
UKDW Yogyakarta @UKDWJOGJA
@ukdwyogyakarta
UKDW Yogyakarta
Alamat Redaksi: Kantor Biro IV UKDW
Gedung Hagios Lantai 1
Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta

Koran Kampus UKDW

korankampus@staff ukdw ac id
![]()

UKDW Yogyakarta @UKDWJOGJA
@ukdwyogyakarta
UKDW Yogyakarta
Alamat Redaksi: Kantor Biro IV UKDW
Gedung Hagios Lantai 1
Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta

Koran Kampus UKDW

korankampus@staff ukdw ac id
FEBRUARI 2026




Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) kembali menorehkan tonggak penting dalam perjalanan akademiknya dengan mengukuhkan Prof. Dr. dr Rizaldy Taslim Pinzon, Sp N , M Kes sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Nyeri Neuropatik. Pengukuhan dilaksanakan pada Selasa (27/1/2026) di Auditorium Koinonia UKDW.
Pengukuhan ini menjadi capaian akademik penting bagi Prof Rizaldy Taslim Pinzon sekaligus menegaskan komitmen UKDW dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berpihak pada nilai kemanusiaan, khususnya di bidang kesehatan dan pelayanan bagi masyarakat, termasuk para penyintas nyeri kronis yang kerap luput dari perhatian.
Dalam orasi ilmiah berjudul “Menyelami Misteri Nyeri Neuropatik: Dari Mekanisme Menuju Terapi Presisi,” Prof Rizaldy mengajak audiens untuk memandang nyeri tidak semata sebagai persoalan medis, melainkan sebagai pengalaman manusia yang kompleks. Ia menekankan bahwa nyeri sering kali tidak tampak secara kasat mata, namun berdampak nyata terhadap aktivitas sehari-hari, relasi sosial, hingga kualitas hidup seseorang. Nyeri neuropatik merupakan jenis nyeri kronis yang muncul akibat gangguan atau kerusakan pada sistem saraf, baik saraf perifer maupun sentral Berbeda dengan nyeri akibat luka atau peradangan, nyeri








neuropatik kerap muncul tanpa penyebab fisik yang jelas.
Gejala yang dialami pasien pun beragam, mulai dari sensasi terbakar, tersengat listrik, mati rasa, hingga nyeri spontan tanpa rangsangan. “Banyak pasien datang dengan keluhan nyeri yang sulit dijelaskan dan sering kali tidak dipahami oleh lingkungan sekitarnya,” ungkap Prof Rizaldy dalam orasinya.
Di Indonesia, jumlah penderita nyeri neuropatik terus meningkat seiring bertambahnya kasus penyakit kronis seperti diabetes melitus, stroke, efek kemoterapi, serta cedera saraf. Namun, kondisi ini masih sering tidak dikenali secara dini dan belum tertangani secara optimal.
Prof Rizaldy menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan nyeri neuropatik adalah perbedaan respons terapi antarpasien. Pasien dengan diagnosis yang sama belum tentu menunjukkan respons pengobatan yang serupa.
Hal tersebut terjadi karena nyeri neuropatik bukanlah satu kondisi tunggal. Dua pasien dengan penyebab penyakit yang sama dapat memiliki karakter nyeri yang berbeda, dengan mekanisme dasar yang tidak selalu sama “Nyeri neuropatik memiliki banyak wajah. Di balik keluhan yang tampak serupa, mekanisme yang mendasarinya bisa sangat berbeda,” jelasnya.
Melalui orasi ilmiahnya, Prof Rizaldy menekankan pentingnya penerapan ke-
dokteran presisi (precision medicine) dalam penatalaksanaan nyeri neuropatik Pendekatan ini menyesuaikan terapi dengan karakteristik individu pasien, termasuk mengenali fenotipe nyeri atau pola gejala yang mencerminkan mekanisme dasar terjadinya nyeri Dengan pemahaman tersebut, terapi dapat diberikan secara lebih tepat sasaran, sekaligus mengurangi penggunaan pengobatan yang tidak diperlukan dan meminimalkan risiko efek samping. Dalam konteks pelayanan kesehatan di Indonesia, Prof Rizaldy juga menyoroti pentingnya peningkatan pemahaman tentang nyeri neuropatik di layanan kesehatan primer Ia menilai perbedaan bahasa dan istilah medis kerap menjadi kendala dalam komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien. Karena itu, pengembangan instrumen asesmen nyeri neuropatik dalam bahasa Indonesia dinilai menjadi langkah strategis agar pasien dapat menyampaikan pengalaman nyerinya secara lebih akurat dan mudah dipahami.
Menutup orasinya, Prof Rizaldy merefleksikan makna menjadi akademisi di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak hanya lahir dari kemampuan memberi jawaban cepat, tetapi dari keberanian untuk terus bertanya. “Kegelisahan muncul karena masih banyak pasien yang belum memperoleh pengurangan nyeri secara optimal, dan masih banyak hal yang belum se-
kita pahami,” ungkapnya.
Ia mengutip bait puisi Chairil Anwar, “Kerja belum selesai, belum apa-apa,” sebagai pengingat bahwa perjalanan akademik merupakan proses panjang yang terus bertumbuh melalui riset, pengajaran, dan dialog lintas generasi.
Dalam sambutannya, Rektor UKDW Dr.Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T. menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadi pembangkit semangat lahirnya guru besar lain di UKDW. Ia juga menyampaikan rasa syukur karena Prof. Rizaldy menjadi guru besar pertama di Fakultas Kedokteran UKDW setelah Prof. Siagian memasuki masa purna tugas.
Menurutnya, bidang kesehatan memiliki relevansi langsung dengan seluruh aspek kehidupan manusia Oleh karena itu, kehadiran kepakaran nyeri neuropatik menjadi bagian penting dari penguatan keunggulan UKDW sebagai Sustainable Entrepreneurial Research University (SERU), yang sejalan dengan empat nilai Kedutawacanaan. “Kepakaran yang dicapai Prof. Rizaldy semakin menguatkan kontribusi UKDW agar ilmu pengetahuan benar-benar berdampak, sebagaimana cita-cita perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.
UKDW menyampaikan apresiasi dan kebanggaan atas capaian tersebut, sekaligus berharap kehadiran Guru Besar Nyeri Neuropatik ini dapat memperluas dampak akademik, kemanusiaan, dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. [mpk]
Mahasiswa yang aktif bukan hanya
hadir di kelas, tetapi hadir sebagai solusi.
Semangat inilah yang tercermin dalam diri Yeheskiel Yunus Tame, mahasiswa S1 Program Studi (Prodi) Informatika, Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Duta Wacana (FTI UKDW) Yogyakarta.
Lahir dan besar di Kundasang, Sabah, Malaysia, Yeheskiel merupakan anak ke-4 dari 10 bersaudara. Ia menempuh pendidikan dasar di Community Learning Center (CLC) Rumah Agape, Kundasang, Sabah, Malaysia, kemudian melanjutkan ke CLC SMPT Kundasang Pendidikan menengah atas ia tempuh di SMAS Immanuel Batu, Jawa Timur, sebelum akhirnya melanjutkan studi di UKDW Yogyakarta. Berasal dari keluarga sederhana dengan orang tua yang berprofesi sebagai guru dan petani, serta tanpa latar belakang keluarga di bidang teknologi informasi, Yeheskiel membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menembus industri teknologi mutakhir.
Ketertarikannya pada dunia Web3 dan blockchain berawal dari minat pada crypto trading. Namun, ia segera menyadari bahwa para pemain besar di industri ini tidak lagi sekadar berbicara tentang analisis teknikal harga, melainkan juga tentang fundamental teknologi di baliknya Rasa penasaran tersebut mendorongnya untuk belajar secara mandiri, aktif berdiskusi dalam komunitas, serta mengeksplorasi teknologi lebih dalam. Ia pun mulai membawa ide-idenya ke panggung kompetisi internasional. Baginya, kompetisi bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, tetapi ruang untuk menguji apakah teknologi yang dibangun benar-benar mampu memberi dampak nyata.
Dari tiga proyek unggulannya yang ia kenalkan melalui kompetisi seperti OneTriangle, OneSafeBeat, dan OwnaFarm, terdapat satu benang merah yang konsisten yakni pemanfaatan teknologi blockchain untuk menciptakan transparansi dan keamanan. OwnaFarm (RWA meet GameFi) adalah platform berbasis Mantle Network yang mengubah pembiayaan faktur pertanian menjadi simulasi permainan interaktif Proyek ini menjembatani kesenjangan pendanaan bagi petani, di mana petani m e m p e r o l e h m o d a l t a n p a j a m i n a n tradisional, sementara investor dapat “menanam benih cabai” dengan memantau pertumbuhan tanaman secara real-time melalui CCTV terintegrasi.
OneSafeBeat merupakan platform prediksi no-loss berbasis jaringan Hedera yang hadir sebagai solusi atas kerugian finansial akibat judi daring Dalam sistem ini, modal pengguna disimpan aman dalam vault yang menghasilkan yield, dan hanya imbal hasil tersebut yang digunakan sebagai “Battle Power” untuk bermain, sehingga dana pokok tetap aman Sementara itu, OneTriangle adalah protokol tabungan tergamifikasi (no-
loss savings) yang menggabungkan konsep DeFi dan GameFi untuk mendorong budaya menabung dengan insentif hadiah tanpa risiko kehilangan saldo awal. Ketiga inovasi tersebut menunjukkan konsistensi Yeheskiel dalam menghadirkan solusi finansial berbasis teknologi yang aman, transparan, dan berdampak sosial.
Ketika mengikuti kompetisi, Yeheskiel
komunitas kampus terwujud melalui pembentukan BlockChain Club (BCC) UKDW atau @dutawacana web3 Komunitas ini berawal dari kebersamaan saat mengikuti Hackathon Base Batches 002, dengan diskusi yang kerap berlangsung hingga larut malam di Laboratorium 2 Informatika UKDW
Melihat antusiasme belajar yang tinggi, Yeheskiel berinisiatif menghubungi Alex

merasa bahwa momen paling transformasional adalah saat melakukan pitching di depan publik, baik secara langsung maupun melalui live streaming “Menyampaikan dan menjual ide di hadapan dewan juri internasional serta ribuan penonton menjadi pengalaman yang menegangkan sekaligus membentuk mentalitas kepemimpinan dan kemampuan komunikasi secara drastis. Itu tidak mudah. Tetapi terasa berharga sekali ketika mampu melewati proses tersebut,” ujarnya Bagi Yeheskiel, keberanian untuk berdiri di panggung dan mempertanggungjawabkan gagasan adalah proses pembelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir kompetisi.
Dalam berbagai hackathon yang umumnya berlangsung singkat, ia dan tim dituntut bergerak cepat sekaligus tepat Mereka memanfaatkan perangkat berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat pengembangan teknis. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan pada aspek coding, melainkan menemukan ide yang benar-benar relevan dan menjawab persoalan nyata Proses tersebut ditempuh melalui riset mendalam, jejaring dengan pelaku industri, serta konsultasi intensif bersama mentor di komunitas DevWeb3 Jogja (@devweb3jogja), yang menjadi ruang kolaborasi penting bagi pengembang Web3 di Yogyakarta. Komitmennya terhadap pengembangan
Muhammad (DevRel Base Region Indonesia) untuk membuka peluang kolaborasi lebih luas Inisiatif ini membuahkan dukungan penuh sehingga BCC UKDW dapat berdiri secara resmi.
Puncaknya terjadi pada Desember 2025 ketika komunitas ini diperkenalkan secara formal dalam ajang Base Campus di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara BCC UKDW, BCC UGM, BCC Atma Jaya, UBIC UNU, Base Indonesia, dan Dev Web3 Jogja. “Sejauh ini, kami telah menyelenggarakan berbagai workshop di lingkungan UKDW dengan menggandeng mitra global seperti MetaMask Indonesia, Upbit.id, Blockdev.id, hingga ETH Jakarta. Kami juga beruntung mendapatkan bimbingan intensif dari para mentor senior di Dev Web3 Jogja, yang memastikan kurikulum belajar kami tetap relevan dengan standar industri,” ungkap Yeheskiel.
Sebagai mahasiswa Prodi Informatika UKDW, Yeheskiel merasakan dukungan besar dari kampus dalam memberi ruang inovasi dan pembentukan komunitas. Status mahasiswa justru menjadi nilai tawar tinggi di mata perusahaan Web3 global yang melihat generasi muda sebagai investasi masa depan industri. Melalui @dutawacana.web3, Yeheskiel dan tim memposisikan diri sebagai jembatan bagi mahasiswa UKDW untuk memperoleh akses eksklusif terhadap

informasi kompetisi, peluang pendanaan acara, hingga koneksi langsung ke ekosistem Web3 internasional.
Di luar aktivitas akademik dan teknologi, Yeheskiel juga aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo UKDW dan meraih sejumlah prestasi melalui keikutsertaannya d a l a m E F M T a e k w o n d o C h a l l e n g e , Pangkostrad Cup National Championship, serta berbagai kompetisi lainnya dalam beberapa tahun terakhir Ia juga berpartisipasi dalam Forum Tahunan ASEANCHINA Association for Private Higher Education Institution (ACAPHEI) di University of Sanya, Hainan, China, sebagai bagian dari kontribusinya dalam agenda internasionalisasi fakultas.
Bagi Yeheskiel, partisipasi dan pencapaian internasional yang diraihnya merupakan validasi bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kompetensi setara dengan talenta global. Ia meyakini bahwa hambatan terbesar sering kali bukan pada kemampuan, melainkan pada keraguan dan kurangnya rasa percaya diri Pengalaman tersebut menjadi portofolio penting dalam perjalanan karirnya, baik sebagai pengembang teknologi maupun perancang solusi bisnis yang relevan dan berdampak.
Berbicara tentang rencana ke depan, Yeheskiel mengingatkan bahwa Web3 penting bagi masa depan karena membawa prinsip ownership atau kepemilikan penuh. Dalam ekosistem ini, data dan aset dikelola secara mandiri oleh pengguna tanpa ketergantungan pada entitas terpusat. Prinsip ini menjadi fondasi keamanan baru yang memungkinkan generasi muda memiliki kontrol atas identitas serta nilai ekonomi mereka secara berdaulat di ruang digital.
Yeheskiel juga menegaskan bahwa proyekproyek yang telah dirintisnya, terutama OwnaFarm, akan terus dikembangkan Ia memiliki ambisi untuk menyempurnakan arsitektur platform tersebut hingga siap memasuki tahap produksi global Latar belakang keluarganya sebagai petani menjadikan proyek ini sangat personal karena ia ingin mendedikasikan keahlian teknologinya untuk menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan bagi para petani.
Menutup perbincangan, Yeheskiel berpesan kepada seluruh mahasiswa UKDW untuk tidak takut mengeksplorasi teknologi baru seperti Web3 karena hal tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi karir Ia mengajak mahasiswa untuk bergabung dan berdiskusi di BCC UKDW (@dutawacana web3), serta bertumbuh bersama melalui komunitas DevWeb3 Jogja (@devweb3jogja) Baginya, kolaborasi dan keberanian mencoba adalah kunci untuk menjadi pionir teknologi masa depan di Yogyakarta dan Indonesia. [ai]
PENANGGUNG JAWAB : Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D.
PIMPINAN REDAKSI :Dr. Phil. Lucia Dwi Krisnawati, S.S., M.A. Dr. Paulus Widiatmoko, M.A.
WAKIL PIMPINAN REDAKSI :Anna Iritasari.
Redaksi menerima tulisan dari warga kampus berupa artikel, laporan kegiatan dan foto-foto yang membangun harapan. kirim ke alamat Redaksi atau melalui email : korankampus@staff.ukdw.ac.id


Prestasi membanggakan kembali diraih
mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta di ajang internasional.
Dalam kompetisi Mantle Global Hackathon 2025, mahasiswa UKDW berhasil meraih dua gelar sekaligus, yakni Juara 1 track GameFi (Game Finance) dan Juara 2 track ZK & Privacy, dengan total hadiah USD 13.000.
Pada track GameFi, Tim OwnaFarm yang beranggotakan Yeheskiel Yunus Tame, Oktavianus Bima Jadiva, dan Nikolas Dwinata dari UKDW, bersama Harun Al Rasyid dari Universitas Amikom Purwokerto, berhasil meraih Juara 1 dan membawa pulang hadiah sebesar USD 8 000 Keempatnya merupakan alumni Bootcamp DevWeb3 Jogja dan aktif dalam komunitas DevWeb3 Jogja.
Pengumuman pemenang sekaligus penyerahan penghargaan dilakukan secara virtual melalui siaran langsung di platform X dalam rangkaian acara Hong Kong Consensus pada 10 Februari 2026.
Mantle Global Hackathon merupakan kompetisi pengembangan blockchain daring yang berlangsung selama lima bulan, sejak Oktober 2025 hingga awal 2026. Ajang yang diselenggarakan oleh jaringan blockchain Mantle ini diikuti oleh kreator, pengembang, dan inovator dari berbagai negara untuk membangun aplikasi terdesentralisasi
(dApps) Puncak kegiatan digelar dalam Demo Day pada awal Februari 2026.
Dalam kompetisi tersebut, penyelenggara menekankan pentingnya produk yang relevan dan mampu menjawab persoalan nyata pengguna Dewan juri menilai proyek berdasarkan lima aspek utama, yakni skalabilitas, desain produk, eksekusi teknis, integrasi dengan ekosistem Mantle, serta potensi pasar. Proyek unggulan tidak hanya menampilkan demo yang menarik, tetapi juga memiliki utilitas nyata, kesiapan teknis, dan peluang adopsi di dunia nyata.
OwnaFarm: GameFi untuk Pembiayaan Petani Menjawab tantangan tersebut, Tim OwnaFarm menghadirkan solusi GameFi yang menyasar sektor pertanian Mereka mengembangkan game berbasis blockchain yang mentokenisasi invoice financing atau surat tagihan petani.
Selama ini, banyak petani telah memiliki kontrak dengan pabrik atau distributor, tetapi menghadapi kendala modal operasional sebelum pembayaran diterima Melalui OwnaFarm, invoice tersebut di tokenisasi dan dijadikan aset dalam permainan, sehingga membuka akses pembiayaan yang lebih cepat dan inklusif.
Yeheskiel Tame menjelaskan, “Kami mentokenisasi invoice petani dan men-

jadikannya sebagai aset dalam game. Investor dapat berpartisipasi seperti sedang bermain game, sehingga proses pendanaan menjadi lebih interaktif dan mudah diakses. Di sisi lain, gamer tidak hanya bermain, tetapi juga berperan sebagai investor yang terlibat dalam aktivitas ekonomi riil Dampaknya, petani bisa memperoleh akses pendanaan yang lebih cepat dan inklusif untuk mendukung operasional mereka.”
Model ini memperluas pasar dengan menggabungkan gamifikasi dan pembiayaan riil Inovasi tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan nyata sekaligus menunjukkan bahwa teknologi blockchain dapat dimanfaatkan untuk mendorong dampak sosial yang berkelanjutan.
Raih Juara 2 Lewat Proyek zkPull Tidak hanya Yeheskiel yang menorehkan prestasinya di kompetisi ini, Oktavianus Bima Jadiva juga meraih Juara 2 pada track ZK & Privacy melalui proyek bertajuk zkPull, dengan hadiah sebesar USD 5.000. Oktavianus Bima menjelaskan bahwa zkPull merupakan protokol trustless untuk open-source bounty yang memungkinkan developer memperoleh reward secara otomatis setelah pull request mereka digabungkan, tanpa memerlukan persetujuan manual atau perantara terpusat Dalam ekosistem open-source dan Web3, kontribu-
“zkPull menghilangkan asumsi kepercayaan tersebut dengan mengubah kontribusi GitHub menjadi klaim yang dapat diverifikasi secara kriptografis dan ditegakkan langsung di blockchain,” jelasnya. tor kerap menghadapi keterlambatan pembayaran, verifikasi manual, serta ketidakpastian penghargaan atas kontribusi mereka.
Secara teknis, zkPull menggunakan zkTLS dari Reclaim Protocol untuk membuat bukti digital bahwa pull request benar-benar sudah digabungkan dan identitas kontributor valid, tanpa membuka data sensitif Bukti ini diverifikasi di blockchain melalui AVS Setelah valid, smart contract otomatis mengirimkan reward Hasilnya, proses bounty menjadi transparan, otomatis, dan tidak bergantung pada pihak tertentu (trustless).
Keberhasilan ganda ini menegaskan kapasitas mahasiswa UKDW dalam menghadirkan solusi blockchain yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan komunitas global Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi berbasis teknologi dapat menjadi sarana transformasi sosial dan penguatan ekosistem digital yang berkelanjutan. [mpk]
Pendidikan Tinggi dan Partisipasi Aktif Dosen UKDW

Perubahan besar seringkali berawal dari
benih kecil Semangat inilah yang diusung dalam program “Seeds of Change: Initiating Social Entrepreneurship in University Education” yang diselenggarakan oleh United Board di Chiang Mai, Thailand. Dalam kegiatan ini, tiga dosen UKDW yakni Pdt. Dr. Jozef M. N. Hehanussa, M.Th., dr. Haryo Dimasto Kristiyanto, S.S., M.Sc., dan dr. Loury Priskila, M.Biomed., berpartisipasi aktif bersama para akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Asia untuk memperkuat peran dosen dalam menginisiasi dan mengembangkan kewirausahaan sosial di lingkungan universitas.
Kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) merupakan pendekatan inovatif yang memadukan semangat kewirausahaan dengan misi utama menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. Fokusnya bukan semata-mata keuntungan finansial, melainkan pada solusi nyata terhadap persoalan sosial melalui model yang terstruktur, kreatif,

dan berdaya tahan Dalam konteks pendidikan tinggi, pendekatan ini menjadi penting karena perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk berkontribusi terhadap penyelesaian masalah masyarakat. Dosen memegang peran sentral dalam proses ini, karena merekalah yang merancang kurikulum, membimbing mahasiswa, dan menjembatani teori dengan praktik sosial.
Program yang berlangsung selama tiga hari ini dirancang khusus bagi para dosen untuk memperdalam pemahaman sekaligus keterampilan praktis dalam mengintegrasikan kewirausahaan sosial ke dalam kurikulum pendidikan tinggi maupun program-program yang bisa diimplementasikan di masyarakat. Pada sesi simposium, ketiga dosen UKDW terlibat dalam diskusi mengenai strategi membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa menjadi agen perubahan. Pertukaran gagasan lintas institusi memberikan perspektif baru mengenai model

pembelajaran berbasis komunitas dan kolaborasi multipihak.
Sesi workshop menjadi ruang pembelajaran yang lebih aplikatif dan menarik. Peserta dibagi ke dalam kelompok proyek dengan studi kasus komunitas nyata Ada tiga kelompok yakni kelompok degree, nondegree, dan proyek aplikatif untuk di masyarakat. Dalam kelompok ini, para dosen UKDW berpartisipasi dalam proses identifikasi kebutuhan komunitas, analisis potensi, serta perancangan model program yang berkelanjutan Pendekatan ini menempatkan dosen sebagai perancang solusi sosial, bukan hanya sebagai pengamat akademik.
Selain itu, diskusi dalam kelompok degree dan non-degree menyoroti bagaimana inisiatif kewirausahaan sosial dapat diformalkan menjadi program akademik yang berkelanjutan, seperti course bersertifikat, mata kuliah berbobot SKS, atau bagian dari kurikulum resmi Partisipasi aktif dalam
diskusi ini membuka peluang pengembangan program serupa di UKDW, dengan mempertimbangkan kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan eksternal.
Kunjungan ke Akha Ama Coffee pada hari terakhir memberikan gambaran konkret tentang praktik kewirausahaan sosial yang berhasil memberdayakan komunitas petani secara berkelanjutan. Kunjungan lapangan ini semakin menyadarkan betapa pentingnya peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat Pengalaman tersebut memperkuat refleksi bahwa pendidikan tinggi memiliki potensi besar untuk melahirkan inisiatif serupa melalui peran aktif dosen dan mahasiswa.
Keikutsertaan tiga dosen UKDW dalam “Seeds of Change” menjadi wujud komitmen institusi untuk terus mengembangkan pendidikan yang transformatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Melalui partisipasi aktif dalam simposium, workshop, dan refleksi kurikulum, UKDW menanam benih perubahan yang diharapkan bertumbuh menjadi program nyata dan berdampak sosial jangka panjang di lingkungan universitas maupun masyarakat luas.Ketiga dosen yang mengikuti workshop ini berharap pengalaman ini dapat menolong mengembangkan perkuliahan yang lebih memberi perhatian pada sisi entrepreneurship, yang juga menjadi bagi dari UKDW yang SERU. (lpp)

Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) resmi menjalin kerja sama dengan PT Mikobisnis Digital S e j a h t e r a ( I N A m i k r o ) m e l a l u i p enandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Kampus UKDW pada Rabu, 22 Januari 2026.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor UKDW bersama Direktur INAmikro, sementara PKS ditandatangani oleh Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) UKDW dengan Direktur INAmikro. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang kini memasuki tahap implementasi Menurutnya, kolaborasi ini sejalan dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, sekaligus menjadi kontribusi nyata UKDW dalam peningkatan
ekonomi dan pendidikan masyarakat.
“Kerja sama ini diharapkan tidak hanya berdampak di lingkungan kampus, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui kemitraan ini, perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam mendorong pemberdayaan ekonomi dan pengembangan kapasitas UMKM,” ujar Rektor UKDW.
Kolaborasi ini direncanakan dapat melibatkan berbagai fakultas di lingkungan UKDW dan terbuka untuk dikembangkan ke bidang lain seperti bisnis, teknologi informasi, digital humanities, termasuk bioteknologi, seiring dengan berkembangnya mitra INAmikro di sektor perikanan.
Direktur INAmikro, Debby R Sianturi, menyampaikan bahwa perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam menciptakan program pemberdayaan yang berkelanjutan. INAmikro sendiri telah menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas sejak 2020 serta terlibat dalam berbagai program nasional pemberdayaan masyarakat.
“Saat ini kami mendapat penugasan untuk menjalankan pilot project pemberdayaan


Bmasyarakat di Kabupaten Kebumen. Melalui kerja sama dengan kampus, kami berharap riset dan inovasi yang dihasilkan dapat ditindaklanjuti secara nyata untuk membantu masyarakat keluar dari garis kemiskinan,” jelas Debby.
Ia menambahkan, INAmikro juga tengah menjajaki kemitraan dengan lembaga keuangan internasional yang merupakan bagian dari Bank Dunia guna memperkuat praktik profesional dan memastikan program yang dijalankan benar-benar berdampak.
Secara khusus, kerja sama dengan Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) UKDW mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, penyelenggaraan seminar dan pelatihan, program magang, serta pertukaran informasi pendukung pengembangan kapasitas.
Dekan FAD UKDW, Dr. Imelda Irmawati Damanik, S T , M A (UD), menjelaskan bahwa kolaborasi ini membuka peluang pemanfaatan inovasi desain kampus bagi pelaku UMKM, salah satunya berupa tenda
lipat praktis untuk pedagang kaki lima yang telah memiliki hak paten.
“Inovasi ini kami rancang untuk menjawab kebutuhan pedagang kaki lima, khususnya terkait keterbatasan peralatan usaha. Tenda dirancang agar mudah dirangkai, kokoh, dan praktis digunakan,” ujarnya.
Selain itu, FAD juga mengembangkan desain toko oleh-oleh yang dapat diterapkan pada berbagai skala usaha Melalui kerja sama ini, dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa program magister, diharapkan dapat terlibat dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta program magang berbasis kebutuhan riil UMKM.
Melalui kemitraan ini, UKDW dan INAmikro berkomitmen membangun kolaborasi jangka panjang untuk mendorong UMKM naik kelas, memperluas kesempatan belajar dan magang bagi mahasiswa, serta memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi masyarakat. [mpk]
iro Kerja Sama dan Relasi Publik
(Biro IV) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar Workshop Internasionalisasi UKDW 2026 pada Senin, 2 Februari 2026, di Ruang Seminar Pdt Dr Harun Hadiwijono Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menyatukan visi serta merumuskan arah pengembangan internasionalisasi UKDW secara lebih terencana, berkelanjutan, dan berdampak.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset (WR I) UKDW, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta workshop. Ia menegaskan bahwa internasionalisasi merupakan agenda penting yang sempat tertunda dan kini perlu dilanjutkan secara lebih terarah.
“Melalui workshop ini, kami berharap dapat merumuskan roadmap yang jelas untuk bergerak menuju internasionalisasi Beberapa fakultas sudah menjalankan program secara rutin, namun masih diperlukan kesinambungan dan gerak bersama lintas unit,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa internasionalisasi tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran mahasiswa asing di UKDW, tetapi juga mencakup penguatan program outbound, seperti dosen dan mahasiswa UKDW yang mengajar, belajar, dan berkarya di luar negeri. Dengan target yang jelas, workshop ini diharapkan menghasilkan luaran konkret hingga akhir 2026. UKDW juga menyatakan kesiapan mendukung berbagai program hibah internasional melalui Biro IV.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia, Promosi, dan Jejaring (WR IV) UKDW, Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D.,


menekankan pentingnya tindak lanjut kerja sama di tingkat fakultas dan program studi. Menurutnya, keberhasilan internasionalisasi tidak cukup berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU).
“Internasionalisasi membutuhkan sinkronisasi struktur internal, kualifikasi yang tepat, serta keberanian untuk berkembang. Kerja sama harus benar-benar menghasilkan
luaran yang nyata,” tegasnya.
Workshop ini menghadirkan Tyas Ikhsan Hikmawan, Ph.D., Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Internasionalisasi Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai narasumber utama Dalam sesi bertajuk “Globalization at UGM: Strategies to Enhance Performance”, ia menegaskan bahwa internasionalisasi merupakan keharusan di
tengah kompetisi global.
Menurutnya, internasionalisasi perlu dijalankan dengan filosofi yang menekankan kualitas dan dampak, bukan sekadar kuantitas kerja sama. Kerja sama yang baik adalah kerja sama yang terimplementasi, memiliki action plan, serta terintegrasi dengan kegiatan akademik, riset unggulan, tata kelola, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia juga menyoroti bahwa tema-tema seperti cultural diversity, social and economic empowerment, circular economy, hingga peace and reconciliation dinilai menarik bagi mitra internasional, bergantung pada flagship dan kekhasan masing-masing universitas.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan pembahasan berbagai isu, mulai dari tantangan menarik mahasiswa internasional, strategi membangun jejaring bagi program studi baru, kesiapan menuju akreditasi internasional, hingga peluang hibah internasional seperti New Colombo Plan (NCP).
Dalam sharing session, Fakultas Teologi dan Fakultas Teknologi Informasi UKDW turut membagikan pengalaman praktik baik internasionalisasi yang telah dijalankan secara rutin Kedua fakultas tersebut memaparkan strategi pengelolaan program, penguatan jejaring mitra luar negeri, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan kerja sama internasional.
Melalui workshop ini, UKDW menegaskan komitmennya untuk membangun internasionalisasi yang berdampak nyata melalui penguatan program akademik, riset, dan kolaborasi global yang berkelanjutan. [mpk]

Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) menyambut kunjungan studi banding dari Universitas Ciputra Surabaya pada Kamis, 29 Januari 2026, bertempat di Ruang D 1 1 Kampus UKDW Kegiatan ini menjadi momen perjumpaan antarperguruan tinggi untuk saling berbagi pengalaman dan praktik baik dalam pengelolaan layanan kemahasiswaan.
Kunjungan tersebut dihadiri oleh delegasi pengelola layanan mahasiswa Universitas Ciputra, yaitu Stefany Livia Prajogo, S.Psi., M Psi (Head of Student Welfare), Kevin Willian, S Psi , M Psi (Wellbeing & Counseling Officer), I Gusti Bagus Yosia W., S Si , M M , AWP , CWM , CIC (Student Development Section Head), Yeni, S.T., M.T. (Student Organization Section Head), S h e r e m R e g g y n a H e r a w a n , S P s i (Scholarship Officer), serta Ganang Argo Enggartyasto, S Psi (Student Activities Development Officer).
Rombongan Universitas Ciputra disambut oleh pimpinan dan pengelola layanan kemahasiswaan UKDW, antara lain Dr Parmonangan Manurung, S T , M T , IAI , Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi (WR 3); M
ngembangan Karier (Biro 3); Pdt Nani Minarni, S Si , M Hum , Ketua Lembaga Pelayanan Kerohanian, Konseling, dan Pengembangan Spiritualitas (LPKKSK); Jonathan Herdioko, S.E., M.M., Koordinator Program Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (P2KMM); Adimas Kristiadi, S.T., M.Sc., Koordinator Program Pengembangan Potensi Diri Mahasiswa (P3DM); serta Stefani Natalia Sabatini, S.T.,


M.T., Kepala Unit Layanan Disabilitas (ULD), bersama staf Biro 3. Dalam suasana diskusi yang hangat dan terbuka, Dr. Parmonangan Manurung, S.T., M T , IAI menyampaikan apresiasi atas kunjungan Universitas Ciputra serta menegaskan bahwa kegiatan studi banding ini menjadi wadah pembelajaran dua arah.
“Terima kasih atas kunjungan dan kepercayaan Universitas Ciputra kepada UKDW. Kami juga ingin belajar dari Ciputra. Bukan berarti kami lebih baik, tetapi melalui pertemuan ini kita bisa saling belajar agar masing-masing institusi dapat berkembang, maju, dan semakin optimal dalam melayani mahasiswa, hingga pada akhirnya dapat


berkontribusi bagi bangsa,” ungkapnya. Sementara itu, Stefani Livia, perwakilan Universitas Ciputra, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momentum penting, terlebih setelah adanya pelantikan rektorat baru dan pembaruan struktur organisasi di Universitas Ciputra.
“Kami mengucapkan terima kasih atas sambutan dari UKDW Dengan struktur organisasi yang baru, kami ingin banyak belajar, khususnya terkait sistem pelayanan mahasiswa Harapannya, melalui studi banding ini, kami dapat saling belajar untuk meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, UKDW
Dmemaparkan berbagai layanan kemahasiswaan yang dikembangkan melalui Biro 3 Layanan tersebut mencakup dukungan kesejahteraan mahasiswa melalui beasiswa, asuransi, serta pendampingan administrasi akademik, pengembangan minat dan bakat mahasiswa, hingga fasilitasi kegiatan kemahasiswaan dan prestasi kemahasiswaan.
Selain itu, UKDW juga mengelola layanan pengembangan karier dan jejaring alumni melalui berbagai program seperti career talk, campus hiring, job fair, tracer study, serta penyediaan informasi peluang kerja dan magang bagi mahasiswa dan lulusan.
Dalam bidang pendampingan mahasiswa, UKDW menaruh perhatian khusus pada kesehatan mental melalui LPKKSK. Empat divisi utama di dalamnya berperan menghadirkan layanan konseling harian, konseling kelompok, support group, counseling day, serta program psikoedukasi bagi dosen dan tenaga kependidikan.
UKDW juga terus memperkuat komitmen terhadap pendidikan inklusif melalui ULD yang berperan sebagai pusat koordinasi layanan bagi mahasiswa disabilitas. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas, kemandirian mahasiswa, serta membangun jejaring dengan berbagai pihak guna menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua.
Melalui kegiatan studi banding ini, UKDW dan Universitas Ciputra memperkuat semangat kolaborasi antarkampus Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal kerja sama berkelanjutan dalam menghadirkan layanan kemahasiswaan yang inklusif, humanis, dan berorientasi pada pengembangan mahasiswa secara utuh. [mpk]
osen Fakultas Bisnis Universitas
Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Dr. Ari Christianti, S.E., MSM , berhasil menyelesaikan Program Doktor (S3) Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Keberhasilan tersebut ditandai melalui
Ujian Terbuka Promosi Doktor yang dilaksanakan pada 21 Januari 2026. Dalam studi doktoralnya, Dr Ari Christianti mengambil minat utama Manajemen, dengan fokus kajian pada isu-isu strategis di sektor perbankan nasional.
Disertasi yang disusunnya berjudul “Diversifikasi Pendapatan, Investasi Teknologi Informasi, dan Kinerja Bank di Indonesia” Penelitian ini mengkaji peran strategi diversifikasi pendapatan serta pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan kinerja perbankan di tengah dinamika industri keuangan yang terus

berkembang.
Penyelesaian studi doktoral ini menjadi pencapaian akademik yang membanggakan
sekaligus mencerminkan komitmen UKDW dalam mendorong pengembangan kapasitas dosen melalui pendidikan berkelanjutan.
Dekan Fakultas Bisnis UKDW, Dr Perminas Pangeran, M.Si., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut dan berharap keilmuan yang diperoleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengembangan Fakultas Bisnis UKDW.
Atas keberhasilannya menyelesaikan Program Doktor Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Dr Ari Christianti, S E , MSM , diharapkan dapat semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu
pendidikan, serta kemajuan Fakultas Bisnis UKDW.
UKDW terus mendorong seluruh sivitas akademika untuk aktif mengembangkan kompetensi dan keilmuan guna mendukung terciptanya pembelajaran yang relevan, k o n
masyarakat. [mpk]

Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Duta Wacana (FK UKDW) terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak dokter masa depan yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga karakter Hal ini dibuktikan melalui rangkaian kegiatan kuliah umum, sharing session, dan kunjungan kolaboratif bersama Dr. Chin Yong Pak, M.D., M.A. dari Yonsei University, Korea Selatan, pada hari Selasa dan Rabu, 10-11 Februari 2026 yang lalu.
Program bertajuk “Servant Leadership Development among Medical Students” ini diselenggarakan dengan tujuan utama mengembangkan kapasitas pendidikan kedokteran di FK UKDW. Melalui pertukaran pengetahuan internasional, mahasiswa dan dosen didorong untuk memperkuat kompetensi dalam aspek kepemimpinan berbasis pelayanan (service-learning), sehingga mampu mengintegrasikan nilai akademik, profesionalisme, dan kepedulian sosial..
Pemilihan tema kepemimpinan pelayan (servant leadership) bukanlah tanpa alasan. FK UKDW menekankan bahwa esensi seorang dokter sejati terletak pada empati

dan orientasi pelayanan kepada pasien dan masyarakat. Dalam kuliah umum yang dipandu oleh dr. Ida Ayu Triastuti, MHPE sebagai moderator, Dr Chin Yong Pak memaparkan materi secara komunikatif Antusiasme peserta terlihat jelas saat mahasiswa dari berbagai angkatan, serta para dokter muda aktif berpartisipasi dengan melontarkan pertanyaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Rangkaian acara ini juga membuka pintu lebar bagi pengembangan karier akademik dosen FK UKDW melalui sesi sharing mengenai Yonsei Fellowship Program. Dr. Chin memaparkan beberapa skema dari

Medical Mission Center Yonsei, antara lain Avison International Fellowship, suatu program pelatihan profesional di berbagai departemen Rumah Sakit Severance Yonsei dengan dukungan pembiayaan. Selain itu ada pula Project Avison 10x10, program jangka panjang untuk institusi mitra serta Severance One Family, suatu Pemberian hibah melalui Avison Global Leadership Award dan Avison Global Health Project Grant. Rangkaian kegiatan lainnya adalah kunjungan lapangan ke Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera (PPDMS) di N
Kunjungan ini bertujuan memperkenalkan

model pemberdayaan penyandang disabilitas di
University Langkah ini diproyeksikan menjadi titik awal kolaborasi program pemberdayaan disabilitas yang lebih luas dan berkelanjutan dengan Yonsei University.
Bagi institusi, kehadiran pakar dari universitas kelas dunia seperti Yonsei University menjadi sarana benchmarking kurikulum sekaligus meningkatkan rekognisi internasional. Mahasiswa memperoleh wawasan global serta motivasi untuk mengembangkan karier di ranah internasional, sementara staf kependidikan memperoleh pengalaman dalam mengelola kegiatan akademik bertaraf internasional.
FK UKDW dan Yonsei University telah memetakan beberapa rencana kerjasama di antaranya Summer Course Program, Immersion Program serta Kolaborasi Riset. Dengan terjalinnya sinergi ini, FK UKDW semakin mantap melangkah sebagai institusi pendidikan kedokteran yang adaptif terhadap standar global, namun tetap berakar kuat pada pengabdian kepada masyarakat.(Nr/yc)
akultas Kedokteran Universitas
Kristen Duta Wacana (FK UKDW) kembali menyelenggarakan acara Pengangkatan Sumpah dan Pelantikan Dokter Periode XXXVII pada tanggal 7 Februari 2026 Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita sebagai penanda resmi dilantiknya para lulusan Program Profesi Dokter menjadi dokter yang siap mengabdikan diri bagi masyarakat Sidang Terbuka Senat pengangkatan sumpah dan pelantikan dokter periode pelantikan keXXXVII dibuka oleh Prof. Dr. dr. Rizaldy T a s l i m P i n z o n , S p . S . , M . K e s d a n dilangsungkan di Auditorium Koinonia, Universitas Kristen Duta Wacana. Tema pada periode ini adalah “in caritate unitatis in hominitate serviti” yang berarti bersatu dalam kasih, mengabdi dalam kemanusiaan. Pada periode ini, FK UKDW meluluskan 76 dokter dengan persentase kelulusan first taker sebesar 97% Acara pengambilan sumpah dan pelantikan dilakukan oleh Dekan FK UKDW, dr. The Maria Meiwati Widagdo, Ph.D. sebagai bentuk pengukuhan resmi atas kompetensi dan tanggung jawab profesi yang kini diemban para lulusan. Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan yang diawali oleh perwakilan dokter terlantik, dr Kadex Reisya Sita

Damayanti. Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan orang tua dokter terlantik, dr Tangkahan Hutagaol, Sp.PK, yang berpesan agar para dokter senantiasa menjunjung tinggi nama baik UKDW, tidak pernah berhenti belajar, serta terus menjalani pendidikan berkelanjutan dalam perjalanan profesinya.
Sambutan selanjutnya diberikan oleh p e r w a
Yogyakarta, yang diwakili oleh Wakil Direktur Pelayanan dan Penunjang Medik, drg. Nicholas Adi Perdana Susanto, M.Sc. Dalam pesannya, beliau mengajak para dokter untuk terus haus akan pengetahuan, mengabdikan diri pada ilmu, namun tidak melupakan seni mendengar dan merasakan. Iman, ilmu, dan amal hendaknya menyatu dalam setiap langkah pelayanan.
Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia
wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, dr. Tri Widjaja, dalam sambutannya mengingatkan bahwa profesi dokter bukan sekadar jenjang karier, melainkan panggilan serta bentuk pengabdian bagi masyarakat dan bangsa Sedangkan Dekan FK UKDW, dr. The Maria Meiwati Widagdo, Ph D , menekankan pentingnya berpikir kritis agar para dokter mampu memberikan manfaat nyata bagi pasien yang membutuhkan Rangkaian sambutan ditutup oleh Rektor UKDW, Dr.Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T.
Pada kesempatan tersebut, penghargaan diberikan kepada dr. Ananda Digdoyo sebagai lulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Pendidikan Profesi Dokter Terbaik Penghargaan untuk gabungan IPK Pendidikan Dokter dan Pendidikan Profesi terbaik diraih oleh dr Petra Gusi Parikesit Para dokter yang dilantik diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta membawa nama baik almamater di manapun mereka bertugas. Selamat dan sukses kepada seluruh Dokter Terlantik Periode XXXVII. Kiranya semangat pelayanan dan profesionalisme senantiasa menyertai langkah pengabdian dan penugasan. (cvp)


Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) mendorong penguatan nilai tambah perak Kotagede melalui Pelatihan Desain Produk Perak yang digelar di Aula Kemantren Kotagede Lantai 2, Kota Yogyakarta, Kamis (12/2/2026). Kegiatan ini diikuti 17 perajin dan pelaku usaha perhiasan perak, serta dibuka oleh Isniyarti Wuri Putranti, S I P , M P A , Kepala Jawatan Kemakmuran Kemantren Kotagede.
Pelatihan menghadirkan Dan Daniel Pandapotan, S Ds , M Ds , dosen Program Studi Desain Produk Fakultas Arsitektur dan Desain sekaligus Pjs Kepala Center of Immersive Technology and Creative Innovation (CITACI) UKDW, sebagai instruktur utama.
Dalam pemaparannya, Daniel menekankan bahwa desain tidak lagi dapat dipahami sebatas tampilan visual produk, melainkan sebagai strategi penguatan daya saing “Desain tidak boleh lagi dipahami hanya sebagai bentuk produk. Desain adalah strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tren perhiasan perak mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir. Produksi massal dengan ornamen berat mulai berganti ke desain yang lebih sederhana, personal, dan berbasis pesanan (custom). “Kalau kita hanya mengulang motif lama tanpa reinterpretasi, kita akan bersaing di harga. Padahal yang dibutuhkan sekarang adalah diferensiasi melalui konsep,” jelasnya.

Ukontekstual, Daniel mengajak peserta menggali potensi lokalitas Kotagede sebagai sumber inspirasi. Salah satu contoh yang diangkat adalah reinterpretasi ornamen gerbang Lawang Pethuk dengan komposisi lingkaran dan garis geometris. “Anting ini dirancang tidak hanya menampilkan motif tradisional, tetapi mengolah inspirasi arsitektur lokal menjadi bentuk yang ergonomis,” katanya sambil menunjukkan sketsa pengembangan desain.
Pelatihan dirancang secara aplikatif Peserta melakukan eksplorasi desain menggunakan clay plastisin sebagai media ideasi Material tersebut dipilih karena
m u d a h d i b e n t u k , e k o n o m i s , d a n memungkinkan revisi cepat sebelum masuk tahap produksi logam. “Kita tidak langsung bekerja di perak. Kita uji dulu gagasan dalam bentuk model. Kalau salah, bisa diperbaiki. Ini mengurangi risiko kerugian produksi,” terang Daniel.
Proses perancangan dilakukan melalui tiga tahap iteratif: penyusunan desain awal, p e m b e
n
l u m
i g a d i m e n s i menggunakan cetakan sederhana, serta pengembangan ulang bentuk dengan referensi arsitektur Kotagede.
Salah satu peserta mengaku memperoleh perspektif baru melalui metode tersebut “Saya baru sadar, ternyata ide bisa diuji dulu
pakai plastisin Tidak harus langsung ke logam. Ini lebih hemat,” ujarnya. Meski demikian, tantangan muncul pada tahap produksi Peserta menyampaikan kebutuhan akses fasilitas cor aluminium untuk uji coba desain baru. “Kalau ada akses ke pihak yang punya alat cor, kami bisa mencoba desain baru,” ungkapnya.
menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan inovasi. “Perajin punya keterampilan, kampus punya
pemerintah punya fasilitas Jika tiga ini bertemu, inovasi bisa berjalan konsisten,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, model plastisin hasil karya peserta akan didigitalisasi oleh
menggunakan perangkat lunak tiga dimensi dan dikembangkan menjadi file siap cetak untuk pembuatan cetakan produksi.
mendampingi perajin lokal agar mampu mengolah identitas Kotagede menjadi desain yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan pasar. Desain tidak sekadar bentuk, tetapi strategi keberlanjutan bagi industri perak. [FAD]
niversitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Lomba Gambar Nasional bertajuk “Splash Your Colours, Light The Dark” yang digelar oleh Faber-Castell Indonesia di Auditorium Koinonia UKDW, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan ini menghadirkan ruang pembelajaran kreatif bagi pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam pelaksanaannya, UKDW berperan sebagai mitra akademik sekaligus penyedia ruang edukatif yang mendukung proses belajar dan berekspresi bagi generasi muda. Kolaborasi ini menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan industri kreatif dalam mendukung pengembangan potensi pelajar sejak usia dini.
Sekitar 350 siswa-siswi SMP mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Pelaksanaan di Yogyakarta merupakan bagian dari rangkaian program nasional Faber-Castell yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026, setelah sebelumnya diselenggarakan di Bandung dan Medan.
Selama lomba berlangsung, para peserta mengerjakan karya secara mandiri tanpa pendamping. Mereka diberi waktu selama 120 menit untuk menuangkan ide dan imajinasi

pada media kertas hitam menggunakan Faber-Castell Black Edition Oil Pastel, yang dirancang untuk mendukung eksplorasi warna dan teknik menggambar.
Product Manager Faber-Castell Indonesia, Richard Panelewen, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang
pembelajaran yang mendorong keberanian berekspresi dan pengembangan kemampuan visual pelajar.
“Program ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir karya, tetapi juga pada proses membangun kreativitas, rasa percaya diri, serta pengalaman belajar yang positif bagi
siswa-siswi,” ujarnya. Sebagai tuan rumah, UKDW menyambut positif acara tersebut. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Promosi Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW, Adimas Kristiadi, S.T., M.Sc., mengatakan b a h
s memperkenalkan UKDW, khususnya Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD), sebagai ruang yang terbuka dan inspiratif bagi pelajar.
Menurutnya, Auditorium Koinonia U K D W
representatif dalam mendukung kreativitas,
berkompetisi yang berkesan bagi pelajar SMP di DIY. Hal tersebut menegaskan peran UKDW sebagai ruang publik edukatif yang mendorong pengembangan bakat dan minat generasi muda. Melalui kolaborasi ini, UKDW terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang terbuka terhadap k
berkontribusi dalam menumbuhkan ekosistem kreatif dan pembelajaran sejak dini di Daerah Istimewa Yogyakarta. [mpk]


Participating in international education
is no longer synonymous with long trips
a b r o a d o r h i g h t u i t i o n f e e s
Technological advancements have opened new opportunities for students to learn directly from world-class educational institutions without leaving their homes. This opportunity is being embraced by Yosafat Febby Aleno Yahya, an English Language Education student, who is currently taking a flexible online course on Medieval English Literature at the University of Oxford.
The program, which runs from January to March, is a crucial step in his international academic journey. He gained this learning experience after attending the IEES (International Entrepreneurship Education Summit) held at the Hochschule der Medien in Stuttgart, Germany. Participation in this international educational forum has provided a strong impetus for him to continue expanding his global horizons, not only through discussions and international networking but also through deepening his field of interest.
This course focuses on medieval English literature, a field that explores the ways of thinking of past societies This period is known for its heavy influence of religious values, the feudal system, and a strong oral tradition Through the study of various literary texts, students are encouraged to understand how people of that time viewed the world, constructed meaning in life, and expressed their experiences through language and symbols.
Learning focuses not only on the content of the texts but also on the historical and cultural

contexts behind their emergence. This approach helps students see that literary works are not simply the product of individual creativity but also a reflection of the social conditions and values of their time
Understanding this background makes the reading process more profound and meaningful.
One of the most fascinating aspects of studying Medieval English Literature is the realization that many of the themes raised in medieval works remain relevant today
Questions about morality, faith, power, identity, and the search for the meaning of life have been part of human reflection for
centuries. This demonstrates that even though
experiences remain deeply shared.
The flexible online learning format creates a learning experience unlike any conventional lecture system. Participants have the freedom to organize their study time at their own pace, read the material in greater depth, and reflect on the learning content independently Furthermore, online discussions with participants from various countries provide a valuable space for exchanging perspectives. The diversity of cultural backgrounds allows each participant to bring a unique perspective to interpreting the same text, making the
learning process richer and more dynamic.
However, this learning also presents its own challenges. Many texts use archaic forms of English that differ in structure and v
Understanding the meaning of sentences often requires careful analysis and a great deal of patience. However, this is precisely the appeal. Reading the original texts offers the experience of tracing the history hidden within the language. [yy]
In addition to broadening academic horizons, the experience of taking this international course also fosters independent learning, disciplined time management, and perseverance in dealing with complex material Learning is no longer simply receiving information, but rather an active, exploratory process that demands reflection and critical thinking.
This experience demonstrates that global education is now increasingly open and inclusive. Geographical distance is no longer a barrier to accessing knowledge from across the globe By leveraging technology and maintaining a passion for learning, students can connect directly with broader intellectual traditions Through the program he's currently undertaking from January to March, Yosafat is not only studying Medieval English Literature as an academic field but also developing a broader global perspective on education, history, and human culture. This learning process takes place in a digital space, yet it has a real impact on shaping students' thinking in the global era. [Yosafat Febby Aleno Yahya]
Over the past few days, I have been
deeply fascinated by a beautiful phenomenon unfolding in Indonesia. Within the country’s pluralistic social landscape, three major religious observances occurred within three consecutive days: Chinese New Year (Imlek), Ash Wednesday marking the beginning of Lent, and the start of the holy month of Ramadan. Witnessing this convergence led me to reflect on what I call a Season of Faith a season of spiritual reflection across traditions unfolding within the same shared social space.
In a pluralistic society such as Indonesia, this religious convergence represents more than mere coexistence. It offers a profound opportunity for social learning. Rather than viewing it as a simple coincidence of religious calendars, I see it as a rich andragogical space
a transformative learning moment that
highlighting the strategic role of English Education within this process.
Let me begin with this idea of the Season of Faith as an andragogical moment The concept of andragogy, introduced by Malcolm Knowles, emphasizes that adults learn through lived experiences, self-reflection, contextual relevance, and an internal motivation for growth. I see the momentum of Chinese New Year, Lent, and Ramadan as embodying themes of renewal, self-discipline, repentance, spiritual purification, and collective hope for a shared future These overlapping observances create a meaningful cultural encounter — a chapter of heightened awareness in which diverse perspectives converge toward a shared aspiration: becoming better human beings in relation to the Divine and to one another.
Chinese New Year may be interpreted as a celebration of harmony, balance, and renewal. Lent, culminating in Easter, represents a spiritual journey of repentance and resurrection — a return to God and inner

transformation. Ramadan, ending with Eid alFitr, signifies purification and a return to one’s natural state of spiritual clarity. Together, these observances form an authentic reflective learning experience that transcends individual traditions.
From the perspective of Jack Mezirow’s transformative learning theory, this Season of Faith can function as a “disorienting dilemma” — a catalyst for critical reflection that encourages individuals to reassess their assumptions and perspectives about others. Observing lanterns glowing in shades of red,
witnessing neighbors and relatives fasting, or recalling the ash mark on the forehead symbolizing humility these symbolic encounters create moments of empathy and dialogue They invite us to step beyond habitual boundaries. Through principles of andragogy and equal interreligious dialogue within multicultural education, structural forms of violence — such as prejudice, stereotypes, and religious mar
dismantled. This process moves beyond mere recognition of diversity toward the cultivation
of positive peace: a condition of social relationships characterized by justice, equality, and harmony, as described in Johan Galtung’s theory of peace.
Within this reflection, I also recognize the strategic role of English Education. From the perspective of English as a Lingua Franca (ELF), English serves as a bridge for communication across cultures and faith traditions. In higher education classrooms, English should not be confined to linguistic exercises alone. Rather, it can be practiced as a medium for social awareness as exemplified in one of the English Education courses (PBI UKDW) this semester. In such contexts, discussions of social and religious phenomena are approached through language learning that integrates empathy, reflection, and social responsibility into communicative competence.
English, therefore, is not taught solely for academic or professional advancement. It can also function as a means of fostering religious literacy and peace awareness
Reflective discussions and writing activities about spiritual experiences and the universal values underlying religious celebrations create safe and meaningful spaces for dialogue. In this way, English becomes more than a structural system of grammar and v o c a
communicative tool — a means of listening, understanding, and responding to difference with sensitivity and respect.
Ultimately, I interpret this Season of Faith Imlek, Lent, and Ramadan as an andragogical moment within Indonesia’s multicultural landscape. It offers a space for reflective, transformative, and peaceoriented interreligious learning. I believe this phenomenon may also serve as a reference point for other nations, particularly in expanding the content and role of English as a lingua franca in responding thoughtfully to interreligious and intercultural encounters.
[Ester Nurhana Kusumawati]


Warisan yang Tidak Terlihat
Tidak semua warisan hadir dalam bentuk yang dapat disentuh. Warisan tidak selalu berupa tanah atau bangunan yang berwujud dan dapat diperjualbelikan. Sebagian justru tumbuh dalam kata-kata yang kita ulang setiap hari, nyaris tanpa disadari, diterima begitu saja tanpa sangkalan.
Kata-kata bukan sekadar bunyi yang lewat di udara Mereka tinggal, menetap, dan diwariskan. Di dalamnya tersimpan cara kita memandang perempuan: siapa yang perlu diberi predikat, siapa yang dianggap b e r l e b i h a n , d a n s i a p a y a n g h a r u s menyesuaikan diri agar tetap dinilai pantas.
Bahasa kerap dianggap sekadar alat komunikasi yang netral. Padahal, bahasa lahir dari ruang sosial yang tidak pernah sepenuhnya setara Bahasa juga menjadi sarana bercerita dari generasi ke generasi. Melalui bahasa, kita menceritakan sekaligus mewariskan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan sepanjang hidup Ia tumbuh dari kebiasaan, nilai, dan struktur yang
membentuk penuturnya. Karena itu, apa yang kita sebut dan apa yang tidak kita sebut—jarang terjadi secara kebetulan.
Normal yang Tidak Perlu Disebut
Dalam banyak situasi, sesuatu yang dianggap “normal” tidak memerlukan keterangan tambahan Sebaliknya, yang dianggap berbeda justru diberi penanda khusus Di sinilah kita dapat melihat bagaimana perempuan sering ditempatkan dalam bahasa.
Kita akrab dengan istilah “ perempuan karier”. Frasa itu terdengar wajar, bahkan positif Namun, kita hampir tidak pernah mendengar “laki-laki karier”. Demikian pula dengan sebutan “pemimpin perempuan” atau “dokter perempuan ” , sementara laki-laki dalam posisi yang sama jarang memerlukan penanda gender.
Ungkapan “ibu bekerja” terasa lebih lazim daripada “ayah bekerja” Perbedaan ini mungkin tampak sepele, tetapi menyiratkan asumsi tentang peran utama dan peran tambahan tentang siapa yang dianggap umum dan siapa yang diposisikan sebagai pengecualian Bekerja dipandang sebagai keadaan alami bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan, bekerja masih kerap dianggap sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan.
Dalam bahasa Inggris, istilah seperti “female CEO” atau “ woman leader” lebih sering digunakan daripada “male CEO” Tanpa penanda “female”, sosok yang terbayang ketika mendengar kata “CEO” kerap kali adalah laki-laki. Penanda itu terasa perlu karena posisi tersebut secara historis diasosiasikan dengan laki-laki. Ketika satu gender harus selalu disebutkan secara khusus, mungkin memang ia tidak pernah dianggap sebagai standar Laki-laki hadir sebagai ukuran yang tak perlu dijelaskan, sementara perempuan ditempatkan sebagai variasi yang harus disebutkan.
Kata yang Tidak Bebas Disematkan
Tidak semua kata bebas dilekatkan pada siapa saja. Ada istilah yang ketika disematkan pada perempuan, terasa lebih berat dan mengandung penghakiman.
Dalam bahasa Indonesia, kita kerap
mendengar perempuan disebut “terlalu ambisius” Kata “ambisius” sendiri tidak bermasalah. Namun, ketika ditujukan kepada perempuan, ia sering terdengar seperti peringatan: jangan melampaui batas Sebaliknya, laki-laki yang ambisius lebih mudah dipuji sebagai visioner atau pekerja keras. Sifat yang sama, tetapi makna sosialnya berbeda.
Label seperti “galak” atau “bossy” pun lebih cepat dilekatkan pada perempuan yang berbicara tegas dalam rapat. Sementara itu, laki-laki dengan sikap serupa justru dianggap berwibawa atau percaya diri Pilihan kata bukan sekadar cermin perilaku, melainkan penyesuaian terhadap ekspektasi tentang bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Dalam konteks budaya Jawa, perempuan kerap dilekatkan pada sifat nrimo dan sabar—tidak banyak menuntut dan senantiasa menjaga harmoni Ketika perempuan melampaui kerangka tersebut—menjadi lebih dominan, lebih ambisius, atau lebih terbuka—reaksi sosial sering muncul melalui bahasa yang bernada korektif.
Kata tidak hanya mencerminkan harapan, tetapi juga menegaskan batas. Ia menentukan bagaimana perempuan seharusnya bersikap agar tetap dianggap “normal”. Pelanggaran atas batas itu jarang disorot secara terangterangan, tetapi cukup ditegaskan melalui pilihan diksi. Di sinilah bahasa menunjukkan perannya yang paling halus: bukan sekadar menggambarkan perempuan, melainkan sekaligus mengatur ruang geraknya.
Status yang Tidak Pernah Sama
Bahasa tidak hanya memberi label pada sifat, tetapi juga pada status hidup perempuan. Di ranah ini, ketimpangan makna terasa lebih jelas.
Kata “janda” dan “duda” secara denotatif merujuk pada kondisi yang sama: seseorang yang tidak lagi memiliki pasangan. Namun, dalam praktik sosial, keduanya jarang diperlakukan setara “Janda” lebih mudah dikelilingi prasangka, kerap dikaitkan dengan moralitas atau dianggap sebagai ancaman bagi rumah tangga orang lain. Istilah ini juga sering dibebani citra kesepian yang merendahkan. Sebaliknya, “duda” terdengar lebih netral,
bahkan kadang diasosiasikan dengan kemandirian atau kesempatan kedua. Istilah “perawan tua” pun terasa berat dan sarat penilaian negatif Padanan yang sepopuler itu hampir tidak ditemukan untuk laki-laki Ketika status yang sama diberi beban makna yang berbeda, bahasa tidak lagi sekadar menjelaskan kenyataan, tetapi turut m e m b e n t u k c a r a m a s y a r a k a t memandangnya.
Bahasa Inggris menunjukkan pola serupa melalui perbedaan antara “spinster” dan “bachelor”. Yang pertama terdengar usang dan bernada negatif, sedangkan yang kedua cenderung santai, bahkan menarik Perbedaan ini memperlihatkan bahwa bias bukan hanya persoalan satu budaya, melainkan kecenderungan yang dapat muncul dalam berbagai ruang bahasa.
Warisan yang Tidak Kehilangan Pilihan
Bahasa memang diwariskan, kita tidak memulainya dari titik nol. Namun, mewarisi tidak berarti menerima semuanya tanpa pertanyaan Kita mungkin tidak selalu menemukan padanan yang benar-benar netral, tetapi kita bisa memulai dari kesadaran bahwa di balik istilah yang terdengar biasa, terdapat nilai yang ikut berpind
a mengulangnya, kita turut menjaga nilai itu tetap hidup.
Pertanyaannya bukan lagi apakah bahasa memuat bias. Pertanyaannya adalah apakah kita akan terus mewariskannya begitu saja, atau mulai memilih mana yang layak dipertahankan.
Dalam kata-kata yang kita wariskan, perempuan seharusnya tidak selalu hadir sebagai pengecualian. Perubahan mungkin tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari kesediaan untuk mendengar ulang apa yang kita ucapkan.
Pada akhirnya, bahasa bukan hanya tentang berbicara Bahasa adalah tentang cara kita melihat dan cara kita memilih untuk melihat ulang. [NP]
Apakah kamu pernah berkunjung ke
candi? Bagi banyak orang, saat pergi ke Jogja, salah satu tujuan utamanya adalah candi Biasanya, jika bukan Candi Prambanan, wisatawan akan memilih Candi Borobudur. Ketika mereka kembali ke daerah asal dan bercerita tentang perjalanan ke Jogja, sering muncul pertanyaan, “Ke Candi
Borobudur, tidak?” Padahal, Candi Borobudur berada di Magelang, Jawa Tengah.
Jika ingin menjelajahi candi-candi yang ada di Jogja, terdapat sejumlah candi yang dapat dikunjungi Untuk memudahkan, candi-candi tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu candi Hindu dan candi
B u d d h a M e n u r u t t r a v e l o k a c o m , pengelompokan ini didasarkan pada corak dan simbolisme, seperti arca Siwa, Brahma, atau Buddha, bentuk bangunan (ramping dan tinggi atau melebar), tata letak, serta relief (pahatan) yang menghiasi bangunan candi.
Berikut beberapa candi Hindu di DIY yang dapat menjadi pilihan.
Candi Ijo
Candi Ijo terletak di kawasan Prambanan, tepatnya di perbukitan Mengutip laman pariwisata Kapanewon Prambanan, nama “Ijo” berasal dari Gumuk Ijo, bukit tempat candi ini berdiri Di kompleks Candi Ijo terdapat tiga candi perwara (candi pemujaan kecil) dan satu candi induk. Pada tiga relung dinding luar candi induk terdapat arca Agastya, Ganesha, dan Durga. Selain itu, di dalam bilik utama terdapat lingga dan yoni yang melambangkan persatuan Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Candi Barong
Berdasarkan informasi dari Dinas Pariwisata Kapanewon Prambanan, Candi Barong dinamakan demikian karena memiliki hiasan kala dan makara yang menyerupai barong Berbeda dengan Candi Ijo, Candi Barong didedikasikan untuk Dewa Wisnu dan Dewi Sri.
Candi Sambisari
Jika Candi Ijo dan Candi Barong berada di perbukitan, Candi Sambisari justru terletak di bawah permukaan tanah. Di kompleks ini t e r d a p a t a r c a G a n e s h a , D u r g a Mahisasuramardini, dan Agastya. Di dalam candi utama juga terdapat lingga dan yoni berukuran cukup besar. Area sekitar candi yang asri membuat pengunjung dapat bersantai sambil menikmati suasana.
Candi Kedulan
Masih berada di sekitar Kalasan, Candi Kedulan juga ditemukan di bawah permukaan tanah, meskipun tidak sedalam Candi Sambisari. Gaya arsitekturnya mirip dengan Candi Sambisari Hanya saja bangunan utamanya menghadap ke timur dengan tiga candi perwara di bagian depan. Selanjutnya, kita mengulik terdapat candicandi Buddha di wilayah DIY.
Candi Banyunibo
Meski berdekatan dengan Candi Ijo dan Candi Barong, Candi Banyunibo merupakan candi Buddha yang ditandai dengan adanya stupa di bagian atasnya. Nama “Banyunibo” berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu banyu (air) dan nibo (menetes) Asal-usul
nama tersebut belum diketahui secara pasti karena candi ini tidak berada di dekat aliran sungai atau sumber air. Berdasarkan puingpuing yang ditemukan di sekitarnya, diperkirakan terdapat enam candi perwara berbentuk stupa di sekitar candi utama Namun, sampai saat ini Candi Banyunibo masih berdiri sendiri dalam sepi.
Candi Kalasan
Merujuk pada artikel Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Candi Kalasan dibangun oleh Wangsa Syailendra sebagai bangunan suci bagi Dewi Tara. Dahulu, terdapat arca Dewi Tara di dalam candi utama. Lokasinya yang dekat dengan Jalan Raya Jogja–Solo membuat candi ini mudah dikunjungi.
Candi Sari
Masih berada di kawasan Kalasan, Candi Sari diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi sebagai bagian dari bangunan suci bagi Dewi Tara sekaligus biara bagi para pendeta Jika Candi Kalasan berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Tara, Candi Sari diduga menjadi tempat tinggal para pendeta Buddha.
Dari berbagai candi tersebut, mana yang sudah kamu kunjungi? Saat ada keluarga atau teman berkunjung ke Jogja, kamu dapat merekomendasikan destinasi-destinasi ini. Meski tidak semegah Candi Prambanan, candi-candi tersebut tetap menyimpan keindahan dan nilai sejarah yang patut diapresiasi. Salam budaya. [TSH]
Sekilas tentang Penulis
George Orwell adalah nama pena dari Eric Arthur Blair, yang lahir pada 25 Juni 1903 di Motihari, India (saat masih menjadi bagian dari koloni Inggris). Orwell dikenal sebagai penulis yang berani mengkritik kekuasaan dan sistem politik yang menindas Selain Animal Farm, karyanya yang sangat terkenal adalah Nineteen Eighty-Four, sebuah novel distopia yang juga menyoroti bahaya totalitarianisme dan manipulasi kebenaran.
Cerita Singkatnya Tentang Apa?
Novel Animal Farm diawali di Peternakan Manor milik Tuan Jones, seorang pemilik yang lalai dan kerap memperlakukan hewanhewannya dengan semena-mena Dalam situasi tersebut muncul sosok Mayor Tua, seekor babi yang dihormati, yang bermimpi tentang dunia baru, di mana ada sebuah tatanan di mana hewan tidak lagi ditindas manusia dan dapat menikmati hasil kerja mereka sendiri. Dalam sebuah rapat besar di kandang, Mayor Tua menanamkan gagasan tentang kebebasan, kesetaraan, dan perlawanan terhadap penindasan. Mimpi itu membakar semangat para hewan dan menjadi benih revolusi.
Setelah Mayor Tua meninggal, gagasannya tidak ikut terkubur. Dua babi muda, Snowball yang cerdas dan visioner serta Napoleon yang pendiam namun ambisius, mengambil alih kepemimpinan gerakan. Kesempatan datang ketika Tuan Jones lalai memberi makan ternaknya. Para hewan yang lapar dan marah akhirnya memberontak dan berhasil mengusir manusia dari peternakan Kemenangan itu terasa monumental. Mereka mengganti nama tempat itu menjadi Animal Farm dan menyusun tujuh hukum sebagai dasar kehidupan baru, dengan semboyan utama: “Semua hewan itu setara.”
Pada masa-masa awal, kehidupan di Animal Farm tampak menjanjikan. Hewanhewan bekerja sama dengan semangat gotong royong. Hasil panen meningkat, pembagian makanan terasa lebih adil, dan tidak ada lagi cambuk manusia. Snowball aktif menyusun berbagai program, termasuk rencana p e m b a n g u n a n k i n c i r a n g i n u n t u k
meningkatkan kesejahteraan bersama Harapan akan masa depan yang lebih cerah terasa nyata, seolah revolusi benar-benar membawa perubahan.
Namun, di balik keberhasilan itu, benih konflik mulai tumbuh Napoleon merasa terancam oleh popularitas dan kecerdasan Snowball. Dengan siasat licik dan dukungan anjing-anjing yang telah ia latih secara diamdiam, Napoleon mengusir Snowball dari peternakan Sejak saat itu, ia menjadi pemimpin tunggal Perlahan tetapi pasti, tujuh hukum mulai diubah tanpa disadari para hewan Para babi memperoleh hak istimewa, misalnya tinggal di rumah manusia, memakan makanan khusus, bahkan menjalin hubungan dagang dengan manusia, hal-hal yang sebelumnya dilarang keras.
Ironi terbesar muncul ketika kehidupan para hewan justru semakin berat Mereka bekerja lebih lama dengan jatah makanan yang semakin sedikit. Ketidakadilan semakin nyata, tetapi propaganda terus digunakan untuk membungkam protes. Pada akhirnya, para hewan menyadari bahwa para babi telah menjadi sama, bahkan lebih buruk, dari manusia yang dahulu mereka usir. Revolusi yang lahir dari mimpi kebebasan berubah menjadi lingkaran penindasan baru Jadi sebuah gambaran getir tentang bagaimana kekuasaan dapat mengkhianati cita-cita awalnya.
Tema dan Pesan yang Mengena
Dalam Animal Farm, George Orwell menyampaikan sejumlah tema kuat yang tetap relevan hingga kini Salah satunya adalah pentingnya kerja sama. Ketika para hewan bersatu, mereka mampu mengalahkan manusia dan mengambil alih peternakan Orwell menunjukkan bahwa solidaritas dan persatuan dapat menjadi kekuatan besar dalam melawan ketidakadilan Namun, ia juga memperlihatkan sisi lain dari kekuasaan. Melalui karakter Napoleon, yang pada awalnya merupakan bagian dari perjuangan revolusi, pembaca melihat bagaimana kekuasaan dapat mengubah seseorang menjadi diktator Idealisme yang semula diperjuangkan bersama perlahan runtuh oleh
ambisi pribadi dan hasrat untuk menguasai.
Selain itu, Orwell mengkritik manipulasi bahasa dan propaganda Kutipan terkenal, “Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain,” menjadi simbol bagaimana bahasa dapat dipelintir demi kepentingan penguasa Kalimat yang tampak sederhana tersebut menyimpan ironi tajam tentang ketidakadilan yang dibungkus dengan retorika kesetaraan. Tokoh Squealer semakin menegaskan bahaya propaganda, karena ia terus memutarbalikkan fakta dan membenarkan kebijakan yang merugikan hewan lain. Melalui rangkaian peristiwa ini, Orwell menegaskan bahwa tanpa kesadaran kritis, kekuasaan dan propaganda dapat dengan mudah menindas atas nama kebaikan bersama.
Animal Farm karya George Orwell memiliki kelebihan yang terletak pada alur cerita yang ringkas namun kuat, disertai simbolisme c e r d a s d i m a n a s e t i a p h e w a n merepresentasikan karakter dan sifat manusia. Satir politik yang dihadirkan tetap relevan hingga sekarang, sementara bahasanya yang sederhana membuat novel ini
mudah dipahami tanpa mengurangi kedalaman maknanya Meski demikian, beberapa adegan terasa cukup gelap dan keras bagi sebagian pembaca Selain itu, tanpa pemahaman konteks sejarah, terutama kritik terhadap Uni Soviet, sebagian pesan alegoris yang ingin disampaikan Orwell mungkin tidak sepenuhnya tertangkap.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Novel Animal Farm karya George Orwell menghadirkan kisah sederhana tentang pemberontakan hewan yang sesungguhnya merupakan sindiran tajam terhadap praktik kekuasaan yang korup dan manipulatif. Melalui perubahan karakter Napoleon dari pejuang revolusi menjadi diktator, Orwell menunjukkan bahwa idealisme tentang kesetaraan dapat dengan mudah dirusak oleh ambisi dan ketamakan. Kisah ini menegaskan bahwa kekuasaan tanpa tanggung jawab moral akan melahirkan penindasan baru, bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Dengan gaya bahasa yang ringkas namun sarat makna,

Animal Farm menjadi bacaan reflektif tentang kepemimpinan, propaganda, dan rapuhnya nilai keadilan ketika tidak dijaga dengan integritas. Buku ini sangat layak dibaca oleh pelajar, mahasiswa, maupun pembaca umum yang tertarik pada isu sosial, politik, dan etika kepemimpinan Selain mudah dipahami karena dikemas dalam bentuk fabel, pesan moral dan kritiknya tetap relevan dalam berbagai konteks zaman. Animal Farm juga cocok dijadikan bahan diskusi akademik maupun refleksi pribadi tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan Untuk memperluas pemahaman mengenai kritik terhadap sistem totalitarian, pembaca dapat melanjutkan dengan karya Orwell lainnya, y
menawarkan gambaran lebih luas mengenai kontrol, pengawasan, dan manipulasi kebenaran dalam masyarakat modern. Ditulis oleh: Yudha Adi Putra, Alumni Fakultas Teologi 2019

Judul : Penulis : Tebal :
Pertama Terbit: Penerbit :
Genre :
Bahasa : Animal Farm George Orwell 148 halaman 1945 Alegori, Satire, Sindiran Politik, Fiksi Distopia Bentang Pustaka (2016) Indonesia
doc.SatgasPPKPTUKDW

Kampus seharusnya menjadi ruang
aman untuk belajar, bertumbuh, dan membangun jejaring Karena itu, kehadiran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) menjadi elemen penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman dan berkeadilan.
Satgas PPKPT bukan sekadar tim formalitas. Satuan tugas ini memiliki mandat untuk mencegah terjadinya kekerasan, menerima dan menindaklanjuti laporan, serta mendampingi korban agar memperoleh perlindungan dan keadilan.
Nah, agar tidak terjadi kesalahpahaman atau anggapan yang meremehkan situasi
tertentu, penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu berbagai bentuk kekerasan yang ada. Boleh jadi, perilaku yang selama ini dianggap sekadar candaan ternyata termasuk dalam kategori tindakan yang tidak dapat ditoleransi.
B e r d a s a r k a n P e r a t u r a n M e n t e r i Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi, kekerasan di kampus tidak terbatas pada kekerasan fisik. Berikut sejumlah bentuk kekerasan yang perlu dikenali:
1. Kekerasan Fisik
Tindakan yang menimbulkan rasa sakit, cedera, atau luka pada tubuh seseorang, seperti memukul, menampar, mendorong, atau bentuk penyerangan fisik lainnya.
2. Kekerasan Psikis
Tindakan yang menyerang kondisi mental atau emosional seseorang, seperti menghina, merendahkan, mengintimidasi, mengancam, mempermalukan di depan umum, atau membuat seseorang merasa takut dan tertekan secara terus-menerus. Sering kali tidak terlihat bekasnya, tetapi dampaknya bisa sangat besar.
3. Kekerasan Seksual
Segala bentuk tindakan bernuansa seksual yang dilakukan tanpa persetujuan korban,
mulai dari komentar atau candaan seksual yang menimbulkan ketidaknyamanan, penyebaran konten intim tanpa izin, hingga pelecehan atau pemaksaan hubungan seksual.
4. Perundungan (Bullying)
Perilaku menyerang, merendahkan, atau mengucilkan seseorang secara berulang, baik secara langsung maupun melalui media digital, seperti ejekan, penyebaran gosip, hingga serangan di media sosial.
5. Diskriminasi dan Intoleransi
Perlakuan tidak adil terhadap seseorang berdasarkan identitasnya seperti agama, gender, disabilitas, atau latar belakang sosial—yang berakibat pada pembatasan hak dan kesempatan di lingkungan kampus.
6. Kebijakan yang Mengandung Kekerasan
Kebijakan atau aturan dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan apabila bersifat merugikan, diskriminatif, atau membatasi hak kelompok tertentu secara tidak adil, misalnya aturan yang mempermalukan, mengucilkan, atau memberikan sanksi tanpa prosedur yang adil Oleh sebab itu, setiap kebijakan di l i n g k u n g a n p e r g u r u a n t i n g g i h a r u s berlandaskan prinsip keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Regulasi tersebut menegaskan bahwa kampus wajib menjadi ruang aman bagi seluruh warga Setiap perilaku maupun
kebijakan yang merugikan, merendahkan, atau menimbulkan rasa tidak aman tidak dapat dianggap sebagai hal sepele Mengenali berbagai bentuk kekerasan merupakan langkah awal untuk membangun kepekaan, memperkuat kepedulian, dan mendorong keberanian untuk bersuara.
Sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Kristen Duta Wacana, kita m e m i l i k i t a n g g u n g j a w a b u n t u k mewujudkan lingkungan kampus yang aman dan nyaman Jadi, kalau kamu melihat, mendengar, atau bahkan mengalami kekerasan dalam bentuk apa pun, jangan diam saja. Kamu tidak sendirian, dan ada ruang aman untuk bercerita. Segera hubungi Satgas PPKPT UKDW melalui hotline 0821-4368-8270 atau mengirimkan email ke satgas ppkpt@staff ukdw ac id Langkah kecilmu untuk melapor bisa menjadi langkah besar untuk melindungi banyak orang. [ai]
Let us be more aware of our surroundings. A caring community begins with simple actions listening, offering support, and speaking up when something is not right. A safe campus starts with all of us!

Bacaan: Mazmur 51 Tema: “Hati yang Remuk, Hati yang Dipulihkan”
Rabu Abu mengingatkan kita pada satu
kenyataan yang tak terelakkan: manusia adalah makhluk yang rapuh. Abu yang ditorehkan di dahi bukan sekadar simbol tradisi gerejawi, melainkan penanda bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Di tengah dunia yang menuntut kita tampil kuat, sempurna, dan berhasil, Rabu Abu mengajak kita berhenti sejenak untuk mengakui kelemahan, kesalahan, dan dosa di hadapan Tuhan.
Mazmur 51 merupakan doa pertobatan Raja Daud Ia tidak menyembunyikan dosanya dan tidak mencari pembenaran Dengan hati yang remuk, ia berseru, “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih s e t i a - M u ” D a u d m e n y a d a r i b a h w a pengampunan bukanlah hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah semata.
Sering kali dosa dipahami sebatas pelanggaran besar Namun, Mazmur 51 menolong kita melihat lebih dalam bahwa dosa adalah keretakan relasi dengan Tuhan. Dosa membuat hati menjadi tumpul, doa terasa hambar, dan hidup kehilangan arah. Karena itu, Daud tidak hanya memohon pengampunan, tetapi juga pemulihan: “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah, dan perbaharuilah batin yang teguh dalam diriku ” Ia merindukan pembaruan yang menyentuh batin terdalam.

Pertobatan sejati bukan sekadar rasa bersalah. Pertobatan adalah kerinduan untuk diperbarui. Hati yang bersih bukanlah hati yang tidak pernah jatuh, melainkan hati yang bersedia kembali kepada Tuhan setiap kali tersesat.
Rabu Abu menjadi undangan untuk kembali kembali dari kesibukan yang mengikis keintiman dengan Tuhan, kembali dari ambisi yang mengaburkan arah hidup, serta kembali dari relasi yang mungkin rusak
oleh ego dan amarah Abu mengingatkan bahwa hidup manusia terbatas, tetapi kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Mazmur 51 juga menegaskan, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina ” Tuhan tidak mencari kesempurnaan rohani yang tampak di luar, melainkan kejujuran hati. Ia tidak menolak tangisan yang tulus dan tidak mengabaikan doa yang lahir dari kerendahan hati.
Memasuki masa Prapaskah, kita diajak bukan hanya untuk menahan diri dari ses
pembaruan. Mungkin ada kebiasaan yang perlu dilepaskan, relasi yang perlu dipulihkan, atau sikap hati yang perlu diakui di hadapan Tuhan Masa ini menjadi kesempatan untuk melibatkan Tuhan kembali secara utuh dalam setiap langkah hidup. Rabu Abu bukanlah hari yang kelam, melainkan pintu menuju pemulihan. Dari abu lahir harapan, dan dari hati yang remuk Tuhan menumbuhkan kehidupan yang baru.
Refleksi Pribadi:
Ÿ Area hidup apa yang perlu saya akui dan serahkan kepada Tuhan hari ini?
Ÿ Apakah saya sungguh rindu diperbarui, atau sekadar ingin merasa lega?
Ÿ Langkah konkret apa yang dapat saya ambil selama masa Prapaskah untuk semakin mendekat kepada Tuhan?
Kiranya dalam masa pertobatan ini kita berani berdoa seperti Daud, “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah,” dan percaya bahwa Allah yang penuh kasih sanggup memulihkan kita sepenuhnya [Pedro]
Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) mengukuhkan Pengurus Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan Tim Ibadah Kampus (TIK) masa pelayanan 2026/2027 dalam Ibadah Akhir Pekan yang digelar pada Jumat, 6 Februari 2026, di Kapel Duta Wacana.
Ibadah tersebut mengusung tema “Agape, Filia, Eros: Mana yang Terbaik?” berdasarkan pembacaan Alkitab dari 1 Korintus 13:1–3. Tema ini mengajak jemaat, khususnya mahasiswa, untuk merefleksikan makna kasih sejati dalam terang iman Kristen Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Nani Minarni, S.Si., M.Hum., yang menegaskan bahwa kasih merupakan inti dari setiap pelayanan.
D a l a m k h o t b a h n y a , P d t N a n i
menyampaikan bahwa tanpa kasih, kemampuan, talenta, dan pengorbanan tidak memiliki makna rohani Ia menekankan bahwa kasih bukan sekadar perasaan, melainkan komitmen yang diwujudkan melalui ketaatan dan tindakan nyata dalam kehidupan bersama di lingkungan kampus. Rangkaian ibadah diawali dengan pujian dan penyembahan, dilanjutkan dengan pembacaan Firman Tuhan. Suasana khidmat mengiringi jalannya ibadah hingga memasuki momen peneguhan pengurus baru.
Dalam pengantar peneguhan ditegaskan bahwa pelayanan merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab Allah adalah pelaku utama dalam karya-Nya, sementara umat-Nya dipanggil menjadi rekan sekerja untuk menghadirkan pemulihan dalam relasi dengan Tuhan, sesama, dan ciptaan.


Nama-nama pengurus PMK dan TIK periode 2026/2027 dibacakan satu per satu.
menyatakan komitmen untuk melayani


dengan setia, bertanggung jawab, dan penuh sukacita sesuai talenta yang dipercayakan. “Ya, kami percaya, yakin, dan berjanji,” ucap mereka secara serempak.
Peneguhan dilanjutkan dengan doa dan pemberkatan oleh Pdt. Nani Minarni. Jemaat menyambut momen tersebut dengan doksologi sebagai ungkapan syukur Para pengurus baru juga menyatakan komitmen u n t u
dikaruniakan Allah dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, dan dalam kasih yang saling membangun.
Selain peneguhan pengurus, jemaat diajak untuk mendukung dan terlibat aktif dalam pelayanan kampus Hal ini menegaskan bahwa pelayanan bukan hanya tanggung jawab pengurus, melainkan panggilan bersama sebagai komunitas iman di UKDW.
Doa syafaat turut dipanjatkan bagi kepengurusan baru dan kehidupan kampus secara keseluruhan. Ibadah ditutup dengan lagu komitmen serta sesi dokumentasi bersama, termasuk foto PMK Arrow Generation, PMK Soli Deo Gloria, PMKK AGAPE, dan Tim Ibadah Kampus bersama pengurus sebelumnya sebagai simbol estafet pelayanan.
komunitas akademik yang tidak hanya bertumbuh dalam intelektualitas, tetapi juga dalam spiritualitas dan pelayanan. Kepengurusan PMK dan TIK periode 2026/2027 diharapkan menjadi sarana pertumbuhan iman dan persekutuan yang inklusif di lingkungan kampus. [Pedro]

Universitas Kristen Duta Wacana
(UKDW) reinforced its commitment to sustainable and accountable collaboration by participating in the 2026 YKPAI–MCC Partners Gathering, held on 4–5 February 2026 in Salatiga, Central Java.
The two-day forum, organized by Yayasan Kerjasama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI) in partnership with Mennonite Central Committee (MCC), brought together university representatives and civil society partners from across Indonesia under the theme “Strengthening Partnership, Learning, and Impact ” The event aimed to consolidate collaboration, enhance program governance, and sharpen the measurable impact of joint initiatives.
Throughout the gathering, participants engaged in reflective discussions on program implementation, partnership governance, Planning, Monitoring, Evaluation, and Reporting (PMER), financial accountability, safeguarding, and future capacity-building needs.
In presentation and gallery walk sessions, UKDW showcased its collaborative initiatives with MCC, including the Visiting Scholars
University (CMU) and the Situational Assessment with a Peacebuilding and Environmental Focus in Two Indonesia Locations Project. The forum facilitated crosslearning among partners, highlighting strategies to make programs more focused, outcome-driven, and community-centered.
Discussions emphasized that impact measurement must go beyond quantitative

reporting Participants underscored the importance of articulating meaningful stories of change alongside data to demonstrate real transformation in communities.
The second day centered on strengthening PMER systems and financial management practices Partners reflected on recurring challenges, including formulating measurable outcomes, developing clear indicators, documenting lessons learned, and aligning project timelines with internal institutional processes.
MCC encouraged partners to prioritize clarity and simplicity in program planning to
measurable impact.
Representative for Indonesia, highlighted the importance of continuous communication and realistic project management.
“Ideally, every project begins with a detailed analysis. But in reality, challenges and delays are inevitable and sometimes we even become victims of our own success by taking on too many projects,” he said. “That is why MCC encourages partners to focus, simplify reporting, and prioritize real impact. When we say we are doing something good, we must be able to prove it PMER is not about perfection it is about growing together through a shared learning journey.”
A dedicated safeguarding session reaffirmed
YKPAI and MCC’s commitment to protection from sexual exploitation, abuse, and harassment (PSEAH) in all project implementation. The discussion also mapped out future training and mentoring priorities to strengthen institutional resilience and ethical standards.
For UKDW, the forum provided concrete institutional benefits, including a clearer understanding of proposal mechanisms, PMER frameworks, financial systems, and MCC’s strategic priorities for 2026–2030. Following the gathering, UKDW plans to conduct internal coordination to align crossfaculty and cross-unit initiatives, streamline program design, and enhance planning and reporting mechanisms By sharpening its
accountability systems, UKDW aims to ensure that its partnerships generate sustainable, measurable, and communitycentered impact. [ai]

“The world is full of wonderful things you haven’t seen yet. Don’t ever give up on the chance of seeing them,” wrote J. K. Rowling.

For many of us, this quote serves as a call
to step beyond our comfort zones and explore a wider world. Opportunities are often closer than we think. As long as we are willing to seek them, there are meaningful ways to experience life beyond our familiar surroundings including through pursuing further studies abroad.
Studying overseas is not merely about earning an international degree It also requires the courage to adapt to new academic environments, engage with diverse perspectives, and build connections across c u l t u r e s I n t o d a y ’ s i n c r e a s i n g l y interconnected world, choosing to study abroad can be a strategic step toward personal growth shaping character, expanding outlooks, and preparing to contribute within a global community.
Of course, this aspiration does not come without challenges Many students hesitate—not because they lack ambition, but because of financial considerations. Tuition fees, living expenses, accommodation, and travel costs can quickly add up, making the prospect feel daunting. Feeling overwhelmed b y t h e s e r e a l i t i e s i s c o m p l e t e l y understandable.
Yet financial constraints do not have to mean the end of the dream. One practical step is to explore scholarship opportunities that
offer partial or full funding for international study. With careful research and preparation, these opportunities can transform what seems impossible into something attainable.
If you have the intention, commitment, and courage to take that leap, this could be the right moment to begin. Explore the following scholarship programs and discover which one might become your gateway to a broader, global journey.
Australia Awards Scholarships
Australia Awards Scholarships (AAS) is a prestigious international scholarship program offered by the Government of Australia for postgraduate studies (Master’s and PhD) at Australian universities. It is a fully funded program that covers tuition fees, living expenses, round-trip airfare, and health insurance.
Application Period: February-April
More info: https://www.australiaawardsindonesia.org/
Chevening Scholarship is a prestigious fully funded scholarship program offered by the Government of the United Kingdom for oneyear Master’s (S2) studies. It is awarded to individuals with high leadership potential from around the world, including Indonesia. The program covers full tuition fees, a monthly living allowance, visa costs, and round-trip airfare.
Application Period: August-October
More info: https://www.chevening.org/scholarship/ind onesia/
Stipendium Hungaricum
Stipendium Hungaricum is the most prestigious fully funded scholarship program offered by the Government of Hungary for
international students, including those from Indonesia, to pursue Bachelor’s (S1), Master’s (S2), Doctoral (S3), or non-degree studies at leading universities in Hungary. Established in 2013, the scholarship covers tuition fees, a monthly stipend, accommodation support, and health insurance.
Application Period: November-January
More info: https://stipendiumhungaricum.hu/
Global Korea Scholarship (GKS)
Global Korea Scholarship (GKS) is a fully funded scholarship program offered by the Government of South Korea for international students, including those from Indonesia, to pursue undergraduate (Bachelor’s) and postgraduate (Master’s/Doctoral) degrees at leading universities in South Korea The scholarship covers full tuition fees, round-trip airfare, a monthly living allowance, Korean language training, and health insurance.
Application Time: February
More info: https://gksscholarship.com/ Manaaki New Zealand Scholarships
Manaaki New Zealand Scholarships is a fully funded scholarship program offered by the Government of New Zealand through its Ministry of Foreign Affairs and Trade (MFAT) for international students from developing countries, including Indonesia The scholarship supports undergraduate (Bachelor’s), postgraduate (Master’s), and doctoral (PhD) studies at New Zealand universities, with the aim of fostering prosperity and long-term relationships. The scholarship covers full tuition fees, a living allowance, airfare, an establishment allowance, health and travel insurance, as well as research and thesis allowances.
Application Time: February
More info: www.nzscholarships.govt.nz
Türkiye Scholarships
Türkiye Scholarships (Türkiye Bursları) is a p r e s t
f u n d e d scholarship program offered by the Republic of Turkey to international students and researchers It provides a full-ride opportunity to study undergraduate, master’s, and PhD programs at Turkey’s top u n i v e r s i t i e s , c o v e r i n g t u i t i o n , accommodation, health insurance, a monthly stipend, and a 1-year Turkish language course.
Application Time: February
More info: https://www.turkiyeburslari.gov.tr/
These scholarships represent only a small selection of the many opportunities available to students who are ready to look beyond their borders Around the world, doors continue to open—and one of them may be waiting for you The key is not to stop searching. Stay informed about upcoming deadlines, follow reliable scholarship platforms, connect with your campus international office, and take initiative in preparing your application.
Above all, do not underestimate yourself. Studying abroad is not reserved for a select few—it is possible for those who are willing to prepare thoughtfully, persevere through challenges, and remain consistent in their efforts. The process may feel demanding at times, but every meaningful journey begins with a single step Be courageous, stay curious, and keep moving forward. One day, you may find yourself walking into a classroom far from home—ready to begin a new chapter. [ai]