Skip to main content

Tokoh Edisi 886 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Selamatkan Bali dengan Jadi Investor di Tanah Bali *Mulai Rp 12 Juta bisa punya Unit Atta Labeji Villas di Kenderan Ubud Serbuan investor asing ke Bali sudah tak terbendung lagi. Apalagi dengan diberlakukannya MEA, yang tentunya makin memberikan ­angin segar bagi mereka untuk menguasai tanah Bali. Kini saatnya orang Bali menjadi “penguasa” Bali, menjadi tuan di tanah sendiri, mempertahankan tanah Bali dengan menjadi investor di Bali.

S

aat ini, tak hanya mereka yang berduit atau bermodal besar saja yang bisa menjadi investor. Karena hanya dengan Rp 12 juta, orang Bali sudah bisa memiliki unit Atta Labeji Villas. Hanya dengan Rp 12 juta, orang Bali sudah bisa menjadi owner villa dan layak disebut investor. 100% Uang Kembali Apa saja yang didapat dari 12 juta tersebut? Sang konseptor yang juga seorang pebisnis dan motivator, Made Robert

menjelaskan banyak keuntungan yang didapat. Di antaranya, uang pembelian lot akan dikembalikan 100% di tahun ke-10. “Ini hanya berlaku bagi pembelian di awal hingga 25 april 2016. Setelah itu, pengembalian uang 100% tersebut dilakukan di tahun ke-11,” ucap Marketing & Communication of Atta Labeji Villas, Ni Made Ayu Dewi Saraswati. Keuntungan lainnya yang didapat dengan berinvestasi di Atta Labeji Villas adalah, mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring

atta labeji villas masterplan

waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, komisi 10% setiap mengajak tamu ke Atta Labeji Villas, tergabung

dalam komunitas “Atta Labeji Investor Club” yang tentunya akan memperluas jejaring, satu box kartu

nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. “Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor pun telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris,” jelasnya. –ten

Made Robert & Ni Made Ayu

atta Labeji villas pool villa exterior couple

atta labeji villas deluxeroom interior

Doa Bersama dan Upacara Pemberkatan Untuk Tanah Atta Labeji Villas di Kenderan Ubud Sebelum melakukan pembangunan, 5 Februari 2016 akan dilakukan serangkaian upacara untuk menetralisir kondisi niskala dari sebuah lahan. Made Robert dan Ni Made Ayu Dewi meyakini betul bahwa upacara pemberkatan yang nantinya juga akan dipimpin oleh Guru Spiritual dan dihadiri beberapa investor Atta Labeji Villas ini, akan memberikan kemakmuran dan selalu menyertai semua investor serta memperlancar pambangunan Atta Labeji Villas. ​Kehadiran villatel bernama Atta Labeji Villas yang dimotori “putra daerah” ini, mendapatkan respons yang cukup luar biasa dari masyarakat Bali. Prinsip kegotongroyongan dan saling menolong dengan konsep mepatung yang ditawarkan

Atta Labeji Villas ini memberikan peluang bagi masyarakat lokal untuk menjadi investor di tanahnya sendiri. ​P ara investor yang bergabung optimis villatel yang berbasiskan kerakyatan ini, akan berkembang. Mengingat, prospek ke depan cukup bagus, dengan lokasi villa yang berada di tempat yang sangat representatif, baik dilihat dari destinasi maupun dari cultural tourism yang menjadi ikon Ubud. Bahkan, antisipasi terhadap risiko yang paling buruk sekali pun sudah benar-benar dikalkulasi dengan pengelolaan manajemen yang matang. Beberapa investor juga sudah melirik peluang menjanjikan ini ketika Atta Labeji Villas dipresentasikan di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya beberapa

waktu lalu. Bahkan, beberapa dari mereka berharap proyek villatel dengan konsep mepatung dan berbasis kerakyatan ini juga bisa dikembangkan di daerah lain karena dinilai sangat meguntungkan bagi masyarakat setempat. Karena itu, peluang yang cukup bagus untuk menjadi investor dan owner villa ini harus segera ditangkap dengan cepat. Dengan menjadi investor di Atta Labeji Villas berarti orang Bali juga telah menyelamatkan tanah Bali. Untuk itu, Made Robert dan Ni Made Ayu mengajak masyarakat Bali yang belum bergabung, untuk bersama-sama sukses di investasi villatel ini, bersamasama mempertahankan tanah Bali dengan menjadi investor (owner) Atta Labeji Villas. Un-

tuk informasi lebih jelas, silakan datang langsung ke Kantor BOS Land di Jalan Tukad Pakeri-

san No. 79 Panjer, Denpasar, tlp. 0361-4723 260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten

Beberapa investor melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

GORO-GORO “Menurut Bapak, siapa pembunuh Mirna?” Amat yang sedang memikirkan perkara manPutu Wijaya tan Menteri Budpar dan ESDM Ir. Jero Wacik, S.E. terkejut. “Mirna siapa?” “Wayan Mirna yang meninggal setelah minum kopi Vietnam di cafe sebuah mal di jakarta, karena di dalam kopinya itu ada larutan sianida 15 g tapi kemudian dikoreksi hanya 3 g, tapi itu pun sudah merupakan alat pembunuh ganas. Menurut pengamat yang diwawancarai tv itu menunjukkan pembunuhnya, kalau memang ada, benar-benar berniat menghabisi korbannya. Polisi sudah menemukan beberapa saksi, dua di antaranya teman yang menemani Mirna minum kopi. Salah satunya mengaku teman sekolah Mirna, tapi ayah Mirna mengaku tak kenal. Polisi nampak sudah punya ‘calon tersangka’, tapi untuk menetapkan tersangka diperlukan 2 bukti. Polisi mengaku belum ada bukti siapa yang memasukkan racun itu ke dalam kopi. Seorang pengamat, mengeritik ... .” “Stop!” Bu Amat tertegun. “Katanya Bapak tidak tahu siapa Mirna!” “Tapi kalau dihujani informasi begitu, Bapak malah bingung, Stres. Siapa yang tidak tahu Mirna. Seperti juga siapa orang Bali sekarang yang

MIRNA

tak tahu Pak Jero Wacik atau Angeline? Itu kan menyangkut Bali!” “Ya sudah, saya cuma nanya menurut Bapak pembunuh Mirna itu siapa?” “Ya jelas racun sianida itu! Seperti yang dilaporkan pemeriksaan forensik.” “Itu kalau saya nanya, apa yang membunuh! Tapi saya nanyakan, siapa? Jawabnya bukan barang, tapi orang. Bukan sembarang orang, tapi namanya siapa? Ngerti? Itu gunanya belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar!” Amat tersenyum. “Baik kalau ibu mau dijawab dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jawabnya ini: Kalau yang berwajib ngurus soal pembunuhannya saja belum tahu, bagaimana Bapak tahu!” “Jadi tidak tahu?” “Belum tahu!” “Kira-kira, prediksi Bapak siapa?” “Bagaimana memprediksi, kalau belum dipastikan itu, pembunuhan atau kecelakaan atau keteledoran?” Bu Amat kesal sekali, lalu pergi ke tetangga. Ia tak masak hari itu karena jengkel, “Habis ditanya baikbaik, malah ngeyel!” gerutunya di tetangga. Amat terpaksa makan di warung. Kebetulan sekali di warung terjadi percakapan seru. Mulai dari siapa pembunuh Angeline, apakah teror bom di Sarinah itu betul ada hubungannya dengan ISIS, benarkah Jero Wacik sesungguhnya tak salah dan

siapa sejatinya pembunuh Mirna? Masing-masing orang mengeluarkan pendapat dan argumentasinya. Percakapan menjadi semakin panas, ketika salah seorang bicara keras. “Kalau direnungkan, ini semua menyangkut Bali! Saya yakin sekali ini bukan kebetulan ini rekayasa untuk mendiskreditkan Bali. Karena Bali semakin penting. Apaapa sekarang di Bali. Pertemuan, seminar, musyawarah, semua di Bali, karena Bali dianggap aman dan netral. Jadi persoalan yang paling besar sebenarnya bukan siapa dan apa, tapi kenapa Bali tidak boleh jadi leader?” Komentar berhamburan mengejek pendapat yang dianggap berbau politik itu. “Bebaskan hukum, ekonomi, pendidikan, agama, budaya, bahkan juga politik sendiri dari politik yang berkiblat pada kekuasaan! Kalau tidak semua kasus akan terapung ketanggor jalan buntu!” Perdebatan menjadi keras. Amat ingin sekali bicara, tapi tidak ada yang bertanya kepadanya. “Mungkin Bapak sudah dianggap terlalu tua,” bisik Amat malam hari ke istrinya, “jadi Bapak dipasung tidak boleh ikut lagi memiliki negeri ini. Padahal Bapak tahu, siapa pembunuh Angeline, siapa dalang teror bom Sarinah, apa betul Jero Wacik bersih dan siapa pembunuh Mirna, seperti yang ibu tanyakan tadi pagi. Jadi pembunuh Mirna adalah ... .” “Sudah diam!” bentak Bu Amat marah.”Jangan jadi teroris, kita sudah kenyang teror!”

Ibu Cemas, Anak Was-was

“Lagi dimana? Kok jam segini belum pulang? Sama siapa saja? Sudah makan apa belum? Sudah sampai dimana?” tanya seorang ibu berkali-kali ketika anak remaja pulang sedikit lambat. Ya, sekalipun anak sudah menjawab. Cerita lainnya, “Sudah ngga usah nyapu, sini ibu saja yang nyapu. Kok anak laki-laki nyapu”. Beberapa pernyataan di atas adalah hal yang sangat sering saya dengar di lingkungan sekitar. Sebenarnya sah-sah saja seorang ibu memperlakukan anak secara istimewa. Tetapi apakah para bunda, ibu, mama dan mami menyadari jika hal tersebut adalah bagian dari kecemasan Anda yang tertuang dalam pola asuh? Secara kodrati, seorang ibu memiliki hasrat untuk menyayangi, merawat, mengasuh dan

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Ekspresso

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

membimbing. Menjadi hal yang lumrah jika para ibu mengharapkan hal yang terbaik untuk anakanaknya. Di sisi lain, seorang ibu juga akan memiliki kekhawatiran atau kecemasan untuk mencapai hal terbaik tersebut. Menurut

penelitian, bentuk kecemasan ini bisa terjadi di budaya manapun dan tidak mengkhusus pada anak laki-laki. Semua ibu bisa memiliki kecenderungan ini terutama untuk ibu yang bekerja. Pada umumnya kecemasan ini terjadi saat anak masih bayi sampai dengan puncaknya yaitu masa balita. Bahkan sangat memungkinkan berlanjut sampai dengan usia remaja dan dewasa. Jika kondisi ini terjadi, seorang ibu biasanya akan mendedikasikan tenaga, waktu, dan kasih sayang sepenuhnya untuk menjaga dan merawat anak. Namun, yang sering terjadi adalah bentuk perhatian berlebihan dan para ibu lupa akan apa yang sesungguhnya anak butuhkan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pernahkah Anda melihat suatu kondisi dimana anak sering tidak

Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca dan masyarakat yang sudah mengirimkan naskah-naskah OMG. Banyak hal yang diceritakan dalam OMG. Ada hal-hal yang konyol, ada yang serius, dan ada yang datar. Semua bisa diambil hikmahnya. Hidup ini tidak selalu lurus, kadang ada lika-likunya. Nah, bagaimana kita menyikapi semua. Kuncinya adalah mensukuri apa yang diraih dan dirasakan serta menjalani semuanya dengan tulus ikhlas. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas kiriman cerita OMG. Mulai Februari 2016 ini, kami menyajikan sesuatu yang lebih serius tapi santai. Rubrik “Kata Hati”.

Kata Hati Mulai Februari 2016, Tokoh memiliki rubrik khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Naskah diterima paling lambat tiap hari Kamis pukul 15.00. siap melakukan tugas perkembangannya?. Misalnya, anak tidak mau berangkat sekolah hingga anak selalu menangis bahkan membuat alasan sebelumnya. Anak resah berlebihan dan tidak berani mencoba pengalaman positif di lingkungannya atau bahkan anak sering kali sakit saat mendekati momen-momen besar dalam perjalanan prestasinya. Contoh lain seperti suatu kondisi anak selalu menentukan keputusan sesuai dengan keputusan sang ibu? Jika ya, mungkin anak Anda juga mengalami kecemasan seperti apa yang para ibu rasakan. Ibu yang cemas membuat anak was-was dan cemas juga. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pertama, ketika ibu sering kali menunjukkan kecemasan di hadapan anaknya menghadapi sesuatu, anak cenderung akan meniru kebiasaan tersebut. Kedua, kecemasan tersebut ditunjukkan ibu saat anak sedang menyelesaikan tugas-tugasnya. Biasanya ibu akan menjadi “mengganggu” anak dengan kekhawatirannya. Hal ini akan membuat anak sangat berhatihati bahkan takut untuk mencoba menyelesaikan tersebut karena

merasa diawasi dan was-was akan respons ibu jika anak melakukan kesalahan. Selain itu, anak akan kehilangan rasa percaya dirinya dan cenderung meminta pertimbangan secara berlebihan hingga meminta orang lain yang memutuskan suatu pilihan. Jika hal ini berlangsung sampai dengan dewasa, bagaimana dengan kesiapan anak menghadapi kehidupannya kelak? Tidakkah kita semakin cemas? Terlepas dari dua hal tersebut, masih ada kondisi lainnya yang bisa membuat seorang ibu dan anak mengalami kecemasan yang lebih dibandingkan pada umumnya. Seperti kondisi single parent, faktor ekonomi dan lingkungan di luar keluarga. Tetapi, salah satu pepatah mengatakan, percayalah bahwa Anda mampu mengubah kecemasan yang Anda ciptakan. Jadi, terlibatlah dalam kehidupan anak secara maksimal sesuai dengan ke­ butuhannya. Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. (Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Bidang Klinis, Universitas Gadjah Mada)

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Tinggi Kualitas Berita Tinggi Nilai Jual Pers dengan berbagai fungsinya telah menjadi bagian integral kehidupan bangsa Indonesia. Semakin lama peranan pers turut menentukan perjalanan bangsa di berbagai bidang. Tak ada dinamika sosial politik yang luput dari perhatian pers, dan tak ada pula masalah publik yang tidak diungkap melalui media. Semua pihak, masyarakat, pemerintah, penegak hukum, lembaga legislatif, hingga kalangan pebisnis berkepentingan atas pemberitaan pers. Mereka menjadikan ruang publik media ini sebagai saluran komunikasi dan informasi utama.

M

enurut W. Kotaniartha, Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Dwijendra Denpasar, persoalannya adalah sejauh ini masih banyak salah paham tentang segi kehidupan pers di berbagai kalangan, termasuk dilingkungan

pers sendiri. Besarnya fungsi dan peranan pers dalam kehidupan publik belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai dan sama tentang kehidupan pers. Dalam praktiknya sering menimbulkan hal yang kontra produktif. Guna memahami dinamika pers Indonesia ada baiknya sekilas

melihat perkembangan pers di masa lalu dan sekarang, dengan harapn kita lebih bisa memahami posisi dan peran pers.. “Eksistensi pers di Indonesia mengalami dinamika sesuai perkembangan perjalanan sejarah bangsa , yakni pers dimasa lalu sampai dengan keberadaan

Snack Jadi Snake Dewa Ayu Kade Suwitri, merupakan wartawan perempuan pertama di Bali. Perempuan yang kini dipanggil Ny. Riyasse ini, mulai berkiprah di dunia tulis menulis sejak tahun 1949. Namun, ia mengatakan, sejak kecil sudah suka menulis dan berpidato. Malah, saat duduk di bangku kelas 6 SD, ia diminta berpidato mewakili istri para pengawai pemerintahan di Jembrana (Fujing Kai). Perempuan usia 86 tahun ini, menuturkan, awalnya, ia menjadi wartawan, karena mengikuti sekolah jurnalistik di Jakarta. Ia melihat ada selebaran untuk mengikuti sekolah jurnalistik. Ia pun mendaftar. Ternyata ada dua orang lagi yang ikut terdaftar, yakni Ketut Nadha, dan Ketut Wentri. Namun, persyaratan kelulusan, harus dibuktikan dengan artikel yang dimuat di surat kabar. “Saya bingung waktu itu, di koran apa harus menulis,” kata istri (alm) IGP Riyasse ini. Menurut Ny. Riyasse, Ketut Nadha yang waktu itu, mempunyai latar belakang wartawan Bali Shimbun, cepat-cepat menghidupkan kembali lagi koran tersebut dan berganti nama menjadi Suara Indonesia. Tulisan Ny. Riyasse akhirnya diterbitkan di Suara Indonesia dengan judul “Temanku yang Terpenjara.”. Tulisan tersebut menceritakan kisah teman sekolah Ny. Riyasse yang ikut perang gerilya dan akhirnya ditangkap. Setelah mengikuti sekolah jurnalistik dan dinyatakan lulus, Ny. Riyasse menikah. Setahun kemudian, suaminya IGP Riyasse dipindahkan ke Denpasar. Ia pun

Ny. Riyasse

mencari K.Nadha untuk melamar kerja di Suara Indonesia. “Waktu itu masih mingguan bentuknya seperti majalah. Saya diterima bekerja di sana dan ditempatkan di redaksi. Tugas saya mengedit tulisan yang masuk, selain menulis artikel,” ujar perempuan yang mengikuti perkembangan Suara Indonesia sebagai cikal bakal Bali Post ini. Ny. Riyasse selalu menulis artikel sesuai momen, misalnya Hari Ibu dan Hari Kartini. Mengikuti suami yang bertugas di bidang pariwisata, Ny. Riyasse selalu membuat tulisan perjalanan suaminya tentang kota-kota atau negara-negara yang dikunjungi. Dua tahun di redaksi, ia dipindahkan ke marketing. Namun, ia tetap menulis kisah perjalanan suaminya yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali dan dijuluki “Pioneer of the Pacific”. Tahun 1957, Ny. Riyasse dipercaya menjadi sekretaris PWI Bali. Ia juga ikut berpartisipasi dalam kepengurusan organisasi perempuan seperti Ikatan Wanita

Pengusaha Indonesia (Iwapi), dan Ikatan Wanita Pariwisata Indonesia. Menurut Ny. Riyasse, menjadi wartawan zaman dulu dengan sekarang beda. Dulu, tak ada yang mau jadi wartawan. “Saya ingat dulu alat transportasi hanya sepeda. Saya biasa naik sepeda dari rumah ke kantor. Pernah suatu ketika, sepeda saya dipinjam loper dan hilang. Untung saja, akhirnya diganti Pak Nadha karena hilang dipakai bekerja,” ujarnya sembari tertawa. Ia juga sangat menyayangkan wartawan-wartawan sekarang. Mereka kurang teliti untuk istilah asing. ”Banyak wartawan senang sekali menulis istilah asing, mungkin mereka bangga. Padahal tulisannya salah. Contoh saya pernah membaca, para tamu disuguhkan snake. Padahal maksudnya snack. Mereka kurang teliti. Tulis saja para tamu disuguhkan kudapan,” kata Ny. Riyasse. Perempuan yang fasih berbahasa Inggris ini, mengatakan sangat bangga, dulu waktu kerja sebagai wartawan, Pak Nadha selalu memberikan masukan, ingat baca kamus kalau ada istilah asing jangan sampai salah. Kebiasaan itu ternyata masih membekas. Sampai kini, usianya sudah lanjut, Ny. Riyasse selalu mengisi teka-teki silang. Tujuannya, selain untuk merawat ingatan, ia terut tetap ingin belajar. Setiap hari, ia selalu membaca koran, dan melihat banyak sekali tulisan salah ketik, dan beberapa berita belum sempurna karena belum memenuhi 5W. –Wirati Astiti

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

W. Kotaniartha

pers sekarang. Pers memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam masyarakat yang demokratis, sebagai “watchdog” yaitu mata dan telinga, pemberi isyarat, pemberi tandatanda dini, pembentuk opini atau pendapat, dan mengarah agenda masa depan,” ujar Kotaniartha. Ia menambahkan pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Disamping itu, pers dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Sebagai lembaga ekonomi dimaksudkan bahwa perusahaan pers dikelola sesuai prinsip ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya semakin meningkat, tanpa meninggalkan kewajiban sosial . Pers memiliki bahan baku yang diolah sehingga menghasilkan produk bernama “berita” yang memiliki nilai jual tinggi. Semakin berkualitas beritanya maka semakin tinggi nilai jualnya. Pers juga menyediakan kolom untuk iklan sebab pers perlu biaya untuk kelangsungan hidupnya,” paparnya . PERS MERUPAKAN “TEROMPET” Kotaniartha menuturkan di era penjajahan Belanda pers sangat dibatasi dan diancam dengan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Diberlakukannya pasal-pasal karet dan dengan kontrol yang ketat terhadap pers. Saat itu, pers merupakan “terompet” dari organisasi pergerakan Indonesia. Pers menjadi pendorong dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa, dan harian yang terbit pada masa itu antara lain harian Sedio Tomo, Harian Utusan Hindia, Fajar Asia, dan Mingguan Pikiran Rakyat. Berbeda dengan pers di masa pendudukan Jepang, hanya sebagai alat pemerintah Jepang dan bersifat pro Jepang. Periode tahun 1945-1949 lazim disebut era revolusi fisik. Peranan pers saat proklamasi kemerdekaan dengan sendirinya sejalan perjuangan rakyat Indonesia. Bahkan tidak sedikit wartawan yang turut dalam usaha proklamasi. Selain itu masih ada cerita pers di era demokrasi liberal (1949 – 1959), di era demokrasi terpimpin (1959 – 1966), dan era Pemerintahan Orde Baru

23

(1966-1998), dikenal dengan Pers Pancasila, yang ditandai dengan dikeluarkannya UU Pokok Pers No.11 tahun 1966, membuang jauh praktik penekanan pers masa orde lama. Setelah era Reformasi (1998 – sekarang), kalangan pers dapat bernafas lega ketika dikeluarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Dalam UU pers tersebut dijamin bahwa kemerdekaan pers sebagai hak asasi warga negara (pasal 4). Dalam UU ini juga dijamin tidak ada penyensoran, pembreidelan, dan pelarangan penyiaran sebagaimana bunyi pasal 4 (ayat 2). JENDELA PENGETAHUAN Selanjutnya menurut Kotaniartha dengan adanya kebebasan pers saat ini, maka tantangan terberat adalah datang dari kebebasan pers itu sendiri. Artinya, sanggupkah seorang wartawan atau sebuah perusahaan penerbitan tidak menodai arti kebebasan dengan tidak menerima pemberian atau godaan material yang berhubungan dengan publikasi sebuah berita. Kebebasan pers bukanlah tanpa batas. Batasannya adalah kebebasan dari pihak lain. Pers yang bebas dan mandiri tidak boleh melanggar batas privasi,dan hak asasi pribadi pihak lain. Pers dalam negara demokrasi bertanggung jawab terhadap publik tentang apa yang diberitakan. Pers yang memberitakan sesuatu secara tidak benar dapat dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan. Tidak jarang berbagai pemberitaan yang dianggap merugikan dituntut, digugat bahkan didemo oleh masyarakat. Penyelesaian terhadap pers yang bermasalah dilakukan melalui Dewan Pers atau jalur hukum. Kebebasan yang bertanggung jawab dari media massa pada akhirnya bergantung pada independensi dan profesionalisme pekerjannya. “Pada hakekatnya kehidupan Pers Indonesia merupakan produk dari sistem nilai dan berlaku dalam masyarakat yang diproyeksikan dalam kegiatan pers. Pers sebagai modal bangsa haruslah menegakkan aturan main (rules of the games) pers nasional, seperti tertuang dalam falsafah Pancasila, UUD 1945, UU tentang pers, kode etik jurnalistik, perundangan lain serta tata nilai yang berlaku dalam masyarakat,” ujar Kotaniartha. Memahami pers bukanlah sekadar mengetahui ada berbagai media yang disebut pers sebagai wahana memperoleh informasi. Yang tidak kalah penting adalah pengetahuan publik mengenai berbagai fungsi pers selain fungsi informasi. Pers adalah jendela pengetahuan dan pertukaran pikiran secara bebas . Selain itu juga penting mengetahui bagaimana pers bekerja, apa hak dan kewajibannya, apa aturan dan etika yang harus ditaati serta permasalahan apa yang dihadapi. – Sri Ardhini


22

Sosialita

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Yang “Ikut-ikutan” perlu “Dikembalikan” Keberadaan komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) memang bukan hal yang baru. Sudah sejak lama masyarakat mengetahui adanya komunitas-komunitas ini. Apalagi sebagian komunitas ini pun terang-terangan memberitahukan keberadaannya ke masyarakat. Sebut saja komunitas Gaya Nusantara (GN) yang didirikan oleh Dede Oetomo -seorang dosen juga aktivis HIV/AIDS- pada 1987 di Surabaya.

B

ahkan sebelum adanya GN, sejak awal-awal 1980-an komunitas-komunitas ini sudah ada. Tercatat, komunitas gay terbuka pertama di Indonesia adalah Lambda Indonesia yang didirikan di Solo tahun 1982. Setelah komunitas ini, kemudian bermunculan komunitas-komunitas LGBT lainnya di berbagai daerah, tak terkecuali di Jakarta. Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia, konon, adalah salah satu yang tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Masyarakat Indonesia, kata Tika Bisono, Psikolog, boleh dibilang relatif permisif dan terkesan cuek—khususnya di kotakota besar- dengan keberadaan komunitas itu karena faktanya tidak ada kehebohan yang berarti menanggapi keberadaan mereka. “Lalu kenapa sekarang jadi ribut, jadi geger? Padahal selama ini masyarakat cenderung cuek dan diam saja?” kata Tika. Sebagaimana diketahui barubaru ini isu LGBT mengemuka dan membuat heboh para petinggi negeri. Beredar sebuah poster yang terkesan seolah-olah SGRC (Support Group and Research Center on Sexuality Study) Universitas Indonesia adalah

sebuah organisasi yang mewadahi kalangan LGBT. Poster yang menghebohkan dunia maya pada awalnya kemudian merambat ke dunia nyata, menurut Nadya Karima Melati, koordinator SGRC bukan bikinan pihaknya. “ SGRC adalah lembaga studi seksualitas, lembaga kajian, bukan komunitas LGBT,” katanya seraya menambahkan, gara-gara poster manipulatif itu, anggota SGRC kena teror. SGRC yang telah dua tahun berdiri adalah sebuah lembaga kajian yang membahas isu gender dan seksualitas secara luas. Anggotanya adalah mahasiswa UI, dosen dan alumni. Meski membawa ‘embelembel’ UI, namun ini adalah sebuah lembaga independen yang memang berbasis di wilayah kampus. Beberapa kali mereka menggelar event di antaranya seminar tentang pencegahan kekerasan seksual di kampus. Beberapa waktu lalu mereka membangun layanan LGBT Peer Support Network, sebuah layanan konseling bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang LGBT, termasuk menjadi teman cerita bagi individu yang sedang melewati masa sulit. Dalam penjelasan SGRC dalam websitenya sgrcui. wordpress.com, kegiatan konseling

selain bertujuan mencerdaskan publik sekaligus sebagai coping mechanism bagi mereka yang merasa tertekan karena preferensi seksual yang berbeda. Rupanya inilah yang jadi pangkal persoalan kehebohan bahwa konseling LGBT itu dilakukan oleh sebuah lembaga yang beraktivitas di lingkungan kampus. Mulai dari Menristek, Mendikbud, anggota DPR, dan lain-lain, bersuara tentang ‘LGBT’ masuk kampus dan inilah

Tika Bisono

yang tidak disetujui. Akhirnya pihak UI pun melarang SGRC melakukan kegiatan konseling itu. “Iya, intinya sebenarnya karena

konseling itu dilakukan oleh organisasi yang beraktivitas di kampus, itu yang dilarang. Universitas Indonesia kan lembaga pendidikan, dan norma-norma yang berlaku di negeri kita belum bisa menerima hal-hal seperti itu,” ungkap Tika terkait almamaternya. Ia menambahkan, hal ini memang belum bisa diformalkan di Indonesia. Kalau mau diformalkan, pasti jadi seperti itu (heboh). Masyarakat belum bisa menerima itu. Namun, kalau secara individu, tidak formal, tidak ada yang meributkan. “Misalnya saja, kalau kita nonton film, kan tidak ada larangan hanya untuk yang heterogen, yang homogen tidak boleh. Atau, ada restoran anti gay, kan di Indonesia tidak seperti itu,” kata penyanyi yang ngetop di era 1980an ini.—Diana Runtu

Konseling Penting Tapi Jangan di Kampus

Wanita kelahiran 1960 ini menegaskan, sebenarnya masyarakat kita cukup permisif dengan hal seperti itu. Hanya saja jangan diformalkan. Karena kalau masuk di institusi formal, apalagi institusi pendidikan, akan bertemu (berbentur) dengan nilai-nilai, sistem, norma, dll, yang berlaku. Sebenarnya, lanjut Putri Remaja Indonesia 1978 yang juga mantan model, soal keberadaan komunitas gay, lesbian, dsb, itu sudah ada sejak lama. Sejak era 1980-an sudah ada organisasiorganisasi itu, bahkan muncul di daerah-daerah. Tapi,toh, selama ini masyarakat diam saja. Ini karena keberadaan komunitas ini berada di luar kampus, di luar lembaga pendidikan formal. “Sekarang SGRC-UI melakukan konseling di wilayah kampus. SGRC meski bukan organisasi resmi kampus, namun kan anggotanya mahasiswa UI dan mereka melakukan aktivitas keorganisasian di lingkungan kampus. Itu sebabnya jadi masalah,” katanya. Lembaga konseling, kata Tika lagi, memang sangat diperlukan khususnya untuk membantu pendampingan bagi kalangan LGBT ataupun mereka yang berada ‘dipersimpangan’. Karena kita juga tidak bisa menafikan bahwa ada banyak anak muda yang menjadi gay, lesbian, karena terpengaruh lingkungan. “Jadi sebenarnya, mereka tidak dalam kesadaran yang

utuh. Nah yang ikut-ikutan ini yang berbahaya. Ini yang perlu, dalam tanda petik ’dikembalikan’. Banyak kasus mereka yang LGBT ditolak keluarga, pendidikan bahkan komunitasnya. Nah, mereka ini siapa yang harus ‘menampung’? Karenanya konseling sangat diperlukan. Kalau mereka tidak ada tempat untuk curhat, tidak ada pendampingan, lalu bagaimana? Bagaimana kalau mereka makin kacau,” ucapnya. Sebagai psikolog, dia kerap kali mendapat klien LGBT. “Misalnya ada klien aku yang memilih antara mau jadi waria atau gay. Atau, seorang menjalani kehidupan sebagai LGBT namun batinnya mengalami konflik, dll. Dengan kondisi Indonesia yang belum bisa menerima hal-hal seperti ini, maka pendampingan oleh psikolog sangat perlu,” tegas Tika. Terkait dengan adanya rencana gugatan hukum yang akan dilakukan oleh kalangan LGBT terhadap sejumlah tokoh yang dianggap melontarkan perkataan-perkataan yang menyudutkan, Tika menyarankan sebaiknya rencana itu diurungkan. Sebaiknya, kata Tika, kalangan LGBT ‘membalasnya’ dengan perkataan atau kampanye yang menunjukkan bahwa mereka bukan seperti yang dikatakan para tokoh itu. “Kan tidak bisa terjadinya satu kasus yang melibatkan seorang LGBT kemudian dipukul rata bahwa LGBT semuanya sama. Sebut saja kasus Ryan, seorang LGBT yang menjadi pembunuh berantai.

Gambar ilustrasi LGB

Kasus yang menghebohkan ini, tidak bisa lantas digeneralisir bahwa semua LGBT seperti Ryan. Aku beberapa kali jadi narasumber terkait masalah itu di televisi maupun media cetak. Aku jelaskan hal ini. Nah sekarang kalau ada tokoh yang menyebut LGBT merusak moral, kan seharusnya kalangan LGBT membalasnya dengan mempertanyakan pernyataan tokoh tersebut. Misalnya, moral seperti apa yang dimaksud, ukuran merusak moral itu dimana, dll. Jadi aku kira tidak usah melakukan gugatan hukum, melainkan melakukan lakukan counter attact dengan baik,” paparnya. Menurutnya tidak perlu ada ketersinggungan, karena orang dapat berpandangan apa saja. It’s a free value. Jadi bukan hal yang aneh. Ia pun berharap kalangan LGBT tidak usah emosi atau over sensi. Karena betapapun, kata Tika, kalangan LGBT pun harus tahu bahwa mereka hidup dalam komunitas non-LGBT yang jumlahnya sangat besar. Karenanya, mau-tidak mau harus menyesuaikan dengan situasinya. “Kita jangan berharap semua bisa menerima, itu tidak bisa, karena kehidupan tidak bisa seperti itu. Kehidupan heterogen. Jadi jangan menjadi sensitif berlebihan. Ayo hidup bersama. Ada yang tidak terima, ya, biarkan saja. Kalau ada yang bisa terima, ya, alhamdulilah,” ucapnya. —Diana Runtu

Kenali Si Tenar dan BDN Vip Club BPR Bali Dananiaga

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

3

Wajah-wajah sumringah datang ke Sector Bar Golf, Sanur, Selasa, (26/1). Para nasabah BPR Bali Dananiaga (BDN) dan juga calon nasabah ini, diundang khusus untuk menghadiri peluncuran produk Tabungan Arisan yang diberi nama “Si Tenar” dan produk layanan nasabah berupa pemberian member “BDN VIP Club Card” bagi nasabah yang telah bergabung di Bank Bali Dananiaga.

Peluncuran produk SiTenar

Penandatangani MoU dengan perusahaan rekanan

A

cara peluncuran juga dihadiri para pemilik dan pemegang saham BPR Bali Dananiaga yakni, ­I Ketut Deger Setiasa, I Wayan Catra Sanjaya, I Made Asa, I Made ­Jedeg Sariana, I Made Rai Oka ­Rimbawa, S.E., M.M. Dipandu MC, Kepala Cabang BDN Jimbaran Ani Suryaningsih, dan Wawan staf bagian kredit, acara peluncuran produk begitu meriah karena ­banyaknya doorprize yang dibagikan kepada para undangan. Direktur Utama BDN, I Made Arta, S.E., M.M., dalam sambutannya mengatakan, meskipun situasi ekonomi sedang bergejolak BDN bisa tetap eksis di dunia perbankan dengan meng­utamakan prinsip kehati-hatian dan service kepada nasabah disesuaikan dengan tuntutan zaman. “Kami berkomitmen meningkatkan kualitas SDM dan IT untuk memenuhi kebutuh­ an layanan jasa perbankan sehingga memenuhi kepuasan nasabah. Pada saat perlambatan ekonomi baik secara

Penyerahan simbolis BDN VIP Club

global maupun regional kami melakukan penataan internal guna melengkapi infrastruktur yang lebih baik sehingga bisa bertahan dalam persaingan dalam kondisi apapun,” ujarnya. Ia menilai kebutuhan nasabah atas layanan perbankan kian meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya lembaga keuangan perbankan maupun lembaga nonbank baru yang kian menjamur. Maka dari itu, ia menegaskan, akan lebih baik jika perusahaan yang kompeten saling bergabung dan bekerja sama untuk lebih meningkatkan mutu produk yang dipasarkan. BDN telah berdiri sejak tanggal 30 Maret 1993 yang sudah menginjak usia 23 tahun. BDN dulu bernama BPR Kertiawan Dananiaga kemudan seiring dengan perjalanan maka bank ini berubah nama menjadi BPR Bali ­D ananiaga serta telah mempunyai ­legalitas baik dari Menteri Keuangan maupun dari Menhumham, serta lembaga pemerintah yang terkait lainnya. “Visi kami, menjadikan BDN sebagai

BPR yang tumbuh sehat dan ber­kembang secara wajar,” ­kata ­Made Arta. Visi ini dijabarkan melalui misi: meningkatkan kompetensi SDM di bidang keuangan perbankan melalui pendidikan dan pelatihan, memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh dan selaku mitra pilihan utama, meningkatkan nilai investasi yang unggul kepada para pe-

megang saham, meningkatkan kondisi rasa aman dan nyaman kepada para karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk tempat berkarya dan berprestasi, meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial, menjadikan acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik. Made Arta mengatakan, tahun 2015 merupakan tahun yang sangat sulit dari perlambatan ekonomi yang akan berdampak di segala lini. Namun, dari segala upaya telah dilakukan tim BDN, sehingga bisa mewujudkan pertumbuhan sebagai berikut, penghimpunan dana pihak ketiga tumbuh sebesar 20% , kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 3%, aset tumbuh sebesar 8%, rasio modal telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan yaitu 12%. “Rasio modal bank kami per Desember 2015 sebesar 14 % artinya sudah di atas ketentuan, dan kalau dilihat dari pertumbuhan tahun 2015 modal BDN telah tumbuh sebesar 21%,” kata Made Arta yang disambut tepuk tangan para undangan yang hadir. Beberapa penghargaan dari i­nfobank

award sebagai predikat ­sangat bagus secara berturut-turut telah diraih BDN. Penghargaan dari Bali costumer statifaction award kategori layanan publik BPR, dan katagori the top ten best for service, dan penghargaan the best regional development bank dan the top ten regional development bank. “Harapan ke depan, Bali Dananiaga tetap fokus ke masa depan. Untuk mewujudkan visi sebagai ‘Bank Perkreditan Rakyat yang tumbuh sehat berkembang secara wajar,” kata Made Arta. Ia menambahkan, Bali Dananiaga akan terus berupaya memanfaatkan keunggulannya sebagai bank transaksional dalam menawarkan relationship banking experience secara menyeluruh pada nasabah Bali Dananiaga. “Saat ini kami sedang mengembangkan struktur organisasi baru yang akan meningkatkan kemampuan Bali Dananiaga dalam pendalaman hubungan dengan nasabah. Dengan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, kami percaya Bali Dananiaga dapat terus meraih kinerja usaha yang lebih baik di tahun-tahun mendatang,” tegasnya. –ast

Menang tak Perlu Bayar Lagi

Menurut Kepala Cabang BDN Jimbaran, Ani Suryaningsih, program Si Tenar ini sangat menguntungkan nasabah ­karena ketika menang mereka sudah tidak perlu bayar lagi. Hal ini mengakomodir kebutuhan nasabah yang sudah terbiasa mengikuti arisan di masyarakat. “Adapun model aris­ an yang kami tawarkan sudah pasti aman karena kami dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Peserta arisan tidak Kepala cabang Ubud I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi (dua dari kiri), Direktur BDN Desak Satya Pusparini (empat dari kiri), Owner Suwarni Colletion (enam dari kiri), Direktur Utama BDN I perlu khawatir kehilMade Arta (lima dari kanan), Kepala cabang Jimbaran Ani Suryaningsih (empat dari kanan), angan dana yang sudah dan seluruh panitia BPR Bali Dananiaga disetorkan dalam bentuk tabungan karena meskipun belum nasabah mendapatkan kesempatan seperti, Samani Resto, Pandan Sari menang setelah periode berakhir untuk meraih doorprize yang sangat Cafe Jimbaran, Butik Suwarni Collecyaitu pada bulan ke-30 peserta akan menggiurkan. “Arisan ini kami lakukan tion, Ratna Dewi Royal Kebaya, White mendapatkan dana arisan dan cash- secara transparan karena disaksikan Canny Resto, RS Siloam, Klinik Penta Rurin sedang memberikan motivasi back-nya,” jelasnya. Selain itu juga, oleh perwakilan peserta dan diumum- Medika, Cangkruk, Romansa Salon kan melalui SMS broadcast sehingga and Spa, House of Dura, Wellbeing memudahkan peserta mendapatkan Spa, Tempat Wisata Taman Nusa, informasi yang diperlukan tentang Lady Marmalade Salon & Spa, Cleokegiatan arisan ini,” imbuhnya. patra Salon, Mie Ayam Jakarta, rumah Sebagai periode pertama Si Tenar, makan Boemboe Mertua, SOUL sudah terdaftar 535 orang yang ikut (Spirit of Universal Life), Lembaga serta. Nasabah yang menang dalam Pendidikan Musik Farabi by Dwiki program ini mendapatkan bingkisan Darmawan, Ayulia Salon, Emdee Skin Clinic, dll. “Dengan memiliki BDN dan emas. Selain peluncuran Si Tenar, Bank VIP Club Card nasabah dimanjakan BDN juga sedang gencar-gencarnya dengan suasana yang nyaman sudah memberikan service kepada nasabah tidak perlu diragukan lagi. Jadi segera melalui program BDN VIP Club datang dan nikmati keistimewaanCard. BDN menggandeng beberapa nya,” ujar Ani Suryaningsih. Acara peluncuran menjadi sangat perusahaan yang memenuhi kategori dalam program BDN VIP Club Card, istimewa karena juga diisi dengan moyang memberikan keistimewaan atau tivasi dari Psikolog Rurin dari Hamarta previllage kepada VIP Customer Bank and partner yang berjudul “The Power BDN. Beberapa perusahaan rekanan of Love”. -ast Para pemenang doorprice berfoto bersama Direktur BDN Desak Satya Pusparini


4

Inspirasi

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Puti Guntur

Napak Tilas Jejak Eyang Sukarno Di tengah kesibukannya sebagai anggota dewan, Puti Guntur Soekarno, S.IP tetap menaruh perhatian besar terhadap “syiar” ajaran mendiang eyangnya, Bung Karno. Oleh sebuah tim produksi, Puti didaulat membawakan sebuah program film semi-dokumenter tentang situssitus peninggalan Bung Karno.

D

ijumpai di ruang kerjanya, Gd Nusantara 1 lantai 5, komplek DPR-RI Senayan Jakarta, baru-baru ini, Puti Guntur tampil anggun. Mengenakan stelan blazer hitam serta baluran make-up sederhana, putri Guntur Soekarnoputra itu tampak fresh. Padahal, siang itu, ia baru saja selesai mengikuti Sidang Paripurna DPR RI. Seperti biasa, ia akan antusias jika diajak berbicara tentang mendiang eyang Sukarno. Di matanya, Sukarno adalah sosok yang inspiratif. “Dari kecil saya sudah dicekoki buku-buku eyang oleh papa (Guntur Soekarnoputra-red). Jadi yaaa... mau tidak mau ikut gandrung dengan pemikiran-pemikiran eyang,” begitu ujar pemilik nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri itu. Politisi PDI-P ini, terbilang smart. Di luar lingkungan partai, banyak kaum nasionalis menaruh harap kepadanya. Pembawannya yang santun, tutur-kata yang bernas, serta pemikiran dan kiprahnya yang kongkrit, membuat Puti mampu bertahta di relung hati kaum nasionalis kebanyakan. Belum lama ini, Puti Guntur menyampaikan pidato kebudayaan bertajuk “Pancasila Bintang Penuntun” dalam peresmian Pusat Riset Sukarno di Universitas Kokushikan, di Setagaya, Tokyo. Ia berangkat bersama kedua orangtua dan suaminya.Sarjana FISIP UI ini, memang dikenal memiliki kecerdasan dan wawasan yang baik tentang kebangsaan, tentang Sukarnoisme. “Undangan dari

Jepang, terus terang membuat saya senang dan bangga. Senang karena mendapat kesempatan langka, bangga karena dunia mengakui pemikiran Sukarno, bahkan melakukan kajian akademis,” papar wanita kelahiran Jakarta 26 Juni 1971 itu. Hingga kini, sebagian waktu di luar kedinasan sebagai wakil rakyat di Komisi X DPR RI, Puti melakukan aktivitas-aktivitas kebangsaan melalui berbagai forum diskusi dan kajian. Saat ini, Puti sedang memimpin sebuah tim penulisan pelurusan sejarah. Ia didukung oleh beberapa penulis yang juga sejarawan. Di luar itu, wanita berbintang cancer ini juga aktif di kegiatan lain seperti yang baru-baru ini dia setujui adalah pembuatan semacam film dokumenter tentang situs-situs Bung Karno. “Sebuah tim produksi film semi-dukumenter, mendatangi saya, dan meminta kesediaan saya sebagai narator dalam film itu,” katanya. Tim produksi, akan membawa Puti Guntur ke situs-situs seperti ke Surabaya, Bandung, Ende, Bengkulu, dan lain-lain. Di Surabaya misalnya, ia akan diambil gambar bersama pengambilan gambar di sekitar Gang Peneleh, tempat kelahiran Bung Karno. Juga akan mengunjungi bekas sekolah HBS tempat Bung Karno belajar. Tak ketinggalan, di lokasi bekas kediaman HOS Cokroaminoto. Di Bandung, misalnya, ia akan menjadi narator dan menjelaskan masa-masa eyangnya aktif di studieclub, semasa kuliah di ITB. Juga di

Puti Guntur

Mandalika

Untuk menyinergikan kinerja empat kelompok kerja dalam unsur Tim Penggerak PKK Provinsi NTB dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah NTB/ lembaga terkait, rapat koordinasi dilakukan beberapa waktu lalu untuk membahas tentang kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan oleh SKPD sesuai dengan program kerja PKK dan akan dilaksanakan pada 2016 ini.

B

harus membuat semacam srcipt atau skenario dan narasinya. Setelah itu baru disusun jadwal syuting,” ujarnya. BUNG KARNO MILIK SEMUA Meski begitu Puti berharap, program itu bisa terlaksana. “Selain mengenalkan Tanah Air yang begitu indah, sekaligus menanamkan nilainilai kebangsaan melalui napak tilas eyang Sukarno di berbagai daerah. Saya sampai hari ini terkadang masih terkagum-kagum, bagaimana eyang di era 30-an, 40-an, bisa dikenal masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Sementara kita tahu, sarana transportasi masih sangat sulit,” tutur Puti. Jika Bung Karno dikenal sebagai tokoh pemersatu bangsa, menurut Puti, tak ada satu orang pun yang bisa menafikan. “Karena itu, menjari ironis ketika hari ini kita sering tersandung masalah komunikasi antardaerah. Tersandung masalahmasalah disintegrasi bangsa. Karena itu, upaya napak tilas jejak eyang tadi, menurut saya sangat bagus dalam rangka memberi kontribusi bagi upaya melestarikan semangat kebangsaan, semangat persatuan dan kesatuan bangsa,” tuturnya. Hal lain yang menjadi concern Puti adalah soal apresiasi bangsa kepada Bung Karno sebagai proklamator, pejuang kemerdekaan, serta pemersatu bangsa. Menurutnya, dalam konteks politik praktis, barangkali tidak bisa dipungkiri,

bahwa PDI-P selama ini diidentikkan dengan tokoh Bung Karno. Salah satu faktor antara lain karena bercokolnya anak dan cucu-cucu Bung Karno di partai berlambang banteng moncong putih itu. Akan tetapi, menurutnya, masyarakat juga pastinya paham, bahwa Rachmawati dan Sukmawati juga mendirikan partai lain. “Coba tanya kepada tante Rachma dan tante Sukma, tentu mereka tidak sependapat kalau dikatakan Bung Karno mutlak milik PDI Perjuangan. Iya kan?” kata Puti pula. Dari contoh kasus yang kecil itu, tentu masyarakat bisa menyimpulkan bahwa, Bung Karno pada hakikatnya milik semua bangsa. “Mestinya, masyarakat sudah cukup paham, untuk bisa memilah serta menempatkan posisi Bung Karno sebagai atribut partai politik, dan tokoh bangsa. Sebagai tokoh bangsa, Bung Karno milik semua,” tandasnya. Dengan pemahaman itu, seyogianya masyarakat lebih mudah bersikap, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat diharap lebih arif dalam memandang, konteks ajaran Bung Karno yang masih relevan dengan kekinian. “Banyak lho, ajaran Bung Karno yang masih relevan hingga sekarang. Seperti program nawa cita, revolusi mental, itu kan mengadopsi gagasan Bung Karno. Jadi, saya pribadi berharap, segenap elemen bangsa tidak apriori terhadap ajaran Bung Karno,” pungkasnya. –Diana Runtu

21

Rakor Empat Kelompok Kerja

eberapa kendala dalam pelaksanaan program PKK NTB yang sempat terjadi di tahun lalu, diharapkan tidak akan terjadi tahun ini. Itulah salah satu tujuan dari rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Ketua

lokasi-lokasi lain, seperti di Ciateul, lokasi tempat tinggal Bung Karno bersama Inggit Garnasih. Dan tak ketinggalan, tentunya, lokasi penjara Banceuy dan Sukamiskin. Di Ende demikian pula. Puti akan diambil gambar dengan latar belakang Danau Kelimutu yang eksotik. Juga di lokasi aula gereja tempat Bung Karno mementaskan tonil Kelimutu yang legendaris itu. Di Ende, juga terdapat makam mendiang Ibu Amsi, ibunda Inggit yang wafat di Ende saat mengikuti Bung Karno di pembuangan. Lokasi lain yang tak kalah menarik adalah Teluk Numba dan Sungai Nangaba. Di Teluk Numba, Bung Karno bahkan semasa sudah menjadi Presiden, menugaskan pelukis Basuki Abdullah untuk datang ke sana dan menuang panorama Teluk Numba ke dalam kanvas. Posisi terakhir, lukisan itu terpasang di Istana Bogor. Entah sekarang di mana. Di Bengkulu, beberapa spot yang tidak bisa tidak harus diambil gambar sebagai situs Bung Karno adalah rumah pembuangan Kecamatan Anggut Atas. Selain itu, tentu saja sebuah masjid hasil tangan Bung Karno sebagai arsitek. Tak ketinggalan, pantai panjang, tempat Bung Karno melakukan “pe-de-ka-te” kepada Fatmawati yang di kemudian hari menjadi eyang putri Puti. Bukankah itu akan memakan waktu yang tidak sedikit? “Oh, tentu.... Pastinya akan memakan waktu lama. Karena, saya kan juga tidak mungkin meninggalkan tugas sebagai wakil rakyat. Jadi, saya minta tim produksi harus merancang jadwal sedemikian rupa sehingga bisa memaksimalkan waktu saya yang terbatas. Waktu reses pun tidak mungkin saya habiskan untuk syuting sebab saya pun punya kewajiban kepada konstituen saya di Kuningan, Jawa Barat,” ujar wanita yang pantai memainkan piano itu. Ditanya kapan program itu dilaksanakan, Puti mengaku masih belum tahu, karena jadwal produksi bukan dia yang membuat. “Setahu saya, saat ini, tim riset masih berada di Kepulauan Aru. Mereka masih melakukan riset. Jadi, saya kira belum dalam waktu dekat. Sebab, pasca riset, mereka kan

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

1 TP PKK NTB, Hj. Syamsia M. Amin. “TP PKK adalah pelaksana lapangan yang membantu SKPD dalam mendukung program pemerintah khususnya dalam bidang kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, TP PKK mengharapkan dukungan dari SKPD dalam

pelaksanaan program kerja TP PKK,” ungkap Hj. Syamsiah. Pada rakor ini, ada enam SKPD (Dinas Kesehatan, BP3AKB, Biro Administrasi Kesejahteraan

Hj. Syamsiah bersama Pengurus PKK Provinsi

Rakyat, BKKBN, BNPPD, dan Bappeda) yang memaparkan program kerja berkaitan dengan program PKK NTB. Program tersebut antara lain: Roadshow Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK, Sosialisasi Pembinaan Ketahanan Keluarga (BKB, BKR, BKL, PEK/ UPPKS), Hari Keluarga, Penggerakan Melalui Lomba Tribina (BKB, BKR, BKL, PEK/UPPKS), Fasilitasi Penguatan Atau Pembinaan BKB Holistik Integratif, dan Lomba KB Lestari. “PKK adalah pelaksana lapangan yang membantu SKPD dalam mendukung program pemerintah. Oleh karena itu, TP PKK mengharapkan dukungan dari SKPD dalam pelaksanaan program kerja TP PKK,” ujar Syamsiah. Untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, termasuk di dalamnya masalah perlindungan perempuan dan anak, selain program rutin

PKK NTB yang dilaksanakan juga ada beberapa program baru. Peningkatan komitmen demi peningkatan kesejahteraan keluarga di NTB, Syamsiah mengingat bahwa kerja ini merupakan kerja sukarela, maka dibutuhkan keikhlasan untuk menjalaninya. “Ibu-ibu anggota TP PKK adalah tenaga sukarela yang membantu program pemerintah sampai ke pelosok daerah di NTB. Oleh karena itu, organisasi yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga, perempuan dan bahkan anak di NTB ini, tidak hanya TP PKK melainkan juga BKOW dan Dharma Wanita membutuhkan peningkatan komitmen kerjasama dengan SKPD dalam melaksanakan program kerja tahun 2016 ini dan tahun-tahun mendatang”, katanya. Dibutuhkan peran aktif anggota PKK, BKOW dan Dharmawanita NTB untuk menwujudkan hal tersebut. -Naniek I. Taufan

Lombok Destinasi Halal Terbaik di Dunia Dua even nasional akan segera dihelat Provinsi Nusa Tenggara Barat, yakni Hari Pers Nasional yang akan berlangsung awal Februari 2016 ini dan Musyabaqah Tilawatil Quran (MTQ) nasional yang akan berlangsung pertengahan tahun mendatang. Dua even ini juga akan menjadi ajang promosi bagi Nusa Tenggara Barat. Untuk mengejar efektivitas promosi tersebut, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Muhammad Amin, menggelar dialog dengan PHRI NTB, Balai POM NTB, Pengelola Industri Kecil, pengolah pembuat berbagai macam industri kreatif, dan pedagang cinderamata binaan pemerintah, beberapa waktu lalu. Sertifikasi halal bagi hotel, restoran dan usaha produksi pengolahan makanan, menjadi salah satu fokus dalam topik dialog tersebut. Hal halal ini sekaligus untuk menegaskan Lombok sebagai destinasi halal terbaik di dunia. “Sertifikasi halal sangat penting. Oleh karena itu, kami pemerintah bekerjasama dengan MUI NTB dan Balai POM NTB akan memaasilitasi untuk ditangani secara

gratis dan cepat namun dengan tetap melalui prosedur yang ada,” ungkap Amin. Selain itu, menurut Amin, event nasional Hari Pers Nasional dan MTQ Nasional yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini merupakan kesempatan emas bagi pengusaha hotel dan pariwisata lainnya untuk lebih memperkenalkan produk-produknya di mata wisatawan lokal maupun internasional. “Mari manfaatkan momen event nasional yang akan dihelat di NTB untuk kemajuan

ekonomi kita,” ajaknya. Dan dalam dialog ini, Kepala Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB, Husni Fahri, mengungkap pula bahwa pihaknya terus menyosialisasikan sertifikasi halal tersebut. “Pada tahun 2016 ini, dialokasikan anggaran untuk 365 restoran hotel dan restoran mandiri serta 55 IKM yang menghasilkan produk olahan makan. Kami mengajak bapak dan ibu semua untuk mendaftarkan perusahaannya di kantor kami sesegera mungkin,” katanya.

Peningkatan sertifikasi halal bagi restoran, hotel dan produk olahan makanan di NTB terus ditingkatkan

Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad

JADIKAN RINJANI GEOPARK DUNIA Promosi pariwisata Nusa Tenggara Barat memang gencar dilakukan. Bahkan usaha untuk menjadikan Gunung Rinjani dengan pesona alamnya yang indah menjadi salah satu Geopark Global Network (GGN), terus dilakukan. Keindahan dan potensi Gunung Rinjani terus diperkenalkan kepada dunia internasional untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB. “Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat, tentunya akan berdampak langsung kepada peningkatan perekonomian lokal dan kesejahteraan masyarakat secara luas,” ujar Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin, S.H., M.Si, saat membuka seminar nasional “Keindahan dan

potensi Rinjani sebagai Geopark Dunia” beberapa waktu lalu. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Dadang Rizky Ratman turut menyampaikan arahan Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, tentang pembangunan bidang pariwisata yang merupakan salah satu program prioritas di tahun 2016 ini. Untuk itu, berbagai upaya untuk menjadikan Nusa Tenggara Barat sebagai produk pariwisata, termasuk dengan menjadi salah satu menjadikan Gunung Rinjani sebagai geopark dunia, diharapkan dapat memberi nilai tambah ekonomi dan menjadi lahan penghasilan bagi masyarakat. -Naniek I. Taufan Foto-foto: Humas dan Protokol Setda NTB


20

Nine

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Ir. Hj. Budi Septiani

Jadikan NTB Daerah Mandiri Daging Sejak menjadi Pegawai Negeri Sipil pertama kali di tahun 1991, Ir. Hj. Budi Septiani telah memulai karirnya mengawal bidang peternakan di Nusa Tenggara Barat, hingga akhirnya kini ia menjadi salah seorang birokrat perempuan yang dipercaya oleh Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi memimpin Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

T

ugas sebagai kepala dinas yang merupakan SKPD teknis ini tidaklah mudah karena salah satunya ia harus memastikan produksi dan ketersediaan kebutuhan sapi potong maupun sapi bibit di daerah sesuai dengan target-target yang telah ditetapkan. Bukan itu saja, hal lain

yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana ia dan seluruhnya stafnya harus memastikan bahwa daging yang dikonsumsi masyarakat adalah daging yang aman dan bebas dari berbagai penyakit. Setidaknya tiga jenis penyakit yang berbahaya bagi sapi dan juga manusia yakni, Antraks, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Penyakit Ngorok (SE). Ketiga jenis penyakit ini jika tidak tepat dan segera mendapatkan penanganan dapat berakibat kematian

pada ternak sapi. “Saya harus melakukan kontrol dan mengawasi kondisi kesehatan ternak agar aman dikonsumsi masyarakat,” ujar Budi Septiani. Baginya kesehatan ternak harus menjadi prioritas perhatiannya karena ini berkaitan langsung dengan masalah kesehatan masyarakat pengkonsumsi daging ternak tersebut. “Tugas kami (Dinas Peternakan), tidak hanya sampai pada produksi ternak, melainkan juga menjaga keamanan ternak dan konsumen karena daging merupakan sumber protein bagi masyarakat,” katanya. Oleh sebab itulah, menurutnya regulasi-regulasi untuk

mengendalikan penyakit ternak di NTB terus diperkuat. Budi Septiani bekerja untuk memastikan hal itu. Hasilnya, ternak NTB bebas dari penyakit. Dan sejak tahun 2011, menurutnya NTB telah menjadi daerah mandiri daging. Karena hal inilah NTB mampu menjadi daerah

penyuplai bibit sapi 35% untuk kebutuhan nasional. Provinsiprovinsi lain di Indonesia banyak yang meminta sapi dari NTB yang memiliki tingkat produktivitas sapi lebih baik karena bebas dari penyakit. “Sapi NTB sehat dan bebas dari penyakit,” katanya. Berdasarkan data yang disampaikan Budi, tahun 2014 populasi sapi NTB mencapai 1.013.000. Dari jumlah tersebut untuk kebutuhan sapi bibit sebanyak lebih kurang 263.000. Hanya 10% dari jumlah ini yang boleh keluar NTB sedang 90% lainnya untuk kebutuhan dalam daerah NTB. Sedangkan untuk sapi potong dengan potensi 128.000, yang 60%-nya (sekitar 76.000) disiapkan untuk kebutuhan daerah sedangkan keluar daerah 40% (24.000).

Jaga Kualitas Ternak hidup. “Sejak tahun 2012 NTB banyak mengirim daging beku keluar daerah. Ini dilakukan agar tumbuh usaha masyarakat sehingga bisa menyerap tenaga kerja,” ungkapnya. Kualitas sapi juga menjadi perhatian yang diprioritaskan mengingat sistem pemeliharaan sapi di Pulau Lombok dan Pulau Sum-

bawa berbeda. di Pulau Lombok ternak sapi dipelihara dengan cara kandang kolektif sedangkan di Pulau Sumbawa ternak dilepas di padang pengembalaan. Pemeliharaan khususnya ternak sapi di Pulau Sumbawa yang dilakukan dengan cara dilepas di padang pengembalaan mempengaruhi kualitas sapi. Padahal 70% populasi sapi ada di Pulau Sumbawa. “Ternak yang dilepas di padang pengembalaan kerap terjadi perkawinan sedarah sehingga menyebabkan penurunan kualitas performa ternaknya menjadi lebih kecil,” katanya. Untuk itulah, intervensi dilakukan demi menjaga kualitas ternak yakni dengan pertukaran pejantan pemacek. Dimana pejantan pemacek ini tidak akan berada di wilayah pengembalaan yang sama selama dua tahun. Selain itu juga intervensi dilakukan dengan inseminasi buatan. Tidak hanya itu, tugas Budi dalam memimpin Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB adalah juga mengenai semua komoditi peternakan dan kesehatan hewan, termasuk ayam. Untuk membebaskan NTB dari flu burung, makan NTB hanya memasukan bibit ayam (DOC) dan itik (DOD) yang berusia satu hingga tujuh hari. “Selain itu juga tidak

Membeli Coklat = Menjaga Petani

Untuk membuka usaha rumahan yang menjanjikan dari manisnya coklat dalam skala kecil butuh riset dan pengalaman. Upaya ini telah dibuktikan oleh sekelompok petani biji kakao di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Jembrana. Mereka menjalankan produksi coklat kemasan yang sudah didukung dengan teknologi modern. Melalui kelompok Unit Pengolahan Hasil (UPH) Sari Bumi, coklat ekslusif berproses mulai dari biji sampai pengemasan.

–Naniek I. Taufan

Sejak tahun 2014 NTB juga sudah terus mengurangi keluarnya sapi bibit. “Dari 2013 hanya 22 ribuan, menjadi 17 ribuan bibit di tahun 2014 dan terus menurun di tahun 2015 menjadi 10 ribuan bibit saja,” ujarnya. Di samping mengurangi pengiriman bibit sapi keluar daerah, juga secara bertahap mengurangi sapi potong

Inspirasi

menerima ayam afkiran (ayam yang sudah tidak produktif),” katanya. Agar memudahkan pengawasan dan mengantisipasi penyakit unggas, Budi mendorong terbentuknya percontohan kampung unggas di Teruwai, Pujut Lombok Tengah juga pengembangan itik dari hulu ke hilir, dari budidaya itik hingga pembuatan telur asin di Terara Lombok Tengah. Untuk memastikan semua hal terkait bidang peternakan di NTB, Budi terbilang rajin turun ke lapangan. Ia ingin melihat sendiri kondisi dan kebutuhan peternakan bahkan langsung ke peternak-peternak di desa-desa. “Kalau saya tidak ke lapangan, saya tidak akan tahu kondisi yang sebenarnya,” ujarnya. Mengetahui kondisi lapangan secara riil merupakan kebutuhannya. Karena dari sanalah ia akan bekerja untuk memastikan seluruh mata rantai tugasnya berjalan dengan

baik sehingga jika ada yang kurang atau harus diperbaiki atau malah ada situasi yang tidak produktif, ia bisa dengan mudah membuat catatan-catatan untuk mendorong regulasi-regulasi terkait bidang peternakan dan kesehatan hewan di daerah ini. Dengan langsung turun ke lapangan, ia bisa mengetahui secara langsung kebutuhan peternak sehingga jika ada yang bisa difasilitasi untuk peningkatan produksi maupun lainnya bisa segera dilakukan. Jika ada yang difasilitasi kemudian membawa keberhasilan dan meningkatkan kesejahteraan peternak, di sanalah letak kebahagiaannya. “Saya senang dan bahagia, jika melihat peternak dapat memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas-fasilitas yang diberikan sehingga meningkatkan penghasilan mereka,” ujar istri dari L. Sudi Arahman ini. -Naniek I. Taufan

T

idak sulit menemukan proses pembuatan coklat yang dikerjakan langsung oleh petani. Rumah yang baru berdiri awal tahun ini terletak di Banjar Dalem, Desa Gumbrih. Rumah produksi ini berdiri diatas lahan seluas dua are, dan baru beroperasi sejak Januari 2016 setelah izin edar keluar. Unit usaha ini didukung tiga tenaga terampil berlatar belakang pengalaman di bidang pertanian ini mampu menghasilkan dua produk coklat handalan. Dark Chocolate dan Milk Chocolate merupakan dua produk kemasan coklat mulai meramaikan pasar impor. Kedua produk ini oleh pencetus nama dan desain kemasan, Putu Mawa (38) diberi merek Cho-Jaensan akronim dari Bahasa Bali Coklat Jaen San. Menurut dia, coklat olahannya ini berasal dari bahan baku biji kakao pilihan yang sudah bersertifikasi UTZ. Standar UTZ merupakan perangkat untuk mengatur standar produksi dan pengolahan kopi dan kakao yang berkantor pusat di Belanda. Biji kakao ini pula sudah melalui proses pemisahan yang memang layak untuk diolah sebagai coklat kemasan. Tahap pengolahan sudah didukung dengan mesin modern yang difasilitasi oleh pemerintah. Ada beberapa tahapan sebelum coklat diproses sampai pengemasan. Sebelumnya biji kakao difermentasi yang bertujuan mengurangi tingkat keasaman. “ Biji coklat yang bagus setelah dipetik harus difermentasi se-

lama 5 hari, selanjutnya baru dijemur agar manisnya meresap kedalam biji, “ terang Mawa didampingi istri Ni Komang Sri Purnamayanti disela proses pengemasan. Mawa menjelaskan secara singkat beberapa tahapan dilakukan dengan menggunakan mesin. Pertama biji kopi melewati proses sangrai di dalam mesin roaster. Kemudian melewati juga proses pemisahan kulit terluar dari biji kakao yang dikerjakan oleh mesin winnowing. Beberapa mesin juga bertugas menghaluskan coklat yang sudah bercampur gula dan bubuk susu dalam suhu yang sudah ditentukan. “ Paling penting dalam proses ini adalah tempering, suhu coklat diturunkan menjadi 28 sampai 25 derajat sebelum proses cetak, “ jelas Mawa. Lanjut Mawa, dalam sehari dia mampu memproduksi 300

biji coklat dengan masing- masing memiliki berat 35 gram dari jumlah bahan 20 hingga 30 kilogram. Dalam beberapa mesin terutama di mesin tempering hanya mampu menampung adonan coklat yang siap cetak berkapasitas 10 kilogram. Proses akhir, setelah coklat

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

masuk dalam cetakan selanjutnya disimpan dalam suhu pendingin selama 30 menit. Selanjutnya barulah pada tahap pengemasan yang masih terbilang sederhana. Pihaknya sampai saat ini masih memiliki beberapa stok untuk selanjutnya dipasarkan ke sejumlah pasar modern atau melalui pesanan. Khusus Valentine, pihaknya sudah menyiapkan coklat edisi khusus Valentine yang memiliki kemasan tak kalah dengan coklat impor. Mawa berharap, ke depan produksinya ini bisa tembus di pasaran internasional terutama bandara maupun di pusat oleholeh. Selama ini pemasaran hanya dilakukan lewat online dan dibeberapa supermarket. Karena baru berdiri, dia mengakui jika yang dihadapi tantangan sekarang tentang pemasaran yang masih lemah. “Karena produk

ini eksklusif, dari biji kakao dan dari petani langsung, berharap ke depan target kami bisa menembus pasar yang ekslusif terutama bandara dan pasar oleh-oleh dan kami menjamin tetap menjaga proses produksi dengan baik,“ harap Mawa.

5

TUMBUH BERSAMA KOPERASI Mawa bersama sang istri bukan semata-mata tanpa pengalaman berkecimpung dalam proses pengolahan biji kakao yang dirintisnya bersama kelompok. Melalui kelompok fermentasi dan pemisah (sortir) biji kakao yang sebelumnya dibina oleh Koperasi Kerta Semaya Samaniya yang beralamat di Melaya, Jembrana membuat dirinya banyak pengalaman melalui pelatihan yang diberikan. Mawa, yang juga salah satu pengurus di koperasi tersebut mengakui jika keberadaan koperasi berperan dalam meningkatkan daya beli hasil pertanian dan kreativitas petani. Sehingga kecenderungan petani merugi bisa ditanggulangi. “Di koperasi kami tetap mempertimbangkan mutu dan kwalitas, sehingga harga jual dari petani akan bisa lebih mahal dari buyer lokal atau pengepul, “ terang Mawa yang sudah beberapa kali ke luar daerah mengikuti pelatihan mengolah coklat. Pertimbangan kualitas produk biji kakao juga didukung dengan diperolehnya sertifikasi UTZ. Kini Koperasi Kerta Samaniya membina 22 subak yang ada di Kabupaten Jembrana. Beberapa kali sudah hasil pertanian berupa biji kakao dikirim ke luar negeri. Semua berkat sertifikasi UTZ yeng memang dirasa sulit untuk mendapatkannya. “ Proses mendapatkan sertifikasi melalui beberapa proses dan penelusuran. Untuk itu kami tetap menjaga kualitas premium biji kakao, “ tandasnya. Dalam kemasan coklat yang berukuran 35 gr, di baliknya ada pesan “Membeli Coklat Ini = Menjaga Keberlanjutan Petani di Jembrana-Bali”. -Eka Juni Artawan


6

Woman on Top

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Ni Luh Djelantik

Stop Kekerasan terhadap Perempuan Seantero dunia mengenalnya sebagai juragan sepatu kulit handmade dari Bali. Namanya, Ni Luh Djelantik. Sepatu buatannya pun dipatenkan sesuai namanya, Niluh Djelantik yang sudah melalangbuana ke seluruh dunia. Namun, dibalik kesuksesannya berkarier, Ni Luh Djelantik pernah mengalami kekerasan. Seperti apa?

N

i Luh begitu ia akrab disapa, datang bersama artis Nova Eliza dan fotografer AA. Dewandra Jelantik di Beach Walk, Kuta, Rabu ­( 27/1). Mereka datang melakukan konferensi pers, dalam rangka roadshow “Photo Art Exhibiton Suara Hati”. Suara Hati merupakan wadah bagi para perempuan untuk memberikan dukungan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan fokus utamanya memberikan dukungan kepada kaum perempuan yang masih tertindas di era modern.

Ni Luh, ternyata pernah mengalami kekerasan dalam rumahtangga. Awalnya, ia meng­ anggap itu sebagai ujian dalam mengarungi kehidupan, namun, lama-kelamaan, mulai berontak. Ia pun sukses dalam urusan bisnis sepatunya dan memiliki banyak karyawan. Namun, ketika kembali ke rumah, dia bukan siapa-siapa. Kekerasan yang ia terima dari pasangan, selain kata-kata yang sangat menyinggung perasaan, juga, dalam bentuk kekerasan fisik. Ni Luh merasa pencapaiannya selama ini tidak berharga. Ni Luh mencoba berbagi

pengalaman masa kecilnya. Ni Luh dididik dengan penuh kasih sayang dan kelembutan oleh sang ibu. Ayahnya seorang penyayang dan ibunya seorang perempuan kuat. Namun, kedamaian keluarga yang ia rasakan saat kecil, berbanding terbalik dengan kondisi ia temui dalam diri pasangannya. Ia sering mengalami kekerasan dari pasangannya, bukan hanya kata-kata k a s a r, namun, sudah ter-

masuk kekerasan fisik. Semakin lama, semakin berulang, dan membuat Ni Luh bertekad harus segera mengakhiri kondisi tak nyaman tersebut. Ia memutuskan untuk pergi. Kejadian awal, lima tahun sebelumnya, Ni Luh mendapatkan kekerasan. Namun, ketika pasangannya sadar dan meminta maaf, Ni Luh mencoba memberi kesempatan kedua. Namun, ternyata, hal itu tak berlangsung lama. Ni Luh kembali mendapatkan perlakuan kasar. Teryata karakter pasangan­nya tidak berubah. Sekitar satu setengah tahun, ia masih bertahan. Sampai akhirnya, ia sudah tak kuat dan bertekad keke­ rasan ini harus segera dihentikan. “Terlalu sering saya berkata, tolong jangan seperti ini. Saya merasa seper­ ti seorang guru yang

Ni Luh Djelantik

Dunia jurnalistik adalah dunia yang menyenang­ kan bagi mereka yang memaknai benar arti pent­ ing dari profesi wartawan. Meski bukan persoalan mudah, menjadi insan pers adalah tantangan ter­ sendiri bagi Lale Kamarukmin Mardiati, reporter senior Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Mataram . Ia telah mengabdi di dunia jurnalistik sejak tahun 1984.

S

epanjang 32 tahun menjalani profesi sebagai wartawan, ba­ nyak suka dan duka yang telah dilewati Lale yang waktu pertama kali menjadi wartawan sesungguhnya ia tidak terlalu paham tugas menjadi seorang reporter. Namun, dari sanalah ia banyak belajar dan semakin hari ia semakin mencintai profesinya ini karena telah memberikannya banyak pengetahuan yang diperolehnya dari beragam

narasumber dengan latar belakang yang berbeda-beda. “Profesi wartawan itu adalah ladang wawasan dan ilmu pengetahuan. Saat mewancarai narasumber, kita bisa dapat kuliah gratis tentang bidang yang dikuasai narasumber tersebut,” katanya. Wartawan memiliki keleluasaan untuk mendapat­ kan penjelasan dari banyak narasumber dengan bidang yang tidak terbatas. “Tentu saja harus pula menjaga kode etik jurnalistik dalam menjalani profesi ini,” ungkapnya.

Lale memulai kariernya sebagai wartawan dimulai dari nol karena ia tidak langsung ditugaskan di pos-pos sumber yang banyak menawarkan berita utama seperti di kantorkantor Pemerintah Provinsi NTB, instansi vertikal atau dinas-dinas terkait, melainkan ia ditugaskan turun ke kantorkantor desa dan kelurahan juga kantor kecamatan untuk melakukan peliputan. Pulangnya ia harus menulis berita yang akan disiarkan. “Berita itu tidak otomatis disiarkan. Jika bagus baru disiarkan,

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

namun jika tidak bagus, ya… tidak disiarkan,” ungkapnya. Karenanya, lebih banyak berita yang dihasilkannya itu tidak disiarkan ketimbang yang disiarkan. Ini yang membuat ia sempat merasa kecewa. Sejak itulah Lale merasa tertantang untuk menghasilkan berita yang bermutu agar liputannya itu bisa disiarkan. Meski letih mengejar narasumber dari satu tempat ke tempat lainnya. Itulah sebabnya, pada suatu ketika ia merasa “tidak mampu” meneruskan pro-

fesinya ini. “Ujian lapangan menjadi seorang wartawan dulu berat sekali rasanya,” ujarnya. Belum lagi kala itu ia masih mengetik menggunakan mesin ketik manual yang berkali-kali salah ketik, berkali-kali pula harus mengganti kertas yang disobek menjadi dua bagian. Lale yang masih honorer itu hampir putus asa dan akhirnya memutuskan keluar dari RRI. Ia merasa lebih baik keluar dari pada “menanggung beban” kerja yang sulit diwujudkannya itu. Seminggu ia “menganggur”. Rupanya selama itu, kerinduannya pada pekerjaan yang baru saja digelutinya membayanginya. Ia gelisah. Ini menjadi titik balik bagi Lale. Ia rindu mendengar suaranya di radio ketika menyampaikan petikan berita dari rekaman wawancaranya yang disiarkan. Ia pun akhirnya memikirkan ulang keputusannya untuk keluar. Lale kembali menjadi reporter yang kemudian diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 1986 dengan gaji Rp 15.000. Sejak itulah Lale menekuni karier sebagai reporter RRI Mataram yang akhirnya menjadi profesi yang sangat dicintainya. Kegigihannya belajar, membawanya mampu bertahan menjalani profesi ini hingga 32 tahun kini. -Naniek I. Taufan

19

Pameran Lukisan sekaligus Pajangan Hotel Edwin Koamesah, seorang kolektor lukisan yang bertempat tinggal di Surabaya membuka pameran lukisan yang digelar di The Alana Hotel Surabaya. Dalam pameran yang digelar selama 3 bulan tersebut Edwin memamerkan 20 lukisan koleksinya dan akan diadakan lelang tertutup untuk lukisan-lukisan tersebut.

Dwi Samudji denga tema binatang-binatangnya untuk pameran kali ini, Amdo Brada dengan seni etniknya, Trimmy Putra dengan seni realis yang dimilikinya dan ada beberapa lukisan lain dari pelukis lainnya. Edwin menjelaskan dengan memiliki sebuah karya seni di rumah, entah itu seni lukis, pahat maupun sebagainya, seseorang bisa menjadikan karya-karya itu sebagai obat stres dan juga bisa dijadikan investasi jika nanti ingin dijual kembali. -Romadhona Yulian

Tamu Suka Hotel dekat Pusat Perbelanjaan

-Wirati Astiti

Rindu Suara di Radio

Lale Kamarukmin Mardiati

harus mengajari­n ya. Namun, lama-kelamaan saya sudah tak sanggup lagi menjadi guru. Saya letih,” kata Ni Luh. Ia merasa, dalam kehidupan berumahtangga, kita hidup bertahun-tahun, tapi tidak mengenal satu sama lain. Orang yang kita percaya, ternyata berani melakukan kekerasan. Akhirnya, ia tahu, semua berawal dari masa kecil pasangannya. Ibunya sering menghukumnya dan menstrap-nya kalau pasangannya itu melakukan kesalahan. Namun, Ni Luh, tidak menyalahkan orangtua pasangannya. Tapi itulah yang terjadi di Indonesia. Para orangtua biasa memberi hukuman fisik kepada anak-anak mereka. Para orangtua banyak melakukan hal yang tak sepantasnya kepada anak mereka. Dengan bergabung di “Suara Hati”, Ni Luh ingin menyampaikan kepada para perempuan, ini bukan salah kita. “Mari kita memperjuangkan hak dan berani suarakan stop kekerasan ter­hadap perempuan. Kalau semakin lama menuggu, sampai kapan. Saya merasa memiliki saudara senasib untuk berjuang bersama-sama memerangi keke­ rasan,” kata Ni Luh. Sebelum bergabung di “Suara Hati”, melalui tulisannya ia sudah mengampanyekan menolak kekerasan dari orang terdekat melalui fan page-nya. Ia berkampanye lewat media internet. Ketika tahun 2015, terbentuk “Suara Hati”, ia pun ikut bergabung.

Mozaik

P

ecinta karya seni lukisan ini juga menjelaskan betapa berbedanya konsep pameran yang dilaksanakan kali ini. Tidak seperti pameran seperti biasanya yang ada di dalam satu ruangan atau art galeri, namun pameran ini digelar di seluruh penjuru The Alana Hotel Surabaya dan dijadikan sebagai pajangan dan

mempercantik seluruh tampilan dalam di hotel tersebut. “Pihak hotel menyebar seluruh lukisan dari setiap penjuru hotel dan dilaksanakan selama 3 bulan ke depan,” ujar Edwin saat pembukaan pameran. Pameran lukisan ini memiliki beberapa lukisan tematik yang sesuai dengan karakter lukisan yang dilukis oleh pelukisnya.

Munculnya beberapa hotel baru di Surabaya, praktis akan menjadi sebuah persaingan dalam mengaet tamu. Hotel berlombalomba memainkan segmen untuk memikat wisatawan baik sekadar singgah maupun menginap. Tak pelak sengitnya persaingan tersebut sontak dengan aturan pembatasan berdirinya hotel baru di kota pahlawan ini. Namun, ditengah sengit persaingan bisnis ini. Cleo tetap optimis merambah menjajaki bisnis perhotelan ini. Tanly Hospitalyty mengatakan saat ini tengah merambah dan menjajaki bisnis perhotelan denagn memakai nama Brand Hotel Cleo. Perusaan kelas atas ini telah menanamkan investasinya miliar untuk membangun sebuah hotel bintang dua dan juga bintang empat lima di kawasan Surabaya, Bali, dan Malang. Direktur Utama yang juga sekaligus pemilik, PT Cleo dan Tanly Hospitalyty, Hermanto Tanoko mengatakan, langkah dari Manajemen Tanly Hospitalyty untuk membangun hotel

ini, sebagai upaya membangun perekonomian di kota Surabaya. Karena kota ini adalaha kota terbesar setelah ibukota Jakarta, dan juga kota sektor bisnis baik domestic dan juga mancanegara. “Kami tertarik untuk mengembangkan hotel di Surabaya, Karena kami melihat pesatnya pembangunan kota Surabaya, dan juga banyaknya para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mau berinvestasinya ataupun berbisnis di Surabaya. Dari sinilah kami mengembangkan bisnis di sektor perhotelan,” kata Hermanto Tanoko usai launching Hotel Cleo Walikota Mustajab. Manager Hotel Sudarsono menjelaskan, saat soft opening tingkat okupansi mereka mencapai 50 persen. Saat grand opening diharapkan mencapai 80 persen. Karena biasanya pengunjung lebih suka memilih hotel yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan. “Jadi pengunjung hotel tidak akan repot-repot harus naik kendaraan atau taksi kalau ingin berbelanja. Mereka bisa berbelanja kapan saja hanya dengan jalan kaki,” jelasnya. -Bayu

Hermanto Tanoko (kiri) usai launching Hotel Cleo Wali Kota Mustajab


18

Kreasi

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Sebagai rangkaian kampanye “Suara Hati” yang telah digaungkan di akhir tahun 2015 lalu, dilaksanakan roadshow photo art exhibition di tiga kota di Indonesia yang diawali di Beach Walk Kuta, Bali mulai tanggal 18 Januari hingga 13 Februari 2016. Selanjutnya pameran digelar di Yogyakarta dan Jakarta.

Ekspresi “Suara Hati” Perempuan dalam Foto Hitam Putih

P

hoto art exhibition ini merupakan bagian dari kampanye untuk memberikan empati kepada para perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan sekaligus memberikan dukungan terhadap kaum perempuan tanah air. Exhibition menampilkan karya-karya foto dari fotografer Nurulita yang berkolaborasi dengan fotografer Dewandra Djelantik. Mereka secara indah mampu menangkap ekspresi emosional dan pesan sosial dukungan terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan. “Kami menggandeng sekitar 60 public figure perempuan Indonesia dari berbagai bidang yang bersedia berpartisipasi untuk menjadi modelnya. Kami juga merangkul mereka untuk bersama-sama menyuarakan kepedulian terhadap perempuan korban kekerasan. Mere­ka diantaranya Rima Melati, Susan Bachtiar, Sandra Dewi, Olla Ramlan, Krisdayanti, Cut Mini, Happy Salma, Indi Barends, Cut Keke, Ine Febrianti, Maudy Kusnaedi, Marcella Zalianty, Lenny Agustin, Dira Suganti, dan Sundari Soekotjo. Dari Bali, ada Ni Luh Djelantik,” ujar Nova

Life

Story

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

tkh/net

Penandatangan foto oleh Nova Eliza dan penyerahan foto kepada pembeli

Eliza, penggagas “Suara Hati”. Kampanye ‘Suara Hati’ yang mengusung slogan “Oleh Perempuan Untuk Perempuan” dalam kemasan photo art exhibition ini, tak sekadar memajang beragam photo art public figure perempuan dengan ekspresi sarat emosi semata. Fotofoto tersebut juga dijual seharga Rp. 1,500,000/foto sebagai char-

ity. Hasil penjualan yang terkumpul akan didonasikan untuk perempuan korban keke­rasan konflik di Aceh dengan memberikan modal usaha agar para perempuan tersebut dapat melanjutkan hidup mereka. “Semua berawal dari rasa keprihatinan atas nasib kaum perempuan yang mengalami kekerasan,

Foto-foto yang dipamerkan di photo art exhibition Beach Walk Kuta

maka saya mencoba untuk memberikan dukungan terhadap mereka dengan cara yang saya bisa yaitu melalui kemasan seni. Saya pribadi sangat bahagia akhirnya mimpi untuk memberikan kontribusi bagi perempuan ini dapat terwujud. “Suara Hati” menjadi wadah bagi saya untuk memberikan dukungan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan fokus utamanya untuk memberikan dukungan terhadap kaum perempuan yang masih tertindas di era modern saat ini. Untuk itulah saya berharap hadirnya “Suara Hati” dapat sedikit memberikan perlindungan bagi kaum perempuan yang tertindas untuk memperjuangkan haknya serta membantu mereka untuk meneruskan hidupnya,” jelasnya. “Suara Hati” merupakan kampanye kebudayaan, seni dan sosial yang diprakarsai Nova Eliza sebagai wadah untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan seni dan budaya sekaligus menjadi wujud komitmen untuk memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kaum perempuan Indonesia. “Meskipun mengusung slogan “Oleh Perempuan Untuk Perempuan” namun kiprah “Suara Hati” ke depannya tak melulu hanya bermuara sosial semata, tetapi juga di bidang seni dan budaya. Sehingga kehadiran “Suara Hati” juga turut menggerakkan industri seni budaya Indonesia menjadi lebih berkembang dan dicintai oleh masyarakatnya sendiri terutama generasi muda. Sayang bila seni budaya yang telah diwarisi nenek moyang kita sebelumnya ini menjadi luntur oleh masuknya budaya-budaya luar yang tidak mencirikan adat ketimuran. Untuk itulah sebagai seorang seniman saya pun memiliki tanggung jawab untuk turut melestarikan warisan nenek moyang dan melalui

“Suara Hati” dapat menjadi wadah yang tepat untuk menyalurkan bakat saya sekaligus menggerakkan pagelaran seni budaya yang ada di Indonesia,” ungkap perempuan yang kini menetap di Bali ini. Ia pun beralasan pemilihan Bali sebagai tempat pertama untuk exhibition karena Bali sudah terkenal di dunia pariwisata dan menjadi pusat perhatian. KONSEP NATURAL Photo Art Exhibition “Suara Hati” yang digelar di Bali ini, terselenggara berkat dukungan dari Beach Walk Kuta Bali, Dewandra Djelantik Photografi, Nurulita Photografi, Rob Peetoom Bali, Kitchenette, Fuji Film dan Yu Kun Kaya Toast. “Saya senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Ini momen langka apalagi yang dipotret adalah orangorang terkenal Ada beberapa kendala yang kami hadapi, salah satunya mencocokkan jadwal pemotretan. Namun, semua bisa kami atasi,” ujar Dewandra yang hadir saat jumpa pers bersama Nova dan Ni Luh Djelantik. Dewandra menambahkan pemilihan foto hitam putih membuat kesan yang abadi dari sebuah foto. “Foto hitam putih itu timeless dan kesannya abadi. Karena itu, kami sepakat untuk mengabadikan ekspresi para perempuan public figure ini menggunakan konsep foto hitam putih,” ujarnya Dewandra. Untuk mendapatkan ekspresi yang natural, ia bahkan menggunakan musik sebagai pemancing mood. Sebelumnya model membaca pengalaman perempuan yang menjadi korban kekerasan. Berbagai ekspresi yang muncul inilah yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk foto. Dewandra dan Nurulita pun berbagi tugas dalam pemotretan. “Nurulita memotret yang pakai baju hitam, saya yang pakai baju putih,” ujar Dewandra seraya mengatakan foto Dewi Sandra dengan gaya menutup wajah dengan menggunakan hijab dan hanya terlihat matanya saja yang menjadi foto favoritnya. –Ngurah Budi

Sudah lebih dari setahun, Mariana (48) terbaring sakit. Serangan jantung membuatnya tidak lagi bisa bekerja sebagai pegawai kantoran di Mataram, NTB. Ia lemah tak berdaya ketika rekan-rekan kantornya datang menjenguk saat ia kembali di serang stroke yang melumpuhkan tubuhnya.

D

ari sudut matanya, air bening mengalir. Mariana menangis. Di sisi kirinya, duduk ibunda Mariana dengan wajah sedih menyaksikan kondisi anaknya tersebut. Bagi mereka yang mengenal dan mengetahui perjalanan hidup Mariana, apa yang menimpa Mariana hari ini bisa dianggap sebagai hukuman terhadap keputusannya meninggalkan keyakinan yang dianutnya selama ini demi harta dan laki-laki. Ketika gadis, Mariana yang rajin dan gigih ini menjalani bisnis kecil-kecilan di sela-sela waktunya sebagai pegawai salah satu kantor di Mataram. “Apa saja bisa jadi bisnis bagi Mariana,” ungkap Ririn, salah seorang rekan kerja Mariana. Bisnis Mariana mulai dari camilan hingga pakaian dan peralatan rumah tangga. Ia tidak pernah capek untuk menawarkan dagangannya itu kepada rekan-rekannya di kantor. Ia berdagang dengan cara kredit. “Di kantor berdagang dan setelah pulang kantor Mariana berkeliling mengantar pesanan,” ujar Rika, kawan lainnya. Sampai akhirnya ia memiliki usaha yang lebih besar dari sekedar berdagang keliling. Perubahan hidup Mariana secara ekonomi tampak berbeda dan berubah menjadi jauh lebih baik bahkan bisa dikatakan ia terlihat kaya. Usaha-usahanya berjalan lancar. Lalu dari sinilah ia kemudian mengenal seorang lelaki yang berbeda keyakinan dengannya. Kerjasama usaha yang dijalin Mariana dan Doni, nama laki-laki itu, berjalan baik sehingga tumbuhlah cinta di antara keduanya. Perbedaan keyakinan awalnya menjadi kendala yang berat bagi Mariana dan Doni. Namun akhirnya semua bisa mereka lewati. Mereka tidak perlu kawin lari karena tidak direstui, melainkan melenggang ke pelaminan dengan restu orang

tua mereka, termasuk ibunda Mariana. “Sering kami ingatkan Ibunda Mariana untuk mengingatkan Mariana kembali ke keyakinannya agar diampuni dosa-dosanya oleh Tuhan,” kata Ririn yang tidak tega melihat penderitaan Mariana. Namun, tiap kali mereka (rekanrekan Mariana) bicara pada ibunda Mariana tentang hal ini, ibunya selalu berkata sayang pada Mariana. “Saya sayang sekali pada Mariana, jadi tidak mau memaksa jika ia tidak menginginkan kembali ke keyakinannya,” kata ibunda Mariana. Setelah menikah dan berpindah keyakinan, usaha Mariana semakin maju. Ia menjadi kaya. Ibunya bahkan ikut tinggal bersamanya menikmati kekayaan anak sulungnya ini. “Seperti tidak ada rasa menyesal sedikit pun dari ibunda Mariana melihat anaknya berpindah keyakinan seperti itu,” ujar Rika. Namun, setelah 10 tahun berumah tangga, tiba-tiba Mariana kena serangan jantung dan nyaris merenggut nyawanya. Berbagai penyakit lain juga turut bersarang di tubuh Mariana. Selama lima terakhir ia bolak-balik Mataram-Jakarta untuk berobat dan kontrol. “Kelihatan sekali, hartanya mulai habis untuk mengobati penyakitnya. Ia minum obat-obatan yang sangat mahal dengan biaya perawatan yang juga tidak murah. HARTA TERKURAS Baru saja sehat beberapa waktu lamanya, Mariana yang sempat dua bulan masuk kantor, kembali terserang stroke yang membuatnya harus menjalani perawatan. Rasa sakit terlihat di wajahnya. Rekanrekan Mariana melihatnya seperti tersiksa. Karena itu beberapa rekan Mariana membujuk ibunda Mariana untuk pula membujuk Mariana agar mau kembali ke keyakinannya semula. Apalagi Doni suaminya telah

Istri Stroke, Suami Hilang

lama meninggalkan Mariana bersama dua anak mereka. Doni memang telah meninggalkan Mariana tanpa pesan sejak Mariana diserang berbagai penyakit. “Mungkin karena itu juga Mariana mengalami tekanan batin yang lebih kuat lagi,” kata Ririn yang mengetahui bahwa Doni telah menikah kembali. Namun, Ririn tidak tega menyampaikan berita itu kepada Mariana maupun ibunda Mariana. Kini, Mariana berjuang sendiri melawan sakitnya yang sedikit

demi sedikit menguras harta kekayaannya. “Rumah, mobil, tanah dan aset lainnya, sudah habis untuk pengobatan Mariana,” ujar ibunda sedih. Di mata rekanrekan Mariana, ibunda Mariana tampaknya lebih sedih kehilangan harta benda dibandingkan kehilangan anak yang telah merubah keyakinannya. “Karena tidak tampak sedikit pun ibunda Mariana berusaha mengembalikan keyakinan anaknya tersebut,” kata Rika.

7

Kata-kata sayang terhadap Marianalah yang sering mereka dengar keluar dari bibir ibundanya. Namun, apapun yang terjadi pada Mariana, rekan-rekan Mariana merasa tidak memiliki hak untuk memaksa, melainkan hanya mengingatkan saja. Mereka hanya bisa mendoakan Mariana agar segera pulih, sehat kembali dan bisa masuk kantor seperti biasa. Mereka merindukan celoteh Mariana yang dikenal sebagai sosok yang supel. -Naniek I. Taufan

Telkomsel Gelar TrueBEx Telkomsel Regional Bali Nusra kembali menggelar kegiatan True Broadband Experience (TrueBEx), yakni uji kecepatan akses layanan data di 10 POI (Point of Interest) wilayah Bali, yaitu wilayah yang menjadi pusat keramaian publik di Bali, di antaranya Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Lippo Mall Kuta, Double Six Kuta, Kuta Square, Kepaon, Kebon Raya Badung, Universitas Udayana Jimbaran dan Universitas Udayana Denpasar, Universitas Pendidikan Nasional Denpasar serta RSUP Sanglah. Manager Network Service Telkomsel Denpasar Eddy Putra mengatakan, kegiatan TrueBEx ini dilakukan dalam rangka mengoptimalisasikan performansi layanan broadband di wilayah Bali dan sekitarnya. Mulai dari peningkatan kualitas, penambahan kapasitas, hingga perluasan jangkauan jaringan di titik-titik keramaian publik yang tingkat penggunaan layanan datanya sangat tinggi demi menjamin kenyamanan pelanggan dalam mengakses dan menikmati layanan data Telkomsel. Pengujian yang dilakukan dalam TrueBEx ini terutama untuk mengukur kecepatan akses layanan broadband Telkomsel baik melalui jaringan 3G maupun 4G, di antaranya berupa tes pembelian paket melalui menu *363# dan aplikasi My Telkomsel, browsing portal berita online, uploading status dan foto di media sosial, High-Definition (HD) video streaming di YouTube, pengiriman foto melalui aplikasi pesan instan, serta pengecekan Wifi dan kecepatan akses data melalui aplikasi speedtest. (Ngurah Budi)

XL Luncurkan “XL PRIORITAS” XL terus berupaya mendorong penggunaan layanan pasca bayar di masyarakat. Di awal tahun 2016, XL meluncurkan layanan pasca bayar “XL PRIORITAS” yang menawarkan berbagai keutamaan bagi pelanggan. Layanan yang didukung Dian Sastrowardoyo sebagai Brand Ambassador ini sudah mulai bisa dirasakan manfaatnya oleh pelanggan mulai pertengahan Januari 2016. Vice President XL East Region, Desy Sari Dewi mengatakan, peluncuran XL PRIORITAS tidak terlepas dari visi XL untuk memberikan layanan dengan kualitas maksimal kepada seluruh pelanggan. XL ingin menunjukkan dan meyakinkan bahwa XL memiliki layanan pasca bayar yang memberikan prioritas kepada pelanggan, selain itu membebaskan dalam mengontrol pemakaian dan juga bebas dari rasa khawatir dalam berkomunikasi. Kami juga hendak menunjukkan bahwa layanan pasca bayar pun bisa dibuat simpel dan justru banyak manfaatnya. XL PRIORITAS menawarkan sejumlah manfaat bagi pelanggan, diantaranya prioritas penggunaan di jaringan 4G LTE tercepat, fasilitas worry free nelpon dan SMS AnyNet (ke semua operator), worry free Data Roaming, kendali dalam pemakaian, dan pengaturan yang secara serba digital. (Ngurah Budi)


8

Bunda & Ananda

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Penyimpangan Muncul

ketika Ada Stagnasi

Munculnya pemberitaan tentang perkawinan sejenis di Indonesia dan pro-kontra tentang eksistensi kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi indikator hal tersebut memang ada. Bagi orang dewasa, hal tersebut mungkin lebih mudah dipahami.Tetapi, bagi anakanak hal tersebut terlihat “aneh”. Bagaimana orangtua memberi pemahaman kepada anak tentang apa yang terjadi di lingkungannya?

D

Diah Lestari

i sebuah mall di Kuta, dua pria berjalan sambil b er ga n d e n g a n tangan. Tangan yang satunya memegang tas belanjaan. Pakaian yang dikenakanmengikuti trend fashion terkini namun lebih ke arah feminin. Merekacuek saja walaupun banyak yang memandangi. “Saya sering mengatakan kepada anak saya, manusia diciptakanberpasangan, pria dan wanita. Namun, kini banyak yang pasangannyapria dan pria atau wanita dan wanita. Saya jadi khawatir bagaimanananti kalau anak saya bertanya mengapa ada yang pria pasangannya priadan wanita pasangannya wanita,” ungkap seorang ibu muda di sebuahkedai kopi di mall tersebut. Dari sisi psikologi, LGBT sudah menjadi kajian sejak lama.“Teori besar dalam ilmu psikologi yang membahas kajian seksual adalahPsikoseksual Freud. Ada tahapan-tahapan psikoseksual yang dialamimanusia dari kecil hingga dewasa, mulai dari fase oral, fase anal, fase phallic, fase latent, dan fase genital. Ketika terjadi stagnasi di salah satufase, besar kemungkinan terjadi penyimpangan atau orientasi seksual pada objek yang tidak biasa, salah satunya LGBT,” ujar Made Diah Lestari, S.Psi.,M.Si, Psikolog. Adanya penyimpangan ini sudah terlihat sejak kecil, ke-

tika anak tidak m en g e m b a n g k a n attachment yang tepat pada orangtua lawan jenis. Dalam teori Freud dikenal dengan Oedipus complex (proses psikologis seorang anak lelaki yang mempunyai hasrat seksual yang besar terhadap ibunya dan merasa cemburu terhadap ayahnya sendiri) dan ada yang Electra complex (proses psikologis anak perempuan yang mencemburui perhatian ayahnya terhadap sang ibu). Untuk menghindari terbentuknya orientasi seksual LGBT, orangtua harus bisa memberi perhatian yang khusus kepada anak. Tegaskan juga tentang peran dan karakter laki-lakidan perempuan yang disebut dengan peran gender selain penjelasan terkait identitas seksual. Identitas seksual itu mengacu kepada jenis kelamin sedangkan identitas dan peran gender lebih mengacu kepada peran-peran dan perasaan subjektifnya terkait dengan jenis kelamin dan perannya. Bisa saja orang yang jenis kelaminnya lakilaki, dia akan mengadopsi peran perempuan dan merasa dirinya perempuan. Jadi ada perempuan dalam tubuh laki-laki. Penjelasan ini sudah sebaiknya diberikan sedari dini dengan bahasa yang sederhana. “Satu hal penting adalah, LGBT sudah lama dikeluarkan dari klasifikasidiagnostik gangguan jiwa. LGBT bukan penyakit, tetapi lebih kepenyaluran hasrat dan itu bukan kehendak mereka.Wawasan masyarakatpun sebaiknya sudah lebih terbuka dan menghilangkan diskriminasi serta prasangka ke kaum LGBT. Namun, yang terjadi sekarang, LGBT menjadi gaya hidup,” ujar Sekretaris Program Studi Psikologi FakultasKedokteranUnud ini. Karena dianggap gaya hidup, pengaruh lingkungan menjadi dominan. Bahkan dari penuturan Diah, ada anak SMP yang mengikuti trentersebut. Ada teman atau orang lain yang

dijadi role model. Awalnyadari sisi fashion karena fashion itu menjadi tanda awal. Ada yang inginmencari tantangan, ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ada yang sedangmencari jatidiri. Cukup miris padahal identitas dan peran gender tidak semudah itu diubah. PENDIDIKAN SEKSUAL SEJAK DINI Diah menambahkan ada orang yang mengalami non conformity gendercontohnya lakilaki yang sifat femininnya lebih besar atau menggeluti profesi yang kebanyakan digeluti oleh perempuan, tidak serta merta kita anggap orientasi seksualnya LGBT karena bisa jadi lakilaki tersebut bisa membangun hubungan pernikahan lawan jenis

dan memiliki keturunan. Wawasan ini juga sebaik dipahami oleh masyarakat sehingga tidak mudah memberikan label dan cap pada seseorang, khususnya di masa kanak-kanak. “Di satu sisi saya paham, orangtua mana yang ingin anaknya tidak seperti layaknya orang lain. Masyarakat Indonesia menganut paham normal dan hal-hal yang normatif berdasarkan budaya dan agama. Orangtua di Indonesia sebagian besar berprinsip bahwa orang dewasa sejatinya menikah lawan jenis, lalu punya keturunan. Seringkali kalau di luar pakem itu, orangtua beranggapan harus ada upaya untukmengembalikan anak-anak mereka ke “jalan yang benar”. Padahal prosesnya tidak semudah itu apalagi jika orientasi

seksual LGBT dikembangkan melalui preferensi pribadi atau berasal dari dalam diri. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan atau gaya hidup,” tegas pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali bidang PengembanganKeilmuan ini. Ia pun menyarankan orangtua harus melakukan pencegahan preventif dengan tidak menunda pemberian pendidikan seksual kepada anak. Kenalkan anak tentang organ seksual dan fungsinya. Jangan sampaimembuat perumpamaan yang nantinya bisa menjebak. Misalnya penis dikatakan “burung”. Suatu saat jika melihat bapaknya bermain-main dengan burung, bisa jadi si anak protes. Orangtua juga harusmengingatkan anak dalam hal persahabatan. Bahkan orangtu harus tahusiapa saja teman atau sahabat anaknya serta jadwal kegiatan mereka. Makin banyak kegiatan positif dan interaksi sosial akan meminimalkananak mengalami penyimpangan. Jika memiliki anak LGBT, rangkullah bukan menghakimi. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

AYAM HITAM DAN KUCING ABU-ABU

Tersebutlah seekor induk ayam bernama si Ayam Hitam. Ia punya sepuluh ekor anak. Anak-anaknya berbulu hitam seperti induknya, kecuali si bungsu, yang tidak berbulu sehelai pun. Karena tidak berbulu, anak ayam yang malang itu dipanggil si Made Taro Kolagan. Pada suatu hari induk ayam dan anak-anaknya itu mencari makan di seberang sungai. “Anak-anakku!” seru si Ayam Hitam. “Di sini banyak rayap, remah dan cacing. Kamu boleh bebas mencari makan, tetapi ingat, sebelum matahari tenggelam, kamu harus kembali ke pangkuan ibu!” Anak-anak itu sangat gembira lalu menyebar mencari makan ke segala penjuru. Tak lama kemudian, mendung berarak, lalu turun hujan lebat. Air sungai mulai naik. Ayam Hitam berteriak-teriak memanggil anaknya. “Kembalilah segera, Nak! Kita akan pulang.” Namun, anak-anaknya yang bandel itu pura-pura tidak mendengar panggilan ibunya. Mereka asyik mengais makanan. Menjelang matahari tenggelam, kilat berdenyar dan petir bergemuruh. Anak-anak itu ketakutan, lalu berebutan berlindung di bawah perut ibunya. “Kamu betul-betul bandel!” Ibunya marah. “Kita terlambat, tidak bisa menyeberang. Kita harus menginap di rumah temanku, si Kucing Abu-abu.” “Tok, tok, tok …!” Si Ayam Hitam mengetuk pintu rumah si Kucing Abu-abu. “Aku temanmu si Ayam Hitam. Izinkanlah aku dan anak-anakku menginap semalam. Kami tidak bisa menyeberang.”

Si Kucing Abu-abu dan tiga anaknya amat senang menerima sahabatnya. Si Ayam Hitam dan anakanaknya memilih tidur di sebelah lesung batu yang terletak di dapur. Karena kelelahan dan kedinginan, anak-anak ayam itu cepat tertidur. Ketika hujan reda, si Ayam Hitam mendengar percakapan keluarga kucing itu. “Malam ini kita berpesta, anak-anakku!” kata induk kucing. “Kita bunuh ayam-ayam itu! Kita makan dagingnya!” “Sayap, kaki dan paruhnya kita pakai mainan, Bu!” sambung anak-anak kucing. Si Ayam Hitam mencurigai niat jahat si Kucing Abu-abu. Ia lalu membangunkan anak-anaknya. Ia menyuruh mereka terbang satu persatu. Ketika tiba giliran si Kolagan, induk ayam itu sangat sedih. Namun, ia punya akal. Ia bisikkan akal-akalan itu kepada si Kolagan. Setelah itu induk ayam itu terbang. Setelah tiba waktu yang tepat, si Kucing Abu-abu mengendap-endap ke dapur dan menyambar ayam hitam itu. Braaak…! Apa yang terjadi? Ibu Kucing bukan menyambar mangsanya tetapi menabrak lesung batu. Giginya rontok, mulutnya berdarah. Yang didapatinya hanya si Kolagan, ayam yang tidak berbulu. Si Kolagan berpura-pura pasrah menyerahkan diri sesuai dengan pesan ibunya. Agar cepat gemuk dan dagingnya tidak amis dan pahit, ia minta agar dipelihara dengan baik dan diberi makanan yang enak-enak. Permintaan anak ayam itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh keluarga kucing. Lama-kelamaan si Kolagan menjadi gemuk dan berbulu lebat. Nah, tibalah kesempatan yang terbaik itu! Ketika kucing-kucing itu sibuk mempersiapkan alat pesta, si Kolagan terbang sekuat-kuatnya ke seberang sungai. Ia disambut oleh ibu dan saudara-saudaranya sambil bernyanyi-nyanyi, “Pang ping pong, Ibu Kucing gigi ompong.”

Griya

Guci Keramik Multifungsi

Guci keramik memang memiliki daya tarik tersendiri. Motif-motifnya lebih banyak didominasi gaya Cina karena konon katanya keramik memang berasal dari Cina. Kerajinan guci ini menjadi lebih terlihat indah jika dikerjakan oleh pengerajin yang memiliki keturunan etnis Tionghoa. “Jadi, dia seperti sudah menjiwai filosofisnya, dan memang tiap desain motif yang dia buat, kiblatnya ke Cina,” ujar Mosa Nawawi, pemilik showroom Bali Art Ceramics (BAC) di kawasan By Pass Ngurah Rai, Padanggalak, Sanur ini.

G

uci-guci keramik yang dipajang di showroomnya itu diakuinya dipasok dari pengerajin keramik di Bandung. Tiap enam bulan ia mendatangkan satu truk kerajinan keramik dengan berbagai model dan motif dengan berbagai ukuran. Ini pulalah yang membuat harga barang-barang di showroom-nya cukup terjangkau jika dibandingkan dengan harga keramik Cina yang mahal karena langsung diimpor dari Cina. Namun, dari segi kualitas, ia memastikan keramik buatan pengerajinnya ini tak jauh berbeda. “Karena itu pula, barangbarang (keramik) saya, sengaja saya pajang di tempat terbuka, kena sinar matahari kena hujan. Ini membuktikan bahwa barang saya tahan segala cuaca. Tapi, seperti yang dilihat warnanya tidak luntur atau pudar, barangnya juga tidak pecah, malah semakin kuat,” ucap pria asal Jakarta yang sudah 6 tahun lebih membuka showroom ini. Dari pengamatannya, guci keramik yang dulunya difungsikan sebagai benda pajangan/ barang hias, khususnya di Bali kini banyak dipakai sebagai tempat tirta (air suci) bagi umat

Hindu. Seperti siang itu, tampak seorang lelaki datang untuk mencari guci keramik yang katanya akan dipakai sebagai tempat tirta di Pura. Mosa mengatakan, kini makin banyak masyarakat Hindu Bali mencari guci keramik bulat. “Mereka yang mencari ukuran yang besar biasanya untuk tempat tirta di Pura, kalau yang berukuran kecil untuk di rumah-rumah,” ujarnya. Dari beberapa orang yang mencari guci keramik untuk tempat tirta ini, mengaku lebih memilih guci keramik daripada guci dari tanah liat biasa, selain barangnya lebih kuat, juga karena kondisi air didiamkan dalam guci itu makin lama makin bening dan

dingin, serta struktur air juga tidak berubah jika dibandingkan dengan air di dalam guci tanah liat yang bisa berubah warna. Selain ada tren masyarakat Hindu memburu guci keramik sebagai kebutuhan sarana sembahyang, guci-guci ini masih diminati kaum ekspatriat dan orang-orang lokal untuk aksesoris. “Biasanya kalau pihak hotel, villa, restoran, selain mengambil guci juga banyak yang mengambil pot keramik yang ditempatkan di lobi. Bahkan sekarang tren ini sudah masuk ke kantor-kantor pemerintahan,” ucap Mosa yang mengaku penjualan kerajinan keramik ini biasanya ramai sekitar bulan Agustur s.d. Desember. -Inten Indrawati

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

17


16

Edukasi

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Bisa Kenal Banyak Orang Jurnalistik memang erat kaitannya dengan kewartawanan dan persuratkabaran. Bidang profesi ini kegiatannya adalah menyiapkan, mengumpulkan, menulis, mengedit/menyunting dan menyebarkan berita/informasi untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.

H

al tersebut justru menjadikan empat siswa SMAN 7 Denpasar ini bergabung dalam ekskul jurnalistik di sekolahnya dengan bendera Programa 7. Meski awalnya IA Tara Masari yang sama sekali belum pernah terjun ke dunia ini mengaku hanya ikut-ikutan teman, toh akhirnya ia menyukai bidang jurnalistik ini. “Saya suka saat mewawancarai orang, seru bisa interaksi dengan orang lain. Saya bisa kenal banyak orang dan jadi banyak tahu karakter orang,” ujar siswi kelas X IIS 2 ini. Wakil Ketua Programa 7, Joanna Lola justru mengaku lebih suka membaca ketimbang menulis. Ia suka membaca hasil tulisan teman-temannya di majalah waktu di SMP dulu. Dari sanalah kemudian timbul keinginannya untuk ikut jurnalistik, yang baru terealisasi saat duduk di bangku SMA. Berbeda dengan IA Cintia Kencana. Siswi kelas X IIS2 ini justru sudah sejak lama tertarik dengan dunia jurnalistik. Kompyang-nya adalah wartawati pertama di Bali. Dayu Cintia sempat diberikan

buku biografinya, dari sana ia banyak tahu bagaimana menjadi wartawati. Di bangku SMP, ia pun bergabung dalam ekskul jurnalistik. Pernah juga menjabat Ketua, dan ikut lomba-lomba kording secara berkelompok, bahkan tim jurnalistiknya sampai berhasil meraih Juara. Kecintaannya pada jurnalistik berlanjut hingga di bangku SMA bergabung di Programa 7. Meski mengaku suka menulis cerpen, Dayu Cintia masih belum pede mengirimkannya ke media massa. Ekskul Jurnalistik (Programa 7) diketuai oleh Jaya swastika. Ia bertugas mengkoordinir temantemannya untuk pembagian tugas. Jaya sudah hapal betul potensi anggotanya. Misalkan untuk menulis ini, si A yang mampu, atau untuk debat atau presentasi, si B yang ditugaskan. Sementara untuk mengikuti lomba-lomba, biasanya digilir agar tiap anggota pernah mendapatkan pengalam­an. Anggotanya kini mencapai 42 orang. Pembina ekskul jurnalistik ini pun digilir, yakni guru Bahasa Indonesianya. Untuk tahun lalu dan tahun ini, Programa 7 di-

bina AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M. Hum. Tim jurnalistik inilah yang mengelola majalah sekolah Mahawerdi tiap tahunnya, bersinergi dengan ekskul fotografi (Lensa 7) dan ekskul IT (Pentium 7). Di bawah binaan Gung Tikdemikian guru cantik ini karib disapa, konsep perwajahan majalah sekolah mengadopsi majalah remaja nasional. “Ya, biar berjiwa mudalah,” ucapnya. Majalah ini didistribukan ke siswa dan guru di internal sekolah dan ke sekolah-sekolah lain. Bahkan, berkat kerja keras tim marketingnya, sudah ada beberapa perusahaan memasang iklan di majalah ini. Topik yang diangkat dalam Mahawerdi dipilih yang lagi up to date. Tahun lalu topiknya “Colouring our School”, dan tahun ini yang rencanaknya diterbitkan pada tahun ajaran baru, mengangkat topik “Enterpreneur ”. Di tahap awal, Pembina memberikan arahan akan topik yang akan diangkat. Selanjutnya, para anggota Programa 7 bebas mencari materi. Setelah selesai dibuat, akan dicek dulu oleh Gung Tik, sebelum diterbitkan. Saat kegiatan ekskul yang dilaksanakan tiap Rabu, Gung Tik mengaku tak pernah memberikan materi. Ia lebih banyak mendiskusikan masalah-masalah

yang ditemui anak-anak binaannya ketika terjun di lapangan mencari berita/informasi. “Biasanya mereka mencari informasi awal di internet, ketika mereka kurang paham pasti ditanyakan ke saya. Di sana saya baru menjelaskan,” ucapnya. Keempat anggota Programa 7 ini mengatakan mereka benar-benar terjun langsung ke lapangan mencari narsumbernarasumber baru, dan hasil karya tulis mereka dibaca masyarakat luas, tak hanya di internal

sekolah. “Biar aman, kami terkadang merekam hasil wawancara dan mendengarnya berulangulang agar tidak salah. Kan tanggung jawabnya lebih besar kalau samapai salah, kami bisa dituntut,” ujar Jaya. Hal yang paling membanggakan buat Gung Tik, tiga anak binaannya di Programa 7 yang baru lulus tahun lalu, berhasil masuk dalam Anggota Kompas Mu da Indonesia. Mereka adalah Ayu Wulan Savitri, Cintya Pratiwi, dan Gita Pradnyamita. –Inten Indrawati

kan dengan fungsinya. Untuk menilai bahasa media massa tentu dengan kaidah tata bahasa tetapi bahasa media atau yang umum disebut bahasa jurnalistik punya ciri khas sendiri yaitu singkat, jelas, padat, dan menarik. Fungsi bahasa jurnalistik adalah berkomunikasi dengan khalayak yang sangat beragam. “Fungsi yang dimaksud, apakah kepada siapa bahasa media itu ditujukan. Hal itu harus diperhatikan juga,” ujar pria yang lebih akrab disapa Dedi ini. Masalahnya, pemilihan kata di media massa dinilai cenderung provokatif. Menurut dosen I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd., M.Hum. yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Penmedia massa, sejak dulu memiliki didikan Bahasa dan Sastra Indonemasalah yang sama, yakni ke- sia ini, pemilihan diksi perlu dipertika bahasa Indonesia yang benar hatikan. “Penggunaan kata ‘mati’ dibandingkan dengan bahasa di pada korban kecelakaan, secara pers pastilah tidak sesuai. Hal ini struktur sudah benar tetapi secara dikarenakan cara untuk mengukur nilai rasa perlu dipertimbangkan,” bahasa di media massa tidak hanya ungkapnya. Pemilihan diksi yang bahasa yang benar tetapi disesuai- baik nantinya akan mempengaruhi

9

Setahun Perjalanan KCKB

Satukan Perempuan Bali Cintai Kamen Bali Tahun ini, Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) berusia 1 ­tahun. Usia yang masih cukup muda untuk sebuah komunitas yang ­terbentuk karena kesamaan visi-misi para anggotanya. Mereka ­terdiri dari perempuan dengan beragam profesi, yang menyukai dan mencintai kain panjang Bali atau kamen Bali.

Pertemuan bulanan rutin KCKB yang diadakan di Madam Tan Restaurant, Renon Denpasar

M

AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M. Hum.

Pertimbangkan “Rasa” Bahasa Media massa memiliki peran sangat strategis dalam mempengaruhi dan membentuk cara pandang, persepsi dan perilaku masyarakat secara individu maupun kelompok. Dalam menjalankan perannya, media massa diharap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi, kecenderungan umum media elektronika dan cetak menggunakan bahasa tidak lagi mempersoalkan masalah baik ataupun benar, melainkan bagaimana bahasa tersebut dapat memprovokasi untuk menyampaikan maksud tertentu bahkan yang bersifat tendensius. Hal ini diungkapkan oleh dosen Undiksha Singaraja I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd., M.Hum. Menurutnya media massa sebagai mitra pemerintah dalam merealisasi tujuan pembangunan pada bidang bahasa juga harus memerhatikan bahasa yang digunakan agar dapat mudah dimengerti oleh pembaca. Penggunaan bahasa Indonesia di

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

“Fungsi yang dimaksud, ­apakah kepada siapa bahasa media itu ditujukan. Hal itu harus diperhatikan juga,” penggunaan bahasa khalayak. Selain penggunaan diksi, penggunaan bahasa asing dalam media harus dihindari. Penggunaan bahasa asing dalam media massa hanya ketika dalam bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka sehingga bahasa asing yang sering digunakan akan memotivasi perkembangan bahasa Indonesia. “Ketika bahasa media massa baik, itu akan memberi paparan

positif bagi penggunaan bahasa di masyarakat. Sebaliknya jika bahasa yang digunakan media tidak baik maka masyarakat juga akan menganggap hal tersebut ideal sehingga pelan-pelan akan bergesar,” imbuh pria kelahiran 3 Mei itu. Peran media massa sebagai pembina dan pengembang bahasa dapat dilihat dari baik tidaknya bahasa yang digunakan. Baik tidaknya suatu bahasa dapat dilihat dari struktur, nilai rasa, makna, dan logikanya. -Wiwin

Audensi Komunitas Cinta Kamen Bali ke Ny. Selly D. Mantra, Selasa (26/1)

eski baru berjalan setahun, KCKB telah melakukan berbagai kegiatan termasuk aksi sosial, seperti donor darah dan penyaluran bantuan kepada yang membutuhkan. Seluruh aktivitas telah terdokumentasi dengan rapi

sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada organisasi dan keluarga. “Di sini terangkum semua kegiatan kita selama setahun. Ini sebagai bukti bahwa kegiatan kami positif,” ujar Sekretaris KCKB, Yoseva Listyati yang akrab disapa Bu Eva, sembari menunjukkan sebuah buku terjilid.

Ketua KCKB Ni Putu Adnyani atau yang populer disapa Bu Bara menambahkan, hal ini sekaligus untuk menampik tanggapan orang bahwa keberadaan KCKB tak sekadar kumpul dan berfoya-foya. “Pedoman kami, bertemu, belajar, beramal. Sebulan sekali kami berkumpul

Cinta Dulu Baru Arahkan Pertemuan sore itu, Selasa (26/1) diadakan di Madam Tan Restaurant, Renon Denpasar. Set-

elah sebelumnya, para perempuan cantik yang mengenakan beragam model kebaya dan kamen Bali ini melakukan audensi ke ke kediaman Ny. Sally D. Mantra. Sembari menikmati makanan dan minuman, di Madam Tan, mereka membahas hasil audensi dan terkait program berikutnya. “Pada prinsipnya, Ibu Sally mendukung KCKB, karena jika bukan kita, siapa lagi yang mencintai kamen Bali. Ibu juga sangat wellcome dengan perkembangan zaman dan menghargai modernisasi, dengan model dan gaya kebaya yang bermacammacam,” ucap Bu Bara kepada Tokoh. Ditegaskannya, yang paling penting adalah membuat mereka (para remaja/ anak muda) senang dulu, baru kemudian diarahkan perlahan-lahan ke pakemnya, mana yang dipakai ke pura, mana yang dipakai ke tempat undangan. “Biarkan mereka senang dulu, nanti kami KCKB yang mengarahkan,” ujarnya. Bu Bara melanjutkan, Kegiatan KCKB selama setahun karena misi ‘Komunitas Cinta yang terdokumentasi rapi Kain Bali’ ini jelas, Bu Selly

arisan sambil makan-makan, sharing tentang banyak hal terutama perkembangan produk kamen lokal, dan mengumpulkan sumbangan dari anggota, kemudian setiap 3 bulan disalurkan kepada yang membutuhkan,” jelasnya. Arisan ini pun dikatakannya hanya sebagai pengikat, yang tidak menekankan nominal. “Misi utama kami bukan arisan, makanya satu anggota hanya boleh ikut satu nama. Misi kami jelas, ingin menjaga dan melestarikan budaya Bali, yang lebih spesifik lagi, kamen Bali. KCKB memiliki misi sosial, budaya, dan belajar,” ucap Bu Bara. Pemilik Bara Silver ini menegaskan, KCKB menjadi sebuah wadah menyatukan perempuan Bali untuk lebih lagi mencintai produk dalam

negeri (khususnya Bali) agar tak tenggelam dengan produk luar. Kehadiran “Komunitas Cinta Kamen Bali” ini sekaligus juga sebagai salah satu cara untuk terus memperkenalkan dan menggali warisan budaya Indonesia khususnya kamen Bali yang memiliki beragam corak dan motif, kepada masyarakat luas. Bahkan, Bu Bara yang sering melanglang buana untuk urusan bisnis ini mengaku bangga mengenakan kamen Bali. “Kemana pun kami pergi, kami selalu membawa misi KCKB. Dengan penampilan kami berkebaya dan memakai kamen Bali, auranya beda, lebih anggun, lebih dihargai, dan orang lebih respek kepada kami. Ini yang ingin kami tularkan,” ungkapnya bersemangat. –ard/ten

Pengumpulan sumbangan sukarela dan Kantung Amal KCKB Peduli yang tiap 3 bulan \disalurkan kepada yang membutuhkan

juga mengatakan KCKB nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan PKK dan pihak lainnya, sehingga lebih solid dan misinya akan lebih terlihat di publik. Hal ini, bertujuan untuk mulai memperkenalkan kamen Bali dan kebaya kepada anakanak agar mereka mulai mencintai dulu. “Kalau sudah mencintai untuk mengarahkan mereka menjadi lebih mudah ,” ucap Ny. Selly Mantra yang dikutip Bu Bara. Dalam pertemuan KCKB kali ini, Bu Eva juga menyampaikan adanya penambahan anggota baru. Kini, Komunitas Cinta Kamen Bali beranggotakan 48 orang. Untuk tertib administrasi mereka diminta mengisi formulir anggota, dan bagi mereka yang terlambat membayar arisan dikenakan denda. Bu Eva menjelaskan, aturan ini diberlakukan agar para anggota KCKB lebih menghargai waktu. Di dunia bisnis, lanjut Bu Bara kita harus menghargai waktu. Apalagi sebagai pengusaha, Sebaiknya, 15 menit sebelumnya sudah berada di tempat. Hal ini pula yang dituntut di “Komunitas

Cinta Kamen Bali”. Karena, dengan menghargai waktu, berarti menghargai orang lain, teman dan yang berbicara. Sekecil apapun usaha, jika menghargai waktu dan orang lain, ini juga berarti menghargai diri sendiri. Itulah komitmen. “Komunitas ini tak hanya gaya, namun memiliki komitmen tinggi, cantik luar dalam,” tegasnya lagi. Seperti apa yang sudah dilakoninya selama ini, Bu Bara pun mengimbau kepada seluruh anggota KCKB, jika ada acara, walaupun tak terkait KCKB, agar tidak lupa menularkan kepada orang di sekitarnya untuk mencintai dan memakai kamen Bali. Bu Eva juga menyampaikan, agar KCKB tetap solid, silaturahmi tetap terjalin dan tidak terpecahpecah, para anggotanya diingatkan untuk tidak sombong, tidak saling membicarakan, sebab tak ada yang sempurna, serta saling menghargai. Sembari berdiskusi, kantung amal pun diedarkan ke seluruh anggota untuk memasukkan sumbangan sukarelanya. Nominal yang

terkumpul inilah yang nantinya disalurkan kepada yang membutuhkan. Pada kesempatan itu, Bu Eva juga mengingatkan untuk terus mengumpulkan koin (recehan) di rumah. Selama ini, lanjutnya anggota KCKB memiliki kotak receh di rumahnya masingmasing yang dibawa tiap 3 bulan ke acara pertemuan. Koin ini dijelaskan Bu Eva di luar kegiatan KCKB, adalah penjabaran kegiatan sosial kepada keluarga anggota KCKB. “Meski koin yang kelihatan sepele, namun nyatanya satu keluarga berhasil mengumpulkan hingga Rp 350 ribu. Koin-koin ini kami masukkan di Kantung Koin Amal KCKB Peduli, yang nantinya akan disalurkan. Ini sekaligus mengajarkan orang-orang di rumah (keluarga) untuk belajar berbagi. “Jadi, sifat sosial ini juga ingin kami tularkan ke rumah. Selanjutnya, ke depannya kami, KCKB memiliki keinginan melakukan bedah rumah, dan target jumlah anggota hingga 500 orang,” ujar Bu Bara antusias. –ard/ten


10

Sudut Pandang

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Simpan Hasil Liputan

di Celana Dalam

Dua puluh empat tahun telah berlalu, namun kasus jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Condet, Jakarta Timur, masih melekat kuat dalam benak Eddy Koko. Peristiwa yang terjadi 5 Oktober 1991 tersebut, terbilang besar lantaran banyaknya korban yang tewas yakni 133 prajurit Paskhas TNI AU dan dua warga sipil. Bukan hanya itu yang membuat ingatannya akan tragedi mengenaskan itu begitu melekat, melainkan karena dia menjadi wartawan pertama yang tiba di TKP (tempat kejadian perkara).

B

isa jadi karena kantor koran dimana Eddy Koko bekerja, Jl Dewi Sartika Cililitan, cukup dekat dengan TKP Condet sehingga ia bisa cepat tiba. “Begitu mendengar kabar, saya langsung meluncur dan beruntung belum ada petugas di sana sehingga saya bisa leluasa memotret TKP dan mendapatkan foto-foto eksklusif. Setelah para petugas baik itu polisi maupun tentara tiba di lokasi, wartawan tidak bisa mendekat. Sementara saya yang sudah terlanjur terje-

bak tidak bisa keluar,” ungkap mantan Pemred Radio Trijaya FM ini. Agar tidak ketahuan, ia pun bersembunyi di mobil pemadam kebakaran. Tapi, ia tidak bisa lama-lama bersembunyi karena harus segera ke kantor. Sebagai wartawan yang terbiasa melakukan peliputan investigasi ia tahu apa yang akan terjadi jika dia keluar begitu saja tanpa mengamankan hasil liputan. “Saya tahu bahwa film hasil potretan pasti akan diambil petugas maka sebelum keluar saya tukar dulu film itu. Begitu

saya keluar langsung dicegat petugas. Film dalam kamera diambil petugas. Saya hampir kena pukul petugas. Yahh maklum zaman Orba meliput tidak bisa seleluasa seperti sekarang,” ungkap Koko, begitu pria ini akrab disapa. “Saya sembunyikan film itu di celana dalam,” ucapnya sembari terkekeh. Keesokan harinya, foto-foto ekslusif tersebut menghiasi sebuah koran terkemuka di Tanah Air. Baginya itu adalah salah satu pengalaman yang paling berkesan selama 34 tahun menekuni kariernya di dunia jurnalistik. Koko

Eddy Koko

yang memulai kiprahnya sebagai jurnalis tahun 1981 di Lampung, kemudian hijrah ke Jakarta dan sempat bekerja di sejumlah kantor media massa, sampai akhirnya tahun 2002 bergabung dalam Radio Trijaya FM Jakarta mengelola bidang pemberitaan. Kariernya terus menanjak dan puncaknya adalah ia menduduki posisi Pemimpin Redaksi Radio Trijaya Network. Koko yang baru-baru ini menjadi salah satu narasumber dalam RDPU (rapat dengar pendapat umum) Komisi I DPR RI bersama sejumlah pakar antara lain Effendi Gazali (pakar komunikasi) dan Parni Hadi (wartawan senior) terkait ‘Figur Dewas (dewan pengawas) LPP RRI yang dibutuhkan dalam membentuk LPP RRI yang berkelas dunia di era konvergensi’, memiliki pandangan

tersendiri tentang perkembangan dunia jurnalistik saat ini. Tantangan pers masa kini, katanya, berbeda dengan era 1980-1990-an dimana jumlah media tidak sebanyak sekarang. Teknologi informasi pun masih terbatas sekali. Ditambah lagi itu adalah era orde baru dimana keterbukaan informasi nyaris tidak ada. Beda dengan sekarang dimana teknologi informasi yang maju pesat yang otomatis sangat membantu kerja wartawan. Di era reformasi, keran informasi begitu terbuka sehingga nyaris apapun yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan relatif cepat dan mudah. Di sisi lain sebagai dampak dari kemajuan teknologi, informasi yang didapat masyarakat pun tidak melulu dari kerja wartawan. Lihat saja sekarang medsos (media sosial) yang begitu marak, bahkan kemudian muncul juga jurnalisme warga yang menyajikan informasiinformasi di sekitarnya. “Menurut saya ini merupakan tantangan tersendiri bagi wartawan. Sekarang ini dalam hitungan detik saja sudah bermunculan berbagai informasi. Jadi tantangannya adalah bagaimana wartawan bisa dengan cepat dalam pemberitaan, tetap profesional dalam bekerja dan berpedoman pada kaidah-kaidah jurnalistik, antara lain; berita yang berimbang (cover both side), cheek and recheck, dan akurasi berita,” ujar Koko. –Diana Runtu

Dari Wartawan Jadi Motivator

Aqua Dwipayana dalam sesi motivasi di Bali Post

Perjalanan hidup manusia tak bisa ditebak. Yang penting syukuri apa yang didapat dan jalani semuanya dengan ikhlas. Itu merupakan nilai-nilai yang selalu tertanam di benak Aqua Dwipayana. Dari gaji hanya Rp 200 ribu per bulan, kini ia punya penghasilan Rp 30 juta per jam. Aqua lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Januari 1970. Sejak masih duduk di bangku SMA, Aqua telah menjalani karier sebagai wartawan di Suara Indonesia, sebuah media di Jawa Timur. Kegiatan sebagai jurnalis terus ia tekuni sepanjang ia menimba ilmu di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Hingga tahun 1994, Aqua telah bekerja di

sejumlah media, di antaranya Jawa Pos, Surabaya Minggu, serta Bisnis Indonesia. Banyak hal yang ia dapatkan ketika bergelut di dunia jurnalistik. Salah satunya networking (jaringan). “Kalau tidak jadi wartawan, saya tidak akan bisa punya akses langsung ke orang-orang hebat. Ini nilai plusnya. Banyak teman banyak manfaat,” ujarnya saat memberi pelatihan komunikasi di Kelompok Media Bali Post, Jumat (29/1). Pengalaman sebagai wartawan pun ia ungkapkan mulai dari meliput demo di sebuah perusahaan yang banyak pasang iklan di medianya hingga diteror untuk memberi tahu nama narasumber. Semua itu menempa dirinya menjadi kuat.

Ada benang merah yang didapat, komunikasi. “Dari hasil penelitian, 70% kesalahan di dunia kerja karena komunikasi yang buruk. Karena itu, saya yang menggeluti dunia komunikasi menemukan, semua hal perlu komunikasi,” tegas Aqua. Dari dunia jurnalistik, Aqua beralih ke dunia humas. Pada tahun 1994, ia memutuskan untuk berhenti sebagai jurnalis, dan memilih untuk bekerja sebagai profesional dengan menjadi pegawai humas di PT Semen Cibinong yang digelutinya hingga tahun 2005. “September 2005 saya memutuskan keluar dari Semen Cibinong. Setelah itu, atasan saya hanya Tuhan Yang Maha Esa. Saya pun mulai karier sebagai pembicara tentang komunikasi.

Dari wartawan menjadi konsultan komunikasi dan motivator,” ungkapnya. Ia pun mulai menerima tawaran untuk menjadi motivator di berbagai instansi. Salah satu kuncinya adalah selalu memperbanyak teman. Dari satu teman terus bertambah. Saling tukar nomor ponsel pun menjadi aktivitas wajibnya. Bagi Aqua, setelah berteman, ia terus menjaga tali silaturahmi. Hal ini membuatnya menjadi kaya teman. Aqua yang sudah menulis 10 buku ini, diantaranya “Berhenti Kerja Semakin Kaya” mengaku, dalam hidup ini harus punya sifat menjadi pemenang. Kalau jadi pecundang salahkan diri sendiri. “Dari sejak terjadi pembuahan, kita sudah menjadi pemenang. Dari jutaan sel sperma, hanya satu yang jadi. Karena itu, dalam kehidupan ini ja-

dilah pemenang. Kalau mau sukses, harus jadi pemenang dan lebih dari yang lain,” tegasnya memberi motivasi. Ia pun mengingatkan ada tiga nilai yang wajib dimiliki manusia sukses, kredibilitas, komitmen, dan konsisten. Selain meyakini semua sudah diatur Tuhan Yang Maha Esa, ia selalu bersyukur dengan apa yang diraih. Asalkan semua ikhlas, Aqua yakin apa yang diinginkan bisa diraih. “Saya selalu menyempatkan diri membaca buku. Biar orang lain menganggap saya aneh, sepanjang itu tidak merugikan orang lain, ya saya sempatkan baca buku. Salah satu buku yang menginspirasi saya adalah “The Secret”. Saya juga percaya hukum karma. Makin banyak memberi, makin banyak kita menerima,” jelas motivator yang tarifnya Rp 30 per jam ini. –Ngurah Budi

Style

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Keindahan yang Berkarakter Hidup itu adalah menari. Gambaran itulah yang dituangkan Yenli Wijaya pada koleksinya kali ini. Betapa menurutnya perjalanan hidup ini seperti melakoni peran dalam sebuah karya seni tari. Ada juga yang mengatakan jika dunia ini adalah panggung sandiwara.

M

enurut desainer senior di Kota Denpasar ini, ketika kita menghayati setiap peran di kehidupan ini dengan sungguh–sungguh, maka kita pun akan puas menjalaninya. Sebab, hidup tidak terlepas dari yang namanya suka dan duka, tawa dan tangis, serta sedih dan bahagia. Begitulah hidup, lanjut Yenli Wijaya, jalankan dengan penuh ikhlas dan sabar, maka kita akan lihat hasilnya. Hal inilah yang menginspirasi tema desain pemilik “Yenli Costume Design” ini untuk Bali Fashion Tendance. Terdapat dominasi warna hitam, putih dan gold, sebagai warna yang keras dan berkarakter yang diambil dari balerina dancer. – Sri Ardhini Shoes by Joanne Shoes Jewelary by Pretty Pearls

15


14

Jelita

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Dapatkan Senyum Ideal dengan Veneer Gigi Setelah pemakaian behel dan bleaching (pemutihan gigi), kini veneer gigi sedang menjadi tren dalam dunia estetika atau keçantikan di Indonesia. Banyak kalangan berlomba-lomba ingin mempercantik senyum dan menambah rasa percaya dirinya dengan deretan gigi putih yang cantik dan proporsional dengan wajah. “Tentunya, dengan tidak melewatkan kesehatan dari kondisi gigi dan mulut itu sendiri. Perawatan gigi yang tepat akan sangat membantu dalam mendapatkan senyum yang ideal. Veneer bisa menjadi pilihan perawat­an gigi untuk memperoleh susunan gigi yang putih sempurna secara instan.” ujar drg. AAA Agung Pratita.

A

pa itu veneer? Dentist cantik di Bali Beauty Clinic (BBC) yang akrab disapa, drg. Tita ini menjelaskan veneer adalah bahan pelapis gigi tipis yang melapisi permukaan email gigi. Lapisan ini dilekatkan pada permukaan gigi sehingga dapat menutupi kelainan bentuk gigi, kerusakan gigi, serta warna yang tidak merata pada gigi. Veneer juga dapat memperbaiki dan meratakan posisi gigi. Bahan yang digunakan adalah porcelain (porselen) atau composite (komposit) karena bahan ini memiliki warna dan tekstur yang menyerupai gigi asli. Drg. Tita melanjutkan, veneer dibagi menjadi 2 macam, yakni

Direct Veneer dan Indirect Veneer. Direct Veneer adalah veneer yang berbahan komposit resin yang akan dikerjakan langsung oleh dokter gigi. Bahan dan warna pun bisa langsung dipilih agar sesuai dengan bentuk dan warna yang diinginkan pasien. “Hanya butuh sekali kedatangan untuk perawatan direct veneer ini. Tentunya disesuaikan juga dengan bentuk senyum dan proposional rahang pasien,” ujarnya. Sementara Indirect Veneer, adalah veneer berbahan porselen yang dibuat oleh laboratorium gigi, tetapi sebelumnya gigi juga akan dipreparasi oleh dokter gigi. “Perawatan veneer gigi ini akan selesai dalam waktu 3 hari sampai 1 minggu. Membutuh-

Beberapa perwatan veneer gigi

kan 2 kali kedatangan, kedatangan kedua adalah untuk pemasangan venee,” jelas drg. Tita. Apa beda Direct Veneer dan Indirect Veneer? Tentunya akan lebih tahan lama Indirect Veneer yang berbahan porselen, dan tidak akan ada perubahan warna dari Indirect Veneer. Kelebihannya, warna lebih stabil dan tahan lama, resisten terhadap abrasi dan pewarnaan seperti konsumsi rokok, pewarnaan dari bahan makanan dan alkohol ataupun obat-obatan lainnya. Begitu pun dari segi harga, Indirect Veneer lebih mahal dari pada Direct Veneer yang berbahan komposit resin. “Semua proses veneer ini memerlukan pengerjaan waktu sekitar 1-2 jam, tergantung berapa banyaknya gigi yang akan dipreparasi,” ujarnya. Siapa saja yang cocok untuk per-

awatan Veneer ini? Veneer sudah mulai populer di Indonesia dan bahkan menjadi bagian dari gaya hidup saat ini. Perawatan veneer mulai masuk dalam bidang aesthetic dan kecantikan. Laki laki atau perempuan dapat melakukan perawatan ini. Biasanya mereka yang datang mempunyai masalah gigi. Mereka ingin memperbaiki diastema gigi (gigi yang renggang), memperbaiki diskolorisasi gigi yang mengalami perubahan warna gigi akibat pernah mengonsumsi obat berbahan tetrasiklin dan fluorosis, mengoreksi struktur gigi yang rusak sehingga dapat dibentuk kembali menjadi bentuk gigi yang sempurna dengan warna putih yang diinginkan. Mereka yang mempunyai gigi depan yang berantakan juga bisa melakukan perawatan ini tanpa harus menggunakan braches gigi (kawat gigi/braket). Cara ini ­dikatak­an dr. Tita adalah cara instan dalam memperoleh susunan gigi yang rapi, tapi tentunya juga dengan kasus orthodontic yang ringan. Perawatan veneer juga bisa dilakukan bagi ­mereka yang memiliki gigi depan yang fraktur (patah). Namun dr. Tita menegaskan, tak semua kasus cocok ditangani ­dengan dengan perawatan veneer gigi. ­Seperti, pasien yang menderita

drg. AAA Agung Pratita

bruxism (kebiasaan mengerat gigi pada saat tidur), gigi dengan email yang tidak memadai untuk retensi veneer, fraktur gigi yang parah, gigi dengan celah yang sangat besar, serta gigi dengan mahkota yang pendek. “Bila gigi mengalami perubahan warna yang parah, sebaiknya dilakukan tindakan bleaching atau whitening gigi terlebih dahulu,” sarannya. Dari keseluruhan prosedural tersebut, hampir tidak ada efek samping pada perawatan veneer gigi dan tidak ada pantangan makanan setelah pengaplikasian veneer. Perawatan veneer juga tidak perlu perawatan lanjutan yang khusus, cukup datang ke dokter gigi tiga atau enam bulan sekali seperti kunjungan untuk check up pada umumnya, untuk melakukan pembersihan plak dan karang gigi. “Kecuali ada kasus-kasus yang kompleks sehingga harus melakukan beberapa kali kunjungan dan percobaan pasang, sebelum benar-benar dipasang dengan lem veneer permanen,” tandasnya. —Inten Indrawati

Bugar

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Waspadai Keguguran Berulang-ulang

Hery sangat bahagia karena dokter menyatakan istrinya hamil. Mereka sudah memiliki satu buah hati, seorang anak laki-laki. Hery sangat bahagia, karena selama ini, istrinya sering kegugur­an sehingga lama belum mendapat tambahan momongan. Namun, takdir berkata lain, ketika kandungan baru menginjak usia satu bulan, istri­nya kembali mengalami ­keguguran. Mengapa keguguran bisa terjadi?

D

r. IGA Sri Darmayani, Sp.OG., staf dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan, keguguran atau abortus merupakan suatu keadaan dimana kehamilan berakhir sebelum janin dapat hidup di dunia luar. “Bayi baru bisa hidup jika berat badannya telah mencapai lebih dari 500 gram atau umur kehamilan lebih daripada 20 minggu. Lebih dari 80 % keguguran terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan,” kata dr. Sri Darmayani. Setelah melewati trimester pertama, kejadian keguguran berkurang. Wanita hamil yang mempunyai riwayat keguguran memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya keguguran pada hamil berikutnya, terutama jika usia ibu sudah lebih dari 35 tahun. “Wanita hamil yang mempunyai riwayat keguguran tiga kali berturut-turut, risiko untuk terjadinya keguguran pada hamil berikutnya sebesar 50 %,” jelas dokter RSIA Puri Bunda, dan RSAD Udayana ini. Faktor yang menyebabkan terjadinya keguguran diantaranya adalah adanya kelainan pada kromosom yang menyebabkan embrio yang terbentuk tidak sehat. Lebih dari setengah penyebab keguguran karena adanya kelainan kromosom ini. “Kelainan pada ibu seperti kelainan pada sistem hormonal (hormon prolaktin yang terlalu tinggi atau progesterone yang terlalu rendah), kelainan pada sistem kekebalan tubuh, dan berbagai penyakit infeksi (TORCH, HIV, hepatitis),” katanya. Selain itu, penyebab lain, penyakit kronis pada ibu, kekurang­a n nutrisi, alkohol, merokok, kelainan bentuk rahim, adanya mioma di rahim yang dapat mengganggu pertumbuhan embrio, atau adanya kelemahan di mulut rahim, trauma emosional maupun fisik, dan kelelahan dapat menyebab-

kan terjadinya keguguran. Ia menyebutkan, gejala kegugur­a n adalah perdarahan dan rasa nyeri/kram di perut. Namun, ia menegaskan, tidak semua perdarahan ketika hamil adalah keguguran. Perdarahan juga bisa disebabkan oleh adanya polip, trauma (robekan di dinding vagina) atau kanker leher rahim. Penanganan keguguran tergantung dari jenis keguguran, jika baru terjadi ancaman keguguran penanganannya istirahat total (bed rest) dan pemberian penguat kandungan sampai tidak terjadi perdarah­a n. Apabila terjadi perdarahan yang banyak akan dilakukan kuretase. “Kuretase adalah suatu tindakan yang dilakukan dokter untuk membersihkan dan mengeluarkan sisa kehamilan yang mengalami keguguran. Kuretase dilakukan untuk menghentikan perdarahan,” ucapnya. Jika tidak dilakukan kuretase, perdarahan akan bertambah banyak dan memudahkan terjadinya infeksi yang bisa menyebabkan kematian ibu. Sebelum kuretase pasien diminta untuk puasa selama enam jam untuk persiapan pembiusan, dan ketika dilakukan tindakan kuretase kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu. “Setelah kuret tidak ada pantangan terhadap makanan dan minuman, tetapi diutamakan makan makanan yang bergizi untuk mempercepat proses penyembuhan,” katanya. Ia menyatakan,

kehamilan berikutnya. Selain itu, diperlukan juga asupan zat gizi yang tepat (misalnya asam folat 400 mikrogram setiap hari, vitamin E, zinc) untuk membantu mempersiapkan kehamilan berikutnya. “Penerapan gaya hidup sehat seperti olah raga secara teratur, istirahat yang cukup, menghindari alkohol, rokok dan stress dapat membantu memperbaiki kualitas kehamilan,” sarannya. Ia menambahkan, apabila keguguran disebabkan infeksi, dokter akan mengobati infeksinya terlebih dahulu, jika infeksinya sudah dipastikan sembuh, ibu tersebut baru diperbolehkan hamil kembali. Jika keguguran akibat mulut rahim yang lemah, maka

hubungan suami istri sudah dapat dilakukan kembali, apabila tidak ada darah, tidak ada nyeri perut, fisik dan psikis, dan yang terpenting, suami istri sudah siap. Menurut dr. Sri Darmayani, keguguran dapat dicegah tergantung dari penyebab keguguran dan cepatnya mendapatkan penanganan. “Karena keguguran ditandai adanya perdarahan, maka setiap ibu hamil yang mengalami perdarahan disarankan segera memeriksakan diri agar segera mendapatkan penanganan. Dokter akan melakukan usaha pencegahan agar janin tidak keluar,” sarannya. Ia menyarankan, pascakeguguran sebaiknya memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk mencari faktor penyebab keguguran untuk menghindari terjadinya keguguran berulang pada Dr. IGA Sri Darmayani, Sp.OG.

11

pada kehamilan berikutnya akan dilakukan tindakan operasi pengikatan mulut rahim. Sementara, waktu yang tepat untuk hamil lagi, perlu memperhatikan banyak faktor. Misalnya, kasus keguguran yang sebelumnya apakah hamil pertama atau bukan, penyebab keguguran, umur ibu, kondisi kesehatan ibu (fisik dan mental). “Jika semuanya normal, sekitar dua sampai tiga bulan sete­ lah menstruasi pasca keguguran, ibu sudah diperbolehkan untuk hamil kembali,” kata dokter yang juga praktik di Apotik Kimia Farma, Jalan Patimura Denpasar ini. –Wirati Astiti


Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

12

Warung Makan Inovasi

Kuliner

Banjar Betngandang Banyak inovasi dilakukan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Salah satunya, masyarakat Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh Denpasar Selatan, mencoba peruntungannya di usaha bisnis rumah makan. Warung makan yang diberi nama D’Mel ini, baru dibuka sebulan. Tempatnya dibuat sangat ekslusif. Dengan beberapa bangunan gazebo yang dilengkapi dengan ruangan beratap, warung makan ini mulai dibuka pukul 10 pagi sampai 11 malam, di Jalan Karangsari, Betngandang, Sanur.

W

Warung D’Mel

arung ini satu lokasi dengan gedung koperasi Artha Sri Senada, yang juga milik Br. Betngandang. Gedung koperasi dibuat bertingkat, dan di lantai atas dikhususnya tempat meeting. yang bisa menampung 80 s.d. 100 orang dan free wifi. Areal terbuka di gazebo juga bisa digunakan sebagai garden party yang bisa menampung 100 orang. Saat ini warung D’Mel hanya bisa melayani pesanan antar areal Sanur. Menurut perwakilan tim pemilik

Warung D’Mel, Nyoman Astawa, tujuan semula dibangun warung makan ini, selain untuk menambah kas banjar, juga untuk menampung para warga banjar yang belum bekerja. Jumlah karyawan 15 orang, sebagian besar berasal dari warga Br. Betngandang. Sementara ada beberapa dari banjar lain di Sanur. Untuk cita rasa makanan, mereka tak mau main-main. Satu koki atau chef senior dipercaya mengelola dapur yakni Wayan Suka, yang baru saja pensiun dari Hotel Sanur Pardise.

Menurut Manager Warung D’Mel, Ketut Suita, yang paling spesial dari warung ini adalah menu ikan segar hasil tangkapan nelayan dari Sanur. Menurut Suita, memang tak selalu ada menu spesial tersebut. “Biasanya kami tulis di papan depan sebagai special menu today,” kata Suita. Selain menu ikan bakar, ada juga menu lain, seperti nasi goreng, mi goreng, lumpia, steak, burger, pizza, ayam lalapan, sup buntut, tom yam, aneka minuman, es krim, pisang goreng, kopi, dan aneka jus. Warung D’Mel memiliki satu kelebihan, karena letaknya di daerah wisata Sanur, pengunjung pun 30 persen dari turis asing. Namun, soal harga, kata Ketut Suita, tetap memakai harga lokal karena pasar mereka mencakup domestik dan turis asing. Warung ini juga bisa dijadikan tempat resepsi atau pesta ulangtahun. Satu panggung besar sudah disiapkan. Untuk atraksi kesenian, sudah ada joged bumbung yang ditarikan warga Banjar Betgandang. “Atraksi ini bisa diorder sesuai dengan pilihan acara. Selain joged ada juga tari-tarian Bali yang lain,” kata Suita. -Wirati Astiti

Desak Made Yasa sedang melayani pembeli

B

agaimana cara membuat kopi yang enak? Jawabannya relatif dan tergantung masing-masing pembuat kopi. Bisakah rasa kopi dibuat standar? Bisa saja asalkan pembuatnya memiliki kemampuan yang standarnya sama. Dimana bisa mendapatkan ilmu

tentang kopi mulai dari asal kopi, rasa kopi, cara penyajian, hingga cara membuka kedai kopi? Jawabannya ada di Indonesia Coffee Academy. Indonesia Coffee Academy berada di bawah naungan Anomali Caffe. Awalnya Indonesia Coffee Academy hanya untuk kalangan internal Anomali agar barista mereka memiliki kemampuan standar. Namun, seiring perkembangan gaya hidup, peminat kopi makin banyak dan orang yang ingin membuka kedai kopi juga banyak. Irvan Helmi Tiga jenis kopi yang dites bersama Agam Ab-

Sarwan Bahan: 1 kg : ikan mas, bersihkan kedua sisinya, sayat 3 batang : daun bawang, iris-iris 2 buah : tomat potong jadi 8 bagian 1 ikat : daun kemangi, ambil daunnya 4 batang : serai, ambil daging putih nya, iris kecil-kecil 8 lembar : daun salam 7 lembar : daun jeruk, buang tangkainya Daun pisang klutuk secukupya

ati

Nikm

Chinesse Food

Hanya di...

Cafe Santai

Bubur Bali

Satu porsi bubur Bali, terdiri dari bubur, ayam kalas, sayur urab, dan kacang goreng. Bubur disuguhkan beralaskan daun pisang, dengan sendok terbuat dari daun pisang atau sidu. Satu porsi bubur Rp 5.000. Namun, bagi anak-anak mereka bisa membeli dengan harga Rp 2.000. Desak menjual bubur keliling sembari menjunjung meja kecil. Satu hari ia tak membuat banyak hanya dua kilogram beras. “Dari berjualan bubur, tiang sudah mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari,” ujar perempuan usia 60 tahun ini. –Wirati Astiti

Mengenal Kopi melalui Cupping

Tes Cupping di Indonesia Coffee Academy

gari yang menjadi pendiri Anomali mengatakan, keberadaan akademi kopi ini tidak lain untuk menjawab tingginya keingintahuan masyarakat terhadap kopi. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu produsen kopi besar di dunia. “Tren mengonsumsi kopi sebagai sebuah gaya hidup sebenarnya mulai tumbuh sekitar tahun 2007 lalu dengan makin banyaknya gerai kopi waralaba internasional yang membuka bisnisnya di Indonesia,” kata Irvan.

Sesuai dengan namanya, akademi ini mengajarkan seluk beluk kopi dengan menghadirkan para pengajar yang sudah bersertifikat di bidangnya. Kelas yang diselenggarakan berupaya menjawab keingintahuan para penikmat kopi hingga pelaku bisnis. Di Indonesia Coffee Academy ini, peserta bisa memilih jenis kelas yang ingin diikutinya, ada Basic Espresso, Advance Espresso, Latte Art, Manual Brewing, Roasting, Business, dan Coffee Cupping.

13

Agam menambahkan tujuan diselenggarakan kursus atau kelas kopi ini tidak sekadar edukasi bisnis tapi agar semakin banyak masyarakat mengenal kopi spesial, terutama dari Indonesia. “Indonesia merupakan negara produsen kopi ketiga di dunia dengan variasi kopi yang sangat beragam. Sebagai orang Indonesia, tentu saja sangat penting bagi penikmat kopi untuk mencintai produk dalam negeri karena kopi Indonesia tidak kalah dengan kopi-kopi dari negara lain,” ujar Agam. Di kelas Coffee Cupping, salah satu instrukturnya adalah Hageng Pribadi. Pria yang akrab disapa Hagi ini adalah juara I Cup Taster tahun 2015. Ia menjadi duta Indonesia di ajang tingkat dunia yang digelar Maret-April 2016 di Shanghai, Tiongkok. Hagi memberi penjelasan tentang perbedaan cita rasa kopi single origin dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kelas tersebut peserta juga diajari cara mengenali asal kopi dengan cara menghirup aroma hingga meminumnya. Bahkan peserta juga diajarkan cara menggunakan alat seduh kopi manual seperti “pour over” (V60), “plunger”, dan “syphon”. –Ngurah Budi

Pais Lauk Mas

Bubur Bali khas Nongan Karangasem Bubur Bali tentu sudah tak asing lagi. Namun, penjual bubur Bali, jarang bisa ditemui di Kota Denpasar. Bubur ini kebanyakan ditemui di kampung-kampung, seperti di Desa Nongan, Kec. Rendang, Kab. Karangasem. Salah seorang penjual bubur Bali, Desak Made Yasa atau biasa dipanggil Desak Biang Yasa, sudah hampir 30 tahun berjualan bubur keliling desa Nongan. Ia memulai keliling sejak pukul 1 siang sampai pukul 6 sore pasti sudah habis. Terkadang, kalau ada upacara adat, bubur Desak sudah ludes sebelum pukul 6 sore.

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

& Aneka Es Taiwan

Selamat Hari Raya

Galungan & Kuningan. Tahun Baru Imlek 2567. Dapatkan Diskon

Serabut Ice Cream

Murah Meriah & Bersih

Tipat Kuah Ceker

10%

selama Bulan Februari 2016

*

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bumbu yang Dihaluskan: 12 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 10 buah : cabe merah kriting ½ sdt : lada 3 ruas : jari jahe 3 ruas : jari lengkuas 2 ruas : jari kunyit bakar 5 butir : kemiri sangria Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Lumuri ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan, biarkan selama 15 menit atau bumbu meresap. Lalu ambil selembar daun pisang, taruh daun lam dan daun jeruk di atasnya, tambahkan irisan serai, lalu ikan. Di atas ikan, tambahkan irisan tomat dan irisan daun

bawang dan kemangi. - Rapatkan daun pisang dengan menyemat kedua ujungnya menggunakan lidi atau tusuk gigi, lalu kukus pais ikan dalam panci dandang selama 45 menit atau 1 jam atau hingga matang, lalu siap untuk disajikan dengan lalapan dan sambal terasi.

Pampus Manado

Bahan: 70 gr : ikan tongkol 2 sdm : air jeruk nipis 2 batang : daun bawang 2 batang : serai, memarkan Minyak, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu yang Dihaluskan: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 6 buah : cabe merah besar 10 buah : cabe rawit 2 ruas : jari jahe

Cara Membuat: - Bersihkan ikan tongkol, lalu kukus hingga matang. Pisahkan daging dari tulangnya, lalu suwir-suwir. Campur dengan air jeruk nipis, aduk hingga rata. - Tumis bumbu halus hingga harum, lalu tambahkan serai dan daun bawang. Aduk-aduk hingga bumbu matang, lalu masukkan ikan tongkol yang sudah di suwir-suwir. Aduk rata masak hingga matang, masak hingga kering, angkat, sajikan.


Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

12

Warung Makan Inovasi

Kuliner

Banjar Betngandang Banyak inovasi dilakukan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Salah satunya, masyarakat Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh Denpasar Selatan, mencoba peruntungannya di usaha bisnis rumah makan. Warung makan yang diberi nama D’Mel ini, baru dibuka sebulan. Tempatnya dibuat sangat ekslusif. Dengan beberapa bangunan gazebo yang dilengkapi dengan ruangan beratap, warung makan ini mulai dibuka pukul 10 pagi sampai 11 malam, di Jalan Karangsari, Betngandang, Sanur.

W

Warung D’Mel

arung ini satu lokasi dengan gedung koperasi Artha Sri Senada, yang juga milik Br. Betngandang. Gedung koperasi dibuat bertingkat, dan di lantai atas dikhususnya tempat meeting. yang bisa menampung 80 s.d. 100 orang dan free wifi. Areal terbuka di gazebo juga bisa digunakan sebagai garden party yang bisa menampung 100 orang. Saat ini warung D’Mel hanya bisa melayani pesanan antar areal Sanur. Menurut perwakilan tim pemilik

Warung D’Mel, Nyoman Astawa, tujuan semula dibangun warung makan ini, selain untuk menambah kas banjar, juga untuk menampung para warga banjar yang belum bekerja. Jumlah karyawan 15 orang, sebagian besar berasal dari warga Br. Betngandang. Sementara ada beberapa dari banjar lain di Sanur. Untuk cita rasa makanan, mereka tak mau main-main. Satu koki atau chef senior dipercaya mengelola dapur yakni Wayan Suka, yang baru saja pensiun dari Hotel Sanur Pardise.

Menurut Manager Warung D’Mel, Ketut Suita, yang paling spesial dari warung ini adalah menu ikan segar hasil tangkapan nelayan dari Sanur. Menurut Suita, memang tak selalu ada menu spesial tersebut. “Biasanya kami tulis di papan depan sebagai special menu today,” kata Suita. Selain menu ikan bakar, ada juga menu lain, seperti nasi goreng, mi goreng, lumpia, steak, burger, pizza, ayam lalapan, sup buntut, tom yam, aneka minuman, es krim, pisang goreng, kopi, dan aneka jus. Warung D’Mel memiliki satu kelebihan, karena letaknya di daerah wisata Sanur, pengunjung pun 30 persen dari turis asing. Namun, soal harga, kata Ketut Suita, tetap memakai harga lokal karena pasar mereka mencakup domestik dan turis asing. Warung ini juga bisa dijadikan tempat resepsi atau pesta ulangtahun. Satu panggung besar sudah disiapkan. Untuk atraksi kesenian, sudah ada joged bumbung yang ditarikan warga Banjar Betgandang. “Atraksi ini bisa diorder sesuai dengan pilihan acara. Selain joged ada juga tari-tarian Bali yang lain,” kata Suita. -Wirati Astiti

Desak Made Yasa sedang melayani pembeli

B

agaimana cara membuat kopi yang enak? Jawabannya relatif dan tergantung masing-masing pembuat kopi. Bisakah rasa kopi dibuat standar? Bisa saja asalkan pembuatnya memiliki kemampuan yang standarnya sama. Dimana bisa mendapatkan ilmu

tentang kopi mulai dari asal kopi, rasa kopi, cara penyajian, hingga cara membuka kedai kopi? Jawabannya ada di Indonesia Coffee Academy. Indonesia Coffee Academy berada di bawah naungan Anomali Caffe. Awalnya Indonesia Coffee Academy hanya untuk kalangan internal Anomali agar barista mereka memiliki kemampuan standar. Namun, seiring perkembangan gaya hidup, peminat kopi makin banyak dan orang yang ingin membuka kedai kopi juga banyak. Irvan Helmi Tiga jenis kopi yang dites bersama Agam Ab-

Sarwan Bahan: 1 kg : ikan mas, bersihkan kedua sisinya, sayat 3 batang : daun bawang, iris-iris 2 buah : tomat potong jadi 8 bagian 1 ikat : daun kemangi, ambil daunnya 4 batang : serai, ambil daging putih nya, iris kecil-kecil 8 lembar : daun salam 7 lembar : daun jeruk, buang tangkainya Daun pisang klutuk secukupya

ati

Nikm

Chinesse Food

Hanya di...

Cafe Santai

Bubur Bali

Satu porsi bubur Bali, terdiri dari bubur, ayam kalas, sayur urab, dan kacang goreng. Bubur disuguhkan beralaskan daun pisang, dengan sendok terbuat dari daun pisang atau sidu. Satu porsi bubur Rp 5.000. Namun, bagi anak-anak mereka bisa membeli dengan harga Rp 2.000. Desak menjual bubur keliling sembari menjunjung meja kecil. Satu hari ia tak membuat banyak hanya dua kilogram beras. “Dari berjualan bubur, tiang sudah mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari,” ujar perempuan usia 60 tahun ini. –Wirati Astiti

Mengenal Kopi melalui Cupping

Tes Cupping di Indonesia Coffee Academy

gari yang menjadi pendiri Anomali mengatakan, keberadaan akademi kopi ini tidak lain untuk menjawab tingginya keingintahuan masyarakat terhadap kopi. Terlebih, Indonesia merupakan salah satu produsen kopi besar di dunia. “Tren mengonsumsi kopi sebagai sebuah gaya hidup sebenarnya mulai tumbuh sekitar tahun 2007 lalu dengan makin banyaknya gerai kopi waralaba internasional yang membuka bisnisnya di Indonesia,” kata Irvan.

Sesuai dengan namanya, akademi ini mengajarkan seluk beluk kopi dengan menghadirkan para pengajar yang sudah bersertifikat di bidangnya. Kelas yang diselenggarakan berupaya menjawab keingintahuan para penikmat kopi hingga pelaku bisnis. Di Indonesia Coffee Academy ini, peserta bisa memilih jenis kelas yang ingin diikutinya, ada Basic Espresso, Advance Espresso, Latte Art, Manual Brewing, Roasting, Business, dan Coffee Cupping.

13

Agam menambahkan tujuan diselenggarakan kursus atau kelas kopi ini tidak sekadar edukasi bisnis tapi agar semakin banyak masyarakat mengenal kopi spesial, terutama dari Indonesia. “Indonesia merupakan negara produsen kopi ketiga di dunia dengan variasi kopi yang sangat beragam. Sebagai orang Indonesia, tentu saja sangat penting bagi penikmat kopi untuk mencintai produk dalam negeri karena kopi Indonesia tidak kalah dengan kopi-kopi dari negara lain,” ujar Agam. Di kelas Coffee Cupping, salah satu instrukturnya adalah Hageng Pribadi. Pria yang akrab disapa Hagi ini adalah juara I Cup Taster tahun 2015. Ia menjadi duta Indonesia di ajang tingkat dunia yang digelar Maret-April 2016 di Shanghai, Tiongkok. Hagi memberi penjelasan tentang perbedaan cita rasa kopi single origin dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kelas tersebut peserta juga diajari cara mengenali asal kopi dengan cara menghirup aroma hingga meminumnya. Bahkan peserta juga diajarkan cara menggunakan alat seduh kopi manual seperti “pour over” (V60), “plunger”, dan “syphon”. –Ngurah Budi

Pais Lauk Mas

Bubur Bali khas Nongan Karangasem Bubur Bali tentu sudah tak asing lagi. Namun, penjual bubur Bali, jarang bisa ditemui di Kota Denpasar. Bubur ini kebanyakan ditemui di kampung-kampung, seperti di Desa Nongan, Kec. Rendang, Kab. Karangasem. Salah seorang penjual bubur Bali, Desak Made Yasa atau biasa dipanggil Desak Biang Yasa, sudah hampir 30 tahun berjualan bubur keliling desa Nongan. Ia memulai keliling sejak pukul 1 siang sampai pukul 6 sore pasti sudah habis. Terkadang, kalau ada upacara adat, bubur Desak sudah ludes sebelum pukul 6 sore.

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

& Aneka Es Taiwan

Selamat Hari Raya

Galungan & Kuningan. Tahun Baru Imlek 2567. Dapatkan Diskon

Serabut Ice Cream

Murah Meriah & Bersih

Tipat Kuah Ceker

10%

selama Bulan Februari 2016

*

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bumbu yang Dihaluskan: 12 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 10 buah : cabe merah kriting ½ sdt : lada 3 ruas : jari jahe 3 ruas : jari lengkuas 2 ruas : jari kunyit bakar 5 butir : kemiri sangria Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Lumuri ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan, biarkan selama 15 menit atau bumbu meresap. Lalu ambil selembar daun pisang, taruh daun lam dan daun jeruk di atasnya, tambahkan irisan serai, lalu ikan. Di atas ikan, tambahkan irisan tomat dan irisan daun

bawang dan kemangi. - Rapatkan daun pisang dengan menyemat kedua ujungnya menggunakan lidi atau tusuk gigi, lalu kukus pais ikan dalam panci dandang selama 45 menit atau 1 jam atau hingga matang, lalu siap untuk disajikan dengan lalapan dan sambal terasi.

Pampus Manado

Bahan: 70 gr : ikan tongkol 2 sdm : air jeruk nipis 2 batang : daun bawang 2 batang : serai, memarkan Minyak, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu yang Dihaluskan: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 6 buah : cabe merah besar 10 buah : cabe rawit 2 ruas : jari jahe

Cara Membuat: - Bersihkan ikan tongkol, lalu kukus hingga matang. Pisahkan daging dari tulangnya, lalu suwir-suwir. Campur dengan air jeruk nipis, aduk hingga rata. - Tumis bumbu halus hingga harum, lalu tambahkan serai dan daun bawang. Aduk-aduk hingga bumbu matang, lalu masukkan ikan tongkol yang sudah di suwir-suwir. Aduk rata masak hingga matang, masak hingga kering, angkat, sajikan.


14

Jelita

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Dapatkan Senyum Ideal dengan Veneer Gigi Setelah pemakaian behel dan bleaching (pemutihan gigi), kini veneer gigi sedang menjadi tren dalam dunia estetika atau keçantikan di Indonesia. Banyak kalangan berlomba-lomba ingin mempercantik senyum dan menambah rasa percaya dirinya dengan deretan gigi putih yang cantik dan proporsional dengan wajah. “Tentunya, dengan tidak melewatkan kesehatan dari kondisi gigi dan mulut itu sendiri. Perawatan gigi yang tepat akan sangat membantu dalam mendapatkan senyum yang ideal. Veneer bisa menjadi pilihan perawat­an gigi untuk memperoleh susunan gigi yang putih sempurna secara instan.” ujar drg. AAA Agung Pratita.

A

pa itu veneer? Dentist cantik di Bali Beauty Clinic (BBC) yang akrab disapa, drg. Tita ini menjelaskan veneer adalah bahan pelapis gigi tipis yang melapisi permukaan email gigi. Lapisan ini dilekatkan pada permukaan gigi sehingga dapat menutupi kelainan bentuk gigi, kerusakan gigi, serta warna yang tidak merata pada gigi. Veneer juga dapat memperbaiki dan meratakan posisi gigi. Bahan yang digunakan adalah porcelain (porselen) atau composite (komposit) karena bahan ini memiliki warna dan tekstur yang menyerupai gigi asli. Drg. Tita melanjutkan, veneer dibagi menjadi 2 macam, yakni

Direct Veneer dan Indirect Veneer. Direct Veneer adalah veneer yang berbahan komposit resin yang akan dikerjakan langsung oleh dokter gigi. Bahan dan warna pun bisa langsung dipilih agar sesuai dengan bentuk dan warna yang diinginkan pasien. “Hanya butuh sekali kedatangan untuk perawatan direct veneer ini. Tentunya disesuaikan juga dengan bentuk senyum dan proposional rahang pasien,” ujarnya. Sementara Indirect Veneer, adalah veneer berbahan porselen yang dibuat oleh laboratorium gigi, tetapi sebelumnya gigi juga akan dipreparasi oleh dokter gigi. “Perawatan veneer gigi ini akan selesai dalam waktu 3 hari sampai 1 minggu. Membutuh-

Beberapa perwatan veneer gigi

kan 2 kali kedatangan, kedatangan kedua adalah untuk pemasangan venee,” jelas drg. Tita. Apa beda Direct Veneer dan Indirect Veneer? Tentunya akan lebih tahan lama Indirect Veneer yang berbahan porselen, dan tidak akan ada perubahan warna dari Indirect Veneer. Kelebihannya, warna lebih stabil dan tahan lama, resisten terhadap abrasi dan pewarnaan seperti konsumsi rokok, pewarnaan dari bahan makanan dan alkohol ataupun obat-obatan lainnya. Begitu pun dari segi harga, Indirect Veneer lebih mahal dari pada Direct Veneer yang berbahan komposit resin. “Semua proses veneer ini memerlukan pengerjaan waktu sekitar 1-2 jam, tergantung berapa banyaknya gigi yang akan dipreparasi,” ujarnya. Siapa saja yang cocok untuk per-

awatan Veneer ini? Veneer sudah mulai populer di Indonesia dan bahkan menjadi bagian dari gaya hidup saat ini. Perawatan veneer mulai masuk dalam bidang aesthetic dan kecantikan. Laki laki atau perempuan dapat melakukan perawatan ini. Biasanya mereka yang datang mempunyai masalah gigi. Mereka ingin memperbaiki diastema gigi (gigi yang renggang), memperbaiki diskolorisasi gigi yang mengalami perubahan warna gigi akibat pernah mengonsumsi obat berbahan tetrasiklin dan fluorosis, mengoreksi struktur gigi yang rusak sehingga dapat dibentuk kembali menjadi bentuk gigi yang sempurna dengan warna putih yang diinginkan. Mereka yang mempunyai gigi depan yang berantakan juga bisa melakukan perawatan ini tanpa harus menggunakan braches gigi (kawat gigi/braket). Cara ini ­dikatak­an dr. Tita adalah cara instan dalam memperoleh susunan gigi yang rapi, tapi tentunya juga dengan kasus orthodontic yang ringan. Perawatan veneer juga bisa dilakukan bagi ­mereka yang memiliki gigi depan yang fraktur (patah). Namun dr. Tita menegaskan, tak semua kasus cocok ditangani ­dengan dengan perawatan veneer gigi. ­Seperti, pasien yang menderita

drg. AAA Agung Pratita

bruxism (kebiasaan mengerat gigi pada saat tidur), gigi dengan email yang tidak memadai untuk retensi veneer, fraktur gigi yang parah, gigi dengan celah yang sangat besar, serta gigi dengan mahkota yang pendek. “Bila gigi mengalami perubahan warna yang parah, sebaiknya dilakukan tindakan bleaching atau whitening gigi terlebih dahulu,” sarannya. Dari keseluruhan prosedural tersebut, hampir tidak ada efek samping pada perawatan veneer gigi dan tidak ada pantangan makanan setelah pengaplikasian veneer. Perawatan veneer juga tidak perlu perawatan lanjutan yang khusus, cukup datang ke dokter gigi tiga atau enam bulan sekali seperti kunjungan untuk check up pada umumnya, untuk melakukan pembersihan plak dan karang gigi. “Kecuali ada kasus-kasus yang kompleks sehingga harus melakukan beberapa kali kunjungan dan percobaan pasang, sebelum benar-benar dipasang dengan lem veneer permanen,” tandasnya. —Inten Indrawati

Bugar

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Waspadai Keguguran Berulang-ulang

Hery sangat bahagia karena dokter menyatakan istrinya hamil. Mereka sudah memiliki satu buah hati, seorang anak laki-laki. Hery sangat bahagia, karena selama ini, istrinya sering kegugur­an sehingga lama belum mendapat tambahan momongan. Namun, takdir berkata lain, ketika kandungan baru menginjak usia satu bulan, istri­nya kembali mengalami ­keguguran. Mengapa keguguran bisa terjadi?

D

r. IGA Sri Darmayani, Sp.OG., staf dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan, keguguran atau abortus merupakan suatu keadaan dimana kehamilan berakhir sebelum janin dapat hidup di dunia luar. “Bayi baru bisa hidup jika berat badannya telah mencapai lebih dari 500 gram atau umur kehamilan lebih daripada 20 minggu. Lebih dari 80 % keguguran terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan,” kata dr. Sri Darmayani. Setelah melewati trimester pertama, kejadian keguguran berkurang. Wanita hamil yang mempunyai riwayat keguguran memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya keguguran pada hamil berikutnya, terutama jika usia ibu sudah lebih dari 35 tahun. “Wanita hamil yang mempunyai riwayat keguguran tiga kali berturut-turut, risiko untuk terjadinya keguguran pada hamil berikutnya sebesar 50 %,” jelas dokter RSIA Puri Bunda, dan RSAD Udayana ini. Faktor yang menyebabkan terjadinya keguguran diantaranya adalah adanya kelainan pada kromosom yang menyebabkan embrio yang terbentuk tidak sehat. Lebih dari setengah penyebab keguguran karena adanya kelainan kromosom ini. “Kelainan pada ibu seperti kelainan pada sistem hormonal (hormon prolaktin yang terlalu tinggi atau progesterone yang terlalu rendah), kelainan pada sistem kekebalan tubuh, dan berbagai penyakit infeksi (TORCH, HIV, hepatitis),” katanya. Selain itu, penyebab lain, penyakit kronis pada ibu, kekurang­a n nutrisi, alkohol, merokok, kelainan bentuk rahim, adanya mioma di rahim yang dapat mengganggu pertumbuhan embrio, atau adanya kelemahan di mulut rahim, trauma emosional maupun fisik, dan kelelahan dapat menyebab-

kan terjadinya keguguran. Ia menyebutkan, gejala kegugur­a n adalah perdarahan dan rasa nyeri/kram di perut. Namun, ia menegaskan, tidak semua perdarahan ketika hamil adalah keguguran. Perdarahan juga bisa disebabkan oleh adanya polip, trauma (robekan di dinding vagina) atau kanker leher rahim. Penanganan keguguran tergantung dari jenis keguguran, jika baru terjadi ancaman keguguran penanganannya istirahat total (bed rest) dan pemberian penguat kandungan sampai tidak terjadi perdarah­a n. Apabila terjadi perdarahan yang banyak akan dilakukan kuretase. “Kuretase adalah suatu tindakan yang dilakukan dokter untuk membersihkan dan mengeluarkan sisa kehamilan yang mengalami keguguran. Kuretase dilakukan untuk menghentikan perdarahan,” ucapnya. Jika tidak dilakukan kuretase, perdarahan akan bertambah banyak dan memudahkan terjadinya infeksi yang bisa menyebabkan kematian ibu. Sebelum kuretase pasien diminta untuk puasa selama enam jam untuk persiapan pembiusan, dan ketika dilakukan tindakan kuretase kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu. “Setelah kuret tidak ada pantangan terhadap makanan dan minuman, tetapi diutamakan makan makanan yang bergizi untuk mempercepat proses penyembuhan,” katanya. Ia menyatakan,

kehamilan berikutnya. Selain itu, diperlukan juga asupan zat gizi yang tepat (misalnya asam folat 400 mikrogram setiap hari, vitamin E, zinc) untuk membantu mempersiapkan kehamilan berikutnya. “Penerapan gaya hidup sehat seperti olah raga secara teratur, istirahat yang cukup, menghindari alkohol, rokok dan stress dapat membantu memperbaiki kualitas kehamilan,” sarannya. Ia menambahkan, apabila keguguran disebabkan infeksi, dokter akan mengobati infeksinya terlebih dahulu, jika infeksinya sudah dipastikan sembuh, ibu tersebut baru diperbolehkan hamil kembali. Jika keguguran akibat mulut rahim yang lemah, maka

hubungan suami istri sudah dapat dilakukan kembali, apabila tidak ada darah, tidak ada nyeri perut, fisik dan psikis, dan yang terpenting, suami istri sudah siap. Menurut dr. Sri Darmayani, keguguran dapat dicegah tergantung dari penyebab keguguran dan cepatnya mendapatkan penanganan. “Karena keguguran ditandai adanya perdarahan, maka setiap ibu hamil yang mengalami perdarahan disarankan segera memeriksakan diri agar segera mendapatkan penanganan. Dokter akan melakukan usaha pencegahan agar janin tidak keluar,” sarannya. Ia menyarankan, pascakeguguran sebaiknya memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk mencari faktor penyebab keguguran untuk menghindari terjadinya keguguran berulang pada Dr. IGA Sri Darmayani, Sp.OG.

11

pada kehamilan berikutnya akan dilakukan tindakan operasi pengikatan mulut rahim. Sementara, waktu yang tepat untuk hamil lagi, perlu memperhatikan banyak faktor. Misalnya, kasus keguguran yang sebelumnya apakah hamil pertama atau bukan, penyebab keguguran, umur ibu, kondisi kesehatan ibu (fisik dan mental). “Jika semuanya normal, sekitar dua sampai tiga bulan sete­ lah menstruasi pasca keguguran, ibu sudah diperbolehkan untuk hamil kembali,” kata dokter yang juga praktik di Apotik Kimia Farma, Jalan Patimura Denpasar ini. –Wirati Astiti


10

Sudut Pandang

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Simpan Hasil Liputan

di Celana Dalam

Dua puluh empat tahun telah berlalu, namun kasus jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Condet, Jakarta Timur, masih melekat kuat dalam benak Eddy Koko. Peristiwa yang terjadi 5 Oktober 1991 tersebut, terbilang besar lantaran banyaknya korban yang tewas yakni 133 prajurit Paskhas TNI AU dan dua warga sipil. Bukan hanya itu yang membuat ingatannya akan tragedi mengenaskan itu begitu melekat, melainkan karena dia menjadi wartawan pertama yang tiba di TKP (tempat kejadian perkara).

B

isa jadi karena kantor koran dimana Eddy Koko bekerja, Jl Dewi Sartika Cililitan, cukup dekat dengan TKP Condet sehingga ia bisa cepat tiba. “Begitu mendengar kabar, saya langsung meluncur dan beruntung belum ada petugas di sana sehingga saya bisa leluasa memotret TKP dan mendapatkan foto-foto eksklusif. Setelah para petugas baik itu polisi maupun tentara tiba di lokasi, wartawan tidak bisa mendekat. Sementara saya yang sudah terlanjur terje-

bak tidak bisa keluar,” ungkap mantan Pemred Radio Trijaya FM ini. Agar tidak ketahuan, ia pun bersembunyi di mobil pemadam kebakaran. Tapi, ia tidak bisa lama-lama bersembunyi karena harus segera ke kantor. Sebagai wartawan yang terbiasa melakukan peliputan investigasi ia tahu apa yang akan terjadi jika dia keluar begitu saja tanpa mengamankan hasil liputan. “Saya tahu bahwa film hasil potretan pasti akan diambil petugas maka sebelum keluar saya tukar dulu film itu. Begitu

saya keluar langsung dicegat petugas. Film dalam kamera diambil petugas. Saya hampir kena pukul petugas. Yahh maklum zaman Orba meliput tidak bisa seleluasa seperti sekarang,” ungkap Koko, begitu pria ini akrab disapa. “Saya sembunyikan film itu di celana dalam,” ucapnya sembari terkekeh. Keesokan harinya, foto-foto ekslusif tersebut menghiasi sebuah koran terkemuka di Tanah Air. Baginya itu adalah salah satu pengalaman yang paling berkesan selama 34 tahun menekuni kariernya di dunia jurnalistik. Koko

Eddy Koko

yang memulai kiprahnya sebagai jurnalis tahun 1981 di Lampung, kemudian hijrah ke Jakarta dan sempat bekerja di sejumlah kantor media massa, sampai akhirnya tahun 2002 bergabung dalam Radio Trijaya FM Jakarta mengelola bidang pemberitaan. Kariernya terus menanjak dan puncaknya adalah ia menduduki posisi Pemimpin Redaksi Radio Trijaya Network. Koko yang baru-baru ini menjadi salah satu narasumber dalam RDPU (rapat dengar pendapat umum) Komisi I DPR RI bersama sejumlah pakar antara lain Effendi Gazali (pakar komunikasi) dan Parni Hadi (wartawan senior) terkait ‘Figur Dewas (dewan pengawas) LPP RRI yang dibutuhkan dalam membentuk LPP RRI yang berkelas dunia di era konvergensi’, memiliki pandangan

tersendiri tentang perkembangan dunia jurnalistik saat ini. Tantangan pers masa kini, katanya, berbeda dengan era 1980-1990-an dimana jumlah media tidak sebanyak sekarang. Teknologi informasi pun masih terbatas sekali. Ditambah lagi itu adalah era orde baru dimana keterbukaan informasi nyaris tidak ada. Beda dengan sekarang dimana teknologi informasi yang maju pesat yang otomatis sangat membantu kerja wartawan. Di era reformasi, keran informasi begitu terbuka sehingga nyaris apapun yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan relatif cepat dan mudah. Di sisi lain sebagai dampak dari kemajuan teknologi, informasi yang didapat masyarakat pun tidak melulu dari kerja wartawan. Lihat saja sekarang medsos (media sosial) yang begitu marak, bahkan kemudian muncul juga jurnalisme warga yang menyajikan informasiinformasi di sekitarnya. “Menurut saya ini merupakan tantangan tersendiri bagi wartawan. Sekarang ini dalam hitungan detik saja sudah bermunculan berbagai informasi. Jadi tantangannya adalah bagaimana wartawan bisa dengan cepat dalam pemberitaan, tetap profesional dalam bekerja dan berpedoman pada kaidah-kaidah jurnalistik, antara lain; berita yang berimbang (cover both side), cheek and recheck, dan akurasi berita,” ujar Koko. –Diana Runtu

Dari Wartawan Jadi Motivator

Aqua Dwipayana dalam sesi motivasi di Bali Post

Perjalanan hidup manusia tak bisa ditebak. Yang penting syukuri apa yang didapat dan jalani semuanya dengan ikhlas. Itu merupakan nilai-nilai yang selalu tertanam di benak Aqua Dwipayana. Dari gaji hanya Rp 200 ribu per bulan, kini ia punya penghasilan Rp 30 juta per jam. Aqua lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Januari 1970. Sejak masih duduk di bangku SMA, Aqua telah menjalani karier sebagai wartawan di Suara Indonesia, sebuah media di Jawa Timur. Kegiatan sebagai jurnalis terus ia tekuni sepanjang ia menimba ilmu di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Hingga tahun 1994, Aqua telah bekerja di

sejumlah media, di antaranya Jawa Pos, Surabaya Minggu, serta Bisnis Indonesia. Banyak hal yang ia dapatkan ketika bergelut di dunia jurnalistik. Salah satunya networking (jaringan). “Kalau tidak jadi wartawan, saya tidak akan bisa punya akses langsung ke orang-orang hebat. Ini nilai plusnya. Banyak teman banyak manfaat,” ujarnya saat memberi pelatihan komunikasi di Kelompok Media Bali Post, Jumat (29/1). Pengalaman sebagai wartawan pun ia ungkapkan mulai dari meliput demo di sebuah perusahaan yang banyak pasang iklan di medianya hingga diteror untuk memberi tahu nama narasumber. Semua itu menempa dirinya menjadi kuat.

Ada benang merah yang didapat, komunikasi. “Dari hasil penelitian, 70% kesalahan di dunia kerja karena komunikasi yang buruk. Karena itu, saya yang menggeluti dunia komunikasi menemukan, semua hal perlu komunikasi,” tegas Aqua. Dari dunia jurnalistik, Aqua beralih ke dunia humas. Pada tahun 1994, ia memutuskan untuk berhenti sebagai jurnalis, dan memilih untuk bekerja sebagai profesional dengan menjadi pegawai humas di PT Semen Cibinong yang digelutinya hingga tahun 2005. “September 2005 saya memutuskan keluar dari Semen Cibinong. Setelah itu, atasan saya hanya Tuhan Yang Maha Esa. Saya pun mulai karier sebagai pembicara tentang komunikasi.

Dari wartawan menjadi konsultan komunikasi dan motivator,” ungkapnya. Ia pun mulai menerima tawaran untuk menjadi motivator di berbagai instansi. Salah satu kuncinya adalah selalu memperbanyak teman. Dari satu teman terus bertambah. Saling tukar nomor ponsel pun menjadi aktivitas wajibnya. Bagi Aqua, setelah berteman, ia terus menjaga tali silaturahmi. Hal ini membuatnya menjadi kaya teman. Aqua yang sudah menulis 10 buku ini, diantaranya “Berhenti Kerja Semakin Kaya” mengaku, dalam hidup ini harus punya sifat menjadi pemenang. Kalau jadi pecundang salahkan diri sendiri. “Dari sejak terjadi pembuahan, kita sudah menjadi pemenang. Dari jutaan sel sperma, hanya satu yang jadi. Karena itu, dalam kehidupan ini ja-

dilah pemenang. Kalau mau sukses, harus jadi pemenang dan lebih dari yang lain,” tegasnya memberi motivasi. Ia pun mengingatkan ada tiga nilai yang wajib dimiliki manusia sukses, kredibilitas, komitmen, dan konsisten. Selain meyakini semua sudah diatur Tuhan Yang Maha Esa, ia selalu bersyukur dengan apa yang diraih. Asalkan semua ikhlas, Aqua yakin apa yang diinginkan bisa diraih. “Saya selalu menyempatkan diri membaca buku. Biar orang lain menganggap saya aneh, sepanjang itu tidak merugikan orang lain, ya saya sempatkan baca buku. Salah satu buku yang menginspirasi saya adalah “The Secret”. Saya juga percaya hukum karma. Makin banyak memberi, makin banyak kita menerima,” jelas motivator yang tarifnya Rp 30 per jam ini. –Ngurah Budi

Style

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Keindahan yang Berkarakter Hidup itu adalah menari. Gambaran itulah yang dituangkan Yenli Wijaya pada koleksinya kali ini. Betapa menurutnya perjalanan hidup ini seperti melakoni peran dalam sebuah karya seni tari. Ada juga yang mengatakan jika dunia ini adalah panggung sandiwara.

M

enurut desainer senior di Kota Denpasar ini, ketika kita menghayati setiap peran di kehidupan ini dengan sungguh–sungguh, maka kita pun akan puas menjalaninya. Sebab, hidup tidak terlepas dari yang namanya suka dan duka, tawa dan tangis, serta sedih dan bahagia. Begitulah hidup, lanjut Yenli Wijaya, jalankan dengan penuh ikhlas dan sabar, maka kita akan lihat hasilnya. Hal inilah yang menginspirasi tema desain pemilik “Yenli Costume Design” ini untuk Bali Fashion Tendance. Terdapat dominasi warna hitam, putih dan gold, sebagai warna yang keras dan berkarakter yang diambil dari balerina dancer. – Sri Ardhini Shoes by Joanne Shoes Jewelary by Pretty Pearls

15


16

Edukasi

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Bisa Kenal Banyak Orang Jurnalistik memang erat kaitannya dengan kewartawanan dan persuratkabaran. Bidang profesi ini kegiatannya adalah menyiapkan, mengumpulkan, menulis, mengedit/menyunting dan menyebarkan berita/informasi untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.

H

al tersebut justru menjadikan empat siswa SMAN 7 Denpasar ini bergabung dalam ekskul jurnalistik di sekolahnya dengan bendera Programa 7. Meski awalnya IA Tara Masari yang sama sekali belum pernah terjun ke dunia ini mengaku hanya ikut-ikutan teman, toh akhirnya ia menyukai bidang jurnalistik ini. “Saya suka saat mewawancarai orang, seru bisa interaksi dengan orang lain. Saya bisa kenal banyak orang dan jadi banyak tahu karakter orang,” ujar siswi kelas X IIS 2 ini. Wakil Ketua Programa 7, Joanna Lola justru mengaku lebih suka membaca ketimbang menulis. Ia suka membaca hasil tulisan teman-temannya di majalah waktu di SMP dulu. Dari sanalah kemudian timbul keinginannya untuk ikut jurnalistik, yang baru terealisasi saat duduk di bangku SMA. Berbeda dengan IA Cintia Kencana. Siswi kelas X IIS2 ini justru sudah sejak lama tertarik dengan dunia jurnalistik. Kompyang-nya adalah wartawati pertama di Bali. Dayu Cintia sempat diberikan

buku biografinya, dari sana ia banyak tahu bagaimana menjadi wartawati. Di bangku SMP, ia pun bergabung dalam ekskul jurnalistik. Pernah juga menjabat Ketua, dan ikut lomba-lomba kording secara berkelompok, bahkan tim jurnalistiknya sampai berhasil meraih Juara. Kecintaannya pada jurnalistik berlanjut hingga di bangku SMA bergabung di Programa 7. Meski mengaku suka menulis cerpen, Dayu Cintia masih belum pede mengirimkannya ke media massa. Ekskul Jurnalistik (Programa 7) diketuai oleh Jaya swastika. Ia bertugas mengkoordinir temantemannya untuk pembagian tugas. Jaya sudah hapal betul potensi anggotanya. Misalkan untuk menulis ini, si A yang mampu, atau untuk debat atau presentasi, si B yang ditugaskan. Sementara untuk mengikuti lomba-lomba, biasanya digilir agar tiap anggota pernah mendapatkan pengalam­an. Anggotanya kini mencapai 42 orang. Pembina ekskul jurnalistik ini pun digilir, yakni guru Bahasa Indonesianya. Untuk tahun lalu dan tahun ini, Programa 7 di-

bina AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M. Hum. Tim jurnalistik inilah yang mengelola majalah sekolah Mahawerdi tiap tahunnya, bersinergi dengan ekskul fotografi (Lensa 7) dan ekskul IT (Pentium 7). Di bawah binaan Gung Tikdemikian guru cantik ini karib disapa, konsep perwajahan majalah sekolah mengadopsi majalah remaja nasional. “Ya, biar berjiwa mudalah,” ucapnya. Majalah ini didistribukan ke siswa dan guru di internal sekolah dan ke sekolah-sekolah lain. Bahkan, berkat kerja keras tim marketingnya, sudah ada beberapa perusahaan memasang iklan di majalah ini. Topik yang diangkat dalam Mahawerdi dipilih yang lagi up to date. Tahun lalu topiknya “Colouring our School”, dan tahun ini yang rencanaknya diterbitkan pada tahun ajaran baru, mengangkat topik “Enterpreneur ”. Di tahap awal, Pembina memberikan arahan akan topik yang akan diangkat. Selanjutnya, para anggota Programa 7 bebas mencari materi. Setelah selesai dibuat, akan dicek dulu oleh Gung Tik, sebelum diterbitkan. Saat kegiatan ekskul yang dilaksanakan tiap Rabu, Gung Tik mengaku tak pernah memberikan materi. Ia lebih banyak mendiskusikan masalah-masalah

yang ditemui anak-anak binaannya ketika terjun di lapangan mencari berita/informasi. “Biasanya mereka mencari informasi awal di internet, ketika mereka kurang paham pasti ditanyakan ke saya. Di sana saya baru menjelaskan,” ucapnya. Keempat anggota Programa 7 ini mengatakan mereka benar-benar terjun langsung ke lapangan mencari narsumbernarasumber baru, dan hasil karya tulis mereka dibaca masyarakat luas, tak hanya di internal

sekolah. “Biar aman, kami terkadang merekam hasil wawancara dan mendengarnya berulangulang agar tidak salah. Kan tanggung jawabnya lebih besar kalau samapai salah, kami bisa dituntut,” ujar Jaya. Hal yang paling membanggakan buat Gung Tik, tiga anak binaannya di Programa 7 yang baru lulus tahun lalu, berhasil masuk dalam Anggota Kompas Mu da Indonesia. Mereka adalah Ayu Wulan Savitri, Cintya Pratiwi, dan Gita Pradnyamita. –Inten Indrawati

kan dengan fungsinya. Untuk menilai bahasa media massa tentu dengan kaidah tata bahasa tetapi bahasa media atau yang umum disebut bahasa jurnalistik punya ciri khas sendiri yaitu singkat, jelas, padat, dan menarik. Fungsi bahasa jurnalistik adalah berkomunikasi dengan khalayak yang sangat beragam. “Fungsi yang dimaksud, apakah kepada siapa bahasa media itu ditujukan. Hal itu harus diperhatikan juga,” ujar pria yang lebih akrab disapa Dedi ini. Masalahnya, pemilihan kata di media massa dinilai cenderung provokatif. Menurut dosen I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd., M.Hum. yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Penmedia massa, sejak dulu memiliki didikan Bahasa dan Sastra Indonemasalah yang sama, yakni ke- sia ini, pemilihan diksi perlu dipertika bahasa Indonesia yang benar hatikan. “Penggunaan kata ‘mati’ dibandingkan dengan bahasa di pada korban kecelakaan, secara pers pastilah tidak sesuai. Hal ini struktur sudah benar tetapi secara dikarenakan cara untuk mengukur nilai rasa perlu dipertimbangkan,” bahasa di media massa tidak hanya ungkapnya. Pemilihan diksi yang bahasa yang benar tetapi disesuai- baik nantinya akan mempengaruhi

9

Setahun Perjalanan KCKB

Satukan Perempuan Bali Cintai Kamen Bali Tahun ini, Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) berusia 1 ­tahun. Usia yang masih cukup muda untuk sebuah komunitas yang ­terbentuk karena kesamaan visi-misi para anggotanya. Mereka ­terdiri dari perempuan dengan beragam profesi, yang menyukai dan mencintai kain panjang Bali atau kamen Bali.

Pertemuan bulanan rutin KCKB yang diadakan di Madam Tan Restaurant, Renon Denpasar

M

AA Istri Agung Paramesthi, S.Pd., M. Hum.

Pertimbangkan “Rasa” Bahasa Media massa memiliki peran sangat strategis dalam mempengaruhi dan membentuk cara pandang, persepsi dan perilaku masyarakat secara individu maupun kelompok. Dalam menjalankan perannya, media massa diharap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi, kecenderungan umum media elektronika dan cetak menggunakan bahasa tidak lagi mempersoalkan masalah baik ataupun benar, melainkan bagaimana bahasa tersebut dapat memprovokasi untuk menyampaikan maksud tertentu bahkan yang bersifat tendensius. Hal ini diungkapkan oleh dosen Undiksha Singaraja I Dewa Gede Budi Utama, S.Pd., M.Hum. Menurutnya media massa sebagai mitra pemerintah dalam merealisasi tujuan pembangunan pada bidang bahasa juga harus memerhatikan bahasa yang digunakan agar dapat mudah dimengerti oleh pembaca. Penggunaan bahasa Indonesia di

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

“Fungsi yang dimaksud, ­apakah kepada siapa bahasa media itu ditujukan. Hal itu harus diperhatikan juga,” penggunaan bahasa khalayak. Selain penggunaan diksi, penggunaan bahasa asing dalam media harus dihindari. Penggunaan bahasa asing dalam media massa hanya ketika dalam bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka sehingga bahasa asing yang sering digunakan akan memotivasi perkembangan bahasa Indonesia. “Ketika bahasa media massa baik, itu akan memberi paparan

positif bagi penggunaan bahasa di masyarakat. Sebaliknya jika bahasa yang digunakan media tidak baik maka masyarakat juga akan menganggap hal tersebut ideal sehingga pelan-pelan akan bergesar,” imbuh pria kelahiran 3 Mei itu. Peran media massa sebagai pembina dan pengembang bahasa dapat dilihat dari baik tidaknya bahasa yang digunakan. Baik tidaknya suatu bahasa dapat dilihat dari struktur, nilai rasa, makna, dan logikanya. -Wiwin

Audensi Komunitas Cinta Kamen Bali ke Ny. Selly D. Mantra, Selasa (26/1)

eski baru berjalan setahun, KCKB telah melakukan berbagai kegiatan termasuk aksi sosial, seperti donor darah dan penyaluran bantuan kepada yang membutuhkan. Seluruh aktivitas telah terdokumentasi dengan rapi

sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada organisasi dan keluarga. “Di sini terangkum semua kegiatan kita selama setahun. Ini sebagai bukti bahwa kegiatan kami positif,” ujar Sekretaris KCKB, Yoseva Listyati yang akrab disapa Bu Eva, sembari menunjukkan sebuah buku terjilid.

Ketua KCKB Ni Putu Adnyani atau yang populer disapa Bu Bara menambahkan, hal ini sekaligus untuk menampik tanggapan orang bahwa keberadaan KCKB tak sekadar kumpul dan berfoya-foya. “Pedoman kami, bertemu, belajar, beramal. Sebulan sekali kami berkumpul

Cinta Dulu Baru Arahkan Pertemuan sore itu, Selasa (26/1) diadakan di Madam Tan Restaurant, Renon Denpasar. Set-

elah sebelumnya, para perempuan cantik yang mengenakan beragam model kebaya dan kamen Bali ini melakukan audensi ke ke kediaman Ny. Sally D. Mantra. Sembari menikmati makanan dan minuman, di Madam Tan, mereka membahas hasil audensi dan terkait program berikutnya. “Pada prinsipnya, Ibu Sally mendukung KCKB, karena jika bukan kita, siapa lagi yang mencintai kamen Bali. Ibu juga sangat wellcome dengan perkembangan zaman dan menghargai modernisasi, dengan model dan gaya kebaya yang bermacammacam,” ucap Bu Bara kepada Tokoh. Ditegaskannya, yang paling penting adalah membuat mereka (para remaja/ anak muda) senang dulu, baru kemudian diarahkan perlahan-lahan ke pakemnya, mana yang dipakai ke pura, mana yang dipakai ke tempat undangan. “Biarkan mereka senang dulu, nanti kami KCKB yang mengarahkan,” ujarnya. Bu Bara melanjutkan, Kegiatan KCKB selama setahun karena misi ‘Komunitas Cinta yang terdokumentasi rapi Kain Bali’ ini jelas, Bu Selly

arisan sambil makan-makan, sharing tentang banyak hal terutama perkembangan produk kamen lokal, dan mengumpulkan sumbangan dari anggota, kemudian setiap 3 bulan disalurkan kepada yang membutuhkan,” jelasnya. Arisan ini pun dikatakannya hanya sebagai pengikat, yang tidak menekankan nominal. “Misi utama kami bukan arisan, makanya satu anggota hanya boleh ikut satu nama. Misi kami jelas, ingin menjaga dan melestarikan budaya Bali, yang lebih spesifik lagi, kamen Bali. KCKB memiliki misi sosial, budaya, dan belajar,” ucap Bu Bara. Pemilik Bara Silver ini menegaskan, KCKB menjadi sebuah wadah menyatukan perempuan Bali untuk lebih lagi mencintai produk dalam

negeri (khususnya Bali) agar tak tenggelam dengan produk luar. Kehadiran “Komunitas Cinta Kamen Bali” ini sekaligus juga sebagai salah satu cara untuk terus memperkenalkan dan menggali warisan budaya Indonesia khususnya kamen Bali yang memiliki beragam corak dan motif, kepada masyarakat luas. Bahkan, Bu Bara yang sering melanglang buana untuk urusan bisnis ini mengaku bangga mengenakan kamen Bali. “Kemana pun kami pergi, kami selalu membawa misi KCKB. Dengan penampilan kami berkebaya dan memakai kamen Bali, auranya beda, lebih anggun, lebih dihargai, dan orang lebih respek kepada kami. Ini yang ingin kami tularkan,” ungkapnya bersemangat. –ard/ten

Pengumpulan sumbangan sukarela dan Kantung Amal KCKB Peduli yang tiap 3 bulan \disalurkan kepada yang membutuhkan

juga mengatakan KCKB nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan PKK dan pihak lainnya, sehingga lebih solid dan misinya akan lebih terlihat di publik. Hal ini, bertujuan untuk mulai memperkenalkan kamen Bali dan kebaya kepada anakanak agar mereka mulai mencintai dulu. “Kalau sudah mencintai untuk mengarahkan mereka menjadi lebih mudah ,” ucap Ny. Selly Mantra yang dikutip Bu Bara. Dalam pertemuan KCKB kali ini, Bu Eva juga menyampaikan adanya penambahan anggota baru. Kini, Komunitas Cinta Kamen Bali beranggotakan 48 orang. Untuk tertib administrasi mereka diminta mengisi formulir anggota, dan bagi mereka yang terlambat membayar arisan dikenakan denda. Bu Eva menjelaskan, aturan ini diberlakukan agar para anggota KCKB lebih menghargai waktu. Di dunia bisnis, lanjut Bu Bara kita harus menghargai waktu. Apalagi sebagai pengusaha, Sebaiknya, 15 menit sebelumnya sudah berada di tempat. Hal ini pula yang dituntut di “Komunitas

Cinta Kamen Bali”. Karena, dengan menghargai waktu, berarti menghargai orang lain, teman dan yang berbicara. Sekecil apapun usaha, jika menghargai waktu dan orang lain, ini juga berarti menghargai diri sendiri. Itulah komitmen. “Komunitas ini tak hanya gaya, namun memiliki komitmen tinggi, cantik luar dalam,” tegasnya lagi. Seperti apa yang sudah dilakoninya selama ini, Bu Bara pun mengimbau kepada seluruh anggota KCKB, jika ada acara, walaupun tak terkait KCKB, agar tidak lupa menularkan kepada orang di sekitarnya untuk mencintai dan memakai kamen Bali. Bu Eva juga menyampaikan, agar KCKB tetap solid, silaturahmi tetap terjalin dan tidak terpecahpecah, para anggotanya diingatkan untuk tidak sombong, tidak saling membicarakan, sebab tak ada yang sempurna, serta saling menghargai. Sembari berdiskusi, kantung amal pun diedarkan ke seluruh anggota untuk memasukkan sumbangan sukarelanya. Nominal yang

terkumpul inilah yang nantinya disalurkan kepada yang membutuhkan. Pada kesempatan itu, Bu Eva juga mengingatkan untuk terus mengumpulkan koin (recehan) di rumah. Selama ini, lanjutnya anggota KCKB memiliki kotak receh di rumahnya masingmasing yang dibawa tiap 3 bulan ke acara pertemuan. Koin ini dijelaskan Bu Eva di luar kegiatan KCKB, adalah penjabaran kegiatan sosial kepada keluarga anggota KCKB. “Meski koin yang kelihatan sepele, namun nyatanya satu keluarga berhasil mengumpulkan hingga Rp 350 ribu. Koin-koin ini kami masukkan di Kantung Koin Amal KCKB Peduli, yang nantinya akan disalurkan. Ini sekaligus mengajarkan orang-orang di rumah (keluarga) untuk belajar berbagi. “Jadi, sifat sosial ini juga ingin kami tularkan ke rumah. Selanjutnya, ke depannya kami, KCKB memiliki keinginan melakukan bedah rumah, dan target jumlah anggota hingga 500 orang,” ujar Bu Bara antusias. –ard/ten


8

Bunda & Ananda

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Penyimpangan Muncul

ketika Ada Stagnasi

Munculnya pemberitaan tentang perkawinan sejenis di Indonesia dan pro-kontra tentang eksistensi kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi indikator hal tersebut memang ada. Bagi orang dewasa, hal tersebut mungkin lebih mudah dipahami.Tetapi, bagi anakanak hal tersebut terlihat “aneh”. Bagaimana orangtua memberi pemahaman kepada anak tentang apa yang terjadi di lingkungannya?

D

Diah Lestari

i sebuah mall di Kuta, dua pria berjalan sambil b er ga n d e n g a n tangan. Tangan yang satunya memegang tas belanjaan. Pakaian yang dikenakanmengikuti trend fashion terkini namun lebih ke arah feminin. Merekacuek saja walaupun banyak yang memandangi. “Saya sering mengatakan kepada anak saya, manusia diciptakanberpasangan, pria dan wanita. Namun, kini banyak yang pasangannyapria dan pria atau wanita dan wanita. Saya jadi khawatir bagaimanananti kalau anak saya bertanya mengapa ada yang pria pasangannya priadan wanita pasangannya wanita,” ungkap seorang ibu muda di sebuahkedai kopi di mall tersebut. Dari sisi psikologi, LGBT sudah menjadi kajian sejak lama.“Teori besar dalam ilmu psikologi yang membahas kajian seksual adalahPsikoseksual Freud. Ada tahapan-tahapan psikoseksual yang dialamimanusia dari kecil hingga dewasa, mulai dari fase oral, fase anal, fase phallic, fase latent, dan fase genital. Ketika terjadi stagnasi di salah satufase, besar kemungkinan terjadi penyimpangan atau orientasi seksual pada objek yang tidak biasa, salah satunya LGBT,” ujar Made Diah Lestari, S.Psi.,M.Si, Psikolog. Adanya penyimpangan ini sudah terlihat sejak kecil, ke-

tika anak tidak m en g e m b a n g k a n attachment yang tepat pada orangtua lawan jenis. Dalam teori Freud dikenal dengan Oedipus complex (proses psikologis seorang anak lelaki yang mempunyai hasrat seksual yang besar terhadap ibunya dan merasa cemburu terhadap ayahnya sendiri) dan ada yang Electra complex (proses psikologis anak perempuan yang mencemburui perhatian ayahnya terhadap sang ibu). Untuk menghindari terbentuknya orientasi seksual LGBT, orangtua harus bisa memberi perhatian yang khusus kepada anak. Tegaskan juga tentang peran dan karakter laki-lakidan perempuan yang disebut dengan peran gender selain penjelasan terkait identitas seksual. Identitas seksual itu mengacu kepada jenis kelamin sedangkan identitas dan peran gender lebih mengacu kepada peran-peran dan perasaan subjektifnya terkait dengan jenis kelamin dan perannya. Bisa saja orang yang jenis kelaminnya lakilaki, dia akan mengadopsi peran perempuan dan merasa dirinya perempuan. Jadi ada perempuan dalam tubuh laki-laki. Penjelasan ini sudah sebaiknya diberikan sedari dini dengan bahasa yang sederhana. “Satu hal penting adalah, LGBT sudah lama dikeluarkan dari klasifikasidiagnostik gangguan jiwa. LGBT bukan penyakit, tetapi lebih kepenyaluran hasrat dan itu bukan kehendak mereka.Wawasan masyarakatpun sebaiknya sudah lebih terbuka dan menghilangkan diskriminasi serta prasangka ke kaum LGBT. Namun, yang terjadi sekarang, LGBT menjadi gaya hidup,” ujar Sekretaris Program Studi Psikologi FakultasKedokteranUnud ini. Karena dianggap gaya hidup, pengaruh lingkungan menjadi dominan. Bahkan dari penuturan Diah, ada anak SMP yang mengikuti trentersebut. Ada teman atau orang lain yang

dijadi role model. Awalnyadari sisi fashion karena fashion itu menjadi tanda awal. Ada yang inginmencari tantangan, ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ada yang sedangmencari jatidiri. Cukup miris padahal identitas dan peran gender tidak semudah itu diubah. PENDIDIKAN SEKSUAL SEJAK DINI Diah menambahkan ada orang yang mengalami non conformity gendercontohnya lakilaki yang sifat femininnya lebih besar atau menggeluti profesi yang kebanyakan digeluti oleh perempuan, tidak serta merta kita anggap orientasi seksualnya LGBT karena bisa jadi lakilaki tersebut bisa membangun hubungan pernikahan lawan jenis

dan memiliki keturunan. Wawasan ini juga sebaik dipahami oleh masyarakat sehingga tidak mudah memberikan label dan cap pada seseorang, khususnya di masa kanak-kanak. “Di satu sisi saya paham, orangtua mana yang ingin anaknya tidak seperti layaknya orang lain. Masyarakat Indonesia menganut paham normal dan hal-hal yang normatif berdasarkan budaya dan agama. Orangtua di Indonesia sebagian besar berprinsip bahwa orang dewasa sejatinya menikah lawan jenis, lalu punya keturunan. Seringkali kalau di luar pakem itu, orangtua beranggapan harus ada upaya untukmengembalikan anak-anak mereka ke “jalan yang benar”. Padahal prosesnya tidak semudah itu apalagi jika orientasi

seksual LGBT dikembangkan melalui preferensi pribadi atau berasal dari dalam diri. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan atau gaya hidup,” tegas pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali bidang PengembanganKeilmuan ini. Ia pun menyarankan orangtua harus melakukan pencegahan preventif dengan tidak menunda pemberian pendidikan seksual kepada anak. Kenalkan anak tentang organ seksual dan fungsinya. Jangan sampaimembuat perumpamaan yang nantinya bisa menjebak. Misalnya penis dikatakan “burung”. Suatu saat jika melihat bapaknya bermain-main dengan burung, bisa jadi si anak protes. Orangtua juga harusmengingatkan anak dalam hal persahabatan. Bahkan orangtu harus tahusiapa saja teman atau sahabat anaknya serta jadwal kegiatan mereka. Makin banyak kegiatan positif dan interaksi sosial akan meminimalkananak mengalami penyimpangan. Jika memiliki anak LGBT, rangkullah bukan menghakimi. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

AYAM HITAM DAN KUCING ABU-ABU

Tersebutlah seekor induk ayam bernama si Ayam Hitam. Ia punya sepuluh ekor anak. Anak-anaknya berbulu hitam seperti induknya, kecuali si bungsu, yang tidak berbulu sehelai pun. Karena tidak berbulu, anak ayam yang malang itu dipanggil si Made Taro Kolagan. Pada suatu hari induk ayam dan anak-anaknya itu mencari makan di seberang sungai. “Anak-anakku!” seru si Ayam Hitam. “Di sini banyak rayap, remah dan cacing. Kamu boleh bebas mencari makan, tetapi ingat, sebelum matahari tenggelam, kamu harus kembali ke pangkuan ibu!” Anak-anak itu sangat gembira lalu menyebar mencari makan ke segala penjuru. Tak lama kemudian, mendung berarak, lalu turun hujan lebat. Air sungai mulai naik. Ayam Hitam berteriak-teriak memanggil anaknya. “Kembalilah segera, Nak! Kita akan pulang.” Namun, anak-anaknya yang bandel itu pura-pura tidak mendengar panggilan ibunya. Mereka asyik mengais makanan. Menjelang matahari tenggelam, kilat berdenyar dan petir bergemuruh. Anak-anak itu ketakutan, lalu berebutan berlindung di bawah perut ibunya. “Kamu betul-betul bandel!” Ibunya marah. “Kita terlambat, tidak bisa menyeberang. Kita harus menginap di rumah temanku, si Kucing Abu-abu.” “Tok, tok, tok …!” Si Ayam Hitam mengetuk pintu rumah si Kucing Abu-abu. “Aku temanmu si Ayam Hitam. Izinkanlah aku dan anak-anakku menginap semalam. Kami tidak bisa menyeberang.”

Si Kucing Abu-abu dan tiga anaknya amat senang menerima sahabatnya. Si Ayam Hitam dan anakanaknya memilih tidur di sebelah lesung batu yang terletak di dapur. Karena kelelahan dan kedinginan, anak-anak ayam itu cepat tertidur. Ketika hujan reda, si Ayam Hitam mendengar percakapan keluarga kucing itu. “Malam ini kita berpesta, anak-anakku!” kata induk kucing. “Kita bunuh ayam-ayam itu! Kita makan dagingnya!” “Sayap, kaki dan paruhnya kita pakai mainan, Bu!” sambung anak-anak kucing. Si Ayam Hitam mencurigai niat jahat si Kucing Abu-abu. Ia lalu membangunkan anak-anaknya. Ia menyuruh mereka terbang satu persatu. Ketika tiba giliran si Kolagan, induk ayam itu sangat sedih. Namun, ia punya akal. Ia bisikkan akal-akalan itu kepada si Kolagan. Setelah itu induk ayam itu terbang. Setelah tiba waktu yang tepat, si Kucing Abu-abu mengendap-endap ke dapur dan menyambar ayam hitam itu. Braaak…! Apa yang terjadi? Ibu Kucing bukan menyambar mangsanya tetapi menabrak lesung batu. Giginya rontok, mulutnya berdarah. Yang didapatinya hanya si Kolagan, ayam yang tidak berbulu. Si Kolagan berpura-pura pasrah menyerahkan diri sesuai dengan pesan ibunya. Agar cepat gemuk dan dagingnya tidak amis dan pahit, ia minta agar dipelihara dengan baik dan diberi makanan yang enak-enak. Permintaan anak ayam itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh keluarga kucing. Lama-kelamaan si Kolagan menjadi gemuk dan berbulu lebat. Nah, tibalah kesempatan yang terbaik itu! Ketika kucing-kucing itu sibuk mempersiapkan alat pesta, si Kolagan terbang sekuat-kuatnya ke seberang sungai. Ia disambut oleh ibu dan saudara-saudaranya sambil bernyanyi-nyanyi, “Pang ping pong, Ibu Kucing gigi ompong.”

Griya

Guci Keramik Multifungsi

Guci keramik memang memiliki daya tarik tersendiri. Motif-motifnya lebih banyak didominasi gaya Cina karena konon katanya keramik memang berasal dari Cina. Kerajinan guci ini menjadi lebih terlihat indah jika dikerjakan oleh pengerajin yang memiliki keturunan etnis Tionghoa. “Jadi, dia seperti sudah menjiwai filosofisnya, dan memang tiap desain motif yang dia buat, kiblatnya ke Cina,” ujar Mosa Nawawi, pemilik showroom Bali Art Ceramics (BAC) di kawasan By Pass Ngurah Rai, Padanggalak, Sanur ini.

G

uci-guci keramik yang dipajang di showroomnya itu diakuinya dipasok dari pengerajin keramik di Bandung. Tiap enam bulan ia mendatangkan satu truk kerajinan keramik dengan berbagai model dan motif dengan berbagai ukuran. Ini pulalah yang membuat harga barang-barang di showroom-nya cukup terjangkau jika dibandingkan dengan harga keramik Cina yang mahal karena langsung diimpor dari Cina. Namun, dari segi kualitas, ia memastikan keramik buatan pengerajinnya ini tak jauh berbeda. “Karena itu pula, barangbarang (keramik) saya, sengaja saya pajang di tempat terbuka, kena sinar matahari kena hujan. Ini membuktikan bahwa barang saya tahan segala cuaca. Tapi, seperti yang dilihat warnanya tidak luntur atau pudar, barangnya juga tidak pecah, malah semakin kuat,” ucap pria asal Jakarta yang sudah 6 tahun lebih membuka showroom ini. Dari pengamatannya, guci keramik yang dulunya difungsikan sebagai benda pajangan/ barang hias, khususnya di Bali kini banyak dipakai sebagai tempat tirta (air suci) bagi umat

Hindu. Seperti siang itu, tampak seorang lelaki datang untuk mencari guci keramik yang katanya akan dipakai sebagai tempat tirta di Pura. Mosa mengatakan, kini makin banyak masyarakat Hindu Bali mencari guci keramik bulat. “Mereka yang mencari ukuran yang besar biasanya untuk tempat tirta di Pura, kalau yang berukuran kecil untuk di rumah-rumah,” ujarnya. Dari beberapa orang yang mencari guci keramik untuk tempat tirta ini, mengaku lebih memilih guci keramik daripada guci dari tanah liat biasa, selain barangnya lebih kuat, juga karena kondisi air didiamkan dalam guci itu makin lama makin bening dan

dingin, serta struktur air juga tidak berubah jika dibandingkan dengan air di dalam guci tanah liat yang bisa berubah warna. Selain ada tren masyarakat Hindu memburu guci keramik sebagai kebutuhan sarana sembahyang, guci-guci ini masih diminati kaum ekspatriat dan orang-orang lokal untuk aksesoris. “Biasanya kalau pihak hotel, villa, restoran, selain mengambil guci juga banyak yang mengambil pot keramik yang ditempatkan di lobi. Bahkan sekarang tren ini sudah masuk ke kantor-kantor pemerintahan,” ucap Mosa yang mengaku penjualan kerajinan keramik ini biasanya ramai sekitar bulan Agustur s.d. Desember. -Inten Indrawati

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

17


18

Kreasi

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Sebagai rangkaian kampanye “Suara Hati” yang telah digaungkan di akhir tahun 2015 lalu, dilaksanakan roadshow photo art exhibition di tiga kota di Indonesia yang diawali di Beach Walk Kuta, Bali mulai tanggal 18 Januari hingga 13 Februari 2016. Selanjutnya pameran digelar di Yogyakarta dan Jakarta.

Ekspresi “Suara Hati” Perempuan dalam Foto Hitam Putih

P

hoto art exhibition ini merupakan bagian dari kampanye untuk memberikan empati kepada para perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan sekaligus memberikan dukungan terhadap kaum perempuan tanah air. Exhibition menampilkan karya-karya foto dari fotografer Nurulita yang berkolaborasi dengan fotografer Dewandra Djelantik. Mereka secara indah mampu menangkap ekspresi emosional dan pesan sosial dukungan terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan. “Kami menggandeng sekitar 60 public figure perempuan Indonesia dari berbagai bidang yang bersedia berpartisipasi untuk menjadi modelnya. Kami juga merangkul mereka untuk bersama-sama menyuarakan kepedulian terhadap perempuan korban kekerasan. Mere­ka diantaranya Rima Melati, Susan Bachtiar, Sandra Dewi, Olla Ramlan, Krisdayanti, Cut Mini, Happy Salma, Indi Barends, Cut Keke, Ine Febrianti, Maudy Kusnaedi, Marcella Zalianty, Lenny Agustin, Dira Suganti, dan Sundari Soekotjo. Dari Bali, ada Ni Luh Djelantik,” ujar Nova

Life

Story

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

tkh/net

Penandatangan foto oleh Nova Eliza dan penyerahan foto kepada pembeli

Eliza, penggagas “Suara Hati”. Kampanye ‘Suara Hati’ yang mengusung slogan “Oleh Perempuan Untuk Perempuan” dalam kemasan photo art exhibition ini, tak sekadar memajang beragam photo art public figure perempuan dengan ekspresi sarat emosi semata. Fotofoto tersebut juga dijual seharga Rp. 1,500,000/foto sebagai char-

ity. Hasil penjualan yang terkumpul akan didonasikan untuk perempuan korban keke­rasan konflik di Aceh dengan memberikan modal usaha agar para perempuan tersebut dapat melanjutkan hidup mereka. “Semua berawal dari rasa keprihatinan atas nasib kaum perempuan yang mengalami kekerasan,

Foto-foto yang dipamerkan di photo art exhibition Beach Walk Kuta

maka saya mencoba untuk memberikan dukungan terhadap mereka dengan cara yang saya bisa yaitu melalui kemasan seni. Saya pribadi sangat bahagia akhirnya mimpi untuk memberikan kontribusi bagi perempuan ini dapat terwujud. “Suara Hati” menjadi wadah bagi saya untuk memberikan dukungan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan fokus utamanya untuk memberikan dukungan terhadap kaum perempuan yang masih tertindas di era modern saat ini. Untuk itulah saya berharap hadirnya “Suara Hati” dapat sedikit memberikan perlindungan bagi kaum perempuan yang tertindas untuk memperjuangkan haknya serta membantu mereka untuk meneruskan hidupnya,” jelasnya. “Suara Hati” merupakan kampanye kebudayaan, seni dan sosial yang diprakarsai Nova Eliza sebagai wadah untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan seni dan budaya sekaligus menjadi wujud komitmen untuk memberikan apresiasi dan dukungan terhadap kaum perempuan Indonesia. “Meskipun mengusung slogan “Oleh Perempuan Untuk Perempuan” namun kiprah “Suara Hati” ke depannya tak melulu hanya bermuara sosial semata, tetapi juga di bidang seni dan budaya. Sehingga kehadiran “Suara Hati” juga turut menggerakkan industri seni budaya Indonesia menjadi lebih berkembang dan dicintai oleh masyarakatnya sendiri terutama generasi muda. Sayang bila seni budaya yang telah diwarisi nenek moyang kita sebelumnya ini menjadi luntur oleh masuknya budaya-budaya luar yang tidak mencirikan adat ketimuran. Untuk itulah sebagai seorang seniman saya pun memiliki tanggung jawab untuk turut melestarikan warisan nenek moyang dan melalui

“Suara Hati” dapat menjadi wadah yang tepat untuk menyalurkan bakat saya sekaligus menggerakkan pagelaran seni budaya yang ada di Indonesia,” ungkap perempuan yang kini menetap di Bali ini. Ia pun beralasan pemilihan Bali sebagai tempat pertama untuk exhibition karena Bali sudah terkenal di dunia pariwisata dan menjadi pusat perhatian. KONSEP NATURAL Photo Art Exhibition “Suara Hati” yang digelar di Bali ini, terselenggara berkat dukungan dari Beach Walk Kuta Bali, Dewandra Djelantik Photografi, Nurulita Photografi, Rob Peetoom Bali, Kitchenette, Fuji Film dan Yu Kun Kaya Toast. “Saya senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Ini momen langka apalagi yang dipotret adalah orangorang terkenal Ada beberapa kendala yang kami hadapi, salah satunya mencocokkan jadwal pemotretan. Namun, semua bisa kami atasi,” ujar Dewandra yang hadir saat jumpa pers bersama Nova dan Ni Luh Djelantik. Dewandra menambahkan pemilihan foto hitam putih membuat kesan yang abadi dari sebuah foto. “Foto hitam putih itu timeless dan kesannya abadi. Karena itu, kami sepakat untuk mengabadikan ekspresi para perempuan public figure ini menggunakan konsep foto hitam putih,” ujarnya Dewandra. Untuk mendapatkan ekspresi yang natural, ia bahkan menggunakan musik sebagai pemancing mood. Sebelumnya model membaca pengalaman perempuan yang menjadi korban kekerasan. Berbagai ekspresi yang muncul inilah yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk foto. Dewandra dan Nurulita pun berbagi tugas dalam pemotretan. “Nurulita memotret yang pakai baju hitam, saya yang pakai baju putih,” ujar Dewandra seraya mengatakan foto Dewi Sandra dengan gaya menutup wajah dengan menggunakan hijab dan hanya terlihat matanya saja yang menjadi foto favoritnya. –Ngurah Budi

Sudah lebih dari setahun, Mariana (48) terbaring sakit. Serangan jantung membuatnya tidak lagi bisa bekerja sebagai pegawai kantoran di Mataram, NTB. Ia lemah tak berdaya ketika rekan-rekan kantornya datang menjenguk saat ia kembali di serang stroke yang melumpuhkan tubuhnya.

D

ari sudut matanya, air bening mengalir. Mariana menangis. Di sisi kirinya, duduk ibunda Mariana dengan wajah sedih menyaksikan kondisi anaknya tersebut. Bagi mereka yang mengenal dan mengetahui perjalanan hidup Mariana, apa yang menimpa Mariana hari ini bisa dianggap sebagai hukuman terhadap keputusannya meninggalkan keyakinan yang dianutnya selama ini demi harta dan laki-laki. Ketika gadis, Mariana yang rajin dan gigih ini menjalani bisnis kecil-kecilan di sela-sela waktunya sebagai pegawai salah satu kantor di Mataram. “Apa saja bisa jadi bisnis bagi Mariana,” ungkap Ririn, salah seorang rekan kerja Mariana. Bisnis Mariana mulai dari camilan hingga pakaian dan peralatan rumah tangga. Ia tidak pernah capek untuk menawarkan dagangannya itu kepada rekan-rekannya di kantor. Ia berdagang dengan cara kredit. “Di kantor berdagang dan setelah pulang kantor Mariana berkeliling mengantar pesanan,” ujar Rika, kawan lainnya. Sampai akhirnya ia memiliki usaha yang lebih besar dari sekedar berdagang keliling. Perubahan hidup Mariana secara ekonomi tampak berbeda dan berubah menjadi jauh lebih baik bahkan bisa dikatakan ia terlihat kaya. Usaha-usahanya berjalan lancar. Lalu dari sinilah ia kemudian mengenal seorang lelaki yang berbeda keyakinan dengannya. Kerjasama usaha yang dijalin Mariana dan Doni, nama laki-laki itu, berjalan baik sehingga tumbuhlah cinta di antara keduanya. Perbedaan keyakinan awalnya menjadi kendala yang berat bagi Mariana dan Doni. Namun akhirnya semua bisa mereka lewati. Mereka tidak perlu kawin lari karena tidak direstui, melainkan melenggang ke pelaminan dengan restu orang

tua mereka, termasuk ibunda Mariana. “Sering kami ingatkan Ibunda Mariana untuk mengingatkan Mariana kembali ke keyakinannya agar diampuni dosa-dosanya oleh Tuhan,” kata Ririn yang tidak tega melihat penderitaan Mariana. Namun, tiap kali mereka (rekanrekan Mariana) bicara pada ibunda Mariana tentang hal ini, ibunya selalu berkata sayang pada Mariana. “Saya sayang sekali pada Mariana, jadi tidak mau memaksa jika ia tidak menginginkan kembali ke keyakinannya,” kata ibunda Mariana. Setelah menikah dan berpindah keyakinan, usaha Mariana semakin maju. Ia menjadi kaya. Ibunya bahkan ikut tinggal bersamanya menikmati kekayaan anak sulungnya ini. “Seperti tidak ada rasa menyesal sedikit pun dari ibunda Mariana melihat anaknya berpindah keyakinan seperti itu,” ujar Rika. Namun, setelah 10 tahun berumah tangga, tiba-tiba Mariana kena serangan jantung dan nyaris merenggut nyawanya. Berbagai penyakit lain juga turut bersarang di tubuh Mariana. Selama lima terakhir ia bolak-balik Mataram-Jakarta untuk berobat dan kontrol. “Kelihatan sekali, hartanya mulai habis untuk mengobati penyakitnya. Ia minum obat-obatan yang sangat mahal dengan biaya perawatan yang juga tidak murah. HARTA TERKURAS Baru saja sehat beberapa waktu lamanya, Mariana yang sempat dua bulan masuk kantor, kembali terserang stroke yang membuatnya harus menjalani perawatan. Rasa sakit terlihat di wajahnya. Rekanrekan Mariana melihatnya seperti tersiksa. Karena itu beberapa rekan Mariana membujuk ibunda Mariana untuk pula membujuk Mariana agar mau kembali ke keyakinannya semula. Apalagi Doni suaminya telah

Istri Stroke, Suami Hilang

lama meninggalkan Mariana bersama dua anak mereka. Doni memang telah meninggalkan Mariana tanpa pesan sejak Mariana diserang berbagai penyakit. “Mungkin karena itu juga Mariana mengalami tekanan batin yang lebih kuat lagi,” kata Ririn yang mengetahui bahwa Doni telah menikah kembali. Namun, Ririn tidak tega menyampaikan berita itu kepada Mariana maupun ibunda Mariana. Kini, Mariana berjuang sendiri melawan sakitnya yang sedikit

demi sedikit menguras harta kekayaannya. “Rumah, mobil, tanah dan aset lainnya, sudah habis untuk pengobatan Mariana,” ujar ibunda sedih. Di mata rekanrekan Mariana, ibunda Mariana tampaknya lebih sedih kehilangan harta benda dibandingkan kehilangan anak yang telah merubah keyakinannya. “Karena tidak tampak sedikit pun ibunda Mariana berusaha mengembalikan keyakinan anaknya tersebut,” kata Rika.

7

Kata-kata sayang terhadap Marianalah yang sering mereka dengar keluar dari bibir ibundanya. Namun, apapun yang terjadi pada Mariana, rekan-rekan Mariana merasa tidak memiliki hak untuk memaksa, melainkan hanya mengingatkan saja. Mereka hanya bisa mendoakan Mariana agar segera pulih, sehat kembali dan bisa masuk kantor seperti biasa. Mereka merindukan celoteh Mariana yang dikenal sebagai sosok yang supel. -Naniek I. Taufan

Telkomsel Gelar TrueBEx Telkomsel Regional Bali Nusra kembali menggelar kegiatan True Broadband Experience (TrueBEx), yakni uji kecepatan akses layanan data di 10 POI (Point of Interest) wilayah Bali, yaitu wilayah yang menjadi pusat keramaian publik di Bali, di antaranya Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Lippo Mall Kuta, Double Six Kuta, Kuta Square, Kepaon, Kebon Raya Badung, Universitas Udayana Jimbaran dan Universitas Udayana Denpasar, Universitas Pendidikan Nasional Denpasar serta RSUP Sanglah. Manager Network Service Telkomsel Denpasar Eddy Putra mengatakan, kegiatan TrueBEx ini dilakukan dalam rangka mengoptimalisasikan performansi layanan broadband di wilayah Bali dan sekitarnya. Mulai dari peningkatan kualitas, penambahan kapasitas, hingga perluasan jangkauan jaringan di titik-titik keramaian publik yang tingkat penggunaan layanan datanya sangat tinggi demi menjamin kenyamanan pelanggan dalam mengakses dan menikmati layanan data Telkomsel. Pengujian yang dilakukan dalam TrueBEx ini terutama untuk mengukur kecepatan akses layanan broadband Telkomsel baik melalui jaringan 3G maupun 4G, di antaranya berupa tes pembelian paket melalui menu *363# dan aplikasi My Telkomsel, browsing portal berita online, uploading status dan foto di media sosial, High-Definition (HD) video streaming di YouTube, pengiriman foto melalui aplikasi pesan instan, serta pengecekan Wifi dan kecepatan akses data melalui aplikasi speedtest. (Ngurah Budi)

XL Luncurkan “XL PRIORITAS” XL terus berupaya mendorong penggunaan layanan pasca bayar di masyarakat. Di awal tahun 2016, XL meluncurkan layanan pasca bayar “XL PRIORITAS” yang menawarkan berbagai keutamaan bagi pelanggan. Layanan yang didukung Dian Sastrowardoyo sebagai Brand Ambassador ini sudah mulai bisa dirasakan manfaatnya oleh pelanggan mulai pertengahan Januari 2016. Vice President XL East Region, Desy Sari Dewi mengatakan, peluncuran XL PRIORITAS tidak terlepas dari visi XL untuk memberikan layanan dengan kualitas maksimal kepada seluruh pelanggan. XL ingin menunjukkan dan meyakinkan bahwa XL memiliki layanan pasca bayar yang memberikan prioritas kepada pelanggan, selain itu membebaskan dalam mengontrol pemakaian dan juga bebas dari rasa khawatir dalam berkomunikasi. Kami juga hendak menunjukkan bahwa layanan pasca bayar pun bisa dibuat simpel dan justru banyak manfaatnya. XL PRIORITAS menawarkan sejumlah manfaat bagi pelanggan, diantaranya prioritas penggunaan di jaringan 4G LTE tercepat, fasilitas worry free nelpon dan SMS AnyNet (ke semua operator), worry free Data Roaming, kendali dalam pemakaian, dan pengaturan yang secara serba digital. (Ngurah Budi)


6

Woman on Top

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Ni Luh Djelantik

Stop Kekerasan terhadap Perempuan Seantero dunia mengenalnya sebagai juragan sepatu kulit handmade dari Bali. Namanya, Ni Luh Djelantik. Sepatu buatannya pun dipatenkan sesuai namanya, Niluh Djelantik yang sudah melalangbuana ke seluruh dunia. Namun, dibalik kesuksesannya berkarier, Ni Luh Djelantik pernah mengalami kekerasan. Seperti apa?

N

i Luh begitu ia akrab disapa, datang bersama artis Nova Eliza dan fotografer AA. Dewandra Jelantik di Beach Walk, Kuta, Rabu ­( 27/1). Mereka datang melakukan konferensi pers, dalam rangka roadshow “Photo Art Exhibiton Suara Hati”. Suara Hati merupakan wadah bagi para perempuan untuk memberikan dukungan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan fokus utamanya memberikan dukungan kepada kaum perempuan yang masih tertindas di era modern.

Ni Luh, ternyata pernah mengalami kekerasan dalam rumahtangga. Awalnya, ia meng­ anggap itu sebagai ujian dalam mengarungi kehidupan, namun, lama-kelamaan, mulai berontak. Ia pun sukses dalam urusan bisnis sepatunya dan memiliki banyak karyawan. Namun, ketika kembali ke rumah, dia bukan siapa-siapa. Kekerasan yang ia terima dari pasangan, selain kata-kata yang sangat menyinggung perasaan, juga, dalam bentuk kekerasan fisik. Ni Luh merasa pencapaiannya selama ini tidak berharga. Ni Luh mencoba berbagi

pengalaman masa kecilnya. Ni Luh dididik dengan penuh kasih sayang dan kelembutan oleh sang ibu. Ayahnya seorang penyayang dan ibunya seorang perempuan kuat. Namun, kedamaian keluarga yang ia rasakan saat kecil, berbanding terbalik dengan kondisi ia temui dalam diri pasangannya. Ia sering mengalami kekerasan dari pasangannya, bukan hanya kata-kata k a s a r, namun, sudah ter-

masuk kekerasan fisik. Semakin lama, semakin berulang, dan membuat Ni Luh bertekad harus segera mengakhiri kondisi tak nyaman tersebut. Ia memutuskan untuk pergi. Kejadian awal, lima tahun sebelumnya, Ni Luh mendapatkan kekerasan. Namun, ketika pasangannya sadar dan meminta maaf, Ni Luh mencoba memberi kesempatan kedua. Namun, ternyata, hal itu tak berlangsung lama. Ni Luh kembali mendapatkan perlakuan kasar. Teryata karakter pasangan­nya tidak berubah. Sekitar satu setengah tahun, ia masih bertahan. Sampai akhirnya, ia sudah tak kuat dan bertekad keke­ rasan ini harus segera dihentikan. “Terlalu sering saya berkata, tolong jangan seperti ini. Saya merasa seper­ ti seorang guru yang

Ni Luh Djelantik

Dunia jurnalistik adalah dunia yang menyenang­ kan bagi mereka yang memaknai benar arti pent­ ing dari profesi wartawan. Meski bukan persoalan mudah, menjadi insan pers adalah tantangan ter­ sendiri bagi Lale Kamarukmin Mardiati, reporter senior Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Mataram . Ia telah mengabdi di dunia jurnalistik sejak tahun 1984.

S

epanjang 32 tahun menjalani profesi sebagai wartawan, ba­ nyak suka dan duka yang telah dilewati Lale yang waktu pertama kali menjadi wartawan sesungguhnya ia tidak terlalu paham tugas menjadi seorang reporter. Namun, dari sanalah ia banyak belajar dan semakin hari ia semakin mencintai profesinya ini karena telah memberikannya banyak pengetahuan yang diperolehnya dari beragam

narasumber dengan latar belakang yang berbeda-beda. “Profesi wartawan itu adalah ladang wawasan dan ilmu pengetahuan. Saat mewancarai narasumber, kita bisa dapat kuliah gratis tentang bidang yang dikuasai narasumber tersebut,” katanya. Wartawan memiliki keleluasaan untuk mendapat­ kan penjelasan dari banyak narasumber dengan bidang yang tidak terbatas. “Tentu saja harus pula menjaga kode etik jurnalistik dalam menjalani profesi ini,” ungkapnya.

Lale memulai kariernya sebagai wartawan dimulai dari nol karena ia tidak langsung ditugaskan di pos-pos sumber yang banyak menawarkan berita utama seperti di kantorkantor Pemerintah Provinsi NTB, instansi vertikal atau dinas-dinas terkait, melainkan ia ditugaskan turun ke kantorkantor desa dan kelurahan juga kantor kecamatan untuk melakukan peliputan. Pulangnya ia harus menulis berita yang akan disiarkan. “Berita itu tidak otomatis disiarkan. Jika bagus baru disiarkan,

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

namun jika tidak bagus, ya… tidak disiarkan,” ungkapnya. Karenanya, lebih banyak berita yang dihasilkannya itu tidak disiarkan ketimbang yang disiarkan. Ini yang membuat ia sempat merasa kecewa. Sejak itulah Lale merasa tertantang untuk menghasilkan berita yang bermutu agar liputannya itu bisa disiarkan. Meski letih mengejar narasumber dari satu tempat ke tempat lainnya. Itulah sebabnya, pada suatu ketika ia merasa “tidak mampu” meneruskan pro-

fesinya ini. “Ujian lapangan menjadi seorang wartawan dulu berat sekali rasanya,” ujarnya. Belum lagi kala itu ia masih mengetik menggunakan mesin ketik manual yang berkali-kali salah ketik, berkali-kali pula harus mengganti kertas yang disobek menjadi dua bagian. Lale yang masih honorer itu hampir putus asa dan akhirnya memutuskan keluar dari RRI. Ia merasa lebih baik keluar dari pada “menanggung beban” kerja yang sulit diwujudkannya itu. Seminggu ia “menganggur”. Rupanya selama itu, kerinduannya pada pekerjaan yang baru saja digelutinya membayanginya. Ia gelisah. Ini menjadi titik balik bagi Lale. Ia rindu mendengar suaranya di radio ketika menyampaikan petikan berita dari rekaman wawancaranya yang disiarkan. Ia pun akhirnya memikirkan ulang keputusannya untuk keluar. Lale kembali menjadi reporter yang kemudian diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 1986 dengan gaji Rp 15.000. Sejak itulah Lale menekuni karier sebagai reporter RRI Mataram yang akhirnya menjadi profesi yang sangat dicintainya. Kegigihannya belajar, membawanya mampu bertahan menjalani profesi ini hingga 32 tahun kini. -Naniek I. Taufan

19

Pameran Lukisan sekaligus Pajangan Hotel Edwin Koamesah, seorang kolektor lukisan yang bertempat tinggal di Surabaya membuka pameran lukisan yang digelar di The Alana Hotel Surabaya. Dalam pameran yang digelar selama 3 bulan tersebut Edwin memamerkan 20 lukisan koleksinya dan akan diadakan lelang tertutup untuk lukisan-lukisan tersebut.

Dwi Samudji denga tema binatang-binatangnya untuk pameran kali ini, Amdo Brada dengan seni etniknya, Trimmy Putra dengan seni realis yang dimilikinya dan ada beberapa lukisan lain dari pelukis lainnya. Edwin menjelaskan dengan memiliki sebuah karya seni di rumah, entah itu seni lukis, pahat maupun sebagainya, seseorang bisa menjadikan karya-karya itu sebagai obat stres dan juga bisa dijadikan investasi jika nanti ingin dijual kembali. -Romadhona Yulian

Tamu Suka Hotel dekat Pusat Perbelanjaan

-Wirati Astiti

Rindu Suara di Radio

Lale Kamarukmin Mardiati

harus mengajari­n ya. Namun, lama-kelamaan saya sudah tak sanggup lagi menjadi guru. Saya letih,” kata Ni Luh. Ia merasa, dalam kehidupan berumahtangga, kita hidup bertahun-tahun, tapi tidak mengenal satu sama lain. Orang yang kita percaya, ternyata berani melakukan kekerasan. Akhirnya, ia tahu, semua berawal dari masa kecil pasangannya. Ibunya sering menghukumnya dan menstrap-nya kalau pasangannya itu melakukan kesalahan. Namun, Ni Luh, tidak menyalahkan orangtua pasangannya. Tapi itulah yang terjadi di Indonesia. Para orangtua biasa memberi hukuman fisik kepada anak-anak mereka. Para orangtua banyak melakukan hal yang tak sepantasnya kepada anak mereka. Dengan bergabung di “Suara Hati”, Ni Luh ingin menyampaikan kepada para perempuan, ini bukan salah kita. “Mari kita memperjuangkan hak dan berani suarakan stop kekerasan ter­hadap perempuan. Kalau semakin lama menuggu, sampai kapan. Saya merasa memiliki saudara senasib untuk berjuang bersama-sama memerangi keke­ rasan,” kata Ni Luh. Sebelum bergabung di “Suara Hati”, melalui tulisannya ia sudah mengampanyekan menolak kekerasan dari orang terdekat melalui fan page-nya. Ia berkampanye lewat media internet. Ketika tahun 2015, terbentuk “Suara Hati”, ia pun ikut bergabung.

Mozaik

P

ecinta karya seni lukisan ini juga menjelaskan betapa berbedanya konsep pameran yang dilaksanakan kali ini. Tidak seperti pameran seperti biasanya yang ada di dalam satu ruangan atau art galeri, namun pameran ini digelar di seluruh penjuru The Alana Hotel Surabaya dan dijadikan sebagai pajangan dan

mempercantik seluruh tampilan dalam di hotel tersebut. “Pihak hotel menyebar seluruh lukisan dari setiap penjuru hotel dan dilaksanakan selama 3 bulan ke depan,” ujar Edwin saat pembukaan pameran. Pameran lukisan ini memiliki beberapa lukisan tematik yang sesuai dengan karakter lukisan yang dilukis oleh pelukisnya.

Munculnya beberapa hotel baru di Surabaya, praktis akan menjadi sebuah persaingan dalam mengaet tamu. Hotel berlombalomba memainkan segmen untuk memikat wisatawan baik sekadar singgah maupun menginap. Tak pelak sengitnya persaingan tersebut sontak dengan aturan pembatasan berdirinya hotel baru di kota pahlawan ini. Namun, ditengah sengit persaingan bisnis ini. Cleo tetap optimis merambah menjajaki bisnis perhotelan ini. Tanly Hospitalyty mengatakan saat ini tengah merambah dan menjajaki bisnis perhotelan denagn memakai nama Brand Hotel Cleo. Perusaan kelas atas ini telah menanamkan investasinya miliar untuk membangun sebuah hotel bintang dua dan juga bintang empat lima di kawasan Surabaya, Bali, dan Malang. Direktur Utama yang juga sekaligus pemilik, PT Cleo dan Tanly Hospitalyty, Hermanto Tanoko mengatakan, langkah dari Manajemen Tanly Hospitalyty untuk membangun hotel

ini, sebagai upaya membangun perekonomian di kota Surabaya. Karena kota ini adalaha kota terbesar setelah ibukota Jakarta, dan juga kota sektor bisnis baik domestic dan juga mancanegara. “Kami tertarik untuk mengembangkan hotel di Surabaya, Karena kami melihat pesatnya pembangunan kota Surabaya, dan juga banyaknya para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mau berinvestasinya ataupun berbisnis di Surabaya. Dari sinilah kami mengembangkan bisnis di sektor perhotelan,” kata Hermanto Tanoko usai launching Hotel Cleo Walikota Mustajab. Manager Hotel Sudarsono menjelaskan, saat soft opening tingkat okupansi mereka mencapai 50 persen. Saat grand opening diharapkan mencapai 80 persen. Karena biasanya pengunjung lebih suka memilih hotel yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan. “Jadi pengunjung hotel tidak akan repot-repot harus naik kendaraan atau taksi kalau ingin berbelanja. Mereka bisa berbelanja kapan saja hanya dengan jalan kaki,” jelasnya. -Bayu

Hermanto Tanoko (kiri) usai launching Hotel Cleo Wali Kota Mustajab


20

Nine

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Ir. Hj. Budi Septiani

Jadikan NTB Daerah Mandiri Daging Sejak menjadi Pegawai Negeri Sipil pertama kali di tahun 1991, Ir. Hj. Budi Septiani telah memulai karirnya mengawal bidang peternakan di Nusa Tenggara Barat, hingga akhirnya kini ia menjadi salah seorang birokrat perempuan yang dipercaya oleh Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi memimpin Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

T

ugas sebagai kepala dinas yang merupakan SKPD teknis ini tidaklah mudah karena salah satunya ia harus memastikan produksi dan ketersediaan kebutuhan sapi potong maupun sapi bibit di daerah sesuai dengan target-target yang telah ditetapkan. Bukan itu saja, hal lain

yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana ia dan seluruhnya stafnya harus memastikan bahwa daging yang dikonsumsi masyarakat adalah daging yang aman dan bebas dari berbagai penyakit. Setidaknya tiga jenis penyakit yang berbahaya bagi sapi dan juga manusia yakni, Antraks, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Penyakit Ngorok (SE). Ketiga jenis penyakit ini jika tidak tepat dan segera mendapatkan penanganan dapat berakibat kematian

pada ternak sapi. “Saya harus melakukan kontrol dan mengawasi kondisi kesehatan ternak agar aman dikonsumsi masyarakat,” ujar Budi Septiani. Baginya kesehatan ternak harus menjadi prioritas perhatiannya karena ini berkaitan langsung dengan masalah kesehatan masyarakat pengkonsumsi daging ternak tersebut. “Tugas kami (Dinas Peternakan), tidak hanya sampai pada produksi ternak, melainkan juga menjaga keamanan ternak dan konsumen karena daging merupakan sumber protein bagi masyarakat,” katanya. Oleh sebab itulah, menurutnya regulasi-regulasi untuk

mengendalikan penyakit ternak di NTB terus diperkuat. Budi Septiani bekerja untuk memastikan hal itu. Hasilnya, ternak NTB bebas dari penyakit. Dan sejak tahun 2011, menurutnya NTB telah menjadi daerah mandiri daging. Karena hal inilah NTB mampu menjadi daerah

penyuplai bibit sapi 35% untuk kebutuhan nasional. Provinsiprovinsi lain di Indonesia banyak yang meminta sapi dari NTB yang memiliki tingkat produktivitas sapi lebih baik karena bebas dari penyakit. “Sapi NTB sehat dan bebas dari penyakit,” katanya. Berdasarkan data yang disampaikan Budi, tahun 2014 populasi sapi NTB mencapai 1.013.000. Dari jumlah tersebut untuk kebutuhan sapi bibit sebanyak lebih kurang 263.000. Hanya 10% dari jumlah ini yang boleh keluar NTB sedang 90% lainnya untuk kebutuhan dalam daerah NTB. Sedangkan untuk sapi potong dengan potensi 128.000, yang 60%-nya (sekitar 76.000) disiapkan untuk kebutuhan daerah sedangkan keluar daerah 40% (24.000).

Jaga Kualitas Ternak hidup. “Sejak tahun 2012 NTB banyak mengirim daging beku keluar daerah. Ini dilakukan agar tumbuh usaha masyarakat sehingga bisa menyerap tenaga kerja,” ungkapnya. Kualitas sapi juga menjadi perhatian yang diprioritaskan mengingat sistem pemeliharaan sapi di Pulau Lombok dan Pulau Sum-

bawa berbeda. di Pulau Lombok ternak sapi dipelihara dengan cara kandang kolektif sedangkan di Pulau Sumbawa ternak dilepas di padang pengembalaan. Pemeliharaan khususnya ternak sapi di Pulau Sumbawa yang dilakukan dengan cara dilepas di padang pengembalaan mempengaruhi kualitas sapi. Padahal 70% populasi sapi ada di Pulau Sumbawa. “Ternak yang dilepas di padang pengembalaan kerap terjadi perkawinan sedarah sehingga menyebabkan penurunan kualitas performa ternaknya menjadi lebih kecil,” katanya. Untuk itulah, intervensi dilakukan demi menjaga kualitas ternak yakni dengan pertukaran pejantan pemacek. Dimana pejantan pemacek ini tidak akan berada di wilayah pengembalaan yang sama selama dua tahun. Selain itu juga intervensi dilakukan dengan inseminasi buatan. Tidak hanya itu, tugas Budi dalam memimpin Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB adalah juga mengenai semua komoditi peternakan dan kesehatan hewan, termasuk ayam. Untuk membebaskan NTB dari flu burung, makan NTB hanya memasukan bibit ayam (DOC) dan itik (DOD) yang berusia satu hingga tujuh hari. “Selain itu juga tidak

Membeli Coklat = Menjaga Petani

Untuk membuka usaha rumahan yang menjanjikan dari manisnya coklat dalam skala kecil butuh riset dan pengalaman. Upaya ini telah dibuktikan oleh sekelompok petani biji kakao di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Jembrana. Mereka menjalankan produksi coklat kemasan yang sudah didukung dengan teknologi modern. Melalui kelompok Unit Pengolahan Hasil (UPH) Sari Bumi, coklat ekslusif berproses mulai dari biji sampai pengemasan.

–Naniek I. Taufan

Sejak tahun 2014 NTB juga sudah terus mengurangi keluarnya sapi bibit. “Dari 2013 hanya 22 ribuan, menjadi 17 ribuan bibit di tahun 2014 dan terus menurun di tahun 2015 menjadi 10 ribuan bibit saja,” ujarnya. Di samping mengurangi pengiriman bibit sapi keluar daerah, juga secara bertahap mengurangi sapi potong

Inspirasi

menerima ayam afkiran (ayam yang sudah tidak produktif),” katanya. Agar memudahkan pengawasan dan mengantisipasi penyakit unggas, Budi mendorong terbentuknya percontohan kampung unggas di Teruwai, Pujut Lombok Tengah juga pengembangan itik dari hulu ke hilir, dari budidaya itik hingga pembuatan telur asin di Terara Lombok Tengah. Untuk memastikan semua hal terkait bidang peternakan di NTB, Budi terbilang rajin turun ke lapangan. Ia ingin melihat sendiri kondisi dan kebutuhan peternakan bahkan langsung ke peternak-peternak di desa-desa. “Kalau saya tidak ke lapangan, saya tidak akan tahu kondisi yang sebenarnya,” ujarnya. Mengetahui kondisi lapangan secara riil merupakan kebutuhannya. Karena dari sanalah ia akan bekerja untuk memastikan seluruh mata rantai tugasnya berjalan dengan

baik sehingga jika ada yang kurang atau harus diperbaiki atau malah ada situasi yang tidak produktif, ia bisa dengan mudah membuat catatan-catatan untuk mendorong regulasi-regulasi terkait bidang peternakan dan kesehatan hewan di daerah ini. Dengan langsung turun ke lapangan, ia bisa mengetahui secara langsung kebutuhan peternak sehingga jika ada yang bisa difasilitasi untuk peningkatan produksi maupun lainnya bisa segera dilakukan. Jika ada yang difasilitasi kemudian membawa keberhasilan dan meningkatkan kesejahteraan peternak, di sanalah letak kebahagiaannya. “Saya senang dan bahagia, jika melihat peternak dapat memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas-fasilitas yang diberikan sehingga meningkatkan penghasilan mereka,” ujar istri dari L. Sudi Arahman ini. -Naniek I. Taufan

T

idak sulit menemukan proses pembuatan coklat yang dikerjakan langsung oleh petani. Rumah yang baru berdiri awal tahun ini terletak di Banjar Dalem, Desa Gumbrih. Rumah produksi ini berdiri diatas lahan seluas dua are, dan baru beroperasi sejak Januari 2016 setelah izin edar keluar. Unit usaha ini didukung tiga tenaga terampil berlatar belakang pengalaman di bidang pertanian ini mampu menghasilkan dua produk coklat handalan. Dark Chocolate dan Milk Chocolate merupakan dua produk kemasan coklat mulai meramaikan pasar impor. Kedua produk ini oleh pencetus nama dan desain kemasan, Putu Mawa (38) diberi merek Cho-Jaensan akronim dari Bahasa Bali Coklat Jaen San. Menurut dia, coklat olahannya ini berasal dari bahan baku biji kakao pilihan yang sudah bersertifikasi UTZ. Standar UTZ merupakan perangkat untuk mengatur standar produksi dan pengolahan kopi dan kakao yang berkantor pusat di Belanda. Biji kakao ini pula sudah melalui proses pemisahan yang memang layak untuk diolah sebagai coklat kemasan. Tahap pengolahan sudah didukung dengan mesin modern yang difasilitasi oleh pemerintah. Ada beberapa tahapan sebelum coklat diproses sampai pengemasan. Sebelumnya biji kakao difermentasi yang bertujuan mengurangi tingkat keasaman. “ Biji coklat yang bagus setelah dipetik harus difermentasi se-

lama 5 hari, selanjutnya baru dijemur agar manisnya meresap kedalam biji, “ terang Mawa didampingi istri Ni Komang Sri Purnamayanti disela proses pengemasan. Mawa menjelaskan secara singkat beberapa tahapan dilakukan dengan menggunakan mesin. Pertama biji kopi melewati proses sangrai di dalam mesin roaster. Kemudian melewati juga proses pemisahan kulit terluar dari biji kakao yang dikerjakan oleh mesin winnowing. Beberapa mesin juga bertugas menghaluskan coklat yang sudah bercampur gula dan bubuk susu dalam suhu yang sudah ditentukan. “ Paling penting dalam proses ini adalah tempering, suhu coklat diturunkan menjadi 28 sampai 25 derajat sebelum proses cetak, “ jelas Mawa. Lanjut Mawa, dalam sehari dia mampu memproduksi 300

biji coklat dengan masing- masing memiliki berat 35 gram dari jumlah bahan 20 hingga 30 kilogram. Dalam beberapa mesin terutama di mesin tempering hanya mampu menampung adonan coklat yang siap cetak berkapasitas 10 kilogram. Proses akhir, setelah coklat

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

masuk dalam cetakan selanjutnya disimpan dalam suhu pendingin selama 30 menit. Selanjutnya barulah pada tahap pengemasan yang masih terbilang sederhana. Pihaknya sampai saat ini masih memiliki beberapa stok untuk selanjutnya dipasarkan ke sejumlah pasar modern atau melalui pesanan. Khusus Valentine, pihaknya sudah menyiapkan coklat edisi khusus Valentine yang memiliki kemasan tak kalah dengan coklat impor. Mawa berharap, ke depan produksinya ini bisa tembus di pasaran internasional terutama bandara maupun di pusat oleholeh. Selama ini pemasaran hanya dilakukan lewat online dan dibeberapa supermarket. Karena baru berdiri, dia mengakui jika yang dihadapi tantangan sekarang tentang pemasaran yang masih lemah. “Karena produk

ini eksklusif, dari biji kakao dan dari petani langsung, berharap ke depan target kami bisa menembus pasar yang ekslusif terutama bandara dan pasar oleh-oleh dan kami menjamin tetap menjaga proses produksi dengan baik,“ harap Mawa.

5

TUMBUH BERSAMA KOPERASI Mawa bersama sang istri bukan semata-mata tanpa pengalaman berkecimpung dalam proses pengolahan biji kakao yang dirintisnya bersama kelompok. Melalui kelompok fermentasi dan pemisah (sortir) biji kakao yang sebelumnya dibina oleh Koperasi Kerta Semaya Samaniya yang beralamat di Melaya, Jembrana membuat dirinya banyak pengalaman melalui pelatihan yang diberikan. Mawa, yang juga salah satu pengurus di koperasi tersebut mengakui jika keberadaan koperasi berperan dalam meningkatkan daya beli hasil pertanian dan kreativitas petani. Sehingga kecenderungan petani merugi bisa ditanggulangi. “Di koperasi kami tetap mempertimbangkan mutu dan kwalitas, sehingga harga jual dari petani akan bisa lebih mahal dari buyer lokal atau pengepul, “ terang Mawa yang sudah beberapa kali ke luar daerah mengikuti pelatihan mengolah coklat. Pertimbangan kualitas produk biji kakao juga didukung dengan diperolehnya sertifikasi UTZ. Kini Koperasi Kerta Samaniya membina 22 subak yang ada di Kabupaten Jembrana. Beberapa kali sudah hasil pertanian berupa biji kakao dikirim ke luar negeri. Semua berkat sertifikasi UTZ yeng memang dirasa sulit untuk mendapatkannya. “ Proses mendapatkan sertifikasi melalui beberapa proses dan penelusuran. Untuk itu kami tetap menjaga kualitas premium biji kakao, “ tandasnya. Dalam kemasan coklat yang berukuran 35 gr, di baliknya ada pesan “Membeli Coklat Ini = Menjaga Keberlanjutan Petani di Jembrana-Bali”. -Eka Juni Artawan


4

Inspirasi

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Puti Guntur

Napak Tilas Jejak Eyang Sukarno Di tengah kesibukannya sebagai anggota dewan, Puti Guntur Soekarno, S.IP tetap menaruh perhatian besar terhadap “syiar” ajaran mendiang eyangnya, Bung Karno. Oleh sebuah tim produksi, Puti didaulat membawakan sebuah program film semi-dokumenter tentang situssitus peninggalan Bung Karno.

D

ijumpai di ruang kerjanya, Gd Nusantara 1 lantai 5, komplek DPR-RI Senayan Jakarta, baru-baru ini, Puti Guntur tampil anggun. Mengenakan stelan blazer hitam serta baluran make-up sederhana, putri Guntur Soekarnoputra itu tampak fresh. Padahal, siang itu, ia baru saja selesai mengikuti Sidang Paripurna DPR RI. Seperti biasa, ia akan antusias jika diajak berbicara tentang mendiang eyang Sukarno. Di matanya, Sukarno adalah sosok yang inspiratif. “Dari kecil saya sudah dicekoki buku-buku eyang oleh papa (Guntur Soekarnoputra-red). Jadi yaaa... mau tidak mau ikut gandrung dengan pemikiran-pemikiran eyang,” begitu ujar pemilik nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri itu. Politisi PDI-P ini, terbilang smart. Di luar lingkungan partai, banyak kaum nasionalis menaruh harap kepadanya. Pembawannya yang santun, tutur-kata yang bernas, serta pemikiran dan kiprahnya yang kongkrit, membuat Puti mampu bertahta di relung hati kaum nasionalis kebanyakan. Belum lama ini, Puti Guntur menyampaikan pidato kebudayaan bertajuk “Pancasila Bintang Penuntun” dalam peresmian Pusat Riset Sukarno di Universitas Kokushikan, di Setagaya, Tokyo. Ia berangkat bersama kedua orangtua dan suaminya.Sarjana FISIP UI ini, memang dikenal memiliki kecerdasan dan wawasan yang baik tentang kebangsaan, tentang Sukarnoisme. “Undangan dari

Jepang, terus terang membuat saya senang dan bangga. Senang karena mendapat kesempatan langka, bangga karena dunia mengakui pemikiran Sukarno, bahkan melakukan kajian akademis,” papar wanita kelahiran Jakarta 26 Juni 1971 itu. Hingga kini, sebagian waktu di luar kedinasan sebagai wakil rakyat di Komisi X DPR RI, Puti melakukan aktivitas-aktivitas kebangsaan melalui berbagai forum diskusi dan kajian. Saat ini, Puti sedang memimpin sebuah tim penulisan pelurusan sejarah. Ia didukung oleh beberapa penulis yang juga sejarawan. Di luar itu, wanita berbintang cancer ini juga aktif di kegiatan lain seperti yang baru-baru ini dia setujui adalah pembuatan semacam film dokumenter tentang situs-situs Bung Karno. “Sebuah tim produksi film semi-dukumenter, mendatangi saya, dan meminta kesediaan saya sebagai narator dalam film itu,” katanya. Tim produksi, akan membawa Puti Guntur ke situs-situs seperti ke Surabaya, Bandung, Ende, Bengkulu, dan lain-lain. Di Surabaya misalnya, ia akan diambil gambar bersama pengambilan gambar di sekitar Gang Peneleh, tempat kelahiran Bung Karno. Juga akan mengunjungi bekas sekolah HBS tempat Bung Karno belajar. Tak ketinggalan, di lokasi bekas kediaman HOS Cokroaminoto. Di Bandung, misalnya, ia akan menjadi narator dan menjelaskan masa-masa eyangnya aktif di studieclub, semasa kuliah di ITB. Juga di

Puti Guntur

Mandalika

Untuk menyinergikan kinerja empat kelompok kerja dalam unsur Tim Penggerak PKK Provinsi NTB dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah NTB/ lembaga terkait, rapat koordinasi dilakukan beberapa waktu lalu untuk membahas tentang kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan oleh SKPD sesuai dengan program kerja PKK dan akan dilaksanakan pada 2016 ini.

B

harus membuat semacam srcipt atau skenario dan narasinya. Setelah itu baru disusun jadwal syuting,” ujarnya. BUNG KARNO MILIK SEMUA Meski begitu Puti berharap, program itu bisa terlaksana. “Selain mengenalkan Tanah Air yang begitu indah, sekaligus menanamkan nilainilai kebangsaan melalui napak tilas eyang Sukarno di berbagai daerah. Saya sampai hari ini terkadang masih terkagum-kagum, bagaimana eyang di era 30-an, 40-an, bisa dikenal masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Sementara kita tahu, sarana transportasi masih sangat sulit,” tutur Puti. Jika Bung Karno dikenal sebagai tokoh pemersatu bangsa, menurut Puti, tak ada satu orang pun yang bisa menafikan. “Karena itu, menjari ironis ketika hari ini kita sering tersandung masalah komunikasi antardaerah. Tersandung masalahmasalah disintegrasi bangsa. Karena itu, upaya napak tilas jejak eyang tadi, menurut saya sangat bagus dalam rangka memberi kontribusi bagi upaya melestarikan semangat kebangsaan, semangat persatuan dan kesatuan bangsa,” tuturnya. Hal lain yang menjadi concern Puti adalah soal apresiasi bangsa kepada Bung Karno sebagai proklamator, pejuang kemerdekaan, serta pemersatu bangsa. Menurutnya, dalam konteks politik praktis, barangkali tidak bisa dipungkiri,

bahwa PDI-P selama ini diidentikkan dengan tokoh Bung Karno. Salah satu faktor antara lain karena bercokolnya anak dan cucu-cucu Bung Karno di partai berlambang banteng moncong putih itu. Akan tetapi, menurutnya, masyarakat juga pastinya paham, bahwa Rachmawati dan Sukmawati juga mendirikan partai lain. “Coba tanya kepada tante Rachma dan tante Sukma, tentu mereka tidak sependapat kalau dikatakan Bung Karno mutlak milik PDI Perjuangan. Iya kan?” kata Puti pula. Dari contoh kasus yang kecil itu, tentu masyarakat bisa menyimpulkan bahwa, Bung Karno pada hakikatnya milik semua bangsa. “Mestinya, masyarakat sudah cukup paham, untuk bisa memilah serta menempatkan posisi Bung Karno sebagai atribut partai politik, dan tokoh bangsa. Sebagai tokoh bangsa, Bung Karno milik semua,” tandasnya. Dengan pemahaman itu, seyogianya masyarakat lebih mudah bersikap, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat diharap lebih arif dalam memandang, konteks ajaran Bung Karno yang masih relevan dengan kekinian. “Banyak lho, ajaran Bung Karno yang masih relevan hingga sekarang. Seperti program nawa cita, revolusi mental, itu kan mengadopsi gagasan Bung Karno. Jadi, saya pribadi berharap, segenap elemen bangsa tidak apriori terhadap ajaran Bung Karno,” pungkasnya. –Diana Runtu

21

Rakor Empat Kelompok Kerja

eberapa kendala dalam pelaksanaan program PKK NTB yang sempat terjadi di tahun lalu, diharapkan tidak akan terjadi tahun ini. Itulah salah satu tujuan dari rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Ketua

lokasi-lokasi lain, seperti di Ciateul, lokasi tempat tinggal Bung Karno bersama Inggit Garnasih. Dan tak ketinggalan, tentunya, lokasi penjara Banceuy dan Sukamiskin. Di Ende demikian pula. Puti akan diambil gambar dengan latar belakang Danau Kelimutu yang eksotik. Juga di lokasi aula gereja tempat Bung Karno mementaskan tonil Kelimutu yang legendaris itu. Di Ende, juga terdapat makam mendiang Ibu Amsi, ibunda Inggit yang wafat di Ende saat mengikuti Bung Karno di pembuangan. Lokasi lain yang tak kalah menarik adalah Teluk Numba dan Sungai Nangaba. Di Teluk Numba, Bung Karno bahkan semasa sudah menjadi Presiden, menugaskan pelukis Basuki Abdullah untuk datang ke sana dan menuang panorama Teluk Numba ke dalam kanvas. Posisi terakhir, lukisan itu terpasang di Istana Bogor. Entah sekarang di mana. Di Bengkulu, beberapa spot yang tidak bisa tidak harus diambil gambar sebagai situs Bung Karno adalah rumah pembuangan Kecamatan Anggut Atas. Selain itu, tentu saja sebuah masjid hasil tangan Bung Karno sebagai arsitek. Tak ketinggalan, pantai panjang, tempat Bung Karno melakukan “pe-de-ka-te” kepada Fatmawati yang di kemudian hari menjadi eyang putri Puti. Bukankah itu akan memakan waktu yang tidak sedikit? “Oh, tentu.... Pastinya akan memakan waktu lama. Karena, saya kan juga tidak mungkin meninggalkan tugas sebagai wakil rakyat. Jadi, saya minta tim produksi harus merancang jadwal sedemikian rupa sehingga bisa memaksimalkan waktu saya yang terbatas. Waktu reses pun tidak mungkin saya habiskan untuk syuting sebab saya pun punya kewajiban kepada konstituen saya di Kuningan, Jawa Barat,” ujar wanita yang pantai memainkan piano itu. Ditanya kapan program itu dilaksanakan, Puti mengaku masih belum tahu, karena jadwal produksi bukan dia yang membuat. “Setahu saya, saat ini, tim riset masih berada di Kepulauan Aru. Mereka masih melakukan riset. Jadi, saya kira belum dalam waktu dekat. Sebab, pasca riset, mereka kan

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

1 TP PKK NTB, Hj. Syamsia M. Amin. “TP PKK adalah pelaksana lapangan yang membantu SKPD dalam mendukung program pemerintah khususnya dalam bidang kesejahteraan keluarga. Oleh karena itu, TP PKK mengharapkan dukungan dari SKPD dalam

pelaksanaan program kerja TP PKK,” ungkap Hj. Syamsiah. Pada rakor ini, ada enam SKPD (Dinas Kesehatan, BP3AKB, Biro Administrasi Kesejahteraan

Hj. Syamsiah bersama Pengurus PKK Provinsi

Rakyat, BKKBN, BNPPD, dan Bappeda) yang memaparkan program kerja berkaitan dengan program PKK NTB. Program tersebut antara lain: Roadshow Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK, Sosialisasi Pembinaan Ketahanan Keluarga (BKB, BKR, BKL, PEK/ UPPKS), Hari Keluarga, Penggerakan Melalui Lomba Tribina (BKB, BKR, BKL, PEK/UPPKS), Fasilitasi Penguatan Atau Pembinaan BKB Holistik Integratif, dan Lomba KB Lestari. “PKK adalah pelaksana lapangan yang membantu SKPD dalam mendukung program pemerintah. Oleh karena itu, TP PKK mengharapkan dukungan dari SKPD dalam pelaksanaan program kerja TP PKK,” ujar Syamsiah. Untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, termasuk di dalamnya masalah perlindungan perempuan dan anak, selain program rutin

PKK NTB yang dilaksanakan juga ada beberapa program baru. Peningkatan komitmen demi peningkatan kesejahteraan keluarga di NTB, Syamsiah mengingat bahwa kerja ini merupakan kerja sukarela, maka dibutuhkan keikhlasan untuk menjalaninya. “Ibu-ibu anggota TP PKK adalah tenaga sukarela yang membantu program pemerintah sampai ke pelosok daerah di NTB. Oleh karena itu, organisasi yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga, perempuan dan bahkan anak di NTB ini, tidak hanya TP PKK melainkan juga BKOW dan Dharma Wanita membutuhkan peningkatan komitmen kerjasama dengan SKPD dalam melaksanakan program kerja tahun 2016 ini dan tahun-tahun mendatang”, katanya. Dibutuhkan peran aktif anggota PKK, BKOW dan Dharmawanita NTB untuk menwujudkan hal tersebut. -Naniek I. Taufan

Lombok Destinasi Halal Terbaik di Dunia Dua even nasional akan segera dihelat Provinsi Nusa Tenggara Barat, yakni Hari Pers Nasional yang akan berlangsung awal Februari 2016 ini dan Musyabaqah Tilawatil Quran (MTQ) nasional yang akan berlangsung pertengahan tahun mendatang. Dua even ini juga akan menjadi ajang promosi bagi Nusa Tenggara Barat. Untuk mengejar efektivitas promosi tersebut, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Muhammad Amin, menggelar dialog dengan PHRI NTB, Balai POM NTB, Pengelola Industri Kecil, pengolah pembuat berbagai macam industri kreatif, dan pedagang cinderamata binaan pemerintah, beberapa waktu lalu. Sertifikasi halal bagi hotel, restoran dan usaha produksi pengolahan makanan, menjadi salah satu fokus dalam topik dialog tersebut. Hal halal ini sekaligus untuk menegaskan Lombok sebagai destinasi halal terbaik di dunia. “Sertifikasi halal sangat penting. Oleh karena itu, kami pemerintah bekerjasama dengan MUI NTB dan Balai POM NTB akan memaasilitasi untuk ditangani secara

gratis dan cepat namun dengan tetap melalui prosedur yang ada,” ungkap Amin. Selain itu, menurut Amin, event nasional Hari Pers Nasional dan MTQ Nasional yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini merupakan kesempatan emas bagi pengusaha hotel dan pariwisata lainnya untuk lebih memperkenalkan produk-produknya di mata wisatawan lokal maupun internasional. “Mari manfaatkan momen event nasional yang akan dihelat di NTB untuk kemajuan

ekonomi kita,” ajaknya. Dan dalam dialog ini, Kepala Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB, Husni Fahri, mengungkap pula bahwa pihaknya terus menyosialisasikan sertifikasi halal tersebut. “Pada tahun 2016 ini, dialokasikan anggaran untuk 365 restoran hotel dan restoran mandiri serta 55 IKM yang menghasilkan produk olahan makan. Kami mengajak bapak dan ibu semua untuk mendaftarkan perusahaannya di kantor kami sesegera mungkin,” katanya.

Peningkatan sertifikasi halal bagi restoran, hotel dan produk olahan makanan di NTB terus ditingkatkan

Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad

JADIKAN RINJANI GEOPARK DUNIA Promosi pariwisata Nusa Tenggara Barat memang gencar dilakukan. Bahkan usaha untuk menjadikan Gunung Rinjani dengan pesona alamnya yang indah menjadi salah satu Geopark Global Network (GGN), terus dilakukan. Keindahan dan potensi Gunung Rinjani terus diperkenalkan kepada dunia internasional untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB. “Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Nusa Tenggara Barat, tentunya akan berdampak langsung kepada peningkatan perekonomian lokal dan kesejahteraan masyarakat secara luas,” ujar Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin, S.H., M.Si, saat membuka seminar nasional “Keindahan dan

potensi Rinjani sebagai Geopark Dunia” beberapa waktu lalu. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Dadang Rizky Ratman turut menyampaikan arahan Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, tentang pembangunan bidang pariwisata yang merupakan salah satu program prioritas di tahun 2016 ini. Untuk itu, berbagai upaya untuk menjadikan Nusa Tenggara Barat sebagai produk pariwisata, termasuk dengan menjadi salah satu menjadikan Gunung Rinjani sebagai geopark dunia, diharapkan dapat memberi nilai tambah ekonomi dan menjadi lahan penghasilan bagi masyarakat. -Naniek I. Taufan Foto-foto: Humas dan Protokol Setda NTB


22

Sosialita

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Yang “Ikut-ikutan” perlu “Dikembalikan” Keberadaan komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) memang bukan hal yang baru. Sudah sejak lama masyarakat mengetahui adanya komunitas-komunitas ini. Apalagi sebagian komunitas ini pun terang-terangan memberitahukan keberadaannya ke masyarakat. Sebut saja komunitas Gaya Nusantara (GN) yang didirikan oleh Dede Oetomo -seorang dosen juga aktivis HIV/AIDS- pada 1987 di Surabaya.

B

ahkan sebelum adanya GN, sejak awal-awal 1980-an komunitas-komunitas ini sudah ada. Tercatat, komunitas gay terbuka pertama di Indonesia adalah Lambda Indonesia yang didirikan di Solo tahun 1982. Setelah komunitas ini, kemudian bermunculan komunitas-komunitas LGBT lainnya di berbagai daerah, tak terkecuali di Jakarta. Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia, konon, adalah salah satu yang tertua dan terbesar di Asia Tenggara. Masyarakat Indonesia, kata Tika Bisono, Psikolog, boleh dibilang relatif permisif dan terkesan cuek—khususnya di kotakota besar- dengan keberadaan komunitas itu karena faktanya tidak ada kehebohan yang berarti menanggapi keberadaan mereka. “Lalu kenapa sekarang jadi ribut, jadi geger? Padahal selama ini masyarakat cenderung cuek dan diam saja?” kata Tika. Sebagaimana diketahui barubaru ini isu LGBT mengemuka dan membuat heboh para petinggi negeri. Beredar sebuah poster yang terkesan seolah-olah SGRC (Support Group and Research Center on Sexuality Study) Universitas Indonesia adalah

sebuah organisasi yang mewadahi kalangan LGBT. Poster yang menghebohkan dunia maya pada awalnya kemudian merambat ke dunia nyata, menurut Nadya Karima Melati, koordinator SGRC bukan bikinan pihaknya. “ SGRC adalah lembaga studi seksualitas, lembaga kajian, bukan komunitas LGBT,” katanya seraya menambahkan, gara-gara poster manipulatif itu, anggota SGRC kena teror. SGRC yang telah dua tahun berdiri adalah sebuah lembaga kajian yang membahas isu gender dan seksualitas secara luas. Anggotanya adalah mahasiswa UI, dosen dan alumni. Meski membawa ‘embelembel’ UI, namun ini adalah sebuah lembaga independen yang memang berbasis di wilayah kampus. Beberapa kali mereka menggelar event di antaranya seminar tentang pencegahan kekerasan seksual di kampus. Beberapa waktu lalu mereka membangun layanan LGBT Peer Support Network, sebuah layanan konseling bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang LGBT, termasuk menjadi teman cerita bagi individu yang sedang melewati masa sulit. Dalam penjelasan SGRC dalam websitenya sgrcui. wordpress.com, kegiatan konseling

selain bertujuan mencerdaskan publik sekaligus sebagai coping mechanism bagi mereka yang merasa tertekan karena preferensi seksual yang berbeda. Rupanya inilah yang jadi pangkal persoalan kehebohan bahwa konseling LGBT itu dilakukan oleh sebuah lembaga yang beraktivitas di lingkungan kampus. Mulai dari Menristek, Mendikbud, anggota DPR, dan lain-lain, bersuara tentang ‘LGBT’ masuk kampus dan inilah

Tika Bisono

yang tidak disetujui. Akhirnya pihak UI pun melarang SGRC melakukan kegiatan konseling itu. “Iya, intinya sebenarnya karena

konseling itu dilakukan oleh organisasi yang beraktivitas di kampus, itu yang dilarang. Universitas Indonesia kan lembaga pendidikan, dan norma-norma yang berlaku di negeri kita belum bisa menerima hal-hal seperti itu,” ungkap Tika terkait almamaternya. Ia menambahkan, hal ini memang belum bisa diformalkan di Indonesia. Kalau mau diformalkan, pasti jadi seperti itu (heboh). Masyarakat belum bisa menerima itu. Namun, kalau secara individu, tidak formal, tidak ada yang meributkan. “Misalnya saja, kalau kita nonton film, kan tidak ada larangan hanya untuk yang heterogen, yang homogen tidak boleh. Atau, ada restoran anti gay, kan di Indonesia tidak seperti itu,” kata penyanyi yang ngetop di era 1980an ini.—Diana Runtu

Konseling Penting Tapi Jangan di Kampus

Wanita kelahiran 1960 ini menegaskan, sebenarnya masyarakat kita cukup permisif dengan hal seperti itu. Hanya saja jangan diformalkan. Karena kalau masuk di institusi formal, apalagi institusi pendidikan, akan bertemu (berbentur) dengan nilai-nilai, sistem, norma, dll, yang berlaku. Sebenarnya, lanjut Putri Remaja Indonesia 1978 yang juga mantan model, soal keberadaan komunitas gay, lesbian, dsb, itu sudah ada sejak lama. Sejak era 1980-an sudah ada organisasiorganisasi itu, bahkan muncul di daerah-daerah. Tapi,toh, selama ini masyarakat diam saja. Ini karena keberadaan komunitas ini berada di luar kampus, di luar lembaga pendidikan formal. “Sekarang SGRC-UI melakukan konseling di wilayah kampus. SGRC meski bukan organisasi resmi kampus, namun kan anggotanya mahasiswa UI dan mereka melakukan aktivitas keorganisasian di lingkungan kampus. Itu sebabnya jadi masalah,” katanya. Lembaga konseling, kata Tika lagi, memang sangat diperlukan khususnya untuk membantu pendampingan bagi kalangan LGBT ataupun mereka yang berada ‘dipersimpangan’. Karena kita juga tidak bisa menafikan bahwa ada banyak anak muda yang menjadi gay, lesbian, karena terpengaruh lingkungan. “Jadi sebenarnya, mereka tidak dalam kesadaran yang

utuh. Nah yang ikut-ikutan ini yang berbahaya. Ini yang perlu, dalam tanda petik ’dikembalikan’. Banyak kasus mereka yang LGBT ditolak keluarga, pendidikan bahkan komunitasnya. Nah, mereka ini siapa yang harus ‘menampung’? Karenanya konseling sangat diperlukan. Kalau mereka tidak ada tempat untuk curhat, tidak ada pendampingan, lalu bagaimana? Bagaimana kalau mereka makin kacau,” ucapnya. Sebagai psikolog, dia kerap kali mendapat klien LGBT. “Misalnya ada klien aku yang memilih antara mau jadi waria atau gay. Atau, seorang menjalani kehidupan sebagai LGBT namun batinnya mengalami konflik, dll. Dengan kondisi Indonesia yang belum bisa menerima hal-hal seperti ini, maka pendampingan oleh psikolog sangat perlu,” tegas Tika. Terkait dengan adanya rencana gugatan hukum yang akan dilakukan oleh kalangan LGBT terhadap sejumlah tokoh yang dianggap melontarkan perkataan-perkataan yang menyudutkan, Tika menyarankan sebaiknya rencana itu diurungkan. Sebaiknya, kata Tika, kalangan LGBT ‘membalasnya’ dengan perkataan atau kampanye yang menunjukkan bahwa mereka bukan seperti yang dikatakan para tokoh itu. “Kan tidak bisa terjadinya satu kasus yang melibatkan seorang LGBT kemudian dipukul rata bahwa LGBT semuanya sama. Sebut saja kasus Ryan, seorang LGBT yang menjadi pembunuh berantai.

Gambar ilustrasi LGB

Kasus yang menghebohkan ini, tidak bisa lantas digeneralisir bahwa semua LGBT seperti Ryan. Aku beberapa kali jadi narasumber terkait masalah itu di televisi maupun media cetak. Aku jelaskan hal ini. Nah sekarang kalau ada tokoh yang menyebut LGBT merusak moral, kan seharusnya kalangan LGBT membalasnya dengan mempertanyakan pernyataan tokoh tersebut. Misalnya, moral seperti apa yang dimaksud, ukuran merusak moral itu dimana, dll. Jadi aku kira tidak usah melakukan gugatan hukum, melainkan melakukan lakukan counter attact dengan baik,” paparnya. Menurutnya tidak perlu ada ketersinggungan, karena orang dapat berpandangan apa saja. It’s a free value. Jadi bukan hal yang aneh. Ia pun berharap kalangan LGBT tidak usah emosi atau over sensi. Karena betapapun, kata Tika, kalangan LGBT pun harus tahu bahwa mereka hidup dalam komunitas non-LGBT yang jumlahnya sangat besar. Karenanya, mau-tidak mau harus menyesuaikan dengan situasinya. “Kita jangan berharap semua bisa menerima, itu tidak bisa, karena kehidupan tidak bisa seperti itu. Kehidupan heterogen. Jadi jangan menjadi sensitif berlebihan. Ayo hidup bersama. Ada yang tidak terima, ya, biarkan saja. Kalau ada yang bisa terima, ya, alhamdulilah,” ucapnya. —Diana Runtu

Kenali Si Tenar dan BDN Vip Club BPR Bali Dananiaga

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

3

Wajah-wajah sumringah datang ke Sector Bar Golf, Sanur, Selasa, (26/1). Para nasabah BPR Bali Dananiaga (BDN) dan juga calon nasabah ini, diundang khusus untuk menghadiri peluncuran produk Tabungan Arisan yang diberi nama “Si Tenar” dan produk layanan nasabah berupa pemberian member “BDN VIP Club Card” bagi nasabah yang telah bergabung di Bank Bali Dananiaga.

Peluncuran produk SiTenar

Penandatangani MoU dengan perusahaan rekanan

A

cara peluncuran juga dihadiri para pemilik dan pemegang saham BPR Bali Dananiaga yakni, ­I Ketut Deger Setiasa, I Wayan Catra Sanjaya, I Made Asa, I Made ­Jedeg Sariana, I Made Rai Oka ­Rimbawa, S.E., M.M. Dipandu MC, Kepala Cabang BDN Jimbaran Ani Suryaningsih, dan Wawan staf bagian kredit, acara peluncuran produk begitu meriah karena ­banyaknya doorprize yang dibagikan kepada para undangan. Direktur Utama BDN, I Made Arta, S.E., M.M., dalam sambutannya mengatakan, meskipun situasi ekonomi sedang bergejolak BDN bisa tetap eksis di dunia perbankan dengan meng­utamakan prinsip kehati-hatian dan service kepada nasabah disesuaikan dengan tuntutan zaman. “Kami berkomitmen meningkatkan kualitas SDM dan IT untuk memenuhi kebutuh­ an layanan jasa perbankan sehingga memenuhi kepuasan nasabah. Pada saat perlambatan ekonomi baik secara

Penyerahan simbolis BDN VIP Club

global maupun regional kami melakukan penataan internal guna melengkapi infrastruktur yang lebih baik sehingga bisa bertahan dalam persaingan dalam kondisi apapun,” ujarnya. Ia menilai kebutuhan nasabah atas layanan perbankan kian meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya lembaga keuangan perbankan maupun lembaga nonbank baru yang kian menjamur. Maka dari itu, ia menegaskan, akan lebih baik jika perusahaan yang kompeten saling bergabung dan bekerja sama untuk lebih meningkatkan mutu produk yang dipasarkan. BDN telah berdiri sejak tanggal 30 Maret 1993 yang sudah menginjak usia 23 tahun. BDN dulu bernama BPR Kertiawan Dananiaga kemudan seiring dengan perjalanan maka bank ini berubah nama menjadi BPR Bali ­D ananiaga serta telah mempunyai ­legalitas baik dari Menteri Keuangan maupun dari Menhumham, serta lembaga pemerintah yang terkait lainnya. “Visi kami, menjadikan BDN sebagai

BPR yang tumbuh sehat dan ber­kembang secara wajar,” ­kata ­Made Arta. Visi ini dijabarkan melalui misi: meningkatkan kompetensi SDM di bidang keuangan perbankan melalui pendidikan dan pelatihan, memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh dan selaku mitra pilihan utama, meningkatkan nilai investasi yang unggul kepada para pe-

megang saham, meningkatkan kondisi rasa aman dan nyaman kepada para karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk tempat berkarya dan berprestasi, meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial, menjadikan acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik. Made Arta mengatakan, tahun 2015 merupakan tahun yang sangat sulit dari perlambatan ekonomi yang akan berdampak di segala lini. Namun, dari segala upaya telah dilakukan tim BDN, sehingga bisa mewujudkan pertumbuhan sebagai berikut, penghimpunan dana pihak ketiga tumbuh sebesar 20% , kredit yang disalurkan tumbuh sebesar 3%, aset tumbuh sebesar 8%, rasio modal telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan yaitu 12%. “Rasio modal bank kami per Desember 2015 sebesar 14 % artinya sudah di atas ketentuan, dan kalau dilihat dari pertumbuhan tahun 2015 modal BDN telah tumbuh sebesar 21%,” kata Made Arta yang disambut tepuk tangan para undangan yang hadir. Beberapa penghargaan dari i­nfobank

award sebagai predikat ­sangat bagus secara berturut-turut telah diraih BDN. Penghargaan dari Bali costumer statifaction award kategori layanan publik BPR, dan katagori the top ten best for service, dan penghargaan the best regional development bank dan the top ten regional development bank. “Harapan ke depan, Bali Dananiaga tetap fokus ke masa depan. Untuk mewujudkan visi sebagai ‘Bank Perkreditan Rakyat yang tumbuh sehat berkembang secara wajar,” kata Made Arta. Ia menambahkan, Bali Dananiaga akan terus berupaya memanfaatkan keunggulannya sebagai bank transaksional dalam menawarkan relationship banking experience secara menyeluruh pada nasabah Bali Dananiaga. “Saat ini kami sedang mengembangkan struktur organisasi baru yang akan meningkatkan kemampuan Bali Dananiaga dalam pendalaman hubungan dengan nasabah. Dengan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, kami percaya Bali Dananiaga dapat terus meraih kinerja usaha yang lebih baik di tahun-tahun mendatang,” tegasnya. –ast

Menang tak Perlu Bayar Lagi

Menurut Kepala Cabang BDN Jimbaran, Ani Suryaningsih, program Si Tenar ini sangat menguntungkan nasabah ­karena ketika menang mereka sudah tidak perlu bayar lagi. Hal ini mengakomodir kebutuhan nasabah yang sudah terbiasa mengikuti arisan di masyarakat. “Adapun model aris­ an yang kami tawarkan sudah pasti aman karena kami dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Peserta arisan tidak Kepala cabang Ubud I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi (dua dari kiri), Direktur BDN Desak Satya Pusparini (empat dari kiri), Owner Suwarni Colletion (enam dari kiri), Direktur Utama BDN I perlu khawatir kehilMade Arta (lima dari kanan), Kepala cabang Jimbaran Ani Suryaningsih (empat dari kanan), angan dana yang sudah dan seluruh panitia BPR Bali Dananiaga disetorkan dalam bentuk tabungan karena meskipun belum nasabah mendapatkan kesempatan seperti, Samani Resto, Pandan Sari menang setelah periode berakhir untuk meraih doorprize yang sangat Cafe Jimbaran, Butik Suwarni Collecyaitu pada bulan ke-30 peserta akan menggiurkan. “Arisan ini kami lakukan tion, Ratna Dewi Royal Kebaya, White mendapatkan dana arisan dan cash- secara transparan karena disaksikan Canny Resto, RS Siloam, Klinik Penta Rurin sedang memberikan motivasi back-nya,” jelasnya. Selain itu juga, oleh perwakilan peserta dan diumum- Medika, Cangkruk, Romansa Salon kan melalui SMS broadcast sehingga and Spa, House of Dura, Wellbeing memudahkan peserta mendapatkan Spa, Tempat Wisata Taman Nusa, informasi yang diperlukan tentang Lady Marmalade Salon & Spa, Cleokegiatan arisan ini,” imbuhnya. patra Salon, Mie Ayam Jakarta, rumah Sebagai periode pertama Si Tenar, makan Boemboe Mertua, SOUL sudah terdaftar 535 orang yang ikut (Spirit of Universal Life), Lembaga serta. Nasabah yang menang dalam Pendidikan Musik Farabi by Dwiki program ini mendapatkan bingkisan Darmawan, Ayulia Salon, Emdee Skin Clinic, dll. “Dengan memiliki BDN dan emas. Selain peluncuran Si Tenar, Bank VIP Club Card nasabah dimanjakan BDN juga sedang gencar-gencarnya dengan suasana yang nyaman sudah memberikan service kepada nasabah tidak perlu diragukan lagi. Jadi segera melalui program BDN VIP Club datang dan nikmati keistimewaanCard. BDN menggandeng beberapa nya,” ujar Ani Suryaningsih. Acara peluncuran menjadi sangat perusahaan yang memenuhi kategori dalam program BDN VIP Club Card, istimewa karena juga diisi dengan moyang memberikan keistimewaan atau tivasi dari Psikolog Rurin dari Hamarta previllage kepada VIP Customer Bank and partner yang berjudul “The Power BDN. Beberapa perusahaan rekanan of Love”. -ast Para pemenang doorprice berfoto bersama Direktur BDN Desak Satya Pusparini


2

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

GORO-GORO “Menurut Bapak, siapa pembunuh Mirna?” Amat yang sedang memikirkan perkara manPutu Wijaya tan Menteri Budpar dan ESDM Ir. Jero Wacik, S.E. terkejut. “Mirna siapa?” “Wayan Mirna yang meninggal setelah minum kopi Vietnam di cafe sebuah mal di jakarta, karena di dalam kopinya itu ada larutan sianida 15 g tapi kemudian dikoreksi hanya 3 g, tapi itu pun sudah merupakan alat pembunuh ganas. Menurut pengamat yang diwawancarai tv itu menunjukkan pembunuhnya, kalau memang ada, benar-benar berniat menghabisi korbannya. Polisi sudah menemukan beberapa saksi, dua di antaranya teman yang menemani Mirna minum kopi. Salah satunya mengaku teman sekolah Mirna, tapi ayah Mirna mengaku tak kenal. Polisi nampak sudah punya ‘calon tersangka’, tapi untuk menetapkan tersangka diperlukan 2 bukti. Polisi mengaku belum ada bukti siapa yang memasukkan racun itu ke dalam kopi. Seorang pengamat, mengeritik ... .” “Stop!” Bu Amat tertegun. “Katanya Bapak tidak tahu siapa Mirna!” “Tapi kalau dihujani informasi begitu, Bapak malah bingung, Stres. Siapa yang tidak tahu Mirna. Seperti juga siapa orang Bali sekarang yang

MIRNA

tak tahu Pak Jero Wacik atau Angeline? Itu kan menyangkut Bali!” “Ya sudah, saya cuma nanya menurut Bapak pembunuh Mirna itu siapa?” “Ya jelas racun sianida itu! Seperti yang dilaporkan pemeriksaan forensik.” “Itu kalau saya nanya, apa yang membunuh! Tapi saya nanyakan, siapa? Jawabnya bukan barang, tapi orang. Bukan sembarang orang, tapi namanya siapa? Ngerti? Itu gunanya belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar!” Amat tersenyum. “Baik kalau ibu mau dijawab dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jawabnya ini: Kalau yang berwajib ngurus soal pembunuhannya saja belum tahu, bagaimana Bapak tahu!” “Jadi tidak tahu?” “Belum tahu!” “Kira-kira, prediksi Bapak siapa?” “Bagaimana memprediksi, kalau belum dipastikan itu, pembunuhan atau kecelakaan atau keteledoran?” Bu Amat kesal sekali, lalu pergi ke tetangga. Ia tak masak hari itu karena jengkel, “Habis ditanya baikbaik, malah ngeyel!” gerutunya di tetangga. Amat terpaksa makan di warung. Kebetulan sekali di warung terjadi percakapan seru. Mulai dari siapa pembunuh Angeline, apakah teror bom di Sarinah itu betul ada hubungannya dengan ISIS, benarkah Jero Wacik sesungguhnya tak salah dan

siapa sejatinya pembunuh Mirna? Masing-masing orang mengeluarkan pendapat dan argumentasinya. Percakapan menjadi semakin panas, ketika salah seorang bicara keras. “Kalau direnungkan, ini semua menyangkut Bali! Saya yakin sekali ini bukan kebetulan ini rekayasa untuk mendiskreditkan Bali. Karena Bali semakin penting. Apaapa sekarang di Bali. Pertemuan, seminar, musyawarah, semua di Bali, karena Bali dianggap aman dan netral. Jadi persoalan yang paling besar sebenarnya bukan siapa dan apa, tapi kenapa Bali tidak boleh jadi leader?” Komentar berhamburan mengejek pendapat yang dianggap berbau politik itu. “Bebaskan hukum, ekonomi, pendidikan, agama, budaya, bahkan juga politik sendiri dari politik yang berkiblat pada kekuasaan! Kalau tidak semua kasus akan terapung ketanggor jalan buntu!” Perdebatan menjadi keras. Amat ingin sekali bicara, tapi tidak ada yang bertanya kepadanya. “Mungkin Bapak sudah dianggap terlalu tua,” bisik Amat malam hari ke istrinya, “jadi Bapak dipasung tidak boleh ikut lagi memiliki negeri ini. Padahal Bapak tahu, siapa pembunuh Angeline, siapa dalang teror bom Sarinah, apa betul Jero Wacik bersih dan siapa pembunuh Mirna, seperti yang ibu tanyakan tadi pagi. Jadi pembunuh Mirna adalah ... .” “Sudah diam!” bentak Bu Amat marah.”Jangan jadi teroris, kita sudah kenyang teror!”

Ibu Cemas, Anak Was-was

“Lagi dimana? Kok jam segini belum pulang? Sama siapa saja? Sudah makan apa belum? Sudah sampai dimana?” tanya seorang ibu berkali-kali ketika anak remaja pulang sedikit lambat. Ya, sekalipun anak sudah menjawab. Cerita lainnya, “Sudah ngga usah nyapu, sini ibu saja yang nyapu. Kok anak laki-laki nyapu”. Beberapa pernyataan di atas adalah hal yang sangat sering saya dengar di lingkungan sekitar. Sebenarnya sah-sah saja seorang ibu memperlakukan anak secara istimewa. Tetapi apakah para bunda, ibu, mama dan mami menyadari jika hal tersebut adalah bagian dari kecemasan Anda yang tertuang dalam pola asuh? Secara kodrati, seorang ibu memiliki hasrat untuk menyayangi, merawat, mengasuh dan

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Ekspresso

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

membimbing. Menjadi hal yang lumrah jika para ibu mengharapkan hal yang terbaik untuk anakanaknya. Di sisi lain, seorang ibu juga akan memiliki kekhawatiran atau kecemasan untuk mencapai hal terbaik tersebut. Menurut

penelitian, bentuk kecemasan ini bisa terjadi di budaya manapun dan tidak mengkhusus pada anak laki-laki. Semua ibu bisa memiliki kecenderungan ini terutama untuk ibu yang bekerja. Pada umumnya kecemasan ini terjadi saat anak masih bayi sampai dengan puncaknya yaitu masa balita. Bahkan sangat memungkinkan berlanjut sampai dengan usia remaja dan dewasa. Jika kondisi ini terjadi, seorang ibu biasanya akan mendedikasikan tenaga, waktu, dan kasih sayang sepenuhnya untuk menjaga dan merawat anak. Namun, yang sering terjadi adalah bentuk perhatian berlebihan dan para ibu lupa akan apa yang sesungguhnya anak butuhkan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pernahkah Anda melihat suatu kondisi dimana anak sering tidak

Terima Kasih Kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca dan masyarakat yang sudah mengirimkan naskah-naskah OMG. Banyak hal yang diceritakan dalam OMG. Ada hal-hal yang konyol, ada yang serius, dan ada yang datar. Semua bisa diambil hikmahnya. Hidup ini tidak selalu lurus, kadang ada lika-likunya. Nah, bagaimana kita menyikapi semua. Kuncinya adalah mensukuri apa yang diraih dan dirasakan serta menjalani semuanya dengan tulus ikhlas. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas kiriman cerita OMG. Mulai Februari 2016 ini, kami menyajikan sesuatu yang lebih serius tapi santai. Rubrik “Kata Hati”.

Kata Hati Mulai Februari 2016, Tokoh memiliki rubrik khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Naskah diterima paling lambat tiap hari Kamis pukul 15.00. siap melakukan tugas perkembangannya?. Misalnya, anak tidak mau berangkat sekolah hingga anak selalu menangis bahkan membuat alasan sebelumnya. Anak resah berlebihan dan tidak berani mencoba pengalaman positif di lingkungannya atau bahkan anak sering kali sakit saat mendekati momen-momen besar dalam perjalanan prestasinya. Contoh lain seperti suatu kondisi anak selalu menentukan keputusan sesuai dengan keputusan sang ibu? Jika ya, mungkin anak Anda juga mengalami kecemasan seperti apa yang para ibu rasakan. Ibu yang cemas membuat anak was-was dan cemas juga. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pertama, ketika ibu sering kali menunjukkan kecemasan di hadapan anaknya menghadapi sesuatu, anak cenderung akan meniru kebiasaan tersebut. Kedua, kecemasan tersebut ditunjukkan ibu saat anak sedang menyelesaikan tugas-tugasnya. Biasanya ibu akan menjadi “mengganggu” anak dengan kekhawatirannya. Hal ini akan membuat anak sangat berhatihati bahkan takut untuk mencoba menyelesaikan tersebut karena

merasa diawasi dan was-was akan respons ibu jika anak melakukan kesalahan. Selain itu, anak akan kehilangan rasa percaya dirinya dan cenderung meminta pertimbangan secara berlebihan hingga meminta orang lain yang memutuskan suatu pilihan. Jika hal ini berlangsung sampai dengan dewasa, bagaimana dengan kesiapan anak menghadapi kehidupannya kelak? Tidakkah kita semakin cemas? Terlepas dari dua hal tersebut, masih ada kondisi lainnya yang bisa membuat seorang ibu dan anak mengalami kecemasan yang lebih dibandingkan pada umumnya. Seperti kondisi single parent, faktor ekonomi dan lingkungan di luar keluarga. Tetapi, salah satu pepatah mengatakan, percayalah bahwa Anda mampu mengubah kecemasan yang Anda ciptakan. Jadi, terlibatlah dalam kehidupan anak secara maksimal sesuai dengan ke­ butuhannya. Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. (Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Bidang Klinis, Universitas Gadjah Mada)

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Tinggi Kualitas Berita Tinggi Nilai Jual Pers dengan berbagai fungsinya telah menjadi bagian integral kehidupan bangsa Indonesia. Semakin lama peranan pers turut menentukan perjalanan bangsa di berbagai bidang. Tak ada dinamika sosial politik yang luput dari perhatian pers, dan tak ada pula masalah publik yang tidak diungkap melalui media. Semua pihak, masyarakat, pemerintah, penegak hukum, lembaga legislatif, hingga kalangan pebisnis berkepentingan atas pemberitaan pers. Mereka menjadikan ruang publik media ini sebagai saluran komunikasi dan informasi utama.

M

enurut W. Kotaniartha, Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Dwijendra Denpasar, persoalannya adalah sejauh ini masih banyak salah paham tentang segi kehidupan pers di berbagai kalangan, termasuk dilingkungan

pers sendiri. Besarnya fungsi dan peranan pers dalam kehidupan publik belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai dan sama tentang kehidupan pers. Dalam praktiknya sering menimbulkan hal yang kontra produktif. Guna memahami dinamika pers Indonesia ada baiknya sekilas

melihat perkembangan pers di masa lalu dan sekarang, dengan harapn kita lebih bisa memahami posisi dan peran pers.. “Eksistensi pers di Indonesia mengalami dinamika sesuai perkembangan perjalanan sejarah bangsa , yakni pers dimasa lalu sampai dengan keberadaan

Snack Jadi Snake Dewa Ayu Kade Suwitri, merupakan wartawan perempuan pertama di Bali. Perempuan yang kini dipanggil Ny. Riyasse ini, mulai berkiprah di dunia tulis menulis sejak tahun 1949. Namun, ia mengatakan, sejak kecil sudah suka menulis dan berpidato. Malah, saat duduk di bangku kelas 6 SD, ia diminta berpidato mewakili istri para pengawai pemerintahan di Jembrana (Fujing Kai). Perempuan usia 86 tahun ini, menuturkan, awalnya, ia menjadi wartawan, karena mengikuti sekolah jurnalistik di Jakarta. Ia melihat ada selebaran untuk mengikuti sekolah jurnalistik. Ia pun mendaftar. Ternyata ada dua orang lagi yang ikut terdaftar, yakni Ketut Nadha, dan Ketut Wentri. Namun, persyaratan kelulusan, harus dibuktikan dengan artikel yang dimuat di surat kabar. “Saya bingung waktu itu, di koran apa harus menulis,” kata istri (alm) IGP Riyasse ini. Menurut Ny. Riyasse, Ketut Nadha yang waktu itu, mempunyai latar belakang wartawan Bali Shimbun, cepat-cepat menghidupkan kembali lagi koran tersebut dan berganti nama menjadi Suara Indonesia. Tulisan Ny. Riyasse akhirnya diterbitkan di Suara Indonesia dengan judul “Temanku yang Terpenjara.”. Tulisan tersebut menceritakan kisah teman sekolah Ny. Riyasse yang ikut perang gerilya dan akhirnya ditangkap. Setelah mengikuti sekolah jurnalistik dan dinyatakan lulus, Ny. Riyasse menikah. Setahun kemudian, suaminya IGP Riyasse dipindahkan ke Denpasar. Ia pun

Ny. Riyasse

mencari K.Nadha untuk melamar kerja di Suara Indonesia. “Waktu itu masih mingguan bentuknya seperti majalah. Saya diterima bekerja di sana dan ditempatkan di redaksi. Tugas saya mengedit tulisan yang masuk, selain menulis artikel,” ujar perempuan yang mengikuti perkembangan Suara Indonesia sebagai cikal bakal Bali Post ini. Ny. Riyasse selalu menulis artikel sesuai momen, misalnya Hari Ibu dan Hari Kartini. Mengikuti suami yang bertugas di bidang pariwisata, Ny. Riyasse selalu membuat tulisan perjalanan suaminya tentang kota-kota atau negara-negara yang dikunjungi. Dua tahun di redaksi, ia dipindahkan ke marketing. Namun, ia tetap menulis kisah perjalanan suaminya yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali dan dijuluki “Pioneer of the Pacific”. Tahun 1957, Ny. Riyasse dipercaya menjadi sekretaris PWI Bali. Ia juga ikut berpartisipasi dalam kepengurusan organisasi perempuan seperti Ikatan Wanita

Pengusaha Indonesia (Iwapi), dan Ikatan Wanita Pariwisata Indonesia. Menurut Ny. Riyasse, menjadi wartawan zaman dulu dengan sekarang beda. Dulu, tak ada yang mau jadi wartawan. “Saya ingat dulu alat transportasi hanya sepeda. Saya biasa naik sepeda dari rumah ke kantor. Pernah suatu ketika, sepeda saya dipinjam loper dan hilang. Untung saja, akhirnya diganti Pak Nadha karena hilang dipakai bekerja,” ujarnya sembari tertawa. Ia juga sangat menyayangkan wartawan-wartawan sekarang. Mereka kurang teliti untuk istilah asing. ”Banyak wartawan senang sekali menulis istilah asing, mungkin mereka bangga. Padahal tulisannya salah. Contoh saya pernah membaca, para tamu disuguhkan snake. Padahal maksudnya snack. Mereka kurang teliti. Tulis saja para tamu disuguhkan kudapan,” kata Ny. Riyasse. Perempuan yang fasih berbahasa Inggris ini, mengatakan sangat bangga, dulu waktu kerja sebagai wartawan, Pak Nadha selalu memberikan masukan, ingat baca kamus kalau ada istilah asing jangan sampai salah. Kebiasaan itu ternyata masih membekas. Sampai kini, usianya sudah lanjut, Ny. Riyasse selalu mengisi teka-teki silang. Tujuannya, selain untuk merawat ingatan, ia terut tetap ingin belajar. Setiap hari, ia selalu membaca koran, dan melihat banyak sekali tulisan salah ketik, dan beberapa berita belum sempurna karena belum memenuhi 5W. –Wirati Astiti

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

W. Kotaniartha

pers sekarang. Pers memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam masyarakat yang demokratis, sebagai “watchdog” yaitu mata dan telinga, pemberi isyarat, pemberi tandatanda dini, pembentuk opini atau pendapat, dan mengarah agenda masa depan,” ujar Kotaniartha. Ia menambahkan pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Disamping itu, pers dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Sebagai lembaga ekonomi dimaksudkan bahwa perusahaan pers dikelola sesuai prinsip ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya semakin meningkat, tanpa meninggalkan kewajiban sosial . Pers memiliki bahan baku yang diolah sehingga menghasilkan produk bernama “berita” yang memiliki nilai jual tinggi. Semakin berkualitas beritanya maka semakin tinggi nilai jualnya. Pers juga menyediakan kolom untuk iklan sebab pers perlu biaya untuk kelangsungan hidupnya,” paparnya . PERS MERUPAKAN “TEROMPET” Kotaniartha menuturkan di era penjajahan Belanda pers sangat dibatasi dan diancam dengan ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Diberlakukannya pasal-pasal karet dan dengan kontrol yang ketat terhadap pers. Saat itu, pers merupakan “terompet” dari organisasi pergerakan Indonesia. Pers menjadi pendorong dalam perjuangan memperbaiki nasib dan kedudukan bangsa, dan harian yang terbit pada masa itu antara lain harian Sedio Tomo, Harian Utusan Hindia, Fajar Asia, dan Mingguan Pikiran Rakyat. Berbeda dengan pers di masa pendudukan Jepang, hanya sebagai alat pemerintah Jepang dan bersifat pro Jepang. Periode tahun 1945-1949 lazim disebut era revolusi fisik. Peranan pers saat proklamasi kemerdekaan dengan sendirinya sejalan perjuangan rakyat Indonesia. Bahkan tidak sedikit wartawan yang turut dalam usaha proklamasi. Selain itu masih ada cerita pers di era demokrasi liberal (1949 – 1959), di era demokrasi terpimpin (1959 – 1966), dan era Pemerintahan Orde Baru

23

(1966-1998), dikenal dengan Pers Pancasila, yang ditandai dengan dikeluarkannya UU Pokok Pers No.11 tahun 1966, membuang jauh praktik penekanan pers masa orde lama. Setelah era Reformasi (1998 – sekarang), kalangan pers dapat bernafas lega ketika dikeluarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Dalam UU pers tersebut dijamin bahwa kemerdekaan pers sebagai hak asasi warga negara (pasal 4). Dalam UU ini juga dijamin tidak ada penyensoran, pembreidelan, dan pelarangan penyiaran sebagaimana bunyi pasal 4 (ayat 2). JENDELA PENGETAHUAN Selanjutnya menurut Kotaniartha dengan adanya kebebasan pers saat ini, maka tantangan terberat adalah datang dari kebebasan pers itu sendiri. Artinya, sanggupkah seorang wartawan atau sebuah perusahaan penerbitan tidak menodai arti kebebasan dengan tidak menerima pemberian atau godaan material yang berhubungan dengan publikasi sebuah berita. Kebebasan pers bukanlah tanpa batas. Batasannya adalah kebebasan dari pihak lain. Pers yang bebas dan mandiri tidak boleh melanggar batas privasi,dan hak asasi pribadi pihak lain. Pers dalam negara demokrasi bertanggung jawab terhadap publik tentang apa yang diberitakan. Pers yang memberitakan sesuatu secara tidak benar dapat dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan. Tidak jarang berbagai pemberitaan yang dianggap merugikan dituntut, digugat bahkan didemo oleh masyarakat. Penyelesaian terhadap pers yang bermasalah dilakukan melalui Dewan Pers atau jalur hukum. Kebebasan yang bertanggung jawab dari media massa pada akhirnya bergantung pada independensi dan profesionalisme pekerjannya. “Pada hakekatnya kehidupan Pers Indonesia merupakan produk dari sistem nilai dan berlaku dalam masyarakat yang diproyeksikan dalam kegiatan pers. Pers sebagai modal bangsa haruslah menegakkan aturan main (rules of the games) pers nasional, seperti tertuang dalam falsafah Pancasila, UUD 1945, UU tentang pers, kode etik jurnalistik, perundangan lain serta tata nilai yang berlaku dalam masyarakat,” ujar Kotaniartha. Memahami pers bukanlah sekadar mengetahui ada berbagai media yang disebut pers sebagai wahana memperoleh informasi. Yang tidak kalah penting adalah pengetahuan publik mengenai berbagai fungsi pers selain fungsi informasi. Pers adalah jendela pengetahuan dan pertukaran pikiran secara bebas . Selain itu juga penting mengetahui bagaimana pers bekerja, apa hak dan kewajibannya, apa aturan dan etika yang harus ditaati serta permasalahan apa yang dihadapi. – Sri Ardhini


24

Edisi 886/ 1 - 7 Februari 2016

Selamatkan Bali dengan Jadi Investor di Tanah Bali *Mulai Rp 12 Juta bisa punya Unit Atta Labeji Villas di Kenderan Ubud Serbuan investor asing ke Bali sudah tak terbendung lagi. Apalagi dengan diberlakukannya MEA, yang tentunya makin memberikan ­angin segar bagi mereka untuk menguasai tanah Bali. Kini saatnya orang Bali menjadi “penguasa” Bali, menjadi tuan di tanah sendiri, mempertahankan tanah Bali dengan menjadi investor di Bali.

S

aat ini, tak hanya mereka yang berduit atau bermodal besar saja yang bisa menjadi investor. Karena hanya dengan Rp 12 juta, orang Bali sudah bisa memiliki unit Atta Labeji Villas. Hanya dengan Rp 12 juta, orang Bali sudah bisa menjadi owner villa dan layak disebut investor. 100% Uang Kembali Apa saja yang didapat dari 12 juta tersebut? Sang konseptor yang juga seorang pebisnis dan motivator, Made Robert

menjelaskan banyak keuntungan yang didapat. Di antaranya, uang pembelian lot akan dikembalikan 100% di tahun ke-10. “Ini hanya berlaku bagi pembelian di awal hingga 25 april 2016. Setelah itu, pengembalian uang 100% tersebut dilakukan di tahun ke-11,” ucap Marketing & Communication of Atta Labeji Villas, Ni Made Ayu Dewi Saraswati. Keuntungan lainnya yang didapat dengan berinvestasi di Atta Labeji Villas adalah, mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring

atta labeji villas masterplan

waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, komisi 10% setiap mengajak tamu ke Atta Labeji Villas, tergabung

dalam komunitas “Atta Labeji Investor Club” yang tentunya akan memperluas jejaring, satu box kartu

nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. “Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor pun telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris,” jelasnya. –ten

Made Robert & Ni Made Ayu

atta Labeji villas pool villa exterior couple

atta labeji villas deluxeroom interior

Doa Bersama dan Upacara Pemberkatan Untuk Tanah Atta Labeji Villas di Kenderan Ubud Sebelum melakukan pembangunan, 5 Februari 2016 akan dilakukan serangkaian upacara untuk menetralisir kondisi niskala dari sebuah lahan. Made Robert dan Ni Made Ayu Dewi meyakini betul bahwa upacara pemberkatan yang nantinya juga akan dipimpin oleh Guru Spiritual dan dihadiri beberapa investor Atta Labeji Villas ini, akan memberikan kemakmuran dan selalu menyertai semua investor serta memperlancar pambangunan Atta Labeji Villas. ​Kehadiran villatel bernama Atta Labeji Villas yang dimotori “putra daerah” ini, mendapatkan respons yang cukup luar biasa dari masyarakat Bali. Prinsip kegotongroyongan dan saling menolong dengan konsep mepatung yang ditawarkan

Atta Labeji Villas ini memberikan peluang bagi masyarakat lokal untuk menjadi investor di tanahnya sendiri. ​P ara investor yang bergabung optimis villatel yang berbasiskan kerakyatan ini, akan berkembang. Mengingat, prospek ke depan cukup bagus, dengan lokasi villa yang berada di tempat yang sangat representatif, baik dilihat dari destinasi maupun dari cultural tourism yang menjadi ikon Ubud. Bahkan, antisipasi terhadap risiko yang paling buruk sekali pun sudah benar-benar dikalkulasi dengan pengelolaan manajemen yang matang. Beberapa investor juga sudah melirik peluang menjanjikan ini ketika Atta Labeji Villas dipresentasikan di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya beberapa

waktu lalu. Bahkan, beberapa dari mereka berharap proyek villatel dengan konsep mepatung dan berbasis kerakyatan ini juga bisa dikembangkan di daerah lain karena dinilai sangat meguntungkan bagi masyarakat setempat. Karena itu, peluang yang cukup bagus untuk menjadi investor dan owner villa ini harus segera ditangkap dengan cepat. Dengan menjadi investor di Atta Labeji Villas berarti orang Bali juga telah menyelamatkan tanah Bali. Untuk itu, Made Robert dan Ni Made Ayu mengajak masyarakat Bali yang belum bergabung, untuk bersama-sama sukses di investasi villatel ini, bersamasama mempertahankan tanah Bali dengan menjadi investor (owner) Atta Labeji Villas. Un-

tuk informasi lebih jelas, silakan datang langsung ke Kantor BOS Land di Jalan Tukad Pakeri-

san No. 79 Panjer, Denpasar, tlp. 0361-4723 260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten

Beberapa investor melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 886 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu