Skip to main content

Tokoh Edisi 895 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

GORO-GORO “Best friend” Ami yang menikah dengan pria Amerika itu, tiba-tiba muncul. Putu Wijaya Setelah 5 tahun tenggelam di negeri Paman Sam ceritanya bagai opera sabun yang sangat dramatis. Penuh dengan kegetiran dan air mata. “Kasihan, Pak,” kata Ami mendongengkan lagi kisah Mrs. Ariny Wagner, kepada Amat, “Di balik wajahnya yang cantik, sehat dan ada tanda-tanda bekas operasi plastik itu, ada luka yang dalam.” Amat manggut-manggut dan langsung menanggapi. “Ya, begitulah, Ami. Per­ nikah­a n campuran itu, selain baik untuk memperbaiki ke­ turunan dan termasuk dulu dianjurkan di Indonesia untuk mengurangi jurang antar suku,

banyak risikonya. Khususnya pernikahan antara manusia Timur dan Barat.” “Bapak jangan mempolitisir begitu,”bantah Ami, “Ini hanya kasus pernikahan Ariny dan Wagner!” “Betul! Bapak bukan anti­ pernikahan campuran yang sekarang makin banyak terjadi di Bali, antara orang kita dan orang asing yang terus-terangnya lebih banyak didorong oleh alasan bisnis. Tunggu dulu! Di jakarta juga Bapak dengar, banyak orang asal Nigeria menikah dengan orang Indonesia dan akhirnya tersangkut masalah narkoba.” “Ya, itu generalisasi namanya, Pak!” “Tidak, Bapak tidak menen­ tang pernikahan campuran. Apa pun motifnya, asal tetap didasari cinta. Tapi meskipun didasari cinta, risiko tetap besar, karena cepat atau lambat, perbedaan kultur yang sudah tertanam

april mop

dalam pada masing-masing, pasti akan terpaksa dibayar dengan pengorbanan keduanya atau salah satunya. Baru kalau mereka mampu memikul risiko itu, pernikahan mereka akan abadi!” Ami tertegun. “Si Ariny bagaimana?” Ami menarik nafas panjang. “ Ya h , A r i n y m e s k i p u n orang­n ya moderat sekali dan termasuk pelopor woman’s lib, dia tetap saja orang Bali. Di Bali dia termasuk orang yang sangat liberal sehingga kami menjulukinya Ratu Radikal. Tapi di Amerika di antara manusiamanusia liberal, ia jadi sangat toleran. Ia menyesuaikan diri sepenuhnya pada kultur yang dibawa suaminya. Individualistik, mandiri, hubungan kekeluargaan tidak lebih penting dari hubungan kepentingan bisnis.” “Itu yang membuat dia tertekan makan dalam?”

Wangi Wanita Wangi

“Wangi siapa ini?” Ya, setiap orang memiliki kemampuan dalam merasakan sesuatu berdasarkan aromanya. Misalnya saja, sadarkah jika para orangtua pada dasarnya mampu mengenali anaknya hanya dengan aromanya. Begitu pula dengan pasangan suami-istri, mereka mampu menggenali pakaian mana yang telah dipakai pasangannya. Lebih terfokus lagi pada wanita. Sebagian besar wanita di dunia memiliki kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria akan aroma yang ada di sekelilingnya. Selain karena wanita biasanya lebih ‘sensitif’ dan mampu menggekspresikan hal yang dirasakannya, penelitianpun menunjukkan bahwa kepekaan terhadap aroma sebenarnya sudah terjadi pada saat bayi perempuan dilahirkan. Jadi tak perlu heran jika nantinya Anda melihat beragam ekspresi wanita ketika mencium aroma tertentu. Selain itu ketahuilah jika pada saat menjelang siklus menstruasi, kepekaan ini akan meningkat. Karena kesensitifan wanita terhadap aroma, maka tidak sedikit wanita yang juga menyukai wangi-wangian tertentu.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Wangi-wangian yang digunakan oleh wanita sangat bervariasi, salah satunya adalah parfum (minyak wangi). Taukah Anda jika wewangian yang digunakan oleh seorang wanita memiliki maknanya tersendiri? Ada banyak persepsi yang bisa digambarkan ketika seseorang menggunakan parfum tertentu. Satu jenis aroma yang digunakan oleh seorang wanita juga dapat menggambarkan diri seseorang. Tidak hanya itu, aroma wewangian bahkan dapat mempengaruhi dirinya dan lingkungannya. Pada umumnya seorang wanita akan memilih aroma parfum

secara alamiah. Dengan artian bahwa seseorang akan memilih parfum sesuai dengan seleranya. Terdapat beberapa kategori alasan mengapa seseorang memilih satu aroma. Pertama, deskripsi dari parfum tersebut (aroma buah, bunga, rempah, dll); kedua, bahan parfum secara spesifik (aroma melati, vanilla, lavender, strawberi, cendana, dll); selanjutnya berdasarkan persepsi sensori (beraroma pekat, lembut, manis, segar, dll). Terakhir pemilihan aroma dapat ditentukan oleh efek atau manfaat secara fisik maupun psikologis yang ditimbulkan dari aroma tersebut. Misalnya memberikan efek memenangkan, membangkitkan semangat, menyegarkan. Secara psikologis, parfum akan berdampak pada emosi seseorang. Emosi yang muncul saat mencium aroma wewangian akan sangat dipengaruhi oleh sudut pandang, ingatan, dan budaya. Jadi tak heran, jika ada wanita yang menyukai parfum dengan aroma yang cenderung ‘maskulin’ atau ‘feminin’. Ada yang menyukai aroma vanila karena berkaitan dengan kenangan yang indah. Ada yang kurang menyukai

“O, bukan. Ariny bisa meng­ adaptasi semua itu. Itu kelebihan kultur kita, saya kira.” Amat tercengang. “Kalau begitu dia mestinya bahagia, dong.” “Ya, betul, dia bahagia, Pak. Dan bahagia sekali!” “Tapi kenapa kamu bilang dia harus dikasihani?” “Karena dia terlalu bahagia, sehingga ketika semua kebahagiaan itu tiba-tiba lenyap, dia seperti kehilangan nyawa. Andaikan dia tidak bahagia, atau malah menderita, kejadian itu justru akan menyebabkan dia dibebaskan!” “Kejadian apa?” “Dia bilang, pada ulang tahun suaminya di bulan April, tiba-tiba ada taifun. Topan badai dahsyat. Suaminya waktu itu sedang bertugas ke Prancis. Ariny yang sedang hamil muda dinasehati dokter supaya berhati-hati agar kandungannya tak gugur seperti sebelumnya. Itu sebabnya ia tidak ikut ke Paris. Tiba-tiba muncul seorang perempuan bunting yang dikawal oleh pengacaranya. Ia mengaku, ia adalah istri sah Wagner. parfum dengan wangi cendana, karena berkaitan dengan ritual keagamaan dan ingatan tentang film-film horor. Bahkan ada yang menyukai aroma buah karena membuatnya lebih bersemangat dan merasa lebih segar. Nah, dengan kata lain, ketika seseorang menggunakan parfum sesuai dengan seleranya, secara tidak langsung mood positif juga akan terbangun. Seperti halnya di atas, aroma pada parfum tidak hanya mempengaruhi penggunanya, namun juga lingkungannya. Pengaruh ini akan terlihat saat seseorang mulai mempersepsikan wangi wanita yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang memiliki aroma yang kurang menyenangkan, maka persepsi pada umumnya yang akan muncul adalah ‘kurang menarik’ dan tidak cukup profesional. Di sisi lain, saat seseorang bertemu dengan wanita yang wangi, maka akan memunculkan persepsi bahwa wanita tersebut

Ekspresso Pengacara menunjukkan buktibukti otentik dan memberi Ariny ultimatum, supaya dalam tempo 1 bulan harus keluar dari rumah Wagner. Ariny kontan pingsan. Waktu sadar, ia sudah berbaring di rumah sakit. Kandungannya gugur. Wagner langsung terbang dari Paris menemui istrinya. Ariny tak mau menerima. Dia menuntut perceraian. Wagner malah ketawa. Dia bilang semua itu hanya tradisi April Mop,’tradisi bohong’ lelucon tanggal 1 April, dari temannya, kenapa Ariny menanggapi terlalu serius, sampai kehilangan kandungan?” Ami tak bisa melanjutkan ceritanya karena keki. Air matanya mengalir, karena Ariny salah satu teman sejatinya. “ Yah, itulah yang bapak bilang tadi perbedaan kultur yang kelihatannya saja sepele, tapi berat!” kata Ama menghibur Ami tambah mengisak. Lalu muncul Bu Amat yang nguping percakapan itu. Ia mendekati Ami lalu bertanya: “Ami kapan Ariny men­ ceritakan kejadian itu kepada kamu?” Ami tertegun. “Tanggal 1 April ?!” Ami ternganga, lalu tiba-tiba berteriak histeris, “Sialan!!!” ‘menarik’ atau dapat dikatakan jika ada penilaian yang positif dari lingkungan. Maka dari itu, secara umum penggunaan parfum diharapkan dapat menguatkan emosi positif dalam diri, seperti meningkatkan rasa percaya diri dari penggunanya. Hal ini bisa terjadi ketika seorang wanita menggunakan parfum dengan tujuan untuk menutupi aroma tubuh yang kurang sedap. Saat kondisi yang kurang menyenangkan tersebut dapat diatasi dengan menjadi ‘lebih wangi’, maka wanita akan merasa lebih nyaman. Sejalan dengan hal tersebut rasa percaya diri akan meningkat dan mampu berperforma secara maksimal saat berkegiatan. “Jadi, aroma parfum apa yang Anda gunakan hari ini?” Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Bidang Klinis, Universitas Gadjah Mada.

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Buleleng Bagi Tiga Pesisir

Panjang pantai di Kabupaten Buleleng yang mencapai 157,01 Km terhitung dari kecamatan Gerokgak sampai dengan kecamatan Tejakula. Dari sembilan kecamatan yang ada di Buleleng, dua di antaranya tidak memiliki pesisir. Dari luas tersebutlah Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng mempunyai strategi dengan membagi menjadi tiga wilayah pesisir yaitu bagian Barat, bagian Tengah, dan bagian Timur. Hal tersebut diungkapkan oleh Ir. Nyoman Sutrisna, M.M., Kadiskanla Kabupaten Buleleng.

“D

i Buleleng sendiri memakai empat pilar dalam menjalankan 12 PAS program dari Bupati,” ungkapnya. Empat pilar yang dimaksud adalah peran pemerintah, swasta, peneliti, dan peran masyarakat. Dari ketiga bagian wilayah tersebut Sutrisna mengatakan membagi potensi laut yang dimiliki. “Potensi wilayah Barat kita lakukan budidaya dan konservasi,” lanjutnya. Budidaya yang dilakukan meliputi budidaya unggulan dan budidaya andalan. Budidaya unggulan yang dimaksud adalah budidaya ikan nener dan kerapu karena mampu menghasilkan 12 juta ekor per

hari untuk ikan nener sehingga sudah mampu mengekspor ke luar negeri. Selain itu ikan kakap juga merupakan salah satu dari budidaya unggulan sedangkan budidaya andalan dari wilayah Barat adalah budidaya mutiara laut. Dari pemeliharaan hingga panen dilakukan oleh orangorang lokal yaitu tenaga dari Desa Penyabangan. Konservasi juga diunggulkan di wilayah Barat ini terbukti diberikannya penghargaan tingkat nasional oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia. Tidak hanya pada tingkat nasional tapi penghargaan juga diraih secara interna-

Ir. Nyoman Sutrisna, M.M.

sional di Brazil pada tahun 2012 melalui konservasi terumbu karang. Sutrisna mengungkapkan jika program selanjutnya untuk mendukung konservasi tersebut adalah diadakannya Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) di desa Pemuteran kecamatan Gerokgak dengan skala internasional. Tujuan diadakannya BBDF adalah menurunnya kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara sehingga dengan adanya festival ini bisa menambah jumlah kunjungan

wisatawan. Kerja sama pun dilakukan baik di kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Untuk wilayah bagian Tengah juga dilakukan konservasi. “Konservasi dilakukan di pantai Lovina, Kerobokan dan sebagainya untuk mendukung wisata bahari,” ungkap Sutrisna. Selain konservasi, budidaya di darat juga dilakukan. Ikan juga merupakan salah satu potensi yang ada di wilayah bagian tengah sehingga dilakukan penangkapan. Melihat potensi wilayah Buleleng bagian Timur, juga dilakukan penangkapan, konservasi, dan pengolahan. Bahkan untuk konservasi Diskanla Kabupaten Buleleng berencana untuk meresmikan pusat pelatihan budidaya ikan hias laut Buleleng di desa Les kecamatan Tejakula bulan April ini. “Ini menjadi kebanggan kita bahwa kita sudah mampu membudidayakan ikan hias bahkan mengembangkan,” ungkapnya. Sasaran dari budidaya ikan hias ini adalah anak-anak nelayan, masyarakat umum, bahkan mahasiswa. Sedangkan untuk pengolahan desa Pacung, Bondalem, dan Tejakula terkenal dengan ikan pindangnya. Dengan potensi-potensi

23

tersebut Sutrisna tidak meragukan lagi bahwa komuditi yang ada di Buleleng sudah dikenal di tingkat nasional bahkan di internasional. Maka dari itu Diskanla berusaha mencanangkan program untuk menjawab visi misi program Bupati agar budidaya yang dilakukan bisa menjadi unggulan dan terbesar di Bali. “Memperbanyak budidaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun swasta,” tambahnya. Program tersebut dikemas dalam RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Pantai dan Pulau-Pulau Kecil). Namun, dalam pelaksanan program tersebut terkendala Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kabupaten tidak lagi mengelola laut. Pengelolaan laut pada 0-12 mil dilakukan oleh provinsi jadi kabupaten tidak lagi memiliki kewenangan. Oleh karena itu program RZWP3K dikembalikan ke provinsi. “Harapan kami agar RZWP3K diperdakan oleh provinsi karena jangan sampai apa yang kami rancang dan susun menyimpang dengan program yang dilakukan,” tambah Sutrisna. Ia juga sangat berharap apa yang sudah dirancang dan disusun oleh Diskanla Buleleng agar segera ditindaklanjuti oleh pemerintah provinsi Bali. “Sampai sekarang belum ada respons, program ini sebenarnya sudah kami kemas selama 2 sampai 3 tahun lamanya,” imbuhnya. -Wiwin

Tak Ingin Anak Jadi Nelayan

Kabupaten Buleleng yang terdiri dari 9 kecamatan memiliki laut yang sangat luas. Laut di masing-masing daerah memiliki potensi yang berbeda. Salah satunya desa Anturan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah pesisir berprofesi sebagai nelayan. Mengantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan merupakan hal yang biasa dilakukan. Hal tersebut juga disampaikan oleh De Gredeg. Pria yang berasal dari desa Cempaga ini menuturkan, bahwa menjadi seorang nelayan bisa dikatakan sebagai profesi, pekerjaan sampingan, dan pengisi waktu. “Kalau dapat ikan saya anggap profesi, jika tidak saya anggap sampingan,” ujarnya sambil tertawa. Karena hasilnya yang tidak menentu maka De Gredeg tidak berani menjadikan nelayan sebagai profesi satusatunya. Ia bahkan menganggap menangkap ikan adalah salah satu cara untuk mengisi waktu ketika tidak ada pekerjaan di luar. Meskipun hasil yang didapat tidak seberapa dari menangkap ikan namun pria yang saat ini tinggal di Jalan Srikandi Gang Delima ini sama sekali tidak berniat menggunakan cara-cara berbahaya dalam melaut. “Masih menggunakan cara manual, kalau pakai bom atau potasium kan itu berbahaya untuk biota laut,” ujarnya. Sebagai orang yang mencintai pekerjaan melaut De Gredeg merasa perlu ikut andil dalam menjaga kelestarian

De Gredeg

biota laut. “Kalau ada orang tidak bertanggung jawab seharusnya kita sebagai nelayan bisa ikut menjaga terumbu karang maupun biota laut agar tidak dihancurkan,” tambahnya. Apalagi di Buleleng saat ini sudah ada aturan dan ada hukum bagi siapa saja yang menangkap ikan menggunakan bahan berbahaya. Menurutnya biota laut di Buleleng tengah ini sudah hancur karena banyak terumbu karang yang sudah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ia berharap dari pihak pemerintah daerah agar membangkitkan biota laut yang ada di seputaran Lovina. “Penanaman dan pemeliharaan terumbu karang agar dilakukan di Buleleng tengah, kalau di barat dan di timur kan sudah ya biar seimbanglah,” tambahnya.

Selain melaut De Gredeg juga memiliki pekerjaan sebagai petani. Hal tersebut dilakukan karena penghasilan sebagai nelayan dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Menggarap tegalan kalau tidak lagi melaut,” ungkapnya. Ia juga mengatakan bahwa minat generasi muda untuk menjadi seorang nelayan sudah sangat menurun jika dilihat dari penghasilan. “Nelayan itu sebenarnya hobi, kalau sudah hobi otomatis mereka mencintai apa yang dikerjakan,” ujarnya. Jika hobi sudah tidak ada maka wajarlah anak-anak muda sekarang tidak bisa menjadi seorang nelayan. Meskipun remaja tidak berminat menjadi nelayan, De Gredeg sangat berharap mereka tetap bisa menjaga lingkungan dan mendukung programprogram pemerintah. Jika nelayan pada umumnya menjual hasil tangkapan ke pasar, maka lain halnya dengan pria kelahiran 4 Juni 1982 tersebut. Ia memilih media sosial untuk menjajakan hasil tangkapan ikannya. “Kalau dapat ikan biasanya langsung diunggah ke media sosial, kalau ada yang berminat langsung transaksi,” ungkapnya. Ia juga mengaku sering mendapat pesanan terlebih dahulu, sehingga tidak perlu repot-repot harus menjualnya ke pasar. Melaut tidak dilakukan setiap hari karena melihat faktor cuaca. “Sekali melaut paling rendah dapat dapat 3 kg kalau diuangkan biasanya 75 ribu rupiah,” tambahnya. -Wiwin

Di mana-mana nasib nelayan tradisional sama saja, hidup miskin dengan penghasilan yang tak menentu. Data Badan Pusat Statistik mencatat, jumlah nelayan miskin di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional yang mencapai 31,02 juta orang. BPS juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yakni 2003-2013, terjadi penurunan yang signifikan terhadap jumlah nelayan tradisional dari 1,6 juta menjadi 864 ribu rumah tangga. Agaknya, tingkat kesejahteraan yang memprihatinkanlah yang membuat ketertarikan orang, khususnya para generasi muda untuk menekuni profesi ini, berkurang. Kondisi ini juga terjadi di kalangan anak para nelayan, sekalipun mereka sejak kecil sudah terlatih melaut membantu orangtuanya. Mereka lebih suka menjadi buruh yang penghasilannya lebih jelas, atau kalaupun tetap berkiprah di laut, mereka lebih suka bekerja di kapal besar daripada menjadi nelayan tradisionil. ‘Setali tiga uang’, umumnya para nelayan pun menginginkan anakanaknya bisa bekerja di sektor lain. Setidaknya itu terungkap dari sejumlah nelayan yang ditemui di kampung Nelayan Jakarta Utara. Maman yang telah puluhan tahun menetap di Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, misalnya. Ia berkeinginan anak-anaknya kelak tidak mengikuti jejaknya. “Tidak masalah saya menjadi nelayan, ini pekerjaan warisan orangtua. Tapi kondisi dulu berbeda dengan sekarang. Kalau bisa, anak-anak saya jangan deh jadi nelayan. Hidup susah, apalagi sekarang sulit mencari ikan, penghasilan makin tak menentu,” ungkapnya. Sekarang ini tambahnya, sulit mencari ikan karena pencemaran perairan yang semakin tinggi. Jika ingin mendapat ikan harus melaut ke tengah di mana air laut masih bersih. “Di laut yang masih bersih di sanalah ikan berkumpul. Tapi itu adanya di tengah. Tapi itu kalau cuaca bagus, ombak tidak tinggi,” ungkapnya. Itu sebabnya Maman sangat berharap perhatian pemerintah untuk membantu kehidupan mereka. Kebetulan saat ini Pemda DKI Jakarta berencana mereklamasi Teluk Jakarta, itu artinya akan ada pembangunan besar-besaran. Apalagi mereka mendengar akan ada pembangunan pulau-pulau, perkantoran, dan bangunan lainnya. Dan untuk semua pembangunan itu dipastikan akan menyerap tenaga kerja yang besar. Maman juga warga Kampung Nelayan Muara Angke berharap, anak-anak mereka dilibatkan sebagai pekerja di proyek-proyek tersebut. Para nelayan Muara Angke, katanya, berharap selain mendapat pekerjaan, pihak perusahaan yang terlibat dalam proyek itu juga ikut membantu fasilitas pendidikan bagi anak-anak mereka. “Kami menginginkan anak-anak kami bisa mendapat pendidikan gratis supaya mereka bisa bekerja di bidang lain,” ungkapnya. –Diana Runtu


22

Sosialita

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Bertahan Hidup dari Utang Bau amis menyeruak tajam begitu memasuki kawasan Kampung Nelayan Cakung Drain Cilincing, Jakarta Utara. Persisnya di RT 03 RW 04 yang letaknya berhadapan dengan dermaga. Lamat-lamat terdengar musik dangdut dari transistor warga. Sebagian nelayan tampak bersantai di saung di depan dermaga, sebagian lagi masih berada di kapal menyelesaikan tugasnya.

“S

aya sedang menunggu suami yang sedang memilah jaring,” ungkap Kati yang saat ditemui sedang duduk santai di bangku pinggir jalan. Wajahnya tampak cerah. Rupanya hari ini suaminya berhasil membawa tangkapan ikan yang lumayan. “Mudah-mudahan hasilnya cukup untuk makan dan bayar cicilan utang,” katanya polos. Ibu enam anak ini mengaku baru bisa merasakan kegembiraan dalam 10 hari terakhir ini, setelah lima bulan sebelumnya hanya bisa bermuramdurja. Selama lima bulan lalu, sang suami juga anak-anaknya jarang melaut lantaran cuaca dan ombak tinggi. “Baru beberapa hari ini kami para nelayan bisa senang, meski hasil pun tidak seberapa, tapi ada yang dibawa pulang. Lima bulan kemarin hidup kami sangat susah, nggak bisa makan karena nggak ada uang. Kalaupun makan harus dibatasi. Nggak ada lagi yang kesisa. Boro boro buat buat nabung,” ungkapnya dengan mimik sedih. Penghasilan nelayan yang tak menentu, sebenarnya telah dijalani Kati sejak ia kecil. Orangtuanya asal Indramayu pun seorang nelayan. Demi mencari kehidupan lebih baik, sejak usia 10 tahun, Kati dan keluarganya hijah ke Jakarta dan menetap di Kampung Nelayan Cakung Drain, Cilincing. “Orangtua cuma jadi nelayan, jadi ya di Jakarta pun kerja jadi nelayan juga. Cuma keadaan dulu beda dengan sekarang. Ikan masih banyak, tidak perlu melaut ke tengah untuk dapat banyak ikan. Karena perairan belum tercemar seperti sekarang,” tutur Kati yang juga ikut membantu kerja orangtuanya sejak kecil.

Karena itu, ia pun tahu bagaimana susahnya hidup menjadi nelayan. Penghasilan yang didapat hanya untuk makan dan banyar utang, sulit untuk menabung. Namun, ia merasakan kehidupan makin lama makin sulit. Penghasilan makin tak menentu, bahkan tak jarang meski sudah bekerja tidak mendapat hasil untuk dimakan. “Kadang solar lima liter habis, hanya bawa pulang Rp 50 ribu. Jadi nelayan itu adanya cuma susah doang. Sengsara! Apalagi sekarang, kadang dapat (ikan) kadang tidak. Malah banyak kosongnya,” ucapnya. Kalau sedang rezeki, sang suami dan dua temannya bisa meraih tangkapan senilai Rp 1 juta. Tapi itu tidak selalu. Bisa dapat ikan senilai Rp 500 ribu saja, menurutnya sudah sangat lumayan karena kondisi sekarang yang tak menentu. “Hasil tak menentu, kadang Rp 1 juta kadang Rp 300 ribu. Tapi tak

jarang cuma menghasilkan Rp 150 ribu. Bahkan pernah juga cuma dapat Rp 100 ribu. Uang segitu mana cukup untuk makan dan bayar utang?” tambahnya. “Malah suami pernah juga cuma bawa pulang Rp 50 ribu, itu setelah dibagi dengan temannya yang ikut membantu di kapal. Hasilnya Rp 50 ribu, padahal modalnya Rp 20 ribuan. Jadi bagaimana makannya? Bayar utangnya?” keluhnya. GALI LUBANG TUTUP LUBANG Kalau sudah begitu maka solusi satu-satunya yang kerap dilakukan Kati adalah berutang. Gara-gara jarang melaut selama lima bulan kemarin, kini utang Kati di beberapa tempat sudah mencapai jutaan. “Untung ada Pak Haji yang mau ngasih utangan, trus warungwarung di sini juga membolehkan kita ngebon. Coba tanya aja di warung, pasti banyak catatan bon nelayan-nelayan di sini. Memang seperti itu kehidupan nelayan, gali lubang-tutup lubang untuk mempertahankan hidup. Karena itu, kalau boleh jujur dia sebenarnya tak ingin keenam anaknya mengikuti jejak pekerjaan orangtua. “Jadi nelayan yang ada cuma sengsara doang. Mewarisi kesengsaraan, sebenarnya saya nggak mau. Tapi mau bagaimana lagi. Saya orang nggak punya, anak-anak sekolahnya cuma SD, itu pun nggak tamat,” kata Kati. Bukan hanya Kati, anak-anaknya pun sempat mengutarakan ketidakinginan mereka menjadi nelayan. Maka mereka pun mencoba mencari pekerjaan di bidang lain. Sayangnya, upaya tersebut tak membuahkan hasil. Sulitnya mencari pekerjaan, minim akses, membuat mereka akhirnya ‘menyerah’ , dan kembali mengikuti jejak orangtuanya menjadi nelayan. “Coba perhatian laut saat ini, sudah tidak bening lagi. Warnanya hitam dan banyak sampah,” ujar Kati sambil menunjuk laut yang berwarna kehitaman juga sampah yang menumpuk di pinggir dermaga. Pencemaran tinggi

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

3

AA Diah Haswani

Tantangan Dua Profesi membuat ikan-ikan menjauh. “Sekarang sudah tidak ada lagi ikan di pinggir. Kalau mau ikan, kita harus melaut ke tengah. Tapi sekarang cuaca kerap tidak menentu, kalau ombak besar maka kita tidak bisa ke laut. Berarti tidak makan, dan harus utang lagi,” kata Kati yang hidup mengontrak sepetak kamar. Sebenarnya kalau mau dilihat, kehidupan Kati lebih baik dibanding nelayan lain. Karena Kati dan suaminya memiliki perahu, sehingga penghasilannya relatif lebih banyak dibanding yang bekerja di perahu orang lain. “Ya tapi tetap saja. Ini perahu tua, motornya juga sering ngadat, kalau jaring rusak juga kita yang tanggung,” tambahnya. Untungnya juga, kata Kati, sekarang tanggungannya semakin berkurang karena kelima anaknya sudah menikah dan mencari nafkah sendiri-sendiri. “Tanggungan saya sekarang cuma anak satu, dia paling bungsu, umurnya

delapan tahun,” ucap Kati. Sebagai ibu rumah tangga Kati tergolong ibu yang luar biasa. Tahun 2011, suaminya pertamanya meninggal, dan dia harus berjuang menghidupi kelima anaknya yang masih kecil-kecil. Berbagai pekerjaan ia kerjakan demi bisa bertahan, sampai akhirnya ia menikah lagi delapan tahun lalu, juga dengan nelayan. Sejak itu kehidupannya menjadi lebih baik. Tapi bukan berarti dia bisa berleha-leha. Karena penghasilan seorang nelayan tak menentu maka Kati lah yang harus ‘putar-otak’ menyelesaikan segalanya, termasuk mengurusi soal utang. “Kalau dapat hasil dari melaut, suami kasih semua penghasilannya ke saya. Tapi giliran kosong, maka saya yang harus cari utangan kesana kemari. Suami nggak mau tau. Pokoknya ada makan dan rokok. Jadi saya harus ngatur semuanya,” katanya. –Diana Runtu

Gadis berambut panjang ini, sedang sumringah. Ia ­ ipercaya ayahnya untuk mengelola privat villa, usaha d keluarganya. Tentu, kesempatan ini merupakan tantangan tersendiri bagi gadis bernama lengkap AA Diah Haswani ini. Profesi dokter yang sudah disandang sebelumnya, harus bisa diseimbangkan dengan profesi barunya sebagai pebisnis ­pemula. Bagaimana perempuan yang akrab disapa Gek Hana ini mengelola dua profesinya?

“Bandar” pun bisa Rugi Kisah lain yang dijumpai di Kampung nelayan Cakung Green Cilincing adalah kehidupan para “bandar” ikan. Sarwinah yang saat dijumpai sedang bersama Kati pun bercerita tentang kehidupannya sebagai “bandar” ikan. Yang dimaksud “bandar” ikan sebenarnya adalah seorang pengepul. Para nelayan biasanya menjual ikannya pada para pengepul seperti Sarwinah, yang kemudian menjualnya lagi ke tempat pelelangan ikan. Wanita 70 tahun yang sudah 25 tahun berkecimpung sebagai pengepul, mengaku menjadi pengepul Ibu Kati(kiri) dan Sarwinah tidak selamanya untung. Bahkan tak jarang, katanya, kalau salah perhitungan dia bisa rugi besar. Baru-baru ini, katanya, lantaran ikan yang berlimpah, dirinya justru rugi Rp 12 juta. Lho, kok bisa? Jadi tutur Sarwinah yang juga berasal dari Indramayu, di kampung nelayan ini masing-masing pengepul memiliki nelayan binaan. Seperti dirinya, memiliki 10 nelayan binaan. “Peraturannya, nelayan-nelayan ini hanya bisa menjual hasil tangkapannya kepada saya. Sedang saya punya kewajiban membeli semua hasil tangkapan mereka, tidak bisa menolak,” ungkapnya. Waktu itu, kebetulan hasil laut melimpah sehingga jumlah yang ‘disetor’ para nelayan binaannya pun melimpah. Ikan kembung misalnya, dia harus membeli seharga Rp 24 ribu per kilo. Ternyata ketika ia pergi ke pelelangan ikan, harga ikan justru jatuh hingga Rp 10-15 ribu per kg, karena melimpahnya hasil tangkapan. “Dalam tiga hari saya rugi Rp 12 juta,” ucapnya. “Kita jual semua tangkapan ke dia (Sarwinah), tidak bisa ke yang lain. Dia nggak bisa nolak, meski hasil tangkapan banyak. Kita nggak mau tahu dia rugi atau untung, pokoknya harus terima,” kata Kati menambahkan. Meski pahit, Sarwinah mengaku hal seperti itu memang kadang dialaminya. Menjadi pengepul katanya tidak selalu untung. Yang penting, ketika ada keuntungan harus pandai mengaturnya. Kadang, kalau nelayan binaan tidak punya uang untuk melaut, dirinya ikut membantu modal. “Itu harus, kalau tidak, dari mana penghasilan saya. Biasanya saya bantu modal Rp 20 ribu untuk setiap perahu, paling tidak mereka bisa beli solar. Atau kalau motor kapal rusak, kadang saya juga memberi pinjaman,” katanya. Selama 25 tahun di ‘bidang’ ini membuat Sarwinah jadi trampil mengolah keuangannya. Itu sebabnya, meski terkadang rugi jutaan rupiah, tidak membuatnya kapok. Bisnisnya adalah ‘seni’ mengolah uang dan membaca peluang. Meski usianya sudah uzur, janda dua anak ini mengaku masih mampu menjalani bisnisnya. Bahkan dia berhasil mengembangkannya dengan membeli dua buah kapal yang kini disewakan kepada orang lain. –Diana Runtu

D

itemui saat grand opening The ­Sanctoo Villa, di Jalan ­Singapadu, Br. Seseh, Gianyar, Gek Hana begitu antusias menceritakan bagaimana tantangan dalam mengelola vila. Gadis kelahir­ an 20 Juli 1990 ini, tak menampik sebagai pebisnis pemula, perlu ba­ nyak belajar. Dengan prinsipnya, se­ lalu ingin belajar hal baru ia merasa tak perlu ada yang diragukan. Ia bisa belajar dari sang ayah, AA Gde Putra, seorang pebisnis andal yang sudah membesarkan Bali Zoo dan sang kakak AA Gede Lesmana Putra, yang kini juga diberikan kesempat­ an ayahnya ikut bergabung dalam manajemen Bali Zoo.

Putri pasangan AA Gde Putra dan AA Ayu Mayudari ini, menuturkan, selama ini untuk belajar bisnis ia banyak membaca buku bisnis pem­ berian sang ayah. Memang terlintas dalam benaknya suatu hari ia tertarik juga sekolah bisnis. Saat ini, tentu sebagai langkah awal, ia harus tahu bagaimana mengelola SDM. Belajar dari kepemimpinan sang ayah, ia ingin lebih mendekatkan diri kepada staf, dengan sistem kekeluargaan, dan tidak membedakan satu sama lain. Ia juga membangun relationship keterbukaan dengan staf, sehingga diskusi dan memberikan kesempatan kepada staf untuk menyampaikan pendapat, adalah kiatnya dalam memimpin. “Bapak juga sering mem­

beri saran, pemimpin harus selalu open mind dan tidak kaku,” tutur Gek Hana. Gek Hana baru dua tahun lulus sebagai dokter. Saat ini, ia dipercaya bekerja se­bagai dokter klinik, salah satu hotel di Ubud. Ketika ditanya, mengapa ia tertarik menjadi dokter, padahal ayahnya seorang pebisnis, Gek Hana tersenyum simpul. “Saya menjadi dokter tidak melihat dari segi materi. Profesi dokter untuk melayani masyarakat. Dalam pikiran saya dulu waktu kecil, dokter itu seorang penyelamat dan pahlawan, sehingga saya tertantang untuk bisa menjadi dokter,” katanya. Ia berkisah, ketika masa menjadi co-as, ia merasa sangat bahagia. Ia bisa membantu orang lain, memban­ tu orang yang sakit menjadi sembuh, membuat orang yang sedih menjadi bahagia, ia merasa mendapatkan suatu kepuasan. Dalam pandangan­ nya, dokter di Indonesia, dari segi penghargaan masih kurang, beda dengan dokter di luar negeri. Karena itu, tak ada salahnya juga, ia belajar bisnis, walaupun itu bisnis keluarga, untuk masa depannya. Gek Hana sangat ingin melan­ jutkan studi dokternya ke jenjang spesialis kulit. Karena ia punya ki­ sah yang menyedihkan sebelumnya dengan wajahnya. “Wajah saya dulu penuh jerawat yang sangat bandel. Sudah diobati kemana-mana tidak sembuh. Sampai-sampai saya malu dan tertekan. Akhirnya, sampai berobat ke luar negeri untuk bisa mengembalikan kemulusan wajah saya. Karena itu, saya tertarik ambil spesialis kulit. Semoga bisa segera ya,” kata Gek Hana. Walaupun, ada keinginan melan­ jutkan studi, ia tak khawatir dengan urusan vila. Saat ini, jam kerjanya, sebagai dokter mulai pukul 09.00

Pemotongan pita saat grand opening The Sanctoo Villa yang dilakukan AA Diah Haswani didampingi orangtuanya dan manajemen The Sanctoo Villa

The Sanctoo Villa

sampai 15.00. Kemudian, ia langsung menuju The Sanctoo Villa. Kadang, ia di vila sampai malam. Bagi Gek Hana, mumpung masih muda, ia sangat antusias melakukan banyak hal. Lokasi vila juga sangat dekat dengan rumahnya, sehingga ia hanya berjalan kaki untuk bisa ke sana. Walaupun baru dibuka resmi tanggal 23 Maret 2016, The Sanctoo Villa sudah beroperasi sejak Desem­ ber tahun lalu. Vila yang memiliki 12 privat villa, yang terdiri dari 8 Garden View dan 4 River View ini berkonsep mengutamakan kelestarian alam dan budaya Bali, sesuai dengan konsep agama Hindu, Tri Hita Karana. Saat berkeliling villa, banyak hal kecil yang diperhatikan Gek Hana. Mulai dari tanaman yang layu dan belum disiram. “Karena konsepnya alam, otomatis saya harus memper­ hatikan kebersihan dan kesegaran tanaman setiap hari. Sampai sejauh ini sudah tiga bulan berjalan, staf di vila sangat kooperatif,” kata Gek Hana. Bagi AA Gde Putra, mengajarkan anak-anaknya bisnis semua dengan cara yang pelan-pelan. Prinsipnya, Tut Wuri Handayani. Ia tak lang­ sung melepas begitu saja, ia tetap mendampingi sampai ia merasa sudah siap melepas dan mandiri. “Anak saya pertama pegang di usaha ­h olding, anak kedua ikut di Bali

Zoo, dan anak ketiga Hana, saya beri ngurus villa. Saya berharap, kedua kakaknya, membantu Hana belajar bisnis, walaupun dia dokter. Saya yakin, semua ilmu bisa dipela­ jari. Saya anjurkan anak-anak rajin mengikuti seminar bisnis baik di dalam maupun luar negeri untuk menambah wawasan mereka,” kata AA Gde Putra. AA Gde Putra menambahkan, pada dasarnya ia selalu memberi semangat kepada putra-putrinya da­ lam berbisnis. Prinsipnya, tak boleh berhenti untuk belajar. Untuk berbagi ilmu cara memimpin, tiap pagi, AA Gde Putra, pasti menyempatkan diri berbagi dengan putra-putrinya. “Selalu saya tekankan, sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri kita sendiri. Kita harus bisa menyeimbangkan logika dan emosi. Saya punya pe­ ngalaman dan spirit, itulah yang saya bagi kepada ­mereka,” kata AA Gde Putra. Keinginan Gek Hana melanjut­ kan studi ke spesialis juga sangat di­dukung AA Gde Putra. Baginya, semua ilmu ada kaitannya. Ter­ gantung kita, memandangnya dari mana. “Saya yakin, semua ilmu bisa disinergikan. Saya beri kesempatan anak-anak mencari mimpi-mimpi yang lain,” kata AA Gde Putra. -ast


4

Inspirasi

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Zaskia Sungkar

Pada tahun 2025 mendatang, Pemerintah Indonesia ingin mencapai World Class Good Governance. Karena itulah reformasi birokrasi yang tertuang dalam nawacita menjadi salah satu prioritas penting dalam pemerintahan Joko Widodo saat ini. Inovasi yang terusmenerus penting ditingkatkan untuk mewujudkan hal tersebut.

H

D

MODAL DUA MESIN JAHIT Dulu Zaskia mengira bisnis pakaian yang dikelolanya sama dengan bisnis lain miliknya yang bisa dikerjakan bersamasama. Tapi ternyata, tidak. Pasalnya, bisnis yang dimulainya dengan modal tidak ban-

Foto: kapanlagi.com

Kini para pencinta sinetron tanah air menjadi semakin jarang melihat Zaskia Sungkar beradu akting di layar kaca. Sebaliknya, wanita 25 tahun kini justru lebih banyak dibicarakan terkait kiprahnya di dunia fashion. Apalagi meski sebagai pemula, istri aktor Irwansyah ini berhasil mencatat kesuksesan di bisnis barunya itu hanya dalam tempo relatif singkat.

ia memulainya di tahun 2012 dan hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membuat bisnisnya menjadi besar dan melanglang ke mancanegara. Bahkan kini ia telah beberapa kali tampil dalam fashion show besar seperti London Fashion Week 2016 dan New York Fashion Week 2015 . “Aku sekarang lagi fokus di fashion. Ini tidak bisa disambi,” ujar Zaskia yang banyak menolak tawaran main sinetron dan FTV lantaran ingin fokus pada bisnis barunya ini. “Aku masih harus banyak belajar, nambah ilmu, ikut short course, dll. Ini bisnis yang nggak diduga-duga ya. Alhamdulilah mendapat respon yang bagus dari masyarakat,” ungkap Zaskia yang ditemui di bilangan Senayan, Jakarta. Semua ini, tutur wanita kelahiran 22 Desember 1990, ini, berawal dari hobinya melakuan mix and match pada pakaian yang dikenakannya. Hasil kreasinya itu kerap dia pamerkan melalui foto-foto yang diupload di medsos miliknya. Respon positif yang diterimanya dari para fans juga followernya membuat

21

Pemprov NTB Temukan Arsip dalam 3 Menit

Bisnis Fashion yak hanya dua mesin jahit dan beberapa penjahit, berkembang dengan cepat. Bahkan ia kewalahan karena pesanan terus berdatangan. “Aku sempat kaget. Pesanan terus berdatangan, sementara penjahit tidak banyak. Aku pusing banget, tapi senang karena ternyata responnya luar biasa,” katanya. Jadi kalau dulunya dia memulai hanya memproduksi selusin baju setiap hari, dengan perkembangan pesat ini, kini setiap hari ia memproduksi paling sedikit 100 potong setiap harinya. “Aku jadi makin sibuk karena semuanya harus aku yang ngurus sendiri. Mungkin orang melihat ini (bisnis) gampang ya, padahal nggak gampang lho, pusing malah. Ini bisnis yang nggak bisa disambisambi. Aku nggak bisa nyuruh orang lain, jadi aku harus bikin sendiri,” kata pelantun tembang ‘Keajaiban Cinta’. Bakat berbisnis Zaskia ini mulai terlihat menonjol sejak ia menikah dengan aktor Irwansyah pada 2011 lalu. Sebelumnya ia bersama adiknya Shireen Sungkar membangun TK Khalifah di Bintaro.Tapi setelah menikah Zaskia justru terlihat sangat sibuk berbis-

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Penganugerahan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016

Meroket dengan anak pasangan Mark Sungkar-Fanny Bauty, ini, semakin bersemangat. “Sejak dulu aku suka fashion dan selalu mengamati perkembangannya. Trus aku juga suka mix and match. Banyak yang suka. Kebetulan aku juga suka menggambar sejak kecil, jadi aku pikir kenapa nggak desain sendiri aja pakaian yang aku kenakan, jadi aku mulai desain dan pakai kreasi aku. Ternyata responnya bagus,” papar vokalis The Sisters ini. Berdasarkan respon-respon positif yang diterimanya itulah muncul ide untuk membuka bisnis pakaian muslim. Tapi ia sempat ragu karena saat itu kesibukannya sudah cukup tinggi mulai dari syuting sinetron, hingga mengelola bisnis production house bersama suaminya. Di sisi lain ia tak mampu menolak passion yang sudah lama terpendam di bidang fashion. “Sebenarnya dulu aku kepengen jadi stylist tapi nggak kesampaian, ehh sekarang malah jadi desainer,” kata Kia—sapaan akrab Zaskia--- yang memulai bisnis fashionnya tahun 2012 dengan brand HF (Hijabi Fashionista) by Zaskia Sungkar.

Mandalika

Zaskia Sungkar

nis, mulai dari bisnis production house, hingga menangani bisnis e-commerce woku woku bersama sang suami. Di antara itu ia mulai merintis bisnis pakaian. Ternyata justru di bisnis fashion ini lah Zaskia tampak menonjol. Karier akting yang mulai ditekuninya sejak 2007 perlahan ditinggalkannya. Begitu juga kiprahnya di bidang menyanyi perlahan menjadi semakin jarang. Menurut Zaskia, bukannya ia tidak suka lagi dengan akting maupun m enyanyi nam un memang waktu yang dimilikinya sangat terbatas, sementara bisnis fashion yang sedang dirintisnya sangat membutuhkan penanganan full darinya. “Bukan aku nggak suka lagi, aku suka keduanya, akting dan menyanyi. Tapi waktu aku terbatas. Apalagi untuk akting, kayaknya benarbenar susah. Waktunya berat (sangat menyita waktu) dan menguras tenaga, sampai-sampai kita tidak punya kehidupan lain karena Zaskia bersama adiknya Shhireen Sungkar di acara Pop Awards syuting bisa sampai

pagi. Kayaknya masa-masa itu sudah tidak bisa lagi deh,” ungkap Kia yang kini memiliki butik di 13 kota dan beberapa di luar negeri. Sementara bisnis fashion yang kini digelutinya meskipun terasa capai tapi ia merasa enjoy dan bahagia. Apalagi melihat bisnis bisa tumbuh pesat diluar dugaannya. Fashion busana muslim yang ditekuninya saat ini, kata Zaskia, memiliki prospek yang bagus. Di luar negeri sambutan terhadap fashion busana muslim Indonesia sangat bagus. Karena itu ia merasa optimis suatu saat Indonesia akan menjadi kiblat mode busana muslimah dunia. Ia mengaku akan berusahakonsisten mengangkat kain-kain tradisionil berbagai daerah ke panggung fashion. Itu sebabnya dalam berbagai rancangannya ia kerap mengangkat kain-kain daerah, khususnya untuk event-event internasional. Seperti misalnya di London Fashion Week lalu, ia mengangkat batik dodotan dan tenun songket. “Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yang harus kita promosikan ke luar negeri,” katanya. Zaskia merasa bersyukur kiprahnya ini mendapat dukungan penuh dari sang suami yang bukan saja kerap hadir dalam berbagai event yang diikutinya tapi juga menjadi tempatnya bertukar pikiran soal fashion. –Diana Runtu

al inilah yang melatarbelakangi digelarnya Penganugerahan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 dirangkai dengan acara simposium dan gelar inovasi pelayanan publik nasional tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB )RI yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tanggal 31 Maret hingga 2 April 2016. Mengangkat tema, “Melalui Inovasi Pelayanan Publik Mewujudkan Pelayanan Prima, serta peluncuran buku TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 yang diserahkan oleh Deputi Pelayanan Publik kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, gelar inovasi pelayanan publik diisi oleh 99 stand dari instansi pemerintah. Pada ajang TOP 99 Inovasi Pe-

layanan Publik Tahun 2016 ini, Pemerintah Provinsi NTB berhasil meraih prestasi dengan nominasi berhasil menemukan arsip dalam waktu tiga menit. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi , ME kepada Asisten III Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H . Lalu Syafii, MM di Jx Internasional (Jatim Expo) Surabaya. Pada gelar 99 TOP inovasi pelayanan publik tahun 2016 ini terdiri dari enam kategori, yaitu Inovasi Kementerian, 5 Inovasi Lembaga, 25 Inovasi Provinsi, 40 Inovasi Kabupaten, 13 Inovasi Kota, dan 5 Inovasi BUMN. Inovasi Temukan arsip dalam 3 menit yang diinisiasi oleh H. Amiruddin yang bekerja sebagai Kepala Bagian Ekspedisi dan Arsip pada Bagian Kesekretariatan dan Pengelola Data Elektronik (PDE) Biro Umum Setda NTB

Asisten III Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H . Lalu Syafii, MM, menerima penghargaan TOP 99 dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi , ME.

ini, NTB menang bersaing dengan 2.476 peserta dari seluruh Indonesia. Deputi Bidang Pelayanan Publik, Mirawati Sudjono, Ak., M.Sc. selaku ketua panitia menyampaikan salah satu tujuan dari penyelenggaraan simposium dan gelar inovasi pelayanan publik nasional tahun 2016 adalah mempromosikan pelayanan publik kepada masyarakat. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke tiga dari simposium dan gelar inovasi yang mana dari tahun ke tahun jumlah inovasi yang ikut berkompetisi terus bertambah. Untuk tahun 2016 ini ada 2.476 inovasi yang berkompetisi untuk meraih TOP 99. “Saya harap acara ini memberikan kenangan yang indah

Silaturrahim Gubernur NTB ke FGV

Gubernur NTB saat silaturahmi. Felda Global Ventures, (FGV), BUMN Malaysia yang membidangi kelapa sawit, dengan keluarga Tenaga Kerja Indonesia asal NTB yang bekerja di Malaysia

“Saling memberi kebaikan adalah kewajiban kita sebagai tetangga. Apa yg dilaksanakan FGV adalah contoh sebagai tetangga yang baik. Semoga hubungan ini bisa terus terjalin dan terjaga dengan baik”, ungkap Dr. TGH M. Zainul Majdi, Gubernur NTB saat menghadiri silaturrahim Felda Global Ventures, (FGV), BUMN Malaysia yang membidangi kelapa sawit, dengan keluarga Tenaga Kerja Indonesia asal NTB yang bekerja di Malaysia, beberapa waktu lalu. Gubernur juga mengajak semua tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, khususnya di Malaysia dapat menjadi duta NTB yang baik, artinya selalu menjalankan segala sesuatunya sesuai prosedur. “Ikuti sistem

yang ada, prosedur yang baik dan dapatkan izin sesuai proses yang benar. Segala sesuatu yang diawali dengan niat dan cara yang baik, pastinya akan membawa kebaikan juga,” katanya pada acara silaturrahim yang dirangkaikan dengan penyerahan zakat dari Felda Global Ventures kepada tiga Pondok Pesantren di wilayah Lombok, penyerahan santuan kepada 18 keluarga TKI NTB yang bekerja di Malaysia dan penyerahan asuransi kematian luar negeri untuk para keluarga TKI. Sebagai Gubernur, ia berharap warga NTB yang bekerja di Malaysia dapat dibina sebaik-baiknya, diberi haknya dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Harapan tersebut disampaikan Majdi ke-

pada Duta Besar Malaysia untuk RI, Dato’ Seri Zahrain Mohammed Hashim dan Chief Executive Officer and President Felda Global Ventures (FGV), Dato’ Moh. Emir Mavani Abdullah pada acara yang juga dihadiri Duta Besar RI untuk Malaysia Herman Prayitno. “Saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia, sangat berkontribusi dalam pengembangan ekonomi, baik di Malaysia maupun Indonesia. Kontribusi ini adalah salah satu contoh yang baik dalam membangun hubungan Indonesia-Malaysia sebagai dua negara bertetangga,” katanya. Kunjungan dan silaturrahim ini dimaknai sebagai salah satu simbol dan ikhtiar dari kedua negara tetangga, yang membuka peluang dan kesempatan untuk berkolaborasi, kerjasama dan saling mengisi. Dato’Moh. Emir Mavani Abdullah menjelaskan tujuan lawatannya ini adalah untuk mengeratkan hubungan silarturrahim antara pihak perusahaan tenaga kerja Malaysia dengan keluarga pekerja di NTB, serta masyarakat setempat. Melalui lawatan ini, pihak FGV juga ingin mengucapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Gubernur NTB, yang masih mempercayakan warga NTB bekerja di ladangladang FGV Malaysia. Ia pun berharap, kerjasama pihaknya dengan NTB dapat meluas ke berbagai sektor lainnya. -Naniek I. Taufan

dan bermanfaat bagi kita semua,” ungkap Mirawati. Hal serupa juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur. “Dari jumlahnya saja yang 99 menunjukkan sesuatu yang istimewa sesuai dengan asmaul husna,” ungkap Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo, S.H, M.Hum., dalam sambutan selamat datangnya. Soekarwo mengatakan bahwa

peningkatan daya saing dapat dilakukan dengan gelar inovasi pelayanan publik seperti ini. Tiga kunci utama pelaksanaan pembangunan adalah SDM yang berkualitas, infrastruktur, dan pelayanan publik yang prima. Tujuan digelarnya kegiatan semacam ini adalah agar pelayan publik memiliki visi yang jauh ke depan dalam mencapai Reformasi Birokrasi. Tujuan lainnya dari kompetisi ini adalah mendorong lembaga pelayanan agar pelayan publik memiliki visi yang jauh ke depan dalam mencapai Reformasi Birokrasi. Juga mendorong lembaga pelayanan publik untuk terus berinovasi dan menjalin kerja sama antar lembaga atau pelayanan publik. “Jika kita tidak terus meningkatkan inovasi, maka kita tidak memiliki daya saing dalam era globalisasi ini,” ungkap Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi. –Naniek I. Taufan

Wujudkan Kedalatan Pangan Perwujudan kedaulatan pangan tidak bisa diraih dengan cara biasa, melainkan perlu upaya khusus (upsus) yang dilakukan berbagai pihak. Hal ini disampaikn oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ir. M. Herman Khairan pada kegiatan Panen Raya di Desa Gapok, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. “Kita menyambut panen ini tentunya dengan rasa optimis bahwa ke depan pangan kita tetap berdaulat dan tetap mandiri,” ungkap Herman. Ia meminta jika ada keluhan dan permasalahan yang dialami semua pihak terkait hal ini, termasuk petani untuk sesegera mungkin disampaikan, terutama kepada Komisi IV DPR RI. Panen raya yang dilakukan di Lombok Barat ini merupakan realisasi tanam tahun 2016 dengan jumlah luas lokasi tanam sekitar 20 hektar dengan hasil delapan ton. “Kami mengharapkan support dari pemerintah pusat sehingga apa yang menjadi cita-cita kita yaitu swasembada pangan nasional dapat terwujud,” ungkap Plt. Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. Sebagai salah satu daerah penyanggah pangan nasional, pembangunan bidang pertanian di Nusa Tenggara Barat terus ditingkatkan. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan masyarakat petani di wilayah NTB begitu gigih dan kuat dalam membangun pertumbuhan hasil pertanian daerah ini. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya hasil pertanian dari tahun ke tahun, bahkan dapat diserap secara nasional oleh Bulog. “Ini adalah gambaran kecil bahwa kegigihan dan kesungguhan dari para petani sangat kuat. Tinggal bagaimana mendapatkan dukungan dari pemerintah,” ujar Majdi. Gubernur menyampaikan dukungan penuh atas upaya dan aktivitas petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan, salah satunya adalah dengan memberikan fasilitas pertanian yang dibutuhkan para petani. -Naniek I. Taufan

Panen raya di Lombok Barat


20

Nine

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Nyanyu Ernawati

Habiskan Waktu di Rumah Sakit

“Selamat siang rekan-rekan terkasih, mohon bantuannya donor darah untuk adik Putri Syahrani, mengidap gizi buruk dan anemia berat. Golongan darah B+ saat ini lagi dirawat di RSUD Kota Mataram. Bagi rekan-rekan yang dapat membantu bisa langsung ke PMI. Terima kasih”.

I

ni adalah salah satu dari banyak pesan-pesan sosial yang kerap disebar oleh Nyayu Ernawati, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram lewat media sosialnya untuk membantu anak-anak tidak mampu yang tengah sakit dan membutuhkan pertolongan. Berbagai kasus anak yang ditemukannya di Kota Mataram yang sampai ke komunitas anakanak peduli di Dewan Anak dan LPA Kota Mataram yang dibina dan diketuainya, informasinya selalu dibagi untuk menumbuhkan rasa peduli dan perhatian semua pihak terhadap kesulitan-kesulitan yang menimpa anak-anak. Begitulah, sejak dulu saat menjadi Anggota DPRD Kota Mataram dan lebih lagi saat ini, Nyayu banyak menyisihkan waktunya untuk memberi perhatian bagi anak-anak kurang mampu, anak-anak kurang beruntung dan anak-anak yang

membutuhkan uluran tangan, khususnya yang berada di Kota Mataram. Perhatiannya pada perlindungan serta pemenuhan hak-hak anak cukup besar. Dan perhatian ini oleh Nyayu juga ditularkan pada anak-anak yang tergabung dalam Dewan Anak dan LPA Kota Mataram. Bersama 15 orang “pasukannya” di komunitas ini, setiap hari Nyayu sibuk dengan berbagai urusan dan kasus-kasus anak. Setiap hari, Nyayu dan anakanak binaannya ini berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk mengurus anakanak yang tengah sakit. Inilah yang membuat akhir-akhir ini, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit-rumah sakit, seperti RSU Provinsi, RSUD Kota Mataram atau RS Jiwa Selagalas. Juga di Rumah Pemulihan Gizi Kota Mataram di Ampenan. Aktivitas membantu anak-anak

kurang mampu yang sakit seperti ini mengharuskan ia dan timnya tidak jarang harus mengurus mereka mulai dari rumah tinggalnya, ke puskesmas hingga membawanya ke rumah sakit atau rumah sakit jiwa untuk berobat lebih lanjut. Tidak itu saja, bahkan sampai pada soal dokumen-dokumen RT hingga desa untuk kebutuhan perawatan pun tak jarang harus mereka urus juga. “Anak-anak (relawan) ini juga bahkan harus sampai menunggui, mengurus, memandikan, memberi makan hingga menceboki anak-

anak yang sakit selama dirawat di rumah sakit ketika keluarga yang sakit tidak peduli,” ujar Nyayu. Menurutnya, masih ada keluarga yang tidak peduli dengan kondisi keluarganya yang sakit seperti ini. Maka tugas tersebut mau tidak mau dijalani oleh anak-anak sukarelawan ini. Tidak itu saja, mereka juga turut mengetuk hati masyarakat untuk memberikan sumbangan biaya pengobatan bagi yang membutuhkan khususnya yang dirujuk hingga ke rumah sakit di luar NTB. Dan sumbangan-sumbangan yang masuk langsung diserahkan kepada

keluarga yang berhak. Mulianya hati para sukarelawan yang dijulukinya sebagai TRG (Tim Reaksi Gila) ini, kerap membuat Nyayu terharu. “Mereka begitu ikhlas membantu anak-anak yang membutuhkan, tanpa pernah mengeluh,” katanya. Bagaimana tidak, julukan TRG yang diberikannya pada tim ini karena mereka bukan hanya lekas dalam merespons kondisi seperti ini melainkan juga mereka tidak mengenal ruang dan waktu dalam bekerja membantu anak-anak yang membutuhkan. –Naniek I. Taufan

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Mulai Rp 12 Juta bisa punya Atta Labeji Villas di Ubud Bali Diberlakukannya MEA, menjadi dua sisi mata uang bagi Indonesia, Bali khususnya. Pada sisi investasi, kondisi ini menjadi angin segar bagi para investor asing untuk berinvestasi dan menguasai tanah Bali. Dulu, hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa menjadi investor (owner) villa. Namun saat ini, peluang menjadi investor maupun owner (pemilik) villa terbuka lebar bagi masyarakat Bali, yang sekaligus menjadi “penyelamat tanah Bali” dengan menjadi tuan di tanahnya sendiri. Adalah Made Robert, seorang pebisnis sukses, motivator, owner, pendiri sekaligus konseptor PT Mesari Land yang telah sukses mensejajarkan masyarakat lokal dengan investor asing, serta mengembalikan peran orang Bali untuk menjadi “tuan” di tanahnya sendiri dengan proyek Villa Mesari, kini melalui BOS Land a Subsidiary of MESARI Land menghadirkan 2 jenis villatel, yakni villatel berbasis kerakyatan dan villatel unitan. Villatel berbasis kerakyatan ini mengusung konsep mepatung. “Dengan konsep mepatung, mulai dengan Rp 12 juta, masyarakat Bali sudah bisa memiliki unit Atta Labeji Villas yang berlokasi di kawasan ekso-

Atta Labeji Villas

tis, Desa Kenderan, Ubud, Bali,” ujar Komisaris Utama BOS Land, Ni Made Ayu Dewi Saraswati. 100% Uang Kembali Apa saja yang didapat dari Rp 12 juta tersebut? Sang konseptor, Made Robert menjelaskan banyak keuntungan yang didapat. Di antaranya, uang pembelian lot akan dikembalikan 100% di tahun ke-10. “Ini hanya berlaku bagi pembelian di awal hingga 25 april 2016. S e te l a h i t u , p e n g e m b a l i a n uang 100% tersebut dilakukan di tahun ke-11,” ucap Ni Made Ayu Dewi yang sekaligus bertindak sebagai Marketing & Communication of Atta Labeji Villas.

Keuntungan lainnya yang didapat dengan berinvestasi di Atta Labeji Villas adalah; mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan

Hanya Rp 325 Juta bisa punya Atta Selong Villas di Lombok (Sertifikat Hak Milik)

Atta Selong Villas

Aktivitas Nyayu bersama sukarelawan anak yang dibangun dengan rasa cinta.

Semua yang Tak Mungkin jadi Mungkin “Tidak peduli waktu, siang atau malam, di mana pun tempatnya, mereka siap membantu, “ ujar Nyayu yang selalu menanamkan cinta kasih dan sayang pada para sukarelawan yang siap setiap saat bekerja bersamanya ini. Oleh Nyayu, anak-anak ini diasah kepekaan dan cinta kasihnya untuk ikhlas menjadi sukarelawan dalam kerja sosial seperti ini. “Dengan cinta, semua yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin,” katanya. Kasus yang ditangani sangat banyak mengingat komunitas membuka hotline informasi 24 jam yang disebar

di lingkungan-lingkungan se-Kota Mataram. Beruntungnya, untuk kelancaran aktivitas membantu anak-anak kurang mampu ini, Nyayu dan para sukarelawan telah mendapat bantuan sebuah mobil dari Pemerintah Kota Mataram yang diberi nama Mobil Sahabat Anak untuk operasional tim ini. “Mobil ini kami pakai untuk menjemput dan mengantar anak-anak ke rumah sakit juga untuk mengurus kebutuhan mereka,” ujar Nyayu yang saat menjadi Anggota DPRD Kota Mataram (tahun 1999-2014) pernah menggunakan mobil fraksi untuk misi yang sama.

Begitu pula dengn mobil pribadinya. Mobil tersebut ia beri nama ambulan untuk rakyat. Bersama anak-anak ini pula, Nyayu berusaha keras mengembalikan anak-anak putus sekolah ke bangku sekolah. Tidak kurang dari 300 anak telah mereka kembalikan ke bangku sekolah. Salah satunya Mahsan, anak jalanan yang baru-baru ini akhirnya mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Mataram. Bersama anak-anak ini juga Nyayu mengumpulkan buku dalam Bank Buku LPA Mataram untuk dibagikan kepada perpustakaan-perpustakaan yang dikelola bagi kepentingan sosial. -Naniek I. Taufan

5

Direktur Utama BOS Land, Made Robert menyampaikan, kini BOS Land juga memiliki villatel unitan yang berlokasi di Kelusa, Ubud, dan di Selong Belanak Lombok. “Jadi, semeton Bali yang memiliki dana lebih bisa berinvestasi di Puri Kelusa Villas & Resort, Ubud atau di Atta Selong Villas, Lombok,” jelas Ni Made Ayu Dewi. Atta Selong Villas adalah salah satu akomodasi mewah di daerah perbukitan Selong Belanak yang menawarkan keindahan alam Selong Belanak dan kenyamanan bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana alami dan tenang. Nikmati pemandangan pantai pasir

Made Robert dan Ni Made Ayu

putih menakjubkan dari Pantai Selong, lingkungan yang masih alami di perbukitan Selong Belanak, Lombok. Selong Belanak dapat dijangkau 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Lombok di Praya, mudah dicapai dengan penerbangan reguler dari Bali, Jakarta, Singapura , dan Kuala Lumpur. Apa yang didapat dari Rp 325 juta? Keuntungan yang didapat adalah: Garansi penghasilan selama pembangunan 0,5% per bulan selama 2 tahun (transaksi tunai), ROI Guarantee 18% untuk 2 tahun sejak Atta Selong Villas resmi beroperasi (tahun ke-3 dan seterusnya fluktuatif mengikuti untung bersih dari Atta Selong Villas), Bagi hasil dari untung bersih mulai akhir tahun ke-3 sebesar 70% investor pemilik villa & 30% operator, Garansi beli kembali 130% pada tahun ke-5 (transaksi tunai), Perabotan lengkap di villa (fully furnished), Free maintenance & service charge, Free stay 21 point per tahun, Sertifikat Hak Milik (SHM), Reward buyer (transaksi tunai), liburan gratis ke Eropa, Grand Prize (diundi saat grand opening Atta Selong Villas), 2 Hektare hutan jabon, Umroh/Liburan/ Tirtayatra.

setiap 6 bulan selama 23 tahun, komisi 10% setiap mengajak tamu ke Atta Labeji Villas, tergabung dalam komunitas “Atta Labeji Investor Club” yang tentunya akan memperluas jejaring, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenang-

kan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor pun telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris. –ten

Mini gathering investor Atta Labeji Villas di Restaurant Mesari Villas

Miliki Puri Kelusa Villas & Resort di Ubud Bali hanya dengan Rp 600 Juta (Sertifikat Hak Milik) Kunjungan wisatawan ke Bali selalu meningkat tiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka lebih tertarik menginap di villatel. Kondisi ini menjadi kesempatan yang luar biasa untuk berinvestasi di villatel. Para wisatawan kini tak lagi mencari lokasi yang dekat dengan keramaian, namun lebih memilih lokasi yang eksotis, tenang dan nyaman. Ubud terkenal di antara para wisatawan di mancanegara karena lokasinya yang banyak dengan persawahan dengan nuansa perdesaan. ​Puri Kelusa Villas & Resort adalah tempat yang tepat untuk berinvestasi di villatel. Villa bernuansa kehidupan tradisonal pedesaan Bali yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana (keep the harmony and balance between human to God, human to human & human to environment). Dibangun di atas tanah seluas 2 hektare di Kelusa, Ubud–Bali, dikelilingi sungai yang masih asri bak pulau di tengah danau dengan suara gemericik airnya, dikelilingi sawah yang hijau dan rerimbunan pohon. Miliki Puri Kelusa Villas di Ubud, Bali hanya dengan Rp 600 juta. Benefit Memiliki Puri Kelusa Villas & Resort adalah : Garansi penghasilan selama masa pembangunan 0,5% per bulan selama 2 tahun (transaksi

tunai), ROI Guarantee 18% untuk 2 tahun semenjak Puri Kelusa Villas & Resort beroperasi (tahun ke-3 dst. fluktuatif mengikuti untung bersih dari Puri Kelusa Villas & Resort), Bagi hasil dari untung bersih mulai akhir tahun ke-3 sebesar 70% untuk investor (pemilik villa) & 30% untuk operator villa (Puri Management International), Garansi beli kembali 130% di tahun ke-5 (transaksi tunai), Perabotan lengkap di villa (full furnished), Free maintenance & service charge, Free Stay 21 point per tahun, Sertifikat hak milik (SHM), Reward buyer (transaksi tunai keras), Grand Prize diundi saat grand opening Puri Kelusa Villas & Resort (2 hektare hutan jabon, umroh/ tirta yatra/liburan ke luar negeri).

Unit Terbatas!

Hubungi Marketing Sebelum Harga Naik BOS LAND Jln. Tukad Pakerisan 79, Panjer, Denpasar – Bali 0361 4723 260, 0822 4736 5888, 0878 6199 9658 www.bosland.id Email: cs@bosland.id, bos.land99@gmail.com

Puri Kelusa Villas & Resort


6

Woman on Top

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Panen Raup Rp 100 Juta

Siapkan Sanksi bagi yang Poligami

S

uasana balai banjar Penglipuran tampak santai namun serius. Peserta yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar bersama masyarakat Penglipuran mendengarkan ceramah yang disampaikan Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H., M.Si, dosen Hukum Adat Bali Universitas Udayana. Ceramah ini bertajuk “Meningkatkan Kualitas Peran Perempuan Bali dalam Keluarga dan Masyarakat”. Prof. Windia mengawali dengan menjabarkan perempuan dan laki-laki itu berbeda karena seks (jenis kelamin) dan karena peran atau fungsinya dalam keluarga dan masyarakat. “Perbedaan perempuan dan laki-laki karena seks (jenis kelamin), disebut perbedaan kodrati (biologis atau alamiah). Perbedaan perempuan dan laki-laki karena perannya dalam keluarga dan masyarakat, yang muncul karena konstruksi (dibangun) oleh masyarakat

dikedepankan, peran perempuan dipinggirkan (dirugikan). Sebaliknya apabila perempuan yang lebih kuat, peran perempuan yang dikedepankan, peran laki-laki diabaikan (dirugikan). Ketimpangan peran seperti digambarkan di atas, dikenal dengan bias gender atau ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender terjadi mungkin karena tafsir agama yang disebut gender. Peran yang dikon- keliru, budaya atau tradisi setempat, struksi masyarakat, sangat mungkin dll. Bentuk-bentuk ketidakadilan merugikan salah satu pihak (laki-laki gender, antara lain marginalisasi, atau perempuan), tergantung pihak subordinasi, stereotype, kekerasan, dan beban kerja berlebih. mana yang lebih kuat,” jelasnya. Mengenai peran perempuan Bali Apabila laki-laki yang lebih kuat, maka peran laki-laki yang dalam keluarga dan masyarakat, Prof Windia mengatakan perempuan Bali dapat berperan dalam berbagai aktivitas keluarga dan masyarakat, seperti halnya laki-laki Bali, sepanjang dimungkinkan secara kodrati dan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat Bali Ia juga menjelaskan kualitas peran perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat perlu ditingkatkan agar potensi yang dimiliki perempuan Bali dapat dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan Lokasi penunjuk Karang Memadu yang berada masyarakat. “Agar podi sebelah Selatan desa adat Penglipuran

Aroma Pindang Penggugah Selera Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar yang terletak di Desa Tanjung Luar, Keruak Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di Lombok. Ikan dan hasil laut asal Keruak juga terkenal gurih, demikian pula dengan pindang ikan yang dibuat oleh para perempuan di kampung nelayan ini. Ketika pagi tiba, kampung nelayan ini riuh

oleh hiruk pikuk suara nelayan dan para pekerja pengangkut ikan. Di sela-sela deburan ombak yang menghantam dermaga, para nelayan berbaur dengan masyarakat yang asyik bertransaksi di pasar sekitarnya. Di pelelangan ikan ini, kesibukan aktivitas nelayan tampak beragam. Sekelompok perempuan mengerubuti perahu-perahu nelayan yang baru saja tiba. Dengan bakul dan ember besar, para perempuan pesisir ini menanti ikan-ikan hasil tangkapan nelayan untuk mereka jual. Selain itu, di sudut lain pelelangan ikan ini, ada yang tengah memotong-potong ikan berukuran besar, beragam hasil laut lain dibelah dan dipilah-pilah. Sedangkan para pembuatan pindang berjibaku dengan asap yang mengepul dari tungku-tungku tradisional milik mereka. Ada pula para penjual dan pembeli ikan yang datang dari berbagai desa maupun kabupaten lain di Pulau Lombok, saling menawar satu sama lain. Melihat kehidupan pagi itu di sini, serasa tengah

Aktivitas perempuan penjual ikan di kampung nelayan Tanjung Luar

19

Budidaya Cacing

Lindungi Perempuan Penglipuran

Desa Wisata Penglipuran, Bangli dikenal se­ bagai desa yang unik. Angkul-angkul rumah ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan asri. Kebersihan desa ini bahkan mendapat predikat tiga besar desa wisata terbersih di dunia. Sistem ke­ masyarakatannya juga unik. Bagi laki-laki yang ingin ­poligami, bersiaplah menerima sanksi.

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Melihat peluang pasar yang sangat menjanjikan, seorang warga Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, budidaya cacing di kawasan perbukitan lereng Gunung Lawu. Karena ketekunannya itu, ia berhasil membudidayakan tiga jenis cacing yakni cacing Lumbrikus Rubellus, Lumbrikus African, dan Robicus Tiger.

I

Suasana desa adat Penglipuran

tensi yang dimiliki perempuan Bali dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketidakadilan gender. Agar potensi yang dimiliki perempuan Bali dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang muncul pada era globalisasi,” tandas guru besar yang identik dengan udeng dan saput poleng ini. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat, Prof Windia mengatakan bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, dan pendapatan perempuan Bali, meningkatkan kualitas partisipasi perempuan dalam keluarga dan masyarakat (partisipasi tanpa capek dan lapar), serta mengurangi tingkat frustasi perempuan Bali pada waktu menghadapi masalah (mengurangi sikap ngambrés dan meningkatkan sikap ngales). Sementara itu Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Supat mengatakan Desa Adat Penglipuran sejak dahulu sudah membuat aturan yang bertujuan melindungi perempuan. “Di awig-awig kami ada aturan krama yang punya istri lebih dari satu atau melakukan poligami menda-

pat sanksi. Sanksi berupa tinggal di Karang Memadu. Lokasinya berada di Selatan Desa. Namun, sampai saat ini, belum pernah ada yang menempatinya. Ini artinya kaum laki-laki di Penglipuran sangat menghormati kaum perempuannya dengan cara tidak melakukan poligami,” ujar pria yang sudah menjadi Bendesa sejak tahun 1999 ini. Ia menambahkan, walaupun awig-awig dibuat oleh kaum lakilaki, namun tidak ada aturan yang merugikan kaum perempuan. Bagi mereka, perempuan harus diayomi dan dilindungi. Dengan memiliki satu istri, keharmonisan lebih terjamin sehingga kehidupan bisa sejahtera. Karang Memadu ini berupa lahan yang kini hanya ditumbuhi pepohonan. Jika ada warga laki-laki yang poligami, masyarakat menyiapkan rumah di Karang Memadu ini. Namun, warga yang tinggal di Karang Memadu ini akan kehilangan hak untuk mendapat ayahan desa. Masuk ke Pura pun tidak boleh. Bahkan, tidak boleh melewati jalan utama desa yang tertata rapi ini. Karena beratnya sanksi ini, tak satupun warga yang berani melanggarnya. –Ngurah Budi

Sudut Pandang

mengabadikan seluruh aktivitas masyarakat pesisir yang sibuk memasarkan hasil lautnya sebelum sampai ke piring-piring nasi Pembuatan pindang di TPI Tanjung Luar masyarakat dengan hari menghabiskan waktunya untuk membuat kandungan gizi yang sempurna Masyarakat yang pindang. Aroma pindang menggugah selera yang sibuk memenuhi kebutuhan hidupnya seharimerebak dari bagian Utara TPI inilah, sumber hari. Masyarakat yang mengais rejeki dari laut rejeki dari para perempuan pembuat pindang. dan pasar ikan tersebut. “Kami hidup dari hasil Di kampung nelayan ini, masyarakat menglaut dan pelelangan ikan ini,” ungkap Ani, salah gantungkan hidupnya dari hasil laut. Karena seorang warga asli Tanjung Luar. itulah, menurut Fuang Abbas, salah seorang Sejak kecil, anak nelayan yang kini bekerja tokoh masyarakat yang juga seorang nelayan di sebagai guru ini merasakan benar hidup dari hasil Tanjung Luar, kearifan-kearifan lokal khususnya laut. “Untuk biaya sekolah hingga kuliah, orang tradisi yang berkaitan langsung dengan menjaga tua kami mendapatkannya dari bekerja sebagai keseimbangan alam di laut masih tetap dilakukan nelayan, “ katanya. hingga kini. Salah satu kegiatan yang juga mengundang Salah satu tradisi tersebut adalah selamatan perhatian di TPI ini adalah pembuatan ikan laut. “Tradisi ini diselenggarakan sebagai wujud pindang Tanjung Luar, Keruak yang terkenal rasa syukur nelayan akan rejeki yang berasal dari enak dan gurih. Ikan asal Keruak selalu memiliki laut sebagai sumber kehidupan kami,” ungkap nilai lebih di mata ibu rumah tangga yang biasa Fuang Abbas. Dalam tradisi ini ada masanya berbelanja di pasar-pasar tradisional bahkan di nelayan dilarang melaut untuk membiarkan laut pasar-pasar tradisional Mataram. tenang selama beberapa hari. “Jika ada yang Para perempuan pembuat pindang yang melanggar, maka sanksi adat diberlakukan,” banyak berasal dari luar tanjung luar ini, tiap katanya. -Naniek I. Taufan

tulah Bambang, pria berumur 58 tahun ini dengan sabar dan tekun, terus membudidayakan cacing. Cacing-cacing itu, tiap dua atau maksimal tiga hari sekali diberi makan ampas tahu. Jika perlu pakan tambahan, ia memberinya sagu maupun gedebok pisang. Karena gedebok pisang bisa sebagai asupan sayuran. “Cacing-cacing ini, diberi makan dua hari sekali. Bisa juga maksimal 3 hari sekali. Pola pakan seperti itu, dapat menjaga kualitas cacing-cacing yang diharapakan,” ujar Bambang, seorang pengusaha peternakan yang juga Ketua Komunitas PT Novind. Menurutnya usaha cacing yang digeluti ini sudah berjalan sekitar 5 tahunan. Bahkan melalui Komunitas PT Novind, pihaknya mampu berkembang pesat yakni dengan cara menjalin kemitraan kerjasama dengan anggota komunitas yang jumlahnya kini mencapai 1.200 peternak cacing. Mereka tersebar di berbagai daerah. Ternak cacing yang banyak manfaat ini, tiap panen hasilnya sangat menggiurkan. Karena cacing banyak manfaatnya yakni untuk bahan dasar pembuatan obat, kosmetik hingga pakan ternak. Usaha cacing yang ditekuni ini, berawal dari keikutsertaanya sebagai komunitas peternak cacing di Malang, Jawa Timur. Dirasa pengetahuan soal budidaya cacing diperoleh sudah cukup, maka ia pun membuka lahan usaha di daerah Kabupaten Magetan. “Pertama kali memulai usaha ternak cacing, hanya membuka tiga kotak dengan modal 1 kotak per meternya sekitar 5 kg cacing,” paparnya. Lebih lanjut dijelaskan dari 3 kotak dengan ukuran masing-masing 3 x 14 meter itu, dapat menghasilkan sekitar 70 kg bibit cacing dengan harga Rp 60.000/kg. Cacing-cacing itulah yang dalam waktu 2 bulan, su-

Bambang

dah bisa dipanen dengan hasil kurang lebih Rp 6 juta. “Panen cacing dari kotak ukuran 3 x 14 meter ini, bisa

menghasilkan Rp 100 juta lebih yaitu dalam waktu 2 bulan. Ini, hasil yang sangat menggiurkan,” jelasnya. Bambang melanjutkan dengan cara membuat komunitas PT Novind, pihaknya bisa membuat home industry yang menghasilkan kopi Lumbrikus dan kapsul Lumbrikus. Untuk memenuhi target produksi tiap peternak dalam keanggotaan Komunitas PT Novind, diwajibkan setor minimal 20 kg cacing basah dengan umur 2 bulan dari mulai 0-hari. Bahkan tiap panen, suplai cacing basah dari setiap peternak untuk kebutuhan pabrik sendiri, sudah bisa tercukupi. Namun, untuk permintaan luar pabrik, seperti dari pabrik jamu Air Mancur, Sariayu, Pabrik di Lamongan maupun peternak binaan Bank Indonesia belum bisa dipenuhi. Cacing hasil budidaya komunitas PT Novind yakni berdasarkan hasil laboratorium, kandungan proteinnya mencapai 70%. Begitu juga dari hasil uji yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI), cacing hasil komunitas PT Novind telah memenuhi syarat. Maka dari hasil pemeriksaan itulah, PT Novind membuka jangkauan pemasaran sampai luar

Cacing hasil panen di kandang pembudidayaan cacing

Jawa seperti Madura. Sedangkan untuk Jawa Timur yakni meliputi Malang, Probolinggo, Sidoarjo dan Lamongan. “Bahkan sekarang ini, kami sedang membuka usaha budidaya cacing di daerah Pare Kediri dan Jombang. Namun sayangnya, kami belum bisa memenuhi permintaan perusahaan besar. Karena terkendala MoU, pihak pabrik besar itu meminta pasokan sebanyak 1,5 ton cacing bubuk. Sedangkan kemampuan kami, baru bisa panen 9 ton cacing basah dengan hitungan 6 kg cacing basah menjadi 1 kg bubuk cacing,” ungkap Bambang. Ia menambahkan diantara 1.200 anggota komunitas PT Novind, ada juga peternak yang panen cacing yakni dari bibit umur 0-hari hingga 1,5 bulan. Tapi, hanya beberapa pe-

ternak. Kebanyakan penen menunggu umur 2 bulan, karena kualitasnya bagus dengan panjang sekitar 12-15 cm. “Umur cacing 2 bulan ini, juga bisa dipanen. Namun hanya untuk benih,” ujarnya. Ia mengingatkan kepada semua anggotanya, agar memberi pakan yang berkualitas dan rutin sesuai aturan. Jika cacing yang dipelihara itu kekurangan pakan, maka akan berpengaruh pula pada hasil cacing yang dipanen kelak. Kekurangan pakan, cacing cenderung ke jenis Lumbricus Afrikan dan Robicus Tiger. Cacing dua jenis itu, hasil panennya tidak sebagus jenis cacing Lumbrikus Rubellus. Pakan yang diberikan peternak cukup, maka cenderung ke Cacing Lumbricus Rubellus,” tandasnya. -Ajun Ally

Kampoeng Lawas Maspati Pertahankan Budaya Suroboyo Warga penghuni gang V dan VI Kampoeng Lawas Maspati, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya berhasil mempertahankan budaya asli Surabaya. Budaya yang berhasil dipertahankan tersebut terdiri dari budaya kuliner, permainan rakyat dan bangunan tua peninggalan Belanda yang terdapat di kedua gang tersebut. Budaya asli baik kuliner dan permainan itu, sejak dua tahun terakhir ini diperagakan warga setempat setiap hari minggu. Atraksi ini ternyata mampu menggaet banyak wisatawan baik lokal maupun asing. Kegiatan yang diperagakan tersebut antara lain: kuliner kampung, area Sabar Suwastono

jajanan lawas dan handmade Kampoeng Lawas. Bentuknya antara lain mie lontong, sayur lode, bakso, semanggi Suraboyo,, martabak, sinom, sirup markisa, rujak cingur, cincau, jahe, lida buaya, blimbing dan semua ini hasil dari tanaman warga yang ditanam di pekarangan rumah warga sendiri. Sedangkan jenis permainan yang diperagakan antara lian dakon, engkle, bekel, lompat karet dan teklek (klompen). Peninggalan sejarah yang tetap diperlihara dengan baik antara lain rumah Raden Sumomiharjo, Pasarean Mbah Buyut Suruh, Sekolah Ongko Loro dan rumah buatan 1907. Sedangkan sowan ndeknya antara lain rumah daur ulang, area pembibitan, IPAL dan green house. Penampilan permainan dan penjualan kuliner ini dimeriahkan dengan penampilan musik patrol dan ojek ontel keliling kampung tersebut. Sumriyah, salah seorang warga yang sering menyediakan rujak cingur mengatakan pihaknya sudah belasan tahun menjual rujak cingur di depan gang tersebut. Pada hari minggu pembelinya sangat banyak dan mengaku kewalahan melayani wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata tersebut.

Sementara itu, Lukman, salah seLebih jauh Sabar Suwastono menorang warga kampung wisata tersebut jelaskan jumlah kepala keluarga di mengatakan semua orang yang mele- kedua gang ini sebanyak 350 dengan wati kedua gang tersebut baik warga jumlah penduduk sebanyak 1.350 jiwa. setempat maupun tamu, dilarang keras Dari jumlah ini sebanyak 10% lansia menaikan sepeda motor tetapi harus dan 20% pemuda dan anak-anak. Sedituntun dan jalan kaki. “Begitu melihat dangkan pekerjaannya sebanyak 40% ada tamu yang naik sepeda motor me- pegawai dan 30% pedagang. lintas di kedua gang ini, langsung ditegur Dijelaskannya, kegiatan seperti warga setempat,” ujar Lukman. ini sudah lama dilaksanakan warga Sabar Suwastono, Ketua RT 10 setempat namun sejak dua tahun silam menjelaskan kehadiran para wisatawan semenjak dirinya Suwastono berusaha lokal dan asing ini terlaksana berkat jali- keras untuk meningkatan kegiatan nan kerjasama dengan Dinas Pariwisata yang dianggap sangat baik dalam Kota Surabaya dan sejumlah biro per- rangka mempertahankan budaya asli jalanan. “Banyak biro perjalanan baik Surabaya tersebut. “Ternyata sambudari Surabaya maupun dari luar kota tan warga sangat antusias sehingga sering membawa tamu dari luar negeri kampung ini ditata dengan lebih bagus ke sini untuk melihat budaya asli Sura- dan gang-gangnya bersih dan hijau,” baya baik kuliner maupun permainan ujarnya. -Yosef Sintar tradisonal,” ujarnya. Dijelaskannya, wisatawan luar negeri yang sering berkunjung ke kampung ini antara lain dari Korea Selatan, Jepang, Australia, Austria, Amerika Serikat dan sejumlah negara dari Asia dan Eropa. Dikatakannya pada bulan Juli 2016 mendatang pada puncak peringatan Tahun Habitat Sedunia akan ada ratusan tamu penting dari sejumlah negara seperti gubernur dan walikota akan datang berkunjung ke kampung wisata ini. Kuliner dan permainan asli ini, tambah Sabar ternyata sangat menarik perhatian wisatawan. Bahkan banyak diantara mereka ikut mencicipi kuliner khas Kampoeng Lawas Maspati dan ikut bermain dalam permainan khas Kampoeng Lawas Maspati ini. Keberhasilan ini berkat dukungan dari Peliondo III yang menjadikan kegiatan Kampoeng Lawas Maspati ini Wisata Kampoeng Lawas Maspati menjadi binaannya.


18

Life

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Perkuat Eksistensi Budaya Melalui Parade Budaya Perayaan HUT Kota Singaraja tahun ini memiliki nilai-nilai yang sangat strategis ditengah-tengah se­ mangat dalam melaksanakan pembangunan. Program pembangunan yang telah ditetapkan dirasa sudah mampu dicapai di berbagai target. Salah satu target prio­ritas agenda strategis yang dikenal 12 PAS yang salah satunya menetapkan program ­pelestarian budaya telah menunjukkan hasil yang cukup baik.

dan budaya yang dimiliki oleh Buleleng dapat dijadikan kekuatan untuk ber­ satunya masyarakat dan pemerintah dalam membangun Buleleng yang sejahtera, mandiri, integritas, lestari, dan beretika. Tujuan dari Parade Bu­ daya ini Suayasa mengungkapkan ada tiga hal yaitu memperkenalkan potensi seni budaya dan sejarah masingmasing desa yang mewakili kecamatan; menumbuhkan kecintaan generasi muda akan seni budaya daerah Bule­ leng; dan memeriahkan HUT ke-412 Kota Singaraja. -Wiwin

Poleng Band

Ajak Masyarakat #MaiMagendingBali Penampilan dari peserta parade budaya.

H

al ini dapat dilihat dari salah satu seni budaya Buleleng men­d apat a n u g e r a h s e ­b a g a i warisan budaya dunia dari Unesco yaitu kesenian Wayang Wong Tejakula. “Disamping itu pula kita melihat gerak­ an massal dalam proses penggalian, pelestarian, dan pengembangan seni budaya makin kelihatan berkembang di desa-desa,” ujar Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat Parade Budaya HUT ke-412 Kota Singaraja, Rabu (30/3). Acara Parade Budaya yang startnya di mulai di depan Tugu Singa Ambara Raja ini diikuti oleh sembilan kelompok dari sembilan kecamatan yang ada di Buleleng. “Parade Budaya merupakan upaya untuk melakukan pelestarian budaya sesuai dengan program yang saya terapkan,” ujar Bupati. Kegiat­ an ini diharapkan dapat menjaga keberadaan seni budaya di Buleleng dan dilaksanakan dengan kreasi-kreasi baru agar tidak monoton namun tetap sarat dengan pesan-pesan membangun, mencintai, dan melestarikan budaya daerah. Parade yang menampilkan potensi masing-masing kecamatan yang ada di Buleleng maka masyarakat akan menge­ tahui betapa kaya dan beragamnya po­

tensi seni budaya yang ada di Buleleng. Sebagai daerah yang kaya akan potensi semestinya masyarakat makin se­mangat untuk mem­b angun. “Saya himbau kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga perdamaian, keten­ traman, dan ketertiban daerah Buleleng sehingga apa yang sudah dicapai tidak dirusak dengan tindakan-tindakan yang merugikan,” imbuhnya. Sementara itu Kepala Dinas Ke­ budayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa, M.Pd. mengatakan dasar pemikiran dari kegiat­a n Parade Budaya ini adalah dalam rangka menjawab pengaruh interaksi sosial antar masyarakat yang tanpa batas. Terlebih dengan adanya kemajuan teknologi membuat setiap orang dapat memengaruhi budaya orang lain secara bebas. “Kondisi ini tentu membuat budaya kita menjadi terancam eksistensinya,” ungkap Suyasa saat memberi sambutan dalam pem­ bukaan Parade Budaya tersebut. Oleh karena itu, program pelestarian budaya yang dicanangkan dalam program 12 PAS dapat memperkuat eksistensi budaya guna menjawab kekhawatiran akan ancaman budaya luar. Kegiatan ini mengambil tema “Kulkul Desa” yang artinya beragam suara satu tujuan. Beragam potensi seni

Terbentuk sejak 19 Januari 2012, band yang akan merampungkan al­ bum pertamanya ini siap meramaikan blantika musik khususnya lagu Bali. Awal mula terbentuknya ketika De Gus di vokal, Tu Gik di gitar, dan Tu Arik di drum bergabung dalam sebuah band yang dinamai Poleng Band. Setelah empat ta­ hun terbentuk, akhirnya Poleng Band melengkapi personilnya dengan tambah­ an Toro di gitar 2 dan Tu Ogik di bass. Poleng band itu sendiri dimaknai oleh para personilnya sebagai dua sisi kehidupan (rwa bhineda). Meskipun ada per­b edaan namun kedua sisi kehidupan ini saling mengisi karena yang buruk tidak selamanya buruk dan yang baik tidak selamanya baik. “Poleng juga kami artikan Poemusik dari Buleleng,” ungkap De Gus sembari tertawa. Band yang berencana merilis secara resmi album per­ tama di bulan April ini mengaku jika dalam mencari ide atau konsep untuk lagu selalu melihat dari pengalaman sendiri dan teman. “Banyak inspirasi datangnya dari teman-teman. Misalnya lagu Adi Suba Megedi tercipta dari pengalaman teman yang lagi galau,” lanjut sang vokalis. Dalam album perdana yang berisi sembilan lagu, Poleng berupaya tetap konsisten dengan menyanyikan lagu-lagu Bali. Sukses dalam klip video pada lagu Tresna Selantang Tuwuh kini Poleng band juga berencana menggarap klip kedua untuk lagu yang berjudul Mai Magending Bali. Da­ lam proses penggarapan klipnya pun melibatkan sejumlah elemen masyarakat; baik siswa, musisi, komunitas kreatif dan lainnya dengan mengajak menyanyikan lagu Mai Ma-

Memakai toga wisuda, Mahsan (26) menangis memaknai satu fase penting dalam perjalanan hidupnya. Hari itu, anak jalanan yang pernah berpikir hidup ini mustahil baginya, telah membuktikan diri­ nya bahwa ia mampu meraih cita-cita dari mimpi-mimpi yang dicemooh ba­ nyak orang selama ini. Dengan penuh perjuangan, Mahsan akhirnya meraih Gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Mataram.

S

Peserta dari Kecamatan Banjar

gending Bali. Mai Magending Bali merupakan judul dari album pertama sekaligus judul lagu unggulan dalam album tersebut. Band asal kota Singaraja ini mengajak penikmat musik untuk mencintai bahasa Bali dengan megending Bali. “Kami semua berasal dari Bali jadi sangat mendukung budaya Bali dengan melestarikan bahasa Bali,” ungkap De Gus. Apalagi jika dilihat saat ini anak-anak muda sudah mulai malu menggunakan bahasa Bali dalam pergaulan. Sa­ngat diharapkan dengan lagulagu berbahasa Bali ini dapat memberikan kontribusi untuk tetap melestarikan bahasa Bali. “Melalui lagu Mai Magending Bali kami juga sudah menye­ barkan hashtag #MaiMagendingBali bagi masyarakat yang mendukung gending Bali,” tambah De Gus. Penggarapan klip kedua ini memang cukup serius karena pesan yang ingin disampaikan agar ter­tular kepada masyarakat Bali. Band yang bermarkas di Jalan Srikandi Gang Durian ini berharap sesama musisi dari Bali harus bisa saling mendukung dan sama-sama bisa melestarikan bahasa Bali. “Bersama-sama memunculkan Buleleng itu agar ada band-band yang berbahasa Bali,” ujar sang vokalis. Ketika manggung band ini selalu mampu meng­ ajak para penontonnya bergoyang karena aliran musik alter­natifnya. Sejauh ini Poleng sudah sering manggung di daerah Buleleng dan Denpasar. Mengenai promosi, mereka lebih memanfaatkan media sosial. Media sosial dirasa sangat besar manfaatnya untuk media promosi. “Kami sudah memiliki FB, Twitter, dan instagram,” lanjut De Gus. -Wiwin

Story

iapa yang menduga Mahsan yang sejak usia SMP menjadi tulang punggung ke­ luarga, hidup serba kekurangan, putus sekolah dan melakoni hidup di jalanan dengan menjadi tukang parkir, sempat menjadi kusir cidomo dan tukang sapu pasar di Cakranegara Mataram ini kini bergelar sarjana. Mungkin bagi banyak orang, meraih gelar sarjana itu biasa, namun tidak bagi seorang Mahsan. Untuk melanjutkan sekolah saja, ia harus berjuang keras bahkan sampai pernah merasakan tidak makan berhari-hari demi tekadnya untuk bersekolah. Ketika baru masuk SMP, ayah Mahsan yang selama ini men­ jadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Kehidupan ia bersama ibu dan dua adiknya (dua kakaknya telah menikah dan tinggal terpisah serta masingmasing berjuang hidup sendiri), sangat memprihatinkan. Mahsan kecil awalnya tidak dapat ber­ buat apa-apa. Untuk makan saja, mereka mengandalkan pembe­

Edisi 895/4 - 10 april 2016

7

Anak Jalanan Bisa Jadi Sarjana rian tetangga dan orang yang sesekali memperhatikan mereka. Sekolahnya sempat morat-marit karena ketiadaan biaya. Tiap kali hendak ujian, Mahsan mengaku kerap bolak-balik dipanggil pihak sekolah karena belum membayar kewajiban di sekolah. “Bahkan saya sempat hampir di DO karena tidak ada biaya,” kata Mahsan. Namun, beruntung ada guru BK yang berkunjung ke rumahnya melihat situasi hidup mereka yang memprihatinkan, ia dibantu untuk bisa menyelesaikan sekolah SMP-nya. Sampai akh­ irnya Mahsan lulus SMP di tahun 2006. Betapa sedih hati Mahsan tidak bisa melanjutkan sekolah­ nya di SMA tetapi ia pasrah dan menerima keadaannya. “Mau apa lagi, saya merasa diri tidak punya jalan untuk bisa bersekolah,” ka­ tanya. Padahal keinginannya untuk bersekolah sangat besar. Mahsan akhirnya putus sekolah. Selama putus sekolah, Mahsan semakin merasakan hidup dalam kondisi yang sangat mempri­ hatinkan bersama ibu dan dua adiknya. Untuk makan saja de­ mikian susah dipenuhi. Kondisi ini menyentak Mahsan kecil un­ tuk berbuat sesuatu. “Kebetulan saya diajak kakak saya bekerja menyapu pasar di Cakranegara, saya pikir inilah jalan saya untuk bisa mendapatkan uang demi bisa memberi ibu dan adik-adik saya makan,” kata Mahsan. Mahsan menjadi tulang pung­ gung keluarga. Apapun pekerjaan yang halal ia lakukan demi menda­ patkan uang. Ia bekerja sangat keras tiada mengenal waktu dan ruang. Ia menjadi tukang parkir dari pagi hingga sore hari. Sesekali ia menjadi kusir cidomo. Malam harinya ia menyapu Pasar Cakranegara. Ia berusaha keras mendapatkan sejumlah uang tiap hari. “Uang itu saya pakai untuk membeli kebutuhan makan dan

Aktivitas Mahsan di Dewan Anak dan LPA Kota Mataram ketika membantu anak-anak kurang beruntung.

Mahsan didampingi Nyayu Ernawati (kanan) dan ibunya (kiri) saat wisuda Sarjana Hukumnya di Universitas Mataram.

sekolah adik-adik saya. Sisanya meskipun sedikit, saya men­ coba menabung, mana tau saya bisa bersekolah kembali,” kata Mahsan yang terus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melanjutkan sekolahnya. Cemoo­ han dari orang-orang di sekitar pada cita-citanya untuk melan­ jutkan sekolah, kerap ia dengar sangat menyakitkan. “Mau jadi apa kamu sekolah, mau jadi dokter sudah banyak, mau jadi presiden sudah ada,” begitulah orang mencemooh citacita sederhananya untuk berseko­ lah. Melihat kehidupannya yang susah dan tak berpunya, Mahsan bahkan sempat hendak dimasukan ke panti asuhan. Namun ia memi­ lih untuk bekerja demi membiayai kehidupan ibu dan adik-adiknya. Kehidupan jalan­ an yang dilakoninya penuh dengan be­ ban dan penderitaan. Saat menjadi tukang p arkir ia perna h dilempari uang seribu rupiah hanya karena kesalahan kecil saat memarkir motor. Ia kerap diperlakukan kasar bahkan dipukul juga dipalak oleh pre­ man. “Pernah dikejarkejar dan ditangkap Pol. PP di Cakrane­ gara dan diturunkan di Ampenan. Dari Ampenan ke Cakranegara saya

harus berjalan kaki pulang ke rumah,” katanya. SEKOLAH SMA PAKAI SERAGAM SMP Dua tahun Mahsan putus sekolah, hingga akhirnya ia me­ nangis pada ibunya mengung­ kapkan keinginannya untuk ber­ sekolah kembali. Namun ia sadar, apalah daya ibunya yang sudah tua, sehingga ia meminta agar ibunya mendoakannya. Di ta­ hun 2008, di saat hari terakhir pendaftaran SMA hendak ditutup, ketika ia sedang bekerja, Mahsan bertemu seorang anggota DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati. Ia teringat pada suatu ketika, ia pernah mengikuti sebuah kegiatan Dinas Sosial Kota Mataram dan pada sesi dialog antara anak-anak jalanan dengan anggota DPRD Kota Mataram ini, Mahsan per­ nah mengungkapkan pertanyaan yang sampai hari ini tidak bisa dilupakannya. “Ibu, apakah saya bisa menjadi anggota DPRD seperti ibu. Saya ingin memperjuangkan nasib kawan-kawan saya di jalan yang kerap diperlakukan tidak adil,” ungkapnya yang dijawab pasti oleh Nyayu Ernawati bahwa ia bisa, asal ia punya kemauan yang keras untuk itu. Maka ketika ia bertemu kembali dengan Nyayu, itulah yang pertama kali diingat­ nya sehingga ia memberanikan mendekati dan bicara pada Nyayu yang tengah membeli buah-buah­ an di tempatnya bekerja sebagai

tukang parkir. Dalam benaknya yang nyaris putus asa di hari terakhir pendaftaran sekolah itu, mungkin inilah jalannya agar ia bisa bersekolah. “Ibu masih ingat saya? Sudah dua tahun saya putus sekolah, saya ingin sekali melanjutkan sekolah,” ungkapnya pada Nyayu sembari menjelaskan tentang pertemuan mereka dalam dialog tersebut. Mahsan beruntung, Nyayu lang­ sung menguruskan sekolahnya dan ia bisa bersekolah kembali. Uluran tangan ikhlas Nyayu mem­ buat anak tukang parkir ini merasa betapa dunia menjadi terbuka lebar bagi seorang Mahsan. Dengan gembira ia bersekolah meski masih memakai seragam SMP karena tidak memiliki se­ ragam SMA. Di sekolah barunya ini, hal-hal semacam ini juga sempat menjadi kendala yang be­ rarti namun ia jalani. Masalah baru datang. “Saat saya sekolah, saya tidak lagi bisa dan boleh bekerja di jalanan. Penghasilan tidak ada sama sekali, kami sering puasa karena tidak memiliki makanan,” katanya. Untuk makan sehari-hari mer­ eka mengandalkan pemberian tetangga. Mahsan sendiri lebih sering makan sekali sehari dan tidak jarang saat berangkat seko­ lah tidak sarapan, pulangnya hanya bisa minum air putih karena tidak ada makanan. Mahsan juga pernah harus makan nasi basi karena lapar. “Kalau lapar dan tidak ada apa-apa, saya bawa tidur saja,” ungkapnya sedih. Berangkat dan pulang sekolah ia harus berjalan kaki cukup jauh dalam hujan dan panas. Di sekolah ia hanya mengandalkan kebaikan kawankawannya yang memberinya jajan. Tidak jarang karena lewat sawah, sepatunya kena lumpur bahkan ia sering memakai sandal saja, tanpa seragam dan lainnya. “Apapun yang dibicarakan tentang saya, saya hadapi saja,” ungkapnya. Sampai akhirnya ia lulus dan bantaun datang untuk melan­ jutkan kuliahnya. Mahsan ber­ semangat menjalani kuliahnya sambil bekerja dan juga mengabdi di Dewan Anak serta LPA Kota Mataram bersama Nyayu Erna­ wati dan rekan-rekan lainnya. Saat baju kebesaran wisuda itu dikenakan, ia tidak menyangka bahwa ia mampu meraih fase yang tadinya adalah kemustahilan menjadi nyata di depan matanya. Dari sinilah anak jalanan dan tu­ kang parkir ini memaknai bahwa hidup jangan takut bermimpi. “Jangan pernah takut untuk ber­ mimpi,” ujar Mahsan yang kini ak­ tif di Dewan Anak dan LPA Kota Mataram ini. -Naniek I. Taufan


8

Jika sedang merencanakan liburan keluarga ke Bandung, ada satu tempat wisata alam yang perlu masuk dalam daftar tujuan. Tempatnya bernama Farm House Bandung, yang baru dibuka awal Desember 2015.

A

Bunda & Ananda

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

kses menuju lokasi ini pun terbilang sangat mudah dan dikenal di kalan­ gan masyarakat Bandung. Farm House berada di jalan utama menuju Lembang. Jika dari arah Kota Bandung, melewati kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rumah Sosis kemudian melewati Hotel G. H. Universal Lembang dan sebelum Peneropongan Bintang Bosscha. Farm House ini buka setiap hari, mulai pukul 08.00 – 21.00. Untuk menikmati semua kein­

dahan alam yang ada di kawasan wisata Farm House Bandung ini cu­ kup dengan membeli tiket seharga Rp 20.000 . Tiket masuk tersebut bisa ditukarkan dengan welcome drink susu murni dengan berbagai rasa yang bisa kita pilih sendiri. Tiket tambahannya adalah untuk parkir motor Rp 5.000, dan sedangkan untuk parkir mobil dikenakan Rp 10.000 . Wisata Farm House ini memi­ liki daya tarik tersendiri. Salah satunya konsep seperti rumah para petani dan peternak susu sapi yang dilengkapi dengan ke­

“Cafe di sini pun termasuk unik, sebab ada yang berada di dalam ruangan, outdoor atau kebun, dan bahkan ada yang berada di roof top dan pemandangan yang indah. Di setiap cafe juga lengkap menyajikan mulai dari makanan pembuka, makanan inti, hingga makanan pencuci mulut”

Jegeg Bagus SMPN 9 Denpasar

Acara grand final ajang pemilihan Jegeg Bagus Spensya meru­ pakan puncak acara HUT SMPN 9 Denpasar ke-39 dengan tema “Melalui HUT SMPN 9 ke-39 Kita Tingkatkan Kualitas Pendidikan dan Semangat Kompetisi yang Positif dalam Rangka Menciptakan Generasi Yang Berkarakter, Berprestasi, Serta Berwawasan Budaya, dan Lingkungan” yang diadakan pada Rabu (30/3). Pemilihan Jegeg Bagus Spensya diadakan untuk pertama kalinya di SMPN 9 Den­ pasar yang diwakilkan 1 pasang di setiap kelas, dan terkumpul 10 pasang finalis dari 10 kelas. Pemilihan Jegeg Bagus Spensya dinilai oleh 3 dewan juri, Luh Putu Susi Widiani, S.Pd selaku Waka Kuri­ kulum SMPN 9 Denpasar, Ni Wayan Sri Sutari, SP, MP selaku owner D’Tunjung Butik, dan Ryan Indra Darmawan selaku finalis Teruna Teruni Bali 2015. The Best Talent yang diraih Jegeg Putri dan Bagus Gus Tra, The Best Intelegentia diraih Jegeg Dinda dan Bagus Dir­ ga, The Best Personality diraih Jegeg Dinda dan Bagus Sadewa, The Best Public Speaking diraih Jegeg Dinda dan Bagus Dirga, The Best Photogenic diraih Jegeg Thya, Juara Favorit yang dipilih melalui voting di Instagram diraih pasangan Jegeg Ayu dan Bagus Gus Tra, Runner Up II diraih Jegeg Dinda & Bagus Gita, Runner Up I diraih Jegeg Thya & Bagus Sadewa, dan pemenang juara I diraih Jegeg Widya & Bagus Dirga. -rls

bun berbagai tanaman buah dan sayur. Saat kita berkeliling, akan terlihat inovasi yang anti mainstream. Sangat menarik pastinya, apalagi setiap sudut yang ada bisa dijadikan spot –spot untuk pemotretan, disamping sudah juga disediakan foto booth seba­ gaimana tren saaat ini. Fasilitas lainnya yang dita­ warkan oleh wisata alam Farm House Susu Lembang ini sangat lengkap. Mulai dari miniatur ru­ mah The Hobbit, yang sama den­ gan New Zealand sebagai tempat penghasil susu yang berkualitas tinggi. Juga tersedia tempat penjualan oleh-oleh atau souvenir. Sementara rumah –rumah kayu yang dihadirkan di sana juga indah dengan kesan oldies-nya, dan sangat cocok

untuk pengunjung yang ber­ buru foto dengan pemandangan klasik. Di Farm House Bandung ini juga cukup banyak dihiasi tumbuhan dan hewan seperti ayam, bebek, burung, ayam, kelinci, hingga kuda. Keberadaan binatang ini termasuk salah satu daya tarik tersendiri khususnya bagi wisatawan anak-anak . Se­ lanjutnya tersedia pula fasilitas umum lainnya yakni toilet untuk anak-anak, untuk orang dewasa dan toilet untuk lansia serta disabilitas

Jika merasa lapar dan haus setelah berkeliling di Farm House Bandung ini, kita bisa bersantai dan makan di cafe juga ada di lokasi. Cafe nya pun tergolong unik karena desainnya berbeda antara satu cafe dengan cafe lainnya. Namun, kebanyakan cafe yang ada di sini bergaya klasik dan oldies. “Cafe di sini pun termasuk unik, sebab ada yang berada di dalam ruangan, outdoor atau ke­ bun, dan bahkan ada yang berada di roof top dan pemandangan yang indah. Di setiap cafe juga lengkap menyajikan mulai dari makanan pembuka, makanan inti, hingga makanan pencuci mulut,” ujar Teni yang datang bersama keluarganya. Meskipun harga makanan di café ini rata-rata dibandrol mulai dari Rp 50,000 tapi dari informasi para pengunjung yang sudah mencicipi, mereka men­ gakui harganya cukup sebanding dengan rasa yang ditawarkan. Kalapun waktu berkunjung sem­ pit, dan tidak bisa makan di sana, tidak perlu khawatir, pengunjung tetap diizinkan untuk berfoto ria di dalam cafe. – Sri Ardhini

Mendongeng Lima Menit

putri Bening

Di sebuah gubuk di pinggir pantai tinggal­l ah seorang anak perempuan ber­ nama Putri ­B ening. Ibu­n ya meninggal ke­t ika ia baru ber­ umur enam bulan. Ia tinggal bersama ayah kandung yang sangat Made Taro menyayanginya. Sang ayah menangkap ikan di laut dan sang putri berkebun sayur. Dengan hasil ikan dan sayuran itulah mereka hidup sehari-hari. Pada suatu sore menjelang matahari tenggelam, sang ayah berangkat ke laut. Sebelum meninggalkan gubuk ia berpesan kepada Putri Bening. “Anakku, malam ini ayah tidak mendongeng. Sekarang musim panen ikan, dan malam ini adalah hari baik. Masaklah makanan! Bila sampai malam ayah belum pulang, makanlah terlebih dahulu!” Malam pun tiba. Putri Bening mempersiapkan makanan untuk ayah dan dirinya sendiri. Walaupun perutnya lapar, ia tidak mau mendahului ayahnya ma­ kan. Ia teringat dongeng Cinderella, Bawang Merah Bawang Putih dan Malin Kundang yang selalu di­ ceritakan ayahnya. Ia termenung dan berdoa semoga ayahnya selamat dan memperoleh banyak ikan. “Tok, tok, tok …!” Putri Bening segera membuka pintu. Ia mengira ayahnya datang. Bukan! Yang berdiri di depannya adalah seorang kakek tua.

“Berilah aku sesuap nasi, anak kecil! Aku tersesat pulang dan kelaparan,” kata kakek itu. Orang tua bungkuk itu berjalan tertatih-tatih dengan tongkat­ nya. Putri Bening sangat iba. Ia memapah kakek itu masuk, lalu mempersilakan makan. Makanan untuk dirinya sendiri, ia berikan kepada orang tua renta itu. Sehabis makan, Putri Bening memapah sang kakek beristirahat di kamarnya. “Tok, tok, tok…!” Putri Bening yakin yang mengetok pintu itu adalah ayahnya. Ia segera mem­ bukakan pintu. Ia senang sekali melihat ayahnya pulang dengan selamat. Apalagi membawa banyak ikan. Ketika sang ayah mengajak makan bersama, Putri Bening menggelengkan kepala. Ia katakan bahwa ­makanannya telah ia berikan kepada seorang kakek yang sedang beristirahat di kamar. Sang ayah penasaran, lalu segera menemui orang tua itu. Apa yang terjadi? Tidak ada kakek di kamar itu. Yang ada adalah setongkol jagung yang belum dikupas. Sang ayah ter­ingat kepada orang tua bertongkat yang meminta seekor ikan dan memberinya setongkol jagung di pantai. Ia mengambil jagung itu, lalu mengupasnya. Merah! Putri Bening juga mengupas jagung yang tergelatak di atas tempat tidurnya. Putih! Mereka berdua saling pandang. Mereka tidak mengerti apa makna dari kejadian itu. “Jagung merah dan putih itu adalah anugerah, anakku! Peliharalah baik-baik! Besok kita semai, kemudian kita tanam di kebun. Sesungguhnya kita tidak menyadari bahwa seseorang sangat menghargai kehidupan yang sederhana, rukun, setia, jujur, dan saling mengasihi satu sama lain.”

Griya

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Barang Antik selalu Menarik Barang-barang antik selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemarnya. Entah itu berupa furnitur, patung, perabotan rumah tangga atau barang seni lainnya. Barang antik yang dalam bahasa latinnya antiques (tua) merupakan benda menarik yang sudah berusia tua.

T

entu saja usia yang semakin tua, ditam­ bah dengan nilai his­ torinya yang tinggi, akan diikuti pula dengan harga yang tinggi. Semakin tua benda tersebut, semakin tinggi pula harganya. Na­ mun, mencari barang yang benarbenar antik (berumur tua) tak semudah mencari barang-barang yang baru diproduksi kemarin. Kita ambil contoh pintu kayu jati antik. Tentu tak mudah mencari pintu kayu jati atau furnitur lain yang benar-benar antik. Karena itu,

muncul teknik fin­ ishing antik, yang bisa membuat fur­ nitur baru terlihat antik (tua). Banyak teknik yang bisa dilakukan untuk memberikan kesan antik. Salah satunya yang paling sederhana adalah dengan menempat­ kan barang di luar ruangan, sengaja dibiarkan terpapar sinar matahari Patung panakawan d a n terkena meminati barang-barang antik ini hujan. “Sengaja dibi­ untuk ditempatkan di rumah prib­ arkan lumutan, itu adinya ataupun vila. “Kalau yang akan memberikan ke­ jenisnya batu-batu antik, lebih san antik,” ujar Bu­ banyak ditempatkan di kebun,” diarta, salah seorang ujar Budiarta sembari menunjuk karyawan Bagong Bali barang-barang antik dari batu Gallery di kawasan dengan berbagai rupa yang sen­ Jalan By Pass Ngurah gaja diletakkan di luar. Rai, Sanur, Bali. Selain batu, barang-barang Galeri yang stone antik dari kayu pun banyak dipa­ and wood ini banyak jang di sini. Seperti, pintu, lemari, memasok barang-ba­ kursi, meja, sampai dengan pa­ rang dari daerah Jawa. tung-patung untuk pajangan/ Seperti batu-batuan, dekorasi. Ada yang berbentuk d i d a t a n g k a n d a r i petruk-gareng-semar-bagong daerah Mojoagung. (panakawan), ada juga model Ada dari batu kali, pangantin Jawa-Loro Blonyo. batu karang, juga batu Ia tak menampik, sekarang ini padas. Konsumennya sangat susah membedakan barang lebih banyak tamu yang benar-benar antik (umurnya mancanegara, seperti tua) dengan barang yang sengaja Amerika dan Austra­ dibuat antik. “Sekarang ini repronya lia yang umumnya sudah banyak yang sesuai dengan membeli untul dijual aslinya,” tandas pria yang sudah kembali di negaranya. 15 tahun bergelut dengan barangPasar lokal juga cukup barang antik ini. –Inten Indrawati

Patung pengantin Jawa-Loro Blonyo

17


16

Edukasi

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Pengabdian Masyarakat FH Undwi di Desa Wisata Penglipuran

Tingkatkan Partisipasi Perempuan Hadapi MEA Civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar mengadakan pengabdian masyarakat di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Minggu (27/3). Acara dibuka Wakil Rektor II Dra. Ni Made Suar­ningsih, M.Si. mewakili Rektor Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Putu Dyatmikawati, S.H., M.Hum. Tema kegiatan ini “Melalui Pengabdian Masyarakat Kita Tingkatkan Partisipasi Perempuan dalam Keluarga Meng­hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. gung Ngurah Indradewi, S.H., M.H. menambah­ kan pemilihan Desa Wisata Penglipuran se­ bagai lokasi pengab­ dian masyarakat tak lepas dari eksistensi desa wisata yang masuk tiga besar desa wisata terbersih di dunia. “Desa Wisata Penglipuran ini memiliki nilai sejarah Suasana ceramah“Meningkatkan Kualitas Peran Perempuan Bali dalam ­Keluarga dan Masyarakat” yang dan sangat kuat dalam disampaikan Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si. menjaga tradisi. Angkulangkulnya seragam. Ini etua Panitia Pengab­ menjadi bukti kuatnya masyarakat dian Masyarakat FH menjaga tradisi. Contoh lain, bagi Undwi Drs. ­I Ketut laki-laki yang melakukan poligami Windia, S.H., M.H. me­ diberikan tempat yang diberi nama ngatakan kegiatan ini diikuti 180 Karang Memadu. Namun, sam­ peserta dengan tujuan melaksana­ pai sekarang tidak ada laki-laki kan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Penglipuran yang berani melakukan khususnya pengabdian masyarakat. poligami. Di sisi lain, ini tentu peng­ “Kegiat­an yang kami lakukan antara hormatan bagi perempuan karena lain sembahyang bersama, ceramah mereka tidak dimadu,” tegasnya. dengan narasumber Prof. Dr. I Wayan Indradewi pun berharap tatanan P. Windia, S.H., M.Si, pengobatan gra­ adat yang kuat ini juga bisa men­ tis yang dipimpin dr. Nyoman Diana, jadi landasan bagi kaum perempuan bersih-bersih, serta penyerahan dan Penglipuran untuk bisa berkiprah penanaman bibit pohon langka,” lebih banyak dalam keluarga maupun jelasnya. masyarakat. Karena itulah, peng­ Dekan FH Undwi Dr. A.A. Sa­ abdian masyarakat juga dirangkai

K

Penyerahan bibit tanaman langka dari Wakil Rektor II Undwi Dra. Ni Made Suarningsih, M. Si yang didampingi Dekan FH Undwi Dr. A.A. Sagung Ngurah Indradewi, S.H., M.H. dan Ketua Panitia Pengabdian Masyarakat FH Undwi ­D rs. I Ketut Windia, S.H., M.H. kepada Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Supat

dengan ceramah “Meningkatkan Kualitas Peran Perempuan Bali da­ lam Keluarga dan Masyarakat” yang disampaikan Prof. Windia. “Ada tiga hal yang harus dipaha­ mi. Pertama, apa peran perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat. Kedua, mengapa kualitas perempuan Bali perlu ditingkatkan. Ketiga, ba­ gaimana caranya mening­ katkan kualitas tersebut,” ujar guru besar Hukum Adat Fakultas Hukum Uni­ versitas Udayana ini. Ia pun menjelaskan perempuan Bali sudah m a m p u b e r k i p ra h d i berbagai bidang bahkan mampu menjadi pimpinan di lembaga-lembaga yang didominasi kaum laki-laki. Potensi ini harus terus dikembangkan dan digu­ nakan dengan baik untuk menghindari terjadinya

Penyerahan punia dari Dekan FH Undwi kepada Bendesa Penglipuran

lapar dibiarkan dan tidak ditangani, bisa memicu ngambres (ngambek),” ketidakadilan gender. Kualitas pen­ kata profesor yang identik de­ngan didikan, kesehatan, dan pendapatan udeng poleng ini. Bendesa Adat Penglipuran I menjadi faktor yang perlu ditingkat­ kan. “Perempuan memiliki kekuatan Wayan Supat menyambut baik keg­ berupa kelembutan. Ini merupakan iatan yang dilakukan FH Undwi. “Ini modal perempuan untuk berkiprah. kali ketiga kami dijadikan lokasi Kurangi tingkat frustrasi dengan pengabdian masyarakat oleh Undwi. cara, kalau lelah ya istirahat, kalau Kami berterima kasih karena sudah lapar ya makan. Kalau lelah dan diperhatikan dan diberikan bantuan tanaman langka dan tanaman upac­ ara. Semoga kegiat­ an ini bisa memberi manfaat bagi kita semua,” ujar Bend­ esa yang didampingi Kepala Lingkungan Penglipuran, per­ wakilan Ke­l urahan Kubu, perwakilan Kecamatan Bangli, TP PKK Kelurahan Kubu, TP PKK Keca­ matan Bangli, serta tokoh masyarakat Penglipuran. –wah Pemeriksaan kesehatan untuk warga Penglipuran

Franchise Kumon

Peluang Usaha Menarik di Bidang Pendidikan Pendidikan merupakan modal penting bagi perkembangan se­ tiap bangsa. Hal ini karena bangsa yang memperhatikan kualitas pendidikan adalah bangsa yang maju di segala bidang. Melihat be­ gitu pentingnya pendidikan serta masih belum meratanya sarana yang ada di Indonesia, maka usaha bidang pendidikan merupakan peluang yang bisa diambil bagi mereka yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Anda yang berminat mem­ buka usaha di bidang pendidikan tetapi belum memiliki sistem yang mendukung usaha tersebut dapat memilih sistem franchise (wara­ laba). Kelebihan utama sistem franchise adalah tidak perlu me­ ngenalkan brand dari awal karena brand tersebut sudah dikenal kon­ sumen sebelumnya. Kelebihan lain adalah adanya program pelatihan yang dibutuhkan agar pemilik franchise memiliki bekal untuk mengelola usaha secara mandiri. KUMON adalah sistem franchise

dengan sejarah yang panjang sejak tahun 1950 dan sampai dengan saat ini sudah tersebar di 47 negara di seluruh dunia. Pemilik franchise KUMON (pembimbing kumon) adalah orang-orang yang mau bela­ jar dari siswa dan terjun langsung membimbing anak-anak di kelas. Pembimbing KUMON berkomitmen mendorong anak-anak memiliki life skill yang memungkinkan mereka menjalani hidup dengan senang dan mengembangkannya sampai maksimal, memiliki impian dan tujuan serta bersemangat mencoba hal-hal baru. Program belajar KUMON ter­ diri dari program Matematika dan Bahasa Inggris. Tujuan Metode KUMON adalah siswa mampu be­ lajar di atas tingkatan kelas secara mandiri. Lembar kerja KUMON telah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Ketika memasuki topik baru diberikan contoh dan penjelasan yang men­

dorong siswa untuk mempelajari­ nya sendiri dan maju dengan kemampuannya sendiri. Saat ini PT KIE Indonesia memberikan kesempatan ke­pada

Masyarakat Bali untuk dapat memiliki Kelas KUMON sekaligus menjadi Pembimbing KUMON. Persyaratan utama adalah Wanita usia maksimal 45 tahun dengan

pendidikan minimal D3 semua jurusan. Informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi (0361) 232121; 0815-1314-5367 atau 0878-6099-5895.

Dara

Edisi 895/4 - 10 april 2016

Buat Film tanpa Naskah Berawal dari bakat dalam bidang video, membuat Gede Pasek Sriada mencoba membuat karya dalam bentuk film pendek. Ia tidak ingin bakat yang dimilikinya terbuang begitu saja tetapi bisa tersalurkan untuk hal yang bermanfaat. Pembuatan film pendeknya tidak akan sempurna jika tidak didukung oleh akting para pemain, maka dari itu ia turut mengajak teman-temannya terlibat di dalamnya.

P

ernah mengikuti perlombaan film tingkat nasional dan berada di posisi keempat membuat Pasek sapaan akrab laki-laki ini menjadi semangat dalam berkarya. Karya yang sempat menjadi perhatian pengguna media sosial adalah film pendeknya yang berjudul Klepon 12 Juta. “Film itu kami buat karena pas dengan momen Valentine bulan Februari lalu,” ungkapnya. Pembuatan film ini terinspirasi dari pengamatannya terhadap kehidupan remaja saat ini. Banyak anak-anak muda yang bergaya tidak sesuai dengan isi dompet dan ekonominya di rumah. Penampilan mewah di luar tetapi orangtua kerja keras untuk memenuhi kebutuhan. “Kami tidak menyangka film ini akan booming, ini menjadi semangat kami lagi untuk film selanjutnya,” ungkap pemilik studio Taksu tersebut. Dalam penggarapan film tersebut, bukan hanya menampilkan sisi humor tetapi

yang berjudul Amah Meong. “Film ini dibuat untuk menyambut momen hari raya Nyepi. Pesan moral yang disampaikan adalah umat Hindu yang harus mengendalikan diri baik itu emosi sehingga tidak menimbulkan hal buruk bagi diri sendiri. “Kami buat sesuai momen saja karena Nyepi lalu kami rasa sangat spesial. Sasih kesanga (9), tanggal 9, bertepatan dengan gerhana, dan tahun 2016 yang jika dijumlahkan 2+0+1+6 berjumlah 9 juga,” ucap pria yang beralamat di Jalan Gempol Banyuning Tengah tersebut. Jika ditanya soal keuntungan materiil, Pasek mengaku memang belum ada. Namun, ia mengaku sangat senang jika filmnya dapat diterima di masyarkat apalagi bisa memberi hal yang positif. Tergabung dalam sebuah sanggar Nong Nong Keling adalah salah satu tujuan Pasek membuat film. “Kami kan orang sanggar, kalau biasanya sang-

juga pesan-pesan moral yang ditonjolkan. Melalui film Taksu Production ini, ia berharap anak-anak muda dapat memaknai hari kasih sayang yang sebenarnya. “Kami sebenarnya tidak setuju tetapi juga tidak bisa melarang itu hak setiap orang,” tambah pria kelahiran 1 Oktober ini. Dengan adanya film ini Pasek ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa memaknai hari kasih sayang tidak mesti dengan barang. Hal yang unik dalam pembuatan filmfilmnya adalah tidak adanya naskah. “Kami cuma buat konsep cerita seperti apa kemudian dialognya keluar secara spontan dari pemain,” ungkapnya. Pria yang menjadi PNS di SD Negeri 2 Tianyar Barat, Kabupaten Karangasem ini mengakui bahwa bakat akting dari para pemain memang sudah muncul di awal. Durasi yang pendek juga membuat para pemain lebih Konsistensi perjuangan Senator DPD gampang membuat dialog sendiri. Setelah sukses dengan Klepon 12 Juta, RI asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Pasek dkk kembali membuat film pendek Wedakarna MWS III untuk menolak Wisata

9

Gede Pasek Sriada

gar itu untuk kesenian tradisonal maka kami ingin ada kolaborasi dengan seni modern, yaitu film,” ungkap pria yang tengah mengikuti lomba film dokumenter di Klungkung ini. -Wiwin

GERAKAN AJENGAN “SUKLA” MENGGEMA DI KARYA BETARA TURUN KABEH DI BESAKIH

Syariah di Bali dibuktikan dengan pernyataan tajam yang disampaikan saat rapat kerja Komite III Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Menteri Pariwisata RI. Di hadapan Senator RI seluruh Indonesia, Gusti Wedakarna menyampaikan sikap masyarakat Bali untuk menolak Pariwisata Syariah yang digagas pada rezim SBY lalu itu. Senator Wedakarna menyatakan bahwa ia ingin Menpar membangun wisata syariah di SATYAGRAHA - Senator DPD RI Dr. Arya Wedakarna tempat lain, dan dengan tegas meminta pada Bersama Arief Yahya (Menteri Pariwisata RI) Usai republik agar mendukung ciri khas pariwisata Rapat Kerja di Kompleks Parlemen Senayan Bali yang berbasis pada adat dan agama Hindu. RI memfasilitasi dengan baik. Utusan dari TNI dan Hal inipun langsung mendapatkan respons positif Polri juga hadir saat pertemuan. Kami akan terus oleh Arief Yahya dalam Raker DPD RI.”Terkait ususosialisasikan penolakan rakyat Bali pada wisata syalan Senator AryaWedakarna, kami konfirmasi tidak riah agar masyarakat paham. Wisata syariah secara menjadikan Bali sebagai destinasi pariwisata syariah individu ya sah – sah saja, tapi kalau isunya sampai di Indonesia,” ungkap Menteri Pariwisata RI yang melembagakan, mengganti desa adat Bali dengan didampingi sejumlah Dirjen Kemenpar. desa jenis lain, ya wajar jika rakyat menolak. Jangan Atas hal ini, Gusti Wedakarna menyatakan bahwa lupa walau minoritas Bali dan umat Hindu adalah tidak sia – sia doa dan perjuangan rakyat Bali, terubagian dari NKRI,” ungkap Gusti Wedakarna. tama dalam mengawal isu Desa Syariah dan Wisata Kini pihaknya melalui Komite III DPD RI bidang Syariah di Bali yang sempat muncul pada November pariwisata dan ekonomi kreatif, menata kawasan 2015 sebagaimana dilontarkan oleh oknum Ketua zona ekonomi Pura Besakih bersamaan saat karya Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Bali kala itu. “Bali Betara Turun Kabeh. “Respons ratusan ribu umat terpilih menjadi Pulau Terbaik Nomer dua di dunia Hindu yang hadir sejak karya sangat positif. Kini dan terbaik di Asia karena ciri khas adat Hindu. Saya rakyat Bali sudah mulai berbelanja di warung yang juga minta Menpar memasukkan prestasi ini dalam ada plangkiran, warung yang ada stiker Sukla, prestasi resmi. Jangan hanya cuma penghargaan Halal warung yang diperciki dengan tirta pura MelantDestination di NTB saja yang gencar dipromosikan, ing. Saya rasa umat Hindu belajar dari bagaimana prestasi Bali jangan ditinggal. Saya menolak adanya umat Islam selalu memilih makanan yang diolah diskriminasi SARA terhadap Bali dikebijakan pemeroleh kaumnya sendiri dan juga ada logo Halal. intah pusat. Malu sama Jokowi yang sudah menang Halal dan Sukla itu hak dari umat beragama. 72 % di Bali tapi ada pejabatnya yang tidak bias jaga Saya gembira, pedagang di Besakih yang 100% Nawa Cita beliau,” ungkap Gusti Wedakarna. umat Hindu dan warga adat jadi terayomi. Saya Selain itu terkait dengan sosialisasi Piagam Tanbersyukur sudah sadar. Ini bagian dari ekonomi tular yang intinya menolak Desa Syariah dan Wisata kreatif dan mensiasati UU No.33/2014 Jaminan Syariah di Bali sudah ditetapkan pada 26 November Produk Halal yang dinilai merugikan Bali dan 2015 lalu. ”Terkait Desa dan Wisata Syariah, komIndonesia Timur. Tapi disiasati dengan cara yang ponen Bali sudah kompak menolak. Gubernur, baik dan simpatik,“ungkap Gusti Wedakarna yang DPRD, MUDP, PHDI, PHRI, Tokoh Puri, Sulinggih, juga Presiden The Sukarno Center ini. -hms Ormas Hindu semua menolak. Saya sebagai DPD


10

Kreasi

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Kader posyandu bukan hanya piawai mengurus balita, mereka juga terampil membuat tamiang. Itulah yang terlihat dalam acara pelatih­ an daur ulang dari bungkus Ting Ting Garuda. Bersama instruktur I Wayan Sumatra dari Pokja III PKK Kota Denpasar, hanya dalam waktu 1 ½ jam tiap kelompok sudah berhasil menyelesaikan satu tamiang. Bahkan, ada satu kelompok membuat dua tamiang kreasi.

S

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

15

Tampil Gaya dengan Putih

Tamiang Ting Ting Garuda Kreasi Kader Posyandu Denpasar

ekretaris PKK Kota Denpasar, Sri Utari mengatakan, bahan utama tamiang ini dari daun lontar dengan hiasan Ting Ting Garuda sebagai pemanisnya. “Dengan warna merah merekah, bungkus Ting Ting Garuda membuat tamiang kreasi ini sangat indah dipandang mata. Tamiang ini cocok sebagai hiasan dinding atau ditempel di podium,” ujarnya. Mariani, perwakilan posyandu Kecamatan Denpasar Utara sa­ ngat menyambut baik pelatihan ini. Menurutnya, disamping belajar membuat kreasi, para kader juga bisa membantu mengurangi sampah. Dewa Ayu Anggreni perwakilan dari posyandu Kecamatan Denpasar Timur menambahkan, pertamakalinya ikut pelatihan daur ulang. “Ternyata, dari bungkus Ting Ting Garuda, bagus

Style

juga dikreasikan menjadi tamiang,” ujarnya sembari sibuk memotret tamiang kreasi tersebut. Wayan Sariati, dari posyandu Desa Penatih mengatakan, tak terlalu pintar membuat tamiang. “Biasanya, saya membuat tamiang hanya untuk Hari Raya Kuningan. Bentuknya pun sangat sederhana. Dengan pelatihan ini, saya bisa mendapatkan wawasan baru kreasi-kreasi tamiang yang lain,” ujarnya. Ibu Dewa dari Desa Tegal Harum, Kecamatan Denpasar Barat mengatakan, sudah pernah mengikuti pelatihan daur ulang

di tempatnya. “Daur ulang dari kertas koran dan majalah untuk membuat tempat tisu, bunga,

dan tempat buah. Teh gelas untuk membuat tas dan bungkus kopi untuk membuat tas dan topi. Bahkan, kami di masing-masing posyandu sudah punya bank sampah,” katanya. Made Beda dari kecamatan Denpasar Selatan mengaku, ini pertamakalinya membuat tamiang. “Karena ada contohnya, saya berani mencoba dengan mengikuti pola yang ada dengan memakai gunting. Kalau pakai pisau belum mahir,” ujarnya sembari tertawa. Ia sendiri menyambut baik pelatihan ini dan menurutnya sangat bermanfaat karena da-

pat memberikan ibu-ibu peluang bisnis. Bu Fiske, Ketua TP PKK Desa Peguyangan Kaja sudah menganggarkan tahun 2016 ini ada pelatihan daur ulang di desanya. Karena menurutnya, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warga desa. “Mungkin bulan Juni akan kami mulai. Kami berharap kegiatan seperti ini dibuat berkesinambungan karena manfaatnya sangat banyak untuk para ibu,” kata Bu Fiske. VARIASI BEDA Wayan Sumatra mengatakan, tak sulit mengajarkan ibu-ibu membuat tamiang kreasi karena kebiasaan mereka sebagai wanita Bali yang terbiasa membuat sarana upacara. “Pelatihan tamiang yang kedua ini, saya buat ada yang berbeda sedikit. Kalau yang pertama bentuk bunga di tengah tamiang dibuat dengan bungkus Ting Ting Garuda yang dilipat, sekarang bunga yang di tengah tamiang dibuat dengan cara memotong-motong kecil bungkus Ting Ting. Biar ada variasi saja,” katanya. Ia menambahkan, selain bentuk yang diajarkan saat pelatihan, para ibu diharapkan dapat berkreasi lebih banyak dan lebih baik pada saat lomba yang akan digelar tanggal 17 April 2016 di Wantilan Bali TV. Tepat pukul 12.30, kreasi tamiang para kader posyandu ini dipajang di lantai. Uniknya, di bagian atas, mereka membuat kreasi sendiri dengan bertuliskan TING TING. –Wirati Astiti

Sederhana, simpel namun menarik, itulah kesan yang ditonjolkan dari beberapa model yang menjadi pilihan halaman Style Tokoh pekan ini. Pesona warna putih berbahan linen dan katun ini semakin terlihat dengan dominasi siluet slim dan flare.

M

enurut sang desainer Jesica Rosdianti B Kristianto, atau yang lebih dikenal dengan Jesica Rosd, untuk koleksi terbarunya ini, ia mengusung judul “Blanche , yang diambilnya dari bahasa Perancis yang artinya putih. Sedangkan inspirasinya diperoleh dari bermacam-macam makna di balik kata putih, diantaranya polos, bersih namun elegan. Menurut Jesica Rosd, busana

ready to wear ini dapat dikenakan oleh para remaja hingga orang dewasa. Selain itu seluruh desainnya juga mudah untuk di mix and match. Jadi kita tinggal menyesuaikan apakah akan digunakan untuk pergi aktivitas ke kantor ataukah untuk santai seperti hang out atau jalanjalan bersama teman. -Sri Ardhini Model by Shoot by Stylist Shoes

: Teen Models Bali : Tjedcnd : Natasya Pricillia B Kristianto : MOV


14

Jelita

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Hati-hati Pilih Produk Kosmetik Tidak dipungkiri tren industri kecantikan berkembang pesat di berbagai belahan dunia, termasuk di negara kita. Bahkan, Indonesia secara umum disebut sebagai salah satu negara yang mengalami perkembangan paling pesat untuk urusan pasar produk kosmetik.

H

dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK.

Dikatakannya dengan semakin banyaknya produk kosmetik di pasaran, maka masyarakat diminta lebih pandai dalam memilah dan memilih supaya tidak menyesal dikemudian hari. Tentu akan ada akibat dan bahayanya ketika kita asal membeli produk kosmetik. Apalagi membeli hanya karena tergiur harga murah. Mengingat cukup banyak kasus produk kosmetik yang harganya murah beredar melalui pasar gelap.Begitu juga degan membeli sembarangan tanpa bekal pengetahuan, bisa saja justru mengakibatkan kerusakan kulit seperti ,wajah terasa panas, peris , memerah atau menghitam, menjadi gatal hingga bentol-bentol setelah menggunakannya. “Saat ini, banyak produk perawatan dan kosmetik beredar dengan

Deteksi Awal Membeli Kosmetik Mengenali produk kosmetik yang aman, dokter Laksmi menyatakan sebenarnya cukup mudah. Dapat dikenali melalui baunya yang menyengat, warnanya mulai berubah serta teksturnya. “Apabila ketiga hal ini terlihat atau terdeteksi pada sebuah produk kosmetik sebaiknya kita tidak membelinya, sebab bisa saja produk kosmetik itu palsu atau sudah kadaluarsa,” katanya sembari menyarankan agar kita selalu mengecek setiap produk kosmetik yang akan dibeli. Sebaiknya pula lanjut dokter Laksmi ketika kita akan menggunakan produk kecantikan bukan hanya aman dan ramah bagi kulit, namun juga ramah terhadap lingkungan. Sebab produk dengan kualitas terbaik akan memberikan hasil yang terbaik pula. Untuk pemakaian kosmetik pun sebaiknya jangan langsung di pakai pada wajahtetapi di coba dulu pada punggung tangan dan setelah tidak ada efek samping baru di coba wajah secara bertahap. Ketika dilempari pertanyaan apa sebenarnya arti kosmetik dan produk kecantikan yang ramah lingkungan tersebut, dokter Laksmi menegaskan bahwa produk kecantikan yang ramah lingkungan tersebut salah satunya dapat dilihat dari sisi kandungannya yang berbahan alami dan tidak mengandung jenis pengawet, bahan-bahan kimia berbahaya, atau juga bahan pewarna buatan. Biasakanya selalu memeriksa label kemasan bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan yang membuat kulit iritasi dan alergi.Oleh negara kita akan sangat memungkinkan luput dari pengawasan. Selanjutnya, kita bisa mencari tahu merek kosmetiknya. Misalnya dengan bertanya langsung kepada teman yang dipercaya paham tentang kosmetik , atau bisa juga pada mereka yang sudah maupun sedang memakai merek tertentu. “Selain itu. kita bisa

www.beritacenter.com

Gunakan kos­ metik yang te­ lah ter­daftar di BPOM, cek tanggal kadaluar­sa, pi­ lih kosmetik sesuai de­ngan jenis kulit. Hin­ dari kosmetik yang men­ janjikan hasil terlalu instan.

membaca review sebuah berbagai merek produk melalui internet. Sehingga untuk mengetahui produk kosmetik yang bagus , kita sebaiknya konsultasikan kepada ahlinya sebab dengan ,mengetahui kondisi dan jenis kulit akan memudahkan dalam melakukan perawtan dan memberi penanganan jika terjadi efek samping. Bacalah sekali lagi informasi di kemasannya, biasanya juga berisi tentang bagaimana produk itudibuat, ramah lingkungan atau tidak. Gunakan kosmetik yang telah terdaftar di BPOM, cek tanggal kadaluarsa, pilih kosmetik sesuai dengan jenis kulit. Hindari kosmetik yang menjanjikan hasil terlalu instan. Karenanya disarankan jangan membeli produk kosmetik sembarangan sehingga membahayakan kulit. Dokter Laksmi juga mengingatkan, intinya kita harus selalu waspada, sebab tidak ada yang isa menjamin bahwa produk yang mahal pasti aman. Mari kita jaga keselamatan dan kesehtan kulit. – Sri Ardhini

11

Edisi 895/ 4 -10 april 2016

Alasan Anda harus Makan Ikan

Siapa yang tidak tahu ikan? Sebagian besar orang sangat suka mengonsumsi ikan. Selain rasanya yang enak dan gurih ikan juga memiliki berbagai manfaat yang baik untuk kesehatan. Apapun jenis ikan yang Anda konsumsi setiap hari, banyak manfaat yang Anda dapatkan.

dr. I Wayan Sutadarma, M.Gizi.

M

enurut ahli gizi, d r. I Wa y a n Sutadarma, M.Gizi., manfaat makan ikan sangat banyak. Ikan dapat meningkatkan pertumbuhan fisik terutama anakanak. Ikan juga dapat mengurangi risiko penyakit degeneratif akibat inflamasi (peradangan). “Ikan dapat mengurangi risiko peningkatan kadar kolesterol. Bahan makanan sumber protein kualitas tinggi, dan sumber vitamin dan mineral yang baik,” jelas dosen FK Unud ini. Ia menambahkan, kandungan zat gizi pada ikan sangat baik untuk anak-anak, orang dewasa dan ibu hamil dan menyusui. Kandungan zat gizi pada ikan antara lain, asam lemak omega 3 sebagai sumber EPA dan DHA, vitamin D dan B2, kalsium dan fosfor, zinc, zat besi, selenium, magnesium.

Apa benar makan ikan membuat anak pintar? Ka n d u n g a n a s a m l e mak omega 3 merupakan sumber EPA dan DHA, dimana DHA berperan untuk membentuk selubung sel saraf terutama di otak. Oleh karena itu, sel saraf yang baik tentu akan dapat berfungsi lebih optimal terutama terkait dengan kecerdasan. Nutrisi yang tepat ditambah dengan latihan/pembelajaran yang tepat maka diharapkan kecerdasan anak akan meningkat. Makan ikan juga di­sebut dapat membantu tinggi badan bertambah. “Kan­ dungan kalsium dan fosfor dalam ikan dapat membantu pertumbuhan tulang dan gigi. Kandungan kalsium dan fosfor lebih ba­nyak ter­dapat di bagian tulang ikan, jadi konsumsilah ikan bersama dengan tulangnya terutama ikan-ikan kecil,” kata dr. Sutadarma. Ia menyarankan, perkenalkan anakanak untuk makan ikan sejak kecil dan bagi ibu hamil dan menyusui harus lebih banyak makan ikan. Sebaiknya makanlah ikan minimal dua porsi sampai 4 porsi perminggu. “Apabila dikonsumsi setiap hari satu porsi juga tidak masalah asalkan diimbangi dengan bahan

makanan sumber protein nabati,” sarannya. Kandungan gizi terbaik ada pada ikan laut dalam seperti ikan salmon, tuna, dan makarel, karena kandungan omega 3-nya lebih tinggi dibandingkan ikan air tawar. Untuk menjaga

sudah dipindang atau diasinkan memiliki kandungan nutrisi yang sudah jauh berkurang. Selain itu, proses pengasinan akan meningkatkan kadar natrium sehingga apabila dikonsumsi jangka panjang akan

Sebagian orang tidak berani makan ikan karena alergi, bagaimana cara mengatasinya. “Alergi disebabkan karena kan­ dungan protein dalam ikan. Bagi orang yang memang alergi jika makan ikan sebaiknya memang harus menghindari konsumsi ikan,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan, perlu diperhatikan lama waktu penyimpanan, karena ini juga berpengaruh ter-

www.carapedia.com

al ini terjadi tentu karena pertumbuhan pangsa pasar yang semakin menjanjikan pula. Maka, berbagai perusahaan kecantikan dari luar masuk ke Indonesia dan menjadikan negara kita salah satu prioritasnya dalam pengembangan pasar baru. Karenanya, saat ini di negara kita jumlah usaha kecantikan keberadaannya sudah sangat luar biasa banyaknya dan masih akan terus bertumbuh. Meski dilanda krisis global, namun keinginan setiap perempuan untuk cantik, terawat dan terlihat sempurna tidak pernah surut. Mereka pun dengan sangat rela membelanjakan uang untuk produk kecantikan dan kesehatan . Sebab, produk kecantikan bagi sebagian besar perempuan adalah salah satu elemen penting untuk menunjang penampilan. Tentu persoalan memilih produk kecantikan yang tepat, sesuai dan aman sangat penting bagi semua orang. Apalagi kini, semakin banyak produk kecantikan yang ditawarkan dan setiap produsen mengklaim jika produk kecantikan merekalah yang terbaik, aman dengan hasil memuaskan. Lantas, sebenarnya, seperti apakah produk perawatan dan kecantikan yang sebaiknya kita pakai. Terlebih dengan semakin banyaknya pilihan produk yang menyebabkan banyak orang bingung harus memilih yang mana. Menurut dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK, sebaiknya kita belajar untuk tahu perihal berbahaya atau tidaknya jenis berbagai bahan yang sering digunakan untuk kosmetik. Jangan mudah tergoda harga murah atau pun mahal, Hendaknya harga juga bukan menjadi faktor utama penentu kita membeli sebuah produk.

berbagai merek dan beragam pilihan harga. Mulai dari produk terkenal yang dibandrol mahal sampai dengan produk berharga miring. Gunakanlah selalu prinsip ke hati-hatian,” ujar dokter yang dikenal ramah dan murah hati ini.

Bugar

kandungan gizi pada ikan, ia menyarankan, agar memperhatikan beberapa hal dalam mengonsumsi ikan, pilihlah ikan segar. Pilih cara memasak ikan dengan dikukus, kuah, atau panggang. Namun, ikan yang dipindang atau yang diasinkan kandungan gizinya berbeda. “Ikan yang

berisiko terkait dengan peningkatan tekanan darah,” katanya. Sebaiknya, jangan terlalu se­ring mengonsumsi ikan pindang atau diasinkan, namun, pilihlah ikan segar.

hadap per u b a h a n struktur asam amino dalam ikan (asam amino histidin) yang dapat berubah menjadi histamin yang dapat memicu terjadinya alergi. Jadi, ia menyarankan, sebaiknya pilihlah ikan segar. -Wirati Astiti


12

Kuliner

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Kerupuk Sayuran Candikuning

Perayaan HUT ke-9 ICA Bali Jangan takut dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), karena kita sudah satu level lebih tinggi dari negara lain. Sumber daya manusia Indonesia Chef Association (ICA) sudah terus ditingkatkan dengan sertifikasi kompetensi. Demikian disampaikan Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Bali, Komang Adi Arsana, dalam ajang gathering ICA di Bali National Golf Nusa Dua, Selasa ( 29/3).

Dari kiri: General Manager Bali National Golf Nusa Dua Mark Holland, chef Hendra, dan Ketua ICA Bali chef Komang Adi Arsana

A

cara yang dirangkaikan dengan HUT ke-9 ICA Bali ini, selain dihadiri para chef profesional, juga para supplier hotel. Komang Adi Arsana mengatakan, bulan April, ICA mendapatkan kesempatan untuk memberikan cooking class dalam acara rakernas PHRI yang akan dihadiri dari 34 provinsi. “Tentu kesempatan itu merupakan tantangan bagi para chef untuk menunjukkan keterampilan

mereka di depan para peserta rakernas, yang sebagian besar pemilik hotel dan restoran di seluruh Indonesia,” kata executive chef Sanur Paradise Plaza ini. Ia menambahkan, HUT ICA yang biasanya dirayakan tanggal 23 Maret, mulai tahun depan akan berubah. Dalam Munas ICA di Jakarta, tanggal 17 Januari akan disepakati HUT ICA seluruh Indonesia 25 Januari. Seperti biasanya dalam acara pertemuan bulanan para chef dan supplier ini, aneka

makanan spesial dihidangkan. Executive chef Bali National Golf Nusa Dua, Hendra mengatakan, sebagai pre cocktail disajikan hidangan berupa canapé yang terdiri dari ayam sisit yang dialasi dengan sepotong lontong. Kemudian, ada crab ball, yakni daging kepiting yang dibentuk bola dan dibungkus tepung roti dan digoreng. Samosa pastel bentuk segitiga dengan tambahan bumbu khas dari India, dan frontail yakni udang goreng dalam balutan kulit lumpia. Sementara, menu untuk buffet, yang spesial ada makanan khas tradisional Bali ayam betutu, dan

Kerupuk brokoli

Bali National Golf Nusa Dua

menu cuisine pork rib dan ayam cajun spicy. Pork rib adalah iga daging babi yang diberi bumbu basa genep sampai tercampur rata. Kemudian direbus agar bumbu meresap, kemudian dipanggang. Ayam cajun spicy ini sangat unik karena daging ayam diberi bumbu rempah dari India. Daging ayam ini direndam dalam bumbu semalaman agar mendapatkan rasa daging yang empuk saat dibakar. Hidangan utama, selain menyajikan nasi putih, ada juga

Ayam cajun spicy

spesial nasi beras merah. Chef Hendra mengatakan, sebagai tempat olah raga golf, Bali National Golf Nusa Dua menyajikan aneka menu yang sehat. Untuk healty food, ada steam salmon, dan nasi campur vegetarian. Menu spesial yang baru diluncurkan adalah rib rendang dan ikan sambal matah. Penyajian makanan menggunakan nampan dari kayu dengan wadah penyajian lauk-pauk, sayuran, dan sambal dari takir daun pisang. –Wirati Astiti

P

Siti Halimah

ernahkah Anda mendengar sayuran dibuat kerupuk? Hal ini yang dikerjakan Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Cipta Lestari,

Aneka sambal

Makin banyak saja orang yang melihat peluang berbisnis sambal. Salah satunya, Ari Lestari. Perempuan asal Yogyakarta yang merantau ke Bali ini, membuat

varian sambal dengan nama unik. Ada lima jenis sambal yang ia pamerkan dalam ajang gathering ICA. Ada sambal cabai kering pedas, sambal cabai kering

Tips Memotong Daging

Memotong daging memang sedikit sulit, apalagi jika kita tidak tahu bagaimana cara memotong yang benar. Agar Anda lebih lihai mengolah daging, dan seluruh keluarga betul-betul menikmati hasilnya, berikut tips memotong daging dari ahli masak Dedie Soekartin. Sebelum daging dipotong-potong harus terlebih dahulu dibersihkan dari lemak atau serat, atau selaput keras yang menempel pada daging tersebut. Cara memotong daging yang benar adalah dengan memotong vertikal arah serat daging, jadi tidak boleh memotong searah serat daging. Memotong searah serat akan menyebabkan daging yang sudah dimasak menjadi kenyal atau alot bila dimakan.

Pada beberapa item daging terben­t uk oleh lebih dari satu otot da­g ing, misalnya terbentuk lima otot daging. Maka setiap otot harus dipisahkan dulu mengikuti selaput pembatas setiap otot, baru kemudian daging tersebut dipotong melintang mengikuti arah serat daging. - Wirati Astiti

sambal ini bisa juga dijadikan bumbu dasar. Untuk sambal cabai kering pedas dan sedang, bisa untuk bumbu nasi goreng dan ayam sisit. Untuk bahan dasar sambal ini terbuat dari cabai rawit, bawang putih, dan garam. Jadi, kata Ari Lestari, sangat aman untuk yang vegetarian. Khusus untuk sambal mama, ia beri

ati

Nikm

tambahan bawang merah dan terasi. Ia menyatakan sambalnya tanpa bahan pengawet sehingga disebut sambal cepek alias 100% natural. Untuk daya tahan sambal, kata dia, jika disimpan di kulkas bisa tahan sampai 6 bulan. “Hanya sambal mama yang tahan dua minggu,” kata Ari Lestari. –Wirati Astiti

Chinesse Food

Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu

Dapatkan voucher makan gratis senilai Rp 25 ribu di Cafe Mie Bali

Murah Meriah & Bersih Aloha Ice Cream

Nasi Goreng Setan

Berlaku Mulai 1 s.d. 30 April 2016

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Tabanan. Sayuran yang dibuat kerupuk terdiri dari brokoli, bunga kol, jagung, wortel, bit, dan lobak. Ketua Poklahsar, Siti Halimah, mengatakan, kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 2005. “Namun, waktu itu, saya belum bersama kelompok Poklahsar. Saya mencoba mengolah sendiri, sebelum akhirnya mendirikan kelompok ini dua tahun lalu,” kata finalis Ibu Teladan Bali tahun 2011, saat ditemui di Festival Mertasari, Sanur, pekan lalu. Menurut Siti Halimah, cara membuat kerupuk sayuran ini adalah, satu kilogram sayuran dipotongpotong kecil, kemudian direbus dan dihaluskan. Tambahkan satu kilogram tepung tapioka. 10 persen dari tepung taioka adalah tepung terigu dan 10 persen tepung beras. Adonan ini ditambahkan tiga telur ayam, gula, garam, dan jahe. Kemudian dicampur dan dihaluskan. Adonan dibungkus seperti lontong,

dan dikukus. Setelah itu, didinginkan. Kemudian diiris-iris, dan dijemur. Kerupuk ini tahan sampai setahun, asal disimpan dalam tempat yang kering. “Sayuran yang dipakai kerupuk adalah sayuran yang tidak diterima di hotel alias yang grade-nya rendah. Namun, ketika sudah diolah menjadi aneka kerupuk, justru kerupuk sayuran ini sangat diminati para tamu hotel sebagai makanan khas oleh-oleh Bali,” ujarnya. Siti Halimah mengatakan, awalnya ia terjun dalam usaha katering. Berlabel Catering Ayu berlokasi di Desa Candikuning Baturiti, ia melayani pesanan makanan sampai ke Denpasar. Saat pertamakali pindah ke Bali tahun 2005, mengikuti suami, ia diminta mewakili Bali dalam lomba menu kreasi umbi Bali. Waktu itu, ia membuat bitter ballen dari umbi jempirangan dan biaung yakni sejenis talas hitam, black forest ubi, dan puding jagung. Hasil menu kreasi

buatan Siti Halimah ini berhasil menang di tingkat nasional. Sejak itu, Siti Halimah mendapatkan banyak pelatihan-pelatihan dari dinas-dinas terkait, seperti Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan. Sejak itu, ia kerap diundang sebagai fasilitator dalam pengolahan makanan baik tingkat kabupaten maupun nasional. Walaupun usianya sudah 70 tahun, Siti Halimah tetap berkarya. Selain disibukkan bersama Poklahsar Cipta Lestari, ia masih menerima pesanan katering di rumahnya di Desa Candikuning, Baturiti. Saat ini, anggota Poklahsar Cipta Lestari berjumlah 13 orang perempuan yang aktif. “Sebenarnya, banyak anggotanya, namun, mereka tidak seaktif yang 13 orang ini. Mereka ini mau dan siap diajak pameran ke hotel atau festival-festival seperti ini,” ucapnya. Siti Halimah sudah memberikan

13

pelatihan pengolahan makanan ini ke 13 desa di Kecamatan Baturiti. Selain kerupuk sayuran, Poklahsar juga memproduksi bakso, nugget, lumpia, siomay, dan bitter balen. Jadwal Siti Halimah sangat padat. Tanggal 29 Maret ia memberi pelatihan di Desa Selemadeg, Tabanan, 31 Maret di Desa Kesiud Tabanan, bulan April ia memberikan pelatihan kepada para napi perempuan di LP Tabanan. Bahkan, Siti Halimah mendapatkan tawaran untuk memasak di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Namun, ia belum bisa memastikan kapan bisanya. Ia mengaku sangat bangga sudah berkenalan dengan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. “Rencananya di rumah saya akan dijadikan pusat pelatihan mandiri perikanan dan kelautan. Waktunya belum tahu kapan,” kata Siti Halimah dengan sumringah. –Wirati Astiti

Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Cipta Lestari

Lodeh Rebung Kacang Tolo

Canape

Si Pedas Sambal Cepek sedang, sambal basah, sambal beta (sambal cabai tabur), dan sambal mama (sambal matah tapi matang). Menurut Ari Lestari, ia tertarik berjualan sambal dalam botol ini karena melihatnya sebagai prospek yang sangat menjanjikan. “Orang biasanya makan lebih afdol dengan sambal. Tanpa sambal kurang seru,” kata perempuan yang pernah berkarier di bidang pariwisata ini. Selain bisa dimakan langsung,

Kerupuk bit

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Sarwan Bahan: 500 gr : rebung iris korek api 600 ml : air kelapa 250 gr : kacang tolo, cuci bersih rebus hingga matang 600 ml : santan encer 300 ml : santan kental 250 gr : udang kupas belah punggungya sisakan ekornya 2 lembar : daun salam 2 lembar : daun jeruk purut buang tangkainya 2 ruas : jari lengkuas, memarkan Gula, garam, kaldu bubuk secukup­nya untuk menumis

Bumbu 9 buah 4 siung 2 buah 5 buah 3 butir 1 sdt 1sdt 2 ruas

yang dihaluskan : : bawang merah : bawang putih : cabe merah besar : cabe rawit : kemiri sangria : ketumbar sangria : lada butir : jari kunyit

Cara membuat: - Rebus irisan rebung dengan air kelapa sampai matang dan lunak, lalu tiriskan. - Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum, masukkan lengkuas, daun jeruk, daun salam, aduk-aduk hingga udang matang. Lalu, masukkan santan encer

dan gula, garam dan kaldu bubuk, masukkan rebung dan kacang tolo, masak hingga mendidih. Masukkan santan kental, masak dengan api sedang sambil sekali-kali diaduk agar santan tidak pecah. Masak hingga mendidih, angkat dan siap untuk disajikan .

Asinan Sayur Ala Chef Sarwan Bahan: 70 gr : kubis atau kol iris kecil 1buah : mentimun buang bijinya iris korek api 50 gr : daun salada iris-iris Krupuk merah goreng atu emping belinjo goreng Kacang tanah goreng secukupnya Irisan cabe merah secukupnya Saus : 400 ml 2 sdm 3 sdm 3 sdm

: : : :

air cuka masak gula ebi halus

Bumbu yang dihaluskan : 3 buah : cabe besar merah 5 buah : cabe keriting merah 5 buah : cabe rawit 1 siung : bawang putih 1 sdt : garam

Cara membuat : - Rebus air sampai mendidih, masukkan bumbu halus, cuka, gula dan ebi halus dan garam. Masak hingga matang dan mendidih, angkat, biarkan sampai dingin. Lalu, tata irisan bahan dalam mangkok, siram bersama saus, siap disajikan.


12

Kuliner

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Kerupuk Sayuran Candikuning

Perayaan HUT ke-9 ICA Bali Jangan takut dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), karena kita sudah satu level lebih tinggi dari negara lain. Sumber daya manusia Indonesia Chef Association (ICA) sudah terus ditingkatkan dengan sertifikasi kompetensi. Demikian disampaikan Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Bali, Komang Adi Arsana, dalam ajang gathering ICA di Bali National Golf Nusa Dua, Selasa ( 29/3).

Dari kiri: General Manager Bali National Golf Nusa Dua Mark Holland, chef Hendra, dan Ketua ICA Bali chef Komang Adi Arsana

A

cara yang dirangkaikan dengan HUT ke-9 ICA Bali ini, selain dihadiri para chef profesional, juga para supplier hotel. Komang Adi Arsana mengatakan, bulan April, ICA mendapatkan kesempatan untuk memberikan cooking class dalam acara rakernas PHRI yang akan dihadiri dari 34 provinsi. “Tentu kesempatan itu merupakan tantangan bagi para chef untuk menunjukkan keterampilan

mereka di depan para peserta rakernas, yang sebagian besar pemilik hotel dan restoran di seluruh Indonesia,” kata executive chef Sanur Paradise Plaza ini. Ia menambahkan, HUT ICA yang biasanya dirayakan tanggal 23 Maret, mulai tahun depan akan berubah. Dalam Munas ICA di Jakarta, tanggal 17 Januari akan disepakati HUT ICA seluruh Indonesia 25 Januari. Seperti biasanya dalam acara pertemuan bulanan para chef dan supplier ini, aneka

makanan spesial dihidangkan. Executive chef Bali National Golf Nusa Dua, Hendra mengatakan, sebagai pre cocktail disajikan hidangan berupa canapé yang terdiri dari ayam sisit yang dialasi dengan sepotong lontong. Kemudian, ada crab ball, yakni daging kepiting yang dibentuk bola dan dibungkus tepung roti dan digoreng. Samosa pastel bentuk segitiga dengan tambahan bumbu khas dari India, dan frontail yakni udang goreng dalam balutan kulit lumpia. Sementara, menu untuk buffet, yang spesial ada makanan khas tradisional Bali ayam betutu, dan

Kerupuk brokoli

Bali National Golf Nusa Dua

menu cuisine pork rib dan ayam cajun spicy. Pork rib adalah iga daging babi yang diberi bumbu basa genep sampai tercampur rata. Kemudian direbus agar bumbu meresap, kemudian dipanggang. Ayam cajun spicy ini sangat unik karena daging ayam diberi bumbu rempah dari India. Daging ayam ini direndam dalam bumbu semalaman agar mendapatkan rasa daging yang empuk saat dibakar. Hidangan utama, selain menyajikan nasi putih, ada juga

Ayam cajun spicy

spesial nasi beras merah. Chef Hendra mengatakan, sebagai tempat olah raga golf, Bali National Golf Nusa Dua menyajikan aneka menu yang sehat. Untuk healty food, ada steam salmon, dan nasi campur vegetarian. Menu spesial yang baru diluncurkan adalah rib rendang dan ikan sambal matah. Penyajian makanan menggunakan nampan dari kayu dengan wadah penyajian lauk-pauk, sayuran, dan sambal dari takir daun pisang. –Wirati Astiti

P

Siti Halimah

ernahkah Anda mendengar sayuran dibuat kerupuk? Hal ini yang dikerjakan Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Cipta Lestari,

Aneka sambal

Makin banyak saja orang yang melihat peluang berbisnis sambal. Salah satunya, Ari Lestari. Perempuan asal Yogyakarta yang merantau ke Bali ini, membuat

varian sambal dengan nama unik. Ada lima jenis sambal yang ia pamerkan dalam ajang gathering ICA. Ada sambal cabai kering pedas, sambal cabai kering

Tips Memotong Daging

Memotong daging memang sedikit sulit, apalagi jika kita tidak tahu bagaimana cara memotong yang benar. Agar Anda lebih lihai mengolah daging, dan seluruh keluarga betul-betul menikmati hasilnya, berikut tips memotong daging dari ahli masak Dedie Soekartin. Sebelum daging dipotong-potong harus terlebih dahulu dibersihkan dari lemak atau serat, atau selaput keras yang menempel pada daging tersebut. Cara memotong daging yang benar adalah dengan memotong vertikal arah serat daging, jadi tidak boleh memotong searah serat daging. Memotong searah serat akan menyebabkan daging yang sudah dimasak menjadi kenyal atau alot bila dimakan.

Pada beberapa item daging terben­t uk oleh lebih dari satu otot da­g ing, misalnya terbentuk lima otot daging. Maka setiap otot harus dipisahkan dulu mengikuti selaput pembatas setiap otot, baru kemudian daging tersebut dipotong melintang mengikuti arah serat daging. - Wirati Astiti

sambal ini bisa juga dijadikan bumbu dasar. Untuk sambal cabai kering pedas dan sedang, bisa untuk bumbu nasi goreng dan ayam sisit. Untuk bahan dasar sambal ini terbuat dari cabai rawit, bawang putih, dan garam. Jadi, kata Ari Lestari, sangat aman untuk yang vegetarian. Khusus untuk sambal mama, ia beri

ati

Nikm

tambahan bawang merah dan terasi. Ia menyatakan sambalnya tanpa bahan pengawet sehingga disebut sambal cepek alias 100% natural. Untuk daya tahan sambal, kata dia, jika disimpan di kulkas bisa tahan sampai 6 bulan. “Hanya sambal mama yang tahan dua minggu,” kata Ari Lestari. –Wirati Astiti

Chinesse Food

Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu

Dapatkan voucher makan gratis senilai Rp 25 ribu di Cafe Mie Bali

Murah Meriah & Bersih Aloha Ice Cream

Nasi Goreng Setan

Berlaku Mulai 1 s.d. 30 April 2016

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Tabanan. Sayuran yang dibuat kerupuk terdiri dari brokoli, bunga kol, jagung, wortel, bit, dan lobak. Ketua Poklahsar, Siti Halimah, mengatakan, kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 2005. “Namun, waktu itu, saya belum bersama kelompok Poklahsar. Saya mencoba mengolah sendiri, sebelum akhirnya mendirikan kelompok ini dua tahun lalu,” kata finalis Ibu Teladan Bali tahun 2011, saat ditemui di Festival Mertasari, Sanur, pekan lalu. Menurut Siti Halimah, cara membuat kerupuk sayuran ini adalah, satu kilogram sayuran dipotongpotong kecil, kemudian direbus dan dihaluskan. Tambahkan satu kilogram tepung tapioka. 10 persen dari tepung taioka adalah tepung terigu dan 10 persen tepung beras. Adonan ini ditambahkan tiga telur ayam, gula, garam, dan jahe. Kemudian dicampur dan dihaluskan. Adonan dibungkus seperti lontong,

dan dikukus. Setelah itu, didinginkan. Kemudian diiris-iris, dan dijemur. Kerupuk ini tahan sampai setahun, asal disimpan dalam tempat yang kering. “Sayuran yang dipakai kerupuk adalah sayuran yang tidak diterima di hotel alias yang grade-nya rendah. Namun, ketika sudah diolah menjadi aneka kerupuk, justru kerupuk sayuran ini sangat diminati para tamu hotel sebagai makanan khas oleh-oleh Bali,” ujarnya. Siti Halimah mengatakan, awalnya ia terjun dalam usaha katering. Berlabel Catering Ayu berlokasi di Desa Candikuning Baturiti, ia melayani pesanan makanan sampai ke Denpasar. Saat pertamakali pindah ke Bali tahun 2005, mengikuti suami, ia diminta mewakili Bali dalam lomba menu kreasi umbi Bali. Waktu itu, ia membuat bitter ballen dari umbi jempirangan dan biaung yakni sejenis talas hitam, black forest ubi, dan puding jagung. Hasil menu kreasi

buatan Siti Halimah ini berhasil menang di tingkat nasional. Sejak itu, Siti Halimah mendapatkan banyak pelatihan-pelatihan dari dinas-dinas terkait, seperti Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan. Sejak itu, ia kerap diundang sebagai fasilitator dalam pengolahan makanan baik tingkat kabupaten maupun nasional. Walaupun usianya sudah 70 tahun, Siti Halimah tetap berkarya. Selain disibukkan bersama Poklahsar Cipta Lestari, ia masih menerima pesanan katering di rumahnya di Desa Candikuning, Baturiti. Saat ini, anggota Poklahsar Cipta Lestari berjumlah 13 orang perempuan yang aktif. “Sebenarnya, banyak anggotanya, namun, mereka tidak seaktif yang 13 orang ini. Mereka ini mau dan siap diajak pameran ke hotel atau festival-festival seperti ini,” ucapnya. Siti Halimah sudah memberikan

13

pelatihan pengolahan makanan ini ke 13 desa di Kecamatan Baturiti. Selain kerupuk sayuran, Poklahsar juga memproduksi bakso, nugget, lumpia, siomay, dan bitter balen. Jadwal Siti Halimah sangat padat. Tanggal 29 Maret ia memberi pelatihan di Desa Selemadeg, Tabanan, 31 Maret di Desa Kesiud Tabanan, bulan April ia memberikan pelatihan kepada para napi perempuan di LP Tabanan. Bahkan, Siti Halimah mendapatkan tawaran untuk memasak di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Namun, ia belum bisa memastikan kapan bisanya. Ia mengaku sangat bangga sudah berkenalan dengan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. “Rencananya di rumah saya akan dijadikan pusat pelatihan mandiri perikanan dan kelautan. Waktunya belum tahu kapan,” kata Siti Halimah dengan sumringah. –Wirati Astiti

Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Cipta Lestari

Lodeh Rebung Kacang Tolo

Canape

Si Pedas Sambal Cepek sedang, sambal basah, sambal beta (sambal cabai tabur), dan sambal mama (sambal matah tapi matang). Menurut Ari Lestari, ia tertarik berjualan sambal dalam botol ini karena melihatnya sebagai prospek yang sangat menjanjikan. “Orang biasanya makan lebih afdol dengan sambal. Tanpa sambal kurang seru,” kata perempuan yang pernah berkarier di bidang pariwisata ini. Selain bisa dimakan langsung,

Kerupuk bit

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Sarwan Bahan: 500 gr : rebung iris korek api 600 ml : air kelapa 250 gr : kacang tolo, cuci bersih rebus hingga matang 600 ml : santan encer 300 ml : santan kental 250 gr : udang kupas belah punggungya sisakan ekornya 2 lembar : daun salam 2 lembar : daun jeruk purut buang tangkainya 2 ruas : jari lengkuas, memarkan Gula, garam, kaldu bubuk secukup­nya untuk menumis

Bumbu 9 buah 4 siung 2 buah 5 buah 3 butir 1 sdt 1sdt 2 ruas

yang dihaluskan : : bawang merah : bawang putih : cabe merah besar : cabe rawit : kemiri sangria : ketumbar sangria : lada butir : jari kunyit

Cara membuat: - Rebus irisan rebung dengan air kelapa sampai matang dan lunak, lalu tiriskan. - Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum, masukkan lengkuas, daun jeruk, daun salam, aduk-aduk hingga udang matang. Lalu, masukkan santan encer

dan gula, garam dan kaldu bubuk, masukkan rebung dan kacang tolo, masak hingga mendidih. Masukkan santan kental, masak dengan api sedang sambil sekali-kali diaduk agar santan tidak pecah. Masak hingga mendidih, angkat dan siap untuk disajikan .

Asinan Sayur Ala Chef Sarwan Bahan: 70 gr : kubis atau kol iris kecil 1buah : mentimun buang bijinya iris korek api 50 gr : daun salada iris-iris Krupuk merah goreng atu emping belinjo goreng Kacang tanah goreng secukupnya Irisan cabe merah secukupnya Saus : 400 ml 2 sdm 3 sdm 3 sdm

: : : :

air cuka masak gula ebi halus

Bumbu yang dihaluskan : 3 buah : cabe besar merah 5 buah : cabe keriting merah 5 buah : cabe rawit 1 siung : bawang putih 1 sdt : garam

Cara membuat : - Rebus air sampai mendidih, masukkan bumbu halus, cuka, gula dan ebi halus dan garam. Masak hingga matang dan mendidih, angkat, biarkan sampai dingin. Lalu, tata irisan bahan dalam mangkok, siram bersama saus, siap disajikan.


14

Jelita

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Hati-hati Pilih Produk Kosmetik Tidak dipungkiri tren industri kecantikan berkembang pesat di berbagai belahan dunia, termasuk di negara kita. Bahkan, Indonesia secara umum disebut sebagai salah satu negara yang mengalami perkembangan paling pesat untuk urusan pasar produk kosmetik.

H

dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK.

Dikatakannya dengan semakin banyaknya produk kosmetik di pasaran, maka masyarakat diminta lebih pandai dalam memilah dan memilih supaya tidak menyesal dikemudian hari. Tentu akan ada akibat dan bahayanya ketika kita asal membeli produk kosmetik. Apalagi membeli hanya karena tergiur harga murah. Mengingat cukup banyak kasus produk kosmetik yang harganya murah beredar melalui pasar gelap.Begitu juga degan membeli sembarangan tanpa bekal pengetahuan, bisa saja justru mengakibatkan kerusakan kulit seperti ,wajah terasa panas, peris , memerah atau menghitam, menjadi gatal hingga bentol-bentol setelah menggunakannya. “Saat ini, banyak produk perawatan dan kosmetik beredar dengan

Deteksi Awal Membeli Kosmetik Mengenali produk kosmetik yang aman, dokter Laksmi menyatakan sebenarnya cukup mudah. Dapat dikenali melalui baunya yang menyengat, warnanya mulai berubah serta teksturnya. “Apabila ketiga hal ini terlihat atau terdeteksi pada sebuah produk kosmetik sebaiknya kita tidak membelinya, sebab bisa saja produk kosmetik itu palsu atau sudah kadaluarsa,” katanya sembari menyarankan agar kita selalu mengecek setiap produk kosmetik yang akan dibeli. Sebaiknya pula lanjut dokter Laksmi ketika kita akan menggunakan produk kecantikan bukan hanya aman dan ramah bagi kulit, namun juga ramah terhadap lingkungan. Sebab produk dengan kualitas terbaik akan memberikan hasil yang terbaik pula. Untuk pemakaian kosmetik pun sebaiknya jangan langsung di pakai pada wajahtetapi di coba dulu pada punggung tangan dan setelah tidak ada efek samping baru di coba wajah secara bertahap. Ketika dilempari pertanyaan apa sebenarnya arti kosmetik dan produk kecantikan yang ramah lingkungan tersebut, dokter Laksmi menegaskan bahwa produk kecantikan yang ramah lingkungan tersebut salah satunya dapat dilihat dari sisi kandungannya yang berbahan alami dan tidak mengandung jenis pengawet, bahan-bahan kimia berbahaya, atau juga bahan pewarna buatan. Biasakanya selalu memeriksa label kemasan bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan yang membuat kulit iritasi dan alergi.Oleh negara kita akan sangat memungkinkan luput dari pengawasan. Selanjutnya, kita bisa mencari tahu merek kosmetiknya. Misalnya dengan bertanya langsung kepada teman yang dipercaya paham tentang kosmetik , atau bisa juga pada mereka yang sudah maupun sedang memakai merek tertentu. “Selain itu. kita bisa

www.beritacenter.com

Gunakan kos­ metik yang te­ lah ter­daftar di BPOM, cek tanggal kadaluar­sa, pi­ lih kosmetik sesuai de­ngan jenis kulit. Hin­ dari kosmetik yang men­ janjikan hasil terlalu instan.

membaca review sebuah berbagai merek produk melalui internet. Sehingga untuk mengetahui produk kosmetik yang bagus , kita sebaiknya konsultasikan kepada ahlinya sebab dengan ,mengetahui kondisi dan jenis kulit akan memudahkan dalam melakukan perawtan dan memberi penanganan jika terjadi efek samping. Bacalah sekali lagi informasi di kemasannya, biasanya juga berisi tentang bagaimana produk itudibuat, ramah lingkungan atau tidak. Gunakan kosmetik yang telah terdaftar di BPOM, cek tanggal kadaluarsa, pilih kosmetik sesuai dengan jenis kulit. Hindari kosmetik yang menjanjikan hasil terlalu instan. Karenanya disarankan jangan membeli produk kosmetik sembarangan sehingga membahayakan kulit. Dokter Laksmi juga mengingatkan, intinya kita harus selalu waspada, sebab tidak ada yang isa menjamin bahwa produk yang mahal pasti aman. Mari kita jaga keselamatan dan kesehtan kulit. – Sri Ardhini

11

Edisi 895/ 4 -10 april 2016

Alasan Anda harus Makan Ikan

Siapa yang tidak tahu ikan? Sebagian besar orang sangat suka mengonsumsi ikan. Selain rasanya yang enak dan gurih ikan juga memiliki berbagai manfaat yang baik untuk kesehatan. Apapun jenis ikan yang Anda konsumsi setiap hari, banyak manfaat yang Anda dapatkan.

dr. I Wayan Sutadarma, M.Gizi.

M

enurut ahli gizi, d r. I Wa y a n Sutadarma, M.Gizi., manfaat makan ikan sangat banyak. Ikan dapat meningkatkan pertumbuhan fisik terutama anakanak. Ikan juga dapat mengurangi risiko penyakit degeneratif akibat inflamasi (peradangan). “Ikan dapat mengurangi risiko peningkatan kadar kolesterol. Bahan makanan sumber protein kualitas tinggi, dan sumber vitamin dan mineral yang baik,” jelas dosen FK Unud ini. Ia menambahkan, kandungan zat gizi pada ikan sangat baik untuk anak-anak, orang dewasa dan ibu hamil dan menyusui. Kandungan zat gizi pada ikan antara lain, asam lemak omega 3 sebagai sumber EPA dan DHA, vitamin D dan B2, kalsium dan fosfor, zinc, zat besi, selenium, magnesium.

Apa benar makan ikan membuat anak pintar? Ka n d u n g a n a s a m l e mak omega 3 merupakan sumber EPA dan DHA, dimana DHA berperan untuk membentuk selubung sel saraf terutama di otak. Oleh karena itu, sel saraf yang baik tentu akan dapat berfungsi lebih optimal terutama terkait dengan kecerdasan. Nutrisi yang tepat ditambah dengan latihan/pembelajaran yang tepat maka diharapkan kecerdasan anak akan meningkat. Makan ikan juga di­sebut dapat membantu tinggi badan bertambah. “Kan­ dungan kalsium dan fosfor dalam ikan dapat membantu pertumbuhan tulang dan gigi. Kandungan kalsium dan fosfor lebih ba­nyak ter­dapat di bagian tulang ikan, jadi konsumsilah ikan bersama dengan tulangnya terutama ikan-ikan kecil,” kata dr. Sutadarma. Ia menyarankan, perkenalkan anakanak untuk makan ikan sejak kecil dan bagi ibu hamil dan menyusui harus lebih banyak makan ikan. Sebaiknya makanlah ikan minimal dua porsi sampai 4 porsi perminggu. “Apabila dikonsumsi setiap hari satu porsi juga tidak masalah asalkan diimbangi dengan bahan

makanan sumber protein nabati,” sarannya. Kandungan gizi terbaik ada pada ikan laut dalam seperti ikan salmon, tuna, dan makarel, karena kandungan omega 3-nya lebih tinggi dibandingkan ikan air tawar. Untuk menjaga

sudah dipindang atau diasinkan memiliki kandungan nutrisi yang sudah jauh berkurang. Selain itu, proses pengasinan akan meningkatkan kadar natrium sehingga apabila dikonsumsi jangka panjang akan

Sebagian orang tidak berani makan ikan karena alergi, bagaimana cara mengatasinya. “Alergi disebabkan karena kan­ dungan protein dalam ikan. Bagi orang yang memang alergi jika makan ikan sebaiknya memang harus menghindari konsumsi ikan,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan, perlu diperhatikan lama waktu penyimpanan, karena ini juga berpengaruh ter-

www.carapedia.com

al ini terjadi tentu karena pertumbuhan pangsa pasar yang semakin menjanjikan pula. Maka, berbagai perusahaan kecantikan dari luar masuk ke Indonesia dan menjadikan negara kita salah satu prioritasnya dalam pengembangan pasar baru. Karenanya, saat ini di negara kita jumlah usaha kecantikan keberadaannya sudah sangat luar biasa banyaknya dan masih akan terus bertumbuh. Meski dilanda krisis global, namun keinginan setiap perempuan untuk cantik, terawat dan terlihat sempurna tidak pernah surut. Mereka pun dengan sangat rela membelanjakan uang untuk produk kecantikan dan kesehatan . Sebab, produk kecantikan bagi sebagian besar perempuan adalah salah satu elemen penting untuk menunjang penampilan. Tentu persoalan memilih produk kecantikan yang tepat, sesuai dan aman sangat penting bagi semua orang. Apalagi kini, semakin banyak produk kecantikan yang ditawarkan dan setiap produsen mengklaim jika produk kecantikan merekalah yang terbaik, aman dengan hasil memuaskan. Lantas, sebenarnya, seperti apakah produk perawatan dan kecantikan yang sebaiknya kita pakai. Terlebih dengan semakin banyaknya pilihan produk yang menyebabkan banyak orang bingung harus memilih yang mana. Menurut dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK, sebaiknya kita belajar untuk tahu perihal berbahaya atau tidaknya jenis berbagai bahan yang sering digunakan untuk kosmetik. Jangan mudah tergoda harga murah atau pun mahal, Hendaknya harga juga bukan menjadi faktor utama penentu kita membeli sebuah produk.

berbagai merek dan beragam pilihan harga. Mulai dari produk terkenal yang dibandrol mahal sampai dengan produk berharga miring. Gunakanlah selalu prinsip ke hati-hatian,” ujar dokter yang dikenal ramah dan murah hati ini.

Bugar

kandungan gizi pada ikan, ia menyarankan, agar memperhatikan beberapa hal dalam mengonsumsi ikan, pilihlah ikan segar. Pilih cara memasak ikan dengan dikukus, kuah, atau panggang. Namun, ikan yang dipindang atau yang diasinkan kandungan gizinya berbeda. “Ikan yang

berisiko terkait dengan peningkatan tekanan darah,” katanya. Sebaiknya, jangan terlalu se­ring mengonsumsi ikan pindang atau diasinkan, namun, pilihlah ikan segar.

hadap per u b a h a n struktur asam amino dalam ikan (asam amino histidin) yang dapat berubah menjadi histamin yang dapat memicu terjadinya alergi. Jadi, ia menyarankan, sebaiknya pilihlah ikan segar. -Wirati Astiti


10

Kreasi

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Kader posyandu bukan hanya piawai mengurus balita, mereka juga terampil membuat tamiang. Itulah yang terlihat dalam acara pelatih­ an daur ulang dari bungkus Ting Ting Garuda. Bersama instruktur I Wayan Sumatra dari Pokja III PKK Kota Denpasar, hanya dalam waktu 1 ½ jam tiap kelompok sudah berhasil menyelesaikan satu tamiang. Bahkan, ada satu kelompok membuat dua tamiang kreasi.

S

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

15

Tampil Gaya dengan Putih

Tamiang Ting Ting Garuda Kreasi Kader Posyandu Denpasar

ekretaris PKK Kota Denpasar, Sri Utari mengatakan, bahan utama tamiang ini dari daun lontar dengan hiasan Ting Ting Garuda sebagai pemanisnya. “Dengan warna merah merekah, bungkus Ting Ting Garuda membuat tamiang kreasi ini sangat indah dipandang mata. Tamiang ini cocok sebagai hiasan dinding atau ditempel di podium,” ujarnya. Mariani, perwakilan posyandu Kecamatan Denpasar Utara sa­ ngat menyambut baik pelatihan ini. Menurutnya, disamping belajar membuat kreasi, para kader juga bisa membantu mengurangi sampah. Dewa Ayu Anggreni perwakilan dari posyandu Kecamatan Denpasar Timur menambahkan, pertamakalinya ikut pelatihan daur ulang. “Ternyata, dari bungkus Ting Ting Garuda, bagus

Style

juga dikreasikan menjadi tamiang,” ujarnya sembari sibuk memotret tamiang kreasi tersebut. Wayan Sariati, dari posyandu Desa Penatih mengatakan, tak terlalu pintar membuat tamiang. “Biasanya, saya membuat tamiang hanya untuk Hari Raya Kuningan. Bentuknya pun sangat sederhana. Dengan pelatihan ini, saya bisa mendapatkan wawasan baru kreasi-kreasi tamiang yang lain,” ujarnya. Ibu Dewa dari Desa Tegal Harum, Kecamatan Denpasar Barat mengatakan, sudah pernah mengikuti pelatihan daur ulang

di tempatnya. “Daur ulang dari kertas koran dan majalah untuk membuat tempat tisu, bunga,

dan tempat buah. Teh gelas untuk membuat tas dan bungkus kopi untuk membuat tas dan topi. Bahkan, kami di masing-masing posyandu sudah punya bank sampah,” katanya. Made Beda dari kecamatan Denpasar Selatan mengaku, ini pertamakalinya membuat tamiang. “Karena ada contohnya, saya berani mencoba dengan mengikuti pola yang ada dengan memakai gunting. Kalau pakai pisau belum mahir,” ujarnya sembari tertawa. Ia sendiri menyambut baik pelatihan ini dan menurutnya sangat bermanfaat karena da-

pat memberikan ibu-ibu peluang bisnis. Bu Fiske, Ketua TP PKK Desa Peguyangan Kaja sudah menganggarkan tahun 2016 ini ada pelatihan daur ulang di desanya. Karena menurutnya, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warga desa. “Mungkin bulan Juni akan kami mulai. Kami berharap kegiatan seperti ini dibuat berkesinambungan karena manfaatnya sangat banyak untuk para ibu,” kata Bu Fiske. VARIASI BEDA Wayan Sumatra mengatakan, tak sulit mengajarkan ibu-ibu membuat tamiang kreasi karena kebiasaan mereka sebagai wanita Bali yang terbiasa membuat sarana upacara. “Pelatihan tamiang yang kedua ini, saya buat ada yang berbeda sedikit. Kalau yang pertama bentuk bunga di tengah tamiang dibuat dengan bungkus Ting Ting Garuda yang dilipat, sekarang bunga yang di tengah tamiang dibuat dengan cara memotong-motong kecil bungkus Ting Ting. Biar ada variasi saja,” katanya. Ia menambahkan, selain bentuk yang diajarkan saat pelatihan, para ibu diharapkan dapat berkreasi lebih banyak dan lebih baik pada saat lomba yang akan digelar tanggal 17 April 2016 di Wantilan Bali TV. Tepat pukul 12.30, kreasi tamiang para kader posyandu ini dipajang di lantai. Uniknya, di bagian atas, mereka membuat kreasi sendiri dengan bertuliskan TING TING. –Wirati Astiti

Sederhana, simpel namun menarik, itulah kesan yang ditonjolkan dari beberapa model yang menjadi pilihan halaman Style Tokoh pekan ini. Pesona warna putih berbahan linen dan katun ini semakin terlihat dengan dominasi siluet slim dan flare.

M

enurut sang desainer Jesica Rosdianti B Kristianto, atau yang lebih dikenal dengan Jesica Rosd, untuk koleksi terbarunya ini, ia mengusung judul “Blanche , yang diambilnya dari bahasa Perancis yang artinya putih. Sedangkan inspirasinya diperoleh dari bermacam-macam makna di balik kata putih, diantaranya polos, bersih namun elegan. Menurut Jesica Rosd, busana

ready to wear ini dapat dikenakan oleh para remaja hingga orang dewasa. Selain itu seluruh desainnya juga mudah untuk di mix and match. Jadi kita tinggal menyesuaikan apakah akan digunakan untuk pergi aktivitas ke kantor ataukah untuk santai seperti hang out atau jalanjalan bersama teman. -Sri Ardhini Model by Shoot by Stylist Shoes

: Teen Models Bali : Tjedcnd : Natasya Pricillia B Kristianto : MOV


16

Edukasi

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Pengabdian Masyarakat FH Undwi di Desa Wisata Penglipuran

Tingkatkan Partisipasi Perempuan Hadapi MEA Civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar mengadakan pengabdian masyarakat di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Minggu (27/3). Acara dibuka Wakil Rektor II Dra. Ni Made Suar­ningsih, M.Si. mewakili Rektor Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Putu Dyatmikawati, S.H., M.Hum. Tema kegiatan ini “Melalui Pengabdian Masyarakat Kita Tingkatkan Partisipasi Perempuan dalam Keluarga Meng­hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. gung Ngurah Indradewi, S.H., M.H. menambah­ kan pemilihan Desa Wisata Penglipuran se­ bagai lokasi pengab­ dian masyarakat tak lepas dari eksistensi desa wisata yang masuk tiga besar desa wisata terbersih di dunia. “Desa Wisata Penglipuran ini memiliki nilai sejarah Suasana ceramah“Meningkatkan Kualitas Peran Perempuan Bali dalam ­Keluarga dan Masyarakat” yang dan sangat kuat dalam disampaikan Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si. menjaga tradisi. Angkulangkulnya seragam. Ini etua Panitia Pengab­ menjadi bukti kuatnya masyarakat dian Masyarakat FH menjaga tradisi. Contoh lain, bagi Undwi Drs. ­I Ketut laki-laki yang melakukan poligami Windia, S.H., M.H. me­ diberikan tempat yang diberi nama ngatakan kegiatan ini diikuti 180 Karang Memadu. Namun, sam­ peserta dengan tujuan melaksana­ pai sekarang tidak ada laki-laki kan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Penglipuran yang berani melakukan khususnya pengabdian masyarakat. poligami. Di sisi lain, ini tentu peng­ “Kegiat­an yang kami lakukan antara hormatan bagi perempuan karena lain sembahyang bersama, ceramah mereka tidak dimadu,” tegasnya. dengan narasumber Prof. Dr. I Wayan Indradewi pun berharap tatanan P. Windia, S.H., M.Si, pengobatan gra­ adat yang kuat ini juga bisa men­ tis yang dipimpin dr. Nyoman Diana, jadi landasan bagi kaum perempuan bersih-bersih, serta penyerahan dan Penglipuran untuk bisa berkiprah penanaman bibit pohon langka,” lebih banyak dalam keluarga maupun jelasnya. masyarakat. Karena itulah, peng­ Dekan FH Undwi Dr. A.A. Sa­ abdian masyarakat juga dirangkai

K

Penyerahan bibit tanaman langka dari Wakil Rektor II Undwi Dra. Ni Made Suarningsih, M. Si yang didampingi Dekan FH Undwi Dr. A.A. Sagung Ngurah Indradewi, S.H., M.H. dan Ketua Panitia Pengabdian Masyarakat FH Undwi ­D rs. I Ketut Windia, S.H., M.H. kepada Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Supat

dengan ceramah “Meningkatkan Kualitas Peran Perempuan Bali da­ lam Keluarga dan Masyarakat” yang disampaikan Prof. Windia. “Ada tiga hal yang harus dipaha­ mi. Pertama, apa peran perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat. Kedua, mengapa kualitas perempuan Bali perlu ditingkatkan. Ketiga, ba­ gaimana caranya mening­ katkan kualitas tersebut,” ujar guru besar Hukum Adat Fakultas Hukum Uni­ versitas Udayana ini. Ia pun menjelaskan perempuan Bali sudah m a m p u b e r k i p ra h d i berbagai bidang bahkan mampu menjadi pimpinan di lembaga-lembaga yang didominasi kaum laki-laki. Potensi ini harus terus dikembangkan dan digu­ nakan dengan baik untuk menghindari terjadinya

Penyerahan punia dari Dekan FH Undwi kepada Bendesa Penglipuran

lapar dibiarkan dan tidak ditangani, bisa memicu ngambres (ngambek),” ketidakadilan gender. Kualitas pen­ kata profesor yang identik de­ngan didikan, kesehatan, dan pendapatan udeng poleng ini. Bendesa Adat Penglipuran I menjadi faktor yang perlu ditingkat­ kan. “Perempuan memiliki kekuatan Wayan Supat menyambut baik keg­ berupa kelembutan. Ini merupakan iatan yang dilakukan FH Undwi. “Ini modal perempuan untuk berkiprah. kali ketiga kami dijadikan lokasi Kurangi tingkat frustrasi dengan pengabdian masyarakat oleh Undwi. cara, kalau lelah ya istirahat, kalau Kami berterima kasih karena sudah lapar ya makan. Kalau lelah dan diperhatikan dan diberikan bantuan tanaman langka dan tanaman upac­ ara. Semoga kegiat­ an ini bisa memberi manfaat bagi kita semua,” ujar Bend­ esa yang didampingi Kepala Lingkungan Penglipuran, per­ wakilan Ke­l urahan Kubu, perwakilan Kecamatan Bangli, TP PKK Kelurahan Kubu, TP PKK Keca­ matan Bangli, serta tokoh masyarakat Penglipuran. –wah Pemeriksaan kesehatan untuk warga Penglipuran

Franchise Kumon

Peluang Usaha Menarik di Bidang Pendidikan Pendidikan merupakan modal penting bagi perkembangan se­ tiap bangsa. Hal ini karena bangsa yang memperhatikan kualitas pendidikan adalah bangsa yang maju di segala bidang. Melihat be­ gitu pentingnya pendidikan serta masih belum meratanya sarana yang ada di Indonesia, maka usaha bidang pendidikan merupakan peluang yang bisa diambil bagi mereka yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Anda yang berminat mem­ buka usaha di bidang pendidikan tetapi belum memiliki sistem yang mendukung usaha tersebut dapat memilih sistem franchise (wara­ laba). Kelebihan utama sistem franchise adalah tidak perlu me­ ngenalkan brand dari awal karena brand tersebut sudah dikenal kon­ sumen sebelumnya. Kelebihan lain adalah adanya program pelatihan yang dibutuhkan agar pemilik franchise memiliki bekal untuk mengelola usaha secara mandiri. KUMON adalah sistem franchise

dengan sejarah yang panjang sejak tahun 1950 dan sampai dengan saat ini sudah tersebar di 47 negara di seluruh dunia. Pemilik franchise KUMON (pembimbing kumon) adalah orang-orang yang mau bela­ jar dari siswa dan terjun langsung membimbing anak-anak di kelas. Pembimbing KUMON berkomitmen mendorong anak-anak memiliki life skill yang memungkinkan mereka menjalani hidup dengan senang dan mengembangkannya sampai maksimal, memiliki impian dan tujuan serta bersemangat mencoba hal-hal baru. Program belajar KUMON ter­ diri dari program Matematika dan Bahasa Inggris. Tujuan Metode KUMON adalah siswa mampu be­ lajar di atas tingkatan kelas secara mandiri. Lembar kerja KUMON telah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Ketika memasuki topik baru diberikan contoh dan penjelasan yang men­

dorong siswa untuk mempelajari­ nya sendiri dan maju dengan kemampuannya sendiri. Saat ini PT KIE Indonesia memberikan kesempatan ke­pada

Masyarakat Bali untuk dapat memiliki Kelas KUMON sekaligus menjadi Pembimbing KUMON. Persyaratan utama adalah Wanita usia maksimal 45 tahun dengan

pendidikan minimal D3 semua jurusan. Informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi (0361) 232121; 0815-1314-5367 atau 0878-6099-5895.

Dara

Edisi 895/4 - 10 april 2016

Buat Film tanpa Naskah Berawal dari bakat dalam bidang video, membuat Gede Pasek Sriada mencoba membuat karya dalam bentuk film pendek. Ia tidak ingin bakat yang dimilikinya terbuang begitu saja tetapi bisa tersalurkan untuk hal yang bermanfaat. Pembuatan film pendeknya tidak akan sempurna jika tidak didukung oleh akting para pemain, maka dari itu ia turut mengajak teman-temannya terlibat di dalamnya.

P

ernah mengikuti perlombaan film tingkat nasional dan berada di posisi keempat membuat Pasek sapaan akrab laki-laki ini menjadi semangat dalam berkarya. Karya yang sempat menjadi perhatian pengguna media sosial adalah film pendeknya yang berjudul Klepon 12 Juta. “Film itu kami buat karena pas dengan momen Valentine bulan Februari lalu,” ungkapnya. Pembuatan film ini terinspirasi dari pengamatannya terhadap kehidupan remaja saat ini. Banyak anak-anak muda yang bergaya tidak sesuai dengan isi dompet dan ekonominya di rumah. Penampilan mewah di luar tetapi orangtua kerja keras untuk memenuhi kebutuhan. “Kami tidak menyangka film ini akan booming, ini menjadi semangat kami lagi untuk film selanjutnya,” ungkap pemilik studio Taksu tersebut. Dalam penggarapan film tersebut, bukan hanya menampilkan sisi humor tetapi

yang berjudul Amah Meong. “Film ini dibuat untuk menyambut momen hari raya Nyepi. Pesan moral yang disampaikan adalah umat Hindu yang harus mengendalikan diri baik itu emosi sehingga tidak menimbulkan hal buruk bagi diri sendiri. “Kami buat sesuai momen saja karena Nyepi lalu kami rasa sangat spesial. Sasih kesanga (9), tanggal 9, bertepatan dengan gerhana, dan tahun 2016 yang jika dijumlahkan 2+0+1+6 berjumlah 9 juga,” ucap pria yang beralamat di Jalan Gempol Banyuning Tengah tersebut. Jika ditanya soal keuntungan materiil, Pasek mengaku memang belum ada. Namun, ia mengaku sangat senang jika filmnya dapat diterima di masyarkat apalagi bisa memberi hal yang positif. Tergabung dalam sebuah sanggar Nong Nong Keling adalah salah satu tujuan Pasek membuat film. “Kami kan orang sanggar, kalau biasanya sang-

juga pesan-pesan moral yang ditonjolkan. Melalui film Taksu Production ini, ia berharap anak-anak muda dapat memaknai hari kasih sayang yang sebenarnya. “Kami sebenarnya tidak setuju tetapi juga tidak bisa melarang itu hak setiap orang,” tambah pria kelahiran 1 Oktober ini. Dengan adanya film ini Pasek ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa memaknai hari kasih sayang tidak mesti dengan barang. Hal yang unik dalam pembuatan filmfilmnya adalah tidak adanya naskah. “Kami cuma buat konsep cerita seperti apa kemudian dialognya keluar secara spontan dari pemain,” ungkapnya. Pria yang menjadi PNS di SD Negeri 2 Tianyar Barat, Kabupaten Karangasem ini mengakui bahwa bakat akting dari para pemain memang sudah muncul di awal. Durasi yang pendek juga membuat para pemain lebih Konsistensi perjuangan Senator DPD gampang membuat dialog sendiri. Setelah sukses dengan Klepon 12 Juta, RI asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Pasek dkk kembali membuat film pendek Wedakarna MWS III untuk menolak Wisata

9

Gede Pasek Sriada

gar itu untuk kesenian tradisonal maka kami ingin ada kolaborasi dengan seni modern, yaitu film,” ungkap pria yang tengah mengikuti lomba film dokumenter di Klungkung ini. -Wiwin

GERAKAN AJENGAN “SUKLA” MENGGEMA DI KARYA BETARA TURUN KABEH DI BESAKIH

Syariah di Bali dibuktikan dengan pernyataan tajam yang disampaikan saat rapat kerja Komite III Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Menteri Pariwisata RI. Di hadapan Senator RI seluruh Indonesia, Gusti Wedakarna menyampaikan sikap masyarakat Bali untuk menolak Pariwisata Syariah yang digagas pada rezim SBY lalu itu. Senator Wedakarna menyatakan bahwa ia ingin Menpar membangun wisata syariah di SATYAGRAHA - Senator DPD RI Dr. Arya Wedakarna tempat lain, dan dengan tegas meminta pada Bersama Arief Yahya (Menteri Pariwisata RI) Usai republik agar mendukung ciri khas pariwisata Rapat Kerja di Kompleks Parlemen Senayan Bali yang berbasis pada adat dan agama Hindu. RI memfasilitasi dengan baik. Utusan dari TNI dan Hal inipun langsung mendapatkan respons positif Polri juga hadir saat pertemuan. Kami akan terus oleh Arief Yahya dalam Raker DPD RI.”Terkait ususosialisasikan penolakan rakyat Bali pada wisata syalan Senator AryaWedakarna, kami konfirmasi tidak riah agar masyarakat paham. Wisata syariah secara menjadikan Bali sebagai destinasi pariwisata syariah individu ya sah – sah saja, tapi kalau isunya sampai di Indonesia,” ungkap Menteri Pariwisata RI yang melembagakan, mengganti desa adat Bali dengan didampingi sejumlah Dirjen Kemenpar. desa jenis lain, ya wajar jika rakyat menolak. Jangan Atas hal ini, Gusti Wedakarna menyatakan bahwa lupa walau minoritas Bali dan umat Hindu adalah tidak sia – sia doa dan perjuangan rakyat Bali, terubagian dari NKRI,” ungkap Gusti Wedakarna. tama dalam mengawal isu Desa Syariah dan Wisata Kini pihaknya melalui Komite III DPD RI bidang Syariah di Bali yang sempat muncul pada November pariwisata dan ekonomi kreatif, menata kawasan 2015 sebagaimana dilontarkan oleh oknum Ketua zona ekonomi Pura Besakih bersamaan saat karya Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Bali kala itu. “Bali Betara Turun Kabeh. “Respons ratusan ribu umat terpilih menjadi Pulau Terbaik Nomer dua di dunia Hindu yang hadir sejak karya sangat positif. Kini dan terbaik di Asia karena ciri khas adat Hindu. Saya rakyat Bali sudah mulai berbelanja di warung yang juga minta Menpar memasukkan prestasi ini dalam ada plangkiran, warung yang ada stiker Sukla, prestasi resmi. Jangan hanya cuma penghargaan Halal warung yang diperciki dengan tirta pura MelantDestination di NTB saja yang gencar dipromosikan, ing. Saya rasa umat Hindu belajar dari bagaimana prestasi Bali jangan ditinggal. Saya menolak adanya umat Islam selalu memilih makanan yang diolah diskriminasi SARA terhadap Bali dikebijakan pemeroleh kaumnya sendiri dan juga ada logo Halal. intah pusat. Malu sama Jokowi yang sudah menang Halal dan Sukla itu hak dari umat beragama. 72 % di Bali tapi ada pejabatnya yang tidak bias jaga Saya gembira, pedagang di Besakih yang 100% Nawa Cita beliau,” ungkap Gusti Wedakarna. umat Hindu dan warga adat jadi terayomi. Saya Selain itu terkait dengan sosialisasi Piagam Tanbersyukur sudah sadar. Ini bagian dari ekonomi tular yang intinya menolak Desa Syariah dan Wisata kreatif dan mensiasati UU No.33/2014 Jaminan Syariah di Bali sudah ditetapkan pada 26 November Produk Halal yang dinilai merugikan Bali dan 2015 lalu. ”Terkait Desa dan Wisata Syariah, komIndonesia Timur. Tapi disiasati dengan cara yang ponen Bali sudah kompak menolak. Gubernur, baik dan simpatik,“ungkap Gusti Wedakarna yang DPRD, MUDP, PHDI, PHRI, Tokoh Puri, Sulinggih, juga Presiden The Sukarno Center ini. -hms Ormas Hindu semua menolak. Saya sebagai DPD


8

Jika sedang merencanakan liburan keluarga ke Bandung, ada satu tempat wisata alam yang perlu masuk dalam daftar tujuan. Tempatnya bernama Farm House Bandung, yang baru dibuka awal Desember 2015.

A

Bunda & Ananda

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

kses menuju lokasi ini pun terbilang sangat mudah dan dikenal di kalan­ gan masyarakat Bandung. Farm House berada di jalan utama menuju Lembang. Jika dari arah Kota Bandung, melewati kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rumah Sosis kemudian melewati Hotel G. H. Universal Lembang dan sebelum Peneropongan Bintang Bosscha. Farm House ini buka setiap hari, mulai pukul 08.00 – 21.00. Untuk menikmati semua kein­

dahan alam yang ada di kawasan wisata Farm House Bandung ini cu­ kup dengan membeli tiket seharga Rp 20.000 . Tiket masuk tersebut bisa ditukarkan dengan welcome drink susu murni dengan berbagai rasa yang bisa kita pilih sendiri. Tiket tambahannya adalah untuk parkir motor Rp 5.000, dan sedangkan untuk parkir mobil dikenakan Rp 10.000 . Wisata Farm House ini memi­ liki daya tarik tersendiri. Salah satunya konsep seperti rumah para petani dan peternak susu sapi yang dilengkapi dengan ke­

“Cafe di sini pun termasuk unik, sebab ada yang berada di dalam ruangan, outdoor atau kebun, dan bahkan ada yang berada di roof top dan pemandangan yang indah. Di setiap cafe juga lengkap menyajikan mulai dari makanan pembuka, makanan inti, hingga makanan pencuci mulut”

Jegeg Bagus SMPN 9 Denpasar

Acara grand final ajang pemilihan Jegeg Bagus Spensya meru­ pakan puncak acara HUT SMPN 9 Denpasar ke-39 dengan tema “Melalui HUT SMPN 9 ke-39 Kita Tingkatkan Kualitas Pendidikan dan Semangat Kompetisi yang Positif dalam Rangka Menciptakan Generasi Yang Berkarakter, Berprestasi, Serta Berwawasan Budaya, dan Lingkungan” yang diadakan pada Rabu (30/3). Pemilihan Jegeg Bagus Spensya diadakan untuk pertama kalinya di SMPN 9 Den­ pasar yang diwakilkan 1 pasang di setiap kelas, dan terkumpul 10 pasang finalis dari 10 kelas. Pemilihan Jegeg Bagus Spensya dinilai oleh 3 dewan juri, Luh Putu Susi Widiani, S.Pd selaku Waka Kuri­ kulum SMPN 9 Denpasar, Ni Wayan Sri Sutari, SP, MP selaku owner D’Tunjung Butik, dan Ryan Indra Darmawan selaku finalis Teruna Teruni Bali 2015. The Best Talent yang diraih Jegeg Putri dan Bagus Gus Tra, The Best Intelegentia diraih Jegeg Dinda dan Bagus Dir­ ga, The Best Personality diraih Jegeg Dinda dan Bagus Sadewa, The Best Public Speaking diraih Jegeg Dinda dan Bagus Dirga, The Best Photogenic diraih Jegeg Thya, Juara Favorit yang dipilih melalui voting di Instagram diraih pasangan Jegeg Ayu dan Bagus Gus Tra, Runner Up II diraih Jegeg Dinda & Bagus Gita, Runner Up I diraih Jegeg Thya & Bagus Sadewa, dan pemenang juara I diraih Jegeg Widya & Bagus Dirga. -rls

bun berbagai tanaman buah dan sayur. Saat kita berkeliling, akan terlihat inovasi yang anti mainstream. Sangat menarik pastinya, apalagi setiap sudut yang ada bisa dijadikan spot –spot untuk pemotretan, disamping sudah juga disediakan foto booth seba­ gaimana tren saaat ini. Fasilitas lainnya yang dita­ warkan oleh wisata alam Farm House Susu Lembang ini sangat lengkap. Mulai dari miniatur ru­ mah The Hobbit, yang sama den­ gan New Zealand sebagai tempat penghasil susu yang berkualitas tinggi. Juga tersedia tempat penjualan oleh-oleh atau souvenir. Sementara rumah –rumah kayu yang dihadirkan di sana juga indah dengan kesan oldies-nya, dan sangat cocok

untuk pengunjung yang ber­ buru foto dengan pemandangan klasik. Di Farm House Bandung ini juga cukup banyak dihiasi tumbuhan dan hewan seperti ayam, bebek, burung, ayam, kelinci, hingga kuda. Keberadaan binatang ini termasuk salah satu daya tarik tersendiri khususnya bagi wisatawan anak-anak . Se­ lanjutnya tersedia pula fasilitas umum lainnya yakni toilet untuk anak-anak, untuk orang dewasa dan toilet untuk lansia serta disabilitas

Jika merasa lapar dan haus setelah berkeliling di Farm House Bandung ini, kita bisa bersantai dan makan di cafe juga ada di lokasi. Cafe nya pun tergolong unik karena desainnya berbeda antara satu cafe dengan cafe lainnya. Namun, kebanyakan cafe yang ada di sini bergaya klasik dan oldies. “Cafe di sini pun termasuk unik, sebab ada yang berada di dalam ruangan, outdoor atau ke­ bun, dan bahkan ada yang berada di roof top dan pemandangan yang indah. Di setiap cafe juga lengkap menyajikan mulai dari makanan pembuka, makanan inti, hingga makanan pencuci mulut,” ujar Teni yang datang bersama keluarganya. Meskipun harga makanan di café ini rata-rata dibandrol mulai dari Rp 50,000 tapi dari informasi para pengunjung yang sudah mencicipi, mereka men­ gakui harganya cukup sebanding dengan rasa yang ditawarkan. Kalapun waktu berkunjung sem­ pit, dan tidak bisa makan di sana, tidak perlu khawatir, pengunjung tetap diizinkan untuk berfoto ria di dalam cafe. – Sri Ardhini

Mendongeng Lima Menit

putri Bening

Di sebuah gubuk di pinggir pantai tinggal­l ah seorang anak perempuan ber­ nama Putri ­B ening. Ibu­n ya meninggal ke­t ika ia baru ber­ umur enam bulan. Ia tinggal bersama ayah kandung yang sangat Made Taro menyayanginya. Sang ayah menangkap ikan di laut dan sang putri berkebun sayur. Dengan hasil ikan dan sayuran itulah mereka hidup sehari-hari. Pada suatu sore menjelang matahari tenggelam, sang ayah berangkat ke laut. Sebelum meninggalkan gubuk ia berpesan kepada Putri Bening. “Anakku, malam ini ayah tidak mendongeng. Sekarang musim panen ikan, dan malam ini adalah hari baik. Masaklah makanan! Bila sampai malam ayah belum pulang, makanlah terlebih dahulu!” Malam pun tiba. Putri Bening mempersiapkan makanan untuk ayah dan dirinya sendiri. Walaupun perutnya lapar, ia tidak mau mendahului ayahnya ma­ kan. Ia teringat dongeng Cinderella, Bawang Merah Bawang Putih dan Malin Kundang yang selalu di­ ceritakan ayahnya. Ia termenung dan berdoa semoga ayahnya selamat dan memperoleh banyak ikan. “Tok, tok, tok …!” Putri Bening segera membuka pintu. Ia mengira ayahnya datang. Bukan! Yang berdiri di depannya adalah seorang kakek tua.

“Berilah aku sesuap nasi, anak kecil! Aku tersesat pulang dan kelaparan,” kata kakek itu. Orang tua bungkuk itu berjalan tertatih-tatih dengan tongkat­ nya. Putri Bening sangat iba. Ia memapah kakek itu masuk, lalu mempersilakan makan. Makanan untuk dirinya sendiri, ia berikan kepada orang tua renta itu. Sehabis makan, Putri Bening memapah sang kakek beristirahat di kamarnya. “Tok, tok, tok…!” Putri Bening yakin yang mengetok pintu itu adalah ayahnya. Ia segera mem­ bukakan pintu. Ia senang sekali melihat ayahnya pulang dengan selamat. Apalagi membawa banyak ikan. Ketika sang ayah mengajak makan bersama, Putri Bening menggelengkan kepala. Ia katakan bahwa ­makanannya telah ia berikan kepada seorang kakek yang sedang beristirahat di kamar. Sang ayah penasaran, lalu segera menemui orang tua itu. Apa yang terjadi? Tidak ada kakek di kamar itu. Yang ada adalah setongkol jagung yang belum dikupas. Sang ayah ter­ingat kepada orang tua bertongkat yang meminta seekor ikan dan memberinya setongkol jagung di pantai. Ia mengambil jagung itu, lalu mengupasnya. Merah! Putri Bening juga mengupas jagung yang tergelatak di atas tempat tidurnya. Putih! Mereka berdua saling pandang. Mereka tidak mengerti apa makna dari kejadian itu. “Jagung merah dan putih itu adalah anugerah, anakku! Peliharalah baik-baik! Besok kita semai, kemudian kita tanam di kebun. Sesungguhnya kita tidak menyadari bahwa seseorang sangat menghargai kehidupan yang sederhana, rukun, setia, jujur, dan saling mengasihi satu sama lain.”

Griya

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Barang Antik selalu Menarik Barang-barang antik selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemarnya. Entah itu berupa furnitur, patung, perabotan rumah tangga atau barang seni lainnya. Barang antik yang dalam bahasa latinnya antiques (tua) merupakan benda menarik yang sudah berusia tua.

T

entu saja usia yang semakin tua, ditam­ bah dengan nilai his­ torinya yang tinggi, akan diikuti pula dengan harga yang tinggi. Semakin tua benda tersebut, semakin tinggi pula harganya. Na­ mun, mencari barang yang benarbenar antik (berumur tua) tak semudah mencari barang-barang yang baru diproduksi kemarin. Kita ambil contoh pintu kayu jati antik. Tentu tak mudah mencari pintu kayu jati atau furnitur lain yang benar-benar antik. Karena itu,

muncul teknik fin­ ishing antik, yang bisa membuat fur­ nitur baru terlihat antik (tua). Banyak teknik yang bisa dilakukan untuk memberikan kesan antik. Salah satunya yang paling sederhana adalah dengan menempat­ kan barang di luar ruangan, sengaja dibiarkan terpapar sinar matahari Patung panakawan d a n terkena meminati barang-barang antik ini hujan. “Sengaja dibi­ untuk ditempatkan di rumah prib­ arkan lumutan, itu adinya ataupun vila. “Kalau yang akan memberikan ke­ jenisnya batu-batu antik, lebih san antik,” ujar Bu­ banyak ditempatkan di kebun,” diarta, salah seorang ujar Budiarta sembari menunjuk karyawan Bagong Bali barang-barang antik dari batu Gallery di kawasan dengan berbagai rupa yang sen­ Jalan By Pass Ngurah gaja diletakkan di luar. Rai, Sanur, Bali. Selain batu, barang-barang Galeri yang stone antik dari kayu pun banyak dipa­ and wood ini banyak jang di sini. Seperti, pintu, lemari, memasok barang-ba­ kursi, meja, sampai dengan pa­ rang dari daerah Jawa. tung-patung untuk pajangan/ Seperti batu-batuan, dekorasi. Ada yang berbentuk d i d a t a n g k a n d a r i petruk-gareng-semar-bagong daerah Mojoagung. (panakawan), ada juga model Ada dari batu kali, pangantin Jawa-Loro Blonyo. batu karang, juga batu Ia tak menampik, sekarang ini padas. Konsumennya sangat susah membedakan barang lebih banyak tamu yang benar-benar antik (umurnya mancanegara, seperti tua) dengan barang yang sengaja Amerika dan Austra­ dibuat antik. “Sekarang ini repronya lia yang umumnya sudah banyak yang sesuai dengan membeli untul dijual aslinya,” tandas pria yang sudah kembali di negaranya. 15 tahun bergelut dengan barangPasar lokal juga cukup barang antik ini. –Inten Indrawati

Patung pengantin Jawa-Loro Blonyo

17


18

Life

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Perkuat Eksistensi Budaya Melalui Parade Budaya Perayaan HUT Kota Singaraja tahun ini memiliki nilai-nilai yang sangat strategis ditengah-tengah se­ mangat dalam melaksanakan pembangunan. Program pembangunan yang telah ditetapkan dirasa sudah mampu dicapai di berbagai target. Salah satu target prio­ritas agenda strategis yang dikenal 12 PAS yang salah satunya menetapkan program ­pelestarian budaya telah menunjukkan hasil yang cukup baik.

dan budaya yang dimiliki oleh Buleleng dapat dijadikan kekuatan untuk ber­ satunya masyarakat dan pemerintah dalam membangun Buleleng yang sejahtera, mandiri, integritas, lestari, dan beretika. Tujuan dari Parade Bu­ daya ini Suayasa mengungkapkan ada tiga hal yaitu memperkenalkan potensi seni budaya dan sejarah masingmasing desa yang mewakili kecamatan; menumbuhkan kecintaan generasi muda akan seni budaya daerah Bule­ leng; dan memeriahkan HUT ke-412 Kota Singaraja. -Wiwin

Poleng Band

Ajak Masyarakat #MaiMagendingBali Penampilan dari peserta parade budaya.

H

al ini dapat dilihat dari salah satu seni budaya Buleleng men­d apat a n u g e r a h s e ­b a g a i warisan budaya dunia dari Unesco yaitu kesenian Wayang Wong Tejakula. “Disamping itu pula kita melihat gerak­ an massal dalam proses penggalian, pelestarian, dan pengembangan seni budaya makin kelihatan berkembang di desa-desa,” ujar Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat Parade Budaya HUT ke-412 Kota Singaraja, Rabu (30/3). Acara Parade Budaya yang startnya di mulai di depan Tugu Singa Ambara Raja ini diikuti oleh sembilan kelompok dari sembilan kecamatan yang ada di Buleleng. “Parade Budaya merupakan upaya untuk melakukan pelestarian budaya sesuai dengan program yang saya terapkan,” ujar Bupati. Kegiat­ an ini diharapkan dapat menjaga keberadaan seni budaya di Buleleng dan dilaksanakan dengan kreasi-kreasi baru agar tidak monoton namun tetap sarat dengan pesan-pesan membangun, mencintai, dan melestarikan budaya daerah. Parade yang menampilkan potensi masing-masing kecamatan yang ada di Buleleng maka masyarakat akan menge­ tahui betapa kaya dan beragamnya po­

tensi seni budaya yang ada di Buleleng. Sebagai daerah yang kaya akan potensi semestinya masyarakat makin se­mangat untuk mem­b angun. “Saya himbau kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga perdamaian, keten­ traman, dan ketertiban daerah Buleleng sehingga apa yang sudah dicapai tidak dirusak dengan tindakan-tindakan yang merugikan,” imbuhnya. Sementara itu Kepala Dinas Ke­ budayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa, M.Pd. mengatakan dasar pemikiran dari kegiat­a n Parade Budaya ini adalah dalam rangka menjawab pengaruh interaksi sosial antar masyarakat yang tanpa batas. Terlebih dengan adanya kemajuan teknologi membuat setiap orang dapat memengaruhi budaya orang lain secara bebas. “Kondisi ini tentu membuat budaya kita menjadi terancam eksistensinya,” ungkap Suyasa saat memberi sambutan dalam pem­ bukaan Parade Budaya tersebut. Oleh karena itu, program pelestarian budaya yang dicanangkan dalam program 12 PAS dapat memperkuat eksistensi budaya guna menjawab kekhawatiran akan ancaman budaya luar. Kegiatan ini mengambil tema “Kulkul Desa” yang artinya beragam suara satu tujuan. Beragam potensi seni

Terbentuk sejak 19 Januari 2012, band yang akan merampungkan al­ bum pertamanya ini siap meramaikan blantika musik khususnya lagu Bali. Awal mula terbentuknya ketika De Gus di vokal, Tu Gik di gitar, dan Tu Arik di drum bergabung dalam sebuah band yang dinamai Poleng Band. Setelah empat ta­ hun terbentuk, akhirnya Poleng Band melengkapi personilnya dengan tambah­ an Toro di gitar 2 dan Tu Ogik di bass. Poleng band itu sendiri dimaknai oleh para personilnya sebagai dua sisi kehidupan (rwa bhineda). Meskipun ada per­b edaan namun kedua sisi kehidupan ini saling mengisi karena yang buruk tidak selamanya buruk dan yang baik tidak selamanya baik. “Poleng juga kami artikan Poemusik dari Buleleng,” ungkap De Gus sembari tertawa. Band yang berencana merilis secara resmi album per­ tama di bulan April ini mengaku jika dalam mencari ide atau konsep untuk lagu selalu melihat dari pengalaman sendiri dan teman. “Banyak inspirasi datangnya dari teman-teman. Misalnya lagu Adi Suba Megedi tercipta dari pengalaman teman yang lagi galau,” lanjut sang vokalis. Dalam album perdana yang berisi sembilan lagu, Poleng berupaya tetap konsisten dengan menyanyikan lagu-lagu Bali. Sukses dalam klip video pada lagu Tresna Selantang Tuwuh kini Poleng band juga berencana menggarap klip kedua untuk lagu yang berjudul Mai Magending Bali. Da­ lam proses penggarapan klipnya pun melibatkan sejumlah elemen masyarakat; baik siswa, musisi, komunitas kreatif dan lainnya dengan mengajak menyanyikan lagu Mai Ma-

Memakai toga wisuda, Mahsan (26) menangis memaknai satu fase penting dalam perjalanan hidupnya. Hari itu, anak jalanan yang pernah berpikir hidup ini mustahil baginya, telah membuktikan diri­ nya bahwa ia mampu meraih cita-cita dari mimpi-mimpi yang dicemooh ba­ nyak orang selama ini. Dengan penuh perjuangan, Mahsan akhirnya meraih Gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Mataram.

S

Peserta dari Kecamatan Banjar

gending Bali. Mai Magending Bali merupakan judul dari album pertama sekaligus judul lagu unggulan dalam album tersebut. Band asal kota Singaraja ini mengajak penikmat musik untuk mencintai bahasa Bali dengan megending Bali. “Kami semua berasal dari Bali jadi sangat mendukung budaya Bali dengan melestarikan bahasa Bali,” ungkap De Gus. Apalagi jika dilihat saat ini anak-anak muda sudah mulai malu menggunakan bahasa Bali dalam pergaulan. Sa­ngat diharapkan dengan lagulagu berbahasa Bali ini dapat memberikan kontribusi untuk tetap melestarikan bahasa Bali. “Melalui lagu Mai Magending Bali kami juga sudah menye­ barkan hashtag #MaiMagendingBali bagi masyarakat yang mendukung gending Bali,” tambah De Gus. Penggarapan klip kedua ini memang cukup serius karena pesan yang ingin disampaikan agar ter­tular kepada masyarakat Bali. Band yang bermarkas di Jalan Srikandi Gang Durian ini berharap sesama musisi dari Bali harus bisa saling mendukung dan sama-sama bisa melestarikan bahasa Bali. “Bersama-sama memunculkan Buleleng itu agar ada band-band yang berbahasa Bali,” ujar sang vokalis. Ketika manggung band ini selalu mampu meng­ ajak para penontonnya bergoyang karena aliran musik alter­natifnya. Sejauh ini Poleng sudah sering manggung di daerah Buleleng dan Denpasar. Mengenai promosi, mereka lebih memanfaatkan media sosial. Media sosial dirasa sangat besar manfaatnya untuk media promosi. “Kami sudah memiliki FB, Twitter, dan instagram,” lanjut De Gus. -Wiwin

Story

iapa yang menduga Mahsan yang sejak usia SMP menjadi tulang punggung ke­ luarga, hidup serba kekurangan, putus sekolah dan melakoni hidup di jalanan dengan menjadi tukang parkir, sempat menjadi kusir cidomo dan tukang sapu pasar di Cakranegara Mataram ini kini bergelar sarjana. Mungkin bagi banyak orang, meraih gelar sarjana itu biasa, namun tidak bagi seorang Mahsan. Untuk melanjutkan sekolah saja, ia harus berjuang keras bahkan sampai pernah merasakan tidak makan berhari-hari demi tekadnya untuk bersekolah. Ketika baru masuk SMP, ayah Mahsan yang selama ini men­ jadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Kehidupan ia bersama ibu dan dua adiknya (dua kakaknya telah menikah dan tinggal terpisah serta masingmasing berjuang hidup sendiri), sangat memprihatinkan. Mahsan kecil awalnya tidak dapat ber­ buat apa-apa. Untuk makan saja, mereka mengandalkan pembe­

Edisi 895/4 - 10 april 2016

7

Anak Jalanan Bisa Jadi Sarjana rian tetangga dan orang yang sesekali memperhatikan mereka. Sekolahnya sempat morat-marit karena ketiadaan biaya. Tiap kali hendak ujian, Mahsan mengaku kerap bolak-balik dipanggil pihak sekolah karena belum membayar kewajiban di sekolah. “Bahkan saya sempat hampir di DO karena tidak ada biaya,” kata Mahsan. Namun, beruntung ada guru BK yang berkunjung ke rumahnya melihat situasi hidup mereka yang memprihatinkan, ia dibantu untuk bisa menyelesaikan sekolah SMP-nya. Sampai akh­ irnya Mahsan lulus SMP di tahun 2006. Betapa sedih hati Mahsan tidak bisa melanjutkan sekolah­ nya di SMA tetapi ia pasrah dan menerima keadaannya. “Mau apa lagi, saya merasa diri tidak punya jalan untuk bisa bersekolah,” ka­ tanya. Padahal keinginannya untuk bersekolah sangat besar. Mahsan akhirnya putus sekolah. Selama putus sekolah, Mahsan semakin merasakan hidup dalam kondisi yang sangat mempri­ hatinkan bersama ibu dan dua adiknya. Untuk makan saja de­ mikian susah dipenuhi. Kondisi ini menyentak Mahsan kecil un­ tuk berbuat sesuatu. “Kebetulan saya diajak kakak saya bekerja menyapu pasar di Cakranegara, saya pikir inilah jalan saya untuk bisa mendapatkan uang demi bisa memberi ibu dan adik-adik saya makan,” kata Mahsan. Mahsan menjadi tulang pung­ gung keluarga. Apapun pekerjaan yang halal ia lakukan demi menda­ patkan uang. Ia bekerja sangat keras tiada mengenal waktu dan ruang. Ia menjadi tukang parkir dari pagi hingga sore hari. Sesekali ia menjadi kusir cidomo. Malam harinya ia menyapu Pasar Cakranegara. Ia berusaha keras mendapatkan sejumlah uang tiap hari. “Uang itu saya pakai untuk membeli kebutuhan makan dan

Aktivitas Mahsan di Dewan Anak dan LPA Kota Mataram ketika membantu anak-anak kurang beruntung.

Mahsan didampingi Nyayu Ernawati (kanan) dan ibunya (kiri) saat wisuda Sarjana Hukumnya di Universitas Mataram.

sekolah adik-adik saya. Sisanya meskipun sedikit, saya men­ coba menabung, mana tau saya bisa bersekolah kembali,” kata Mahsan yang terus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melanjutkan sekolahnya. Cemoo­ han dari orang-orang di sekitar pada cita-citanya untuk melan­ jutkan sekolah, kerap ia dengar sangat menyakitkan. “Mau jadi apa kamu sekolah, mau jadi dokter sudah banyak, mau jadi presiden sudah ada,” begitulah orang mencemooh citacita sederhananya untuk berseko­ lah. Melihat kehidupannya yang susah dan tak berpunya, Mahsan bahkan sempat hendak dimasukan ke panti asuhan. Namun ia memi­ lih untuk bekerja demi membiayai kehidupan ibu dan adik-adiknya. Kehidupan jalan­ an yang dilakoninya penuh dengan be­ ban dan penderitaan. Saat menjadi tukang p arkir ia perna h dilempari uang seribu rupiah hanya karena kesalahan kecil saat memarkir motor. Ia kerap diperlakukan kasar bahkan dipukul juga dipalak oleh pre­ man. “Pernah dikejarkejar dan ditangkap Pol. PP di Cakrane­ gara dan diturunkan di Ampenan. Dari Ampenan ke Cakranegara saya

harus berjalan kaki pulang ke rumah,” katanya. SEKOLAH SMA PAKAI SERAGAM SMP Dua tahun Mahsan putus sekolah, hingga akhirnya ia me­ nangis pada ibunya mengung­ kapkan keinginannya untuk ber­ sekolah kembali. Namun ia sadar, apalah daya ibunya yang sudah tua, sehingga ia meminta agar ibunya mendoakannya. Di ta­ hun 2008, di saat hari terakhir pendaftaran SMA hendak ditutup, ketika ia sedang bekerja, Mahsan bertemu seorang anggota DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati. Ia teringat pada suatu ketika, ia pernah mengikuti sebuah kegiatan Dinas Sosial Kota Mataram dan pada sesi dialog antara anak-anak jalanan dengan anggota DPRD Kota Mataram ini, Mahsan per­ nah mengungkapkan pertanyaan yang sampai hari ini tidak bisa dilupakannya. “Ibu, apakah saya bisa menjadi anggota DPRD seperti ibu. Saya ingin memperjuangkan nasib kawan-kawan saya di jalan yang kerap diperlakukan tidak adil,” ungkapnya yang dijawab pasti oleh Nyayu Ernawati bahwa ia bisa, asal ia punya kemauan yang keras untuk itu. Maka ketika ia bertemu kembali dengan Nyayu, itulah yang pertama kali diingat­ nya sehingga ia memberanikan mendekati dan bicara pada Nyayu yang tengah membeli buah-buah­ an di tempatnya bekerja sebagai

tukang parkir. Dalam benaknya yang nyaris putus asa di hari terakhir pendaftaran sekolah itu, mungkin inilah jalannya agar ia bisa bersekolah. “Ibu masih ingat saya? Sudah dua tahun saya putus sekolah, saya ingin sekali melanjutkan sekolah,” ungkapnya pada Nyayu sembari menjelaskan tentang pertemuan mereka dalam dialog tersebut. Mahsan beruntung, Nyayu lang­ sung menguruskan sekolahnya dan ia bisa bersekolah kembali. Uluran tangan ikhlas Nyayu mem­ buat anak tukang parkir ini merasa betapa dunia menjadi terbuka lebar bagi seorang Mahsan. Dengan gembira ia bersekolah meski masih memakai seragam SMP karena tidak memiliki se­ ragam SMA. Di sekolah barunya ini, hal-hal semacam ini juga sempat menjadi kendala yang be­ rarti namun ia jalani. Masalah baru datang. “Saat saya sekolah, saya tidak lagi bisa dan boleh bekerja di jalanan. Penghasilan tidak ada sama sekali, kami sering puasa karena tidak memiliki makanan,” katanya. Untuk makan sehari-hari mer­ eka mengandalkan pemberian tetangga. Mahsan sendiri lebih sering makan sekali sehari dan tidak jarang saat berangkat seko­ lah tidak sarapan, pulangnya hanya bisa minum air putih karena tidak ada makanan. Mahsan juga pernah harus makan nasi basi karena lapar. “Kalau lapar dan tidak ada apa-apa, saya bawa tidur saja,” ungkapnya sedih. Berangkat dan pulang sekolah ia harus berjalan kaki cukup jauh dalam hujan dan panas. Di sekolah ia hanya mengandalkan kebaikan kawankawannya yang memberinya jajan. Tidak jarang karena lewat sawah, sepatunya kena lumpur bahkan ia sering memakai sandal saja, tanpa seragam dan lainnya. “Apapun yang dibicarakan tentang saya, saya hadapi saja,” ungkapnya. Sampai akhirnya ia lulus dan bantaun datang untuk melan­ jutkan kuliahnya. Mahsan ber­ semangat menjalani kuliahnya sambil bekerja dan juga mengabdi di Dewan Anak serta LPA Kota Mataram bersama Nyayu Erna­ wati dan rekan-rekan lainnya. Saat baju kebesaran wisuda itu dikenakan, ia tidak menyangka bahwa ia mampu meraih fase yang tadinya adalah kemustahilan menjadi nyata di depan matanya. Dari sinilah anak jalanan dan tu­ kang parkir ini memaknai bahwa hidup jangan takut bermimpi. “Jangan pernah takut untuk ber­ mimpi,” ujar Mahsan yang kini ak­ tif di Dewan Anak dan LPA Kota Mataram ini. -Naniek I. Taufan


6

Woman on Top

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Panen Raup Rp 100 Juta

Siapkan Sanksi bagi yang Poligami

S

uasana balai banjar Penglipuran tampak santai namun serius. Peserta yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar bersama masyarakat Penglipuran mendengarkan ceramah yang disampaikan Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H., M.Si, dosen Hukum Adat Bali Universitas Udayana. Ceramah ini bertajuk “Meningkatkan Kualitas Peran Perempuan Bali dalam Keluarga dan Masyarakat”. Prof. Windia mengawali dengan menjabarkan perempuan dan laki-laki itu berbeda karena seks (jenis kelamin) dan karena peran atau fungsinya dalam keluarga dan masyarakat. “Perbedaan perempuan dan laki-laki karena seks (jenis kelamin), disebut perbedaan kodrati (biologis atau alamiah). Perbedaan perempuan dan laki-laki karena perannya dalam keluarga dan masyarakat, yang muncul karena konstruksi (dibangun) oleh masyarakat

dikedepankan, peran perempuan dipinggirkan (dirugikan). Sebaliknya apabila perempuan yang lebih kuat, peran perempuan yang dikedepankan, peran laki-laki diabaikan (dirugikan). Ketimpangan peran seperti digambarkan di atas, dikenal dengan bias gender atau ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender terjadi mungkin karena tafsir agama yang disebut gender. Peran yang dikon- keliru, budaya atau tradisi setempat, struksi masyarakat, sangat mungkin dll. Bentuk-bentuk ketidakadilan merugikan salah satu pihak (laki-laki gender, antara lain marginalisasi, atau perempuan), tergantung pihak subordinasi, stereotype, kekerasan, dan beban kerja berlebih. mana yang lebih kuat,” jelasnya. Mengenai peran perempuan Bali Apabila laki-laki yang lebih kuat, maka peran laki-laki yang dalam keluarga dan masyarakat, Prof Windia mengatakan perempuan Bali dapat berperan dalam berbagai aktivitas keluarga dan masyarakat, seperti halnya laki-laki Bali, sepanjang dimungkinkan secara kodrati dan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat Bali Ia juga menjelaskan kualitas peran perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat perlu ditingkatkan agar potensi yang dimiliki perempuan Bali dapat dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan Lokasi penunjuk Karang Memadu yang berada masyarakat. “Agar podi sebelah Selatan desa adat Penglipuran

Aroma Pindang Penggugah Selera Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar yang terletak di Desa Tanjung Luar, Keruak Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di Lombok. Ikan dan hasil laut asal Keruak juga terkenal gurih, demikian pula dengan pindang ikan yang dibuat oleh para perempuan di kampung nelayan ini. Ketika pagi tiba, kampung nelayan ini riuh

oleh hiruk pikuk suara nelayan dan para pekerja pengangkut ikan. Di sela-sela deburan ombak yang menghantam dermaga, para nelayan berbaur dengan masyarakat yang asyik bertransaksi di pasar sekitarnya. Di pelelangan ikan ini, kesibukan aktivitas nelayan tampak beragam. Sekelompok perempuan mengerubuti perahu-perahu nelayan yang baru saja tiba. Dengan bakul dan ember besar, para perempuan pesisir ini menanti ikan-ikan hasil tangkapan nelayan untuk mereka jual. Selain itu, di sudut lain pelelangan ikan ini, ada yang tengah memotong-potong ikan berukuran besar, beragam hasil laut lain dibelah dan dipilah-pilah. Sedangkan para pembuatan pindang berjibaku dengan asap yang mengepul dari tungku-tungku tradisional milik mereka. Ada pula para penjual dan pembeli ikan yang datang dari berbagai desa maupun kabupaten lain di Pulau Lombok, saling menawar satu sama lain. Melihat kehidupan pagi itu di sini, serasa tengah

Aktivitas perempuan penjual ikan di kampung nelayan Tanjung Luar

19

Budidaya Cacing

Lindungi Perempuan Penglipuran

Desa Wisata Penglipuran, Bangli dikenal se­ bagai desa yang unik. Angkul-angkul rumah ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan asri. Kebersihan desa ini bahkan mendapat predikat tiga besar desa wisata terbersih di dunia. Sistem ke­ masyarakatannya juga unik. Bagi laki-laki yang ingin ­poligami, bersiaplah menerima sanksi.

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Melihat peluang pasar yang sangat menjanjikan, seorang warga Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, budidaya cacing di kawasan perbukitan lereng Gunung Lawu. Karena ketekunannya itu, ia berhasil membudidayakan tiga jenis cacing yakni cacing Lumbrikus Rubellus, Lumbrikus African, dan Robicus Tiger.

I

Suasana desa adat Penglipuran

tensi yang dimiliki perempuan Bali dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketidakadilan gender. Agar potensi yang dimiliki perempuan Bali dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang muncul pada era globalisasi,” tandas guru besar yang identik dengan udeng dan saput poleng ini. Untuk meningkatkan kualitas peran perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat, Prof Windia mengatakan bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, dan pendapatan perempuan Bali, meningkatkan kualitas partisipasi perempuan dalam keluarga dan masyarakat (partisipasi tanpa capek dan lapar), serta mengurangi tingkat frustasi perempuan Bali pada waktu menghadapi masalah (mengurangi sikap ngambrés dan meningkatkan sikap ngales). Sementara itu Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Supat mengatakan Desa Adat Penglipuran sejak dahulu sudah membuat aturan yang bertujuan melindungi perempuan. “Di awig-awig kami ada aturan krama yang punya istri lebih dari satu atau melakukan poligami menda-

pat sanksi. Sanksi berupa tinggal di Karang Memadu. Lokasinya berada di Selatan Desa. Namun, sampai saat ini, belum pernah ada yang menempatinya. Ini artinya kaum laki-laki di Penglipuran sangat menghormati kaum perempuannya dengan cara tidak melakukan poligami,” ujar pria yang sudah menjadi Bendesa sejak tahun 1999 ini. Ia menambahkan, walaupun awig-awig dibuat oleh kaum lakilaki, namun tidak ada aturan yang merugikan kaum perempuan. Bagi mereka, perempuan harus diayomi dan dilindungi. Dengan memiliki satu istri, keharmonisan lebih terjamin sehingga kehidupan bisa sejahtera. Karang Memadu ini berupa lahan yang kini hanya ditumbuhi pepohonan. Jika ada warga laki-laki yang poligami, masyarakat menyiapkan rumah di Karang Memadu ini. Namun, warga yang tinggal di Karang Memadu ini akan kehilangan hak untuk mendapat ayahan desa. Masuk ke Pura pun tidak boleh. Bahkan, tidak boleh melewati jalan utama desa yang tertata rapi ini. Karena beratnya sanksi ini, tak satupun warga yang berani melanggarnya. –Ngurah Budi

Sudut Pandang

mengabadikan seluruh aktivitas masyarakat pesisir yang sibuk memasarkan hasil lautnya sebelum sampai ke piring-piring nasi Pembuatan pindang di TPI Tanjung Luar masyarakat dengan hari menghabiskan waktunya untuk membuat kandungan gizi yang sempurna Masyarakat yang pindang. Aroma pindang menggugah selera yang sibuk memenuhi kebutuhan hidupnya seharimerebak dari bagian Utara TPI inilah, sumber hari. Masyarakat yang mengais rejeki dari laut rejeki dari para perempuan pembuat pindang. dan pasar ikan tersebut. “Kami hidup dari hasil Di kampung nelayan ini, masyarakat menglaut dan pelelangan ikan ini,” ungkap Ani, salah gantungkan hidupnya dari hasil laut. Karena seorang warga asli Tanjung Luar. itulah, menurut Fuang Abbas, salah seorang Sejak kecil, anak nelayan yang kini bekerja tokoh masyarakat yang juga seorang nelayan di sebagai guru ini merasakan benar hidup dari hasil Tanjung Luar, kearifan-kearifan lokal khususnya laut. “Untuk biaya sekolah hingga kuliah, orang tradisi yang berkaitan langsung dengan menjaga tua kami mendapatkannya dari bekerja sebagai keseimbangan alam di laut masih tetap dilakukan nelayan, “ katanya. hingga kini. Salah satu kegiatan yang juga mengundang Salah satu tradisi tersebut adalah selamatan perhatian di TPI ini adalah pembuatan ikan laut. “Tradisi ini diselenggarakan sebagai wujud pindang Tanjung Luar, Keruak yang terkenal rasa syukur nelayan akan rejeki yang berasal dari enak dan gurih. Ikan asal Keruak selalu memiliki laut sebagai sumber kehidupan kami,” ungkap nilai lebih di mata ibu rumah tangga yang biasa Fuang Abbas. Dalam tradisi ini ada masanya berbelanja di pasar-pasar tradisional bahkan di nelayan dilarang melaut untuk membiarkan laut pasar-pasar tradisional Mataram. tenang selama beberapa hari. “Jika ada yang Para perempuan pembuat pindang yang melanggar, maka sanksi adat diberlakukan,” banyak berasal dari luar tanjung luar ini, tiap katanya. -Naniek I. Taufan

tulah Bambang, pria berumur 58 tahun ini dengan sabar dan tekun, terus membudidayakan cacing. Cacing-cacing itu, tiap dua atau maksimal tiga hari sekali diberi makan ampas tahu. Jika perlu pakan tambahan, ia memberinya sagu maupun gedebok pisang. Karena gedebok pisang bisa sebagai asupan sayuran. “Cacing-cacing ini, diberi makan dua hari sekali. Bisa juga maksimal 3 hari sekali. Pola pakan seperti itu, dapat menjaga kualitas cacing-cacing yang diharapakan,” ujar Bambang, seorang pengusaha peternakan yang juga Ketua Komunitas PT Novind. Menurutnya usaha cacing yang digeluti ini sudah berjalan sekitar 5 tahunan. Bahkan melalui Komunitas PT Novind, pihaknya mampu berkembang pesat yakni dengan cara menjalin kemitraan kerjasama dengan anggota komunitas yang jumlahnya kini mencapai 1.200 peternak cacing. Mereka tersebar di berbagai daerah. Ternak cacing yang banyak manfaat ini, tiap panen hasilnya sangat menggiurkan. Karena cacing banyak manfaatnya yakni untuk bahan dasar pembuatan obat, kosmetik hingga pakan ternak. Usaha cacing yang ditekuni ini, berawal dari keikutsertaanya sebagai komunitas peternak cacing di Malang, Jawa Timur. Dirasa pengetahuan soal budidaya cacing diperoleh sudah cukup, maka ia pun membuka lahan usaha di daerah Kabupaten Magetan. “Pertama kali memulai usaha ternak cacing, hanya membuka tiga kotak dengan modal 1 kotak per meternya sekitar 5 kg cacing,” paparnya. Lebih lanjut dijelaskan dari 3 kotak dengan ukuran masing-masing 3 x 14 meter itu, dapat menghasilkan sekitar 70 kg bibit cacing dengan harga Rp 60.000/kg. Cacing-cacing itulah yang dalam waktu 2 bulan, su-

Bambang

dah bisa dipanen dengan hasil kurang lebih Rp 6 juta. “Panen cacing dari kotak ukuran 3 x 14 meter ini, bisa

menghasilkan Rp 100 juta lebih yaitu dalam waktu 2 bulan. Ini, hasil yang sangat menggiurkan,” jelasnya. Bambang melanjutkan dengan cara membuat komunitas PT Novind, pihaknya bisa membuat home industry yang menghasilkan kopi Lumbrikus dan kapsul Lumbrikus. Untuk memenuhi target produksi tiap peternak dalam keanggotaan Komunitas PT Novind, diwajibkan setor minimal 20 kg cacing basah dengan umur 2 bulan dari mulai 0-hari. Bahkan tiap panen, suplai cacing basah dari setiap peternak untuk kebutuhan pabrik sendiri, sudah bisa tercukupi. Namun, untuk permintaan luar pabrik, seperti dari pabrik jamu Air Mancur, Sariayu, Pabrik di Lamongan maupun peternak binaan Bank Indonesia belum bisa dipenuhi. Cacing hasil budidaya komunitas PT Novind yakni berdasarkan hasil laboratorium, kandungan proteinnya mencapai 70%. Begitu juga dari hasil uji yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI), cacing hasil komunitas PT Novind telah memenuhi syarat. Maka dari hasil pemeriksaan itulah, PT Novind membuka jangkauan pemasaran sampai luar

Cacing hasil panen di kandang pembudidayaan cacing

Jawa seperti Madura. Sedangkan untuk Jawa Timur yakni meliputi Malang, Probolinggo, Sidoarjo dan Lamongan. “Bahkan sekarang ini, kami sedang membuka usaha budidaya cacing di daerah Pare Kediri dan Jombang. Namun sayangnya, kami belum bisa memenuhi permintaan perusahaan besar. Karena terkendala MoU, pihak pabrik besar itu meminta pasokan sebanyak 1,5 ton cacing bubuk. Sedangkan kemampuan kami, baru bisa panen 9 ton cacing basah dengan hitungan 6 kg cacing basah menjadi 1 kg bubuk cacing,” ungkap Bambang. Ia menambahkan diantara 1.200 anggota komunitas PT Novind, ada juga peternak yang panen cacing yakni dari bibit umur 0-hari hingga 1,5 bulan. Tapi, hanya beberapa pe-

ternak. Kebanyakan penen menunggu umur 2 bulan, karena kualitasnya bagus dengan panjang sekitar 12-15 cm. “Umur cacing 2 bulan ini, juga bisa dipanen. Namun hanya untuk benih,” ujarnya. Ia mengingatkan kepada semua anggotanya, agar memberi pakan yang berkualitas dan rutin sesuai aturan. Jika cacing yang dipelihara itu kekurangan pakan, maka akan berpengaruh pula pada hasil cacing yang dipanen kelak. Kekurangan pakan, cacing cenderung ke jenis Lumbricus Afrikan dan Robicus Tiger. Cacing dua jenis itu, hasil panennya tidak sebagus jenis cacing Lumbrikus Rubellus. Pakan yang diberikan peternak cukup, maka cenderung ke Cacing Lumbricus Rubellus,” tandasnya. -Ajun Ally

Kampoeng Lawas Maspati Pertahankan Budaya Suroboyo Warga penghuni gang V dan VI Kampoeng Lawas Maspati, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya berhasil mempertahankan budaya asli Surabaya. Budaya yang berhasil dipertahankan tersebut terdiri dari budaya kuliner, permainan rakyat dan bangunan tua peninggalan Belanda yang terdapat di kedua gang tersebut. Budaya asli baik kuliner dan permainan itu, sejak dua tahun terakhir ini diperagakan warga setempat setiap hari minggu. Atraksi ini ternyata mampu menggaet banyak wisatawan baik lokal maupun asing. Kegiatan yang diperagakan tersebut antara lain: kuliner kampung, area Sabar Suwastono

jajanan lawas dan handmade Kampoeng Lawas. Bentuknya antara lain mie lontong, sayur lode, bakso, semanggi Suraboyo,, martabak, sinom, sirup markisa, rujak cingur, cincau, jahe, lida buaya, blimbing dan semua ini hasil dari tanaman warga yang ditanam di pekarangan rumah warga sendiri. Sedangkan jenis permainan yang diperagakan antara lian dakon, engkle, bekel, lompat karet dan teklek (klompen). Peninggalan sejarah yang tetap diperlihara dengan baik antara lain rumah Raden Sumomiharjo, Pasarean Mbah Buyut Suruh, Sekolah Ongko Loro dan rumah buatan 1907. Sedangkan sowan ndeknya antara lain rumah daur ulang, area pembibitan, IPAL dan green house. Penampilan permainan dan penjualan kuliner ini dimeriahkan dengan penampilan musik patrol dan ojek ontel keliling kampung tersebut. Sumriyah, salah seorang warga yang sering menyediakan rujak cingur mengatakan pihaknya sudah belasan tahun menjual rujak cingur di depan gang tersebut. Pada hari minggu pembelinya sangat banyak dan mengaku kewalahan melayani wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata tersebut.

Sementara itu, Lukman, salah seLebih jauh Sabar Suwastono menorang warga kampung wisata tersebut jelaskan jumlah kepala keluarga di mengatakan semua orang yang mele- kedua gang ini sebanyak 350 dengan wati kedua gang tersebut baik warga jumlah penduduk sebanyak 1.350 jiwa. setempat maupun tamu, dilarang keras Dari jumlah ini sebanyak 10% lansia menaikan sepeda motor tetapi harus dan 20% pemuda dan anak-anak. Sedituntun dan jalan kaki. “Begitu melihat dangkan pekerjaannya sebanyak 40% ada tamu yang naik sepeda motor me- pegawai dan 30% pedagang. lintas di kedua gang ini, langsung ditegur Dijelaskannya, kegiatan seperti warga setempat,” ujar Lukman. ini sudah lama dilaksanakan warga Sabar Suwastono, Ketua RT 10 setempat namun sejak dua tahun silam menjelaskan kehadiran para wisatawan semenjak dirinya Suwastono berusaha lokal dan asing ini terlaksana berkat jali- keras untuk meningkatan kegiatan nan kerjasama dengan Dinas Pariwisata yang dianggap sangat baik dalam Kota Surabaya dan sejumlah biro per- rangka mempertahankan budaya asli jalanan. “Banyak biro perjalanan baik Surabaya tersebut. “Ternyata sambudari Surabaya maupun dari luar kota tan warga sangat antusias sehingga sering membawa tamu dari luar negeri kampung ini ditata dengan lebih bagus ke sini untuk melihat budaya asli Sura- dan gang-gangnya bersih dan hijau,” baya baik kuliner maupun permainan ujarnya. -Yosef Sintar tradisonal,” ujarnya. Dijelaskannya, wisatawan luar negeri yang sering berkunjung ke kampung ini antara lain dari Korea Selatan, Jepang, Australia, Austria, Amerika Serikat dan sejumlah negara dari Asia dan Eropa. Dikatakannya pada bulan Juli 2016 mendatang pada puncak peringatan Tahun Habitat Sedunia akan ada ratusan tamu penting dari sejumlah negara seperti gubernur dan walikota akan datang berkunjung ke kampung wisata ini. Kuliner dan permainan asli ini, tambah Sabar ternyata sangat menarik perhatian wisatawan. Bahkan banyak diantara mereka ikut mencicipi kuliner khas Kampoeng Lawas Maspati dan ikut bermain dalam permainan khas Kampoeng Lawas Maspati ini. Keberhasilan ini berkat dukungan dari Peliondo III yang menjadikan kegiatan Kampoeng Lawas Maspati ini Wisata Kampoeng Lawas Maspati menjadi binaannya.


20

Nine

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Nyanyu Ernawati

Habiskan Waktu di Rumah Sakit

“Selamat siang rekan-rekan terkasih, mohon bantuannya donor darah untuk adik Putri Syahrani, mengidap gizi buruk dan anemia berat. Golongan darah B+ saat ini lagi dirawat di RSUD Kota Mataram. Bagi rekan-rekan yang dapat membantu bisa langsung ke PMI. Terima kasih”.

I

ni adalah salah satu dari banyak pesan-pesan sosial yang kerap disebar oleh Nyayu Ernawati, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram lewat media sosialnya untuk membantu anak-anak tidak mampu yang tengah sakit dan membutuhkan pertolongan. Berbagai kasus anak yang ditemukannya di Kota Mataram yang sampai ke komunitas anakanak peduli di Dewan Anak dan LPA Kota Mataram yang dibina dan diketuainya, informasinya selalu dibagi untuk menumbuhkan rasa peduli dan perhatian semua pihak terhadap kesulitan-kesulitan yang menimpa anak-anak. Begitulah, sejak dulu saat menjadi Anggota DPRD Kota Mataram dan lebih lagi saat ini, Nyayu banyak menyisihkan waktunya untuk memberi perhatian bagi anak-anak kurang mampu, anak-anak kurang beruntung dan anak-anak yang

membutuhkan uluran tangan, khususnya yang berada di Kota Mataram. Perhatiannya pada perlindungan serta pemenuhan hak-hak anak cukup besar. Dan perhatian ini oleh Nyayu juga ditularkan pada anak-anak yang tergabung dalam Dewan Anak dan LPA Kota Mataram. Bersama 15 orang “pasukannya” di komunitas ini, setiap hari Nyayu sibuk dengan berbagai urusan dan kasus-kasus anak. Setiap hari, Nyayu dan anakanak binaannya ini berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya untuk mengurus anakanak yang tengah sakit. Inilah yang membuat akhir-akhir ini, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit-rumah sakit, seperti RSU Provinsi, RSUD Kota Mataram atau RS Jiwa Selagalas. Juga di Rumah Pemulihan Gizi Kota Mataram di Ampenan. Aktivitas membantu anak-anak

kurang mampu yang sakit seperti ini mengharuskan ia dan timnya tidak jarang harus mengurus mereka mulai dari rumah tinggalnya, ke puskesmas hingga membawanya ke rumah sakit atau rumah sakit jiwa untuk berobat lebih lanjut. Tidak itu saja, bahkan sampai pada soal dokumen-dokumen RT hingga desa untuk kebutuhan perawatan pun tak jarang harus mereka urus juga. “Anak-anak (relawan) ini juga bahkan harus sampai menunggui, mengurus, memandikan, memberi makan hingga menceboki anak-

anak yang sakit selama dirawat di rumah sakit ketika keluarga yang sakit tidak peduli,” ujar Nyayu. Menurutnya, masih ada keluarga yang tidak peduli dengan kondisi keluarganya yang sakit seperti ini. Maka tugas tersebut mau tidak mau dijalani oleh anak-anak sukarelawan ini. Tidak itu saja, mereka juga turut mengetuk hati masyarakat untuk memberikan sumbangan biaya pengobatan bagi yang membutuhkan khususnya yang dirujuk hingga ke rumah sakit di luar NTB. Dan sumbangan-sumbangan yang masuk langsung diserahkan kepada

keluarga yang berhak. Mulianya hati para sukarelawan yang dijulukinya sebagai TRG (Tim Reaksi Gila) ini, kerap membuat Nyayu terharu. “Mereka begitu ikhlas membantu anak-anak yang membutuhkan, tanpa pernah mengeluh,” katanya. Bagaimana tidak, julukan TRG yang diberikannya pada tim ini karena mereka bukan hanya lekas dalam merespons kondisi seperti ini melainkan juga mereka tidak mengenal ruang dan waktu dalam bekerja membantu anak-anak yang membutuhkan. –Naniek I. Taufan

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Mulai Rp 12 Juta bisa punya Atta Labeji Villas di Ubud Bali Diberlakukannya MEA, menjadi dua sisi mata uang bagi Indonesia, Bali khususnya. Pada sisi investasi, kondisi ini menjadi angin segar bagi para investor asing untuk berinvestasi dan menguasai tanah Bali. Dulu, hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa menjadi investor (owner) villa. Namun saat ini, peluang menjadi investor maupun owner (pemilik) villa terbuka lebar bagi masyarakat Bali, yang sekaligus menjadi “penyelamat tanah Bali” dengan menjadi tuan di tanahnya sendiri. Adalah Made Robert, seorang pebisnis sukses, motivator, owner, pendiri sekaligus konseptor PT Mesari Land yang telah sukses mensejajarkan masyarakat lokal dengan investor asing, serta mengembalikan peran orang Bali untuk menjadi “tuan” di tanahnya sendiri dengan proyek Villa Mesari, kini melalui BOS Land a Subsidiary of MESARI Land menghadirkan 2 jenis villatel, yakni villatel berbasis kerakyatan dan villatel unitan. Villatel berbasis kerakyatan ini mengusung konsep mepatung. “Dengan konsep mepatung, mulai dengan Rp 12 juta, masyarakat Bali sudah bisa memiliki unit Atta Labeji Villas yang berlokasi di kawasan ekso-

Atta Labeji Villas

tis, Desa Kenderan, Ubud, Bali,” ujar Komisaris Utama BOS Land, Ni Made Ayu Dewi Saraswati. 100% Uang Kembali Apa saja yang didapat dari Rp 12 juta tersebut? Sang konseptor, Made Robert menjelaskan banyak keuntungan yang didapat. Di antaranya, uang pembelian lot akan dikembalikan 100% di tahun ke-10. “Ini hanya berlaku bagi pembelian di awal hingga 25 april 2016. S e te l a h i t u , p e n g e m b a l i a n uang 100% tersebut dilakukan di tahun ke-11,” ucap Ni Made Ayu Dewi yang sekaligus bertindak sebagai Marketing & Communication of Atta Labeji Villas.

Keuntungan lainnya yang didapat dengan berinvestasi di Atta Labeji Villas adalah; mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan

Hanya Rp 325 Juta bisa punya Atta Selong Villas di Lombok (Sertifikat Hak Milik)

Atta Selong Villas

Aktivitas Nyayu bersama sukarelawan anak yang dibangun dengan rasa cinta.

Semua yang Tak Mungkin jadi Mungkin “Tidak peduli waktu, siang atau malam, di mana pun tempatnya, mereka siap membantu, “ ujar Nyayu yang selalu menanamkan cinta kasih dan sayang pada para sukarelawan yang siap setiap saat bekerja bersamanya ini. Oleh Nyayu, anak-anak ini diasah kepekaan dan cinta kasihnya untuk ikhlas menjadi sukarelawan dalam kerja sosial seperti ini. “Dengan cinta, semua yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin,” katanya. Kasus yang ditangani sangat banyak mengingat komunitas membuka hotline informasi 24 jam yang disebar

di lingkungan-lingkungan se-Kota Mataram. Beruntungnya, untuk kelancaran aktivitas membantu anak-anak kurang mampu ini, Nyayu dan para sukarelawan telah mendapat bantuan sebuah mobil dari Pemerintah Kota Mataram yang diberi nama Mobil Sahabat Anak untuk operasional tim ini. “Mobil ini kami pakai untuk menjemput dan mengantar anak-anak ke rumah sakit juga untuk mengurus kebutuhan mereka,” ujar Nyayu yang saat menjadi Anggota DPRD Kota Mataram (tahun 1999-2014) pernah menggunakan mobil fraksi untuk misi yang sama.

Begitu pula dengn mobil pribadinya. Mobil tersebut ia beri nama ambulan untuk rakyat. Bersama anak-anak ini pula, Nyayu berusaha keras mengembalikan anak-anak putus sekolah ke bangku sekolah. Tidak kurang dari 300 anak telah mereka kembalikan ke bangku sekolah. Salah satunya Mahsan, anak jalanan yang baru-baru ini akhirnya mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Mataram. Bersama anak-anak ini juga Nyayu mengumpulkan buku dalam Bank Buku LPA Mataram untuk dibagikan kepada perpustakaan-perpustakaan yang dikelola bagi kepentingan sosial. -Naniek I. Taufan

5

Direktur Utama BOS Land, Made Robert menyampaikan, kini BOS Land juga memiliki villatel unitan yang berlokasi di Kelusa, Ubud, dan di Selong Belanak Lombok. “Jadi, semeton Bali yang memiliki dana lebih bisa berinvestasi di Puri Kelusa Villas & Resort, Ubud atau di Atta Selong Villas, Lombok,” jelas Ni Made Ayu Dewi. Atta Selong Villas adalah salah satu akomodasi mewah di daerah perbukitan Selong Belanak yang menawarkan keindahan alam Selong Belanak dan kenyamanan bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana alami dan tenang. Nikmati pemandangan pantai pasir

Made Robert dan Ni Made Ayu

putih menakjubkan dari Pantai Selong, lingkungan yang masih alami di perbukitan Selong Belanak, Lombok. Selong Belanak dapat dijangkau 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Lombok di Praya, mudah dicapai dengan penerbangan reguler dari Bali, Jakarta, Singapura , dan Kuala Lumpur. Apa yang didapat dari Rp 325 juta? Keuntungan yang didapat adalah: Garansi penghasilan selama pembangunan 0,5% per bulan selama 2 tahun (transaksi tunai), ROI Guarantee 18% untuk 2 tahun sejak Atta Selong Villas resmi beroperasi (tahun ke-3 dan seterusnya fluktuatif mengikuti untung bersih dari Atta Selong Villas), Bagi hasil dari untung bersih mulai akhir tahun ke-3 sebesar 70% investor pemilik villa & 30% operator, Garansi beli kembali 130% pada tahun ke-5 (transaksi tunai), Perabotan lengkap di villa (fully furnished), Free maintenance & service charge, Free stay 21 point per tahun, Sertifikat Hak Milik (SHM), Reward buyer (transaksi tunai), liburan gratis ke Eropa, Grand Prize (diundi saat grand opening Atta Selong Villas), 2 Hektare hutan jabon, Umroh/Liburan/ Tirtayatra.

setiap 6 bulan selama 23 tahun, komisi 10% setiap mengajak tamu ke Atta Labeji Villas, tergabung dalam komunitas “Atta Labeji Investor Club” yang tentunya akan memperluas jejaring, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenang-

kan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor pun telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris. –ten

Mini gathering investor Atta Labeji Villas di Restaurant Mesari Villas

Miliki Puri Kelusa Villas & Resort di Ubud Bali hanya dengan Rp 600 Juta (Sertifikat Hak Milik) Kunjungan wisatawan ke Bali selalu meningkat tiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka lebih tertarik menginap di villatel. Kondisi ini menjadi kesempatan yang luar biasa untuk berinvestasi di villatel. Para wisatawan kini tak lagi mencari lokasi yang dekat dengan keramaian, namun lebih memilih lokasi yang eksotis, tenang dan nyaman. Ubud terkenal di antara para wisatawan di mancanegara karena lokasinya yang banyak dengan persawahan dengan nuansa perdesaan. ​Puri Kelusa Villas & Resort adalah tempat yang tepat untuk berinvestasi di villatel. Villa bernuansa kehidupan tradisonal pedesaan Bali yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana (keep the harmony and balance between human to God, human to human & human to environment). Dibangun di atas tanah seluas 2 hektare di Kelusa, Ubud–Bali, dikelilingi sungai yang masih asri bak pulau di tengah danau dengan suara gemericik airnya, dikelilingi sawah yang hijau dan rerimbunan pohon. Miliki Puri Kelusa Villas di Ubud, Bali hanya dengan Rp 600 juta. Benefit Memiliki Puri Kelusa Villas & Resort adalah : Garansi penghasilan selama masa pembangunan 0,5% per bulan selama 2 tahun (transaksi

tunai), ROI Guarantee 18% untuk 2 tahun semenjak Puri Kelusa Villas & Resort beroperasi (tahun ke-3 dst. fluktuatif mengikuti untung bersih dari Puri Kelusa Villas & Resort), Bagi hasil dari untung bersih mulai akhir tahun ke-3 sebesar 70% untuk investor (pemilik villa) & 30% untuk operator villa (Puri Management International), Garansi beli kembali 130% di tahun ke-5 (transaksi tunai), Perabotan lengkap di villa (full furnished), Free maintenance & service charge, Free Stay 21 point per tahun, Sertifikat hak milik (SHM), Reward buyer (transaksi tunai keras), Grand Prize diundi saat grand opening Puri Kelusa Villas & Resort (2 hektare hutan jabon, umroh/ tirta yatra/liburan ke luar negeri).

Unit Terbatas!

Hubungi Marketing Sebelum Harga Naik BOS LAND Jln. Tukad Pakerisan 79, Panjer, Denpasar – Bali 0361 4723 260, 0822 4736 5888, 0878 6199 9658 www.bosland.id Email: cs@bosland.id, bos.land99@gmail.com

Puri Kelusa Villas & Resort


4

Inspirasi

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Zaskia Sungkar

Pada tahun 2025 mendatang, Pemerintah Indonesia ingin mencapai World Class Good Governance. Karena itulah reformasi birokrasi yang tertuang dalam nawacita menjadi salah satu prioritas penting dalam pemerintahan Joko Widodo saat ini. Inovasi yang terusmenerus penting ditingkatkan untuk mewujudkan hal tersebut.

H

D

MODAL DUA MESIN JAHIT Dulu Zaskia mengira bisnis pakaian yang dikelolanya sama dengan bisnis lain miliknya yang bisa dikerjakan bersamasama. Tapi ternyata, tidak. Pasalnya, bisnis yang dimulainya dengan modal tidak ban-

Foto: kapanlagi.com

Kini para pencinta sinetron tanah air menjadi semakin jarang melihat Zaskia Sungkar beradu akting di layar kaca. Sebaliknya, wanita 25 tahun kini justru lebih banyak dibicarakan terkait kiprahnya di dunia fashion. Apalagi meski sebagai pemula, istri aktor Irwansyah ini berhasil mencatat kesuksesan di bisnis barunya itu hanya dalam tempo relatif singkat.

ia memulainya di tahun 2012 dan hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membuat bisnisnya menjadi besar dan melanglang ke mancanegara. Bahkan kini ia telah beberapa kali tampil dalam fashion show besar seperti London Fashion Week 2016 dan New York Fashion Week 2015 . “Aku sekarang lagi fokus di fashion. Ini tidak bisa disambi,” ujar Zaskia yang banyak menolak tawaran main sinetron dan FTV lantaran ingin fokus pada bisnis barunya ini. “Aku masih harus banyak belajar, nambah ilmu, ikut short course, dll. Ini bisnis yang nggak diduga-duga ya. Alhamdulilah mendapat respon yang bagus dari masyarakat,” ungkap Zaskia yang ditemui di bilangan Senayan, Jakarta. Semua ini, tutur wanita kelahiran 22 Desember 1990, ini, berawal dari hobinya melakuan mix and match pada pakaian yang dikenakannya. Hasil kreasinya itu kerap dia pamerkan melalui foto-foto yang diupload di medsos miliknya. Respon positif yang diterimanya dari para fans juga followernya membuat

21

Pemprov NTB Temukan Arsip dalam 3 Menit

Bisnis Fashion yak hanya dua mesin jahit dan beberapa penjahit, berkembang dengan cepat. Bahkan ia kewalahan karena pesanan terus berdatangan. “Aku sempat kaget. Pesanan terus berdatangan, sementara penjahit tidak banyak. Aku pusing banget, tapi senang karena ternyata responnya luar biasa,” katanya. Jadi kalau dulunya dia memulai hanya memproduksi selusin baju setiap hari, dengan perkembangan pesat ini, kini setiap hari ia memproduksi paling sedikit 100 potong setiap harinya. “Aku jadi makin sibuk karena semuanya harus aku yang ngurus sendiri. Mungkin orang melihat ini (bisnis) gampang ya, padahal nggak gampang lho, pusing malah. Ini bisnis yang nggak bisa disambisambi. Aku nggak bisa nyuruh orang lain, jadi aku harus bikin sendiri,” kata pelantun tembang ‘Keajaiban Cinta’. Bakat berbisnis Zaskia ini mulai terlihat menonjol sejak ia menikah dengan aktor Irwansyah pada 2011 lalu. Sebelumnya ia bersama adiknya Shireen Sungkar membangun TK Khalifah di Bintaro.Tapi setelah menikah Zaskia justru terlihat sangat sibuk berbis-

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Penganugerahan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016

Meroket dengan anak pasangan Mark Sungkar-Fanny Bauty, ini, semakin bersemangat. “Sejak dulu aku suka fashion dan selalu mengamati perkembangannya. Trus aku juga suka mix and match. Banyak yang suka. Kebetulan aku juga suka menggambar sejak kecil, jadi aku pikir kenapa nggak desain sendiri aja pakaian yang aku kenakan, jadi aku mulai desain dan pakai kreasi aku. Ternyata responnya bagus,” papar vokalis The Sisters ini. Berdasarkan respon-respon positif yang diterimanya itulah muncul ide untuk membuka bisnis pakaian muslim. Tapi ia sempat ragu karena saat itu kesibukannya sudah cukup tinggi mulai dari syuting sinetron, hingga mengelola bisnis production house bersama suaminya. Di sisi lain ia tak mampu menolak passion yang sudah lama terpendam di bidang fashion. “Sebenarnya dulu aku kepengen jadi stylist tapi nggak kesampaian, ehh sekarang malah jadi desainer,” kata Kia—sapaan akrab Zaskia--- yang memulai bisnis fashionnya tahun 2012 dengan brand HF (Hijabi Fashionista) by Zaskia Sungkar.

Mandalika

Zaskia Sungkar

nis, mulai dari bisnis production house, hingga menangani bisnis e-commerce woku woku bersama sang suami. Di antara itu ia mulai merintis bisnis pakaian. Ternyata justru di bisnis fashion ini lah Zaskia tampak menonjol. Karier akting yang mulai ditekuninya sejak 2007 perlahan ditinggalkannya. Begitu juga kiprahnya di bidang menyanyi perlahan menjadi semakin jarang. Menurut Zaskia, bukannya ia tidak suka lagi dengan akting maupun m enyanyi nam un memang waktu yang dimilikinya sangat terbatas, sementara bisnis fashion yang sedang dirintisnya sangat membutuhkan penanganan full darinya. “Bukan aku nggak suka lagi, aku suka keduanya, akting dan menyanyi. Tapi waktu aku terbatas. Apalagi untuk akting, kayaknya benarbenar susah. Waktunya berat (sangat menyita waktu) dan menguras tenaga, sampai-sampai kita tidak punya kehidupan lain karena Zaskia bersama adiknya Shhireen Sungkar di acara Pop Awards syuting bisa sampai

pagi. Kayaknya masa-masa itu sudah tidak bisa lagi deh,” ungkap Kia yang kini memiliki butik di 13 kota dan beberapa di luar negeri. Sementara bisnis fashion yang kini digelutinya meskipun terasa capai tapi ia merasa enjoy dan bahagia. Apalagi melihat bisnis bisa tumbuh pesat diluar dugaannya. Fashion busana muslim yang ditekuninya saat ini, kata Zaskia, memiliki prospek yang bagus. Di luar negeri sambutan terhadap fashion busana muslim Indonesia sangat bagus. Karena itu ia merasa optimis suatu saat Indonesia akan menjadi kiblat mode busana muslimah dunia. Ia mengaku akan berusahakonsisten mengangkat kain-kain tradisionil berbagai daerah ke panggung fashion. Itu sebabnya dalam berbagai rancangannya ia kerap mengangkat kain-kain daerah, khususnya untuk event-event internasional. Seperti misalnya di London Fashion Week lalu, ia mengangkat batik dodotan dan tenun songket. “Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yang harus kita promosikan ke luar negeri,” katanya. Zaskia merasa bersyukur kiprahnya ini mendapat dukungan penuh dari sang suami yang bukan saja kerap hadir dalam berbagai event yang diikutinya tapi juga menjadi tempatnya bertukar pikiran soal fashion. –Diana Runtu

al inilah yang melatarbelakangi digelarnya Penganugerahan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 dirangkai dengan acara simposium dan gelar inovasi pelayanan publik nasional tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB )RI yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tanggal 31 Maret hingga 2 April 2016. Mengangkat tema, “Melalui Inovasi Pelayanan Publik Mewujudkan Pelayanan Prima, serta peluncuran buku TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 yang diserahkan oleh Deputi Pelayanan Publik kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, gelar inovasi pelayanan publik diisi oleh 99 stand dari instansi pemerintah. Pada ajang TOP 99 Inovasi Pe-

layanan Publik Tahun 2016 ini, Pemerintah Provinsi NTB berhasil meraih prestasi dengan nominasi berhasil menemukan arsip dalam waktu tiga menit. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi , ME kepada Asisten III Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H . Lalu Syafii, MM di Jx Internasional (Jatim Expo) Surabaya. Pada gelar 99 TOP inovasi pelayanan publik tahun 2016 ini terdiri dari enam kategori, yaitu Inovasi Kementerian, 5 Inovasi Lembaga, 25 Inovasi Provinsi, 40 Inovasi Kabupaten, 13 Inovasi Kota, dan 5 Inovasi BUMN. Inovasi Temukan arsip dalam 3 menit yang diinisiasi oleh H. Amiruddin yang bekerja sebagai Kepala Bagian Ekspedisi dan Arsip pada Bagian Kesekretariatan dan Pengelola Data Elektronik (PDE) Biro Umum Setda NTB

Asisten III Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs. H . Lalu Syafii, MM, menerima penghargaan TOP 99 dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi , ME.

ini, NTB menang bersaing dengan 2.476 peserta dari seluruh Indonesia. Deputi Bidang Pelayanan Publik, Mirawati Sudjono, Ak., M.Sc. selaku ketua panitia menyampaikan salah satu tujuan dari penyelenggaraan simposium dan gelar inovasi pelayanan publik nasional tahun 2016 adalah mempromosikan pelayanan publik kepada masyarakat. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke tiga dari simposium dan gelar inovasi yang mana dari tahun ke tahun jumlah inovasi yang ikut berkompetisi terus bertambah. Untuk tahun 2016 ini ada 2.476 inovasi yang berkompetisi untuk meraih TOP 99. “Saya harap acara ini memberikan kenangan yang indah

Silaturrahim Gubernur NTB ke FGV

Gubernur NTB saat silaturahmi. Felda Global Ventures, (FGV), BUMN Malaysia yang membidangi kelapa sawit, dengan keluarga Tenaga Kerja Indonesia asal NTB yang bekerja di Malaysia

“Saling memberi kebaikan adalah kewajiban kita sebagai tetangga. Apa yg dilaksanakan FGV adalah contoh sebagai tetangga yang baik. Semoga hubungan ini bisa terus terjalin dan terjaga dengan baik”, ungkap Dr. TGH M. Zainul Majdi, Gubernur NTB saat menghadiri silaturrahim Felda Global Ventures, (FGV), BUMN Malaysia yang membidangi kelapa sawit, dengan keluarga Tenaga Kerja Indonesia asal NTB yang bekerja di Malaysia, beberapa waktu lalu. Gubernur juga mengajak semua tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, khususnya di Malaysia dapat menjadi duta NTB yang baik, artinya selalu menjalankan segala sesuatunya sesuai prosedur. “Ikuti sistem

yang ada, prosedur yang baik dan dapatkan izin sesuai proses yang benar. Segala sesuatu yang diawali dengan niat dan cara yang baik, pastinya akan membawa kebaikan juga,” katanya pada acara silaturrahim yang dirangkaikan dengan penyerahan zakat dari Felda Global Ventures kepada tiga Pondok Pesantren di wilayah Lombok, penyerahan santuan kepada 18 keluarga TKI NTB yang bekerja di Malaysia dan penyerahan asuransi kematian luar negeri untuk para keluarga TKI. Sebagai Gubernur, ia berharap warga NTB yang bekerja di Malaysia dapat dibina sebaik-baiknya, diberi haknya dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Harapan tersebut disampaikan Majdi ke-

pada Duta Besar Malaysia untuk RI, Dato’ Seri Zahrain Mohammed Hashim dan Chief Executive Officer and President Felda Global Ventures (FGV), Dato’ Moh. Emir Mavani Abdullah pada acara yang juga dihadiri Duta Besar RI untuk Malaysia Herman Prayitno. “Saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia, sangat berkontribusi dalam pengembangan ekonomi, baik di Malaysia maupun Indonesia. Kontribusi ini adalah salah satu contoh yang baik dalam membangun hubungan Indonesia-Malaysia sebagai dua negara bertetangga,” katanya. Kunjungan dan silaturrahim ini dimaknai sebagai salah satu simbol dan ikhtiar dari kedua negara tetangga, yang membuka peluang dan kesempatan untuk berkolaborasi, kerjasama dan saling mengisi. Dato’Moh. Emir Mavani Abdullah menjelaskan tujuan lawatannya ini adalah untuk mengeratkan hubungan silarturrahim antara pihak perusahaan tenaga kerja Malaysia dengan keluarga pekerja di NTB, serta masyarakat setempat. Melalui lawatan ini, pihak FGV juga ingin mengucapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Gubernur NTB, yang masih mempercayakan warga NTB bekerja di ladangladang FGV Malaysia. Ia pun berharap, kerjasama pihaknya dengan NTB dapat meluas ke berbagai sektor lainnya. -Naniek I. Taufan

dan bermanfaat bagi kita semua,” ungkap Mirawati. Hal serupa juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur. “Dari jumlahnya saja yang 99 menunjukkan sesuatu yang istimewa sesuai dengan asmaul husna,” ungkap Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo, S.H, M.Hum., dalam sambutan selamat datangnya. Soekarwo mengatakan bahwa

peningkatan daya saing dapat dilakukan dengan gelar inovasi pelayanan publik seperti ini. Tiga kunci utama pelaksanaan pembangunan adalah SDM yang berkualitas, infrastruktur, dan pelayanan publik yang prima. Tujuan digelarnya kegiatan semacam ini adalah agar pelayan publik memiliki visi yang jauh ke depan dalam mencapai Reformasi Birokrasi. Tujuan lainnya dari kompetisi ini adalah mendorong lembaga pelayanan agar pelayan publik memiliki visi yang jauh ke depan dalam mencapai Reformasi Birokrasi. Juga mendorong lembaga pelayanan publik untuk terus berinovasi dan menjalin kerja sama antar lembaga atau pelayanan publik. “Jika kita tidak terus meningkatkan inovasi, maka kita tidak memiliki daya saing dalam era globalisasi ini,” ungkap Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi. –Naniek I. Taufan

Wujudkan Kedalatan Pangan Perwujudan kedaulatan pangan tidak bisa diraih dengan cara biasa, melainkan perlu upaya khusus (upsus) yang dilakukan berbagai pihak. Hal ini disampaikn oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ir. M. Herman Khairan pada kegiatan Panen Raya di Desa Gapok, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. “Kita menyambut panen ini tentunya dengan rasa optimis bahwa ke depan pangan kita tetap berdaulat dan tetap mandiri,” ungkap Herman. Ia meminta jika ada keluhan dan permasalahan yang dialami semua pihak terkait hal ini, termasuk petani untuk sesegera mungkin disampaikan, terutama kepada Komisi IV DPR RI. Panen raya yang dilakukan di Lombok Barat ini merupakan realisasi tanam tahun 2016 dengan jumlah luas lokasi tanam sekitar 20 hektar dengan hasil delapan ton. “Kami mengharapkan support dari pemerintah pusat sehingga apa yang menjadi cita-cita kita yaitu swasembada pangan nasional dapat terwujud,” ungkap Plt. Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid. Sebagai salah satu daerah penyanggah pangan nasional, pembangunan bidang pertanian di Nusa Tenggara Barat terus ditingkatkan. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan masyarakat petani di wilayah NTB begitu gigih dan kuat dalam membangun pertumbuhan hasil pertanian daerah ini. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya hasil pertanian dari tahun ke tahun, bahkan dapat diserap secara nasional oleh Bulog. “Ini adalah gambaran kecil bahwa kegigihan dan kesungguhan dari para petani sangat kuat. Tinggal bagaimana mendapatkan dukungan dari pemerintah,” ujar Majdi. Gubernur menyampaikan dukungan penuh atas upaya dan aktivitas petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan, salah satunya adalah dengan memberikan fasilitas pertanian yang dibutuhkan para petani. -Naniek I. Taufan

Panen raya di Lombok Barat


22

Sosialita

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

Bertahan Hidup dari Utang Bau amis menyeruak tajam begitu memasuki kawasan Kampung Nelayan Cakung Drain Cilincing, Jakarta Utara. Persisnya di RT 03 RW 04 yang letaknya berhadapan dengan dermaga. Lamat-lamat terdengar musik dangdut dari transistor warga. Sebagian nelayan tampak bersantai di saung di depan dermaga, sebagian lagi masih berada di kapal menyelesaikan tugasnya.

“S

aya sedang menunggu suami yang sedang memilah jaring,” ungkap Kati yang saat ditemui sedang duduk santai di bangku pinggir jalan. Wajahnya tampak cerah. Rupanya hari ini suaminya berhasil membawa tangkapan ikan yang lumayan. “Mudah-mudahan hasilnya cukup untuk makan dan bayar cicilan utang,” katanya polos. Ibu enam anak ini mengaku baru bisa merasakan kegembiraan dalam 10 hari terakhir ini, setelah lima bulan sebelumnya hanya bisa bermuramdurja. Selama lima bulan lalu, sang suami juga anak-anaknya jarang melaut lantaran cuaca dan ombak tinggi. “Baru beberapa hari ini kami para nelayan bisa senang, meski hasil pun tidak seberapa, tapi ada yang dibawa pulang. Lima bulan kemarin hidup kami sangat susah, nggak bisa makan karena nggak ada uang. Kalaupun makan harus dibatasi. Nggak ada lagi yang kesisa. Boro boro buat buat nabung,” ungkapnya dengan mimik sedih. Penghasilan nelayan yang tak menentu, sebenarnya telah dijalani Kati sejak ia kecil. Orangtuanya asal Indramayu pun seorang nelayan. Demi mencari kehidupan lebih baik, sejak usia 10 tahun, Kati dan keluarganya hijah ke Jakarta dan menetap di Kampung Nelayan Cakung Drain, Cilincing. “Orangtua cuma jadi nelayan, jadi ya di Jakarta pun kerja jadi nelayan juga. Cuma keadaan dulu beda dengan sekarang. Ikan masih banyak, tidak perlu melaut ke tengah untuk dapat banyak ikan. Karena perairan belum tercemar seperti sekarang,” tutur Kati yang juga ikut membantu kerja orangtuanya sejak kecil.

Karena itu, ia pun tahu bagaimana susahnya hidup menjadi nelayan. Penghasilan yang didapat hanya untuk makan dan banyar utang, sulit untuk menabung. Namun, ia merasakan kehidupan makin lama makin sulit. Penghasilan makin tak menentu, bahkan tak jarang meski sudah bekerja tidak mendapat hasil untuk dimakan. “Kadang solar lima liter habis, hanya bawa pulang Rp 50 ribu. Jadi nelayan itu adanya cuma susah doang. Sengsara! Apalagi sekarang, kadang dapat (ikan) kadang tidak. Malah banyak kosongnya,” ucapnya. Kalau sedang rezeki, sang suami dan dua temannya bisa meraih tangkapan senilai Rp 1 juta. Tapi itu tidak selalu. Bisa dapat ikan senilai Rp 500 ribu saja, menurutnya sudah sangat lumayan karena kondisi sekarang yang tak menentu. “Hasil tak menentu, kadang Rp 1 juta kadang Rp 300 ribu. Tapi tak

jarang cuma menghasilkan Rp 150 ribu. Bahkan pernah juga cuma dapat Rp 100 ribu. Uang segitu mana cukup untuk makan dan bayar utang?” tambahnya. “Malah suami pernah juga cuma bawa pulang Rp 50 ribu, itu setelah dibagi dengan temannya yang ikut membantu di kapal. Hasilnya Rp 50 ribu, padahal modalnya Rp 20 ribuan. Jadi bagaimana makannya? Bayar utangnya?” keluhnya. GALI LUBANG TUTUP LUBANG Kalau sudah begitu maka solusi satu-satunya yang kerap dilakukan Kati adalah berutang. Gara-gara jarang melaut selama lima bulan kemarin, kini utang Kati di beberapa tempat sudah mencapai jutaan. “Untung ada Pak Haji yang mau ngasih utangan, trus warungwarung di sini juga membolehkan kita ngebon. Coba tanya aja di warung, pasti banyak catatan bon nelayan-nelayan di sini. Memang seperti itu kehidupan nelayan, gali lubang-tutup lubang untuk mempertahankan hidup. Karena itu, kalau boleh jujur dia sebenarnya tak ingin keenam anaknya mengikuti jejak pekerjaan orangtua. “Jadi nelayan yang ada cuma sengsara doang. Mewarisi kesengsaraan, sebenarnya saya nggak mau. Tapi mau bagaimana lagi. Saya orang nggak punya, anak-anak sekolahnya cuma SD, itu pun nggak tamat,” kata Kati. Bukan hanya Kati, anak-anaknya pun sempat mengutarakan ketidakinginan mereka menjadi nelayan. Maka mereka pun mencoba mencari pekerjaan di bidang lain. Sayangnya, upaya tersebut tak membuahkan hasil. Sulitnya mencari pekerjaan, minim akses, membuat mereka akhirnya ‘menyerah’ , dan kembali mengikuti jejak orangtuanya menjadi nelayan. “Coba perhatian laut saat ini, sudah tidak bening lagi. Warnanya hitam dan banyak sampah,” ujar Kati sambil menunjuk laut yang berwarna kehitaman juga sampah yang menumpuk di pinggir dermaga. Pencemaran tinggi

Edisi 895/ 4 - 10 april 2016

3

AA Diah Haswani

Tantangan Dua Profesi membuat ikan-ikan menjauh. “Sekarang sudah tidak ada lagi ikan di pinggir. Kalau mau ikan, kita harus melaut ke tengah. Tapi sekarang cuaca kerap tidak menentu, kalau ombak besar maka kita tidak bisa ke laut. Berarti tidak makan, dan harus utang lagi,” kata Kati yang hidup mengontrak sepetak kamar. Sebenarnya kalau mau dilihat, kehidupan Kati lebih baik dibanding nelayan lain. Karena Kati dan suaminya memiliki perahu, sehingga penghasilannya relatif lebih banyak dibanding yang bekerja di perahu orang lain. “Ya tapi tetap saja. Ini perahu tua, motornya juga sering ngadat, kalau jaring rusak juga kita yang tanggung,” tambahnya. Untungnya juga, kata Kati, sekarang tanggungannya semakin berkurang karena kelima anaknya sudah menikah dan mencari nafkah sendiri-sendiri. “Tanggungan saya sekarang cuma anak satu, dia paling bungsu, umurnya

delapan tahun,” ucap Kati. Sebagai ibu rumah tangga Kati tergolong ibu yang luar biasa. Tahun 2011, suaminya pertamanya meninggal, dan dia harus berjuang menghidupi kelima anaknya yang masih kecil-kecil. Berbagai pekerjaan ia kerjakan demi bisa bertahan, sampai akhirnya ia menikah lagi delapan tahun lalu, juga dengan nelayan. Sejak itu kehidupannya menjadi lebih baik. Tapi bukan berarti dia bisa berleha-leha. Karena penghasilan seorang nelayan tak menentu maka Kati lah yang harus ‘putar-otak’ menyelesaikan segalanya, termasuk mengurusi soal utang. “Kalau dapat hasil dari melaut, suami kasih semua penghasilannya ke saya. Tapi giliran kosong, maka saya yang harus cari utangan kesana kemari. Suami nggak mau tau. Pokoknya ada makan dan rokok. Jadi saya harus ngatur semuanya,” katanya. –Diana Runtu

Gadis berambut panjang ini, sedang sumringah. Ia ­ ipercaya ayahnya untuk mengelola privat villa, usaha d keluarganya. Tentu, kesempatan ini merupakan tantangan tersendiri bagi gadis bernama lengkap AA Diah Haswani ini. Profesi dokter yang sudah disandang sebelumnya, harus bisa diseimbangkan dengan profesi barunya sebagai pebisnis ­pemula. Bagaimana perempuan yang akrab disapa Gek Hana ini mengelola dua profesinya?

“Bandar” pun bisa Rugi Kisah lain yang dijumpai di Kampung nelayan Cakung Green Cilincing adalah kehidupan para “bandar” ikan. Sarwinah yang saat dijumpai sedang bersama Kati pun bercerita tentang kehidupannya sebagai “bandar” ikan. Yang dimaksud “bandar” ikan sebenarnya adalah seorang pengepul. Para nelayan biasanya menjual ikannya pada para pengepul seperti Sarwinah, yang kemudian menjualnya lagi ke tempat pelelangan ikan. Wanita 70 tahun yang sudah 25 tahun berkecimpung sebagai pengepul, mengaku menjadi pengepul Ibu Kati(kiri) dan Sarwinah tidak selamanya untung. Bahkan tak jarang, katanya, kalau salah perhitungan dia bisa rugi besar. Baru-baru ini, katanya, lantaran ikan yang berlimpah, dirinya justru rugi Rp 12 juta. Lho, kok bisa? Jadi tutur Sarwinah yang juga berasal dari Indramayu, di kampung nelayan ini masing-masing pengepul memiliki nelayan binaan. Seperti dirinya, memiliki 10 nelayan binaan. “Peraturannya, nelayan-nelayan ini hanya bisa menjual hasil tangkapannya kepada saya. Sedang saya punya kewajiban membeli semua hasil tangkapan mereka, tidak bisa menolak,” ungkapnya. Waktu itu, kebetulan hasil laut melimpah sehingga jumlah yang ‘disetor’ para nelayan binaannya pun melimpah. Ikan kembung misalnya, dia harus membeli seharga Rp 24 ribu per kilo. Ternyata ketika ia pergi ke pelelangan ikan, harga ikan justru jatuh hingga Rp 10-15 ribu per kg, karena melimpahnya hasil tangkapan. “Dalam tiga hari saya rugi Rp 12 juta,” ucapnya. “Kita jual semua tangkapan ke dia (Sarwinah), tidak bisa ke yang lain. Dia nggak bisa nolak, meski hasil tangkapan banyak. Kita nggak mau tahu dia rugi atau untung, pokoknya harus terima,” kata Kati menambahkan. Meski pahit, Sarwinah mengaku hal seperti itu memang kadang dialaminya. Menjadi pengepul katanya tidak selalu untung. Yang penting, ketika ada keuntungan harus pandai mengaturnya. Kadang, kalau nelayan binaan tidak punya uang untuk melaut, dirinya ikut membantu modal. “Itu harus, kalau tidak, dari mana penghasilan saya. Biasanya saya bantu modal Rp 20 ribu untuk setiap perahu, paling tidak mereka bisa beli solar. Atau kalau motor kapal rusak, kadang saya juga memberi pinjaman,” katanya. Selama 25 tahun di ‘bidang’ ini membuat Sarwinah jadi trampil mengolah keuangannya. Itu sebabnya, meski terkadang rugi jutaan rupiah, tidak membuatnya kapok. Bisnisnya adalah ‘seni’ mengolah uang dan membaca peluang. Meski usianya sudah uzur, janda dua anak ini mengaku masih mampu menjalani bisnisnya. Bahkan dia berhasil mengembangkannya dengan membeli dua buah kapal yang kini disewakan kepada orang lain. –Diana Runtu

D

itemui saat grand opening The ­Sanctoo Villa, di Jalan ­Singapadu, Br. Seseh, Gianyar, Gek Hana begitu antusias menceritakan bagaimana tantangan dalam mengelola vila. Gadis kelahir­ an 20 Juli 1990 ini, tak menampik sebagai pebisnis pemula, perlu ba­ nyak belajar. Dengan prinsipnya, se­ lalu ingin belajar hal baru ia merasa tak perlu ada yang diragukan. Ia bisa belajar dari sang ayah, AA Gde Putra, seorang pebisnis andal yang sudah membesarkan Bali Zoo dan sang kakak AA Gede Lesmana Putra, yang kini juga diberikan kesempat­ an ayahnya ikut bergabung dalam manajemen Bali Zoo.

Putri pasangan AA Gde Putra dan AA Ayu Mayudari ini, menuturkan, selama ini untuk belajar bisnis ia banyak membaca buku bisnis pem­ berian sang ayah. Memang terlintas dalam benaknya suatu hari ia tertarik juga sekolah bisnis. Saat ini, tentu sebagai langkah awal, ia harus tahu bagaimana mengelola SDM. Belajar dari kepemimpinan sang ayah, ia ingin lebih mendekatkan diri kepada staf, dengan sistem kekeluargaan, dan tidak membedakan satu sama lain. Ia juga membangun relationship keterbukaan dengan staf, sehingga diskusi dan memberikan kesempatan kepada staf untuk menyampaikan pendapat, adalah kiatnya dalam memimpin. “Bapak juga sering mem­

beri saran, pemimpin harus selalu open mind dan tidak kaku,” tutur Gek Hana. Gek Hana baru dua tahun lulus sebagai dokter. Saat ini, ia dipercaya bekerja se­bagai dokter klinik, salah satu hotel di Ubud. Ketika ditanya, mengapa ia tertarik menjadi dokter, padahal ayahnya seorang pebisnis, Gek Hana tersenyum simpul. “Saya menjadi dokter tidak melihat dari segi materi. Profesi dokter untuk melayani masyarakat. Dalam pikiran saya dulu waktu kecil, dokter itu seorang penyelamat dan pahlawan, sehingga saya tertantang untuk bisa menjadi dokter,” katanya. Ia berkisah, ketika masa menjadi co-as, ia merasa sangat bahagia. Ia bisa membantu orang lain, memban­ tu orang yang sakit menjadi sembuh, membuat orang yang sedih menjadi bahagia, ia merasa mendapatkan suatu kepuasan. Dalam pandangan­ nya, dokter di Indonesia, dari segi penghargaan masih kurang, beda dengan dokter di luar negeri. Karena itu, tak ada salahnya juga, ia belajar bisnis, walaupun itu bisnis keluarga, untuk masa depannya. Gek Hana sangat ingin melan­ jutkan studi dokternya ke jenjang spesialis kulit. Karena ia punya ki­ sah yang menyedihkan sebelumnya dengan wajahnya. “Wajah saya dulu penuh jerawat yang sangat bandel. Sudah diobati kemana-mana tidak sembuh. Sampai-sampai saya malu dan tertekan. Akhirnya, sampai berobat ke luar negeri untuk bisa mengembalikan kemulusan wajah saya. Karena itu, saya tertarik ambil spesialis kulit. Semoga bisa segera ya,” kata Gek Hana. Walaupun, ada keinginan melan­ jutkan studi, ia tak khawatir dengan urusan vila. Saat ini, jam kerjanya, sebagai dokter mulai pukul 09.00

Pemotongan pita saat grand opening The Sanctoo Villa yang dilakukan AA Diah Haswani didampingi orangtuanya dan manajemen The Sanctoo Villa

The Sanctoo Villa

sampai 15.00. Kemudian, ia langsung menuju The Sanctoo Villa. Kadang, ia di vila sampai malam. Bagi Gek Hana, mumpung masih muda, ia sangat antusias melakukan banyak hal. Lokasi vila juga sangat dekat dengan rumahnya, sehingga ia hanya berjalan kaki untuk bisa ke sana. Walaupun baru dibuka resmi tanggal 23 Maret 2016, The Sanctoo Villa sudah beroperasi sejak Desem­ ber tahun lalu. Vila yang memiliki 12 privat villa, yang terdiri dari 8 Garden View dan 4 River View ini berkonsep mengutamakan kelestarian alam dan budaya Bali, sesuai dengan konsep agama Hindu, Tri Hita Karana. Saat berkeliling villa, banyak hal kecil yang diperhatikan Gek Hana. Mulai dari tanaman yang layu dan belum disiram. “Karena konsepnya alam, otomatis saya harus memper­ hatikan kebersihan dan kesegaran tanaman setiap hari. Sampai sejauh ini sudah tiga bulan berjalan, staf di vila sangat kooperatif,” kata Gek Hana. Bagi AA Gde Putra, mengajarkan anak-anaknya bisnis semua dengan cara yang pelan-pelan. Prinsipnya, Tut Wuri Handayani. Ia tak lang­ sung melepas begitu saja, ia tetap mendampingi sampai ia merasa sudah siap melepas dan mandiri. “Anak saya pertama pegang di usaha ­h olding, anak kedua ikut di Bali

Zoo, dan anak ketiga Hana, saya beri ngurus villa. Saya berharap, kedua kakaknya, membantu Hana belajar bisnis, walaupun dia dokter. Saya yakin, semua ilmu bisa dipela­ jari. Saya anjurkan anak-anak rajin mengikuti seminar bisnis baik di dalam maupun luar negeri untuk menambah wawasan mereka,” kata AA Gde Putra. AA Gde Putra menambahkan, pada dasarnya ia selalu memberi semangat kepada putra-putrinya da­ lam berbisnis. Prinsipnya, tak boleh berhenti untuk belajar. Untuk berbagi ilmu cara memimpin, tiap pagi, AA Gde Putra, pasti menyempatkan diri berbagi dengan putra-putrinya. “Selalu saya tekankan, sebelum memimpin orang lain, kita harus mampu memimpin diri kita sendiri. Kita harus bisa menyeimbangkan logika dan emosi. Saya punya pe­ ngalaman dan spirit, itulah yang saya bagi kepada ­mereka,” kata AA Gde Putra. Keinginan Gek Hana melanjut­ kan studi ke spesialis juga sangat di­dukung AA Gde Putra. Baginya, semua ilmu ada kaitannya. Ter­ gantung kita, memandangnya dari mana. “Saya yakin, semua ilmu bisa disinergikan. Saya beri kesempatan anak-anak mencari mimpi-mimpi yang lain,” kata AA Gde Putra. -ast


2

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

GORO-GORO “Best friend” Ami yang menikah dengan pria Amerika itu, tiba-tiba muncul. Putu Wijaya Setelah 5 tahun tenggelam di negeri Paman Sam ceritanya bagai opera sabun yang sangat dramatis. Penuh dengan kegetiran dan air mata. “Kasihan, Pak,” kata Ami mendongengkan lagi kisah Mrs. Ariny Wagner, kepada Amat, “Di balik wajahnya yang cantik, sehat dan ada tanda-tanda bekas operasi plastik itu, ada luka yang dalam.” Amat manggut-manggut dan langsung menanggapi. “Ya, begitulah, Ami. Per­ nikah­a n campuran itu, selain baik untuk memperbaiki ke­ turunan dan termasuk dulu dianjurkan di Indonesia untuk mengurangi jurang antar suku,

banyak risikonya. Khususnya pernikahan antara manusia Timur dan Barat.” “Bapak jangan mempolitisir begitu,”bantah Ami, “Ini hanya kasus pernikahan Ariny dan Wagner!” “Betul! Bapak bukan anti­ pernikahan campuran yang sekarang makin banyak terjadi di Bali, antara orang kita dan orang asing yang terus-terangnya lebih banyak didorong oleh alasan bisnis. Tunggu dulu! Di jakarta juga Bapak dengar, banyak orang asal Nigeria menikah dengan orang Indonesia dan akhirnya tersangkut masalah narkoba.” “Ya, itu generalisasi namanya, Pak!” “Tidak, Bapak tidak menen­ tang pernikahan campuran. Apa pun motifnya, asal tetap didasari cinta. Tapi meskipun didasari cinta, risiko tetap besar, karena cepat atau lambat, perbedaan kultur yang sudah tertanam

april mop

dalam pada masing-masing, pasti akan terpaksa dibayar dengan pengorbanan keduanya atau salah satunya. Baru kalau mereka mampu memikul risiko itu, pernikahan mereka akan abadi!” Ami tertegun. “Si Ariny bagaimana?” Ami menarik nafas panjang. “ Ya h , A r i n y m e s k i p u n orang­n ya moderat sekali dan termasuk pelopor woman’s lib, dia tetap saja orang Bali. Di Bali dia termasuk orang yang sangat liberal sehingga kami menjulukinya Ratu Radikal. Tapi di Amerika di antara manusiamanusia liberal, ia jadi sangat toleran. Ia menyesuaikan diri sepenuhnya pada kultur yang dibawa suaminya. Individualistik, mandiri, hubungan kekeluargaan tidak lebih penting dari hubungan kepentingan bisnis.” “Itu yang membuat dia tertekan makan dalam?”

Wangi Wanita Wangi

“Wangi siapa ini?” Ya, setiap orang memiliki kemampuan dalam merasakan sesuatu berdasarkan aromanya. Misalnya saja, sadarkah jika para orangtua pada dasarnya mampu mengenali anaknya hanya dengan aromanya. Begitu pula dengan pasangan suami-istri, mereka mampu menggenali pakaian mana yang telah dipakai pasangannya. Lebih terfokus lagi pada wanita. Sebagian besar wanita di dunia memiliki kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria akan aroma yang ada di sekelilingnya. Selain karena wanita biasanya lebih ‘sensitif’ dan mampu menggekspresikan hal yang dirasakannya, penelitianpun menunjukkan bahwa kepekaan terhadap aroma sebenarnya sudah terjadi pada saat bayi perempuan dilahirkan. Jadi tak perlu heran jika nantinya Anda melihat beragam ekspresi wanita ketika mencium aroma tertentu. Selain itu ketahuilah jika pada saat menjelang siklus menstruasi, kepekaan ini akan meningkat. Karena kesensitifan wanita terhadap aroma, maka tidak sedikit wanita yang juga menyukai wangi-wangian tertentu.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Wangi-wangian yang digunakan oleh wanita sangat bervariasi, salah satunya adalah parfum (minyak wangi). Taukah Anda jika wewangian yang digunakan oleh seorang wanita memiliki maknanya tersendiri? Ada banyak persepsi yang bisa digambarkan ketika seseorang menggunakan parfum tertentu. Satu jenis aroma yang digunakan oleh seorang wanita juga dapat menggambarkan diri seseorang. Tidak hanya itu, aroma wewangian bahkan dapat mempengaruhi dirinya dan lingkungannya. Pada umumnya seorang wanita akan memilih aroma parfum

secara alamiah. Dengan artian bahwa seseorang akan memilih parfum sesuai dengan seleranya. Terdapat beberapa kategori alasan mengapa seseorang memilih satu aroma. Pertama, deskripsi dari parfum tersebut (aroma buah, bunga, rempah, dll); kedua, bahan parfum secara spesifik (aroma melati, vanilla, lavender, strawberi, cendana, dll); selanjutnya berdasarkan persepsi sensori (beraroma pekat, lembut, manis, segar, dll). Terakhir pemilihan aroma dapat ditentukan oleh efek atau manfaat secara fisik maupun psikologis yang ditimbulkan dari aroma tersebut. Misalnya memberikan efek memenangkan, membangkitkan semangat, menyegarkan. Secara psikologis, parfum akan berdampak pada emosi seseorang. Emosi yang muncul saat mencium aroma wewangian akan sangat dipengaruhi oleh sudut pandang, ingatan, dan budaya. Jadi tak heran, jika ada wanita yang menyukai parfum dengan aroma yang cenderung ‘maskulin’ atau ‘feminin’. Ada yang menyukai aroma vanila karena berkaitan dengan kenangan yang indah. Ada yang kurang menyukai

“O, bukan. Ariny bisa meng­ adaptasi semua itu. Itu kelebihan kultur kita, saya kira.” Amat tercengang. “Kalau begitu dia mestinya bahagia, dong.” “Ya, betul, dia bahagia, Pak. Dan bahagia sekali!” “Tapi kenapa kamu bilang dia harus dikasihani?” “Karena dia terlalu bahagia, sehingga ketika semua kebahagiaan itu tiba-tiba lenyap, dia seperti kehilangan nyawa. Andaikan dia tidak bahagia, atau malah menderita, kejadian itu justru akan menyebabkan dia dibebaskan!” “Kejadian apa?” “Dia bilang, pada ulang tahun suaminya di bulan April, tiba-tiba ada taifun. Topan badai dahsyat. Suaminya waktu itu sedang bertugas ke Prancis. Ariny yang sedang hamil muda dinasehati dokter supaya berhati-hati agar kandungannya tak gugur seperti sebelumnya. Itu sebabnya ia tidak ikut ke Paris. Tiba-tiba muncul seorang perempuan bunting yang dikawal oleh pengacaranya. Ia mengaku, ia adalah istri sah Wagner. parfum dengan wangi cendana, karena berkaitan dengan ritual keagamaan dan ingatan tentang film-film horor. Bahkan ada yang menyukai aroma buah karena membuatnya lebih bersemangat dan merasa lebih segar. Nah, dengan kata lain, ketika seseorang menggunakan parfum sesuai dengan seleranya, secara tidak langsung mood positif juga akan terbangun. Seperti halnya di atas, aroma pada parfum tidak hanya mempengaruhi penggunanya, namun juga lingkungannya. Pengaruh ini akan terlihat saat seseorang mulai mempersepsikan wangi wanita yang ada di sekelilingnya. Ketika seseorang memiliki aroma yang kurang menyenangkan, maka persepsi pada umumnya yang akan muncul adalah ‘kurang menarik’ dan tidak cukup profesional. Di sisi lain, saat seseorang bertemu dengan wanita yang wangi, maka akan memunculkan persepsi bahwa wanita tersebut

Ekspresso Pengacara menunjukkan buktibukti otentik dan memberi Ariny ultimatum, supaya dalam tempo 1 bulan harus keluar dari rumah Wagner. Ariny kontan pingsan. Waktu sadar, ia sudah berbaring di rumah sakit. Kandungannya gugur. Wagner langsung terbang dari Paris menemui istrinya. Ariny tak mau menerima. Dia menuntut perceraian. Wagner malah ketawa. Dia bilang semua itu hanya tradisi April Mop,’tradisi bohong’ lelucon tanggal 1 April, dari temannya, kenapa Ariny menanggapi terlalu serius, sampai kehilangan kandungan?” Ami tak bisa melanjutkan ceritanya karena keki. Air matanya mengalir, karena Ariny salah satu teman sejatinya. “ Yah, itulah yang bapak bilang tadi perbedaan kultur yang kelihatannya saja sepele, tapi berat!” kata Ama menghibur Ami tambah mengisak. Lalu muncul Bu Amat yang nguping percakapan itu. Ia mendekati Ami lalu bertanya: “Ami kapan Ariny men­ ceritakan kejadian itu kepada kamu?” Ami tertegun. “Tanggal 1 April ?!” Ami ternganga, lalu tiba-tiba berteriak histeris, “Sialan!!!” ‘menarik’ atau dapat dikatakan jika ada penilaian yang positif dari lingkungan. Maka dari itu, secara umum penggunaan parfum diharapkan dapat menguatkan emosi positif dalam diri, seperti meningkatkan rasa percaya diri dari penggunanya. Hal ini bisa terjadi ketika seorang wanita menggunakan parfum dengan tujuan untuk menutupi aroma tubuh yang kurang sedap. Saat kondisi yang kurang menyenangkan tersebut dapat diatasi dengan menjadi ‘lebih wangi’, maka wanita akan merasa lebih nyaman. Sejalan dengan hal tersebut rasa percaya diri akan meningkat dan mampu berperforma secara maksimal saat berkegiatan. “Jadi, aroma parfum apa yang Anda gunakan hari ini?” Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Bidang Klinis, Universitas Gadjah Mada.

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

Buleleng Bagi Tiga Pesisir

Panjang pantai di Kabupaten Buleleng yang mencapai 157,01 Km terhitung dari kecamatan Gerokgak sampai dengan kecamatan Tejakula. Dari sembilan kecamatan yang ada di Buleleng, dua di antaranya tidak memiliki pesisir. Dari luas tersebutlah Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buleleng mempunyai strategi dengan membagi menjadi tiga wilayah pesisir yaitu bagian Barat, bagian Tengah, dan bagian Timur. Hal tersebut diungkapkan oleh Ir. Nyoman Sutrisna, M.M., Kadiskanla Kabupaten Buleleng.

“D

i Buleleng sendiri memakai empat pilar dalam menjalankan 12 PAS program dari Bupati,” ungkapnya. Empat pilar yang dimaksud adalah peran pemerintah, swasta, peneliti, dan peran masyarakat. Dari ketiga bagian wilayah tersebut Sutrisna mengatakan membagi potensi laut yang dimiliki. “Potensi wilayah Barat kita lakukan budidaya dan konservasi,” lanjutnya. Budidaya yang dilakukan meliputi budidaya unggulan dan budidaya andalan. Budidaya unggulan yang dimaksud adalah budidaya ikan nener dan kerapu karena mampu menghasilkan 12 juta ekor per

hari untuk ikan nener sehingga sudah mampu mengekspor ke luar negeri. Selain itu ikan kakap juga merupakan salah satu dari budidaya unggulan sedangkan budidaya andalan dari wilayah Barat adalah budidaya mutiara laut. Dari pemeliharaan hingga panen dilakukan oleh orangorang lokal yaitu tenaga dari Desa Penyabangan. Konservasi juga diunggulkan di wilayah Barat ini terbukti diberikannya penghargaan tingkat nasional oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia. Tidak hanya pada tingkat nasional tapi penghargaan juga diraih secara interna-

Ir. Nyoman Sutrisna, M.M.

sional di Brazil pada tahun 2012 melalui konservasi terumbu karang. Sutrisna mengungkapkan jika program selanjutnya untuk mendukung konservasi tersebut adalah diadakannya Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) di desa Pemuteran kecamatan Gerokgak dengan skala internasional. Tujuan diadakannya BBDF adalah menurunnya kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara sehingga dengan adanya festival ini bisa menambah jumlah kunjungan

wisatawan. Kerja sama pun dilakukan baik di kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Untuk wilayah bagian Tengah juga dilakukan konservasi. “Konservasi dilakukan di pantai Lovina, Kerobokan dan sebagainya untuk mendukung wisata bahari,” ungkap Sutrisna. Selain konservasi, budidaya di darat juga dilakukan. Ikan juga merupakan salah satu potensi yang ada di wilayah bagian tengah sehingga dilakukan penangkapan. Melihat potensi wilayah Buleleng bagian Timur, juga dilakukan penangkapan, konservasi, dan pengolahan. Bahkan untuk konservasi Diskanla Kabupaten Buleleng berencana untuk meresmikan pusat pelatihan budidaya ikan hias laut Buleleng di desa Les kecamatan Tejakula bulan April ini. “Ini menjadi kebanggan kita bahwa kita sudah mampu membudidayakan ikan hias bahkan mengembangkan,” ungkapnya. Sasaran dari budidaya ikan hias ini adalah anak-anak nelayan, masyarakat umum, bahkan mahasiswa. Sedangkan untuk pengolahan desa Pacung, Bondalem, dan Tejakula terkenal dengan ikan pindangnya. Dengan potensi-potensi

23

tersebut Sutrisna tidak meragukan lagi bahwa komuditi yang ada di Buleleng sudah dikenal di tingkat nasional bahkan di internasional. Maka dari itu Diskanla berusaha mencanangkan program untuk menjawab visi misi program Bupati agar budidaya yang dilakukan bisa menjadi unggulan dan terbesar di Bali. “Memperbanyak budidaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun swasta,” tambahnya. Program tersebut dikemas dalam RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Pantai dan Pulau-Pulau Kecil). Namun, dalam pelaksanan program tersebut terkendala Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa kabupaten tidak lagi mengelola laut. Pengelolaan laut pada 0-12 mil dilakukan oleh provinsi jadi kabupaten tidak lagi memiliki kewenangan. Oleh karena itu program RZWP3K dikembalikan ke provinsi. “Harapan kami agar RZWP3K diperdakan oleh provinsi karena jangan sampai apa yang kami rancang dan susun menyimpang dengan program yang dilakukan,” tambah Sutrisna. Ia juga sangat berharap apa yang sudah dirancang dan disusun oleh Diskanla Buleleng agar segera ditindaklanjuti oleh pemerintah provinsi Bali. “Sampai sekarang belum ada respons, program ini sebenarnya sudah kami kemas selama 2 sampai 3 tahun lamanya,” imbuhnya. -Wiwin

Tak Ingin Anak Jadi Nelayan

Kabupaten Buleleng yang terdiri dari 9 kecamatan memiliki laut yang sangat luas. Laut di masing-masing daerah memiliki potensi yang berbeda. Salah satunya desa Anturan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah pesisir berprofesi sebagai nelayan. Mengantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan merupakan hal yang biasa dilakukan. Hal tersebut juga disampaikan oleh De Gredeg. Pria yang berasal dari desa Cempaga ini menuturkan, bahwa menjadi seorang nelayan bisa dikatakan sebagai profesi, pekerjaan sampingan, dan pengisi waktu. “Kalau dapat ikan saya anggap profesi, jika tidak saya anggap sampingan,” ujarnya sambil tertawa. Karena hasilnya yang tidak menentu maka De Gredeg tidak berani menjadikan nelayan sebagai profesi satusatunya. Ia bahkan menganggap menangkap ikan adalah salah satu cara untuk mengisi waktu ketika tidak ada pekerjaan di luar. Meskipun hasil yang didapat tidak seberapa dari menangkap ikan namun pria yang saat ini tinggal di Jalan Srikandi Gang Delima ini sama sekali tidak berniat menggunakan cara-cara berbahaya dalam melaut. “Masih menggunakan cara manual, kalau pakai bom atau potasium kan itu berbahaya untuk biota laut,” ujarnya. Sebagai orang yang mencintai pekerjaan melaut De Gredeg merasa perlu ikut andil dalam menjaga kelestarian

De Gredeg

biota laut. “Kalau ada orang tidak bertanggung jawab seharusnya kita sebagai nelayan bisa ikut menjaga terumbu karang maupun biota laut agar tidak dihancurkan,” tambahnya. Apalagi di Buleleng saat ini sudah ada aturan dan ada hukum bagi siapa saja yang menangkap ikan menggunakan bahan berbahaya. Menurutnya biota laut di Buleleng tengah ini sudah hancur karena banyak terumbu karang yang sudah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ia berharap dari pihak pemerintah daerah agar membangkitkan biota laut yang ada di seputaran Lovina. “Penanaman dan pemeliharaan terumbu karang agar dilakukan di Buleleng tengah, kalau di barat dan di timur kan sudah ya biar seimbanglah,” tambahnya.

Selain melaut De Gredeg juga memiliki pekerjaan sebagai petani. Hal tersebut dilakukan karena penghasilan sebagai nelayan dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Menggarap tegalan kalau tidak lagi melaut,” ungkapnya. Ia juga mengatakan bahwa minat generasi muda untuk menjadi seorang nelayan sudah sangat menurun jika dilihat dari penghasilan. “Nelayan itu sebenarnya hobi, kalau sudah hobi otomatis mereka mencintai apa yang dikerjakan,” ujarnya. Jika hobi sudah tidak ada maka wajarlah anak-anak muda sekarang tidak bisa menjadi seorang nelayan. Meskipun remaja tidak berminat menjadi nelayan, De Gredeg sangat berharap mereka tetap bisa menjaga lingkungan dan mendukung programprogram pemerintah. Jika nelayan pada umumnya menjual hasil tangkapan ke pasar, maka lain halnya dengan pria kelahiran 4 Juni 1982 tersebut. Ia memilih media sosial untuk menjajakan hasil tangkapan ikannya. “Kalau dapat ikan biasanya langsung diunggah ke media sosial, kalau ada yang berminat langsung transaksi,” ungkapnya. Ia juga mengaku sering mendapat pesanan terlebih dahulu, sehingga tidak perlu repot-repot harus menjualnya ke pasar. Melaut tidak dilakukan setiap hari karena melihat faktor cuaca. “Sekali melaut paling rendah dapat dapat 3 kg kalau diuangkan biasanya 75 ribu rupiah,” tambahnya. -Wiwin

Di mana-mana nasib nelayan tradisional sama saja, hidup miskin dengan penghasilan yang tak menentu. Data Badan Pusat Statistik mencatat, jumlah nelayan miskin di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional yang mencapai 31,02 juta orang. BPS juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yakni 2003-2013, terjadi penurunan yang signifikan terhadap jumlah nelayan tradisional dari 1,6 juta menjadi 864 ribu rumah tangga. Agaknya, tingkat kesejahteraan yang memprihatinkanlah yang membuat ketertarikan orang, khususnya para generasi muda untuk menekuni profesi ini, berkurang. Kondisi ini juga terjadi di kalangan anak para nelayan, sekalipun mereka sejak kecil sudah terlatih melaut membantu orangtuanya. Mereka lebih suka menjadi buruh yang penghasilannya lebih jelas, atau kalaupun tetap berkiprah di laut, mereka lebih suka bekerja di kapal besar daripada menjadi nelayan tradisionil. ‘Setali tiga uang’, umumnya para nelayan pun menginginkan anakanaknya bisa bekerja di sektor lain. Setidaknya itu terungkap dari sejumlah nelayan yang ditemui di kampung Nelayan Jakarta Utara. Maman yang telah puluhan tahun menetap di Kampung Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, misalnya. Ia berkeinginan anak-anaknya kelak tidak mengikuti jejaknya. “Tidak masalah saya menjadi nelayan, ini pekerjaan warisan orangtua. Tapi kondisi dulu berbeda dengan sekarang. Kalau bisa, anak-anak saya jangan deh jadi nelayan. Hidup susah, apalagi sekarang sulit mencari ikan, penghasilan makin tak menentu,” ungkapnya. Sekarang ini tambahnya, sulit mencari ikan karena pencemaran perairan yang semakin tinggi. Jika ingin mendapat ikan harus melaut ke tengah di mana air laut masih bersih. “Di laut yang masih bersih di sanalah ikan berkumpul. Tapi itu adanya di tengah. Tapi itu kalau cuaca bagus, ombak tidak tinggi,” ungkapnya. Itu sebabnya Maman sangat berharap perhatian pemerintah untuk membantu kehidupan mereka. Kebetulan saat ini Pemda DKI Jakarta berencana mereklamasi Teluk Jakarta, itu artinya akan ada pembangunan besar-besaran. Apalagi mereka mendengar akan ada pembangunan pulau-pulau, perkantoran, dan bangunan lainnya. Dan untuk semua pembangunan itu dipastikan akan menyerap tenaga kerja yang besar. Maman juga warga Kampung Nelayan Muara Angke berharap, anak-anak mereka dilibatkan sebagai pekerja di proyek-proyek tersebut. Para nelayan Muara Angke, katanya, berharap selain mendapat pekerjaan, pihak perusahaan yang terlibat dalam proyek itu juga ikut membantu fasilitas pendidikan bagi anak-anak mereka. “Kami menginginkan anak-anak kami bisa mendapat pendidikan gratis supaya mereka bisa bekerja di bidang lain,” ungkapnya. –Diana Runtu


24

Edisi 895/ 4 - 10 April 2016

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 895 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu