Dosen Penggerak Literasi
Redaksi
mempersingkat waktu ceramah. Selain capaian Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen penggerak harus menguatkan Dosen dan Kaprodi PGMI STAINU Temanggung, Pengurus Bidang Penjamin tiga rumus kemajuan bangsa di atas. Dosen Mutu Perkumpulan Dosen PGMI Korwil harus menjadi “pendidik-pembelajar, peneliti, dan pengabdi”. Secara regulatif, Jateng-DIY porsi mendidik lebih sedikit dari meneliti dan mengabdi, bukan sebaliknya, namun praktik di lapangan selama ini paradoks. OSEN penggerak literasi urgen Permenpan Nomor 17 Tahun 2013 jo dihadirkan di era Revolusi Nomor 46 Tahun 2013 menegaskan porsi Industri 4.0 dan Society 5.0. kinerja dosen tiap golongan. Pertama, Kompetensi, kualitas literasi dan mutu Asisten Ahli dengan porsi pelaksanaan pendidikan Indonesia yang tertinggal pendidikan e”55 persen, sisanya penelitian menjadi alasannya. Pelajar unggul dalam dan pengabdian. Kedua, Lektor dengan aspek-aspek itu ditentukan guru. porsi pendidikan e”45 persen, lainnya Sedangkan mutu guru ditentukan dosen. penelitian dan pengabdian. Ketiga, porsi Namun mengapa kualitas literasi dan pendidikan Lektor Kepala yaitu e”40 mutu pendidikan kita masih rendah? persen, lainnya penelitian dan pengabdian. UNESCO dalam Global Education Keempat, guru besar dengan pelaksanaan Monitoring Report (2016) menyebut pendidikan e”35 persen, sisanya penelitidari 14 negara berkembang, mutu an, pengabdian, dan unsur penunjang. pendidikan Indonesia nomor 10. Indeks Semakin tinggi jabatan fungsional pendidikan Human Development Reports (2017) menempatkan Indonesia dosen, maka semakin sedikit kegiatan mendidiknya. Secara umum, sebagai ke-7 di ASEAN. Pada Desember 2019, pendidik profesional dan ilmuwan, dosen PISA menempatkan Indonesia di nomor memikul tanggungjawab melakukan 72 dari 77 negara. Dalam aspek kualitas literasi, jumlah penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat lebih besar dibandingkan dosen dan peneliti di 4.607 kampus Indonesia belum merata. Pada 2019, dari mendidik dan mengajar. Namun realitasnya banyak “dosen 177.000 dosen dan peneliti yang bermental guru” atau “dosen rasa guru”. terdaftar di Science and Technology Index (Sinta), Indonesia hanya mempro- Mereka hanya datang, duduk, mengajar, pulang, begitu seterusnya laiknya guru. duksi 34.007 jurnal terindeks Scopus Akhirnya, riset dan produk literasi minim, (PR, 13/9/2019). Padahal tiap tahun nihil temuan-temuan mutakhir di bidang jumlah dosen, doktor, guru besar bertambah, namun tak sebanding dengan IPTEKS, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai luaran pendidikan pun jumlah maupun kualitas literasinya. terhambat. Wajar jika Mas Menteri Data ini baru aspek riset, belum lagi Nadiem merumuskan dosen penggerak aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi lainnya, yaitu pendidikan-pengajaran dan karena selama ini dosen seperti guru, pengabdian kepada masyarakat. Gagasan mereka diam dan “belum bergerak” seutuhnya sesuai arah pendidikan dan “dosen penggerak” oleh Mendikbud kebudayaan nasional. Nadiem Makarim menjadi terobosan Praktik baik dari gagasan dosen bernas untuk menuntaskan problem penggerak ini harus menyeluruh dan tak tersebut. Maka wacana itu harus hanya di wilayah pembelajaran. Meski ditindaklanjuti agar Merdeka Belajarsatu rumpun, sesuai UU Nomor 14 Tahun Kampus Merdeka dapat terwujud. 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan Pendidik, Peneliti, Pengabdi profesi dosen berbeda dengan guru. Jika Kunci kemajuan bangsa menurut guru sekadar mengajar, namun dosen tidak. World Economic Forum (2016) Dosen hakikatnya “peneliti yang ditentukan “kompetensi, karakter, mengajar” bukan “pengajar yang nyambi literasi”. Apakah konsep dosen penggerak sudah menyentuh ketiga aspek meneliti”. Riset menjadi ruh perkembangan pendidikan, IPTEKS, dan kualitas SDM itu? Mas Menteri Nadiem Makarim yang itu semua ditentukan dosen. Apakah menjelaskan dosen penggerak pada tiga semua dosen bisa? Tentu tidak. formula. Pertama, belajar dan menjawab Penggerak Literasi mahasiswa. Kedua, mencari ilmu baru Dosen penggerak literasi harus dan pihak pendukung. Ketiga, oleh :
Hamidulloh Ibda
Penerbit: PT Cahaya Media Utama tama Kali: Terbit Per Pertama 10 Juli 2006 Pemimpin Umum H Fachruddin Nor Ifansyah Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab: Zainal Helmie Koordinator Peliputan: Khaidir Rahman Redaktur: HA Fadillah, Mahmud M Siregar Staf Redaksi: Staf Suriani, Bambang Santoso, Iin Silvia, Ahmad Yani, Risma, Samsu Rizal, Rudi Setiawan, Biro-Biro/Perwakilan: Jakarta Rizal Fachrani (Jakarta Jakarta), Herman Hidayat Hulu Sungai (TTapin apin), Muhammad Yusuf (Hulu Utara Utara), Ali Chandra (TTanah Laut Laut), Rasyid Banjarbaru Ridho (Banjarbaru Banjarbaru), Adi Permana Kabupaten Banjar (Kabupaten Banjar), M Al Amin (TTabalong abalong), Muhammad Muaz (TTanah Bumbu Bumbu), Sugiannor Balangan Kotabaru (Balangan Balangan) Ebet Hadiani (Kotabaru Kotabaru) Pracetak: Akhmad Riza, Ronny Friandy, Amril Sofyan, Taufiqqurahman Percetakan: Hamka, Zali, Noor Alimsyah, Suriansyah, Supian Sauri, Noor Ifansyah, Rian eb: Produksi Iklan / IT W Web: Randi Annur Padli Pahliawan Patria Pemimpin Perusahaan: H Fachruddin Nor Ifansyah Asisten Umum & Sirkulasi : Rizky Yosfia Ruswita Manager Iklan dan Keuangan : Hj Noor Diana Asisten Manager Iklan dan Keuangan : Norita Alamat Redaksi/Bisnis/Sirkulasi: Jl Brigjen TNI H Hassan Basry No 27 Kayu Tangi Banjarmasin 70125 Telepon: (0511) 6740293 e-Mail: redaksi_matabanua@yahoo.com e-Mail Iklan: iklan.matabanua@yahoo.com Harga Langganan: Rp 75.000/bulan dalam kota Percetakan: PT Cahaya Media Utama, Banjarmasin Isi Diluar Tanggung-jawab Percetakan Tarif Iklan: DISPLAY UMUM: Hitam Putih (BW) : Rp 8.000/ mmk Spot Colour (SC) : Rp 10.000/mmk Full Colour (FC) : Rp 15.000/mmk DISPLAY HALAMAN MUKA: Hitam Putih (BW) : Rp 13.000/mmk Spot Colour (SC) : Rp 15.000/mmk Full Colour (FC) : Rp 24.000/mmk DISPLAY HALAMAN BELAKANG: Hitam Putih (BW) : Rp 10.000/mmk Spot Colour (SC) : Rp 13.000/mmk Full Colour (FC) : Rp 22.000/mmk IKLAN KOLOM : Rp 8.000/ mmk IKLAN KELUARGA/ DUKA CITA : Rp 5.000/ mmk IKLAN BARIS : Rp 5.000/ mmk Catatan: Harga belum termasuk PPN 10% Pembayaran dimuka
TELEPON PENTING Polda Kalsel Poltabes Banjarmasin Polsek Banjar Tengah Polsek Banjar Barat Polsek Banjar Timur Polsek Banjar Selatan Polsek Banjar Utara KPPP Poltabes Banjarmasin Polres Banjar Polresta Banjarbaru RSUD Ulin RS Ansyari Saleh RS Suaka Insan RS Islam RS DR Soeharsono RS Siaga RS Sari Mulia RSUD Banjarbaru PMK Hippindo Rescue 911
Mata Banua 10
Opini
Rabu, 12 Agustus 2020
3368571 3251411 3353003 4412952 3252473 3261244 3300463 3368305 4721110 2772266 3257472 3300741 3352225 3354896 3368422 3253111 3252570 4772380 7500911 9110911
REDAKSI menerima sumbangan tulisan opini, artikel maupun surat pembaca lainnya. Panjang tulisan opini/artikel maksimal 3 (tiga) halaman kuarto, diketik dua spasi. Sedangkan surat pembaca maksimal 1 (satu) halaman kuarto.Semua isi tulisan opini dan artikel bukan mencerminkan sikap redaksi dan merupakan tanggung jawab penulisnya. Redaksi berhak mengedit tulisan sepanjang tidak mengubah esensi yang ada. Semua tulisan harus dilengkapi dengan identitas diri yang masih berlaku, dikirim ke alamat redaksi Mata Banua: Jl Brigjen TNI H Hassan Basry No 27 Banjarmasin 70125, e-Mail: redaksi_matabanua@yahoo.com
D
dibentuk, dilahirkan, digerakkan. Sebab, dosen tipe seperti ini secara otomatis menjadi agen Merdeka Belajar. Konsep ini harus ditransformasikan ke dalam beberapa pendekatan. Pertama, perubahan paradigma “dosen bukan guru”. Mendidik, meneliti, dan mengabdi harus proporsional. Jika hanya mendidik maka mereka lebih baik menjadi guru. Kedua, perkuliahan berbasis kolaborasi, pengalaman baru, dan refleksi. Konsep “belajar dan menjawab mahasiswa” akan terlaksana dengan skema ini. Kolaborasi ini bisa di wilayah riset ilmiah, pelatihan, seminar dan call for paper, penulisan buku, dan lainnya. Bisa dosen-mahasiswa, mahasiswa-mahasiwa luar kampus, dan lainnya. Tujuannya menjadikan mahasiswa sebagai rekan akademik, bukan sekadar penerima tugas. Konsep ini merupakan inti dari perkuliahan kolaborasi, kontekstual dan berbasis pengalaman. Ciri dosen penggerak itu dapat menjadikan “mahasiswa lebih hebat dari dosen”. Ketika dosen lebih pandai dari mahasiswa itu biasa, namun jika sebaliknya justru itu substansi “dosen penggerak”. Ketiga, perkuliahan berbasis produk literasi. Muaranya pada penemuanpenemuan baru di luar tugas kuliah. Modelnya beragam. Tugas perkuliahan tak hanya makalah, namun juga artikel ilmiah di jurnal terindeks Sinta 6-1, artikel-esai populer dimuat di media massa, buku antologi puisi dan cerpen, buku bunga rampai artikel populer, video pembelajaran di Youtube, dan lainnya. Dengan demikian, ilmu baru dan pihak pendukung dari luar akan melahirkan pengalaman baru. Sebab, produknya tak hanya literasi lama (membaca, menulis, berhitung), namun mengarah pada literasi baru (data, teknologi, humanisme). Keempat, pemberian hadiah pada penugasan perkuliahan. Ketika satu mata kuliah diikuti 30 mahasiswa, misalnya, mereka diberi tugas menulis artikel di media massa atau artikel ilmiah di jurnal internasional yang terindeks Sinta, Scopus, Thomson Reuters, dan Web of Science lainnya. Ketika dimuat, mereka diberi penghargaan dan dikirim ke kampus lain untuk menjadi “mahasiswa penggerak” yang melakukan good practice/ best practice sebagai wahana diseminasi sesuai bakat dan prestasinya. Model ini akan melahirkan banyak novelty
(kebaruan) dan dampak riil di masyarakat. Kelima, pengawalan kegiatan kompetisi hibah PKM, riset, atau lomba-lomba akademik, literasi, olahraga, seni, dan sejenisnya. Keenam, penguatan softskills dan lifeskills melalui UKM penelitian, Lembaga Pers Mahasiswa, atau UKM lain sesuai bakat dan minat mahasiswa. Pengalaman di luar bangku kuliah dan prestasi di bidang akademik/sesuai bakat dan minatnya kadang lebih dibutuhkan daripada ijazah dan gelar akademik. Ketujuh, pelatihan kompetensi literasi secara kontinu. Dosen selama ini hanya menyuruh mahasiswa menulis, melarang plagiasi, duplikasi, fabrikasi, dan falsifikasi. Namun mahasiswa jarang diberi pelatihan berkala seperti teknik parafrasa, metode penulisan/riset, penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley, Zotero, atau aplikasi deteksi plagiasi seperti Turnitin, Grammarly, dan lainnya. Pelatihan seperti ini penting, karena selain kompetensi, softskills, lifeskills di bidang literasi sangat dibutuhkan ketika mereka menjadi calon ilmuwan. Penguatan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi selama ini hanya berorientasi pada akreditasi BAN-PT dengan 9 kriteria maupun ASEAN University NetworkQuality Assurance (AUN-QA) saja. Harusnya, penguatan mutu pendidikan tinggi mengacu kebutuhan mahasiswa dan “kemerdekaan belajar”. Mahasiswa harus diberi ruang berkarya, kolaborasi, inovasi, dan mengembangkan kompetensi literasi. Dosen penggerak literasi di sini harus menyeimbangkan “baca, tulis, arsip” dengan pola pembelajaran, pembiasaan-pembudayaan, dan keteladanan. Tujuannya agar ekosistem pendidikan nasional yang kreatif, inovatif, kolaboratif menghasilkan SDM unggul dan berkarakter. Sebab, visi Presiden RI yaitu “Indonesia Maju” sangat ditentukan oleh mutu pendidikan. Indonesia sampai Agustus 2020, sesuai PD Dikti Kemdikbud memiliki 296,040 dosen. Prediksinya, jika satu dosen dalam setahun menggerakkan 30 mahasiswa, maka lahir 8.881.200 “mahasiswa penggerak”. Dari angka ini, visi Merdeka Belajar semakin nyata dengan konsep dosen penggerak literasi. Rumusnya, dosen penggerak literasi bukan segalanya, namun Indonesia Maju dapat berawal dari sana! Kapan kita menggerakkan dosen penggerak literasi?
Bencana Banjir Akibat Ekploitasi Tambang Sumber Daya Alam oleh :
Maria Ulpah, S.Pd (Praktisi Pendidikan)
B
ANJIR melanda di tiga kabupaten Kalsel. Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, sebanyak 1.967 rumah terendam, meliputi Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Tanah Laut. Bahkan di Desa Sarang Halang, banjir menutup akses jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Tanah Bumbu dengan Tanah Laut.(kompas.com) Direktur Walhi Kalsel menyebutkan bahwa Kalsel darurat ruang dan bencana ekologis. Dari 3,7 ha total luas lahan di Kalsel, nyaris 50 persen telah di kuasai oleh perizinan tambang dan kelapa sawit. Terdapat 814 lubang galian milik 157 perusahaan tambang batu bara. Sebagian lubang aktif, dan sebagian lain ditinggalkan tanpa reklamasi. Ketua Forum Kepala Teknik Tambang (KTT) Propinsi Kalsel, juga mengakui jika komitmen perusahaan-perusahaan tambang di Kalsel masih sangat rendah. Akibatnya tanah resapan semakin berkurang karena aktivitas penambangan
dan perkebunan. Ketika intensitas hujan tinggi, maka tidak ada yang menahan air sehingga meluap ke pemukiman warga. Bencana banjir yang terjadi berulang kali tidak akan lepas dari perilaku manusia terhadap lingkungannya. Ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Telah Nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (TQS Ar-Rum [30]:41) Sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini memberikan ruang yang sangat bebas kepada para pemilik modal. Liberalisasi yang semakin menjadi, menyebabkan banyak sumber daya alam diprivatisasi dan diekploitasi. Kaum kapitalis begitu rakus mengeksploitasi alam guna meraih keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal ini membawa banyak dampak kerusakan lingkungan, pencemaran bahkan dampak sosial berupa konflik berkepanjangan antara masyarakat dengan pihak pengelola tambang. Dalam Islam, sumber daya alam merupakan milik umum. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. yang artinya, “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal :
air, rumput, dan api.”(HR Ibnu Majah) Barang tambang diberikan Allah untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Dalam Al Quran, hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat, antara lain dalam QS. Ar Ra’d (13): 17, yang artinya: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan- perumpamaan” (QS alRa’d [13]:17). Selain itu, dalam ayat yang lain, Allah SWT juga telah mengabarkan: “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.
(QS. Al-Hadid [57]:25) Pengelolaan sumber daya alam tambang harus tetap menjaga keseimbangan dan kelestariannya. Karena kerusakan sumber daya alam tambang oleh manusia akan dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Prinsip ini didasarkan pada ayat Al Qur’an surat Ar Ruum ayat 41 yang artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Selain itu, hal ini dijelaskan pula dalam ayat lain, yaitu : “Dan janganlah kalian membuat kerusakan di atas muka bumi setelah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut tidak diterima dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orangorang yang berbuat baik”. (TQS. Al-A’raf: 56) Dari dalil-dalil inilah, seharusnya dijadikan prinsip bagaimana menyelamatkan tambang dan rakyat dari kerusakannya. Terlebih dalil di atas bukan ditujukan untuk satu individu saja, namun ditujukan kepada seluruh umat dan para pemimpinnya agar kembali kepada Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dilema Belajar Daring, Saatnya Evaluasi ! hanya di tempat itu mereka bisa mendapat sinyal yang lebih baik. Pada dasarnya kebijakan pemerintah Aktivis Muslimah & Praktisi pendidikan dalam memberlakukan sistem pembelajaran di Tabalong online ataupun daring tidaklah salah, karena tentunya akan lebih beresiko jika ditengah kondisi pandemik saat ini siswa UDAH beberapa bulan siswadihadirkan ke sekolah. Kebijakan ini siswi di Indonesia melakukan memang lebih ramah anak dari aspek sistem belajar online, namun tak kesehatan daripada pembelajaran tatap sedikit terdengar beragam keluhan, muka. Namun tetap harus dipahami bahwa terutama masalah perangkat, kuota dan sinyal internet yang tidak memadai. Cara ini sebuah metode belajar yang tidak alami, tidak normal. Setiap hari murid dibekali pembelajaran jarak jauh ini juga tugas, dengan pendampingan guru yang mendapat keluhan dari orangtua siswa, tentunya tak sama seperti belajar dengan khususnya mereka yang berpenghasilan tatap muka. Hanya sedikit guru yang menengah ke bawah. Mereka menilai kreatif menggunakan berbagai sarana untuk sistem pembelajaran daring atau online ini terkesan diskriminasi. Pasalnya, tidak menjelaskan materi pada murid. Yang lebih semua orangtua siswa punya kemampu- banyak justru hanya mengirim tugas setiap hari. Tentu ini bukan salah guru, karena an membeli atau memiliki smartphone memang negara tidak memberi pedoman berbasis android dan kuota internet. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baku untuk melakukan pembelajaran yang efektif di masa pandemi. Faktor teknis juga Nadiem Makarim mengatakan bahwa jadi kendala. Persoalan kuota, sinyal, dana Bantuan Operasional Sekolah hingga listrik padam masih menghiasi dunia (BOS) serta Bantuan Operasional pendidikan kita hari ini. Penyelenggaraan (BOP) PAUD dan Jika ingin PJJ berjalan maksimal pendidikan kesetaraan di masa pandemi tentunya pemerintah harus menyiapkan dapat dipakai untuk mendukung kesiapan satuan pendidikan. Dana dapat fasilitas yg mendukung sehingga bisa digunakan untuk pembelian pulsa, paket dipastikan seluruh siswa ataupun pun guru data, dan/atau layanan pendidikan daring bisa mengikuti pelajaran sekalipun di era pandemik. Tak cukup hanya itu terkait berbayar bagi pendidik dan/atau peserta kurikulum jangan sampai demi mengejar didik dalam pembelajaran dari rumah. target kurikulum lalu kondisi siswa Dibeberapa daerah hal ini sudah maupun guru diabaikan. Pemerintah perlu dilaksanakan. Meski demikian, kendala mengevaluasi ulang kurikulum yang anak-anak di kabupaten, di pinggiran kota, desa terpencil, adalah akses internet diberlakukan. Kondisi pandemi adalah kondisi abnormal. Kesehatan dan yang kurang bersahabat. Mereka harus mencari sinyal hingga ke atas gunung agar keselamatan jiwa murid adalah prioritas. Kurikulum biasa yang berdasar kondisi bisa mengikuti pelajaran daring, tanpa normal tak bisa diterapkan pada masa memedulikan keselamatan diri sendiri. Adapula siswa-siswi yang berkumpul di pandemi. Jika dipaksakan, hasilnya adalah kecemasan massal pada murid dan orang suatu tempat belajar bersama, karena oleh :
Norhekmah, S.PdI
S
tua. Terpenuhinya sarana, fasilitas serta kurikulum yang sederhana dan luwes untuk diterapkan sangatlah diperlukan dimasa pandemik saat ini. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) telah meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar membuat kurikulum baru di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Permintaan kembali diajukan lantaran sejauh ini belum ada kabar positif dari Kemendikbud mengenai hal tersebut (cnnindonesia.com, 11/6/2020). Hanya saja mungkinkah ini bisa terealisasi mengingat negeri ini sudah begitu kuat dalam cengkraman kapitalisme. Seringkali kebijakan dibuat hanya menguntungkan pihak kapital yaitu para pemilik modal. Sementara rakyat harus berjibaku berjuang sendiri demi hidup yang makin tak menentu. Jauh sebelum pandemik pun negeri ini berada dalam kemiskinan sekalipun diatas tanahnya mengandung ribuan kekayaan sumber daya alam yang melimpah namun pendidikan berkualitas masihlah mahal. Begitu pula sarana atau pun fasilitas lebih cenderung dilaksanakan demi mengajar target pembangunan yang nyatanya menjadi proyek- proyek menguntungkan bagi para konglomerat ataupun investor asing. Adapun rakyat jangankan internet bahkan listrik pun masih belum merata dirasakan di negeri ini. Wajar saja saat pandemik rakyat menjadi resah ketika pembelajaran daring diterapkan sebab sebelum pandemik saja mereka kesusahan apalagi jika ditambah pengeluaran dengan beli pulsa, paket internet ataupun keharusan memiliki android makin membuat rumit. Inilah saatnya untuk evaluasi, benarkah sistem pendidikan yang kita pilih saat ini. Jika pendidikan masih fokus pada transfer materi dan bukan
pembentukan kepribadian, selama itu pula pendidikan akan jadi beban berat siswa. Bisa jadi pandemi ini merupakan moment kesempatan emas untuk mengedukasi generasi agar tangguh menjaga diri, disiplin pada kebersihan dan kesucian, peduli kehidupan, pandai bersyukur pada Sang Pemberi Nikmat, ringan untuk berbagi, semangat beribadah, bergairah untuk mencari solusi atas masalah yang sedang terjadi, sehingga mereka bukan justru menjadi kaum rebahan yang tak berarti. Semua aspek tersebut ada dalam kurikulum Islam. Bahkan kebiasaan baik di masa pandemi yaitu mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan social distancing ada dalam ajaran Islam. Kurikulum Islam ketika diterapkan pada masa pandemi, tidak akan menyebabkan kecemasan massal. Karena tolok ukur keberhasilan siswa bukan jawaban di atas kertas. Melainkan pemahaman siswa yang bisa diukur secara alami. Lebih lagi pendidikan Islam tak hanya melahirkan manusia yang jago iptek namun ulama sekaligus ilmuwan seperti Ar Razi, Al khawrizmi. Ditopang dengan sistem ekonomi Islam maka rakyat akan bisa merasakan berbagai fasilitas pendidikan gratis. Ini dikarenakan perekonomian Islam akan mengelola kepemilikan sesuai dengan tuntunan syariah sehingga SDA yang telah Allah berikan benar-benar digunakak memenuhi kepentingan umat bukan dijual pada asing seperti yang terjadi di negeri ini. Begitu pula sistem kesehatan tentunya sangat diperlukan untuk menangani kondisi wabah yang saat masih tak jelas penyelesaiannya. Sementara disatu sisi korban terus berjatuhan. Inilah saatnya untuk mengevaluasi sistem pendidikan kita atau bahkan sistem kehidupan yang mengatur kita sudah kah semuanya berada dijalan yang dikehendaki-Nya.