Skip to main content

Tokoh Edisi 885 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Dari Relasi Jadi Uang Setiap orang mengalami pengalaman organisasi sendiri. Termasuk pengalaman Ni Putu Asteria Yuniarti, S.Pd. Perempuan yang terkenal dengan nama Ria Asteria ini pernah jadi ketua OSIS SMP, ketua ekskul karya ilmiah, pengurus ekskul saat SMA, dan ikut organisasi KISARA (Kita Sayang Remaja) yang bergerak di bidang pemberdayaan remaja untuk mensosialisasikan tentang narkoba, HIV & AIDS.

“S

aat kuliah saya jadi Ketua BEM Fakultas dan pengurus IMBAKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan & Konseling Indonesia). Saat ini, saya sedang merintis sebuah organisasi yang namanya Ria Asteria Billionare Community. Cikal bakalnya tercetus kemauan untuk membangun komunitas ini adalah ingin sharing dengan para remaja untuk memiliki kemampuan public speaking yang bagus, berjiwa wirausaha, kreatif dan berjiwa sosial juga. Semoga ke depan, gaung dari komunitas saya ini bisa diperhitungkan publik,” ujar perempuan kelahiran Lampung, 1 Juni 1992 ini. Asteria pun menuturkan pengalamannya bertemu orang-orang baru dengan berbagai karakter, Bertemu denga pemimpin organisasi dengan sifat yang berbeda, dan banyak pelajaran yang bisa diambil ketika ada dalam sebuah organisasi. “Banyak teman-teman saya dapat jodoh saat organisasi karena organisasi itu mencapai tujuan bersama, satu visi dan misi,” ungkap peraih Piala Ibu Negara Ani Yudhoyono tahun 2012 dalam pemilihan Duta Mahasiswa Generasi Berencana Tingkat Nasional ini. Ia mengingatkan kalau ikut

­ rganisasi, jangan pernah bero pikir untuk banyak mendapatkan uang. Organisasi membuat kita banyak mendapatkan relasi. Dari relasi inilah yang akan membuat kita mendapatkan uang. Ikut organisasi juga dapat mengasah bakat dan potensi diri. “Saya adalah buktinya. Di usia 24 tahun, saya banyak memiliki teman dari berbagai kalangan karena berawal dari perkenalan saat ada kegiatan forum/ organisasi. Namun, harus tetap berhati-hati dengan orang yang kita kenal jangan sampai menjerumuskan. Benar kata orang, bahwa diri kita adalah dengan siapa kita bergaul. Kalau mau sukses harus bergaul dengan orang sukses juga,” tegas mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Dr.Soetomo Surabaya ini. Asteria pun memberi tips harus cerdas memilih organisasi yang memang benar-benar membuat kita menjadi pribadi yang berkembang. Jangan asal-asal ikutan teman, karena tiap orang memerlukan jenis organisasi yang berbeda untuk menjadi pribadi yang lebih baik. –Inten Indrawati

What’s Up

Ikut Organisasi untuk “Jual Diri”

Beragam alasan orang untuk ikut dalam organisasi. Ada yang hanya sekadar ikutan-ikutan teman. Ada yang serius karena ingin mendapatkan sesuatu, dan ada yang memang ingin menjadikan organisasi sebagai sebuah tempat pengabdian kepada masyarakat. “Secara umum, berorganisasi berada di level tertinggi kebutuhan manusia, yakni aktualisasi diri. Namun, tidak tertutup kemungkinan orang berorganisasi sebagai kebutuhan dasar. Organisasi pada dasarnya merupakan media untuk mengembangkan diri dan mengabdikan diri kepada masyarakat,” ujar Retno I G. Kusuma, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali. Ia menegaskan tiap kegiatan pasti memiliki manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat itu bisa berupa manfaat ekonomi, sosial, spiritual, maupun emosional. Manfaat ekonomi berupa kesempatan untuk menunjukkan aktualisasi diri. Hal ini berkaitan dengan potensi diri yang bisa ditunjukkan kepada orang lain. Dengan kata lain, berorganisasi bisa menjadi tempat “menjual diri” dan memperluas jejaring. Manfaat sosial berupa kesempatan untuk mengenal banyak orang sehingga makin banyak kenalan, makin banyak relasi. Manfaat spiritual berupa kesempatan untuk menambah pengetahuan di bidang spiritual, sepanjang hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma agama. Manfaat emosional diperoleh ketika kita mampu untuk mengontrol diri dalam mengatasi konflik serta mencari solusi dalam organisasi. “Organisasi memiliki kekuatan yang tidak terlihat yang bisa membuat orang tidak tertarik menjadi tertarik seperti “cuci otak”. Karena itu sebelum memutuskan bergabung dengan sebuah organisasi, kenali visi dan misinya. Kalau merasa cocok, silakan. Kalau tidak cocok, jangan dipaksa,” ujar psikolog yang juga Direktur Pradnyagama, Pusat Layanan Psikologi ini. Retno juga melihat sisi negatif dari berorganisasi berupa kebalikan dari manfaat yang diperoleh. Sisi negatif itu antara lain adanya “cuci otak” dan emosi yang kadang berlebihan. Karena itu, ia mengingatkan untuk berhati-hati jika ada organisasi yang visi dan misinya menyimpang dari norma-norma kehidupan. Hal ini biasanya dapat dideteksi dari persyaratan yang diberikan, misalnya tidak boleh mengatakan kepada orang lain kalau ikut organisasi itu, ada ritual aneh, serta tempat aktivitas sembunyisembunyi dan tertutup (mengisolasi diri). Jika menemukan persyaratan dan perilaku seperti itu, lingkungan harus lebih waspada. “Kalau mau ikut organisasi, minta rekomendasi dari teman yang sudah bergabung duluan. Pilih organisasi yang bersifat terbuka dan tidak eksklusif. Jika berorganisasi ini benar-benar dilakukan dengan tulus dan membantu masyarakat, bisa menjadi penanaman modal akherat,” tegas Ketua YPAC Bali ini. –Ngurah Budi

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

GORO-GORO Desember, Bali sibuk. Turis mancanegara dan lokal membludak. Jalanan kewalahan menampung lalu-lalang. Situs-situs Putu Wijaya wisata sesak. Panen raya buat yang menggantungkan hidupnya pada blantika pariwisata. “Dulu, yang menjadi kekhawatiran kita adalah akan berubahnya Bali dan lunturnya tradisi digerus oleh perilaku dan gaya hidup turis,” kata Amat. “Sekarang?” “Sekarang kita takut kalau turis berkurang.” Bu Amat tersenyum. “Jadi tidak takut lagi pada perubahan dan tradisi luntur?” “Tidak.” “Lho? Masak begitu, Pak?” “Ya. Bagaimana mau takut lagi, kalau kita sekarang nyatanya sudah berubah dan luntur?” “Ah, siapa bilang? Tidak mungkin! Tidak bisa!” “Nah itu dia yang perlu ditakutkan! Tidak berani menerima kenyataan, itu namanya menipu diri sendiri. Bahaya! Meskipun kita mati-matian ingin mempertahankan keaslian-kemurnian, jangan bilang kita akan bisa tidak berubah dan tradisi belm luntur. Nyatanya kita sudah berubah banyak dan luntur. Lihat ke jalan. Lihat ke rumah-rumah kita sekarang, 30 tahun lalu dengan sekarang seperti siang dan malam!” Bu Amat berpikir. “Yang mana malam, yang mana siang?” “Itu tergantung pengelihatan masingmasing.” “Menurut Bapak sendiri?” Amat tidak menjawab. Karena ia juga baru tengah memantapkan pendapatnya. “Perubahan itu memang bisa direm supaya jangan terlalu drastis sehingga

luntur

merusak. Tapi tidak mungkin ditolak. biasa asal pinggang dililit selendang. Yang Karena perubahan itu sesuatu yang wajar penting niatnya! Ya, kan?” bahkan perlu. Perubahan tidak berarti “Apa itu bukan kemunduran?” kemerosotan. Banyak perubahan ber“O, sama sekali tidak! Kemajuan itu guna dan memang merupakan tuntutan mau tak mau adalah perubahan. Dan, zaman. Tandanya kita berkembang. perubahan itu pasti berdampak pelunKalau tidak, kita akan kedaluwarsa, Ingat turan. Jadi.... .” Bali bukan hanya ‘milik’ kita orang Bali, Tiba-tiba kedengaran suara gedobrak tapi miik Indonesia dan dunia,” kata Ami keras sekali. Disusul teriakan-teriakan di memberi masukan. luar rumah. “Tradisi juga bukan museum, bukan Amat terkejut, lalu bergegas keluar. fosil, tidak bisa dicegah akan meluntur Ternyata ada mobil masuk ke selokan. Tapi sedikit demi sedikit, karena tradisi pun setelah ditolong masyarakat naik kembali bernafas, hidup, berkembang sesuai ke jalan, tancap gas kabur. Hampir saja medengan desa-kala-patra. Bentuknya bisa nabrak tiga orang warga, untung mereka berubah tapi esensinya yang tetap dan sempat melompat nyebur ke selokan. akan bertahan sendiri tanpa dibantu, “Jalanan besar macet,” lapor seorang karena itulah sebabnya ia bertahan se- tetangga. “Ada mobil mewah cari jalan bagai tradisi.” pintas masuk ke kompleks hunian kita. Amat setuju sekali. Tapi Bu Amat Ngebut, sehingga ketika ada anak lari nyemelawan. brang jalan mengejar kucingnya, sopir kaget “Kalau Bali sudah berubah bukan Bali banting stir. Nabrak tembok membunuh lagi namanya!” seekor kambing dan roda mobil masuk “Apa?” got. Warga datang menolong, tapi setelah “Pokoknya bukan!” tertolong, mobil dilarikan sambil memaki “Sekarang menurut ibu, Bali masih dalam bahasa daerah: cicing. dong .... !!” Bali bukan?” Amat kontan naik darah lalu me“Masih, tapi sudah banyak yang ledak, “Itu pasti bukan orang Bali!” berubah dan .....” “Dan luntur, kan?” Bu Amat terdiam, mati langkah. Amat tertawa. “Jangan takut pada perubahan dan kelunturan, Bu. Lihat. Itu anak-anak muda sekarang. Mereka berubah karena zaman berubah. Banyak pekerjaan yang dulu hanya Kunjungan Iwan Kurnia dan Teni Ginaya dari Telkomsel dikerjakan oleh laki-laki ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Kamis (14/1) saja, sekarang dilakukan oleh perempuan. Jadi sopir atau polisi, misalnya. Dalam tata busana, celana jeans yang warnanya sudah belel alias luntur lebih mahal dan lebih dicari dari yang birunya masih medok! Dulu dalam melakuan ibadah harus pakai pakaian adat, tapi dalam situasi tertentu sekarang bisa dilakukan den- Kunjungan Wisye Batubara dan Ayu Marbun dari Bali Safari Marine Park ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Rabu (20/1) gan pakaian

Tujuan Single Fin, Pulang Single

Tahun baru memang momen yang pas untuk dipakai jalanjalan bareng keluarga, pacar, maupun bersama teman-teman. Tahun baru 2016 ini saya mengisi agenda perjalanan saya menjelajahi daerah Uluwatu. Saya diberitahu oleh teman saya, bahwa kami mengisi libur tahun baru ke daerah Uluwatu. Karena saya tidak tahu tujuannya adalah pantai (karena saya tidak bertanya, saya hanya ikut-ikutan saja) akhirnya saya tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Termasuk alat untuk selfie nanti. Sesampainya di Pantai Single Fin saya baru menyadari bahwa perlengkapan saya untuk berlibur kali ini memang kurang. Tidak membawa power bank, kamera digital (hanya mengan-

dalkan kamera handphone), dan perlengkapan anti air. Saya hanya membawa dompet dan handphone. Bahkan saya pun salah kostum, memakai pakaian yang “berat” tidak selayaknya orang berlibur di pantai. Mau tidak mau, agar saya harus membeli pakaian pantai yang dijual di daerah tersebut. Pantai Single Fin adalah salah satu pantai yang indah dan sayang jika dilewatkan pada saat berlibur di Bali. Pantai­n ya yang cukup banyak melewati anak tangga, pasir putihnya yang sangat hangat menyambut kedatangan kami, karang, dan airnya yang masih sangat jernih, membuat kami tidak sabar untuk menikmati keindahan alam yang satu ini. Saat asyik selfie, ternyata…. Oh My God..!! Pluuuk.. Hand-

phone saya terjatuh ke dalam air dari tongsis yang kami pergunakan untuk selfie. Betapa sedih dan speechless saya melihat handphone saya terendam air. Walaupun cepat diselamatkan namun karena air laut adalah air yang mengandung kadar garam tinggi, akhirnya handphone saya tidak bisa dipergunakan. Yang saya sayangkan handphone saya baru saya pergunakan 5 bulan, dan masih belum lunas. Pergi ke Pantai Single Fin, pulangnya saya juga single tanpa handphone yang menemani. Untuk teman-teman yang ingin berlibur seperti saya, saya sarankan untuk dipersiapkan terlebih dahulu perlengkapan yang harus dibawa ya! Agar liburan dan selfie kalian lebih menyenangkan. Ni Kadek Yuniantari Padangsambian, Denpasar

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi ­Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­ Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. ­ Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Kata Hati Mulai Februari 2016, Tokoh memiliki rubrik “Kata Hati” khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga. Panjang naskah 4000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, dan redaksitokoh@yahoo.com. Naskah diterima paling lambat tiap hari Kamis pukul 15.00. Pemuatan ditentukan Redaksi Tokoh.

Sudut Pandang

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

23

Pengawasan Ormas belum Efektif

Berbagai kalangan, termasuk sejumlah anggota DPR menilai pengawasan pemerintah terhadap organisasi kemasyarakatan (Ormas), khususnya ormas-ormas yang meresahkan masyarakat masih belum efektif. Itu sebabnya banyak ormas yang meresahkan masyarakat, seperti ormas-ormas radikal, bisa tetap beraktivitas.

S

ebagai contoh, beberapa waktu lalu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme)---jauh sebelum terjadinya teror bom di kawasan Sarinah Jl Mh Thamrin Jakarta--menyebut sejumlah organisasi di Indonesia terdeteksi mendukung kelompok radikal ISIS. Contoh lainnya, saat ini kasus orang hilang marak di berbagai daerah dan ormas ‘Gafatar’ (Gerakan Fajar Nusantara) dikaitkan dengan kasus tersebut. Gafatar, sejauh ini aktivitasnya di berbagai daerah mendapat penolakan karena dianggap meresahkan masyarakat. “Menurut saya ini menunjukkan pencegahan yang tidak atau belum efektif. Gerakan sudah besar, sudah bikin aksi, baru lah kita gelagapan. Gakkum (penegak hukum) harus evaluasi bagaimana

memastikan dalam pencegahan sudah harus ada penindakan. Artinya, kerjasama Intel dan Reskrim harus produktif agar pencegahan efektif,” tegas Eva Kusuma Sundari, anggota DPR dari Fraksi PDI-P. Informasi dari Intel harus ditindaklanjuti Reskrim atau Densus. Ini penting agar Intel tidak meminta tambahan kewenangan untuk menangkap orang. Artinya, Kapolri harus membenahi internal agar Reskrim responsif terhadap kebutuhan penindakan untuk pencegahan. Menurutnya, jika Reskrim bisa melakukan penindakan dalam pencegahan maka tidak perlu dilakukan revisi terhadap UU Teroris atau UU Intel, apalagi untuk balik seperti masa Orde Baru. “Saya merasa revisi undang-undang belum mendesak. Kan sudah ada SE (surat edaran)

Ormas tak Terdaftar tak Dilayani Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, I Gede Putu Jaya Suartama, mengatakan, saat ini jumlah organisasi masyarakat (ormas) yang terdaftar di Bali berjumlah 107. Di luar itu, masih ada ormas lain yang belum terdaftar. Sesuai UU Nomor 17 Tahun 2013, tidak bisa memaksa ormas untuk mendaftarkan diri. “Mendaftarkan diri juga gratis alias tidak dipungut bayaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, misalnya, harus ada akta pendirian, anggaran dasar rumahtangga, struktur, alamat, dan NPWP,” ucapnya. Menurutnya, ormas I Gede Putu Jaya Suartama yang belum mendaftar, mungkin masih kesulitan mencari akta pendirian. “Ormas yang tidak terdaftar, jika ada masalah dan memerlukan bantuan dari pemerintah, mereka tidak dapat dilayani,” kata Suartama. Dalam UU tidak disebutkan cara perekrutan anggota. Hal itu disesuaikan dengan ketentuan dalam ormas itu sendiri. Untuk penerbitan surat keterangan terdaftar (SKT) ini juga disesuaikan dengan masa kepengurusan ormas tersebut. “Setiap penerbitan SKT, Kesbangpol memiliki tim verifikasi, untuk mengecek ke lapangan, kelengkapan administrasi, termasuk alamatnya dimana, apa saja isi kantornya. Tim verifikasi juga melibatkan Polda Bali,” jelas Suartama. Pengawasan dari Kesbangpol, ormas sering diundang dalam bintek wawasan kebangsaan, ideologi, dan Pancasila. Ada juga forum komunikasi ormas. “Dalam setiap kegiatan ormas, biasanya kesbangpol diundang. Dalam acara tersebut, biasanya, saya selipkan saran-saran untuk bersama-sama menjaga persaudaraan dan menjaga tanah Bali,” ujarnya. Suartama mengatakan, kalau dilihat dari AD/ART ormas, semuanya bagus. Kalau ada masalah di lapangan, itu lebih ke oknum. Dalam UU juga tidak diatur PNS dilarang menjadi ketua ormas. Hal ini mengacu pada pasal 28, UUD 1945. Pada dasarnya, siapa saja bisa membentuk ormas, asal mematuhi UU Nomor 17 Tahun 2013. Dalam UU ini sudah dijelaskan hak dan kewajiban ormas. –Wirati Astiti

Eva Kusuma Sundari

Kapolri untuk Pencegahan, itu saja yang diefektifkan. Jadi sekarang ini fokusnya pada pencegahan saja,” ucapnya. Terjadinya kasus bom dan bertumbuhannya organisasi-organisasi radikal saat ini, membuat sebagian kalangan mendesak agar UU No 15 Tahun 2003 tentang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme direvisi karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan yang ada. Banyak yang mendukung wacana ini, meski tidak sedikit juga yang menolak dan menganggap belum mendesak. Martin Hutabarat, anggota DPR dari Fraksi Gerindra, mendukung wacana revisi UU Terorisme. Untuk melakukan revisi itu membutuhkan waktu yang relatif lama, dia menyarankan agar Presiden mengeluarkan Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang). “Perpu ini dalam kondisi seka-

rang bisa diterima masyarakat penggunaannya dengan alasan kepentingan yang memaksa. Apabila Perpu dikeluarkan, akan membuat DPR membahasnya karena Konstitusi sudah membatasi waktu pembahasannya untuk bisa diterima atau ditolak Perpu tersebut sampai persidangan DPR berikutnya. Saya berharap Presiden tidak perlu ragu untuk mengeluarkan Perpu ini, asal isinya betul-betul dibicarakan secara mendalam bersama BNPT, Polri, TNI, BIN, Kumham, Kemendagri, Kejaksaan, dsb,” papar anggota Komisi III DPR RI ini. UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebelumnya adalah Perpu No 1tahun 2002. Perpu itu dulunya diterbitkan pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 2002 menyusul terjadinya bom di Bali tahun 2002. Setelah adanya Perpu, maka DPR pun membahasnya kemudian jadilah UU No 15 Tahun 2003 yang sekarang berlaku. Jika Presiden mengeluarkan Perpu maka itu akan segera dibahas di DPR. Pembahasan akan dilakukan segera karena konstitusi menetapkan batasan waktu untuk menolak atau menerima. Isi Perpu itu adalah revisi UU Teroris yang sekarang. “Dengan merevisi UU Teroris, maka pengawasan terhadap organisasi dan organisasi radikal dapat lebih ditingkatkan,” kata politisi senior ini. Dalam pandangannya pengawasan terhadap keberadaan organisasi-organisasi radikal masih dirasakan kurang efektif, dan ini

SKT bisa Dicabut

Dalam melakukan pengawasan terhadap organisasi-organisasi yang ada di Nusa Tenggara Barat, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Nusa Tenggara Barat (NTB) terbilang sangat ketat. Meski dinilai aturan yang mengatur tentang organisasi kemasyarakatan (ormas) tidak ketat, namun Bakesbangpoldagri NTB tetap mengawasi dan memantau aktivitas ormas-ormas tersebut dengan intens. Ormas yang telah berdiri dianjurkan untuk mendaftarkan sehingga mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT). “Jika tidak mendaftar pun, ormas bisa tetap berjalan. Di sinilah salah satu hal yang dinilai kurang ketatnya mengenai aturan tentang ormas tersebut,” ujar Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si., Kepala Badan Kesbangpoldagri NTB. Karena itulah Badan Kesbangpoldagri NTB mempunyai cara sendiri dalam mengawasi dan meman-

tau aktivitas ormas yang ada di NTB. Sampai saat ini, ada sekitar 1.685 ormas di NTB, baik di tingkat Provinsi NTB maupun di tingkat kabupaten/kota seNTB, sejauh ini beraktivitas dengan positif. “Dari jumlah tersebut, 25%-nya adalah ormas tingkat provinsi yang memiliki setidaknya tiga cabang di kabupaten/kota di NTB dan sebagian besar adalah ormas yang terdaftar,” kata Bayu. Tahun 2015 lalu, ada 240 ormas tingkat provinsi yang terdaftar baru. Dari sejumlah ormas yang ada di NTB, menurut Bayu, didominasi oleh ormas yang beraktivitas di bidang sosial dan keagamaan. Dengan banyaknya ormas di NTB, Kesbangpoldagri NTB melakukan kontrol dan pengawasan dimulai dari pemberian Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dengan melihat, pertama adalah kelengkapan administrasinya. “Selain itu, meskipun secara administrasi sangat lengkap, sebelum mengeluarkan

salah satunya disebabkan karena landasan hukumnya kurang kuat. DITELAAH KEMBALI Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan tiap orang memiliki hak untuk membentuk kelompok atau organisasi. Namun, kelompok atau organisasi itu wajib dilaporkan, baik itu ke Pemda setempat jika bersifat lokal atau ke Kemendagri jika bersifat nasional. Terkait dengan Gafatar, kata Tjahjo, dulu menyebut semua kegiatannya adalah bersifat sosial. “Namun setelah kita cermati, akhirnya kami tolak (permohonan SKT-nya). Makanya organisasi kayak Gafatar tidak terdata di Kemendagri. Kalau terkait ajaran sesat atau membingungkan masyarakat, kejasaan pun punya hak,” kata Tjahjo di DPR, Senayan, Jakarta. Pihaknya sulit mengantisipasi gerakan radikal yang mengatasnamakan agama. Tetapi, ada program khusus dengan lintas kementerian/lembaga untuk memantau gerakan radikal. Hal itu untuk meningkatkan koordinasi hingga ketingkat kecamatan, bahkan desa. Kementerian Dalam Negeri juga telah mengeluarkan radiogram ke seluruh Kesbangpol di daerah-daerah seluruh Indonesia terkait dengan keberadaan Gafatar maupun organisasi-organisasi lain yang meresahkan. “Kami minta Kesbangpol daerah berhatihati. Tidak hanya pada Gafatar tapi juga organisasi-organisasi lain, kami minta ditelaah kembali,” katanya. -Diana Runtu SKT kami juga mendengar, meneliti dan memeriksa informasi-informasi dari masyarakat mengenai aktivitas organisasi tersebut,” ungkap Bayu. Jika ada potensi penolakan apalagi ada penolakan dari masyarakat terhadap ormas yang bersangkutan, maka Kesbangpoldagri tidak akan mengeluarkan atau menerbitkan SKT. Terkait dengan Gafatar (gerakan Fajar Nusantara), rupanya ada yang sempat beraktivitas di NTB pada tahun 2015, seperti di Lombok Utara, Sumbawa Barat. “Namun, karena kami melihat potensi penolakan dari masyarakat yang besar, SKT yang pernah diterbitkan akhirnya dicabut kembali,” ujar Bayu. Begitu juga dengan yang ada di Lombok Barat. “Gafatar di Lombok Barat pernah mencoba untuk mendaftar, namun karena laporan tim kami di lapangan dan juga informasi langsung dari masyarakat bahwa ada penolakan masyarakat, maka kami tidak menerbitkan SKT-nya,” kata Bayu. Sejauh ini, Kesbangpoldagri NTB, tegas dan intensif mengawasi ormas yang ada di NTB. -Naniek I. Taufan


22

Guru Malas Disuruh Urus Kuburan Sebenarnya ini bukan isu baru, namun karena Ahok, Gubernur DKI Jakarta, berbicara keras tentang guru dan kinerjanya maka kalangan guru geger. Gubernur yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu menegaskan bagi guru-guru yang berkinerja rendah akan dipindahkan ke bidang lain. Salah satu bidang yang disebut Ahok adalah mengurusi kuburan alias pindah ke Dinas Pemakaman.

K

Sosialita Made Budaka & Nyoman Kusmini

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

ontan omongan Ahok yang ceplasceplos itu bikin terkejut. Mereka (guru) tidak pernah membayangkan bakal bekerja di lingkungan lain selain bidang pendidikan, apalagi bekerja di bidang pemakaman. “Omongan Ahok bikin geger para guru. Kita sih sudah biasa kalau Ahok marah-marah tapi kalau bilang yang kinerja buruk mau dipindah jadi ‘pengurus kuburan’ , wah bagaimana itu? “ ungkap seorang guru PNS yang tak mau disebut namanya. Ahok baru-baru ini mengeluarkan pernyataan keras pada saat deklarasi sekolah aman bencana di Balaikota, Jakarta, pekan lalu. Saat itu Ahok selain berbicara tentang banyaknya sekolah rusak di Jakarta juga bicara tentang kinerja guru. Menurutnya, kalau para guru tidak bisa bekerja sepenuh hati, lebih baik pindah ke dinas lain, misalnya ke Dinas Pemakaman dan Pertamanan. “Kalau hatinya nggak mau jadi guru, ngapain? Enggak usah menjadi guru, urus kuburan (dinas pemakaman) saja,” tegas Ahok. Guru dibayar untuk mendidik siswanya. Tapi jika itu tidak dilaksanakan dengan baik, pindah saja ke bidang lain. Ahok tidak akan segan-segan memindahkan atau bahkan memberhentikan guru yang tidak berkinerja baik. “Ada guru yang tidak tertib, saat kerja malah pelesiran di pusat perbelanjaan. Kita perlu guru dan kepala sekolah yang punya hati. Kalau masih ada guru yang enggak benar juga, jangan segan-segan melaporkan ke atasan atau langsung lapor ke saya lewat SMS,” katanya lagi.

Ade sedang mengecek tugas muridnya

Ucapan Ahok ini mendapat tanggapan beragam dari kalangan pendidikan. Ade Pujiati, pemilik sekolah gratis ‘SMP Ibu Pertiwi’ di Pancoran Timur, misalnya. Ia mengatakan, tidak perlu jauhjauh mencari contoh, sekolahnya, TKBM ‘SMP Ibu Pertiwi‘ yang berafiliasi dengan SMPN 67, mengalaminya. “Selama delapan tahun berdiri TKBM (tempat kegiatan belajar mandiri) kami, anak-anaknya tidak mendapat praktikum IPA, TIK (komputer), elektro padahal kan mereka (SMPN 67) punya laboratorium untuk itu. Ketika ujian, anak-anak dikasih nilai tinggi. Sampai saya harus ‘berantem’ dulu dengan guru di sana supaya menurunkan nilai-nilai anak-anak kami. Kami bukannya tidak suka anakanak dapat nilai bagus, tapi kan caranya nggak benar. Tidak pernah praktik, trus waktu ujian dikasih tahu caranya, jadi nilainya tinggi. Pelajaran elektro juga begitu. Gurunya malas banget,” ujarnya. Ia sampai lapor ke Dinas Pendidikan, lalu pihak Dinas datang ke sana dan ‘menekan’ pihak SMP 67 untuk memberi pelajaran praktik. Mereka bilangnya iya, tapi tidak pernah dilaksanakan. “Pernah suatu kali katanya akan ada pelajaran praktek. Tapi ternyata anak-anak malah disuruh merangkum pelajaran, trus si guru tidur di depan murid-muridnya,” tutur Ade kesal. Karena itu ia sangat mendukung pernyataan Ahok yang akan memindahkan guru-guru yang berkinerja buruk ke bidang lain di luar pendidikan.“Jadi seperi kata Ahok, oknum-oknum guru itu jadi

penjaga kuburan aja,” ucapnya. JANGAN HANYA GURU DISALAHKAN Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menyebut, jika berbicara soal kinerja guru harus jelas ukurannya, tidak bisa disamaratakan atau jangan ‘digebyah-uyah’. Juga, jangan hanya guru yang disalahkan. “Guru yang berkinerja buruk memang ada, tapi banyak guru yang bagus juga rajin. Sakit-sakit tetap mengajar. Saya ini guru, jadi saya tahu itu. Jumlah guru yang malas itu tidak banyak jika dibanding dengan keseluruhan jumlah guru di Indonesia.

Jika dilihat, ya, ‘elu lagi-elu lagi’. Maksudnya orangnya ya itu-itu saja. Kalau seperti itu, kenapa guru seperti itu tidak ditindak. Harusnya guru-guru malas itu ya ditindak, bukan dibiarkan saja. Ada banyak guru yang rajin, jadi jangan disamaratakan,” ungkap Retno. Jika menyebut tentang kualitas pun, kata Retno harus jelas ukurannya, apakah ukuran nasional atau internasional. Namun data internasional berbicara bahwa guru Indonesia berkualitas rendah. Itu terlihat dari hasil penelitian World Bank tahun 2012 terhadap 12 negara di Asia terkait kualitas guru. Dari 12 negara, Indonesia berada di urutan ke-12 atau urutan terakhir. Itu artinya berkualitas rendah. Ukuran lainnya adalah tentang hasil uji kompetensi guru yang diadakan dari 2012-2014, hasilnya nilai rata-rata guru rendah. “Lalu, kenapa guru rata rata berkualitas rendah? Ini karena salah satunya dipengaruhi oleh sistem yang dibangun oleh pemerintah, kebijakan pemerintah tentang guru. Guru tidak pernah di-up date. Guru tidak pernah diberi pelatihan,” ujarnya. FSGI pernah melakukan survei 29 kota/kabupaten di Indonesia terkait dengan kualitas guru SD. Hasilnya, banyak guru SD tidak pernah ikut pelatihan sampai menjelang pensiun. Contohnya guru-guru di Pandeglang, Jawa Barat. Pandeglang jaraknya dekat dengan Jakarta, hanya 100 km. Di sana ada guru SD usianya 56 tahun yang baru sekali mengikuti pelatihan selama kariernya, itupun tahun 1981. “Bayangkan! Kita sudah empat kali ganti presiden, guru baru sekali dapat pelatihan,” ucapnya. Mantan Kepsek SMAN 3 Jakarta ini menegaskan tidak bisa membangun kapasitasnya sendiri tapi harus dibangun oleh sebuah sistem. Dalam undang-undang, pemerintah baik itu di pusat maupun daerah, wajib membangun kapasitas guru. Misalnya, lewat pelatihan-pelatihan, dll. “Di Singapura itu, guru-gurunya sangat berkualitas. Sistem di sana punya standar tertentu. Guru harus menjalani pelatihan 100 jam per tahun.

3

Dengan Rp 60 Jutaan bisa Hasilkan Rp 290 Jutaan Dengan diberlakukannya MEA sejak akhir 2015 yang berarti kita bersaing bebas dengan bangsa-bangsa di Asia, tentunya persaingan di negeri ini semakin ketat. Para investor asing lebih bebas dan leluasa menggempur kita, mereka bebas membeli tanah dan perkebunan di Indonesia. Kini saatnya masyarakat lokal berpikir cerdas, mengambil peluang untuk lebih dulu memiliki investasi perkebunan di tanah air kita Indonesia ini. Hal tersebut ditegaskan pasutri I Made Budaka Wijaya dan Nyoman Kusmini, owner Sri Farm.

Retno Listyarti

Jadi guru-guru di sana benar-benar up date,“ tegas Retno. “Di sana guru tidak boleh ngajar lebih dari 16 jam. Kalau di sini guru ngajar 24 jam. Kalau di sana guru ngajar sehari tidak boleh lebih dari empat jam. Selain mengajar, dia harus membaca, menulis, koreksi, dll. Jadi kapasitas guru memang benar-benar dibangun lewat sistem yang ada. Di negara negara yang pendidikan maju seperti Singapura, Selandia Baru, mereka memperlakukan guru dengan sebuah sistem yang sangat bagus. Lalu Indonesia? Kalau di sini guru diberi sertifikasi. Pertanyaannya, apakah kalau dikasih sertifikasi, guru otomatis berkualitas? Tentu tidak! Kalau tidak ada pelatihan, biar dikasih sertifikasi pun, ya sama saja, guru tidak berkualitas,” papar peraih ‘Islamic Educator Awards 2013’. Masalah pelatihan untuk para guru, masih jauh dari harapan. “Di Jakarta saja program itu masih sangat minim, apalagi di daerah. Kami punya datanya, kok. Di Jakarta, seolah-olah guru dikasih tunjangan ini-itu terus disuruh meningkatkan kualitasnya sendiri. Ya nggak bisa begitu dong. Peningkatan kualitas itu harus juga didukung oleh sekolah. Misalnya, saya pulang pelatihan, bersemangat, tapi kemudian sekolah tidak mendukung lewat penyediaan perlengkapan yang diperlukan untuk mempraktikkan pelatihan yang didapat, kan percuma. Jadi maksud saya adalah, membangun kualitas guru itu harus dilakukan bersama-sama, bukan cuma oleh guru saja, “ tegasnya. —Diana Runtu

Ibarat Membangun Tim Sepak Bola Retno Listyarti mencontohkan ucapan Menteri Pendidikan yang menyebut, membangun kualitas guru ibarat membangun sebuah tim sepak-bola yang berkualitas, harus dilakukan bersama-sama. Jadi kalau ‘pemain-pemain’ bagus dikumpulkan, tapi tidak pernah latihan, tidak pernah dikasih pelatih, ya kan tidak akan jadi apa-apa. Begitu juga dengan pengembangan kualitas guru. Jika berbicara tentang kualitas guru seharusnya dilakukan evaluasi terhadap kinerja Dinas Pendidikan (Disdik) . “Apa saja yang mereka (Disdik) lakukan selama ini? Bagaimana dengan pembangunan SDM? Jangan-jangan selama bertahun tahun, seperti yang juga saya rasakan, lebih banyak pada pembangunan fisik (proyek) daripada membangun manusianya,“ kata Retno. Karenanya Retno berharap agar dalam masalah kualitas guru, jangan hanya guru yang disalahkan, padahal mereka tidak/jarang diberi kesempatan untuk meningkatkan kapasitasnya. Pemerintah turut andil menciptakan keadaan seperti ini. “Jadi jangan di balik. Guru disalahkan, pemerintah aman,” tambahnya.

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Menurutnya selama ini Disdik tidak transparan dan terkesan tertutup terhadap program yang akan dijalankan, baik itu program untuk sekolah maupun guru. Ia tidak pernah tahu apa program Disdik untuk pendidikan. Tidak ada transparansi. Ia baru tahu kalau ada beritanya, misalnya berita sekarang ada rencana memperbaiki sekolahsekolah rusak. Lalu program untuk guru mana? Ia tidak tahu, juga tidak pernah diminta untuk mengusulkan program yang dibutuhkan guru. Malah yang didengar (berita) guru yang tidak berkualitas akan dipindahkan mengurus kuburan. Membangun atau merenovasi gedung, kata Retno, mudah dan hasilnya bisa dilihat dalam tempo singkat. Tapi membangun kapasitas guru tidak mudah dan hasilnya tidak bisa dilihat seketika. Perlu proses panjang, tidak bisa setahun dua tahun. “Yang pasti uang itu tidak mengubah orang. Mau dikasih berapa pun tidak akan mengubah, kalau karakter tidak dibangun. Budaya kompetisi, budaya menghargai perbedaan, mendidik dengan hati, dll, itu harus dibangun,” tandas Retno. —Diana Runtu

“M

enjadi investor bukan hal yang tak mungkin lagi, karena dengan hanya Rp 60 jutaan, kita sudah bisa memiliki hutan jabon dan mendapatkan sertifikat hak milik (SHM),” ujar Made Budaka. Dengan investasi Rp 60 jutaan itu, ia mangatakan investor sudah mendapatkan 200 bibit jabon dengan luas lahan 0, 25 hektare. “SHM atas nama sendiri. Pembayaran bisa cash atau diangsur,” imbuh Nyoman Kusmini. Dari investasi Rp 60 jutaan

tersebut, estimasi potensi hasil yang didapat dalam 10 tahun adalah Rp 291.200.000. Pembayaran bisa diangsur hingga 12 kali dengan DP 30%. “Bagi investor yang berkeinginan berinvestasi lebih, tersedia juga paket yang lebih besar, yang kesemuanya itu terjamin legalitasnya dan aman. Berinvestasi di hutan jabon Sri Farm ini, benarbenar uang yang bekerja buat investor, karena semua proses dari penanaman, pemeliharaan hingga panen dikerjakan oleh tim profesional Sri Farm,” ujar Made Budaka. Investasi di hutan jabon Sri

Farm ini, dijelaskannya memiliki beberapa keuntungan. Pertama, kebutuhan kayu selalu lebih tinggi dari ketersediaannya dan harga kayu tiap tahunnya selalu meningkat. Belum lagi dengan adanya kebijakan pemerintah yang melarang penebangan hutan alam, sehingga industri perkayuan diwajibkan menggunakan kayu hutan tanam rakyat (HTR). “Jadi, peluang perkebunan kayu di Indonesia cukup luas dan menjanjikan. Dengan memiliki perkebunan jabon Sri Farm, para investor akan mendapatkan penghasilan berlipat ganda dari hasil investasi ini,” ujarnya. Kedua, jabon yang merupakan salah satu jenis kayu terbaik dinilai banyak memiliki keunggulan. Karena, selain cukup kebal terhadap hama dan penyakit, pertumbuhan jabon sangat cepat, sekali menanam dapat dipanen dua kali.

Survey lokasi ke Mamuju, Sulawesi Barat

Ketiga, selain berinvestasi dan mendapatkan hasil, kita juga mendapatkan bonus yaitu berbuat baik dengan menyediakan oksigen gratis. Karena 1 pohon jabon bisa menghasilkan oksigen untuk 3 orang setiap harinya. Dan, hal ini adalah salah satu upaya untuk mencegah global warming, yang dengan kata lain kita (investor di hutan jabon) turut menghijaukan bumi. “Dengan menanam pohon, kita bisa berumur panjang, karena kita sudah memberikan kesempatan kepada makhluk lain untuk bertumbuh. Go green go rich,” ucapnya. Keempat, ​​ dengan berinvestasi di Hutan Jabon Sri Farm, investor sekaligus turut meyadnya dengan melestarikan lingkungan (go green). Selain itu, secara otomatis juga investor mem-

buka lapangan pekerjaan baru bagi para petani yang mengerjakan lahan kebun jabon yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat. Perkebunan jabon Sri Farm ini mengadopsi konsep Tri Hita Karana yakni recovery dan pelestarian alam sebagai wujud bakti terhadap ciptaan Tuhan, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan tanaman rakyat yang berkelanjutan sehingga memberikan benefit ekonomi yang besar. Pemilihan lokasi di Mamuju, Sulbar ini dikarenakan tanahnya yang subur sehingga pertumbuhan jabon dipastikan bagus, sehingga hasil panen memuaskan. “Dengan pesawat terbang, jarak Bali-Sulawesi cukup dekat, hanya 2 jam penerbangan,” ucap Nyoman Kusmini. –ten

Pohon jabon berusia 8 bulan

Proses pengolahan lahan perkebunan jabon oleh tim Sri Farm

Investasi Menguntungkan di Kebun Jabon Sri Farm

Dalam beberapa kesempatan, Sri Farm bersama beber-

apa investor yang sudah bergabung di Sri Farm langsung turun memantau perkembangan hutan jabon di Mamuju, Sulbar. Selanjutnya, pihak Sri Farm akan terus memberikan laporan rutin perkembangan kebun jabon setiap tahunnya. Selain, investor sendiri juga bisa memantau secara online karena di beberapa titik dipasangi kamera CCTV. “Sri Farm akan kembali melakukan kunjungan ke lokasi, akhir Februari 2016 ini. Bagi calon investor yang berminat, bisa bergabung dengan kami untuk mengecek lahannya dulu sebelum memastikan membeli. Dengan tanda jadi Rp 5 juta Anda sudah bisa survey lokasi ke Mamuju, untuk ke-

berangkatan 1 orang. Jika sudah oke, setelah melakukan pelunasan, pohon Anda akan langsung kami tanam,” ujar Nyoman Kusmini. Dan, kalaupun dalam perjalanannya terjadi risiko seperti pencurian, kebakaran, kerusakan, ataupun gagal panen, Sri Farm akan meng-covernya. Semua pohon sudah diasuransikan. Jika pohon rusak akan diganti dengan pohon baru karena Sri Farm memiliki kebun inti. “Jika gagal, kami kembalikan investasi Anda dengan nilai 130%. Ketika gagal pun, Anda masih untung. Klausa ini pun akan kami tuangkan dalam perjanjian notaris,” janji Made Budaka. “Dan juga untuk beberapa investor, Sertifikat Hak Milik atas nama investor pun sudah

jadi. Secara legalitas semua sudah oke dan tim legal kami pun sudah bekerja dengan baik,” ujar Nyoman Kusmini menambahkan. Jadi, tunggu apalagi, mari menjadi investor di tanah

air sendiri, mari berinvestasi cerdas dengan modal hanya Rp 60 jutaan di Kebun Jabon Sri Farm. Bagi yang berminat, bisa menyaksikan Pameran Sri Farm di JCC (Jakarta Convention Centre) pada tanggal 13

s.d. 21 Februari 2016, stan nomor 137. Info selengkapnya, hubungi Sri Farm Office: Jln. Tukad Batanghari No. 9, Denpasar, Bali, Telp 0361 228868, 085 338 183 888, www.srifarm.com. –ten

Serah terima sertifikat hak milik atas nama investor


4

Inspirasi

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Dade M. Fatwa

Karyawan Senang Tamu pun Senang “T

rutnya, ada juga sisi positifnya. Karakter itu dijabarkan dalam, pola kerja yang disesuaikan dengan skala prioritas. “Saat morning briefing, selalu saya tegaskan, buatlah skala prioritas dalam pekerjaan. Kalau dapat tugas lihatlah terlebih dahulu, adakah pekerjaan lain yang lebih urgent yang harus dikerjakan terlebih dahulu,” kata Dade. Menurut Dade, ia teringat ajaran dari mentornya, saat menjadi karyawan. Saat jadi karyawan biasa, kita harus bisa menjadi supervisor, begitu juga, saat menjadi supervisor, harus bisa menjadi manager. Tujuannya, kalau suatu saat harus menjadi pemimpin kita sudah siap. Itu yang mengilhami Dade menjadi lebih dewasa. Ia menilai, banyak juga orang dewasa atau usianya senior, tapi belum bisa bersikap dewasa. Dewasa yang dimaksud, mampu mengambil keputusan bijaksana, dan tak terburu-b uru. Beberapa staf yang ia ajarkan dan mengikuti role model ini, banyak yang sukses. Yang dulunya staf biasa sudah bisa menjadi supervisor dan manager. Bagi Dade, ia sangat bangga jika melihat yang dulunya staf kariernya sudah naik. “Saya tidak malu atau takut, kalau yang dulunya bawahan sekarang poisisinya sama dengan saya,” katanya.

Ironisnya, kebanyakan pemimpin, sering khawatir atau takut kalau nanti posisinya sama dengan bawahannya. Itu karena mereka pelit ilmu. Dade punya prinsip, makin banyak kita memberi, makin banyak juga yang kita dapatkan. “Memberi tidak selalu dengan materi. Kita punya ilmu, bisa kita bagikan. Dalam memimpin, saya lebih suka mendengarkan. Karena tanpa kita sadari, banyak ide bawahan yang bagus, kadangkala saat kita jadi pemimpin, kita menutup kuping karena idealis dan ego yang tinggi,” katanya. Dalam pandangannya, kalau staf merasa tidak nyaman dan tidak dihargai, respek mereka kurang. Bagaimana mau meminta mereka melayani tamu dengan baik. Dade punya satu kiat lain. Kalau ingin membuat tamu senang, karyawan harus senang terlebih dahulu. “Sebelum saya ditugaskan di Quest, tidak ada staf gathering. Padahal sangat perlu ada staf gathering. Waktunya karyawan untuk bisa bersenang-senang, memberikan energi baru kepada mereka,” kata Dade. Dade juga membuat program best employed. Karyawan mendapat reward, sertifikat, dan uang saku, agar lebih termotivasi bekerja. Menurut Dade, kalau karyawan tidak pernah diperhatikan, mereka tidak punya motivasi kerja dan kreatif. Dade mempelajari hal itu dari beberapa hotel tempatnya kerja. Dia melihat,

“Memberi tidak selalu dengan materi. Kita punya ilmu, bisa kita bagikan. Dalam memimpin, saya lebih suka ­mendengarkan. Karena tanpa kita sadari, banyak ide ­bawahan yang bagus, kadangkala saat kita jadi pemimpin, kita menutup kuping karena idealis dan ego yang tinggi”

Satu Kontingen ibarat Satu Keluarga

Sebanyak 123 atlet dan pelatih kontingen NTB yang telah mengikuti seleksi akhirnya dikukuhkan oleh Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, beberapa waktu lalu. Mereka selanjutnya menjalani latihan persiapan untuk mengikuti Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2016, di Bandung Jawa Barat pada September 2016 mendatang.

Muda bukanlah hambatan menjadi pemimpin. Usia bukanlah penentu kapan orang harus menjadi pemimpin. Yang penting, mampu memimpin dengan bijaksana. Itulah kiat Dade M. ­Fatwa, General Manager Quest Hotel. idak harus menunggu umur jadi tua untuk menjadi pemimpin. Tapi bagaimana cara kita dalam memimpin orang lain. Itulah yang terpenting,” tutur lelaki yang tak pernah berpikir akan memegang posisi top manager dalam usia 34 tahun ini. Ia tak menampik, usia karyawan tentu bervariasi, ada yang lebih muda dan ada yang lebih tua. Menurutnya, kalau ingin dihargai, pemimpin juga harus menghargai karyawan. Ketika dihadapkan pada satu masalah, keputusan yang diambil juga harus bijaksana, bukan emosional. Ia juga tak menampik, orang muda sering diidentikkan, kerja cepat, dan harus segera selesai. Namun, menu-

Mandalika

Dade M. Fatwa

dimana karyawannya nyaman bekerja, otomatis pelayanan yang diberikan juga bagus. Ilmu yang sudah ia dapatkan, ia terapkan di Quest tempatnya sekarang. Dalam waktu tiga bulan, ia melihat banyak sekali perubahan sikap karyawan dalam bekerja. Ini berkorelasi terhadap service kepada tamu, dan beberapa keuntungan hotel. Kreativitas karyawan bermunculan, dengan ide segar bagaimana agar semua section bisa menghasilkan uang. Jadi tidak menggantungkan pada penjualan kamar saja. Misalnya, promo kolam renang included minum dan burger, bisa mendongkrak ramainya restoran, termasuk promosi kamar hotel juga ikut jalan. TAHUN KETIGA NASIB Dade berasal dari keluarga sederhana. Ia mengambil program D-1 Perhotelan di Jakarta. Dade kuliah sembari bekerja untuk menambah uang sakunya. Saat training , ia ditawari bekerja. Padahal, ia belum tamat kuliah. Tanpa pikir panjang Dade langsung menerimanya. Tahun 2000 ia sudah kerja di hotel. Rencananya, setelah wisuda, ia ingin melanjutkan kuliah lagi. Namun, karena jam kerjanya tidak mendukung, Dade fokus bekerja saja. Memulai karier dari staf di reservation, kemudian di reseption, ia dipromosikan menjadi supervisor. Beberapa kali mendapat kan karyawan terbaik, Dade dipromosikan menjadi reservation manager. Tahun 2007, hotel tempatnya bekerja merger, otomatis banyak karyawan dirumahkan. Dade bingung mau pindah kerja kemana. Seorang

teman, menawarkan ia untuk mencoba peruntungannya ke Bali. Tanpa pikir panjang ia nekad ke Bali, tanpa teman dan keluarga. Memulai karier di Mercure Kuta, Dade sempat dipindahkan ke Aston Denpasar, dan mencoba tantangan di Harris Riverview Kuta. Bagi Dade, bekerja yang pas itu hanya dua tahun. Tahun pertama, adaptasi dan belajar, tahun kedua kontribusi kita terhadap perusahaan. Tahun ketiga nasib ditentukan yang di atas. Kebetulan nasib berkata lain. Dade diminta membantu pembukaan hotel Aston Kuta. Disanalah ia berkarier sampai empat tahun. Dari situ ia berpikir, masuk zona zaman. Ketika, ada kesempatan untuk menjadi FO manager di corporate Aston, wilayah Jember, Bali, Sulawesi, dan Irian, Dade memberanikan diri melamar. Saat interview Dade diberi tantangan, apa berani mengelola hotel. Dade tak ragu untuk menerima tantangan tersebut. Ia terima, dan mulailah ia menjadi manager dalam usia 34 tahun. Dade tak berpikir, kariernya akan naik secepat itu. Setelah dua tahun di Fave Hotel Square, bulan Oktober 2015, Dade dipromosikan menjadi general manager hotel bintang tiga Quest Hotel. Dade bersyukur, telah melewati banyak cross training. Menurutnya, setiap bagian di hotel itu punya peran penting. “Ketika kita pernah dan mampu menghandle pekerjaan masing-masing section, secara keseluruhan tahapan kepemimpinan sudah saya lalui. Jadi, urusan hotel semuanya sudah saya pelajari melalui cross training,” ucapnya.-Wirati Astiti

P

ada pengukuhan itu, Gubernur NTB berharap agar para atlet dan pelatih untuk menggelorakan semangat demi mempersembahkan yang terbaik bagi NTB, karena semangat itulah yang akan menghidupkan harapan kuat untuk melahirkan prestasiprestasi terbaik. Gubernur NTB sempat menungkapkan rasa bangga pada para atlet NTB untuk mengejar prestasi yang luar biasa, tidak hanya untuk NTB namun juga

untuk Indonesia. “Dengan kebanggaan ini, kami bersama seluruh masyarakat NTB mendoakan agar para atlet mendapatkan kesuksesan di PON 2016 mendatang,” kata Majdi. Selain menggelorakan semangat, ia juga berharap agar seluruh kontingen PON 2016 NTB juga dapat menjaga kekompakan yang merupakan unsur terpenting dalam meraih prestasi. “Satu kontingen ibarat satu keluarga yang saling mengayomi. Pelatih mencintai atlet-atletnya dan memberikan pelatihan-pelati-

han yang berlandaskan kasih sayang dan kesungguhan. Atlet hormat dan komit kepada pelatih. Kalau semangt dan kesungguhan bertemu, maka akan melejitkan prestasi yang luar biasa,” ungkap Gubernur. Untuk itu, Gubernur berharap seluruh kontingen NTB untuk tetap fokus, mulai menjalani latihan persiapan hingga nanti mengikuti PON 2016 tersebut. Menurut Ketua KONI NTB, H. Andi Hadyanto menjelaskan ada sekitar 18 cabang olah raga yang akan diikuti oleh para atlet

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

21

Gubernur NTB dan pengurus DPD I KNPI NTB

Elemen Pemuda harus Kompak Memiliki semangat juang untuk dalam berkarya membangun masa depan Propinsi Nusa Tenggara Barat, menjadi hal yang penting dimiliki oleh setiap pemuda. Pemuda NTB diharapkan dapat memberikan ide gagasan untuk kemajuan daerah. Karena itulah, pemuda harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya. “Pemuda adalah cerminan pemimpin di masa yang akan datang, Kalau ingin melihat pemimpin di masa yang akan datang maka lihatlah kondisi pemuda saat ini,” ungkap Dr. TGH. M. Zainul Majdi, pada pelantikan pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTB, beberapa waktu lalu. Mengangkat tema, sinergitas pemuda untuk mewujudkan generasi muda NTB yang berintergritas, produktif dan berdaya saing, pelantikan pengurus hasil Musda akhir bulan Desember 2015 lalu ini menitip harapan bahwa seluruh pengurus hendaknya istiqomah untuk mengabdi sepanjang kepengurusannya 2015 sampai dengan tahun 2018, yang dipimpin oleh Hamdan Kasim sebagai ketua DPD I KNPI NTB. Gairah aktivitas kepemudaan diharapkan dapat lebih hidup lagi. “Tidak hanya ramai pada saat pelantikan tetapi juga harus semarak dengan berbagai kegiatan. Elemen pemuda harus kompak untuk berjuang bersama-sama demi daerah yang kita cintai,” kata Majdi. Gubernur NTB meminta kepada semua pemuda untuk terus berkarya, berikhtiar, bermusahabah memberikan karya terbaik untuk NTB. -Naniek I. Taufan NTB di PON ini, di antaranya golf, atletik, tinju, bela diri, dansa dan sepak takraw. “Kami mengharapkan do’a dan dukungan seluruh masyarakat NTB untuk kesuk-

sesan para atlit kita. Do’a dan dukungan masyarakat bagi para atlet untuk dapat mempersembahkan prestasi terbaik,” ungkap Andi. -Naniek I. Taufan

NTB Tuan Rumah HPN 2016 Tahun 2016 ini Nusa Tenggara Barat Gubernur menjadi tuan rumah digelarnya Hari Pers Nasional (HPN) yang puncak acaranya dihelat pada tanggal 6-9 Februari 2016 mendatang. Para jurnalis dari seluruh Indonesia dipastikan akan berkumpul di Mataram untuk merayakan hari penting bagi dunia kewartawanan tersebut. Karena itulah, Provinsi NTB tengah serius menyiapkan kegiatan tersebut. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengajak para insan pers untuk memastikan kesuksesan terselenggaranya HPN 2016. “Pelaksanaan HPN 2016, selain penting bagi insan pers juga akan dapat memberikan manfaat bagi Provinsi NTB,” ujar Majdi. Gubernur berharap melalui para melalui momen ini NTB bisa lebih memperkenalkan potensi- potensi yang dimiliki, salah satunya adalah bidang pariwisata. Bidang pariwisata

telah ditetapkan sebagai salah satu dari dua sektor andalan Provinsi NTB. Hal ini didasarkan atas data statistik BPS yang menunjukkan bahwa pariwisata dan sektor pendukung memberi kontribusi besar pada pendapatan domestik bruto regional. “Melalui HPN 2016 ini, diharapkan branding/citra pariwisata NTB dapat diangkat dengan tujuan memperbanyak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara”, harapnya. Korelasi pelaksanaan HPN 2016 dengan pengembangan pariwisata di NTB jelas sangat dekat karena juga terkait dengan lokasi dimana acara ini akan digelar. HPN 2016 rencananya akan dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang menjadi salah satu dari 15 kawasan istimewa yang menjadi perhatian pengembangan pariwisata di Indonesia. “ KEK ada-

Gubernur NTB bersama para atlit NTB yang akan mengikuti PON 2016

lah satu-satunya kawasan yang sudah dipayungi oleh Peraturan Presiden. Insentif pengemban-

gan KEK masuk pada paket kebijakan ekonomi keenam yang sudah dirilis oleh Presiden. Jadi

seluruh insentif bagi investor sudah diatur oleh Perpres,” ujarnya. -Naniek I. Taufan


20

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Ay u S e tyawa t i

Nine

Maknai Hidup dengan Rasa Syukur Penampilannya sederhana. Wajah segar perempuan berusia 48 tahun ini jarang terlihat dipoles make up berlebihan. Rambutnya yang hitam panjang menjuntai hingga lebih dari 150 cm (sampai betis bawah), digelung biasa saja menggunakan tusuk konde yang juga biasa saja. Tidak tampak hal berlebihan dari caranya membawa diri. Namun, siapa sangka perempuan ini adalah model senior yang telah ‘hatam’ dunia panggung sejak masa mudanya di era tahun 1990-an. Dia adalah Ayu Setyawati, pemilik Ayoe Butik Batik Lombok yang memaknai benar artinya menjadi seorang perempuan.

U

Ayu Setyawati

ntuk ukuran seorang model yang kerap menjadi juri pada even-even lomba model dan keputrian di NTB, siapa sangka bahwa ia hanya memiliki peralatan make up sederhana dalam jumlah yang terbatas. Sejak beberapa tahun yang lalu hingga kini, Ayu hanya memiliki dua lipstik, sebuah pensil alis murah, bedak seadanya dan sebuah kaca pemberian kawannya. Mascara, eye shadow, kotak-kotak make up berset-set, apalagi bulu mata palsu, tentu tidak akan ditemukan di tas kecil miliknya yang biasa ia pakai untuk menyimpan alat-alat kecantikan yang jauh dari kata mewah itu. Bagi Ayu, meski ia seorang model dan pernah bermain di

banyak film serta memiliki banyak kegiatan yang mengharuskan ia memperhatikan penampilannya, berdandan itu bukan hal yang utama. Hal ini telah menjadi prinsip dalam hidupnya, bahwa kapan pun dan dimana pun, jika tidak sedang di panggung (untuk kebutuhan show atau tuntutan peran), maka ia akan menjadi dirinya sendiri. Apa adanya dan biasa saja. Ayu rupanya sosok yang memegang teguh prinsip dan memaknai hidupnya dengan rasa bersyukur. Anugerah kulit yang bagus, tinggi badan 169 cm, rambutnya yang panjang merupakan hal yang disyukurinya setiap saat. “Alhamdulillah, saya tinggal merawat dan memeliharanya tanpa harus berlebihan,” ujarnya.

Beauty, Brain dan Brand bukan hanya Slogan Kesibukan Ayu Setiawati dalam sebulan terakhir terlihat semakin padat. Nyaris tiap hari ia melakukan pendampingan dan memberikan bimbingan kepada Ghea Putri Mulya, Putri Indonesia NTB 2015 yang akan mewakili Nusa Tenggara Barat di ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 di Jakarta pada pertengahan Februari 2016 mendatang. Ghea merasa beruntung berada di bawah bimbingan dan pendampingan dari model senior NTB dan mantan pemain film era 90-an yang hingga kini masih menjadi anggota PARFI Jawa Timur ini. “Saya merasa sangat beruntung didampingi Bunda Ayu karena selain difasilitasi maksimal juga diajak untuk melihat kehidupan masyarakat NTB hingga ke ‘bawah’,” ungkap Ghea Putri Mulya. Sejak menerima tawaran kerjasama dari Yayasan Putri Indonesia untuk menyelenggarakan seleksi Putri Indonesia NTB 2015 pada Desember 2015 lalu, Ayu dengan Ayoe Butik Batik Lombok miliknya, sangat serius dalam “melahirkan” putri dari Bumi Gora yang akan mewakili NTB pada pentas Putri Indonesia 2016. Mekanisme yang dipakainya dalam pemilihan Putri Indonesia NTB 2015, memberikan kesempatan kepada semua perempuan berbakat NTB sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan untuk tampil menunjukkan bakat dan kecerdasannya untuk menyandang gelar sebagai seorang Putri.

“Kami berikan kesempatan bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk ikut dalam pemilihan tersebut. Dan juri yang melahirkan Putri Indonesia NTB 2015 seluruhnya dari Yayasan Putri Indonesia,” ungkapnya. Itu berarti lahirnya Ghea Putri Mulya sebagai Putri Indonesia NTB 2015 sudah melewati proses penjurian yang sangat ketat dan bersaing secara sehat dengan para peserta lain karena Ayoe Butik Batik Lombok sebagai penyelenggara telah memberikan kesempatan secara terbuka kepada siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk mendaftar sebagai peserta. Apa yang dilakukan Ayu tentu bukan kerja biasa. Pengalamannya dalam dunia panggung model dan keputrian bahkan pernah membintangi lebih dari 20 film layar lebar saat berkiprah di Surabaya di era

1990-an, menjadi modal kejelian yang tak terbantahkan dalam melahirkan seorang Putri. Itulah sebabnya, menjelang karantina Ghea yang dimulai pada 12 Februari 2016 mendatang, Ayu melatih, membimbing dan mendampingi Ghea dengan sangat intensif, mulai dari urusan fisik, wawasan hingga melatihnya untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. “Saya ingin Ghea tampil maksimal di ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 mendatang dan membanggakan NTB,” ujarnya. Bagi Ayu, ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 mendatang, bukan soal menang dan kalah melainkan bagaimana ia menyiapkan Ghea memiliki jiwa solidaritas yang tinggi, peka terhadap ketidakberuntungan yang ada di sekitarnya, mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan menanamkan rasa tahu berterima

Inspirasi

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Mustofa Romdloni

Harus Sering Sharing

Keberadaan komunitas Tangan di Atas (TDA) makin eksis. Komunitas yang terdiri dari para entrepreneur ini terus mengembangkan jangkauan dengan tujuan mewadahi para wirausahawan muda. Harapan pun ditanamkan Mustofa Romdloni, Presiden TDA.

T

Salah satu hal yang sangat jarang dimiliki oleh perempuan masa kini adalah rambut panjangnya. Dalam hidupnya, Ayu hanya satu atau paling banyak dua kali memotong rambut, itu pun karena kebutuhan peran dalam film yang pernah dimainkannya. Bagi Ayu, rambut panjang adalah bagian dari tubuhnya yang paling dibanggakannya karena selain sebagai mahkota, rambut mengajarkan filososfi akan sebuah kesabaran. Untuk mengurus rambut

sepanjang itu untuk tetap hitam dan subur, tentulah bukan hal mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk merawatnya, mulai dari mencuci, membilas, memberi kondisioner, hair tonik hingga mengeringkannya. Dan ini tidak bisa dikerjakan dengan terburu-buru. “Saya terus melatih dan belajar sabar dari rambut ini,” ungkapnya tersenyum. Sesibuk apa pun Ayu, ia tidak pernah berpikir untuk memotong rambutnya demi alasan praktis. –Naniek I. Taufan

kasih pada siapa pun yang turut menyumbang kebaikan bagi hidupnya. Karena itulah, pemilik Ayoe Butik Batik Lombok ini tiada hentinya mengajak dan mengantar Ghea turun melakukan kegiatan sosial hingga ke Lombok Utara membawa berbagai bantuan termasuk mengunjungi anak-anak di sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Ia juga mengajak Ghea terjun langsung ke lapangan melihat para perempuan pembuat pindang di pesisir Pantai Ampenan dan sekitarnya dan ikut merasakan pekerjaan perempuan di Banyumulek Lombok Barat yang berjibaku dengan tanah membuat gerabah. Tidak lupa ia memboyong Ghea mengunjungi tiap sponsor yang telah mendukung dalam ‘melahirkannya’ sebagai seorang Putri. “Semua hal yang kami lakukan menjelang karantinanya Ghea adalah agar Ghea memiliki empati dan kepekaan yang lebih tajam lagi terhadap kehidupan sosial dan ketidakberuntungan yang ada di sekitarnya. Selain itu, saya ingin mengajarkan makna lebih bagaimana berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dalam menjadikannya sebagai seorang putri,” papar Ayu. Sebagai seorang perempuan yang sejak bayi telah tinggal di Lombok ini, Ayu ingin sekali agar perempuan NTB khususnya yang mewakili NTB pada ajang nasional seperti ini, memiliki nilai yang tidak biasa. Karena ajang semacam ini, bukan melulu soal kecantikan dan tinggi badan, melainkan paket lengkap. “Seorang Putri harus memiliki Beauty, Brain dan Brand dan itu bukan hanya slogan. Ia penting memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan juga kepekaan serta empati yang baik

karena ia akan mewakili perempuan NTB maupun Indonesia,” ujar model senior yang kerap menjadi juri dalam pemilihan putri di NTB ini. Cukup lama terlibat dalam gemerlap pentas model dan keputrian, satu hal yang kerap menjadi perhatian Ayu tiap kali ada even pemilihan model terutama model anak-anak. Selain memperhatikan anak-anak yang tengah berlenggak-lenggok di catwalk, ia juga memperhatikan orangtua, khususnya ibu dari peserta yang tengah tampil. Ayu banyak mengutarakan kesedihannya manakala melihat peserta yang tengah beraksi di atas panggung matanya selalu mencari ibunya. Dan dari depan panggung ibundanya asyik memberikan pengarahan dengan bahasa tubuh dan jemarinya harus seperti anaknya tampil di panggung. “Saya sedih melihat hal seperti ini, masih ada orangtua yang tidak bisa membuat anaknya menjadi diri sendiri,” ujarnya. Bagi Ayu, seharusnya orangtua, dalam hal ini, memberikan kepercayaan sepenuhnya pada anak untuk mengembangkan bakat dan kreativitasnya sesuai dengan apa yang dimiliki. “Anak yang paling tahu keinginannya dan orangtua berperan untuk membimbing dan mengarahkankannya, bukan mendikte,” katanya. Jelas hal ini menjadi perhatian Ayu mengingat ia telah lama makan asam garam dunia panggung. Maka itu, ketika kini ia mendampingi Ghea Putri Mulya untuk mengikuti ajang pemilihan Putri Indonesia 2016, ia mengajarkan Ghea untuk menjadi dirinya sendiri. Ia ingin para model dan putri NTB, tidak hanya menyoal kecantikan dan tinggi badan, melainkan harus memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. -Naniek I. Taufan

DA awalnya merupakan milis yang memiliki anggota sekitar 20 ribuan. Mayoritas berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Perkembangannya pun makin pesat dan kini sedang dilakukan pendataan berapa yang masih aktif. “Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai dengan pembentukan TDA, yakni wirausahawan muda bisa belajar tentang bisnis, marketing, legalitas usaha dari anggota yang lain (lesson), wirausahawan muda bisa melakukan tindakan setelah belajar dan berbagi dengan anggota yang lain dalam bentuk bazaar dan mentoring (action), dan wirausahawan muda bisa memperoleh pengakuan terkait usahanya (recognition). Jadi TDA ini rumah bersama untuk tumbuh,” tegas Mustofa yang menjadi Presiden TDA periode 2015-2017 ini. Ia menambahkan pertumbuhan yang diharapan sesuai dengan jenjangnya. Misal dari usaha kecil menjadi usaha menengah kemudian usaha besar. Semua itu bisa dipelajari dalam TDA. Kebersamaan ini bukan sekadar kumpul dan ngobrol, tetapi diwujudkan dalam bentuk kegiatan bermanfaat. Agar bisa sukses, ia memberikan kiat, harus sering sharing. Sejak tahun 2013 TDA menyelenggarakan Pesta Wirausaha di sejumlah kota. Untuk tahap awalnya, Pesta Wirausaha digelar di 10 kota. Pada 2015, lanjutnya, TDA mengadakan kegiatan ini di 22 kota termasuk di Denpasar. Rencananya pada Mei 2016, sebuah kegiatan berskala nasional yaitu Pesta Wirausaha Nasional digelar di Jakarta. Salah satu agendanya “Meet The Investor”. Presdir MR Corp ini pun menegaskan inspirasi bisnis bisa didapatkan dimana saja. Bagi anggota senior wajib membantu juniornya. Bantuan ini bisa berupa peluang kerja sama. “Kalau hal besar dilakukan sendiri, mungkin berat rasanya. Tetapi kalau dikerjakan bersama-sama, akan terasa ringan,” ujar pria asal Boyolali, Jawa Tengah ini. Ia juga menegaskan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak perlu ditakuti. Sarjana Teknik Kimia lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini mengatakan kalangan wirausaha Indonesia siap bersaing asalkan bisa meningkatkan kapabilitas. Visi dan misi bisnis harus jelas, segmentasi produk

harus jelas dan pemasaran baik offline maupun online juga harus jelas. “Jangan anggap orang lain atau negara lain musuh, tetapi buat jaringan dengan mereka,” ujarnya. Mustofa pun mengingatkan

masyarakat agar makin mencintai produk buatan Indonesia. Jangan hanya bicara saja cinta produk Indonesia tetapi membeli barang produk luar negeri. Itu artinya antara apa yang diucapkan beda dengan yang

dilakukan. Pesatnya perkembangan e-commerce juga menjadi peluang untuk memperluas pemasaran. Banyaknya aplikasi e-commerce mempermudah wirausahawan muda untuk mempromosikan maupun menjual produk yang dihasilkan. –Ngurah Budi

Mustofa Romdloni (tengah)

5


6

Woman on Top

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Ni Wayan Agek Parwati Asih

Belajar Hargai Pendapat Orang Lain Ikut berorganisasi bagi Agek sangat banyak manfaat yang diperolehnya, sesuai pula dengan motivasi awal ia bergabung di sebuah organisasi. Dengan organisasi ia bisa belajar berinteraksi, berkomunikasi dengan baik, belajar menjadi pemimpin. Selain menjadi mampu bertanggung jawab sesuai dengan tugas yang dijalankan.

P

roseslah kemudian yang mengajarkan Agek menjadi pribadi lebih dewasa. Bagaimana ia mesti bekerja sama dan belajar tentang berorganisasi yang benar. Disamping itu pula di Iwapi dan di organisasi lainnya ia mendapatkan banyak teman dan rekan yang sudah seperti saudara sendiri, baik sebagai adik maupun kakak. Pemilik nama lengkap Ni Wayan Agek Parwati Asih, S.Pd., M.Pd., ini ternyata gemar berorganisasi semenjak ia duduk di bangku SMP, saat itu ia menjadi Bendahara OSIS. Setelah lulus SMA, ia memulai usaha dibidang

tekstil, dan di tahun 2000-an , Agek masuk ke sebuah organisasi pengusaha. Menurut Agek, kenapa dirinya tertarik berorganisasi, selain memang senang berkecimpung di dunia organisasi, semua organisasiyang diikutinya saat ini sebagian besar ada kaitannya dengan usaha yang digelutinya. Agek menuturkan bahwa yang menjadi motivasinya mengikuti sebuah organisasi, adalah organisasi membuka pintu untuknya melatih skill dan potensi yang dimilikinya. Misalnya. dengan mengikuti seminar, work shop, termasuk ketika terpilih selaku narasumber maupun moderator

di berbagai kesemptan. Melalui organisasi juga Agek semakin banyaknya memperoleh teman yang heterogen dan lebih mudah memperluas jaringan kerja. Dengan ikut organisasi, lanjutnya ia terlatih untuk bisa berinteraksi dengan baik, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, sesuai dengan struktur dan tugas pada organisasi, serta dapat bersinergi dengan lebih banyak orang dan pihak termasuk pemerintah. Organisasi juga berhasil melatih dirinya untuk menjadi sosok pemimpin yang bisa membaca peluang dan melakukan ekspansi usaha kedepannya. Dalam organisasi juga, kata Agek mampu memecahkan berbagai kendala yang dihadapi para wirausaha dan memperoleh solusinya. Seperti membuka jalannya untuk masalah perizinan, pemasaran dan peluang kedepannya. Begitu pula bisa dilaksanakan sharing pengetahuan untuk pengusaha pemula,” tandasnya. Mengenai persyaratan, Agek menyampaikan bahwa

setiap organisasi memiliki persyaratan masing- masing untuk menjadi anggotanya. Mereka berpedoman pada AD dan ART–nya, disamping aturan berdasarkan hasil pleno. Misalnya. Iwapi, anggotanya harus wanita pengusaha warga negara Indonesia. “Mampu mengeksplor skill dan kemampuan kita. Misalnya kita bergelut di dunia usaha sebagai praktisi ketika kita ikut organisasi kita bisa membagikan ilmu sesuai dengan usaha yang kita geluti. Ini sekaligus kita mam-

pu membagikan ilmu kita kepada orang yang memerlukan,” ucap istri Komang Suasrama ini. Selanjutnya Agek mengutarakan pengalaman yang paling menarik tentang organisasi yang diikutinya . “Dari beberapa organisasi ada kesamaan dan juga perbedaannya. Organisasi yang paling lama saya ikuti adalah Iwapi Bali. Dari remaja saya sudah bergabung di Iwapi dan seolah- olah roh organisasi ini sudah masuk ke jiwa saya. Karena terlalu muda saya ikut di Iwapi banyak orang yang mengatakan saya ini anak dari pengurus Iwapi, padahal tidak,” ucap ibu dari Putu Sachio Otello Ananda S. ini. Banyak hal menarik yang kita dapatkan dalam berorganisasi , meski tidak semuanya berjalan mulus atau baik-baik saja. “Perbedaan pendapat tentu ada tapi di sinilah kita belajar seni menghargai pendapat orang lain dan menjadi orang yang lebih dewasa ke depannya,” ujar Agek yang saat ini tercatat ikut organisasi DPD Iwapi I Bali (Sekum DPD Iwapi Bali); Abami Provinsi Bali ( Sekum Abami Provinsi Bali); PHRI Bali (Wakil Sekretaris PHRI Bali); Kadin Bali (Komite Tetap Potensi Daerah); BPD Hipmi Bali (Komite Tetap Asuran­s i dan Investasi) serta PHRI Kabupaten Badung ­(Humas). –Sri Ardhini

Mozaik

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Jual Susu Sapi Sehari Untung Rp 100 Ribu

Di ujung Selatan jalan Jemursari, Surabaya nampak berjejer empat kios sederhana. Mereka menjual susu sapi dan kambing murni, ukuran satu liter yang dikemas dalam sebuah plastik bening.

P

emandangan itu hampir terlihat setiap hari mulai pagi hingga sore hari. Mereka tidak pernah memanggil pengendaraan yang lewat untuk membeli susu yang mereka jual. Namun, warna dan tumpukan susu sapi dan kambing yang dipasang di kios tersebut, ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi pengendara. Hampir setiap lima menit, ada saja pengendara yang mampir dan berhenti persis di depan kios tersebut dengan tujuan mau membeli susu. “Mba, susunya berapa satu liter,” ujar Eka, seorang cewek berjilbab sambil memarkir sepeda motornya. Belum sempat dijawab oleh sang penjual susu, Eka pun turun bersama temannya yang juga berjilbab bernama Lala yang sedang hamil tujuh bulan. “Yang ini harganya Rp 8.000. Ini

susu mentah. Sedangkan yang ini Rp 9.000, ini susu sudah masak,” ujar Bibi Asra, sang penjual susu sapi murni tersebut sambil mengangkat satu kantong plastik berisi susu sapi murni. “Saya beli dua liter susu mentah,” ujar Eka. Tak lama kemudian Bibi Asri menyerahkan satu kantong plastik hitam berisi dua liter susu sapi murni kepada Eka. Eka mengaku sudah sering membeli susu di kios tersebut. “Saya senang minum susu, hampir setiap minggu saya mampir di tempat ini untuk membeli susu,” ujar warga Sidoarjo itu. Keempat kios yang menjual susu sapi dan kambing murni itu, ternyata masih berkeluarga. Pemiliknya adalah keturunan Pakistan dan sudah puluhan tahun menjual susu di tempat tersebut. Bibi Asra mengaku kios penjual

Salam Senyum, Hai… bahagia sekali rasanya saya kembali bisa menghadirkan tulisan di akhir minggu ini. Tentang senyum, tentang bagaimana melayani orang, bagaimana bisa membuat orang lain tersenyum dalam rubrik dhani’s art in service. Tema kali ini, Lemon makan lemon, Saya sengaja mengadopsi salah satu tagline iklan dari sebuah minuman yang sampai detik ini masih ditayangkan. Hebatnya lagi tagline tersebut sering juga digunakan masyarakat banyak untuk menunjuk arti peristiwa tertentu dalam suatu instansi. Contoh dalam SDM (sumber daya manusia), seperti menikah dengan sesama pegawai dalam satu instansi. Contoh lain dalam dalam dunia marketing, seperti men-“take over” nasabah/ pelanggan dari rekan kerja sendiri dalam satu instansi/ perusahaan (sepertinya ini sering terjadi.. Namun, dalam tulisan saya kali ini Lemon makan lemon diartikan, bagaimana layanan perseorangan dapat menimbulkan dampak pada layanan secara keseluruhan di lembaga/ instansi/perusahaan. Belum lepas dari ingatan, ketika saya dengan senang hati memesan beberapa paket bingkisan di sebuah toko roti (bakery) untuk keperluan tempat saya bekerja. Maklum saja, saya tergolong customer “to love” nya toko roti tersebut. Beberapa hari setelah pesanan via telepon, paket bingkisan sudah ada di kantor. Saya periksa paket bingkisan tersebut secara acak. Dan, saya melihat kualitas paket itu tidak sama bagusnya seperti tahun lalu, ter­utama di packaging (kemasan). Sebagai customer yang loyal, saya komplin. Namun apa yang saya dapatkan? Jawaban dari pelayan toko itu : “Itu bukan bagian saya Ibu, itu bagian back office, orang lama bagian itu sudah pindah. Saya tidak mengerti masalah bingkisan, saya hanya pelayan”, dan alasan lainnya yang

rekan/bagian lainnya? Bisakah kita bayangkan jika seorang pelaku layanan “melarikan diri” dari setiap komplin nasabah, karena bukan dia “penyebabnya”? Tentu komplin customer tidak terlayani dan tidak mendapat solusi atau penyelesaian, maka customer pun kecewa. Dan, dampak negatif yang tidak disadari oleh pelaku layanan yang menyalahkan rekan kerja atau bagian lainnya adalah secara tidak langsung dia menyalahkan perusahaan dimana dia bekerja. Ini tentu memberi kesan yang tidak baik kepada orang diluar. Ya saya istilahkan… lemon makan lemon (LML) Pernah dengar kalimat “customer yang puas akan bercerita kepada satu orang, sedangkan customer yang kecewa akan bercerita kepada sepuluh orang?”. Kasus lemon makan lemon yang akut dalam perusahaan, jika tidak segera dilakukan perbaikan bisa berdampak buruk bagi kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri, minimal pada citra perusahaan yang menjadi tidak baik. Jadi kepedulian layanan harus : 1). Ditanamkan kepada seluruh pekerja. Dimulai dari level pimpinan (top level) sampai pada level paling bawah. Tidak hanya berupa pengarahan ataupun briefing, tetapi harus terjun untuk bisa melihat secara langsung pelaksanaan layanan. 2). Membangunkan jiwa bahwa layanan adalah mengambil tindakan untuk menciptakan nilai bagi orang lain 3). Tim dalam layanan memiliki sikap, sasaran, dan praktik yang sama. Menunjukkan ciri nilai layanan yang diberikan juga mendefinisikan kebudayaan layanan individu/perusahaan tersebut. Layanan haruslah merupakan sinergi dari seluruh bagian. Bukan pengkotak-kotakan layaknya struktur organisasi yang kaku. Ingat, secara fungsi, “Customer Service” bukanlah sebuah departemen, tapi itu adalah tugas setiap orang yang merasa menjadi pekerja dari sebuah perusahaan. Jadi, mari kita memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita, mulainya dari sekarang. Salam Senyum Sang Penyihir (3SP) Sri Sumahardani

susu tersebut milik suaminya Mahdi Kasim. Orangtua suaminya keturunan Pakistan. Pemilik ketiga kios susu yang lain juga milik keluarga Mahdi Kasim. Kios pertama milik Mahdi Kasim, kios kedua milik Pa Sholeh, ketiga milik Mba Yuni dan keempat milik Bibi Ruksana. Bibi Asra mengaku kegiatan menjual susu sapi murni di tempat ini sudah berlangsung sejak lama bahkan sudah puluhan tahun. Modal untuk menjual susu sapi tersebut seluruhnya berasal dari kantong sendiri. “Kami tidak pernah mengajukan dana pinjaman dari bank atau UKM untuk modal jual susu,” ujarnya. Ketika ditanya untung yang diperoleh dalam sehari dari kegiatan jual susu tersebut, Bibi Asra mengaku untung bersih sehari sekitar Rp 100 ribu. “Lumayan Pak, cukup untuk makan,”

ujarnya sambil tersenyum. Mba Puput, penjaga dan penjual susu di kios kedua milik Pa Sholeh mengaku bahwa susu itu adalah milik keluarga Mahdi Kasim. Baik Bibi Asra maupun Mba Puput mengaku susu tersebut berasal dari Sukodono dan Krian milik H. Kholik dan Firus keturunan Pakistan dan Arab dengan puluhan ekor sapi perah. Sedangkan susu kambing berasal dari tempat lain. Menurut Bibi Asra susu yang dijual di keempat kios tersebut dikirim dua kali dalam sehari yakni pagi dan sore. Tiap pagi dia dikirimkan 55 liter susu sapi murni pada pukul 04.30, sedangkan sore hari 40 liter lagi pada jam 14.30. Sehingga sehari dia mendapat suplai susu sebanyak 95 liter. Sedangkan di kios milik Pak Sholeh

biasanya mendapat kiriman susu sebanyak 200 hingga 250 liter pada pagi hari dan sore hari juga mendapat kirim dengan jumlah yang sama. Sehingga sehari dia mendapat kiriman susu sebanyak 400 hingga 500 liter. Menurut pengakuan Bibi Asra, stok susu tersebut habis terjual setiap hari karena peminatnya cukup banyak. Pembelinya kebanyakan para tukang jamu khususnya yang menjual jamu STMJ (susu telor madu dan jahe). “Kalau mereka beli biasanya sampai 10 liter setiap hari. Selain itu, pembelinya adalah warga Surabaya yang senang minum susu,” ujar ibu dua anak itu. Bibi Asra yang lahir pada 8 Agustus 1979 itu, menjelaskan harga susu sapi mentah per liter Rp 8.000, sedangkan susu sapi murni yang sudah masak biasanya Rp 9.000. Sedangkan susu kambing etawa harganya Rp 20.000 per liter, namun stoknya sangat terbatas sekitar 10 hingga 20 liter per hari. Di kios Pa Sholeh harganya sedikit lebih murah yakni Rp 6.000 hingga Rp 6.500 kalau susu sapi mentah. Selain membuka kios susu sapi di Jemursari, Bibi Asra juga membuka kios yang sama di Medokan Sawah dan dijual oleh saudaranya bernama Bibi Sandra. “Harga susu di sana sedikit lebih mahal yakni Rp 10.000 per liter,” ujar alumnus SMA 17 Untag Surabaya tersebut. Menurut pengakuan Bibi Asra, peminat susu kambing etawa sebenarnya banyak sekali namun stoknya sangat terbatas dan harganya sedikit lebih mahal. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pembeli, susu kambing etawa sering digunakan sebagai obat. Namun, tidak tidak tahu untuk mengobati penyakit apa. -Jos

Aroma Khas Sate dan Becek Mentok Sor Sawo

“LML - Lemon Makan Lemon” sangat membuat seorang customer merasa tidak nyaman. Contoh kejadian selanjutnya ketika saya berbelanja di sebuah supermarket, dimana barang yang banyak dengan rak berjejer dan arena lumayan luas. Dengan, sedikit kebingungan saya mencari barang yang akan saya beli. Saya melihat ada salah satu pegawai swalayan tersebut sedang menyusun barang-barang di rak, saya menghampirinya dan langsung bertanya, “Maaf Mbak (terlihat masih muda..hehe), saya mau beli kapas, di rak mana tempatnya ya? Dengan antusias, dia berhenti sejenak dan dengan ramah, mengantarkan ke tempat barang yang saya cari itu. Dua contoh kejadian yang saya alami di atas sebagai seorang customer, layanan manakah yang membuat saya tersenyum? Saya yakin bahwa hampir semua customer menginginkan layanan yang baik. Pelayan yang dapat membuat customernya tersenyum dan keluar dengan rasa nyaman, sebab inilah tujuan setiap perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Saya quote sebuah kalimat dari sebuah buku berjudul “Hearty Service” yang bisa menjadi inspirasi dalam servis, yaitu “Customer service is not a department, its everyone’s job”. Kalau servis-nya sudah seperti kalimat tersebut rasanya perlu pembenahan urusan servis di segala bidang. Pengalaman menjadi trainer dalam service excellent, ba­ nyak peserta yang bertanya “bagaimana caranya melakukan hal tersebut dengan sempurna?” Sebuah pelayanan yang hanya sebagai rutinitas akan cenderung asal-asalan. Membiasakan nilai-nilai bahwa setiap orang yang akan kita hadapi adalah pelanggan yang dihormati, dimuliakan, dihargai, dan akan membuat kemajuan perusahaan kita, akan menjadikan kita selalu antusias membantu atau memberikan pelayanan saat bertemu customer bahkan calon customer sekali pun. Bicara judul Lemon makan lemon, bisakah kita membayangkan jika seorang pelaku layanan menyalahkan

Kios penjual susu sapi dan kambing di Jemursari

19

Mba Puput penjual susu sapi sedang membungkus susu sapi dalam kemasan satu liter.

Tuban yang dikenal dengan sebutan Bumi Wali ternyata menyimpan beragam kuliner yang khas dan memiliki cita rasa tinggi. Bagi pecinta kuliner belum lengkap jika tidak mencicipi sate dan becek (semacam gulai). Sate dan becek banyak diburu pecinta kuliner. Apalagi jika kuliner yang satu ini diberengi dengan minuman khas Tuban, towak. Banyak peminum towak yang menggunakan sate atau becek untuk tambul. “Yang enak becek mentok itu dimakan tanpa nasi, tapi minumnya towak. Apalagi satenya rasanya sangat khas jika digunakan tambul minum towak,” papar Sukisno, salah seorang warga yang biasa memburu kuliner untuk tambul minum towak. Namun, juga tidak sedikit warga yang memburu kuliner becek dan sate untuk makan siang tanpa towak. Seperti di warung Mak Sutiah di Jalan Majapahit gang Buyung Desa Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Di warung yang dikenal Sor (di bawah) Sawo itu tak pernah sepi pembeli. Bahkan, tak jarang mereka kembali dengan tangan kosong, karena sudah keburu habis. Warung itu terlihat biasa, hanya dibangun dari bambu. Warungnya di atas lahan sekitar 10 meter kali 20 meter. Dulu, warung Mak Sutiah didirikan di bawah pohon sawo, seiring kemudian dinamai warung Sor Sawo. Bagi pecinta kuliner, tak sulit mencari warung tersebut. Bisa dicari di internet melalui google earth atau bertanya kepada abang becak. Karena Sor Sawo sudah dikenal masyarakat maupun pejabat di Tuban. Satu porsi sate mentok sebanyak 10 tusuk dihargai

­ p 30.000 sementara untuk beceknya dihargai Rp 15.000. R Daging sate seukuran ibu jari orang dewasa berwana coklat mengkilat dibumbui kecap, sambal, irisan bawang merah dan tomat seolah membuat pengunjung tak sabar menyantapnya. Rasa sate gurih, empuk, aroma bawang merah dan sambal membuat ngiler. “Kebanyakan sate itu kan bahannya

dari daging ayam atau kambing, tapi rasa sate mentok ini lebih enak. Dagingnya besar, empuk, dan gurih,” tutur Ahmad Mubarok pemburu kuliner asal Jatirogo, Tuban. Mubarok yang mengaku sudah menjadi pelanggan tetap Mak Sutiah ini menyebut, bukan hanya rasa sate mentoknya saja yang enak, becek mentok ala Mak Sutiah ini memiliki aroma khas. Bumbu becek mentok ini hampir sama dengan bumbu gulai. Bau rempah-rempah kuahnya meyengat. Bisa menimbulkan gairah makan. “Rempah-rempah di beceknya terasa sekali, maknyus pokoknya. Baunya sedap. Dagingnya empuk tak kalah dengan satenya,” katanya yang kala itu datang bersama teman-temannya. Siang itu, warung Mak Sutiah dipenuhi pelanggan. Beberapa pelanggan datang rombongan menggunakan mobil. Pelanggan lainnya menggunakan sepeda motor. Itu tampak dari ken­daraan yang terparkir di halaman warung Sor Sawo. Mak Sutiah mendirikan warung Sor Sawo bersama suaminya sejak tahun 1995. Sate dan becek mentok ini tidak hanya digemari penikmat kuliner lokal Tuban, banyak penikmat kuliner dari luar kota Tuban turut menikmatinya. Pelanggan yang datang setiap harinya mencapai ratusan orang. Untuk memenuhi permintaan pelanggannya, setiap hari Sutiah menyembelih mentok ratarata delapan ekor. -oso


18

Kreasi

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

“Seminar Bisnis”

Bagaimana Berbisnis dengan Berbasis Kerakyatan Sebuah media online menuliskan pernyataan seorang Ekonom di Jakarta bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang lebih kompleks dibandingkan pada tahun 2008. Kondisi perekonomian global yang rapuh ini juga menjadi kekhawatiran para tokoh masyarakat di Bali, baik dari kelas bawah sampai kelas atas. “Beberapa tokoh sempat ngobrol dengan saya menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap perekonomian Bali,” ungkap Made Robert, seorang motivator, pemilik beberapa perusaha­an yang juga Direktur BOS Land ini.

Bu Agung (paling kiri) mendampingi Ny. Bintang Puspayoga, Theresia Indrijati Kuntjoro (owner Viva Cosmetics), dan Sri Haryati, S. Pd. (Ketua LSK Tata Kecantikan Kulit)

AA Ayu Ketut Agung

Dukung Denpasar sebagai Kota Berkompeten Mendukung Denpasar sebagai Kota Berkompeten pertama di Indonesia, Dr. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. secara kontinyu menyelenggarakan uji kompetensi di TUK (Tempat Uji ­Kompetensi) Agung.

T

UK Agung yang menjadi TUK satu-satunya di Bali untuk tata kecantikan kulit, melaksanakan ujian tata kecantikan kulit, Minggu (17/1) yang diikuti 100 peserta. Materi yang diujikan adalah perawatan wajah, make up/tata rias wajah, pedicuremenucure, materi dan praktik. Tim pengujinya adalah Sri Haryati, S. Pd., Ni Ketut Yoniari, S.H., L. Komang Nilawati, dra. Ni ketut Sriathi. Sehari sebelumnya, Sabtu (16/1), para peserta ini mengikuti Seminar Kecantikan, bekerjasama dengan LKP Agung, Harian Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post), Viva Cosmetics, dan WHDI Bali. Yang istimewa adalah acara

ini juga dihadiri Ny. Bintang Puspayoga, istri Menteri Koperasi dan UMKM yang juga Ketua WHDI Provinsi Bali, Kabid PNFI Disdikpora Provinsi Bali, Kasi PNFI Dikdipora Kota Denpasar, Dr. Abdullah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bu Agung yang juga menjadi pengurus WHDI dan pemilik LKP Agung ini telah pula melakukan roadshow hingga ke pelosok desa, memberikan pelatihan tata rias gratis dan menyosialisasikan etika berbusana adat yang baik dan benar. Seminggu sebelumya, Minggu (10/1) juga dilaksanakan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Tradisional Payas Agung Badung (Denpasar) dan

Tata Rias Pengantin Tradisional Payas Madya. Diikuti 100 peserta, yang 5 di antaranya laki-laki. Bu Agung mengatakan payas tradisional ini diujikan agar para perias benar-benar mengetahui dan memahami akan filosofi yang terkandung dalam simbol-simbol yang digunakan dalam pepayasan tersebut, kapan dan dimana boleh menggunakan payas tradisional yang sesuai dengan pakemnya (tradisional), kapan dan dimana pula boleh menggunakan payas modifikasi. Sehingga nantinya ketika terjun merias di masyarakat, para perias ini tetap memakai pakemnya untuk kegiatan ritual agama, seperti pernikahan atau potong gigi. Tim pengujinya dari LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi), yaitu Ir. Atiek Warih, S.Pd., M.M. (Sekretaris LSK Tata Rias Pengantin), Hj. Irein Ibrahim, S.Pd., I Komang Warga, Ida Ayu Ratih Ratna Dewi, Ni Ketut Sumiati, Ni Made Lilik Nurmiasih, S.E., AA Trisna Ardhanari, S.Pd., M.M., Ni Wayan Roni, dan

Ni Made Rahayuni, S.Sos. Sementara beberapa bulan sebelumnya, LKP Agung juga melaksanakan Uji Kompetensi Tata Rias Bali Modifikasi yang hasilnya diparadekan di acara Nusa Dua Fiesta 2015. Untuk payas modifikasi ini, dijelaskan Bu Agung memang diperuntukkan para wisatawan atau untuk acara resepsi, yang pengujinya dari LSP (Lembaga Sertifkasi Profesi). Ditegaskannya bahwa perias boleh berkreasi tetapi jangan kebablasan. Karena itu pula, baik payas tradisional maupun payas modifikasi keduanya diUJK-kan. Hal ini tak lain untuk tetap menjaga dan melestarikan tata rias dan busana (payas) daerah tanpa harus menolak modernisasi atau mematikan kreasi dengan payas modifikasinya. Uji kompetensi gratis yang dikeluarkan Kemendikbud melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) di TUK Agung yang dipenuhi para perias dan model ini, sempat mengundang perhatian masyarakat sekitar.

TUK adalah perpanjangan tangan dari LSK, jadi hanya TUK yang berhak melaksanakan Uji Kompetensi. “Untuk itu bagi perias yang sudah terampil dan belum mengantongi sertifikat kompetensi baik itu LSK maupun LSP, diharapkan untuk segera mendaftar di TUK Agung. Disiapkan beasiswa dengan syarat dan ketentuan berlaku,” ucap Bu Agung saat ditemui di sela-sela ujian kompetensi. Mereka yang lulus ujian, dikatakan Bu Agung berhak mengantongi sertifikat uji kompetensi. Dalam uji kompetensi, kualitas keahlian dan keterampilan mereka di bidang masing-masing dalam hal ini tata rias akan diuji. “Dengan mengantongi sertifikat uji kompetensi, tenaga kerja, khususnya profesi perias akan mendapat pengakuan atas kompetensi (kemampuan)-nya oleh masyarakat luas, yang secara otomatis akan mendongkrak nilai jualnya dengan memiliki daya saing tinggi. ­Karena itu, penata rias wajib ikuti UJK,” tandasnya. –inten

AYO KURSUS…

DISKON 50% KURSUS, HANYA RP 4,5 JUTA

Kursus Tata Kecantikan Kulit, Tata ­Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Kursus Sampai Bisa & Bersertifikat

Hub. Sekretariat LKP Agung

Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. ­Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar.

Bu Agung bersama para penguji

Email:lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.

Made Robert

D

ari hasil bincangbincang tersebut, Made Robert melihat ada 9 permasalahan pokok yang ada di Bali. Pertama, saat ini Bali dijajah betul oleh para investor. Tanah Bali dijual, yang jika hal ini terus berlanjut, Bali akan habis. Pertumbuhan hotel dan sarana pariwisata lainnya banyak,

tetapi uangnya lari keluar, karena orang Bali cukup senang hanya dengan menjadi karyawan hotel/ restoran. Kedua, maraknya mini market berjejaring menggempur Bali. Mereka ini punya modal besar dan sistem yang bagus, sehingga dalam waktu yang tak terlalu lama, minimarket-minimarket yang

dimiliki putra daerah bangkrut. Ketiga, ketidakberpihakan pada nasib petani. Saat musim panen, hasil panen petani bagus, tetapi saat penjualan harganya anjlok. Padahal kita tahu di supermarket ataupun di pasar-pasar tradisional, harga produk pertanian tak pernah anjlok. Dalam hal ini, petani tak pernah mendapatkan harga

yang bagus/sesuai, petani selalu dirugikan. Keempat, putra daerah/orang Bali banyak mengeluh susah mencari pekerjaan dan membuka usaha di Bali. Namun di sisi lain, orang luar Bali dengan gampangnya datang ke Bali, bekerja dan mengambil peluang bisnis di Bali. Kelima, orang Bali dengan

7

sesama orang Bali sendiri jarang yang bersatu. Mereka umumnya berantem, saling iri bahkan bisa saling membunuh. Kebanyakan orang Bali masih bermental SMS (senang melihat orang susah, susah melihat orang senang). Orang Bali kebanyakan ramah dengan yang bukan saudaranya. Sangat berbeda dengan prinsip etnis Tionghoa yang merangkul kerabatnya untuk sukses bersama. Keenam, orang Bali melalui kegiatn adat dan suka duka sering berkumpul, namun sayangnya lebih banyak keluar uang. Sebaliknya etnis Tionghoa, ketika berkumpul bisa menghasilkan uang. Ketujuh, di sebagian besar masyarakat Bali, adat istiadat cukup memberatkan mereka dalam berkarir. Kedelapan, masih banyak orang Bali yang kurang percaya diri, sehingga kalah dalam persaingan. Orang Bali masih enggan menyebut bahwa dirinya mampu, menunggu orang lain yang mengatakannya. Orang Bali jarang mau unjuk tangan kecuali orang lain yang menunjuknya. Sekaya-kayanya orang Bali tak pernah menyebut dirinya milyarder. Percaya diri dan sombong itu berbeda. Sehingga jangan salahkan mereka kalau kita (orang Bali) diinjak-injak, itu karena kita tak percaya diri. Kesembilan, orang Bali tak punya manajemen bisnis yang baik. Potensi ada, namun tak memiliki konsultan bisnis sehingga bisnisnya berjalan seperti “manajemen dagang sate”. Semua bidang mau digarap dan akhirnya tidak fokus. Bisa saja menjalankan beberapa bisnis asalkan manajemennya bagus, sehingga bisa berkelanjutan, tidak “anget-anget tai ayam”. –ten

GEK BALI, SOLUSI PERMASALAHAN DI BALI Melihat kompleksnya permasalahan yang dihadapi masyarakat Bali, Made Robert memberikan solusi dengan meluncurkan GEK Bali (Gerakan Ekonomi Kerakyatan Bali), dengan produk Banjar Mart. Sistem Banjar Mart ini nantinya dimiliki dan dikelola krama banjar. Selama ini Made Robert melihat balai banjar kurang dimanfaatkankalau pun ada, masih kurang produktif. “Balai banjar itu tempat yang strategis. Di bawahnya misalkan, bisa dibuat mini market. Di lantai 2, buat bisnis sesuai dengan potensi di wilayah tersebut. Sementara di lantai 3, baru dipakai sebagai tempat kegiatan sosial budaya religious,” paparnya. Banjar Mart dimiliki warga banjar, sehingga inilah nanti yang bisa bersaing dengan mini market-mini market berjejaring. Terhadap keberadaan mini market-mini market tersebut, yang bisa dilakukan Pemerintah hanya dengan tidak mengeluarkan izin atau menutup izin operasionalnya. Namun menurut Made Robert, itu saja tidak cukup. Masyarakat Bali harus menyiapkan sistem yang lebih bagus, yakni memakai konsep CBOS (Capitalism Based on Society) atau kapitalis berbasis kerakyatan, dengan produknya Banjar Mart. Dari, oleh, dan untuk krama banjar. Ia menyontohkan, misalkan untuk membangun banjar ini dibutuhkan dana sebesar Rp 1 miliar, dana ini disharing dengan krama banjar. “Minimal harus ada 300 KK di banjar tersebut. Misalkan jumahnya kurang dari itu, bisa merger dengan banjar lain,” cetusnya. Dengan jumlah KK 300, dana wajib yang harus dikeluarkan adalah Rp 2 juta per KK. Sisanya Rp 400 juta bisa dibeli lagi oleh masyarakat yang lebih mampu/memiliki dana lebih, yang tentunya nanti perhitungan pembagian hasil disesuaikan dengan persentase dana yang sudah dikeluarkan. Tenaga-tenaga (SDM) lokal yang mengelola Banjar Mart ini tentunya juga harus mendapatkan pendidikan manajeman yang baik. “Jika dalam rantai ekonomi bisa

menguasai market atau hilirnya, selanjutnya bisa bergerak ke produksi, UMKM, kelompok tani, dll., bisa dihidupkan jauh lebih gampang karena pasar/pembeli sudah disediakan,” tandas Made Robert. Dalam seminar ini nantinya Made Robert akan “mengubah masalah menjadi berkah”. Ia memberi contoh salah satu permasalahan yang ada di Bali pada poin ketujuh, yakni adat istiadat yang cukup memberatkan masyarakat Bali dalam berkarir. Dengan gamblang, Made Robert membenarkan hal ini karena selama ini orang Bali hanya menjadi kuli/karyawan. Jika orang Bali menjadi Bos, tentu adat istiadat ini tak akan menghambat karir mereka. “Ini artinya, orang Bali sebenarnya dilahirkan untuk menjadi Bos bukan kuli sehingga adat istiadat seperti ngayah di Pura atau menyama braya itu bisa dijalani. Jadi, adat istiadat yang dulu dianggap memberatkan, kita ubah menjadi menguntungkan, karena dengan begitu kita harus menjadi bos,” tegasnya. Selanjutnya, untuk mengetahui lebih detail tentang

GEK Bali ini, Made Robert mengundang kelian banjar, bendesa adat, kepala desa/lurah, pengusaha, birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum yang peduli terhadap kerakyatan Bali, untuk hadir dalam Seminar “Membangun Bisnis Berbasis Kerakyatan untuk Ajeg Bali”. Seminar diselenggarakan, Minggu 31 Januari 2016, pukul 10.00 wita di Hotel Puri Ayu, Jalan Sudirman No. 14A Denpasar. Selain mengupas bagaimana membangun bisnis berbasis kerakyatan, Made Robert juga akan memberikan bonus pada tiap individu. Anda punya usaha, tapi tidak berkembang alias hidup segan mati tak mau?? mungkin nama perusahaan, nama Anda, atau tandatangan Anda tidak berhoki? Made Robert akan memberikan solusinya. Bagi Bapak/Ibu yang berminat untuk hadir, tidak perlu membayar tiket, hanya melakukan donasi/punia secara sukarela. Dan, seluruh punia akan disumbangkan untuk pemberdayaan masyarakat Bali. Untuk informasi, silakan hubungi 082 147 500 588, 085 969 042555. –ten

Made Robert saat memberikan seminar dalam sebuah kesempatan


8

Bunda & Ananda

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Griya

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

17

Perhatikan Sisi Agresivitas Anak Akar Kayu Bernilai Seni Tinggi

Main perang-perangan sering dilakukan anakanak. Zaman dulu, anak-anak bermain dengan senjata dari pelepah pisang. Zaman sekarang, senjata plastik banyak dijual di toko mainan. Mengapa bermain perang-perangan dige­ mari anak-anak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

P

Retno I G. Kusuma

ulang sekolah, Bis­ ma, Nanda, dan be­ berapa temannya menunggu jempu­ tan. Mereka lalu bermain perangperangan di halaman sekolah. Senjatanya bukan pistol, tetapi

penggaris dan botol air mineral yang dipe­ gang layaknya pistol. Mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok sebagai “aparat keamanan”, satu kelompok sebagai “penjahat”. Apa yang mereka mainkan ini terinspirasi dari tayangan teror Sari­ nah, Jakarta. Gencarnya pemberitaan khusus di media elektronik membuat anak-anak ini menjadikan peristiwa tersebut sebagai media permainan. “Dar..dar.. dar…kamu kena,” ujar Nanda kepada salah satu temannya. Ternya­ ta anak yang “kena tembak” itu pasrah dan menerima konsekuensi dirinya sudah kena. Set­ elah semua “penjahat” tertembak, mereka berkumpul lagi dan ber­ tukar peran. Bermain “perang-perangan” tidak hanya dilakukan dalam permainan nyata. Ada juga anak-

Penyerahan Hadiah Funtastrip

Telkomsel bersinergi dengan Cellular World dalam program Funtastrip. Penyerahan apresiasi program Funtastrip berupa 10 tiket liburan ke Universal Studio Singapura kepada 10 pelanggan Telkomsel yang memenangkan undian dilaksanakan Senin (18/1). Penyerahan dilakukan oleh GM Sales Regional Bali Nusra Ihsan dan Retail Sales Manager Cellular World Malika Jiwaji di Cellular World Gatot Subroto, Denpasar. Ihsan mengatakan tujuan dari program ini adalah untuk memberikan excellent experience kepada pelanggan broadband Telkomsel, karena selain bisa menikmati layanan broad­ band 4G LTE Telkomsel, pelanggan juga berkesempatan liburan ke Universal Studio Singapura. Program selanjutnya yang digelar Telkomsel adalah Cellular World K4GET (Kejutan 4G Experience Telkomsel) berrhadiah 1 mobil dan 6 sepeda motor –Ngurah Budi

Alumni SMAN 1 Tabanan menggelar pertemuan Jumat, 11 Desember 2015. Kegiatan temu alumni lintas generasi ini merupakan acara yang dikemas untuk meningkatkan mutu pendidikan SMAN 1 Tabanan. Selain memberikan penghargaan ntuk siswa berperestasi, alumni SMAN 1 Tabanan mengadakan diskusi panel.

bisa bermain perang-perangan dengan pelepah pisang. Mereka bermain kolektif dan menunjuk­ kan kreativitas dalam bentuk “senjata”. Sekarang susah men­ emukan yang seperti ini,” ungkap Ketua YPAC Bali ini.

Anak-anak melihat peralatan perang

anak yang menggemari per­ mainan di video games maupun gadget. Mereka sigap dan ma­ hir memainkan peran sebagai penumpas kejahatan. Beberapa permainan menampilkan visual berupa pelaku yang tertembak dan mengeluarkan darah. Atau, si penumpas kejahatan yang malah kena tembak. “Anak-anak sekarang sangat canggih bermain games perangperangan. Kalau kalah masih bisa main lagi sampai menang. Ini mem­ buat anak-anak ketagihan. Uang saku bisa habis di rental PS atau warnet bahkan untuk beli pulsa,” ungkap Bu Ria yang anaknya dulu sempat ketagihan main PS. Apa yang dilakukan anak-anak, dari sisi psikologi merupakan fase peniruan. “Anak-anak merupakan peniru ulung. Apa yang dilihat di media elektronik khususnya bisa ditiru. Mereka terpapar secara visual. Apa yang dilihat keren lang­ sung menjadi idola. Itulah yang

tertanam di memori mereka,” ujar Retno I G. Kusuma, Kepala Sub Unit Psikologi Rehabilitasi Medik RS Sanglah. Fase peniruan yang dilakukan anak ini juga menunjukkan sisi agresivitas anak. Jika agresivitas ini berlebihan, orangtua harus intros­ peksi. Bisa jadi, anak merasa terte­ kan karena orangtua terlalu otoriter atau orangtua sering bertengkar. Anak tidak bisa menyalurkan emosi secara nyata, sehingga melampias­ kan melalui permainan melalui PS maupun gadget. Anak-anak merasa tidak berdaya di dunia nyata. Karena itu mencari pelampiasan dengan main (games) kekerasan sehingga bisa memukul dan men­ embak sesuka hati. Pengaruh lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Lingkungan yang menggemari games juga bisa membuat anak-anak terpengaruh. Banyaknya tempat penyewaan juga mempermudah akses mer­ eka bermain. “Dulu, anak-anak

BERMAIN TEATER Retno melihat ada sisi positif yang bisa dikembangkan dari kegemaran anak bermain perangperangan. Orangtua bisa me­ nyalurkan bakat anak ke bi­ dang olahraga bela diri. Hal ini dibarengi dengan pemahaman tentang pentingnya bela negara. Siapa tahu, ini bisa menjadi dasar bagi anak untuk memilih profesi sebagai tentara atau polisi. Bagi guru juga harus kreatif dalam mengemas isu aktual menjadi media pembelajaran bagi anak. “Anak-anak bisa diajak ber­ main peran, ada yang menjadi tokoh baik ada yang menjadi tokoh jahat. Materinya mengacu dari peristiwa actual. Buat ske­ nario lalu sisipkan pelajaran budi pekerti, PPKn, bahkan bahasa Indonesia. Kemas dalam bentuk teater. Anak-anak akan lebih mudah memahami kalau diajak bermain peran. Bermainnya bisa di kelas, bisa di aula, atau di halaman sekolah,” jelas Manajer Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Bali ini. Karena bermain itu memer­ lukan tempat, pemerintah juga harus terlibat. Salah satunya dengan memberi syarat sekolah harus memiliki ruang terbuka se­ bagai tempat bermain dan berak­ tivitas. Permainan yang dilakukan anak-anak ini juga membuat anak belajar berkoordinasi dan melatih kecerdasan emosional mereka.

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

kewajiban berterimakasih

Sedang asyiknya petani itu menyabit rumput di lereng gu­­ nung, tiba-tiba ia men­ dengar jeritan yang mengiba. Ia men­dekat. Dilihatnya seekor ular terjepit batu yang baru saja runtuh. Tanpa memperhitungkan aki­ batnya, ia menolong Made Taro ular itu. Ular itu menggeliat lalu mengangkat kepalanya hendak mematuk petani itu. “Hai, Ular! Kau berutang nyawa kepadaku. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih,” seru petani itu. “Di sini berlaku hukum rimba, Petani bodoh!” jawab Ular. Siapa kuat dia menang. Kau adalah korbanku. Tak ada kewajiban bagi pemenang untuk berterima kasih.” Dengan ancaman sabit, petani itu mengajak ular yang ditolongnya itu mencari kebenaran melalui pengadilan. Mereka berdua mengadukan perkara­ nya kepada Kuda, kemudian kepada Sapi. Jawaban pengadil itu sama, “Tak ada kewajiban berterima kasih kepada manusia! Bukankah manusia itu tidak pernah berterima kasih kepada hewan yang berjasa untuknya? Bahkan manusia berlaku kejam

terhadap mereka?” Keputusan dua pengadil itu membesarkan hati Ular untuk mematuk petani. Namun dengan anca­ man sabitnya, petani itu bertangguh. “Tunggu dulu! Ada pengadil yang terakhir, yakni Serigala.” Petani dan Ular menghadap ke rumah Serigala. Dalam suatu kesempatan, petani itu berbisik kepada Serigala, “Jawab dengan ‘ya’! Akan kuhad­ iahkan tiga ekor anak babi.” Setelah Ular dan Petani menyeritakan peristiwa yang sebenarnya, sang pengadil Serigala memberi kesempatan kepada Ular untuk menyatakan ke­ luhannya. Kata Ular, “Apakah aku berutang budi dan apakah aku wajib mengucapkan terima kasih?” Serigala itu langsung menjawab, “Ya!” Dengan malu-malu ular berbisa yang kalah da­ lam pengadilan itu, menggeliat-geliat bersembunyi ke dalam semak-belukar. Setelah matahari tenggelam, Serigala yang di­ percaya menjadi pengadil itu mendatangi rumah Petani. Dengan sopan ia mengetuk pintu. “Petani, mana tiga ekor babimu?” katanya. Petani membuka pintu. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tetapi menodongkan bedil ke mon­ cong Serigala. “Dor!” Untung sang Serigala dengan sigap menghindar, lalu menghilang di kegelapan malam. Ia berdoa, semoga sang Ular mau mem­ balas dendam kepada Petani yang tidak merasa berkewajiban berterima kasih.

Material kayu selalu menarik untuk dijadikan mebel maupun aksesoris. Tak sedikit penger­ ajin yang sengaja membiarkan bentuk asli kayu untuk mendapatkan nilai estetika yang tinggi. Semua itu tentunya tergantung kreativitas pengerajin untuk peka menangkap sisi-sisi kayu yang bisa ditonjolkan. Tak hanya batang kayu yang bisa dimanfaatkan, kini akar kayu pun mulai banyak diolah dan dijadikan produk bernilai seni tinggi.

S

eperti beberapa mebel dan aksesori kayu yang ditawarkan Arshop Aneh-aneh di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai Sanur, Denpasar. Salah seorang karyawannya, Riski mengatakan arshop ini memang khusus menjual barang-barang antic, seperti pintu, kursi, meja, dan aksesori (pajangan). Kayukayu tersebut sengaja dibiarkan bentuk aslinya, tinggal dibentuk/dipahat sesuai kreasi pengerajin. Kayu-kayu yang dipakai diantaranya, akar kayu leci yang dibentuk muka perempuan, akar jadi dibentuk bunga, akar gembol jati dibentuk anjing dan domba, akar benalu yang menempel di pohon klengkeng dibentuk menjangan, akar pohon beringin dipakai pajangan, dan yang paling banyak adalah akar kayu jati dipakai menjadi meja. –Inten Indrawati

Patung kayu dari akar gembol jati

Meja dari akar kayu jati

Pajangan kayu dari akar kayu leci

IFC Denpasar

Masuk Panggung Dunia Berakar Keunikan Budaya Indonesia Indonesia Fashion Chamber (IFC) Den­ pasar Jumat (15/1) resmi dikukuhkan, di Indonesia Tourism Information Centre (ITIC) di Kuta. IFC Denpasar adalah satu dari 11 Chapter yang ada di seluruh Indonesia. Pada acara yang dihadiri undangan dari berbagai kalangan yang bergerak di bidang fashion dan ekonomi kreatif tersebut, Dwi Iskandar, Ketua IFC Denpasar , mengatakan IFC dibentuk dengan tujuan memfasilitasi desainer dan pengusaha bidang mode yang terkait, untuk memperkuat fondasi demi kemajuan industrI mode secara nasional dan dalam peta internasional. Dwi mengatakan penggiat mode di Indo­ nesia memiliki kekuatan tersendiri, baik gaya maupun kreativitasnya. Karenanya penerapan MEA bukan hal yang menakutkan namun memperkuat posisi tawar dunia mode dan fashion di Indonesia di kawasan Asia Tenggara. “Keberadaan IFC, organisasi nonprofit yang beranggotakan para pelaku industri mode di Indonesia ini juga demi menunjang tujuan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat mode dunia pada tahun 2025, melalui produk ready to wear yang men­ goptimalkan kekuatan lokal. Local inspiration with contemporary spirit. Selanjutnya , adalah

IFC Denpasar

memperkuat fondasi semua lini yang terkait dengan industri fashion,” paparnya. Saat ini ekosistem industri mode secara garis besar terbagi dalam rantai kreatif mulai dari proses kreasi, produksi, distribusi, pen­ jualan hingga archiving, dan nurturance environment yang mencakup pendidikan dan apresiasi. Di sinilah desainer yang menjadi ujung tombak mesti bisa membangun kerjasama yang kuat agar dapat sejalan dengan dinamika perubahan gaya hidup yang sangat cepat, dengan tetap membawa keunikan kekuatan lokal. Mengingat Indonesia saat ini sedang me­ nikmati bonus demografi, suatu masa yang memiliki kelompok muda dan produktif terbesar, maka perhatian pun diberikan pada kelompok desainer muda. Merekalah yang akan menjadi tulang punggung kemajuan industri mode. Berada era digital, gaya hidup global, mereka juga diharapkan siap memasuki panggung dunia dengan tetap berakar pada keunikan budaya Indonesia. Berbagai konsep pembinaan melalui program incubator, workshop, training maupun FGD akan menjadi bagian kegiatan IFC. Pembinaan bukan hanya dari sisi kreativi­ tas, namun terutama manajemen, branding, marketing, dan banyak lagi. Penyelenggaraan pa­ meran dagang skala lokal maupun internasional pun akan menjadi bagian dari progam IFC.Seba­ gai sebuah organisasi, IFC dibangun dengan semangat kebersamaan, penyatuan ide, dan kon­ sep dituangkan dalam berbagai program serta kegiatan untuk tujuan bersama.

IFC Saat Pengukuhan

TIGA SEKTOR National Chairman IFC Ali Charisma me­ negaskan IFC bukan hanya bermakna bagi internal organisasi, namun untuk keseluruhan pelaku industri mode dan masyarakat. Ma­ kanya kerjasama juga dibangun dengan bidang ekonomi kreatif lain, di antaranya bersinergi dengan kelompok desain lain membentuk Indonesia Trend Forecasting, membawa inspirasi Indonesia sebagai tawaran untuk produk gaya hidup global. Selain itu berbagai kerjasama juga dilakukan bukan hanya dalam taraf nasional namun juga dalam jaringan internasional. Togetherness in creativity, IFC sebagai bagian dari masyarakat ikut memikul tanggung jawab membangun negeri. Memajukan industri mode tidak cukup dilakukan hanya oleh perancang busana saja, namun perlu dukungan para pekerja kreatif. Untuk ini IFC hadir mewadahi mereka. Karenanya, dalam arah berjalan­ nya, IFC akan bergerak di industri mode dengan kekhususan ready-to-wear-craft dan modest fashion. IFC juga memiliki

rencana untuk mengembangkan tiga sek­ tor, seperti research and development, SDM, dan bisnis yang mencakup desain dan label, pemasaran dan distribusi, serta kewirausahaan unit kecil dan menengah. Ali juga mengatakan bahwa prasyarat un­ tuk menerima seseorang menjadi anggota asosiasi yang mulai digagas November 2015 ini, menerapkan standar tertentu dan akan dikurasi atau diseleksi oleh tim yang sudah di­ tunjuk khusus. Hal ini diakuinya demi menjaga kualitas dan komitmen para anggota IFC. Susunan Kepengurusan IFC Denpasar terdiri dari Government Board (Nyonya Selly Dharma Wijaya Mantra), Advisor Board (Ali Charisma), Local Chairman (Dwi Iskandar), Local Treasure (Angeliqa Wu), Local Secretary (Neli Gunawan), Education & Research Development (Monika Weber), Intern Organization (Putu Aliki), Business Development (Oka Diputra), Marcomm & Public Relation (Oka Diputra), Product Development (Weda Githa), Institution Relation (Dewi Suarjani), Deputy Institution Relation (Yenli Wijaya). – Sri Ardhini


16

Life

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Story

Cerita Kepedihan Hati demi Uang Keringat menetes dari wajah Rumina (38), membasahi pakaian dan hijab yang dikenakan. Perempuan itu memakai ­kacamata dan tubuhnya kurus tidak terlalu tinggi. Tiap kali bicara, ia kerap memicingkan matanya. Sambil menggendong seorang anaknya yang masih bayi dan diikuti dua anaknya yang masih kecil berusia 10 dan 8 tahun, Rumina telah berjalan cukup jauh.

D

i pemberhentian angkot antar desa di Terminal Mandalika Mataram, Rumina mengendong bayi berusia enam bulan itu dan menggandeng kedua anaknya, berjalan di bawah panas terik matahari menelusuri Kota Mataram. Ketika Rosa menemukan mereka tengah kehausan di pinggir jalan seputar Cakranegara Mataram, rasa iba di hatinya pun muncul. Ia menepikan mobilnya, lalu turun menyapa Rumina yang tengah duduk berselonjor di bawah sebuah pohon sambil memangku bayinya. Kedua anaknya tampak melihat kiri kanan seperti baru saja melihat keramaian kendaraan yang berseliweran riuh di depannya. Seperti kehilangan harapan dalam letih yang teramat sangat, Rumina memandang kosong. Saat Rosa mendekatinya, ia pun bercerita apa yang tengah mereka cari dengan melakukan perjalanan seperti itu. “Rumina cerita kalau mereka tinggal di Lombok Timur dan suaminya tengah sakit parah. Dia ke Mataram untuk cari bantuan, namun tidak tahu harus ke mana,” kata Rosa. Menurut Rosa, Rumina seperti orang stres, karena melakukan perjalanan dengan menenteng tiga anak kecil bukanlah hal yang mudah. Butuh biaya untuk angkot dan lainnya. “Ternyata untuk dapat sampai ke Mataram naik angkot, ia dapat pinjaman dari tentangganya Rp 50.000,” katanya. Karena iba dan tahu Rumina tak punya arah dan tujuan di Mataram, Rosa pun mengajak mereka ke rumahnya. Ia membelikan minuman dan camilan untuk Rumina dan anak-anaknya. Setiba di rumah, Rosa memberi mereka makanan dalam jumlah yang banyak. Sampai mereka merasa kenyang. Rumina juga diberikan pakaian untuk mengganti pakaiannya yang telah dibasahi keringat. “Sungguh sedih saya melihat kondisi mereka,” ungkap Rosa yang seorang karyawan perusahaan swasta di Mataram ini. Setelah makan, Rosa mempersilahkan mereka untuk beristirahat di salah satu kamar rumahnya dan juga mempersilahkan mereka untuk menunaikan ibadah Salat. “Terlihat mereka lelah sekali, sampai-sampai saat tidur siang mereka lelap sekali,” ujarnya. Cukup lama mereka tidur hingga sore tiba dan mereka pamit pulang ke Lombok Timur. Dengan sukarela, Rosa mengantarnya

hingga angkot jurusan Lombok Timur di terminal Mandalika. Ia juga memberi pakaian-pakaian layak pakai kepada Rosa juga sejumlah uang sebagai ongkos dan biaya hidupnya minimal satu minggu. Setelah semua selesai, angkot membawa mereka dan Rosa pulang ke rumahnya. MAU PINJAM UANG Setelah kejadian itu, Rosa tidak lagi terlalu mengingat siapa mereka. Hingga akhirnya seminggu kemudian, Rumina datang lagi ke rumahnya bersama bayinya saja. Dengan senang hati Rosa menyambut dan memberinya makanan dan lain-lain. Juga uang sebagai ongkos pulang dan sejumlah uang lagi sebagai pegangannya. Hari itu karena kesibukannya, Rosa tidak bisa mengantar hingga ke terminal, hanya sampai gerbang rumahnya saja. Rumina diminta naik angkot yang tidak jauh dari rumah Rosa. Ongkos angkot dan lainnya juga disertakan oleh Rosa. Rupanya hal ini berulang lagi, beberapa kali sampai akhirnya suatu hari, Rosa menemukan kejanggalan pada kunjungan-kunjungan Rumina berikutnya. Rumina tidak lagi membawa kedua anaknya melainkan hanya berdua dengan bayinya saja. Dalam logika Rosa, seringnya Rumina datang ke rumahnya dan selalu menceritakan kepedihan hatinya dengan berbagai permasalahan, tampaknya mulai terbaca sebagai hal yang mencurigakan. Intensitas kedatangannya semakin sering dan tiap kali datang ia dibekali uang oleh Rosa. “Saya mulai berpikir Rumina memanfaatkan saya,” katanya. Ditambah lagi ia mengajukan niatnya meminjam uang dalam jumlah hitungan juta rupiah untuk membuka usaha warung di rumahnya. Tentu saja, Rosa tidak mudah mempercayainya dan kecurigaannya semakin besar.. Bagaimana tidak, Rosa menilai Rumina tidak mau berusaha dan mau mendapatkan uang secara instan.

Lalu, seringnya ia datang ke Mataram, tentulah membutuhkan ongkos yang tidak sedikit untuk biaya pergi dan pulang dari Lombok Timur ke Mataram. Karena itulah kecurigaan Rosa semakin menjadi apalagi pada suatu kali Rosa dengan tidak sengaja melihat Rumina dan bayinya dibonceng oleh seorang laki-laki, di seputaran Mataram. “Waktu itu saya yakin atau tidak yakin apakah itu benar Rumina,” kata Rosa yang menyimpan peristiwa itu sebagai referensinya tentang Rumina.

di berugak rumah saya,” katanya. Se­perti biasa juga pembantunya memberinya makan dan teh serta camilan. “Saya memang sudah titip pesan pada pembantu, kalau Rumina datang diberi makan dan lainnya jika dia menunggu saya pulang,” ujar Rosa. Usai ‘prosesi’ berkeluh kesah, Rumina pamit pulang. Kali ini, Rosa tidak memberinya uang banyak melainkan hanya memberi ongkos pulang. Rumina dan bayinya lalu pulang. Rosa berpura-pura masuk rumah dan dari jendela rumahnya di pinggir gang, dengan matanya Rosa mengikuti perjalanan Rumina. “Laki-laki yang ada di motor yang terparkir di ujung gang itu, tampak mendekati Rumina dan Rumina pun naik ke boncengan sepeda motor tersebut,” ujar Rosa. Di sanalah ia baru benar-

benar sadar bahwa Rumina telah membohonginya. Sejak itulah, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Rosa meminta pembantunya untuk tidak membukakan pintu rumah jika Rumina datang. Ia sendiri tidak tega mengusir Rumina, sehingga ia menitip pula pesan pada pembantunya agar menginformasikan kepadanya lewat telepon, jika ada Rumina datang ke rumahnya. “Kalau saya tahu dia datang ke rumah, saya tidak pulang ke rumah sampai dia pergi,” katanya. Sejak sering tidak lagi menemui Rosa di rumah, lama-lama Rumina tidak lagi datang ke rumahnya. Namun, sesekali ia melihat Rumina berboncengan dengan laki-laki tersebut di seputaran Mataram. Rosa bersedia berbagi kisah ini, agar tidak ada lagi yang ditipu oleh Rumina seperti yang dialaminya. -Naniek I. Taufan

Dara

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

9

Medina Warda Aulia

Grand Master Catur Termuda

Medina Warda Aulia tampak santai, dahinya tak nampak berkerut, padahal dia harus menghadapi 42 orang pecatur yang harus dilawannya satu persatu dalam sebuah pertandingan catur simultan di Gedung Badan Pemeriksa Keuangan.Berbeda dengan tampilan para peserta yang semuanya berusia dua kali lipat di atas Medina, yang tampak serius dengan dahi berkerut-kerut. Nampak sekali para peserta berpikir keras untuk bisa memenangkan atau setidaknya bertahan dalam pertandingan itu.

Medina Warda Aulia

DITUNGGU DI UJUNG GANG Suatu hari, sepulang dari kantor, dari dalam mobil menuju gang rumahnya, Rosa melihat ada sepeda motor dengan pengendara laki-laki, parkir di ujung gang rumahnya, seperti menunggu sesuatu. Setiba di rumahnya, seperti biasa rupanya ada Rumina bersama bayinya sedang menunggunya. “Mereka tiduran

berlatih sampai sekarang. Sebenarnya sebelum catur aku juga punya beberapa hobi lain seperti melukis, juga suka ikut lomba. Bahkan pernah juara di kejuaraan sempoa pelajar se-kota Bekasi dan runner up kejuaraan sempoa se-Jawa Barat. Tapi semua itu aku tinggalkan dan konsentrasi pada catur,” tambah Medina yang didampingi oleh ayahnya, Nur Muchlisin. Berkat prestasi yang ditorehnya itu, Medina pun direkrut Eka Putra Wirya, pemilik Sekolah Catur Utut Adianto untuk mendapat pendidikan khusus di sekolah catur itu. Hasilnya, permainan catur gadis cilik ini makin berkembang dan itu juga yang menghantarnya untuk tampil di event-event catur internasional. Ia mengaku, sejak mengenal catur dia menjadi tahu capaian apa yang diinginkannya dan bagaimana cara mencapainya. “Aku bekerja keras untuk itu sejak aku masih kecil hingga sekarang. Aku fokus pada catur dan pendidikan, itu saja,” ungkap Medina.

T

api berjam-jam berdiri dan berkeliling, akhirnya membuat gadis manis kelahiran Juli 1997 ini, terlihat lelah juga. Maklum, dari jam 2 siang hingga 7 malam dia terus saja berkeliling. Berbeda dengan lawanlawannya hanya hanya duduk sambil memelototi papan caturnya. “Ya memang begitu pertandingan catur simultan langsung. Tantangannya pada stamina, lebih capai. Beda dengan simultan online dimana kita hanya duduk saja. Seperti misalnya saat saya melawan 650 orang, tapi secara online,” ungkap Medina, Grand Master Catur, yang ditemui seusai pertandingan tersebut. Namun, kata Medina lagi, meski dalam pertandingan ini pesertanya cukup banyak, tapi ia pernah melawan 50 an peserta secara serentak. “Hanya saja kali ini cukup berat karena banyak pemain yang bagus,” kata Medina yang merupakan Grand Master Catur Termuda Indonesia. Medina meraih gelar GM Termuda pada usia 16 tahun 2 bulan. Ia mematahkan rekor seniornya, Irene Sukandar yang meraih GM pada usia 16 tahun 7 bulan.

Gadis yang kini tengah kuliah di Fakultas Administrasi Negara Universitas Indonesia semester pertama, mulai menekuni permainan catur sejak usia 9 tahun. Itu pun secara tidak sengaja. “Waktu itu aku sangat suka barbie dan permainan kerajaan. Catur kan ada raja, menteri. Ayah bilang ini seperti permainan kerajaan, mau belajar tidak? Tentu saja aku tertarik. Apalagi ada iming-iming kalau aku pandai main catur bisa membeli barbie. Dari situ lah aku mulai belajar, ayah kan juga hobi main catur, jadi awalnya ayah yang mengajarkan,” ujar anak ketiga dari enam bersaudara ini. Rupanya memang Medina berbakat, hanya dalam tempo singkat dia bukan saja mampu menguasai permainan catur dan trik-triknya, tapi oleh sang ayah langsung diikutsertakan pada sebuah kompetisi catur. Tidak tanggung-tanggung, Medina langsung bertarung dalam arena Kejurda Catur DKI Jakarta. Luar biasa, ternyata Medina yang ketika itu masih berumur 9 tahun memenangkan pertandingan, dan dia pun berhak mewakili DKI Jakarta di Kejurnas dimana dia menjadi juaranya. “Sejak itu aku semakin tekun

BELAJAR FILOSOFI CATUR Filosofi catur katanya, secara tidak langsung mengajarkan tentang kehidupan. Bahwa untuk mencapai sesuatu dalam kehidupan ini seseorang harus bekerja keras, juga menggunakan strategi, taktik untuk mencapai target. “Di catur pun begitu. Ketika kita memutuskan untuk melangkah, kita harus sudah memperhitungkan akibatnya, apa antisipasinya. Strategi-strategi apa yang harus dipakai untuk memastikan langkah itu aman, dan bisa membawa kita mencapai target yang diharapkan,” kata

Medina yang dalam tiga kali kiprahnya di kejuaraan dunia catur pelajar, dua kali berhasil meraih juara pertama dan satu kali meraih runner up. Menariknya, meski cukup sibuk dengan kegiatan catur, mulai dari latihan hingga kerap keluar negeri untuk mengikuti turnamen, namun dalam hal pelajaran sekolah nilai-nilainya selalu bagus. “Sebagai orangtua itulah yang menenangkan kami. Artinya, sekalipun dia banyak menghabiskan waktu di catur namun dia masih bisa membagi waktunya dengan pelajaran di sekolah. Nilai-nilainya bagus, makanya kami orangtua sangat mensupport hobi Medina itu,” tambah Nur Muchlisin, sang ayah. Dari 2006, sejak mulai menekuni catur hingga kini, cukup banyak prestasi internasional yang berhasil disabetnya. Namun, katanya, satu yang paling membuatnya merasa puas adalah ketika ia berhasil meraih gelar WGM (Woman Grand Master), itu merupakan gelar tertinggi bagi pecatur wanita. “Rasanya aku benar-benar plongdan bangga bisa dapat WGM. Hasil kerja keras selama ini terasa terbayar dengan prestasi-prestasi yang aku dapat. Aku bekerja keras membagi waktu antara catur dan belajar agar tidak saling mengganggu karena aku sejak awal bertekad berprestasi di pendidikan juga di dunia catur. Tidak banyak waktu santai karena habis sekolah langsung konsentrasi di sekolah catur kadang sampai jam 12 malam. Melelahkan, tapi ada hasilnya. Dan yang terpenting aku menyukai kegiatan itu,” tutur Medina yang dianugerahi Satya Lancana Wira Karya oleh Presiden Susilo Bambang

Medina meraih juara di Pardubice Chess Festival

Yudhoyono pada 2008 lalu atas prestasinya yang mengharumkan bangsa. Tapi ayah Medina, Nur Muchlisin mengaku sempat kecewa karena sekalipun anaknya berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional, namun tidak mendapat keistimewaan untuk bisa masuk perguruan tinggi tanpa tes. “Padahal saya sudah mengurusnya, baik ke KONI, Pemda, dll. Penghargaan-penghargaan, termasuk penghargaan dari Presiden sudah dilampirkan. Toh, nilai sekolah Medina juga cukup bagus. Tapi tidak berhasil. Dia ingin masuk Universitas Indonesia. Untungnya, meski harus menjalani tes seperti halnya calon mahasiswa lainnya, Medina berhasil lolos. Saya bersyukur sekali,” ungkap Nur Muchlisin. Saat ini, kata Medina, berbeda dengan ketika ia masih SMA. Kegiatan di kampus cukup padat, termasuk dalam tugas-tugas yang harus dikerjakan. Di sisi lain, kegiatan catur-nya pun cukup padat, setidaknya hampir setiap bulan ia harus ke luar negeri untuk mengikuti turnamen. “Aku benar-benar harus membagi waktu. Meski sibuk aku tetap mengerjakan tugas. Untungnya dari kampus aku juga dapat dispensasi untuk keluar negeri, tapi hanya dapat jatah sebulan sekali tidak bisa lebih. Jadi aku menyesuaikan karena bagi aku pendidikan lebih penting,” kata Medina yang kini tengah mempersiapkan diri mengikuti Kejuaraan Catur Asia yang akan digelar Mei 2016 mendatang. “Untuk dua bulan ke depan jadwal keluar negeri sudah ada yakni, Hongaria dan Dubai. Itu untuk tryout sebelum Kejuaraan Asia. Aku berharap bisa lolos kejuaraan ini sebab ini akan menjadi tiket aku untuk bisa mengikuti Kejuaraan Dunia pada Agustus mendatang,” tambah Media yang berharap bisa meraih juara Asia. “Kalau ditanya apa target aku di catur, tentunya adalah mencapai prestasi tertinggi. Aku akan bekerja keras untuk itu,” katanya lagi. Tapi pada saatnya nanti, lanjut Media, dirinya sadar bahwa harus memilih antara pendidikan dan catur. “Karena sepertinya ketika saat itu tiba, tidak mungkin lagi membagi waktu tanpa ada satu yang dikorbankan. Karena catur makin lama makin padat kegiatannya, begitu juga pendidikan. Kalau harus memilih, sepertinya aku akan memilih pendidikan. Karena bagi aku pendidikan jauh lebih penting dalam menjamin masa depan,” tutur Medina yang bercita-cita menjadi menteri. –Diana Runtu


10

Mitos

Konsumsi Bakteri untuk

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Jaga Penampilan?

Awal abad ke-21 ditandati dengan kemajuan revolusioner di bidang bakteri pada tubuh manusia (human microbiota), setelah dituntaskannya riset human genome. Ditemukan bahwa isi perut manusia terdiri dari 2 kg bakteri, dengan 500-15.000 spesies dan total gen bakteri sebanyak 200 kali jumlah gen seluruh tubuh manusia. Dengan luas seluruh saluran pencernaan manusia dewasa diperkirakan seluas 400 m2, maka masuk logis kalau setiap bahan makanan yang kita konsumsi segera dapat diubah menjadi bentuk lain dalam waktu yang singkat, oleh mesin gen mikroba yang kekuatannya 200 kali gen tubuh manusia, tersebar pada ratusan spesies.

K

ini, komposisi bakteri yang ada di dalam saluran pencernaan semakin terkuak dan diketahui memberikan kontribusi yang kuat dengan status kesehatan individu. Eksplorasi intensif pada bidang ini diawali oleh penemuan Elie Metchnikoff, seorang ahli mikrobiologi Rusia, pemegang hadiah nobel pada tahun 1908, pertama kali menemukan bahwa konsumsi susu fermentasi (yoghurt) dapat memperpanjang umur manusia (The Prolongation of Life: Optimistic Studies). Selanjutnya, ditemukan pula bahwa para tentara suku Masai di Afrika, semakin sehat setelah diberikan susu fermentasi yang di dalamnya terdapat Lactobacillus. Akhirnya, sampailah pada abad ke-21 ini, Lactobacillus dan bifidobacteria dua kelompok bakteri pembentuk asam laktat, dimana manusia berhutang banyak, bakteri Lactobacillus telah digunakan secara turun-temurun dalam produksi bahan pangan terfermentasi seperti yoghurt, kefir, sayur asin (pickle), kimchi, sukemono, dll. Sampai akhirnya, sampailah pada pengetahuan probiotik, dimana bakteri hidup dikonsumsi untuk dapat meningkatkan kesehatan manusia melalui menjaga keseimbangan bakteri pada saluran pencernaan manusia. Komposisi bakteri saluran pencernaan manusia sehat yang juga sering disebut normal flora, dijelaskan Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D., peneliti bakteri asam laktat dan bakteri saluran pencernaan, sangatlah labil yang dipengaruhi oleh jenis bahan makanan yang kita konsumsi, kondisi stres, serta terapi obat-obatan.

Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D

Kondisi ini akan mengubah pola/ komposisi bakteri saluran pencernaan sehingga berpengaruh terhadap keseluruhan jalur metabolisme tubuh, yang konsekuensinya berpengaruh terhadap kesehatan. Proses perombakan komponen bahan pangan di dalam saluran pencernaan terjadi secara bertahap yang dilakukan oleh berbagai spesies mikroba dalam saluran pencernaan sesuai tingkat kerumitan komposisi (makromolekul bahan pangan), seperti kelompok senyawa karbohidrat, protein, lemak dan lain sebagainya. “Perombakan (degradasi) ini akan menghasilkan energi untuk tubuh serta sumber energi bagi bakteri saluran pencernaan. Kelompok bakteri saluran pencernaan terlibat aktif dalam fermentasi sehingga menghasilkan metabolit (metabolomics) yang berinteraksi dengan jalur metabolisme tubuh sehingga manifestasinya adalah perubahan warna dan bentuk dari feses yang

kita keluarkan setiap pagi,” ujar dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unud ini. Kesehatan saluran pencernaan secara praktis dapat dilihat dari bentuk dan warna feses. Warna dan bentuk feses, adalah cerminan komposisi bakteri dan aktivitas bakteri saluran pencernaan. Manakala bentuk feses kita adalah tipe 1 (bentuk butir kecil, warna hitam, dan umumnya berbau menyengat) adalah manifestasi dari kondisi konstipasi, kondisi dimana sulit buang air besar, perasaan tidak nyaman, pertanda kurangnya populasi dan aktivitas bakteri menyehatkan seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria. Tetapi, sebaliknya justru kalau feses bentuknya sangat encer (cair), berbau asam dan warna sangat kuning (tipe 7) adalah indikasi diare atau terlalu banyak fermentasi asam (pH feses teralalu asam). Dengan demikian, keberadaaan tabel kontrol feses dapat dipergunakan untuk memonitor bentuk feses paling ideal yaitu bentuk tipe 4, dengan bentuk seperti sosis (pisang), lembek, warna tidak terlalu coklat gelap, yang terbukti identik dengan kandungan Lactobacullus dan Bifidobacteria yang tinggi di dalam saluran pencernaan. Sehingga, kesehatan saluran pencernaan dapat dimonitor setiap pagi, di mana table control feses ditempel di depan toilet dan berikan score tipe feces Anda setiap hari. Lalu, apakah hubungan bakteri saluran pencernaan dengan penampilan ? Tampil menarik, penuh percaya diri, dengan tubuh langsing dan sehat merupakan idaman setiap orang, khususnya para

Style

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Semakin berkembangnya dunia fashion juga memberikan peluang bagi para desainer bidang aksesori. Begitu juga dengan kreativitasnya. Maka, aneka koleksi aksesori kini trennya cenderung ke arah hand made. cahiya.com

wanita muda. Sehingga untuk dapat tampil menarik, tidak jarang rela sampai merogoh kantung dalam-dalam, dan bahkan karena tuntutan penampilan, sampai rela berpuasa (diet ketat, mengurangi makan) demi bentuk tubuh ideal. Sehingga, tidak jarang dapat menimbulkan penyakit. Di sisi lain, kebiasan makan yang salah, terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung minyak/lemak hewani yang tinggi, makanan terlalu asin dan manis, cendrung menyebabkan bentuk tubuh gemuk dan cenderung obesitas. Ditemukan, bahwa kegemukan dan kondisi kurus, berasosiasi dengan komposisi bakteri saluran pencernaan. Obesitas berasosiasi dengan dominasi kempok bakteri firmicutes (yang dalam kelompok ini terdiri dari 250 spesies) yang dominan dibandingkan dengan kelompok bakteri Bacteroides (ada sekitar 100 spesies). Sehingga, kondisi gemuk dan langsing, dapat dilakukan dengan memprogram komposisi bakteri saluran pencernaan. Programming bakteri saluran pencernaan dilakukan dengan pola makan yang baik dan sehat dengan kandungan karbohidrat dan serat yang memadai. Karhobidrat akan cendrung menyebabkan pola fermentasi asam oleh bakteri menguntungkan seperti kelompok Bacteroides, Lactobacillus, dan Bifidobacterium. Asam ini yang terkenal dengan sebutan short chain faffty acid (SCFAs), menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan atau akan memupuk bakteri saluran pencernaan yang lain atau yang juga sekaligus memperbaiki integritas dinding saluran pencernaan. Hal ini berasosiasi dengan eksekresi beberapa molekul sitokinin yang dapat mencegah inflamasi. Kombinasi serat kasar yang tinggi sebagai pemegang air (water holding) yang baik sehingga meningkatkan volume dan kandungan air feses lebih tinggi. Hal ini tentu akan menyebabkan feses lebih lembek dan nyaman untuk dikeluarkan. Kondisi terbalik terjadi di mana dengan

banyaknya restoran cepat saji, junk food dan camilan mengandung garam dan gula yang tinggi. Terkadang menjadi pilihan individu tertentu dan bahkan juga telah mengancam anak-anak sekolah pada saat ini. Sehingga, tidak mengherankan terjadi banyak kasus kegemukan (obes) dan bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah meningkatnya potensi diabetes. Telah terbukti bahwa dengan mengonsumsi probiotik Lactobacillus, Bifidobacterium termasuk bakteri yoghurt (Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophylus) dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan empedu (biles) sehingga mempengaruhi penimbunan lemak dan mencegah obesitas. Selain produk susu asam/terfermentasi yang tidak dominan di Indonesia (walau tren konsumsi susu fermentasi semakin meningkat dan populer di Indonesia pada saat ini) yang dipergunakan sebagai pilihan terbaik untuk menyeimbangkan bakteri saluran pencernaan, sumber pangan tropis yang berlimpah di Indonesia tidaklah kalah kualitasnya, seperti di daerah tropis, seperti pisang dan pepaya sebagai sumber prebiotik. Sehingga untuk tampil percaya diri dan sehat tentunya, tidaklah terlalu mahal bagi insan wanita muda di daerah tropis. Pertimbangannya adalah selalu menjaga kawan setianya, bakteri saluran pencernaan, yang sehat melalui manajamen diet yang seimbang, konsumsi bahan pangan sumber probitik (tempe, tape, susu fermentasi seperti yoghurt) atau konsumsi probiotik yang banyak di pasaran, disertai konsumsi pangan mengandung prebiotik: umbi-umbian (ketela rambat, gadung, suweg, dll), buah-buahan (pisang, papaya, tomat, anggur, dll), biji-bijian (beras, kedelai), termasuk bawang bombai yang banyak mengandung inulin. Pastikan selalu memonitor bentuk dan warna feses setiap pagi dan gunakan sebagai dasar menajemen diet hari berikutnya. –Inten Indrawati

D

an, Saturday La­ bel, adalah pro­ duk hand made merek lokal yang fokus kepada aksesoris untuk perempuan. Salah satu kreasinya yakni kalung, merupakan hasil eksplorasi cantikdari rajutan dan bahan lainnya, sehingga memiliki penampilan yang khas Menurut pemiliknya Samira

Zati, kalaupun peminat karya tangan ini meningkat, karena desain-desainnya unik, tidak pastinya membosankan, karena setiap karya akan berbeda. Sebagai genrasi muda Samira juga berharap dengan semakin banyaknya produk hand made berkualitas yang digarap, seperti untuk kepentingan dunia fashion akan membantu mengangkat

produk lokal semakin berkembang bahkan mendunia. “Semoga pula semakin banyak produk berkualitas dari berbagai daerah dan jenis usaha yang menjadikan Indonesia lebih produktif dan kreatif,” kata Samira. Berikut beberapa aksesoris dari Saturday Label yang dikenakan dalam sebuah kesempatan fashion show di Jakarta. Aksesori ini diantaranya diberi nama Cytougana Necklace, Palenque Necklace, Bohe Stone Necklace, Masha Gold Necklace, Blanc-b Necklace, Perline Necklace in Black, Feminine Collar Necklace, dan Palenque Necklace ini menjadikan penampilan pemakainya semakin menarik dan modis. –Sri Ardhini

15


14

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Cantik di Depan Kamera

Pernakkah Anda merasa kecewa melihat wajah Anda difoto, kemudian merasa kurang fotogenik? Merasa kecewa karena wajah teman di samping kiri dan kanan Anda lebih kinclong ? Selain pencahayaan dan teknik fotografi, apa sih rahasianya agar tetap cantik saat difoto?

S

etiap orang setelah melakukan pemotretan atau difoto tentu ingin mendapatkan hasil jika mungkin lebih indah dari warna aslinya. Untuk ini, salah satu strateginya adalah dengan riasan wajah atau make up yang baik. Dikatakan oleh Marni, supervisor kosmetik La Tulip, riasan wajah untuk sebuah pemotretan tidak sama dengan riasan sehari-hari. Adanya sinar lampu dan pencahayaan yang menerangi menjadikan kulit seseorang terlihat lebih pucat atau berminyak pada hasil foto. “Disini diperlukan tata rias yang berfungsi untuk menonjolkan kelebihan pada bentuk wajah. Jika riasan wajah terlalu tebal, akan mengakibtakan wajah terlihat seperti topeng. Untuk foto yang sifatnya sebagai dokumen pribadi, cukup gunakan riasan yang natural sehingga wajah terkesan ‘polos’ tapi tetap bersinar dan segar,” ujarnya. Marni mengatakan, bahwa yang harus diingat adalah bentuk wajah, sehingga lebih mudah menentukan mana bagian yang paling sempurna untuk diperlihatkan. “Umumnya, mata dan bibir yang menjadi poin kekuatan yang memika,”ujar Marni. Selanjutnya Marni memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan tat arias untuk pemotretan diantaranya: . lGunakan alas bedak cair yang sewarna kulit, untuk hasil yang lebih rata. l Poleskan shading untuk meniruskan pipi yang tembam. Jangan lupa lakukan polesan yang sama di cuping hidung, dahi,, dan dagu untuk kesan berdimensi. Ratakan dengan bedak tabur secara merata. l Buatkan alis yang proporsional sehingga

membuat mata lebih indah dan membingkai wajah secara menyeluruh dengan baik. lGunakan pensil alis warna cokelat kehitaman atau abu-abu gelap, bagi yang memiliki alis hitam dan tebal. lAplikasikan pula base eyeshadow, atau bedak cair atau pun concealer krim, agar perona mata dapat berbaur lembut. l Bubuhkan perona mata warna cokelat, lanjutkan dengan polesan highlight kuning gading pada tulang alis. Dapat pula dilengkapi dengan mempertegas bentuk mata dengan pensil warna cokelat tua pada sudut luar mata. Jika Anda suka, bisa menggunakan bulu mata palsu, yang dapat membantu menambah binar mata. Pilih yang bulunya natural, kemudian oleskan maskara cokelat tua atau hitam sesudahnya. Benar, saat ini ada program edit foto yang bisa membuat wajah tampak mulus tanpa noda. Namun, untuk hasil terbaik, sangat bagus jika kita menggunakan foundation yang lebih terang dari warna kulit untuk membantu menutupi bekas lingkar hitam mata, sehingga wajah tidak tampak kusam juga bisa berfungsi menutupi noda i wajah. Lanjutkan dengan perona baby pink, untuk kulit putih, pink kecokelatan dan peach untuk kulit kuning, peach ke jingga untuk kulit gelap. Warna Bibir Sesuai Warna Mata Masih untuk kepentingan foto, katanya bibir memiliki peran untuk riasan nude. Jika keliru mengaplikasikan warna, riasan akan terlihat medok atau berlebihan. Kini se makin banyak pilihan warna nude yang bisa ditemukan. Berbeda dengan pemakaian make up sehari-hari, untuk pemotretan, hindari bibir yang terlihat kering dan pecah-pecah. Namun, jika kulit bibir kering, gunakan lipbalm. Bibir juga dapat dibentuk dengan pensil bibir yang sewarna garis bibir. Oleskan lipstik warna natural dengan kuas bibir, lanjutkan dengan polesan lipstik yang disukai. Untuk bibir dapat juga di-

oleskan lipgloss bening pada bagian tengah bibir agar terlihat lebih segar. “Warna bibir sebaiknya sesuai dengan warna mata. Jika ingin menonjolkan bibir, pilih warna bibir yang satu warna lebih gelap dari warna mata. Dan sebaliknya, jika memiliki bibir tipis, gunakan lip gloss untuk membuatnya tampil lebih tebal,’ katanya lebih lanjut. Sebaiknya Anda secara teratur melap wajah dengan tisu penyerap minyak. Bergerak dan panas cahaya cenderung membuat wajah Anda berminyak, khususnya dahi dan daerah T. “Lakukan semuanya dengan hati-hati,” kata Mirna sambil menuliskan catatan perangkat make up yang perlu di miliki untuk yang suka berias sendiri. - Alas bedak cair sesuai warna kulit atau setingkat lebih gelap, dan concealer. - Bedak tabur dan bedak padat. -Base eyeshadow. - Penjepit bulu mata. - Maskara hitam atau cokelat tua. - Pensil mata warna cokelat kehitaman. - Lipstik warna natural, lipgloss. -Bulu mata palsu. - Perona mata warna natural, seperti gradasi cokelat, kuning, dan abu kehitaman. - Krim untuk shading, atau bisa menggunakan perona mata warna cokelat tua. - Perona pipi warna peach untuk kulit putih, atau pink kecokelatan untuk kulit yang lebih gelap. Jika Anda ingin melakukan pemotretan dengan memakai fotografer, jangan sepelekan

Jelita urusan make up. Sebab, sebagus apapun teknik fotonya, hasil tidak akan maksimal jika tanpa make up yang bagus. Make up yang berkualitas akan lebih tahan lama di kulit, sehingga tidak mudah luntur meskipun berkeringat. Semoga dengan info make up Marni untuk pemotretan di Tokoh kali ini dapat membantu Anda mendapatkan hasil foto yang lebih sempurna. - Sri Ardhini

Bugar

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

11

Deteksi Dini Kanker Kolorektal dengan Metode Kolonoskopi O l e h : d r. I G e d e Pa n d e S a s t r a w a n , S p . P D . , F i n a s i m

Kanker usus besar atau dalam 3.Ukuran BAB lebih kecil dari biasanya bahasa medis disebut kanker (menyerupai pensil) kolon/kolorektal didefinisikan 4.Teraba benjolan pada perut bawah sebagai keganasan yang terjadi 5.Kehilangan berat badan pada rektum sampai usus besar tanpa sebab yang jelas atau kolon, yang merupakan 6.Pemeriksaan colok dubur bagian dari sistem pencernaan. didapatkan benjolan pada rectum Sebagian besar kasus kanker 7.Tanda-tanda obtruksi mekanik di usus kolorektaldimulai dalam bentuk (ileus obstruktif) stadium pra-kanker, berupa tonjolan kecil dan jinak yang disebut Peran kolonoskopi adenomatous polyp. Kanker kolsebagai alat deteksi dini orektal merupakan kanker ketiga Kolonoskopi merupakan teknik pemerterbanyak yang menyerang pria, iksaan saluran cerna bawah atau usus besar dan yang kedua terbanyak pada atau dalam bahasa medis disebut kolon. wanita, dari seluruh penderita Kolonoskopi merupakan prosedur pemerikkanker di seluruh dunia (Peter saan yang aman yang tidak dapat dilakukan Boyle, 2002). Insidensi kanker oleh jenis pemeriksaan lain yang bertujuan kolorektal di Indonesia cukup untuk melihat struktur dinding usus besar, potinggi, demikian juga angka kelip atau peradangan pada dinding usus besar. dr. I Gede Pande Sastrawan, matiannya. Dari data yang dikumSp.PD.,Finasim Kolonoskopi dilakukan dengan memasukkan pulkan dari 13 pusat kanker di kamera serat optik yang disebut kolonoskop melalui anus Indonesia, kanker kolorektal merupakan salah satu dari 5 menuju ke seluruh bagian kolon, tindakan ini memerlukan kanker yang paling sering terjadi baik pada pria maupun waktu kira-kira 20 menit sampai 1 jam. wanita (Depkes, 2008)

dan riwayat keluarga ada atau tidak kanker kolon. American College of Physicians pada tahun 2012 merekomendasikan skrining kolonoskopi pada populasi tanpa ada faktor risiko mulai usia 50 tahun sedangkan pada populasi dengan faktor risiko tinggi dimulai pada usia 40 tahun.

Indikasipemeriksaan kolonoskopi Kolonoskopi dilakukan atas indikasi diagnostik untuk menegakkan atau memastikan suatu dugaan atau diagnosis kelainan di kolon ataupun untuk terapetik sebagai metode pengobatan terhadap kelaianan di kolon atau salurna cerna bawah. A. Indiakasi diagnostik: mSkrining kanker kolorektal mPerdarahan saluran cerna bawah : BAB berdarah, pemeriksaan darah samar positive, anemia defisiensi besi yg tidak dapat dijelaskan penyebabnya mKeluhan pada saluran cerna bawah : diare lama, sembelit kronis, nyeri perut yang tidak jelas penyebabnya mEvaluasi kelainan yg ditemukan pada pemeriksaan radiologi saluran cerna bawah mEvaluasi setelah operasi kanker kolon untuk melihat adanya pertumbuhan polip baru atau penyebaran dan komplikasi kanker kolon. mPenyakit inflamasi atau radang usus : skrining rutin untuk melihatkeberhasilan pengobatan dan kemungkinan komplikasi atau tingkat keparahan dari penyakit B. Indikasi terapetik mMengeluarkan benda asing mDilatasi (pelebaran) penyempitan di kolon mDekompresi atau mengurangi tekanan atau peregangan kolon mPolipektomi (pemotongan polip)

(Sumber:www.uptode.com)

(Sumber:www.uptode.com)

Faktor risiko kanker kolorektal Faktor risiko yg dapat meningkatkan terjadinya kanker kolorektal: mAdenomatus polyposis familial mPenyakit inflamasi atau radang usus (Inflamatori bowel disease) mRiwayat keluarga kanker kolon mRiwayat adanya polip kolon atau kanker kolon mUsia tua, makin tua lebih beresiko mFaktor pola hidup : makanan tinggi lemak dan daging merah, kegemukan

Gejala dan Keluhan Kanker Kolorektal Keluhan dan gejala kanker kolorektal meliputi: 1.Buang air besar (BAB) berdarah 2.Perubahan kebiasaan BAB (diare atau sembelit)

Tujuan utama deteksi dini kanker kolorektal adalah untuk mencegah kematian akibat kanker kolon. Skrining kanker kolorektal membantu mengidentifikasi kanker pada stadium awal sehingga masih memungkinkan untuk disembuh­kan, juga untuk mencegah perkembangan menjadi kanker dengan identifikasi dini dan penangan awal kelainan-kelainan pra kanker sebelum menjadi kanker. Sebagian besar kanker kolorektal berasal dari polip pra kanker yg dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan kolonoskopi. Kolonoskopi merupakan salah satu metode skrining kanker kolorektal dengan tujuan deteksi dini polip atau kanker stadium awal diikuti dengan eradikasi kelaianan tersebut. Skrining atau eradikasi polip secara berkala dengan metode kolonoskopi, menurunkan risiko kejadian kanker kolorektal sebesar 90%. Penemuan dini kanker kolorektal stadium awal meningkatkan keberhasilan pengobatan dan menurunkan resiko kematian akibat kanker. Kolonoskopi merupakan standar baku untuk skrining dan pengamatan kanker kolorektal, waktu untuk mulai skrining kolonoskopi tergantung dari riwayat medis pasien

Prosedur dan persiapan kolonoskopi 1.Penjelasan yang cukup kepada pasien tentang manfaat, risiko dan prosedur tindakan 2.Mengisi lembar informed consent 3.Kolon yang bersih dari ampas makanan: a.Makan bubur kecap atau makanan cair tanpa serat 1 hari sebelum tindakan b.Minum air putih banyak (2-3 liter/hari) c.Puasa makan 8 jam sebelum prosedur dilakukan d.Minum cairan pencahar sesuai jadwal dan minum yg banyak e.Bila minum obat-obatan rutin utk darah tinggi, diabetes atau pengencer darah agar dikomunikasikan dengan dokter f.Evaluasi BAB sebelum prosedur, yag diharapkan berupa cairan saja tidak ada ampas makanan, sehingga persiapan sangat tergantung kepatuhan pasien dalam diet rendah serat dan asupan cairan 4.Ada keluarga yg menemani

Kesimpulan Skrining untuk kanker kolorektal dapat mengidentifikasi kelainan pra kanaker dan kanker stadium awal. Skrining scara nyata menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal. Kolonoskopi merupakan salah satu metode yang direkomendasikan utk deteksi dini kanker kolorektal.


Kuliner

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

12

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Buntut Goreng

13

Menggoda Selera Balino Sushi

Guntur Corner

Makanan Asia Selera Indonesia

Bagi Anda yang menyukai perpaduan rasa makanan Barat, Jepang, India, dan Indonesia, cobalah datang ke Guntur Corner. Tempat makan yang berlokasi di Jalan Buluh Indah Denpasar ini, sangat refresentatif untuk bersantai. Selain makan, Anda juga bisa mengadakan meeting atau pertemuan dengan klien dengan free wifi. Aneka menu tersedia, mulai dari makanan Barat, Jepang, India, dan Indonesia. Rasa makanan juga sudah disesuaikan dengan selera lidah orang Indonesia. Cobalah menikmati chicken mumbai, ayam yang dibumbui rempah-rempah ala India.

M

Chicken Mumbai

enurut sang koki, Jero Gria Sari, yang membedakan chicken mumbai hanya sausnya. “Sausnya terbuat dari bumbu Bali. Warna sausnya merah kecokelatan, yang disiram di atas ayam yang sudah dimasak sampai dagingnya lembut,” kata perempuan usia 50 tahun ini. Sebagai tambahan

penyajian, ada potongan lontong. Dari penampilan, chicken mumbai ini sangat menggoda selera makan. Menurut, Indra, salah seorang konsumen yang sedang menikmati chicken mumbai mengatakan, rasanya pas dengan selera. Mirip dengan bumbu kare tapi lebih pedas. Sementara, temannya, Asti, lebih memilih

balino pizza. Menurutnya, menu tersebut sangat unik, karena pizza yang biasanya diberi bumbu ala Italia, sekarang diberi sentuh­ an bumbu Bali dan dibuat agak pedas. “Pizzanya enak juga,” kata Asti yang menikmati pizza bersama temanya Mita. Menurut Jero Gria Sari, kalau suka makanan Jepang juga bisa mencoba balino sushi. Penyajian tetap ala Jepang, namun, ada beberapa bahan yang dimodifikasi sehingga sesuai dengan lidah orang Bali. “Nasi kami campur sedikit dengan ketan. Di dalam sushi ada wortel dan mentimun. Ini enak untuk camilan sembari bersantai bersama teman-teman,” ujar Jero Gria Sari sembari berpromosi. Sementara, bagi penyuka menu India, selain chicken mumbai, ada juga roti canai dan roti prata. Roti khas India ini disajikan bersama saus kare. –Wirati Astiti

Oleh-oleh Khas Bali Pia Pendet Kue pia kini sudah dikenal sebagai oleh-oleh khas Bali. Peluang ini juga dilirik Guntur ­Corner. Pia Pendet, ala Guntur Corner ini sangat spesial. Satu kotak harga Rp 75 ribu isi 8 buah. Ada empat rasa, keju, cokelat, kacang hijau, dan ubi ungu. Menurut Lastri, salah satu karyawan di Guntur Corner, yang paling banyak diorder mix rasa keju dan cokelat. Pia Pendet hanya disalurkan pada outlet tertentu. Tiap hari, kue pia ini dibuat tidak terlalu banyak, hanya disesuaikan dengan pesanan. “Normalnya tiap hari buat 12 kilogram. Kalau dapat pesanan banyak, baru nambah lagi,” kata Lastri. Menurut Lastri, kelebihan kue pia pendet, selain krispi, rasanya juga lembut. Hasil itu didapat

setelah melakukan percobaan yang berulangulang. Saat ini, Lastri dibantu dua orang untuk membuat kue pia ini. –Wirati Astiti

P

ada Sabtu, 16 Janu­ari, Ibis Styles Bali Kuta Legian melakukan demo masak buntut goreng di Mal Bali Galeria dalam event “­Trending Topic F&B 2016 with Ibis ­Family”. Selain demo masak, dalam acara ini juga dilakukan talkshow dan

lomba mendekor makanan. Acara demo masak berlangsung meriah, para pe­n gunjung Mal Bali Galeria diberi kesempatan untuk mencicipi masakan spesial ini. Beberapa dari pengunjung berkomentar buntut goreng Dewi Sri ini, kaya rasa, lezat, dan menggoda selera. -rls

Balino Pizza

Sarwan

Roti Prata

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Dapatkan Diskon

10%

setiap pembelanjaan

minimal 100.000

Murah Meriah & Bersih

Nasi Goreng Bali

Berlaku mulai 28 Desember 2015 s.d. 31 Januari 2016

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 400 gr : pepaya mangkal, potong korek api 150 gr : bengkuang, potong korek api 50 gr : udang, kupas kulitnya, belah punggungnya, rebus hingga matang, tiriskan 200 gr : dada ayam fille, potong dadu 1 sdm : daun seledri, cincang halus 3 sdm : kecap ikan 3 siung : bawang putih iris tipis 1 buah : jeruk nipis, ambil airnya 3 buah : cabe merah besar, iris serong 7 buah : cabe rawit, iris serong Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Buntut goreng

Demo masak

Salad Pepaya Muda

Es Campur Santai

Lastri dan Jero Gria Sari

Kuliner Indonesia yang beragam memberikan sentuhan yang kaya rasa. Ibis Styles Bali Kuta Legian mengangkat ­Buntut Goreng sebagai Special Menu of The Month. Buntut goreng merupakan salah satu masakan khas Nusantara yang memiliki rasa manis, gurih, dan pedas. Sajian buntut goreng ini tentu akan menjadi salah satu menu favorit Anda, apa­ lagi bila Anda penggemar masakan buntut sapi.

Pelengkap: - Bawang putih goreng secukupnya - Kacang goreng secukupnya - Emping Cara Membuat: - Campur irisan pepaya dan bengkuang, udang, ayam, sele-

dri, bawang, kecap ikan, gula, garam, kaldu bubuk, air jeruk nipis, cabe rawit, dan cabe merah. Aduk merata, lalu simpan salad pepaya muda dalam lemari pendingin. Jikalau sudah dingin, siap disajikan bersama pelengkapnya.

Ayam Budu-budu Makasar

Bahan: 1ekor : ayam kampung, potong menurut selera 2 buah : jeruk, ambil airnya 700 ml : air untuk merebus 1 sdt : air asam Jawa 4 ruas : jari jahe, memarkan 3 batang : daun pre, cincang halus 1 sdt : lada bubuk Gula, garam secukupnya.

Cara Membuat: - Campur potongam ayam bersama dengan air jeruk, aduk merata, diamkan selama 15 menit, lalu cuci hingga bersih. - Rebus ayam bersama air asam Jawa, jahe, lada bubuk, garam, gula, kaldu bubuk dengan api kecil, masak sampai empuk dan bumbu meresap. Masukkan irisan daun pre, aduk-aduk sebentar, lalu angkat, sajikan selagi masih panas.


Kuliner

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

12

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Buntut Goreng

13

Menggoda Selera Balino Sushi

Guntur Corner

Makanan Asia Selera Indonesia

Bagi Anda yang menyukai perpaduan rasa makanan Barat, Jepang, India, dan Indonesia, cobalah datang ke Guntur Corner. Tempat makan yang berlokasi di Jalan Buluh Indah Denpasar ini, sangat refresentatif untuk bersantai. Selain makan, Anda juga bisa mengadakan meeting atau pertemuan dengan klien dengan free wifi. Aneka menu tersedia, mulai dari makanan Barat, Jepang, India, dan Indonesia. Rasa makanan juga sudah disesuaikan dengan selera lidah orang Indonesia. Cobalah menikmati chicken mumbai, ayam yang dibumbui rempah-rempah ala India.

M

Chicken Mumbai

enurut sang koki, Jero Gria Sari, yang membedakan chicken mumbai hanya sausnya. “Sausnya terbuat dari bumbu Bali. Warna sausnya merah kecokelatan, yang disiram di atas ayam yang sudah dimasak sampai dagingnya lembut,” kata perempuan usia 50 tahun ini. Sebagai tambahan

penyajian, ada potongan lontong. Dari penampilan, chicken mumbai ini sangat menggoda selera makan. Menurut, Indra, salah seorang konsumen yang sedang menikmati chicken mumbai mengatakan, rasanya pas dengan selera. Mirip dengan bumbu kare tapi lebih pedas. Sementara, temannya, Asti, lebih memilih

balino pizza. Menurutnya, menu tersebut sangat unik, karena pizza yang biasanya diberi bumbu ala Italia, sekarang diberi sentuh­ an bumbu Bali dan dibuat agak pedas. “Pizzanya enak juga,” kata Asti yang menikmati pizza bersama temanya Mita. Menurut Jero Gria Sari, kalau suka makanan Jepang juga bisa mencoba balino sushi. Penyajian tetap ala Jepang, namun, ada beberapa bahan yang dimodifikasi sehingga sesuai dengan lidah orang Bali. “Nasi kami campur sedikit dengan ketan. Di dalam sushi ada wortel dan mentimun. Ini enak untuk camilan sembari bersantai bersama teman-teman,” ujar Jero Gria Sari sembari berpromosi. Sementara, bagi penyuka menu India, selain chicken mumbai, ada juga roti canai dan roti prata. Roti khas India ini disajikan bersama saus kare. –Wirati Astiti

Oleh-oleh Khas Bali Pia Pendet Kue pia kini sudah dikenal sebagai oleh-oleh khas Bali. Peluang ini juga dilirik Guntur ­Corner. Pia Pendet, ala Guntur Corner ini sangat spesial. Satu kotak harga Rp 75 ribu isi 8 buah. Ada empat rasa, keju, cokelat, kacang hijau, dan ubi ungu. Menurut Lastri, salah satu karyawan di Guntur Corner, yang paling banyak diorder mix rasa keju dan cokelat. Pia Pendet hanya disalurkan pada outlet tertentu. Tiap hari, kue pia ini dibuat tidak terlalu banyak, hanya disesuaikan dengan pesanan. “Normalnya tiap hari buat 12 kilogram. Kalau dapat pesanan banyak, baru nambah lagi,” kata Lastri. Menurut Lastri, kelebihan kue pia pendet, selain krispi, rasanya juga lembut. Hasil itu didapat

setelah melakukan percobaan yang berulangulang. Saat ini, Lastri dibantu dua orang untuk membuat kue pia ini. –Wirati Astiti

P

ada Sabtu, 16 Janu­ari, Ibis Styles Bali Kuta Legian melakukan demo masak buntut goreng di Mal Bali Galeria dalam event “­Trending Topic F&B 2016 with Ibis ­Family”. Selain demo masak, dalam acara ini juga dilakukan talkshow dan

lomba mendekor makanan. Acara demo masak berlangsung meriah, para pe­n gunjung Mal Bali Galeria diberi kesempatan untuk mencicipi masakan spesial ini. Beberapa dari pengunjung berkomentar buntut goreng Dewi Sri ini, kaya rasa, lezat, dan menggoda selera. -rls

Balino Pizza

Sarwan

Roti Prata

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Dapatkan Diskon

10%

setiap pembelanjaan

minimal 100.000

Murah Meriah & Bersih

Nasi Goreng Bali

Berlaku mulai 28 Desember 2015 s.d. 31 Januari 2016

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 400 gr : pepaya mangkal, potong korek api 150 gr : bengkuang, potong korek api 50 gr : udang, kupas kulitnya, belah punggungnya, rebus hingga matang, tiriskan 200 gr : dada ayam fille, potong dadu 1 sdm : daun seledri, cincang halus 3 sdm : kecap ikan 3 siung : bawang putih iris tipis 1 buah : jeruk nipis, ambil airnya 3 buah : cabe merah besar, iris serong 7 buah : cabe rawit, iris serong Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Buntut goreng

Demo masak

Salad Pepaya Muda

Es Campur Santai

Lastri dan Jero Gria Sari

Kuliner Indonesia yang beragam memberikan sentuhan yang kaya rasa. Ibis Styles Bali Kuta Legian mengangkat ­Buntut Goreng sebagai Special Menu of The Month. Buntut goreng merupakan salah satu masakan khas Nusantara yang memiliki rasa manis, gurih, dan pedas. Sajian buntut goreng ini tentu akan menjadi salah satu menu favorit Anda, apa­ lagi bila Anda penggemar masakan buntut sapi.

Pelengkap: - Bawang putih goreng secukupnya - Kacang goreng secukupnya - Emping Cara Membuat: - Campur irisan pepaya dan bengkuang, udang, ayam, sele-

dri, bawang, kecap ikan, gula, garam, kaldu bubuk, air jeruk nipis, cabe rawit, dan cabe merah. Aduk merata, lalu simpan salad pepaya muda dalam lemari pendingin. Jikalau sudah dingin, siap disajikan bersama pelengkapnya.

Ayam Budu-budu Makasar

Bahan: 1ekor : ayam kampung, potong menurut selera 2 buah : jeruk, ambil airnya 700 ml : air untuk merebus 1 sdt : air asam Jawa 4 ruas : jari jahe, memarkan 3 batang : daun pre, cincang halus 1 sdt : lada bubuk Gula, garam secukupnya.

Cara Membuat: - Campur potongam ayam bersama dengan air jeruk, aduk merata, diamkan selama 15 menit, lalu cuci hingga bersih. - Rebus ayam bersama air asam Jawa, jahe, lada bubuk, garam, gula, kaldu bubuk dengan api kecil, masak sampai empuk dan bumbu meresap. Masukkan irisan daun pre, aduk-aduk sebentar, lalu angkat, sajikan selagi masih panas.


14

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Cantik di Depan Kamera

Pernakkah Anda merasa kecewa melihat wajah Anda difoto, kemudian merasa kurang fotogenik? Merasa kecewa karena wajah teman di samping kiri dan kanan Anda lebih kinclong ? Selain pencahayaan dan teknik fotografi, apa sih rahasianya agar tetap cantik saat difoto?

S

etiap orang setelah melakukan pemotretan atau difoto tentu ingin mendapatkan hasil jika mungkin lebih indah dari warna aslinya. Untuk ini, salah satu strateginya adalah dengan riasan wajah atau make up yang baik. Dikatakan oleh Marni, supervisor kosmetik La Tulip, riasan wajah untuk sebuah pemotretan tidak sama dengan riasan sehari-hari. Adanya sinar lampu dan pencahayaan yang menerangi menjadikan kulit seseorang terlihat lebih pucat atau berminyak pada hasil foto. “Disini diperlukan tata rias yang berfungsi untuk menonjolkan kelebihan pada bentuk wajah. Jika riasan wajah terlalu tebal, akan mengakibtakan wajah terlihat seperti topeng. Untuk foto yang sifatnya sebagai dokumen pribadi, cukup gunakan riasan yang natural sehingga wajah terkesan ‘polos’ tapi tetap bersinar dan segar,” ujarnya. Marni mengatakan, bahwa yang harus diingat adalah bentuk wajah, sehingga lebih mudah menentukan mana bagian yang paling sempurna untuk diperlihatkan. “Umumnya, mata dan bibir yang menjadi poin kekuatan yang memika,”ujar Marni. Selanjutnya Marni memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan tat arias untuk pemotretan diantaranya: . lGunakan alas bedak cair yang sewarna kulit, untuk hasil yang lebih rata. l Poleskan shading untuk meniruskan pipi yang tembam. Jangan lupa lakukan polesan yang sama di cuping hidung, dahi,, dan dagu untuk kesan berdimensi. Ratakan dengan bedak tabur secara merata. l Buatkan alis yang proporsional sehingga

membuat mata lebih indah dan membingkai wajah secara menyeluruh dengan baik. lGunakan pensil alis warna cokelat kehitaman atau abu-abu gelap, bagi yang memiliki alis hitam dan tebal. lAplikasikan pula base eyeshadow, atau bedak cair atau pun concealer krim, agar perona mata dapat berbaur lembut. l Bubuhkan perona mata warna cokelat, lanjutkan dengan polesan highlight kuning gading pada tulang alis. Dapat pula dilengkapi dengan mempertegas bentuk mata dengan pensil warna cokelat tua pada sudut luar mata. Jika Anda suka, bisa menggunakan bulu mata palsu, yang dapat membantu menambah binar mata. Pilih yang bulunya natural, kemudian oleskan maskara cokelat tua atau hitam sesudahnya. Benar, saat ini ada program edit foto yang bisa membuat wajah tampak mulus tanpa noda. Namun, untuk hasil terbaik, sangat bagus jika kita menggunakan foundation yang lebih terang dari warna kulit untuk membantu menutupi bekas lingkar hitam mata, sehingga wajah tidak tampak kusam juga bisa berfungsi menutupi noda i wajah. Lanjutkan dengan perona baby pink, untuk kulit putih, pink kecokelatan dan peach untuk kulit kuning, peach ke jingga untuk kulit gelap. Warna Bibir Sesuai Warna Mata Masih untuk kepentingan foto, katanya bibir memiliki peran untuk riasan nude. Jika keliru mengaplikasikan warna, riasan akan terlihat medok atau berlebihan. Kini se makin banyak pilihan warna nude yang bisa ditemukan. Berbeda dengan pemakaian make up sehari-hari, untuk pemotretan, hindari bibir yang terlihat kering dan pecah-pecah. Namun, jika kulit bibir kering, gunakan lipbalm. Bibir juga dapat dibentuk dengan pensil bibir yang sewarna garis bibir. Oleskan lipstik warna natural dengan kuas bibir, lanjutkan dengan polesan lipstik yang disukai. Untuk bibir dapat juga di-

oleskan lipgloss bening pada bagian tengah bibir agar terlihat lebih segar. “Warna bibir sebaiknya sesuai dengan warna mata. Jika ingin menonjolkan bibir, pilih warna bibir yang satu warna lebih gelap dari warna mata. Dan sebaliknya, jika memiliki bibir tipis, gunakan lip gloss untuk membuatnya tampil lebih tebal,’ katanya lebih lanjut. Sebaiknya Anda secara teratur melap wajah dengan tisu penyerap minyak. Bergerak dan panas cahaya cenderung membuat wajah Anda berminyak, khususnya dahi dan daerah T. “Lakukan semuanya dengan hati-hati,” kata Mirna sambil menuliskan catatan perangkat make up yang perlu di miliki untuk yang suka berias sendiri. - Alas bedak cair sesuai warna kulit atau setingkat lebih gelap, dan concealer. - Bedak tabur dan bedak padat. -Base eyeshadow. - Penjepit bulu mata. - Maskara hitam atau cokelat tua. - Pensil mata warna cokelat kehitaman. - Lipstik warna natural, lipgloss. -Bulu mata palsu. - Perona mata warna natural, seperti gradasi cokelat, kuning, dan abu kehitaman. - Krim untuk shading, atau bisa menggunakan perona mata warna cokelat tua. - Perona pipi warna peach untuk kulit putih, atau pink kecokelatan untuk kulit yang lebih gelap. Jika Anda ingin melakukan pemotretan dengan memakai fotografer, jangan sepelekan

Jelita urusan make up. Sebab, sebagus apapun teknik fotonya, hasil tidak akan maksimal jika tanpa make up yang bagus. Make up yang berkualitas akan lebih tahan lama di kulit, sehingga tidak mudah luntur meskipun berkeringat. Semoga dengan info make up Marni untuk pemotretan di Tokoh kali ini dapat membantu Anda mendapatkan hasil foto yang lebih sempurna. - Sri Ardhini

Bugar

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

11

Deteksi Dini Kanker Kolorektal dengan Metode Kolonoskopi O l e h : d r. I G e d e Pa n d e S a s t r a w a n , S p . P D . , F i n a s i m

Kanker usus besar atau dalam 3.Ukuran BAB lebih kecil dari biasanya bahasa medis disebut kanker (menyerupai pensil) kolon/kolorektal didefinisikan 4.Teraba benjolan pada perut bawah sebagai keganasan yang terjadi 5.Kehilangan berat badan pada rektum sampai usus besar tanpa sebab yang jelas atau kolon, yang merupakan 6.Pemeriksaan colok dubur bagian dari sistem pencernaan. didapatkan benjolan pada rectum Sebagian besar kasus kanker 7.Tanda-tanda obtruksi mekanik di usus kolorektaldimulai dalam bentuk (ileus obstruktif) stadium pra-kanker, berupa tonjolan kecil dan jinak yang disebut Peran kolonoskopi adenomatous polyp. Kanker kolsebagai alat deteksi dini orektal merupakan kanker ketiga Kolonoskopi merupakan teknik pemerterbanyak yang menyerang pria, iksaan saluran cerna bawah atau usus besar dan yang kedua terbanyak pada atau dalam bahasa medis disebut kolon. wanita, dari seluruh penderita Kolonoskopi merupakan prosedur pemerikkanker di seluruh dunia (Peter saan yang aman yang tidak dapat dilakukan Boyle, 2002). Insidensi kanker oleh jenis pemeriksaan lain yang bertujuan kolorektal di Indonesia cukup untuk melihat struktur dinding usus besar, potinggi, demikian juga angka kelip atau peradangan pada dinding usus besar. dr. I Gede Pande Sastrawan, matiannya. Dari data yang dikumSp.PD.,Finasim Kolonoskopi dilakukan dengan memasukkan pulkan dari 13 pusat kanker di kamera serat optik yang disebut kolonoskop melalui anus Indonesia, kanker kolorektal merupakan salah satu dari 5 menuju ke seluruh bagian kolon, tindakan ini memerlukan kanker yang paling sering terjadi baik pada pria maupun waktu kira-kira 20 menit sampai 1 jam. wanita (Depkes, 2008)

dan riwayat keluarga ada atau tidak kanker kolon. American College of Physicians pada tahun 2012 merekomendasikan skrining kolonoskopi pada populasi tanpa ada faktor risiko mulai usia 50 tahun sedangkan pada populasi dengan faktor risiko tinggi dimulai pada usia 40 tahun.

Indikasipemeriksaan kolonoskopi Kolonoskopi dilakukan atas indikasi diagnostik untuk menegakkan atau memastikan suatu dugaan atau diagnosis kelainan di kolon ataupun untuk terapetik sebagai metode pengobatan terhadap kelaianan di kolon atau salurna cerna bawah. A. Indiakasi diagnostik: mSkrining kanker kolorektal mPerdarahan saluran cerna bawah : BAB berdarah, pemeriksaan darah samar positive, anemia defisiensi besi yg tidak dapat dijelaskan penyebabnya mKeluhan pada saluran cerna bawah : diare lama, sembelit kronis, nyeri perut yang tidak jelas penyebabnya mEvaluasi kelainan yg ditemukan pada pemeriksaan radiologi saluran cerna bawah mEvaluasi setelah operasi kanker kolon untuk melihat adanya pertumbuhan polip baru atau penyebaran dan komplikasi kanker kolon. mPenyakit inflamasi atau radang usus : skrining rutin untuk melihatkeberhasilan pengobatan dan kemungkinan komplikasi atau tingkat keparahan dari penyakit B. Indikasi terapetik mMengeluarkan benda asing mDilatasi (pelebaran) penyempitan di kolon mDekompresi atau mengurangi tekanan atau peregangan kolon mPolipektomi (pemotongan polip)

(Sumber:www.uptode.com)

(Sumber:www.uptode.com)

Faktor risiko kanker kolorektal Faktor risiko yg dapat meningkatkan terjadinya kanker kolorektal: mAdenomatus polyposis familial mPenyakit inflamasi atau radang usus (Inflamatori bowel disease) mRiwayat keluarga kanker kolon mRiwayat adanya polip kolon atau kanker kolon mUsia tua, makin tua lebih beresiko mFaktor pola hidup : makanan tinggi lemak dan daging merah, kegemukan

Gejala dan Keluhan Kanker Kolorektal Keluhan dan gejala kanker kolorektal meliputi: 1.Buang air besar (BAB) berdarah 2.Perubahan kebiasaan BAB (diare atau sembelit)

Tujuan utama deteksi dini kanker kolorektal adalah untuk mencegah kematian akibat kanker kolon. Skrining kanker kolorektal membantu mengidentifikasi kanker pada stadium awal sehingga masih memungkinkan untuk disembuh­kan, juga untuk mencegah perkembangan menjadi kanker dengan identifikasi dini dan penangan awal kelainan-kelainan pra kanker sebelum menjadi kanker. Sebagian besar kanker kolorektal berasal dari polip pra kanker yg dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan kolonoskopi. Kolonoskopi merupakan salah satu metode skrining kanker kolorektal dengan tujuan deteksi dini polip atau kanker stadium awal diikuti dengan eradikasi kelaianan tersebut. Skrining atau eradikasi polip secara berkala dengan metode kolonoskopi, menurunkan risiko kejadian kanker kolorektal sebesar 90%. Penemuan dini kanker kolorektal stadium awal meningkatkan keberhasilan pengobatan dan menurunkan resiko kematian akibat kanker. Kolonoskopi merupakan standar baku untuk skrining dan pengamatan kanker kolorektal, waktu untuk mulai skrining kolonoskopi tergantung dari riwayat medis pasien

Prosedur dan persiapan kolonoskopi 1.Penjelasan yang cukup kepada pasien tentang manfaat, risiko dan prosedur tindakan 2.Mengisi lembar informed consent 3.Kolon yang bersih dari ampas makanan: a.Makan bubur kecap atau makanan cair tanpa serat 1 hari sebelum tindakan b.Minum air putih banyak (2-3 liter/hari) c.Puasa makan 8 jam sebelum prosedur dilakukan d.Minum cairan pencahar sesuai jadwal dan minum yg banyak e.Bila minum obat-obatan rutin utk darah tinggi, diabetes atau pengencer darah agar dikomunikasikan dengan dokter f.Evaluasi BAB sebelum prosedur, yag diharapkan berupa cairan saja tidak ada ampas makanan, sehingga persiapan sangat tergantung kepatuhan pasien dalam diet rendah serat dan asupan cairan 4.Ada keluarga yg menemani

Kesimpulan Skrining untuk kanker kolorektal dapat mengidentifikasi kelainan pra kanaker dan kanker stadium awal. Skrining scara nyata menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal. Kolonoskopi merupakan salah satu metode yang direkomendasikan utk deteksi dini kanker kolorektal.


10

Mitos

Konsumsi Bakteri untuk

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Jaga Penampilan?

Awal abad ke-21 ditandati dengan kemajuan revolusioner di bidang bakteri pada tubuh manusia (human microbiota), setelah dituntaskannya riset human genome. Ditemukan bahwa isi perut manusia terdiri dari 2 kg bakteri, dengan 500-15.000 spesies dan total gen bakteri sebanyak 200 kali jumlah gen seluruh tubuh manusia. Dengan luas seluruh saluran pencernaan manusia dewasa diperkirakan seluas 400 m2, maka masuk logis kalau setiap bahan makanan yang kita konsumsi segera dapat diubah menjadi bentuk lain dalam waktu yang singkat, oleh mesin gen mikroba yang kekuatannya 200 kali gen tubuh manusia, tersebar pada ratusan spesies.

K

ini, komposisi bakteri yang ada di dalam saluran pencernaan semakin terkuak dan diketahui memberikan kontribusi yang kuat dengan status kesehatan individu. Eksplorasi intensif pada bidang ini diawali oleh penemuan Elie Metchnikoff, seorang ahli mikrobiologi Rusia, pemegang hadiah nobel pada tahun 1908, pertama kali menemukan bahwa konsumsi susu fermentasi (yoghurt) dapat memperpanjang umur manusia (The Prolongation of Life: Optimistic Studies). Selanjutnya, ditemukan pula bahwa para tentara suku Masai di Afrika, semakin sehat setelah diberikan susu fermentasi yang di dalamnya terdapat Lactobacillus. Akhirnya, sampailah pada abad ke-21 ini, Lactobacillus dan bifidobacteria dua kelompok bakteri pembentuk asam laktat, dimana manusia berhutang banyak, bakteri Lactobacillus telah digunakan secara turun-temurun dalam produksi bahan pangan terfermentasi seperti yoghurt, kefir, sayur asin (pickle), kimchi, sukemono, dll. Sampai akhirnya, sampailah pada pengetahuan probiotik, dimana bakteri hidup dikonsumsi untuk dapat meningkatkan kesehatan manusia melalui menjaga keseimbangan bakteri pada saluran pencernaan manusia. Komposisi bakteri saluran pencernaan manusia sehat yang juga sering disebut normal flora, dijelaskan Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D., peneliti bakteri asam laktat dan bakteri saluran pencernaan, sangatlah labil yang dipengaruhi oleh jenis bahan makanan yang kita konsumsi, kondisi stres, serta terapi obat-obatan.

Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D

Kondisi ini akan mengubah pola/ komposisi bakteri saluran pencernaan sehingga berpengaruh terhadap keseluruhan jalur metabolisme tubuh, yang konsekuensinya berpengaruh terhadap kesehatan. Proses perombakan komponen bahan pangan di dalam saluran pencernaan terjadi secara bertahap yang dilakukan oleh berbagai spesies mikroba dalam saluran pencernaan sesuai tingkat kerumitan komposisi (makromolekul bahan pangan), seperti kelompok senyawa karbohidrat, protein, lemak dan lain sebagainya. “Perombakan (degradasi) ini akan menghasilkan energi untuk tubuh serta sumber energi bagi bakteri saluran pencernaan. Kelompok bakteri saluran pencernaan terlibat aktif dalam fermentasi sehingga menghasilkan metabolit (metabolomics) yang berinteraksi dengan jalur metabolisme tubuh sehingga manifestasinya adalah perubahan warna dan bentuk dari feses yang

kita keluarkan setiap pagi,” ujar dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unud ini. Kesehatan saluran pencernaan secara praktis dapat dilihat dari bentuk dan warna feses. Warna dan bentuk feses, adalah cerminan komposisi bakteri dan aktivitas bakteri saluran pencernaan. Manakala bentuk feses kita adalah tipe 1 (bentuk butir kecil, warna hitam, dan umumnya berbau menyengat) adalah manifestasi dari kondisi konstipasi, kondisi dimana sulit buang air besar, perasaan tidak nyaman, pertanda kurangnya populasi dan aktivitas bakteri menyehatkan seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria. Tetapi, sebaliknya justru kalau feses bentuknya sangat encer (cair), berbau asam dan warna sangat kuning (tipe 7) adalah indikasi diare atau terlalu banyak fermentasi asam (pH feses teralalu asam). Dengan demikian, keberadaaan tabel kontrol feses dapat dipergunakan untuk memonitor bentuk feses paling ideal yaitu bentuk tipe 4, dengan bentuk seperti sosis (pisang), lembek, warna tidak terlalu coklat gelap, yang terbukti identik dengan kandungan Lactobacullus dan Bifidobacteria yang tinggi di dalam saluran pencernaan. Sehingga, kesehatan saluran pencernaan dapat dimonitor setiap pagi, di mana table control feses ditempel di depan toilet dan berikan score tipe feces Anda setiap hari. Lalu, apakah hubungan bakteri saluran pencernaan dengan penampilan ? Tampil menarik, penuh percaya diri, dengan tubuh langsing dan sehat merupakan idaman setiap orang, khususnya para

Style

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Semakin berkembangnya dunia fashion juga memberikan peluang bagi para desainer bidang aksesori. Begitu juga dengan kreativitasnya. Maka, aneka koleksi aksesori kini trennya cenderung ke arah hand made. cahiya.com

wanita muda. Sehingga untuk dapat tampil menarik, tidak jarang rela sampai merogoh kantung dalam-dalam, dan bahkan karena tuntutan penampilan, sampai rela berpuasa (diet ketat, mengurangi makan) demi bentuk tubuh ideal. Sehingga, tidak jarang dapat menimbulkan penyakit. Di sisi lain, kebiasan makan yang salah, terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung minyak/lemak hewani yang tinggi, makanan terlalu asin dan manis, cendrung menyebabkan bentuk tubuh gemuk dan cenderung obesitas. Ditemukan, bahwa kegemukan dan kondisi kurus, berasosiasi dengan komposisi bakteri saluran pencernaan. Obesitas berasosiasi dengan dominasi kempok bakteri firmicutes (yang dalam kelompok ini terdiri dari 250 spesies) yang dominan dibandingkan dengan kelompok bakteri Bacteroides (ada sekitar 100 spesies). Sehingga, kondisi gemuk dan langsing, dapat dilakukan dengan memprogram komposisi bakteri saluran pencernaan. Programming bakteri saluran pencernaan dilakukan dengan pola makan yang baik dan sehat dengan kandungan karbohidrat dan serat yang memadai. Karhobidrat akan cendrung menyebabkan pola fermentasi asam oleh bakteri menguntungkan seperti kelompok Bacteroides, Lactobacillus, dan Bifidobacterium. Asam ini yang terkenal dengan sebutan short chain faffty acid (SCFAs), menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan atau akan memupuk bakteri saluran pencernaan yang lain atau yang juga sekaligus memperbaiki integritas dinding saluran pencernaan. Hal ini berasosiasi dengan eksekresi beberapa molekul sitokinin yang dapat mencegah inflamasi. Kombinasi serat kasar yang tinggi sebagai pemegang air (water holding) yang baik sehingga meningkatkan volume dan kandungan air feses lebih tinggi. Hal ini tentu akan menyebabkan feses lebih lembek dan nyaman untuk dikeluarkan. Kondisi terbalik terjadi di mana dengan

banyaknya restoran cepat saji, junk food dan camilan mengandung garam dan gula yang tinggi. Terkadang menjadi pilihan individu tertentu dan bahkan juga telah mengancam anak-anak sekolah pada saat ini. Sehingga, tidak mengherankan terjadi banyak kasus kegemukan (obes) dan bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah meningkatnya potensi diabetes. Telah terbukti bahwa dengan mengonsumsi probiotik Lactobacillus, Bifidobacterium termasuk bakteri yoghurt (Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophylus) dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat dan empedu (biles) sehingga mempengaruhi penimbunan lemak dan mencegah obesitas. Selain produk susu asam/terfermentasi yang tidak dominan di Indonesia (walau tren konsumsi susu fermentasi semakin meningkat dan populer di Indonesia pada saat ini) yang dipergunakan sebagai pilihan terbaik untuk menyeimbangkan bakteri saluran pencernaan, sumber pangan tropis yang berlimpah di Indonesia tidaklah kalah kualitasnya, seperti di daerah tropis, seperti pisang dan pepaya sebagai sumber prebiotik. Sehingga untuk tampil percaya diri dan sehat tentunya, tidaklah terlalu mahal bagi insan wanita muda di daerah tropis. Pertimbangannya adalah selalu menjaga kawan setianya, bakteri saluran pencernaan, yang sehat melalui manajamen diet yang seimbang, konsumsi bahan pangan sumber probitik (tempe, tape, susu fermentasi seperti yoghurt) atau konsumsi probiotik yang banyak di pasaran, disertai konsumsi pangan mengandung prebiotik: umbi-umbian (ketela rambat, gadung, suweg, dll), buah-buahan (pisang, papaya, tomat, anggur, dll), biji-bijian (beras, kedelai), termasuk bawang bombai yang banyak mengandung inulin. Pastikan selalu memonitor bentuk dan warna feses setiap pagi dan gunakan sebagai dasar menajemen diet hari berikutnya. –Inten Indrawati

D

an, Saturday La­ bel, adalah pro­ duk hand made merek lokal yang fokus kepada aksesoris untuk perempuan. Salah satu kreasinya yakni kalung, merupakan hasil eksplorasi cantikdari rajutan dan bahan lainnya, sehingga memiliki penampilan yang khas Menurut pemiliknya Samira

Zati, kalaupun peminat karya tangan ini meningkat, karena desain-desainnya unik, tidak pastinya membosankan, karena setiap karya akan berbeda. Sebagai genrasi muda Samira juga berharap dengan semakin banyaknya produk hand made berkualitas yang digarap, seperti untuk kepentingan dunia fashion akan membantu mengangkat

produk lokal semakin berkembang bahkan mendunia. “Semoga pula semakin banyak produk berkualitas dari berbagai daerah dan jenis usaha yang menjadikan Indonesia lebih produktif dan kreatif,” kata Samira. Berikut beberapa aksesoris dari Saturday Label yang dikenakan dalam sebuah kesempatan fashion show di Jakarta. Aksesori ini diantaranya diberi nama Cytougana Necklace, Palenque Necklace, Bohe Stone Necklace, Masha Gold Necklace, Blanc-b Necklace, Perline Necklace in Black, Feminine Collar Necklace, dan Palenque Necklace ini menjadikan penampilan pemakainya semakin menarik dan modis. –Sri Ardhini

15


16

Life

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Story

Cerita Kepedihan Hati demi Uang Keringat menetes dari wajah Rumina (38), membasahi pakaian dan hijab yang dikenakan. Perempuan itu memakai ­kacamata dan tubuhnya kurus tidak terlalu tinggi. Tiap kali bicara, ia kerap memicingkan matanya. Sambil menggendong seorang anaknya yang masih bayi dan diikuti dua anaknya yang masih kecil berusia 10 dan 8 tahun, Rumina telah berjalan cukup jauh.

D

i pemberhentian angkot antar desa di Terminal Mandalika Mataram, Rumina mengendong bayi berusia enam bulan itu dan menggandeng kedua anaknya, berjalan di bawah panas terik matahari menelusuri Kota Mataram. Ketika Rosa menemukan mereka tengah kehausan di pinggir jalan seputar Cakranegara Mataram, rasa iba di hatinya pun muncul. Ia menepikan mobilnya, lalu turun menyapa Rumina yang tengah duduk berselonjor di bawah sebuah pohon sambil memangku bayinya. Kedua anaknya tampak melihat kiri kanan seperti baru saja melihat keramaian kendaraan yang berseliweran riuh di depannya. Seperti kehilangan harapan dalam letih yang teramat sangat, Rumina memandang kosong. Saat Rosa mendekatinya, ia pun bercerita apa yang tengah mereka cari dengan melakukan perjalanan seperti itu. “Rumina cerita kalau mereka tinggal di Lombok Timur dan suaminya tengah sakit parah. Dia ke Mataram untuk cari bantuan, namun tidak tahu harus ke mana,” kata Rosa. Menurut Rosa, Rumina seperti orang stres, karena melakukan perjalanan dengan menenteng tiga anak kecil bukanlah hal yang mudah. Butuh biaya untuk angkot dan lainnya. “Ternyata untuk dapat sampai ke Mataram naik angkot, ia dapat pinjaman dari tentangganya Rp 50.000,” katanya. Karena iba dan tahu Rumina tak punya arah dan tujuan di Mataram, Rosa pun mengajak mereka ke rumahnya. Ia membelikan minuman dan camilan untuk Rumina dan anak-anaknya. Setiba di rumah, Rosa memberi mereka makanan dalam jumlah yang banyak. Sampai mereka merasa kenyang. Rumina juga diberikan pakaian untuk mengganti pakaiannya yang telah dibasahi keringat. “Sungguh sedih saya melihat kondisi mereka,” ungkap Rosa yang seorang karyawan perusahaan swasta di Mataram ini. Setelah makan, Rosa mempersilahkan mereka untuk beristirahat di salah satu kamar rumahnya dan juga mempersilahkan mereka untuk menunaikan ibadah Salat. “Terlihat mereka lelah sekali, sampai-sampai saat tidur siang mereka lelap sekali,” ujarnya. Cukup lama mereka tidur hingga sore tiba dan mereka pamit pulang ke Lombok Timur. Dengan sukarela, Rosa mengantarnya

hingga angkot jurusan Lombok Timur di terminal Mandalika. Ia juga memberi pakaian-pakaian layak pakai kepada Rosa juga sejumlah uang sebagai ongkos dan biaya hidupnya minimal satu minggu. Setelah semua selesai, angkot membawa mereka dan Rosa pulang ke rumahnya. MAU PINJAM UANG Setelah kejadian itu, Rosa tidak lagi terlalu mengingat siapa mereka. Hingga akhirnya seminggu kemudian, Rumina datang lagi ke rumahnya bersama bayinya saja. Dengan senang hati Rosa menyambut dan memberinya makanan dan lain-lain. Juga uang sebagai ongkos pulang dan sejumlah uang lagi sebagai pegangannya. Hari itu karena kesibukannya, Rosa tidak bisa mengantar hingga ke terminal, hanya sampai gerbang rumahnya saja. Rumina diminta naik angkot yang tidak jauh dari rumah Rosa. Ongkos angkot dan lainnya juga disertakan oleh Rosa. Rupanya hal ini berulang lagi, beberapa kali sampai akhirnya suatu hari, Rosa menemukan kejanggalan pada kunjungan-kunjungan Rumina berikutnya. Rumina tidak lagi membawa kedua anaknya melainkan hanya berdua dengan bayinya saja. Dalam logika Rosa, seringnya Rumina datang ke rumahnya dan selalu menceritakan kepedihan hatinya dengan berbagai permasalahan, tampaknya mulai terbaca sebagai hal yang mencurigakan. Intensitas kedatangannya semakin sering dan tiap kali datang ia dibekali uang oleh Rosa. “Saya mulai berpikir Rumina memanfaatkan saya,” katanya. Ditambah lagi ia mengajukan niatnya meminjam uang dalam jumlah hitungan juta rupiah untuk membuka usaha warung di rumahnya. Tentu saja, Rosa tidak mudah mempercayainya dan kecurigaannya semakin besar.. Bagaimana tidak, Rosa menilai Rumina tidak mau berusaha dan mau mendapatkan uang secara instan.

Lalu, seringnya ia datang ke Mataram, tentulah membutuhkan ongkos yang tidak sedikit untuk biaya pergi dan pulang dari Lombok Timur ke Mataram. Karena itulah kecurigaan Rosa semakin menjadi apalagi pada suatu kali Rosa dengan tidak sengaja melihat Rumina dan bayinya dibonceng oleh seorang laki-laki, di seputaran Mataram. “Waktu itu saya yakin atau tidak yakin apakah itu benar Rumina,” kata Rosa yang menyimpan peristiwa itu sebagai referensinya tentang Rumina.

di berugak rumah saya,” katanya. Se­perti biasa juga pembantunya memberinya makan dan teh serta camilan. “Saya memang sudah titip pesan pada pembantu, kalau Rumina datang diberi makan dan lainnya jika dia menunggu saya pulang,” ujar Rosa. Usai ‘prosesi’ berkeluh kesah, Rumina pamit pulang. Kali ini, Rosa tidak memberinya uang banyak melainkan hanya memberi ongkos pulang. Rumina dan bayinya lalu pulang. Rosa berpura-pura masuk rumah dan dari jendela rumahnya di pinggir gang, dengan matanya Rosa mengikuti perjalanan Rumina. “Laki-laki yang ada di motor yang terparkir di ujung gang itu, tampak mendekati Rumina dan Rumina pun naik ke boncengan sepeda motor tersebut,” ujar Rosa. Di sanalah ia baru benar-

benar sadar bahwa Rumina telah membohonginya. Sejak itulah, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Rosa meminta pembantunya untuk tidak membukakan pintu rumah jika Rumina datang. Ia sendiri tidak tega mengusir Rumina, sehingga ia menitip pula pesan pada pembantunya agar menginformasikan kepadanya lewat telepon, jika ada Rumina datang ke rumahnya. “Kalau saya tahu dia datang ke rumah, saya tidak pulang ke rumah sampai dia pergi,” katanya. Sejak sering tidak lagi menemui Rosa di rumah, lama-lama Rumina tidak lagi datang ke rumahnya. Namun, sesekali ia melihat Rumina berboncengan dengan laki-laki tersebut di seputaran Mataram. Rosa bersedia berbagi kisah ini, agar tidak ada lagi yang ditipu oleh Rumina seperti yang dialaminya. -Naniek I. Taufan

Dara

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

9

Medina Warda Aulia

Grand Master Catur Termuda

Medina Warda Aulia tampak santai, dahinya tak nampak berkerut, padahal dia harus menghadapi 42 orang pecatur yang harus dilawannya satu persatu dalam sebuah pertandingan catur simultan di Gedung Badan Pemeriksa Keuangan.Berbeda dengan tampilan para peserta yang semuanya berusia dua kali lipat di atas Medina, yang tampak serius dengan dahi berkerut-kerut. Nampak sekali para peserta berpikir keras untuk bisa memenangkan atau setidaknya bertahan dalam pertandingan itu.

Medina Warda Aulia

DITUNGGU DI UJUNG GANG Suatu hari, sepulang dari kantor, dari dalam mobil menuju gang rumahnya, Rosa melihat ada sepeda motor dengan pengendara laki-laki, parkir di ujung gang rumahnya, seperti menunggu sesuatu. Setiba di rumahnya, seperti biasa rupanya ada Rumina bersama bayinya sedang menunggunya. “Mereka tiduran

berlatih sampai sekarang. Sebenarnya sebelum catur aku juga punya beberapa hobi lain seperti melukis, juga suka ikut lomba. Bahkan pernah juara di kejuaraan sempoa pelajar se-kota Bekasi dan runner up kejuaraan sempoa se-Jawa Barat. Tapi semua itu aku tinggalkan dan konsentrasi pada catur,” tambah Medina yang didampingi oleh ayahnya, Nur Muchlisin. Berkat prestasi yang ditorehnya itu, Medina pun direkrut Eka Putra Wirya, pemilik Sekolah Catur Utut Adianto untuk mendapat pendidikan khusus di sekolah catur itu. Hasilnya, permainan catur gadis cilik ini makin berkembang dan itu juga yang menghantarnya untuk tampil di event-event catur internasional. Ia mengaku, sejak mengenal catur dia menjadi tahu capaian apa yang diinginkannya dan bagaimana cara mencapainya. “Aku bekerja keras untuk itu sejak aku masih kecil hingga sekarang. Aku fokus pada catur dan pendidikan, itu saja,” ungkap Medina.

T

api berjam-jam berdiri dan berkeliling, akhirnya membuat gadis manis kelahiran Juli 1997 ini, terlihat lelah juga. Maklum, dari jam 2 siang hingga 7 malam dia terus saja berkeliling. Berbeda dengan lawanlawannya hanya hanya duduk sambil memelototi papan caturnya. “Ya memang begitu pertandingan catur simultan langsung. Tantangannya pada stamina, lebih capai. Beda dengan simultan online dimana kita hanya duduk saja. Seperti misalnya saat saya melawan 650 orang, tapi secara online,” ungkap Medina, Grand Master Catur, yang ditemui seusai pertandingan tersebut. Namun, kata Medina lagi, meski dalam pertandingan ini pesertanya cukup banyak, tapi ia pernah melawan 50 an peserta secara serentak. “Hanya saja kali ini cukup berat karena banyak pemain yang bagus,” kata Medina yang merupakan Grand Master Catur Termuda Indonesia. Medina meraih gelar GM Termuda pada usia 16 tahun 2 bulan. Ia mematahkan rekor seniornya, Irene Sukandar yang meraih GM pada usia 16 tahun 7 bulan.

Gadis yang kini tengah kuliah di Fakultas Administrasi Negara Universitas Indonesia semester pertama, mulai menekuni permainan catur sejak usia 9 tahun. Itu pun secara tidak sengaja. “Waktu itu aku sangat suka barbie dan permainan kerajaan. Catur kan ada raja, menteri. Ayah bilang ini seperti permainan kerajaan, mau belajar tidak? Tentu saja aku tertarik. Apalagi ada iming-iming kalau aku pandai main catur bisa membeli barbie. Dari situ lah aku mulai belajar, ayah kan juga hobi main catur, jadi awalnya ayah yang mengajarkan,” ujar anak ketiga dari enam bersaudara ini. Rupanya memang Medina berbakat, hanya dalam tempo singkat dia bukan saja mampu menguasai permainan catur dan trik-triknya, tapi oleh sang ayah langsung diikutsertakan pada sebuah kompetisi catur. Tidak tanggung-tanggung, Medina langsung bertarung dalam arena Kejurda Catur DKI Jakarta. Luar biasa, ternyata Medina yang ketika itu masih berumur 9 tahun memenangkan pertandingan, dan dia pun berhak mewakili DKI Jakarta di Kejurnas dimana dia menjadi juaranya. “Sejak itu aku semakin tekun

BELAJAR FILOSOFI CATUR Filosofi catur katanya, secara tidak langsung mengajarkan tentang kehidupan. Bahwa untuk mencapai sesuatu dalam kehidupan ini seseorang harus bekerja keras, juga menggunakan strategi, taktik untuk mencapai target. “Di catur pun begitu. Ketika kita memutuskan untuk melangkah, kita harus sudah memperhitungkan akibatnya, apa antisipasinya. Strategi-strategi apa yang harus dipakai untuk memastikan langkah itu aman, dan bisa membawa kita mencapai target yang diharapkan,” kata

Medina yang dalam tiga kali kiprahnya di kejuaraan dunia catur pelajar, dua kali berhasil meraih juara pertama dan satu kali meraih runner up. Menariknya, meski cukup sibuk dengan kegiatan catur, mulai dari latihan hingga kerap keluar negeri untuk mengikuti turnamen, namun dalam hal pelajaran sekolah nilai-nilainya selalu bagus. “Sebagai orangtua itulah yang menenangkan kami. Artinya, sekalipun dia banyak menghabiskan waktu di catur namun dia masih bisa membagi waktunya dengan pelajaran di sekolah. Nilai-nilainya bagus, makanya kami orangtua sangat mensupport hobi Medina itu,” tambah Nur Muchlisin, sang ayah. Dari 2006, sejak mulai menekuni catur hingga kini, cukup banyak prestasi internasional yang berhasil disabetnya. Namun, katanya, satu yang paling membuatnya merasa puas adalah ketika ia berhasil meraih gelar WGM (Woman Grand Master), itu merupakan gelar tertinggi bagi pecatur wanita. “Rasanya aku benar-benar plongdan bangga bisa dapat WGM. Hasil kerja keras selama ini terasa terbayar dengan prestasi-prestasi yang aku dapat. Aku bekerja keras membagi waktu antara catur dan belajar agar tidak saling mengganggu karena aku sejak awal bertekad berprestasi di pendidikan juga di dunia catur. Tidak banyak waktu santai karena habis sekolah langsung konsentrasi di sekolah catur kadang sampai jam 12 malam. Melelahkan, tapi ada hasilnya. Dan yang terpenting aku menyukai kegiatan itu,” tutur Medina yang dianugerahi Satya Lancana Wira Karya oleh Presiden Susilo Bambang

Medina meraih juara di Pardubice Chess Festival

Yudhoyono pada 2008 lalu atas prestasinya yang mengharumkan bangsa. Tapi ayah Medina, Nur Muchlisin mengaku sempat kecewa karena sekalipun anaknya berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional, namun tidak mendapat keistimewaan untuk bisa masuk perguruan tinggi tanpa tes. “Padahal saya sudah mengurusnya, baik ke KONI, Pemda, dll. Penghargaan-penghargaan, termasuk penghargaan dari Presiden sudah dilampirkan. Toh, nilai sekolah Medina juga cukup bagus. Tapi tidak berhasil. Dia ingin masuk Universitas Indonesia. Untungnya, meski harus menjalani tes seperti halnya calon mahasiswa lainnya, Medina berhasil lolos. Saya bersyukur sekali,” ungkap Nur Muchlisin. Saat ini, kata Medina, berbeda dengan ketika ia masih SMA. Kegiatan di kampus cukup padat, termasuk dalam tugas-tugas yang harus dikerjakan. Di sisi lain, kegiatan catur-nya pun cukup padat, setidaknya hampir setiap bulan ia harus ke luar negeri untuk mengikuti turnamen. “Aku benar-benar harus membagi waktu. Meski sibuk aku tetap mengerjakan tugas. Untungnya dari kampus aku juga dapat dispensasi untuk keluar negeri, tapi hanya dapat jatah sebulan sekali tidak bisa lebih. Jadi aku menyesuaikan karena bagi aku pendidikan lebih penting,” kata Medina yang kini tengah mempersiapkan diri mengikuti Kejuaraan Catur Asia yang akan digelar Mei 2016 mendatang. “Untuk dua bulan ke depan jadwal keluar negeri sudah ada yakni, Hongaria dan Dubai. Itu untuk tryout sebelum Kejuaraan Asia. Aku berharap bisa lolos kejuaraan ini sebab ini akan menjadi tiket aku untuk bisa mengikuti Kejuaraan Dunia pada Agustus mendatang,” tambah Media yang berharap bisa meraih juara Asia. “Kalau ditanya apa target aku di catur, tentunya adalah mencapai prestasi tertinggi. Aku akan bekerja keras untuk itu,” katanya lagi. Tapi pada saatnya nanti, lanjut Media, dirinya sadar bahwa harus memilih antara pendidikan dan catur. “Karena sepertinya ketika saat itu tiba, tidak mungkin lagi membagi waktu tanpa ada satu yang dikorbankan. Karena catur makin lama makin padat kegiatannya, begitu juga pendidikan. Kalau harus memilih, sepertinya aku akan memilih pendidikan. Karena bagi aku pendidikan jauh lebih penting dalam menjamin masa depan,” tutur Medina yang bercita-cita menjadi menteri. –Diana Runtu


8

Bunda & Ananda

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Griya

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

17

Perhatikan Sisi Agresivitas Anak Akar Kayu Bernilai Seni Tinggi

Main perang-perangan sering dilakukan anakanak. Zaman dulu, anak-anak bermain dengan senjata dari pelepah pisang. Zaman sekarang, senjata plastik banyak dijual di toko mainan. Mengapa bermain perang-perangan dige­ mari anak-anak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

P

Retno I G. Kusuma

ulang sekolah, Bis­ ma, Nanda, dan be­ berapa temannya menunggu jempu­ tan. Mereka lalu bermain perangperangan di halaman sekolah. Senjatanya bukan pistol, tetapi

penggaris dan botol air mineral yang dipe­ gang layaknya pistol. Mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok sebagai “aparat keamanan”, satu kelompok sebagai “penjahat”. Apa yang mereka mainkan ini terinspirasi dari tayangan teror Sari­ nah, Jakarta. Gencarnya pemberitaan khusus di media elektronik membuat anak-anak ini menjadikan peristiwa tersebut sebagai media permainan. “Dar..dar.. dar…kamu kena,” ujar Nanda kepada salah satu temannya. Ternya­ ta anak yang “kena tembak” itu pasrah dan menerima konsekuensi dirinya sudah kena. Set­ elah semua “penjahat” tertembak, mereka berkumpul lagi dan ber­ tukar peran. Bermain “perang-perangan” tidak hanya dilakukan dalam permainan nyata. Ada juga anak-

Penyerahan Hadiah Funtastrip

Telkomsel bersinergi dengan Cellular World dalam program Funtastrip. Penyerahan apresiasi program Funtastrip berupa 10 tiket liburan ke Universal Studio Singapura kepada 10 pelanggan Telkomsel yang memenangkan undian dilaksanakan Senin (18/1). Penyerahan dilakukan oleh GM Sales Regional Bali Nusra Ihsan dan Retail Sales Manager Cellular World Malika Jiwaji di Cellular World Gatot Subroto, Denpasar. Ihsan mengatakan tujuan dari program ini adalah untuk memberikan excellent experience kepada pelanggan broadband Telkomsel, karena selain bisa menikmati layanan broad­ band 4G LTE Telkomsel, pelanggan juga berkesempatan liburan ke Universal Studio Singapura. Program selanjutnya yang digelar Telkomsel adalah Cellular World K4GET (Kejutan 4G Experience Telkomsel) berrhadiah 1 mobil dan 6 sepeda motor –Ngurah Budi

Alumni SMAN 1 Tabanan menggelar pertemuan Jumat, 11 Desember 2015. Kegiatan temu alumni lintas generasi ini merupakan acara yang dikemas untuk meningkatkan mutu pendidikan SMAN 1 Tabanan. Selain memberikan penghargaan ntuk siswa berperestasi, alumni SMAN 1 Tabanan mengadakan diskusi panel.

bisa bermain perang-perangan dengan pelepah pisang. Mereka bermain kolektif dan menunjuk­ kan kreativitas dalam bentuk “senjata”. Sekarang susah men­ emukan yang seperti ini,” ungkap Ketua YPAC Bali ini.

Anak-anak melihat peralatan perang

anak yang menggemari per­ mainan di video games maupun gadget. Mereka sigap dan ma­ hir memainkan peran sebagai penumpas kejahatan. Beberapa permainan menampilkan visual berupa pelaku yang tertembak dan mengeluarkan darah. Atau, si penumpas kejahatan yang malah kena tembak. “Anak-anak sekarang sangat canggih bermain games perangperangan. Kalau kalah masih bisa main lagi sampai menang. Ini mem­ buat anak-anak ketagihan. Uang saku bisa habis di rental PS atau warnet bahkan untuk beli pulsa,” ungkap Bu Ria yang anaknya dulu sempat ketagihan main PS. Apa yang dilakukan anak-anak, dari sisi psikologi merupakan fase peniruan. “Anak-anak merupakan peniru ulung. Apa yang dilihat di media elektronik khususnya bisa ditiru. Mereka terpapar secara visual. Apa yang dilihat keren lang­ sung menjadi idola. Itulah yang

tertanam di memori mereka,” ujar Retno I G. Kusuma, Kepala Sub Unit Psikologi Rehabilitasi Medik RS Sanglah. Fase peniruan yang dilakukan anak ini juga menunjukkan sisi agresivitas anak. Jika agresivitas ini berlebihan, orangtua harus intros­ peksi. Bisa jadi, anak merasa terte­ kan karena orangtua terlalu otoriter atau orangtua sering bertengkar. Anak tidak bisa menyalurkan emosi secara nyata, sehingga melampias­ kan melalui permainan melalui PS maupun gadget. Anak-anak merasa tidak berdaya di dunia nyata. Karena itu mencari pelampiasan dengan main (games) kekerasan sehingga bisa memukul dan men­ embak sesuka hati. Pengaruh lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Lingkungan yang menggemari games juga bisa membuat anak-anak terpengaruh. Banyaknya tempat penyewaan juga mempermudah akses mer­ eka bermain. “Dulu, anak-anak

BERMAIN TEATER Retno melihat ada sisi positif yang bisa dikembangkan dari kegemaran anak bermain perangperangan. Orangtua bisa me­ nyalurkan bakat anak ke bi­ dang olahraga bela diri. Hal ini dibarengi dengan pemahaman tentang pentingnya bela negara. Siapa tahu, ini bisa menjadi dasar bagi anak untuk memilih profesi sebagai tentara atau polisi. Bagi guru juga harus kreatif dalam mengemas isu aktual menjadi media pembelajaran bagi anak. “Anak-anak bisa diajak ber­ main peran, ada yang menjadi tokoh baik ada yang menjadi tokoh jahat. Materinya mengacu dari peristiwa actual. Buat ske­ nario lalu sisipkan pelajaran budi pekerti, PPKn, bahkan bahasa Indonesia. Kemas dalam bentuk teater. Anak-anak akan lebih mudah memahami kalau diajak bermain peran. Bermainnya bisa di kelas, bisa di aula, atau di halaman sekolah,” jelas Manajer Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Bali ini. Karena bermain itu memer­ lukan tempat, pemerintah juga harus terlibat. Salah satunya dengan memberi syarat sekolah harus memiliki ruang terbuka se­ bagai tempat bermain dan berak­ tivitas. Permainan yang dilakukan anak-anak ini juga membuat anak belajar berkoordinasi dan melatih kecerdasan emosional mereka.

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

kewajiban berterimakasih

Sedang asyiknya petani itu menyabit rumput di lereng gu­­ nung, tiba-tiba ia men­ dengar jeritan yang mengiba. Ia men­dekat. Dilihatnya seekor ular terjepit batu yang baru saja runtuh. Tanpa memperhitungkan aki­ batnya, ia menolong Made Taro ular itu. Ular itu menggeliat lalu mengangkat kepalanya hendak mematuk petani itu. “Hai, Ular! Kau berutang nyawa kepadaku. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih,” seru petani itu. “Di sini berlaku hukum rimba, Petani bodoh!” jawab Ular. Siapa kuat dia menang. Kau adalah korbanku. Tak ada kewajiban bagi pemenang untuk berterima kasih.” Dengan ancaman sabit, petani itu mengajak ular yang ditolongnya itu mencari kebenaran melalui pengadilan. Mereka berdua mengadukan perkara­ nya kepada Kuda, kemudian kepada Sapi. Jawaban pengadil itu sama, “Tak ada kewajiban berterima kasih kepada manusia! Bukankah manusia itu tidak pernah berterima kasih kepada hewan yang berjasa untuknya? Bahkan manusia berlaku kejam

terhadap mereka?” Keputusan dua pengadil itu membesarkan hati Ular untuk mematuk petani. Namun dengan anca­ man sabitnya, petani itu bertangguh. “Tunggu dulu! Ada pengadil yang terakhir, yakni Serigala.” Petani dan Ular menghadap ke rumah Serigala. Dalam suatu kesempatan, petani itu berbisik kepada Serigala, “Jawab dengan ‘ya’! Akan kuhad­ iahkan tiga ekor anak babi.” Setelah Ular dan Petani menyeritakan peristiwa yang sebenarnya, sang pengadil Serigala memberi kesempatan kepada Ular untuk menyatakan ke­ luhannya. Kata Ular, “Apakah aku berutang budi dan apakah aku wajib mengucapkan terima kasih?” Serigala itu langsung menjawab, “Ya!” Dengan malu-malu ular berbisa yang kalah da­ lam pengadilan itu, menggeliat-geliat bersembunyi ke dalam semak-belukar. Setelah matahari tenggelam, Serigala yang di­ percaya menjadi pengadil itu mendatangi rumah Petani. Dengan sopan ia mengetuk pintu. “Petani, mana tiga ekor babimu?” katanya. Petani membuka pintu. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tetapi menodongkan bedil ke mon­ cong Serigala. “Dor!” Untung sang Serigala dengan sigap menghindar, lalu menghilang di kegelapan malam. Ia berdoa, semoga sang Ular mau mem­ balas dendam kepada Petani yang tidak merasa berkewajiban berterima kasih.

Material kayu selalu menarik untuk dijadikan mebel maupun aksesoris. Tak sedikit penger­ ajin yang sengaja membiarkan bentuk asli kayu untuk mendapatkan nilai estetika yang tinggi. Semua itu tentunya tergantung kreativitas pengerajin untuk peka menangkap sisi-sisi kayu yang bisa ditonjolkan. Tak hanya batang kayu yang bisa dimanfaatkan, kini akar kayu pun mulai banyak diolah dan dijadikan produk bernilai seni tinggi.

S

eperti beberapa mebel dan aksesori kayu yang ditawarkan Arshop Aneh-aneh di kawasan Jalan By Pass Ngurah Rai Sanur, Denpasar. Salah seorang karyawannya, Riski mengatakan arshop ini memang khusus menjual barang-barang antic, seperti pintu, kursi, meja, dan aksesori (pajangan). Kayukayu tersebut sengaja dibiarkan bentuk aslinya, tinggal dibentuk/dipahat sesuai kreasi pengerajin. Kayu-kayu yang dipakai diantaranya, akar kayu leci yang dibentuk muka perempuan, akar jadi dibentuk bunga, akar gembol jati dibentuk anjing dan domba, akar benalu yang menempel di pohon klengkeng dibentuk menjangan, akar pohon beringin dipakai pajangan, dan yang paling banyak adalah akar kayu jati dipakai menjadi meja. –Inten Indrawati

Patung kayu dari akar gembol jati

Meja dari akar kayu jati

Pajangan kayu dari akar kayu leci

IFC Denpasar

Masuk Panggung Dunia Berakar Keunikan Budaya Indonesia Indonesia Fashion Chamber (IFC) Den­ pasar Jumat (15/1) resmi dikukuhkan, di Indonesia Tourism Information Centre (ITIC) di Kuta. IFC Denpasar adalah satu dari 11 Chapter yang ada di seluruh Indonesia. Pada acara yang dihadiri undangan dari berbagai kalangan yang bergerak di bidang fashion dan ekonomi kreatif tersebut, Dwi Iskandar, Ketua IFC Denpasar , mengatakan IFC dibentuk dengan tujuan memfasilitasi desainer dan pengusaha bidang mode yang terkait, untuk memperkuat fondasi demi kemajuan industrI mode secara nasional dan dalam peta internasional. Dwi mengatakan penggiat mode di Indo­ nesia memiliki kekuatan tersendiri, baik gaya maupun kreativitasnya. Karenanya penerapan MEA bukan hal yang menakutkan namun memperkuat posisi tawar dunia mode dan fashion di Indonesia di kawasan Asia Tenggara. “Keberadaan IFC, organisasi nonprofit yang beranggotakan para pelaku industri mode di Indonesia ini juga demi menunjang tujuan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat mode dunia pada tahun 2025, melalui produk ready to wear yang men­ goptimalkan kekuatan lokal. Local inspiration with contemporary spirit. Selanjutnya , adalah

IFC Denpasar

memperkuat fondasi semua lini yang terkait dengan industri fashion,” paparnya. Saat ini ekosistem industri mode secara garis besar terbagi dalam rantai kreatif mulai dari proses kreasi, produksi, distribusi, pen­ jualan hingga archiving, dan nurturance environment yang mencakup pendidikan dan apresiasi. Di sinilah desainer yang menjadi ujung tombak mesti bisa membangun kerjasama yang kuat agar dapat sejalan dengan dinamika perubahan gaya hidup yang sangat cepat, dengan tetap membawa keunikan kekuatan lokal. Mengingat Indonesia saat ini sedang me­ nikmati bonus demografi, suatu masa yang memiliki kelompok muda dan produktif terbesar, maka perhatian pun diberikan pada kelompok desainer muda. Merekalah yang akan menjadi tulang punggung kemajuan industri mode. Berada era digital, gaya hidup global, mereka juga diharapkan siap memasuki panggung dunia dengan tetap berakar pada keunikan budaya Indonesia. Berbagai konsep pembinaan melalui program incubator, workshop, training maupun FGD akan menjadi bagian kegiatan IFC. Pembinaan bukan hanya dari sisi kreativi­ tas, namun terutama manajemen, branding, marketing, dan banyak lagi. Penyelenggaraan pa­ meran dagang skala lokal maupun internasional pun akan menjadi bagian dari progam IFC.Seba­ gai sebuah organisasi, IFC dibangun dengan semangat kebersamaan, penyatuan ide, dan kon­ sep dituangkan dalam berbagai program serta kegiatan untuk tujuan bersama.

IFC Saat Pengukuhan

TIGA SEKTOR National Chairman IFC Ali Charisma me­ negaskan IFC bukan hanya bermakna bagi internal organisasi, namun untuk keseluruhan pelaku industri mode dan masyarakat. Ma­ kanya kerjasama juga dibangun dengan bidang ekonomi kreatif lain, di antaranya bersinergi dengan kelompok desain lain membentuk Indonesia Trend Forecasting, membawa inspirasi Indonesia sebagai tawaran untuk produk gaya hidup global. Selain itu berbagai kerjasama juga dilakukan bukan hanya dalam taraf nasional namun juga dalam jaringan internasional. Togetherness in creativity, IFC sebagai bagian dari masyarakat ikut memikul tanggung jawab membangun negeri. Memajukan industri mode tidak cukup dilakukan hanya oleh perancang busana saja, namun perlu dukungan para pekerja kreatif. Untuk ini IFC hadir mewadahi mereka. Karenanya, dalam arah berjalan­ nya, IFC akan bergerak di industri mode dengan kekhususan ready-to-wear-craft dan modest fashion. IFC juga memiliki

rencana untuk mengembangkan tiga sek­ tor, seperti research and development, SDM, dan bisnis yang mencakup desain dan label, pemasaran dan distribusi, serta kewirausahaan unit kecil dan menengah. Ali juga mengatakan bahwa prasyarat un­ tuk menerima seseorang menjadi anggota asosiasi yang mulai digagas November 2015 ini, menerapkan standar tertentu dan akan dikurasi atau diseleksi oleh tim yang sudah di­ tunjuk khusus. Hal ini diakuinya demi menjaga kualitas dan komitmen para anggota IFC. Susunan Kepengurusan IFC Denpasar terdiri dari Government Board (Nyonya Selly Dharma Wijaya Mantra), Advisor Board (Ali Charisma), Local Chairman (Dwi Iskandar), Local Treasure (Angeliqa Wu), Local Secretary (Neli Gunawan), Education & Research Development (Monika Weber), Intern Organization (Putu Aliki), Business Development (Oka Diputra), Marcomm & Public Relation (Oka Diputra), Product Development (Weda Githa), Institution Relation (Dewi Suarjani), Deputy Institution Relation (Yenli Wijaya). – Sri Ardhini


18

Kreasi

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

“Seminar Bisnis”

Bagaimana Berbisnis dengan Berbasis Kerakyatan Sebuah media online menuliskan pernyataan seorang Ekonom di Jakarta bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang lebih kompleks dibandingkan pada tahun 2008. Kondisi perekonomian global yang rapuh ini juga menjadi kekhawatiran para tokoh masyarakat di Bali, baik dari kelas bawah sampai kelas atas. “Beberapa tokoh sempat ngobrol dengan saya menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap perekonomian Bali,” ungkap Made Robert, seorang motivator, pemilik beberapa perusaha­an yang juga Direktur BOS Land ini.

Bu Agung (paling kiri) mendampingi Ny. Bintang Puspayoga, Theresia Indrijati Kuntjoro (owner Viva Cosmetics), dan Sri Haryati, S. Pd. (Ketua LSK Tata Kecantikan Kulit)

AA Ayu Ketut Agung

Dukung Denpasar sebagai Kota Berkompeten Mendukung Denpasar sebagai Kota Berkompeten pertama di Indonesia, Dr. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. secara kontinyu menyelenggarakan uji kompetensi di TUK (Tempat Uji ­Kompetensi) Agung.

T

UK Agung yang menjadi TUK satu-satunya di Bali untuk tata kecantikan kulit, melaksanakan ujian tata kecantikan kulit, Minggu (17/1) yang diikuti 100 peserta. Materi yang diujikan adalah perawatan wajah, make up/tata rias wajah, pedicuremenucure, materi dan praktik. Tim pengujinya adalah Sri Haryati, S. Pd., Ni Ketut Yoniari, S.H., L. Komang Nilawati, dra. Ni ketut Sriathi. Sehari sebelumnya, Sabtu (16/1), para peserta ini mengikuti Seminar Kecantikan, bekerjasama dengan LKP Agung, Harian Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post), Viva Cosmetics, dan WHDI Bali. Yang istimewa adalah acara

ini juga dihadiri Ny. Bintang Puspayoga, istri Menteri Koperasi dan UMKM yang juga Ketua WHDI Provinsi Bali, Kabid PNFI Disdikpora Provinsi Bali, Kasi PNFI Dikdipora Kota Denpasar, Dr. Abdullah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bu Agung yang juga menjadi pengurus WHDI dan pemilik LKP Agung ini telah pula melakukan roadshow hingga ke pelosok desa, memberikan pelatihan tata rias gratis dan menyosialisasikan etika berbusana adat yang baik dan benar. Seminggu sebelumya, Minggu (10/1) juga dilaksanakan Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Tradisional Payas Agung Badung (Denpasar) dan

Tata Rias Pengantin Tradisional Payas Madya. Diikuti 100 peserta, yang 5 di antaranya laki-laki. Bu Agung mengatakan payas tradisional ini diujikan agar para perias benar-benar mengetahui dan memahami akan filosofi yang terkandung dalam simbol-simbol yang digunakan dalam pepayasan tersebut, kapan dan dimana boleh menggunakan payas tradisional yang sesuai dengan pakemnya (tradisional), kapan dan dimana pula boleh menggunakan payas modifikasi. Sehingga nantinya ketika terjun merias di masyarakat, para perias ini tetap memakai pakemnya untuk kegiatan ritual agama, seperti pernikahan atau potong gigi. Tim pengujinya dari LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi), yaitu Ir. Atiek Warih, S.Pd., M.M. (Sekretaris LSK Tata Rias Pengantin), Hj. Irein Ibrahim, S.Pd., I Komang Warga, Ida Ayu Ratih Ratna Dewi, Ni Ketut Sumiati, Ni Made Lilik Nurmiasih, S.E., AA Trisna Ardhanari, S.Pd., M.M., Ni Wayan Roni, dan

Ni Made Rahayuni, S.Sos. Sementara beberapa bulan sebelumnya, LKP Agung juga melaksanakan Uji Kompetensi Tata Rias Bali Modifikasi yang hasilnya diparadekan di acara Nusa Dua Fiesta 2015. Untuk payas modifikasi ini, dijelaskan Bu Agung memang diperuntukkan para wisatawan atau untuk acara resepsi, yang pengujinya dari LSP (Lembaga Sertifkasi Profesi). Ditegaskannya bahwa perias boleh berkreasi tetapi jangan kebablasan. Karena itu pula, baik payas tradisional maupun payas modifikasi keduanya diUJK-kan. Hal ini tak lain untuk tetap menjaga dan melestarikan tata rias dan busana (payas) daerah tanpa harus menolak modernisasi atau mematikan kreasi dengan payas modifikasinya. Uji kompetensi gratis yang dikeluarkan Kemendikbud melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) di TUK Agung yang dipenuhi para perias dan model ini, sempat mengundang perhatian masyarakat sekitar.

TUK adalah perpanjangan tangan dari LSK, jadi hanya TUK yang berhak melaksanakan Uji Kompetensi. “Untuk itu bagi perias yang sudah terampil dan belum mengantongi sertifikat kompetensi baik itu LSK maupun LSP, diharapkan untuk segera mendaftar di TUK Agung. Disiapkan beasiswa dengan syarat dan ketentuan berlaku,” ucap Bu Agung saat ditemui di sela-sela ujian kompetensi. Mereka yang lulus ujian, dikatakan Bu Agung berhak mengantongi sertifikat uji kompetensi. Dalam uji kompetensi, kualitas keahlian dan keterampilan mereka di bidang masing-masing dalam hal ini tata rias akan diuji. “Dengan mengantongi sertifikat uji kompetensi, tenaga kerja, khususnya profesi perias akan mendapat pengakuan atas kompetensi (kemampuan)-nya oleh masyarakat luas, yang secara otomatis akan mendongkrak nilai jualnya dengan memiliki daya saing tinggi. ­Karena itu, penata rias wajib ikuti UJK,” tandasnya. –inten

AYO KURSUS…

DISKON 50% KURSUS, HANYA RP 4,5 JUTA

Kursus Tata Kecantikan Kulit, Tata ­Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Kursus Sampai Bisa & Bersertifikat

Hub. Sekretariat LKP Agung

Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. ­Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar.

Bu Agung bersama para penguji

Email:lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.

Made Robert

D

ari hasil bincangbincang tersebut, Made Robert melihat ada 9 permasalahan pokok yang ada di Bali. Pertama, saat ini Bali dijajah betul oleh para investor. Tanah Bali dijual, yang jika hal ini terus berlanjut, Bali akan habis. Pertumbuhan hotel dan sarana pariwisata lainnya banyak,

tetapi uangnya lari keluar, karena orang Bali cukup senang hanya dengan menjadi karyawan hotel/ restoran. Kedua, maraknya mini market berjejaring menggempur Bali. Mereka ini punya modal besar dan sistem yang bagus, sehingga dalam waktu yang tak terlalu lama, minimarket-minimarket yang

dimiliki putra daerah bangkrut. Ketiga, ketidakberpihakan pada nasib petani. Saat musim panen, hasil panen petani bagus, tetapi saat penjualan harganya anjlok. Padahal kita tahu di supermarket ataupun di pasar-pasar tradisional, harga produk pertanian tak pernah anjlok. Dalam hal ini, petani tak pernah mendapatkan harga

yang bagus/sesuai, petani selalu dirugikan. Keempat, putra daerah/orang Bali banyak mengeluh susah mencari pekerjaan dan membuka usaha di Bali. Namun di sisi lain, orang luar Bali dengan gampangnya datang ke Bali, bekerja dan mengambil peluang bisnis di Bali. Kelima, orang Bali dengan

7

sesama orang Bali sendiri jarang yang bersatu. Mereka umumnya berantem, saling iri bahkan bisa saling membunuh. Kebanyakan orang Bali masih bermental SMS (senang melihat orang susah, susah melihat orang senang). Orang Bali kebanyakan ramah dengan yang bukan saudaranya. Sangat berbeda dengan prinsip etnis Tionghoa yang merangkul kerabatnya untuk sukses bersama. Keenam, orang Bali melalui kegiatn adat dan suka duka sering berkumpul, namun sayangnya lebih banyak keluar uang. Sebaliknya etnis Tionghoa, ketika berkumpul bisa menghasilkan uang. Ketujuh, di sebagian besar masyarakat Bali, adat istiadat cukup memberatkan mereka dalam berkarir. Kedelapan, masih banyak orang Bali yang kurang percaya diri, sehingga kalah dalam persaingan. Orang Bali masih enggan menyebut bahwa dirinya mampu, menunggu orang lain yang mengatakannya. Orang Bali jarang mau unjuk tangan kecuali orang lain yang menunjuknya. Sekaya-kayanya orang Bali tak pernah menyebut dirinya milyarder. Percaya diri dan sombong itu berbeda. Sehingga jangan salahkan mereka kalau kita (orang Bali) diinjak-injak, itu karena kita tak percaya diri. Kesembilan, orang Bali tak punya manajemen bisnis yang baik. Potensi ada, namun tak memiliki konsultan bisnis sehingga bisnisnya berjalan seperti “manajemen dagang sate”. Semua bidang mau digarap dan akhirnya tidak fokus. Bisa saja menjalankan beberapa bisnis asalkan manajemennya bagus, sehingga bisa berkelanjutan, tidak “anget-anget tai ayam”. –ten

GEK BALI, SOLUSI PERMASALAHAN DI BALI Melihat kompleksnya permasalahan yang dihadapi masyarakat Bali, Made Robert memberikan solusi dengan meluncurkan GEK Bali (Gerakan Ekonomi Kerakyatan Bali), dengan produk Banjar Mart. Sistem Banjar Mart ini nantinya dimiliki dan dikelola krama banjar. Selama ini Made Robert melihat balai banjar kurang dimanfaatkankalau pun ada, masih kurang produktif. “Balai banjar itu tempat yang strategis. Di bawahnya misalkan, bisa dibuat mini market. Di lantai 2, buat bisnis sesuai dengan potensi di wilayah tersebut. Sementara di lantai 3, baru dipakai sebagai tempat kegiatan sosial budaya religious,” paparnya. Banjar Mart dimiliki warga banjar, sehingga inilah nanti yang bisa bersaing dengan mini market-mini market berjejaring. Terhadap keberadaan mini market-mini market tersebut, yang bisa dilakukan Pemerintah hanya dengan tidak mengeluarkan izin atau menutup izin operasionalnya. Namun menurut Made Robert, itu saja tidak cukup. Masyarakat Bali harus menyiapkan sistem yang lebih bagus, yakni memakai konsep CBOS (Capitalism Based on Society) atau kapitalis berbasis kerakyatan, dengan produknya Banjar Mart. Dari, oleh, dan untuk krama banjar. Ia menyontohkan, misalkan untuk membangun banjar ini dibutuhkan dana sebesar Rp 1 miliar, dana ini disharing dengan krama banjar. “Minimal harus ada 300 KK di banjar tersebut. Misalkan jumahnya kurang dari itu, bisa merger dengan banjar lain,” cetusnya. Dengan jumlah KK 300, dana wajib yang harus dikeluarkan adalah Rp 2 juta per KK. Sisanya Rp 400 juta bisa dibeli lagi oleh masyarakat yang lebih mampu/memiliki dana lebih, yang tentunya nanti perhitungan pembagian hasil disesuaikan dengan persentase dana yang sudah dikeluarkan. Tenaga-tenaga (SDM) lokal yang mengelola Banjar Mart ini tentunya juga harus mendapatkan pendidikan manajeman yang baik. “Jika dalam rantai ekonomi bisa

menguasai market atau hilirnya, selanjutnya bisa bergerak ke produksi, UMKM, kelompok tani, dll., bisa dihidupkan jauh lebih gampang karena pasar/pembeli sudah disediakan,” tandas Made Robert. Dalam seminar ini nantinya Made Robert akan “mengubah masalah menjadi berkah”. Ia memberi contoh salah satu permasalahan yang ada di Bali pada poin ketujuh, yakni adat istiadat yang cukup memberatkan masyarakat Bali dalam berkarir. Dengan gamblang, Made Robert membenarkan hal ini karena selama ini orang Bali hanya menjadi kuli/karyawan. Jika orang Bali menjadi Bos, tentu adat istiadat ini tak akan menghambat karir mereka. “Ini artinya, orang Bali sebenarnya dilahirkan untuk menjadi Bos bukan kuli sehingga adat istiadat seperti ngayah di Pura atau menyama braya itu bisa dijalani. Jadi, adat istiadat yang dulu dianggap memberatkan, kita ubah menjadi menguntungkan, karena dengan begitu kita harus menjadi bos,” tegasnya. Selanjutnya, untuk mengetahui lebih detail tentang

GEK Bali ini, Made Robert mengundang kelian banjar, bendesa adat, kepala desa/lurah, pengusaha, birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum yang peduli terhadap kerakyatan Bali, untuk hadir dalam Seminar “Membangun Bisnis Berbasis Kerakyatan untuk Ajeg Bali”. Seminar diselenggarakan, Minggu 31 Januari 2016, pukul 10.00 wita di Hotel Puri Ayu, Jalan Sudirman No. 14A Denpasar. Selain mengupas bagaimana membangun bisnis berbasis kerakyatan, Made Robert juga akan memberikan bonus pada tiap individu. Anda punya usaha, tapi tidak berkembang alias hidup segan mati tak mau?? mungkin nama perusahaan, nama Anda, atau tandatangan Anda tidak berhoki? Made Robert akan memberikan solusinya. Bagi Bapak/Ibu yang berminat untuk hadir, tidak perlu membayar tiket, hanya melakukan donasi/punia secara sukarela. Dan, seluruh punia akan disumbangkan untuk pemberdayaan masyarakat Bali. Untuk informasi, silakan hubungi 082 147 500 588, 085 969 042555. –ten

Made Robert saat memberikan seminar dalam sebuah kesempatan


6

Woman on Top

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Ni Wayan Agek Parwati Asih

Belajar Hargai Pendapat Orang Lain Ikut berorganisasi bagi Agek sangat banyak manfaat yang diperolehnya, sesuai pula dengan motivasi awal ia bergabung di sebuah organisasi. Dengan organisasi ia bisa belajar berinteraksi, berkomunikasi dengan baik, belajar menjadi pemimpin. Selain menjadi mampu bertanggung jawab sesuai dengan tugas yang dijalankan.

P

roseslah kemudian yang mengajarkan Agek menjadi pribadi lebih dewasa. Bagaimana ia mesti bekerja sama dan belajar tentang berorganisasi yang benar. Disamping itu pula di Iwapi dan di organisasi lainnya ia mendapatkan banyak teman dan rekan yang sudah seperti saudara sendiri, baik sebagai adik maupun kakak. Pemilik nama lengkap Ni Wayan Agek Parwati Asih, S.Pd., M.Pd., ini ternyata gemar berorganisasi semenjak ia duduk di bangku SMP, saat itu ia menjadi Bendahara OSIS. Setelah lulus SMA, ia memulai usaha dibidang

tekstil, dan di tahun 2000-an , Agek masuk ke sebuah organisasi pengusaha. Menurut Agek, kenapa dirinya tertarik berorganisasi, selain memang senang berkecimpung di dunia organisasi, semua organisasiyang diikutinya saat ini sebagian besar ada kaitannya dengan usaha yang digelutinya. Agek menuturkan bahwa yang menjadi motivasinya mengikuti sebuah organisasi, adalah organisasi membuka pintu untuknya melatih skill dan potensi yang dimilikinya. Misalnya. dengan mengikuti seminar, work shop, termasuk ketika terpilih selaku narasumber maupun moderator

di berbagai kesemptan. Melalui organisasi juga Agek semakin banyaknya memperoleh teman yang heterogen dan lebih mudah memperluas jaringan kerja. Dengan ikut organisasi, lanjutnya ia terlatih untuk bisa berinteraksi dengan baik, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, sesuai dengan struktur dan tugas pada organisasi, serta dapat bersinergi dengan lebih banyak orang dan pihak termasuk pemerintah. Organisasi juga berhasil melatih dirinya untuk menjadi sosok pemimpin yang bisa membaca peluang dan melakukan ekspansi usaha kedepannya. Dalam organisasi juga, kata Agek mampu memecahkan berbagai kendala yang dihadapi para wirausaha dan memperoleh solusinya. Seperti membuka jalannya untuk masalah perizinan, pemasaran dan peluang kedepannya. Begitu pula bisa dilaksanakan sharing pengetahuan untuk pengusaha pemula,” tandasnya. Mengenai persyaratan, Agek menyampaikan bahwa

setiap organisasi memiliki persyaratan masing- masing untuk menjadi anggotanya. Mereka berpedoman pada AD dan ART–nya, disamping aturan berdasarkan hasil pleno. Misalnya. Iwapi, anggotanya harus wanita pengusaha warga negara Indonesia. “Mampu mengeksplor skill dan kemampuan kita. Misalnya kita bergelut di dunia usaha sebagai praktisi ketika kita ikut organisasi kita bisa membagikan ilmu sesuai dengan usaha yang kita geluti. Ini sekaligus kita mam-

pu membagikan ilmu kita kepada orang yang memerlukan,” ucap istri Komang Suasrama ini. Selanjutnya Agek mengutarakan pengalaman yang paling menarik tentang organisasi yang diikutinya . “Dari beberapa organisasi ada kesamaan dan juga perbedaannya. Organisasi yang paling lama saya ikuti adalah Iwapi Bali. Dari remaja saya sudah bergabung di Iwapi dan seolah- olah roh organisasi ini sudah masuk ke jiwa saya. Karena terlalu muda saya ikut di Iwapi banyak orang yang mengatakan saya ini anak dari pengurus Iwapi, padahal tidak,” ucap ibu dari Putu Sachio Otello Ananda S. ini. Banyak hal menarik yang kita dapatkan dalam berorganisasi , meski tidak semuanya berjalan mulus atau baik-baik saja. “Perbedaan pendapat tentu ada tapi di sinilah kita belajar seni menghargai pendapat orang lain dan menjadi orang yang lebih dewasa ke depannya,” ujar Agek yang saat ini tercatat ikut organisasi DPD Iwapi I Bali (Sekum DPD Iwapi Bali); Abami Provinsi Bali ( Sekum Abami Provinsi Bali); PHRI Bali (Wakil Sekretaris PHRI Bali); Kadin Bali (Komite Tetap Potensi Daerah); BPD Hipmi Bali (Komite Tetap Asuran­s i dan Investasi) serta PHRI Kabupaten Badung ­(Humas). –Sri Ardhini

Mozaik

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Jual Susu Sapi Sehari Untung Rp 100 Ribu

Di ujung Selatan jalan Jemursari, Surabaya nampak berjejer empat kios sederhana. Mereka menjual susu sapi dan kambing murni, ukuran satu liter yang dikemas dalam sebuah plastik bening.

P

emandangan itu hampir terlihat setiap hari mulai pagi hingga sore hari. Mereka tidak pernah memanggil pengendaraan yang lewat untuk membeli susu yang mereka jual. Namun, warna dan tumpukan susu sapi dan kambing yang dipasang di kios tersebut, ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi pengendara. Hampir setiap lima menit, ada saja pengendara yang mampir dan berhenti persis di depan kios tersebut dengan tujuan mau membeli susu. “Mba, susunya berapa satu liter,” ujar Eka, seorang cewek berjilbab sambil memarkir sepeda motornya. Belum sempat dijawab oleh sang penjual susu, Eka pun turun bersama temannya yang juga berjilbab bernama Lala yang sedang hamil tujuh bulan. “Yang ini harganya Rp 8.000. Ini

susu mentah. Sedangkan yang ini Rp 9.000, ini susu sudah masak,” ujar Bibi Asra, sang penjual susu sapi murni tersebut sambil mengangkat satu kantong plastik berisi susu sapi murni. “Saya beli dua liter susu mentah,” ujar Eka. Tak lama kemudian Bibi Asri menyerahkan satu kantong plastik hitam berisi dua liter susu sapi murni kepada Eka. Eka mengaku sudah sering membeli susu di kios tersebut. “Saya senang minum susu, hampir setiap minggu saya mampir di tempat ini untuk membeli susu,” ujar warga Sidoarjo itu. Keempat kios yang menjual susu sapi dan kambing murni itu, ternyata masih berkeluarga. Pemiliknya adalah keturunan Pakistan dan sudah puluhan tahun menjual susu di tempat tersebut. Bibi Asra mengaku kios penjual

Salam Senyum, Hai… bahagia sekali rasanya saya kembali bisa menghadirkan tulisan di akhir minggu ini. Tentang senyum, tentang bagaimana melayani orang, bagaimana bisa membuat orang lain tersenyum dalam rubrik dhani’s art in service. Tema kali ini, Lemon makan lemon, Saya sengaja mengadopsi salah satu tagline iklan dari sebuah minuman yang sampai detik ini masih ditayangkan. Hebatnya lagi tagline tersebut sering juga digunakan masyarakat banyak untuk menunjuk arti peristiwa tertentu dalam suatu instansi. Contoh dalam SDM (sumber daya manusia), seperti menikah dengan sesama pegawai dalam satu instansi. Contoh lain dalam dalam dunia marketing, seperti men-“take over” nasabah/ pelanggan dari rekan kerja sendiri dalam satu instansi/ perusahaan (sepertinya ini sering terjadi.. Namun, dalam tulisan saya kali ini Lemon makan lemon diartikan, bagaimana layanan perseorangan dapat menimbulkan dampak pada layanan secara keseluruhan di lembaga/ instansi/perusahaan. Belum lepas dari ingatan, ketika saya dengan senang hati memesan beberapa paket bingkisan di sebuah toko roti (bakery) untuk keperluan tempat saya bekerja. Maklum saja, saya tergolong customer “to love” nya toko roti tersebut. Beberapa hari setelah pesanan via telepon, paket bingkisan sudah ada di kantor. Saya periksa paket bingkisan tersebut secara acak. Dan, saya melihat kualitas paket itu tidak sama bagusnya seperti tahun lalu, ter­utama di packaging (kemasan). Sebagai customer yang loyal, saya komplin. Namun apa yang saya dapatkan? Jawaban dari pelayan toko itu : “Itu bukan bagian saya Ibu, itu bagian back office, orang lama bagian itu sudah pindah. Saya tidak mengerti masalah bingkisan, saya hanya pelayan”, dan alasan lainnya yang

rekan/bagian lainnya? Bisakah kita bayangkan jika seorang pelaku layanan “melarikan diri” dari setiap komplin nasabah, karena bukan dia “penyebabnya”? Tentu komplin customer tidak terlayani dan tidak mendapat solusi atau penyelesaian, maka customer pun kecewa. Dan, dampak negatif yang tidak disadari oleh pelaku layanan yang menyalahkan rekan kerja atau bagian lainnya adalah secara tidak langsung dia menyalahkan perusahaan dimana dia bekerja. Ini tentu memberi kesan yang tidak baik kepada orang diluar. Ya saya istilahkan… lemon makan lemon (LML) Pernah dengar kalimat “customer yang puas akan bercerita kepada satu orang, sedangkan customer yang kecewa akan bercerita kepada sepuluh orang?”. Kasus lemon makan lemon yang akut dalam perusahaan, jika tidak segera dilakukan perbaikan bisa berdampak buruk bagi kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri, minimal pada citra perusahaan yang menjadi tidak baik. Jadi kepedulian layanan harus : 1). Ditanamkan kepada seluruh pekerja. Dimulai dari level pimpinan (top level) sampai pada level paling bawah. Tidak hanya berupa pengarahan ataupun briefing, tetapi harus terjun untuk bisa melihat secara langsung pelaksanaan layanan. 2). Membangunkan jiwa bahwa layanan adalah mengambil tindakan untuk menciptakan nilai bagi orang lain 3). Tim dalam layanan memiliki sikap, sasaran, dan praktik yang sama. Menunjukkan ciri nilai layanan yang diberikan juga mendefinisikan kebudayaan layanan individu/perusahaan tersebut. Layanan haruslah merupakan sinergi dari seluruh bagian. Bukan pengkotak-kotakan layaknya struktur organisasi yang kaku. Ingat, secara fungsi, “Customer Service” bukanlah sebuah departemen, tapi itu adalah tugas setiap orang yang merasa menjadi pekerja dari sebuah perusahaan. Jadi, mari kita memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan kita, mulainya dari sekarang. Salam Senyum Sang Penyihir (3SP) Sri Sumahardani

susu tersebut milik suaminya Mahdi Kasim. Orangtua suaminya keturunan Pakistan. Pemilik ketiga kios susu yang lain juga milik keluarga Mahdi Kasim. Kios pertama milik Mahdi Kasim, kios kedua milik Pa Sholeh, ketiga milik Mba Yuni dan keempat milik Bibi Ruksana. Bibi Asra mengaku kegiatan menjual susu sapi murni di tempat ini sudah berlangsung sejak lama bahkan sudah puluhan tahun. Modal untuk menjual susu sapi tersebut seluruhnya berasal dari kantong sendiri. “Kami tidak pernah mengajukan dana pinjaman dari bank atau UKM untuk modal jual susu,” ujarnya. Ketika ditanya untung yang diperoleh dalam sehari dari kegiatan jual susu tersebut, Bibi Asra mengaku untung bersih sehari sekitar Rp 100 ribu. “Lumayan Pak, cukup untuk makan,”

ujarnya sambil tersenyum. Mba Puput, penjaga dan penjual susu di kios kedua milik Pa Sholeh mengaku bahwa susu itu adalah milik keluarga Mahdi Kasim. Baik Bibi Asra maupun Mba Puput mengaku susu tersebut berasal dari Sukodono dan Krian milik H. Kholik dan Firus keturunan Pakistan dan Arab dengan puluhan ekor sapi perah. Sedangkan susu kambing berasal dari tempat lain. Menurut Bibi Asra susu yang dijual di keempat kios tersebut dikirim dua kali dalam sehari yakni pagi dan sore. Tiap pagi dia dikirimkan 55 liter susu sapi murni pada pukul 04.30, sedangkan sore hari 40 liter lagi pada jam 14.30. Sehingga sehari dia mendapat suplai susu sebanyak 95 liter. Sedangkan di kios milik Pak Sholeh

biasanya mendapat kiriman susu sebanyak 200 hingga 250 liter pada pagi hari dan sore hari juga mendapat kirim dengan jumlah yang sama. Sehingga sehari dia mendapat kiriman susu sebanyak 400 hingga 500 liter. Menurut pengakuan Bibi Asra, stok susu tersebut habis terjual setiap hari karena peminatnya cukup banyak. Pembelinya kebanyakan para tukang jamu khususnya yang menjual jamu STMJ (susu telor madu dan jahe). “Kalau mereka beli biasanya sampai 10 liter setiap hari. Selain itu, pembelinya adalah warga Surabaya yang senang minum susu,” ujar ibu dua anak itu. Bibi Asra yang lahir pada 8 Agustus 1979 itu, menjelaskan harga susu sapi mentah per liter Rp 8.000, sedangkan susu sapi murni yang sudah masak biasanya Rp 9.000. Sedangkan susu kambing etawa harganya Rp 20.000 per liter, namun stoknya sangat terbatas sekitar 10 hingga 20 liter per hari. Di kios Pa Sholeh harganya sedikit lebih murah yakni Rp 6.000 hingga Rp 6.500 kalau susu sapi mentah. Selain membuka kios susu sapi di Jemursari, Bibi Asra juga membuka kios yang sama di Medokan Sawah dan dijual oleh saudaranya bernama Bibi Sandra. “Harga susu di sana sedikit lebih mahal yakni Rp 10.000 per liter,” ujar alumnus SMA 17 Untag Surabaya tersebut. Menurut pengakuan Bibi Asra, peminat susu kambing etawa sebenarnya banyak sekali namun stoknya sangat terbatas dan harganya sedikit lebih mahal. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pembeli, susu kambing etawa sering digunakan sebagai obat. Namun, tidak tidak tahu untuk mengobati penyakit apa. -Jos

Aroma Khas Sate dan Becek Mentok Sor Sawo

“LML - Lemon Makan Lemon” sangat membuat seorang customer merasa tidak nyaman. Contoh kejadian selanjutnya ketika saya berbelanja di sebuah supermarket, dimana barang yang banyak dengan rak berjejer dan arena lumayan luas. Dengan, sedikit kebingungan saya mencari barang yang akan saya beli. Saya melihat ada salah satu pegawai swalayan tersebut sedang menyusun barang-barang di rak, saya menghampirinya dan langsung bertanya, “Maaf Mbak (terlihat masih muda..hehe), saya mau beli kapas, di rak mana tempatnya ya? Dengan antusias, dia berhenti sejenak dan dengan ramah, mengantarkan ke tempat barang yang saya cari itu. Dua contoh kejadian yang saya alami di atas sebagai seorang customer, layanan manakah yang membuat saya tersenyum? Saya yakin bahwa hampir semua customer menginginkan layanan yang baik. Pelayan yang dapat membuat customernya tersenyum dan keluar dengan rasa nyaman, sebab inilah tujuan setiap perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Saya quote sebuah kalimat dari sebuah buku berjudul “Hearty Service” yang bisa menjadi inspirasi dalam servis, yaitu “Customer service is not a department, its everyone’s job”. Kalau servis-nya sudah seperti kalimat tersebut rasanya perlu pembenahan urusan servis di segala bidang. Pengalaman menjadi trainer dalam service excellent, ba­ nyak peserta yang bertanya “bagaimana caranya melakukan hal tersebut dengan sempurna?” Sebuah pelayanan yang hanya sebagai rutinitas akan cenderung asal-asalan. Membiasakan nilai-nilai bahwa setiap orang yang akan kita hadapi adalah pelanggan yang dihormati, dimuliakan, dihargai, dan akan membuat kemajuan perusahaan kita, akan menjadikan kita selalu antusias membantu atau memberikan pelayanan saat bertemu customer bahkan calon customer sekali pun. Bicara judul Lemon makan lemon, bisakah kita membayangkan jika seorang pelaku layanan menyalahkan

Kios penjual susu sapi dan kambing di Jemursari

19

Mba Puput penjual susu sapi sedang membungkus susu sapi dalam kemasan satu liter.

Tuban yang dikenal dengan sebutan Bumi Wali ternyata menyimpan beragam kuliner yang khas dan memiliki cita rasa tinggi. Bagi pecinta kuliner belum lengkap jika tidak mencicipi sate dan becek (semacam gulai). Sate dan becek banyak diburu pecinta kuliner. Apalagi jika kuliner yang satu ini diberengi dengan minuman khas Tuban, towak. Banyak peminum towak yang menggunakan sate atau becek untuk tambul. “Yang enak becek mentok itu dimakan tanpa nasi, tapi minumnya towak. Apalagi satenya rasanya sangat khas jika digunakan tambul minum towak,” papar Sukisno, salah seorang warga yang biasa memburu kuliner untuk tambul minum towak. Namun, juga tidak sedikit warga yang memburu kuliner becek dan sate untuk makan siang tanpa towak. Seperti di warung Mak Sutiah di Jalan Majapahit gang Buyung Desa Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Di warung yang dikenal Sor (di bawah) Sawo itu tak pernah sepi pembeli. Bahkan, tak jarang mereka kembali dengan tangan kosong, karena sudah keburu habis. Warung itu terlihat biasa, hanya dibangun dari bambu. Warungnya di atas lahan sekitar 10 meter kali 20 meter. Dulu, warung Mak Sutiah didirikan di bawah pohon sawo, seiring kemudian dinamai warung Sor Sawo. Bagi pecinta kuliner, tak sulit mencari warung tersebut. Bisa dicari di internet melalui google earth atau bertanya kepada abang becak. Karena Sor Sawo sudah dikenal masyarakat maupun pejabat di Tuban. Satu porsi sate mentok sebanyak 10 tusuk dihargai

­ p 30.000 sementara untuk beceknya dihargai Rp 15.000. R Daging sate seukuran ibu jari orang dewasa berwana coklat mengkilat dibumbui kecap, sambal, irisan bawang merah dan tomat seolah membuat pengunjung tak sabar menyantapnya. Rasa sate gurih, empuk, aroma bawang merah dan sambal membuat ngiler. “Kebanyakan sate itu kan bahannya

dari daging ayam atau kambing, tapi rasa sate mentok ini lebih enak. Dagingnya besar, empuk, dan gurih,” tutur Ahmad Mubarok pemburu kuliner asal Jatirogo, Tuban. Mubarok yang mengaku sudah menjadi pelanggan tetap Mak Sutiah ini menyebut, bukan hanya rasa sate mentoknya saja yang enak, becek mentok ala Mak Sutiah ini memiliki aroma khas. Bumbu becek mentok ini hampir sama dengan bumbu gulai. Bau rempah-rempah kuahnya meyengat. Bisa menimbulkan gairah makan. “Rempah-rempah di beceknya terasa sekali, maknyus pokoknya. Baunya sedap. Dagingnya empuk tak kalah dengan satenya,” katanya yang kala itu datang bersama teman-temannya. Siang itu, warung Mak Sutiah dipenuhi pelanggan. Beberapa pelanggan datang rombongan menggunakan mobil. Pelanggan lainnya menggunakan sepeda motor. Itu tampak dari ken­daraan yang terparkir di halaman warung Sor Sawo. Mak Sutiah mendirikan warung Sor Sawo bersama suaminya sejak tahun 1995. Sate dan becek mentok ini tidak hanya digemari penikmat kuliner lokal Tuban, banyak penikmat kuliner dari luar kota Tuban turut menikmatinya. Pelanggan yang datang setiap harinya mencapai ratusan orang. Untuk memenuhi permintaan pelanggannya, setiap hari Sutiah menyembelih mentok ratarata delapan ekor. -oso


20

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Ay u S e tyawa t i

Nine

Maknai Hidup dengan Rasa Syukur Penampilannya sederhana. Wajah segar perempuan berusia 48 tahun ini jarang terlihat dipoles make up berlebihan. Rambutnya yang hitam panjang menjuntai hingga lebih dari 150 cm (sampai betis bawah), digelung biasa saja menggunakan tusuk konde yang juga biasa saja. Tidak tampak hal berlebihan dari caranya membawa diri. Namun, siapa sangka perempuan ini adalah model senior yang telah ‘hatam’ dunia panggung sejak masa mudanya di era tahun 1990-an. Dia adalah Ayu Setyawati, pemilik Ayoe Butik Batik Lombok yang memaknai benar artinya menjadi seorang perempuan.

U

Ayu Setyawati

ntuk ukuran seorang model yang kerap menjadi juri pada even-even lomba model dan keputrian di NTB, siapa sangka bahwa ia hanya memiliki peralatan make up sederhana dalam jumlah yang terbatas. Sejak beberapa tahun yang lalu hingga kini, Ayu hanya memiliki dua lipstik, sebuah pensil alis murah, bedak seadanya dan sebuah kaca pemberian kawannya. Mascara, eye shadow, kotak-kotak make up berset-set, apalagi bulu mata palsu, tentu tidak akan ditemukan di tas kecil miliknya yang biasa ia pakai untuk menyimpan alat-alat kecantikan yang jauh dari kata mewah itu. Bagi Ayu, meski ia seorang model dan pernah bermain di

banyak film serta memiliki banyak kegiatan yang mengharuskan ia memperhatikan penampilannya, berdandan itu bukan hal yang utama. Hal ini telah menjadi prinsip dalam hidupnya, bahwa kapan pun dan dimana pun, jika tidak sedang di panggung (untuk kebutuhan show atau tuntutan peran), maka ia akan menjadi dirinya sendiri. Apa adanya dan biasa saja. Ayu rupanya sosok yang memegang teguh prinsip dan memaknai hidupnya dengan rasa bersyukur. Anugerah kulit yang bagus, tinggi badan 169 cm, rambutnya yang panjang merupakan hal yang disyukurinya setiap saat. “Alhamdulillah, saya tinggal merawat dan memeliharanya tanpa harus berlebihan,” ujarnya.

Beauty, Brain dan Brand bukan hanya Slogan Kesibukan Ayu Setiawati dalam sebulan terakhir terlihat semakin padat. Nyaris tiap hari ia melakukan pendampingan dan memberikan bimbingan kepada Ghea Putri Mulya, Putri Indonesia NTB 2015 yang akan mewakili Nusa Tenggara Barat di ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 di Jakarta pada pertengahan Februari 2016 mendatang. Ghea merasa beruntung berada di bawah bimbingan dan pendampingan dari model senior NTB dan mantan pemain film era 90-an yang hingga kini masih menjadi anggota PARFI Jawa Timur ini. “Saya merasa sangat beruntung didampingi Bunda Ayu karena selain difasilitasi maksimal juga diajak untuk melihat kehidupan masyarakat NTB hingga ke ‘bawah’,” ungkap Ghea Putri Mulya. Sejak menerima tawaran kerjasama dari Yayasan Putri Indonesia untuk menyelenggarakan seleksi Putri Indonesia NTB 2015 pada Desember 2015 lalu, Ayu dengan Ayoe Butik Batik Lombok miliknya, sangat serius dalam “melahirkan” putri dari Bumi Gora yang akan mewakili NTB pada pentas Putri Indonesia 2016. Mekanisme yang dipakainya dalam pemilihan Putri Indonesia NTB 2015, memberikan kesempatan kepada semua perempuan berbakat NTB sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan untuk tampil menunjukkan bakat dan kecerdasannya untuk menyandang gelar sebagai seorang Putri.

“Kami berikan kesempatan bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk ikut dalam pemilihan tersebut. Dan juri yang melahirkan Putri Indonesia NTB 2015 seluruhnya dari Yayasan Putri Indonesia,” ungkapnya. Itu berarti lahirnya Ghea Putri Mulya sebagai Putri Indonesia NTB 2015 sudah melewati proses penjurian yang sangat ketat dan bersaing secara sehat dengan para peserta lain karena Ayoe Butik Batik Lombok sebagai penyelenggara telah memberikan kesempatan secara terbuka kepada siapa saja yang memenuhi persyaratan untuk mendaftar sebagai peserta. Apa yang dilakukan Ayu tentu bukan kerja biasa. Pengalamannya dalam dunia panggung model dan keputrian bahkan pernah membintangi lebih dari 20 film layar lebar saat berkiprah di Surabaya di era

1990-an, menjadi modal kejelian yang tak terbantahkan dalam melahirkan seorang Putri. Itulah sebabnya, menjelang karantina Ghea yang dimulai pada 12 Februari 2016 mendatang, Ayu melatih, membimbing dan mendampingi Ghea dengan sangat intensif, mulai dari urusan fisik, wawasan hingga melatihnya untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. “Saya ingin Ghea tampil maksimal di ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 mendatang dan membanggakan NTB,” ujarnya. Bagi Ayu, ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 mendatang, bukan soal menang dan kalah melainkan bagaimana ia menyiapkan Ghea memiliki jiwa solidaritas yang tinggi, peka terhadap ketidakberuntungan yang ada di sekitarnya, mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan menanamkan rasa tahu berterima

Inspirasi

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Mustofa Romdloni

Harus Sering Sharing

Keberadaan komunitas Tangan di Atas (TDA) makin eksis. Komunitas yang terdiri dari para entrepreneur ini terus mengembangkan jangkauan dengan tujuan mewadahi para wirausahawan muda. Harapan pun ditanamkan Mustofa Romdloni, Presiden TDA.

T

Salah satu hal yang sangat jarang dimiliki oleh perempuan masa kini adalah rambut panjangnya. Dalam hidupnya, Ayu hanya satu atau paling banyak dua kali memotong rambut, itu pun karena kebutuhan peran dalam film yang pernah dimainkannya. Bagi Ayu, rambut panjang adalah bagian dari tubuhnya yang paling dibanggakannya karena selain sebagai mahkota, rambut mengajarkan filososfi akan sebuah kesabaran. Untuk mengurus rambut

sepanjang itu untuk tetap hitam dan subur, tentulah bukan hal mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk merawatnya, mulai dari mencuci, membilas, memberi kondisioner, hair tonik hingga mengeringkannya. Dan ini tidak bisa dikerjakan dengan terburu-buru. “Saya terus melatih dan belajar sabar dari rambut ini,” ungkapnya tersenyum. Sesibuk apa pun Ayu, ia tidak pernah berpikir untuk memotong rambutnya demi alasan praktis. –Naniek I. Taufan

kasih pada siapa pun yang turut menyumbang kebaikan bagi hidupnya. Karena itulah, pemilik Ayoe Butik Batik Lombok ini tiada hentinya mengajak dan mengantar Ghea turun melakukan kegiatan sosial hingga ke Lombok Utara membawa berbagai bantuan termasuk mengunjungi anak-anak di sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Ia juga mengajak Ghea terjun langsung ke lapangan melihat para perempuan pembuat pindang di pesisir Pantai Ampenan dan sekitarnya dan ikut merasakan pekerjaan perempuan di Banyumulek Lombok Barat yang berjibaku dengan tanah membuat gerabah. Tidak lupa ia memboyong Ghea mengunjungi tiap sponsor yang telah mendukung dalam ‘melahirkannya’ sebagai seorang Putri. “Semua hal yang kami lakukan menjelang karantinanya Ghea adalah agar Ghea memiliki empati dan kepekaan yang lebih tajam lagi terhadap kehidupan sosial dan ketidakberuntungan yang ada di sekitarnya. Selain itu, saya ingin mengajarkan makna lebih bagaimana berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dalam menjadikannya sebagai seorang putri,” papar Ayu. Sebagai seorang perempuan yang sejak bayi telah tinggal di Lombok ini, Ayu ingin sekali agar perempuan NTB khususnya yang mewakili NTB pada ajang nasional seperti ini, memiliki nilai yang tidak biasa. Karena ajang semacam ini, bukan melulu soal kecantikan dan tinggi badan, melainkan paket lengkap. “Seorang Putri harus memiliki Beauty, Brain dan Brand dan itu bukan hanya slogan. Ia penting memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan juga kepekaan serta empati yang baik

karena ia akan mewakili perempuan NTB maupun Indonesia,” ujar model senior yang kerap menjadi juri dalam pemilihan putri di NTB ini. Cukup lama terlibat dalam gemerlap pentas model dan keputrian, satu hal yang kerap menjadi perhatian Ayu tiap kali ada even pemilihan model terutama model anak-anak. Selain memperhatikan anak-anak yang tengah berlenggak-lenggok di catwalk, ia juga memperhatikan orangtua, khususnya ibu dari peserta yang tengah tampil. Ayu banyak mengutarakan kesedihannya manakala melihat peserta yang tengah beraksi di atas panggung matanya selalu mencari ibunya. Dan dari depan panggung ibundanya asyik memberikan pengarahan dengan bahasa tubuh dan jemarinya harus seperti anaknya tampil di panggung. “Saya sedih melihat hal seperti ini, masih ada orangtua yang tidak bisa membuat anaknya menjadi diri sendiri,” ujarnya. Bagi Ayu, seharusnya orangtua, dalam hal ini, memberikan kepercayaan sepenuhnya pada anak untuk mengembangkan bakat dan kreativitasnya sesuai dengan apa yang dimiliki. “Anak yang paling tahu keinginannya dan orangtua berperan untuk membimbing dan mengarahkankannya, bukan mendikte,” katanya. Jelas hal ini menjadi perhatian Ayu mengingat ia telah lama makan asam garam dunia panggung. Maka itu, ketika kini ia mendampingi Ghea Putri Mulya untuk mengikuti ajang pemilihan Putri Indonesia 2016, ia mengajarkan Ghea untuk menjadi dirinya sendiri. Ia ingin para model dan putri NTB, tidak hanya menyoal kecantikan dan tinggi badan, melainkan harus memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. -Naniek I. Taufan

DA awalnya merupakan milis yang memiliki anggota sekitar 20 ribuan. Mayoritas berada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Perkembangannya pun makin pesat dan kini sedang dilakukan pendataan berapa yang masih aktif. “Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai dengan pembentukan TDA, yakni wirausahawan muda bisa belajar tentang bisnis, marketing, legalitas usaha dari anggota yang lain (lesson), wirausahawan muda bisa melakukan tindakan setelah belajar dan berbagi dengan anggota yang lain dalam bentuk bazaar dan mentoring (action), dan wirausahawan muda bisa memperoleh pengakuan terkait usahanya (recognition). Jadi TDA ini rumah bersama untuk tumbuh,” tegas Mustofa yang menjadi Presiden TDA periode 2015-2017 ini. Ia menambahkan pertumbuhan yang diharapan sesuai dengan jenjangnya. Misal dari usaha kecil menjadi usaha menengah kemudian usaha besar. Semua itu bisa dipelajari dalam TDA. Kebersamaan ini bukan sekadar kumpul dan ngobrol, tetapi diwujudkan dalam bentuk kegiatan bermanfaat. Agar bisa sukses, ia memberikan kiat, harus sering sharing. Sejak tahun 2013 TDA menyelenggarakan Pesta Wirausaha di sejumlah kota. Untuk tahap awalnya, Pesta Wirausaha digelar di 10 kota. Pada 2015, lanjutnya, TDA mengadakan kegiatan ini di 22 kota termasuk di Denpasar. Rencananya pada Mei 2016, sebuah kegiatan berskala nasional yaitu Pesta Wirausaha Nasional digelar di Jakarta. Salah satu agendanya “Meet The Investor”. Presdir MR Corp ini pun menegaskan inspirasi bisnis bisa didapatkan dimana saja. Bagi anggota senior wajib membantu juniornya. Bantuan ini bisa berupa peluang kerja sama. “Kalau hal besar dilakukan sendiri, mungkin berat rasanya. Tetapi kalau dikerjakan bersama-sama, akan terasa ringan,” ujar pria asal Boyolali, Jawa Tengah ini. Ia juga menegaskan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak perlu ditakuti. Sarjana Teknik Kimia lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini mengatakan kalangan wirausaha Indonesia siap bersaing asalkan bisa meningkatkan kapabilitas. Visi dan misi bisnis harus jelas, segmentasi produk

harus jelas dan pemasaran baik offline maupun online juga harus jelas. “Jangan anggap orang lain atau negara lain musuh, tetapi buat jaringan dengan mereka,” ujarnya. Mustofa pun mengingatkan

masyarakat agar makin mencintai produk buatan Indonesia. Jangan hanya bicara saja cinta produk Indonesia tetapi membeli barang produk luar negeri. Itu artinya antara apa yang diucapkan beda dengan yang

dilakukan. Pesatnya perkembangan e-commerce juga menjadi peluang untuk memperluas pemasaran. Banyaknya aplikasi e-commerce mempermudah wirausahawan muda untuk mempromosikan maupun menjual produk yang dihasilkan. –Ngurah Budi

Mustofa Romdloni (tengah)

5


4

Inspirasi

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Dade M. Fatwa

Karyawan Senang Tamu pun Senang “T

rutnya, ada juga sisi positifnya. Karakter itu dijabarkan dalam, pola kerja yang disesuaikan dengan skala prioritas. “Saat morning briefing, selalu saya tegaskan, buatlah skala prioritas dalam pekerjaan. Kalau dapat tugas lihatlah terlebih dahulu, adakah pekerjaan lain yang lebih urgent yang harus dikerjakan terlebih dahulu,” kata Dade. Menurut Dade, ia teringat ajaran dari mentornya, saat menjadi karyawan. Saat jadi karyawan biasa, kita harus bisa menjadi supervisor, begitu juga, saat menjadi supervisor, harus bisa menjadi manager. Tujuannya, kalau suatu saat harus menjadi pemimpin kita sudah siap. Itu yang mengilhami Dade menjadi lebih dewasa. Ia menilai, banyak juga orang dewasa atau usianya senior, tapi belum bisa bersikap dewasa. Dewasa yang dimaksud, mampu mengambil keputusan bijaksana, dan tak terburu-b uru. Beberapa staf yang ia ajarkan dan mengikuti role model ini, banyak yang sukses. Yang dulunya staf biasa sudah bisa menjadi supervisor dan manager. Bagi Dade, ia sangat bangga jika melihat yang dulunya staf kariernya sudah naik. “Saya tidak malu atau takut, kalau yang dulunya bawahan sekarang poisisinya sama dengan saya,” katanya.

Ironisnya, kebanyakan pemimpin, sering khawatir atau takut kalau nanti posisinya sama dengan bawahannya. Itu karena mereka pelit ilmu. Dade punya prinsip, makin banyak kita memberi, makin banyak juga yang kita dapatkan. “Memberi tidak selalu dengan materi. Kita punya ilmu, bisa kita bagikan. Dalam memimpin, saya lebih suka mendengarkan. Karena tanpa kita sadari, banyak ide bawahan yang bagus, kadangkala saat kita jadi pemimpin, kita menutup kuping karena idealis dan ego yang tinggi,” katanya. Dalam pandangannya, kalau staf merasa tidak nyaman dan tidak dihargai, respek mereka kurang. Bagaimana mau meminta mereka melayani tamu dengan baik. Dade punya satu kiat lain. Kalau ingin membuat tamu senang, karyawan harus senang terlebih dahulu. “Sebelum saya ditugaskan di Quest, tidak ada staf gathering. Padahal sangat perlu ada staf gathering. Waktunya karyawan untuk bisa bersenang-senang, memberikan energi baru kepada mereka,” kata Dade. Dade juga membuat program best employed. Karyawan mendapat reward, sertifikat, dan uang saku, agar lebih termotivasi bekerja. Menurut Dade, kalau karyawan tidak pernah diperhatikan, mereka tidak punya motivasi kerja dan kreatif. Dade mempelajari hal itu dari beberapa hotel tempatnya kerja. Dia melihat,

“Memberi tidak selalu dengan materi. Kita punya ilmu, bisa kita bagikan. Dalam memimpin, saya lebih suka ­mendengarkan. Karena tanpa kita sadari, banyak ide ­bawahan yang bagus, kadangkala saat kita jadi pemimpin, kita menutup kuping karena idealis dan ego yang tinggi”

Satu Kontingen ibarat Satu Keluarga

Sebanyak 123 atlet dan pelatih kontingen NTB yang telah mengikuti seleksi akhirnya dikukuhkan oleh Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, beberapa waktu lalu. Mereka selanjutnya menjalani latihan persiapan untuk mengikuti Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2016, di Bandung Jawa Barat pada September 2016 mendatang.

Muda bukanlah hambatan menjadi pemimpin. Usia bukanlah penentu kapan orang harus menjadi pemimpin. Yang penting, mampu memimpin dengan bijaksana. Itulah kiat Dade M. ­Fatwa, General Manager Quest Hotel. idak harus menunggu umur jadi tua untuk menjadi pemimpin. Tapi bagaimana cara kita dalam memimpin orang lain. Itulah yang terpenting,” tutur lelaki yang tak pernah berpikir akan memegang posisi top manager dalam usia 34 tahun ini. Ia tak menampik, usia karyawan tentu bervariasi, ada yang lebih muda dan ada yang lebih tua. Menurutnya, kalau ingin dihargai, pemimpin juga harus menghargai karyawan. Ketika dihadapkan pada satu masalah, keputusan yang diambil juga harus bijaksana, bukan emosional. Ia juga tak menampik, orang muda sering diidentikkan, kerja cepat, dan harus segera selesai. Namun, menu-

Mandalika

Dade M. Fatwa

dimana karyawannya nyaman bekerja, otomatis pelayanan yang diberikan juga bagus. Ilmu yang sudah ia dapatkan, ia terapkan di Quest tempatnya sekarang. Dalam waktu tiga bulan, ia melihat banyak sekali perubahan sikap karyawan dalam bekerja. Ini berkorelasi terhadap service kepada tamu, dan beberapa keuntungan hotel. Kreativitas karyawan bermunculan, dengan ide segar bagaimana agar semua section bisa menghasilkan uang. Jadi tidak menggantungkan pada penjualan kamar saja. Misalnya, promo kolam renang included minum dan burger, bisa mendongkrak ramainya restoran, termasuk promosi kamar hotel juga ikut jalan. TAHUN KETIGA NASIB Dade berasal dari keluarga sederhana. Ia mengambil program D-1 Perhotelan di Jakarta. Dade kuliah sembari bekerja untuk menambah uang sakunya. Saat training , ia ditawari bekerja. Padahal, ia belum tamat kuliah. Tanpa pikir panjang Dade langsung menerimanya. Tahun 2000 ia sudah kerja di hotel. Rencananya, setelah wisuda, ia ingin melanjutkan kuliah lagi. Namun, karena jam kerjanya tidak mendukung, Dade fokus bekerja saja. Memulai karier dari staf di reservation, kemudian di reseption, ia dipromosikan menjadi supervisor. Beberapa kali mendapat kan karyawan terbaik, Dade dipromosikan menjadi reservation manager. Tahun 2007, hotel tempatnya bekerja merger, otomatis banyak karyawan dirumahkan. Dade bingung mau pindah kerja kemana. Seorang

teman, menawarkan ia untuk mencoba peruntungannya ke Bali. Tanpa pikir panjang ia nekad ke Bali, tanpa teman dan keluarga. Memulai karier di Mercure Kuta, Dade sempat dipindahkan ke Aston Denpasar, dan mencoba tantangan di Harris Riverview Kuta. Bagi Dade, bekerja yang pas itu hanya dua tahun. Tahun pertama, adaptasi dan belajar, tahun kedua kontribusi kita terhadap perusahaan. Tahun ketiga nasib ditentukan yang di atas. Kebetulan nasib berkata lain. Dade diminta membantu pembukaan hotel Aston Kuta. Disanalah ia berkarier sampai empat tahun. Dari situ ia berpikir, masuk zona zaman. Ketika, ada kesempatan untuk menjadi FO manager di corporate Aston, wilayah Jember, Bali, Sulawesi, dan Irian, Dade memberanikan diri melamar. Saat interview Dade diberi tantangan, apa berani mengelola hotel. Dade tak ragu untuk menerima tantangan tersebut. Ia terima, dan mulailah ia menjadi manager dalam usia 34 tahun. Dade tak berpikir, kariernya akan naik secepat itu. Setelah dua tahun di Fave Hotel Square, bulan Oktober 2015, Dade dipromosikan menjadi general manager hotel bintang tiga Quest Hotel. Dade bersyukur, telah melewati banyak cross training. Menurutnya, setiap bagian di hotel itu punya peran penting. “Ketika kita pernah dan mampu menghandle pekerjaan masing-masing section, secara keseluruhan tahapan kepemimpinan sudah saya lalui. Jadi, urusan hotel semuanya sudah saya pelajari melalui cross training,” ucapnya.-Wirati Astiti

P

ada pengukuhan itu, Gubernur NTB berharap agar para atlet dan pelatih untuk menggelorakan semangat demi mempersembahkan yang terbaik bagi NTB, karena semangat itulah yang akan menghidupkan harapan kuat untuk melahirkan prestasiprestasi terbaik. Gubernur NTB sempat menungkapkan rasa bangga pada para atlet NTB untuk mengejar prestasi yang luar biasa, tidak hanya untuk NTB namun juga

untuk Indonesia. “Dengan kebanggaan ini, kami bersama seluruh masyarakat NTB mendoakan agar para atlet mendapatkan kesuksesan di PON 2016 mendatang,” kata Majdi. Selain menggelorakan semangat, ia juga berharap agar seluruh kontingen PON 2016 NTB juga dapat menjaga kekompakan yang merupakan unsur terpenting dalam meraih prestasi. “Satu kontingen ibarat satu keluarga yang saling mengayomi. Pelatih mencintai atlet-atletnya dan memberikan pelatihan-pelati-

han yang berlandaskan kasih sayang dan kesungguhan. Atlet hormat dan komit kepada pelatih. Kalau semangt dan kesungguhan bertemu, maka akan melejitkan prestasi yang luar biasa,” ungkap Gubernur. Untuk itu, Gubernur berharap seluruh kontingen NTB untuk tetap fokus, mulai menjalani latihan persiapan hingga nanti mengikuti PON 2016 tersebut. Menurut Ketua KONI NTB, H. Andi Hadyanto menjelaskan ada sekitar 18 cabang olah raga yang akan diikuti oleh para atlet

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

21

Gubernur NTB dan pengurus DPD I KNPI NTB

Elemen Pemuda harus Kompak Memiliki semangat juang untuk dalam berkarya membangun masa depan Propinsi Nusa Tenggara Barat, menjadi hal yang penting dimiliki oleh setiap pemuda. Pemuda NTB diharapkan dapat memberikan ide gagasan untuk kemajuan daerah. Karena itulah, pemuda harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya. “Pemuda adalah cerminan pemimpin di masa yang akan datang, Kalau ingin melihat pemimpin di masa yang akan datang maka lihatlah kondisi pemuda saat ini,” ungkap Dr. TGH. M. Zainul Majdi, pada pelantikan pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTB, beberapa waktu lalu. Mengangkat tema, sinergitas pemuda untuk mewujudkan generasi muda NTB yang berintergritas, produktif dan berdaya saing, pelantikan pengurus hasil Musda akhir bulan Desember 2015 lalu ini menitip harapan bahwa seluruh pengurus hendaknya istiqomah untuk mengabdi sepanjang kepengurusannya 2015 sampai dengan tahun 2018, yang dipimpin oleh Hamdan Kasim sebagai ketua DPD I KNPI NTB. Gairah aktivitas kepemudaan diharapkan dapat lebih hidup lagi. “Tidak hanya ramai pada saat pelantikan tetapi juga harus semarak dengan berbagai kegiatan. Elemen pemuda harus kompak untuk berjuang bersama-sama demi daerah yang kita cintai,” kata Majdi. Gubernur NTB meminta kepada semua pemuda untuk terus berkarya, berikhtiar, bermusahabah memberikan karya terbaik untuk NTB. -Naniek I. Taufan NTB di PON ini, di antaranya golf, atletik, tinju, bela diri, dansa dan sepak takraw. “Kami mengharapkan do’a dan dukungan seluruh masyarakat NTB untuk kesuk-

sesan para atlit kita. Do’a dan dukungan masyarakat bagi para atlet untuk dapat mempersembahkan prestasi terbaik,” ungkap Andi. -Naniek I. Taufan

NTB Tuan Rumah HPN 2016 Tahun 2016 ini Nusa Tenggara Barat Gubernur menjadi tuan rumah digelarnya Hari Pers Nasional (HPN) yang puncak acaranya dihelat pada tanggal 6-9 Februari 2016 mendatang. Para jurnalis dari seluruh Indonesia dipastikan akan berkumpul di Mataram untuk merayakan hari penting bagi dunia kewartawanan tersebut. Karena itulah, Provinsi NTB tengah serius menyiapkan kegiatan tersebut. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mengajak para insan pers untuk memastikan kesuksesan terselenggaranya HPN 2016. “Pelaksanaan HPN 2016, selain penting bagi insan pers juga akan dapat memberikan manfaat bagi Provinsi NTB,” ujar Majdi. Gubernur berharap melalui para melalui momen ini NTB bisa lebih memperkenalkan potensi- potensi yang dimiliki, salah satunya adalah bidang pariwisata. Bidang pariwisata

telah ditetapkan sebagai salah satu dari dua sektor andalan Provinsi NTB. Hal ini didasarkan atas data statistik BPS yang menunjukkan bahwa pariwisata dan sektor pendukung memberi kontribusi besar pada pendapatan domestik bruto regional. “Melalui HPN 2016 ini, diharapkan branding/citra pariwisata NTB dapat diangkat dengan tujuan memperbanyak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara”, harapnya. Korelasi pelaksanaan HPN 2016 dengan pengembangan pariwisata di NTB jelas sangat dekat karena juga terkait dengan lokasi dimana acara ini akan digelar. HPN 2016 rencananya akan dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang menjadi salah satu dari 15 kawasan istimewa yang menjadi perhatian pengembangan pariwisata di Indonesia. “ KEK ada-

Gubernur NTB bersama para atlit NTB yang akan mengikuti PON 2016

lah satu-satunya kawasan yang sudah dipayungi oleh Peraturan Presiden. Insentif pengemban-

gan KEK masuk pada paket kebijakan ekonomi keenam yang sudah dirilis oleh Presiden. Jadi

seluruh insentif bagi investor sudah diatur oleh Perpres,” ujarnya. -Naniek I. Taufan


22

Guru Malas Disuruh Urus Kuburan Sebenarnya ini bukan isu baru, namun karena Ahok, Gubernur DKI Jakarta, berbicara keras tentang guru dan kinerjanya maka kalangan guru geger. Gubernur yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu menegaskan bagi guru-guru yang berkinerja rendah akan dipindahkan ke bidang lain. Salah satu bidang yang disebut Ahok adalah mengurusi kuburan alias pindah ke Dinas Pemakaman.

K

Sosialita Made Budaka & Nyoman Kusmini

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

ontan omongan Ahok yang ceplasceplos itu bikin terkejut. Mereka (guru) tidak pernah membayangkan bakal bekerja di lingkungan lain selain bidang pendidikan, apalagi bekerja di bidang pemakaman. “Omongan Ahok bikin geger para guru. Kita sih sudah biasa kalau Ahok marah-marah tapi kalau bilang yang kinerja buruk mau dipindah jadi ‘pengurus kuburan’ , wah bagaimana itu? “ ungkap seorang guru PNS yang tak mau disebut namanya. Ahok baru-baru ini mengeluarkan pernyataan keras pada saat deklarasi sekolah aman bencana di Balaikota, Jakarta, pekan lalu. Saat itu Ahok selain berbicara tentang banyaknya sekolah rusak di Jakarta juga bicara tentang kinerja guru. Menurutnya, kalau para guru tidak bisa bekerja sepenuh hati, lebih baik pindah ke dinas lain, misalnya ke Dinas Pemakaman dan Pertamanan. “Kalau hatinya nggak mau jadi guru, ngapain? Enggak usah menjadi guru, urus kuburan (dinas pemakaman) saja,” tegas Ahok. Guru dibayar untuk mendidik siswanya. Tapi jika itu tidak dilaksanakan dengan baik, pindah saja ke bidang lain. Ahok tidak akan segan-segan memindahkan atau bahkan memberhentikan guru yang tidak berkinerja baik. “Ada guru yang tidak tertib, saat kerja malah pelesiran di pusat perbelanjaan. Kita perlu guru dan kepala sekolah yang punya hati. Kalau masih ada guru yang enggak benar juga, jangan segan-segan melaporkan ke atasan atau langsung lapor ke saya lewat SMS,” katanya lagi.

Ade sedang mengecek tugas muridnya

Ucapan Ahok ini mendapat tanggapan beragam dari kalangan pendidikan. Ade Pujiati, pemilik sekolah gratis ‘SMP Ibu Pertiwi’ di Pancoran Timur, misalnya. Ia mengatakan, tidak perlu jauhjauh mencari contoh, sekolahnya, TKBM ‘SMP Ibu Pertiwi‘ yang berafiliasi dengan SMPN 67, mengalaminya. “Selama delapan tahun berdiri TKBM (tempat kegiatan belajar mandiri) kami, anak-anaknya tidak mendapat praktikum IPA, TIK (komputer), elektro padahal kan mereka (SMPN 67) punya laboratorium untuk itu. Ketika ujian, anak-anak dikasih nilai tinggi. Sampai saya harus ‘berantem’ dulu dengan guru di sana supaya menurunkan nilai-nilai anak-anak kami. Kami bukannya tidak suka anakanak dapat nilai bagus, tapi kan caranya nggak benar. Tidak pernah praktik, trus waktu ujian dikasih tahu caranya, jadi nilainya tinggi. Pelajaran elektro juga begitu. Gurunya malas banget,” ujarnya. Ia sampai lapor ke Dinas Pendidikan, lalu pihak Dinas datang ke sana dan ‘menekan’ pihak SMP 67 untuk memberi pelajaran praktik. Mereka bilangnya iya, tapi tidak pernah dilaksanakan. “Pernah suatu kali katanya akan ada pelajaran praktek. Tapi ternyata anak-anak malah disuruh merangkum pelajaran, trus si guru tidur di depan murid-muridnya,” tutur Ade kesal. Karena itu ia sangat mendukung pernyataan Ahok yang akan memindahkan guru-guru yang berkinerja buruk ke bidang lain di luar pendidikan.“Jadi seperi kata Ahok, oknum-oknum guru itu jadi

penjaga kuburan aja,” ucapnya. JANGAN HANYA GURU DISALAHKAN Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti menyebut, jika berbicara soal kinerja guru harus jelas ukurannya, tidak bisa disamaratakan atau jangan ‘digebyah-uyah’. Juga, jangan hanya guru yang disalahkan. “Guru yang berkinerja buruk memang ada, tapi banyak guru yang bagus juga rajin. Sakit-sakit tetap mengajar. Saya ini guru, jadi saya tahu itu. Jumlah guru yang malas itu tidak banyak jika dibanding dengan keseluruhan jumlah guru di Indonesia.

Jika dilihat, ya, ‘elu lagi-elu lagi’. Maksudnya orangnya ya itu-itu saja. Kalau seperti itu, kenapa guru seperti itu tidak ditindak. Harusnya guru-guru malas itu ya ditindak, bukan dibiarkan saja. Ada banyak guru yang rajin, jadi jangan disamaratakan,” ungkap Retno. Jika menyebut tentang kualitas pun, kata Retno harus jelas ukurannya, apakah ukuran nasional atau internasional. Namun data internasional berbicara bahwa guru Indonesia berkualitas rendah. Itu terlihat dari hasil penelitian World Bank tahun 2012 terhadap 12 negara di Asia terkait kualitas guru. Dari 12 negara, Indonesia berada di urutan ke-12 atau urutan terakhir. Itu artinya berkualitas rendah. Ukuran lainnya adalah tentang hasil uji kompetensi guru yang diadakan dari 2012-2014, hasilnya nilai rata-rata guru rendah. “Lalu, kenapa guru rata rata berkualitas rendah? Ini karena salah satunya dipengaruhi oleh sistem yang dibangun oleh pemerintah, kebijakan pemerintah tentang guru. Guru tidak pernah di-up date. Guru tidak pernah diberi pelatihan,” ujarnya. FSGI pernah melakukan survei 29 kota/kabupaten di Indonesia terkait dengan kualitas guru SD. Hasilnya, banyak guru SD tidak pernah ikut pelatihan sampai menjelang pensiun. Contohnya guru-guru di Pandeglang, Jawa Barat. Pandeglang jaraknya dekat dengan Jakarta, hanya 100 km. Di sana ada guru SD usianya 56 tahun yang baru sekali mengikuti pelatihan selama kariernya, itupun tahun 1981. “Bayangkan! Kita sudah empat kali ganti presiden, guru baru sekali dapat pelatihan,” ucapnya. Mantan Kepsek SMAN 3 Jakarta ini menegaskan tidak bisa membangun kapasitasnya sendiri tapi harus dibangun oleh sebuah sistem. Dalam undang-undang, pemerintah baik itu di pusat maupun daerah, wajib membangun kapasitas guru. Misalnya, lewat pelatihan-pelatihan, dll. “Di Singapura itu, guru-gurunya sangat berkualitas. Sistem di sana punya standar tertentu. Guru harus menjalani pelatihan 100 jam per tahun.

3

Dengan Rp 60 Jutaan bisa Hasilkan Rp 290 Jutaan Dengan diberlakukannya MEA sejak akhir 2015 yang berarti kita bersaing bebas dengan bangsa-bangsa di Asia, tentunya persaingan di negeri ini semakin ketat. Para investor asing lebih bebas dan leluasa menggempur kita, mereka bebas membeli tanah dan perkebunan di Indonesia. Kini saatnya masyarakat lokal berpikir cerdas, mengambil peluang untuk lebih dulu memiliki investasi perkebunan di tanah air kita Indonesia ini. Hal tersebut ditegaskan pasutri I Made Budaka Wijaya dan Nyoman Kusmini, owner Sri Farm.

Retno Listyarti

Jadi guru-guru di sana benar-benar up date,“ tegas Retno. “Di sana guru tidak boleh ngajar lebih dari 16 jam. Kalau di sini guru ngajar 24 jam. Kalau di sana guru ngajar sehari tidak boleh lebih dari empat jam. Selain mengajar, dia harus membaca, menulis, koreksi, dll. Jadi kapasitas guru memang benar-benar dibangun lewat sistem yang ada. Di negara negara yang pendidikan maju seperti Singapura, Selandia Baru, mereka memperlakukan guru dengan sebuah sistem yang sangat bagus. Lalu Indonesia? Kalau di sini guru diberi sertifikasi. Pertanyaannya, apakah kalau dikasih sertifikasi, guru otomatis berkualitas? Tentu tidak! Kalau tidak ada pelatihan, biar dikasih sertifikasi pun, ya sama saja, guru tidak berkualitas,” papar peraih ‘Islamic Educator Awards 2013’. Masalah pelatihan untuk para guru, masih jauh dari harapan. “Di Jakarta saja program itu masih sangat minim, apalagi di daerah. Kami punya datanya, kok. Di Jakarta, seolah-olah guru dikasih tunjangan ini-itu terus disuruh meningkatkan kualitasnya sendiri. Ya nggak bisa begitu dong. Peningkatan kualitas itu harus juga didukung oleh sekolah. Misalnya, saya pulang pelatihan, bersemangat, tapi kemudian sekolah tidak mendukung lewat penyediaan perlengkapan yang diperlukan untuk mempraktikkan pelatihan yang didapat, kan percuma. Jadi maksud saya adalah, membangun kualitas guru itu harus dilakukan bersama-sama, bukan cuma oleh guru saja, “ tegasnya. —Diana Runtu

Ibarat Membangun Tim Sepak Bola Retno Listyarti mencontohkan ucapan Menteri Pendidikan yang menyebut, membangun kualitas guru ibarat membangun sebuah tim sepak-bola yang berkualitas, harus dilakukan bersama-sama. Jadi kalau ‘pemain-pemain’ bagus dikumpulkan, tapi tidak pernah latihan, tidak pernah dikasih pelatih, ya kan tidak akan jadi apa-apa. Begitu juga dengan pengembangan kualitas guru. Jika berbicara tentang kualitas guru seharusnya dilakukan evaluasi terhadap kinerja Dinas Pendidikan (Disdik) . “Apa saja yang mereka (Disdik) lakukan selama ini? Bagaimana dengan pembangunan SDM? Jangan-jangan selama bertahun tahun, seperti yang juga saya rasakan, lebih banyak pada pembangunan fisik (proyek) daripada membangun manusianya,“ kata Retno. Karenanya Retno berharap agar dalam masalah kualitas guru, jangan hanya guru yang disalahkan, padahal mereka tidak/jarang diberi kesempatan untuk meningkatkan kapasitasnya. Pemerintah turut andil menciptakan keadaan seperti ini. “Jadi jangan di balik. Guru disalahkan, pemerintah aman,” tambahnya.

Edisi 885/ 25 - 31 januari 2016

Menurutnya selama ini Disdik tidak transparan dan terkesan tertutup terhadap program yang akan dijalankan, baik itu program untuk sekolah maupun guru. Ia tidak pernah tahu apa program Disdik untuk pendidikan. Tidak ada transparansi. Ia baru tahu kalau ada beritanya, misalnya berita sekarang ada rencana memperbaiki sekolahsekolah rusak. Lalu program untuk guru mana? Ia tidak tahu, juga tidak pernah diminta untuk mengusulkan program yang dibutuhkan guru. Malah yang didengar (berita) guru yang tidak berkualitas akan dipindahkan mengurus kuburan. Membangun atau merenovasi gedung, kata Retno, mudah dan hasilnya bisa dilihat dalam tempo singkat. Tapi membangun kapasitas guru tidak mudah dan hasilnya tidak bisa dilihat seketika. Perlu proses panjang, tidak bisa setahun dua tahun. “Yang pasti uang itu tidak mengubah orang. Mau dikasih berapa pun tidak akan mengubah, kalau karakter tidak dibangun. Budaya kompetisi, budaya menghargai perbedaan, mendidik dengan hati, dll, itu harus dibangun,” tandas Retno. —Diana Runtu

“M

enjadi investor bukan hal yang tak mungkin lagi, karena dengan hanya Rp 60 jutaan, kita sudah bisa memiliki hutan jabon dan mendapatkan sertifikat hak milik (SHM),” ujar Made Budaka. Dengan investasi Rp 60 jutaan itu, ia mangatakan investor sudah mendapatkan 200 bibit jabon dengan luas lahan 0, 25 hektare. “SHM atas nama sendiri. Pembayaran bisa cash atau diangsur,” imbuh Nyoman Kusmini. Dari investasi Rp 60 jutaan

tersebut, estimasi potensi hasil yang didapat dalam 10 tahun adalah Rp 291.200.000. Pembayaran bisa diangsur hingga 12 kali dengan DP 30%. “Bagi investor yang berkeinginan berinvestasi lebih, tersedia juga paket yang lebih besar, yang kesemuanya itu terjamin legalitasnya dan aman. Berinvestasi di hutan jabon Sri Farm ini, benarbenar uang yang bekerja buat investor, karena semua proses dari penanaman, pemeliharaan hingga panen dikerjakan oleh tim profesional Sri Farm,” ujar Made Budaka. Investasi di hutan jabon Sri

Farm ini, dijelaskannya memiliki beberapa keuntungan. Pertama, kebutuhan kayu selalu lebih tinggi dari ketersediaannya dan harga kayu tiap tahunnya selalu meningkat. Belum lagi dengan adanya kebijakan pemerintah yang melarang penebangan hutan alam, sehingga industri perkayuan diwajibkan menggunakan kayu hutan tanam rakyat (HTR). “Jadi, peluang perkebunan kayu di Indonesia cukup luas dan menjanjikan. Dengan memiliki perkebunan jabon Sri Farm, para investor akan mendapatkan penghasilan berlipat ganda dari hasil investasi ini,” ujarnya. Kedua, jabon yang merupakan salah satu jenis kayu terbaik dinilai banyak memiliki keunggulan. Karena, selain cukup kebal terhadap hama dan penyakit, pertumbuhan jabon sangat cepat, sekali menanam dapat dipanen dua kali.

Survey lokasi ke Mamuju, Sulawesi Barat

Ketiga, selain berinvestasi dan mendapatkan hasil, kita juga mendapatkan bonus yaitu berbuat baik dengan menyediakan oksigen gratis. Karena 1 pohon jabon bisa menghasilkan oksigen untuk 3 orang setiap harinya. Dan, hal ini adalah salah satu upaya untuk mencegah global warming, yang dengan kata lain kita (investor di hutan jabon) turut menghijaukan bumi. “Dengan menanam pohon, kita bisa berumur panjang, karena kita sudah memberikan kesempatan kepada makhluk lain untuk bertumbuh. Go green go rich,” ucapnya. Keempat, ​​ dengan berinvestasi di Hutan Jabon Sri Farm, investor sekaligus turut meyadnya dengan melestarikan lingkungan (go green). Selain itu, secara otomatis juga investor mem-

buka lapangan pekerjaan baru bagi para petani yang mengerjakan lahan kebun jabon yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat. Perkebunan jabon Sri Farm ini mengadopsi konsep Tri Hita Karana yakni recovery dan pelestarian alam sebagai wujud bakti terhadap ciptaan Tuhan, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan tanaman rakyat yang berkelanjutan sehingga memberikan benefit ekonomi yang besar. Pemilihan lokasi di Mamuju, Sulbar ini dikarenakan tanahnya yang subur sehingga pertumbuhan jabon dipastikan bagus, sehingga hasil panen memuaskan. “Dengan pesawat terbang, jarak Bali-Sulawesi cukup dekat, hanya 2 jam penerbangan,” ucap Nyoman Kusmini. –ten

Pohon jabon berusia 8 bulan

Proses pengolahan lahan perkebunan jabon oleh tim Sri Farm

Investasi Menguntungkan di Kebun Jabon Sri Farm

Dalam beberapa kesempatan, Sri Farm bersama beber-

apa investor yang sudah bergabung di Sri Farm langsung turun memantau perkembangan hutan jabon di Mamuju, Sulbar. Selanjutnya, pihak Sri Farm akan terus memberikan laporan rutin perkembangan kebun jabon setiap tahunnya. Selain, investor sendiri juga bisa memantau secara online karena di beberapa titik dipasangi kamera CCTV. “Sri Farm akan kembali melakukan kunjungan ke lokasi, akhir Februari 2016 ini. Bagi calon investor yang berminat, bisa bergabung dengan kami untuk mengecek lahannya dulu sebelum memastikan membeli. Dengan tanda jadi Rp 5 juta Anda sudah bisa survey lokasi ke Mamuju, untuk ke-

berangkatan 1 orang. Jika sudah oke, setelah melakukan pelunasan, pohon Anda akan langsung kami tanam,” ujar Nyoman Kusmini. Dan, kalaupun dalam perjalanannya terjadi risiko seperti pencurian, kebakaran, kerusakan, ataupun gagal panen, Sri Farm akan meng-covernya. Semua pohon sudah diasuransikan. Jika pohon rusak akan diganti dengan pohon baru karena Sri Farm memiliki kebun inti. “Jika gagal, kami kembalikan investasi Anda dengan nilai 130%. Ketika gagal pun, Anda masih untung. Klausa ini pun akan kami tuangkan dalam perjanjian notaris,” janji Made Budaka. “Dan juga untuk beberapa investor, Sertifikat Hak Milik atas nama investor pun sudah

jadi. Secara legalitas semua sudah oke dan tim legal kami pun sudah bekerja dengan baik,” ujar Nyoman Kusmini menambahkan. Jadi, tunggu apalagi, mari menjadi investor di tanah

air sendiri, mari berinvestasi cerdas dengan modal hanya Rp 60 jutaan di Kebun Jabon Sri Farm. Bagi yang berminat, bisa menyaksikan Pameran Sri Farm di JCC (Jakarta Convention Centre) pada tanggal 13

s.d. 21 Februari 2016, stan nomor 137. Info selengkapnya, hubungi Sri Farm Office: Jln. Tukad Batanghari No. 9, Denpasar, Bali, Telp 0361 228868, 085 338 183 888, www.srifarm.com. –ten

Serah terima sertifikat hak milik atas nama investor


2

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

GORO-GORO Desember, Bali sibuk. Turis mancanegara dan lokal membludak. Jalanan kewalahan menampung lalu-lalang. Situs-situs Putu Wijaya wisata sesak. Panen raya buat yang menggantungkan hidupnya pada blantika pariwisata. “Dulu, yang menjadi kekhawatiran kita adalah akan berubahnya Bali dan lunturnya tradisi digerus oleh perilaku dan gaya hidup turis,” kata Amat. “Sekarang?” “Sekarang kita takut kalau turis berkurang.” Bu Amat tersenyum. “Jadi tidak takut lagi pada perubahan dan tradisi luntur?” “Tidak.” “Lho? Masak begitu, Pak?” “Ya. Bagaimana mau takut lagi, kalau kita sekarang nyatanya sudah berubah dan luntur?” “Ah, siapa bilang? Tidak mungkin! Tidak bisa!” “Nah itu dia yang perlu ditakutkan! Tidak berani menerima kenyataan, itu namanya menipu diri sendiri. Bahaya! Meskipun kita mati-matian ingin mempertahankan keaslian-kemurnian, jangan bilang kita akan bisa tidak berubah dan tradisi belm luntur. Nyatanya kita sudah berubah banyak dan luntur. Lihat ke jalan. Lihat ke rumah-rumah kita sekarang, 30 tahun lalu dengan sekarang seperti siang dan malam!” Bu Amat berpikir. “Yang mana malam, yang mana siang?” “Itu tergantung pengelihatan masingmasing.” “Menurut Bapak sendiri?” Amat tidak menjawab. Karena ia juga baru tengah memantapkan pendapatnya. “Perubahan itu memang bisa direm supaya jangan terlalu drastis sehingga

luntur

merusak. Tapi tidak mungkin ditolak. biasa asal pinggang dililit selendang. Yang Karena perubahan itu sesuatu yang wajar penting niatnya! Ya, kan?” bahkan perlu. Perubahan tidak berarti “Apa itu bukan kemunduran?” kemerosotan. Banyak perubahan ber“O, sama sekali tidak! Kemajuan itu guna dan memang merupakan tuntutan mau tak mau adalah perubahan. Dan, zaman. Tandanya kita berkembang. perubahan itu pasti berdampak pelunKalau tidak, kita akan kedaluwarsa, Ingat turan. Jadi.... .” Bali bukan hanya ‘milik’ kita orang Bali, Tiba-tiba kedengaran suara gedobrak tapi miik Indonesia dan dunia,” kata Ami keras sekali. Disusul teriakan-teriakan di memberi masukan. luar rumah. “Tradisi juga bukan museum, bukan Amat terkejut, lalu bergegas keluar. fosil, tidak bisa dicegah akan meluntur Ternyata ada mobil masuk ke selokan. Tapi sedikit demi sedikit, karena tradisi pun setelah ditolong masyarakat naik kembali bernafas, hidup, berkembang sesuai ke jalan, tancap gas kabur. Hampir saja medengan desa-kala-patra. Bentuknya bisa nabrak tiga orang warga, untung mereka berubah tapi esensinya yang tetap dan sempat melompat nyebur ke selokan. akan bertahan sendiri tanpa dibantu, “Jalanan besar macet,” lapor seorang karena itulah sebabnya ia bertahan se- tetangga. “Ada mobil mewah cari jalan bagai tradisi.” pintas masuk ke kompleks hunian kita. Amat setuju sekali. Tapi Bu Amat Ngebut, sehingga ketika ada anak lari nyemelawan. brang jalan mengejar kucingnya, sopir kaget “Kalau Bali sudah berubah bukan Bali banting stir. Nabrak tembok membunuh lagi namanya!” seekor kambing dan roda mobil masuk “Apa?” got. Warga datang menolong, tapi setelah “Pokoknya bukan!” tertolong, mobil dilarikan sambil memaki “Sekarang menurut ibu, Bali masih dalam bahasa daerah: cicing. dong .... !!” Bali bukan?” Amat kontan naik darah lalu me“Masih, tapi sudah banyak yang ledak, “Itu pasti bukan orang Bali!” berubah dan .....” “Dan luntur, kan?” Bu Amat terdiam, mati langkah. Amat tertawa. “Jangan takut pada perubahan dan kelunturan, Bu. Lihat. Itu anak-anak muda sekarang. Mereka berubah karena zaman berubah. Banyak pekerjaan yang dulu hanya Kunjungan Iwan Kurnia dan Teni Ginaya dari Telkomsel dikerjakan oleh laki-laki ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Kamis (14/1) saja, sekarang dilakukan oleh perempuan. Jadi sopir atau polisi, misalnya. Dalam tata busana, celana jeans yang warnanya sudah belel alias luntur lebih mahal dan lebih dicari dari yang birunya masih medok! Dulu dalam melakuan ibadah harus pakai pakaian adat, tapi dalam situasi tertentu sekarang bisa dilakukan den- Kunjungan Wisye Batubara dan Ayu Marbun dari Bali Safari Marine Park ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Rabu (20/1) gan pakaian

Tujuan Single Fin, Pulang Single

Tahun baru memang momen yang pas untuk dipakai jalanjalan bareng keluarga, pacar, maupun bersama teman-teman. Tahun baru 2016 ini saya mengisi agenda perjalanan saya menjelajahi daerah Uluwatu. Saya diberitahu oleh teman saya, bahwa kami mengisi libur tahun baru ke daerah Uluwatu. Karena saya tidak tahu tujuannya adalah pantai (karena saya tidak bertanya, saya hanya ikut-ikutan saja) akhirnya saya tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Termasuk alat untuk selfie nanti. Sesampainya di Pantai Single Fin saya baru menyadari bahwa perlengkapan saya untuk berlibur kali ini memang kurang. Tidak membawa power bank, kamera digital (hanya mengan-

dalkan kamera handphone), dan perlengkapan anti air. Saya hanya membawa dompet dan handphone. Bahkan saya pun salah kostum, memakai pakaian yang “berat” tidak selayaknya orang berlibur di pantai. Mau tidak mau, agar saya harus membeli pakaian pantai yang dijual di daerah tersebut. Pantai Single Fin adalah salah satu pantai yang indah dan sayang jika dilewatkan pada saat berlibur di Bali. Pantai­n ya yang cukup banyak melewati anak tangga, pasir putihnya yang sangat hangat menyambut kedatangan kami, karang, dan airnya yang masih sangat jernih, membuat kami tidak sabar untuk menikmati keindahan alam yang satu ini. Saat asyik selfie, ternyata…. Oh My God..!! Pluuuk.. Hand-

phone saya terjatuh ke dalam air dari tongsis yang kami pergunakan untuk selfie. Betapa sedih dan speechless saya melihat handphone saya terendam air. Walaupun cepat diselamatkan namun karena air laut adalah air yang mengandung kadar garam tinggi, akhirnya handphone saya tidak bisa dipergunakan. Yang saya sayangkan handphone saya baru saya pergunakan 5 bulan, dan masih belum lunas. Pergi ke Pantai Single Fin, pulangnya saya juga single tanpa handphone yang menemani. Untuk teman-teman yang ingin berlibur seperti saya, saya sarankan untuk dipersiapkan terlebih dahulu perlengkapan yang harus dibawa ya! Agar liburan dan selfie kalian lebih menyenangkan. Ni Kadek Yuniantari Padangsambian, Denpasar

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi ­Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­ Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. ­ Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Kata Hati Mulai Februari 2016, Tokoh memiliki rubrik “Kata Hati” khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga. Panjang naskah 4000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, dan redaksitokoh@yahoo.com. Naskah diterima paling lambat tiap hari Kamis pukul 15.00. Pemuatan ditentukan Redaksi Tokoh.

Sudut Pandang

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

23

Pengawasan Ormas belum Efektif

Berbagai kalangan, termasuk sejumlah anggota DPR menilai pengawasan pemerintah terhadap organisasi kemasyarakatan (Ormas), khususnya ormas-ormas yang meresahkan masyarakat masih belum efektif. Itu sebabnya banyak ormas yang meresahkan masyarakat, seperti ormas-ormas radikal, bisa tetap beraktivitas.

S

ebagai contoh, beberapa waktu lalu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme)---jauh sebelum terjadinya teror bom di kawasan Sarinah Jl Mh Thamrin Jakarta--menyebut sejumlah organisasi di Indonesia terdeteksi mendukung kelompok radikal ISIS. Contoh lainnya, saat ini kasus orang hilang marak di berbagai daerah dan ormas ‘Gafatar’ (Gerakan Fajar Nusantara) dikaitkan dengan kasus tersebut. Gafatar, sejauh ini aktivitasnya di berbagai daerah mendapat penolakan karena dianggap meresahkan masyarakat. “Menurut saya ini menunjukkan pencegahan yang tidak atau belum efektif. Gerakan sudah besar, sudah bikin aksi, baru lah kita gelagapan. Gakkum (penegak hukum) harus evaluasi bagaimana

memastikan dalam pencegahan sudah harus ada penindakan. Artinya, kerjasama Intel dan Reskrim harus produktif agar pencegahan efektif,” tegas Eva Kusuma Sundari, anggota DPR dari Fraksi PDI-P. Informasi dari Intel harus ditindaklanjuti Reskrim atau Densus. Ini penting agar Intel tidak meminta tambahan kewenangan untuk menangkap orang. Artinya, Kapolri harus membenahi internal agar Reskrim responsif terhadap kebutuhan penindakan untuk pencegahan. Menurutnya, jika Reskrim bisa melakukan penindakan dalam pencegahan maka tidak perlu dilakukan revisi terhadap UU Teroris atau UU Intel, apalagi untuk balik seperti masa Orde Baru. “Saya merasa revisi undang-undang belum mendesak. Kan sudah ada SE (surat edaran)

Ormas tak Terdaftar tak Dilayani Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, I Gede Putu Jaya Suartama, mengatakan, saat ini jumlah organisasi masyarakat (ormas) yang terdaftar di Bali berjumlah 107. Di luar itu, masih ada ormas lain yang belum terdaftar. Sesuai UU Nomor 17 Tahun 2013, tidak bisa memaksa ormas untuk mendaftarkan diri. “Mendaftarkan diri juga gratis alias tidak dipungut bayaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, misalnya, harus ada akta pendirian, anggaran dasar rumahtangga, struktur, alamat, dan NPWP,” ucapnya. Menurutnya, ormas I Gede Putu Jaya Suartama yang belum mendaftar, mungkin masih kesulitan mencari akta pendirian. “Ormas yang tidak terdaftar, jika ada masalah dan memerlukan bantuan dari pemerintah, mereka tidak dapat dilayani,” kata Suartama. Dalam UU tidak disebutkan cara perekrutan anggota. Hal itu disesuaikan dengan ketentuan dalam ormas itu sendiri. Untuk penerbitan surat keterangan terdaftar (SKT) ini juga disesuaikan dengan masa kepengurusan ormas tersebut. “Setiap penerbitan SKT, Kesbangpol memiliki tim verifikasi, untuk mengecek ke lapangan, kelengkapan administrasi, termasuk alamatnya dimana, apa saja isi kantornya. Tim verifikasi juga melibatkan Polda Bali,” jelas Suartama. Pengawasan dari Kesbangpol, ormas sering diundang dalam bintek wawasan kebangsaan, ideologi, dan Pancasila. Ada juga forum komunikasi ormas. “Dalam setiap kegiatan ormas, biasanya kesbangpol diundang. Dalam acara tersebut, biasanya, saya selipkan saran-saran untuk bersama-sama menjaga persaudaraan dan menjaga tanah Bali,” ujarnya. Suartama mengatakan, kalau dilihat dari AD/ART ormas, semuanya bagus. Kalau ada masalah di lapangan, itu lebih ke oknum. Dalam UU juga tidak diatur PNS dilarang menjadi ketua ormas. Hal ini mengacu pada pasal 28, UUD 1945. Pada dasarnya, siapa saja bisa membentuk ormas, asal mematuhi UU Nomor 17 Tahun 2013. Dalam UU ini sudah dijelaskan hak dan kewajiban ormas. –Wirati Astiti

Eva Kusuma Sundari

Kapolri untuk Pencegahan, itu saja yang diefektifkan. Jadi sekarang ini fokusnya pada pencegahan saja,” ucapnya. Terjadinya kasus bom dan bertumbuhannya organisasi-organisasi radikal saat ini, membuat sebagian kalangan mendesak agar UU No 15 Tahun 2003 tentang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme direvisi karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan yang ada. Banyak yang mendukung wacana ini, meski tidak sedikit juga yang menolak dan menganggap belum mendesak. Martin Hutabarat, anggota DPR dari Fraksi Gerindra, mendukung wacana revisi UU Terorisme. Untuk melakukan revisi itu membutuhkan waktu yang relatif lama, dia menyarankan agar Presiden mengeluarkan Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang). “Perpu ini dalam kondisi seka-

rang bisa diterima masyarakat penggunaannya dengan alasan kepentingan yang memaksa. Apabila Perpu dikeluarkan, akan membuat DPR membahasnya karena Konstitusi sudah membatasi waktu pembahasannya untuk bisa diterima atau ditolak Perpu tersebut sampai persidangan DPR berikutnya. Saya berharap Presiden tidak perlu ragu untuk mengeluarkan Perpu ini, asal isinya betul-betul dibicarakan secara mendalam bersama BNPT, Polri, TNI, BIN, Kumham, Kemendagri, Kejaksaan, dsb,” papar anggota Komisi III DPR RI ini. UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebelumnya adalah Perpu No 1tahun 2002. Perpu itu dulunya diterbitkan pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 2002 menyusul terjadinya bom di Bali tahun 2002. Setelah adanya Perpu, maka DPR pun membahasnya kemudian jadilah UU No 15 Tahun 2003 yang sekarang berlaku. Jika Presiden mengeluarkan Perpu maka itu akan segera dibahas di DPR. Pembahasan akan dilakukan segera karena konstitusi menetapkan batasan waktu untuk menolak atau menerima. Isi Perpu itu adalah revisi UU Teroris yang sekarang. “Dengan merevisi UU Teroris, maka pengawasan terhadap organisasi dan organisasi radikal dapat lebih ditingkatkan,” kata politisi senior ini. Dalam pandangannya pengawasan terhadap keberadaan organisasi-organisasi radikal masih dirasakan kurang efektif, dan ini

SKT bisa Dicabut

Dalam melakukan pengawasan terhadap organisasi-organisasi yang ada di Nusa Tenggara Barat, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Nusa Tenggara Barat (NTB) terbilang sangat ketat. Meski dinilai aturan yang mengatur tentang organisasi kemasyarakatan (ormas) tidak ketat, namun Bakesbangpoldagri NTB tetap mengawasi dan memantau aktivitas ormas-ormas tersebut dengan intens. Ormas yang telah berdiri dianjurkan untuk mendaftarkan sehingga mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT). “Jika tidak mendaftar pun, ormas bisa tetap berjalan. Di sinilah salah satu hal yang dinilai kurang ketatnya mengenai aturan tentang ormas tersebut,” ujar Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si., Kepala Badan Kesbangpoldagri NTB. Karena itulah Badan Kesbangpoldagri NTB mempunyai cara sendiri dalam mengawasi dan meman-

tau aktivitas ormas yang ada di NTB. Sampai saat ini, ada sekitar 1.685 ormas di NTB, baik di tingkat Provinsi NTB maupun di tingkat kabupaten/kota seNTB, sejauh ini beraktivitas dengan positif. “Dari jumlah tersebut, 25%-nya adalah ormas tingkat provinsi yang memiliki setidaknya tiga cabang di kabupaten/kota di NTB dan sebagian besar adalah ormas yang terdaftar,” kata Bayu. Tahun 2015 lalu, ada 240 ormas tingkat provinsi yang terdaftar baru. Dari sejumlah ormas yang ada di NTB, menurut Bayu, didominasi oleh ormas yang beraktivitas di bidang sosial dan keagamaan. Dengan banyaknya ormas di NTB, Kesbangpoldagri NTB melakukan kontrol dan pengawasan dimulai dari pemberian Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dengan melihat, pertama adalah kelengkapan administrasinya. “Selain itu, meskipun secara administrasi sangat lengkap, sebelum mengeluarkan

salah satunya disebabkan karena landasan hukumnya kurang kuat. DITELAAH KEMBALI Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan tiap orang memiliki hak untuk membentuk kelompok atau organisasi. Namun, kelompok atau organisasi itu wajib dilaporkan, baik itu ke Pemda setempat jika bersifat lokal atau ke Kemendagri jika bersifat nasional. Terkait dengan Gafatar, kata Tjahjo, dulu menyebut semua kegiatannya adalah bersifat sosial. “Namun setelah kita cermati, akhirnya kami tolak (permohonan SKT-nya). Makanya organisasi kayak Gafatar tidak terdata di Kemendagri. Kalau terkait ajaran sesat atau membingungkan masyarakat, kejasaan pun punya hak,” kata Tjahjo di DPR, Senayan, Jakarta. Pihaknya sulit mengantisipasi gerakan radikal yang mengatasnamakan agama. Tetapi, ada program khusus dengan lintas kementerian/lembaga untuk memantau gerakan radikal. Hal itu untuk meningkatkan koordinasi hingga ketingkat kecamatan, bahkan desa. Kementerian Dalam Negeri juga telah mengeluarkan radiogram ke seluruh Kesbangpol di daerah-daerah seluruh Indonesia terkait dengan keberadaan Gafatar maupun organisasi-organisasi lain yang meresahkan. “Kami minta Kesbangpol daerah berhatihati. Tidak hanya pada Gafatar tapi juga organisasi-organisasi lain, kami minta ditelaah kembali,” katanya. -Diana Runtu SKT kami juga mendengar, meneliti dan memeriksa informasi-informasi dari masyarakat mengenai aktivitas organisasi tersebut,” ungkap Bayu. Jika ada potensi penolakan apalagi ada penolakan dari masyarakat terhadap ormas yang bersangkutan, maka Kesbangpoldagri tidak akan mengeluarkan atau menerbitkan SKT. Terkait dengan Gafatar (gerakan Fajar Nusantara), rupanya ada yang sempat beraktivitas di NTB pada tahun 2015, seperti di Lombok Utara, Sumbawa Barat. “Namun, karena kami melihat potensi penolakan dari masyarakat yang besar, SKT yang pernah diterbitkan akhirnya dicabut kembali,” ujar Bayu. Begitu juga dengan yang ada di Lombok Barat. “Gafatar di Lombok Barat pernah mencoba untuk mendaftar, namun karena laporan tim kami di lapangan dan juga informasi langsung dari masyarakat bahwa ada penolakan masyarakat, maka kami tidak menerbitkan SKT-nya,” kata Bayu. Sejauh ini, Kesbangpoldagri NTB, tegas dan intensif mengawasi ormas yang ada di NTB. -Naniek I. Taufan


24

Edisi 885/ 25 - 31 Januari 2016

Dari Relasi Jadi Uang Setiap orang mengalami pengalaman organisasi sendiri. Termasuk pengalaman Ni Putu Asteria Yuniarti, S.Pd. Perempuan yang terkenal dengan nama Ria Asteria ini pernah jadi ketua OSIS SMP, ketua ekskul karya ilmiah, pengurus ekskul saat SMA, dan ikut organisasi KISARA (Kita Sayang Remaja) yang bergerak di bidang pemberdayaan remaja untuk mensosialisasikan tentang narkoba, HIV & AIDS.

“S

aat kuliah saya jadi Ketua BEM Fakultas dan pengurus IMBAKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan & Konseling Indonesia). Saat ini, saya sedang merintis sebuah organisasi yang namanya Ria Asteria Billionare Community. Cikal bakalnya tercetus kemauan untuk membangun komunitas ini adalah ingin sharing dengan para remaja untuk memiliki kemampuan public speaking yang bagus, berjiwa wirausaha, kreatif dan berjiwa sosial juga. Semoga ke depan, gaung dari komunitas saya ini bisa diperhitungkan publik,” ujar perempuan kelahiran Lampung, 1 Juni 1992 ini. Asteria pun menuturkan pengalamannya bertemu orang-orang baru dengan berbagai karakter, Bertemu denga pemimpin organisasi dengan sifat yang berbeda, dan banyak pelajaran yang bisa diambil ketika ada dalam sebuah organisasi. “Banyak teman-teman saya dapat jodoh saat organisasi karena organisasi itu mencapai tujuan bersama, satu visi dan misi,” ungkap peraih Piala Ibu Negara Ani Yudhoyono tahun 2012 dalam pemilihan Duta Mahasiswa Generasi Berencana Tingkat Nasional ini. Ia mengingatkan kalau ikut

­ rganisasi, jangan pernah bero pikir untuk banyak mendapatkan uang. Organisasi membuat kita banyak mendapatkan relasi. Dari relasi inilah yang akan membuat kita mendapatkan uang. Ikut organisasi juga dapat mengasah bakat dan potensi diri. “Saya adalah buktinya. Di usia 24 tahun, saya banyak memiliki teman dari berbagai kalangan karena berawal dari perkenalan saat ada kegiatan forum/ organisasi. Namun, harus tetap berhati-hati dengan orang yang kita kenal jangan sampai menjerumuskan. Benar kata orang, bahwa diri kita adalah dengan siapa kita bergaul. Kalau mau sukses harus bergaul dengan orang sukses juga,” tegas mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Dr.Soetomo Surabaya ini. Asteria pun memberi tips harus cerdas memilih organisasi yang memang benar-benar membuat kita menjadi pribadi yang berkembang. Jangan asal-asal ikutan teman, karena tiap orang memerlukan jenis organisasi yang berbeda untuk menjadi pribadi yang lebih baik. –Inten Indrawati

What’s Up

Ikut Organisasi untuk “Jual Diri”

Beragam alasan orang untuk ikut dalam organisasi. Ada yang hanya sekadar ikutan-ikutan teman. Ada yang serius karena ingin mendapatkan sesuatu, dan ada yang memang ingin menjadikan organisasi sebagai sebuah tempat pengabdian kepada masyarakat. “Secara umum, berorganisasi berada di level tertinggi kebutuhan manusia, yakni aktualisasi diri. Namun, tidak tertutup kemungkinan orang berorganisasi sebagai kebutuhan dasar. Organisasi pada dasarnya merupakan media untuk mengembangkan diri dan mengabdikan diri kepada masyarakat,” ujar Retno I G. Kusuma, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali. Ia menegaskan tiap kegiatan pasti memiliki manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat itu bisa berupa manfaat ekonomi, sosial, spiritual, maupun emosional. Manfaat ekonomi berupa kesempatan untuk menunjukkan aktualisasi diri. Hal ini berkaitan dengan potensi diri yang bisa ditunjukkan kepada orang lain. Dengan kata lain, berorganisasi bisa menjadi tempat “menjual diri” dan memperluas jejaring. Manfaat sosial berupa kesempatan untuk mengenal banyak orang sehingga makin banyak kenalan, makin banyak relasi. Manfaat spiritual berupa kesempatan untuk menambah pengetahuan di bidang spiritual, sepanjang hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma agama. Manfaat emosional diperoleh ketika kita mampu untuk mengontrol diri dalam mengatasi konflik serta mencari solusi dalam organisasi. “Organisasi memiliki kekuatan yang tidak terlihat yang bisa membuat orang tidak tertarik menjadi tertarik seperti “cuci otak”. Karena itu sebelum memutuskan bergabung dengan sebuah organisasi, kenali visi dan misinya. Kalau merasa cocok, silakan. Kalau tidak cocok, jangan dipaksa,” ujar psikolog yang juga Direktur Pradnyagama, Pusat Layanan Psikologi ini. Retno juga melihat sisi negatif dari berorganisasi berupa kebalikan dari manfaat yang diperoleh. Sisi negatif itu antara lain adanya “cuci otak” dan emosi yang kadang berlebihan. Karena itu, ia mengingatkan untuk berhati-hati jika ada organisasi yang visi dan misinya menyimpang dari norma-norma kehidupan. Hal ini biasanya dapat dideteksi dari persyaratan yang diberikan, misalnya tidak boleh mengatakan kepada orang lain kalau ikut organisasi itu, ada ritual aneh, serta tempat aktivitas sembunyisembunyi dan tertutup (mengisolasi diri). Jika menemukan persyaratan dan perilaku seperti itu, lingkungan harus lebih waspada. “Kalau mau ikut organisasi, minta rekomendasi dari teman yang sudah bergabung duluan. Pilih organisasi yang bersifat terbuka dan tidak eksklusif. Jika berorganisasi ini benar-benar dilakukan dengan tulus dan membantu masyarakat, bisa menjadi penanaman modal akherat,” tegas Ketua YPAC Bali ini. –Ngurah Budi

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook