penasaran itu perlahan tumbuh menjadi minat yang menentukan arah hidupnya.
K
membawanya melanjutkan studi di Program Studi Informatika Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Setelah lulus pada tahun 2004, semangat belajarnya tidak pernah surut. Ia terus mengembangkan diri melalui pendidikan dan penelitian hingga akhirnya meraih gelar Doktor Ilmu Komputer dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2024 dengan predikat sangat memuaskan dan IPK sempurna 4,00. Perjalanan akademiknya mencapai tonggak penting ketika ia menerima Surat Keputusan Guru Besar pada akhir tahun 2025. Menjelang pengukuhannya pada Juni 2026, Prof. Anton tercatat sebagai profesor termuda di lingkungan UKDW sekaligus menjadi profesor pertama di Fakultas Teknologi Informasi UKDW Pencapaian tersebut tidak hanya menjadi prestasi pribadi,
t e t a p i j u g a m e n a n d a i b a b a k b a r u perkembangan keilmuan dan penelitian di fakultas yang telah menjadi tempatnya berkarya selama bertahun-tahun. Namun bagi dirinya, pencapaian tersebut bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus berkarya, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Ketertarikannya pada kecerdasan buatan mengantarkannya menekuni berbagai bidang penelitian, mulai dari text mining, natural language processing, machine learning, hingga deep learning Melalui berbagai riset di bidang-bidang tersebut, ia berupaya mengembangkan teknologi yang dapat membantu manusia menyelesaikan persoalan secara lebih cepat, tepat, dan efisien.
Meski demikian, Prof. Anton menegaskan bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti manusia. Menurutnya, secanggih apapun teknologi berkembang, peran manusia tetap tidak tergantikan.
“AI sangat membantu meningkatkan produktivitas manusia, tetapi tetap memerlukan pengawasan dan pertimbangan manusia agar hasilnya adil, valid, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Pandangan itu menjadi semakin relevan di tengah berbagai kekhawatiran tentang dampak AI terhadap dunia kerja dan kehidupan sosial Bagi Prof Anton, masa depan bukanlah tentang persaingan antara manusia dan mesin, melainkan tentang kolaborasi. Teknologi seharusnya membantu manusia bekerja lebih efektif, berpikir lebih kreatif, dan menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan kehidupan.
Di luar aktivitasnya sebagai peneliti, Prof. Anton juga dikenal sebagai seorang pendidik yang memiliki komitmen kuat dalam
membimbing generasi muda Namun, perjalanan menjadi dosen tidak selalu berjalan mulus Ia mengaku pernah merasakan kegugupan saat pertama kali berdiri di depan kelas. Pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga yang membentuknya untuk terus belajar dan berkembang.
Baginya, seorang dosen bukan hanya b e r t u g a s m e n y a m
n m a t e r i perkuliahan. Lebih dari itu, dosen perlu terus memperbarui pengetahuan, berkolaborasi dengan mahasiswa, menghasilkan penelitian yang bermanfaat, serta menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.
Perjalanan Prof Anton menunjukkan bahwa pencapaian besar seringkali berawal dari langkah-langkah sederhana yang dijalani dengan konsisten Dari seorang siswa SMP yang penasaran dengan komputer, ia tumbuh menjadi akademisi dan p
m pengembangan kecerdasan buatan di Indonesia.
Di tengah berbagai pencapaian yang diraihnya, Prof Anton tetap memegang prinsip hidup yang sederhana: “Lakukan pekerjaan sebaik-baiknya, semua akan indah pada waktu-Nya.” Prinsip itulah yang terus mengiringi langkahnya dalam berkarya dan mengembangkan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan.
Sebab bagi Prof Anton, masa depan teknologi yang sesungguhnya bukanlah tentang menggantikan manusia, melainkan membantu manusia bertumbuh, berkreasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama [teophilia]

As a follow-up to the signing of the
Memorandum of Understanding (MoU) between Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta and California Prestige University (CPU), USA, the Faculty of Theology at UKDW welcomed a visit from Rev. Hongsok Lee, representing CPU, on Tuesday, May 26, 2026. The meeting
international collaboration that could be developed between the two institutions.
The meeting was attended by Rev. Wahju Satria Wibowo, Ph.D., Vice Rector for Human Resources Development, Promotion, and Networking of UKDW; Rev Prof Robert Setio, Ph.D., Dean of the Faculty of Theology; Rev. Handi Hadiwitanto, Ph.D., Vice Dean I of the Faculty of Theology; Rev. Paulus Sugeng Widjaja, MAPS, Ph.D., Head of the Doctoral Program in Theology; and Rev. Jeniffer Fresy Porielly Pelupessy-Wowor, M.A., Head of the Office of Cooperation and Public Relations of UKDW.
One of the main topics discussed during the meeting was the opportunity to establish a Joint Ph D Program between UKDW and CPU. The program is designed to reach several target groups, including Korean pastors and missionaries who already hold Master’s degrees and are currently in Indonesia under religious visas, Indonesian university lecturers wishing to pursue doctoral studies, Korean pastors newly arriving in Indonesia who are learning Bahasa Indonesia, as well as

The program is planned to adopt a hybrid system through intensive face-to-face sessions at UKDW combined with online learning conducted trilingual in English, Korean, and Indonesian. CPU also offered support through the use of AI-based learning technologies to enhance the teaching and learning process.
Regarding the proposed Joint Ph D Program, Rev. Paulus Sugeng Widjaja, MAPS, Ph.D. emphasized the importance of ensuring
accreditation standards in the United States. According to him, UKDW is very open to this collaboration, but all processes must be carefully aligned with applicable regulations so that the partnership can be mutually
beneficial and not disadvantage CPU.
doc.Biro4
In addition to the joint doctoral program, both institutions and discussed other collaboration opportunities such as student, faculty exchange programs, also joint research projects. Beyond academic cooperation, the discussion also covered opportunities for ministry cooperation in the form of practical ministry collaborations between UKDW partner churches and Korean pastors or missionaries who may later become involved in the program.
This collaboration is also expected to expand UKDW’s international network, particularly through connections with UKDW partner institutions in South Korea, such as Presbyterian University and Theological Seminary (PUTS), Seoul Women’s University, and Soongsil University.
During the meeting, Rev. Hongsok Lee also emphasized the importance of developing broader forms of cooperation. One potential area identified was the development of Korean language and culture programs at UKDW that could be connected with cultural promotion programs supported by the South Korean government.
Closing the discussion, Rev Handi Hadiwitanto, Ph D , summarized several programs that could be immediately followed up by both institutions. One of them is the organization of joint lectures jointly taught by lecturers from UKDW and CPU, which could be attended by students from both universities. In addition, both parties also opened opportunities to organize joint public lectures.
“A joint degree program is very possible to implement, although it may not yet be realized this year. In the future, this program can become a platform for Korean pastors and missionaries who are in Indonesia,” said Rev. Handi.
In closing Rev. Lee stated that academic cooperation is indeed important; however, he added that it is equally important to create programs that have real impact on churches and society while also expanding the international networks of both institutions. [ai]
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) Yogyakarta officially strengthened its international partnership with Comité Orientador 25 ( C O 2 5 ) t h r o u g h t h e s i g n i n g o f a Memorandum of Understanding (MoU) and a collaboration meeting held on Tuesday, 26 May 2026. Constâncio da Conceição Pinto “Terus” (President of Co25), Maria Dadi Soares Magno (Vice General Secretary CO25), and Eugénia Urania da Costa Correia (Executive Director of CO25) attended the meeting as representatives of CO25
The MoU was signed by Constâncio da Conceição Pinto “Terus”, the President of CO25, and Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T, the Rector of UKDW, as a commitment to building sustainable cooperation between both institutions, particularly in empowering the younger generation in Timor-Leste.
As an organization founded by the g o v e r n m e n t o f T i m o r - L e s t e , C O 2 5 emphasized its commitment to preparing young generations with strong leadership values and skills that can contribute positively to the country’s development Currently, CO25 consists of 16 youth organizations that actively work together to empower and train young people.



Dr.-Ing. Wiyatiningsih emphasized that many parties at UKDW could contribute actively to this collaboration plan. “We see many opportunities for future collaboration involving other study centres and faculty m e m b e r s a t U K D W T h r o u g h t h i s partnership, we hope to contribute meaningfully to the development of the capacity and character of young people in Timor-Leste,” she said.
The planned Capacity Building program will include several important themes, such as leadership development, archive management, and digital security. However, the first phase of the program will mainly f
reconciliation training that will be facilitated by the Center for the Study and Promotion of Peace (Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian/PSPP) UKDW The first training group is planned to begin in July 2026 and is expected to continue with sub sequent groups of participants.
Through this collaboration, both UKDW and CO25 hope to strengthen peace-building initiatives, develop responsible future leaders, and encourage active youth participation in creating sustainable social development in Timor-Leste. [ai]



Six students from Universitas Kristen
Duta Wacana (UKDW) participated in G l o b a l E d u c a t i o n E x p e r i e n c e s (GlobEES) 2026, an international short-term program held at Chang Jung Christian University (CJCU), Taiwan, from May 5–15, 2026. The program provided students with opportunities to engage in sustainabilityfocused learning, intercultural exchange, and i n t e r n a t i o n a l c o l l a b o r a t i o n w h i l e experiencing life and education in Taiwan.
G l o b E E S 2 0 2 6 w a s o r g a n i z e d i n partnership among UKDW, CJCU, and Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Through its theme, “Local Action for Environmental Sustainability: Learning
Together in Taiwan,
t he p
g ram encouraged participants to develop a deeper understanding of sustainability through academic learning, cultural exchange, and community-based experiences.
The UKDW delegation consisted of Marcell Jureinwi Manuhutu and Benedictina Andhika Chinor Jodie Soesila (Informatics), Henry Yohanes Santoso (Information Systems), Ester Nurhana Kusumawati and Dennys Kurniawan Palinoan (English Language Education), and Angelina Vivi Maharani (Medicine). The group was led by Dianti Resti Risanti from the Office of Partnerships and Public Relations.
S t r e n g t h e n i n g I n t e r n a t i o n a l Collaboration
The program officially opened with a welcoming ceremony at CJCU Hall, where participants were greeted by CJCU President Dr Huey-Min Sun In his remarks, he emphasized the importance of international programs in helping students develop global perspectives and learn through direct engagement with different cultures and

communities.
Dr Sun also highlighted the value of collaboration between CJCU and its Indonesian partner universities in fostering friendship, mutual understanding, and a shared commitment to addressing global challenges.
Representing UKDW, Dianti expressed appreciation for the warm welcome and support provided by CJCU and its Office of Global Engagement She noted that the
opportunities to broaden their perspectives while learning from Taiwan’s educational and sustainability initiatives.
“GlobEES goes beyond academic learning,” she said. “It creates opportunities for students to exchange ideas, share cultures, and build meaningful international connections.”
Learning Beyond the Classroom: Exploring Taiwan and Sustainability
Throughout the ten-day program, students participated in a range of academic, cultural, and experiential activities, including Mandarin language classes, sustainability workshops, discussions with CJCU students, and educational visits Together, these
environmental challenges and sustainability practices from both local and global perspectives.
A key feature of GlobEES 2026 was its emphasis on learning beyond the classroom. Through classes, workshops, discussions, and shared activities with CJCU students, faculty members, and representatives from campus initiatives such as the International Jane Goodall Roots & Shoots Eco Center, participants gained new perspectives on sustainability while experiencing academic



and campus life in an international setting. These experiences also provided a closer look at how sustainability is practiced across the CJCU community.
The learning experience extended beyond campus through visits to a local elementary school, the Alishan region, and the cities of Tainan and Kaohsiung At the elementary school, participants interacted with children and observed daily routines that encourage responsibility and environmental awareness, such as helping to clean shared spaces and practicing waste separation. The visit offered insights into how sustainability values are introduced from an early age.
In Alishan, students learned about a University Social Responsibility (USR) project led by CJCU in collaboration with local
appreciation of Indigenous culture and traditions that continue to be preserved in the region Meanwhile, visits to Tainan and Kaohsiung allowed participants to observe aspects of Taiwanese society, including public transportation, urban development, cultural heritage, and environmental initiatives Together, these experiences provided participants with a broader understanding of sustainability, education, and community engagement in Taiwan while encouraging reflection on similar challenges and opportunities in their own communities.
A highlight of GlobEES 2026 was the cultural exchange sessions, where students had the opportunity to introduce and celebrate their cultural identities Representing Indonesia, the UKDW delegation showcased the richness and diversity of Indonesian

culture through traditional songs, regional dances, and traditional attire The performances provided Taiwanese students with an introduction to Indonesia’s cultural heritage while creating opportunities for meaningful intercultural dialogue.
The cultural exchange sessions fostered a lively atmosphere of mutual learning and appreciation, allowing participants to build friendships and connections across national and cultural boundaries For the UKDW students, the experience was both a source of pride and an opportunity to serve as ambassadors of Indonesian culture on an international stage.
For UKDW, participation in GlobEES 2026 reflects the university’s ongoing commitment to internationalization and global engagement. Beyond student mobility, the program supports the development of g r a d u a t e s w h o a r e e q u i p p e d w i t h intercultural competence, global awareness, and a strong understanding of sustainability issues. Through academic learning, cultural exchange, and direct engagement with communities, participants gained valuable experiences that extended beyond the classroom. They returned to Yogyakarta with new perspectives, international networks, and a deeper appreciation for the importance of collaboration in addressing global challenges.
As higher education becomes increasingly interconnected, programs such as GlobEES continue to play an important role in preparing students to become active and responsible global citizens. [drr]

