Skip to main content

PALM OIL TODAY MAGAZINE APRIL - JUNE 2026

Page 1


MANAGING EDITOR

Kenny Yong

PUBLICATIONS MANAGER

Amelia Lim

amelia@fireworksid.com

EDITORIAL CONSULTANT

Kenny Yong

CONTENT EDITOR

Felicia Zhang

Jusmita Sitepu

MEDIA EXECUTIVES

Paulina Shu

Veronica Anugrah

GRAPHIC DESIGNER

Rizki Ilhamdi

PUBLISHER

Indonesia

Fireworks Business Information (FBI) Indonesia c/o PT. Fireworks Indonesia

Jakarta +62 778 4173 552 indo@asiafbi.com Batam

DISCLAIMER

The content of Palm Oil Indonesia Today Magazine (and website) does not necessarily reflect the views of the editor or publishers and are the views of its contributors and advertisers. The digital edition may include hyperlinks to third-party content, advertising, or websites, provided for the sake of convenience and interest. The publishers accept no legal responsibility for loss arising from information in this publication and do not endorse any advertising or products available from external sources. Palm Oil Indonesia Today Magazine and its website does not warrant that the information in it will be error-free or will meet any particular criteria of performance or quality. Your use of the information contained in the Palm Oil Indonesia Today Magazine and website is at your own risk. You assume full responsibility and risk of loss resulting from the use of this website or information in it. None of Palm Oil Indonesia Today, PT Fireworks Indonesia or its affiliates, or any partners, principals, stockholders or employees of any thereof will be liable for any special, indirect, incidental, consequential or punitive damages or any other damages whatsoever, whether in an action of contract, statute, tort (including, without limitation, negligence) or otherwise, relating to the use of this website or information contained in it. No part of this publication may be reproduced or stored in a retrieval system without the written consent of the publishers. All rights reserved.

Mr. Kenny Yong

EDITOR’S NOTE

Dear readers,

Welcome to the April – June 2026 edition of Palm Oil Today Indonesia.

As we enter the second quarter, the palm oil industry continues to navigate a complex global landscape, with sustainability and supply chain traceability remaining key priorities amid evolving regulations and market expectations.

In this edition, our cover story, “Middle East Conflict Reshapes the Palm Oil Industry: Risks, Volatility, and a Biodiesel Opportunity for Southeast Asia,” examines how rising crude oil prices are strengthening palm oil’s role in the energy sector and boosting biodiesel demand. While the conflict brings challenges such as higher freight costs and supply chain disruptions, it also creates strategic opportunities for Indonesia and Malaysia.

We also highlight PALMEX Jakarta 2026, taking place on 6–7 May 2026 at JIEXPO, where industry stakeholders will gather to explore innovations in productivity, sustainability, and efficiency.

This edition further presents selected industry news, market insights, and technological developments to keep you informed in a rapidly evolving environment.

As always, we thank you for your continued support and readership.

Warm regards,

Yours truly

Kenny Yong

CONTENTS APRIL - JUNE 2026

REGIONAL NEWS

BHS : ENG :

06 | Presiden Dorong Papua Kembangkan Sawit untuk Perkuat Swasembada Energi

President Urges Papua to Develop Palm Oil to Strengthen Energy Self-Sufficiency

BHS : ENG :

08 | Genjot Hilirisasi, Sawit Jadi ‘Miracle Crop’ Andalan RI di Pasar Global

Boosting Downstreaming, Palm Oil Becomes Indonesia’s 'Miracle Crop' in the Global Market

BHS : ENG :

12 | UE Belum Patuh Putusan WTO — Dampak bagi Industri Sawit

EU Delays WTO Compliance — What It Means for the Palm Oil Industry

BHS : ENG :

13 | Perang AS-ISRAEL vs IRAN Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak

US-ISRAEL-IRAN Conflict Triggers Surge in CPO Prices, Smallholder Farmers May be Hit Hardest

BHS : ENG :

15 | Warga AS Mulai Suka Minyak Sawit RI, China-India Sudah Ketagihan

Americans Begin Embracing Indonesian Palm Oil, While China and India Remain Highly Dependent

BHS : ENG :

18 | Banjir di Sabah Menekan Produksi Minyak Sawit Malaysia Floods in Sabah Dent Malaysia’s Palm Oil Output

20 | GAPKI Melihat Tarif Nol Akan Mendorong Penjualan Minyak Sawit ke AS

BHS : ENG :

GAPKI Sees Zero Tariff Lifting US Palm Oil Sales

BHS : ENG :

21 | Produsen Pupuk Malaysia Hentikan Pesanan Baru Seiring Perang Iran Dongkrak Harga

Malaysia Fertiliser Producers Halt New Orders as Iran War Drives Up Prices

BHS : ENG :

22 | Perkebunan Sawit Tua Malaysia Diperkirakan Capai 2 Juta Hektare pada 2027

Malaysia’s Ageing Oil Palm Plantations to Hit 2 Million Hectares by 2027

COMMENTARY

BHS :

ENG :

23 | Konflik Timur Tengah Dorong Permintaan Minyak Sawit

BHS :

ENG :

Berbasis Biodiesel

Middle East Conflict Fuels Biodiesel-Driven Palm Oil Demand

BHS : ENG :

26 | Permintaan China yang Meningkat Membuka Peluang Baru bagi Ekspor Minyak Sawit Thailand

China’s rising demand opens new prospects for Thai palm oil exports

BHS :

28 | Distributor Minyak Sawit Thailand Smothong Raup Keuntungan seiring Dorongan Biodiesel Pemerintah Meningkatkan Permintaan

ENG :

Thai Palm Oil Distributor Smothong Reaps Gain as Government Biodiesel Push Raises Demand

BHS : ENG :

30 | Wilmar: Afrika Akan Mendorong Permintaan Minyak Sawit

Global di Masa Depan

Wilmar: Africa to Drive Future Global Palm Oil Demand

BHS :

33 | Ghana Akan Kurangi Impor Sawit hingga $200 Juta melalui Aliansi Baru dengan China

ENG :

Ghana to Reduce Palm Import by $200 Million with New China Alliance

BHS : ENG :

34 | Kilang Dagon Myothit (Seikkan) Siap Penuhi Kebutuhan Lokal

Dagon Myothit (Seikkan) Refinery Set to Meet Local Demand

36 | Minyak Sawit, Kakao, Kopi… Siapa yang Akan Mengelola Perkebunan Tropis Besar di Masa Depan?

Palm Oil, Cocoa, Coffee… Who’s Going to Tend to Tomorrow’s Large Tropical Plantations?

STORY

BHS :

39 | Konflik Timur Tengah Mengubah Industri Minyak Sawit: Risiko, Volatilitas, dan Peluang Biodiesel bagi Asia Tenggara

ENG :

Middle East Conflict Reshapes the Palm Oil Industry: Risks, Volatility, and a Biodiesel Opportunity for Southeast Asia

INNOVATIONS AND TECHNOLOGY

BHS :

41 | Para Pendiri yang Menggalang Lebih dari $10 Juta dari Pengolahan Sawit dan Limbahnya di Afrika

ENG :

Meet the Founders Who Raised Over $10 Million from Palm Processing and the Waste It Leaves Behind in Africa

PRESIDEN DORONG PAPUA KEMBANGKAN SAWIT UNTUK PERKUAT SWASEMBADA ENERGI

Presiden Prabowo Subianto mendorong Papua untuk mengembangkan komoditas strategis, termasuk kelapa sawit, sebagai bagian dari langkah besar menuju swasembada energi nasional. Dalam arahannya kepada para kepala daerah se-Papua, Presiden menekankan bahwa potensi sumber daya lokal harus dioptimalkan agar wilayah-wilayah di Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan energi dari luar.

Menurut Presiden, kelapa sawit dapat menjadi salah satu sumber bahan baku penting untuk menghasilkan bahan bakar minyak berbasis nabati, sementara tebu dan singkong juga memiliki peran besar dalam produksi etanol. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan target pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi tekanan impor BBM yang selama ini membebani negara dalam jumlah sangat besar setiap tahunnya.

Papua dinilai memiliki ruang dan potensi pengembangan yang besar untuk mendukung agenda tersebut. Dengan pemanfaatan komoditas energi yang tepat, pemerintah berharap setiap daerah pada akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak hanya dalam aspek pangan, tetapi juga dalam aspek energi.

Selain memperkuat kemandirian daerah, kebijakan ini juga dipandang dapat membuka peluang ekonomi baru, menciptakan aktivitas industri turunan, serta mendorong pemerataan pembangunan. Jika dijalankan dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang terukur, pengembangan energi berbasis komoditas di Papua dapat menjadi bagian penting dari strategi Indonesia untuk menekan impor energi dan mengalihkan penghematan anggaran ke sektor-sektor pembangunan yang lebih produktif.

PRESIDENT URGES PAPUA TO DEVELOP PALM OIL TO STRENGTHEN ENERGY SELF-SUFFICIENCY

President Prabowo Subianto has called for Papua to develop strategic crops, including oil palm, as part of Indonesia’s broader push for energy self-sufficiency. In his briefing to regional leaders from across Papua, the President stressed that local resources should be harnessed more effectively so that more regions can reduce their dependence on externally supplied energy.

According to the President, oil palm can serve as a key feedstock for fuel production, while sugarcane and cassava also offer strong potential for ethanol development. The policy direction is aligned with the government’s ambition to strengthen national energy resilience while reducing the massive annual burden of fuel imports.

Papua is seen as having significant room and long-term potential to support this agenda. By developing the right energy crops and supporting infrastructure, the government hopes each region can eventually stand on its own feet not only in food production, but also in energy security.

Beyond regional self-reliance, the initiative is also seen as a potential driver of new economic activity, downstream industrial development, and more balanced growth. If executed with careful planning and clear implementation, commodity-based energy development in Papua could become an important pillar in Indonesia’s strategy to curb fuel imports and redirect fiscal savings toward more productive development priorities.

GENJOT HILIRISASI, SAWIT JADI ‘MIRACLE CROP’ ANDALAN RI DI PASAR GLOBAL

Kementerian

Pertanian (Kementan) terus mempercepat hilirisasi kelapa sawit guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Dengan produktivitas tertinggi di antara minyak nabati lainnya, efisiensi penggunaan lahan, serta kontribusi besar terhadap devisa negara, komoditas ini kerap disebut sebagai “miracle crop” yang menjadi andalan perekonomian nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dalam beberapa kesempatan menegaskan kelapa sawit merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang harus dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

“Kelapa sawit merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Produktivitasnya tinggi, efisien dalam penggunaan lahan, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga industri besar. Inilah yang membuat sawit layak disebut miracle crop,” ujar Mentan Amran.

Berdasarkan data publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian luas areal kelapa sawit Indonesia pada 2024 dan 2025 (angka sementara) tercatat mencapai 16,83 juta hektare.

Pada tahun 2024, produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 45,44 juta ton dengan produktivitas rata-rata 3,5 ton per hektare. Pada tahun yang sama, empat provinsi menjadi kontributor terbesar produksi sawit nasional. Provinsi Riau mencatat produksi 9,14 juta ton. Disusul Kalimantan Barat dengan produksi 4,96 juta ton, Kalimantan Tengah dengan produksi 7,46 juta ton, serta Kalimantan Timur produksi 3,90 juta ton.

Memasuki tahun 2025 (angka sementara), menunjukkan tren peningkatan produksi nasional meningkat menjadi 46,55 juta ton (CPO) dengan produktivitas rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare. Pada tahun 2025, Riau tetap menjadi kontributor terbesar dengan produksi 9,46 juta ton. Kalimantan Barat dengan produksi 4,94 ton, Kalimantan Tengah mencatat produksi 7,59 juta ton, serta Kalimantan Timur sebesar 4,29 juta ton.

Peningkatan produksi tersebut semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Dari sisi perdagangan global, pada tahun 2024 volume ekspor sawit Indonesia tercatat sebesar 32,34 juta ton dengan nilai mencapai 22,85 miliar dolar AS. Sementara pada tahun 2025, volume ekspor meningkat menjadi 36,37 juta ton dengan nilai 28,50 miliar dolar AS. Kenaikan ini menunjukkan peran strategis sawit dalam memperkuat neraca perdagangan dan kontribusinya terhadap devisa negara.

Menurut Mentan Amran, arah kebijakan Kementan saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi di sektor hulu, tetapi juga pada penguatan hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri. Pengembangan produk turunan sawit, mulai dari pangan olahan, oleokimia, hingga bioenergi seperti biodiesel, dinilai menjadi kunci memperkokoh ketahanan energi sekaligus memperluas lapangan kerja.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menambahkan bahwa kelapa sawit memiliki produktivitas minyak per hektare yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. Dengan efisiensi lahan tersebut, sawit diharapkan mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati global tanpa tekanan pembukaan lahan yang berlebihan, serta tetap sesuai ketentuan yang berlaku dan mengimplementasikan sistem keberlanjutan.

“Hilirisasi menjadi strategi penting agar sawit tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas oleh pekebun, pelaku usaha, dan masyarakat,” jelas Roni.

Roni juga menekankan pentingnya penguatan sertifikasi dan praktik budidaya berkelanjutan, termasuk percepatan peremajaan sawit rakyat untuk menjaga produktivitas kebun. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan daya saing sawit Indonesia di pasar global sekaligus menjawab berbagai tantangan isu lingkungan.

Roni menambahkan, dengan strategi hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, Kementan optimistis kelapa sawit akan semakin memperkokoh posisinya sebagai komoditas strategis nasional sekaligus motor penggerak industrialisasi berbasis perkebunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

(Sumber: Kementerian Pertanian RI)

BOOSTING DOWNSTREAMING, PALM OIL BECOMES INDONESIA’S 'MIRACLE CROP' IN THE GLOBAL MARKET

The Ministry of Agriculture (Kementan) continues to accelerate the downstream development of palm oil to increase domestic value-added and strengthen Indonesia’s position in the global market. With the highest productivity among vegetable oils, efficient land use, and a significant contribution to national foreign exchange earnings, this commodity is often referred to as a “miracle crop” and a key pillar of the national economy.

Minister of Agriculture, Andi Amran Sulaiman, has emphasized on several occasions that palm oil is one of the backbones of Indonesia’s economy and must be managed optimally and sustainably.

“Palm oil is one of Indonesia’s greatest strengths. Its high productivity, efficient land use, and ability to drive the economy from rural communities to large-scale industries make it worthy of being called a miracle crop,” said Minister Amran.

According to statistical data published by the Directorate General of Estate Crops at the Ministry of Agriculture, Indonesia’s oil palm plantation area in 2024 and 2025 (preliminary figures) reached 16.83 million hectares.

In 2024, national crude palm oil (CPO) production reached 45.44 million tons, with an average productivity of 3.5 tons per hectare. In the same year, four provinces were the largest contributors to national palm oil production. Riau recorded 9.14 million tons, followed by West Kalimantan with 4.96 million tons, Central Kalimantan with 7.46 million tons, and East Kalimantan with 3.90 million tons.

Entering 2025 (preliminary figures), national production showed an increasing trend, rising to 46.55 million tons of CPO with an average productivity of 3.6 tons per hectare. Riau remained the largest contributor with 9.46 million tons, followed by West Kalimantan with 4.94 million tons, Central Kalimantan with 7.59 million tons, and East Kalimantan with 4.29 million tons.

This increase in production further reinforces Indonesia’s position as the world’s largest palm oil producer.

From a global trade perspective, Indonesia’s palm oil export volume in 2024 reached 32.34 million tons, valued at USD 22.85 billion. In 2025, export volume increased to 36.37 million tons, with a value of USD 28.50 billion. This growth highlights the strategic role of palm oil in strengthening the trade balance and contributing to foreign exchange earnings.

According to Minister Amran, the Ministry’s current policy direction is not only focused on increasing upstream production but also on strengthening downstream development so that added value can be captured domestically. The development of palm oil derivatives— ranging from processed food products and oleochemicals to bioenergy such as biodiesel—is considered key to enhancing energy security while expanding employment opportunities.

Meanwhile, Acting Director General of Estate Crops, Abdul Roni Angkat, added that palm oil has a significantly higher oil yield per hectare compared to other vegetable oil crops. With this level of land-use efficiency, palm oil is expected to meet global vegetable oil demand without excessive land expansion, while remaining compliant with regulations and sustainability standards.

“Downstreaming is a crucial strategy to ensure that palm oil is not only exported as raw material but also processed into high value-added products. This way, the economic benefits can be more widely distributed among smallholders, businesses, and the broader community,” Roni explained.

Roni also emphasized the importance of strengthening certification and sustainable cultivation practices, including accelerating smallholder replanting programs to maintain plantation productivity. These efforts are aimed at enhancing the competitiveness of Indonesian palm oil in the global market while addressing environmental concerns.

He further noted that with an integrated downstream strategy from upstream to downstream sectors, the Ministry of Agriculture remains optimistic that palm oil will continue to strengthen its position as a strategic national commodity and serve as a key driver of sustainable and inclusive plantation-based industrialization.

(Source: Ministry of Agriculture of the Republic of Indonesia)

UE BELUM PATUH PUTUSAN WTO — DAMPAK BAGI INDUSTRI SAWIT

Pemerintah

Indonesia mulai meningkatkan tekanan terhadap Uni Eropa (UE) untuk segera mematuhi putusan WTO terkait diskriminasi terhadap sawit — dan pesannya jelas: waktu sudah habis.

UE sebelumnya diberikan waktu 12 bulan untuk menyesuaikan kebijakannya setelah WTO memutuskan bahwa regulasi biofuel mereka merugikan sawit. Namun hingga kini, implementasi penuh masih belum terlihat.

Bagi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia, ini bukan sekadar isu kebijakan — ini menyangkut akses pasar, daya saing, dan posisi strategis sawit dalam transisi energi global.

Isu yang Mengguncang Rantai Industri

Sengketa ini berakar dari kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II), khususnya klasifikasi sawit sebagai bahan baku “berisiko tinggi” melalui skema ILUC.

WTO telah menyatakan bahwa kebijakan ini tidak sejalan dengan prinsip perdagangan global karena bersifat diskriminatif.

Dampaknya langsung terasa di seluruh rantai industri: akses pasar terbatas, permintaan tidak stabil, dan ketidakpastian investasi.

Kenapa Ini Penting Sekarang

Di tengah naiknya permintaan energi global dan dorongan biodiesel, sawit kini semakin strategis.

Insight untuk Industri

Ini bukan sekadar sengketa dagang — ini adalah gambaran bagaimana kebijakan keberlanjutan membentuk ulang arus perdagangan global.

EU DELAYS WTO COMPLIANCE — WHAT IT MEANS FOR THE PALM OIL INDUSTRY

Indonesia is turning up the pressure on the European Union (EU) to comply with the WTO ruling on palm oil — and the message is clear: time is up.

The EU was given 12 months to align its policies following the WTO’s decision that its biofuel regulations unfairly discriminated against palm oil. That deadline has now passed, yet full compliance remains unresolved.

For Indonesia — the world’s largest palm oil producer — this is not just a policy issue. It’s about market access, pricing power, and the future positioning of palm-based biofuels in the global energy mix.

A Trade Issue That Impacts the Entire Supply Chain

At the center of the dispute is the EU’s Renewable Energy Directive II (RED II), particularly the classification of palm oil as a “high-risk” feedstock under Indirect Land Use Change (ILUC) rules.

The WTO ruling found these measures to be inconsistent with global trade principles, effectively putting palm oil at a disadvantage compared to other biofuel sources.

For producers, refiners, and technology suppliers, this translates directly into restricted market access, distorted demand signals, and increased uncertainty in long-term investment decisions.

Indonesia Signals Stronger Next Steps

Indonesian authorities have made it clear they are closely reviewing the EU’s progress and are prepared to take further action if necessary.

Why This Matters Now

With global energy markets tightening and biodiesel demand rising, palm oil is increasingly strategic — not just for food, but for energy security.

Industry Takeaway

This is more than a regulatory dispute — it is a signal of how sustainability policies can reshape global trade.

PERANG AS-ISRAEL VS IRAN PICU LONJAKAN HARGA CPO, PETANI SAWIT BISA PALING TERDAMPAK

Eskalasi serangan Amerika Serikat-Israel versus Iran dapat memicu kenaikan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Kenaikan harga CPO yang disertai melambung biaya logistik akan mengguncang negara-negara importir terbesar dari Indonesia, seperti India. "Ini yang ditakutkan, harga CPO bisa saja naik karena harga minyak bumi terkerek naik. Tetapi, kalau pembeliannya dia (India dan negara-negara importir) tahan, dalam arti karena harga terlalu mahal, maka kita (Indonesia) punya masalah," ujar Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Rino Afrino ketika dihubungi Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Serangan AS-Israel ke Iran dan harga minyak kelapa sawit

Petani kelapa sawit bisa terdampak parah, mengapa?

India memenuhi 60 persen kebutuhan CPO dalam negerinya dengan mengimpor dari Indonesia. CPO akan menumpuk dalam tangki-tangki di Indonesia jika India memutuskan "menahan" untuk mengimpor ketika harganya melonjak akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia untuk perdagangan.

Saat ekspor CPO menurun, pabrik kelapa sawit (PKS) membeli tandan buah segar (TBS) petani.

"Ini kembali mengulangi akhir pelarangan ekspor, harga dunia cantik, tetapi harga petaninya anjlok serendah-rendahnya," tutur Rino.

Petani kelapa sawit memiliki daya tawar dan kemampuan untuk bertahan yang sangat lemah. Petani juga tidak mempunyai tangki CPO seperti PKS.

Tangki CPO bisa memperpanjang "napas" PKS dalam situasi "krisis" hingga satu sampai dua bulan. Tanpa tangki CPO, petani kelapa sawit hanya memiliki "napas" satu kali 24 jam. "Itu yang menakutkan," ucapnya.

Dampak serangan AS-Israel ke Irak dan harga pupuk global

Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut juga berisiko mengerek harga pupuk global. Apalagi, hampir semua bahan baku pupuk di Indonesia harus diimpor.

Berkaca dari pengalaman pada perang Rusia-Ukraina, kenaikan harga pupuk menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Rino meminta petani kelapa sawit bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.

"Kenapa naik harga pupuk? Ya tentu saja ada korelasinya dengan minyak bumi yang sulit keluar dari selat tersebut. Kepada petanipetani sawit, kalau bisa beli pupuk sekarang, beli pupuk," ujar Rino.

Ia mengimbau petani kelapa sawit untuk mengurangi biaya produksi dengan mengutamakan yang paling pokok dalam perkebunan. Ia meyakini konflik Israel dan AS versus Iran tidak akan berkepanjangan.

"Petani sawit terkenal tahan banting, tetapi tahannya berapa lama? Ini juga akan Lebaran," tutur Rino.

Ironisnya, di saat bersamaan, regulasi terbaru memberlakukan tarif pungutan ekspor CPO sebesar 12,5 persen dari harga yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.

Ia menuturkan, kenaikan tarif pungutan ekspor tidak mempertimbangkan faktor risiko perang terhadap CPO. Kenaikan tarif pungutan ekspor tersebut hanya memperhatikan fluktuasi harga TBS di tingkat petani masih Rp 3.000-an per kilogram (kg)

"Jadi, saya yakin teman-teman fiskal keuangan itu masih melihat bagaimana negara bisa menahan supaya harga domestiknya tidak terlalu tinggi. Saya termasuk orang yang tidak punya cita-cita harga TBS (Rp) 5.000 (kg). Kalau harga TBS (Rp) 5.000 (kg) berarti harga CPO-nya berapa? Kan minyak goreng jadi berapa? Sabun jadi berapa? Sampo berapa? Petaninya senyum, ibu-ibu mampus kan gitu," terang Rino.

(Sumber: Kompas.com)

Theescalation of attacks involving the United States and Israel against Iran could trigger an increase in crude palm oil (CPO) prices. Rising CPO prices, coupled with soaring logistics costs, may disrupt major importing countries of Indonesian palm oil, such as India.

“This is what we are concerned about. CPO prices may rise as global oil prices increase. However, if buyers (such as India and other importing countries) hold back their purchases due to high prices, then we (Indonesia) will face serious challenges,” said Rino Afrino, Secretary General of the Indonesian Oil Palm Smallholders Association (APKASINDO), when contacted by Kompas.com on Monday (March 2, 2026).

Why Smallholder Farmers Could Be Severely Affected

India meets around 60 percent of its domestic CPO demand through imports from Indonesia.

If India decides to delay imports when prices surge—potentially due to the closure of the Strait of Hormuz, a vital shipping route connecting the Persian Gulf to the Indian Ocean— CPO supplies could accumulate in storage tanks within Indonesia.

When CPO exports decline, palm oil mills (PKS) will reduce their purchases of fresh fruit bunches (FFB) from farmers.

US–ISRAEL–IRAN CONFLICT TRIGGERS SURGE IN CPO PRICES, SMALLHOLDER FARMERS MAY BE HIT HARDEST

Impact of US–Israel Attacks on Iraq and Global Fertilizer Prices

Geopolitical tensions in the region also risk driving up global fertilizer prices, especially since most fertilizer raw materials in Indonesia are imported.

Drawing lessons from the Russia–Ukraine war, rising fertilizer prices have become a major concern for farmers. Rino urged palm oil farmers to prepare for the worst-case scenarios.

“Why would fertilizer prices increase? Of course, it is linked to disruptions in oil supply from the Strait. For palm oil farmers, if possible, buy fertilizer now,” he said.

He also advised farmers to reduce production costs by prioritizing essential inputs in plantation management. He believes that the conflict between Israel, the US, and Iran will not last long.

“This situation would repeat what happened at the end of the export ban—global prices looked strong, but farmers’ prices dropped to their lowest

Smallholder palm oil farmers have very weak bargaining power and limited capacity to withstand such shocks. Unlike mills, farmers do not have access to CPO storage tanks.

Storage tanks allow mills to extend their operational resilience for one to two months during crises. Without such facilities, smallholder farmers effectively have only about 24 hours of “breathing space.”

“That is what makes this situation so alarming,” he added.

“Palm oil farmers are known for their resilience—but how long can they endure? Especially with Eid approaching,” Rino noted.

Ironically, at the same time, a new regulation imposes an export levy of 12.5 percent on CPO prices, as set by the Ministry of Trade.

Rino argued that the increase in the export levy does not take into account the risks posed by war to the CPO sector. Instead, it is based on the assumption that fresh fruit bunch (FFB) prices at the farm level remain around Rp 3,000 per kilogram.

“I believe fiscal authorities are still focused on keeping domestic prices from rising too high. Personally, I do not aspire for FFB prices to reach Rp 5,000 per kilogram. If that happens, what would CPO prices be? What about cooking oil, soap, or shampoo prices? Farmers may smile, but households would suffer,” he concluded.

(Source: Kompas.com)

US–Israel Attacks on Iran and Palm Oil Prices

WARGA AS MULAI SUKA MINYAK SAWIT RI, CHINA-INDIA SUDAH KETAGIHAN

Minyak sawit Indonesia mulai mendapat perhatian lebih besar dari pasar global, termasuk dari konsumen di Amerika Serikat. Perubahan preferensi ini dinilai membuka peluang baru bagi produk minyak nabati asal Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.

Direktur Perlindungan Perkebunan di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan terdapat indikasi pergeseran konsumsi minyak nabati di AS yang mulai melirik kelapa sawit.

Menurutnya, tren ini menjadi peluang penting bagi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia.

"Ada pergeseran konsumen di Amerika Serikat. Yang selama ini lebih banyak menggunakan minyak non-sawit, sekarang mulai beralih ke kelapa sawit," kata Bagus dalam diskusi Sawit Setara di Kementan, Senin (2/3/2026).

Perubahan preferensi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan pasar global terhadap minyak nabati yang lebih efisien dan kompetitif.

"Kalau kita bandingkan dari sisi produktivitas dan efisiensi lahan, sawit memang memiliki keunggulan yang cukup besar dibandingkan minyak nabati lain," ujarnya.

Selain perubahan pola konsumsi, pemerintah juga melihat peluang dari kebijakan perdagangan yang dapat membuka akses pasar lebih luas ke AS.

"Sekarang ada peluang baru terkait jalur tarif bea masuk yang bisa mencapai 0%. Ini tentu menjadi kesempatan yang harus dimanfaatkan," kata Hendratmojo.

Momentum tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi produk sawit Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar global. Pasar AS memiliki pengaruh besar terhadap arah konsumsi global karena banyak negara lain mengikuti tren yang berkembang di sana.

"Kalau Amerika sudah mulai menjadikan sawit sebagai salah satu pilihan utama, biasanya negara-negara lain yang menjadi mitra atau sekutunya juga akan mengikuti," ujarnya.

Selain AS, permintaan minyak sawit Indonesia juga masih kuat dari negara-negara besar seperti India dan China, yang selama ini menjadi pasar utama ekspor. Ketergantungan sejumlah negara terhadap pasokan sawit Indonesia masih cukup tinggi.

"India dan China sampai sekarang masih sangat bergantung pada pasokan sawit dari Indonesia," katanya.

Ia menilai kondisi geopolitik global dan perubahan dinamika perdagangan juga bisa membuka ruang baru bagi ekspansi ekspor sawit Indonesia.

"Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, peluang sekecil apa pun harus kita manfaatkan untuk memperkuat posisi komoditas kita," ujarnya.

Ia pun berharap peluang dari pasar AS dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku industri sawit nasional.

"Kalau peluang ini bisa kita tangkap dengan baik, tentu akan memberikan dampak positif bagi ekspor sawit Indonesia dan juga bagi kesejahteraan petani di dalam negeri," ujarnya.

(Sumber: CNBC Indonesia)

AMERICANS BEGIN EMBRACING INDONESIAN PALM OIL, WHILE CHINA AND INDIA REMAIN HIGHLY DEPENDENT

Indonesian palm oil is gaining increasing attention in the global market, including among consumers in the United States. This shift in preference is seen as opening new opportunities for Indonesia’s vegetable oil products to expand their export markets.

The Director of Plantation Protection at the Directorate General of Plantations, Ministry of Agriculture of the Republic of Indonesia, Hendratmojo Bagus Hudoro, stated that there are indications of a shift in vegetable oil consumption in the U.S., with growing interest in palm oil.

According to him, this trend presents a significant opportunity for Indonesia as one of the world’s largest palm oil producers.

“There is a shift among consumers in the United States. Previously, they relied more on non-palm oils, but now they are beginning to switch to palm oil,” Bagus said during the Sawit Setara discussion at the Ministry of Agriculture on Monday (March 2, 2026).

This change in preference is driven in part by global demand for more efficient and competitive vegetable oils.

“When we compare productivity and land-use efficiency, palm oil has a considerable advantage over other vegetable oils,” he explained.

In addition to changing consumption patterns, the government also sees opportunities arising from trade policies that could provide broader market access to the U.S.

“There is now a new opportunity related to import tariff channels that could reach 0%. This is certainly an opportunity we must take advantage of,” Hendratmojo said.

This momentum could serve as an entry point for Indonesian palm oil products to strengthen their position in the global market. The U.S. market holds significant influence over global consumption trends, as many countries tend to follow developments there.

“If the United States begins to adopt palm oil as one of its primary choices, other partner and allied countries typically follow,” he added.

Beyond the U.S., demand for Indonesian palm oil remains strong in major markets such as India and China, which have long been key export destinations. Several countries continue to depend heavily on Indonesia’s palm oil supply.

“India and China are still highly dependent on palm oil supplies from Indonesia,” he noted.

He also emphasized that global geopolitical conditions and shifting trade dynamics could create new opportunities for expanding Indonesia’s palm oil exports.

“Amid global uncertainty, even the smallest opportunities must be utilized to strengthen the position of our commodities,” he said.

He expressed hope that industry players would maximize the opportunity presented by the U.S. market.

“If we can seize this opportunity effectively, it will have a positive impact on Indonesia’s palm oil exports and improve the welfare of farmers at home,” he concluded.

(Source: CNBC Indonesia)

BANJIR DI SABAH MENEKAN PRODUKSI MINYAK SAWIT MALAYSIA

Produksi minyak sawit di Sabah—salah satu negara bagian penghasil utama di Malaysia—diperkirakan akan mengalami penurunan tajam akibat curah hujan tinggi dan banjir di perkebunan di wilayah tersebut, tulis The Edge Malaysia.

Produksi pada Februari dapat turun sebesar 15%-17% dibandingkan bulan sebelumnya, ujar Prakash Arumugam, Ketua cabang Sabah dari Malaysian Palm Oil Association (MPOA), seperti dikutip.

Curah hujan berkepanjangan dalam empat minggu hingga laporan 27 Februari telah memicu banjir yang sering terjadi di berbagai perkebunan, terutama di daerah dataran rendah.

Tingginya permukaan air telah merendam tanaman kelapa sawit muda, merusak jalan, serta mengganggu proses panen dan transportasi buah sawit, menurut laporan tersebut.

Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, dan Sabah serta Sarawak—keduanya berada di Pulau Kalimantan (Borneo)—merupakan dua wilayah penghasil utama negara tersebut, masing-masing menyumbang sekitar 22% dari total produksi nasional.

Pada saat laporan tersebut dibuat, lebih dari 5.800 orang telah dievakuasi akibat banjir di Sabah, menurut kantor berita negara Bernama.

Sebelum banjir terjadi, produksi Malaysia memang telah diperkirakan akan menurun pada Februari akibat faktor musiman dan berkurangnya hari kerja selama musim liburan, tulis The Edge Malaysia. Asosiasi minyak sawit yang mewakili para produsen nasional memperkirakan pada minggu laporan bahwa produksi nasional telah turun 12% dalam 20 hari pertama Februari dibandingkan bulan sebelumnya, terutama dipicu oleh penurunan dua digit di Sabah dan Sarawak.

Dalam dua minggu sebelum laporan, sebagian besar wilayah Sabah menerima curah hujan hingga 150 mm di atas normal, sementara sebagian besar wilayah Sarawak mengalami curah hujan hingga 100 mm di atas rata-rata, berdasarkan data dari US Climate Prediction Center.

Menurut prakiraan dari pusat iklim tersebut, curah hujan diperkirakan akan mereda, dengan kondisi cuaca yang lebih kering pada pekan hingga 10 Maret.

Sementara itu, harga minyak sawit diperkirakan akan meningkat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, didukung oleh ekspor Malaysia yang lebih kuat pada kuartal pertama, menurut laporan Malaysian Palm Oil Council (MPOC).

Selain itu, percepatan pengiriman oleh Indonesia menjelang kenaikan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dari 10% menjadi 12,5% pada 1 Maret diperkirakan akan menurunkan stok minyak sawit di kedua negara, menurut laporan tertanggal 24 Februari.

MPOC menyatakan bahwa produksi minyak sawit Malaysia turun secara musiman menjadi 1,58 juta ton pada Januari, atau turun 13,8% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, ekspor naik menjadi 1,48 juta ton, meningkat 11,4% dari Desember, sekaligus menjadi level ekspor bulanan tertinggi kedua dalam satu tahun terakhir.

Kenaikan ekspor tersebut terutama didorong oleh permintaan yang lebih kuat dari India dan Mesir, dengan pengiriman ke India mencapai level tertinggi dalam 15 bulan dan ekspor ke Mesir mencapai puncak dalam 13 bulan.

Dari sisi permintaan, India kembali diperkirakan akan meningkatkan konsumsi minyak sawitnya seiring membaiknya daya saing harga sejak akhir 2025, menurut MPOC.

“Konsumsi minyak sawit di India diperkirakan meningkat sebesar 800.000 ton pada 2026, sementara konsumsi minyak kedelai dan minyak bunga matahari diperkirakan turun secara gabungan sebesar 400.000 ton,” ujar organisasi tersebut.

“Data Januari 2026 mencerminkan pergeseran ini, dengan impor minyak sawit India meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan, sementara impor minyak kedelai turun ke level terendah dalam 11 bulan.”

MPOC menyebutkan bahwa keterbatasan pasokan jangka pendek, permintaan yang lebih kuat dari India, serta harga minyak kedelai AS yang tetap tinggi diperkirakan akan menopang harga minyak sawit.

Namun, potensi kenaikan harga minyak sawit dapat sebagian tertahan oleh peningkatan pengolahan kedelai, terutama di China, tambah organisasi tersebut.

“Negara tersebut menjadi eksportir bersih minyak kedelai untuk pertama kalinya pada 2025 dan diperkirakan akan mempertahankan posisi ini pada 2026, dengan ekspor diproyeksikan sekitar 850.000 ton. India menyumbang hampir setengah dari ekspor minyak kedelai China tahun lalu,” ujar MPOC.

“Oleh karena itu, harga minyak sawit diperkirakan akan bergerak dalam kisaran MYR 4.000–MYR 4.300 (US$1.012–US$1.088) per ton pada bulan Maret.”

FLOODS IN SABAH DENT MALAYSIA’S PALM OIL OUTPUT

Palm oil output in Sabah – one of Malaysia’s key producing states – was set for a sharp decline due to heavy rainfall and flooding at plantations in the region, The Edge Malaysia wrote.

Production in February could fall by 15%-17% compared to the previous month, Prakash Arumugam, the chairman of the Malaysian Palm Oil Association (MPOA)’s Sabah branch, was quoted as saying.

Prolonged rain in the four weeks prior to the 27 February report had triggered frequent flooding across estates, particularly in low-lying areas.

High water levels had submerged younger palms, damaged roads and disrupted harvesting and the transportation of palm fruit, the report said.

Malaysia is the world’s second largest palm oil grower and Sabah and Sarawak – both located on the island of Borneo – are the country’s top two producing states, each accounting for about 22% of national output.

At the time of the report, more than 5,800 people had been evacuated following flooding in Sabah, according to state news agency Bernama.

Prior to the flooding, Malaysian production had been expected to drop in February due to seasonal lows and shorter working days amid the holiday season, The Edge Malaysia wrote. The palm oil association, which represents growers nationwide, estimated in the week of the report that national output had fallen 12% in the first 20 days of February compared to the previous month led by double-digit percentage drops in Sabah and Sarawak.

In the two weeks prior to the report, large areas of Sabah had received rainfall up to 150mm above normal levels and large areas of Sarawak had seen rainfall up to 100mm above average, according to US Climate Prediction Center data.

According to a forecast from the climate centre, rainfall was set to ease, with drier weather in the week to 10 March.

Meanwhile, palm oil prices are expected to gradually improve in the coming months, supported by stronger Malaysian exports in the first quarter, according to a Malaysian Palm Oil Council (MPOC) report.

Additionally, Indonesia’s front-loading of shipments ahead of its 1 March crude palm oil export levy hike from 10% to 12.5% was projected to lower palm oil stocks in both countries, the 24 February report said.

The MPOC said Malaysia’s palm oil output declined seasonally to 1.58M tonnes in January, a 13.8% drop compared with the previous month. Exports rose to 1.48M tonnes, up 11.4% from December, the second highest monthly export level in the past year.

The increase in exports was mainly driven by stronger demand from India and Egypt, with shipments to India hitting a 15-month high and exports to Egypt reaching a 13-month peak.

On the demand side, India was again likely to increase its palm oil consumption due to improved price competitiveness since late 2025, MPOC said.

“Palm oil consumption in India is forecast to rise by 800,000 tonnes in 2026, while soyabean and sunflower oil consumption is expected to decline by a combined 400,000 tonnes,” the organisation said.

“The January 2026 data reflects this shift, with India's palm oil imports rising to a four-month high, while soyabean oil imports fall to an 11-month low.”

MPOC said that limited near-term supply, stronger demand from India, and firm US soyabean oil prices were expected to support palm oil prices.

However, potential increases in palm oil prices could be partially capped by rising soyabean crushing, particularly in China, the organisation said.

“The country became a net exporter of soyabean oil for the first time in 2025 and is expected to maintain this position in 2026, with exports projected at around 850,000 tonnes. India accounted for nearly half of China’s soyabean oil exports last year,” the MPOC said.

“Palm oil prices are therefore projected to consolidate within the range of MYR4,000–MYR4,300 (US$1,012-US$1,088) per tonne in March.”

GAPKI MELIHAT TARIF NOL AKAN MENDORONG PENJUALAN MINYAK SAWIT KE AS

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan ekspor ke Amerika Serikat dapat meningkat mendekati 3 juta ton dalam tiga tahun ke depan jika tarif kembali menjadi nol, seiring berlanjutnya negosiasi perdagangan setelah putusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif timbal balik.

Ekspor ke AS telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, dari di bawah satu juta ton menjadi lebih dari dua juta ton, kata Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono.

“Jika ini dikelola dengan baik dan tarif kembali ke nol, dalam dua hingga tiga tahun ke depan kita bisa mendekati 3 juta ton,” ujar Eddy kepada ANTARA di Jakarta pada Jumat malam.

GAPKI mencatat bahwa AS mengimpor minyak sawit dalam jumlah besar, terutama dari Indonesia, yang saat ini menyumbang sekitar 89 persen dari total impor minyak sawit AS.

Asosiasi tersebut juga melihat adanya peluang dari pergeseran sebagian konsumen di AS dari minyak kedelai ke minyak sawit, yang berpotensi mendukung peningkatan permintaan.

GAPKI menyatakan masih menunggu langkah lanjutan dari pemerintah Indonesia terkait pengaturan perdagangan bilateral dengan AS.

Indonesia berupaya mempertahankan tarif nol untuk sejumlah produk ekspor ke AS, bahkan setelah Mahkamah Agung membatalkan kebijakan tarif timbal balik yang sebelumnya diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan bahwa konsultasi masih berlangsung setelah keputusan pengadilan tersebut.

Pada 19 Februari, Indonesia dan AS menandatangani perjanjian tarif timbal balik yang memberikan akses bebas bea (tarif nol) untuk 1.819 pos tarif Indonesia.

Produk yang tercakup antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta suku cadang pesawat. Kedua negara juga sepakat untuk menghapus bea masuk atas tekstil dan pakaian jadi Indonesia melalui skema berbasis kuota.

Sehari setelah perjanjian tersebut, pada 20 Februari, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa Trump tidak memiliki kewenangan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act untuk memberlakukan tarif global secara luas.

Setelah putusan tersebut, AS mulai menerapkan tarif global sementara sebesar 10 persen, dengan rencana Gedung Putih untuk meningkatkannya menjadi 15 persen.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia menyatakan bahwa pembicaraan lanjutan dengan pihak AS akan dilakukan setelah keputusan pengadilan tersebut.

(Sumber: ANTARA)

GAPKI SEES ZERO TARIFF LIFTING US PALM OIL SALES

The Indonesian Palm Oil Association (GAPKI) expects exports to the US to climb toward 3 million tons within three years if tariffs return to zero, as trade negotiations continue following a US Supreme Court ruling on reciprocal duties.

Exports to the US have more than doubled over the past five years, rising from below one million tons to above two million tons, said GAPKI Chairman Eddy Martono.

“If this is managed properly and tariffs return to zero, in the next two to three years we could approach 3 million tons,” Eddy told ANTARA in Jakarta on Friday evening.

GAPKI noted that the US imports significant volumes of palm oil, primarily from Indonesia, which now accounts for about 89 percent of US palm oil imports.

The group also sees opportunity in a shift among some US consumers from soybean oil to palm oil, potentially supporting additional demand.

GAPKI said it is awaiting further steps from the Indonesian government regarding the bilateral trade arrangement with the US.

Indonesia is seeking to maintain zero tariffs on selected exports to the US even after the Supreme Court struck down reciprocal tariff measures previously imposed by President Donald Trump.

Trade Minister Budi Santoso said consultations are ongoing following the court’s decision.

On Feb. 19, Indonesia and the US signed a reciprocal tariff agreement granting zero-duty access to 1,819 Indonesian tariff lines.

Covered products include palm oil, coffee, cocoa, spices, rubber, electronic components including semiconductors, and aircraft parts.

The two countries also agreed to eliminate duties on Indonesian textiles and garments under a quota-based arrangement.

A day after the agreement, on Feb. 20, the US Supreme Court ruled that Trump lacked authority under the International Emergency Economic Powers Act to impose broad global tariffs.

Following the ruling, the US began applying a temporary 10 percent global tariff, with the White House planning to raise it to 15 percent.

Indonesia’s Coordinating Ministry for Economic Affairs said further talks with US counterparts will follow the court’s decision.

(Source: ANTARA)

PRODUSEN PUPUK MALAYSIA HENTIKAN PESANAN BARU

SEIRING PERANG

IRAN DONGKRAK

HARGA

Produsen pupuk di Malaysia menghentikan pesanan baru karena gangguan rantai pasok dan kekurangan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga bahan mentah, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi produsen minyak sawit.

Pupuk dapat menyumbang lebih dari setengah biaya produksi bagi perkebunan kelapa sawit. Hampir tertutupnya Selat Hormuz akibat perang Israel–AS melawan Iran telah menghambat sebagian besar pasokan pupuk yang diproduksi di Timur Tengah, serta minyak dan gas yang digunakan dalam pabrik pembuat pupuk tersebut.

“Beberapa bahan baku sudah mengalami kenaikan sebesar 100% hingga 150% hanya dalam waktu dua minggu,” ujar Choon Chun Hong, manajer umum Sabah Softwoods Hybrid Fertiliser, pemasok untuk perkebunan di Malaysia dan Indonesia.

Choon mengatakan perusahaannya yang berbasis di Sabah, negara bagian penghasil minyak sawit di Malaysia, saat ini membatasi pemesanan awal untuk mencegah spekulasi harga.

“Pupuk menyumbang sekitar 60% dari total biaya produksi di Malaysia, dan jika perang berlangsung lebih lama, harga bahan baku akan terus meningkat,” kata Roslin Azmy Hassan, CEO Malaysian Palm Oil Association.

Gulat Manurung, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), mengatakan kenaikan biaya impor mendorong naiknya harga pupuk kimia di tingkat petani.

“Saat ini tidak ada pilihan lain selain mengombinasikannya dengan pupuk organik,” ujarnya.

(Sumber: Reuters)

MALAYSIA FERTILISER PRODUCERS HALT NEW ORDERS AS IRAN WAR DRIVES UP PRICES

Fertiliser makers in Malaysia are suspending new orders as supply-chain disruptions and feedstock shortages stemming from the Middle East conflict drive up raw material prices, threatening to raise output costs for palm oil producers.

Fertilisers can account for more than half of production costs for palm oil planters. The near-closure of the Strait of Hormuz due to the Israeli-U.S. war on Iran has choked off a significant share of fertiliser produced in the Middle East, as well as oil and gas used in factories that produce it.

"Some raw materials have already increased by 100% to 150% within just two weeks," said Choon Chun Hong, general manager of Sabah Softwoods Hybrid Fertiliser, a supplier to estates in Malaysia and Indonesia.

Choon said his company, based in Malaysia's palm-oil-producing state of Sabah, is discouraging pre-orders to prevent price speculation.

"Fertiliser accounts for approximately 60% of total production costs in Malaysia, and if the war is prolonged, the price of raw materials will continue to go up," said Roslin Azmy Hassan, CEO of the Malaysian Palm Oil Association.

Gulat Manurung, chairman of Indonesian smallholder farmers' group APKASINDO, said rising import costs are pushing up prices for chemical fertilisers at the farmer level.

"There's currently no other choice but to combine it with organic fertiliser," he said.

(Source: Reuters)

PERKEBUNAN SAWIT TUA

MALAYSIA DIPERKIRAKAN

CAPAI 2 JUTA HEKTARE PADA 2027

Perkebunan

kelapa sawit yang menua di Malaysia diperkirakan akan meningkat menjadi 2 juta hektare pada 2027 dari level saat ini sekitar 1,7 juta hektare, ujar seorang pejabat industri pada 10 Februari, yang berpotensi menekan produksi dari produsen terbesar kedua di dunia tersebut.

Sekitar 35 persen perkebunan kelapa sawit di Malaysia akan berusia 19 tahun atau lebih pada 2027, dibandingkan sekitar 30 persen pada 2026, kata Datuk Carl Bek-Nielsen, Ketua Malaysian Palm Oil Council, dalam sebuah konferensi industri di Kuala Lumpur pada 10 Februari.

Ia juga memperingatkan bahwa sekitar 800.000 hektare perkebunan telah terinfeksi penyakit jamur ganoderma.“Hasil panen kami telah mencapai titik jenuh, stagnan, dan dalam beberapa hal bahkan mengalami penurunan. Industri sawit harus melakukan lebih banyak upaya untuk meningkatkan hasil per hektare,” ujar Bek-Nielsen.

Ia mengatakan bahwa industri dapat memanfaatkan bahan tanam berproduktivitas tinggi untuk meningkatkan rata-rata hasil menjadi 4,5 ton minyak sawit mentah per hektare, dari saat ini sekitar 3,5 ton, serta mendorong total produksi mencapai 26 juta ton pada 2035.

Malaysia memproduksi 20,3 juta ton minyak sawit mentah pada 2025, menurut data Malaysian Palm Oil Board.

MALAYSIA’S AGEING OIL PALM PLANTATIONS TO HIT 2 MILLION HECTARES BY 2027

Malaysia’s ageing oil palm plantations are expected to rise to 2 million ha by 2027 from the current level of around 1.7 million ha, an industry official said on Feb 10, putting pressure on output from the world’s second largest producer.

About 35 per cent of Malaysian oil palm plantations will be 19 years or older by 2027, compared to around 30 per cent in 2026, said Datuk Carl Bek-Nielsen, chairman of the Malaysian Palm Oil Council, during an industry conference in Kuala Lumpur on Feb 10.

He also warned that about 800,000ha of the plantations were infected by the ganoderma fungal disease.

Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar RM20 juta (S$6,45 juta) pada 2026 untuk mendukung otomatisasi dan mekanisasi dalam teknologi perkebunan kelapa sawit guna meningkatkan produksi, ujar Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Noraini Ahmad, sebelumnya dalam konferensi tersebut.

Bek-Nielsen menambahkan bahwa penyitaan lahan di Indonesia sebagai produsen pesaing akan menyebabkan pasokan terganggu dalam enam hingga delapan bulan ke depan, karena perusahaan menunda pemeliharaan perkebunan dan penggunaan pupuk.

Satuan tugas kehutanan Indonesia pada 2025 menyita sekitar 4,1 juta hektare lahan yang disebut beroperasi secara ilegal di kawasan hutan, dengan menyasar perusahaan kelapa sawit besar maupun petani kecil.

Kampanye penegakan hukum tersebut diperkirakan akan semakin diperluas pada 2026, dengan pemerintah berencana menyita tambahan empat hingga lima juta hektare perkebunan. Bek-Nielsen mengatakan bahwa penundaan program B50 Indonesia juga akan memberikan sentimen negatif bagi pasar.

Ia menambahkan bahwa harga minyak sawit mentah diperkirakan akan bergerak di kisaran RM3.900 hingga RM4.000 per ton pada 2026. Rata-rata harga penutupan CPO pada 2025 tercatat sebesar RM4.233.

Indonesia pada Januari mengumumkan pembatalan rencana penerapan mandatori B50 untuk biodiesel berbasis minyak sawit pada 2026, karena kendala teknis dan pendanaan. Pemerintah menyatakan bahwa kebijakan mandatori B40, yang menggunakan campuran 40 persen biodiesel berbasis minyak sawit, akan tetap diberlakukan.

(Sumber: Reuters)

“Our yields have plateaued, our yields have stagnated and from a certain degree our yields have also regressed. The palm industry must do more to raise its yield per hectare,” Mr Bek-Nielsen said.

He said he believed the industry could use high yielding planting materials to increase the average yield to 4.5 tonnes of crude palm oil per hectare, up from the current 3.5 tonnes, and bring total output to 26 million tonnes by 2035.

Malaysia produced 20.3 million tonnes of crude palm oil in 2025, according to Malaysian Palm Oil Board data.

The government has allocated RM20 million (S$6.45 million) in 2026 to support automation and mechanisation in oil palm plantation technologies in an effort to boost production, Malaysia’s Plantation and Commodities Minister Noraini Ahmad said earlier at the conference.

Mr Bek-Nielsen added that land seizures in rival producer Indonesia will see its supply suffer over the next six to eight months as companies hold back on plantation upkeep and fertiliser inputs.

Indonesia’s forestry task force in 2025 seized around 4.1 million ha said to be operating illegally in forest areas, targeting both major oil palm companies and smallholder farmers.

The enforcement campaign is set to expand further in 2026, with the government looking to seize an additional four million to five million ha of plantations.

Mr Bek-Nielsen said that the postponement of Indonesia’s B50 programme would also be bearish for the market.

He added that crude palm oil prices were expected to trade at between RM3,900 and RM4,000 per tonne in 2026.

The average CPO closing price in 2025 stood at RM4,233.

Indonesia in January announced that it was scrapping plans to implement the mandatory B50 grade for palm oil-based diesel in 2026 due to technical and funding concerns.

The government said its B40 mandate, which uses a blend of 40 per cent palm oil-based biodiesel, will remain in place.

(Source: Reuters)

KONFLIK TIMUR TENGAH DORONG PERMINTAAN MINYAK SAWIT BERBASIS BIODIESEL

Konflik yang semakin memanas di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah naik tajam, dengan beberapa acuan harga melonjak lebih dari 25% dan melampaui level yang terakhir terlihat pada pertengahan 2022.

Lonjakan biaya energi ini mengubah struktur ekonomi bahan bakar alternatif. Ketika harga minyak mentah menjadi lebih mahal, produsen biodiesel beralih ke minyak sawit, yang saat ini diperdagangkan dengan diskon signifikan terhadap gasoil, sehingga menjadikannya bahan baku yang lebih hemat biaya.

Kenaikan tarif pengiriman juga memengaruhi pola pembelian.

Importir di Asia, yang menghadapi biaya pengiriman yang meningkat, mencari pengiriman minyak nabati yang lebih cepat, sehingga semakin mendukung permintaan terhadap minyak sawit. Pada saat yang sama, Indonesia dan Malaysia—yang menyumbang sebagian besar pasokan global—mengalami peningkatan produksi hingga mencapai rekor tertinggi, sehingga persediaan tetap tinggi dan harga berada di bawah tekanan.

Konflik ini secara efektif membalikkan tren tersebut, dengan mendorong harga minyak sawit ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Perubahan kebijakan juga dapat memberikan dorongan tambahan. Indonesia sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali mandat biodiesel B50, sebuah langkah yang akan secara signifikan meningkatkan konsumsi domestik dan memperketat pasokan global.

MIDDLE EAST CONFLICT FUELS BIODIESEL-DRIVEN

PALM OIL DEMAND

The escalating conflict in the Middle East has pushed crude oil prices sharply higher, with some benchmarks rising more than 25% and surpassing levels last seen in mid-2022.

This spike in energy costs is reshaping the economics of alternative fuels. As crude becomes more expensive, biodiesel producers are turning to palm oil, which is currently trading at a significant discount to gasoil, making it a more cost-effective feedstock.

Higher freight rates are also influencing buying patterns.

Asian importers, facing rising shipping costs, are seeking quicker shipments of vegetable oils, further supporting demand for palm oil. At the same time, Indonesia and Malaysia—responsible for the bulk of global supply — have seen production climb to record highs, leaving inventories elevated and prices under pressure.

The conflict has effectively reversed that trend, lifting palm oil prices to their highest in more than a year.

Policy shifts may add further momentum. Indonesia is considering reviving its B50 biodiesel mandate, a move that would significantly increase domestic consumption and tighten global supply.

PERMINTAAN CHINA

YANG MENINGKAT MEMBUKA

PELUANG BARU BAGI EKSPOR MINYAK SAWIT THAILAND

PEJABAT MENYOROTI NILAI TAMBAH DAN STANDAR KUALITAS SEBAGAI PENDORONG PERTUMBUHAN PERDAGANGAN

China

secara bertahap muncul sebagai importir utama minyak sawit Thailand untuk digunakan dalam industri makanan, sehingga menciptakan peluang baru bagi Thailand untuk memperluas basis ekspornya. Nantapong Jiralertphong, Direktur Office of Trade Policy and Strategy di Kementerian Perdagangan, menyatakan bahwa meningkatnya permintaan dari pasar China mendukung strategi Thailand untuk memperluas hubungan dagang dan meningkatkan ketahanan pasar.

India saat ini menyumbang 77 persen dari ekspor minyak sawit Thailand, ujar Nantapong, seraya menambahkan bahwa peningkatan pengiriman ke China akan membantu menyeimbangkan arus ekspor dan memperkuat prospek jangka panjang sektor tersebut. Hal ini dilaporkan oleh Thai PBS, mitra TV BRICS.

Menurut para ahli, produsen Thailand juga didorong untuk meningkatkan nilai produknya dengan mengembangkan produk berkualitas lebih tinggi. Produk tersebut mencakup minyak sawit murni, minyak sawit organik untuk keperluan baking dan aplikasi krimer non-susu, serta minyak sawit bebas lemak trans, yang sejalan dengan perubahan preferensi konsumen di China.

Nantapong juga menyarankan para eksportir untuk secara aktif memanfaatkan saluran perdagangan digital guna memperluas jangkauan dengan mitra bisnis. Ia menyoroti kerangka perdagangan yang sudah ada, termasuk Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA), sebagai instrumen praktis untuk meningkatkan akses pasar dan daya saing harga. Menurut sumber tersebut, China merupakan konsumen minyak sawit terbesar ketiga di dunia, setelah Indonesia dan India.

Para ahli mengamati bahwa tren impor China semakin mengarah pada produk berkualitas tinggi, sehingga membuka peluang bagi Thailand untuk meningkatkan kualitas penawarannya. Memperkuat citra minyak sawit Thailand sebagai produk yang andal dan diproduksi secara berkelanjutan juga akan semakin mendukung posisinya di pasar internasional.

CHINA’S RISING DEMAND OPENS NEW PROSPECTS FOR THAI PALM OIL EXPORTS

OFFICIALS HIGHLIGHT VALUE ADDITION AND QUALITY STANDARDS AS DRIVERS OF TRADE GROWTH

China is steadily emerging as a key importer of Thai palm oil for use in the food industry, creating fresh opportunities for Thailand to broaden its export base. Nantapong Jiralertphong, Director of the Office of Trade Policy and Strategy at the Ministry of Commerce, stated stronger demand from the Chinese market supports Thailand’s strategy to expand trade links and enhance market resilience.

India currently accounts for 77 per cent of Thailand’s palm oil exports, Nantapong noted, adding that growing shipments to China will help balance export flows and strengthen the sector’s long-term outlook. As reported by Thai PBS, a partner of TV BRICS.

According to experts, Thai producers are also encouraged to increase the value of their output by developing higher-grade products. These include pure palm oil, organic palm oil for baking and non-dairy creamer applications, as well as trans-fat-free palm oil, which aligns with evolving consumer preferences in China.

Nantapong further advised exporters to make active use of digital trade channels to widen their reach among business partners. He pointed to existing trade frameworks including the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) and the ASEAN – China Free Trade Area (ACFTA), as practical tools for improving market access and price competitiveness. According to the source, China ranks as the world’s third-largest consumer of palm oil, after Indonesia and India.

Experts observed that Chinese import trends increasingly favour higher-quality products, presenting scope for Thailand to upgrade its offerings. Reinforcing the image of Thai palm oil as a reliable and sustainably produced product will further support its international positioning.

WhatsApp
TikTok

Distributor Minyak Sawit Thailand Smothong Raup Keuntungan seiring Dorongan Biodiesel

Pemerintah Meningkatkan Permintaan

Pada Kamis pagi, harga saham Smothong Group Public Company Limited (SET: SMO) ditutup pada level THB 4,62, naik sebesar THB 0,48 atau 11,59%, dengan total nilai transaksi mencapai THB 113,48 juta.

Kittipong Puangmala, CEO SMO, mengungkapkan dalam acara Opportunity Day baru-baru ini bahwa ketegangan di Timur Tengah pada awal 2026 telah mendorong permintaan global terhadap minyak sawit, tidak hanya untuk kebutuhan pangan tetapi juga sebagai bahan baku penting untuk biodiesel.

Perubahan geopolitik ini, yang dipadukan dengan kenaikan harga energi, diperkirakan akan mendorong pemerintah Thailand untuk meningkatkan kewajiban campuran biodiesel dari B3/ B5 menjadi B7 atau B10, guna mendukung energi alternatif dan mengurangi ketergantungan pada impor solar. Jika peningkatan campuran biodiesel ini terealisasi, permintaan minyak sawit dapat melonjak signifikan dari penggunaan saat ini yang sebesar 800.000 ton untuk biodiesel.

Laba bersih SMO pada tahun sebelumnya melonjak hingga hampir THB 700 juta, hampir tiga kali lipat dibandingkan THB 260 juta pada 2024. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh

manajemen biaya yang efektif selama kuartal puncak, peningkatan kapasitas produksi dari akuisisi pabrik anorganik, serta peningkatan porsi ekspor yang kini menyumbang 50–60% dari total pendapatan.

Dana hasil IPO digunakan untuk melunasi utang, modal kerja, serta persiapan pembangunan pabrik baru di Nakhon Si Thammarat. Dengan pembelian lahan dan perizinan yang sedang berlangsung, perusahaan menargetkan pembangunan dimulai tahun ini dan operasi komersial (COD) dimulai pada akhir 2027 atau awal 2028. SMO juga akan menggandakan kapasitas produksinya di Distrik Phanom pada April 2026, meningkatkan output tahunan sebesar 75 juta ton—yang diharapkan dapat terus mendorong kinerja perusahaan.

Model bisnis SMO berfokus sebagai perantara, membeli hasil panen dari petani, lalu mengolahnya menjadi minyak sawit mentah (CPO) untuk dijual ke kilang domestik maupun ekspor. Perusahaan menerapkan strategi manajemen risiko “beli dan jual” (menjual produk dengan harga yang sebanding dengan biaya bahan baku) untuk menjaga margin, serta mengelola risiko tanpa praktik spekulasi persediaan maupun valuta asing. Perusahaan juga melakukan lindung nilai mata uang

Thai Palm Oil Distributor Smothong Reaps Gain as Government Biodiesel Push Raises Demand

dalam dua hingga tiga hari setelah setiap transaksi untuk meminimalkan risiko fluktuasi nilai tukar.

Somsak Sirichananurmitr, CEO Asset Pro Management, menegaskan prospek positif industri minyak sawit pada 2026, dengan memprediksi produksi dapat meningkat menjadi 22–23 juta ton seiring kondisi cuaca yang mendukung dan perluasan lahan tanam, serta meningkatnya permintaan terhadap campuran biodiesel yang lebih tinggi.

Di luar bisnis utamanya, SMO juga memonetisasi produk sampingan dengan memasok inti sawit untuk pembangkit listrik biomassa serta memproduksi biogas dari limbah cair yang dijual ke Otoritas Listrik Provinsi—menambah stabilitas dan diversifikasi sumber pendapatan. Perusahaan juga berkomitmen untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan (R&D) guna ekspansi di masa depan.

Dengan kebijakan dividen minimal 50% dari laba bersih dan rasio P/E saat ini sekitar 6x (jauh di bawah rata-rata industri sebesar 20x), SMO menonjol sebagai saham bernilai yang diuntungkan oleh ekspansi kapasitas berkelanjutan serta dinamika industri yang positif hingga 2028.

On Thursday, the share price of Smothong Group Public Company Limited (SET: SMO) at the morning session closed at THB 4.62, a THB 0.48 or 11.59% increase with a total trading value of THB 113.48 million.

Kittipong Puangmala, CEO of SMO, revealed during a recent Opportunity Day event that Middle East tensions in early 2026 have spurred global demand for palm oil, not just for edible purposes but also as a critical input for biodiesel.

This geopolitical shift, combined with rising energy prices, is expected to prompt the Thai government to boost biodiesel blend requirements from B3/B5 up to B7 or B10, supporting alternative energy and reducing reliance on imported diesel. If the biodiesel mix increases as projected, demand for palm oil could see a significant jump from the current 800,000 tons used for biodiesel.

SMO’s net profit for the previous year surged to nearly THB 700 million, almost tripling the THB 260 million posted in 2024. This growth was primarily driven by effective cost management during peak quarters, increased production capacity from an inorganic plant acquisition, and a greater export proportion—now accounting for 50–60% of total revenue.

Funds raised from the IPO were used to retire debt, for working capital, and to prepare for the construction of a new plant in Nakhon Si Thammarat. With land purchases and permits in progress, the company expects construction to start this year and commercial operations (COD) to begin by late 2027 or early 2028. SMO is also set to double its production capacity in Phanom District in April 2026, boosting annual output by 75 million tons—expected to drive continued performance gains.

SMO’s business model centers on acting as an intermediary, purchasing crops from farmers, processing them into crude palm oil (CPO) for both local refiners and export. The company maintains a risk management strategy of “buy and sell” (selling the products at a similar price to the material cost) to preserve margins, and managing risks without speculative inventory or FX practices. The company hedges currency within two to three days of each transaction

to minimize currency fluctuation exposure. Somsak Sirichananurmitr, CEO of Asset Pro Management, affirmed the positive outlook for the palm oil industry in 2026, predicting that output could rise to 22–23 million tons amid favorable weather and expanded cultivation, as demand for higher biodiesel blends continues to grow.

Beyond its main business, SMO also monetizes by-products by supplying palm kernels for biomass power and producing biogas from wastewater, sold to the Provincial Electricity Authority—adding stability and diversified revenue streams. The company is committed to further R&D for future expansion.

With a dividend policy of at least 50% of net profit and a current P/E ratio of about 6x (well below the industry’s 20x average), SMO stands out as a value stock benefiting from continued capacity expansion and favorable industry dynamics through 2028.

WILMAR : AFRIKA AKAN MENDORONG PERMINTAAN MINYAK SAWIT GLOBAL DI MASA DEPAN

Afrikaakan memainkan peran penting dalam membentuk permintaan jangka panjang minyak sawit global seiring pasar tradisional menjadi semakin sensitif terhadap harga dan menghadapi keterbatasan struktural, kata Chief Sustainability Officer Wilmar International Ltd, Jeremy Goon.

Ia mengatakan bahwa industri harus melihat melampaui volatilitas harga jangka pendek dan menilai apakah dinamika harga saat ini mendukung permintaan jangka panjang yang berkelanjutan.

“Mudah untuk terjebak dalam pergerakan harga bulanan, tetapi pertanyaan sebenarnya adalah apakah dinamika harga saat ini mendukung permintaan di masa depan atau justru diam-diam melemahkannya,” ujarnya dalam sesi panel pada konferensi Palm & Lauric Oils Price Outlook hari ini.

Secara historis, minyak sawit diperdagangkan dengan diskon tajam sekitar US$350–US$400 per ton dibandingkan minyak kedelai, sehingga menjadikannya pilihan minyak nabati paling terjangkau.

Pada akhir 2024, kesenjangan tersebut berbalik, dengan minyak sawit diperdagangkan setara atau bahkan dengan premi hingga US$200, kata Goon.

Meskipun minyak sawit sejak itu kembali berada pada posisi diskon, ia mencatat bahwa keunggulan keterjangkauan yang jelas seperti sebelumnya tidak lagi dimiliki akibat perubahan mendasar dalam struktur biayanya.

Ia menegaskan bahwa tantangan utama bukanlah menurunkan harga, melainkan mempertahankan proposisi nilai minyak sawit— yaitu keterjangkauan, fungsionalitas, dan skala—sambil menyerap biaya struktural yang lebih tinggi.

“Minyak sawit kini menanggung biaya permanen yang lebih tinggi akibat kepatuhan, keterbatasan tenaga kerja, adaptasi terhadap iklim, dan volatilitas hasil panen.

“Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, permintaan tidak akan runtuh dalam semalam, tetapi bisa terfragmentasi atau stagnan, yang jauh lebih sulit untuk dipulihkan,” tambahnya.

Goon memperingatkan bahwa premi harga yang berkepanjangan membuat permintaan menjadi lebih sensitif, terutama di pasar yang elastis terhadap harga, dan menekankan bahwa “keterjangkauan juga merupakan bagian dari keberlanjutan.”

Produktivitas, katanya, tetap menjadi tantangan paling mendesak bagi industri, dengan hasil panen minyak sawit yang menurun dalam satu dekade terakhir. Ia mencatat bahwa rata-rata hasil panen telah turun dari 3,62 ton menjadi 3,35 ton per hektare, sementara minyak nabati pesaing terus mengalami peningkatan.

Berbeda dengan tanaman penghasil minyak lainnya, peningkatan produktivitas minyak sawit membutuhkan waktu yang panjang karena siklus peremajaan tanaman, sehingga keputusan saat ini akan menentukan hasil lima hingga sepuluh tahun ke depan.

“Harga yang tinggi secara berkelanjutan mendorong pembeli untuk melakukan lindung nilai terhadap eksposur, yang berujung pada reformulasi selektif, pertumbuhan konsumsi yang lebih lambat, dan penundaan investasi hilir,” ujarnya.

Goon mengatakan tanda-tanda awal kelelahan permintaan mulai muncul, dengan pangsa minyak sawit dalam konsumsi minyak nabati menurun di pasar seperti India, Uni Eropa, dan China. “Di China dan India, minyak termurah yang akan menang, dan substitusi merupakan opsi nyata,” katanya.

Ia menambahkan bahwa permintaan global kini semakin dipengaruhi oleh persepsi kesehatan, kebijakan pangan, regulasi, serta penggunaan spesifik, bukan sekadar pertumbuhan volume.

Akibatnya, pertumbuhan bergeser ke segmen bernilai tambah lebih tinggi seperti lemak khusus, bahan pangan, biokimia, biofuel, dan aplikasi industri. “Segmen-segmen ini dapat menyerap biaya yang lebih tinggi dengan lebih efektif dibandingkan penggunaan komoditas,” ujar Goon.

Dalam konteks ini, ia menyoroti Afrika sebagai salah satu dari sedikit kawasan yang menawarkan pertumbuhan permintaan struktural jangka panjang yang kuat.

“Afrika bukan hanya tujuan ekspor berikutnya. Ini adalah pasar berikutnya yang harus dibangun,” katanya, seraya mencatat peran kawasan tersebut yang semakin penting sebagai konsumen sekaligus produsen di masa depan.

“Populasi Afrika diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 2,5 miliar pada 2050, mendorong urbanisasi dan meningkatnya kebutuhan akan ketahanan pangan. “Konsumsi di banyak negara Afrika telah melampaui produksi domestik, dengan hanya dua dari 54 negara di benua tersebut yang mengekspor minyak nabati.

“Pemenangnya adalah mereka yang berinvestasi lebih awal, membangun kemitraan, dan mendukung pengembangan pasar, bukan sekadar mengejar volume.”

Goon mengatakan Malaysia memiliki keunggulan tersendiri dengan mengekspor tidak hanya produk minyak sawit, tetapi juga sistem, standar, dan pengalaman.

“Malaysia Sustainable Palm Oil menyediakan dasar penting untuk legalitas, keterlacakan, dan keberlanjutan, terutama di pasar pertumbuhan baru,” ujarnya.

Ke depan, Goon memperingatkan bahwa harga tinggi dan substitusi bukanlah risiko utama yang dihadapi industri.

“Afrika akan menjadi ujian apakah minyak sawit tetap kompetitif di tengah persimpangan antara keterjangkauan, regulasi, dan keberlanjutan.

“Bagi Malaysia untuk memimpin, kita harus fokus pada menjaga permintaan, bukan hanya mengejar harga tinggi, bahkan di tengah dunia dengan biaya dan ekspektasi yang terus meningkat,” tambahnya.

(Sumber: Straits Times)

WILMAR : AFRICA TO DRIVE FUTURE GLOBAL PALM OIL DEMAND

Africawill play a critical role in shaping long-term global palm oil demand as traditional markets become increasingly price-sensitive and structurally constrained, said Wilmar International Ltd chief sustainability officer Jeremy Goon.

He said the industry must look beyond short-term price volatility and assess whether current pricing dynamics are supporting sustainable long-term demand.

"It's easy to get caught up in monthly price movements, but the real question is whether today's price dynamics are supporting future demand or quietly undermining it," he said during a panel session at the Palm & Lauric Oila Price Outlook conference today.

Historically, palm oil traded at a steep discount of about US$350US$400 per tonne to soybean oil, making it the most affordable vegetable oil option.

By late 2024, that gap had inverted with palm oil trading at parity or even at a premium of up to US$200, Goon said.

Although palm oil has since returned to a discount, he noted it no longer holds the clear affordability advantage it once did due to fundamental changes in its cost structure.

He said the challenge is not about lowering prices, but preserving palm oil's value proposition of affordability, functionality and scale while absorbing structurally higher costs.

"Palm oil now carries higher permanent costs from compliance, labour constraints, climate adaptation and yield volatility.

"If we get this wrong, demand won't collapse overnight, but it may fragment or stagnate, which is much harder to reverse," he added.

Goon warned that persistent price premiums make demand more sensitive, particularly in price-elastic markets, stressing that "affordability is also part of sustainability".

Productivity, he said, remains the industry's most urgent challenge, with palm oil yields declining over the past decade. He noted average yields have fallen from 3.62 tonnes to 3.35 tonnes per hectare, while competing oils have steadily improved.

Unlike oilseeds, palm oil productivity gains require long lead times due to replanting cycles, meaning today's decisions will shape outcomes five to 10 years ahead.

"Sustained high prices push buyers to hedge exposure, leading to selective reformulation, slower consumption growth and delayed downstream investment," he said.

Goon said early signs of demand fatigue are emerging, with palm oil's share of vegetable oil consumption declining in markets such as India, the European Union and China. "In China and India, the cheapest oil wins, and substitution is a real option," he said.

He added that global demand is increasingly shaped by health perceptions, food policies, regulations and application-specific use rather than pure volume growth.

As a result, growth is shifting towards higher-value segments such as speciality fats, food ingredients, biochemicals, biofuels and industrial applications. "These segments can absorb higher costs more effectively than commoditised uses," Goon said.

Against this backdrop, he highlighted Africa as one of the few regions offering strong long-term structural demand growth.

"Africa is not just the next export destination. It is the next market to build," he said, noting the region's growing role as both a consumer and future producer.

"Africa's population is expected to double to 2.5 billion by 2050, driving urbanisation and rising food security needs. "Consumption in many African countries already exceeds domestic production, with only two of the continent's 54 countries exporting edible oils.

"The winners will be those who invest early, build partnerships and support market development, rather than just chasing volumes."

Goon said Malaysia holds a distinct advantage by exporting not just palm oil products, but systems, standards and experience.

"The Malaysia Sustainable Palm Oil provides a critical baseline for legality, traceability and sustainability, especially in new growth markets," he said.

Looking ahead, Goon cautioned that high prices and substitution are not the core risks facing the industry.

"Africa will test whether palm oil remains competitive where affordability, regulation and sustainability intersect.

"For Malaysia to lead, we must focus on sustaining demand, not just chasing high prices, even in a world of rising costs and expectations," added Goon.

(Source: StraitsTimes)

GHANA AKAN KURANGI IMPOR SAWIT HINGGA $200 JUTA MELALUI ALIANSI BARU

DENGAN CHINA

GHANA SEMAKIN MENGINTENSIFKAN UPAYA UNTUK MENGURANGI TAGIHAN IMPOR MINYAK SAWIT SEKITAR $200 JUTA PER TAHUN, SEIRING DENGAN LANGKAHNYA MENARIK INVESTOR CHINA GUNA MENDUKUNG TRANSFORMASI SEKTOR PERTANIAN YANG AMBISIUS.

• Ghana mempercepat transformasi pertaniannya dengan mengundang investor China untuk mendukung usaha patungan di berbagai sektor.

• Program Integrated Oil Palm Development Programme bertujuan mengembangkan 100.000 hektare lahan dan menciptakan 250.000 lapangan kerja.

• Inisiatif pemerintah mencakup distribusi benih, perluasan irigasi, serta dukungan terhadap mekanisasi.

• Dengan akses ke pasar ECOWAS yang berjumlah lebih dari 400 juta penduduk, Ghana memposisikan diri sebagai pusat regional untuk sektor pertanian dan industri.

Berbicara pada perayaan Tahun Baru Imlek China 2026 di Accra, Menteri Pertanian Eric Opoku mengatakan bahwa sektor pertanian kini menjadi pusat agenda pemulihan ekonomi Presiden John Dramani Mahama.

Ia mencatat bahwa anggaran tahun 2026 menempatkan pertanian sebagai katalis bagi industrialisasi, ekspansi ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta stabilitas devisa.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah menyalurkan 31.000 metrik ton benih padi, 4.388 metrik ton benih jagung, 2.791 metrik ton benih kedelai, serta 272.000 metrik ton pupuk pada tahun ini.

Pemerintah juga memperluas infrastruktur irigasi dan membangun bendungan di wilayah utara untuk mengurangi ketergantungan pada pertanian berbasis curah hujan.

Opoku menyoroti peluang besar bagi perusahaan asal China, khususnya di bidang sistem irigasi, mekanisasi, pengolahan hasil pertanian, dan perakitan mesin.

“Kami tidak mencari bantuan. Kami membangun usaha patungan,” ujarnya, seraya mendorong investor untuk beralih “dari perdagangan ke produksi.”

Di pusat strategi ini terdapat Integrated Oil Palm Development Programme, yang dijadwalkan berlangsung dari 2026 hingga 2032. Inisiatif ini bertujuan mengembangkan 100.000 hektare perkebunan, menciptakan 250.000 lapangan kerja, serta secara signifikan mengurangi impor minyak sawit.

Dengan ketersediaan lahan terstruktur yang sudah ditawarkan, Ghana memposisikan diri sebagai pusat regional untuk sektor pertanian dan manufaktur, dengan memanfaatkan akses ke pasar ECOWAS yang beranggotakan lebih dari 400 juta penduduk guna menarik investasi jangka panjang.

GHANA TO REDUCE PALM IMPORT BY $200 MILLION WITH NEW CHINA ALLIANCE

GHANA IS INTENSIFYING EFFORTS TO CUT ITS PALM OIL IMPORT BILL BY ABOUT $200 MILLION ANNUALLY, AS IT COURTS CHINESE INVESTORS TO SUPPORT AN AMBITIOUS AGRICULTURAL TRANSFORMATION DRIVE.

• Ghana is accelerating its agricultural transformation, inviting Chinese investors to support joint ventures across the sector.

• The Integrated Oil Palm Development Programme aims to develop 100,000 hectares and create 250,000 jobs.

• Government initiatives include seed distribution, irrigation expansion, and support for mechanisation.

• With access to the 400 million-strong ECOWAS market, Ghana is positioning itself as a regional hub for agriculture and industry.

Speaking at the Chinese Lunar New Year Gala 2026 in Accra, Agriculture Minister Eric Opoku said farming has become central to President John Dramani Mahama's economic reset agenda.

He noted that the 2026 budget positions agriculture as a catalyst for industrialisation, export expansion, job creation, and foreign exchange stability.

As part of the push, the government is distributing 31,000 metric tonnes of rice seed, 4,388 metric tonnes of maize seed, 2,791 metric tonnes of soybean seed, and 272,000 metric tonnes of fertiliser this year.

Authorities are also expanding irrigation infrastructure and constructing dams in northern regions to reduce reliance on rain-fed farming.

Opoku highlighted significant openings for companies from China, particularly in irrigation systems, mechanisation, agro-processing, and machinery assembly.

“We are not seeking aid. We are building joint ventures,” he said, urging investors to shift “from trade to production”.

At the centre of the strategy is the Integrated Oil Palm Development Programme, scheduled for 2026 to 2032. The initiative aims to develop 100,000 hectares of plantations, create 250,000 jobs, and sharply reduce palm oil imports.

With structured land banks already on offer, Ghana is positioning itself as a regional hub for agriculture and manufacturing, leveraging access to the more than 400 million-strong ECOWAS market to attract long-term investment.

KILANG DAGON MYOTHIT (SEIKKAN) SIAP PENUHI KEBUTUHAN

Pabrik ekstraksi pelarut dan kilang minyak MGND di Township Dagon Myothit (Seikkan) akan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan minyak nabati dalam negeri serta pengembangan ekonomi regional.

Di bawah arahan Pemerintah Wilayah Yangon, Pabrik Ekstraksi Pelarut & Kilang MGND yang dioperasikan oleh Mandalay Global Network Distribution Co Ltd (MGND) untuk memproduksi minyak dedak padi resmi dibuka pada 19 Maret di Township Dagon Myothit (Seikkan).

Kepala Menteri Wilayah Yangon, U Soe Thein, menyampaikan bahwa fasilitas ini merupakan industri dasar yang krusial bagi kemandirian minyak nabati Myanmar serta integrasi antara sektor pertanian dan industri. Produksi minyak nabati berkualitas tinggi dan produk turunan bernilai tambah dari tanaman penghasil minyak, termasuk dedak padi, diharapkan dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) serta berkontribusi pada pengembangan ekonomi regional dan penciptaan lapangan kerja.

LOKAL

Upacara peresmian pabrik ekstraksi pelarut dan kilang minyak diawali dengan pemotongan pita seremonial serta penekanan tombol untuk membuka papan nama pabrik oleh Kepala Menteri Wilayah Yangon U Soe Thein, Panglima Komando Yangon Brigjen Tin Min Latt, Menteri Urusan Pembangunan Wilayah Yangon U Bo Htay, Menteri Urusan Ekonomi U Myo Myint Aung, Menteri Sumber Daya Alam U Zaw Win, serta CEO MGND U Tun Tun Win. Acara dilanjutkan dengan prosesi penyiraman air wangi oleh para pejabat. Kepala Menteri juga menyerahkan honorarium kepada kelompok hiburan.

Selanjutnya, tim yang dipimpin oleh Kepala Menteri meninjau area pabrik dan mengamati tahapan produksi minyak mentah serta proses pemurnian minyak. CEO MGND U Tun Tun Win juga memaparkan presentasi PowerPoint yang menjelaskan secara rinci mengenai pabrik tersebut dalam sesi pengarahan.

(Sumber: The Global New Light of Myanmar)

DAGON MYOTHIT (SEIKKAN) REFINERY SET TO MEET LOCAL DEMAND

The MGDN solvent extraction and oil refinery plant in Dagon Myothit (Seikkan) Township will contribute to the domestic needs of edible oil and regional economic development.

Under the guidance of the Yangon Region Government, the MGND Solvent Extraction & Refinery Plant operated by Mandalay Global Network Distribution Co Ltd (MGND) for producing rice bran oil was opened on 19 March in Dagon Myothit (Seikkan) Township.

Yangon Region Chief Minister U Soe Thein delivered a remark that this is a crucial basic industry for Myanmar’s edible oil sufficiency and the integration of agricultural and industrial development. Producing high-quality edible oil and value-added by-products from oil-bearing crops, including rice bran, would help boost gross domestic product and contribute to regional economic development and employment.

First, the opening ceremony of the solvent extraction and oil refinery plant was inaugurated by cutting the ceremonial ribbon and by pressing the button to unveil the plant signboard by Yangon Region Chief Minister U Soe Thein, Yangon Command Commander Brig-Gen Tin Min Latt, Yangon Region Minister for Development Affairs U Bo Htay, Minister for Economic Affairs U Myo Myint Aung, Minister for Natural Resources U Zaw Win, and CEO of MGND U Tun Tun Win, officially opened the plant, followed by officials sprinkling scented water.The chief minister also presented honorariums to the entertainment troupe.

A team led by the chief minister looked around the plant and observed the stages of crude oil production and oil refining operations. MGND CEO U Tun Tun Win gave a PowerPoint presentation explaining details about the plant during the briefing session

(Source: The Global New Light of Myanmar)

MINYAK

SAWIT,

KAKAO, KOPI… SIAPA YANG

AKAN MENGELOLA

PERKEBUNAN TROPIS

BESAR DI MASA DEPAN?

Perkebunan kelapa sawit, misalnya, semakin menghadapi kesulitan akibat menurunnya daya tarik sektor ini, yang nyaris tidak berubah sejak era kolonial.

Di balik bahan pangan pokok seperti minyak sawit, kakao, kopi, dan pisang yang menjadi bagian dari konsumsi harian kita, terdapat sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang akan bersedia bekerja di ladang perkebunan tropis besar di dunia pada tahun-tahun mendatang? Sejak negara-negara produsen memperoleh kemerdekaan, sektor-sektor yang bergerak di bidang produksi tanaman perkebunan masih mengandalkan model yang sebagian besar diwarisi dari masa kolonial, ketika tanaman ekspor diproduksi untuk pasar global, dan keuntungan jangka panjangnya sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang melimpah, patuh, dan berbiaya rendah.

Namun, model ini kini mulai kehilangan daya. Selama ini, perdebatan publik mengenai sektor produksi tanaman tropis utama lebih banyak berfokus pada isu lingkungan, tetapi tantangan utama saat ini justru terletak pada daya tarik sosial dari sistem pertanian tersebut.

Sektor yang Dibentuk oleh Sejarah Kolonialnya

Pertanian tropis berskala besar dibangun atas dasar spesialisasi wilayah dan ketergantungan pada ekspor. Seperti yang kami tunjukkan dalam buku sebelumnya mengenai ketergantungan kesejahteraan manusia terhadap alam serta fungsi ekosistem, kemerdekaan tidak secara mendasar mengubah logika produksi ini, meskipun terdapat berbagai penyesuaian teknis dan kelembagaan.

Dinamika kekuasaan, organisasi tenaga kerja, serta prioritas terhadap pasar eksternal tetap menjadi kekuatan utama yang membentuk sektor ini.

Kelapa sawit di Asia Tenggara, kakao di Afrika Barat, dan pisang di Amerika Latin mengikuti pola perkembangan yang serupa, di mana keberlanjutan lingkungan—yang didukung oleh standar sertifikasi yang semakin kuat—berkembang lebih cepat dibandingkan transformasi sosial di sektor-sektor tersebut.

Kesenjangan antara model produksi warisan kolonial dan aspirasi sosial masyarakat pedesaan tropis masa kini inilah yang sebagian besar menjelaskan krisis ketenagakerjaan yang kini melanda perkebunan.

Generasi Muda Mulai Menjauh dari Pekerjaan Perkebunan

Di Indonesia dan Malaysia, dua produsen utama minyak sawit dunia, perkebunan kini semakin kesulitan merekrut tenaga kerja lokal. Penelitian yang dilakukan oleh John McCarthy, seorang ilmuwan politik dari Australian National University, menunjukkan bahwa generasi muda pedesaan semakin enggan bekerja di sektor pertanian, yang dianggap berat secara fisik, kurang dihargai secara sosial, dan berpenghasilan rendah.

Kondisi ini diperparah oleh tingkat mekanisasi yang masih belum memadai di banyak sektor tropis. Hal ini juga memperdalam ketimpangan gender: pekerjaan yang paling berat secara fisik masih didominasi oleh laki-laki, sementara perempuan sering kali ditempatkan pada posisi yang tidak stabil dan kurang dihargai, dengan akses terbatas terhadap upah dan perlindungan sosial. Selain itu, mereka juga diharapkan untuk menjalankan pekerjaan perkebunan sekaligus tanggung jawab domestik, yang meningkatkan kelelahan dan memperkuat ketergantungan ekonomi.

Selama satu abad terakhir, pekerjaan di perkebunan kelapa sawit hampir tidak mengalami perubahan. Pekerjaan ini tetap sangat mengandalkan tenaga fisik dan berupah rendah, dengan para pekerja harus memotong dan mengangkut beban berat di area terpencil.

Untuk mempertahankan produksi, perkebunan semakin bergantung pada tenaga kerja migran yang sering kali berada dalam kondisi rentan. Di Asia Tenggara, tingkat ketergantungan pada pekerja asing di perkebunan kelapa sawit bervariasi antarnegara. Ketergantungan ini sangat tinggi di Malaysia, di mana pekerja migran mencakup sekitar 70–80% tenaga kerja di sektor tersebut, terutama berasal dari Indonesia, Bangladesh, Nepal, dan India. Ketika tenaga kerja asing tidak tersedia selama pandemi COVID-19, beberapa perkebunan besar mencoba menarik pekerja lokal—termasuk mantan narapidana—serta menawarkan fasilitas perumahan gratis, namun hal ini tidak cukup untuk membalikkan penurunan produksi yang tajam.

Sebaliknya, di Indonesia, produksi sebagian besar bergantung pada tenaga kerja domestik, yang sering kali berasal dari migrasi antar pulau, sementara proporsi pekerja asing tetap sangat kecil.

Dengan demikian, muncul pertanyaan penting: apakah generasi muda di Indonesia atau Malaysia akan secara sukarela memilih bekerja di perkebunan, kecuali jika terpaksa oleh isolasi geografis atau minimnya alternatif ekonomi lokal yang layak? Menurunnya minat ini menjadi ancaman serius bagi kohesi sosial jangka panjang serta stabilitas produksi industri perkebunan tropis.

PALM OIL, COCOA, COFFEE… WHO’S GOING TO TEND TO TOMORROW’S LARGE TROPICAL PLANTATIONS?

Palm oil plantations, for one, are increasingly struggling with the sector's declining attractiveness, which has hardly changed since the colonial era.

Behind basic foodstuffs like palm oil, cocoa, coffee and bananas that are part of our daily diet lies a rarely asked question. Who will agree to work in the fields of the world's large tropical plantations in years to come? Since producing countries gained independence, the sectors that deal with field crop production have relied on a model largely inherited from the colonial period when export crops were produced for global markets, and their profitability long depended on abundant, compliant, and inexpensive labor.

But this model is running out of steam. While public debate around major tropical crop production sectors has long focused on environmental issues, the central challenge today is the social attractiveness of these horticultural systems.

Sectors shaped by their colonial history

Large-scale tropical agriculture was built on territorial specialization and dependency on export. As we showed in a previous book about how human well-being is dependent on nature and how ecosystems function, independence did not fundamentally transform this productive logic, despite technical and institutional adjustments.

Power dynamics, labor organization, and the priority given to external markets remain deeply structuring forces.

Oil palm in Southeast Asia, cacao in West Africa, and bananas in Latin America follow comparable trajectories, where environmental sustainability—supported by increasingly robust certification standards—has progressed more rapidly than the social transformation of these sectors.

This gap between a productive model inherited from colonial history

This hardship is compounded by still insufficient mechanization in many tropical sectors. It also deepens gender inequalities: the most physically demanding tasks continue to fall largely to men, while women are frequently relegated to insecure and undervalued positions, with restricted access to wages and social protection. Moreover, they are expected to juggle plantation work alongside domestic responsibilities, which heightens exhaustion and reinforces economic dependence.

Over the past century, work in oil palm plantations has changed very little. It remains highly physical and poorly paid, with workers cutting and carrying heavy loads in isolated areas.

To maintain production, plantations increasingly rely on migrant labor, often vulnerable. In Southeast Asia, dependence on foreign workers in oil palm plantations varies widely by country. It is particularly high in Malaysia, where migrants account for about 70–80% of workers in the sector, mainly from Indonesia, Bangladesh, Nepal, and India. When foreign labor became unavailable during the COVID-19 pandemic, some large plantations tried to attract local workers—including former offenders—and offered free housing, but this was not enough to reverse the sharp decline in production.

By contrast, in Indonesia, production relies mainly on national labor, often from internal migration between islands, and the share of foreign workers remains marginal.

The question thus becomes crucial: would young Indonesian or Malaysian people willingly choose plantation work, unless compelled by geographic isolation or the lack of viable local economic alternatives? This growing disengagement poses a serious threat to the long-term social cohesion and productive stability of the tropical plantation industry.

KONFLIK TIMUR TENGAH MENGUBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT: RISIKO, VOLATILITAS, DAN PELUANG BIODIESEL BAGI ASIA TENGGARA

OLEH: KENNY YONG, EDITOR, PALM OIL TODAY

Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dengan cepat mengubah pasar energi global, dengan dampak luas terhadap berbagai industri komoditas di seluruh dunia. Seiring meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah melonjak tajam, memicu efek berantai pada sektor pertanian, logistik, dan biofuel.

Bagi industri minyak sawit, khususnya di Indonesia dan Malaysia, krisis ini menghadirkan sebuah paradoks: tekanan biaya dan volatilitas pasar dalam jangka pendek di satu sisi, serta peluang jangka panjang yang signifikan yang didorong oleh permintaan biodiesel di sisi lain.

1. Guncangan Harga Minyak: Pengubah Permainan bagi Minyak Sawit

Dampak paling langsung dari konflik Timur Tengah adalah lonjakan tajam harga minyak mentah. Hal ini secara mendasar mengubah ekonomi minyak nabati.

Minyak sawit, yang secara tradisional didorong oleh permintaan pangan, kini semakin terkait dengan pasar energi. Ketika harga bahan bakar fosil naik, minyak sawit menjadi bahan baku yang lebih menarik untuk biodiesel.

Akibatnya:

• Harga minyak sawit meningkat secara signifikan

• Minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mengalami sentimen bullish kembali

• Margin biodiesel membaik

Hal ini menandai perubahan struktural: minyak sawit tidak lagi sekadar komoditas pangan—melainkan semakin menjadi aset yang terkait dengan energi.

2. Kenaikan Biaya dan Tantangan Operasional

Namun, manfaat dari harga yang lebih tinggi tidak datang tanpa konsekuensi.

Biaya Pupuk dan Input:

Harga pupuk melonjak tajam akibat gangguan pasokan. Karena pupuk merupakan bagian besar dari biaya perkebunan, hal ini menekan margin, terutama bagi petani kecil.

Biaya Logistik dan Asuransi:

Biaya pengiriman dan asuransi untuk ekspor minyak sawit meningkat akibat risiko geopolitik.

Ketidakpastian Permintaan:

Meskipun harga meningkat, permintaan minyak nabati untuk konsumsi tetap rapuh karena harga tinggi menekan konsumsi di pasar-pasar utama.

3. Biodiesel: Peluang Terbesar bagi Indonesia & Malaysia

Meskipun volatilitas jangka pendek mendominasi perhatian, peluang struktural terbesar terletak pada ekspansi biodiesel.

Indonesia Memimpin:

Indonesia mempertimbangkan untuk mempercepat ambisi biodiesel, dengan potensi peningkatan target di atas mandat saat ini.

Mengapa Biodiesel Menjadi Lebih Menarik:

Harga diesel yang lebih tinggi membuat biodiesel semakin kompetitif, meningkatkan permintaan pencampuran (blending) dan mengalihkan penggunaan minyak sawit ke sektor energi.

Keunggulan Strategis Malaysia:

Malaysia diuntungkan oleh kemampuan hilirisasi yang kuat serta pasar ekspor yang sudah mapan.

4. Perubahan Struktural: Dari Komoditas Pangan ke Komoditas Energi

Permintaan minyak sawit kini semakin dipengaruhi oleh pasar energi dan risiko geopolitik, yang menyebabkan volatilitas lebih tinggi serta intervensi pemerintah yang lebih kuat.

5. Prospek: Volatilitas Jangka Pendek, Peluang Jangka Panjang

Risiko Jangka Pendek:

• Gangguan rantai pasok

• Kenaikan biaya input

• Penurunan permintaan akibat harga tinggi

Peluang Jangka Panjang:

• Perluasan mandat biodiesel

• Penguatan permintaan domestik

• Terbentuknya batas bawah harga yang lebih tinggi secara struktural

Kesimpulan

Konflik di Timur Tengah telah memicu perubahan besar dalam industri minyak sawit. Meskipun tantangan masih ada, lonjakan harga minyak telah membuka pendorong pertumbuhan yang kuat: biodiesel.

Bagi Indonesia dan Malaysia, ini merupakan peluang strategis untuk memposisikan kembali minyak sawit sebagai pilar utama ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi.

MIDDLE EAST CONFLICT RESHAPES THE PALM OIL INDUSTRY: RISKS, VOLATILITY, AND A BIODIESEL OPPORTUNITY FOR SOUTHEAST ASIA

The ongoing conflict in the Middle East is rapidly reshaping global energy markets, with far-reaching implications for commodity industries worldwide. As tensions escalate, crude oil prices have surged dramatically, triggering ripple effects across agriculture, logistics, and biofuels.

For the palm oil industry, especially in Indonesia and Malaysia, this crisis presents a paradox: short-term cost pressures and market volatility on one hand, and significant long-term opportunities driven by biodiesel demand on the other.

1. Oil Price Shock: A Game Changer for Palm Oil

The most immediate impact of the Middle East conflict has been the sharp rise in crude oil prices. This has fundamentally altered the economics of vegetable oils.

Palm oil, traditionally driven by food demand, is now increasingly tied to energy markets. As fossil fuel prices rise, palm oil becomes a more attractive feedstock for biodiesel.

As a result:

• Palm oil prices have surged significantly

• Crude palm oil has seen renewed bullish sentiment

• Biodiesel margins have improved

This marks a structural shift: palm oil is no longer just a food commodity—it is increasingly an energy-linked asset class.

2. Rising Costs and Operational Challenges

However, the benefits of higher prices are not without consequences. Fertiliser and Input Costs:

Fertiliser prices have surged sharply due to supply disruptions. Since fertilisers account for a large portion of plantation costs, this creates margin pressure, especially for smallholders.

Logistics and Insurance Costs:

Shipping and insurance costs for palm oil exports have increased due to geopolitical risks.

Demand Uncertainty:

Despite rising prices, edible oil demand remains fragile as high prices discourage consumption in key markets.

3. Biodiesel: The Biggest Opportunity for Indonesia & Malaysia

While short-term volatility dominates headlines, the real structural opportunity lies in biodiesel expansion.

Indonesia Leading the Charge:

Indonesia is considering accelerating its biodiesel ambitions, with potential upgrades beyond current mandates.

Why Biodiesel Becomes Attractive:

Higher diesel prices make biodiesel more competitive, increasing blending demand and shifting palm oil usage toward energy.

Malaysia’s Strategic Advantage:

Malaysia benefits from strong downstream capabilities and established export markets.

4. Structural Shift: From Food Commodity to Energy Commodity

Palm oil demand is increasingly influenced by energy markets and geopolitical risks, leading to higher volatility and stronger government intervention.

5. Outlook: Volatility in the Short Term, Opportunity in the Long Term

Short-Term Risks:

• Supply chain disruptions

• Rising input costs

• Demand destruction

Long-Term Opportunities:

• Expansion of biodiesel mandates

• Stronger domestic demand

• Higher structural price floor

Conclusion

The Middle East conflict has triggered a major shift in the palm oil industry. While challenges remain, the surge in oil prices has unlocked a powerful growth driver: biodiesel.

For Indonesia and Malaysia, this represents a strategic opportunity to reposition palm oil as a cornerstone of energy security and economic growth.

PARA PENDIRI YANG MENGGALANG LEBIH DARI $10 JUTA DARI PENGOLAHAN

SAWIT DAN LIMBAHNYA DI AFRIKA

Didirikan pada tahun 2017 oleh Ikenna Nzewi dan Uzo Ayogu, Releaf telah berkembang dari sekadar marketplace pertanian menjadi perusahaan yang membangun teknologi pengolahannya sendiri serta mengubah limbah sawit menjadi nilai iklim. Kedua pendiri, warga Amerika keturunan Nigeria, kembali ke Nigeria untuk mengatasi tantangan di pasar kelapa sawit terbesar di Afrika, sambil berhasil menggalang dana lebih dari $10 juta.

• Releaf, yang didirikan pada 2017 oleh Ikenna Nzewi dan Uzo Ayogu, telah berevolusi dari marketplace pertanian menjadi perusahaan pengolahan berbasis teknologi yang berfokus pada industri minyak sawit Nigeria.

• Mereka mengembangkan Kraken, sistem pengolahan inti sawit milik sendiri, untuk mengatasi inefisiensi dan limbah dalam metode tradisional yang digunakan petani kecil.

• Inovasi Releaf telah meningkatkan hasil petani dan menarik pendanaan lebih dari $10 juta meskipun iklim investasi semakin menantang.

• Pada 2030, Releaf menargetkan pengurangan 700.000 ton metrik CO₂, mendaur ulang 50.000 ton limbah, memproduksi 20.000 ton biochar per tahun, serta memberikan dampak kepada lebih dari satu juta petani dengan menciptakan lebih dari 500 lapangan kerja baru.

Sebelum Releaf menjadi salah satu perusahaan agritech yang paling diperhatikan di Nigeria, perusahaan ini hanyalah sebuah ide yang dibagikan oleh dua pendiri yang masih berstatus mahasiswa.

Ikenna Nzewi dan temannya Uzoma Ayogu memulai perusahaan ini pada tahun 2017 dengan keyakinan sederhana bahwa sistem pangan Afrika mengalami kerusakan yang dapat diperbaiki, dan bahwa menyelesaikan masalah tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Ambisi tersebut membawa Releaf masuk ke Y Combinator pada tahun 2017, menempatkan startup ini di antara gelombang baru perusahaan Afrika yang didukung secara global. Namun, masuk ke salah satu akselerator paling bergengsi di Silicon Valley tidak berarti mereka telah memiliki semua jawabannya.

Pada masa awal, Releaf bereksperimen. Perusahaan ini berpindah dari satu ide ke ide lain, mulai dari marketplace pertanian hingga pembiayaan perdagangan, dalam upaya menemukan model yang benar-benar sesuai dengan realitas pasar Afrika.

Pencarian tersebut akhirnya membawa Nzewi dan Ayogu— keduanya warga Amerika keturunan Nigeria dan saat itu mahasiswa di Yale dan Duke—kembali ke Nigeria, negara asal mereka sekaligus produsen kelapa sawit terbesar di Afrika. Mereka melakukan perjalanan ke 20 dari 36 negara bagian di Nigeria untuk memahami di mana teknologi benar-benar dapat memberikan dampak. Yang mereka temukan bukan sekadar kesenjangan, melainkan sebuah keruntuhan sistem.

Nigeria pernah memimpin pasar minyak sawit global. Kini, negara tersebut justru menjadi salah satu importir terbesar. Pada periode 1950-an hingga 1970-an, Nigeria menyumbang lebih dari 40% produksi minyak sawit global, mengekspor lebih dari cukup untuk memenuhi permintaan domestik dan internasional.

Saat ini, pangsa produksi global Nigeria telah turun menjadi kurang dari 2% pada tahun 2024. Pada saat yang sama, negara ini menghabiskan sekitar $600 juta setiap tahun untuk mengimpor minyak sawit. Masalahnya bukan kekurangan permintaan, dan juga bukan karena kurangnya petani. Masalah utamanya adalah bagaimana sistem tersebut berjalan.

Di seluruh negeri, petani kecil—yang merupakan mayoritas dalam sistem pertanian Nigeria—masih mengandalkan metode manual untuk mengolah inti sawit. Proses ini lambat, membutuhkan tenaga fisik besar, dan sangat tidak efisien.

“Dengan menggunakan batu, petani hanya bisa memecah sekitar 2,5 ton metrik kacang per minggu,” kata Nzewi. “Ini sangat lambat dan melelahkan untuk hasil sebesar itu.”

Bahkan ketika mesin tersedia, hasilnya tidak jauh lebih baik. Beberapa peralatan lokal hanya mampu memproses kurang dari 24 ton metrik per minggu, sering kali dengan kualitas output yang rendah. Dalam banyak kasus, hingga 25% hasil produksi petani terbuang. Bagi Nzewi dan Ayogu, inilah masalah sebenarnya—dan inilah yang ingin diselesaikan oleh Releaf.

Membangun Kraken

Solusi tersebut adalah Kraken. Setelah dua tahun riset dan pengembangan, Releaf membangun sistem pengolahan inti sawit milik sendiri yang dirancang untuk menghadapi kondisi nyata pertanian di Afrika.

“Dibutuhkan dua tahun R&D yang intensif,” kata Nzewi. “Sejak awal, kami ingin membangun teknologi pengolahan inti sawit paling maju di Afrika Barat.”

Perbedaan ini sangat penting, terutama karena mesin pemecah impor yang sering digunakan perusahaan besar dapat memproses hingga 720 ton metrik per minggu, tetapi memiliki kekurangan. Harganya lebih dari $350.000 dan dirancang untuk varietas sawit dari perkebunan besar, bukan untuk inti sawit bercangkang tebal yang dihasilkan oleh petani kecil.

Kraken dirancang secara berbeda. Ketika mulai beroperasi pada Januari 2021, sistem ini mampu memproses 500 ton metrik per minggu dengan tingkat kemurnian 95%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri. Biayanya juga kurang dari setengah harga sistem impor.

Yang lebih penting, Kraken bekerja di tempat di mana teknologi lain gagal. Sistem ini lebih cepat dibandingkan alternatif lokal—hingga 25 kali lebih cepat dari peralatan yang ada dan 240 kali lebih cepat dibandingkan metode manual—serta mampu mengurangi limbah.

Pada tahun yang sama, Releaf berhasil menggalang pendanaan awal sebesar $4,2 juta, menandakan bahwa model bisnis mereka mulai terbukti.

Memperbaiki yang Bermasalah

Versi pertama Kraken menangani seluruh proses, mulai dari persiapan hingga pemecahan dan pemisahan inti, dalam satu sistem terintegrasi. Namun, ada kelemahan. Jika satu bagian mengalami gangguan, seluruh sistem akan berhenti.

“Kraken 1 hanya memiliki satu alat pemecah,” jelas Nzewi. “Jika tersumbat atau membutuhkan perawatan, seluruh sistem akan berhenti.”

Kraken 2 memperbaiki hal tersebut. Sistem yang diperbarui ini menghadirkan redundansi, memungkinkan beberapa proses berjalan

secara bersamaan tanpa menghentikan operasi. Perawatan dapat dilakukan tanpa menghentikan mesin. Pada saat yang sama, kinerja meningkat secara keseluruhan—hasil lebih tinggi, biaya lebih rendah, dan kebutuhan tenaga kerja berkurang. Sistem ini menjadi lebih efisien dan lebih tangguh pada saat yang sangat penting.

Pada tahun 2023, Releaf menggalang $3,3 juta dalam pendanaan pra-Seri A untuk memperluas operasinya dan meluncurkan produk baru, termasuk Kraken II dan SITE, alat pemetaan geospasial yang dikembangkan bersama Stanford University untuk mengoptimalkan penempatan infrastruktur pengolahan pangan.

Secara total, perusahaan ini kini telah mengumpulkan lebih dari $10 juta untuk mengembangkan teknologi pengolahannya, memperluas operasinya di Nigeria, dan berinvestasi dalam inovasi baru.

Dari Limbah Menjadi Peluang

Namun evolusi berikutnya tidak berasal dari mesin itu sendiri, melainkan dari apa yang ditinggalkannya.

Setiap hari, fasilitas pengolahan Releaf menghasilkan volume besar cangkang inti sawit—produk sampingan yang selama ini dibakar, dibuang, atau dijual dengan harga rendah. Selama puluhan tahun, cangkang ini dianggap sebagai limbah. Releaf mulai melihatnya secara berbeda.

“Afrika menghasilkan sekitar satu miliar ton biomassa setiap tahun,” kata Nzewi. “Dan cangkang inti sawit adalah salah satu bahan baku terbaik untuk biochar.”

Wawasan ini melahirkan Releaf Earth, unit perusahaan yang berfokus pada iklim, serta langkah menuju produksi biochar industri.

Taruhan pada Biochar

Biochar dihasilkan dengan memanaskan bahan organik dalam lingkungan rendah oksigen, mengubahnya menjadi bentuk karbon stabil yang dapat bertahan di dalam tanah selama ratusan bahkan ribuan tahun. Berbeda dengan offset karbon atau solusi jangka pendek seperti penanaman pohon, biochar merupakan bentuk penghilangan karbon jangka panjang.

“Ini adalah teknologi yang menghilangkan karbon dan menyimpannya dengan cara yang tidak dapat kembali ke atmosfer hingga 1.000 tahun,” jelas Nzewi.

Selain dampaknya terhadap iklim, biochar juga masuk akal secara bisnis. Produk ini dapat diskalakan dan, menurut Nzewi, lebih hemat biaya dibandingkan banyak metode penghilangan karbon lainnya. Yang terpenting, bahan bakunya sudah tersedia. Apa yang sebelumnya dianggap limbah kini menjadi sumber pendapatan baru.

Manfaatnya pun cepat terlihat. Biochar meningkatkan kualitas tanah, meningkatkan retensi air, dan membuat pupuk lebih efektif. Petani yang menggunakannya mendapatkan hasil panen lebih tinggi serta ketahanan yang lebih baik terhadap kekeringan. Releaf mendapatkan pasokan lebih besar seiring meningkatnya produksi petani. Perusahaan juga dapat menjual kredit karbon secara internasional, menghasilkan pendapatan dalam dolar.

“Ini menguntungkan margin kami, menguntungkan petani kami, dan juga menguntungkan lingkungan,” kata Nzewi.

Dalam uji coba, hasil panen meningkat hingga 23% dengan penggunaan biochar— cukup, menurut Nzewi, untuk membuktikan manfaatnya secara langsung.

Membangun di Tengah Iklim Pendanaan yang Lebih Sulit

Langkah Releaf ke teknologi iklim juga mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam ekosistem startup Afrika.

Dalam dua tahun terakhir, pendanaan melambat. Investasi asing langsung ke Afrika menurun, dan depresiasi mata uang di negara seperti Nigeria membuat imbal hasil semakin tidak pasti bagi investor global.

Sektor agritech juga terdampak. Pada 2025, total pendanaan turun hampir 20% menjadi di bawah $170 juta, dengan jumlah transaksi yang juga menurun. Akibatnya, ekspektasi berubah.

“Ada penekanan yang lebih besar pada unit ekonomi yang kuat dan jalur yang jelas menuju profitabilitas,” kata Nzewi.

Bagi Releaf, biochar bukan hanya strategi iklim, tetapi juga strategi bisnis. Sebagai salah satu pemain awal di sektor biochar Nigeria, perusahaan ini membangun dua sumber pendapatan: penjualan biochar itu sendiri—dengan harga antara $400 hingga $600 per ton—dan kredit penghilangan karbon yang dijual sekitar $150 hingga $200 per ton CO₂ ekuivalen.

Dengan meningkatkan margin dan menghadirkan pendapatan berbasis dolar melalui kredit karbon, Releaf memperkuat posisinya dalam lingkungan investasi yang semakin menantang.

Namun, membangun bisnis iklim di Afrika bukan hal mudah. Releaf harus mengandalkan hibah, termasuk dari Cisco Foundation dan program SAIS yang didukung pemerintah Jerman, untuk mendanai operasi awal biochar mereka.

Risiko dan Peluang

Menurut Nzewi, ada dua risiko utama dalam teknologi iklim saat ini. Yang pertama adalah risiko eksekusi—tantangan dalam menjalankan operasi industri kompleks di lingkungan pedesaan.

Yang kedua adalah risiko pasar—ketidakpastian dalam penetapan harga, verifikasi, dan perdagangan kredit karbon.

Releaf memiliki keunggulan. Nzewi sebelumnya bekerja di Bain & Company, sementara Ayogu pernah menolak tawaran kerja di Microsoft—salah satu pembeli terbesar kredit karbon di dunia. Jaringan tersebut membantu membuka peluang.

Namun Nzewi percaya bahwa peluang terbesar Afrika terletak pada kolaborasi.“Kita perlu mengadopsi pola pikir kemitraan, bukan sekadar standar yang biasa-biasa saja,” ujarnya.

Langkah Selanjutnya

Ambisi Releaf berkembang pesat. Pada 2030, perusahaan ini menargetkan pengurangan hingga 700.000 ton metrik CO₂e, mendaur ulang 50.000 ton biomassa limbah per tahun, serta memproduksi 20.000 ton biochar setiap tahun. Perusahaan juga berencana menciptakan lebih dari 500 lapangan kerja dan menjangkau lebih dari satu juta petani.

Namun pada dasarnya, ide di baliknya tetap sederhana: melihat secara berbeda apa yang sudah ada. Cangkang inti sawit yang dulu dibuang kini menjadi fondasi bisnis iklim baru. Rantai pasok yang sama yang menghubungkan petani dengan produsen pangan kini membuka jalan menuju pasar karbon global.

“Yang kami lakukan sebenarnya sederhana,” katanya. “Kami hanya melihat apa yang sudah kami miliki, dan bertanya seberapa besar potensinya.”

Meet the Founders Who Raised Over $10 Million from Palm Processing and the Waste It Leaves Behind in Africa

Founded in 2017 by Ikenna Nzewi and Uzo Ayogu, Releaf has grown from a simple agricultural marketplace into a company building its own processing technology and turning palm waste into climate value. The founders, Americans of Nigerian descent, returned to Nigeria to tackle challenges in Africa’s largest oil palm market, raising over $10 million along the way.

• Releaf, founded in 2017 by Ikenna Nzewi and Uzo Ayogu, has evolved from an agricultural marketplace into a tech-driven processor focused on Nigeria's palm oil industry.

• They developed Kraken, a proprietary palm nut processing system, to address inefficiencies and waste in traditional methods for smallholder farmers.

• Releaf's innovations have improved farmer yields and attracted over $10 million in funding despite a tougher investment climate.

• By 2030, Releaf aims to remove 700,000 metric tons of CO₂, recycle 50,000 tons of waste, produce 20,000 tons of biochar annually, and impact over one million farmers with over 500 new jobs.

Before Releaf became one of Nigeria’s most closely watched agritech companies, it was little more than an idea shared by two founders still in school.

Ikenna Nzewi and his friend Uzoma Ayogu started the company in 2017 with a simple belief, that Africa’s food system was broken in ways that could be fixed, and that solving it could lead to something much bigger.

That ambition got Releaf into Y Combinator in 2017, placing the startup among a new wave of globally backed African ventures. But getting into one of Silicon Valley’s most prestigious accelerators didn’t mean they had everything figured out.

In its early days, Releaf experimented. It moved between ideas, from an agricultural marketplace to trade finance, searching for something that could truly work within the realities of African markets.

That search eventually led Nzewi and Ayogu, both Americans of Nigerian descent and then students at Yale and Duke, back to Nigeria, their country of origin and Africa’s largest producer of oil palm. They travelled across 20 of Nigeria’s 36 states, trying to understand where technology could actually make a difference. What they found was not just a gap. It was a collapse.

Nigeria used to lead the global palm oil market. Today, it’s one of its biggest importers. From the 1950s to the 1970s, the country accounted for over 40% of global palm oil production, exporting more than enough to meet both local and international demand.

Today, Nigeria’s share of global production has fallen to less than 2% as of 2024. At the same time, the country now spends an estimated $600 million annually importing palm oil. The problem wasn’t a lack of demand, and it’s not because there aren’t enough farmers. The real issue is how the system works.

Across the country, smallholder farmers, who make up the bulk of Nigeria’s agricultural system, still rely on manual methods to process palm nuts. The work is slow, physically demanding, and highly inefficient.

Building Kraken

“Using

Fixing what breaks

The solution became Kraken. After two years of research and development, Releaf built a proprietary palm nut processing system designed to handle the realities of African agriculture.

“It took two years of intensive R&D,” Nzewi said. “From the outset, we wanted to build West Africa’s most advanced palm nut processing technology.”

That difference mattered, especially because imported de-shelling machines, often used by large companies, can process up to 720 metric tons per week, but come with trade-offs. They cost over $350,000 and are designed for plantation-grown palm varieties, not the thicker-shelled nuts produced by smallholder farmers.

Kraken was built differently. When it came online in January 2021, it could process 500 metric tons per week at 95% purity, significantly higher than the industry average. It also costs less than half the price of imported systems.

More importantly, it worked where others didn’t. It was faster than local alternatives, up to 25 times faster than existing equipment and 240 times faster than manual cracking, while reducing waste.

That same year, Releaf raised $4.2 million in seed funding, a sign the model was beginning to work.

The first version of Kraken handled everything, from preparing the nuts to cracking and separating kernels, in one integrated system. But it had a flaw. If one part failed, everything stopped.

“So Kraken 1 only had one cracker,” Nzewi explained. “If it got blocked or needed maintenance, the whole system would shut down.”

Kraken 2 fixed that. The upgraded system introduced redundancy, allowing multiple processes to run simultaneously without shutting down operations. Maintenance could happen while the machine continued working. At the same time, performance improved across the board, higher yields, lower costs, and reduced manpower. It was a more efficient, more resilient system that came at a critical time.

In 2023, Releaf raised $3.3 million in pre-Series A funding to scale its operations and launch new products, including Kraken II and SITE, a geospatial mapping tool developed in collaboration with Stanford University to optimize the placement of food processing infrastructure.

In total, the company has now raised over $10 million to scale its processing technology, expand across Nigeria, and invest in innovations.

From waste to opportunity

But the next evolution didn’t come from the machine itself. It came from what the machine left behind

Every day, Releaf’s processing facilities produced large volumes of palm kernel shells — a byproduct traditionally burned, dumped, or sold cheaply. For decades, these shells were treated as waste. Releaf started to see them differently.

“Africa produces roughly a billion tons of biomass every year,” Nzewi said. “And palm kernel shells are one of the best feedstocks for biochar you can find.”

That insight led to the creation of Releaf Earth, the company’s climate-focused arm, and a move into industrial biochar production.

The biochar bet

Biochar is produced by heating organic material in a low-oxygen environment, transforming it into a stable form of carbon that can remain in soil for hundreds, even thousands of years. Unlike carbon offsets or short-term solutions like tree planting, biochar represents long-term carbon removal.

“These are technologies that remove carbon and store it in a way that it can’t return to the atmosphere for up to 1,000 years,” Nzewi explained.

But beyond its climate impact, biochar also made business sense. It was scalable, and according to Nzewi, more cost-effective than many other carbon removal methods. Most importantly, it used materials Releaf already had. What was once treated as waste was now becoming a new source of revenue And the benefits became clear quickly.

Biochar improves soil quality, increases water retention, and makes fertilizers more effective. Farmers using it see higher yields and better resilience to drought. Releaf gets more supply as farmers produce more. And the company can sell carbon credits internationally, generating revenue in dollars.

“It’s a win for our margins,” Nzewi said. “It’s a win for our farmers. And it’s a win for the environment.”

In trials, yields have improved by as much as 23% using biochar, enough, Nzewi says, to let the results speak for themselves. As farmers become aware of the product, try it, and see the difference firsthand, adoption tends to follow.

Building in a tougher funding climate

Releaf’s move into climate tech also reflects a broader shift across Africa’s startup ecosystem.

Over the past two years, funding has slowed. Foreign direct investment into Africa has dropped, and currency devaluations in markets like Nigeria have made returns more uncertain for global investors.

Agtech hasn’t been spared. In 2025, total funding fell by nearly 20% to under $170 million, with deal activity also declining. As a result, expectations have shifted.

“There’s been a greater emphasis on strong unit economics and a clear path to profitability,” Nzewi said.

For Releaf, biochar wasn’t just a climate play. It was a strategic one. As one of the early players in Nigeria’s biochar space, the company is building around two revenue streams: the sale of biochar itself, which can be priced between $400 and $600 per ton, and carbon removal credits, which sell for about $150 to $200 per ton of CO₂ equivalent.

By improving margins and introducing dollar-based revenue through carbon credits, Releaf has positioned itself more strongly in a tougher investment environment.

But building a climate business in Africa isn’t easy. Releaf had to rely heavily on grants, including support from the Cisco Foundation and the German government-backed SAIS programme, to finance its early biochar operations. The space is still new. And that comes with risk.

The risks and the opportunity

According to Nzewi, two major risks define climate tech today. The first is execution risk, the challenge of running complex industrial operations in rural environments.

The second is market risk, uncertainty around how carbon credits are priced, verified, and traded. Selling carbon credits is not the same as producing them. “You need relationships,” Nzewi said. “You need access to trusted networks.”

Releaf had an advantage. Nzewi previously worked at Bain & Company, while Ayogu turned down a role at Microsoft, one of the largest buyers of carbon credits globally. Those connections helped open doors.

But Nzewi believes Africa’s real opportunity lies in collaboration.

“We need to adopt a mindset of partnership over mediocrity,” he said.

Rather than trying to control every part of the value chain, companies should focus on their strengths, and work with others to fill the gaps. Because in climate tech, quality matters.

“Mediocre carbon credit projects hurt everybody,” Nzewi said. “If buyers lose confidence, demand disappears.”

What comes next

Releaf’s ambitions are growing quickly. By 2030, the company aims to remove up to 700,000 metric tons of CO₂e, recycle 50,000 metric tons of waste biomass annually, and produce 20,000 metric tons of biochar each year. It also expects to create over 500 jobs within the carbon removal industry, while reaching more than a million farmers.

But in many ways, the idea behind it is still simple. It’s about looking differently at what already exists.

Palm kernel shells, once discarded, are now becoming the foundation of a new kind of climate business. The same supply chain that connects farmers to food manufacturers is now opening a path into global carbon markets.

“All we really did,” he said, “was look at what we already had, and ask how much more it could become.”

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
PALM OIL TODAY MAGAZINE APRIL - JUNE 2026 by fbipublicationsmalaysia - Issuu