Skip to main content

Kemala Hitam Diary - Monster Burger ©10.2025

Page 1


"Sebuah Kisah Tentang Gigitan yang Tersisa"

Salam Pembuka : Gigitan Pertama

Malam Pertama Aku Memesan Monster Burger

Meja Sudut dan Langit yang Terlalu Datar

Hari yang Tidak Bernama

Rasa yang Tidak Pergi

Hari Ketika Aku Tidak Ingin Sembuh

Burger Dingin dan Obrolan yang Tidak Selesai

Kota yang Tidak Tidur

Roti, Daging, dan Segalanya di Antaranya

Gigitan Terakhir

Esok yang Tidak Dijanjikan, Tapi Cukup

Salam Penutup : Monster Burger

Salam Pembuka: Gigitan Pertama

Aku tidak tahu sejak kapan semuanya terasa berat. Mungkin bukan karena beban itu bertambah, tetapi karena aku sudah lupa cara meletakkannya.

Hidup terasa seperti roti yang kebanyakan saus; berantakan, lengket, tapi tetap harus ditelan. Aku sering meyakinkan orang bahwa aku baik-baik saja. Padahal, yang kumaksud 'baik-baik saja' adalah aku masih bisa makan, masih bisa tertawa kecil, masih bisa menatap langit, walau pandanganku kosong.

Mungkin itu sudah cukup untuk sekarang. Tidak bahagia, tetapi juga belum menyerah. Aku masih di sini, menunggu sesuatu yang tidak pasti; mungkin datangnya Monster Burger, atau mungkin alasan lain untuk tetap hidup sedikit lebih 'Monster' dari biasanya.

Malam Pertama Aku Memesan Monster

Burger

"Awal kesadaran kecil tentang hidup adalah rasa lelah yang masih menginginkan sesuatu yang sederhana.”

Aku tidak sedang sedih, mungkin juga tidak bahagia. Aku hanya ada di tengah-tengah. Seperti lampu jalan yang menyala di sore hari; terlalu terang untuk senja, terlalu redup untuk malam.

Kadang aku berpikir, hidup ini bukan tentang mencari arti besar. Mungkin cuma tentang hal-hal kecil yang muncul tanpa alasan. Aroma roti panggang, bunyi tisu yang disobek, dan rasa asin dari saus yang menetes di jari.

Hari itu aku memesan Monster Burger. Tanpa tahu kenapa. Mungkin hanya karena namanya terdengar berlebihan, dan aku ingin sesuatu yang berlebihan di hidupku yang terlalu datar ini.

Ketika aku menggigitnya, rasanya tidak istimewa. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa... nyata. Seolah aku bisa membuktikan bahwa aku masih di sini, masih punya rasa di lidah, masih bisa menanti sesuatu yang sederhana.

Aku tertawa kecil. Hidupku memang aneh. Kadang aku ingin menghilang, tapi selalu ada alasan kecil yang menahan. Kali ini alasannya cuma sebuah burger. Mungkin besok aku akan bosan lagi, atau kembali diam seperti batu di tepi jalan. Tapi untuk hari ini, aku masih bisa menggigit sesuatu yang punya rasa. Dan itu cukup.

Meja Sudut dan Langit yang Terlalu Datar

"Kesendirian dan kebiasaan kecil memberi rasa aman. Hidup tidak selalu butuh arti besar."

Aku selalu duduk di meja sudut. Entah kenapa, tempat itu terasa aman. Mungkin karena dari sana aku bisa melihat semuanya tanpa perlu dilihat balik. Ada orang yang tertawa keras, pasangan yang saling diam, dan anak kecil yang memutar sedotan seperti mainan.

Sementara aku hanya duduk diam, mengaduk minuman yang sudah kehilangan busa, seolah sedang mencari sesuatu yang tenggelam di dasar gelas.

Langit di luar jendela terlalu datar hari ini. Tidak biru, tidak abu. Hanya datar. Seperti halaman kosong yang menunggu kata pertama, tapi aku belum tahu apa yang harus kutulis.

Kadang aku iri pada orang-orang yang punya tujuan jelas. Mereka tahu ke mana harus pergi, sementara aku masih sibuk mencari arah dari peta yang sudah kusobek sendiri.

Aku tidak tahu apakah aku sedang berjalan maju, atau hanya berputar di tempat yang sama. Tapi setiap kali merasa tersesat, selalu ada hal kecil yang menarikku kembali.

Seperti hari ini. Aku menemukan sepotong remah roti burger di sisa kertas pembungkus. Hanya remah kecil, tapi cukup membuatku tersenyum. Entah kenapa, hal sesederhana itu bisa menenangkan.

Mungkin memang tidak perlu alasan besar untuk bertahan. Cukup meja sudut, langit yang terlalu datar, dan sisa Monster Burger yang membuatku ingat bahwa aku masih ada di dunia ini, masih mengunyah pelan, masih bernapas, masih menunggu sesuatu, walau aku sendiri belum tahu apa.

"Aku kehilangan arah tapi masih punya rasa. Ada kesadaran bahwa hal kecil bisa menahan aku tetap di dunia.”

Aku tidak tahu hari ini hari apa. Aku hanya tahu matahari terbit terlalu cepat, dan jam dinding di kamarku terlambat lima menit; seperti aku yang selalu datang sedikit setelah segalanya dimulai. Kupikir, tidak semua hari perlu punya nama. Beberapa hari hanya ada untuk dilewati tanpa perayaan, tanpa arti, tanpa siapa-siapa.

Pagi ini aku membuka jendela, dan udara masuk seperti tamu yang tidak diundang. Ada aroma debu, dan sedikit wangi roti dari warung sebelah. Itu cukup membuatku tersadar bahwa dunia masih berputar.

Aku belum makan apa-apa, tapi aku memikirkan Monster Burger lagi. Entah kenapa, makanan itu selalu muncul di kepalaku setiap kali aku merasa tidak tahu harus apa. Mungkin karena di dalamnya ada sesuatu yang lengkap; ada roti, daging, rasa asin, rasa gurih. Semacam keseimbangan yang jarang ada di hidupku.

Aku berpikir, kalau hidup bisa disusun seperti burger, aku ingin bagian tengahnya sedikit lebih lembut, dan sausnya tidak sebanyak itu. Aku ingin hari-hariku tidak terlalu berat di tangan, tapi cukup padat untuk tidak hancur.

Aku tahu aku tidak sedang baik-baik saja, tapi aku juga tidak sepenuhnya hancur. Aku masih bisa

tertawa kecil pada hal-hal bodoh, masih bisa menatap langit dan berpikir, “Ah, awan itu mirip kentang goreng.”

Lucu, ya? Mungkin memang begini caraku bertahan; tidak dengan keberanian besar, tapi dengan mengingat rasa kecil yang tidak hilang; gigitan

pertama Monster Burger, udara pagi yang diamdiam lewat jendela, dan diriku sendiri yang masih di sini, mencoba memberi nama pada hari yang tidak bernama.

Rasa yang Tidak Pergi

"Aku mulai masuk ke masa lalu dengan kenangan, kehilangan, orang yang pernah berarti. Aku meluapkan emosi terlalu dalam."

Ada rasa yang tidak mau pergi, meski aku sudah menutup pintunya berkali-kali. Bukan tentang cinta yang gagal, tapi tentang kehadiran yang terlalu lama menempel di udara. Seperti aroma kopi di baju, yang tetap ada bahkan setelah dicuci.

Kadang aku merasa sudah baik-baik saja. Aku bekerja, makan, menonton hal lucu, bahkan bisa tertawa keras saat bersama teman. Tapi entah kenapa, di sela tawa itu, selalu ada ruang kosong yang menunggu sesuatu kembali.

Aku tidak menyesal. Tidak juga berharap. Aku hanya mengingat dengan cara yang tidak sakit, tapi juga tidak sepenuhnya tenang.

Malam itu aku membeli Monster Burger lagi. Rasanya sama, tapi suasananya berbeda. Kursi di seberangku kosong, tapi aku masih merasa seolah seseorang duduk di sana, mengaduk minuman tanpa suara, dan menatapku sambil tersenyum kecil.

Aku menggigit burger itu perlahan, dan tiba-tiba teringat, bagaimana dulu aku pernah membagi setengahnya untukmu. Lucu ya, bahkan kenangan sederhana pun bisa menjadi hantu yang lembut; tidak menakuti, tapi juga tidak membiarkan pergi.

Aku pikir waktu akan menghapus segalanya.

Ternyata waktu hanya membuatnya berubah bentuk: dari rasa sakit menjadi kenangan, dari kenangan menjadi rasa yang diam di antara gigitan.

Malam semakin larut. Aku menatap sisa burger di kertas pembungkus, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa kosong. Mungkin karena aku sadar, tidak semua hal harus hilang agar aku bisa melangkah. Beberapa hal memang ditakdirkan untuk tinggal, sekadar mengingatkan: aku pernah punya rasa yang nyata, dan itu cukup untuk membuatku masih bisa merasa.

"Titik paling sunyi dan jujur adalah penerimaan terhadap kesedihan, bukan melawannya."

Malam sebelumnya turun hujan ringan. Sisa tetesnya masih menggantung di kaca jendela, memantulkan cahaya lampu kota seperti serpihan waktu yang lupa jatuh ke bumi. Aku duduk di tepi ranjang, kaki menyentuh lantai dingin, dan aroma kopi basi semalam masih samar di udara.

Ada hari-hari di mana aku bangun dengan dada yang terasa penuh; bukan oleh semangat, tapi oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Orang bilang itu luka. Tapi mungkin, itu hanya sisa dari sesuatu yang dulu hidup dalam diriku dan belum sempat mati dengan baik. Cermin memantulkan wajahku. Ada lingkaran hitam di bawah mata, tapi tatapan itu terasa jujur, seolah mengatakan: “Kau masih di sini.” Aku tersenyum kecil kaku, tapi nyata.

Aku membuka buku catatanku yang lusuh. Tinta hitamnya mulai pudar, tapi setiap huruf masih terasa hidup. Hari itu aku menulis lirik lagu. Aku menamainya Elio.

“Do you know the feeling of picking up fragments scattered on the road of time? Sometimes faint, sometimes warm, sometimes aching...”

Setelahnya, aku hanya diam. Jam di dinding berdetak pelan, seperti menandai kehadiran waktu tanpa terburu. Di luar, hujan berhenti. Aku menatap langit dari balik kaca yang buram; tidak mencari arti, hanya memastikan aku masih bisa melihat sesuatu.

Aku memesan Monster Burger lagi malam itu.

Rasanya sama seperti pertama kali; asin, lembut, sedikit hangat di ujung lidah. Tapi kali ini, aku tidak makan untuk melupakan. Aku makan untuk mengingat bahwa aku masih bisa merasa.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin sembuh.

Aku hanya ingin duduk, bernapas, dan berkata pelan pada diriku sendiri :

“Kita sudah cukup jauh berjalan. Tak apa kalau belum sembuh. Yang penting, kita masih di sini.”

Burger Dingin dan Obrolan yang Tidak

Selesai

"Percakapan, baik yang nyata maupun yang tak pernah terjadi, adalah suara hati terhadap diri sendiri dan orang lain."

Burger di meja itu sudah dingin. Roti bagian atasnya mulai kempes, lelehan sausnya mengering di ujung kertas pembungkus. Aku menatapnya lama, seperti sedang menatap waktu yang berhenti di antara dua detik. Aku duduk sendirian di sudut restoran cepat saji yang lampunya terlalu terang. Di luar, hujan baru saja reda; menyisakan bayangan lampu jalan yang pecah di atas aspal. Di meja seberang, seseorang tertawa kecil sambil memainkan ponselnya. Sementara aku, hanya diam. Mendengarkan gumam dari dalam kepalaku sendiri.

Kadang aku membayangkan kalau kau masih di sini, duduk di kursi seberang. Mungkin kau akan berkata, “Makanlah sebelum dingin.”

Aku akan tertawa kecil dan menjawab, “Kau tahu aku selalu lupa hal-hal sederhana seperti itu.” Lalu kita akan diam, tapi diam yang tidak menyakitkan; diam yang penuh pemahaman.

Namun, percakapan itu tak pernah terjadi. Yang ada hanyalah gema; kalimat yang berputar, menggantung, dan tak pernah menemukan telinganya.

Aku mencoba membuka kembali potongan dialog

yang tak pernah terucap. Yang ingin kukatakan, tapi selalu tertelan oleh waktu dan rasa takut. Kadang aku bicara pada bayanganmu di dalam cermin, kadang pada pantulan jendela, kadang pada udara yang hanya menjawab dengan dingin.

“Kau tahu,” kataku pelan, “Aku tidak marah waktu itu. Aku hanya takut. Takut kehilangan diriku sendiri di tengah semua kebisuan kita.”

“Dan sekarang, lihatlah… kita tetap kehilangan, meski tanpa pertengkaran, tanpa penjelasan, tanpa perpisahan.”

Burger itu kini benar-benar dingin. Aku menggigitnya perlahan; rasanya hambar, tapi entah kenapa menenangkan. Seperti menerima sesuatu yang tak lagi bisa diperbaiki, tapi juga tak perlu disesali.

Mungkin begitulah bentuk obrolan yang tidak selesai. Ia tidak butuh akhir, hanya butuh diterima. Karena beberapa kalimat memang ditakdirkan untuk menguap, bukan terdengar.

Aku menatap ke luar jendela. Hujan kembali turun, tipis, seperti napas yang tertahan. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mengulang percakapan itu lagi. Aku hanya ingin duduk di sini, bersama burger dingin dan keheningan yang akhirnya terasa cukup.

Kota yang Tidak Tidur

"Dunia luar dan kehidupan orang-orang lain yang terus bergerak. Kontras antara diam dan kebisingan."

Malam di kota tidak pernah benar-benar gelap.

Selalu ada cahaya; dari papan reklame yang tak kenal lelah, dari lampu motor yang menembus genangan, dari jendela apartemen yang menolak ditutup.

Semuanya bernapas, meski dalam cara yang asing.

Aku berjalan menyusuri trotoar dengan tangan di saku jaket. Udara malam ini dingin, tapi bukan dingin yang menusuk. Lebih seperti dingin yang mengingatkan: bahwa sesuatu sedang berjarak.

Entah antara aku dan dunia, atau aku dan diriku sendiri.

Di sebuah kafe, dua orang sedang tertawa keras.

Suara mereka menembus kaca, bercampur dengan musik jazz yang samar. Aku tersenyum kecil bukan karena ikut bahagia, tapi karena tiba-tiba sadar betapa lama aku tidak tertawa seperti itu. Bukan karena tak bisa, tapi karena rasanya aneh menertawakan dunia ketika kepala masih penuh gema dari obrolan yang tak selesai.

Di perempatan, seorang pria berlari menembus lampu merah. Mobil-mobil berhenti, klakson bersahutan, tapi tak ada yang benar-benar marah. Kota ini sudah terbiasa dengan kekacauan kecil semacam itu. Mungkin di sinilah perbedaannya: manusia dan kota sama-sama terluka, tapi kota tahu caranya terus bergerak.

Aku berhenti di depan toko burger yang masih buka. Jam menunjukkan lewat tengah malam.

Kasirnya terlihat lelah, tapi tetap tersenyum sopan. Aku tidak membeli apa pun. Hanya berdiri di depan kaca, menatap pantulan wajahku sendiri samar, tapi cukup untuk membuatku bertanya, “Apakah aku masih orang yang sama?”

Kota di belakangku terus berdenyut. Lampu, langkah kaki, suara roda, dan tawa yang berlarian di udara. Aku tetap di sana beberapa saat, mencoba merasakan apa pun; tapi yang kudapat hanya kebisingan yang terasa kosong.

“Mungkin aku memang harus belajar menjadi seperti kota,” pikirku. “Tidak tidur, tapi juga tidak berharap. Hanya berjalan. Hanya menyala.”

Saat aku melangkah lagi, hujan tipis turun. Aku tidak berlari. Aku biarkan air itu menempel di jaket, di rambut, di wajahku. Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa tidak perlu terburu-buru kembali ke mana pun. Karena mungkin, dalam kebisingan yang terus bergerak ini, diamku justru menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri.

Roti,

Daging,

dan Segalanya di Antaranya

"Simbolisasi kehidupan bagaikan susunan rasa yang tak selalu seimbang. Refleksi tentang menerima hidup apa adanya."

Pagi datang tanpa janji. Aku membuka mata dan menyadari, tidak ada yang berubah; tapi juga tidak ada yang benar-benar sama. Kota masih bising, langit masih abu-abu, dan di meja dapur masih ada sisa roti dari semalam. Namun ada sesuatu yang lebih tenang di dalam dada. Bukan kebahagiaan, mungkin… tapi semacam penerimaan yang pelanpelan tumbuh dari letih.

Aku mulai membuat sarapan. Roti, daging, selada, dan saus seadanya. Tidak ada yang istimewa, tapi tangan ini bekerja tanpa pikir panjang. Mungkin karena terkadang yang dibutuhkan manusia hanyalah rutinitas. Sesuatu yang tetap, ketika hati sudah terlalu sering berubah.

Setiap lapisan burger itu seperti potongan hidup yang kususun ulang. Roti, atas semua hal yang terlihat baik di permukaan. Daging, hal-hal berat yang kutelan tanpa sempat kunyah tuntas. Sayuran, hal kecil yang kuselipkan supaya terasa "sehat." Dan saus kenangan, manis dan asam, yang menempel bahkan setelah semuanya habis.

Setiap lapisan burger itu seperti potongan hidup yang kususun ulang. Roti, atas semua hal yang terlihat baik di permukaan. Daging, hal-hal berat yang kutelan tanpa sempat kunyah tuntas. Sayuran, hal kecil yang kuselipkan supaya terasa "sehat." Dan saus kenangan, manis dan asam, yang menempel bahkan setelah semuanya habis.

Dulu aku ingin hidup terasa seimbang: antara kerja dan istirahat, cinta dan kehilangan, tawa dan air mata. Tapi mungkin keseimbangan itu tidak pernah benar-benar ada. Mungkin hidup memang selalu seperti burger; berantakan, licin, kadang terlalu asin, kadang hambar. Namun justru di situlah rasanya.

Aku menggigitnya perlahan. Rasanya tidak sempurna, tapi nyata. Hangat di tangan, tumpah di ujung jari. Aku tertawa kecil, kali ini bukan karena lucu, tapi karena akhirnya aku bisa merasakan sesuatu tanpa harus mencari maknanya.

“Mungkin hidup tidak perlu disusun dengan benar,” batinku. “Cukup disusun dengan jujur.”

Di luar, matahari belum terlalu tinggi. Udara masih lembap, menempel di kulit seperti sisa hujan semalam. Aku menatap keluar jendela, melihat dunia yang tetap berantakan, tapi entah kenapa hari ini aku tidak ingin memperbaikinya. Aku hanya ingin menjalaninya, lapisan demi lapisan.

Gigitan Terakhir

"Penerimaan. Tidak lagi mencari arti, hanya menikmati keberadaan dan momen hening yang damai."

Ada keheningan yang tidak menyakitkan. Bukan karena semuanya sudah selesai, tapi karena akhirnya aku berhenti menolak apa yang ada. Pagi ini aku duduk di bangku taman dengan secangkir kopi di tangan, burger kecil di kertas pembungkusnya.

Langit cerah tapi tidak terlalu biru. Angin berembus pelan membawa aroma tanah yang lembap.

Aku menggigit pelan. Gigitan terakhir. Tidak istimewa, tidak menggetarkan. Hanya sederhana. Dan mungkin, kesederhanaan itu sendiri adalah keajaiban.

Dulu aku selalu mencari arti di setiap hal. Mengapa aku ditinggalkan? Mengapa aku tidak cukup? Mengapa dunia terasa berat? Mengapa semuanya seperti mengulang? Kini, aku hanya diam. Mendengarkan suara burung yang samar, langkah orang yang melintas, dan detak jantung yang entah sejak kapan kembali terasa ringan.

Mungkin penerimaan tidak datang dalam bentuk pemahaman, tapi dalam bentuk kebisuan yang lembut. Bukan ketika kita tahu mengapa, tapi ketika kita akhirnya tidak perlu tahu lagi.

Aku menatap burger di tangan; tinggal sisa remah. Aku tidak merasa kehilangan. Karena tahu, setiap gigitan adalah bagian dari cerita itu sendiri. Dan cerita tidak selalu perlu diakhiri dengan titik, kadang cukup dengan napas panjang dan seulas senyum kecil.

“Tidak semua rasa harus dijelaskan,” pikirku.

“Beberapa cukup untuk dirasakan, sebentar saja, lalu dilepas.”

Angin bertiup, membawa satu helai tisu terbang menjauh. Aku mengikutinya dengan pandangan, lalu meneguk kopi yang mulai dingin. Tidak ada musik, tidak ada kata-kata besar. Hanya aku, pagi, dan rasa yang perlahan menenangkan.

Esok yang Tidak Dijanjikan, Tapi Cukup

"Bertahan tanpa alasan besar dan menyadari bahwa 'cukup' ternyata bisa menjadi bentuk kebahagiaan yang paling nyata."

Hari baru datang tanpa tepuk tangan. Tanpa musik, tanpa janji. Hanya cahaya yang pelan-pelan menyelinap di antara tirai, menandakan bahwa waktu masih berjalan. Aku membuka mata; tidak karena ingin, tapi karena tubuh tahu caranya tetap hidup.

Dulu aku berpikir kebahagiaan harus besar: perubahan besar, cinta besar, mimpi besar. Sekarang aku hanya ingin pagi yang tidak menyakitkan, napas yang bisa diambil tanpa gemetar, dan kopi yang bisa kuminum sampai habis tanpa terburu-buru.

Kehidupan, ternyata, tidak selalu tentang menuju.

Kadang hanya tentang berada. Tentang duduk di kursi kayu yang berdecit, melihat langit berubah warna, dan tahu bahwa detik ini pun meski sederhana tapi nyata.

Aku berjalan keluar rumah. Udara pagi menempel di kulit, hangat tapi juga tajam. Di kejauhan, kota mulai hidup lagi. Suara motor, teriakan penjual, tawa anak sekolah. Semuanya terasa seperti orkestra kecil yang tak perlu direncanakan.

Aku berhenti di warung kecil di ujung jalan. Membeli burger sederhana. Tidak seperti Monster

Burger yang dulu; tidak ada nama besar, tidak ada kenangan khusus. Hanya roti, daging, dan rasa asin yang pas. Aku duduk di bangku kayu, menggigit pelan, dan tersenyum. Tidak untuk siapa pun, hanya untuk diri sendiri.

“Mungkin ini yang disebut cukup,” batinku. “Tidak sempurna, tapi tenang. Tidak penuh, tapi nyata.”

Di langit, awan berarak perlahan, seolah ikut bergerak tanpa arah yang pasti. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa tertinggal. Karena aku tahu, aku masih di sini. Masih berjalan. Masih bernapas. Dan itu saja sudah lebih dari cukup.

Salam Penutup: Monster Burger

Tidak ada monster di dalam burger itu. Tidak ada makhluk buas yang siap menerkam di balik roti, daging, atau saus yang menetes. Yang ada hanya diriku sendiri; lelah, lapar, dan mencoba memahami rasa yang bercampur tanpa aturan. Mungkin sejak awal, monster itu bukan sesuatu di luar diri. Ia adalah rasa takut yang tidak bisa kujelaskan, kesedihan yang kupeluk terlalu lama, keinginan untuk dimengerti tapi tak tahu bagaimana bicara. Ia hidup di antara setiap gigitan hidup yang kutelan. Terlalu asin di hari-hari tertentu, terlalu hambar di yang lain.

Kini aku tahu, hidup memang seperti burger yang dibuat tergesa. Berantakan, tumpah, tidak selalu cantik di mata siapa pun. Tapi justru di situlah rasanya. Kita memakannya bukan karena sempurna, tapi karena kita lapar akan makna, akan keberadaan, akan rasa yang membuat kita sadar bahwa kita masih di sini.

Setelah semua perjalanan; percakapan yang tak selesai, kota yang terus bergerak, pagi yang diam; aku belajar bahwa “cukup” tidak berarti berhenti.

“Cukup” berarti menerima apa pun yang tersisa, lalu tetap melangkah.

Tidak semua luka perlu sembuh. Tidak semua kehilangan perlu ditemukan kembali. Kadang, kita hanya perlu memeluk diri sendiri di tengah kebisingan dunia, dan berkata pelan:

“Kau sudah cukup hari ini.”

“Terima kasih sudah bertahan.”

Aku menatap burger terakhir yang kubuat pagi itu: roti sedikit gosong, saus terlalu banyak, tapi aromanya menenangkan. Aku menggigitnya, perlahan, tanpa berpikir. Rasanya biasa saja, tapi anehnya, tidak ingin segera dihabiskan. Karena mungkin, di balik semua rasa yang tak seimbang itu, aku akhirnya menemukan sesuatu yang dulu kucari di luar diri, “rasa tenang.”

Kemala Hitam Diary - Monster Burger

© 2025 Kemala Hitam

Desain & Ilustrasi : Kemala Hitam

Publish : 28.10.2025

Direkap di Batam, Indonesia

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook