Alamat Redaksi: Kantor Biro IV UKDW Gedung Hagios Lantai 1
Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta
Koran Kampus UKDW korankampus@staff ukdw ac id
Berkomunikasi dengan Hati Mencipta Harmoni
JANUARI 2026
M A
B E R I T A U T A
UKDW Raih Penghargaan Pembinaan Terbaik pada PKM Award 2025
Uuntuk Klaster IV.
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bertujuan mendorong lahirnya ide-ide inovatif yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa difasilitasi untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan riset, serta kompetensi inovatif dalam menghadapi tantangan di berbagai bidang.
Penghargaan PKM Award 2025 diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen UKDW dalam membina, mendampingi, serta mengembangkan potensi mahasiswa di bidang penelitian, kreativitas, dan inovasi.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi, Dr. Parmonangan Manurung, S.T., M.T., IAI., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut dan menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh civitas academica UKDW, khususnya tim PKM UKDW dan Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Karir (Biro 3).
“Pendampingan yang diberikan oleh Koordinator PKM, Biro 3, dosen pendamping, dan student staff menjadi kekuatan yang sinergis sehingga UKDW secara konsisten meraih hibah PKM,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator PKM UKDW, Drs. Jong Jek Siang, M.Sc., memaparkan proses pembinaan yang telah dilakukan hingga berhasil meraih penghargaan ini. UKDW mulai aktif mengikuti PKM pada 2015 di tingkat program studi, namun baru pada 2018 berhasil meloloskan satu proposal didanai.
Belajar dari pengalaman tersebut, UKDW menyadari perlunya pengelolaan PKM secara kelembagaan. Pada 2020, UKDW menyusun aturan konversi PKM ke mata kuliah, menetapkan skema
Memasuki usia dua dekade, Indo-
nesian Consortium for Religious Studies (ICRS) menandai babak baru transformasi kelembagaan melalui momentum bertajuk “ICRS Re-Born”. Fase ini ditandai dengan pelantikan jajaran direksi baru periode 2026–2030 yang digelar di Yogyakarta, Selasa (7/1/2026), dan dihadiri para rektor serta pejabat dari tiga perguruan tinggi pendiri, termasuk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).
Pelantikan dipimpin oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro selaku perwakilan Dewan Pengawas Dalam kesempatan tersebut, Dr Samsul Maarif resmi dilantik sebagai Direktur ICRS, didampingi dua Associate Director, yakni Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. dan Pdt. Prof. Yahya Wijaya, Ph.D. Dalam pidato perdananya, Dr Samsul Maarif menegaskan bahwa transformasi “ICRS Re-Born” bukan sekadar perubahan struktur kepemimpinan, melainkan penguat-
an peran ICRS sebagai pusat dialog lintas iman dan lintas budaya yang relevan dengan tantangan zaman. Ia memaparkan tiga pilar utama visi kepemimpinan lima tahun ke depan: penguatan pusat ekselensi pendidikan dan riset, keberpihakan pada dampak nyata bagi komunitas akar rumput, serta peningkatan kontribusi ICRS dalam isu global seperti perdamaian, keadilan sosial, dan keberlanjutan “Transformasi ini adalah peneguhan komitmen ICRS untuk terus menghadirkan kajian dan praktik lintas agama yang kontekstual dan berdampak luas,” ujar Samsul.
Sebagai konsorsium yang didirikan oleh UGM, UKDW, dan UIN Sunan Kalijaga, ICRS juga mencatat capaian internasional membanggakan Di bawah kepemimpinan sebelumnya, ICRS berhasil menembus peringkat 51–100 dunia QS World University Rankings by Subject 2025 untuk kategori
penghargaan bagi mahasiswa dan dosen pembimbing, serta menyelenggarakan workshop PKM secara intensif di seluruh program studi.
“Keberhasilan tidak ditentukan oleh banyaknya proposal yang diunggah, melainkan kualitasnya. Sejak 2020, UKDW konsisten meloloskan beberapa proposal didanai hingga PIMNAS di berbagai skema. Terima kasih kepada Belmawa atas penghargaan ini. Capaian ini merupakan kulminasi atas konsistensi dan keseriusan UKDW dalam mengelola PKM, sekaligus menjadi pemacu untuk terus meningkatkan prestasi di masa mendatang,” jelasnya.
Sedangkan Kepala Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Karir, Mujiono, S E , M Sc , menyatakan bahwa keikutsertaan aktif mahasiswa dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) memberi peluang untuk membangun lingkungan pertemanan yang positif serta memperoleh umpan balik dari rekan satu tim, baik di tingkat internal perguruan tinggi maupun dari mahasiswa perguruan tinggi lain saat PIMNAS. “Lingkungan pertemanan yang positif ini berperan penting bagi proses pengembangan diri mahasiswa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa PKM juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional, serta mampu menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa UKDW mampu bersaing dan berkontribusi dalam pengembangan kreativitas mahasiswa di tingkat nasional, khususnya pada klaster perguruan tinggi swasta wilayah IV.
Prestasi ini semakin diperkuat dengan diraihnya kenaikan klaster untuk kompetisi PKM tahun 2026, yang mencerminkan peningkatan mutu pembinaan yang dilakukan UKDW secara berkelanjutan.
UKDW menegaskan komitmennya untuk terus menjadi perguruan tinggi yang unggul, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pengembangan kreativitas, penelitian, dan inovasi mahasiswa. [mpk]
Theology, Divinity, and Religious Studies.
Dalam forum tersebut, Rektor UKDW, Dr.Ing Wiyatiningsih, menegaskan komitmen UKDW dalam memperkuat arah strategis ICRS ke depan, khususnya pada pengembangan international branding dan penguatan kajian lintas agama yang responsif terhadap isu-isu global Ia menekankan pentingnya fokus pada isu ekologi dan keberlanjutan sebagai ruang kolaborasi akademik yang semakin relevan secara internasional.
“ICRS perlu semakin dikenal di tingkat global agar mampu menarik lebih banyak mahasiswa internasional, sekaligus menjadi ruang kajian lintas agama yang memberi kontribusi nyata bagi persoalan ekologis dan kemanusiaan,” ungkap Wiyatiningsih.
Sementara itu, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia mendorong agar ICRS semakin responsif terhadap isu kebencanaan dan mampu melibatkan Generasi Z dalam
aktivitas akademik dan sosial. Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Noorhaidi menekankan pentingnya penguatan dampak kelembagaan yang seimbang bagi ketiga kampus pendiri, termasuk pengembangan skema penerimaan mahasiswa doktoral berbasis riset kolaboratif.
Menatap perjalanan menuju usia 25 tahun, anggota Dewan Pengawas Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra mengusulkan penyusunan buku sejarah ICRS sebagai refleksi perjalanan sekaligus fondasi intelektual pengembangan ke depan.
Transformasi “ICRS Re-Born” menjadi momentum penting bagi konsorsium ini untuk terus beradaptasi dan memperluas dampak Bagi UKDW, keterlibatan aktif dalam kepemimpinan dan arah strategis ICRS menegaskan komitmen kampus dalam membangun dialog lintas iman yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global. [mpk]
niversitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali
menorehkan prestasi di tingkat nasional. Pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Award 2025, UKDW meraih penghargaan sebagai Perguruan Tinggi dengan Pembinaan Terbaik PKM Tahun 2025
Ketika Cahaya Padam, Harapan Tetap Menyala: Perjalanan Akademik Hengki Arapan Simarmata di UKDW 2
UKDW Tembus 78 Besar Nasional UI GreenMetric 2025, Tegaskan Komitmen Kampus Berkelanjutan 3
Mahasiswa UKDW Raih Prestasi Internasional Lewat Inovasi OneTrianggle 6
Doc. Panitia
Doc. Panitia
2 Profil Bulan Ini
Perjalanan studi tidak selalu dimulai
dengan kepastian Bagi sebagian orang, perjalanan itu bahkan tumbuh dari kegelapan, baik secara harfiah maupun batiniah Bagi Hengki Arapan Simarmata, pendeta sekaligus alumnus Program Magister Filsafat Keilahian Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), kegelapan justru menjadi ruang perjumpaan yang mendalam dengan satu keyakinan yang tak tergoyahkan. Bahwa Tuhan yang ia imani adalah Tuhan yang baik. Keyakinan itulah yang menuntunnya menjalani proses akademik, bahkan setelah kehilangan penglihatan di tengah masa studi.
Hilangnya penglihatan Hengki terjadi secara tiba-tiba setelah sebuah operasi, tepat di akhir semester kedua. Dunia yang selama ini ia pahami melalui teks, buku, dan diskusi visual seketika runtuh. Dalam situasi seperti itu, banyak orang mungkin akan memilih berhenti. Namun, di titik paling gelap itu, Hengki memilih bertahan. Bukan karena ia merasa kuat, melainkan karena keyakinannya bahwa Tuhan tetap hadir dan bekerja, meski jalan ke depan tak lagi dapat ia lihat.
Satu-satunya kepastian yang ia pegang saat itu adalah iman bahwa setiap proses yang diizinkan terjadi selalu memiliki makna, meskipun makna itu belum sepenuhnya ia pahami.
“Saya akan menceritakan tentang Tuhan yang saya yakini, bahwa Allah itu baik. Dialah yang bekerja di dalam keadaan saya dan menjalani rencana-Nya yang baik. Karena itulah saya bisa terus melanjutkan studi hingga akhirnya diwisuda,” tuturnya. Bagi Hengki, kebaikan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk pemulihan instan atau jalan yang mudah. Justru melalui kehilangan penglihatan, ia belajar mengenal Tuhan yang setia menyertai di tengah ketidakpastian. Ada masa-masa ketika ia tidak lagi mampu melihat rencana ke depan, bahkan tidak
Doc. Panitia
sanggup memahami alasan di balik semua yang terjadi. Namun, di situlah imannya diuji sekaligus diperdalam Bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika hidup terasa gelap.
“Kami tidak pernah marah kepada Tuhan. Perlahan kami menyadari bahwa kondisi ini memiliki makna Jika Tuhan memulihkan saya, puji Tuhan. Jika saya harus hidup tanpa penglihatan sampai akhir hayat, puji Tuhan juga Kami belajar menghormati setiap keputusan Tuhan, karena melalui keadaan ini, justru banyak orang dikuatkan dan menemukan harapan,” ujarnya dengan tenang.
Keyakinan tersebut bukan sekadar pengakuan iman, melainkan daya yang menuntunnya bertahan hingga garis akhir studi Hengki resmi diwisuda pada 6 Desember 2025, bahkan lebih cepat dari rencana awal. Bagi Hengki, capaian ini menjadi kesaksian bahwa Tuhan itu baik, penyertaan dan pertolongan-Nya tak pernah terbatas Dalam setiap proses, termasuk masa-masa paling gelap, selalu ada makna yang Tuhan kerjakan, sering kali baru disadari ketika perjalanan itu dilalui dengan setia.
Perjalanan itu tidak ia jalani seorang diri. Keputusan untuk tetap melanjutkan studi di UKDW bukanlah perkara mudah Hengki sempat berada dalam masa serba tidak pasti, dilanda ketakutan dan kebingungan tentang masa depan yang tak jelas Di tengah kerapuhan itulah, kebaikan Tuhan hadir secara nyata melalui sosok terdekat dalam hidupnya: sang istri, yang menjadi penopang utama hingga ia tetap mampu berdiri dan berani melangkah. “Istri saya menjadi mata, tangan, sekaligus penguat jiwa,” ungkap Hengki.
Sejak hari pertama kehilangan penglihatan, sang istri tidak hanya mendampingi secara fisik, tetapi juga menguatkan secara emosional dan spiritual Ia membacakan
pesan, menuntun langkah, mendampingi terapi, serta melakukan hal-hal sederhana yang bagi orang lain mungkin terasa sepele, tetapi bagi Hengki menjadi jembatan untuk kembali berdiri.
Yang paling berat, menurut Hengki, adalah saat-saat ketika ia merasa tidak berguna Ketika harga diri runtuh dan masa depan terasa gelap Pada momen-momen itulah, sang istri hadir menenangkan hatinya. “Kami menangis bersama. Berdoa dengan kata-kata yang sering kali terputus oleh isak. Ada harihari ketika doa hanya berupa keheningan panjang, karena kami tidak tahu lagi apa yang harus diminta,” kenangnya.
Dari keheningan itulah, mereka belajar berserah Hengki meyakini, di sanalah kebaikan Tuhan bekerja secara sunyi. Melalui cinta, kesetiaan, dan iman yang dijalani bersama, hari demi hari.
UKDW pun menjadi bagian dari penyertaan tersebut. Bagi Hengki, kampus ini bukan sekadar institusi akademik, melainkan ruang aman untuk bertumbuh Ia merasakan penerimaan yang tulus, tanpa syarat, tanpa kasihan, tanpa penurunan standar, dan tanpa penghakiman.
Transisi dari dunia visual ke dunia audio menjadi tantangan besar Buku, artikel ilmiah, dan bahan kuliah yang dulunya mudah diakses kini harus didengarkan secara perlahan dan terbatas, sebuah proses yang melelahkan.
“Perubahannya sangat drastis. Saya yang biasa mengandalkan mata sebagai pintu utama informasi, kini harus belajar mendengar Satu artikel yang sebelumnya bisa saya baca puluhan halaman, kini hanya mampu saya analisis beberapa halaman Informasi menjadi lambat, dan saya mudah lupa,” jelasnya.
Namun, sekali lagi, kebaikan Tuhan ia rasakan melalui banyak pihak. Dosen, teman, komunitas gereja, hingga sesama penyandang disabilitas netra yang bahkan belum pernah ia kenal, turut menolongnya belajar melalui audio, sebuah jembatan baru untuk kembali memahami dunia.
Dukungan konkret juga hadir melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) UKDW yang responsif dan solutif, mulai dari pelatihan, fasilitas teknologi, hingga bantuan pembiayaan pendidikan “ULD membantu saya menemukan kembali kemandirian Saya dilatih, difasilitasi, dan didukung. Walaupun penyusunan tesis masih dibantu istri, saya kembali belajar mengelola informasi dan tugas,” jelasnya.
Menariknya, UKDW tidak menurunkan standar akademik Proses tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan di situlah Hengki menemukan kekuatan. Ia percaya, kebaikan Tuhan tidak selalu berarti kemudahan, melainkan daya untuk bertumbuh. “Standar tidak diturunkan, dan itu membuat saya harus berjuang lebih keras Namun, para dosen juga meyakinkan saya bahwa saya bisa,” tambahnya.
Pendampingan intensif dari Program Studi, khususnya Ketua Program Studi Magister Filsafat Keilahian, turut menjadi penopang penting Pak Handi, selaku Kaprodi, tidak hanya hadir dalam ruang akademik, tetapi juga memberi perhatian personal. Bahkan menyempatkan diri mengunjungi tempat tinggal Hengki untuk
PIMPINAN REDAKSI :Dr. Phil. Lucia Dwi Krisnawati, S.S., M.A. Dr. Paulus Widiatmoko, M.A.
WAKIL PIMPINAN REDAKSI : Meilina Parwa.
mendengarkan pergumulan, memberikan penguatan, strategi, serta meyakinkan bahwa seluruh tahapan tersebut dapat dilalui bersama.
Berkat pendampingan tersebut, Hengki berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar magister dalam waktu 2,2 tahun, lebih cepat dari rencana awal.
Pengalaman hidup tanpa penglihatan justru memperdalam refleksi teologis Hengki. Ia menyadari bahwa penderitaan bukan untuk dihindari, melainkan dapat menjadi ruang kesaksian tentang kebaikan Tuhan.
Sebagai pendeta, Hengki melihat hidupnya menjadi cermin bagi orang lain Bahkan, pengalamannya telah menolong mereka yang hampir kehilangan harapan hidup “Ada seseorang yang membatalkan niat bunuh diri setelah melihat kondisi saya. Katanya, dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dari situ saya tahu, kebutaan saya dipakai Tuhan untuk membawa harapan,” ungkapnya.
Nama “Arapan” yang berarti harapan, kini semakin ia pahami sebagai panggilan hidup. “Saya yakin, siapa pun yang merefleksikan hidupnya dengan Tuhan, proses berat apa pun bisa menjadi kekuatan, bahkan membawa harapan bagi orang lain,” katanya.
Bagi Hengki, hidup yang baik bukanlah hidup tanpa luka, melainkan hidup yang mau berproses, meski jalannya gelap dan tujuannya belum jelas Tuhan yang baik, baginya, tidak selalu menghilangkan luka, tetapi setia bekerja di dalamnya membentuk, menguatkan, dan menghadirkan harapan, pelan namun nyata.
Pada akhir perjalanan studinya di UKDW, Hengki menyampaikan pesan agar kampus tetap menjadi ruang yang memanusiakan setiap proses belajar. “Setiap orang sedang berjuang dengan prosesnya masing-masing. Jangan terburu-buru menilai atau menyimpulkan bahwa proses yang berat adalah kegagalan Di situlah kualitas manusia dibentuk,” ujarnya.
Hengki menegaskan bahwa keberanian untuk bertahan sering kali lebih penting daripada kecepatan untuk sampai. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis tidak hanya dalam mentransfer pengetahuan, tetapi juga dalam menjaga harapan mereka yang sedang berada di titik rapuh.
Ia menilai ketika kampus mau menerima seseorang apa adanya, tanpa menurunkan standar namun tetap memberi penguatan, di situlah pendidikan sejati bekerja. Orang tidak hanya lulus, tetapi dipulihkan, dan dimampukan.
Pengalaman akademik Hengki di UKDW menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati lahir dari pertemuan antara keteguhan, empati, dan iman Ia menyadari bahwa bertahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian Dan dari ketidakpastian itulah, harapan justru lahir, pelan, sunyi, namun nyata.
Pada akhirnya, perjalanan Hengki menjadi kesaksian tentang Tuhan yang baik. Tuhan yang tidak selalu memberi jalan mudah, tetapi setia hadir dalam setiap proses Di tengah kehilangan dan keterbatasan, kebaikan-Nya nyata melalui orang-orang dan ruang yang dihadirkan-Nya. Dari sana, harapan tetap menyala, dan keterbatasan pun berubah menjadi kekuatan yang memberi makna. [mpk]
UKDW
Tembus 78
Besar Nasional UI GreenMetric 2025, Tegaskan Komitmen Kampus Berkelanjutan
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) kembali menorehkan capaian membanggakan di tahun 2025. Untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam UI GreenMetric World University Ranking, UKDW berhasil menempati peringkat ke-78 nasional dari 196 perguruan tinggi di Indonesia. Di tingkat global, UKDW berada pada peringkat 746 dunia dari total 1.745 perguruan tinggi di 105 negara.
Capaian ini menjadi penanda penting perjalanan UKDW dalam membangun kampus yang berkelanjutan Tidak hanya berfokus pada keunggulan akademik dan riset, UKDW terus berupaya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam berbagai aspek tata kelola kampus Mulai dari kebijakan, pengelolaan lingkungan, hingga budaya civitas academica.
UI GreenMetric World University Ranking merupakan pemeringkatan internasional yang dikembangkan oleh Universitas Indonesia sejak 2010 Pemeringkatan ini menilai komitmen perguruan tinggi terhadap keberlanjutan melalui enam indikator utama, yaitu pengaturan dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, limbah, air, transportasi, serta pendidikan dan penelitian Pada tahun 2025, sekitar 1.700 perguruan tinggi dari berbagai negara berpartisipasi, menunjukkan semakin kuatnya gerakan kampus hijau di tingkat global.
Sebagai peserta perdana, UKDW menjalani proses persiapan yang intensif Berbagai kebijakan, program, dan praktik keberlanjutan yang telah berjalan di lingkungan kampus dipetakan dan didokumentasikan secara sistematis Seluruh dokumen pemeringkatan kemudian diajukan pada Oktober 2025. Hasilnya, UKDW tidak hanya masuk dalam jajaran 100 besar nasional,
Penghargaan tersebut diumumkan dalam
UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 yang digelar pada 16 Desember 2025 di Kampus Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang UKDW diwakili oleh Rektor
UKDW Dr -Ing Wiyatiningsih, S T , M T , bersama Tim Sustainable Campus UKDW
yang selama ini mengawal berbagai inisiatif keberlanjutan di lingkungan kampus. Adapun Tim Sustainable Campus UKDW yang mendampingi Rektor dalam acara tersebut Adalah Dr. Dhira Satwika, M.Sc. dari Fakultas Bioteknologi dan Dr -Ing Sita Yuliastuti Amijaya, S T , M Eng dari Fakultas Arsitektur dan Desain. Tidak hanya di tingkat nasional, UKDW juga ambil bagian dalam UI GreenMetric World University Ranking Result and Award
ULD UKDW Masuk 5 Besar Nasional Penguatan Layanan Disabilitas
Ceremony 2025 yang berlangsung pada 4–6 Desember 2025 di National Chi Nan University, Taiwan. Dalam forum internasional ini, UKDW diwakili oleh Christian Nindyaputra Octarino, M.Sc., Dosen Fakultas Arsitektur dan Desain, serta dr. Pradita Sri Mitasari, M.Med.Sc., Sp.PK, Dosen Fakultas Kedokteran, yang tergabung dalam Tim Sustainability Campus UKDW Sertifikat Trees Rating diserahkan langsung oleh Chairperson UI GreenMetric, Vishnu Juwono, Ph.D.
Keikutsertaan UKDW dalam forum nasional dan internasional ini tidak hanya menjadi momen penerimaan penghargaan, tetapi juga membuka ruang dialog, jejaring, dan pertukaran pengetahuan dengan perguruan tinggi lain mengenai praktik terbaik pengembangan kampus berkelanjutan.
“Keikutsertaan UKDW dalam UI GreenMetric 2025 menjadi langkah awal yang penting untuk memperkuat komitmen kami dalam membangun kampus yang berkelanjutan Capaian ini mendorong kami untuk terus memperkuat kebijakan, program, dan budaya keberlanjutan di lingkungan UKDW,” ujar perwakilan Tim Sustainability Campus UKDW.
UKDW terus mendorong integrasi keberlanjutan dalam desain ruang, efisiensi energi, pengelolaan air dan limbah, serta penguatan riset lintas disiplin yang berpihak pada keberlanjutan dan keadilan sosial. Capaian di UI GreenMetric 2025 menjadi pijakan awal bagi UKDW untuk memperluas dampak keberlanjutan, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga bagi masyarakat dan kota di sekitarnya melalui kolaborasi dan pengabdian kepada masyarakat. [Tim Sustainability Campus UKDW]
nit Layanan Disabilitas Universitas
UKristen Duta Wacana (ULD UKDW) mencatat pencapaian signifikan meski baru berusia satu tahun. ULD UKDW berhasil masuk 5 besar nasional Perguruan Tinggi Terbaik dalam Penguatan ULD yang diberikan oleh Direktorat Pendidikan dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prestasi ini menempatkan UKDW sebagai salah satu perguruan tinggi dengan pengembangan layanan disabilitas paling progresif di Indonesia.
Penghargaan disampaikan dalam Seminar Hasil Program Bantuan Pembentukan dan Penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Perguruan Tinggi Tahun 2025 yang berlangsung daring pada Senin, 8 Desember 2025. ULD UKDW terpilih setelah melalui proses penilaian kompetitif bersama 24 perguruan tinggi penerima hibah serupa dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti Tahun 2025 Penilaian mencakup pencapaian dan inovasi program, lingkup dampak serta kerja sama, hingga
rencana keberlanjutan.
Sejak dibentuk pada akhir November 2024, ULD UKDW terus mengembangkan layanan inklusif dan berkelanjutan Melalui hibah penguatan ULD yang diterima pada 22 Juni 2025, delapan program berhasil dirumuskan dan dijalankan, antara lain penyusunan profil mahasiswa disabilitas, penyusunan Renstra ULD 2026–2028 yang telah disahkan Rektor UKDW, Pelatihan Differentiated Learning untuk dosen, pengembangan website ULD, hingga penyusunan SOP Penerimaan Mahasiswa Jalur Disabilitas (PMJD).
serta Workshop Bahasa Isyarat Dasar bagi civitas academica dan mitra.
Di luar program hibah, ULD UKDW bersama Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Karir (Biro 3) UKDW turut mendampingi tiga mahasiswa disabilitas penerima beasiswa internasional Rehabilim Trust, satu mahasiswa penerima beasiswa nasional ADik Disabilitas, serta satu alumni penerima pelatihan kerja dari Dinas Ketenagakerjaan DIY. “Kami bersyukur karena alumni penerima pelatihan kerja tersebut telah diterima bekerja di sebuah perusahaan di Yogyakarta per Desember 2025,” ujar Stefani.
ngembangan program pendidikan partisipatoris, penyediaan fasilitas yang berkeadilan, serta pembangunan budaya kampus yang ramah disabilitas. “Dukungan nyata dari berbagai pihak di UKDW menunjukkan bahwa inklusivitas kampus merupakan sinergi dan wujud nilai keempat UKDW, yakni Service to The World,” ujarnya.
Dalam proses pengembangan layanan, ULD UKDW berjejaring dengan sejumlah pakar, termasuk Dr Asep Jahidin, S Ag , M.Si. (PLD UIN Sunan Kalijaga), Prof. Dr. Ishartiwi, M Pd (PLD UNY), dan Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D. (ULD UGM). Pada September–Oktober 2025, ULD UKDW juga bekerja sama dengan Pusat Studi Disabilitas dan Desain Inklusif serta Sinode GKI dan GKJ DIY–Jawa Tengah untuk menyelenggarakan Seminar Advokasi Layanan Inklusif bagi Kampus dan Gereja, ULD UKDW juga mengusung misi pe-
Kepala ULD UKDW, Stefani Natalia Sabatini, S T , M T , menegaskan bahwa capaian ini sejalan dengan visi unit untuk mewujudkan civitas academica UKDW yang humanis-berbudaya melalui layanan pendidikan yang berempati, inklusif, aksesibel, dan ramah disabilitas untuk mendukung pengembangan potensi dan kemandirian penyandang disabilitas secara optimal.
Masuknya ULD UKDW dalam 5 besar Perguruan Tinggi Terbaik Penguatan ULD Nasional 2025 menegaskan komitmen UKDW dalam memperkuat layanan disabilitas dan memastikan akses pendidikan yang setara bagi seluruh mahasiswa Ke depan, ULD berkomitmen memperluas capaian program dan mempercepat penguatan layanan untuk menjawab kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas secara optimal.
Penghargaan ini meneguhkan posisi UKDW sebagai salah satu kampus inklusif di Indonesia, membuktikan bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan komitmen yang diwujudkan melalui tindakan nyata [mpk]
tetapi juga memperoleh penghargaan 3 Point Trees Rating sebagai bentuk apresiasi atas komitmen pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Universitaria 4 Universitaria
Belajar desain produk tidak selalu
dimulai dari sketsa atau bentuk yang menarik. Di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) proses itu justru diawali dari empati, mendengarkan dan memahami pengalaman orang lain Pendekatan ini diterapkan melalui Mata Kuliah Desain Produk Inklusif yang mengajak mahasiswa merancang produk berdasarkan kebutuhan nyata pengguna, terutama penyandang disabilitas.
Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari program Designing Innovation in Inclusive Waste Management yang didukung oleh United Board (UB) Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga terjun langsung ke masyarakat untuk melihat persoalan pengelolaan sampah dari sudut pandang pengguna sehari-hari.
Salah satu karya yang lahir dari proses belajar ini adalah Inclusive Eco Enzyme Toolkit, alat bantu pembuatan eco enzyme yang dirancang ramah bagi penyandang disabilitas netra. Toolkit ini terdiri atas gelas ukur inklusif, alat potong yang aman digunakan oleh tuna netra, serta penutup
botol khusus (inclusive cap airlock). Karya tersebut diperkenalkan kepada publik dalam Entrepreneurial Expo 2025 yang digelar di Atrium Agape UKDW pada 12 Desember 2025.
Dalam pameran tersebut, mahasiswa tidak hanya memajang produk, tetapi juga mengajak pengunjung mencoba simulasi penggunaan alat dengan mata tertutup. Cara sederhana ini membantu pengunjung merasakan langsung tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas netra, sekaligus menunjukkan bahwa desain dapat menjadi
Program Designing Innovation in
Inclusive Waste Management in Sedayu Sub-District memasuki fase baru melalui gelaran public hearing di Sekretariat Keluarga Difabel Pinilih Sedayu pada 11 Desember 2025 Kegiatan ini menandai penutupan program dua tahun yang dijalankan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dengan dukungan United Board for Christian Education in Asia (UBCHEA), sekaligus menegaskan keberlanjutan komitmen terhadap inisiatif pengelolaan sampah yang inklusif di wilayah Sedayu.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset UKDW, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., menegaskan bahwa perjalanan dua tahun program merupakan proses pembelajaran bersama yang menjadi fondasi penting bagi kerja sama berkelanjutan.
“Kami bersyukur program ini dapat berjalan selama dua tahun. Kami menyadari masih ada kekurangan, namun berbagai capaian mulai dari inovasi alat pemilah sampah oleh mahasiswa KKN hingga pengembangan sistem rekam medis elektronik (eRM)—telah memberi manfaat
alat untuk menciptakan akses yang lebih setara.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Desain Produk Inklusif sekaligus Ketua Program Studi Desain Produk UKDW, Winta T. Satwikasanti, menjelaskan bahwa mahasiswa belajar menggunakan pendekatan design thinking. Mereka diajak memahami masalah dari sudut pandang pengguna, mengembangkan ide, membuat prototipe, dan mengujinya secara langsung.
“Mahasiswa belajar bahwa desain tidak bisa dibuat berdasarkan asumsi Mereka
UKDW Perkuat Kolaborasi Inklusif dan
Inovasi Pengelolaan Sampah di Sedayu
nyata bagi masyarakat. Penutupan ini bukan akhir program. Ke depan, inisiatif tetap dapat berlanjut, baik dengan tema seputar waste management maupun isu inklusivitas lainnya,” ujarnya. Apresiasi juga disampaikan perwakilan Kapanewon Sedayu, Aji Muhminarno, SPSE, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial RI Wilayah Sedayu Ia menilai pendekatan UKDW membuka ruang partisipasi aktif bagi kelompok difabel dalam setiap tahapan program.
Ketua LPPM UKDW, Dr. Freddy Marihot Rotua Nainggolan, S.T., M.T., IAI., menjelaskan bahwa public hearing dipilih sebagai forum evaluasi terbuka agar masyarakat dapat menyampaikan masukan secara langsung. Menurutnya, tiga pilar utama yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dijalankan secara terpadu dan saling melengkapi.
Beragam program dipresentasikan dalam kegiatan tersebut, antara lain evaluasi KKN mahasiswa, pengembangan eRM untuk Rumah Kebugaran Difabel, pembuatan game edukasi pengelolaan sampah berbasis Virtual Reality (VR), produksi eco enzyme dan
turunannya, serta uji coba alat inovatif pendukung pengelolaan sampah bersama Komunitas Pinilih.
Freddy juga mengungkapkan bahwa capaian program Sedayu telah dipresentasikan dalam 10th Asia Pacific Regional Conference on Service-Learning (APRC S-L) di Ateneo de Davao University, Filipina “Penggunaan teknologi VR untuk edukasi pengelolaan sampah mendapat perhatian besar dari peserta internasional Mereka melihat pendekatan ini sebagai metode baru yang potensial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi komunitas, Perwakilan Pinilih, Tri Suhartini, mengapresiasi rangkaian program yang dinilainya membawa pengalaman baru dan relevan “Program ini inovatif dan memberi kami pengalaman yang luar biasa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa aplikasi eRM kini telah mulai digunakan di Rumah Kebugaran Difabel. “Kami bangga karena kini memiliki sistem rekam medis digital Aplikasi ini memudahkan pembuatan laporan, grafik, dan pengolahan data yang sebelumnya kerap hilang Ini benar-benar sesuai kebutuhan
harus memahami pengalaman pengguna secara langsung,” ujarnya.
Proses uji coba dilakukan bersama komunitas Keluarga Difabel Pinilih Sedayu Dari interaksi tersebut, mahasiswa memperoleh banyak masukan terkait kenyamanan, keamanan, dan kemudahan penggunaan produk. Masukan ini kemudian digunakan untuk menyempurnakan desain agar benarbenar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Selain Inclusive Ecoenzyme Toolkit, mahasiswa juga mengembangkan berbagai ide desain lain terkait pengelolaan sampah, seperti alat pembersih lantai yang ramah pengguna kursi roda, penyapu sampah kaca untuk penyandang disabilitas netra, tempat sampah yang mudah dijangkau, serta penjepit sampah bagi pengguna dengan keterbatasan gerak tangan. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman ini, UKDW menunjukkan bahwa desain produk tidak hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang kepedulian. Mahasiswa belajar melihat desain sebagai cara untuk menghadirkan solusi yang lebih inklusif, ramah lingkungan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. [drr]
kami,” katanya.
Sementara itu, Yoyok dari Puskesmas Sedayu 2 menyampaikan harapan agar ke depan sistem eRM dapat terintegrasi dengan data BPJS Kesehatan, sehingga proses entri data menjadi lebih efisien. Ia juga membuka peluang keberlanjutan kolaborasi melalui KKN mahasiswa bidang teknologi informasi untuk mendukung migrasi data. Salah satu warga, Wahyu, turut berbagi pengalamannya mencoba game VR edukasi pengelolaan sampah. Ia mengajak masyarakat untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara konsisten, termasuk pemilahan sampah yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi.
Penutupan program ini menegaskan bahwa kolaborasi multipihak, inovasi teknologi, dan pendekatan inklusif mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam menjawab tantangan lingkungan. Meski fase program telah resmi ditutup, semangat kolaborasi yang tumbuh di Sedayu diharapkan terus berlanjut melalui berbagai inisiatif adaptif yang berpihak pada kelompok rentan. [drr]
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Layanan
Perkumpulan Pita Merah Jogja bersama
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) meluncurkan fitur terbaru Ruang Pengaduan pada aplikasi Monitoring Evaluasi Kesehatan Orang dengan HIV (Montov) Kegiatan berlangsung pada Kamis, 11 Desember 2025 di Kampus FK UKDW dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kesehatan DIY, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi masyarakat, akademisi, serta komunitas pemerhati HIV.
Peluncuran fitur ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem layanan HIV yang inklusif, responsif, dan terintegrasi, khususnya dalam rangka mendukung target Eliminasi HIV 2030.
Sekretaris Pita Merah Jogja, N. Bagaswara, menyampaikan bahwa fitur baru Montov dikembangkan untuk menjawab kebutuhan kanal pelaporan yang aman, rahasia, dan ramah anak muda. Fitur ini memungkinkan ODHIV menyampaikan aduan terkait ketersediaan obat antiretroviral (ARV), pengalaman stigma maupun diskriminasi, serta hambatan akses layanan kesehatan.
“Ruang Pengaduan disiapkan sebagai jembatan antara kebutuhan komunitas dan layanan kesehatan, sehingga kualitas layanan dapat ditingkatkan secara berkelanjutan,” ujar Bagas.
Aplikasi Montov pertama kali dirilis pada 2024 dan memuat sejumlah fitur utama, antara lain informasi HIV, pengingat obat, akses fasilitas kesehatan PDP, laporan kesehatan, mitigasi bencana, serta notifikasi massal.
Dekan FK UKDW, dr. The Maria Meiwati Widagdo, menyampaikan bahwa keberadaan fitur baru ini sangat membantu ODHIV, mengingat persoalan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga isu sosial. Sebagai institusi pendidikan, FK UKDW berkomitmen memperluas
LYEU turut mendorong institusi pendidikan lainnya untuk mereplikasi praktik baik ini guna memperluas edukasi dan keterlibatan anak muda dalam isu kesehatan.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi antara komunitas, akademisi, fasilitas kesehatan, dan organisasi masyarakat dalam memperkuat pencegahan dan penanggulangan HIV “Pemerintah daerah menargetkan Eliminasi HIV pada 2030 melalui layanan deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, dan upaya penurunan stigma. Aplikasi Montov merupakan inovasi yang dapat mendukung pencapaian target tersebut,” ujar Ari.
Ia menegaskan pentingnya peran seluruh unsur pentahelix dalam mendorong kampanye Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan.
Kegiatan peluncuran ini turut disertai diskusi ilmiah bertajuk “Dari Gejala Kulit ke Diagnosis HIV: Peran Tenaga Medis dan Komunitas dalam Pencegahan” yang menghadirkan Dr. Arum Krismi, Sp.DVE., dan Alvo sebagai narasumber. Paparan menekankan pentingnya deteksi dini infeksi menular seksual (IMS) melalui gejala kulit sebagai salah satu pintu awal diagnosis HIV, serta pentingnya menghadirkan layanan kesehatan yang bebas stigma.
kontribusi Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang kesehatan masyarakat. FK UKDW juga berkomitmen memberikan dukungan akademik melalui riset, penyedia-
an pakar, serta pelibatan mahasiswa dalam kegiatan edukasi dan advokasi kesehatan.
“Stigma masih menjadi hambatan signifikan bagi ODHIV dalam mengakses layanan. Ketika stigma begitu kuat, banyak dari mereka memilih menutup diri dan enggan mencari pengobatan. Fitur ini menyediakan ruang aman bagi mereka untuk menyampaikan masalah dan memperoleh solusi,” jelas Maria.
Direktur Yakkum Emergency Unit (YEU), Debora Dian Utami, menyampaikan bahwa aplikasi digital seperti Montov merupakan instrumen penting untuk memastikan keberlanjutan layanan HIV, terutama pada situasi darurat. “Di sejumlah daerah, bencana pernah menghambat akses pengobatan HIV. Oleh karena itu, mekanisme pelaporan dan rujukan yang aman sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara FK UKDW dan Pita Merah Jogja sebagai bentuk komitmen kolaboratif dalam pengembangan aplikasi, penelitian, dan edukasi publik.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sistem dukungan yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan bagi ODHIV serta kelompok rentan, sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat kesehatan masyarakat dan mempercepat pencapaian target nasional penanggulangan HIV. [mpk]
Peran Perempuan Pelestari Gerabah Diangkat dalam Bedah Buku Karya Dosen UKDW
aboratorium Kerajinan dan Budaya
Program Studi Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar bedah buku Suatu Hari di Sambirata: Pengalaman Estetis Keseharian Bersama Perempuan Pelestari Gerabah pada Kamis, 4 Desember 2025, di Bentara Budaya Yogyakarta. Buku karya Dr. Koniherawati, dosen Program Studi Desain Produk UKDW ini, memotret kehidupan perempuan perajin gerabah di Dusun Sambirata, Purbalingga, melalui pendekatan estetika keseharian.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan pegiat budaya, antara lain Dr. Koniherawati; Dr. Yustina Devi Ardhiani, dosen Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma; serta Pdt. Stefanus Christian Haryono, Ph.D., dosen Spiritualitas Fakultas Teologi UKDW.
Diskusi menyoroti bagaimana riset lapangan yang dilakukan Koniherawati memberikan gambaran mendalam mengenai praktik produksi gerabah tradisional serta tantangan regenerasi perajin di Sambirata. Bedah buku ini sekaligus menjadi program
perdana laboratorium dalam upaya memperluas jangkauan riset dan mendorong kolaborasi budaya dengan komunitas lokal. Dalam pemaparannya, Koniherawati menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari penelitian panjang yang ia lakukan selama studi doktoral. Riset itu menekankan peran penting perempuan sebagai pewaris utama tradisi gerabah sekaligus penopang ekonomi keluarga “Keseharian para perajin bukan hanya serangkaian pekerjaan rutin, tetapi merupakan wujud estetika dan spiritualitas yang menyatu dengan lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dokumentasi
budaya melalui buku ini menjadi krusial mengingat jumlah perajin di Sambirata terus menurun, sementara kerajinan tradisional kian terdesak oleh produk industri Koniherawati berharap publikasi tersebut dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kembali nilai sosial, budaya, dan artistik dari gerabah desa.
Buku Suatu Hari di Sambirata juga dimanfaatkan sebagai rujukan dalam pengajaran di Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Jurusan Kajian Budaya, khususnya terkait metode pengamatan dan pengumpulan data lapangan Peran
Koniherawati sebagai akademisi UKDW mendapat perhatian karena risetnya tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian budaya lokal.
Acara ditutup dengan ajakan untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi gerabah Sambirata melalui kolaborasi antara akademisi, lembaga budaya, dan masyarakat “Pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kerja bersama agar tradisi yang diwariskan turun-temurun tidak berhenti di generasi ini,” kata Koniherawati. [mpk]
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Fakultas Teknologi Informasi
UKDW Jadi Tuan Rumah
DevFest Google Developer Group Jogjakarta 2025
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) menjadi tuan rumah penyelenggaraan DevFest Google Developer Group (GDG) Jogjakarta 2025, konferensi teknologi tahunan berbasis komunitas terbesar di dunia, yang digelar pada 14 Desember 2025 Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian DevFest yang diselenggarakan di 10 kota besar di Indonesia, dengan Jogjakarta sebagai salah satu lokasi pelaksanaan.
DevFest GDG Jogjakarta 2025 diikuti sekitar 650 peserta yang terdiri atas mahasiswa, pengembang perangkat lunak, akademisi, serta praktisi industri. Forum ini menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik dalam pengembangan teknologi, khususnya di bidang kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan komputasi awan (Cloud Computing).
Mengusung tema “Building Safe, Secure, and Scalable Solutions with AI and Cloud”, DevFest GDG Jogjakarta 2025 menegaskan bahwa kecerdasan artifisial dan komputasi awan tidak lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kebutuhan dalam pengembangan solusi teknologi yang aman, efisien, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga etis, aman, dan dapat diterapkan secara luas.
Organizer GDG Jogjakarta, A Chaisar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa DevFest merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pengembang yang
inklusif dan berkelanjutan. Ia menjelaskan
Google Developer Group (GDG) adalah komunitas nonprofit yang didukung oleh Google dan berfokus pada penguatan inovasi teknologi melalui pembelajaran bersama dan kolaborasi lintas sektor.
Sebagai tuan rumah, UKDW menyambut positif penyelenggaraan DevFest di lingkungan kampus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Promosi Fakultas Teknologi Informasi UKDW, Matahari Bhakti Nendya, S Kom , M T , menekankan
pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan industri dalam mendorong lahirnya inovasi teknologi Ia menilai inovasi tumbuh melalui proses berbagi pengetahuan, diskusi terbuka, serta penguatan jejaring profesional Ia juga mendorong peserta untuk aktif berpartisipasi, berdiskusi, dan membangun koneksi selama kegiatan berlangsung. Rangkaian kegiatan DevFest GDG Jogjakarta 2025 diawali dengan sesi pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan berbagai sesi
teknis di Main Stage yang bertempat di Auditorium Koinonia UKDW. Materi yang disajikan mencakup responsible vibe coding dengan Gemini, optimalisasi dan debugging performa web berbasis AI, pengembangan aplikasi Android menggunakan Flutter dan Gemini, hingga peningkatan privasi serta keamanan melalui Android SDK Runtime.
Pada sesi siang, pembahasan difokuskan pada pengembangan Cloud serta AI/ML Topik yang diangkat antara lain pembangunan sistem multi-agent menggunakan Google ADK, pemanfaatan Gemini CLI, serta peran riset dalam pengembangan produk berbasis kecerdasan artifisial. Setiap sesi dilengkapi dengan diskusi interaktif dan tanya jawab bersama para pembicara.
Selain sesi utama, DevFest GDG Jogjakarta 2025 juga menghadirkan sejumlah workshop paralel yang memberikan pengalaman praktik langsung kepada peserta. Workshop tersebut meliputi bidang Cloud, AI/ML, Android, dan Web, seperti pengembangan intelligent agents, pelatihan sistem multiagent, pembuatan AI-powered product scanner berbasis Android, serta integrasi fitur AI pada aplikasi web.
Melalui penyelenggaraan DevFest GDG Jogjakarta 2025, peserta diharapkan memperoleh wawasan terkini, memperluas jejaring profesional, serta terdorong untuk mengembangkan solusi teknologi yang berdampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam menghadapi era AI-first world. [Beatrice Dwi Putri]
Mahasiswa UKDW Raih Prestasi Internasional Lewat Inovasi OneTrianggle
Dunia teknologi kembali menyoroti
inovasi anak bangsa. OneTrianggle, sebuah protokol zero-loss gamified savings yang dikembangkan oleh Yeheskiel Yunus Tame, mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), berhasil meraih Juara Ketiga dalam sebuah kompetisi Web3 internasional dan membawa pulang hadiah sebesar US$1.000.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh OneChain Lab, salah satu perusahaan blockchain berbasis MOVE (Fork SUI), mempertemukan para pengembang dan inovator Web3 dari berbagai negara. Ajang tersebut merupakan gelaran hackathon kedua dengan fokus pada pengembangan gim bertema keuangan (gamefi) OneTrianggle tampil menonjol berkat pendekatannya yang unik dalam memadukan konsep tabungan berbasis teknologi Decentralized Finance (DeFi) dengan mekanisme permainan interaktif yang aman dan mudah diakses publik.
Yeheskiel menjelaskan OneTrianggle menawarkan konsep tabungan dengan risiko minim, bahkan disebut sebagai zero-loss concept Melalui platform ini, pengguna dapat menyimpan dana yang kemudian akan disalurkan ke protokol DeFi untuk menghasilkan bunga Keunikan platform ini
terletak pada gim gunting–batu–kertas berbasis voting Pemenang gim akan menerima bunga hasil proses lending, sedangkan modal pengguna tetap aman dan tidak berkurang. Model tersebut memungkinkan masyarakat, terutama generasi muda, untuk mempelajari mekanisme keuangan terdesentralisasi secara aman, interaktif, dan menyenangkan “Proyek ini menghadirkan cara baru untuk menabung dan belajar dunia DeFi tanpa risiko kehilangan modal,” ujar Yeheskiel, pengembang tunggal di balik OneTrianggle.
Ia menambahkan bahwa informasi kompetisi ini ia peroleh dari senior komunitas Web3 Yogyakarta, yang sebelumnya juga telah bekerja sama dengan UKDW dalam penyelenggaraan bootcamp untuk memperdalam keahlian di bidang DeFi.
Proses pengembangan proyek dilakukan secara intensif selama dua hari satu malam. Menurut Yeheskiel, dukungan dari program studi, khususnya melalui mata kuliah blockchain, serta adanya study group internal yang rutin membahas kompetisi Web3 turut membantunya menyiapkan proyek tersebut. “Saya senang bisa meraih kemenangan ini. Harapannya ke depan semakin banyak mahasiswa UKDW yang ikut kompetisi dan membawa pulang prestasi,” ujarnya. Ia juga
menilai bahwa potensi Web3 sangat besar apabila teknologi tersebut dapat diadopsi lebih awal.
OneTrianggle kini dapat diakses melalui situs resminya https://one-trianggle vercel.app dan hadir dengan tampilan antarmuka yang ringan serta mudah dipahami, sehingga dapat digunakan oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang belum familiar dengan dunia kripto maupun Web3.
Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi UKDW sekaligus menunjukkan bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing
dengan inovator global. Pendekatan zero-loss yang dikombinasikan dengan elemen permainan dianggap sebagai terobosan baru yang dapat berkontribusi pada model keuangan digital masa depan. Tren global yang mengarah pada gamified finance, yang lebih menarik, transparan, dan inklusif, menjadikan inovasi seperti OneTrianggle sebagai bukti bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga turut berperan sebagai pencipta dan penggerak ekosistem Web3. [mpk]
Doc. Pribadi
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
UKDW ELED Students Hold Hybrid Seminar on Smart and Safe Digital Communication
Students of the English Language
Education Department (ELED) at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Batch 2024, successfully organized a hybrid academic seminar as the final project for their Speaking for Academic Purposes course. The event brought together UKDW students, lecturers, teachers, and senior high school students from across Yogyakarta. Conducted both offline at the Harun Hadiwijono Seminar Room and online via digital platforms, the seminar demonstrated how academic speaking and digital engagement can work together in a
environment.
The seminar, titled “Think Before You Post: Smart and Safe Digital Communication,” emphasized the importance of responsible, critical, and ethical communication in today’s digital era. With social media playing a major role in shaping young people’s identities and interactions, the theme was especially relevant for senior high school students who are actively engaged in online spaces. By inviting them to participate in this academic event, UKDW ELED students created a meaningful opportunity for younger learners to experience academic discussion and reflect on their own digital habits.
A major highlight of the seminar was the presence of Mr Keminggris, a well-known content creator. He shared practical insights on building a positive digital presence, managing online content, and communicating wisely on public digital platforms His talk was complemented by Arida Susyetina, S.S., M.A., a lecturer from the English Language Education Department at UKDW, who offered an academic perspective on media literacy, critical thinking, and the power of language in shaping online communication. Together, the speakers successfully connected real-life digital practices with academic reflection.
One of the most dynamic components of the seminar was the parallel sessions, which took place simultaneously in three different venues. Each room featured student presenters from the Applied Linguistics in ELT class, who discussed various articles and themes related to digital communication, youth issues, education, and social responsibility. Although the topics varied, all sessions shared a common goal: to encourage
communicate thoughtfully. This format allowed participants to select sessions based on their interests and engage more deeply with specific issues.
The seminar also included a poster exhibition that functioned as both a reflective learning space and a break-time activity for participants. During this session, participants were invited to relax, walk around, and explore a range of posters created by the students. These posters were developed from the same themes used in the previous speech competition, transforming spoken arguments into visual representations The exhibition added a creative and interactive dimension to the seminar, making the academic content more accessible and engaging. Overall, this final project was not only a test of speaking skills but also a comprehensive academic experience Through careful planning, collaboration, and creative presentation, the UKDW ELED Batch 2024 students successfully delivered a seminar that was informative, engaging, and meaningful for both university and senior high school participants across Yogyakarta. [Yosafat Yahya]
Learning Beyond Sight: An Experience of Teaching English at Mardi Wuto Foundation
As a student of the English Language
Education Department (ELED) at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), I had the opportunity to gain a meaningful teaching experience beyond the traditional classroom. Through a compulsory course, Teaching English for Specific Purposes (TESP), I taught English to a visually impaired child at the Mardi Wuto Foundation, an organization dedicated to supporting individuals with visual impairments.
The teaching experience was part of a course taught by Dr. Fransisca Endang Lestarningsih, S.Pd., M.Hum., in which students worked in
groups to teach learners from different educational levels. The class was divided into three teaching groups: university students, junior and senior high school students, and elementary school students or young learners. Together with two classmates, Agnes and Kezia, I was assigned to teach an elementarylevel student.
Our student, Azka, quickly became the highlight of our teaching journey. Despite not receiving formal English instruction at school, Azka demonstrated strong comprehension and responded confidently in English. He was an active, curious, and fast learner whose enthusiasm consistently exceeded our expectations.
Over the course of five meetings, we delivered a series of structured learning units. The first lesson focused on greetings and selfintroduction. To support Azka’s learning, we combined verbal explanations with physical movements that he could follow When necessary, we guided his movements through touch. His visual impairment never became a barrier; instead, it challenged us to be more creative and attentive in our teaching
approach. From the very first meeting, Azka actively participated, answered questions enthusiastically, and quickly remembered new vocabulary.
In the second meeting, we introduced the topic of family members. The session began with a short prayer and a review of the previous lesson. To our surprise, Azka remembered the earlier material very well We took turns explaining the lesson and incorporated songs to make the learning process more engaging Although the song was new to him, Azka learned it step by step and confidently sang along with us by the end of the session.
The following week, we introduced a lesson titled “Let’s Learn Vocabulary with Songs.” This approach proved effective in helping Azka expand his vocabulary Week by week, we observed clear progress as he began recalling words more easily and forming simple sentences using the vocabulary he had learned.
In the fourth and fifth meetings, we integrated the materials from previous lessons. The fourth session focused on classroom objects, using real items that Azka could touch and explore to better understand their
meanings in English. The final meeting was dedicated to a comprehensive review of all the lessons. When we asked Azka to recall what he had learned, he impressed us once again by remembering most of the material His responses confirmed that the teaching strategies we applied had been effective.
Throughout the lessons, we encouraged Azka to ask questions whenever he encountered unfamiliar or confusing words. Teaching a visually impaired child was a completely new experience for me—one that required careful word choice, patience, and heightened sensitivity. Despite the challenges, the experience was deeply rewarding and personally transformative.
This experience reinforced a powerful lesson: limitations do not define a person’s ability to learn and grow With the right support, approach, and opportunity, every child has the potential to thrive. Teaching at M a r d i W u t o F o u n d a t i o n n o t o n l y strengthened my teaching skills but also reshaped my understanding of inclusive education and human potential. [Exchel Putri]
English Escape: The Lost Flame of Prometheus—An Experiential English Learning Innovation at UKDW
English Escape: The Lost Flame of
Prometheus is an experiential English language learning program designed by students of the Entrepreneurship in ELT (EELT) course in the English Language Education Department (ELED) at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). The program brought together high school students and UKDW students, primarily from partner schools such as SMP Bopkri 1, as well as participants from outside Yogyakarta, including students from SMA Negeri 2 Temanggung.
The program was supported by various partners, including the UKDW Language Training Center, Dummin Café, ELTI, and other collaborating institutions. Developed as an active and contextual learning initiative,
participants to use English in real-life
situations through interaction, collaboration, and problem-solving in an engaging and enjoyable setting.
Built around an escape-game format and inspired by Greek mythology, the program invited participants to embark on an adventure in search of the “Fire of Prometheus,” symbolizing knowledge and enlightenment The experience was divided into four interconnected rounds of challenges. The first round featured an escape room in which participants solved puzzles to progress. This was followed by a vocabulary and grammar game in the second round, a short English quiz in the third round, and a final escape challenge in the fourth round. Throughout the program, participants worked in teams to solve problems and collect clues, with one key rule consistently applied: all communication had to be conducted in English.
In the final round, participants combined all the clues gathered from the previous rounds to unlock the last challenge This stage culminated in a moral decision between personal gain, represented by a “treasure,” and the pursuit of knowledge, symbolized by the “Fire,” for the greater good Through this reflective conclusion, English Escape went beyond language practice to promote values such as teamwork, responsibility, and critical thinking.
As a project of the EELT course, English Escape: The Lost Flame of Prometheus demonstrates that English language learning can be designed in creative, meaningful, and relevant ways. The program highlights how experiential learning can respond effectively to learners’ needs while fostering active engagement within the UKDW academic environment. [Queen Alfa]
doc.Google
doc.UKDW
Pusat Pelatihan Bahasa
Suatu pagi di sebuah kampus di kota
gudeg, seorang dosen memberi tugas kepada mahasiswa-mahasiswa di kelasnya untuk bekerja dalam kelompokkelompok kecil, yang terdiri dari tiga atau empat mahasiswa di tiap kelompok. Di setiap kelompok, satu mahasiswa ditunjuk sebagai ketua Setelah tema diskusi dijelaskan dan dosen berkata “You can start now,” diskusi kelompok pun dimulai.
Beberapa kelompok langsung terlihat mulai ramai berdiskusi Anggota-anggotanya aktif menyampaikan ide, saling menanggapi, ada yang setuju, ada pula yang mengajukan pendapat berbeda Sebagian kelompok kelihatan serius dengan diskusi mereka, ada juga kelompok-kelompok yang berdiskusi sambil melempar jokes ke anggota-anggota kelompok yang lain. Suara tawa dan cekikikan terdengar dari beberapa sudut kelas.
Di salah satu sudut ruangan, ada satu kelompok dengan empat mahasiswa yang juga tampak sedang berdiskusi. Ketua kelompok dengan semangat membuka diskusi dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada anggota-anggota yang lain Dua anggota t e r l i h a t a n t u s i a s M e r e k a l a n g s u n g melontarkan ide-ide mereka, yang mendapat respons hangat dari ketua kelompok. Diskusi berjalan lancar, penuh gagasan menarik, bahkan sesekali mengundang tawa.
Wait, ada yang janggal di kelompok sudut kelas ini Saat tiga mahasiswa selalu bersemangat dalam diskusinya, satu mahasiswa tampak pasif Ia terlihat tidak terlalu terlibat dalam diskusi bersama teman-
Orange Juice Effect
temannya. Wajahnya kelihatan cuek. Saat yang lain aktif berdiskusi, ia malah asyik dengan ponselnya, jari-jarinya sibuk menggulir akun Tiktoknya. Sesekali bibirnya tersenyum tipis, mungkin karena menemukan video yang lucu. Ketua kelompok, menyadari ada satu anggotanya yang tidak aktif, beberapa kali mencoba memancingnya dengan meminta pendapatnya, tapi yang didapat hanya anggukan tanpa respons berarti. Teman-teman sekelompoknya juga berusaha membuat dia aktif, tapi ia seperti tenggelam dalam dunia dunianya sendiri.
Ya, kita baru saja melihat dua macam kelompok besar yang sungguh berbeda. Yang satu, adalah kelompok-kelompok dimana semua orang dalam kelompok bersikap aktif, bersemangat, dan responsif terhadap pertanyaan-pertanyaan dan ide-ide dari teman-teman sekelompoknya Yang kedua, tentunya adalah kelompok dimana ada satu
anggota yang janggal sikapnya. Di saat yang lain begitu bersemangat dalam berdiskusi, satu anggota memilih untuk menjaga jarak, tidak mau berkontribusi apa pun. Sikap seperti ini jelas merongrong kebersamaan, menghambat jalannya diskusi, dan berpotensi merugikan kelompok secara keseluruhan.
Apa yang terjadi di atas, adalah satu contoh fenomena yang sering terjadi di kalangan mahasiswa, bahkan juga terjadi di dunia kerja dan berbagai organisasi. Ada banyak kasus di kalangan mahasiswa, seperti cerita di atas, tentang mahasiswa yg tidak mau tahu, tidak mau kerja sama, dan tidak menghargai kelompok yang seharusnya dia support dan perjuangkan Ini bisa terjadi dalam sebuah kelompok kecil atau besar, bisa juga terjadi dalam sebuah kepanitiaan. Bisa dibayangkan kalau ada lebih dari satu orang yang berperilaku negatif seperti di atas, apa yang akan terjadi pada event, acara, atau program apa pun yang
sedang dijalankan? M
@reyfrangswa, fenomena seperti ini disebut dengan Orange Juice Effect Mungkin ini masih terdengar asing ya konsepnya. Tetapi ini sering terjadi di kampus, tempat kerja, organisasi, atau lingkup tim lainnya Bayangkan kita membuat jus jeruk dari lima buah jeruk yang segar dan berkualitas, lalu menambahkan satu jeruk yang busuk Seberapa bagus pun lima jeruk tadi, hasil jusnya tetap akan terasa tidak enak. Mayoritas anggota mungkin memiliki kinerja dan sikap yang baik, tetapi kehadiran satu orang dengan kinerja buruk, terlebih jika berada di posisi penting seperti pemimpin, dapat menurunkan hasil kerja seluruh tim. Dampaknya bukan hanya pada kualitas hasil, tetapi juga pada semangat anggota lain yang sudah bekerja keras namun akhirnya harus menerima hasil yang tidak maksimal.
Saat kita mau membuat a jar of orange juice untuk keluarga, saudara, atau pun temanteman kita, pastikan dulu bahwa kita sudah memilih buah jeruk yang bagus, segar, dan tidak ada yang busuk. Hal yang sama berlaku dalam kerja tim Setiap orang membawa pengaruh Karena itu, mari memastikan bahwa kehadiran kita justru memperkaya, bukan merusak, “ rasa ” kebersamaan Silahkan diminum, orange juicenya. [EL]
Akun Tiktok @reyfrangswa
Referensi: Ÿ h t t p s : / / t h e 1 0 0 y e a r l i f e s t y l e c o m / w pcontent/uploads/2020/12/AdobeStock 118835355scaled.jpeg
Campus Ministry
Melangkah di Tahun Baru dengan Semangat Striving for Excellence
Bacaan Alkitab:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Tahun baru sering dipandang sebagai
awal yang segar Banyak dari kita menuliskan resolusi: ingin lebih rajin, lebih disiplin, lebih berprestasi, atau menjadi pribadi yang lebih baik
tahun sebelumnya Namun, seiring berjalannya waktu, tidak sedikit resolusi tersebut perlahan memudar Kesibukan, kelelahan, dan kegagalan kecil kerap membuat kita berhenti berusaha.
doc.Google
Firman Tuhan dalam Kolose 3:23 mengingatkan bahwa apa pun yang kita lakukan, hendaknya dilakukan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Ayat ini relevan bagi kita sebagai mahasiswa baik saat
Dalam nilai UKDW, Striving for Excellence mengajak kita untuk terus berupaya memberikan yang terbaik, bukan demi k e s e m p u r n a a n , m e l a i n k a n d e m i pertumbuhan. Excellence tidak selalu berarti menjadi yang paling unggul dibandingkan orang lain, tetapi memiliki komitmen untuk melakukan setiap hal dengan sungguhsungguh dan bertanggung jawab. belajar, mengerjakan tugas, berorganisasi, maupun melayani sesama Ketika kita menyadari bahwa setiap usaha adalah bentuk ibadah, motivasi kita tidak lagi hanya soal nilai, pujian, atau pengakuan, melainkan tentang kesetiaan dan integritas.
Tahun baru bukan berarti kita harus menjadi orang yang sama sekali baru, tetapi memberi kesempatan untuk memperbaiki langkah Kegagalan di masa lalu bukanlah akhir, melainkan bahan pembelajaran Semangat Striving for Excellence mendorong
kita untuk bangkit, mengevaluasi diri, dan terus melangkah, meskipun perlahan. Sebagai bagian dari komunitas UKDW, nilai ini juga mengingatkan bahwa keunggulan tidak tumbuh secara individual. Kita dipanggil untuk saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Dengan bekerja sama, menghargai perbedaan, dan belajar dari satu sama lain, kita bertumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih matang, baik secara akademik maupun karakter. Memasuki tahun yang baru, marilah kita menata kembali tujuan hidup kita Tidak perlu target yang muluk, cukup komitmen sederhana: melakukan yang terbaik hari ini. Biarlah setiap langkah kecil yang kita ambil menjadi wujud nyata dari semangat Striving for Excellence, sehingga melalui hidup kita, nama Tuhan dimuliakan dan sesama diberkati Selamat menapaki tahun yang baru dengan hati yang penuh harapan dan tekad untuk terus bertumbuh. [Pedro Damar Pradipta]
Merajut Kebersamaan dalam Kasih: Rangkaian Perayaan Natal Keluarga Besar UKDW
Universitas Kristen Duta Wacana
( U K D W ) m e n y e l e n g g a r a k a n rangkaian Perayaan Natal dan Refleksi Akhir Tahun Keluarga Besar UKDW dengan tema “Keluarga UKDW Satu Hati”. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh civitas academica UKDW untuk merayakan kelahiran Kristus sekaligus mempererat persaudaraan lintas generasi dalam semangat kasih, kepedulian, dan kebersamaan.
Perayaan Natal UKDW tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan sebagai perjalanan iman dan komunitas yang melibatkan dosen, t e n a g a k e p e n d i d i k a n , m a h a s i s w a , purnakarya, serta mitra kampus Melalui tema “Satu Hati”, UKDW menegaskan identitasnya sebagai keluarga besar yang bertumbuh bersama dalam keberagaman peran dan latar belakang, namun disatukan oleh nilai-nilai Kristiani yang hidup dan relevan.
Ibadah Natal dan Refleksi Akhir Tahun
Puncak rangkaian perayaan diwujudkan melalui Ibadah Natal dan Refleksi Akhir Tahun yang berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita pada Jumat, 12 Desember 2025. Ibadah ini menjadi ruang persekutuan bagi keluarga besar UKDW untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan sepanjang tahun, sekaligus mempersiapkan diri menyongsong t a h u n y a n g b a r u d e n g a n h a t i y a n g diperbarui.Liturgi dan pujian Natal mengajak jemaat merenungkan makna kelahiran Yesus
Kristus sebagai perwujudan kasih Allah yang hadir di tengah dunia. Kehadiran berbagai unsur civitas academica mencerminkan kesatuan komunitas UKDW sebagai satu keluarga yang berjalan bersama dalam iman dan pelayanan.
Menghidupi Makna “Satu Hati”
Dalam khotbah Natal disampaikan bahwa peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem merupakan tanda kehadiran Allah yang merendahkan diri untuk menyapa manusia dalam kesederhanaan. Natal mengingatkan umat untuk tidak terjebak pada perayaan yang bersifat lahiriah semata, tetapi sungguh menghayati panggilan untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Tema “Keluarga UKDW Satu Hati”
d i p a h a m i s e b a g a i a j a k a n u n t u k menyelaraskan hati, pikiran, dan tindakan dalam semangat melayani Menjadi “satu hati” berarti mau membuka diri untuk saling memahami, menghargai perbedaan, serta bekerja sama demi tujuan bersama. Dalam konteks UKDW, nilai ini dihidupi melalui relasi yang sehat antara dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, serta komitmen untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan penuh empati.
Khotbah juga menekankan bahwa kasih
Kristus harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan sehari-hari Natal menjadi momentum pembaharuan diri agar seluruh keluarga besar UKDW tidak hanya merayakan kasih, tetapi juga menghadirkannya dalam
dunia kerja, pembelajaran, dan pelayanan sosial.
Ekspresi Kreatif dan Sukacita Bersama
Melalui lomba dan produksi kreatif, UKDW memberi ruang bagi civitas academica untuk mengekspresikan sukacita Natal secara kontekstual dan relevan. Semangat ini sejalan dengan komitmen UKDW sebagai institusi pendidikan yang mendorong pengembangan talenta, kreativitas, dan kolaborasi.
Rangkaian Kegiatan Natal UKDW
Berbagai persembahan pujian dan karya kreatif turut memperkaya perayaan Natal UKDW Musik dan ekspresi seni menjadi sarana perwujudan iman sekaligus wadah p a rt i s i p a s i a kt i f c i vi t a s a c a d e m i c a Keterlibatan mahasiswa dan unit-unit kerja menunjukkan bahwa Natal dirayakan sebagai peristiwa bersama seluruh komunitas kampus. Rangk
aan N
l UKDW dilaksanakan melalui beragam kegiatan yang melibatkan seluruh elemen komunitas kampus Kegiatan tersebut antara lain kunjungan kasih kepada para pensiunan UKDW sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian atas jasa mereka bagi institusi. Selain itu, diselenggarakan pula gathering pensiunan sebagai ruang silaturahmi lintas generasi.
Suasana Natal juga dihidupkan melalui kegiatan Christmas Carol yang menghadirkan pujian-pujian Natal di berbagai lingkungan kampus dan komunitas Semangat berbagi
diwujudkan melalui program Karitas Natal sebagai bentuk kepedulian sosial UKDW Kreativitas sivitas akademika ditampilkan melalui lomba hias ruangan kantor, lomba video Natal, serta produksi film “Yoga” dan t h e m e s o n g N a t a l U K D W y a n g mencerminkan kolaborasi, inovasi, dan sukacita bersama.
Perayaan Natal dan Refleksi Akhir Tahun menjadi penutup perjalanan UKDW sepanjang tahun 2025 sekaligus momentum menata langkah ke depan. Dalam suasana penuh syukur, keluarga besar UKDW diajak merefleksikan tantangan, proses, dan capaian yang telah dilalui bersama. Menutup Tahun dengan Syukur dan Harapan
Semangat “Keluarga UKDW Satu Hati” diharapkan terus dihidupi dalam keseharian kampus, tidak hanya pada masa Natal, tetapi sepanjang tahun. Dengan kasih sebagai dasar relasi dan pelayanan, UKDW berkomitmen membangun komunitas akademik yang unggul, peduli, dan berlandaskan nilai-nilai Kristiani.
Melalui rangkaian perayaan Natal ini, UKDW menegaskan panggilannya sebagai rumah bersama yang menghadirkan kasih, harapan, dan terang bagi sesama, serta melangkah dengan satu hati menuju masa depan yang penuh pengharapan. [Pedro Damar Pradipta]
doc.Panitia
doc.Panitia
Dari Menjauhi Teks hingga Menjadikannya Bagian Hidup
Catatan Perjalanan Mahasiswa Baru UKDW
Shalom, salam dalam kasih Kristus. Perkenalkan, saya Melven Ryo Chaura, mahasiswa Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) angkatan 2025. Sebelum bergabung di UKDW, saya menempuh pendidikan di SMA Kristen Petra 5 Surabaya. Lingkungan pertemanan di SMA membentuk saya menjadi pribadi yang kompetitif dan terbiasa mengejar prestasi akademik. Namun, saya tidak menyadari bahwa kebiasaan belajar yang saya miliki saat itu justru menjadi tantangan besar ketika memasuki dunia perkuliahan teologi.
Sejak SMA, saya bukanlah pribadi yang gemar membaca. Hari-hari saya lebih banyak diisi dengan mengerjakan tugas dan bermain game. Anehnya, mengerjakan tugas justru menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi saya, sementara membaca adalah hal yang selalu saya hindari. Membaca bagi saya hanya
Opini
Pembicaraan mengenai penderitaan,
ketidakadilan, dan penindasan tidak dapat dilepaskan dari peran teologi sebagai disiplin yang memandang realitas manusia dalam terang iman Salah satu pendekatan teologis yang relevan untuk membaca realitas tersebut ialah Teologi Pembebasan, yang secara tegas berpihak pada mereka yang tertindas dan dimarjinalkan. Dalam bukunya “Teologi Pembebasan”, Wahono Nitiprawiro membagi pembebasan ke dalam tiga wajah, yakni pembebasan dari belenggu ekonomi, sosial, dan politik; pembebasan dari kekerasan yang merusak kemanusiaan; serta pembebasan dari dosa yang memisahkan manusia dari Allah. Dengan demikian, pembebasan tidak semata-mata bersifat sosial, tetapi juga spiritual. Sebuah proses menuju kemerdekaan sejati dan relasi antarmanusia yang adil.
Isu disabilitas menjadi medan refleksi baru bagi Teologi Pembebasan. Istilah disability kerap dipahami secara keliru sebagai “ketidakmampuan”, akibat konstruksi sosial yang menjadikan “normalitas” sebagai ukuran tunggal kemanusiaan Sinulingga melalui jurnalnya mengingatkan bahwa ketika normalitas berubah menjadi normalisme, ia justru menjadi alat penindasan. Normalisme mengandaikan bahwa hanya mereka yang memiliki tubuh dan kemampuan tertentu yang layak disebut manusia seutuhnya. Akibatnya, penyandang disabilitas sering ditempatkan pada posisi inferior, terpinggirkan tidak hanya dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam ruang-ruang keagamaan Dalam konteks inilah refleksi Kristologis perlu dikembangkan untuk melihat Yesus sebagai figur pembebas yang hadir pula bagi teman-teman disabilitas.
Kisah Penyaliban Yesus sebagai Jalan Pembebasan
Yesus kerap dipahami sebagai sosok yang sempurna dan tanpa cela Pandangan ini diperkuat oleh narasi kebangkitan yang sering
sebatas kebutuhan menjelang ujian, seperti membaca buku paket atau materi presentasi guru. Hal ini berkaitan dengan gaya belajar s
mendengarkan Selama pelajaran di kelas, saya berusaha menyimak dengan sungguhsungguh, sehingga ketika menghadapi sistem kebut semalam (SKS), saya hanya perlu mengulang materi. Bahkan ketika berada di perpustakaan sekolah, saya datang hanya untuk mengerjakan tugas, bukan untuk membaca apalagi meminjam buku.
Ketika memasuki studi teologi di UKDW, kebiasaan ini mulai menjadi pergumulan yang cukup berat. Dunia teologi tidak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca, merenung, dan merefleksikan teks Pada awalnya, membiasakan diri membaca terasa sangat melelahkan dan membosankan Membaca menjadi beban, dan meskipun saya mampu menyelesaikan puluhan halaman dalam satu hari, semangat itu sering kali hilang keesokan harinya. Dalam proses ini, saya mulai menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar kurang disiplin, tetapi juga karena saya belum menemukan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan saya. Dari kesadaran tersebut, saya mulai mengambil langkah kecil dengan membaca buku-buku pengembangan diri yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari Beberapa di antaranya adalah Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson, Filosofi Teras karya Henry Manampiring, Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, The Psychology of Emotion karya David J Lieberman, serta “Bicara Itu Ada Seninya” karya Oh Su Hyang.
Selain itu, saya juga membaca buku teologi
reflektif, salah satunya Meracik Jamu Kehidupan karya Pdt. Daniel K. Listijabudi. Saya memilih buku-buku tersebut, karena merasa dekat dan relevan dengan kehidupan. Melalui bacaan-bacaan ini, saya kembali menemukan gairah dan semangat membaca. Perlahan, membaca tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan menjadi kebiasaan baru yang mulai saya nikmati.
Jika melihat kembali latar belakang saya di SMA, minat saya memang lebih kuat pada pelajaran bernuansa numerik dan logika, seperti matematika, ekonomi, akuntansi, dan informatika Sebaliknya, saya cukup lemah dalam bidang bahasa dan seni, termasuk bahasa Inggris. Menyadari bahwa studi teologi menuntut kemampuan membaca dan memahami teks, saya berusaha menyesuaikan d i r i S e j a k a w a l p e r k u l i a h a n , s a y a membiasakan diri mendengarkan podcast berbahasa Inggris untuk melatih pemahaman dan memperkaya kosakata Kebiasaan ini sangat membantu saya, terutama ketika mengikuti Active Reading Class yang menuntut pemahaman teks berbahasa Inggris.
Melalui Active Reading Class, saya belajar b a h w a m e m b a c a b u k a n s e k a d a r menyelesaikan teks, tetapi memahami dan merefleksikannya. Metode membaca seperti skimming, scanning, annotating, dan margin notes membantu saya untuk tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan teks panjang Reading log juga menolong saya u n t u k m e l i h a t d e t a i l b a c a a n d a n mengaitkannya dengan pengalaman hidup Dari proses inilah, saya belajar membangun disiplin membaca secara perlahan namun konsisten.
Salah satu buku yang sangat membekas bagi saya selama semester pertama adalah The 7
Kristologi Pembebasan: Kristus bagi yang Termarjinalkan
ditafsirkan semata-mata sebagai puncak kesempurnaan dan keilahian-Nya Namun, pemaknaan semacam ini perlu dibaca ulang dalam terang penderitaan dan penyaliban.
Kelahiran Yesus dari rahim Maria, seorang manusia biasa yang rentan, menunjukkan bahwa Allah memilih jalan kemanusiaan yang rapuh Justru melalui kerentanan itulah solidaritas Allah dengan manusia dinyatakan. Dalam penyaliban, Yesus mengalami penderitaan, kekerasan, dan ketidakadilan y a n g n y a t a P e n g a l a m a n t e r s e b u t mencerminkan kondisi manusia yang sering dianggap “tidak sempurna ” oleh struktur sosial. Melalui salib, Yesus meruntuhkan sekat antara yang kuat dan yang lemah, yang dianggap sempurna dan yang dicap cacat, antara penguasa dan yang tertindas Kebangkitan-Nya bukan hanya kemenangan spiritual, melainkan tanda pembebasan bagi semua yang disingkirkan dari kehidupan yang bermartabat.
“Yang Lain” sebagai Kaum Marginal
Dalam kehidupan sosial, “ yang lain” merujuk pada mereka yang disisihkan oleh norma dan standar dominan masyarakat, termasuk kaum disabilitas. Proses normalisasi membentuk kriteria tentang siapa yang layak disebut “manusia normal”, sementara d i s a b i l i t a s d i t e m p a t k a n s e b a g a i penyimpangan Titchkosky dan Michalko dalam “Rethinking Normalcy” menegaskan bahwa normalisme telah meresap ke hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam ranah teologi. Akibatnya, penyandang disabilitas kerap kehilangan ruang untuk mengekspresikan iman, identitas, dan potensi diri mereka secara utuh.
Sinulingga, yang mengutip argumen
N a v o n e t e n t a n g t e o l o g i k e i n d a h a n , menawarkan gagasan tentang keindahan sejati sebagai jalan keluar dari jerat
normalisasi Keindahan s
k ditentukan oleh kesempurnaan fisik,
Habits of Highly Effective Teens karya Sean Covey. Buku ini tidak hanya menjadi bahan bacaan kelas, tetapi juga menjadi cermin untuk melihat diri saya sendiri Bagianbagian seperti Paradigms, Be Proactive, dan Begin with the End in Mind menegur sekaligus menguatkan saya untuk lebih bertanggung jawab atas pilihan hidup yang saya ambil. Saya belajar bahwa keberhasilan bukanlah soal bakat semata, melainkan tentang keputusan, komitmen, dan kesediaan untuk terus bertumbuh.
Keberhasilan dan kesuksesan adalah sebuah pilihan dan rencana, di mana saya adalah pemegang utama kendali tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, buku 7 Habits tidak hanya menyuguhkan mindset keberhasilan belaka, tetapi dilengkapi dengan panduan praktis yang terbukti selama perjalanan semester pertama ini.
Beberapa diantaranya seperti Count The Cost sebuah ajakan untuk berusaha keras dan bersedia mengorbankan waktu, Just Push Pause panduan mengatasi kejenuhan di tengah kesibukan, The Time Quadrants yang mendorong pembaca untuk selalu bersikap sebagai The Prioritizer, dan Becoming A Change Agent bahwa sebuah kesuksesan tidak bergantung pada takdir atau keadaan saat ini. Prinsip-prinsip inilah yang terus menginspirasi saya dalam menjalani tugas dan tanggung jawab, sekaligus menjadi pengingat ketika semangat mulai surut dan kelelahan datang.
Kiranya kesaksian singkat ini dapat menjadi penguatan bagi sesama mahasiswa baru UKDW yang sedang bergumul dengan proses a d a p t a s i T u h a n t i d a k m e n u n t u t kesempurnaan, tetapi kesediaan untuk belajar dan bertumbuh bersama-Nya. [mrc]
melainkan oleh kemampuan manusia memancarkan nilai dan kasih dalam relasi komunal. Dengan dukungan komunitas yang menerima dan merangkul, keindahan kemanusiaan dapat hadir tanpa syarat tubuh yang “utuh” Dalam terang teologi ini, penyandang disabilitas bukan simbol kekurangan, melainkan manifestasi lain dari keindahan ciptaan Allah.
Konstruksi Kristus: Dari yang Tak
sebagaimana dibutuhkan oleh setiap individu. Bagi penyandang disabilitas, Yesus hadir sebagai sosok yang memahami penderitaan tubuh, keterbatasan mental, dan kerentanan hidup Inilah yang disebut sebagai Kristologi Disabilitas: Kristus yang turut menanggung luka, batas, dan kerapuhan manusia. Salib menjadi simbol solidaritas ilahi yang meruntuhkan dikotomi antara yang “normal” dan “tidak normal”.
Sejarah gereja menunjukkan bahwa refleksi Kristologi sering berpusat pada kesempurnaan Yesus Sejak Konsili Nicea hingga masa Reformasi, Kristus dipahami sebagai sosok ilahi yang tidak bercacat Sinulingga mengkritik pendekatan ini karena cenderung mengabaikan dimensi solidaritas Yesus dengan mereka yang lemah dan menderita. Pertanyaan kritis pun muncul: bagaimana Yesus dapat sungguh berpihak kepada komunitas marginal jika Ia hanya dipahami sebagai sosok yang jauh dari pengalaman penderitaan manusiawi?
Yesus sejatinya hadir sebagai bagian dari kaum tertindas. Amaladoss dan Pieris dalam bukunya menegaskan bahwa Allah, dalam diri Yesus, berpihak pada kaum miskin dan tersingkir Dengan demikian, Yesus dapat dipahami sebagai representasi dari mereka yang menderita, termasuk penyandang disabilitas Pembacaan ulang atas konsep Imago Dei dalam Kejadian 1:26–28 menjadi penting: citra Allah tidak dimonopoli oleh tubuh yang dianggap sempurna, melainkan hadir dalam setiap keberadaan manusia. Allah j u s t r u m e
perjumpaan kasih.
B e r c a c a t m e n u j u K r i s t u s y a n g Disabilitas D
n g
l i n g g a menawarkan konsep teologi transposisional, yakni pemahaman bahwa Yesus dapat hadir m e l i n t a s i r u a n g d a n w a k t u m e l a l u i pengalaman iman manusia Kristus hadir
Diskursus Kristologi dan disabilitas menunjukkan keterkaitan erat dalam upaya memahami pembebasan yang sejati. Kristus tidak hanya menyelamatkan secara spiritual, tetapi juga memulihkan martabat manusia yang dirampas oleh sistem sosial dan budaya yang tidak adil Dalam perspektif Teologi Pembebasan, Kristus dipahami bukan sebagai figur eksklusif, melainkan Allah yang hadir di tengah penderitaan manusia.
Dengan demikian, Kristologi Pembebasan membuka jalan menuju teologi yang lebih inklusif dan manusiawi. Kristus yang tersalib dan bangkit adalah Kristus yang menyapa setiap pribadi, terutama mereka yang terpinggirkan, sehingga seluruh umat manusia dapat hidup dalam solidaritas dan kasih yang memerdekakan [Senover Sudiro Purba] Para penyandang disabilitas perlu dipandang bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek iman yang sepenuhnya memancarkan citra Allah Refleksi tentang Kristus yang disabilitas mengingatkan bahwa kesempurnaan bukanlah ketiadaan cacat, melainkan kesediaan untuk mengasihi dan berbagi penderitaan Gereja dan masyarakat dipanggil untuk membangun ruang dialog yang setara, agar setiap manusia, apapun kondisi fisik dan mentalnya, dapat berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan iman.
meninggalkan jejak yang tidak sekadar berbentuk gelar atau transkrip nilai Ada hal-hal yang lebih mendalam seperti pengalaman hidup, pertemuan dengan orangorang baru, serta kesempatan untuk menemukan jati diri dan arah pengabdian. Demikian pula yang saya alami ketika menempuh pendidikan di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Kampus ini bukan hanya tempat belajar teori, melainkan juga ruang untuk membentuk karakter dan mengasah rasa kepedulian sosial.
Masa perkuliahan di UKDW memberi saya pengalaman yang sangat berharga. Interaksi dengan dosen, teman seangkatan, hingga kakak tingkat bukan hanya soal akademik, melainkan juga kesempatan belajar tentang kehidupan Diskusi kelas yang seringkali melebar ke isu-isu sosial membuat saya memahami bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada ruang kuliah, melainkan harus menyentuh realitas di sekitar kita. Di titik itu saya mulai menyadari, bahwa ilmu yang saya terima akan menjadi lebih bermakna jika dihidupi dengan semangat pelayanan. sesuatu yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya terlibat dalam kegiatan pelayanan dan pendampingan m a s
mengajarkan saya arti kerendahan hati untuk mendengar, sekaligus keberanian untuk melangkah. Saat turun langsung ke lapangan, saya menemukan bahwa teori memang penting, tetapi empati jauh lebih menentukan keberhasilan sebuah program Bagi saya, relasi yang hangat dengan masyarakat adalah kunci agar ilmu yang kita bawa tidak berhenti menjadi slogan, melainkan menjelma sebagai
Resensi Buku
Buku “The Voice of the Village”ini
merupakan kumpulan dokumentasi pemikiran, nilai, serta refleksi arsitektural Eko Agus Prawoto, seorang arsitek Indonesia, seniman, dan pengajar yang berbasis di Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan sarjana arsitektur di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1982, kemudian melanjutkan kuliah Magister Arsitektur di Berlage Institute, Belanda pada tahun 1993. Sepulangnya ke Indonesia ia mendirikan biro arsitekturnya sendiri, Eko Prawoto Architecture Workshop pada tahun 2000 Selain aktif sebagai praktisi, ia juga berperan sebagai pengajar di program studi arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Sejak tahun 2013, Eko Agus Prawoto mendedikasikan hidup dan pemikirannya untuk mendalami kehidupan di desa sebagai b a g i a n d a r i p r a k t i k d a n r e f l e k s i arsitekturalnya.
Buku ini tidak disusun secara kronologis konvensional, melainkan menggunakan alur berjalan ke belakang, menyusuri perjalanan hidup Eko Prawoto dari masa setelah beliau wafat hingga masa ketika beliau masih hidup dan aktif berkarya. Pola penceritaan buku ini memberi kesan kontemplatif, seolah pembaca diajak menelusuri kembali jejak pemikiran dan sikap hidup Eko Prawoto secara perlahan dan reflektif. Melalui buku ini, Eko Prawoto m e n g a j a k p e m b a c a u n t u k k e m b a l i memandang dan memaknai arsitektur bukan hanya sebagai semata objek fisik atau produk visual, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari – hari manusia, alam, dan budaya Arsitektur dipahami sebagai proses hidup yang hadir dalam keseharian, tumbuh dari konteks, serta berakar pada relasi manusia dengan lingkungannya.
Gagasan yang diangkat dalam buku ini
adalah konsep “The Voice of the Village” atau “
Suara Desa” Desa dalam pandangan Eko Prawoto bukan sekadar tempat untuk
Selain pendidikan formal, perjalanan saya juga diperkaya dengan keterlibatan sebagai sukarelawan di beberapa kegiatan. Kegiatankegiatan ini membawa saya pada banyak ruang belajar baru, bahkan seringkali di luar zona nyaman Saya pernah mendampingi kelompok masyarakat yang menjalankan usaha kecil, membantu adik-adik tingkat dalam belajar, hingga ikut serta dalam program lingkungan Dari sana saya menyadari bahwa menjadi relawan tidak
melulu tentang memberi, tetapi juga tentang menerima: menerima pelajaran hidup, menerima kesabaran, dan menerima rasa syukur dari setiap perjumpaan.
kemudian menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup setelah lulus. Dunia kerja memang menuntut profesionalitas, target, dan kedisiplinan. Namun semangat yang saya pelajari dari kampus dan kegiatan sosial selalu
tantangan Bahwa bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga tentang memberi
Resensi Buku: Memperdengarkan Suara Desa
beristirahat atau melarikan diri dari hiruk pikuk kota, melainkan sebuah ruang belajar, kesempatan untuk memperlambat langkah, memahami kembali ritme alam, dan sekaligus memberi kontribusi nyata bagi lingkungan. Dalam hal ini, desa diposisikan sebagai sumber pengetahuan dan kehidupan, di mana nilai – nilai kebersamaan, kesederhanaan, serta hubungan yang seimbang antara manusia dan alam masih terjaga Melalui pengalaman hidup dan keterlibatannya di desa, Eko Agus Prawoto menekankan bahwa arsitektur bukan hanya tentang menciptakan struktur fisik secara teknis, tetapi juga tentang merawat keindahan dalam desa dan meresapi kebijaksanaan yang terkandung dalam lingkungan sekitar kita.
Sebagaimana dikutip dalam buku ini, “Arsitektur yang lahir dari tangan Eko Prawoto tidak hanya berfungsi sebagai fisik, tetapi juga merawat hubungan manusia dengan alam dan budaya” (Sjarief & Sausan, 2025:56). Salah satu pemikiran penting yang terus ditekankan adalah pandangan bahwa arsitektur merupakan proses kerendahan hati u n t u k m e n d e n g a r k a n , m e n c a p a i keseimbangan antara alam, dan manusia Seorang arsitek tidak seharusnya hadir sebagai sosok dominan yang memaksakan ide dan gaya, melainkan sebagai pendengar yang peka terhadap suara alam, masyarakat, dan tradisi yang telah ada.
Dalam proses perancangan, Eko Prawoto memahami arsitektur sebagai dialog yang melibatkan manusia, lingkungan, serta nilai –nilai budaya yang hidup sebelumnya Hubungan manusia dengan alam menjadi refleksi utama dalam pemikirannya, yang ia sebut sebagai upaya memahami “Jiwa dari sebuah tempat”. Dalam salah satu refleksinya, Eko Prawoto mengibaratkan dialog alam seperti berdialog dengan manusia yang membutuhkan waktu, pertemuan berulang, dan kesabaran agar tercipta keakraban dan pemahaman (OMAH Library, 2021). Dengan
sikap mendengarkan tersebut, arsitektur dapat hadir secara lebih manusiawi, bertanggung jawab, dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Secara keseluruhan, The Voice of the Village dapat dikatakan berhasil menghadirkan pemahaman yang komprehensif tentang sosok Eko Agus Prawoto Buku ini tidak hanya mengenalkan beliau melalui karya – karya arsitekturnya, tetapi juga melalui pemikiran, sikap hidup, dan nilai yang melandasi setiap proses perancangannya. Dengan pendekatan naratif dan reflektif, buku ini memungkinkan pembaca memahami Eko Agus Prawoto secara lebih menyeluruh dibandingkan hanya melalui dokumentasi karya visual.
Keunikan buku ini terletak pada cara penyampaiannya yang personal dan kontemplatif, namun tetap berpijak pada pengalaman nyata di lapangan. Konsep The Voice of the Village dimaknai sebagai ajakan untuk mendengarkan suara – suara yang kerap terpinggirkan, seperti suara masyarakat desa, alam, dan tradisi lokal Dengan demikian, buku ini menawarkan perspektif alternatif terhadap praktik arsitektur yang selama ini cenderung berorientasi pada bentuk, gaya, dan pencapaian individual.
Meskipun The Voice of the Village memiliki kekuatan pada kedalaman gagasan dan pendekatan reflektifnya, secara teknis buku ini tidak lepas dari beberapa kelemahan. Dalam aspek penyuntingan teks, ditemukan beberapa kesalahan penulisan berupa kalimat yang menempel tanpa spasi antar kata atau antar kalimat, sehingga sedikit mengganggu kenyamanan pembaca Selain itu, dalam bagian dialog, identitas pembicara hanya ditandai dengan satu huruf tanpa keterangan yang jelas mengenai siapa yang berbicara sebelum dialog dimulai. Hal ini berpotensi menimbulkan kebingungan bagi pembaca terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengenal konteks dan tokoh–tokoh yang terlibat dalam narasi. Ketiadaan penjelasan
dampak, sekecil apa pun itu.
Pendidikan di UKDW telah menanamkan pada saya nilai keberanian untuk bermimpi, sekaligus ketekunan untuk berproses. Saya belajar bahwa perjalanan tidak selalu mulus, ada kegagalan dan kebimbangan yang pernah menghampiri Namun, kampus mengajarkan saya untuk menjadikan itu s e m
pembentukan diri Setiap jatuh bangun adalah kesempatan untuk mengenali diri lebih dalam dan menemukan cara baru untuk bangkit.
Kini, ketika saya melihat ke belakang, saya merasa bersyukur pernah menempuh perjalanan di UKDW. Saya bersyukur karena kampus ini tidak hanya memberikan bekal akademik, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kepedulian. Semua itu terus saya bawa hingga hari ini, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan seharihari.
Bagi saya, pendidikan adalah perjalanan seumur hidup Gelar dan ijazah memang menjadi tanda formal, tetapi nilai sejati pendidikan adalah bagaimana kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Itulah yang saya pelajari selama menempuh pendidikan di UKDW, dan itulah yang terus saya upayakan dalam langkah-langkah kecil yang saya jalani. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak siapapun yang membaca untuk memaknai pendidikan bukan hanya sebagai proses meraih capaian pribadi, melainkan juga sebagai kesempatan untuk berbagi Karena sejatinya, ilmu yang kita miliki akan semakin bermakna ketika kita berani merawatnya dengan semangat pelayanan. [Viola Nextzita]
mengenai siapa pembicara membuat beberapa bagian buku membutuhkan upaya lebih untuk bisa dipahami secara utuh. The Voice of the Village hadir bukan sekadar sebagai buku dokumentasi pemikiran seorang arsitek, melainkan sebagai refleksi mendalam tentang cara memandang kehidupan alam, dan manusia melalui lensa arsitektur. Melalui pemikiran dan pengalaman hidup Eko Agus Prawoto, buku ini menegaskan bahwa arsitektur tidak hanya dibangun dengan perhitungan teknis saja, tetapi juga melalui sikap kesediaan untuk mendengarkan, mau mengalah dengan alam, serta kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Dengan demikian, buku ini layak dibaca sebagai bahan refleksi bagi siapa pun yang ingin memahami arsitektur sebagai praktik yang menyatu dengan kehidupan ruang yang mengikat manusia, alam, dan kebersamaan. [Yap Grace Avi’el Lewi]
Penulis :
Tahun terbit :
Judul buku :
Penerbit : 2025 Yayasan Eko Agus Prawoto (YEAP) dan OMAH Library
Eko Prawoto: The Voice of the Village Realrich Sjarief dan Hanifah Sausan
Wisuda
Wisuda 2025: UKDW Mantapkan Langkah Menuju Indonesia Emas 2045
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW)
b e r b a g a
u k
mempersiapkan generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman. Saat ini UKDW berada di jajaran 107 Perguruan Tinggi Unggul dari sekitar 4.000 perguruan tinggi di Indonesia dan berada pada Klaster Utama dalam Klasterisasi Perguruan Tinggi Penyelenggara Akademik Tahun 2026.
K o m i t m e n p
pendidikan juga diwujudkan melalui pembangunan Kampus 2 dan Rumah Sakit Duta Wacana di Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul Pengembangan ini mencerminkan upaya UKDW memperkuat layanan pendidikan, kesehatan, dan riset UKDW juga memperluas jejaring global melalui kerja sama internasional serta
p
masyarakat.
Informasi tersebut disampaikan Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., dalam Wisuda Sarjana dan Pascasarjana UKDW yang digelar pada Sabtu, 6 Desember 2025, di Auditorium Koinonia UKDW. Dalam sambutannya, Wiyatiningsih juga mengucapkan selamat kepada para lulusan. “Selamat kepada para wisudawan dan wisudawati. Anda telah menyelesaikan satu tahapan penting dalam hidup dan bersiap menapaki panggung kehidupan berikutnya. Kami bangga bukan hanya atas capaian akademik Anda, tetapi juga atas potensi besar yang Anda miliki. Anda adalah generasi yang akan menulis babak baru perjalanan bangsa,” ujarnya.
Wiyatiningsih menambahkan bahwa Indonesia Emas 2045 membutuhkan figurfigur unggul yang memiliki karakter kuat Lulusan UKDW, yang dibekali Nilai-Nilai Kedutawacanaan, diharapkan mampu
berkontribusi bagi pencapaian visi tersebut. “Kami percaya Nilai-Nilai Kedutawacanaan — Obedience to God, Walking in Integrity, Striving for Excellence, dan Service to the World akan menjadi kompas yang menuntun langkah Anda setelah hari ini,” katanya.
Pada periode ini, UKDW meluluskan 265 wisudawan, terdiri atas 246 lulusan program Sarjana dan 19 lulusan Pascasarjana.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., dalam laporannya menyebutkan bahwa para lulusan menunjukkan hasil akademik yang membanggakan. Sebanyak 93 persen lulusan Sarjana meraih IPK di atas 3,00, sedangkan pada program Pascasarjana 95 persen lulusan meraih IPK di atas 3,5.
“Data ini mencerminkan konsistensi prestasi dan ketangguhan mahasiswa dalam menyelesaikan studi, sekaligus menegaskan kualitas riset di lingkungan pascasarjana,” ujarnya.
Salah satu lulusan Program Studi Filsafat Keilahian, Josephine Nauli Simanjuntak, menyampaikan rasa terima kasih kepada UKDW yang telah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang. Ia menilai pengalaman akademik dan nonakademik selama studi menjadi bekal berharga untuk melanjutkan perjalanan hidup.
“Kita belajar bahwa keberhasilan tidak lahir dari kekuatan semata, tetapi dari cinta kasih yang menyertai. Mari kita melanjutkan peziarahan kehidupan dengan membagikan cinta, menebar kebaikan, dan berkarya bagi dunia,” ungkapnya.
Melalui wisuda ini, UKDW menegaskan kembali perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkomitmen pada pembentukan karakter dan kontribusi sosial yang berkelanjutan. [mpk]