Skip to main content

Koran Kampus UKDW Edisi Desember 2025

Page 1


UKDW Yogyakarta

@ukdwyogyakarta

UKDW Yogyakarta

Kantor Biro IV UKDW Alamat Redaksi:

Gedung Hagios Lantai 1

Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta

Koran Kampus UKDW korankampus@staff ukdw ac id

B E R I T A U T A M A

Berkomunikasi dengan Hati Mencipta Harmoni

UKDW Raih Predikat Universitas Terbaik I pada Anugerah Program Leapfrogging 2025

Lmenggelar Anugerah Program Leapfrogging 2025 di The Malioboro Hotel & Convention Center, Selasa (2/12/2025).

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) meraih predikat Universitas Terbaik I untuk kategori kerja sama Joint Resources Program Leapfrogging 2025. Program Leapfrogging merupakan strategi LLDIKTI V untuk mendorong percepatan transformasi sistem pendidikan tinggi yang dicanangkan pada Agustus 2024. Untuk memastikan strategi tersebut berjalan efektif, LLDIKTI V menyelenggarakan evaluasi dan memberikan penghargaan dalam empat kategori, yaitu kerja sama, peningkatan mutu program studi, tata kelola pencegahan dan penanganan kekerasan, serta pengelolaan usulan jabatan fungsional akademik dosen.

Kepala LLDIKTI V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., dalam sambutannya menyatakan bahwa Program Leapfrogging yang baru berjalan satu tahun diharapkan memberi kontribusi signifikan bagi peningkatan kualitas PTS melalui skema berbagi sumber daya, termasuk memungkinkan PTS tanpa laboratorium tetap menyelenggarakan praktikum. Program ini ditujukan mengakselerasi capaian program studi unggul di wilayah LLDIKTI V hingga 51,15 persen pada 2028, sekaligus menumbuhkan budaya kolaborasi di antara “sedulur limo” sebagai semangat maju bersama “Saya berharap program Leapfrogging mampu mempertahankan dan memulihkan kembali citra Yogyakarta sebagai barometer perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.

Penghargaan tersebut diterima oleh Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, S.T., M.T., yang menyampaikan bahwa capaian ini semakin memperkokoh posisi UKDW dalam bidang kerja sama. Ia mengingatkan Biro Kerja Sama dan Relasi Publik (Biro IV) untuk

terus memperkuat tata kelola dan administrasi agar prestasi serupa dapat dipertahankan. “Capaian ini membanggakan, tetapi jangan lengah. Kita harus terus belajar dari banyak pihak agar tetap menjadi yang terbaik,” kata Wiyatiningsih.

Turut hadir Kepala Biro IV, Dr. Phil. Lucia Dwi Krisnawati, yang mendampingi dalam penerimaan penghargaan. Lucia menjelaskan bahwa sebelum penetapan pemenang, LLDIKTI V menyeleksi dan menominasikan tiga perguruan tinggi. Ketiganya kemudian diminta mempresentasikan program kerja sama Leapfrogging dan menjalani wawancara. “Proses seleksi ini memastikan program benar-benar berjalan baik, memberi dampak nyata, serta memiliki rencana pengembangan dan perluasan jejaring,” jelasnya. Dalam sesi presentasi dan wawancara yang dilaksanakan seminggu sebelumnya, UKDW memaparkan tiga program kerja sama, yakni Interprofessional Education (IPE), sharing Lab Anatomi dari Fakultas Kedokteran, serta pertukaran dosen yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UKDW.

Predikat Universitas Terbaik I dalam kategori Kerja Sama Leapfrogging dari LLDIKTI V melengkapi deretan prestasi UKDW sepanjang 2025. Pada Anugerah Kerja Sama yang digelar Agustus lalu, UKDW meraih Terbaik I untuk Pengelolaan Data Kerja Sama, Terbaik II untuk Kerja Sama dengan Pemerintah Daerah/Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Juara Harapan I untuk Kerja Sama Internasional.

Menutup pernyataannya, Kepala Biro IV, Dr. Phil Lucia Dwi Krisnawati, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. “Kami berterima kasih khususnya kepada Prodi Kedokteran dan PBI atas kerja kerasnya. Kemenangan ini adalah hasil kerja bersama; tanpa kontribusi banyak pihak, UKDW tidak akan meraih predikat ini,” ujarnya. [ldk]

embaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V (LLDIKTI V)
Mr Pigo
UKDW Kukuhkan
Pdt. Prof. Asnath Niwa Natar sebagai Guru Besar Ilmu Teologi 2
Resensi Buku : Food Design Thinking: The Complete Methodology
Penantian yang Berarti: Advent dan Semangat Service to The World

Universitaria

Dosen Fakultas Teologi Universitas

dangan budaya bahwa tubuh perempuan dapat diatur, dikendalikan, dan dimiliki.

Prof Asnath mengungkapkan bahwa legitimasi budaya dan adat sering menyamarkan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender. Praktik seperti kawin paksa, kawin tangkap, kekerasan dalam rumah tangga, hingga femisida kerap dipandang sebagai tradisi yang perlu dijaga Sementara itu, perempuan dituntut untuk tetap sabar dan patuh, sedangkan kekerasan yang dilakukan laki-laki dinormalisasi sebagai tanda kejantanan atau bentuk pendidikan.

Ia juga menyoroti peran sebagian institusi keagamaan yang lebih mengedepankan keberlangsungan pernikahan daripada keselamatan tubuh perempuan Situasi tersebut membuat perempuan kehilangan otoritas dasar atas tubuh dan kehidupannya. “Ketika perempuan tidak memiliki kuasa atas tubuhnya, ia kehilangan esensi kemanusiaannya,” tegasnya.

Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Pdt Prof Dr Asnath Niwa Natar, M.Th., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Teologi dengan kepakaran Teologi Pastoral dan Teologi Feminis Pengukuhan berlangsung pada Selasa, 2 Desember 2025 di Auditorium Koinonia UKDW. Dengan pengukuhan ini, Prof. Asnath menjadi guru besar aktif ke-7 di lingkungan UKDW. Dalam orasi ilmiah berjudul “Merebut Kembali Tubuh Politik, Otoritas, dan Teologi Tubuh Perempuan”, Prof. Asnath menegaskan bahwa tubuh perempuan sejak lama menjadi ruang yang paling rentan dalam masyarakat patriarkal. Ia menjelaskan bahwa perubahan sistem kekerabatan dari matrilineal ke keluarga monogami patriarkal telah menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas dalam keluarga dan warisan. Kondisi ini, menurutnya, tidak hanya mengubah struktur sosial, tetapi juga membentuk pan- Dalam paparannya, Prof Asnath meng-

angkat wacana politik tubuh sebagai pendekatan untuk memahami bagaimana tubuh perempuan dikonstruksi dan dipolitisasi. Keputusan perempuan atas tubuhnya, menurutnya, bukan semata persoalan pribadi, tetapi juga isu politis yang berkaitan dengan struktur sosial yang lebih luas. Karena itu, perempuan perlu merebut kembali otoritas tubuhnya untuk memulihkan martabat, keberdayaan, dan eksistensi diri sebagai manusia yang utuh. Selain perspektif sosial dan politik, Prof. Asnath menekankan pentingnya pendekatan teologis. Melalui teologi tubuh, ia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara menurut gambar dan rupa Allah, sehingga tubuh perempuan memiliki nilai spiritual yang setara dan tidak dapat direduksi menjadi objek kepemilikan atau kontrol. Pengalaman tubuh perempuan seperti menstruasi, kehamilan, melahirkan, dan menyusui, dipandang sebagai refleksi karya penciptaan dan kasih Allah. Pendekatan ini

membongkar pandangan tradisional yang merendahkan tubuh perempuan sebagai kotor atau inferior Sebaliknya, tubuh perempuan justru mengungkapkan dimensi ilahi yang kreatif, memelihara, dan penuh kasih.

Menutup orasinya, Prof. Asnath menekankan perlunya pembahasan terpadu mengenai politik tubuh, otoritas tubuh, dan teologi tubuh perempuan. Ketiga perspektif tersebut menjadi kunci untuk memahami bagaimana tubuh perempuan telah lama menjadi medan pertarungan ideologi patriarki sekaligus membuka jalan bagi pemulihan martabat dan pembebasan perempuan.

“Tubuh perempuan bukanlah objek pasif budaya atau kekuasaan. Tubuh perempuan adalah ruang subjektivitas yang memiliki nilai, hak, dan potensi pembebasan,” ujarnya.(mpk)

niversitas Kristen Duta Wacana

(UKDW) berpartisipasi dalam Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia 2025 (KPPTI 2025) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 19–21 November 2025 Konferensi yang menghadirkan pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia ini mengusung tema “Kampus Berdampak: Konsolidasi dan Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045.” Acara ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi, berbagi praktik baik, dan memperjelas arah kebijakan pendidikan tinggi nasional melalui sinergi antara PTN, PTS, PTKL, PTLN, serta berbagai pemangku kepentingan. Pada sesi pembukaan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Brian Yuliarto, menyampaikan kebijakan strategis Diktisaintek, termasuk penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) Diktisaintek Berdampak sebagai instrumen akselerasi mutu pendidikan tinggi. KPPTI 2025 dirancang sebagai forum konsolidasi lintas institusi yang mendorong pertukaran praktik baik, pengembangan peta jalan Diktisaintek Berdampak, serta penyusunan strategi bersama untuk memperkuat ekosistem pendidikan tinggi. Rekomendasi

yang dihasilkan diharapkan menjadi pijakan penting dalam percepatan pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Pimpinan UKDW yang hadir dalam KPPTI 2025 meliputi Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, ST., MT.; Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset, Dr Rosa Delima, S.Kom., M.Kom.; serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi, Dr. Parmonangan Manurung, ST., MT Selama konferensi, UKDW mengikuti berbagai sesi paralel yang membahas topik strategis seperti Good University Governance, pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI), kepemimpinan transformasional, dan penguatan tata kelola perguruan tinggi.

Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, ST., MT , menegaskan bahwa keikutsertaan UKDW dalam KPPTI 2025 merupakan bentuk komitmen institusi dalam memperkuat kolaborasi serta meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. “Forum ini memberi ruang refleksi dan sinergi antarlembaga untuk menghadapi tantangan era disruptif. UKDW siap meningkatkan kualitas institusi, termasuk riset yang berdampak bagi masyarakat dan kontribusi terhadap pencapaian SDGs,” ujarnya.

Wakil Rektor I, Dr. Rosa Delima, S.Kom.,

PENANGGUNG JAWAB : Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D.

M Kom , menambahkan bahwa KPPTI menjadi ajang penting bagi perguruan tinggi untuk memperoleh pembaruan informasi dan memahami arah kebijakan pemerintah terkait pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Perguruan tinggi perlu adaptif dan responsif terhadap dinamika global. KPPTI memberikan gambaran jelas mengenai arah transformasi pendidikan tinggi ke depan,” ungkapnya.

Konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pleno dan sesi diskusi paralel Sesi pleno menghadirkan pembicara dari unsur pemerintah, akademisi, industri, media, dan diaspora Indonesia Sementara itu, sesi diskusi paralel menyoroti berbagai isu terkini, antara lain pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (AI), peran senat dalam tata kelola perguruan tinggi, serta kepemimpinan transformasional. Sesi diskusi paralel juga menjadi wadah penting untuk mempelajari praktik baik yang telah dilakukan oleh perguruan tinggi lain serta berdiskusi mengenai isu-isu aktual yang dihadapi pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, pimpinan perguruan tinggi dapat memperoleh pemahaman mengenai arah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan tinggi sehingga dapat

PIMPINAN REDAKSI :Dr. Phil. Lucia Dwi Krisnawati, S.S., M.A. Dr. Paulus Widiatmoko, M.A. WAKIL PIMPINAN REDAKSI :Anna Iritasari.

menyesuaikannya dengan kebijakan institusi masing-masing.

UKDW berharap hasil diskusi dan kebijakan yang dipaparkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan program dan strategi institusi dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berdaya saing, berdampak, dan berkelanjutan. [PM]

Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia

Raih Langkah Besarmu Bersama UKDW Scholarship 2025 untuk Generasi Muda Berprestasi Universitaria

Universitas Kristen Duta Wacana

(UKDW) Yogyakarta kembali menggelar kegiatan Sosialisasi UKDW Scholarship 2025, yang berlangsung di Auditorium Koinonia UKDW, Kamis (27/11/2025). Kegiatan tahunan ini dihadiri sekitar 50 perwakilan guru dari berbagai sekolah mitra di wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Memasuki tahun ketiganya, UKDW Scholarship membuka kesempatan bagi siswa/i SMA, SMK, atau sederajat untuk memperoleh beasiswa kuliah penuh selama empat tahun bagi 20 pemenang terpilih, tanpa ikatan dinas.

Acara dihadiri oleh Rektor UKDW, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi (WR III), Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia, Promosi, dan Jejaring (WR IV), Kepala Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Karir (Biro III), serta perwakilan Biro Kerjasama dan Relasi Publik (Biro IV) Dalam sambutannya, Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T.,

menyampaikan apresiasi kepada para guru yang hadir dari berbagai daerah.

“Terima kasih kepada seluruh Bapak/Ibu guru yang bersedia menghadiri undangan ini.

Beberapa guru datang dari luar kota, seperti Salatiga, Semarang, Solo Raya, Temanggung,

CPS., Kepala Marketing UKDW, menjelaskan alur dan proses seleksi UKDW Scholarship. Ia menekankan bahwa kesempatan beasiswa tidak hanya diperuntukkan bagi siswa berprestasi akademik.

“Kami percaya kesuksesan mahasiswa di masa depan tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik Kesempatan ini juga terbuka bagi siswa dengan prestasi nonakademik, seperti seni, olahraga, maupun bakat lainnya,” jelas Veronica.

Sebagai inspirasi, para penerima UKDW Scholarship tahun-tahun sebelumnya hadir untuk membagikan testimoni dan pengalaman mereka selama mengikuti proses seleksi, memberikan gambaran nyata tentang perjalanan meraih beasiswa prestisius ini.

Muntilan, hingga Magelang Terima kasih

telah selalu mendukung kegiatan UKDW

Semoga siswa-siswi terbaik dapat mengikuti UKDW Scholarship dan menjadi bagian dari keluarga besar UKDW,” ujarnya.

Veronica Tiara Kusuma, S Kom , M M , Doc. Panitia

Dalam rangka memperingati Hari Guru, tim Marketing UKDW memberikan kejutan berupa setangkai mawar putih kepada para guru yang hadir sebagai simbol apresiasi atas dedikasi mereka di dunia pendidikan. Acara kemudian ditutup dengan sesi makan bersama dan ramah tamah. [vtk]

Universitaria 4 Prodi Bioteknologi

Bioteknologi UKDW Perkuat Upaya Konservasi Air dan Ekosistem Telaga

Fakultas Bioteknologi Universitas

Kristen Duta Wacana (UKDW) memperkuat perannya dalam konservasi lingkungan dengan memimpin kolaborasi lintas lembaga untuk menjaga keberlanjutan Telaga Bamban di Desa Bantalwatu, Kapanewon Tepus, Gunungkidul Langkah ini menanggapi ancaman kekeringan, penurunan daya tampung air, serta perubahan pola pemanfaatan telaga oleh masyarakat yang semakin dipengaruhi masuknya suplai air dari PDAM dan perubahan lingkungan.

Bagi warga Gunungkidul, telaga memegang fungsi vital. Bukan hanya sebagai sumber air, tetapi juga sebagai penyangga ekosistem,

sumber penghidupan, serta bagian dari identitas budaya Di tengah tekanan perubahan iklim, eksploitasi air tanah, dan berkurangnya tutupan vegetasi, keberlanjutan telaga kini berada dalam kondisi rawan. Sebagai institusi akademik yang fokus pada bioteknologi dan keberlanjutan, UKDW berada di garis depan melalui program “Aksi Konservasi Air dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat”. Program ini dijalankan bersama Gereja Kristen Jawa Klasis Gunungkidul, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, serta Djarum Foundation.

Dr. Aniek Prasetyaningsih, M.Si., penanggung jawab program dari UKDW, menjelaskan bahwa aksi konservasi ini menggabungkan riset ilmiah, edukasi masyarakat, dan pendekatan pemberdayaan ekonomi. “Kami ingin mengembalikan fungsi ekologis telaga melalui penghijauan dan tata kelola komunitas, seraya memberikan nilai tambah ekonomi dan wisata berbasis konservasi,” ujar Aniek. Program berlangsung selama November–Desember 2025, meliputi penanaman pohon konservasi dan tanaman buah, penebaran benih ikan, serta pelatihan mengenai ekoteologi, konservasi berbasis masyarakat,

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris

potensi ekowisata, dan penguatan ekonomi lokal.

Puncak aksi dilaksanakan pada 22 November 2025, bertepatan dengan HUT ke56 Klasis GKJ Gunungkidul. Kegiatan diawali ibadah bersama, dilanjutkan penyerahan bibit pohon dan benih ikan oleh Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih dan Dekan Fakultas Bioteknologi UKDW, Dr. Charis Amarantini. Lebih dari 400 peserta, termasuk mahasiswa UKDW dan Universitas Terbuka, terlibat menanam ribuan bibit pohon konservasi dan menebar benih ikan tawes di kawasan telaga. Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul menyampaikan apresiasi atas kontribusi UKDW sebagai motor penggerak kolaborasi konservasi ini. Pemerintah daerah, katanya, siap mendukung penuh melalui kebijakan yang memperkuat perlindungan lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat.

UKDW memposisikan kegiatan ini bukan hanya sebagai program pengabdian masyarakat, tetapi juga sebagai model penerapan ilmu bioteknologi dan ekologi berbasis riset yang dapat direplikasi di kawasan karst lainnya. Hasil kajian dan monitoring yang dilakukan tim UKDW diharapkan menjadi

dasar pengambilan keputusan jangka panjang terkait konservasi air dan rehabilitasi ekosistem telaga.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh kemitraan efektif antara pemerintah, akademisi, gereja, komunitas, dan sektor swasta untuk menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis air Dengan keterlibatan aktif UKDW, program ini diarahkan menjadi model konservasi terpadu yang menggabungkan pengetahuan ilmiah, aksi masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal [Tim PKM Konservasi Fakultas Bioteknologi UKDW]

UKDW Student Earns Full Funding for International Entrepreneurship Education Summit in Europe

Yosafat Febby Aleno Yahya, a third-

semester English Language Education student at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), has secured a fully funded position to participate in the International Entrepreneurship Education Summit (IEES) at Stuttgart Media University, Germany. The program also took him on an academic and cultural journey through five European c o u n t r i e s : G e r m a n y , B e l g i u m , t h e Netherlands, Switzerland, and France. This program is supported by Exocloud Indonesia, a platform dedicated to leadership

development, international networking, and cross-cultural learning for Indonesia's youth. Yosafat joined 23 other delegates from diverse backgrounds, including junior high and high school students, university students, young entrepreneurs, and professionals from various fields The diversity among participants fostered rich discussions and broadened each delegate's perspective.

During the IEES sessions in Stuttgart, Yosafat chose the “Playful Learning” track, which promotes creativity, interactivity, and hands-on approaches in entrepreneurship

education. He found the method closely aligned with his studies in English Language Education, noting its potential to help future teachers design more engaging and inclusive learning environments that stimulate critical thinking.

Beyond the academic sessions, Yosafat actively networked with professors, researchers, international students, and business professionals working in technology, education, and entrepreneurship These exchanges, he said, offered a deeper look into Europe’s collaborative research culture and

emerging trends in global education.

As part of the program, Yosafat also completed a one-day short course in Ancient History at the University of Amsterdam. The course deepened his understanding of European civilization and cultural heritage— insights he hopes to integrate into his ongoing interest in cultural literacy and world history. With his experience abroad, Yosafat aims to bring new perspectives back to the Indonesian educational context and hopes to inspire other UKDW students to pursue crosscultural learning experiences “Stepping outside our comfort zones opens doors,” he said. “Experiences like this can shape the way we learn, think, and teach.” [yy]

Traveling across five countries gave Yosafat firsthand exposure to Europe’s educational approaches, social dynamics, and cultural diversity. He described the journey as transformative, boosting his confidence to pursue global academic opportunities and collaborate in international settings.

Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi

Prodi Pendidikan Bahasa

Enhancing Student Voices: PBI UKDW Leads English-Based Extracurricular Programs at Junior High School

Three pre-service teachers from the

English Language Education Study Program (PBI) at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) brought fresh energy to English-based extracurricular activities at SMP BOPKRI 1 Yogyakarta (BOSA), turning a class assignment into a hands-on exploration of how young learners build confidence and communication skills.

Kezia Virginia Sitorus, Agnes Krisnanda Rahel, and Welki Marthen were assigned to assist two extracurricular programs—Public Speaking and English Club providing students with a safe space to express themselves, develop language skills, and discover their own voices. From the first meeting, the team was greeted with the lively enthusiasm typical of junior high school students: curious, energetic, and eager to engage.

In the Public Speaking class, the UKDW team introduced speaking activities rooted in students’ everyday experiences Learners practiced self-introductions, short presentations, storytelling, creating advertisements, vlog-style speaking tasks, and ultimately a documentary film project. While some students appeared hesitant when first asked to speak in front of the class, the instructors observed a

steady transformation. Over time, students grew more confident, better organized in expressing ideas, and more willing to participate. “Small breakthroughs like these are invaluable to us,” the team reflected.

The English Club adopted a more relaxed and communicative approach Avoiding overly formal instruction, the teachers used role plays, light discussions, and miniprojects such as composing dialogues and producing short videos. The club members represented a wide range of personalities— from shy and reserved to highly expressive— but this diversity enriched the learning process. Despite varied English proficiency

levels, students consistently demonstrated strong effort, asking questions and attempting to speak even with limited vocabulary.

For the UKDW pre-service teachers, the experience offered a crucial bridge between theory and practice. They noted that effective teaching requires flexibility, awareness of classroom dynamics, and creative problemsolving. While some sessions followed the lesson plan smoothly, others required impromptu adjustments when students’ energy or motivation shifted. “A good teacher is one who continues to learn alongside their students,” the team said.

Support from BOSA teachers and staff also

played an important role They provided guidance, feedback, and space for the UKDW team to experiment with different instructional methods. Through these interactions, the pre-service teachers saw firsthand how patience, consistency, and collaboration shape the daily realities of junior high school education.

The program not only strengthened students’ confidence in using English but also gave the future educators a deeper understanding of the challenges and rewards of teaching insights that will inform their development as they prepare to enter the profession. [A.W.K]

Voices as Vision: UKDW Students Bring English Learning to Visually Impaired Learners

The English Language Education

Department of Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) launched a fiveweek teaching initiative for visually impaired students at Mardi Wuto Yogyakarta, offering accessible English learning tailored to learners who rely primarily on auditory input. The program, held as part of the Teaching for Specific Purposes course, ran through November 15, 2025, and engaged seven participants ranging from elementary-age learners to college students.

Although the degree of visual impairment among participants varied and was not formally classified, all required non-visual support—an essential factor that shaped the instructional design. Each 90-minute session emphasized functional English, focusing on basic vocabulary, everyday expressions, and simple communicative tasks aimed at strengthening students’ confidence and oral interaction.

The teaching team centered its approach on listening-based instruction, using clear verbal modeling, repetition, and structured listening exercises to build comprehension without visual cues. Role play served as a key strategy, allowing learners to practice short dialogues and simulate real-life scenarios in a guided,

supportive environment. Peer collaboration was intentionally incorporated, enabling more confident students to assist others across the mixed-age class.

To enhance accessibility, students used mobile devices equipped with the TalkBack feature, allowing them to revisit instructions, replay audio materials, and complete tasks

Over the course of the program, instructors observed measurable progress Learners independently Activities throughout the program included storytelling, public speaking practice, audio-based games, and role-play exercises—each designed to maintain engagement while prioritizing clarity, repetition, and auditory learning.

demonstrated stronger accuracy in identifying spoken information, increased willingness to participate verbally, and improved mastery of basic English expressions. Social interaction also strengthened, highlighting the value of collaborative learning even in diverse age groups.

For the pre-service teachers, the experience offered a rare opportunity to adapt instructional methods to meet specific physical and cognitive needs “This is our first time teaching visually impaired students, and it really opened a new perspective for me,” said pre-service teacher Welki Marthen “They have incredible memory and hearing. Because they rely entirely on non-visual material, we have to be very careful with our speech. I learned to design new teaching strategies using audio and sound-based tools, and it’s satisfying to see them understand the material.”

The program underscored the importance of inclusive, accessible teaching practices and provided future educators with hands-on experience in meeting the needs of learners with visual impairments an increasingly vital skill in today’s diverse educational landscape.

[Valentina]

Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi
Doc. Pribadi

PPB Selenggarakan English for University Staff (EFUS) untuk Perkuat Kapasitas PPA

Berangkat dari kebutuhan peningkatan

kemampuan bahasa Inggris para Pegawai Pendukung Akademik (PPA) di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Pdt Wahju Satria Wibowo, Ph D , selaku Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia, Promosi, dan Jejaring melalui Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), menugaskan Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) untuk menyelenggarakan pelatihan bahasa Inggris khusus bagi PPA. Program tersebut kemudian diberi nama English for University Staff (EFUS).

Program EFUS berlangsung dari tanggal 13 Oktober hingga 13 November 2025 dengan total sepuluh pertemuan Program ini diselenggarakan dalam dua kelas paralel yakni Kelas A dan Kelas B yang masingmasing diikuti oleh 14 peserta Kelas A berlangsung setiap Senin dan Rabu mulai 13 Oktober hingga 12 November 2025 dengan fasilitator Anesti Budi Ermerawati, M.Hum. dan Agatha Pepy Yerinta, M.Hum. Sementara Kelas B dilaksanakan pada Selasa dan Kamis, mulai 14 Oktober hingga 13 November 2025, difasilitasi oleh Dr. Adaninggar Septi Subekti, M.Sc. dan Stella Maris Saraswati Mere, M.A.

Melalui program ini, para peserta belajar berbagai keterampilan berbahasa Inggris yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan mereka Para peserta membiasakan diri bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dalam konteks pekerjaan, misalnya handling

complaints dan offering help. Mereka juga berlatih menulis email profesional Selain fasilitator tetap, PPB juga menghadirkan fasilitator tamu dari Biro Kerja Sama dan Relasi Publik (BIRO 4), yaitu Dianti Resti Risanti, S.T. dan Anna Iritasari, S.Si. pada pertemuan ke-6 dan ke-7 untuk membawakan materi terkait komunikasi interkultural dan bagaimana dapat memberikan Campus Tour kepada tamu internasional.

Salah satu tugas akhir yang harus diselesaikan oleh peserta adalah membuat vlog di mana mereka harus memperkenalkan

diri mereka, unit atau fakultas tempat mereka bekerja, serta keseharian mereka di tempat kerja. Vlog ini bertujuan untuk memberikan k

mempraktikkan keterampilan berbicara dalam bahasa Inggris secara langsung, serta mengasah kemampuan mereka dalam menyampaikan informasi dengan jelas dan terstruktur. Dengan durasi 5-7 menit, para peserta berhasil menunjukkan usaha optimal dalam membuat vlog yang menarik. Tidak saja berhasil memperkenalkan diri dengan baik, m

memperkenalkan unit atau fakultas di mana mereka ditempatkan, dan harapan-harapan untuk UKDW kedepannya.

PPB berharap agar program EFUS ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para PPA, terutama dalam hal peningkatan kompetensi bahasa Inggris yang sangat penting dalam mendukung aktivitas pekerjaan mereka di lingkungan universitas yang semakin global. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik, para PPA diharapkan dapat berkomunikasi lebih efektif dengan kolega internasional, mengakses sumber daya akademik global, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan internasional yang relevan dengan pekerjaan mereka.

"Pelatihan bahasa Inggris ini sangat bermanfaat, membantu saya lebih percaya diri, membedakan bahasa formal dan nonformal, serta langsung mempraktekkan materi yang relevan dengan pekerjaan," ujar Oktavia Marhasinta, salah satu peserta EFUS kelas B dari Fakultas Kependidikan dan Humaniora. Senada dengan itu, Widiyana Suryahapsari, peserta EFUS Kelas A dari Fakultas Bioteknologi juga mengungkap, “(EFUS) bisa jadi agenda tahunan sehingga secara bergantian semua PPA bisa lebih meningkatkan kapasitas berbahasa inggris untuk menunjang pekerjaan. Terima kasih PPB.” [Adaninggar]

doc.Pribadi

Pusat Pelatihan Bahasa

PPB UKDW Gelar Program “English for Kids” bagi TK hingga SD, Hadirkan Pembelajaran Bahasa Inggris yang Seru

& Interaktif

Pusat Pelatihan Bahasa (PPB)

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali menghadirkan program pembelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak bertajuk “English for Kids” pada paruh kedua tahun 2025. Program ini hadir untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran b a h a s a I n g g r i s s e j a k d i n i , s e i r i n g meningkatnya tuntutan kompetensi global.

Program English for Kids menawarkan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pada periode ini, PPB UKDW membuka dua level kelas yang disesuaikan dengan rentang usia peserta, yakni bagi anak usia TK serta siswa kelas 4–6 SD.

Kelas Level 1, yang diperuntukkan bagi anak usia TK dan berlangsung setiap hari Selasa, fokus pada pengenalan kosakata dasar Pembelajaran dikemas melalui aktivitas sensori dan kreatif seperti lagu, permainan, hingga mencocokkan gambar Materi yang diberikan meliputi warna, angka, hewan, keluarga, dan bagian tubuh.

Pendekatan tersebut dirancang untuk membuat anak lebih terbiasa mendengar dan

menggunakan kosakata sederhana dalam suasana yang menyenangkan.

Sementara itu, Level 2 yang ditujukan bagi siswa kelas 4–6 SD digelar setiap hari Jumat. Pada level ini, pembelajaran disusun secara lebih komunikatif karena peserta pada jenjang ini sudah mampu mengikuti instruksi sederhana. Anak-anak diajak berlatih lewat

dialog singkat, role-play, hingga presentasi sederhana.

Materi yang diajarkan mencakup topik yang lebih luas, seperti Daily Activities, Hobbies, Weather, Transportation, Places in Town, dan Describing People. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan keberanian anak untuk berbicara atau berkomunikasi, memperkaya

kosakata, sekaligus memberi pengalaman belajar yang relevan dengan situasi nyata. Setiap sesi berlangsung selama 60 menit dan dirancang agar peserta aktif bergerak, berinteraksi, dan mempraktikkan bahasa I

mendorong anak untuk belajar tanpa takut salah, sehingga proses belajar berlangsung dalam suasana yang positif dan mendukung. Suasana seperti inilah yang diyakini mampu membantu anak menyerap kosakata lebih efektif serta meningkatkan kemampuan pelafalan.

PPB UKDW berkomitmen akan terus memperluas penyelenggaraan program English for Kids pada periode mendatang. Melalui program yang kreatif, seru dan edukatif ini PPB UKDW berharap dapat ikut membentuk generasi muda yang siap mengikuti perkembangan dunia global English for Kids bukan hanya kelas bahasa, tapi juga ruang bagi anak untuk membangun percaya diri, berkreasi, dan belajar berkomunikasi, bekal yang akan mereka bawa sampai ke jenjang sekolah berikutnya. [Queen Alfa]

Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) meluncurkan program “English for Non-English Lecturers” pada November 2025, sebagai respons terhadap kebutuhan yang semakin besar bagi dosen non-Inggris untuk berkomunikasi secara efektif dalam bahasa Inggris. Sebanyak 18 dosen dari berbagai program studi mengikuti program “English for Non-English Lecturers”.

Berkolaborasi dengan The Mangrove yang menghadirkan dua fasilitator, Yuta Otake, M.A. dan Widodo, M.A., lulusan New York University, Amerika Serikat, pelatihan difokuskan untuk membekali para dosen dengan keterampilan bahasa yang diperlukan untuk mengajar dengan percaya diri dalam bahasa Inggris dan berinteraksi secara efektif dengan mahasiswa Selama program ini, peserta mengeksplorasi strategi pengajaran praktis serta menyempurnakan keterampilan komunikasi mereka dalam konteks kelas yang nyata.

Pelatihan dibuka pada 3 November 2025

m e l a l u i s e s i S e t t i n g t h e S t a g e –Communicating with Confidence in the Classroom, yang menekankan pentingnya

kejelasan, ketegasan, dan rasa percaya diri saat berbicara dalam bahasa Inggris. Sesi ini berfokus pada pembangunan fondasi komunikasi yang efektif di dalam kelas, sehingga mereka dapat menyampaikan materi dan mengelola dinamika kelas dengan lebih baik.

Pada sesi berikutnya, Instructional Language: Giving Directions & Managing Tasks pada 5 November 2025, para peserta berlatih memberikan instruksi yang jelas, ringkas, dan mudah dipahami untuk

m e n d u k u n g k e l a n c a r a n a k t i v i t a s pembelajaran. Serta memastikan mahasiswa dapat mengikuti instruksi dengan tepat.

Sesi Encouraging Student Participation pada 10 November 2025 mengajarkan strategi untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Peserta berlatih mengelola diskusi, mengajukan pertanyaan pemantik, serta membangun suasana kelas yang lebih interaktif dan inklusif.

Selanjutnya, sesi Academic Interaction: Asking and Answering Questions pada 17 N o v e m b e r 2 0 2 5 ) m e m b

k n i k mengajukan pertanyaan yang dapat merangsang pemikiran kritis mahasiswa serta

memberikan jawaban yang memperdalam diskusi. Sesi ini mendiskusikan pendekatan praktis untuk mendorong interaksi akademik yang produktif.

Pada 19 November, sesi Feedback and Correction in English mengajarkan metode memberikan umpan balik konstruktif, memberikan koreksi yang membangun tanpa menurunkan motivasi mahasiswa, sehingga proses pembelajaran tetap berjalan dengan efektif.

Pelatihan berlanjut dengan sesi Explaining Complex Ideas Clearly pada 24 November 2025, yang membekali dosen kemampuan menyederhanakan konsep kompleks agar lebih mudah dipahami.

Peningkatan aspek pelafalan dibahas dalam sesi Pronunciation, Tone, and Clarity pada 26 N o v e m

menyesuaikan intonasi, memperbaiki pengucapan, dan meningkatkan kejelasan b i c a r a u n t u k m e n g u r a n g i r i s i k o kesalahpahaman dalam pengajaran.

Sesi Learner-Centered Teaching Language pada 1 Desember 2025, para dos

n mempelajari penggunaan bahasa pengajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat

proses belajar Dosen dilatih untuk mengembangkan bahasa yang mendorong ini

keterlibatan mereka, dan mendorong partisipasi aktif dalam proses belajar.

Program ditutup dengan dua sesi microteaching, Microteaching Practice and Peer Feedback pada 3 Desember 2025 dan Microteaching Practice and Reflection pada 8 Desember 2025 Dalam sesi ini, peserta mempraktikkan kemampuan mengajar mereka di depan rekan sejawat, menerima umpan balik, serta melakukan refleksi terhadap pengajaran mereka untuk perbaikan lebih lanjut.

Program ini memberikan bekal yang sangat berharga bagi dosen non-Inggris untuk membangun kepercayaan diri serta keterampilan komunikasi yang diperlukan untuk mengajar dalam bahasa Inggris Melalui sesi-sesi praktis, kolaborasi antar peserta, dan refleksi, para dosen kini lebih siap untuk mengajarkan bidang ilmu mereka masing-masing dalam bahasa Inggris sebagai bagian dari upaya internasionalisasi universitas. [Adaninggar]

Food Design Thinking: The Complete

Methodology merupakan karya

k o m p r e h e n s i f y a n g m e n a n d a i perkembangan penting dalam kajian Food Design dan Design Thinking Terbit pada 2018, buku ini berangkat dari disertasi Francesca Zampollo, pengajar sekaligus peneliti di bidang tersebut, yang berupaya memperluas kerangka Design Thinking agar lebih mampu membaca dunia kuliner secara utuh. Zampollo menekankan bahwa kuliner tidak hanya terkait makanan sebagai objek konsumsi, tetapi juga pengalaman, budaya, proses, serta sistem pangan yang kompleks. Pendekatan inilah yang menjadi inti dari Food Design Thinking (FDT), metodologi yang memadukan kreativitas desain dengan dinamika sistem pangan.

Salah satu aspek menarik dari buku ini adalah penjelasan mengenai sejarah pengembangan metodologinya FDT merupakan hasil penggabungan dan penyempurnaan dari empat buku sebelumnya yaitu IdeaHive, IdeaMarket, StarChat, dan IdeaShake Keempatnya kemudian direvisi dan dirangkai menjadi satu metodologi utuh. Kompilasi ini menghasilkan struktur terpadu yang memberikan refleksi mendalam sekaligus panduan praktis untuk menerapkan FDT di berbagai konteks kuliner Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga merangkai pemikiran food design dalam satu payung metodologis yang lengkap.

S e c a r a k e s e l u r u h a n , Z a m p o l l o memperkenalkan 52 metode yang dibagi ke dalam enam tahapan utama: Expand, Explore, Evaluate, Envision, Experiment, dan Execute.

Pojok Alumni

Me n g e n y a m p e n d i d i k a n d i

Universitas Kristen Duta Wacana ( U K D W ) b u k a n h a n y a s o a l mengikuti kuliah di ruang kelas, membaca literatur akademik, atau mengerjakan tugas demi mengejar nilai. Ada pengalaman belajar lain yang justru memperkaya proses akademik yakni belajar langsung dari masyarakat, merasakan dinamika kehidupan mereka, serta mengasah kepekaan sosial melalui kerja nyata. Salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya adalah keterlibatan dalam program pengabdian masyarakat di Pantai Glagah, Kulon Progo, bersama dosen pembimbing dan rekan-rekan mahasiswa. Pantai Glagah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Namun dibalik panorama indah dan hiruk pikuk wisatawan, terdapat masyarakat yang berjuang untuk mengembangkan usaha kuliner berbasis komunitas Melalui Komisi Kesaksian dan Pelayanan (Kespel) Gereja Kristen Jawa Glagah, kami menemukan banyak potensi yang bisa dikembangkan, mulai dari keterampilan kuliner, hasil alam lokal, hingga semangat kebersamaan jemaat.

Tahapan kegiatan berlangsung secara sistematis, dimulai dari Discovery untuk mengidentifikasi aset, dilanjutkan dengan Dream untuk membangun visi, Design untuk merumuskan strategi, hingga berfokus pada pelaksanaan. Proses ini membuka mata saya bahwa setiap komunitas memiliki kekuatan unik yang bisa dikembangkan apabila dikelola dengan tepat Misalnya, para ibu jemaat sebenarnya memiliki kemampuan memasak yang kuat, sementara keberadaan wisatawan di Pantai Glagah menyediakan pasar yang potensial bagi kuliner khas daerah mereka.

Selama pendampingan, kami mengadakan pelatihan manajemen usaha, pengelolaan keuangan sederhana, serta strategi pemasaran digital. Saya sendiri merasa sangat

Food Design Thinking: The Complete Methodology

● Expand bertujuan merumuskan brief berdasarkan tantangan dan konteks proyek.

● Explore mendorong desainer memahami konteks dan mengumpulkan informasi lapangan.

● Evaluate memproses temuan tersebut untuk menghasilkan persona dan peluang desain.

● Envision mengembangkan ide berdasarkan pemahaman yang telah terbentuk.

● Experiment berfokus pada pembuatan prototipe sebagai bentuk konkret dari ide.

● Execute menyempurnakan prototipe hingga siap diimplementasikan.

Setiap tahap dilengkapi lembar kerja, ilustrasi, dan contoh penerapan, sehingga konsep yang disampaikan dapat langsung dipraktikkan Kelengkapan ini menjadikan buku tersebut relevan bagi desainer, juru masak, pelaku industri F&B, peneliti pangan, hingga praktisi di bidang teknik dan teknologi pangan.

Keunggulan utama buku ini terletak pada sudut pandang holistik yang ditawarkan Zampollo memposisikan kuliner sebagai bagian dari sistem besar yang meliputi produksi, distribusi, penyajian, layanan restoran, ruang makan, kemasan, hingga dampak lingkungan dan sosial Dengan pendekatan ini, inovasi kuliner tidak lagi dipahami sebatas penciptaan menu baru, tetapi sebagai transformasi pengalaman makan yang mempertimbangkan makna, keberlanjutan, serta relasi antara manusia, budaya, dan bahan pangan. FDT pun menjadi relevan diterapkan pada berbagai skala, mulai dari restoran kecil hingga industri pangan besar, dari proyek akademis hingga inisiatif

komunitas.

Untuk memudahkan penerapan, Zampollo menyusun tiga skenario skala proyek. Skala kecil dirancang untuk proyek 2–3 minggu, cocok bagi tugas perkuliahan. Skala menengah mencakup proyek berdurasi 1–3 bulan untuk pengembangan konsep produk, sementara skala besar ditujukan untuk proyek 6 bulan atau lebih, seperti transformasi sistem organisasi atau industri Pembagian ini membuat FDT fleksibel dan mudah diadaptasi oleh pengguna dengan beragam kebutuhan.

Namun, buku ini juga menghadirkan tantangan. Dengan ketebalan lebih dari 500 halaman dan kedalaman materi yang tinggi, pembaca tanpa latar belakang desain atau kuliner mungkin merasa kewalahan Kompleksitas metode yang dirancang untuk konteks profesional dapat menuntut usaha lebih bagi pembaca akademis atau individu untuk memilih tools yang tepat bagi kasus mereka Beberapa metode pun idealnya dikerjakan dalam tim profesional agar hasilnya optimal Meski demikian, melalui latihan yang konsisten, pembaca pemula tetap dapat memanfaatkan buku ini sebagai panduan efektif.

Secara keseluruhan, Food Design Thinking: The Complete Methodology merupakan rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami inovasi kuliner melalui perspektif desain. Pendekatan Zampollo yang sistematis, m e n d a l a m , d a n b e r o r i e n t a s i p a d a keberlanjutan menjadikan buku ini salah satu kontribusi signifikan bagi perkembangan kajian kuliner modern. Karya ini membantu pembaca memandang kuliner bukan sekadar objek makanan, tetapi sebagai pengalaman multidimensi yang dapat dirancang dengan

Pengalaman Belajar di Luar Kelas: Sebuah Perjalanan di Glagah

terinspirasi saat membantu mitra membuat akun Instagram, menambahkan lokasi usaha di Google Maps, hingga mengenalkan metode pembayaran digital seperti QRIS Hal-hal yang bagi kami terasa sederhana ternyata sangat berarti bagi pelaku usaha lokal yang sebelumnya belum terbiasa dengan teknologi. Dari momen itulah saya merasakan bentuk pendidikan yang berbeda, pendidikan yang tumbuh dari interaksi, kolaborasi, dan belajar bersama masyarakat.

Selain manajemen, kami juga mendorong inovasi produk Salah satu ide yang lahir adalah menghadirkan menu kopi lokal dengan sentuhan modern, sehingga tidak hanya menjadi sajian minuman tetapi juga bagian dari branding desa wisata. Produk ini tidak sekadar menambah variasi menu, tetapi juga memperkuat identitas kuliner Glagah di mata pengunjung. Saya belajar bahwa inovasi

dalam usaha kecil tidak selalu berarti sesuatu y a n g r u m i t , m e l a i n k a n b a g a i m a n a memanfaatkan potensi yang ada dan mengemasnya agar sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pengalaman ini memberi saya pemahaman bahwa dunia pendidikan tidak boleh berhenti pada teori Di Glagah, saya menyaksikan langsung bagaimana teori kewirausahaan, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran menemukan makna praktisnya Lebih dari itu, saya juga belajar tentang e m p a t i , k e s a b a r a n , d a n p e n t i n g n y a membangun kepercayaan. Masyarakat tidak butuh solusi instan, mereka butuh teman berjalan yang bersedia mendengar dan mendampingi.

Dampak dari kegiatan ini cukup terasa Mitra menjadi lebih percaya diri dalam mengelola usaha, pendapatan mereka mulai

pendekatan ilmiah, kreatif, dan empatik

Melalui perpaduan teori dan metode praktis, buku ini menjembatani dunia desain dengan industri kuliner sekaligus membuka peluang baru bagi lahirnya inovasi yang lebih berdampak. [Dan Daniel Pandapotan, S.Ds., M.Ds.]

Penulis : Penerbit : Tahun Terbit :

Tebal : ISBN :

buku : onlineschooloffooddesign.org 558 halaman

Food Design Thinking: The Complete Methodology 9781791669119 558 Francesca Zampollo 2018

meningkat setelah menerapkan strategi baru, dan jaringan kerjasama dengan pihak lain semakin terbuka. Bagi saya, pengalaman ini meninggalkan pelajaran mendalam bahwa pendidikan sejati melibatkan hati, kepala, dan tangan secara bersamaan.

Melalui proyek Glagah ini, saya semakin yakin bahwa perjalanan studi di UKDW tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga kesempatan untuk mengalami pendidikan kontekstual yang nyata. Saya belajar bahwa menjadi seorang sarjana bukan sekadar soal ijazah, melainkan tentang bagaimana kita mampu berkontribusi, sekalipun dalam lingkup kecil, untuk memberdayakan masyarakat. Pengalaman belajar di luar kelas inilah yang membuat perjalanan saya di UKDW begitu berharga dan akan terus saya bawa dalam langkah kehidupan ke depan.

Viola Nextzita, S. Ak. Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis, 2025

doc.Pribadi
Judul
doc.Pribadi

Campus Ministry

Rilis Series "YOGA", Campus Ministry Angkat Sosok Yusuf di Era Modern.

Menyambut sukacita Natal tahun ini,

Campus Ministry bersama tim m u l t i m e d i a I b a d a h k a m p u s mempersembahkan series Advent dan Natal berjudul "Yoga", sebuah film reflektif dengan tiga episode yang mengangkat sisi “Bising”, “Sunyi”, “Utuh” dari tokoh utama film ini. Berbeda dengan narasi Natal yang biasanya penuh sorak-sorai, film ini justru mengajak civitas academica untuk menyelami perjalanan seorang staf magang yang sedang berada di titik terendah kehidupannya.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata yang bermula di Episode 1, ketika persiapan acara kampus mendadak kacau balau. Yoga, sang tokoh utama, dihadapkan dengan hilangnya aset penting multimedia dan data pekerjaan. Bagi Yoga, insiden ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan hantaman keras bagi integritasnya. Sebagai anak laki-laki yang menjadi tumpuan harapan keluarga, kegagalan ini terasa sangat personal dan menghancurkan.

Penonton akan dibawa masuk ke dalam pergulatan batin Yoga yang diluar terlihat

tenang namun nyatanya bising. Puncaknya terjadi di Episode 2, ketika tekanan mental membawanya ke tepi jembatan layang dengan niat untuk menyerah Namun, alih-alih mengambil keputusan fatal, langkah kakinya justru berbelok menuju Ganjuran, tempat ia

akhirnya mengalami ketenangan dalam doa dan berserah total. Series ini berangkat dari refleksi bacaan Natal tahun ini yakni Matius 1:18-25 dengan tema besar tentang “keluarga”. Karakter Yoga dirancang sebagai representasi modern dari

Yusuf, ayah Yesus. Ia adalah sosok laki-laki yang penuh dengan diam, memendam kerentanan, namun tetap setia memikul tanggung jawab yang berat. Melalui resolusi di Episode 3, film ini menegaskan bahwa bekerja di Duta Wacana bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk menjadi keluarga. Keluarga yang peduli, bertanggung jawab dan saling mendukung satu sama lain.

Akhir dari film ini, Yoga menyadari bahwa ia tidak sendiri. Tuhan bekerja melalui rekanrekan dan mahasiswa yang dengan tulus membantunya menyelesaikan masalah "Yoga" adalah pengingat hangat bagi kita semua, bahwa di balik diamnya seseorang, mungkin ada beban berat yang perlu kita topang bersama. Di sisi lain, kita juga diajak untuk menjadi pekerja yang berintegritas dan terus berpengharapan pada Sang Maha Cinta.

Saksikan kisah selengkapnya di kanal YouTube resmi DuWa Ministry Selamat menghayati Advent dan menyambut Natal. Selamat memeluk harapan. [Zethri]

Penantian yang Berarti Advent Desember

Penantian yang Berarti: Advent dan Semangat Service to The World

Halo, gaes! Coba tarik napas sebentar di t e n g a h d e a d l

a n g menumpuk Kita sudah memasuki masa Advent, masa menanti yang penuh harapan. Banyak dari kita memaknainya sebagai momen menyiapkan hati untuk Natal seperti waktu bersama keluarga, pohon terang, dan kado. Tapi, lebih dari itu, Advent adalah masa penantian yang aktif. Kita tidak hanya duduk diam menunggu, melainkan menyiapkan dunia agar layak menyambut Dia yang datang. Nah, di sini nilai UKDW, Service to The World, menemukan panggung utamanya.

Menanti Sambil Ngopi atau Menanti Sambil Bergerak?

Penantian dalam tradisi Kristen bukanlah sikap pasif Nabi Yesaya, salah satu narasumber utama pengharapan Advent, berbicara tentang jalan yang harus diratakan, lembah yang diuruk, dan gunung yang direndahkan. Itu adalah kerja keras, bukan sekadar meditasi Kristus yang kita nanti kedatangan-Nya, dulu datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Markus 10:45) Ia datang untuk mereka yang terpinggirkan seperti orang sakit, janda, yatim piatu, dan orang yang dianggap "sampah masyarakat" pada zamannya.

Inilah inti dari Service to The World: Pelayanan tidak harus menunggu kita lulus. Dunia di sekitar kita mulai dari lingkungan kos hingga desa tempat kita KKN sudah membutuhkan kehadiran dan kontribusi kita sekarang Pelayanan juga bukan sekadar memberikan bantuan materi; pelayanan sejati lahir dari keterlibatan hati dan pikiran. Itu berarti menggunakan ilmu arsitektur untuk membantu merancang rumah yang

lebih aman bagi warga kurang mampu, memanfaatkan kemampuan analisis data untuk mendukung UMKM lokal, atau memakai pengetahuan teologi untuk menciptakan suasana damai di tengah konflik. Dalam penantian akan Kedatangan Kristus yang kedua, ketika keadilan sempurna ditegakkan, kita diajak untuk tidak hanya duduk pasif menunggu cerita selesai. Melalui Service to The World, kita mengambil bagian dalam menghadirkan sedikit demi sedikit kehidupan yang lebih adil, berkelanjutan, dan penuh kasih. Dengan tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan sekarang, kita sedang ikut membangun dunia yang lebih layak bagi semua.

Tantangan Masa Advent: A Call to Action

Momen Advent ini adalah reminder bagi kita, mahasiswa UKDW, untuk bertanya "Di mana saya bisa menjadi 'terang' kecil di tengah kegelapan penantian ini?"

Saat kamu begadang mengerjakan tugas, ingatlah bahwa ilmu itu akan menjadi bekal untuk melayani. Saat kamu kesal melihat ketidakadilan di berita, ubah kegelisahan itu menjadi energi untuk melakukan perubahan kecil Advent mengajarkan kita tentang harapan. Harapan itu menjadi nyata ketika kita mewujudkannya, melayani sesama, dan mempraktikkan kasih Kristus yang segera datang.

Mari, jadikan setiap tindakan pelayanan kita sekecil apapun sebagai lilin yang menyala, menerangi penantian kita. Jangan hanya menanti yang dinanti. Jadilah bagian dari penantian yang berarti! Ayo, share cerita pelayananmu di kampus atau di luar kampus! Jadikan Advent ini penuh aksi nyata. [Pedro]

12 Office of International Affairs

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Koran Kampus UKDW Edisi Desember 2025 by Koran Kampus UKDW - Issuu