Daun Sirih Merah Melawan Tifus : Daun Sirih Merah Melawan Tifus :
Penelitian
Penelitian In Silico dan Uji Tikus
InSilicodanUjiTikus
Terinfeksi Salmonea typhi Berbasis
TerinfeksiSalmoneatyphiBerbasis
Nanoteknologi Liposom
NanoteknologiLiposom


Tifus masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling umum di negaranegara berkembang, termasuk Indonesia, dan penyebab utamanya adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi Antibiotik konvensional yang digunakan secara luas sekarang menyebabkan efek samping yang serius sebagai akibat dari peningkatan resistensi. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi yang lebih inovatif, lembut, dan juga ramah lingkungan Flavonoid dan tanin yang terdapat dalam daun sirih merah (Piper crocatum) memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi yang dapat ditingkatkan dengan teknologi liposom. Dalam konteks ini, Ibu Siti Imroatul Maslikha, S Si , M Si hadir sebagai peneliti yang berfokus pada aplikasi nanoteknologi liposom daun sirih merah sebagai pengobatan yang lebih efektif dan aman bagi kesehatan global Pada wawancara ini, Ibu Ika menjelaskan bahwa tingginya angka infeksi Salmonella typhi di Indonesia, yang menempati urutan pertama di Asia dan ketiga di dunia, menjadi latar belakang penting dari penelitiannya Penggunaan antibiotik jangka panjang dalam pengobatan tifoid dapat menimbulkan kekhawatiran akan munculnya resistensi, sehingga diperlukan terobosan baru. Di sinilah peran liposom dari sirih merah diharapkan menjadi solusi alami dan lebih efektif
Penelitian yang dilakukan Ibu Siti memiliki tujuan utama untuk mengetahui efektivitas liposom sirih merah dalam mengatasi inflamasi pada hewan coba yang terinfeksi Salmonella typhi, dibandingkan dengan obat kontrol dan ekstrak sirih merah biasa Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi liposom tersebut memiliki efektivitas yang lebih tinggi, menandakan potensi besar dari teknologi ini dalam pengembangan terapi alternatif Dalam menjamin akurasi dan reprodusibilitas data, Ibu Siti menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tahapan eksperimen. Pemilihan hewan coba yang bersertifikat kelayakan serta penggunaan kandang bertekanan negatif sesuai standar nasional juga menjadi perhatian utama Hal ini dilakukan untuk menjaga validitas hasil penelitian dan keamanan selama proses berlangsung. Menariknya, Ibu Ika turut melibatkan 7 hingga 8 mahasiswa dalam penelitiannya, sebagian besar berasal dari Universitas Negeri Malang, dan satu orang dari Universitas Brawijaya. Keterlibatan mahasiswa ini menjadi bagian dari komitmennya untuk membina generasi peneliti muda melalui riset yang aplikatif

Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif, khususnya dengan dosen dari Universitas Brawijaya, tempat Ibu Siti menempuh studi doktoralnya Pada tahap sebelumnya, ia juga pernah menggandeng kolaborator luar negeri. Penelitian ini dibagi dalam tiga tahap: in silico (menggunakan software untuk memprediksi potensi antiinflamasi sirih merah), formulasi dan karakterisasi liposom, serta uji in vivo pada hewan coba. Beberapa hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal nasional, seperti JP Press yang menerima penelitian berbasis dry lab, dan TIC NPR yang telah menerima artikel terkait aktivitas antioksidan dan kandungan fenolik. Ke depan, Ibu Siti berencana mengembangkan proyek kolaboratif yang lebih besar dengan BRIN, Universitas Brawijaya, serta kolaborator asing Menurutnya, bioteknologi berperan penting dalam keberlanjutan kesehatan, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan keamanan pangan Ia menekankan bahwa kebersihan makanan sangat penting dalam mencegah penyakit seperti tifus Maka dari itu, pengembangan obat berbasis nanoteknologi menjadi langkah yang relevan dan diperlukan
Tantangan terbesar penelitian ini adalah proses optimasi formula liposom yang memerlukan waktu dan ketelitian tinggi Selain itu, pelaksanaan uji coba pada hewan juga memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama dalam penggunaan alat pelindung diri (APD) dan kepatuhan pada SOP laboratorium
Menurut Ibu Siti, tren riset bioteknologi lima tahun ke depan akan didominasi oleh nanoteknologi karena potensinya yang besar dalam aplikasi medis dan terapeutik Dedikasi dan ketekunan beliau dalam meneliti, serta komitmen dalam melibatkan mahasiswa dan kolaborator lintas institusi, menjadikan Ibu Siti Imroatul Maslikha sebagai sosok inspiratif (Niluh)



Aditya Pamungkas Yohanlis adalah mahasiswa aktif Program Studi S1
Biologi angkatan 2024 di Universitas
Negeri Malang yang akrab disapa Adit. Ia lahir dan besar di Cianjur, Jawa Barat. Latar belakang keluarga yang memiliki kecenderungan terhadap dunia seni turut membentuk karakter Adit menjadi pribadi yang ekspresif, tekun, dan terbuka terhadap pengalaman baru. Sejak memasuki dunia perkuliahan, Adit menunjukkan semangat belajar yang tinggi serta konsistensi dalam menyeimbangkan antara akademik dan pengembangan diridiluarkelas
Pada masa libur semester, Adit memilih untuk tidak berdiam diri Ia justru mengisi waktu luangnya dengan berbagai aktivitas produktif, salah satunya mengikuti lomba-lomba baik dalam lingkup kampus maupun di luar kampus. Baginya, partisipasi dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan perkuliahan yang lebih kompleks, serta menjadi sarana untuk membangun relasi baru, terutama di wilayah Jawa Timur Selain itu, ia memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan keterampilan non-akademik, seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan public speaking, yang menurutnya penting dalam menghadapi tantangan dunia kerja di masadepan.

Adit menerapkan manajemen waktu yang baik dalam kesehariannya dengan membuat daftar tugas (to-do list) yang disusun berdasarkan tingkat prioritas. Awalnya ia menulis daftar tersebut secara manual di kertas, kemudian mengembangkannya ke platform digital yang dilengkapi alarm sebagai pengingat, sehingga meminimalkan risiko kelalaian dalam menyelesaikan tugas Metode ini membantunya dalam menyusun strategi belajardanbekerjasecaralebihefisien.
Beberapa pencapaian Adit di bidang non-akademik antara lain terpilih sebagai
Duta FMIPA, Duta Kampus UM, hingga Duta Ekonomi Kreatif Jawa Timur Dari berbagai kompetisi tersebut, pengalaman yang paling membekas adalah ketika mengikuti seleksi Duta Kampus UM dan Duta Ekonomi Kreatif. Menurutnya, proses seleksi yang ketat dan persaingan yang cukup tinggi mendorongnya untuk terus berlatih dan memberikan kemampuan terbaiknya. Ketertarikannya pada dunia duta dimulai sejak SMA, ketika ia mengikuti ajang Duta PariwisataJawaTimur
Ia menyadari bahwa keterlibatannyadalamajangserupadi jenjang perguruan tinggi memiliki dampak positif dalam membangun jejaring, memperluas wawasan, serta meningkatkankepercayaandiri.
Ketika dalam proses persiapan mengikuti lomba, Adit tidak hanya berfokus pada latihan public speaking, tetapi juga mempersiapkan penampilan bakat, serta mempelajari etika formal seperti table manners. Ia mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah perasaan minder ketika harus bersaing dengan peserta lain yang sudah memiliki kemampuan komunikasi publik yang mumpuni Namun, berkat dukungan moral dan materiil dari orang tua yang bahkan reladatangjauh-jauhkeMalanguntuk menyaksikan babak grand final serta dukungan penuh dari pihak dosen pembimbing seperti Ibu Kennis yang turut membantu dalam proses pengajuan dana, Adit mampu melewati tantangan tersebut dengan baik.
Menurut Adit, kunci menghadapi tantangan hidup adalah keberanian, sepertiyangiaungkapkan

“Kita harus berani melangkah keluar dari zona nyaman, jangan takut untuk mencoba hal-hal baru Pengalaman baik maupun buruk harus dijadikan pelajaran hidup yang berarti” Ia menekankan bahwa mental yang kuat sangat dibutuhkan untuk menghadapi hasil yang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi.
Dari berbagai pengalaman yang dijalaninya mulai dari kegugupan hingga kegagalan Adit belajar untuk bangkitdanterusmencoba Iapercaya bahwa konsistensi hanya dapat dicapai apabila seseorang memiliki tujuan yang jelas dan motivasi yang kuat, yang sumbernya berasal dari dalam diri sendiri, keluarga, serta lingkungan yang suportif Melalui wawancara ini, dapat disimpulkan bahwa Aditya Pamungkas adalah sosok mahasiswa yang tidak hanya cemerlang dalam akademik, tetapi juga aktif, inovatif, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pengembangan diri secara menyeluruh Komitmennya untuk terus belajar dan berkontribusi menjadi inspirasi yang patut dicontoh oleh mahasiswa lain dalam menjalani kehidupan kampus yang produktif dan bermakna (Risa)


Dr. Hardianto: Lulusan Terbaik yang
Dr. Hardianto: Lulusan Terbaik yang
Membuktikan Bahwa Usia Muda Bukan Membuktikan Bahwa Usia Muda Bukan
Penghalang Untuk Terus Mengukir Penghalang Untuk Terus Mengukir
Jejak Prestasi Jejak Prestasi




MotivasiuntukBerkaryadiUsiaMuda
"Selagi muda, saya ingin memaksimalkan waktu untuk belajar dan meneliti. Otak masih segar, semangat masih tinggi, jadi kenapa tidak dimanfaatkan sebaik mungkin?" ungkapnya Baginya, pendidikan bukan sekadar jenjang, tetapi proses pembentukan cara berpikir dan semangat untuk memberi kontribusi nyata Meski teman-temannya banyak yang telah bekerja atau berkeluarga, ia tetap memilihjalurakademikkarenapercayabahwasetiap orangmempunyaiwaktunyasendiriuntukbersinar
TidakAdaJalanPintasdalamProsesdanTantangan
Perjalanan S3 tentu tidak mudah Tantangan datang sejak awal, mulai dari adaptasi dengan ritme riset yang intensif, tekanan publikasi internasional, hingga berdiskusi dengan rekan-rekan satu kelas yang sebagian besar merupakan dosen senior Salah satu ujian terberat yang beliau hadapi adalah saat mendapatkan nilai yang kurang maksimal di semester awal. Mungkin bagi sebagian orang, nilai tersebut sudah cukup baik, tetapi tidak bagi Dr. Hardianto. la memutuskan untuk mengulang mata kuliah tersebut di semester berikutnya, semata-mata karena merasa usahanya belum maksimal. Dan dari situlah ia belajar bahwa kesempurnaan bukan tentanghasil,tapitentangkomitmen.
Menjadilulusanterbaikdiprogramdoktor bukanlah hal mudah Tapi Dr Hardianto berhasil membuktikan bahwa usia muda bukan alasan untuk tidak bersinar Lulus di usia 27 tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan S3 nya hanya dalam 5 semester dengan IPK sempurna 4,00 dan dinobatkan sebagaiLulusanTerbaikS3PendidikanBiologi Universitas Negeri Malang periode ke-132 tahun2025.
Dr. Hardianto memulai langkah akademiknya di Universitas Negeri Makassar. Disana,iamenempuhstudiS1ProgramStudi Pendidikan Biologi dan lulus pada Januari 2020, hanya dalam waktu 3,5 tahun (7 semester) Tak menunggu waktu lama, ia langsung melanjutkan S2 di Universitas Negeri Malang padai jurusan yang sama, danberhasilmenyelesaikannyadalamwaktu 1 tahun 8 bulan pada 2022 Masih di tahun yang sama, ia mendaftar ke jenjang S3 dan resmi menyandang gelar doktor pada 9 Januari 2025 tanpa sekalipun masuk semester ke-6 Semua itu ia capai bukan karena ingin mengejar gelar, tetapi karena semangat untuk terus berkembang dan menciptakandampakmelaluipendidikan.
Dibalik Kesuksesan terdapat Peran OrangOrangPenting
Dr Hardianto tidak lupa berterima kasih kepada orang-orang yang telah berperan besar dalam perjalanannya Keluarga, terutama orang tua, adalah pendukung utama Sementara itu, Prof Susriyati Mahanal yangmerupakandosenpembimbingnyasejak S2 hingga S3, menjadi sosok yang tak tergantikan "Beliaubukanhanyamembimbing secara akademik, tetapi juga menjadi motivator saat semangat saya turun," jelasnya.
PesanuntukMahasiswaIndonesia: UntukmahasiswadijenjangS1,S2,maupunS3,Dr.Hardiantoberpesan:
“Nikmati prosesnya, Jangan menyerah meskipun lelah, Mematuhi aturan kampus, mendengarkanpembimbing,dantetapkonsisten.Kamupastiakansampaidititik terbaikmu.”
Dr. Hardianto bukan hanya lulusan terbaik. Ia adalah contoh nyata bahwa ketekunan, rasa ingin tahu, dan semangat belajar bisa mengantarkan siapa pun menujuprestasigemilang “tanpa harus menunggu usia matang, tanpa harus menunggu kesempatan datang“

MenjadiLulusanTerbaik:ApaSyaratnya?
Menurut Dr Hardianto, ada dua indikator utama yang menjadi dasar penilaian lulusan terbaikdiUniversitasNegeriMalang:
1 Durasistuditercepat
2 IndeksPrestasiKumulatiftertinggi
Dalam hal ini, ia telah memenuhi keduanya. Ia lulus dalam 5 semester dengan IPK 4,00. Namun, beliau menegaskan bahwa penghargaan itu hanyalah bonus Yang terpenting adalah bagaimana ilmu yang didapatbisabermanfaatsecaraluas.
Bagi mahasiswa yang ingin meraih prestasi serupa,berikuttipslangsungdariDr Hardianto: Mulai bimbingan sejak semester awal. Jangan tunggu sampai skripsi atau disertasi
Taat pada pembimbing Jangan terlalu idealis,tapiterbukapadasaran.
Disiplinwaktu.Manfaatkanwaktudikosatau kampusuntukfokuspadariset
Berani mengulang jika perlu Jangan puas denganhasilyang"cukup".
Bangun relasi. Koneksi akademik akan sangat berpengaruh dalam perjalanan studi
Saat ini, Dr Hardianto bekerja sebagai konsultan peneliti di PT Educativa Cipta Nawasena, sebuah platform edukasi digital ternama di Indonesia Tapi ia tidak berhenti di situ Ia ingin menjadi dosen tetap, membangun produk pembelajaran interaktif, hingga meneliti dan berkolaborasi secara internasional. Impian jangkapanjangnya?Melanjutkanstudidanriset diluarnegeri


Muhammad Sholeh, adalah lulusan program studi Bioteknologi angkatan 2017 yang menempuh jalur sains dengan keyakinan dan semangat eksploratif yang kuat Setelah menyelesaikan studi sarjananya, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di bidang Biomedis di Universitas Brawijaya dan lulus pada September 2024. Perjalanannya dalam dunia bioteknologi bukan sekadar pencapaian akademik. Sejak awal, ketertarikannya terhadap bioteknologi tumbuh dari rasa ingin tahu yang besar terhadap sistem kerja tubuh manusia di tingkat molekuler. Baginya, bioteknologi adalah bidang yang menawarkan pemahaman mendalam tentang bagaimana tubuh berfungsi, bagaimana penyakit muncul, serta bagaimana molekul-molekul dalam tubuh saling berinteraksi Dunia molekuler yang kompleks justru memberinya kesenangan tersendiri karena ia dapat menyelami aspek terkecil yang menggerakkan kehidupan.











