Skip to main content

Tokoh Edisi 919 | Tokoh

Page 1

24

Sudut Pandang

Edisi 919/ 19 - 25 September 2016

Manfaatkan Asuransi Pertanian Sektor pertanian di Bali masih menjanjikan. Sekitar 80 ribu hektare sawah masih tersedia. Lahan kering yang bisa ditanami tanaman pertanian masih luas sekitar 200 ribu hektare. Jika dibandingkan dengan luas pulau Bali 500 ribu hektare, jadi lebih dari 50 persen wilayah Bali ini masih wilayah pertanian baik sawah dan kebun. Demikian diungkapkan kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnu Wardhana.

I

a menilai, jika dilihat dari potensi, Bali masih masih termasuk daerah agraris. Menurutnya, bicara sektor pertanian bukan hanya menyangkut soal sawah, tapi ada usaha tani lahan sawah, usaha tani lahan kering, sayur buahbuahan, usaha perkebunan, tanaman keras seperti kopi dan cengkih, dan peternakan. “Dengan ketersediaan lahan pertanian yang masih banyak, tentu dapat dimanfaatkan untuk berbagai usaha pertanian bukan hanya sawah,” kata Wisnu Wardhana. Seharusnya, pertanian masih menjadi primadona banyak orang termasuk para generasi muda. Saat ini, pertanian masih menempati urutan ketiga dalam memberikan sumbangan PDRB (produk domestik regional bruto) Provinsi Bali setelah pariwisata dan jasa. Wisnu Wardhana tak menampik, pertanian sangat tergantung dari lahan dan air. Untuk menunjang itu, sudah dibangun konservasi air, dan perbaikan saluran irigasi. Tahun ini rencana PU akan membangun waduk

Ida Bagus Wisnu Wardhana

lagi. Pengadaan mesin pertanian terus digencarkan. Pupuk dan bibit sudah disubsidi pemerintah. “Petani sering mengeluh, saat panen raya harga turun, karena itu, kami fasilitasi pemasarannya. Bekerja sama dengan Disperindag ada pasar tani dan temu kemitraan, antara pengusaha perhotelan dan kelompok tani,” katanya. Pelatihan kepada petani terus dilakukan, misalnya, pelatihan produk hasil tani untuk menjaga agar produksi yang berlimpah saat panen harganya dapat terselamatkan. Misalnya, petani salak diberikan pelatihan membuat dodol dan keripik salak. Selain itu, ada program asuransi pertanian yang bernama asuransi usaha tani padi (AUPT). Para petani kini tidak perlu waswas jika mengalami gagal panen atau tanaman padinya rusak minimal 70%. Kerusakan tanaman

itu bisa diakibatkan hama maupun bencana, seperti kekeringan dan banjir. Asuransi pertanian ini sudah diadakan sejak dua tahun lalu. Petani hanya membayar premi Rp 36 ribu per hektare karena 80% subsidi premi dari pemerintah. “Jika petani yang mengasuransikan sawahnya mengalami gagal panen, akan diberikan ganti rugi sebesar Rp 6 juta per hektare. Saat ini sekitar 21 ribu hektare sawah di Bali diasuransikan,” katanya. Ia menambahkan, program Simantri (sistem pertanian terintegrasi) juga sangat diminati masyarakat. Program ini merupakan sebuah terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian melalui pengembangan model percontohan dalam percepatan alih teknologi pertanian kepada masyarakat khususnya di wilayah perdesaan. Program ini diharapkan mampu menggugah minat masyarakat khususnya kalangan generasi muda untuk menekuni sektor pertanian. Dalam pelaksanaannya, program ini mengintegrasikan kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dalam satu kawasan pengelolaan secara terpadu dengan kelengkapan unit pengolah kompos, pengolah pakan serta instalasi bio urine dan biogas. Secara umum, program Simantri bertujuan untuk mendukung perkembangan diversifikasi usaha pertanian secara terpadu dan berwawasan agribisnis. Lebih dari itu, simantri juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani. Sejak digulirkan tahun 2009, sampai tahun 2015 sudah ada 549 unit simantri. Tahun 2016 akan ditambah lagi sebanyak 84 unit. “Target tahun 2016 ada penambahan 100 unit, namun, yang lulus verikasi hanya 84,” kata Wisnu Wardhana. –Wirati Astiti

Pariwisata dan Pertanian Harus Maju Bersama

Pertanian Bali harus banyak berbenah. Pariwisata yang menjadi andalan, semestinya tidak dikembangkan secara membabi buta. Menurut Prof. Dr. Ir. Nyoman Sutjipta, Guru Besar Fakultas Pertanian Unud, tidak ada yang bisa dibanggakan dari pariwisata, bila pariwisata justru menistakan pertanian yang sudah menjadi kearifan lokal Bali.Hal ini diungkapkan dalam sarasehan “Strategi Membangkitkan Kejayaan Pertanian Bali,” di Wantilan Gedung Pers Bali Ketut Nadha, pertengahan Agustus 2016. Guru Besar yang kini menjadi sulinggih ini, mengatakan sejak dulu hingga sekarang pemerintah daerah hanya melanjutkan penderitaan petani di Bali. Dia menilai kemajuan pariwisata seharusnya bisa menjadi angin segar Prof. Dr. Ir. Nyoman Sutjipta bagi petani. Tetapi, itu belum pernah terjadi. “Berbagai hasil pertanian yang diperlukan untuk pariwisata, justru didatangkan dari luar negeri, seperti Australia. Beras didatangkan dari Banyuwangi. Pertanian Bali sudah dinistakan,” katanya. Kemajuan pariwisata seolah-olah terus menerus melanjutkan penderitaan petani. Ini harus dilihat segera disadari, bahwa pariwisata seharusnya bukan semakin menginjak petani, tetapi seharusnya bisa maju bersama-sama. Sementara itu Bupati Bangli I Made Gianyar, mengatakan situasi ini harus segera disadari pemerintah daerah dengan melakukan pemetaan potensi pertanian, untuk menentukan pola tanam. Pemetaan ini untuk mencegah, agar tidak terjadi over produksi di satu wilayah saat terjadi panen. Menurutnya, semua kebutuhan pokok di Bali kurang, karena mayoritas didatangkan dari Jawa. Untuk meningkatkan produksi, bila perlu pemerintah daerah bisa memberikan subsidi kepada petani. Ini bisa dilakukan secara berkala, agar perlahan-lahan Bali bisa melepas ketergantungan dari daerah lain, dalam urusan kebutuhan pokok yang dihasilkan langsung dari petani lokal. Seperti yang kini terjadi di Bangli, kebutuhan pokok seperti beras masih kurang. Total produksi beras di daerah sejuh itu, baru mencapai 28 ribu ton sedangkan kebutuhan beras Bangli mencapai 34 ribu ton. Sehingga, dia mengaku terpaksa “impor” kekurangan beras dari Kabupaten Tabanan, 6 ribu ton. Pihaknya sudah meminta BUMD di Bangli untuk belajar ke Tabanan. Lahan pertanian di Bangli, khususnya lahan kritis masih berpeluang dikembangkan. Lahan kritis ini perlu mendapat penanganan lebih serius. Dia berharap, siapapun nanti yang menjadi Gubernur berikutnya, agar membantu Bangli lebih serius, bagaimana menjadikan lahan kritis ini menjadi lahan kering, untuk membantu meningkatkan produksi padi agar setidaknya bisa mendekati kebutuhan. –Bagiarta

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

GORO-GORO A m i menggugat. Mengapa di masa kemerdekaan, hukum diabaikan. “Padahal setiap warga wajib dan Putu Wijaya berhak mendapat perlindungan hukum secara adil. Setiap orang tidak boleh dihukum tanpa melalui putusan pengdilan yang menetapkan kesalahannya!” Bu Amat mendengarkan dengan serius gugatan anaknya itu. “Seperti kasus pembunuhan Mirna yang masih dalam proses pengadilan sekarang,” lanjut Ami, “Betapa pun banyak orang yakin siapa yang membununuh Mirna, tapi kalau tidak terbukti menurut syarat pembuktian yang ada dalam KUH Pidana, tidak bisa menghukum Jessika

hanya dengan keyakinan. Kalau tidak terbukti, dia bebas. Begitu juga kasus Angeline dulu!” Bu Amat tercengang. “Jadi pembunuh bisa bebas kalau pembelanya pintar?” Ami tak mau menjawab. “Bukan itu masalahnya, Bu. Saya lagi gelisah, mengapa di negara hukum, ya kita ini, kok ada eksekusi tanpa melalui peradilan?” “Di mana itu terjadi?” Kembali Ami tak mau menjawab. “Kalau politik terus yang jadi panglima, kita bukan negara hukum, tapi pemerintahan otoriter!” Amat yang nguping pembicaraan itu, lalu menenangkan istrinya yang tambah bingung. Setelah beberapa hari, dia cari saat yang baik untuk bicara dengan Ami. “Ami tahu, apa maksud Bapak. Begini saja, kalau Bapak ada waktu, kita

Ekspresso

Sejarah yang terpotong

ke rumah Ktut sekarang.” “Ktut siapa? “Ktut Stalini, teman kuliah Ami yang baru saja lulus S3-nya.” “Doktor?” “Ya, doktor sejarah.” “Kenapa dia?” “Ketika ia masih dalam kandungan ibunya, bapaknya ditumpas tanpa pengadilan. Dia bersumpah tidak akan menikah selama negeri kita ini tidak minta maaf kepadanya atas perlakuan melanggar hukum atas bapaknya” Amat mengangguk mengerti. Semuanya jadi jelas. Lalu menjawab hati-hati. “Berapa umurnya sekarang?” “Bapak hitung saja, ya 51 begitu.” Kembali Amat mengangguk. “Tapi kamu tadi bilang dia doktor sejarah?” “Betul. Lulus cum laude.”

“Sejarah yang mana?” “Ya, sejarah Indonesia! Bapak ini bagaimana, sih! Pertanyaannya kok lebai begitu.” “Ya, pertanyaan bodoh biasanya memancing jawaban pintar, Ami. Sejarah Indonesia kan panjang sekali. Ktut Stalin itu doktor sejarah penggal mana?” “Stalini! Bukan Stalin!” Apa maksud Bapak dengan penggal?” “Studinya sejarah sebelum 1965 atau sesudah 1965?” “Setelah reformasi!” “O, kalau begitu, dia tidak pernah mengalami apa yang sudah terjadi sebelum 1965! Karena memang belum lahir. Dan tidak menpelajarinya karena fokusnya masa reformasi!” “Tidak mungkin! Dia itu doktor, Pak!” “Kalau dia itu doktor, undang dia ke rumah untuk mewawancarai bapak, karena bapak salah satu saksi mata sejarah yang melihat masa sebelum 1965 dengan mata dan badan bapak sendiri, bukan dari buku-buku. Ini buktinya!” Amat membuka baju dan menunju-

kan bekas bacokan di punggungnya. “Dan kalau Ktut Stalini itu anak Pak Stalin, suruh dia ngobrol dengan bapak yang kenal betul Stalin, bapaknya. Dulu sebelum masuk partai namanya Wayan Salin, teman bapak mancing. Bapak tahu meninggalnya, ditumpas oleh temannya sendiri yang berusaha menyelamatkan diri dengan jadi yang paling ganas. Itu masa gelap-gulita, Ami, seperti perang. Semua orang ketakutan. Meninjau keadilan saat itu, setengah abad kemudian dari bukubuku bisa keliru. Tanya sama bapak yang mengalaminya dan untung masih bisa selamat dari tawuran saat itu. Ah sudahlah, kamu tidak akan bisa meneropong apa yang terjadi waktu itu. Bung Karno, proklamator kita hampir setengah abad seperti terhapus dari sejarah. Ini baru saja kita bisa dengar gelegar suaranya lagi. Jangan melihat sejarah sepotong-sepotong, itu juga namanya korupsi.” Amat berhenti bicara karena melihat Ami tertegun. Seakan-akan menyambung kembali sejarah yang sudah terpotong-potong politik.

Sinergi BIG FaCoM untuk Kewirausahaan

Konsep utama kegiatan kewirausahaan yang selama ini kami laksankan mengedepankan kekuatan sinergi. Pengembangan budaya kewirausahaan memerlukan sinergi berbagai pihak. Sinergi BIG (Business, Intellectual, Government) atau yang dikenal dengan triple hellix merupakan salah satu inergi yang diterapkan dalam pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Sinergi BIG oleh sebagian lembaga juga sering disebut sinergi ABG (Academician, Business, Government). Pengembangan budaya kewirausahaan dengan sinergi BIG atau ABG sudah dilaksanakan sejak tahun 2009, namun dinilai kurang memuaskan dan membutuhkan waktu relatif panjang untuk mencapai keberhasilan. Pengembangan kewirausahaan membutuhkan sinergi lebih banyak pihak agar lebih efektif. Dalam masyarakat yang berorientasi budaya kolektif seperti Indonesia, keluarga mempunyai peran penting dalam pengembangan karier dan bisnis seseorang. Sekitar 70% wirausaha muda terpaksa beralih kembali menjadi menjadi pekerja, karena belum didukung keluarga (terutama orangtua, suami atau istri). Orang tua masih lebih memilih menggunakan uang yang dikumpulkannya untuk menombok agar anaknya diterima bekerja daripada menggunakannya untuk membantu permodalan usaha anaknya. Komunitas juga mempunyai peran penting dalam pengembangan kewirausahaan. Komunitas menjadi wadah bagi wirausaha (terutama pemula) untuk tumbuh bersamasama, berbagi suka dan duka serta menempa diri agar kelak menjadi pengusaha tangguh dan berwawasan luas. Penyebarluasan informasi kewirausahaan tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa keterlibatan media. Media dalam hal ini dapat

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

merupakan media massa cetak dan elektronik, baik offline maupun online. Untuk meningkatkan efektivitas pengembangan kewirausahaan, kami mengembangan sinergi BIG menjadi sinergi yang diberinama BIG FaCoM. Sinergi ini melibatkan 6 unsur yaitu Business, Intellectual, Government, Family, Community, dan Media. Sinergi BIG FaCoM sesungguhnya sudah dikenalkan pada tahun 2011, melalui kerjasama dengan Bupati dan walikota se-Bali dalam bentuk roadshow kewirausahaan ke kabupaten-kabupaten di Bali. Sinergi BIG FaCoM selanjutnya menjadi ciri khas dalam setiap program kewirausahaan yang dikemas, termasuk Gebyar Festival Wirausaha Universitas Udayana. Pengembangan semangat dan budaya kewirausahaan di lembaga pendidikan formal telah menjadi program unggulan nasional. Secara garis besar terdapat tiga faktor utama pendorong gerakan kewirausahaan di Indonesia. Pertama, adanya fakta bahwa kesejahteraan masyarakat di suatu negara sangat ditentukan oleh proporsi wirausaha dari total penduduknya. Semakin tinggi persentase wirausaha, maka semakin sejahtera masyarakatnya. Untuk meningkatkan kesejahteraan, Indonesia saat ini berupaya mencapai jumlah wirausaha minimal 2% dari seluruh penduduk Indonesia. Sementara negara-negara lain banyak yang sudah melebihi 4% bahkan tembus 10%. Kedua, Indonesia masih mengalami over supply tenaga kerja. Terjunnya sektar 2 juta penduduk Indonesia ke dunia kerja setiap tahun merupakan tantangan besar bagi pemerintah untuk menstimulasi penciptaan lahan kerja baru agar dapat menyerap para pencari kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran pada bulan Februari 2013 sebesar 5,92% atau sebanyak 7,17 juta orang dan 360 ribu orang di antaranya

Sayu Ketut Sutrisna Dewi lulusan perguruan tinggi. Masalah pengangguran berpendidikan tentu akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial dan kemasyarakatan. Menambah jumlah wirausaha (entrepreneur) untuk membangun lapangan kerja baru demi mengurangi tingkat pengangguran merupakan salah satu upaya penting. Ketiga, perkembangan berbagai hasil penelitian mengenai keberadaan wirausaha. Penelitian awal meyakini bahwa wirausaha lahir karena takdir. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa sebagian besar wirausaha tercipta karena faktor lingkungan. Lingkungan keluarga pengusaha cenderung melahirkan pengusaha juga. Penelitian lain menunjukkan bahwa wirausaha lahir karena terpaksa. Misalnya keterbatasan biaya sekolah, memaksa seseorang menjadi wirausaha. Penelitian terkini menunjukkan bahwa wirausaha bisa lahir dari proses akademik. Mengembangkan kewirausahaan di tengah-tengah atmosfer akademis yang kental, bukan perkara mudah. Permasalahan yang dihadapi dalam

menciptakan wirausaha baru di lingkungan kampus dapat dilihat sebagai suatu proses komunikasi yang melibatkan 3 (tiga) unsur. Pertama, kemampuan dosen (komunikator) untuk sekaligus menjadi mentor dan motivator bisnis yang baik bagi anak didiknya masih perlu ditingkatkan lagi. Kedua, materi kewirausahaan belum tersusun secara pragmatis. Proporsi teori masih mendominasi dan masih lebih menekankan pada hardskill ketimbang softskill.Metode pembelajaran masih memerlukan sentuhan kreativitas dan inovasi agar menarik dan mampu membangkitkan semangat berwirausaha. Ketiga, mahasiswa (komunikan) adalah sosok anak mudayang sebagian besar masih berorientasi sebagai job seeker, bukan job creator, sehingga tidak memberi perhatian atau menyediakan porsi waktu yang cukup untuk aktivitas kewirausahaan. Ada beberapa hal menarik yang diperoleh dari hasil jajak pendapat yang dilakukan pada tahun 2010 oleh Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud terhadap 100 mahasiswa Unud yang diambil secara acak dari berbagai fakultas. Sebanyak 56% dari responden mengatakan dirinya salah jurusan dan 90% dari mereka yang mengaku salah jurusan mengatakan terpaksa mengikuti kemauan orangtua. Sebanyak 76% dari responden mengatakan mengikuti aktivitas kewirausahaan secara sembunyi-sembunyi dan ketika ditanya apakah orangtua mengizinkan atau mendukung menjadi pengusaha, ternyata 91% mengaku tidak memperoleh dukungan orangtua. Keputusan menyangkut masa depan dan karier generasi muda ternyata masih didominasi oleh kemauan orangtua dan keluarga. Masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa wirausaha bukan profesi yang menarik dan dinilai terlalu berisiko. Dukungan modal untuk usaha tidak ada. Semestinya orangtua dan ke-

luarga bisa menjadi angel investor bagi usaha anaknya dan sadar bahwa risiko ada dimana saja. Masih di seputar hasil jajak pendapat, seluruh responden (100%) mengharapkan dosen bisa menjadi role model dalam pengembangan kewirausahaan di kampus. Ini tantangan dilematis bagi para dosen yang tidak memiliki pengalaman menjalankan bisnis. Untuk keberhasilan pendidikan kewirausahaan, kita tidak bisa serta merta menuntut dosen melakukan dwi fungsi profesi, sebagai tenaga pendidik sekaligus pebisnis karena menyalahi peraturan. Apakah itu berarti lembaga pendidikan tidak mungkin mencetak wirausaha? Tugas pokok fungsi perguruan tinggi kan mencetak sarjana, bukan mencetak wirausaha? Tentu tidak demikian.Perguruan tinggi bisa bahkan sangat bisa mencetak sarjana sekaligus wirausaha, asalkan bersinergi dengan pelaku bisnis dan asosiasi pengusaha, baik dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, pendampingan, maupun permodalan usaha. Demikian juga dengan BUMN, BUMD, dan perusahaan swasta sebaiknya mengarahkan program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya pada pengembangan kewirausahaan di lembaga pendidikan. Dengan demikian perguruan tinggi tidak hanya mencetak sarjana yang sekedar berpengetahuan wirausaha saja, tetapi juga benar-benar siap atau telah berwirausaha. Dalam prosesi wisuda di masa mendatang tidak hanya diumumkan berapa jumlah sarjana yang berhasil dicetak, tetapi juga jumlah wirausaha dan jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap. Sayu Ketut Sutrisna Dewi, S.E., M.M., Ak. Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

23

Petani di Jakarta Harus Tahan Banting dan Tahan Godaan Cuaca ekstrem dan berbagai permasalahan yang terjadi benar-benar membuat petani, khususnya para petani Rorotan Jakarta Utara, bersedih. Harapan mereka mendapat hasil panen yang lumayan seperti beberapa waktu lalu, tak seperti yang dibayangkan. “Hasil panen para petani Rorotan sempat anjlog. Padi yang sudah tua siap panen ternyata tidak ada isinya,” ungkap Abdul Kadir (62), Ketua Kelompok Tani Rorotan Jaya. Padahal Mei 2016 lalu, hasil panen lumayan bagus. Bahkan sempat menggelar acara panen bersama dengan para pejabat Pemda Jakarta Utara terkait.

M

enjadi petani, katanya, memang harus sabar, apalagi petani di Jakarta di mana masalah yang datang bukan hanya soal cuaca tapi juga ada persoalan lainnya, seperti serangan tikus, dll. Belum lagi masalah pengairan, juga soal lahan persawahan yang kian menyusut karena pembangunan. “Jadi petani juga harus pandai-

pandai menabung. Hasil panen harus sebagian disimpan, supaya jika terjadi sesuatu pada hasil panen, kita masih bisa melanjutkan atau menanam lagi karena masih ada modal. Itu juga yang saya lakukan selama ini. Pokoknya, jadi petani di Jakarta harus tahan banting juga tahan godaan karena ada banyak pihak berniat membeli lahan dengan

Lahan pertanian

harga tinggi,” ucapnya. Abdul Kadir mengaku sempat mencicipi masa kejayaan petani Rorotan. Namun seiring waktu, banyak petani karena kondisi akhirnya terpaksa menjual lahannya dan beralih profesi. Sebagian lagi menjual lahannya dan membeli lahan pertanian di luar Jakarta. Sekarang ini lahan persawahan Rorotan yang tersisa 430 ha, padahal tahun 1990-an, lahan persawahan mencapai 900 ha. Dari lahan yang ada sekarang pun, sebagian besar dikuasai oleh oleh pengembang. Namun, sampai saat ini sebagian lahan yang dikuasai itu masih bisa digarap oleh para petani yang tak memiliki lahan. “Jadi sistemnya bagi hasil saja. Uang bagi hasil itu digunakan pengembang untuk bayar pajak lahan,” tambah Abdul Kadir yang juga Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya. Sementara petani yang bertahan dengan areal persawahan pribadi hanya beberapa orang saja, lahan yang dikuasai pun hanya 29 ha. Sisanya, ratusan hektare itu sudah dijual petani kepada pengembang. “Itu juga kadang membuat petani garapan ketar-

Abdul Kadir

ketir, karena bisa saja pengembang sewaktu-waktu mengambil lahan miliknya untuk dibangun perumahan atau pabrik-pabrik,” kata peraih penghargaan Petani Teladan Nasional 2007, ini. Abdul Kadir, adalah salah satu dari sedikit petani Rorotan yang masih mempertahankan lahan persawahannya. Saat ini ia mengelola lahan persawahan seluas 1,7 ha lebih. Menurutnya, ia akan tetap bertahan menjadi petani karena itu adalah panggilan jiwa dan sudah turun temurun dilakukan keluarganya. “Selama saya sehat, pasti akan tetap jadi petani. Kalau tidak kepepet banget, saya tidak akan menjualnya,” tegas bapak lima anak ini. Ia bercerita, dulu orangtua ayahnya berhasil mengembangkan tanah pertanian dari 8000 M2 menjadi 60 hektare. Saat

Harus Pandai Melihat Peluang Pasar Pertanian adalah salah satu sektor tumpuan utama bagi masyarakat Buleleng. ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang berkecimpung di sektor tersebut. Demikian yang diungkapkan oleh I Ketut Wista, Ketua Kelompok Tani Lila Cita Karya. Memilih profesi sebagai petani, bagi pria yang berasal dari Desa Kalisada tersebut tidak terlepas dari tempat tinggalnya. “Sejak kecil tinggal di desa, mulai dari nyakap (menggarap tanah milik orang lain) lalu bisa ngontrak hingga akhirnya bisa punya lahan sendiri,” tuturnya. Disamping itu, Wista sapaan akrabnya juga sangat menyukai berbagai jenis tanaman dan bercocok tanam. “Ini menarik, ketika meilhat tanaman tumbuh apalagi subur rasanya senang sekali,” imbuhnya.

Sebagai orang kecil ia ingin mewujudkan mimpinya menjadi petani sukses. Dengan hasil bertanilah selama ini ia mampu menghidupi seluruh keluarganya. “Memang saya ada pekerjaan lain, tapi hasilnya gak seberapa dibandingkan dengan hasil bertani,” ungkap mantan kelian adat Desa Kalisada tersebut. Untuk dapat mewujudkan keinginannya menjadi petani sukses memang tidak cukup diukur dengan luas tanah yang dimilliki. Menurutnya, seorang petani juga harus memiliki pengetahuan mengenai jenis tanah, kondisi lingkungan, pangsa pasar, dan jenis tanaman yang cocok ditanam. “Syukurnya saya sering mengikuti seminarseminar yang ada di kecamatan maupun kabupaten sehingga ilmu yang didapat bisa diaplikasikan

ke lapangan,” ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan kecamatan Seririt tersebut. Wista menambahkan, jika areal lahan di desanya hanya mampu menghasilkan sekali panen padi dalam setahun. “Kami akhirnya berpikir bagaimana caranya agar tanaman dapat menghasilkan sepanjang tahun,” imbuh pria kelahiran 18 November 1951 tersebut. Sering kali kurang baiknya mutu dan gagal panen atau menurunnya hasil panen tak pelak membuat petani uring-uringan. Hal inilah yang membuat para petani harus pandai membaca situasi dan kondisi yang dihadapi. “Akhirnya kami coba beralih ke tenaman lain seperti jeruk, akan tetapi karena baru pertama tanaman ini mati terserang penyakit,” tambahnya. Rupanya semangatnya tidak

I Ketut Wista

berhenti, ia kembali mencari jenis tanaman lain yang dirasa cocok untuk dikembangkan di desanya. Tanaman anggur merupakan tanaman yang ia pilih mengingat tanaman ini tidak memerlukan air yang banyak. “Kebetulan waktu itu saya yang pertama kali menanam anggur seluas 20 are dan memang jarang ditemukan kendala,” paparnya. Cukup lama

pembagian lahan orangtua Abdul Kadir mendapat bagian 6 hektare lebih, yang kemudian dibagi rata kepada empat anaknya. “Saya kebagian 1,2 ha, kemudian saya kembangkan pada tahun 1987 menjadi 1,7 ha lebih hampir 1,8 ha. Dan itu bertahan sampai sekarang. Untuk mengembangkan lagi sepertinya sudah sulit ya karena harganya pun (lahan di Jakarta) tidak murah,” ucap Abul Kadir yang berharap lahan pertanian Rorotan masih bisa bertahan hingga 10-20 tahun ke depan. Sayangnya, lanjutnya, kelima anaknya tak satupun berminat untuk meneruskan jejaknya menjadi petani. Mereka lebih memilih bekerja kantoran setelah menyelesaikan pendidikannya. “Tapi saya berpesan pada mereka untuk tetap mempertahankan lahan kita,” ucapnya. –Diana Runtu ia sebagai petani anggur namun karena hasil produksi yang kian menurun, dibarengi dengan cuaca ekstrim secara perlahan tanaman anggur miliknya pun mulai hilang. “Obat-obatannya juga mahal jadi tidak seimbang dengan hasil produksinya. Kondisi ini jelas merugikan kami,” tambahnya. Belajar dari pengalaman tersebutlah, Wista kembali mengadu keberuntungannya dalam sektor pertanian. Dengan melihat peluang pasar khususnya di Bali, ia mencoba menanam pohon pisang. Di tengah besarnya kebutuhan pisang masyarakat, pulau Bali harus mendatangkan pasokan pisang dari luar daerah. Hal tersebutlah yang membuat Wista mencoba membudidayakan buah pisang. “Kebutuhan pisang di Bali sangat banyak, kadang-kadang mendatangkan pisang dari luar Bali makanya saya tertarik,” ungkapnya. Hingga saat ini ia sudah memiliki 1 hektare tanaman pisang jenis Cavendish yang dapat menghasilkan sepanjang tahun. Ia berharap dapat meningkatkan produksi pisang sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar modern. -Wiwin


22

Sosialita

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Jaga Hubungan setelah Pameran

Situasi ekonomi yang lesu ternyata cukup berimbas pada jumlah pengunjung pada sejumlah pameran di Jakarta. Tak terkecuali pada pameran Interior&Craft atau populer dengan sebutan ‘Icraft’ yang mengusung produk-produk unggulan daerah. Pameran yang digelar selama lima hari di Jakarta Convention Center, pekan lalu, relatif tidak terlalu banyak menyedot pengunjung.

sudah bisa kelihatan,” katanya sambil menunjukkan dua jenis produk.

J

umlah peserta pun boleh dibilang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Demikian juga ragam produk yang dipamerkan yang relatif sedikit. Bahkan boleh dibilang didominasi oleh batik, baik itu berupa kain batik hingga pakaian-pakaian batik. Sedang kerajinan lainnya, yang biasanya lumayan banyak, kali ini terlihat hanya beberapa saja. “Mungkin karena ekonomi masih lesu ya, jadi pengunjung agak sepi, tidak seperti biasanya. Tapi kalau dilihat, meski tidak terlalu ramai, namun para pencinta batik tetap saja berdatangan. Sejumlah stan batik malah lumayan ramai. Batik itu sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sejak booming sampai sekarang peminatnya tidak berkurang bahkan semakin banyak,” ujar Wati, pengusaha batik disela-sela kesibukannya melayani pembeli, (14/9). Wati mengaku termasuk cukup rajin berpameran di Jakarta karena menurutnya dari pameran dia bukan saja bisa mempromosikan produknya tapi juga bisa memperluas jaringan. “Saya justru mendapat banyak pelanggan dari pameran. Jadi saya kalau ikut pameran, tidak terlalu berharap transaksi saat itu juga, karena biasanya saat pameran mereka paling hanya membeli beberapa untuk contoh,” katanya. “Justru menjaga hubungan setelah pameran itulah yang penting. Karena itu meski kondisi ekonomi lesu, saya tetap ikut pameran,” tutur Wati seraya menambahkan justru dari sering berpameran di Jakarta dia sempat mendapat beberapa pembeli asing, baik dari Eropa maupun Asia. Hal yang sama juga diungkap sesama pengusaha batik lainnya yang mengaku banyaknya transaksi di pameran bukanlah tujuan utama mereka untuk rajin berpameran. “Dari pengalaman

Stan-stan batik tetap ramai pengunjung

yang sudah-sudah selama beberapa tahun ikut pameran, transaksi selama pameran justru tidak terlalu banyak. Justru setelah pameran biasanya pengunjung pameran yang serius berdatangan,” ungkap Sugiono, pengusaha batik asal Jawa Tengah. “Mungkin akhir pekan pengunjung bakal ramai, biasanya begitu,”tambahnya. Hal yang sama juga diungkap Dewi, penjaga stan bunga-bungaan artifisial. Ia mengaku tetap optimis dengan keikutsertaan perusahaannya dalam pameran kali ini akan mendatangkan manfaat. Meski pengunjung pameran tidak terlalu ramai, namun yang mampir ke stannya relatif cukup banyak. Tak heran karena stan Dewi relatif strategis, berada di samping pintu Hall A. Apalagi desain stannya yang mirip taman bunga begitu eye catching, sehingga membuat pengunjung seolah terdorong untuk

mampir ke sana. Dari mulai sekadar bertanya-tanya hingga akhirnya tertarik membeli. “Bunga-bungaan, tanaman merambat yang ada di sini meski sepintas mirip asli, namun ini semua artifisial. Kami impor dari Tiongkok,” tambah penjaga stan ‘Ever­ green Trees’ itu. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 40.000 hingga ratusan ribu rupiah. “Tergantung bahannya ya. Ini bandingkan artifisial tanaman merambat yang harganya Rp 40.000 dan ratusan ribu rupiah, beda bahannya. Sepintas

gusaha batik lokal bertumbuhan dan saling berlomba melakukan eksplorasi batik, khususnya pada motif maupun pewarnaan. Itu semua berkat animo masyarakat yang tinggi. Maka tak heran kalau setiap pameran, entah itu pameran tunggal bertema batik, maupun pameran beragam produk craft, stan-stan batik selalu diserbu pengunjung. Sugino mengaku cukup gembira dengan kondisi sekarang. Bahkan katanya, di saat kondisi lesu seperti sekarang pun, dirinya mengaku tak terlalu merasakan. “Kalau saya pribadi tidak terlalu merasakan. Memang ada penurunan tapi tidak banyak. Selain karena batik sekarang sudah sangat eksis juga karena saya rajin berpromosi baik di dunia maya maupun pameran-pameran seperti ini,” ungkap pengusaha batik tulis itu. Bahkan katanya, bukan hanya dirinya saja yang tidak terlalu terpengaruh, tapi rekan-rekannya sesama pengusaha batik pun relatif tetap bisa bertahan dalam situasi lesu seperti sekarang. “Pesanan tetap saja berdatangan, bahkan juga dari luar negeri. Di luar itu saya juga memiliki pelanggan-pelanggan tetap,” tambah Sugiono yang keluarganya secara turuntemurun telah menekuni batik. –Diana Runtu

BATIK TETAP PRIMADONA Sejak batik Indonesia masuk daftar UNESCO tahun 2009 lalu, popularitas batik terus meningkat. Apalagi pemerintah baik pusat dan daerah amat gencar mengampanyekan batik ke seluruh lapisan masyarakat juga dunia internasional. Dunia kerja pun tak ketinggalan. Bukan hanya instansi-instansi pemerintah tapi juga swasta menetapkan harihari tertentu diwajibkan karyawannya mengenakan batik. Demikian juga dunia pendidikan. Banyak siswa memakai seragam batik pada hari tertentu. Di Jakarta misalnya, jika ingin melihat masyarakat ‘berbatik ria’ umumnya adalah pada hari Jumat. Bahkan di Jakarta beberapa depar- t e ment store ‘menetapkan’ Jumat sebagai ‘hari batik’ sehingga bagi pengunjung yang datang berbatik pada hari itu akan mendapat potongan harga tertentu atas transaksinya. Dukungan dari berbagai pihak membuat batik akhirnya benarbenar booming. Industri batik di berbagai daerah pun menjadi sangat berhing gairah. Pengusaha-penStan Evergreen Trees yang eye catc

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Shinta Chrisna & Monica Mohindra

“Klik” dari Hati

Shinta Chrisna and Monica Mohindra

Siapa yang tak kenal Shinta Chrisna. Desainer cantik asal Bali yang mengusung “The Excellent Touch of Kebaya” dalam tiap karyakaryanya. Pemilik nama lengkap I Gusti Ayu Shinta Chrisna yang akrab disapa Shinta ini selalu “liar” alias out of the box dalam menuangkan ide-idenya. Karena itu pula, karyakaryanya selalu berbeda dari yang lain. Kebaya glamour dengan padupadan warna dan aksesori lainnya, menjadi karakternya yang kuat. Bisa dikatakan karyanya memiliki taksu.

K

ali ini, Shinta Chrisna berkolaborasi dengan Monica Mohindra melaunching new label, “Chrisna Monica”. Di label ini mereka berdua terinspirasi dengan budaya masing-masing, Indonesia dan India. Mereka terinspirasi menyatukan dua budaya yang dijadikan dalam satu karya seni di bidang fashion. “Kami akan

membuat koleksi yang terinspirasi dari budaya Indonesia dan budaya India dalam bentuk kebaya dan kain-kain tenun Indonesia (batik, songket, endek, dll), dibuat dalam bentuk baju India. Pakaian India dengan bahannya dari kebaya dan kain tenun Indonesia. Tagline kami ‘Kebaya and Saree for The Word’,” ujar istri dari Agus Umaryadi Udayana, B.Com., MIB., MBA ini. Monica Mohindra mengatakan, ide untuk berkolaborasi ini muncul ketika pertamakali melihat karya-karya Shinta Chrisna dalam show “Epic of Mahabrata” di Sanur Village Festival 2014. “Saya langsung jatuh cinta dengan Shinta. Saya melihat ada sesuatu yang berbeda dari karya-karyanya. Kemudian dia membuat , sesuatu yang berbeda,” ujar Monica mengungkapkan kekagumannya pada Shinta. Ketika Shinta kembali show di GWK yang menghadirkan langsung artis asli Mahabrata oleh Konsulat India, Monica pun sempat menontonnya. Suatu ketika pada acara Festival of India di Westin

Stan galeri Batik Jawa

Kreasi Batik Jawa

3

Shinta Chrisna

Nusa Dua tahun 2015, Shinta dan Monica kembali dipertemukan dalam sebuah jamuan makan malam. “Saya

Shinta Chrisna bersama keluarga

semeja dengan Monica, Gubernur Bali, Gubernur NTB, dan Dubes India. Monica memperkenalkan diri bahwa basic backgroundnya adalah fashion. Darisanalah perbincangan berlanjut

untuk melakukan kolaborasi,” ujar ibu lima anak, Alicia, Alvino , Alodia, Alexandria dan Violetta, yang sebentar lagi menuntaskan program Doktornya ini.—ten

Bangkit Kembali Setelah Mati Suri

Monica terinspirasi untuk beritu saya dipertemukan dengan Shinta buat sesuatu untuk dunia. Kebaya Chrisna. Dan sepertinya kami “klik” sangat indah dan cantik dipakaikan dari hati,” tuturnya. pada tubuh perempuan. Karena Target pertama “Chrisna Monica” itu terbersit pikirannya untuk adalah mengeksplor lebih banyak kainmemadukan kebaya dan kain sari kain di Indonesia dan diproduksi dalam yang bisa dipakai pererempuan di baju-baju India dalam bentuk sari mauseluruh dunia. “Ini bukan tentang pun lengeha. “Lehenga bisa sebagai seksi, tapi penampilan peremdress atau long skirt, tapi inspirasinya puan yang sempurna. Perempuan dari batik atau diprada. Jika dipakai India yang memakai baju sari dengan kebaya, ini sangat indah,” ucap atau lengeha juga terlihat semMonica yang mengagumi karya Shinta purna. Jadi kenapa tidak kita coba Chrisna yang dikenakannya saat ini. mengkolaborasikan keduanya ini “Kami mau mengeksplor dan mendan diperkenalkan pada dunia,” genalkan sesuatu yang belum pernah ucapnya. dikerjakan, sekaligus mengeratkan Sari biasanya panjangnya 5,5 hubungan dua budaya Indonesia-India,” meter, sulit memakainya, padahal imbuhnya. banyak orang mau memakai sari. Ide akulturasi dua budaya Indone“Dengan kombinasi kebaya densia-India ini pun mendapat dukungan gan easy saree yang dibuat seperti penuh pemerintah India, dan menskirt, pakaian ini bisa dipakai oleh gundang mereka untuk untuk fashion perempuan di seluruh dunia show dan kemungkinan akan keliling Shinta Chrisna & Monica Mohindra dan gampang,” ucap Monica. Di dunia. Selain itu, dalam proses berkarya, dalamnya bisa ditambahkan ornamen-ornamen seperti Monica juga berharap kedepannya, seniman-seniman prada, dll. Disinilah ia lihat potensi yang sangat bagus Bali bisa belajar teknik di India, demikian sebaliknya. Ada dan besar untuk mengolaborasikan dua budaya dan pertukaran, sehingga semuanya biasa bertumbuhkemmempromosikan ke dunia. bang. Selanjutnya, Shinta dan Monica berharap agar ide Gayung bersambut, Shinta pun rupanya mengagumi akulturasi dua budaya Indonesia-India ini bisa berhasil dan monica. Bahkan Monica pula yang memberinya semanmendunia. –ten gat untuk show tunggal dalam “The Master Piece” dengan 140 kebaya, 25 April 2015, yang dipersiapkan hanya dalam 3 bulan. Setelah itu, Shinta vakum karena melahirkan anak kelima. Dua bulan pasca melahirkan, dengan genjotan Monica, Shinta kembali bangkit dan berkarya. “Dia (Monica) adalah mentor saya yang selalu menyemangati saya untuk berkarya dan berkarya,” ucap Shinta bersemangat. Shinta yang mati suri pun kembali bangkit. Demikian halnya dengan Monica yang kembali bangkit kembali menemukan “cinta pertamanya di fashion” sejak bertemu Shinta. “Jadi, kami sama-sama bangkit dari mati suri dan saling menyemangati,” ujar Monica yang dulu pernah mengenyam kuliah di National Intitute Fashion Technologi di India, menimpali. Ia juga mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Sekolah Mode ESMOD, Perancis, dan ditempa pendidikan fashion-nya oleh Karl Lagerfeld, desainer Channel dan Christian Dior. Banyak proyek yang dikerjakan selama bekerja 25 tahun di retail dan pegang lebih dari 20 merek terkenal, seperti Elle. “Saya juga jadi hostess jika Miss Universe datang, dan menyiapkan bajunya. Karena negara pertama yang biasanya didatangi adalah Indonesia,” kisahnya. Monica selalu ingin melakukan sesuatu dari dalam dirinya, namun belum pernah ada ide untuk launcing lable dari dirinya, sampai akhirnya ia bertemu dengan Shinta Chrisna. “Sepertinya Tuhan menginginkan saya kembali ke fashion karena my first love is fashion”. Bagaimana bisa membuat perempuan lebih cantik, dan karena


4

Inspirasi

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Tas kulit ular kian menjadi tren di kalangan para penggemar tas. Tak heran kalau harganya kini kian melambung, khususnya tas kulit ular phyton yang kini paling banyak dicari. “Keunggulan kulit ular phyton terletak pada kekuatannya yang lebih dibanding kulit ular lain,” ungkap Yeni Setiawati, pemilik usaha ‘Dania Handycraft’.

J

ika dibandingkan antara kulit ular phyton dan kobra, kata Yeni, maka phyton bisa tetap awet hingga 10 tahun lebih, sedang kobra hanya sekitar 3 tahun. Begitu juga soal kekuatannya, phyton bisa mengangkat beban 1 kg lebih sedang kobra tidak bisa. “Artinya kalau dipaksakan terus menerus tas kulit kobra bisa jebol. Beda dengan phyton yang tetap bertahan. Jadi berdasarkan pengalaman itu saya lebih merekomendasikan kulit kobra untuk dompet saja,” tutur Yeni.

Yeni Setiawati

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

21

Mataram Magnet Tumbuh Kembang

Kepincut Kulit Ular Seni Teater

ini, katanya, menjadi motivasi besar untuk terus menekuni bisnis ini. “Tapi sekarang pun meski ‘pemainnya’ lumayan banyak, tapi permintaan terhadap produk kami tetap tinggi, bahkan terus meningkat. Ini semua tak lepas dari peran reseller juga rajinnya kami berpromosi lewat internet maupun pameran-pameran,” kata Yeni yang telah mengekspor produknya ke manca negara antara lain, Korea, Jepang, Cina dan Rusia. Yeni mengaku kulit ular didapatnya dari pengepul di Sumatera. “Di sepanjang Sumatera populasinya banyak mulai dari Aceh, Riau, Medan. Sebagian besar bahan dasarnya kami ambil di sana, khususnya untuk phyton. Yang kita ambil bukan ular hidup, lho, ya, tapi kulit yang sudah dikeringkan,” jelasnya. Pengepul di Sumatera, tambahnya, bukan hanya menjual kulit ular saja, tapi juga kulit reptil lainnya. “Kulit biawak juga saya ambil di sana. Sebenarnya di Kalimantan juga ada tapi tidak sebanyak di Sumatera,” ujarnya lagi.

Tas kulit ular phyton

Ibu dua anak ini bercerita telah malang melintang di bisnis kerajinan kulit reptil, khususnya kulit ular, sejak tujuh tahun lalu. Ketika itu tas kulit ular belum sebooming sekarang, ‘pemainnya’ atau penjualnya pun belum sebanyak sekarang. Awalnya, lanjutnya Yeni, dia dan keluarganya menekuni bisnis desain grafis dan printing, kemudian beralih ke pembuatan tas termasuk membuat tas bermotif batik. “Kemudian saya bersama suami berpikir untuk mencari ide-ide unik yang menarik pasar. Akhirnya muncul ide membuat tas dari kulit reptil seperti ular, dll. Saya pikir ini sesuatu yang unik dan pasti menarik perhatian orang. Jadi mulailah kita mencoba untuk membuatnya. Jadi boleh dibilang kita awalnya hanya coba-coba,” ucap Yeni yang workshopnya di kawasan Cibitung Bekasi. Hasilnya di luar dugaan. Begitu tas kulit reptil ini diluncurkan, respon pasar sungguh baik. Permintaan tinggi, banyak yang menjadi reseller bahkan ekspor ke berbagai negara. Respon mengembirakan

Mandalika

“Di sana (pengepul) kita bisa memilih membeli kulit ular yang panjangnya 3 meter, 4 meter, 7 meter atau lebih. Yang paling mahal tentu saja kulit ular phyton yang harga permeternya ber-variasi tergantung panjangnya kulit ular itu. Kulit ular phyton yang panjangnya 7 meter atau lebih, jauh lebih mahal dari phyton biasa,” jelas Yeni yang dari kulit reptil itu, selain dibuat menjadi tas juga sepatu dan jaket. KULIT REPTIL LEBIH SULIT Menurut Yeni, harga produk kerajinan berbahan reptil tinggi karena cost produksi tinggi, SDMnya pun khusus. “Dari pengalaman saya menekuni bidang ini, ternyata tidak semua SDM yang biasa menangani produk kulit, bisa menangani produk kulit reptil dengan baik. Memang, kalau sekadar membentuk tas, mereka bisa, tapi bagaimana kualitasnya? Dari pengalaman saya, menangani kulit reptil lebih sulit dibanding kulit biasa,” paparnya.

Pada era 1990-an, Mataram menjadi salah satu magnet tumbuh dan berkembangnya seni teater di Indonesia Timur. Atmosfir berteater di kota ini demikian hangat dan sangat hidup. Para seniman teater kala itu tengah berada pada puncak semangat berkesenian. Pertunjukan demi pertunjukan silih berganti dipentaskan oleh sanggar-sanggar (kelompok-kelompok) teater yang lahir, tumbuh berkembang dan besar dalam suasana berkesenian yang kental.

Kongso Sukoco

Begitu sulitnya mendapatkan SDM yang berkualitas membuatnya kadang kelabakan ketika mendapat pesanan ekspor yang cukup banyak. “Saya tidak mau mengecewakan konsumen. Dalam bisnis ini saya tidak semata mengejar keuntungan tapi mempertahankan kualitas adalah lebih penting. Karena menurut saya keuntungan pasti akan mengikuti begitu kita bisa menghasilkan produk berkualitas dan memuaskan konsumen,” kata Yeni. Jadi, lanjutnya lagi, alasan itulah yang kerap dia sampaikan kepada konsumen yang memesan tas dalam jumlah banyak sekaligus. “Saya bilang, saya tak sanggup kalau harus menyediakan tas dalam tempo cepat dalam jumlah banyak. Ini semata-mata demi menjaga kualitas produk. Saya minta pengiriman berkala. Alhamdulilah, konsumen saya memahami. Mereka ini adalah reseller-reseller setia kami. Mereka biasa memesan banyak selain karena permintaan tinggi di dalam negeri juga karena akan diekspor,” katanya. Tentang harga, Yeni menyebut, untuk tas kulit ular phyton berkisar antara Rp1-3 jutaan, tas kulit biawak Rp1-2,5 jutaan, sedang kobra berkisar Rp1-2 juta. “Kulit kobra memang lebih murah karena kurang kuat dibanding phyton. Namun jika dibanding kulit sapi, kobra jauh lebih kuat,” ucapnya. Sedang sepatu dari kulit ular juga memiliki harga bervariasi yakni antara Rp600-800 ribu. Yang

B

eberapa kelompok teater yang turut mewarnai perjalanan seni pertunjukan teater di Mataram seperti, Bengkel Aktor Mataram

(BAM) yang dipimpin Kongso Sukoco, Sanggar Apresiasi Mataram pimpinan Azhar Zaini, Teater Lho pimpinan R. Eko Wahono, Sanggar Teater Toti Mori pimpinan Sukran Hasan. Lalu berkembang di era 2000-an hadir Teater Kamar Indonesia pimpinan Saepullah Sapturi, Teater Embrio pimpinan Winsa Prayitno dan beberapa lainnya teramasuk teater Mada Duli

di Dompu pimpinan Zulkifli. “Kelompok-kelompok teater ini di masanya melakukan pentas teater secara regular,” ungkap Winsa, Dramaturg yang juga kurator seni pertunjukan Taman Budaya NTB. Begitu juga dengan tumb u h n y a t e a t e r- t e a t e r y a n g berasal dari kampus-kampus dan sekolah-sekolah yang ada di Pulau Lombok khususnya.

Tercatat beberapa kelompok teater yang berasal dari sekolah dan kampus ini seperti, Teater Kampus Universitas Mataram, Teater Putih FKIP Unram, Teater Keadilan Fakultas Hukum Unram, Teater Cemara Dua Fakultas Ekonomi Unram, Teater Sativa Fakultas Pertanian Unram. Lalu ada juga Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram, BKSM – Saksi IAIN Mataram dan Teater Bening NW

Pancor Lombok Timur. Dari sekolah-sekolah tampil Teater Smansa SMAN 1 Mataram, Sanggar Budaya Pelangi SMAN 2 Mataram, Teater TOK SMAN 5 Mataram dan lainnya. “Teater di Mataram di masa itu tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Dan pada era 1990an merupakan masa jayanya perkembangan teater di Mataram,” ungkap Kongso Sukoco yang juga mantan Ketua Dewan Kesenian NTB. –Naniek I. Taufan

Taman Budaya NTB Jadi Sentral Kegiatan Teater ai jenis kulit ular phyton

Sepatu-sepatu dari berbag

relatif cukup tinggi adalah jaket yang bisa mencapai Rp3,2 juta untuk kulit phyton. WASPADA TIRUAN, INI TIPSNYA Diakuinya, dengan semakin booming produk tas dari kulit ular membuat produk-produk tiruan bermunculan. Dalam perkembangannya, produk tiruan semakin canggih karena teknologi semakin maju. Namun ucap Yeni yakin, secanggih-canggihnya tiruan tetap saja tidak akan mampu tampil seperti tas kulit ular asli. Untuk itu Yeni memberi tips membedakan tas tiruan atau asli.

Yeni Setiawati dan Ayu bersama produk tas kulit ular phyton

Yang paling mudah, katanya, bisa dilihat dari sisiknya. Sisik ular asli bentuk dan ukurannya tidak sama, juga tidak teratur. Lebih dari itu, sisik ular asli jika diangkat, akan naik. Sedang kulit tiruan tidak bisa. “Kulit tiruan selain teratur juga bentuk dan ukurannya sama. Dipasang rapat, rapih, sehingga tidak bisa naik seperti kulit asli,” jelasnya. “Bagi yang sudah paham dan biasa, hanya dengan melihat dari jauh sudah bisa memastikan tas itu tiruan atau asli,” tambahnya. Keunggulan lain dari tas kulit ular atau produk berbahan reptil adalah dari segi perawatan yang tidak perlu khusus. Yang penting, katanya, jangan lembab karena bisa tumbuh jamur. “Paling bagus adalah menempatkan tas itu di ruangan yang sirkulasi udaranya bagus, tempat terbuka. Jangan disimpan di lemari atau di boks. Kasih udara terbuka, maka tas itu akan awet. Membersihkannya pun hanya dengan melapnya, jangan dicuci. Saya sarankan kalau punya tas kulit ular jangan disimpan, tapi dipakai, itu justru membuat tas lebih awet,” paparnya panjang-lebar. Ditambahkannya, jika tas tersebut masih berbau amis, itu tandanya ada ketidaksempurnaan dalam proses produksi tas. “Mungkin proses penyamakannya, yang kurang sempurna sehingga bau amis masih tercium. Bisa jadi waktu proses perendaman kurang lama, misalnya,” kata Yeni. -Diana Runtu

Konsistensi aktivitas kelompok-kelompok teater (baik pertunjukan maupuan kehidupan teaternya) ini sempat membuat Mataram masuk dalam peta kekuatan pertumbuhan teater yang diperhitungkan di Indonesia. Karena itulah, pada tahun 2001, Mataram pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Temu Teater Kawasan Timur Indonesia yang diikuti oleh kelompokkelompok teater, para seniman dan pegiat teater dari seluruh kawasan timur Indonesia, mulai dari Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur. Tumbuh dan berkembang baiknya seni pertunjukan teater di Mataram kala itu, lebih karena keterbukaan Taman Budaya NTB dalam mengakomodir aktivitas teater di Mataram. Taman Budaya NTB menjadi sentral kegiatan teater waktu itu. Panggung tertutup Taman Budaya yang dulu sangat sederhana itu, tidak pernah sepi dengan pergelaran teater. Begitu juga nyaris di seluruh areal Taman Budaya NTB menjadi tempat berbagai aktivitas dan kegiatan teater. Pentas senja selalu digelar tiap Selasa sore yang diisi oleh kelompok mana saja. Biasanya pementasan ini adalah pementasan sederhana termasuk monolog dan digelar di mana saja dari areal halaman Taman Budaya NTB bahkan di tempat parkirnya. Inilah yang membuat teater di Mataram kala itu hidup dan sangat produktif. “Tahun 1994-1996 adalah puncak kejayaan teater di Mataram. Muncul gesekan kreatif dan terjadi ketegangan kreatif yang dahsyat dari kelompok-

Saepullah Sapturi

Winsa Prayitno

kelompok teater yang bersaing saling support membangun dan memanaskan suhu teater kala itu,” ungkap Saepullah Sapturi, salah seorang sutradara teater di Mataram. Namun pada masa berikutnya, atmosfir teater di Mataram sempat “mendingin”. Menurut Saepullah, aktivitas teater agak redup. Ini terjadi pada sekitar tahun 1998-2000-an. Hal inilah yang membuat para tokoh dan pegiat teater mencoba “merebut” kembali masa-masa asyiknya dunia teater di Mataram dengan menggelar Temu Teater Kawasan Timur Indonesia tahun 2001. “Kami ingin hawa teater di Mataram yang terus menurun itu setidaknya stabil kembali dengan kedatangan ratusan tamu teater dari seluruh kawasan Indonesia Timur,” ujar Saepullah yang juga menjadi Kerua Panitia pada Temu Teater Kawasan Timur Indonesia waktu itu. Namun kegiatan ini tidak cu-

kup mengobati kerinduan pada hiruk-pikuknya pertunjukan teater seperti sebelumnya. Meski begitu, teater di Mataram tidak mati sama sekali. Beberapa kelompok teater masih mampu menjaga daya hidup teater di Mataram. Teater Kamar Indonesia secara konsisten menggelar beberapa karya pada tahun 2000-an, seperti Caligula, Sandiwara Merah Jambu, Anarkis itu Mati Kebetulan, Insomnia, Hikayat Gajah Duduk dan lainnya.

Begitu pula dengan Teater Embrio yang tampil mewarnai panggung teater di Mataram yang denyutnya mulai melemah. Kedua kelompok teater ini, dirasa cukup untuk menampung kerinduan penonton teater. “Teater Kamar Indonesia dan Teater Embrio tampil dengan banyak membawa karya-karya naskah yang ditulis sendiri,” kata Kongso. Ini jelas memberi harapan baru dalam dunia teater di Mataram. Selain kelompok-kelompok teater independen ini, hadirnya teater-teater kampus juga tidak bisa dilupakan. Kehadiran Teater Kampus yang sempat menggelar Festival Teater Modern kala itu juga turut menjaga detak jantung teater di Mataram. Begitu juga dengan Teater Putih FKIP Unram yang sampai saat ini secara konsisten menyelenggarakan Festival Teater Modern Pelajar. Lalu pertunjukan-pertunjukan teater yang berkala digelar teater-teater kampus ini termasuk Sasentra dan BKSM-Saksi. Mereka inilah yang juga turut membangun kembali atmosfir teater yang kemudian perlahan-lahan memasuki dunia

teater dalam suasana yang lebih modern dengan gedung pertunjukan yang mumpuni. Harapan untuk membangun kembali suasana hangat berteater di Mataram mulai dibicarakan oleh para seniman teater dalam berbagai diskusi baik formal maupun non formal. Para sutradara kawakan, seperti Kongso Sukoco, Saepullah Sapturi, Winsa Prayitno, R. Eko Wahono, terlihat sudah mulai saling lempar ide untuk menyiapkan gagasan-gagasan baru pertunjukan teater. Begitu pula dengan para aktor di Mataram, yang tampaknya merindukan panggung teater. Selain semangat itu, keterbukaan yang kini diperlihatkan oleh Taman Budaya NTB di bawah pimpinan Kepala Taman Budaya NTB, Faisal, untuk mengakomodir aktivitas teater, tampaknya menjadi angin baru bagi dunia teater di Mataram. “Saya ingin teater dapat diterima oleh masyarakat luas,” ungkap Faisal pada diskusi bertema Masa Lalu dan Masa Depan Teater Kampus di Mataram beberapa waktu lalu. --Naniek I. Taufan

Performing Art di halaman depan Taman Budaya NTB


20

Nine

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Dengan tiga cetakan kue saroja yang merupakan warisan turuntemurun dalam keluarganya, Rita dengan cekatan membuat 300 kue saroja yang gurih dalam satu resep. Aktivitas para perempuan membuat kue saroja di Desa Rasa Bou Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat ini, memang telah dilakukan sejak dulu.

D

e s a Ra s a B o u merupakan salah satu sentra pembuatan kue tradisional di Kecamatan Bolo, selain sentra pembuatan kue tradisional yang disebut pangaha bunga di Desa Kananga dan juga minasarua di Desa Bontokape. Setiap hari ribuan kue saroja diproduksi dari dapur-dapur sederhana milik warga Rasa Bou. Pekerjaan membuat kue saroja di desa ini diakui oleh para ibu rumah tangga sangat membantu ekonomi keluarga mereka. Baik itu pemilik sentra pembuatan kue saroja maupun yang bekerja dalam rantai proses pembuatan kue saroja. Bagaimana tidak, dalam proses produksi kue saroja ini juga melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar tempat pembuatan kue saroja. Penghasilan mereka

Ribuan Kue Saroja Diproduksi Tiap Hari terbilang lumayan sampai dapat membantu ekonomi keluarga. Hal ini diakui oleh Kartini (41) yang sudah tiga tahun belakangan ini ikut membantu membuat kue saroja di rumah salah seorang warga. “Sebulan saya bisa mendapat penghasilan lebih satu juta rupiah,” ujarnya. Menurutnya ini sangat membantu ekonomi keluarganya. Bagusnya, pekerjaan ini bisa dilakoninya sembari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Jadi sama sekali tidak mengganggu urusan pekerjaan di rumah tangga saya,” ungkapnya. Penghasilannya tersebut bisa bertambah jika ia bekerja dari pagi hingga sore hari. Usai menunaikan salat subuh Kartini biasanya sudah mulai bekerja. Hanya butuh satu setengah hingga dua jam ia sudah dapat menyelesaikan satu resep dengan bayaran Rp 25.000. “Setelah itu saya bisa pulang ke rumah mengurus rumah dan anak-anak pergi sekolah,” ujarnya. Ia beruntung karena jarak rumah dan tempatnya bekerja sangat dekat bahkan berada dalam satu lingkungan. Sekitar pukul 09.00 Kartini bisa kembali bekerja membuat kue saroja satu resep lagi dan dua

Resep kue saroja, sederhana dan mudah diperoleh

Kue saroja kuliner tradisional Bima

jam kemudian ia bisa mendapatkan Rp 25.000 lagi. Setelah itu ia beristirahat dan kembali pulang. Kira-kira usai salat dhuhur ia bisa bekerja lagi dan mendapatkan Rp 25.000. Serta kembali masuk sore hari usai salat ashar. Praktis, jika ia mengambil semua empat waktu tersebut untuk bekerja, maka sehari penghasilannya bisa mencapai Rp 100.000. “Kalau ramai pesanan hasilnya lebih dari itu,” ujarnya. Kartini termasuk salah seorang

Proses penggorengan kue saroja

yang sudah mahir membuat kue saroja, mulai dari proses membuat adonan hingga cara menggorengnya. Lalu kenapa ia tidak memproduksi sendiri kue saroja dan mendapatkan penghasilan lebih baik dari hanya sekedar bekerja pada orang lain? Rupanya masalahnya tidak semudah itu namun terasa unik. Pasalnya, jika dilihat kasat mata, pembuatan kue ini mulai dari membuat adonan hingga pengemasannya sangatlah sederhana. Bahan pembuatan kue saroja dengan mudah dapat diperoleh bahkan di kios-kios kecil, tepung beras putih, telur gula, tepung kanji dan garam serta kapur sirih. “Hanya itu bahannya, praktis dan mudah diperoleh,” ungkap Rita. Namun begitu, rupanya tidak semua orang bisa membuat kue saroja ini tanpa keahlian khusus. Cara membuatnya pun sederhana. Rita kemudian membagi resep dan cara membuat kuliner tradisional ini. Satu resep kue saroja terdiri dari ½ kilogram gula pasir, 8-10 butir telur, 1,5 kilogram tepung

beras putih, lebih kurang 400 gram tepung kanji, garam dan kapur sirih secukupnya. Seluruh bahan ini dicampur rata dengan air hingga cair sesuai dengan kebutuhan. Menggorengnya harus dilakukan dalam minyak yang sangat panas. Tiga cetakan saroja sebelumnya sudah direndam dalam minyak panas di atas kompor yang menyala. Lalu satu-persatu cetakan tersebut dicelupkan ke adonan cair kue saroja dan begitu adonan lengket pada cetakan harus dengan cepat dimasukan dalam minyak panas. Lalu setelah adonan masuk dalam minyak yang panas, dengan bantuan sebuah kayu yang juga dibuat khusus, adonan kue saroja tersebut dilepaskan dari cetakannya. Menggoreng kue saroja tidak butuh waktu lama. Sebelum terlihat cokelat, kue saroja sudah harus diangkat. Sangat praktis dan dapat dikerjakan sambil mengerjakan urusan rumah tangga. “Satu resep ini akan menghasilkan 300 biji kue saroja dengan harga Rp 150.000,” kata Rita. –Naniek I. Taufan

Rita

Cetakan Lama Hasilkan Tampilan Menarik Meski rata-rata perempuan Rasa Bou yang berada dalam satu lingkungan dengan sentra pembuatan kue saroja ini bisa membuat kue saroja, tapi tidak semua dari mereka ini dapat memproduksi sendiri kue saroja melainkan kebanyakan mereka bekerja pada dapur pembuatan kue saroja pemilik cetakan kue saroja. Alat pembuatan (cetakan) kue saroja yang bisa menghasilkan kue yang renyah dengan tampilan yang menarik dan ketebalan serta

tinggi yang pas, hanya bisa dibuat dari cetakan lama kue saroja yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga pembuat kue saroja. Cetakan asli yang dibuat zaman dululah yang bisa membuat tampilan kue saroja menarik. Cetakan-cetakan kue saroja zaman dulu ini, terbuat dari kuningan asli. Meski banyak cetakan kue saroja yang dibuat sekarang, menurut para pembuat kue saroja, hasilnya tidak sama dengan jika dibuat dengan cetakan asli. “Kami sendiri tidak tahu mengapa

demikian. Pernah beberapa kali dicoba pakai cetakan baru hasilnya tidak bagus,” ungkap Rita. Hal yang sama juga diungkapkan Kartini dan Jumhar, pembuat kue saroja lainnya. Hal inilah yang membuat kini tidak banyak lagi para pembuat kue saroja kecuali mereka yang masih dapat menemukan cetakan kue saroja lama yang diwariskan keluarga mereka. Ada pula yang memburu cetakan tersebut pada orang-orang yang sudah tua yang tinggal di kampung-

Cetakan asli kue saroja

kampung yang diperkirakan masih menyimpan cetakan kue saroja tersebut. “Sayangnya tidak banyak lagi ditemukan cetakan kue saroja yang asli, karena hanya dengan cetakan

asli saja bisa menghasilkan kue saroja seperti bentuk aslinya,” kata Kartini dan Rita. Cetakan kue saroja yang asli inilah yang bisa mempertahankan kuliner khas Bima ini. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

5

Wayan Supadno

Tularkan Semangat dan Pengalaman Sukses Kehidupan petani sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup Wayan ­Supadno. Pria kelahiran Banyuwangi, 20 Juni 1967 ini lahir dari orangtua petani. Kehidupan sebagai petani gurem dengan lahan terbatas membuat mereka ikut transmigrasi ke Sulawesi. Kini, Supadno tinggal memetik ­hasil dari kerja kerasnya di bidang pertanian. Ia pun membagi kiat agar bisa ­menjadi petani sukses dalam acara “Workshop Peluang Bisnis Agro Ajegkan Bali” di Gedung Pers Bali K. Nadha, Senin (12/9).

S

upadno menuturkan saat masih sekolah ia pernah dua kali tak naik kelas. Ia juga pernah berada di rangking 47 dari 47 siswa. Namun, ia tak mau terpuruk. Supadno bangkit hingga berhasil kuliah di Universitas Airlangga Surabaya dan masuk dunia militer. Kini ia berpangkat Mayor. Dunia pertanian tak bisa jauh dari kehidupan Supadno. Ia mengutip apa yang disampaikan seniornya Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, selain menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia, ia juga bagian dari Tani Nasional Indonesia. “Saya banyak dapat ilmu dari perjalanan, tidak hanya dari buku. Ilmu yang saya dapatkan kemudian saya bagibagikan kepada masyarakat,” tegas pria berusia 49 tahun ini. Supadno memang dikenal sebagai praktisi pertanian yang andal. Ia menjadi formulator pupuk organik hayati dan hormon organik. Namun, ada hal yang ia sayangkan. “Menurut Sensus Pertanian 2013 komposisi petani muda hanya 12%. Jumlah pengusaha di Indonesia hanya 1.67% dari idealnya minimal 10%. Luas lahan 70 % dari total luas sudah dikuasai oleh hanya 10% dari jumlah penduduk kita. Aset bangsa sudah 90% dikuasai hanya oleh 1% punduduk kita. Komposisi kemiskinan masih didominasi masyarakat perdesaan/pertanian,” ungkap ayah tiga anak ini. Ia juga menyayangkan jutaan hektare lahan tidur akibat kurang pelaku. Jutaan ton hasil pertanian luar negeri kita impor menguras devisa bangsa. Banyaknya anak muda termasuk sarjana pertanian enggan bertani. Iptek belum

Wayan Supadno

membumi yang menjadikan rendahnya provitas pertanian kita. Rendahnya mutu infrastruktur pertanian berdampak pada minimnya laba petani dan kalahnya persaingan dengan produk impor. Kebijakan pemerintah yang kurang merangsang bergairah untuk cinta dan menggeluti pertanian. Perbankan belum menjadikan petani sebagai mitra yang patut dipercaya untuk diberi fasilitas kreditnya. “Dari banyaknya permasalahan itu, solusinya bangun SDM yang berkarakter terpercaya dan tanggap serta mampu terapkan iptek di lapangan. Improvisasi diri oleh para pelaku pertanian agar mampu berdaya saing dengan petani luar negeri. Melakukan langkah nyata di lapangan baik on farm sampai dengan off farm,” tegas Supadno. Ia juga memberi kiat konsistensi terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan. Mampu mengambil

ilmu hikmah dari kegagalan/kesuksesan diri dan orang lain. Tahu diri dan mampu menjabarkan kebutuhan dan keinginan mitranya. “Seluruh komponen masyarakat Bali harus mulai mengubah pola pikirnya untuk menanam dan menjabarkan Tri Hita Karana. Bukan malah menebang, apalagi berlomba-lomba memasarkan tanahnya untuk kavlingan. Salah satunya dengan terjun menjadi pengusaha muda di bidang pertanian,” harapnya. Pemda dan tokoh-tokoh Bali juga harus menyadari bahwa jalan pintas penjabaran ajaran Hindu melalui pembangunan petani dan pertanian. Penting ada gerakan massal membangun semangat kembali membangun perdesaan agar terbentuk kegiatan rutin menyibukkan anak-anak muda sehingga punya passive income yang tak kalah dibanding di kota. Pemerintah daerah, kata Supadno, perlu membuat contoh-contoh nyata di lapangan. Bagaimana agar usaha-usaha pertanian mampu mendongkrak nilai tukar petani dan bernilai ekonomi tinggi. Termasuk membuat taman terapan teknologi pertanian di seluruh kabupaten/ kota. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat agar gemar beragribisnis. “Sering hadirkan para praktisi dan pakar untuk menularkan semangat, ilmu, serta pengalaman suksesnya kepada masyarakat luas di daerah seBali,” tandasnya. KALKULASI LOGIS Saat workshop, Supadno juga memberi pondasi sukses dalam bertani. Cerdas Spiritual, mampu bedakan halal dan haram serta

yakin betul bahwa Tuhan tiada pernah mengubah nasibnya jika tanpa berusaha mengubahnya sendiri. Cerdas Emosional, mampu membangun semangat diri agar jadi sumber kekuatan luar biasa. Cerdas Rasional, mampu buat kalkulasi logis dalam berbisnis. Langkah-langkahnya antara lain membuat analisa SWOT internal terhadap diri sendiri dan jabarkan terkait sasarannya. Buat segmentasi, target dan posisi harapan kerjanya, Smart Goal. Mampu analisa sasaran yang khusus, memungkinkan, tergapai, terukur, dan terukur dengan waktu jelas buat evaluasi. Supadno juga memberi kalkulasi beberapa komoditi yang bisa dijadikan andalan, seperti kelapa puyuh hibrida (kelapa daksina), pisang, lada, duren musangking, jeruk dekopon, buah naga, dan pinang. Kalkukasi logis kelapa daksina, dengan jarak tanam 5 m x 6 m, potensi hasil 250 butir/pohon/tahun x 330 pohon/hektare x Rp 3.000/butir = Rp 247,5 juta/hektare/tahun. Investasi per pohon sampai buah sekitar Rp 75.000 x 330 pohon/hektare = Rp 24,75 juta/hektare. Kalkulasi jeruk dekopon, jarak tanam 5 m x 5 m, potensi hasil dengan harga terendah di kebun Rp 400 pohon/ hektare x 65 kg/pohon/tahun x Rp 30.000/kg = Rp 780 juta/hektare/tahun. Investasi Rp 150.000/ pohon sampai buah x 400 pohon = Rp 60 juta/hektare. “Saya sudah bertemu Bupati Klungkung dan Bupati Karangasem. Mereka sangat mendukung masyarakat agar menanam kelapa. Mari berlomba-lomba menanam kelapa dan menabur benih-benih kebaikan. Kelompok Media Bali Post juga selalu mendukung dengan meng-update berita-berita pertanian. Mari miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki,” tegas Supadno. –Rindra/Ngurah Budi


6

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Bangga menjadi orang Bali harus disertai dengan sikap mau berubah bahkan berani membangun sesuatu yang baru untuk perbaikan Bali. Selama ini, budaya Koh Ngomong (enggan atau malas bicara) seolah menjadi pelengkap kekayaan pariwisata kita yang mengagungkan budaya.

K

etika ada momen harus bicara dan kita tidak mampu bicara, maka kita langsung berlindung dengan ucapan, “Ya orang Bali memang punya budaya Koh Ngomong.” Benarkah budaya satu ini sudah tidak perlu dipertahankan lagi? Menurut pemilik Daneswara Training, Kadek Eni Marhaeni, S.E., M.M., sekarang mari kita telaah ungkapan guru komunikasi Tony Robbins yang mengatakan The quality of your life is the quality of your communication. Kualitas hidup Anda adalah kualitas komunikasi Anda. “Nah, lanjutnya agar orang tidak meragukan kualitas diri kita, kualitas komunikasi tentu harus dibenahi. Bahkan teori Maslow juga mengungkapkan bahwa kebutuhan dalam mengaktualisasi diri sangat ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi,” ujar Eni yang di masa

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

kuliahnya sempat mengikuti pertukaran Pemuda Indonesia - Kanada ini. Eni Marhaeni telah belajar llmu public speaking di University of Sydney, Australia dan berguru langsung denganTony Robbins (guru komunikasi dan motivator no. 1 dunia) ini, sekali lagi menekankan meski kualitas komunikasi merupakan cerminan kualitas diri. Namun, saat ini masih banyak orang mengalami kendala ketika berkomunikasi, khususnya saat berbicara di depan umum. Orang yang mengalami kondisi ini sering diistilahkan dengan demam panggung. Kondisi ini, dapat menyerang siapa saja ketika tampil berbicara di depan umum. Jika tidak ditangani dengan baik, demam panggung dapat mengakibatkan trauma mendalam, stress, bahkan dunia terasa kiamat. Untuk dapat mengatasi masalah ini, katanya kita perlu belajar atau mengikuti program

Eni Marhaeni

public speaking clinic yang akan mengupas tuntas rahasia sukses melakukan persentasi atau berbicara di depan umum. Di sana nanti, kita akan tahu cara tercepat mengatasi demam panggung dan bersahabat dengan audiens.

Mampu menyiapkan materi pembicaraan dengan baik sehingga tidak mudah lupa, dan menikmati momen tampil bicara penuh percaya diri. Dikatakan oleh dosen MICE di Prodi BisnisPoliteknik Negeri Bali ini, meningkatkan kualitas komunikasi khususnya dalam berbicara di depan umum menjadi tuntutan yang harus segera dilakukan untuk membuktikan Bali siap berkompetisi di era global. Sebuah program berjudul “Revolusi Budaya Koh Ngomong” yang digagas di bulan Oktober nanti dengan spirit Sumpah Pemuda akan mengumpulkan para pemuda untuk mengikuti coaching public speaking sebagai perwujudan kerja nyata dari revolusi mental untuk membangun budaya berani bicara,” papar ibu dari Ademas, Januartha dan Eling Pramuatmaja yang juga mengelola sebuah event organizer ini. Lebih lanjut disampikan bahwa program coaching ini seterusnya

akan dilanjutkan dengan kesempatan konseling dan praktik secara gratis di Shankara Resto (Bale Banjar Internasional Shankara). Mereka yang telah mengikuti coaching ini nantinya diharapkan bisa menjadi perintis terbentuknya komunitas Public Speaking seperti klub atau UKM di setiap sekolah, kampus, maupun komunitas. “Gerakan ini juga bekerja sama dengan radio Cassanova FM melalui program “Public Speaking Clinic” yang disiarkan setiap hari Minggu pkl. 11.00 - 12.00 dua minggu sekali. Kegiatan ini diharapkan akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah sehingga Bali siap berkompetisi di era global dengan memiliki kemampuan berkomunikasi yang membanggakan. Diam tidak selalu emas, banyak kesempatan emas hilang karena diam,” tutur Eni yang punya mimpi memiliki galeri kata-kata indah, agar bisa membantu afirmasi sukses melalui kata-kata. –Sri Ardhini

Buleleng Potensial Tanam Buah Naga

Made Sudiartana

buah naga bukan hanya melihat penghasilan yang besar tetapi juga melihat kondisi tanah lahannya. “Saya dengar tanaman berasal dari gurun sehingga tidak membutuhkan banyak air,” jelasnya. Hingga saat ini ia menyimpulkan bahwa tanaman tersebut cocok ditaman di lahan kering miliknya. Tanaman yang mulai berbunga pada bulan kesembilan ini juga ditanam secara organik. Dek Bung menuturkan dalam pemupukan

dirinya hanya menggunakan pupuk kandang dan menghindari obat-obatan kimia. Hal tersebut dikarenakan sangat mempengaruhi rasa buah itu sendiri. “Kalau tempat lain saya tidak tahu cara pemupukannya, tetapi kalau di pasar pedagang pasti lebih memilih tanaman organik,” ungkapnya. Menurutnya banyak perbedaan yang ditemukan antara buah naga organik dan nonorganik. Buah naga organik memiliki ukuran lebih kecil dan rasanya manis sedangkan dengan sistem nonorganik akan menghasilkan buah lebih banyak dan ukuran yang lebih besar namun rasanya akan lebih masam. Pria kelahiran 26 Maret 1970 tersebut mengaku keuntungan lain menanam buah naga adalah panennya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Misalnya sekarang seharusnya dipanen tetapi seminggu lagi baru ada hari raya, panennya bisa ditunda dulu,” jelasnya. Meskipun ditunda akan tetapi tidak akan memengaruhi jumlah produksi maupun kualitas buahnya. “Kulitnya tebal jadi tahan untuk waktu yang lama,” tambahnya. Anggota kelompok tani Lila

Cita Karya tersebut juga mengatakan bahwa di Buleleng dan Desa Kalisada pada khususnya sangat potensial untuk ditanami buah naga. Hal tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah terkait, jangan sampai

19

Heri Lentho

Konsisten dengan Karya Merah Putih

Membangun Budaya Bani Ngomong

Sudut Pandang Memiliki lahan kering atau tidak cukup subur bukanlah perkara besar, asalkan mampu memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah. Hal tersebut diungkapkan oleh Made Sudiartana petani asal desa Kalisada kecamatan Seririt, Buleleng. Lima tahun yang lalu, ia dipusingkan karena menurunnya hasil panen akibat usia tanaman yang semakin menua. Bukan hanya itu, ia juga kebingungan mencari tanaman pengganti yang cocok untuk ditanam di lahan miliknya. Berawal ketika Dek Bung panggilan akrabnya, menjual cagak (kayu tumpuan untuk tanaman merambat) bekas tanaman anggurnya kepada rekannya dari Jawa, ia akhirnya mencoba menanam buah naga. “Mereka jauh-jauh mencari cagak ke Bali pasti untuk menghasilkan sesuatu yang besar. Akhirnya saya pun ikut mencoba menanam buah naga,” jelasnya. Ada sedikit keraguan diawal rencananya, akan tetapi ia tepis dengan mencari bibit dengan kualitas terbaik ke Banyuwangi. Memang di Buleleng, ia bukan orang pertama yang mencoba menanam akan tetapi pertama menanam untuk desa Kalisada. “Kalau beli bibit di sini takutnya lama menghasilkan,” ujarnya. Keinginannya menanam

i n e a h r a M i n E

Woman on Top

yaitu Demo Tari yang digagasnya. Dari Demo Tari, inilah akhirnya bisa mengeluarkan kelompok mahasiswa ke jalan untuk aksi, di belakang pertunjukan tari yang dibawakannya. Gerakan kesenian itu kini banyak ditiru dengan sebutan happening art. Tak hanya itu, Heri Lentho, juga

K

arya pertamannya berjudul “Lentho” dibawakan pada 1989-an, dengan iringan puisi “Generasi Gagap” milik WS Rendra. Karya yang bertujuan mengkritik perilaku mahasiswa yang cuek terhadap sosial masyarakat saat itu. Tak disangka, judul itulah yang akhirnya melekat pada namanya. “Sejak pertunjukan itu, saya dipanggil Heri Lentho. Aku sendiri gak suka

Buleleng yang sudah potensial harus mendatangkan buah naga dari daerah lain. “Selama ini sudah sering koordinasi dengan pemerintah tetapi sampai saat ini masih disuruh menunggu,” pungkasnya. -wiwin

makan Lentho, tapi sekali makan kok banyak. Akhirnya dipanggil Lentho itu,” kata Heri, yang memiliki kepala botak ini. Karya Lentho, disusul dengan lainnya seperti Kedok (1990), Wadam (1991), Dwi Oknum (1995), dan masih banyak lagi. Meski di masa itu segala bentuk demo dan protes terhadap pemerintahan sangat dibatasi, tapi mantan mahasiswa IKIP Surabaya ini tak habis akal. Dia menemukan gerakan kesenian

Heri Lentho

aktif pada organisasi dan acara kesenian daerah. Misalnya Festival Topeng Muludan, Surabaya Juang, dan Citraland Superfast Surabaya. Darah seninya lahir dari keluarga

Kehidupan Anak Negeri dalam Bingkai Foto Kehidupan anak-anak di Indonesia mendapat sorotan komunitas fotografi. Puluhan fotografer di Surabaya yang tergabung dalam komunitas fotografi menggelar pameran foto di Galeri Seni M Radio Surabaya mulai 3-10 September 2016. Komunitas Fotografi regional Jatim ini mengangkat

tema tentang kehidupan anak negeri. Alasannya, karena ingin mengeksplor kegiatan apa saja yang dilakukan anak-anak kecil di era modernisasi. “Kami mengangkat kehidupan anak negeri ini, karena anak-anak di Indonesia tidak semua memiliki nasib yang sama. Meski begitu keunikan dari kepolosan mereka dalam

menghadapi semua keadaan baik senang maupun susah selalu terselip ada keceriaan,” kata Ketua Panitia Pameran Foto sekaligus Ketua Komunitas Fotografi Regional Jatim, Adistya Wahyu. Pameran foto anak negeri yang pertama ini, diharapkan, agar para orangtua bisa lebih memahami lagi kehidupan anak-

Mencintai bangsa dan tanah air Indonesia, dapat dibuktikan melalui banyak hal. Misalnya, menjadi seorang seniman. Seperti, Heri Prasetyo atau Heri Lentho. Pria asal Malang ini, salah satu dari sekian banyak seniman tanah air yang konsisten menyerukan ide-ide Merah Putih lewat karyanya. Berbekal bakat menari, pria kelahiran 13 Mei 1967 ini, banyak menciptakan koreografi dan mendapatkan penghargaan. mantan gerilyawan. Sang ibu yang bekerja sebagai juru masak pada salah satu rumah keluarga Tionghoa, sekaligus merangkap sebagai petugas pemeriksa tiket pertunjukan wayang orang di Gedung Flora Malang, milik majikannya. Sang ibu sering menggerak-gerakkan tangan Heri Lentho, kecil agar mengikuti irama kiprahan wayang orang. “Mungkin dari sanalah, darah seni saya bermula,” kenang Heri Lentho. Selain jiwa seni, Heri Lentho, banyak belajar disiplin, rasa tanggung jawab, dan mandiri, dari pamannya saat bertugas sebagai pejuang. Mata sang paman terkena mortir, sehingga mengalami kebutaan. Karena buta itulah, Heri Lentho, mendapat tugas untuk menemani sang paman melakukan aktivitasnya sehari-hari. “Kalau paman bekerja, aku harus menuntun. Upahnya, aku dikasih lagulagu gerilya. Paman sebagi pejuang veteran tidak mau mengurus administrasi agar mendapat tunjangan dana

anak yang harus diberikan perhatian lebih. ‘’Saya juga mengharapkan peran orangtua yang lebih per­ hatian pada anakanak dan membuka mata bagi orang-orang yang selama ini kurang peduli dengan anak jalanan dan anak pesisir yang terkadang mencari uang sendiri demi menyambung hidup mereka,” imbuhnya. -Dona

kehormatan sebagai seorang pejuang veteran. Dia bilang pejuang kok pamrih. Keteladanan ibu dan pamanku itu yang mewarnai nilai-nilai ekspresi selama jadi seniman,” terang anak bungsu dari tujuh bersaudara ini. Keseriusannya di bidang seni membuat laki-laki yang gemar memakai baju batik ini, sangat pantas jadi teladan. Banyak prestasi yang telah dicapainya. Tahun 2014, ia menerima penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk kategori kreator seni pertunjukan. Satu tahun kemudian, ia mendapat undangan dari Tadashi Suzuki, sutradara Suzuki Company Of Toga (SCOT), untuk menampilkan pertunjukan kesenian daerah di Toga Festival, Jepang. Heri Lentho membawakan koreografi berjudul Topeng Bang-Tih (abang-putih) atau dalam Bahasa Indonesia yang berarti merah-putih. Prestasi yang ia torehkan itu tentunya membanggakan bagi Indonesia. -Dona


18

Edisi 919/19 - 25 september 2016

Buleleng merupakan salah satu kabupaten yang memiliki garis pesisir pantai terpanjang di Bali. Hal tersebutlah yang menjadikan pemeritah terus berupaya menggali potensi yang dimiliki oleh masingmasing wilayah pesisir. Salah satu wilayah pesisir yang menjadi daya tarik wisata dan perhatian pemerintah adalah Pantai Lovina.

P

emerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisatan (Disbudpar) Kabupaten Buleleng, menggenjot kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara melalui Lovina Festival. Perhelatan yang digelar sejak 9 hingga 14 September 2016 ini dilaksanakan pada tiga tempat, yaitu dengan panggung utama di Pantai Bi-

Lovina Festival

Perkenalkan Kecantikan Tersembunyi Lovina naria, Lapangan Kaliasem, dan Undiksha Singaraja. Lovina Festival kali ini mengusung tema The Hidden Beauty of Lovina yang memiliki makna kecantikan tersembunyi dari Lovina. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi baik seni budaya maupun potensi pantai dengan terumbu karang yang dimiliki. Lima hari berlangsung, berbagai kegiatan diselenggarakan di festival tahunan ini. Mulai dari kesenian tradis-

Menguji Kekompakan Gerakan Sapi Guna melestarikan kebudayaan khas Bali Utara dan serangkaian Lovina Festival 2016, Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melaksanakan “Lomba Sampi Grumbungan” di Lapangan Kaliasem, Minggu (11/9) lalu. Dibawah panas teriknya matahari, tidak menyurutkan semangat para peserta dalam mengikuti perlombaan ini. Lomba sampi grumbungan ini diikuti oleh 12 peserta dari Baga Timur, Baga Tengah dan Baga Barat. Sejumlah baga antara lain, Baga Timur diikuti Kecamatan Kubutambahan, Sawan, dan Tejakula. Baga Tengah terdiri Sukasada, Buleleng dan Banjar. Kemudian Baga Barat ada Gerokgak, Busungbiu dan Seririt. Dalam lomba, para peserta dinilai dari kekompakan sepasang sapi, kecepatan dan keindahan dari hiasan serta gerak sampi grumbungan itu sendiri. Biasanya, sapi yang digunakan adalah pejantan. Sapi jantan menunjukan kekompakan gerakan diantara sapi lainnya. Sapi Bali pilihan dirawat khusus dan dilatih pemilik untuk memenangkan perlombaan yang dirangkai dalam Lovina Festival. Salah satu peserta Komang Sukadana (33) menggemari lomba sampi gerumbungan diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng. Pria asal Banjar Lebah Desa Kaliasem ini beberapa kali telah mengikuti lomba. Dua sapi miliknya dilatih maksimal untuk menyeragamkan langkah kaki, kepala dan ekor supaya berdiri tegak. “Sapi saya pertandingan berumur dua tahun. Duku beli di Desa Bebetin Kecamatan Sawan, satu ekornya seharga Rp 10 Juta. Latihannya tidak terlalu sulit. Ini karena sapi dibeli

merupakan turunan khusus diperlombakan,” ujarnya. Selama satu minggu latihan sapi-sapi ini diberi ramuan jamu dan lima butir telur bebek. Sebelum turun berlomba diberi latihan fisik dan keteraturan gerak lurus lari sapi. “Lari sapi bukan hanya kencang, tapi dihindari berbelok ke samping. Trik joki harus jeli mengatur arah berlari sampi memakai gombeng atau tali pengatur pada kepala sapi,” imbuhnya. Sementara itu, Made Somanada (43) asal Desa Panji menuturkan pengalaman meraih juara di ajang lomba sampi gerumbungan. “Kami latih sapi selama satu bulan sambil membajak sawah. Sapi pilihan menjadi keunggulan dalam lomba dan diberi jamu dan telur bebek bercampur minuman bersoda,” tandasnya. Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, M.M., menjelaskan kegiatan ini untuk mengeksplor atraksi-atraksi pariwisata yang unik yang dimiliki oleh Buleleng. “Yang unik-unik ini yang dicari oleh wisatawan. Seperti sampi grumbungan ini merupakan khas dari Buleleng karena lebih menilai dari keindahan, tidak seperti di tempat lain yang menilai kecepatan,” jelasnya. Mengenai pengembangan sampi grumbungan ke depan, ia mengatakan pihaknya akan menata kembali organisasi yang terdiri dari Baga Timur, Baga Tengah, Baga Barat. Mereka yang tergabung dalam organisasi yang boleh mengikuti lomba ini. Dari hasil lomba, juara I diraih Gede Redana dari Baga Sebali Desa Bebetin, juara 2 Ketut Sumitra dari Baga Putra Gembala Desa Kaliasem, dan juara 3 Komang Suparsanta dari Baga Sebali Desa Menyali. -Wiwin

Lomba Sampi Grumbungan

Bupati Putu Agus Suradnyana melepas tukik di Pantai Lovina

ional hingga kesenian modern mampu memukau pengunjung. Bukan hanya itu, beberapa kebudayaan asli Bali Utara juga ditampilkan, seperti sampi gerumbungan hingga lomba megangsingan dan tarian sakral Cetik Geringsing. Menurut Kadisbudpar Buleleng, Ir. Nyoman Sutrisna,M.M., Lovina memiliki potensi sebagai magnet untuk menarik wisatawan datang ke Buleleng sehingga perlu dilakukan promosi dengan menggali setiap potensi yang dimiliki. Mantan Kadiskanla tersebut juga menuturkan, dilihat dari penghargaan konservasi baik tingkat nasional maupun internasional di Buleleng, maka pemerintah bersama masyarakat perlu menggali potensi yang dimiliki seperti menambah khasanah bahari dan mengangkat

Life tersebut didatangkan untuk menyaksikan pagelaran seni budaya yang berlangsung lima hari tersebut. Dalam pagelaran tersebut, pihaknya melibatkan beberapa desa disekitar kawasan Lovina. Kolaborasi bernuansa seni budaya khas Buleleng dituangkan melalui masyarakat pada beberapa desa penyangga. Sejumlah desa yang berkesempatan terlibat dalam parade budaya adalah desa Pakraman Banyualit, Kalibukbuk, Anturan, dan Pemaron. “Masing-masing desa akan menampilkan seni budaya yang ditonjolkan,” imbuhnya. Uniknya, dalam parade tersebut tidak hanya masyarakat lokal melainkan juga melibatkan tamu mancanegara yang kebutalan menginap di hotel sekitar Lovina. Ia berharap tamu mancanegara yang terlibat mampu mempromosikan dan menceritakan pengalaman parade yang diikuti di negara asalnya. Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, S.T., dalam sambutannya mengatakan sektor pariwisata sangat perlu dikembangkan mengingat sektor tersebut memegang peranan perekonomian cukup besar di kabupaten Buleleng. “Ini dapat kita lihat dari banyaknya masyarakat Buleleng yang menggeluti pekerjaan dari sektor tersebut. Jika sektor ini berkembang maka sektor lain juga ikut berkembang,” tandasnya. -Wiwin

gaung pariwisata.“Kami mengenalkan lebih luas keindahan yang dimiliki Lovina. Dari awal juga kami sudah melibatkan desa adat dan dinas untuk menggali potensi dengan konservasi penyu, agar pengelolaan ke depan lebih maksimal,” ungkapnya. Ia menambahkan Lovina Festival dibarengi dengan Wonderful Indonesia dan Sail Indonesia yang diramaikan juga oleh kedatangan yatch dari Australia. Kapal Bupati Putu Agus Suradnyana bersama jajarannya

Story

Wajah Maryati (65) sembab. Ia terlihat murung. Tubuhnya yang dulu gemuk kini terlihat kurus. Maryati memang tengah menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Yang terakhir adalah anak lelaki kesayangannya, Farul (36) baru saja mengecewakan hatinya. “Dia pergi jalan-jalan ke Jawa setelah menggadaikan mobil,” katanya sedih. Setelah puluhan tahun berlalu, Maryati baru merasakan sakitnya membesarkan seorang anak dengan cara memanjakannya berlebihan.

F

arul adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu. Cukup lama Maryati menanti kelahiran Farul setelah memiliki tiga orang anak perempuan sebelumnya. Jarak

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

7

Penyesalan yang Datang Terlambat penantian Maryati pada kelahiran Farul adalah 10 tahun kemudian setelah anak perempuan terakhirnya. Karena itu, betapa bahagianya Maryati ketika Farul lahir. Farul menjadi bintang dalam segala hal dalam keluarga tersebut. Terutama Maryati yang sangat memanjakannya. Sejak kecil Farul telah memiliki dua pengasuh. Hidupnya begitu sempurna dengan kasih sayang ibundanya yang penuh sesak. Bahkan seluruh permintaan Farul, terutama yang bersifat materi selalu dipenuhi. Farul tumbuh sebagai pribadi yang

kebutuhannya serba terpenuhi. Di sekolah ia selalu menjadi “dermawan” yang saban hari mentraktir teman-temannya. Dan itu berlangsung hingga ia kuliah di salah satu universitas ternama di Jawa Timur. Dari Pulau Sumbawa, Farul berangkat kuliah ke Jawa Timur dengan fasilitas super lengkap. “Farul tinggal di rumah kontrakan di kawasan elit lengkap dengan pembantu. Ia dibekali sebuah mobil dan uang saku yang jumlahnya fantastis setiap bulannya,” ungkap Rino, salah seorang rekan yang pernah menumpang

“Farul tinggal di rumah kontrakan di kawasan elit lengkap dengan pembantu. Ia dibekali sebuah mobil dan uang saku yang jumlahnya fantastis setiap bulannya,”

tinggal bersamanya di rumah kontrakan tersebut. Rino dan dua orang lain yang sama-sama berasal dari Pulau Sumbawa itu sengaja diminta tinggal gratis di rumah tersebut untuk menemani dan membantu segala urusan Farul. Bahkan seluruh kebutuhan makan dan minum mereka juga ditanggung oleh Maryati. Masih segar dalam ingatan Rino, bahwa nyaris setiap minggu Farul mendapatkan kiriman dari kampung halamannya. “Pakai pesawat dari Bandara Bima, makanan dan camilan juga uang selalu dikirim oleh ibunda Farul,” ungkap Rino yang kerap kebagian tugas mengambil kiriman tersebut. Intinya Farul tidak pernah kekurangan apa-apa selama kuliah di Jawa Timur. Rumah kontrakannya selalu ramai oleh kawan-kawannya yang juga saban hari makan dan minum bersamanya. Sayangnya, dengan perhatian dan kasih sayang yang berlebihan itu, Farul malah tidak menjalankan kuliahnya dengan baik. “Ia malah terjerat judi sehingga kuliahnya berantakan,” kata Rino. Enam tahun kuliah Rino tidak kelar-kelar sampai ia harus pulang kampung. Tapi

demi menyelamatkan muka orangtuanya, ibunda Farul terpaksa “membeli” ijazah sarjana pada universitas lain. Pulang ke kampung Farul tidak membaik akibat masih terus dimanjakan oleh Maryati bahkan sampai ia menikah dan memiliki anak. “Istri atau pun saudaranya tidak ada yang boleh menegur apalagi memarahi dan berkata keras pada Farul meski Farul melakukan kesalahan karena Maryati siap membela Farul kapan pun,” ujar Rino. Hal inilah yang membuat Fahrul akhirnya bercerai dengan istrinya. Bersamaan dengan itu, kehidupan ekonomi Maryati runtuh dan mereka jatuh bangkrut. Farul tidak lagi mendapat pasokan materi yang cukup, sehingga satu per satu harta orangtuanya dijual sampai tinggal tersisa satu mobil dan sebuah rumah saja. “Itu pun sertifikat tanah dan rumah ini serta surat-surat kendaraan kami yang tersisa, sudah digadaikan oleh Farul,” kata Maryati sedih. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi anaknya ini. Ia telah salah mengasuhnya dan baru kini disesalinya setelah semuanya terlambat. -Naniek I. Taufan

Wujudkan Mimpi Ratusan Juta Rupiah Bersama Easy Shopping “Easy Shopping”, perusahaan catalog base mail order pertama di Indonesia yang menjual produk-produknya melalui katalog surat jarak jauh, kembali menganugerahkan hadiah ratusan juta rupiah kepada para pelanggan terloyalnya untuk periode promosi 21 April – 15 Agustus 2016. Sebelumnya, Easy Shopping secara rutin berbagi hadiah ratusan juta rupiah di setiap periode promosi. Acara penganugerahan hadiah kali ini dilaksanakan Kamis (8/9) di Hotel Millenium Jakarta yang dihadiri oleh Esther Mulyani Adhi, pemenang hadiah utama senilai Rp 399 juta dari Bogor; Indah Ernawati, pemenang hadiah pertama senilai Rp 100 juta dari NTB; Beato Videntus Bifel, pemenang hadiah kedua senilai Rp 30 juta dari NTT; Brand Ambassador Easy Shopping, yaitu Chintami Atmanagara, Nia Daniaty, Yati Surachman dan Barry Prima; media press serta perwakilan dari manajemen Easy Shopping. Acara ini merupakan bentuk apresiasi atas loyalitas pelanggan Easy Shopping yang telah berbelanja selama periode promosi hadiah. Acara berjalan dengan lancar dan meriah. Terlihat sekali wajah ceria dan bahagia dari para pemenang. Mereka sangat bersyukur dan tidak menyangka akan memenangkan hadiah ini, sehingga dapat mewujudkan impian mereka. Hal ini diungkapkan oleh Esther Mulyani Adhi (67). “Hadiah Rp 399 juta rencananya akan saya gunakan untuk mengurus sertifikat rumah yang masih belum beres. Awalnya saya mengetahui Easy Shopping dari flyer yang saya dapatkan di kantor Pos. Saya sangat yakin bahwa mungkin ini adalah jalan Tuhan untuk membantu saya mendapatkan sertifikat rumah yang saya huni sekarang. Terimakasih, impian saya untuk memiliki rumah ini seutuhnya akhirnya terwujud,” ujarnya. Sementara itu, Indah Ernawati (56) mengaku hadiah ini akan ia pergunakan untuk umroh yang sudah menjadi impiannya sejak lama. Lain halnya dengan Beato Bifel (24) yang merupakan pemenang termuda sepanjang periode promosi Easy Shopping. “Hadiah Rp 30 juta ini akan saya pergunakan untuk membantu biaya pendidikan kuliah saya. Semoga saya cepat lulus,” tegasnya.

Sepanjang beroperasinya Easy Shopping di Indonesia, telah banyak hadiah yang dibagikan dengan jumlah total Rp 529 juta per periode promosi dan telah banyak pula impian para pemenang yang telah terwujud. “Selain hadiah besar yang ditawarkan, berbelanja dengan Easy Shopping juga memiliki beberapa keuntungan, antara lain praktis dan nyaman, bebas risiko dan bebas khawatir, garansi 100% uang kembali jika pelanggan tidak puas. Easy Shopping juga akan mengganti barang baru jika barang yang diterima oleh pelanggan rusak,” imbuh Aliando M. Zibran, Departemen Media Marketing PT. Karisma Bahana Gemilang. Acara penganugerahan hadiah ditutup dengan sesi foto bersama para pemenang dan Brand Ambassador. Bagi Anda yang belum menjadi pemenang periode kali ini, bergegaslah! Ikuti terus program promosi Easy Shopping dan cari tahu cara memenangkan hadiahnya! Hubungi call center 0804-140-1028 sekarang juga atau kirimkan kupon yang tertera pada iklan Easy Shopping di media cetak ke PO BOX 6688 Slipi Jakarta Barat 11410. Sekali lagi, selamat kepada para pemenang dan sampai jumpa pada penganugerahan hadiah berikutnya! Mari wujudkan mimpi bersama Easy Shopping!

Yudisium Fakultas Ekonomi Unipas Universitas Panji Sakti Singaraja melepas 46 orang sarjana dari Fakultas Ekonomi yang bertempat di gedung auditorium Unipas, Senin (10/9). Keseluruhan calon wisudawan merupakan mahasiswa yang berada pada Konsentrasi Sumber Daya Manusia, Konsentrasi Keuangan, dan Konsentrasi Pemasaran. Dekan Fakultas Ekonomi Unipas I Nyoman Suandana, S.E.,M.Si., mengatakan ada penurunan jumlah yudisiawan dibanding tahun lalu namun secara kualitas ada peningkatan dengan nilai IPK tertinggi 3,73. Suandana mengimbau kepada para alumni agar dapat bersaing dalam dunia kerja dengan meningkatkan kualitas diri. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Fakultas Ekonomi Unipas, Suandana juga berencana membuka program dengan Konsentrasi Manajemen Rumah Sakit. Fakultas Ekonomi juga berkeinginan untuk membuka program Pascasarjana. Rektor Unipas Dr. Drs. I Ketut Gunawan, M.M. juga berharap agar para alumni dapat mempergunakan pengetahuan dan ketrampilan dalam dunia kerja untuk meningkatkan karirnya. Mereka yang belum bekerja diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja minimal untuk dirinya sendiri, sebab dalam perkuliahan mereka sudah dibekali kewirausahaan. -Wiwin


8

Bunda & Ananda

Pamer Ada Plus-Minusnya

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Bagi yang sering menonton film animasi “Upin dan Ipin” pasti me­nge­nal karakter Ehsan, ketua kelas Tadika Mesra yang selalu memimpin teman-temannya untuk mengucapkan ­“Selamat Pagi Cik Gu”. Bocah berkacamata ini menjadi karakter anak orang kaya dan dijuluki “­Intan Payung”. Sebagai anak orang kaya, ia bisa memiliki barang atau mainan baru. Tiap ada mainan baru yang keluar, ia memamerkan ke teman-temannya.

Sad Yuli Prihartati

A

pa yang digambarkan oleh karakter Ehsan kerap ditemui di kehidupan nyata. Ada saja anak yang senang menunjukkan atau memamerkan barang-barang baru miliknya. Bisa jadi barang tersebut hadiah ulang tahu, hadiah karena meraih prestasi, atau oleh-oleh. Umumnya anak yang pamer akan menuturkan dengan bangga, bagaimana ia bisa mendapatkan barang tersebut. Menurut Sad Yuli Prihartati, S.Psi, Psikolog, anak yang pamer bisa merupakan sebuah kebiasaan. “Apa yang dilakukan itu merupakan pengaruh lingkungan atau keluarga. Si anak ingin diakui bahwa ia memiliki sesuatu atau bisa melakukan sesuatu. Ini tak lepas dari kesalahan pola asuh. Kalau berkaitan dengan kepemilikan, ada kesan menomorsatukan milik. Sah-sah saja punya sesuatu tetapi bukan untuk dipamerkan. Biarkan orang lain yang menilai,” ujarnya. Psikolog yang aktif di Himpunan Psikologi (Himpsi) Wilayah Bali, Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia (APSI) Bali dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO) Bali ini menyarankan, lebih baik orangtua mengajarkan anak tentang persaingan sehat. Dalam hidup ada

mengurangi kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. “Untuk meminimalkan nilai minus ini, orangtua harus mengingatkan anak tentang memenuhi kebutuhan, bukan memenuhi keinginan. Ajarkan anak untuk selalu menghargai dan menghormati apapun pencapaian diri sendiri dan orang lain. Misalnya, jika melihat orang lain berhasil, berikan pujian dan motivasi diri sendiri agar bisa berhasil juga,” ujar ibu satu putri ini. Yuli menegaskan lagi tentang kebutuhan diatas keinginan. Saat ini banyak anak-anak yang diberikan ponsel oleh orangtuanya. Berikan pemahaman

bahwa anak kecil belum saatnya memiliki ponsel. Di level SMP pun kadang ada larangan membawa ponsel. Ini bisa menjadi acuan, punya HP pun tidak boleh dibawa. Karena itu, orangtua yang bijak dalam mengajarkan anak. Kalau perlu untuk komunikasi, pakailah ponsel orangtua. Kalau memang harus membelikan anak, berikan aturan, kapan dan dimana boleh digunakan. Orangtua tentu tidak ingin anaknya gagap teknologi. Kalau diberikan tanpa ada aturan, anak cenderung pamer dan mengabaikan kehidupan sosial, bahkan cenderung seperti hidup di dunianya sendiri.

Selain peran orangtua, peran guru di sekolah juga sangat penting untuk menghindari anak pamer berlebihan. Kadang tanpa sadar, guru memberikan pujian kepada siswa yang berhasil namun lupa memotivasi yang lain. “Kalau ada siswa yang berhasil, sampaikan di hadapan siswa lainnya. Ini teman kalian berhasil meraih prestasi. Mari kita beri applaus. Bagi yang lain, juga bisa meraih prestasi. Mari samasama menunjukan kualitas terbaik. Cara ini sangat elegan untuk memotivasi siswa yang lain untuk bisa meraih prestasi juga,” saran Yuli. – Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit PENCARI KAYU DAN SINGA

Seorang pencari kayu menebang sebuah pohon di dalam hutan. Tibatiba di sebelahnya mengaum seekor singa. “Haurgh…! Jangan tebang pohon itu! Aku raja hutan, pemilik semua Made Taro pohon!” katanya. Pencari kayu api yang ketakutan itu berpurapura tidak gentar. “Rupanya kamu belum kenal aku! Akulah yang bernama Manusia, makhluk yang ditakuti semua hewan!” gertak manusia itu sambil mengacung-acungkan kapaknya. “Bohong!” jawab Singa. “Bangsa Singa tidak pernah takut kepada Manusia. Singa dapat memakan Manusia, tetapi Manusia tidak dapat memakan Singa!” “Kamu tidak percaya?” jawab Manusia memperbesar keberaniannya. “Mari kita buktikan bersama-sama! Tadi kulihat di lereng gunung, seorang manusia menaklukkan seekor singa.” Kedua makhluk yang saling menyombongkan kekuatannya itu lalu pergi bersama-sama ke lereng

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

gunung. “Lihat itu!” kata Manusia menunjuk sebuah patung yang melukiskan seorang manusia mengendarai seekor singa. “Dalam sebuah pertarungan, Manusia mengalahkan Singa. Ketika hewan yang mengaku berkuasa itu hendak dibunuh, ia minta ampun. Ia bersumpah akan selalu tunduk kepada Manusia. Sumpah itu berlaku untuk semua keturunannya. Agar keturunannya tidak lupa, maka peristiwa bersejarah itu dibuatkan patung.” Singa melangkah mendekati patung itu. Katanya, “Patung itu buatan Manusia. Apabila Singa yang membuatnya, bentuk patung itu berbeda, yakni Singa merobek-robek Manusia.” Singa mundur selangkah, berancang-ancang hendak menyergap Manusia. “Haurgh….!” Matanya mendelik, giginya gemeretak dan kuku-kukunya siap untuk menerkam. Manusia itu membungkukkan badan, lalu katanya, “Kukira yang benar adalah, segala sesuatu dapat dilihat dari berbagai segi yang berbeda.” “Dor!” Terdengar tembakan bedil dari seonggok semak. Singa itu lari tunggang-langgang. “Untung ada aku!” kata seorang pemburu yang muncul dari semak itu. “Kalau tidak, kata-kata Singa pasti menjadi kenyataan.” (Afrika)

17

Tanaman Border Penegas Taman Kehadiran taman baik di areal rumah maupun di ruang publik sepertinya kini sudah menjadi hal yang tak bisa ditawar. Tidak harus memang, tetapi jika dicermati, sekecil apapun lahan, pemiliknya tetap berusaha untuk menghadirkan ‘ruang hijau’ dalam huniannya.

Barang yang bisa dipamerkan anak

kompetisi yang harus dilalui. Kompetisi ini berkaitan dengan prestasi dan sportivitas. Untuk bisa memiliki sesuatu atau bisa melakukan sesuatu tentu harus ada upaya. Ketika berhasil meraihnya, anak akan memiliki kebanggaan. Keluarga dalam hal ini orangtua memiliki peran penting juga jika membiasakan untuk menuruti permintaan anak. Anak yang berhasil meraih apa yang diinginkan dan menguasai sesuatu memiliki kepuasan dan ingin orang lain tahu. “Pamer ini dilakukan dengan woro-woro ke orang lain, ini punyaku. Atau, aku bisa melakukan ini,” ungkap Yuli. Dunia yang makin modern juga mempengaruhi anak yang suka pamer. Budaya konsumtif dan ingin memiliki sesuatu dianggap budaya terkini atau up to date. Biasanya, ini berkaitan dengan gadget. Anak yang memiliki gadget terbaru kerap menunjukkan ke teman-temannya. Hal ini menunjukkan ia mengikuti tren. Ada nilai eksistensi dan aktualisasi yang ingin diperlihatkan. Dari beberapa latar belakang penyebab anak pamer tersebut, psikolog yang sedang menyelesaikan pendidikan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana ini mengatakan, ada plus minus orang pamer. Nilai plusnya, orang yang suka pamer memiliki goal setting atau tujuan. Ketika tujuan tercapai, sah-sah saja ia ingin memperlihatkan ke orang lain. Mengenai penilaian, biarkan orang lain yang menilai. Orang yang pamer memiliki motivasi tinggi untuk berusaha agar tujuannya tercapai. Jika sudah tercapai, prestasi ini bisa dinilai orang lain. Nilai minusnya, muncul kesan sombong, ego sentris yang berawal dari egois, cenderung tidak akan menghormati dan menghargai orang lain, serta

Griya

T

aman memang mampu memberikan kesejukan dan sentuhan estetika. Selain itu, tanaman-tanaman di taman juga berfungsi sebagai penyerap polutan. Mungkin karena itu pula bisnis tanaman khususnya di Kota Denpasar tak pernah mati, meski 2 tahun terakhir penjualan tanaman mengalami penurunan signifikan. Hal ini diakui Eko Purwahyono, pemilik Wono Ayu Garden di seputaran Sanur, Denpasar. “Mungkin karena bisnis properti lesu. Kami kan ngikut properti. Kalau pun ada pembeli, paling beli sedikit untuk ditanaman di

rumahnya,” ungkap laki-laki asal Malang yang sudah 18 menggeluti bisnis tanaman ini. Berdasarkan fungsinya, tanaman dapat dikelompokkan meliputi, tanaman penutup lantai (ground cover), tanaman pembentuk dinding, pembatas dan pengarah, tanaman pengatap atau peneduh, dan tanaman sebagai ornamen/penghias atau pengisi ruangan. Namun, kali ini kita akan membahas tanaman border atau biasa juga disebut tanaman list/ pinggiran atau tanaman pembatas. Tanaman border ini bisa diibaratkan garis pinggir pada kertas atau pigura pada foto. “Jadi, bentuk

yang ingin ditampilkan lebih jelas terlihat, tanaman border ini mempertegas bentuk taman,” ucap Eko. Beberapa jenis tanaman border yang umum tersedia di pasaran, di antaranya Taiwan beauty, karambosa mini, kucai, bulu ayam (lili paris), sambang darah, dan erpah. “Konsumen saya lebih banyak mencari Taiwan Beauty karena tanaman ini berbunga. Ada yang berbunga putih, ungu,

kuning, pink,” jelasnya. Sama seperti tanaman border lainnya, perawatan Taiwan beauty cukup gampang. Hanya perlu pemupukan sebulan sekali dan dilakukan pemotongan dua bulan sekali. Taiwan beauty juga dikatakan Eko kerap dipakai sebagai tanaman penutup lantai (ground cover). Berdasarkan pengalamannya membibit langsung tanaman ini, ia menjelaskan jarak tanam yang bagus adalah 15 cm zigzag. Dengan begitu, pertumbuhannya bagus, perawatannya gampang, dan bentuknya akan bagus terkotak-kotak. Tanaman border lain yang berbunga cantik adalah karambosa mini. Bunganya berwarna putih berbentuk seperti bintang. Sementara untuk jenis tanaman border berdaun indah, ada beberapa piihan dengan keunggulannya masing-masing. Seperti erpah/bayam merah. Tanaman ini memiliki warna yang unik yang berdaunkan berwarna merah. Bulu ayam (lili paris), merupakan tanaman hias daun yang dapat tumbuh indoor dan menjadi favorit karena kuat hidupnya. “Tanaman ini cocok untuk pemula, asalkan jangan disiram berlebihan, sudah dapat tumbuh dengan baik,” ujar

Eko merekomendasikan. Berikutnya, ada sambang darah. Tanaman ini memiliki daun yang berwarna hijau tua pada bagian atas dan warna merah gelap pada bagian bawah. Tanaman ini sering dijumpai disekitar rumah. Ada juga yang menggunakan tanaman ini sebagai tanaman hias karena bentuk dan warnanya yang unik dan enak dipandang. Tanaman pangkas kuning, banyak juga yang ditanam untuk membuat ornamen bentuk (umumnya bentukbentuk bulat), pembatas maupun pagar taman. Di pasaran saat ini beredar dua jenis, yang berbeda warna daunnya, yang berwarna hijau, dan yang berwarna hijau kekuningan. Jenis kedua inilah yang umum disebut pangkas kuning. Tanaman pangkas kuning ini umumnya ditanam dalam jumlah banyak untuk membuat logo atau sebagai pembatas. Warna kuning yang dipancarkannya memang harmonis kalau dipadukan dengan warna lainnya. Terakhir, tanaman kucai. Tanaman ini bisa sebagai alternatif pengganti rumput pada taman indoor yang sedikit sinar matahari, karena tanaman ini sangat kuat sekali apabila diaplikasikan pada taman indoor dan dapat bertahan sangat lama dibandingkan dengan rumput taman. Tanaman kucai memiliki warna daun hijau gelap dan bentuk daun hampir sama dengan rumput cuma lebih tinggi. Untuk membentuk sebuah taman dengan menghadirkan tanaman border, Eko menyarankan jenis tanaman yang ditempatkan di depan dipilih yang pertumbuhannya agak lambat. Makin ke belakang, pilih tanaman yang pertumbuhannya agak cepat, seperti tanaman erpah. –Inten Indrawati


16

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Yudisium Fisip UNR

Sebanyak 78 mahasiswa S-1 Program Studi Ilmu ­Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Ngurai Rai (UNR) diyudisium, Rabu (14/9) di Gedung Serbaguna UNR.

Edukasi

Lepas 78 Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara

D

a r i 7 8 o ra n g ya n g d iy u d i sium, tiga orang dinyatakan lulus dengan predikat pujian, tertinggi satu diraih Putu Diah Ari Saputri (IPK 3,86), tertinggi dua I Komang Gede Hendrawan, (IPK 3,82), dan tertinggi ketiga I Made Srijata (IPK 3,80). Dekan Fisip UNR, Gede Wirata, S.Sos., S.H., MAP., dalam pengantarnya mengatakan, dari 78 yudisium yang dilepas, hampir 98% PNS dan 2% berkiprah di dunia politik dan pegawai swasta. “Ini artinya kami tidak meluluskan calon pengangguran atau menambah deretan pengangguran. Ini merupakan kebanggaan bagi kami, karena telah mampu mempertangungjawabkan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kami,” ujarnya. Wirata menambahkan, Fisip UNR terus-menerus melakukan pembenahan baik dari SDM maupun sarana dan prasarana. Saat ini, Fisip memiliki 13 dosen baik PNS dan dosen tetap yayasan, 6 orang berkualifikasi S-3 dan 4 orang sedang mengikuti tugas be-

Yudisium mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fisip UNR.

lajar program S-3 dan 3 orang berkualifikasi S-2. “Di bidang penelitian Fisip bekerja sama dengan instansi pemerintah dan swasta. Salah satu hasil penelitian kerja sama Fisip dengan KPU Gianyar dijadikan rujukan KPU pusat dan dijadikan buku,” kata Wirata. Rektor UNR Dr. Drs. Nyoman Sura Adi Tanaya, M.Si., berharap, para sarjana yang diyudisium bisa menjadi sarjana sujana dan menjadi insan yang bertanggungjawab atas kualitas keilmuan yang telah diraih serta dapat terus mening­katkan ilmu pengetahuan baik formal maupun nonformal, agar bisa me-

menangkan persaingan global. “Berbanggalah menjadi alumni UNR karena suadara menyandang nama besar pahlawan kita I Gusti Ngurah Rai. Oleh karena itu, implementasikan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan dalam masyarakat dan di tempat Anda bekerja,” ujarnya. Acara yang dihadiri pe­ ngurus Yayasan Jagadhita, Rektor UNR dan jajarannya, para Dekan di lingkungan UNR, mahasiswa Fisip, dan keluarga mahasiswa yang diyudisium tersebut, juga diisi dengan penandantanganan MoU pihak UNR dengan Telkom dengan

Tiga lulusan dengan predikat pujian berfoto bersama Dekan Fisip dan Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara.

bandwidth hingga 20 Mbps. “Dengan ditambahnya daya dan kekuatan akses internet ini,

Fisip dan UNR selangkah lebih maju dalam menerapkan IT,” kata Wirata. –ast

Angel’s Billabong terletak di Banjar Sumpang, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten klungkung Bali. Jaraknya pun tak begitu jauh dari

Pasih Uug. Angel’s Billabong adalah sebuah muara sungai yang berdekatan dengan laut, hanya saja muara sungai ini buntu, sehingga membuat air tergenang membentuk sebuah kolam berwarna hijau toska. Kolam Angel’s Billabong diapit oleh dua buah tebing karang dan airnya sangat jernih yang membuat para pengunjung mampu melihat dasar dari kolam. Kolam-kolam tersebut terbentuk karena air hujan dan air laut yang terjebak pada saat pasang. Kolam-kolam tersebut dilindungi oleh dinding-dinding kuat yang kokoh terbuat dari karang berwarna coklat keemasan. Kolam inilah yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk berkunjung. Tidak hanya berfoto selfie, para pengun-

Angel’s Billabong

jung juga kerap berenang di kolam tersebut. Selain itu, di pinggir laut terdapat pula batu karang yang seolah-olah menjadi batu pemecah ombak. Bentuknya datar dan bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk bersantai atau tempat untuk menikmati suasana laut dan kolam sekaligus. Untuk bisa menikmati kejernihan kolam ini, pengunjung sebaiknya berkunjung pada saat air sedang surut. Sehingga, pengun­jung bisa turun dan menikmati kolam tersebut untuk berfoto atau untuk mandi dan berenang. Selain itu, untuk bisa sampai ke kolam, pengunjung juga harus menuruni tebing batu karang yang sedikit curam terlebih dahulu. Namun, dengan sedikit berhati-hati pengunjung akan dengan mudah mencapai dasar kolam. Gusti Ayu Wulandari, wisatawan asal Denpasar saat ditemui di Angel’s Billabong mengatakan destinasi wisata ini sangat unik dan jarang ditemui di tempat lain. Meskipun akses menuju ke Angel’s Billabong jauh dari pelabuhan, tetapi itu tidak menjadi halangan baginya. “Angel’s Billabong bagi saya adalah mutiaranya Nusa Penida, sangat unik,” ujarnya. AYUNAN PANTAI MALIBU SUNRISE Sementara itu Pantai Malibu Sunrise juga menjadi incaran para wisatawan lokal maupun man-

Menjamurnya bandband indie di Buleleng bagai kendaraan tanpa roda, tidak akan jalan meski ada personil maupun lagu jika tidak tersedia tempat maupun event yang dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk promosi. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi sekelompok anak muda untuk membentuk komunitas sebagai wadah bagi band-band indie tersebut. Famusic khusus dibentuk untuk band indie pemula yang masih demam panggung.

Famusic

F

E

X DU

dengan konsep yang digunakan yaitu from music become a family. Hal tersebut diharapkan dalam komunitas para

Kirim surat Anda ke Redaksi ­Tokoh dan cantum­ kan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini ­diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ­Denpasar. dr. Oka Negara, FIAS

PAYUDARA BESAR

Penandatanganan MoU yang dilakukan Rektor UNR dengan Manajer Bisnis Telkom Denpasar.

Ayunan di Pantai Malibu Sunrise

canegara untuk dikunjungi. Pantai yang terletak di Dusun Semaya, Desa Suana ini awalnya hanya diketahui oleh masyarakat lokal. Namun, sejak dibuatkan ayunan pada 24 Agustus lalu, pantai ini mulai dipublikasikan dan dikenal lewat sosial media. Sehingga, membuat orang-orang manjadi penasaran dan datang untuk mengunjungi pantai tersebut. Akses jalan menuju Pantai Malibu Sunrise sangat mudah dibandingkan dengan destinasi pantai-pantai lainnya di Nusa Penida. Selain dapat menikmati ayunan di atas air yang menjadi ikon pantai ini, pengunjung juga dimanjakan

dengan papan-papan yang berisi tulisan seperti Will You Merry Me, I Love You, I Miss You, Best Friend, dan Happy Anniversary. Wayan Susmita yang ditemui Pantai Malibu Sunrise mengatakan, awalnya ia tahu tempat itu dari sosial media. Karena melihat ada ayunan yang berdiri di atas air, ia pun menyempatkan diri datang ke pantai tersebut. “Pantai ini sangat bagus, selain ada ayunan untuk memanjakan diri, ada juga papan kayu yang berisi tulisan. Pas banget untuk mencurahkan isi hati dengan kata-kata yang ada di papan kayu tersebut sambil selfie,” ujar Susmita. -Winatha

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

9

Ingin Mini Konser

amusic sendiri merupakan nama yang diambil de­ ngan makna family music yang artinya keluarga musik. Nama tersebut dipakai karena sesuai

S

Menikmati Panorama Angle’s Billabong Selama ini Nusa Penida dikenal dengan wisata spiritual. Banyak umat Hindu yang sembahyang ke Pura Dalem Ped, Pura Goa Giri Putri, Pura Puncak Mundi dan lainnya. Selain wisata spiritual, jangan lewatkan wisata pantai di Nusa Penida. Panorama keindahan pantainya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satunya adalah Angel’s Billabong.

Dara

Dok, apa benar laki-laki suka dengan payudara perempuan yang besar? Terus apa benar remasan lakilaki bisa memperbesar payudara? Satu lag, apa benar kalau payudara kendor itu artinya sudah pernah ML? (Gek Yanti, 22 th) Di dunia ini, tidak sedikit perempuan mengubah ukuran payudara agar terlihat indah. Banyak lakilaki berpikir bahwa bagian tubuh perempuan yang paling memiliki daya tarik seksual adalah payudara. Karenanya payudara sangat sering menjadi topik pembicaraan yang tiada habisnya. Bagi perempuan, tentu saja payudara merupakan aset yang sangat berharga. Walaupun sering dijadikan bahan obrolan, tetapi kenyataannya masih banyak yang tidak tahu apa saja yang harus dilakukan terhadap kesehatan payudara. Padahal dari segi kesehatan, ukuran payudara sesungguhnya bukanlah hal yang penting. Yang penting adalah merawatnya agar tetap bersih dan sehat. Sering kali perempuan berpayudara mungil merasa rendah diri saat membanding-bandingkan kepunyaannya dengan perempuan lain karena masih banyak yang berpikir bahwa payudara yang memikat adalah yang berukuran besar, padahal itu tidaklah benar. Akhirnya tidak heran jika ada yang sampai memperbesar payudaranya dengan menggunakan silikon misalnya, walaupun itu sesungguhnya berisiko. Sebenarnya, upaya pembesaran payudara bukan jaminan bisa meningkatkan potensi seksual seorang perempuan. Ada banyak kasus yang terungkap dimana saat payudara diperbesar justru membuat perempuan menjadi sesak dan merasa tidak nyaman saat berhubungan seksual, terlebih lagi sensitivitas payudara, terutama di bagian puting menjadi menurun pasca operasi pembesaran payudara. Justru sebaliknya, banyak perempuan yang memiliki payudara yang mungil tetapi performa seksualnya tetap bagus dan disukai oleh pasangannya. Kunci hubungan seksual yang hangat adalah mencintai pasangan dan menerima baik kelebihan maupun kekurangannya. Jangan lupa, diskusikan variasivariasi baru saat berhubungan. Kalau sudah begitu, payudara kecil bukan lagi sebuah masalah. Juga tidak benar kalau disebutkan semua laki-laki menyukai payudara perempuan yang besar, karena ukuran tentang seksi atau tidak sangat relatif dan tergantung pada persepsi masing-masing orang. Merupakan hal yang biasa kalau kita punya persepsi tentang pasangan yang ideal. Seperti juga perempuan, ada yang senang dengan laki-laki yang atletis dan berbulu badan lebat, ada yang lebih memilih laki-laki yang kurus tinggi berkacamata, ada yang suka yang laki-laki “chubby” dan lain-lain. Laki-laki juga begitu. Ekspektasi mengenai pasangan ideal ini bisa bervariasi menyangkut tinggi badan, warna kulit, rambut ikal atau lurus, sampai bentuk payudara. Selera laki-laki tentang payudara perempuan juga

banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Laki-laki suku Indian lebih suka perempuan yang berdada besar dan memanjang ke bawah, sedangkan laki-laki dari Eskimo lebih suka perempuan yang berdada rata. Jadi, tentu saja semuanya itu menjadi relatif. Sebuah pertanyaan yang memang sering ditanyakan adalah apakah benar sentuhan dan remasan lakilaki pada payudara perempuan dapat merangsang pembesaran payudara, tentu saja ini juga sebuah hal yang keliru. Ukuran payudara itu sangat individual yang sangat tergantung dari genetik. Sama seperti bentuk hidung, bentuk wajah, bentuk pinggul yang beda antara satu orang dengan yang lain. Tidak ada tindakan apapun yang dapat memperbesar atau mengecilkan payudara selain melalui suntikan atau bedah plastik. Jadi sekali lagi, berhati-hati saja, jika laki-laki bilang payudara bisa tambah besar dengan diremas-remas, janganlah dipercaya. Demikian juga masih banyak yang percaya jika perempuan yang payudaranya kendor dan melorot pasti sudah pernah berhubungan seks. Padahal ini juga salah. Bila payudara yang besar dengan jaringan lemaknya banyak, otomatis bentuknya akan turun. Juga dengan bertambahnya umur, terjadi perubahan pada payudara. Pada usia 20-30 tahun payudara didominasi kelenjar susu, jadi bentuknya sangat padat. Sementara di atas usia 30 tahun, kelenjar susu berubah menjadi jaringan lemak. Sehingga secara alami, di atas usia 35 tahun, komposisi payudara lebih banyak jaringan lemak dibandingkan dengan kelenjar susu, sehingga menjadi lebih kendor. Olahraga berperan penting dalam membentuk otot dinding dada, dan bila otot ini kencang, secara otomatis akan menarik payudara. Sekali lagi, ukuran dan bentuk bukanlah segalanya, tetapi justru yang perlu diperhatikan adalah merawatnya dan mendeteksi adanya gangguan sejak dini. Potensi seksual juga tidaklah selalu terkait dengan ukuran payudara. Perhatikan selalu keadaan payudara, rajinlah melakukan pemeriksaan payudara mandiri baik dengan melihat di cermin ataupun dengan meraba-raba dengan cermat di setiap area payudara. Hal ini disebut dengan “sadari” atau “periksa payudara sendiri”. Jika misalnya belum pernah berhubungan seks dan tidak sedang hamil, tapi payudara mengeluarkan cairan, atau pada payudara terdapat benjolan, payudara terasa selalu sakit padahal tidak sedang dalam masa menjelang atau sedang menstruasi, maka perlu segera melakukan pemeriksan lebih lanjut. Hal-hal tadi bisa jadi merupakan gejala awal tumbuhnya tumor, yang dapat menjadi kanker payudara. Kalau hal-hal seperti ini terjadi, jangan ragu, takut atau malu, segeralah periksakan diri ke dokter sebelum terlambat. Kalau dideteksi dan ditangani sejak dini, semua gangguan dan abnormalitas payudara dapat diatasi secara total dan akhirnya menjadi tetap sehat.

kan sehingga saat tampil dalam pementasan memang layak ditonton. Ia menambahkan jika sangat jarang ada kesempatan berkumpul sesama musisi dalam satu wadah. Yoshi tidak memungkiri jika peran Famusic belum dapat mempromosikan lewat iklan maupun video klip. “Sejauh ini kami memang benarbenar berdikari dengan dana yang diambil dari anggota,” jelasnya. Maka dari itu, tahun ini Famusic memfokuskan kegiatan dalam penggalian Anggota Famusic dana sehingga memiliki studio sendiri. “Astungkara anggota mengutamakan sikap kekelutahun depan kami punya studio sendiri, argaan. Komunitas yang dibentuk pada kalau tidak ada studio bagaimana juga Maret 2016 lalu ini ingin mengem- cara latihannya,” tambahnya. Selain fokus penggalian dana, Famusic bangkan kreativitas para musisi pemula khususnya yang ada di Buleleng. “Kami juga dalam waktu dekat ingin membuat tidak ingin kemunculan band indie hanya mini konser musik. Salah satu tempat sebatas lalu tenggelam begitu saja,” yang dilirik adalah Desa Menyali, Kecaungkap Yoshi Canari, sang leader. Ia me- matan Sawan. “Kalau di kota kayaknya nambahkan bahwa banyak musisi-musisi udah biasa, tetapi kalau di desa antusiasyang ada di Buleleng, namun mereka nya beda,” ujar Yoshi. Hal ini diyakini kebingungan karena tidak ada wadah. akan menjadi magnet tersendiri bagi “Mereka kebingungan mau kemana, mau para personil untuk terus berkarya. Komunitas yang baru berjalan selama manggung di mana,” ungkapnya. Disam­ ping itu, Famusic ingin mendekatkan lima bulan ini masih minim anggota. Saat ini anggota yang berhasil direkrut musik kepada masyarakat. Band yang sudah masuk ke dalam ada 4 band indie pemula. Krisis angkomunitas akan diasah kemampuan gota ini dikarenakan banyak band yang bermusiknya dengan sharing bersama. belum paham dengan misi dari Famusic. “Kami belajar sama-sama dan membuat “Banyak juga yang meboye bahkan kami tempat performance bersama-sama mengatakan jika kalian bermusik untuk juga,” tambahnya. Dalam Famusic, ang- mencari uang bukan di sini tempatnya,” gota band akan benar-benar dipersiap- pungkasnya. -Wiwin


10

Mozaik

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Style

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Gaya Si Kecil

dengan

Endek

Setiap orangtua tentunya ingin memberikan yang terbaik ­untuk buah hati mereka, termasuk dalam hal berpakaian. Apalagi saat ini semakin banyak desainer yang mendesain busana anak-anak yang keren dan unik . Seperti yang ­terlihat dalam ajang lomba fashion show di arena Food Truck Festival di Taman Kota Lumintang belum lama ini.

Uji Mental Anak-anak Transmigran B

eberapa kegiat­ an yang digelar di antaranya lomba lari karung, junjung botol dan tarik tambang dari bidang olahraga. Semua terlibat, mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga dewasa, bahkan lansia. Dari segi keagamaan, digelar lomba dharma wacana untuk siswa SMP dan SMA, lomba Tri Sandya untuk siswa SD kelas 1 sampai dengan kelas 3, lomba membuat klakat untuk SD, SMP, dan SMA serta lomba ngulat tipat untuk tingkat SD, SMP, dan SMA Kegiatan ini digelar untuk memeriahkan Hari Raya Galungan di tanah rantau. Mayoritas warga merupakan transmigran dari Bali

Ratusan masyarakat di Desa Mayasari, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, tumpah ruah menuju lapangan di sekitar bale banjar setempat, Kamis (8/9). Mereka menyaksikan dan mengikuti beragam kegiatan yang digelar muda-mudi Wira Laksana Desa Mayasari serangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. sejak tahun 1981. Sementara untuk lomba yang berkaitan dengan keagamaan, digelar untuk melatih mental anak-anak agar terbiasa tampil di depan umum. Mengingat setiap tahun selalu digelar Utsawa Dharma Gita baik tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional, sehingga ke depan diharapkan ada anak-anak dari Desa Mayasari yang ikut tampil

Kegiatan lomba dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan di Poso

mewakili kecamatan di tingkat kabupaten, atau mewakili kabupaten Poso di tingkat propinsi bahkan mewakili Sulawesi Tengah di tingkat nasional. “Itu bukan hal yang mulukmuluk. Karena setiap anak punya potensi, apakah dia dari desa ataupun dari kota. Makanya, kami yakin anak-anak Desa Mayasari juga punya potensi. Tinggal kami sekarang yang berupaya sesering mungkin menyiapkan arena untuk mereka sering tampil sebagai latihan untuk uji mental,” ujar Ketua Muda Mudi Wira Laksana Desa Mayasari, Komang Sukanada didampingi salah seorang pengurus mudamudi, Wayan Murdiana. Diakui Sukanada, anak-anak di desa Mayasari banyak yang memiliki kemampuan. Namun karena jarang tampil, mereka cenderung kurang percaya diri untuk mengikuti lomba dan tampil di depan umum. “Ada yang kemampuannya bagus, diminta tampil, belum apa-apa sudah pingsan duluan,” ungkapnya. Kare­nanya, mereka

menggelar kegiatan-kegiatan sesering mungkin. Apakah saat Hari Raya Galungan atau pada saat hari ulang tahun muda mudi, bulan Desember “A p a l a g i , masyarakat dan orang tua sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kalau muda-mudi kekurangan dana untuk melakukan persiapan, bahkan para orang tua secara sukarela dipungut dana,” sebutnya. Sukanada dan Murdiana yang merupakan lulusan STAH Palu, mengakui di Desa Mayasari masih menemui berbagai kendala untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak. Terutama dari segi keagamaan dan seni budaya. Kegiatan ini melibatkan anakanak dan masyarakat di Desa Mayasari (Bali I dan Bali II). Ke depan, akan dirancang kegiatan serupa yang melibatkan anak-

anak dan masyarakat dari desa transmigrasi lain di sekitarnya seperti Desa Salindu, Wayura, Brati dan lainnya. “Sekarang kegiatannya mendadak. Belum lagi kami butuh koordinasi dengan desa desa lain, koordinasi soal penjurian dan lain sebagainya. Disamping ketersediaan dana juga yang belum memungkinkan untuk menyelenggarakan kegiatan yang lebih besar. Mudahmudahan ke depan kami bisa. Bagaimanapun, semangat kebersamaan dan identitas ke-Bali-an harus tetap dijaga. Meski kami lahir dan besar di luar Bali,” tambah Murdiana. –Bali Putra

Bagi Daging Kurban dengan Sistem Jemput Bola Perayaan Idul Adha 1437 H, digelar Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Gedung Serbaguna LDII Provinsi Bali, Senin (12/9). Menurut Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah LDII Provinsi Bali, H. Kafilari, S.E. yang didampingi Sekretaris DPW LDII Bali, H. Agus Purmadi, S.H., perayaan kali ini mengambil tema “Membangun Karakter dengan Meneladani Nilai-nilai Ibadah Kurban”. Dalam kesempatan ini, DPW LDII Wilayah Bali memo-

tong 85 ekor sapi dan 252 ekor kambing sebagai kurban. Dari semua hewan kurban ini, dijadikan 10.000 bungkus daging. Pembagiannya dilakukan di semua kabupaten/kota se-Bali. Pemberian daging kurban tidak hanya untuk umat Islam tapi juga semua lapisan masyarakat sekitar. “Kami memakai sistem jemput bola. Masing-masing Ketua PAC LDII mendata warga yang berhak mendapatkan daging kurban. Selanjutnya warga yang didata

mendapatkan daging. Ada tiga golongan yang berhak mendapatkan daging. Orang yang kurban, orang yang tidak meminta, dan orang yang meminta. Daging tidak hanya untuk umat Islam saja tetapi semua lapisan masyarakat. Di sinilah cerminan umat Islam menjaga kerukunan dengan umat beragama lainnya,” kata Kafilari. Ia menambahkan kegiatan ini juga bekerja sama dengan Desa Pakraman Padang Sambian. Drs. I Kompiang Gede, ang-

Suasana Hari Raya Idul Adha di Gedung Serbaguna LDII Provinsi Bali

gota DPRD Denpasar yang hadir dalam perayaan Idul Adha di LDII ini menambahkan kegiatan ini sebagai bentuk toleransi antar umat beragama. “Ini perlu men-

jadi contoh bagi masyarakat. Ada berbagai agama di masyarakat, mari sama-sama saling menjaga kerukunan,” tegas anggota Komisi IV ini. –Ngurah Budi

G

aya dan model busananya sangat menarik sesuai dengan tema “Busana Casual Touch of Endek”. Produk lokal Bali bernama endek hadir dengan segala ciri khas dan keunggulannya. Para orangtua pun piawai memilih, hingga menjadikan si anakbukan hanya semakin stylish dan fashionable tanpa mengenyam­

pingkan rasa nyaman. Modelnya pun sangat beragam, dengan kreativitas memadukan bermacam-macam motif dan kain polos tanpa menghilangkan karakter anak-anak. Mereka pun tampil penuh percaya diri, cute dan menggemaskan. Berikut beberapa gaya dan model busana anak yang terpilih untuk pekan ini. –Sri Ardhini

15


14

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Masih banyak diantara kita yang mengabaikan perawatan tubuh. Padahal, perawatan tubuh sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang memiliki segudang aktivitas se­ tiap harinya. Mulai dari padatnya jadwal kerja, hingga kejarkejaran waktu yang seringkali mesti diha­ dapi. Ketika denyut kehidupan dipenuhi de n ga n k e sibu­k an, namun setelah lelah dengannya sering­k ali hanya menyisakan waktu sedikit untuk beristirahat. Efeknya badan mudah lelah dan pikiran mudah stres.

B

egitu juga yang disampaikan Jero Melati, pemilik Adibi Salon & Spa di Denpasar. Dikatakannya rutinitas sehari-hari adalah sumber segala kepenatan dan ketegangan otot. Tanpa sadar kesehatan tergerogoti oleh kesibukan yang ada. Maka, salah satu cara mengatasinya, dan menyegarkan tubuh adalah segera memanjakan diri

Segar dan Cantik dengan dengan body treatment. Di sini terapis bakal melakukan tugasnya memberikan pijatannya dimulai dari kaki menuju ke atas hingga ke leher. Kemudian dilanjutkan dengan membalikkan badan, kembali di pijat dari kaki sampai ke atas. Terakhir pijatan dilakukan pada kepala. Menurut Jero Melati, body treatment merupakan satu dari sekian banyak kegiatan yang bagus dipilih. Sentuhan yang diberikan terapis selama proses perawatan sangat ampuh untuk mengusir rasa lelah. Selain menjadikan tubuh dan pikiran segar kembali, juga memiliki efek meremajakan kulit. Pijatan katanya, akan dapat dikmati dengan rileks karena terapis yang melakukannya tidak sembarangan. Mereka bukan hanya bekerja dengan Metode khusus, sehingga pijatan pun akan terasa semakin menenangkan. Selain mendapatkan relaksasi tubuh itu kata Jero Melati pijatan juga merevitalisasi otot. Apalagi,

Jelita

Body Treatment

saat seseorang berada di bawah stres atau ketegangan maka, pijatan mejadi pilihan yang baik. Apalagi pijatan yang benar adalah media kegiatan yang mampu mengendurkan otot tegang dalam tubuh, menjadi rileks dan segar. Setelahnya bukan hanya aliran darah menjadi lancar tapi badan yang segar pun akan dirasakan. Jika, ingin sekaligus merawat kulit, tidak hanya untuk sehat berseri tapi juga halus dan cantik, maka lanjutkan dengan luluran, yang berfungsi untuk pengelupasan kulit mati yang sangat penting untuk kulit tubuh. Kulit mati, lanjutnya akan membuat kulit terlihat lebih kusam. Dengan membalurkan lulur scrub ke seluruh tubuh, digosok dengan gerakan melingkar sampai kulit mati dan kotoran terangkat. Setelah dibilas dengan air hangat, kulit pun dipastikan berubah cerah. Hal ini juga diiyakan oleh Bu Metti (42), yang ketika usai menikmati body treatment. Terlebih katanya ke-

Bugar Orangtua mempunyai tanggung jawab mengajarkan anak akan pentingnya tubuh yang sehat, serta bagaimana cara menjaga menjaga kesehatan anak sejak dini.

A

da beberapa faktor utama yang harus diperhatikan dalam menjaga kesehatan anak. Pertama, sistem pertahanan tubuh yang baik. “Untuk mendapatkan sistem pertahanan tubuh yang baik tentu diperlukan nutrisi yang baik dan vaksinasi,” kata dr. I Nyoman Arie Purwana, Sp.A. Nutrisi yang baik salah satu faktor dalam menjaga pola makan anak. Yang dinamakan anak usia 0-18 tahun, termasuk remaja. Setiap masa kehidupan anak, faktor nutrisinya berbeda-beda. Usia 0-6 bulan harus diberikan ASI eksklusif, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI). ASI dilanjutkkan sampai usia 2 tahun. Setelah dua tahun, baru anak itu makan dan minum seperti orang dewasa. Ada 13

tika pijatan terapisnyadan suasana lingkungannya juga sangat mendukung untuk memperoleh rasa nyaman dan relaksasi sebagaimana yang diharapkannya. Bagi Bu Metti, memanjakan tubuh dengan perawatan secara khusus, merupakan relaksasi yang menyenangkan setelah lelah beraktivitas. Ia pun mengaku setelah menjalani perawatan, selain tubuh juga pikirannya segar kembali dan siap menghadapi aktivitas berikutnya. -Sri Ardhini

Jero Melati

Tak Cukup dengan Sunblock

Punya wajah cantik, tampan, dan kulit halus tentu menjadi dambaan setiap orang. Tetapi, bagaimana jika muncul bintik-bintik cokelat atau hitam di kulit wajah Anda? Kerapkali problem pigmentasi itu menyebabkan warna kulit tampak lebih gelap atau tidak merata sehingga mengganggu penampilan dan tak jarang mengurangi rasa percaya diri. Meski begitu, masalah pigmentasi bukan akhir dari segalanya. Selain wajib menggunakan sunblock dan sebisa mungkin menghindari paparan langsung sinar matahari, Anda juga perlu merawat kulit dengan tepat. Miracle Aesthetic Clinic menghadirkan berbagai perawatan dan produk unggulan untuk mengatasi problem kulit Anda. Even out Your skin tone. Miracle Bubble C Facial Ingin kulit cerah dan sehat? Manjakan kulit Anda dengan vitamin C. Miracle Bubble C Facial adalah facial dengan bahan aktif dari vitamin C murni dan enzyme peel khusus yang dicampur dengan oxygen booster. Perawatan itu bermanfaat untuk memudarkan flek, melasma, pigmentasi bekas jerawat, dan meratakan warna kulit serta meregenerasi sel, menambah antioksidan pada kulit serta mengembalikan kekenyalan kulit. Dinamai Bubble C Facial karena facial unik ini akan menghasilkan busa menyerupai bubble akibat reaksi aktif dari peeling pada kulit. Pada tahap akhir facial, diaplikasikan masker brightening yang mampu mengoptimalkan efek pencerahan kulit. Kulit wajah sehat berkilau kini bukan lagi impian. Miracle Diamond Peel Plus Anda harus mencoba salah satu perawatan favorit di Miracle yang satu ini. Miracle Diamond Peel Plus (MDPP) adalah peeling yang unik karena mengombinasikan mikrodermabrasi dengan dermal infusion. Mikrodermabrasi dengan diamond tip berfungsi untuk

mengangkat sel kulit mati dan dermal infusion. Tujuannya adalah memasukkan bahan aktif tertentu sesuai dengan problem kulit yang dialami seperti kulit kering, keriput di wajah dan leher, poripori besar, jerawat dan bekasnya, serta hiperpigmentasi (flek). Miracle Vital MD Brighten Laser Sempurnakan rangkaian perawatanmu dengan Miracle Vital MD Brighten Laser. Perpaduan teknologi laser MedLite C6 dengan panjang gelombang tertentu dan serum vitamin C yang dimasukkan melalui alat injector khusus itu bertujuan untuk mengatasi problem hiperpigmentasi (flek, melasma), warna kulit tidak merata, dan kulit kusam secara maksimal. Laser diaplikasikan untuk mengatasi penumpukan pigmen di kulit, meremajakan, menghaluskan tekstur kulit dan mencerahkan warna kulit wajah. Dilengkapi dengan serum yang kaya akan vitamin C dan bahan aktif khusus untuk meratakan warna kulit, mencerahkan, dan mengembalikan kekenyalan kulit. Perawatan Miracle Vital MD Brighten Laser menjadikan kulit lebih cerah, halus, sehat dan bercahaya. Miracle Whitening Infusion Melakukan perawatan sambil santai membaca majalah, mengapa tidak? Miracle Whitening Infusion adalah terapi mencerahkan warna kulit dengan pemberian bahan tertentu menggunakan metode infuse. Di antaranya, bahan antioksidan dan bahan aktif lain yang membantu mengatasi efek radikal bebas, menghambat produksi pigmen kulit, meningkatkan elastisitas, dan kelembapan kulit serta mempunyai efek pengen­ cangan kulit. Segera kunjungi Miracle Aesthetic Clinic Jl. Letda Tantular No. 47 A Renon, Telp. (0361) 246148 / 08123849929. Nikmati berbagai penawaran istimewa untuk Miracle Bubble C Facial, Diamond Peel Plus, Vital MD Brighten Laser, Whitening Infusion, dan perawatan lain serta produk-produk unggulan Miracle sampai 30 September 2016. Dapatkan diskon spesial serta gratis perawatan dan produk untuk solusi tepat problem pigmentasi kulit Anda. L­ et’s experience the miracle touch!

dr. I Nyoman Arie Purwana, Sp.A.

gizi seimbang dari Kemenkes, yang harus diperhatikan bagi para orangtua untuk memberikan nutrisi yang baik kepada buah hatinya. “Kalau sam­pai usia 2 tahun anak belum bisa makan seperti orang dewasa, artinya, pola makan yang diajarkan salah, misalnya, terlalu banyak mengonsumsi camilan, tidak diperkenalkan makanan padat, terlalu banyak mengonsumsi susu,” kata dosen pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa ini. Ironisnya, orangtua sering memberikan makanan kepada anaknya makanan tidak sehat, seperti makanan siap saji, atau camilan dengan garam dan gula tinggi. Ia menyebutkan, ada tahapantahapan makanan yang harus diberikan kepada anak, mulai dari makanan cair, meningkat lagi menjadi seperti bubur, makanan

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

11

Kiat Sehat bagi Anak

padat, kemudian makanan seperti orang dewasa. Selain itu juga, perlu diperhatikan, keteraturan waktu makan. Rata-rata anak lapar tiap 5-6 jam. Waktu jam makan tidak boleh diubah-ubah. “Kalau memang makan pagi pukul 8, makan siangnya pukul 13.00, begitu juga keesokan harinya. Lama waktu makan tidak boleh lebih dari 20-30 menit. Saat makan, tidak boleh ada yang menganggu, misalnya, sambil menonton tivi, atau jalan-jalan. Variasi makanan harus bergantiganti dan ajak anak terlibat dalam menyediakan makanan,” kata dokter yang praktik di RS Kasih Ibu dan Apotik Dian Farma Kedonganan ini. Selain pola makan, olahraga juga sangat dianjurkan kepada anak-anak, namun, intensitasnya berbeda-beda sesuai tahapan. Olahraga untuk anak sampai remaja berbeda-beda. Aktivitas berstruktur atau olahraga anak sebaiknya dilakukan 30-60 menit tiap hari. Olahraga yang baik seperti lari, naik sepeda, dan berenang. “Dengan kemajuan teknologi, anak-anak lebih banyak duduk bermain gadget berlama-lama atau menonton televisi melebihi waktu. Padahal, untuk batas maksimal menatap layar hanya 2 jam per hari,” ujar dr. Arie. Ia menambahkan, untuk menjaga pertumbuhan dan daya tahan tubuh anak, tidur yang cukup juga penting. Tidur pada anak bervariasi, usia 2 tahun 10-12 jam, remaja 8 jam, anak sekolah 8-10 jam. Anak-anak yang tidak suka tidur siang sebenarnya tidak masalah, asalkan, jumlah tidur seharinya komplit. Tidur siang juga tidak boleh lama, hanya 1-2 jam. Pukul 16.00 anakanak harus sudah bangun dari tidur siang. Waktu jam tidur malam pukul 21.00. Faktor kedua yang perlu diperhatikan dalam mejaga

kesehat­a n anak adalah, faktor lingkungan. Lingkungan sekitar anak juga harus sehat. Lingkungan harus bersih, tidak ada kontaminasi dengan asap rokok, atau barang-barang yang berbahaya di sekitar anak tersebut. Faktor ketiga, kuman. Kalau kumannya jinak tentu tidak menyebabkan penyakit, kalau ganas tentu saja bisa mengakibatkan penyakit. Penyakit yang biasa menyerang anak-anak, batuk pilek, dan diare. Namun, tidak selalu batuk dan pilek harus diberikan obat termasuk pemberian antibiotik sembarangan. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, kapan sebaiknya anak diberikan obat. Hal lain yang tidak boleh dilupakan, hubungan interaksi dengan keluaga. Keluarga memberikan dukungan yang sangat penting dalam perkembangan

“Dengan kemajuan teknologi, anak-anak lebih banyak duduk bermain gadget berlama-lama atau menonton televisi melebihi waktu. Padahal, untuk batas ­maksimal menatap layar hanya 2 jam per hari,” anak. Orangtua menjaga anak secara utuh memberikan dukungan moril dan emosional, contoh kecil, orangtua sakit, gunakan masker agar tidak menular ke anak. memberikan perhatian dan kasih sayang ke anak, waktunya makan, tidur, bermain bersama, mengajarkan sembahyang, orang-

tua mengajarkan banyak aspek. “Anak-anak belajar dari orangtua dalam segala hal. Kalau ada anak bermasalah, orangtua yang harus disalahkan. Anak-anak tidak cukup diberikan nutrisi makanan, tapi juga, nutrisi ke otak dan jiwanya sehingga nutrisinya lengkap,” kata dr. Arie. –Wirati Astiti


12

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Egg Dishes for Breakfast

Omelet

Panaskan mentega pada wajan, tuang telur yang sudah dikocok tambahkan garam dan merica. Masukkan bahan isian seperti potongan bawang Bombay. Tumis hingga aroma harumnya tercium,

Kuliner

kemudian masukkan bawang putih, paprika, jamur, tomat, ham, sosis, bacon, lalu tumis hingga bahan menjadi matang. Tunggu sampai telur matang, angkat dan lipat menjadi dua, hidangkan di piring.

Telur mudah diolah menjadi hidangan apa saja dan enak dipadukan dengan karbohidrat apa pun, seperti nasi dan roti. Berikut ada beberapa olahan telur yang mudah untuk sarapan. Bersama mahasiswa Semester I Manajemen Tata Boga, STPBI/SPB, dan dipandu tiga instruktur chef, Nyoman Sudiyasa, Made Sukarja, dan Wayan Langen, kita belajar Chef Pereanmembuat egg dishes for breakfast. Selamat mencoba.

Poached Egg Poached egg atau telur ceplok rebus adalah gaya memasak telur dengan cara direbus perlahan di air yang sedikit mendidih (simmering). Cara membuat: - Pecahkan telur dan tempatkan di mangkuk kecil. Isi panci dengan air setinggi 5 cm dari dasar. Didihkan air. Tambahkan Âź cangkir cuka putih. Kecilkan api hingga air cukup panas mengepul atau mendidih dengan gelembung didih kecil saja. - Dekatkan mangkuk telur ke panci, dan pelan-pelan tuang telur ke air mendidih. Masak telur selama satu sampai dua menit, kemudian angkat.

- Gunakan sendok berlubang untuk menciduk telur dari air mendidih lalu keringkan telur di atas serbet bersih. Diamkan sejenak hingga kering sebelum disajikan di atas roti.

Cara membuat: Kocok telur, susu, garam, dan merica. Kocok hingga semua tercampur rata. Panaskan mentega di wajan anti lengket/teplon dengan api sedang, kemudian tuang adonan telur. Jika adonan telur mulai mengeras, bolak-balik menggunakan garpu. Pastikan telur matang merata. Kemudian, angkat dan sajikan di atas roti.

Pizza adalah sejenis roti bundar, pipih yang dipanggang di oven dan biasanya dilumuri saus tomat serta keju dengan bahan makanan tambahan lainnya yang bisa dipilih. Keju yang dipakai biasanya mozzarella. Aneka isian daging dan sayuran juga bisa ditaruh di atas pizza, seperti bawang bombay, paprika, tomat, nanas, semolina, capers, anchovy fillet, bacon, sosis, ham, dll. Pan Pizza, Margarite, dan Napoli Pizza, adalah tiga jenis pizza paling sederhana yang bisa dipraktikkan. Kunci membuat pizza, harus tahu adonan dasar pizza (kulit), dan saus pizza. Untuk isian tergantung dari kesukaan Anda. –Wirati Astiti

Bahan: 1 kg : 500 cc : 1 butir : 20 gr : 15 gr : 90 ml :

Sunnny Side Up Eggs (Telur mata sapi) Cara membuat: - Panaskan wajan anti lengket, kemudian tuangkan minyak goreng. - Pecahkan telur di atas wajan. Usahakan jangan sampai kuning telurnya pecah. - Goyang-goyangkan wajan, agar telur matang sempurna, namun, jangan sampai telur pecah. Satu atau dua menit, angkat telur dan letakkan di piring.

Sebutan burger ditujukan untuk steak yang dibuat dari daging cincang. Konon asalnya dari Hamburg Jerman, dan karenanya menyandang nama hamburger. Tak ada keharusan untuk menyajikan burger dengan roti. Bisa saja disajikan tanpa roti. Bahan utamanya juga tak harus daging sapi, bisa daging ayam, ikan atau seafood. Bentuknya juga boleh bundar pipih atau lonjong pipih. Sekarang kita akan belajar membuat daging burger dengan dua pilihan daging, ayam dan sapi. Caranya, set-

elah daging dihancurkan, kemudian tambahkan bawang putih cincang, bawang bombay cincang, white bread, susu, peterseli cincang, garam, dan merica. Kemudian bulatkan daging dengan berat 125 gram. Bekukan di freezer. Jika akan disajikan, keluarkan dari freezer kemudian dimasak di pan sekitar 15 menit sampai matang. Siapkan roti, beri daun selada, tomat, bawang bombay, dan taruh di daging tadi. Tambahkan keju, siap sajikan bersama kentang dan salad. – Wirati Astiti

Cara membuat: - Tomat segar direbus, ambil isinya saja. Sisihkan. - Tumis bawang putih cincang, masukkan daun basil dan oregano. - Masukkan tomat isi, dan tomat pasta. - Beri bumbu garam dan merica. Siap digunakan sebagai saus pizza.

tepung terigu air telur ayam yeast garam olive oil

Beef Burger

Mahasiswa Semester I Manajemen Tata Boga, STPBI/SPB, dan tiga instruktur chef, Nyoman Sudiyasa, Made Sukarja, dan Wayan Langen

Cara membuat: Semua bahan dicampur menjadi satu, masukkan ke dalam mesin mixer, proses 10 menit, sampai adonan kalis. Bagi adonan menjadi 150 gram. Diamkan 20 menit. Kemudian giling bentuk bulat. Saus Pizza Bahan: 1 kg : tomat segar 120 gr : tomat pasta 30 gr : bawang putih cincang 10 gr : oregano 10 gr : daun basil 60 ml : olive oil Garam dan merica hitam secukupnya

Bebek Ungkep Lombok

Sarwan Bahan : 1 ekor : bebek, potong menurut selera 2 sdm : air jeruk nipis 1 sdt : garam 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 100 ml : santan kara 1 liter : air 2 ruas : jari jahe, memarkan 4 lembar : daun jeruk purut 1 biji : kaldu blok rasa ayam Gula, garam, minyak secukupnya

Bumbu yang Dihaluskan : 10 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 10 buah : cabe besar merah, rebus 20 buah : cabe rawit hijau 4 butir : kemiri sangrai Cara Membuat : Lumuri bebek dengan jeruk nipis dan garam, remas-remas, diamkan selama 5 menit, cuci bersih lalu rebus atau presto dengan air, jahe dan serai sampai bebek benarbenar lunak dan empuk, tiriskan. Tumis bumbu halus sampai harum dan daun jeruk, lalu masukkan bebek, aduk, kasih

sedikit sisa air kaldu sisa rebusan bebek. Masukkan garam, kaldu blok, aduk-aduk biar tercampur merata, diamkan sampai mendidih dan air berkurang, lalu masukkan santan kara, aduk-aduk hingga matang dan bumbu meresap. Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng dan daun kemangi.

Macaroni Keju Sayur Kornet

Chicken Burger

13

Pan Pizza, Margarite, dan Napoli Pizza Dough Pizza

Chicken Burger dan Beef Burger Scrambled Egg

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Bahan : 200 gr : kornet 100 gr : wortel, potong dadu kecil ½ buah : bawang bombai cincang halus 3 siung : bawang putih cincang halus 1 batang : bawang prei cincang kasar 2 sdm : tepung terigu 150 gr : macaroni rebus, tiriskan 100 gr : keju parut 100 ml : air kaldu 1 sdm : margarin

Es Sehat Segar Nestle

Bahan : 125 gr : stroberi 1 sdm : madu 50 ml : yoghurt stroberi 25 gr : susu Dancow rasa madu seduh 100 ml : air Es batu secukupnya

irisan wortel dan tepung terigu, aduk-aduk hingga merata. Tuang kaldu, masak hingga mengental, 150 ml : air hangat tambahkan macaroni keju parut, 150 gr : Nestle Dancow Rasa Madu lada bubuk, garam, gula, adukGula, garam, kaldu bubuk, lada bubuk aduk hingga merata dan matang. secukupnya - Tuang larutan susu Nestle Dancow Rasa Madu, aduk-aduk merata, Cara Membuat : masak hingga matang lalu angkat, - Panaskan margarin, lalu tumis cetak dalam mangkok atau sesuai bawang putih dan bawang bombai dengan selera, diamkan, agak dan daun bawang hingga harum. dingin lalu keluarkan dari ceta- Masukkan kornet, masak hingga kan, sajikan, tambahkan dengan berubah warna lalu masukkan parutan keju.

Cara Membuat : Bersihkan stroberi dan belah jadi 2 bagian, campur semua bahan jadi satu lalu blender sampai lembut. Siap disajikan dengan tambahan madu dan es.


12

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Egg Dishes for Breakfast

Omelet

Panaskan mentega pada wajan, tuang telur yang sudah dikocok tambahkan garam dan merica. Masukkan bahan isian seperti potongan bawang Bombay. Tumis hingga aroma harumnya tercium,

Kuliner

kemudian masukkan bawang putih, paprika, jamur, tomat, ham, sosis, bacon, lalu tumis hingga bahan menjadi matang. Tunggu sampai telur matang, angkat dan lipat menjadi dua, hidangkan di piring.

Telur mudah diolah menjadi hidangan apa saja dan enak dipadukan dengan karbohidrat apa pun, seperti nasi dan roti. Berikut ada beberapa olahan telur yang mudah untuk sarapan. Bersama mahasiswa Semester I Manajemen Tata Boga, STPBI/SPB, dan dipandu tiga instruktur chef, Nyoman Sudiyasa, Made Sukarja, dan Wayan Langen, kita belajar Chef Pereanmembuat egg dishes for breakfast. Selamat mencoba.

Poached Egg Poached egg atau telur ceplok rebus adalah gaya memasak telur dengan cara direbus perlahan di air yang sedikit mendidih (simmering). Cara membuat: - Pecahkan telur dan tempatkan di mangkuk kecil. Isi panci dengan air setinggi 5 cm dari dasar. Didihkan air. Tambahkan Âź cangkir cuka putih. Kecilkan api hingga air cukup panas mengepul atau mendidih dengan gelembung didih kecil saja. - Dekatkan mangkuk telur ke panci, dan pelan-pelan tuang telur ke air mendidih. Masak telur selama satu sampai dua menit, kemudian angkat.

- Gunakan sendok berlubang untuk menciduk telur dari air mendidih lalu keringkan telur di atas serbet bersih. Diamkan sejenak hingga kering sebelum disajikan di atas roti.

Cara membuat: Kocok telur, susu, garam, dan merica. Kocok hingga semua tercampur rata. Panaskan mentega di wajan anti lengket/teplon dengan api sedang, kemudian tuang adonan telur. Jika adonan telur mulai mengeras, bolak-balik menggunakan garpu. Pastikan telur matang merata. Kemudian, angkat dan sajikan di atas roti.

Pizza adalah sejenis roti bundar, pipih yang dipanggang di oven dan biasanya dilumuri saus tomat serta keju dengan bahan makanan tambahan lainnya yang bisa dipilih. Keju yang dipakai biasanya mozzarella. Aneka isian daging dan sayuran juga bisa ditaruh di atas pizza, seperti bawang bombay, paprika, tomat, nanas, semolina, capers, anchovy fillet, bacon, sosis, ham, dll. Pan Pizza, Margarite, dan Napoli Pizza, adalah tiga jenis pizza paling sederhana yang bisa dipraktikkan. Kunci membuat pizza, harus tahu adonan dasar pizza (kulit), dan saus pizza. Untuk isian tergantung dari kesukaan Anda. –Wirati Astiti

Bahan: 1 kg : 500 cc : 1 butir : 20 gr : 15 gr : 90 ml :

Sunnny Side Up Eggs (Telur mata sapi) Cara membuat: - Panaskan wajan anti lengket, kemudian tuangkan minyak goreng. - Pecahkan telur di atas wajan. Usahakan jangan sampai kuning telurnya pecah. - Goyang-goyangkan wajan, agar telur matang sempurna, namun, jangan sampai telur pecah. Satu atau dua menit, angkat telur dan letakkan di piring.

Sebutan burger ditujukan untuk steak yang dibuat dari daging cincang. Konon asalnya dari Hamburg Jerman, dan karenanya menyandang nama hamburger. Tak ada keharusan untuk menyajikan burger dengan roti. Bisa saja disajikan tanpa roti. Bahan utamanya juga tak harus daging sapi, bisa daging ayam, ikan atau seafood. Bentuknya juga boleh bundar pipih atau lonjong pipih. Sekarang kita akan belajar membuat daging burger dengan dua pilihan daging, ayam dan sapi. Caranya, set-

elah daging dihancurkan, kemudian tambahkan bawang putih cincang, bawang bombay cincang, white bread, susu, peterseli cincang, garam, dan merica. Kemudian bulatkan daging dengan berat 125 gram. Bekukan di freezer. Jika akan disajikan, keluarkan dari freezer kemudian dimasak di pan sekitar 15 menit sampai matang. Siapkan roti, beri daun selada, tomat, bawang bombay, dan taruh di daging tadi. Tambahkan keju, siap sajikan bersama kentang dan salad. – Wirati Astiti

Cara membuat: - Tomat segar direbus, ambil isinya saja. Sisihkan. - Tumis bawang putih cincang, masukkan daun basil dan oregano. - Masukkan tomat isi, dan tomat pasta. - Beri bumbu garam dan merica. Siap digunakan sebagai saus pizza.

tepung terigu air telur ayam yeast garam olive oil

Beef Burger

Mahasiswa Semester I Manajemen Tata Boga, STPBI/SPB, dan tiga instruktur chef, Nyoman Sudiyasa, Made Sukarja, dan Wayan Langen

Cara membuat: Semua bahan dicampur menjadi satu, masukkan ke dalam mesin mixer, proses 10 menit, sampai adonan kalis. Bagi adonan menjadi 150 gram. Diamkan 20 menit. Kemudian giling bentuk bulat. Saus Pizza Bahan: 1 kg : tomat segar 120 gr : tomat pasta 30 gr : bawang putih cincang 10 gr : oregano 10 gr : daun basil 60 ml : olive oil Garam dan merica hitam secukupnya

Bebek Ungkep Lombok

Sarwan Bahan : 1 ekor : bebek, potong menurut selera 2 sdm : air jeruk nipis 1 sdt : garam 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 100 ml : santan kara 1 liter : air 2 ruas : jari jahe, memarkan 4 lembar : daun jeruk purut 1 biji : kaldu blok rasa ayam Gula, garam, minyak secukupnya

Bumbu yang Dihaluskan : 10 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 10 buah : cabe besar merah, rebus 20 buah : cabe rawit hijau 4 butir : kemiri sangrai Cara Membuat : Lumuri bebek dengan jeruk nipis dan garam, remas-remas, diamkan selama 5 menit, cuci bersih lalu rebus atau presto dengan air, jahe dan serai sampai bebek benarbenar lunak dan empuk, tiriskan. Tumis bumbu halus sampai harum dan daun jeruk, lalu masukkan bebek, aduk, kasih

sedikit sisa air kaldu sisa rebusan bebek. Masukkan garam, kaldu blok, aduk-aduk biar tercampur merata, diamkan sampai mendidih dan air berkurang, lalu masukkan santan kara, aduk-aduk hingga matang dan bumbu meresap. Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng dan daun kemangi.

Macaroni Keju Sayur Kornet

Chicken Burger

13

Pan Pizza, Margarite, dan Napoli Pizza Dough Pizza

Chicken Burger dan Beef Burger Scrambled Egg

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Bahan : 200 gr : kornet 100 gr : wortel, potong dadu kecil ½ buah : bawang bombai cincang halus 3 siung : bawang putih cincang halus 1 batang : bawang prei cincang kasar 2 sdm : tepung terigu 150 gr : macaroni rebus, tiriskan 100 gr : keju parut 100 ml : air kaldu 1 sdm : margarin

Es Sehat Segar Nestle

Bahan : 125 gr : stroberi 1 sdm : madu 50 ml : yoghurt stroberi 25 gr : susu Dancow rasa madu seduh 100 ml : air Es batu secukupnya

irisan wortel dan tepung terigu, aduk-aduk hingga merata. Tuang kaldu, masak hingga mengental, 150 ml : air hangat tambahkan macaroni keju parut, 150 gr : Nestle Dancow Rasa Madu lada bubuk, garam, gula, adukGula, garam, kaldu bubuk, lada bubuk aduk hingga merata dan matang. secukupnya - Tuang larutan susu Nestle Dancow Rasa Madu, aduk-aduk merata, Cara Membuat : masak hingga matang lalu angkat, - Panaskan margarin, lalu tumis cetak dalam mangkok atau sesuai bawang putih dan bawang bombai dengan selera, diamkan, agak dan daun bawang hingga harum. dingin lalu keluarkan dari ceta- Masukkan kornet, masak hingga kan, sajikan, tambahkan dengan berubah warna lalu masukkan parutan keju.

Cara Membuat : Bersihkan stroberi dan belah jadi 2 bagian, campur semua bahan jadi satu lalu blender sampai lembut. Siap disajikan dengan tambahan madu dan es.


14

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Masih banyak diantara kita yang mengabaikan perawatan tubuh. Padahal, perawatan tubuh sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang memiliki segudang aktivitas se­ tiap harinya. Mulai dari padatnya jadwal kerja, hingga kejarkejaran waktu yang seringkali mesti diha­ dapi. Ketika denyut kehidupan dipenuhi de n ga n k e sibu­k an, namun setelah lelah dengannya sering­k ali hanya menyisakan waktu sedikit untuk beristirahat. Efeknya badan mudah lelah dan pikiran mudah stres.

B

egitu juga yang disampaikan Jero Melati, pemilik Adibi Salon & Spa di Denpasar. Dikatakannya rutinitas sehari-hari adalah sumber segala kepenatan dan ketegangan otot. Tanpa sadar kesehatan tergerogoti oleh kesibukan yang ada. Maka, salah satu cara mengatasinya, dan menyegarkan tubuh adalah segera memanjakan diri

Segar dan Cantik dengan dengan body treatment. Di sini terapis bakal melakukan tugasnya memberikan pijatannya dimulai dari kaki menuju ke atas hingga ke leher. Kemudian dilanjutkan dengan membalikkan badan, kembali di pijat dari kaki sampai ke atas. Terakhir pijatan dilakukan pada kepala. Menurut Jero Melati, body treatment merupakan satu dari sekian banyak kegiatan yang bagus dipilih. Sentuhan yang diberikan terapis selama proses perawatan sangat ampuh untuk mengusir rasa lelah. Selain menjadikan tubuh dan pikiran segar kembali, juga memiliki efek meremajakan kulit. Pijatan katanya, akan dapat dikmati dengan rileks karena terapis yang melakukannya tidak sembarangan. Mereka bukan hanya bekerja dengan Metode khusus, sehingga pijatan pun akan terasa semakin menenangkan. Selain mendapatkan relaksasi tubuh itu kata Jero Melati pijatan juga merevitalisasi otot. Apalagi,

Jelita

Body Treatment

saat seseorang berada di bawah stres atau ketegangan maka, pijatan mejadi pilihan yang baik. Apalagi pijatan yang benar adalah media kegiatan yang mampu mengendurkan otot tegang dalam tubuh, menjadi rileks dan segar. Setelahnya bukan hanya aliran darah menjadi lancar tapi badan yang segar pun akan dirasakan. Jika, ingin sekaligus merawat kulit, tidak hanya untuk sehat berseri tapi juga halus dan cantik, maka lanjutkan dengan luluran, yang berfungsi untuk pengelupasan kulit mati yang sangat penting untuk kulit tubuh. Kulit mati, lanjutnya akan membuat kulit terlihat lebih kusam. Dengan membalurkan lulur scrub ke seluruh tubuh, digosok dengan gerakan melingkar sampai kulit mati dan kotoran terangkat. Setelah dibilas dengan air hangat, kulit pun dipastikan berubah cerah. Hal ini juga diiyakan oleh Bu Metti (42), yang ketika usai menikmati body treatment. Terlebih katanya ke-

Bugar Orangtua mempunyai tanggung jawab mengajarkan anak akan pentingnya tubuh yang sehat, serta bagaimana cara menjaga menjaga kesehatan anak sejak dini.

A

da beberapa faktor utama yang harus diperhatikan dalam menjaga kesehatan anak. Pertama, sistem pertahanan tubuh yang baik. “Untuk mendapatkan sistem pertahanan tubuh yang baik tentu diperlukan nutrisi yang baik dan vaksinasi,” kata dr. I Nyoman Arie Purwana, Sp.A. Nutrisi yang baik salah satu faktor dalam menjaga pola makan anak. Yang dinamakan anak usia 0-18 tahun, termasuk remaja. Setiap masa kehidupan anak, faktor nutrisinya berbeda-beda. Usia 0-6 bulan harus diberikan ASI eksklusif, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI). ASI dilanjutkkan sampai usia 2 tahun. Setelah dua tahun, baru anak itu makan dan minum seperti orang dewasa. Ada 13

tika pijatan terapisnyadan suasana lingkungannya juga sangat mendukung untuk memperoleh rasa nyaman dan relaksasi sebagaimana yang diharapkannya. Bagi Bu Metti, memanjakan tubuh dengan perawatan secara khusus, merupakan relaksasi yang menyenangkan setelah lelah beraktivitas. Ia pun mengaku setelah menjalani perawatan, selain tubuh juga pikirannya segar kembali dan siap menghadapi aktivitas berikutnya. -Sri Ardhini

Jero Melati

Tak Cukup dengan Sunblock

Punya wajah cantik, tampan, dan kulit halus tentu menjadi dambaan setiap orang. Tetapi, bagaimana jika muncul bintik-bintik cokelat atau hitam di kulit wajah Anda? Kerapkali problem pigmentasi itu menyebabkan warna kulit tampak lebih gelap atau tidak merata sehingga mengganggu penampilan dan tak jarang mengurangi rasa percaya diri. Meski begitu, masalah pigmentasi bukan akhir dari segalanya. Selain wajib menggunakan sunblock dan sebisa mungkin menghindari paparan langsung sinar matahari, Anda juga perlu merawat kulit dengan tepat. Miracle Aesthetic Clinic menghadirkan berbagai perawatan dan produk unggulan untuk mengatasi problem kulit Anda. Even out Your skin tone. Miracle Bubble C Facial Ingin kulit cerah dan sehat? Manjakan kulit Anda dengan vitamin C. Miracle Bubble C Facial adalah facial dengan bahan aktif dari vitamin C murni dan enzyme peel khusus yang dicampur dengan oxygen booster. Perawatan itu bermanfaat untuk memudarkan flek, melasma, pigmentasi bekas jerawat, dan meratakan warna kulit serta meregenerasi sel, menambah antioksidan pada kulit serta mengembalikan kekenyalan kulit. Dinamai Bubble C Facial karena facial unik ini akan menghasilkan busa menyerupai bubble akibat reaksi aktif dari peeling pada kulit. Pada tahap akhir facial, diaplikasikan masker brightening yang mampu mengoptimalkan efek pencerahan kulit. Kulit wajah sehat berkilau kini bukan lagi impian. Miracle Diamond Peel Plus Anda harus mencoba salah satu perawatan favorit di Miracle yang satu ini. Miracle Diamond Peel Plus (MDPP) adalah peeling yang unik karena mengombinasikan mikrodermabrasi dengan dermal infusion. Mikrodermabrasi dengan diamond tip berfungsi untuk

mengangkat sel kulit mati dan dermal infusion. Tujuannya adalah memasukkan bahan aktif tertentu sesuai dengan problem kulit yang dialami seperti kulit kering, keriput di wajah dan leher, poripori besar, jerawat dan bekasnya, serta hiperpigmentasi (flek). Miracle Vital MD Brighten Laser Sempurnakan rangkaian perawatanmu dengan Miracle Vital MD Brighten Laser. Perpaduan teknologi laser MedLite C6 dengan panjang gelombang tertentu dan serum vitamin C yang dimasukkan melalui alat injector khusus itu bertujuan untuk mengatasi problem hiperpigmentasi (flek, melasma), warna kulit tidak merata, dan kulit kusam secara maksimal. Laser diaplikasikan untuk mengatasi penumpukan pigmen di kulit, meremajakan, menghaluskan tekstur kulit dan mencerahkan warna kulit wajah. Dilengkapi dengan serum yang kaya akan vitamin C dan bahan aktif khusus untuk meratakan warna kulit, mencerahkan, dan mengembalikan kekenyalan kulit. Perawatan Miracle Vital MD Brighten Laser menjadikan kulit lebih cerah, halus, sehat dan bercahaya. Miracle Whitening Infusion Melakukan perawatan sambil santai membaca majalah, mengapa tidak? Miracle Whitening Infusion adalah terapi mencerahkan warna kulit dengan pemberian bahan tertentu menggunakan metode infuse. Di antaranya, bahan antioksidan dan bahan aktif lain yang membantu mengatasi efek radikal bebas, menghambat produksi pigmen kulit, meningkatkan elastisitas, dan kelembapan kulit serta mempunyai efek pengen­ cangan kulit. Segera kunjungi Miracle Aesthetic Clinic Jl. Letda Tantular No. 47 A Renon, Telp. (0361) 246148 / 08123849929. Nikmati berbagai penawaran istimewa untuk Miracle Bubble C Facial, Diamond Peel Plus, Vital MD Brighten Laser, Whitening Infusion, dan perawatan lain serta produk-produk unggulan Miracle sampai 30 September 2016. Dapatkan diskon spesial serta gratis perawatan dan produk untuk solusi tepat problem pigmentasi kulit Anda. L­ et’s experience the miracle touch!

dr. I Nyoman Arie Purwana, Sp.A.

gizi seimbang dari Kemenkes, yang harus diperhatikan bagi para orangtua untuk memberikan nutrisi yang baik kepada buah hatinya. “Kalau sam­pai usia 2 tahun anak belum bisa makan seperti orang dewasa, artinya, pola makan yang diajarkan salah, misalnya, terlalu banyak mengonsumsi camilan, tidak diperkenalkan makanan padat, terlalu banyak mengonsumsi susu,” kata dosen pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa ini. Ironisnya, orangtua sering memberikan makanan kepada anaknya makanan tidak sehat, seperti makanan siap saji, atau camilan dengan garam dan gula tinggi. Ia menyebutkan, ada tahapantahapan makanan yang harus diberikan kepada anak, mulai dari makanan cair, meningkat lagi menjadi seperti bubur, makanan

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

11

Kiat Sehat bagi Anak

padat, kemudian makanan seperti orang dewasa. Selain itu juga, perlu diperhatikan, keteraturan waktu makan. Rata-rata anak lapar tiap 5-6 jam. Waktu jam makan tidak boleh diubah-ubah. “Kalau memang makan pagi pukul 8, makan siangnya pukul 13.00, begitu juga keesokan harinya. Lama waktu makan tidak boleh lebih dari 20-30 menit. Saat makan, tidak boleh ada yang menganggu, misalnya, sambil menonton tivi, atau jalan-jalan. Variasi makanan harus bergantiganti dan ajak anak terlibat dalam menyediakan makanan,” kata dokter yang praktik di RS Kasih Ibu dan Apotik Dian Farma Kedonganan ini. Selain pola makan, olahraga juga sangat dianjurkan kepada anak-anak, namun, intensitasnya berbeda-beda sesuai tahapan. Olahraga untuk anak sampai remaja berbeda-beda. Aktivitas berstruktur atau olahraga anak sebaiknya dilakukan 30-60 menit tiap hari. Olahraga yang baik seperti lari, naik sepeda, dan berenang. “Dengan kemajuan teknologi, anak-anak lebih banyak duduk bermain gadget berlama-lama atau menonton televisi melebihi waktu. Padahal, untuk batas maksimal menatap layar hanya 2 jam per hari,” ujar dr. Arie. Ia menambahkan, untuk menjaga pertumbuhan dan daya tahan tubuh anak, tidur yang cukup juga penting. Tidur pada anak bervariasi, usia 2 tahun 10-12 jam, remaja 8 jam, anak sekolah 8-10 jam. Anak-anak yang tidak suka tidur siang sebenarnya tidak masalah, asalkan, jumlah tidur seharinya komplit. Tidur siang juga tidak boleh lama, hanya 1-2 jam. Pukul 16.00 anakanak harus sudah bangun dari tidur siang. Waktu jam tidur malam pukul 21.00. Faktor kedua yang perlu diperhatikan dalam mejaga

kesehat­a n anak adalah, faktor lingkungan. Lingkungan sekitar anak juga harus sehat. Lingkungan harus bersih, tidak ada kontaminasi dengan asap rokok, atau barang-barang yang berbahaya di sekitar anak tersebut. Faktor ketiga, kuman. Kalau kumannya jinak tentu tidak menyebabkan penyakit, kalau ganas tentu saja bisa mengakibatkan penyakit. Penyakit yang biasa menyerang anak-anak, batuk pilek, dan diare. Namun, tidak selalu batuk dan pilek harus diberikan obat termasuk pemberian antibiotik sembarangan. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, kapan sebaiknya anak diberikan obat. Hal lain yang tidak boleh dilupakan, hubungan interaksi dengan keluaga. Keluarga memberikan dukungan yang sangat penting dalam perkembangan

“Dengan kemajuan teknologi, anak-anak lebih banyak duduk bermain gadget berlama-lama atau menonton televisi melebihi waktu. Padahal, untuk batas ­maksimal menatap layar hanya 2 jam per hari,” anak. Orangtua menjaga anak secara utuh memberikan dukungan moril dan emosional, contoh kecil, orangtua sakit, gunakan masker agar tidak menular ke anak. memberikan perhatian dan kasih sayang ke anak, waktunya makan, tidur, bermain bersama, mengajarkan sembahyang, orang-

tua mengajarkan banyak aspek. “Anak-anak belajar dari orangtua dalam segala hal. Kalau ada anak bermasalah, orangtua yang harus disalahkan. Anak-anak tidak cukup diberikan nutrisi makanan, tapi juga, nutrisi ke otak dan jiwanya sehingga nutrisinya lengkap,” kata dr. Arie. –Wirati Astiti


10

Mozaik

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Style

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Gaya Si Kecil

dengan

Endek

Setiap orangtua tentunya ingin memberikan yang terbaik ­untuk buah hati mereka, termasuk dalam hal berpakaian. Apalagi saat ini semakin banyak desainer yang mendesain busana anak-anak yang keren dan unik . Seperti yang ­terlihat dalam ajang lomba fashion show di arena Food Truck Festival di Taman Kota Lumintang belum lama ini.

Uji Mental Anak-anak Transmigran B

eberapa kegiat­ an yang digelar di antaranya lomba lari karung, junjung botol dan tarik tambang dari bidang olahraga. Semua terlibat, mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga dewasa, bahkan lansia. Dari segi keagamaan, digelar lomba dharma wacana untuk siswa SMP dan SMA, lomba Tri Sandya untuk siswa SD kelas 1 sampai dengan kelas 3, lomba membuat klakat untuk SD, SMP, dan SMA serta lomba ngulat tipat untuk tingkat SD, SMP, dan SMA Kegiatan ini digelar untuk memeriahkan Hari Raya Galungan di tanah rantau. Mayoritas warga merupakan transmigran dari Bali

Ratusan masyarakat di Desa Mayasari, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, tumpah ruah menuju lapangan di sekitar bale banjar setempat, Kamis (8/9). Mereka menyaksikan dan mengikuti beragam kegiatan yang digelar muda-mudi Wira Laksana Desa Mayasari serangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. sejak tahun 1981. Sementara untuk lomba yang berkaitan dengan keagamaan, digelar untuk melatih mental anak-anak agar terbiasa tampil di depan umum. Mengingat setiap tahun selalu digelar Utsawa Dharma Gita baik tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional, sehingga ke depan diharapkan ada anak-anak dari Desa Mayasari yang ikut tampil

Kegiatan lomba dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan di Poso

mewakili kecamatan di tingkat kabupaten, atau mewakili kabupaten Poso di tingkat propinsi bahkan mewakili Sulawesi Tengah di tingkat nasional. “Itu bukan hal yang mulukmuluk. Karena setiap anak punya potensi, apakah dia dari desa ataupun dari kota. Makanya, kami yakin anak-anak Desa Mayasari juga punya potensi. Tinggal kami sekarang yang berupaya sesering mungkin menyiapkan arena untuk mereka sering tampil sebagai latihan untuk uji mental,” ujar Ketua Muda Mudi Wira Laksana Desa Mayasari, Komang Sukanada didampingi salah seorang pengurus mudamudi, Wayan Murdiana. Diakui Sukanada, anak-anak di desa Mayasari banyak yang memiliki kemampuan. Namun karena jarang tampil, mereka cenderung kurang percaya diri untuk mengikuti lomba dan tampil di depan umum. “Ada yang kemampuannya bagus, diminta tampil, belum apa-apa sudah pingsan duluan,” ungkapnya. Kare­nanya, mereka

menggelar kegiatan-kegiatan sesering mungkin. Apakah saat Hari Raya Galungan atau pada saat hari ulang tahun muda mudi, bulan Desember “A p a l a g i , masyarakat dan orang tua sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kalau muda-mudi kekurangan dana untuk melakukan persiapan, bahkan para orang tua secara sukarela dipungut dana,” sebutnya. Sukanada dan Murdiana yang merupakan lulusan STAH Palu, mengakui di Desa Mayasari masih menemui berbagai kendala untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak. Terutama dari segi keagamaan dan seni budaya. Kegiatan ini melibatkan anakanak dan masyarakat di Desa Mayasari (Bali I dan Bali II). Ke depan, akan dirancang kegiatan serupa yang melibatkan anak-

anak dan masyarakat dari desa transmigrasi lain di sekitarnya seperti Desa Salindu, Wayura, Brati dan lainnya. “Sekarang kegiatannya mendadak. Belum lagi kami butuh koordinasi dengan desa desa lain, koordinasi soal penjurian dan lain sebagainya. Disamping ketersediaan dana juga yang belum memungkinkan untuk menyelenggarakan kegiatan yang lebih besar. Mudahmudahan ke depan kami bisa. Bagaimanapun, semangat kebersamaan dan identitas ke-Bali-an harus tetap dijaga. Meski kami lahir dan besar di luar Bali,” tambah Murdiana. –Bali Putra

Bagi Daging Kurban dengan Sistem Jemput Bola Perayaan Idul Adha 1437 H, digelar Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Gedung Serbaguna LDII Provinsi Bali, Senin (12/9). Menurut Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah LDII Provinsi Bali, H. Kafilari, S.E. yang didampingi Sekretaris DPW LDII Bali, H. Agus Purmadi, S.H., perayaan kali ini mengambil tema “Membangun Karakter dengan Meneladani Nilai-nilai Ibadah Kurban”. Dalam kesempatan ini, DPW LDII Wilayah Bali memo-

tong 85 ekor sapi dan 252 ekor kambing sebagai kurban. Dari semua hewan kurban ini, dijadikan 10.000 bungkus daging. Pembagiannya dilakukan di semua kabupaten/kota se-Bali. Pemberian daging kurban tidak hanya untuk umat Islam tapi juga semua lapisan masyarakat sekitar. “Kami memakai sistem jemput bola. Masing-masing Ketua PAC LDII mendata warga yang berhak mendapatkan daging kurban. Selanjutnya warga yang didata

mendapatkan daging. Ada tiga golongan yang berhak mendapatkan daging. Orang yang kurban, orang yang tidak meminta, dan orang yang meminta. Daging tidak hanya untuk umat Islam saja tetapi semua lapisan masyarakat. Di sinilah cerminan umat Islam menjaga kerukunan dengan umat beragama lainnya,” kata Kafilari. Ia menambahkan kegiatan ini juga bekerja sama dengan Desa Pakraman Padang Sambian. Drs. I Kompiang Gede, ang-

Suasana Hari Raya Idul Adha di Gedung Serbaguna LDII Provinsi Bali

gota DPRD Denpasar yang hadir dalam perayaan Idul Adha di LDII ini menambahkan kegiatan ini sebagai bentuk toleransi antar umat beragama. “Ini perlu men-

jadi contoh bagi masyarakat. Ada berbagai agama di masyarakat, mari sama-sama saling menjaga kerukunan,” tegas anggota Komisi IV ini. –Ngurah Budi

G

aya dan model busananya sangat menarik sesuai dengan tema “Busana Casual Touch of Endek”. Produk lokal Bali bernama endek hadir dengan segala ciri khas dan keunggulannya. Para orangtua pun piawai memilih, hingga menjadikan si anakbukan hanya semakin stylish dan fashionable tanpa mengenyam­

pingkan rasa nyaman. Modelnya pun sangat beragam, dengan kreativitas memadukan bermacam-macam motif dan kain polos tanpa menghilangkan karakter anak-anak. Mereka pun tampil penuh percaya diri, cute dan menggemaskan. Berikut beberapa gaya dan model busana anak yang terpilih untuk pekan ini. –Sri Ardhini

15


16

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Yudisium Fisip UNR

Sebanyak 78 mahasiswa S-1 Program Studi Ilmu ­Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Ngurai Rai (UNR) diyudisium, Rabu (14/9) di Gedung Serbaguna UNR.

Edukasi

Lepas 78 Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara

D

a r i 7 8 o ra n g ya n g d iy u d i sium, tiga orang dinyatakan lulus dengan predikat pujian, tertinggi satu diraih Putu Diah Ari Saputri (IPK 3,86), tertinggi dua I Komang Gede Hendrawan, (IPK 3,82), dan tertinggi ketiga I Made Srijata (IPK 3,80). Dekan Fisip UNR, Gede Wirata, S.Sos., S.H., MAP., dalam pengantarnya mengatakan, dari 78 yudisium yang dilepas, hampir 98% PNS dan 2% berkiprah di dunia politik dan pegawai swasta. “Ini artinya kami tidak meluluskan calon pengangguran atau menambah deretan pengangguran. Ini merupakan kebanggaan bagi kami, karena telah mampu mempertangungjawabkan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kami,” ujarnya. Wirata menambahkan, Fisip UNR terus-menerus melakukan pembenahan baik dari SDM maupun sarana dan prasarana. Saat ini, Fisip memiliki 13 dosen baik PNS dan dosen tetap yayasan, 6 orang berkualifikasi S-3 dan 4 orang sedang mengikuti tugas be-

Yudisium mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fisip UNR.

lajar program S-3 dan 3 orang berkualifikasi S-2. “Di bidang penelitian Fisip bekerja sama dengan instansi pemerintah dan swasta. Salah satu hasil penelitian kerja sama Fisip dengan KPU Gianyar dijadikan rujukan KPU pusat dan dijadikan buku,” kata Wirata. Rektor UNR Dr. Drs. Nyoman Sura Adi Tanaya, M.Si., berharap, para sarjana yang diyudisium bisa menjadi sarjana sujana dan menjadi insan yang bertanggungjawab atas kualitas keilmuan yang telah diraih serta dapat terus mening­katkan ilmu pengetahuan baik formal maupun nonformal, agar bisa me-

menangkan persaingan global. “Berbanggalah menjadi alumni UNR karena suadara menyandang nama besar pahlawan kita I Gusti Ngurah Rai. Oleh karena itu, implementasikan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan dalam masyarakat dan di tempat Anda bekerja,” ujarnya. Acara yang dihadiri pe­ ngurus Yayasan Jagadhita, Rektor UNR dan jajarannya, para Dekan di lingkungan UNR, mahasiswa Fisip, dan keluarga mahasiswa yang diyudisium tersebut, juga diisi dengan penandantanganan MoU pihak UNR dengan Telkom dengan

Tiga lulusan dengan predikat pujian berfoto bersama Dekan Fisip dan Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara.

bandwidth hingga 20 Mbps. “Dengan ditambahnya daya dan kekuatan akses internet ini,

Fisip dan UNR selangkah lebih maju dalam menerapkan IT,” kata Wirata. –ast

Angel’s Billabong terletak di Banjar Sumpang, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten klungkung Bali. Jaraknya pun tak begitu jauh dari

Pasih Uug. Angel’s Billabong adalah sebuah muara sungai yang berdekatan dengan laut, hanya saja muara sungai ini buntu, sehingga membuat air tergenang membentuk sebuah kolam berwarna hijau toska. Kolam Angel’s Billabong diapit oleh dua buah tebing karang dan airnya sangat jernih yang membuat para pengunjung mampu melihat dasar dari kolam. Kolam-kolam tersebut terbentuk karena air hujan dan air laut yang terjebak pada saat pasang. Kolam-kolam tersebut dilindungi oleh dinding-dinding kuat yang kokoh terbuat dari karang berwarna coklat keemasan. Kolam inilah yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk berkunjung. Tidak hanya berfoto selfie, para pengun-

Angel’s Billabong

jung juga kerap berenang di kolam tersebut. Selain itu, di pinggir laut terdapat pula batu karang yang seolah-olah menjadi batu pemecah ombak. Bentuknya datar dan bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk bersantai atau tempat untuk menikmati suasana laut dan kolam sekaligus. Untuk bisa menikmati kejernihan kolam ini, pengunjung sebaiknya berkunjung pada saat air sedang surut. Sehingga, pengun­jung bisa turun dan menikmati kolam tersebut untuk berfoto atau untuk mandi dan berenang. Selain itu, untuk bisa sampai ke kolam, pengunjung juga harus menuruni tebing batu karang yang sedikit curam terlebih dahulu. Namun, dengan sedikit berhati-hati pengunjung akan dengan mudah mencapai dasar kolam. Gusti Ayu Wulandari, wisatawan asal Denpasar saat ditemui di Angel’s Billabong mengatakan destinasi wisata ini sangat unik dan jarang ditemui di tempat lain. Meskipun akses menuju ke Angel’s Billabong jauh dari pelabuhan, tetapi itu tidak menjadi halangan baginya. “Angel’s Billabong bagi saya adalah mutiaranya Nusa Penida, sangat unik,” ujarnya. AYUNAN PANTAI MALIBU SUNRISE Sementara itu Pantai Malibu Sunrise juga menjadi incaran para wisatawan lokal maupun man-

Menjamurnya bandband indie di Buleleng bagai kendaraan tanpa roda, tidak akan jalan meski ada personil maupun lagu jika tidak tersedia tempat maupun event yang dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk promosi. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi sekelompok anak muda untuk membentuk komunitas sebagai wadah bagi band-band indie tersebut. Famusic khusus dibentuk untuk band indie pemula yang masih demam panggung.

Famusic

F

E

X DU

dengan konsep yang digunakan yaitu from music become a family. Hal tersebut diharapkan dalam komunitas para

Kirim surat Anda ke Redaksi ­Tokoh dan cantum­ kan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini ­diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ­Denpasar. dr. Oka Negara, FIAS

PAYUDARA BESAR

Penandatanganan MoU yang dilakukan Rektor UNR dengan Manajer Bisnis Telkom Denpasar.

Ayunan di Pantai Malibu Sunrise

canegara untuk dikunjungi. Pantai yang terletak di Dusun Semaya, Desa Suana ini awalnya hanya diketahui oleh masyarakat lokal. Namun, sejak dibuatkan ayunan pada 24 Agustus lalu, pantai ini mulai dipublikasikan dan dikenal lewat sosial media. Sehingga, membuat orang-orang manjadi penasaran dan datang untuk mengunjungi pantai tersebut. Akses jalan menuju Pantai Malibu Sunrise sangat mudah dibandingkan dengan destinasi pantai-pantai lainnya di Nusa Penida. Selain dapat menikmati ayunan di atas air yang menjadi ikon pantai ini, pengunjung juga dimanjakan

dengan papan-papan yang berisi tulisan seperti Will You Merry Me, I Love You, I Miss You, Best Friend, dan Happy Anniversary. Wayan Susmita yang ditemui Pantai Malibu Sunrise mengatakan, awalnya ia tahu tempat itu dari sosial media. Karena melihat ada ayunan yang berdiri di atas air, ia pun menyempatkan diri datang ke pantai tersebut. “Pantai ini sangat bagus, selain ada ayunan untuk memanjakan diri, ada juga papan kayu yang berisi tulisan. Pas banget untuk mencurahkan isi hati dengan kata-kata yang ada di papan kayu tersebut sambil selfie,” ujar Susmita. -Winatha

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

9

Ingin Mini Konser

amusic sendiri merupakan nama yang diambil de­ ngan makna family music yang artinya keluarga musik. Nama tersebut dipakai karena sesuai

S

Menikmati Panorama Angle’s Billabong Selama ini Nusa Penida dikenal dengan wisata spiritual. Banyak umat Hindu yang sembahyang ke Pura Dalem Ped, Pura Goa Giri Putri, Pura Puncak Mundi dan lainnya. Selain wisata spiritual, jangan lewatkan wisata pantai di Nusa Penida. Panorama keindahan pantainya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satunya adalah Angel’s Billabong.

Dara

Dok, apa benar laki-laki suka dengan payudara perempuan yang besar? Terus apa benar remasan lakilaki bisa memperbesar payudara? Satu lag, apa benar kalau payudara kendor itu artinya sudah pernah ML? (Gek Yanti, 22 th) Di dunia ini, tidak sedikit perempuan mengubah ukuran payudara agar terlihat indah. Banyak lakilaki berpikir bahwa bagian tubuh perempuan yang paling memiliki daya tarik seksual adalah payudara. Karenanya payudara sangat sering menjadi topik pembicaraan yang tiada habisnya. Bagi perempuan, tentu saja payudara merupakan aset yang sangat berharga. Walaupun sering dijadikan bahan obrolan, tetapi kenyataannya masih banyak yang tidak tahu apa saja yang harus dilakukan terhadap kesehatan payudara. Padahal dari segi kesehatan, ukuran payudara sesungguhnya bukanlah hal yang penting. Yang penting adalah merawatnya agar tetap bersih dan sehat. Sering kali perempuan berpayudara mungil merasa rendah diri saat membanding-bandingkan kepunyaannya dengan perempuan lain karena masih banyak yang berpikir bahwa payudara yang memikat adalah yang berukuran besar, padahal itu tidaklah benar. Akhirnya tidak heran jika ada yang sampai memperbesar payudaranya dengan menggunakan silikon misalnya, walaupun itu sesungguhnya berisiko. Sebenarnya, upaya pembesaran payudara bukan jaminan bisa meningkatkan potensi seksual seorang perempuan. Ada banyak kasus yang terungkap dimana saat payudara diperbesar justru membuat perempuan menjadi sesak dan merasa tidak nyaman saat berhubungan seksual, terlebih lagi sensitivitas payudara, terutama di bagian puting menjadi menurun pasca operasi pembesaran payudara. Justru sebaliknya, banyak perempuan yang memiliki payudara yang mungil tetapi performa seksualnya tetap bagus dan disukai oleh pasangannya. Kunci hubungan seksual yang hangat adalah mencintai pasangan dan menerima baik kelebihan maupun kekurangannya. Jangan lupa, diskusikan variasivariasi baru saat berhubungan. Kalau sudah begitu, payudara kecil bukan lagi sebuah masalah. Juga tidak benar kalau disebutkan semua laki-laki menyukai payudara perempuan yang besar, karena ukuran tentang seksi atau tidak sangat relatif dan tergantung pada persepsi masing-masing orang. Merupakan hal yang biasa kalau kita punya persepsi tentang pasangan yang ideal. Seperti juga perempuan, ada yang senang dengan laki-laki yang atletis dan berbulu badan lebat, ada yang lebih memilih laki-laki yang kurus tinggi berkacamata, ada yang suka yang laki-laki “chubby” dan lain-lain. Laki-laki juga begitu. Ekspektasi mengenai pasangan ideal ini bisa bervariasi menyangkut tinggi badan, warna kulit, rambut ikal atau lurus, sampai bentuk payudara. Selera laki-laki tentang payudara perempuan juga

banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Laki-laki suku Indian lebih suka perempuan yang berdada besar dan memanjang ke bawah, sedangkan laki-laki dari Eskimo lebih suka perempuan yang berdada rata. Jadi, tentu saja semuanya itu menjadi relatif. Sebuah pertanyaan yang memang sering ditanyakan adalah apakah benar sentuhan dan remasan lakilaki pada payudara perempuan dapat merangsang pembesaran payudara, tentu saja ini juga sebuah hal yang keliru. Ukuran payudara itu sangat individual yang sangat tergantung dari genetik. Sama seperti bentuk hidung, bentuk wajah, bentuk pinggul yang beda antara satu orang dengan yang lain. Tidak ada tindakan apapun yang dapat memperbesar atau mengecilkan payudara selain melalui suntikan atau bedah plastik. Jadi sekali lagi, berhati-hati saja, jika laki-laki bilang payudara bisa tambah besar dengan diremas-remas, janganlah dipercaya. Demikian juga masih banyak yang percaya jika perempuan yang payudaranya kendor dan melorot pasti sudah pernah berhubungan seks. Padahal ini juga salah. Bila payudara yang besar dengan jaringan lemaknya banyak, otomatis bentuknya akan turun. Juga dengan bertambahnya umur, terjadi perubahan pada payudara. Pada usia 20-30 tahun payudara didominasi kelenjar susu, jadi bentuknya sangat padat. Sementara di atas usia 30 tahun, kelenjar susu berubah menjadi jaringan lemak. Sehingga secara alami, di atas usia 35 tahun, komposisi payudara lebih banyak jaringan lemak dibandingkan dengan kelenjar susu, sehingga menjadi lebih kendor. Olahraga berperan penting dalam membentuk otot dinding dada, dan bila otot ini kencang, secara otomatis akan menarik payudara. Sekali lagi, ukuran dan bentuk bukanlah segalanya, tetapi justru yang perlu diperhatikan adalah merawatnya dan mendeteksi adanya gangguan sejak dini. Potensi seksual juga tidaklah selalu terkait dengan ukuran payudara. Perhatikan selalu keadaan payudara, rajinlah melakukan pemeriksaan payudara mandiri baik dengan melihat di cermin ataupun dengan meraba-raba dengan cermat di setiap area payudara. Hal ini disebut dengan “sadari” atau “periksa payudara sendiri”. Jika misalnya belum pernah berhubungan seks dan tidak sedang hamil, tapi payudara mengeluarkan cairan, atau pada payudara terdapat benjolan, payudara terasa selalu sakit padahal tidak sedang dalam masa menjelang atau sedang menstruasi, maka perlu segera melakukan pemeriksan lebih lanjut. Hal-hal tadi bisa jadi merupakan gejala awal tumbuhnya tumor, yang dapat menjadi kanker payudara. Kalau hal-hal seperti ini terjadi, jangan ragu, takut atau malu, segeralah periksakan diri ke dokter sebelum terlambat. Kalau dideteksi dan ditangani sejak dini, semua gangguan dan abnormalitas payudara dapat diatasi secara total dan akhirnya menjadi tetap sehat.

kan sehingga saat tampil dalam pementasan memang layak ditonton. Ia menambahkan jika sangat jarang ada kesempatan berkumpul sesama musisi dalam satu wadah. Yoshi tidak memungkiri jika peran Famusic belum dapat mempromosikan lewat iklan maupun video klip. “Sejauh ini kami memang benarbenar berdikari dengan dana yang diambil dari anggota,” jelasnya. Maka dari itu, tahun ini Famusic memfokuskan kegiatan dalam penggalian Anggota Famusic dana sehingga memiliki studio sendiri. “Astungkara anggota mengutamakan sikap kekelutahun depan kami punya studio sendiri, argaan. Komunitas yang dibentuk pada kalau tidak ada studio bagaimana juga Maret 2016 lalu ini ingin mengem- cara latihannya,” tambahnya. Selain fokus penggalian dana, Famusic bangkan kreativitas para musisi pemula khususnya yang ada di Buleleng. “Kami juga dalam waktu dekat ingin membuat tidak ingin kemunculan band indie hanya mini konser musik. Salah satu tempat sebatas lalu tenggelam begitu saja,” yang dilirik adalah Desa Menyali, Kecaungkap Yoshi Canari, sang leader. Ia me- matan Sawan. “Kalau di kota kayaknya nambahkan bahwa banyak musisi-musisi udah biasa, tetapi kalau di desa antusiasyang ada di Buleleng, namun mereka nya beda,” ujar Yoshi. Hal ini diyakini kebingungan karena tidak ada wadah. akan menjadi magnet tersendiri bagi “Mereka kebingungan mau kemana, mau para personil untuk terus berkarya. Komunitas yang baru berjalan selama manggung di mana,” ungkapnya. Disam­ ping itu, Famusic ingin mendekatkan lima bulan ini masih minim anggota. Saat ini anggota yang berhasil direkrut musik kepada masyarakat. Band yang sudah masuk ke dalam ada 4 band indie pemula. Krisis angkomunitas akan diasah kemampuan gota ini dikarenakan banyak band yang bermusiknya dengan sharing bersama. belum paham dengan misi dari Famusic. “Kami belajar sama-sama dan membuat “Banyak juga yang meboye bahkan kami tempat performance bersama-sama mengatakan jika kalian bermusik untuk juga,” tambahnya. Dalam Famusic, ang- mencari uang bukan di sini tempatnya,” gota band akan benar-benar dipersiap- pungkasnya. -Wiwin


8

Bunda & Ananda

Pamer Ada Plus-Minusnya

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Bagi yang sering menonton film animasi “Upin dan Ipin” pasti me­nge­nal karakter Ehsan, ketua kelas Tadika Mesra yang selalu memimpin teman-temannya untuk mengucapkan ­“Selamat Pagi Cik Gu”. Bocah berkacamata ini menjadi karakter anak orang kaya dan dijuluki “­Intan Payung”. Sebagai anak orang kaya, ia bisa memiliki barang atau mainan baru. Tiap ada mainan baru yang keluar, ia memamerkan ke teman-temannya.

Sad Yuli Prihartati

A

pa yang digambarkan oleh karakter Ehsan kerap ditemui di kehidupan nyata. Ada saja anak yang senang menunjukkan atau memamerkan barang-barang baru miliknya. Bisa jadi barang tersebut hadiah ulang tahu, hadiah karena meraih prestasi, atau oleh-oleh. Umumnya anak yang pamer akan menuturkan dengan bangga, bagaimana ia bisa mendapatkan barang tersebut. Menurut Sad Yuli Prihartati, S.Psi, Psikolog, anak yang pamer bisa merupakan sebuah kebiasaan. “Apa yang dilakukan itu merupakan pengaruh lingkungan atau keluarga. Si anak ingin diakui bahwa ia memiliki sesuatu atau bisa melakukan sesuatu. Ini tak lepas dari kesalahan pola asuh. Kalau berkaitan dengan kepemilikan, ada kesan menomorsatukan milik. Sah-sah saja punya sesuatu tetapi bukan untuk dipamerkan. Biarkan orang lain yang menilai,” ujarnya. Psikolog yang aktif di Himpunan Psikologi (Himpsi) Wilayah Bali, Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia (APSI) Bali dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO) Bali ini menyarankan, lebih baik orangtua mengajarkan anak tentang persaingan sehat. Dalam hidup ada

mengurangi kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. “Untuk meminimalkan nilai minus ini, orangtua harus mengingatkan anak tentang memenuhi kebutuhan, bukan memenuhi keinginan. Ajarkan anak untuk selalu menghargai dan menghormati apapun pencapaian diri sendiri dan orang lain. Misalnya, jika melihat orang lain berhasil, berikan pujian dan motivasi diri sendiri agar bisa berhasil juga,” ujar ibu satu putri ini. Yuli menegaskan lagi tentang kebutuhan diatas keinginan. Saat ini banyak anak-anak yang diberikan ponsel oleh orangtuanya. Berikan pemahaman

bahwa anak kecil belum saatnya memiliki ponsel. Di level SMP pun kadang ada larangan membawa ponsel. Ini bisa menjadi acuan, punya HP pun tidak boleh dibawa. Karena itu, orangtua yang bijak dalam mengajarkan anak. Kalau perlu untuk komunikasi, pakailah ponsel orangtua. Kalau memang harus membelikan anak, berikan aturan, kapan dan dimana boleh digunakan. Orangtua tentu tidak ingin anaknya gagap teknologi. Kalau diberikan tanpa ada aturan, anak cenderung pamer dan mengabaikan kehidupan sosial, bahkan cenderung seperti hidup di dunianya sendiri.

Selain peran orangtua, peran guru di sekolah juga sangat penting untuk menghindari anak pamer berlebihan. Kadang tanpa sadar, guru memberikan pujian kepada siswa yang berhasil namun lupa memotivasi yang lain. “Kalau ada siswa yang berhasil, sampaikan di hadapan siswa lainnya. Ini teman kalian berhasil meraih prestasi. Mari kita beri applaus. Bagi yang lain, juga bisa meraih prestasi. Mari samasama menunjukan kualitas terbaik. Cara ini sangat elegan untuk memotivasi siswa yang lain untuk bisa meraih prestasi juga,” saran Yuli. – Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit PENCARI KAYU DAN SINGA

Seorang pencari kayu menebang sebuah pohon di dalam hutan. Tibatiba di sebelahnya mengaum seekor singa. “Haurgh…! Jangan tebang pohon itu! Aku raja hutan, pemilik semua Made Taro pohon!” katanya. Pencari kayu api yang ketakutan itu berpurapura tidak gentar. “Rupanya kamu belum kenal aku! Akulah yang bernama Manusia, makhluk yang ditakuti semua hewan!” gertak manusia itu sambil mengacung-acungkan kapaknya. “Bohong!” jawab Singa. “Bangsa Singa tidak pernah takut kepada Manusia. Singa dapat memakan Manusia, tetapi Manusia tidak dapat memakan Singa!” “Kamu tidak percaya?” jawab Manusia memperbesar keberaniannya. “Mari kita buktikan bersama-sama! Tadi kulihat di lereng gunung, seorang manusia menaklukkan seekor singa.” Kedua makhluk yang saling menyombongkan kekuatannya itu lalu pergi bersama-sama ke lereng

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

gunung. “Lihat itu!” kata Manusia menunjuk sebuah patung yang melukiskan seorang manusia mengendarai seekor singa. “Dalam sebuah pertarungan, Manusia mengalahkan Singa. Ketika hewan yang mengaku berkuasa itu hendak dibunuh, ia minta ampun. Ia bersumpah akan selalu tunduk kepada Manusia. Sumpah itu berlaku untuk semua keturunannya. Agar keturunannya tidak lupa, maka peristiwa bersejarah itu dibuatkan patung.” Singa melangkah mendekati patung itu. Katanya, “Patung itu buatan Manusia. Apabila Singa yang membuatnya, bentuk patung itu berbeda, yakni Singa merobek-robek Manusia.” Singa mundur selangkah, berancang-ancang hendak menyergap Manusia. “Haurgh….!” Matanya mendelik, giginya gemeretak dan kuku-kukunya siap untuk menerkam. Manusia itu membungkukkan badan, lalu katanya, “Kukira yang benar adalah, segala sesuatu dapat dilihat dari berbagai segi yang berbeda.” “Dor!” Terdengar tembakan bedil dari seonggok semak. Singa itu lari tunggang-langgang. “Untung ada aku!” kata seorang pemburu yang muncul dari semak itu. “Kalau tidak, kata-kata Singa pasti menjadi kenyataan.” (Afrika)

17

Tanaman Border Penegas Taman Kehadiran taman baik di areal rumah maupun di ruang publik sepertinya kini sudah menjadi hal yang tak bisa ditawar. Tidak harus memang, tetapi jika dicermati, sekecil apapun lahan, pemiliknya tetap berusaha untuk menghadirkan ‘ruang hijau’ dalam huniannya.

Barang yang bisa dipamerkan anak

kompetisi yang harus dilalui. Kompetisi ini berkaitan dengan prestasi dan sportivitas. Untuk bisa memiliki sesuatu atau bisa melakukan sesuatu tentu harus ada upaya. Ketika berhasil meraihnya, anak akan memiliki kebanggaan. Keluarga dalam hal ini orangtua memiliki peran penting juga jika membiasakan untuk menuruti permintaan anak. Anak yang berhasil meraih apa yang diinginkan dan menguasai sesuatu memiliki kepuasan dan ingin orang lain tahu. “Pamer ini dilakukan dengan woro-woro ke orang lain, ini punyaku. Atau, aku bisa melakukan ini,” ungkap Yuli. Dunia yang makin modern juga mempengaruhi anak yang suka pamer. Budaya konsumtif dan ingin memiliki sesuatu dianggap budaya terkini atau up to date. Biasanya, ini berkaitan dengan gadget. Anak yang memiliki gadget terbaru kerap menunjukkan ke teman-temannya. Hal ini menunjukkan ia mengikuti tren. Ada nilai eksistensi dan aktualisasi yang ingin diperlihatkan. Dari beberapa latar belakang penyebab anak pamer tersebut, psikolog yang sedang menyelesaikan pendidikan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Udayana ini mengatakan, ada plus minus orang pamer. Nilai plusnya, orang yang suka pamer memiliki goal setting atau tujuan. Ketika tujuan tercapai, sah-sah saja ia ingin memperlihatkan ke orang lain. Mengenai penilaian, biarkan orang lain yang menilai. Orang yang pamer memiliki motivasi tinggi untuk berusaha agar tujuannya tercapai. Jika sudah tercapai, prestasi ini bisa dinilai orang lain. Nilai minusnya, muncul kesan sombong, ego sentris yang berawal dari egois, cenderung tidak akan menghormati dan menghargai orang lain, serta

Griya

T

aman memang mampu memberikan kesejukan dan sentuhan estetika. Selain itu, tanaman-tanaman di taman juga berfungsi sebagai penyerap polutan. Mungkin karena itu pula bisnis tanaman khususnya di Kota Denpasar tak pernah mati, meski 2 tahun terakhir penjualan tanaman mengalami penurunan signifikan. Hal ini diakui Eko Purwahyono, pemilik Wono Ayu Garden di seputaran Sanur, Denpasar. “Mungkin karena bisnis properti lesu. Kami kan ngikut properti. Kalau pun ada pembeli, paling beli sedikit untuk ditanaman di

rumahnya,” ungkap laki-laki asal Malang yang sudah 18 menggeluti bisnis tanaman ini. Berdasarkan fungsinya, tanaman dapat dikelompokkan meliputi, tanaman penutup lantai (ground cover), tanaman pembentuk dinding, pembatas dan pengarah, tanaman pengatap atau peneduh, dan tanaman sebagai ornamen/penghias atau pengisi ruangan. Namun, kali ini kita akan membahas tanaman border atau biasa juga disebut tanaman list/ pinggiran atau tanaman pembatas. Tanaman border ini bisa diibaratkan garis pinggir pada kertas atau pigura pada foto. “Jadi, bentuk

yang ingin ditampilkan lebih jelas terlihat, tanaman border ini mempertegas bentuk taman,” ucap Eko. Beberapa jenis tanaman border yang umum tersedia di pasaran, di antaranya Taiwan beauty, karambosa mini, kucai, bulu ayam (lili paris), sambang darah, dan erpah. “Konsumen saya lebih banyak mencari Taiwan Beauty karena tanaman ini berbunga. Ada yang berbunga putih, ungu,

kuning, pink,” jelasnya. Sama seperti tanaman border lainnya, perawatan Taiwan beauty cukup gampang. Hanya perlu pemupukan sebulan sekali dan dilakukan pemotongan dua bulan sekali. Taiwan beauty juga dikatakan Eko kerap dipakai sebagai tanaman penutup lantai (ground cover). Berdasarkan pengalamannya membibit langsung tanaman ini, ia menjelaskan jarak tanam yang bagus adalah 15 cm zigzag. Dengan begitu, pertumbuhannya bagus, perawatannya gampang, dan bentuknya akan bagus terkotak-kotak. Tanaman border lain yang berbunga cantik adalah karambosa mini. Bunganya berwarna putih berbentuk seperti bintang. Sementara untuk jenis tanaman border berdaun indah, ada beberapa piihan dengan keunggulannya masing-masing. Seperti erpah/bayam merah. Tanaman ini memiliki warna yang unik yang berdaunkan berwarna merah. Bulu ayam (lili paris), merupakan tanaman hias daun yang dapat tumbuh indoor dan menjadi favorit karena kuat hidupnya. “Tanaman ini cocok untuk pemula, asalkan jangan disiram berlebihan, sudah dapat tumbuh dengan baik,” ujar

Eko merekomendasikan. Berikutnya, ada sambang darah. Tanaman ini memiliki daun yang berwarna hijau tua pada bagian atas dan warna merah gelap pada bagian bawah. Tanaman ini sering dijumpai disekitar rumah. Ada juga yang menggunakan tanaman ini sebagai tanaman hias karena bentuk dan warnanya yang unik dan enak dipandang. Tanaman pangkas kuning, banyak juga yang ditanam untuk membuat ornamen bentuk (umumnya bentukbentuk bulat), pembatas maupun pagar taman. Di pasaran saat ini beredar dua jenis, yang berbeda warna daunnya, yang berwarna hijau, dan yang berwarna hijau kekuningan. Jenis kedua inilah yang umum disebut pangkas kuning. Tanaman pangkas kuning ini umumnya ditanam dalam jumlah banyak untuk membuat logo atau sebagai pembatas. Warna kuning yang dipancarkannya memang harmonis kalau dipadukan dengan warna lainnya. Terakhir, tanaman kucai. Tanaman ini bisa sebagai alternatif pengganti rumput pada taman indoor yang sedikit sinar matahari, karena tanaman ini sangat kuat sekali apabila diaplikasikan pada taman indoor dan dapat bertahan sangat lama dibandingkan dengan rumput taman. Tanaman kucai memiliki warna daun hijau gelap dan bentuk daun hampir sama dengan rumput cuma lebih tinggi. Untuk membentuk sebuah taman dengan menghadirkan tanaman border, Eko menyarankan jenis tanaman yang ditempatkan di depan dipilih yang pertumbuhannya agak lambat. Makin ke belakang, pilih tanaman yang pertumbuhannya agak cepat, seperti tanaman erpah. –Inten Indrawati


18

Edisi 919/19 - 25 september 2016

Buleleng merupakan salah satu kabupaten yang memiliki garis pesisir pantai terpanjang di Bali. Hal tersebutlah yang menjadikan pemeritah terus berupaya menggali potensi yang dimiliki oleh masingmasing wilayah pesisir. Salah satu wilayah pesisir yang menjadi daya tarik wisata dan perhatian pemerintah adalah Pantai Lovina.

P

emerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisatan (Disbudpar) Kabupaten Buleleng, menggenjot kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara melalui Lovina Festival. Perhelatan yang digelar sejak 9 hingga 14 September 2016 ini dilaksanakan pada tiga tempat, yaitu dengan panggung utama di Pantai Bi-

Lovina Festival

Perkenalkan Kecantikan Tersembunyi Lovina naria, Lapangan Kaliasem, dan Undiksha Singaraja. Lovina Festival kali ini mengusung tema The Hidden Beauty of Lovina yang memiliki makna kecantikan tersembunyi dari Lovina. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi baik seni budaya maupun potensi pantai dengan terumbu karang yang dimiliki. Lima hari berlangsung, berbagai kegiatan diselenggarakan di festival tahunan ini. Mulai dari kesenian tradis-

Menguji Kekompakan Gerakan Sapi Guna melestarikan kebudayaan khas Bali Utara dan serangkaian Lovina Festival 2016, Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melaksanakan “Lomba Sampi Grumbungan” di Lapangan Kaliasem, Minggu (11/9) lalu. Dibawah panas teriknya matahari, tidak menyurutkan semangat para peserta dalam mengikuti perlombaan ini. Lomba sampi grumbungan ini diikuti oleh 12 peserta dari Baga Timur, Baga Tengah dan Baga Barat. Sejumlah baga antara lain, Baga Timur diikuti Kecamatan Kubutambahan, Sawan, dan Tejakula. Baga Tengah terdiri Sukasada, Buleleng dan Banjar. Kemudian Baga Barat ada Gerokgak, Busungbiu dan Seririt. Dalam lomba, para peserta dinilai dari kekompakan sepasang sapi, kecepatan dan keindahan dari hiasan serta gerak sampi grumbungan itu sendiri. Biasanya, sapi yang digunakan adalah pejantan. Sapi jantan menunjukan kekompakan gerakan diantara sapi lainnya. Sapi Bali pilihan dirawat khusus dan dilatih pemilik untuk memenangkan perlombaan yang dirangkai dalam Lovina Festival. Salah satu peserta Komang Sukadana (33) menggemari lomba sampi gerumbungan diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng. Pria asal Banjar Lebah Desa Kaliasem ini beberapa kali telah mengikuti lomba. Dua sapi miliknya dilatih maksimal untuk menyeragamkan langkah kaki, kepala dan ekor supaya berdiri tegak. “Sapi saya pertandingan berumur dua tahun. Duku beli di Desa Bebetin Kecamatan Sawan, satu ekornya seharga Rp 10 Juta. Latihannya tidak terlalu sulit. Ini karena sapi dibeli

merupakan turunan khusus diperlombakan,” ujarnya. Selama satu minggu latihan sapi-sapi ini diberi ramuan jamu dan lima butir telur bebek. Sebelum turun berlomba diberi latihan fisik dan keteraturan gerak lurus lari sapi. “Lari sapi bukan hanya kencang, tapi dihindari berbelok ke samping. Trik joki harus jeli mengatur arah berlari sampi memakai gombeng atau tali pengatur pada kepala sapi,” imbuhnya. Sementara itu, Made Somanada (43) asal Desa Panji menuturkan pengalaman meraih juara di ajang lomba sampi gerumbungan. “Kami latih sapi selama satu bulan sambil membajak sawah. Sapi pilihan menjadi keunggulan dalam lomba dan diberi jamu dan telur bebek bercampur minuman bersoda,” tandasnya. Kadisbudpar Buleleng Ir. Nyoman Sutrisna, M.M., menjelaskan kegiatan ini untuk mengeksplor atraksi-atraksi pariwisata yang unik yang dimiliki oleh Buleleng. “Yang unik-unik ini yang dicari oleh wisatawan. Seperti sampi grumbungan ini merupakan khas dari Buleleng karena lebih menilai dari keindahan, tidak seperti di tempat lain yang menilai kecepatan,” jelasnya. Mengenai pengembangan sampi grumbungan ke depan, ia mengatakan pihaknya akan menata kembali organisasi yang terdiri dari Baga Timur, Baga Tengah, Baga Barat. Mereka yang tergabung dalam organisasi yang boleh mengikuti lomba ini. Dari hasil lomba, juara I diraih Gede Redana dari Baga Sebali Desa Bebetin, juara 2 Ketut Sumitra dari Baga Putra Gembala Desa Kaliasem, dan juara 3 Komang Suparsanta dari Baga Sebali Desa Menyali. -Wiwin

Lomba Sampi Grumbungan

Bupati Putu Agus Suradnyana melepas tukik di Pantai Lovina

ional hingga kesenian modern mampu memukau pengunjung. Bukan hanya itu, beberapa kebudayaan asli Bali Utara juga ditampilkan, seperti sampi gerumbungan hingga lomba megangsingan dan tarian sakral Cetik Geringsing. Menurut Kadisbudpar Buleleng, Ir. Nyoman Sutrisna,M.M., Lovina memiliki potensi sebagai magnet untuk menarik wisatawan datang ke Buleleng sehingga perlu dilakukan promosi dengan menggali setiap potensi yang dimiliki. Mantan Kadiskanla tersebut juga menuturkan, dilihat dari penghargaan konservasi baik tingkat nasional maupun internasional di Buleleng, maka pemerintah bersama masyarakat perlu menggali potensi yang dimiliki seperti menambah khasanah bahari dan mengangkat

Life tersebut didatangkan untuk menyaksikan pagelaran seni budaya yang berlangsung lima hari tersebut. Dalam pagelaran tersebut, pihaknya melibatkan beberapa desa disekitar kawasan Lovina. Kolaborasi bernuansa seni budaya khas Buleleng dituangkan melalui masyarakat pada beberapa desa penyangga. Sejumlah desa yang berkesempatan terlibat dalam parade budaya adalah desa Pakraman Banyualit, Kalibukbuk, Anturan, dan Pemaron. “Masing-masing desa akan menampilkan seni budaya yang ditonjolkan,” imbuhnya. Uniknya, dalam parade tersebut tidak hanya masyarakat lokal melainkan juga melibatkan tamu mancanegara yang kebutalan menginap di hotel sekitar Lovina. Ia berharap tamu mancanegara yang terlibat mampu mempromosikan dan menceritakan pengalaman parade yang diikuti di negara asalnya. Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, S.T., dalam sambutannya mengatakan sektor pariwisata sangat perlu dikembangkan mengingat sektor tersebut memegang peranan perekonomian cukup besar di kabupaten Buleleng. “Ini dapat kita lihat dari banyaknya masyarakat Buleleng yang menggeluti pekerjaan dari sektor tersebut. Jika sektor ini berkembang maka sektor lain juga ikut berkembang,” tandasnya. -Wiwin

gaung pariwisata.“Kami mengenalkan lebih luas keindahan yang dimiliki Lovina. Dari awal juga kami sudah melibatkan desa adat dan dinas untuk menggali potensi dengan konservasi penyu, agar pengelolaan ke depan lebih maksimal,” ungkapnya. Ia menambahkan Lovina Festival dibarengi dengan Wonderful Indonesia dan Sail Indonesia yang diramaikan juga oleh kedatangan yatch dari Australia. Kapal Bupati Putu Agus Suradnyana bersama jajarannya

Story

Wajah Maryati (65) sembab. Ia terlihat murung. Tubuhnya yang dulu gemuk kini terlihat kurus. Maryati memang tengah menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Yang terakhir adalah anak lelaki kesayangannya, Farul (36) baru saja mengecewakan hatinya. “Dia pergi jalan-jalan ke Jawa setelah menggadaikan mobil,” katanya sedih. Setelah puluhan tahun berlalu, Maryati baru merasakan sakitnya membesarkan seorang anak dengan cara memanjakannya berlebihan.

F

arul adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu. Cukup lama Maryati menanti kelahiran Farul setelah memiliki tiga orang anak perempuan sebelumnya. Jarak

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

7

Penyesalan yang Datang Terlambat penantian Maryati pada kelahiran Farul adalah 10 tahun kemudian setelah anak perempuan terakhirnya. Karena itu, betapa bahagianya Maryati ketika Farul lahir. Farul menjadi bintang dalam segala hal dalam keluarga tersebut. Terutama Maryati yang sangat memanjakannya. Sejak kecil Farul telah memiliki dua pengasuh. Hidupnya begitu sempurna dengan kasih sayang ibundanya yang penuh sesak. Bahkan seluruh permintaan Farul, terutama yang bersifat materi selalu dipenuhi. Farul tumbuh sebagai pribadi yang

kebutuhannya serba terpenuhi. Di sekolah ia selalu menjadi “dermawan” yang saban hari mentraktir teman-temannya. Dan itu berlangsung hingga ia kuliah di salah satu universitas ternama di Jawa Timur. Dari Pulau Sumbawa, Farul berangkat kuliah ke Jawa Timur dengan fasilitas super lengkap. “Farul tinggal di rumah kontrakan di kawasan elit lengkap dengan pembantu. Ia dibekali sebuah mobil dan uang saku yang jumlahnya fantastis setiap bulannya,” ungkap Rino, salah seorang rekan yang pernah menumpang

“Farul tinggal di rumah kontrakan di kawasan elit lengkap dengan pembantu. Ia dibekali sebuah mobil dan uang saku yang jumlahnya fantastis setiap bulannya,”

tinggal bersamanya di rumah kontrakan tersebut. Rino dan dua orang lain yang sama-sama berasal dari Pulau Sumbawa itu sengaja diminta tinggal gratis di rumah tersebut untuk menemani dan membantu segala urusan Farul. Bahkan seluruh kebutuhan makan dan minum mereka juga ditanggung oleh Maryati. Masih segar dalam ingatan Rino, bahwa nyaris setiap minggu Farul mendapatkan kiriman dari kampung halamannya. “Pakai pesawat dari Bandara Bima, makanan dan camilan juga uang selalu dikirim oleh ibunda Farul,” ungkap Rino yang kerap kebagian tugas mengambil kiriman tersebut. Intinya Farul tidak pernah kekurangan apa-apa selama kuliah di Jawa Timur. Rumah kontrakannya selalu ramai oleh kawan-kawannya yang juga saban hari makan dan minum bersamanya. Sayangnya, dengan perhatian dan kasih sayang yang berlebihan itu, Farul malah tidak menjalankan kuliahnya dengan baik. “Ia malah terjerat judi sehingga kuliahnya berantakan,” kata Rino. Enam tahun kuliah Rino tidak kelar-kelar sampai ia harus pulang kampung. Tapi

demi menyelamatkan muka orangtuanya, ibunda Farul terpaksa “membeli” ijazah sarjana pada universitas lain. Pulang ke kampung Farul tidak membaik akibat masih terus dimanjakan oleh Maryati bahkan sampai ia menikah dan memiliki anak. “Istri atau pun saudaranya tidak ada yang boleh menegur apalagi memarahi dan berkata keras pada Farul meski Farul melakukan kesalahan karena Maryati siap membela Farul kapan pun,” ujar Rino. Hal inilah yang membuat Fahrul akhirnya bercerai dengan istrinya. Bersamaan dengan itu, kehidupan ekonomi Maryati runtuh dan mereka jatuh bangkrut. Farul tidak lagi mendapat pasokan materi yang cukup, sehingga satu per satu harta orangtuanya dijual sampai tinggal tersisa satu mobil dan sebuah rumah saja. “Itu pun sertifikat tanah dan rumah ini serta surat-surat kendaraan kami yang tersisa, sudah digadaikan oleh Farul,” kata Maryati sedih. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi anaknya ini. Ia telah salah mengasuhnya dan baru kini disesalinya setelah semuanya terlambat. -Naniek I. Taufan

Wujudkan Mimpi Ratusan Juta Rupiah Bersama Easy Shopping “Easy Shopping”, perusahaan catalog base mail order pertama di Indonesia yang menjual produk-produknya melalui katalog surat jarak jauh, kembali menganugerahkan hadiah ratusan juta rupiah kepada para pelanggan terloyalnya untuk periode promosi 21 April – 15 Agustus 2016. Sebelumnya, Easy Shopping secara rutin berbagi hadiah ratusan juta rupiah di setiap periode promosi. Acara penganugerahan hadiah kali ini dilaksanakan Kamis (8/9) di Hotel Millenium Jakarta yang dihadiri oleh Esther Mulyani Adhi, pemenang hadiah utama senilai Rp 399 juta dari Bogor; Indah Ernawati, pemenang hadiah pertama senilai Rp 100 juta dari NTB; Beato Videntus Bifel, pemenang hadiah kedua senilai Rp 30 juta dari NTT; Brand Ambassador Easy Shopping, yaitu Chintami Atmanagara, Nia Daniaty, Yati Surachman dan Barry Prima; media press serta perwakilan dari manajemen Easy Shopping. Acara ini merupakan bentuk apresiasi atas loyalitas pelanggan Easy Shopping yang telah berbelanja selama periode promosi hadiah. Acara berjalan dengan lancar dan meriah. Terlihat sekali wajah ceria dan bahagia dari para pemenang. Mereka sangat bersyukur dan tidak menyangka akan memenangkan hadiah ini, sehingga dapat mewujudkan impian mereka. Hal ini diungkapkan oleh Esther Mulyani Adhi (67). “Hadiah Rp 399 juta rencananya akan saya gunakan untuk mengurus sertifikat rumah yang masih belum beres. Awalnya saya mengetahui Easy Shopping dari flyer yang saya dapatkan di kantor Pos. Saya sangat yakin bahwa mungkin ini adalah jalan Tuhan untuk membantu saya mendapatkan sertifikat rumah yang saya huni sekarang. Terimakasih, impian saya untuk memiliki rumah ini seutuhnya akhirnya terwujud,” ujarnya. Sementara itu, Indah Ernawati (56) mengaku hadiah ini akan ia pergunakan untuk umroh yang sudah menjadi impiannya sejak lama. Lain halnya dengan Beato Bifel (24) yang merupakan pemenang termuda sepanjang periode promosi Easy Shopping. “Hadiah Rp 30 juta ini akan saya pergunakan untuk membantu biaya pendidikan kuliah saya. Semoga saya cepat lulus,” tegasnya.

Sepanjang beroperasinya Easy Shopping di Indonesia, telah banyak hadiah yang dibagikan dengan jumlah total Rp 529 juta per periode promosi dan telah banyak pula impian para pemenang yang telah terwujud. “Selain hadiah besar yang ditawarkan, berbelanja dengan Easy Shopping juga memiliki beberapa keuntungan, antara lain praktis dan nyaman, bebas risiko dan bebas khawatir, garansi 100% uang kembali jika pelanggan tidak puas. Easy Shopping juga akan mengganti barang baru jika barang yang diterima oleh pelanggan rusak,” imbuh Aliando M. Zibran, Departemen Media Marketing PT. Karisma Bahana Gemilang. Acara penganugerahan hadiah ditutup dengan sesi foto bersama para pemenang dan Brand Ambassador. Bagi Anda yang belum menjadi pemenang periode kali ini, bergegaslah! Ikuti terus program promosi Easy Shopping dan cari tahu cara memenangkan hadiahnya! Hubungi call center 0804-140-1028 sekarang juga atau kirimkan kupon yang tertera pada iklan Easy Shopping di media cetak ke PO BOX 6688 Slipi Jakarta Barat 11410. Sekali lagi, selamat kepada para pemenang dan sampai jumpa pada penganugerahan hadiah berikutnya! Mari wujudkan mimpi bersama Easy Shopping!

Yudisium Fakultas Ekonomi Unipas Universitas Panji Sakti Singaraja melepas 46 orang sarjana dari Fakultas Ekonomi yang bertempat di gedung auditorium Unipas, Senin (10/9). Keseluruhan calon wisudawan merupakan mahasiswa yang berada pada Konsentrasi Sumber Daya Manusia, Konsentrasi Keuangan, dan Konsentrasi Pemasaran. Dekan Fakultas Ekonomi Unipas I Nyoman Suandana, S.E.,M.Si., mengatakan ada penurunan jumlah yudisiawan dibanding tahun lalu namun secara kualitas ada peningkatan dengan nilai IPK tertinggi 3,73. Suandana mengimbau kepada para alumni agar dapat bersaing dalam dunia kerja dengan meningkatkan kualitas diri. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Fakultas Ekonomi Unipas, Suandana juga berencana membuka program dengan Konsentrasi Manajemen Rumah Sakit. Fakultas Ekonomi juga berkeinginan untuk membuka program Pascasarjana. Rektor Unipas Dr. Drs. I Ketut Gunawan, M.M. juga berharap agar para alumni dapat mempergunakan pengetahuan dan ketrampilan dalam dunia kerja untuk meningkatkan karirnya. Mereka yang belum bekerja diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja minimal untuk dirinya sendiri, sebab dalam perkuliahan mereka sudah dibekali kewirausahaan. -Wiwin


6

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Bangga menjadi orang Bali harus disertai dengan sikap mau berubah bahkan berani membangun sesuatu yang baru untuk perbaikan Bali. Selama ini, budaya Koh Ngomong (enggan atau malas bicara) seolah menjadi pelengkap kekayaan pariwisata kita yang mengagungkan budaya.

K

etika ada momen harus bicara dan kita tidak mampu bicara, maka kita langsung berlindung dengan ucapan, “Ya orang Bali memang punya budaya Koh Ngomong.” Benarkah budaya satu ini sudah tidak perlu dipertahankan lagi? Menurut pemilik Daneswara Training, Kadek Eni Marhaeni, S.E., M.M., sekarang mari kita telaah ungkapan guru komunikasi Tony Robbins yang mengatakan The quality of your life is the quality of your communication. Kualitas hidup Anda adalah kualitas komunikasi Anda. “Nah, lanjutnya agar orang tidak meragukan kualitas diri kita, kualitas komunikasi tentu harus dibenahi. Bahkan teori Maslow juga mengungkapkan bahwa kebutuhan dalam mengaktualisasi diri sangat ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi,” ujar Eni yang di masa

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

kuliahnya sempat mengikuti pertukaran Pemuda Indonesia - Kanada ini. Eni Marhaeni telah belajar llmu public speaking di University of Sydney, Australia dan berguru langsung denganTony Robbins (guru komunikasi dan motivator no. 1 dunia) ini, sekali lagi menekankan meski kualitas komunikasi merupakan cerminan kualitas diri. Namun, saat ini masih banyak orang mengalami kendala ketika berkomunikasi, khususnya saat berbicara di depan umum. Orang yang mengalami kondisi ini sering diistilahkan dengan demam panggung. Kondisi ini, dapat menyerang siapa saja ketika tampil berbicara di depan umum. Jika tidak ditangani dengan baik, demam panggung dapat mengakibatkan trauma mendalam, stress, bahkan dunia terasa kiamat. Untuk dapat mengatasi masalah ini, katanya kita perlu belajar atau mengikuti program

Eni Marhaeni

public speaking clinic yang akan mengupas tuntas rahasia sukses melakukan persentasi atau berbicara di depan umum. Di sana nanti, kita akan tahu cara tercepat mengatasi demam panggung dan bersahabat dengan audiens.

Mampu menyiapkan materi pembicaraan dengan baik sehingga tidak mudah lupa, dan menikmati momen tampil bicara penuh percaya diri. Dikatakan oleh dosen MICE di Prodi BisnisPoliteknik Negeri Bali ini, meningkatkan kualitas komunikasi khususnya dalam berbicara di depan umum menjadi tuntutan yang harus segera dilakukan untuk membuktikan Bali siap berkompetisi di era global. Sebuah program berjudul “Revolusi Budaya Koh Ngomong” yang digagas di bulan Oktober nanti dengan spirit Sumpah Pemuda akan mengumpulkan para pemuda untuk mengikuti coaching public speaking sebagai perwujudan kerja nyata dari revolusi mental untuk membangun budaya berani bicara,” papar ibu dari Ademas, Januartha dan Eling Pramuatmaja yang juga mengelola sebuah event organizer ini. Lebih lanjut disampikan bahwa program coaching ini seterusnya

akan dilanjutkan dengan kesempatan konseling dan praktik secara gratis di Shankara Resto (Bale Banjar Internasional Shankara). Mereka yang telah mengikuti coaching ini nantinya diharapkan bisa menjadi perintis terbentuknya komunitas Public Speaking seperti klub atau UKM di setiap sekolah, kampus, maupun komunitas. “Gerakan ini juga bekerja sama dengan radio Cassanova FM melalui program “Public Speaking Clinic” yang disiarkan setiap hari Minggu pkl. 11.00 - 12.00 dua minggu sekali. Kegiatan ini diharapkan akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah sehingga Bali siap berkompetisi di era global dengan memiliki kemampuan berkomunikasi yang membanggakan. Diam tidak selalu emas, banyak kesempatan emas hilang karena diam,” tutur Eni yang punya mimpi memiliki galeri kata-kata indah, agar bisa membantu afirmasi sukses melalui kata-kata. –Sri Ardhini

Buleleng Potensial Tanam Buah Naga

Made Sudiartana

buah naga bukan hanya melihat penghasilan yang besar tetapi juga melihat kondisi tanah lahannya. “Saya dengar tanaman berasal dari gurun sehingga tidak membutuhkan banyak air,” jelasnya. Hingga saat ini ia menyimpulkan bahwa tanaman tersebut cocok ditaman di lahan kering miliknya. Tanaman yang mulai berbunga pada bulan kesembilan ini juga ditanam secara organik. Dek Bung menuturkan dalam pemupukan

dirinya hanya menggunakan pupuk kandang dan menghindari obat-obatan kimia. Hal tersebut dikarenakan sangat mempengaruhi rasa buah itu sendiri. “Kalau tempat lain saya tidak tahu cara pemupukannya, tetapi kalau di pasar pedagang pasti lebih memilih tanaman organik,” ungkapnya. Menurutnya banyak perbedaan yang ditemukan antara buah naga organik dan nonorganik. Buah naga organik memiliki ukuran lebih kecil dan rasanya manis sedangkan dengan sistem nonorganik akan menghasilkan buah lebih banyak dan ukuran yang lebih besar namun rasanya akan lebih masam. Pria kelahiran 26 Maret 1970 tersebut mengaku keuntungan lain menanam buah naga adalah panennya yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Misalnya sekarang seharusnya dipanen tetapi seminggu lagi baru ada hari raya, panennya bisa ditunda dulu,” jelasnya. Meskipun ditunda akan tetapi tidak akan memengaruhi jumlah produksi maupun kualitas buahnya. “Kulitnya tebal jadi tahan untuk waktu yang lama,” tambahnya. Anggota kelompok tani Lila

Cita Karya tersebut juga mengatakan bahwa di Buleleng dan Desa Kalisada pada khususnya sangat potensial untuk ditanami buah naga. Hal tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah terkait, jangan sampai

19

Heri Lentho

Konsisten dengan Karya Merah Putih

Membangun Budaya Bani Ngomong

Sudut Pandang Memiliki lahan kering atau tidak cukup subur bukanlah perkara besar, asalkan mampu memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah. Hal tersebut diungkapkan oleh Made Sudiartana petani asal desa Kalisada kecamatan Seririt, Buleleng. Lima tahun yang lalu, ia dipusingkan karena menurunnya hasil panen akibat usia tanaman yang semakin menua. Bukan hanya itu, ia juga kebingungan mencari tanaman pengganti yang cocok untuk ditanam di lahan miliknya. Berawal ketika Dek Bung panggilan akrabnya, menjual cagak (kayu tumpuan untuk tanaman merambat) bekas tanaman anggurnya kepada rekannya dari Jawa, ia akhirnya mencoba menanam buah naga. “Mereka jauh-jauh mencari cagak ke Bali pasti untuk menghasilkan sesuatu yang besar. Akhirnya saya pun ikut mencoba menanam buah naga,” jelasnya. Ada sedikit keraguan diawal rencananya, akan tetapi ia tepis dengan mencari bibit dengan kualitas terbaik ke Banyuwangi. Memang di Buleleng, ia bukan orang pertama yang mencoba menanam akan tetapi pertama menanam untuk desa Kalisada. “Kalau beli bibit di sini takutnya lama menghasilkan,” ujarnya. Keinginannya menanam

i n e a h r a M i n E

Woman on Top

yaitu Demo Tari yang digagasnya. Dari Demo Tari, inilah akhirnya bisa mengeluarkan kelompok mahasiswa ke jalan untuk aksi, di belakang pertunjukan tari yang dibawakannya. Gerakan kesenian itu kini banyak ditiru dengan sebutan happening art. Tak hanya itu, Heri Lentho, juga

K

arya pertamannya berjudul “Lentho” dibawakan pada 1989-an, dengan iringan puisi “Generasi Gagap” milik WS Rendra. Karya yang bertujuan mengkritik perilaku mahasiswa yang cuek terhadap sosial masyarakat saat itu. Tak disangka, judul itulah yang akhirnya melekat pada namanya. “Sejak pertunjukan itu, saya dipanggil Heri Lentho. Aku sendiri gak suka

Buleleng yang sudah potensial harus mendatangkan buah naga dari daerah lain. “Selama ini sudah sering koordinasi dengan pemerintah tetapi sampai saat ini masih disuruh menunggu,” pungkasnya. -wiwin

makan Lentho, tapi sekali makan kok banyak. Akhirnya dipanggil Lentho itu,” kata Heri, yang memiliki kepala botak ini. Karya Lentho, disusul dengan lainnya seperti Kedok (1990), Wadam (1991), Dwi Oknum (1995), dan masih banyak lagi. Meski di masa itu segala bentuk demo dan protes terhadap pemerintahan sangat dibatasi, tapi mantan mahasiswa IKIP Surabaya ini tak habis akal. Dia menemukan gerakan kesenian

Heri Lentho

aktif pada organisasi dan acara kesenian daerah. Misalnya Festival Topeng Muludan, Surabaya Juang, dan Citraland Superfast Surabaya. Darah seninya lahir dari keluarga

Kehidupan Anak Negeri dalam Bingkai Foto Kehidupan anak-anak di Indonesia mendapat sorotan komunitas fotografi. Puluhan fotografer di Surabaya yang tergabung dalam komunitas fotografi menggelar pameran foto di Galeri Seni M Radio Surabaya mulai 3-10 September 2016. Komunitas Fotografi regional Jatim ini mengangkat

tema tentang kehidupan anak negeri. Alasannya, karena ingin mengeksplor kegiatan apa saja yang dilakukan anak-anak kecil di era modernisasi. “Kami mengangkat kehidupan anak negeri ini, karena anak-anak di Indonesia tidak semua memiliki nasib yang sama. Meski begitu keunikan dari kepolosan mereka dalam

menghadapi semua keadaan baik senang maupun susah selalu terselip ada keceriaan,” kata Ketua Panitia Pameran Foto sekaligus Ketua Komunitas Fotografi Regional Jatim, Adistya Wahyu. Pameran foto anak negeri yang pertama ini, diharapkan, agar para orangtua bisa lebih memahami lagi kehidupan anak-

Mencintai bangsa dan tanah air Indonesia, dapat dibuktikan melalui banyak hal. Misalnya, menjadi seorang seniman. Seperti, Heri Prasetyo atau Heri Lentho. Pria asal Malang ini, salah satu dari sekian banyak seniman tanah air yang konsisten menyerukan ide-ide Merah Putih lewat karyanya. Berbekal bakat menari, pria kelahiran 13 Mei 1967 ini, banyak menciptakan koreografi dan mendapatkan penghargaan. mantan gerilyawan. Sang ibu yang bekerja sebagai juru masak pada salah satu rumah keluarga Tionghoa, sekaligus merangkap sebagai petugas pemeriksa tiket pertunjukan wayang orang di Gedung Flora Malang, milik majikannya. Sang ibu sering menggerak-gerakkan tangan Heri Lentho, kecil agar mengikuti irama kiprahan wayang orang. “Mungkin dari sanalah, darah seni saya bermula,” kenang Heri Lentho. Selain jiwa seni, Heri Lentho, banyak belajar disiplin, rasa tanggung jawab, dan mandiri, dari pamannya saat bertugas sebagai pejuang. Mata sang paman terkena mortir, sehingga mengalami kebutaan. Karena buta itulah, Heri Lentho, mendapat tugas untuk menemani sang paman melakukan aktivitasnya sehari-hari. “Kalau paman bekerja, aku harus menuntun. Upahnya, aku dikasih lagulagu gerilya. Paman sebagi pejuang veteran tidak mau mengurus administrasi agar mendapat tunjangan dana

anak yang harus diberikan perhatian lebih. ‘’Saya juga mengharapkan peran orangtua yang lebih per­ hatian pada anakanak dan membuka mata bagi orang-orang yang selama ini kurang peduli dengan anak jalanan dan anak pesisir yang terkadang mencari uang sendiri demi menyambung hidup mereka,” imbuhnya. -Dona

kehormatan sebagai seorang pejuang veteran. Dia bilang pejuang kok pamrih. Keteladanan ibu dan pamanku itu yang mewarnai nilai-nilai ekspresi selama jadi seniman,” terang anak bungsu dari tujuh bersaudara ini. Keseriusannya di bidang seni membuat laki-laki yang gemar memakai baju batik ini, sangat pantas jadi teladan. Banyak prestasi yang telah dicapainya. Tahun 2014, ia menerima penghargaan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk kategori kreator seni pertunjukan. Satu tahun kemudian, ia mendapat undangan dari Tadashi Suzuki, sutradara Suzuki Company Of Toga (SCOT), untuk menampilkan pertunjukan kesenian daerah di Toga Festival, Jepang. Heri Lentho membawakan koreografi berjudul Topeng Bang-Tih (abang-putih) atau dalam Bahasa Indonesia yang berarti merah-putih. Prestasi yang ia torehkan itu tentunya membanggakan bagi Indonesia. -Dona


20

Nine

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Dengan tiga cetakan kue saroja yang merupakan warisan turuntemurun dalam keluarganya, Rita dengan cekatan membuat 300 kue saroja yang gurih dalam satu resep. Aktivitas para perempuan membuat kue saroja di Desa Rasa Bou Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat ini, memang telah dilakukan sejak dulu.

D

e s a Ra s a B o u merupakan salah satu sentra pembuatan kue tradisional di Kecamatan Bolo, selain sentra pembuatan kue tradisional yang disebut pangaha bunga di Desa Kananga dan juga minasarua di Desa Bontokape. Setiap hari ribuan kue saroja diproduksi dari dapur-dapur sederhana milik warga Rasa Bou. Pekerjaan membuat kue saroja di desa ini diakui oleh para ibu rumah tangga sangat membantu ekonomi keluarga mereka. Baik itu pemilik sentra pembuatan kue saroja maupun yang bekerja dalam rantai proses pembuatan kue saroja. Bagaimana tidak, dalam proses produksi kue saroja ini juga melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar tempat pembuatan kue saroja. Penghasilan mereka

Ribuan Kue Saroja Diproduksi Tiap Hari terbilang lumayan sampai dapat membantu ekonomi keluarga. Hal ini diakui oleh Kartini (41) yang sudah tiga tahun belakangan ini ikut membantu membuat kue saroja di rumah salah seorang warga. “Sebulan saya bisa mendapat penghasilan lebih satu juta rupiah,” ujarnya. Menurutnya ini sangat membantu ekonomi keluarganya. Bagusnya, pekerjaan ini bisa dilakoninya sembari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Jadi sama sekali tidak mengganggu urusan pekerjaan di rumah tangga saya,” ungkapnya. Penghasilannya tersebut bisa bertambah jika ia bekerja dari pagi hingga sore hari. Usai menunaikan salat subuh Kartini biasanya sudah mulai bekerja. Hanya butuh satu setengah hingga dua jam ia sudah dapat menyelesaikan satu resep dengan bayaran Rp 25.000. “Setelah itu saya bisa pulang ke rumah mengurus rumah dan anak-anak pergi sekolah,” ujarnya. Ia beruntung karena jarak rumah dan tempatnya bekerja sangat dekat bahkan berada dalam satu lingkungan. Sekitar pukul 09.00 Kartini bisa kembali bekerja membuat kue saroja satu resep lagi dan dua

Resep kue saroja, sederhana dan mudah diperoleh

Kue saroja kuliner tradisional Bima

jam kemudian ia bisa mendapatkan Rp 25.000 lagi. Setelah itu ia beristirahat dan kembali pulang. Kira-kira usai salat dhuhur ia bisa bekerja lagi dan mendapatkan Rp 25.000. Serta kembali masuk sore hari usai salat ashar. Praktis, jika ia mengambil semua empat waktu tersebut untuk bekerja, maka sehari penghasilannya bisa mencapai Rp 100.000. “Kalau ramai pesanan hasilnya lebih dari itu,” ujarnya. Kartini termasuk salah seorang

Proses penggorengan kue saroja

yang sudah mahir membuat kue saroja, mulai dari proses membuat adonan hingga cara menggorengnya. Lalu kenapa ia tidak memproduksi sendiri kue saroja dan mendapatkan penghasilan lebih baik dari hanya sekedar bekerja pada orang lain? Rupanya masalahnya tidak semudah itu namun terasa unik. Pasalnya, jika dilihat kasat mata, pembuatan kue ini mulai dari membuat adonan hingga pengemasannya sangatlah sederhana. Bahan pembuatan kue saroja dengan mudah dapat diperoleh bahkan di kios-kios kecil, tepung beras putih, telur gula, tepung kanji dan garam serta kapur sirih. “Hanya itu bahannya, praktis dan mudah diperoleh,” ungkap Rita. Namun begitu, rupanya tidak semua orang bisa membuat kue saroja ini tanpa keahlian khusus. Cara membuatnya pun sederhana. Rita kemudian membagi resep dan cara membuat kuliner tradisional ini. Satu resep kue saroja terdiri dari ½ kilogram gula pasir, 8-10 butir telur, 1,5 kilogram tepung

beras putih, lebih kurang 400 gram tepung kanji, garam dan kapur sirih secukupnya. Seluruh bahan ini dicampur rata dengan air hingga cair sesuai dengan kebutuhan. Menggorengnya harus dilakukan dalam minyak yang sangat panas. Tiga cetakan saroja sebelumnya sudah direndam dalam minyak panas di atas kompor yang menyala. Lalu satu-persatu cetakan tersebut dicelupkan ke adonan cair kue saroja dan begitu adonan lengket pada cetakan harus dengan cepat dimasukan dalam minyak panas. Lalu setelah adonan masuk dalam minyak yang panas, dengan bantuan sebuah kayu yang juga dibuat khusus, adonan kue saroja tersebut dilepaskan dari cetakannya. Menggoreng kue saroja tidak butuh waktu lama. Sebelum terlihat cokelat, kue saroja sudah harus diangkat. Sangat praktis dan dapat dikerjakan sambil mengerjakan urusan rumah tangga. “Satu resep ini akan menghasilkan 300 biji kue saroja dengan harga Rp 150.000,” kata Rita. –Naniek I. Taufan

Rita

Cetakan Lama Hasilkan Tampilan Menarik Meski rata-rata perempuan Rasa Bou yang berada dalam satu lingkungan dengan sentra pembuatan kue saroja ini bisa membuat kue saroja, tapi tidak semua dari mereka ini dapat memproduksi sendiri kue saroja melainkan kebanyakan mereka bekerja pada dapur pembuatan kue saroja pemilik cetakan kue saroja. Alat pembuatan (cetakan) kue saroja yang bisa menghasilkan kue yang renyah dengan tampilan yang menarik dan ketebalan serta

tinggi yang pas, hanya bisa dibuat dari cetakan lama kue saroja yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga pembuat kue saroja. Cetakan asli yang dibuat zaman dululah yang bisa membuat tampilan kue saroja menarik. Cetakan-cetakan kue saroja zaman dulu ini, terbuat dari kuningan asli. Meski banyak cetakan kue saroja yang dibuat sekarang, menurut para pembuat kue saroja, hasilnya tidak sama dengan jika dibuat dengan cetakan asli. “Kami sendiri tidak tahu mengapa

demikian. Pernah beberapa kali dicoba pakai cetakan baru hasilnya tidak bagus,” ungkap Rita. Hal yang sama juga diungkapkan Kartini dan Jumhar, pembuat kue saroja lainnya. Hal inilah yang membuat kini tidak banyak lagi para pembuat kue saroja kecuali mereka yang masih dapat menemukan cetakan kue saroja lama yang diwariskan keluarga mereka. Ada pula yang memburu cetakan tersebut pada orang-orang yang sudah tua yang tinggal di kampung-

Cetakan asli kue saroja

kampung yang diperkirakan masih menyimpan cetakan kue saroja tersebut. “Sayangnya tidak banyak lagi ditemukan cetakan kue saroja yang asli, karena hanya dengan cetakan

asli saja bisa menghasilkan kue saroja seperti bentuk aslinya,” kata Kartini dan Rita. Cetakan kue saroja yang asli inilah yang bisa mempertahankan kuliner khas Bima ini. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

5

Wayan Supadno

Tularkan Semangat dan Pengalaman Sukses Kehidupan petani sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup Wayan ­Supadno. Pria kelahiran Banyuwangi, 20 Juni 1967 ini lahir dari orangtua petani. Kehidupan sebagai petani gurem dengan lahan terbatas membuat mereka ikut transmigrasi ke Sulawesi. Kini, Supadno tinggal memetik ­hasil dari kerja kerasnya di bidang pertanian. Ia pun membagi kiat agar bisa ­menjadi petani sukses dalam acara “Workshop Peluang Bisnis Agro Ajegkan Bali” di Gedung Pers Bali K. Nadha, Senin (12/9).

S

upadno menuturkan saat masih sekolah ia pernah dua kali tak naik kelas. Ia juga pernah berada di rangking 47 dari 47 siswa. Namun, ia tak mau terpuruk. Supadno bangkit hingga berhasil kuliah di Universitas Airlangga Surabaya dan masuk dunia militer. Kini ia berpangkat Mayor. Dunia pertanian tak bisa jauh dari kehidupan Supadno. Ia mengutip apa yang disampaikan seniornya Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, selain menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia, ia juga bagian dari Tani Nasional Indonesia. “Saya banyak dapat ilmu dari perjalanan, tidak hanya dari buku. Ilmu yang saya dapatkan kemudian saya bagibagikan kepada masyarakat,” tegas pria berusia 49 tahun ini. Supadno memang dikenal sebagai praktisi pertanian yang andal. Ia menjadi formulator pupuk organik hayati dan hormon organik. Namun, ada hal yang ia sayangkan. “Menurut Sensus Pertanian 2013 komposisi petani muda hanya 12%. Jumlah pengusaha di Indonesia hanya 1.67% dari idealnya minimal 10%. Luas lahan 70 % dari total luas sudah dikuasai oleh hanya 10% dari jumlah penduduk kita. Aset bangsa sudah 90% dikuasai hanya oleh 1% punduduk kita. Komposisi kemiskinan masih didominasi masyarakat perdesaan/pertanian,” ungkap ayah tiga anak ini. Ia juga menyayangkan jutaan hektare lahan tidur akibat kurang pelaku. Jutaan ton hasil pertanian luar negeri kita impor menguras devisa bangsa. Banyaknya anak muda termasuk sarjana pertanian enggan bertani. Iptek belum

Wayan Supadno

membumi yang menjadikan rendahnya provitas pertanian kita. Rendahnya mutu infrastruktur pertanian berdampak pada minimnya laba petani dan kalahnya persaingan dengan produk impor. Kebijakan pemerintah yang kurang merangsang bergairah untuk cinta dan menggeluti pertanian. Perbankan belum menjadikan petani sebagai mitra yang patut dipercaya untuk diberi fasilitas kreditnya. “Dari banyaknya permasalahan itu, solusinya bangun SDM yang berkarakter terpercaya dan tanggap serta mampu terapkan iptek di lapangan. Improvisasi diri oleh para pelaku pertanian agar mampu berdaya saing dengan petani luar negeri. Melakukan langkah nyata di lapangan baik on farm sampai dengan off farm,” tegas Supadno. Ia juga memberi kiat konsistensi terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan. Mampu mengambil

ilmu hikmah dari kegagalan/kesuksesan diri dan orang lain. Tahu diri dan mampu menjabarkan kebutuhan dan keinginan mitranya. “Seluruh komponen masyarakat Bali harus mulai mengubah pola pikirnya untuk menanam dan menjabarkan Tri Hita Karana. Bukan malah menebang, apalagi berlomba-lomba memasarkan tanahnya untuk kavlingan. Salah satunya dengan terjun menjadi pengusaha muda di bidang pertanian,” harapnya. Pemda dan tokoh-tokoh Bali juga harus menyadari bahwa jalan pintas penjabaran ajaran Hindu melalui pembangunan petani dan pertanian. Penting ada gerakan massal membangun semangat kembali membangun perdesaan agar terbentuk kegiatan rutin menyibukkan anak-anak muda sehingga punya passive income yang tak kalah dibanding di kota. Pemerintah daerah, kata Supadno, perlu membuat contoh-contoh nyata di lapangan. Bagaimana agar usaha-usaha pertanian mampu mendongkrak nilai tukar petani dan bernilai ekonomi tinggi. Termasuk membuat taman terapan teknologi pertanian di seluruh kabupaten/ kota. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat agar gemar beragribisnis. “Sering hadirkan para praktisi dan pakar untuk menularkan semangat, ilmu, serta pengalaman suksesnya kepada masyarakat luas di daerah seBali,” tandasnya. KALKULASI LOGIS Saat workshop, Supadno juga memberi pondasi sukses dalam bertani. Cerdas Spiritual, mampu bedakan halal dan haram serta

yakin betul bahwa Tuhan tiada pernah mengubah nasibnya jika tanpa berusaha mengubahnya sendiri. Cerdas Emosional, mampu membangun semangat diri agar jadi sumber kekuatan luar biasa. Cerdas Rasional, mampu buat kalkulasi logis dalam berbisnis. Langkah-langkahnya antara lain membuat analisa SWOT internal terhadap diri sendiri dan jabarkan terkait sasarannya. Buat segmentasi, target dan posisi harapan kerjanya, Smart Goal. Mampu analisa sasaran yang khusus, memungkinkan, tergapai, terukur, dan terukur dengan waktu jelas buat evaluasi. Supadno juga memberi kalkulasi beberapa komoditi yang bisa dijadikan andalan, seperti kelapa puyuh hibrida (kelapa daksina), pisang, lada, duren musangking, jeruk dekopon, buah naga, dan pinang. Kalkukasi logis kelapa daksina, dengan jarak tanam 5 m x 6 m, potensi hasil 250 butir/pohon/tahun x 330 pohon/hektare x Rp 3.000/butir = Rp 247,5 juta/hektare/tahun. Investasi per pohon sampai buah sekitar Rp 75.000 x 330 pohon/hektare = Rp 24,75 juta/hektare. Kalkulasi jeruk dekopon, jarak tanam 5 m x 5 m, potensi hasil dengan harga terendah di kebun Rp 400 pohon/ hektare x 65 kg/pohon/tahun x Rp 30.000/kg = Rp 780 juta/hektare/tahun. Investasi Rp 150.000/ pohon sampai buah x 400 pohon = Rp 60 juta/hektare. “Saya sudah bertemu Bupati Klungkung dan Bupati Karangasem. Mereka sangat mendukung masyarakat agar menanam kelapa. Mari berlomba-lomba menanam kelapa dan menabur benih-benih kebaikan. Kelompok Media Bali Post juga selalu mendukung dengan meng-update berita-berita pertanian. Mari miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki,” tegas Supadno. –Rindra/Ngurah Budi


4

Inspirasi

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Tas kulit ular kian menjadi tren di kalangan para penggemar tas. Tak heran kalau harganya kini kian melambung, khususnya tas kulit ular phyton yang kini paling banyak dicari. “Keunggulan kulit ular phyton terletak pada kekuatannya yang lebih dibanding kulit ular lain,” ungkap Yeni Setiawati, pemilik usaha ‘Dania Handycraft’.

J

ika dibandingkan antara kulit ular phyton dan kobra, kata Yeni, maka phyton bisa tetap awet hingga 10 tahun lebih, sedang kobra hanya sekitar 3 tahun. Begitu juga soal kekuatannya, phyton bisa mengangkat beban 1 kg lebih sedang kobra tidak bisa. “Artinya kalau dipaksakan terus menerus tas kulit kobra bisa jebol. Beda dengan phyton yang tetap bertahan. Jadi berdasarkan pengalaman itu saya lebih merekomendasikan kulit kobra untuk dompet saja,” tutur Yeni.

Yeni Setiawati

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

21

Mataram Magnet Tumbuh Kembang

Kepincut Kulit Ular Seni Teater

ini, katanya, menjadi motivasi besar untuk terus menekuni bisnis ini. “Tapi sekarang pun meski ‘pemainnya’ lumayan banyak, tapi permintaan terhadap produk kami tetap tinggi, bahkan terus meningkat. Ini semua tak lepas dari peran reseller juga rajinnya kami berpromosi lewat internet maupun pameran-pameran,” kata Yeni yang telah mengekspor produknya ke manca negara antara lain, Korea, Jepang, Cina dan Rusia. Yeni mengaku kulit ular didapatnya dari pengepul di Sumatera. “Di sepanjang Sumatera populasinya banyak mulai dari Aceh, Riau, Medan. Sebagian besar bahan dasarnya kami ambil di sana, khususnya untuk phyton. Yang kita ambil bukan ular hidup, lho, ya, tapi kulit yang sudah dikeringkan,” jelasnya. Pengepul di Sumatera, tambahnya, bukan hanya menjual kulit ular saja, tapi juga kulit reptil lainnya. “Kulit biawak juga saya ambil di sana. Sebenarnya di Kalimantan juga ada tapi tidak sebanyak di Sumatera,” ujarnya lagi.

Tas kulit ular phyton

Ibu dua anak ini bercerita telah malang melintang di bisnis kerajinan kulit reptil, khususnya kulit ular, sejak tujuh tahun lalu. Ketika itu tas kulit ular belum sebooming sekarang, ‘pemainnya’ atau penjualnya pun belum sebanyak sekarang. Awalnya, lanjutnya Yeni, dia dan keluarganya menekuni bisnis desain grafis dan printing, kemudian beralih ke pembuatan tas termasuk membuat tas bermotif batik. “Kemudian saya bersama suami berpikir untuk mencari ide-ide unik yang menarik pasar. Akhirnya muncul ide membuat tas dari kulit reptil seperti ular, dll. Saya pikir ini sesuatu yang unik dan pasti menarik perhatian orang. Jadi mulailah kita mencoba untuk membuatnya. Jadi boleh dibilang kita awalnya hanya coba-coba,” ucap Yeni yang workshopnya di kawasan Cibitung Bekasi. Hasilnya di luar dugaan. Begitu tas kulit reptil ini diluncurkan, respon pasar sungguh baik. Permintaan tinggi, banyak yang menjadi reseller bahkan ekspor ke berbagai negara. Respon mengembirakan

Mandalika

“Di sana (pengepul) kita bisa memilih membeli kulit ular yang panjangnya 3 meter, 4 meter, 7 meter atau lebih. Yang paling mahal tentu saja kulit ular phyton yang harga permeternya ber-variasi tergantung panjangnya kulit ular itu. Kulit ular phyton yang panjangnya 7 meter atau lebih, jauh lebih mahal dari phyton biasa,” jelas Yeni yang dari kulit reptil itu, selain dibuat menjadi tas juga sepatu dan jaket. KULIT REPTIL LEBIH SULIT Menurut Yeni, harga produk kerajinan berbahan reptil tinggi karena cost produksi tinggi, SDMnya pun khusus. “Dari pengalaman saya menekuni bidang ini, ternyata tidak semua SDM yang biasa menangani produk kulit, bisa menangani produk kulit reptil dengan baik. Memang, kalau sekadar membentuk tas, mereka bisa, tapi bagaimana kualitasnya? Dari pengalaman saya, menangani kulit reptil lebih sulit dibanding kulit biasa,” paparnya.

Pada era 1990-an, Mataram menjadi salah satu magnet tumbuh dan berkembangnya seni teater di Indonesia Timur. Atmosfir berteater di kota ini demikian hangat dan sangat hidup. Para seniman teater kala itu tengah berada pada puncak semangat berkesenian. Pertunjukan demi pertunjukan silih berganti dipentaskan oleh sanggar-sanggar (kelompok-kelompok) teater yang lahir, tumbuh berkembang dan besar dalam suasana berkesenian yang kental.

Kongso Sukoco

Begitu sulitnya mendapatkan SDM yang berkualitas membuatnya kadang kelabakan ketika mendapat pesanan ekspor yang cukup banyak. “Saya tidak mau mengecewakan konsumen. Dalam bisnis ini saya tidak semata mengejar keuntungan tapi mempertahankan kualitas adalah lebih penting. Karena menurut saya keuntungan pasti akan mengikuti begitu kita bisa menghasilkan produk berkualitas dan memuaskan konsumen,” kata Yeni. Jadi, lanjutnya lagi, alasan itulah yang kerap dia sampaikan kepada konsumen yang memesan tas dalam jumlah banyak sekaligus. “Saya bilang, saya tak sanggup kalau harus menyediakan tas dalam tempo cepat dalam jumlah banyak. Ini semata-mata demi menjaga kualitas produk. Saya minta pengiriman berkala. Alhamdulilah, konsumen saya memahami. Mereka ini adalah reseller-reseller setia kami. Mereka biasa memesan banyak selain karena permintaan tinggi di dalam negeri juga karena akan diekspor,” katanya. Tentang harga, Yeni menyebut, untuk tas kulit ular phyton berkisar antara Rp1-3 jutaan, tas kulit biawak Rp1-2,5 jutaan, sedang kobra berkisar Rp1-2 juta. “Kulit kobra memang lebih murah karena kurang kuat dibanding phyton. Namun jika dibanding kulit sapi, kobra jauh lebih kuat,” ucapnya. Sedang sepatu dari kulit ular juga memiliki harga bervariasi yakni antara Rp600-800 ribu. Yang

B

eberapa kelompok teater yang turut mewarnai perjalanan seni pertunjukan teater di Mataram seperti, Bengkel Aktor Mataram

(BAM) yang dipimpin Kongso Sukoco, Sanggar Apresiasi Mataram pimpinan Azhar Zaini, Teater Lho pimpinan R. Eko Wahono, Sanggar Teater Toti Mori pimpinan Sukran Hasan. Lalu berkembang di era 2000-an hadir Teater Kamar Indonesia pimpinan Saepullah Sapturi, Teater Embrio pimpinan Winsa Prayitno dan beberapa lainnya teramasuk teater Mada Duli

di Dompu pimpinan Zulkifli. “Kelompok-kelompok teater ini di masanya melakukan pentas teater secara regular,” ungkap Winsa, Dramaturg yang juga kurator seni pertunjukan Taman Budaya NTB. Begitu juga dengan tumb u h n y a t e a t e r- t e a t e r y a n g berasal dari kampus-kampus dan sekolah-sekolah yang ada di Pulau Lombok khususnya.

Tercatat beberapa kelompok teater yang berasal dari sekolah dan kampus ini seperti, Teater Kampus Universitas Mataram, Teater Putih FKIP Unram, Teater Keadilan Fakultas Hukum Unram, Teater Cemara Dua Fakultas Ekonomi Unram, Teater Sativa Fakultas Pertanian Unram. Lalu ada juga Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram, BKSM – Saksi IAIN Mataram dan Teater Bening NW

Pancor Lombok Timur. Dari sekolah-sekolah tampil Teater Smansa SMAN 1 Mataram, Sanggar Budaya Pelangi SMAN 2 Mataram, Teater TOK SMAN 5 Mataram dan lainnya. “Teater di Mataram di masa itu tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Dan pada era 1990an merupakan masa jayanya perkembangan teater di Mataram,” ungkap Kongso Sukoco yang juga mantan Ketua Dewan Kesenian NTB. –Naniek I. Taufan

Taman Budaya NTB Jadi Sentral Kegiatan Teater ai jenis kulit ular phyton

Sepatu-sepatu dari berbag

relatif cukup tinggi adalah jaket yang bisa mencapai Rp3,2 juta untuk kulit phyton. WASPADA TIRUAN, INI TIPSNYA Diakuinya, dengan semakin booming produk tas dari kulit ular membuat produk-produk tiruan bermunculan. Dalam perkembangannya, produk tiruan semakin canggih karena teknologi semakin maju. Namun ucap Yeni yakin, secanggih-canggihnya tiruan tetap saja tidak akan mampu tampil seperti tas kulit ular asli. Untuk itu Yeni memberi tips membedakan tas tiruan atau asli.

Yeni Setiawati dan Ayu bersama produk tas kulit ular phyton

Yang paling mudah, katanya, bisa dilihat dari sisiknya. Sisik ular asli bentuk dan ukurannya tidak sama, juga tidak teratur. Lebih dari itu, sisik ular asli jika diangkat, akan naik. Sedang kulit tiruan tidak bisa. “Kulit tiruan selain teratur juga bentuk dan ukurannya sama. Dipasang rapat, rapih, sehingga tidak bisa naik seperti kulit asli,” jelasnya. “Bagi yang sudah paham dan biasa, hanya dengan melihat dari jauh sudah bisa memastikan tas itu tiruan atau asli,” tambahnya. Keunggulan lain dari tas kulit ular atau produk berbahan reptil adalah dari segi perawatan yang tidak perlu khusus. Yang penting, katanya, jangan lembab karena bisa tumbuh jamur. “Paling bagus adalah menempatkan tas itu di ruangan yang sirkulasi udaranya bagus, tempat terbuka. Jangan disimpan di lemari atau di boks. Kasih udara terbuka, maka tas itu akan awet. Membersihkannya pun hanya dengan melapnya, jangan dicuci. Saya sarankan kalau punya tas kulit ular jangan disimpan, tapi dipakai, itu justru membuat tas lebih awet,” paparnya panjang-lebar. Ditambahkannya, jika tas tersebut masih berbau amis, itu tandanya ada ketidaksempurnaan dalam proses produksi tas. “Mungkin proses penyamakannya, yang kurang sempurna sehingga bau amis masih tercium. Bisa jadi waktu proses perendaman kurang lama, misalnya,” kata Yeni. -Diana Runtu

Konsistensi aktivitas kelompok-kelompok teater (baik pertunjukan maupuan kehidupan teaternya) ini sempat membuat Mataram masuk dalam peta kekuatan pertumbuhan teater yang diperhitungkan di Indonesia. Karena itulah, pada tahun 2001, Mataram pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Temu Teater Kawasan Timur Indonesia yang diikuti oleh kelompokkelompok teater, para seniman dan pegiat teater dari seluruh kawasan timur Indonesia, mulai dari Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur. Tumbuh dan berkembang baiknya seni pertunjukan teater di Mataram kala itu, lebih karena keterbukaan Taman Budaya NTB dalam mengakomodir aktivitas teater di Mataram. Taman Budaya NTB menjadi sentral kegiatan teater waktu itu. Panggung tertutup Taman Budaya yang dulu sangat sederhana itu, tidak pernah sepi dengan pergelaran teater. Begitu juga nyaris di seluruh areal Taman Budaya NTB menjadi tempat berbagai aktivitas dan kegiatan teater. Pentas senja selalu digelar tiap Selasa sore yang diisi oleh kelompok mana saja. Biasanya pementasan ini adalah pementasan sederhana termasuk monolog dan digelar di mana saja dari areal halaman Taman Budaya NTB bahkan di tempat parkirnya. Inilah yang membuat teater di Mataram kala itu hidup dan sangat produktif. “Tahun 1994-1996 adalah puncak kejayaan teater di Mataram. Muncul gesekan kreatif dan terjadi ketegangan kreatif yang dahsyat dari kelompok-

Saepullah Sapturi

Winsa Prayitno

kelompok teater yang bersaing saling support membangun dan memanaskan suhu teater kala itu,” ungkap Saepullah Sapturi, salah seorang sutradara teater di Mataram. Namun pada masa berikutnya, atmosfir teater di Mataram sempat “mendingin”. Menurut Saepullah, aktivitas teater agak redup. Ini terjadi pada sekitar tahun 1998-2000-an. Hal inilah yang membuat para tokoh dan pegiat teater mencoba “merebut” kembali masa-masa asyiknya dunia teater di Mataram dengan menggelar Temu Teater Kawasan Timur Indonesia tahun 2001. “Kami ingin hawa teater di Mataram yang terus menurun itu setidaknya stabil kembali dengan kedatangan ratusan tamu teater dari seluruh kawasan Indonesia Timur,” ujar Saepullah yang juga menjadi Kerua Panitia pada Temu Teater Kawasan Timur Indonesia waktu itu. Namun kegiatan ini tidak cu-

kup mengobati kerinduan pada hiruk-pikuknya pertunjukan teater seperti sebelumnya. Meski begitu, teater di Mataram tidak mati sama sekali. Beberapa kelompok teater masih mampu menjaga daya hidup teater di Mataram. Teater Kamar Indonesia secara konsisten menggelar beberapa karya pada tahun 2000-an, seperti Caligula, Sandiwara Merah Jambu, Anarkis itu Mati Kebetulan, Insomnia, Hikayat Gajah Duduk dan lainnya.

Begitu pula dengan Teater Embrio yang tampil mewarnai panggung teater di Mataram yang denyutnya mulai melemah. Kedua kelompok teater ini, dirasa cukup untuk menampung kerinduan penonton teater. “Teater Kamar Indonesia dan Teater Embrio tampil dengan banyak membawa karya-karya naskah yang ditulis sendiri,” kata Kongso. Ini jelas memberi harapan baru dalam dunia teater di Mataram. Selain kelompok-kelompok teater independen ini, hadirnya teater-teater kampus juga tidak bisa dilupakan. Kehadiran Teater Kampus yang sempat menggelar Festival Teater Modern kala itu juga turut menjaga detak jantung teater di Mataram. Begitu juga dengan Teater Putih FKIP Unram yang sampai saat ini secara konsisten menyelenggarakan Festival Teater Modern Pelajar. Lalu pertunjukan-pertunjukan teater yang berkala digelar teater-teater kampus ini termasuk Sasentra dan BKSM-Saksi. Mereka inilah yang juga turut membangun kembali atmosfir teater yang kemudian perlahan-lahan memasuki dunia

teater dalam suasana yang lebih modern dengan gedung pertunjukan yang mumpuni. Harapan untuk membangun kembali suasana hangat berteater di Mataram mulai dibicarakan oleh para seniman teater dalam berbagai diskusi baik formal maupun non formal. Para sutradara kawakan, seperti Kongso Sukoco, Saepullah Sapturi, Winsa Prayitno, R. Eko Wahono, terlihat sudah mulai saling lempar ide untuk menyiapkan gagasan-gagasan baru pertunjukan teater. Begitu pula dengan para aktor di Mataram, yang tampaknya merindukan panggung teater. Selain semangat itu, keterbukaan yang kini diperlihatkan oleh Taman Budaya NTB di bawah pimpinan Kepala Taman Budaya NTB, Faisal, untuk mengakomodir aktivitas teater, tampaknya menjadi angin baru bagi dunia teater di Mataram. “Saya ingin teater dapat diterima oleh masyarakat luas,” ungkap Faisal pada diskusi bertema Masa Lalu dan Masa Depan Teater Kampus di Mataram beberapa waktu lalu. --Naniek I. Taufan

Performing Art di halaman depan Taman Budaya NTB


22

Sosialita

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Jaga Hubungan setelah Pameran

Situasi ekonomi yang lesu ternyata cukup berimbas pada jumlah pengunjung pada sejumlah pameran di Jakarta. Tak terkecuali pada pameran Interior&Craft atau populer dengan sebutan ‘Icraft’ yang mengusung produk-produk unggulan daerah. Pameran yang digelar selama lima hari di Jakarta Convention Center, pekan lalu, relatif tidak terlalu banyak menyedot pengunjung.

sudah bisa kelihatan,” katanya sambil menunjukkan dua jenis produk.

J

umlah peserta pun boleh dibilang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Demikian juga ragam produk yang dipamerkan yang relatif sedikit. Bahkan boleh dibilang didominasi oleh batik, baik itu berupa kain batik hingga pakaian-pakaian batik. Sedang kerajinan lainnya, yang biasanya lumayan banyak, kali ini terlihat hanya beberapa saja. “Mungkin karena ekonomi masih lesu ya, jadi pengunjung agak sepi, tidak seperti biasanya. Tapi kalau dilihat, meski tidak terlalu ramai, namun para pencinta batik tetap saja berdatangan. Sejumlah stan batik malah lumayan ramai. Batik itu sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sejak booming sampai sekarang peminatnya tidak berkurang bahkan semakin banyak,” ujar Wati, pengusaha batik disela-sela kesibukannya melayani pembeli, (14/9). Wati mengaku termasuk cukup rajin berpameran di Jakarta karena menurutnya dari pameran dia bukan saja bisa mempromosikan produknya tapi juga bisa memperluas jaringan. “Saya justru mendapat banyak pelanggan dari pameran. Jadi saya kalau ikut pameran, tidak terlalu berharap transaksi saat itu juga, karena biasanya saat pameran mereka paling hanya membeli beberapa untuk contoh,” katanya. “Justru menjaga hubungan setelah pameran itulah yang penting. Karena itu meski kondisi ekonomi lesu, saya tetap ikut pameran,” tutur Wati seraya menambahkan justru dari sering berpameran di Jakarta dia sempat mendapat beberapa pembeli asing, baik dari Eropa maupun Asia. Hal yang sama juga diungkap sesama pengusaha batik lainnya yang mengaku banyaknya transaksi di pameran bukanlah tujuan utama mereka untuk rajin berpameran. “Dari pengalaman

Stan-stan batik tetap ramai pengunjung

yang sudah-sudah selama beberapa tahun ikut pameran, transaksi selama pameran justru tidak terlalu banyak. Justru setelah pameran biasanya pengunjung pameran yang serius berdatangan,” ungkap Sugiono, pengusaha batik asal Jawa Tengah. “Mungkin akhir pekan pengunjung bakal ramai, biasanya begitu,”tambahnya. Hal yang sama juga diungkap Dewi, penjaga stan bunga-bungaan artifisial. Ia mengaku tetap optimis dengan keikutsertaan perusahaannya dalam pameran kali ini akan mendatangkan manfaat. Meski pengunjung pameran tidak terlalu ramai, namun yang mampir ke stannya relatif cukup banyak. Tak heran karena stan Dewi relatif strategis, berada di samping pintu Hall A. Apalagi desain stannya yang mirip taman bunga begitu eye catching, sehingga membuat pengunjung seolah terdorong untuk

mampir ke sana. Dari mulai sekadar bertanya-tanya hingga akhirnya tertarik membeli. “Bunga-bungaan, tanaman merambat yang ada di sini meski sepintas mirip asli, namun ini semua artifisial. Kami impor dari Tiongkok,” tambah penjaga stan ‘Ever­ green Trees’ itu. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 40.000 hingga ratusan ribu rupiah. “Tergantung bahannya ya. Ini bandingkan artifisial tanaman merambat yang harganya Rp 40.000 dan ratusan ribu rupiah, beda bahannya. Sepintas

gusaha batik lokal bertumbuhan dan saling berlomba melakukan eksplorasi batik, khususnya pada motif maupun pewarnaan. Itu semua berkat animo masyarakat yang tinggi. Maka tak heran kalau setiap pameran, entah itu pameran tunggal bertema batik, maupun pameran beragam produk craft, stan-stan batik selalu diserbu pengunjung. Sugino mengaku cukup gembira dengan kondisi sekarang. Bahkan katanya, di saat kondisi lesu seperti sekarang pun, dirinya mengaku tak terlalu merasakan. “Kalau saya pribadi tidak terlalu merasakan. Memang ada penurunan tapi tidak banyak. Selain karena batik sekarang sudah sangat eksis juga karena saya rajin berpromosi baik di dunia maya maupun pameran-pameran seperti ini,” ungkap pengusaha batik tulis itu. Bahkan katanya, bukan hanya dirinya saja yang tidak terlalu terpengaruh, tapi rekan-rekannya sesama pengusaha batik pun relatif tetap bisa bertahan dalam situasi lesu seperti sekarang. “Pesanan tetap saja berdatangan, bahkan juga dari luar negeri. Di luar itu saya juga memiliki pelanggan-pelanggan tetap,” tambah Sugiono yang keluarganya secara turuntemurun telah menekuni batik. –Diana Runtu

BATIK TETAP PRIMADONA Sejak batik Indonesia masuk daftar UNESCO tahun 2009 lalu, popularitas batik terus meningkat. Apalagi pemerintah baik pusat dan daerah amat gencar mengampanyekan batik ke seluruh lapisan masyarakat juga dunia internasional. Dunia kerja pun tak ketinggalan. Bukan hanya instansi-instansi pemerintah tapi juga swasta menetapkan harihari tertentu diwajibkan karyawannya mengenakan batik. Demikian juga dunia pendidikan. Banyak siswa memakai seragam batik pada hari tertentu. Di Jakarta misalnya, jika ingin melihat masyarakat ‘berbatik ria’ umumnya adalah pada hari Jumat. Bahkan di Jakarta beberapa depar- t e ment store ‘menetapkan’ Jumat sebagai ‘hari batik’ sehingga bagi pengunjung yang datang berbatik pada hari itu akan mendapat potongan harga tertentu atas transaksinya. Dukungan dari berbagai pihak membuat batik akhirnya benarbenar booming. Industri batik di berbagai daerah pun menjadi sangat berhing gairah. Pengusaha-penStan Evergreen Trees yang eye catc

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

Shinta Chrisna & Monica Mohindra

“Klik” dari Hati

Shinta Chrisna and Monica Mohindra

Siapa yang tak kenal Shinta Chrisna. Desainer cantik asal Bali yang mengusung “The Excellent Touch of Kebaya” dalam tiap karyakaryanya. Pemilik nama lengkap I Gusti Ayu Shinta Chrisna yang akrab disapa Shinta ini selalu “liar” alias out of the box dalam menuangkan ide-idenya. Karena itu pula, karyakaryanya selalu berbeda dari yang lain. Kebaya glamour dengan padupadan warna dan aksesori lainnya, menjadi karakternya yang kuat. Bisa dikatakan karyanya memiliki taksu.

K

ali ini, Shinta Chrisna berkolaborasi dengan Monica Mohindra melaunching new label, “Chrisna Monica”. Di label ini mereka berdua terinspirasi dengan budaya masing-masing, Indonesia dan India. Mereka terinspirasi menyatukan dua budaya yang dijadikan dalam satu karya seni di bidang fashion. “Kami akan

membuat koleksi yang terinspirasi dari budaya Indonesia dan budaya India dalam bentuk kebaya dan kain-kain tenun Indonesia (batik, songket, endek, dll), dibuat dalam bentuk baju India. Pakaian India dengan bahannya dari kebaya dan kain tenun Indonesia. Tagline kami ‘Kebaya and Saree for The Word’,” ujar istri dari Agus Umaryadi Udayana, B.Com., MIB., MBA ini. Monica Mohindra mengatakan, ide untuk berkolaborasi ini muncul ketika pertamakali melihat karya-karya Shinta Chrisna dalam show “Epic of Mahabrata” di Sanur Village Festival 2014. “Saya langsung jatuh cinta dengan Shinta. Saya melihat ada sesuatu yang berbeda dari karya-karyanya. Kemudian dia membuat , sesuatu yang berbeda,” ujar Monica mengungkapkan kekagumannya pada Shinta. Ketika Shinta kembali show di GWK yang menghadirkan langsung artis asli Mahabrata oleh Konsulat India, Monica pun sempat menontonnya. Suatu ketika pada acara Festival of India di Westin

Stan galeri Batik Jawa

Kreasi Batik Jawa

3

Shinta Chrisna

Nusa Dua tahun 2015, Shinta dan Monica kembali dipertemukan dalam sebuah jamuan makan malam. “Saya

Shinta Chrisna bersama keluarga

semeja dengan Monica, Gubernur Bali, Gubernur NTB, dan Dubes India. Monica memperkenalkan diri bahwa basic backgroundnya adalah fashion. Darisanalah perbincangan berlanjut

untuk melakukan kolaborasi,” ujar ibu lima anak, Alicia, Alvino , Alodia, Alexandria dan Violetta, yang sebentar lagi menuntaskan program Doktornya ini.—ten

Bangkit Kembali Setelah Mati Suri

Monica terinspirasi untuk beritu saya dipertemukan dengan Shinta buat sesuatu untuk dunia. Kebaya Chrisna. Dan sepertinya kami “klik” sangat indah dan cantik dipakaikan dari hati,” tuturnya. pada tubuh perempuan. Karena Target pertama “Chrisna Monica” itu terbersit pikirannya untuk adalah mengeksplor lebih banyak kainmemadukan kebaya dan kain sari kain di Indonesia dan diproduksi dalam yang bisa dipakai pererempuan di baju-baju India dalam bentuk sari mauseluruh dunia. “Ini bukan tentang pun lengeha. “Lehenga bisa sebagai seksi, tapi penampilan peremdress atau long skirt, tapi inspirasinya puan yang sempurna. Perempuan dari batik atau diprada. Jika dipakai India yang memakai baju sari dengan kebaya, ini sangat indah,” ucap atau lengeha juga terlihat semMonica yang mengagumi karya Shinta purna. Jadi kenapa tidak kita coba Chrisna yang dikenakannya saat ini. mengkolaborasikan keduanya ini “Kami mau mengeksplor dan mendan diperkenalkan pada dunia,” genalkan sesuatu yang belum pernah ucapnya. dikerjakan, sekaligus mengeratkan Sari biasanya panjangnya 5,5 hubungan dua budaya Indonesia-India,” meter, sulit memakainya, padahal imbuhnya. banyak orang mau memakai sari. Ide akulturasi dua budaya Indone“Dengan kombinasi kebaya densia-India ini pun mendapat dukungan gan easy saree yang dibuat seperti penuh pemerintah India, dan menskirt, pakaian ini bisa dipakai oleh gundang mereka untuk untuk fashion perempuan di seluruh dunia show dan kemungkinan akan keliling Shinta Chrisna & Monica Mohindra dan gampang,” ucap Monica. Di dunia. Selain itu, dalam proses berkarya, dalamnya bisa ditambahkan ornamen-ornamen seperti Monica juga berharap kedepannya, seniman-seniman prada, dll. Disinilah ia lihat potensi yang sangat bagus Bali bisa belajar teknik di India, demikian sebaliknya. Ada dan besar untuk mengolaborasikan dua budaya dan pertukaran, sehingga semuanya biasa bertumbuhkemmempromosikan ke dunia. bang. Selanjutnya, Shinta dan Monica berharap agar ide Gayung bersambut, Shinta pun rupanya mengagumi akulturasi dua budaya Indonesia-India ini bisa berhasil dan monica. Bahkan Monica pula yang memberinya semanmendunia. –ten gat untuk show tunggal dalam “The Master Piece” dengan 140 kebaya, 25 April 2015, yang dipersiapkan hanya dalam 3 bulan. Setelah itu, Shinta vakum karena melahirkan anak kelima. Dua bulan pasca melahirkan, dengan genjotan Monica, Shinta kembali bangkit dan berkarya. “Dia (Monica) adalah mentor saya yang selalu menyemangati saya untuk berkarya dan berkarya,” ucap Shinta bersemangat. Shinta yang mati suri pun kembali bangkit. Demikian halnya dengan Monica yang kembali bangkit kembali menemukan “cinta pertamanya di fashion” sejak bertemu Shinta. “Jadi, kami sama-sama bangkit dari mati suri dan saling menyemangati,” ujar Monica yang dulu pernah mengenyam kuliah di National Intitute Fashion Technologi di India, menimpali. Ia juga mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Sekolah Mode ESMOD, Perancis, dan ditempa pendidikan fashion-nya oleh Karl Lagerfeld, desainer Channel dan Christian Dior. Banyak proyek yang dikerjakan selama bekerja 25 tahun di retail dan pegang lebih dari 20 merek terkenal, seperti Elle. “Saya juga jadi hostess jika Miss Universe datang, dan menyiapkan bajunya. Karena negara pertama yang biasanya didatangi adalah Indonesia,” kisahnya. Monica selalu ingin melakukan sesuatu dari dalam dirinya, namun belum pernah ada ide untuk launcing lable dari dirinya, sampai akhirnya ia bertemu dengan Shinta Chrisna. “Sepertinya Tuhan menginginkan saya kembali ke fashion karena my first love is fashion”. Bagaimana bisa membuat perempuan lebih cantik, dan karena


2

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

GORO-GORO A m i menggugat. Mengapa di masa kemerdekaan, hukum diabaikan. “Padahal setiap warga wajib dan Putu Wijaya berhak mendapat perlindungan hukum secara adil. Setiap orang tidak boleh dihukum tanpa melalui putusan pengdilan yang menetapkan kesalahannya!” Bu Amat mendengarkan dengan serius gugatan anaknya itu. “Seperti kasus pembunuhan Mirna yang masih dalam proses pengadilan sekarang,” lanjut Ami, “Betapa pun banyak orang yakin siapa yang membununuh Mirna, tapi kalau tidak terbukti menurut syarat pembuktian yang ada dalam KUH Pidana, tidak bisa menghukum Jessika

hanya dengan keyakinan. Kalau tidak terbukti, dia bebas. Begitu juga kasus Angeline dulu!” Bu Amat tercengang. “Jadi pembunuh bisa bebas kalau pembelanya pintar?” Ami tak mau menjawab. “Bukan itu masalahnya, Bu. Saya lagi gelisah, mengapa di negara hukum, ya kita ini, kok ada eksekusi tanpa melalui peradilan?” “Di mana itu terjadi?” Kembali Ami tak mau menjawab. “Kalau politik terus yang jadi panglima, kita bukan negara hukum, tapi pemerintahan otoriter!” Amat yang nguping pembicaraan itu, lalu menenangkan istrinya yang tambah bingung. Setelah beberapa hari, dia cari saat yang baik untuk bicara dengan Ami. “Ami tahu, apa maksud Bapak. Begini saja, kalau Bapak ada waktu, kita

Ekspresso

Sejarah yang terpotong

ke rumah Ktut sekarang.” “Ktut siapa? “Ktut Stalini, teman kuliah Ami yang baru saja lulus S3-nya.” “Doktor?” “Ya, doktor sejarah.” “Kenapa dia?” “Ketika ia masih dalam kandungan ibunya, bapaknya ditumpas tanpa pengadilan. Dia bersumpah tidak akan menikah selama negeri kita ini tidak minta maaf kepadanya atas perlakuan melanggar hukum atas bapaknya” Amat mengangguk mengerti. Semuanya jadi jelas. Lalu menjawab hati-hati. “Berapa umurnya sekarang?” “Bapak hitung saja, ya 51 begitu.” Kembali Amat mengangguk. “Tapi kamu tadi bilang dia doktor sejarah?” “Betul. Lulus cum laude.”

“Sejarah yang mana?” “Ya, sejarah Indonesia! Bapak ini bagaimana, sih! Pertanyaannya kok lebai begitu.” “Ya, pertanyaan bodoh biasanya memancing jawaban pintar, Ami. Sejarah Indonesia kan panjang sekali. Ktut Stalin itu doktor sejarah penggal mana?” “Stalini! Bukan Stalin!” Apa maksud Bapak dengan penggal?” “Studinya sejarah sebelum 1965 atau sesudah 1965?” “Setelah reformasi!” “O, kalau begitu, dia tidak pernah mengalami apa yang sudah terjadi sebelum 1965! Karena memang belum lahir. Dan tidak menpelajarinya karena fokusnya masa reformasi!” “Tidak mungkin! Dia itu doktor, Pak!” “Kalau dia itu doktor, undang dia ke rumah untuk mewawancarai bapak, karena bapak salah satu saksi mata sejarah yang melihat masa sebelum 1965 dengan mata dan badan bapak sendiri, bukan dari buku-buku. Ini buktinya!” Amat membuka baju dan menunju-

kan bekas bacokan di punggungnya. “Dan kalau Ktut Stalini itu anak Pak Stalin, suruh dia ngobrol dengan bapak yang kenal betul Stalin, bapaknya. Dulu sebelum masuk partai namanya Wayan Salin, teman bapak mancing. Bapak tahu meninggalnya, ditumpas oleh temannya sendiri yang berusaha menyelamatkan diri dengan jadi yang paling ganas. Itu masa gelap-gulita, Ami, seperti perang. Semua orang ketakutan. Meninjau keadilan saat itu, setengah abad kemudian dari bukubuku bisa keliru. Tanya sama bapak yang mengalaminya dan untung masih bisa selamat dari tawuran saat itu. Ah sudahlah, kamu tidak akan bisa meneropong apa yang terjadi waktu itu. Bung Karno, proklamator kita hampir setengah abad seperti terhapus dari sejarah. Ini baru saja kita bisa dengar gelegar suaranya lagi. Jangan melihat sejarah sepotong-sepotong, itu juga namanya korupsi.” Amat berhenti bicara karena melihat Ami tertegun. Seakan-akan menyambung kembali sejarah yang sudah terpotong-potong politik.

Sinergi BIG FaCoM untuk Kewirausahaan

Konsep utama kegiatan kewirausahaan yang selama ini kami laksankan mengedepankan kekuatan sinergi. Pengembangan budaya kewirausahaan memerlukan sinergi berbagai pihak. Sinergi BIG (Business, Intellectual, Government) atau yang dikenal dengan triple hellix merupakan salah satu inergi yang diterapkan dalam pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Sinergi BIG oleh sebagian lembaga juga sering disebut sinergi ABG (Academician, Business, Government). Pengembangan budaya kewirausahaan dengan sinergi BIG atau ABG sudah dilaksanakan sejak tahun 2009, namun dinilai kurang memuaskan dan membutuhkan waktu relatif panjang untuk mencapai keberhasilan. Pengembangan kewirausahaan membutuhkan sinergi lebih banyak pihak agar lebih efektif. Dalam masyarakat yang berorientasi budaya kolektif seperti Indonesia, keluarga mempunyai peran penting dalam pengembangan karier dan bisnis seseorang. Sekitar 70% wirausaha muda terpaksa beralih kembali menjadi menjadi pekerja, karena belum didukung keluarga (terutama orangtua, suami atau istri). Orang tua masih lebih memilih menggunakan uang yang dikumpulkannya untuk menombok agar anaknya diterima bekerja daripada menggunakannya untuk membantu permodalan usaha anaknya. Komunitas juga mempunyai peran penting dalam pengembangan kewirausahaan. Komunitas menjadi wadah bagi wirausaha (terutama pemula) untuk tumbuh bersamasama, berbagi suka dan duka serta menempa diri agar kelak menjadi pengusaha tangguh dan berwawasan luas. Penyebarluasan informasi kewirausahaan tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa keterlibatan media. Media dalam hal ini dapat

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

merupakan media massa cetak dan elektronik, baik offline maupun online. Untuk meningkatkan efektivitas pengembangan kewirausahaan, kami mengembangan sinergi BIG menjadi sinergi yang diberinama BIG FaCoM. Sinergi ini melibatkan 6 unsur yaitu Business, Intellectual, Government, Family, Community, dan Media. Sinergi BIG FaCoM sesungguhnya sudah dikenalkan pada tahun 2011, melalui kerjasama dengan Bupati dan walikota se-Bali dalam bentuk roadshow kewirausahaan ke kabupaten-kabupaten di Bali. Sinergi BIG FaCoM selanjutnya menjadi ciri khas dalam setiap program kewirausahaan yang dikemas, termasuk Gebyar Festival Wirausaha Universitas Udayana. Pengembangan semangat dan budaya kewirausahaan di lembaga pendidikan formal telah menjadi program unggulan nasional. Secara garis besar terdapat tiga faktor utama pendorong gerakan kewirausahaan di Indonesia. Pertama, adanya fakta bahwa kesejahteraan masyarakat di suatu negara sangat ditentukan oleh proporsi wirausaha dari total penduduknya. Semakin tinggi persentase wirausaha, maka semakin sejahtera masyarakatnya. Untuk meningkatkan kesejahteraan, Indonesia saat ini berupaya mencapai jumlah wirausaha minimal 2% dari seluruh penduduk Indonesia. Sementara negara-negara lain banyak yang sudah melebihi 4% bahkan tembus 10%. Kedua, Indonesia masih mengalami over supply tenaga kerja. Terjunnya sektar 2 juta penduduk Indonesia ke dunia kerja setiap tahun merupakan tantangan besar bagi pemerintah untuk menstimulasi penciptaan lahan kerja baru agar dapat menyerap para pencari kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran pada bulan Februari 2013 sebesar 5,92% atau sebanyak 7,17 juta orang dan 360 ribu orang di antaranya

Sayu Ketut Sutrisna Dewi lulusan perguruan tinggi. Masalah pengangguran berpendidikan tentu akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial dan kemasyarakatan. Menambah jumlah wirausaha (entrepreneur) untuk membangun lapangan kerja baru demi mengurangi tingkat pengangguran merupakan salah satu upaya penting. Ketiga, perkembangan berbagai hasil penelitian mengenai keberadaan wirausaha. Penelitian awal meyakini bahwa wirausaha lahir karena takdir. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa sebagian besar wirausaha tercipta karena faktor lingkungan. Lingkungan keluarga pengusaha cenderung melahirkan pengusaha juga. Penelitian lain menunjukkan bahwa wirausaha lahir karena terpaksa. Misalnya keterbatasan biaya sekolah, memaksa seseorang menjadi wirausaha. Penelitian terkini menunjukkan bahwa wirausaha bisa lahir dari proses akademik. Mengembangkan kewirausahaan di tengah-tengah atmosfer akademis yang kental, bukan perkara mudah. Permasalahan yang dihadapi dalam

menciptakan wirausaha baru di lingkungan kampus dapat dilihat sebagai suatu proses komunikasi yang melibatkan 3 (tiga) unsur. Pertama, kemampuan dosen (komunikator) untuk sekaligus menjadi mentor dan motivator bisnis yang baik bagi anak didiknya masih perlu ditingkatkan lagi. Kedua, materi kewirausahaan belum tersusun secara pragmatis. Proporsi teori masih mendominasi dan masih lebih menekankan pada hardskill ketimbang softskill.Metode pembelajaran masih memerlukan sentuhan kreativitas dan inovasi agar menarik dan mampu membangkitkan semangat berwirausaha. Ketiga, mahasiswa (komunikan) adalah sosok anak mudayang sebagian besar masih berorientasi sebagai job seeker, bukan job creator, sehingga tidak memberi perhatian atau menyediakan porsi waktu yang cukup untuk aktivitas kewirausahaan. Ada beberapa hal menarik yang diperoleh dari hasil jajak pendapat yang dilakukan pada tahun 2010 oleh Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud terhadap 100 mahasiswa Unud yang diambil secara acak dari berbagai fakultas. Sebanyak 56% dari responden mengatakan dirinya salah jurusan dan 90% dari mereka yang mengaku salah jurusan mengatakan terpaksa mengikuti kemauan orangtua. Sebanyak 76% dari responden mengatakan mengikuti aktivitas kewirausahaan secara sembunyi-sembunyi dan ketika ditanya apakah orangtua mengizinkan atau mendukung menjadi pengusaha, ternyata 91% mengaku tidak memperoleh dukungan orangtua. Keputusan menyangkut masa depan dan karier generasi muda ternyata masih didominasi oleh kemauan orangtua dan keluarga. Masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa wirausaha bukan profesi yang menarik dan dinilai terlalu berisiko. Dukungan modal untuk usaha tidak ada. Semestinya orangtua dan ke-

luarga bisa menjadi angel investor bagi usaha anaknya dan sadar bahwa risiko ada dimana saja. Masih di seputar hasil jajak pendapat, seluruh responden (100%) mengharapkan dosen bisa menjadi role model dalam pengembangan kewirausahaan di kampus. Ini tantangan dilematis bagi para dosen yang tidak memiliki pengalaman menjalankan bisnis. Untuk keberhasilan pendidikan kewirausahaan, kita tidak bisa serta merta menuntut dosen melakukan dwi fungsi profesi, sebagai tenaga pendidik sekaligus pebisnis karena menyalahi peraturan. Apakah itu berarti lembaga pendidikan tidak mungkin mencetak wirausaha? Tugas pokok fungsi perguruan tinggi kan mencetak sarjana, bukan mencetak wirausaha? Tentu tidak demikian.Perguruan tinggi bisa bahkan sangat bisa mencetak sarjana sekaligus wirausaha, asalkan bersinergi dengan pelaku bisnis dan asosiasi pengusaha, baik dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, pendampingan, maupun permodalan usaha. Demikian juga dengan BUMN, BUMD, dan perusahaan swasta sebaiknya mengarahkan program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya pada pengembangan kewirausahaan di lembaga pendidikan. Dengan demikian perguruan tinggi tidak hanya mencetak sarjana yang sekedar berpengetahuan wirausaha saja, tetapi juga benar-benar siap atau telah berwirausaha. Dalam prosesi wisuda di masa mendatang tidak hanya diumumkan berapa jumlah sarjana yang berhasil dicetak, tetapi juga jumlah wirausaha dan jumlah tenaga kerja yang berhasil diserap. Sayu Ketut Sutrisna Dewi, S.E., M.M., Ak. Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Edisi 919/ 19 - 25 september 2016

23

Petani di Jakarta Harus Tahan Banting dan Tahan Godaan Cuaca ekstrem dan berbagai permasalahan yang terjadi benar-benar membuat petani, khususnya para petani Rorotan Jakarta Utara, bersedih. Harapan mereka mendapat hasil panen yang lumayan seperti beberapa waktu lalu, tak seperti yang dibayangkan. “Hasil panen para petani Rorotan sempat anjlog. Padi yang sudah tua siap panen ternyata tidak ada isinya,” ungkap Abdul Kadir (62), Ketua Kelompok Tani Rorotan Jaya. Padahal Mei 2016 lalu, hasil panen lumayan bagus. Bahkan sempat menggelar acara panen bersama dengan para pejabat Pemda Jakarta Utara terkait.

M

enjadi petani, katanya, memang harus sabar, apalagi petani di Jakarta di mana masalah yang datang bukan hanya soal cuaca tapi juga ada persoalan lainnya, seperti serangan tikus, dll. Belum lagi masalah pengairan, juga soal lahan persawahan yang kian menyusut karena pembangunan. “Jadi petani juga harus pandai-

pandai menabung. Hasil panen harus sebagian disimpan, supaya jika terjadi sesuatu pada hasil panen, kita masih bisa melanjutkan atau menanam lagi karena masih ada modal. Itu juga yang saya lakukan selama ini. Pokoknya, jadi petani di Jakarta harus tahan banting juga tahan godaan karena ada banyak pihak berniat membeli lahan dengan

Lahan pertanian

harga tinggi,” ucapnya. Abdul Kadir mengaku sempat mencicipi masa kejayaan petani Rorotan. Namun seiring waktu, banyak petani karena kondisi akhirnya terpaksa menjual lahannya dan beralih profesi. Sebagian lagi menjual lahannya dan membeli lahan pertanian di luar Jakarta. Sekarang ini lahan persawahan Rorotan yang tersisa 430 ha, padahal tahun 1990-an, lahan persawahan mencapai 900 ha. Dari lahan yang ada sekarang pun, sebagian besar dikuasai oleh oleh pengembang. Namun, sampai saat ini sebagian lahan yang dikuasai itu masih bisa digarap oleh para petani yang tak memiliki lahan. “Jadi sistemnya bagi hasil saja. Uang bagi hasil itu digunakan pengembang untuk bayar pajak lahan,” tambah Abdul Kadir yang juga Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya. Sementara petani yang bertahan dengan areal persawahan pribadi hanya beberapa orang saja, lahan yang dikuasai pun hanya 29 ha. Sisanya, ratusan hektare itu sudah dijual petani kepada pengembang. “Itu juga kadang membuat petani garapan ketar-

Abdul Kadir

ketir, karena bisa saja pengembang sewaktu-waktu mengambil lahan miliknya untuk dibangun perumahan atau pabrik-pabrik,” kata peraih penghargaan Petani Teladan Nasional 2007, ini. Abdul Kadir, adalah salah satu dari sedikit petani Rorotan yang masih mempertahankan lahan persawahannya. Saat ini ia mengelola lahan persawahan seluas 1,7 ha lebih. Menurutnya, ia akan tetap bertahan menjadi petani karena itu adalah panggilan jiwa dan sudah turun temurun dilakukan keluarganya. “Selama saya sehat, pasti akan tetap jadi petani. Kalau tidak kepepet banget, saya tidak akan menjualnya,” tegas bapak lima anak ini. Ia bercerita, dulu orangtua ayahnya berhasil mengembangkan tanah pertanian dari 8000 M2 menjadi 60 hektare. Saat

Harus Pandai Melihat Peluang Pasar Pertanian adalah salah satu sektor tumpuan utama bagi masyarakat Buleleng. ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang berkecimpung di sektor tersebut. Demikian yang diungkapkan oleh I Ketut Wista, Ketua Kelompok Tani Lila Cita Karya. Memilih profesi sebagai petani, bagi pria yang berasal dari Desa Kalisada tersebut tidak terlepas dari tempat tinggalnya. “Sejak kecil tinggal di desa, mulai dari nyakap (menggarap tanah milik orang lain) lalu bisa ngontrak hingga akhirnya bisa punya lahan sendiri,” tuturnya. Disamping itu, Wista sapaan akrabnya juga sangat menyukai berbagai jenis tanaman dan bercocok tanam. “Ini menarik, ketika meilhat tanaman tumbuh apalagi subur rasanya senang sekali,” imbuhnya.

Sebagai orang kecil ia ingin mewujudkan mimpinya menjadi petani sukses. Dengan hasil bertanilah selama ini ia mampu menghidupi seluruh keluarganya. “Memang saya ada pekerjaan lain, tapi hasilnya gak seberapa dibandingkan dengan hasil bertani,” ungkap mantan kelian adat Desa Kalisada tersebut. Untuk dapat mewujudkan keinginannya menjadi petani sukses memang tidak cukup diukur dengan luas tanah yang dimilliki. Menurutnya, seorang petani juga harus memiliki pengetahuan mengenai jenis tanah, kondisi lingkungan, pangsa pasar, dan jenis tanaman yang cocok ditanam. “Syukurnya saya sering mengikuti seminarseminar yang ada di kecamatan maupun kabupaten sehingga ilmu yang didapat bisa diaplikasikan

ke lapangan,” ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan kecamatan Seririt tersebut. Wista menambahkan, jika areal lahan di desanya hanya mampu menghasilkan sekali panen padi dalam setahun. “Kami akhirnya berpikir bagaimana caranya agar tanaman dapat menghasilkan sepanjang tahun,” imbuh pria kelahiran 18 November 1951 tersebut. Sering kali kurang baiknya mutu dan gagal panen atau menurunnya hasil panen tak pelak membuat petani uring-uringan. Hal inilah yang membuat para petani harus pandai membaca situasi dan kondisi yang dihadapi. “Akhirnya kami coba beralih ke tenaman lain seperti jeruk, akan tetapi karena baru pertama tanaman ini mati terserang penyakit,” tambahnya. Rupanya semangatnya tidak

I Ketut Wista

berhenti, ia kembali mencari jenis tanaman lain yang dirasa cocok untuk dikembangkan di desanya. Tanaman anggur merupakan tanaman yang ia pilih mengingat tanaman ini tidak memerlukan air yang banyak. “Kebetulan waktu itu saya yang pertama kali menanam anggur seluas 20 are dan memang jarang ditemukan kendala,” paparnya. Cukup lama

pembagian lahan orangtua Abdul Kadir mendapat bagian 6 hektare lebih, yang kemudian dibagi rata kepada empat anaknya. “Saya kebagian 1,2 ha, kemudian saya kembangkan pada tahun 1987 menjadi 1,7 ha lebih hampir 1,8 ha. Dan itu bertahan sampai sekarang. Untuk mengembangkan lagi sepertinya sudah sulit ya karena harganya pun (lahan di Jakarta) tidak murah,” ucap Abul Kadir yang berharap lahan pertanian Rorotan masih bisa bertahan hingga 10-20 tahun ke depan. Sayangnya, lanjutnya, kelima anaknya tak satupun berminat untuk meneruskan jejaknya menjadi petani. Mereka lebih memilih bekerja kantoran setelah menyelesaikan pendidikannya. “Tapi saya berpesan pada mereka untuk tetap mempertahankan lahan kita,” ucapnya. –Diana Runtu ia sebagai petani anggur namun karena hasil produksi yang kian menurun, dibarengi dengan cuaca ekstrim secara perlahan tanaman anggur miliknya pun mulai hilang. “Obat-obatannya juga mahal jadi tidak seimbang dengan hasil produksinya. Kondisi ini jelas merugikan kami,” tambahnya. Belajar dari pengalaman tersebutlah, Wista kembali mengadu keberuntungannya dalam sektor pertanian. Dengan melihat peluang pasar khususnya di Bali, ia mencoba menanam pohon pisang. Di tengah besarnya kebutuhan pisang masyarakat, pulau Bali harus mendatangkan pasokan pisang dari luar daerah. Hal tersebutlah yang membuat Wista mencoba membudidayakan buah pisang. “Kebutuhan pisang di Bali sangat banyak, kadang-kadang mendatangkan pisang dari luar Bali makanya saya tertarik,” ungkapnya. Hingga saat ini ia sudah memiliki 1 hektare tanaman pisang jenis Cavendish yang dapat menghasilkan sepanjang tahun. Ia berharap dapat meningkatkan produksi pisang sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar modern. -Wiwin


24

Sudut Pandang

Edisi 919/ 19 - 25 September 2016

Manfaatkan Asuransi Pertanian Sektor pertanian di Bali masih menjanjikan. Sekitar 80 ribu hektare sawah masih tersedia. Lahan kering yang bisa ditanami tanaman pertanian masih luas sekitar 200 ribu hektare. Jika dibandingkan dengan luas pulau Bali 500 ribu hektare, jadi lebih dari 50 persen wilayah Bali ini masih wilayah pertanian baik sawah dan kebun. Demikian diungkapkan kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnu Wardhana.

I

a menilai, jika dilihat dari potensi, Bali masih masih termasuk daerah agraris. Menurutnya, bicara sektor pertanian bukan hanya menyangkut soal sawah, tapi ada usaha tani lahan sawah, usaha tani lahan kering, sayur buahbuahan, usaha perkebunan, tanaman keras seperti kopi dan cengkih, dan peternakan. “Dengan ketersediaan lahan pertanian yang masih banyak, tentu dapat dimanfaatkan untuk berbagai usaha pertanian bukan hanya sawah,” kata Wisnu Wardhana. Seharusnya, pertanian masih menjadi primadona banyak orang termasuk para generasi muda. Saat ini, pertanian masih menempati urutan ketiga dalam memberikan sumbangan PDRB (produk domestik regional bruto) Provinsi Bali setelah pariwisata dan jasa. Wisnu Wardhana tak menampik, pertanian sangat tergantung dari lahan dan air. Untuk menunjang itu, sudah dibangun konservasi air, dan perbaikan saluran irigasi. Tahun ini rencana PU akan membangun waduk

Ida Bagus Wisnu Wardhana

lagi. Pengadaan mesin pertanian terus digencarkan. Pupuk dan bibit sudah disubsidi pemerintah. “Petani sering mengeluh, saat panen raya harga turun, karena itu, kami fasilitasi pemasarannya. Bekerja sama dengan Disperindag ada pasar tani dan temu kemitraan, antara pengusaha perhotelan dan kelompok tani,” katanya. Pelatihan kepada petani terus dilakukan, misalnya, pelatihan produk hasil tani untuk menjaga agar produksi yang berlimpah saat panen harganya dapat terselamatkan. Misalnya, petani salak diberikan pelatihan membuat dodol dan keripik salak. Selain itu, ada program asuransi pertanian yang bernama asuransi usaha tani padi (AUPT). Para petani kini tidak perlu waswas jika mengalami gagal panen atau tanaman padinya rusak minimal 70%. Kerusakan tanaman

itu bisa diakibatkan hama maupun bencana, seperti kekeringan dan banjir. Asuransi pertanian ini sudah diadakan sejak dua tahun lalu. Petani hanya membayar premi Rp 36 ribu per hektare karena 80% subsidi premi dari pemerintah. “Jika petani yang mengasuransikan sawahnya mengalami gagal panen, akan diberikan ganti rugi sebesar Rp 6 juta per hektare. Saat ini sekitar 21 ribu hektare sawah di Bali diasuransikan,” katanya. Ia menambahkan, program Simantri (sistem pertanian terintegrasi) juga sangat diminati masyarakat. Program ini merupakan sebuah terobosan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian melalui pengembangan model percontohan dalam percepatan alih teknologi pertanian kepada masyarakat khususnya di wilayah perdesaan. Program ini diharapkan mampu menggugah minat masyarakat khususnya kalangan generasi muda untuk menekuni sektor pertanian. Dalam pelaksanaannya, program ini mengintegrasikan kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dalam satu kawasan pengelolaan secara terpadu dengan kelengkapan unit pengolah kompos, pengolah pakan serta instalasi bio urine dan biogas. Secara umum, program Simantri bertujuan untuk mendukung perkembangan diversifikasi usaha pertanian secara terpadu dan berwawasan agribisnis. Lebih dari itu, simantri juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani. Sejak digulirkan tahun 2009, sampai tahun 2015 sudah ada 549 unit simantri. Tahun 2016 akan ditambah lagi sebanyak 84 unit. “Target tahun 2016 ada penambahan 100 unit, namun, yang lulus verikasi hanya 84,” kata Wisnu Wardhana. –Wirati Astiti

Pariwisata dan Pertanian Harus Maju Bersama

Pertanian Bali harus banyak berbenah. Pariwisata yang menjadi andalan, semestinya tidak dikembangkan secara membabi buta. Menurut Prof. Dr. Ir. Nyoman Sutjipta, Guru Besar Fakultas Pertanian Unud, tidak ada yang bisa dibanggakan dari pariwisata, bila pariwisata justru menistakan pertanian yang sudah menjadi kearifan lokal Bali.Hal ini diungkapkan dalam sarasehan “Strategi Membangkitkan Kejayaan Pertanian Bali,” di Wantilan Gedung Pers Bali Ketut Nadha, pertengahan Agustus 2016. Guru Besar yang kini menjadi sulinggih ini, mengatakan sejak dulu hingga sekarang pemerintah daerah hanya melanjutkan penderitaan petani di Bali. Dia menilai kemajuan pariwisata seharusnya bisa menjadi angin segar Prof. Dr. Ir. Nyoman Sutjipta bagi petani. Tetapi, itu belum pernah terjadi. “Berbagai hasil pertanian yang diperlukan untuk pariwisata, justru didatangkan dari luar negeri, seperti Australia. Beras didatangkan dari Banyuwangi. Pertanian Bali sudah dinistakan,” katanya. Kemajuan pariwisata seolah-olah terus menerus melanjutkan penderitaan petani. Ini harus dilihat segera disadari, bahwa pariwisata seharusnya bukan semakin menginjak petani, tetapi seharusnya bisa maju bersama-sama. Sementara itu Bupati Bangli I Made Gianyar, mengatakan situasi ini harus segera disadari pemerintah daerah dengan melakukan pemetaan potensi pertanian, untuk menentukan pola tanam. Pemetaan ini untuk mencegah, agar tidak terjadi over produksi di satu wilayah saat terjadi panen. Menurutnya, semua kebutuhan pokok di Bali kurang, karena mayoritas didatangkan dari Jawa. Untuk meningkatkan produksi, bila perlu pemerintah daerah bisa memberikan subsidi kepada petani. Ini bisa dilakukan secara berkala, agar perlahan-lahan Bali bisa melepas ketergantungan dari daerah lain, dalam urusan kebutuhan pokok yang dihasilkan langsung dari petani lokal. Seperti yang kini terjadi di Bangli, kebutuhan pokok seperti beras masih kurang. Total produksi beras di daerah sejuh itu, baru mencapai 28 ribu ton sedangkan kebutuhan beras Bangli mencapai 34 ribu ton. Sehingga, dia mengaku terpaksa “impor” kekurangan beras dari Kabupaten Tabanan, 6 ribu ton. Pihaknya sudah meminta BUMD di Bangli untuk belajar ke Tabanan. Lahan pertanian di Bangli, khususnya lahan kritis masih berpeluang dikembangkan. Lahan kritis ini perlu mendapat penanganan lebih serius. Dia berharap, siapapun nanti yang menjadi Gubernur berikutnya, agar membantu Bangli lebih serius, bagaimana menjadikan lahan kritis ini menjadi lahan kering, untuk membantu meningkatkan produksi padi agar setidaknya bisa mendekati kebutuhan. –Bagiarta

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook