24
Keberadaan radio sebagai media informasi masih tetap diminati masyarakat di tengah gempuran teknologi. Keeksisan radio di masyarakat tidak terlepas dari misinya untuk memberikan informasi secara cepat dan tepat kepada pendengarnya. Semakin berkembang teknologi maka radio juga secara fleksibel mengikuti perkembangan tersebut. Hal ini disampaikan oleh pendengar aktif Gede Angastia.
P
Sudut Pandang
Edisi 918/ 12 - 18 September 2016
ria yang lebih akrab disapa Anggas ini mengatakan jika radio masih sangat dekat dengan masyarakat. “Apalagi radio sekarang ini sudah variatif. Acara yang disuguhkan tidak monoton sehingga tidak mengundang kejenuhan bagi para pendengarnya,” ujarnya. Bahkan penyiar radio sebagai penutur tunggal tidak jarang menyelipkan humor-humor segar dalam komukasinya. “Ini menghibur sekali asalkan humor dan bercandaanya jangan kelewatan,” tambahnya. Wakil Ketua Pasikian Pacalang Jagad Buleleng ini juga menambahkan dirinya selalu menyempatkan diri untuk mendengar radio. “Radio merupakan gudang informasi, di radio akan dibacakan berita yang kemungkinan belum sempat kita baca di media cetak,” jelasnya. Selain itu, pemberitaan yang disampaikan oleh radio juga variatif dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Hal ini yang membuatnya sangat tertarik untuk mendengarkan radio ketimbang menonton televisi. Keberadaan radio sampai saat ini, menurutnya tidak terlepas juga dari penyiarnya. Jika dibandingkan dengan dulu, kualitas penyiar saat ini sudah jauh mengalami peningkatan dari segi bahasa. “Mereka sudah paham kosa kata dan pilihan diksi yang tepat dan tidak tepat digunakan. Penggunaan bahasa
Bercandanya jangan Kelewatan
seorang penyiar harus diperhatikan agar tidak menyinggung pihak manapun,” Paparnya. Sebagai pendengar sekaligus pemerhati radio, Anggas juga mengatakan bahwa seorang penyiar memiliki peran sentral dalam menahkodai suatu acara. “Seorang penyiar itu harus tegas dengan aturan yang telah ditentukan dalam suatu acara di radio,” ujarnya. Selain penyiar, acara yang disuguhkan juga menjadi daya tarik utama bagi pendengar. Jangan sampai sebuah radio hanya memiliki acara yang sifatnya monoton. Bila perlu, kata Anggas radio harus mampu menjadi wadah bagi penyanyi-penyanyi lokal berbakat. “Kalau bisa menampilkan penyanyi lokal itu menjadi hal yang luar biasa,” tandasnya. Pria kelahiran 22 Desember 1963 tersebut juga menambahkan jika acara radio harus mampu mencakup segala usia mulai anak-anak hingga dewasa. “Dari sekian banyak radio yang ada, belum ada radio yang menyuguhkan lagu-lagu kroncong,” ucapnya. Menurutnya, banyak orang tua yang sangat gemar dengan lagu kroncong sehingga jika lagu tersebut diputar di radio maka akan mengurangi tingkat kestresan orang tua tersebut. HOBI YANG DIBAYAR Sementara itu, menjadi seorang penyiar adalah hobi bagi Nyoman Canestra Adi Putra. Menurutnya, pekerjaan semakin menyenangkan
Nyoman Canestra Adi Putra
Gede Angastia
karena merupakan hobi yang dibayar. Selain itu, ia mendapatkan banyak manfaat menjadi seorang penyiar, di antaranya memperluas pertemanan, memperluas wawasan dan pengetahuan serta dapat menyebarluaskan informasi kepada pendengar. “Jadi banyak teman dan juga kenalan. Di samping itu, saya sebagai penyiar berita juga setidaknya tahu lebih dulu informasi sebelum dibacakan kepada pendengar. Di situlah ada kepuasan ketika informasi telah disampaikan kepada pendengar,”
ungkapnya. Menjadi seorang penyiar juga dirasakan dapat membuka peluang kerja lain untuknya. “Awalnya memang hanya sebagai penyiar, tapi dari sana ada pekerjaan lain seperti MC dan karier juga lebih menanjak,”tambahnya. Pria yang akrab disapa Kenneth ini juga menambahkan bahwa tantangan sebagai seorang penyiar adalah ketika berhadapan langsung dengan opini masyarakat. “Dalam memandu acara interaktif kadang-kadang kami tidak bisa memprediksi opini yang disampaikan
Membangun Imajinasi Pendengar Meski sejak kecil dikenal bawel, suka iseng juga pencipta keramaian suasana, namun Indy Barens sama sekali tak terpikir bahkan tak berminat menjadi penyiar radio. Padahal di era itu—tahun 1990-an-- penyiar radio boleh dibilang menjadi salah satu profesi yang diminati kalangan muda. Dalam pandangan Indy, penyiar radio itu seperti orang gila yang ngomong sendiri, ketawa-ketiwi sendiri. “Aku nggak suka,” ucap entertainer kondang ini tentang pandangannya sebelum memasuki di dunia penyiaran. Tapi jalan hidupnya berbicara lain. Apa yang diminatinya dan diinginkannya dalam bekerja justru tidak tercapai. Sebaliknya, dia justru ‘tercemplung’ dalam dunia penyiaran. “Aku nggak suka tapi bos minta aku mencoba jadi penyiar radio. Waktu itu aku siaran dipasangkan dengan Erwin Parengkuan pada program pagi,” kata Indy yang memulai kariernya di dunia siaran radio tahun 1997. Sebenarnya, tutur wanita bernama asli Mendya Brata ini, saat ia lulus dari Akademi Sekretaris dan Manajemen dan ITT Business Manajemen,Singapura, profesi kerja yang disasarnya adalah marketing dan sekretaris. Kebetulan, katanya, ketika itu ada sebuah radio swasta baru yang sedang membuka lowongan. Maka ia pun melamar. Namun kenyataan pahit ditemuinya di lapangan, bayangbayang indah pun buyar. Menjadi marketers tidak semudah dibayangkan apalagi produk yang dijualnya adalah perusahaan radio yang baru berdiri. Nyaris putus asa dan hampir keluar, oleh sang bos ia ditawari menjadi sekretaris sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Lagi-lagi, ia pun gagal. Tahu diri atas dua kegagalannya, Indy pun berniat mengundurkan diri. Tapi sang bos berbaik hati masih memberinya kesempatan untuk menjadi penyiar. Entah apa yang dipikirkan sang bos ketika itu hingga memberi Indy kesempatan menjadi penyiar. Ia sempat menolak namun sang bos memintanya untuk mencoba. Di luar dugaan, justru di profesi itulah ia sukses. “Ternyata dunia aku di situ. Sungguh tak terpikirkan. Aku tak menyangka kalau karier aku bisa berkembang begitu, awalnya dari cuapcuap di depan mic kemudian berkembang ke yang lain,” ungkap wanita yang namanya melambung di jagad hiburan tanah air lewat penampilannya di program tv, ‘Ceriwis’ ini. Semakin lama, kata Indy yang pernah memecahkan rekor Muri bersama Farhan untuk kategori Siaran Radio Terlama 32 Jam pada 2001, makin menyenangi dunia broadcast. Tak kenal maka tak sayang, itu Indy Barens
lah pepatah yang tepat untuk apa yang dijalani wanita kelahiran Bogor 1972, ini. Namanya yang semakin ngetop membuat ibu dua anak ini, kebanjiran tawaran MC maupun jadi presenter televisi, bahkan sempat membintangi dua film ‘Ariel dan Raja Langit’ dan ‘Red CobeX’. Dari berbagai kiprahnya di dunia hiburan, Indy berhasil menyabet sejumlah penghargaan, di antaranya Presenter Talk Show Favorit versi Panasonic Award, 2002 dan 2004. Menekuni dua bidang berbeda—radio dan televisi—membuat Indy punya pandangan tersendiri. Menurut Indy, dari pengalamannya, menjadi penyiar radio lebih sulit dibanding dengan menjadi presenter televisi atau menjadi MC. Pasalnya, audience radio tidak terlihat, beda dengan televisi yang secara visual bisa dilihat. “Buat aku, rasanya bekerja sebagai penyiar radio lebih sulit, ya, dibanding menjadi presenter tv. Karena kalau pembawa acara tv secara visual, kan, kita bisa melihat wujudnya. Kita bisa tahu, bisa memperhatikan ekspresi, dll. Tapi kalau menjadi penyiar radio tantangannya sangat sulit,” ucap pengisi suara karakter Claire dalam film Jurassic World versi Indonesia, belum lama ini. Penyiar radio, lanjutnya, harus menyampaikan message kepada orang lain, menghibur orang lain, tapi wujudnya tidak kelihatan. Ini tidak mudah. “Kita (penyiar) harus mampu membangun imajinasi pendengar. Kita harus menciptakan theater mind sehingga orang lain tahu apa yang kita omongin, arahnya kemana. Bisa bayangkan kita mau menghibur orang tapi wujudnya nggak kelihatan, itu kan sulit,” jelas Indy yang kini kembali jadi penyiar radio. Selain itu, katanya, juga dituntut untuk mampu membangun keakraban dengan parter kerja atau teman siaran. Dirinya, misalnya, kerap siaran berpasangan yang tak jarang berganti-ganti orang. “Aku harus siap dipasangkan dengan siapapun. Itu tantangan aku, aku harus mampu membangun chemistry dengan pasangan kerja, siapapun dia. Dan ini bukan hanya berlaku pada pekerjaan aku sebagai penyiar radio tapi juga sebagai presenter tv ataupun MC,” jelas Indy. Lain Indy, lain pula Fitri ‘Tropica’, entertainer kondang yang juga menapaki jagad hiburan tanah air setelah sukses menjadi penyiar radio. Beda dengan Indy yang awalnya tidak ingin jadi penyiar radio, Fitri ‘Tropica’ justru sejak kecil bercita-cita jadi penyiar radio. Bisa jadi itu karena bakatnya yang doyan cuap-cuap
oleh masyarakat sehingga opini yang melewati aturan dalam acara tersebut terpaksa di potong,” paparnya. Menghadapi kondisi tersebut, menurut pria kelahiran 16 Juli 1989 tersebut seorang penyiar harus memiliki sikap tegas dan dapat mengarahkan pembicaraan penelpon agar tidak menyinggung kelompok atau berbau SARA. Selain sifatnya menghibur, seorang penyiar harus selalu up date dengan informasi. Itu merupakan salah satu cara agar radio tidak ditinggalkan oleh pendengarnya. “Penyiar harus selalu memperbarui informasi baik umum maupun mengenai berita-berita yang sedang hangat menjadi perbincangan di masyarakat,” ungkap pengajar sekaligus pendiri Literacy Learning Home tersebut. Begitu juga dengan peran radio yang begitu penting sebagai media penyedia informasi kepada masyarakat sehingga keberadaanya harus tetap di perhatikan agar mudah dijangkau. “Kadangkadang jangkauan pemancar radio tidak sampai ke pelosok-pelosok desa sehingga masyarakat di desa tersebut akan kehilangan informasi,” lanjutnya. Atas kenyataan ini, stasiun radio tidak hanya mengandalkan kekuatan pemancar tetapi juga memanfaat kemajuan teknologi. “Sekarang radio bisa didengarkan melalui streaming sehingga pendengar yang berada di luar daerah juga dapat mendengarkan,” imbuh pria yang aktif dalam komunitas Impessa Scout Adventure ini. -Wiwin
sejak kecil. Malah, kata Fitrop—begitu kadang dia disapa—hobi ngobrolnya itu membuat ia kerap kali mendapat teguran guru di sekolah. “Malah sampai ditulis di rapor kurangi ngobrol..hahahha,” kata Fitrop ngakak. Waktu SMA, lanjut Fitrop, sebuah radio swasta terkenal di Bandung membuka lowongan untuk siswa SMA menjadi penyiar. “Aku waktu itu kelas dua SMA ikut daftar dan akhirnya diterima,” ucapnya. Maka sejak itulah dia bisa menyalurkan hobi cuap-cuapnya di depan mic. Nama Tropica di belakang namanya pun, tambah wanita kelahiran Bandung 1987 ini, juga berawal saat ia menjadi penyiar radio di Bandung. “Dulu aku dan teman aku bawain siaran pagi temanya seolah-olah aku dan teman aku itu raja dan ratu hutan, papa rimba dan mama tropica. Gara-gara itu jadi keterusan, nama aku ditambah ‘Tropica’ belakangnya,” tutur presenter tv paling heboh ini sambil tertawa. Gaya Fitrop yang unik dalam siaran membuatnya sangat disukai. Maka ketika casting Extravaganza ABG, ia pun langsung terpilih. Dari kiprahnya itu, dan gaya lebaynya menghantar wanita bernama asli Fitri Rahmawati menjadi entertainer kondang. Meski telah malangmelintang di dunia entertainment termasuk tampil di sinetron dan film, namun kata Fitrop, ia tetap saja kangen siaran radio. Karena itu, ia pun menerima tawaran siaran radio. “Sudah tiga bulan siaran pagi menggantikan Nycta Gina yang cuti melahirkan,” kata peraih penghargaan ‘Best Model on Clip’ MTV Indonesia Award, ini. –Diana Runtu
Fitri ‘Tropica’
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Ekspresso
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
GORO-GORO Tibatiba saja selera makan Bu Amat kendor. Berat badannya melorot 5 kilogram, hanya dalam semPutu Wijaya inggu. Mula-mula kemerosotan itu disambut Amat hangat. Ia sudah lama merindukan pinggang istrinya kembali ke asal. Itulah salah satu yang sudah menggugurkan imannya. Tapi Bu Amat sendiri jauh-jauh hari sudah terteror. Bajunya semua jadi kedodoran. Apalagi dua minggu berikutnya, lemak di tubuh veteran Ratu Kebaya Kompleks itu gugur 5 kilogram lagi. “Gawat, Pak, apa saya kena penyakit bolemia?” “Bohemian?” “Bolemia. Kalau pendengaran saya tidak salah, kata Ami, itu penyakit kurus. Makin kurus terus sampai ... .”
“Sudah jangan nakut-nakutin. Sekarang makan saja banyak-banyak!” “Nah itu yang tidak bisa! Saya sering tidak ingin makan!’ “Ah! Kemaren ada duren, ibu sampai makan 2 piring!” “Tapi besoknya tensi saya naik! Saya tidak mau makan duren lagi! Lebih baik ke dokter saja besok!” Besoknya, Amat membawa istrinya ke dokter. Tapi menurut dokter. Bu Amat tidak sakit. “Tapi berat saya sudah turun 10 kilogram Dokter.” “Itu kan bagus, Bu. Sekarang banyak orang ingin beratnya turun pakai segala macam cara, sudah keluar puluhan juta, tapi tidak bisa. Malah tambah gembrot. Ibu mestinya bersyukur, nanti kalau tambah langsing pasti kelihatan lebih muda!” “Saya tidak ingin kelihatan muda. Sekarang saya sudah disindir-sindir tetangga, disangka ikut diet supaya awet muda agar suami saya tidak cari daun
CINTA TUA MAKIN BERKOBAR
muda. Saya kan jadi malu, Dokter! Dokter hanya ketawa. Tapi akhirnya karena Bu Amat maksa-maksa minta disuntik dan minta resep obat perangsang nafsu makan, dokter menyerah. “Kalau memang mau gemuk, kuncinya dua, Bu: pikiran senang dan banyak makan,” kata Dokter. Tapi di rumah Bu Amat tetap kurang nafsu makan. Badannya tambah kurus lagi. Tulang-tulangnya mulai menonjol. Air mukanya pun lesu. “Bapak mulai cemas dengan kondisi ibumu, Ami,” kata Amat di rumah anaknya,”Jangan-jangan ibumu kena penyakit, apa itu? Bohemian?” Ami ketawa. “Kamu kok ketawa? Ibumu sakit, Ami!” “Saya tahu.” “Makanya cobalah ikut mikirin bagaimana mengatasinya?!” “Bapak tidak tahu?” Amat terkejut. “Dokter saja tidak tahu, apalagi Bapak!”
“Kalau begitu, memang betul kata ibu, Bapak mulai kurang perhatian!” “Kurang perhatian bagaimana?! Bapak sudah bawa ke dokter, hampir saja mau ke balian apa mungkin ibu kamu dikerjain musuh kita supaya terus kurus?” “Dokter tidak akan bisa menyembuhkan ibu, balian juga tidak. Yang bisa menyembuhkannya hanya Bapak!” Amat terkejut. “Maksudmu?” “Bapak dulu waktu muda memanjakan ibu, kan?” “Ya dong, kan Bapak cinta sekali sama ibu kamu!” “Sekarang, masih?”
“Ya masih! Kamu ini bagaimana! Cinta sejati itu makin tua makin berkobar, bukan luntur!” “Kalau begitu, kenapa Bapak tidak pernah lagi menyuapin ibu. Kalau selera makannya berkurang?!” Amat terpesona. Lalu tertawa. “Menyuapi ibu kamu? Ha-ha-ha! Kami sudah tua Ami, masak suapsuapan?! Ha-ha-ha!” “Tadi bapak bilang cinta sejati tambah tua tambah berkobar!” “Ha-ha-ha! Ami! Kamu kebanyakan nonton sinetron!” “Ya! Ibu juga!!!” Amat terkejut dan berhenti ketawa. Mereka pandang-pandangan. Tiba-tiba Amat bergegas pulang.
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
terobati dengan euporia ngelawang yang kebanyakan dilakukan generasi dini anak-anak. Mereka mengorganisasi diri sarat gairah menjelang Galungan. Barong sederhana dipersiapkan dan pada hari raya Galungan hingga Kuningan, sumber insani budaya kita itu berkreasi sekaligus berekreasi. Ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan. Pada awalnya ngelawang adalah sebuah ritus sakral magis yang disangga oleh psiko-relegi yang kuat. Benda-benda keramat seperti Barong dan Rangda misalnya diusung ke luar pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat. Kehadiran benda-benda yang disucikan itu ditunggu dan disongsong dengan takzim oleh komunitasnya. Penduduk yang dapat memungut bulu- bulu Barong atau Rangda yang tercecer, dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah. Tradisi ngelawang dalam konteks sakral magis sebagai persembahan penolak bala itu juga bermakna sama pada pentas ngelawang Galungan. Namun dalam perjalanannya, masyarakat Bali yang kreatif tak hanya ngelawang mengusung benda-benda sakral namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai ngelawang tontonan. Dalam tradisi ngelawang Galungan tersebut, bentukbentuk seni balih-balihan seperti Arja, Janger, atau Joged misalnya juga dapat disaksikan masyarakat sebagai hiburan. Masyarakat yang haus hiburan menstimulasi pentas ngelawang menjadi wahana berkesenian yang konstruktif dan apresiatif. Sebagai seni tontonan, ngelawang
Kadek Suartaya
adalah suguhan seni pentas yang serius tapi juga santai. Untuk mengapresiasinya penonton tidak harus duduk kaku, namun bisa jongkok, berdiri atau bergelayutan, bersentuhan dan bergesekan sembari menikmati alam bebas. Hampir tak ada jarak antara pelaku seni dengan penonton, semua lebur dan menyatu. Kehadiran seni pentas ini tidak terikat oleh tempat, ruang dan waktu. Pertunjukan tari Topeng misalnya bisa terjadi di bawah pohon besar yang rindang, pementasan Barong bisa digelar di tepi sungai, drama tari Arja bisa hadir di jalan umum atau bahkan di tengah keramaian pasar. Ia bisa dijumpai pada sore atau malam hari dan mungkin juga di pagi hari. Hasrat hidup damai dan terlindung dari segala bencana tersebut itulah kiranya yang menjadi akar ngelawang. Diduga, ngelawang berkiblat dari
Radio menjadi salah satu bagian dari lembaga penyiaran yang memiliki tugas dan kewajiban untuk turut serta melestarikan seni dan budaya lokal. Permasalahannya, sejauh mana selama ini radio mampu mengambil peran tersebut. Demikian disampaikan anggota komisioner KPAID Bali, Nengah Muliarta.
I
Ngelawang Ceria Anak-Anak Bali
Sekelompok anak menabuh gamelan unit kecil yang terdiri dari kempur, kelontong, kelenang, cenceng ricik dan sebuah kendang. Menggunakan pakaian adat Bali, mereka memainkan tatabuhan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Anak-anak yang ditemukan pada hari raya Galungan, 7 September lalu di salah satu sudut Desa Sukawati, Gianyar, tersebut sedang melakukan aktivitas ngelawang. Anak-anak berusia 9-12 tahun itu mengiringi seonggok Barong Bangkung yang keluar masuk rumah penduduk. Di setiap rumah yang dikunjungi, sepasang anak menarikan barongnya sejenak di merajan atau halaman rumah. Seusai beraksi pemilik rumah menyodorkan uang sekedarnya. Kegiatan ngelawang mereka lakukan dengan sarat keceriaan, sejak pagi mulai berbinar hingga senja menapak. Rupanya ngelawang yang dilakukan anak-anak ini tak hanya dari satu kelompok. Hari itu, tampak pula kelompok ngelawang dengan aksi Barong Kedingkling, memakai topeng tokoh-tokoh utama yang ada dalam cerita Ramayana. Eksotisme tentang sebuah pentas seni komunal yang dulu dapat disimak dalam rangkaian hari suci Galungan, kini menggeliat kembali. Pentas seni nomaden itu, di masa lalu, memang pernah mengkristal menjadi peristiwa kesenian yang mewarnai Galungan bahkan tetap meriah hingga ritual Kuningan. Tetapi beberapa tahun belakangan, pertunjukan keliling yang mementaskan puspa ragam seni tradisi Bali itu telah tergerus perubahan zaman. Namun kekhawatiran punahnya tradisi ngelawang itu, kini sedikit
Sudut Pandang
sebuah mitologi Hindu, Siwa Tatwa. Alkisah ketika Dewa Siwa dan Dewi Uma bercinta tidak pada tempat dan waktunya, harmoni terguncang. Akibatnya adalah kesengsaraan bagi umat manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Sadar akan kekhilapannya itu, Dewa Siwa mengutus para dewa untuk menenangkan dan menenteramkan kembali seisi alam. Setiba di bumi, para dewa itu menciptakan dan mementaskan beragam bentuk kesenian. Lewat kasih pagelaran seni itu seisi jagat kembali damai. Makna ruwatan dalam mitologi Siwa Tatwa tersebut juga senafas dengan kandungan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang kemudian disyukuri atau jadi pijakan awal Galungan, perayaan kemenangan dharma atas adharma. Atmosfer pentas seni tontonan nan komunal kini mulai sayup-sayup. Begitu pula ngelawang dalam konteks sakralmagis agaknya semakin redup. Pada tahun 1970-an, aura magis ngelawang itu masih berbinar. Rumah-rumah penduduk sekonyong-konyong didatangi misalnya oleh Barong Kedingkling. Figur-figur topeng yang bersumber dari cerita pewayangan Ramayana ini disongsong dengan antusias oleh seisi rumah. Diawali dengan sepotong tembang, misalnya tokoh punakawan Malen dan Merdah, lalu disusul tokoh Subali dan Sugriwa menari semenit dua menit di halaman merajan. Selesai. Kendati singkat, umumnya masyarakat senang dan percaya aura ritual-magis yang dipancarkan ngelawang Galungan itu akan memberikan keselamatan dan perlindungan. Ngelawang sebagai energi budaya
yang memiliki aspek spiritual, seni dan hiburan ini, sayang, kini terkoyak, tersudut sebagai romantisme usang. Fenomana kehidupan transformatif ini tak bisa dipungkiri memang membawa konsekuensi multidimensional dalam berbagai aspek. Atmosfir masyarakat agraris tradisional dengan kekentalan psiko-religiusnya mungkin memang kontekstual dengan persemaian yang kondusif bagi eksisnya tradisi ngelawang pada masa lalu. Sementara kini di tengah dinamika dan konfrontasi nilai-nilai, pola pikir rasional dan prilaku pragmatis- sekuler yang membumbung naik daun, semakin dipuja jadi status dan gengsi Pamor tradisi ngelawang dalam esensi seni dan terutama subtansi makna ritual magis yang dikandungnya bisa jadi telah terkikis, kehilangan konteks. Masyarakat pendukungnya sedang diguncang deru modernitas dan riuhnya globalisasi. Ada kecenderungan maknamakna sakral-magis-simbolik sedang tergerus. Sebaliknya materialisme hedonistis sedang berhembus kencang mereduksi tatanan kehidupan. Karena itu, masuk akal—kendati memilukan-bila seni pentas ngelawang terjengkang, kehilangan fungsi dan makna, linglung di persimpangan jalan dalam kegalauan masyarakat pendukungnya yang sedang bimbang di persimpangan zaman. Di tengah persimpangan zaman itulah, sejak sekitar lima tahun terakhir ini, anak-anak belia Bali unjuk kepedulian terhadap tradisi ngelawang. Mereka seakan mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama menyemai kedamaian melalui jagat seni. Kadek Suartaya
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
a menilai, kepedulian radio untuk melestarikan seni budaya selama ini masih sebatas pelengkap program siaran hiburan. “Sebagai contoh pemutaran lagu Bali sekadar memenuhi kebutuhan hiburan pencinta lagu Bali. Program geguntangan yang juga nasibnya hampir sama dengan lagu Bali sebagai pelengkap hiburan semata,” ujarnya. Walaupun ia diakui, dengan kemunculan program geguntangan telah memberi warna siaran dan menimbulkan ketertarikan kalangan muda untuk belajar seni geguntangan. “Padahal yang diharapkan adalah radio mengembil peran penting dalam pelestarian seni budaya Bali,” ujar Muliarta. Dengan kekuatan audio, sebenarnya radio sangat diharapkan
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Menunggu Drama Radio
23
“Pan Balang Tamak” mampu mengemas program seni budaya yang memberikan pengetahuan dan pemahaman pada masyarakat atau pendengarnya. Sebagai contoh kecil, radio harusnya mampu membuat cerita serial drama radio dengan mengambil cerita rakyat yang ada di Bali, misalnya kisah Jayaprana, Pan Balang Tamak atau kisah lainnya. “Radio harusnya mampu memproduksi feature (berita kisah) terkait kejadian, peristiwa, atau fenomena alam yang terjadi di Bali. Contoh mengemas tradisi omed-omedan dalam satu feature dengan berbagai atmosfer audio pendukung cerita. Selain sebagai sebuah program siaran, mengemas seni dan budaya dalam bentuk feature atau dokumentas akan menjadi dokumen bersejarah dan tentunya bermanfaat untuk kedepannya,”sarannya. Ia menegaskan, mengangkat seni-budaya kedalam tayangan layar kaca bukan semata-mata demi kepentingan pelestarian dan perlindungan. “Harus ada upaya untuk mensosialisasikan nilai-nilai dan etika yang terkandung dalam seni-budaya tersebut kepada masyarakat. Pada sisi lain, langkah ini juga merupakan langkah mendokumenkan senibudaya tersebut,” kata Muliarta.
Apalagi, kata dia, dalam pasal 45 di Undang-undang Penyiaran terdapat ketentuan bagi lembaga penyiaran untuk menyimpan bahan siaranya. Dimana nantinya jika siaran tersebut memiliki nilai sejarah, informasi atau memiliki nilai siaran yang tinggi wajib diserahkan kepada lembaga yang ditunjuk oleh negara untuk dijaga kelestariannya. Tujuanya, jangan sampai juga seni-budaya Bali ataupun yang ada di Nusantara diklaim negara lain. Menurutnya, cukup banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mampu mengangkat senibudaya Bali yang cenderung merupakan pertunjungan panggung menjadi sebuah tayangan pada ruang dengar. “Kreativitas yang tak kenal henti tentu diperlukan untuk mampu menghasilkan siaran seni-budaya yang berkualitas. Kreativitas juga harus didukung dengan pengetahuan tentang makna dan pesan dalam sebuah pertunjukan seni-budaya. Sebuah siaran seni budaya tidak saja memberikan hiburan semata, tetapi juga mampu memberikan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat yang mendengar,” imbuhnya. Permasalahannya kemudian, adalah pada ketersediaan dan ke-
Manfaatkan Frekwensi Komunitas Menurut Made Anie ini mengatakan, walaupun Supatni Samba, dari sekian radio saat ini sudah bisa pasal tentang kelebihan didengar atau bahkan “diradio, adalah alat komulihat” dari seluruh penjuru nikasi yang mampu mendunia karena kecanggihan jangkau masyarakat secara teknologi streaming, kita luas baik yang di perkotaan tidak bisa menjadikan radio maupun pelosok desa. Bahsebagai bisnis yang bersiaran kan menurut Anie, radengan segmentasi sededio sebagai media massa mikian luas, selain karena mampu menumbuhkan dan regulasi tujuan utama dari mengembangkan suatu bukhalayak sasaran radio daya. Salah satu contoh adalah lokal. “Radio sansaat ini semakin banyak kita gat mudah dan murah undengar radio yang secara tuk dijangkau oleh seluruh live menyiarkan tembanglapisan masyarakat, karena tembang atau lagu-lagu teknologi radio sudah bisa Made Anie Supatni Samba daerah dimana pendengar ditemukan di setiap barang bisa berpartisipasi aktif melalui telepon electronik sederhana sekalipun seperti saat itu juga. “Program radio seperti ini ponsel. Kita tidak perlu membeli khusus tidak hanya menghibur pendengar tetapi pesawat radio atau big band jika hanya juga memberi rasa percaya diri kepada pe- ingin mendengarkan radio. Keunggulan serta yang berpartisipasi, karena mereka inilah harusnya juga yang menjadikan ratidak harus bertatap muka dengan audi- dio sebagai alat melestarikan budaya lokal ens sehingga tidak ada keraguan dalam tanpa harus berbiaya mahal,” sarannya. bereksplorasi atau menunjukkan bakatnya Memang ia mengakui belum optimal, karataupun hanya sekedar ingin “menguji” ena keterbatasan waktu dan kesempatan. suaranya sendiri,” ujar Sekretaris PRRSNI “Ada sebenarnya frekuensi khusus komuBali ini. Bahkan komunitas pun terbentuk nitas. Sayangnya belum banyak masyarakat dan menjadikan kegiatan ini sebagai suatu yang memanfaatkan kebijakan pemerintah program rutin seperti pesantian-pesantian yang membuka frekuensi di 107 MHz yang muncul beberapa tahun terakhir. Ini untuk frekuensi khusus komunitas. LPS hanya satu contoh bahwa budaya nembang atau Lembaga Penyiaran Swasta terbatas tersebut menjadi dikenal dan semakin durasi dengan program-program lainnya. lestari dengan adanya media radio yang Mungkin perlu ada tokoh yang peduli dan sebelumnya mungkin hanya dilakukan di mau memanfaatkannya, tentu dengan seka di banjar atau perkumpulan kecil. tujuan yaitu melestarikan budaya lokal,” Station Manager Pinguin FM Bali kata Anie. –Wirati Astiti
Nengah Muliarta
mampuan SDM pada masing-masing lembaga penyiaran khususnya radio. Untuk mengemas sebuah program seni-budaya tentunya dibutuhkan sebuah tim kreatif. Sebuah tim kreatif dapat berjumlah 5-10 orang sesuai kebutuhan. Umpama pada sebuah program radio dibutuhkan anggota tim yang terdiri dari produser, penulis naskah, editor audio, operator, pembaca cerita, dll. Namun, kenyataannya selama ini dalam sebuah program siaran radio
hanya dikelola seorang penyiar. Penyiar dalam bersiaran juga harusnya didukung sebuh tim siaran. Pada beberapa kasus juga ada satu radio yang bersiaran 18 jam dengan sejumlah program siaran hanya memiliki 4 penyiar. Sehingga menjadi wajar jika siaran radio juga isinya hanya lagu dan kirim salam. Apalagi penyiar ketika bersiaran tidak membawa naskah siaran. Permasalahan berikutnya, manajemen radio tidak mampu membiayai tim kreatif karena keterbatasan dana operasional akibat minimnya iklan. Tentu ini menjadi sebuah lingkaran setan. Sebab bagaimana mungkin pengiklan akan tertarik untuk beriklan jika isi siaran hanya lagu dan kirim salam. Hal ini perlu pemikiran bersama untuk menempatkan kembali radio sesuai fungsinya yaitu memberi informasi, pendidikan, fungsi kontrol dan termasuk fungsinya untuk terlibat dalam pelestarian budaya. “Radio dengan badan hukum perseroan terbatas harus benar-benar menjadi sebuah lembaga yang memberi manfaat bagi masyarakat dan dikelola secara professional. Jangan sampai media radio hanya menjadi penyaluran hobi atau sekadar kumpulan seka demen,” tegasnya. –Wirati Astiti
Dari Pendengar Jadi Penyiar Dulu, menjadi penyiar radio tak pernah ada di benak I Gusti Ngurah Panji Jaya Kusuma, S.Pd. H. Ia tak pernah menyiapkan waktu khusus untuk menyimak siaran radio. Namun, ia tak menampik memang menyukai lagu-lagu Bali. Karena itu pula, saat mengerjakan laporan praktikum ketika masa SMK dulu, Gus Panjidemikian nama beken Penyiar Radio Genta ini-di udara, selalu ditemani lagu-lagu Bali. Ia baru menyadari ternyata sekitar tahun 2002, ia sudah sering mendengarkan Radio Genta. “Dulu Ibu saya jualan nasi. Sepulang Ibu dari pasar radio on terus sampai siarannya habis. Begitu setiap hari. Jadi sepertinya, otak saya sudah terkontaminasi dengan lagu-lagu Bali dalam siaran Radio Genta itu.. hahhaah,” ucap Gus Panji yang akhirnya kini menjadi penyiar Radio Genta Bali di frekuensi FM 96,1 MHz tersebut. Setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya di SMK Rekayasa Jurusan Teknik Instalasi Listrik tahun 2006, Gus Panji mendengar informasi lowongan penyiar di radio. Hanya dengan berbekal kemauan, ia mengirim lamaran ke dua stasiun radio tersebut. “Akhirnya saya diterima di Radio Genta. Di stasiun satunya lagi, belum apaapa sudah ditolak. Saya ditertawakan, mungkin melihat penampilan saya saat itu yang kurang meyakinkan. Setelah saya jadi penyiar di Radio Genta, kami sempat dipertemukan lagi, dan dia minta maaf pada saya,” kisah Gus Panji, sembari berkata “jangan terkecoh dengan penampilan seseorang”. Ketika diterima sebagai penyiar di radio yang memiliki tagline “Suarane Bali” yang 100% menggunakan Bahasa Bali ini, Gus Panji mengaku saat itu belum terlalu fasih berbahasa Bali. Perasaan senang tak bisa disembunyikannya, karena di tempat ini ia diberikan kesempatan dan merasa tertantang untuk belajar bahasa Bali. Selain itu juga bisa berinteraksi dengan orang di
Gus Panji
luar kabupaten. Karena kemauan belajarnya tinggi, dengan cepat Gus Panji bisa menguasainya. “Awal-awal, saya masih berbekal teks saat siaran. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Bahasa Bali yang dipakai bahasa pergaulan, tidak menggunakan sor singgih yang pakem banget,” ucapnya tersenyum. Dulu program-programnya 100% berbahasa Bali. Meski demikian, Gus Panji mengatakan ada beberapa istilah teknis yang memang tidak bisa disadur ke bahasa Bali. Seperti istilah-istilah kedokteran, dll. Namun setelah ada aturan dari KPI yang mewajibkan penyiaran radio harus minimal 30% bermuatan lokal (Bahasa Bali), Radio Genta mengambil persentase 30% untuk siaran berbahasa Indonesia dan 70% berbahasa Bali. Radio Genta lebih banyak menyajikan hiburan, yang dalam hal ini adalah lagu-lagu berbahasa Bali. Sementara untuk program Indonesia diisi dengan tips-tips, lagu-lagu Indonesia dan berita-berita aktual yang dimuat di Bali Post, Bali Post International dan Denpost (Kelompok Media Bali Post). Siaran programnya pukul 10-12.00 dan pukul 16-17.00. “Namun pengantarnya tetap berbahasa Bali. Bahkan tak jarang beritaberita di Bali Post dan Denpost disadur juga ke Bahasa Bali dan disajikan dalam siaran radio,” imbuh pria yang baru saja melepas masa lajangnya ini. –Inten Indrawati
22
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Kekerasan seksual terhadap anak-anak makin menjadijadi. Para orangtua diharapkan makin mewaspadai fenomena ini dengan lebih mengawasi anak-anaknya. Bukan hanya kala mereka bermain dan bepergian, tapi juga kala mereka memegang ponsel. Karena saat ini para pelaku kejahatan juga menggunakan dunia maya untuk beraksi menjaring korbannya maupun memperdagangkan mereka.
Polisi Bongkar Sindikat Perdagangan Bocah Laki-laki
“P
ara orangtua harus lebih mengawasi anak-anaknya saat mereka menggunakan ponsel, jangan sampai ponsel disalahgunakan. Memperhatikan aplikasi-aplikasi yang digunakan anak-anaknya,” ungkap Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan. Saat ini di tengah ramainya persidangan di Mahkamah Konstitusi terkait LGBT dan hubungan seks di luar nikah, muncul kasus yang tak kalah menggegerkan, pihak kepolisian berhasil membongkar sindikat perdagangan bocah laki-laki untuk melayani seks kalangan gay. Tarif yang dikenakan pada pelanggan yang ingin menggunakan jasa seks anak-anak ini berkisar Rp 1,2 juta. Untuk pelanggan asing (WNA), dikenakan tarif Rp 10 juta. Sedang para korban hanya mendapat bagian antara Rp 100 ribu-150 ribu. Dari kerja keras pihak kepolisian sebanyak tujuh anak di bawah umur (13-17 tahun) dan satu orang berusia 18 tahun, yang sedianya untuk pemuas seks para gay ini, berhasil diamankan. Menurut Brigjen Agung Setya, selain ketujuh anak tersebut, saat ini pihaknya sedang mengindentifikasi korban lainnya. “Ada 148 korban yang teridentifikasi. Penambahan korban ini berdasarkan pendalaman kasus dan bukti-bukti yang diperoleh penyidik. Awalnya korban anak yang didapat, tujuh anak, kemudian berkembang menjadi 99 orang, dan kini yang terindentifikasi 148 orang,” papar Agung.
Arist Merdeka Sirait
“Korban-korban yang kami indentifikasi bukan hanya di Bogor tapi juga di kota lain seperti Jakarta dan Bandung. Tapi kami masih terus memperdalam dan mengembangkan kasus ini,” ucap Agung. Awalnya, bersama anak-anak itu berhasil dibekuk AR yang menjadi germonya. Dari pengembangan kasus, polisi juga berhasil menciduk U dan E. “AR dan U serta E, berbeda jaringan namun mereka saling berhubungan,” jelasnya. Saat ini pihak kepolisian juga tengah mengembangkan tentang kemungkinan adanya mucikari lain selain AR dan U yang ikut dalam perdagangan jasa seks anak-anak. Karena dari keterangan yang diperoleh, AR kerap mengontak mucikari lain untuk membantu menyediakan anak-anak yang dibutuhkan pelanggannya. “Jadi kalau dia kehabisan stok, maka dia cari ke mucikari lain. Ini yang sedang kami dalami juga,” tambah Agung. LEWAT FACEBOOK DAN APLIKASI KHUSUS Modus operandi yang dilakukan AR dan teman-temannya
dalam menjajakan anak-anak ini antara lain lewat facebook juga lewat belasan aplikasi yang bisa di download gratis dengan smartphone. Setidaknya ada 18 aplikasi yang digunakan dalam kegiatan ini. Oleh AR, data-data anak-anak ini dimasukkan dalam aplikasi tersebut. aplikasi ini memudahkan para pelanggan menemukan lokasi anak yang jadi incarannya, si pelanggan juga bisa chat langsung dengan si anak. “Dalam aplikasi itu juga memuat konten pornografi, seperti foto-foto vulgar anakanak yang berada dalam jaringan prostitusi AR,” jelasnya. Terungkapnya kasus ini berawal dari Tim Subdit Cyber Crime Direktorat Tindak Pindana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri melakukan penelusuran pada media sosial untuk konten pornografi dan lainnya yang bertentangan dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Dari penelusuran itulah akhirnya ditemukan akun AR di facebook yang isinya menjajakan anak-anak di bawah umur.
Tiga pelaku perdagangan anak ditampilkan ke publik
Polri Brigjen Agung Setya
Saat ditemukan, pihak kepolisian tidak langsung melakukan penangkapan. Mereka membuat pancingan dengan berpura-pura menjadi calon pelanggan. Sebagai tanda jadi, AR minta pembayaran dimuka separuh dari total transaksi. SIAPA AR, U, dan E? Menurut pihak kepolisian AR adalah seorang residivis yang baru beberapa bulan bebas penjara. Sebelumnya ia menjadi napi kasus perdagangan manusia selama 2,5 tahun. Namun herannya, AR, meski di penjara bisa menjalankan bisnisnya. Hal ini terungkap dari hasil pendalaman polisi terhadap kasus ini bahwa AR telah setahun menjalankan bisnis ini. Padahal AR baru bebas penjara beberapa bulan lalu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, itulah yang tengah digali polisi. Kabarnya, setelah bebas dari penjara, AR aktif di sebuah LSM penyuluh anti HVI/AIDS. Rupanya, posisinya sebagai penyuluh juga dimanfaatkannya untuk mendekati anak-anak calon korbannya. Dia menyewa tempat kumpul-kumpul
untuk anak-anak di bawah umur, kemudian merayu mereka dengan iming-iming mencari penghasilan tambahan. Dalam keseharian, AR diketahui telah berkeluarga dan memiliki anak. Diduga dia juga memiliki orientasi seks penyuka sesama jenis. Sementara U dan E, meski berbeda jaringan dengan AR, namun mereka saling berhubungan dan membantu AR dalam memasok anak-anak. Seperti AR, U juga diketahui telah menikah dan memiliki dua orang anak. Bahkan anak terakhirnya, dikabarkan belum lama lahir. U pun disinyalir juga seorang penyuka sesama jenis. Baik U dan E ini adalah tukang sayur di pasar Ciawi Bogor. Dalam mencari calon korban, mereka biasanya menawarkan anak-anak untuk membantu berdagang sayuran. Kemudian anak-anak dirayu dan diimingiming uang untuk melakukan pekerjaan itu. Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kasus ini harus dibongkar tuntas. Karena kalau hanya menghukum pelaku, kasus semacam ini dikhawatirkan bakal terulang lagi. Sindikat prostitusi ini memanfaatkan dunia maya untuk beraksi. “Kasus ini harus dibongkar tuntas karena ini sindikat kejahatan yang terorganisir,” tegasnya. Ditambahkannya, pihaknya sejak lama telah memantau tanda-tanda adanya prostitusi lewat online. “Ini bukan hanya di Jakarta tapi juga tempat lainnya,” tambahnya. Para pelanggan ‘dagangan’ AR ini bukan hanya kalangan gay dalam negeri tapi juga asing. Kepada pihak asing, AR memasang tarif lebih mahal, yakni hingga Rp 10 juta. Dalam menangani kasus ini kepolisian tidak sendiri, tapi juga dibantu oleh Kemensos dan pihak KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Polisi fokus pada penanganan perkara hukumnya, sedang Kemensos dan KPAI menangani para korban untuk pembinaan dan pemulihan. Para korban ini kini berada di Rumah Aman Kemensos untuk pemeriksaan kesehatan dan pemulihan. Menurut Agung, penanganan anak-anak ini dilakukan secara komprehensif yakni baik dari sisi kesehatan maupun psikisnya. Ketua KPAI Asrorun Niam mengatakan, adanya kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi semua orang tentang betapa seriusnya ancaman kejahatan seksual saat ini. Bentuknya pun sudah semakin beragam. “Fakta ini membangkitkan kesadaran kolektif kita bahwa ancaman kejahatan seksual sudah semakin serius,” tegas Asrorun. —Diana Runtu
Sosialita
3
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
BPR Kanti Kembali Terima “Infobank Golden Award 2016”
PT BPR Sukawati Pancakanti mampu memberi yang terbaik kepada mitra kerjanya. Dengan mengedepankan budaya “KANTI” ( Persahabatan), selalu menjadikan Pekerjaanku, Nafasku, Jiwaku adalah melayani dalam kasih, serta senantiasa berinovasi guna melahirkan ide-ide kreatif yang cemerlang, PT BPR Sukawati Pancakanti bisa maju sejalan dengan cita-cita kami: “Sahabat Keuangan Terpercaya Anda”.
“K
ehadiran kami hingga hari ini adalah sesungguhnya berkat ‘kepercayaan’ yang merupakan modal utama bisnis bank. Kinerja kami dari tahun ke tahun terus bertumbuh. Ini bisa terjadi karena masyarakat percaya pada manajemen kami. Dari lubuk hati yang paling dalam perkenankan kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala kepercayaan, dukungan dan kerjasama yang baik selama ini,” ujar Ni Wayan Tantri, S.H., Direktur Bisnis BPR Kanti didampingi Komisaris Utama Ni Made Sumartini, S.E. “Tidak ada penghargaan tertinggi selain kepercayaan”. Kepercayan masyarakat menjadi kekuatan utama BPR Kanti untuk terus menjadi yang terdepan. “Kami pegang teguh prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan punya komitmen Trust (kepercayaan), Integrity (kejujuran), Prudent (kehatihatian) & Profesionalism (profesional),” ucap Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba. Karena kepercayaan masyarakat yang begitu besar pada BPR Kanti pulalah yang kemudian membuat BPR ini kembali meraih “Infobank Golden Award”, berturut-turut, yakni tahun 2015 (atas kinerja sangat bagus dari tahun 2011) dan tahun 2016 (untuk kinerja dari tahun 2011-2016). “Infobank Golden Award 2016” diserahkan kepada Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba, Jumat (26/8) di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta. Infobank Golden Award ini adalah penghargaan atas predikat kinerja sangat bagus 5 (lima) tahun berturut-turut. Perjalanan panjang BPR Kanti yang terus mengukir prestasi ini tentunya tak terlepas dari sepak terjang para “nahkodanya”. Sebut saja Komisaris Utama Ni Made Sumartini. Sebelum
akhirnya turut membesarkan BPR Kanti, dulu ia adalah Direktur Utama di BPR Bank Kertiawan. Demikian juga dengan Direktur Bisnis Wayan Tantri. Ia yang mulai bekerja di Bank Sinar dari tahun 1990 dengan jabatan terakhir sebagai kepala cabang di Bank Sinar Kantor Pusat (sekarang Bank Mantap) sampai dengan tahun 2014 dan pindah ke BPR Kanti sebagai Kepala Cabang di Kantor Mengwi dan tahun 2015 sebagai Direktur Bisnis di BPR Kanti. Besarnya nama BPR Kanti juga tak terlepas dari kemauan untuk belajar belajar dan belajar, bekerja sambil berdoa. Dengan melakukan kegiatan studi banding, tirtayatra, outbond dan diklat seperti yang dilaksanakan mulai Kamis (8/9) s.d. Minggu (11/9) ke Lombok. Di sini, BPR Kanti melakukan kunjungan ke BPR Prima Nadi, BPR terbesar di Lombok. Kegiatan bersama seluruh karyawan BPR Kanti yang diselenggarakan bertepatan dengan perayaan Umanis Galungan tersebut diisi juga dengan tirtayatra ke beberapa pura di Lombok, yaitu Pura Suranadi, Pura Candi Narmada, Pura Jagatnatha Mayura, Pura Batu Bolong, Pura Gunung Sari
Kedatangan di Bandara
Penyerahan Cindramata di BPR Prima Nadi Mataram
dan Pura Batu Lingsar. Diisi juga de ngan outbond dan diklat dengan tema “Mengembangkan Spiritualitas Motivasi Bekerja”. Tujuannya, agar seluruh keluarga besar BPR Kanti memiliki kesadaran atas maksud dan tujuan dari bekerja, baik secara kehidupan maupun secara spiritual. –ten
Tirtayatra di Pura Suranadi
Sembahyang bersama di Pura Suranadi
Foto bersama di Hotel Grand Madani Mataram
Tirtayatra di Pura Batu Bolong
4
Inspirasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Jon Maruto
Walaupun Pahit tetap Dicari carakan orang adalah daun stevia. Ini, kata Jon, masih jarang terdengar di Indonesia, tapi akhir-akhir ini makin banyak diburu orang karena manfaatnya. Daun stevia ini bisa dipakai sebagai pengganti gula yang aman dikonsumsi. Jadi untuk penderita diabetes atau obesitas, bisa mengonsumsi ini untuk pengganti gula. “Sayangnya tanaman ini sudah habis juga. Tapi kalau mau coba, silahkan cicipi daunnya, itu rasanya manis. Jika ingin menggunakan, ambil beberapa daun stevia, keringkan, kemudian diblender halus. Itu sebagai pengganti gula karena rasanya manis,” jelasnya.
Jon Maruto tampak masih sibuk melayani para pengunjung stannya ‘Kampoeng Herba’ di Pameran Flora 2016 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Beberapa pengunjung bertanya tentang kapsul-kapsul herbal di etalese sementara ada juga yang bertanya tentang teh herbal. “Hari ini lumayan sibuk, mungkin karena hari terakhir pameran,” kata pengusaha tanaman obat itu sehabis membagi-bagikan brosur tentang tata cara menanam tanaman obat tertentu.
M
eski hari itu terbilang cukup ramai, namun menurut Jon, begitu sapaan akrab kakek tujuh cucu ini, masih lebih ramai pada pameran Flora dan Fauna yang digelar Juni lalu di tempat yang sama. “Waktu itu ramai sekali, saya bahkan sempat kehabisan stok. Hasil penjualan juga cukup lumayan. Kalau pameran sekarang, tidak terlalu ramai ya. Hari ini kebetulan saja terlihat ramai,” tambah Jon yang merogoh kocek Rp 20 juta untuk menyewa dua stan pameran. Menurut Jon, ajang pameran memang menjadi satu-satunya kesempatan untuk promosi produk maupun mencari pelanggan baru serta meluaskan jaringan di kalangan pebisnis tanaman obat. “Makanya saya sangat rajin berpameran karena hasilnya terlihat, baik dari keterjualan produk juga penambahan pelanggan,” tambahnya. Lelaki asal Jawa Timur ini mengaku memulai bisnis tanaman obat di awal tahun 2000-an, setelah belasan tahun bekerja di bidang serupa di tempat lain. Belasan tahun berkecimpung di sana membuat dirinya tahu seluk beluk tanaman obat hingga cara memasarkannya. “Tapi saya tidak belajar meracik ya, itu ada ahlinya. Saya belajar tanamannya (pohonnya), perawatan dll, juga memasarkan produk,” tuturnya. Setelah paham, ia pun terpikir memulai usaha sendiri, apalagi saat itu tanaman obat mulai naik daun. Banyak orang yang
tidak ingin terlalu ‘dikuasai’ oleh obat kimia mencari obat-obat alami untuk penyakitnya atau sekadar menjaga kesehatan. “Saya pikir ini peluang bagus, kenapa tidak memulai usaha sendiri. Kalau ikut orang terus, kita kan jadi tidak berkembang. Rasanya lebih enak membesarkan usaha sendiri, dibanding usaha milik orang lain. Jadi saya memulainya dari usaha kecil-kecilan
dan akhirnya terus berkembang hingga seperti sekarang,” ungkap Jon yang bekerja sama dengan kakaknya yang berlatarbelakang kedokteran. “Soal meracik obat, dia (kakak) yang paham. Dia kan sekolah kedokteran,” ucapnya. Saat ini, ia memiliki ratusan koleksi tanaman obat. Sebagian di antaranya dibuat juga dalam bentuk kapsul dan teh. “Jadi buat mereka yang tidak suka pahit, atau ingin yang praktis, biasanya mengonsumsi kapsul atau tehnya. Tapi ada juga yang selain membeli kapsul juga membeli tanamannya untuk ditanam sendiri,” jelas Jon yang memiliki lahan pembibitan di kawasan Pondok Rangon, Jakarta Timur. Untuk tanaman obat, harganya tidak terlalu mahal antara Rp15 ribu - Rp
25 ribu tergantung tanamannya. Sedang kapsul antara Rp 40 ribu - 65 ribu, dan teh berkisar antara Rp 20 ribu - 40 ribu. Hal yang bikin panik, kalau banyak pesanan tapi stok tidak ada. Seperti yang baru saja terjadi.
Banyak yang pesan daun sirih merah, baik pohonnya maupun kapsulnya, tapi stok habis. Daun sirih merah, banyak dicari orang. Khasiatnya mulai dari mengobati penyakit ringan sampai berat. Salah satunya bronkhitis, radang prostat dan darah tinggi. “Banyak pengunjung yang cari bahkan memesan. Sebenarnya saya juga menyediakan, tapi sudah ludes terjual baik kapsul hingga tanamannya. Saya sampai keliling-keliling ke teman-teman sesama penjual tanaman obat. Susah sekali dapatnya. Mungkin karena barang laris ya,” tuturnya. “Dulu itu, ketika daun sirih merah sedang ngetop banget,
sampai-sampai ada yang menjual per-daun bukan per-pohon. Bayangin aja sampai segitunya,” lanjut Jon. Padahal katanya, daun sirih merah itu, rasanya amat pahit, sama pahitnya dengan brotowali. Tidak banyak orang yang tahan dengan rasa pahitnya. Karena itu disediakan kapsul. “Bahkan teh daun sirih merah itu pahitnya minta ampun, lho. Biar dikasih gula tetap saja pahit. Tapi namanya juga obat, biar nggak enak (pahit) orang tetap cari,” ujar Jon. Saat ini lanjutnya tanaman obat yang sedang naik daun sirih merah, juga daun insulin dan okra. Keduanya untuk obat kencing manis. “Itu juga stok saya habis diserbu pelanggan,” katanya sambil tertawa. Tanaman ini mudah ditanamnya, tinggal distek saja bisa tumbuh bagus, tidak memerlukan perawatan khusus. Beda dengan daun sirih merah, itu menanamnya sulit, dan perawatannya rumit. “Sirih merah susah nanamnya, rawatnya juga rumit. Tidak bisa kepanasan, tidak bisa kebanyakan air. Perawatannya khusus. Itu sebabnya saya tidak menanam sirih merah, jadi hanya mengambil dari orang lain saja,” ucap Jon. Tanaman okra, tambahnya, belakangan juga mulai ramai dicari. Bentuknya seperti jari atau mirip buah oyong. Buahnya bermanfaat untuk mengendalikan gula darah. “Meski dikenal untuk diabetes, namun tanaman okra juga bisa untuk penyakit lainnya seperti kolesterol dan kanker. Saya juga punya daun afrika, itu juga untuk gula darah,” tambahnya. Yang juga mulai ramai dibi-
Aneka tanaman pameran flora di lap Banteng Jakarta
BERJUALAN SAMBIL MENGEDUKASI MASYARAKAT Terkait persaingan, Jon mengaku, cukup berat karena banyak pemain di sektor ini sementara pembeli terbatas. Karena itulah, ia menjadi sangat rajin berpameran. Karena di pameran, ada kesempatan untuk menjelaskan panjang lebar tentang khasiat tanaman obat kepada para pengunjung. “Saya ini bukan sekadar menjual produk, tapi sekaligus juga mengedukasi pengunjung yang berminat pada tanaman obat. Misalnya, di setiap pohon saya kasih keterangan nama pohonnya juga manfaatnya. Selain itu saya juga membagikan brosurbrosur tanaman obat, misalnya cara membuatnya, dll. Termasuk bagi yang ingin membudidayakan sendiri, saya kasih petunjuk caranya, merawatannya,” paparnya. Sejak dua tahun terakhir ini, kondisi ekonomi Indonesia lesu, juga berdampak pada bisnis tanaman obat. Omzet penjualan anjlog hingga 60%. Mungkin orang yang biasanya berbelanja, jadi mengencangkan ‘ikat pinggang’. “Mungkin yang benarbenar perlu, misalnya sakit, baru beli. Tapi yang sehat, mengurangi belanja. Tapi terus terang, kondisi penurunan ini terasa sekali,” katanya. Sebagai UKM, hal ini sangat memberatkan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena nyatanya hampir semua usaha juga terpukul dengan kondisi lesu seperti ini. “Saya berharap kondisi ekonomi kita segera membaik ya. Karena kami sekarang merasa sulit sekali,” katanya. -Diana Runtu
Jon Maruto pengusaha tanaman obat
Mandalika
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
21
Gubernur NTB Lepas Kontingen PON XIX Jabar
Suasana haru mewarnai pelepasan para atlet Provinsi Nusa Tenggara Barat yang tergabung dalam kontingen PON XIX Jawa Barat. Usai mencium Bendera Merah Putih dan Lambang Provinsi NTB, tangis haru para atlet tak terbendung kala bersalaman berpamitan dengan para orangtua yang hadir dan turut mengantar para pejuang olahraga NTB.
L
ima belas (15) emas adalah target yang diraih kontingen Pekan Olah Raga Nasional (PON) Nusa Tenggara Barat pada PON XIX 2016 yang digelar mulai 17 September mendatang di Jawa Barat. Untuk meraih target dalam menghadapi perhelatan olahraga nasional yang dilaksanakan empat tahun sekali itu, atlet-atlet NTB telah meny-
iapkan diri selama dua tahun sembilan bulan. Semangat juang atlet ini terus dipupuk oleh KONI NTB dengan mengundang para pejabat daerah, keluarga dan kerabat para atlet untuk memberikan motivasi pada pelepasan Kontingan Atlet PON NTB, beberapa waktu lalu. Sebelum melepas para atlet PON XIX Provinsi NTB di lapangan Bumi Gora beberapa waktu
lalu, Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi, mengobarkan semangat dan memotivasi 112 atlet NTB yang akan berlaga pada 23 cabang olahraga. “Tuhan adalah kekuatanku. Yakinlah Allah SWT akan memberikan yang terbaik pada saatnya. Insyaallah pada saat berkompetisi nanti tidak ada yang tidak baik, kalian nantinya akan menunjukkan performa yang baik sebagai hasil dari latihan yang
tekun selama ini,” ujar Gubernur kepada para atlet dan kontingen NTB yang hadir kala itu. Selama mengikuti PON mendatang, Gubernur NTB mengajak para atlet untuk menjunjung sportivitas, menjalin persaudaraan dengan kotingen atlet daerah lain dan menjadi duta NTB, dengan menunjukkan keramah-tamahan NTB di kancah nasional “Jagalah sportivitas, jalin persahabatan
dan persaudaraan. Jadilah Duta NTB dengan perilaku dan sikap yang sportif. Itulah prestasi yang tidak kalah pentingnya,” kata Gubernur. Momentum pelepasan kontingen PON XIX Provinsi NTB ini dilakukan Gubernur dengan menyerahkan Bendera Lambang Provinsi NTB kepada Ketua Kontingen Atlet NTB yakni Ketua KONI NTB, Andy Hadiyanto sebagai tanda pelepasan. “Panjipanji NTB akan kami kibarkan dan akan mendapatkan 15 lebih medali emas,” ungkap Ketua KONI NTB ini saat menerima bendera dari Gubernur NTB. Turut hadir dalam pelepasan para atlet PON NTB, Forum Koordinasi Pimpinan daerah NTB seperti Wakil Ketua DPRD NTB, Mahali Fikri, Kapolda NTB, Danrem 162 Wira Bakti, Danlanal Mataram, Danlanud Rembiga. Hadir pula Wakil Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Bima. -Naniek I. Taufan
Pelepasan kontingen PON Provinsi NTB
Bentuk FORMI untuk Lestarikan Budaya dan Olga Tradisional Untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya dan olahraga tradisional daerah NTB guna mengangkat jati diri NTB dan masyarakat NTB, dibentuklah Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) NTB . Untuk menjalankan dan mengurus aktivitas organisasi ini, Pengurus FORMI NTB periode 2016-2021, baru-baru ini dilantik di Mataram NTB. FORMI merupakan perhimpunan dari beberapa induk olahraga masyarakat yang lahir dari kegelisahan dari beberapa induk olahraga tersebut yang tidak dinaungi oleh KONI sehingga pada tahun 2000 FORMI resmi berdiri dengan Nama Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI), kemudian bermetamorfosa menjadi FORMI. Keberadaan FORMI sendiri merupakan salah satu amanah dari Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. FORMI merupakan induk organisasi olahraga dan satu-satunya wadah berhimpunnya olahraga rekreasi yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, baik di tingkat nasional maupun di daerah. FORMI ini menjadi mitra strat-
egis dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong dan menggerakkan pembinaan dan pengembangan olahraga rekreasi di seluruh Indonesia. Olahraga ini merupakan kegiatan yang mampu menembus batas dan sekat-sekat antar kelompok. “Bagaimana Negara Palestina, Israel bisa berdamai untuk kompetisi olahraga. Begitu juga olahraga menjadi bagian strategis dalam meredam gejolak yang terjadi di masyarakat,” ungkap ujar Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Muh. Amin, SH., M.Si,. dalam kegiatan yang dihadiri oleh Ketua Umum FORMI Pusat Hayono Isman, Anggota DPR Dapil NTB dari Partai Gerinda H. Wilgo Zainar, MBA, Sekretaris Daerah Prov. NTB Ir. H. Rosiady H. Sayuti, MSc. Ph.D, Ketua DPRD Kab. Lombok Barat Hj. Sumiatun, Mantan Sekda Prov. NTB H. Muhammad Nur, SH., MH serta unsur FKPD Kabupaten Lombok Barat dan Pengurus FORMI NTB. Pemerintah Provinsi NTB menyambut baik hadirnya FORMI dan diharapkan organisasi olahraga ini bisa berintegrasi dengan berbagai pariwisata di NTB sebagai supporting event. -Naniek I. Taufan
Pelantikan Pengurus FORMI NTB
20
Nine
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Wajibkan Bumil Tes IVA
Inspirasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Putri Handayani
Keluar dari Zona Nyaman
Kanker serviks merupakan pembunuh perempuan nomor satu di dunia dan di Indonesia. Karena itu, Tim Penggerak PKK NTB secara konsisten konsen untuk membebaskan perempuan NTB dari kanker leher rahim ini.
Meraih prestasi tentu suatu kebanggaan. Berkat tekun dan kerja keras, prestasi mampu diraih. Mengukir prestasi mampu membuat diri semakin berkualitas dan semakin membuka peluang baru untuk masa depan. Tidak jarang, kaum muda banyak yang meraih prestasi di tingkat provinsi maupun nasional. Mereka tentu pantang menyerah untuk mengasah kemampuan dan mempersembahkan karya terbaik bagi bangsa Indonesia.
S
elain gencar melakukan sosialisasi, dalam setiap pertemuan khususnya yang membahas mengenai kanker serviks, organisasi ini selalu meminta seluruh peserta yang hadir untuk pandai-pandai mengomunikasikan dan menyebarluaskan informasi yang mereka dapat terkait deteksi dini kanker serviks, kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar. Mengingat ancaman kanker serviks yang dapat membunuh,
5
membuat TP PKK NTB selalu meminta para perempuan NTB untuk melakukan antisipasi dini dengan memeriksakan diri. Dan tidak ada alasan untuk tidak melakukan deteksi dini kanker serviks.
Hj. Erica Zainul Majdi (tengah)
“Kanker serviks, adalah pembunuh perempuan nomor satu di dunia dan di Indonesia. Jika gejala kanker ini bisa terdeteksi dari awal, prosedur pengobatannya pun bisa lebih mudah, sederhana dan gratis,” ungkap Hj. Erica Zainul Majdi, Ketua TP PKK Provinsi NTB, pada Rapat Koordinasi Program Nasional percepatan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini kanker pada perempuan dan pemeriksaan deteksi dini kanker/ payudara beberapa waktu lalu. Menurutnya, deteksi dini kanker serviks merupakan hal yang sangat penting, disebabkan kanker serviks adalah momok yang menakutkan bagi kaum perempuan dan merupakan pembunuh kaum perempuan yang terjadi bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di dunia. Untuk lebih memaksimalkan sosialisasi mengenai hal ini, TP PKK NTB menggandeng organisasi-or-
ganisasi wanita di NTB untuk terus menggalakkan kegiatan mengajak kaum perempuan untuk melakukan tes IVA sedini mungkin. Oleh karena itu Erica berharap agar para perempuan yang tergabung dalam organisasi wanita dan kader PKK agar tidak lelah dan tidak bosan dalam menyampaikan informasi yang berkaitan bahaya kanker pada perempuan yang ada di lingkungan dan komunitas dimana pun mereka berinteraksi. LIBATKAN PARA “BAPAK” Tidak hanya terhadap perempuan, PKK NTB juga akan melibatkan para bapak untuk menyukseskan kampanye bebas kanker serviks di Nusa Tenggara Barat. Erica meminta kepada Dr. Arsastra yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan NTB untuk merumuskan cara agar kiranya para lelaki
di NTB juga turut ikut berperan aktif dalam program deteksi dini kanker ini. “Saya minta bapakbapak juga diikutsertakan dalam kegiatan ini, kalau perlu Dinas Kesehatan NTB mengajak ibu-ibu untuk roadshow khusus memberi pencerahan kepada bapak-bapak. Para lelaki di NTB ini harus sadar bahwa kesehatan istri dan anakanak itu juga bergantung dari bagaimana seorang bapak bisa ikut peduli,” ungkapnya. Satu kebijakan baru telah diambil bahwa untuk membebaskan perempuan khususnya perempuan NTB dari kanker serviks yakni seluruh ibu hamil saat memeriksa kandungan diwajibkan oleh dokter kandungan untuk melakukan tes IVA, karena salah satu kunci kesehatan janin dan bayi itu juga dengan memastikan para calon ibu bebas dari kanker serviks. –Naniek I. Taufan
Setiap Perempuan Beresiko Kena Kanker Serviks Kanker leher rahim adalah tumor ganas yang mengenai leher rahim yang disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) yang onkogenik. Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang disampaikan DR. Dodi, AK., Sp.OG. (K), Koordinator Female Cancer Programme (FCP) Lombok beberapa waktu lalu, terdapat satu perempuan di Indonesia meninggal dunia akibat kanker leher rahim setiap satu jam. (Di dunia, tiap dua menit perempuan meninggal akibat kanker leher rahim). “Setiap perempuan berisiko terkena kanker leher rahim,” kata dr. Dodi. Dibutuhkan kepedulian semua pihak, khususnya kesadaran para perempuan untuk dapat mencegahnya. “Jika deteksi sejak dini dilakukan dan menemukan sel tersebut belum berubah menjadi kanker, maka dapat diobati dan bisa sembuh 100%. Namun jika sel sudah berubah menjadi kanker, maka tidak lagi bisa disembuhkan. Tindakan penyelamatan
tidak bisa dilakukan dengan operasi sekali pun,” ujarnya. Menurutnya, banyak perempuan yang datang ketika kanker serviks sudah stadium lanjut, sehingga dokter tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menyelamatkannya. Hal yang paling mungkin dilakukan jika kanker serviks sudah stadium lanjut adalah menunda kematian dengan obat-obat penyanggah yang tidak bisa menyembuhkan kanker serviks. Inilah pentingnya deteksi dini kanker leher rahim, agar begitu terlihat ada bibit kanker, bisa segera diobati hingga tuntas sebelum sempat menjadi kanker. Selama sebelum menjadi kanker, penyakit ini tidak memberikan keluhan apaapa pada perempuan yang mengalaminya. Hanya saja ada tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah keputihan yang berbau, berwarna serta gatal juga vagina yang mudah berdarah, pendarahan di luar masa haid, pendarahan saat senggama dan nyeri pinggul. Faktor risiko terjadinya kanker leher rahim adalah, kebiasaan berganti-ganti pasangan seksual, menikah muda, infeksi
menular seksual, merokok, banyak melahirkan hingga kekurangan vitamin A atau C atau E dan juga faktor lainnya. Risiko tertinggi ada pada perempuan usia antara 30-50 tahun. Penyebabnya bisa jamur, virus, bakteri, benda asing atau protozoa. “Jika penyebabnya jamur, bakteri, benda asing dan protozoa masih bisa diobati dan 100% bisa sembuh. Namun jika penyebabnya virus, tidak bisa disembuhkan dengan cara apa pun,” ungkap dr. Dodi. Deteksi dini kanker serviks ini bisa membuat kanker serviks dapat ditangani dan disembuhkan dengan segera. Ini sangat mungkin bisa dilakukan karena menurut Prof. Dr. Alexander EW Peters, ahli ginekologi asal Belanda yang pernah datang ke NTB dan ikut dalam kegiatan sosialisasi kanker serviks bersama PKK NTB beberapa wkatu lalu, bahwa proses perjalanan kanker serviks ini berjalan dalam masa yang cukup panjang yakni 10 tahun. Leher rahim yang terpapar HPV dari sel normal berkembang hingga akhirnya menjadi kanker serviks ada masa 10 tahun. Paling cepat tiga tahun. “Dalam
masa 10 tahun itu, kita bisa melakukan intervensi pencegahan dengan deteksi dini kanker leher rahim,” ungkapnya. Waktu itu, Peters juga melansir data WHO, bahwa kanker serviks berhubungan dengan kemiskinan. Karena itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk dapat menjangkau para wanita yang berada dalam kategori ini yang biasanya kebanyakan berada sangat jauh dari fasilitas kesehatan dan juga berpendidikan rendah, guna melakukan sosialisasi atau bahkan melakukan kegiatan deteksi dini langsung ke wilayah-wilayah. Mengingat mereka bertanggung jawab pada keluarga, maka para perempuan harus diselamatkan dari kanker serviks yang mematikan ini. “Kita tidak bisa hanya menunggu di rumah sakit atau puskesmas saja, melainkan harus turun menjangkau mereka. Meski pun jika datang ke rumah sakit atau puskesmas, harus segera ditangani,” ujarnya kala itu. Dengan deteksi dini kanker serviks, harapannya generasi berikutnya tidak ada lagi perempuan yang meninggal karena kanker serviks. --Naniek I. Taufan
M
otivasi untuk terus berkarya perlu dipupuk sejak dini. Motivasi merupakan dasar pemacu diri agar mampu lebih baik. Desak Ketut Putri Handayani (21) mempunyai motivasi yang membuat dirinya terus berkarya sampai saat ini. Perempuan yang akrab disapa Putri itu mempunyai motivasi yakni orang tua. Membanggakan orang tua adalah sesuatu yang membanggakan bagi dara kelahiran Klungkung, 5 Maret 1995 itu. “Yang membuat saya ingin terus mengukir prestasi sampai saat ini tentunya ingin membuat orang tua saya bangga karena telah melahirkan saya ke dunia. Selain itu, saya juga tidak ingin hidup sia-sia tanpa menghasilkan apa pun, maka saya jengah. Saya selalu ingin mencoba hal baru, bergaul dan mencari relasi sebanyak-banyaknya. Berkat pergaulan itu saya jadi mendapat banyak ilmu juga sekaligus mengembangkan bakat terpendam saya. Tuhan pasti memberi jalan untuk yang mau berusaha, bukan?” tuturnya dengan bangga. Berkat keberaniannya mencoba hal baru, Putri mendapat medali emas Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dan katagori presentasi dan medali perak kategori poster dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-28 Universitas Halu Oleo, Kendari (2015). “Pengalaman tentang PIMNAS, awalnya saya direkrut oleh teman yang dulunya merupakan kakak kelas saya semasa SMA-. Dia mengajak saya untuk ikut
bergabung di tim PKM-M. Kami mengangkat Sendratari Kolok Bengkala,” ingatnya. “Suatu ketika, ada kabar bahwa PKM kami lolos PIMNAS kemudian akan berangkat pada tanggal 5 Oktober 2015. Saya ingat sekali. Sampai saya harus membatalkan study tour saya bersama jurusan. Jadilah kami mempersiapkan segala hal mulai dari latihan presentasi, bimbingan dengan dosen, pembuatan poster dan spanduk, serta hal-hal penunjang lainnya. Nyali saya sempat menciut. Namun, ketua PKM saya Putu Gede Asnawa Dikta bilang, afirmasi itu perlu dalam segala hal agar kita tidak goyah dan selalu termotivasi. Saya pun kembali optimis,” jelasnya. “Hari itu tiba, kami terbang ke Universitas Halu Oleo, Kendari. Kami berlomba dan berjuang. Kami telah upayakan yang terbaik. Ketika pengumuman juara, ternyata PKM kami lolos dengan meraih medali setara emas untuk kategori presentasi dan setara perak untuk kategori poster. Tak ada kata yang dapat
mendefinisikan kebahagiaan kami pada saat itu,” kenang pemilik hobi menyanyi, menulis cerpen, travelling, dan sosialita itu. Tidak saja pengalaman ketika mengikuti PIMNAS. Putri juga mempunyai pengalaman menarik saat dirinya mengikuti Kapal Pemuda Nusantara (KPN). Terpilih menjadi perwakilan Bali dalam KPN bukan tanpa perjuangan. Tentu Putri berjuang sangat keras karena terdapat 2 jenis seleksi yang harus dilalui. Pertama, seleksi administrasi. Kedua, tahap wawancara. “Berawal dari keikutsertaan saya untuk mewakili Bali dalam event KPN, sebuah event yang bernaung di bawah Kemenpora. Masing-masing dari ke-34 provinsi yang ada di Indonesia mengirim 5 perwakilannya untuk berlayar mengelilingi Indonesia menggunakan KRI kapal perang kebanggaan Indonesia. Ketika itu KRI Teluk Bintuni 520 menjadi wahana kami. Tidak sembarang orang bisa menaiki kapal perang ini. Puncak acaranya di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah yang disebut sebagai segitiga koral dunia. Acara ini dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo,” tukas Juara 3 lomba cerpen seBali (2016) tersebut. Prestasi itu tentu mampu membanggakan keluarga dan almamater. Putri berhasil mengharumkan Universitas Pendidikan Ganesha tempatnya mengemban ilmu. Putri tercatat saat ini sebagai mahasiswi semester tujuh Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Selain kesibukannya di kampus, Putri juga aktif dalam Komunitas Mahima. Bersama dengan Komunitas Mahima, Putri kerap mengikuti pementasan teater untuk mengembangkan bakatnya. Ia tidak saja berkutat di organisasi kemahasiswaan kampus, tetapi Putri dapat membagi waktu untuk kegiatannya yang lain. “Saya juga ingin keluar dari zona nyaman saya. Zona nyaman memang sering kali membuat diri terlena, tapi kita
tidak akan berkembang kalau kita tetap diam dan tidak bergerak. Saya analogikan seperti seseorang yang ingin menurunkan berat badan, untuk mencapai tubuh atau berat badan ideal tentu harus banyak usaha, bukan? Tidak hanya mengatur pola makan, tetapi juga olahraga, dan berbagai antekanteknya. Jika pencapaian itu telah terpenuhi, maka ada rasa puas dan bangga dalam diri,” tutur buah hati pasangan Dewa Nyoman Ardana dan Desak Nyoman Sudiastini. Belajar dari Kegagalan Tidak ada kepuasan jika belum mengalami kegagalan. Putri pun sempat mengalami kegagalan. “Berbicara soal kegagalan, sangat sering saya mengalaminya. Saya tipe orang yang tidak bisa membohongi diri soal kekecewaan. Salah duanya yaitu pertama, saat mengikuti seleksi Jegeg Bagus Klungkung, ketika itu saya masih duduk di bangku SMA. Saya gagal, bahkan tidak masuk 10 besar karena pengetahuan dan wawasan saya masih kurang. Selain itu, saya juga tidak menguasai bahasa asing. Sakit. Kecewa pasti. Namun, saya jadi tahu bahwa dunia saya tidak berada di sana,” kata delegasi Provinsi Bali dalam Kapal Pemuda Nusantara “Sail Tomini” 2015 tersebut. “Kedua, saya pernah tidak lulus di mata kuliah favorit saya, sastra. Kalau ini saya sadar, saya yang terlalu ceroboh. Kegagalan ini lebih sakit karena saya harus
mengulang 1 semester lagi untuk memperbaiki nilai saya. Sungguh kegagalan yang tidak ingin saya ulang kembali. Saya bukan orang dengan IPK bagus. Namun, saya tidak takut. Saya selalu mencoba lebih baik. Saya juga suka mencoba hal baru, berani berbeda, dan sekaligus berani rugi,” lanjut Duta Gong Kebyar Wanita Kabupaten Buleleng PKB (2016). Pengalaman pahit itu menjadikan Putri semakin tangguh. Tentu saat ini saudari dari Desak Gede Arnilatini, Desak Made Meira Bintari Nuspayani, dan Dewa Nyoman Purna Wibawa tersebut mampu membuat prioritas mada depannya. “Saat ini yang menjadi prioritas utama saya adalah pendidikan. Oleh karena itu, di semester yang sudah terbilang serius ini, saya ingin fokus pada tujuan utama saya di kampus,” tukas perempuan asal Dusun Peken, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Menurut Putri, kesuksesannya saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. “Tidak hanya orang tua, tapi juga sosok-sosok yang selalu memotivasi saya baik dari pihak sekolah maupun lingkungan pergaulan saya. Usaha yang saya kerahkan dari dalam diri saya, dan tidak lupa tentunya restu dari Tuhan. Saya juga mempunyai prinsip bahwa kita harus berani untuk keluar dari zona nyaman. Dengan itu, kita mampu meraih pengalaman dan belajar lebih banyak lagi,” tukasnya. Wulan.
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Minat konsumen untuk menikmati konten digital terus berkembang. Salah sa tunya tren yang berkembang adalah konten digital yang mengarah ke teknologi virtual reality (VR). Lenovo pun memanfaatkan peluang ini dengan teknologi Lenovo Vir tual Reality (LVR). Teknologi ini dibenamkan dalam smartphone yang dapat dijangkau semua kalangan.
Miranda Vania Warokka
Dorong Industri Kreatif Berbasis VR produk smartphone yang berteknologi VR, pihaknya juga berkomitmen membantu pengembangan konten, aplikasi, dan games berbasis teknologi VR di Indonesia. “Dukungan ini tak lepas dari banyaknya pengembang lokal yang memiliki talenta dan
“D
ulu VR iden tik dengan teknologi premium karena hanya bisa dinikmati konsumen yang membeli smartphone high-end dengan VR Glasses yang harg anya cukup mahal. Kini kami punya komitmen untuk men desain smartphone terdepan yang memenuhi kebutuhan konsumen dengan tingkat harga yang sangat ramah di kantong. Istilahnya VR for everyone,” ujar Miranda Vania Warokka, MBG Marketing Manager Lenovo Indonesia dalam acara “Media Briefing and Talkshow TheaterMax Technology & Virtual Reality with Lenovo Smartphone” di Denpasar. Perempuan yang akrab disapa Miranda ini me nambahkan, selain me nawarkan
Woman on Top
Miranda bersama Naren da Wicaksono, founder Dicoding.com
minat untuk mengembangkan konten, aplikasi, dan games VR untuk smartphone,” tegasnya. VR adalah teknologi yang membuat pengguna dapat ber interaksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam ima jinasi. Teknologi ini da lam perkembangannya tidak hanya dipakai untuk hiburan dan games. Be berapa developer di luar negeri sudah memanfaat kan teknologi ini untuk membantu bidang kedok teran, militer, arsitektur, dan pendidikan. Salah satu pihak yang digandeng oleh Lenovo untuk pengembangan VR lokal adalah Dicoding.com. Mereka bekerjasama da lam lomba pengembangan games VR. Program lain yang digulirkan adalah Le novo Developer Scholar ship. “Lenovo memberikan beasiswa senilai total Rp 100 juta untuk 500 siswa belajar dan berhasil lulus dengan nilai terbaik di Dicoding Academy.
Program ini merupakan wujud kepedulian Lenovo Smartphone untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas para pengembang ap likasi dan games local. Nantinya 500 siswa yang lulus akan menda patkan beasiswa dalam bentuk poin yang dapat mereka gunakan untuk mengembangkan aplikasi atau games yang mereka cip takan,” jelas Miranda. Dicoding Academy sendiri menurut Naren da Wicaksono, founder Dicoding.com adalah program yang diikuti lebih dari 8000 developer. Mereka belajar teknologi pemrogra man terbaru dengan kurikulum yang dibangun bersama perusahaan teknologi dunia seperti Intel, Microsoft, dan Google. Tiap peserta yang berpartisipasi mendap atkan code review dari devel oper terbaik Indonesia. Saat ini Dicoding Academy telah menghasilkan lebih dari 900 alumni yang bekerja di ber bagai perusahaan teknologi atau sebagai co-founder startup digital. Miranda menegaskan bentuk-bentuk dukungan dari Lenovo bertujuan mendorong pengembangan
konten lokal dan aplikasi An droid lokal berbasis teknologi VR serta mendorong industri kreatif di tanah air. –Ngurah Budi
KEMENANGAN Salam Senyum, …… hidup ini.. adalah sebuah kemenangan.. kita memang terlahir untuk menang.. some will win. Some will lose.. and its your turn now to choose.. Lagu itu yang dinyanyikan oleh pemenang sebuah ajang pencarian bakat “Indonesian Idol” Regina di tahun 2012. Dan, itu salah satu lagu favorit saya terutama ketika membakar semangat para peserta pelatihan. Sengaja saya mengisi rubrik ini dengan tema “Kemenangan”, karena umat Hindu sedang merayakan Hari Raya Galungan yang bermakna Hari “Kemenangan Dharma melawan Ad harma” (kemenangan kebaikan melawan kejahatan) di minggu ini. Hubungan kemenangan dengan layanan seperti apa ? … Pembaca setia Dhani’s Art in Service, beberapa tulisan saya terdahulu pernah membahas tentang Pemenang dalam Layanan atau bahasa kerennya “Service Winner”. Kali ini saya akan membahas lebih dalam, seperti apakah yang dinamakan Kemenangan dalam layanan. Dari beberapa referensi dan literatur yang saya baca juga dari pengalaman puluhan tahun bekerja di dunia jasa inilah sebenarnya pemenang dalam layanan. Yang pertama adalah saya sebut dengan “MEREKA YANG MEMILIKI AT TITUDE YANG POSITIF DAN PRIBADI YANG MENY ENANGKAN”. Banyak saya lihat kejadian sesungguhnya yang berlawanan dengan apa yang saya maksud. Ketika seorang pelayan jasa yang bermanis-manis di depan pe langgan tetapi di balik itu dia sesungguhnya punya attitude yang kurang baik bahkan menjadikan teman-teman di sekelilingnya merasa kurang nyaman dengan keberadaan nya. Maka dia bisa dikategorikan pelayan yang hanya ber topeng. Atau lebih tepatnya bermuka dua. Heheheheh…
sebaiknya orang-orang de ngan kategori seperti ini kita “bersihkan” dulu hatinya agar aura yang muncul kelihatan positif sehingga secara alami dapat membuat pelanggan
menyukainya. Kemudian yang kedua apa ya… ?? Pemenang dalam layanan yang kedua adalah “MEREKA YANG SECARA SUNGGUH-SUNGGUH MENIKMATI BEKERJA DEN GAN DAN UNTUK ORANG LAIN”. Naaaahh.. untuk hal ini saya sering menemukan juga “Keterpaksaan” seseorang yang bekerja sebagai pelayan. Alasannya banyak,.. ada yang karena belum mendapat pekerjaan yang pas sesuai hatinya. Ada juga yang beralasan karena keinginan orangtuanya. Bahkan ada juga yang beralasan karena belum diizinkan “resign”/pensiun oleh perusahaannya. Sebenarnya dalam hal ini ada juga disebabkan oleh rasa ego jabatan yang tinggi. Dimana yang dinikmatinya hanya berupa fasilitas, gaji, kedudukan dan lain-lainnya yang berhubungan dengan sifat egois duniawi dari ma nusia. Bisa dibayangkan kalau seorang pelayan seperti ini, bagaimana dia melayani pelanggan. Hari-harinya hanya dipenuhi keterpaksaan, dan tentu melayani hanya ber dasarkan IF/BECAUSE. (masih ingat dengan tulisan saya tentang “Behavior” dan budaya layanan?). Selanjutnya kita ke pemenang layanan yang ketiga yaitu, “MEREKA YANG MAMPU MENEMPATKAN PE LANGGAN PADA TITIK SENTRAL”. Hal ini sangat didukung oleh manajemen dari perusahaan atau instansi setempat. Dari pengalaman menjadi trainer di perusahaanperusahaan, banyak visi dari perusahaan tersebut yang tidak menempatkan pelanggan sebagai hal yang terde pan. Alasannya berbagai macam. Ada yang merasa kalau perusahaannya merupakan sebuah “Kerajaan Monopoli”, jadi pelanggan itu pasti akan datang dengan sendirinya. Atau ada juga yang merasakan kalau pelanggan itu sudah dibuatkan produk yang bagus sehingga pelayanan kepada pelanggan malah terabaikan. Masih ingat dengan salah satu Quote “Mahatma Gandhi” yang salah satunya menyatakan
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
bahwa “Pelanggan adalah tamu terpenting bagi kita. Dia tidak bergantung kepada kita tapi kitalah yang bergantung kepada mereka”. Kalau sudah berpikir dan bertindak seperti ini, saya yakin Pelanggan itulah yang menjadi titik sentral dalam layanan di perusahaan itu. Yang terakhir dari pemenang layanan adalah “MERE KA YANG MELIHAT PEKERJAAN UTAMANYA BER HUBUNGAN DENGAN MANUSIA”. Membahas point yang keempat ini kita lebih tekankan berhubungan dengan manusia (bukan binatang). Kenapa saya lebih tekankan hal tersebut? Seperti kita ketahui bersama, bahwa manusia adalah salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang dibekali dengan akal budi dan pikiran. Jadi sudah sepantasnyalah seorang pelayan itu menyadari bahwa yang dia layani adalah hubungannya dengan perasaan dan akhlak (peran gai).Kita bisa umpamakan dengan bahasa yang kita pakai untuk melayani pelanggan. Sudahkah kita menggunakan kata-kata yang dirangkai dalam kalimat yang terlontar yang dapat menyenangkan pelanggan kita (magic word)?. Apakah bahasa tubuh kita sudah menunjukkan perangai yang budiman kepada pelanggan kita? Banyak yang belum menyadari, bahwa kata-kata yg menyakitkan akan lebih tajam dari mata pisau. Dan luka yang ditimbulkan akan membekas di hati pelanggan. Pembaca setia Dhani’s Art in Service, dari keempat uraian tadi, kita tentunya akan berlomba untuk untuk menjadi Winner/pemenang dalam layanan. Dan ketahuilah bahwa kunci bisnis yang sukses adalah dengan melaku kan pelayanan terhadap pelanggan dengan hebat (Ken. Blanchard 2016). Marilah kita menjadi pelayan yang membuat KEMENANGAN DI HATI PELANGGAN. Ingin lebih dalam mengupas serta contoh riil dan cara melakukannya? Silahkan hubungi manajemen kami, dan kami siap untuk membantu. Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan .. saatnya Kemenangan Dharma melawan Adharma… Salam 3SP, Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com
19
Teater dalam konstelasi kesenian Jawa Timur (Jatim) memiliki spirit pencarian panjang, setelah era konvensional. Pada 1970-an dengan tumbuhnya kantong-kantong teater, di Jatim bergerak memasuki pencarian teater non konvensional, eksperimen, tubuh. Bahkan teater Jatim sampai pada pemahaman tidak sekedar mengekspresikan teks sebagai pijakan aktualisasinya. Teater non lakon yang berpijak pada tema mewarnai daftar pencarian panjang perteateran Jawa Timur, di era 1990-an.
Miranda Vania Warokka
6
Jambore Teater Jatim 2016 “J
ambore Teater Jatim 2016 adalah kelanju tan visi komite teater Dewan Kesenian Jatim dalam memoti vasi peningkatan kualitas pelaku teater untuk menemukan ke mungkinan baru. Baik bentuk maupun etos kreatifnya,” kata komite teater Dewan Kesenian
Jatim, Deddy Supriadi, yang akrab dipanggil Obeng, pekan lalu. Teater Kotemang Kab Sume nep yang memiliki akar ke berangkatan dari pola kesehar ian mereka di pondok pesant ren, disinyaIir memiliki potensi besar bagi alternatif lazimya kemungkinan baru dalam bentuk
pertunjukan teater yang ber beda. Sedangkan LAF (Lidi Art Forum) Kab. Mojokerto yang berbasis komunitas menawar kan ruang berekspresi dengan pendekatan persoalan persoalan di masyarakat sebagai pemba caan altenatif gagasan bentuk dan aktualisasinya. -Dona
alat bermain perkusi,” kata Sug eng, pekan lalu. Ia melakukan eksperimen selama dua minggu dalam menciptakan bedug ber sama temannya. Setelah dicoba, disetel dengan baik, akhirnya menemukan suara bedug yang tidak jauh beda dari bedug asli yang terbuat dari kayu maupun drum besi. “Bedug yang terbuat dari kar
ton ini, jadi ringan bila diangkat dan lebih feksibel jika dibawa motor. Harganya juga jauh lebih murah dan lebih terjangkau,” imbuhnya. Dengan terciptanya bedug dari karton ini, Sugeng merasa bisa mengurangi dampak lingku ngan untuk pemotongan pohon yang sayang jika nantinya hanya digunakan sebagai bedug. -Dona
Alat Perkusi dari Bahan Daur Ulang Banyak orang kreatif mencip takan sesuatu yang baru dari ba han daur ulang. Hal itulah yang di lakukan satu guru ekstrakurikuler perkusi dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dr. Soetomo Surabaya, Sugeng Ribowo. Pria yang akrab disapa Sugeng ini menemukan ide menarik den
gan membuat alat perkusi yang mudah dibawa murid-muridnya. Ide kretif itu itu muncul saat dia melihat banyaknya drum karton yang sudah dibuang di tempat pembuatan akhir (TPA) oleh pe rusahaan maupun produsennya. Drum karton yang biasa diguna kan mengangkut bahan pupuk
dan alat pengolahan menjadi salah satu yang menarik. “Saya kepikiran membuat bedug perkusi karena banyak bahan dari drum karton yang sayang jika dibuang. Apalagi di TPA cuma diambil besi-besi sampingnya yang akhirnya meng gunakan drum karton itu sebagai
18
Edisi 918/12 - 18 september 2016
Mengoleksi benda-benda tua rupanya menjadi sebuah hobi unik. Hal ini terbukti dengan keberadaan sebuah komunitas pecinta sepeda tua yang merupakan kumpulan orang-orang penghobi barang-barang jadul. Sejak berdiri pada tanggal 8 Agustus 2008, Buleleng Onthel Club (BOC) memiliki visi dan misi ikut memelihara dan melestarikan warisan cagar budaya. Dengan menggunakan sepeda onthel yang ramah lingkungan, BOC ikut membantu program pemerintah dalam rangka mengurangi polusi udara.
M
enurut Jro Made Sudantha, menggunakan sepeda onthel memiliki manfaat yang banyak di antaranya mengurangi polusi, mengirit bahan bakar, dan kepentingan olah raga. Bahkan, pecinta sepeda tua di Buleleng saat ini sudah mencapai 70 anggota yang dari awal hanya 15 orang. “Saya sendiri sudah masuk KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia),” jelasnya. Untuk
b u l C l e h t n O g n e l e Bul
Life
Penyaluran Hobi Positif dapat masuk dalam anggota BOC, Jro Sudantha mengatakan tidak terbatas usia hanya saja yang terpenting memiliki sepeda jadul. “Kalau yang dimiliki sepeda zaman kini saya sarankan ikut komunitas yang lain,” ungkapnya. Meskipun peminat kebanyakan orang-orang yang usianya lebih tua, namun anggota dari remaja juga tidak kalah banyak. “Kami di BOC ingin menggiring anak-anak muda agar hobi yang dimiliki dibawa ke halhal yang bermanfaat,” paparnya. Pria yang menjabat sebagai bendahara BOC ini juga mengatakan kegiatan rutin setiap minggu para anggotanya adalah bersepeda keliling kota. “Biasanya kami nongkrongnya di Pelabuhan Buleleng, itu juga merupakan tempat jadul,” tambahnya. Jika dulunya rute perjalanan di ujung barat hingga ke Pulaki dan ujung
Anggota BOC
s e r d n o Susik B
Makin Ditiru Makin Bangga
Setiap profesi, mendapat peran yang tanpa terkecuali pasluar biasa. Meskipun ti memiliki kelebidengan wajah pashan dan kekurangan. pasan saya mendapat Begitu juga dengan peran Rama, entah dunia seni yang kaapa yang dilihat,” dangkala dipandang ungkapnya dengan sebelah mata oleh penuh antusias. Unmasyarakat sehtuk mengasah keingga menyudutkan mampuannya ia pun individu yang memimengikuti kegiatan lih profesi ini. Akan ekstrakurikuler ketetapi berbeda haltika masuk SMP, bahnya dengan Drs. I kan ketika duduk di Made Ngurah Sadika bangku SMA untuk yang telah jatuh cinpertama kalinya ia ta terhadap seni tari masuk di TV. “Pada Drs. I Made Ngurah Sadika sejak kecil. Darah waktu itu tergabung seni sudah mengalir dalam tubuhnya dalam sendratari SMA 1 Singaraja dan ketika ia duduk di bangku Sekolah SMA TP, dari sanalah lebih banyak Dasar (SD). pergaulan dan tahu tentang seni tari Pria yang lebih dikenal dengan meskipun belum tahu banyak mennama Susik Bondres ini mengaku genai berkesenian,” imbuhnya. jika ia mulai tertarik dengan seni Lulusan Pendidikan Geografi FKIP tari ketika mengikuti grup janger di Unud tersebut juga menambahkan desanya. “Saat itu juga saya pernah ketika memasuki bangku perkulia-
BOC melakukan rutinitas keliling kota
timur hingga Ponjok Batu namun saat ini para anggota hanya menempuh rute di dalam kota saja. “Ya karena faktor usia jadi tenaga kami tidak kuat menempuh rute yang terlalu jauh,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa berdirinya BOC bertujuan untuk menyalurkan hobi ke hal-hal yang positif. “Kami bukan sekadar hobi, tetapi juga menghibur dan menjalin rasa kekeluargaan sesama anggota dengan jalan-jalan bareng dan bahkan sembahyang bersama,” lanjutnya. Pria kelahiran 18 Maret han dirinya semakin berani mengikuti berbagai macam kegiatan seni. Tidak hanya seni tari bakatnya juga merambah seni tabuh. “Namanya juga kampus, saya banyak dilibatkan dalam berbagai acara,” jelasnya. Dari berbagai jenis kesenian yang pernah ia lakoni, pria kelahiran 22 Agustus 1964 tersebut memfokuskan pada seni topeng. Hal ini dikarenakan prosfeknya yang lebih menjanjikan, sebab di Bali rentetan kegiatan upacara keagamaan tidak akan pernah usai. “Kalau dunia tari dibatasi o l e h performance, sedangkan tari topeng tidak dibatasi oleh usia karena wajah sudah tertutup topeng,” jelasnya. Dikatakan juga, pertama kali memasuki dunia seni bondres hanya berlandaskan keinginan untuk ngayah. Hasil pentas dari panggung ke panggung hanya evaluasi yang dijadikan bahan untuk memperbaiki penampilan berikutnya. Masuk ke dalam grup Dian Pesona yang merupakan grup bentukan dari kantor Penerangan (Kominfo) bertugas untuk menyosialisasikan hal-hal penting ke masyarakat. Bubar dari grup Dian Pesona,
1962 tersebut juga menambahkan kendala dalam perekrutan anggota adalah kepemilikan sepeda tua. “Banyak yang mungkin ingin bergabung tetapi bingung untuk mendapatkan sepeda tua,” jelasnya. Bahkan jika ingin mendapatkan sepeda dengan cara membeli, seseorang harus merogoh kocek hingga Rp 20 juta untuk sepeda tua dengan merek terbaik. “Saya sendiri pernah menjual sepeda dengan harga Rp 6 juta,” ucapnya. Saking cintanya dengan sepeda tua, Jro Sudantha bahkan pernah keliling Bali hingga masuk ke pelosok-pelosok desa untuk memburu sepada tua. Bahkan tidak jarang sepeda yang didapat dalam keadaan tidak utuh hanya sebagaian dari kerangkanya saja. Akan tetapi hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk mengoleksi lebih banyak sepeda tua. “Di Denpasar ada toko pernak pernik sepeda tua dan saya selalu berkunjung ke sana,” imbuhnya. Ia sangat berharap ke depan keberadaan komunitas BOC tersebut dapat diperhatikan oleh pemerintah. “Ya kami melakukan pendekatan dengan bapak Bupati dan sedikit demi sedikit sudah mulai memandang keberadaan kami,” pungkasnya. -Wiwin Rapat boc dirinya masuk dalam sanggar Dwi Mekar yang dipimpin oleh Durpa. “Di sana saya banyak digembleng untuk mendapatkan karakter yang pas,” ungkapnya. Hasil pembelajarannya di sanggar Dwi Mekar ia menemukan karakter Susik yang sok cantik, sok pintar dan sok manja. “Karakter ini juga masiih perlu saya pelajari sebab setiap saat terjadi perubahan baik dari audiensi, situasi, dan kondisi,” tambahnya. Suami dari Ni Luh Rening ini juga melihat jika banyak seniman-seniman muda yang sangat berbakat sehingga ia memberikan kesempatan kepada seniman tersebut untuk berkarier. “Akh-
irnya saya mendirikan sanggar sendiri yang diberi nama Sanggar Susik Bondres,” lanjutnya. Pria yang berasal dari Desa Panji ini mengaku jika dalam grupnya terdiri atas 4 orang yang direkrut dari kesamaan visi dan misi yang tentunya juga memiliki bakat seni. Sampai saat ini pihaknya merasa jika kesulitan dalam
mengatur jadwal pentas. “Bukannya kami terkenal tetapi banyak dilirik masyarakat sehingga kadang-kadang ada jadwal yang bersamaan. Untungnya masih bisa di atur,” jelasnya. Munculnya banyak grup bondres saat ini sangat diapresiasi olehnya sebab dapat menumbuhkan kreativitas masyarakat. Akan tetapi dengan banyaknya muncul karakter yang menyerupai karakter Susik, ia menanggapi dengan santai. “Semakin banyak yang meniru, saya malah semakin bangga karena posisi saya juga akan semakin di atas,” tambahnya. Ia sangat yakin tetap bisa mempertahankan eksistensi apabila terus belajar. “Sebenarnya itu hal yang gampang-gampang susah, harus terus mencari apa yang menjadi trend saat ini di
ma sya raka t sehingga lawakan yang dibawa inovatif dan komunikatif,” paparnya. -Wiwin
Story
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
7
Uang Kiriman Jadi Rumah dan Sawah Berawal dari kekecewaan pada suaminya yang banyak menyakiti, baik fisik maupun batin, tahun 2000, Tumini (50), pergi meninggalkan kampung halamannya di Pulau Sumbawa untuk menjadi TKW ke Malaysia dan Saudi Arabia. Kala itu, Tumini memiliki empat anak yang masih kecil dan memerlukan biaya hidup termasuk yang utama untuk kebutuhan sekolah. “Anak sulung saya waktu saya tinggal itu masih sekolah di SMP, lalu dua orang SD dan yang bungsu TK,” kata Tumini.
M
elihat keempat buah hatinya itu, Tumini berpikir keras untuk dapat membiayai sekolah mereka. Ia sempat membuka dagangan kecil-kecilan di teras rumahnya untuk biaya hidup sehari-hari sejak ditinggalkan oleh suaminya yang menikah lagi. Sejak suaminya pacaran dengan perempuan yang dikenal umum suka mengganggu rumah tangga orang lain, sesungguhnya rasa sakit hati yang dirasakan Tumini sesak hingga ke ubun-ubun. Beberapa kali ia harus melabrak perempuan tersebut saat berduaan dengan suaminya. “Saya jadi orang yang kehilangan rasa malu saat harus bertengkar di pasar, di pinggir pantai hingga di kampung-kampung,” ujar Tumini yang kini menyadari kebodohannya karena sempat mempertahankan matian-matian suami yang kini dianggapnya tidak berguna itu. Sebagai seorang perempuan, jelas Tumini marah pada perempuan lain yang merebut suaminya itu. Menurutnya, perempuan itu tidak tahu malu karena sepertinya selalu ingin membuat gara-gara dengannya. “Perempuan itu kerap lewat depan rumah saya dengan sengaja,” kata Tumini. Meski hanya sekadar lewat, itu menjadi ‘teror’ tersendiri bagi Tumini. Sepertinya hubungan suaminya dengan perempuan yang senyatanya tidak lebih cantik dari dirinya itu, sudah tidak terbendung lagi. Melihat kondisi dan keadaan perempuan itu, selain tidak lebih cantik dari dirinya, perempuan itu juga dikenal sebagai perempuan yang ‘nakal’, Tumini menduga suaminya kena guna-guna. Karena sejak berhubungan dengan perempuan itu, suaminya jarang pulang dan uang bulanan termasuk untuk anak-anaknya semakin berkurang. Sampai akhirnya suaminya yang berprofesi sebagai supir truk itu menikahi perempuan tersebut, ia dan anak-anaknya dibuat terlantar tanpa nafkah. Rasa sakit dan kecewa yang luar biasa membuat Tumini kerap bertindak di luar logika untuk menumpahkan kekesalannya. Suatu hari, kenangnya, ia bertindak seperti orang kehilangan akalnya. Seperti biasa, sebelum suaminya
berangkat keluar daerah, Tumini menyiapkan pakaian suaminya. Tibatiba tercetus dalam benaknya ingin melakukan tindakan untuk membuat suaminya kapok. Dengan sebuah blender, Tumini menghaluskan cabe dan memeras air cabe tersebut lalu dipakainya untuk merendang pakaian dalam suaminya. Kemudian ia keringkan lalu disetrikanya. Ketika suaminya mengganti pakaian di salah satu kota di Pulau Jawa, barulah terasa panas dan membuat suaminya mengerang kesakitan. Begitu mendapatkan telepon dari suaminya, Tumini mengatakan ia sengaja melakukannya agar ada rasa kapok. “Biar kamu kapok,” ungkapnya. Tumini sudah tidak takut lagi jika harus bertengkar dengan suaminya. Namun, itu tidak membuat suaminya kapok. “Malah begitu pulang ia langsung kawin dengan perempuan itu,” ujarnya. Sejak itulah, ia dan akan-anaknya kehilangan perhatian dan nafkah. Suaminya itu lebih sibuk mengurus istri dan anak-anak barunya. Hasil jualan kecil-kecilan di teras rumahnya tentu saja tidak mencukupi untuk biaya hidup mereka. “Saya putuskan pulang ke Lombok,” ungkapnya. Dengan menyewa truk, ia mengangkut barang-barang (isi rumahnya) bersama empat orang anaknya, Tumini meninggalkan Pulau Sumbawa untuk pulang ke Lombok. Bisa dibayangkan kerepotan yang dialami Tumini dengan keputusannya ini. Setiba di rumah orang tuanya di Lombok, Tumini menerima telepon dari suaminya yang marah-marah karena ditinggalkan tanpa pemberitahuan. “Kami bertengkar lewat telepon,” katanya. Namun Tumini tidak lagi peduli. Itulah terakhir kalinya Tumini menganggapnya sebagai suami karena setelah itu Tumini membiarkan hubungan dengan suaminya itu berakhir begitu saja. 16 tahun tidak bersama, baginya ia merasa telah mengakhiri semua hubungan dengan suaminya. Saat melihat anak-anaknya membutuhkan biaya, Tumini yang lulusan SMA itu memutuskan pergi merantau sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia. Ia beruntung karena memiliki majikan yang sangat baik sehingga ia menjalani pekerjaan dengan baik dan dapat menghasilkan uang yang kemudian dikirim ke kampung halamannya untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang ditinggalkan bersama orang tuanya. Empat tahun di Malaysia, Tumini berangkat sebagai TKW juga ke Timur Tengah. Ia menjadi TKW selama empat tahun. Lalu ia berhenti menjadi TKW setelah anak-anaknya berhasil menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang SMA. “Alhamdulillah, anak-anak saya selesai sekolahnya semua,” ujarnya. Kini, empat anaknya kemudian mengikuti jejaknya menjadi TKI (seorang TKW). Kehidupan mereka lumayan baik, karena Tumini mengatur uang kiriman anak-anaknya ke kampung dengan sangat baik. Sedikit demi sedikit ia membangunkan rumah untuk masing-masing anaknya
sesuai dengan kiriman mereka. Ada pula yang dibelikan sawah untuk bekal mereka kelak. “Saya tahu bagaimana susah dan beratnya mencari rezeki di negeri asing, dan saya tidak mau anak-anak saya kelak mengalami nasib seperti saya,” katanya. Apa yang dialami Tumini adalah pelajaran berharga terutama bagi dirinya. Atas kerja kerasnya memberikan kasih sayang perhatian pada anak-anaknya, kini membuahkah anak-anak yang juga perhatian padanya. “Mereka kerap mengirim uang untuk kebutuhan saya,” ujarnya. Rupanya anak-anaknya mengerti bagaimana beratnya perjuangan ibunda mereka untuk dapat menyekolahkan mereka sampai-sampai mereka melupakan ayahnya. Tumini sering mengingatkan anak-anaknya untuk mengirimkan uang bagi ayah mereka yang kini tidak lagi kuat untuk bekerja seperti dulu. “Mereka selalu jawab, waktu kami membutuhkan ayah, ke mana dia selama ini. Dia (ayahnya) hanya peduli pada anak-anak barunya,” ungkap Tumini tentang jawaban anakanaknya. Kalau sudah begitu, Tumini hanya bisa diam meski ia sesekali terus mengingatkan anak-anaknya pada ayah mereka. -Naniek I. Taufan
tkh/yudi
PKK Denpasar Serahkan Piagam Penghargaan
TP PKK Kota Denpasar menyerahkan piagam penghargaan kepada AstraDaihatsu. Penyerahan dilakukan Wakil Ketua TP PKK Denpasar Ny. Antari Jayanegara kepada Kepala Cabang Astra Daihatsu Denpasar Tulus Pambudi di sela-sela peresmian outlet Daihatsu Ngurah Rai-Tuban, Jumat (9/9). Dalam kesempatan tersebut Ny. Antari Jayanegara memaparkan bantuan CSR yang diterima dari Astra Daihatsu antara lain moci, bantuan modal, alat permainan edukatif, serta bibit pohon. Ke depan, istri Wakil Wali Kota Denpasar ini berharap sinergi yang sudah terjalin bisa terus ditingkatkan. –Ngurah Budi
BRI Gencarkan Sosialisasi Uang Elektronik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Denpasar terus berupaya mengedarkan produk uang elektroniknya, Brizzi dan Toll Card guna mendukung program pemerintah menuju cashless society. Hal ini diungkapkan M. Fankar Umran, Pemimpin Wilayah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Denpasar dalam acara temu wartawan, Senin (5/9). Ia menegaskan pihaknya terus mempromosikan serta mensosialisasikan uang elektronik kepada masyarakat luas baik melalui kegiatan edukasi maupun event-event di Bali. Tahun 2016, BRI Kanwil Denpasar mendapat jatah 205 ribu kartu uang elektronik dari pusat. –Ngurah Budi
8
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Mengarahkan Anak “Cerewet” Anak kecil yang suka bertanya dan selalu mau tahu kerap dicap “cerewet”. Orangtua pun kadang kewalahan untuk meladeni berbagai pertanyaan anak. Bagaimana menyikapi anak model ini?
C
erewet dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dan sebagainya); banyak mulut; nyinyir; bawel. Definisi ini lebih mengarah ke hal-hal yang negatif. Orang yang dicap cerewet juga disamakan dengan banyak omong. “Menghadapi anak yang suka bertanya kadang membuat saya terdiam. Pernah anak saya bertanya apakah boleh pakai sepatu warna pink ke sekolah. Padahal dia tahu, aturannya pakai sepatu warna hitam. Sekali waktu dia ngobrol dengan teman kantor saya. Kalau orang melihat dia agak cerewet tetapi menggemaskan,” ujar Bu Iin tentang putri bungsunya. Bu Iin tahu dibalik kecerewetan putrinya ada potensi terpendam. Ada bakat sebagai MC. Hal ini ditunjukkan ketika ia bermain slime sembari berbicara seolah-olah ia menjadi pembawa acara. Sebagai orangtua, ia hanya memperhatikan dan mengarahkan agar bakat putrinya tersalurkan. “Di era keterbukaan ini, informasi bisa ditemui dimana saja. Anak kecil pun bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Namun, karena pola pikir mereka masih terbatas, tidak semuanya bisa diserap. Akhirnya mereka bertanya untuk mendapat penjelasan. Beda dengan zaman dulu. Mau bertanya saja dilarang,” ungkap Hari Imam Wahyudi, S.Psi. Psikolog, CHt. Karena era sudah berubah, orangtua pun ikut mengalami penyesuaian. Orangtua mau tak mau harus cerdas agar bisa mengimbangi anaknya. Minimal, orangtua bisa memberi penjelasan yang masuk akal dan penyampaian juga sederhana. Rasa keingintahuan anak merupkan bentuk dari
kecerdasan dan kekritisan anak untuk menggali informasi. Jika orangtua “gemes” dan malas meladeni keingintahuan, bisa berdampak di kemudian hari. “Anak akan mulai malas bertanya. Muncul rasa khawatir, takut dimarahi, takut keliru, takut ditertawakan. Akumulasi kekhawatiran ini akan terbawa sampai dewasa. Kalau sekarang ada mahasiswa malas atau takut bertanya, bisa jadi dia punya memori yang buruk tentang bertanya. Ini dipendam dari kecil hingga remaja bahkan dewasa,” ujar psikolog yang juga pemain FTV ini. Anak yang banyak bertanya memiliki sisi positif. Kemampuan verbalnya akan terasah. Orangtua hanya perlu mengarahkan “kecerewetan” anaknya. Misalnya, memberi tahu cara bertanya yang baik, cara berbicara yang baik, kapan waktu untuk bertanya dan berbicara, dan ajarkan tentang mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Misalnya, pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Orangtua pun harus paham dunia anak dengan logika yang terbatas. Berikan penjelasan kepada anak dengan sederhana dan mudah dimengerti. Sesekali jadilah anak dalam memberikan penjelasan kepada anak. Bahasa dan penyampaian yang sederhana akan mudah dipahami anak. Sekali waktu buat anak penasaran agar ia mau bertanya lagi Katagori anak yang “cerewet” yang pertanyaannya diulang dan itu-itu saja perlu mendapat perhatian. Jika anak melakukan hal yang samal lagi, orangtua harus membalikkan dengan meminta anak untuk menceritakan lagi apa yang pernah diceritakan dulu. Dalam hal ini, orangtua harus sabar dalam menangani anak.
Foto: www.satuharapan.com
Bunda & Ananda
ROLE MODEL “Orangtua yang membatasi anak dalam bertanya kemudian tidak memberikan jawaban kepada anak membuat anak akan mencari sendiri jawabannya. Anak bisa jadi menerjemahkan sendiri apa yang dia dapat. Kalau dilihat dari sisi positifnya, anak “cerewet” ini perlu untuk mengeksplorasi kemampuannya. Kalau orangtua belum bisa jawab, minta waktu untuk mencari jawaban. Harus legowo menyampaikan. Ini juga proses bagi orangtua untuk belajar. Kita tidak harus tahu tentang semua hal, tetapi belajar bersama itu juga sangat penting. Salah satunya membuat hubungan anak dan orangtua menjadi lebih dekat,” ujar suami Ni Made Trisna Susanti, S.Psi, Psikolog ini. Cerewet sebagai bagian dari kemampuan verbal bisa dikembangkan menjadi hal yang bermanfaat. Misalnya menjadi pembicara, motivator, MC, orator, guru, dan dosen. Hal ini diakui Hari yang semasa kecil banyak
bertanya kepada orangtuanya. “Saya waktu kecil sering bertanya, bahkan dibilang bertanya sampai ke akarakarnya. Ternyata dampaknya setelah dewasa. Saya bisa bisa motivator,” tutur ayah dua putra ini. Bagaimana jika anak tergolong pendiam Ha ri I ma m Wa h y u d i alias tidak cerewet? Kalau ini terjadi, orang- saat anak bertanya, orangtua tua harus introspeksi. Pancing sibuk dan asal jawab. Asal jawab anak untuk bercerita dengan ini, kalau ternyata salah akan mengajukan pertanyaan seperti menjadi preseden buruk di mata apakah sudah makan? Bagaimana anak. Anak pun ketika salah dalam rasa masakan mama? bertanya atau salah menjawab “Tata karma atau sopan san- jangan langsung divonis bersalah. tun tetap harus diperhatikan. Biarkan anak mengeksplorasi Kalau orangtua sedang sibuk, anak kemampuannya,” ujar pengurus sebaiknya menunggu dulu. Atau, Himpunan Psikologi (Himpsi) orangtua yang menunda sebentar wilayah Bali ini. pekerjaan untuk meladeni perta Mengenai tayangan film nyaan anak. Saling menghormati atau sinetron yang berisi tokoh ini sangat penting. Jangan sampai cerewet harus dijelaskan juga oleh orangtua. Sampaikan bahwa apa “Di era keterbukaan ini, informasi bisa ditemui dimana yang ditonton itu hanya akting. Namun, jika di lingkungan tersaja. Anak kecil pun bisa mendapatkan informasi dekat ada yang cerewet, bisa jadi dengan mudah. Namun, karena pola pikir mereka akan menjadi “role model” bagi masih terbatas, tidak semuanya bisa diserap. Akhirnya anak. Cerewet yang kebablasan akan membuat anak menjadi mereka bertanya untuk mendapat penjelasan. Beda pribadi mendominasi dan cenddengan zaman dulu. Mau bertanya saja dilarang” erung kebablasan. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit KAMBING PEMBERANI
Ibu Kambing bersama anaknya sedang asyik makan daun-daunan segar di dalam hutan. Tiba-tiba di sebelahnya berdiri seekor harimau yang hendak memangsanya. “Hai, binatang Made Taro aneh! Kamu pasti tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu! Akulah Harimau, raja hutan ini! Kau telah mencuri daundaunku. Sebagai upah, kau akan kumangsa!” teriak Harimau. “Apa katamu? Kau raja hutan?” gertak Ibu Kambing. Sebetulnya kambing itu amat takut kepada harimau yang bertubuh besar dan kekar itu. Namun demi keselamatan dirinya dan anaknya, timbul keberaniannya. “Kamu pasti tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu!” gertaknya lagi. “Aku adalah kesayangan Dewa Hutan ini. Lihat tandukku yang tajam dan berkilat-kilat! Dan lihat mulutku yang merah ini! Baru saja kumangsa seekor harimau.” Ia maju mendekat sambil mengangguk-anggukkan tanduk dan memperlihatkan lidahnya yang merah karena habis makan daun bergetah merah. Harimau itu ketakutan lalu berlari balik haluan.
Di tengah jalan ia bertemu temannya, si Kera. “Mengapa kau berlari ketakutan, Kawan?” tanya si Kera. “Ada binatang aneh!” kata Harimau terengahengah. “Ia kesayangan Dewa Hutan, tanduknya tajam berkilat, telinganya lebar dan baru saja ia membunuh seekor harimau.” “Ha, ha, ha…!” Kera itu tertawa. “Kamu diolok-olok! Hewan itu namanya si Kambing. Ia hewan nista dan patut menjadi mangsamu. Kalau kamu takut, biar aku yang menghadapinya!” tantang si Kera. Kedua hewan yang bersahabat itu lalu bersamasama datang ke tempat Kambing. Untuk menunjukkan bahwa Kera tidak mengolok-olok Harimau, maka kedua ujung ekornya saling diikatkan. “Nah, ini dia si Kera!” kata Ibu Kambing yang muncul tiba-tiba dari dalam semak-semak. “Terimakasih, Kera! Ternyata kamu tidak ingkar janji. Dalam pertaruhan dulu, kamu berhutang empat ekor harimau. Sekarang kamu baru sanggup membayar satu ekor. Mana tiga ekor lagi?” kata Ibu Kambing dengan tenang. Harimau curiga. Ia menuduh Kera mengolokoloknya. Ketakutannya memuncak, lalu balik haluan, berlari sekencang-kencangnya. Ketika melompati sebuah jurang, ia jatuh terperosok. Mati. Ikut pula si Kera. (Tantri)
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
17
Semarak Gebyar Wirausaha Udayana
G
ebyar Festival Wirausaha Udayana serangkaian Dies Natalis ke-54 Unud didominasi acara khas kewirausahaan. Mulai dari business expo, seminar motivasi, workshop sinematika, kompetisi cashflow games, selling competition untuk siswa SD hingga Pemilihan Duta Wirausaha Muda Udayana. Khusus untuk business expo yang dikemas apik sebagai Unpopular Market, yang menampilkan produk unggulan mahasiswa, alumni, tenant Inkubator Bisnis Unud, dan kelompok kuliner Denpasar Festival. Wakil Rektor IV Prof. I Made Suastra, dalam sambutannya mengatakan, Unud memberi dukungan penuh pada program yang berdampak positif dan langsung
menyasar perbaikan kehidupan masyarakat. Unud secara proaktif dan turut memperluas lapangan pekerjaan melalui penciptaan usaha baru berbasis iptek. Selanjutnya diadakan peluncuran buku ”Derap Langkah Wiarusaha Udayana” serta peluncuran produk mahasiswa dan alumni Unud yang tergabung dalam Udayana Young Entrepreneur Community. Produknya meliputi: SINTASK yaitu aplikasi berbasis web dan mobile untuk produktivitas pelaksanaan tugas pelajar, mahasiswa, dan pegawai yang dihasilkan tim dari Ilmu Komputer FMIPA Unud; FindMedic, berupa aplikasi berbasis web dan mobile untuk pencarian layanan kesehatan yang dimotori Oka Abhina Amitabha, Buku Cerita Anak Hindu Bali (Rindu Bali) dihasilkan
Suasana di areal Selling Competition
Duta Wirausaha Muda Unud tahun 2015 dan 2016 bergambar bersama Sutrisna Dewi, Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud
oleh Chandra Maheswari dan tim dari FISIP Unud; dan Aplikasi akuntansi ERZAP oleh Riza, alumni Teknik Elektro Unud. Menurut Sayu Ketut Sutrisna Dewi, Ketua Pelaksana Gebyar Wirausaha Muda Udayana sekaligus Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud, ”Buku Derap Langkah Wirausaha Muda Udayana”, berisikan kisah perjuangan 15 wirausaha muda mahasiswa dan alumni Unud terpilih dalam berjibaku membangun bisnis mereka masing-masing. ”Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengembangkan sikap mental wirausaha dan juga bagi para pendidik dan pembina
wirausaha melakukan pendampingan usaha,” ujarnya. Aroma bisnis yang ada di Gebyar Festival Wirausaha nampak semakin kental dengan diadakannya penandatanganan MoU oleh Rektor Unud Prof. I Ketut Suastika dan Ketua Umum Kadin Bali. AA Alit Wira Putra. Sinergi antara Unud dengan Kadin Bali diharapkan akan melahirkan SDM Bali yang berdaya saing. Dalam waktu dekat Unud akan memfasilitasi pertemuan dan kerjasama perdagangan antara pengusaha Bali yang dikoordinir Kadin Bali dengan pengusaha Timor Leste yang dikoordinir Chamber of Commerce and Industry (CCI) Timor Leste.
Selanjutnya dalam Pemilihan Duta Wirausaha Muda Udayana. Terpilih sebagai pemenang tahun 2016 dr. I Putu Wirama, S.Ked (owner AMS Medika) dan I Putu Arik Saputra Jaya (owner Juragan Computer). Duta Wirausaha ini bertugas membantu penyebarluasan virus kewirausahaan bagi sivitas akademika Unud dan mewakili Wirausaha Muda Unud dalam berbagai kegiatan kewirausahaan di luar kampus. Sutrisna Dewi menegaskan, wirausaha sebaiknya dibentuk dan diberikan pendidikannya sejak dini. Karenanya tahun ini digelar Selling Competition alias lomba berjualan antar siswa SD se-Kota Denpasar. Peserta lomba yang membludak menunjukkan bahwa sekolah memberi respons positif terhadap kegiatan kewirausahaan. “Dewan juri menilai tentang penataan barang, kerjasama tim, pemahaman produk, keterampilan komunikasi dan negosiasi, pencatatan dan perhitungan hasil usaha,” tegasnya. U����������������������� ntuk meningkatkan efektivitas pengembangan kewirausahaan, dosen Berprestasi Unud 2016 ini mengembangan sinergi BIG menjadi sinergi yang diberi nama BIG FaCoM. Sinergi ini melibatkan 6 unsur yaitu Business, Intellectual, Government, Family, Community, dan Media. Sinergi BIG FaCoM, sudah dikenalkan pada tahun 2011, melalui kerjasama dengan Bupati dan Wali Kota se-Bali dalam bentuk roadshow kewirausahaan. –Sri Ardhini
Rai Mantra dan Jaya Negara
Ucapkan Selamat Galungan dan Kuningan
Rabu (7/9) yang bertepatan dengan Wuku Dungulan, segenap umat Hindu sedharma akan merayakan Hari Suci Galungan, dan pada Sabtu (17/9) wuku kuningan juga akan merayakan Hari Suci Kuningan. Setiap kali kita merayakan hari suci keagamaan, selalu membawa pesan tersendiri bagi kita. Secara umum pesan itu mengingatkan agar kita melihat catatan perjalanan ke belakang (mulat sarira), mengevaluasi seberapa jauh langkah kita yang telah sesuai dengan dharma, baik dharmaning agama maupun dharmaning negara. Melalui mulat sarira, kita mampu menyusun dan merencanakan kehidupan masa depan yang lebih baik, lebih sejahtera dan lebih damai. Demikian diungkapkan Wali Kota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra didampingi Wakil Wali Kota Denpasar, I.G.N Jaya Negara di kantornya. Lebih lanjut Rai Mantra mengatakan, bahwa makna kemenangan dharma melawan adharma pada masa kini haruslah diterjemahkan sebagai upaya dan tekad untuk secara berkesinambungan berkarya guna meningkatkan kualitas kehidupan yang seimbang antara material dan spiritual untuk mencapai kebahagiaan dengan selalu berpijak kepada ajaran Dharma (agama Hindu) seperti Dharma, Artha, Kama, dan Moksah. Dengan demikian lan-
jutnya, kita akan bisa hidup damai dalam kebhinekaan, modernisasi, globalisasi melalui saling toleran saling menghargai saling mendukung satu sama lain serta tidak bertentangan atau bersinggungan dengan yang lainnya. Pada zaman kini perkembangan teknologi informasi akan membawa dampak semakin intensnya interaksi sosial, budaya, ekonomi, politik seantero dunia (globalisasi). Menghadapi perkembangan ini kita harus
membekali diri melalui peningkatan sradha dan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita tidak akan larut atau tergerus serta kehilangan jati diri. Perkembangan teknologi informasi haruslah memberikan manfaat dan ditatap sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan demikian kita akan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai media dalam pencapaian citacita hidup berbahagia. Hal ini sejalan
dengan program Smart City Kota Denpasar yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Denpasar melalui pemanfaatan teknologi informasi, pemanfaatan SDM dan pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Senada dengan hal tersebut, Wakil Wali Kota, I.G.N Jaya Negara menambahkan bahwa perkembangan teknologi informasi jangan justru membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Oleh karena itu kita harus bijak menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai masyarakat yang bahagia. Momentum perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan ini hendaknya dijadikan satu titik tolak untuk menjadikan masa depan yang lebih baik, lebih berkualitas dan mampu mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Rai Mantra dan Wakil Wali Kota Jaya Negara menyampaikan ucapan Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa Asung Kertha Wara Nugraha kepada kita sekalian dalam pengabdian kita sesuai dengan swadharma kita masing-masing. Seraya mengajak seluruh masyarakat Kota Denpasar merayakan Hari Suci Galungan dan Kuningan dengan penuh rasa bhakti dan menjaga keamanan serta ketertiban lingkungan masing-masing. (humas)
16
Edukasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Sampah pada umumnya membawa musibah. Banyak masalah yang timbul bila sampah tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan sampah yang tidak bagus menjadikan lingkungan kotor dan tercemar. Keadaan lingkungan yang tidak sehat akan mendatangkan bencana banjir, pencemaran air dan tanah, serta ancaman kesehatan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di trotoar, selokan, dan sungai. Kebiasaan buruk tersebut harus mampu disiasati bersama.
Penghargaan untuk Pemilah Sampah Terampil
K
ebiasaan membuang sampah sembarang itu harus dikurangi secara bertahap. Tentu membina kebiasaan yang baik bermula dari lingkup keluarga. Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banjar Ketapian Kelod, Kelurahan Sumerta, Denpasar mulai membina masyrakat tentang pengelolaan sampah. Sedikit demi sedikit, PKK Banjar Ketapian Kelod membuat program bank sampah. Pengurus bank sampah yang berasal dari anggota PKK akhirnya terbentuk. Kelompok pengurus tersebut diberi nama Ketapian Kelod Berseri. Berkat bank sampah, kesadaran warga Ketapian Kelod untuk mewujudkan lingkungan sehat perlahan menyata. Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan. Namun, bukanlah uang yang ditabung melainkan sampah. Warga yang menabung disebut nasabah dan memiliki buku tabungan. Nasabah dapat menarik uang tabungannya setiap 6 bulan sekali atau setiap Galungan akan tiba. Nasabah tidak setiap hari membawa sampahnya. Bank sampah dibuka setiap dua minggu sekali bertempat di Balai Banjar Ketapian Kelod. Teknis bank sampah sederhana. Pertama, nasabah datang membawa buku tabungan beserta sampah yang sudah dipilah dari rumah. Kedua, pengurus mencatat jenis sampah yang dibawa nasabah. Ketiga, penimbangan sampah sesuai jenis kemudian dicatat oleh petugas dalam nilai kilogram. Keempat, nasabah membawa buku tabungan yang sudah berisi berat sampah, kemudian direkap ke buku besar. Terakhir, nasabah pulang membawa buku berisi hasil penimbangan dalam nilai rupiah. “Awalnya kami berpikir untuk meminimalkan sampah. Selain itu, mengurangi pemulung yang masuk ke rumah-rumah karena rawan kemalingan. Melalui bank sampah, masyarakat diajarkan untuk memilah sampah. Selain itu, untuk mengurangi sampah yang diangkut ke TPA,” tutur Putu Pariatni, Ketua Ketapian Kelod Berseri. Program bank sampah tersebut aktif sejak pada 10 Februari 2013. Semula, nasabah hanya 26 orang. Hingga kini total nasabah mencapai 120 orang. Mengumpulkan nasabah tentu bukan soal gampang. “Dulu tidak ada yang ingin menjadi nasabah. Mereka masih berpikir kalau sampah dibuang saja. Tidak perlu dipilah dan tidak perlu sampai dibawa ke banjar. Mereka memilih tidak repot daripada lingkungan bersih. Namun, perlahan setelah mulai muncul
Dara
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Drama gong merupakan sebuah kesenian yang memadukan antara tari, dialog, gong dan drama. Akan tetapi yang menjadi ciri khas drama gong adalah tradisional Bali baik dari properti maupun pakaiannya yang tetap mengutamakan konsep Bali. Hal tersebut disampaikan oleh seorang seniman Nyoman Suardika, S.Ag., M.Fil.H
S
ebagai generasi penerus dari sanggar drama gong Puspa Anom Banyuning, dirinya mengaku dari dulu hingga sekarang hanya mengetahui drama gong yang ada di Buleleng tetap mempertahankan tradisi yang ada di Bali. Ia mencontohkan jika drama gong yang terkenal dari sanggar Puspa Anom adalah Sampek Ing Tay yang merupakan cerita dari Tiongkok namun dalam pementasannya tidak menggunakan pakaian etnis Tionghoa. “Tetap menggunakan pakaian Bali hanya saja jika di dukung dengan properti bernuansa Tionghoa tidak masalah,” jelasnya. Meskipun dari segi properti pendukung tidak dipermasalahkan menggunakan di luar tradisi Bali, namun dari segi
manfaat bank sampah, masyarakat mulai memberi respons baik,” imbuh Putu Kemala Dewi, Ketua PKK Banjar Ketapian Kelod. “Mulanya, DKP memberikan penyuluhan tentang bank sampah. Namun, belum dijelaskan lebih rinci. Setelah penyuluhan itu, saya berdiskusi dengan PKK untuk membuat program bank sampah. Berdasarkan peraturan Mentri Pekerjaan Umum no 21/PRT/ M/2006 maka PKK Banjar Ketapian Kelod membentuk kelompok bank sampah yang terdiri atas, Ketua Putu Pariatni, Bendahara Putu Anggi Agustini, Tenaga Pencatat Ketut Eni Yani, Tenaga Penimbang Luhde Suasti, Tenaga Pemilah Erin S Arjarini, Putu Dewi, dan Eka Suandani. Terkait teknis, kami mendapat arahan dari Luhde Suasti, anggota PKK yang sering memberikan penyuluhan tentang bank sampah,” ujar I Wayan Rajeg, Kepala Lingkungan Banjar Ketapian Kelod. Sosialisasi yang gencar dilakukan oleh kelian lingkungan pada saat rapat di banjar perlahan membuahkan hasil. Pengurus bank sampah juga tidak lelah membuat strategi agar masyarakat tertarik menjadi nasabah bank sampah. “Berkat bantuan dari kepala lingkungan, pemuka adat, dan tokoh masyarakat kami mampu bertahan. Kami terus berusaha untuk menyadarkan masyarakat tentang sampah yang mampu dimanfaatkan kembali. Kami tidak menyerah memberi penyuluhan pentingnya bank sampah,” tutur Luhde Suasti, pembina bank sampah. Beberapa strategi yang mampu menarik minat masyarakat yakni pemberian penghargaan. Masyarakat yang
mampu memilah sampah plastik, kertas, kaca, organik, atau nonorganik mendapatkan penghargaan. Selain itu, masyarakat yang berhasil memilah sampah dan membawa sampah bersih akan diberikan penghargaan. Mereka yang terampil memilah sampah tentu akan diberikan nilai jual yang lebih tinggi. “Kami membuat stategi unik agar masyarakat tertarik mengikuti program bank sampah. Tentu tujuan utama bukanlah keuntungan melainkan kebersihan lingkungan. Kami memberi peringkat 1, 2, 3 bagi mereka yang berhasil membawa sampah dengan nilai jual terbanyak,. Itu merupakan bentuk apresiasi kami kepada masyarakat yang sudah peduli lingkungan,” jelas Luhde. IBU-IBU PEKERJA KANTOR Modal untuk menggelar bank sampah ini berasal dari urunan pengurus. Modal utama tersebut untuk membeli timbangan, kalkulator, buku tabungan, dll. Modal yang tidak banyak itu kini mampu mendatangkan banyak manfaat. “Keuntungan yang didapat pengurus diberikan untuk tenaga pemilah dan pengurus. Sekadar uang lelah dan santap siang bersama, bagi kami sudah cukup. Program bank sampah ini sebagai ajang ngayah untuk lingkungan sehat bukan tentang keuntungan. Yang penting, masyarakat membawa sampah ke banjar, kemudian rumah mereka bersih,” ungkap Pariatni. Gerakan bank sampah ini berbasis 3R yakni reduce, reuse, dan recyle. Selain itu mereka pun menerapkan learning by doing agar tercapai lingkungan bersih berseri. “Mereka yang terhimpun
Nyoman suardika berperan sebagai raja
S
9
Lakukan Inovasi tanpa Meninggalkan Keajegan Bali bahasa mengharuskan menggunakan bahasa Bali. Ini merupakan tujuan untuk melestarikan bahasa Bali utamanya sor singgih bahasa Bali. Perbedaan penggunaan bahasa akan sangat terlihat dalam cerita kepanjian atau dalam cerita kerajaan. “Dalam drama gong akan terlihat bagaimana prajurit berbicara kepada raja, bagaimana anak berbicara kepada orang tua, pada saat ribut menggunakan bahasa kasar. Secara tidak langsung tentu juga akan melestarikan bahasa itu sendiri,” ungkap pria yang saat ini tergabung dalam sanggar seni Nong Nong Kling tersebut. Sebagai sanggar yang masih tetap melestarikan drama gong pihaknya mengaku menjalankan konsep yadnya. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang yang mengupah drama gong adalah yang naur sesangi. “Coba dibayangkan kalau tidak ada wadah untuk melestarikan drama gong, kalau orang mau naur sesangi itu bagaimana?” imbuhnya. Menurut pria kelahiran 22 Mei 1975 tersebut drama gong saat ini tidak berkembang sebab masyarakat tidak akan mencari di luar dari upacara (sesangi). Disamping itu, ketidakberkembangannya juga diakibatkan semakin berkembangnya dunia teknologi yang kian pesat. “Kadang-kadang untuk nonton drama gong cukup di rumah saja lewat TV maupun komputer,” lengkapnya. Atas kenyataan ini, pemerintah sangat memegang peranan penting dalam pelestarian drama gong. Hal ini terbukti lewat Pesta Kesenian Bali diadakannya parade drama gong dan lomba drama gong. “Kami sendiri dari sanggar Nong Nong Kling 4 kali sudah mewakili Buleleng untuk pementasan drama gong,” paparnya. Menurunnya minat masyarakat terhadap drama gong tentu membuat ia dan para seniman
E
X DU
Pementasan drama gong
lain memutar otak untuk melakukan terobosan agar drama gong diminati kembali. Hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kreatifitas dalam pementasan, misalnya dari segi pencahayaan dan juga cerita yang diambil. Pihaknya tidak ragu untuk mengangkat cerita lain di luar kepanjian atau kerajaan, namun tetap mempertahankan Bali. “Jangan sampai kita mengambil cerita lain tetapi menghilangkan keajegan Bali,” pungkasnya. Ia juga menyarankan, drama gong dapat diajarkan mulai dari tingkat sekolah. “Ya melalui dinas pendidikan lah, jangan hanya mengajarkan anak membuat drama modern saja kalau bisa diajarkan juga membuat drama gong,” pintanya. Menurutnya jika siswa mampu membuat drama gong 1 hingga 2 babak saja sudah sangat baik apalagi dapat diperlombakan. -Wiwin
Pemain drama gong lainnya
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
dr. Oka Negara, FIAS
Nyeri setelah Melahirkan dalam pengurus yakni ibu-ibu pekerja kantor. Mereka hanya mendapat libur pada hari Minggu. Namun, waktu libur itu dimanfaatkan untuk mengelola bank sampah,” jelas Luhde. Kegiatan bank sampah terlaksana dengan baik berkat ibu-ibu tangguh yang meluangkan waktu untuk peduli sampah. Selain itu, berkat bimbingan dari Yayasan Bali Wastu Lestari, serta Yayasan Gus maka bank sampah Ketapian Kelod berjalan lancar. Sistem bank sampah seperti pemilahan sampah sesuai jenis, adminis-
trasi, pengurus, nasabah, penjualan, dan pemanfaatan telah dipahami oleh Bank Sampah Katepian Kelod Berseri. Selain menghimpun sampah warga, pengurus bank sampah juga memberi penyuluhan untuk desa-desa yang ingin membuat program serupa. “Kedepan kami mencoba mengolah sampah menjadi kompos atau kerajinan tangan,” tutur Pariatni. Usaha yang tak sia-sia mendatangkan manfaat. Terbukti mereka berhasil mendapatkan penghargaan dari DKP tahun 2015 sebagai kelompok bank sampah yang aktif. Mereka mendapat dana pembinaan Rp 10 juta. Bagi mereka, bank sampah mampu memberi manfaat dari sisi lingkungan, ekonomis, dan program yang berkelanjutan. “Kami berharap, pembangunan bank sampah ini harus menjadi momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk memilah, mendaur-ulang, dan memanfaatkan sampah. Sebab, sampah mempunyai nilai jual yang cukup baik, sehingga pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan menjadi budaya baru Indonesia. Sampah bisa jadi musibah jika tidak dikelola dengan baik. Namun, sampah akan membawa berkah jika kita mampu memanfaatkan dengan baik,” tegas Pariatni. -Wulan
“Dok, saya sudah menikah 2 tahun dan sudah dikaruniai seorang anak umur 1 tahun. Saya berumur 27 tahun, sedangkan suami berusia 41 tahun. Yang menjadi masalah saat ini tentang kehidupan seks kami, setelah melahirkan saya jadi uringuringan jika diajak berhubungan, saya sering merasa sakit saat berhubungan, padahal kami sudah mencoba melakukan foreplay tetapi saat akan penetrasi itulah yang menjadi masalah, penis bisa masuk tetapi saya merasa sakit. Mohon saran dan bantuannya agar kehidupan seks kami menjadi normal kembali dok, terima kasih.” (Asti, Denpasar) Sebaiknya hal seperti ini jangan dibiarkan berlangsung lama, karena membiarkan masalah seksual berlarutlarut adalah sebuah kesalahan besar. Akan lebih baik sejak keluhan muncul segera untuk mendapat pemeriksaan untuk memastikan penyebab nyeri dan segera melakukan pengobatan. Kasus yang dialami ini, disebut dyspareunia, yang berarti rasa nyeri yang muncul saat hubungan seksual. Penyebab rasa nyeri saat hubungan seksual itu
secara umum kemungkinan disebabkan oleh tiga hal. Pertama, perempuan tidak terangsang karena penyebab tertentu. Kedua, perempuan mengalami hambatan perlendiran atau cairan lubrikasi vagina karena penyebab tertentu walaupun sudah terangsang. Ketiga, perempuan mengalami gangguan atau penyakit pada organ kelaminnya. Untuk memastikan, tentu saja harus diperlukan pemeriksaan. Kemungkinan yang terjadi dalam kasus ini kemungkinan memang akibat dari proses persalinan. Yang terjadi bisa dari bekas luka atau jaringan parut pasca persalinan, bisa juga karena terjadi peradangan vagina hingga proses penyakit di dalam panggul. Atau juga hal traumatis psikis karena ketakutan akan kehamilan dan proses persalinan yang masih dirasakan hingga sekarang. Nyeri di daerah vagina juga bisa muncul saat cairan lubrikasi tidak maksimal keluar. Cairan lubrikasi ini hanya akan keluar jika perempuan terangsang maksimal, tapi jika sedang stres atau tegang, cairan itu tidak akan keluar. Rasa nyeri seharusnya tidak muncul saat melakukan hubungan seks jika perempuan sudah siap dan terangsang.
Nyeri saat berhubungan seksual juga bisa dicegah jika laki-laki tidak tergesagesa melakukan penetrasi. Sebaiknya atur posisi dengan baik, lebih baik lagi jika perempuan yang mengarahkan. Jika laki-laki terlalu tergesa-gesa melakukan penetrasi sedangkan perempuan belum siap, maka bisa terjadi lecet dan perlukaan di dinding vagina. Untuk menghindari rasa nyeri saat berhubungan seksual, sebaiknya kedua belah pihak saling mengerti. Laki-laki jangan tergesa-gesa dan perempuan sebaiknya mempersiapkan diri. Jangan lupa lakukan foreplay (pemanasan) yang maksimal mulai dari yang paling ringan seperti memeluk, mencium, meraba, memijat dan sebagainya. Tetapi yang benar-benar perlu diperhatikan adalah memastikan kembali apakah rasa nyeri itu disebabkan karena masih ada sisa luka dan penyakit di vagina maupun panggul, atau justru karena masalah psikis akibat rasa nyeri yang dialami saat persalinan yang berakibat ke trauma psikologisnya? Ini yang perlu diperiksakan. Yang bisa dimaksimalkan sebelum melakukan pemeriksaan juga adalah
dengan melibatkan pasangan untuk tetap berkomunikasi dan saling memahami permasalahan bersama dan berniat positif untuk memeriksakan diri dan mengatasi masalah ini. Jangan pernah berlama-lama membiarkan perempuan untuk tidak menikmati hubungan seksualnya hingga akhirnya tidak mendapatkan orgasmenya. Perempuan yang tidak mencapai orgasme seringkali memunculkan akibat dan pengaruh negatif ke psikisnya seperti menjadi sering marah, cemas atau gangguan tidur. Komunikasi dengan pasangan, khususnya komunikasi seksual, merupakan faktor penting agar hubungan seksual berlangsung harmonis yang berarti dapat dinikmati oleh kedua pihak, perempuan dan laki-laki. Komunikasi seksual yang baik sebenarnya merupakan juga stimulus awal sekaligus rangsangan yang sifatnya psikis sebelum hubungan seksual berlangsung. Saat diperlukan untuk melakukan konseling khusus dan sex therapy, maka sangat perlu dilakukan dengan melibatkan kedua pasangan, karena sesungguhnya, sekali lagi, permasalahan seksual pada satu pihak tidak pernah terlepas dan teratasi tanpa melibatkan pasangannya.
10
Kreasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Kisah Jawa Sajian Bali
Sekelompok pegiat seni pertunjukan Bali tampil dalam ajang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2016. Penampilan pertama, 23 Agustus, dalam wujud pawai di sepanjang Jalan Malioboro, berkisah tentang mitologi Jawa terkenal, Nyi Roro Kidul. Penampilan yang kedua, 24 Agustus, bertempat di sebuah panggung di Condong Catur, Sleman, bertutur tentang legenda Jawa Tengah, Roro Jonggrang. Sajian pawai dan pagelaran seni pertunjukan duta seni Kabupaten Gianyar itu menuai sambutan gegap dan apresiasi tinggi.
P
erhelatan FKY yang ke-28 ini diikuti oleh 38 kelompok kesenian dari segenap penjuru Nusantara. Bali diwakili oleh Kabupaten Gianyar. Untuk bersanding di forum seni tingkat nasional, Pemda Gianyar mendaulat para seniman Desa Sukawati. Kepercayaan kepada insan-insan seni dari desa yang juga terkenal dengan Pasar Seninya itu telah teruji tahun lalu. Pada bulan Agustus tahun 2015, seratus lebih pelaku seni Desa Sukawati, diutus berkiprah dalam Festival Seni Budaya Dunia di Purwakarta, Jawa Barat, yang diikuti tim kesenian dari 15 negara. Kini di FKY, berkekuatan 100 orang, tim kesenian Desa Sukawati, menunjukkan kesungguhannya mengemban misi seni, tentu, selain membawa nama Gianyar namun juga Bali. Pada pawai di sore hari itu, tim Gianyar Bali mendapat urutan ke-17. Memulai penampilannya di ujung utara Jalan Malioboro, para seniman Sukawati menggebrak dengan gebyar gamelan balaganjur. Penonton terhenyak. Ketika langkah mulai diayun, seluruh penari dan
pengalun koor mendendangkan lagu merdu Pulau Bali. Di barisan depan dikawal oleh sepasang bandrangan (tombak berbulu) mengapit empat gadis pembawa identitas. Selanjutnya berderet berpasangan penari wanita berproperti kipas besar, pemeran Nyi Roro Kidul diusung dengan singgasana megah, dan terakhir adalah pasukan penabuh gamelan
Style
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
ASBEST
dalam Pesona
Tri Datu
Tri Datu, itulah tema yang diusung Asosiasi Bordir, Endek dan Songket (ASBEST) Kota Denpasar saat tampil fashion show di panggung Legian Beach Festival belum lama ini. yang bermain penuh semangat. Display di depan panggung kehormatan yang dihadiri oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, para seniman Sukawati tampil apik dan memukau. Sekelumit ketokohan Roro Kidul dikisahkan dalam
untaian tari yang melukiskan gemuruh samudra dimana dari atas kereta kencananya Nyi Roro Kidul menyampaikan wangsitnya: “Wahai para pemimpin tanah Jawa, wujudkanlah ketenteraman bagi segenap rakyat, menuju kehidupan gemah ripah loh jinawi. Pemimpin yang arif dan bijaksana adalah pemimpin yang senantiasa asih dan peduli serta tak pernah mengeluh dalam memperjuangkan segala aspirasi rakyat”. Gereget berkesenian yang tersuguh di arena pawai, kian
menggigit ketika tampil di atas panggung pada esok harinya, 24 Agustus. Bertempat di panggung terbuka Condong Catur, Sleman, para seniman Sukawati bersanding dengan tim kesenian dari Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan Sumatera Utara. Sukawati yang ditempatkan sebagai puncak pementasan, malam itu, menyajikan sebuah garapan seni pentas yang memadukan seni tari, narasi, lagu serta karawitan. Seni pentas yang sudah setahun lalu diakronimkan dengan sebutan Rinarasila (tari-narasi-lagu) ini mengangkat tajuk “Asmaradahana”, bertutur tentang kisah Roro Jonggrang. Tersebutlah Roro Jonggrang, seorang gadis jelita, putri tunggal Prabu Baka. Keanggunan dan tubuh gemulai dara ini membuat kepincut satria perkasa Bandung Bondowoso. Tetapi, dengan halus dan santun, Roro Jonggrang menolak cinta orang yang telah membunuh ayahnya itu. Roro Jonggrang masih memberi peluang untuk disunting, apabila Bandung Bondowoso mampu membuatkannya seribu candi dalam semalam. Demi gelegak cinta asmaranya, Bandung Bondowoso menyanggupinya, akan tetapi, gagal, berkat kecerdikan Roro Jonggrang. Bandung Bon-
dowoso yang sakti mandraguna, marah bukan kepalang dan serta merta mengutuk wanita pujaannya menjadi arca batu. Asmaradahana, asmara cinta yang membakar. Secara konsep garap, karya kreatif para seniman muda Sukawati ini merupakan rajutan dari keragaman tari Bali dalam sebuah bingkai dramatik. Elemen topeng (tapel) diberi aksentuasi artistik sebagai simbol karakter manusia yang mencari jati diri di Masa Depan, Hari Ini dan Dulu (tema festival). Narasi cerita dituturkan dalam untaian bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Indonesia. Dalam implementasi konsep estetiknya, sajian seni pentas “Asmaradahana” ini menunjukkan perwakilan dari beberapa unsur tari Bali, dari seni klasik hingga tari kreasi. Prolog garapan ini mengggunakan tari kebyar, genre seni pertunjukan modern Bali. Melalui tari Palawakia yang dipadatkan, sinopsis cerita langsung dapat dipahami penonton. Si penari mengalunkan kakawin berbahasa Jawa Kuno: “Kawi wursita waranggani maring jawi dwipa, Roro jonggrang wiryateja ruci sahasika” yang diterjemahkan elaboratif oleh narator dalam bahasa Indonesia. Bergulir sepanjang 60 menit, persembahan seniman Kabupaten Gianyar di arena FKY tersebut hadir sarat pesan dan kesan. Pada klimaks garapan, dari atas tandu, Roro Jongggrang kumandangkan pesan: “Bandung Bondowoso, kuserahkan kemenangan ini untukmu. Gunakan gelora cintamu untuk berbagi kasih antar sesama. Di tanganmu kuharap kau menjadi pelopor kehidupan yang rukun dan damai. Ketahuilah, dari tanah Jawa akan berbinar sasanti bhineka tunggal ika yaitu kesatuan dalam perbedaan, yang disyukuri dan dijunjung tinggi bangsa besar Nusantara“. Seusai pementasan, Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata dengan rona haru menyalami penari di atas panggung. “Saya bangga. Ini karya seni yang menggugah penonton Yogyakarta,“ ujarnya. Para penonton menyerbu panggung, berebutan berfoto dengan para penari serta seniman Sukawati lainnya. -Kadek Suartaya
T
ema Tri Datu kali ini digambarkan dengan simbol warna hitam, merah dan putih. Hakikatnya benang Tri Datu merupakan salah satu aktualisasi diri dalam konteks Tri Murti. Dalam ajaran agama Hindu. Tri Murti adalah tiga kekuatan Sang Hyang Widhi Wasa dalam menciptakan, memelihara, dan mengembalikan pada asalnya alam beserta isinya. Jika selam ini ASBEST lebih berada di belakang layar saat pagelaran busana di Legian Beach Festival tersebut , sebagian
pengurus dan anggota ASBEST unjuk kemampuan melenggang di panggung. Dengan konsepTri Datu dan aura tersendiri dari ketiga warnanya, mereka berhasil tampil maksimal dan penuh percaya diri. Melangkah anggun dan elegandilengkapi sanggul Bali dan hiasan bunga, aksesori khas Bali serta tata rias yang cantik. Padu padan kebaya kutu baru dan beragam motif kamen songket Bali yang dikenakan pun menjadikan penampilan keseluruhan setiap anggota ASBEST di atas panggung semakin menawan. – Sri Ardhini
15
14
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Luka dan kemudian ada bekas lukanya dapat disebabkan oleh berbagai banyak faktor penyebab. Tentunya bagi perempuan khususnya memiliki bekas kulit pada kulit akan merasa tidak nyaman. Namun, yang namanya luka sering terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami luka sepanjang hidupnya.
d
r. Kadek Trisnadewi, M.Biomed (AAM), pemilik Indivara Aesthetic Clinic ,menjelaskan, bahwa luka berdasarkan derajatnya dapat berupa luka ringan, sedang dan berat. Hal ini tergantung penyebab dan kekuatan daya yang menimbulkan luka tersebut. Luka adalah kondisi yang menyebabkan kerusakan atau hilangnya sebagian jaringan tubuh yang n oleh berbagai kemungkinan. Seperti trauma benda tajam, tumpul, akibat perubahan suhu baik panas maupun dingin, akibat paparan zat kimia, ledakan, gigitan hewan, sengatan listrik maupun penyebab lainnya. Dikatakannya, berdasarkan kondisi dan karakteristiknya luka dapat dibagi dalam beberapa jenis yakni ; luka lecet, luka memar, luka robek, luka tusuk, luka sengatan listrik dan luka bakar. Luka lecet adalah luka yang terjadi akibat kerusakan pada bagian atas kulit, dapat ditandai dengan kulit menjadi kasar, memerah, berdarah, dan biasanya ada rembesaran cairan bening yang keluar dari kulit yang luka. Kemudian luka memar, disebabkan rusaknya pembuluh darah atau robeknya pembuluh darah pada bagian tubuh tertentu sehingga darah meresap kejaringan sekitar, Luka memar juga akibat hantaman benda tumpul. bisa di tandai dengan lebam kemerahan karena akibat pendarahan dibawah permukaan kulit atau jaringan. Sedangkan luka robek, terjadi karena rusaknya atau robeknya kulit bagian permukaan atau kulit beserta bagian jaringan dibawahnya. Penyebab luka ini karena hantaman benda tumpul yang sangat kuat sedemikian kerasnya
menangani luka lecet mulai dari dibersihkan dari debu dan kotoran, kemu dian beri antiseptik secukupnya, Pasang pembalut jika lu kanya agak parah, fungsinya biar tidak mudah masuk debu dan kuman. Jangan lupa ganti pembalut sehari sekali agar tetap bersih dan mempercepat proses penyembuhan.
Menjaga Kulit Terluka
sehingga melampaui tingkat elestisitas kulit atau otot. Ada juga luka tusuk adalah luka akibat tertusuk benda tajam. luka ini membutuhkan penanganan tingkat lanjut. Luka akibat arus listrik ini terjadi akibat arus listrik mengaliri tubuh dan adanya lonjakan arus. luka jenis ini bisa juga disebabkan oleh petir. Sedangkan luka bakar, yang di akibatkan terbakar api secara langsung ataupun tidak langsung, juga termasuk pancaran suhu tinggi matahari dalam waktu yang lama, juga akibat bahan kimia dan listrik juga bisa menyebabkan luka bakar. CARA PENANGANAN LUKA Cara penanganan luka kata dokter Kadek tergantung pada jenis dan tingkat keparahan luka yang dialami penderita. Caranya menangani luka lecet mulai dari dibersihkan dari debu dan kotoran, kemudian beri antiseptik secukupnya, Pasang pembalut jika lukanya agak parah, fungsinya biar tidak mudah masuk debu dan kuman. Jangan lupa ganti pembalut sehari sekali agar tetap bersih dan mempercepat proses penyembuha n. Jika lecetnya kecil berikan antiseptik biasa tanpa pembalut. Pembalutnya juga jangan ketebalan bisa menyebabkan panas dan memperparah kondisi. Cara penanganan luka memar, atur posisi kemudian kompres di area sekitar luka memar atau lebam dengan air hangat. Untuk luka robek, yaitu Hal pertama adalah menghentikan pendarahan dengan cara ditekan daerah yang luka, kemudian bersihkan pecahan penyebab luka, lalu beri anti septik, atau dibawa kerumah sakit, sebab luka robek perlu perawatan. Tepi-tepi luka robekan harus disatukan kembali dengan cara dijahit. Selanjutnya untuk penanganan luka tusuk, harus dilakukan di instalasi gawat darurat oleh ahli kesehatan yang terlatih. Sebab, setelah benda tersebut di cabut pendarahan harus segera di hentikan. Pengobatan luka tusuk membutuhkan berbagai peralatan kesehatan. Begitu pula
pertolongan pertama akibat sengatan listrik, semua ada langkah dan teknik tersendiri yang harus dilakukan. Intinya semakin cepat mendapat pertolongan semakin besar kemungkinan selamat dan setelah itu dibawa kerumah sakit Setelah pertolongan pertama dan dilakukan penanganan luka lebih lanjut, maka luka itu memasuki tahap penyembuhan. Di sini pen ting perhatikan hal hal agar luka tidak meninggalkan bekas. Jangan mengorek-orek atau menggaruk luka dan koreng. Ketika terjadi luka maka sel darah putih akan menyerang bakteri penyebab infeksi dan sel darah merah, fibrin serta platelet membuat gumpalan di atas luka. Dalam waktu singkat akan terbentuk koreng. Jika digaruk atau dicabut maka tidak hanya membuka luka kembali dan memberi kesempatan bakteri untuk masuk, tapi menciptakan bekas luka yang lebih besar. Setelah perawatan luka yang baik dan tidak terjadi infeksi serta tidak adanya kegiatan kegiatan yang
Jelita
dr. Kadek Trisnadewi, M.Biomed (AAM)
menyebabkan luka itu terkorek kembali, biasanya luka tersebut akan sembuh dengan baik tanpa meninggalkan bekas. Meski begitu beberapa orang ada yang lebih rentan terhadap jaringan parut dan bagian tubuh tertentu (dada, bahu, punggung) lebih rentan terhadap luka. Bekas luka cenderung berkembang di daerah kulit yang berada dibawa
ketegangan atau tertarik.Bekas luka yang terbentuk umumnya berwarna pucat dan datar. Tapi jika bekas luka yang muncul menonjol biasa disebut dengan hipertrofik atau keloid bekas luka yang terjadi ketika tubuh memproduksi kolegan terlalu banyak. Namun, dalam beberapa kasus luka lainnya kadang juga perlu bantuan medis.-Sri Ardhini
Bugar
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Nyamuk Aedes Aegypti Penular Virus Zika
Sampai sekarang sudah dilaporkan setidaknya virus zika sudah menyebar dan ditemukan di 45 nega ra. Beberapa negara yang pernah melapor kan keberadaan kasus penyakit virus zika ini adalah kebanyakan dari negara-negara di belahan Amerika Latin seperti di Brasil, Ko lombia, Republik Do minika, Ekuador, serta El Salvador dan diper kirakan masih bisa menyebar ke belahan dunia lainnya. WHO sudah mengel uarkan peringatan kesehatan publik internasional dan menetapkan sta tus waspada bahaya virus zika.
V
irus zika kini membuat keresahan di Asia karena ada temuan sebanyak 82 orang terjangkit zika di Singapura. Infeksi pertama teridentifikasi berasal dari pria 48 tahun yang baru saja kembali dari Brasil. Di Indonesia belum dilaporkan virus zika ini dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang yang datang dari Singapura. Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengatakan ada masyarakat yang terjangkit virus zika. Berdasarkan laporan seorang yang terjangkit virus zika berada di Jambi tetapi bukan didapatkan dari luar Indonesia. Para peneliti di Indonesia mengatakan bahwa virus zika sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak 40 tahun yang lalu tetapi tidak pernah menjadi wabah. Seperti apa virus zika itu? M e n u r u t d r. M a d e A g u s Hendrayana,M.Ked. virus zika adalah salah satu virus dari jenis flavivirus yang termasuk kelom-
pok virus yang dapat ditularkan melalui gigitan serangga atau arbovirus. Virus ini pertama kali diisolasi tahun 1948 dari monyet di Hutan Zika, Uganda sehingga dikenal dengan virus zika. “Penyakit ini disebabkan akibat adanya infeksi oleh virus zika yang ditularkan melalui perantara gigitan nyamuk. Para peneliti menemukan spesies nyamuk sebagai penular virus zika adalah Aedes aegypti yang juga sebagai penular virus dengue penyebab penyakit demam berdarah dan nyamuk Aedes albopictus, ujarnya. Ia mengatakan, para ilmuwan dan diakui WHO bahwa virus zika ini diduga kuat dapat menyebabkan kecacatan bayi yang dilahirkan dengan ukuran kepala yang kecil dan adanya kecacatan saraf di otak dan juga diduga sebagai penyebab penyakit autoimun sindrom guillain-barré (GBS). Dosen pengajar di Bagian Mikrobiologi Klinik FK Unud ini menyebutkan, angka penderita infeksi virus ini dilaporkan terus meningkat di berbagai negara. Brasil mengatakan jumlah bayi yang lahir mikrosefali telah mencapai hampir 4.000 sejak Oktober 2015. Magister Ilmu Kedokteran Tropis ini menyatakan, siapa saja dapat terinfeksi virus ini, namun ada orang-orang yang berisiko tinggi untuk dapat terkena. “Orang yang tinggal atau mengunjungi daerah yang terdapat virus zika memiliki risiko untuk terinfeksi. Masa inkubasi penyakit isi sekitar 2-7 yang diikuti dengan muncul gejala, ujarnya. Namun, hampir sebagian besar orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. “Kalaupun muncul gejala yang dirasakan adalah demam, timbul bercak merah di kulit, ruam, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, kelemahan dan peradangan di selaput mata yang bisa berlangsung beberapa hari, kata dr. Agus. Ia mengatakan, penyakit ini menjadi berbahaya apabila
menginfeksi ibu hamil yang sedang mengandung anaknya. Ibu hamil yang terinfeksi sangat berisiko melahirkan bayi dengan cacat microsefali dan kelainan saraf. Pada beberapa kasus zika dilaporkan terjadi gangguan saraf dan penyakit autoimun GBS. Dokter dapat mendiag-
ed. dr.Made Agus Hendrayana,M.K
nosis seseorang terinfeksi virus ini dengan melakukan beberapa langkah dari wawancara apakah pasien ini pernah berkujung ke daerah yang terjangkit virus zika, kegiatan yang berisiko dan beberapa informasi yang diperlukan, kemudian diperiksa fisik dan gejala yang timbul serta pemeriksaan laboratorium, imbuhnya. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan diantaranya, dengan mendeteksi virus zika dalam tubuh pasien melalui pemeriksaan biomolekuler RT-PCR ada minggu pertama demam. Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar ini mengatakan, penyakit ini dengan gejala yang ringan sering sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan medis. Penanganan tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi virus zika dan perawatan utama adalah merin-
gankan gejala. Jika terinfeksi virus zika, maka lakukan istirahat cukup, mengonsumsi cukup air putih, minum obat-obatan yang dapat mengurangi gejala ringan, dan apabila ada gejala yang membahayakan dan komplikasi segera periksa ke pusat pelayanan kesehatan, saran dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Germany dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. Ia menyarankan, pencegahan terjangkitnya virus zika ini dengan pemberantasan vektor penularnya yaitu nyamuk. Usaha pemberantasan sarang nyamuk dengan gerakan 3 M plus dimana sekaligus mencegah penyakit DB, chikungunya, javanesse enchephalitis. Melakukan kegiatan pencegahan lain seperti menabur bubuk larvasida, dan melakukan pengawasan keberadaan jentik nyamuk, ujarnya. Usaha lain, menghindari gigitan nyamuk apabila berkunjung ke daerah yang terjangkit virus zika seperti
11
menggunakan pakaian yang lebih tertutup, menggunakan kelambu saat tidur serta menggunakan obat nyamuk.Hal lain adalah mengusahakan tidak berkunjung ke daerah yang sedang terjangkit virus zika. Kementerian Kesehatan menganjurkan agar ibu hamil tak mengunjungi Singapura dalam waktu dekat. Orang-orang yang harus bepergian ke negara yang terjangkit virus zika sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Apabila baru datang dari negara yang terjangkit virus zika dan mengalami gejala infeksi virus zika segera datang ke pusat pelayanan kesehatan untuk diperiksa. Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter FK Unud ini menambahkan, karena para ilmuwan juga menemukan virus ini dalam cairan air mani pria, maka diduga virus ini juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak menggunakan kontrasepsi kondom, sehingga usaha mencegah penularan virus zika ini adalah dengan tidak berhubungan seksual dengan orang dari daerah yang terjangkit atau dengan menggunakan kondom. Sampai saat ini juga belum tersedia vaksinasi terhadap virus zika. -Wirati Astiti
Kuliner
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
12
Parade Kuliner Nusantara
Chef Perean
Grand Istana Rama Hotel menggelar parade kuliner Nusantara, yang terdiri dari 300 jenis masakan lezat dari 34 provinsi di Indonesia, untuk memecahkah rekor Buffet Nusantara Terpanjang di Indonesia Museum Rekor Dunia Indonesia, (17/8). Aneka jenis kuliner tersebut dihidangkan di atas meja prasmanan sepanjang 178 meter hasil racikan Executive Chef Wayan Perean beserta tim sejumlah 30 orang. Beberapa menu yang ditampilkan, kami sajikan di sini untuk pembaca tokoh.-Wirati Astiti
Sate Panjang Base Gede Bahan: 300 gr 300 gr 300 gr 50 gr 100 gr 200 gr
: : : : : :
daging sapi has daging ayam dada ikan dori fillet paprika merah paprika hijau bawang Bombay
300 gr : base genep (basa gede) Cara membuat: - Potong daging sapi, daging ayam, ikan fillet berbentuk dadu, lalu rendam dengan basa genep selama 15 menit.
Ayam Santan Lombok
Bahan: 1 ekor : 200 gr : 100 gr : 10 gr : 200 ml : 100 gr : 2 lembar :
ayam cabai merah bawang putih terasi santan lengkuas dikeprak daun jeruk
Cara membuat: - Potong ayam sesuai selera, kemudian bersihkan, taburi garam, diamkan 15 menit. - Tumis semua bumbu sampai
harum, angkat lalu blender jangan terlalu lembut. - Panaskan wajan, masukkan minyak goreng sedikit, masukkan ayam yang sudah dibumbui garam, aduk sebentar, lalu masukkan bumbu yang dihaluskan. Aduk lagi merata, lalu tambahkan air 100 ml dan masukkan santan. Tambahkan air 100 ml, kecilkan api dan masak sampai ayam matang.
- Buat tusukan sate dari bambu sepanjang 1,5 meter. - Tusuk semua daging, satu per satu. - Panggang sate sampai matang. Beri bumbu kacang dan acar penemannya.
Kue Nusantara Misro
Sambal Terong ala Lombok
Bahan: ½ kg : terong bulat 10 biji : cabai rawit 5 butir : bawang merah 5 siung : bawang putih 10 gr : terasi Garam secukupnya Cara membuat: - Belah jadi 12 bagian terong bulat, lalu cuci, kemudian goreng dengan minyak panas, hingga layu. - Iris bawang merah dan bawah putih, goreng bersama-sama cabai dan terasi, jika aromanya sudah keluar, angkat dan haluskan. - Tumis bumbu yang sudah dihaluskan dan masukkan terong yang sudah digoreng tadi. Aduk merata lalu tambahkan garam sesuai selera.
daun kelor wortel jagung temu kunci serai air
Cara membuat: - Ambil daun kelor dicuci bersih, potong wortel berbentuk dadu kecil, dan jagung diambil isinya saja. - Panaskan air dalam panci, sampai mendidih, kemudian masukan wortel dan jagung manis. Rebus hingga wortel setengah matang. Masukan daun kelor, rebus 10 menit. Tambahkan garam dan penyedap rasa.
13
Jojorong
Bahan: 2 biji : singkong 50 gr : gula merah Garam secukupnya Minyak goreng untuk menggoreng
Bahan: 50 gr 10 gr 75 gr 180 gr 1/2 sdt
Cara membuat: - Kupas singkong, bersihkan kemudian parut halus, tambahkan sedikit garam. - Selanjutnya ambil kira kira ½ sendok makan, bulatkan seperti membuat perkedel. Pipihkan, beri gula merah di tengahnya. Kembali bulatkan, yakinkan gulanya berada di tengah-tengah bulatan. - Goreng misro bolakbalik hingga warna keemasan. Angkat tiriskan.
: : : : :
tepung sagu/kanji tepung beras gula merah (diiris) santan garam
Bahan 2 : 15 gr : tepung sagu/kanji 150 gr : santan kental 1/4 sdt : garam Cara membuat: - Masak santan dan garam. - Masukkan tepung beras dan tepung sagu, aduk rata, beri pewarna hijau pandan. - Siapkan takir dari daun pisang (takir yang bisa dikukus), masukkan gula merah. - Tuang adonan hijau jangan sampai penuh. Kukus selama 15 menit. - Campur semua bahan 2 lalu, tuang ke atas bahan hijau, kukus kembali selama 15 menit. -Wirati Astiti
Rendang Limpa
Sayur Kelor Bahan: 2 mangkok : 2 buah : 1 buah : 1 jari : 1 batang : 1500 ml :
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Sarwan Bahan : 1 kg : limpa sapi, rebus, potong-potong 750 liter : santan 2 batang : serai, memarkan 1 lembar : daun kunyit, iris-iris Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu Halus : 10 buah : cabe merah besar 10 buah : cabe rawit 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 2 ruas : jari jahe
1 sdt : ketumbar 1 sdt : lada butir 2 ruas : jari kunyit bakar 1 sdm : asam jawa Cara Membuat : - Campur santan dan bumbu
Sapi Lada Hitam Bahan : 1 kg 9 siung 1 sdm 2 sdm 1 buah 1 buah
: daging sapi, potong-potong : bawang putih, cincang : minyak wijen : lada hitam bubuk kasar : paprika merah, potong dadu atau bisa diganti cabe hijau besar, potong-potong : bawang bombai iris melintang
halus, aduk rata, masak sampai mendidih. Lalu masukkan limpa sapi, serai, daun jeruk dan daun kunyit, aduk-aduk rata, kecilkan api, masak sampai matang dan kuah mengental, angkat dan siap disajikan.
Sanga Cabek Daging
Bahan : 1 kg : daging has luar, potong-potong 750 ml : air Minyak goreng, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus : 15 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 15 buah : cabe merah 1 sdt : terasi bakar 2 buah : tomat
Cara Membuat : - Daging dimasukkan dalam bahan rendaman selama 15 menit. Panaskan minyak goreng yang sudah dicampur minyak wijen, masukkan irisan 150 ml : air bawang putih dan bawang bombai. Minyak goreng secukupnya - Tumis sampai harum lalu masukkan daging sapi bersama saus rendamannya, aduk sampai warPerendam : nanya berubah, tambahkan air, aduk-aduk sampai 5 sdm : kecap manis airnya mengering dan terlihat minyaknya supaya 1 sdm : kecap asin daging menjadi empuk. 1 sdm : kecap ikan - Lalu masukkan merica bubuk, paprika atau cabe 3 sdm : saus tiram 2 sdm : saus tomat hijau, aduk-aduk, tambahkan garam, gula, kaldu 3 sdm : saus sambal bubuk, aduk-aduk hingga bumbu meresap dan Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya matang. Angkat, siap disajikan.
Cara Membuat : - Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum lalu masukkan potongan daging sapi. Aduk sampai berubah warna, lalu tuang air, masak sampai daging empuk dan bumbu meresap serta kuah agak mengental, angkat. Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
Kuliner
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
12
Parade Kuliner Nusantara
Chef Perean
Grand Istana Rama Hotel menggelar parade kuliner Nusantara, yang terdiri dari 300 jenis masakan lezat dari 34 provinsi di Indonesia, untuk memecahkah rekor Buffet Nusantara Terpanjang di Indonesia Museum Rekor Dunia Indonesia, (17/8). Aneka jenis kuliner tersebut dihidangkan di atas meja prasmanan sepanjang 178 meter hasil racikan Executive Chef Wayan Perean beserta tim sejumlah 30 orang. Beberapa menu yang ditampilkan, kami sajikan di sini untuk pembaca tokoh.-Wirati Astiti
Sate Panjang Base Gede Bahan: 300 gr 300 gr 300 gr 50 gr 100 gr 200 gr
: : : : : :
daging sapi has daging ayam dada ikan dori fillet paprika merah paprika hijau bawang Bombay
300 gr : base genep (basa gede) Cara membuat: - Potong daging sapi, daging ayam, ikan fillet berbentuk dadu, lalu rendam dengan basa genep selama 15 menit.
Ayam Santan Lombok
Bahan: 1 ekor : 200 gr : 100 gr : 10 gr : 200 ml : 100 gr : 2 lembar :
ayam cabai merah bawang putih terasi santan lengkuas dikeprak daun jeruk
Cara membuat: - Potong ayam sesuai selera, kemudian bersihkan, taburi garam, diamkan 15 menit. - Tumis semua bumbu sampai
harum, angkat lalu blender jangan terlalu lembut. - Panaskan wajan, masukkan minyak goreng sedikit, masukkan ayam yang sudah dibumbui garam, aduk sebentar, lalu masukkan bumbu yang dihaluskan. Aduk lagi merata, lalu tambahkan air 100 ml dan masukkan santan. Tambahkan air 100 ml, kecilkan api dan masak sampai ayam matang.
- Buat tusukan sate dari bambu sepanjang 1,5 meter. - Tusuk semua daging, satu per satu. - Panggang sate sampai matang. Beri bumbu kacang dan acar penemannya.
Kue Nusantara Misro
Sambal Terong ala Lombok
Bahan: ½ kg : terong bulat 10 biji : cabai rawit 5 butir : bawang merah 5 siung : bawang putih 10 gr : terasi Garam secukupnya Cara membuat: - Belah jadi 12 bagian terong bulat, lalu cuci, kemudian goreng dengan minyak panas, hingga layu. - Iris bawang merah dan bawah putih, goreng bersama-sama cabai dan terasi, jika aromanya sudah keluar, angkat dan haluskan. - Tumis bumbu yang sudah dihaluskan dan masukkan terong yang sudah digoreng tadi. Aduk merata lalu tambahkan garam sesuai selera.
daun kelor wortel jagung temu kunci serai air
Cara membuat: - Ambil daun kelor dicuci bersih, potong wortel berbentuk dadu kecil, dan jagung diambil isinya saja. - Panaskan air dalam panci, sampai mendidih, kemudian masukan wortel dan jagung manis. Rebus hingga wortel setengah matang. Masukan daun kelor, rebus 10 menit. Tambahkan garam dan penyedap rasa.
13
Jojorong
Bahan: 2 biji : singkong 50 gr : gula merah Garam secukupnya Minyak goreng untuk menggoreng
Bahan: 50 gr 10 gr 75 gr 180 gr 1/2 sdt
Cara membuat: - Kupas singkong, bersihkan kemudian parut halus, tambahkan sedikit garam. - Selanjutnya ambil kira kira ½ sendok makan, bulatkan seperti membuat perkedel. Pipihkan, beri gula merah di tengahnya. Kembali bulatkan, yakinkan gulanya berada di tengah-tengah bulatan. - Goreng misro bolakbalik hingga warna keemasan. Angkat tiriskan.
: : : : :
tepung sagu/kanji tepung beras gula merah (diiris) santan garam
Bahan 2 : 15 gr : tepung sagu/kanji 150 gr : santan kental 1/4 sdt : garam Cara membuat: - Masak santan dan garam. - Masukkan tepung beras dan tepung sagu, aduk rata, beri pewarna hijau pandan. - Siapkan takir dari daun pisang (takir yang bisa dikukus), masukkan gula merah. - Tuang adonan hijau jangan sampai penuh. Kukus selama 15 menit. - Campur semua bahan 2 lalu, tuang ke atas bahan hijau, kukus kembali selama 15 menit. -Wirati Astiti
Rendang Limpa
Sayur Kelor Bahan: 2 mangkok : 2 buah : 1 buah : 1 jari : 1 batang : 1500 ml :
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Sarwan Bahan : 1 kg : limpa sapi, rebus, potong-potong 750 liter : santan 2 batang : serai, memarkan 1 lembar : daun kunyit, iris-iris Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu Halus : 10 buah : cabe merah besar 10 buah : cabe rawit 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 2 ruas : jari jahe
1 sdt : ketumbar 1 sdt : lada butir 2 ruas : jari kunyit bakar 1 sdm : asam jawa Cara Membuat : - Campur santan dan bumbu
Sapi Lada Hitam Bahan : 1 kg 9 siung 1 sdm 2 sdm 1 buah 1 buah
: daging sapi, potong-potong : bawang putih, cincang : minyak wijen : lada hitam bubuk kasar : paprika merah, potong dadu atau bisa diganti cabe hijau besar, potong-potong : bawang bombai iris melintang
halus, aduk rata, masak sampai mendidih. Lalu masukkan limpa sapi, serai, daun jeruk dan daun kunyit, aduk-aduk rata, kecilkan api, masak sampai matang dan kuah mengental, angkat dan siap disajikan.
Sanga Cabek Daging
Bahan : 1 kg : daging has luar, potong-potong 750 ml : air Minyak goreng, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus : 15 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 15 buah : cabe merah 1 sdt : terasi bakar 2 buah : tomat
Cara Membuat : - Daging dimasukkan dalam bahan rendaman selama 15 menit. Panaskan minyak goreng yang sudah dicampur minyak wijen, masukkan irisan 150 ml : air bawang putih dan bawang bombai. Minyak goreng secukupnya - Tumis sampai harum lalu masukkan daging sapi bersama saus rendamannya, aduk sampai warPerendam : nanya berubah, tambahkan air, aduk-aduk sampai 5 sdm : kecap manis airnya mengering dan terlihat minyaknya supaya 1 sdm : kecap asin daging menjadi empuk. 1 sdm : kecap ikan - Lalu masukkan merica bubuk, paprika atau cabe 3 sdm : saus tiram 2 sdm : saus tomat hijau, aduk-aduk, tambahkan garam, gula, kaldu 3 sdm : saus sambal bubuk, aduk-aduk hingga bumbu meresap dan Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya matang. Angkat, siap disajikan.
Cara Membuat : - Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum lalu masukkan potongan daging sapi. Aduk sampai berubah warna, lalu tuang air, masak sampai daging empuk dan bumbu meresap serta kuah agak mengental, angkat. Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
14
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Luka dan kemudian ada bekas lukanya dapat disebabkan oleh berbagai banyak faktor penyebab. Tentunya bagi perempuan khususnya memiliki bekas kulit pada kulit akan merasa tidak nyaman. Namun, yang namanya luka sering terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami luka sepanjang hidupnya.
d
r. Kadek Trisnadewi, M.Biomed (AAM), pemilik Indivara Aesthetic Clinic ,menjelaskan, bahwa luka berdasarkan derajatnya dapat berupa luka ringan, sedang dan berat. Hal ini tergantung penyebab dan kekuatan daya yang menimbulkan luka tersebut. Luka adalah kondisi yang menyebabkan kerusakan atau hilangnya sebagian jaringan tubuh yang n oleh berbagai kemungkinan. Seperti trauma benda tajam, tumpul, akibat perubahan suhu baik panas maupun dingin, akibat paparan zat kimia, ledakan, gigitan hewan, sengatan listrik maupun penyebab lainnya. Dikatakannya, berdasarkan kondisi dan karakteristiknya luka dapat dibagi dalam beberapa jenis yakni ; luka lecet, luka memar, luka robek, luka tusuk, luka sengatan listrik dan luka bakar. Luka lecet adalah luka yang terjadi akibat kerusakan pada bagian atas kulit, dapat ditandai dengan kulit menjadi kasar, memerah, berdarah, dan biasanya ada rembesaran cairan bening yang keluar dari kulit yang luka. Kemudian luka memar, disebabkan rusaknya pembuluh darah atau robeknya pembuluh darah pada bagian tubuh tertentu sehingga darah meresap kejaringan sekitar, Luka memar juga akibat hantaman benda tumpul. bisa di tandai dengan lebam kemerahan karena akibat pendarahan dibawah permukaan kulit atau jaringan. Sedangkan luka robek, terjadi karena rusaknya atau robeknya kulit bagian permukaan atau kulit beserta bagian jaringan dibawahnya. Penyebab luka ini karena hantaman benda tumpul yang sangat kuat sedemikian kerasnya
menangani luka lecet mulai dari dibersihkan dari debu dan kotoran, kemu dian beri antiseptik secukupnya, Pasang pembalut jika lu kanya agak parah, fungsinya biar tidak mudah masuk debu dan kuman. Jangan lupa ganti pembalut sehari sekali agar tetap bersih dan mempercepat proses penyembuhan.
Menjaga Kulit Terluka
sehingga melampaui tingkat elestisitas kulit atau otot. Ada juga luka tusuk adalah luka akibat tertusuk benda tajam. luka ini membutuhkan penanganan tingkat lanjut. Luka akibat arus listrik ini terjadi akibat arus listrik mengaliri tubuh dan adanya lonjakan arus. luka jenis ini bisa juga disebabkan oleh petir. Sedangkan luka bakar, yang di akibatkan terbakar api secara langsung ataupun tidak langsung, juga termasuk pancaran suhu tinggi matahari dalam waktu yang lama, juga akibat bahan kimia dan listrik juga bisa menyebabkan luka bakar. CARA PENANGANAN LUKA Cara penanganan luka kata dokter Kadek tergantung pada jenis dan tingkat keparahan luka yang dialami penderita. Caranya menangani luka lecet mulai dari dibersihkan dari debu dan kotoran, kemudian beri antiseptik secukupnya, Pasang pembalut jika lukanya agak parah, fungsinya biar tidak mudah masuk debu dan kuman. Jangan lupa ganti pembalut sehari sekali agar tetap bersih dan mempercepat proses penyembuha n. Jika lecetnya kecil berikan antiseptik biasa tanpa pembalut. Pembalutnya juga jangan ketebalan bisa menyebabkan panas dan memperparah kondisi. Cara penanganan luka memar, atur posisi kemudian kompres di area sekitar luka memar atau lebam dengan air hangat. Untuk luka robek, yaitu Hal pertama adalah menghentikan pendarahan dengan cara ditekan daerah yang luka, kemudian bersihkan pecahan penyebab luka, lalu beri anti septik, atau dibawa kerumah sakit, sebab luka robek perlu perawatan. Tepi-tepi luka robekan harus disatukan kembali dengan cara dijahit. Selanjutnya untuk penanganan luka tusuk, harus dilakukan di instalasi gawat darurat oleh ahli kesehatan yang terlatih. Sebab, setelah benda tersebut di cabut pendarahan harus segera di hentikan. Pengobatan luka tusuk membutuhkan berbagai peralatan kesehatan. Begitu pula
pertolongan pertama akibat sengatan listrik, semua ada langkah dan teknik tersendiri yang harus dilakukan. Intinya semakin cepat mendapat pertolongan semakin besar kemungkinan selamat dan setelah itu dibawa kerumah sakit Setelah pertolongan pertama dan dilakukan penanganan luka lebih lanjut, maka luka itu memasuki tahap penyembuhan. Di sini pen ting perhatikan hal hal agar luka tidak meninggalkan bekas. Jangan mengorek-orek atau menggaruk luka dan koreng. Ketika terjadi luka maka sel darah putih akan menyerang bakteri penyebab infeksi dan sel darah merah, fibrin serta platelet membuat gumpalan di atas luka. Dalam waktu singkat akan terbentuk koreng. Jika digaruk atau dicabut maka tidak hanya membuka luka kembali dan memberi kesempatan bakteri untuk masuk, tapi menciptakan bekas luka yang lebih besar. Setelah perawatan luka yang baik dan tidak terjadi infeksi serta tidak adanya kegiatan kegiatan yang
Jelita
dr. Kadek Trisnadewi, M.Biomed (AAM)
menyebabkan luka itu terkorek kembali, biasanya luka tersebut akan sembuh dengan baik tanpa meninggalkan bekas. Meski begitu beberapa orang ada yang lebih rentan terhadap jaringan parut dan bagian tubuh tertentu (dada, bahu, punggung) lebih rentan terhadap luka. Bekas luka cenderung berkembang di daerah kulit yang berada dibawa
ketegangan atau tertarik.Bekas luka yang terbentuk umumnya berwarna pucat dan datar. Tapi jika bekas luka yang muncul menonjol biasa disebut dengan hipertrofik atau keloid bekas luka yang terjadi ketika tubuh memproduksi kolegan terlalu banyak. Namun, dalam beberapa kasus luka lainnya kadang juga perlu bantuan medis.-Sri Ardhini
Bugar
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Nyamuk Aedes Aegypti Penular Virus Zika
Sampai sekarang sudah dilaporkan setidaknya virus zika sudah menyebar dan ditemukan di 45 nega ra. Beberapa negara yang pernah melapor kan keberadaan kasus penyakit virus zika ini adalah kebanyakan dari negara-negara di belahan Amerika Latin seperti di Brasil, Ko lombia, Republik Do minika, Ekuador, serta El Salvador dan diper kirakan masih bisa menyebar ke belahan dunia lainnya. WHO sudah mengel uarkan peringatan kesehatan publik internasional dan menetapkan sta tus waspada bahaya virus zika.
V
irus zika kini membuat keresahan di Asia karena ada temuan sebanyak 82 orang terjangkit zika di Singapura. Infeksi pertama teridentifikasi berasal dari pria 48 tahun yang baru saja kembali dari Brasil. Di Indonesia belum dilaporkan virus zika ini dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang yang datang dari Singapura. Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengatakan ada masyarakat yang terjangkit virus zika. Berdasarkan laporan seorang yang terjangkit virus zika berada di Jambi tetapi bukan didapatkan dari luar Indonesia. Para peneliti di Indonesia mengatakan bahwa virus zika sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak 40 tahun yang lalu tetapi tidak pernah menjadi wabah. Seperti apa virus zika itu? M e n u r u t d r. M a d e A g u s Hendrayana,M.Ked. virus zika adalah salah satu virus dari jenis flavivirus yang termasuk kelom-
pok virus yang dapat ditularkan melalui gigitan serangga atau arbovirus. Virus ini pertama kali diisolasi tahun 1948 dari monyet di Hutan Zika, Uganda sehingga dikenal dengan virus zika. “Penyakit ini disebabkan akibat adanya infeksi oleh virus zika yang ditularkan melalui perantara gigitan nyamuk. Para peneliti menemukan spesies nyamuk sebagai penular virus zika adalah Aedes aegypti yang juga sebagai penular virus dengue penyebab penyakit demam berdarah dan nyamuk Aedes albopictus, ujarnya. Ia mengatakan, para ilmuwan dan diakui WHO bahwa virus zika ini diduga kuat dapat menyebabkan kecacatan bayi yang dilahirkan dengan ukuran kepala yang kecil dan adanya kecacatan saraf di otak dan juga diduga sebagai penyebab penyakit autoimun sindrom guillain-barré (GBS). Dosen pengajar di Bagian Mikrobiologi Klinik FK Unud ini menyebutkan, angka penderita infeksi virus ini dilaporkan terus meningkat di berbagai negara. Brasil mengatakan jumlah bayi yang lahir mikrosefali telah mencapai hampir 4.000 sejak Oktober 2015. Magister Ilmu Kedokteran Tropis ini menyatakan, siapa saja dapat terinfeksi virus ini, namun ada orang-orang yang berisiko tinggi untuk dapat terkena. “Orang yang tinggal atau mengunjungi daerah yang terdapat virus zika memiliki risiko untuk terinfeksi. Masa inkubasi penyakit isi sekitar 2-7 yang diikuti dengan muncul gejala, ujarnya. Namun, hampir sebagian besar orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. “Kalaupun muncul gejala yang dirasakan adalah demam, timbul bercak merah di kulit, ruam, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, kelemahan dan peradangan di selaput mata yang bisa berlangsung beberapa hari, kata dr. Agus. Ia mengatakan, penyakit ini menjadi berbahaya apabila
menginfeksi ibu hamil yang sedang mengandung anaknya. Ibu hamil yang terinfeksi sangat berisiko melahirkan bayi dengan cacat microsefali dan kelainan saraf. Pada beberapa kasus zika dilaporkan terjadi gangguan saraf dan penyakit autoimun GBS. Dokter dapat mendiag-
ed. dr.Made Agus Hendrayana,M.K
nosis seseorang terinfeksi virus ini dengan melakukan beberapa langkah dari wawancara apakah pasien ini pernah berkujung ke daerah yang terjangkit virus zika, kegiatan yang berisiko dan beberapa informasi yang diperlukan, kemudian diperiksa fisik dan gejala yang timbul serta pemeriksaan laboratorium, imbuhnya. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan diantaranya, dengan mendeteksi virus zika dalam tubuh pasien melalui pemeriksaan biomolekuler RT-PCR ada minggu pertama demam. Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar ini mengatakan, penyakit ini dengan gejala yang ringan sering sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan medis. Penanganan tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi virus zika dan perawatan utama adalah merin-
gankan gejala. Jika terinfeksi virus zika, maka lakukan istirahat cukup, mengonsumsi cukup air putih, minum obat-obatan yang dapat mengurangi gejala ringan, dan apabila ada gejala yang membahayakan dan komplikasi segera periksa ke pusat pelayanan kesehatan, saran dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Germany dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. Ia menyarankan, pencegahan terjangkitnya virus zika ini dengan pemberantasan vektor penularnya yaitu nyamuk. Usaha pemberantasan sarang nyamuk dengan gerakan 3 M plus dimana sekaligus mencegah penyakit DB, chikungunya, javanesse enchephalitis. Melakukan kegiatan pencegahan lain seperti menabur bubuk larvasida, dan melakukan pengawasan keberadaan jentik nyamuk, ujarnya. Usaha lain, menghindari gigitan nyamuk apabila berkunjung ke daerah yang terjangkit virus zika seperti
11
menggunakan pakaian yang lebih tertutup, menggunakan kelambu saat tidur serta menggunakan obat nyamuk.Hal lain adalah mengusahakan tidak berkunjung ke daerah yang sedang terjangkit virus zika. Kementerian Kesehatan menganjurkan agar ibu hamil tak mengunjungi Singapura dalam waktu dekat. Orang-orang yang harus bepergian ke negara yang terjangkit virus zika sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Apabila baru datang dari negara yang terjangkit virus zika dan mengalami gejala infeksi virus zika segera datang ke pusat pelayanan kesehatan untuk diperiksa. Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter FK Unud ini menambahkan, karena para ilmuwan juga menemukan virus ini dalam cairan air mani pria, maka diduga virus ini juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak menggunakan kontrasepsi kondom, sehingga usaha mencegah penularan virus zika ini adalah dengan tidak berhubungan seksual dengan orang dari daerah yang terjangkit atau dengan menggunakan kondom. Sampai saat ini juga belum tersedia vaksinasi terhadap virus zika. -Wirati Astiti
10
Kreasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Kisah Jawa Sajian Bali
Sekelompok pegiat seni pertunjukan Bali tampil dalam ajang Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2016. Penampilan pertama, 23 Agustus, dalam wujud pawai di sepanjang Jalan Malioboro, berkisah tentang mitologi Jawa terkenal, Nyi Roro Kidul. Penampilan yang kedua, 24 Agustus, bertempat di sebuah panggung di Condong Catur, Sleman, bertutur tentang legenda Jawa Tengah, Roro Jonggrang. Sajian pawai dan pagelaran seni pertunjukan duta seni Kabupaten Gianyar itu menuai sambutan gegap dan apresiasi tinggi.
P
erhelatan FKY yang ke-28 ini diikuti oleh 38 kelompok kesenian dari segenap penjuru Nusantara. Bali diwakili oleh Kabupaten Gianyar. Untuk bersanding di forum seni tingkat nasional, Pemda Gianyar mendaulat para seniman Desa Sukawati. Kepercayaan kepada insan-insan seni dari desa yang juga terkenal dengan Pasar Seninya itu telah teruji tahun lalu. Pada bulan Agustus tahun 2015, seratus lebih pelaku seni Desa Sukawati, diutus berkiprah dalam Festival Seni Budaya Dunia di Purwakarta, Jawa Barat, yang diikuti tim kesenian dari 15 negara. Kini di FKY, berkekuatan 100 orang, tim kesenian Desa Sukawati, menunjukkan kesungguhannya mengemban misi seni, tentu, selain membawa nama Gianyar namun juga Bali. Pada pawai di sore hari itu, tim Gianyar Bali mendapat urutan ke-17. Memulai penampilannya di ujung utara Jalan Malioboro, para seniman Sukawati menggebrak dengan gebyar gamelan balaganjur. Penonton terhenyak. Ketika langkah mulai diayun, seluruh penari dan
pengalun koor mendendangkan lagu merdu Pulau Bali. Di barisan depan dikawal oleh sepasang bandrangan (tombak berbulu) mengapit empat gadis pembawa identitas. Selanjutnya berderet berpasangan penari wanita berproperti kipas besar, pemeran Nyi Roro Kidul diusung dengan singgasana megah, dan terakhir adalah pasukan penabuh gamelan
Style
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
ASBEST
dalam Pesona
Tri Datu
Tri Datu, itulah tema yang diusung Asosiasi Bordir, Endek dan Songket (ASBEST) Kota Denpasar saat tampil fashion show di panggung Legian Beach Festival belum lama ini. yang bermain penuh semangat. Display di depan panggung kehormatan yang dihadiri oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, para seniman Sukawati tampil apik dan memukau. Sekelumit ketokohan Roro Kidul dikisahkan dalam
untaian tari yang melukiskan gemuruh samudra dimana dari atas kereta kencananya Nyi Roro Kidul menyampaikan wangsitnya: “Wahai para pemimpin tanah Jawa, wujudkanlah ketenteraman bagi segenap rakyat, menuju kehidupan gemah ripah loh jinawi. Pemimpin yang arif dan bijaksana adalah pemimpin yang senantiasa asih dan peduli serta tak pernah mengeluh dalam memperjuangkan segala aspirasi rakyat”. Gereget berkesenian yang tersuguh di arena pawai, kian
menggigit ketika tampil di atas panggung pada esok harinya, 24 Agustus. Bertempat di panggung terbuka Condong Catur, Sleman, para seniman Sukawati bersanding dengan tim kesenian dari Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan Sumatera Utara. Sukawati yang ditempatkan sebagai puncak pementasan, malam itu, menyajikan sebuah garapan seni pentas yang memadukan seni tari, narasi, lagu serta karawitan. Seni pentas yang sudah setahun lalu diakronimkan dengan sebutan Rinarasila (tari-narasi-lagu) ini mengangkat tajuk “Asmaradahana”, bertutur tentang kisah Roro Jonggrang. Tersebutlah Roro Jonggrang, seorang gadis jelita, putri tunggal Prabu Baka. Keanggunan dan tubuh gemulai dara ini membuat kepincut satria perkasa Bandung Bondowoso. Tetapi, dengan halus dan santun, Roro Jonggrang menolak cinta orang yang telah membunuh ayahnya itu. Roro Jonggrang masih memberi peluang untuk disunting, apabila Bandung Bondowoso mampu membuatkannya seribu candi dalam semalam. Demi gelegak cinta asmaranya, Bandung Bondowoso menyanggupinya, akan tetapi, gagal, berkat kecerdikan Roro Jonggrang. Bandung Bon-
dowoso yang sakti mandraguna, marah bukan kepalang dan serta merta mengutuk wanita pujaannya menjadi arca batu. Asmaradahana, asmara cinta yang membakar. Secara konsep garap, karya kreatif para seniman muda Sukawati ini merupakan rajutan dari keragaman tari Bali dalam sebuah bingkai dramatik. Elemen topeng (tapel) diberi aksentuasi artistik sebagai simbol karakter manusia yang mencari jati diri di Masa Depan, Hari Ini dan Dulu (tema festival). Narasi cerita dituturkan dalam untaian bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Indonesia. Dalam implementasi konsep estetiknya, sajian seni pentas “Asmaradahana” ini menunjukkan perwakilan dari beberapa unsur tari Bali, dari seni klasik hingga tari kreasi. Prolog garapan ini mengggunakan tari kebyar, genre seni pertunjukan modern Bali. Melalui tari Palawakia yang dipadatkan, sinopsis cerita langsung dapat dipahami penonton. Si penari mengalunkan kakawin berbahasa Jawa Kuno: “Kawi wursita waranggani maring jawi dwipa, Roro jonggrang wiryateja ruci sahasika” yang diterjemahkan elaboratif oleh narator dalam bahasa Indonesia. Bergulir sepanjang 60 menit, persembahan seniman Kabupaten Gianyar di arena FKY tersebut hadir sarat pesan dan kesan. Pada klimaks garapan, dari atas tandu, Roro Jongggrang kumandangkan pesan: “Bandung Bondowoso, kuserahkan kemenangan ini untukmu. Gunakan gelora cintamu untuk berbagi kasih antar sesama. Di tanganmu kuharap kau menjadi pelopor kehidupan yang rukun dan damai. Ketahuilah, dari tanah Jawa akan berbinar sasanti bhineka tunggal ika yaitu kesatuan dalam perbedaan, yang disyukuri dan dijunjung tinggi bangsa besar Nusantara“. Seusai pementasan, Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata dengan rona haru menyalami penari di atas panggung. “Saya bangga. Ini karya seni yang menggugah penonton Yogyakarta,“ ujarnya. Para penonton menyerbu panggung, berebutan berfoto dengan para penari serta seniman Sukawati lainnya. -Kadek Suartaya
T
ema Tri Datu kali ini digambarkan dengan simbol warna hitam, merah dan putih. Hakikatnya benang Tri Datu merupakan salah satu aktualisasi diri dalam konteks Tri Murti. Dalam ajaran agama Hindu. Tri Murti adalah tiga kekuatan Sang Hyang Widhi Wasa dalam menciptakan, memelihara, dan mengembalikan pada asalnya alam beserta isinya. Jika selam ini ASBEST lebih berada di belakang layar saat pagelaran busana di Legian Beach Festival tersebut , sebagian
pengurus dan anggota ASBEST unjuk kemampuan melenggang di panggung. Dengan konsepTri Datu dan aura tersendiri dari ketiga warnanya, mereka berhasil tampil maksimal dan penuh percaya diri. Melangkah anggun dan elegandilengkapi sanggul Bali dan hiasan bunga, aksesori khas Bali serta tata rias yang cantik. Padu padan kebaya kutu baru dan beragam motif kamen songket Bali yang dikenakan pun menjadikan penampilan keseluruhan setiap anggota ASBEST di atas panggung semakin menawan. – Sri Ardhini
15
16
Edukasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Sampah pada umumnya membawa musibah. Banyak masalah yang timbul bila sampah tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan sampah yang tidak bagus menjadikan lingkungan kotor dan tercemar. Keadaan lingkungan yang tidak sehat akan mendatangkan bencana banjir, pencemaran air dan tanah, serta ancaman kesehatan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di trotoar, selokan, dan sungai. Kebiasaan buruk tersebut harus mampu disiasati bersama.
Penghargaan untuk Pemilah Sampah Terampil
K
ebiasaan membuang sampah sembarang itu harus dikurangi secara bertahap. Tentu membina kebiasaan yang baik bermula dari lingkup keluarga. Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banjar Ketapian Kelod, Kelurahan Sumerta, Denpasar mulai membina masyrakat tentang pengelolaan sampah. Sedikit demi sedikit, PKK Banjar Ketapian Kelod membuat program bank sampah. Pengurus bank sampah yang berasal dari anggota PKK akhirnya terbentuk. Kelompok pengurus tersebut diberi nama Ketapian Kelod Berseri. Berkat bank sampah, kesadaran warga Ketapian Kelod untuk mewujudkan lingkungan sehat perlahan menyata. Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan. Namun, bukanlah uang yang ditabung melainkan sampah. Warga yang menabung disebut nasabah dan memiliki buku tabungan. Nasabah dapat menarik uang tabungannya setiap 6 bulan sekali atau setiap Galungan akan tiba. Nasabah tidak setiap hari membawa sampahnya. Bank sampah dibuka setiap dua minggu sekali bertempat di Balai Banjar Ketapian Kelod. Teknis bank sampah sederhana. Pertama, nasabah datang membawa buku tabungan beserta sampah yang sudah dipilah dari rumah. Kedua, pengurus mencatat jenis sampah yang dibawa nasabah. Ketiga, penimbangan sampah sesuai jenis kemudian dicatat oleh petugas dalam nilai kilogram. Keempat, nasabah membawa buku tabungan yang sudah berisi berat sampah, kemudian direkap ke buku besar. Terakhir, nasabah pulang membawa buku berisi hasil penimbangan dalam nilai rupiah. “Awalnya kami berpikir untuk meminimalkan sampah. Selain itu, mengurangi pemulung yang masuk ke rumah-rumah karena rawan kemalingan. Melalui bank sampah, masyarakat diajarkan untuk memilah sampah. Selain itu, untuk mengurangi sampah yang diangkut ke TPA,” tutur Putu Pariatni, Ketua Ketapian Kelod Berseri. Program bank sampah tersebut aktif sejak pada 10 Februari 2013. Semula, nasabah hanya 26 orang. Hingga kini total nasabah mencapai 120 orang. Mengumpulkan nasabah tentu bukan soal gampang. “Dulu tidak ada yang ingin menjadi nasabah. Mereka masih berpikir kalau sampah dibuang saja. Tidak perlu dipilah dan tidak perlu sampai dibawa ke banjar. Mereka memilih tidak repot daripada lingkungan bersih. Namun, perlahan setelah mulai muncul
Dara
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Drama gong merupakan sebuah kesenian yang memadukan antara tari, dialog, gong dan drama. Akan tetapi yang menjadi ciri khas drama gong adalah tradisional Bali baik dari properti maupun pakaiannya yang tetap mengutamakan konsep Bali. Hal tersebut disampaikan oleh seorang seniman Nyoman Suardika, S.Ag., M.Fil.H
S
ebagai generasi penerus dari sanggar drama gong Puspa Anom Banyuning, dirinya mengaku dari dulu hingga sekarang hanya mengetahui drama gong yang ada di Buleleng tetap mempertahankan tradisi yang ada di Bali. Ia mencontohkan jika drama gong yang terkenal dari sanggar Puspa Anom adalah Sampek Ing Tay yang merupakan cerita dari Tiongkok namun dalam pementasannya tidak menggunakan pakaian etnis Tionghoa. “Tetap menggunakan pakaian Bali hanya saja jika di dukung dengan properti bernuansa Tionghoa tidak masalah,” jelasnya. Meskipun dari segi properti pendukung tidak dipermasalahkan menggunakan di luar tradisi Bali, namun dari segi
manfaat bank sampah, masyarakat mulai memberi respons baik,” imbuh Putu Kemala Dewi, Ketua PKK Banjar Ketapian Kelod. “Mulanya, DKP memberikan penyuluhan tentang bank sampah. Namun, belum dijelaskan lebih rinci. Setelah penyuluhan itu, saya berdiskusi dengan PKK untuk membuat program bank sampah. Berdasarkan peraturan Mentri Pekerjaan Umum no 21/PRT/ M/2006 maka PKK Banjar Ketapian Kelod membentuk kelompok bank sampah yang terdiri atas, Ketua Putu Pariatni, Bendahara Putu Anggi Agustini, Tenaga Pencatat Ketut Eni Yani, Tenaga Penimbang Luhde Suasti, Tenaga Pemilah Erin S Arjarini, Putu Dewi, dan Eka Suandani. Terkait teknis, kami mendapat arahan dari Luhde Suasti, anggota PKK yang sering memberikan penyuluhan tentang bank sampah,” ujar I Wayan Rajeg, Kepala Lingkungan Banjar Ketapian Kelod. Sosialisasi yang gencar dilakukan oleh kelian lingkungan pada saat rapat di banjar perlahan membuahkan hasil. Pengurus bank sampah juga tidak lelah membuat strategi agar masyarakat tertarik menjadi nasabah bank sampah. “Berkat bantuan dari kepala lingkungan, pemuka adat, dan tokoh masyarakat kami mampu bertahan. Kami terus berusaha untuk menyadarkan masyarakat tentang sampah yang mampu dimanfaatkan kembali. Kami tidak menyerah memberi penyuluhan pentingnya bank sampah,” tutur Luhde Suasti, pembina bank sampah. Beberapa strategi yang mampu menarik minat masyarakat yakni pemberian penghargaan. Masyarakat yang
mampu memilah sampah plastik, kertas, kaca, organik, atau nonorganik mendapatkan penghargaan. Selain itu, masyarakat yang berhasil memilah sampah dan membawa sampah bersih akan diberikan penghargaan. Mereka yang terampil memilah sampah tentu akan diberikan nilai jual yang lebih tinggi. “Kami membuat stategi unik agar masyarakat tertarik mengikuti program bank sampah. Tentu tujuan utama bukanlah keuntungan melainkan kebersihan lingkungan. Kami memberi peringkat 1, 2, 3 bagi mereka yang berhasil membawa sampah dengan nilai jual terbanyak,. Itu merupakan bentuk apresiasi kami kepada masyarakat yang sudah peduli lingkungan,” jelas Luhde. IBU-IBU PEKERJA KANTOR Modal untuk menggelar bank sampah ini berasal dari urunan pengurus. Modal utama tersebut untuk membeli timbangan, kalkulator, buku tabungan, dll. Modal yang tidak banyak itu kini mampu mendatangkan banyak manfaat. “Keuntungan yang didapat pengurus diberikan untuk tenaga pemilah dan pengurus. Sekadar uang lelah dan santap siang bersama, bagi kami sudah cukup. Program bank sampah ini sebagai ajang ngayah untuk lingkungan sehat bukan tentang keuntungan. Yang penting, masyarakat membawa sampah ke banjar, kemudian rumah mereka bersih,” ungkap Pariatni. Gerakan bank sampah ini berbasis 3R yakni reduce, reuse, dan recyle. Selain itu mereka pun menerapkan learning by doing agar tercapai lingkungan bersih berseri. “Mereka yang terhimpun
Nyoman suardika berperan sebagai raja
S
9
Lakukan Inovasi tanpa Meninggalkan Keajegan Bali bahasa mengharuskan menggunakan bahasa Bali. Ini merupakan tujuan untuk melestarikan bahasa Bali utamanya sor singgih bahasa Bali. Perbedaan penggunaan bahasa akan sangat terlihat dalam cerita kepanjian atau dalam cerita kerajaan. “Dalam drama gong akan terlihat bagaimana prajurit berbicara kepada raja, bagaimana anak berbicara kepada orang tua, pada saat ribut menggunakan bahasa kasar. Secara tidak langsung tentu juga akan melestarikan bahasa itu sendiri,” ungkap pria yang saat ini tergabung dalam sanggar seni Nong Nong Kling tersebut. Sebagai sanggar yang masih tetap melestarikan drama gong pihaknya mengaku menjalankan konsep yadnya. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang yang mengupah drama gong adalah yang naur sesangi. “Coba dibayangkan kalau tidak ada wadah untuk melestarikan drama gong, kalau orang mau naur sesangi itu bagaimana?” imbuhnya. Menurut pria kelahiran 22 Mei 1975 tersebut drama gong saat ini tidak berkembang sebab masyarakat tidak akan mencari di luar dari upacara (sesangi). Disamping itu, ketidakberkembangannya juga diakibatkan semakin berkembangnya dunia teknologi yang kian pesat. “Kadang-kadang untuk nonton drama gong cukup di rumah saja lewat TV maupun komputer,” lengkapnya. Atas kenyataan ini, pemerintah sangat memegang peranan penting dalam pelestarian drama gong. Hal ini terbukti lewat Pesta Kesenian Bali diadakannya parade drama gong dan lomba drama gong. “Kami sendiri dari sanggar Nong Nong Kling 4 kali sudah mewakili Buleleng untuk pementasan drama gong,” paparnya. Menurunnya minat masyarakat terhadap drama gong tentu membuat ia dan para seniman
E
X DU
Pementasan drama gong
lain memutar otak untuk melakukan terobosan agar drama gong diminati kembali. Hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kreatifitas dalam pementasan, misalnya dari segi pencahayaan dan juga cerita yang diambil. Pihaknya tidak ragu untuk mengangkat cerita lain di luar kepanjian atau kerajaan, namun tetap mempertahankan Bali. “Jangan sampai kita mengambil cerita lain tetapi menghilangkan keajegan Bali,” pungkasnya. Ia juga menyarankan, drama gong dapat diajarkan mulai dari tingkat sekolah. “Ya melalui dinas pendidikan lah, jangan hanya mengajarkan anak membuat drama modern saja kalau bisa diajarkan juga membuat drama gong,” pintanya. Menurutnya jika siswa mampu membuat drama gong 1 hingga 2 babak saja sudah sangat baik apalagi dapat diperlombakan. -Wiwin
Pemain drama gong lainnya
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
dr. Oka Negara, FIAS
Nyeri setelah Melahirkan dalam pengurus yakni ibu-ibu pekerja kantor. Mereka hanya mendapat libur pada hari Minggu. Namun, waktu libur itu dimanfaatkan untuk mengelola bank sampah,” jelas Luhde. Kegiatan bank sampah terlaksana dengan baik berkat ibu-ibu tangguh yang meluangkan waktu untuk peduli sampah. Selain itu, berkat bimbingan dari Yayasan Bali Wastu Lestari, serta Yayasan Gus maka bank sampah Ketapian Kelod berjalan lancar. Sistem bank sampah seperti pemilahan sampah sesuai jenis, adminis-
trasi, pengurus, nasabah, penjualan, dan pemanfaatan telah dipahami oleh Bank Sampah Katepian Kelod Berseri. Selain menghimpun sampah warga, pengurus bank sampah juga memberi penyuluhan untuk desa-desa yang ingin membuat program serupa. “Kedepan kami mencoba mengolah sampah menjadi kompos atau kerajinan tangan,” tutur Pariatni. Usaha yang tak sia-sia mendatangkan manfaat. Terbukti mereka berhasil mendapatkan penghargaan dari DKP tahun 2015 sebagai kelompok bank sampah yang aktif. Mereka mendapat dana pembinaan Rp 10 juta. Bagi mereka, bank sampah mampu memberi manfaat dari sisi lingkungan, ekonomis, dan program yang berkelanjutan. “Kami berharap, pembangunan bank sampah ini harus menjadi momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk memilah, mendaur-ulang, dan memanfaatkan sampah. Sebab, sampah mempunyai nilai jual yang cukup baik, sehingga pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan menjadi budaya baru Indonesia. Sampah bisa jadi musibah jika tidak dikelola dengan baik. Namun, sampah akan membawa berkah jika kita mampu memanfaatkan dengan baik,” tegas Pariatni. -Wulan
“Dok, saya sudah menikah 2 tahun dan sudah dikaruniai seorang anak umur 1 tahun. Saya berumur 27 tahun, sedangkan suami berusia 41 tahun. Yang menjadi masalah saat ini tentang kehidupan seks kami, setelah melahirkan saya jadi uringuringan jika diajak berhubungan, saya sering merasa sakit saat berhubungan, padahal kami sudah mencoba melakukan foreplay tetapi saat akan penetrasi itulah yang menjadi masalah, penis bisa masuk tetapi saya merasa sakit. Mohon saran dan bantuannya agar kehidupan seks kami menjadi normal kembali dok, terima kasih.” (Asti, Denpasar) Sebaiknya hal seperti ini jangan dibiarkan berlangsung lama, karena membiarkan masalah seksual berlarutlarut adalah sebuah kesalahan besar. Akan lebih baik sejak keluhan muncul segera untuk mendapat pemeriksaan untuk memastikan penyebab nyeri dan segera melakukan pengobatan. Kasus yang dialami ini, disebut dyspareunia, yang berarti rasa nyeri yang muncul saat hubungan seksual. Penyebab rasa nyeri saat hubungan seksual itu
secara umum kemungkinan disebabkan oleh tiga hal. Pertama, perempuan tidak terangsang karena penyebab tertentu. Kedua, perempuan mengalami hambatan perlendiran atau cairan lubrikasi vagina karena penyebab tertentu walaupun sudah terangsang. Ketiga, perempuan mengalami gangguan atau penyakit pada organ kelaminnya. Untuk memastikan, tentu saja harus diperlukan pemeriksaan. Kemungkinan yang terjadi dalam kasus ini kemungkinan memang akibat dari proses persalinan. Yang terjadi bisa dari bekas luka atau jaringan parut pasca persalinan, bisa juga karena terjadi peradangan vagina hingga proses penyakit di dalam panggul. Atau juga hal traumatis psikis karena ketakutan akan kehamilan dan proses persalinan yang masih dirasakan hingga sekarang. Nyeri di daerah vagina juga bisa muncul saat cairan lubrikasi tidak maksimal keluar. Cairan lubrikasi ini hanya akan keluar jika perempuan terangsang maksimal, tapi jika sedang stres atau tegang, cairan itu tidak akan keluar. Rasa nyeri seharusnya tidak muncul saat melakukan hubungan seks jika perempuan sudah siap dan terangsang.
Nyeri saat berhubungan seksual juga bisa dicegah jika laki-laki tidak tergesagesa melakukan penetrasi. Sebaiknya atur posisi dengan baik, lebih baik lagi jika perempuan yang mengarahkan. Jika laki-laki terlalu tergesa-gesa melakukan penetrasi sedangkan perempuan belum siap, maka bisa terjadi lecet dan perlukaan di dinding vagina. Untuk menghindari rasa nyeri saat berhubungan seksual, sebaiknya kedua belah pihak saling mengerti. Laki-laki jangan tergesa-gesa dan perempuan sebaiknya mempersiapkan diri. Jangan lupa lakukan foreplay (pemanasan) yang maksimal mulai dari yang paling ringan seperti memeluk, mencium, meraba, memijat dan sebagainya. Tetapi yang benar-benar perlu diperhatikan adalah memastikan kembali apakah rasa nyeri itu disebabkan karena masih ada sisa luka dan penyakit di vagina maupun panggul, atau justru karena masalah psikis akibat rasa nyeri yang dialami saat persalinan yang berakibat ke trauma psikologisnya? Ini yang perlu diperiksakan. Yang bisa dimaksimalkan sebelum melakukan pemeriksaan juga adalah
dengan melibatkan pasangan untuk tetap berkomunikasi dan saling memahami permasalahan bersama dan berniat positif untuk memeriksakan diri dan mengatasi masalah ini. Jangan pernah berlama-lama membiarkan perempuan untuk tidak menikmati hubungan seksualnya hingga akhirnya tidak mendapatkan orgasmenya. Perempuan yang tidak mencapai orgasme seringkali memunculkan akibat dan pengaruh negatif ke psikisnya seperti menjadi sering marah, cemas atau gangguan tidur. Komunikasi dengan pasangan, khususnya komunikasi seksual, merupakan faktor penting agar hubungan seksual berlangsung harmonis yang berarti dapat dinikmati oleh kedua pihak, perempuan dan laki-laki. Komunikasi seksual yang baik sebenarnya merupakan juga stimulus awal sekaligus rangsangan yang sifatnya psikis sebelum hubungan seksual berlangsung. Saat diperlukan untuk melakukan konseling khusus dan sex therapy, maka sangat perlu dilakukan dengan melibatkan kedua pasangan, karena sesungguhnya, sekali lagi, permasalahan seksual pada satu pihak tidak pernah terlepas dan teratasi tanpa melibatkan pasangannya.
8
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Mengarahkan Anak “Cerewet” Anak kecil yang suka bertanya dan selalu mau tahu kerap dicap “cerewet”. Orangtua pun kadang kewalahan untuk meladeni berbagai pertanyaan anak. Bagaimana menyikapi anak model ini?
C
erewet dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dan sebagainya); banyak mulut; nyinyir; bawel. Definisi ini lebih mengarah ke hal-hal yang negatif. Orang yang dicap cerewet juga disamakan dengan banyak omong. “Menghadapi anak yang suka bertanya kadang membuat saya terdiam. Pernah anak saya bertanya apakah boleh pakai sepatu warna pink ke sekolah. Padahal dia tahu, aturannya pakai sepatu warna hitam. Sekali waktu dia ngobrol dengan teman kantor saya. Kalau orang melihat dia agak cerewet tetapi menggemaskan,” ujar Bu Iin tentang putri bungsunya. Bu Iin tahu dibalik kecerewetan putrinya ada potensi terpendam. Ada bakat sebagai MC. Hal ini ditunjukkan ketika ia bermain slime sembari berbicara seolah-olah ia menjadi pembawa acara. Sebagai orangtua, ia hanya memperhatikan dan mengarahkan agar bakat putrinya tersalurkan. “Di era keterbukaan ini, informasi bisa ditemui dimana saja. Anak kecil pun bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Namun, karena pola pikir mereka masih terbatas, tidak semuanya bisa diserap. Akhirnya mereka bertanya untuk mendapat penjelasan. Beda dengan zaman dulu. Mau bertanya saja dilarang,” ungkap Hari Imam Wahyudi, S.Psi. Psikolog, CHt. Karena era sudah berubah, orangtua pun ikut mengalami penyesuaian. Orangtua mau tak mau harus cerdas agar bisa mengimbangi anaknya. Minimal, orangtua bisa memberi penjelasan yang masuk akal dan penyampaian juga sederhana. Rasa keingintahuan anak merupkan bentuk dari
kecerdasan dan kekritisan anak untuk menggali informasi. Jika orangtua “gemes” dan malas meladeni keingintahuan, bisa berdampak di kemudian hari. “Anak akan mulai malas bertanya. Muncul rasa khawatir, takut dimarahi, takut keliru, takut ditertawakan. Akumulasi kekhawatiran ini akan terbawa sampai dewasa. Kalau sekarang ada mahasiswa malas atau takut bertanya, bisa jadi dia punya memori yang buruk tentang bertanya. Ini dipendam dari kecil hingga remaja bahkan dewasa,” ujar psikolog yang juga pemain FTV ini. Anak yang banyak bertanya memiliki sisi positif. Kemampuan verbalnya akan terasah. Orangtua hanya perlu mengarahkan “kecerewetan” anaknya. Misalnya, memberi tahu cara bertanya yang baik, cara berbicara yang baik, kapan waktu untuk bertanya dan berbicara, dan ajarkan tentang mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Misalnya, pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Orangtua pun harus paham dunia anak dengan logika yang terbatas. Berikan penjelasan kepada anak dengan sederhana dan mudah dimengerti. Sesekali jadilah anak dalam memberikan penjelasan kepada anak. Bahasa dan penyampaian yang sederhana akan mudah dipahami anak. Sekali waktu buat anak penasaran agar ia mau bertanya lagi Katagori anak yang “cerewet” yang pertanyaannya diulang dan itu-itu saja perlu mendapat perhatian. Jika anak melakukan hal yang samal lagi, orangtua harus membalikkan dengan meminta anak untuk menceritakan lagi apa yang pernah diceritakan dulu. Dalam hal ini, orangtua harus sabar dalam menangani anak.
Foto: www.satuharapan.com
Bunda & Ananda
ROLE MODEL “Orangtua yang membatasi anak dalam bertanya kemudian tidak memberikan jawaban kepada anak membuat anak akan mencari sendiri jawabannya. Anak bisa jadi menerjemahkan sendiri apa yang dia dapat. Kalau dilihat dari sisi positifnya, anak “cerewet” ini perlu untuk mengeksplorasi kemampuannya. Kalau orangtua belum bisa jawab, minta waktu untuk mencari jawaban. Harus legowo menyampaikan. Ini juga proses bagi orangtua untuk belajar. Kita tidak harus tahu tentang semua hal, tetapi belajar bersama itu juga sangat penting. Salah satunya membuat hubungan anak dan orangtua menjadi lebih dekat,” ujar suami Ni Made Trisna Susanti, S.Psi, Psikolog ini. Cerewet sebagai bagian dari kemampuan verbal bisa dikembangkan menjadi hal yang bermanfaat. Misalnya menjadi pembicara, motivator, MC, orator, guru, dan dosen. Hal ini diakui Hari yang semasa kecil banyak
bertanya kepada orangtuanya. “Saya waktu kecil sering bertanya, bahkan dibilang bertanya sampai ke akarakarnya. Ternyata dampaknya setelah dewasa. Saya bisa bisa motivator,” tutur ayah dua putra ini. Bagaimana jika anak tergolong pendiam Ha ri I ma m Wa h y u d i alias tidak cerewet? Kalau ini terjadi, orang- saat anak bertanya, orangtua tua harus introspeksi. Pancing sibuk dan asal jawab. Asal jawab anak untuk bercerita dengan ini, kalau ternyata salah akan mengajukan pertanyaan seperti menjadi preseden buruk di mata apakah sudah makan? Bagaimana anak. Anak pun ketika salah dalam rasa masakan mama? bertanya atau salah menjawab “Tata karma atau sopan san- jangan langsung divonis bersalah. tun tetap harus diperhatikan. Biarkan anak mengeksplorasi Kalau orangtua sedang sibuk, anak kemampuannya,” ujar pengurus sebaiknya menunggu dulu. Atau, Himpunan Psikologi (Himpsi) orangtua yang menunda sebentar wilayah Bali ini. pekerjaan untuk meladeni perta Mengenai tayangan film nyaan anak. Saling menghormati atau sinetron yang berisi tokoh ini sangat penting. Jangan sampai cerewet harus dijelaskan juga oleh orangtua. Sampaikan bahwa apa “Di era keterbukaan ini, informasi bisa ditemui dimana yang ditonton itu hanya akting. Namun, jika di lingkungan tersaja. Anak kecil pun bisa mendapatkan informasi dekat ada yang cerewet, bisa jadi dengan mudah. Namun, karena pola pikir mereka akan menjadi “role model” bagi masih terbatas, tidak semuanya bisa diserap. Akhirnya anak. Cerewet yang kebablasan akan membuat anak menjadi mereka bertanya untuk mendapat penjelasan. Beda pribadi mendominasi dan cenddengan zaman dulu. Mau bertanya saja dilarang” erung kebablasan. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit KAMBING PEMBERANI
Ibu Kambing bersama anaknya sedang asyik makan daun-daunan segar di dalam hutan. Tiba-tiba di sebelahnya berdiri seekor harimau yang hendak memangsanya. “Hai, binatang Made Taro aneh! Kamu pasti tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu! Akulah Harimau, raja hutan ini! Kau telah mencuri daundaunku. Sebagai upah, kau akan kumangsa!” teriak Harimau. “Apa katamu? Kau raja hutan?” gertak Ibu Kambing. Sebetulnya kambing itu amat takut kepada harimau yang bertubuh besar dan kekar itu. Namun demi keselamatan dirinya dan anaknya, timbul keberaniannya. “Kamu pasti tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu!” gertaknya lagi. “Aku adalah kesayangan Dewa Hutan ini. Lihat tandukku yang tajam dan berkilat-kilat! Dan lihat mulutku yang merah ini! Baru saja kumangsa seekor harimau.” Ia maju mendekat sambil mengangguk-anggukkan tanduk dan memperlihatkan lidahnya yang merah karena habis makan daun bergetah merah. Harimau itu ketakutan lalu berlari balik haluan.
Di tengah jalan ia bertemu temannya, si Kera. “Mengapa kau berlari ketakutan, Kawan?” tanya si Kera. “Ada binatang aneh!” kata Harimau terengahengah. “Ia kesayangan Dewa Hutan, tanduknya tajam berkilat, telinganya lebar dan baru saja ia membunuh seekor harimau.” “Ha, ha, ha…!” Kera itu tertawa. “Kamu diolok-olok! Hewan itu namanya si Kambing. Ia hewan nista dan patut menjadi mangsamu. Kalau kamu takut, biar aku yang menghadapinya!” tantang si Kera. Kedua hewan yang bersahabat itu lalu bersamasama datang ke tempat Kambing. Untuk menunjukkan bahwa Kera tidak mengolok-olok Harimau, maka kedua ujung ekornya saling diikatkan. “Nah, ini dia si Kera!” kata Ibu Kambing yang muncul tiba-tiba dari dalam semak-semak. “Terimakasih, Kera! Ternyata kamu tidak ingkar janji. Dalam pertaruhan dulu, kamu berhutang empat ekor harimau. Sekarang kamu baru sanggup membayar satu ekor. Mana tiga ekor lagi?” kata Ibu Kambing dengan tenang. Harimau curiga. Ia menuduh Kera mengolokoloknya. Ketakutannya memuncak, lalu balik haluan, berlari sekencang-kencangnya. Ketika melompati sebuah jurang, ia jatuh terperosok. Mati. Ikut pula si Kera. (Tantri)
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
17
Semarak Gebyar Wirausaha Udayana
G
ebyar Festival Wirausaha Udayana serangkaian Dies Natalis ke-54 Unud didominasi acara khas kewirausahaan. Mulai dari business expo, seminar motivasi, workshop sinematika, kompetisi cashflow games, selling competition untuk siswa SD hingga Pemilihan Duta Wirausaha Muda Udayana. Khusus untuk business expo yang dikemas apik sebagai Unpopular Market, yang menampilkan produk unggulan mahasiswa, alumni, tenant Inkubator Bisnis Unud, dan kelompok kuliner Denpasar Festival. Wakil Rektor IV Prof. I Made Suastra, dalam sambutannya mengatakan, Unud memberi dukungan penuh pada program yang berdampak positif dan langsung
menyasar perbaikan kehidupan masyarakat. Unud secara proaktif dan turut memperluas lapangan pekerjaan melalui penciptaan usaha baru berbasis iptek. Selanjutnya diadakan peluncuran buku ”Derap Langkah Wiarusaha Udayana” serta peluncuran produk mahasiswa dan alumni Unud yang tergabung dalam Udayana Young Entrepreneur Community. Produknya meliputi: SINTASK yaitu aplikasi berbasis web dan mobile untuk produktivitas pelaksanaan tugas pelajar, mahasiswa, dan pegawai yang dihasilkan tim dari Ilmu Komputer FMIPA Unud; FindMedic, berupa aplikasi berbasis web dan mobile untuk pencarian layanan kesehatan yang dimotori Oka Abhina Amitabha, Buku Cerita Anak Hindu Bali (Rindu Bali) dihasilkan
Suasana di areal Selling Competition
Duta Wirausaha Muda Unud tahun 2015 dan 2016 bergambar bersama Sutrisna Dewi, Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud
oleh Chandra Maheswari dan tim dari FISIP Unud; dan Aplikasi akuntansi ERZAP oleh Riza, alumni Teknik Elektro Unud. Menurut Sayu Ketut Sutrisna Dewi, Ketua Pelaksana Gebyar Wirausaha Muda Udayana sekaligus Ketua Pusat Pengembangan Kewirausahaan Unud, ”Buku Derap Langkah Wirausaha Muda Udayana”, berisikan kisah perjuangan 15 wirausaha muda mahasiswa dan alumni Unud terpilih dalam berjibaku membangun bisnis mereka masing-masing. ”Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengembangkan sikap mental wirausaha dan juga bagi para pendidik dan pembina
wirausaha melakukan pendampingan usaha,” ujarnya. Aroma bisnis yang ada di Gebyar Festival Wirausaha nampak semakin kental dengan diadakannya penandatanganan MoU oleh Rektor Unud Prof. I Ketut Suastika dan Ketua Umum Kadin Bali. AA Alit Wira Putra. Sinergi antara Unud dengan Kadin Bali diharapkan akan melahirkan SDM Bali yang berdaya saing. Dalam waktu dekat Unud akan memfasilitasi pertemuan dan kerjasama perdagangan antara pengusaha Bali yang dikoordinir Kadin Bali dengan pengusaha Timor Leste yang dikoordinir Chamber of Commerce and Industry (CCI) Timor Leste.
Selanjutnya dalam Pemilihan Duta Wirausaha Muda Udayana. Terpilih sebagai pemenang tahun 2016 dr. I Putu Wirama, S.Ked (owner AMS Medika) dan I Putu Arik Saputra Jaya (owner Juragan Computer). Duta Wirausaha ini bertugas membantu penyebarluasan virus kewirausahaan bagi sivitas akademika Unud dan mewakili Wirausaha Muda Unud dalam berbagai kegiatan kewirausahaan di luar kampus. Sutrisna Dewi menegaskan, wirausaha sebaiknya dibentuk dan diberikan pendidikannya sejak dini. Karenanya tahun ini digelar Selling Competition alias lomba berjualan antar siswa SD se-Kota Denpasar. Peserta lomba yang membludak menunjukkan bahwa sekolah memberi respons positif terhadap kegiatan kewirausahaan. “Dewan juri menilai tentang penataan barang, kerjasama tim, pemahaman produk, keterampilan komunikasi dan negosiasi, pencatatan dan perhitungan hasil usaha,” tegasnya. U����������������������� ntuk meningkatkan efektivitas pengembangan kewirausahaan, dosen Berprestasi Unud 2016 ini mengembangan sinergi BIG menjadi sinergi yang diberi nama BIG FaCoM. Sinergi ini melibatkan 6 unsur yaitu Business, Intellectual, Government, Family, Community, dan Media. Sinergi BIG FaCoM, sudah dikenalkan pada tahun 2011, melalui kerjasama dengan Bupati dan Wali Kota se-Bali dalam bentuk roadshow kewirausahaan. –Sri Ardhini
Rai Mantra dan Jaya Negara
Ucapkan Selamat Galungan dan Kuningan
Rabu (7/9) yang bertepatan dengan Wuku Dungulan, segenap umat Hindu sedharma akan merayakan Hari Suci Galungan, dan pada Sabtu (17/9) wuku kuningan juga akan merayakan Hari Suci Kuningan. Setiap kali kita merayakan hari suci keagamaan, selalu membawa pesan tersendiri bagi kita. Secara umum pesan itu mengingatkan agar kita melihat catatan perjalanan ke belakang (mulat sarira), mengevaluasi seberapa jauh langkah kita yang telah sesuai dengan dharma, baik dharmaning agama maupun dharmaning negara. Melalui mulat sarira, kita mampu menyusun dan merencanakan kehidupan masa depan yang lebih baik, lebih sejahtera dan lebih damai. Demikian diungkapkan Wali Kota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra didampingi Wakil Wali Kota Denpasar, I.G.N Jaya Negara di kantornya. Lebih lanjut Rai Mantra mengatakan, bahwa makna kemenangan dharma melawan adharma pada masa kini haruslah diterjemahkan sebagai upaya dan tekad untuk secara berkesinambungan berkarya guna meningkatkan kualitas kehidupan yang seimbang antara material dan spiritual untuk mencapai kebahagiaan dengan selalu berpijak kepada ajaran Dharma (agama Hindu) seperti Dharma, Artha, Kama, dan Moksah. Dengan demikian lan-
jutnya, kita akan bisa hidup damai dalam kebhinekaan, modernisasi, globalisasi melalui saling toleran saling menghargai saling mendukung satu sama lain serta tidak bertentangan atau bersinggungan dengan yang lainnya. Pada zaman kini perkembangan teknologi informasi akan membawa dampak semakin intensnya interaksi sosial, budaya, ekonomi, politik seantero dunia (globalisasi). Menghadapi perkembangan ini kita harus
membekali diri melalui peningkatan sradha dan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita tidak akan larut atau tergerus serta kehilangan jati diri. Perkembangan teknologi informasi haruslah memberikan manfaat dan ditatap sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dengan demikian kita akan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai media dalam pencapaian citacita hidup berbahagia. Hal ini sejalan
dengan program Smart City Kota Denpasar yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Denpasar melalui pemanfaatan teknologi informasi, pemanfaatan SDM dan pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Senada dengan hal tersebut, Wakil Wali Kota, I.G.N Jaya Negara menambahkan bahwa perkembangan teknologi informasi jangan justru membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Oleh karena itu kita harus bijak menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai masyarakat yang bahagia. Momentum perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan ini hendaknya dijadikan satu titik tolak untuk menjadikan masa depan yang lebih baik, lebih berkualitas dan mampu mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Rai Mantra dan Wakil Wali Kota Jaya Negara menyampaikan ucapan Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa Asung Kertha Wara Nugraha kepada kita sekalian dalam pengabdian kita sesuai dengan swadharma kita masing-masing. Seraya mengajak seluruh masyarakat Kota Denpasar merayakan Hari Suci Galungan dan Kuningan dengan penuh rasa bhakti dan menjaga keamanan serta ketertiban lingkungan masing-masing. (humas)
18
Edisi 918/12 - 18 september 2016
Mengoleksi benda-benda tua rupanya menjadi sebuah hobi unik. Hal ini terbukti dengan keberadaan sebuah komunitas pecinta sepeda tua yang merupakan kumpulan orang-orang penghobi barang-barang jadul. Sejak berdiri pada tanggal 8 Agustus 2008, Buleleng Onthel Club (BOC) memiliki visi dan misi ikut memelihara dan melestarikan warisan cagar budaya. Dengan menggunakan sepeda onthel yang ramah lingkungan, BOC ikut membantu program pemerintah dalam rangka mengurangi polusi udara.
M
enurut Jro Made Sudantha, menggunakan sepeda onthel memiliki manfaat yang banyak di antaranya mengurangi polusi, mengirit bahan bakar, dan kepentingan olah raga. Bahkan, pecinta sepeda tua di Buleleng saat ini sudah mencapai 70 anggota yang dari awal hanya 15 orang. “Saya sendiri sudah masuk KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia),” jelasnya. Untuk
b u l C l e h t n O g n e l e Bul
Life
Penyaluran Hobi Positif dapat masuk dalam anggota BOC, Jro Sudantha mengatakan tidak terbatas usia hanya saja yang terpenting memiliki sepeda jadul. “Kalau yang dimiliki sepeda zaman kini saya sarankan ikut komunitas yang lain,” ungkapnya. Meskipun peminat kebanyakan orang-orang yang usianya lebih tua, namun anggota dari remaja juga tidak kalah banyak. “Kami di BOC ingin menggiring anak-anak muda agar hobi yang dimiliki dibawa ke halhal yang bermanfaat,” paparnya. Pria yang menjabat sebagai bendahara BOC ini juga mengatakan kegiatan rutin setiap minggu para anggotanya adalah bersepeda keliling kota. “Biasanya kami nongkrongnya di Pelabuhan Buleleng, itu juga merupakan tempat jadul,” tambahnya. Jika dulunya rute perjalanan di ujung barat hingga ke Pulaki dan ujung
Anggota BOC
s e r d n o Susik B
Makin Ditiru Makin Bangga
Setiap profesi, mendapat peran yang tanpa terkecuali pasluar biasa. Meskipun ti memiliki kelebidengan wajah pashan dan kekurangan. pasan saya mendapat Begitu juga dengan peran Rama, entah dunia seni yang kaapa yang dilihat,” dangkala dipandang ungkapnya dengan sebelah mata oleh penuh antusias. Unmasyarakat sehtuk mengasah keingga menyudutkan mampuannya ia pun individu yang memimengikuti kegiatan lih profesi ini. Akan ekstrakurikuler ketetapi berbeda haltika masuk SMP, bahnya dengan Drs. I kan ketika duduk di Made Ngurah Sadika bangku SMA untuk yang telah jatuh cinpertama kalinya ia ta terhadap seni tari masuk di TV. “Pada Drs. I Made Ngurah Sadika sejak kecil. Darah waktu itu tergabung seni sudah mengalir dalam tubuhnya dalam sendratari SMA 1 Singaraja dan ketika ia duduk di bangku Sekolah SMA TP, dari sanalah lebih banyak Dasar (SD). pergaulan dan tahu tentang seni tari Pria yang lebih dikenal dengan meskipun belum tahu banyak mennama Susik Bondres ini mengaku genai berkesenian,” imbuhnya. jika ia mulai tertarik dengan seni Lulusan Pendidikan Geografi FKIP tari ketika mengikuti grup janger di Unud tersebut juga menambahkan desanya. “Saat itu juga saya pernah ketika memasuki bangku perkulia-
BOC melakukan rutinitas keliling kota
timur hingga Ponjok Batu namun saat ini para anggota hanya menempuh rute di dalam kota saja. “Ya karena faktor usia jadi tenaga kami tidak kuat menempuh rute yang terlalu jauh,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa berdirinya BOC bertujuan untuk menyalurkan hobi ke hal-hal yang positif. “Kami bukan sekadar hobi, tetapi juga menghibur dan menjalin rasa kekeluargaan sesama anggota dengan jalan-jalan bareng dan bahkan sembahyang bersama,” lanjutnya. Pria kelahiran 18 Maret han dirinya semakin berani mengikuti berbagai macam kegiatan seni. Tidak hanya seni tari bakatnya juga merambah seni tabuh. “Namanya juga kampus, saya banyak dilibatkan dalam berbagai acara,” jelasnya. Dari berbagai jenis kesenian yang pernah ia lakoni, pria kelahiran 22 Agustus 1964 tersebut memfokuskan pada seni topeng. Hal ini dikarenakan prosfeknya yang lebih menjanjikan, sebab di Bali rentetan kegiatan upacara keagamaan tidak akan pernah usai. “Kalau dunia tari dibatasi o l e h performance, sedangkan tari topeng tidak dibatasi oleh usia karena wajah sudah tertutup topeng,” jelasnya. Dikatakan juga, pertama kali memasuki dunia seni bondres hanya berlandaskan keinginan untuk ngayah. Hasil pentas dari panggung ke panggung hanya evaluasi yang dijadikan bahan untuk memperbaiki penampilan berikutnya. Masuk ke dalam grup Dian Pesona yang merupakan grup bentukan dari kantor Penerangan (Kominfo) bertugas untuk menyosialisasikan hal-hal penting ke masyarakat. Bubar dari grup Dian Pesona,
1962 tersebut juga menambahkan kendala dalam perekrutan anggota adalah kepemilikan sepeda tua. “Banyak yang mungkin ingin bergabung tetapi bingung untuk mendapatkan sepeda tua,” jelasnya. Bahkan jika ingin mendapatkan sepeda dengan cara membeli, seseorang harus merogoh kocek hingga Rp 20 juta untuk sepeda tua dengan merek terbaik. “Saya sendiri pernah menjual sepeda dengan harga Rp 6 juta,” ucapnya. Saking cintanya dengan sepeda tua, Jro Sudantha bahkan pernah keliling Bali hingga masuk ke pelosok-pelosok desa untuk memburu sepada tua. Bahkan tidak jarang sepeda yang didapat dalam keadaan tidak utuh hanya sebagaian dari kerangkanya saja. Akan tetapi hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk mengoleksi lebih banyak sepeda tua. “Di Denpasar ada toko pernak pernik sepeda tua dan saya selalu berkunjung ke sana,” imbuhnya. Ia sangat berharap ke depan keberadaan komunitas BOC tersebut dapat diperhatikan oleh pemerintah. “Ya kami melakukan pendekatan dengan bapak Bupati dan sedikit demi sedikit sudah mulai memandang keberadaan kami,” pungkasnya. -Wiwin Rapat boc dirinya masuk dalam sanggar Dwi Mekar yang dipimpin oleh Durpa. “Di sana saya banyak digembleng untuk mendapatkan karakter yang pas,” ungkapnya. Hasil pembelajarannya di sanggar Dwi Mekar ia menemukan karakter Susik yang sok cantik, sok pintar dan sok manja. “Karakter ini juga masiih perlu saya pelajari sebab setiap saat terjadi perubahan baik dari audiensi, situasi, dan kondisi,” tambahnya. Suami dari Ni Luh Rening ini juga melihat jika banyak seniman-seniman muda yang sangat berbakat sehingga ia memberikan kesempatan kepada seniman tersebut untuk berkarier. “Akh-
irnya saya mendirikan sanggar sendiri yang diberi nama Sanggar Susik Bondres,” lanjutnya. Pria yang berasal dari Desa Panji ini mengaku jika dalam grupnya terdiri atas 4 orang yang direkrut dari kesamaan visi dan misi yang tentunya juga memiliki bakat seni. Sampai saat ini pihaknya merasa jika kesulitan dalam
mengatur jadwal pentas. “Bukannya kami terkenal tetapi banyak dilirik masyarakat sehingga kadang-kadang ada jadwal yang bersamaan. Untungnya masih bisa di atur,” jelasnya. Munculnya banyak grup bondres saat ini sangat diapresiasi olehnya sebab dapat menumbuhkan kreativitas masyarakat. Akan tetapi dengan banyaknya muncul karakter yang menyerupai karakter Susik, ia menanggapi dengan santai. “Semakin banyak yang meniru, saya malah semakin bangga karena posisi saya juga akan semakin di atas,” tambahnya. Ia sangat yakin tetap bisa mempertahankan eksistensi apabila terus belajar. “Sebenarnya itu hal yang gampang-gampang susah, harus terus mencari apa yang menjadi trend saat ini di
ma sya raka t sehingga lawakan yang dibawa inovatif dan komunikatif,” paparnya. -Wiwin
Story
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
7
Uang Kiriman Jadi Rumah dan Sawah Berawal dari kekecewaan pada suaminya yang banyak menyakiti, baik fisik maupun batin, tahun 2000, Tumini (50), pergi meninggalkan kampung halamannya di Pulau Sumbawa untuk menjadi TKW ke Malaysia dan Saudi Arabia. Kala itu, Tumini memiliki empat anak yang masih kecil dan memerlukan biaya hidup termasuk yang utama untuk kebutuhan sekolah. “Anak sulung saya waktu saya tinggal itu masih sekolah di SMP, lalu dua orang SD dan yang bungsu TK,” kata Tumini.
M
elihat keempat buah hatinya itu, Tumini berpikir keras untuk dapat membiayai sekolah mereka. Ia sempat membuka dagangan kecil-kecilan di teras rumahnya untuk biaya hidup sehari-hari sejak ditinggalkan oleh suaminya yang menikah lagi. Sejak suaminya pacaran dengan perempuan yang dikenal umum suka mengganggu rumah tangga orang lain, sesungguhnya rasa sakit hati yang dirasakan Tumini sesak hingga ke ubun-ubun. Beberapa kali ia harus melabrak perempuan tersebut saat berduaan dengan suaminya. “Saya jadi orang yang kehilangan rasa malu saat harus bertengkar di pasar, di pinggir pantai hingga di kampung-kampung,” ujar Tumini yang kini menyadari kebodohannya karena sempat mempertahankan matian-matian suami yang kini dianggapnya tidak berguna itu. Sebagai seorang perempuan, jelas Tumini marah pada perempuan lain yang merebut suaminya itu. Menurutnya, perempuan itu tidak tahu malu karena sepertinya selalu ingin membuat gara-gara dengannya. “Perempuan itu kerap lewat depan rumah saya dengan sengaja,” kata Tumini. Meski hanya sekadar lewat, itu menjadi ‘teror’ tersendiri bagi Tumini. Sepertinya hubungan suaminya dengan perempuan yang senyatanya tidak lebih cantik dari dirinya itu, sudah tidak terbendung lagi. Melihat kondisi dan keadaan perempuan itu, selain tidak lebih cantik dari dirinya, perempuan itu juga dikenal sebagai perempuan yang ‘nakal’, Tumini menduga suaminya kena guna-guna. Karena sejak berhubungan dengan perempuan itu, suaminya jarang pulang dan uang bulanan termasuk untuk anak-anaknya semakin berkurang. Sampai akhirnya suaminya yang berprofesi sebagai supir truk itu menikahi perempuan tersebut, ia dan anak-anaknya dibuat terlantar tanpa nafkah. Rasa sakit dan kecewa yang luar biasa membuat Tumini kerap bertindak di luar logika untuk menumpahkan kekesalannya. Suatu hari, kenangnya, ia bertindak seperti orang kehilangan akalnya. Seperti biasa, sebelum suaminya
berangkat keluar daerah, Tumini menyiapkan pakaian suaminya. Tibatiba tercetus dalam benaknya ingin melakukan tindakan untuk membuat suaminya kapok. Dengan sebuah blender, Tumini menghaluskan cabe dan memeras air cabe tersebut lalu dipakainya untuk merendang pakaian dalam suaminya. Kemudian ia keringkan lalu disetrikanya. Ketika suaminya mengganti pakaian di salah satu kota di Pulau Jawa, barulah terasa panas dan membuat suaminya mengerang kesakitan. Begitu mendapatkan telepon dari suaminya, Tumini mengatakan ia sengaja melakukannya agar ada rasa kapok. “Biar kamu kapok,” ungkapnya. Tumini sudah tidak takut lagi jika harus bertengkar dengan suaminya. Namun, itu tidak membuat suaminya kapok. “Malah begitu pulang ia langsung kawin dengan perempuan itu,” ujarnya. Sejak itulah, ia dan akan-anaknya kehilangan perhatian dan nafkah. Suaminya itu lebih sibuk mengurus istri dan anak-anak barunya. Hasil jualan kecil-kecilan di teras rumahnya tentu saja tidak mencukupi untuk biaya hidup mereka. “Saya putuskan pulang ke Lombok,” ungkapnya. Dengan menyewa truk, ia mengangkut barang-barang (isi rumahnya) bersama empat orang anaknya, Tumini meninggalkan Pulau Sumbawa untuk pulang ke Lombok. Bisa dibayangkan kerepotan yang dialami Tumini dengan keputusannya ini. Setiba di rumah orang tuanya di Lombok, Tumini menerima telepon dari suaminya yang marah-marah karena ditinggalkan tanpa pemberitahuan. “Kami bertengkar lewat telepon,” katanya. Namun Tumini tidak lagi peduli. Itulah terakhir kalinya Tumini menganggapnya sebagai suami karena setelah itu Tumini membiarkan hubungan dengan suaminya itu berakhir begitu saja. 16 tahun tidak bersama, baginya ia merasa telah mengakhiri semua hubungan dengan suaminya. Saat melihat anak-anaknya membutuhkan biaya, Tumini yang lulusan SMA itu memutuskan pergi merantau sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia. Ia beruntung karena memiliki majikan yang sangat baik sehingga ia menjalani pekerjaan dengan baik dan dapat menghasilkan uang yang kemudian dikirim ke kampung halamannya untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang ditinggalkan bersama orang tuanya. Empat tahun di Malaysia, Tumini berangkat sebagai TKW juga ke Timur Tengah. Ia menjadi TKW selama empat tahun. Lalu ia berhenti menjadi TKW setelah anak-anaknya berhasil menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang SMA. “Alhamdulillah, anak-anak saya selesai sekolahnya semua,” ujarnya. Kini, empat anaknya kemudian mengikuti jejaknya menjadi TKI (seorang TKW). Kehidupan mereka lumayan baik, karena Tumini mengatur uang kiriman anak-anaknya ke kampung dengan sangat baik. Sedikit demi sedikit ia membangunkan rumah untuk masing-masing anaknya
sesuai dengan kiriman mereka. Ada pula yang dibelikan sawah untuk bekal mereka kelak. “Saya tahu bagaimana susah dan beratnya mencari rezeki di negeri asing, dan saya tidak mau anak-anak saya kelak mengalami nasib seperti saya,” katanya. Apa yang dialami Tumini adalah pelajaran berharga terutama bagi dirinya. Atas kerja kerasnya memberikan kasih sayang perhatian pada anak-anaknya, kini membuahkah anak-anak yang juga perhatian padanya. “Mereka kerap mengirim uang untuk kebutuhan saya,” ujarnya. Rupanya anak-anaknya mengerti bagaimana beratnya perjuangan ibunda mereka untuk dapat menyekolahkan mereka sampai-sampai mereka melupakan ayahnya. Tumini sering mengingatkan anak-anaknya untuk mengirimkan uang bagi ayah mereka yang kini tidak lagi kuat untuk bekerja seperti dulu. “Mereka selalu jawab, waktu kami membutuhkan ayah, ke mana dia selama ini. Dia (ayahnya) hanya peduli pada anak-anak barunya,” ungkap Tumini tentang jawaban anakanaknya. Kalau sudah begitu, Tumini hanya bisa diam meski ia sesekali terus mengingatkan anak-anaknya pada ayah mereka. -Naniek I. Taufan
tkh/yudi
PKK Denpasar Serahkan Piagam Penghargaan
TP PKK Kota Denpasar menyerahkan piagam penghargaan kepada AstraDaihatsu. Penyerahan dilakukan Wakil Ketua TP PKK Denpasar Ny. Antari Jayanegara kepada Kepala Cabang Astra Daihatsu Denpasar Tulus Pambudi di sela-sela peresmian outlet Daihatsu Ngurah Rai-Tuban, Jumat (9/9). Dalam kesempatan tersebut Ny. Antari Jayanegara memaparkan bantuan CSR yang diterima dari Astra Daihatsu antara lain moci, bantuan modal, alat permainan edukatif, serta bibit pohon. Ke depan, istri Wakil Wali Kota Denpasar ini berharap sinergi yang sudah terjalin bisa terus ditingkatkan. –Ngurah Budi
BRI Gencarkan Sosialisasi Uang Elektronik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Denpasar terus berupaya mengedarkan produk uang elektroniknya, Brizzi dan Toll Card guna mendukung program pemerintah menuju cashless society. Hal ini diungkapkan M. Fankar Umran, Pemimpin Wilayah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Denpasar dalam acara temu wartawan, Senin (5/9). Ia menegaskan pihaknya terus mempromosikan serta mensosialisasikan uang elektronik kepada masyarakat luas baik melalui kegiatan edukasi maupun event-event di Bali. Tahun 2016, BRI Kanwil Denpasar mendapat jatah 205 ribu kartu uang elektronik dari pusat. –Ngurah Budi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Minat konsumen untuk menikmati konten digital terus berkembang. Salah sa tunya tren yang berkembang adalah konten digital yang mengarah ke teknologi virtual reality (VR). Lenovo pun memanfaatkan peluang ini dengan teknologi Lenovo Vir tual Reality (LVR). Teknologi ini dibenamkan dalam smartphone yang dapat dijangkau semua kalangan.
Miranda Vania Warokka
Dorong Industri Kreatif Berbasis VR produk smartphone yang berteknologi VR, pihaknya juga berkomitmen membantu pengembangan konten, aplikasi, dan games berbasis teknologi VR di Indonesia. “Dukungan ini tak lepas dari banyaknya pengembang lokal yang memiliki talenta dan
“D
ulu VR iden tik dengan teknologi premium karena hanya bisa dinikmati konsumen yang membeli smartphone high-end dengan VR Glasses yang harg anya cukup mahal. Kini kami punya komitmen untuk men desain smartphone terdepan yang memenuhi kebutuhan konsumen dengan tingkat harga yang sangat ramah di kantong. Istilahnya VR for everyone,” ujar Miranda Vania Warokka, MBG Marketing Manager Lenovo Indonesia dalam acara “Media Briefing and Talkshow TheaterMax Technology & Virtual Reality with Lenovo Smartphone” di Denpasar. Perempuan yang akrab disapa Miranda ini me nambahkan, selain me nawarkan
Woman on Top
Miranda bersama Naren da Wicaksono, founder Dicoding.com
minat untuk mengembangkan konten, aplikasi, dan games VR untuk smartphone,” tegasnya. VR adalah teknologi yang membuat pengguna dapat ber interaksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam ima jinasi. Teknologi ini da lam perkembangannya tidak hanya dipakai untuk hiburan dan games. Be berapa developer di luar negeri sudah memanfaat kan teknologi ini untuk membantu bidang kedok teran, militer, arsitektur, dan pendidikan. Salah satu pihak yang digandeng oleh Lenovo untuk pengembangan VR lokal adalah Dicoding.com. Mereka bekerjasama da lam lomba pengembangan games VR. Program lain yang digulirkan adalah Le novo Developer Scholar ship. “Lenovo memberikan beasiswa senilai total Rp 100 juta untuk 500 siswa belajar dan berhasil lulus dengan nilai terbaik di Dicoding Academy.
Program ini merupakan wujud kepedulian Lenovo Smartphone untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas para pengembang ap likasi dan games local. Nantinya 500 siswa yang lulus akan menda patkan beasiswa dalam bentuk poin yang dapat mereka gunakan untuk mengembangkan aplikasi atau games yang mereka cip takan,” jelas Miranda. Dicoding Academy sendiri menurut Naren da Wicaksono, founder Dicoding.com adalah program yang diikuti lebih dari 8000 developer. Mereka belajar teknologi pemrogra man terbaru dengan kurikulum yang dibangun bersama perusahaan teknologi dunia seperti Intel, Microsoft, dan Google. Tiap peserta yang berpartisipasi mendap atkan code review dari devel oper terbaik Indonesia. Saat ini Dicoding Academy telah menghasilkan lebih dari 900 alumni yang bekerja di ber bagai perusahaan teknologi atau sebagai co-founder startup digital. Miranda menegaskan bentuk-bentuk dukungan dari Lenovo bertujuan mendorong pengembangan
konten lokal dan aplikasi An droid lokal berbasis teknologi VR serta mendorong industri kreatif di tanah air. –Ngurah Budi
KEMENANGAN Salam Senyum, …… hidup ini.. adalah sebuah kemenangan.. kita memang terlahir untuk menang.. some will win. Some will lose.. and its your turn now to choose.. Lagu itu yang dinyanyikan oleh pemenang sebuah ajang pencarian bakat “Indonesian Idol” Regina di tahun 2012. Dan, itu salah satu lagu favorit saya terutama ketika membakar semangat para peserta pelatihan. Sengaja saya mengisi rubrik ini dengan tema “Kemenangan”, karena umat Hindu sedang merayakan Hari Raya Galungan yang bermakna Hari “Kemenangan Dharma melawan Ad harma” (kemenangan kebaikan melawan kejahatan) di minggu ini. Hubungan kemenangan dengan layanan seperti apa ? … Pembaca setia Dhani’s Art in Service, beberapa tulisan saya terdahulu pernah membahas tentang Pemenang dalam Layanan atau bahasa kerennya “Service Winner”. Kali ini saya akan membahas lebih dalam, seperti apakah yang dinamakan Kemenangan dalam layanan. Dari beberapa referensi dan literatur yang saya baca juga dari pengalaman puluhan tahun bekerja di dunia jasa inilah sebenarnya pemenang dalam layanan. Yang pertama adalah saya sebut dengan “MEREKA YANG MEMILIKI AT TITUDE YANG POSITIF DAN PRIBADI YANG MENY ENANGKAN”. Banyak saya lihat kejadian sesungguhnya yang berlawanan dengan apa yang saya maksud. Ketika seorang pelayan jasa yang bermanis-manis di depan pe langgan tetapi di balik itu dia sesungguhnya punya attitude yang kurang baik bahkan menjadikan teman-teman di sekelilingnya merasa kurang nyaman dengan keberadaan nya. Maka dia bisa dikategorikan pelayan yang hanya ber topeng. Atau lebih tepatnya bermuka dua. Heheheheh…
sebaiknya orang-orang de ngan kategori seperti ini kita “bersihkan” dulu hatinya agar aura yang muncul kelihatan positif sehingga secara alami dapat membuat pelanggan
menyukainya. Kemudian yang kedua apa ya… ?? Pemenang dalam layanan yang kedua adalah “MEREKA YANG SECARA SUNGGUH-SUNGGUH MENIKMATI BEKERJA DEN GAN DAN UNTUK ORANG LAIN”. Naaaahh.. untuk hal ini saya sering menemukan juga “Keterpaksaan” seseorang yang bekerja sebagai pelayan. Alasannya banyak,.. ada yang karena belum mendapat pekerjaan yang pas sesuai hatinya. Ada juga yang beralasan karena keinginan orangtuanya. Bahkan ada juga yang beralasan karena belum diizinkan “resign”/pensiun oleh perusahaannya. Sebenarnya dalam hal ini ada juga disebabkan oleh rasa ego jabatan yang tinggi. Dimana yang dinikmatinya hanya berupa fasilitas, gaji, kedudukan dan lain-lainnya yang berhubungan dengan sifat egois duniawi dari ma nusia. Bisa dibayangkan kalau seorang pelayan seperti ini, bagaimana dia melayani pelanggan. Hari-harinya hanya dipenuhi keterpaksaan, dan tentu melayani hanya ber dasarkan IF/BECAUSE. (masih ingat dengan tulisan saya tentang “Behavior” dan budaya layanan?). Selanjutnya kita ke pemenang layanan yang ketiga yaitu, “MEREKA YANG MAMPU MENEMPATKAN PE LANGGAN PADA TITIK SENTRAL”. Hal ini sangat didukung oleh manajemen dari perusahaan atau instansi setempat. Dari pengalaman menjadi trainer di perusahaanperusahaan, banyak visi dari perusahaan tersebut yang tidak menempatkan pelanggan sebagai hal yang terde pan. Alasannya berbagai macam. Ada yang merasa kalau perusahaannya merupakan sebuah “Kerajaan Monopoli”, jadi pelanggan itu pasti akan datang dengan sendirinya. Atau ada juga yang merasakan kalau pelanggan itu sudah dibuatkan produk yang bagus sehingga pelayanan kepada pelanggan malah terabaikan. Masih ingat dengan salah satu Quote “Mahatma Gandhi” yang salah satunya menyatakan
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
bahwa “Pelanggan adalah tamu terpenting bagi kita. Dia tidak bergantung kepada kita tapi kitalah yang bergantung kepada mereka”. Kalau sudah berpikir dan bertindak seperti ini, saya yakin Pelanggan itulah yang menjadi titik sentral dalam layanan di perusahaan itu. Yang terakhir dari pemenang layanan adalah “MERE KA YANG MELIHAT PEKERJAAN UTAMANYA BER HUBUNGAN DENGAN MANUSIA”. Membahas point yang keempat ini kita lebih tekankan berhubungan dengan manusia (bukan binatang). Kenapa saya lebih tekankan hal tersebut? Seperti kita ketahui bersama, bahwa manusia adalah salah satu mahluk ciptaan Tuhan yang dibekali dengan akal budi dan pikiran. Jadi sudah sepantasnyalah seorang pelayan itu menyadari bahwa yang dia layani adalah hubungannya dengan perasaan dan akhlak (peran gai).Kita bisa umpamakan dengan bahasa yang kita pakai untuk melayani pelanggan. Sudahkah kita menggunakan kata-kata yang dirangkai dalam kalimat yang terlontar yang dapat menyenangkan pelanggan kita (magic word)?. Apakah bahasa tubuh kita sudah menunjukkan perangai yang budiman kepada pelanggan kita? Banyak yang belum menyadari, bahwa kata-kata yg menyakitkan akan lebih tajam dari mata pisau. Dan luka yang ditimbulkan akan membekas di hati pelanggan. Pembaca setia Dhani’s Art in Service, dari keempat uraian tadi, kita tentunya akan berlomba untuk untuk menjadi Winner/pemenang dalam layanan. Dan ketahuilah bahwa kunci bisnis yang sukses adalah dengan melaku kan pelayanan terhadap pelanggan dengan hebat (Ken. Blanchard 2016). Marilah kita menjadi pelayan yang membuat KEMENANGAN DI HATI PELANGGAN. Ingin lebih dalam mengupas serta contoh riil dan cara melakukannya? Silahkan hubungi manajemen kami, dan kami siap untuk membantu. Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan .. saatnya Kemenangan Dharma melawan Adharma… Salam 3SP, Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com
19
Teater dalam konstelasi kesenian Jawa Timur (Jatim) memiliki spirit pencarian panjang, setelah era konvensional. Pada 1970-an dengan tumbuhnya kantong-kantong teater, di Jatim bergerak memasuki pencarian teater non konvensional, eksperimen, tubuh. Bahkan teater Jatim sampai pada pemahaman tidak sekedar mengekspresikan teks sebagai pijakan aktualisasinya. Teater non lakon yang berpijak pada tema mewarnai daftar pencarian panjang perteateran Jawa Timur, di era 1990-an.
Miranda Vania Warokka
6
Jambore Teater Jatim 2016 “J
ambore Teater Jatim 2016 adalah kelanju tan visi komite teater Dewan Kesenian Jatim dalam memoti vasi peningkatan kualitas pelaku teater untuk menemukan ke mungkinan baru. Baik bentuk maupun etos kreatifnya,” kata komite teater Dewan Kesenian
Jatim, Deddy Supriadi, yang akrab dipanggil Obeng, pekan lalu. Teater Kotemang Kab Sume nep yang memiliki akar ke berangkatan dari pola kesehar ian mereka di pondok pesant ren, disinyaIir memiliki potensi besar bagi alternatif lazimya kemungkinan baru dalam bentuk
pertunjukan teater yang ber beda. Sedangkan LAF (Lidi Art Forum) Kab. Mojokerto yang berbasis komunitas menawar kan ruang berekspresi dengan pendekatan persoalan persoalan di masyarakat sebagai pemba caan altenatif gagasan bentuk dan aktualisasinya. -Dona
alat bermain perkusi,” kata Sug eng, pekan lalu. Ia melakukan eksperimen selama dua minggu dalam menciptakan bedug ber sama temannya. Setelah dicoba, disetel dengan baik, akhirnya menemukan suara bedug yang tidak jauh beda dari bedug asli yang terbuat dari kayu maupun drum besi. “Bedug yang terbuat dari kar
ton ini, jadi ringan bila diangkat dan lebih feksibel jika dibawa motor. Harganya juga jauh lebih murah dan lebih terjangkau,” imbuhnya. Dengan terciptanya bedug dari karton ini, Sugeng merasa bisa mengurangi dampak lingku ngan untuk pemotongan pohon yang sayang jika nantinya hanya digunakan sebagai bedug. -Dona
Alat Perkusi dari Bahan Daur Ulang Banyak orang kreatif mencip takan sesuatu yang baru dari ba han daur ulang. Hal itulah yang di lakukan satu guru ekstrakurikuler perkusi dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dr. Soetomo Surabaya, Sugeng Ribowo. Pria yang akrab disapa Sugeng ini menemukan ide menarik den
gan membuat alat perkusi yang mudah dibawa murid-muridnya. Ide kretif itu itu muncul saat dia melihat banyaknya drum karton yang sudah dibuang di tempat pembuatan akhir (TPA) oleh pe rusahaan maupun produsennya. Drum karton yang biasa diguna kan mengangkut bahan pupuk
dan alat pengolahan menjadi salah satu yang menarik. “Saya kepikiran membuat bedug perkusi karena banyak bahan dari drum karton yang sayang jika dibuang. Apalagi di TPA cuma diambil besi-besi sampingnya yang akhirnya meng gunakan drum karton itu sebagai
20
Nine
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Wajibkan Bumil Tes IVA
Inspirasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Putri Handayani
Keluar dari Zona Nyaman
Kanker serviks merupakan pembunuh perempuan nomor satu di dunia dan di Indonesia. Karena itu, Tim Penggerak PKK NTB secara konsisten konsen untuk membebaskan perempuan NTB dari kanker leher rahim ini.
Meraih prestasi tentu suatu kebanggaan. Berkat tekun dan kerja keras, prestasi mampu diraih. Mengukir prestasi mampu membuat diri semakin berkualitas dan semakin membuka peluang baru untuk masa depan. Tidak jarang, kaum muda banyak yang meraih prestasi di tingkat provinsi maupun nasional. Mereka tentu pantang menyerah untuk mengasah kemampuan dan mempersembahkan karya terbaik bagi bangsa Indonesia.
S
elain gencar melakukan sosialisasi, dalam setiap pertemuan khususnya yang membahas mengenai kanker serviks, organisasi ini selalu meminta seluruh peserta yang hadir untuk pandai-pandai mengomunikasikan dan menyebarluaskan informasi yang mereka dapat terkait deteksi dini kanker serviks, kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar. Mengingat ancaman kanker serviks yang dapat membunuh,
5
membuat TP PKK NTB selalu meminta para perempuan NTB untuk melakukan antisipasi dini dengan memeriksakan diri. Dan tidak ada alasan untuk tidak melakukan deteksi dini kanker serviks.
Hj. Erica Zainul Majdi (tengah)
“Kanker serviks, adalah pembunuh perempuan nomor satu di dunia dan di Indonesia. Jika gejala kanker ini bisa terdeteksi dari awal, prosedur pengobatannya pun bisa lebih mudah, sederhana dan gratis,” ungkap Hj. Erica Zainul Majdi, Ketua TP PKK Provinsi NTB, pada Rapat Koordinasi Program Nasional percepatan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini kanker pada perempuan dan pemeriksaan deteksi dini kanker/ payudara beberapa waktu lalu. Menurutnya, deteksi dini kanker serviks merupakan hal yang sangat penting, disebabkan kanker serviks adalah momok yang menakutkan bagi kaum perempuan dan merupakan pembunuh kaum perempuan yang terjadi bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di dunia. Untuk lebih memaksimalkan sosialisasi mengenai hal ini, TP PKK NTB menggandeng organisasi-or-
ganisasi wanita di NTB untuk terus menggalakkan kegiatan mengajak kaum perempuan untuk melakukan tes IVA sedini mungkin. Oleh karena itu Erica berharap agar para perempuan yang tergabung dalam organisasi wanita dan kader PKK agar tidak lelah dan tidak bosan dalam menyampaikan informasi yang berkaitan bahaya kanker pada perempuan yang ada di lingkungan dan komunitas dimana pun mereka berinteraksi. LIBATKAN PARA “BAPAK” Tidak hanya terhadap perempuan, PKK NTB juga akan melibatkan para bapak untuk menyukseskan kampanye bebas kanker serviks di Nusa Tenggara Barat. Erica meminta kepada Dr. Arsastra yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan NTB untuk merumuskan cara agar kiranya para lelaki
di NTB juga turut ikut berperan aktif dalam program deteksi dini kanker ini. “Saya minta bapakbapak juga diikutsertakan dalam kegiatan ini, kalau perlu Dinas Kesehatan NTB mengajak ibu-ibu untuk roadshow khusus memberi pencerahan kepada bapak-bapak. Para lelaki di NTB ini harus sadar bahwa kesehatan istri dan anakanak itu juga bergantung dari bagaimana seorang bapak bisa ikut peduli,” ungkapnya. Satu kebijakan baru telah diambil bahwa untuk membebaskan perempuan khususnya perempuan NTB dari kanker serviks yakni seluruh ibu hamil saat memeriksa kandungan diwajibkan oleh dokter kandungan untuk melakukan tes IVA, karena salah satu kunci kesehatan janin dan bayi itu juga dengan memastikan para calon ibu bebas dari kanker serviks. –Naniek I. Taufan
Setiap Perempuan Beresiko Kena Kanker Serviks Kanker leher rahim adalah tumor ganas yang mengenai leher rahim yang disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) yang onkogenik. Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang disampaikan DR. Dodi, AK., Sp.OG. (K), Koordinator Female Cancer Programme (FCP) Lombok beberapa waktu lalu, terdapat satu perempuan di Indonesia meninggal dunia akibat kanker leher rahim setiap satu jam. (Di dunia, tiap dua menit perempuan meninggal akibat kanker leher rahim). “Setiap perempuan berisiko terkena kanker leher rahim,” kata dr. Dodi. Dibutuhkan kepedulian semua pihak, khususnya kesadaran para perempuan untuk dapat mencegahnya. “Jika deteksi sejak dini dilakukan dan menemukan sel tersebut belum berubah menjadi kanker, maka dapat diobati dan bisa sembuh 100%. Namun jika sel sudah berubah menjadi kanker, maka tidak lagi bisa disembuhkan. Tindakan penyelamatan
tidak bisa dilakukan dengan operasi sekali pun,” ujarnya. Menurutnya, banyak perempuan yang datang ketika kanker serviks sudah stadium lanjut, sehingga dokter tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menyelamatkannya. Hal yang paling mungkin dilakukan jika kanker serviks sudah stadium lanjut adalah menunda kematian dengan obat-obat penyanggah yang tidak bisa menyembuhkan kanker serviks. Inilah pentingnya deteksi dini kanker leher rahim, agar begitu terlihat ada bibit kanker, bisa segera diobati hingga tuntas sebelum sempat menjadi kanker. Selama sebelum menjadi kanker, penyakit ini tidak memberikan keluhan apaapa pada perempuan yang mengalaminya. Hanya saja ada tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah keputihan yang berbau, berwarna serta gatal juga vagina yang mudah berdarah, pendarahan di luar masa haid, pendarahan saat senggama dan nyeri pinggul. Faktor risiko terjadinya kanker leher rahim adalah, kebiasaan berganti-ganti pasangan seksual, menikah muda, infeksi
menular seksual, merokok, banyak melahirkan hingga kekurangan vitamin A atau C atau E dan juga faktor lainnya. Risiko tertinggi ada pada perempuan usia antara 30-50 tahun. Penyebabnya bisa jamur, virus, bakteri, benda asing atau protozoa. “Jika penyebabnya jamur, bakteri, benda asing dan protozoa masih bisa diobati dan 100% bisa sembuh. Namun jika penyebabnya virus, tidak bisa disembuhkan dengan cara apa pun,” ungkap dr. Dodi. Deteksi dini kanker serviks ini bisa membuat kanker serviks dapat ditangani dan disembuhkan dengan segera. Ini sangat mungkin bisa dilakukan karena menurut Prof. Dr. Alexander EW Peters, ahli ginekologi asal Belanda yang pernah datang ke NTB dan ikut dalam kegiatan sosialisasi kanker serviks bersama PKK NTB beberapa wkatu lalu, bahwa proses perjalanan kanker serviks ini berjalan dalam masa yang cukup panjang yakni 10 tahun. Leher rahim yang terpapar HPV dari sel normal berkembang hingga akhirnya menjadi kanker serviks ada masa 10 tahun. Paling cepat tiga tahun. “Dalam
masa 10 tahun itu, kita bisa melakukan intervensi pencegahan dengan deteksi dini kanker leher rahim,” ungkapnya. Waktu itu, Peters juga melansir data WHO, bahwa kanker serviks berhubungan dengan kemiskinan. Karena itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk dapat menjangkau para wanita yang berada dalam kategori ini yang biasanya kebanyakan berada sangat jauh dari fasilitas kesehatan dan juga berpendidikan rendah, guna melakukan sosialisasi atau bahkan melakukan kegiatan deteksi dini langsung ke wilayah-wilayah. Mengingat mereka bertanggung jawab pada keluarga, maka para perempuan harus diselamatkan dari kanker serviks yang mematikan ini. “Kita tidak bisa hanya menunggu di rumah sakit atau puskesmas saja, melainkan harus turun menjangkau mereka. Meski pun jika datang ke rumah sakit atau puskesmas, harus segera ditangani,” ujarnya kala itu. Dengan deteksi dini kanker serviks, harapannya generasi berikutnya tidak ada lagi perempuan yang meninggal karena kanker serviks. --Naniek I. Taufan
M
otivasi untuk terus berkarya perlu dipupuk sejak dini. Motivasi merupakan dasar pemacu diri agar mampu lebih baik. Desak Ketut Putri Handayani (21) mempunyai motivasi yang membuat dirinya terus berkarya sampai saat ini. Perempuan yang akrab disapa Putri itu mempunyai motivasi yakni orang tua. Membanggakan orang tua adalah sesuatu yang membanggakan bagi dara kelahiran Klungkung, 5 Maret 1995 itu. “Yang membuat saya ingin terus mengukir prestasi sampai saat ini tentunya ingin membuat orang tua saya bangga karena telah melahirkan saya ke dunia. Selain itu, saya juga tidak ingin hidup sia-sia tanpa menghasilkan apa pun, maka saya jengah. Saya selalu ingin mencoba hal baru, bergaul dan mencari relasi sebanyak-banyaknya. Berkat pergaulan itu saya jadi mendapat banyak ilmu juga sekaligus mengembangkan bakat terpendam saya. Tuhan pasti memberi jalan untuk yang mau berusaha, bukan?” tuturnya dengan bangga. Berkat keberaniannya mencoba hal baru, Putri mendapat medali emas Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-M) dan katagori presentasi dan medali perak kategori poster dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-28 Universitas Halu Oleo, Kendari (2015). “Pengalaman tentang PIMNAS, awalnya saya direkrut oleh teman yang dulunya merupakan kakak kelas saya semasa SMA-. Dia mengajak saya untuk ikut
bergabung di tim PKM-M. Kami mengangkat Sendratari Kolok Bengkala,” ingatnya. “Suatu ketika, ada kabar bahwa PKM kami lolos PIMNAS kemudian akan berangkat pada tanggal 5 Oktober 2015. Saya ingat sekali. Sampai saya harus membatalkan study tour saya bersama jurusan. Jadilah kami mempersiapkan segala hal mulai dari latihan presentasi, bimbingan dengan dosen, pembuatan poster dan spanduk, serta hal-hal penunjang lainnya. Nyali saya sempat menciut. Namun, ketua PKM saya Putu Gede Asnawa Dikta bilang, afirmasi itu perlu dalam segala hal agar kita tidak goyah dan selalu termotivasi. Saya pun kembali optimis,” jelasnya. “Hari itu tiba, kami terbang ke Universitas Halu Oleo, Kendari. Kami berlomba dan berjuang. Kami telah upayakan yang terbaik. Ketika pengumuman juara, ternyata PKM kami lolos dengan meraih medali setara emas untuk kategori presentasi dan setara perak untuk kategori poster. Tak ada kata yang dapat
mendefinisikan kebahagiaan kami pada saat itu,” kenang pemilik hobi menyanyi, menulis cerpen, travelling, dan sosialita itu. Tidak saja pengalaman ketika mengikuti PIMNAS. Putri juga mempunyai pengalaman menarik saat dirinya mengikuti Kapal Pemuda Nusantara (KPN). Terpilih menjadi perwakilan Bali dalam KPN bukan tanpa perjuangan. Tentu Putri berjuang sangat keras karena terdapat 2 jenis seleksi yang harus dilalui. Pertama, seleksi administrasi. Kedua, tahap wawancara. “Berawal dari keikutsertaan saya untuk mewakili Bali dalam event KPN, sebuah event yang bernaung di bawah Kemenpora. Masing-masing dari ke-34 provinsi yang ada di Indonesia mengirim 5 perwakilannya untuk berlayar mengelilingi Indonesia menggunakan KRI kapal perang kebanggaan Indonesia. Ketika itu KRI Teluk Bintuni 520 menjadi wahana kami. Tidak sembarang orang bisa menaiki kapal perang ini. Puncak acaranya di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah yang disebut sebagai segitiga koral dunia. Acara ini dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo,” tukas Juara 3 lomba cerpen seBali (2016) tersebut. Prestasi itu tentu mampu membanggakan keluarga dan almamater. Putri berhasil mengharumkan Universitas Pendidikan Ganesha tempatnya mengemban ilmu. Putri tercatat saat ini sebagai mahasiswi semester tujuh Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Selain kesibukannya di kampus, Putri juga aktif dalam Komunitas Mahima. Bersama dengan Komunitas Mahima, Putri kerap mengikuti pementasan teater untuk mengembangkan bakatnya. Ia tidak saja berkutat di organisasi kemahasiswaan kampus, tetapi Putri dapat membagi waktu untuk kegiatannya yang lain. “Saya juga ingin keluar dari zona nyaman saya. Zona nyaman memang sering kali membuat diri terlena, tapi kita
tidak akan berkembang kalau kita tetap diam dan tidak bergerak. Saya analogikan seperti seseorang yang ingin menurunkan berat badan, untuk mencapai tubuh atau berat badan ideal tentu harus banyak usaha, bukan? Tidak hanya mengatur pola makan, tetapi juga olahraga, dan berbagai antekanteknya. Jika pencapaian itu telah terpenuhi, maka ada rasa puas dan bangga dalam diri,” tutur buah hati pasangan Dewa Nyoman Ardana dan Desak Nyoman Sudiastini. Belajar dari Kegagalan Tidak ada kepuasan jika belum mengalami kegagalan. Putri pun sempat mengalami kegagalan. “Berbicara soal kegagalan, sangat sering saya mengalaminya. Saya tipe orang yang tidak bisa membohongi diri soal kekecewaan. Salah duanya yaitu pertama, saat mengikuti seleksi Jegeg Bagus Klungkung, ketika itu saya masih duduk di bangku SMA. Saya gagal, bahkan tidak masuk 10 besar karena pengetahuan dan wawasan saya masih kurang. Selain itu, saya juga tidak menguasai bahasa asing. Sakit. Kecewa pasti. Namun, saya jadi tahu bahwa dunia saya tidak berada di sana,” kata delegasi Provinsi Bali dalam Kapal Pemuda Nusantara “Sail Tomini” 2015 tersebut. “Kedua, saya pernah tidak lulus di mata kuliah favorit saya, sastra. Kalau ini saya sadar, saya yang terlalu ceroboh. Kegagalan ini lebih sakit karena saya harus
mengulang 1 semester lagi untuk memperbaiki nilai saya. Sungguh kegagalan yang tidak ingin saya ulang kembali. Saya bukan orang dengan IPK bagus. Namun, saya tidak takut. Saya selalu mencoba lebih baik. Saya juga suka mencoba hal baru, berani berbeda, dan sekaligus berani rugi,” lanjut Duta Gong Kebyar Wanita Kabupaten Buleleng PKB (2016). Pengalaman pahit itu menjadikan Putri semakin tangguh. Tentu saat ini saudari dari Desak Gede Arnilatini, Desak Made Meira Bintari Nuspayani, dan Dewa Nyoman Purna Wibawa tersebut mampu membuat prioritas mada depannya. “Saat ini yang menjadi prioritas utama saya adalah pendidikan. Oleh karena itu, di semester yang sudah terbilang serius ini, saya ingin fokus pada tujuan utama saya di kampus,” tukas perempuan asal Dusun Peken, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Menurut Putri, kesuksesannya saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. “Tidak hanya orang tua, tapi juga sosok-sosok yang selalu memotivasi saya baik dari pihak sekolah maupun lingkungan pergaulan saya. Usaha yang saya kerahkan dari dalam diri saya, dan tidak lupa tentunya restu dari Tuhan. Saya juga mempunyai prinsip bahwa kita harus berani untuk keluar dari zona nyaman. Dengan itu, kita mampu meraih pengalaman dan belajar lebih banyak lagi,” tukasnya. Wulan.
4
Inspirasi
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Jon Maruto
Walaupun Pahit tetap Dicari carakan orang adalah daun stevia. Ini, kata Jon, masih jarang terdengar di Indonesia, tapi akhir-akhir ini makin banyak diburu orang karena manfaatnya. Daun stevia ini bisa dipakai sebagai pengganti gula yang aman dikonsumsi. Jadi untuk penderita diabetes atau obesitas, bisa mengonsumsi ini untuk pengganti gula. “Sayangnya tanaman ini sudah habis juga. Tapi kalau mau coba, silahkan cicipi daunnya, itu rasanya manis. Jika ingin menggunakan, ambil beberapa daun stevia, keringkan, kemudian diblender halus. Itu sebagai pengganti gula karena rasanya manis,” jelasnya.
Jon Maruto tampak masih sibuk melayani para pengunjung stannya ‘Kampoeng Herba’ di Pameran Flora 2016 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Beberapa pengunjung bertanya tentang kapsul-kapsul herbal di etalese sementara ada juga yang bertanya tentang teh herbal. “Hari ini lumayan sibuk, mungkin karena hari terakhir pameran,” kata pengusaha tanaman obat itu sehabis membagi-bagikan brosur tentang tata cara menanam tanaman obat tertentu.
M
eski hari itu terbilang cukup ramai, namun menurut Jon, begitu sapaan akrab kakek tujuh cucu ini, masih lebih ramai pada pameran Flora dan Fauna yang digelar Juni lalu di tempat yang sama. “Waktu itu ramai sekali, saya bahkan sempat kehabisan stok. Hasil penjualan juga cukup lumayan. Kalau pameran sekarang, tidak terlalu ramai ya. Hari ini kebetulan saja terlihat ramai,” tambah Jon yang merogoh kocek Rp 20 juta untuk menyewa dua stan pameran. Menurut Jon, ajang pameran memang menjadi satu-satunya kesempatan untuk promosi produk maupun mencari pelanggan baru serta meluaskan jaringan di kalangan pebisnis tanaman obat. “Makanya saya sangat rajin berpameran karena hasilnya terlihat, baik dari keterjualan produk juga penambahan pelanggan,” tambahnya. Lelaki asal Jawa Timur ini mengaku memulai bisnis tanaman obat di awal tahun 2000-an, setelah belasan tahun bekerja di bidang serupa di tempat lain. Belasan tahun berkecimpung di sana membuat dirinya tahu seluk beluk tanaman obat hingga cara memasarkannya. “Tapi saya tidak belajar meracik ya, itu ada ahlinya. Saya belajar tanamannya (pohonnya), perawatan dll, juga memasarkan produk,” tuturnya. Setelah paham, ia pun terpikir memulai usaha sendiri, apalagi saat itu tanaman obat mulai naik daun. Banyak orang yang
tidak ingin terlalu ‘dikuasai’ oleh obat kimia mencari obat-obat alami untuk penyakitnya atau sekadar menjaga kesehatan. “Saya pikir ini peluang bagus, kenapa tidak memulai usaha sendiri. Kalau ikut orang terus, kita kan jadi tidak berkembang. Rasanya lebih enak membesarkan usaha sendiri, dibanding usaha milik orang lain. Jadi saya memulainya dari usaha kecil-kecilan
dan akhirnya terus berkembang hingga seperti sekarang,” ungkap Jon yang bekerja sama dengan kakaknya yang berlatarbelakang kedokteran. “Soal meracik obat, dia (kakak) yang paham. Dia kan sekolah kedokteran,” ucapnya. Saat ini, ia memiliki ratusan koleksi tanaman obat. Sebagian di antaranya dibuat juga dalam bentuk kapsul dan teh. “Jadi buat mereka yang tidak suka pahit, atau ingin yang praktis, biasanya mengonsumsi kapsul atau tehnya. Tapi ada juga yang selain membeli kapsul juga membeli tanamannya untuk ditanam sendiri,” jelas Jon yang memiliki lahan pembibitan di kawasan Pondok Rangon, Jakarta Timur. Untuk tanaman obat, harganya tidak terlalu mahal antara Rp15 ribu - Rp
25 ribu tergantung tanamannya. Sedang kapsul antara Rp 40 ribu - 65 ribu, dan teh berkisar antara Rp 20 ribu - 40 ribu. Hal yang bikin panik, kalau banyak pesanan tapi stok tidak ada. Seperti yang baru saja terjadi.
Banyak yang pesan daun sirih merah, baik pohonnya maupun kapsulnya, tapi stok habis. Daun sirih merah, banyak dicari orang. Khasiatnya mulai dari mengobati penyakit ringan sampai berat. Salah satunya bronkhitis, radang prostat dan darah tinggi. “Banyak pengunjung yang cari bahkan memesan. Sebenarnya saya juga menyediakan, tapi sudah ludes terjual baik kapsul hingga tanamannya. Saya sampai keliling-keliling ke teman-teman sesama penjual tanaman obat. Susah sekali dapatnya. Mungkin karena barang laris ya,” tuturnya. “Dulu itu, ketika daun sirih merah sedang ngetop banget,
sampai-sampai ada yang menjual per-daun bukan per-pohon. Bayangin aja sampai segitunya,” lanjut Jon. Padahal katanya, daun sirih merah itu, rasanya amat pahit, sama pahitnya dengan brotowali. Tidak banyak orang yang tahan dengan rasa pahitnya. Karena itu disediakan kapsul. “Bahkan teh daun sirih merah itu pahitnya minta ampun, lho. Biar dikasih gula tetap saja pahit. Tapi namanya juga obat, biar nggak enak (pahit) orang tetap cari,” ujar Jon. Saat ini lanjutnya tanaman obat yang sedang naik daun sirih merah, juga daun insulin dan okra. Keduanya untuk obat kencing manis. “Itu juga stok saya habis diserbu pelanggan,” katanya sambil tertawa. Tanaman ini mudah ditanamnya, tinggal distek saja bisa tumbuh bagus, tidak memerlukan perawatan khusus. Beda dengan daun sirih merah, itu menanamnya sulit, dan perawatannya rumit. “Sirih merah susah nanamnya, rawatnya juga rumit. Tidak bisa kepanasan, tidak bisa kebanyakan air. Perawatannya khusus. Itu sebabnya saya tidak menanam sirih merah, jadi hanya mengambil dari orang lain saja,” ucap Jon. Tanaman okra, tambahnya, belakangan juga mulai ramai dicari. Bentuknya seperti jari atau mirip buah oyong. Buahnya bermanfaat untuk mengendalikan gula darah. “Meski dikenal untuk diabetes, namun tanaman okra juga bisa untuk penyakit lainnya seperti kolesterol dan kanker. Saya juga punya daun afrika, itu juga untuk gula darah,” tambahnya. Yang juga mulai ramai dibi-
Aneka tanaman pameran flora di lap Banteng Jakarta
BERJUALAN SAMBIL MENGEDUKASI MASYARAKAT Terkait persaingan, Jon mengaku, cukup berat karena banyak pemain di sektor ini sementara pembeli terbatas. Karena itulah, ia menjadi sangat rajin berpameran. Karena di pameran, ada kesempatan untuk menjelaskan panjang lebar tentang khasiat tanaman obat kepada para pengunjung. “Saya ini bukan sekadar menjual produk, tapi sekaligus juga mengedukasi pengunjung yang berminat pada tanaman obat. Misalnya, di setiap pohon saya kasih keterangan nama pohonnya juga manfaatnya. Selain itu saya juga membagikan brosurbrosur tanaman obat, misalnya cara membuatnya, dll. Termasuk bagi yang ingin membudidayakan sendiri, saya kasih petunjuk caranya, merawatannya,” paparnya. Sejak dua tahun terakhir ini, kondisi ekonomi Indonesia lesu, juga berdampak pada bisnis tanaman obat. Omzet penjualan anjlog hingga 60%. Mungkin orang yang biasanya berbelanja, jadi mengencangkan ‘ikat pinggang’. “Mungkin yang benarbenar perlu, misalnya sakit, baru beli. Tapi yang sehat, mengurangi belanja. Tapi terus terang, kondisi penurunan ini terasa sekali,” katanya. Sebagai UKM, hal ini sangat memberatkan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena nyatanya hampir semua usaha juga terpukul dengan kondisi lesu seperti ini. “Saya berharap kondisi ekonomi kita segera membaik ya. Karena kami sekarang merasa sulit sekali,” katanya. -Diana Runtu
Jon Maruto pengusaha tanaman obat
Mandalika
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
21
Gubernur NTB Lepas Kontingen PON XIX Jabar
Suasana haru mewarnai pelepasan para atlet Provinsi Nusa Tenggara Barat yang tergabung dalam kontingen PON XIX Jawa Barat. Usai mencium Bendera Merah Putih dan Lambang Provinsi NTB, tangis haru para atlet tak terbendung kala bersalaman berpamitan dengan para orangtua yang hadir dan turut mengantar para pejuang olahraga NTB.
L
ima belas (15) emas adalah target yang diraih kontingen Pekan Olah Raga Nasional (PON) Nusa Tenggara Barat pada PON XIX 2016 yang digelar mulai 17 September mendatang di Jawa Barat. Untuk meraih target dalam menghadapi perhelatan olahraga nasional yang dilaksanakan empat tahun sekali itu, atlet-atlet NTB telah meny-
iapkan diri selama dua tahun sembilan bulan. Semangat juang atlet ini terus dipupuk oleh KONI NTB dengan mengundang para pejabat daerah, keluarga dan kerabat para atlet untuk memberikan motivasi pada pelepasan Kontingan Atlet PON NTB, beberapa waktu lalu. Sebelum melepas para atlet PON XIX Provinsi NTB di lapangan Bumi Gora beberapa waktu
lalu, Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi, mengobarkan semangat dan memotivasi 112 atlet NTB yang akan berlaga pada 23 cabang olahraga. “Tuhan adalah kekuatanku. Yakinlah Allah SWT akan memberikan yang terbaik pada saatnya. Insyaallah pada saat berkompetisi nanti tidak ada yang tidak baik, kalian nantinya akan menunjukkan performa yang baik sebagai hasil dari latihan yang
tekun selama ini,” ujar Gubernur kepada para atlet dan kontingen NTB yang hadir kala itu. Selama mengikuti PON mendatang, Gubernur NTB mengajak para atlet untuk menjunjung sportivitas, menjalin persaudaraan dengan kotingen atlet daerah lain dan menjadi duta NTB, dengan menunjukkan keramah-tamahan NTB di kancah nasional “Jagalah sportivitas, jalin persahabatan
dan persaudaraan. Jadilah Duta NTB dengan perilaku dan sikap yang sportif. Itulah prestasi yang tidak kalah pentingnya,” kata Gubernur. Momentum pelepasan kontingen PON XIX Provinsi NTB ini dilakukan Gubernur dengan menyerahkan Bendera Lambang Provinsi NTB kepada Ketua Kontingen Atlet NTB yakni Ketua KONI NTB, Andy Hadiyanto sebagai tanda pelepasan. “Panjipanji NTB akan kami kibarkan dan akan mendapatkan 15 lebih medali emas,” ungkap Ketua KONI NTB ini saat menerima bendera dari Gubernur NTB. Turut hadir dalam pelepasan para atlet PON NTB, Forum Koordinasi Pimpinan daerah NTB seperti Wakil Ketua DPRD NTB, Mahali Fikri, Kapolda NTB, Danrem 162 Wira Bakti, Danlanal Mataram, Danlanud Rembiga. Hadir pula Wakil Wali Kota Mataram dan Wakil Wali Kota Bima. -Naniek I. Taufan
Pelepasan kontingen PON Provinsi NTB
Bentuk FORMI untuk Lestarikan Budaya dan Olga Tradisional Untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya dan olahraga tradisional daerah NTB guna mengangkat jati diri NTB dan masyarakat NTB, dibentuklah Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) NTB . Untuk menjalankan dan mengurus aktivitas organisasi ini, Pengurus FORMI NTB periode 2016-2021, baru-baru ini dilantik di Mataram NTB. FORMI merupakan perhimpunan dari beberapa induk olahraga masyarakat yang lahir dari kegelisahan dari beberapa induk olahraga tersebut yang tidak dinaungi oleh KONI sehingga pada tahun 2000 FORMI resmi berdiri dengan Nama Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (FOMI), kemudian bermetamorfosa menjadi FORMI. Keberadaan FORMI sendiri merupakan salah satu amanah dari Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. FORMI merupakan induk organisasi olahraga dan satu-satunya wadah berhimpunnya olahraga rekreasi yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, baik di tingkat nasional maupun di daerah. FORMI ini menjadi mitra strat-
egis dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong dan menggerakkan pembinaan dan pengembangan olahraga rekreasi di seluruh Indonesia. Olahraga ini merupakan kegiatan yang mampu menembus batas dan sekat-sekat antar kelompok. “Bagaimana Negara Palestina, Israel bisa berdamai untuk kompetisi olahraga. Begitu juga olahraga menjadi bagian strategis dalam meredam gejolak yang terjadi di masyarakat,” ungkap ujar Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Muh. Amin, SH., M.Si,. dalam kegiatan yang dihadiri oleh Ketua Umum FORMI Pusat Hayono Isman, Anggota DPR Dapil NTB dari Partai Gerinda H. Wilgo Zainar, MBA, Sekretaris Daerah Prov. NTB Ir. H. Rosiady H. Sayuti, MSc. Ph.D, Ketua DPRD Kab. Lombok Barat Hj. Sumiatun, Mantan Sekda Prov. NTB H. Muhammad Nur, SH., MH serta unsur FKPD Kabupaten Lombok Barat dan Pengurus FORMI NTB. Pemerintah Provinsi NTB menyambut baik hadirnya FORMI dan diharapkan organisasi olahraga ini bisa berintegrasi dengan berbagai pariwisata di NTB sebagai supporting event. -Naniek I. Taufan
Pelantikan Pengurus FORMI NTB
22
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Kekerasan seksual terhadap anak-anak makin menjadijadi. Para orangtua diharapkan makin mewaspadai fenomena ini dengan lebih mengawasi anak-anaknya. Bukan hanya kala mereka bermain dan bepergian, tapi juga kala mereka memegang ponsel. Karena saat ini para pelaku kejahatan juga menggunakan dunia maya untuk beraksi menjaring korbannya maupun memperdagangkan mereka.
Polisi Bongkar Sindikat Perdagangan Bocah Laki-laki
“P
ara orangtua harus lebih mengawasi anak-anaknya saat mereka menggunakan ponsel, jangan sampai ponsel disalahgunakan. Memperhatikan aplikasi-aplikasi yang digunakan anak-anaknya,” ungkap Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan. Saat ini di tengah ramainya persidangan di Mahkamah Konstitusi terkait LGBT dan hubungan seks di luar nikah, muncul kasus yang tak kalah menggegerkan, pihak kepolisian berhasil membongkar sindikat perdagangan bocah laki-laki untuk melayani seks kalangan gay. Tarif yang dikenakan pada pelanggan yang ingin menggunakan jasa seks anak-anak ini berkisar Rp 1,2 juta. Untuk pelanggan asing (WNA), dikenakan tarif Rp 10 juta. Sedang para korban hanya mendapat bagian antara Rp 100 ribu-150 ribu. Dari kerja keras pihak kepolisian sebanyak tujuh anak di bawah umur (13-17 tahun) dan satu orang berusia 18 tahun, yang sedianya untuk pemuas seks para gay ini, berhasil diamankan. Menurut Brigjen Agung Setya, selain ketujuh anak tersebut, saat ini pihaknya sedang mengindentifikasi korban lainnya. “Ada 148 korban yang teridentifikasi. Penambahan korban ini berdasarkan pendalaman kasus dan bukti-bukti yang diperoleh penyidik. Awalnya korban anak yang didapat, tujuh anak, kemudian berkembang menjadi 99 orang, dan kini yang terindentifikasi 148 orang,” papar Agung.
Arist Merdeka Sirait
“Korban-korban yang kami indentifikasi bukan hanya di Bogor tapi juga di kota lain seperti Jakarta dan Bandung. Tapi kami masih terus memperdalam dan mengembangkan kasus ini,” ucap Agung. Awalnya, bersama anak-anak itu berhasil dibekuk AR yang menjadi germonya. Dari pengembangan kasus, polisi juga berhasil menciduk U dan E. “AR dan U serta E, berbeda jaringan namun mereka saling berhubungan,” jelasnya. Saat ini pihak kepolisian juga tengah mengembangkan tentang kemungkinan adanya mucikari lain selain AR dan U yang ikut dalam perdagangan jasa seks anak-anak. Karena dari keterangan yang diperoleh, AR kerap mengontak mucikari lain untuk membantu menyediakan anak-anak yang dibutuhkan pelanggannya. “Jadi kalau dia kehabisan stok, maka dia cari ke mucikari lain. Ini yang sedang kami dalami juga,” tambah Agung. LEWAT FACEBOOK DAN APLIKASI KHUSUS Modus operandi yang dilakukan AR dan teman-temannya
dalam menjajakan anak-anak ini antara lain lewat facebook juga lewat belasan aplikasi yang bisa di download gratis dengan smartphone. Setidaknya ada 18 aplikasi yang digunakan dalam kegiatan ini. Oleh AR, data-data anak-anak ini dimasukkan dalam aplikasi tersebut. aplikasi ini memudahkan para pelanggan menemukan lokasi anak yang jadi incarannya, si pelanggan juga bisa chat langsung dengan si anak. “Dalam aplikasi itu juga memuat konten pornografi, seperti foto-foto vulgar anakanak yang berada dalam jaringan prostitusi AR,” jelasnya. Terungkapnya kasus ini berawal dari Tim Subdit Cyber Crime Direktorat Tindak Pindana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Mabes Polri melakukan penelusuran pada media sosial untuk konten pornografi dan lainnya yang bertentangan dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Dari penelusuran itulah akhirnya ditemukan akun AR di facebook yang isinya menjajakan anak-anak di bawah umur.
Tiga pelaku perdagangan anak ditampilkan ke publik
Polri Brigjen Agung Setya
Saat ditemukan, pihak kepolisian tidak langsung melakukan penangkapan. Mereka membuat pancingan dengan berpura-pura menjadi calon pelanggan. Sebagai tanda jadi, AR minta pembayaran dimuka separuh dari total transaksi. SIAPA AR, U, dan E? Menurut pihak kepolisian AR adalah seorang residivis yang baru beberapa bulan bebas penjara. Sebelumnya ia menjadi napi kasus perdagangan manusia selama 2,5 tahun. Namun herannya, AR, meski di penjara bisa menjalankan bisnisnya. Hal ini terungkap dari hasil pendalaman polisi terhadap kasus ini bahwa AR telah setahun menjalankan bisnis ini. Padahal AR baru bebas penjara beberapa bulan lalu. Bagaimana hal itu bisa terjadi, itulah yang tengah digali polisi. Kabarnya, setelah bebas dari penjara, AR aktif di sebuah LSM penyuluh anti HVI/AIDS. Rupanya, posisinya sebagai penyuluh juga dimanfaatkannya untuk mendekati anak-anak calon korbannya. Dia menyewa tempat kumpul-kumpul
untuk anak-anak di bawah umur, kemudian merayu mereka dengan iming-iming mencari penghasilan tambahan. Dalam keseharian, AR diketahui telah berkeluarga dan memiliki anak. Diduga dia juga memiliki orientasi seks penyuka sesama jenis. Sementara U dan E, meski berbeda jaringan dengan AR, namun mereka saling berhubungan dan membantu AR dalam memasok anak-anak. Seperti AR, U juga diketahui telah menikah dan memiliki dua orang anak. Bahkan anak terakhirnya, dikabarkan belum lama lahir. U pun disinyalir juga seorang penyuka sesama jenis. Baik U dan E ini adalah tukang sayur di pasar Ciawi Bogor. Dalam mencari calon korban, mereka biasanya menawarkan anak-anak untuk membantu berdagang sayuran. Kemudian anak-anak dirayu dan diimingiming uang untuk melakukan pekerjaan itu. Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kasus ini harus dibongkar tuntas. Karena kalau hanya menghukum pelaku, kasus semacam ini dikhawatirkan bakal terulang lagi. Sindikat prostitusi ini memanfaatkan dunia maya untuk beraksi. “Kasus ini harus dibongkar tuntas karena ini sindikat kejahatan yang terorganisir,” tegasnya. Ditambahkannya, pihaknya sejak lama telah memantau tanda-tanda adanya prostitusi lewat online. “Ini bukan hanya di Jakarta tapi juga tempat lainnya,” tambahnya. Para pelanggan ‘dagangan’ AR ini bukan hanya kalangan gay dalam negeri tapi juga asing. Kepada pihak asing, AR memasang tarif lebih mahal, yakni hingga Rp 10 juta. Dalam menangani kasus ini kepolisian tidak sendiri, tapi juga dibantu oleh Kemensos dan pihak KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Polisi fokus pada penanganan perkara hukumnya, sedang Kemensos dan KPAI menangani para korban untuk pembinaan dan pemulihan. Para korban ini kini berada di Rumah Aman Kemensos untuk pemeriksaan kesehatan dan pemulihan. Menurut Agung, penanganan anak-anak ini dilakukan secara komprehensif yakni baik dari sisi kesehatan maupun psikisnya. Ketua KPAI Asrorun Niam mengatakan, adanya kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi semua orang tentang betapa seriusnya ancaman kejahatan seksual saat ini. Bentuknya pun sudah semakin beragam. “Fakta ini membangkitkan kesadaran kolektif kita bahwa ancaman kejahatan seksual sudah semakin serius,” tegas Asrorun. —Diana Runtu
Sosialita
3
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
BPR Kanti Kembali Terima “Infobank Golden Award 2016”
PT BPR Sukawati Pancakanti mampu memberi yang terbaik kepada mitra kerjanya. Dengan mengedepankan budaya “KANTI” ( Persahabatan), selalu menjadikan Pekerjaanku, Nafasku, Jiwaku adalah melayani dalam kasih, serta senantiasa berinovasi guna melahirkan ide-ide kreatif yang cemerlang, PT BPR Sukawati Pancakanti bisa maju sejalan dengan cita-cita kami: “Sahabat Keuangan Terpercaya Anda”.
“K
ehadiran kami hingga hari ini adalah sesungguhnya berkat ‘kepercayaan’ yang merupakan modal utama bisnis bank. Kinerja kami dari tahun ke tahun terus bertumbuh. Ini bisa terjadi karena masyarakat percaya pada manajemen kami. Dari lubuk hati yang paling dalam perkenankan kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala kepercayaan, dukungan dan kerjasama yang baik selama ini,” ujar Ni Wayan Tantri, S.H., Direktur Bisnis BPR Kanti didampingi Komisaris Utama Ni Made Sumartini, S.E. “Tidak ada penghargaan tertinggi selain kepercayaan”. Kepercayan masyarakat menjadi kekuatan utama BPR Kanti untuk terus menjadi yang terdepan. “Kami pegang teguh prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan punya komitmen Trust (kepercayaan), Integrity (kejujuran), Prudent (kehatihatian) & Profesionalism (profesional),” ucap Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba. Karena kepercayaan masyarakat yang begitu besar pada BPR Kanti pulalah yang kemudian membuat BPR ini kembali meraih “Infobank Golden Award”, berturut-turut, yakni tahun 2015 (atas kinerja sangat bagus dari tahun 2011) dan tahun 2016 (untuk kinerja dari tahun 2011-2016). “Infobank Golden Award 2016” diserahkan kepada Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba, Jumat (26/8) di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta. Infobank Golden Award ini adalah penghargaan atas predikat kinerja sangat bagus 5 (lima) tahun berturut-turut. Perjalanan panjang BPR Kanti yang terus mengukir prestasi ini tentunya tak terlepas dari sepak terjang para “nahkodanya”. Sebut saja Komisaris Utama Ni Made Sumartini. Sebelum
akhirnya turut membesarkan BPR Kanti, dulu ia adalah Direktur Utama di BPR Bank Kertiawan. Demikian juga dengan Direktur Bisnis Wayan Tantri. Ia yang mulai bekerja di Bank Sinar dari tahun 1990 dengan jabatan terakhir sebagai kepala cabang di Bank Sinar Kantor Pusat (sekarang Bank Mantap) sampai dengan tahun 2014 dan pindah ke BPR Kanti sebagai Kepala Cabang di Kantor Mengwi dan tahun 2015 sebagai Direktur Bisnis di BPR Kanti. Besarnya nama BPR Kanti juga tak terlepas dari kemauan untuk belajar belajar dan belajar, bekerja sambil berdoa. Dengan melakukan kegiatan studi banding, tirtayatra, outbond dan diklat seperti yang dilaksanakan mulai Kamis (8/9) s.d. Minggu (11/9) ke Lombok. Di sini, BPR Kanti melakukan kunjungan ke BPR Prima Nadi, BPR terbesar di Lombok. Kegiatan bersama seluruh karyawan BPR Kanti yang diselenggarakan bertepatan dengan perayaan Umanis Galungan tersebut diisi juga dengan tirtayatra ke beberapa pura di Lombok, yaitu Pura Suranadi, Pura Candi Narmada, Pura Jagatnatha Mayura, Pura Batu Bolong, Pura Gunung Sari
Kedatangan di Bandara
Penyerahan Cindramata di BPR Prima Nadi Mataram
dan Pura Batu Lingsar. Diisi juga de ngan outbond dan diklat dengan tema “Mengembangkan Spiritualitas Motivasi Bekerja”. Tujuannya, agar seluruh keluarga besar BPR Kanti memiliki kesadaran atas maksud dan tujuan dari bekerja, baik secara kehidupan maupun secara spiritual. –ten
Tirtayatra di Pura Suranadi
Sembahyang bersama di Pura Suranadi
Foto bersama di Hotel Grand Madani Mataram
Tirtayatra di Pura Batu Bolong
2
Ekspresso
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
GORO-GORO Tibatiba saja selera makan Bu Amat kendor. Berat badannya melorot 5 kilogram, hanya dalam semPutu Wijaya inggu. Mula-mula kemerosotan itu disambut Amat hangat. Ia sudah lama merindukan pinggang istrinya kembali ke asal. Itulah salah satu yang sudah menggugurkan imannya. Tapi Bu Amat sendiri jauh-jauh hari sudah terteror. Bajunya semua jadi kedodoran. Apalagi dua minggu berikutnya, lemak di tubuh veteran Ratu Kebaya Kompleks itu gugur 5 kilogram lagi. “Gawat, Pak, apa saya kena penyakit bolemia?” “Bohemian?” “Bolemia. Kalau pendengaran saya tidak salah, kata Ami, itu penyakit kurus. Makin kurus terus sampai ... .”
“Sudah jangan nakut-nakutin. Sekarang makan saja banyak-banyak!” “Nah itu yang tidak bisa! Saya sering tidak ingin makan!’ “Ah! Kemaren ada duren, ibu sampai makan 2 piring!” “Tapi besoknya tensi saya naik! Saya tidak mau makan duren lagi! Lebih baik ke dokter saja besok!” Besoknya, Amat membawa istrinya ke dokter. Tapi menurut dokter. Bu Amat tidak sakit. “Tapi berat saya sudah turun 10 kilogram Dokter.” “Itu kan bagus, Bu. Sekarang banyak orang ingin beratnya turun pakai segala macam cara, sudah keluar puluhan juta, tapi tidak bisa. Malah tambah gembrot. Ibu mestinya bersyukur, nanti kalau tambah langsing pasti kelihatan lebih muda!” “Saya tidak ingin kelihatan muda. Sekarang saya sudah disindir-sindir tetangga, disangka ikut diet supaya awet muda agar suami saya tidak cari daun
CINTA TUA MAKIN BERKOBAR
muda. Saya kan jadi malu, Dokter! Dokter hanya ketawa. Tapi akhirnya karena Bu Amat maksa-maksa minta disuntik dan minta resep obat perangsang nafsu makan, dokter menyerah. “Kalau memang mau gemuk, kuncinya dua, Bu: pikiran senang dan banyak makan,” kata Dokter. Tapi di rumah Bu Amat tetap kurang nafsu makan. Badannya tambah kurus lagi. Tulang-tulangnya mulai menonjol. Air mukanya pun lesu. “Bapak mulai cemas dengan kondisi ibumu, Ami,” kata Amat di rumah anaknya,”Jangan-jangan ibumu kena penyakit, apa itu? Bohemian?” Ami ketawa. “Kamu kok ketawa? Ibumu sakit, Ami!” “Saya tahu.” “Makanya cobalah ikut mikirin bagaimana mengatasinya?!” “Bapak tidak tahu?” Amat terkejut. “Dokter saja tidak tahu, apalagi Bapak!”
“Kalau begitu, memang betul kata ibu, Bapak mulai kurang perhatian!” “Kurang perhatian bagaimana?! Bapak sudah bawa ke dokter, hampir saja mau ke balian apa mungkin ibu kamu dikerjain musuh kita supaya terus kurus?” “Dokter tidak akan bisa menyembuhkan ibu, balian juga tidak. Yang bisa menyembuhkannya hanya Bapak!” Amat terkejut. “Maksudmu?” “Bapak dulu waktu muda memanjakan ibu, kan?” “Ya dong, kan Bapak cinta sekali sama ibu kamu!” “Sekarang, masih?”
“Ya masih! Kamu ini bagaimana! Cinta sejati itu makin tua makin berkobar, bukan luntur!” “Kalau begitu, kenapa Bapak tidak pernah lagi menyuapin ibu. Kalau selera makannya berkurang?!” Amat terpesona. Lalu tertawa. “Menyuapi ibu kamu? Ha-ha-ha! Kami sudah tua Ami, masak suapsuapan?! Ha-ha-ha!” “Tadi bapak bilang cinta sejati tambah tua tambah berkobar!” “Ha-ha-ha! Ami! Kamu kebanyakan nonton sinetron!” “Ya! Ibu juga!!!” Amat terkejut dan berhenti ketawa. Mereka pandang-pandangan. Tiba-tiba Amat bergegas pulang.
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
terobati dengan euporia ngelawang yang kebanyakan dilakukan generasi dini anak-anak. Mereka mengorganisasi diri sarat gairah menjelang Galungan. Barong sederhana dipersiapkan dan pada hari raya Galungan hingga Kuningan, sumber insani budaya kita itu berkreasi sekaligus berekreasi. Ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan. Pada awalnya ngelawang adalah sebuah ritus sakral magis yang disangga oleh psiko-relegi yang kuat. Benda-benda keramat seperti Barong dan Rangda misalnya diusung ke luar pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat. Kehadiran benda-benda yang disucikan itu ditunggu dan disongsong dengan takzim oleh komunitasnya. Penduduk yang dapat memungut bulu- bulu Barong atau Rangda yang tercecer, dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah. Tradisi ngelawang dalam konteks sakral magis sebagai persembahan penolak bala itu juga bermakna sama pada pentas ngelawang Galungan. Namun dalam perjalanannya, masyarakat Bali yang kreatif tak hanya ngelawang mengusung benda-benda sakral namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai ngelawang tontonan. Dalam tradisi ngelawang Galungan tersebut, bentukbentuk seni balih-balihan seperti Arja, Janger, atau Joged misalnya juga dapat disaksikan masyarakat sebagai hiburan. Masyarakat yang haus hiburan menstimulasi pentas ngelawang menjadi wahana berkesenian yang konstruktif dan apresiatif. Sebagai seni tontonan, ngelawang
Kadek Suartaya
adalah suguhan seni pentas yang serius tapi juga santai. Untuk mengapresiasinya penonton tidak harus duduk kaku, namun bisa jongkok, berdiri atau bergelayutan, bersentuhan dan bergesekan sembari menikmati alam bebas. Hampir tak ada jarak antara pelaku seni dengan penonton, semua lebur dan menyatu. Kehadiran seni pentas ini tidak terikat oleh tempat, ruang dan waktu. Pertunjukan tari Topeng misalnya bisa terjadi di bawah pohon besar yang rindang, pementasan Barong bisa digelar di tepi sungai, drama tari Arja bisa hadir di jalan umum atau bahkan di tengah keramaian pasar. Ia bisa dijumpai pada sore atau malam hari dan mungkin juga di pagi hari. Hasrat hidup damai dan terlindung dari segala bencana tersebut itulah kiranya yang menjadi akar ngelawang. Diduga, ngelawang berkiblat dari
Radio menjadi salah satu bagian dari lembaga penyiaran yang memiliki tugas dan kewajiban untuk turut serta melestarikan seni dan budaya lokal. Permasalahannya, sejauh mana selama ini radio mampu mengambil peran tersebut. Demikian disampaikan anggota komisioner KPAID Bali, Nengah Muliarta.
I
Ngelawang Ceria Anak-Anak Bali
Sekelompok anak menabuh gamelan unit kecil yang terdiri dari kempur, kelontong, kelenang, cenceng ricik dan sebuah kendang. Menggunakan pakaian adat Bali, mereka memainkan tatabuhan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Anak-anak yang ditemukan pada hari raya Galungan, 7 September lalu di salah satu sudut Desa Sukawati, Gianyar, tersebut sedang melakukan aktivitas ngelawang. Anak-anak berusia 9-12 tahun itu mengiringi seonggok Barong Bangkung yang keluar masuk rumah penduduk. Di setiap rumah yang dikunjungi, sepasang anak menarikan barongnya sejenak di merajan atau halaman rumah. Seusai beraksi pemilik rumah menyodorkan uang sekedarnya. Kegiatan ngelawang mereka lakukan dengan sarat keceriaan, sejak pagi mulai berbinar hingga senja menapak. Rupanya ngelawang yang dilakukan anak-anak ini tak hanya dari satu kelompok. Hari itu, tampak pula kelompok ngelawang dengan aksi Barong Kedingkling, memakai topeng tokoh-tokoh utama yang ada dalam cerita Ramayana. Eksotisme tentang sebuah pentas seni komunal yang dulu dapat disimak dalam rangkaian hari suci Galungan, kini menggeliat kembali. Pentas seni nomaden itu, di masa lalu, memang pernah mengkristal menjadi peristiwa kesenian yang mewarnai Galungan bahkan tetap meriah hingga ritual Kuningan. Tetapi beberapa tahun belakangan, pertunjukan keliling yang mementaskan puspa ragam seni tradisi Bali itu telah tergerus perubahan zaman. Namun kekhawatiran punahnya tradisi ngelawang itu, kini sedikit
Sudut Pandang
sebuah mitologi Hindu, Siwa Tatwa. Alkisah ketika Dewa Siwa dan Dewi Uma bercinta tidak pada tempat dan waktunya, harmoni terguncang. Akibatnya adalah kesengsaraan bagi umat manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Sadar akan kekhilapannya itu, Dewa Siwa mengutus para dewa untuk menenangkan dan menenteramkan kembali seisi alam. Setiba di bumi, para dewa itu menciptakan dan mementaskan beragam bentuk kesenian. Lewat kasih pagelaran seni itu seisi jagat kembali damai. Makna ruwatan dalam mitologi Siwa Tatwa tersebut juga senafas dengan kandungan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang kemudian disyukuri atau jadi pijakan awal Galungan, perayaan kemenangan dharma atas adharma. Atmosfer pentas seni tontonan nan komunal kini mulai sayup-sayup. Begitu pula ngelawang dalam konteks sakralmagis agaknya semakin redup. Pada tahun 1970-an, aura magis ngelawang itu masih berbinar. Rumah-rumah penduduk sekonyong-konyong didatangi misalnya oleh Barong Kedingkling. Figur-figur topeng yang bersumber dari cerita pewayangan Ramayana ini disongsong dengan antusias oleh seisi rumah. Diawali dengan sepotong tembang, misalnya tokoh punakawan Malen dan Merdah, lalu disusul tokoh Subali dan Sugriwa menari semenit dua menit di halaman merajan. Selesai. Kendati singkat, umumnya masyarakat senang dan percaya aura ritual-magis yang dipancarkan ngelawang Galungan itu akan memberikan keselamatan dan perlindungan. Ngelawang sebagai energi budaya
yang memiliki aspek spiritual, seni dan hiburan ini, sayang, kini terkoyak, tersudut sebagai romantisme usang. Fenomana kehidupan transformatif ini tak bisa dipungkiri memang membawa konsekuensi multidimensional dalam berbagai aspek. Atmosfir masyarakat agraris tradisional dengan kekentalan psiko-religiusnya mungkin memang kontekstual dengan persemaian yang kondusif bagi eksisnya tradisi ngelawang pada masa lalu. Sementara kini di tengah dinamika dan konfrontasi nilai-nilai, pola pikir rasional dan prilaku pragmatis- sekuler yang membumbung naik daun, semakin dipuja jadi status dan gengsi Pamor tradisi ngelawang dalam esensi seni dan terutama subtansi makna ritual magis yang dikandungnya bisa jadi telah terkikis, kehilangan konteks. Masyarakat pendukungnya sedang diguncang deru modernitas dan riuhnya globalisasi. Ada kecenderungan maknamakna sakral-magis-simbolik sedang tergerus. Sebaliknya materialisme hedonistis sedang berhembus kencang mereduksi tatanan kehidupan. Karena itu, masuk akal—kendati memilukan-bila seni pentas ngelawang terjengkang, kehilangan fungsi dan makna, linglung di persimpangan jalan dalam kegalauan masyarakat pendukungnya yang sedang bimbang di persimpangan zaman. Di tengah persimpangan zaman itulah, sejak sekitar lima tahun terakhir ini, anak-anak belia Bali unjuk kepedulian terhadap tradisi ngelawang. Mereka seakan mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama menyemai kedamaian melalui jagat seni. Kadek Suartaya
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
a menilai, kepedulian radio untuk melestarikan seni budaya selama ini masih sebatas pelengkap program siaran hiburan. “Sebagai contoh pemutaran lagu Bali sekadar memenuhi kebutuhan hiburan pencinta lagu Bali. Program geguntangan yang juga nasibnya hampir sama dengan lagu Bali sebagai pelengkap hiburan semata,” ujarnya. Walaupun ia diakui, dengan kemunculan program geguntangan telah memberi warna siaran dan menimbulkan ketertarikan kalangan muda untuk belajar seni geguntangan. “Padahal yang diharapkan adalah radio mengembil peran penting dalam pelestarian seni budaya Bali,” ujar Muliarta. Dengan kekuatan audio, sebenarnya radio sangat diharapkan
Edisi 918/ 12 - 18 september 2016
Menunggu Drama Radio
23
“Pan Balang Tamak” mampu mengemas program seni budaya yang memberikan pengetahuan dan pemahaman pada masyarakat atau pendengarnya. Sebagai contoh kecil, radio harusnya mampu membuat cerita serial drama radio dengan mengambil cerita rakyat yang ada di Bali, misalnya kisah Jayaprana, Pan Balang Tamak atau kisah lainnya. “Radio harusnya mampu memproduksi feature (berita kisah) terkait kejadian, peristiwa, atau fenomena alam yang terjadi di Bali. Contoh mengemas tradisi omed-omedan dalam satu feature dengan berbagai atmosfer audio pendukung cerita. Selain sebagai sebuah program siaran, mengemas seni dan budaya dalam bentuk feature atau dokumentas akan menjadi dokumen bersejarah dan tentunya bermanfaat untuk kedepannya,”sarannya. Ia menegaskan, mengangkat seni-budaya kedalam tayangan layar kaca bukan semata-mata demi kepentingan pelestarian dan perlindungan. “Harus ada upaya untuk mensosialisasikan nilai-nilai dan etika yang terkandung dalam seni-budaya tersebut kepada masyarakat. Pada sisi lain, langkah ini juga merupakan langkah mendokumenkan senibudaya tersebut,” kata Muliarta.
Apalagi, kata dia, dalam pasal 45 di Undang-undang Penyiaran terdapat ketentuan bagi lembaga penyiaran untuk menyimpan bahan siaranya. Dimana nantinya jika siaran tersebut memiliki nilai sejarah, informasi atau memiliki nilai siaran yang tinggi wajib diserahkan kepada lembaga yang ditunjuk oleh negara untuk dijaga kelestariannya. Tujuanya, jangan sampai juga seni-budaya Bali ataupun yang ada di Nusantara diklaim negara lain. Menurutnya, cukup banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mampu mengangkat senibudaya Bali yang cenderung merupakan pertunjungan panggung menjadi sebuah tayangan pada ruang dengar. “Kreativitas yang tak kenal henti tentu diperlukan untuk mampu menghasilkan siaran seni-budaya yang berkualitas. Kreativitas juga harus didukung dengan pengetahuan tentang makna dan pesan dalam sebuah pertunjukan seni-budaya. Sebuah siaran seni budaya tidak saja memberikan hiburan semata, tetapi juga mampu memberikan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat yang mendengar,” imbuhnya. Permasalahannya kemudian, adalah pada ketersediaan dan ke-
Manfaatkan Frekwensi Komunitas Menurut Made Anie ini mengatakan, walaupun Supatni Samba, dari sekian radio saat ini sudah bisa pasal tentang kelebihan didengar atau bahkan “diradio, adalah alat komulihat” dari seluruh penjuru nikasi yang mampu mendunia karena kecanggihan jangkau masyarakat secara teknologi streaming, kita luas baik yang di perkotaan tidak bisa menjadikan radio maupun pelosok desa. Bahsebagai bisnis yang bersiaran kan menurut Anie, radengan segmentasi sededio sebagai media massa mikian luas, selain karena mampu menumbuhkan dan regulasi tujuan utama dari mengembangkan suatu bukhalayak sasaran radio daya. Salah satu contoh adalah lokal. “Radio sansaat ini semakin banyak kita gat mudah dan murah undengar radio yang secara tuk dijangkau oleh seluruh live menyiarkan tembanglapisan masyarakat, karena tembang atau lagu-lagu teknologi radio sudah bisa Made Anie Supatni Samba daerah dimana pendengar ditemukan di setiap barang bisa berpartisipasi aktif melalui telepon electronik sederhana sekalipun seperti saat itu juga. “Program radio seperti ini ponsel. Kita tidak perlu membeli khusus tidak hanya menghibur pendengar tetapi pesawat radio atau big band jika hanya juga memberi rasa percaya diri kepada pe- ingin mendengarkan radio. Keunggulan serta yang berpartisipasi, karena mereka inilah harusnya juga yang menjadikan ratidak harus bertatap muka dengan audi- dio sebagai alat melestarikan budaya lokal ens sehingga tidak ada keraguan dalam tanpa harus berbiaya mahal,” sarannya. bereksplorasi atau menunjukkan bakatnya Memang ia mengakui belum optimal, karataupun hanya sekedar ingin “menguji” ena keterbatasan waktu dan kesempatan. suaranya sendiri,” ujar Sekretaris PRRSNI “Ada sebenarnya frekuensi khusus komuBali ini. Bahkan komunitas pun terbentuk nitas. Sayangnya belum banyak masyarakat dan menjadikan kegiatan ini sebagai suatu yang memanfaatkan kebijakan pemerintah program rutin seperti pesantian-pesantian yang membuka frekuensi di 107 MHz yang muncul beberapa tahun terakhir. Ini untuk frekuensi khusus komunitas. LPS hanya satu contoh bahwa budaya nembang atau Lembaga Penyiaran Swasta terbatas tersebut menjadi dikenal dan semakin durasi dengan program-program lainnya. lestari dengan adanya media radio yang Mungkin perlu ada tokoh yang peduli dan sebelumnya mungkin hanya dilakukan di mau memanfaatkannya, tentu dengan seka di banjar atau perkumpulan kecil. tujuan yaitu melestarikan budaya lokal,” Station Manager Pinguin FM Bali kata Anie. –Wirati Astiti
Nengah Muliarta
mampuan SDM pada masing-masing lembaga penyiaran khususnya radio. Untuk mengemas sebuah program seni-budaya tentunya dibutuhkan sebuah tim kreatif. Sebuah tim kreatif dapat berjumlah 5-10 orang sesuai kebutuhan. Umpama pada sebuah program radio dibutuhkan anggota tim yang terdiri dari produser, penulis naskah, editor audio, operator, pembaca cerita, dll. Namun, kenyataannya selama ini dalam sebuah program siaran radio
hanya dikelola seorang penyiar. Penyiar dalam bersiaran juga harusnya didukung sebuh tim siaran. Pada beberapa kasus juga ada satu radio yang bersiaran 18 jam dengan sejumlah program siaran hanya memiliki 4 penyiar. Sehingga menjadi wajar jika siaran radio juga isinya hanya lagu dan kirim salam. Apalagi penyiar ketika bersiaran tidak membawa naskah siaran. Permasalahan berikutnya, manajemen radio tidak mampu membiayai tim kreatif karena keterbatasan dana operasional akibat minimnya iklan. Tentu ini menjadi sebuah lingkaran setan. Sebab bagaimana mungkin pengiklan akan tertarik untuk beriklan jika isi siaran hanya lagu dan kirim salam. Hal ini perlu pemikiran bersama untuk menempatkan kembali radio sesuai fungsinya yaitu memberi informasi, pendidikan, fungsi kontrol dan termasuk fungsinya untuk terlibat dalam pelestarian budaya. “Radio dengan badan hukum perseroan terbatas harus benar-benar menjadi sebuah lembaga yang memberi manfaat bagi masyarakat dan dikelola secara professional. Jangan sampai media radio hanya menjadi penyaluran hobi atau sekadar kumpulan seka demen,” tegasnya. –Wirati Astiti
Dari Pendengar Jadi Penyiar Dulu, menjadi penyiar radio tak pernah ada di benak I Gusti Ngurah Panji Jaya Kusuma, S.Pd. H. Ia tak pernah menyiapkan waktu khusus untuk menyimak siaran radio. Namun, ia tak menampik memang menyukai lagu-lagu Bali. Karena itu pula, saat mengerjakan laporan praktikum ketika masa SMK dulu, Gus Panjidemikian nama beken Penyiar Radio Genta ini-di udara, selalu ditemani lagu-lagu Bali. Ia baru menyadari ternyata sekitar tahun 2002, ia sudah sering mendengarkan Radio Genta. “Dulu Ibu saya jualan nasi. Sepulang Ibu dari pasar radio on terus sampai siarannya habis. Begitu setiap hari. Jadi sepertinya, otak saya sudah terkontaminasi dengan lagu-lagu Bali dalam siaran Radio Genta itu.. hahhaah,” ucap Gus Panji yang akhirnya kini menjadi penyiar Radio Genta Bali di frekuensi FM 96,1 MHz tersebut. Setelah menamatkan pendidikan menengah atasnya di SMK Rekayasa Jurusan Teknik Instalasi Listrik tahun 2006, Gus Panji mendengar informasi lowongan penyiar di radio. Hanya dengan berbekal kemauan, ia mengirim lamaran ke dua stasiun radio tersebut. “Akhirnya saya diterima di Radio Genta. Di stasiun satunya lagi, belum apaapa sudah ditolak. Saya ditertawakan, mungkin melihat penampilan saya saat itu yang kurang meyakinkan. Setelah saya jadi penyiar di Radio Genta, kami sempat dipertemukan lagi, dan dia minta maaf pada saya,” kisah Gus Panji, sembari berkata “jangan terkecoh dengan penampilan seseorang”. Ketika diterima sebagai penyiar di radio yang memiliki tagline “Suarane Bali” yang 100% menggunakan Bahasa Bali ini, Gus Panji mengaku saat itu belum terlalu fasih berbahasa Bali. Perasaan senang tak bisa disembunyikannya, karena di tempat ini ia diberikan kesempatan dan merasa tertantang untuk belajar bahasa Bali. Selain itu juga bisa berinteraksi dengan orang di
Gus Panji
luar kabupaten. Karena kemauan belajarnya tinggi, dengan cepat Gus Panji bisa menguasainya. “Awal-awal, saya masih berbekal teks saat siaran. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Bahasa Bali yang dipakai bahasa pergaulan, tidak menggunakan sor singgih yang pakem banget,” ucapnya tersenyum. Dulu program-programnya 100% berbahasa Bali. Meski demikian, Gus Panji mengatakan ada beberapa istilah teknis yang memang tidak bisa disadur ke bahasa Bali. Seperti istilah-istilah kedokteran, dll. Namun setelah ada aturan dari KPI yang mewajibkan penyiaran radio harus minimal 30% bermuatan lokal (Bahasa Bali), Radio Genta mengambil persentase 30% untuk siaran berbahasa Indonesia dan 70% berbahasa Bali. Radio Genta lebih banyak menyajikan hiburan, yang dalam hal ini adalah lagu-lagu berbahasa Bali. Sementara untuk program Indonesia diisi dengan tips-tips, lagu-lagu Indonesia dan berita-berita aktual yang dimuat di Bali Post, Bali Post International dan Denpost (Kelompok Media Bali Post). Siaran programnya pukul 10-12.00 dan pukul 16-17.00. “Namun pengantarnya tetap berbahasa Bali. Bahkan tak jarang beritaberita di Bali Post dan Denpost disadur juga ke Bahasa Bali dan disajikan dalam siaran radio,” imbuh pria yang baru saja melepas masa lajangnya ini. –Inten Indrawati
24
Keberadaan radio sebagai media informasi masih tetap diminati masyarakat di tengah gempuran teknologi. Keeksisan radio di masyarakat tidak terlepas dari misinya untuk memberikan informasi secara cepat dan tepat kepada pendengarnya. Semakin berkembang teknologi maka radio juga secara fleksibel mengikuti perkembangan tersebut. Hal ini disampaikan oleh pendengar aktif Gede Angastia.
P
Sudut Pandang
Edisi 918/ 12 - 18 September 2016
ria yang lebih akrab disapa Anggas ini mengatakan jika radio masih sangat dekat dengan masyarakat. “Apalagi radio sekarang ini sudah variatif. Acara yang disuguhkan tidak monoton sehingga tidak mengundang kejenuhan bagi para pendengarnya,” ujarnya. Bahkan penyiar radio sebagai penutur tunggal tidak jarang menyelipkan humor-humor segar dalam komukasinya. “Ini menghibur sekali asalkan humor dan bercandaanya jangan kelewatan,” tambahnya. Wakil Ketua Pasikian Pacalang Jagad Buleleng ini juga menambahkan dirinya selalu menyempatkan diri untuk mendengar radio. “Radio merupakan gudang informasi, di radio akan dibacakan berita yang kemungkinan belum sempat kita baca di media cetak,” jelasnya. Selain itu, pemberitaan yang disampaikan oleh radio juga variatif dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Hal ini yang membuatnya sangat tertarik untuk mendengarkan radio ketimbang menonton televisi. Keberadaan radio sampai saat ini, menurutnya tidak terlepas juga dari penyiarnya. Jika dibandingkan dengan dulu, kualitas penyiar saat ini sudah jauh mengalami peningkatan dari segi bahasa. “Mereka sudah paham kosa kata dan pilihan diksi yang tepat dan tidak tepat digunakan. Penggunaan bahasa
Bercandanya jangan Kelewatan
seorang penyiar harus diperhatikan agar tidak menyinggung pihak manapun,” Paparnya. Sebagai pendengar sekaligus pemerhati radio, Anggas juga mengatakan bahwa seorang penyiar memiliki peran sentral dalam menahkodai suatu acara. “Seorang penyiar itu harus tegas dengan aturan yang telah ditentukan dalam suatu acara di radio,” ujarnya. Selain penyiar, acara yang disuguhkan juga menjadi daya tarik utama bagi pendengar. Jangan sampai sebuah radio hanya memiliki acara yang sifatnya monoton. Bila perlu, kata Anggas radio harus mampu menjadi wadah bagi penyanyi-penyanyi lokal berbakat. “Kalau bisa menampilkan penyanyi lokal itu menjadi hal yang luar biasa,” tandasnya. Pria kelahiran 22 Desember 1963 tersebut juga menambahkan jika acara radio harus mampu mencakup segala usia mulai anak-anak hingga dewasa. “Dari sekian banyak radio yang ada, belum ada radio yang menyuguhkan lagu-lagu kroncong,” ucapnya. Menurutnya, banyak orang tua yang sangat gemar dengan lagu kroncong sehingga jika lagu tersebut diputar di radio maka akan mengurangi tingkat kestresan orang tua tersebut. HOBI YANG DIBAYAR Sementara itu, menjadi seorang penyiar adalah hobi bagi Nyoman Canestra Adi Putra. Menurutnya, pekerjaan semakin menyenangkan
Nyoman Canestra Adi Putra
Gede Angastia
karena merupakan hobi yang dibayar. Selain itu, ia mendapatkan banyak manfaat menjadi seorang penyiar, di antaranya memperluas pertemanan, memperluas wawasan dan pengetahuan serta dapat menyebarluaskan informasi kepada pendengar. “Jadi banyak teman dan juga kenalan. Di samping itu, saya sebagai penyiar berita juga setidaknya tahu lebih dulu informasi sebelum dibacakan kepada pendengar. Di situlah ada kepuasan ketika informasi telah disampaikan kepada pendengar,”
ungkapnya. Menjadi seorang penyiar juga dirasakan dapat membuka peluang kerja lain untuknya. “Awalnya memang hanya sebagai penyiar, tapi dari sana ada pekerjaan lain seperti MC dan karier juga lebih menanjak,”tambahnya. Pria yang akrab disapa Kenneth ini juga menambahkan bahwa tantangan sebagai seorang penyiar adalah ketika berhadapan langsung dengan opini masyarakat. “Dalam memandu acara interaktif kadang-kadang kami tidak bisa memprediksi opini yang disampaikan
Membangun Imajinasi Pendengar Meski sejak kecil dikenal bawel, suka iseng juga pencipta keramaian suasana, namun Indy Barens sama sekali tak terpikir bahkan tak berminat menjadi penyiar radio. Padahal di era itu—tahun 1990-an-- penyiar radio boleh dibilang menjadi salah satu profesi yang diminati kalangan muda. Dalam pandangan Indy, penyiar radio itu seperti orang gila yang ngomong sendiri, ketawa-ketiwi sendiri. “Aku nggak suka,” ucap entertainer kondang ini tentang pandangannya sebelum memasuki di dunia penyiaran. Tapi jalan hidupnya berbicara lain. Apa yang diminatinya dan diinginkannya dalam bekerja justru tidak tercapai. Sebaliknya, dia justru ‘tercemplung’ dalam dunia penyiaran. “Aku nggak suka tapi bos minta aku mencoba jadi penyiar radio. Waktu itu aku siaran dipasangkan dengan Erwin Parengkuan pada program pagi,” kata Indy yang memulai kariernya di dunia siaran radio tahun 1997. Sebenarnya, tutur wanita bernama asli Mendya Brata ini, saat ia lulus dari Akademi Sekretaris dan Manajemen dan ITT Business Manajemen,Singapura, profesi kerja yang disasarnya adalah marketing dan sekretaris. Kebetulan, katanya, ketika itu ada sebuah radio swasta baru yang sedang membuka lowongan. Maka ia pun melamar. Namun kenyataan pahit ditemuinya di lapangan, bayangbayang indah pun buyar. Menjadi marketers tidak semudah dibayangkan apalagi produk yang dijualnya adalah perusahaan radio yang baru berdiri. Nyaris putus asa dan hampir keluar, oleh sang bos ia ditawari menjadi sekretaris sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Lagi-lagi, ia pun gagal. Tahu diri atas dua kegagalannya, Indy pun berniat mengundurkan diri. Tapi sang bos berbaik hati masih memberinya kesempatan untuk menjadi penyiar. Entah apa yang dipikirkan sang bos ketika itu hingga memberi Indy kesempatan menjadi penyiar. Ia sempat menolak namun sang bos memintanya untuk mencoba. Di luar dugaan, justru di profesi itulah ia sukses. “Ternyata dunia aku di situ. Sungguh tak terpikirkan. Aku tak menyangka kalau karier aku bisa berkembang begitu, awalnya dari cuapcuap di depan mic kemudian berkembang ke yang lain,” ungkap wanita yang namanya melambung di jagad hiburan tanah air lewat penampilannya di program tv, ‘Ceriwis’ ini. Semakin lama, kata Indy yang pernah memecahkan rekor Muri bersama Farhan untuk kategori Siaran Radio Terlama 32 Jam pada 2001, makin menyenangi dunia broadcast. Tak kenal maka tak sayang, itu Indy Barens
lah pepatah yang tepat untuk apa yang dijalani wanita kelahiran Bogor 1972, ini. Namanya yang semakin ngetop membuat ibu dua anak ini, kebanjiran tawaran MC maupun jadi presenter televisi, bahkan sempat membintangi dua film ‘Ariel dan Raja Langit’ dan ‘Red CobeX’. Dari berbagai kiprahnya di dunia hiburan, Indy berhasil menyabet sejumlah penghargaan, di antaranya Presenter Talk Show Favorit versi Panasonic Award, 2002 dan 2004. Menekuni dua bidang berbeda—radio dan televisi—membuat Indy punya pandangan tersendiri. Menurut Indy, dari pengalamannya, menjadi penyiar radio lebih sulit dibanding dengan menjadi presenter televisi atau menjadi MC. Pasalnya, audience radio tidak terlihat, beda dengan televisi yang secara visual bisa dilihat. “Buat aku, rasanya bekerja sebagai penyiar radio lebih sulit, ya, dibanding menjadi presenter tv. Karena kalau pembawa acara tv secara visual, kan, kita bisa melihat wujudnya. Kita bisa tahu, bisa memperhatikan ekspresi, dll. Tapi kalau menjadi penyiar radio tantangannya sangat sulit,” ucap pengisi suara karakter Claire dalam film Jurassic World versi Indonesia, belum lama ini. Penyiar radio, lanjutnya, harus menyampaikan message kepada orang lain, menghibur orang lain, tapi wujudnya tidak kelihatan. Ini tidak mudah. “Kita (penyiar) harus mampu membangun imajinasi pendengar. Kita harus menciptakan theater mind sehingga orang lain tahu apa yang kita omongin, arahnya kemana. Bisa bayangkan kita mau menghibur orang tapi wujudnya nggak kelihatan, itu kan sulit,” jelas Indy yang kini kembali jadi penyiar radio. Selain itu, katanya, juga dituntut untuk mampu membangun keakraban dengan parter kerja atau teman siaran. Dirinya, misalnya, kerap siaran berpasangan yang tak jarang berganti-ganti orang. “Aku harus siap dipasangkan dengan siapapun. Itu tantangan aku, aku harus mampu membangun chemistry dengan pasangan kerja, siapapun dia. Dan ini bukan hanya berlaku pada pekerjaan aku sebagai penyiar radio tapi juga sebagai presenter tv ataupun MC,” jelas Indy. Lain Indy, lain pula Fitri ‘Tropica’, entertainer kondang yang juga menapaki jagad hiburan tanah air setelah sukses menjadi penyiar radio. Beda dengan Indy yang awalnya tidak ingin jadi penyiar radio, Fitri ‘Tropica’ justru sejak kecil bercita-cita jadi penyiar radio. Bisa jadi itu karena bakatnya yang doyan cuap-cuap
oleh masyarakat sehingga opini yang melewati aturan dalam acara tersebut terpaksa di potong,” paparnya. Menghadapi kondisi tersebut, menurut pria kelahiran 16 Juli 1989 tersebut seorang penyiar harus memiliki sikap tegas dan dapat mengarahkan pembicaraan penelpon agar tidak menyinggung kelompok atau berbau SARA. Selain sifatnya menghibur, seorang penyiar harus selalu up date dengan informasi. Itu merupakan salah satu cara agar radio tidak ditinggalkan oleh pendengarnya. “Penyiar harus selalu memperbarui informasi baik umum maupun mengenai berita-berita yang sedang hangat menjadi perbincangan di masyarakat,” ungkap pengajar sekaligus pendiri Literacy Learning Home tersebut. Begitu juga dengan peran radio yang begitu penting sebagai media penyedia informasi kepada masyarakat sehingga keberadaanya harus tetap di perhatikan agar mudah dijangkau. “Kadangkadang jangkauan pemancar radio tidak sampai ke pelosok-pelosok desa sehingga masyarakat di desa tersebut akan kehilangan informasi,” lanjutnya. Atas kenyataan ini, stasiun radio tidak hanya mengandalkan kekuatan pemancar tetapi juga memanfaat kemajuan teknologi. “Sekarang radio bisa didengarkan melalui streaming sehingga pendengar yang berada di luar daerah juga dapat mendengarkan,” imbuh pria yang aktif dalam komunitas Impessa Scout Adventure ini. -Wiwin
sejak kecil. Malah, kata Fitrop—begitu kadang dia disapa—hobi ngobrolnya itu membuat ia kerap kali mendapat teguran guru di sekolah. “Malah sampai ditulis di rapor kurangi ngobrol..hahahha,” kata Fitrop ngakak. Waktu SMA, lanjut Fitrop, sebuah radio swasta terkenal di Bandung membuka lowongan untuk siswa SMA menjadi penyiar. “Aku waktu itu kelas dua SMA ikut daftar dan akhirnya diterima,” ucapnya. Maka sejak itulah dia bisa menyalurkan hobi cuap-cuapnya di depan mic. Nama Tropica di belakang namanya pun, tambah wanita kelahiran Bandung 1987 ini, juga berawal saat ia menjadi penyiar radio di Bandung. “Dulu aku dan teman aku bawain siaran pagi temanya seolah-olah aku dan teman aku itu raja dan ratu hutan, papa rimba dan mama tropica. Gara-gara itu jadi keterusan, nama aku ditambah ‘Tropica’ belakangnya,” tutur presenter tv paling heboh ini sambil tertawa. Gaya Fitrop yang unik dalam siaran membuatnya sangat disukai. Maka ketika casting Extravaganza ABG, ia pun langsung terpilih. Dari kiprahnya itu, dan gaya lebaynya menghantar wanita bernama asli Fitri Rahmawati menjadi entertainer kondang. Meski telah malangmelintang di dunia entertainment termasuk tampil di sinetron dan film, namun kata Fitrop, ia tetap saja kangen siaran radio. Karena itu, ia pun menerima tawaran siaran radio. “Sudah tiga bulan siaran pagi menggantikan Nycta Gina yang cuti melahirkan,” kata peraih penghargaan ‘Best Model on Clip’ MTV Indonesia Award, ini. –Diana Runtu
Fitri ‘Tropica’
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id