Skip to main content

Tokoh Edisi 902 | Tokoh

Page 1

24

Sudut Pandang

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

Meski memiliki anak yang hidup berkecukupan, ternyata tidak selalu menjamin sang orangtua pun pasti akan hidup sejahtera dan bahagia di masa tuanya. Ada banyak contoh bagaimana anak yang hidupnya berkecukupan ternyata menelantarkan orangtuanya. Itulah yang dialami Ny Sumitro, wanita renta yang berusia 80 tahun yang telah ditinggal mati suaminya 23 tahun lalu ini, terpaksa harus hidup sendiri karena ketiga anaknya menolak mengurusinya.

Lansia lebih Baik Tinggal bersama Keluarga sedianya adalah untuk tempat tinggal kostor atau pembantu gereja. “Kebetulan ada kamar kecil di sana, jadi saya bisa tinggal sementara. Sementara untuk makan, dan kebutuhan sehari-hari, didapat dari anak keduanya. Anak saya jarang datang, tapi mereka tetap membiayai saya,” katanya. “Tapi saya lebih senang di sini karena bisa beraktivitas seperti dulu,” tambahnya. Sebagai orang yang telah lanjut usia, dia mengaku pasrah dengan nasibnya. “Di masa tua saya hidup seperti ini, ya ndak apa-apa. Mau bagaimana lagi. Saya tetap bersyukur masih mendapat tempat tinggal. Orangtua seperti saya sudah tidak ada kemauan lagi, tinggal menjalani saja dan ‘menunggu’,” ungkapnya.

N

y Sumitro mengaku memiliki tiga anak perempuan, dua di antaranya memiliki penghidupan yang lumayan secara ekonomi. “Anak saya tiga perempuan, dua orang hidupnya cukup berada, sedang yang satu hidupnya biasa-biasa saja,” kata Ny Sumitro yang sempat dititipkan ke sebuah panti werdha di bilangan Jakarta Timur. “Ya mereka sibuk, jadi tidak bisa mengurus saya,” kata wanita ini. Namun, dia tak betah tinggal di panti tersebut, akhirnya keluar. Satu hal yang membuat Ny Sumi­ tro tak betah adalah rasa kesepian. Meski diakuinya, panti werdha tempatnya menetap, memiliki penghuni cukup banyak. “Pelayanan di sana bagus. Penghuninya banyak, yang seusia dengan saya juga banyak. Tapi saya selalu merasa kesepian. Saya merasa kehilangan komunitas saya yang lama,” ujarnya mengungkapkan alasan dia keluar dari panti tersebut. Yang dimaksud Ny Sumitro tetang komunitas lamanya adalah komunitas lansia gerejanya. Sebelum masuk

foto pusat kajian kelanjutusiaan universitas indonesia

panti jompo, wanita asal Solo ini termasuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas gerejanya, khususnya kelompok lansia. Nah, ketika masuk panti jompo, kegiatan rutin tersebut tidak didapatnya. Itu lah yang membuat dirinya nelangsa dan kesepian, apalagi keluarganya sangat jarang

membesuk. Setelah keluar dari panti, ketiga anaknya tidak ada yang mau menampungnya. Entah kenapa. Sementara rumah lamanya di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, telah dijual oleh anak pertamanya. Walhasil wanita renta yang telah memiliki lima cucu ini ke-

bingungan mencari tempat tinggal. Untunglah sebelum masuk panti werdha Ny Sumitro termasuk orang yang aktif di gereja. Itu sebabnya ketika ia ‘terlantar’ tak memiliki tempat tinggal, pihak gereja membantunya memberi tempat tinggal di bangunan sebelah kiri gereja. Bangunan itu

Ubah Gaya Hidup demi Kesehatan WHO sudah mengubah batasan usia yang dianggap lansia Contoh­nya yang terkena diabetes, dengan stem cell fungsi atau orang tua. Dulu berkisar usia 65 tahun. Sekarang ini organ tubuhnya bisa normal kembali. Namun, memang biaya lansia adalah orang tua yang berusia 80 tahun ke atas. Bahyang dibutuhkan sangat mahal,”ucapnya. kan, saat ini, ada aturan, dosen berhak mengajar sampai Menurutnya, makanan lansia sebetulnya tidak ada peusia 79 tahun. Demikian diungkapkan Dosen FK Unud, rubahan sejauh fungsi di tubuhnya masih bagus, memang ­Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.GK. jumlahnya berkurang, tapi dari segi komposisi tetap. Ia menyatakan, ada satu slogan yang sedang dikam­ panyekan saat ini yakni usia boleh historis, tapi fungsi ATUR POLA TIDUR biologis harus tetap muda. Namun, kata dia, sangat ironis, Pola makan sehat yang sehat mengandung 5 prinsip yakni, karena penuaan dini justru banyak terjadi di usia yang seberapa jumlahnya, bagaimana frekewensinya yang menenharusnya masih produktif. Apa penyebabnya? “Gaya hidup tukan asupan, apa jenisnya, bagaimana komposisinya, dan yang salah. Banyak orang tidak menjaga kondisi badannya bagaimana itu diolah. Disamping itu, konsep makan yang sehingga proses penuaan lebih cepat terjadi,” kata ahli salah juga harus diperbaiki. Dia merasa sudah makan, kalau gizi klinik ini. sudah makan nasi. Padahal, makan itu segala sesuatu yang Indraguna menyebutkan, penyakit disebabkan dua hal, masuk ke mulut, ditelan, dan dicerna dan menimbulkan yakni dibawa sejak lahir karena keturunan dan dia dapatkan reaksi ke tubuh. Makanan itu bisa padat dan cair. Kenyang sejak lahir. Berdasarkan penelitian, hal ini justru pengaruhitu bermacam-macam konsepnya. Mungkin perutnya Dr. dr. Gde Ngurah nya hanya 20 % dalam proses mempercepat penuaan dini. sudah terisi penuh tapi otaknya belum merasa cukup. Sementara, 80 % penyebabnya adalah gaya hidup. “Karena Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.GK. Malah, kalau pun perutnya kosong kalau lagi marah pun, itu, sebelum terjadi proses penuaan dini, ada baiknya kita ubah gaya hidup dia akan kenyang. Konsep perut itu ada di pikiran, itu sangat dipengaruhi kita menjadi sehat,” kata dosen di IKP dan Biomedika FK Unud ini. macam-macam. Ia menegaskan, gaya hidup bisa mempercepat dan memperlambat Tidur pada lansia juga perlu diatur. Konsep yang baik tidurlah pada waktu jam tidur. Jam tidur yang baik adalah pukul 22.00, di saat hormon proses penuaan dini. “Penuaan dini tidak hanya terlihat pada wajah, namun, tidur mulai bekerja. Lewat pukul 24.00, hormon bangun mulai bekerja. dilihat dari menurunnya fungsi tubuh, misalnya, dulunya bisa begadang Orang paksakan tidur juga tidak bisa, karena hormon bangun sudah sampai pukul 1 dini hari, sekarang sekarang harus dibayar tidur 3 hari. bekerja. Makin terlambat orang itu tidur, makin sulit dia tidur. Biasanya, Kalau dulu olahraga tanpa tersengal-sengal sekarang olahraga sedikit saja lansia sering terbangun di tengah malam karena buang air kecil. Sering napas sudah sengal-sengal. Dalam urusan aktivitas sehari-hari juga menubuang air kecil juga bisa diatasi. Intinya, lansia harus menjaga kualitas run,” ucapnya. tidurnya. Kadang, saat siang hari, bisa saja melakukan istirahat sebentar Memang, ia tak menampik, ketika usia bertambah, fungsi organ tubuh atau disebut rileks dan sangat individual, tiap orang berbeda-beda. Ada juga menurun. Namun, hal itu tidak akan menganggu, dan bisa dihambat yang cukup 10 menit, ada yang sampai 1 jam. Tujuannya, sekadar merilek­ dengan olahraga yang teratur. “Ada kok orang yang usianya 70 tahun masih sasikan ototnya. -Wirati Astiti bisa berlari kencang seperti usia 25 tahun,” ujarnya memberi contoh. Ada satu prinsip yang harus diketahui, kondisi kesehatan di bawah usia 2 tahun, dapat menentukan kondisi kesehatan di atas usia 50 tahun. Penyakit tidak menular sebagian besar terjadi pada orang-orang yang lLingkungan memaksa kita mempercepat proses penuaan dini. Kalau status gizinya jelek ketika anak-anak. ”Makanya, saat ini, gencar dilakusekarang tidak bekerja keras, kita tidak bisa survive. Kalau bisa bekerja kan kampanye 1000 hari pertama kehidupan, yang merupakan jendela 24 jam itu masih kurang, 7 hari dalam seminggu itu masih kurang. Mulai emas kehidupan, yang bisa menentukan generasi bangsa yang sehat dan sekarang, belajar mengelola waktu bekerja. berkualitas,” katanya. lMakanan komersial itu tidak sehat. Padahal, kita bisa membuat makanan Bagi para lansia yang sudah terkena penyakit tidak menular, cara pena­ sehat menjadi enak. Diperlukan usaha memilih yang sehat dan membuat nga­nan­nya, penyakitnya harus segera ditangani secepatnya. Ada yang bisa menjadi enak. diobati dan ada yang tidak bisa karena pengaruh fungsi organ tubuh yang lOlahraga itu mutlak, diatur sesuai usianya. sudah menurun. Kalau pun bisa diobati, biaya mahal. lStres itu wajar, tapi bagaimana menghadapi stres. Ia mengatakan, dengan tekonologi kesehatan, penuaan itu bisa dilPencegahan, skrining atau general check up saat batas usia pertumbuhan hambat dan dikembalikan. ”Memang tidak semua bisa dikembalikan, tapi sudah selesai, bisa dimulai usia 20 tahun. sudah banyak yang dikerjakan untuk menyetopnya yakni dengan stem cell.

Tips Sehat:

LANSIA PERLU DUKUNGAN SOSIAL Memberi tempat tinggal bagi para lansia, ucap Nona, pengurus gereja, bukan baru pertama kali dilakukan. Sebelumnya, ada beberapa lansia pun pernah ditampung di gerejanya, namun kini telah dijemput oleh keluarganya. “Kasusnya berbeda-beda. Dulu ada beberapa, mereka jemaat kami juga. Setelah beberapa waktu konseling keluarga, kini mereka sudah tinggal bersama keluarganya,” jelas Nona yang menolak menjelaskan permasalahan para lansia sebelumnya. Potret kehidupan seperti yang dijalani Ny Sumitro, pastilah banyak terjadi, dimana anak abai terhadap orangtua, atau, karena suatu sebab orangtua tidak dapat hidup bersama anaknya. Anak yang sibuk dengan kehidupannya sendiri, nyaris tidak memiliki ruang lagi untuk diisi orangtuanya. Tidak ada keinginan dari mereka untuk meminta orangtuanya untuk tinggal bersama. “Padahal untuk dapat menik­ mati masa tua dengan bahagia serta mening­k atkan kualitas hidupnya, lansia memerlukan dukungan sosial dari orang-orang terdekat. Tinggal bersama keluarga besar adalah salah satu cara untuk mendapatkan dukungan sosial berupa rasa aman, nyaman dan jaminan perawatan,” papar Kepala Badan Pusat Statistik, Dr. Suryamin, M.Sc, dalam laporan tentang Statistik Penduduk Lanjut Usia di Indonesia 2014. Diungkapkan, keberadaan lansia dalam suatu rumah tangga tidak hanya bermanfaat dari sisi lansia saja, tapi juga kesejahteraan rumah tangga pada umumnya. “Ketika lansia tingga bersama dengan generasi berikutnya, dimungkinkan terjadi transfer pengetahuan antar generasi. Lansia dapat terhindar dari kepikunan dan generasi berikutnya memperoleh nilai-nilai hidup yang baik dari lansia,” jelasnya. Badan Pusat Statistik melakukan survei sosial ekonomi nasional terhadap penduduk lanjut usia di Indonesia tahun 2014 yang hasilnya dipublikasi November 2015 lalu. Dari hasil survei tersebut diperoleh data bahwa jumlah lansia di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Data statistik terbaru menyebutkan, jumlah lansia kini telah mencapai 20,24 juta jiwa atau 8,03% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Jumlah lansia terbesar adalah di Provinsi Yogyakarta 13,05%, Jawa Tengah 11,11%, Jatim 10,96% dan Bali 10,05%. Data statistik juga menyebutkan, jumlah lansia yang tinggal bersama keluarganya masih lebih banyak dibanding yang tinggal sendiri. -Diana Runtu

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

GORO-GORO Putu Wijaya

N a s i campur Bali dari Warung Ktut, dekat rumah Amat, laku keras. Enak dan murah. Ktut adalah generasi

ketiga. “Neneknya yang mulai. Berlanjut ke ibunya. Dan sekarang dia pasti akan menurunkan ke anaknya,” kata Amat kagum. Bu Amat tak menanggapi. Tapi ketika Amat mengusulkan untuk menghidangkan nasi campur Ktut untuk santapan tamu pada syukuran Kadek, cucunya yang sudah sembuh dari DB, ia menolak. Ia milih katering dari restoran Bebek jambul. “Jangan, Pak. Nasi Warung Ktut itu memang enak tapi terlalu murah!”

Amat terkejut. “Lho, Bu, murah kan bagus! Apalagi semua bilang enak!” “Memang. Tapi bagus buat siapa dulu? Buat kita, kan!” “Ya, buat kita, buat siapa lagi. Nasi campur Ktut kan jauh lebih murah dari Bebek Jambul yang harganya selangit itu?!” “Ngukurnya jangan begitu, Pak! Apa Bapak tidak malu nyuguh tamu dengan makanan rakyat? Kalau sampai Pak Bupati yang diundang Sugi jadi hadir, masak disuguhi nasi campur? Saya dengar ada tamunya dari Jakarta dan juga ada satu bule dari Amerika akan ikut hadir. Masak dikasih makanan warung? Tamu harus disuguh yang mahal, tanda kita menghormati mereka!” Amat tak setuju, tapi segan membantah. Ia yang sudah

Ekspresso

murah

sempat membuang omongan di warung Ktut mau pesan seratus nasi campur, terpaksa harus minta maaf. Amat kikuk dan malu. Ia cerita ke timur dan ke barat sebelum pada inti pembatalannya. Ia puji-puji dulu masakan warung Ktut yang populer tapi murah. Lalu pura-pura heran. “Warung Ktut ini sudah terkenal sejak nenek Ktut,” kata Amat,”tapi kok bisa sampai tiga generasi tetap tidak berubah. Baik mutunya, maupun harganya tak gila-gilaan naik seperti harga cabe? Juga kehidupan keluarga Ktut juga tetap stabil. Heran saya!” Ktut mengangguk, lalu menjawab jujur. “Ya, begitulah, Pak Amat. Kami berdagang karena senang. Senang melihat dan

“O,ya? Kenapa Pak Ktut tidak menyambut?” “Ya, sebab sudah saya katakan tadi, kami buka warung bukan mau memburu uang, tapi membuat orang senang. Kami untuk hidup dan persaudaraan tahu kalau harga kami ikut saja. Dengan buka warung melonjak, kami mungkin akan seperti sekarang, keluarga saya kehilangan banyak pelang- semua sudah cukup bisa hidup. gan yang tak akan sanggup Anak-anak saya sudah selesai mengikuti kami. Tapi kalau semua. Ada yang sarjana, ada hitungannya hanya uang, ke- yang pegawai negeri, ada yang hilangan pelanggan itu akan wiraswasta. Semuanya cukup. mudah ditutup oleh peningka- Kalau sudah cukup untuk apa tan pendapatan kami, karena lagi? Kami sudah sangat senang harga jualnya bisa naik 3 atau sekali masyarakat menyukai 5 kali. Pasti kami juga akan produk kami. Begitu, Pak dapat pelanggan baru dengan Amat. Tapi mungkin jalan yang kantong yang lebih tebal. Dan kami tempuh ini salah, mamereka pasti berbelanjanya kanya tidak ada yang meniru akan lebih royal dari pelang- kami. Kebanyakan mengikuti gan kami sekarang.” restoran Bebek Jambul. Belum Amat tercengang. setahun sudah punya 2 Mercy. “O, begitu? Kenapa kalau Saya jangankan punya mobil, prospeknya bagus begitu, tidak naik motor saja tidak bisa. dicoba? Ktut bisa kaya raya!” Ha-ha-ha.” Ktut mengangguk. Amat tertegun. Sampai lupa “Betul, Pak. Sudah banyak membatalkan pesanannya. Di yang bilang begitu. Bahkan ada rumah, ia terpaksa menceriyang mau memberikan modal takan apa kata Ktut pada Bu supaya kami bener-bener da- Amat. gang. Dia bilang bahkan kami Bu Amat terdiam lama. Lalu bisa buka warung sampai Ja- berbisik. “Bapak harus ceritakarta, Malaysia, Singapura, kan itu nanti pada Pak Bupati, Tokyo dan Belanda.” waktu Beliau nanti menyantap Amat takjub. nasi campur warung Ktut!”

Duta Endek Kota Depasar

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

merasa berdosa ikut antre tiket bioskop dengan anak-anak yang seusia cucu kita. Menjumpai fenomena seperti itu saya merasa gaya berpakaian, gaya berdandan, jenis kegiatan dan peran saya masih sama seperti saat saya berusia 30 tahun. Ini bukan soal penyangkalan tetapi hanya soal sikap dan kebiasaan, walaupun saat bercermin sudah ada garis-garis halus, mungkin tidak terlihat oleh cucu-cucu keponakan yang memanggil saya dengan sebutan nenek cantik. Dari pengalaman bertemu dengan orang-orang usia lanjut, kalau boleh saya mengelompokkan ada 2 tipe. Tipe pertama adalah tipe pencemas, yang sangat terfokus pada pertambahan usia, dan mengganggap menua adalah proses yang sangat menakutkan, sehingga setiap bertemu orang selalu mengeluhkan berbagai penyakit. Tipe ini juga terpancing emosi melihat tingkah laku anak muda yang dianggapnya tidak sopan, tanpa menyadari bahwa jaman sudah berubah dan tidak bisa dibandingkan masa pada waktu dia masih muda. Tipe kedua adalah tipe orang tua yang penuh percaya diri, yang mempunyai perspektif

Ni Luh Sarini

bahwa penampilan luar bukan lagi menjadi isu melainkan jati dirilah yang menjadi hal yang utama. Tipe ini adalah orang tua yang melanjutkan hidupnya dengan bahagia, semua aktivitas rutin tetap dilakukan, bekerja atau berkarier, hobi dan aktivitas sosial, karena anak-anak sudah mempunyai keluarga dan tidak tinggal lagi bersama mereka, sehingga usia tua berarti kebebasan. Usia lanjut tipe pencemas tidak usah kita bahas, hanya perlu kita hidari dan berusaha menjadi usia lanjut tipe percaya diri. Usia lanjut yang

percaya diri mempunyai paradigma bahwa menjadi tua bukan halangan untuk melakukan hal yang bermakna bagi orang lain dan yang terpenting bermakna bagi diri sendiri. Bagaimana caranya bisa sampai pada usia tua yang tetap bersemangat, sehat dan bugar. Berbicara soal usia tentu tak lepas dari konteks sosial, dimana cara pandang seseorang tentang tua tidak bisa terlepas dari lingkungan sosial dimana dia dibesarkan. Saat ini di Bali sudah banyak contoh wanita yang masih tetap berkarya walaupun usia lanjut, dan kalau kita mau beranjak keluar dari lingkungan yang mempunyai paradigma bahwa usia tua sama dengan berhenti berkarya, maka kita bisa melihat wanita-wanita hebat yang masih berkarya dan melakukan hal yang bermakna

bagi diri sendiri dan orang lain, seperti Obin, seorang designer dengan butik BinHouse, tetap berkarya di usinya yang ke-60 tahun dan karyanya digemari wanita usia matang. Lihat pula Susan Saradon, seorang aktris yang masih menjadi pemeran utama film, di usianya ke-69 tahun dan aktif di bidang sosial politik, dan masih banyak wanita lain yang masih berkarya dan memberi makna hidup lebih berarti dari hanya sekedar menghitung bertambahnya angka pada saat ulang tahun. Life begins at any age, usia berapapun kalau kita ingin memulai sesuatu yang baru, kenapa tidak? Tinggal pilih mau dipanggil nenek cantik atau nenek lampir. Ni Luh Sarini Pegawai Swasta

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Gelar Sosialisasi Pemilihan Duta Endek ke-5 E

ndek adalah salah satu warisan budaya lokal. Dengan segala proses pembuatannya hadir menjadi produk dengan nilai seni yang tinggi. Selain bangga dengan perkembangannya, kita juga wajib menjaga dan melestarikannya. Sebab, kalau bukan kita yang melakukannya siapa lagi? Jika diabaikan, mungkin saja bisa habis. Demikian disampaikan Ketua Dekranasda Kota Denpasar, IA Selly D. Mantra pada kegiatan Sosialisasi Persiapan Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar,” Sabtu (14/5) di Graha Sewaka Dharma Lantai III, Lumintang, Denpasar. Pada acara yang dihadiri di antaranya oleh siswa dan guru SMA/ SMK se-Kota Denpasar, pengurus dan anggota ASBEST Kota Denpasar serta para Duta Endek, Selly D. Mantra menekankan bahwa untuk menyukai tenun ikat Bali yang disebut endek yang terbaik adalah mulai dari diri sendiri, setelah itu barulah merambah ke lingkungan terdekat. Pada kesempatan itu pula, istri IB Rai D. Mantra, Wali Kota Denpasar ini pun, berkisah betapa sebelum tahun 2000- endek pernah mengalami masa suram. Produksinya menurun tajam,

haan swasta, BUMN hingga sekolahsekolah. Termasuk pasar oleh-oleh pun menyediakan endek untuk pengunjungnya. Ketika itu endek kembali naik daun dan semakin disukai, namun Selly D. Mantra merasa masih ada yang mengganjal. Bahwa, penyuka endek masih berkisar di kalangan orang dewasa. Maka, untuk bisa menggiring kelompok anak muda, ia pun mencetuskan “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar” yang pertama di tahun 2012. Hingga kini, ia bisa berbahagia melihat

Life Begins at Any Age Pada saat usia saya menginjak 40 tahun kalimat life begins at 40 terasa pas untuk saya, namun kini setelah usia menginjak 50 tahun, life begins at 50 masih cocok juga untuk saya. Menurut saya usia hanyalah angka, yang artinya kita sudah melewati lebih banyak waktu. It’s OK to be old. Saya sering mendengar teman-teman mengatakan saya sudah tua. Sudah tidak pantas memakai baju seperti itu, masa’ saya harus ikut paintball atau ikut antri di bioskop untuk nonton film The Hunger Games: Mocking Jay Part II. Saya sudah tua, biarlah itu dilakukan oleh anak-anak muda. Saya setuju gaya berpakaian, berdandan, olah raga, dan aktivitas lain yang pantas dan sesuai situasi kondisi, tetapi itu bukan semata-mata berdasarkan usia. Bisa saja orang berusia 25 tahun tidak bisa ikut olah raga paintball karena punya penyakit jantung bawaan. Sack dress mini bukan terlarang bagi seorang nenek, tetapi mungkin tak elok lagi bila kita menampilkan paha yang keriput dan betis yang varises. Kalau kita punya hobi nonton film tema heroik, tidak harus

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

hingga banyak penenun khususnya di Denpasar menutup usaha mereka. Namun, di tahun tersebut masyarakat merasa lebih bergengsi mengenakan songket daripada endek. Di tahun 2008, selaku Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Selly D. Mantra lantas berpikir tentang langkah yang sebaiknya diambil untuk tenun ikat Bali ini. Gebrakan awal yang dilakukannya yakni mengajak ibu-ibu SKPD untuk lebih mencintai endek dengan fashion show. Ternyata Sambutan masyarakat sangat luar biasa. Mereka mulai terbuka, melihat endek setelah dikombinasikan dan dimodifikasikan dengan bermacam bahan lain ternyata bisa tampil modis. Dari situ perkembangan endek semakin melaju. Atas prakarsa Ketua Dekranasda pula akhirnya endek tercatat sebagai salah satu uniform bukan hanya untuk kalangan PNS, tapi juga bagi karyawan BI, perusa-

anak-anak muda bukan hanya kreatif tapi juga inovatif. Dikatakannya, para Duta Endek bukan hanya bisa melenggang di catwalk, dapat pengalaman dan wawasan tapi juga meraih peluang menjadi seorang entrepreneur. Selanjutnya, mereka juga turut menyosialisasikan, menularkan pada orang terdekat, dan sekitarnya untuk mencintai produk lokal kita. Gelar Lomba Busana Endek Di kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Bordir Songket dan Endek (ASBEST) Kota Denpasar, Rhea Cempaka menyampaikan bahwa selama ini organisasi yang terbentuk sejak 2011 ini, selalu berkontribusi pada kegiatan Duta Endek Kota Denpasar. Di antaranya, mengisi materi pembekalan pada kelas entrepreneur dan mensponsori busana untuk dikenakan para Duta Endek saat melenggang di catwalk.

Selain itu, Rhea juga menyampaikan, jika anggota ASBEST yang terdiri dari pengusaha berbagai produk fashion, siap diajak sharing untuk berbagai hal terkait kewirausahaan. Apalagi selama ini mereka juga sudah cukup berpengalaman mengikuti berbagi ajang pameran, mulai dari lokal Bali, nasional hingga di kancah internasional, seperti Hongkong Fashion Week. Selanjutnya, ketua Umum Duta Endek Kota Denpasar, Hendra menyampaikan program kerja yang telah dan akan digarap, di samping mengajak generasi muda Kota Denpasar untuk menjadi smart & beauty dengan berpartisipasi dalam “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2016” yang segera diselenggarakan. Dikatakannya, program terdekat yang dijalankan untuk lebih mencintai produk lokal ini adalah mengadakan

“Lomba Busana Modifikasi Endek se-Bali”. Acara ini sekaligus untuk mendukung Denpasar sebagai Kota Budaya, dengan tag line “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga”. Selain itu, Hendra juga mengajak

generasi muda untuk bisa bergabung pada sebuah komunitas yang digagas bersama yakni “Endek Lovers”. Di sini, katanya menjadi wadah bagi semua anak muda yang mencintai endek dalam berbagai bentuk atau kreasi. Masih di acara yang sama, Cakra Manuaba, salah seorang pemenang Duta Endek lainnya, juga sempat berbagi pengalamannya yang cukup menarik. Ia berbicara mengenai terbukanya berbagai peluang dan kesempatan yang sangat berharga. Betapa tidak karena kecintaannya pada endek, akhirnya berhasil membuka usaha sendiri dan istimewanya dengan support dari Pemerintah kota Denpasar melalui Disperindag, Bidang Ekonomi dan Dekranasda Kota Denpasar, Cakra berkesempatan mengikuti pameran mulai dari Denfes, PKB, Yogya Ekspo hingga Ina Craft di Jakarta. Maka, kata Cakra sangat tepat jika generasi muda Kota Denpasar,mengikuti program Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar. Ini adalah wadah yang tepat untuk mengembangkan diri dalam banyak hal, di antaranya kontribusi turut menjaga warisan budaya lokal sembari memupuk dan mengasah jiwa entrepreneur. Sementara Tude Togog, sebagai salah seorang praktisi endek, hadir memberikan pengetahuan untuk mengenalkan endek dengan lebih baik. Mulai dari proses pembuatannya, membedakan endek dan bahan print yang sekilas menyerupai endek hingga cara perawatannya yang benar. -ard

“Lomba Busana Modifikasi Endek se-Bali” Lomba yang bertemakan “Save Our Heritage”. Lomba ini bertujuan mengajak warga Bali khususnya generasi muda untuk lebih mencintai produk dalam negeri terutama Kain Tenun Ikat Khas Bali yaitu Endek.

Kategori B (SMP-SMA) - Berupa busana casual endek - Desain busana bebas - Aksesoris menyesuaikan

Persyaratan umum peserta : 1. Menyertakan fotocopy kartu pelajar (untuk kategori A dan B) dan menyertakan fotocopy KTP regional Bali (untuk kategori C) 2. Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan oleh panitia 3. Membayar uang pendaftaran sesuai dengan kategori yang diikuti 4. Persyaratan busana 70% endek motif dan 30% bahan penunjang (bebas)

Kategori C (umum) - Busana pesta malam endek - Busana boleh dibordir, dipayet, diprada - Aksesoris menyesuaikan

- - -

Persyaratan khusus : Kategori A (TK-SD) Busana perempuan : Busana berupa seragam sekolah boleh berupa atasan dan rok atau terusan Panjang rok atau busana minimal selutut Boleh menggunakan atribut berupa dasi, topi, tas. Sepatu menyesuaikan (kecuali high heels)

- - - -

Busana laki-laki : Baju kemeja lengan pendek Menggunakan celana pendek Boleh menggunakan atribut dasi,topi,tas. Sepatu bebas

-

Biaya pendaftaran Kategori A : Rp 50.000 Kategori B : Rp 80.000 Kategori C : Rp100.000 Pendaftaran dibuka mulai tanggal 9 Mei - 28 Mei 2016. Formulir pendaftaran dapat diambil di Gedung Graha Sewaka Dharma Lantai 3 pada Dinas Perdagangan & Perindustrian Kota Denpasar. Informasi lebih lanjut akan disampaikan saat technical meeting pada Sabtu, 28 Mei 2016, pukul 14.00 Wita di Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang. Lomba dilaksanakan pada Minggu 5 Juni 2016, mulai pukul 09.00 Wita di Gedung Sewaka Dharma. Ayo segera daftarkan dirimu dan tunjukkan kreativitasmu! Contact person: Sita : 081338935848(line:ayusitarani) Maotama :082236614896(line:suryamaotama) Krisna : 085737957774 (line:ajik_krisna)


22

Musim liburan bakal segera tiba. Bagi yang be­ lum punya rencana liburan, ada baiknya melihat agen­ da event yang bakal dige­ lar di Jakarta. Tiap bulan Juni hingga Juli, Jakarta menggelar sejumlah event akbar untuk memeriahkan HUT Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2016 men­ datang. Acara yang sudah mendahului rangk aian event HUT Jakarta adalah Festival Fashion and Food di Kelapa Gading Jakarta Utara dari 22 April hingga 22 Mei 2016.

E

Sosialita

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

vent tersebut cukup banyak menarik pengunjung bukan saja warga Jakarta tapi juga luar Jakarta. Selain acara hiburan di sana juga digelar wisata kuliner juga fashion terkini. Tak ketinggalan, tentu saja, pesta diskon utamanya bagi yang berbelanja produk-produk fashion dan peralatan rumah tangga. Kemeriahan menyambut HUT Jakarta belum berakhir. Karena setelah Festival Fashion and Food Kelapa Gading, menyusul gelaran Festival Jakarta Great Sale (FJGS) pada 3 Juni – 17 Juli 2016. Pesta belanja terakbar ini akan diikuti oleh 78 mal papan atas dan menengah yang berada di lima wilayah Jakarta. Di luar Jakarta Great Sale, wisatawan juga dapat menikmati meriahnya acara di Jakarta Fair Kemayoran yang dimulai pada 10 Juni hingga 17 Juli 2016. Di event ini, selain bisa menikmati berbagai macam hiburan pengunjung juga bisa berbelanja sepuasnya. Jika ingin menikmati acara hiburan dan budaya, bisa datang ke kawasan kota tua Jakarta, di antaranya Museum Fatahillah, di mana berbagai acara menyambut HUT Jakarta ke 489 digelar. Kembali ke soal penyelenggaraan Jakarta Great Sale 2016 yang konon paling ditunggu para penggila belanja, khususnya dari dalam negeri. Di ajang inilah mereka berkesempatan berburu barang-barang branded dengan harga terjangkau karena diskon yang ditawarkan pun ‘gila-gilaan’

Pesta Belanja hingga Dini Hari bisa mencapai 70%. Di ajang ini Anda bukan hanya bisa berbelanja sepanjang hari, tapi bisa belanja hingga dini hari. Setidaknya ada 24 mal yang telah mengagendakan akan menggelar belanja hingga dini hari alias ‘midnight sale’. Selain puluhan mal, puluhan pasar-pasar tradisional di Jakarta tak ketinggalan ikut memeriahkan ajang JGS. Seperti halnya mal-mal yang menggelar pesta diskon, pasar-pasar tradisional pun tak mau kalah. Setiap Sabtu-Minggu pasar-pasar peserta akan menggelar sembako murah, mulai dari beras, minyak goreng, telur, terigu, dll. Kebetulan event Jakarta Great Sale ini bukan saja bertepatan dengan masa liburan tapi juga bulan puasa dimana orang-orang mempersiapkan diri untuk memasuki Lebaran. “Kami sangat berharap daya beli masyarakat meningkat sehingga sektor ritel bisa tumbuh pada tahun ini,”

tkh/ist

Jakarta Great sale kesempatan berburu barang-barang branded dengan harga terjangkau

Banyak potensi alam maupun pengrajin di Tabanan yang bisa dikembangkan lebih maksimal. Demikian diungkapkan Ir. Ni Ne­ ngah Sri Labantari saat ditemui tokoh di warung makannya, Warung Kita Dewi Sri, pekan lalu. Srikandi Gerindra yang kini duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Tabanan ini tak henti-hentinya mendorong warganya untuk terus mengisi diri, mencari peluang untuk bisa meningkatkan perekonomian keluarga.

H

ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Mandey. Hal senada juga kemukakan Ketua Pelaksana FJGS, Ellen Hi-

dayat, dalam jumpa pers FJGS 2016 baru-baru ini. Menurutnya, penyelenggaraan JGS yang berdekatan dengan bulan puasa dan Lebaran membuatnya optimis

negeri maupun mancanegara untuk datang dan berbelanja,” ungkap Catur Laswanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DkI Jakarta. Jakarta, menurut para tokoh yang bergelut di bidang ritel dan pariwisata, memiliki potensi sebagai destinasi wisata belanja dunia karena menawarkan harga yang kompetitif serta produk barang yang up to date dan berkualitas. Artinya, keunggulan Jakarta tidak kalah dengan negara lain, bahkan dari segi harga bisa lebih baik. Keunggulan lainnya adalah sebagai ibukota negara berbagai event besar berskala internasional kerap digelar. Event-event ini tentunya menarik minat masyarakat, baik itu dari dalam negeri maupun mancanegara. Wisatawan mancanegara yang datang, mereka bukan hanya menikmati eventevent yang digelar tapi juga berbelanja. Paling tidak itu yang ‘diteropong’ Menteri Pariwisata Arief Yahya yang mengatakan, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia selain untuk wisata cultural (60%), juga wisata belanja dan kuliner. “Ini (wisata belanja dan kuliner) sudah mencapai 45%,” katanya. Menurut Roy Mandey, Ketua Aprindo, ada tiga keunggulan yang dimiliki Jakarta, utamanya adalah produk-produk yang ditawarkan sangat bersaing dengan negara

lain, baik itu fashion, kuliner, hingga barang-barang branded. “Harga yang ditawarkan sangat bersaing bahkan cenderung lebih murah,” katanya. Keunggulan lainnya adalah kualitas pelayanan yang baik. “Berbagai keunggulan yang dimiliki Jakarta membuatnya memiliki potensi yang besar menjadi surga belanja dunia. Kita tidak kalah dari Singapura dan Hong Kong,” ucapnya. Namun demikian, akunya, untuk mencapai itu, ada sejumlah hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan. Salah satu yang diusulkannya adalah soal pengembalian pajak bagi turis asing yang membeli barang branded. “Ini tentu akan menjadi menarik bagi mereka,” katanya. Hal lainnya adalah soal promosi yang harus gencar dilakukan. Promosi besar-besaran, itu disarankan Roy. Seperti negaranegara lain yang gencar berpromosi, Indonesia pun harus melakukannya. Promosi bisa dilakukan lewat berbagai media, baik itu media massa cetak maupun televisi, lewat maskapai maupun event-event pariwisata internasional, dll. –Diana Runtu

akan ada kenaikan pendapatan ritel. Kalau pada JGS 2015 lalu realisasi transaksi mencapai Rp 14,5 triliun maka tahun ini diharap mengalami kenaikan sekitar 8%. “Target pencapaian penjualan tahun ini Rp 15,7 triliun,” ucap Ellen yang juga Ketua Asosiasi Pengeloa Pusat Belanja Indonesia DKI Jakarta. Ditambahkannya juga, pihaknya bekerja sama dengan Dekranasda DKI Jakarta juga memberi kesempatan pada aneka produk kerajinan untuk berpameran dalam event ini. Dengan demikian para pelaku usaha kecil menengah juga mendapat kesem­ patan untuk ikut ambil bagian dalam ajang ini. “Kami akan menyediakan ruang pameran dan penjualan bagi UMKM binaan Dekranasda DKI Jakarta. Kami juga berharap akan semakin banyak masyarakat tertarik untuk menciptakan banyak celah bisnis mandiri,”paparnya. Festival Jakarta Great Sale merupakan salah satu program unggulan Pemda DKI Jakarta dalam rangka HUT DKI Jakarta. Festival ini telah diperkenalkan ke masyarakat sejak tahun 1982, ketika itu namanya Festival Per-

al itu pula yang se­ ring disampaikan­ nya kepada para anggotanya di DPC Iwapi Tabanan. Karena itu, di bawah kepemimpinan Sri Labantari, DPC Iwapi Tabanan kerap menggelar pelatihan-pelatihan kewirausahaan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship mereka. “Saya ingin bangkit­ kan jiwa itu dulu, biar ada semangat. Jika semangat dari diri sendiri sudah ada, tinggal diarahkan saja,” ucap istri dari I Ketut Carma, S.E., pengu­ saha handicraft dengan bendera PT Lancar Sari ini. Apalagi, dikatakannya di DPD Iwapi Bali memiliki klinik bisnis. Jadi, para anggota Iwapi yang serius ingin belajar bisnis, bisa datang ke klinik bisnis. Perempuan kelahiran Tabanan 47 tahun silam ini memi­ liki tekad kuat untuk memajukan kaumnya. Karena itu, dalam setiap kesempatan ia selalu mencari celah dan peluang untuk bisa menjem­ batani antara anggota Iwapi dengan pihak lain. “Di Iwapi ini saya ingin

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

Dorong Perempuan Tangkap Peluang menciptakan wanita-wanita pengu­ saha, minimal menumbuhkan jiwa enterpreneurnya tanpa mengesamp­ ingkan tugasnya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan seorang istri bagi suaminya,” ucapnya.

Sri Labantari usai sidang paripurna bersama Bupati Tabanan Eka Wiryastuti

Jakarta Destinasi Wisata Belanja Dunia Penyelenggaraan FJGS dari tahun ke tahun yang terus berkembang diikuti dengan antusiasme masyarakat , memberi harapan bahwa suatu saat Jakarta akan menjadi salah satu destinasi wisata belanja dunia. Harapan ini sudah sejak lama menjadi obsesi Pemda DKI Jakarta, karena itu berbagai penyempurnaan selalu dilakukan agar penyelenggaran bisa menjadi semakin baik. “Kami berharap FJGS bukan hanya untuk menyemarakkan HUT Jakarta tapi lebih dari itu agar Jakarta bisa menjadi salah satu destinasi wisata belanja yang menarik. Daya tarik misalnya soal harga. Tawaran harga yang menarik bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan dalam

Sri Labantari

Selama ini, ia melihat perempuan Bali khususnya, banyak disibukkan dengan urusan adat dan urusan domestik rumah tangganya. Ia in­ gin, di sela-sela waktu mere­ka yang mungkin hanya sedikit, perempuan Bali bisa menjadi “Ibu Rumah Tangga Plus”. Dalam artian, meski hanya seorang ibu rumah tangga, namun perempuan Bali memiliki keterampi­ lan lain yang bisa dikembangkan untuk membantu menopang pereko­ nomian keluarga. Dengan bergabung dalam organ­ isasi Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), ia mengatakan, paling tidak perempuan Bali khususnya masyarakat Tabanan, bisa banyak melihat peluang dan sangat dimung­ kinkan bisa bersi­n ergi. Saat ber­ kumpul, mereka bisa saling sharing, saling support, yang selanjutnya bisa memunculkan ide-ide kreatif. Dan, yang paling penting adalah dengan bergabung dalam organisasi ini, mer­ eka memiliki jari­ngan luas, sehingga mudah meng­akses informasi-infor­

Sri Labantari saat memberikan reses kepada konstituen

masi penting untuk mengembangkan diri maupun usahanya. “Contohnya, ada anggota Iwapi Tabanan yang memiliki bisnis pe­ nyewaan tenda, ada juga pemilik salon. Misalnya ada acara wedding, mereka bisa bekerjasama dan sa­ ling menginformasikan,” ujar Sri Labantari yang memiliki moto hidup “Tak ada masalah yang tak bisa dis­ elesaikan” ini. Contoh lain, saat dilaksanakan Ina Craft di Jakarta, April lalu, se­ orang pengrajin rajutan diikutserta­ kan berpameran. “Saya minta satu stan kepada Kadisperindag, akhirnya dalam satu stan ada enam pengrajin yang pameran. Walaupun berdesakdesakan, karena kerajinannya unik, jadinya dicari pembeli. Kini pengra­ jin kami itu banyak mendapatkan orderan,” kisahnya. Karena itu, ia menyebut masih banyak potensi Tabanan yang belum tereksplor, di antaranya ada kerajinan jejaitan ental, ukiran kayu, hingga pengerajin perak. –ten

Sri Labantari bersama keluarga

Siap Bersinergi dengan Program Pemerintah

Sebagai seorang anggota dewan yang memiliki tugas legislasi, budgeting, dan kontroling, Sri Laban­ tari berusaha berbuat maksimal untuk masyararakat yang telah memberikan kepercayaan padanya. “Kegiatan apapun yang tujuannya baik pasti kami support,”ucapnya. Ia menyebut sebuah perkum­ pulan tuna netra “Bhakti Netra Sejahtera”. Dalam kekurangan yang dimiliki, tak membuat mereka ra­ puh dan terpuruk. Justru mereka mampu berbuat dan berkarya layaknya saudara-saudara me­ reka yang normal. Bahkan tak sedikit dari mereka yang berhasil mengukir prestasi hingga ting­ kat nasional. Yang membuatnya

terharu, para tuna netra ini ingin anggota DPRD, ia menya­lurkan hobi selalu datang ke rumah Tuhan secara memasaknya dengan membuka Warung Kita “Dewi Sri” di Abiantu­ periodik. Di setiap langkah yang ia jalani, wung Kediri, Tabanan. Resep ruma­ dikatakannya sebagai proses bela­ han ia terapkan di warung makan jar, bertumbuh, dan berkembang. yang mendapat respons bagus dari Misalnya, ketika menghadiri suatu masyarakat tersebut. Karena itu undangan, yang ada dalam benaknya pula, warung ini kini diperluas den­ adalah bagaimana ia bisa “men­ gan menambah fasilitas aula yang curi” ilmu dari setiap orang yang kerap difungsikan sebagai tempat ditemuinya. Seperti saat menghadiri meeting. Ke depannya, ada rencana undangan pembukaan agrowisata, akan diperluas lagi dengan me­ yang kebetulan pengelolanya adalah nambah fasilitas ada jogging track. seorang doktor. “Saya bisa mengam­ Dengan semua aktivitasnya itu, Sri bil pemikiran-pemikiran mereka Labantari berkeyakinan, bahwa apa yang mungkin saja bisa diterapkan yang dilakukan pasti berjalan den­ untuk mengembangkan organisasi, gan baik karena dilakukan dengan dan ini pun nantinya akan berimbas ikhlas dengan tujuan baik. –ten ke perempuan-perempuan lain,”ucapnya. Seperti yang belum lama ini digelar oleh Iwapi Tabanan adalah, “Sosialisasi Sistem Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali”. Materi-materi yang sangat relevan dengan ke­ hidupan orang Bali semacam ini, tentunya sangat mem­ buka wawasan masyarakat Bali khususnya perempuan. “Program-program pemerin­ tah sudah bagus-bagus. Kami dalam kapasitas sebagai ang­ gota dewan siap bersinergi,” ucapnya bersemangat. Sri Labantari memang tak bisa berdiam diri. Delapan tahun lalu, sebelum menjadi Sri Labantari bersama suaminya I Ketut Carma usai pelantikan pimpinan dewan

Roy Mandey

tokoan. Tahun 90-an nama event berganti menjadi ‘Pesta Diskon’, kemudian berubah menjadi Jakarta Great Sale. –Diana Runtu

3

Sri Labantari dengan kumpulan bersama Bakti Netra Sejahtera

Kegiatan Iwapi Tabanan, Sosialisasi Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali


4

Inspirasi

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Amalia Ayuningtyas

Jubir Relawan “Teman Ahok” Amalia

S

ebagai jubir, Lia nampak cukup piawai melaksanakan fungsinya. Ia tak pernah terlihat emosi menanggapi pandangan-pandangan menyudutkan yang diarahkan kepada komunitasnya, ia juga tak marah ketika ada politisi yang menyangsikan kemampuan relawan Teman Ahok dalam mengumpulkan 1 juta dukungan.

Syukuran teman Ahok atas tercapainya syarat minimum dukungan pencalonan Independen Pilkada

ISTANA MANCAWARNA SERAHKAN KRISTAL CANDLELIER KE RAJA KLUNGKUNG

Turah Wira Wedawitry bersama Ida Dalem Semaraputra didampingi Nesa Santini (Bendahara DPD PNI Marhaenisme Bali)

Untuk menjalin kekerabatan dengan puri-puri se Bali, Istana Mancawarna Tampaksiring gencar bersilaktama dengan puri-puri se-Bali sekaligus memberikan cinderamata (cihna) berupa seperangkat lampu kristal khas Eropa (Candlelier). Hal ini bertujuan untuk mendukung keberadaan puri sebagai benteng utama budaya dan agama Hindu. Demikian diungkap oleh Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Wedasteraputra Suyasa saat bertemu Ida Dalem Semaraputra di Puri Agung Klungkung. “Tiang diutus oleh kakanda Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang tempo hari sudah sempat hadir menemui Ida Dalem dalam rangka peresmian Ikatan Cendikiawan Keraton Nusantara

(ICKN). Waktu itu Beliau berjanji untuk menyerahkan satu set Candlelier ke Puri Klungkung. Dan, tiang hadir mangkin “ ungkap Wira Wedawitry yang juga Wakil Ketua KNPI Bali. Lebih lanjut, kelestarian pertalian antara Puri Tegeh Kori dengan puri apapun di Bali adalah sebuah kewajiban bagi warihnya. “Tiang dididik oleh almarhum Ida Betara Shri Wedastera Suyasa untuk selalu menghargai para pendeta dan penglingsir. Sesana manut linggih harus dipahami oleh generasi muda saat ini. Pertalian sejarah Ida Betara Tegeh Kori dengan Sri Aji Kresna Kepakisan adalah satu adanya. Maka dari itu sebagai bagian dari yowana Tegeh Kori tiang angayubagia atas segala dukungan Puri Klungkung sebagai Tedung Semeton Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori. Mangkin tiang berusaha untuk menjalankan tali persaudaraan ini. Angayubagia, “ ungkap Gung Wira yang juga pengusaha muda Bali ini. Usai dari Puri Klungkung, Turah Wira berencana untuk mengunjungi beberapa puri di Bali untuk menyerahkan candlelier yang merupakan cinderamata resmi Istana Mancawarna yang juga merupakan kantor resmi Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. “Kami sudah memprogramkan hal ini sejak jauh hari. Kami ingin puri puri seluruh Bali diperindah dengan kristal eropa ini. Minimal dengan cihna ini sebagai pertanda depan (cahaya) untuk menerangi puri dengan cahaya ibu laksmi. Semoga persahabatan kami tambah erat demi Bali,“ ungkap Turah Wira yang juga Ketua Umum Yayasan Universitas Mahendradatta Bali ini.

Ahok’ menjadi sorotan. Tak heran karena dialah yang didapuk untuk menjadi jubir dari komunitas tersebut. Sehari-hari gadis cantik berjilbab ini mudah ditemui di markas Teman Ahok di kawasan Graha Pejaten, Jakarta Selatan. “Sekarang saya fokus di Teman Ahok,” ujar Lia yang baru tahun lalu lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Sebelum berkiprah di komunitas Teman Ahok, Lia sempat bekerja sebagai Junior Consultan Cyrus Network, kemudian dia bekerja sebagai Account Executive perusahaan media massa nasional, sampai akhirnya ia melepas semua kegiatannya dan fokus pada kegiatan di relawan Teman Ahok di mana ia menjadi salah satu dari lima pendirinya. Menurut Lia, aktif di berbagai kegiatan di luar pendidikan formal, telah dijalaninya sejak ia masih SMA. Setelah kuliah, katanya ia menjadi semakin aktif lagi dengan masuk ke sejumlah organisasi yang bergerak di bidang politik dan anti korupsi. Di antaranya Suara Pemuda Anti Korupsi (SPEAK), juga menjadi volunteer di Transparansi Internasional Indonesia. Tidak hanya itu, dia juga menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi reporter media online, majalah juga buletin di Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia. Tentang langkahnya melepas pekerjaan sebagai account executive sebuah perusahaan media massa, dan memilih fokus pada aktivitas Teman Ahok, menurut Lia telah dipikirkannya masak-masak. Bahkan dengan tegas anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku tidak menyesali langkahnya. Rencananya, kata Lia, setelah pekerjaan di Teman Ahok usai, ia akan melanjutkan kuliah S2. “Sudah ada beberapa tawaran untuk kuliah S2,” katanya. MASA ‘BERDARAHDARAH’ TELAH BERLALU Bercerita tentang suka-duka relawan Teman Ahok, Lia bertutur, agaknya masa ‘berdarah-darah’ telah berlalu. Setahun lalu ketika memulai aktivitasnya mengumpulkan KTP warga DKI Jakarta untuk mendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mencalonkan diri lagi sebagai Gubernur, relawan Teman Ahok harus berjuang super keras termasuk membangun posko-posko di tempat-tempat strategis. “Dulu, di awal-awal, kami harus kerja

21

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Jelang MTQN ke-26, NTB Terus Berbenah

Islamic Center Mataram terus dibenahi menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional ke-26 yang akan diselenggarakan tanggal 30 Juli 2016. Sebagai tuan rumah yang dikenal dengan Bumi Seribu Masjid (meski dalam kenyataannya lebih dari 4.000 masjid berdiri di NTB), Nusa Tenggara Barat bersiap dengan sangat maksimal untuk menerima kafilah-kafilah, tamu Hafidz dan rombongannya dari seluruh Indonesia.

Seiring dengan meningkatnya konstelasi politik di Jakarta menjelang Pilkada 2017, ada satu sosok yang kini cukup menyita perhatian pers. Dia adalah Amalia Ayuningtyas, juru bicara Teman Ahok. Dalam berbagai kesempatan, Lia begitu namanya akrab disapa, tampil memberi penjelasan seputar berbagai kegiatan Teman Ahok, mulai dari upaya mengumpulkan 1 juta KTP warga DKI Jakarta, partisipasi aktif masyarakat hingga menangkis serangan-serangan yang dialamatkan berbagai pihak kepada komunitas tersebut. Bahkan ketika ada politisi bilang akan terjun dari Monas kalau Teman Ahok berhasil mengumpulkan 1 juta dukungan, pun hanya ditanggapi kalem. “Pengumpulan KTP ini nggak ada hubungannya dengan apakah ada orang mau loncat dari Monas atau enggak,” ucap gadis kelahiran Sleman Yogyakarta 1992, ini. Nama Lia mulai mencuat dan jadi perhatian masyarakat sejak kiprah relawan ‘Teman

Mandalika

Lia bersama Ahok

keras menyosialisasikan pengumpulan KTP warga. Untuk melobi orang agar mau mendukung saja bisa sampai 2 jam. Tapi kini tidak lagi. Karena masyarakat secara mandiri ikut membantu. Hasilnya, kalau dulu untuk mengumpulkan 700 dukungan warga membutuhkan waktu berbulan bulan kini malah dalam satu hari bisa mencapai 500 KTP,” ungkap Lia semringah. Bahkan sejak Ahok mendeklarasikan diri maju sebagai calon independen dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, pada Maret lalu, berpasangan dengan Heru Budi Hartono, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Pemda DKI Jakarta,dukungan masyarakat semakin deras mengalir. Para relawan Teman Ahok, kata Lia, dibuat terkejut-kejut. Betapa tidak, hanya dalam tempo singkat para relawan serta masyarakat, berhasil mengumpulkan KTP 490 ribu lebih, atau hampir mendekati syarat minimal pencalonan jalur independen yakni 532.213 lembar dukungan. “Antusias masyarakat sudah masuk dalam partisipasi aktif, ini sungguh menggembirakan,” ujarnya sembari menambahkan, dukungan masyarakat bukan hanya dalam hal pengumpulan pengumpulan KTP tapi juga dalam berbagai hal, mulai dari peralatan yang dibutuhkan hingga makanan. “Sekarang masyarakat sudah tidak pasif lagi, mereka sudah bergerak sendiri,” ungkapnya sembari tersenyum. Sekarang meski pengumpulan dukungan sudah melampaui syarat minimal calon independen, namun relawan Teman Ahok juga masyarakat masih giat bekerja. Ini karena mereka punya target tersendiri, yakni 1 juta dukungan. Saat ini, (20/5), berdasarkan info resmi dari Teman Ahok jumlah dukungan yang sudah berhasil terkumpul adalah 859.614 lembar. Ini berarti hanya tinggal 140.386 lembar lagi mencapai 1 juta dukungan. Jika melihat perjalanan dalam dua bulan terakhir, agaknya jumlah itu tidak akan sulit terpenuhi. Apalagi perjalanan masih panjang karena verifikasi data dukungan paling lambat diterima KPUD DKI Jakarta pada Agustus 2016. -Diana Runtu

Amalia jubir teman Ahok

Sosialisasi MTQ Nasional di Mataram

M

engambil tema MTQ Nasional upaya mewujudkan revolusi mental dalam memantapkan nilainilai Islam rahmatan lil a’lamiin, sebagai tuan rumah, NTB berharap MTQ kali ini memberikan manfaat lebih dan berkesan bagi para peserta dari seluruh Tanah Air. Bagaimana tidak, perhelatan akbar tingkat nasional tersebut nantinya akan dipusatkan di Islamic Center, Kota Mataram, sebagai arena pembukaan dan penutupan. Cabang-cabang yang dilombakan dalam MTQ, menurut Menteri Agama, Lukman Hakim, ada sedikit mengalami perubahan. Jika pada MTQ sebelumnya melibatkan 7 cabang dan 17 golongan, namun tahun ini bertambah menjadi 18 golongan, yaitu hot cord kontemporer. Jenis golongan ini merupakan cabang lomba yang dilaksanakan secara periodik, yaitu setiap 2 tahun sekali. Dengan ajang MTQ Tahun 2016 ini, Nusa Tenggara Barat berharap bisa menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan nasional yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Bukan hanya ajang untuk mencari qori’ dan qori’ah terbaik, namun lebih dari itu MTQ 2016 bisa menjadi wadah untuk membangun keharmonisan antar umat beragama,” kata Menteri Koordinator Kesejahteraan dan Pembangunan Manusia, Puan Maharani, usai memimpin Rapat Koordinasi Lintas Kementerian terkait penyelenggaraan MTQ 2016, di Kantor Kemenko PMK, beberapa waktu lalu. Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Muh. Amin, SH., M.Si, yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan tentang perkembangan terakhir persiapan pelaksanaan MTQ. Ia juga menyampaikan bahwa dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat khususnya bagi kaum muslimin di Nusa Tenggara Barat sangat diperlukan agar pelaksanaan MTQ Nasional ini dapat berjalan lancar dan sukses karena MTQ ini bagi kaum muslimin. Menko PMK, Puan Maharani menyampaikan, bahwa MTQ ke-26 di Lombok merupakan MTQ Nasional pertama di era kepemimpinan Jokowi-JK. Karena itu ditekankannya, pentingnya koordinasi pusat dan daerah, khususnya berkaitan

dengan regulasi dan keuangan agar saat penyelenggaraan tidak terdapat kendala dan masalah. Pembukaan MTQ Nasional ini rencananya akan dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo. Hal ini disampaikan pula dalam rapat ini oleh Kementrian Agama melalui Menteri Agama yang memiliki kewenangan untuk memastikan kehadiran Presiden RI guna membuka acara tersebut. “Kami terus berkoordinasi dengan Mensesneg agar waktu pembukaan MTQ tanggal 30 Juli tersebut, Bapak Presiden bisa hadir membuka acara tersebut. Kami juga mengirimkan surat kepada Wakil Presiden untuk juga bisa menutup MTQ tersebut pada tanggal 6 Agustus 2016,” jelas Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin. Menurut Wakil Gubernur NTB, MTQ ini tidak hanya menjadi agenda bagi kaum muslimin melainkan juga agenda bagi seluruh lapisan masyarakat NTB. “Masyarakat kami mayoritas muslim dan sangat toleran dengan agama lainnya. Ini bukan saja agenda bagi kaum muslim saja, namun ini merupakan agenda seluruh lapisan masyarakat Nusa Tenggara Barat,’’ ungkap Wagub. Momentum ini juga secara luas akan memberikan dampak positif

bagi perekonomian masyarakat NTB. Tamu-tamu yang hadir akan dapat menikmati keindahan alam dan kuliner khas daerah dengan megunjungi obyek-obyek wisata. “Secara ekonomi tentu mempunyai multiplayer effect karena sekian banyak tamu yang akan datang menghadiri penyelenggaraaan MTQ ini,” katanya dalam rapat yang juga dihadiri oleh beberapa menteri seperti Menteri Kominfo, Rudiantara, juga Walikota Mataram, Bupati Lombok Barat dan sekda Lombok tengah. Pada kesempatan membuka sosialisasi MTQ Nasional ke-26 tahun 2016 di Aula Kantor Walikota Mataram, beberapa waktu sebelumnya, H. Muh. Amin juga telah menegaskan bahwa MTQN adalah tanggung jawab seluruh masyarakat NTB. “Jika sukses dalam penyelenggaraan MTQN, maka momentum ini akan menjustifikasi

Rapat persiapan MTQ Nasional bersama Menko PMK

Kota Mataram sebagai kota favorit penyelenggaraan Meeting, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) di masa-masa yang akan datang,” ujar Muh. Amin dalam sosialisasi MTQN 2016 di Mataram yang juga dihadiri oleh Walikota Mataram H. Ahyar Abduh, Wakil Walikota Mataram H. Mohan Roliskana, S.Sos., MH., Asisten 3 Administrasi Umum dan Kesra Drs, H. Lalu Syafi’i, M.M, Pimpinan SKPD Lingkup Provinsi NTB dan Kota Mataram, Camat dan Lurah se-Kota Mataram, Ketua TP PKK Kota Mataram Hj. Suryani, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat.

Pentingnya menyukseskan MTQN 2016 ini, juga disampaikan oleh Wali Kota Mataram, H. Ahyar Abduh, dalam rangka persiapan lebih awal menghadapi gelaran MTQN, sehingga sosialisasi tidak hanya dilakukan pada jajaran pemerintah, namun juga masyarakat. “Kota Mataram telah melakukan persiapan-persiapan sebagai tempat penyelenggaraan, karena kita ingin meraih apa yang menjadi prinsip tentang penyelenggaraan yaitu tiga sukses, antara lain sukses penyelenggaraan, sukses pencitraan, dan sukses ekonomi,” ujar wali kota.

Islamic Center Mataram sebegai pusat perhelatan MTQ Nasional ke-26 Tahun 2016

-Naniek I. Taufan

Foto: Jibeng Ismoyo

Lalu, Raih Juara 1 Tahfidz se-Asia Pacifik 2016 Didampingi Ketua Yayasan Tahfiz Darussamad, Kerongkong, L. Muhibban Al Hafizh yang merupakan ayah kandung dari Lalu Muhammad Khaerrazzaq Al Hafiz, penghapal Alquran yang berhasil meraih Juara 1 Tahfidz se-Asia Pacifik VII, tahun 2016, beberapa waktu lalu bertemu Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi di ruang kerja gubernur. Selain bersama ayahnya, ia juga didampingi guru pembimbingnya, serta ibu dan kakak kandungnya, yang semuanya penghafal Al-Qur’an. Ketika bersilaturrahmi dengan Gubernur NTB yang seorang ulama juga Tahfidz Alquran ini, L. Muhibban bercerita banyak tentang keistimewaan putranya itu. Awalnya, Hafiz yang dipercaya LPTQ berlomba di tingkat nasional, berhasil meraih juara pertama untuk cabang hafalan 10 juzz. Lalu kemudian akhirnya kembali meraih juara 1 saat mewakili Indonesia pada gelaran Musabaqah Hafalan Qur’an dan Hadits (MHQH) ke-VII se-Asia Pacifik yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dalam gelaran

yang diikuti hampir 150 peserta dari 25 negara itu, Hafiz berhasil meraih juara 1 kategori Musabaqah Hafalan Qur’an 10 juzz, dengan total nilai 190,50. Pengalaman mengantarkan putranya menuju keberhasilan itu, menciptakan keyakinan dihatinya, tentang potensi lain para hafidz di NTB. ”Kalau anak saya dengan fasilitas dan keterbatasan yang ada saja mampu berhasil seperti ini, masa anak-anak NTB yang lain tidak bisa?,” ungkapnya. Karena itulah, ia sangat berharap dukungan pemerintah provinsi melalui gubernur, untuk dapat memaksimalkan potensi yang ada. “Tinggal bagaimana memaksimalkan pembinaan dari kita, serta didukung oleh pemerintah daerah, Insya Allah NTB akan dapat bersinar di mana-mana,” kata Majdi yang saat itu didampingi Assisten Administrasi Umum dan Kesra Setda Prov. NTB, Dr.H.lalu Syafi’I, M.M. “Salah satu wujud kesyukuran yang nyata itu timbul atas semangat anak-anak kita menghafal Al qur’an. Menghafal Al-Quran

akan membawa manfaat yang besar,” ujar Majdi yang sangat bersyukur dan bangga atas prestasi putra daerah NTB itu. Menurutnya, di samping sebagai benteng penjaga, menghafal ayat-ayat suci Alquran juga dapat mengundang keberkahan. Tidak hanya bagi yang menghafalnya saja, namun juga bagi orangtua, keluarga dan bangsanya. Salah satu metode menghafal Al qur’an yang sempat diungkap dan diyakini Gubernur yang juga merupakan Doktor lulusan terbaik di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir, jurusan Tafsir dan ilmu Al-Quran itu yakni dengan menjadikan hafalan sebagai kegiatan menyenangkan, bukan memberatkan. Ia secara khusus berpesan agar Hafizi, senantiasa rendah hati, tetap istiqomah, dan terus belajar. “Luruskan niat, mantapkan hatimu Nak, karena orang yang dapat menghafal Alquran, bukanlah orang yang sembarang, melainkan orang pilihan yang mendapat karunia dari Allah,yang hatinya diciptakan untuk menyimpan Al-quran,” ungkapnya bangga. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Hj. Erica Zainul Majdi

Raih Dekranas Award Tahun 2016

Ketua Dekranasda NTB Hj. Erica Zainul Majdi, baru-baru ini meraih Penghargaan khusus Dekranas Award tahun 2016, kategori Keunggulan Kepemimpinan dan Koordinasi Wilayah. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Dekranas Hj. Mufida Jusuf Kalla di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (17/5) dan diterima oleh Ketua Harian Dekranasda NTB, Drs. HL. Gita Aryadi yang mewakili Erica yang tengah mengikuti kunjungan Gubernur NTB ke Tiongkok.

P

enghargaan ini merupakan apresiasi atas berbagai upaya dan aksi nyata Dekranasda NTB dalam memberikan perhatian dan membina pengrajin Nusa Tenggara Barat untuk meningkatkan keterampilan mereka, mendongkrak kualitas produk, sehingga dinilai mampu bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. -Naniek I. Taufan

Penghargaan yang diberikan Dekranas kepada Dekranasda NTB

Pemprov NTB Dukung Rakernas Iwapi di Lombok

Diperkirakan tidak kurang dari 1.500 wanita pengusaha dari 30 provinsi di Indonesia, akan membajiri Lombok sehubungan akan dilangsungkannya Rakernas Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia ( Iwapi) di Pulau Lombok pada bulan September mendatang. “Sekitar 1.500 wanita pengusaha dari 30 provinsi di tanah air akan menghadiri Rakernas Iwapi dan NTB akan menjadi tuan rumah kegiatan tersebut,” ungkap Ketua Iwapi NTB, Hj. Baiq Diah Ratu Ganefi bersama rombongan panitia pusat dan panitia daerah Rakernas Iwapi ketika melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin beberapa waktu lalu. Demi menyukseskan kegiatan tersebut, Wakil Gubernur NTB, menyampaikan kesiapan dan dukungan Pemerintah Provinsi NTB guna kelancaran penyelenggaraan Rakernas ini. ia berharap bahwa kegiatan yang merupakan even tahunan Iwapi ini dapat menjadi peluang promosi bagi Nusa Tenggara Barat dalam upaya mempromosikan potensi dan sumber dayanya, sehingga dapat membawa multiplier effect bagi perekonomian NTB. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Dialog Perempuan PDI P Bali

Kiprah Perempuan di Era Globalisasi Kesetaraan perempuan bukan hanya atas jabatan namun, juga dalam politik. Sesuai hukum adat, perempuan juga berhak mendapat warisan dari orangtua. Karena itu, jajaran PDIP Bali mendorong advokasi perempuan. Demikian ditegaskan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster saat memberi sambutan dalam acara Dialog Perempuan bertema ­“Kiprah Perempuan Bali dalam Era Globalisasi”, Revitalisasi Perenan Wanita Menuju Perempuan ­Indonesia Berdikari, Berbudaya, dan Berkebangsaan Menyambut Era Keterbukaan MEA, Minggu (1/5), di Gedung PDIP Bali, Denpasar.

Ketua DPD PDIP Prov. Bali Wayan Koster memberikan penghargaan kepada Ny. Bintang Puspayoga sebagai narasumber dalam dialog “Kiprah Perempuan Bali dalam Era Globalisasi” Ketua Harian Drkranasda NTB, Drs. HL. Gita Aryadi mewakili Ketua Dekranasda NTN menerima penghargaan dari Dekranas Pusat

Panitia daerah dan panitia pusat Rakernas Iwapi 2016, bersama Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin

Tinggi, Angka Kekerasan terhadap Perempuan di NTB

Forum pertemuan bagi komponen-komponen kelompok penggerak perlindungan atas perempuan, yang dilandasi tujuan dan niat untuk meningkatkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan berkumpul dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kebijakan Pemenuhan Hak, Perlindungan Dan Pemberdayaan Perempuan yang dibuka Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin SH, M. Si., beberapa waktu di Mataram. Pertemuan-pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan-kesepakatan dalam menyikapi berbagai perkembangan bangsa dewasa ini seperti adanya kecenderungan terjadinya ketidak adilan, kekerasan dan penindasan gender dalam

masyarakat yang cenderung partiarkal, karena berdasarkan catatan yang dilansir Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), beragam kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2015. Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin yang didampingi Kepala BP3AKB, Dra. T. Wismaningsih, ketika membuka rakor ini ������ mengatakan bahwa dari sisi pola, bentuk dan angka, kekerasan terhadap perempuan dewasa ini semakin meluas. Data komnas perempuan menunjukkan, sepanjang 2015 kekerasan tidak hanya terjadi di wilayah domestik, melainkan telah meluas di berbagai wilayah termasuk di wilayah publik.

“Berdasarkan jumlah kasus yang didapat dari 232 lembaga mitra komnas perempuan di 34 provinsi, terdapat 16.217 kasus yang berhasil didokumentasikan dan yang paling menonjol terjadi di ranah personal. Tahun 2016 menunjukkan terjadi kenaikan data jenis kekerasan seksual di ranah personal dibanding tahun sebelumnya, yakni 11.207 kasus,” ungkap Amin dalam kegiatan yang dihadiri pula oleh Asisten ������������ Deputi Pemberdayaan Perempuan Kemenko PMK Drs. Wagiran, M.M., Ir. Wahyuni Tri Indarti dari Asisten Deputi Pemenuhan Hak Dan Perlindungan Perempuan Kemenko PMK dan Dr. A. Darsono

M. Si., dari Deputi Kesetaraan Gender Bidang Politik Hukum dan HAM. Berdasarkan data dari BP3AKB NTB, di Nusa Tenggara Barat angka kekerasan terhadap perempuan terbilang tinggi dan cenderung selalu mengalami peningkatan. Angka terakhir di tahun 2015 tercatat 1.031 kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan didominasi oleh kekerasan fisik, selanjutnya menyusul psikis dan seksual, yang sebagaian besar terjadi dalam rumah tangga. Menurut Wagub bahwa akar permasalahan dari kasus-kasus kekerasan dan kejahatan seksual dan ketidak adilan terhadap per-

empuan bersifat multidimensi dan multikompleks, yakni berakar dari permasalahan ekonomi, sosial-budaya, kesehatan jiwa, pendidikan, penegakan hukum, komitmen politik, hingga hilangnya nilai-nilai karakter bangsa. Diperlukan keterlibatan semua pihak untuk ikut serta melindungi perempuan dari tindakan-tindakan kekerasan seperti ini. “Semua pihak harus terlibat untuk membantu menyelesaikan persoalan ini karena perempuan memegang peranan penting dalam mendidik generasi penerus bagi suksesnya pembangunan bangsa dan negara ini. Selain itu, perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dalam sejarah perjuangan bangsa dan bersama laki-laki, perempuan merupakan pilar utama dalam pembangunan bangsa,” ungkap Muh. Amin. -Naniek I. Taufan Foto-foto: Humas Pemprov. NTB

5

I

a menilai, kondisi perempuan Bali belum setara. “Kenapa lahir dari orangtua yang sama tapi tidak mendapat waris? Menurut saya, ini perlu diterobos. Ini tantangan buat kita di Bali,” tegas Koster. Ia menyatakan, kesamaan perempuan utnuk mendapatkan waris akan diperjuangkan srikandi PDIP. “Hak perempuan dan lakilaki itu sama. Ini harus disuarakan kader perempuan PDIP. Bila perlu ada advokasinya nanti,” ujarnya menambahkan. Wayan Koster di hadapan 300 perempuan PDIP yang hadir menyata­kan, satu sloka dari sarasmuscaya disebutkan bagaimana memuliakan perempuan. “Ada sloka yang tak pernah saya lupa, dimana

wanita dihormati, di sanalah kebahagiaan ada. Dimana wanita disakiti, di sanalah kehancuran akan terjadi. Laki-laki jangan sampai menyakiti istri, pasti dalam hidup ba­nyak godaan, apalagi anggota dewan, se­ ring berkunjung ke luar daerah, tapi jangan sampai me­nyakiti istri,” kata Koster, yang disambut tepuk tangan peserta dialog. Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong kader perempuan PDIP berperan aktif membangun Bali, salah satunya, mendirikan sekolah PAUD bernapaskan Hindu degan mengutamakan bahasa pengantar bahasa Bali. “Di seluruh kabupaten/ kota kami harapkan nanti bisa segera didirikan sekolah PAUD yang menggunakan bahasa pengantar bahasa bali alus,” kata Koster. Putu Putri Suastini yang juga istri Wayan Kos­ter me­ ngupas suka duka menjadi pendam­ ping hidup ketua DPD PDI Perjuang­ an Provinsi Bali dan anggota DPRRI tersebut. Ba­ nyak lelucon manis yang dilontarkan menyegarkan sua-

Dari kiri: dr. Nyoman Dianita Candradewi, Putu Putri Suastini, dan Ni Made Rahayuni

sana dialog, yang membuat peserta yang hadir makin antusias. Intinya, ia mencoba memposisikan diri sebagai kartini di sela-sela mendampingi suami. Hal yang menjadi pemikirannya, juga diungkapkan. Ia mendorong kaum perempuan membina anak anak mereka dengan mengepankan budaya lokal. “Saya kadang sedih melihat para orangtua tidak memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi keluarga,” ujarnya. Sementara, Bintang Puspayoga mengupas kesetaraan perempuan. Ia menyoroti rendahnya kouta perempuan di kancah politik. Dalam dunia politik perempuan masih dianggap lemah. Ini tidak terlepas dari kiprah kaum perem-

kriminasi dalam urusan jabatan di legislatif dan pucuk pimpinan organisasi. “Di pucuk pimpinan utama, perempuan tak boleh tampil. Ada anggapan perempuan tak boleh melebihi laki-laki. Menurut saya, perlu ada pendidkan dan sosialsiasi ke masyarakat tentang kesetaraan,” kata Bintang Puspayoga. Selain mengejar kesetaraan, kata dia, perempuan berperan juga sebagai seorang pendamping yang baik bagi suami. Perempuan harus menyiapkan diri menjadi pendamping suami, supaya suami tidak korupsi ketika dipercaya menjadi pejabat. “Jadi istri pejabat harus memberi dukungan kepada suami, jadilah istri pejabat yang

Dari kiri: Wayan Koster, Sayu Ketut Sutrisna Dewi, Putu Putri Suastini, Ni Made Rahayuni, dan Luh Gede ­Meydianawati

puan itu sendiri yang tidak mau meningkatkan daya saing. “Sekarang ini kita harus asah diri, asah kemampuan sehingga mempunyai kualitas diri. Saya sebenarnya melihat banyak perempuan tidak kalah dengan laki-laki yang selama ini tampil di politik,” ujar istri Menteri Koperasi dan UMKM AA Puspayoga ini. Ia menilai, perempuan masih saja mendapatkan perlakuan dis-

bisa memberikan masukan kepada suami, supaya suami terhindar dari perbuatan korupsi,” tegasnya. Materi lain yang tak kalah menarik dibawakan, Sayu Ketut Sutrisna Dewi. Dosen Fakultas Ekonomi Unud ini memberikan kiat-kiat sukses untuk para perempuan dalam menjalankan bisnisnya. Selain itu, tak ketinggalan tips motivasi agar para perempuan bisa tetap eksis di era MEA ini.

Peserta dialog “Kiprah Perempuan Bali dalam Era Globalisasi”

Ni Made Rahayuni

Ni Made Rahayuni, sebagai ke­ tua panitia acara mengatakan, di­ alog ini digelar selain sebagai rangkaian HUT ke-43 PDI Perjuang­an Provinsi Bali, dan juga dalam peringat­an Hari Kartini. “Tujuan dialog ini sebagai upaya peningkat­ an mo­tivasi perempuan Indonesia khususnya Bali untuk dapat lebih meningkatkan peranannya dalam pembentukkan keluarga sejahtera di era globalisasi,” ujar Rahayuni. Tujuan lain, untuk peningkatan kesadaran kader perempaun akan potensi yangt tidak terbatas dalam upaya meraih kesuksesan dalam bidang yang diminati untuk dapat lebih bersaing pada MEA. Selain itu, untuk meningkatkan kesadaran sosial kader perempuan akan isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat dengan harapan agar peranan kaum perempuan dapat lebih mengambil peranan dalam penanganan isu-isu tersebut. Sebagai Wakil Ketua Bidang Perempuan, Kesehatan, dan Anak ini, Rahayuni menghadirkan tiga pembicara yakni I Gusti Ayu ­Bintang Darmawati (Ny. Bintang Puspa­ yoga), Ni Putu Putri Suastini, dan Sayu Ketut Sutrisna Dewi. Selaku moderator, Luh Gede ­Meydianawati, seorang dosen Unud. Sebagai master of ceremony (MC) dipandu dr. Nyoman Dianita Candradewi, yang juga putri Ni Made Rahayuni. –ast


6

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

“Marginalisasi Seni Pertunjukan Gandrung Tradisi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)” menjadi judul disertasi yang disampai­kan Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si., pada sidang terbuka Program Pascasarjana, Universitas Udayana. Hasilnya, ia pun diberikan nilai sangat memuaskan oleh tim penguji yang dipim­pin oleh Prof.Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).,di Gedung Pascasarjana Unud, Senin, (16/5).

Ida Ayu Trisnawati

Raih Doktor berkat Gandrung

D

alam sidang terbuka ini Trisnawati yang lahir di Malang, 21 Januari 1962 ini, menyatakan bahwa seni pertunjukan Indonesia memiliki ciri istimewa, yaitu sebagai sebuah seni yang sangat lentur dan cair. Hal ini, karena lingkungan masyarakatnya selalu berada dalam kondisi yang berubah-ubah pada kurun waktu tertentu, mapan, serta tumbuh sebagai sebuah tradisi.” Istri dari I Gusti Agung Ngurah Ketut Suparta, S.E., M.Si., ini menegaskan jika perkembangan kehidupan masyarakat telah mengubah aspek seni pertunjukan mengikuti perkembangan zaman. “Perubahan juga terjadi pada salah satu seni

Ida Ayu Trisnawati bersama suami, saudara kerabat dan sahabat usai mengikuti ujian terbuka promosi doktor.

pertunjukan Gandrung tradisi di Dasan Tereng, Narmada, NTB. Perkembangan pemahaman agama dari Islam Sasak wetu telu ke Islam Sasak waktu lima memberikan dampak luas bagi perkembangan seni per­tunjukan Gandrung tradisi di daerah tersebut,” ujarnya. Untuk memahami yang terjadi dengan Tari Gandrung ini, maka dosen Jurusan Seni Tari ISI Denpasar ini, merumuskan beberapa hal yakni, untuk mengetahui bentuk marginalisasi seni pertunjukan Gandrung tradisi,

alasan mengapa seni pertunjukan Gandrung tradisi mengalami marginalisasi, serta implikasi dan makna bagi masyarakat di Lombok, NTB. Selanjutnya agar diperoleh data yang valid, ibu dari dr. AA Ayu Diah Citra Dewi, AA Ngurah Bayu Putra, S., Ked., dan AA Ngurah Surya Putra ini melakukan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen yang berhubungan dengan Gandrung tradisi. Hasil pengumpulan data selanjutnya dianalisis dengan

menggabungkan dari teori subaltern (Gayatri Chakravorty Spivak), teori praktik sosial (Pierre Bourdieu), hingga teori dekonstruksi (Jacques Derrida). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penguatan fundamentalisme agama Islam, dari Islam wetu telu ke Islam waktu lima pada masyarakat Sasak. Penguatan fundamentalisme agama Islam sangat berpengaruh terhadap keberadaan seni pertunjukan Gandrung tradisi dan pergulatan politik identitas dalam seni pertunjukan

tari Gandrung. Secara detil hasil penelitian menunjukkan bentuk marginali­ sasi seni pertunjukan gandrung tradisi Lombok, NTB, diantara­ nya memudarnya spirit melalui representasi tema dan gerak tari; aspek busana dan tata rias, musik iringan, tata panggung, dan penontonnya. Selain itu, yang melatarbelakangi marginalisasi seni pertunjukan Gandrung tradisi ditinjau dari terbatasnya peran pemerintah, adanya penguat­a n fundamentalisme keagamaan, setting kebudayaan di era globalisasi dan ketidakberdayaan komunitas pendukung tari Gandrung tradisi. Melalui penelitian yang telah dilakukannya, mulai dari paparan latar belakang sebuah fenomena menarik tenatngh seni Gandrung dari sudut pandang kajian budaya, begitu pula de­ ngan rumusan masalah tentang marginalisasi yang terjadi, kemudian dideskripsikannnya dengan baik sebagai tujuan penelitian dan disertai harapan alan bermanfaat berhasil mengantarkan Ida Ayu Trisnawati, S.ST., M.Si., berhasil meraih gelar Doktor pada Program Doktor, program Studi Kajian Budaya, Program Pascasarjana, Universitas Udayana dengan predikat sangat memuaskan.-Sri Ardhini

“MANTRA SANG PENYIHIR” Salam Senyum “Waaahh baju yang Ibu kenakan sangat cocok dengan warna kulit Ibu”. Bayangkan kalau saya yang mendapatkan pujian seperti itu dari para peserta pelatihan ketika mengundang saya untuk jadi Trainer. Hhmmmmm... Pasti hati saya berbunga, senyum saya merekah, dan terasa kata-kata itu terngiang terus. Heheheheh.. manusiawi ya.. Malah itu bisa jadi obrolan yang menarik dan berlanjut dengan orang yang memuji. Dan, akan terjadilah ikatan emosional dari sebuah hubungan dengan relasi. Menjadi concern di bidang service, banyak yang bertanya kepada saya “bagaimana agar pelanggan bisa lebih sering datang ke tempat kita. Bagaimana juga pada saat yang sama membuat kita lebih disukai oleh pelanggan dan tidak cepat berpaling ke yang lain.” Naaahhh.. Ba­ nyak sebenarnya hal-hal yang dilakukan oleh instansi/ perusahaan, bahkan pribadi-pribadi yang menginginkan menjadi idola atau favorit, kesayangan atau kecintaan, oleh pelanggan. Sebenarnya ada hal yang sangat sederhana dan mudah untuk mewujudkan hal itu, tentunya tanpa harus perlu mengikuti kursus-kursus yang lebih spesifik, seperti kursus kepribadian. Terus... dengan cara apa ya...? Sekarang cobalah mulai mengingat. Kapan terakhir kali kita mendapat pujian dari orang, baik dari sahabat, dari rekan kerja di kantor, dari pasangan, atau dari atasan.. (yang terakhir sepertinya yang paling jarang ya...bahkan ada yang sama sekali tidak pernah dipuji dari atasannya, padahal dia sudah bekerja dan berusaha keras). Kemudian cobalah mengingat kembali kapan kita terakhir memuji orang. Waaaahhhhhh... Mulailah kita berpikir keras untuk menjawab pertanyaan di atas. Ada yang mulai memutar rekaman masa-masa indah yang sudah berlalu dengan pasangannya (karena biasanya masa pacaran penuh dengan pujian yaaa... heheheh...), atau mengingat kejadiankejadian berkesan lainnya di masa-masa lalu. Seolah-olah itu pertanyaan yang sangat sulit untuk menjawabnya.

Para pembaca rubrik Dhani’s Art Service yang setia, kadang kita melupakan yang namanya pujian. Dan, bisa-bisa itu terjadi dari pasang­ an Anda atau orang yang terdekat dengan kita. Ketahuilah...padahal sesungguhnya pujian itu sebuah resep, senjata, motivasi yang ampuh untuk membakar semangat dan sekaligus juga membuat kita disukai oleh orang lain. Terjadi pertanyaan...mengapa? Sudah naluri manusia pada hakikatnya setiap orang butuh penghargaan, butuh pengakuan atas prestasi yang dilakukannya. Tapi hal ini dengan persaingan dan kompetisi yang sangat ketat, malah pengakuan dan penghargaan berupa “pujian” itu jarang dilakukan. Kembali ke dunia service. Sekarang bagaimana membuat pelanggan itu menjadi berharga dan penting di hadapan kita, salah satunya adalah dengan memberikan PUJIAN. Karena setiap pelanggan yang datang, pujian sangat diperlukan agar kedekatan emosianal dapat diwujudkan. Membicarakan masalah pujian kadang kita merasa tersinggung atau kurang nyaman dengan pujian orang terhadap kita. Heheheheh...betul kan...??? Naaah.. ini bisa terjadi karena yang orang yang memuji tidak tahu atau tidak bagus komunikasinya dengan yang diberi pujian. Kalau hal ini terjadi, hasil yang diinginkan dari pujian tersebut tidak akan tersampaikan, malah menjadi bumerang dan menjadikan orang tersebut merasa kurang nyaman dengan pujian itu. Ada beberapa cara untuk memuji agar pujian kita dapat menyentuh hati dari pelanggan. 1. Pujilah pelanggan dengan TULUS tanpa dibuatbuat. Pujian yang terlalu dibuat tanpa sesuai dengan aslinya akan terkesan gombal. Pujian yang tulus itu tanpa mengharapkan balasan sesuatu dari pelanggan. Contoh.. Ketika kita bertemu pelanggan yang mempunyai kulit gelap (kehitaman), kita mengatakan..Wah ibu kok kelihatan putih dan shining ya kulitnya.. kalau seperti itu bukan senyuman yang didapatkan tapi sebuah tamparan heheheheh… 2. Pujilah dengan jelas dan sedikit DETAIL. Artinya, ketika kita memuji orang jangan hanya bersifat umum,

Santosa

Woman on Top

apalagi kata-kata yang sudah biasa dilontarkan. Contoh pujian umum : Wah hebat ya, pasti menang. Pujian Khusus : Waaaahhh.. tidak sia-sia ya.. berlatih yang tekun, di panggung juga penampilan sangat memukau, dan semua keliatan sudah dipersiapkan dengan matang. Selamat ya juara di tangan . Naaahhh.. kalau orang mendengar dengan pujian umum akan terkesan biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Mungkin saja pujian yangh kita berikan malah tidak dianggap karena sama dengan yang dikatakan orang lain. 3. Pujian yang UP TO DATE.. alias tidak kadaluarsa. Haaaa .. yang ini bagaimana kita memberi pujian saat kita pertama kali melihatnya. Artinya tidak harus menunggu setelah berkali-kali melihat baru dipuji. Contoh : Ketika kita melihat pelanggan memakai tas baru yang dibeli saat dia berlibur ke luar negeri, kita semestinya langsung memujinya. Jangan sampai setelah dipakai berkali-kali bahkan keliatan sedikit lusuh baru kita memuji. Heheheheh.. 4. Pujian yang ABG (Antusias, Berani, dan Gembira). Artinya ketika memuji orang jangan sampai kita terkesan sambil lalu atau memuji dengan malu-malu atau juga memuji dengan raut wajah sedih. Kalau yang ini lebih ke komunikasi nonverbal/bahasa tubuh kita. Dengan pujian ABG, pujian kita akan bernyawa, dan tentu memberi makna yang lebih dari sekadar pujian kata-kata saja. Dengan 4 cara memuji di atas, maka pelanggan kita akan jatuh hatinya dan mereka akan dibuat melayang seperti kata Katon Bagaskara dalam lirik lagunya ­“Negeri di Awan”. Dengan demikian yakinlah pelanggan akan memberi dampak positif terhadap layanan yang kita berikan. Sangat murah dan sederhana bukan? Kare­na sampai saat ini memuji tanpa harus keluar biaya alias gratis ya.... dan orang yang kita puji akan merasa DIHARGAI, merasa dirinya PENTING. Ayoooo marilah kita bertanya,.. kenapa kita tidak memulai dari sekarang untuk sebuah pujian karena saya yakin.. Pujian adalah “MANTRA dari SANG PENYIHIR..” Salam 3 SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani

Memimpin sebuah perusahan besar yang telah sukses, mungkin menjadi impian sebagian besar orang. Tetapi tidak demikian dengan pria yang satu ini. Santosa, begitu nama pria tersebut yang saat ini menjadi CEO Asuransi Astra.

K

etika pada April 2014 dipercaya menjadi CEO Asuransi Astra, dia agak takut karena jabatan itu dipandangnya sebagai musibah. Asuransi Astra adalah sebuah perusahaan besar yang sudah sangat sukses. “Jika perusahaan itu kemudian tetap sukses di bawah kepemimpinan saya, ya memang sudah biasa sukses. Tetapi kalau gagal atau rugi, saya yang dituduh sebagai penyebab kegagalan itu. Karena itu saya beranggapan memimpin perusahaan besar yang sudah sukses adalah sebagai musibah,” tegasnya saat menjadi pembicara dalam acara seminar yang dihadiri ratusan mahasiswa Surabaya di Bioskop, kawasan Marvel Surabaya, Selasa (17/5). Santosa berpendapat, dirinya lebih suka memimpin perusahaan kecil yang tidak sukses. Karena

19

Pimpin Perusahaan Sukses Adalah Musibah kalau perusahaan itu menjadi besar dan sukses berkat kerja kerasnya, maka dia pasti disanjung-sanjung. Tetapi kalau perusahaan itu mengalami kerugian, ya memang sudah rugi dan sulit persalahkan siapa-siapa. Karena itu, memimpin Asuransi Astra ini adalah sebuah tantangan berat yang harus dihadapinya. Dia ditantang untuk mempertahankan keberhasilan yang sudah diraih Asuransi Astra. Berkat ketekunan dan kepiwaian serta pengalamannya, dia ternyata lebih sukses lagi memimpin perusahaan ini. Lebih jauh, lulusan Sarjana Fisika dari Universitas Gajah Mada, Yogjakarta pada 1989 ini, berpendapat kehidupan ini sangat indah. Tak semua perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak rintangan dan hambatan dalam meraihnya.

“Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan hati, memiliki prinsip yang kuat, jujur, apa adanya, dan

Santosa

selalu melakukan inovasi,” ujarnya membuka rahasia kesuksesannya. Dia menambahkan, di balik kesuksesan seseorang, ada kisah-

Bagus Supomo

Harus Kaya Inovasi Menekuni usaha apapun harus kaya melakukan inovasi. Karena dunia terus berubah. Demikian juga dengan kurikulum di sekolah, industri dan konsumen selalu berubah dan terus berkembang. Karena itu, bila seseorang menekuni dunia usaha harus bisa membaca perkembangan ini. Bila nanggung lebih baik tidak sama sekali. Daripada akan dijadikan “sparring partner” bila meminjam istilah dalam tinju. Itulah petuah yang dikemukakan Executive Director Sura-

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

baya Hotel School (SHS), Bagus Supomo. Artinya apa? Dalam membangun usaha apapun, jangan sampai dibuat “sparring partner” oleh yang kuat. Terutama dalam segi kualitas. Karena itu, untuk dapat bersaing harus melakukan inovasi secara terus menerus. Misalnya, ketika Bagus Supomo, memutuskan untuk mendirikan sekolah perhotelan pada 11 November 1988 dirinya punya keyakinan nama SHS pasti tangguh dan tahan bantingan. Karena dilandasi dengan keinginan memiliki sekolah yang benar dan harus

Bagus Supomo

siap menghadapi perubahan serta cepat tanggap. ‘’Setelah 28 tahun, SHS saat ini sudah memiliki 20.000 alumni dan sudah bekerja dan tersebar diseluruh Indonesia bahkan dunia,’’ kata lelaki yang dilahirkan di Surabaya, 13 Agustus 1951 ini. Nama SHS, kata dia, digagas sejak dirinya masih bekerja di Food & Beverage Sanur Beach – Bali. Kala itu, dia menceritakan keinginannya mempunyai lembagai pendidikan yang diberinama SHS. Sebetulnya, nama SHS idenya dari kependekan nama bapaknya yang bernama Sujud Hadi Soeprapto. Bagus Supomo, bersama Lukman Hakim dan Bambang Hermanto, yang kebetulan ketiganya satu pekerjaan di Delta Palace Restoran sekarang Kowloon. Ternyata, setelah 28 tahun berlalu, menurut Bagus, sekolah perhotelan yang didirikannya itu mampu bertahan meski perguruan tinggi ternama dan beberapa perguruan tinggi swasta lainnya di Surabaya juga membuka jurusan perhotelan. Tetapi, keberadaan SHS tetap diperhitungkan keberadaannya. Bagus Supomo, punya prinsip mendirikan sekolah harus yang benar. Sehingga keberadaannya dibutuhkan. -Bambang Wili

kisah mengharukan dan menyedihkan. Semua itu adalah proses yang harus dilalui. Sukses itu adalah sebuah rahmat dan karunia, maka proses memperolehnya merupakan usaha pembentukan diri sampai layak mendapatkan. Di setiap kisah sukses seseorang pasti ada jalan cerita yang bisa jadi bahan pelajaran, menginspirasi, atau setidaknya mampu menggerakan hati orang lain mengejar sukses. BERGANTI JABATAN Sepanjang 28 tahun karir profesionalnya, Santosa menghabiskan waktu pengabdiannya di lingkungan grup Astra International. Ia sudah “kenyang” menerima tantangan, tercatat sudah 13 kali ia keluar masuk pintu beberapa anak perusahaan Astra International. Lulus kuliah dengan modal S1 ilmu dan teori Fisika, karir Santosa di Astra International dimulai pada 1989 sebagai “tukang komputer” atau jabatan resminya Software Instructor di PT Astra Graphia (1989 – 1991). Tugasnya membantu konsumen yang mengalami kesulitan mengoperasikan komputer, pada era itu komputer jadi barang teknologi tinggi yang tidak bisa dimengerti semua orang. “Sebenarnya kan nggak jauh, orang fisika diajarkan komputer kemudian belajar jenis komputer. Kalau ngajarin orang bisalah, kalau fisika kan biasa ngajar juga,” ujar Santosa yang kemudian diangkat menjadi Technology Marketing Specialist diperusahaan yang sama (1991 – 1993). Santosa beralih sebagai Consulting Resource di PT Digital Astra Nusantara (1993 – 1995). Perusahaan ini hasil kolaborasi Astra Graphia dengan produsen komputer kedua terbesar di dunia saat itu, Digital Equipment Corporation. “Kenapa saya bisa pindah ke sana? Ya karena ada kesempatan. Astra buka divisi infrastruktur dengan fokus telekomunikasi. Komputer dengan telekomunikasi kan dekat, karena saya spesialisasinya network jadi dengan komunikasi kan dekat. Tapi tetap mesti belajar karena bagaimanapun beda, kalau tidak beradaptasi ya tidak mungkin jalan,” katanya. Kemudian, ia dipercaya sebagai Business Development Manager di PT Astratel Nusantara (1995 – 1996). Anak perusahaan Astra International ini fokus pada pengelolaan infrastruktur. Saat sudah semakin banyak mengetahui soal bisnis telekomunikasi, Santosa kembali dipindahtugaskan sebagai Head of Corporate Support & Planning di PT Pramindo Ikat Nusantara (1996 – 1999). Perusahaan ini

fokus pada penyelenggaraan kerja sama operasional dengan PT Telkom Indonesia, namun sempat terkendala karena krisis dalam negeri pada 1998. “Namanya planning kan tidak cuma teknologi, ada masalah cost kemudian profitnya berapa. Awalnya kan cuma ngerti pendapatan dikurangi cost sama dengan profit. Tapi belajar ke sana berarti sudah mulai tahu income statement, nah kan ini sudah geser,” ujar Santosa. Santosa sempat kembali ke PT Astratel Nusantara (2000 – 2001), tapi kali ini menjabat General Manager Corporate Finance & Planning. Setelah itu ia ditunjuk mengawal PT Astra CMG Life (2001 – 2003) sebagai Director Sales & Marketing. Perusahaan ini masih tertatih selepas krisis 1998 dan diputuskan melakukan divestasi namun tidak jadi. Santosa bertugas menjaga stabilisasi sampai perusahaan mendapat pemimpin baru. Kemudian Santosa dipercaya menjadi Director/Chief Financial Officer di PT Astra Graphia (2003 – 2005). “Saya ditarik kemudian diganti. Kebetulan ada eksekutif yang resign jadi saya ditempatkan lagi di Astra Graphia, itu juga kebetulan. Balik lagi selalu ada faktor keberuntungan,” kata bos Asuransi Astra yang selalu berpenampilan seperti anak muda itu. Pernah suatu saat mantan Presiden Direktur Astra International (2005 – 2010), Michael Dharmawan Ruslim, kaget begitu melihat profil karier Santoso. “Saya kan bergaul dengan orang keuangan sudah lama dalam beberapa tahun terakhir. Di bayangan beliau saya itu accounting atau ekonomi, begitu CV masuk ke bursa ditanya ‘lho kamu ga punya latar belakang asuransi? Lah ini kan direktur keuangan’. Tapi kan sudah terlanjur, ya mesti belajar,” cerita Santoso sambil tertawa mengenangnya. Prestasi Santosa selama dua tahun di PT Astra Graphia tidak jelek. Ia mengaku bersih dan lolos proses audit. Modal itu membawanya menjabat Director/Chief Financial Officer di PT Asuransi Astra Buana (2005 – 2007). Pada 2007 Santosa mengatakan Michael Dharmawan Ruslim kembali meregenerasi struktur Astra International. Ia diminta membantu di PT Astra Agro Lestari sebagai Director/Chief Financial Officer (2007 – 2013) sekaligus menjadi Anggota Komite Investasi Yayasan Dana Pensiun Astra I & II (2007 – sekarang). Mulai 2008 Santosa juga berperan menjadi Anggota Komite Investasi PT Asuransi Astra Buana hingga sekarang. Lantas pada April 2013 ia menjabat Wakil Presiden Direktur di perusahaan itu, kemudian pada April 2014 ditugaskan menjadi CEO. -Yosef Sintar


18

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

PWRI (Persatuan Wre­ datama Republik Indo­ nesia) memiliki peran se­ bagai wadah bagi pensiu­ nan baik pegawai negeri. Tercatat PWRI Kabupaten Buleleng memang masih aktif hanya saja jumlah anggotanya yang kian merosot. Ini dikarenakan yang menjadi anggota PWRI hanya pensiunan yang mendaftarkan diri saja. Hal tersebut disam­ paikan oleh Ketua Umum PWRI Cabang Buleleng Drs. Nyoman Sukarma.

K

ian merosotnya anggota PWRI juga dikarenakan beberapa yang mengundurkan diri dan meninggal dunia. Setiap tahun jumlahnya menurun, ini dikarenakan yang sudah tua mengundurkan diri, ujarnya. Dari jumlah anggota yang mencapai 300an hingga kini yang tersisa hanya 160an termasuk di kantor ranting kecamatan. Berbicara masalah program yang dilakukan oleh PWRI tentunya menyesuaikan dengan program pusat dan provinsi Bali, namun saat ini program yang terlaksana sangat terbatas. Keterbatasan kegiatan atau program yang dilakukan disebabkan karena terbatasnya pendanaan. Meskipun diberlakukan sumbangan wajib dan sukarela dari anggota akan tetapi hal tersebut dirasa tidak mulus. Ada yang membayar ada yang tidak bayar, tambahnya. Dibentuknya koperasi simpan pinjam untuk anggota PWRI untuk menyejahterakan anggota ternyata juga tidak berjalan mulus. Hampir 50% anggota yang melakukan pinjaman tidak mengembalikan. Dana kami yang kurang lebih Rp 150 juta hampir Rp 100 juta macet dalam pengembaliannya,imbuhnya. Maka dalam melaksanakan program, PWRI terpaksa hanya melakukan program yang tidak memerlukan dana seperti jalan santai, senam manula, dan donor darah. Sukarma mengatakan belum bisa menyusun program yang memerlukan banyak biaya. Terus terang kami belum berani susun program karena belum ada dana, iya kalau ada bantuan. Kalau program sudah disusun tetapi dana tidak ada kan malu, ujarnya suami

Life

Kiprah PWRI Buleng

Iuran Wajib Ditiadakan dari Dwi Priyanti tersebut. Meskipun beranggotakan orang-orang yang sudah cukup tua namun diharapkan dengan adanyan PWRI di kabupaten Buleleng dapat menjadi tempat untuk tetap eksis bagi anggotanya. Ia juga menuturkan bahwa keuntungan dari ikut organisasi tidak lebih dari keuntungan moril, sehingga keuntungan bersifat bisnis memang tidak ada. Kami bisa berkumpul bersenda gurau bersama dan sama-sama memberikan dorongan moral agar tetap eksis di masyarakat dan saling memberikan informasi, imbuh pria kelahiran desa Banyuatis 20 Desember 1947 tersebut. Kembali kemasalah dana, maka

Drs. Nyoman Sukarma

bantuan program yang dilakukan oleh PWRI lebih bernilai moral dibandingkan nilai materiil. Mantan Sekretaris Da!erah kabupaten Buleleng ini juga sangat berharap mendapat bantuan dari Bupati Buleleng namun karena dianggap belum memiliki badan hukum sehingga belum ada bantuan dari pemerintah. Secara terpusat di Jakarta sudah berbadan hukum. Pengertian kami hingga ke kantor cabangnya di kecamatan sudah berbadan hukum, paparnya. Ia juga berpesan kepada pemerintah bahwa seluruh anggota PWRI pernah mengabdi kepada pemerintah dan mengabdi kepada masyarakat, sehingga jasajasa tersebut semestinya diingat

dan diberikan bantuan untuk melakukan program yang bersifat kemasyarakatan. Jika ia melihat di kabupaten lain keberadaan PWRI justru dirangkul oleh pemerintah daerah khususnya masalah pendanaan. Pria yang saat ini menjadi tim ahli DPRD Kabupaten Buleleng ini juga akan mengusulkan ke pusat bahwa pensiunan pegawai negeri sipil, Polri, dan TNI secara otomatis menjadi anggota PWRI. Hal ini untuk meningkatkan anggota PWRI. Ke depan ia juga berharap anggota PWRI tidak dikenakan iuran wajib yang dirasa memberatkan. Iuran wajib ditiadakan tetapi sumbangan sukarela masih dilakukan, tambahnya. -Wiwin

Maksimalkan Potensi Lansia Buleleng dengan luas wilayahnya mencapai 1.366 km2 yang terdiri atas sembilan kecamatan tentu menyimpan banyak problematika. Salah satu yang sedang menjadi perhatian khusus pemerintah adalah pemberdayaan masyarakat usia lanjut. Di usia yang sudah tidak produktif lagi justru pemerintah berupaya menyusun program dalam rangka meningkatkan perkembangan ekonomi produktifnya. Pemberdayaan atau memberikan ketrampilan kepada masyarakat usia lanjut merupakan program jangka menengah dari pemerintah. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Drs. Gede Komang, M.Si,. Gede Komang mengatakan, masyarakat usia lanjut yang tidak memiliki keluarga dengan kata lain terlantar serta hidup dibawah himpitan ekonomi merupakan tanggung jawab pemerintah. Menurutnya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi persoalana usia lanjut tersebut. Pertama, jika usia lanjut tersebut sudah memiliki kondisi fisik yang kurang baik maka penanganannya dengan memberikan asupan gizi melalui pemberian makanana maupun rastra (beras sejahtra). Kami juga mengupayakan masyarakat yang terlantar tersebut bersedia ditampung di panti jompo. Itupun atas persetujuan yang bersangkutan, ungkapnya. Kedua, usia lanjut yang memiliki fisik cukup baik akan diberikan pelatihan-pelatihan dan diberikan bantuan melalui Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Pihaknya berupaya dengan pemerintah kabupaten Buleleng untuk memberdayakan agar mereka bisa memperpanjang harapan hidup. Ia juga mengatakan pihaknya tidak merasa kesulitan untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat usia lanjut sebab pada umumnya masing-masing dari mereka sudah memiliki ketrampilan. Maka hal yang perlu dipersiapkan olehnya adalah dana yang akan menunjang ketrampilan tersebut. Mereka kan sudah tua jadi ketrampilan yang diajarkan juga tidak ribet. Selain itu, ketrampilan tersebut mereka sudah punya tinggal memaksimalkan saja agar hasilnya Drs. Gede Komang lebih bagus, misalnya membuat

sapu, kuskusan, dan kontongan. Inilah yang perlu kami siapkan dana untuk membeli bahan bakunya, paparnya. Hasil-hasil kerajinan yang dihasilkan akan dipasarkan sehingga dapat memperbaiki perekonomian. Selain memberi bantuan dan pelatihan, pemerintah juga menggelar posyandu usia lanjut yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara kesehatan mereka. Dalam pemberian modal untuk menjalankan program tersebut, pihaknya memberikan sesuai dengan kemampuan usia lanjut. Kalau mereka mampu mengelola Rp 500 ribu, ya kami kasih. Kalau mampunya Rp 1 juta ya kami juga kasih segitu, imbuhnya. Pemberian modal sesuai dengan kemampuan ini bertujuan agar dana yang diberikan tidak disalahgunakan. Modal yang diberikan pun cuma-cuma dengan syarat usaha yang dijalankan tetap berjalan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah pusat melalui kemetrian sosial juga membiayai orang tua terlantar dengan memberikan seratus ribu setiap bulannya. Kami berharap ke depan pemerintah kabupaten yang dapat memberikan bantuan sehingga tidak tergantung lagi di pusat, ungkapnya. Dalam menjalankan program pemerintah tersebut masih menemui kendala-kendala salah satunya biaya. Jumlah usia lanjut yang terlantar di Kabupaten Buleleng mencapai 5.402 orang ini belum mampu tersentuh biaya secara keseluruhan. Kami berharap pemerintah kabupaten dapat mencari jalan keluar dari kendala ini, imbuhnya. Selain biaya, masalah pendamping juga menjaga kendala karena masing-masing desa yang memiliki orang tua terlantar harus ada tim pendamping. Tim Pendamping kan juga perlu disiapkan biaya, ya kembali masalahnya adalah dana, ungkapnya. Ke depan, usia harapan hidup masyarakat juga akan semakin membaik sehingga jumlah usia lanjut juga akan bertambah, maka dari itu Gede Komang sangat berharap pemerintah untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaann ini. Pemerintah agar memperhatikan kesigapan dalam memberikan bantuan jangan sampai orang tua terlantar yang tidak mendapat bantuan jumlahnya menumpuk, tandasnya. -Wiwin

Story

Tiga puluh tahun yang lalu Nindi (55) berkunjung ke rumah bibinya di Pulau Sumbawa. Waktu itu gadis asal Lombok ini hanya ingin berlibur saja. Dari Lombok ia menumpang bus malam jalur Surabaya-Bima dan ia sempat berkenalan dengan supir bus tersebut. Rupanya Ari, nama supir bus ini, berasal dari desa yang sama dengan tem­ pat tinggal bibinya di Pulau Sumbawa. Kenalan singkat tersebut, rupanya berlanjut hingga mereka kerap ber­ temu dan menjadi sepasang kekasih. Sayangnya, Ari telah memiliki istri meskipun dari pernikahannya tersebut ia tidak memiliki anak. Karena itu, Nindi dan Ari menjalin hubungan terlarang di bela­ kang istri Ari.

N

indi akhirnya memilih tinggal bersama bibinya karena sudah sangat jatuh hati pada Ari. Beberapa bulan setelah hubungan mereka berjalan, istri Ari mengendus hubungan tersebut sampai akhirnya memergoki Ari dan Nindi yang tengah pacaran. “Ribut besar waktu itu,” kenang Nindi. Ari bertengkar dengan istrinya. Begitu pula dengan Nindi dan istri Ari. Suasana kampung jadi hangat dengan gosip hubungan mereka. Tetapi hal tersebut justru membuat keduanya semakin lengket. Mereka pun nekat menikah. “Istri Mas Ari akhirnya mengizinkan kami menikah dengan catatan anak pertama kami dia yang urus dan besarkan,” kata Nindi yang setuju-setuju saja waktu itu. Dalam perjalanan pernikahan Ari dan Nindi, tidak lama kemudian mereka memiliki anak. “Betapa sayangnya istri Ari pada anak kami itu,” ungkap Nindi. Bisa dibilang anak pertama mereka hanya menumpang ASI pada Nindi karena selebihnya diurus dengan sangat baik oleh istri Ari. Hubungan Nindi dan istri pertama Ari pun semakin lama semakin baik. Mereka akrab seperti saudara. Mereka sangat akur membesarkan ‘anak bersama’ tersebut. Hingga akhirnya setelah Nindi memiliki empat anak lain, Ari kembali berulah. “Dia menikah sana sini di Jawa dan kami tidak tahu itu,” kata Nindi yang setelah suaminya punya anak baru ia tahu. Ia sendiri seperti tidak peduli berapa kali pun suaminya menikah lagi. “Capek saya bertengkar,” ujarnya pendek. Ia menjalani saja kehidupan yang sesungguhnya bagai neraka baginya itu. Beruntungnya ada istri pertama Ari tempatnya saling berkeluh kesah sehingga mereka berdua saling menguatkan. Selain berbagi suami, keduanya kerap berbagi duka atas tindakantindakan suaminya itu.

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

7

Pilih Status Cerai Mati demi Masa Depan

Tak lama kemudian, suami mereka kembali berulah. “Dia kawin lagi dengan orang satu kampung dengan istri pertamanya,” kata Nindi. Ia pun meradang dan pertengkaran hebat tiada terhindarkan. Begitu pula dengan istri pertama Ari yang juga turut tidak terima kelakuan suaminya itu. Mereka berdua bersatu melawan suaminya dan istri yang dikatakan Nindi –entah yang ke berapa- itu. Istri pertama Ari meminta cerai dan Nindi kembali ke Lombok meninggalkan suaminya itu. Sakit hati Nindi tiada terkira ketika tiap kali pulang dari perjalanan menyupir bus malam, suaminya lebih banyak berada di rumah istri mudanya. Begitu pula uang hasil kerjanya sudah tidak ada lagi yang diterima Nindi dan istri pertamanya. Intinya mereka sudah tidak dinafkahi lagi karena seluruh uang diberikan pada istri mudanya. “Saya hanya dapat 100 ribu, 200 ribu, dia pergi dua minggu. Mau hidup seperti apa kalau begitu caranya. Yang lebih menyakitkan lagi adalah barang-barang di rumah kami (termasuk di rumah istri pertama Ari) diangkut dan diberikan pada istri mudanya,” kata Nindi kesal. Karena itulah, saat suaminya pergi menyupir, Nindi memutuskan pergi dari rumah dengan membawa seluruh isi rumahnya dan anak-anaknya (kecuali anak pertama dan kedua yang tinggal dengan istri pertama Ari). Sedih tentu saja. Berlinang air mata, Nindi dan ketiga anaknya menumpang truk pulang kembali ke kampung halamannya. Ari yang kaget dengan kepergian istrinya, tidak berusaha menjemputnya dan hanya bicara sembari bertengkar lewat telepon. Bagi Nindi, meskipun mereka tidak bercerai namun sikap itu sudah dianggapnya bahwa Ari sudah tidak mempedulikannya. JADI TKW Hidup dengan tiga anak tanpa pekerjaan, tentu saja berat buat Nindi yang kala itu masih memiliki balita. Ia memikirkan kelanjutan sekolah dan biaya hidup anak-anaknya sehingga ia memutuskan untuk menjadi TKW ke Saudi Arabia. “Anak-anak saya titip di orangtua,” ujarnya. Saat mengurus dokumen dan surat-surat, Nindi mengaku suaminya sudah meninggal. Ia sengaja mengaku cerai mati agar proses pengurusan dokumennya berjalan lancar. “Kalau punya suami maka harus ada izin resmi berbentuk surat dari suami. Kalau cerai maka harus bisa menunjukkan surat cerai. Tetapi jika cerai mati, bisa lebih mudah,” ujarnya. Untuk mendapatkan status cerai mati, Nindi sempat membuat KTP baru dengan status cerai mati.

Ia tahu bahwa hal itu menyalahi prosedur. Namun, yang ia pikirkan adalah kelangsungan hidup anak-anak. Berharap dari suami yang tidak bertanggung jawab sama halnya ia perlahan ‘membunuh’ anak-anaknya. Maka inilah pilihan tersulitnya. Ia pun berangkat menjadi TKW dan memperoleh keberuntungan karena mendapatkan majikan yang sangat baik. Enam tahun ia bekerja sebagai TKW ia bisa menyelesaikan biaya sekolah dan biaya hidup anak-anaknya hingga SMA. Karena itu, setelah rampung sekolah anak-anaknya, dua tahun lalu Nindi telah kem-

bali ke kampung halamannya. “Saya hanya ingin lihat anak-anak bersekolah. Setelah mereka lulus, kecuali yang bungsu, saya memutuskan untuk berhenti menjadi TKW,” katanya. Modal dari gajinya, kemudian ia pakai untuk membuka warung di kampungnya. Dari dompet warna merah muda miliknya, Nindi mengeluarkan sebuah KTP atas namanya. Dengan jelas tertera status cerai mati hingga hari ini. Status itu sesungguhnya bukan sekedar formalitas belaka melainkan seperti mencerminkan matinya perasaan Nindi pada Ari. “Ari

sering datang ke rumah saya, namun saya tidak lagi bisa bersamanya. Bahkan tidur bersama sudah sama sekali tidak saya lakukan sejak saya memilih untuk meninggalkannya,” katanya. Bagi Nindi, ketidakpedulian Ari, juga tidak ada nafkah lagi yang diberikan Ari padanya dalam waktu yang sangat lama (hingga melampaui syarat dalam Islam sebagai agama yang dianutnya), itu dimaknai Nindi bahwa perceraian tidak lagi harus diucapkan. Maka status cerai mati, sepertinya akan ia bawa hingga kelak ia pulang keharibaan Sang Pencipta. -Naniek I. Taufan

Sudut Pandang

Jatuh Hati di Panti Jompo Dua panti jompo yang ada di Nusa Tenggara Barat, yakni, Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram, di Mataram dan Panti Sosial Tresna Werdha Meci Angi yang ada Bima, menampung lebih dari 150 orang lansia yang miskin dan tidak memiliki keluarga lagi untuk mengurusnya. Mereka berusia ratarata 70 tahun ke atas dan menghabiskan waktunya di panti jompo ini hingga meninggal dunia. “Penghuni kedua panti jompo ini diprioritaskan bagi mereka yang lansia tidak mampu dan hidup sebatang kara atau tidak memiliki keluarga yang mengurusnya. Mereka tinggal dan dibina di panti biasanya sampai meninggal dunia,” ungkap Drs. M. Husni Thamrin, M.M., Kepala Dinas Sosial dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pembinaan secara rutin yang dilakukan terhadap lansia ini adalah hal-hal yang membuat hidup mereka berjalan wajar seperti saat mereka bersama keluarga. Segala aktivitas harian dilakukan seperti halnya mereka tengah berada di lingkungan keluarga masing-masing. Aktivitas rutin yang dilakukan para lansia di panti jompo ini selain beribadah juga berolah raga. Beberapa kesibukan lain yang mampu mereka lakukan atau dengan bantuan pengurus panti diberikan juga untuk menjaga kesehatan mereka agar tubuh tetap bergerak. “Para lansia diberikan kesibukan ringan sesuai kemampuan masing-masing seperti berkebun dan mengurus keperluan diri sendiri,” ujarnya. Tidak hanya itu, para lansia yang tinggal di dalam panti ini sesekali melakukan refreshing dengan jalan-jalan bersama ke luar panti.

Sejauh ini menurut Husni, tidak ada program khusus pembinaan atau pemberdayaan yang bersifat seperti membina mereka yang usianya masih produktif dan menhghasilkan sesuatu produk, karena usia mereka yang tergolong sepuh. Prioritas pemberdayaan dan pembinaan pada kesehatan dan psikologi mereka gara mereka bisa merasakan hidup normal layaknya lansia lain yang berada di tengah keluarga mereka. “Para lansia ini diberikan pelatihan misalnya membuat kerupuk ya...untuk kebutuhan mereka sendiri di dalam panti, tidak untuk dipasarkan,” kata Husni. Untuk tetap menjaga agar para lansia yang berada di panti bisa bersosialisasi dan bersilaturrahmi, maka komunitas-komunitas lansia yang di luar panti secara rutin datang setiap hari Selasa untuk berolahraga bersama. “Bagusnya, komunitas lansia yang berada di luar panti, juga selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama dengan para lansia penghuni panti tiap ada hari besar nasional. “Beberapa kegiatan yang kerap dilakukan seperti sunatan massal, membagikan sembako dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya,” katanya. Jadi, panti jompo yang yang ada di NTB senantiasa berusaha menjadikan kehidupan para lansia ini berjalan sewajarnya. “Bahkan banyak penghuni panti yang saling jatuh hati dan menikah di panti,” tambahnya. Dengan begitu diharapkan mereka bisa menjalani hidup yang bahagia hingga akhir hayatnya dalam pengurusan dan perhatian yang layak seperti halnya mereka berada dalam lingkungan keluarga sendiri. --Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Griya

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

17

Memaknai Kedekatan Cucu Mebel Jepara Tetap Diminati dengan Kakek-Nenek

Beberapa pria lanjut usia berdiri di depan gerbang sebuah sekolah. Mereka asyik berbincang-bincang. Pak Agung, salah satu lansia itu mengaku, dirinya bisa tenang-tenang setelah pensiun. Namun, karena anak dan menantunya sibuk bekerja, ia pun diserahi tugas untuk antar-jemput cucunya. “Saya jalani saja tugas ini sekalian jalan-jalan. Ternyata banyak bertemu teman yang seumuran yang juga antar-jemput cucu,” ungkapnya.

I

a menambahkan antarjemput cucu membuatnya lebih dekat dengan cucunya. “Kadangkala cucu lebih berani minta kepada saya untuk dibelikan sesuatu. Kadang saya penuhi kadang tidak. Saya tidak mau terlalu berlebihan,” ujar Pak Agung. Pengalaman lain diungkapkan Gus Saka yang tinggal bersama ayahnya yang sudah lansia. “Ayah saya sangat perhatian dengan anakanak saya. Walaupun ayah tidak bisa antar-jemput tetapi beliau ikut memikirkan siapa yang menjemput cucunya kalau saya atau istri sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal,” kata pria yang memiliki bisnis event organizer ini. Kedekatan kakek dengan cucu ini menurut Gus Saka banyak memberi manfaat. Kakek bisa bercerita kepada cucu tentang silsilah keluarga dan peristiwa sejarah yang pernah dialami. Sekali waktu, kakek bisa memberikan hadiah untuk cucunya. Sebaliknya cucu bisa diserahi tanggung jawab untuk menemani kakeknya. Menurut Ni Made Diah Lestari, S.Psi.,M.Psi. kedekatan kakeknenek dengan cucu merupakan kebahagiaan dari kakek-nenek. “Ada hal yang membanggakan ketika mereka dikaruniai cucu. Ketika di masa muda dan sibuk berkarier tak punya waktu yang banyak untuk mengurus anak, kesempatan di masa tua setelah

pensiun dijadikan “pembalasan” dengan cara merawat dan menyayangi cucu,” ujarnya. Kehadiran cucu yang sangat bermakna ini menjadikan kakeknenek memiliki tugas baru. Ada yang menjadi penjaga, termasuk bertugas mengantar-jemput. Namun, ada juga yang tidak begitu turut campur dalam urusan pengasuhan cucu. Namun, ada hal yang harus diperhatikan para lansia ini terutama dalam pengasuhan cucu. Jangan sampai kakek-nenek terlalu dominan dan mengabaikan peran orangtua si cucu. Dalam Disengagment Theory disebutkan orang hidup memiliki masanya, dengan kata lain setiap masa ada orangnya. Bagi kakek-nenek, masa mereka bertugas sebagai orangtua ketika mereka memiliki anak. Kini anak mereka sudah memiliki anak, jadi peran sebagai orangtua menjadi tanggung jawab si anak. Kakeknenek lebih berposisi sebagai penasihat. Teori ini menekankan agar kakek-nenek tidak terlalu intervensi dan membiarkan anak mandiri untuk melaksanakan tanggung jawab. Orangtua pun harus tegas menerapan aturan terhadap anak. Di sisi lain, ada Activity Theory yang mengatakan walau usia terus bertambah tetapi orang tetap aktif. Para lansia yang menjaga cucu dan mengantar-jemput cucu ini bisa dimasukkan dalam penerapan teori ini. Selain mengantar-jemput, mer-

Hubungan kedekatan cucu dan kakek

eka bisa bertemu orang lain atau lansia lain yang bisa diajak berkomunikasi. “Penerapan kedua teori tersebut tergantung konteksnya. Yang penting harus saling memahami tugas dan tanggung jawab,” ujar Sekretaris Prodi Ilmu Psikologi Universitas Udayana ini. Diah juga menggambarkan jumlah lansia berdasarkan komposisi penduduk anak-anak, dewasa, dan lansia yang sekarang hampir seimbang. Dulu komposisi berbentuk piramida dengan jumlah anak-anak banyak sedangkan lansia sedikit. Nanti ada kemungkinan akan menjadi piramida terbalik. Jumlah anak lebih sedikit sedangkan jumlah lansia banyak. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak lansia yang bisa mengurus cucu. Namun, situasi sebaliknya kebanyakan lansia dibanding anak-anak akan berimplikasi kepada siapa yang akan merawat

Diah Lestari

lansia. Ini membuka peluang bagi pelayanan daycare untuk lansia. POHON KELUARGA Untuk lebih mengenal kedekatan kakek-nenek dengan cucu, Diah bersama para mahasiswa mengadakan kegiatan hubungan antargenerasi. Dalam kegiatan ini, kakek-nenek menuturkan silsilah keluarga yang dituangkan dalam pohon keluarga. Pohon keluarga ini penting untuk mengetahui asal dan silsilah keluarga, berbagi sejarah keluarga, menggali memori dan

kenangan-kenangan yang berharga bagi generasi berikutnya. Dalam konteks kesehatan bisa digunakan untuk usaha preventif, mengubah gaya hidup, pola perilaku yang berbahaya bagi kesehatan. “Komunikasi kakek-nenek dengan cucu bisa berkaitan dengan silsilah keluarga, sejarah penting dalam keluarga, hubungan antaranggota keluarga, serta memori atau kejadian tertentu yang berkesan dan penting bagi keluarga, misalnya peristiwa pernikahan, kelahiran, prestasi tertentu, kehilangan dan kematian, dan peristiwa yang membuat ikatan keluarga menjadi lebih kuat,” ujar psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Indonesia ini. Diah menambahkan indikator succesful aging antara lain lansia terbebas dari penyakit, masih produktif dengan relasi sosial luas, serta mendapat perawatan terhadap fungsi fisik dan psikologis. Dari penelitian yang pernah dilakukan terhadap lansia yang masih bekerja di sektor informal, bagi mereka bekerja itu sangat bermakna, bisa berkontribusi terhadap pembangunan. Para lansia juga menghargai nilai-nilai persahabatan serta bisa mengikuti perkembangan teknologi. -Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

gajah masuk kampung

Konon zaman dahulu Gajahlah yang menjadi raja hutan. Tubuhnya yang serba besar menyebabkan hewan-hewan ta kut kepadanya. Tapi sayang, raja yang seharusnya melindungi rakyatnya itu, bahkan Made Taro berbuat sebaliknya. Ia memerintah sewenang-wenang. Ia suka menginjaknginjak hewan kecil dan merebut makanannya. Kalau lagi marah, ia menumbangkan pohon-pohon. Tentu saja burung-burung terutama yang sedang bertelur, mengumpat-umpat. Suatu ketika terjadi musim kemarau berkepanjangan. Pohon-pohon meranggas dan daun-daunnya yang kuning dan kering berguguran. Hewan-hewan yang gemar makan daun-daunan kelaparan. Termasuk Gajah. Maka mereka berduyun-duyun turun gunung, berkeliaran ke kampung-kampung. Orang-orang kampung kewalahan mengatasi serbuan hewan-hewan itu. Yang paling meresahkan adalah Gajah, si Raja hutan itu. Mereka bukan saja merusak kebun tetapi juga merusak kandang ternak dan rumah penduduk. Ketika hewan besar dan serakah itu melihat sepetak kebun tebu, ia segera menyerbu dan melahap batang-batang tebu yang sedang ranum. “Kita harus bergotong royong menyelamatkan kebun tebu kita!” seru kepala kampung dalam sebuah pertemuan. Mereka mencari akal bagaimana menangkap hewan besar itu. Diputuskan, hewan serakah itu tak perlu ditangkap tetapi diakali sehingga kapok.

Maka berduyun-duyunlah penduduk kampung menancapkan batang-batang bambu di sekitar kebun tebunya. Bambu yang berujung lancip itu dibungkus dengan daun-daunan, sehingga batang bambu itu tidak kelihatan. Nah, terjadilah yang direncanakan itu! Siang keesokan harinya, raja hutan itu tergopoh-gopoh menuju kebun tebu. Mereka menerobos batang bambu yang dikira semak-semak berdaun segar. Ketika asyik melahap daun-daunan semak, tiba-tiba ia menjerit, lalu lari pontang-panting tak tentu arah. Kedua matanya berdarah. Ia tidak dapat melihat. Dalam keadaan seperti itu penduduk kampung beramai-ramai memukulnya. Gajah itu berteriak sambil lari. Berkat tenaganya yang kuat, ia berhasil lari menjauh dari kampung. Tidak disadarinya, kakinya menginjak-nginjak lumpur di pinggir sungai. “Jangan injak hamba, Tuanku!” terdengar sebuah suara. “Aku adalah cacing, rakyat Tuanku yang lemah. Bukankah Tuanku Raja Hutan?” “Benar, aku raja hutan, tetapi aku sedang menderita.” Gajah menceritakan riwayatnya yang diperdaya oleh penduduk kampung. Ia juga memperlihatkan matanya ynag berdarah dan buta. Hewan yang bernama cacing itu cepat sekali iba hati. Ia kasihan akan rajanya yang malang. Untuk menunjukkan kesetiaannya, lalu katanya, “Kalau Tuanku tidak keberatan, ambillah kedua mata hamba. Lebih baik hamba yang buta, daripada Tuanku Raja. Semoga dengan mata yang kecil ini, Tuanku merasa memiliki mata hati yang besar.” Nah, Gajah yang sekarang bermata sipit itu perlahan-lahan masuk ke dalam hutan. Namun sampai di sana ia tidak lagi disambut sebagai raja. Penggantinya adalah raja baru yang bernama Harimau.

Jepara adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang dikenal akan seni ukiran dan mebel ­kayunya. ­Karena, secara turun-temurun, ukiran telah ­dilestarikan dan dijadikan mata pencaharian oleh sebagian besar masyarakat Jepara.

Widodo

M

ebel-mebel karya pengerajin Jepara ini dikenal memiliki kualitas yang cukup bagus.

Itu pula yang menjadi alasan seorang supplier mebel kayu di kawasan Bypass Ketewel, Widodo (38), memasok mebel dari Jepara. “Dari segi kualitas, cukup. Meski materialnya bukan jati kelas satu, mebel Jepara yang pasarnya untuk menengah ke bawah ini, konstruksinya tetap kuat. Dan yang paling penting, dengan harga murah, saya bisa jalan dan anak buah saya bisa kerja,” ujar pria asal Klaten yang sudah 4 tahun menggeluti usaha ini. Peminat mebel jati Jepara di Denpasar khususnya, dikatakannya tak terlalu menunjukkan kenaikan maupun penurunan signifikan. “Ada saja yang nyari. Terkadang pedagang di Gianyar yang kehabisan barang, minta ke saya. Di tempat saya, ada beberapa kursi ready stock,” ucapnya. Ketika ditanya kenapa tidak memproduksi kursi di Bali?

Dengan ketus ia menjawab, ongkos tukang di Bali mahal, bisa dua kali lipat dibandingkan tukang di Jepara. SeIain itu, pengerajin di Jepara bisa diandalkan, dalam artian permintaan akan barang datang tepat waktu. Mebel-mebel kayu yang dipasok dari Jepara ini umumnya masih mentah alias belum difinishing. Untuk fininshing, biasanya disesuaikan dengan

pesanan konsumen. Karena ada juga konsumen yang membeli mebel tanpa finishing. Perbedaan harga antara mebel yang belum dan sudah difinishing Rp 100 ribu. Untuk satu set mebel (4 kursi dan 1 meja) memerlukan waktu hingga 3 hari untuk proses finishing. Misalkan kursi tanpa finishing dihargai Rp 135 ribu, yang sudah finishing dipatok dengan harga Rp 235 ribu.

Beberapa model kursi buatan pengerajin Jepara yang dari dulu hingga kini masih beredar di pasaran dan masih banyak dicari konsumen adalah kursi model lenong betawi, kursi sentul, bahkan ada yang diberi nama kursi makan cantik. Jadi, jika Anda memiliki dana yang pas-pasan, dengan kualitas sedang dan beragam pilihan model, bisa memilih mebel kayu jati Jepara. -Inten Indrawati


16

Angkat Sejarah Perang Banjar Menjadi guru kontrak ternyata tidak menyurutkan semangat Desak Made Suciningsih, S.Pd., untuk mengabdi dan memberi motivasi kepada anak didiknya. Hal ini terbukti dari keberhasilannya membina seorang anak didik yang mampu menuai berbagai prestasi baik tingakat kabupaten hingga provinsi. Ia berhasil mengantarkan Putu Alliyn Natali ke tingkat nasional dalam lomba bercerita bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Negara di Jakarta. Sebelumnya Suci juga berhasil mengantarkan Alliyn meraih juara II dalam lomba story telling tingkat kabupaten dan juara III lomba mesatua Bali tingkat provinsi.

D

Edukasi

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

esak Made Suciningsih merupakan pembimbing berstatus guru kontrak dan sudah 16 tahun mengajar di berbagai sekolah. Ia dahulu pernah melamar PNS tahun 2005 dan PNS K2 tahun 2013 tetapi tidak lolos. Suciningsih diangkat menjadi guru honorer Kabupaten pada 2000 lalu. Mulai 2014 honornya naik menjadi Rp 1 juta yang sebelumnya hanya Rp 500-750 ribu. Gaji yang jauh dari kata cukup tidak pernah membuat wanita kelahiran 23 Maret 1968 ini mengeluh bahkan ia terus menunjukkan prestasinya. Ia menuturkan bahwa siswasiswi SDN 4 Kampung Baru memang memiliki potensi yang baik sehingga tidak merasa kesulitan untuk melatihnya. Persiapan lomba tingkat nasional ini kami lakukan dari dua minggu saja. Ini karena siswi yang akan dikirim memang terbilang anak yang cerdas dan memiliki kemampuan menghafal yang baik, jelasnya. Wanita yang tinggal di Jalan Kutilang Singaraja ini mengaku sesuai dengan tema yang ditentukan di pusat yaitu perjuangan maka ia menyiapkan naskah Perang Banjar yang akan digunakan oleh siswinya. Pengalamannya beberapa kali mengunjungi monumen nasional di Jakarta membuatnya tahu bahwa di salah satu relief terdapat cerita mengenai Perang Banjar. Di Jakarta saja Perang Banjar diketahui, kenapa kita yang dari Buleleng tidak tahu, ungkap Suci alumni S1 Jurusan Bahasa Inggris STKIP tersebut. melalui lomba tersebut ia ingin memperkenalkan kembali sejarah dari Buleleng itu. Sementara itu, Alliyn siswi kelas 4B yang mewakili Bali di Jakarta ini mengaku memaksimalkan latihan menjelang perlombaan. Anak dari pasangan Komang Sumatra Gana berprofesi sebagai pegawai koperasi dan ibunya Desak Putu Dewi Astrini ibu rumah tangga ini tidak merasa kesulitan dalam menghafal naskah yang panjangnya sampai empat

halaman. Pertama kali naik panggung memang deg-degan lalu sudah biasa sekarang. Hobi seharihari belajar dan latihan supaya di atas panggung tidak slimputan (berbelit-belit) ngomongnya, ujar anak yang bercitacita sebagai pegawai bank ini. Alliyn yang menyukai akting ini juga mengaku sempat sakit menjelang perlombaan. Sempat sakit soalnya teriak-teriak jadinya capek, ujarnya saat ditemui ditemui di sekolah. Disisi lain, Kepala SDN 4 Kampung Baru I Ketut Suardani, S.Pd., ia mengapresiasi prestasi guru dan siswi di lingkungannya. Ia tidak lupa memberi reward kepada juara dan duplikat piala untuk siswa-siswi pemenang lomba.

Suciningsih,Alliyn dan, Suardani

Karena setiap anak berhak memiliki kenang-kenangan juara dan saya inisiatif membuatkan mereka kalau mendapat piala.

Guru dan siswa sangat perlu diapresiasi sebagai bentuk rangsangan pelajar lain meraih juara, tandasnya. -Wiwin

Fisipol UNR Gelar Kuliah Umum Antiterorisme

Konsulat General India RO Sunil Babu memberi pemaparan

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru. Namun, menjadi aktual ketika 21 Mei 1991, telah terjadi bom bunuh diri dilakukan seorang perempuan yang menewaskan Rajiv Gandhi. Kemudian, peristiwa WTC di New York, AS pada tanggal 11 September 2001. Indonesia memiliki potensi teorisme yang sangat besar dan perlu langkah antisipasi yang ekstra cermat Kita semua dikagetkan dengan aksi pengeboman yang terjadi di Semanggi Jakarta. Begitu juga di Bali, telah terjadi dua kali bom tahun 2002 dan tahun 2005. Kebijakan pemerintah yang kadang tidak dipahami oleh orang tertentu cukup dijadikan alasan untuk melakukan teror. Di era globalisasi, terorisme bukan hanya

dilakukan dalam bentuk pengeboman atau pembajakan alat transportasi masal, melainkan dengan cara doktrinasi, dimana sasarannya sebagian besar berasal dari kalangan pelajar terutama mahasiswa yang secara psikolosi masih bisa digoyahkan pendiriannya seperti yang dilakukan organisasi NII (Negara Islam Indonesia), ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Ngurah Rai (UNR), Gede Wirata, S.Sos., SH., MAP., dalam sambutannya, membuka Kuliah Umum Internasional bertema The Observance of Anti Terorism Day, Jumat (20/5). Menurutnya, satu-satunya cara bersaing dengan para teroris ini, adalah pendidikan keluarga dan peran orangtua cukup penting. Sesibuk apapun orangtua jangan lupakan keluarga, karena keluarga berperan penting untuk menangkal terorisme dan radikalisme di tingkatan remaja. Para orangtua harus melakukan dialog, komunikasi efektif, dan diskusi bahaya laten terorisme dan radikalisme ini, kata Wirata. Kuliah umum ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ngurah Rai, Conculate General of India Bali dan Indonesia Association for Public Administration (IAPA). Selain itu, kuliah umum juga digelar sebagai bentuk peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Tiga narasumber dihadirkan, AKBP Priyanto Proyo Utamo, S.IK., MK., dari Polda Bali, Konsulat General India RO Sunil

Babu, dan dipandu moderator Ir. Dody. Menurut AKBP Priyanto Proyo Utamo, S.IK., MK, strategi penanggulangan tindak pidana terorisme ini, melalui pecegahan dengan kontrol naratif, kontrol radikal, preventive justical, gakkum, dan deradikalisasi. Kontranaratif, melawan propaganda paham terorisme melalui internet, media massa melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Kontraradikal, melawan paham terorisme melalui BIN kepada tokoh masyarakat, mahasiswa, tokoh adat, pelajar dll, yang belum terkena paham radikal terorisme. Preventive justicial dengan deteksi dini dan penegakan hukum terhadap terduga

pelaku teror. Sementara, Konsulat General India RO Sunil Babu mengatakan, sudah 30 tahun India memerangi terorisme. Semua berawal dari terbunuhnya tokoh India Mahatma Gandhi dan PM India Rajiv Gandhi. Dunia mengenal Mahatma Gandhi sebagai simbol antikekerasan dan kewajiban kita di dunia untuk berjalan di jalan kedamaian dan tanpa kekerasan. Mari kita bayangkan dunia tanpa kekerasan. Manusia hidup penuh kedamaian. Apakah itu mungkin? Itu pasti bisa. Kita berkewajiban, menciptakan dunia yang lebih baik untuk anak-anak generasi penerus bangsa. –ast

Dari kiri: Moderator ( Ir. Dody), AKBP Priyanto Proyo Utamo, Konsulat General India RO Sunil Babu, dan penterjemah.

Dara

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

Kory Ingin Lakukan Perubahan

Setiap orang tentu menginginkan suatu perubahan yang lebih baik. Mulai perubahan kecil dari sendiri hingga perubahan besar yang menyangkut orang banyak. Akan tetapi tidak semua perubahan dapat dilakukan oleh setiap orang. Perubahan besar dengan melibatkan orang banyak hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai pengaruh besar juga. Hal inilah yang menjadi visi I Gusti Ayu Putu Ardaba Kory saat mengikuti pemilihan Putra Putri Kampus (PPK) Ajeg Bali tahun 2016 yang diselenggarakan oleh teenagers Project Indonesia yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

M

endapat dorongan dari orang-orang terdekat, keluarga, sahabat, dan temanteman kampus serta teman-teman organisasi KMHDI ternyata memberi semangat tersendiri yang mengantarkan perempuan yang akrab disapa Kory ini ke depan pintu perubahan. Menurutnya, jika seseorang yang bukan siapa-siapa ingin melakukakn perubahan tentu tidak akan mudah dibandingkan dengan orang yang sudah dipercayai oleh masyarakat. “Kalau kita tidak memegang suatu jabatan susah bergerak melakukan perubahan namun ketika kita sudah memegang suatu jabatan kita mempunyai hak dan wewenang bahkan merupakan suatu kewajiban melakukan perubahan terhadap masyarakat, tegas perempuan kelahiran Tabanan 27 Juli 1995 tersebut. Menurut sekretaris KMHDI pimpinan cabang Buleleng ini ketika seseorang ingin melakukan program-program yang membutuhkan sinergi dengan instansi pemerintah akan terasa lebih mudah jika sudah membawa lembaga atau suatu organisasi. Kalau kita hanya membawa nama diri sendiri, tentunya mereka akan bertanya memangnya kamu siapa? imbuhnya. Hal tersebutlah yang menjadi latar belakang anak pertama dari pasangan Gusti Made Sumadi dengan Ni Made Partini ini berjuang untuk menjadi yang terbaik. Dengan menyandang predikat finalis delapan besar Putra Putri Kampus Ajeg Bali yang notabene lebih bergerak dalam bidang pendidikan, Kory mengungkapkan bahwa banyak warga di Buleleng yang tidak bisa bersekolah karena terhambat biaya sehingga ia memiliki tanggung jawab untuk membuat gagasan-gagasan dan berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan untuk mencari penyelesaian dari masalah tersebut. Ia juga ingin mengajak generasi untuk berpikir secara kritis menyikapi permasalah-permasalahan yang ada sehingga dapat menyiapkan langkah-langkah ke depan. Saya tidak ingin predikat ini hanya selempang lalu tidak ada hal yang hal yang dilakukan, yang saya inginkan adalah perubahan, tegas sekretaris Buleleng Aksi Sosial tersebut. BISA MEGENDER Meskipun tidak lolos namun ia merasa tetap harus berkomitmen dengan visi misi yang sudah disampaikan di depan umum yaitu melakukan suatu perubahan. Semasih membawa nama PPK ia berjanji akan memaksimalkan kinerja dan bersinergi dengan pemerintah di bidang pendidikan, lingkungan, dan sosial

yang meliputi penyuluhan HIV/AIDS, pemberdayaan bahasa Bali, dan aksi sosial yang menyasar masyarakat kurang mampu. Menjadi finalis delapan besar Putra Putri Kampus Ajeg Bali adalah kebanggaan tersendiri bagi mahasiswi semester IV jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha tersebut sebab di dalam event sebesar itu ia dapat menunjukkan bakat yang terbilang langka. Megender yang merupakan musik dalam seni wayang adalah bakat yang ditunjukkan Kory kepada juri. Sebagai generasi muda ia sangat bangga bisa megender yang saat ini mulai ditinggalkan. Kalau menari mungkin semua wanita Bali bisa, tetapi megender saat ini hanya ada di Gianyar dan jarang sekali ada wanita yang mau belajar megender, ungkapnya. Ketertarikannya terhadap seni gender berawal ketika seorang tetua yang mulai takut jika tidak ada yang meneruskan seni gender tersebut hingga akhirnya ia menyetujui untuk belajar megender. Meskipun tidak lolos menjadi juara PPK, akan tetapi ia merasa secara tidak langsung dapat memperkenalkan sekaligus mengingatkan kembali kesenian gender yang saat ini mulai ditinggalkan.-Wiwin

9

I Gusti Ayu Putu Ardaba Kory

Salon

Jln. Wijaya Kusuma No.39 Denpasar

Jln. Suli No. 151

Tlp. 085 237 028570

Tlp. 0812 3636 0808

Jln. Merdeka VIII No. 1 (by appointment) Tlp. 0811 903 393

Jln. Sedap Malam No. 79 A, Denpasar HP 08133900 3366, 0851 0349 6464


10

Kreasi

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

“Ibu Pertiwi”

Kontemporer

Tembok tak hanya berfungsi sebagai ­pembatas. Tembok juga bisa menjadi media penyaluran ­kreativitas, salah satunya seni ­mural. Mural adalah cara menggambar atau melukis di media ­dinding.

B

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Aksesori Bali

Penghias Tembok

ila dibandingkan dengan grafiti yang dominan menggunakan cat semprot, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain

Style

Bali dan Indonesia adalah sumber inspirasi terbesar seorang seniman dalam menciptakan desain berbagai produk seni. Begitu juga dengan Kadek Ganda Ismawan pemilik Sunaka Jewelry di Celuk ini, juga berhasil mengolahnya menjadi aksesori.

yang dapat menghasilkan gambar. Kini mural bisa dikombinasikan dengan interior hospitality industry dan restoran. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kreativitas seniman mural (muralist), Rumahan Bistro & Creative Home Living menggelar

mural contest, Minggu (15/5). “Idenya sih sebenarnya ingin memunculkan talent-talent muralist di Bali karena selama ini mereka tidak punya wadah atau tembok buat dicorat-coret. Selalu memakai tembok yang notabenenya harus sembunyi-sembunyi mengerjakannya,” ujar Daniesh Musthafa, Direktur Rumahan. Ia menambahkan sekarang mural sudah sangat diminati terutama untuk kalangan hospitality industry and restaurant. Banyak yang memakai mural di interiornya. Acara mural contest ini akan diusahakan untuk menjadi acara rutin tahunan dengan tema dan bentuk acara yang dikemas berbeda-beda. “Peserta sangat senang sekali apalagi dari puluhan yang sudah upload hanya disaring 10 saja. Semua karya kami berikan plakat di tembok walaupun tidak menang. Jadi, nama mereka tetap terabadikan di sana. Mereka harus dihargai

Serve with Love bersama Sri Sumahardani di RSIA Puri Bunda Suasana ruang Paseban, basement RSIA Puri Bunda, Sabtu (21/5) agak beda. Direksi, manajemen, dan perwakilan karyawan mengikuti sharing bertajuk “Serve with Love” dengan narasumber Sri Sumahardani. Dalam kesempatan tersebut Direktur RSIA Puri Bunda dr. IGAP Yudihartini menyampaikan visi RSIA Puri Bunda sebagai rumah sakit panutan yang memadukan keunggulan layanan holistik kesehatan ibu dan anak dengan hospitality, yang menjadi inkubator bisnis jejaring sedangkan misinya mempersembahkan pelayanan Suasana “Serve with Love” dengan narasumber Sri Sumahardani prima kesehatan ibu dan anak yang berfokus di RSIA Puri Bunda pada pelanggan dengan sentuhan personal. kesempatan untuk melayaninya. Sri Sumahardani menjelaskan bagaimana behavior Dari penelitian yang dilakukan Michael Lebouef dalam melayani selama ini. Ada tiga yang lazim terjadi. dalam How to Win Customers and Keep Them for Life Pertama IF (jika), pelaku layanan hanya akan bergerak (2000), dinyatakan customer tidak akan kembali karjika prasyarat ada sebelum pelayanan muncul (bekerja ena meninggal (1%), pindah (3%), berhenti karena jika ada reward). Kedua, BECAUSE (karena), layanan perilaku yang tidak menyenangkan kepada customer dilakukan atas tuntutan internal dan eksternal dengan yang dilakukan oleh staf (68%), tidak puas karena konsekuensi penalti jika tidak dilakukan. Ketiga, EVEN produk (14%), dan alasan kompetitif (9%) IF (sekalipun), didasari oleh aspek non personal gain or lose, tapi untuk kepentingan perusahaan jangka “Semua kegiatan yang bergerak pada bidang panjang yang lebih fundamental. pelayanan/jasa kurang lebih memiliki misi yang sama. Ingin membuat pelanggannya tersenyum. “Yang diinginkan customer adalah customer Filosofinya melayani dengan sepenuh hati. Ada tiga merasa spesial, friendly, merasa dekat/tidak ada hal untuk menjadi customer service yang andal, atjarak, merasa orang dalam perusahaan,” ujar motitude (sikap), skill (ketrampilan), dan knowledge tivator yang juga penyanyi ini. Ia juga mengutip (pengetahuan). Kalau ingin memperbaiki attitude, pesan penting, pelanggan adalah tamu terpenting ada tipsnya juga, yaitu niat, kesungguhan mengubah bagi kita. Dia tidak bergantung pada kita, kita yang diri dan ciptakan mimpi, hormati orang yang lebih bergantung pada mereka. Dia bukanlah gangguan lama/senior, belajar dari kegagalan, dan baca buku dalam pekerjaan kita. Dia adalah tujuan kita bekerja. biografi orang sukses,” ungkap Sri Sumahardani Dia bukan orang luar bagi bisnis kita. Dia adalah yang mengisi rubrik “Dhani’s Art in Service” di bagian dari bisnis kita. Kita tidak membantunya dengan melayaninya. Dialah yang memberikan kita tabloid Tokoh ini. –Ngurah Budi

karena ini adalah seniman masa depan Bali,” imbuh Daniesh. Evy Novita, salah satu peserta kontes mural mengaku sangat senang berpartisipasi dengan lomba mural di Rumahan. “Kontes ini bisa menginspirasi anak-anak muda untuk mengikuti kegiatan yang positif. Saya ingin laki-laki dan perempuan bisa ikut memberi inspirasi kepada masyarakat,” ujar perempuan yang menggambar mother earth (ibu pertiwi) ini. Evy menuturkan, dirinya memulai menggeluti mural tahun 2015. Sebelumnya, ia berkolaborasi dengan seniman luar Bali maupun luar Indonesia. Perempuan berusia 21 tahun ini selalu terinspirasi dengan ancient art ,symbols , dan character karena simpel tetapi mempunyai makna lebih . KONSEP BARU Cynthia Irwansjah, marketing manager Rumahan menegaskan

mural contest ini merupakan mural contest pertama dan satu-satunya di Bali saat ini. Rumahan sendiri merupakan konsep baru di Bali dengan menggabungkan beberapa elemen bistro yang juga menjual makanan, kopi, dan minuman lain. Di dalam satu gedung ini juga ada retail yang menjual furnitur, home accesories dan gadget. “Konsep ini merupakan pertama di areal Denpasar,” ujar Cynthia. Tempat yang sangat nyaman, interiornya menarik dengan aneka ragam style dan juga dihiasi dengan mural yang bagus. Dari segi makanan, Rumahan lebih mengarah ke makanan dengan taste Asian dan dengan penyajian yang sangat unik dan modern. “Kualitas dan rasa merupakan hal utama yang akan menjadi identitas di Rumahan ini,” imbuh Fany Hermawan, chef Rumahan. Rumahan mulai dibuka untuk umum mulai tanggal 23 Mei 2016. -Ngurah Budi

S

ejak awal 2014, kata Kadek Sunaka Jewelry telah meluncurkan beberapa koleksi terbarunya, yakni Ombak Segara dan Batik Indonesia Collection. Ada juga koleksti sebelumnya seperti Padma Acala,

Kembang Harum, dan Langit Katulistiwa , Tamiang Collection, Getokan , dan Tridatu Collection, yang terdiri dari anting, subeng, pendant, bros, cincin, gelang, dan cucuk. Ombak Segara katanya terinspirasi dari riak ombak yang

bergulung-gulung di pantai Kuta, Bali. Riak yang bergulung-gulung diimplementasikan kedalam bentuk perhiasan dengan menggunakan sebuah teknik tradisional “ bun jawan”. yang menjadi ciri khas dari seni kerajinan perak di Celuk. Dengan tag line “fine contemporary bali jewelry”, Kadek menghadirkan perhiasan yang berkualitas baik, halus, sangat detail, indah, dan nyaman dikenakan. Seluruh modelnya mengikuti kekinian, sesuai dengan trend fashion terbaru tanpa meninggalkan ciri khas Bali-nya. – Sri Ardhini

15


14

Selain perawatan botox, filler, tanam benang dan lainnya yang selama ini sudah tidak asing lagi di dunia kecantikan, sekarang bertambah lagi dengan teknologi yang canggih nan unik. Perawatan paling anyar ini juga siap melengkapi item treatment bagi mereka yang ingin menjaga kecantikan kulit wajahnya dengan ;lebih baik lagi. Begitu disampaikan Upik Rustiah, Manager Miracle Aesthetic Renon, Denpasar.

M

Jelita

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

enurutnya , tidak disangka energi gelombang suara (ultrasound) yang dulunya hanya dimanfaatkan untuk pengobatan ini, juga dapat mengatasi problem kekenduran kulit wajah. Seiring dengan perkembangan yang ada, energi suara ini ternyatamemiliki kelebihan lain untuk memberikan tampilan kulit cantik dan sehat. Penasaran? Kini, untuk menjawab kebutuhan masyarakat di Bali, khususnya para perempuan kata Upik, Miracle Aesthetic Clinic sipa memberikan kejutan, dengan menciptakan perawatan terbaru, yakni Miracle 3-layer Ultherapy. Program ini merupakan prosedur pengencangan kulit wajah dan leher dengan menggunakan teknologi ultrasound atau energi suara yang terbukti aman dan efektif. “Perawatan ini berawal dari pera-

Energi Suara Kencangkan Kulit dari Miracle

watan yang disebut Miracle Ultherapy, selanjutnya Miracle Aesthetic Clinic berinovasi dengan memperbaruinya guna memeperoleh hasil lebih optimal dan tentunya dengan manfaat yang lebih banyak dengan Miracle 3-layer Ultherapy ini,” tutur Upik. Istimewanya, perawatan terbaru ini, tidak hanya mengencangkan, namun berfungsi juga memperbaiki tekstur kulit, mengecilkan pori-pori serta mengatasi kerutan halus. Dengan, menggunakan alat Ultherapy yang otentik dan telah mendapat pengakuan US FDA-cleared, disertai kecanggihan yang luar biasa, berhasil menjangkau tiga lapisan kulit (3D facial rejuvenation) melalui energi suara. Unik, Aman, Tepat, Optimal Berikutnya dr. Yustina Utari menyampaikan bahwa Miracle 3-layer Ultherapy memanfaatkan platform menyerupai alat USG (ultrasonografi), yang secara real time dapat melihat dan menentukan kedalaman yang tepat, sehingga hasilnya pun presisi dan optimal (see & treat). Melalui layar monitor digital imaging, lanjutnya kita dapat memantau (see) seberapa kuat energi dan arah ultrasound yang dihantarkan (treat) ke kedalaman

lapisan kulit tertentu. Perawatan ini, juga mampu mengatasi problem alis dan kelopak mata atas yang turun, pipi yang kendur, garis senyum yang dalam, garis dan rahang yang kurang tegas. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengatasi double chin dan kulit leher yang kendur, sekaligus menghaluskan kulit, mengecilkan pori-pori dan mengurangi kerutan halus. Dikatakannya, energi suara (ultrasound) pada perawatan ini pula bisa menjangkau tiga lapisan kulit (3 dimensi), mulai dari lapisan di atas otot, dermis hingga permukaan kulit (multiple depth), sehingga manfaat yang diperoleh semakin komplit dan hasilnya bertahan lebih lama. Berikutnya, kata dokter Yustina dilengkapi dengan suhu yang tepat dan konsisten pada teknologi ini, membuat stimulasi pertumbuhan kolagen bisa lebih maksimal. Inilah yang menjadikan Ultherapy memiliki keunggulan dan perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan alat ultrasound lainnya. Dalam proses kerjanya , Miracle 3-layer Ultherapy memerlukan waktu hanya 3060 menit namun hasilnya akan bertahan selama kurang lebih satu tahun. Dokter Yustina juga menyampaikan

iformasi, kalau pada Kamis (26/6) Miracle akan mengadakan Beauty Talk tentang Miracle 3-layer Ultherapy di Sector Bar & Restairant Sanur . Bagi mereka yang hadir kalainitu, katanya akan memperoleh potongan voucher senilai Rp 5 juta. Sedangkan, untuk mereka yang mengunjungi Miracle pada “MIRACLE20 AnniverSALE pada (27 -29 Mei) di klinik Miracle Renon, Denpasar juga dapat menikmati

berbagai penawaran istimewa untuk Miracle 3-layer Ultherapy dan perawatan serta produk unggulan lainnya. ‘Dapatkan juga konsultasi gratis dengan para dokter profesional kami dan nikmati berbagai perawatan dan produk terbaru. Juga menangkan hadiah utama liburan mewah ke Maldives untuk 20 orang beruntung,” tandas dokter Yustina. (bns) – Sri Ardhini

Bugar

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

11

Pentingnya Skrining Hipotiroid Kongenital “Apakah bayiku nor­ mal?” Kalimat seperti ini hampir selalu ditanya­ kan ibu yang baru saja melahirkan bayinya. Anak merupakan buah hati dan generasi penerus keluarga dan bangsa, dan setiap ke­ luarga pasti menginginkan bayinya terlahir normal. Namun, kadang terjadi hal yang tidak diharapkan seperti gangguan tum­ buh kembang yang men­ gakibatkan berkurangnya kualitas hidup anak. Salah satu penyebab keadaan ini adalah hipotiroid kongeni­ tal (HK).

P

ermasalahan HK ini diangkat menjadi materi diskusi yang diadakan Laboratorium Klinik NDC (Niki Diagnostic Center) pekan lalu. Seminar yang dibuka Direktur Laboratorium NDC, Fanina Yulianthi, MComm ini dihadiri 120 bidan. Ini adalah upaya kami untuk ikut berperan serta menyosialisasikan dan mendukung program pemerintah yang sudah menjadi Peraturan Menteri Kesehat­an nomor 78 tahun 2014 mengenai skrining hipotiroid kongenital, ujar Fanina. Salah seorang narasumber, Dr. dr. I Wayan Bikin Suryawan Sp.A(K) menegaskan, gangguan tumbuh kembang akibat HK ini dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini melalui skrining hipotiroid kongenital (SKH). Ia mengatakan, HK adalah kurangnya hormon tiroid sejak bayi baru lahir, sehingga bayi akan mengalami gangguan pertumbuhan dan intelektual jika tidak segera ditangani. Kurangnya hormon tiroid paling sering disebabkan kurangnya konsumsi yodium ibu, selain juga dapat disebabkan kelainan pada kelenjar tiroid, atau obat-obatan yang dikonsumsi ibu. Sebagian besar (lebih dari 95%) gangguan hormon tiroid tidak tampak pada minggu-minggu pertama setelah lahir, dimana bayi tampak normal. Gejala baru akan jelas beberapa bulan kemudian dan tentu saja pengobatan jadi terlambat, bayi kurang aktif, tangan dan kaki kurang bergerak, malas menetek, mengalami kuning (ikterus) yang lama, lidah makin besar sehingga minum sering tersedak, perut buncit sering dengan pusat bodong, kulit kering dan burik, bayi mudah kedinginan. Dengan bertambahnya usia, hambatan tumbuh kembang makin nyata: tubuh pendek (ce-

Fanina Yulianthi (paling kiri) bersama narasumber lainnya

bol), muka hipotiroid yang khas (muka sembab, bibir tebal, hidung pesek), mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah) idiot, kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara. Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI) melapor­kan angka kejadian HK diperkirakan 1 diantara 20003000 bayi baru lahir. Dari 5 juta kelahiran di Indonesia, akan lahir lebih dari 1600 penderita HK tiap tahun dan secara kumulatif akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia penerus bangsa. Supaya bayi dengan HK tidak mengalami gangguan tumbuh kembang, satu-satunya cara untuk mengetahui kelainan HK sedini mungkin dan segera meng­ obatinya (kurang dari umur 1 bulan) adalah dengan melakukan skrining (uji tapis) Narasumber lain, dr. Tjokorda Gede Oka MS Sp.PK yang juga Penanggung Jawab Laboratoriun Klinik NDC menambahkan, skrining HK pa­ ling baik dilaku-

kan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang. Cara­ nya, sedikit darah bayi diteteskan di atas kertas saring khusus,

dikeringkan kemudian bercak darah dikirim ke laboratorium. Di laboratorium kadar hormon TSH diukur dan hasilnya dapat

diketahui dalam waktu kurang dari seminggu. Ia menambahkan, dampak HK pada anak yang sangat menyedihkan adalah mental terbelakang yang tidak bisa dipulihkan. Dampak terhadap keluarga, beban ekonomi karena anak HK harus mendapat pendidikan, peng­a suhan dan pengawasan khusus. Secara psikososial keluar­ ga akan lebih rentan terhadap lingkungan sosial karena rendah diri dan menjadi stigma dalam keluarga dan masyarakat. Selain itu produktifitas keluarga menurun karena harus mengasuh anak dengan HK. Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang serta mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. Dengan alat skrining yang sudah dimiliki Laboratorium NDC, pemeriksaan skirining HK dapat dikerjakan tanpa lagi harus dirujuk keluar Bali, ujar Fanina. -Wirati Astiti


Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

12

Salmon Sambel Matah B

erbagai jenis ikan merupakan pangan yang nikmat dan disukai tua muda. Salah satunya, ikan salmon. Ikan salmon digemari karena tekstur dagingnya yang empuk dan enak, selain kandungan gizinya sangat tinggi dan bagus untuk kesehatan. Ikan salmon disebut mengandung omega 3, protein tinggi, asam amino, vitamin A, D, B, B6, E, kalsium, zat besi, seng, magnesium, dan fosfor. Kali ini, Ketut Suwamba, Executive Chef Seven Angels Villa Jimbaran berbagi resep dengan pembaca tokoh. Menu yang spesial dan sangat unik, Ketut Suwamba Salmon Fillet Sambel Matah. Teknik membuatnya sangat dengan memasak memakai Bakar saus BBQ dan Bebek mudah karena salmon tak teplon, salmon siap disantap. Goreng Sambal Terasi. Berikut perlu dimasak lama. Cukup Ada juga bonus resep Iga resepnya. –Wirati Astiti

Iga Bakar Saus BBQ Bahan: 300 gr : iga babi (3 biji) 100 gr : nasi putih

25 gr 2 sdm

: sayuran sebagai peneman : saus BBQ

Cara membuat iga bakar: - Panaskan pemanggangan. Panggang iga sambil oleskan bumbu saus BBQ. Setelah matang siap sajikan bersama nasi putih, sayuran, dan saus BBQ. - Brokoli, buncis, wortel, baby corn ditumis bersama cincangan bawang putih, tambahkan garam dan merica. Siap digunakan. Bahan saus BBQ: - Saus tomat botolan, bawang putih cincang, jahe dicincang, bumbu kacang, sambal terasi, kecap manis, garam dan merica secukupnya, air.

Kuliner Salmon Fillet Kue Donat Donut Manis Sambel Matah

Bahan: 180 gr : salmon fillet 25 gr : sambel matah 25 gr : bayam Inggris 2 iris : jeruk nipis 50 ml : minyak Garam dan merica

bayam Inggris di atas salmon. Siap disajikan. - Cara memasak bayam Inggris, tumis bayam dengan cincangan bawang putih, garam, dan merica. Sajikan bersama salmon.

Cara membuat salmon fillet: - Lumuri salmon dengan garam, merica dan jeruk lemon. - Panaskan pan (teflon) dan masak salmon sampai matang kedua sisinya sekitar 10 menit. - Tata salmon di piring, beri nasi putih, sambel matah, dan beri

Bahan sambel matah: 50 gr : bawang merah diiris 50 gr : sereh dicincang 2 buah : cabai rawit dicincang 1 buah : jeruk lemo Terasi secukupnya Garam dan merica secukupnya

Aneka Mie & Spaghetti

ati Nikm Hanya di...

Bahan: ½ ekor 100 gr 25 gr 1 sdm 1 sdm

: : : : :

bebek muda nasi putih sayur urap sambal terasi sambel matah

Cara membuat bebek goreng: - Bebek dibersihkan kemudian diberi garam dan jeruk nipis. - Goreng bebek sampai krispi. Angkat dan sajikan bersama nasi putih, sayur urap, sambel matah, dan sambal terasi. Bahan sambal terasi: 250 gr : lombok merah 50 gr : bawang putih 30 gr : bawang merah 50 gr : terasi ½ biji : tomat 1 buah : jeruk lemo Gula merah secukupnya Garam dan merica secukupnya

Cara membuat sambal terasi: - Tumis semua bahan sampai matang, kemudian diulek

diberi garam, merica, dan perasan jeruk lemo. - Siap digunakan.

Ibis Styles Bali Kuta Legian meluncurkan ‘Special Menu of The Month’, yakni Gurame Goreng Sambal Mangga dan Buntut Sapi Goreng. Gurame Goreng Sambal Mangga kaya rasa. Untuk pecinta hidangan laut wajib mencoba menu ini, karena menghasilkan rasa yang gurih, pedas, dan manis. Asam dari mangga akan sangat nikmat menyatu dengan daging ikan gurame yang lembut. Begitu juga, Buntut Sapi Goreng yang tetap menjadi favorit tamu di Ibis Styles Bali Kuta Legian. –Wirati Astiti

Bahan A: 250 gr : tepung terigu cakra 11 gr : ragi instan 150 ml : air matang Garam secukupnya Bahan B: 50 gr : tepung terigu segitiga biru 1 butir : telur 30 gr : gula pasir 15 gr : s u s u b u b u k f u l l cream

Chef Juliada

Cara membuat: - Masukkan bahan A ke dalam sebuah wadah, aduk rata dengan mixer, lalu tutup rapat

dan diamkan selama 80 menit. - Tambahkan bahan B ke dalam bahan A, lalu uleni sampai kalis dan elastik. Tutup rapat dan diamkan 15 menit lagi. - Giling dan pipihkan adonan tersebut dengan ketebalan 1 cm, lalu diamkan lagi 15 menit. Cetak adonan tersebut dengan tangan atau mempergunakan cetakan donut pada

Gurame Goreng Sambal Mangga

13

umumnya, lalu goreng donut dengan minyak panas dan dengan api kecil. Dinginkan donut lalu siap untuk diisi toping sesuai selera. Cara membuat toping donut sederhana: - Masukan 1 cangkir gula halus ke dalam mangkok. Tambahkan susu cair atau air jeruk 1-3 sendok makan, semakin banyak cairan yang ditambahkan, semakin tipis hasil topingnya. - Aduk dengan rata lalu simpan dalam kulkas 30-60 menit agar mengental. Ambil toping lalu siapkan aneka rasa yang disuka. - Olesi donut dengan toping tadi lalu taburi sesuai dengan bahan kesukaannya seperti ceres, kacang ataupun yang lainya. -rls

Cafe Mie Santai

Ciri Khas Taiwan

Spesial Grilled Chicken

Dapatkan Discount 10%

bagi 100 orang pembeli pertama

Cara membuat saus BBQ: - Tumis bawang puith dan jahe sampai harum. - Tambahkan sambal terasi, bumbu kacang, kecap manis, garam, dan merica. Tambahkan sedikit air, masak dengan api kecil sekitar 1 jam. Siap digunakan.

Bebek Goreng Sambal Terasi

Cara membuat sambal: Campur semua bahan jadi satu.

Donut adalah salah satu jenis kue basah yang terbuat dari adonan tepung terigu, gula, telur, dan mentega yang diolah dengan cara digoreng. Pada umumnya donat terbagi menjadi 2 macam, yaitu donat berbentuk cincin dengan lubang di tengahnya yang ditaburi dengan gula halus atau meises dan donat berbentuk bundar yang diisi dengan selai, krim dan sebagainya. Dengan bentuknya yang unik dan rasanya yang enak, maka donat menjadi kue yang paling banyak digemari. Berikut resep donut Chef Juliada dari Quest Hotel Kuta.

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

50 ml : kaldu ayam Cabe bubuk kering secukupnya Margarin atau minyak, garam, lada bubuk secukupnya

Sarwan Pure Coffe Float

Curry Chicken Spaghetti

Indonesian Chicken Noodles

Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita

ti

a Nikm

Chinese Food

Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Free lemon sugar

Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu FREE

Soka Saus Cabe

Es Tropical

Soup Jagung

Murah Meriah & Bersih

Lemon sugar

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698

Bahan: 1 buah 1 sdt 1 sdt 1 sdt 1 sdt 1 sdt 2 sdm 2 siung 50 gr 40 gr 1 buah

: dada ayam fille : kayu manis, bubuk : jahe bubuk : bawang putih bubuk : ketumbar bubuk : paprika bubuk : air jeruk lemon : bawang putih cincang halus : beby buncis potong sesuai selera : jagung kaleng : terong ungu potong kotak

Cara Membuat: - Tusuk-tusuk daging ayam dengan garpu makan lalu campur semua bubuk dengan minyak dan garam. Aduk rata, oleskan ke permukaan ayam, lalu simpan dalam lemari pendingin selama 1 jam. - Keluarkan ayam, biarkan selama 30 menit sebelum dimasak, lalu panaskan grillpan untuk memanggang. Letakkan ayam, lalu teteskan air lemon, masak hingga ma-

tang. Sambil menunggu ayam matang, panaskan margarin, tumis potongan bawang putih dan potongan buncis dan jagung, lalu masukkan potongan terong, tambahkan garam, kaldu bubuk dan lada bubuk. Lalu masukkan air kaldu, tutup sampai matang, angkat dan siap disajikan bersama ayam yang di grillpan.

Salad Pasta Batam Beby 902

Bahan: 300 grm : 180 grm : 3 siung : 2 sdm : 1 sdm : 200 grm : 3 sdm : 150 gen : 100 grm :

pasta. yoghurt. bawang putih. minyak salad. kecap ikan. daging ayam asap potong dadu. abon sapi. bayam baby. tomat ceri.

Cara Membuat: - Rebus pasta sesuai petunjuk resep lalu bilas dengan air

dingin, tiriskan. - Ambil mangkok lalu tuang yoghurt, masukkan irisan bawang putih juga saus salad dan kecap ikan dan abon sapi, aduk rata hingga menyatu. - Masukkan pasta daging asap ayam, bayam baby dan tomat ceri, aduk-aduk hingga bahan tercampur rata. - Dinginkan setidaknya 30 menit sebelum dihidangkan - Taburi dengan abon sapi di atasnya.


Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

12

Salmon Sambel Matah B

erbagai jenis ikan merupakan pangan yang nikmat dan disukai tua muda. Salah satunya, ikan salmon. Ikan salmon digemari karena tekstur dagingnya yang empuk dan enak, selain kandungan gizinya sangat tinggi dan bagus untuk kesehatan. Ikan salmon disebut mengandung omega 3, protein tinggi, asam amino, vitamin A, D, B, B6, E, kalsium, zat besi, seng, magnesium, dan fosfor. Kali ini, Ketut Suwamba, Executive Chef Seven Angels Villa Jimbaran berbagi resep dengan pembaca tokoh. Menu yang spesial dan sangat unik, Ketut Suwamba Salmon Fillet Sambel Matah. Teknik membuatnya sangat dengan memasak memakai Bakar saus BBQ dan Bebek mudah karena salmon tak teplon, salmon siap disantap. Goreng Sambal Terasi. Berikut perlu dimasak lama. Cukup Ada juga bonus resep Iga resepnya. –Wirati Astiti

Iga Bakar Saus BBQ Bahan: 300 gr : iga babi (3 biji) 100 gr : nasi putih

25 gr 2 sdm

: sayuran sebagai peneman : saus BBQ

Cara membuat iga bakar: - Panaskan pemanggangan. Panggang iga sambil oleskan bumbu saus BBQ. Setelah matang siap sajikan bersama nasi putih, sayuran, dan saus BBQ. - Brokoli, buncis, wortel, baby corn ditumis bersama cincangan bawang putih, tambahkan garam dan merica. Siap digunakan. Bahan saus BBQ: - Saus tomat botolan, bawang putih cincang, jahe dicincang, bumbu kacang, sambal terasi, kecap manis, garam dan merica secukupnya, air.

Kuliner Salmon Fillet Kue Donat Donut Manis Sambel Matah

Bahan: 180 gr : salmon fillet 25 gr : sambel matah 25 gr : bayam Inggris 2 iris : jeruk nipis 50 ml : minyak Garam dan merica

bayam Inggris di atas salmon. Siap disajikan. - Cara memasak bayam Inggris, tumis bayam dengan cincangan bawang putih, garam, dan merica. Sajikan bersama salmon.

Cara membuat salmon fillet: - Lumuri salmon dengan garam, merica dan jeruk lemon. - Panaskan pan (teflon) dan masak salmon sampai matang kedua sisinya sekitar 10 menit. - Tata salmon di piring, beri nasi putih, sambel matah, dan beri

Bahan sambel matah: 50 gr : bawang merah diiris 50 gr : sereh dicincang 2 buah : cabai rawit dicincang 1 buah : jeruk lemo Terasi secukupnya Garam dan merica secukupnya

Aneka Mie & Spaghetti

ati Nikm Hanya di...

Bahan: ½ ekor 100 gr 25 gr 1 sdm 1 sdm

: : : : :

bebek muda nasi putih sayur urap sambal terasi sambel matah

Cara membuat bebek goreng: - Bebek dibersihkan kemudian diberi garam dan jeruk nipis. - Goreng bebek sampai krispi. Angkat dan sajikan bersama nasi putih, sayur urap, sambel matah, dan sambal terasi. Bahan sambal terasi: 250 gr : lombok merah 50 gr : bawang putih 30 gr : bawang merah 50 gr : terasi ½ biji : tomat 1 buah : jeruk lemo Gula merah secukupnya Garam dan merica secukupnya

Cara membuat sambal terasi: - Tumis semua bahan sampai matang, kemudian diulek

diberi garam, merica, dan perasan jeruk lemo. - Siap digunakan.

Ibis Styles Bali Kuta Legian meluncurkan ‘Special Menu of The Month’, yakni Gurame Goreng Sambal Mangga dan Buntut Sapi Goreng. Gurame Goreng Sambal Mangga kaya rasa. Untuk pecinta hidangan laut wajib mencoba menu ini, karena menghasilkan rasa yang gurih, pedas, dan manis. Asam dari mangga akan sangat nikmat menyatu dengan daging ikan gurame yang lembut. Begitu juga, Buntut Sapi Goreng yang tetap menjadi favorit tamu di Ibis Styles Bali Kuta Legian. –Wirati Astiti

Bahan A: 250 gr : tepung terigu cakra 11 gr : ragi instan 150 ml : air matang Garam secukupnya Bahan B: 50 gr : tepung terigu segitiga biru 1 butir : telur 30 gr : gula pasir 15 gr : s u s u b u b u k f u l l cream

Chef Juliada

Cara membuat: - Masukkan bahan A ke dalam sebuah wadah, aduk rata dengan mixer, lalu tutup rapat

dan diamkan selama 80 menit. - Tambahkan bahan B ke dalam bahan A, lalu uleni sampai kalis dan elastik. Tutup rapat dan diamkan 15 menit lagi. - Giling dan pipihkan adonan tersebut dengan ketebalan 1 cm, lalu diamkan lagi 15 menit. Cetak adonan tersebut dengan tangan atau mempergunakan cetakan donut pada

Gurame Goreng Sambal Mangga

13

umumnya, lalu goreng donut dengan minyak panas dan dengan api kecil. Dinginkan donut lalu siap untuk diisi toping sesuai selera. Cara membuat toping donut sederhana: - Masukan 1 cangkir gula halus ke dalam mangkok. Tambahkan susu cair atau air jeruk 1-3 sendok makan, semakin banyak cairan yang ditambahkan, semakin tipis hasil topingnya. - Aduk dengan rata lalu simpan dalam kulkas 30-60 menit agar mengental. Ambil toping lalu siapkan aneka rasa yang disuka. - Olesi donut dengan toping tadi lalu taburi sesuai dengan bahan kesukaannya seperti ceres, kacang ataupun yang lainya. -rls

Cafe Mie Santai

Ciri Khas Taiwan

Spesial Grilled Chicken

Dapatkan Discount 10%

bagi 100 orang pembeli pertama

Cara membuat saus BBQ: - Tumis bawang puith dan jahe sampai harum. - Tambahkan sambal terasi, bumbu kacang, kecap manis, garam, dan merica. Tambahkan sedikit air, masak dengan api kecil sekitar 1 jam. Siap digunakan.

Bebek Goreng Sambal Terasi

Cara membuat sambal: Campur semua bahan jadi satu.

Donut adalah salah satu jenis kue basah yang terbuat dari adonan tepung terigu, gula, telur, dan mentega yang diolah dengan cara digoreng. Pada umumnya donat terbagi menjadi 2 macam, yaitu donat berbentuk cincin dengan lubang di tengahnya yang ditaburi dengan gula halus atau meises dan donat berbentuk bundar yang diisi dengan selai, krim dan sebagainya. Dengan bentuknya yang unik dan rasanya yang enak, maka donat menjadi kue yang paling banyak digemari. Berikut resep donut Chef Juliada dari Quest Hotel Kuta.

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

50 ml : kaldu ayam Cabe bubuk kering secukupnya Margarin atau minyak, garam, lada bubuk secukupnya

Sarwan Pure Coffe Float

Curry Chicken Spaghetti

Indonesian Chicken Noodles

Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita

ti

a Nikm

Chinese Food

Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Free lemon sugar

Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu FREE

Soka Saus Cabe

Es Tropical

Soup Jagung

Murah Meriah & Bersih

Lemon sugar

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698

Bahan: 1 buah 1 sdt 1 sdt 1 sdt 1 sdt 1 sdt 2 sdm 2 siung 50 gr 40 gr 1 buah

: dada ayam fille : kayu manis, bubuk : jahe bubuk : bawang putih bubuk : ketumbar bubuk : paprika bubuk : air jeruk lemon : bawang putih cincang halus : beby buncis potong sesuai selera : jagung kaleng : terong ungu potong kotak

Cara Membuat: - Tusuk-tusuk daging ayam dengan garpu makan lalu campur semua bubuk dengan minyak dan garam. Aduk rata, oleskan ke permukaan ayam, lalu simpan dalam lemari pendingin selama 1 jam. - Keluarkan ayam, biarkan selama 30 menit sebelum dimasak, lalu panaskan grillpan untuk memanggang. Letakkan ayam, lalu teteskan air lemon, masak hingga ma-

tang. Sambil menunggu ayam matang, panaskan margarin, tumis potongan bawang putih dan potongan buncis dan jagung, lalu masukkan potongan terong, tambahkan garam, kaldu bubuk dan lada bubuk. Lalu masukkan air kaldu, tutup sampai matang, angkat dan siap disajikan bersama ayam yang di grillpan.

Salad Pasta Batam Beby 902

Bahan: 300 grm : 180 grm : 3 siung : 2 sdm : 1 sdm : 200 grm : 3 sdm : 150 gen : 100 grm :

pasta. yoghurt. bawang putih. minyak salad. kecap ikan. daging ayam asap potong dadu. abon sapi. bayam baby. tomat ceri.

Cara Membuat: - Rebus pasta sesuai petunjuk resep lalu bilas dengan air

dingin, tiriskan. - Ambil mangkok lalu tuang yoghurt, masukkan irisan bawang putih juga saus salad dan kecap ikan dan abon sapi, aduk rata hingga menyatu. - Masukkan pasta daging asap ayam, bayam baby dan tomat ceri, aduk-aduk hingga bahan tercampur rata. - Dinginkan setidaknya 30 menit sebelum dihidangkan - Taburi dengan abon sapi di atasnya.


14

Selain perawatan botox, filler, tanam benang dan lainnya yang selama ini sudah tidak asing lagi di dunia kecantikan, sekarang bertambah lagi dengan teknologi yang canggih nan unik. Perawatan paling anyar ini juga siap melengkapi item treatment bagi mereka yang ingin menjaga kecantikan kulit wajahnya dengan ;lebih baik lagi. Begitu disampaikan Upik Rustiah, Manager Miracle Aesthetic Renon, Denpasar.

M

Jelita

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

enurutnya , tidak disangka energi gelombang suara (ultrasound) yang dulunya hanya dimanfaatkan untuk pengobatan ini, juga dapat mengatasi problem kekenduran kulit wajah. Seiring dengan perkembangan yang ada, energi suara ini ternyatamemiliki kelebihan lain untuk memberikan tampilan kulit cantik dan sehat. Penasaran? Kini, untuk menjawab kebutuhan masyarakat di Bali, khususnya para perempuan kata Upik, Miracle Aesthetic Clinic sipa memberikan kejutan, dengan menciptakan perawatan terbaru, yakni Miracle 3-layer Ultherapy. Program ini merupakan prosedur pengencangan kulit wajah dan leher dengan menggunakan teknologi ultrasound atau energi suara yang terbukti aman dan efektif. “Perawatan ini berawal dari pera-

Energi Suara Kencangkan Kulit dari Miracle

watan yang disebut Miracle Ultherapy, selanjutnya Miracle Aesthetic Clinic berinovasi dengan memperbaruinya guna memeperoleh hasil lebih optimal dan tentunya dengan manfaat yang lebih banyak dengan Miracle 3-layer Ultherapy ini,” tutur Upik. Istimewanya, perawatan terbaru ini, tidak hanya mengencangkan, namun berfungsi juga memperbaiki tekstur kulit, mengecilkan pori-pori serta mengatasi kerutan halus. Dengan, menggunakan alat Ultherapy yang otentik dan telah mendapat pengakuan US FDA-cleared, disertai kecanggihan yang luar biasa, berhasil menjangkau tiga lapisan kulit (3D facial rejuvenation) melalui energi suara. Unik, Aman, Tepat, Optimal Berikutnya dr. Yustina Utari menyampaikan bahwa Miracle 3-layer Ultherapy memanfaatkan platform menyerupai alat USG (ultrasonografi), yang secara real time dapat melihat dan menentukan kedalaman yang tepat, sehingga hasilnya pun presisi dan optimal (see & treat). Melalui layar monitor digital imaging, lanjutnya kita dapat memantau (see) seberapa kuat energi dan arah ultrasound yang dihantarkan (treat) ke kedalaman

lapisan kulit tertentu. Perawatan ini, juga mampu mengatasi problem alis dan kelopak mata atas yang turun, pipi yang kendur, garis senyum yang dalam, garis dan rahang yang kurang tegas. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengatasi double chin dan kulit leher yang kendur, sekaligus menghaluskan kulit, mengecilkan pori-pori dan mengurangi kerutan halus. Dikatakannya, energi suara (ultrasound) pada perawatan ini pula bisa menjangkau tiga lapisan kulit (3 dimensi), mulai dari lapisan di atas otot, dermis hingga permukaan kulit (multiple depth), sehingga manfaat yang diperoleh semakin komplit dan hasilnya bertahan lebih lama. Berikutnya, kata dokter Yustina dilengkapi dengan suhu yang tepat dan konsisten pada teknologi ini, membuat stimulasi pertumbuhan kolagen bisa lebih maksimal. Inilah yang menjadikan Ultherapy memiliki keunggulan dan perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan alat ultrasound lainnya. Dalam proses kerjanya , Miracle 3-layer Ultherapy memerlukan waktu hanya 3060 menit namun hasilnya akan bertahan selama kurang lebih satu tahun. Dokter Yustina juga menyampaikan

iformasi, kalau pada Kamis (26/6) Miracle akan mengadakan Beauty Talk tentang Miracle 3-layer Ultherapy di Sector Bar & Restairant Sanur . Bagi mereka yang hadir kalainitu, katanya akan memperoleh potongan voucher senilai Rp 5 juta. Sedangkan, untuk mereka yang mengunjungi Miracle pada “MIRACLE20 AnniverSALE pada (27 -29 Mei) di klinik Miracle Renon, Denpasar juga dapat menikmati

berbagai penawaran istimewa untuk Miracle 3-layer Ultherapy dan perawatan serta produk unggulan lainnya. ‘Dapatkan juga konsultasi gratis dengan para dokter profesional kami dan nikmati berbagai perawatan dan produk terbaru. Juga menangkan hadiah utama liburan mewah ke Maldives untuk 20 orang beruntung,” tandas dokter Yustina. (bns) – Sri Ardhini

Bugar

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

11

Pentingnya Skrining Hipotiroid Kongenital “Apakah bayiku nor­ mal?” Kalimat seperti ini hampir selalu ditanya­ kan ibu yang baru saja melahirkan bayinya. Anak merupakan buah hati dan generasi penerus keluarga dan bangsa, dan setiap ke­ luarga pasti menginginkan bayinya terlahir normal. Namun, kadang terjadi hal yang tidak diharapkan seperti gangguan tum­ buh kembang yang men­ gakibatkan berkurangnya kualitas hidup anak. Salah satu penyebab keadaan ini adalah hipotiroid kongeni­ tal (HK).

P

ermasalahan HK ini diangkat menjadi materi diskusi yang diadakan Laboratorium Klinik NDC (Niki Diagnostic Center) pekan lalu. Seminar yang dibuka Direktur Laboratorium NDC, Fanina Yulianthi, MComm ini dihadiri 120 bidan. Ini adalah upaya kami untuk ikut berperan serta menyosialisasikan dan mendukung program pemerintah yang sudah menjadi Peraturan Menteri Kesehat­an nomor 78 tahun 2014 mengenai skrining hipotiroid kongenital, ujar Fanina. Salah seorang narasumber, Dr. dr. I Wayan Bikin Suryawan Sp.A(K) menegaskan, gangguan tumbuh kembang akibat HK ini dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini melalui skrining hipotiroid kongenital (SKH). Ia mengatakan, HK adalah kurangnya hormon tiroid sejak bayi baru lahir, sehingga bayi akan mengalami gangguan pertumbuhan dan intelektual jika tidak segera ditangani. Kurangnya hormon tiroid paling sering disebabkan kurangnya konsumsi yodium ibu, selain juga dapat disebabkan kelainan pada kelenjar tiroid, atau obat-obatan yang dikonsumsi ibu. Sebagian besar (lebih dari 95%) gangguan hormon tiroid tidak tampak pada minggu-minggu pertama setelah lahir, dimana bayi tampak normal. Gejala baru akan jelas beberapa bulan kemudian dan tentu saja pengobatan jadi terlambat, bayi kurang aktif, tangan dan kaki kurang bergerak, malas menetek, mengalami kuning (ikterus) yang lama, lidah makin besar sehingga minum sering tersedak, perut buncit sering dengan pusat bodong, kulit kering dan burik, bayi mudah kedinginan. Dengan bertambahnya usia, hambatan tumbuh kembang makin nyata: tubuh pendek (ce-

Fanina Yulianthi (paling kiri) bersama narasumber lainnya

bol), muka hipotiroid yang khas (muka sembab, bibir tebal, hidung pesek), mental terbelakang, bodoh (IQ dan EQ rendah) idiot, kesulitan bicara dan tidak bisa diajar bicara. Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI) melapor­kan angka kejadian HK diperkirakan 1 diantara 20003000 bayi baru lahir. Dari 5 juta kelahiran di Indonesia, akan lahir lebih dari 1600 penderita HK tiap tahun dan secara kumulatif akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia penerus bangsa. Supaya bayi dengan HK tidak mengalami gangguan tumbuh kembang, satu-satunya cara untuk mengetahui kelainan HK sedini mungkin dan segera meng­ obatinya (kurang dari umur 1 bulan) adalah dengan melakukan skrining (uji tapis) Narasumber lain, dr. Tjokorda Gede Oka MS Sp.PK yang juga Penanggung Jawab Laboratoriun Klinik NDC menambahkan, skrining HK pa­ ling baik dilaku-

kan saat bayi berumur 48-72 jam atau sebelum bayi pulang. Cara­ nya, sedikit darah bayi diteteskan di atas kertas saring khusus,

dikeringkan kemudian bercak darah dikirim ke laboratorium. Di laboratorium kadar hormon TSH diukur dan hasilnya dapat

diketahui dalam waktu kurang dari seminggu. Ia menambahkan, dampak HK pada anak yang sangat menyedihkan adalah mental terbelakang yang tidak bisa dipulihkan. Dampak terhadap keluarga, beban ekonomi karena anak HK harus mendapat pendidikan, peng­a suhan dan pengawasan khusus. Secara psikososial keluar­ ga akan lebih rentan terhadap lingkungan sosial karena rendah diri dan menjadi stigma dalam keluarga dan masyarakat. Selain itu produktifitas keluarga menurun karena harus mengasuh anak dengan HK. Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang serta mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. Dengan alat skrining yang sudah dimiliki Laboratorium NDC, pemeriksaan skirining HK dapat dikerjakan tanpa lagi harus dirujuk keluar Bali, ujar Fanina. -Wirati Astiti


10

Kreasi

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

“Ibu Pertiwi”

Kontemporer

Tembok tak hanya berfungsi sebagai ­pembatas. Tembok juga bisa menjadi media penyaluran ­kreativitas, salah satunya seni ­mural. Mural adalah cara menggambar atau melukis di media ­dinding.

B

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Aksesori Bali

Penghias Tembok

ila dibandingkan dengan grafiti yang dominan menggunakan cat semprot, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain

Style

Bali dan Indonesia adalah sumber inspirasi terbesar seorang seniman dalam menciptakan desain berbagai produk seni. Begitu juga dengan Kadek Ganda Ismawan pemilik Sunaka Jewelry di Celuk ini, juga berhasil mengolahnya menjadi aksesori.

yang dapat menghasilkan gambar. Kini mural bisa dikombinasikan dengan interior hospitality industry dan restoran. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kreativitas seniman mural (muralist), Rumahan Bistro & Creative Home Living menggelar

mural contest, Minggu (15/5). “Idenya sih sebenarnya ingin memunculkan talent-talent muralist di Bali karena selama ini mereka tidak punya wadah atau tembok buat dicorat-coret. Selalu memakai tembok yang notabenenya harus sembunyi-sembunyi mengerjakannya,” ujar Daniesh Musthafa, Direktur Rumahan. Ia menambahkan sekarang mural sudah sangat diminati terutama untuk kalangan hospitality industry and restaurant. Banyak yang memakai mural di interiornya. Acara mural contest ini akan diusahakan untuk menjadi acara rutin tahunan dengan tema dan bentuk acara yang dikemas berbeda-beda. “Peserta sangat senang sekali apalagi dari puluhan yang sudah upload hanya disaring 10 saja. Semua karya kami berikan plakat di tembok walaupun tidak menang. Jadi, nama mereka tetap terabadikan di sana. Mereka harus dihargai

Serve with Love bersama Sri Sumahardani di RSIA Puri Bunda Suasana ruang Paseban, basement RSIA Puri Bunda, Sabtu (21/5) agak beda. Direksi, manajemen, dan perwakilan karyawan mengikuti sharing bertajuk “Serve with Love” dengan narasumber Sri Sumahardani. Dalam kesempatan tersebut Direktur RSIA Puri Bunda dr. IGAP Yudihartini menyampaikan visi RSIA Puri Bunda sebagai rumah sakit panutan yang memadukan keunggulan layanan holistik kesehatan ibu dan anak dengan hospitality, yang menjadi inkubator bisnis jejaring sedangkan misinya mempersembahkan pelayanan Suasana “Serve with Love” dengan narasumber Sri Sumahardani prima kesehatan ibu dan anak yang berfokus di RSIA Puri Bunda pada pelanggan dengan sentuhan personal. kesempatan untuk melayaninya. Sri Sumahardani menjelaskan bagaimana behavior Dari penelitian yang dilakukan Michael Lebouef dalam melayani selama ini. Ada tiga yang lazim terjadi. dalam How to Win Customers and Keep Them for Life Pertama IF (jika), pelaku layanan hanya akan bergerak (2000), dinyatakan customer tidak akan kembali karjika prasyarat ada sebelum pelayanan muncul (bekerja ena meninggal (1%), pindah (3%), berhenti karena jika ada reward). Kedua, BECAUSE (karena), layanan perilaku yang tidak menyenangkan kepada customer dilakukan atas tuntutan internal dan eksternal dengan yang dilakukan oleh staf (68%), tidak puas karena konsekuensi penalti jika tidak dilakukan. Ketiga, EVEN produk (14%), dan alasan kompetitif (9%) IF (sekalipun), didasari oleh aspek non personal gain or lose, tapi untuk kepentingan perusahaan jangka “Semua kegiatan yang bergerak pada bidang panjang yang lebih fundamental. pelayanan/jasa kurang lebih memiliki misi yang sama. Ingin membuat pelanggannya tersenyum. “Yang diinginkan customer adalah customer Filosofinya melayani dengan sepenuh hati. Ada tiga merasa spesial, friendly, merasa dekat/tidak ada hal untuk menjadi customer service yang andal, atjarak, merasa orang dalam perusahaan,” ujar motitude (sikap), skill (ketrampilan), dan knowledge tivator yang juga penyanyi ini. Ia juga mengutip (pengetahuan). Kalau ingin memperbaiki attitude, pesan penting, pelanggan adalah tamu terpenting ada tipsnya juga, yaitu niat, kesungguhan mengubah bagi kita. Dia tidak bergantung pada kita, kita yang diri dan ciptakan mimpi, hormati orang yang lebih bergantung pada mereka. Dia bukanlah gangguan lama/senior, belajar dari kegagalan, dan baca buku dalam pekerjaan kita. Dia adalah tujuan kita bekerja. biografi orang sukses,” ungkap Sri Sumahardani Dia bukan orang luar bagi bisnis kita. Dia adalah yang mengisi rubrik “Dhani’s Art in Service” di bagian dari bisnis kita. Kita tidak membantunya dengan melayaninya. Dialah yang memberikan kita tabloid Tokoh ini. –Ngurah Budi

karena ini adalah seniman masa depan Bali,” imbuh Daniesh. Evy Novita, salah satu peserta kontes mural mengaku sangat senang berpartisipasi dengan lomba mural di Rumahan. “Kontes ini bisa menginspirasi anak-anak muda untuk mengikuti kegiatan yang positif. Saya ingin laki-laki dan perempuan bisa ikut memberi inspirasi kepada masyarakat,” ujar perempuan yang menggambar mother earth (ibu pertiwi) ini. Evy menuturkan, dirinya memulai menggeluti mural tahun 2015. Sebelumnya, ia berkolaborasi dengan seniman luar Bali maupun luar Indonesia. Perempuan berusia 21 tahun ini selalu terinspirasi dengan ancient art ,symbols , dan character karena simpel tetapi mempunyai makna lebih . KONSEP BARU Cynthia Irwansjah, marketing manager Rumahan menegaskan

mural contest ini merupakan mural contest pertama dan satu-satunya di Bali saat ini. Rumahan sendiri merupakan konsep baru di Bali dengan menggabungkan beberapa elemen bistro yang juga menjual makanan, kopi, dan minuman lain. Di dalam satu gedung ini juga ada retail yang menjual furnitur, home accesories dan gadget. “Konsep ini merupakan pertama di areal Denpasar,” ujar Cynthia. Tempat yang sangat nyaman, interiornya menarik dengan aneka ragam style dan juga dihiasi dengan mural yang bagus. Dari segi makanan, Rumahan lebih mengarah ke makanan dengan taste Asian dan dengan penyajian yang sangat unik dan modern. “Kualitas dan rasa merupakan hal utama yang akan menjadi identitas di Rumahan ini,” imbuh Fany Hermawan, chef Rumahan. Rumahan mulai dibuka untuk umum mulai tanggal 23 Mei 2016. -Ngurah Budi

S

ejak awal 2014, kata Kadek Sunaka Jewelry telah meluncurkan beberapa koleksi terbarunya, yakni Ombak Segara dan Batik Indonesia Collection. Ada juga koleksti sebelumnya seperti Padma Acala,

Kembang Harum, dan Langit Katulistiwa , Tamiang Collection, Getokan , dan Tridatu Collection, yang terdiri dari anting, subeng, pendant, bros, cincin, gelang, dan cucuk. Ombak Segara katanya terinspirasi dari riak ombak yang

bergulung-gulung di pantai Kuta, Bali. Riak yang bergulung-gulung diimplementasikan kedalam bentuk perhiasan dengan menggunakan sebuah teknik tradisional “ bun jawan”. yang menjadi ciri khas dari seni kerajinan perak di Celuk. Dengan tag line “fine contemporary bali jewelry”, Kadek menghadirkan perhiasan yang berkualitas baik, halus, sangat detail, indah, dan nyaman dikenakan. Seluruh modelnya mengikuti kekinian, sesuai dengan trend fashion terbaru tanpa meninggalkan ciri khas Bali-nya. – Sri Ardhini

15


16

Angkat Sejarah Perang Banjar Menjadi guru kontrak ternyata tidak menyurutkan semangat Desak Made Suciningsih, S.Pd., untuk mengabdi dan memberi motivasi kepada anak didiknya. Hal ini terbukti dari keberhasilannya membina seorang anak didik yang mampu menuai berbagai prestasi baik tingakat kabupaten hingga provinsi. Ia berhasil mengantarkan Putu Alliyn Natali ke tingkat nasional dalam lomba bercerita bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Negara di Jakarta. Sebelumnya Suci juga berhasil mengantarkan Alliyn meraih juara II dalam lomba story telling tingkat kabupaten dan juara III lomba mesatua Bali tingkat provinsi.

D

Edukasi

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

esak Made Suciningsih merupakan pembimbing berstatus guru kontrak dan sudah 16 tahun mengajar di berbagai sekolah. Ia dahulu pernah melamar PNS tahun 2005 dan PNS K2 tahun 2013 tetapi tidak lolos. Suciningsih diangkat menjadi guru honorer Kabupaten pada 2000 lalu. Mulai 2014 honornya naik menjadi Rp 1 juta yang sebelumnya hanya Rp 500-750 ribu. Gaji yang jauh dari kata cukup tidak pernah membuat wanita kelahiran 23 Maret 1968 ini mengeluh bahkan ia terus menunjukkan prestasinya. Ia menuturkan bahwa siswasiswi SDN 4 Kampung Baru memang memiliki potensi yang baik sehingga tidak merasa kesulitan untuk melatihnya. Persiapan lomba tingkat nasional ini kami lakukan dari dua minggu saja. Ini karena siswi yang akan dikirim memang terbilang anak yang cerdas dan memiliki kemampuan menghafal yang baik, jelasnya. Wanita yang tinggal di Jalan Kutilang Singaraja ini mengaku sesuai dengan tema yang ditentukan di pusat yaitu perjuangan maka ia menyiapkan naskah Perang Banjar yang akan digunakan oleh siswinya. Pengalamannya beberapa kali mengunjungi monumen nasional di Jakarta membuatnya tahu bahwa di salah satu relief terdapat cerita mengenai Perang Banjar. Di Jakarta saja Perang Banjar diketahui, kenapa kita yang dari Buleleng tidak tahu, ungkap Suci alumni S1 Jurusan Bahasa Inggris STKIP tersebut. melalui lomba tersebut ia ingin memperkenalkan kembali sejarah dari Buleleng itu. Sementara itu, Alliyn siswi kelas 4B yang mewakili Bali di Jakarta ini mengaku memaksimalkan latihan menjelang perlombaan. Anak dari pasangan Komang Sumatra Gana berprofesi sebagai pegawai koperasi dan ibunya Desak Putu Dewi Astrini ibu rumah tangga ini tidak merasa kesulitan dalam menghafal naskah yang panjangnya sampai empat

halaman. Pertama kali naik panggung memang deg-degan lalu sudah biasa sekarang. Hobi seharihari belajar dan latihan supaya di atas panggung tidak slimputan (berbelit-belit) ngomongnya, ujar anak yang bercitacita sebagai pegawai bank ini. Alliyn yang menyukai akting ini juga mengaku sempat sakit menjelang perlombaan. Sempat sakit soalnya teriak-teriak jadinya capek, ujarnya saat ditemui ditemui di sekolah. Disisi lain, Kepala SDN 4 Kampung Baru I Ketut Suardani, S.Pd., ia mengapresiasi prestasi guru dan siswi di lingkungannya. Ia tidak lupa memberi reward kepada juara dan duplikat piala untuk siswa-siswi pemenang lomba.

Suciningsih,Alliyn dan, Suardani

Karena setiap anak berhak memiliki kenang-kenangan juara dan saya inisiatif membuatkan mereka kalau mendapat piala.

Guru dan siswa sangat perlu diapresiasi sebagai bentuk rangsangan pelajar lain meraih juara, tandasnya. -Wiwin

Fisipol UNR Gelar Kuliah Umum Antiterorisme

Konsulat General India RO Sunil Babu memberi pemaparan

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru. Namun, menjadi aktual ketika 21 Mei 1991, telah terjadi bom bunuh diri dilakukan seorang perempuan yang menewaskan Rajiv Gandhi. Kemudian, peristiwa WTC di New York, AS pada tanggal 11 September 2001. Indonesia memiliki potensi teorisme yang sangat besar dan perlu langkah antisipasi yang ekstra cermat Kita semua dikagetkan dengan aksi pengeboman yang terjadi di Semanggi Jakarta. Begitu juga di Bali, telah terjadi dua kali bom tahun 2002 dan tahun 2005. Kebijakan pemerintah yang kadang tidak dipahami oleh orang tertentu cukup dijadikan alasan untuk melakukan teror. Di era globalisasi, terorisme bukan hanya

dilakukan dalam bentuk pengeboman atau pembajakan alat transportasi masal, melainkan dengan cara doktrinasi, dimana sasarannya sebagian besar berasal dari kalangan pelajar terutama mahasiswa yang secara psikolosi masih bisa digoyahkan pendiriannya seperti yang dilakukan organisasi NII (Negara Islam Indonesia), ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Ngurah Rai (UNR), Gede Wirata, S.Sos., SH., MAP., dalam sambutannya, membuka Kuliah Umum Internasional bertema The Observance of Anti Terorism Day, Jumat (20/5). Menurutnya, satu-satunya cara bersaing dengan para teroris ini, adalah pendidikan keluarga dan peran orangtua cukup penting. Sesibuk apapun orangtua jangan lupakan keluarga, karena keluarga berperan penting untuk menangkal terorisme dan radikalisme di tingkatan remaja. Para orangtua harus melakukan dialog, komunikasi efektif, dan diskusi bahaya laten terorisme dan radikalisme ini, kata Wirata. Kuliah umum ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ngurah Rai, Conculate General of India Bali dan Indonesia Association for Public Administration (IAPA). Selain itu, kuliah umum juga digelar sebagai bentuk peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Tiga narasumber dihadirkan, AKBP Priyanto Proyo Utamo, S.IK., MK., dari Polda Bali, Konsulat General India RO Sunil

Babu, dan dipandu moderator Ir. Dody. Menurut AKBP Priyanto Proyo Utamo, S.IK., MK, strategi penanggulangan tindak pidana terorisme ini, melalui pecegahan dengan kontrol naratif, kontrol radikal, preventive justical, gakkum, dan deradikalisasi. Kontranaratif, melawan propaganda paham terorisme melalui internet, media massa melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Kontraradikal, melawan paham terorisme melalui BIN kepada tokoh masyarakat, mahasiswa, tokoh adat, pelajar dll, yang belum terkena paham radikal terorisme. Preventive justicial dengan deteksi dini dan penegakan hukum terhadap terduga

pelaku teror. Sementara, Konsulat General India RO Sunil Babu mengatakan, sudah 30 tahun India memerangi terorisme. Semua berawal dari terbunuhnya tokoh India Mahatma Gandhi dan PM India Rajiv Gandhi. Dunia mengenal Mahatma Gandhi sebagai simbol antikekerasan dan kewajiban kita di dunia untuk berjalan di jalan kedamaian dan tanpa kekerasan. Mari kita bayangkan dunia tanpa kekerasan. Manusia hidup penuh kedamaian. Apakah itu mungkin? Itu pasti bisa. Kita berkewajiban, menciptakan dunia yang lebih baik untuk anak-anak generasi penerus bangsa. –ast

Dari kiri: Moderator ( Ir. Dody), AKBP Priyanto Proyo Utamo, Konsulat General India RO Sunil Babu, dan penterjemah.

Dara

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

Kory Ingin Lakukan Perubahan

Setiap orang tentu menginginkan suatu perubahan yang lebih baik. Mulai perubahan kecil dari sendiri hingga perubahan besar yang menyangkut orang banyak. Akan tetapi tidak semua perubahan dapat dilakukan oleh setiap orang. Perubahan besar dengan melibatkan orang banyak hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai pengaruh besar juga. Hal inilah yang menjadi visi I Gusti Ayu Putu Ardaba Kory saat mengikuti pemilihan Putra Putri Kampus (PPK) Ajeg Bali tahun 2016 yang diselenggarakan oleh teenagers Project Indonesia yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

M

endapat dorongan dari orang-orang terdekat, keluarga, sahabat, dan temanteman kampus serta teman-teman organisasi KMHDI ternyata memberi semangat tersendiri yang mengantarkan perempuan yang akrab disapa Kory ini ke depan pintu perubahan. Menurutnya, jika seseorang yang bukan siapa-siapa ingin melakukakn perubahan tentu tidak akan mudah dibandingkan dengan orang yang sudah dipercayai oleh masyarakat. “Kalau kita tidak memegang suatu jabatan susah bergerak melakukan perubahan namun ketika kita sudah memegang suatu jabatan kita mempunyai hak dan wewenang bahkan merupakan suatu kewajiban melakukan perubahan terhadap masyarakat, tegas perempuan kelahiran Tabanan 27 Juli 1995 tersebut. Menurut sekretaris KMHDI pimpinan cabang Buleleng ini ketika seseorang ingin melakukan program-program yang membutuhkan sinergi dengan instansi pemerintah akan terasa lebih mudah jika sudah membawa lembaga atau suatu organisasi. Kalau kita hanya membawa nama diri sendiri, tentunya mereka akan bertanya memangnya kamu siapa? imbuhnya. Hal tersebutlah yang menjadi latar belakang anak pertama dari pasangan Gusti Made Sumadi dengan Ni Made Partini ini berjuang untuk menjadi yang terbaik. Dengan menyandang predikat finalis delapan besar Putra Putri Kampus Ajeg Bali yang notabene lebih bergerak dalam bidang pendidikan, Kory mengungkapkan bahwa banyak warga di Buleleng yang tidak bisa bersekolah karena terhambat biaya sehingga ia memiliki tanggung jawab untuk membuat gagasan-gagasan dan berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan untuk mencari penyelesaian dari masalah tersebut. Ia juga ingin mengajak generasi untuk berpikir secara kritis menyikapi permasalah-permasalahan yang ada sehingga dapat menyiapkan langkah-langkah ke depan. Saya tidak ingin predikat ini hanya selempang lalu tidak ada hal yang hal yang dilakukan, yang saya inginkan adalah perubahan, tegas sekretaris Buleleng Aksi Sosial tersebut. BISA MEGENDER Meskipun tidak lolos namun ia merasa tetap harus berkomitmen dengan visi misi yang sudah disampaikan di depan umum yaitu melakukan suatu perubahan. Semasih membawa nama PPK ia berjanji akan memaksimalkan kinerja dan bersinergi dengan pemerintah di bidang pendidikan, lingkungan, dan sosial

yang meliputi penyuluhan HIV/AIDS, pemberdayaan bahasa Bali, dan aksi sosial yang menyasar masyarakat kurang mampu. Menjadi finalis delapan besar Putra Putri Kampus Ajeg Bali adalah kebanggaan tersendiri bagi mahasiswi semester IV jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha tersebut sebab di dalam event sebesar itu ia dapat menunjukkan bakat yang terbilang langka. Megender yang merupakan musik dalam seni wayang adalah bakat yang ditunjukkan Kory kepada juri. Sebagai generasi muda ia sangat bangga bisa megender yang saat ini mulai ditinggalkan. Kalau menari mungkin semua wanita Bali bisa, tetapi megender saat ini hanya ada di Gianyar dan jarang sekali ada wanita yang mau belajar megender, ungkapnya. Ketertarikannya terhadap seni gender berawal ketika seorang tetua yang mulai takut jika tidak ada yang meneruskan seni gender tersebut hingga akhirnya ia menyetujui untuk belajar megender. Meskipun tidak lolos menjadi juara PPK, akan tetapi ia merasa secara tidak langsung dapat memperkenalkan sekaligus mengingatkan kembali kesenian gender yang saat ini mulai ditinggalkan.-Wiwin

9

I Gusti Ayu Putu Ardaba Kory

Salon

Jln. Wijaya Kusuma No.39 Denpasar

Jln. Suli No. 151

Tlp. 085 237 028570

Tlp. 0812 3636 0808

Jln. Merdeka VIII No. 1 (by appointment) Tlp. 0811 903 393

Jln. Sedap Malam No. 79 A, Denpasar HP 08133900 3366, 0851 0349 6464


8

Bunda & Ananda

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Griya

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

17

Memaknai Kedekatan Cucu Mebel Jepara Tetap Diminati dengan Kakek-Nenek

Beberapa pria lanjut usia berdiri di depan gerbang sebuah sekolah. Mereka asyik berbincang-bincang. Pak Agung, salah satu lansia itu mengaku, dirinya bisa tenang-tenang setelah pensiun. Namun, karena anak dan menantunya sibuk bekerja, ia pun diserahi tugas untuk antar-jemput cucunya. “Saya jalani saja tugas ini sekalian jalan-jalan. Ternyata banyak bertemu teman yang seumuran yang juga antar-jemput cucu,” ungkapnya.

I

a menambahkan antarjemput cucu membuatnya lebih dekat dengan cucunya. “Kadangkala cucu lebih berani minta kepada saya untuk dibelikan sesuatu. Kadang saya penuhi kadang tidak. Saya tidak mau terlalu berlebihan,” ujar Pak Agung. Pengalaman lain diungkapkan Gus Saka yang tinggal bersama ayahnya yang sudah lansia. “Ayah saya sangat perhatian dengan anakanak saya. Walaupun ayah tidak bisa antar-jemput tetapi beliau ikut memikirkan siapa yang menjemput cucunya kalau saya atau istri sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal,” kata pria yang memiliki bisnis event organizer ini. Kedekatan kakek dengan cucu ini menurut Gus Saka banyak memberi manfaat. Kakek bisa bercerita kepada cucu tentang silsilah keluarga dan peristiwa sejarah yang pernah dialami. Sekali waktu, kakek bisa memberikan hadiah untuk cucunya. Sebaliknya cucu bisa diserahi tanggung jawab untuk menemani kakeknya. Menurut Ni Made Diah Lestari, S.Psi.,M.Psi. kedekatan kakeknenek dengan cucu merupakan kebahagiaan dari kakek-nenek. “Ada hal yang membanggakan ketika mereka dikaruniai cucu. Ketika di masa muda dan sibuk berkarier tak punya waktu yang banyak untuk mengurus anak, kesempatan di masa tua setelah

pensiun dijadikan “pembalasan” dengan cara merawat dan menyayangi cucu,” ujarnya. Kehadiran cucu yang sangat bermakna ini menjadikan kakeknenek memiliki tugas baru. Ada yang menjadi penjaga, termasuk bertugas mengantar-jemput. Namun, ada juga yang tidak begitu turut campur dalam urusan pengasuhan cucu. Namun, ada hal yang harus diperhatikan para lansia ini terutama dalam pengasuhan cucu. Jangan sampai kakek-nenek terlalu dominan dan mengabaikan peran orangtua si cucu. Dalam Disengagment Theory disebutkan orang hidup memiliki masanya, dengan kata lain setiap masa ada orangnya. Bagi kakek-nenek, masa mereka bertugas sebagai orangtua ketika mereka memiliki anak. Kini anak mereka sudah memiliki anak, jadi peran sebagai orangtua menjadi tanggung jawab si anak. Kakeknenek lebih berposisi sebagai penasihat. Teori ini menekankan agar kakek-nenek tidak terlalu intervensi dan membiarkan anak mandiri untuk melaksanakan tanggung jawab. Orangtua pun harus tegas menerapan aturan terhadap anak. Di sisi lain, ada Activity Theory yang mengatakan walau usia terus bertambah tetapi orang tetap aktif. Para lansia yang menjaga cucu dan mengantar-jemput cucu ini bisa dimasukkan dalam penerapan teori ini. Selain mengantar-jemput, mer-

Hubungan kedekatan cucu dan kakek

eka bisa bertemu orang lain atau lansia lain yang bisa diajak berkomunikasi. “Penerapan kedua teori tersebut tergantung konteksnya. Yang penting harus saling memahami tugas dan tanggung jawab,” ujar Sekretaris Prodi Ilmu Psikologi Universitas Udayana ini. Diah juga menggambarkan jumlah lansia berdasarkan komposisi penduduk anak-anak, dewasa, dan lansia yang sekarang hampir seimbang. Dulu komposisi berbentuk piramida dengan jumlah anak-anak banyak sedangkan lansia sedikit. Nanti ada kemungkinan akan menjadi piramida terbalik. Jumlah anak lebih sedikit sedangkan jumlah lansia banyak. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak lansia yang bisa mengurus cucu. Namun, situasi sebaliknya kebanyakan lansia dibanding anak-anak akan berimplikasi kepada siapa yang akan merawat

Diah Lestari

lansia. Ini membuka peluang bagi pelayanan daycare untuk lansia. POHON KELUARGA Untuk lebih mengenal kedekatan kakek-nenek dengan cucu, Diah bersama para mahasiswa mengadakan kegiatan hubungan antargenerasi. Dalam kegiatan ini, kakek-nenek menuturkan silsilah keluarga yang dituangkan dalam pohon keluarga. Pohon keluarga ini penting untuk mengetahui asal dan silsilah keluarga, berbagi sejarah keluarga, menggali memori dan

kenangan-kenangan yang berharga bagi generasi berikutnya. Dalam konteks kesehatan bisa digunakan untuk usaha preventif, mengubah gaya hidup, pola perilaku yang berbahaya bagi kesehatan. “Komunikasi kakek-nenek dengan cucu bisa berkaitan dengan silsilah keluarga, sejarah penting dalam keluarga, hubungan antaranggota keluarga, serta memori atau kejadian tertentu yang berkesan dan penting bagi keluarga, misalnya peristiwa pernikahan, kelahiran, prestasi tertentu, kehilangan dan kematian, dan peristiwa yang membuat ikatan keluarga menjadi lebih kuat,” ujar psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Indonesia ini. Diah menambahkan indikator succesful aging antara lain lansia terbebas dari penyakit, masih produktif dengan relasi sosial luas, serta mendapat perawatan terhadap fungsi fisik dan psikologis. Dari penelitian yang pernah dilakukan terhadap lansia yang masih bekerja di sektor informal, bagi mereka bekerja itu sangat bermakna, bisa berkontribusi terhadap pembangunan. Para lansia juga menghargai nilai-nilai persahabatan serta bisa mengikuti perkembangan teknologi. -Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

gajah masuk kampung

Konon zaman dahulu Gajahlah yang menjadi raja hutan. Tubuhnya yang serba besar menyebabkan hewan-hewan ta kut kepadanya. Tapi sayang, raja yang seharusnya melindungi rakyatnya itu, bahkan Made Taro berbuat sebaliknya. Ia memerintah sewenang-wenang. Ia suka menginjaknginjak hewan kecil dan merebut makanannya. Kalau lagi marah, ia menumbangkan pohon-pohon. Tentu saja burung-burung terutama yang sedang bertelur, mengumpat-umpat. Suatu ketika terjadi musim kemarau berkepanjangan. Pohon-pohon meranggas dan daun-daunnya yang kuning dan kering berguguran. Hewan-hewan yang gemar makan daun-daunan kelaparan. Termasuk Gajah. Maka mereka berduyun-duyun turun gunung, berkeliaran ke kampung-kampung. Orang-orang kampung kewalahan mengatasi serbuan hewan-hewan itu. Yang paling meresahkan adalah Gajah, si Raja hutan itu. Mereka bukan saja merusak kebun tetapi juga merusak kandang ternak dan rumah penduduk. Ketika hewan besar dan serakah itu melihat sepetak kebun tebu, ia segera menyerbu dan melahap batang-batang tebu yang sedang ranum. “Kita harus bergotong royong menyelamatkan kebun tebu kita!” seru kepala kampung dalam sebuah pertemuan. Mereka mencari akal bagaimana menangkap hewan besar itu. Diputuskan, hewan serakah itu tak perlu ditangkap tetapi diakali sehingga kapok.

Maka berduyun-duyunlah penduduk kampung menancapkan batang-batang bambu di sekitar kebun tebunya. Bambu yang berujung lancip itu dibungkus dengan daun-daunan, sehingga batang bambu itu tidak kelihatan. Nah, terjadilah yang direncanakan itu! Siang keesokan harinya, raja hutan itu tergopoh-gopoh menuju kebun tebu. Mereka menerobos batang bambu yang dikira semak-semak berdaun segar. Ketika asyik melahap daun-daunan semak, tiba-tiba ia menjerit, lalu lari pontang-panting tak tentu arah. Kedua matanya berdarah. Ia tidak dapat melihat. Dalam keadaan seperti itu penduduk kampung beramai-ramai memukulnya. Gajah itu berteriak sambil lari. Berkat tenaganya yang kuat, ia berhasil lari menjauh dari kampung. Tidak disadarinya, kakinya menginjak-nginjak lumpur di pinggir sungai. “Jangan injak hamba, Tuanku!” terdengar sebuah suara. “Aku adalah cacing, rakyat Tuanku yang lemah. Bukankah Tuanku Raja Hutan?” “Benar, aku raja hutan, tetapi aku sedang menderita.” Gajah menceritakan riwayatnya yang diperdaya oleh penduduk kampung. Ia juga memperlihatkan matanya ynag berdarah dan buta. Hewan yang bernama cacing itu cepat sekali iba hati. Ia kasihan akan rajanya yang malang. Untuk menunjukkan kesetiaannya, lalu katanya, “Kalau Tuanku tidak keberatan, ambillah kedua mata hamba. Lebih baik hamba yang buta, daripada Tuanku Raja. Semoga dengan mata yang kecil ini, Tuanku merasa memiliki mata hati yang besar.” Nah, Gajah yang sekarang bermata sipit itu perlahan-lahan masuk ke dalam hutan. Namun sampai di sana ia tidak lagi disambut sebagai raja. Penggantinya adalah raja baru yang bernama Harimau.

Jepara adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang dikenal akan seni ukiran dan mebel ­kayunya. ­Karena, secara turun-temurun, ukiran telah ­dilestarikan dan dijadikan mata pencaharian oleh sebagian besar masyarakat Jepara.

Widodo

M

ebel-mebel karya pengerajin Jepara ini dikenal memiliki kualitas yang cukup bagus.

Itu pula yang menjadi alasan seorang supplier mebel kayu di kawasan Bypass Ketewel, Widodo (38), memasok mebel dari Jepara. “Dari segi kualitas, cukup. Meski materialnya bukan jati kelas satu, mebel Jepara yang pasarnya untuk menengah ke bawah ini, konstruksinya tetap kuat. Dan yang paling penting, dengan harga murah, saya bisa jalan dan anak buah saya bisa kerja,” ujar pria asal Klaten yang sudah 4 tahun menggeluti usaha ini. Peminat mebel jati Jepara di Denpasar khususnya, dikatakannya tak terlalu menunjukkan kenaikan maupun penurunan signifikan. “Ada saja yang nyari. Terkadang pedagang di Gianyar yang kehabisan barang, minta ke saya. Di tempat saya, ada beberapa kursi ready stock,” ucapnya. Ketika ditanya kenapa tidak memproduksi kursi di Bali?

Dengan ketus ia menjawab, ongkos tukang di Bali mahal, bisa dua kali lipat dibandingkan tukang di Jepara. SeIain itu, pengerajin di Jepara bisa diandalkan, dalam artian permintaan akan barang datang tepat waktu. Mebel-mebel kayu yang dipasok dari Jepara ini umumnya masih mentah alias belum difinishing. Untuk fininshing, biasanya disesuaikan dengan

pesanan konsumen. Karena ada juga konsumen yang membeli mebel tanpa finishing. Perbedaan harga antara mebel yang belum dan sudah difinishing Rp 100 ribu. Untuk satu set mebel (4 kursi dan 1 meja) memerlukan waktu hingga 3 hari untuk proses finishing. Misalkan kursi tanpa finishing dihargai Rp 135 ribu, yang sudah finishing dipatok dengan harga Rp 235 ribu.

Beberapa model kursi buatan pengerajin Jepara yang dari dulu hingga kini masih beredar di pasaran dan masih banyak dicari konsumen adalah kursi model lenong betawi, kursi sentul, bahkan ada yang diberi nama kursi makan cantik. Jadi, jika Anda memiliki dana yang pas-pasan, dengan kualitas sedang dan beragam pilihan model, bisa memilih mebel kayu jati Jepara. -Inten Indrawati


18

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

PWRI (Persatuan Wre­ datama Republik Indo­ nesia) memiliki peran se­ bagai wadah bagi pensiu­ nan baik pegawai negeri. Tercatat PWRI Kabupaten Buleleng memang masih aktif hanya saja jumlah anggotanya yang kian merosot. Ini dikarenakan yang menjadi anggota PWRI hanya pensiunan yang mendaftarkan diri saja. Hal tersebut disam­ paikan oleh Ketua Umum PWRI Cabang Buleleng Drs. Nyoman Sukarma.

K

ian merosotnya anggota PWRI juga dikarenakan beberapa yang mengundurkan diri dan meninggal dunia. Setiap tahun jumlahnya menurun, ini dikarenakan yang sudah tua mengundurkan diri, ujarnya. Dari jumlah anggota yang mencapai 300an hingga kini yang tersisa hanya 160an termasuk di kantor ranting kecamatan. Berbicara masalah program yang dilakukan oleh PWRI tentunya menyesuaikan dengan program pusat dan provinsi Bali, namun saat ini program yang terlaksana sangat terbatas. Keterbatasan kegiatan atau program yang dilakukan disebabkan karena terbatasnya pendanaan. Meskipun diberlakukan sumbangan wajib dan sukarela dari anggota akan tetapi hal tersebut dirasa tidak mulus. Ada yang membayar ada yang tidak bayar, tambahnya. Dibentuknya koperasi simpan pinjam untuk anggota PWRI untuk menyejahterakan anggota ternyata juga tidak berjalan mulus. Hampir 50% anggota yang melakukan pinjaman tidak mengembalikan. Dana kami yang kurang lebih Rp 150 juta hampir Rp 100 juta macet dalam pengembaliannya,imbuhnya. Maka dalam melaksanakan program, PWRI terpaksa hanya melakukan program yang tidak memerlukan dana seperti jalan santai, senam manula, dan donor darah. Sukarma mengatakan belum bisa menyusun program yang memerlukan banyak biaya. Terus terang kami belum berani susun program karena belum ada dana, iya kalau ada bantuan. Kalau program sudah disusun tetapi dana tidak ada kan malu, ujarnya suami

Life

Kiprah PWRI Buleng

Iuran Wajib Ditiadakan dari Dwi Priyanti tersebut. Meskipun beranggotakan orang-orang yang sudah cukup tua namun diharapkan dengan adanyan PWRI di kabupaten Buleleng dapat menjadi tempat untuk tetap eksis bagi anggotanya. Ia juga menuturkan bahwa keuntungan dari ikut organisasi tidak lebih dari keuntungan moril, sehingga keuntungan bersifat bisnis memang tidak ada. Kami bisa berkumpul bersenda gurau bersama dan sama-sama memberikan dorongan moral agar tetap eksis di masyarakat dan saling memberikan informasi, imbuh pria kelahiran desa Banyuatis 20 Desember 1947 tersebut. Kembali kemasalah dana, maka

Drs. Nyoman Sukarma

bantuan program yang dilakukan oleh PWRI lebih bernilai moral dibandingkan nilai materiil. Mantan Sekretaris Da!erah kabupaten Buleleng ini juga sangat berharap mendapat bantuan dari Bupati Buleleng namun karena dianggap belum memiliki badan hukum sehingga belum ada bantuan dari pemerintah. Secara terpusat di Jakarta sudah berbadan hukum. Pengertian kami hingga ke kantor cabangnya di kecamatan sudah berbadan hukum, paparnya. Ia juga berpesan kepada pemerintah bahwa seluruh anggota PWRI pernah mengabdi kepada pemerintah dan mengabdi kepada masyarakat, sehingga jasajasa tersebut semestinya diingat

dan diberikan bantuan untuk melakukan program yang bersifat kemasyarakatan. Jika ia melihat di kabupaten lain keberadaan PWRI justru dirangkul oleh pemerintah daerah khususnya masalah pendanaan. Pria yang saat ini menjadi tim ahli DPRD Kabupaten Buleleng ini juga akan mengusulkan ke pusat bahwa pensiunan pegawai negeri sipil, Polri, dan TNI secara otomatis menjadi anggota PWRI. Hal ini untuk meningkatkan anggota PWRI. Ke depan ia juga berharap anggota PWRI tidak dikenakan iuran wajib yang dirasa memberatkan. Iuran wajib ditiadakan tetapi sumbangan sukarela masih dilakukan, tambahnya. -Wiwin

Maksimalkan Potensi Lansia Buleleng dengan luas wilayahnya mencapai 1.366 km2 yang terdiri atas sembilan kecamatan tentu menyimpan banyak problematika. Salah satu yang sedang menjadi perhatian khusus pemerintah adalah pemberdayaan masyarakat usia lanjut. Di usia yang sudah tidak produktif lagi justru pemerintah berupaya menyusun program dalam rangka meningkatkan perkembangan ekonomi produktifnya. Pemberdayaan atau memberikan ketrampilan kepada masyarakat usia lanjut merupakan program jangka menengah dari pemerintah. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Drs. Gede Komang, M.Si,. Gede Komang mengatakan, masyarakat usia lanjut yang tidak memiliki keluarga dengan kata lain terlantar serta hidup dibawah himpitan ekonomi merupakan tanggung jawab pemerintah. Menurutnya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi persoalana usia lanjut tersebut. Pertama, jika usia lanjut tersebut sudah memiliki kondisi fisik yang kurang baik maka penanganannya dengan memberikan asupan gizi melalui pemberian makanana maupun rastra (beras sejahtra). Kami juga mengupayakan masyarakat yang terlantar tersebut bersedia ditampung di panti jompo. Itupun atas persetujuan yang bersangkutan, ungkapnya. Kedua, usia lanjut yang memiliki fisik cukup baik akan diberikan pelatihan-pelatihan dan diberikan bantuan melalui Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Pihaknya berupaya dengan pemerintah kabupaten Buleleng untuk memberdayakan agar mereka bisa memperpanjang harapan hidup. Ia juga mengatakan pihaknya tidak merasa kesulitan untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat usia lanjut sebab pada umumnya masing-masing dari mereka sudah memiliki ketrampilan. Maka hal yang perlu dipersiapkan olehnya adalah dana yang akan menunjang ketrampilan tersebut. Mereka kan sudah tua jadi ketrampilan yang diajarkan juga tidak ribet. Selain itu, ketrampilan tersebut mereka sudah punya tinggal memaksimalkan saja agar hasilnya Drs. Gede Komang lebih bagus, misalnya membuat

sapu, kuskusan, dan kontongan. Inilah yang perlu kami siapkan dana untuk membeli bahan bakunya, paparnya. Hasil-hasil kerajinan yang dihasilkan akan dipasarkan sehingga dapat memperbaiki perekonomian. Selain memberi bantuan dan pelatihan, pemerintah juga menggelar posyandu usia lanjut yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara kesehatan mereka. Dalam pemberian modal untuk menjalankan program tersebut, pihaknya memberikan sesuai dengan kemampuan usia lanjut. Kalau mereka mampu mengelola Rp 500 ribu, ya kami kasih. Kalau mampunya Rp 1 juta ya kami juga kasih segitu, imbuhnya. Pemberian modal sesuai dengan kemampuan ini bertujuan agar dana yang diberikan tidak disalahgunakan. Modal yang diberikan pun cuma-cuma dengan syarat usaha yang dijalankan tetap berjalan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah pusat melalui kemetrian sosial juga membiayai orang tua terlantar dengan memberikan seratus ribu setiap bulannya. Kami berharap ke depan pemerintah kabupaten yang dapat memberikan bantuan sehingga tidak tergantung lagi di pusat, ungkapnya. Dalam menjalankan program pemerintah tersebut masih menemui kendala-kendala salah satunya biaya. Jumlah usia lanjut yang terlantar di Kabupaten Buleleng mencapai 5.402 orang ini belum mampu tersentuh biaya secara keseluruhan. Kami berharap pemerintah kabupaten dapat mencari jalan keluar dari kendala ini, imbuhnya. Selain biaya, masalah pendamping juga menjaga kendala karena masing-masing desa yang memiliki orang tua terlantar harus ada tim pendamping. Tim Pendamping kan juga perlu disiapkan biaya, ya kembali masalahnya adalah dana, ungkapnya. Ke depan, usia harapan hidup masyarakat juga akan semakin membaik sehingga jumlah usia lanjut juga akan bertambah, maka dari itu Gede Komang sangat berharap pemerintah untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaann ini. Pemerintah agar memperhatikan kesigapan dalam memberikan bantuan jangan sampai orang tua terlantar yang tidak mendapat bantuan jumlahnya menumpuk, tandasnya. -Wiwin

Story

Tiga puluh tahun yang lalu Nindi (55) berkunjung ke rumah bibinya di Pulau Sumbawa. Waktu itu gadis asal Lombok ini hanya ingin berlibur saja. Dari Lombok ia menumpang bus malam jalur Surabaya-Bima dan ia sempat berkenalan dengan supir bus tersebut. Rupanya Ari, nama supir bus ini, berasal dari desa yang sama dengan tem­ pat tinggal bibinya di Pulau Sumbawa. Kenalan singkat tersebut, rupanya berlanjut hingga mereka kerap ber­ temu dan menjadi sepasang kekasih. Sayangnya, Ari telah memiliki istri meskipun dari pernikahannya tersebut ia tidak memiliki anak. Karena itu, Nindi dan Ari menjalin hubungan terlarang di bela­ kang istri Ari.

N

indi akhirnya memilih tinggal bersama bibinya karena sudah sangat jatuh hati pada Ari. Beberapa bulan setelah hubungan mereka berjalan, istri Ari mengendus hubungan tersebut sampai akhirnya memergoki Ari dan Nindi yang tengah pacaran. “Ribut besar waktu itu,” kenang Nindi. Ari bertengkar dengan istrinya. Begitu pula dengan Nindi dan istri Ari. Suasana kampung jadi hangat dengan gosip hubungan mereka. Tetapi hal tersebut justru membuat keduanya semakin lengket. Mereka pun nekat menikah. “Istri Mas Ari akhirnya mengizinkan kami menikah dengan catatan anak pertama kami dia yang urus dan besarkan,” kata Nindi yang setuju-setuju saja waktu itu. Dalam perjalanan pernikahan Ari dan Nindi, tidak lama kemudian mereka memiliki anak. “Betapa sayangnya istri Ari pada anak kami itu,” ungkap Nindi. Bisa dibilang anak pertama mereka hanya menumpang ASI pada Nindi karena selebihnya diurus dengan sangat baik oleh istri Ari. Hubungan Nindi dan istri pertama Ari pun semakin lama semakin baik. Mereka akrab seperti saudara. Mereka sangat akur membesarkan ‘anak bersama’ tersebut. Hingga akhirnya setelah Nindi memiliki empat anak lain, Ari kembali berulah. “Dia menikah sana sini di Jawa dan kami tidak tahu itu,” kata Nindi yang setelah suaminya punya anak baru ia tahu. Ia sendiri seperti tidak peduli berapa kali pun suaminya menikah lagi. “Capek saya bertengkar,” ujarnya pendek. Ia menjalani saja kehidupan yang sesungguhnya bagai neraka baginya itu. Beruntungnya ada istri pertama Ari tempatnya saling berkeluh kesah sehingga mereka berdua saling menguatkan. Selain berbagi suami, keduanya kerap berbagi duka atas tindakantindakan suaminya itu.

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

7

Pilih Status Cerai Mati demi Masa Depan

Tak lama kemudian, suami mereka kembali berulah. “Dia kawin lagi dengan orang satu kampung dengan istri pertamanya,” kata Nindi. Ia pun meradang dan pertengkaran hebat tiada terhindarkan. Begitu pula dengan istri pertama Ari yang juga turut tidak terima kelakuan suaminya itu. Mereka berdua bersatu melawan suaminya dan istri yang dikatakan Nindi –entah yang ke berapa- itu. Istri pertama Ari meminta cerai dan Nindi kembali ke Lombok meninggalkan suaminya itu. Sakit hati Nindi tiada terkira ketika tiap kali pulang dari perjalanan menyupir bus malam, suaminya lebih banyak berada di rumah istri mudanya. Begitu pula uang hasil kerjanya sudah tidak ada lagi yang diterima Nindi dan istri pertamanya. Intinya mereka sudah tidak dinafkahi lagi karena seluruh uang diberikan pada istri mudanya. “Saya hanya dapat 100 ribu, 200 ribu, dia pergi dua minggu. Mau hidup seperti apa kalau begitu caranya. Yang lebih menyakitkan lagi adalah barang-barang di rumah kami (termasuk di rumah istri pertama Ari) diangkut dan diberikan pada istri mudanya,” kata Nindi kesal. Karena itulah, saat suaminya pergi menyupir, Nindi memutuskan pergi dari rumah dengan membawa seluruh isi rumahnya dan anak-anaknya (kecuali anak pertama dan kedua yang tinggal dengan istri pertama Ari). Sedih tentu saja. Berlinang air mata, Nindi dan ketiga anaknya menumpang truk pulang kembali ke kampung halamannya. Ari yang kaget dengan kepergian istrinya, tidak berusaha menjemputnya dan hanya bicara sembari bertengkar lewat telepon. Bagi Nindi, meskipun mereka tidak bercerai namun sikap itu sudah dianggapnya bahwa Ari sudah tidak mempedulikannya. JADI TKW Hidup dengan tiga anak tanpa pekerjaan, tentu saja berat buat Nindi yang kala itu masih memiliki balita. Ia memikirkan kelanjutan sekolah dan biaya hidup anak-anaknya sehingga ia memutuskan untuk menjadi TKW ke Saudi Arabia. “Anak-anak saya titip di orangtua,” ujarnya. Saat mengurus dokumen dan surat-surat, Nindi mengaku suaminya sudah meninggal. Ia sengaja mengaku cerai mati agar proses pengurusan dokumennya berjalan lancar. “Kalau punya suami maka harus ada izin resmi berbentuk surat dari suami. Kalau cerai maka harus bisa menunjukkan surat cerai. Tetapi jika cerai mati, bisa lebih mudah,” ujarnya. Untuk mendapatkan status cerai mati, Nindi sempat membuat KTP baru dengan status cerai mati.

Ia tahu bahwa hal itu menyalahi prosedur. Namun, yang ia pikirkan adalah kelangsungan hidup anak-anak. Berharap dari suami yang tidak bertanggung jawab sama halnya ia perlahan ‘membunuh’ anak-anaknya. Maka inilah pilihan tersulitnya. Ia pun berangkat menjadi TKW dan memperoleh keberuntungan karena mendapatkan majikan yang sangat baik. Enam tahun ia bekerja sebagai TKW ia bisa menyelesaikan biaya sekolah dan biaya hidup anak-anaknya hingga SMA. Karena itu, setelah rampung sekolah anak-anaknya, dua tahun lalu Nindi telah kem-

bali ke kampung halamannya. “Saya hanya ingin lihat anak-anak bersekolah. Setelah mereka lulus, kecuali yang bungsu, saya memutuskan untuk berhenti menjadi TKW,” katanya. Modal dari gajinya, kemudian ia pakai untuk membuka warung di kampungnya. Dari dompet warna merah muda miliknya, Nindi mengeluarkan sebuah KTP atas namanya. Dengan jelas tertera status cerai mati hingga hari ini. Status itu sesungguhnya bukan sekedar formalitas belaka melainkan seperti mencerminkan matinya perasaan Nindi pada Ari. “Ari

sering datang ke rumah saya, namun saya tidak lagi bisa bersamanya. Bahkan tidur bersama sudah sama sekali tidak saya lakukan sejak saya memilih untuk meninggalkannya,” katanya. Bagi Nindi, ketidakpedulian Ari, juga tidak ada nafkah lagi yang diberikan Ari padanya dalam waktu yang sangat lama (hingga melampaui syarat dalam Islam sebagai agama yang dianutnya), itu dimaknai Nindi bahwa perceraian tidak lagi harus diucapkan. Maka status cerai mati, sepertinya akan ia bawa hingga kelak ia pulang keharibaan Sang Pencipta. -Naniek I. Taufan

Sudut Pandang

Jatuh Hati di Panti Jompo Dua panti jompo yang ada di Nusa Tenggara Barat, yakni, Panti Sosial Tresna Werdha “Puspakarma” Mataram, di Mataram dan Panti Sosial Tresna Werdha Meci Angi yang ada Bima, menampung lebih dari 150 orang lansia yang miskin dan tidak memiliki keluarga lagi untuk mengurusnya. Mereka berusia ratarata 70 tahun ke atas dan menghabiskan waktunya di panti jompo ini hingga meninggal dunia. “Penghuni kedua panti jompo ini diprioritaskan bagi mereka yang lansia tidak mampu dan hidup sebatang kara atau tidak memiliki keluarga yang mengurusnya. Mereka tinggal dan dibina di panti biasanya sampai meninggal dunia,” ungkap Drs. M. Husni Thamrin, M.M., Kepala Dinas Sosial dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pembinaan secara rutin yang dilakukan terhadap lansia ini adalah hal-hal yang membuat hidup mereka berjalan wajar seperti saat mereka bersama keluarga. Segala aktivitas harian dilakukan seperti halnya mereka tengah berada di lingkungan keluarga masing-masing. Aktivitas rutin yang dilakukan para lansia di panti jompo ini selain beribadah juga berolah raga. Beberapa kesibukan lain yang mampu mereka lakukan atau dengan bantuan pengurus panti diberikan juga untuk menjaga kesehatan mereka agar tubuh tetap bergerak. “Para lansia diberikan kesibukan ringan sesuai kemampuan masing-masing seperti berkebun dan mengurus keperluan diri sendiri,” ujarnya. Tidak hanya itu, para lansia yang tinggal di dalam panti ini sesekali melakukan refreshing dengan jalan-jalan bersama ke luar panti.

Sejauh ini menurut Husni, tidak ada program khusus pembinaan atau pemberdayaan yang bersifat seperti membina mereka yang usianya masih produktif dan menhghasilkan sesuatu produk, karena usia mereka yang tergolong sepuh. Prioritas pemberdayaan dan pembinaan pada kesehatan dan psikologi mereka gara mereka bisa merasakan hidup normal layaknya lansia lain yang berada di tengah keluarga mereka. “Para lansia ini diberikan pelatihan misalnya membuat kerupuk ya...untuk kebutuhan mereka sendiri di dalam panti, tidak untuk dipasarkan,” kata Husni. Untuk tetap menjaga agar para lansia yang berada di panti bisa bersosialisasi dan bersilaturrahmi, maka komunitas-komunitas lansia yang di luar panti secara rutin datang setiap hari Selasa untuk berolahraga bersama. “Bagusnya, komunitas lansia yang berada di luar panti, juga selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama dengan para lansia penghuni panti tiap ada hari besar nasional. “Beberapa kegiatan yang kerap dilakukan seperti sunatan massal, membagikan sembako dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya,” katanya. Jadi, panti jompo yang yang ada di NTB senantiasa berusaha menjadikan kehidupan para lansia ini berjalan sewajarnya. “Bahkan banyak penghuni panti yang saling jatuh hati dan menikah di panti,” tambahnya. Dengan begitu diharapkan mereka bisa menjalani hidup yang bahagia hingga akhir hayatnya dalam pengurusan dan perhatian yang layak seperti halnya mereka berada dalam lingkungan keluarga sendiri. --Naniek I. Taufan


6

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

“Marginalisasi Seni Pertunjukan Gandrung Tradisi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)” menjadi judul disertasi yang disampai­kan Ida Ayu Trisnawati, S.ST.,M.Si., pada sidang terbuka Program Pascasarjana, Universitas Udayana. Hasilnya, ia pun diberikan nilai sangat memuaskan oleh tim penguji yang dipim­pin oleh Prof.Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).,di Gedung Pascasarjana Unud, Senin, (16/5).

Ida Ayu Trisnawati

Raih Doktor berkat Gandrung

D

alam sidang terbuka ini Trisnawati yang lahir di Malang, 21 Januari 1962 ini, menyatakan bahwa seni pertunjukan Indonesia memiliki ciri istimewa, yaitu sebagai sebuah seni yang sangat lentur dan cair. Hal ini, karena lingkungan masyarakatnya selalu berada dalam kondisi yang berubah-ubah pada kurun waktu tertentu, mapan, serta tumbuh sebagai sebuah tradisi.” Istri dari I Gusti Agung Ngurah Ketut Suparta, S.E., M.Si., ini menegaskan jika perkembangan kehidupan masyarakat telah mengubah aspek seni pertunjukan mengikuti perkembangan zaman. “Perubahan juga terjadi pada salah satu seni

Ida Ayu Trisnawati bersama suami, saudara kerabat dan sahabat usai mengikuti ujian terbuka promosi doktor.

pertunjukan Gandrung tradisi di Dasan Tereng, Narmada, NTB. Perkembangan pemahaman agama dari Islam Sasak wetu telu ke Islam Sasak waktu lima memberikan dampak luas bagi perkembangan seni per­tunjukan Gandrung tradisi di daerah tersebut,” ujarnya. Untuk memahami yang terjadi dengan Tari Gandrung ini, maka dosen Jurusan Seni Tari ISI Denpasar ini, merumuskan beberapa hal yakni, untuk mengetahui bentuk marginalisasi seni pertunjukan Gandrung tradisi,

alasan mengapa seni pertunjukan Gandrung tradisi mengalami marginalisasi, serta implikasi dan makna bagi masyarakat di Lombok, NTB. Selanjutnya agar diperoleh data yang valid, ibu dari dr. AA Ayu Diah Citra Dewi, AA Ngurah Bayu Putra, S., Ked., dan AA Ngurah Surya Putra ini melakukan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen yang berhubungan dengan Gandrung tradisi. Hasil pengumpulan data selanjutnya dianalisis dengan

menggabungkan dari teori subaltern (Gayatri Chakravorty Spivak), teori praktik sosial (Pierre Bourdieu), hingga teori dekonstruksi (Jacques Derrida). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penguatan fundamentalisme agama Islam, dari Islam wetu telu ke Islam waktu lima pada masyarakat Sasak. Penguatan fundamentalisme agama Islam sangat berpengaruh terhadap keberadaan seni pertunjukan Gandrung tradisi dan pergulatan politik identitas dalam seni pertunjukan

tari Gandrung. Secara detil hasil penelitian menunjukkan bentuk marginali­ sasi seni pertunjukan gandrung tradisi Lombok, NTB, diantara­ nya memudarnya spirit melalui representasi tema dan gerak tari; aspek busana dan tata rias, musik iringan, tata panggung, dan penontonnya. Selain itu, yang melatarbelakangi marginalisasi seni pertunjukan Gandrung tradisi ditinjau dari terbatasnya peran pemerintah, adanya penguat­a n fundamentalisme keagamaan, setting kebudayaan di era globalisasi dan ketidakberdayaan komunitas pendukung tari Gandrung tradisi. Melalui penelitian yang telah dilakukannya, mulai dari paparan latar belakang sebuah fenomena menarik tenatngh seni Gandrung dari sudut pandang kajian budaya, begitu pula de­ ngan rumusan masalah tentang marginalisasi yang terjadi, kemudian dideskripsikannnya dengan baik sebagai tujuan penelitian dan disertai harapan alan bermanfaat berhasil mengantarkan Ida Ayu Trisnawati, S.ST., M.Si., berhasil meraih gelar Doktor pada Program Doktor, program Studi Kajian Budaya, Program Pascasarjana, Universitas Udayana dengan predikat sangat memuaskan.-Sri Ardhini

“MANTRA SANG PENYIHIR” Salam Senyum “Waaahh baju yang Ibu kenakan sangat cocok dengan warna kulit Ibu”. Bayangkan kalau saya yang mendapatkan pujian seperti itu dari para peserta pelatihan ketika mengundang saya untuk jadi Trainer. Hhmmmmm... Pasti hati saya berbunga, senyum saya merekah, dan terasa kata-kata itu terngiang terus. Heheheheh.. manusiawi ya.. Malah itu bisa jadi obrolan yang menarik dan berlanjut dengan orang yang memuji. Dan, akan terjadilah ikatan emosional dari sebuah hubungan dengan relasi. Menjadi concern di bidang service, banyak yang bertanya kepada saya “bagaimana agar pelanggan bisa lebih sering datang ke tempat kita. Bagaimana juga pada saat yang sama membuat kita lebih disukai oleh pelanggan dan tidak cepat berpaling ke yang lain.” Naaahhh.. Ba­ nyak sebenarnya hal-hal yang dilakukan oleh instansi/ perusahaan, bahkan pribadi-pribadi yang menginginkan menjadi idola atau favorit, kesayangan atau kecintaan, oleh pelanggan. Sebenarnya ada hal yang sangat sederhana dan mudah untuk mewujudkan hal itu, tentunya tanpa harus perlu mengikuti kursus-kursus yang lebih spesifik, seperti kursus kepribadian. Terus... dengan cara apa ya...? Sekarang cobalah mulai mengingat. Kapan terakhir kali kita mendapat pujian dari orang, baik dari sahabat, dari rekan kerja di kantor, dari pasangan, atau dari atasan.. (yang terakhir sepertinya yang paling jarang ya...bahkan ada yang sama sekali tidak pernah dipuji dari atasannya, padahal dia sudah bekerja dan berusaha keras). Kemudian cobalah mengingat kembali kapan kita terakhir memuji orang. Waaaahhhhhh... Mulailah kita berpikir keras untuk menjawab pertanyaan di atas. Ada yang mulai memutar rekaman masa-masa indah yang sudah berlalu dengan pasangannya (karena biasanya masa pacaran penuh dengan pujian yaaa... heheheh...), atau mengingat kejadiankejadian berkesan lainnya di masa-masa lalu. Seolah-olah itu pertanyaan yang sangat sulit untuk menjawabnya.

Para pembaca rubrik Dhani’s Art Service yang setia, kadang kita melupakan yang namanya pujian. Dan, bisa-bisa itu terjadi dari pasang­ an Anda atau orang yang terdekat dengan kita. Ketahuilah...padahal sesungguhnya pujian itu sebuah resep, senjata, motivasi yang ampuh untuk membakar semangat dan sekaligus juga membuat kita disukai oleh orang lain. Terjadi pertanyaan...mengapa? Sudah naluri manusia pada hakikatnya setiap orang butuh penghargaan, butuh pengakuan atas prestasi yang dilakukannya. Tapi hal ini dengan persaingan dan kompetisi yang sangat ketat, malah pengakuan dan penghargaan berupa “pujian” itu jarang dilakukan. Kembali ke dunia service. Sekarang bagaimana membuat pelanggan itu menjadi berharga dan penting di hadapan kita, salah satunya adalah dengan memberikan PUJIAN. Karena setiap pelanggan yang datang, pujian sangat diperlukan agar kedekatan emosianal dapat diwujudkan. Membicarakan masalah pujian kadang kita merasa tersinggung atau kurang nyaman dengan pujian orang terhadap kita. Heheheheh...betul kan...??? Naaah.. ini bisa terjadi karena yang orang yang memuji tidak tahu atau tidak bagus komunikasinya dengan yang diberi pujian. Kalau hal ini terjadi, hasil yang diinginkan dari pujian tersebut tidak akan tersampaikan, malah menjadi bumerang dan menjadikan orang tersebut merasa kurang nyaman dengan pujian itu. Ada beberapa cara untuk memuji agar pujian kita dapat menyentuh hati dari pelanggan. 1. Pujilah pelanggan dengan TULUS tanpa dibuatbuat. Pujian yang terlalu dibuat tanpa sesuai dengan aslinya akan terkesan gombal. Pujian yang tulus itu tanpa mengharapkan balasan sesuatu dari pelanggan. Contoh.. Ketika kita bertemu pelanggan yang mempunyai kulit gelap (kehitaman), kita mengatakan..Wah ibu kok kelihatan putih dan shining ya kulitnya.. kalau seperti itu bukan senyuman yang didapatkan tapi sebuah tamparan heheheheh… 2. Pujilah dengan jelas dan sedikit DETAIL. Artinya, ketika kita memuji orang jangan hanya bersifat umum,

Santosa

Woman on Top

apalagi kata-kata yang sudah biasa dilontarkan. Contoh pujian umum : Wah hebat ya, pasti menang. Pujian Khusus : Waaaahhh.. tidak sia-sia ya.. berlatih yang tekun, di panggung juga penampilan sangat memukau, dan semua keliatan sudah dipersiapkan dengan matang. Selamat ya juara di tangan . Naaahhh.. kalau orang mendengar dengan pujian umum akan terkesan biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Mungkin saja pujian yangh kita berikan malah tidak dianggap karena sama dengan yang dikatakan orang lain. 3. Pujian yang UP TO DATE.. alias tidak kadaluarsa. Haaaa .. yang ini bagaimana kita memberi pujian saat kita pertama kali melihatnya. Artinya tidak harus menunggu setelah berkali-kali melihat baru dipuji. Contoh : Ketika kita melihat pelanggan memakai tas baru yang dibeli saat dia berlibur ke luar negeri, kita semestinya langsung memujinya. Jangan sampai setelah dipakai berkali-kali bahkan keliatan sedikit lusuh baru kita memuji. Heheheheh.. 4. Pujian yang ABG (Antusias, Berani, dan Gembira). Artinya ketika memuji orang jangan sampai kita terkesan sambil lalu atau memuji dengan malu-malu atau juga memuji dengan raut wajah sedih. Kalau yang ini lebih ke komunikasi nonverbal/bahasa tubuh kita. Dengan pujian ABG, pujian kita akan bernyawa, dan tentu memberi makna yang lebih dari sekadar pujian kata-kata saja. Dengan 4 cara memuji di atas, maka pelanggan kita akan jatuh hatinya dan mereka akan dibuat melayang seperti kata Katon Bagaskara dalam lirik lagunya ­“Negeri di Awan”. Dengan demikian yakinlah pelanggan akan memberi dampak positif terhadap layanan yang kita berikan. Sangat murah dan sederhana bukan? Kare­na sampai saat ini memuji tanpa harus keluar biaya alias gratis ya.... dan orang yang kita puji akan merasa DIHARGAI, merasa dirinya PENTING. Ayoooo marilah kita bertanya,.. kenapa kita tidak memulai dari sekarang untuk sebuah pujian karena saya yakin.. Pujian adalah “MANTRA dari SANG PENYIHIR..” Salam 3 SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani

Memimpin sebuah perusahan besar yang telah sukses, mungkin menjadi impian sebagian besar orang. Tetapi tidak demikian dengan pria yang satu ini. Santosa, begitu nama pria tersebut yang saat ini menjadi CEO Asuransi Astra.

K

etika pada April 2014 dipercaya menjadi CEO Asuransi Astra, dia agak takut karena jabatan itu dipandangnya sebagai musibah. Asuransi Astra adalah sebuah perusahaan besar yang sudah sangat sukses. “Jika perusahaan itu kemudian tetap sukses di bawah kepemimpinan saya, ya memang sudah biasa sukses. Tetapi kalau gagal atau rugi, saya yang dituduh sebagai penyebab kegagalan itu. Karena itu saya beranggapan memimpin perusahaan besar yang sudah sukses adalah sebagai musibah,” tegasnya saat menjadi pembicara dalam acara seminar yang dihadiri ratusan mahasiswa Surabaya di Bioskop, kawasan Marvel Surabaya, Selasa (17/5). Santosa berpendapat, dirinya lebih suka memimpin perusahaan kecil yang tidak sukses. Karena

19

Pimpin Perusahaan Sukses Adalah Musibah kalau perusahaan itu menjadi besar dan sukses berkat kerja kerasnya, maka dia pasti disanjung-sanjung. Tetapi kalau perusahaan itu mengalami kerugian, ya memang sudah rugi dan sulit persalahkan siapa-siapa. Karena itu, memimpin Asuransi Astra ini adalah sebuah tantangan berat yang harus dihadapinya. Dia ditantang untuk mempertahankan keberhasilan yang sudah diraih Asuransi Astra. Berkat ketekunan dan kepiwaian serta pengalamannya, dia ternyata lebih sukses lagi memimpin perusahaan ini. Lebih jauh, lulusan Sarjana Fisika dari Universitas Gajah Mada, Yogjakarta pada 1989 ini, berpendapat kehidupan ini sangat indah. Tak semua perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak rintangan dan hambatan dalam meraihnya.

“Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan hati, memiliki prinsip yang kuat, jujur, apa adanya, dan

Santosa

selalu melakukan inovasi,” ujarnya membuka rahasia kesuksesannya. Dia menambahkan, di balik kesuksesan seseorang, ada kisah-

Bagus Supomo

Harus Kaya Inovasi Menekuni usaha apapun harus kaya melakukan inovasi. Karena dunia terus berubah. Demikian juga dengan kurikulum di sekolah, industri dan konsumen selalu berubah dan terus berkembang. Karena itu, bila seseorang menekuni dunia usaha harus bisa membaca perkembangan ini. Bila nanggung lebih baik tidak sama sekali. Daripada akan dijadikan “sparring partner” bila meminjam istilah dalam tinju. Itulah petuah yang dikemukakan Executive Director Sura-

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

baya Hotel School (SHS), Bagus Supomo. Artinya apa? Dalam membangun usaha apapun, jangan sampai dibuat “sparring partner” oleh yang kuat. Terutama dalam segi kualitas. Karena itu, untuk dapat bersaing harus melakukan inovasi secara terus menerus. Misalnya, ketika Bagus Supomo, memutuskan untuk mendirikan sekolah perhotelan pada 11 November 1988 dirinya punya keyakinan nama SHS pasti tangguh dan tahan bantingan. Karena dilandasi dengan keinginan memiliki sekolah yang benar dan harus

Bagus Supomo

siap menghadapi perubahan serta cepat tanggap. ‘’Setelah 28 tahun, SHS saat ini sudah memiliki 20.000 alumni dan sudah bekerja dan tersebar diseluruh Indonesia bahkan dunia,’’ kata lelaki yang dilahirkan di Surabaya, 13 Agustus 1951 ini. Nama SHS, kata dia, digagas sejak dirinya masih bekerja di Food & Beverage Sanur Beach – Bali. Kala itu, dia menceritakan keinginannya mempunyai lembagai pendidikan yang diberinama SHS. Sebetulnya, nama SHS idenya dari kependekan nama bapaknya yang bernama Sujud Hadi Soeprapto. Bagus Supomo, bersama Lukman Hakim dan Bambang Hermanto, yang kebetulan ketiganya satu pekerjaan di Delta Palace Restoran sekarang Kowloon. Ternyata, setelah 28 tahun berlalu, menurut Bagus, sekolah perhotelan yang didirikannya itu mampu bertahan meski perguruan tinggi ternama dan beberapa perguruan tinggi swasta lainnya di Surabaya juga membuka jurusan perhotelan. Tetapi, keberadaan SHS tetap diperhitungkan keberadaannya. Bagus Supomo, punya prinsip mendirikan sekolah harus yang benar. Sehingga keberadaannya dibutuhkan. -Bambang Wili

kisah mengharukan dan menyedihkan. Semua itu adalah proses yang harus dilalui. Sukses itu adalah sebuah rahmat dan karunia, maka proses memperolehnya merupakan usaha pembentukan diri sampai layak mendapatkan. Di setiap kisah sukses seseorang pasti ada jalan cerita yang bisa jadi bahan pelajaran, menginspirasi, atau setidaknya mampu menggerakan hati orang lain mengejar sukses. BERGANTI JABATAN Sepanjang 28 tahun karir profesionalnya, Santosa menghabiskan waktu pengabdiannya di lingkungan grup Astra International. Ia sudah “kenyang” menerima tantangan, tercatat sudah 13 kali ia keluar masuk pintu beberapa anak perusahaan Astra International. Lulus kuliah dengan modal S1 ilmu dan teori Fisika, karir Santosa di Astra International dimulai pada 1989 sebagai “tukang komputer” atau jabatan resminya Software Instructor di PT Astra Graphia (1989 – 1991). Tugasnya membantu konsumen yang mengalami kesulitan mengoperasikan komputer, pada era itu komputer jadi barang teknologi tinggi yang tidak bisa dimengerti semua orang. “Sebenarnya kan nggak jauh, orang fisika diajarkan komputer kemudian belajar jenis komputer. Kalau ngajarin orang bisalah, kalau fisika kan biasa ngajar juga,” ujar Santosa yang kemudian diangkat menjadi Technology Marketing Specialist diperusahaan yang sama (1991 – 1993). Santosa beralih sebagai Consulting Resource di PT Digital Astra Nusantara (1993 – 1995). Perusahaan ini hasil kolaborasi Astra Graphia dengan produsen komputer kedua terbesar di dunia saat itu, Digital Equipment Corporation. “Kenapa saya bisa pindah ke sana? Ya karena ada kesempatan. Astra buka divisi infrastruktur dengan fokus telekomunikasi. Komputer dengan telekomunikasi kan dekat, karena saya spesialisasinya network jadi dengan komunikasi kan dekat. Tapi tetap mesti belajar karena bagaimanapun beda, kalau tidak beradaptasi ya tidak mungkin jalan,” katanya. Kemudian, ia dipercaya sebagai Business Development Manager di PT Astratel Nusantara (1995 – 1996). Anak perusahaan Astra International ini fokus pada pengelolaan infrastruktur. Saat sudah semakin banyak mengetahui soal bisnis telekomunikasi, Santosa kembali dipindahtugaskan sebagai Head of Corporate Support & Planning di PT Pramindo Ikat Nusantara (1996 – 1999). Perusahaan ini

fokus pada penyelenggaraan kerja sama operasional dengan PT Telkom Indonesia, namun sempat terkendala karena krisis dalam negeri pada 1998. “Namanya planning kan tidak cuma teknologi, ada masalah cost kemudian profitnya berapa. Awalnya kan cuma ngerti pendapatan dikurangi cost sama dengan profit. Tapi belajar ke sana berarti sudah mulai tahu income statement, nah kan ini sudah geser,” ujar Santosa. Santosa sempat kembali ke PT Astratel Nusantara (2000 – 2001), tapi kali ini menjabat General Manager Corporate Finance & Planning. Setelah itu ia ditunjuk mengawal PT Astra CMG Life (2001 – 2003) sebagai Director Sales & Marketing. Perusahaan ini masih tertatih selepas krisis 1998 dan diputuskan melakukan divestasi namun tidak jadi. Santosa bertugas menjaga stabilisasi sampai perusahaan mendapat pemimpin baru. Kemudian Santosa dipercaya menjadi Director/Chief Financial Officer di PT Astra Graphia (2003 – 2005). “Saya ditarik kemudian diganti. Kebetulan ada eksekutif yang resign jadi saya ditempatkan lagi di Astra Graphia, itu juga kebetulan. Balik lagi selalu ada faktor keberuntungan,” kata bos Asuransi Astra yang selalu berpenampilan seperti anak muda itu. Pernah suatu saat mantan Presiden Direktur Astra International (2005 – 2010), Michael Dharmawan Ruslim, kaget begitu melihat profil karier Santoso. “Saya kan bergaul dengan orang keuangan sudah lama dalam beberapa tahun terakhir. Di bayangan beliau saya itu accounting atau ekonomi, begitu CV masuk ke bursa ditanya ‘lho kamu ga punya latar belakang asuransi? Lah ini kan direktur keuangan’. Tapi kan sudah terlanjur, ya mesti belajar,” cerita Santoso sambil tertawa mengenangnya. Prestasi Santosa selama dua tahun di PT Astra Graphia tidak jelek. Ia mengaku bersih dan lolos proses audit. Modal itu membawanya menjabat Director/Chief Financial Officer di PT Asuransi Astra Buana (2005 – 2007). Pada 2007 Santosa mengatakan Michael Dharmawan Ruslim kembali meregenerasi struktur Astra International. Ia diminta membantu di PT Astra Agro Lestari sebagai Director/Chief Financial Officer (2007 – 2013) sekaligus menjadi Anggota Komite Investasi Yayasan Dana Pensiun Astra I & II (2007 – sekarang). Mulai 2008 Santosa juga berperan menjadi Anggota Komite Investasi PT Asuransi Astra Buana hingga sekarang. Lantas pada April 2013 ia menjabat Wakil Presiden Direktur di perusahaan itu, kemudian pada April 2014 ditugaskan menjadi CEO. -Yosef Sintar


20

Nine

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Hj. Erica Zainul Majdi

Raih Dekranas Award Tahun 2016

Ketua Dekranasda NTB Hj. Erica Zainul Majdi, baru-baru ini meraih Penghargaan khusus Dekranas Award tahun 2016, kategori Keunggulan Kepemimpinan dan Koordinasi Wilayah. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Dekranas Hj. Mufida Jusuf Kalla di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (17/5) dan diterima oleh Ketua Harian Dekranasda NTB, Drs. HL. Gita Aryadi yang mewakili Erica yang tengah mengikuti kunjungan Gubernur NTB ke Tiongkok.

P

enghargaan ini merupakan apresiasi atas berbagai upaya dan aksi nyata Dekranasda NTB dalam memberikan perhatian dan membina pengrajin Nusa Tenggara Barat untuk meningkatkan keterampilan mereka, mendongkrak kualitas produk, sehingga dinilai mampu bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. -Naniek I. Taufan

Penghargaan yang diberikan Dekranas kepada Dekranasda NTB

Pemprov NTB Dukung Rakernas Iwapi di Lombok

Diperkirakan tidak kurang dari 1.500 wanita pengusaha dari 30 provinsi di Indonesia, akan membajiri Lombok sehubungan akan dilangsungkannya Rakernas Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia ( Iwapi) di Pulau Lombok pada bulan September mendatang. “Sekitar 1.500 wanita pengusaha dari 30 provinsi di tanah air akan menghadiri Rakernas Iwapi dan NTB akan menjadi tuan rumah kegiatan tersebut,” ungkap Ketua Iwapi NTB, Hj. Baiq Diah Ratu Ganefi bersama rombongan panitia pusat dan panitia daerah Rakernas Iwapi ketika melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin beberapa waktu lalu. Demi menyukseskan kegiatan tersebut, Wakil Gubernur NTB, menyampaikan kesiapan dan dukungan Pemerintah Provinsi NTB guna kelancaran penyelenggaraan Rakernas ini. ia berharap bahwa kegiatan yang merupakan even tahunan Iwapi ini dapat menjadi peluang promosi bagi Nusa Tenggara Barat dalam upaya mempromosikan potensi dan sumber dayanya, sehingga dapat membawa multiplier effect bagi perekonomian NTB. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Dialog Perempuan PDI P Bali

Kiprah Perempuan di Era Globalisasi Kesetaraan perempuan bukan hanya atas jabatan namun, juga dalam politik. Sesuai hukum adat, perempuan juga berhak mendapat warisan dari orangtua. Karena itu, jajaran PDIP Bali mendorong advokasi perempuan. Demikian ditegaskan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster saat memberi sambutan dalam acara Dialog Perempuan bertema ­“Kiprah Perempuan Bali dalam Era Globalisasi”, Revitalisasi Perenan Wanita Menuju Perempuan ­Indonesia Berdikari, Berbudaya, dan Berkebangsaan Menyambut Era Keterbukaan MEA, Minggu (1/5), di Gedung PDIP Bali, Denpasar.

Ketua DPD PDIP Prov. Bali Wayan Koster memberikan penghargaan kepada Ny. Bintang Puspayoga sebagai narasumber dalam dialog “Kiprah Perempuan Bali dalam Era Globalisasi” Ketua Harian Drkranasda NTB, Drs. HL. Gita Aryadi mewakili Ketua Dekranasda NTN menerima penghargaan dari Dekranas Pusat

Panitia daerah dan panitia pusat Rakernas Iwapi 2016, bersama Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin

Tinggi, Angka Kekerasan terhadap Perempuan di NTB

Forum pertemuan bagi komponen-komponen kelompok penggerak perlindungan atas perempuan, yang dilandasi tujuan dan niat untuk meningkatkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan berkumpul dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kebijakan Pemenuhan Hak, Perlindungan Dan Pemberdayaan Perempuan yang dibuka Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin SH, M. Si., beberapa waktu di Mataram. Pertemuan-pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan-kesepakatan dalam menyikapi berbagai perkembangan bangsa dewasa ini seperti adanya kecenderungan terjadinya ketidak adilan, kekerasan dan penindasan gender dalam

masyarakat yang cenderung partiarkal, karena berdasarkan catatan yang dilansir Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), beragam kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi sepanjang 2015. Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin yang didampingi Kepala BP3AKB, Dra. T. Wismaningsih, ketika membuka rakor ini ������ mengatakan bahwa dari sisi pola, bentuk dan angka, kekerasan terhadap perempuan dewasa ini semakin meluas. Data komnas perempuan menunjukkan, sepanjang 2015 kekerasan tidak hanya terjadi di wilayah domestik, melainkan telah meluas di berbagai wilayah termasuk di wilayah publik.

“Berdasarkan jumlah kasus yang didapat dari 232 lembaga mitra komnas perempuan di 34 provinsi, terdapat 16.217 kasus yang berhasil didokumentasikan dan yang paling menonjol terjadi di ranah personal. Tahun 2016 menunjukkan terjadi kenaikan data jenis kekerasan seksual di ranah personal dibanding tahun sebelumnya, yakni 11.207 kasus,” ungkap Amin dalam kegiatan yang dihadiri pula oleh Asisten ������������ Deputi Pemberdayaan Perempuan Kemenko PMK Drs. Wagiran, M.M., Ir. Wahyuni Tri Indarti dari Asisten Deputi Pemenuhan Hak Dan Perlindungan Perempuan Kemenko PMK dan Dr. A. Darsono

M. Si., dari Deputi Kesetaraan Gender Bidang Politik Hukum dan HAM. Berdasarkan data dari BP3AKB NTB, di Nusa Tenggara Barat angka kekerasan terhadap perempuan terbilang tinggi dan cenderung selalu mengalami peningkatan. Angka terakhir di tahun 2015 tercatat 1.031 kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan didominasi oleh kekerasan fisik, selanjutnya menyusul psikis dan seksual, yang sebagaian besar terjadi dalam rumah tangga. Menurut Wagub bahwa akar permasalahan dari kasus-kasus kekerasan dan kejahatan seksual dan ketidak adilan terhadap per-

empuan bersifat multidimensi dan multikompleks, yakni berakar dari permasalahan ekonomi, sosial-budaya, kesehatan jiwa, pendidikan, penegakan hukum, komitmen politik, hingga hilangnya nilai-nilai karakter bangsa. Diperlukan keterlibatan semua pihak untuk ikut serta melindungi perempuan dari tindakan-tindakan kekerasan seperti ini. “Semua pihak harus terlibat untuk membantu menyelesaikan persoalan ini karena perempuan memegang peranan penting dalam mendidik generasi penerus bagi suksesnya pembangunan bangsa dan negara ini. Selain itu, perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dalam sejarah perjuangan bangsa dan bersama laki-laki, perempuan merupakan pilar utama dalam pembangunan bangsa,” ungkap Muh. Amin. -Naniek I. Taufan Foto-foto: Humas Pemprov. NTB

5

I

a menilai, kondisi perempuan Bali belum setara. “Kenapa lahir dari orangtua yang sama tapi tidak mendapat waris? Menurut saya, ini perlu diterobos. Ini tantangan buat kita di Bali,” tegas Koster. Ia menyatakan, kesamaan perempuan utnuk mendapatkan waris akan diperjuangkan srikandi PDIP. “Hak perempuan dan lakilaki itu sama. Ini harus disuarakan kader perempuan PDIP. Bila perlu ada advokasinya nanti,” ujarnya menambahkan. Wayan Koster di hadapan 300 perempuan PDIP yang hadir menyata­kan, satu sloka dari sarasmuscaya disebutkan bagaimana memuliakan perempuan. “Ada sloka yang tak pernah saya lupa, dimana

wanita dihormati, di sanalah kebahagiaan ada. Dimana wanita disakiti, di sanalah kehancuran akan terjadi. Laki-laki jangan sampai menyakiti istri, pasti dalam hidup ba­nyak godaan, apalagi anggota dewan, se­ ring berkunjung ke luar daerah, tapi jangan sampai me­nyakiti istri,” kata Koster, yang disambut tepuk tangan peserta dialog. Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong kader perempuan PDIP berperan aktif membangun Bali, salah satunya, mendirikan sekolah PAUD bernapaskan Hindu degan mengutamakan bahasa pengantar bahasa Bali. “Di seluruh kabupaten/ kota kami harapkan nanti bisa segera didirikan sekolah PAUD yang menggunakan bahasa pengantar bahasa bali alus,” kata Koster. Putu Putri Suastini yang juga istri Wayan Kos­ter me­ ngupas suka duka menjadi pendam­ ping hidup ketua DPD PDI Perjuang­ an Provinsi Bali dan anggota DPRRI tersebut. Ba­ nyak lelucon manis yang dilontarkan menyegarkan sua-

Dari kiri: dr. Nyoman Dianita Candradewi, Putu Putri Suastini, dan Ni Made Rahayuni

sana dialog, yang membuat peserta yang hadir makin antusias. Intinya, ia mencoba memposisikan diri sebagai kartini di sela-sela mendampingi suami. Hal yang menjadi pemikirannya, juga diungkapkan. Ia mendorong kaum perempuan membina anak anak mereka dengan mengepankan budaya lokal. “Saya kadang sedih melihat para orangtua tidak memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi keluarga,” ujarnya. Sementara, Bintang Puspayoga mengupas kesetaraan perempuan. Ia menyoroti rendahnya kouta perempuan di kancah politik. Dalam dunia politik perempuan masih dianggap lemah. Ini tidak terlepas dari kiprah kaum perem-

kriminasi dalam urusan jabatan di legislatif dan pucuk pimpinan organisasi. “Di pucuk pimpinan utama, perempuan tak boleh tampil. Ada anggapan perempuan tak boleh melebihi laki-laki. Menurut saya, perlu ada pendidkan dan sosialsiasi ke masyarakat tentang kesetaraan,” kata Bintang Puspayoga. Selain mengejar kesetaraan, kata dia, perempuan berperan juga sebagai seorang pendamping yang baik bagi suami. Perempuan harus menyiapkan diri menjadi pendamping suami, supaya suami tidak korupsi ketika dipercaya menjadi pejabat. “Jadi istri pejabat harus memberi dukungan kepada suami, jadilah istri pejabat yang

Dari kiri: Wayan Koster, Sayu Ketut Sutrisna Dewi, Putu Putri Suastini, Ni Made Rahayuni, dan Luh Gede ­Meydianawati

puan itu sendiri yang tidak mau meningkatkan daya saing. “Sekarang ini kita harus asah diri, asah kemampuan sehingga mempunyai kualitas diri. Saya sebenarnya melihat banyak perempuan tidak kalah dengan laki-laki yang selama ini tampil di politik,” ujar istri Menteri Koperasi dan UMKM AA Puspayoga ini. Ia menilai, perempuan masih saja mendapatkan perlakuan dis-

bisa memberikan masukan kepada suami, supaya suami terhindar dari perbuatan korupsi,” tegasnya. Materi lain yang tak kalah menarik dibawakan, Sayu Ketut Sutrisna Dewi. Dosen Fakultas Ekonomi Unud ini memberikan kiat-kiat sukses untuk para perempuan dalam menjalankan bisnisnya. Selain itu, tak ketinggalan tips motivasi agar para perempuan bisa tetap eksis di era MEA ini.

Peserta dialog “Kiprah Perempuan Bali dalam Era Globalisasi”

Ni Made Rahayuni

Ni Made Rahayuni, sebagai ke­ tua panitia acara mengatakan, di­ alog ini digelar selain sebagai rangkaian HUT ke-43 PDI Perjuang­an Provinsi Bali, dan juga dalam peringat­an Hari Kartini. “Tujuan dialog ini sebagai upaya peningkat­ an mo­tivasi perempuan Indonesia khususnya Bali untuk dapat lebih meningkatkan peranannya dalam pembentukkan keluarga sejahtera di era globalisasi,” ujar Rahayuni. Tujuan lain, untuk peningkatan kesadaran kader perempaun akan potensi yangt tidak terbatas dalam upaya meraih kesuksesan dalam bidang yang diminati untuk dapat lebih bersaing pada MEA. Selain itu, untuk meningkatkan kesadaran sosial kader perempuan akan isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat dengan harapan agar peranan kaum perempuan dapat lebih mengambil peranan dalam penanganan isu-isu tersebut. Sebagai Wakil Ketua Bidang Perempuan, Kesehatan, dan Anak ini, Rahayuni menghadirkan tiga pembicara yakni I Gusti Ayu ­Bintang Darmawati (Ny. Bintang Puspa­ yoga), Ni Putu Putri Suastini, dan Sayu Ketut Sutrisna Dewi. Selaku moderator, Luh Gede ­Meydianawati, seorang dosen Unud. Sebagai master of ceremony (MC) dipandu dr. Nyoman Dianita Candradewi, yang juga putri Ni Made Rahayuni. –ast


4

Inspirasi

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Amalia Ayuningtyas

Jubir Relawan “Teman Ahok” Amalia

S

ebagai jubir, Lia nampak cukup piawai melaksanakan fungsinya. Ia tak pernah terlihat emosi menanggapi pandangan-pandangan menyudutkan yang diarahkan kepada komunitasnya, ia juga tak marah ketika ada politisi yang menyangsikan kemampuan relawan Teman Ahok dalam mengumpulkan 1 juta dukungan.

Syukuran teman Ahok atas tercapainya syarat minimum dukungan pencalonan Independen Pilkada

ISTANA MANCAWARNA SERAHKAN KRISTAL CANDLELIER KE RAJA KLUNGKUNG

Turah Wira Wedawitry bersama Ida Dalem Semaraputra didampingi Nesa Santini (Bendahara DPD PNI Marhaenisme Bali)

Untuk menjalin kekerabatan dengan puri-puri se Bali, Istana Mancawarna Tampaksiring gencar bersilaktama dengan puri-puri se-Bali sekaligus memberikan cinderamata (cihna) berupa seperangkat lampu kristal khas Eropa (Candlelier). Hal ini bertujuan untuk mendukung keberadaan puri sebagai benteng utama budaya dan agama Hindu. Demikian diungkap oleh Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Wedasteraputra Suyasa saat bertemu Ida Dalem Semaraputra di Puri Agung Klungkung. “Tiang diutus oleh kakanda Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang tempo hari sudah sempat hadir menemui Ida Dalem dalam rangka peresmian Ikatan Cendikiawan Keraton Nusantara

(ICKN). Waktu itu Beliau berjanji untuk menyerahkan satu set Candlelier ke Puri Klungkung. Dan, tiang hadir mangkin “ ungkap Wira Wedawitry yang juga Wakil Ketua KNPI Bali. Lebih lanjut, kelestarian pertalian antara Puri Tegeh Kori dengan puri apapun di Bali adalah sebuah kewajiban bagi warihnya. “Tiang dididik oleh almarhum Ida Betara Shri Wedastera Suyasa untuk selalu menghargai para pendeta dan penglingsir. Sesana manut linggih harus dipahami oleh generasi muda saat ini. Pertalian sejarah Ida Betara Tegeh Kori dengan Sri Aji Kresna Kepakisan adalah satu adanya. Maka dari itu sebagai bagian dari yowana Tegeh Kori tiang angayubagia atas segala dukungan Puri Klungkung sebagai Tedung Semeton Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori. Mangkin tiang berusaha untuk menjalankan tali persaudaraan ini. Angayubagia, “ ungkap Gung Wira yang juga pengusaha muda Bali ini. Usai dari Puri Klungkung, Turah Wira berencana untuk mengunjungi beberapa puri di Bali untuk menyerahkan candlelier yang merupakan cinderamata resmi Istana Mancawarna yang juga merupakan kantor resmi Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. “Kami sudah memprogramkan hal ini sejak jauh hari. Kami ingin puri puri seluruh Bali diperindah dengan kristal eropa ini. Minimal dengan cihna ini sebagai pertanda depan (cahaya) untuk menerangi puri dengan cahaya ibu laksmi. Semoga persahabatan kami tambah erat demi Bali,“ ungkap Turah Wira yang juga Ketua Umum Yayasan Universitas Mahendradatta Bali ini.

Ahok’ menjadi sorotan. Tak heran karena dialah yang didapuk untuk menjadi jubir dari komunitas tersebut. Sehari-hari gadis cantik berjilbab ini mudah ditemui di markas Teman Ahok di kawasan Graha Pejaten, Jakarta Selatan. “Sekarang saya fokus di Teman Ahok,” ujar Lia yang baru tahun lalu lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Sebelum berkiprah di komunitas Teman Ahok, Lia sempat bekerja sebagai Junior Consultan Cyrus Network, kemudian dia bekerja sebagai Account Executive perusahaan media massa nasional, sampai akhirnya ia melepas semua kegiatannya dan fokus pada kegiatan di relawan Teman Ahok di mana ia menjadi salah satu dari lima pendirinya. Menurut Lia, aktif di berbagai kegiatan di luar pendidikan formal, telah dijalaninya sejak ia masih SMA. Setelah kuliah, katanya ia menjadi semakin aktif lagi dengan masuk ke sejumlah organisasi yang bergerak di bidang politik dan anti korupsi. Di antaranya Suara Pemuda Anti Korupsi (SPEAK), juga menjadi volunteer di Transparansi Internasional Indonesia. Tidak hanya itu, dia juga menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi reporter media online, majalah juga buletin di Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia. Tentang langkahnya melepas pekerjaan sebagai account executive sebuah perusahaan media massa, dan memilih fokus pada aktivitas Teman Ahok, menurut Lia telah dipikirkannya masak-masak. Bahkan dengan tegas anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku tidak menyesali langkahnya. Rencananya, kata Lia, setelah pekerjaan di Teman Ahok usai, ia akan melanjutkan kuliah S2. “Sudah ada beberapa tawaran untuk kuliah S2,” katanya. MASA ‘BERDARAHDARAH’ TELAH BERLALU Bercerita tentang suka-duka relawan Teman Ahok, Lia bertutur, agaknya masa ‘berdarah-darah’ telah berlalu. Setahun lalu ketika memulai aktivitasnya mengumpulkan KTP warga DKI Jakarta untuk mendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mencalonkan diri lagi sebagai Gubernur, relawan Teman Ahok harus berjuang super keras termasuk membangun posko-posko di tempat-tempat strategis. “Dulu, di awal-awal, kami harus kerja

21

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

Jelang MTQN ke-26, NTB Terus Berbenah

Islamic Center Mataram terus dibenahi menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional ke-26 yang akan diselenggarakan tanggal 30 Juli 2016. Sebagai tuan rumah yang dikenal dengan Bumi Seribu Masjid (meski dalam kenyataannya lebih dari 4.000 masjid berdiri di NTB), Nusa Tenggara Barat bersiap dengan sangat maksimal untuk menerima kafilah-kafilah, tamu Hafidz dan rombongannya dari seluruh Indonesia.

Seiring dengan meningkatnya konstelasi politik di Jakarta menjelang Pilkada 2017, ada satu sosok yang kini cukup menyita perhatian pers. Dia adalah Amalia Ayuningtyas, juru bicara Teman Ahok. Dalam berbagai kesempatan, Lia begitu namanya akrab disapa, tampil memberi penjelasan seputar berbagai kegiatan Teman Ahok, mulai dari upaya mengumpulkan 1 juta KTP warga DKI Jakarta, partisipasi aktif masyarakat hingga menangkis serangan-serangan yang dialamatkan berbagai pihak kepada komunitas tersebut. Bahkan ketika ada politisi bilang akan terjun dari Monas kalau Teman Ahok berhasil mengumpulkan 1 juta dukungan, pun hanya ditanggapi kalem. “Pengumpulan KTP ini nggak ada hubungannya dengan apakah ada orang mau loncat dari Monas atau enggak,” ucap gadis kelahiran Sleman Yogyakarta 1992, ini. Nama Lia mulai mencuat dan jadi perhatian masyarakat sejak kiprah relawan ‘Teman

Mandalika

Lia bersama Ahok

keras menyosialisasikan pengumpulan KTP warga. Untuk melobi orang agar mau mendukung saja bisa sampai 2 jam. Tapi kini tidak lagi. Karena masyarakat secara mandiri ikut membantu. Hasilnya, kalau dulu untuk mengumpulkan 700 dukungan warga membutuhkan waktu berbulan bulan kini malah dalam satu hari bisa mencapai 500 KTP,” ungkap Lia semringah. Bahkan sejak Ahok mendeklarasikan diri maju sebagai calon independen dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, pada Maret lalu, berpasangan dengan Heru Budi Hartono, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Pemda DKI Jakarta,dukungan masyarakat semakin deras mengalir. Para relawan Teman Ahok, kata Lia, dibuat terkejut-kejut. Betapa tidak, hanya dalam tempo singkat para relawan serta masyarakat, berhasil mengumpulkan KTP 490 ribu lebih, atau hampir mendekati syarat minimal pencalonan jalur independen yakni 532.213 lembar dukungan. “Antusias masyarakat sudah masuk dalam partisipasi aktif, ini sungguh menggembirakan,” ujarnya sembari menambahkan, dukungan masyarakat bukan hanya dalam hal pengumpulan pengumpulan KTP tapi juga dalam berbagai hal, mulai dari peralatan yang dibutuhkan hingga makanan. “Sekarang masyarakat sudah tidak pasif lagi, mereka sudah bergerak sendiri,” ungkapnya sembari tersenyum. Sekarang meski pengumpulan dukungan sudah melampaui syarat minimal calon independen, namun relawan Teman Ahok juga masyarakat masih giat bekerja. Ini karena mereka punya target tersendiri, yakni 1 juta dukungan. Saat ini, (20/5), berdasarkan info resmi dari Teman Ahok jumlah dukungan yang sudah berhasil terkumpul adalah 859.614 lembar. Ini berarti hanya tinggal 140.386 lembar lagi mencapai 1 juta dukungan. Jika melihat perjalanan dalam dua bulan terakhir, agaknya jumlah itu tidak akan sulit terpenuhi. Apalagi perjalanan masih panjang karena verifikasi data dukungan paling lambat diterima KPUD DKI Jakarta pada Agustus 2016. -Diana Runtu

Amalia jubir teman Ahok

Sosialisasi MTQ Nasional di Mataram

M

engambil tema MTQ Nasional upaya mewujudkan revolusi mental dalam memantapkan nilainilai Islam rahmatan lil a’lamiin, sebagai tuan rumah, NTB berharap MTQ kali ini memberikan manfaat lebih dan berkesan bagi para peserta dari seluruh Tanah Air. Bagaimana tidak, perhelatan akbar tingkat nasional tersebut nantinya akan dipusatkan di Islamic Center, Kota Mataram, sebagai arena pembukaan dan penutupan. Cabang-cabang yang dilombakan dalam MTQ, menurut Menteri Agama, Lukman Hakim, ada sedikit mengalami perubahan. Jika pada MTQ sebelumnya melibatkan 7 cabang dan 17 golongan, namun tahun ini bertambah menjadi 18 golongan, yaitu hot cord kontemporer. Jenis golongan ini merupakan cabang lomba yang dilaksanakan secara periodik, yaitu setiap 2 tahun sekali. Dengan ajang MTQ Tahun 2016 ini, Nusa Tenggara Barat berharap bisa menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan nasional yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Bukan hanya ajang untuk mencari qori’ dan qori’ah terbaik, namun lebih dari itu MTQ 2016 bisa menjadi wadah untuk membangun keharmonisan antar umat beragama,” kata Menteri Koordinator Kesejahteraan dan Pembangunan Manusia, Puan Maharani, usai memimpin Rapat Koordinasi Lintas Kementerian terkait penyelenggaraan MTQ 2016, di Kantor Kemenko PMK, beberapa waktu lalu. Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Muh. Amin, SH., M.Si, yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan tentang perkembangan terakhir persiapan pelaksanaan MTQ. Ia juga menyampaikan bahwa dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat khususnya bagi kaum muslimin di Nusa Tenggara Barat sangat diperlukan agar pelaksanaan MTQ Nasional ini dapat berjalan lancar dan sukses karena MTQ ini bagi kaum muslimin. Menko PMK, Puan Maharani menyampaikan, bahwa MTQ ke-26 di Lombok merupakan MTQ Nasional pertama di era kepemimpinan Jokowi-JK. Karena itu ditekankannya, pentingnya koordinasi pusat dan daerah, khususnya berkaitan

dengan regulasi dan keuangan agar saat penyelenggaraan tidak terdapat kendala dan masalah. Pembukaan MTQ Nasional ini rencananya akan dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo. Hal ini disampaikan pula dalam rapat ini oleh Kementrian Agama melalui Menteri Agama yang memiliki kewenangan untuk memastikan kehadiran Presiden RI guna membuka acara tersebut. “Kami terus berkoordinasi dengan Mensesneg agar waktu pembukaan MTQ tanggal 30 Juli tersebut, Bapak Presiden bisa hadir membuka acara tersebut. Kami juga mengirimkan surat kepada Wakil Presiden untuk juga bisa menutup MTQ tersebut pada tanggal 6 Agustus 2016,” jelas Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin. Menurut Wakil Gubernur NTB, MTQ ini tidak hanya menjadi agenda bagi kaum muslimin melainkan juga agenda bagi seluruh lapisan masyarakat NTB. “Masyarakat kami mayoritas muslim dan sangat toleran dengan agama lainnya. Ini bukan saja agenda bagi kaum muslim saja, namun ini merupakan agenda seluruh lapisan masyarakat Nusa Tenggara Barat,’’ ungkap Wagub. Momentum ini juga secara luas akan memberikan dampak positif

bagi perekonomian masyarakat NTB. Tamu-tamu yang hadir akan dapat menikmati keindahan alam dan kuliner khas daerah dengan megunjungi obyek-obyek wisata. “Secara ekonomi tentu mempunyai multiplayer effect karena sekian banyak tamu yang akan datang menghadiri penyelenggaraaan MTQ ini,” katanya dalam rapat yang juga dihadiri oleh beberapa menteri seperti Menteri Kominfo, Rudiantara, juga Walikota Mataram, Bupati Lombok Barat dan sekda Lombok tengah. Pada kesempatan membuka sosialisasi MTQ Nasional ke-26 tahun 2016 di Aula Kantor Walikota Mataram, beberapa waktu sebelumnya, H. Muh. Amin juga telah menegaskan bahwa MTQN adalah tanggung jawab seluruh masyarakat NTB. “Jika sukses dalam penyelenggaraan MTQN, maka momentum ini akan menjustifikasi

Rapat persiapan MTQ Nasional bersama Menko PMK

Kota Mataram sebagai kota favorit penyelenggaraan Meeting, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) di masa-masa yang akan datang,” ujar Muh. Amin dalam sosialisasi MTQN 2016 di Mataram yang juga dihadiri oleh Walikota Mataram H. Ahyar Abduh, Wakil Walikota Mataram H. Mohan Roliskana, S.Sos., MH., Asisten 3 Administrasi Umum dan Kesra Drs, H. Lalu Syafi’i, M.M, Pimpinan SKPD Lingkup Provinsi NTB dan Kota Mataram, Camat dan Lurah se-Kota Mataram, Ketua TP PKK Kota Mataram Hj. Suryani, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat.

Pentingnya menyukseskan MTQN 2016 ini, juga disampaikan oleh Wali Kota Mataram, H. Ahyar Abduh, dalam rangka persiapan lebih awal menghadapi gelaran MTQN, sehingga sosialisasi tidak hanya dilakukan pada jajaran pemerintah, namun juga masyarakat. “Kota Mataram telah melakukan persiapan-persiapan sebagai tempat penyelenggaraan, karena kita ingin meraih apa yang menjadi prinsip tentang penyelenggaraan yaitu tiga sukses, antara lain sukses penyelenggaraan, sukses pencitraan, dan sukses ekonomi,” ujar wali kota.

Islamic Center Mataram sebegai pusat perhelatan MTQ Nasional ke-26 Tahun 2016

-Naniek I. Taufan

Foto: Jibeng Ismoyo

Lalu, Raih Juara 1 Tahfidz se-Asia Pacifik 2016 Didampingi Ketua Yayasan Tahfiz Darussamad, Kerongkong, L. Muhibban Al Hafizh yang merupakan ayah kandung dari Lalu Muhammad Khaerrazzaq Al Hafiz, penghapal Alquran yang berhasil meraih Juara 1 Tahfidz se-Asia Pacifik VII, tahun 2016, beberapa waktu lalu bertemu Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi di ruang kerja gubernur. Selain bersama ayahnya, ia juga didampingi guru pembimbingnya, serta ibu dan kakak kandungnya, yang semuanya penghafal Al-Qur’an. Ketika bersilaturrahmi dengan Gubernur NTB yang seorang ulama juga Tahfidz Alquran ini, L. Muhibban bercerita banyak tentang keistimewaan putranya itu. Awalnya, Hafiz yang dipercaya LPTQ berlomba di tingkat nasional, berhasil meraih juara pertama untuk cabang hafalan 10 juzz. Lalu kemudian akhirnya kembali meraih juara 1 saat mewakili Indonesia pada gelaran Musabaqah Hafalan Qur’an dan Hadits (MHQH) ke-VII se-Asia Pacifik yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dalam gelaran

yang diikuti hampir 150 peserta dari 25 negara itu, Hafiz berhasil meraih juara 1 kategori Musabaqah Hafalan Qur’an 10 juzz, dengan total nilai 190,50. Pengalaman mengantarkan putranya menuju keberhasilan itu, menciptakan keyakinan dihatinya, tentang potensi lain para hafidz di NTB. ”Kalau anak saya dengan fasilitas dan keterbatasan yang ada saja mampu berhasil seperti ini, masa anak-anak NTB yang lain tidak bisa?,” ungkapnya. Karena itulah, ia sangat berharap dukungan pemerintah provinsi melalui gubernur, untuk dapat memaksimalkan potensi yang ada. “Tinggal bagaimana memaksimalkan pembinaan dari kita, serta didukung oleh pemerintah daerah, Insya Allah NTB akan dapat bersinar di mana-mana,” kata Majdi yang saat itu didampingi Assisten Administrasi Umum dan Kesra Setda Prov. NTB, Dr.H.lalu Syafi’I, M.M. “Salah satu wujud kesyukuran yang nyata itu timbul atas semangat anak-anak kita menghafal Al qur’an. Menghafal Al-Quran

akan membawa manfaat yang besar,” ujar Majdi yang sangat bersyukur dan bangga atas prestasi putra daerah NTB itu. Menurutnya, di samping sebagai benteng penjaga, menghafal ayat-ayat suci Alquran juga dapat mengundang keberkahan. Tidak hanya bagi yang menghafalnya saja, namun juga bagi orangtua, keluarga dan bangsanya. Salah satu metode menghafal Al qur’an yang sempat diungkap dan diyakini Gubernur yang juga merupakan Doktor lulusan terbaik di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir, jurusan Tafsir dan ilmu Al-Quran itu yakni dengan menjadikan hafalan sebagai kegiatan menyenangkan, bukan memberatkan. Ia secara khusus berpesan agar Hafizi, senantiasa rendah hati, tetap istiqomah, dan terus belajar. “Luruskan niat, mantapkan hatimu Nak, karena orang yang dapat menghafal Alquran, bukanlah orang yang sembarang, melainkan orang pilihan yang mendapat karunia dari Allah,yang hatinya diciptakan untuk menyimpan Al-quran,” ungkapnya bangga. -Naniek I. Taufan


22

Musim liburan bakal segera tiba. Bagi yang be­ lum punya rencana liburan, ada baiknya melihat agen­ da event yang bakal dige­ lar di Jakarta. Tiap bulan Juni hingga Juli, Jakarta menggelar sejumlah event akbar untuk memeriahkan HUT Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2016 men­ datang. Acara yang sudah mendahului rangk aian event HUT Jakarta adalah Festival Fashion and Food di Kelapa Gading Jakarta Utara dari 22 April hingga 22 Mei 2016.

E

Sosialita

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

vent tersebut cukup banyak menarik pengunjung bukan saja warga Jakarta tapi juga luar Jakarta. Selain acara hiburan di sana juga digelar wisata kuliner juga fashion terkini. Tak ketinggalan, tentu saja, pesta diskon utamanya bagi yang berbelanja produk-produk fashion dan peralatan rumah tangga. Kemeriahan menyambut HUT Jakarta belum berakhir. Karena setelah Festival Fashion and Food Kelapa Gading, menyusul gelaran Festival Jakarta Great Sale (FJGS) pada 3 Juni – 17 Juli 2016. Pesta belanja terakbar ini akan diikuti oleh 78 mal papan atas dan menengah yang berada di lima wilayah Jakarta. Di luar Jakarta Great Sale, wisatawan juga dapat menikmati meriahnya acara di Jakarta Fair Kemayoran yang dimulai pada 10 Juni hingga 17 Juli 2016. Di event ini, selain bisa menikmati berbagai macam hiburan pengunjung juga bisa berbelanja sepuasnya. Jika ingin menikmati acara hiburan dan budaya, bisa datang ke kawasan kota tua Jakarta, di antaranya Museum Fatahillah, di mana berbagai acara menyambut HUT Jakarta ke 489 digelar. Kembali ke soal penyelenggaraan Jakarta Great Sale 2016 yang konon paling ditunggu para penggila belanja, khususnya dari dalam negeri. Di ajang inilah mereka berkesempatan berburu barang-barang branded dengan harga terjangkau karena diskon yang ditawarkan pun ‘gila-gilaan’

Pesta Belanja hingga Dini Hari bisa mencapai 70%. Di ajang ini Anda bukan hanya bisa berbelanja sepanjang hari, tapi bisa belanja hingga dini hari. Setidaknya ada 24 mal yang telah mengagendakan akan menggelar belanja hingga dini hari alias ‘midnight sale’. Selain puluhan mal, puluhan pasar-pasar tradisional di Jakarta tak ketinggalan ikut memeriahkan ajang JGS. Seperti halnya mal-mal yang menggelar pesta diskon, pasar-pasar tradisional pun tak mau kalah. Setiap Sabtu-Minggu pasar-pasar peserta akan menggelar sembako murah, mulai dari beras, minyak goreng, telur, terigu, dll. Kebetulan event Jakarta Great Sale ini bukan saja bertepatan dengan masa liburan tapi juga bulan puasa dimana orang-orang mempersiapkan diri untuk memasuki Lebaran. “Kami sangat berharap daya beli masyarakat meningkat sehingga sektor ritel bisa tumbuh pada tahun ini,”

tkh/ist

Jakarta Great sale kesempatan berburu barang-barang branded dengan harga terjangkau

Banyak potensi alam maupun pengrajin di Tabanan yang bisa dikembangkan lebih maksimal. Demikian diungkapkan Ir. Ni Ne­ ngah Sri Labantari saat ditemui tokoh di warung makannya, Warung Kita Dewi Sri, pekan lalu. Srikandi Gerindra yang kini duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Tabanan ini tak henti-hentinya mendorong warganya untuk terus mengisi diri, mencari peluang untuk bisa meningkatkan perekonomian keluarga.

H

ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Mandey. Hal senada juga kemukakan Ketua Pelaksana FJGS, Ellen Hi-

dayat, dalam jumpa pers FJGS 2016 baru-baru ini. Menurutnya, penyelenggaraan JGS yang berdekatan dengan bulan puasa dan Lebaran membuatnya optimis

negeri maupun mancanegara untuk datang dan berbelanja,” ungkap Catur Laswanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DkI Jakarta. Jakarta, menurut para tokoh yang bergelut di bidang ritel dan pariwisata, memiliki potensi sebagai destinasi wisata belanja dunia karena menawarkan harga yang kompetitif serta produk barang yang up to date dan berkualitas. Artinya, keunggulan Jakarta tidak kalah dengan negara lain, bahkan dari segi harga bisa lebih baik. Keunggulan lainnya adalah sebagai ibukota negara berbagai event besar berskala internasional kerap digelar. Event-event ini tentunya menarik minat masyarakat, baik itu dari dalam negeri maupun mancanegara. Wisatawan mancanegara yang datang, mereka bukan hanya menikmati eventevent yang digelar tapi juga berbelanja. Paling tidak itu yang ‘diteropong’ Menteri Pariwisata Arief Yahya yang mengatakan, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia selain untuk wisata cultural (60%), juga wisata belanja dan kuliner. “Ini (wisata belanja dan kuliner) sudah mencapai 45%,” katanya. Menurut Roy Mandey, Ketua Aprindo, ada tiga keunggulan yang dimiliki Jakarta, utamanya adalah produk-produk yang ditawarkan sangat bersaing dengan negara

lain, baik itu fashion, kuliner, hingga barang-barang branded. “Harga yang ditawarkan sangat bersaing bahkan cenderung lebih murah,” katanya. Keunggulan lainnya adalah kualitas pelayanan yang baik. “Berbagai keunggulan yang dimiliki Jakarta membuatnya memiliki potensi yang besar menjadi surga belanja dunia. Kita tidak kalah dari Singapura dan Hong Kong,” ucapnya. Namun demikian, akunya, untuk mencapai itu, ada sejumlah hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan. Salah satu yang diusulkannya adalah soal pengembalian pajak bagi turis asing yang membeli barang branded. “Ini tentu akan menjadi menarik bagi mereka,” katanya. Hal lainnya adalah soal promosi yang harus gencar dilakukan. Promosi besar-besaran, itu disarankan Roy. Seperti negaranegara lain yang gencar berpromosi, Indonesia pun harus melakukannya. Promosi bisa dilakukan lewat berbagai media, baik itu media massa cetak maupun televisi, lewat maskapai maupun event-event pariwisata internasional, dll. –Diana Runtu

akan ada kenaikan pendapatan ritel. Kalau pada JGS 2015 lalu realisasi transaksi mencapai Rp 14,5 triliun maka tahun ini diharap mengalami kenaikan sekitar 8%. “Target pencapaian penjualan tahun ini Rp 15,7 triliun,” ucap Ellen yang juga Ketua Asosiasi Pengeloa Pusat Belanja Indonesia DKI Jakarta. Ditambahkannya juga, pihaknya bekerja sama dengan Dekranasda DKI Jakarta juga memberi kesempatan pada aneka produk kerajinan untuk berpameran dalam event ini. Dengan demikian para pelaku usaha kecil menengah juga mendapat kesem­ patan untuk ikut ambil bagian dalam ajang ini. “Kami akan menyediakan ruang pameran dan penjualan bagi UMKM binaan Dekranasda DKI Jakarta. Kami juga berharap akan semakin banyak masyarakat tertarik untuk menciptakan banyak celah bisnis mandiri,”paparnya. Festival Jakarta Great Sale merupakan salah satu program unggulan Pemda DKI Jakarta dalam rangka HUT DKI Jakarta. Festival ini telah diperkenalkan ke masyarakat sejak tahun 1982, ketika itu namanya Festival Per-

al itu pula yang se­ ring disampaikan­ nya kepada para anggotanya di DPC Iwapi Tabanan. Karena itu, di bawah kepemimpinan Sri Labantari, DPC Iwapi Tabanan kerap menggelar pelatihan-pelatihan kewirausahaan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship mereka. “Saya ingin bangkit­ kan jiwa itu dulu, biar ada semangat. Jika semangat dari diri sendiri sudah ada, tinggal diarahkan saja,” ucap istri dari I Ketut Carma, S.E., pengu­ saha handicraft dengan bendera PT Lancar Sari ini. Apalagi, dikatakannya di DPD Iwapi Bali memiliki klinik bisnis. Jadi, para anggota Iwapi yang serius ingin belajar bisnis, bisa datang ke klinik bisnis. Perempuan kelahiran Tabanan 47 tahun silam ini memi­ liki tekad kuat untuk memajukan kaumnya. Karena itu, dalam setiap kesempatan ia selalu mencari celah dan peluang untuk bisa menjem­ batani antara anggota Iwapi dengan pihak lain. “Di Iwapi ini saya ingin

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

Dorong Perempuan Tangkap Peluang menciptakan wanita-wanita pengu­ saha, minimal menumbuhkan jiwa enterpreneurnya tanpa mengesamp­ ingkan tugasnya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dan seorang istri bagi suaminya,” ucapnya.

Sri Labantari usai sidang paripurna bersama Bupati Tabanan Eka Wiryastuti

Jakarta Destinasi Wisata Belanja Dunia Penyelenggaraan FJGS dari tahun ke tahun yang terus berkembang diikuti dengan antusiasme masyarakat , memberi harapan bahwa suatu saat Jakarta akan menjadi salah satu destinasi wisata belanja dunia. Harapan ini sudah sejak lama menjadi obsesi Pemda DKI Jakarta, karena itu berbagai penyempurnaan selalu dilakukan agar penyelenggaran bisa menjadi semakin baik. “Kami berharap FJGS bukan hanya untuk menyemarakkan HUT Jakarta tapi lebih dari itu agar Jakarta bisa menjadi salah satu destinasi wisata belanja yang menarik. Daya tarik misalnya soal harga. Tawaran harga yang menarik bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan dalam

Sri Labantari

Selama ini, ia melihat perempuan Bali khususnya, banyak disibukkan dengan urusan adat dan urusan domestik rumah tangganya. Ia in­ gin, di sela-sela waktu mere­ka yang mungkin hanya sedikit, perempuan Bali bisa menjadi “Ibu Rumah Tangga Plus”. Dalam artian, meski hanya seorang ibu rumah tangga, namun perempuan Bali memiliki keterampi­ lan lain yang bisa dikembangkan untuk membantu menopang pereko­ nomian keluarga. Dengan bergabung dalam organ­ isasi Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), ia mengatakan, paling tidak perempuan Bali khususnya masyarakat Tabanan, bisa banyak melihat peluang dan sangat dimung­ kinkan bisa bersi­n ergi. Saat ber­ kumpul, mereka bisa saling sharing, saling support, yang selanjutnya bisa memunculkan ide-ide kreatif. Dan, yang paling penting adalah dengan bergabung dalam organisasi ini, mer­ eka memiliki jari­ngan luas, sehingga mudah meng­akses informasi-infor­

Sri Labantari saat memberikan reses kepada konstituen

masi penting untuk mengembangkan diri maupun usahanya. “Contohnya, ada anggota Iwapi Tabanan yang memiliki bisnis pe­ nyewaan tenda, ada juga pemilik salon. Misalnya ada acara wedding, mereka bisa bekerjasama dan sa­ ling menginformasikan,” ujar Sri Labantari yang memiliki moto hidup “Tak ada masalah yang tak bisa dis­ elesaikan” ini. Contoh lain, saat dilaksanakan Ina Craft di Jakarta, April lalu, se­ orang pengrajin rajutan diikutserta­ kan berpameran. “Saya minta satu stan kepada Kadisperindag, akhirnya dalam satu stan ada enam pengrajin yang pameran. Walaupun berdesakdesakan, karena kerajinannya unik, jadinya dicari pembeli. Kini pengra­ jin kami itu banyak mendapatkan orderan,” kisahnya. Karena itu, ia menyebut masih banyak potensi Tabanan yang belum tereksplor, di antaranya ada kerajinan jejaitan ental, ukiran kayu, hingga pengerajin perak. –ten

Sri Labantari bersama keluarga

Siap Bersinergi dengan Program Pemerintah

Sebagai seorang anggota dewan yang memiliki tugas legislasi, budgeting, dan kontroling, Sri Laban­ tari berusaha berbuat maksimal untuk masyararakat yang telah memberikan kepercayaan padanya. “Kegiatan apapun yang tujuannya baik pasti kami support,”ucapnya. Ia menyebut sebuah perkum­ pulan tuna netra “Bhakti Netra Sejahtera”. Dalam kekurangan yang dimiliki, tak membuat mereka ra­ puh dan terpuruk. Justru mereka mampu berbuat dan berkarya layaknya saudara-saudara me­ reka yang normal. Bahkan tak sedikit dari mereka yang berhasil mengukir prestasi hingga ting­ kat nasional. Yang membuatnya

terharu, para tuna netra ini ingin anggota DPRD, ia menya­lurkan hobi selalu datang ke rumah Tuhan secara memasaknya dengan membuka Warung Kita “Dewi Sri” di Abiantu­ periodik. Di setiap langkah yang ia jalani, wung Kediri, Tabanan. Resep ruma­ dikatakannya sebagai proses bela­ han ia terapkan di warung makan jar, bertumbuh, dan berkembang. yang mendapat respons bagus dari Misalnya, ketika menghadiri suatu masyarakat tersebut. Karena itu undangan, yang ada dalam benaknya pula, warung ini kini diperluas den­ adalah bagaimana ia bisa “men­ gan menambah fasilitas aula yang curi” ilmu dari setiap orang yang kerap difungsikan sebagai tempat ditemuinya. Seperti saat menghadiri meeting. Ke depannya, ada rencana undangan pembukaan agrowisata, akan diperluas lagi dengan me­ yang kebetulan pengelolanya adalah nambah fasilitas ada jogging track. seorang doktor. “Saya bisa mengam­ Dengan semua aktivitasnya itu, Sri bil pemikiran-pemikiran mereka Labantari berkeyakinan, bahwa apa yang mungkin saja bisa diterapkan yang dilakukan pasti berjalan den­ untuk mengembangkan organisasi, gan baik karena dilakukan dengan dan ini pun nantinya akan berimbas ikhlas dengan tujuan baik. –ten ke perempuan-perempuan lain,”ucapnya. Seperti yang belum lama ini digelar oleh Iwapi Tabanan adalah, “Sosialisasi Sistem Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali”. Materi-materi yang sangat relevan dengan ke­ hidupan orang Bali semacam ini, tentunya sangat mem­ buka wawasan masyarakat Bali khususnya perempuan. “Program-program pemerin­ tah sudah bagus-bagus. Kami dalam kapasitas sebagai ang­ gota dewan siap bersinergi,” ucapnya bersemangat. Sri Labantari memang tak bisa berdiam diri. Delapan tahun lalu, sebelum menjadi Sri Labantari bersama suaminya I Ketut Carma usai pelantikan pimpinan dewan

Roy Mandey

tokoan. Tahun 90-an nama event berganti menjadi ‘Pesta Diskon’, kemudian berubah menjadi Jakarta Great Sale. –Diana Runtu

3

Sri Labantari dengan kumpulan bersama Bakti Netra Sejahtera

Kegiatan Iwapi Tabanan, Sosialisasi Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali


2

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

GORO-GORO Putu Wijaya

N a s i campur Bali dari Warung Ktut, dekat rumah Amat, laku keras. Enak dan murah. Ktut adalah generasi

ketiga. “Neneknya yang mulai. Berlanjut ke ibunya. Dan sekarang dia pasti akan menurunkan ke anaknya,” kata Amat kagum. Bu Amat tak menanggapi. Tapi ketika Amat mengusulkan untuk menghidangkan nasi campur Ktut untuk santapan tamu pada syukuran Kadek, cucunya yang sudah sembuh dari DB, ia menolak. Ia milih katering dari restoran Bebek jambul. “Jangan, Pak. Nasi Warung Ktut itu memang enak tapi terlalu murah!”

Amat terkejut. “Lho, Bu, murah kan bagus! Apalagi semua bilang enak!” “Memang. Tapi bagus buat siapa dulu? Buat kita, kan!” “Ya, buat kita, buat siapa lagi. Nasi campur Ktut kan jauh lebih murah dari Bebek Jambul yang harganya selangit itu?!” “Ngukurnya jangan begitu, Pak! Apa Bapak tidak malu nyuguh tamu dengan makanan rakyat? Kalau sampai Pak Bupati yang diundang Sugi jadi hadir, masak disuguhi nasi campur? Saya dengar ada tamunya dari Jakarta dan juga ada satu bule dari Amerika akan ikut hadir. Masak dikasih makanan warung? Tamu harus disuguh yang mahal, tanda kita menghormati mereka!” Amat tak setuju, tapi segan membantah. Ia yang sudah

Ekspresso

murah

sempat membuang omongan di warung Ktut mau pesan seratus nasi campur, terpaksa harus minta maaf. Amat kikuk dan malu. Ia cerita ke timur dan ke barat sebelum pada inti pembatalannya. Ia puji-puji dulu masakan warung Ktut yang populer tapi murah. Lalu pura-pura heran. “Warung Ktut ini sudah terkenal sejak nenek Ktut,” kata Amat,”tapi kok bisa sampai tiga generasi tetap tidak berubah. Baik mutunya, maupun harganya tak gila-gilaan naik seperti harga cabe? Juga kehidupan keluarga Ktut juga tetap stabil. Heran saya!” Ktut mengangguk, lalu menjawab jujur. “Ya, begitulah, Pak Amat. Kami berdagang karena senang. Senang melihat dan

“O,ya? Kenapa Pak Ktut tidak menyambut?” “Ya, sebab sudah saya katakan tadi, kami buka warung bukan mau memburu uang, tapi membuat orang senang. Kami untuk hidup dan persaudaraan tahu kalau harga kami ikut saja. Dengan buka warung melonjak, kami mungkin akan seperti sekarang, keluarga saya kehilangan banyak pelang- semua sudah cukup bisa hidup. gan yang tak akan sanggup Anak-anak saya sudah selesai mengikuti kami. Tapi kalau semua. Ada yang sarjana, ada hitungannya hanya uang, ke- yang pegawai negeri, ada yang hilangan pelanggan itu akan wiraswasta. Semuanya cukup. mudah ditutup oleh peningka- Kalau sudah cukup untuk apa tan pendapatan kami, karena lagi? Kami sudah sangat senang harga jualnya bisa naik 3 atau sekali masyarakat menyukai 5 kali. Pasti kami juga akan produk kami. Begitu, Pak dapat pelanggan baru dengan Amat. Tapi mungkin jalan yang kantong yang lebih tebal. Dan kami tempuh ini salah, mamereka pasti berbelanjanya kanya tidak ada yang meniru akan lebih royal dari pelang- kami. Kebanyakan mengikuti gan kami sekarang.” restoran Bebek Jambul. Belum Amat tercengang. setahun sudah punya 2 Mercy. “O, begitu? Kenapa kalau Saya jangankan punya mobil, prospeknya bagus begitu, tidak naik motor saja tidak bisa. dicoba? Ktut bisa kaya raya!” Ha-ha-ha.” Ktut mengangguk. Amat tertegun. Sampai lupa “Betul, Pak. Sudah banyak membatalkan pesanannya. Di yang bilang begitu. Bahkan ada rumah, ia terpaksa menceriyang mau memberikan modal takan apa kata Ktut pada Bu supaya kami bener-bener da- Amat. gang. Dia bilang bahkan kami Bu Amat terdiam lama. Lalu bisa buka warung sampai Ja- berbisik. “Bapak harus ceritakarta, Malaysia, Singapura, kan itu nanti pada Pak Bupati, Tokyo dan Belanda.” waktu Beliau nanti menyantap Amat takjub. nasi campur warung Ktut!”

Duta Endek Kota Depasar

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

merasa berdosa ikut antre tiket bioskop dengan anak-anak yang seusia cucu kita. Menjumpai fenomena seperti itu saya merasa gaya berpakaian, gaya berdandan, jenis kegiatan dan peran saya masih sama seperti saat saya berusia 30 tahun. Ini bukan soal penyangkalan tetapi hanya soal sikap dan kebiasaan, walaupun saat bercermin sudah ada garis-garis halus, mungkin tidak terlihat oleh cucu-cucu keponakan yang memanggil saya dengan sebutan nenek cantik. Dari pengalaman bertemu dengan orang-orang usia lanjut, kalau boleh saya mengelompokkan ada 2 tipe. Tipe pertama adalah tipe pencemas, yang sangat terfokus pada pertambahan usia, dan mengganggap menua adalah proses yang sangat menakutkan, sehingga setiap bertemu orang selalu mengeluhkan berbagai penyakit. Tipe ini juga terpancing emosi melihat tingkah laku anak muda yang dianggapnya tidak sopan, tanpa menyadari bahwa jaman sudah berubah dan tidak bisa dibandingkan masa pada waktu dia masih muda. Tipe kedua adalah tipe orang tua yang penuh percaya diri, yang mempunyai perspektif

Ni Luh Sarini

bahwa penampilan luar bukan lagi menjadi isu melainkan jati dirilah yang menjadi hal yang utama. Tipe ini adalah orang tua yang melanjutkan hidupnya dengan bahagia, semua aktivitas rutin tetap dilakukan, bekerja atau berkarier, hobi dan aktivitas sosial, karena anak-anak sudah mempunyai keluarga dan tidak tinggal lagi bersama mereka, sehingga usia tua berarti kebebasan. Usia lanjut tipe pencemas tidak usah kita bahas, hanya perlu kita hidari dan berusaha menjadi usia lanjut tipe percaya diri. Usia lanjut yang

percaya diri mempunyai paradigma bahwa menjadi tua bukan halangan untuk melakukan hal yang bermakna bagi orang lain dan yang terpenting bermakna bagi diri sendiri. Bagaimana caranya bisa sampai pada usia tua yang tetap bersemangat, sehat dan bugar. Berbicara soal usia tentu tak lepas dari konteks sosial, dimana cara pandang seseorang tentang tua tidak bisa terlepas dari lingkungan sosial dimana dia dibesarkan. Saat ini di Bali sudah banyak contoh wanita yang masih tetap berkarya walaupun usia lanjut, dan kalau kita mau beranjak keluar dari lingkungan yang mempunyai paradigma bahwa usia tua sama dengan berhenti berkarya, maka kita bisa melihat wanita-wanita hebat yang masih berkarya dan melakukan hal yang bermakna

bagi diri sendiri dan orang lain, seperti Obin, seorang designer dengan butik BinHouse, tetap berkarya di usinya yang ke-60 tahun dan karyanya digemari wanita usia matang. Lihat pula Susan Saradon, seorang aktris yang masih menjadi pemeran utama film, di usianya ke-69 tahun dan aktif di bidang sosial politik, dan masih banyak wanita lain yang masih berkarya dan memberi makna hidup lebih berarti dari hanya sekedar menghitung bertambahnya angka pada saat ulang tahun. Life begins at any age, usia berapapun kalau kita ingin memulai sesuatu yang baru, kenapa tidak? Tinggal pilih mau dipanggil nenek cantik atau nenek lampir. Ni Luh Sarini Pegawai Swasta

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Gelar Sosialisasi Pemilihan Duta Endek ke-5 E

ndek adalah salah satu warisan budaya lokal. Dengan segala proses pembuatannya hadir menjadi produk dengan nilai seni yang tinggi. Selain bangga dengan perkembangannya, kita juga wajib menjaga dan melestarikannya. Sebab, kalau bukan kita yang melakukannya siapa lagi? Jika diabaikan, mungkin saja bisa habis. Demikian disampaikan Ketua Dekranasda Kota Denpasar, IA Selly D. Mantra pada kegiatan Sosialisasi Persiapan Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar,” Sabtu (14/5) di Graha Sewaka Dharma Lantai III, Lumintang, Denpasar. Pada acara yang dihadiri di antaranya oleh siswa dan guru SMA/ SMK se-Kota Denpasar, pengurus dan anggota ASBEST Kota Denpasar serta para Duta Endek, Selly D. Mantra menekankan bahwa untuk menyukai tenun ikat Bali yang disebut endek yang terbaik adalah mulai dari diri sendiri, setelah itu barulah merambah ke lingkungan terdekat. Pada kesempatan itu pula, istri IB Rai D. Mantra, Wali Kota Denpasar ini pun, berkisah betapa sebelum tahun 2000- endek pernah mengalami masa suram. Produksinya menurun tajam,

haan swasta, BUMN hingga sekolahsekolah. Termasuk pasar oleh-oleh pun menyediakan endek untuk pengunjungnya. Ketika itu endek kembali naik daun dan semakin disukai, namun Selly D. Mantra merasa masih ada yang mengganjal. Bahwa, penyuka endek masih berkisar di kalangan orang dewasa. Maka, untuk bisa menggiring kelompok anak muda, ia pun mencetuskan “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar” yang pertama di tahun 2012. Hingga kini, ia bisa berbahagia melihat

Life Begins at Any Age Pada saat usia saya menginjak 40 tahun kalimat life begins at 40 terasa pas untuk saya, namun kini setelah usia menginjak 50 tahun, life begins at 50 masih cocok juga untuk saya. Menurut saya usia hanyalah angka, yang artinya kita sudah melewati lebih banyak waktu. It’s OK to be old. Saya sering mendengar teman-teman mengatakan saya sudah tua. Sudah tidak pantas memakai baju seperti itu, masa’ saya harus ikut paintball atau ikut antri di bioskop untuk nonton film The Hunger Games: Mocking Jay Part II. Saya sudah tua, biarlah itu dilakukan oleh anak-anak muda. Saya setuju gaya berpakaian, berdandan, olah raga, dan aktivitas lain yang pantas dan sesuai situasi kondisi, tetapi itu bukan semata-mata berdasarkan usia. Bisa saja orang berusia 25 tahun tidak bisa ikut olah raga paintball karena punya penyakit jantung bawaan. Sack dress mini bukan terlarang bagi seorang nenek, tetapi mungkin tak elok lagi bila kita menampilkan paha yang keriput dan betis yang varises. Kalau kita punya hobi nonton film tema heroik, tidak harus

Edisi 902/ 23 - 29 mei 2016

hingga banyak penenun khususnya di Denpasar menutup usaha mereka. Namun, di tahun tersebut masyarakat merasa lebih bergengsi mengenakan songket daripada endek. Di tahun 2008, selaku Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Selly D. Mantra lantas berpikir tentang langkah yang sebaiknya diambil untuk tenun ikat Bali ini. Gebrakan awal yang dilakukannya yakni mengajak ibu-ibu SKPD untuk lebih mencintai endek dengan fashion show. Ternyata Sambutan masyarakat sangat luar biasa. Mereka mulai terbuka, melihat endek setelah dikombinasikan dan dimodifikasikan dengan bermacam bahan lain ternyata bisa tampil modis. Dari situ perkembangan endek semakin melaju. Atas prakarsa Ketua Dekranasda pula akhirnya endek tercatat sebagai salah satu uniform bukan hanya untuk kalangan PNS, tapi juga bagi karyawan BI, perusa-

anak-anak muda bukan hanya kreatif tapi juga inovatif. Dikatakannya, para Duta Endek bukan hanya bisa melenggang di catwalk, dapat pengalaman dan wawasan tapi juga meraih peluang menjadi seorang entrepreneur. Selanjutnya, mereka juga turut menyosialisasikan, menularkan pada orang terdekat, dan sekitarnya untuk mencintai produk lokal kita. Gelar Lomba Busana Endek Di kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Bordir Songket dan Endek (ASBEST) Kota Denpasar, Rhea Cempaka menyampaikan bahwa selama ini organisasi yang terbentuk sejak 2011 ini, selalu berkontribusi pada kegiatan Duta Endek Kota Denpasar. Di antaranya, mengisi materi pembekalan pada kelas entrepreneur dan mensponsori busana untuk dikenakan para Duta Endek saat melenggang di catwalk.

Selain itu, Rhea juga menyampaikan, jika anggota ASBEST yang terdiri dari pengusaha berbagai produk fashion, siap diajak sharing untuk berbagai hal terkait kewirausahaan. Apalagi selama ini mereka juga sudah cukup berpengalaman mengikuti berbagi ajang pameran, mulai dari lokal Bali, nasional hingga di kancah internasional, seperti Hongkong Fashion Week. Selanjutnya, ketua Umum Duta Endek Kota Denpasar, Hendra menyampaikan program kerja yang telah dan akan digarap, di samping mengajak generasi muda Kota Denpasar untuk menjadi smart & beauty dengan berpartisipasi dalam “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2016” yang segera diselenggarakan. Dikatakannya, program terdekat yang dijalankan untuk lebih mencintai produk lokal ini adalah mengadakan

“Lomba Busana Modifikasi Endek se-Bali”. Acara ini sekaligus untuk mendukung Denpasar sebagai Kota Budaya, dengan tag line “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga”. Selain itu, Hendra juga mengajak

generasi muda untuk bisa bergabung pada sebuah komunitas yang digagas bersama yakni “Endek Lovers”. Di sini, katanya menjadi wadah bagi semua anak muda yang mencintai endek dalam berbagai bentuk atau kreasi. Masih di acara yang sama, Cakra Manuaba, salah seorang pemenang Duta Endek lainnya, juga sempat berbagi pengalamannya yang cukup menarik. Ia berbicara mengenai terbukanya berbagai peluang dan kesempatan yang sangat berharga. Betapa tidak karena kecintaannya pada endek, akhirnya berhasil membuka usaha sendiri dan istimewanya dengan support dari Pemerintah kota Denpasar melalui Disperindag, Bidang Ekonomi dan Dekranasda Kota Denpasar, Cakra berkesempatan mengikuti pameran mulai dari Denfes, PKB, Yogya Ekspo hingga Ina Craft di Jakarta. Maka, kata Cakra sangat tepat jika generasi muda Kota Denpasar,mengikuti program Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar. Ini adalah wadah yang tepat untuk mengembangkan diri dalam banyak hal, di antaranya kontribusi turut menjaga warisan budaya lokal sembari memupuk dan mengasah jiwa entrepreneur. Sementara Tude Togog, sebagai salah seorang praktisi endek, hadir memberikan pengetahuan untuk mengenalkan endek dengan lebih baik. Mulai dari proses pembuatannya, membedakan endek dan bahan print yang sekilas menyerupai endek hingga cara perawatannya yang benar. -ard

“Lomba Busana Modifikasi Endek se-Bali” Lomba yang bertemakan “Save Our Heritage”. Lomba ini bertujuan mengajak warga Bali khususnya generasi muda untuk lebih mencintai produk dalam negeri terutama Kain Tenun Ikat Khas Bali yaitu Endek.

Kategori B (SMP-SMA) - Berupa busana casual endek - Desain busana bebas - Aksesoris menyesuaikan

Persyaratan umum peserta : 1. Menyertakan fotocopy kartu pelajar (untuk kategori A dan B) dan menyertakan fotocopy KTP regional Bali (untuk kategori C) 2. Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan oleh panitia 3. Membayar uang pendaftaran sesuai dengan kategori yang diikuti 4. Persyaratan busana 70% endek motif dan 30% bahan penunjang (bebas)

Kategori C (umum) - Busana pesta malam endek - Busana boleh dibordir, dipayet, diprada - Aksesoris menyesuaikan

- - -

Persyaratan khusus : Kategori A (TK-SD) Busana perempuan : Busana berupa seragam sekolah boleh berupa atasan dan rok atau terusan Panjang rok atau busana minimal selutut Boleh menggunakan atribut berupa dasi, topi, tas. Sepatu menyesuaikan (kecuali high heels)

- - - -

Busana laki-laki : Baju kemeja lengan pendek Menggunakan celana pendek Boleh menggunakan atribut dasi,topi,tas. Sepatu bebas

-

Biaya pendaftaran Kategori A : Rp 50.000 Kategori B : Rp 80.000 Kategori C : Rp100.000 Pendaftaran dibuka mulai tanggal 9 Mei - 28 Mei 2016. Formulir pendaftaran dapat diambil di Gedung Graha Sewaka Dharma Lantai 3 pada Dinas Perdagangan & Perindustrian Kota Denpasar. Informasi lebih lanjut akan disampaikan saat technical meeting pada Sabtu, 28 Mei 2016, pukul 14.00 Wita di Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang. Lomba dilaksanakan pada Minggu 5 Juni 2016, mulai pukul 09.00 Wita di Gedung Sewaka Dharma. Ayo segera daftarkan dirimu dan tunjukkan kreativitasmu! Contact person: Sita : 081338935848(line:ayusitarani) Maotama :082236614896(line:suryamaotama) Krisna : 085737957774 (line:ajik_krisna)


24

Sudut Pandang

Edisi 902/ 23 - 29 MEI 2016

Meski memiliki anak yang hidup berkecukupan, ternyata tidak selalu menjamin sang orangtua pun pasti akan hidup sejahtera dan bahagia di masa tuanya. Ada banyak contoh bagaimana anak yang hidupnya berkecukupan ternyata menelantarkan orangtuanya. Itulah yang dialami Ny Sumitro, wanita renta yang berusia 80 tahun yang telah ditinggal mati suaminya 23 tahun lalu ini, terpaksa harus hidup sendiri karena ketiga anaknya menolak mengurusinya.

Lansia lebih Baik Tinggal bersama Keluarga sedianya adalah untuk tempat tinggal kostor atau pembantu gereja. “Kebetulan ada kamar kecil di sana, jadi saya bisa tinggal sementara. Sementara untuk makan, dan kebutuhan sehari-hari, didapat dari anak keduanya. Anak saya jarang datang, tapi mereka tetap membiayai saya,” katanya. “Tapi saya lebih senang di sini karena bisa beraktivitas seperti dulu,” tambahnya. Sebagai orang yang telah lanjut usia, dia mengaku pasrah dengan nasibnya. “Di masa tua saya hidup seperti ini, ya ndak apa-apa. Mau bagaimana lagi. Saya tetap bersyukur masih mendapat tempat tinggal. Orangtua seperti saya sudah tidak ada kemauan lagi, tinggal menjalani saja dan ‘menunggu’,” ungkapnya.

N

y Sumitro mengaku memiliki tiga anak perempuan, dua di antaranya memiliki penghidupan yang lumayan secara ekonomi. “Anak saya tiga perempuan, dua orang hidupnya cukup berada, sedang yang satu hidupnya biasa-biasa saja,” kata Ny Sumitro yang sempat dititipkan ke sebuah panti werdha di bilangan Jakarta Timur. “Ya mereka sibuk, jadi tidak bisa mengurus saya,” kata wanita ini. Namun, dia tak betah tinggal di panti tersebut, akhirnya keluar. Satu hal yang membuat Ny Sumi­ tro tak betah adalah rasa kesepian. Meski diakuinya, panti werdha tempatnya menetap, memiliki penghuni cukup banyak. “Pelayanan di sana bagus. Penghuninya banyak, yang seusia dengan saya juga banyak. Tapi saya selalu merasa kesepian. Saya merasa kehilangan komunitas saya yang lama,” ujarnya mengungkapkan alasan dia keluar dari panti tersebut. Yang dimaksud Ny Sumitro tetang komunitas lamanya adalah komunitas lansia gerejanya. Sebelum masuk

foto pusat kajian kelanjutusiaan universitas indonesia

panti jompo, wanita asal Solo ini termasuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas gerejanya, khususnya kelompok lansia. Nah, ketika masuk panti jompo, kegiatan rutin tersebut tidak didapatnya. Itu lah yang membuat dirinya nelangsa dan kesepian, apalagi keluarganya sangat jarang

membesuk. Setelah keluar dari panti, ketiga anaknya tidak ada yang mau menampungnya. Entah kenapa. Sementara rumah lamanya di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, telah dijual oleh anak pertamanya. Walhasil wanita renta yang telah memiliki lima cucu ini ke-

bingungan mencari tempat tinggal. Untunglah sebelum masuk panti werdha Ny Sumitro termasuk orang yang aktif di gereja. Itu sebabnya ketika ia ‘terlantar’ tak memiliki tempat tinggal, pihak gereja membantunya memberi tempat tinggal di bangunan sebelah kiri gereja. Bangunan itu

Ubah Gaya Hidup demi Kesehatan WHO sudah mengubah batasan usia yang dianggap lansia Contoh­nya yang terkena diabetes, dengan stem cell fungsi atau orang tua. Dulu berkisar usia 65 tahun. Sekarang ini organ tubuhnya bisa normal kembali. Namun, memang biaya lansia adalah orang tua yang berusia 80 tahun ke atas. Bahyang dibutuhkan sangat mahal,”ucapnya. kan, saat ini, ada aturan, dosen berhak mengajar sampai Menurutnya, makanan lansia sebetulnya tidak ada peusia 79 tahun. Demikian diungkapkan Dosen FK Unud, rubahan sejauh fungsi di tubuhnya masih bagus, memang ­Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.GK. jumlahnya berkurang, tapi dari segi komposisi tetap. Ia menyatakan, ada satu slogan yang sedang dikam­ panyekan saat ini yakni usia boleh historis, tapi fungsi ATUR POLA TIDUR biologis harus tetap muda. Namun, kata dia, sangat ironis, Pola makan sehat yang sehat mengandung 5 prinsip yakni, karena penuaan dini justru banyak terjadi di usia yang seberapa jumlahnya, bagaimana frekewensinya yang menenharusnya masih produktif. Apa penyebabnya? “Gaya hidup tukan asupan, apa jenisnya, bagaimana komposisinya, dan yang salah. Banyak orang tidak menjaga kondisi badannya bagaimana itu diolah. Disamping itu, konsep makan yang sehingga proses penuaan lebih cepat terjadi,” kata ahli salah juga harus diperbaiki. Dia merasa sudah makan, kalau gizi klinik ini. sudah makan nasi. Padahal, makan itu segala sesuatu yang Indraguna menyebutkan, penyakit disebabkan dua hal, masuk ke mulut, ditelan, dan dicerna dan menimbulkan yakni dibawa sejak lahir karena keturunan dan dia dapatkan reaksi ke tubuh. Makanan itu bisa padat dan cair. Kenyang sejak lahir. Berdasarkan penelitian, hal ini justru pengaruhitu bermacam-macam konsepnya. Mungkin perutnya Dr. dr. Gde Ngurah nya hanya 20 % dalam proses mempercepat penuaan dini. sudah terisi penuh tapi otaknya belum merasa cukup. Sementara, 80 % penyebabnya adalah gaya hidup. “Karena Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.GK. Malah, kalau pun perutnya kosong kalau lagi marah pun, itu, sebelum terjadi proses penuaan dini, ada baiknya kita ubah gaya hidup dia akan kenyang. Konsep perut itu ada di pikiran, itu sangat dipengaruhi kita menjadi sehat,” kata dosen di IKP dan Biomedika FK Unud ini. macam-macam. Ia menegaskan, gaya hidup bisa mempercepat dan memperlambat Tidur pada lansia juga perlu diatur. Konsep yang baik tidurlah pada waktu jam tidur. Jam tidur yang baik adalah pukul 22.00, di saat hormon proses penuaan dini. “Penuaan dini tidak hanya terlihat pada wajah, namun, tidur mulai bekerja. Lewat pukul 24.00, hormon bangun mulai bekerja. dilihat dari menurunnya fungsi tubuh, misalnya, dulunya bisa begadang Orang paksakan tidur juga tidak bisa, karena hormon bangun sudah sampai pukul 1 dini hari, sekarang sekarang harus dibayar tidur 3 hari. bekerja. Makin terlambat orang itu tidur, makin sulit dia tidur. Biasanya, Kalau dulu olahraga tanpa tersengal-sengal sekarang olahraga sedikit saja lansia sering terbangun di tengah malam karena buang air kecil. Sering napas sudah sengal-sengal. Dalam urusan aktivitas sehari-hari juga menubuang air kecil juga bisa diatasi. Intinya, lansia harus menjaga kualitas run,” ucapnya. tidurnya. Kadang, saat siang hari, bisa saja melakukan istirahat sebentar Memang, ia tak menampik, ketika usia bertambah, fungsi organ tubuh atau disebut rileks dan sangat individual, tiap orang berbeda-beda. Ada juga menurun. Namun, hal itu tidak akan menganggu, dan bisa dihambat yang cukup 10 menit, ada yang sampai 1 jam. Tujuannya, sekadar merilek­ dengan olahraga yang teratur. “Ada kok orang yang usianya 70 tahun masih sasikan ototnya. -Wirati Astiti bisa berlari kencang seperti usia 25 tahun,” ujarnya memberi contoh. Ada satu prinsip yang harus diketahui, kondisi kesehatan di bawah usia 2 tahun, dapat menentukan kondisi kesehatan di atas usia 50 tahun. Penyakit tidak menular sebagian besar terjadi pada orang-orang yang lLingkungan memaksa kita mempercepat proses penuaan dini. Kalau status gizinya jelek ketika anak-anak. ”Makanya, saat ini, gencar dilakusekarang tidak bekerja keras, kita tidak bisa survive. Kalau bisa bekerja kan kampanye 1000 hari pertama kehidupan, yang merupakan jendela 24 jam itu masih kurang, 7 hari dalam seminggu itu masih kurang. Mulai emas kehidupan, yang bisa menentukan generasi bangsa yang sehat dan sekarang, belajar mengelola waktu bekerja. berkualitas,” katanya. lMakanan komersial itu tidak sehat. Padahal, kita bisa membuat makanan Bagi para lansia yang sudah terkena penyakit tidak menular, cara pena­ sehat menjadi enak. Diperlukan usaha memilih yang sehat dan membuat nga­nan­nya, penyakitnya harus segera ditangani secepatnya. Ada yang bisa menjadi enak. diobati dan ada yang tidak bisa karena pengaruh fungsi organ tubuh yang lOlahraga itu mutlak, diatur sesuai usianya. sudah menurun. Kalau pun bisa diobati, biaya mahal. lStres itu wajar, tapi bagaimana menghadapi stres. Ia mengatakan, dengan tekonologi kesehatan, penuaan itu bisa dilPencegahan, skrining atau general check up saat batas usia pertumbuhan hambat dan dikembalikan. ”Memang tidak semua bisa dikembalikan, tapi sudah selesai, bisa dimulai usia 20 tahun. sudah banyak yang dikerjakan untuk menyetopnya yakni dengan stem cell.

Tips Sehat:

LANSIA PERLU DUKUNGAN SOSIAL Memberi tempat tinggal bagi para lansia, ucap Nona, pengurus gereja, bukan baru pertama kali dilakukan. Sebelumnya, ada beberapa lansia pun pernah ditampung di gerejanya, namun kini telah dijemput oleh keluarganya. “Kasusnya berbeda-beda. Dulu ada beberapa, mereka jemaat kami juga. Setelah beberapa waktu konseling keluarga, kini mereka sudah tinggal bersama keluarganya,” jelas Nona yang menolak menjelaskan permasalahan para lansia sebelumnya. Potret kehidupan seperti yang dijalani Ny Sumitro, pastilah banyak terjadi, dimana anak abai terhadap orangtua, atau, karena suatu sebab orangtua tidak dapat hidup bersama anaknya. Anak yang sibuk dengan kehidupannya sendiri, nyaris tidak memiliki ruang lagi untuk diisi orangtuanya. Tidak ada keinginan dari mereka untuk meminta orangtuanya untuk tinggal bersama. “Padahal untuk dapat menik­ mati masa tua dengan bahagia serta mening­k atkan kualitas hidupnya, lansia memerlukan dukungan sosial dari orang-orang terdekat. Tinggal bersama keluarga besar adalah salah satu cara untuk mendapatkan dukungan sosial berupa rasa aman, nyaman dan jaminan perawatan,” papar Kepala Badan Pusat Statistik, Dr. Suryamin, M.Sc, dalam laporan tentang Statistik Penduduk Lanjut Usia di Indonesia 2014. Diungkapkan, keberadaan lansia dalam suatu rumah tangga tidak hanya bermanfaat dari sisi lansia saja, tapi juga kesejahteraan rumah tangga pada umumnya. “Ketika lansia tingga bersama dengan generasi berikutnya, dimungkinkan terjadi transfer pengetahuan antar generasi. Lansia dapat terhindar dari kepikunan dan generasi berikutnya memperoleh nilai-nilai hidup yang baik dari lansia,” jelasnya. Badan Pusat Statistik melakukan survei sosial ekonomi nasional terhadap penduduk lanjut usia di Indonesia tahun 2014 yang hasilnya dipublikasi November 2015 lalu. Dari hasil survei tersebut diperoleh data bahwa jumlah lansia di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Data statistik terbaru menyebutkan, jumlah lansia kini telah mencapai 20,24 juta jiwa atau 8,03% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Jumlah lansia terbesar adalah di Provinsi Yogyakarta 13,05%, Jawa Tengah 11,11%, Jatim 10,96% dan Bali 10,05%. Data statistik juga menyebutkan, jumlah lansia yang tinggal bersama keluarganya masih lebih banyak dibanding yang tinggal sendiri. -Diana Runtu

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook