8
OPINI
SENIN, 16 APRIL 2018
Membangun Generasi Melek Sastra Hamidulloh Ibda
Dosen dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiah (PGMI) STAINU Temanggung, Penulis buku Senandung Keluarga Sastra (2018)
P
OLEMIK puisi Sukmawati Soekarnoputri dan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) membuktikan generasi sekarang belum melek sastra. Jangankan melek sastra dan berbudaya, generasi muda yang berkata-kata halus saja mulai langka. Dalam berkomunikasi, mereka lebih dominan memakai ragam bahasa gaul kekinian yang cenderung sarkastis daripada puitis. Adanya tafsir puisi tanpa pendekatan ilmu sastra, etika, dan humanisme, juga membuktikan generasi zaman now buta sastra. Padahal, indikasi bangsa besar itu literat dan berbudaya. Bagaimana bangsa ini menjadi besar jika generasinya tak memiliki kecerdasan budi dan kelembutan hati? Dalam trilogi filsafat, manusia tidak cukup memiliki tata nilai logika (benar-salah), etika (baikburuk), tetapi juga memiliki estetika (indah-jelek). Salah satu bentuk kecerdasan etika adalah melek sastra. Melek sastra akan mengantarkan generasi berbudaya. Penguatan pendidikan sastra bisa dimulai dari keluarga. Namun, saat ini iklim sastrawi, mendongeng, berpuisi di dalam keluarga mulai sepi atau bahkan tiada. Generasi sekarang haus akan
pola pikir sastrawi, humanis, dan berbudaya. Banyaknya kerusakan kata-kata anak mengindikasikan negeri ini butuh generasi sastra. Lickona (1992: 14) menegaskan salah satu indikator kerusakan suatu bangsa ialah bad language (penggunaan bahasa dan katakata buruk). Keluarga harus mampu berperan membentuk karakter anak literat, melek sastra, dan berbudaya.
Keluarga sastra Salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk melahirkan generasi melek aksara ialah pemenuhan bahan bacaan digital. Namun, fakta membuktikan di era Revolusi Industri 4.0 ini, kualitas literasi kita masih ironis. Padahal, di era banjir gawai, seharusnya masyarakat lebih melek literasi. Kapasitas koleksi bacaan digital milik Perpustakaan Nasional (Perpusnas) baru digunakan 1,5% (Media Indonesia, 27/3). Sementara itu, dari survei BPS 2015 terungkap 91,47% menyebut anak usia sekolah di Indonesia lebih suka menonton televisi, dan hanya 13,11% yang suka membaca. Survei penilaian siswa pada PISA 2015 menunjukkan Indonesia berada pada urutan ke-64 dari 72 negara yang suka
membaca (Kemendikbud, 2018: 2). Artinya, budaya baca dan kegiatan anak di rumah masih jauh dari harapan. Pendidikan sastra dalam keluarga sangat mendesak untuk diterapkan. Budaya mendongeng, membaca, menulis, dan mendiskusikan karya sastra harus dihidupkan dalam keluarga. Bahasa ibu (bahasa pertama) anak-anak sangat ditentukan dalam keluarga. Semakin bagus keluarga mengajarkan bahasa ibu maka anak-anak bisa bertutur kata benar, baik, dan indah. Apalagi, anak-anak usia SD/MI sampai SMA/SMK/MA memiliki karakter dominan meniru dan imajinatif. Jika sehari-hari orangtua dalam rumah berbahasa kasar dan buruk, anak-anak cenderung buruk, begitu sebaliknya. Penanaman bahasa ibu bagi anak-anak itu tentu dengan mendekatkan mereka pada sastra. Keluarga harus menjamin gizi sastra anak melalui kegiatan sederhana sampai pada taraf tinggi. Orangtua bisa memulainya dengan membiasakan membaca dan menulis karya sastra. Anak-anak harus dikenalkan ilmu sastra, karya sastra, bahasa sastra, sastrawan, kritik dan apresiasi sastra, sampai pada metafora. Hal itu sudah selaras dengan program Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (Gernas Baku), program berbentuk gerakan inisiatif yang men-
CALAK EDU
Carpe diem! ”We don’t read and write poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for.” (Dead Poets Society, Peter Weir, Touchstones Pictures-Silver Screen Partners IV, 1989) OHN Keating ialah guru bahasa Inggris di sekolah persiapan elite Welton Academy. Yang membedakan Keating dengan guru lainnya ialah, sejak hari pertamanya mengajar, ia mengajak murid-muridnya melihat dunia dengan yang cara berbeda. Membuat detak hidup muridnya lebih berdegup--dan karenanya--saat-saat belajar mereka menjadi proses penuh gelora dan sarat makna. Para muridnya--Neil Perry, Todd Anderson, Knox Overstreet, Richard Cameron, Steven Meeks, Gerard Pitts, dan Charlie Dalton--menemukan jati diri mereka dalam kumpulan puisi,
J
sajak, dan syair. Dengan mantra yang dikutip Keating dari Odes karya Horace (23 SM), carpe diem--seize the day--jadikan hidupmu luar biasa dan lebih bermakna, mereka belajar mendobrak batasan-batasan dalam diri mereka untuk menjadi apa pun yang mereka inginkan. Dimulai merobek buku berisi rumus matematika untuk menilai puisi, berdiri di atas meja kelas, menemukan gaya berjalan mereka sendiri, membentuk kembali kelompok ’rahasia’ para pecinta puisi Dead Poets Society, sampai membangun kesadaran bahwa mereka bisa menjalani hidup dengan cara yang mereka sendiri inginkan. Ketakjuban, kecintaan, dan keberanian yang ditemukan para murid John Keating dalam berbagai karya sastra membantu mereka menemukan sisi kemanusiaan pada diri mereka sendiri. Mereka mendapatkan pencerahan yang mengubah hidup, keberanian yang membangkitkan. Bahwa akhirnya John Keating dipecat dan dituduh sebagai penyebab bunuh diri sa-
lah muridnya, persinggungan dengan kumpulan puisi, sajak, dan syair menjejak dalam kesadaran para muridnya. Di akhir film, secara fenomenal, mereka bersaksi atas perlakuan tidak adil yang diterima Keating dengan berdiri di atas meja seraya meneriakkan kata-kata Walt Whitman, ”O Captain! My Captain!” untuk menghormati dan menunjukkan rasa cinta mereka pada guru mereka. Dari film Dead Poets Society ada pelajaran penting yang bisa diambil; bahwa mengenal, membaca, dan belajar sastra mampu mendorong seseorang untuk memiliki pemahaman baru atas realitas kehidupan. Karya sastra tidak saja mengasah rasa akan keindahan, tetapi juga memberi pengalaman baru dan kesempatan untuk memberi penghargaan atas nilai-nilai kearifan dan kebaikan. Karena itu, karya sastra penting untuk dikembangkan dan diajarkan di sekolah.
Dunia yang berubah cepat Dunia berubah dengan cepat, semakin rentan, tak pasti, rumit, dan membingungkan. Fenomena itu dikenal sebagai
dorong peran keluarga meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, lembaga PAUD, dan masyarakat. Gagasan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Ditjen PAUD dan Dikmas Ke-
mendikbud ini sangat strategis mencetak generasi sastra. Gernas Baku menjadi program yang harusnya bisa membuat anak literat dan mendorong orangtua membentuk keluarga sastra. Keluarga, sekolah, dan organisasi yang dekat dengan keluarga harus melakukan sejumlah gerakan. Pertama, membumikan keluarga sastra sebagai roh dalam mendidik anak melek sastra dan berbahasa santun. Tak ada tempat yang bisa menentukan bahasa halus anak kecuali keluarga. Apa saja sistem komunikasi dan gaya bahasa dalam keluarga sangat menentukan
bahasa, budaya, dan karakter anak. Apalagi, bahasa sastra memiliki kekuatan magis yang bisa menyugesti anak. Kedua, implementasi Gernas Baku tak hanya pada buku-buku berat. Orangtua bisa memulainya dengan mendekatkan anakanak pada buku sastra yang ringan dibaca. Bacaan berkualitas dan bernilai sastra menjadikan mereka cerdas dan berkarakter. Seperti contoh buku antologi puisi, cerpen, novel, dongeng, legenda, pantun, dan fabel. Ketiga, orangtua harus menciptakan iklim nyaman dan aman dan membuat bank tulisan bagi anak-anak. Adanya pojok sastra, catatan/cerita harian anak yang berkaitan dengan pengalaman mereka sangat membantu pola pikir dan imajinasi. Melalui kegiatan itu akan mengasah nalar anak kritis anak untuk menulis karya fiksi. Daya imajinasi anak akan melejit jika dibiasakan mengarang dan mengilustrasikan pengalaman mereka. Keempat, keluarga, sekolah, dan organisasi harus sinergi mendukung Gernas Baku. Organisasi PKK, Muslimat, Fatayat, Aisyiyah, kelompok arisan RT/ RW, jemaah yasinan, dan lainnya harus serentak mengajak ibu-ibu menerapkan Gernas Baku. Apalagi, Gernas Baku ini akan digelar serentak di Indonesia pada 5 Mei 2018 sebagai puncak Hari Pendidikan Nasional. Keluarga sastra bukan sekadar impian. Namun, keluarga yang benar-benar membangun iklim sastra dengan berkiblat pada logos, patos, dan etos. Lewat keluarga sastra akan lahir generasi berbudaya, karena bangsa yang besar identik melek sastra dan budi pekerti.
Penguatan sastra anak DUTA
dunia VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Didorong berbagai inovasi teknologi informasi, komunikasi dan digital, imbas perubahan yang cepat terasa sangat dekat dan lekat. Ia mengubah banyak hal, mulai cara bepergian atau belanja sampai cara manusia berinteraksi, berpikir, dan menentukan orientasi hidup. Dalam dunia yang serbacepat seperti ini,
Victor Yasadhana
DOK-PRIBADI
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma
mereka yang lambat akan ditinggalkan, mereka yang tidak mampu berdamai dengan perubahan akan dilupakan. Anak-anak ialah salah satu kelompok yang paling terpengaruh oleh berbagai perubahan itu. Dengan berbagai kemudahan mengakses informasi yang disediakan perkem-
bangan teknologi, kegiatan membaca misalnya, tidak lagi selalu berarti membaca tulisan yang dicetak dan diterbitkan dalam bentuk buku. Mereka belajar ’lebih banyak dan lebih cepat’ dari melihat, mendengar, dan mencerna apa pun yang mereka bisa dapatkan dari berbagai media yang ada; internet, media sosial atau televisi. Di sini, kegembiraan, kesalehan muncul bercampur aduk dengan kekerasan, ujaran kebencian, dan caci maki, menjadi bacaan yang mudah ditemui anak-anak. Akibatnya bisa fatal; anakanak mengalami kebingungan mengenali identitas diri mereka, sebuah keadaan yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid identity--situasi tiadanya bentuk yang kukuh dari pengalaman seseorang sebagai manusia (Ruxandra Viorela Stan: 2015). Karena itu, tidak mengherankan jika dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah ditemukan berbagai fenomena penyimpangan perilaku anakanak. Penyimpangan dalam bentuk yang paling subtil seperti aksi vandalisme di sekolah, makian dalam status media sosial, sampai perundungan dan konflik dengan penggunaan kekerasan seperti tawuran. Dengan kata lain, karakter baik yang diharapkan untuk dimiliki anak-anak tergerus
Sastra terbagi atas sastra
oleh ketidakmampuan dalam merespons dunia yang berubah lebih cepat. Mereka gagal memahami apa yang mereka inginkan, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan mampu menjalani kehidupan sesuai keinginan mereka. Kegagalan anak-anak menjadi individu yang benar-benar otonom dan kritis dalam dunia yang berubah cepat ialah bencana besar bagi pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan bukan sekedar soal mengembangkan kapasitas intelektual semata, melainkan juga persoalan bagaimana membangun kapasitas untuk bertahan dalam ketidakpastian dan perubahan kehidupan.
Pentingnya (belajar) sastra Menimbang perubahan yang begitu cepat terjadi, proses belajar perlu menimbang perhatian lebih pada aspek-aspek pendidikan yang memungkinkan anak-anak dapat menemukan makna hidup mereka. Pada titik ini, sastra menjadi penting dan bisa menjadi jalan bagi penemuan-penemuan baru dalam diri anak-anak. Itu disebabkan sastra dapat mengasah cita rasa keindahan dan rohani, mengenyangkan secara moral, memberi pengalaman yang dapat mengubah diri, dan kekayaan budayanya memperkaya kemanusiaan. Sastra juga menyimpan kearif-
dewasa dan sastra anak. Dalam keluarga, orangtua bisa memilih karya sastra anak yang mudah ditemukan literaturnya. Pendidikan sastra anak dalam keluarga harus dikuatkan untuk membentengi generasi muda dari bahaya laten di era milenial ini. Mulai ancaman laten hate speech (ujaran kebencian), cyberbullying (perundungan siber), dan bad language (bahasa buruk). Banyak sekali manfaat mengenal dan mahir sastra anak. Tarigan (2012: 6) berpendapat sastra anak memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan. Belajar sastra sangat mendukung akselerasi intelektualitas, imajinasi, karakter, dan perilaku santun anak. Jangka panjangnya, anakanak yang mahir sastra memiliki daya imajinasi tinggi yang menjadikan mereka berpikir panjang yang melampaui zamannya. Sangat tepat jika semua orangtua menjadikan keluarganya diterangi sinar pengetahuan sastra. Wujud dari pendidikan sastra anak dalam keluarga ini harus berorientasi pada produk karya sastra. Anak-anak, selain membaca puisi dan bermain drama, harus diajak mengarsipkan karya sastranya dalam bentuk buku. Jika sejak kecil mereka sudah menulis buku dan mahir sastra, generasi berbudaya, santun, dan berkarakter tak hanya mimpi. Buku dan sastra ialah asupan terbaik bagi anak untuk menanamkan kecerdasan, karakter dan budaya santun. Pepatah Arab menyatakan sebaik-baik teman duduk di setiap zaman ialah buku. Sastra di sini menjadi roh keindahan dan kesantunan bagi anak. Sastra dan buku bukan segalanya, tetapi segalanya bisa berawal dari sana.
an leluhur, yang dapat mendorong pembaharuan diri yang mendekatkan pada asal usul kesejatian (Riris K Toha Sarumpaet: 2016). Mempelajari sastra di sekolah juga memberikan be berapa keuntungan; seperti dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan kritis dan analitis, mendorong empati, toleransi atas perbedaan, mengembangkan imajinasi dan menguatkan kecerdasan emosi. Selain itu, mempelajari sastra dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan diri, dengan anak-anak berkesempatan untuk membangun nilai-nilai dan sikap positif yang berguna bagi upaya pemecahan masalah mereka. Terakhir, mempelajari sastra dapat memberikan pengalaman baru sekaligus menyenangkan bagi anak-anak (Ruxandra Viorela Stan: 2015). Dalam dunia yang berubah cepat, tantangan belajar dan membaca bukan lagi sekadar untuk mengasah kemampuan berpikir, melainkan juga memperkaya ruang-ruang spiritual dan menegaskan kemanusiaan dalam diri seseorang. Mempelajari sastra bisa menjadi jembatan untuk menjangkau hati dan moral anak-anak. Tujuan proses belajar ialah untuk menjadikan hari-hari anak-anak kita menjadi luar biasa dan penuh makna. Carpe diem!
ke email: opini@mediaindonesia.com atau opinimi@yahoo.com atau fax: (021) 5812105, (Maksimal 5.500 karakter tanpa spasi. Sertakan nama, alamat lengkap, nomor telepon, foto kopi KTP, nomor rekening, dan NPWP). PARTISIPASI OPINI Kirimkan Setiap materi baik artikel, tulisan, maupun foto, yang telah ditampilkan di harian Media Indonesia dapat dimuat kembali baik dalam format digital maupun nondigital yang tetap merupakan bagian dari harian Media Indonesia.
Pendiri: Drs. H. Teuku Yousli Syah MSi (Alm) Direktur Utama: Lestari Moerdijat Direktur Pemberitaan/Penanggung Jawab: Usman Kansong Deputi Direktur Pemberitaan: Gaudensius Suhardi Direktur Pengembangan Bisnis: Shanty Nurpatria Direktur Keuangan dan Administrasi: Firdaus Dayat Dewan Redaksi Media Group: Abdul Kohar, Bambang Eka Wijaya, Djadjat Sudradjat, Don Bosco Selamun, Elman Saragih, Gaudensius Suhardi, Iskandar Zulkarnain, Kania Sutisnawinata, Lestari Moerdijat, Muhammad Mirdal Akib, Rahni Lowhur Schad, Saur Hutabarat (Ketua), Suryopratomo, Usman Kansong Redaktur Senior: Djadjat Sudradjat, Elman Saragih Kepala Divisi Pemberitaan: Teguh Nirwahyudi Kepala Divisi Content Enrichment: Ade Alawi Kepala Divisi Artistik & Foto: Hariyanto Asisten Kepala Divisi Pemberitaan: Ahmad Punto, Haryo Prasetyo, Jaka Budisantosa, Mochamad Anwar Surahman, Ono Sarwono, Rosmery C. Sihombing, Sabam Sinaga, Victor JP Nababan Kepala Sekretariat Redaksi: Sadyo Kristiarto Redaktur: Adiyanto, Agus Mulyawan, Agus Triwibowo, Agus Wahyu Kristianto, Anton Kustedja, Aries Wijaksena, Basuki Eka P, Bintang Krisanti, Cri Qanon Ria Dewi, Eko Rahmawanto, Eko Suprihatno, Henri Salomo, Heryadi, Ida Farida, Iis Zatnika, Irana Shalindra, M. Soleh, Mathias S. Brahmana, Mirza Andreas, Patna Budi Utami, Raja Suhud V.H.M, Soelistijono, Sitria Hamid, Widhoroso, Windy Dyah Indriantari
Staf Redaksi: Abdillah M. Marzuqi, Adam Dwi Putra, Agung Wibowo, Ahmad Maulana, Akhmad Mustain, Anata Syah Fitri, Andhika Prasetyo, Asni Harismi, Astri Novaria, Budi Ernanto, Cahya Mulyana, Christian Dior Simbolon, Denny Parsaulian Sinaga, Deri Dahuri, Dero Iqbal Mahendra, Dhika Kusuma Winata, Dwi Tupani Gunarwati, Emir Chairullah, Eni Kartinah, Fetry Wuryasti, Gana Buana, Ghani Nurcahyadi, Golda Eksa, Haufan H. Salengke, Hillarius U. Gani, Irene Harty, Irvan Sihombing, Iwan Kurniawan, Jonggi Pangihutan M, Mohamad Irfan, Muhamad Fauzi, Nur Aivanni Fatimah, Nurtjahyadi, Panca Syurkani, Permana Pandega Jaya, Puput Mutiara, Putri Anisa Yulianti, Ramdani, Retno Hemawati, Richaldo Yoelianus Hariandja, Rommy Pujianto, Rudy Polycarpus, Satria Sakti Utama, Selamat Saragih, Sidik Pramono, Siswantini Suryandari, Siti Retno Wulandari, Sugeng Sumariyadi, Sulaiman Basri, Sumaryanto, Susanto, Syarief Oebaidillah, Tesa Oktiana Surbakti, Thalatie Yani, Thomas Harming Suwarta, Usman Iskandar, Wisnu AS, Zubaedah Hanum Biro Redaksi: Dede Susianti (Bogor); Eriez M. Rizal (Bandung); Kisar Rajagukguk (Depok); Firman Saragih (Karawang); Sumantri Handoyo (Tangerang); Yusuf Riaman (NTB); Baharman (Palembang); Haryanto (Semarang); Widjajadi (Solo); Faishol Taselan (Surabaya) DIVISI TABLOID, MAJALAH, DAN BUKU (PUBLISHING) Kepala Divisi: Budiana Indrastuti Asisten Kepala Divisi: Tjahyo Utomo Redaktur: Sri Purwandhari CONTENT ENRICHMENT Periset: Heru Prasetyo (Redaktur), Desi Yasmini S, Gurit Adi Suryo Bahasa: Dony Tjiptonugroho (Redaktur), Adang Iskandar,
Meirisa Isnaeni, Ridha Kusuma Perdana, Riko Alfonso, Suprianto ARTISTIK Asisten Kepala Divisi: Rio Okto Waas Redaktur: Annette Natalia, Budi Setyo Widodo, Donatus Ola Pereda, Gatot Purnomo, Gugun Permana, Marjuki Staf Artistik: Ami Luhur, Ananto Prabowo, Aria Mada, Bayu Wicaksono, Briyan Bodo Hendro, Catherine Siahaan, Dedy, Dharma Soleh, Duta Amarta, Fauzi Zulkarnaen, Haris Imron Armani, Haryadi, Marionsandez G, Muhamad Nasir, Muhamad Yunus, Nana Sutisna, Nehemia Nosevy Kristanto, Novi Hernando, Novin Herdian, Nurkania Ismono, Nurul Arohmat, Pamungkas Bayu Aji, Reza Fitarza Z, Riri Puspa Destianty, Rugadi Tjahjono, Seno Aditya, Swielida Angraita, Tutik Sunarsih Olah Foto: Andi Nursandi, Sutarman PENGEMBANGAN BISNIS Kepala Divisi Marketing Communication: Fitriana Saiful Bachri Kepala Divisi Iklan: Gustaf Bernhard R Asisten Kepala Divisi Iklan: Wendy Rizanto Perwakilan Bandung: Sulaeman Gojali (022) 4210500; Surabaya: (031) 5667359; Yogyakarta: Andi Yudhanto (0274) 523167. KORESPONDEN Jawa Barat: Benny Bastiandy, SE (Cianjur/Sukabumi), Budi Mulia Setiawan, Depi Gunawan (Bandung), Nurul Hidayah (Cirebon), Reza Sunarya (Purwakarta), Setyabudi Kansil (Cianjur), Kristiadi (Tasikmalaya), Banten: Deni Aryanto (Tangerang Selatan) Jawa Tengah: Akhmad Safuan (Pekalongan), Djoko Sardjono (Klaten), Ferdinand (Solo), Liliek Dharmawan (Purwokerto), Tosiani S (Temanggung), Supardji Rasban (Brebes), Yogyakarta: Agus Utantoro, Ardi Teristi Hardi, Furqon Ulya Himawan,
Jawa Timur: Abdus Syukur (Pasuruan), Bagus Suryo Nugroho (Malang), Edy Saputra (Blitar), Heri Susetyo (Sidoarjo), Khoirul Hamdani (Banyuwangi), Muhammad Ahmad Yakub (Bojonegoro), Muhammad Ghozi (Madura), Sunarwoto (Madiun) Aceh: Amiruddin Abdullah (Pidie), Hendra Saputra (Banda Aceh), Sumatra Utara: Januari Hutabarat (Taput), Puji Santoso, Yennizar (Medan), Sumatra Barat: Hendra Makmur, Yose Hendra (Padang), Riau: Bagus Himawan, Rudi Kurniawansyah (Pekanbaru), Kepri: Hendry Kremer (Batam), Bangka Belitung: Rendy Ferdiansyah (Pangkalpinang), Bengkulu: Marliansyah, Jambi: Solmi, Lampung: Ahmad Novriwan (Bandarlampung), Kalimantan Barat: ArisMunandar (Sungai Raya), Kalimantan Tengah: Surya Suryanti (Palangkaraya), Kalimantan Selatan: Denny Susanto (Banjarmasin), Kalimantan Timur: Syahrul Karim (Balikpapan), Sulawesi Utara: Voucke Lontaan (Manado), Sulawesi Tengah: M Taufan SP Bustan (Palu), Subandi Arya (Poso), Sulawesi Barat: Farhanuddin (Mejene), Sulawesi Tenggara: Abdul Halim Ahmad (Kendari), Sulawesi Selatan: Lina Herlina (Makassar), Bali: Arnoldus Dhae (Denpasar), Gede Ruta Suryana (Kuta), NTT: Alexander Paulus Taum (Lembata), Palce Amalo (Kupang), Maluku Utara: Burhanuddin Arsyad (Ternate), Maluku: Hamdi Jempot (Ambon), Papua: Marcelinus Kelen (Jayapura) Telepon Layanan Pembaca: (021) 5821303 Telepon Iklan: (021) 5812113, 5801480 Fax Iklan: (021) 5812107, 5812110 Fax Customer Service: (021) 5820476,
Telepon Sirkulasi: (021) 5812095, Telepon Distribusi: (021) 5812077, Telepon Percetakan: (021) 5812086, Harga Langganan: Rp89.000 per bulan (Jabodetabek), di luar P. Jawa + ongkos kirim, No. Rekening Bank: a.n. PT Citra Media Nusa Purnama Bank Mandiri - Cab. Taman Kebon Jeruk: 117-009-500-9098; BCA - Cab. Sudirman: 035-3065014, Diterbitkan oleh: PT Citra Media Nusa Purnama, Jakarta, Alamat Redaksi/Tata Usaha/Iklan/Sirkulasi: Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat - 11520, Telepon: (021) 5812088 (Hunting), Fax: (021) 5812105 (Redaksi) e-mail: redaksi@mediaindonesia.com, Percetakan: Media Indonesia, Jakarta, ISSN: 0215-4935, Website: www.mediaindonesia.com DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK, WARTAWAN MEDIA INDONESIA DILENGKAPI KARTU PERS DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA ATAU MEMINTA IMBALAN DENGAN ALASAN APA PUN