Skip to main content

BIOZINE EDISI 8 [31-40]

Page 1


Pangan biru (blue food) merupakan konsep pangan yang berasal dari ekosistem perairan, baik laut, pesisir, maupun perairan air tawar yang mencakup ikan, udang, rumput laut, kerang, kepiting, cumi-cumi, dan berbagai organisme akuatik lainnya yang dimanfaatkan sebagai sumber konsumsi manusia. Dalam perkembangan isu ketahanan pangan global, pangan biru mulai dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk mengatasi peningkatan kebutuhan pangan dunia akibat pertumbuhan populasi yang sangat pesat Selain itu, pangan biru memiliki kandungan gizi yang tinggi, terutama protein, asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan manusia Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi produk perikanan dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, meningkatkan perkembangan otak, dan mengatasi masalah kekurangan gizi di berbagai negara berkembang.

Dalam konteks tersebut, pangan biru memiliki potensi besar untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals

(SDGs), khususnya tujuan menghapus kelaparan, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global akibat konflik geopolitik, pandemi, dan perubahan iklim, keberadaan pangan biru menjadi semakin relevan sebagai sumber pangan masa depan yang mampu menyediakan nutrisi secara lebih efisien dibandingkan sebagian besar sumber protein daratan. Produksi ikan dan hasil perairan umumnya membutuhkan jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan peternakan sapi dan menghasilkan konversi pakan yang lebih efisien sehingga dianggap lebih ramah lingkungan Namun demikian, pemanfaatan pangan biru juga menghadapi tantangan serius seperti penangkapan ikan berlebih (overfishing), pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, penurunan kualitas perairan, serta dampak perubahan iklim terhadap produktivitas laut Jika tidak dikelola secara berkelanjutan, sumber daya perairan justru dapat mengalami penurunan yang mengancam ketahanan pangan masyarakat dunia

Pangan Biru sebagai Pilar

Pangan Biru sebagai Pilar

Ketahanan Pangan Global: Ketahanan Pangan Global: Implikasi dan Peran Diplomasi Implikasi dan Peran Diplomasi

Indonesia.Indonesia.

Dengan demikian, pengembangan pangan biru tidak hanya berkaitan dengan ketahanan pangan, tetapi juga berkaitan erat dengan pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan ekonomi nasional.

Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai memperkuat konsep ekonomi biru (blue economy) yang menekankan pemanfaatn sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan. Konsep tersebut diwujudkan melalui penguatan budidaya perikanan ramah lingkungan, rehabilitasi mangrove, perlindungan terumbu karang, pengawasan terhadap praktik penangkapan ikan ilegal, dan pengembangan industri perikanan berbasis inovasi teknologi. Dalam konteks diplomasi internasional, Indonesia juga aktif mempromosikan pentingnya pengelolaan laut berkelanjutan melalui berbagai forum global seperti United Nations dan Association of Southeast Asian Nations Indonesia juga mendorong kerja sama regional dalam pemberantasan illegal fishing, pengelolaan stok ikan lintas batas, perlindungan ekosistem pesisir, dan peningkatan kapasitas teknologi perikanan berkelanjutan Peran Indonesia menjadi sangat penting karena negara ini memiliki sumber daya laut yang besar sekaligus pengalaman dalam menghadapi tantangan pengelolaan perairan tropis yang kompleks Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemimpin dunia dalam pengembangan pangan biru apabila mampu mengintegrasikan kebijakan ketahanan pangan, konservasi lingkungan, inovasi teknologi, dan diplomasi internasional secara berkelanjutan Dengan demikian, pangan biru tidak hanya menjadi solusi terhadap ancaman krisis pangan dunia, tetapi juga menjadi sarana strategis bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam menciptakan pembangunan global yang berkelanjutan dan berkeadilan

Generasi Hijau: Pertanian Ramah Lingkungan

Generasi hijau dalam pertanian mengacu pada pendekatan pertanian yang mengutamakan keberlanjutan lingkungan, kesehatan ekosistem, dan kesejahteraan petani Inovasi biotek-

nologi ramah lingkungan atau bioteknologi hijau dinilai sebagai solusi strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong praktik pertanian berkelanjutan di Indonesia. Pendekatan ini perlu diterapkan berbasis komunitas agar keberhasilannya benar-benar dirasakan hingga tingkat akar rumput.

Dr. I Nengah Muliarta, akademisi Prodi Agroteknologi dari Universitas Warmadewa, menekankan bahwa bioteknologi ramah lingkungan bukan sekadar konsep akademis, melainkan serangkaian aplikasi produk hayati dan teknologi proses untuk mengurangi ketergantungan pada input kimia sintetis. Fokus utama adalah meningkatkan kesuburan tanah dan biodiversitas mikroba, sehingga ekosistem pertanian menjadi lebih sehat dan tangguh. Bioteknologi hijau dapat menekan pencemaran air dan tanah akibat penggunaan pestisida serta pupuk kimia berlebihan balipuspanews

Inovasi Bioteknologi untuk Ketahanan Pangan

Bioteknologi muncul sebagai jawaban menjanjikan untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan global yang semakin kompleks. Berikut kontribusi nyata tanaman bioteknologi terhadap ketahanan pangan, keberlanjutan, dan solusi perubahan iklim. Tanaman biotek berkontribusi pada ketahanan pangan, pakan, dan serat dengan meningkatkan produktivitas tanaman. Pertanian bioteknologi menghasilkan pendapatan pertanian sebesar US$261,3 Miliar dari penanaman tanaman bioteknologi. Biaya produksi menjadi lebih rendah karena adanya penghentian pembajakan, penghentian semprotan pestisida, dan penghentian tenaga kerja sehingga pangan lebih terjangkau.

Bioteknologi menyelamatkan 183 juta hektar lahan karena meningkatkan hasil dengan luas lahan terbatas, mencegah deforestasi, dan melindungi biodiversitas. Tanaman bioteknologi membantu menghemat 39 miliar Kg CO2, dengan penurunan penggunaan bahan bakar 14,6 miliar liter setara dengan penghapusan 25,9 juta mobil berkendara selama 1 tahun. Tanaman biotek meningkatkan kehidupan 17 Juta Petani dan keluarga mereka yang totaling lebih dari 65 Juta Orang sejak 1996. Telah menyajikan makanan, pakan, dan tempat berlindung bagi 8,2 miliar orang di dunia Implementasi melalui biofertilizer atau pupuk hayati dan biopestisida lokal dinilai efektif memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani

Bioteknologi Hijau dan Kearifan Lokal

Bioteknologi hijau menawarkan pendekatan yang berupaya menggabungkan inovasi ilmiah dengan prinsip keberlanjutan lingkungan Tujuannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan melestarikan sumber daya alam untuk generasi mendatang

Muliarta mencontohkan praktik bioteknologi tradisional di Bali yang sudah diwariskan turuntemurun. Andongan adalah penjernihan air dengan tanaman di Subak, dalam ilmu modern disebut fitoremediasi. Beberekan adalah dekomposisi limbah pertanian dengan mikroba, yang sesungguhnya merupakan pengomposan anaerob sederhana.

Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, Dekan FPST-Unwar, menambahkan bahwa teknologi modern seperti pemetaan satelit, sensor tanah, dan aplikasi data telah membawa perubahan besar dalam cara bertani. Namun integrasi dengan kearifan lokal tetap sangat penting. Inovasi berbasis kearifan lokal mampu memanfaatkan pengetahuan lama sekaligus meningkatkan efektivitas produksi.

Tantangan dan Solusi

Adopsi bioteknologi di lapangan masih menghadapi tantangan Penolakan masyarakat akibat minimnya pemahaman dan kekhawatiran terhadap GMO dapat diatasi melalui edukasi dan pelatihan berkelanjutan Keterbatasan pengetahuan petani membutuhkan pendampingan teknis dari akademisi dan pemerintah Kebutuhan riset sesuai kondisi agroklimat daerah memerlukan riset berbasis solusi lokal. Ketersediaan produk bioteknologi berkualitas yang terjangkau membutuhkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas petani. Bioteknologi adalah alat transformasi yang kuat untuk pertanian yang lebih inklusif dan ekologis, terutama bila dipadukan dengan model Community-Supported Agriculture atau CSA.

Masa Depan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Teknologi tidak selalu berarti modernisasi yang mahal Solusi sederhana dari tradisi justru sering kali efektif dan ramah lingkungan Teknik irigasi tradisional yang digunakan petani selama berabadabad bisa menjadi inspirasi dalam pengembangan teknologi irigasi modern Dengan memadukan teknologi dan kearifan lokal, pertanian Indonesia diyakini lebih siap menghadapi perubahan iklim sekaligus mampu menjaga ketahanan pangan Mari

kita bersama-sama mengintegrasikan inovasi dengan kearifan lokal agar tercipta sistem pertanian yang berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

PERAN BIOTEKNOLOGI DALAM KETAHANAN PANGAN

Bioteknologi membantu meningkatkan kualitas dan jumlah produksi pangan, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik Dalam bidang pertanian, bioteknologi dapat menghasilkan tanaman unggul yang lebih tahan terhadap hama, penyakit, dan cuaca ekstrem. Tanaman yang lebih kuat akan menghasilkan panen yang lebih baik dan mengurangi risiko gagal panen

Selain itu, bioteknologi juga membantu mengurangi penggunaan bahan kimia berlebihan Contohnya adalah penggunaan pupuk hayati dan mikroorganisme yang mampu menyuburkan tanah secara alami. Cara ini lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara terus-menerus

Bioteknologi juga dapat membantu pemanfaatan lahan yang kurang subur Melalui pengembangan teknologi pertanian, beberapa tanaman dapat tetap tumbuh pada kondisi lingkungan yang memiliki sedikit air atau tanah yang kurang baik. Dengan begitu, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan

PEMANFAATAN PANGAN LOKAL

Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan. Singkong, jagung, sagu, talas, dan ubi jalar merupakan contoh pangan lokal yang mudah ditemukan di berbagai daerah Pemanfaatan pangan lokal penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis bahan pangan saja.

Bioteknologi dapat meningkatkan nilai guna pangan lokal melalui proses pengolahan dan fermentasi Salah satu contoh yang paling dikenal adalah tempe Tempe dibuat melalui proses fermentasi kedelai menggunakan jamur Rhizopus. Proses tersebut membuat kandungan gizi tempe menjadi lebih baik dan mudah dicerna tubuh. Selain tempe, singkong dan sagu juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, seperti tepung, mie, dan makanan ringan Pengolahan tersebut membantu meningkatkan nilai ekonomi pangan lokal sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

BIOTEKNOLOGI DAN LINGKUNGAN

Pengembangan bioteknologi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan. Penggunaan pupuk hayati dan pengendalian hama biologis membantu mengurangi pencemaran tanah dan air akibat bahan kimia Selain itu, penerapan bioteknologi perlu disesuaikan dengan kondisi ekosistem lokal dan kearifan masyarakat setempat Dengan menggabungkan teknologi modern dan pengetahuan lokal, pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan secara lebih bijak dan berkelanjutan.

KESIMPULAN

Bioteknologi memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan berbasis ekosistem lokal Melalui pengembangan tanaman unggul, penggunaan pupuk hayati, dan pengolahan pangan lokal, bioteknologi membantu meningkatkan kualitas serta ketersediaan pangan masyarakat. Dengan memanfaatkan kekayaan alam lokal secara bijak dan tetap menjaga lingkungan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menciptakan sistem pangan yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan bagi masa depan

Y

uk kurangi Yuk kurangilimbah pangan limbah pangan untuk masa untuk masa

depan bumi depan bumi

Di era modern seperti sekarang, makanan menjadi sesuatu yang sangat mudah ditemukan. Berbagai jenis makanan dijual di pasar, supermarket, restoran, hingga layanan pesan antar yang dapat diakses kapan saja Kemudahan tersebut sering kali membuat masyarakat kurang menghargai makanan yang dimiliki. Tidak sedikit orang yang membeli makanan secara berlebihan hanya karena tergoda promo atau keinginan sesaat, lalu membuangnya ketika makanan tersebut tidak habis dimakan. Kebiasaan sederhana yang sering dianggap sepele ini ternyata memberikan dampak besar bagi lingkungan. Setiap makanan yang terbuang sebenarnya menyimpan banyak proses panjang di baliknya, mulai dari penanaman, perawatan, panen, distribusi, hingga sampai ke tangan konsumen. Semua proses tersebut membutuhkan air, energi, lahan, serta tenaga manusia yang tidak sedikit Ketika makanan dibuang begitu saja, maka semua sumber daya itu ikut terbuang secara sia-sia.

Limbah pangan juga menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan yang cukup besar. Sampah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir akan mengalami pembusukan dan menghasilkan gas metana. Gas ini termasuk gas rumah kaca yang dapat mempercepat pemanasan global dan perubahan iklim. Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan seharihari, seperti cuaca yang semakin tidak menentu, suhu bumi yang meningkat, hingga bencana alam yang lebih sering terjadi. Ironisnya, di saat banyak makanan terbuang, masih ada sebagian masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan yang layak Hal ini menunjukkan bahwa masalah limbah pangan bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut kepedulian sosial dan rasa kemanusiaan.

Mengurangi limbah pangan sebenarnya dapat dimulai dari diri sendiri melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana. Salah satu langkah yang paling mudah dilakukan adalah membeli makanan sesuai kebutuhan.

Dengan membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar atau supermarket, seseorang dapat lebih bijak dalam menentukan jumlah makanan yang akan dibeli sehingga tidak banyak bahan yang terbuang. Selain itu, cara menyimpan makanan juga perlu diperhatikan agar kualitas makanan tetap terjaga dan tahan lebih lama. Banyak orang sering kali membuang sayur, buah, atau makanan lain hanya karena cara penyimpanannya kurang tepat. Padahal, jika disimpan dengan baik, makanan tersebut masih dapat dikonsumsi dalam waktu yang lebih lama. Kebiasaan menghabiskan makanan juga perlu ditanamkan sejak kecil. Sering kali seseorang mengambil makanan dalam jumlah banyak, tetapi tidak mampu menghabiskannya. Akan lebih baik jika mengambil makanan secukupnya terlebih dahulu, lalu menambah jika masih merasa lapar Selain mengurangi limbah, kebiasaan ini juga mengajarkan sikap menghargai makanan dan rasa syukur atas apa yang dimiliki. Sisa makanan yang masih layak pun sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi menu baru yang kreatif dan menarik. Misalnya, nasi sisa dapat diolah menjadi nasi goreng, roti tawar dapat dijadikan camilan, atau kulit buah dan sayuran dapat dimanfaatkan menjadi kompos alami untuk tanaman.

Limbah pangan juga menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan yang cukup besar. Sampah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir akan mengalami pembusukan dan menghasilkan gas metana Gas ini termasuk gas rumah kaca yang dapat mempercepat pemanasan global dan perubahan iklim. Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan seharihari, seperti cuaca yang semakin tidak menentu, suhu bumi yang meningkat, hingga bencana alam yang lebih sering terjadi. Ironisnya, di saat banyak makanan terbuang, masih ada sebagian masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan yang layak. Hal ini menunjukkan bahwa masalah limbah pangan bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut kepedulian sosial dan rasa kemanusiaan.

Taman Nasional Alas Purwo selalu menyimpan cerita tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya. Bagi mahasiswa Biologi, kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium alam raksasa yang kaya akan keanekaragaman hayati. Baru-baru ini, mahasiswa Biologi Angkatan 2024 telah menyelesaikan agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di sana, dipimpin oleh Kak Fery selaku ketua angkatan Mengingat lokasi praktikum yang cukup ekstrem, persiapan dilakukan secara matang meliputi aspek fisik, mental, dan administrasi. Persiapan fisik mencakup pembiasaan berjalan jauh, menjaga pola makan, hingga rutin minum air putih. Secara mental, fokus utama mereka adalah menata niat untuk murni mencari ilmu. Urusan administrasi seperti pengurusan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi), pembagian kelompok, jadwal, serta penyiapan alat praktikum abiotik dan perlengkapan pribadi seperti sepatu boots juga disiapkan jauh-jauh hari

Sebagai ketua angkatan, Kak Fery bertindak sebagai perantara antara praktikan dan panitia, di mana koordinator utama KKL dipegang oleh angkatan di atasnya. Saat di lapangan, fokusnya tetap pada praktikum karena bagan kerja kepanitiaan sudah berjalan mandiri. Keselamatan peserta menjadi prioritas utama. Langkah preventif dilakukan sejak awal dengan mendatangkan dokter dari klinik Universitas Negeri Malang (UM) untuk memberikan pembekalan pertolongan pertama, seperti penanganan gigitan ular dan kelelahan fisik. Di lapangan, mobil ambulans dan tim medis dari klinik UM selalu siaga mengikuti di jalur terdekat. Setiap kelompok juga diwajibkan membawa kotak P3K mandiri, menggunakan atribut pelindung, serta mengisi formulir riwayat penyakit demi antisipasi darurat medis

Bagi mahasiswa Biologi, KKL di Alas Purwo memberikan esensi edukasi nyata yang menguji teori-teori ekologi secara langsung di alam. Mahasiswa dapat melatih keterampilan penting seperti pengamatan, pencatatan data, dan identifikasi spesies dibantu oleh para ahli Tentu saja, perjalanan ini tidak luput dari hambatan alam seperti cuaca panas ekstrem, medan berpasir di pantai, dan rute bebatuan terjal yang menguras fisik. "Tantangan paling berkesan adalah saat kami menuju Pantai Pancur dari Sadengan melalui jalur pengamatan burung. Di sana banyak sekali pohon tumbang. Jika pohonnya kecil kami bisa memangkas dahannya, namun jika pohonnya sangat besar, mau tidak mau kami harus memutar jalan mencari jalur lain," kenang Kak Fery. Namun, segala lelah terbayar oleh pesona Alas Purwo, seperti kawanan merak yang melintas dekat, kehidupan Banteng Jawa di habitat aslinya, hingga temuan menarik berupa spesies baru yang pertama kali ditemukan di wilayah Jawa Timur. Sebagai penutup, Kak Fery berpesan kepada angkatan selanjutnya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan mental sejak awal, rajin berkonsultasi dengan kakak pendamping, serta membuang jauh-jauh sikap egois demi menjaga kekompakan tim selama di lapangan

Pemilihan Taman Nasional Alas Purwo sebagai lokasi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) didasarkan pada pertimbangan kurikulum Program Studi Biologi di semester keempat Menurut Pak Bagus, selaku dosen pembimbing, mahasiswa dibekali materi matakuliah ekologi untuk mempelajari cara pengambilan data dan metode ilmiah yang baku. Alas Purwo dipilih karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi serta memiliki beberapa tipe ekosistem sekaligus, seperti savana, pantai, dan hutan Melalui karakteristik tersebut, mahasiswa dapat memegang kendali penuh untuk belajar, menganalisi, mengambil data, dan mengumpulkan informasi secara nyata di lapangan dengan tipe ekosistem yang berbeda-beda sehingga mendapatkan pengalaman yang sangat kaya Tantangan terbesar dalam membimbing kegiatan ini adalah faktor jumlah peserta yang mencapai sekitar 340 orang di luar dosen dan laboran. Mengatur mobilitas massa dalam jumlah besar di tengah medan yang menantang tentu bukan hal mudah, namun berkat bantuan panitia dan asisten pendamping yang kompeten, seluruh kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

Dalam perspektif akademis, fenomena yang terjadi di alam bebas khususnya di Alas Purwo bersifat sangat fluktuatif dan penuh dinamika, terutama jika dikaitkan dengan tekanan antropologi atau aktivitas manusia di alam. Korelasi antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik lapangan sangatlah erat. Teori mengenai ekologi, kehidupan satwa, tumbuhan, mikroorganisme, hingga ekosistem unik yang dipelajari di dalam laboratorium kampus terbukti sangat mendukung keberhasilan kegiatan observasi mahasiswa di lapangan. Terkait dengan mitigasi risiko dan keselamatan, pihak dosen menekankan pentingnya prediksi risiko terhadap hewan liar. Evaluasi dari tahun sebelumnya yang sempat menghadapi serangan lebah dijadikan pelajaran berharga sehingga pada KKL kali ini kendala tersebut tidak terulang kembali. Mahasiswa juga diwajibkan melakukan olahraga rutin sebelum keberangkatan untuk menyiapkan kebugaran fisik, didukung oleh tim medis dari klinik UM yang selalu bersiap siaga di lapangan

Data-data yang dikumpulkan oleh mahasiswa selama KKL memiliki kontribusi nyata, baik bagi literatur akademis maupun upaya konservasi di Taman Nasional Alas Purwo. Melalui pengamatan yang masif, data yang diperoleh dapat diserahkan kepada petugas balai konservasi sebagai dasar pertimbangan untuk melindungi spesies asli dan mencegah penurunan populasi Salah satu capaian membanggakan dalam KKL kali ini adalah tercatatnya temuan persebaran ular yang belum terdata di wilayah Alas Purwo, Jawa Timur, yang nantinya akan dipublikasikan menjadi artikel ilmiah. Di kawasan Sadengan terdapat keberadaan satwa endemik Jawa, diantaranya yaitu Banteng Jawa dan Merak, serta terdapat area pendaratan penyu bertelur yang potensial untuk studi lanjutan. Sebagai evaluasi ke depan, Pak Bagus menyarankan agar jajaran dosen pengampu ekologi lainnya dapat dilibatkan secara lebih aktif di lapangan. Koordinasi dengan petugas balai juga perlu ditingkatkan untuk menghindari kesalahpahaman terkait ketersediaan pemandu lokal (guide), karena perjalanan bersama antara dosen, mahasiswa praktikan, dan petugas lapangan akan menjamin keselamatan serta efisiensi penelitian yang jauh lebih baik.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
BIOZINE EDISI 8 [31-40] by hmdbiologilebahmaduum - Issuu