Skip to main content

Identitas Akhir Februari

Page 1

identitas

Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Donatur Sudah Diatur

Unhas kini punya donatur baru. Mahasiswa yang menghuni Ramsis dan mace kantin diwajibkan membayar biaya listrik. Lanjut hal. 8


2

twitter

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

karikatur

tajuk

Selama ini tidak ada aturan terkait asisten dosen. Namun, keberadaan­ nya cukup membantu, terkadang menggantikan penuh dosen, se­ harusnya ada reward. Bagaimana tanggapan Anda?

Dampak Otonom yang Kian Mencekik

Aco(mu) @cocokmi_ Entar reward jadi cobaan untuk suatu keikhlasan. Saya mewakili salah satu asisten dosen di Fi­ sipol menolak reward. KARIKATUR/SRI HADRIANA

SEJAK asrama mahasiswa (Ramsis) pertama kali dihuni pada 1989, masalah seolah tak ada habisnya. Hunian yang berlantai tiga ini masih saja menuai banyak keluhan dari para peng­ huninya. Seperti masalah ketersedian air bersih yang sepertinya menjadi masalah paling pokok dan sangat menyusahkan. Belum lagi masalah keamanan yang juga mengancam keselamatan jiwa penghuni asrama berdinding biru ini. Setumpuk masalah yang menerpa ramsis ini seolah tak mengenal batas. Keluhan demi keluhan tak diindahkan jua oleh pemegang ke­ wenangan. Banyak mahasiswa memilih bertahan, nya­ tanya para penghuni tetap merasakan banyak kesusahan. Seperti belum lama ini keluar aturan kenaikan harga sewa dan beban biaya listrik kini ditanggung penghuni asrama. Banyak biayanya pun bergantung pada alat elktronik yang dimiliki. Meski menuai banyak kontra dari penghuni, atu­ ran ini tetap dijalankan dan telah banyak peng­ huni yang membayar. Nyatanya selama ini penghuni ramsis kian sedikit dikarenakan fasilitas yang tak layak lagi. Jika ditambah aturan pembayaran listrik yang bisa saja menambah alasan banyak penghuni tak lagi mendiami ramsis. Sementara hak peng­ huni untuk mendapatkan kenyamanan fisik jauh panggang dari api. Tak hanya perubahan tarif ramsis saja, pening­ katan tarif kantin juga dilakukan oleh pihak aset. Para mace (ibu pemilik kantin, red) yang sebel­ umnya hanya membayar sewa tempat, kini harus membayar tagihan listrik sesuai dengan alat ele­ ktronik yang digunakan. Tak hanya itu, meski hari libur pun para mace tetap membayar sewa. Lantas para mace yang tak banyak tahu soal asal usul meningkatnya pembayaran tersebut hanya menerima begitu saja. Meski pada akhir­ nya mengeluh karena akan berdampak pada meningkatnya harga makanan yang juga akan meresahkan mahasiswa pada akhirnya. Kampus yang berstatus otonom memang di­ tuntut untuk memaksimalkan penggunaan aset universitas. agar dapat memperoleh uang untuk pembiayaan kampus. Jelas kini kian berdampak pada mahasiswa. Ketakutan-ketakutan pasca Unhas beralih status pun kini mulai terlihat jelas. Kampus kian memungut uang mahasiswa yang seharusnya membantu mahasiswa memper­ oleh tempat tinggal yang layak dengan harga terjangkau. Kampus yang nampaknya kini hanya bertu­ gas mengumpulkan uang sebanyak mungkin lalu menggunakan segala macam cara tanpa mempertimbangkan dampak yang terjadi pada mahasiswa dan sivitas akademika lainnya. Atau­ kah kampus yang kian mengabaikan hak-hak mahasiwa. Mungkin tak lama lagi semua tarif aset di unhas lainnya juga mengalami kenai­ kan. Dan kampus semakin lupa dengan tujuan mencerdasakan kehidupan bangsa. n

Muhammad Ishak Nj @zackizakk Asdos adalah amanah, kebang­ gaan tersendiri bisa jadi asdos, ada tidaknya reward itu cukup dilihat dari impact yang akan kita dapat nanti. hudzaifah @hudzaifah01474 @identitasonline seharusnya di­ berikan reward, meski mungkin asdos membantu dengan suka­ rela.Tapi atas dasar manusiawi, reward itu sebaiknya diberikan.

dari redaksi

Bila anda memiliki informasi, harapan, dan saran mengenai kondisi Unhas silahkan hubungi dan kunjungi kami di

identitasonline @identitasonline

IDENTITAS/SRIWIDIAH ROSALINA BST

Berbagi: Senior identitas Abd Chalid Bibbi Pariwa berbagi ilmu terkait teknik pengusulan dan penentuan angle berita bersama kru dan magang di rumah kecil identitas, Jumat (19/2).

Tau Diri MENURUT kamus besar bahasa Indonesia, tau diri berarti mengerti akan keadaan diri sendiri, kondisi dan kedudukannya. ‘Tau Diri’ tidak selamanya berkonotasi negatif, pada dasarnya manusia diciptakan untuk selalu mempertanyakan siapa dirinya, hingga pada tahapan apa manfaat dirinya bagi orang lain. Dari proses berfikir inilah yang kelak akan menimbulkan kesadaran akan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Edisi kali ini menjadi catatan kesadaran para kru. Sedikit bercerita, pertengahan Februari ini, Ramdha Mawaddha berkesempatan menginjakkan kaki di Pulau Lombok untuk menjemput Piagam The Best Of Sulawesi Non Magazine ISPRIMA 2016 oleh Serikat Perusahaan Pers yang

sekali lagi dipercayakan kepada identitas. Dua kru identitas Riyami dan Khusnul Fadillah akan diutus untuk mengikuti pelatihan Jurnalistik Keberagaman Sejuk di Pulau Bali. Selain itu, kesadaran akan perlunya peningkatan kualitas, membuat identitas sering mengadakan kelas bagi kru. Karena ‘tau diri’ lah kami kembali hadir menyapa pembaca. Kali ini kami menyuguhkan pemberitaan kenaikan tarif aset yang kian melejit dan berimbas pada pemungutan biaya listrik bagi mace kantin dan penghuni ramsis dan rusunawa dalam liputan khusus. Selain itu kami pun menghadirkan wawancara khusus bersama Sudirman Nasir yang membahas mengenai plagiat dalam rubrik wansus. Selamat membaca! n

bukuidentitas@gmail. com

identitasunhas.com 089630868669 082343555654

sms inbox Saya ingin bertanya soal aturan Unhas yang mengatakan bahwa dosen yang mengikuti seminar nasional dan internas­ sional harus memiliki publikasi di jurnal internasional. Jika tidak maka semua biaya harus ditanggung sendiri sementara untuk menembus jurnal internasional tak mudah. 08134356xxxx

identitas diterbitkan Universitas Hasanuddin berdasarkan STT Departemen Penerangan RI No: 012/SK/Dirjen PPG/SIT/1975/tanggal 20 Januari . ISSN:0851-8136. Beredar di lingkungan sendiri (non komersial) nKetua Pengarah: Dwia Aries Tina Pulubuhu nAnggota Pengarah: Junaedi Muhidong, Muhammad Ali, Abdul Rasyid Jalil, Budu n Penasehat Ahli : Anwar Arifin, Hamid Awaluddin, M. Akib Halide, Ishak Ngeljaratan, Razak Thaha, S.M. Noor, Aidir Amin Daud, M. Darwis, Nasaruddin Azis, Husain Abdullah, Sukriansyah S. Latif nKetua Penyunting: M. Dahlan Abubakar nKetua Penerbitan:Fajar S.Juanda nPenyunting Pelaksana: Akhmad Dani nKoordinator Liputan: Novianto Dwiputra Addi, Nur Alfianita N. nLitbang: Ermi Ulia Utami, Siti Atirah, Risky Wulandari nStaf Penyun­ting: Ramdha Mawaddha, Asmaul Husna Yasin, Fransiska Sabu Wolor nReporter: Khusnul Fadilah, Riyami, Nur Rismawati nFotografer: Nursari Syamsir (Koordinator), Kun Arfandi Akbar nArtistik dan Tata Letak: Radiah Annisa (Koordinator)nIklan/Promosi: Devika Saputri nTim Supervisor: Amran Razak, Maqbul Halim, Ibrahim Halim, Ahmad Bahar, Nasrullah Nara, Jupriadi, Nasrul Alam Azis, Tomi Lebang, Ikbal Latief, Abdul Haerah, Amiruddin PR, Muchlis Amans Hadi, Muh Ishak Zaenal, Zaenal Dalle, Sayid Alwi Fauzy, Arif Fuddin Usman, Gunawan Mashar, Rasyid Al Farizi, Ahmad Khatib Syamsuddin, Munandar Kasim, Supa Atha’na, Irmawati Puan Mawar n Alamat Penerbitan: Kampus Unhas Tamalanrea, Gedung UPT Perpustakaan Lt 1 Jl Perintis Kemerdekaan KM 10, Telp (0411) 589899, Fax 510088-Telex 71179, Makassar 90245. Website: www.identitasonline.net, E-mail: bukuidentitas@gmail.com nTarif Iklan: (Hitam/Putih) Rp 500 mm/kolom (Mahasiswa), Rp 1000,- mm/kolom (Umum), (Warna) Rp 1000,- mm/kolom (Mahasiswa), Rp 2000,- mm/kolom (Umum).

Redaksi identitas menerima tulisan berupa opini, esai, cerpen, puisi, ringkasan skripsi,/tesis/disertasi/penelitian & karikatur. Pihak redaksi identitas berhak mengedit naskah sepanjang tak mengubah nilai/makna tulisan. Tulisan yang termuat mendapat imbalan secukupnya (sebulan setelah terbit bisa diambil).

Sampul Edisi Akhir Februari 2016 Foto: Sriwidiah Rosalina Bst Layouter: Irmayana


surat dari pembaca

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Mahasiswa Bidikmisi Ingin Mendaftar Beasiswa Non Pemerintah

wall facebook

ASSALAMU ALAIKUM. Terima kasih telah memuat pertanyaan saya. Begini saya ingin bertanya apakah mahasiswa bidikmisi bisa mendaftar beasiswa lain tetapi bukan beasiswa dari pemerin­ tah seperti beasiswa Djarum dan Tanoto Foundation? Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Angkatan 2015 Tanggapan: WALAAIKUMSALAM. Mahasiswa yang telah mendapat beasiswa bidikmisi tidak diperbolehkan lagi untuk mendaftar beasiswa lain dan diharapkan penerima beasiswa tetap fokus pada beasiswa bidik­ misi saja. Esan lamban,S.Sos., M.Si Kepala Sub Bagian Kesejahteraan Mahasiswa

Identitas Akhir Februari mengangkat berita terkait aturan baru ramsis yang mewajibkan penghuni ramsis untuk membayar listrik sesuai dengan item yang digunakan per kamar. Bagaimana tanggapan Anda?

Jadwal Pengembalian Uang UKT Mahasiswa Bidikmisi

SALAM HANGAT bagi kru identitas. Terima kasih telah memuat pertanyaan saya. Setahu saya mahasiswa bidikmisi angkatan 2015 yang lulus bidikmisi jalur off line akan dikembalikan uang UKT yang telah dibayar sebelumnya, lalu kapan jad­ wal rencana pengembaliannya? Mahasasiswa Fakultas Ilmu Budaya Angkatan 2015 Tanggapan: TERIMA KASIH atas pertanyaannya. Pertama mahasiswa yang bersangku­ tan diharapkan untuk menyetor bukti slip pembayarannya ke bagian kemaha­ siswaan pusat untuk kemudian diproses pencairan dana uang UKT yang telah dibayar sebelumnya. Esan lamban,S.Sos., M.Si Kepala Sub Bagian Kesejahteraan Mahasiswa

Mengurus Surat Pernyataan Belum Me­nerima Bantuan Beasiswa

ASSALAMUALAIKUM. Terima kasih

IDENTITAS/NURSARI SYAMSIR

Foto bersama: foto bersama mahasiswa KKN dengan kepala UPT KKN Unhas dan Walikota Makassar selepas penyambutan peserta KKN. KKN gelombang selanjutnya yaitu berlokasi di Kota Makassar dan Kabupaten Bantaeng. Waktu pendaftaran belum dipastikan.

telah memuat pertanyaan saya. Saya ingin daftar beasiswa Tanoto Founda­ ­ tion tapi persyaratannya harus ada surat ke­terangan dari bagian kemaha­ siswaan atau lembaga kemahasiswaan mengenai calon peserta belum menda­ patkan beasiswa lain. bagaimana cara pengurusannya? Mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Angkatan 2015 Tanggapan: WALAIKUM SALAM. Caranya anda dapat membuat sendiri surat pernya­ taan tidak sedang menerima beasiswa dari pihak lain dengan menyertakan materai 6000 lalu disetujui oleh pihak kemahasiswaan atau lembaga kemaha­

siswaan. Esan lamban,S.Sos., M.Si Kepala Sub Bagian Kesejahteraan Mahasiswa

Lokasi KKN Gelombang Berikutnya

ASSALAMU ALAIKUM. Saya ingin ber­ tanya dimana lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk gelombang berikutnya? Mahasiswa Fakultas Sastra Angkatan 2011 Tanggapan: TERIMA KASIH atas pertanyaannya, rencana lokasi KKN gelombang ke 92 adalah di Kabupaten Bantaeng dan Kota Makassar. Akmal Staf Unit Pelaksana Teknis Kuliah Kerja Nyata

agenda Anniversary Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan 15 th “Merajut Kebersamaan dan Solidaritas Tinggi Menuju HIMIKA yang Lebih Kreatif, Inovatif, dan Mandiri ” Perlombaan dalam bidang seni, olahraga dan jalan santai Waktu : 21 Februari – 26 Februari 2016 Tempat : Lantai IV Psikologi FK UH CP : 089677775657-085255082543 (Sekretariat) Unhas Intellectual Forum Lembaga Kajian Ukhwah Mahasiswa Islam Unhas (LK-USWAH) mengadakan forum diskusi dengan tema “Mencari Solusi Ketahanan Energi” Waktu : Minggu 13 Maret 2016-02-16 Tempat : Baruga A.P. Pettarani CP : 082348278581 (Ikhwan) 082345256177 (Akhwat)

3

ritas Hukum” yang dilaksanakan oleh Hasanuddin Law Study Center Waktu : 20-21 Februari 2016 Tempat : Balai Diklat Agama Jl. Sultan Alauddin CP : 081340013881 (Rais) KSR PMI membuka pendaftaran anggota baru KSR PMI membuka pendaftaran anggota baru mulai 15 februari – 10 Maret 2016 Tempat : UKM KSR PMI atau mengunjungi websitenya di www.ksrpmi.unhas.ac.id CP : 085145841070 Nippon Day Oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang Waktu : 20-21 Februari 2016 Tempat : Gedung Mulo CP : 0411-871030 (Masaki Tani)

International Course dengan tema “Enterpreneurship Development” yang diadakan oleh program Studi Psikologi FK UH Waktu : 22-23 Februari 2016 Tempat : Aula Pasca Sarjana CP : 085242543828 (wahid) 082187513700 (Ninoy)

Society Of Potreleum Enginers Student Chapter Hasanuddin University oleh Student chapter Waktu : Sabtu 20 februari 2016 Tempat : Gedung Sains Building Lt.3 (Ruang Senat) Fakultas MIPA Unhas CP : 081222465678

Latihan Kepemimpinan dengan tema “Supremasi Paradigma Hukum Mahasiswa Demi Terwujudnya Generasi Muda Yang Memiliki Integ-

Penerimaan Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Hukum Pendaftaran mulai 9-24 Februari 2016

Tempat : Sekretariat LPMH CP : 0895531467(Aldi) 082394579050 (Tomo) Penerimaan Anggota Baru UKM Renang Pendaftaran mulai 17 Februari- 4 Maret 2016 Tempat : Sekret PKMR Lt.2 Gedung PKM 1 CP : 085256167095 (Nur Amri) Penerimaan Anggota Baru UKM SHORINJI KEMPO Pendaftaran mulai 2 Februari- 4 Maret Tempat : Sekretariat UKM Shoriunji Kempo Gedung PKM 1 Lt.1 CP : 081244412856 (Nunu) 085399319021 (Rahim) Penerimaan Anggota Baru UKM Bulu Tangkis Unhas Pendaftaran mulai 17 Februari-11 Maret 2016-02-18 persyaratan Mahasiswa Unhas S1 Aktif, Technical meeting mulai 11 Maret 2016 di Aula Forum Bersama Tempat : Di Gedung PKM 1 Lt.2 CP : 082187244339 (UKMB) 085145355631 (Salehuddin) 085398348444 (Erva Novita Sari) Open Recruitment dan Pameran Pojok XXIV yang diadakan Oleh UKM Fotografi Pendaftaran sekalian pameran 22-26 Februari 2016 Tempat : Pelataran Baruga A.P Pettarani Unhas CP : 082347284665 (Nilam)

Muh Ilham Enrekang Massenrempulu Istilah bayar listrik merupakan kewajiban dan tanggung jawab bagi setiap warga yang dibuat oleh pemerintah. Namun, sebuah aturan yg dibuat terkadang dilaksanakan terkadang juga dilanggar. Kalau menurut sepengetahuan saya sebagai alumni Unhas, asrama Ramsis Unhas itu adalah asrama khusus untuk mahasiswa penerima Beasiswa Bidik Misi. Kebijakan yang disusun oleh birokrat kampus Unhas, semua telah tertuang dalam prosedur penerima beasiswa yang ditujukan kepada mahasiswa yang kurang mampu plus berprestasi akademik. Entah itu biaya SPP (uang kuliah semester), uang saku, biaya hidup, akomodasi, fasilitas asrama, dan terutama menyangkut listrik dan air. Saya mendeskripsikan, mahasiswa penghuni Ramsis ini setiap tahunnya dipersulit oleh pihak akademik, kemahasiswaan, bahkan birokrat. Katanya beasiswa ini semua sudah ditanggung, tapi toh apa yang terjadi? Penghuni Ramsis malah diwajibkan untuk bayar listrik lagi. Apakah ini sepenuhnya salah penghuni asrama Ramsis? Tidak sama sekali. Namun kebalikannya, pemerintah dan birokrat justru mengabaikan kebijakan dan seolah-olah ada efek keganjilan dan permainan didalamnya. Untuk itu, selalulah menilai sesuatu yang objektif dalam melihat kondisi dilapangan. Bukannya mempermudah malah menjerumuskan. Khaerul Akmal Ashar Yang dulunya gratis akan mulai berbayar, dulunya berbayar akan dinaikkan harganya. Guna memanfaatkan segala sumber daya untuk membiayai unhas yang Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). Fadly Al Fhadl Menjadi sangat wajar ketika unhas pada akhirnya dalam setiap aturan dan kebijakannya didominasi hal-hal yg bersifat profit. Unhas sudah menetapkan dirinya sebagai universitas berbasis Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). kita mungkin akan menolak tapi sekiranya kita menolak tolaklah kebijakan yang menjadi akar permasalahannya. Unhas Clothingg Saya tidak sepakat karena sebagai penghuni ramsis sangat terbebani. Tanpa bayar listrik penghuni sudah banyak yang lari dan lebih memilih ngekos apa lagi ditambah beban penbayaran listrik Arie Setya Setidaknya ada pemberitahuan. Biarlah calon penghuni yang memilih. Kalau terasa membebani, lebih baik cari kos. Soalnya yang lebih murah banyak asal mau mencari. Andi Z Mabbiritta boleh saja ,,, asalkan fasilitasnya juga ditingkatkan ,,, dari keamanan dan air bersih ,,, tapi kalo masih begitu-begitu ji ,,, aihh ,,, sama ji itu pondokan workshop ...


4

identitas

opini Teknik dalam Bingkai Budaya

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Oleh: Muh. Fujianto Manati BUDAYA sebagaimana yang diyakini sebagai kebiasaan yang terus menerus dilakukan tentunya lahir atas kondisi yang mendukung serta berkenaan dengan tempat ia dipraktekkan. Seiring dengan bergulirnya waktu maka budaya kemudian melahirkan nilai-nilai yang secara entitas terlihat dari pola penggunaanya, dimana keberadaannya dirasakan dan terus tersampaikan dari generasi ke genarasi de­ ngan modal yang meliputi benda-benda material yang mempunyai nilai simbolis, prestise, status, otoritas, juga selera dan pola konsumsi serta komunikasi. Teknik dalam tatanan kehidupan sosial sebagai kelompok masyarakat berbudaya terus menjaga warisan nilai yang secara turun temurun terus dilestarikan dengan cara-cara praktis. Metodologi yang diterapkan mulai dari pelaksanaan pengka­ deran sebagai pintu awal pemberian pemahaman tak lepas dari kontrol nilai dengan harapan keberlanjutan pola hidup Anak Teknik tak hilang digerus oleh kea­ daan. Dalam posisi ini, komunikasi berperan sebagai tindakan produksi makna

dan bagaimana sistem-sistem makna dinegosiasikan oleh pemakainya dalam kebudayaan. Di sisi lain kebudayaan dipahami teknik sebagai totalitas tindakan komunikasi dan sistem-sistem makna, sehingga setiap anggota ditujukan untuk mengambil peran dalam mata rantai proses yang sedang berlangsung dan berusaha dibangun. Dimana posisi seseorang dalam kebudayaan akan ditentukan oleh “ kesadaran budaya“ yakni pengetahuan akan sistem makna dan kemampuannya untuk menyampaikan sistem itu dalam berbagai medan. Demi persatuan dan kesatuan, teknik mendesain tata nilai yang lebih dikenal dengan nilai-nilai keteknikan. Se­ nioritas, Solidaritas dan Loyalitas adalah tiga rangkaian nilai yang dibuat dalam rangka menjaga eksistensinya. Namun, yang se­ring menjadi masalah adalah ketika orang-orang yang tidak paham secara keseluruhan memberikan penilaian yang terkesan men-Judge negatif, padahal lahiran pola yang dibangun tak lain hanya untuk terciptanya keeratan suasana persaudaran yang harmonis tanpa sekat-sekat golongan materialisme. Dalam konteks ini medan budaya berfungsi sebagai pranata yang menyusun sebuah hirarki yang kemudian memproduksi dan memberi wewenang pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas.

Berangkat dari medan budaya yang berbeda antara kampus Fakultas Teknik Tamalanrea dan Gowa, dimana keberadaan nilai budaya keteknikan dalam suasana baru terus dibenturkan dengan gejolakgejolak baru dengan istilah modern yang identik dengan kemajuan. Dalam posisi ini eksistensi nilai yang selama ini terus dijaga dan dilestarikan terancam hilang. Jika budaya hanya dimaknai dalam bentuk materil dan simbolis maka lambat laun budaya akan tergerus dan akan kehilangan identitasnya terlebih lagi hanya akan dipandang sebagai cerita-cerita lama sebagaimana kondisi yang melahirkannya. Bergesernya paradigma kader dalam memahami substansi lembaga kemahasiswaan dan nilai-nilai budaya yang ada didalamnya jelas dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Secara internal intensitas pergaulan antara senior dan junior merupakan problem utamanya, padahal jika ingin diukur, pergaulan seharihari lah yang menjadi ruang transformasi nilai bukan pada seremonial kegiatan/ program kerja. Adapun faktor eksternal yang mempe­ ngaruhi kondisi kader, salah satunya ialah banyaknya komunitas-komunitas ke­ giatan yang lebih menarik minat mereka. Tak dapat dipungkiri tumbuh suburnya berbagai bidang komunitas telah berpe­

ngaruh banyak dalam intensitas keaktifan kader dalam berbagai aktivitas lembaga intra kampus. Dengan semakin seringnya kader beraktivitas di luar lembaga intra kampus maka interaksi internal pun akan semakin berkurang sehingga secara sosio psikologi kolektivitas interaksi antar kelompok dalam tubuh lembaga kemahasiswaan semakin renggang yang dari hari ke hari menjadi penyebab terkikisnya semangat nilai budaya keteknikan. Oleh karena itu perpindahan Fakultas Teknik dari Tamalanrea ke Gowa harus diikuti dengan pemahaman tata kelola sistem sosial dan kebudayaan mahasiswa teknik secara keseluruhan. Terkhusus untuk pengelolaan kegiatan pembinaan kemahasiswaan sendiri, setiap orang yang berperan dalam mekanisme organisasi juga perlu untuk melakukan refleksi dan introspeksi diri terkait metodologi yang diterapkan. Setiap elemen mesti berbenah agar keberlanjutan cita dan harapan akan persatuan dan kesatuan Anak Teknik tetap erat dalam genggaman serta hidup dan terus tumbuh mewarnai perjalanan Fakultas Teknik dalam mewujudkan ­vi­sinya. n Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Teknik Angkatan 2011 Ketua Senat Fakultas Teknik Periode 2015/2016

Persepsi Khayali Anak Jalanan Oleh: Toto Suparmanto ANAK merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Semakin baik keperibadian anak, maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa. Begitu pula sebaliknya. Di balik pentingnya peran anak, ter­ nyata terdapat beberapa fenomena-feno mena anak Indonesia saat ini. Feno­mena masalah anak jalanan merupakan isu global yang telah mencapai pada titik yang menghawatirkan. Jumlah anak jalanan terus bertambah setiap hari dan mempunyai prevalensi yang cukup tinggi di negara-negara yang miskin dan berkembang terutama di Benua Amerika, Asia dan Afrika. India mempunyai jumlah anak jalanan yang paling banyak di dunia dengan mencatatkan jumlah sekurangnya 11 juta orang (Railway Children, 2009). Berdasarkan statistik yang dikumpul, bahwa tercatat sekitar 230.000 orang anak jalanan di Indonesia (Kementerian Sosial, 2014). Faktor-faktor yang bisa menyebabkan anak-anak turun ke jalan diantaranya yaitu berasal dari keluarga yang diwarnai dengan ketidakharmonisan akibat orang tua yang tidak bisa menjalankan fungsi­ nya serta faktor rendahnya ekonomi rumah tangga. Hal ini kadang semakin diperparah oleh hadirnya kekerasan fisik atau emosional terhadap anak. Dalam

keadaan seperti ini, sangatlah mudah bagi anak untuk terjerumus ke jalan. Beranjak dari kondisi yang telah sangat mengkhawatirkan ini, maka perlu adanya suatu aksi nyata seluruh elemen bangsa untuk memutus rantai aktivitas penyimpangan anak berupa anak jalanan, sebab anak ibarat bibit yang masih perlu disi­ ram, dipupuk dan dirawat hingga akhir­ nya dapat berdaya untuk kemaslahatan bangsa di masa depan. Menyikapi ini, beberapa pemuda Indonesia telah turut andil dalam memberi perhatian dan kontribusi penuh kepada anak jalanan secara berkelanjutan (sustainable) untuk menekan tingkat pertumbuhan anak jalanan. Pemuda adalah salah satu elemen bangsa yang memiliki fungsi yang hakiki sebagai pembawa perubahan (agent of change). Salah satu di antaranya yaitu Komunitas Pecinta Anak Jalanan Makassar (KPAJ Makassar) Pemuda Makassar yang tergabung pada Komunitas Pecinta Anak Jalanan telah menunjukkan keprihatinan dalam bentuk aksi. Berbagi waktu, pikiran, dan material adalah hal yang biasa bagi pemuda yang menaruh simpati kepada anak jalanan. Diusia yang telah beranjak pada tahun ke 6 ini, setidaknya telah mengubah sedikitnya 57 anak jalanan menjadi adik binaan komunitas. Adik-adik yang ingin memperoleh pembinaan, yang meliputi Program Sekolah Ahad, Kelas Khusus, Edu-Trip, Monitoring Aktivitas Sekolah, pemberian beasiswa formal serta beberapa program lainnya yang tentunya terlaksana secara santai untuk belajar dan bermain. Khusus untuk pemberian beasiswa formal, adik-adik

binaan mesti berkomitmen untuk secara penuh meninggalkan kehidupan jalanannya. Monitoring dilakukan secara rutin ke sekolah-sekolah mereka, minimal sekali dalam sebulan. Ini bukanlah hal yang mudah. Tidak jarang diantara mereka yan telah berkali-kali orang tua maupun wali mesti hadir kesekolah untuk bertemu de­ ngan pihak konseling sekolah disebabkan pelanggaran yang diperbuat oleh si buah hati. Mendekati para anak jalanan untuk diajak belajar bukanlah hal yang mudah. Mesti dengan kehati-hatian, tanpa membuat mereka tersinggung, siap untuk mendengar segala keluh kesah serta memberi solusi untuk mereka, serta ja­ ngan sekali-kali menerapkan asas paksaan pada anak jalanan. Terkadang kehadiran orang-orang baru dari komunitas lainnya untuk berkolaborasi menjadi saat yang dinantikan. Para volunteer pengajar yang tergabung pada KPAJ Makassar berasal dari berbagai universitas yang berbeda-beda serta profesi yang berbeda pula. Keberanekaragaman tenaga pengajar dapat memberi ba­ nyak warna berdasarkan karakter mereka masing-masing. Ikhlas dan kesabaran merupakan tameng yang kokoh untuk membuat komunitas ini tetap eksis dan terus bermanfaat. Kondisi komunitas yang selalu kondusif menjadi tempat yang ­nyaman bagi anak jalanan untuk belajar. Berbagai perubahan yang terjadi selama menjadi anak binaan komunitas merupakan saksi nyata atas peran pemuda yang memiliki manfaat yang besar. Pemuda bukanlah orang yang taunya hanya

menuntut perubahan, namun semestinya menjadi elementer perubahan bangsa Indonesia. Anak-anak yang turun ke jalan, pada persepsi awal masyarakat biasanya merupakan anak-anak yang berasal dari keluarga yang berekonomi rendah serta umumnya memperoleh justifikasi sebagai anak dengan masa depan yang suram dan penuh dengan aktivitas kriminal. Anak jalanan juga memiliki fitrahnya masingmasing, bukan berandalan, pemilik kebodohan serta hampa atas hak-hak lahir dan batin mereka. Mereka memiliki atas hak kesehatan, pendidikan yang berkualitas. martabat dan kesempatan untuk memenuhi potensi mereka. Mereka butuh stimulasi dari saudara-saudara setanah airnya untuk mampu menyemangati, mampu mendukung maupun peduli untuk menjadi seorang insan yang lebih baik. Pada akhirnya orangorang yang peduli untuk anak jalanan merasa bahwa mereka adalah satu dari jutaan anak Indonesia yang dapat merubah negeri menjadi lebih baik Setiap anak, di manapun ia tinggal, memiliki hak yang sama atas awal kehidupan yang sehat dan aman (Anthony Lake, UNICEF Executive Director, 2015). Semoga dengan adanya komunitas atau perkumpulan lainnya yang bergerak atas dasar peduli terhadap anak jalanan, mampu membuat mereka berubah untuk mewujudkan cita-cita mulia demi bangsa Indonesia. n Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknik Geologi Angkatan 2010 Pengurus Komunitas Pecinta Anak Jalanan (KPAJ) Makassar


wansus

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Kepuasannya Berbeda Dibanding Plagiat

Apa yang membuat seseorang mau melakukan plagiat ? Mengenai plagiarisme, mungkin ada aturan yang membuat kita rentan sekali, salah satunya skripsi. Sebenarnya skripsi kita itu terlalu tebal. Akhir­nya karena ketebalan dan kemudian karena dipaksa dengan struktur yang konvensional se­ perti sekarang, mahasiswa tidak punya pilihan selain copy paste. Apa­lagi copy paste sekarang makin mudah. Ironisnya dosen tidak punya waktu untuk mengecek. Di luar indonesia, skripsi itu malah jauh menjadi semakin ringkas, yang orang pentingkan adalah origina­ lity dan karena makin ringkas makin gampang dikontrol, bagaimana dia mengkombinasikan pikiran dia dengan pikiran orang. Dari pengalaman studi Anda di luar negeri, bagaimana sistem aka­ demiknya disana untuk mencegah terjadinya plagiarisme ? Pertama rasio dosen dan mahasiswa disana tidak sebanyak di Indonesia, satu kelas maksimal 15 orang. Jadi do­ sen punya banyak waktu menerima dan memeriksa tugas mahasiswa. Selain itu jika diberikan tugas buat esai dibatasi masimal hanya 5000 kata. Jadi untuk memperhatikan secara detail

Di Unhas sendiri, bagaimana sis­ tem akademiknya, khususnya me­ ngenai tugas akhir ? Salah satu masalahnya kita yaitu de­ ngan format skripsi sekarang yang sulit. Mahasiswa dibiasakan untuk membuat skripsi yang tebal. Seandainya kita membuat format tugas akhir yang tidak harus skripsi. Kalaupun skripsi seharusnya tipis saja dan formatnya menjadi lebih ringkas. Selain itu perlu ada pengaturan yang lebih baik untuk satu dosen, yaitu satu dosen sebaiknya tidak membim­bing terlalu banyak mahasiswa, agar bisa memiliki waktu yang banyak untuk memeriksa skripsi mahasiswa. Tips-tips yang bisa dilakukan se­ dari awal agar dapat menghindari plagiarisme karena kadang penulis tidak mengetahui dirinya plagiat? Di era internet kita selalu tergoda copy paste, jadi sebaiknya membiasakan dirilah untuk tidak melakukan copy paste. Ketika ingin mengambil tulisan di internet sebaiknya jangan langsung copas tapi bacalah terlebih dahulu kemudian tulis sendiri hasil bacaan tersebut, belajarlah untuk memparafrase atau mengungkapkan kembali. Biasanya kita melakukan pengawasan sendiri pada diri sendiri karena ada kesadaran bahwa menyebarkan tulisan adalah tidak baik. Dan mengambil karya orang lain akan mempermalukan diri.

Wajah Baru LMS, Pemanfaatan Masih Minim LEARNING Management System (LMS) atau pembelajaran jarak jauh yang hadir sejak 2005 kini telah diperbaharui dari versi delapan ke versi sepuluh sejak januari 2016 lalu. Pembaharuan ini memisahkan fitur perkuliahan online dan fitur demo pelatihan. Sebelumnya pada versi 8 terjadi penggabungan antara kedua fitur, akibatnya sulit diketahui dosen yang benar-benar aktif kuliah di LMS. LMS berfungsi untuk pembelajaran jarak jauh, namun ironisnya dari data yang dipaparkan, hingga saat ini dosen yang aktif menggunakan LMS berjumlah 31 dari 1695 Dosen Unhas. Sebagai contoh dosen yang menggunakan LMS yakni Andi Subhan Amir MSi dosen Ilmu Komunikasi. Semester genap ini Subhan menggunakan LMS pada enam mata kuliah, di antaranya mata kuliah Promosi dan Periklanan. Selain itu dengan fitur statistics, Subhan juga mengaku lebih dipermudah untuk memantau aktifitas diskusi mahasiswa yang dilakukan lewat LMS. “Secara pribadi, saya menggunakan LMS agar dapat memonitor aktivitas mahasiswa secara real time,” jelas Subhan via surat elektronik, Jumat (12/2). Berbeda dengan Dosen Sastra Daerah, M Dalian Rahir yang sulit menggunakan LMS dalam proses perkuliahan. Dosen Sintaksis Bahasa Bugis ini terkendala koneksi jaringan internet, sehingga untuk mengakses LMS sulit dilakukan. “Kadang-kadang bagus, tetapi biasa juga lambat atau sama sekali tidak ada koneksi. Daripada menunggu lama, tentu dosen memilih cara pembelajaran yang sesuai keadaan saja,” jelasnya saat ditemui di ruangannya, Kamis (18/2). Padahal pemanfaatan LMS ini mampu mempertahankan predikat Unhas sebagai sepuluh besar LMS terbaik di Indonesia. Dosen yang menggunakan Elektronik Learning ini menyumbangkan 15 persen untuk meningkatkan pe­ ringkat di Webometric “Kita harus meningkatkan diri supaya kita tidak ketinggalan sepuluh besar terbaik LMS di Indonesia,” tegas Ketua LMS Unhas, Yusring Sanusi B saat ditemui di rumahnya, Jumat (5/2). n

nia akademik dalam menulis guna mencegah pemuatan yang mengand­ ung plagiat ? Kalau jurnal akademik berwibawa dan profesional, mulai dari aspek bahasa sampai isi sangat diperhatikan dan proses reviewnya sangat ketat, jadi peluang plagiarisme sangat kecil. Ada alatnya dan yang bekerja disitu adalah orang-orang profesional, telah se­ ring melakukan publikasi dan tulisannya sudah sering dikutip dalam jurnal orang lain. Tapi kalau media-media yang belum atau tidak dikelola secara profesio­ nal, juga masih banyak media lokal yang tidak profesional disitulah sering terjadi, karena biasanya bukan karena maksud jahat tapi karena tidak ada sistem yang mengeceknya dan yang be­ kerja disitu belumlah ahli di bidang itu. Apa yang harus dilakukan univer­ sitas khususnya Unhas, untuk meng­ hindari terjadinya plagiarisme ? Dengan konsep sekarang skrip­si yang terlalu panjang dan dosen yang terlalu banyak membimbing mahasiswa maka se­ pertinya jika itu tidak diubah plagiarisme akan susah di­berantas. Mahasiswa sangat ingin menyelesaikan skrip­ si sec a r a cepat namun dipaksa untuk membuat yang tebal sedang­ kan do­sen tidak punya ba­nyak waktu untuk mem e r i k s a skrip­si yang dibuat mahasiswa. n

Saran kepada mahsiswa untuk menghindari plagiat ? Buat skripsi itu sebagai latihan, bukan sekedar memenuhi kewajiban admi­ nistrasi untuk lulus. Karena itu proses terakhir yang mahasiswa kerjakan, ke­ puasannya tentu berbeda jika di­ kerjakan sendiri diban­ding plagiat. Bagaimana peran media pembelaja­ ran seperti jurnal yang kini menjadi rujukan utama du­

Data Diri Biodata Sudirman Nasir Dosen FKM Unhas Anggota Komite Studi SAINS45 Akademi Indonesia (AIPI) Peneliti di ReachOut Consortium, Eijkman Institute, Pendidikan : S1 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin S2 dan S3, Melbourne School of the University of Melbourne, Australia.

Ilmu

Pengetahuan

Population

Health,

IDENTITAS/SRIWIDIAH ROSALINA BST

Apa sajakah jenis plagiarisme itu? Jenisnya ada dua, yaitu memplagiat karya orang lain dan memplagiat diri sendiri yang biasa disebut autoplagiarisme. Auto plagiarisme ini biasanya terjadi di media massa, misalnya ada seseorang yang mengirim tulisan yang sama ke dua atau lebih media yang berbeda. Terkadang kan ada penulis yang ketka tulisan yang dikirim tidak dimuat-muat, ia kirim lagi ke media lain. Ada juga memang koran yang tidak profesional tidak memeberitahukan kepada penulis apakah tulisannya akan dimuat atau tidak. Antara keduanya tentunya pencurian terhadap karya orang lain lebih berat.

tugas-tugas tersebut lebih mudah, bahkan untuk mendeteksi plagiat yang dilakukan meskipun perkalimat.

kronik

IDENTITAS/SRIWIDIAH ROSALINA BST

Plagiarisme adalah istilah yang sudah tak asing lagi. Salah satu yang paling rentan melakukan plagiat adalah mahasiswa. Tugas akhir berupa skripsi yang dituntut untuk panjang, namun dipaksa untuk membuat skripsi yang tebal sedangkan dosen tidak punya banyak waktu untuk memeriksa skripsi yang dibuat mahasiswanya. Hal inilah yang kadang membuat mahasiswa mengambil jalan pintas dengan melakukan plagiat. Berikut petikan wawancara reporter identitas Khusnul Fadilah bersama Sudirman HN, anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas usai acara Bincang-Bincang Plagiarisme dan Pencuri Bahasa yang dilaksanakan Komunitas Literasi Makassar bersama identitas di Lantai Dasar Gedung Ipteks Unhas, Kamis (16/02).

5

Kampanye: Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam (LKMI HMI) cabang Makassar Timur kampanyekan pencegahan terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD) di depan pintu satu Unhas, Minggu (14/2).

Bagi Pembaca identitas yang ingin memasukkan opini, cerpen puisi dan tulisan perjalanan, bisa dikirim melalui e-mail resmi identitas, bukuidentitas@gmail.com atau diantar langsung ke Sekretariat PK identitas LT 1 Perpustakaan Pusat Universitas Hasanuddin


potret

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Harapan di Tahun Monyet Api Naskah dan Foto : Nursari Syamsir

SERBA-SERBI KLENTENG

DUPA SUCI

PARA DEWA

PERTUNJUKAN BARONGSAI

DERETAN LILIN

MENGGANTUNGKAN HARAPAN

6

SETELAH “Kambing Kayu” tahun 2566 atau 2015 Masehi, maka pada tahun 2567 atau 2016 Masehi kali ini diwarnai dengan yang namanya “Monyet Api”. Ratusan warga keturunan Tionghoa yang dominan berpakai­ an Cheongsam khas Imlek berwar­ na merah mengikuti sembah­ yang untuk menyambut tahun baru di Kelenteng Xian Ma, Makassar, Senin (8/2). Selain melaksanakan sembahyang dan memanjatkan doa di­ hadapan patung dewa dewi yang telah dimandikan, warga Tionghoa juga membakar dupa berwarna merah. Pernak-pernik imlek pun turun menghiasi klenteng. Lilin berbagai ukuran, bingkisan untuk para dewa, serta pita harapan ter­ lihat elok menggantung di persem­ bahyangan. Banyak prediksi dan peruntu­ ngan yang diatur berdasar shio dan elemen, khususnya monyet api, tidak semua orang percaya. Terutama bagi yang berpola pikir mo­ dern. Namun, beberapa keper­ cayaan menjelaskan bahwa Tahun Monyet Api sarat dengan keberun­ tungan. Tahun Monyet Api melambang­ kan keberuntungan bagi mereka yang percaya. Monyet dianggap sebagai hewan yang lincah dalam bergerak kemana-kemana mem­ berikan keberuntungan kepada mereka mempercayai karena monyet dianggap sebagai hewan pekerja keras, lincah dan pandai. Mereka yang lahir pada tahun ini juga disebut-sebut akan memi­ liki sifat yang pekerja keras, lincah dan pandai dalam berusaha yang nantinya akan memberikan ke­ beruntungan bagi yang lahir di ta­ hun Monyet ini. n


civitas

identitas identitas

853| TAHUN XLII| EDISIAKHIR AKHIRFEBRUARI FEBRUARI2016 2016 NO.NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI

Menanti Keampuhan Si Seragam Biru

bundel mEdisi Akhir Februari 1983

Unhas Akan Jadi Wadah Orang Pintar

IDENTITAS/SRIWIDIAH ROSALINA BST

Pembekalan: Satuan Pengamanan menerima materi mengenai kiat-kiat mengurangi terjadinya pencurian motor di Unhas oleh Komisaris Polisi Kapolsek Tamalanrea Achmad WP di pelataran Gedung Rektorat, Sabtu (6/2).

Kejadian pencurian di Unhas kian marak terjadi. Penambahan satuan pengaman, akankah jadi solusi?

B

ak kejadian beruntun, awal tahun Unhas diwarnai dengan kejadian pencurian motor. Tak hanya satu, tercatat oleh tim identitas kurun waktu Januari-Februari sedikitnya kurang dari tujuh motor telah digondol oleh pencuri. Salah seorang korban yakni Nur Rifan Rahmat mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 2015 harus menerima kenyataan pahit bahwa motor Jupiter MX King dengan plat DD 2767XY telah digondol maling. Seketika itu Rifan pun langsung melapor ke Polres BTP untuk menindaklanjuti kejadian tersebut. ”Saya harap teman-teman sekalian bisa lebih waspada saat memarkir motor dan pihak keamanan Unhas pun diharapkan bisa lebih meningkatkan pengawasannya agar kejadian yang seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya, Jumat (15/1). Tak melulu pencurian motor, masih melekat kejadian kriminal yang menimpa Unhas pada Oktober tahun lalu yakni pencurian di beberapa gedung Unhas. Seperti Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M), Science Building Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Teaching Industri dan Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas). Alasan minimnya personil Satuan Pengamanan (Satpam) menjadi sebab rendahnya tingkat keamanan kampus. Namun kini, alasan tersebut tidak lagi ada karena barubaru ini Unhas membuka penerimaan satpam organik. Adapun tahap dalam penerimaan satpam ini yakni kelengkapan berkas, keterangan

bebas narkoba dan berbadan sehat, tahap wawancara serta tes fisik. Seba­ nyak 235 calon satpam ikut dalam tes wawancara dan hanya 100 orang yang berhasil lulus menjadi satpam organik. Penambahan satpam organik ini dilatarbelakangi karena satpam out­ sourching yang memiliki kelemahan. Seperti mereka lebih tunduk kepada perusahaan dan identitasnya tidak diketahui. Menurut Kepala Biro Umum, Nur Alim Tahir, SE MSi pe­ nerimaan satpam organik ini juga dapat efisiensi anggaran. “Kalau kita mencoba kalkulasi biaya yang kita keluarkan dengan menyewa satpam dari out­sourching ketimbang dengan kita merekrut sendiri itu lebih efisien dan identitas­ nya pun lebih diketahui, katanya, Jum’at (19/2). Penerimaan satpam organik ini tidak hanya diikuti oleh satpam baru, namun satpam outsourching yang te­ lah lama mengabdi di Unhas pun juga ikut dalam seleksi ini. Seperti Muksin (nama samaran), sejak 2004 dirinya sudah menjadi satpam di Unhas. Sa­ yangnya, Muksin gugur dalam tahap tes fisik. Padahal keinginanya menjadi satpam organik sangat besar agar nya­man dalam bekerja tanpa tekanan. “Kami yang gugur ini berprestasi karena pada saat kami bekerja banyak pencuri yang kami tangkap,” ungkapnya, Rabu (17/2). Muksin tidak sendiri, ada tujuh satpam outsourching yang juga tidak lulus dalam seleksi ini. Dirinya kecewa dengan hasil seleksi ini karena menurutnya ada ketidakadilan dalam proses seleksi. Seperti Muksin yang ikut tes

fisik dari pukul 07.00-!6.00 Wita tidak lulus, sedangkan ada yang ikut tes fisik hanya sejam dia lulus. “Kira-kira dimana keadilan?” katanya. Menanggapi hal tersebut, Kepala Satpam Unhas, Nurdin, SE hanya me­ ngatakan dalam seleksi pasti ada yang lulus dan ada yang tidak. Semua bergantung kepada tim penyeleksi yakni Polisi Daerah (Polda) dan Bidang Kepegawaian Unhas. “Tidak ada kapasitas saya untuk berbicara soal itu, tidak ada paham tentang itu,” ungkap­ nya, Rabu (17/2). Seratus satpam yang lulus akan di­ sebar di Kampus Gowa Unhas, Rumah Sakit dan Kampus baraya. Sebanyak 22 personil ditempatkan di Fakultas Teknik Gowa, 12 personil ditempatkan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unhas, enams personil ditempatkan di Fakultas Sastra serta tiga personil ditempatkan di Pusat Bahasa dan Mandarin. Selebihnya akan ditempatkan disetiap fakultas pada Kampus Tamalanrea. Penerimaan satpam ini guna meminimalisir kejahatan yang terjadi di Unhas. Salah satunya pencurian motor. Namun, Nurdin menekankan agar civitas akademika juga sadar agar memarkir kendaraan di tempat yang telah disediakan. Apakah kejadian kriminal Unhas dapat diminimalisir dari penambahan satpam? Setidaknya tidak ada lagi alasan kurangnya personil keamanan. Sehingga Unhas bisa aman dari tindak kriminalitas. n Amr/Ahy

7

CEPAT atau lambat Unhas hanya akan menjadi tempat untuk orang rajin dan pintar. Soalnya suatu saat mahasiswa yang diterima harus pintar dan memiliki indeks prestasi tinggi. Secara berangsur-angsur indeks prestasi terus naik dan nilai yang didapat mahasiswa pun sangat menentukan nasibnya kedepan. Mahasiswa S1 pada tiga semester berturut-turut harus mendapat IP 2,2 kumulatif dan untuk melanjutkan ke program S2 lulusan S1 harus punya IP paling rendah 2,7 tanpa nilai D. Menurut Rektor Unhas Prof Dr A Hasan Walinono, untuk meningkatkan mutu mahasiswa dibutuhkan pembenahan disiplin dosen. Dalam pengamatan identitas di Unhas hanya sekitar 20 % saja dosen yang bekerja di luar dan sisanya 80% masih melakukan tugas pokoknya dengan penuh dedikasi dan loyalitas tinggi. “Suatu saat nanti kita perlu kristalisasi. Do­ sen sudah harus memilih, di sini atau di sana, sebab di Unhas sudah tidak bisa lagi kita menjanjikan kesejahteraan yang lebih baik,” ucap rektor di Aula kepada sejumlah dosen. Sebenarnya indeks prestasi yang rendah di Unhas bukan karena mahasiswanya yang bodoh. Menurut M.Fajar alumni fakultas hukum menilai bahwa perguruan tinggi kita sudah punya sistem yang modern, tetapi cara evaluasi dan pemberian nilai masih tradisional di kala­ ngan dosen. n

mEdisi Akhir Februari 2003

Saingan Dengan Ramsis, Siapa Takut

PEMBUATAN apartemen elit di daerah Tamalanrea terletak di belakang Wisma Medica Fakultas Kedokteran. Posisisinya tepat berada di depan Rumah Sakit Umum Dr Wahidin Sudirohusodo, terdiri atas lima lantai dengan 96 kamar. Lantai dasar yang yang rencananya akan dijadikan unit usaha. Sedang untuk hunian berada di lantai satu hingga lima karena luas­ nya 42 meter persegi maka lantai satu diperuntukkan bagi mahasiswa yang telah berkeluarga. Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) yang baru dibangun satu unit itu ternyata menghabiskan cukup banyak dana, sekitar enam milyar rupiah. Bermodalkan tanah dari Unhas bangunan tersebut berstatus investasi Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perum Perumnas). Sesuai perjanjiannya, biaya pembangunan satu unit Rusunawa akan dicicil 260 juta per tahun selama 25 tahun ke depan. Setiap kamar dalam Rusunawa tersebut telah difasilitasi dengan tempat tidur beserta kasurnya, meja belajar beserta kursinya dan juga lemari pakaian. Bedanya setiap kamar di Rusunawa ini dilengkapi kamar mandi serta dapur kecil dengan wastafelnya. Selain itu, ditunjang dengan aliran listrik dan meteran air Perusahaan Air Minum (PAM) tersendiri di setiap kamar. Untuk penerimaan anggota, jika di Ramsis proses penerimaan penghuni melalui screening, sedang di Rusunawa calon penghuni hanya diminta untuk mengisi formulir berupa surat permohonan dan kependudukan, surat pernyataan menyewa, surat perjanjian sewa menyewa dan surat izin penghuni. n


8

8

identitas identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016 NO. 853| TAHUN XLII| EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

liputan khusus

Donatur Listrik Ramsis Aturan lama tata tertib Asrama Mahasiswa (Ramsis) dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) telah mengalami pembaharuan hingga melahirkan tarif baru, kini listrik menjadi tanggungan para penghuni.

M

inggu malam (14/2). Salah seorang penghuni Ramsis terkejut dengan kedatangan tiga orang yang tak dikenal, rupanya mereka adalah pegawai Ramsis yang sedang mendata barang elektronik yang ada di setiap kamar. Selain penda­ taan, mereka juga menginformasikan tata tertib baru bagi penghuni Ramsis. Biaya listrik kelak akan dibebankan kepada ma­ hasiswa, tergantung pada jumlah barang elektronik yang mereka gunakan. Sejak Unhas menyandang status Per­ guruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) otonomi sepenuhnya diserah­ kan kepada Unhas, termasuk untuk me­ ngelola keuangan. Oleh karena itu, pemanfaatan aset Unhas perlahan mulai dimaksimalkan terutama Asrama Mahasiswa (Ramsis) dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Ru­ sunawa). Tertanggal 9 November 2015 aturan terkait Tata Tertib Asrama Maha­ siswa dan Rusunawa kemudian disahkan oleh Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Dalam aturan baru ini mahasiswa diwa­ jibkan untuk membayar tarif listrik per­ bulannya yang disesuaikan dengan peng­ gunaan barang elektronik. Tidak se­ perti sebelumnya mahasiswa hanya membayar biaya sewa kamar sekali setahun. Kenaikan ini kiranya merupakan cara unhas untuk mengurangi biaya beban pembayaran listrik yang mencapai ratu­ san juta rupiah setiap bulannya, karena Ramsis lah yang paling banyak menggu­ nakan listrik, berdasarkan surat penyam­ paian perberlakuan tata tertib Unhas oleh Koordinator Ramsis dan Rusunawa, Drs Mursalim, MSi. Terkait tata tertib baru ini, tanggapan setiap mahasiswa berbeda. Ada yang setu­ ju, namun tak sedikit yang keberatan. Se­ perti Hijrana yang mengaku tak masalah dengan ini. “Saya setuju, kalau tidak diba­ yar listriknya terlalu membe­ ratkan uni­ versitas. Lagi pula ada beberapa kamar yang sampai berlebih alat elektroniknya,” kata mahasiswa Jurusan Ilmu Administra­ si angkatan 2015 ini. Jumat (12/2). Muthahharah Indra Jaya justru merasa keberatan dengan aturan baru ini. Meski tak terlalu mempermasalahkan kenaikan tarifnya, ia mengeluhkan pembayaran per itemnya yang sudah ditetapkan harganya. “Kenapa harus dipatok seperti itu? Set­ rika kan jarang dipakai. Dispenser juga begitu tapi dipatokmi harganya,” kata ma­ hasiswa Jurusan Sastra Inggris ini. Jumat (12/2). Ia pun sudah mempertimbangkan un­ tuk pindah karena merasa aturan terse­

but tidak sebanding dengan fasilitas Ram­ sis yang tidak layak. Terutama air yang terkadang tidak mengalir. “Kita tidak tau kapan air mengalir. Kadang kita butuh ka­ lau pagi mau berangkat kuliah tapi tidak mengalir, nanti malam baru mengalir lagi,” keluh Mutha. Koordinator Ramsis dan Rusunawa, Drs Mursalim, MSi menyatakan aturan ini merupakan aturan lama yang diperba­ harui dan baru dimaksimalkan penera­ pannya tahun ini. “Dari dulu sudah ada aturannya Ramsis, sejak 2009,” ungkap Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi ini, Ju­ mat (12/2). Terkait alasan mengapa baru sekarang diterapkan, ia mengatakan hal tersebut dikarenakan pengurus sebe­ lumnya tidak memberlakukan aturan tersebut. Kalaupun ada mahasiswa yang tidak setuju dengan aturan baru ini, ia tak masalah mengembalikan uang dan yang bersangkutan bisa keluar. “Kalau ada yang keberatan datang melapor kesini, saya kasi kembali uangmu, silahkan kelu­ ar dari sini.” Tutur Mursalim saat ditemui Jumat (12/2).

Tarif Baru, Fasilitas Lusuh

Fasilitas Ramsis yang kurang memadai

memang diakui oleh Koordinator Ram­ sis dan Rusunawa, Drs Mursalim, MSi. Ia juga menyayangkan hal tersebut. Air yang terkadang tidak mengalir disebab­ kan oleh kerusakan pompa air. Tak hanya itu sumber air Ramsis hanya dari Work­ shop (tempat penjernihan) jadi ketika Sabtu dan Minggu tidak mengalir karena pegawai tidak masuk kantor. Untuk itu ia berharap Ramsis memiliki penampungan air sendiri. “Seharusnya kan ada ledeng masuk disini. Sabtu dan Minggu itu orang tidak masuk kerja, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kalau kita sendiri yang kelola air,” ucapnya. Ia juga mempermasalahkan keamanan Ramsis seperti jumlah anggota Satuan Pengaman yang kurang, serta pagar yang tak layak. Ia mengatakan telah menyurat ke rektorat untuk penambahan pegawai termasuk satpam dan teknisi listrik, be­ gitupun dengan permintaan perbaikan fasilitas seperti aula ramsis, penambahan bak penampungan air, besi pengaman jendela, lampu taman, pagar tembok se­ tinggi dua meter, kursi belajar, perbaikan lantai kamar yang rusak, kasur, pipa dan keran wastafel. “Keamanan disini kerjanya duabelas

jam sehari, dimanapun itu waktu kerja cuma delapan jam. Satpam sudah kurang, pagar apalagi. Digunting saja kan masuk pencuri” kata dosen Jurusan ilmu Komu­ nikasi ini. Terkait masalah pegawai, di Ramsis hanya ada sebelas dan dirasa tak akan mampu melayani banyaknya penghuni. “Pegawai tinggal sebelas orang, bayang­ kan seribu orang hanya dilayani satu teknisi,” tambahnya. Ia pun mengatakan sudah minta beru­ langkali bahkan sejak Juni 2015 tapi tidak pernah direspon. Padahal menurutnya apabila semua fasilitas tersebut dipenuhi, kamar yang kosong bisa terisi. Pendapa­ tan Ramsis pun bisa mencapai dua miliar lebih. n

Tim Lipsus: Koord. Lipsus: Devika Saputri

Anggota:

Irmayana Wadi Opsima


liputan khusus

identitas identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

NO. 853| TAHUN XLII| EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Susah Payah Bayar Upah

Kini Unhas menyandang status PTN-BH, perlahan tarif sewa mulai dinaikkan aset Unhas, termasuk kantin. Mace kini dibebankan pembayaran dengan sistem hitungan perbarang.

J

umat siang (5/2) terlihat kerumunan pedagang kantin Unhas di lantai lima Gedung Rektorat tepatnya di kantor Unit Pelaksana Teknis Aset. Beberapa orang nampak sedang menunggu giliran masuk kedalam kantor dengan wajah harap-harap cemas. ”Masa libur pun tetap dibayar,” ungkap salah seorang dari kerumunan itu. Hari itu, beberapa pedagang kantin Unhas Kudapan BNI dan kantin Fakultas Ilmu Sosial danm Politik (FISIP) mendapat surat undangan penandatanganan perpanjangan izin kantin yang harus dihadiri, dengan persyaratan membawa materai 6000 satu lembar. Pertemuan ini wajib bagi setiap penyewa kantin. Mereka hanya diberikan dua pilihan, menghadiri pertemuan tersebut, atau mengundurkan diri dari daftar penyewa. Nyatanya ada aturan baru yang diberlakukan. Aturan yang diberlakukan adalah penyewaan lahan kantin berdasarkan jumlah barang yang digunakan, seperti rice cooker Rp. 50.000 rupiah, blender 25.000 dan kulkas 50.000 rupiah. “Pembayarannya mulai Januari tahun ini, walau libur pun tetap harus dibayar,” ungkapnya Melati (samaran) salah satu mace, Kamis (11/2) Wanita yang telah menjual selama 20 tahun ini, biasanya menjual makanan berat seperti nasi ayam goreng dan berbagai jenis jus dengan peng-

hasilan yang tak tentu. Biasanya ia melakukan pembayaran per tahun dengan harga yang berbeda untuk tiap jenis jualan. Dengan tarif Rp3.900.000 untuk penjual makanan berat dan RP.2.700.000 rupiah untuk penjual minuman yang dibayarkan setiap tahunnya Tak ada pilihan lain bagi Melati selain membayar. Selain kenaikan harga sewa, setiap penjual pun diminta untuk membuat Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Tak jauh berbeda dengan Melati, salah satu penjual makanan di kudapan BNI yang tidak ingin disebut namanya juga mengalami hal yang sama, dia pun diminta untuk menandatangi persetujuan kenaikan harga sewa. Pria ini, mengeluhkan naiknya harga sewa tempat ia berjualan. “Biasanya saya membayar Rp. 200.000 rupiah per bulan, tapi sejak Januari 2016 naik menjadi Rp.300.000 per bulan diluar uang kebersihan,” keluhnya saat ditemui, Kamis (18/2). Sudah sejak sepuluh tahun lalu pria ini berjualan. Pembayaran yang ditentukan adalah per bulan, namun diakumulasikan per tahun. “Untuk satu tahun, dibayar Rp. 3.600.000 per tahun, dengan perhitungan 12 bulan,” tambahnya. Dia juga mengungkapkan dengan kenaikkan harga, tak sesuai dengan jumlah hari dimana ia menjual. De­ ngan harga Rp. 3.600.000 rupiah per

tahun maka perhitungan yang dilakukan adalah pembayaran Rp. 10.000 rupiah per hari, namun akumulasi hari kerja menjual selama 180 hari. Hal inilah yang membuat ketidaknyamanan, karena pembayaran tak sesuai dengan lama waktu berjualan. Kenaikkan harga yang mulai diberlakukan, menjadi satu-satunya pilihan baginya, karena berjualan jus adalah satu-satunya pekerjaan yang digelutinya. “Konsekuensinya jika tidak membayar, terpaksa keluar,” ujarnya Kamis (18/2). Selain Jasper dan Kudapan, pe­ dang di kantin sospol pun mengalami hal yang sama. Pia (samaran) mengaku sejak pemberlakuan harga sewa yang baru tahun 2016, akumulasi harga sewa yang dibayar adalah Rp. 450.000 rupiah, de­ ngan uang kebersihan sebesar Rp. 100.000 rupiah. Akumulasi ini terdiri dari rice cooker Rp.50.000 rupiah, blender Rp 25.000, dan kulkas Rp.50.000 rupiah. Kenaikkan harga sewa ini, disesuaikan dengan kea­ daan. Pia pun mengungkap­ kan tak ada pilihan lain selain tetap bertahan berjualan. Konse­ kuensi yang dihadapkan adalah menaikkan harga jualan.“Mau tidak mau harus membayar, jadi kita harus naikkan harga,” ungkap­nya, Sabtu (6/2). Dikonfirmasi mengenai hal ini Kepala UPT Aset Muh Akbar MSi tidak ingin berkomentar “Saya tidak mau berbicara seputar aset,” tegasnya.n

9

9

akademika

Salin Berkas Agar Hemat Waktu

DI era modern saat ini penggunaan mesin fotokopi sudah menjadi budaya dikalangan masyarakat majemuk, utamanya para pelajar seperti mahasiswa. Hal ini disebabkan karena prosesnya yang hampir tak memakan waktu. Dengan adanya mesin fotokopi mahasiswa dapat dengan mudah, murah, dan cepat untuk menggandakan materi-materi perkuliahan berupa modul dan buku yang menjadi referensi mata kuliah. Mesin fotokopi ditemukan pada 22 oktober 1938 oleh Chester Flood Carlson yang lahir pada 8 Februari 1906 di Seattle Wa­ shington Amerika Serikat. Carlson merupakan alumni lulusan California Institute of Technology. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Carlson kemudian bekerja sebagai penyalin dokumen paten di sebuah perusahaan paten. Karena latar belakang pekerjaannya tersebut Carlson berfikir untuk mempercepat pekerjaanya dengan membuat sebuah alat yang bisa mencetak sebuah dokumen secara berulang-ulang. Disela kesibukannya, Carlson mulai menganalisa dan mengkaji teknik mencetak dokumen. Oleh karena inisiatifnya yang kuat, Carlson pun menggali informasi dengan membaca berbagai referensi mengenai mesin cetak. Alhasil Carlson yang dibantu Otto Kornei, seorang ahli fisikawan untuk mempelajari teori Paul Selenyi tentang cahaya, panas dan listrik yang ditempelkan pada sebuah pigmen ke kertas kering. Lalu pada tahun 1938. Carlson melakukan sebuah eksperimen kecil de­ ngan memanfaatkan bubuk jelaga (karbon) dan penyinaran cahaya yang dengan prinsip kerjanya sama dengan prinsip kerja teori Paul Selenyi sehingga mampu memindahkan suatu tulisan dari suatu medium ke medium yang lain. Carlson menjalankan eksperimennya berdasarkan dua gejala, yaitu adanya gaya tarik-menarik antara dua benda yang bermuatan listrik tak senama dan gejala foto konduktivitas. Carlson menyiapkan ruangan yang gelap tanpa ada cahaya yang masuk. Dengan mempersiapkan plat seng yang dilapisi emulsi sulfur sebagai bahan foto konduksi. Kemudian diatas plat kaca mereka menulis huruf-huruf, kemudian digosoknya plat seng dengan sapu tangan agar terjadi penimbungan listrik negatif diatas permukaan. Lalu meletakkan di bawah pelat kaca dan meletakkan kedua lapisan yang rangkap itu dibawah lampu pijar yang sangat terang untuk mendapatkan cahaya kuat beberapa lama. Setelah itu kaca slide diangkat dan ditaburi bubuk lycopodium diatas permukaan pelat sulfur. Secara hati-hati permukaan ditiup agar bubuk lycopodium terhembus dan yang tertiup itu dapat membentuk huruf-huruf yang tertera diatas pelat kaca. Mereka memindahkan apa yang tertulis diatas pelat kaca tadi keatas kertas lilin dan dipanasi agar lilinnya meleleh sehingga pada akhirnya diatas kertas tercetak copy yang di inginkan. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang oleh Carlson untuk me­ yakinkan dirinya bahwa pada hari itu sebenarnya ia telah me­ nemukan sebuah teknologi copy yang cemerlang. Carlson juga menggunakan konsep photo-conductivity sebuah proses perubahan elektron apabila terkena cahaya dapat menggandakan gambar. Dengan temuan Carlson ini, telah dapat merombak paradigma penulis ulangan sebuah dokumen di eranya. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun yang terus mencoba menyempurnakan temuannya walau saat itu mesin elektrofotografi masih kurang diminati banyak orang karena dianggap elektrofotografi tidak memiliki masa depan yang menjanjikan. Carlson yang berkali-kali mengalami penolakan dari berberapa perusahaan hampir menyerah. Namun, dengan kerja kerasnya ia dapat meyakinkan perusahaan Haloid yang saat ini bernama Xerox yang merupakan perusahaan mesin fotokopi dan printer terkemuka didunia. Teknik ini kemudian dipatenkan pada 6 oktober 1947. Tokoh dunia yang banyak memberikan sumbangan di era modern saat ini kemudian wafat pada 9 September 1968 di Rochester, New York akibat penyakit hati yang sudah kronis. n Andi Ningsi


10

civitas

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Susah Senang Nasib Asisten

koridor Catatan kegiatan Seminar Nasional “Konservasi Energi Melalui Teknologi dan Management Energi Berwawasan Lingkungan, senin,(8/02). Kegiatan yang diadakan oleh Jurusan Teknik Geologi Unhas tersebut bertempat di Lantai Dua Fakultas Teknik Unhas di Gowa.

DEWASA ini ketersediaan energi dunia semakin terbatas. Disisi lain konsumsi energi manusia semakin beragam dan terus meningkat. Akhirnya terjadilah krisis energi. Berbagai teori dan teknologi sudah dikembangkan dan diaplikasikan para peneliti untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pemerintah pun mendukung dan telah membuat kebijakan penghematan energi. Akan tetapi pelaksanaan konservasi atau penghematan energi oleh masyarakat masih terbatas. Masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa yang dilakukannya sangat jauh dari prinsip penghematan energi. Cara menghemat energi pun belum tersosialisasikan dengan baik. Maka dari itu, seharusnya diterbitkan pedoman konservasi atau penghematan energi. Konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana dan terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi pemanfaatannya. Ada beberapa contoh praktis yang dapat dilakukan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti memperhatikan pe­ rilaku dalam berkendara. Caranya memperpendek waktu pemanasan mesin, mematikan mesin di lampu merah yang pengaturannya lama. Perilaku dalam pemakaian listrik, yaitu dengan mematikan lampu, televisi atau Air Conditioner ketika tidak digunakan, mengatur penyalaan lampu per zona, daerah dekat jendela kaca, daerah pemakaian dan memakai peralatan yang berlabel hemat energi Perilaku dalam pemakaian bahan bakar gas rumah tangga. Mi­ salnya pemakaian alat masak yang sesuai dengan lingkaran api, pengaturan ratio bahan bakar udara yang baik,dan penggunaan alat penghemat bahan bakar Pengoperasian alat pada kondisi operasi optimum, dengan cara efisiensi alat-alat seperti pompa , motor bakar , turbin dan sebagainya mempunyai efisiensi yang sangat bergantung pada beban, Usahakan agar alat dioperasikan pada efisiensi optimumnya, yaitu pada sekitar 75 % -100% beban desainnya, dan mengganti alat yang lama dengan yang baru yang lebih hemat energi. Selain memperhatikan perilaku-perilaku tersebut, pengemba­ ngan teknologi yang praktis dan mudah diterapkan harus terus dilakukan. Misalnya pembuatan mesin pembangkit tenaga dengan melakukan pemilihan marerial tahan temperatur tinggi, pemilihan material yang lebih ringan, pembuangan panas pada temperatur yang lebih rendah, mengurangi gesekan. Tak hanya itu, teknologi yang praktis tersebut pun perlu dibuatkan manajemen energi yang berwawasan lingkungan. Manajemen energi dalam peraturan pemerintah yaitu menunjuk manajer energi, menyusun program konservasi energi, melaksanakan audit energi secara berkala, melaksanakan rekomendasi hasil audit energi, melaporkan pelaksanakan manajemen energi setiap tahun kepada menteri, gubernur, walikota atau bupati sesuai dengan kewena­ ngannya. Contoh manajemen energi yaitu mengatur semua pemakaian ener­gi sehingga diperoleh pemakaian energi yang secara keseluruhan efisien, mengkombinasikan antara proses pemanasan dan proses pendinginan, produksi air hangat dari kondensor Air Conditioner, dispenser air hangat dan air dingin, pemakaian energi secara efisien dengan mengurangi waktu ideal mesin. Ada pun cara memulai konservasi energi dengan melakukan audit energi yang merupakan suatu kegiatan untuk mengidentifikasi, mencatat dan memonitor semua penggunaan energi pada suatu kegiatan tertentu yang bertujuan untuk menganalisa efisiensi pemakaian energi dan mencari peluang-peluang penghematan energi. Tentunya jika jika semua lapisan masyarakat sadar bahwa konversi atau penghematan energi adalah tanggung jawab bersama maka krisis energi tidak akan terjadi. Pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi untuk turut berpartisipasi dalam usaha konservasi energi agar anak cucu kita di masa datang masih dapat menggunakan energi dalam jumlah yang cukup. n Andi Ningsi

IDENTITAS/SRIWIDIAH ROSALINA BST

Konversi Energi Jadi Tanggung Jawab Bersama

Praktikum: Mahasiswa Jurusan Kimia melakukan praktikum Kimia Fisika di Laboratorium Kimia Fisika Fakultas MIPA, Rabu (17/2). Praktikum ini diawasi oleh Asisten Dosen Jurusan Kimia, Rahma.

Keberadaan asisten sangat membantu peran dosen dalam sistem pembelajaran, namun kenyataanya peran ‘si tangan kanan’ ini masih belum mendapatkan penghargaan yang setimpal

D

unia kampus menjadi tempat mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Tidak hanya aktif di lembaga, aktif menjadi asisten dosen (asdos) pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebagian kalangan. Meski demikian, menjadi asisten dosen bukan berarti pekerjaan yang mudah. Peran mereka terbilang cukup penting pada mata kuliah. Sekarang ini saja, justru asdos lah yang lebih banyak memegang kendali pada proses pembelajaran. Kesibukan yang beragam membuat perhatian sang dosen tidak bisa dicurahkan sepenuhnya terhadap mata kuliah yang diajarkannya. Namun sayangnya, posisi asisten dosen yang dulu sakral, kini menjadi biasa-biasa saja. Pasalnya perekrutan asisten dosen yang ‘asal tebang pilih’. Sebut saja Sukriadi, mahasiswa angkatan 2012 ini mengeluhkan ketidakjelasan kriteria perekrutan asisten. Ia beranggapan bahwa kini menjadi asdos lebih mudah diban­ dingkan tahun-tahun sebelumnya. Berkompeten pada mata kuliah, tidak begitu penting. “Karena faktor kedekatan pada dosen, mahasiswa bisa saja jadi asdos walaupun dari segi kualitas tidak bagus,” ucapnya saat diwawancarai, Sabtu (13/02). Lain perkara dengan Sukriadi, Ahmad Mu’arif justru merasa peran asdos lebih banyak dibanding dosen penanggung jawab mata kuliah. Mahasiswa Farmasi angkatan 2013 ini merasa penghargaan yang dipe­ roleh asisten tidak sesuai dengan jasa-jasa yang telah dilakukannya. “Kalau penghargaan berupa honor tidak pernah saya terima,” ucap asisten laboratorium biofarmasi ini, Sabtu (13/02).

Hal yang sama juga dirasakan oleh asisten laboratorium Fakultas Pertanian. Bahkan seringkali mereka menggantikan dosen mengajar ketika berhalangan masuk dikelas. Pernah pula mereka dibebankan tanggung jawab untuk memasukkan nilai mahasiswa. Namun penghargaan setimpal pun tidak didapatkan. “Selama menjadi asisten, saya tidak pernah dapat penghargaan dalam bentuk honor,” keluh Abdurrahman, Sabtu (13/02). Namun posisi asdos memiliki keuntungan sendiri, selain karena akrab dengan dosen, penelitian tidak terasa sulit. Keadaan lapa­ ngan pun sudah tidak terasa asing lagi. “Kan kalau dosen penelitian kami diikutkan,” ujar asiten praktek lapang mata kuliah sosial ekonomi pertanian ini, Sabtu (13/02). Keluhan serupa tidak hanya datang­dari asdos. Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan pada mata kuliah dasar-dasar selam pun merasa demikian. Ia sangat menyesalkan tidak adanya reward berupa pemberian honor untuk asisten. Menurutnya, dulu pernah ada penghargaan untuk asisten dosen. Bentuk penghargaannya ialah ho­ nor berupa uang lelah dan surat keterangan yang nantinya akan dimasukkan ke CV (Comanditaire Venootscha ) sebagai referensi pe­ ngalaman kerja. “Dulu pernah ada aturan terkait itu, sekarang saya belum tau persis aturan yang diatur oleh universitas kini,” ucap Dr. Syafyudin Yusuf, ST. M.Si selaku do­ sen praktek lapang pada mata kuliah Dasar-Dasar Selam, Senin (15/02). Keadaan serupa juga terjadi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Biologi.

Menurut ketua jurusan Biologi, Dr. Zohra Hasyim, M.Si. Sekitar tahun 1980-an pernah ada penghargaan berupa untuk Tapi, sejak kampus dipindahkan ke Tamalanrea hal itu tidak ada lagi. Bahkan, sekarang ini anggaran untuk praktikum pun tidak ada. Sehingga, penjualan buku penuntun (diktat) tetap diberlakukan walaupun hal itu dilarang oleh universitas. Hal ini guna menunjang praktikum seperti pembelian sampel dan transportasi. “Dan jika ada sisanya itu yang dibagi kepada asisten.” ucapnya, Kamis (19/02) Lain halnya dengan asisten di Mata Kuliah Umum (MKU), ia justru menerima penghargaan berupa honor dari Dosen dan MKU. “Pemberian honor ini ada aturan tertulisnya, jumlahnya tidak perlu saya sebutkan.” Ujar Khairul Ihsan selaku asisten dosen pada mata kuliah matematika, Selasa (09/02). Dalam aturan ini juga menjelaskan peran asisten dan dosen dalam mengajar dikelas. Dimana, asisten dan dosen memiliki jadwal tersendiri. Dan setiap pekan ada monitoring dari dosen kepada asisten. Tidak adanya honor kepada asisten sebenarnya bukan permasalahan besar bagi dosen dan asisten dosen. Karena sebagian besar asisten tidak menjadikan hal itu sebagai tujuan utama, melainkan mencari ilmu. Selain itu, mereka dapat memeroleh banyak pengalaman dari sini. Dengan kata lain, mereka bekerja dengan sukarela. “Mengajukan diri menjadi asisten karena memang saya suka mengajar.” Ucap Ahmad Mu’arif. Kemudian, menurut Dr. Syafyudin Yusuf, ST. M.Si. sebenarnya asisten dan dosen tidak menomorsatukan materi, tapi minimal ada penghargaan bagi asisten. n M24/Vit


rampai

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

11

Jelajah Belantara, Lestarikan Budaya

TERKADANG, berawal dari obrolan santai, banyak pendapat dan ide yang akan muncul. Dari sebuah bincang-bincang lepas, pada 1998 Syamsul Rizal dan Wawan berinisiatif merintis sebuah organisasi seni di Fakultas Kehutanan. Melihat banyaknya potensi bakat-bakat terpendam yang ada, mereka akhirnya mengajukan dibentuknya Biro Khusus Belantara Kreatif (BKBK). Dibawah naungan BE Kema Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia (PC) Unhas, pada 18 Mei 1998 wadah berkumpulnya mahasiswa kreatif ini resmi terbentuk. Organisasi ini, awalnya hanya menampung mahasiswa Fakultas Kehutanan yang punya minat dan bakat di bidang seni. Namun seiring waktu, minat di bidang olahraga dan jurnalistik pun diwadahinya. Hingga terbentuklah Sylva FC dan buletin Vadamekum. Talenta merupakan sebutan bagi anggota organisasi yang sekarang bersekretariat di Kampung Rimba Unhas ini. Cara penerimaan talenta ini terdiri dari tiga tahap, yakni tes berkas, tes wawancara, dan tes eksplorasi bakat. Hingga saat ini, yang terdaftar menjadi anggota BKBK ada 76 orang. Dalam menjalankan denyut organisasi, BKBK pu­ nya program kerja tahunan yang menarik. Jappajappa namanya, yang jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia artinya jalan-jalan. Tak sekedar jalan, kegiatan ini punya muatan seni dan lingkungan. “Kami mencoba mengeksplorasi kearifan lokal masyarakat, terkait potensinya sebagai daerah ekowisata di Sulawesi Selatan,” jelas Sadam Husein S Hut, selaku talenta terhormat BKBK. Kegiatan rutin yang dilakukan sejak 2006 ini, di­ selenggarakan di tempat yang budaya lokalnya dianggap perlu dihidupkan kembali. Seperti di Pulau Salemo, Pulau Barang Lompo, Pulau Lanjukkang, Enrekang, serta Tompobulu. Dalam pelaksanaannya, Jappa-jappa dibarengi dengan kegiatan bakti sosial. Tak hanya itu, sosialisasi tentang pentingnya melestarikan lingkungan hidup dan sumber daya alam pun dilakukan. Sehingga, dapat memberikan pemahaman, untuk menjaga kelestarian lingkungan kita juga harus menjaga keberadaan budaya masyarakat

setempat. Seperti seni, tarian, dan musik daerah yang hampir ditelan zaman. Melalui Jappa-jappa, BKBK mencoba menampilkan kembali dan mengingatkan masyarakat untuk melawan lupa terhadap budaya lokal. Bisa dikatakan, mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ini tak hanya jelajah belantara, tapi juga ikut melestarikan budaya. Adanya kegiatan ini, juga membuat mahasiswa bisa saling berbagi pengalaman dengan masyarakat lokal. Walaupun dalam pelaksanaannya sering ter­ kendala pada akses ke tempat tujuan, semua terbayar de­ ngan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi dalam mendukung kegiatan tahunan ini. Selain rutin menyelenggarakan Jappa-jappa, BKBK juga sering tampil pada beberapa acara, seperti pembukaan simposium internasional di Wisma Kalla tahun ini. Tak hanya itu, organisasi ini juga turut serta dalam kegiatan pasar seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, 2015 lalu. Beberapa prestasi di bidang seni pun telah dicapai BKBK, yakni juara I Lomba Akustik dan juara II Nyanyi Solo dalam kegiatan Forestry Talent 2015), juara terbaik III di Pekan Seni Unhas 2015, juara I Lomba Baca Puisi Forestry Talent 2014, juara II Desain Grafis UKPM (2009-2010), dan keikutsertaan dalam Festival Teater mahasiswa Indonesia tahun 2010. Di bidang olahraga, Sylva FC pernah mendapatkan Juara II Liga Unhas periode 2013-2014. Dalam menjalankan kesehariannya, BKBK biasanya masih terkendala pada kurang memadai­ nya fasilitas seperti alat musik, keadaan bangunan sekretariat, dan fasilitas di bidang olahraga karena tidak adanya lapangan khusus bagi para anggota­ nya. Kedepannya, BKBK berharap bisa berkiprah di tingkat nasional maupun iternasional. “Walaupun masih banyak saingan dan ruang lingkupnya masih kecil. Semoga kualitas dan kuantitas anggota makin meningkat, agar suatu saat BKBK bisa berkiprah di tingkat nasional bahkan internasional,” harap Akbarsyah selaku Ketua BKBK saat mengakhiri wawancara, Rabu (10/2). n Rahima Rahman


12

resensi

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Universalitas dalam Bingkai Metafora KETIKA melihat judul sampul buku ini, mungkin Anda akan mengira bahwa ini kumpulan cerita dari dunia bagian timur. Macam Arab, Tiongkok, maupun Persia. Sama sekali bukan, “Timur” yang dimaksud Marguerite Yourcenar merujuk pada sebelah Timur Prancis. Membentang dari daerah Balkan dan Yunani, hingga ke Tiongkok dan Jepang. Karya anggota perempuan pertama yang tergabung dalam Acadèmie Française ini, dilatarbelakangi oleh dongeng tradisional timur. Dari dongeng itu, ia yang kemudian meramunya menjadi cerita fiksi. Tanpa mengurangi esensi dongeng itu sendiri. Permainan perasaan dan emosi pun terasa kuat dalam buku ini. Membacanya, kita akan disuguhi gaya bahasa yang kaya metafora, kalimat-kalimat puitis yang sarat kiasan. Marguerite mampu menghidupkan isi cerita lewat pilihan diksinya. Namun kita perlu membaca dengan tuntas dan merenungkannya, untuk memahami makna dan jalan cerita. Pada dasarnya karya ini memiliki satu tema utama, yakni universalitas. Dari 10 cerita yang ada di dalamnya, sejatinya semua bercerita tentang cinta, hidup, seni, seksualitas, dan kematian. Hal-hal yang tidak terikat hanya pada suatu masa dan suatu negeri saja, namun terpaut secara menyeluruh pada kehidupan manusia sepanjang masa. Buku yang pertama kali terbit dengan

judul “Nouvelles Orientales” ini, memiliki cerita yang saling mengimbangi dan memperkaya satu sama lain. Setiap tokoh dan kisah punya kekuatan tersendiri yang melengkapi kehadirannya. Hingga garis batas seperti masa, negeri, dan kebudayaan pun menjadi samar. Pada beberapa cerita, ada beberapa latar keadaan tokoh yang saling berbanding terbalik. Contoh cerita pertama, tentang penyelamatan seorang pelukis Cina, yang mampu melukis satu dunia yang lebih indah daripada dunia nyata. Sangat berkebalikan dengan cerita kesepuluh, tentang seorang pelukis Belanda, yang berhenti melukis karena tidak dapat menandingi keindahan ciptaan Tuhan. Ada pertalian tokoh yang sama antara beberapa cerita, seperti pertalian antara cerita kedua dan kesembilan, tentang kisah Marko Kralievitsy. Tak hanya itu, cerita kelima dan keenam pun demikian, yakni kisah peri Yunani yang suka menggoda kaum lelaki. Kesemuanya dikisahkan seperti sejarah yang benar terjadi. Di cerita ketiga, Marguerite menyinggung mitos mengenai penanaman jasad manusia untuk memperkokoh suatu ba­ ngunan. Dikisahkannya tentang seorang perempuan yang masih menyusui anak­ nya selama dua tahun, meskipun ia sudah ditanam di sebuah tembok (sebagai korban persembahan). Hingga air mata dan air susunya kering, ia rela berkorban demi anaknya. Walau pada akhirnya, sei­

ring bertumbuhnya sang anak, ia pun di- barlah wahai ketidaksempurnaan, berkat lupakan. Saat membacanya, perasaan kita engkaulah kesempurnaan menyadari diseakan tersayat. Kisah yang sarat emosi rinya. Bersabarlah wahai kemarahan, kadan luapan perasaan. rena engkau tidak kekal abadi.” Kisah lainnya bertajuk Cinta Terakhir Secara keseluruhan, kumpulan cerita Pangeran Genji. Tentang cinta yang tera- ini merupakan serpihan-serpihan dari baikan. Seorang selir yang paling lembut suatu renungan terkait kodrat manusia. dan mencintai tanpa syarat, tidak berhasil Selain gaya penulisan yang khas, makna dikenang oleh kaisarnya. Dikisahkan, falsafah adalah akar yang menghubungPangeran Genji yang telah lanjut usia kan dan mempersatukan cerita-cerita ini. suka menceritakan satu-satu selir dan Selamat membaca!. n istrinya, namun tidak pernah menyebut namanya. Sungguh, cinta yang bertepuk Riyami sebelah tangan. Namun cerita ini, akan terasa seimbang dengan cerita seorang wanita yang mencintai pembunuh suaminya sendiri, pada cerita ketujuh. Balada iri dan dengki pun tak luput mewarnai cerita kedelapan dalam buku ini. Kecantikan dan kesucian dewi India bernama Kali, membuat dewa lainnya membencinya dan dengan tega memenggalnya. Namun, kepalanya itu kemudian disatukan dengan tubuh seorang pelacur dan dihidupkan lagi. Sehingga sosok Kali menjadi mengerikan dan perbuatannya menjadi hina-dina. Dari cerita Dewi Kali, kita dapat Judul Buku : Cerita-Cerita Timur mengambil hikmah bahwa sejatinya Penulis : Marguerite Yourcenar manusia tidak akan terbebas dari Cetakan : Kedua, 2015 rangkaian kenyataan, dan betapa siaTebal : xxi + 110 halaman sianya penyesalan. Seperti kutipan Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia kalimat indah dari Sang Bijaksana, “Bersabarlah wahai kekeliruan, karena kami menjadi bagianmu. Bersa-

aksara

Kamu Jahat pada Air Oleh : Ayub Gazali MENDENGARKAN curhat petani memang Maha-Asyik. Apa yang mereka ceritakan jauh lebih asyik daripada curhatan presiden tentang gaji ataupun curhatan tentang tunjangan ini itu anggota DPR. Cerita dan keluh kesah mereka itu selalu mengisi hari-hari saya ketika mendam­ pinginya dalam program pemerintah. Dari curhatan itu, saya yakin mereka tidaklah bodoh seperti stereotip yang terbangun selama ini. Akhir-akhir ini petani banyak berce­ rita tentang air. Mereka terkena imbas dari Hawa panas El-Nino. Fenomena ElNino menyebabkan lahan-lahan yang mereka garap mengalami kesulitan air. Kini mereka mengusahakan air dengan memompanya dari sumber terdekat. Walaupun demikian, kelihatannya hal tersebut belum cukup untuk mengaliri sawah mereka. Selain itu, akses terhadap beberapa sumber air yang mulai terbatas terasa menyulitkan. Petani hidup dengan mencintai air. Dari

mereka, saya belajar bahwa pertanian merupakan kebudayaan yang menghormati air. Baginya, air adalah kehidupan itu sendiri. Filosofi yang mereka pegang teguh adalah bahwasanya air dan manusia sesungguhnya sesuatu yang saling memiliki. Oleh sebab itu, para petani selalu memanfaatkan air dengan bijaksana. Mereka pun selalu bersedia untuk berbagi air dengan sesamanya. Mereka juga tak pelit untuk berbagi dengan makhluk yang hidup disekitarnya. Petani tak pernah egois­terhadap air. Banyaknya sumber air yang telah di privatisasi oleh industri air mineral serta pabrik-pabrik pengolahan menyebabkan ancaman yang sangat serius bagi petani. Kini kuantitas air semakin berkurang akibat El-Nino, dan irigasi juga mulai me­ ngering. Sementara itu, privatisasi membuat akses mereka terhadap air tengah terhalangi. Saya menganggap Itu adalah sebuah kejahatan. *** Dalam sebuah diskusi, Rocky Gerung mengatakan bahwa bukanlah manusia yang berhak atas air, namun air-lah yang mempunyai hak untuk menghidupi segala jenis kehidupan. Melakukan privatisasi atau klaim terhadap air sesungguhnya adalah sebuah kejahatan bagi kehidupan. Karena air adalah hajat hidup orang­ ­banyak. Belakangan ini, kejahatan terhadap air

lazim terjadi di Kota Makassar. Kejahatan itu ditemui dalam praktik Reklamasi pesisir pantai. Kegiatan reklamasi merupakan penimbunan laut disekitar pesisir guna perlusan areal. Alih-alih menjadikan pesisir dan laut sebagai ruang publik, peme­rintah justru membiarkannya diprivatisasi dengan dalil-dalil pembangunan sebagai logika utamanya. Tujuan reklamasi ini pun selalu jelas: Pemukiman, Hotel, dan Pusat perbelanjaan. Banyak air yang menjadi korban kejahatan jenis ini, begitupun manusia. Mereka tak lagi dapat melaut secara bebas. Akses terhadap air laut telah dibatasi oleh hak privat. Gedung-gedung dan pagar-pagar pembatas yang tinggi menghalangi para penduduk pesisir sehingga mereka tak dapat lagi mengakses kawasan tersebut. Selain itu, pipa-pipa pembuangan limbah dari gedung-gedung yang dibangun, terhubung langsung dengan air laut dan meracuni kehidupan sekitarnya. Dg. Ewa, adalah salah seorang warga yang masih bertahan dipesisir pantai Anging Mamiri. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang menggantungkan hidupnya dengan laut. Beliau bercerita bagaimana pantai telah dipenuhi dengan limbah, Biota laut yang perlahan menghilang, serta air yang me­ ngandung racun. Menurutnya aktivitas reklamasi telah menyebabkan efek berantai yang membuat lingkungan pesisir

menjadi rusak. Lanjutnya lagi, Dg. Ewa memaparkan tentang, bagaimana akses terhadap air laut sebagai sumber kehidupan penduduk semakin tertutup. Hal itu menyebabkan laju konflik meningkat. Jenis konflik itu berupa konflik sumber daya laut, Pe­ rebutan lahan, serta hak akses. Konflik itu berupa perseteruan antar para penduduk pesisir sendiri atau penduduk pesisir de­ ngan oknum-oknum pelaksana reklamasi. Bagi Dg. Ewa, reklamasi tak hanya merusak kehidupan ekologis, namun juga merusak kehidupan sosial. Adalah sebuah kejahatan yang teramat besar apabila air tak dapat lagi saling menghidupi dengan manusia. Hubungan antara air dengan manusia bisa saja rusak karena itu. Karena sesungguhnya Air mempunyai hak asasi untuk menghidupi semua makhluk di planet ini. Air telah ada sebelum adanya negara maka tak satupun yang berhak melakukan klaim terhadapnya,. Tak satu pihakpun yang boleh menghalangi akses makhluk hidup terhadap air dan tak ada satupun juga yang boleh meracuninya. Semoga saja para pelaku reklamasi sedikit berpikir lebih manusiawi seperti para petani. Karena reklamasi dapat menjadi kejahatan kehidupan. n

Penulis adalah Alumni Fakultas Pertanian Tahun 2015


cerpen

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

Tembok Barat Jerussalem

Oleh:Fathul Khair Khan

“MANA Radiel, kau melihatnya?” napasku masih tersengal-sengal. Dua orang dengan tubuh besar berdiri di depanku. Ia memakai topi hitam, topi khas yang sering digunakan umat Yahudi. Di tangannya memegang sebuah kitab Talmud berwarna kecokelatan. “Ia berada di Tembok Barat, disana!” kata orang itu menujuk tembok besar yang memanjang 60 meter. “Oh iya!” jawabku dengan singkat. Kakiku mulai melangkah satu demi satu me­ nuju tembok itu. Setelah hampir berjalan sepuluh menit akhirnya aku telah berada di depan tembok ini. Yang kutahu Tembok Barat saat ini sering disebut dengan “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celahcelah dinding itu. “Kau masih berdoa?” kataku pada Radiel. Kulihat ia menempelkan tangannya dan jidatnya ke tembok yang membentang di tepi barat Masjidil Aqsa. Aku tahu ia sedang berdoa, namun ia tidak seperti biasanya. Akhir-akhir ini ia selalu datang setiap hari sabtu di tempat ini dan berdiam diri hingga petang masuk. “Kenapa Danies?” ia berbalik badan. Tangannya mengusap beningan air mata yang membasahi pipinya. Ah! Dia menangis lagi, kataku dalam

hati. “Boleh aku bertanya sesuatu ke­ padamu Danies?” sergap Radiel, sebelum aku menjawab pertanyaan sebe­ lumnya. “Apa?” kataku penasaran. Aku menarik keningku, pertanda ada sesuatu hal yang aneh dari anak ini. “Mengapa negara kita selalu saja menyerang rakyat Palestine? Bukankah itu tidak benar di mata Tuhan?” ucap Radiel, wajahnya mulai nampak serius. Terlihat peluh di antara misainya. “Hahah apa yang kau tanyakan? Kau tahukan kedudukan ras kita?” kataku sambil tertawa lepas. Tangan kiri me­ ngayun menyentuh bahu kiri Radiel. Kau masih ingat dengan peristiwa kemarin? Saat tentara Israel dengan pongahnya masuk ke dalam Masjidil Aqsa dengan menggunakan sepatu dan di tangannya dilengkapi oleh senapan laras panjang. Atau ketika tentara-tentara kita menangkap anak-anak kecil dan membunuhnya dengan tidak manusiawi? Atau saat dimana kita menyerangnya dengan rudal-rudal besar, dan ia hanya bertahan dengan menggunakan kerikil di tangannya. Bukankah itu tidak sebanding, lalu? Danies kini terdiam. Matanya terpaku menatap Radiel. Ia mengangguk perlahan, mungkin batinnya membenarkan. “Tapi mereka pantas mendapatan itu semua Radiel! Ia hanya menyusahkan kita.” Terdengar suara Danies. Ia mencoba mengelak. Di matanya nampak terlihat kaca-kaca keraguan.

“Saya rasa dalam semua Agama tidak ada yang membenarkan untuk saling membantai sesama manusia. Dan kau tahu kan, di sini, di Jerussalem tempat Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki sejarah dan peran masingmasing. Kita selalu saja membanggakan ras kita, membanggakan darah yang mengalir di tubuh kita, tanpa memikirkan nasib keluarga mereka. Tanpa memikirkan pendidikan mereka. Tanpa memikirkan perasaan mereka.” Ujar Radiel, kini ia semakin serius. “Apa yang kau pikirkan Radiel? Kau terlalu memikirkan mereka, lihatlah bahkan dunia pun enggan menolong mereka.” Senja mulai menyinari Sinagog, angin­ -angin mulai meniup dengan perlahan. Terlihat beberapa daun jatuh dari dahannya. Keheningan mulai menyelimuti. Beberapa orang mulai me­ ninggalkan tempat tersebut. Dinding ini masih kokoh, masih menjadi saksi bisu atas sejarah dari tiga agama yang begitu panjang. “Apa yang aku pikirkan katamu? Ta­ nyakanlah pada hatimu. Ataukah hatimu sudah tak mengenal lagi arti dari kemanusiaan?” Kata Radiel. “Maksudmu apa, kita telah melakukan penghancuran?” sambar Danies. “Ya, apalagi kalau bukan itu?” n Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Asia Barat angkatan 2014 Bergiat di LDM Al-Adab FS Unhas

ragam

Mau Tak Mau Berbagi Kasih TANGGAL 14 Februari dikenal sebagai hari valentine. Hari yang sudah tidak asing lagi dikalangan pemuda. Berbagai cara dilakukan untuk merayakan hari kasih sayang ini. Namun kenya­ taanya pro kontra terkait perayaan hari kasih sayang masih sarat dikalangan masyarakat, khususnya kalangan civitas akademika. Terlebih saat keluarnya surat edaran Wali Kota Makassar Ir. H. Moh. Ramadhan Pomanto Nomor 421.3./0618/S.E/ DPK/III/201 tentang larangan perayaan hari kasih sayang yang ditujukan kepada Unit Pelaksna Teknis Daerah Pendidikan Kota Makassar, Kepala Sekolah SD, SMP/ MTs negeri maupun swasta, SMA/SMK/ MA negeri maupun swasta. Dilansir dari antaranews.com bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar Dr KH Baharuddin HS MA sangat mendukung penuh keputusan Pemkot Makassar tersebut. Bagi umat Islam tidak ada tanggal khusus untuk merayakan hari kasih sayang. Ketua Komisi Media dan Informasi MUI Makassar, Dr Firdaus Muhammad, juga mengapresiasi langkah pemerintah tersebut, mengingat perayaan hari kasih sayang dinilai banyak mengandung hal negatif yang menjurus pada perusakan moral generasi muda.

Hal ini pun mendapatkan apresiasi beragam dari civitas akademika. Me­ nurut Cemewew yang tidak ingin di­ sebut namanya, mahasiswa Fakultas Kehutanan jika melihat dari sisi agama Islam memang tak ada perayaan valen­ tine. Namun, di Pulau Sulawesi ini bukan hanya satu agama saja. Baginya, pemerintah tidak perlu mengeluarkan surat edaran melarang pe­ rayaan hari valentine. “Setiap agama berbeda dalam memaknai 14 Februari jadi tidak perlu dilarang. Namun, wajar saja pemerintah khawatir dengan banyaknya perilaku zina yang terjadi, anak muda sekarang salah kaprah soal perayaan hari valen­ tine,” ujarnya, Jumat (19/2). Selain itu, Al Budi mahasiswa Fakultas Sastra ini pun turut kontra dengan perayaan hari valentine. Menurut mahasiswa angkatan 2011 ini adanya perbedaan persepsi perayaan hari kasih sayang menjadikan beberapa orang justru menjerumuskan orang ke hal-hal yang berbau SARA. “Sangat bagus bila ada surat larangan itu, khususnya pelajar dan mahasiswa yang seringkali me­ nyalahartikan hari kasih sayang,” ucap Al-Budi, Jumat (19/2) Berbeda dengan Cemewew dan Budi, Yulianti Manguluang merasa peringatan

hari kasih sayang tidak harus dengan tanggal 14 Februari, selain itu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini juga tidak suka dengan perayaan ataupun celebresi seperti valentine “Saya bukan tipe orang yang membuang waktu untuk hal yang berbau perayaan seperti valentine,” ucap mahasiswa angkatan 2015 ini. Meski banyak yang kontra terhadap perayaan hari valentine, namun tak sedikit pula yang setuju dan merayakannya. Sebut saja Annisa Anggraini mahasiswa Fakultas Sastra ini merayakanya dengan tukaran coklat dengan pasangannya dia merasa bahwa me­ rayakan valentine itu bisa saja tergantung dari keyakinan diri masing-ma­sing “Meskipun ada aturan MUI, selama tidak melanggar aturan agama, saya rasa itu sah-sah saja,” ucap Mahasiswa Fakultas Sastra angkatan 2014, Minggu (7/2). Setali tiga uang dengan Annisa, Maria Redesia Genata mahasisa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan ini mendapatkan hadiah bunga dari pasangannya dihari kasih sayang kali ini “Saya rasa itu tidak ada masalah selama kita dan pasangan tau batasan,” tuturnya, Sabtu (6/2). n

Rahima Rahman

13

puisi Merayakan Kegetiran Oleh:Achmad hidayat

Lihatlah, dia coba menari gemulai. Merayakan rasa sakit hati. Lihatlah, gerakannya menjadi badai. Menerbangkan seluruh masa lalu. Lihatlah, bibirnya terkatup rapi. Mencoba menahan nyeri. Tiba-tiba dia berteriak, Meluapkan nama yang terkasih. Rindu melayang di sekelilingnya, Mencari celah menuju matanya. Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Angkatan 2013

Isak negeri

Oleh: Ras Narasyid Suara isak itu terdengar lagi Bahkan semakin nyaring menjadi-jadi Para cilik rintih meniti Tangisnya banjiri negeri Mengadu di pangkuan ibu pertiwi Tembok keadilan sudah roboh Semakin roboh dihancurkan para pembodoh Yang wajahnya terpampang di baliho-baliho Tersenyum sinis di tv, bicara manis di radio Menempel di kulit – kulit kering menjelma lintah Isap darah – darah tanpa dosa Kemudian menjelma gurita Merampok penuh serakah Bahkan lebih cepat dari kilat Mereka berebut kursi panas Panasnya menjalar ke otak – otak Dan bakar asas – asas tanpa batas Keterpurukan menggurita Melilit dari sisi mana saja Remukkan tulang belulang manusia Pecahkan hati, tumbahkan darah Kami hanya bisa, menganga, menengadah Penuh harapan hampa Dari para dewa – dewa Yang tak lagi punya indera Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2012

Adilkah?

Oleh: Muh. Saepul Aswadi Pernahkah kalian merasa ditiadakan? Seperti nasib Pluto? Ada namun tak dianggap ada Berjuang atas nama kebaikan Berjuang demi kemaslahatan Berjuang demi kejayaan bersama Berjuang demi negeri tercinta Namun dibuang begitu saja Seperti kulit kacang Waktu Tenaga Menjadi sia - sia Masa mudaku hilang Cita-cita pun harus ku kubur Cinta pun harus ku hapuskan Atas nama kebaikan itu Tapi toh nyatanya aku dibuang Adilkah? Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan 2012 Ketua FLP Ranting Unhas 2016


14

ipteks

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

cermin Berkasih Sayang Setiap Hari APA yang kalian lakukan sepekan yang lalu, tepatnya pada tanggal 14 Februari? Apa kalian memberi setangkai mawar pada orang tersayang? Atau sebatang coklat pada yang tercinta? Valentine’s Day atau hari kasih ­ sayang memang selalu diidentikkan dengan bunga maupun coklat. Keduanya melam­ bangkan keromantisan. Namun, apa kalian tahu asal muasal Oleh: Nursari Syamsir hari valentine itu? Menurut perhitungan kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Ada juga yang menyebutkan bahwa cikal bakal terjadinya hari valentine adalah perayaan festival Lupercalia. Festival ini merupakan upacara persembahan untuk Dewi Cinta Juno Februarata. Setiap tanggal 14 Februari pemuda dan pemudi melakukan permainan di wilayah kerajaan Romawi. Sedang menurut ensiklopedi Katolik, nama Valentinus merujuk pada tiga martir (orang suci) yakni Pastur Roma, Uskup Interamna, dan martir di Provinsi Romawi Afrika. Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari kasih sayang (valentine) tidak begitu jelas. Bahkan Paus Gelaus I pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelaus I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada 14 Februari. Sebenarnya valentine sendiri adalah salah satu peninggalan budaya kerajaan Romawi yang selalu dirayakan untuk mengenang Santo Valentine yang telah mengorbankan dirinya untuk mempersatukan cinta. Saat itu, Kaisar Claudius II memerintahkan untuk membatalkan setiap pertunangan dan pernikahan di negaranya. Namun Santo Valentine, menikahkan pasangan-pasangan dari Romawi secara diam-diam. Maka Santo Valentine akhirnya disiksa dan dibunuh pada tanggal 14 Februari. Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya, maka para Pastor di Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai hari Santo Valentine atau yang sekarang dikenal dengan nama Valentine’s Day. Di zaman sekarang hari valentine semakin populer. Bukan hanya di Barat, tapi telah merebak ke Indonesia. Berbagai tempat hiburan, diskotik, hingga hotel berlomba-lomba menawarkan jasanya untuk merayakan valentine. Peringatan hari valentine yang selalu dibungkus dengan imingiming kasih sayang berbuah kado dan berbunga mawar. Namun, ujung-ujungnya berbuntut hawa nafsu yang mengarah ke perilaku seks bebas. Penjualan kondom dan alat kontrasepsi lain pun meningkat tajam pada dua hari sebelum perayaan valentine. Beberapa media se­perti merdeka.com, viva.co.id, hingga tribun news telah melakukan penelusuran di sejumlah kota besar seperti Medan dan Samarinda. Salah satu apoteker mengakui bahwa penjualan kondom di apotiknya meningkat drastis dan yang menjadi konsumen, umumnya adalah anak usia remaja dan kalangan mahasiswa. Sebagai seorang muslim kita patut menanyakan pada diri apakah kita akan meniru begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam? Salah satu hadist Rasulullah sudah populer kita de­ ngar “Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka dia termasuk dalam kaum tersebut”. Realitanya banyak umat islam yang ikut merayakan hari kasih sayang ini. Sangat mengherankan padahal dalam agama islam telah menjelaskan secara lengkap tentang cara memelihara dan menuai cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada sesama muslim dan muslimat. Cinta dalam islam merupakan salah satu pilar penting dalam beribadah, ibadah yang tidak didasari rasa cinta akan terasa hampa. Jika ingin menyalurkan kasih sayang, tentunya tak cukup dalam sehari saja. Kasih sayang bisa kita rayakan tiap hari bersama orangorang tersayang. n Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian Angkatan 2012 yang juga merupakan Koordinator Foto identitas

Diagnosis Tifus?

Cukup 10 Menit Bene diagnoscitur, bene curatur. Sesuatu yang didiagnosis dengan baik, bisa diobati dengan baik pula. PENYAKIT Tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang ditandai dengan gejala demam yang sulit diidentifikasi, acap kali demam tersebut hanya dianggap sebagai demam biasa. Pada uji laboratorium sekalipun, hasilnya terkadang tidak akurat. Sehingga kesalahan diagnosis berujung pada perawatan yang salah. Peka terhadap potensi mening­ katnya kasus demam Tifus, serta lamanya waktu yang dibutuhkan dokter untuk diagnosis, dan su­ litnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat sosial ekonomi ke­ bawah, membuat Prof Dr Mocham­ mad Hatta, PhD, SpMK (K), berino­ vasi menciptakan sebuah alat pendeteksi penyakit tersebut. “Alat yang sederhana ini, dapat mende­ teksi adanya gen bakteri Salmonella thypi dalam tubuh pasien secara cepat,” ungkap ahli mikrobiologi klinik ini. Selasa (17/2). Kemampuan kerja alat pendiag­ nosis ini, terletak pada kertas yang akan membaca darah seseorang terinfeksi atau tidak. Kertas itu diberi pewarna merah dan me­ ngandung anti gen S. thypi yang akan bereaksi saat bertemu lapisan sel terluar dari bakteri tersebut. Cara kerja alat ini pun mirip dengan test pack untuk kehamilan. Sangat mudah digunakan. Cukup dengan meneteskan darah pasien ke alat tersebut. Tunggu selama 10 menit dan lihat hasilnya. “Jika

alat menunjukan dua garis merah, maka pasien positif terkena Tifus. Sebaliknya bila yang nampak ha­ nya satu garis merah, maka pasien negatif Tifus,” jelas Prof Hatta saat ditemui, Selasa (17/2). Kelebihan dari penemuan Ketua Program Studi Doktor (S3) Kedok­ teran Unhas ini, alatnya sangat ringan, mudah dibawa, dan tidak membutuhkan listrik atau sumber energi lain untuk membuatnya berfungsi. Selain itu, penggunaan­ nya mudah. Sehingga pendetek­ sian Tifus dapat dilakukan oleh petugas kesehatan sekalipun di­ tingkat Puskesmas. Paling penting ialah hasil diagnosis yang spesifik dapat diperoleh dalam waktu sing­ kat. Hanya butuh 10 menit. Hingga alat ini berhasil dibuat, selama 10 tahun terakhir Hatta telah menghasilkan banyak pub­ likasi internasional terkait pe­ nelitian tentang Tifus. Guru besar Fakultas Kedokteran Unhas ini, pun mendapatkan dukungan kerja sama dari Royal Tropical Institute di Belanda dan Wellcome Trust In­ stitute The Sanger Genome Cam­ pus, Cambridge. Penghargaan pun berhasil diperolehnya 2012 lalu, dalam ajang International Health Profesional of The Year 2012, dari International Biographical Centre, di Cambridge, Inggris (27/1). Tak hanya itu, alat pendeteksi Tifus ini telah mengantongi hak paten yang diakui secara interna­

sional. Mengingat Tifus merupa­ kan penyakit endemik wilayah tropis yang juga banyak me­ nyerang masyarakat di Afrika Selatan. Maka karya dokter yang juga editor dari Editorial Board of Edorium Journal of Molecular Biology Canada ini, telah diproduksi dan disebarluaskan dalam skala besar oleh perusahaan bernama Life Assay Diagnostic (Pty) Ltd, Cape Town. Namun cukup disayang­ kan, untuk di Indonesia sendiri alat ini belum dipublikasikan se­ cara nasional. Sekarang ini, alat pendeteksi Tifus itu masih digu­ nakan dalam skala Lab Fakultas Kedokteran Unhas, sebagai ba­ han praktikum untuk dipelajari dan diajarkan cara pembuatan­ nya. Kedepannya Ketua Perhimpu­ nan Ahli Mikrobiologi Klinik In­ donesia (PAMKI) Cabang Sulawesi Selatan ini, akan mengembang­ kan lebih banyak alat yang dapat mendiagnosa penyakit-penyakit infeksi, seperti Tifus. Sehingga dapat mempermudah dokter dalam mendiagnosa. “Prinsip kerja alat ini sangat sederhana sehingga dapat di­ terapkan untuk penyakit infeksi lain. Harapan saya, semoga alat ini bisa digunakan, di semua pe­ layanan kesehatan daerah agar dapat dijangkau oleh masyarakat sosial ekonomi ke bawah,” harap Prof Hatta mengakhiri wawan­ cara, Selasa (17/2). n Hartina Sapa

TEST PACK DIAGNOSIS TIFUS

ISTIMEWA


kampusiana

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

15

Diskusi Kenali Plagiarisme

KOMUNITAS Literasi Makassar kerjasama dengan Penerbitan Kampus identitas Unhas adakan diskusi yang mengangkat tema “Plagiarisme dan Pencuri Bahasa” di Lantai Dasar Gedung Ipteks, Kamis (11/2). Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Irmawati yang juga selaku redaktur Tempo Makassar ini pemateri yakni Alwy Rachman, Eddy Thamrin, Sudirman HN. Adapun penyebab plagiarisme menurut Sudirman dikarenakan plagiarisme gampang dilakukan, seseorang hanya perlu mengambil referensi dari karya orang kemudian mengutipnya tanpa mencantumkan nama pemilik karya. Untuk menghindari plagiat dapat dilakukan dengan cara parafrase yakni, de­ngan membaca karya seseorang kemudian menuliskannya dengan bahasa sendiri namun tetap mencantumkan nama dari karya seseorang “Kalau mengutip pendapat seseorang kita harus parafrase atau mengungkapkan kambali dalam bahasa kita, sehingga tidak persis sama,” tutur Sudirman. (Dya)

28 Anggota Calcaneus Menjalani Magang

TIM Bantuan Calcaneus Fakultas Kedokteran (TBM Calcaneus) kian aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, namun anggotanya juga tidak lupa de­ngan kodratnya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran yang harus terus belajar untuk mencapai gelar dokter. Untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama menjadi anggota TBM Calcaneus, anggota muda harus mengikuti program magang di Instalasi Rawat Darurat (IDR) di beberapa rumah sakit (RS) baik dalam maupun luar kota Makassar. Adapun RS yang telah menjalin kerjasama dengan TBM Calcaneus untuk kegiatan magang yakni RS Wahidin Sudirohusodo, RS Ibnu Sina, RS Bhayangkara, RS Salewangang Maros, RS Labuang Baji dan RS Syech Yusuf Gowa. Kegiatan ini diawali dengan pra magang terlebih dahulu, Rabu-Jumat (19-21/1). Peserta magang IRD dibekali ilmu terkait kasus-kasus emergency beserta pena­ nganan dan manajemennya. Kegiatan Pra Magang ini difasilitasi oleh senior-senior TBM Calcanus sendiri. Setelah itu, proses magang yang berjumlah 28 orang akan berlangsung selama sepekan, Senin-Sabtu (1-6/2) di rumah sakit yang telah ditentukan masing-masing. “Dengan adanya kegiatan magang IRD ini diharapkan pengetahuan, skill dan rasa kemanusiaan anggota TBM lebih meningkat lagi,” ujar Putri Permatasari salah seorang Pengurus TBM Calcaneus, Jum;at (28/1).(M26)

Siaga Ners Adakan Pelatihan Kegawatdaruratan

SIAGA Ners mengadakan Nasional Disaster and Emergency Training (NDET). Dengan tema “Creating Qualifed Generation to Handle Disaster and Emergency” kegiatan ini diadakan berkat kerja sama Siga Ners dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Ke­ perawatan (Himika), Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (Hipgabi), dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (Ilmiki). Dengan rentetan talkshow, pelatihan kegawatdaruratan dan kebencanaan, serta kongres Badan Penanggulangan Bencana Nasional, kegiatan ini diadakan selama lima hari, Rabu-Ahad (3-7/2) yang bertempat di Auditorium Prof Amiruddin,

IDENTITAS/SRIWIDIAH ROSALINA BST

Melantik: Wakil Rektor III Unhas Dr Ir Abdul Rasyid Jalil MSi melantik 24 pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Pantun dan Seni Kreatif (UKM PSK) di Pelataran Gedung Baruga Unhas, Kamis (4/2). Ada yang berbeda dari pelantikan pengurus pada umumnya, UKM PSK dilantik dengan mengucapkan Ijab Kabul.

ruang kuliah Prodi Ilmu Keperawatan dan Gedung Pertemuan Ilmiah. Kegiatan ini dibuka oleh Dr Ir Abdul Rasyid Jalil MSi selaku Wakil Rektor III Unhas.“Semoga melalui kegiatan ini dapat mengaktifkan kembali organisasi kebencanaan keperawatan, sehingga setiap bencana dapat ditanggulangi,” harap Cido sapaan akrabnya ketika memberi sambutan, Selasa (2/2). (Kbs)

Ikab Unhas Rayakan Hari Jadi Kelima

DENGAN mengangkat tema “Menjalin Silaturrahmi Menuju Ikab yang Sakinah Mawaddah Warahmah,” Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi Unhas (Ikab-Unhas) mengadakan perayaan hari jadi bertajuk Anniversary Ikatan Keluarga Bidik Misi Unhas kelima, Rabu (03/02). Tema tersebut mewakili harapan pengurus Ikab 2016 untuk menjadikan organisasinya layaknya keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah. Kegiatan ini diselenggarakan di Sekretariat Ikab Unhas, tepatnya di Lantai Dasar Kantin Ramsis Unit 2 Kampus Unhas Tamalanrea. Adapun rangkaian acaranya yaitu pembukaan, sambutan ketua umum Ikab tahun 2011 hingga 2016, sambutan kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Ir Muhammad Ali Mantung, M.Si yang sekaligus membuka acara secara resmi dan acara puncak berupa pemotongan tumpeng serta penyerahan bingkisan “Harapan saya dari kegiatan ini tercantum dari tema yang diangkat, dimana nantinya Ikab betul-betul layaknya menjadi keluarga,” ujar Syafriman Ali selaku Ketua Umum Ikab Tahun 2016. (M24)

Penerus Baru UKM Pantun

BERTEMPAT di Pelataran Baruga Andi Pangerang Pettarani, Unit Kegiatan Mahasiswa Pantun dan Seni Kreatif (UKm PSK) mengadakan pelantikan pengurus (Penerus), Kamis (4/2). Kegiatan yang mengangkat tema “Sipakatau, Siapkan Langkah Menggapai Cita yang Baru tersebut berlangsung dengan meriah.” Ada berbagai kesenian yang ditampilkan anggota pantun diantaranya break dance, beatbox dan Tari Zapin Penyengat.

Setelah itu, Pengurus baru yang berjumlah 24 orang dilantik langsung oleh Wakil Rektor III Dr Ir Abdul Rasyid Jalil MSi. Kepala Dinas pemuda dan olahraga (Dispora) Makassar Achmad Hendra Hakamuddin pun turut hadir dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya ia mengungkapkan akan melakukan kerja sama dengan UKM pantun. “UKM Pantun terpilih sebagai tim kreatif untuk event yang dinaungi oleh Dispora,” katanya. Satria selaku Ketua Terpilih berharap agar permasalahan yang dihadapi bisa diatasi dan UKM Pantun dapat menjalin kerjasama dan bersinergi dengan baik dengan semua pihak. “Menurut saya kendala dalam UKM adalah muntaber, mundur tanpa berita,” ungkapnya. (M21)

Serah Terima Jabatan Menwa Unhas

RESIMEN Mahasiswa Unhas (Menwa) adakan Upacara Serah Terima Jabatan Dan Pelantikan Komandan Resimen Mahasiswa Wolter Mongisidi Provinsi Sulawesi Selatan Satuan 701 Unhas periode 2016 Sabtu (6/02). Upacara ini diha­ diri oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Mahasiswa, Esan Lambang, SSos MSi, Agus Fajar S SK selaku Polda Sulsel, Polsek Tamalanrea, Menwa 702 Universitas Negeri Makassar dan senior Menwa Unhas serta perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa Unhas. Adapun rentetan acara yaitu pembukaan oleh panitia, laporan komandan upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Panca Darma Satya Re­ simen Mahasiswa Indonesia, pembacaan Surat Keputusan (SK) Rektor Unhas tentang susunan pengurus UKM Menwa Wolter Mongsidi satuan 701 periode 2016, serah terima jabatan dan penandatanganan naskah serah terima jabatan komandan satuan 701 unhas. Marwa Salam selaku Komandan periode sebelumnya mengharap kepada pengurus baru agar Menwa lebih baik lagi. ”Saya harap komandan yang terpilih untuk periode 2016 ini dapat memberikan warna baru serta dapat membawa Menwa ke ajang yang lebih baik lagi,” ujarnya, Sabtu (6/2). (M26)

Himpunan Mahasiswa Geologi Adakan Kompetisi Nasional

BERTAJUK “Competition Day” Organisasi Kemahasiswaan Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin (OKJTG-UH) gelar kompetisi tingkat nasional. Kegiatan ini merupakan agenda kedua dari rangkaian kegiatan Celebes Geo Summit 2016. Adapun rentetan kegiatan lainnya ialah seminar nasional, geowisata, profesional field trip, dan upacara penutupan. Mengangkat tema “Independency of Indonesia with Energy Diversification and Sustainable Development“, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi keberlangsungan energi di Indonesia agar lebih mandiri. Kompetisi dilaksanakan di Jusuf Kalla Centre kampus 2 Unhas, Kabupaten Gowa. Adapun kompetisinya berupa poster, paper dan kontes foto. Tema untuk kompetisi paper ialah “Geology for Human.” Sedang­ kan tema kompetisi poster ialah “Natural Disaster” dan kontes foto tema yang dilombakan ialah Geo Park of Indonesia. Universitas yang ikut berpartisipasi dikegiatan ini ialah Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah, Universitas Lampung, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjajaran, Universitas Halu Uleo, Universitas Putra Malaysia, UPN Veteran Jogjakarta, STT Akprind Jogjakarta dan Universitas Trisakti. Sebagai kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh OKJTG ini, bisa dikatakan cukup sukses. Hal ini dapat dilihat dari antusias peserta dan keterlibatan beberapa sponsor. “Semoga kegiatan ini dapat berlanjut dan bisa berjalan dengan baik,” ucap Richy Johaniskantu, Senin (08/02). Keluar sebagai pemenang dalam ka­ tegori Photo Contest yakni Dimas Rian Pratama dari UPN Veteran Jogjakarta, Juventus Naibobe dari STT Akprind Jogjakarta dan Wahyu Darmawan dari Universitas Halu Oleo. Sedangkan untuk lomba kategori paper yakni Putra Herianto dan Ichsan Ramadhan dari UGM, Izzudin Azzam dari Universitas Trisakti dan Faris Muhammad Noor dan Agra Adipta dari UPN Veteran Jogjakarta. (M24)


16

identitas

NO. 853 | TAHUN XLII | EDISI AKHIR FEBRUARI 2016

lintas

Meniti Alam Demi Kelestarian Oleh : Waafiah AKHIR tahun 2015 menyimpan momen yang takkan pernah terlupakan. Kesempatan untuk mencicipi pro­ ses kerja lapangan di salah satu taman nasional tertua di Indonesia menjadi kenyataan. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, atau yang biasa disingkat TNGGP menjadi tempat saya dan 18 kawan lainnya belajar cara mengelola kawasan kon­ servasi. TNGGP berlokasi di tiga kabupaten di Jawa Barat, yakni Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Sebulan belajar di TNGGP mengharuskan kami berpindah-pindah resort. Tempat kami yang per­ tama ialah Sarongge. Di sini kami disajikan banyak pemandangan indah, ada kebun teh yang membuat udara sejuk dan ­ladang yang ditumbuhi sayuran segar. Meskipun Sarongge merupakan daerah yang dikelili­ngi lahan pertanian. Namun, karena masuk di dalam kawasan taman nasional maka tetap dilakukan upaya konservasi hutan. Salah satu upaya ini ialah adopsi pohon. Kegiatan ini aktif dikampanyekan oleh Radio Komu­ nitas, tempat yang menjadi kediaman kami selama di Sarongge. Upaya adopsi pohon yang dilakukan ter­ nyata tidak mudah. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya upaya konservasi hu­ tan tak selamanya mulus. Di lain sisi, pemerintah juga harus meningkatkan pemberdayaan agar masyarakat yang memiliki lahan di kawasan taman nasional mau mengganti mata pencahariannya. Kesabaran, pantang menyerah dan manajemen

yang baik harus terlebih dahulu kami miliki sebelum me­mulai upaya konservasi hutan. Konservasi hutan bukan hanya mengenai hutan saja tetapi masyarakat sekitar hutan yang juga berupaya untuk bisa bertahan hidup dan menghidupi keluarganya. Beralih dari kampung Sarongge, minggu kedua kami lalui di Resort Gunung Putri. Kampung ini ialah salah satu jalur pendakian menuju ke puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango, sehingga tak jarang kami ber­ papasan dengan pendaki dari berbagai daerah selama beraktivitas di sana. Tinggal selama 10 hari membuat kami memper­ oleh pengalaman lebih banyak. Di sini kami sadar bahwa metode konservasi yang berhasil diterapkan di suatu daerah belum tentu akan berhasil di daerah lain. Petugas terkendala pada kondisi masyarakat yang berbeda dan program pemberdayaan yang tak kunjung memberikan hasil yang menggembirakan masyarakat. Melalui kampung Gunung Putri, kami mendaki puncak Gunung Gede. Kami merasakan kerasnya perjua­ngan petugas yang harus berpatroli mengawal para pendaki hingga puncak gunung. Lokasi penempatan terakhir yakni di Resort Manda­ la Wangi. Tempat ini yang paling ramai dikunjungi ka­ rena banyak spot ekowisata. Tak ada hari yang berlalu tanpa kedatangan pengunjung, mulai dari yang ingin sekedar mengunjungi canopy trail, air terjun Cibere­ um, air panas, hingga pengunjung yang ingin mendaki ke Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Tinggal di resort membuat saya me­mimpikan ru­

mah yang dikelilingi pohon-pohon tinggi dengan suara burung-burung yang setia mengiringi pagi dan sore hari. Begitulah kondisi di Resort Mandala Wangi, berbeda dari kedua resort yang kami tinggali sebelumnya. Selain petugas TNGGP, resort ini juga diramaikan oleh korps sukarelawan yang bernama Montana Volunteer. Di korps ini tergabung pemuda-pemu­ di yang mencintai alam dan lingkungan. Mereka mengajarkan kami bahwa alam bukan hanya sek­ edar tempat berekreasi, berkumpul menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat, atau hanya sekedar tempat berfoto untuk kemudian diunggah di sosial media. Kami belajar menghargai alam dari kecintaan kawan-kawan volunteer Montana. Alam itu hidup, bukan benda mati yang sehabis pakai, bisa dibuang begitu saja. Kekhawatiran akan terganggunya ekosistem di alam semakin meningkat seiring dengan berkembang pesatnya teknologi. Naiknya popularitas sosial media juga meningkatkan jumlah wisatawan yang mulai ber­ wisata alam. Ini bisa mengancam keselamatan alam kita. Maka pesan yang kami dapat dari perjalanan ini adalah jadilah wisatawan yang cerdas dalam berwisa­ ta alam. n Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kehutanan Minat Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Angkatan 2011


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Identitas Akhir Februari by identitas unhas - Issuu