Skip to main content

Tokoh Edisi 893 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Medsos sebagai Asisten Pribadi

Yayati Wilyadewi

Saat ini hampir semua terasa tanpa batas. Media sosial menjadi alat komunikasi yang multiguna, baik untuk komunikasi, promosi diri, sampai marketing. Menurut Yayati Wilyadewi, dosen Unhi Denpasar, masyarakat kekinian menjadikan medsos sebagai media untuk membentuk brand awareness, semacam pencitraan. Menyentuh jutaan orang, bukanlah sesuatu yang susah saat ini. Medsos mendekatkan yang jauh, meski seringkali juga menjauhkan yang dekat. Hanya dengan satu sentuhan kita terkoneksi dengan jutaan orang (one touch to million).Sungguh suatu akses yang memberikan pelayanan kemudahan,yang membuat setiap orang tidak akan mampu untuk melewatkannya. Orang yang masuk dalam dunia medsos merasa berada pada big village, di mana masing-masing individu merasa menjadi sangat dekat dan saling memahami layaknya keluarga besar. “Pada pekerjaan utama saya sebagai seorang dosen, media sosial saya gunakan seperti asisten pribadi saya yakni; mengomunikasikan ide-ide pribadi saya, memperoleh

informasi ter- up date yang saya butuhkan, mengatur schedule saya, sharing dengan rekan sesama pendidik, termasuk mendistribusikan informasi kepada mahasiswa saya, benar-benar asisten yang awesome dan pastinya gratis,” paparnya Seringkali, hanya dengan menggugah sesuatu secara intens seseorang mendapatkan peluang bisnis. Seperti ketika dirinya meng-upload singkong salju hasil kreativitasnya dengan putri keduanya, Dayu Luna. “Pada awalnya hanya untuk berbagi bahagia, ternyata mendapatkan respon “like” yang banyak dan membanjirlah order singkong salju sebagai produk unggulan usaha dengan brand “Dapur Luna”. Kemudian saat brand fashion dan pernak-pernik tradisional Bali kami muncul karena ide kreatif atas komen teman-teman kepada putri pertama saya yang bercita-cita menjadi desainer maka lahirlah brand Bali Devi (endek etcetera),” paparnya. Demikian pula keterlibatannya di bisnis properti karena sering sharing di jejaring sosial dan niat untuk

membantu teman-teman agar bisa memiliki aset yang terjangkau di pulaunya sendiri. “Medsos memberikan kesempatan yang luas untuk maju bersama, bagi mereka yang memiliki kesamaan-kesamaan dengan bergabung pada sebuah komunitas,” ucap Yayati. Dengan tujuan efisiensi pula, katanya hampir semua perusahaan berusaha mempergunakan medsos untuk melakukan penetrasi bisnisnya,seperti branding produk, respons cepat dari user pengguna medsos, launching produk baru, menggali kebutuhan pasar,memprediksi potensi market dan segmen yang dituju,dan lain-lain. “Selain dampak positifnya, medsos juga memiliki beberapa risiko yang harus siap dihadapi antara lain pembunuhan karakter atas “brand awareness” individu atau produk, penjiplakan atas ide atau produk, sikap hedonisme dan konsumtif dan lain sebagainya,” ujar perempuan energik ini. Yayati juga mengatakan medsos adalah sebuah media “one touch to million”, semudah itulah komunikasi di era digital ini. Maka, pergunakanlah dengan bijak,” tandas Yayati Wilyadewi. – Sri Ardhini

Tugas Dikirim ke Medsos Di era kekinian, pemanfaatan teknologi sudah tak terbendung lagi, salah satunya media sosial. Agar tak dikatakan ketinggalan zaman, mau tak mau para pendidik pun turut memanfaatkannya. “Biar nggak kalah gaul sama anak-anak, harus mengikuti zaman,” ungkap AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M.Hum., guru Bahasa Indonesia di SMAN 7 Denpasar. Bahasa Indonesia yang oleh kebanyakan siswa dianggap mata pelajaran yang monoton dan membosankan itu pun dikemasnya menjadi menarik dan selalu ditunggu-tunggu. Materi yang diberikan memancing kreativitas siswa untuk berinovasi dan tertantang. Guru yang akrab disapa Gung Tik ini pun memanfaatkan line untuk memposting karya-karya mereka (siswa). Seperti yang ia terapkan tahun kemarin. Ketika topiknya membuat berita kisah (features), Gung Tik menerapkan sistem poin. Siswa yang mengumpulkan karya yang dikirim ke line-nya, mendapatkan point plus. “Saya tugaskan siswa untuk mewawancarai seseorang, kemudian kisah orang tersebut dituliskan, dan dilengkapi foto. Paling tidak, dengan terjun ke lapangan dan langsung bertatap muka dengan narasumber, mereka lebih bisa mendapatkan ‘rasa’ dan ekspresi si narasumber. Jadi, mereka akan lebih mudah menuangkannya dalam bahasa sastra,” paparnya. Meski tugas-tugas yang dibebankan Gung Tik pada siswa-siswanya ini terkadang dianggap susah, tapi bagi siswa yang kreatif justru men-

Ni Made Sri Santi Dewi, S.Sn., M.M.

jadi tantangan untuk berkreasi. Tak sedikit dari karya-karya mereka yang dinilai cukup bagus, masih disimpan di HP. Tahun ini, dalam sebuah topik ba-

SELEKTIF MEMILIH PERTEMANAN Pemanfaatan medsos tak sepenuhnya berdampak positif. Hal tersebut disampaikan Ni Made Sri Santi Dewi, S.Sn., M.M., salah seorang dosen Desain Interior di sebuah PTS di Denpasar. Tak jarang, medsos ini dimanfaatkan untuk “ngejailin” dosennya. “Pernah ada mantan mahasiswa yang iseng menggoda saya lewat Line, sejak itu saya jadi pilih-pilih menerima teman di Line. Paling saya berteman dengan kortinya saja,” tuturnya. Ia tak menampik keberadaan Line cukup efektif untuk meneruskan informasi ke mahasiswa, terutama yang sifatnya mendadak seperti perubahan jadwal kuliah. “Misalkan

AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M.Hum.

jadwal kuliah berubah, saya tinggal Line kortinya saja, selanjutnya kor­ti yang meneruskan ke mahasiswa lainnya. Mungkin mereka punya grup,” ucapnya. Line pun kerap dimanfaatkan

mahasiswa yang aktif untuk berkonsultasi ringan, seperti menanyakan bahan. Alasannya, lewat line, selain cepat, hasil fotonya pun lebih bagus ketimbang via BBM. Meski demikian, Dewi tetap tidak serta merta menerima permintaan pertemanan dari mahasiswanya yang kebanyakan pria ini. “Mereka bisa kok mengirim pesan lewat Line walaupun saya belum menerima pertemanan mereka. Tetapi jika asistensi gambar, harus ketemu, tidak bisa lewat Line,” jelas Dewi. Lewat medsos memang komunikasi lebih cepat. Namun di sisi lain, Dewi juga menyampaikan keberadaan medsos ini membuat mahasiswa agak malas. Contohnya, saat jam perkuliahan berlangsung, mahasiswa kurang aktif berkomunikasi atau paling tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan, bahkan terkesan tidak memperhatikan jalannya perkuliahan. “Ketika giliran buat tugas di rumah, mereka baru ngeh. Jadilah mereka mulai nanya. Ini agak mengganggu waktu saya,” tandasnya. –Inten Indrawati

Posting setelah Anak Tidur

Tugas yang menulis be dikirim rit lewat a kisah line

hasan, mereka ditugaskan membuat short movie (film pendek) secara berkelompok. “Nantinya, video pendek ini akan saya minta untuk di-posting di Instagram. Jadi semua orang bisa melihat, tak hanya siswa sekolah,” ucap ‘guru gaul’ yang jam pelajarannya selalu ditunggu-tunggu siswa walaupun ditempatkan pada jam terakhir. Inilah yang disebutnya sebagai pembelajaran inovasi. Karena, dalam tiap jam pelajarannya, Gung Tik selalu menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Mungkin itu pula yang menyebabkan siswa penasaran dan selalu menunggu kehadiran Gung Tik di kelas mereka. “Bahkan saking penasarannya, ada siswa yang sampai bertanya kepada saya, Bu besok kita ngapain,” tutur Guk Tik yang berpendapat bahwa proses belajar mengajar menjadi kondusif jika siswa dan guru samasama senang.

Sri Dewi memijuga sibuk menguliki merupakan salah rus buah hati saya. satu ibu yang aktif Sebagai ibu rumah di media sosial. Ia tangga, saya harus punya akun di Famemasak. Kacebook, Instagram, dang saya bingung dan Path. “Saya jadi harus mengganti tahu sedikit berita menu masakan. tentang dunia di luar Dari medsoslah dari rumah, tahu saya mencari retentang kabar dari sep masakan yang teman-teman dan simple dan mudah sanak saudara bahdimasak. Medsos kan teman yang sujuga bisa digunadah lama saya temukan untuk mencari kan di medsos. Secara dalam menlain itu dulu sebelum gurus bayi seperti Sri Dewi menikah dan punya membuat makanan anak, hobi saya belanja barang- bayi, cara memijat bayi di saat kita barang yang dijual di medsos karena kehabisan akal. Pokoknya medsos kebetulan saya berprofesi sebagai banyak membantu saya,” tegasnya. fotomodel jadi ketertarikan untuk Sementara itu, Putu Eka Susanti membeli barang di online shop termasuk ibu rumah tangga yang itu menjadi lintasan yang menarik produktif. Ia berjualan di online shop. dan mudah bagi saya,” ujarnya. Dagangannya seperti jual baju, sandal Suaminya pun mendukung selama dan sprai. “Saya jualan lewat akun kegiatan itu positif. Tak hanya me- BBM, FB, dan Instagram. Selain saya manfaatkan untuk memantau berita gunakan untuk jualan, akun medsos teman dan sahabat, ia juga meman- saya sangat membantu saya berkofaatkan medsos untuk berbagi ke- munikasi dengan suami saya yang bahagiaan dan berbagi tips tentang kebetulan suami saya bekerja di seputaran perkembangan anak. luar. Kalau saya tidak memiliki akun Mengenai update status, itu hanya medsos apa jadinya hubungan kami. dilakukan saat waktu senggang. “Saya Medsos juga banyak memberikan juga mempunyai pekerjaan rumah informasi yang tidak saya tahu, yang harus saya kerjakan dan saya misalnya cara membuat maka-

nan atau resep makanan, tips-tips merawat bayi, sampai-sampai ada informasi tentang bagaiman cara membuat banten,banyak pokoknya manfaat yang saya dapat,” ujarnya. Mengenai update, ia mengaku selalu aktif. Kadang cuma lihat-lihat kalau lagi nggak ada orderan. Sekarang karena sudah nikah dan punya anak, ia lebih fokus ke anak dan sesekali memposting perkembangan anak. “Akun medsos saya selalu hidup, tapi kalau untuk posting barang jualan atau untuk sedikit eksis dilakukan saat anak sudah tidur dan pekerjaan rumah sudah beres. Punya akun medsos perlu biar tidak ketinggalan dalam informasi,” ungkapnya.-Suarni

Putu Eka Susanti

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

GORO-GORO Subuh pada hari Nyepi, Rabu 9 Maret 2016, yang bertepatan dengan Gerhana Matahari Total, Putu Wijaya sebuah sajak lewat di kepala Amat. Sembari tiduran, Amat berusaha membacanya. Aku melihat bulan menempel matahari sampai tertutup penuh. Begitu agresif, merayap lambat tapi menyergap pasti. Aku melihat kedahsyatan jagat raya yang menyadarkan diriku, kita semua manusia hanya noktah ciptaanNya yang tak berharga. Betul tidak. Mari blak-blakan hari ini. Coba dengar aku sampai nembang: Aku merasakan sukmaku bergetar, digasak haru-biru oleh pesona yang tak terhingga menusukku, memanggangku, memberangusku is kakek gaek. Darahku pun melonjak menyembur liar, seperti kuda sangar yang kejang kaki ingin berpacu di hamparan padang rumput luas bebas hijau lepas. Aku belingsatan dan meringkik. Aku melayang terbang kembali

ke masa muda. Bagaimana tidak. Di mataku dalam sanubariku, fenomena alam itu sangat erotis. Seperti di malam purnama ketika bulan memuncak bahenol, laut pasang mengundang seluruh gelora asmara mahluk sejagat, kini mendaki ke puncak kulminasi Lalu seluruh langit gelap. Nampak cincin perak menyilaukan, walapun hanya dua menit, tapi nikmatnya bergetar ke seluruh pori-pori tubuhku. Aku terhempas tenggelam di dalam keindahan yang tak tertara Seribu bunga mawar, sejuta warna dan milyaran bintik embun yang berkilauan di pucuk-pucuk daun, rumputan, ilalang dan mahkota segala bunga, bersama harum parfum alami dari delapan penjuru, telah disatukan hari ini, yang baru akan terulang 350 tahun lagi. Lima puluh ribu orang menonton di Belitung, Palembang, Palu, Ternate, entah berapa juta di seluruh layar kaca. Tak pelak lagi ini live-show terheboh di dunia yang paling sensasional yang paling langka yang paling menggetarkan di 12 kota Nusantara menggedor jantung para muda, belia dan kami manula.

GMT

Mungkin aku satu-satunya di dunia pada hari Rabu, 9 Maret 2016 ini, bertepatan dengan hari Nyepi di Bali yang bersaksi basah seperti ini. Mungkin hanya aku yang terpilih sebagai duta besar berkuasa penuh Kama Sutra yang diperbolehkan ikut merasakan nikmat dililit kehangatan malam pengantin raja dan ratu angkasa yang paling kita mahluk bumi cintai. Jadi inilah sajakku nenek, istriku sayang, sajak orang tua yang sudah bulukan kehilangan gigi dan rambut, tetapi darahnya masih merah, panas, menyala, bergelora, dan menggelegak melihatmu jalan beringsut, tertatih tapi menyimpan kenangan panjang yang tak mungkin kulupakan Jadi apa salahnya hari ini, ketika dunia terpesona tentang GMT, kita masuk ke dalam kamar pengantin kita yang sudah 50 tahun menunggu kehadiran putra-putri gaeknya kembali untuk napak tilas? Itulah sajak yang tiba-tiba meluap dari kepala tua ini, saat bulan hitam memepet matahari kuning, merambat lambat tetapi lekat, liat, kenyal, emosional dan sangat ketat hingga akhirnya bersatupadu menjadi sebuah bola hitam masih

“Ada Saja Jawabannya…”

Bagaimana dengan Anda, Bu?

“Ngeyelan kalau dikasi tahu!”. Selalu ada jawaban ketika Anak berbuat salah. Coba kita melihat lebih luas dulu, sebelum menunjuk siapa yang benar atau salah. Benar dan salah adalah dua kutub saling melengkapi dan bersifat normatif. Maka dari itu banyak pertimbangan sebelum sesuatunya dikatakan benar atau salah. Hal ini bergantung nilainilai yang diterapkan dan dipahami, budaya serta berdasarkan sudut pandang seseorang. Namun, ada batasan umum yang diyakini oleh masyarakat, sehingga ada pandangan umum mengenai benar dan salah. Secara lebih spesifik, kita bisa melihat bagaimana respons seseorang jika ia memang melakukan sesuatu secara tepat “benar”. Biasanya dengan mudah, ia akan lebih berani untuk menyatakannya bahkan akan mempertahankan pendapatnya. Di sisi yang berlawanan, bagaimana jika seseorang melakukan kesalahan atau melakukan hal yang berbeda dari umumnya? Biasanya ia akan berpikir dahulu sebelum mengakuinya, memikirkan tentang konsekuensi yang akan diterimanya. Begitu juga dengan anak, mereka juga memiliki

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

pola seperti ini. Sekarang bergantung bagaimana pola di rumah. Jika kondisi “ada saja jawabannya” terjadi pada anak di rumah, akan ada kecenderungan munculnya konflik di keluarga dan biasanya dengan Anda, Bu. Sedikit gambaran kondisi yang sering terjadi adalah ketika anak melakukan kesalahan, mereka sulit untuk mengatakan “iya” atas kesalahannya. Kemudian anak akan membangun ‘benteng pertahanan’ untuk dirinya dengan berbagai bentuk,

salah satunya menjawab. Jawaban adalah bentuk argumentasi mereka yang isinya menyalahkan orang lain, situasi, dan membuat pernyataan yang dapat mendukungnya bahwa hal tersebut terjadi bukan karena dirinya. Tidak dimungkiri, anak juga akan menjawabnya dengan intonasi suara yang tinggi. “Kok air bak mandinya meluapluap gini?”, tanya seorang ibu kepada anaknya. Padahal sebelumnya anak sudah diingatkan untuk mematikan kerannya. Jawaban anak, “Soalnya… lupa. Eh, soalnya tadi ngga diingetin lagi. Soalnya tadi itu seru tontonannya, sayang buat dilewatin. Ibu juga, sudah tau anaknya pelupa, masih disuruh nginget”. Atau kisah lainnya seorang ibu bertanya, “Kok bisa kamu pecahin gelasnya?”. “Ya aku ngga salah. Orang, gelasnya licin, terus Mbok ngga bener naruhnya. Coba naruhnya lebih bener di raknya itu”. Apa yang bisa Anda bayangkan dari situasi semacam ini? Pertama, anak akan mencontoh orang tuanya. Ketika Ibu bertanya, apakah Anda bertanya dengan intonasi yang tinggi?. Jika iya, secara ototomatis ini akan menjadikan anak merasa sebagai ‘pelaku kejahatan’

Ekspresso tapi lembut, indah yang dipagar cincin gemerlapan menyilaukan mata dijagat raya yang mendadak jadi malam gulita. Mari nenek sayangku, peganglah tanganku, akan kubimbing kamu mendaki tebing, menghampiri lebih dekat untuk merasakan aroma gandrung gerhana total dan perlahan tetapi pasti menirukannya, kataku sambil menggamit tangannya yang sudah keriput. Mari berlayar lagi di dalam alunan tembang asmarandana, cinta dan gairah bukan monopoli kawula muda. Bila bulan saja begitu agresif tahu haknya, mengapa kita lalai tak mensyukuri karuniaNya yang tak ternilai ini? Ayolah robohkan mitos usia itu, tak ada batas umur dalam niat baik, terjang waktu lupakan keringkihanmu. Kita adalah bulan dan matahari yang memestakan kemolekan GMT karuniaNya. Lalu aku dorong dia tertelentang dan dia menyerah sambil membuka lebar kakinya seperti membuka pintu gerbang. Kalau begitu ini bukan gerhana matahari total tapi

gerhana bulan komplit kataku sambil menghunus pedang. Dia tersenyum dan berbisik, apa bedanya, yang penting sensasinya sama. Saya kontan meringkik dan menerkam. Tapi tiba-tiba dia menggeliat bangun. Aku pikir dia mau tukar adegan gerhana bulan jadi gerhana matahari total sejati. Lalu aku berbaring anteng menunggu dan menyerah. “Apa-apaan ini,” teriak istriku kaget. “Kirain mau mijitin kaki, jebulnya mau dipijit, dasar tua bangka rongsokan! Bangun! Pagi-pagi sudah mau molor lagi! Tuh dengerin ada GMT di TV, di Belitung sudah terjadi!” Sorak-sorai 50 ribu penonton disertai lagu terlempar dari TV memenuhi kamar. Istriku bergegas keluar kamar sambil misuhmisuh menurunkan kainnya. Aku terus tiduran telentang diliput gerhana total sampai sekarang. “Pak bangun, Pak! Bangun! Gerhana total di TV! Bangun!” “Bapak sudah bangun, Bu!”

Sudut Pandang

Baru Bangun Cek Ponsel

Pejabat zaman sekarang harus melek teknologi. Hal ini penting untung mengimbangi ­pesatnya perkembangan teknologi. Dengan adanya tekno­ logi, masyarakat pun memiliki akses untuk ­melaporkan jika ada keluhan.

Made Erwin Suryadarma Sena

M

yang sedang menjalani sidang. Kemudian anak akan merasa tertekan dalam situasi yang tidak adil bagi mereka. Hal ini akan membuat anak menjawab dengan intonasi yang tinggi juga seperti apa yang ibu lakukan. Kedua, karena anak merasa tersudutkan dengan cara bertanya tersebut, mereka akan berpikir dua kali untuk mengakui kesalahannya. Karena sebelumnya sudah terbentuk pemahaman pada anak bahwa membentak adalah tanda marah. Jika marah akan ada hukuman dalam bentuk apapun. Biasanya disinilah anak akan selalu menjawab atau membentuk argumentasi atas kesalahan yang ia buat. Anak akan cenderung tidak berani bertanggung jawab atas setiap perilakunya. Ketiga, apakah anggota keluarga di rumah terbiasa mengucapkan ‘maaf’ ketika melakukan kesalahan? Misalnya seperti saat ibu menjatuhkan mainan kesayangan anak sekalipun tanpa sengaja. Apa yang ibu lakukan? Me-

minta maaf ataukah menyalahkannya dengan alasan anak tidak menaruh mainannya dengan baik. Atau, Ibu meminta maaf, namun ada ‘tapi’nya. Seperti, “Oh… Maaf ya Dek, tapi… kamu sih yang naruhnya ngga bener”. Pola ini adalah bentuk pertahanan diri dari orang dewasa yang sebenarnya kurang baik untuk dilakukan. Kebiasaan ini akan mengajarkan pada anak bahwa argumentasi merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Maka tidak dimungkiri, anak akan kembali menirunya. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah salah satu bentuk karakter pada anak yang bisa ditanamkan sejak dini di rumah. Jadi sudah siapkah untuk memberikan contoh yang layak pada anak-anak kita? Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. Mahasiswa Magister Psikologi ­Pro­fesi Bidang Klinis, Universitas Gadjah Mada. Pengurus HIMPSI Bali.

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

enurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Karangasem, Ir. IGN Yudiantara, M.M. kegunaan IT sangat diperlukan di zaman global. Untuk saat itu, ia bersama kepala dinas lainnya, termasuk Bupati dan Wakil Bupati, membentuk dua grup di Whats App (WA). Satu grup khusus untuk Pimpinan SKPD dan satu grup lagi, khusus untuk

Forum SKPD. “Grup Pimpin­ an SKPD ini bertujuan untuk melaporkan kegiatan pimpinan SKPD kepada Bupati dan Wakil Bupati. Sementara, grup khusus untuk forum SKPD, biasanya lebih banyak diisi dengan ke­ giatan masing-masing SKPD,” ujar suami Putu Lastiawati ini. Untuk Grup Pimpinan SKPD jumlah anggota sekitar 50 orang, sementara, untuk Forum SKPD jumlahnya 70 orang. Apalagi, dengan kehadiran Bupati Karang­ asem yang baru menjabat dan melek IT, di kantor bupati sudah dipasang wifi. Begitu juga, termasuk di ruang tunggu sudah dilengkapi wifi. Yudiantara menilai, di zaman serba cepat ini, teknologi sebaiknya dimanfaatkan untuk hal positif. “Dalam grup WA, kami bisa saling bertukar informasi masing-masing kegiatan, termasuk jika ada saran yang bisa mendukung program masingmasing,” ujarnya. Untuk media sosial, ia memiliki akun Facebook. Menurutnya pribadi, FB sangat banyak membantunya bertemu dengan temanteman masa kecilnya, saat SMP

23

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

banyak dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan teman-teman dan keluarga,” imbuhnya.

Yudiantara

dan SMA. “Dengan FB, kami kembali menyambung tali silatu­rahmi. Bahkan, saya bertemu dengan teman saya yang sudah hilang kontak selama ini,” ucapnya. Website resmi kabupaten Karangasem juga di-link ke FB. Tujuannya, agar masyarakat bisa mengetahui agenda atau kegiatan dari masing-masing SKPD. Menurutnya, memang internet seperti pisau bermata dua, jika dimanfaatkan dengan baik, akan memberikan manfaat positif. Begitu juga, jika tak berhati-hati dan waspada, hal negatif bisa saja terjadi. Karena itu, ia hanya memposting hal-hal positif di akun pribadinya. “Postingan paling tentang keluarga dan teman-teman. FB sangat membantu untuk mencari teman yang sudah lama tak diketahui keberadaannya. FB lebih

ISTRI KEDUA Sementara, Made Erwin ­Suryadarma Sena, Kadis Koperasi dan UKM Kota Denpasar, sangat menyukai dunia IT. Menurutnya, dengan satu perangkat ponsel, ia sudah bisa mengakses semuanya. Mulai dari urusan media sosial, grup WA, termasuk berselancar membaca berita-berita terbaru. “Ponsel sudah seperti istri kedua. Kemana-mana dibawa,” ujarnya sembari tertawa. Menurut Erwin, dengan memiliki grup di WA, memudahkannya dalam bekerja dan bisa berkoordinasi dengan staf di kantor. Selain grup khusus dengan staf, ia juga ikut grup khusus pimpinan SKPD. “Grup ini bisa dipantau Pak Walikota. Pimpinan SKPD yang belum masuk grup otomatis akan kelihatan di sana. Karena itu, sekarang semua harus melek IT,” kata Erwin. Sebagai seorang pejabat, ia juga merasakan banyak manfaat yang dirasakan dengan kemajuan teknologi. “Kami di Kota Denpasar, punya grup WA untuk para SKPD. Pak Walikota kadang mendelegasikan tugas di WA, sehingga kami harus terus memantau,” kata Erwin. Ia memiliki beberapa grup WA, grup bersama staf di kantor, grup dengan dinas koperasi seluruh Bali, grup dengan kementerian koperasi, dan grup

UKM Bali. Erwin menilai, menggunakan media sosial merupakan hal yang lumrah dan bagus, asal dimanfaatkan dengan positif. “Saya banyak punya teman, bertemu teman lama dan teman baru di FB,” ujarnya. Dengan IT, memudahkan, dan mempercepat waktu dan jarak. “Dengan IT seolah-olah tidak ada jarak, sangat dekat. Seperti kejadian gerhana matahari, ada yang mengirimkan foto ke WA atau FB saya. Dunia ini terasa makin sempit,” kata Erwin. Namun, ia tak menampik, dengan kemajuan teknologi, urusan kejahatan juga makin berkembang. Memang, ia mengakui, dunia maya banyak terjadi penipuan, terutama di media sosial. Ka­rena itu, ia menyarankan, buatlah akun dengan password yang agak rumit. Namun, menurutnya, dengan keberadaan UU IT, tentu cyber crime tidak bisa lagi berlindung lagi. Erwin mengatakan, walau sibuk apapun, ponsel selalu di sampingnya. Karena, siapa tahu, ada perintah walikota di grup WA. “Yang urgent jelas perintah walikota, koordinasi SKPD, dan laporan staf. Yang harus segera dibuka dan dibaca adalah perintah walikota. Makanya ponsel selalu tak pernah jauh dari tangan,” kata Erwin. Ia tak menampik, sekarang ini, menggunakan IT sudah menjadi gaya hidup. Malah, sekarang baru bangun sudah mengecek ponsel. Agar memudahkan bekerja, ia memiliki dua ponsel. Satu khusus untuk menelepon, dan satu lagi untuk internet. Tujuannya, agar semua urusan tidak terhambat dan bisa direspons. -Wirati Astiti

Gencarkan Promosi dengan Branding Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata yang ada di Indonesia ditargetkan mendapat kunjungan 10 juta wisatawan mancanegara di tahun 2019. Target tersebut merupakan 50% dari target kunjungan wisatawan di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd. Suyasa sapaan akrabnya mengaku mendengar tiga kali secara langsung strategi menteri kebudayaan dan pariwisata RI untuk mencapai target 20% kunjungan wisatawan ke Indonesia. “Kita di Buleleng berharap masuk 10% dari total yang ditargetkan untuk Bali,” ujarnya. Ada beberapa tugas pokok yang harus dilakukan untuk meningkatkan target karena saat ini Bali masih berada ditarget 7,7 % atau sekitar 700 kunjungan wisatawan. Salah satu hal yang dilakukan untuk menunjang pariwasata di Buleleng adalah menata potensi destinasi di Bali Utara. “Tamu datang banyak tetapi setelah sampai di Buleleng destinasinya tidak ditata dengan baik maka akan menimbulkan citra yang kurang baik,” imbuhnya. Tahun ini Disbudpar Buleleng sudah mulai menata beberapa destinasi dan diharapkan tahun depan penataan dilakukan lebih maksimal lagi. Suy-

asa mengungkapkan bahwa tahun 2017 pengembangan pariwisata sudah didukung oleh infrastruktur jalan yang memadai. “Tuntasnya pengerjaan pembangunan jalan, dengan nilai anggaran cukup besar dapat dialihkan ke dalam penataan potensi destinasi pariwisata di Bali Utara”. tambahnya. Hal kedua yang dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan adalah penguatan SDM. Buleleng sebagai destinasi yang terkenal dari wisata alam dan budaya maka akan bersentuhan dengan kelompok masyarakat. “Salah satunya adalah DMO (Destination Management Organization) Pemuteran,” ujar Suyasa. Hal ini dimaksukan untuk menguatkan keorganisasian, personal, dan termasuk program daerah. Pelatihan pemandu pariwisata juga dilakukan untuk meningkatkan penguatan SDM. Disamping penataan pariwisata dan penguatan SDM, promosi juga semakin digencarkan oleh pihak Disbudpar. “Sehebat apapun daerah, sebagus apapun alam kita kalau promosi rendah dan tidak mampu membangun branding yang baik juga tidak akan mendongkrak banyak kunjungan,” jelas Kadisbudpar. Suyasa tidak menampik jika promosi rendah, maka dikhawatirkan menurunkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara.

tidak berada dalam ketakutan,” ungkapnya.

Dharmaja

Suyasa

“Disbudpar sudah memprogram ikut serta dalam berbagai ajang promosi baik tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Suyasa juga menambahkan bahwa pihaknya memanfaatkan media sosial sebagai media untuk promosi. “Setiap event kita buatkan sendiri, misalnya Bulfest punya web sendiri,” tambahnya. Kegiatankegiatan yang dilakukan juga sering diunggah ke Youtube agar menarik. Suyasa sangat menyadari bahwa promosi yang dilakukan sangat penting menggunakan media IT karena memudahkan orang-orang

melihat produk-produk dari Disbudpar. “Produk sudah kita upload khususnya destinasi dan tahun ini sudah dibuatkan analisis paket wisata khusus Buleleng tengah,” ungkapnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas kepada wisatawan yang ingin berwisata ke Buleleng. Mengenai seberapa ampuh media sosial sebagai media promosi, Suyasa mengungkapkan orang di rumah saja saat ini dapat mengetahui potensi wisata. “Kita harus mampu membangun branding yang baik supaya orang datang

Gelar Konsultasi Publik Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Buleleng, Ir. Gde Dharmaja, M.Si. mengadakan konsultasi publik di gedung Imaco eks. Pelabuhan Buleleng Senin (14/3) lalu. Hal ini bertujuan untuk mengadopsi berbagai aspirasi dan penyerapan masukan yang ada di masyarakat. “Konsultasi publik ini menjadi tahapan dalam proses perencanaan kinerja pembangunan daerah. Tujuannya mencari masukan dari seluruh stake holder, untuk bisa menyempurnakan rencana kerja berdasarkan draft dimiliki. Jadi semua masukan diadopsi dan nantinya menjadi input penyempurnaan rancangan pembangunan selanjutnya,” ujar Gde Dharmaja. Konsultasi yang mengambil tema konsultasi publik dan pembukaan forum SKPD, forum gabungan SKPD, pra Musrenbang dan Musrenbang Kabupaten Buleleng dimaksudkan menyerap semua masukan dari berbagai komponen masyarakat. Keluhan-keluhan dari masyarakat agar disampaikan secara langsung dan bukan malah berkicau di media sosial. “Ini salah satu dari proses penjaringan masukan masyarakat untuk penyempurnaan pembangunan,” ungkapnya. -Wiwin


22

Sosialita

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Bunda Arsaningsih

Temu Kangen A

Pembukaan Indonesia Fashion Week 2016

Industri Fashion paling Siap dalam MEA

Ketika industri lain merasa ketar-ketir memasuki era MEA (masyarakat ekonomi Asean) yang mulai berlaku per Januari 2016 ini, industri fashion Indonesia justru merasa sangat percaya diri. Salah satu bukti kemegahan fashion Indonesia mungkin bisa dilihat pada Indonesia Fashion Week (IFW) 2016 yang eventnya baru berakhir minggu lalu.

P

erhelatan yang dibuka dengan penampilan tarian Bali, kali ini memang terasa berbeda. Bisa jadi karena event yang mengangkat tema ‘Reflection of Culture’ ini digelar pada saat MEA baru berumur tiga bulan. Momen ini bisa menjadi ajang unjuk gigi fashion Indonesia yang mengalami kemajuan pesat dalam beberapa dekade terakhir. Karenanya bukan kebetulan kalau tema yang diangkat pada perhelatan IFW tahun kelima, bersifat menonjolkan keragaman budaya nusantara lewat kain-kain dari berbagai daerah berikut pernak-perniknya yang disulap menjadi fashion modern. Sarung Majalaya dan songket Silungkang asal Sumatera Barat yang dikreasikan Shetyawan dari rumah mode Shafira menjadi busana muslim mempesona di panggung IFW 2016. Mengambil tema ‘Twenties Metropolis’, Shafira yang belum lama ini tampil dalam ajang Couture Fashion Week di New York, kali ini mengawinkan mode New York era 1920-an dengan

wastra asli Nusantara lewat 60 busana koleksinya. “Shafira setiap tahunnya selalu mengusahakan ada surprise. Kita mengeluarkan koleksi yang keren, modern dan bermuatan lokal,” ungkap Fenny, pemilik dan pendiri Shafira Corporation. Zaskia Sungkar pun tak mau kalah. Artis sinetron yang belakangan lebih fokus pada bisnisnya di bidang fashion ketimbang kariernya di dunia akting, mengangkat batik dan tenun dengan nuansa hitam-putih. “Hitam-putih warna kesukaan aku. Susah cari batik dan tenun dengan warna itu, jadi aku langsung ke pengrajinnya,” ungkap Zaskia seusai peragaan. Secara keseluruhan istri aktor Irwansyah ini, menampilkan 12 karya dengan sentuhan rangrang asal Bali, tenun juga katun. “Secara keseluruhan ada 12 koleksi. Benang merahnya adalah batik cap Garutan dan rangrang Bali, tenun dan katun,” ucap Zaskia. Ia menambahkan dirinya ingin mengajar para anak muda untuk tidak melupakan kain tradisional yang merupakan warisan budaya Indonesia. Yang juga menarik dari panggung Zaskia adalah saat ia menampilkan adiknya Shireen Sungkar dalam ajang fashion show. Pemeran sinteron ‘Cinta Fitri’ ini tampil cantik dengan busana monokrom hitam putih dengan sentuhan tenun dibalut jilbab warna putih tulang. Menurut Puan Maharani, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, kekayaan budaya Indonesia dengan berbagai macam coraknya, dapat menjadi

Rancangan Zaskia Sungkar dalam hitam putih

inspirasi serta karakter dalam karya fashion modern. Dengan karakter dan kepribadian fashion berbasis budaya, karya fashion Indonesia menjadi lebih kuat dalam membangun Indonesia. “Hal ini juga akan memperkuat daya saing fashion kita terutama dalam menghadapi kompetisi dengan industri fashion global,” kata Puan saat membuka IFW 2016 di JCC Jakarta. Ia berharap agar kelak Indonesia menjadi salah satu pusat fashion di Asia maupun dunia. Perkembangan industri fashion memang terus didorong maju karena sektor ini telah mampu menyumbang PDB sebesar Rp 181 triliun dan menyerap 3,8 juta tenaga kerja. Pesatnya perkembangan industri fashion Indonesia juga diungkap oleh Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Euis Saedah. Bahkan menurutnya saat ini industri fashion adalah salah satu industri yang paling siap bersaing dalam kancah MEA. “Industru Kecil Menengah yang bergerak di bidang fashion dinilai paling siap dalam MEA,” kata Euis. Berdasarkan data Tim Studi Ekonomi Kreatif Kemenparekraf 2014, sektor ekonomi kreatif memberi kontribusi

cukup signifikan terhadap PDB (produk domestik bruto), Rp 641,8 triliun atau di atas sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan. Dari jumlah tersebut, sektor fashion menyumbang sebesar 28,29% atau setara dengan Rp 181,5 triliun, angka ini kedua terbesar setelah sub-sektor kuliner yang mencapai Rp 208,6 triliun. Tidak hanya itu, sektor fashion juga menyerap tenaga kerja terbanyak di antara sub-sektor industri kreatif lain-

nya, yaitu sebanyak 3.838.756 orang dari 1.107.956 unit usaha. Sedang laju pertumbuhan ekspornya juga tertinggi dibanding sub-sektor industri kreatif lainnya yakni mencapai 9,51%. “Fashion berkontribusi sebesar Rp 76,78 triliun terhadap ekspor Indonesia,” kata Menperin Saleh Husin. Angka konsumsi rumah tangga untuk sektor fashion sebesar Rp 282,8 triliun atau berada di urutan kedua setelah sub-sektor kuliner yang angka konsumsi rumah tangga mencapai Rp 367,5 triliun. –Diana Runtu

Oleh sang guru, ibu itu diminta datang membawa anaknya lagi seminggu kemudian. Seminggu telah berlalu, ibu itu pun kembali membawa anaknya kepada sang guru. Guru hanya menasihati anak tersebut untuk tidak mengonsumsi garam berlebihan, usianya masih muda, dan jaga kesehatan. Yang membuat sang ibu terheran-heran, nasihat sederhana itu langsung mengena dan dituruti sang anak. Padahal sang ibu setiap hari menasihati anaknya tapi tak mempan juga. Apa yang membedakan? Yang membedakan adalah selama sang guru menunggu satu minggu untuk memberi nasihat pada anak tersebut, ia turut mengurangi mengon-

gan cara itu, Indonesia bisa mencegah produk fashion luar negeri menguasai nusantara. “Kita harus punya semangat bagaimana Indonesia menjadi pusat fashion internasional,” kata Puspayoga. Kementerian yang dipimpinnya telah membuat sejumlah program pemberdayaan demi terus berkembangnya dunia fashion tanah air. Pelaku usaha di sektor ini diberi bantuan permodalan melalui kredit usaha rakyat. “Ini hanya untuk UKM yang masih kecil menengah ada program KUR yang suku bunganya kini 9% per tahun. Dulu suku bunganya 22% kini turun jadi 9 %. Dengan bunga rendah diharapkan mampu menggerakan ekonomi kerakyatan,” ucapnya. –Diana Runtu

3

sumsi garam. “Jadi, ketika kita merasakan dan mengalami, kita akan mampu mengubah orang lain. Secara proses energi, ini akan menguatkan kita untuk menasihati orang lain,” ucap Bunda Arsaningsih. Dalam menjalani hidup, Bunda juga menyarankan untuk “berserah” kepada Tuhan. Namun, ia mengingatkan “berserah” dan “pasrah” itu berbeda. Proses berserah dimaknai dengan berusaha sekuat tenaga dulu untuk melakukan yang terbaik, namun ketika sudah tak

Penyerahan Komitmen mendukung gerakan revolusi mental kepada Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra dan Ny. Selly D. Mantra.

cinta banyak guru dalam hidup saya. Tanpa mereka, hidup saya tak berarti apa-apa,” ujar Bunda Arsaningsih, pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih dengan metode SOUL (Spirit of Universal Life) ini. Ia mengatakan, dalam hidup ini banyak masalah yang muncul. Darisanalah Bunda Arsan-

ingsih mengamati dan menghadapi, tidak malah lari dari masalah. Ia menuturkan konsep “makan garam” dari seorang guru. Dikisahkan ada seorang ibu yang mendatangi guru tersebut dan meminta guru menasihati anaknya untuk mengurangi makan garam karena anak tersebut menderita hipertensi.

Antusiasme pengunjung dalam sesi tanya jawab bersama Bunda Arsaningsih

Krisdayanti dan dua anaknya di panggung IFW 2016

Bantuan KUR untuk Industri Fashion

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga dalam kesempatan tersebut mengatakan, supaya fashion Indonesia mempunyai daya saing tinggi maka karyanya haruslah punya kreativitas. Karya kreatif yang dimaksud adalah dengan mengangkat nilai-nilai lokal budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para desainer bagaimana merancang sebuah karya yang mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia. Menurur Puspayoga, salah satu tantangan fashion tanah air adalah para desainer harus mampu memenuhi 40% kebutuhan pasar fashion dalam negeri. Hanya den-

cara yang dikemas selama 3 jam dan dihadiri di antaranya Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra, Ny. Selly D. Mantra, Ny. Satria Naradha, dan mantan Gubernur Bali Dewa Beratha tersebut, menyuguhkan beberapa apresiasi seni, di antaranya penampilan Tari Pendet oleh anak-anak SLB B Sidakarya, Denpasar; tarian Legong Tridatu oleh Sanggar Warini dan hiburan bondres yang cukup mengocok perut dari SMP PGRI 3 Denpasar. Tak ketinggalan, penari maestro Ni Ketut Arini tampil berkolaborasi dengan Bunda Arsaningsih. “Temu Kangen Bersama Bunda Arsaningsih” ini merupakan apresiasi Bunda kepada para partisipan yang aktif berinteraksi lewat sosial media, terutama face book. Dari FB inilah tersirat kerinduan mereka untuk bertatap muka langsung dengan satu-satunya pencerah dan pedharma wacana perempuan, Bunda Arsaningsih. “Saya sangat tersentuh, terutama membaca status murid saya yang menceritakan seorang partisipan dari Tabanan yang mengenal saya dan SOUL hanya lewat seorang murid saya. Ibu dan Bapak tersebut menangis ingin mengenal saya. Darisana saya berpikir untuk membuat acara ini, karena saya besar dari

Malam itu, Kamis (17/3), Mutiara Ballroom di Hotel Nikki Denpasar dipadati sekitar 700 audiens dari usia anak-anak hingga usia lanjut. Mereka berbaur dan menyatu dalam acara “Temu Kangen Bersama Bunda Arsaningsih : Kebersamaan Membawa Kedamaian”.

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

Rangkaian acara Temu Kangen Bunda Arsaningsih

Pencanangan Go Green & clean sebagai wujud komitmen gerakan bebas plastik bersama walikota Denpasar dan seluruh peserta yang hadir.

ada jalan keluar akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, sedangkan “pasrah” cenderung tidak melakukan upaya dan hanya diam. Proses berserah ini seperti proses intuisi yang bisa dipelajari dengan suatu metode yang dipahami semua orang (universal). Semuanya bisa diukur dengan metode SOUL meter, karena konsep energi tidak terbatas ruang dan waktu. Inilah yang membedakan SOUL dengan metode lainnya. Di akhir acara, Bunda Arsaningsih mengajak peserta untuk melakukan pemurnian diri. Mereka dipandu untuk memahami dan mengenali dirinya untuk mengarah pada pembentukan kualitas diri yang lebih baik dengan proses melepaskan diri dari pikiran-pikiran negatif, memaafkan dan meminta maaf. Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra yang mengikuti acara hingga usai ini mengatakan metode SOUL sangat tepat untuk merevolusi mental (jiwa) yang sangat penting untuk anak-anak. Ia juga mengapresiasi gerakan “go green” oleh SOUL yang membagikan tas ramah lingkungan sebagai pengganti tas plastik untuk menyelamatkan bumi. –ten


4

Inspirasi

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Syarifah Aliyyah Shihab

Lebih Suka Disebut Sociopreneur

Umumnya orang yang divonis penyakit berat apalagi penyakit langka akan shock dan tertekan. Betapa tidak, bayangan akan menderita seumur hidup, tak bisa hidup normal seperti dulu dan yang terberat adalah maut yang mengintai setiap saat. Pikiran-pikiran negatif yang terus menerus membuat orang merasa depresi. Itu juga yang dirasakan Syarifah Aliyyah Shihab ketika divonis dokter menderita penyakit lupus. Ketika itu usianya masih 19 tahun dan merupakan remaja yang aktif dengan seabreg kegiatan produktif.

aktif di kegiatan sosial khususnya dalam memberi motivasi pada para remaja. Aliyyah membimbing mereka untuk bisa menemukan bakatnya karena dari bakat yang diasah. kelak bisa menghasilkan sesuatu bagi kehidupan mereka. Tepatnya Juli 2007, tutur Aliyyah, atas saran keluarganya ia pun mendirikan sebuah yayasan sosial bernama Syarifah Aliyyah Shihab Foundation atau biasa disingkat dengan SAS Foundation. “Maksudnya agar kegiatan lebih terkoordinir juga profesional. Saya bertindak sebagai motivator. Alhamdullilah sampai sekarang sudah 1 juta lebih anak dari berbagai daerah yang mendapat motivasi dari kita,” katanya. Wanita kelahiran Juli 1988 tahun lalu ini mengaku memiliki ketertarikan tersendiri pada pembinaan terhadap remaja, khususnya pada remaja-remaja tak mampu. Karena itu banyak programnya dilancarkan untuk pembinaan dan pemberian motivasi mereka.

“Y

Pinky Hijab Community

a seperti orang pada umumnya ketika divonis dokter menderita sakit berat. Apalagi yang saya derita adalah penyakit langka, lupus. Saya sempat terguncang dan down,” ungkap pendiri SAS Foundation ini. “Uniknya, setahun sebelum divonis menderita lupus, saya menulis novel berjudul ‘Kawin Kontrak’. Novel itu bercerita tentang seorang gadis yang karena miskin terlibat dalam kawin kontrak. Namun akhirnya gadis itu meninggal karena lupus. Novel itu terbit tahun 2007. Lalu tahun 2008 saya divonis dokter menderita lupus. Rasanya aneh juga, kok bisa cerita yang saya tulis menjadi kenyataan pada diri saya,” tambah anak pertama dari delapan bersaudara, ini. Namun, akunya, ia tak mau berlama-lama dalam keterpurukan. Ia menyadari tak bisa terus berdiam diri dan meratapi nasib karena itu tak akan mengubah apapun. Bahkan yang terjadi akan memperburuk penyakitnya. Apalagi, memang, pada dasarnya ia bukan lah orang yang suka berdiam diri tanpa kegiatan. Ia ingin bermanfaat bagi orang lain, itulah yang terus ia tanamkan dalam dirinya. Berangkat dari kesadaran itulah Aliyyah perlahan bangkit dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Meski. memang. tidak bisa lagi seperti dulu karena kondisi fisiknya yang mudah lelah. “Kalau dulu dalam sehari saya bisa lima kali road show ke sekolah-sekolah, kalau sekarang hanya bisa sekali

karena badan mudah capai,” tutur peraih Young Caring Professional Award 2012. Bertutur Aliyyah, sejak kecil ia sangat suka berkegiatan. Itu terus berlanjut hingga ia remaja. Kemudian atas saran orangtuanya ia masuk pesantren. Di luar dugaan justru di pesantren inilah ia menemukan bakatnya sebagai penulis. “Keluar dari pesantren saya menerbitkan novel. Buku pertama saya berjudul‘The Power of First Love’,” katanya. Untuk mempromosikan bukunya, ia pun melakukan roadshow ke sekolahsekolah. Suatu ketika ia melakukan road show ke sekolah di Cianjur tapi ternyata bukunya tidak laku alias tidak ada yang beli. Padahal ketika ia melakukan talkshow, para murid sangat antusias. “Saya bertanya-tanya, kenapa buku nggak laku. Apakah karena jelek. Lalu tanya ke guru-guru dan kepala sekolah. Mereka pun menjelaskan bahwa kebanyakan murid di sekolah itu orangtuanya adalah buruh dan petani yang pendapatan per-harinya kurang dari Rp20 ribu. Itu pendapatan tahun 2007,ya. Sementara harga buku saya Rp35 ribu. Jadi ibaratnya kalau membeli buku saya itu sama saja dengan penghasilan dua hari orangtuanya,” jelas Aliyyah terharu. Jadi, katanya, meski bukunya tidak terjual, ia tetap memberikan motivasi kepada para pelajar agar tetap semangat dalam menggapai cita-cita demi masa depan mereka. Pengalaman itu juga sekaligus ikut menggugah Aliyyah untuk terus

BERBISNIS UNTUK BIAYAI KEGIATAN SOSIAL Pilihan Aliyyah sungguh tepat karena kebanyakan kita mendengar adalah motivator untuk kalangan dewasa tapi motivator untuk kalangan remaja apalagi remaja tak mampu jarang terdengar. “Motivator untuk remaja jumlahnya masih kurang. Padahal mereka juga memiliki problem dan perlu diarahkan untuk membangun diri. Misalnya tentang persoalan cinta, mengatur keuangan, konflik keluarga, dll. Mungkin untuk remaja kalangan atas, mereka bisa mendatangi psikolog atau motivator, tapi untuk kalangan menengah bawah tentu sulit karena dana untuk itu cukup lumayan. Pilihannya tentu adalah memenuhi kebutuhan pokok. Karena itu lah saya, antara lain, berkecimpung pada bidang pemberian motivasi remaja,” papar penerima N-Peace Award dari UNDP PBB 2014. N-Peace Award adalah penghargaan yang diberikan kepada aktivis di seluruh dunia yang dianggap melakukan kegiatan yang mendukung misi perdamaian. “Saya mendapat penghar-

Syarifah Aliyyah Shihab

gaan dari UNDP PBB kawasan Asia Pasific. Menurut mereka aktivitas yang saya lakukan bisa menjadi contoh atau model untuk advokasi perdamaian. Ini bisa menciptakan perdamaian dan menghindari remaja-remaja dari hal radikal dan ekstrim,” tambahnya. Untuk itu juga Aliyyah dan teamnya rajin melakukan road show ke sekolah-sekolah serta mengcreat berbagai kegiatan. Road show ke sekolah-sekolah, jelas Aliyyah lebih jauh, tujuannya untuk mengembangkan bakat para remaja. “Biasanya saya memulai dengan menceritakan pengalaman saya sebagai penulis novel yang mendapat penghasilan dari bakat saya. Jadi setelah sharing 30 menit, kami membagikan kuesioner yang kami buat bersama psikolog,” katanya. Setelah itu, katanya, sepekan kemudian para remaja ini akan dibagikan sertifikat yang ada hasil tes bakatnya. “Dengan mendapat sertifikat itu mereka akan ingat bahwa mereka memiliki bakat dan kelak dewasa bisa menjadi ini dan itu”.

Diakui Aliyyah untuk menjalankan banyak program dari yayasannya diperlukan dana yang cukup lumayan. Untuk itu dia tak mau berpangku tangan dan hanya mengharapkan datangnya sponsor. Dia dan teman-temannya berjuang untuk menghasilkan suatu karya kreatif yang dapat menghasilkan uang. Berbagai kegiatan dicreate dan dana yang berhasil dikumpulkan digunakan untuk membiayai program-program yayasan. Salah satunya adalah lewat penerbitan buku. Ya memang ini tak jauh-jauh dari bakat Aliyyah. Berawal dari diterbitkannya buku Hijab yang isinya serba pink sehingga lahirlah komunitas perempuan cantik berhijab yang kemudian dikenal sebagai Pink Hijab Community. “Itu terjadi pada 2012. Waktu itu saya pikir komunitas ini harus berbentuk perusahaan, kemudian kami membentuk Pink Hijab Corporation. Perusahaan ini membawahi sejumlah divisi di antaranya, community, butik, dll. Nah penghasilan dari butik inilah menjadi salah satu pendapatan untuk yayasan. Jadi ibaratnya di Pink Hijab Corporation ini tempat mencari uangnya, jualannya, keuntungannya dipakai oleh yayasan kita,” kata Aliyyah yang lebih suka menyebut dirinya sociopreneur. Seolah ingin membuktikan bahwa penyakit tak mampu menghalangi dirinya untuk terus berkarya dan berbagi kepada sesama, ia bukan hanya aktif di SAS Foundation dan Pink Hijab Corporation tapi sejumlah organisasi lain, di antaranya adalah yayasan pengembangan multi talenta remaja. “Saya menjadi seperti ini berkat didikan dan bimbingan orangtua. Saya ingin dengan kemampuan saya bermanfaat bagi orang lain,” tandas Aliyyah. -Diana runtu

Mandalika

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Lombok, Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia

Nusa Tenggara Barat akan dijadikan sebagai salah satu fokus pengembangan destinasi wisata halal unggulan sebagai upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai World’s Best Halal Tourism Destination. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pariwisata RI, Arif Yahya yang menjadi keynote speaker pada seminar Daya Tarik Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia yang berlangsung di Mataram beberwaa waktu.

Gubernur NTB saat meninjau kesiapan Islamic Centre sebagai lokasi MTQ Nasional 2016

H

al ini semakin menguatkan predikat halal, setelah Lombok meraih penghargaan destinasi wisata halal terbaik dunia (The World Halal Tourisme Destination) beberapa

waktu lalu. Seminar ini menghadirkan pembicara ahli pariwisata halal dan praktisi pariwisata halal seperti Riyanto Sofyan-owner hotel Sofyan Betawi, Sapta Nirwandarpenasihat Kehormatan Kemenpar RI, Akhmad Saufi-Dosen dan

Arif Yahya

Dr. TGH. M. Zainul Majdi

Peneliti Kepariwisataan Unram, Ikhsan Abdullah-Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch dan Rifda Amarina - CEO PT. Puteri Cahaya Kharisma. Kementerian Pariwisata menyatakan bahwa pasar Pariwisata Halal sangat potensial untuk mewujudkan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta perjalanan wisatawan nusantara pada tahun 2019. Untuk menegaskan penghargaan tersebut salah satunya adalah dengan penataan lighting system (sistem pencahayaan) pada bangunan Masjid Islamic Centre NTB, yang pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus mendatang akan menjadi tempat penyelenggaraan MTQ Tingkat Nasional 2016.

Lighting system atau sistem pencahayaan, yakni pengaturan pencahayaan digunakan selain fungsi menerangi interior atau

eksterior bangunan, juga meningkatkan kualitas dan kegunaan ruang interior maupun eksterior dari Islamic Centre yang kini menjadi ikon bumi gora. Kementerian Pariwisata telah menyiapkan anggaran untuk hal ini. Bahkan Menteri Arif Yahya minta disiapkan tiga masjid lagi untuk dibiayai lighting serupa. Sistem pencahayaan di Islamic Centre NTB nantinya akan memiliki teknologi seperti Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Selain Islamic Centre, Kota Tua Ampenan juga dinilai layak dikembangkan menjadi ikon destinasi wisata halal. Begitu pula dengan sebagian kawasan Pantai Senggigi akan dikembangkan konsep yang kini tengah populer di dunia yaitu konsep wisata Moslem Friendly Beach. -Naniek I. Taufan

Islamic Centre jadi Arena Utama MTQ Nasional yang akan dijadikan lokasi arena utama MTQ. Dalam kesempatan itu Gubernur memerintahkan agar segera dibuat desainnya dan meminta kepada semua masyarakat NTB

khususnya umat islam turut serta menyukseskan pelaksanaan Musabbaqah Tilawatil Qur’an tahun ini dan memberikan kesan yang baik bagi daerah. Dalam waktu dekat segera ditentukan titik central

Seminar Daya Tarik Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia, di Mataram

Butik hijab milik syarifah aliyyah

21

Gubernur NTB, Dr. TGH Zainul Majdi menginginkan Lombok-Sumbawa menjadi contoh pariwisata halal terbaik di Indonesia. Ia mengajak kepada seluruh Pemerintah kabupaten/kota, pihak keamanan, pelaku wisata untuk bersinergi memajukan pariwisata. Islamic Centre yang berdiri megah di tengah Kota Mataram tidak lama lagi akan menjadi ikon yang berkelas baik untuk wisata halal maupun untuk daerah

NTB. Pada tanggal 29 Juli hingga 16 Agustus mendatang, Islamic Centre akan kedatangan tamutamu peserta MTQ Nasional dari seluruh Indonesia. Untuk memastikan kesiapan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai tuan rumah Musabbaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional tersebut, beberapa waktu lalu Gubernur NTB, Dr. TGH Zainul Majdi didampingi Wali Kota Mataram H. Ahyar Abduh meninjau kondisi kesiapan Islamic Centre

Islamic Centre

arena utama bahkan dari jalan ke arah Islamic Centre direncanakan terbuka agar bisa dimanfaatkan tamu-tamu yang akan hadir dari berbagai daerah. --Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Makanan Sehat Tak Selalu Mahal

Kasus gizi buruk menjadi perhatian TP PKK Provinsi NTB. Karena itu dalam roadshow yang dilakukan TP PKK NTB ke Pulau Sumbawa, gizi buruk menjadi salah satu hal yang mengemuka dalam sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi. “Kasus gizi buruk yang terjadi di NTB kerap disangkutpautkan dengan kemiskinan, namun itu tidak sepenuhnya benar. Ada faktor lain yang mempengaruhinya seperti misalnya tidak menempatkan anak-anak sebagai prioritas. Termasuk kurangnya kesadaran generasi muda yang nantinya akan menjadi calon orangtua untuk menerapkan pola hidup sehat,” ungkap Erica saat memberi arahan dan pembinaan 10 program pokok PKK kepada pengurus TP

PKK Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Gizi buruk pada bayi dan balita, bisa dicegah sejak awal. Itulah yang kini menjadi salah satu prioritas perhatian PKK NTB. “Guna melahirkan bayi yang sehat haruslah dimulai dari diri kita sendiri selaku calon orangtua untuk mulai hidup sehat,” ujarnya. Menurutnya jika mau membebaskan daerah ini dari gizi buruk, maka harus dimulai sedini mungkin, bahkan dari diri sendiri.

Menerapkan pola hidup keluarga sehat dan panganan sehat untuk anak-anak adalah faktor penting yang harus dilakukan. “Makanan sehat tidak harus selalu mahal. Sebagai orangtua kita harus pintar memilih makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi anak-anak kita,”

ujarnya saat menghadiri acara pelantikan Ketua dan pengurus TP PKK Kabupaten Dompu Masa Bhakti tahun 2016-2021 yang dirangkaikan dengan Pembinaan 10 Program Pokok PKK. Selain itu, menurutnya gizi buruk juga terjadi karena banyak sekali orangtua yang malas me-

nyediakan makanan dan jajanan sehat untuk keluarganya. “Daripada beli jajanan yang kurang sehat, alangkah bagusnya kita sediakan keluarga kita makanan yang sehat dan mudah kita buat dirumah. Para ibu juga diimbau untuk bisa memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayur dan buah dapat menjadi alternatif yang menyehatkan dan bermanfaat bagi keluarga. Makanan bergizi tidak harus selalu mahal, dan mudah dijumpai di mana pun. “Singkong untuk perkembangan saraf, ubi ungu untuk sistem kekebalan tubuh. Tumbuh-tumbuhan ini banyak kita jumpai di pasar dan harganya sangat terjangkau, mengolahnya pun sangat mudah. Ini bisa menjadi makanan alternatif yang sehat untuk keluarga kita,” kata Erica ketika roadshow ini tiba di Kabupaten Sumbawa. –Naniek I. Taufan

Inspirasi Drs. I Wayan Sumatra

Dalam roadshow yang dilakukan ini perhatian lain dari PKK NTB adalah mengingatkan pada orangtua khususnya para ibu untuk mengawasi tontonan anak baik di televisi maupun di media sosial terutama yang berbau pornografi dan bahaya narkoba. “Bahaya dari anak yang sering mengonsumsi konten-konten porno ini adalah rusaknya jaringan pada otak yang akhirnya merusak masa depan mereka,” ujarnya. Waspada terhadap kekerasan seksual yang kerap terjadi pada anak-anak juga harus menjadi agenda penting yang

diperhatikan oleh masyarakat terutama para ibu untuk mengawasi anak-anak mereka. “Jangan gampang percaya dan menitipkan anak pada sembarang orang, karena orang terdekat pun bisa jadi pelaku kejahatan tersebut,” ungkapnya. Kegiatan roadshow yang dilakukan PKK NTB ini untuk mensinergikan program kegiatan dengan TP PKK di kabupaten dan kota yang ada di Pulau Sumbawa. Ketua TP PKK Kota Bima Hj. Yani Marlina menyambut baik sinergitas tersebut untuk dapat membangun keluarga-keluarga sejahtera

dan kuat. Karena itu berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mendukungnya. “Peran TP PKK sebagai tim penggerak di Kota Bima, telah dilakukan dengan melaksanakan kegiatan dalam upaya mewujudkan kehidupan keluarga mandiri, bahagia, sehat dan sejahtera, dan telah sesuai dengan program nawacita pemerintah,” ungkap Yani Marlina. Itulah sebabnya Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Hj. Hanifah Musyafirin, S.Pt juga menyatakan kesiapannya dalam membangun sinergi yang dapat mendorong

Road Show PKK Provinsi NTB sekaligus pelantikan pengurus PKK se-Pulau Sumbawa

terciptanya keluarga-keluarga berkualitas. Karena Hanifah Musyafirin, mengimbau ke-

pada pengurus PKK KSB yang beberapa waktu lalu telah dilantik untuk bekerja dengan lebih giat hingga lima tahun ke depan dalam membantu program pemerintah mewujudkan masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera. “Program kerja PKK KSB akan kami sinergikan dengan program kerja PKK Provinsi NTB dan pemerintah KSB. Semoga dengan pembinaan ini memberi motivasi pengurus TP PKK di KSB ini untuk bekerja lebih giat dalam menggerakkan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup mereka,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan

5

Ke Istana berkat Gebogan Orang Bali identik dengan kesenian. Seni yang ditekuni bermacam-macam, diantaranya seni tari, seni rupa, seni tabuh, dan seni dekorasi. Khusus seni dekorasi di Denpasar, nama Drs. I Wayan Sumatra cukup terkenal.

K

Awasi Tontonan Anak

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

etika TP PKK Kota Denpasar bersinergi dengan Tabloid Tokoh dan Garudafood mengadakan pelatihan kreativitas tanpa batas, nama Sumatra langsung mengemuka. Pria asal Br. Ketapian Kaja, Denpasar ini memang piawai membuat dekorasi tradisional Bali. “Begitu dihubungi untuk melatih anggota PKK Kota Denpasar dan diberi bahan, saya langsung mendapat inspirasi. Saya buatkan tamiang dengan bahan dasar daun lontar. Bungkus Ting Ting Garuda sebagai hiasan di tengah. Kalau biasanya pakai bunga mawar atau margot, saya ganti dengan bungkus Ting Ting Garuda,” ujar pria kelahiran 22 November 1955 ini. Semua bungkus camilan kacang ini bisa menjadi hiasan. Ini menjadi nilai plus karena dari bungkus camilan bisa menjadi tamiang untuk hiasan dinding atau meja. Sumatra mengaku membuat kreasinya ini bisa lebih cepat karena bahan sudah tersedia dan ia banyak belajar dari pengalaman. Hasil kreasi tamiang karya Sumatra pun dikagumi Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly Mantra dan Ketua Dharma Wanita

Kota Denpasar Ny. Rai Iswara, Arif Pujianto, Regional Head Bali Nusra PT SNS, dan Ida Bagus Asta Wibawa, Regional Sales and Promotion Bali Nusra Garudafood. Saat pelatihan yang digelar di Gedung Santi Graha, tamiang dari bungkus Ting Ting Garuda menjadi dekorasi meja.

PENYU JADI FAVORIT Mengenai keahlian membuat dekorasi, Sumatra mengaku belajar dari ibunya. “Orangtua saya, terutama ibu sering membuat lamak. Saya sering bantu. Lama

kelamaan saya bisa sendiri. Belajar sendiri alias otodidak,” ujar suami Ni Nyoman Sudani, S.Ag. ini. Kolaborasi dengan sang istri pun kerap ia lakukan. Jika ada pelatihan banten, sang istrilah yang banyak berperan. Mereka pun banyak memiliki materi duet. Ayah dari Ni Wayan Anik Suciastiti dan Kadek Heri Yuliaputra ini pun sering ikut lomba di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dan sering menjadi juara I. Namanya pun dicatat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI, pihak Istana memerlukan tenaga dekorasi untuk upacara 17 Agustus. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ditugaskan mencari tenaga dimaksud. Sumatra pun diberangkatkan ke Istana Negara. “Awalnya saya kira ke Istana Tampaksiring, ternyata ke Istana Negara. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan itu. Saya pun menyiapkan bahan untuk membuat lamak. Ternyata sampai di Jakarta, saya disuruh membuat gebogan dan sudah disiapkan buah, bunga, dan janur,” kenang alumnus FKIP Unud Singaraja (sekarang Undiksha) ini. Di Jakarta ia sempat bertemu

kerabatnya. Ada yang berkelakar, yang sudah puluhan tahun di Jakarta belum pernah ke Istana sedangkan yang baru datang ke Jakarta bisa langsung ke Istana. Selama bertugas membuat dekorasi, Sumatra ikut membantu tim Jawa Timur. Buah ental yang tidak terpakai dibelah dan diukir menjadi penyu. Ternyata penyu kreasi Sumatra menjadi sorotan dan favorit pengunjung. Ia pun diperkenalkan kepada para pejabat karena kepiawaiannya membuat dekorasi yang bernilai tradisional dan unik. Kini kakek empat cucu ini terus mantapkan langkahnya untuk menekuni seni dekorasi. Ia pun kerap menjadi pelatih bagi kelompok yang ingin memperdalam seni dekorasi. -Ngurah Budi

Drs. I Wayan Sumatra

Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan (kedua dari kiri), Toto Heli Yanto (ketiga dari kiri) dan Ny. Rai Iswara (ketiga dari kanan) bersama penerima bantuan sembako.

Pelindo III Peduli dan Berbagi

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III bekerja sama dengan Kecamatan Denpasar Selatan, menggelar acara pembagian paket sembako secara gratis di kantor Camat Denpasar Selatan, Sabtu (19/3). Acara yang digelar secara sederhana ini, dihadiri istri Sekda Kota Denpasar Ny. AA Rai Iswara, Direktur SDM dan Umum PT Pelabuhan III ( Persero), Toto Heli Yanto, dan Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan, Toto Heli Yanto dalam sambutannya mengatakan, Pelindo Peduli merupakan program tahunan yang rutin dilaksanakan. “Program ini sebagai wujud tanggungjawab perusahaan kepada masyarakat khsusunya masyarakat yang ada di sekitar area pelabuhan,” kata Toto. Toto menambahkan, Pelindo Peduli mempunyai program untuk menyejahterakan masyarakat antara lain, program bedah rumah dan bina lingkungan yang diperuntukkan di bidang pendidikan, sosial serta rumah ibadah. Pelindo III membagikan 426 paket sembako kepada masyarakat di Kecamatan Denpasar Selatan. Sebelumnya, sebanyak 500 paket sembako telah diserahkan kepada masyarakat Tanjung Benoa pada tanggal 7 Maret dan 74 paket sembako dibagikan kepada masyarakat di lingkungan pelabuhan Benoa. Total bantuan sembako gratis yang sudah disalurkan sebanyak 1000 paket sembako senilai Rp 120 ribu per paket. Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan menyambut bakti sosial dari Pelindo III ini. Ia berharap, semoga bantuan yang diberikan ini, dapat bermanfaat bagi warga masyarakat Sesetan.–Wirati Astiti

Penandatanganan MoU antara Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar dengan Tabloid Tokoh dilaksanakan Jumat (18/3) di aula Yayasan Dwijendra bertepatan dengan HUT ke-30 Fakultas Hukum Universitas Dwijendra. Penandatanganan disaksikan Rektor Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Putu Dyatmikawati, S.H., M.Hum.


6

Woman on Top

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Hater Itu Fans Sejati

P

enyanyi dangdut Irma Darmawangsa mengaku eksistensi kariernya sangat terbantu dengan keberadaan medsos. “Manfaatnya banyak banget deh untuk kehidupan, karier, bahkan mendapatkan peluang-peluang lain di luar karier yang ditekuni,” ungkap pelantun tembang hit ‘Sir Gobang Gosir’ ini. Ia menambahkan, sering mendapat job gara-gara keaktifannya di medsos. “Mungkin orang-orang itu (pemberi kerja) melihat postingan-postingan aku di medsos. Mereka melihat apa yang sedang aku kerjakan, dll. Trus mereka tertarik memberi pekerjaan ke aku. Alhamdulilah,” kata Irma. Irma mengaku sadar betul tentang ‘kekuatan’ medsos yang luar biasa. Sebut saja soal promosi. Medsos kini menjadi salah satu alat yang ampuh untuk promosi berbagai karyanya. “Aku bisa posting single terbaru juga perkembangannya setelah diluncurkan. Di sana juga bisa posting video klip. Aku kasih link Youtube-nya biar follower bisa langsung mengakses,” kata Irma yang sudah dua bulan ini meluncurkan single terbarunya berjudul ‘Jokut’ (Jomblo Akut) yang merupakan karya sendiri. “Dua bulan meluncur, hasilnya lumayan. Sekarang berada di chart pertama pada hampir semua radio di Indonesia. Nah salah satu media yang

aku pakai promo ya lewat medsos ini. Aku kerap mendapat mention ”selamat karena menjadi ‘jawara’ pekan ini”,” kata wanita cantik ini. Sadar akan kekuatan medsos ini juga membuat Irma Management membentuk tim tersendiri yang khusus menangani ‘kampanye’ di medsos terkait kegiatan-kegiatan Irma juga karya-karyanya. Sedang di luar itu, Irma sendiri aktif mengelola akun-akunnya, yang juga bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, hobinya, dll. “Aku punya beberapa akun yang aku kelola sendiri. Kalau akun yang aku kelola sendiri pakai nama pribadi, sedang akun tim pasti pakai embel-embel ‘management atau official’ di belakang nama aku. Hanya saja untuk akun Facebook terpaksa aku tambah irma darmawangsa real lantaran akun sebelumnya di hack orang,” paparnya. Perempuan kelahiran Jakarta 1983 ini menuturkan, bukan cuma cerita manis yang didapatnya dari medsos tapi juga pengalaman menyedihkan. Menurutnya, medsos bukan saja membawa keuntungan tapi juga sempat membuatnya sakit hati. “Orang begitu bebas mengutarakan pendapatnya, baik itu kritik maupun caci maki bahkan dengan kata-kata yang paling kasar sekalipun. Saya pernah mengalaminya di awal-awal menggunakan medsos beberapa ta-

hun lalu. Saya kaget, jengkel dan sakit hati. Orang begitu mudah men-judge orang lain, mengata-ngatai, ibaratnya orangtua saya sendiri pun tidak pernah mengata-ngatai sekasar itu. Saya sakit hati dan nangis. Sempat terpikir untuk menghapus akun saya. Dulu karena kesal saya balas komen-komen kasar itu. Kemudian banyak nasihat baik dari keluarga, teman-teman, untuk tidak memperdulikan hal-hal semacam itu. Itu adalah konsekuensi public figure dan saya harus tenang menghadapinya. Malah sebaliknya saya harus berpikir positif dalam menghadapi hater-hater itu. Jadi sekarang seiring waktu, saya mulai ‘kebal’ dan tidak terlalu ambil peduli hal-hal semacam itu. Saya anggap saja para hater itu adalah fans sejati saya. Iya dong, wong mereka sangat perhatian pada saya sampai hal kecil-kecil yang ibaratnya saya nggak tahu, mereka tahu...ahhahahaha... jadi ya sudah, sekarang bagi saya ucapan-ucapan haters itu saya bawa enjoy aja, nggak usah galau,” katanya sembari tertawa. BISNIS ONLINE Agar tidak di-bully, dia berupaya menjaga kata maupun sikapnya, termasuk materi-materi yang di-posting yang telah diseleksinya. Irma tidak mau memancing perhatian orang dengan mem-posting hal-hal negatif karena menurutnya banyak hal positif yang bisa di-posting yang juga menarik perhatian orang. “Seperti kebanyakan artis, aku posting hal-hal standar saja, hal-hal positif tentang kegiatan aku, tentang keseharian, dll, yang tidak terlalu memancing orang untuk berkomen negatif,” katanya seraya mengakui bahwa ada juga artis yang memang sengaja menampilkan hal-hal tertentu yang mengundang perhatian. “Bagi aku ya bebas-bebas aja, nggak mau ikut campur. Karena semuanya tergantung pada pribadi masing-masing orang. Mungkin orang yang posting hal-hal begitu memiliki target tertentu atau apa, aku nggak tahu. Biar saja, yang penting tidak

saling mengganggu saja,” katanya. Seperti artis lain, Irma pun menggunakan medsos bukan hanya untuk penunjang kariernya di dunia tarik suara tapi juga berbisnis kecil-kecilan. “Iya kadang-kadang aku buka ‘lapak’ kecil-kecilan. Aku pasang produk. Aku kan punya banyak

–Diana Runtu

Irma Darmawangsa

Trik Hadapi Pembeli Iseng Sudah bukan rahasia lagi bahwa pengguna internet di Indonesia semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Internet telah memberi solusi berbagai masalah jarak dan waktu dalam berinteraksi antar sesama manusia apapun tujuannya. Hal tersebut juga disampaikan oleh Luh Rena Lesia Dewi.

S

aat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial (medsos) pun ikut tumbuh dengan pesat. Jejaring sosial merupakan situs di mana setiap orang bisa

membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Salah satu jejaring sosial terbesar adalah Facebook. “Paling sering itu pakai F FB dan BBM,” ujar Rena panggilan akrabnya. Ia juga mengatakan bahwa menggunakan media sosial sangat besar manfaatnya. “Bisa say hello dengan teman-teman yang jauh,” imbuhnya. Media sosial juga digunakan sebagai tempat meng-

gali informasi tentang pekerjaan. “Cari informasi tentang kerjaan lebih mudah karena sudah ikut grup,” tambah Rena. Grup yang dimaksud adalah kumpulan orang yang siap berbagi informasi masalah peluang kerja sehingga mempermudah seseorang yang ingin mencari pekerjaan. Selain memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi, wanita kelahiran 13 Januari itu juga memanfaatkan media sosial utamanya FB sebagai lahan bisnis. “Melalui media sosial saya bisa

Ingelina Aprilliawati

mempromosikan bisnis juga,” tambah istri dari Ketut Suarjaya itu. Memilih FB sebagai salah satu media untuk bisnis dikarenakan jumlah penggunanya lebih besar dibandingkan media sosial yang lain. Ia mengaku jika penggunaan media sosial dalam menawarkan bisnis sangat besar manfaatnya. “Salah satu keuntungan yang didapat, ya bertambahnya omzet per bulan,” lanjutnya. Menyediakan aplikasi yang tidak sulit, ia dapat men-share informasi bisnis yang dimiliki untuk orang lain tanpa batas. Namun ia juga mengatakan bahwa pemesanan secara online akan membuat lebih ribet pengiriman dan packing. Ibunda dari Luh Devika Putri Yuningsih dan Kadek Gavin Satya Nararya juga tidak menyangkal, selain memiliki keuntungan yang luar biasa penggunaan medsos juga dapat menimbulkan kerugian. “Kadang-kadang kalau

lagi promosi malah ada akun lain yang ikutan nimbrug buat promosi juga,” ungkap Rena. Berteman dengan banyak orang yang belum tentu dikenal dalam jejaring sosial tentu membuat ia harus waspada dan lebih hati-hati. Dalam menjalankan bisnis di medsos Rena memiliki trik khusus untuk menghadapi pembeli yang cuma “iseng”. “Transfer dulu uangnya kalau barang kosong uang akan dikembalikan,”sarannya. Hal ini untuk mengantisipasi pembeli yang tidak bertanggung jawab. Banyaknya hal yang di share di jejaring sosial baik itu yang bermanfaat sampai yang membuat risih membuat Rena lebih berhati-hati dalam memilih maupun menerima pertemanan. “Kalau konfirmasi pertemanan harus pilih-pilih dulu,” tambahnya. Para pengguna FB juga dianjurkan untuk lebih bijak menggunakan medsos. -Wiwin

19

Dari Pendidikan ke Otomotif

Berpaling dari asisten dosen (asdos) ke bidang otomotif karena kesukaannya berkomunikasi. Itulah Ingelina Aprilliawati yang bekerja di Honda Surabaya Center (HSC) sebagai Chief Of Marketing Communication. Perempuan yang akrab disapa Inge ini memiliki passion di dunia otomotif.

“B

kapanLagi.com

Pesatnya kemajuan teknologi informasi yang kemudian dikuti maraknya media sosial dianggap sebagai ‘berkah’ bagi mereka yang bergelut di dunia entertainment. Di kalangan artis misalnya, teknologi informasi benar-benar bukan saja dijadikan alat penunjang karier mereka di dunia hiburan tapi memberi mereka kesempatan untuk lebih mengembangkan diri bahkan merambah ke bidang lain, misalnya dunia bisnis. Banyak artis memiliki akun medsos bahkan lebih dari dua.

vendor produk yang mau mengeluarkan biaya (membayar) jika kita posting produknya. Jadi aku dapat income juga dari sana,” tutur Irma yang belum berpikir untuk membuka toko online. “Aku belum mikir soal membangun toko online karena itu berarti kan aku harus fokus ke sana. Sementara sekarang ini aku masih fokus pada karier menyanyi,” katanya.

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

agi saya bidang otomotif ini dinamis, terus berkembang. Karena itu saya suka, apalagi merek ternama dan banyak hal yang membuat saya suka,” ujar perempuan kelahiran Malang, 18 April 1990 ini. Tidak hanya itu, bertemu banyak orang dan setiap hari silih berganti membuatnya betah. Mengerti konsumen, cara memperlakukan mereka seperti apa. Bukan hanya sekadar ingin lalu mereka beli. Disini terjadi komunikasi, itulah yang Inge cari. “Bukan hanya itu, kebetulan saya juga menangani pelati-

kurang paham. Namun, lambat tahun terus mempelajarinya. Tetapi, sebenarnya pekerjaan utama bukan hal itu, pekerjaan utama saya adalah bagaimana berkomunikasi dengan konsumen, rekan kerja, dan korporat,” jelas alumnus Universitas Brawijaya jurusan Komunikasi Bisnis ini. Karena itulah, ia menikmati

pekerjaannya. Padalah sebelumnya, perempuan berparas cantik ini menggeluti bidang pendidikan dengan menjadi asisten dosen. “Sebenarnya sama saja, apalagi saat ini sudah sesuai dengan bidang saya. Intinya pekerjaan yang berhubungan dengan komunikasi, bidang apapun sangat menyenangkan,” tegasnya. -Diyah Khoirunnisa

Ingelina Aprilliawati

han karyawan. Bagaimana cara menghadapi konsumen, berkomunikasi, dan cara bekerja serta hubungan baik dengan pihak luar,” ujarnya. Disitulah, ia menjadi menyukai dunia otomotif, komunikasinya sangat menyenangkan karena kedinamisannya bidang otomotif. Bisa dikatakan, tidak membosankan. Apalagi kini, otomotif roda empat bukan hanya menjadi kendaraan untuk mengantar konsumen ke mana saja. “Sekarang menjadi lifestyle

customer. Gaya hidup mereka dilihat dari kendaraan yang mereka pakai. Bahkan, beberapa dari mereka juga menjadikan mobil sebagai investasi. Mobil sekarang sudah bergeser fungsi,” katanya. Disitu juga, perusahaan otomotif berusaha memberikan informasi mobil yang ia beli bukan hanya sebagai kendaraan. “Saya juga ikut andil dalam hal itu,” ungkapnya. “Kalau untuk produk dan mesin-mesinnya, awalnya saya

Meimura Tampilkan “Lingkaran”dan “Satu Cinta” Sejak bergabung dengan Teater Ragil Surabaya pada 1982, Meimura terus menghasilkan karya. Pada 1983, ia terbang ke Malaysia untuk memperdalam ilmu teater. “Kuman”, “Monolog Lingkaran”, “Monolog Satu Cinta”, dan “Masyarakat Rosa” adalah sebagian dari banyak karya yang telah dihasilkannya. Tak hanya mementaskan monolog dan pementasan teater lainnya, Meimura juga ber-

partisipasi pada drama kolosal ‘Surabaya Membara’ yang digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November. Ia menjadi konseptor dan sutradara pada pertunjukan itu tiga kali berturut-turut sejak 2012 hingga 2015. Tahun 2016 ini, Meimura akan mengadakan pentas keliling untuk dua naskah monolognya yang berjudul “Lingkaran” dan “Satu Cinta”. Pertujukan keliling pertama digelar di kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan dua pertunjukan sekaligus, Pertunjukan pertama “Lingkaran” yang menceritakan Siti telah mati berkali-kali. Ia lahir dari buruh tani. Sehari-hari mengais sisa padi. Di penampungan TKI bagai dalam terali, di tempat kerjanya menghadapi hukuman mati. Siti telah mati berkali-kali di tanah airnya sendiri, di tempatnya bekerja, dan di meja peradilan. Siti-Siti itu telah mati berkali-kali meski lahir di antara gemuruh, kepahlawanan, dan televisi. Pertunjukan “Satu Cinta” menceritakan bumi ini, tanah ini, telah mencatat berkali-kali tentang cinta dan pengkhianatan antara kau, aku, dan Tuhan. - Dona


Life

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Wayan Kulit Nagasepeha

Setia Menjaga Tradisi Wayang kulit merupakan kerajinan yang dibuat secara turun menurun khas desa Nagasepeha, Buleleng. Namun, saat ini pembuat wayang kulit di desa Nagasepeha sudah semakin berkurang. Hal ini disampaikan oleh Nyoman Widiarsini.

B

erawal dari sang kakek yang sudah menekuni profesi sebagai pengrajin wayang kulit kemudian menurun ke anak-anaknya. Salah satunya adalah ayah dari Widiarsini. “Dari kecil aya sudah lihat bapak dan ibu buat wayang, akhirnya satu keluarga bisa buat wayang,” ujar wanita berkulit hitam manis tersebut. Karena kesulitan pemasaran dan makin berkurangnya penghasilan membuat jumlah

pengrajin wayang kulit makin berkurang. “Paman saya contoh orang yang beralih ke usaha lain,” tambahnya. Penghasilan yang tidak menentu sering dirasakan wanita yang beralamat di Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepeha ini. “Untuk pengecekan baru bisa dilakukan setelah sebulan. Itupun kadang ramai kadang sepi,” ujarnya. Ditengah beralihnya masyarakat sebagai pengrajin wayang kulit, keluarga Mang Widi hingga saat ini masih tetap bertahan. “Ini kan termasuk tradisi, kalau semua beralih profesi gak ada yang melesta r i k a n d o n g, ” ungkapnya. Pada umumnya wayang kulit terbuat dari kulit sapi yang diperoleh dari tukang potong. “Beli kulitnya dari daerah Singaraja saja,” ujar wanita kelahiran 15 Juni tersebut. Kulit sapi yang dipilih adalah yang sudah tua karena jika sapi gemuk Wayang dari kulit kambing maka kulitnya akan

Wayang dari kulit sapi

banyak mengandung lemak. “Jika banyak lemak akan mempersulit proses pewarnaan,” ungkap Mang Widi. Proses pengolahannya pun masih sangat tradisional dan digarap secara langsung oleh Mang Widi dan keluarganya. “Biasanya beli yang masih mentah, yang baru dipotong,” imbuhnya. Setelah dibersihkan lalu dijemur 2-3 hari jika musim tidak lagi hujan. Proses selanjutnya adalah pembersihan dengan cara dicuci. Normalnya wayang kulit dijual dengang kisaran harga Rp 400 ribu namun jika ukuran lebih besar maka harganya juga lebih mahal. Ditanya soal pemasaran, Mang Widi mengaku hanya memasarkan di rumah saja. “Banyak wisatawan asing yang datang ke sini, mungkin karena sudah tahu kalau di sini daerah

pembuat wayang,” tambahnya. Peminat wayang kulit lebih banyak dibandingkan wayang kaca, hal ini dikarenakan mudah dibawa ketimbang wayang kaca yang mudah pecah. “Dari segi spiritual juga banyak yang nyari, untuk dalang maupun dipakai di kamar suci,” lanjut Mang Widi. Selain itu ada juga yang membeli untuk digunakan sebagai bahan penelitian dan koleksi pribadi. Beberapa kali pernah mengikuti Nyoman Widiarsini menunjukkan pola wayang dari kulit kambing pameran, membuat

Duwika S.

Buat Masyarakat Penasaran

Duwika

Mengikuti sebuah perlombaan menyanyi adalah jalan awal penyanyi asal Buleleng ini melebarkan sayap di dunia hiburan.

Meraih juara 3 sekaligus juara favorit dengan kategori penampilan terbaik membuat Kadek Duwika S. bergabung dalam Narayana Production. “Saya menyanyikan dua lagu. Satu lagu ciptaan sendiri Sayong Wanagiri dan Memori Lovina,” ungkap pria kelahiran 8 September ini. Tidak berhenti sampai di sana, Duwika sapaan akrabnya kembali menggarap album kedua dalam album kompilasi masih bersama Narayana Production. Dalam album tersebut Duwika juga menyanyikan dua buah lagu dengan judul Tusing Sombong dan Sepi. “Album ketiga masih bergabung dalam Narayana Production juga menyanyikan dua lagu, Care Bagus dan Pondok Medinding Bedeg,” tambahnya. Tahun 2009 pria kelahiran Padangbulia ini sempat vakum

dari dunia tarik suara, karena ia harus menyelesaikan pendidikannya. Lulusan ekonomi manajemen di Universitas Panji Sakti tahun 2013 ini siap kembali menggebrak dunia hiburan khususnya lagu Bali. Setelah menamatkan S2 tahun 2016, Duwika menyiapkan kejutan kecil bagi penggemar lagu pop Bali untuk melanjutkan kiprahnya dalam dunia tarik suara. “Saya sudah siapkan dua lagu baru, satu lagu duet dan satu lagu solo,” imbuhnya. Ia juga mengaku jika dalam album tersebut sebagai bintang tamu dan mengenai judul lagu hingga produser masih sangat dirahasiakan. “Untuk judulnya ditunggu saja,” tambah pria yang menamatkan pendidikan S2 di Undiknas Denpasar tersebut. Untuk mempromosikan lagulagunya, Duwika mengaku langsung membawa CD audio ke

Mang Widi dan keluarganya makin giat untuk mempertahan kerajinan khas Desa Nagasepeha ini. “Sudah beberapa kali ikut pameran seperti di Bulfest dan Lovina Festival,” kata wanita lima bersaudara ini. Bergabung dalam APIK (Asosiasi Pengrajin Industri Kecil) membuat ia tidak pernah ketinggalan informasi. “APIK sudah berdiri lama tetapi sempat vakun, namun sejak Bulfest bangkit kembali,” jelasnya. Masih ingin tetap melestarikan kerajinan wayang kulit, Mang Widi mengaku bahwa sang kakak berinovasi membuat kerajinan wayang kulit menggunakan kulit kambing. Proses pembuatan yang hampir sama hanya saja dari segi bentuk dan tampilan yang berbeda sehingga lebih menarik minat yang pembeli. “Kalau dari segi harga, jelas kulit kambing lebih mahal,” ujarnya. Harga yang ditawarkan untuk wayang dari kulit kambing mencapai Rp 5 juta. -Wiwin

radio-radio bahkan juga mempromosikan dalam bentuk jinglejingle. Selain itu anak dari pasangan Gede Lingga dan Nyoman Jepun itu pun kerap kali mengisi acara-acara seperti ulang tahun muda-mudi hingga acara-acara yang diadakan oleh Pemkab. Buleleng. Jika penyanyi lain ingin segera menggarap klip video untuk lagu yang dinyanyikan, berbeda akan halnya dengan Duwika. Pria yang saat ini berprofesi sebagai asisten dosen di Unipas ini justru tidak ingin dikenal secara visual. “Saya sengaja tidak membuat dalam bentuk klip video karena tidak ingin dikenal di media,” ungkapnya. Tujuan Duwika adalah agar ketika dia manggung ke luar daerah masyarakat yang hanya mengenal lewat audio mempunyai rasa penasaran. “Kalau mereka

(masyarakat) langsung diperkenalkan lewat televisi, maka tidak akan penasaran lagi. Tapi kalau tidak maka mereka akan datang ketika saya manggung,” imbuhnya. Sebagai penyanyi asal Bali Utara, Duwika ingin penyanyipenyanyi lain tetap fokus dalam berkarya. Musisi dari Buleleng juga diingatkan harus memiliki ciri khas sendiri. “Jangan meniru gaya orang lain. Gunakan apa yang dimiliki baik itu dari segi bahasa maupun musik,” himbaunya. Duwika juga menyarakan agar menjadi penyanyi yang apa adanya. “Jangan mengada-ada yang sudah ada,” lanjut Duwika. Ke depan ia berencana akan membuat album solo untuk tetap eksis di dunia tarik suara. Keinginannnya yang begitu besar untuk memajukan permusikan di Buleleng juga mendorong Duwika untuk mendirikan sebuah peguyuban artis-artis Buleleng. “Semua penyanyi di Buleleng akan kami rekrut dan buatkan wadah sehingga jika ada acara tidak perlu mendatangkan artis dari luar dulu,” ujarnya. -Wiwin

Story

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

7

Seminggu “Dilebihkan” Jadi Sebulan Wajah Arya (55), pucat pasi. Terhuyung-huyung ia turun dari sepeda motor. Ia nyaris jatuh karena tubuhnya menggigil akibat sakit yang tengah menderanya. Di ruang tamu bibinya, Arya menangis kala menceritakan kisahnya ditinggal istri dan anakanaknya sejak sebulan yang lalu. Sembari sesegukan, Arya yang di masa mudanya bertubuh atletis dan tampan ini, membaringkan tubuh lemasnya di sofa tempatnya duduk.

B

ibi dan keponakannya memandanginya tanpa banyak bicara. Mereka terlihat seperti bosan mendengarkan curhat Arya yang tidak pernah ada ujungnya. “Kalau ada masalah Arya pasti ke sini mengeluh,” kata bibinya. Setelah beberapa lama beristirahat, Arya mulai menceritakan bahwa sejak sebulan yang lalu ia sakit dan ditinggal oleh istri dan anak-anaknya. Di mata Arya sungguh tega mereka menelantarkan ia yang tengah sakit. “Untung ada tetangga yang memberi saya makan tiap hari,” katanya memperlihatkan wajah sedih. Ketika cerita demi cerita diungkapkan Arya, bibi dan keponakannya lebih terlihat acuh. Lama bicara sendiri, Arya lalu memilih tidur. Di sanalah kisah sesungguhnya terungkap dari bibir keriput bibinya yang sudah berusia 70 tahun itu. Arya lahir sebagak anak lakilaki satu-satunya dari keluarga berada yang tinggal di Lombok. Ia menjadi anak bungsu dari 4 bersaudara. Sejak kecil hidupnya

berkecukupan dengan limpahan kasih sayang yang terfokus padanya sehingga membuatnya menjadi sangat manja. “Semua permintaan Arya selalu dituruti oleh ayah dan ibunya. Dia menjadi prioritas dalam keluarganya,” kata bibinya yang sejak Arya kecil tinggal bersama keluarga Arya. Inilah yang membuat bibinya ini sangat mengenal karakter dan sifat Arya. Segala fasilitas ia punyai. Ia bahkan menempuh pendidikan di universitas bergengsi di Pulau Jawa. “Tapi sekolahnya tidak selesai, malah pulang bawa masalah,” katanya. Dua bulan pulang ke Lombok tanpa gelar sarjana, seorang perempuan hamil mendatangi Arya untuk minta tanggung jawab menikahinya. “Luar biasa malunya orang tua Arya waktu itu. Apalagi orang tua Arya bukan orang biasa melainkan orang yang dihormati di kampungnya,” ujar bibi Arya. Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau Arya kemudian menikahi perempuan yang tengah hamil enam bulan itu karena

Ilustrasi: net

perempuan itu tidak mau kembali ke Jawa akibat diusir oleh orang tuanya setelah diketahui ia hamil tak memiliki suami. Pernikahan tidak membuat Arya menjadi baik. Ia malah lebih asyik ke tempat-tempat hiburan hingga terlibat dengan dunia narkoba. Arya juga adalah suami yang ringan tangan pada istrinya. “Istrinya seringkali dipukuli sampai membekas terutama kalau dia sedang mabuk,” katanya. Tiap hari rumah tangga Arya dan istrinya ribut oleh teriakan pertengkaran. Sampai akhirnya istrinya tidak lagi kuat menanggung hidup bersamanya. “Saat anak mereka berusia satu tahun, istri Arya minta cerai dan pulang ke kampung halamannya,” lanjutnya.

Ilustrasi: net

18

HIDUP TANPA PEKERJAAN Bukannya merasa bersalah, tingkahnya malah menjadi-jadi. Hidup foya-foya dan tak sedikit pun ia memperlihatkan tanggung jawab pada anaknya yang jauh di seberang. Ia seperti lupa. Waktu berjalan membuat harta benda orang tuanya sudah tidak mampu lagi menopang kehidupan Arya, hingga akhirnya jatuh bangkrut. Arya mulai merasakan hidup miskin tanpa pekerjaan pula. Beruntung bagi Arya, karena ketampanannya seorang perempuan terpikat padanya. Tak lama kemudian mereka menikah. Istri Arya adalah seorang pekerja keras. Ia banyak menghabiskan waktu untuk mengurus keluarga dan berjualan nasi keliling. “Istrinya baik dan rajin sekali mencari rezeki,” ujar bibinya yang kagum pada ketabahan dan kesabaran perempuan ini menghadapi Arya. Dialah yang akhirnya membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Sedangkan Arya sama sekali tidak bekerja. Ia lebih banyak jalan ke sana kemari mengobrol politik yang tidak jelas. Kekasarannya juga belum hilang. “Bukannya berterima kasih pada istrinya dia malah sering memukuli istrinya bahkan sampai biru-biru bekasnya,” tambahnya. Maka bibi dan keponakan Arya tidak terlalu peduli ketika istrinya meninggalkan dirinya. Karena peristiwa itu sudah berkali-kali terjadi. Bibinya memahami jika istrinya melakukan itu. Ia sendiri tidak bisa mem-

bayangkan hidup bersama orang seperti Arya. Apa yang dikisahkan Arya tentang istrinya sudah sebulan meninggalkannya dalam keadaan sakit, juga tidak sepenuhnya dipercayai oleh bibinya. “Palingpaling istrinya dia pukuli dan tidak mungkin sudah sebulan ditinggalkan,” ujarnya. Benar saja, saat bibinya menelepon anak Arya untuk memintanya menjemput Arya, cerita sesungguhnya terungkap. Bahkan anak-anaknya pun menyetujui ketika ibunya meninggalkan ayahnya ini. “Kami bosan, juga kasian lihat mama selalu dipukuli papa, biarkan saja sementara ini mama di sini,” kata anak Arya di ujung telepon. Istrinya rupanya meninggalkan rumah dan tinggal bersama anak sulung mereka. Menurut anaknya, ibunya tidak pernah meninggalkan rumah sudah sebulan, melainkan baru seminggu. Arya diberi makan bukan oleh tetangganya melainkan anakanaknyalah yang mengantarkan makanan. Istri Arya adalah sosok yang luar biasa, makanan yang diantar oleh anak-anaknya itu, ia masak sendiri. “Tapi mama melarang kami untuk bilang pada papa kalau makanan itu dimasak sendiri oleh mama,” kata anaknya. Entah kapan Arya akan berubah, bibinya berharap agar ia kembali menjemput istrinya. “Jika papa mau jemput mama, kali ini papa harus berjanji untuk tidak memukuli mama lagi,” pesan anaknya yang meminta bibi Arya untuk menyampaikan hal tersebut kepada Arya. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Punya Akun Medsos

karena Ibu di Luar Negeri Anak-anak sekarang termasuk melek teknologi. Mereka sudah ada yang memiliki akun media sosial. Made Pradnyana dan Nyoman Dika ­Juliawan contohnya. “Saya punya Line, Whats App dan Face­book dari kelas 5 SD,” ungkap Pradnyana yang kini kelas 6 SD.

I

a mengaku awalnya ingin mengetahui media sosial itu seperti apa serta ingin mencari tugas sekolah. “Saya membuat media sosial berawal dari saat itu memang saya sengaja karena untuk berkomunikasi sama ibu saya yang ada di luar negeri. Ibu saya bekerja di luar negeri menjadi tenaga kerja indonesia. Jadi saya membuat akun media sosial biar gampang saya berkomunikasi setiap hari. Bapak saya juga tahu kalau saya mempunyai media sosial,” ujar bocah kelahiran 11 April 2003 ini. Dulunya Pradnyana ke warnet untuk membuka FB. Tetapi, setelah dibelikan ponsel cerdas oleh ayahnya, ia lebih sering mengaskes dari rumah. Ia pun bisa saling member kabar dengan ibunya dan sesekali membuka Youtube untuk menonton musik dan film kartun “Dulu sebelum punya ponsel, ayah saya kadang ikut mengantar ke warnet. Bapak takut kalau saya membuka situs-situs yang tidak pantas untuk ditonton. Bapak selalu memantau saya apa saja yang dilakukan,” ujar bocah yang gemar memancing ini.

Sementara itu Dika mengaku punya FB sejak kelas 3 SD. Saat itu iseng-iseng saja diajak ke warnet sama teman-teman. Awalnya hanya mengantar teman tetapi setelah pertama masuk, ia tertarik dan menyuruh teman untuk membuatkan akun FB. “Saya dibuatkan email dulu untuk mendaftar di FB. Klo anak SD mendaftar tidak bisa karena umur masih di bawah umur. Makanya diakali. Setelah mempunyai FB dari situ saya langsung mencari teman-teman, semua saya add mungkin orang yang saya kenal,” ungkap 11 Juli 2005 ini. Dika mengaku lebih punya teman dari berbagai kalangan. Teman-temannya biasa diajak main game online. “Ternyata sangat menyenangkan main game online, makanya pulang sekolah saya sering langsung ke warnet main game sembari buka FB,” ujarnya sembari mengaku bilang ke orangtuanya kalau dia ke warnet untuk buat tugas. Orangtuanya sempat marah karena ia sering ke warnet. Akun FB Dika pun diblok. Sebagai gantinya, ia dibelikan tablet yang murah untuk bermain game dan tidak keluyuran setelah pulang

Anak-anak perlu bersosialisasi

Dika

Pradnyana

sekolah. Memiliki anak yang sudah bisa menggunakan gadget dan memiliki akun medsos membuat orangtua harus memberi perhatian lebih. Di satu sisi, gadget dan medsos bisa membuat anak betah di rumah. Orangtua tak perlu khawatir anaknya keluyuran. Namun, asyik sendiri bisa membuat anak kehilangan kehidupan sosial.

perhatikan, anak bisa kehilangan kontak sosial dan kontak dengan lingkungan kalau hanya bermain gadget. Lama-lama waktu belajar bisa digunakan untuk main gadget. Walaupun tidak bisa dimungkiri, gadget sebagai bagian dari teknologi mampu membantu kelancaran tugas mereka,” ungkapnya. Untuk meminimalkan dampak negatif dari penggunaan gadget, Sudiarta membuat aturan untuk anaknya. Main gadget hanya diperbolehkan Sabtu dan Minggu. “Awalnya anak-anak merasa keberatan, tetapi saya harus tegas.

SABTU DAN MINGGU Putu Sudiarta, praktisi IT mengaku dirinya sempat galau ketika melihat buah hatinya sibuk bermain gadget. “Setelah saya

Akhirnya mereka mengerti dan mematuhi aturan tersebut,” tegas Sudiarta. Pengaturan waktu untuk bermain gadget ini mendapat tanggapan positif dari Sad Yuli Prihartati, S.Psi., Psikolog. “Saya pun menerapkan aturan penggunaan gadget hanya pada Sabtu dan Minggu atau hari libur. Jangan sampai anak menjadi kecanduan gadget,” ujarnya. Ia mengakui fenomena media social mengikuti perkembangan teknologi dan ada sisi positif serta negatifnya. Sisi positifnya, anak menjadi lebih mudah berkomunikasi, termasuk dengan orangtua walaupun jarak terpisah jauh. Namun, sisi negatifnya, kecanduan gadget bisa menjauhkan yang dekat karena anak sibuk sendiri dengan dunianya sehingga lupa dengan orang yang ada di sekeliliungnya. Kadang, untuk diajak bicara pun tidak ada kontak mata. “Orangtua merupakan model bagi anak. Beri pemahaman kepada anak, kapan saatnya mengunakan gadget. Kalau orangtua harus menggunakan gadget termasuk media social untuk pekerjaan, jelaskan kepada anak. Hal yang tak kalah penting adalah melihat skala prioritas. Kapan saatnya pakai gadget dan kapan harus menaruh gadget,” tegas perngurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini. Kelekatan anak dan orangtua menjadi syarat utama agar kedua pihak saling memahami. JIka harus memberikan gadget untuk anak, harus ada mode anak agar si anak terpagari dari situs-situs yang tidak pantas. –Rukanta/Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

yang mati tidak hidup lagi

Mula-mula Tuhan berpikir, segala yang diciptakan harus berakhir dengan kematian. Itulah sebabnya, tumbuh-tumbuhan dan hewan, mengalami lahir, berkembang, tua, lalu mati. Namun setelah menMade Taro ciptakan manusia, Tuhan berubah pikiran. Ia amat sayang kepada manusia. Ia tidak ingin ciptaan barunya itu punah. Oleh karena itu Tuhan berkehendak agar manusia yang mati hidup kembali. Pikiran baru itu harus secepatnya sampai ke bumi, tempat tinggal manusia. Ia memanggil burung bunglon, yakni burung yang selalu berbicara jujur dan hati-hati. Ia percaya burung yang satu itu pasti dapat menyampaikan pesan seutuhnya. “Bunglon! Sampaikan pesanku kepada manusia, bahwa manusia mati hanya beberapa saat, kemudian hidup kembali.” Burung yang jujur itu segera terbang. Dalam perjalanan jauh, ia berkali-kali istirahat. Di tempat istirahat, ia selalu berubah pikiran. Ia sempat memikirkan nasib pohon bambu yang meliuk-liuk menahan tiupan angin kencang. Kalau hinggap di pohon beringin, ia berpikir mengapa pohon itu tinggi besar dan berumur panjang. Ketika bunglon menerima pesan Tuhan, tidak diketahuinya, di balik dinding bertengger seekor

burung manyar. Burung itu terkenal karena terbangnya yang cepat, tetapi suka berbohong. Ia mendengar dengan jelas semua pesan Tuhan yang harus disampaikan oleh bunglon. Beberapa saat setelah bunglon terbang, burung manyar itu bersujud di depan Tuhan seraya mohon izin untuk bepergian. Setelah tiba di bumi, burung bunglon minta kepada semua manusia untuk berkumpul. Di depan kerumunan manusia itu ia berkata, “Ada pesan dari Tuhan, bahwa ….” Burung itu meraba-raba kepalanya untuk mengingat pesan Tuhan. “Ada pesan dari Tuhan, bahwa ….” Pada saat mengingat-ingat itulah, tiba-tiba muncul burung manyar. Burung itu segera menyambung pesan Tuhan itu. Katanya, ….. “Setelah manusia mati, maka ia tidak dapat hidup kembali.” “Tidak, tidak, tidak!” seru burung bunglon. Aku harus berkata jujur. Setelah manusia mati, maka ia hidup kembali.” Manusia yang mendengarkan pesan berbedabeda itu ribut dan bingung. Tiba-tiba terdengar kicauan seekor burung murai yang hinggap di sebuah ranting pohon suar. Burung yang pandai bicara itu berteriak keras-keras. “Wahai, Manusia! Kau tidak usah bingung! Bukankah kalian sudah mengenal kata bijak, “Apa yang dikatakan pertama, itulah kebenaran.” “Memang sudah nasib manusia. Ia juga tidak luput dari hukum Tuhan: lahir, hidup, dewasa, tua, lalu mati.” Demikian omelan burung bunglon yang merasa tidak sempat berkata jujur.

Griya

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

17

Tanaman Gantung

Solusi Atasi Keterbatasan Lahan

Berkebun dan bercocok tanam, disebut-sebut sebagai salah satu cara untuk meringankan stres. Benarkah? Sebuah penelitian di Washington State University, Amerika Serikat, menemukan bahwa berkebun bisa meningkatkan respons relaksasi dalam otak yang membuat beban pikiran berkurang. Jika ingin membuktikannya, Anda bisa mencobanya sendiri di rumah. Selain itu, banyaknya tanaman juga membuat lingkungan sekitar Anda menjadi bersih, hijau dan sejuk, yang juga baik untuk kesehatan secara keseluruhan.

J

ika tak cukup memiliki lahan atau ruangan untuk menanam berbagai jenis tanaman hias, tanaman hias gantung bisa menjadi alternatif untuk tetap bisa mempercantik rumah Anda. Dengan merawat dan menanamnya dalam pot, maka Anda tak perlu kagi menyiapkan lahan khusus bahkan tanaman pot ini cenderung mudah dipindahpindahkan ke sudut-sudut yang Anda inginkan, sehingga suasana rumah menjadi tidak monoton dan tentunya menjadi lebih berwarna dengan keberadaan tanaman hias gantung. Ini tak lain karena tanaman hias gantung memiliki berbagai macam variasi warna dan bentuk. Ada tanaman hias berbunga, ada pula yang menonjolkan keindahan daunnya. Salah satu tanaman bunga hias gantung yang kini banyak tersedia di pasaran adalah bunga vinca pink dan vin-

ca putih. Saat kelopak bunganya mengembang sungguh sangat memesona. Bunganya pun tidak gampang layu. Bahkan semakin panas cuaca di lokasi menanam, bunganya akan semakin banyak bermekaran. Menurut Putu Novia, salah seorang karyawati di stan Lestari Orchid di kawasan Jakan Hayam Wuruk, Denpasar, bunga-bunga ini nantinya akan menjadi biji yang sangat mudah disemai dan menjadi tanaman baru. Bunga ini juga bisa diperbanyak dengan stek batang. “Perawatannya pun cukup mudah, cukup disiram pagi-sore dan dipupuk tiap dua minggu. Agar bunganya lebat, bisa dilakukan pemangkasan tajuk tanaman,” ujarnya. Selain vinca, di stan bunga ini juga ada tanaman cabe hias yang disilangkan dengan terong. Hasilnya cukup unik, dengan tampilan warna yang menarik. Cabe muda berwarna hijau,

kemudian berwarna ungu, dan ketika matang berwarna merah. Menurut Putu Novia, rasa cabe ini tidak terlalu pedas

seperti cabe pada umumnya. Tanaman hias gantung lain yang bisa menjadi pilihan, samblung. Pengembangbiakannya pun san-

gat mudah, dengan stek batang. Khusus untuk tanaman jenis ini, tidak boleh kekurangan air. –Inten Indrawati


16

Edukasi

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

STPBI-SPB

Kualitas tetap Menjadi Prioritas Siap Buka S-1 dan S-2 Ilmu Pariwisata

Sesuai visi dan misi, menjadikan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) sebagai lembaga pendidikan berwawasan internasional ke depan, maka mahasiswa diberikan kesempatan training di hotel-hotel yang berjaringan internasional. “STPBI telah lima tahun ini bekerja sama dengan International Training Network (ITN) AS,” ujar Ketua STPBI-SPB, Made Sudjana,SE.,MM.,CHT.,CHA., saat ditemui tokoh pekan lalu.

I

a menambahkan, satu-satunya lembaga pendidikan yang dipercaya bekerja sama dengan ITN hanya ­STPBI. “Permintaan mahasiswa ­training cukup ba­nyak ke AS. Permintaan dari AS 600 orang per tahun. Sekarang kami baru bisa menyalurkan 400 orang per tahun. Kami kewa­l ahan dan mencoba menggandeng beberapa sekolah pariwisata di Bali dan luar Bali. Harapan kami, agar lebih ba­nyak orang Indonesia yang bisa training di AS,” kata Sudjana. Ia berharap, dengan me­ ngirim mahasiswa training di AS, mereka akan siap bekerja dimana saja, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Selain dengan Amerika Se­ri­ kat, ­STPBI-SPB juga be­kerja sama dengan beberapa instansi terkait baik hotel maupun lembaga pendi­dikan dan pelatihan di Australia. “Mereka sanggup menjadi jembatan, mencarikan sekolah atau pendidikan yang lebih tinggi di Australia sekaligus mencarikan pekerjaan. Ini peluang yang luar biasa, se­ hingga di samping bisa bekerja, mahasiswa bisa melanjutkan kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, mahasiswa bisa membiayai dirinya sendiri,” kata Sudjana. Ia tak menampik, untuk meningkatkan SDM mahasiswa, tentu SDM para do­ sen harus terus ditingkatkan. Apalagi, ke depan, para dosen diharuskan bergelar S-3, karena itu, STPBI terus memacu semangat para dosen melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 dan S-3, dan di­biayai dari kampus. Ia mengatakan, STPBI-SPB bekerja sama dengan lembaga pendidikan IMI di Swiss. Kerja sama ini dalam rangka meningkatkan kemampuan akademik para dosen STPBI. “Saat ini, sudah ada satu orang yang menamatkan program masternya, sementara, satu orang lagi sedang menempuh

pendidikan di Swiss,” imbuh Sudjana. Selain didorong melanjutkan pendidikan, para do­ sen selama liburan semester, dikirim ke industri untuk mengadakan orientasi. “Hal ini bertujuan, agar para dosen dapat menambah keterampilan­ nya, dan melihat perkembang­ an di industri,” ucapnya. Untuk urusan mutu lembaga, juga tetap digencarkan. STPBI-SPB telah diakreditasi secara nasional oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan secara internasional oleh L’loyds Register dengan memperoleh sertifikat ISO 9001-2008. STPBI memiliki program D-IV Manajemen Perhotelan, D-IV Manajamen Pariwisata, dan D-III Manajamen perhotelan. “Yang lebih menggembirakan lagi, tahun 2015 Direktorat Pendidikan Tinggi telah me­r angking seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dari 3.320 perguruan tinggi, STPBI berada di posisi 123 nasional. Dari 60 perguruan tinggi yang ada di Bali, STPBI mendu­ duki posisi nomor 6, setelah Universitas Mahasaraswasti, Undiksa, Unud, Undiknas, IKIP PGRI Bali. STPBI baru berusia 7 tahun, usia masih muda tapi sudah mencapai prestasi yang luar biasa,” kata Sudjana. Namun, ia tak mau berpuas diri, dan terus ingin meningkatkan prestasi. Tahun ini, STPBI sedang mengajukan untuk membuka Program S-1 Pariwisata dan S-2 Pariwisata yang khusus di bidang te­ rapan. “Semoga tahun ajaran baru 2016-2017, S-1 dan S-2 Pariwisata sudah bisa dibuka,” kata Sudjana. Selain memiliki lembaga pendidikan tinggi, kampus ya n g b e r n a u n g d i b awa h Ya y a s a n D h a r m a W i d y a ­Ula­ngun ini, juga membuka lembaga pelatihan Sekolah Per­hotelan Bali ( SPB), yang izinnya di bawah Departemen Tenaga Kerja Provinsi Bali.

Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd, CHT., CHA.

SPB memiliki Program Kapal Pesiar 1 dan 2 tahun (Waiter, Bartending, Cook, Hotel Steward). Program regular untuk 1 tahun (F&B Service, Food Production, Housekeeping) dan 2 tahun (F&B Service, Food Production, dan Room Division). Program Sekretaris (1 dan 2 tahun), Program Guiding ( 1 dan 2 tahun). Program SPB Maritime Training Center, Program SPB Airline Training Center, dan SPB SPA Training Center. Menurut Sudjana, sampai saat ini, lulusan STPBI dan SPB, sudah mencapai lebih dari 10 ribu. SPB berdiri tahun 2000 dan STPBI berdiri tahun 2008. Menurut Sudjana, penyerapan sudah merata di industri baik di Indonesia daSementara, bagi yang belum bekerja, mereka tidak perlu khawatir karena akan disalurkan lewat PT Bali Duta Mandiri,” ujarrnya. Menurut Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun, ­­Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd, CHT., CHA., den ga n moto “quality is our prime ­concern”, semua pendidikan harus mengacu pada kualitas. “Yayasan ber­usaha memberi yang terbaik dari segi fasilitas dan kelengkapan, sehingga proses pembelajaran akan nyaman bagi mahasiswa sehingga output-nya diharapkan lulus­ an yang memiliki kompetensi berkualitas tinggi,” ujar Astina. SIAP SAMBUT MEA Saat ini, kata Astina, STPBISPB telah menjadi sekolah perhotelan yang favorit. Ini terbukti dari pelamar yang cukup membludak tiap tahun. “Kami hanya bisa menerima 1.200 tiap tahun. Asal maha­s iswa juga merata hampir dari seluruh Indonesia,” kata Astina.

Made Sudjana,SE.,MM.,CHT.,CHA.

Astina menambahkan, yayasan telah memiliki Per­ usahaan Penggerak Tenaga Kerja Indonesia Swasta, yang bernama PT Bali Duta Mandiri yang bertugas menyalurkan lulusan untuk bekerja di Indonesia maupun di luar negeri. “Kami tidak hanya mendidik, tapi juga mencarikan lulusan pekerjaan. Bagi yang tidak mampu, begitu mereka ke luar negeri atau akan berangkat kapal pesiar, kami bantu juga dengan dana koperasi, sehingga sa­ ngat tepat sekali jika sistem pendidikan di STPBI-SPB, disebut one stop learning,” kata Astina. Menurut Astina, dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), STPBI-SPB tidak takut. Justru, dengan pengalaman mahasiswa tiap tahun training di AS, dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, keterampilan berkelas dunia, mereka siap menyerbu negara lain. Rencana ke depan, kata Sudjana menambahkan, ­S TPBI-SPB akan membuka sekolah di Banyuwangi. Belum lama ini, kata Sudjana, pihak yayasan dan manajemen sudah melakukan pertemuan dengan Bupati Banyuwangi untuk membicarakan kerja sama pendidikan ke depan. Menurutnya, kondisi Banyuwangi yang sudah siap mene­r ima pariwisata, membutuhkan banyak SDM yang profesional, sehingga merupakan peluang yang baik bagi STPBI-SPB untuk mengembangkan diri di sana.

“Cita-cita saya, Bali sebagai pusat pendidikan pariwisata dunia. Apalagi, nama Bali sudah terkenal. STP Nusa Dua Bali sebagai sekolah pemerintah, harus menjadi leader, di bawahnya diikuti sekolah swasta yang tak kalah juga kualitasnya. Se­ hingga nantinya, bisa dibuat seperti summer course di AS. Ini memang prosesnya jauh, tapi harus mengarah ke sana. Generasi muda yang kami siapkan dulu, terutama SDM dosennya harus berkualitas,” ujar Sudjana. Ia mengatakan bangga ka­ rena STPBI sudah menjadi anggota Asia Pasific Council on Hotel, Restaurant and Institutional Education (Asia Pasific CHRIE). Asosiasi ini m e r u p a ka n p e rku m p u l a n para peneliti dan pengajar bidang perhotelan seluruh dunia. Setiap tahun asosiasi ini meng­adakan konfe­rensi internasional. Untuk tahun 2016 akan diadakan ke Bangkok. STPBI-SPB siap ikut berpartisipasi mengirimkan peserta dan mengirim beberapa paper para dosen. Di tahun 2017, STPBI ditunjuk sebagai tuan rumah konferensi yang rencananya akan diadakan di Hotel Sofitel. “Tahun lalu saat konferensi di Aukland, yang hadir dari Indonesia hanya STPBI, padahal banyak sekolah pariwisata ada di Indonesia. Saya berharap, mudah-mudahan saat komperensi di Bali, banyak paper yang dihasilkan dari Indonesia. Ini adalah salah satu rencana kami, mengawal ilmu pariwisata,” kata Sudjana. -ast

SEKOLAH PERHOTELAN BALI (SPB) SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BALI INTERNASIONAL (STPBI) Jalan Tari Kecak No. 12 Gatot Subroto Timur Telepon (0361) 426699, 426700 Faksmile ( 0361) 427800

Dara

9

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

Asyiknya Hasilkan Uang Sendiri

Bisnis online bisa ditekuni siapa saja termasuk mahasiswa dan pelajar. Banyak manfaat yang bisa diraih. Novi Mariyantini dan Ni Putu Murniasih berbagi pengalamannya.

N

ovi yang kuliah di Universitas Udayana Jurusan Ekonomi dan Bisnis semester 4 sudah menjalan bisnis online sejak seklas 1 SMA. Modal awalnya Rp 300 ribu. “Teman yang ngajak. Saya awalnya tidak mau karena menurut saya ribet. Tetapi, karena terus dibujuk, akhirnya saya mau. Hitung-hitung untuk mengisi waktu luang,” ujar warga Desa Sumita, Gianyar ini. Penghasilan bersih yang bisa ia raih antara Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta. Perempuan yang hobi jalanjalan ini menjual baju fashion khususnya buat wanita seperti baju, celana, rok, dress, jumpshuit, dll. Suka duka pun dialaminya. “Kalau dukanya, banyak orang

yang sudah bilang barang mau beli tapi sesudah barangnya datang mereka kabur nggak mau tanggung jawab, nggak mau ngambil barangnya. Kadang ada juga yang konplin ke saya bilang barangnya robek padahal sebelumya sudah saya cek barangnya tidak apaapa. Kadang juga ada yang bilang kalau saya penipu baru, bilangnya barang belum datang padahal barangnya lambat dalam pengiriman ke rumah yang order. Kalau sukanya ya saya bisa kuliah dengan hasil jerih payah saya sendiri, dan sisa bisa saya tabung buat keperluan saya biyar tidak ngerepotin orang tua lagi,” ungkapnya. Kalau ada yang pesan barang lewat BBM dan FB, ia langsung meneruskan ke pusat. Tetapi, kadang karena kurang detail

Tetap Eksis tanpa Media Sosial Tidak semua orang memiliki akun media sosial. Ponsel yang dimiliki hanya untuk menelepon dan SMS, itu sudah cukup. Hal ini diungkapkan Made Sulitiawati. Perempuan kelahiran 29 April ini mengaku tidak harus punya akun media sosial agar bisa eksis. Warga Dusun Kawan Desa Patemon, Seririt, Buleleng yang masih kuliah di STKIP tetap merasa nyaman walau tidak menggunakan media social. “Saya tidak mempunyai akun media sosial, buang waktu saja kalau mempunya akun sosial media soalnya bayak yang saya kerjakan,” ujarnya. I a mengaku malas membuat akun karena malas mempelajarinya

lebih baik waktunya untuk berjualan dupa sama kain-kain. “Saya sudah biasa tidak berkecimpung di dunia maya. Saya lebih senang menjajakan barang langsung ke rumah teman atau saudara. Lebih baik berdagang karena lebih seru dan ada tantangan,” kata Sulitiawati. Untuk urusan kuliah dan tugas kampus, ia tidak mau ambil ribet. Ia langsung mencari dosennya dan selama ini selalu dimudahkan dan tidak dimarah dosennya. Ketika ada acara kampus dan banyak teman berwefie dan selfie, Sulitiawati suka sekali berfoto. “Kadang teman-teman yang sama saya foto, dia yang mengunggah ke media sosial. Saya juga mempunyai rasa takut mempunyai akun media sosial, banyak berita saya dengarkan korban-korban perkosaan dan penipuan, makanya saya jadi malas,” ungkapnya. Kadang ia mengaku kesulitan kalau saya tidak mempunya akun media social, tetapi ia bersyukur punya teman-teman yang baik bisa memberikan informasi lewat SMS jadi saya tidak terlewatkan informasi di kampus “Saya cuma tahu nelepon dan SMS aja jadi itu cukup buat saya. Nomor ponsel saya juga tidak ganti dari dulu jadi teman-teman dan saudara tetap gampang menghubungi saya,” tegas Sulitiawati. -Vijay

menanyakan alamat pemesan, Novi jadi rugi. Pernah juga barang sudah dikirim tetapi uang belum ditransfer. “Saya tidak kapok, Saya ikhlaskan saja barang saya tidak dibayar, karena saya yakin rezeki tidak akan kemana. Mungkin saat itu saya rugi tapi saya yakin di lain waktu saya mendapatkan yang lebih dari itu,” ujarnya seraya mengatakan pelanggannya kebanyakan dari Kota Gianyar, Ubud, Sukawati, Guwang, dan Denpasar. Ia mengaku orangtuanya sangat senang dan merasa bangga karena dari awal kuliah tidak membebankan mereka dan sudah bisa hidup mandiri dari sisi keuangan. Pengalaman Murniasih hampir mirip dengan Novi. Ia berjualan baju kaos untuk wanita dan pria, dress, celana jeans untuk wanita, baju couple, lipstik, anting, dom-

pet, tas, dan kemeja. Modal awalnya Rp 500 ribu, pinjaman dari Ibu. “Selain sekolah, saya mengajar nari untuk anak-anak. Tahun lalu, saya mencoba bisnis online,” ujar siswi kelas 2 SMAN 1 Susut, Bangli ini. Alasannya menekuni bisnis online karena ingin membantu orangtua untuk membiayai sekolah. Selain itu menurutnya bisnis ini gampang dijalankan dan dimana saja bisa dikerjakan. Dari bisnisnya ini, Murniasih bisa meraup Rp 600 ribu. Pelanggan dari daerah Bangli saja. “Sukanya saya bisa menambah uang jajan dari hasil jerih payah kita sendiri tanpa minta lagi sama orangtua, terus saya juga punya tabungan lumayan buat nanti saya kuliah. Kalau dukanya ya itu kadang ada yang mesen barang diambil tapi bayarnya belakangan. Waktu saya nagih nggak dikasi, katanya

Ni Putu Murniasih

besok-besok, akhirnya saya biarin saja. Saya dibilang nipu barangnya katanya tidak sesuai dengan yang difoto, terus pernah juga dimaki pelanggan karena barangnya telat datang,” ungkapnya. Orangtua pun setuju ia menekuni bisnis ini. “Rugi dikit adalah awal dari keuntungan yang saya dapat nanti, katanya itu awal kesuksesan yang akan saya dapat nanti tapi dengan catatan tidak cepat menyerah selalu berdoa dan berusaha,” tegasnya. -Juniantari

Sarana Komunikasi dengan Masyarakat Beberapa hari lalu Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh) Provinsi Nusa Tenggara Barat, baru saja tiba dari perjalanan lapangannya berkunjung hingga ke pelosokpelosok desa di wilayah NTB. Hari itu, begitu sampai di wilayah perkotaan, Eni, sapaan akrabnya langsung memosting foto-foto bersama para petani dan penyuluh di Lunyuk Kabupaten Sumbawa melalui media sosial miliknya. Lunyuk adalah wilayah bagian selatan dari Kabupaten Sumbawa yang terbilang jauh dari kelancaran akses termasuk komunikasi yang menggunakan internet. “Maaf saya baru sampai dari Lunyuk, di sana tidak ada sinyal,” ungkapnya. Sebagai seorang birokrat, Eni termasuk aktif dalam menggunakan media sosial. Bagi perempuan yang aktif turun lapangan ini, media sosial sangat membantunya dalam berkomunikasi dan memberi semangat bagi para penyuluh di yang ada di seluruh NTB yang tidak setiap waktu bisa ditemuinya. Gambar dan status yang kerap dipostingnyalah yang menjadi media baginya untuk menginformasikan kegiatan penyuluhan sekaligus sebagai tempat berbagi info. “Media sosial sangat berguna buat saya karena itu merupakan bagi saya untuk berkomunikasi dan memberi semangat ke para penyuluh di NTB. Selain itu media sosial adalah tempat untuk kami menginformasikan kegiatan sekaligus berbagi infomasi dari hal yang sederhana hingga hal penting lainnya,” ungkapnya. Begitu pula dengan Drs. H. Lalu Gita Aryadi, yang merasakan benar manfaat dari media sosial. Birokrat yang pernah sukses sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat dan kini sebagai Asisten II Setda. NTB ini, menjadikan

Dra. Hj. Putu Selly Andayani dan Ir. Husnanidyati Nurdin bersama rekan-rekan pejabat dan birokrat di Mataram

media sosial sebagai pendukung kelancaran tugasnya. Meski tidak menjadikan media sosial sebagai keasyikan yang mengganggu aktivitasnya sebagai birokrat, Gita Aryadi terlihat cukup lancar berkomunikasi dan bersilaturrahmi dengan berbagai kalangan. Baginya, media sosial bermanfaat untuk jika dipakai dan disikapi dengan cara yang bijaksana. Selain sebagai tempatnya berkomunikasi dan berkoordinsi, media sosial dipandang edukatif karena banyak sumber informasi dan ilmu yang terselip dalam setiap aktivitas bermedia sosial ini. Dan yang tak kalah pentingnya, media sosial tempat bercanda dan relaksasi dari ketegangan berfikir dalam kesibukan bekerja. “Media sosial bisa dipkai untuk berkoardinasi dalam dukung kelancaran tugas. Selain itu, tempat untuk berkomunikasi untuk menjaga sillaturrahmi, juga ada nilai edukatif karena di sela-sela aktivitas media sosial selalu ada sumber ilmu dan informasi sehingga dapat menambah wawasan. Juga sifatnya rekreatif sebagai media bercanda dan relaksasi dari ketegangan berfikir,” katanya. Tidak kalah pentingnya me-

dia sosial bagi Hj. Putu Selly Andayani, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Nusa Tenggara Barat. Selly menyikapi media sosial miliknya dengan bijaksana sehingga ia menggunakannya sesuai dengn kebutuhannya terutama untuk tugasn-tugasnya. Sosialisasi program-program Dispenda yang memang harus banyak berkomunikasi dengan masyarakat ini, sebagian dilakukannya melalui media sosial. Media sosial bagi Selly yang mantan Penjabat Walikota Mataram beberapa waktu lalu ini, memberikan manfaat yang baik bagi ia maupun instansi yang dipimpinnya. “Media sosial sangat bermanfaat sekali. Media sosial dapat dipakai sebagai alat komunikasi guna penyebaran informasi seperti sosialisasi program kegiatan Dispenda,” ujarnya. Tiga birokrat yang aktif bermedia sosial ini, memandang dan memakai media sosial dengan bijaksana. Kesadaran untuk bijakasana dan santun dalam menggunakan media sosial diyakini dapat memberikan manfaat yang diperlukan bagi tugas-tugas yang mereka emban saat ini. -Naniek I. Taufan


10

Kreasi

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Kreativitas tanpa Batas Bersama Garuda Ting Ting

Ratusan ibu-ibu PKK Kota Denpasar meng­ikuti pelatihan kreasi berbahan utama bungkus Ting Ting Garuda, Jumat (18/3) di Gedung Wanita Santi Graha, Denpasar.

A

cara yang merupakan kerja sama T ­ okoh, T i m Pe n g g e r a k Kota Denpasar, dan ­Garudafood ini, menghadirkan dua narasumber yakni I Wayan Sumatra dari Pokja III PKK Kota Denpasar dan Catur dari PPLH Bali. Regional Head PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) Bali Nusra, Arif Pujianto, mengatakan produk Ting Ting ini diproduksi Garudafood.

PT SNS bertugas mendistribusikan produk Garudafood termasuk Ting Ting Garuda. Ia mengatakan, PT SNS, selain sebagai perusahaan berbasis spiritual company, juga mendukung inisiatif Walikota merespons sampah di Kota Denpasar. Produk Ting Ting Garuda, contohnya, bungkusnya bisa diolah kembali menjadi barang tepat guna bagi masyarakat. Memang, ia tak me-

Penandatanganan MoU antara Tabloid Tokoh, PKK Kota Denpasar, dan Garudafood

Dari kiri: Pemimpin Umum Tabloid Tokoh Gde Palgunadi, Regional Sales and Promotion Garudafood Bali Nusra Ida Bagus Asta Wibawa, TP PKK Denpasar ­­Ida Ayu Selly D. Mantra, Regional Head PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) Bali Nusra Arif Pujianto, dan Ny. Rai Iswara

nampik, diperlukan pelatihan agar menjadi berkesinambungan. “Ka­ rena itu, kami mengajak Tokoh dan PKK Kota Denpasar untuk bekerja sama,” katanya. Arif menegaskan, Ting Ting ini bukan permen bukan biskuit. “Kalau sudah tahu permen, biasanya para ibu mengatakan tidak cocok untuk anak-anak. Tapi produk ini, camilan kacang sehingga cukup aman dikonsumsi anak-anak kita. PT SNS sendiri dalam setiap melakukan persembahyangan, pasti menggunakan Ting Ting Garuda. Kami di kantor ngomongnya Ting Ting Banten,” ujarnya. Ida Bagus Asta Wibawa, se-

Tamiang Kreasi Tamiang sudah familiar bagi umat Hindu di Bali. Selain untuk sarana persembahyangan, bisa juga untuk hiasan. Kali ini, tamiang akan dibuat dari bahan bungkus Garuda Ting Ting, untuk hiasan dinding. Menurut I Wayan Sumatra dari Pokja III, PKK Kota Denpasar, bahan utama tamiang dari daun lontar, gabus, dan bungkus Ting Ting. Untuk menempelkan bahan-bahan, bisa memakai jarum dan streples. Sebelumnya, kulit Ting Ting dibentuk sesuai kreasi, kemudian distreples agar tak jatuh. Tamiang ini, bisa saja ditambahkan dengan bunga hidup, agar terlihat manis dan bagus. Selain untuk tamiang kreasi, kulit Ting Ting bisa juga, dimanfaatkan sebagai barang-barang yang lain, seperti tas, dompet, taplak, dll. Teknik pembuatan produk daur ulang, ini diajarkan Catur dari PPLH Bali. Ni Luh Putu Sri Utari, Sekretaris TP PKK Denpasar sebagai koordinator acara berharap, para ibu-ibu PKK yang datang dalam sosialisasi Garuda Ting Ting, dapat menyosialisasikan camilan Garuda Ting Ting ke wilayahnya masing-masing. “Camilan

laku Regional Sales and Promotion ­Garudafood Bali Nusra menambahkan, acara pelatihan tersebut, sebagai upaya positif dalam rangka mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna, dan me­ningkatkan kreativitas ibu-ibu PKK Denpasar.

Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ida Ayu Selly D. Mantra menyambut baik acara pelatihan yang digelar Tokoh dan Garudafood. Menurutnya, untuk memajukan kota Denpasar sebagai “Kota Kreatif”, perlu dukungan dari pihak luar. Salah satunya, PT SNS yang menyalurkan produk Garudafood. Selly D. Mantra menyatakan sangat bangga bisa bekerja sama dengan Tokoh. “Dengan kerja sama ini, kegiatan PKK Kota Denpasar yang bermanfaat bisa dipublikasikan dan diketahui masyarakat Bali,” ujarnya. Sebelum pelatihan dimulai, dilaksanakan penandatangan MoU antara Ida Ayu Selly D. Mantra sebagai TP PKK Denpasar, Ida Bagus Asta Wibawa, selaku Regional Sales and Promotion Garudafood Bali Nusra, dan Gde Palgunadi sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Tokoh. –Wirati Astiti

Ibu-ibu PKK antusias belajar membuat kreasi dari bungkus Ting Ting Garuda

Ibu- ibu PKK Kota Denpasar yang meng­ ikuti pelatihan tamiang kreasi berasal dari 4 ­kecamatan. Kecamatan Denpasar Utara: - Kelompok 1: Desa Pemecutan Kaja, Desa Ubung Kaja, dan Desa Dauh Puri Kaja. - Kelompok 2: Kelurahan Peguyangan, Desa Peguyangan Kaja, dan Desa Peguyangan Kangin. - Kelompok 3: - Kelurahan Tonja, Desa Dangin Puri Kaja, Desa Dangin Puri Kauh, dan Desa Dangin Puri Kangin. Kecamatan Denpasar Barat: ini bisa dipakai untuk banten sehari-hari. Ibu-ibu bisa mulai sekarang, mengubah prilaku, apa yang kita makan, itu yang kita persembahkan sebagai sarana banten. Kalau pakai Ting Ting, tahan lama, dan tidak menyebabkan anak-anak batuk,” kata Sri Utari yang juga istri Camat Denpasar Timur ini. –Wirati Astiti

- Kelompok 1: Kelurahan Dauh Puri, Desa Dauh Puri Kangin, Desa Dauh Puri kauh, dan Desa Dauh Puri Kelod. - Kelompok 2: Kelurahan Pemecutan, Desa Tegal Kerta, dan Desa Tegal Harum. - Kelompok 3: Kelurahan Padangsambian, Desa Padangsambian Kaja, Desa Padangsambian Kelod, Desa Pemecutan Kelod. Kecamatan Denpasar Timur: - Kelompok 1: Kelurahan Kesiman, Kesiman Kertalangu - Kelompok 2: Kelurahan Sumerta, Desa Sumerta kauh. - Kelompok 3: Kelurahan Dangin Puri, Desa Dangin Puri Kelod, dan Desa Kesiman Petilan. Kecamatan Denpasar Selatan: - Kelompok 1: Desa Sanur Kaja, Kelurahan Sanur, dan Desa Sanur Kauh. - Kelompok 2: Kelurahan Renon, Kelurahan Panjer, dan kelurahan Sidakarya.

Ibu-ibu PKK antusias belajar membuat kreasi dari bungkus Ting Ting Garuda

- Kelompok 3: Kelurahan Serangan, Kelurahan Pedungan, Kelurahan Sesetan, dan Kelurahan Pemogan.

Style

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Gaya Fashion Street Pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW) adalahsalah satu even besar dunia mode Indonesia. Selain ramai selalu berkesan. Seperti acara yang berlangsung belum lama ini di JCC, Jakarta. Betapa di ajang ini kita bisa melihat berbagai atribut atau item fashion.

S

alah satu yang cukup menarik adalah melirik berbagai kreasi busana p e n g u n j u n g I F W. B e r b i c a r a masalah gaya fashion street, tidak lepas dari busana modis yang dikenakan para fashionista. Nampaknya, mereka sadar bahwa setiap langkah tentu ada mata yang akan melirik. Menurut Rhea Cempaka salah seorang disainer muda Kota Denpasar, dalam menghadiri berbagai acara termasuk ajang

mode seperti IFW, yang paling utama adalah tampil sesuai style kita masing-masing. Kemudian, paham bahwa gaya yang dikenakan memang terasa nyaman dan bisa jadi modal untuk tampil keren. Sebab, punya gaya busana sendiri bisa meningkatkan rasa percaya diri. Kali ini Tokoh berupaya merangkum beberapa ide gaya fashion jalanan atau fashion street) yang berkesan kasual, feminin maupun elegan dengan pesonanya masing-masing. – Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Bulu Mata Solusi Keindahan Mata

Bicara penampilan, umumnya tak dapat dipisahkan dengan perempuan. Salah satu yang menjadi penujang penampilan adalah kegiatan menjaga dan memperhatikan kecantikan. Ke­ tika inner beauty sudah tertata dengan baik maka tidak ada salahnya dilanjutkan dengan outer beauty.

K

ali ini Tokoh ingin membahas mata, sebagai salah satu bagian wajah yang cukup memegang peran untuk menjadikan penampilkan lebih menarik, segar dan ekpresif di berbagai kesempatan. Benar, mata yang indah adalah impian setiap perempuan. Namun, tidak semua orang dikarunia bentuk mata yang indah dan bersinar sesuai harapan. Yang pasti adalah setiap orang memiliki bentuk mata dengan karakteristiknya sendiri, apakah mata yang sipit, dalam ataupun terkesan agak turun. Agar mata bisa dikatakan sebagai jendela hati, ada cara untuk menjadikannya semua bentuk mata terlihat lebih indah serta sesuai pula dengan bentuk wajah. Salah satu penunjang kekuatan make up mata adalah melengkapinya dengan bulu mata palsu. Menurut Ni Made S. Suarmadewi Kader, S.T., pemilik

Pilih sesuai Keperluan Lebih lanjut Dewi mengakui jika saat ini salah satu penunjang keindahan dan mempercantik mata yang cukup banyak digunakan adalah bulu mata palsu. Dengan dilengkapi bulu mata palsu, mata perempuan akan terlihat lebih indah dan bersinar. Untuk cara emasangnya, katanya bisa dilakukan dengan beberapa trik sesuai dengan kebiasaan dan kemahiran tangan masingmasing MUA. Saat ini pula kata Dewi untuk panjang atau pendeknya dari bulu mata paslu semakin banyak pilihannya. Sebab, di dukung dengan kemajuan teknologi, ukuran bulu mata palsu pun semakin beragam, baik panjang –pendeknya maupun tebal dan tipisnya. Disamping itu, semakin banyak juga bulu mata palsu yang berkualitas, yakni terbuat dari bahan rambut asli. Begitu pula dengan lem yang digunakan untuk merekatkan. Selanjutnya, jika dalam setiap kegaiatan para

panjang atau pendeknya dari bulu mata paslu semakin banyak pilihannya. Sebab, di dukung de­ ngan kemajuan teknologi, ukuran bulu mata palsu pun semakin beragam, baik panjang –pendeknya maupun tebal dan tipisnya. Disamping itu, semakin banyak juga bulu mata palsu yang berkualitas, yakni terbuat dari bahan rambut asli.

www.gudangkesehatan.com

MUA, dilengkap dengan keterampilan cara memasang dan melepas yang benar maka kenyamanan dan keamanan di mata pun akan terjamin. Begitu pula mahir dalam memilik ukuran ketebalan dan panjangnya untuk disesuaikan dengan wajah dan mata pemakai termasuk waktu dipakainya. Kalaupun ingin lebih istimewa, misalnya untuk acara gala dinner, maka pada bulu mata palsu pun yang sudah dipasang dapat ditambahkan dengan polesan maskara. Sedangkan, bagi perempuan yang sudah memiliki bulu mata panjang, lanjut Dewi biasanya cukup dibantu dengan menggunakan penjepit bulu mata dan dilengkapi polesan maskara. Sebaliknya, bagi pemilik bulu mata yang pendek dan tipis, bisa memilih bulu mata palsu dengan ketebalan alami sehingga ketika di pasang tetap menonjolkan kesan natural, terutama untuk gaya penampilan keseharian. Dewi juga mengingatkan, agar tidak ada akibat buruk nantinya , seperti menjadika bulu mata yang asli menjadi cepat rontok, maka saat mengenakan, pastikan bula mata palsu menempel dengan baik. Begitu pula saat melepaskannya, dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak terjadi iritasi. – Sri Ardhini

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Polio tidak Miliki Gejala Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 2016 se­ rentak dilaksanakan tanggal 8-15 Maret 2016. Khusus untuk Provinsi Bali diadakan tanggal 15 s.d. 22 Maret 2016. Pemberian imunisasi polio dilaksanakan di posyandu, puskesmas, dan ru­ mah sakit serta pos pelayanan lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat.

P

Dadari Salon di Kota Denpasar, bahwa mengenakan atau memoleskan kosmetik di mata tidaklah mudah. Sebab jika salah polesan justru menjadikan kesan sebaliknya dari harapan. Begitu juga dengan melekatkan bulu mata palsu. Dewi juga menegaskan kalau menangani make up mata merupakan kegiatan yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi karena tergolong cukup sulit. Apalagi seseorang akan menilai hasil make up itu dikatakan sempurna atau justru sebaliknya kurang, tergantung kberhasilan dari efek polesan pada mata. Dikatakan oleh MUA (make up artis) yang namanya cukup berkibar di Bali ini, bagi mereka yang sudah memiliki mata mata indah, juga mesti dijaga dan lebih lagi ditonjolkan dengan bantuan make up yang tepat namun tidak berlebihan. Ni Made S. Suarmadewi Kader, S.T.

Bugar

IN adalah pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar. Seberapa bahayakah penyakit polio tersebut? Dosen pengajar di Bagian Mikro­biologi Klinik FK Unud, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., mengatakan, penyakit polio atau yang dikenal juga dengan poliomielitis adalah penyakit lumpuh pada tubuh yang disebabkan infeksi virus yang bernama poliovirus (PV). Kata polio berasal dari bahasa Yunani yang berarti abu-abu dan bercak. Penyakit polio ini lebih sering terjadi pada anak-anak ter­ utama anak balita berusia 3 sampai 5 tahun. Menurutnya, virus polio ini sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf yang sampai dapat menyebabkan kelumpuhan permanen bahkan kematian. Virus polio merupakan golongan virus RNA yang termasuk famili picornavirus dan genus enterovirus. Virus ini mempunyai sifat yang tahan pada pH 3-10, sehingga dapat tahan terhadap asam lambung dan empedu. Secara serologi virus polio dibagi 3 tipe yaitu virus polio Tipe 1,2 dan 3. Virus Polio Tipe 1 yang sering menimbulkan epidemi yang luas dan ganas, tipe 2 kadang-kadang menyebabkan kasus yang sporadik dan tipe 3 menyebabkan epidemi ringan. Ia mengatakan, polio menular melalui kontak antar manusia. “Sebagian besar penderita yang terinfeksi virus polio tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses atau cairan dari saluran cerna orang yang mengandung virus polio,” jelasnya. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus ke orang lain. Setelah virus polio ini masuk ke tubuh melalui mulut, dan terus berkembang biak dalam saluran pencernaan seperti pada tenggorokan dan usus, kemudian virus ini dapat memasuki aliran darah. Dari sana, kemudian menyebar melalui pembuluh darah dan cairan limfatik ke sistem saraf. Sampai di sistem saraf virus ini da-

pat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf sehingga menyebabkan melemahnya otot dan sampai kelumpuhan atau disebut paralisis. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari atau rata-rata 7-14 hari. Ia menambahkan, orang yang terinfeksi virus polio memang sebagian besar tidak menyebabkan kelumpuhan. Hanya, sebagian kecil yang dapat terjadi sampai kelumpuhan. Namun, walaupun kecil, kata dr. Agus, hal ini se­harusnya tidak boleh terjadi karena dapat menyebabkan kecacatan permanen seumur hidupnya bahkan kematian. “Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Virus polio merusak sistem saraf yang dapat menimbulkan kelumpuhan yang permanen, terutama pada anggota gerak yaitu kaki,” ujarnya. Penderita dapat juga meninggal apabila penderita mengalami kelumpuhan pada otot pernapasannya. Hal ini bisa terjadi bila ada kerusakan pada batang otak yang berperan dalam mengontrol pernapasan. Kerusak­a n daerah ini dapat menyebabkan kelumpuhan otot respirasi dan bahkan kematian. TERAPI FISIK Penderita polio di­ bagi menjadi tiga ke­ lom­p ok, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, dan sindrom pasca-polio. Polio nonparalisis adalah tipe polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejalanya tergolong ringan. Beberapa gejala yang sering dialami seperti demam, lemah otot, mual, kaki, tangan, leher, dan punggung terasa kaku dan sakit yang umumnya berlangsung antara satu hingga sepuluh hari. Polio paralisis adalah tipe polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Polio paralisis bisa dibagi berdasarkan bagian tubuh yang terjangkit, seperti batang otak, saraf tulang belakang,

dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked.

atau ke­duanya. Gejala awal polio paralisis sering kali sama dengan polio non-paralisis, seperti sakit kepala dan demam. Beberapa penderita polio para­ lisis bisa mengalami kelumpuh­an dengan sangat cepat setelah terinfeksi. Virus polio ini dapat menyerang sistem saraf pusat. ­“Virus yang menyerang sistem saraf motorik menyebabkan ke­rusakan dimana saraf motorik tidak memiliki kemampuan re­generasi dan otot yang berhubungan dengannya, tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat

sehingga menyebabkan alat gerak menjadi lemas, kehilangan refleks tubuh dan akhirnya menimbulkan kelumpuhan,” kata dr. Agus. Sindrom pasca-polio biasanya me­ nimpa orang-orang yang rata-rata 30-40 tahun sebelumnya pernah menderita penyakit polio. Gejala yang sering terjadi di antaranya sulit bernapas atau menelan, persendian atau otot makin lemah dan terasa sakit, gangguan tidur dengan kesulitan bernapas, mudah lelah dan massa otot tubuh menurun. “Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan polio jika virus polio sudah menjangkiti seseorang,” kata Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar ini. Namun, ia mengatakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai perawatan pendukung untuk mencegah komplikasi dan membuat penderita merasa lebih nyaman, seperti terapi fisik untuk mencegah hilangnya fungsi otot, obat pereda nyeri, dan alat bantu pernapasan jika diperlukan, ope­ rasi dan terapi fisik bisa dilakukan untuk mengatasi kelainan bentuk pada persendian. Magister Ilmu Kedokteran Tropis ini mengatakan, orangorang yang belum divaksinasi akan memiliki tingkat risiko terjangkit polio yang lebih tinggi jika, tinggal serumah dengan penderita polio, sistem kekebalan tubuh yang

11

menurun, mengunjungi tempat yang terjadi wabah polio, dan status gizi yang rendah. VAKSINASI UNTUK ORANG DEWASA Ia menyatakan, vaksinasi adalah cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit polio. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio pada masa depan. Terdapat dua jenis vaksin polio: vaksin polio oral (OPV) yang diberikan melalui mulut dan vaksin polio inaktivasi (IPV) yang diberikan melalui suntikan. Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter FK Unud ini me­ ngatakan, menurut jadwal imunisasi yang direkomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, anak-anak diharapkan diberikan vaksinasi polio yaitu pada saat lahir atau pada saat bayi dipulangkan harus diberikan vaksin polio oral. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 dan polio booster dapat diberikan vaksin OPV atau IPV masing-masing saat berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan antara 1,5 tahun sampai 2 tahun dan sebaik­nya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV. “Vaksinasi polio juga bisa diberikan kepada orang dewasa yaitu dua dosis pertama dengan jarak waktu antara 1-2 bulan, dan dosis ketiga antara 6-12 bulan setelah pemberian dosis kedua,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Germany dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. –Wirati Astiti


12

Kuliner

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Menikmati Kelezatan Bebek Goreng di Tengah Kebun dan Sawah

Kreasi Cokelat

Siapa tak kenal cokelat? Rasanya sangat manis dan menggoda untuk dimakan. Cokelat disukai tua dan muda. Aneka kreasi cokelat yang mengundang decak kagum, dipamerkan dalam ajang kontes masak, “Bali Salon Culinaire”, dua pekan lalu di Nusa Dua. Kreasi cokelat ini dihasilkan para chef profesional yang berlaga dalam kontes masak terbesar di Bali tersebut.

M

engolah cokelat leleh bukanlah hal yang mudah, diperlukan pengetahuan lengkap tentang cokelat termasuk kreativitas chef itu sendiri. Apalagi, dengan tingkat kesulitan yang tinggi, cokelat mampu disulap menjadi pajangan yang menuai pujian, seperti beberapa foto di bawah ini. Perlu Kreativitas Menurut chef Suama, seorang pakar dalam membuat kreasi cokelat, dalam mengolah cokelat suhu ruangan juga memegang peranan, sehingga para chef harus menguasai teknik badan dasar dari cokelat tersebut. Apalagi, untuk membuat motif. “Jika terlalu mudah beku, nanti motif tidak menyatu, begitu juga kalau cokelatnya kurang beku sehingga bisa-bisa

Chef Suama

motifnya nyampur, karena itu, kita harus tahu pilihan cokelat apa yang harus digunakan,” imbuhnya. Karena sifatnya yang mudah mencair dan rapuh, dalam meng­

olah cokelat, ia menyarankan, jangan terlalu sering bersentuhan dengan tangan. “Sebaiknya menggunakan alat dalam mengolah cokelat, jangan lupa gunakan sarung tangan,” kata Suama. Menurutnya, jenis cokelat ada dua, ada cokelat yang kadar butter­-nya tinggi sehingga makin cepat meleleh, dan ada cokelat yang kadar butter-nya lebih sedikit sehingga lebih mudah dibentuk. “Kalau untuk membuat filling sebaiknya memilih jenis cokelat couverture. Namun, orang lokal biasanya suka sekali memakai cokelat jenis compound karena rasanya lebih manis. Padahal, jenis couverture lebih bagus dipakai filling. Kalau untuk membuat kulit pilih cokelat jenis compound,” saran Suama. Walaupun sama-sama cokelat, cokelat compound dengan couverture sangat berbeda. Ini disebabkan karena bahan pembuatannya berbeda, karakteristik dan cara memperlakukannya juga berbeda. Bahan dasar pembuat cokelat adalah biji kako. Dari 100 gram biji kakao, bisa diperoleh sekitar 80 gram coco mass atau cocoa liquor yang berbentuk pasta. Sementara, sisinya 20 gram lagi berupa biji kakao atau bahan yang tak terpakai. Coco liquor kemudian diproses menjadi 40 gram coco butter dan 40 gram cocoa powder (cokelat bubuk). Kandungan inilah yang kemudian membedakan cokelat couverture dan cokelat compound. Cokelat couverture adalah campuran coco mass dan coco butter, sementara cokelat compound adalah kombinasi coco powder dan lemak nabati. Pada label cokelat

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

R

asa penat di siang hari, sa­ ngat terobati ketika tokoh bertandang ke Batuan Resto. Tempat makan yang berlokasi di Jalan Raya Batuan, Suka­w ati, Gianyar ini sangat hijau. Selain dipenuhi dengan taman yang indah, hamparan sawah menghijau menambah kenyamanan duduk sembari menikmati bebek goreng khas Batuan resto. Menurut Samsul Azhari, Restaurant & Event ­Ma­nager

Batuan Resto, restoran ini memang baru saja buka. Restoran ini memang dibuat sangat hijau karena di zaman sekarang sangat sulit menemukan tempat makan yang memberikan suasana kenyamanan dan ketenangan. Karena itu, Batuan Resto mencoba menawarkan konsep ini kepada masyarakat Bali. Saat masuk, Anda tentu tak akan me­ ngira, di dalam restoran tersedia tempat yang luas dan nyaman. Ada beberapa gazebo disiapkan, bagi yang suka bersantai. Ada juga beberapa meja dan kursi, yang bisa dipakai untuk makan sembari meeting. Kalau Anda lagi penat, berjalanlah keliling restoran. Hamparan sawah yang mengelilingi restoran akan menyegarkan pikiran Anda. Harga makanan sangat terjangkau. Untuk menu spesial, ada bebek goreng dan ayam bakar. Ada juga kangkung terasi yang menggoda selera. Aneka menu lain juga banyak, baik makanan Barat maupun Indonesia. “Jika Anda tak punya pilihan untuk makan siang atau makan malam, Batuan Resto bisa dijadikan pilihan.

13

Selain makanan yang enak, tempat yang hijau, di Batuan resto juga dapat digunakan sebagai tempat meeting atau pesta. Ada beberapa halaman luas yang bisa dijadikan pilihan untuk garden party atau outbond,” ujar Samsul. Ia menambahkan, ada harga spesial bagi rombongan bus yang makan di Batuan Resto. Mereka bisa menikmati jalan-jalan keliling resto, dan tentunya melihat hamparan sawah yang indah. Anda tak percaya? Cobalah datang, sekali datang, Anda pasti ingin kembali lagi menikmati keindahan dan kenyamanan di Batuan Resto. –Wirati Astiti

Selada Saus Kacang

Schotel Makaroni Kukus

couverture biasanya terdapat jumlah persentase kandungan cokelat. Jumlah ini menunjukkan campuran cocoa mass dan coco butter. Semakin banyak coco butter, semakin encer dan mahal cokelat tersebut. Sementara, semakin banyak cocoa mass, cokelat akan semakin pahit dan murah. Cokelat couverture memang lebih enak dibandingkan cokelat compound, namun,

ati

Nikm

cokelat couverture lebih cepat meleleh sehingga tak mudah dibawa kemana-mana. Cokelat compound lebih praktis sehingga lebih banyak digunakan di industri rumahan. Cokelat jenis ini juga lebih manis dibandingkan couverture karena kandungan gulanya lebih banyak. Biasanya dipakai sebagai cokelat hiasan. –Wirati Astiti

Chinesse Food

Hanya di...

Cafe Santai

& Aneka Es Taiwan

Gratis Tampin Spesial

Setiap pembelanjaan di atas Rp 100 ribu

Berlaku Mulai 1 s.d. 31 Maret 2016

Es Salju

Murah Meriah & Bersih

Soup Jagung

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan : 250 gr 4 butir 350 ml 1 sdm 1 sdm

: : : : :

Sarwan

1 sdm 50 gr 150 gr 500 ml

: margarin untuk menumis bumbu : keju parut chedar : kornet : air untuk merebus makaroni.

makaroni telur ayam susu cair irisan daun seledri irisan daun bawang

Bumbu 1 buah 3 siung 1 sdt

: : bawang bombai cincang halus : bawang putih cincang halus : lada bubuk

1 sdt : pala bubuk 1 sdt bubuk kering Garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat : - Rebus makaroni sampai matang lalu tiriskan. - Tumis irisan bawang bombai dan bawang putih bersama margarin sampai harum. Lalu masukkan bahan bumbu lainnya, aduk hingga matang, matikan api, lalu masukkan kornet, parutan keju dan susu cair. Masukkan rebusan makaroni, irisan daun seledri dan daun bawang, aduk-aduk hingga tercampur. - Masukkan telur, aduk-aduk hingga kocokan telur tercampur, lalu siapkan cetakan yang sudah diolesin margarin, masukkan adonan makaroni, ratakan, lalu kukus selama 20 menit. Siap dihidangkan.

Bahan : 1 buah : nanas kupas potong dadu 2 buah : apel potong dadu 3 butir : telur rebus, potong, pisahkan kuningnya 2 buah : mentimun buang bijinya, potong dadu 2 buah : tomat potong Daun seledri secukupnya Saus : 150 gr : selai kacang

3 1 1 5 3 2

butir sdm sdt sdm sdm sdm

: : : : : :

siap pakai kuning telur rebus gula gara saus sambal saus tomat air jeruk lemon

Cara Membuat : - Campur semua bahan jadi satu dalam mangkok besar, lalu masukkan dalam lemaris es selama 1 atau 2 jam.Campur selai kacang, kuning telur, saus sambal, saus tomat, air jeruk nipis, gula, dan garam. Aduk-aduk hingga tercampur rata, lalu masukkan saus ke dalam mangkok buah yang sudah dikeluarkan dari lemari es. Aduk-aduk hingga saus tercampur, siapkan tempat saji. - Siap disajikan selagi masih panas.


12

Kuliner

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Menikmati Kelezatan Bebek Goreng di Tengah Kebun dan Sawah

Kreasi Cokelat

Siapa tak kenal cokelat? Rasanya sangat manis dan menggoda untuk dimakan. Cokelat disukai tua dan muda. Aneka kreasi cokelat yang mengundang decak kagum, dipamerkan dalam ajang kontes masak, “Bali Salon Culinaire”, dua pekan lalu di Nusa Dua. Kreasi cokelat ini dihasilkan para chef profesional yang berlaga dalam kontes masak terbesar di Bali tersebut.

M

engolah cokelat leleh bukanlah hal yang mudah, diperlukan pengetahuan lengkap tentang cokelat termasuk kreativitas chef itu sendiri. Apalagi, dengan tingkat kesulitan yang tinggi, cokelat mampu disulap menjadi pajangan yang menuai pujian, seperti beberapa foto di bawah ini. Perlu Kreativitas Menurut chef Suama, seorang pakar dalam membuat kreasi cokelat, dalam mengolah cokelat suhu ruangan juga memegang peranan, sehingga para chef harus menguasai teknik badan dasar dari cokelat tersebut. Apalagi, untuk membuat motif. “Jika terlalu mudah beku, nanti motif tidak menyatu, begitu juga kalau cokelatnya kurang beku sehingga bisa-bisa

Chef Suama

motifnya nyampur, karena itu, kita harus tahu pilihan cokelat apa yang harus digunakan,” imbuhnya. Karena sifatnya yang mudah mencair dan rapuh, dalam meng­

olah cokelat, ia menyarankan, jangan terlalu sering bersentuhan dengan tangan. “Sebaiknya menggunakan alat dalam mengolah cokelat, jangan lupa gunakan sarung tangan,” kata Suama. Menurutnya, jenis cokelat ada dua, ada cokelat yang kadar butter­-nya tinggi sehingga makin cepat meleleh, dan ada cokelat yang kadar butter-nya lebih sedikit sehingga lebih mudah dibentuk. “Kalau untuk membuat filling sebaiknya memilih jenis cokelat couverture. Namun, orang lokal biasanya suka sekali memakai cokelat jenis compound karena rasanya lebih manis. Padahal, jenis couverture lebih bagus dipakai filling. Kalau untuk membuat kulit pilih cokelat jenis compound,” saran Suama. Walaupun sama-sama cokelat, cokelat compound dengan couverture sangat berbeda. Ini disebabkan karena bahan pembuatannya berbeda, karakteristik dan cara memperlakukannya juga berbeda. Bahan dasar pembuat cokelat adalah biji kako. Dari 100 gram biji kakao, bisa diperoleh sekitar 80 gram coco mass atau cocoa liquor yang berbentuk pasta. Sementara, sisinya 20 gram lagi berupa biji kakao atau bahan yang tak terpakai. Coco liquor kemudian diproses menjadi 40 gram coco butter dan 40 gram cocoa powder (cokelat bubuk). Kandungan inilah yang kemudian membedakan cokelat couverture dan cokelat compound. Cokelat couverture adalah campuran coco mass dan coco butter, sementara cokelat compound adalah kombinasi coco powder dan lemak nabati. Pada label cokelat

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

R

asa penat di siang hari, sa­ ngat terobati ketika tokoh bertandang ke Batuan Resto. Tempat makan yang berlokasi di Jalan Raya Batuan, Suka­w ati, Gianyar ini sangat hijau. Selain dipenuhi dengan taman yang indah, hamparan sawah menghijau menambah kenyamanan duduk sembari menikmati bebek goreng khas Batuan resto. Menurut Samsul Azhari, Restaurant & Event ­Ma­nager

Batuan Resto, restoran ini memang baru saja buka. Restoran ini memang dibuat sangat hijau karena di zaman sekarang sangat sulit menemukan tempat makan yang memberikan suasana kenyamanan dan ketenangan. Karena itu, Batuan Resto mencoba menawarkan konsep ini kepada masyarakat Bali. Saat masuk, Anda tentu tak akan me­ ngira, di dalam restoran tersedia tempat yang luas dan nyaman. Ada beberapa gazebo disiapkan, bagi yang suka bersantai. Ada juga beberapa meja dan kursi, yang bisa dipakai untuk makan sembari meeting. Kalau Anda lagi penat, berjalanlah keliling restoran. Hamparan sawah yang mengelilingi restoran akan menyegarkan pikiran Anda. Harga makanan sangat terjangkau. Untuk menu spesial, ada bebek goreng dan ayam bakar. Ada juga kangkung terasi yang menggoda selera. Aneka menu lain juga banyak, baik makanan Barat maupun Indonesia. “Jika Anda tak punya pilihan untuk makan siang atau makan malam, Batuan Resto bisa dijadikan pilihan.

13

Selain makanan yang enak, tempat yang hijau, di Batuan resto juga dapat digunakan sebagai tempat meeting atau pesta. Ada beberapa halaman luas yang bisa dijadikan pilihan untuk garden party atau outbond,” ujar Samsul. Ia menambahkan, ada harga spesial bagi rombongan bus yang makan di Batuan Resto. Mereka bisa menikmati jalan-jalan keliling resto, dan tentunya melihat hamparan sawah yang indah. Anda tak percaya? Cobalah datang, sekali datang, Anda pasti ingin kembali lagi menikmati keindahan dan kenyamanan di Batuan Resto. –Wirati Astiti

Selada Saus Kacang

Schotel Makaroni Kukus

couverture biasanya terdapat jumlah persentase kandungan cokelat. Jumlah ini menunjukkan campuran cocoa mass dan coco butter. Semakin banyak coco butter, semakin encer dan mahal cokelat tersebut. Sementara, semakin banyak cocoa mass, cokelat akan semakin pahit dan murah. Cokelat couverture memang lebih enak dibandingkan cokelat compound, namun,

ati

Nikm

cokelat couverture lebih cepat meleleh sehingga tak mudah dibawa kemana-mana. Cokelat compound lebih praktis sehingga lebih banyak digunakan di industri rumahan. Cokelat jenis ini juga lebih manis dibandingkan couverture karena kandungan gulanya lebih banyak. Biasanya dipakai sebagai cokelat hiasan. –Wirati Astiti

Chinesse Food

Hanya di...

Cafe Santai

& Aneka Es Taiwan

Gratis Tampin Spesial

Setiap pembelanjaan di atas Rp 100 ribu

Berlaku Mulai 1 s.d. 31 Maret 2016

Es Salju

Murah Meriah & Bersih

Soup Jagung

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan : 250 gr 4 butir 350 ml 1 sdm 1 sdm

: : : : :

Sarwan

1 sdm 50 gr 150 gr 500 ml

: margarin untuk menumis bumbu : keju parut chedar : kornet : air untuk merebus makaroni.

makaroni telur ayam susu cair irisan daun seledri irisan daun bawang

Bumbu 1 buah 3 siung 1 sdt

: : bawang bombai cincang halus : bawang putih cincang halus : lada bubuk

1 sdt : pala bubuk 1 sdt bubuk kering Garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat : - Rebus makaroni sampai matang lalu tiriskan. - Tumis irisan bawang bombai dan bawang putih bersama margarin sampai harum. Lalu masukkan bahan bumbu lainnya, aduk hingga matang, matikan api, lalu masukkan kornet, parutan keju dan susu cair. Masukkan rebusan makaroni, irisan daun seledri dan daun bawang, aduk-aduk hingga tercampur. - Masukkan telur, aduk-aduk hingga kocokan telur tercampur, lalu siapkan cetakan yang sudah diolesin margarin, masukkan adonan makaroni, ratakan, lalu kukus selama 20 menit. Siap dihidangkan.

Bahan : 1 buah : nanas kupas potong dadu 2 buah : apel potong dadu 3 butir : telur rebus, potong, pisahkan kuningnya 2 buah : mentimun buang bijinya, potong dadu 2 buah : tomat potong Daun seledri secukupnya Saus : 150 gr : selai kacang

3 1 1 5 3 2

butir sdm sdt sdm sdm sdm

: : : : : :

siap pakai kuning telur rebus gula gara saus sambal saus tomat air jeruk lemon

Cara Membuat : - Campur semua bahan jadi satu dalam mangkok besar, lalu masukkan dalam lemaris es selama 1 atau 2 jam.Campur selai kacang, kuning telur, saus sambal, saus tomat, air jeruk nipis, gula, dan garam. Aduk-aduk hingga tercampur rata, lalu masukkan saus ke dalam mangkok buah yang sudah dikeluarkan dari lemari es. Aduk-aduk hingga saus tercampur, siapkan tempat saji. - Siap disajikan selagi masih panas.


14

Jelita

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Bulu Mata Solusi Keindahan Mata

Bicara penampilan, umumnya tak dapat dipisahkan dengan perempuan. Salah satu yang menjadi penujang penampilan adalah kegiatan menjaga dan memperhatikan kecantikan. Ke­ tika inner beauty sudah tertata dengan baik maka tidak ada salahnya dilanjutkan dengan outer beauty.

K

ali ini Tokoh ingin membahas mata, sebagai salah satu bagian wajah yang cukup memegang peran untuk menjadikan penampilkan lebih menarik, segar dan ekpresif di berbagai kesempatan. Benar, mata yang indah adalah impian setiap perempuan. Namun, tidak semua orang dikarunia bentuk mata yang indah dan bersinar sesuai harapan. Yang pasti adalah setiap orang memiliki bentuk mata dengan karakteristiknya sendiri, apakah mata yang sipit, dalam ataupun terkesan agak turun. Agar mata bisa dikatakan sebagai jendela hati, ada cara untuk menjadikannya semua bentuk mata terlihat lebih indah serta sesuai pula dengan bentuk wajah. Salah satu penunjang kekuatan make up mata adalah melengkapinya dengan bulu mata palsu. Menurut Ni Made S. Suarmadewi Kader, S.T., pemilik

Pilih sesuai Keperluan Lebih lanjut Dewi mengakui jika saat ini salah satu penunjang keindahan dan mempercantik mata yang cukup banyak digunakan adalah bulu mata palsu. Dengan dilengkapi bulu mata palsu, mata perempuan akan terlihat lebih indah dan bersinar. Untuk cara emasangnya, katanya bisa dilakukan dengan beberapa trik sesuai dengan kebiasaan dan kemahiran tangan masingmasing MUA. Saat ini pula kata Dewi untuk panjang atau pendeknya dari bulu mata paslu semakin banyak pilihannya. Sebab, di dukung dengan kemajuan teknologi, ukuran bulu mata palsu pun semakin beragam, baik panjang –pendeknya maupun tebal dan tipisnya. Disamping itu, semakin banyak juga bulu mata palsu yang berkualitas, yakni terbuat dari bahan rambut asli. Begitu pula dengan lem yang digunakan untuk merekatkan. Selanjutnya, jika dalam setiap kegaiatan para

panjang atau pendeknya dari bulu mata paslu semakin banyak pilihannya. Sebab, di dukung de­ ngan kemajuan teknologi, ukuran bulu mata palsu pun semakin beragam, baik panjang –pendeknya maupun tebal dan tipisnya. Disamping itu, semakin banyak juga bulu mata palsu yang berkualitas, yakni terbuat dari bahan rambut asli.

www.gudangkesehatan.com

MUA, dilengkap dengan keterampilan cara memasang dan melepas yang benar maka kenyamanan dan keamanan di mata pun akan terjamin. Begitu pula mahir dalam memilik ukuran ketebalan dan panjangnya untuk disesuaikan dengan wajah dan mata pemakai termasuk waktu dipakainya. Kalaupun ingin lebih istimewa, misalnya untuk acara gala dinner, maka pada bulu mata palsu pun yang sudah dipasang dapat ditambahkan dengan polesan maskara. Sedangkan, bagi perempuan yang sudah memiliki bulu mata panjang, lanjut Dewi biasanya cukup dibantu dengan menggunakan penjepit bulu mata dan dilengkapi polesan maskara. Sebaliknya, bagi pemilik bulu mata yang pendek dan tipis, bisa memilih bulu mata palsu dengan ketebalan alami sehingga ketika di pasang tetap menonjolkan kesan natural, terutama untuk gaya penampilan keseharian. Dewi juga mengingatkan, agar tidak ada akibat buruk nantinya , seperti menjadika bulu mata yang asli menjadi cepat rontok, maka saat mengenakan, pastikan bula mata palsu menempel dengan baik. Begitu pula saat melepaskannya, dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak terjadi iritasi. – Sri Ardhini

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Polio tidak Miliki Gejala Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 2016 se­ rentak dilaksanakan tanggal 8-15 Maret 2016. Khusus untuk Provinsi Bali diadakan tanggal 15 s.d. 22 Maret 2016. Pemberian imunisasi polio dilaksanakan di posyandu, puskesmas, dan ru­ mah sakit serta pos pelayanan lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat.

P

Dadari Salon di Kota Denpasar, bahwa mengenakan atau memoleskan kosmetik di mata tidaklah mudah. Sebab jika salah polesan justru menjadikan kesan sebaliknya dari harapan. Begitu juga dengan melekatkan bulu mata palsu. Dewi juga menegaskan kalau menangani make up mata merupakan kegiatan yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi karena tergolong cukup sulit. Apalagi seseorang akan menilai hasil make up itu dikatakan sempurna atau justru sebaliknya kurang, tergantung kberhasilan dari efek polesan pada mata. Dikatakan oleh MUA (make up artis) yang namanya cukup berkibar di Bali ini, bagi mereka yang sudah memiliki mata mata indah, juga mesti dijaga dan lebih lagi ditonjolkan dengan bantuan make up yang tepat namun tidak berlebihan. Ni Made S. Suarmadewi Kader, S.T.

Bugar

IN adalah pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar. Seberapa bahayakah penyakit polio tersebut? Dosen pengajar di Bagian Mikro­biologi Klinik FK Unud, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., mengatakan, penyakit polio atau yang dikenal juga dengan poliomielitis adalah penyakit lumpuh pada tubuh yang disebabkan infeksi virus yang bernama poliovirus (PV). Kata polio berasal dari bahasa Yunani yang berarti abu-abu dan bercak. Penyakit polio ini lebih sering terjadi pada anak-anak ter­ utama anak balita berusia 3 sampai 5 tahun. Menurutnya, virus polio ini sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf yang sampai dapat menyebabkan kelumpuhan permanen bahkan kematian. Virus polio merupakan golongan virus RNA yang termasuk famili picornavirus dan genus enterovirus. Virus ini mempunyai sifat yang tahan pada pH 3-10, sehingga dapat tahan terhadap asam lambung dan empedu. Secara serologi virus polio dibagi 3 tipe yaitu virus polio Tipe 1,2 dan 3. Virus Polio Tipe 1 yang sering menimbulkan epidemi yang luas dan ganas, tipe 2 kadang-kadang menyebabkan kasus yang sporadik dan tipe 3 menyebabkan epidemi ringan. Ia mengatakan, polio menular melalui kontak antar manusia. “Sebagian besar penderita yang terinfeksi virus polio tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses atau cairan dari saluran cerna orang yang mengandung virus polio,” jelasnya. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus ke orang lain. Setelah virus polio ini masuk ke tubuh melalui mulut, dan terus berkembang biak dalam saluran pencernaan seperti pada tenggorokan dan usus, kemudian virus ini dapat memasuki aliran darah. Dari sana, kemudian menyebar melalui pembuluh darah dan cairan limfatik ke sistem saraf. Sampai di sistem saraf virus ini da-

pat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf sehingga menyebabkan melemahnya otot dan sampai kelumpuhan atau disebut paralisis. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari atau rata-rata 7-14 hari. Ia menambahkan, orang yang terinfeksi virus polio memang sebagian besar tidak menyebabkan kelumpuhan. Hanya, sebagian kecil yang dapat terjadi sampai kelumpuhan. Namun, walaupun kecil, kata dr. Agus, hal ini se­harusnya tidak boleh terjadi karena dapat menyebabkan kecacatan permanen seumur hidupnya bahkan kematian. “Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Virus polio merusak sistem saraf yang dapat menimbulkan kelumpuhan yang permanen, terutama pada anggota gerak yaitu kaki,” ujarnya. Penderita dapat juga meninggal apabila penderita mengalami kelumpuhan pada otot pernapasannya. Hal ini bisa terjadi bila ada kerusakan pada batang otak yang berperan dalam mengontrol pernapasan. Kerusak­a n daerah ini dapat menyebabkan kelumpuhan otot respirasi dan bahkan kematian. TERAPI FISIK Penderita polio di­ bagi menjadi tiga ke­ lom­p ok, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, dan sindrom pasca-polio. Polio nonparalisis adalah tipe polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejalanya tergolong ringan. Beberapa gejala yang sering dialami seperti demam, lemah otot, mual, kaki, tangan, leher, dan punggung terasa kaku dan sakit yang umumnya berlangsung antara satu hingga sepuluh hari. Polio paralisis adalah tipe polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Polio paralisis bisa dibagi berdasarkan bagian tubuh yang terjangkit, seperti batang otak, saraf tulang belakang,

dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked.

atau ke­duanya. Gejala awal polio paralisis sering kali sama dengan polio non-paralisis, seperti sakit kepala dan demam. Beberapa penderita polio para­ lisis bisa mengalami kelumpuh­an dengan sangat cepat setelah terinfeksi. Virus polio ini dapat menyerang sistem saraf pusat. ­“Virus yang menyerang sistem saraf motorik menyebabkan ke­rusakan dimana saraf motorik tidak memiliki kemampuan re­generasi dan otot yang berhubungan dengannya, tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat

sehingga menyebabkan alat gerak menjadi lemas, kehilangan refleks tubuh dan akhirnya menimbulkan kelumpuhan,” kata dr. Agus. Sindrom pasca-polio biasanya me­ nimpa orang-orang yang rata-rata 30-40 tahun sebelumnya pernah menderita penyakit polio. Gejala yang sering terjadi di antaranya sulit bernapas atau menelan, persendian atau otot makin lemah dan terasa sakit, gangguan tidur dengan kesulitan bernapas, mudah lelah dan massa otot tubuh menurun. “Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan polio jika virus polio sudah menjangkiti seseorang,” kata Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar ini. Namun, ia mengatakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai perawatan pendukung untuk mencegah komplikasi dan membuat penderita merasa lebih nyaman, seperti terapi fisik untuk mencegah hilangnya fungsi otot, obat pereda nyeri, dan alat bantu pernapasan jika diperlukan, ope­ rasi dan terapi fisik bisa dilakukan untuk mengatasi kelainan bentuk pada persendian. Magister Ilmu Kedokteran Tropis ini mengatakan, orangorang yang belum divaksinasi akan memiliki tingkat risiko terjangkit polio yang lebih tinggi jika, tinggal serumah dengan penderita polio, sistem kekebalan tubuh yang

11

menurun, mengunjungi tempat yang terjadi wabah polio, dan status gizi yang rendah. VAKSINASI UNTUK ORANG DEWASA Ia menyatakan, vaksinasi adalah cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit polio. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio pada masa depan. Terdapat dua jenis vaksin polio: vaksin polio oral (OPV) yang diberikan melalui mulut dan vaksin polio inaktivasi (IPV) yang diberikan melalui suntikan. Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter FK Unud ini me­ ngatakan, menurut jadwal imunisasi yang direkomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, anak-anak diharapkan diberikan vaksinasi polio yaitu pada saat lahir atau pada saat bayi dipulangkan harus diberikan vaksin polio oral. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 dan polio booster dapat diberikan vaksin OPV atau IPV masing-masing saat berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan antara 1,5 tahun sampai 2 tahun dan sebaik­nya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV. “Vaksinasi polio juga bisa diberikan kepada orang dewasa yaitu dua dosis pertama dengan jarak waktu antara 1-2 bulan, dan dosis ketiga antara 6-12 bulan setelah pemberian dosis kedua,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Germany dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. –Wirati Astiti


10

Kreasi

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Kreativitas tanpa Batas Bersama Garuda Ting Ting

Ratusan ibu-ibu PKK Kota Denpasar meng­ikuti pelatihan kreasi berbahan utama bungkus Ting Ting Garuda, Jumat (18/3) di Gedung Wanita Santi Graha, Denpasar.

A

cara yang merupakan kerja sama T ­ okoh, T i m Pe n g g e r a k Kota Denpasar, dan ­Garudafood ini, menghadirkan dua narasumber yakni I Wayan Sumatra dari Pokja III PKK Kota Denpasar dan Catur dari PPLH Bali. Regional Head PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) Bali Nusra, Arif Pujianto, mengatakan produk Ting Ting ini diproduksi Garudafood.

PT SNS bertugas mendistribusikan produk Garudafood termasuk Ting Ting Garuda. Ia mengatakan, PT SNS, selain sebagai perusahaan berbasis spiritual company, juga mendukung inisiatif Walikota merespons sampah di Kota Denpasar. Produk Ting Ting Garuda, contohnya, bungkusnya bisa diolah kembali menjadi barang tepat guna bagi masyarakat. Memang, ia tak me-

Penandatanganan MoU antara Tabloid Tokoh, PKK Kota Denpasar, dan Garudafood

Dari kiri: Pemimpin Umum Tabloid Tokoh Gde Palgunadi, Regional Sales and Promotion Garudafood Bali Nusra Ida Bagus Asta Wibawa, TP PKK Denpasar ­­Ida Ayu Selly D. Mantra, Regional Head PT Sinar Niaga Sejahtera (SNS) Bali Nusra Arif Pujianto, dan Ny. Rai Iswara

nampik, diperlukan pelatihan agar menjadi berkesinambungan. “Ka­ rena itu, kami mengajak Tokoh dan PKK Kota Denpasar untuk bekerja sama,” katanya. Arif menegaskan, Ting Ting ini bukan permen bukan biskuit. “Kalau sudah tahu permen, biasanya para ibu mengatakan tidak cocok untuk anak-anak. Tapi produk ini, camilan kacang sehingga cukup aman dikonsumsi anak-anak kita. PT SNS sendiri dalam setiap melakukan persembahyangan, pasti menggunakan Ting Ting Garuda. Kami di kantor ngomongnya Ting Ting Banten,” ujarnya. Ida Bagus Asta Wibawa, se-

Tamiang Kreasi Tamiang sudah familiar bagi umat Hindu di Bali. Selain untuk sarana persembahyangan, bisa juga untuk hiasan. Kali ini, tamiang akan dibuat dari bahan bungkus Garuda Ting Ting, untuk hiasan dinding. Menurut I Wayan Sumatra dari Pokja III, PKK Kota Denpasar, bahan utama tamiang dari daun lontar, gabus, dan bungkus Ting Ting. Untuk menempelkan bahan-bahan, bisa memakai jarum dan streples. Sebelumnya, kulit Ting Ting dibentuk sesuai kreasi, kemudian distreples agar tak jatuh. Tamiang ini, bisa saja ditambahkan dengan bunga hidup, agar terlihat manis dan bagus. Selain untuk tamiang kreasi, kulit Ting Ting bisa juga, dimanfaatkan sebagai barang-barang yang lain, seperti tas, dompet, taplak, dll. Teknik pembuatan produk daur ulang, ini diajarkan Catur dari PPLH Bali. Ni Luh Putu Sri Utari, Sekretaris TP PKK Denpasar sebagai koordinator acara berharap, para ibu-ibu PKK yang datang dalam sosialisasi Garuda Ting Ting, dapat menyosialisasikan camilan Garuda Ting Ting ke wilayahnya masing-masing. “Camilan

laku Regional Sales and Promotion ­Garudafood Bali Nusra menambahkan, acara pelatihan tersebut, sebagai upaya positif dalam rangka mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna, dan me­ningkatkan kreativitas ibu-ibu PKK Denpasar.

Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ida Ayu Selly D. Mantra menyambut baik acara pelatihan yang digelar Tokoh dan Garudafood. Menurutnya, untuk memajukan kota Denpasar sebagai “Kota Kreatif”, perlu dukungan dari pihak luar. Salah satunya, PT SNS yang menyalurkan produk Garudafood. Selly D. Mantra menyatakan sangat bangga bisa bekerja sama dengan Tokoh. “Dengan kerja sama ini, kegiatan PKK Kota Denpasar yang bermanfaat bisa dipublikasikan dan diketahui masyarakat Bali,” ujarnya. Sebelum pelatihan dimulai, dilaksanakan penandatangan MoU antara Ida Ayu Selly D. Mantra sebagai TP PKK Denpasar, Ida Bagus Asta Wibawa, selaku Regional Sales and Promotion Garudafood Bali Nusra, dan Gde Palgunadi sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Tokoh. –Wirati Astiti

Ibu-ibu PKK antusias belajar membuat kreasi dari bungkus Ting Ting Garuda

Ibu- ibu PKK Kota Denpasar yang meng­ ikuti pelatihan tamiang kreasi berasal dari 4 ­kecamatan. Kecamatan Denpasar Utara: - Kelompok 1: Desa Pemecutan Kaja, Desa Ubung Kaja, dan Desa Dauh Puri Kaja. - Kelompok 2: Kelurahan Peguyangan, Desa Peguyangan Kaja, dan Desa Peguyangan Kangin. - Kelompok 3: - Kelurahan Tonja, Desa Dangin Puri Kaja, Desa Dangin Puri Kauh, dan Desa Dangin Puri Kangin. Kecamatan Denpasar Barat: ini bisa dipakai untuk banten sehari-hari. Ibu-ibu bisa mulai sekarang, mengubah prilaku, apa yang kita makan, itu yang kita persembahkan sebagai sarana banten. Kalau pakai Ting Ting, tahan lama, dan tidak menyebabkan anak-anak batuk,” kata Sri Utari yang juga istri Camat Denpasar Timur ini. –Wirati Astiti

- Kelompok 1: Kelurahan Dauh Puri, Desa Dauh Puri Kangin, Desa Dauh Puri kauh, dan Desa Dauh Puri Kelod. - Kelompok 2: Kelurahan Pemecutan, Desa Tegal Kerta, dan Desa Tegal Harum. - Kelompok 3: Kelurahan Padangsambian, Desa Padangsambian Kaja, Desa Padangsambian Kelod, Desa Pemecutan Kelod. Kecamatan Denpasar Timur: - Kelompok 1: Kelurahan Kesiman, Kesiman Kertalangu - Kelompok 2: Kelurahan Sumerta, Desa Sumerta kauh. - Kelompok 3: Kelurahan Dangin Puri, Desa Dangin Puri Kelod, dan Desa Kesiman Petilan. Kecamatan Denpasar Selatan: - Kelompok 1: Desa Sanur Kaja, Kelurahan Sanur, dan Desa Sanur Kauh. - Kelompok 2: Kelurahan Renon, Kelurahan Panjer, dan kelurahan Sidakarya.

Ibu-ibu PKK antusias belajar membuat kreasi dari bungkus Ting Ting Garuda

- Kelompok 3: Kelurahan Serangan, Kelurahan Pedungan, Kelurahan Sesetan, dan Kelurahan Pemogan.

Style

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Gaya Fashion Street Pagelaran Indonesia Fashion Week (IFW) adalahsalah satu even besar dunia mode Indonesia. Selain ramai selalu berkesan. Seperti acara yang berlangsung belum lama ini di JCC, Jakarta. Betapa di ajang ini kita bisa melihat berbagai atribut atau item fashion.

S

alah satu yang cukup menarik adalah melirik berbagai kreasi busana p e n g u n j u n g I F W. B e r b i c a r a masalah gaya fashion street, tidak lepas dari busana modis yang dikenakan para fashionista. Nampaknya, mereka sadar bahwa setiap langkah tentu ada mata yang akan melirik. Menurut Rhea Cempaka salah seorang disainer muda Kota Denpasar, dalam menghadiri berbagai acara termasuk ajang

mode seperti IFW, yang paling utama adalah tampil sesuai style kita masing-masing. Kemudian, paham bahwa gaya yang dikenakan memang terasa nyaman dan bisa jadi modal untuk tampil keren. Sebab, punya gaya busana sendiri bisa meningkatkan rasa percaya diri. Kali ini Tokoh berupaya merangkum beberapa ide gaya fashion jalanan atau fashion street) yang berkesan kasual, feminin maupun elegan dengan pesonanya masing-masing. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

STPBI-SPB

Kualitas tetap Menjadi Prioritas Siap Buka S-1 dan S-2 Ilmu Pariwisata

Sesuai visi dan misi, menjadikan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) sebagai lembaga pendidikan berwawasan internasional ke depan, maka mahasiswa diberikan kesempatan training di hotel-hotel yang berjaringan internasional. “STPBI telah lima tahun ini bekerja sama dengan International Training Network (ITN) AS,” ujar Ketua STPBI-SPB, Made Sudjana,SE.,MM.,CHT.,CHA., saat ditemui tokoh pekan lalu.

I

a menambahkan, satu-satunya lembaga pendidikan yang dipercaya bekerja sama dengan ITN hanya ­STPBI. “Permintaan mahasiswa ­training cukup ba­nyak ke AS. Permintaan dari AS 600 orang per tahun. Sekarang kami baru bisa menyalurkan 400 orang per tahun. Kami kewa­l ahan dan mencoba menggandeng beberapa sekolah pariwisata di Bali dan luar Bali. Harapan kami, agar lebih ba­nyak orang Indonesia yang bisa training di AS,” kata Sudjana. Ia berharap, dengan me­ ngirim mahasiswa training di AS, mereka akan siap bekerja dimana saja, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Selain dengan Amerika Se­ri­ kat, ­STPBI-SPB juga be­kerja sama dengan beberapa instansi terkait baik hotel maupun lembaga pendi­dikan dan pelatihan di Australia. “Mereka sanggup menjadi jembatan, mencarikan sekolah atau pendidikan yang lebih tinggi di Australia sekaligus mencarikan pekerjaan. Ini peluang yang luar biasa, se­ hingga di samping bisa bekerja, mahasiswa bisa melanjutkan kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, mahasiswa bisa membiayai dirinya sendiri,” kata Sudjana. Ia tak menampik, untuk meningkatkan SDM mahasiswa, tentu SDM para do­ sen harus terus ditingkatkan. Apalagi, ke depan, para dosen diharuskan bergelar S-3, karena itu, STPBI terus memacu semangat para dosen melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 dan S-3, dan di­biayai dari kampus. Ia mengatakan, STPBI-SPB bekerja sama dengan lembaga pendidikan IMI di Swiss. Kerja sama ini dalam rangka meningkatkan kemampuan akademik para dosen STPBI. “Saat ini, sudah ada satu orang yang menamatkan program masternya, sementara, satu orang lagi sedang menempuh

pendidikan di Swiss,” imbuh Sudjana. Selain didorong melanjutkan pendidikan, para do­ sen selama liburan semester, dikirim ke industri untuk mengadakan orientasi. “Hal ini bertujuan, agar para dosen dapat menambah keterampilan­ nya, dan melihat perkembang­ an di industri,” ucapnya. Untuk urusan mutu lembaga, juga tetap digencarkan. STPBI-SPB telah diakreditasi secara nasional oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan secara internasional oleh L’loyds Register dengan memperoleh sertifikat ISO 9001-2008. STPBI memiliki program D-IV Manajemen Perhotelan, D-IV Manajamen Pariwisata, dan D-III Manajamen perhotelan. “Yang lebih menggembirakan lagi, tahun 2015 Direktorat Pendidikan Tinggi telah me­r angking seluruh perguruan tinggi di Indonesia, dari 3.320 perguruan tinggi, STPBI berada di posisi 123 nasional. Dari 60 perguruan tinggi yang ada di Bali, STPBI mendu­ duki posisi nomor 6, setelah Universitas Mahasaraswasti, Undiksa, Unud, Undiknas, IKIP PGRI Bali. STPBI baru berusia 7 tahun, usia masih muda tapi sudah mencapai prestasi yang luar biasa,” kata Sudjana. Namun, ia tak mau berpuas diri, dan terus ingin meningkatkan prestasi. Tahun ini, STPBI sedang mengajukan untuk membuka Program S-1 Pariwisata dan S-2 Pariwisata yang khusus di bidang te­ rapan. “Semoga tahun ajaran baru 2016-2017, S-1 dan S-2 Pariwisata sudah bisa dibuka,” kata Sudjana. Selain memiliki lembaga pendidikan tinggi, kampus ya n g b e r n a u n g d i b awa h Ya y a s a n D h a r m a W i d y a ­Ula­ngun ini, juga membuka lembaga pelatihan Sekolah Per­hotelan Bali ( SPB), yang izinnya di bawah Departemen Tenaga Kerja Provinsi Bali.

Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd, CHT., CHA.

SPB memiliki Program Kapal Pesiar 1 dan 2 tahun (Waiter, Bartending, Cook, Hotel Steward). Program regular untuk 1 tahun (F&B Service, Food Production, Housekeeping) dan 2 tahun (F&B Service, Food Production, dan Room Division). Program Sekretaris (1 dan 2 tahun), Program Guiding ( 1 dan 2 tahun). Program SPB Maritime Training Center, Program SPB Airline Training Center, dan SPB SPA Training Center. Menurut Sudjana, sampai saat ini, lulusan STPBI dan SPB, sudah mencapai lebih dari 10 ribu. SPB berdiri tahun 2000 dan STPBI berdiri tahun 2008. Menurut Sudjana, penyerapan sudah merata di industri baik di Indonesia daSementara, bagi yang belum bekerja, mereka tidak perlu khawatir karena akan disalurkan lewat PT Bali Duta Mandiri,” ujarrnya. Menurut Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun, ­­Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd, CHT., CHA., den ga n moto “quality is our prime ­concern”, semua pendidikan harus mengacu pada kualitas. “Yayasan ber­usaha memberi yang terbaik dari segi fasilitas dan kelengkapan, sehingga proses pembelajaran akan nyaman bagi mahasiswa sehingga output-nya diharapkan lulus­ an yang memiliki kompetensi berkualitas tinggi,” ujar Astina. SIAP SAMBUT MEA Saat ini, kata Astina, STPBISPB telah menjadi sekolah perhotelan yang favorit. Ini terbukti dari pelamar yang cukup membludak tiap tahun. “Kami hanya bisa menerima 1.200 tiap tahun. Asal maha­s iswa juga merata hampir dari seluruh Indonesia,” kata Astina.

Made Sudjana,SE.,MM.,CHT.,CHA.

Astina menambahkan, yayasan telah memiliki Per­ usahaan Penggerak Tenaga Kerja Indonesia Swasta, yang bernama PT Bali Duta Mandiri yang bertugas menyalurkan lulusan untuk bekerja di Indonesia maupun di luar negeri. “Kami tidak hanya mendidik, tapi juga mencarikan lulusan pekerjaan. Bagi yang tidak mampu, begitu mereka ke luar negeri atau akan berangkat kapal pesiar, kami bantu juga dengan dana koperasi, sehingga sa­ ngat tepat sekali jika sistem pendidikan di STPBI-SPB, disebut one stop learning,” kata Astina. Menurut Astina, dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), STPBI-SPB tidak takut. Justru, dengan pengalaman mahasiswa tiap tahun training di AS, dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, keterampilan berkelas dunia, mereka siap menyerbu negara lain. Rencana ke depan, kata Sudjana menambahkan, ­S TPBI-SPB akan membuka sekolah di Banyuwangi. Belum lama ini, kata Sudjana, pihak yayasan dan manajemen sudah melakukan pertemuan dengan Bupati Banyuwangi untuk membicarakan kerja sama pendidikan ke depan. Menurutnya, kondisi Banyuwangi yang sudah siap mene­r ima pariwisata, membutuhkan banyak SDM yang profesional, sehingga merupakan peluang yang baik bagi STPBI-SPB untuk mengembangkan diri di sana.

“Cita-cita saya, Bali sebagai pusat pendidikan pariwisata dunia. Apalagi, nama Bali sudah terkenal. STP Nusa Dua Bali sebagai sekolah pemerintah, harus menjadi leader, di bawahnya diikuti sekolah swasta yang tak kalah juga kualitasnya. Se­ hingga nantinya, bisa dibuat seperti summer course di AS. Ini memang prosesnya jauh, tapi harus mengarah ke sana. Generasi muda yang kami siapkan dulu, terutama SDM dosennya harus berkualitas,” ujar Sudjana. Ia mengatakan bangga ka­ rena STPBI sudah menjadi anggota Asia Pasific Council on Hotel, Restaurant and Institutional Education (Asia Pasific CHRIE). Asosiasi ini m e r u p a ka n p e rku m p u l a n para peneliti dan pengajar bidang perhotelan seluruh dunia. Setiap tahun asosiasi ini meng­adakan konfe­rensi internasional. Untuk tahun 2016 akan diadakan ke Bangkok. STPBI-SPB siap ikut berpartisipasi mengirimkan peserta dan mengirim beberapa paper para dosen. Di tahun 2017, STPBI ditunjuk sebagai tuan rumah konferensi yang rencananya akan diadakan di Hotel Sofitel. “Tahun lalu saat konferensi di Aukland, yang hadir dari Indonesia hanya STPBI, padahal banyak sekolah pariwisata ada di Indonesia. Saya berharap, mudah-mudahan saat komperensi di Bali, banyak paper yang dihasilkan dari Indonesia. Ini adalah salah satu rencana kami, mengawal ilmu pariwisata,” kata Sudjana. -ast

SEKOLAH PERHOTELAN BALI (SPB) SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BALI INTERNASIONAL (STPBI) Jalan Tari Kecak No. 12 Gatot Subroto Timur Telepon (0361) 426699, 426700 Faksmile ( 0361) 427800

Dara

9

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

Asyiknya Hasilkan Uang Sendiri

Bisnis online bisa ditekuni siapa saja termasuk mahasiswa dan pelajar. Banyak manfaat yang bisa diraih. Novi Mariyantini dan Ni Putu Murniasih berbagi pengalamannya.

N

ovi yang kuliah di Universitas Udayana Jurusan Ekonomi dan Bisnis semester 4 sudah menjalan bisnis online sejak seklas 1 SMA. Modal awalnya Rp 300 ribu. “Teman yang ngajak. Saya awalnya tidak mau karena menurut saya ribet. Tetapi, karena terus dibujuk, akhirnya saya mau. Hitung-hitung untuk mengisi waktu luang,” ujar warga Desa Sumita, Gianyar ini. Penghasilan bersih yang bisa ia raih antara Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta. Perempuan yang hobi jalanjalan ini menjual baju fashion khususnya buat wanita seperti baju, celana, rok, dress, jumpshuit, dll. Suka duka pun dialaminya. “Kalau dukanya, banyak orang

yang sudah bilang barang mau beli tapi sesudah barangnya datang mereka kabur nggak mau tanggung jawab, nggak mau ngambil barangnya. Kadang ada juga yang konplin ke saya bilang barangnya robek padahal sebelumya sudah saya cek barangnya tidak apaapa. Kadang juga ada yang bilang kalau saya penipu baru, bilangnya barang belum datang padahal barangnya lambat dalam pengiriman ke rumah yang order. Kalau sukanya ya saya bisa kuliah dengan hasil jerih payah saya sendiri, dan sisa bisa saya tabung buat keperluan saya biyar tidak ngerepotin orang tua lagi,” ungkapnya. Kalau ada yang pesan barang lewat BBM dan FB, ia langsung meneruskan ke pusat. Tetapi, kadang karena kurang detail

Tetap Eksis tanpa Media Sosial Tidak semua orang memiliki akun media sosial. Ponsel yang dimiliki hanya untuk menelepon dan SMS, itu sudah cukup. Hal ini diungkapkan Made Sulitiawati. Perempuan kelahiran 29 April ini mengaku tidak harus punya akun media sosial agar bisa eksis. Warga Dusun Kawan Desa Patemon, Seririt, Buleleng yang masih kuliah di STKIP tetap merasa nyaman walau tidak menggunakan media social. “Saya tidak mempunyai akun media sosial, buang waktu saja kalau mempunya akun sosial media soalnya bayak yang saya kerjakan,” ujarnya. I a mengaku malas membuat akun karena malas mempelajarinya

lebih baik waktunya untuk berjualan dupa sama kain-kain. “Saya sudah biasa tidak berkecimpung di dunia maya. Saya lebih senang menjajakan barang langsung ke rumah teman atau saudara. Lebih baik berdagang karena lebih seru dan ada tantangan,” kata Sulitiawati. Untuk urusan kuliah dan tugas kampus, ia tidak mau ambil ribet. Ia langsung mencari dosennya dan selama ini selalu dimudahkan dan tidak dimarah dosennya. Ketika ada acara kampus dan banyak teman berwefie dan selfie, Sulitiawati suka sekali berfoto. “Kadang teman-teman yang sama saya foto, dia yang mengunggah ke media sosial. Saya juga mempunyai rasa takut mempunyai akun media sosial, banyak berita saya dengarkan korban-korban perkosaan dan penipuan, makanya saya jadi malas,” ungkapnya. Kadang ia mengaku kesulitan kalau saya tidak mempunya akun media social, tetapi ia bersyukur punya teman-teman yang baik bisa memberikan informasi lewat SMS jadi saya tidak terlewatkan informasi di kampus “Saya cuma tahu nelepon dan SMS aja jadi itu cukup buat saya. Nomor ponsel saya juga tidak ganti dari dulu jadi teman-teman dan saudara tetap gampang menghubungi saya,” tegas Sulitiawati. -Vijay

menanyakan alamat pemesan, Novi jadi rugi. Pernah juga barang sudah dikirim tetapi uang belum ditransfer. “Saya tidak kapok, Saya ikhlaskan saja barang saya tidak dibayar, karena saya yakin rezeki tidak akan kemana. Mungkin saat itu saya rugi tapi saya yakin di lain waktu saya mendapatkan yang lebih dari itu,” ujarnya seraya mengatakan pelanggannya kebanyakan dari Kota Gianyar, Ubud, Sukawati, Guwang, dan Denpasar. Ia mengaku orangtuanya sangat senang dan merasa bangga karena dari awal kuliah tidak membebankan mereka dan sudah bisa hidup mandiri dari sisi keuangan. Pengalaman Murniasih hampir mirip dengan Novi. Ia berjualan baju kaos untuk wanita dan pria, dress, celana jeans untuk wanita, baju couple, lipstik, anting, dom-

pet, tas, dan kemeja. Modal awalnya Rp 500 ribu, pinjaman dari Ibu. “Selain sekolah, saya mengajar nari untuk anak-anak. Tahun lalu, saya mencoba bisnis online,” ujar siswi kelas 2 SMAN 1 Susut, Bangli ini. Alasannya menekuni bisnis online karena ingin membantu orangtua untuk membiayai sekolah. Selain itu menurutnya bisnis ini gampang dijalankan dan dimana saja bisa dikerjakan. Dari bisnisnya ini, Murniasih bisa meraup Rp 600 ribu. Pelanggan dari daerah Bangli saja. “Sukanya saya bisa menambah uang jajan dari hasil jerih payah kita sendiri tanpa minta lagi sama orangtua, terus saya juga punya tabungan lumayan buat nanti saya kuliah. Kalau dukanya ya itu kadang ada yang mesen barang diambil tapi bayarnya belakangan. Waktu saya nagih nggak dikasi, katanya

Ni Putu Murniasih

besok-besok, akhirnya saya biarin saja. Saya dibilang nipu barangnya katanya tidak sesuai dengan yang difoto, terus pernah juga dimaki pelanggan karena barangnya telat datang,” ungkapnya. Orangtua pun setuju ia menekuni bisnis ini. “Rugi dikit adalah awal dari keuntungan yang saya dapat nanti, katanya itu awal kesuksesan yang akan saya dapat nanti tapi dengan catatan tidak cepat menyerah selalu berdoa dan berusaha,” tegasnya. -Juniantari

Sarana Komunikasi dengan Masyarakat Beberapa hari lalu Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh) Provinsi Nusa Tenggara Barat, baru saja tiba dari perjalanan lapangannya berkunjung hingga ke pelosokpelosok desa di wilayah NTB. Hari itu, begitu sampai di wilayah perkotaan, Eni, sapaan akrabnya langsung memosting foto-foto bersama para petani dan penyuluh di Lunyuk Kabupaten Sumbawa melalui media sosial miliknya. Lunyuk adalah wilayah bagian selatan dari Kabupaten Sumbawa yang terbilang jauh dari kelancaran akses termasuk komunikasi yang menggunakan internet. “Maaf saya baru sampai dari Lunyuk, di sana tidak ada sinyal,” ungkapnya. Sebagai seorang birokrat, Eni termasuk aktif dalam menggunakan media sosial. Bagi perempuan yang aktif turun lapangan ini, media sosial sangat membantunya dalam berkomunikasi dan memberi semangat bagi para penyuluh di yang ada di seluruh NTB yang tidak setiap waktu bisa ditemuinya. Gambar dan status yang kerap dipostingnyalah yang menjadi media baginya untuk menginformasikan kegiatan penyuluhan sekaligus sebagai tempat berbagi info. “Media sosial sangat berguna buat saya karena itu merupakan bagi saya untuk berkomunikasi dan memberi semangat ke para penyuluh di NTB. Selain itu media sosial adalah tempat untuk kami menginformasikan kegiatan sekaligus berbagi infomasi dari hal yang sederhana hingga hal penting lainnya,” ungkapnya. Begitu pula dengan Drs. H. Lalu Gita Aryadi, yang merasakan benar manfaat dari media sosial. Birokrat yang pernah sukses sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat dan kini sebagai Asisten II Setda. NTB ini, menjadikan

Dra. Hj. Putu Selly Andayani dan Ir. Husnanidyati Nurdin bersama rekan-rekan pejabat dan birokrat di Mataram

media sosial sebagai pendukung kelancaran tugasnya. Meski tidak menjadikan media sosial sebagai keasyikan yang mengganggu aktivitasnya sebagai birokrat, Gita Aryadi terlihat cukup lancar berkomunikasi dan bersilaturrahmi dengan berbagai kalangan. Baginya, media sosial bermanfaat untuk jika dipakai dan disikapi dengan cara yang bijaksana. Selain sebagai tempatnya berkomunikasi dan berkoordinsi, media sosial dipandang edukatif karena banyak sumber informasi dan ilmu yang terselip dalam setiap aktivitas bermedia sosial ini. Dan yang tak kalah pentingnya, media sosial tempat bercanda dan relaksasi dari ketegangan berfikir dalam kesibukan bekerja. “Media sosial bisa dipkai untuk berkoardinasi dalam dukung kelancaran tugas. Selain itu, tempat untuk berkomunikasi untuk menjaga sillaturrahmi, juga ada nilai edukatif karena di sela-sela aktivitas media sosial selalu ada sumber ilmu dan informasi sehingga dapat menambah wawasan. Juga sifatnya rekreatif sebagai media bercanda dan relaksasi dari ketegangan berfikir,” katanya. Tidak kalah pentingnya me-

dia sosial bagi Hj. Putu Selly Andayani, Kepala Dinas Pendapatan Daerah Nusa Tenggara Barat. Selly menyikapi media sosial miliknya dengan bijaksana sehingga ia menggunakannya sesuai dengn kebutuhannya terutama untuk tugasn-tugasnya. Sosialisasi program-program Dispenda yang memang harus banyak berkomunikasi dengan masyarakat ini, sebagian dilakukannya melalui media sosial. Media sosial bagi Selly yang mantan Penjabat Walikota Mataram beberapa waktu lalu ini, memberikan manfaat yang baik bagi ia maupun instansi yang dipimpinnya. “Media sosial sangat bermanfaat sekali. Media sosial dapat dipakai sebagai alat komunikasi guna penyebaran informasi seperti sosialisasi program kegiatan Dispenda,” ujarnya. Tiga birokrat yang aktif bermedia sosial ini, memandang dan memakai media sosial dengan bijaksana. Kesadaran untuk bijakasana dan santun dalam menggunakan media sosial diyakini dapat memberikan manfaat yang diperlukan bagi tugas-tugas yang mereka emban saat ini. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Punya Akun Medsos

karena Ibu di Luar Negeri Anak-anak sekarang termasuk melek teknologi. Mereka sudah ada yang memiliki akun media sosial. Made Pradnyana dan Nyoman Dika ­Juliawan contohnya. “Saya punya Line, Whats App dan Face­book dari kelas 5 SD,” ungkap Pradnyana yang kini kelas 6 SD.

I

a mengaku awalnya ingin mengetahui media sosial itu seperti apa serta ingin mencari tugas sekolah. “Saya membuat media sosial berawal dari saat itu memang saya sengaja karena untuk berkomunikasi sama ibu saya yang ada di luar negeri. Ibu saya bekerja di luar negeri menjadi tenaga kerja indonesia. Jadi saya membuat akun media sosial biar gampang saya berkomunikasi setiap hari. Bapak saya juga tahu kalau saya mempunyai media sosial,” ujar bocah kelahiran 11 April 2003 ini. Dulunya Pradnyana ke warnet untuk membuka FB. Tetapi, setelah dibelikan ponsel cerdas oleh ayahnya, ia lebih sering mengaskes dari rumah. Ia pun bisa saling member kabar dengan ibunya dan sesekali membuka Youtube untuk menonton musik dan film kartun “Dulu sebelum punya ponsel, ayah saya kadang ikut mengantar ke warnet. Bapak takut kalau saya membuka situs-situs yang tidak pantas untuk ditonton. Bapak selalu memantau saya apa saja yang dilakukan,” ujar bocah yang gemar memancing ini.

Sementara itu Dika mengaku punya FB sejak kelas 3 SD. Saat itu iseng-iseng saja diajak ke warnet sama teman-teman. Awalnya hanya mengantar teman tetapi setelah pertama masuk, ia tertarik dan menyuruh teman untuk membuatkan akun FB. “Saya dibuatkan email dulu untuk mendaftar di FB. Klo anak SD mendaftar tidak bisa karena umur masih di bawah umur. Makanya diakali. Setelah mempunyai FB dari situ saya langsung mencari teman-teman, semua saya add mungkin orang yang saya kenal,” ungkap 11 Juli 2005 ini. Dika mengaku lebih punya teman dari berbagai kalangan. Teman-temannya biasa diajak main game online. “Ternyata sangat menyenangkan main game online, makanya pulang sekolah saya sering langsung ke warnet main game sembari buka FB,” ujarnya sembari mengaku bilang ke orangtuanya kalau dia ke warnet untuk buat tugas. Orangtuanya sempat marah karena ia sering ke warnet. Akun FB Dika pun diblok. Sebagai gantinya, ia dibelikan tablet yang murah untuk bermain game dan tidak keluyuran setelah pulang

Anak-anak perlu bersosialisasi

Dika

Pradnyana

sekolah. Memiliki anak yang sudah bisa menggunakan gadget dan memiliki akun medsos membuat orangtua harus memberi perhatian lebih. Di satu sisi, gadget dan medsos bisa membuat anak betah di rumah. Orangtua tak perlu khawatir anaknya keluyuran. Namun, asyik sendiri bisa membuat anak kehilangan kehidupan sosial.

perhatikan, anak bisa kehilangan kontak sosial dan kontak dengan lingkungan kalau hanya bermain gadget. Lama-lama waktu belajar bisa digunakan untuk main gadget. Walaupun tidak bisa dimungkiri, gadget sebagai bagian dari teknologi mampu membantu kelancaran tugas mereka,” ungkapnya. Untuk meminimalkan dampak negatif dari penggunaan gadget, Sudiarta membuat aturan untuk anaknya. Main gadget hanya diperbolehkan Sabtu dan Minggu. “Awalnya anak-anak merasa keberatan, tetapi saya harus tegas.

SABTU DAN MINGGU Putu Sudiarta, praktisi IT mengaku dirinya sempat galau ketika melihat buah hatinya sibuk bermain gadget. “Setelah saya

Akhirnya mereka mengerti dan mematuhi aturan tersebut,” tegas Sudiarta. Pengaturan waktu untuk bermain gadget ini mendapat tanggapan positif dari Sad Yuli Prihartati, S.Psi., Psikolog. “Saya pun menerapkan aturan penggunaan gadget hanya pada Sabtu dan Minggu atau hari libur. Jangan sampai anak menjadi kecanduan gadget,” ujarnya. Ia mengakui fenomena media social mengikuti perkembangan teknologi dan ada sisi positif serta negatifnya. Sisi positifnya, anak menjadi lebih mudah berkomunikasi, termasuk dengan orangtua walaupun jarak terpisah jauh. Namun, sisi negatifnya, kecanduan gadget bisa menjauhkan yang dekat karena anak sibuk sendiri dengan dunianya sehingga lupa dengan orang yang ada di sekeliliungnya. Kadang, untuk diajak bicara pun tidak ada kontak mata. “Orangtua merupakan model bagi anak. Beri pemahaman kepada anak, kapan saatnya mengunakan gadget. Kalau orangtua harus menggunakan gadget termasuk media social untuk pekerjaan, jelaskan kepada anak. Hal yang tak kalah penting adalah melihat skala prioritas. Kapan saatnya pakai gadget dan kapan harus menaruh gadget,” tegas perngurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini. Kelekatan anak dan orangtua menjadi syarat utama agar kedua pihak saling memahami. JIka harus memberikan gadget untuk anak, harus ada mode anak agar si anak terpagari dari situs-situs yang tidak pantas. –Rukanta/Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

yang mati tidak hidup lagi

Mula-mula Tuhan berpikir, segala yang diciptakan harus berakhir dengan kematian. Itulah sebabnya, tumbuh-tumbuhan dan hewan, mengalami lahir, berkembang, tua, lalu mati. Namun setelah menMade Taro ciptakan manusia, Tuhan berubah pikiran. Ia amat sayang kepada manusia. Ia tidak ingin ciptaan barunya itu punah. Oleh karena itu Tuhan berkehendak agar manusia yang mati hidup kembali. Pikiran baru itu harus secepatnya sampai ke bumi, tempat tinggal manusia. Ia memanggil burung bunglon, yakni burung yang selalu berbicara jujur dan hati-hati. Ia percaya burung yang satu itu pasti dapat menyampaikan pesan seutuhnya. “Bunglon! Sampaikan pesanku kepada manusia, bahwa manusia mati hanya beberapa saat, kemudian hidup kembali.” Burung yang jujur itu segera terbang. Dalam perjalanan jauh, ia berkali-kali istirahat. Di tempat istirahat, ia selalu berubah pikiran. Ia sempat memikirkan nasib pohon bambu yang meliuk-liuk menahan tiupan angin kencang. Kalau hinggap di pohon beringin, ia berpikir mengapa pohon itu tinggi besar dan berumur panjang. Ketika bunglon menerima pesan Tuhan, tidak diketahuinya, di balik dinding bertengger seekor

burung manyar. Burung itu terkenal karena terbangnya yang cepat, tetapi suka berbohong. Ia mendengar dengan jelas semua pesan Tuhan yang harus disampaikan oleh bunglon. Beberapa saat setelah bunglon terbang, burung manyar itu bersujud di depan Tuhan seraya mohon izin untuk bepergian. Setelah tiba di bumi, burung bunglon minta kepada semua manusia untuk berkumpul. Di depan kerumunan manusia itu ia berkata, “Ada pesan dari Tuhan, bahwa ….” Burung itu meraba-raba kepalanya untuk mengingat pesan Tuhan. “Ada pesan dari Tuhan, bahwa ….” Pada saat mengingat-ingat itulah, tiba-tiba muncul burung manyar. Burung itu segera menyambung pesan Tuhan itu. Katanya, ….. “Setelah manusia mati, maka ia tidak dapat hidup kembali.” “Tidak, tidak, tidak!” seru burung bunglon. Aku harus berkata jujur. Setelah manusia mati, maka ia hidup kembali.” Manusia yang mendengarkan pesan berbedabeda itu ribut dan bingung. Tiba-tiba terdengar kicauan seekor burung murai yang hinggap di sebuah ranting pohon suar. Burung yang pandai bicara itu berteriak keras-keras. “Wahai, Manusia! Kau tidak usah bingung! Bukankah kalian sudah mengenal kata bijak, “Apa yang dikatakan pertama, itulah kebenaran.” “Memang sudah nasib manusia. Ia juga tidak luput dari hukum Tuhan: lahir, hidup, dewasa, tua, lalu mati.” Demikian omelan burung bunglon yang merasa tidak sempat berkata jujur.

Griya

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

17

Tanaman Gantung

Solusi Atasi Keterbatasan Lahan

Berkebun dan bercocok tanam, disebut-sebut sebagai salah satu cara untuk meringankan stres. Benarkah? Sebuah penelitian di Washington State University, Amerika Serikat, menemukan bahwa berkebun bisa meningkatkan respons relaksasi dalam otak yang membuat beban pikiran berkurang. Jika ingin membuktikannya, Anda bisa mencobanya sendiri di rumah. Selain itu, banyaknya tanaman juga membuat lingkungan sekitar Anda menjadi bersih, hijau dan sejuk, yang juga baik untuk kesehatan secara keseluruhan.

J

ika tak cukup memiliki lahan atau ruangan untuk menanam berbagai jenis tanaman hias, tanaman hias gantung bisa menjadi alternatif untuk tetap bisa mempercantik rumah Anda. Dengan merawat dan menanamnya dalam pot, maka Anda tak perlu kagi menyiapkan lahan khusus bahkan tanaman pot ini cenderung mudah dipindahpindahkan ke sudut-sudut yang Anda inginkan, sehingga suasana rumah menjadi tidak monoton dan tentunya menjadi lebih berwarna dengan keberadaan tanaman hias gantung. Ini tak lain karena tanaman hias gantung memiliki berbagai macam variasi warna dan bentuk. Ada tanaman hias berbunga, ada pula yang menonjolkan keindahan daunnya. Salah satu tanaman bunga hias gantung yang kini banyak tersedia di pasaran adalah bunga vinca pink dan vin-

ca putih. Saat kelopak bunganya mengembang sungguh sangat memesona. Bunganya pun tidak gampang layu. Bahkan semakin panas cuaca di lokasi menanam, bunganya akan semakin banyak bermekaran. Menurut Putu Novia, salah seorang karyawati di stan Lestari Orchid di kawasan Jakan Hayam Wuruk, Denpasar, bunga-bunga ini nantinya akan menjadi biji yang sangat mudah disemai dan menjadi tanaman baru. Bunga ini juga bisa diperbanyak dengan stek batang. “Perawatannya pun cukup mudah, cukup disiram pagi-sore dan dipupuk tiap dua minggu. Agar bunganya lebat, bisa dilakukan pemangkasan tajuk tanaman,” ujarnya. Selain vinca, di stan bunga ini juga ada tanaman cabe hias yang disilangkan dengan terong. Hasilnya cukup unik, dengan tampilan warna yang menarik. Cabe muda berwarna hijau,

kemudian berwarna ungu, dan ketika matang berwarna merah. Menurut Putu Novia, rasa cabe ini tidak terlalu pedas

seperti cabe pada umumnya. Tanaman hias gantung lain yang bisa menjadi pilihan, samblung. Pengembangbiakannya pun san-

gat mudah, dengan stek batang. Khusus untuk tanaman jenis ini, tidak boleh kekurangan air. –Inten Indrawati


Life

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Wayan Kulit Nagasepeha

Setia Menjaga Tradisi Wayang kulit merupakan kerajinan yang dibuat secara turun menurun khas desa Nagasepeha, Buleleng. Namun, saat ini pembuat wayang kulit di desa Nagasepeha sudah semakin berkurang. Hal ini disampaikan oleh Nyoman Widiarsini.

B

erawal dari sang kakek yang sudah menekuni profesi sebagai pengrajin wayang kulit kemudian menurun ke anak-anaknya. Salah satunya adalah ayah dari Widiarsini. “Dari kecil aya sudah lihat bapak dan ibu buat wayang, akhirnya satu keluarga bisa buat wayang,” ujar wanita berkulit hitam manis tersebut. Karena kesulitan pemasaran dan makin berkurangnya penghasilan membuat jumlah

pengrajin wayang kulit makin berkurang. “Paman saya contoh orang yang beralih ke usaha lain,” tambahnya. Penghasilan yang tidak menentu sering dirasakan wanita yang beralamat di Banjar Dinas Delod Margi, Desa Nagasepeha ini. “Untuk pengecekan baru bisa dilakukan setelah sebulan. Itupun kadang ramai kadang sepi,” ujarnya. Ditengah beralihnya masyarakat sebagai pengrajin wayang kulit, keluarga Mang Widi hingga saat ini masih tetap bertahan. “Ini kan termasuk tradisi, kalau semua beralih profesi gak ada yang melesta r i k a n d o n g, ” ungkapnya. Pada umumnya wayang kulit terbuat dari kulit sapi yang diperoleh dari tukang potong. “Beli kulitnya dari daerah Singaraja saja,” ujar wanita kelahiran 15 Juni tersebut. Kulit sapi yang dipilih adalah yang sudah tua karena jika sapi gemuk Wayang dari kulit kambing maka kulitnya akan

Wayang dari kulit sapi

banyak mengandung lemak. “Jika banyak lemak akan mempersulit proses pewarnaan,” ungkap Mang Widi. Proses pengolahannya pun masih sangat tradisional dan digarap secara langsung oleh Mang Widi dan keluarganya. “Biasanya beli yang masih mentah, yang baru dipotong,” imbuhnya. Setelah dibersihkan lalu dijemur 2-3 hari jika musim tidak lagi hujan. Proses selanjutnya adalah pembersihan dengan cara dicuci. Normalnya wayang kulit dijual dengang kisaran harga Rp 400 ribu namun jika ukuran lebih besar maka harganya juga lebih mahal. Ditanya soal pemasaran, Mang Widi mengaku hanya memasarkan di rumah saja. “Banyak wisatawan asing yang datang ke sini, mungkin karena sudah tahu kalau di sini daerah

pembuat wayang,” tambahnya. Peminat wayang kulit lebih banyak dibandingkan wayang kaca, hal ini dikarenakan mudah dibawa ketimbang wayang kaca yang mudah pecah. “Dari segi spiritual juga banyak yang nyari, untuk dalang maupun dipakai di kamar suci,” lanjut Mang Widi. Selain itu ada juga yang membeli untuk digunakan sebagai bahan penelitian dan koleksi pribadi. Beberapa kali pernah mengikuti Nyoman Widiarsini menunjukkan pola wayang dari kulit kambing pameran, membuat

Duwika S.

Buat Masyarakat Penasaran

Duwika

Mengikuti sebuah perlombaan menyanyi adalah jalan awal penyanyi asal Buleleng ini melebarkan sayap di dunia hiburan.

Meraih juara 3 sekaligus juara favorit dengan kategori penampilan terbaik membuat Kadek Duwika S. bergabung dalam Narayana Production. “Saya menyanyikan dua lagu. Satu lagu ciptaan sendiri Sayong Wanagiri dan Memori Lovina,” ungkap pria kelahiran 8 September ini. Tidak berhenti sampai di sana, Duwika sapaan akrabnya kembali menggarap album kedua dalam album kompilasi masih bersama Narayana Production. Dalam album tersebut Duwika juga menyanyikan dua buah lagu dengan judul Tusing Sombong dan Sepi. “Album ketiga masih bergabung dalam Narayana Production juga menyanyikan dua lagu, Care Bagus dan Pondok Medinding Bedeg,” tambahnya. Tahun 2009 pria kelahiran Padangbulia ini sempat vakum

dari dunia tarik suara, karena ia harus menyelesaikan pendidikannya. Lulusan ekonomi manajemen di Universitas Panji Sakti tahun 2013 ini siap kembali menggebrak dunia hiburan khususnya lagu Bali. Setelah menamatkan S2 tahun 2016, Duwika menyiapkan kejutan kecil bagi penggemar lagu pop Bali untuk melanjutkan kiprahnya dalam dunia tarik suara. “Saya sudah siapkan dua lagu baru, satu lagu duet dan satu lagu solo,” imbuhnya. Ia juga mengaku jika dalam album tersebut sebagai bintang tamu dan mengenai judul lagu hingga produser masih sangat dirahasiakan. “Untuk judulnya ditunggu saja,” tambah pria yang menamatkan pendidikan S2 di Undiknas Denpasar tersebut. Untuk mempromosikan lagulagunya, Duwika mengaku langsung membawa CD audio ke

Mang Widi dan keluarganya makin giat untuk mempertahan kerajinan khas Desa Nagasepeha ini. “Sudah beberapa kali ikut pameran seperti di Bulfest dan Lovina Festival,” kata wanita lima bersaudara ini. Bergabung dalam APIK (Asosiasi Pengrajin Industri Kecil) membuat ia tidak pernah ketinggalan informasi. “APIK sudah berdiri lama tetapi sempat vakun, namun sejak Bulfest bangkit kembali,” jelasnya. Masih ingin tetap melestarikan kerajinan wayang kulit, Mang Widi mengaku bahwa sang kakak berinovasi membuat kerajinan wayang kulit menggunakan kulit kambing. Proses pembuatan yang hampir sama hanya saja dari segi bentuk dan tampilan yang berbeda sehingga lebih menarik minat yang pembeli. “Kalau dari segi harga, jelas kulit kambing lebih mahal,” ujarnya. Harga yang ditawarkan untuk wayang dari kulit kambing mencapai Rp 5 juta. -Wiwin

radio-radio bahkan juga mempromosikan dalam bentuk jinglejingle. Selain itu anak dari pasangan Gede Lingga dan Nyoman Jepun itu pun kerap kali mengisi acara-acara seperti ulang tahun muda-mudi hingga acara-acara yang diadakan oleh Pemkab. Buleleng. Jika penyanyi lain ingin segera menggarap klip video untuk lagu yang dinyanyikan, berbeda akan halnya dengan Duwika. Pria yang saat ini berprofesi sebagai asisten dosen di Unipas ini justru tidak ingin dikenal secara visual. “Saya sengaja tidak membuat dalam bentuk klip video karena tidak ingin dikenal di media,” ungkapnya. Tujuan Duwika adalah agar ketika dia manggung ke luar daerah masyarakat yang hanya mengenal lewat audio mempunyai rasa penasaran. “Kalau mereka

(masyarakat) langsung diperkenalkan lewat televisi, maka tidak akan penasaran lagi. Tapi kalau tidak maka mereka akan datang ketika saya manggung,” imbuhnya. Sebagai penyanyi asal Bali Utara, Duwika ingin penyanyipenyanyi lain tetap fokus dalam berkarya. Musisi dari Buleleng juga diingatkan harus memiliki ciri khas sendiri. “Jangan meniru gaya orang lain. Gunakan apa yang dimiliki baik itu dari segi bahasa maupun musik,” himbaunya. Duwika juga menyarakan agar menjadi penyanyi yang apa adanya. “Jangan mengada-ada yang sudah ada,” lanjut Duwika. Ke depan ia berencana akan membuat album solo untuk tetap eksis di dunia tarik suara. Keinginannnya yang begitu besar untuk memajukan permusikan di Buleleng juga mendorong Duwika untuk mendirikan sebuah peguyuban artis-artis Buleleng. “Semua penyanyi di Buleleng akan kami rekrut dan buatkan wadah sehingga jika ada acara tidak perlu mendatangkan artis dari luar dulu,” ujarnya. -Wiwin

Story

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

7

Seminggu “Dilebihkan” Jadi Sebulan Wajah Arya (55), pucat pasi. Terhuyung-huyung ia turun dari sepeda motor. Ia nyaris jatuh karena tubuhnya menggigil akibat sakit yang tengah menderanya. Di ruang tamu bibinya, Arya menangis kala menceritakan kisahnya ditinggal istri dan anakanaknya sejak sebulan yang lalu. Sembari sesegukan, Arya yang di masa mudanya bertubuh atletis dan tampan ini, membaringkan tubuh lemasnya di sofa tempatnya duduk.

B

ibi dan keponakannya memandanginya tanpa banyak bicara. Mereka terlihat seperti bosan mendengarkan curhat Arya yang tidak pernah ada ujungnya. “Kalau ada masalah Arya pasti ke sini mengeluh,” kata bibinya. Setelah beberapa lama beristirahat, Arya mulai menceritakan bahwa sejak sebulan yang lalu ia sakit dan ditinggal oleh istri dan anak-anaknya. Di mata Arya sungguh tega mereka menelantarkan ia yang tengah sakit. “Untung ada tetangga yang memberi saya makan tiap hari,” katanya memperlihatkan wajah sedih. Ketika cerita demi cerita diungkapkan Arya, bibi dan keponakannya lebih terlihat acuh. Lama bicara sendiri, Arya lalu memilih tidur. Di sanalah kisah sesungguhnya terungkap dari bibir keriput bibinya yang sudah berusia 70 tahun itu. Arya lahir sebagak anak lakilaki satu-satunya dari keluarga berada yang tinggal di Lombok. Ia menjadi anak bungsu dari 4 bersaudara. Sejak kecil hidupnya

berkecukupan dengan limpahan kasih sayang yang terfokus padanya sehingga membuatnya menjadi sangat manja. “Semua permintaan Arya selalu dituruti oleh ayah dan ibunya. Dia menjadi prioritas dalam keluarganya,” kata bibinya yang sejak Arya kecil tinggal bersama keluarga Arya. Inilah yang membuat bibinya ini sangat mengenal karakter dan sifat Arya. Segala fasilitas ia punyai. Ia bahkan menempuh pendidikan di universitas bergengsi di Pulau Jawa. “Tapi sekolahnya tidak selesai, malah pulang bawa masalah,” katanya. Dua bulan pulang ke Lombok tanpa gelar sarjana, seorang perempuan hamil mendatangi Arya untuk minta tanggung jawab menikahinya. “Luar biasa malunya orang tua Arya waktu itu. Apalagi orang tua Arya bukan orang biasa melainkan orang yang dihormati di kampungnya,” ujar bibi Arya. Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau Arya kemudian menikahi perempuan yang tengah hamil enam bulan itu karena

Ilustrasi: net

perempuan itu tidak mau kembali ke Jawa akibat diusir oleh orang tuanya setelah diketahui ia hamil tak memiliki suami. Pernikahan tidak membuat Arya menjadi baik. Ia malah lebih asyik ke tempat-tempat hiburan hingga terlibat dengan dunia narkoba. Arya juga adalah suami yang ringan tangan pada istrinya. “Istrinya seringkali dipukuli sampai membekas terutama kalau dia sedang mabuk,” katanya. Tiap hari rumah tangga Arya dan istrinya ribut oleh teriakan pertengkaran. Sampai akhirnya istrinya tidak lagi kuat menanggung hidup bersamanya. “Saat anak mereka berusia satu tahun, istri Arya minta cerai dan pulang ke kampung halamannya,” lanjutnya.

Ilustrasi: net

18

HIDUP TANPA PEKERJAAN Bukannya merasa bersalah, tingkahnya malah menjadi-jadi. Hidup foya-foya dan tak sedikit pun ia memperlihatkan tanggung jawab pada anaknya yang jauh di seberang. Ia seperti lupa. Waktu berjalan membuat harta benda orang tuanya sudah tidak mampu lagi menopang kehidupan Arya, hingga akhirnya jatuh bangkrut. Arya mulai merasakan hidup miskin tanpa pekerjaan pula. Beruntung bagi Arya, karena ketampanannya seorang perempuan terpikat padanya. Tak lama kemudian mereka menikah. Istri Arya adalah seorang pekerja keras. Ia banyak menghabiskan waktu untuk mengurus keluarga dan berjualan nasi keliling. “Istrinya baik dan rajin sekali mencari rezeki,” ujar bibinya yang kagum pada ketabahan dan kesabaran perempuan ini menghadapi Arya. Dialah yang akhirnya membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Sedangkan Arya sama sekali tidak bekerja. Ia lebih banyak jalan ke sana kemari mengobrol politik yang tidak jelas. Kekasarannya juga belum hilang. “Bukannya berterima kasih pada istrinya dia malah sering memukuli istrinya bahkan sampai biru-biru bekasnya,” tambahnya. Maka bibi dan keponakan Arya tidak terlalu peduli ketika istrinya meninggalkan dirinya. Karena peristiwa itu sudah berkali-kali terjadi. Bibinya memahami jika istrinya melakukan itu. Ia sendiri tidak bisa mem-

bayangkan hidup bersama orang seperti Arya. Apa yang dikisahkan Arya tentang istrinya sudah sebulan meninggalkannya dalam keadaan sakit, juga tidak sepenuhnya dipercayai oleh bibinya. “Palingpaling istrinya dia pukuli dan tidak mungkin sudah sebulan ditinggalkan,” ujarnya. Benar saja, saat bibinya menelepon anak Arya untuk memintanya menjemput Arya, cerita sesungguhnya terungkap. Bahkan anak-anaknya pun menyetujui ketika ibunya meninggalkan ayahnya ini. “Kami bosan, juga kasian lihat mama selalu dipukuli papa, biarkan saja sementara ini mama di sini,” kata anak Arya di ujung telepon. Istrinya rupanya meninggalkan rumah dan tinggal bersama anak sulung mereka. Menurut anaknya, ibunya tidak pernah meninggalkan rumah sudah sebulan, melainkan baru seminggu. Arya diberi makan bukan oleh tetangganya melainkan anakanaknyalah yang mengantarkan makanan. Istri Arya adalah sosok yang luar biasa, makanan yang diantar oleh anak-anaknya itu, ia masak sendiri. “Tapi mama melarang kami untuk bilang pada papa kalau makanan itu dimasak sendiri oleh mama,” kata anaknya. Entah kapan Arya akan berubah, bibinya berharap agar ia kembali menjemput istrinya. “Jika papa mau jemput mama, kali ini papa harus berjanji untuk tidak memukuli mama lagi,” pesan anaknya yang meminta bibi Arya untuk menyampaikan hal tersebut kepada Arya. -Naniek I. Taufan


6

Woman on Top

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Hater Itu Fans Sejati

P

enyanyi dangdut Irma Darmawangsa mengaku eksistensi kariernya sangat terbantu dengan keberadaan medsos. “Manfaatnya banyak banget deh untuk kehidupan, karier, bahkan mendapatkan peluang-peluang lain di luar karier yang ditekuni,” ungkap pelantun tembang hit ‘Sir Gobang Gosir’ ini. Ia menambahkan, sering mendapat job gara-gara keaktifannya di medsos. “Mungkin orang-orang itu (pemberi kerja) melihat postingan-postingan aku di medsos. Mereka melihat apa yang sedang aku kerjakan, dll. Trus mereka tertarik memberi pekerjaan ke aku. Alhamdulilah,” kata Irma. Irma mengaku sadar betul tentang ‘kekuatan’ medsos yang luar biasa. Sebut saja soal promosi. Medsos kini menjadi salah satu alat yang ampuh untuk promosi berbagai karyanya. “Aku bisa posting single terbaru juga perkembangannya setelah diluncurkan. Di sana juga bisa posting video klip. Aku kasih link Youtube-nya biar follower bisa langsung mengakses,” kata Irma yang sudah dua bulan ini meluncurkan single terbarunya berjudul ‘Jokut’ (Jomblo Akut) yang merupakan karya sendiri. “Dua bulan meluncur, hasilnya lumayan. Sekarang berada di chart pertama pada hampir semua radio di Indonesia. Nah salah satu media yang

aku pakai promo ya lewat medsos ini. Aku kerap mendapat mention ”selamat karena menjadi ‘jawara’ pekan ini”,” kata wanita cantik ini. Sadar akan kekuatan medsos ini juga membuat Irma Management membentuk tim tersendiri yang khusus menangani ‘kampanye’ di medsos terkait kegiatan-kegiatan Irma juga karya-karyanya. Sedang di luar itu, Irma sendiri aktif mengelola akun-akunnya, yang juga bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, hobinya, dll. “Aku punya beberapa akun yang aku kelola sendiri. Kalau akun yang aku kelola sendiri pakai nama pribadi, sedang akun tim pasti pakai embel-embel ‘management atau official’ di belakang nama aku. Hanya saja untuk akun Facebook terpaksa aku tambah irma darmawangsa real lantaran akun sebelumnya di hack orang,” paparnya. Perempuan kelahiran Jakarta 1983 ini menuturkan, bukan cuma cerita manis yang didapatnya dari medsos tapi juga pengalaman menyedihkan. Menurutnya, medsos bukan saja membawa keuntungan tapi juga sempat membuatnya sakit hati. “Orang begitu bebas mengutarakan pendapatnya, baik itu kritik maupun caci maki bahkan dengan kata-kata yang paling kasar sekalipun. Saya pernah mengalaminya di awal-awal menggunakan medsos beberapa ta-

hun lalu. Saya kaget, jengkel dan sakit hati. Orang begitu mudah men-judge orang lain, mengata-ngatai, ibaratnya orangtua saya sendiri pun tidak pernah mengata-ngatai sekasar itu. Saya sakit hati dan nangis. Sempat terpikir untuk menghapus akun saya. Dulu karena kesal saya balas komen-komen kasar itu. Kemudian banyak nasihat baik dari keluarga, teman-teman, untuk tidak memperdulikan hal-hal semacam itu. Itu adalah konsekuensi public figure dan saya harus tenang menghadapinya. Malah sebaliknya saya harus berpikir positif dalam menghadapi hater-hater itu. Jadi sekarang seiring waktu, saya mulai ‘kebal’ dan tidak terlalu ambil peduli hal-hal semacam itu. Saya anggap saja para hater itu adalah fans sejati saya. Iya dong, wong mereka sangat perhatian pada saya sampai hal kecil-kecil yang ibaratnya saya nggak tahu, mereka tahu...ahhahahaha... jadi ya sudah, sekarang bagi saya ucapan-ucapan haters itu saya bawa enjoy aja, nggak usah galau,” katanya sembari tertawa. BISNIS ONLINE Agar tidak di-bully, dia berupaya menjaga kata maupun sikapnya, termasuk materi-materi yang di-posting yang telah diseleksinya. Irma tidak mau memancing perhatian orang dengan mem-posting hal-hal negatif karena menurutnya banyak hal positif yang bisa di-posting yang juga menarik perhatian orang. “Seperti kebanyakan artis, aku posting hal-hal standar saja, hal-hal positif tentang kegiatan aku, tentang keseharian, dll, yang tidak terlalu memancing orang untuk berkomen negatif,” katanya seraya mengakui bahwa ada juga artis yang memang sengaja menampilkan hal-hal tertentu yang mengundang perhatian. “Bagi aku ya bebas-bebas aja, nggak mau ikut campur. Karena semuanya tergantung pada pribadi masing-masing orang. Mungkin orang yang posting hal-hal begitu memiliki target tertentu atau apa, aku nggak tahu. Biar saja, yang penting tidak

saling mengganggu saja,” katanya. Seperti artis lain, Irma pun menggunakan medsos bukan hanya untuk penunjang kariernya di dunia tarik suara tapi juga berbisnis kecil-kecilan. “Iya kadang-kadang aku buka ‘lapak’ kecil-kecilan. Aku pasang produk. Aku kan punya banyak

–Diana Runtu

Irma Darmawangsa

Trik Hadapi Pembeli Iseng Sudah bukan rahasia lagi bahwa pengguna internet di Indonesia semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Internet telah memberi solusi berbagai masalah jarak dan waktu dalam berinteraksi antar sesama manusia apapun tujuannya. Hal tersebut juga disampaikan oleh Luh Rena Lesia Dewi.

S

aat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial (medsos) pun ikut tumbuh dengan pesat. Jejaring sosial merupakan situs di mana setiap orang bisa

membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Salah satu jejaring sosial terbesar adalah Facebook. “Paling sering itu pakai F FB dan BBM,” ujar Rena panggilan akrabnya. Ia juga mengatakan bahwa menggunakan media sosial sangat besar manfaatnya. “Bisa say hello dengan teman-teman yang jauh,” imbuhnya. Media sosial juga digunakan sebagai tempat meng-

gali informasi tentang pekerjaan. “Cari informasi tentang kerjaan lebih mudah karena sudah ikut grup,” tambah Rena. Grup yang dimaksud adalah kumpulan orang yang siap berbagi informasi masalah peluang kerja sehingga mempermudah seseorang yang ingin mencari pekerjaan. Selain memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi, wanita kelahiran 13 Januari itu juga memanfaatkan media sosial utamanya FB sebagai lahan bisnis. “Melalui media sosial saya bisa

Ingelina Aprilliawati

mempromosikan bisnis juga,” tambah istri dari Ketut Suarjaya itu. Memilih FB sebagai salah satu media untuk bisnis dikarenakan jumlah penggunanya lebih besar dibandingkan media sosial yang lain. Ia mengaku jika penggunaan media sosial dalam menawarkan bisnis sangat besar manfaatnya. “Salah satu keuntungan yang didapat, ya bertambahnya omzet per bulan,” lanjutnya. Menyediakan aplikasi yang tidak sulit, ia dapat men-share informasi bisnis yang dimiliki untuk orang lain tanpa batas. Namun ia juga mengatakan bahwa pemesanan secara online akan membuat lebih ribet pengiriman dan packing. Ibunda dari Luh Devika Putri Yuningsih dan Kadek Gavin Satya Nararya juga tidak menyangkal, selain memiliki keuntungan yang luar biasa penggunaan medsos juga dapat menimbulkan kerugian. “Kadang-kadang kalau

lagi promosi malah ada akun lain yang ikutan nimbrug buat promosi juga,” ungkap Rena. Berteman dengan banyak orang yang belum tentu dikenal dalam jejaring sosial tentu membuat ia harus waspada dan lebih hati-hati. Dalam menjalankan bisnis di medsos Rena memiliki trik khusus untuk menghadapi pembeli yang cuma “iseng”. “Transfer dulu uangnya kalau barang kosong uang akan dikembalikan,”sarannya. Hal ini untuk mengantisipasi pembeli yang tidak bertanggung jawab. Banyaknya hal yang di share di jejaring sosial baik itu yang bermanfaat sampai yang membuat risih membuat Rena lebih berhati-hati dalam memilih maupun menerima pertemanan. “Kalau konfirmasi pertemanan harus pilih-pilih dulu,” tambahnya. Para pengguna FB juga dianjurkan untuk lebih bijak menggunakan medsos. -Wiwin

19

Dari Pendidikan ke Otomotif

Berpaling dari asisten dosen (asdos) ke bidang otomotif karena kesukaannya berkomunikasi. Itulah Ingelina Aprilliawati yang bekerja di Honda Surabaya Center (HSC) sebagai Chief Of Marketing Communication. Perempuan yang akrab disapa Inge ini memiliki passion di dunia otomotif.

“B

kapanLagi.com

Pesatnya kemajuan teknologi informasi yang kemudian dikuti maraknya media sosial dianggap sebagai ‘berkah’ bagi mereka yang bergelut di dunia entertainment. Di kalangan artis misalnya, teknologi informasi benar-benar bukan saja dijadikan alat penunjang karier mereka di dunia hiburan tapi memberi mereka kesempatan untuk lebih mengembangkan diri bahkan merambah ke bidang lain, misalnya dunia bisnis. Banyak artis memiliki akun medsos bahkan lebih dari dua.

vendor produk yang mau mengeluarkan biaya (membayar) jika kita posting produknya. Jadi aku dapat income juga dari sana,” tutur Irma yang belum berpikir untuk membuka toko online. “Aku belum mikir soal membangun toko online karena itu berarti kan aku harus fokus ke sana. Sementara sekarang ini aku masih fokus pada karier menyanyi,” katanya.

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

agi saya bidang otomotif ini dinamis, terus berkembang. Karena itu saya suka, apalagi merek ternama dan banyak hal yang membuat saya suka,” ujar perempuan kelahiran Malang, 18 April 1990 ini. Tidak hanya itu, bertemu banyak orang dan setiap hari silih berganti membuatnya betah. Mengerti konsumen, cara memperlakukan mereka seperti apa. Bukan hanya sekadar ingin lalu mereka beli. Disini terjadi komunikasi, itulah yang Inge cari. “Bukan hanya itu, kebetulan saya juga menangani pelati-

kurang paham. Namun, lambat tahun terus mempelajarinya. Tetapi, sebenarnya pekerjaan utama bukan hal itu, pekerjaan utama saya adalah bagaimana berkomunikasi dengan konsumen, rekan kerja, dan korporat,” jelas alumnus Universitas Brawijaya jurusan Komunikasi Bisnis ini. Karena itulah, ia menikmati

pekerjaannya. Padalah sebelumnya, perempuan berparas cantik ini menggeluti bidang pendidikan dengan menjadi asisten dosen. “Sebenarnya sama saja, apalagi saat ini sudah sesuai dengan bidang saya. Intinya pekerjaan yang berhubungan dengan komunikasi, bidang apapun sangat menyenangkan,” tegasnya. -Diyah Khoirunnisa

Ingelina Aprilliawati

han karyawan. Bagaimana cara menghadapi konsumen, berkomunikasi, dan cara bekerja serta hubungan baik dengan pihak luar,” ujarnya. Disitulah, ia menjadi menyukai dunia otomotif, komunikasinya sangat menyenangkan karena kedinamisannya bidang otomotif. Bisa dikatakan, tidak membosankan. Apalagi kini, otomotif roda empat bukan hanya menjadi kendaraan untuk mengantar konsumen ke mana saja. “Sekarang menjadi lifestyle

customer. Gaya hidup mereka dilihat dari kendaraan yang mereka pakai. Bahkan, beberapa dari mereka juga menjadikan mobil sebagai investasi. Mobil sekarang sudah bergeser fungsi,” katanya. Disitu juga, perusahaan otomotif berusaha memberikan informasi mobil yang ia beli bukan hanya sebagai kendaraan. “Saya juga ikut andil dalam hal itu,” ungkapnya. “Kalau untuk produk dan mesin-mesinnya, awalnya saya

Meimura Tampilkan “Lingkaran”dan “Satu Cinta” Sejak bergabung dengan Teater Ragil Surabaya pada 1982, Meimura terus menghasilkan karya. Pada 1983, ia terbang ke Malaysia untuk memperdalam ilmu teater. “Kuman”, “Monolog Lingkaran”, “Monolog Satu Cinta”, dan “Masyarakat Rosa” adalah sebagian dari banyak karya yang telah dihasilkannya. Tak hanya mementaskan monolog dan pementasan teater lainnya, Meimura juga ber-

partisipasi pada drama kolosal ‘Surabaya Membara’ yang digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November. Ia menjadi konseptor dan sutradara pada pertunjukan itu tiga kali berturut-turut sejak 2012 hingga 2015. Tahun 2016 ini, Meimura akan mengadakan pentas keliling untuk dua naskah monolognya yang berjudul “Lingkaran” dan “Satu Cinta”. Pertujukan keliling pertama digelar di kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan dua pertunjukan sekaligus, Pertunjukan pertama “Lingkaran” yang menceritakan Siti telah mati berkali-kali. Ia lahir dari buruh tani. Sehari-hari mengais sisa padi. Di penampungan TKI bagai dalam terali, di tempat kerjanya menghadapi hukuman mati. Siti telah mati berkali-kali di tanah airnya sendiri, di tempatnya bekerja, dan di meja peradilan. Siti-Siti itu telah mati berkali-kali meski lahir di antara gemuruh, kepahlawanan, dan televisi. Pertunjukan “Satu Cinta” menceritakan bumi ini, tanah ini, telah mencatat berkali-kali tentang cinta dan pengkhianatan antara kau, aku, dan Tuhan. - Dona


20

Nine

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Makanan Sehat Tak Selalu Mahal

Kasus gizi buruk menjadi perhatian TP PKK Provinsi NTB. Karena itu dalam roadshow yang dilakukan TP PKK NTB ke Pulau Sumbawa, gizi buruk menjadi salah satu hal yang mengemuka dalam sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi. “Kasus gizi buruk yang terjadi di NTB kerap disangkutpautkan dengan kemiskinan, namun itu tidak sepenuhnya benar. Ada faktor lain yang mempengaruhinya seperti misalnya tidak menempatkan anak-anak sebagai prioritas. Termasuk kurangnya kesadaran generasi muda yang nantinya akan menjadi calon orangtua untuk menerapkan pola hidup sehat,” ungkap Erica saat memberi arahan dan pembinaan 10 program pokok PKK kepada pengurus TP

PKK Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Gizi buruk pada bayi dan balita, bisa dicegah sejak awal. Itulah yang kini menjadi salah satu prioritas perhatian PKK NTB. “Guna melahirkan bayi yang sehat haruslah dimulai dari diri kita sendiri selaku calon orangtua untuk mulai hidup sehat,” ujarnya. Menurutnya jika mau membebaskan daerah ini dari gizi buruk, maka harus dimulai sedini mungkin, bahkan dari diri sendiri.

Menerapkan pola hidup keluarga sehat dan panganan sehat untuk anak-anak adalah faktor penting yang harus dilakukan. “Makanan sehat tidak harus selalu mahal. Sebagai orangtua kita harus pintar memilih makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi anak-anak kita,”

ujarnya saat menghadiri acara pelantikan Ketua dan pengurus TP PKK Kabupaten Dompu Masa Bhakti tahun 2016-2021 yang dirangkaikan dengan Pembinaan 10 Program Pokok PKK. Selain itu, menurutnya gizi buruk juga terjadi karena banyak sekali orangtua yang malas me-

nyediakan makanan dan jajanan sehat untuk keluarganya. “Daripada beli jajanan yang kurang sehat, alangkah bagusnya kita sediakan keluarga kita makanan yang sehat dan mudah kita buat dirumah. Para ibu juga diimbau untuk bisa memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayur dan buah dapat menjadi alternatif yang menyehatkan dan bermanfaat bagi keluarga. Makanan bergizi tidak harus selalu mahal, dan mudah dijumpai di mana pun. “Singkong untuk perkembangan saraf, ubi ungu untuk sistem kekebalan tubuh. Tumbuh-tumbuhan ini banyak kita jumpai di pasar dan harganya sangat terjangkau, mengolahnya pun sangat mudah. Ini bisa menjadi makanan alternatif yang sehat untuk keluarga kita,” kata Erica ketika roadshow ini tiba di Kabupaten Sumbawa. –Naniek I. Taufan

Inspirasi Drs. I Wayan Sumatra

Dalam roadshow yang dilakukan ini perhatian lain dari PKK NTB adalah mengingatkan pada orangtua khususnya para ibu untuk mengawasi tontonan anak baik di televisi maupun di media sosial terutama yang berbau pornografi dan bahaya narkoba. “Bahaya dari anak yang sering mengonsumsi konten-konten porno ini adalah rusaknya jaringan pada otak yang akhirnya merusak masa depan mereka,” ujarnya. Waspada terhadap kekerasan seksual yang kerap terjadi pada anak-anak juga harus menjadi agenda penting yang

diperhatikan oleh masyarakat terutama para ibu untuk mengawasi anak-anak mereka. “Jangan gampang percaya dan menitipkan anak pada sembarang orang, karena orang terdekat pun bisa jadi pelaku kejahatan tersebut,” ungkapnya. Kegiatan roadshow yang dilakukan PKK NTB ini untuk mensinergikan program kegiatan dengan TP PKK di kabupaten dan kota yang ada di Pulau Sumbawa. Ketua TP PKK Kota Bima Hj. Yani Marlina menyambut baik sinergitas tersebut untuk dapat membangun keluarga-keluarga sejahtera

dan kuat. Karena itu berbagai kegiatan dilaksanakan untuk mendukungnya. “Peran TP PKK sebagai tim penggerak di Kota Bima, telah dilakukan dengan melaksanakan kegiatan dalam upaya mewujudkan kehidupan keluarga mandiri, bahagia, sehat dan sejahtera, dan telah sesuai dengan program nawacita pemerintah,” ungkap Yani Marlina. Itulah sebabnya Ketua TP PKK Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Hj. Hanifah Musyafirin, S.Pt juga menyatakan kesiapannya dalam membangun sinergi yang dapat mendorong

Road Show PKK Provinsi NTB sekaligus pelantikan pengurus PKK se-Pulau Sumbawa

terciptanya keluarga-keluarga berkualitas. Karena Hanifah Musyafirin, mengimbau ke-

pada pengurus PKK KSB yang beberapa waktu lalu telah dilantik untuk bekerja dengan lebih giat hingga lima tahun ke depan dalam membantu program pemerintah mewujudkan masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera. “Program kerja PKK KSB akan kami sinergikan dengan program kerja PKK Provinsi NTB dan pemerintah KSB. Semoga dengan pembinaan ini memberi motivasi pengurus TP PKK di KSB ini untuk bekerja lebih giat dalam menggerakkan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup mereka,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan

5

Ke Istana berkat Gebogan Orang Bali identik dengan kesenian. Seni yang ditekuni bermacam-macam, diantaranya seni tari, seni rupa, seni tabuh, dan seni dekorasi. Khusus seni dekorasi di Denpasar, nama Drs. I Wayan Sumatra cukup terkenal.

K

Awasi Tontonan Anak

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

etika TP PKK Kota Denpasar bersinergi dengan Tabloid Tokoh dan Garudafood mengadakan pelatihan kreativitas tanpa batas, nama Sumatra langsung mengemuka. Pria asal Br. Ketapian Kaja, Denpasar ini memang piawai membuat dekorasi tradisional Bali. “Begitu dihubungi untuk melatih anggota PKK Kota Denpasar dan diberi bahan, saya langsung mendapat inspirasi. Saya buatkan tamiang dengan bahan dasar daun lontar. Bungkus Ting Ting Garuda sebagai hiasan di tengah. Kalau biasanya pakai bunga mawar atau margot, saya ganti dengan bungkus Ting Ting Garuda,” ujar pria kelahiran 22 November 1955 ini. Semua bungkus camilan kacang ini bisa menjadi hiasan. Ini menjadi nilai plus karena dari bungkus camilan bisa menjadi tamiang untuk hiasan dinding atau meja. Sumatra mengaku membuat kreasinya ini bisa lebih cepat karena bahan sudah tersedia dan ia banyak belajar dari pengalaman. Hasil kreasi tamiang karya Sumatra pun dikagumi Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly Mantra dan Ketua Dharma Wanita

Kota Denpasar Ny. Rai Iswara, Arif Pujianto, Regional Head Bali Nusra PT SNS, dan Ida Bagus Asta Wibawa, Regional Sales and Promotion Bali Nusra Garudafood. Saat pelatihan yang digelar di Gedung Santi Graha, tamiang dari bungkus Ting Ting Garuda menjadi dekorasi meja.

PENYU JADI FAVORIT Mengenai keahlian membuat dekorasi, Sumatra mengaku belajar dari ibunya. “Orangtua saya, terutama ibu sering membuat lamak. Saya sering bantu. Lama

kelamaan saya bisa sendiri. Belajar sendiri alias otodidak,” ujar suami Ni Nyoman Sudani, S.Ag. ini. Kolaborasi dengan sang istri pun kerap ia lakukan. Jika ada pelatihan banten, sang istrilah yang banyak berperan. Mereka pun banyak memiliki materi duet. Ayah dari Ni Wayan Anik Suciastiti dan Kadek Heri Yuliaputra ini pun sering ikut lomba di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dan sering menjadi juara I. Namanya pun dicatat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Ketika Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI, pihak Istana memerlukan tenaga dekorasi untuk upacara 17 Agustus. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ditugaskan mencari tenaga dimaksud. Sumatra pun diberangkatkan ke Istana Negara. “Awalnya saya kira ke Istana Tampaksiring, ternyata ke Istana Negara. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan itu. Saya pun menyiapkan bahan untuk membuat lamak. Ternyata sampai di Jakarta, saya disuruh membuat gebogan dan sudah disiapkan buah, bunga, dan janur,” kenang alumnus FKIP Unud Singaraja (sekarang Undiksha) ini. Di Jakarta ia sempat bertemu

kerabatnya. Ada yang berkelakar, yang sudah puluhan tahun di Jakarta belum pernah ke Istana sedangkan yang baru datang ke Jakarta bisa langsung ke Istana. Selama bertugas membuat dekorasi, Sumatra ikut membantu tim Jawa Timur. Buah ental yang tidak terpakai dibelah dan diukir menjadi penyu. Ternyata penyu kreasi Sumatra menjadi sorotan dan favorit pengunjung. Ia pun diperkenalkan kepada para pejabat karena kepiawaiannya membuat dekorasi yang bernilai tradisional dan unik. Kini kakek empat cucu ini terus mantapkan langkahnya untuk menekuni seni dekorasi. Ia pun kerap menjadi pelatih bagi kelompok yang ingin memperdalam seni dekorasi. -Ngurah Budi

Drs. I Wayan Sumatra

Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan (kedua dari kiri), Toto Heli Yanto (ketiga dari kiri) dan Ny. Rai Iswara (ketiga dari kanan) bersama penerima bantuan sembako.

Pelindo III Peduli dan Berbagi

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III bekerja sama dengan Kecamatan Denpasar Selatan, menggelar acara pembagian paket sembako secara gratis di kantor Camat Denpasar Selatan, Sabtu (19/3). Acara yang digelar secara sederhana ini, dihadiri istri Sekda Kota Denpasar Ny. AA Rai Iswara, Direktur SDM dan Umum PT Pelabuhan III ( Persero), Toto Heli Yanto, dan Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan, Toto Heli Yanto dalam sambutannya mengatakan, Pelindo Peduli merupakan program tahunan yang rutin dilaksanakan. “Program ini sebagai wujud tanggungjawab perusahaan kepada masyarakat khsusunya masyarakat yang ada di sekitar area pelabuhan,” kata Toto. Toto menambahkan, Pelindo Peduli mempunyai program untuk menyejahterakan masyarakat antara lain, program bedah rumah dan bina lingkungan yang diperuntukkan di bidang pendidikan, sosial serta rumah ibadah. Pelindo III membagikan 426 paket sembako kepada masyarakat di Kecamatan Denpasar Selatan. Sebelumnya, sebanyak 500 paket sembako telah diserahkan kepada masyarakat Tanjung Benoa pada tanggal 7 Maret dan 74 paket sembako dibagikan kepada masyarakat di lingkungan pelabuhan Benoa. Total bantuan sembako gratis yang sudah disalurkan sebanyak 1000 paket sembako senilai Rp 120 ribu per paket. Camat Denpasar Selatan AA Gede Risnawan menyambut bakti sosial dari Pelindo III ini. Ia berharap, semoga bantuan yang diberikan ini, dapat bermanfaat bagi warga masyarakat Sesetan.–Wirati Astiti

Penandatanganan MoU antara Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar dengan Tabloid Tokoh dilaksanakan Jumat (18/3) di aula Yayasan Dwijendra bertepatan dengan HUT ke-30 Fakultas Hukum Universitas Dwijendra. Penandatanganan disaksikan Rektor Universitas Dwijendra Denpasar Dr. Putu Dyatmikawati, S.H., M.Hum.


4

Inspirasi

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Syarifah Aliyyah Shihab

Lebih Suka Disebut Sociopreneur

Umumnya orang yang divonis penyakit berat apalagi penyakit langka akan shock dan tertekan. Betapa tidak, bayangan akan menderita seumur hidup, tak bisa hidup normal seperti dulu dan yang terberat adalah maut yang mengintai setiap saat. Pikiran-pikiran negatif yang terus menerus membuat orang merasa depresi. Itu juga yang dirasakan Syarifah Aliyyah Shihab ketika divonis dokter menderita penyakit lupus. Ketika itu usianya masih 19 tahun dan merupakan remaja yang aktif dengan seabreg kegiatan produktif.

aktif di kegiatan sosial khususnya dalam memberi motivasi pada para remaja. Aliyyah membimbing mereka untuk bisa menemukan bakatnya karena dari bakat yang diasah. kelak bisa menghasilkan sesuatu bagi kehidupan mereka. Tepatnya Juli 2007, tutur Aliyyah, atas saran keluarganya ia pun mendirikan sebuah yayasan sosial bernama Syarifah Aliyyah Shihab Foundation atau biasa disingkat dengan SAS Foundation. “Maksudnya agar kegiatan lebih terkoordinir juga profesional. Saya bertindak sebagai motivator. Alhamdullilah sampai sekarang sudah 1 juta lebih anak dari berbagai daerah yang mendapat motivasi dari kita,” katanya. Wanita kelahiran Juli 1988 tahun lalu ini mengaku memiliki ketertarikan tersendiri pada pembinaan terhadap remaja, khususnya pada remaja-remaja tak mampu. Karena itu banyak programnya dilancarkan untuk pembinaan dan pemberian motivasi mereka.

“Y

Pinky Hijab Community

a seperti orang pada umumnya ketika divonis dokter menderita sakit berat. Apalagi yang saya derita adalah penyakit langka, lupus. Saya sempat terguncang dan down,” ungkap pendiri SAS Foundation ini. “Uniknya, setahun sebelum divonis menderita lupus, saya menulis novel berjudul ‘Kawin Kontrak’. Novel itu bercerita tentang seorang gadis yang karena miskin terlibat dalam kawin kontrak. Namun akhirnya gadis itu meninggal karena lupus. Novel itu terbit tahun 2007. Lalu tahun 2008 saya divonis dokter menderita lupus. Rasanya aneh juga, kok bisa cerita yang saya tulis menjadi kenyataan pada diri saya,” tambah anak pertama dari delapan bersaudara, ini. Namun, akunya, ia tak mau berlama-lama dalam keterpurukan. Ia menyadari tak bisa terus berdiam diri dan meratapi nasib karena itu tak akan mengubah apapun. Bahkan yang terjadi akan memperburuk penyakitnya. Apalagi, memang, pada dasarnya ia bukan lah orang yang suka berdiam diri tanpa kegiatan. Ia ingin bermanfaat bagi orang lain, itulah yang terus ia tanamkan dalam dirinya. Berangkat dari kesadaran itulah Aliyyah perlahan bangkit dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Meski. memang. tidak bisa lagi seperti dulu karena kondisi fisiknya yang mudah lelah. “Kalau dulu dalam sehari saya bisa lima kali road show ke sekolah-sekolah, kalau sekarang hanya bisa sekali

karena badan mudah capai,” tutur peraih Young Caring Professional Award 2012. Bertutur Aliyyah, sejak kecil ia sangat suka berkegiatan. Itu terus berlanjut hingga ia remaja. Kemudian atas saran orangtuanya ia masuk pesantren. Di luar dugaan justru di pesantren inilah ia menemukan bakatnya sebagai penulis. “Keluar dari pesantren saya menerbitkan novel. Buku pertama saya berjudul‘The Power of First Love’,” katanya. Untuk mempromosikan bukunya, ia pun melakukan roadshow ke sekolahsekolah. Suatu ketika ia melakukan road show ke sekolah di Cianjur tapi ternyata bukunya tidak laku alias tidak ada yang beli. Padahal ketika ia melakukan talkshow, para murid sangat antusias. “Saya bertanya-tanya, kenapa buku nggak laku. Apakah karena jelek. Lalu tanya ke guru-guru dan kepala sekolah. Mereka pun menjelaskan bahwa kebanyakan murid di sekolah itu orangtuanya adalah buruh dan petani yang pendapatan per-harinya kurang dari Rp20 ribu. Itu pendapatan tahun 2007,ya. Sementara harga buku saya Rp35 ribu. Jadi ibaratnya kalau membeli buku saya itu sama saja dengan penghasilan dua hari orangtuanya,” jelas Aliyyah terharu. Jadi, katanya, meski bukunya tidak terjual, ia tetap memberikan motivasi kepada para pelajar agar tetap semangat dalam menggapai cita-cita demi masa depan mereka. Pengalaman itu juga sekaligus ikut menggugah Aliyyah untuk terus

BERBISNIS UNTUK BIAYAI KEGIATAN SOSIAL Pilihan Aliyyah sungguh tepat karena kebanyakan kita mendengar adalah motivator untuk kalangan dewasa tapi motivator untuk kalangan remaja apalagi remaja tak mampu jarang terdengar. “Motivator untuk remaja jumlahnya masih kurang. Padahal mereka juga memiliki problem dan perlu diarahkan untuk membangun diri. Misalnya tentang persoalan cinta, mengatur keuangan, konflik keluarga, dll. Mungkin untuk remaja kalangan atas, mereka bisa mendatangi psikolog atau motivator, tapi untuk kalangan menengah bawah tentu sulit karena dana untuk itu cukup lumayan. Pilihannya tentu adalah memenuhi kebutuhan pokok. Karena itu lah saya, antara lain, berkecimpung pada bidang pemberian motivasi remaja,” papar penerima N-Peace Award dari UNDP PBB 2014. N-Peace Award adalah penghargaan yang diberikan kepada aktivis di seluruh dunia yang dianggap melakukan kegiatan yang mendukung misi perdamaian. “Saya mendapat penghar-

Syarifah Aliyyah Shihab

gaan dari UNDP PBB kawasan Asia Pasific. Menurut mereka aktivitas yang saya lakukan bisa menjadi contoh atau model untuk advokasi perdamaian. Ini bisa menciptakan perdamaian dan menghindari remaja-remaja dari hal radikal dan ekstrim,” tambahnya. Untuk itu juga Aliyyah dan teamnya rajin melakukan road show ke sekolah-sekolah serta mengcreat berbagai kegiatan. Road show ke sekolah-sekolah, jelas Aliyyah lebih jauh, tujuannya untuk mengembangkan bakat para remaja. “Biasanya saya memulai dengan menceritakan pengalaman saya sebagai penulis novel yang mendapat penghasilan dari bakat saya. Jadi setelah sharing 30 menit, kami membagikan kuesioner yang kami buat bersama psikolog,” katanya. Setelah itu, katanya, sepekan kemudian para remaja ini akan dibagikan sertifikat yang ada hasil tes bakatnya. “Dengan mendapat sertifikat itu mereka akan ingat bahwa mereka memiliki bakat dan kelak dewasa bisa menjadi ini dan itu”.

Diakui Aliyyah untuk menjalankan banyak program dari yayasannya diperlukan dana yang cukup lumayan. Untuk itu dia tak mau berpangku tangan dan hanya mengharapkan datangnya sponsor. Dia dan teman-temannya berjuang untuk menghasilkan suatu karya kreatif yang dapat menghasilkan uang. Berbagai kegiatan dicreate dan dana yang berhasil dikumpulkan digunakan untuk membiayai program-program yayasan. Salah satunya adalah lewat penerbitan buku. Ya memang ini tak jauh-jauh dari bakat Aliyyah. Berawal dari diterbitkannya buku Hijab yang isinya serba pink sehingga lahirlah komunitas perempuan cantik berhijab yang kemudian dikenal sebagai Pink Hijab Community. “Itu terjadi pada 2012. Waktu itu saya pikir komunitas ini harus berbentuk perusahaan, kemudian kami membentuk Pink Hijab Corporation. Perusahaan ini membawahi sejumlah divisi di antaranya, community, butik, dll. Nah penghasilan dari butik inilah menjadi salah satu pendapatan untuk yayasan. Jadi ibaratnya di Pink Hijab Corporation ini tempat mencari uangnya, jualannya, keuntungannya dipakai oleh yayasan kita,” kata Aliyyah yang lebih suka menyebut dirinya sociopreneur. Seolah ingin membuktikan bahwa penyakit tak mampu menghalangi dirinya untuk terus berkarya dan berbagi kepada sesama, ia bukan hanya aktif di SAS Foundation dan Pink Hijab Corporation tapi sejumlah organisasi lain, di antaranya adalah yayasan pengembangan multi talenta remaja. “Saya menjadi seperti ini berkat didikan dan bimbingan orangtua. Saya ingin dengan kemampuan saya bermanfaat bagi orang lain,” tandas Aliyyah. -Diana runtu

Mandalika

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

Lombok, Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia

Nusa Tenggara Barat akan dijadikan sebagai salah satu fokus pengembangan destinasi wisata halal unggulan sebagai upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai World’s Best Halal Tourism Destination. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pariwisata RI, Arif Yahya yang menjadi keynote speaker pada seminar Daya Tarik Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia yang berlangsung di Mataram beberwaa waktu.

Gubernur NTB saat meninjau kesiapan Islamic Centre sebagai lokasi MTQ Nasional 2016

H

al ini semakin menguatkan predikat halal, setelah Lombok meraih penghargaan destinasi wisata halal terbaik dunia (The World Halal Tourisme Destination) beberapa

waktu lalu. Seminar ini menghadirkan pembicara ahli pariwisata halal dan praktisi pariwisata halal seperti Riyanto Sofyan-owner hotel Sofyan Betawi, Sapta Nirwandarpenasihat Kehormatan Kemenpar RI, Akhmad Saufi-Dosen dan

Arif Yahya

Dr. TGH. M. Zainul Majdi

Peneliti Kepariwisataan Unram, Ikhsan Abdullah-Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch dan Rifda Amarina - CEO PT. Puteri Cahaya Kharisma. Kementerian Pariwisata menyatakan bahwa pasar Pariwisata Halal sangat potensial untuk mewujudkan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta perjalanan wisatawan nusantara pada tahun 2019. Untuk menegaskan penghargaan tersebut salah satunya adalah dengan penataan lighting system (sistem pencahayaan) pada bangunan Masjid Islamic Centre NTB, yang pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus mendatang akan menjadi tempat penyelenggaraan MTQ Tingkat Nasional 2016.

Lighting system atau sistem pencahayaan, yakni pengaturan pencahayaan digunakan selain fungsi menerangi interior atau

eksterior bangunan, juga meningkatkan kualitas dan kegunaan ruang interior maupun eksterior dari Islamic Centre yang kini menjadi ikon bumi gora. Kementerian Pariwisata telah menyiapkan anggaran untuk hal ini. Bahkan Menteri Arif Yahya minta disiapkan tiga masjid lagi untuk dibiayai lighting serupa. Sistem pencahayaan di Islamic Centre NTB nantinya akan memiliki teknologi seperti Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Selain Islamic Centre, Kota Tua Ampenan juga dinilai layak dikembangkan menjadi ikon destinasi wisata halal. Begitu pula dengan sebagian kawasan Pantai Senggigi akan dikembangkan konsep yang kini tengah populer di dunia yaitu konsep wisata Moslem Friendly Beach. -Naniek I. Taufan

Islamic Centre jadi Arena Utama MTQ Nasional yang akan dijadikan lokasi arena utama MTQ. Dalam kesempatan itu Gubernur memerintahkan agar segera dibuat desainnya dan meminta kepada semua masyarakat NTB

khususnya umat islam turut serta menyukseskan pelaksanaan Musabbaqah Tilawatil Qur’an tahun ini dan memberikan kesan yang baik bagi daerah. Dalam waktu dekat segera ditentukan titik central

Seminar Daya Tarik Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia, di Mataram

Butik hijab milik syarifah aliyyah

21

Gubernur NTB, Dr. TGH Zainul Majdi menginginkan Lombok-Sumbawa menjadi contoh pariwisata halal terbaik di Indonesia. Ia mengajak kepada seluruh Pemerintah kabupaten/kota, pihak keamanan, pelaku wisata untuk bersinergi memajukan pariwisata. Islamic Centre yang berdiri megah di tengah Kota Mataram tidak lama lagi akan menjadi ikon yang berkelas baik untuk wisata halal maupun untuk daerah

NTB. Pada tanggal 29 Juli hingga 16 Agustus mendatang, Islamic Centre akan kedatangan tamutamu peserta MTQ Nasional dari seluruh Indonesia. Untuk memastikan kesiapan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai tuan rumah Musabbaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional tersebut, beberapa waktu lalu Gubernur NTB, Dr. TGH Zainul Majdi didampingi Wali Kota Mataram H. Ahyar Abduh meninjau kondisi kesiapan Islamic Centre

Islamic Centre

arena utama bahkan dari jalan ke arah Islamic Centre direncanakan terbuka agar bisa dimanfaatkan tamu-tamu yang akan hadir dari berbagai daerah. --Naniek I. Taufan


22

Sosialita

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Bunda Arsaningsih

Temu Kangen A

Pembukaan Indonesia Fashion Week 2016

Industri Fashion paling Siap dalam MEA

Ketika industri lain merasa ketar-ketir memasuki era MEA (masyarakat ekonomi Asean) yang mulai berlaku per Januari 2016 ini, industri fashion Indonesia justru merasa sangat percaya diri. Salah satu bukti kemegahan fashion Indonesia mungkin bisa dilihat pada Indonesia Fashion Week (IFW) 2016 yang eventnya baru berakhir minggu lalu.

P

erhelatan yang dibuka dengan penampilan tarian Bali, kali ini memang terasa berbeda. Bisa jadi karena event yang mengangkat tema ‘Reflection of Culture’ ini digelar pada saat MEA baru berumur tiga bulan. Momen ini bisa menjadi ajang unjuk gigi fashion Indonesia yang mengalami kemajuan pesat dalam beberapa dekade terakhir. Karenanya bukan kebetulan kalau tema yang diangkat pada perhelatan IFW tahun kelima, bersifat menonjolkan keragaman budaya nusantara lewat kain-kain dari berbagai daerah berikut pernak-perniknya yang disulap menjadi fashion modern. Sarung Majalaya dan songket Silungkang asal Sumatera Barat yang dikreasikan Shetyawan dari rumah mode Shafira menjadi busana muslim mempesona di panggung IFW 2016. Mengambil tema ‘Twenties Metropolis’, Shafira yang belum lama ini tampil dalam ajang Couture Fashion Week di New York, kali ini mengawinkan mode New York era 1920-an dengan

wastra asli Nusantara lewat 60 busana koleksinya. “Shafira setiap tahunnya selalu mengusahakan ada surprise. Kita mengeluarkan koleksi yang keren, modern dan bermuatan lokal,” ungkap Fenny, pemilik dan pendiri Shafira Corporation. Zaskia Sungkar pun tak mau kalah. Artis sinetron yang belakangan lebih fokus pada bisnisnya di bidang fashion ketimbang kariernya di dunia akting, mengangkat batik dan tenun dengan nuansa hitam-putih. “Hitam-putih warna kesukaan aku. Susah cari batik dan tenun dengan warna itu, jadi aku langsung ke pengrajinnya,” ungkap Zaskia seusai peragaan. Secara keseluruhan istri aktor Irwansyah ini, menampilkan 12 karya dengan sentuhan rangrang asal Bali, tenun juga katun. “Secara keseluruhan ada 12 koleksi. Benang merahnya adalah batik cap Garutan dan rangrang Bali, tenun dan katun,” ucap Zaskia. Ia menambahkan dirinya ingin mengajar para anak muda untuk tidak melupakan kain tradisional yang merupakan warisan budaya Indonesia. Yang juga menarik dari panggung Zaskia adalah saat ia menampilkan adiknya Shireen Sungkar dalam ajang fashion show. Pemeran sinteron ‘Cinta Fitri’ ini tampil cantik dengan busana monokrom hitam putih dengan sentuhan tenun dibalut jilbab warna putih tulang. Menurut Puan Maharani, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, kekayaan budaya Indonesia dengan berbagai macam coraknya, dapat menjadi

Rancangan Zaskia Sungkar dalam hitam putih

inspirasi serta karakter dalam karya fashion modern. Dengan karakter dan kepribadian fashion berbasis budaya, karya fashion Indonesia menjadi lebih kuat dalam membangun Indonesia. “Hal ini juga akan memperkuat daya saing fashion kita terutama dalam menghadapi kompetisi dengan industri fashion global,” kata Puan saat membuka IFW 2016 di JCC Jakarta. Ia berharap agar kelak Indonesia menjadi salah satu pusat fashion di Asia maupun dunia. Perkembangan industri fashion memang terus didorong maju karena sektor ini telah mampu menyumbang PDB sebesar Rp 181 triliun dan menyerap 3,8 juta tenaga kerja. Pesatnya perkembangan industri fashion Indonesia juga diungkap oleh Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Euis Saedah. Bahkan menurutnya saat ini industri fashion adalah salah satu industri yang paling siap bersaing dalam kancah MEA. “Industru Kecil Menengah yang bergerak di bidang fashion dinilai paling siap dalam MEA,” kata Euis. Berdasarkan data Tim Studi Ekonomi Kreatif Kemenparekraf 2014, sektor ekonomi kreatif memberi kontribusi

cukup signifikan terhadap PDB (produk domestik bruto), Rp 641,8 triliun atau di atas sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan. Dari jumlah tersebut, sektor fashion menyumbang sebesar 28,29% atau setara dengan Rp 181,5 triliun, angka ini kedua terbesar setelah sub-sektor kuliner yang mencapai Rp 208,6 triliun. Tidak hanya itu, sektor fashion juga menyerap tenaga kerja terbanyak di antara sub-sektor industri kreatif lain-

nya, yaitu sebanyak 3.838.756 orang dari 1.107.956 unit usaha. Sedang laju pertumbuhan ekspornya juga tertinggi dibanding sub-sektor industri kreatif lainnya yakni mencapai 9,51%. “Fashion berkontribusi sebesar Rp 76,78 triliun terhadap ekspor Indonesia,” kata Menperin Saleh Husin. Angka konsumsi rumah tangga untuk sektor fashion sebesar Rp 282,8 triliun atau berada di urutan kedua setelah sub-sektor kuliner yang angka konsumsi rumah tangga mencapai Rp 367,5 triliun. –Diana Runtu

Oleh sang guru, ibu itu diminta datang membawa anaknya lagi seminggu kemudian. Seminggu telah berlalu, ibu itu pun kembali membawa anaknya kepada sang guru. Guru hanya menasihati anak tersebut untuk tidak mengonsumsi garam berlebihan, usianya masih muda, dan jaga kesehatan. Yang membuat sang ibu terheran-heran, nasihat sederhana itu langsung mengena dan dituruti sang anak. Padahal sang ibu setiap hari menasihati anaknya tapi tak mempan juga. Apa yang membedakan? Yang membedakan adalah selama sang guru menunggu satu minggu untuk memberi nasihat pada anak tersebut, ia turut mengurangi mengon-

gan cara itu, Indonesia bisa mencegah produk fashion luar negeri menguasai nusantara. “Kita harus punya semangat bagaimana Indonesia menjadi pusat fashion internasional,” kata Puspayoga. Kementerian yang dipimpinnya telah membuat sejumlah program pemberdayaan demi terus berkembangnya dunia fashion tanah air. Pelaku usaha di sektor ini diberi bantuan permodalan melalui kredit usaha rakyat. “Ini hanya untuk UKM yang masih kecil menengah ada program KUR yang suku bunganya kini 9% per tahun. Dulu suku bunganya 22% kini turun jadi 9 %. Dengan bunga rendah diharapkan mampu menggerakan ekonomi kerakyatan,” ucapnya. –Diana Runtu

3

sumsi garam. “Jadi, ketika kita merasakan dan mengalami, kita akan mampu mengubah orang lain. Secara proses energi, ini akan menguatkan kita untuk menasihati orang lain,” ucap Bunda Arsaningsih. Dalam menjalani hidup, Bunda juga menyarankan untuk “berserah” kepada Tuhan. Namun, ia mengingatkan “berserah” dan “pasrah” itu berbeda. Proses berserah dimaknai dengan berusaha sekuat tenaga dulu untuk melakukan yang terbaik, namun ketika sudah tak

Penyerahan Komitmen mendukung gerakan revolusi mental kepada Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra dan Ny. Selly D. Mantra.

cinta banyak guru dalam hidup saya. Tanpa mereka, hidup saya tak berarti apa-apa,” ujar Bunda Arsaningsih, pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih dengan metode SOUL (Spirit of Universal Life) ini. Ia mengatakan, dalam hidup ini banyak masalah yang muncul. Darisanalah Bunda Arsan-

ingsih mengamati dan menghadapi, tidak malah lari dari masalah. Ia menuturkan konsep “makan garam” dari seorang guru. Dikisahkan ada seorang ibu yang mendatangi guru tersebut dan meminta guru menasihati anaknya untuk mengurangi makan garam karena anak tersebut menderita hipertensi.

Antusiasme pengunjung dalam sesi tanya jawab bersama Bunda Arsaningsih

Krisdayanti dan dua anaknya di panggung IFW 2016

Bantuan KUR untuk Industri Fashion

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga dalam kesempatan tersebut mengatakan, supaya fashion Indonesia mempunyai daya saing tinggi maka karyanya haruslah punya kreativitas. Karya kreatif yang dimaksud adalah dengan mengangkat nilai-nilai lokal budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para desainer bagaimana merancang sebuah karya yang mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia. Menurur Puspayoga, salah satu tantangan fashion tanah air adalah para desainer harus mampu memenuhi 40% kebutuhan pasar fashion dalam negeri. Hanya den-

cara yang dikemas selama 3 jam dan dihadiri di antaranya Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra, Ny. Selly D. Mantra, Ny. Satria Naradha, dan mantan Gubernur Bali Dewa Beratha tersebut, menyuguhkan beberapa apresiasi seni, di antaranya penampilan Tari Pendet oleh anak-anak SLB B Sidakarya, Denpasar; tarian Legong Tridatu oleh Sanggar Warini dan hiburan bondres yang cukup mengocok perut dari SMP PGRI 3 Denpasar. Tak ketinggalan, penari maestro Ni Ketut Arini tampil berkolaborasi dengan Bunda Arsaningsih. “Temu Kangen Bersama Bunda Arsaningsih” ini merupakan apresiasi Bunda kepada para partisipan yang aktif berinteraksi lewat sosial media, terutama face book. Dari FB inilah tersirat kerinduan mereka untuk bertatap muka langsung dengan satu-satunya pencerah dan pedharma wacana perempuan, Bunda Arsaningsih. “Saya sangat tersentuh, terutama membaca status murid saya yang menceritakan seorang partisipan dari Tabanan yang mengenal saya dan SOUL hanya lewat seorang murid saya. Ibu dan Bapak tersebut menangis ingin mengenal saya. Darisana saya berpikir untuk membuat acara ini, karena saya besar dari

Malam itu, Kamis (17/3), Mutiara Ballroom di Hotel Nikki Denpasar dipadati sekitar 700 audiens dari usia anak-anak hingga usia lanjut. Mereka berbaur dan menyatu dalam acara “Temu Kangen Bersama Bunda Arsaningsih : Kebersamaan Membawa Kedamaian”.

Edisi 893/21 - 27 MARET 2016

Rangkaian acara Temu Kangen Bunda Arsaningsih

Pencanangan Go Green & clean sebagai wujud komitmen gerakan bebas plastik bersama walikota Denpasar dan seluruh peserta yang hadir.

ada jalan keluar akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, sedangkan “pasrah” cenderung tidak melakukan upaya dan hanya diam. Proses berserah ini seperti proses intuisi yang bisa dipelajari dengan suatu metode yang dipahami semua orang (universal). Semuanya bisa diukur dengan metode SOUL meter, karena konsep energi tidak terbatas ruang dan waktu. Inilah yang membedakan SOUL dengan metode lainnya. Di akhir acara, Bunda Arsaningsih mengajak peserta untuk melakukan pemurnian diri. Mereka dipandu untuk memahami dan mengenali dirinya untuk mengarah pada pembentukan kualitas diri yang lebih baik dengan proses melepaskan diri dari pikiran-pikiran negatif, memaafkan dan meminta maaf. Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra yang mengikuti acara hingga usai ini mengatakan metode SOUL sangat tepat untuk merevolusi mental (jiwa) yang sangat penting untuk anak-anak. Ia juga mengapresiasi gerakan “go green” oleh SOUL yang membagikan tas ramah lingkungan sebagai pengganti tas plastik untuk menyelamatkan bumi. –ten


2

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

GORO-GORO Subuh pada hari Nyepi, Rabu 9 Maret 2016, yang bertepatan dengan Gerhana Matahari Total, Putu Wijaya sebuah sajak lewat di kepala Amat. Sembari tiduran, Amat berusaha membacanya. Aku melihat bulan menempel matahari sampai tertutup penuh. Begitu agresif, merayap lambat tapi menyergap pasti. Aku melihat kedahsyatan jagat raya yang menyadarkan diriku, kita semua manusia hanya noktah ciptaanNya yang tak berharga. Betul tidak. Mari blak-blakan hari ini. Coba dengar aku sampai nembang: Aku merasakan sukmaku bergetar, digasak haru-biru oleh pesona yang tak terhingga menusukku, memanggangku, memberangusku is kakek gaek. Darahku pun melonjak menyembur liar, seperti kuda sangar yang kejang kaki ingin berpacu di hamparan padang rumput luas bebas hijau lepas. Aku belingsatan dan meringkik. Aku melayang terbang kembali

ke masa muda. Bagaimana tidak. Di mataku dalam sanubariku, fenomena alam itu sangat erotis. Seperti di malam purnama ketika bulan memuncak bahenol, laut pasang mengundang seluruh gelora asmara mahluk sejagat, kini mendaki ke puncak kulminasi Lalu seluruh langit gelap. Nampak cincin perak menyilaukan, walapun hanya dua menit, tapi nikmatnya bergetar ke seluruh pori-pori tubuhku. Aku terhempas tenggelam di dalam keindahan yang tak tertara Seribu bunga mawar, sejuta warna dan milyaran bintik embun yang berkilauan di pucuk-pucuk daun, rumputan, ilalang dan mahkota segala bunga, bersama harum parfum alami dari delapan penjuru, telah disatukan hari ini, yang baru akan terulang 350 tahun lagi. Lima puluh ribu orang menonton di Belitung, Palembang, Palu, Ternate, entah berapa juta di seluruh layar kaca. Tak pelak lagi ini live-show terheboh di dunia yang paling sensasional yang paling langka yang paling menggetarkan di 12 kota Nusantara menggedor jantung para muda, belia dan kami manula.

GMT

Mungkin aku satu-satunya di dunia pada hari Rabu, 9 Maret 2016 ini, bertepatan dengan hari Nyepi di Bali yang bersaksi basah seperti ini. Mungkin hanya aku yang terpilih sebagai duta besar berkuasa penuh Kama Sutra yang diperbolehkan ikut merasakan nikmat dililit kehangatan malam pengantin raja dan ratu angkasa yang paling kita mahluk bumi cintai. Jadi inilah sajakku nenek, istriku sayang, sajak orang tua yang sudah bulukan kehilangan gigi dan rambut, tetapi darahnya masih merah, panas, menyala, bergelora, dan menggelegak melihatmu jalan beringsut, tertatih tapi menyimpan kenangan panjang yang tak mungkin kulupakan Jadi apa salahnya hari ini, ketika dunia terpesona tentang GMT, kita masuk ke dalam kamar pengantin kita yang sudah 50 tahun menunggu kehadiran putra-putri gaeknya kembali untuk napak tilas? Itulah sajak yang tiba-tiba meluap dari kepala tua ini, saat bulan hitam memepet matahari kuning, merambat lambat tetapi lekat, liat, kenyal, emosional dan sangat ketat hingga akhirnya bersatupadu menjadi sebuah bola hitam masih

“Ada Saja Jawabannya…”

Bagaimana dengan Anda, Bu?

“Ngeyelan kalau dikasi tahu!”. Selalu ada jawaban ketika Anak berbuat salah. Coba kita melihat lebih luas dulu, sebelum menunjuk siapa yang benar atau salah. Benar dan salah adalah dua kutub saling melengkapi dan bersifat normatif. Maka dari itu banyak pertimbangan sebelum sesuatunya dikatakan benar atau salah. Hal ini bergantung nilainilai yang diterapkan dan dipahami, budaya serta berdasarkan sudut pandang seseorang. Namun, ada batasan umum yang diyakini oleh masyarakat, sehingga ada pandangan umum mengenai benar dan salah. Secara lebih spesifik, kita bisa melihat bagaimana respons seseorang jika ia memang melakukan sesuatu secara tepat “benar”. Biasanya dengan mudah, ia akan lebih berani untuk menyatakannya bahkan akan mempertahankan pendapatnya. Di sisi yang berlawanan, bagaimana jika seseorang melakukan kesalahan atau melakukan hal yang berbeda dari umumnya? Biasanya ia akan berpikir dahulu sebelum mengakuinya, memikirkan tentang konsekuensi yang akan diterimanya. Begitu juga dengan anak, mereka juga memiliki

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

pola seperti ini. Sekarang bergantung bagaimana pola di rumah. Jika kondisi “ada saja jawabannya” terjadi pada anak di rumah, akan ada kecenderungan munculnya konflik di keluarga dan biasanya dengan Anda, Bu. Sedikit gambaran kondisi yang sering terjadi adalah ketika anak melakukan kesalahan, mereka sulit untuk mengatakan “iya” atas kesalahannya. Kemudian anak akan membangun ‘benteng pertahanan’ untuk dirinya dengan berbagai bentuk,

salah satunya menjawab. Jawaban adalah bentuk argumentasi mereka yang isinya menyalahkan orang lain, situasi, dan membuat pernyataan yang dapat mendukungnya bahwa hal tersebut terjadi bukan karena dirinya. Tidak dimungkiri, anak juga akan menjawabnya dengan intonasi suara yang tinggi. “Kok air bak mandinya meluapluap gini?”, tanya seorang ibu kepada anaknya. Padahal sebelumnya anak sudah diingatkan untuk mematikan kerannya. Jawaban anak, “Soalnya… lupa. Eh, soalnya tadi ngga diingetin lagi. Soalnya tadi itu seru tontonannya, sayang buat dilewatin. Ibu juga, sudah tau anaknya pelupa, masih disuruh nginget”. Atau kisah lainnya seorang ibu bertanya, “Kok bisa kamu pecahin gelasnya?”. “Ya aku ngga salah. Orang, gelasnya licin, terus Mbok ngga bener naruhnya. Coba naruhnya lebih bener di raknya itu”. Apa yang bisa Anda bayangkan dari situasi semacam ini? Pertama, anak akan mencontoh orang tuanya. Ketika Ibu bertanya, apakah Anda bertanya dengan intonasi yang tinggi?. Jika iya, secara ototomatis ini akan menjadikan anak merasa sebagai ‘pelaku kejahatan’

Ekspresso tapi lembut, indah yang dipagar cincin gemerlapan menyilaukan mata dijagat raya yang mendadak jadi malam gulita. Mari nenek sayangku, peganglah tanganku, akan kubimbing kamu mendaki tebing, menghampiri lebih dekat untuk merasakan aroma gandrung gerhana total dan perlahan tetapi pasti menirukannya, kataku sambil menggamit tangannya yang sudah keriput. Mari berlayar lagi di dalam alunan tembang asmarandana, cinta dan gairah bukan monopoli kawula muda. Bila bulan saja begitu agresif tahu haknya, mengapa kita lalai tak mensyukuri karuniaNya yang tak ternilai ini? Ayolah robohkan mitos usia itu, tak ada batas umur dalam niat baik, terjang waktu lupakan keringkihanmu. Kita adalah bulan dan matahari yang memestakan kemolekan GMT karuniaNya. Lalu aku dorong dia tertelentang dan dia menyerah sambil membuka lebar kakinya seperti membuka pintu gerbang. Kalau begitu ini bukan gerhana matahari total tapi

gerhana bulan komplit kataku sambil menghunus pedang. Dia tersenyum dan berbisik, apa bedanya, yang penting sensasinya sama. Saya kontan meringkik dan menerkam. Tapi tiba-tiba dia menggeliat bangun. Aku pikir dia mau tukar adegan gerhana bulan jadi gerhana matahari total sejati. Lalu aku berbaring anteng menunggu dan menyerah. “Apa-apaan ini,” teriak istriku kaget. “Kirain mau mijitin kaki, jebulnya mau dipijit, dasar tua bangka rongsokan! Bangun! Pagi-pagi sudah mau molor lagi! Tuh dengerin ada GMT di TV, di Belitung sudah terjadi!” Sorak-sorai 50 ribu penonton disertai lagu terlempar dari TV memenuhi kamar. Istriku bergegas keluar kamar sambil misuhmisuh menurunkan kainnya. Aku terus tiduran telentang diliput gerhana total sampai sekarang. “Pak bangun, Pak! Bangun! Gerhana total di TV! Bangun!” “Bapak sudah bangun, Bu!”

Sudut Pandang

Baru Bangun Cek Ponsel

Pejabat zaman sekarang harus melek teknologi. Hal ini penting untung mengimbangi ­pesatnya perkembangan teknologi. Dengan adanya tekno­ logi, masyarakat pun memiliki akses untuk ­melaporkan jika ada keluhan.

Made Erwin Suryadarma Sena

M

yang sedang menjalani sidang. Kemudian anak akan merasa tertekan dalam situasi yang tidak adil bagi mereka. Hal ini akan membuat anak menjawab dengan intonasi yang tinggi juga seperti apa yang ibu lakukan. Kedua, karena anak merasa tersudutkan dengan cara bertanya tersebut, mereka akan berpikir dua kali untuk mengakui kesalahannya. Karena sebelumnya sudah terbentuk pemahaman pada anak bahwa membentak adalah tanda marah. Jika marah akan ada hukuman dalam bentuk apapun. Biasanya disinilah anak akan selalu menjawab atau membentuk argumentasi atas kesalahan yang ia buat. Anak akan cenderung tidak berani bertanggung jawab atas setiap perilakunya. Ketiga, apakah anggota keluarga di rumah terbiasa mengucapkan ‘maaf’ ketika melakukan kesalahan? Misalnya seperti saat ibu menjatuhkan mainan kesayangan anak sekalipun tanpa sengaja. Apa yang ibu lakukan? Me-

minta maaf ataukah menyalahkannya dengan alasan anak tidak menaruh mainannya dengan baik. Atau, Ibu meminta maaf, namun ada ‘tapi’nya. Seperti, “Oh… Maaf ya Dek, tapi… kamu sih yang naruhnya ngga bener”. Pola ini adalah bentuk pertahanan diri dari orang dewasa yang sebenarnya kurang baik untuk dilakukan. Kebiasaan ini akan mengajarkan pada anak bahwa argumentasi merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Maka tidak dimungkiri, anak akan kembali menirunya. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah salah satu bentuk karakter pada anak yang bisa ditanamkan sejak dini di rumah. Jadi sudah siapkah untuk memberikan contoh yang layak pada anak-anak kita? Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. Mahasiswa Magister Psikologi ­Pro­fesi Bidang Klinis, Universitas Gadjah Mada. Pengurus HIMPSI Bali.

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

enurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Karangasem, Ir. IGN Yudiantara, M.M. kegunaan IT sangat diperlukan di zaman global. Untuk saat itu, ia bersama kepala dinas lainnya, termasuk Bupati dan Wakil Bupati, membentuk dua grup di Whats App (WA). Satu grup khusus untuk Pimpinan SKPD dan satu grup lagi, khusus untuk

Forum SKPD. “Grup Pimpin­ an SKPD ini bertujuan untuk melaporkan kegiatan pimpinan SKPD kepada Bupati dan Wakil Bupati. Sementara, grup khusus untuk forum SKPD, biasanya lebih banyak diisi dengan ke­ giatan masing-masing SKPD,” ujar suami Putu Lastiawati ini. Untuk Grup Pimpinan SKPD jumlah anggota sekitar 50 orang, sementara, untuk Forum SKPD jumlahnya 70 orang. Apalagi, dengan kehadiran Bupati Karang­ asem yang baru menjabat dan melek IT, di kantor bupati sudah dipasang wifi. Begitu juga, termasuk di ruang tunggu sudah dilengkapi wifi. Yudiantara menilai, di zaman serba cepat ini, teknologi sebaiknya dimanfaatkan untuk hal positif. “Dalam grup WA, kami bisa saling bertukar informasi masing-masing kegiatan, termasuk jika ada saran yang bisa mendukung program masingmasing,” ujarnya. Untuk media sosial, ia memiliki akun Facebook. Menurutnya pribadi, FB sangat banyak membantunya bertemu dengan temanteman masa kecilnya, saat SMP

23

Edisi 893/ 21 - 27 maret 2016

banyak dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan teman-teman dan keluarga,” imbuhnya.

Yudiantara

dan SMA. “Dengan FB, kami kembali menyambung tali silatu­rahmi. Bahkan, saya bertemu dengan teman saya yang sudah hilang kontak selama ini,” ucapnya. Website resmi kabupaten Karangasem juga di-link ke FB. Tujuannya, agar masyarakat bisa mengetahui agenda atau kegiatan dari masing-masing SKPD. Menurutnya, memang internet seperti pisau bermata dua, jika dimanfaatkan dengan baik, akan memberikan manfaat positif. Begitu juga, jika tak berhati-hati dan waspada, hal negatif bisa saja terjadi. Karena itu, ia hanya memposting hal-hal positif di akun pribadinya. “Postingan paling tentang keluarga dan teman-teman. FB sangat membantu untuk mencari teman yang sudah lama tak diketahui keberadaannya. FB lebih

ISTRI KEDUA Sementara, Made Erwin ­Suryadarma Sena, Kadis Koperasi dan UKM Kota Denpasar, sangat menyukai dunia IT. Menurutnya, dengan satu perangkat ponsel, ia sudah bisa mengakses semuanya. Mulai dari urusan media sosial, grup WA, termasuk berselancar membaca berita-berita terbaru. “Ponsel sudah seperti istri kedua. Kemana-mana dibawa,” ujarnya sembari tertawa. Menurut Erwin, dengan memiliki grup di WA, memudahkannya dalam bekerja dan bisa berkoordinasi dengan staf di kantor. Selain grup khusus dengan staf, ia juga ikut grup khusus pimpinan SKPD. “Grup ini bisa dipantau Pak Walikota. Pimpinan SKPD yang belum masuk grup otomatis akan kelihatan di sana. Karena itu, sekarang semua harus melek IT,” kata Erwin. Sebagai seorang pejabat, ia juga merasakan banyak manfaat yang dirasakan dengan kemajuan teknologi. “Kami di Kota Denpasar, punya grup WA untuk para SKPD. Pak Walikota kadang mendelegasikan tugas di WA, sehingga kami harus terus memantau,” kata Erwin. Ia memiliki beberapa grup WA, grup bersama staf di kantor, grup dengan dinas koperasi seluruh Bali, grup dengan kementerian koperasi, dan grup

UKM Bali. Erwin menilai, menggunakan media sosial merupakan hal yang lumrah dan bagus, asal dimanfaatkan dengan positif. “Saya banyak punya teman, bertemu teman lama dan teman baru di FB,” ujarnya. Dengan IT, memudahkan, dan mempercepat waktu dan jarak. “Dengan IT seolah-olah tidak ada jarak, sangat dekat. Seperti kejadian gerhana matahari, ada yang mengirimkan foto ke WA atau FB saya. Dunia ini terasa makin sempit,” kata Erwin. Namun, ia tak menampik, dengan kemajuan teknologi, urusan kejahatan juga makin berkembang. Memang, ia mengakui, dunia maya banyak terjadi penipuan, terutama di media sosial. Ka­rena itu, ia menyarankan, buatlah akun dengan password yang agak rumit. Namun, menurutnya, dengan keberadaan UU IT, tentu cyber crime tidak bisa lagi berlindung lagi. Erwin mengatakan, walau sibuk apapun, ponsel selalu di sampingnya. Karena, siapa tahu, ada perintah walikota di grup WA. “Yang urgent jelas perintah walikota, koordinasi SKPD, dan laporan staf. Yang harus segera dibuka dan dibaca adalah perintah walikota. Makanya ponsel selalu tak pernah jauh dari tangan,” kata Erwin. Ia tak menampik, sekarang ini, menggunakan IT sudah menjadi gaya hidup. Malah, sekarang baru bangun sudah mengecek ponsel. Agar memudahkan bekerja, ia memiliki dua ponsel. Satu khusus untuk menelepon, dan satu lagi untuk internet. Tujuannya, agar semua urusan tidak terhambat dan bisa direspons. -Wirati Astiti

Gencarkan Promosi dengan Branding Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata yang ada di Indonesia ditargetkan mendapat kunjungan 10 juta wisatawan mancanegara di tahun 2019. Target tersebut merupakan 50% dari target kunjungan wisatawan di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng, Drs. Gede Suyasa, M.Pd. Suyasa sapaan akrabnya mengaku mendengar tiga kali secara langsung strategi menteri kebudayaan dan pariwisata RI untuk mencapai target 20% kunjungan wisatawan ke Indonesia. “Kita di Buleleng berharap masuk 10% dari total yang ditargetkan untuk Bali,” ujarnya. Ada beberapa tugas pokok yang harus dilakukan untuk meningkatkan target karena saat ini Bali masih berada ditarget 7,7 % atau sekitar 700 kunjungan wisatawan. Salah satu hal yang dilakukan untuk menunjang pariwasata di Buleleng adalah menata potensi destinasi di Bali Utara. “Tamu datang banyak tetapi setelah sampai di Buleleng destinasinya tidak ditata dengan baik maka akan menimbulkan citra yang kurang baik,” imbuhnya. Tahun ini Disbudpar Buleleng sudah mulai menata beberapa destinasi dan diharapkan tahun depan penataan dilakukan lebih maksimal lagi. Suy-

asa mengungkapkan bahwa tahun 2017 pengembangan pariwisata sudah didukung oleh infrastruktur jalan yang memadai. “Tuntasnya pengerjaan pembangunan jalan, dengan nilai anggaran cukup besar dapat dialihkan ke dalam penataan potensi destinasi pariwisata di Bali Utara”. tambahnya. Hal kedua yang dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan adalah penguatan SDM. Buleleng sebagai destinasi yang terkenal dari wisata alam dan budaya maka akan bersentuhan dengan kelompok masyarakat. “Salah satunya adalah DMO (Destination Management Organization) Pemuteran,” ujar Suyasa. Hal ini dimaksukan untuk menguatkan keorganisasian, personal, dan termasuk program daerah. Pelatihan pemandu pariwisata juga dilakukan untuk meningkatkan penguatan SDM. Disamping penataan pariwisata dan penguatan SDM, promosi juga semakin digencarkan oleh pihak Disbudpar. “Sehebat apapun daerah, sebagus apapun alam kita kalau promosi rendah dan tidak mampu membangun branding yang baik juga tidak akan mendongkrak banyak kunjungan,” jelas Kadisbudpar. Suyasa tidak menampik jika promosi rendah, maka dikhawatirkan menurunkan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara.

tidak berada dalam ketakutan,” ungkapnya.

Dharmaja

Suyasa

“Disbudpar sudah memprogram ikut serta dalam berbagai ajang promosi baik tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Suyasa juga menambahkan bahwa pihaknya memanfaatkan media sosial sebagai media untuk promosi. “Setiap event kita buatkan sendiri, misalnya Bulfest punya web sendiri,” tambahnya. Kegiatankegiatan yang dilakukan juga sering diunggah ke Youtube agar menarik. Suyasa sangat menyadari bahwa promosi yang dilakukan sangat penting menggunakan media IT karena memudahkan orang-orang

melihat produk-produk dari Disbudpar. “Produk sudah kita upload khususnya destinasi dan tahun ini sudah dibuatkan analisis paket wisata khusus Buleleng tengah,” ungkapnya. Hal ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas kepada wisatawan yang ingin berwisata ke Buleleng. Mengenai seberapa ampuh media sosial sebagai media promosi, Suyasa mengungkapkan orang di rumah saja saat ini dapat mengetahui potensi wisata. “Kita harus mampu membangun branding yang baik supaya orang datang

Gelar Konsultasi Publik Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Buleleng, Ir. Gde Dharmaja, M.Si. mengadakan konsultasi publik di gedung Imaco eks. Pelabuhan Buleleng Senin (14/3) lalu. Hal ini bertujuan untuk mengadopsi berbagai aspirasi dan penyerapan masukan yang ada di masyarakat. “Konsultasi publik ini menjadi tahapan dalam proses perencanaan kinerja pembangunan daerah. Tujuannya mencari masukan dari seluruh stake holder, untuk bisa menyempurnakan rencana kerja berdasarkan draft dimiliki. Jadi semua masukan diadopsi dan nantinya menjadi input penyempurnaan rancangan pembangunan selanjutnya,” ujar Gde Dharmaja. Konsultasi yang mengambil tema konsultasi publik dan pembukaan forum SKPD, forum gabungan SKPD, pra Musrenbang dan Musrenbang Kabupaten Buleleng dimaksudkan menyerap semua masukan dari berbagai komponen masyarakat. Keluhan-keluhan dari masyarakat agar disampaikan secara langsung dan bukan malah berkicau di media sosial. “Ini salah satu dari proses penjaringan masukan masyarakat untuk penyempurnaan pembangunan,” ungkapnya. -Wiwin


24

What’s Up

Edisi 893/ 21 - 27 MARET 2016

Medsos sebagai Asisten Pribadi

Yayati Wilyadewi

Saat ini hampir semua terasa tanpa batas. Media sosial menjadi alat komunikasi yang multiguna, baik untuk komunikasi, promosi diri, sampai marketing. Menurut Yayati Wilyadewi, dosen Unhi Denpasar, masyarakat kekinian menjadikan medsos sebagai media untuk membentuk brand awareness, semacam pencitraan. Menyentuh jutaan orang, bukanlah sesuatu yang susah saat ini. Medsos mendekatkan yang jauh, meski seringkali juga menjauhkan yang dekat. Hanya dengan satu sentuhan kita terkoneksi dengan jutaan orang (one touch to million).Sungguh suatu akses yang memberikan pelayanan kemudahan,yang membuat setiap orang tidak akan mampu untuk melewatkannya. Orang yang masuk dalam dunia medsos merasa berada pada big village, di mana masing-masing individu merasa menjadi sangat dekat dan saling memahami layaknya keluarga besar. “Pada pekerjaan utama saya sebagai seorang dosen, media sosial saya gunakan seperti asisten pribadi saya yakni; mengomunikasikan ide-ide pribadi saya, memperoleh

informasi ter- up date yang saya butuhkan, mengatur schedule saya, sharing dengan rekan sesama pendidik, termasuk mendistribusikan informasi kepada mahasiswa saya, benar-benar asisten yang awesome dan pastinya gratis,” paparnya Seringkali, hanya dengan menggugah sesuatu secara intens seseorang mendapatkan peluang bisnis. Seperti ketika dirinya meng-upload singkong salju hasil kreativitasnya dengan putri keduanya, Dayu Luna. “Pada awalnya hanya untuk berbagi bahagia, ternyata mendapatkan respon “like” yang banyak dan membanjirlah order singkong salju sebagai produk unggulan usaha dengan brand “Dapur Luna”. Kemudian saat brand fashion dan pernak-pernik tradisional Bali kami muncul karena ide kreatif atas komen teman-teman kepada putri pertama saya yang bercita-cita menjadi desainer maka lahirlah brand Bali Devi (endek etcetera),” paparnya. Demikian pula keterlibatannya di bisnis properti karena sering sharing di jejaring sosial dan niat untuk

membantu teman-teman agar bisa memiliki aset yang terjangkau di pulaunya sendiri. “Medsos memberikan kesempatan yang luas untuk maju bersama, bagi mereka yang memiliki kesamaan-kesamaan dengan bergabung pada sebuah komunitas,” ucap Yayati. Dengan tujuan efisiensi pula, katanya hampir semua perusahaan berusaha mempergunakan medsos untuk melakukan penetrasi bisnisnya,seperti branding produk, respons cepat dari user pengguna medsos, launching produk baru, menggali kebutuhan pasar,memprediksi potensi market dan segmen yang dituju,dan lain-lain. “Selain dampak positifnya, medsos juga memiliki beberapa risiko yang harus siap dihadapi antara lain pembunuhan karakter atas “brand awareness” individu atau produk, penjiplakan atas ide atau produk, sikap hedonisme dan konsumtif dan lain sebagainya,” ujar perempuan energik ini. Yayati juga mengatakan medsos adalah sebuah media “one touch to million”, semudah itulah komunikasi di era digital ini. Maka, pergunakanlah dengan bijak,” tandas Yayati Wilyadewi. – Sri Ardhini

Tugas Dikirim ke Medsos Di era kekinian, pemanfaatan teknologi sudah tak terbendung lagi, salah satunya media sosial. Agar tak dikatakan ketinggalan zaman, mau tak mau para pendidik pun turut memanfaatkannya. “Biar nggak kalah gaul sama anak-anak, harus mengikuti zaman,” ungkap AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M.Hum., guru Bahasa Indonesia di SMAN 7 Denpasar. Bahasa Indonesia yang oleh kebanyakan siswa dianggap mata pelajaran yang monoton dan membosankan itu pun dikemasnya menjadi menarik dan selalu ditunggu-tunggu. Materi yang diberikan memancing kreativitas siswa untuk berinovasi dan tertantang. Guru yang akrab disapa Gung Tik ini pun memanfaatkan line untuk memposting karya-karya mereka (siswa). Seperti yang ia terapkan tahun kemarin. Ketika topiknya membuat berita kisah (features), Gung Tik menerapkan sistem poin. Siswa yang mengumpulkan karya yang dikirim ke line-nya, mendapatkan point plus. “Saya tugaskan siswa untuk mewawancarai seseorang, kemudian kisah orang tersebut dituliskan, dan dilengkapi foto. Paling tidak, dengan terjun ke lapangan dan langsung bertatap muka dengan narasumber, mereka lebih bisa mendapatkan ‘rasa’ dan ekspresi si narasumber. Jadi, mereka akan lebih mudah menuangkannya dalam bahasa sastra,” paparnya. Meski tugas-tugas yang dibebankan Gung Tik pada siswa-siswanya ini terkadang dianggap susah, tapi bagi siswa yang kreatif justru men-

Ni Made Sri Santi Dewi, S.Sn., M.M.

jadi tantangan untuk berkreasi. Tak sedikit dari karya-karya mereka yang dinilai cukup bagus, masih disimpan di HP. Tahun ini, dalam sebuah topik ba-

SELEKTIF MEMILIH PERTEMANAN Pemanfaatan medsos tak sepenuhnya berdampak positif. Hal tersebut disampaikan Ni Made Sri Santi Dewi, S.Sn., M.M., salah seorang dosen Desain Interior di sebuah PTS di Denpasar. Tak jarang, medsos ini dimanfaatkan untuk “ngejailin” dosennya. “Pernah ada mantan mahasiswa yang iseng menggoda saya lewat Line, sejak itu saya jadi pilih-pilih menerima teman di Line. Paling saya berteman dengan kortinya saja,” tuturnya. Ia tak menampik keberadaan Line cukup efektif untuk meneruskan informasi ke mahasiswa, terutama yang sifatnya mendadak seperti perubahan jadwal kuliah. “Misalkan

AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M.Hum.

jadwal kuliah berubah, saya tinggal Line kortinya saja, selanjutnya kor­ti yang meneruskan ke mahasiswa lainnya. Mungkin mereka punya grup,” ucapnya. Line pun kerap dimanfaatkan

mahasiswa yang aktif untuk berkonsultasi ringan, seperti menanyakan bahan. Alasannya, lewat line, selain cepat, hasil fotonya pun lebih bagus ketimbang via BBM. Meski demikian, Dewi tetap tidak serta merta menerima permintaan pertemanan dari mahasiswanya yang kebanyakan pria ini. “Mereka bisa kok mengirim pesan lewat Line walaupun saya belum menerima pertemanan mereka. Tetapi jika asistensi gambar, harus ketemu, tidak bisa lewat Line,” jelas Dewi. Lewat medsos memang komunikasi lebih cepat. Namun di sisi lain, Dewi juga menyampaikan keberadaan medsos ini membuat mahasiswa agak malas. Contohnya, saat jam perkuliahan berlangsung, mahasiswa kurang aktif berkomunikasi atau paling tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan, bahkan terkesan tidak memperhatikan jalannya perkuliahan. “Ketika giliran buat tugas di rumah, mereka baru ngeh. Jadilah mereka mulai nanya. Ini agak mengganggu waktu saya,” tandasnya. –Inten Indrawati

Posting setelah Anak Tidur

Tugas yang menulis be dikirim rit lewat a kisah line

hasan, mereka ditugaskan membuat short movie (film pendek) secara berkelompok. “Nantinya, video pendek ini akan saya minta untuk di-posting di Instagram. Jadi semua orang bisa melihat, tak hanya siswa sekolah,” ucap ‘guru gaul’ yang jam pelajarannya selalu ditunggu-tunggu siswa walaupun ditempatkan pada jam terakhir. Inilah yang disebutnya sebagai pembelajaran inovasi. Karena, dalam tiap jam pelajarannya, Gung Tik selalu menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Mungkin itu pula yang menyebabkan siswa penasaran dan selalu menunggu kehadiran Gung Tik di kelas mereka. “Bahkan saking penasarannya, ada siswa yang sampai bertanya kepada saya, Bu besok kita ngapain,” tutur Guk Tik yang berpendapat bahwa proses belajar mengajar menjadi kondusif jika siswa dan guru samasama senang.

Sri Dewi memijuga sibuk menguliki merupakan salah rus buah hati saya. satu ibu yang aktif Sebagai ibu rumah di media sosial. Ia tangga, saya harus punya akun di Famemasak. Kacebook, Instagram, dang saya bingung dan Path. “Saya jadi harus mengganti tahu sedikit berita menu masakan. tentang dunia di luar Dari medsoslah dari rumah, tahu saya mencari retentang kabar dari sep masakan yang teman-teman dan simple dan mudah sanak saudara bahdimasak. Medsos kan teman yang sujuga bisa digunadah lama saya temukan untuk mencari kan di medsos. Secara dalam menlain itu dulu sebelum gurus bayi seperti Sri Dewi menikah dan punya membuat makanan anak, hobi saya belanja barang- bayi, cara memijat bayi di saat kita barang yang dijual di medsos karena kehabisan akal. Pokoknya medsos kebetulan saya berprofesi sebagai banyak membantu saya,” tegasnya. fotomodel jadi ketertarikan untuk Sementara itu, Putu Eka Susanti membeli barang di online shop termasuk ibu rumah tangga yang itu menjadi lintasan yang menarik produktif. Ia berjualan di online shop. dan mudah bagi saya,” ujarnya. Dagangannya seperti jual baju, sandal Suaminya pun mendukung selama dan sprai. “Saya jualan lewat akun kegiatan itu positif. Tak hanya me- BBM, FB, dan Instagram. Selain saya manfaatkan untuk memantau berita gunakan untuk jualan, akun medsos teman dan sahabat, ia juga meman- saya sangat membantu saya berkofaatkan medsos untuk berbagi ke- munikasi dengan suami saya yang bahagiaan dan berbagi tips tentang kebetulan suami saya bekerja di seputaran perkembangan anak. luar. Kalau saya tidak memiliki akun Mengenai update status, itu hanya medsos apa jadinya hubungan kami. dilakukan saat waktu senggang. “Saya Medsos juga banyak memberikan juga mempunyai pekerjaan rumah informasi yang tidak saya tahu, yang harus saya kerjakan dan saya misalnya cara membuat maka-

nan atau resep makanan, tips-tips merawat bayi, sampai-sampai ada informasi tentang bagaiman cara membuat banten,banyak pokoknya manfaat yang saya dapat,” ujarnya. Mengenai update, ia mengaku selalu aktif. Kadang cuma lihat-lihat kalau lagi nggak ada orderan. Sekarang karena sudah nikah dan punya anak, ia lebih fokus ke anak dan sesekali memposting perkembangan anak. “Akun medsos saya selalu hidup, tapi kalau untuk posting barang jualan atau untuk sedikit eksis dilakukan saat anak sudah tidur dan pekerjaan rumah sudah beres. Punya akun medsos perlu biar tidak ketinggalan dalam informasi,” ungkapnya.-Suarni

Putu Eka Susanti

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 893 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu