Skip to main content

Millennial Subculture - November 2016

Page 1

WARTA HIMAHI SMART

ACTIVE

TALKATIVE

MILLENIAL SUBCULTURE / NOVEMBER 2016

NEWS

FEATURE

REGULAR CONTENT

Wonder Woman: Duta Pemberdayaan Perempuan?

Fandoms Mengubah Dunia, Benarkkah?

Not-so-Lazy Tips to Stay Fit


CONTENTS 1 - Editor’s Letter 2 - Voice of KawanWH NEWS 4 - Duterte Umumkan ‘Perpisahan’ dengan AS 5 - Antonio Gutteres menjadi Sekjen Baru untuk PBB 6 - Gambia Keluar dari International Criminal Court 7 - Ekspor Ritel Fashion Indonesia dalam Bahaya 8 - Wonder Woman sebagai Duta Pemberdayaan Perempuan PBB FEATURE 10 - 11 - Subculture: A Threat to Society? 12 - 13 - Musik: Sebuah Pendobrak Distorsi Politik 14 - 15 - Fandoms dapat Mengubah Dunia, Benarkah? 16 - 17 - What in The World is A Haul Girl? 18 - 19 - Yang Wajib Kamu Ketahui dari Generasi Millenials 20 - 21 - Homoseksualitas sebagai Bagian dari Millenial Subculture REGULAR CONTENT 23 - The Iconic Subculture Timeline 24 - 25 - WH Lookbook 26 - Jukebox 27 - Tips: 4 ~not-so-lazy~ Tips to Stay Fit 28 - Reviews: Movies and Books 29 - Quiz: To Which Classic Subculture do You Belong?

DIRECTED AND STYLED BY Niqa Hauna PHOTOGRAPHED BY Darryl Agyasan & Andrew Adusa MODEL Qurotta Ainun Reysika Mansyur


EDITORIAL TEAM Editor-in-Chief MUHAMMAD FARHAN YUNAS Vice Editor-in-Chief BRIGETTE GIOVANDRETTA POHAN Editorial Secretary HAIFA HAFIYANTI SUSETYO Editorial Treasurer VENTI VERINTA VANI Feature Editor INDIRA JUNITA JAUZA Feature Writers ADAM MUSLIHAT ERIANA ERIGE SARITA LARAS YOLANDA JUNIAR RAYO News Editor LUTHFIA NOOR ASFARANI JAYUSMAN News Writers RETNO PUSPITA NINGTYAS BRIGITA PRINSILA JOSEPHINE DIVA ANINDITA VERONICA CINDY IRAWAN Regular Content Editor AYU AMMALIA PERTIWI Regular Content Writers ILHAM FACHRI PURWANA EZRA REYHAN MARZUKI SITI ADELA Event Manager AYU CAESAR TIARA Event Staff ARYANNE REGITA EZRAELLA MEIRANI MARIA FAUSTINA KENNY NATHANE KERIN DESYOLA Creative Director DAMAR ANANGGADIPA Content Designer M. ARMADANI TRIRIFKI RIZALDI NATASYA ANANDA IRWANTO GABRIELLA CARMEN PUPUT PRADANI ALIYA RASHATI Head of Photographer REIZKA DWIDIANTO Photographer / Videographer ANDREW ADUSA DARRYL AGYASAN SOEWONGSO Fashion Stylist NIQA HAUNA Public Relations and Marketing Manager FILDZA MALIFA SETIABUDI Public Relations and Marketing Staff DENNA MEDINA ANSELMA AMBAR ARAMDALU MARIKA GANISTI IMANTIA SILVIA LARASATI Special Thanks to Our Contributor NICANDER WIJAYA STAY CONNECTED! TWITTER @KawanWH INSTAGRAM @wartahimahi FACEBOOK Warta Himahi YOUTUBE youtube.com/wartahimahi

EDITOR’S LETTER Holla, kawanWH! Subculture. What comes to your mind? Mungkin kebanyakan dari kawanWH kurang akrab dengan istilah yang satu ini. Tapi, faktanya, kebanyakan masyarakat tidak sadar bahwa apa yang mereka pakai, ideologi yang mereka ekspresikan, bahkan kesukaan mereka terhadap suatu hal secara spesifik merupakan suatu bukti nyata bahwa mereka sebenarnya tergolong kedalam suatu subculture. Siapa yang tak kenal subculture punk, haul girl, hippies, grunge, ataupun goth? Bisa saja kawanWH tergolong ke salah satunya, meskipun kawanWH tidak sadar akan hal tersebut. Oleh karena itu, dengan mengangkat tema Millenial Subculture untuk edisi kali ini, redaksi akan menyajikan cerita dibalik munculnya beberapa subcultures yang ada di dunia dan penyebarannya yang cepat secara global. Selain itu, redaksi akan membahas apakah subcultures ini dapat mendobrak kultur-kultur mainstream yang dianggap terlalu kaku dan kurang mencakup ketertarikan masyarakat terhadap suatu budaya secara menyeluruh. Fenomena menyebarnya subcultures ini ternyata dianggap berbahaya bagi masyarakat dengan kultur mainstream karena keunikan yang mereka munculkan sangat berbeda dari kultur yang sudah lebih dulu ada di masyarakat. Mau tahu bagaimana kelanjutannya? Just read the whole pages, kawanWH! Thank You for Reading! Stay Smart, Active, and Talkative! Muhammad Farhan Yunas, Editor-In-Chief

WH / 1


VOICE OF KAWANWH

TO WHAT SUBCULTURE DO YOU BELONG? DYANING PANGESTIKA // HI 2013 - Sebenernya kalau subculture tertentu, aku ‘ga terlalu banyak terpatok pada satu subculture tertentu. Cuma buat satu subculture yang cukup aku minati yaitu Riot Girl. Mereka itu pergerakan musik punk tapi dia lebih banyak masukin unsur-unsur feminis di musiknya. Mereka pake musik sebagai sarana pergerakannya. Aku suka musiknya karena enak didengar. Kemudian manifesto dari Riot Girl ini cocok dengan nilainilai pribadi yang aku pegang. RIZKY AJI PRATAMA // HI 2013 - Jadi gue tuh emang punya selera musik yang agak beda dari kebanyakan anak muda jaman sekarang. Lagu-lagunya yang gua suka tuh lagu-lagunya tahun 80-an. Sebenernya bukan spesifik musik 80-an, tapi musik-musik Indonesia jadul yang lagunya mengandung cerita tentang Indonesia. Makanya agak susah juga nyari temen yang berselera musik sama. Soalnya sekarang kan susah nyari lagu yang kayak gitu. Lagu-lagunya yang gue suka tuh lagu-lagunya Guruh Sukarnoputra. Di lagu-lagunya beliau banyak nulis lirik tentang Indonesia. CARDITA // HI 2013 - Kalau aku ‘ga ngeidentifikasikan diri sendiri dengan subkultur apapun, tapi kebanyakan aku ngikutin subkultur fandom in general, such as Anime fandom, science fiction, the list goes on. Soalnya seru dan orang-orang di komunitasnya rame. SULTAN MADEEBA // HI 2014 - Grunge Seattle Scene dan 90s Britpop. Yang menarik dari Grunge Seattle Scene itu karena ada Dave Grohl factor, Cobain factor and how they hate popularity while the world wanted them to have a worldwide tour. Gue juga suka noise gitarnya. Personality mereka menarik, gue suka gimana mereka perform on stage. Mereka juga punya attitude dan stage performance yang kemudian influence banyak orang dan band lain. Kalau 90s Britpop menurut gue they are genius, ada kompetisi antara Oasis dan Blur, Oasis dan The Stone Roses, fight inside Oasis, the breakup of Blur and also they wear good clothing. SHASTA KIRANA // HI 2014 - Sebenernya aku ‘ga bisa nentuin satu subculture sih karena aku ada ditengah tengah. Aku suka 90s music tapi aku juga suka musikmusik Korea juga. Kalau untuk musik, aku lebih condong ke musik era 80s – 90s gitu, tapi kalau film aku lebih suka film-film sekarang yang latarnya collosal era monarch gitu. Buat novel juga aku lebih suka yang latarnya masamasa itu. Kalau untuk fashion sendiri aku sebenernya ‘ga

2 / WH

ngikutin trend apapun, aku biasanya pake yang nyaman aku pake aja. Cuma kayanya agak condong ke 90s sih kaya jeans, T-shirt dan flanel. ARINI CANDRAPUTRI // HI 2015 - Kalau ditanya soal subculture, mungkin aku akan memilih hipster. Kalau dilihat dari cara berpakaian atau style-ku, simply karena secara pribadi memang suka. Kurasa hal itu juga mencerminkan kepribadianku yang notabene gak peduli dengan omongan orang, bahkan aku suka ‘ga nyadar kalau ada orang yang ‘ga suka sama aku atau secara ‘ga sengaja aku menyakiti perasaan mereka; sesungguhnya aku secareless itu. Prinsip style aku: I wear what I like. Aku bahkan ‘ga mau repot sama respon orang ketika aku memutuskan untuk ngewarnain sebagian rambutku jadi putih, kalau menurutku bagus ya, why not? ALIEFTA // HI 2015 - Secara pribadi, gue ‘ga memasukkan diri gue ke golongan subculture apapun. Kenapa? Menurut gue, itu merupakan suatu keunggulan karena gue bisa bebas masuk ke komunitas subculture apapun tanpa harus punya ikatan yang mengekang dan bisa mengambil stimulan dari setiap circle itu. Contohnya, ketika gue bergaul sama anak fashion, dari situ gue bisa ngambil sedikit quirkiness-nya, lalu ketika gue bergaul sama pemerhati film, gue juga bisa terlibat dalam diskusi film yang membuka pikiran. Begitu pula ketika gue bergaul sama sesama produser, gue bisa dapet insight tentang musik. Dan keuntungannya lagi adalah lu bisa punya network yang bagus dengan orang-orang subculture yang out of the box, terlepas dari lu yang “merasa” biasa-biasa aja. MATAYA KARA PERDANI HANDIMAN // HI 2016 - Indie, karena so far, western artists kesukaan aku itu yang ‘ga punya record label dan mereka cuman modal YouTube dan skills aja. Genre setiap artisnya sih berbeda pastinya tapi tetep no record labels whatsoever. Nonton dan fokus ke skill mereka itu luar biasa hebatnya; mereka itu ngecover, remix, bikin lagu dengan cara dan pembawaan yang sangat berbeda dan ‘ga biasa jadi kepribadian mereka itu akan sangat terlihat. Indie yang kayak gini tuh susah untuk diterima orang orang karena pertama ‘ga semua orang suka dengan pembawaan lagu dan genre mereka dan namanya aja ‘ga pernah tau. Tapi, disitu serunya: kita bisa belajar hal-hal baru tentang musik, ‘ga cuman musik yang ada di Billboard Charts aja.


NEWS

4 / WH


NEWS

WH / 5


NEWS

6 / WH


NEWS

WH / 7


NEWS

8 / WH


WH FEATURE

MILLENIAL SUBCULTURE


FEATURE

WH / 11


FEATURE

WH / 13


FEATURE

WH / 15


FEATURE

WH / 17


FEATURE

WH / 19


FEATURE

WH / 21


REGULAR CONTENT

WH / 23


REGULAR CONTENT

28 / WH


REGULAR CONTENT

WH / 25


REGULAR CONTENT


REGULAR CONTENT

WH / 27


REGULAR CONTENT

28 / WH


REGULAR CONTENT

WH / 29


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Millennial Subculture - November 2016 by Warta Himahi - Issuu