24
What’s Up
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Pengalaman Guru Modeling
Tidak Ada Model Instan Mengembangkan usaha sekolah modeling ternyata gampanggampang susah. Hal ini diakui oleh Ari Agung, model senior Bali, pemilik Montana Modeling sejak tahun 1983 ini. Banyak hal yang mesti dikuasai seorang model, bukan hanya sekadar lenggaklenggok. Apalagi untuk bisa sukses mengotimalkan citra produk yang akan ditampilkannya.
P
embentukan kepribadian pun sangat penting agar bisa mencuri perhatian penonton. Model juga harus disiplin dan beretika.Karena itulah Ari Agung menjelaskan pentingnya sekolah model. Walaupun seseorang sudah memiliki bakat sebagai model, akan lebih baik apabila dibekali dengan pendidikan menjadi model.”Jika hanya punya bakat tapi tidak punya kemampuan, calon model tersebut tidak akan bisa memenuhi kebutuhan untuk menjadi seorang model profesional,” terangnya. Pada masanya Ari Agung dikenal sangat ketat dan on time. Para model tidak
boleh diantar orangtuanya. Namun, usai show dia akan mengantarkan semua modelnya sampai ke rumah masingmasing. “Saya tidak memberikan izin melanjutkan kegiatan lain setelah kami selesai show. Ini tanggung jawab kami pada orangtua mereka. Hal ini juga untuk menepis persepsi salah dari masyarakat dengan kesan negatifnya,” katanya Ari Agung mengatakan kelas modeling yang dibukanya saat sebelum bom Bali pertama tahun 2002 muridnya tergolong banyak. Namun setelah kejadian bom, perlahan murid–muridnya mulai menyusut. “Tdak berhenti namun tidak terlalu ramai,” cetusnya sampai akhir
Pengabdian Guru Nila
Nila dalam ruangan kelas ketika mengajar anak-anak dusun di SDN Tambora
Mengajar di sekolah yang berada di tengah kebun kopi yang dikelilingi hutan di kaki Gunung Tambora, adalah pengalaman tersendiri dalam pengabdian Nila Wijiastuti sebagai guru honorer di SDN Tambora di Desa Oibura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 50 murid yang berasal dari perkampungan sekitar kaki Gunung Tambora yang menuntut ilmu di sekolah terpencil dengan segala keterbatasan ini adalah penghibur bagi Nila. Hari-hari guru muda berusia 30 tahun ini adalah mengajar meski ia harus keluar masuk hutan dari dan menuju tempat tinggalnya di Dusun Pancasila Desa Tambora Kecamatan Pekat, Dompu NTB. Lulusan IKIP PGRI Jember ini begitu mencintai profesinya sebagai guru di sekolah terpencil seperti ini, demi mengantarkan ilmu bagi anak-anak dusun di sekolah ini. Delapan tahun terakhir Nila merelakan waktu dan tenaganya untuk mengabdi sebagai guru sukarela di sekolah nan jauh di ujung utara Pulau Sumbawa ini dengan ikhlas. Tidak banyak orang yang mau bersusah payah keluar masuk hutan seperti halnya Nila untuk mengajar dengan penuh keikhlasan di sekolah yang serba terbatas dan tidak menjanjikan kenyamanan fasilitas ini karena banyak sekolah yang lebih baik dan mudah dijangkau. Beberapa guru yang ditempatkan di sekolah ini, menurut Nila biasanya hanya datang satu atau dua kali saja saat pertama kali ditugaskan, lalu setelah itu nyaris tak pernah kembali lagi ke sekolah yang jarak tempuhnya 6-7 jam dari Kota Dompu dan Bima ini. “Kasihan anak-anak Tambora jika tidak ada guru yang mau mengajar mereka,” ungkap Nila tentang mengapa ia bergitu bersemangat mengajar meski harus menghadapi kesulitan-kesulitan
dalam pengabdiannya ini. Meski hanya sebagai guru honorer sejak tahun 2007 hingga kini, Nila menerima pengabdian ini sebagai bagian dari keinginannya melihat anak-anak dusun tersebut bisa mendapatkan pendidikan seperti halnya anak-anak lain di kota-kota. Meski medan jalan menuju sekolah ini terbilang berat, terutama di musim hujan, tidak membuat Nila menyerah. Hujan yang datang akan membuat jalan tanah berukuran kecil dan di bagianbagian tertentu bisa dibilang setapak ini, menjadi sangat licin dan berbahaya bagi keselamatannya, namun tidak membuat semangatnya surut. Ia terus memacu sepeda motornya, menaklukkan jalanan licin tersebut demi sebuah pengabdian. Ia bertekad harus sampai di sekolah ini tiap hari. Hanya karena alasan yang luar biasa saja yang membuatnya tidak hadir di sekolah. Jalan licin dan berbahaya, bukan perintang bagi guru dengan honorer tak seberapa dibandingkan gaji dan tunjangan sertifikasi guru di masa ini, dalam mengabdi bagi dunia pendidikan. “Kalau saya tidak masuk sekolah, kasihan anak-anak jadi tidak bisa belajar,” katanya. Tentu saja ini menjadi beban tanggung jawab tersendiri bagi Nila mengingat anak-anak yang bersekolah di SD ini juga datang dari kampungkampung sekitar hutan tersebut (Kampung Timur, Kampung Bali dan Dusun Tambora) dan guru yang mengajar di sekolah ini hanya lima orang termasuk di dalamnya juga Kepala Sekolah. Mereka juga menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah tidak mudah. Keterbatasan membuat mereka harus berjalan kaki dan berjuang melewati hutan dan jika hujan tiba, tidak jarang mereka basah ketika sampai di sekolah. -Naniek I. Taufan
nya beberapa tahun terakhir Ari Agung memilih mendidik secara privat. Teknik mengajar modeling yang biasa digunakannya ketika mengajar di kelas selama ini adalah standar mengajarnya seorang Titik Qadarsih. Ada senam kaki, senam tangan dan calon model pun mesti mengenakan baju senam.“Untuk menjadikan seorang model yang berkualitas dan terdidik tidak mudah. Semua dilakukan perlahan termasuk dalam menggunakan alat-alat bantu, agar langkah lebih lurus serta badan yang luwes dan indah di atas catwalk. Semuanya menuntut disiplin yang ketat tidak ada yang instan. Sebab, selain ekspresi, kelenturan tubuh penting untuk di foto atau pemotretan,” paparnya sambil menambahkan untuk kepribadian mereka juga diberikan pelatihan seperti cara berdiri, duduk, naik tangga, hingga cara berkomunikasi dan tata busana juga wawasan lainnya agar menjadi diri sendiri yang hangat, ramah dan beretika
Ditanya suka dan duka sebagai guru modeling, ibu dua anak ini mengatakan, baginya bisa mendidik calon model dengan benar adalah sebuah kebahagiaan. Sebab, ia bisa membentuk setiap model mampu tampil percaya diri dan berhasil memunculkan karakternya masing-masing. “Cobalah perhatikan model-model catwalk yang dulu dengan sekarang,” katanya. Bicara duka, dikatakannya yang sangat diingat adalah saat-saat awal membuka sekolah modeling. “Kala itu dunia model dan semua yang ada di dalamnya, oleh sebagian masyarakat masih mendapat cap negatif dan dianggap tak jauh dari dunia glamor, kelas premium bahkan ada yang menganggap tidak ada unsur edukasinya,” ujarnya. “Saat ini juga kami tidak bisa lagi mengajar seperti dahulu. Sebab anak sekarang susah diberi pengarahan. Mereka cepat bosan, tidak mau belajar dari awal tapi ingin cepat jadi model dan langsung ikut fashion show. Apalagi kalau dia merasa
Ari Agung
tinggi dan cantik maunya segera diajak show meskipun jalannya belum lurus dan belum luwes juga,” lanjutnya. Masih soal anggapan yang miring terlanjur melekat tersebut, menurut pemilik Montana Modeling ini anggapan itu salah. Sebab, terjun di dunia modeling justru mendatangkan dengan berbagai manfaat sekaligus memiliki nilai edukasi. Kalau pun ada yang kurang baik itu berpulang kembali pada oknumnya. – Sri Ardhini
Soroti Pengangkatan Guru Setahun dua tahun terakhir ini tak ada pengangkatan guru. Meski demikian minat masyarakat memilih profesi guru dengan melanjutkan ke sekolah keguruan, masih bagus. “Tak ada perubahan signifikan. Kalau pun angkanya menurun sedikit itu masih wajar. Tahun lalu kami menerima mahasiswa baru 700an, tahun ini 625 orang, jadi menurut saya ini masih stagnan,” ujar Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. Menurutnya, respons masyarakat ini tak lepas dari makin diperhatikannya nasib guru oleh pemerintah, dengan adanya sertifikasi guru. Namun di sisi lain, Made Suarta menyoroti tentang pengangkatan guru. Baginya, guru dan tenaga medis itu harus diangkat, tidak bisa tidak. “Pengangkatan pegawai mungkin saja bisa ditunda, tetapi yang terkait dengan kesehatan, terkait dengan kecerdasan bangsa, itu tak bisa ditunda. Guru harus diangkat. Hanya saja cara/sistemnya ada yang diangkat berdasarkan sistem kontrak, guru tidak tetap, ataupun guru tetap. Yang jelas kebutuhan akan guru tak akan pernah berhenti,” ujarnya. Suarta menegaskan, fakta di lapangan, banyak sekali guru yang pensiun. Jadi, pertimbangan ini (pengangkatan guru) menurutnya tak bisa ditawartawar lagi, karena guru berkaitan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia mengatakan, di IKIP PGRI Bali, rata-rata per tahun menamatkan 1.000 calon guru, itu pun 50 persennya sudah bekerja. “Sisanya yang 50 persen itu bisa mengisi guru-guru yang pensiun itu,” ujarnya. Sebetulnya kekurangan guru merupakan gejala nasional, realita di lapangan termasuk di Bali. Berdasarkan informasi dari media cetak pun, mulai dari Jembrana, Buleleng, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan hampir di setiap kabupaten/kota di Bali itu kekurangan guru. Angkanya tak lagi puluhan, namun sudah ratusan di masing-masing kabupaten di semua jenjang pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, Suarta yang vokal berteriak agar “pemerintah tidak menutup mata dan telinga” akan krisis guru di setiap kesempatan termasuk di media ini, kini bisa tersenyum lega. Paling tidak, pemerintah melalui media cetak telah menyikapinya dengan wacana akan mengangkat guru yang akan aktif per 2016 ini, termasuk guru Bahasa Bali. “Katanya pengangkatan guru akan dilakukan secepat mungkin dan akan dimanfaatkan tenaganya tahun ajaran 2016. Ini bagian dari sikap pemerintah yang sudah membuka mata dan telinga,” ujarnya sumringah. Dari pengamatannya, di sekolah-
sekolah yang kekurangan guru, kepala sekolah mengambil kebijakan dengan mengangkat guru-guru honorer, guru tidak tetap (GTT) yang mengajar di sekolah tersebut. “Dalam hal tanggung jawab, GTT itu berbeda dengan guru tetap. Guru tetap, selain mengajar dia juga mendidik dan terlibat penuh, sementara GTT tak sejauh itu. Tapi mungkin saja tak semua GTT seperti itu,” ucapnya. Jika saja pemerintah komitmen dan konsisten dengan ucapannya dalam rangka peningkatan kualitas, tentu pengangkatan guru tak bisa diabaikan.
Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum.
Bagaimana kita berbicara kualitas, sementara salah satu komponen/bagian dari peningkatan kualitas adalah guru saja masih kurang. “Di sisi lain, pemerintah menuntut peningkatan kualitas. Ini sudah tak relevan. Yang namanya guru, apalagi guru mengajar rangkap, apalagi guru mengajar tidak sesuai dengan bidang studi, janganlah berbicara kualitas di sana. Karena dengan mengajar rangkap sudah otomatis konsentrasi guru terpecah, tentu bisa dibayangkan kualitas apa yang diharapkan dari situasi seperti itu. Di sinilah pemerintah harus segera menyikapi kekurangan guru ini,” tegasnya lagi. Namun, Made Suarta optimis, tahun depan respons masyarakat akan makin bagus lagi seiring dengan adanya wacana yang diembuskan Wagub belum laam ini. “Pasti ada angin segar bagi dunia keguruan. Tidak ada pilihan lain, harus ada pengangkatan guru. Lucu kalau kita berbicara kualitas, tapi SDM/tenaga gurunya tidak ada. Sehebat apapun sarana prasarananya, jika yang menggerakkan (guru) tidak ada, mau bagaimana?,” ungkapnya. Kalaupun nantinya ada pengangkatan guru, Suarta berharap tak ada kepenti ngan politis di dalamnya. Pengangkatan guru tak boleh sembarangan, harus disesuaikan dengan kebutuhan. “Kalau saja pemerintah konsisten setiap tahun mengangkat guru, tentu tak akan terjadi seperti ini,” tandasnya. –Inten Indrawati
Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
Website: www.tokoh.co.id
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
GORO-GORO A m i mengunjungi Amat, bukan karena kangen. Ia mengusung sebuah pertanyaan yang bikin bapaknya Putu Wijaya blingsatan. “Dulu waktu Bapak jadi guru bahasa, apa saja yang Bapak ajarkan pada murid.” “Ya, pengetahuan bahasa!” “Kesusastraan?” “Tentu saja!” “Siapa Chairil Anwar?” Amat berpikir, lalu menjawab sekenanya. “Aku ini binatang jalang!” Ami tersenyum mengejek. “Ya itu, salah satu kalimat dalam sajaknya yang berjudul Aku. Waktu itu umumnya semua kita membahasakan diri dengan kata saya. Dengan maksud merendahkan diri, sesuai dengan hajat kolonial penjajah yang tidak mau kita merdeka. Chairil berontak, dia memelopori supaya orang punya harga diri dan membahasakan dirinya aku. Nah, sekarang anak, murid bahkan para pembantu semua PD, mereka membahasakan dirinya dengan kata aku. Jadi Chairil bukan hanya penyair, tapi juga pejuang dengan senjata kata-kata. Ia membawa revolusi mental!” Amat manggut-manggut. “Siapa WS Rendra?” Amat menjawab bersemangat. “Bersatulah Pelacur- Pelacur Jakarta!” Ami kontan memotong sengit. “Itu salah satu judul sajaknya yang terkenal. Tanggal 7 November lalu almarhum genap 80 tahun. Ada peringatan akbar tanggal 16 November di UIN, Ciputat, Tangsel, dari pagi hingga malam. Ada seminar, pemutaran video, pembacaan sajak dan beberapa tokoh memberikan testimoni. Salah satu testimoni menyebutkan, almarhum mewariskan 5 jurus langkah sakti yang bisa dipakai
Rendra
berjuang yaitu keberanian melawan, pantang menyerah, mempertimbangkan tradisi, kegagahan dalam kemiskinan dan melihat dari sudut pandang baru. Kelima kiat berekspresi kreatif itulah yang menyebabkan dia menjadi legenda!” Amat kembali manggut-manggut. “Bapak iangan cuma manggutmanggut tok. Bapak harus malu. Sebagai guru Bapak sudah salah mendidik mirid. Yang Bapak ajarkan hanya hapalan tahun-tahun kelahiran, kematian, tapi esensi-pembelajaran moralnya tidak disentuh. Itu semua dosa cetak biru pendidikan kita yang hanya mau mencetak manusia yang cerdas dan kompetitif tok. Pembelajaran budi-pekertI, humaniora diabaikan. Itu bencana nasional!” Amat manggut-manggut. “Jadi sekarang berhenti mengecam generasi muda malas, letoi, egois, acuh-tak acuh, tidakpedulian, lembek, bablas bahkan tak tahu adat.
Kritiklah habis pemberhalaan pada kecerdasan dan keinginan menang berkompetisi dalam era global yang sudah mengabaikan usaha penegakan nilai-nilai moral dan pembentukan karakter berkepribadian Indonesia dalam lubuk hati generasi muda. Pendidikan sekarang hanya penyiksaan dengan seabrek-abrek tugas yang membuat. Generasi muda stress. Itu semua akibat kepanikan para pembuat keputusan pendidikan yang kalang kabut ingin mencatkan belangnya, pada sejarah! Tanpa peduli desa-kala-patra! Chaos pendidikan ini harus diakhiri, Pak!” Selesai memuntahkan unekuneknya, Ami langsung pulang. Bu Amat yang tadinya tutup mulut, mulai mengorek Amat. “Kenapa lagi, anakmu itu, Pak?” Amat menjawab tanpa beban. “Akibat dosa pendidikan kita!” Bu Amat mengernyitkan kening. “Dosa pendidikan? Bukannya dosa guru-gurunya!?!”
Ekspresso bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Sekretariat Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257 “Share with Reporter” merupakan program kerjasama yang dilakukan Tokoh bersama relasi. Kegiatannya berupa sharing dan berbagi pengalaman dengan narasumber Redaktur Pelaksana Tokoh Ngurah Budi. Berikutnya, narasumber yang diajak berbagi bisa berasal dari berbagai kalangan, seperti musisi, desainer, novelis, dokter, dan yang lainnya. Namanya menjadi “Share with Musician”, “Share with Designer,” Share with Novelist”, atau “Share with Doctor”. Kegiatan perdana ini sudah dilakukan di Cendekia Harapan Elementary School, Jimbaran, Kamis (19/11) diikuti 30 siswa. Semoga kegiatan ini bisa memberi inspirasi bagi siswa.
Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website
Uang Keluar setelah Keluar ATM Suatu hari saya mengambil uang di ATM di salah satu bank. Biasanya saya mengambil uang di ATM terdekat yang saya temui. Kali ini, saya langsung ke ATM yang berada di banknya. Saat bertransaksi, datang seorang teman. Kami saling menyapa dan menanyakan kabar. Teman ini merupakan senior saya. Kami beda kantor tetapi berada dalam satu grup perusahaan. Saya hampir selesai mengambil uang ketika melihat teman itu kesulitan dengan mesin ATM. Ternyata uangnya tidak bisa keluar. Saya pun menawarkan agar dia menggunakan mesin ATM yang saya pakai setelah saya selesai. Tetapi, ia tidak mau. Setelah ATM-nya keluar, ia mening-
galkan mesin ATM untuk melapor ke petugas bank. Begitu dia keluar, uang ikut keluar dari mesin ATM. Saya kaget. “Oh my God…mesin ATM lambat mengeluarkan uang,” pikir saya. Saya langsung mengambil uang yang keluar itu. Untungnya tidak ada orang lain yang menggunakan mesin ATM itu. Saya lalu keluar untuk mengejar
teman itu. Saya sampai berteriak mengatakan uang sudah keluar. Teman saya yang sedang berbicara dengan satpam, ikut terkejut. Ia tak menyangka uang yang disangka “macet” ternyata bisa keluar. Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih karena menyelamatkan uangnya. Kami pun meninggalkan bank dengan perasaan plong. Asti, Denpasar
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
Sudut Pandang
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Susan Bachtiar
Belajar dari Anak-anak Sejumlah artis ternyata pernah menjadi guru sebelum terkenal di dunia entertainment. Misalnya saja Happy Salma, yang sempat menjadi guru TK namun kemudian melepas profesinya karena mulai sibuk di dunia entertainment. Begitu juga Susan Bachtiar, pemeran film ‘Cinta dari Wamena’ , ini, yang juga menjadi guru TK. Hanya bedanya, sekalipun sibuk Susan tidak melepas profesinya sebagai guru.
“S
aya menjadi guru sejak tahun 1996, mengajar bahasa Inggris,” ujar wanita kelahiran Jakarta 2 Mei 1973 ini. Kalau mau dibilang, kata Susan, awalnya menjadi guru bukanlah menjadi cita-citanya. Dulu, katanya, ia ingin menjadi dokter. Namun gagal tes terguruan tinggi negeri, membuatnya beralih menekuni dunia pendidikan. “Entah bagaimana, Tuhan punya rencana lain, saya pun akhirnya masuk Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris, ternyata saya menyukainya,” kata wanita
bernama lengkap Susan Meilani Bachtiar ini. Sembilan belas tahun berprofesi sebagai guru, membuat Susan boleh dibilang kaya akan pengalaman. Betapa tidak, ibu satu anak ini bukan saja berpengalaman mengajar di jenjang taman kanak-kanak, tapi juga ia telah menjajal mengajar mulai dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. “Semua sudah saya jalani. Namun dari pengalaman saya ternyata yang paling saya suka adalah mengajar TK. Saya merasa lebih enjoy. Kenapa? Karena saya suka anak-anak, dan merasa lebih fun,” ungkap Susan yang baru beberapa tahun terakhir
Anies Baswedan
Sukses Berawal dari Mimpi MENTERI Pendidikan Dasar Menengah dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan, hadir di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Sabtu (14/11). Kehadiran mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu, sehubungan dengan perjalanan Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 di Provinsi Bali. Bali sendiri merupakan provinsi yang ke-22, yang disinggahi kapsul mimpi tersebut. Anies Baswedan bersama Wagub Bali I Ketut Sudikerta, menyaksikan pembacaan cita wangsa Bali, mimpi rakyat Bali, yang dibacakan tujuh pelajar SMA berseragam Paskibra. Ketujuh mimpi rakyat Bali tersebut, hasil dari ribuan mimpi dan sudah tersaring. Hasil seleksi, representatif dari seluruh elemen masyarakat Bali, di antaranya siswa, mahasiswa, buruh, pekerja, birokrat, pekerja seni maupun veteran. Ketujuh mimpi rakyat Bali itu yakni, pendidikan gratis, Bali menjadi pusat sekolah pariwisata dunia, Bali bebas narkoba, dan menjadi rumah sakit rujukan internasional, mampu berkiprah dalam binsis nasional dan internasional, terbangunannya keharmonisan lingkungan dan alam, sebagai wujud dari Tri Hita Karana, terwujudnya keadilan sosial, terwujudnya pemerintahan yang akuntabel dan menjadi pemimpin nasional negeri nusantara. Anies Baswedan menegaskan bermimpi dan menuliskan mimpimimpi itu wajib. “Memiliki mimpi sama dengan memiliki cita-cita. Untuk mencapainya tentu harus belajar dengan tekun dan sungguhsungguh. Menuliskan mimpi itu sama dengan memikirkan masa depan jauh ke depan. Banyak orang yang sukses berawal dari mimpi. Ibarat seorang anak kecil yang menginginkan sebuah sepeda
Anies Baswedan
baru, sampai-sampai sepeda terbawa mimpi. Selanjutnya bagaimana si anak itu berusaha menabung sedikit demi sedikit sebagian uang jajan sekolahnya, setelah terkumpul, anak itu akan mampu mewujudkan mimpinya membeli sebuah sepeda baru. Masih banyak contoh mereka yang sukses itu bermula dari mimpi. Unutk itu bermimpilah yang tinggi, bercita-citalah yang tinggi untuk negeri tercinta Indonesia,” urainya. Ia pun menegaskan kepada pelajar dan mahasiswa yang hadir di acara tersebut untuk menulis mimpi setinggi-tingginya. Untuk menggapai mimpi itu hanya akan tercapai dengan bekerja keras. Anies juga menuturkan negara tercinta Republik Indonesia ini dibangun dengan cita-cita. Para pendiri negeri ini ketika terjajah dulu, mereka bermimpi bisa merebut negeri ini dari tangan penjajah. Awalnya banyak yang menertawakan mereka itu. Perjalanan waktu yang dibarengi dengan kerja keras, persatuan dan kesatuan, akhirnya kemerdekaan bangsa ini berhasil direbut dari penjajah. Karena itu
menjadi guru TK. Tiap pulang mengajar, tuturnya, ada saja pengalaman maupun cerita menarik didapat. Mulai dari kelucuan mereka, kepolosan mereka, yang terkadang secara tak sengaja seperti ‘menyentil’ orang dewasa. “Kadang secara tak sengaja ada saja entah itu tingkah laku atau perkataan yang begitu ‘mengena’ pada saya. Sampai saya berpikir, “ohh iya ya bener juga”. Jadi boleh dibilang dalam mengajar bukan mereka saja yang belajar tapi saya pun banyak belajar dari mereka. Misalnya, mengingatkan saya untuk lebih aware,” tutur istri Roger
bangsa yang besar adalah bangsa yang berpikir panjang. Memikirkan masa depan bangsa ini seribu tahun lagi. Berkali-kali Anies Baswedan mengajak para pelajar khususnya untuk tinggikan mimpi. Semakin tinggi mimipi seseorang, mereka memiliki pandangan yang jauh ke depan. Harus disadari pula jika kekayaan terbesar negeri ini adalah sumber daya manusia (SDM). SDM yang sehat dan terdidik akan dapat berpikir panjang, memikirkan masa depan bangsa dan negaranya. Generasi muda Indonesia diajak Anies agar tidak pernah puas dengan apa yang sudah diraih saat ini. Di sisi lain, melalui Kapsul Mimpi, Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 ini, generasi muda Bali khususnya, dimotivasi agar menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. “Tinggikan mimpimu dan berusahalah agar mimpi itu menjadi kenyataan. Berusahalah!,” kata Anies dengan penuh semangat. Ia pun memotivasi pelajar dan mahasiswa, agar menjadi pelaku sejarah perjalanan bangsa ini. Tak sekadar menjadi penonton. Hal yang sama telah dilakukan para pahlawan pejuang bangsa, yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan ini hingga darah penghabisan. Hasilnya, nama mereka tetap harum sampai kapan pun juga. “Pada peringatan 100 tahun Indonesia merdeka, anak-anak Indonesia saat ini yang akan menjadi pemimpin di negeri ini. Menjadi pemimpin di daerah, menjadi gubernur, bupati, camat dan pejabat lainnya di daerah,” harapnya. Ia pun menyempatkan diri untuk berdialog dengan pelajar dan mahasiswa. Kehadiran Abdee Negara, salah satu personel Slank menambah daya tarik acara ini selain tetabuhan baleganjur SMAN 3 Denpasar dan drum band. -Astra
Susan Bachtiar
Foto: kapanlagi.com
2
van Tongeren, seorang pria berkebangsaan Belanda ini. Namun, diakuinya mengajar anak-anak memang membutuhkan kesabaran ekstra. Bukan hanya terhadap anak didik tapi juga terhadap para orangtua. “Tapi saya kira yang namanya kesabaran, untuk pekerjaan apapun kesabaran selalu menjadi suatu ujian. Cuma yang harus kita pahami adalah sebandel-bandelnya anak-anak mereka adalah anakanak, kok, yang masih bisa dibilangin. Kecuali memang anak itu bermasalah banget, tapi itu kan
23
exceptional,” tuturnya. Mengajar anak TK, tambahnya, memang berbeda dengan mengajar anak yang lebih besar. “Kalau mengajar anak TK kita harus kreatif, berani cape, harusloncat-loncat..hehheh, juga sering memberi mimik lucu. Hal ini supaya anak-anak tertarik. Yahh meski agak lebih cape, tapi saya senang mengajar mereka. Interaksi belajar-mengajar dengan anak kecil terasa lebih alive, itu yang membuat saya suka,” kata pemeran film ‘Perempuan Punya Cerita’. Karena yang dihadapi adalah anak-anak TK, maka Susan menerapkan metode communicative approach dalam mengajar bahasa Inggris. Dia tidak mengajarkan mereka menulis ataupun membaca dalam bahasa Inggris. “Lebih pada communicative approach. Saya menggunakan media. Anakanak kan biasanya suka warna, gambar, cerita, menyanyi. Jadi ya seperti itu. Nah karena anakanak, meski tidak diajarkan membaca, namun kalau diulang setiap kali, maka mereka akan mengetahui objek-objek yang diterangkan di kelas,” jelas mantan presenter acara kuis Galileo, ini. –Diana Runtu
Guru Idola Guru yang Ramah
Guru merupakan salah satu profesi yang “menantang”. Beragam alasan yang membuat orang mau menjadi. “Alasan saya jadi guru adalah saya kagum dengan sosok guru yang sabar. Dari kekaguman itu, saya belajar sabar menghadapi siswa yang nakal. Jadi seorang guru itu tidak mudah menghadapi siswa yang bermasalah, membentuk kedisiplinan mereka, mengatur agar mereka mau melaksanakan kewajiban mereka di sekolah. Guru adalah orangtua kedua dari siswa. Banyak hal yang saya kagumi dari sosok guru. Selain sabar adalah penuh dengan cinta kasih terhadap siswa agar mereka mengerti arti dari berharganya seorang guru di masa pendidikan mereka,” ungkap Ni Putu Dwi Lestari Negari, S.Pd, guru olahraga SMK PGRI 4 Denpasar. Dwi yang juga atlet panah ini mengatakan yang bisa dibanggakan dari guru adalah selalu diingat oleh siswa, apalagi guru yang sangat mereka sukai akan selalu mereka ingat. Bangga karena bisa berbagi ilmu pengetahuan kepada siswa agar mereka tahu arti dari pendidikan. “Harapan saya adalah semoga ke depannya sosok guru bisa dihargai baik di bidang akademis maupun non akademis. Sekarang terkadang guru tidak semua rata dihargai jerih payah mereka. Ada sebagaian guru yang diabaikan jerih payahnya,” ungkapnya. Ia menambahkan kriteria guru idola biasanya dari siswa adalah guru yang ramah selalu bisa dekat dengan siswa dalam artian bergaul di sekolah sebagai teman mereka tapi ada batasannya. Apalagi anak-anak SMK biasanya mereka enggan untuk bicara atau sekadar candaan kecil dengan guru karena takut dengan alasan gurunya galak atau gurunya jutek. “Saya sebagai guru yang mengajar di SMK PGRI 4 Denpasar yang dipimpin Drs. I Ketut Suarya,M.Pd berusaha bergaul dengan siswa dengan candaan kecil untuk mereka,. Saya ingin siswa tahu bahwa tidak semua guru itu galak atau jutek,” ujarnya. –Ngurah Budi
Dwi Lestari foto bersama siswanya usai pelajaran olahraga
22
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Wisata Pemakaman
Ngeri tapi Banyak Peminat Wisata ke pemakaman? Wah, baru mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduk merinding karena seram. Tapi ternyata ada juga kelompok-kelompok tertentu yang memiliki agenda wisata ke pemakaman. Tentu saja tidak ke sembarang pemakaman melainkan pemakaman yang memiliki nilai sejarah. Salah satu pemakaman yang cukup menarik minat banyak orang, meski menyeramkan, adalah ke Museum Taman Prasasti yang terletak di kawasan Tanah Abang.
N
Salah satu patung di Taman Prasasti
amanya memang Museum Taman Prasasti, namun sebenarnya ini adalah kawasan pemakaman tempo dulu alias pemakaman zaman Belanda. Sebelum dijadikan ‘museum’ kompleks pemakaman para pejabat Belanda, beberapa di antaranya juga berasal di Inggris, disebut Kebon Jahe Ko-
ber. Dalam perkembangannya, kompleks pemakaman ini bukan hanya menjadi tempat dikebumikan para tokoh Belanda, tapi juga sejumlah tokoh Indonesia. Satu di antaranya adalah Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1966. Sementara sejumlah tokoh asal Belanda/Inggris yang dikebumikan di sini antara lain; AV
Makam para tokoh Belanda
Michiels (tokoh militer Belanda pada masa perang Buleleng), Dr. HF Roll (Pendiri Stovia atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda), JHR Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh), juga istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura, Olivia Marianne Raffles. Lantaran memiliki nilai sejarah tinggi itulah maka akhirnya kompleks pemakaman itu diputuskan menjad Museum Taman Prasasti yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1977. Kini di sana bukan hanya berisi kuburan Belanda tapi juga koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari provinsi-provinsi di Indonesia, beserta koleksi kereta jenazah antik. Di sana juga kita bisa menyaksikan koleksi karya seni dari masa lampau, tentang betapa canggihnya para pematung, pemahat, kaligrafer serta sastrawan tempo dulu dalam berkarya. Yang namanya kompleks pemakaman, pada umumnya bernuansa sama, suram dan sunyi. Hal itu juga terjadi di Museum Taman Prasasti. Uniknya, meski terkesan seram, tercatat cukup banyak kelompok yang datang ke sana secara berombongan. Mulai dari kelompok-kelompok penelusur sejarah, hingga kelompok fotografer bersama para modelnya. Berdasarkan catatan sejarah,
Gerbang depan museum taman prasasti
kuburan Kebon Jahe Kober telah ada sejak jaman Belanda, yakni sekitar tahun 1795. Sejarah mencatat, kompleks pemakaman ini dibuka pada 28 Oktober 1795. Yang berarti pada 28 Oktober 2015 lalu, usia kompleks pemakaman ini mencapai 220 tahun. Konon pada masa itu sebuah wabah mematikan menyerang Batavia sehingga membuat
banyak orang Belanda meninggal. Saking banyaknya yang tewas, lahan pekuburan yang ada saat itu yakni yang berada di samping Gereja Baru (sekarang Museum Wayang), penuh. Akhirnya dibangunlah kompleks pemakaman baru untuk warga Belanda, yang letaknya dekat Kali Krukut. Salah satu makam yang cukup dikenal adalah makam Kapitan Jas. Tidak diketahui siapa sebenarnya Kapitan Jas itu, namun konon banyak orang percaya bahwa para peziarah yang mengunjungi makam itu akan diberi kesuburan dan kemakmuran. Karena cerita burung yang berkembang dari mulut ke mulut itu maka banyak pengunjung mampir ke makam ini. CERITA MENGERIKAN Selain menyimpang banyak
keseraman, ada satu yang cukup menonjol yang sudah pasti membuat pengunjung bergidik ngeri. Ada sebuah monumen dimana di atasnya terdapat tengkorak yang tertancap pada ujung tombak. Di dinding monumen itu tertulis kaliman dalam bahasa Belanda dan Jawa,”Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apa pun di tempat ini, sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722”. Di balik monumen menakutkan itu, ternyata juga menyimpan cerita mengerikan. Konon pada masa itu ada seorang tuan tanah keturunan Indo yang kaya raya bernama Pieter Elberverd. Karena tanahnya disita VOC tanpa ganti rugi, Pieter tidak terima, dan dia pun melakukan penentangan. Tidak hanya sampai di situ, Pieter juga merencanakan pemberontakan dengan menye rang Belanda pada perayaan malam tahun baru tahun 1722. Sayangnya, rencana itu kemudian dibocorkan oleh orang dekatnya. Walhasil, Pieter dan para pemberontak ditangkap dan dieksekusi dengan keji. Tangan dan kaki mereka diikat dengan tambang, dimana masing-masing tambang diikatkan pada kuda. Kemudian empat ekor kuda itu dilecut untuk berlari ke arah yang berlawanan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bentuk eksekusi yang mengerikan itu. Tubuh Pieter dan para pemberontak itu hancur, dan bagian dalam tubuhnya terburai. Kampung dimana Pieter dan kelompoknya dieksekusi kemudian dikenal sebagai Kampung Pecah Kulit. Nama itu muncul lantaran seluruh kulit Pieter terkelupas saat diesekusi. Belanda memberi hukuman keji itu sekaligus untuk menunjukkan ganjaran apa yang bakal diterima oleh orang yang mencoba melakukan pemberontakan. Tidak cukup sampai disitu ‘peringatan’ yang diberikan Belanda. Pada makam mereka pun dibuatkan semacam monumen dengan tengkorak yang tertancap tombak. Tubuh Pieter sendiri awalnya dimakamkan di kawasan Jacatra Weg atau kini dikenal dengan Jln. Pangeran Jayakarta. Di makam itu pun dibangun tugu peringatan sama seperti yang ada di Museum Prasasti. Namun saat kedatangan Belanda pada 1942, tugu itu dihancurkan. Beruntung, prasastinya berhasil diamankan. Replika prasasti itu lah kemudian didirikan kembali di Museum Taman Prasasti. –Diana Runtu
Sosialita Mira Andayani
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Jaga Spirit Kreativitas Kebaya makin digemari perempuan modern. Apalagi siluet kebaya yang seksi sekaligus elegan semakin memantapkan aura feminin pemakainya. Kebaya dengan beragam modifikasinya juga bisa dikenakan dalam berbagai kesempatan istimewa. Begitu diungkapkan Ni Ketut Mira Andayani, saat ditemui di acara HUT ke 17 Tokoh, di Wantilan Bali TV beberapa waktu lalu.
Mira bersama IA Selly D. Mantra
B
erbekal kecintaan pada dunia fashion, kini Mira makin yakin bahwa passion –nya memang berada di tengah geliat dunia mode, khususnya bisnis kebaya di Bali. Terlebih, karyanya semakin banyak diminati oleh perempuan dari berbagai usia dan kalangan, baik untuk lokal di Bali maupu di luar Bali. “Astungkara,
tapi saya masih harus belajar lebih banyak lagi soal mode kebaya, ” ucap Mira. “Saat ini semuanya ini bisa terus berkembang selain andil keluarga dan kerabat dekat juga karena dukungan dan perhatian dari sosok pengamat mode Kota Denpasar IA Selly D. Mantra yang rajin menekankan tentang fashion berbasis budaya atau mengolah budaya sebagai sumber penciptaan. Begitu juga dengan Ketua Asbest Kota Denpasar Rhea Cempaka yang selalu memacu seluruh pengurus dan anggotanya untuk semakin maju,” ucap ibunda Eric Kusuma Minardi ini. Untuk semua teman, sahabat, kerabat yang selama ini sangat berarti dan tidak henti menghargai karyakaryanya, perempuan yang selama ini dikenal dengan panggilan Mira Minardi ini, menyampaikan bahwa ia bakal menempati area baru untuk berkreasi dan memajang semua karyanya, di Banjar Bengkel tepatnya Jalan Nusa Indah No 5, Denpasar. Di tengah atmosfir kerjasama yang hangat ini, Mira semakin nyaman berkutat dengan keindahan setiap potong kebaya. Maka ketika bertemu dengan Tokoh, dan diajak berbicara tentang kebaya Mira sangat antusias. Ia mengakui memang sangat bergairah ketika ketika akan menggarap sebuah kebaya. Dengan melihat sepotong kain bekerja biasanya kreativitasnya terusik, dan karena menmang hobi maka dengan sangt mudah Mira dapat mengeksekusi kain tersebut menjadi sebuah kebaya yang bukan hanya nyaman di badan tapi juga sangat indah dipandang. Untuk proses perpindahan dan rasa nyaman bekerja dan berkreasi di lokasi ini ke depannya, dengan kerendah hatinya Mira memohon doa dengan mengundang sahabat, teman, kerabatnya untuk datang pada Minggu, 29 November 2015. “Jangan lupa saya tunggu kehadirannya mulai pagi sampai sore, tersedia koleksi kebaya terbaru dan berbagai songket serta endek padanannya juga item fashion lainnya yang istimewa,” ucapnya berpromosi.
3
Bicara soal karya atau desain yang digarapnya, namun meski berangkat dari kemapuan yang otodidak Mira kini dikenal dengan garis rancangan berkesan modern, seksi, feminin, dan elegan. “Namun, kalau namanya pesanan tentu semua disesuaikan dengan karakter pemakai dan momen digunakannya baru dikerjakan dengan gaya khas Mira. Sebab, saya akan bahagia jika mereka puas dengan hasil karya saya ,” ujar putri dari pasutri I Ketut Sutharma dan I Komang Murtini yang memiliki prinsip total dan sepenuh hati dalam bekerja ini. SIAPKAN KREASI AKHIR TAHUN Mira mengaku kemampuannya merancang adalah otodidak atau berkreasi dengan bakat alam, dan dibantu dengan pengalamannya selama menjadi model catwalk. Ketika itu ia juga melihat detil setiap busana yang dikenakannya muali dari bahan , warna dan juga detil yang ada. Untuk kesempatan bekerja sambil belajar ini ia menyebut nama Ari Agung dan Tjok Abi, dua sosok yang menggiringanya melangkah di dunia fashion. Selanjutnya kata Mira dalam perkembangannya ia juga merasa sangat terbantu banyak inspirasi yang diperolehnya dengan berbagai pelatihan yang diikutinya, baik yang difasilitasi Dekranasda Kota Denpasar, Dinas Koperasi maupun organisasi Asbest Kota Denpasar. Wawasan, kreativitas dan inovasinya pun bertambah dengan berbagai kesempatan mengikuti bazar mau-
Mira bersama Ny. Bintang Puspayoga
gan busananya. Kembali membahas kebaya yang menjadi kiprah utamanya di arena fashion, menurut Mira kebaya makin berkibar dengan karakter dan model yang beragam. Karena segala aktivitas mulai keagamaan, pekerjaan kantor, adat, seremonial bisnis, acara wisuda hingga peringatan hari nasional, semua perempuan menggunakan kebaya. Kalau bicara model, katanya ada yang minta didesainkan model yang simpel namun lebih banyak juga
Mira di acara HUT ke 17 Tokoh
puan pameran baik itu lokal seperti Denpasar Festival, Pesta Kesenian Bali hingga Sanur Festival. Begitu juga dengan pameran yang diikutinya di luar wilayah Bali. Selain semakin mengenal berbagai kerajinan lokal yang ada di Bali khususnya, dengan pengalamannya dan belajar dari para seniornya, Mira yang selama ini banyak bermain dengan brokat dan tile juga semakin kuat dalam memilih padu padan warna di setiap rancan-
yang dirancangkan dengan model yang sangat special atau limited edition dan glamor. “Khusus untuk anak muda, yang selama ini datang ke tempat saya mereka cenderungnya suka busana yang unik dan modis. Kalau mereka meminta dibuatkan kebaya tinggal menyesuaikan dengan karakter dan gaya personalnya , agar setelah dikenakan mereka bisa tampil beda baik untuk acara yudisium, wisuda
Mira bersama sebagian pengurus Asbest Kota Denpasar
atau menghadiri undangan upacara adat,” ujar Mira yang menyeimbangkan kesibukannya dengan yoga dan meditasi ini. Meski selama ini ia memiliki ciri sendiri dalam setiap kebaya –kebaya karyanya, namun Mira sangat fleksibel jika ada permintaan khusus dari pelanggannya. Soal model tentu bisa dikomunikasikan untuk cantik dan feminin dalam balutan aneka model kebaya yang dimodifikasi. Mau dibuatkan model kebaya modern berenda dengan berbagai model kerah , misalnya aksen kerah sabrina, ini bisa memberikan kesan lebih berisi terutama pada bagian dada. Khusus kebaya kerah sabrina juga, katanya sangat cocok untuk perempuan yang memiliki bentuk dada kecil. Selain itu, model kebaya ini mampu membantu mengoreksi bagian bawah tubuh yang lebar sehingga penampilan antara bagian atas serta bagian bawah tubuh tampak lebih seimbang. Sedangkan, model yang umum dan banyak juga diminta yakni detil kerah V, dapat menjadikan penampilan seseorang tampak lebih cantik, seksi juga langsing. Jika ingin tampil lebih glamor cukup memadupadankan dengan sepatu dan perhiasan saja. Bagi yang ingin tampil lebih seksi dan feminin, disarankan untuk mengenakan kebaya renda dengan model kerah halter. Model kebaya ini akan meningkatkan penampilan dan menonjolkan lekuk tubuh, membuat seluruh bagian tubuh tampak lebih sempurna. “Yang pasti dengan konsep modern feminim, elegan dan detail akan semakin menonjolkan keindahan tubuh pemakainya. Cocok untuk dikenakan saat pesta, hingga acara resmi,” ucap Mira sambil mengingatkan untuk datang ke - alamat barunya dan melihat kreasinya yang paling anyar. -ard
Mira saat menerangkan tentang detil karyanya dalam sebuah acara di BCIC Tohpati
4
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Paulus Pangka
Inspirasi
Kalau Tulus Berkat pasti Mengalir Nama Paulus Pangka tentu tak asing lagi bagi sebagian orang. Di masa lalu namanya lekat dengan Museum Rekor Indonesia (Muri) dimana rekor dan prestasi anak bangsa dicatat dan dibukukan. Maklum saat itu dia adalah manajer Muri yang kerap kali tampil dalam event-event pemecahan rekor maupun pemberian penghargaan yang mendapat liputan luas dari media.
K
ini setelah tidak lagi di lembaga tersebut, Paulus Pangka ternyata masih berkutat di bidang tersebut. Rupanya pria berdarah NTT ini sudah kadung jatuh cinta dengan pekerjaan yang hasilnya memberi inspirasi banyak orang. “Bagi saya ini bukan sekadar pekerjaan biasa, tapi ada misi sosial yang diemban. Jadi bagaimana kita mengumpulkan prestasi-prestasi anak bangsa dari seluruh Indonesia, blusukan menggali potensi mereka, kemudian mengumumkannya ke masyarakat agar semua tahu bahwa kita memiliki orangorang berprestasi, orang-orang yang membanggakan, bagi saya itu semua lebih dari sekadar bekerja biasa,” tuturnya kepada Tokoh. Itu juga sebabnya mengapa ia mendirikan Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID) dimana ia menjadi direkturnya. “Rasanya bangga, haru, jika menemukan anak bangsa memiliki prestasi istimewa. Bukan hanya pemilik rekor yang bangga, saya dan masyarakat pun ikut bangga,” ungkapnya. Meskipun LEPRID lembaga baru, namun keberadaan Paulus Pangka yang sudah lama berkecimpung di bidang ini, membuat lembaga yang baru dua tahun berdiri bisa dengan cepat diterima masyarakat. Apalagi ia menguasai benar bagaimana cara ‘memburu’ prestasi-prestasi masyarakat yang tidak banyak diketahui masyarakat secara luas, ataupun hanya bersifat lokal, untuk diangkat ke tingkat nasional. Bahkan mungkin, kalau prestasi tersebut benar-benar luar biasa, ada kemungkinan untuk didaftarkan ke lembaga internasional untuk mendapat pengakuan. “Sebelum didirikan kami sudah membangun jaringan di seluruh Indonesia, mereka inilah yang bekerja di daerah-daerah untuk memantau prestasi-prestasi apa
Paulus Pangka dan Gubernur Sulawesi Selatan Yasin Limpo yang menerima penghargaan provinsi pertama yang lima tahun berturut-turut mendapat opini WTP dari BPK
saja yang ada atau yang dibuat masyarakat yang layak untuk dicatat LEPRID,” ungkapnya. Selama dua tahun berdiri, tambahnya, LEPRID telah mengoleksi sekitar 100 rekor yang didapat dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu yang cukup fenomenal adalah Patung Bunda Maria Tertinggi di Dunia di Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Patung yang diresmikan pada Agustus 2015 lalu ini, memiliki tinggi sekitar 42 meter. Patung ini memang sungguh istimewa. Secara spesifik, patung yang dikerjakan oleh tiga seniman yang dipimpin oleh RA Nugroho, memiliki tinggi 23 meter, ditambah penopang 19 meter, maka total tinggi patung mencapai 42 meter. Patung yang dibangun dengan teknik bongkar pasang tersebut, dibuat menghadap ke arah matahari terbit untuk menggambarkan Bunda Maria menyinari seluruh manusia, baik maupun jahat. Konon, di Bulgaria ada patung yang serupa namun tingginya hanya 32 meter. “Setelah dicek, ternyata tidak ada patung Bunda Maria di dunia
yang setinggi itu. Karena itu dalam pelabelan rekor disebut Patung Bunda Maria Tertinggi di Dunia,” ungkap Paulus Pangka yang kebetulan tengah berada di Jakarta untuk pengesahan rekor pemanah terbanyak yang digagas Kemenpora. Rekor lain yang cukup menarik adalah yang diukir Ilham Saputra yang mengendari vespa keliling 31 provinsi. Menurut Ilham, tutur Paulus, niatnya mengelilingi Indonesia untuk mengenal negerinya lebih jauh, sekaligus memperkuat wawasan kebangsaannya. “Aksi ini tentunya harus diapresiasi. Tapi prestasi yang tak kalah menariknya adalah yang dibuat Satria, yang menjadi gitaris termuda dalam event bergengsi ‘Jak Jazz’. Anak ini sungguh luar biasa,” kata Paulus Pangka dengan nada bangga. MEMBUKA LAPANGAN KERJA Berbeda dengan sebelumnya dimana ia hanya menjabat sebagai manajer, dengan membangun lembaga sendiri ia merasa kini lebih leluasa dalam melakukan pencatatan rekor. “Saya makin bersemangat menjalankan lemba-
ga ini karena mendapati respons bukan membeli barang yang sumasyarakat begitu bagus. Banyak dah ada di pasaran. orang dari berbagai daerah, bah“Iya, baik medali maupun piala, kan hingga ke Indonesia Timur, kami pesan khusus pada pengramendaftarkan prestasinya. Saya jinnya. Mereka (para pengrajin) sempat terkejut dengan respons ini sangat senang karena dengan yang luar biasa ini, ya maklum ini begitu kami juga telah membantu kan lembaga baru. Saya bersyu- menciptakan lapangan pekerjaan kur sekali, keberadaan lembaga bagi para pengrajin. Yah, tadinya kami diapresiasi dengan positif,” saya tidak sadar akan hal ini, ujarnya. ketika ada yang mengingatkan Meski ini lembaga baru, jum- bahwa sedikit banyak kami telah lah pendaftar rekor membludak, memberi lapangan pekerjaan bukan berarti semuanya diterima pada mereka, rasanya bersyukur begitu saja. Tetap saja, ucap Pau- sekali. Karena dengan demikian lus, ada kriteria-kriteria tertentu ada manfaat laindari kehadiran agar suatu prestasi dapat dicatat. LEPRID. Jadi bukan hanya untuk “Jadi tidak sembarangan atau asal- pemilik prestasi, atau masyarakat, asalan. Ini semua tentunya untuk tapi juga untuk para pengrajin. menjaga kredibilitas dari lembaga Khusus untuk piala dan medali, ini. Nomor satu adalah kualitas,” diberi lapisan khusus yang memtegasnya. buat kedua benda berharga itu Jadi, bukan soal berapa uang selain awet juga warnanya tidak yang dibayarkan untuk mencatat akan pudar,” paparnya. sebuah prestasi. Sekalipun misalMengenai dana operasional, nya, yang bersangkutan memiliki Paulus Pangka seraya tersenyum uang banyak, jika prestasi yang mengatakan, untuk sebuah perhendak dicatat tidak masuk krite- buatan baik, berkat Tuhan pasti ria, pasti akan ditolak. Sebaliknya, selalu mengalir. Artinya, sejauh sekalipun yang bersangkutan tidak ini pihaknya tidak merasa kesumemiliki dana, jika prestasinya litan masalah dana. Ada banyak memenuhi kriteria, apalagi kalau sumber, katanya, yang kadang masuk kategori luar biasa, pasti secara tak terduga mendonasi akan dicatat oleh LEPRID. lembaganya. Dana itulah yang “Artinya, uang bukanlah segala- digunakan untuk operasional, galanya. Sebagai lembaga nirlaba, dll. “Saya percaya, apabila kita kami memang menerima sum- berbuat baik dengan tulus, pasti bangan dari berbagai pihak untuk berkat yang mengalir. Itu saja,” membantu kerja LEPRID. Namun, ucapnya. –Diana Runtu uang bukan segala-galanya. Malah kami pernah beberapa kali bukan saja mengesahkan rekor yang dibuat tapi juga memberi santunan pada si pemilik rekor karena dia sangat membutuhkan,” papar Paulus Pangka seolah menjawab anggapan sebagian pihak bahwa untuk mencatat sebuah rekor atau prestasi seseorang harus membayar. Ada hal yang menarik dari paparan Paulus Pangka tentang lembaga barunya. Berbeda dari yang lain, katanya, lembaganya selain memberi piagam juga memberi piala dan medali pada penerima penghargaan. Yang menarik, medali maupun piala tersebut Paulus Pangka dan Satria, gitaris muda yang berkiprah di jak jazz dibuat secara khusus,
Mandalika
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
21
NTB Titipkan Mimpi dan Harapan dalam Kapsul Waktu
Ekspedisi Kapsul Waktu 2085, Gerakan Ayo Kerja akhirnya tiba di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 18 November 2015. Di lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB, tujuh mimpi dan harapan Nusa Tenggara Barat dimasukkan ke dalam kapsul waktu itu oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang berharap bahwa mimpi dan harapan tersebut dapat terwujud 70 tahun yang akan datang sesuai dengan masa perjalanan kapsul waktu. Kegiatan ini adalah proses menyiapkan diri untuk masa depan. Gubernur mengatakan bahwa mimpi tersebut menunjukkan optimisme dalam mewujudkan negara Indonesia menjadi lebih kuat dan lebih baik sesuai dengan apa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.
“K
esejahteraan umum sudah lebih terwujud, masyarakatnya lebih cerdas, seluruh tumpah darah kita dimana pun berada terlindungi oleh negara.
Kita sebagai bangsa dapat berkontribusi aktif dalam mewujudkan perdamaian di bumi yang kita cintai ini,” ungkap Majdi. Optimisme akan terwujudnya tujuh mimpi dan harapan masyarakat NTB yang tertanam dalam kapsul waktu
harus dirawat dan dipelihara. Tujuh mimpi dan harapan masyarakat NTB yang dibawa oleh kapsul waktu tersebut di antaranya adalah Indonesia negara yang merdeka, sehat, dan bermartabat; Selat Lombok men-
Gubernur NTB menandatangani mimpi dan harapan masyarakat NTB yang dibawa oleh kapsul waktu
Tujuh mimpi dan harapan Nusa Tenggara Barat dimasukan ke dalam kapsul waktu dan akan dibuka 70 tahun kemudian
jadi poros maritim dunia dengan terwujudnya Global Hubungan Bandar Khayangan; NTB sebagai pusat pengembangan ekonomi islam dunia; Pusat wisata world class berbasis adat istiadat dan budaya
daerah; Pelayanan kesehatan standar internasional di semua class; Anak Indonesia berprestasi diberi pendidikan gratis hingga S3; dan Sarana air bersih merata di setiap dusun/desa. –Naniek I. Taufan
Gubernur NTB melepas kapsul waktu yang membawa tujuh mimpi dan harapan masyarakat NTB
NTB Provinsi ke-23 Dilintasi Kapsul Waktu Rombongan Kapsul Waktu telah yang ingin merdeka dari para pen- jasama antara pemerintah dengan kapsul waktu dapat berjalan se- yang singkat, jadi kita harus giat melintasi 22 provinsi dan Provinsi jajah 70 tahun silam,” terangnya. masyarakat, sehingga mimpi dan suai dengan rencana. “Saya rasa untuk mengejar mimpi tersebut,” NTB adalah provinsi yang ke-23. Oleh karena itu, dibutuhkan ker- harapan yang ditanam ke dalam waktu 70 tahun adalah waktu ujarnya. Koordinator Panitia Ekspedisi kapsul waktu akan Daerah G70 M. Nur Haedin, menjelajah 43 kota di 34 S.Sos., menyampaikan kegiaprovinsi Indonesia selama 3 tan ini merupakan kegiatan bulan. Koordinator Panitia kebangsaan, di mana akan Nasional G70 Viddy Supit ada 34 koordinator panitia mengatakan ekspedisi kapdaerah yang terlibat dalam sul waktu diawali dari kota G70. Ekspedisi kapsul waktu Sabang Provinsi Banda Aceh akan menjelajah 43 kota di pada tanggal 22 September 34 provinsi Indonesia selama 2015 dan akan berakhir di 3 bulan dimulai dari bulan Merauke pada tanggal 21 September 2015. Secara Desember mendatang. resmi mobil kapsul waktu Nantinya kapsul ini akan disitu telah dilepas Menteri impan dalam museum kapsul Sekretaris Negara Pratiwaktu G70 di Merauke. kno. Ekspedisi kapsul waktu “Kapsul waktu berimerupakan kerja bersama, si mimpi dan harapan gotong royong skala namasyarakat dari setiap sional antara Panitia Nasional provinsi, yang mana seringGerakan Ayo Kerja 70 tahun kali mimpi itu banyak yang Indonesia Merdeka. tidak masuk akal, namun -Naniek I. Taufan bangsa Indonesia ini lahir Penyambutan Ekspedisi Kapsul Waktu 2085, Gerakan Ayo Kerja, di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat dari mimpi para pejuang Foto-foto: Humas Prov. NTB
20
Nine
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Hak Perempuan dalam Empat Buku
Perhatian terhadap pelaku tindak pidana yang dilakukan perempuan, tampaknya menjadi kajian yang menarik bagi Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.Hum., sehingga melahirkan empat buah buku yang konsen bicara terhadap perlindungan hukum bagi perempuan pelaku tindak pidana, terutama saat menjalani seluruh proses hukum atas tindak pidana yang dilakukannya. Di antara tidak banyak yang membahas tentang persoalan pidana mati bagi perempuan hamil yang berhadapan dengan hukum, ada empat buku yang diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pencari keadilan untuk mewujudkan hak-hak asazi bagi perempuan.
E
sebagai pelaku juga perlu dilindungi dengan kekhususan yang ada dalam dirinya sebagai seorang perempuan,” ujarnya. Kekhususan yang dimaksud antara lain, kehamilan, melahirkan, menyusui dan lainnya. Menurutnya, dalam UU Nomor 2 PNPS tahun 1964, mengatur tentang eksekusi mati bagi wanita hamil pelaku tindak pidana, pada saat 40 hari setelah melahirkan. Hal ini tentu saja melanggar HAM dan melanggar hak anak untuk mendapatkan ASI dari sang ibu, juga si anak akan kehilangan haknya untuk diasuh oleh ibunya. Karena itu buku yang berjudul Pembaharuan Hukum Pidana Tentang Eksekusi Pidana Mati Perempuan Hamil -Pokok-Pokok Pikiran Revisi Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964, memberikan masukan
berdasarkan kajian yang dapat memberikan keadilan dan HAM dalam kebijakan hukum pidana mati di waktu mendatang. “Apapun kejahatannya UU ini khusunya pasal 7, harus dirubah demi kepentingan hak-hak anak. Saya menawarkan pelaksanaan hukuman mati tersebut setidaknya sampai anak sudah dapat memilih yang baik dan tidak baik, sehingga memahami bahwa apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut salah atau benar di mata hukum. Menanti hingga anak dapat mandiri,” kata Rodliyah. Dalam buku ini, Rodliyah juga menawarkan bahwa jika selama menjalani hukuman perilakunya berubah dapat saja hukuman pidana mati diganti dengan yang hukuman lain.
Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H.
–Naniek I. Taufan
Lindungi Perempuan Pelaku Tindak Pidana
Buku lain yang juga membahas tentang hak perempuan pelaku tindak pidana adalah dengan judul, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pelaku Tindak Pidana. Cara pandang terhadap perempuan yang selalu ada terhadap hal ini, menurut Rodliyah cenderung diskriminatif dan subordinat dalam segala wilayah pribadi maupun sosial. “Perempuan seolah berada pada titik nol yang kerap menjadi kelompok yang rentan jadi korban. Dan, apakah perempuan ini mendapatkan perlindungan selama menjalani proses peradilan secara khusus?” ungkapnya. Selama ini menurutnya, hak sebagai tersangka dan terdakwa memang didapatkan namun hak pada saat menjalani proses hukum, pada tingkat penyidikan, penuntutan dan lainnya masih kerap belum dilakukan dengan baik. Pentingnya perlindungan terhadap hak perempuan pelaku tindak pidana selama proses penegakan hukum ini, karena kejahatan yang dilakukan oleh perempuan bukan semata-mata ia sebagai pelaku melainkan juga sebagai korban. “Secara biologis, perempuan berbeda dengan laki-laki. Perempuan mengalami masa-masa sulit ketika hamil, menstruasi, melahirkan dan menyusui. Perubahan hormonal
perempuan juga tidak mengalami pelecehan seksual seperti yang banyak terjadi. Perlindungan terhadap pelaku tindak pidana bukan berarti perempuan tidak boleh dihukum, melainkan dalam perjalanan proses hukumnya perempuan harus dilindungi. “Penegakan hukum harus tetap dilakukan namun harus juga melindungi hak-hak perempuan selama proses hukum berlangsung karena semua warga negara memiliki hak yang sama di depan hukum,” katanya. -Naniek I. Taufan
Buku tentang perlindungan hukum bagi perempuan pelaku tindak pidana
saat melewati masa-masa ini bisa sangat mempengaruhi kejiwaannya. Cara berpikirnya (logika) kalah dari tindakannya. Desakan yang ada dalam tubuh wanita akan sangat mengganggu kestabilan cara berpikir dan tindakannya,” katanya. Hal ini dibuktikan Rodliyah ke-
tika melakukan penelitian pada LP Wanita Semarang yang rata-rata mengakui tindakan pidana yang dilakukannya itu terjadi saat terpidana dalam kondisi menstruasi. Karena itulah buku ini menulis tentang pentingnya perlindungan hukum bagi perempuan pelaku tindak pidana selama proses peradilan dengan
memperhatikan hal-hal khusus yang dialami perempuan tersebut. Dua buku lainnya juga membahas hal yang sama bahwa perlindungan hukum terhadap perempuan itu, menurut Rodliyah harus benar-benar dilakukan, agar tidak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Agar selama proses peradilan
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Ni Putu Supasti
P r o f . D r. H j . R o d l i y a h , S H . , M H u m
mpat buku yang bicara tentang hak perempuan dalam hukum, yang ditulis oleh Guru Besar Hukum Pidana di Fakultas Hukum Universitas Mataram tersebut, yakni, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pelaku Tindak Pidana, Pemidanaan Terhadap Perempuan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Pidana Mati Terhadap Perempuan (Suatu Kajian Perbandingan), dan Pembaharuan Hukum Pidana Tentang Eksekusi Pidana Mati Perempuan Hamil -Pokok-Pokok Pikiran Revisi Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964. Empat buku ini membahas bahwa perempuan sebagai pelaku tindak pidana harus juga mendapat perlindungan. “Dalam proses hukum yang dijalani, perempuan
Inspirasi
“Secara biologis, perempuan berbeda dengan lakilaki. Perempuan mengalami masa-masa sulit ketika hamil, menstruasi, melahirkan dan menyusui. Perubahan hormonal saat melewati masamasa ini bisa sangat mempengaruhi kejiwaannya. Cara berpikirnya (logika) kalah dari tindakannya. Desakan yang ada dalam tubuh wanita akan sangat mengganggu kestabilan cara berpikir dan tindakannya”
5
Dukung Pariwisata Melalui Pertanian
A
krab dengan kehidupan pertanian menjadikan dirinya banyak tahu tentang teknik mengolah persawahan. Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pertanian hampir semua dia kerjakan. Hal ini tak semata- mata untuk melangsungkan keberadaan ladang pertanian, namun juga sebagai mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup dan menghidupi keluarga. Di kawasan Subak Baluan, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, ada sosok perempuan yang tak canggung melakukan kegiatan membajak sawah menggunakan sapi. Hal ini dilakukannya tatkala sang suami yang juga seorang Pekaseh memilih melakukan kesibukan lain. “Karena tuntutan di zaman modern ini kami saling mengisi dalam melaksanakan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, “ ungkap Ni Putu Supasti. Keberadaan alam yang memberikan kekayaan melimpah menjadikan dirinya tak setengah hati dalam melaksanakan mengolah pertanian. Petak sawah, selain menghasilkan padi kualitas baik terbukti pula banyak menghasilkan jenis tanaman holtikultura dalam periode masa panen tertentu. Upaya ini tak lepas dari peran semua anggota keluarga bahkan dirinya. Pekerjaan yang biasa dilakukan laki – laki, biasa pula dilakukan oleh kaum perempuan. “ Disini tak memandang pria atau perempuan. Apapun perempuan bisa dikerjakan selagi bapak- bapaknya sibuk dengan pekerjaan lain, “ ujar perempuan yang hanya lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Kabupaten Tabanan ini. Dalam kesehariannya, di kawasan desa yang memiliki suhu sejuk ini bentuk kerja sama antara petani perempuan dan laki – laki benar- benar masih terlaksana. Dimana hubungan ini dilakukan bila sang suami memiliki pekerjaan lain, perempuanlah yang bertugas mengambil alih pekerjaan. Sinergi pertanian antara suami dan istri ini hanya bermodal dari bakat pengalaman. Secara perlahan mendapat perhatian serius pula dari pemerintah propinsi melalui pemerintah daerah. Dia mengakui, adanya peran serta pemerintah dalam memberikan berbagai pelatihan dalam memantapkan bakat bertani membawa sebuah perubahan. Partisipasi antara petani dan program yang dijalankan pemerintah, diakuinya memberi banyak manfaat. Melalui berbagai kelompok, dirinya selalu hadir menjadi perwakilan kelompok subak, selanjutanya dirinyalah yang kembali memberikan arahan kepada anggotanya yang menjadi bagian dari Kelompok Subak Baluan. “ Jika dulu pengetahuan kami mengolah sawah hanya bermodal pengalaman, kini dimantapkan lagi melalui pelatihan, “ ujar perempuan kelahiran 44 tahun silam ini.
DIMINATI WISATAWAN Apa yang dilakukan dalam kesehariannya, Supasti atau akrab disapa Bu Risa ini tak sekadar bergelut dengan lumpur dan perangkat pertanian. Guna meningkatkan taraf hidup di dalam bidang sektor pertanian, di kala senggang dirinya berpartisipasi aktif mempersembahkan atraksi wisata dalam memperkenalkan teknik pertanian kepada wisatawan. Melalui sebuah kearifan lokal ini, banyak sudah wisatawan yang kepincut akan keberadaan teknik mengolah sawah yang masih ter-
Ni Putu Supasti
bilang tradisional ini. Kemasan paket wisata yang difasilitasi oleh Rumah Desa ini menjadikan dirinya menambah semangat dalam menjalankan tugas petani selain sebagai ibu rumah tangga. “Kami selalu menampilkan aktifitas Ngelampit atau Matekap, untuk menambah daya tarik wisatawan, “ kata Supasti, istri dari Ketut Suparta yang juga sebagai Pekaseh di Subak Baluan. Dengan keberadaan Rumah Desa yang masih memiliki satu hubungan keluarga, ke depan dirinya yakin jika pertanian di Bali akan tetap eksis seiring
pesatnya alih fungsi lahan. Dia memandang, pertanian memiliki nilai kultur yang erat dengan tradisi Bali. Hubungan antara pertanian, budaya, serta tradisi Bali terbukti membawa magnet di dalam menarik kunjungan wisatawan utamanya wisatawan Eropa. “ Sebagai salah satu peran penting dalam pariwisata adalah pertanian. Tanpa adanya dukungan pertanian pariwisata Bali tidak akan ada, “ pungkas Ibu dua anak, yang salah satunya berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini. –Eka Juni
6
Gusti Ayu Nyoman Armini, S.Pd.
Upacara tiap Hari Menjadi guru bukanlah cita-cita sulung dari 6 bersaudara ini. De ngan keterbatasan ekonomi yang dibesarkan orangtua petani, Gusti Ayu Nyoman Armini harus mengurungkan niatnya menjadi perawat. “Saya diarahkan menjadi guru. Dengan pertimbangan orangtua agar kami enam bersaudara semua mendapatkan pendidikan,” kisahnya.
P
ertimbangan tersebut masuk akal. Karena pada zaman itu, untuk menjadi guru, setelah menamatkan pendidikan di sekolah guru (SPG/TGA) yang setingkat SMA, sudah bisa langsung kerja honor dan setahun kemudian diangkat menjadi guru. Setelah diangkat menjadi guru, 1 Desember 1977, Armini berkomit men untuk menyenangi, mendalami dan mengabdi di profesi tersebut. Ia pertamakali mengabdi SDN 29 Den pasar (sekarang SDN 7 Pemecutan). Waktu itu gajinya Rp 16 ribu, senilai dengan beras 1 kwintal yang harganya sekitar Rp 12 ribu. Meski demikian, semangatnya tak pernah pupus. Un tuk menambah penghasilan, Armini nyambi berjualan. Setelah berkeluarga, istri Drs. Dewa Nyoman Linggita ini pun sempat berpindah-pindah tempat mengajar. “Saya cari sekolah yang ada mes-nya, karena saya tidak pu nya kendaraan,” ungkapnya. Dengan segala keterbatasan, semangat be lajar Armini terus meluap hingga ia berhasil meneruskan pendidikan S-1 Keguruan di IKIP Singaraja. Setelah 20 tahun mengabdi di SDN 8 Padang sambian, 11 Februari 2011, Armini
ditugaskan di SDN 2 Padangsambian dan langsung ditunjuk sebagai kepala sekolah. Hal pertama yang ia lakukan di sekolah ini adalah melakukan perubahan-perubahan secara sekala dan niskala. Digelar upacara Rsi Gana untuk menetralkan alam, metirtaya tra dengan para guru, baru kemudian mulai menata sekolah, kebun, dan mengikuti lomba-lomba. Hal tersebut dikatakannya wajib dilakukan agar dalam melaksanakan proses belajar mengajar didapatkan ketentraman jiwa, dan ditunjang dengan sua sana sekolah yang nyaman tentunya potensi-potensi anak akan semakin berkembang. Terbukti memang, dalam 5 tahun kepemimpinannya, SDN 2Padang sambian banyak meraih prestasi, baik dalam bidang akademik, seni maupun olahraga. Prestasi yang pal ing bergengsi adalah, belum lama ini salah seorang siswa atas nama Putu Agus Mahardika Putra berhasil meng gondol Juara 1 Kumite Perorangan di tingkat internasional dalam cabang olahraga Karate. Prestasi lain SD yang sudah terakreditasi A ini yang juga tak bisa dilihat sebelah mata, di antaranya juara Olimpiade IPA dan Matematika
Mozaik
Woman on Top
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
tingkat Bali-Lombok, Olimpiade IPS, Science Competition, Lomba Meng gambar, Lomba Sekolah Sehat, dsb. Dari puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan ini, perempuan kelahiran Tabanan 60 tahun silam ini mengamati karakter budi pekerti anak sekarang sangat jauh merosot dibandingkan anak-anak dulu. Anakanak dulu sangat menghormati guru nya bahkan terkesan takut sehingga menuruti apa nasihat guru. “Namun anak-anak sekarang, antara murid dan guru sudah tidak ada jarak, guru dianggap teman, bahkan mereka sering curhat ke gurunya. Tapi inilah perkembangan zaman yang teknologi sudah maju, kami para guru pun di tuntut bisa menempatkan diri kapan sebagai guru dan ada saatnya juga sebagai teman,” tuturnya. Meski demikian, Armini tak putus asa untuk tetap konsisten memberi
Gusti Ayu Nyoman Armini, S.Pd.
kan pendidikan karakter pada anakanak didiknya. Dimulai saat pukul 7.15, setiap hari anak-anak dikumpul kan di halaman untuk mengikuti upac
ara (bukan apel bendera lengkap) dan memberikan penghormatan kepada sang saka merah putih. Setelah itu, mereka diajak sembahyang bersama, dan setelah itu diisi dengan menyanyi lagu-lagu kebangsaan, lagu Bali, juga pencerahan-pencerahan bagaimana menjadi anak yang baik, dsb. Hal tersebut dilakukan, dikatakan Armini untuk menumbuhkan rasa nasionalisme anak, menanamkan rasa kebangsaan, rasa bangga dan memiliki terhadap tanah air yang kita cinta ini. Di detik-detik akhir masa tugasnya ini, Armini yang akan memasuki masa pensiun per 31 Desember 2015 ini berharap penerusnya nanti bisa mempertahankan potensi dan bakat anak-anak, bahkan terus dikembang kan. “Harapan saya tentunya SDN 2 Padangsambian akan semakin maju,” ucap Armini sembari mengatakan tanggal 1 Desember 2015, SDN 2 Padangsambian yang memiliki 486 siswa ini akan merayakan ultahnya yang ke-64. –Inten Indrawati
Harga Tetap, Ukuran Berubah Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sangat berpengaruh terhadap sektor industri. Termasuk industri rumahan yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri tempe.
S
Tak mau merugi, para pengu saha harus mengurangi ukuran tempe guna menyiasati supaya bisa terus beroperasi. Terus me lemahnya nilai tukar rupiah terh adap dolar AS menembus angka Rp 13 ribu lebih ternyata juga
dirasakan oleh para pengusaha tempe rumahan di kawasan Ke lurahan Brotonegaran, Ponorogo. “Kami terpaksa harus mengu rangi ukuran tempe agar tidak bangkrut. Ukuran kami kurangi, tapi harganya tetap, tidak kami
Wisata di Kebun Mangga
You Are Rewarded dalam seberapa cepat tujuan akan terca pai jika mereka benar-benar terinspirasi. Inspirasi bagi mereka adalah trigger untuk mempercepat materialisasi tujuan yang ingin mereka capai. Inspirasi memberi mereka peluang untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai hasil yang sem purna. Diskusi ini membawa kesimpulan bahwa it is rewarding to inspire purposeful people. Pada sebuah corporate business review, salah seorang panelis melempar sebuah pertanyaan; “Apa yang membuat seorang eksekutif ini selalu mencapai angka (target) yang diberikan?”. Belum terjawab, panelis lain menguatkan dengan pernyataan “Yes, she always get what she wants”. Seorang wanita eksekutif muda yang begitu termo tivasi dan selalu punya tujuan yang harus ia capai dalam jangka waktu tertentu. Ada beberapa wanita eksekutif yang datang dengan motivasi tinggi setiap harinya da lam perusahaan ini. Namun sorotan selalu tertuju pada satu wanita yang tampaknya memiliki kelebihan lain yakni inter-personal skill dan komunikasi yang ia anggap sebagai reward untuk dirinya. MAKING TOUGH DECISION Ketika wanita eksekutif dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit, mereka cenderung mencari pandangan dari luar. Terkadang semakin banyak pandangan atau pendapat yang mereka dengar justru membuat analisa berubah warna menjadi abu-abu; grey area. Pada tahap ini tidak mudah untuk kembali membuat matriks
analisa untuk membedakan daftar pe mikiran orang lain atau memang hasil dari analisa mereka sendiri. Terkadang, kenya manan diskusi mereka dengan orang lain justru membuat mereka semakin percaya pada arahan orang lain yang menggiring mereka untuk mencapai keputusan atas kepentingan orang lain. Tanpa disadari. Making tough decision benar-benar menuntut mereka untuk berpikir lebih obyektif. Hal lain yang tidak relevan rupanya dengan tegas harus diparkir dengan baik agar tidak mengganggu proses pengambilan keputusan yang sulit. Akhirnya, bagi mere ka, hal fundamental yang mempengaruhi mereka membuat keputusan adalah nilaiValue determines what to decide. Thus, value is another reward. INSPIRE PURPOSEFUL PEOPLE Menjadi inspirasi selalu merupakan hal yang luar biasa. Apa yang terjadi apabila inspirasi itu didapat oleh mereka yang se lalu memahat tujuan dalam setiap rencana dan langkah yang mereka ambil. Inspiring purposeful people dalam buku John Baldoni – Lead with Puspose, menjelaskan lebih
EYES WIDE OPEN Duduk dengan pertimbangan untuk bisa selalu maju tentu menuntut wanita eksekutif untuk mampu melihat dengan jelas, terbuka, obyektif dan faktual. Istilah yang mereka bisa pilih adalah melihat dan menimbang dari helicopter view atau bird eye view. Kemampuan melihat menjadi indikator kuat dalam kedewasaan mere ka dalam mempertimbangkan rencana membangung ke depan. Eyes wide open menggiring mereka untuk terus mencari dan mendapatkan development feedback dari pihak-pihak yang mereka anggap berkomitmen memberi dukungan atas kemajuan mereka. Development feedback tidak berdiri sendiri. Di sampingnya ada clear & honest criticisms. Beberapa wanita eksekutif muda barang kali belum mampu untuk mendengar dan menerima kritiks dari performance mere ka. Namun banyak di antara mereka yang justru mencari clear & honest criticisms dari pihak yang mereka percaya dapat membantu mereka menaiki tangga karir/ bisnis dengan jelas dan tepat. Mereka juga percaya bahwa kemampuan dan kemauan
mereka untuk melihat dengan lebih jelas dan luas adalah reward bagi mereka. CREATING LASTING ENGAGEMENT Apa yang muncul di pikiran mereka pada saat bertemu pertama kali dengan pelanggan, atau seseorang yang berpo tensi menjadi teman? Bagi tipe wanita visual mereka memiliki ketertarikan dari sisi penampilan dan bahasa tubuh. Dua hal ini menjadi alasan kuat untuk mereka membangun kontak dan komunikasi yang lebih lama. Bagi tipe audio, mereka lebih tertarik dengan bahasa atau kemampuan linguistik lawan bicara yang kemudian menjadi alasan kuat bagi mereka untuk mendalami komunikasi hingga mereka mampu menciptakan hubungan positif jangka panjang. Pertanyaan yang kemungkinan akan muncul adalah apakah akan terjadi masalah dalam hubungan di atas? Sederhana saja, tentu akan ada communication gap. Ba gaimana mereka menjembatani communication gap yang terjadi? Wanita eksekutif yang memiliki communication maturity atau kedewasaan komunikasi akan segera mulai merubah padangan mereka dan dengan pro-active mengambil langkah untuk men jembatani hubungan dan komunikasi. Men ciptakan dan membuat hubungan positif yang berlangsung sangat lama/creating long lasting engagement bagi mereka adalah sebuah reward. Saya setuju bahwa semua wanita memiliki sisi positif yang kita bahas di atas, sehingga membuat saya pun begitu yakin bahwa they are rewarded!
19
K i a t P e n g u s a h a Te m p e
ejumlah pengusaha tempe di Kabupaten Ponorogo, terancam gulung tikar meny usul kenaikan harga kedelai impor di tingkat pengecer yang menem bus angka Rp 7.200 per kilogram.
Armini saat memberikan wejangan kepada anak-anak didiknya
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Untuk menghilangkan penat selama sepekan kini tidak hanya pergi ke kolam renang atau ke tempat hiburan, tetapi bisa bersama keluarga berwisata ke kebun mangga. Apalagi saat musim mangga yang mulai bulan Oktober. Kebun percobaan dan pene
litian tanaman mangga di desa Gerongan kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur termasuk objek yang bisa dikun jungi. Anda bisa memettik buah mangga yang masak di pohon kemudian bisa di makan di lokasi. Untuk memberikan kenyamanan para pengunjung saat ini pihak
kebun masih belum memberikan fasilitas yang memadai, hanya tempat duduk yang ada di bawah pohon mangga Lahan yang di tanami mangga ini seluas 7.68 hektare yang ditanami aneka macam buah mangga hasil pene litian dari para ahli tanaman dari pertanian khusus buah mangga.
naikkan. Harga kedelai naik, dari Rp 6.300 menjadi Rp 7.200 per kilogramnya,” ujar Supri, salah satu pengusaha tempe. Menurut Supri, kenaikan harga kedelai saat ini cukup dirasakan pengaruhnya oleh para pengusaha Sakur, S.P., Kepala Kantor Percobaan Kraton Pasuruan Jatim mengatakan pihaknya hanya melakukan penelitian buah mangga. “Beraneka buah mangga kami coba di sini.mulai mangga golek, mangga gadung, arum manis dll,” katanya. Kebun mangga buka mulai pukul 08.00-16.00 pada hari kerja dan 07.00-14.00 pada hari Minggu. Bagi warga yang akan mem bawa hasil memetik mangga bisa menghubungi tukang kebun yang berada di lokasi kebun mangga. Mangga hasil penelitian di kebun Grati, Kraton dan Rem bang Pasuruan, Jawa Timur ini pernah ikut kontes mangga dunia. Hasilnya, juara 2 setelah India. “Sekarang kami lebih intensif mencoba varietas baru untuk mengawinkan mangga lokal dengan mangga luar negeri. Permintaan buah mangga setiap tahun meningkat dari luar nege ri,” tegas Sakur. -M. Sobari
tempe. Karena lonjakan harga kedelai saat ini lebih tinggi dari biasanya. Para pengusaha hanya dapat bertahan dengan kondisi yang ada, sambil terus meman tau pergerakan nilai tukar dolar AS yang tidak menguntungkan. “Harga kedelai sudah mulai mer angkak naik secara bertahap, dari Rp 6.300 hingga Rp 6.700 per kilogramnya. Kini melonjak men jadi Rp 7.200 per kilogramnya. Kami pasrah dan bertahan dengan kondisi seperti ini,” keluhnya. Para pengusaha tempe lainnya berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai. Tingginya harga kedelai cukup memberatkan, terlebih konsumsi tempe masyarakat Ponorogo cukup tinggi. Menurut dia, saat ini pelaku usaha tempe bingung setelah harga kedelai naik sehingga men gancam keberlangsungan usaha kecil itu. Saat ini produksi tempe telah berkurang sekitar 60 persen. Para pengusaha tempe di sini sejak dulu menggunakan kedelai impor dari Argentina dan Amerika kare na pasokan kedelai lokal relatif ter batas, selain kualitasnya di bawah kedelai impor. Kenaikkan harga kedelai membuat mereka men geluarkan modal untuk produksi dua kali lipat dari biasanya, semula untuk 60 kilogram kedelai, namun kini menjadi 32 kilogram. “Kami sangat terpukul dengan kenaikan kedelai karena keun tungan relatif kecil akibat biaya produksi cukup tinggi. Kebanyakan pengusaha di sini bermodal relatif kecil, sedangkan harga satuan tempe di pasaran tidak naik,” ung kapnya. -Dinar Putra Perdana
18
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Life
Kreasi
Jadikan Lagu Bali Tuan Rumah di Negeri Sendiri
S
alah satu artis yang termasuk baru adalah Yudia. Perempuan bernama lengkap Ni Made Yudiartini ini bersiap meluncurkan mini album di tahun baru 2016. Album berjudul “Rubah Penampilan” ini berisi lima lagu, “Pules Pedidi”, “Suudang Je Bli”, “Yen Mula Saja”, “Sing Taen Jumah”, dan “Rubah Penampilan”. Mini album ini diproduksi Harta Pro milik Dek Artha. Yudia menuturkan perjalanan hidupnya lumayan panjang sebelum menapaki dunia lagu pop Bali. “Dari kecil, saya sudah suka menyanyi. Sering ikut paduan suara. Saya belajar sendiri. Saya tidak fanatik soal genre music. Bagi saya yang penting lagu dan musik enak didengar,” ungkap perempuan kelahiran Perancak, Jembrana, 6 Oktober 1980 ini. Hobi menyanyi ini terus dikembangkan sampai ia bekerja di Denpasar. Ia kerap “ngamen” di restoran untuk mengasah mentalnya. Ternyata kemampuan bernyanyinya bisa makin baik dan ia menjadi lebih percaya diri. Tahun 2001, Yudia menikah dengan Made Wira Mulyawan, warga Br. Bersih, Desa Darmasaba, Badung. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai dua putra Made Adi Wira Septiawan dan Nyoman Purnamadita Wira Febriawan. Aktivitas menyanyinya sempat berhenti karena ia sibuk mengurus keluarga.
Suatu ketika, ada lomba desa yang salah satu penilaiannya simulasi. Dari sini, Yudia diminta bernyanyi. Sang suami yang bekerja di hotel memberikan dukungan. Ia pun mulai eksis lagi di dunia tarik suara. Keaktifannya tak hanya urusan menyanyi. “Saya mengajak anak-anak muda untuk membuat seka janger. Tujuan saya, kesenian tradisional jangan sampai punah. Dari latihan menjangeran saya bertemu Pak Ketut Sana. Beliaulah yang mengajarkan saya bernyanyi dan memberikan lagu “Pules Pedidi”. Lagu ini kemudian direkam tahun 2014 di studio Harta Pro. Selanjutnya Bli Dek Artha menawarkan saya untuk membuat mini album,” jelas Yudia. Sejak berkiprah di dunia tarik suara, Yudia harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengurus keluarga. Bahkan di rumah ia berjualan keperluan upacara. Jika ada job manggung, kadang suami yang mengantarkan. Baginya dukungan keluarga sangat membantu sehingga ia bisa total dalam berkiprah di dunia lagu pop Bali. “Ada suka-duka menjadi penyanyi. Saya bisa kenal banyak orang, bisa ikut paguyuban pecinta gending Bali, bahkan bisa saling motivasi dengan sesama penyanyi. Dukanya, kalau telat datang ke acara atau kalau tidak disiplin latihan. Suami saya se ring mengingatkan orang disiplin maju
Yudia
lebih maju. Orang disiplin itu selangkah lebih maju. Ini yang selalu menjadi pegangan buat saya,” tegasnya. Dukungan dari anak juga didapat kan karena anaknya cerita bangga mendengar lagu ibunya di putar di radio. Yudia juga mendapat dukungan dan pesan dari orangtuanya agar tidak sombong dan masih banyak hal yang harus dilakukan. Karena itulah ia selalu mengatur waktu kapan harus mengurus keluarga, kapan ngayah di banjar, dan kapan mangggung untuk acara on air maupun off air. Saat Festival Keluarga Tokoh 2015, Yudia merupakan salah satu pengisi acara. Ia menyanyikan lagu “Pules Pedidi” dan “Suudang Je Bli”. “Impian saya yang utama adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik tetapi hobi menyanyi tersalurkan. Dengan menjadi penyanyi lagu Bali, saya ingin ikut melestarikan budaya
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Berburu “Pria Gunung” demi Suami
Yudia
Kehadiran penyanyi-penyanyi pendatang baru di blantika musik dan lagu Bali membuat penggemar tidak perlu khawatir. Berbagai macam genre yang ditawarkan akan menambah daftar pilihan. Ini akan membuat musik Bali makin mendapat tempat di hati penggemar.
Story
Setelah empat tahun terbebas dari berbagai penyakit berat, seperti, lever akut, kolesterol akut hingga penyumbatan pembuluh darah, Muhammad Saleh hanya bisa bersyukur kepada yang Maha Kuasa, yang telah memberinya kesempatan hidup bahagia bersama istrinya, Sumiati dan dua anaknya, Nathea Citra Suri (22) dan Garis Merah Mahardika (17).
L
Yudia saat tampil di Festival Keluarga Tokoh 2015
Bali. Saya ingin lagu Bali menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bagi generasi muda, ayo tunjukkan bakat di berbagai bidang. Tunjukkan kreativi-
tas kalian. Bagi penggemar musik Bali, belilah album yang asli. Jangan beli bajakan,” harapnya. –Ngurah Budi
ebih dari dua puluh tahun lalu, tepatnya di tahun 1992, ketika ia merantau ke Mataram untuk menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Biologi di Universitas Mataram, Saleh pernah mengalami koma selama empat hari akibat penyakit lever akut yang dideritanya. Ia sempat dirawat cukup lama di rumah sakit di Mataram kala itu sampai akhirnya ia koma selama dua hari di rumah sakit di Mataram. Namun, karena ketiadaan biaya, ia pun dibawa untuk dirawat di kampung halamannya, Situbondo. Melihat kondisinya yang demikian parah keluarga besarnya pun telah pasrah. Semua bersera h diri
pada ketentuan Allah SWT. “Saking sudah tiada lagi harapan, sampai-sampai saya sudah dingajikan, seperti orang menghadapi kematian,” ungkapnya mengenang. Beruntung Saleh mendapatkan istri yang begitu sabar dan tabah menghadapi sakit yang dideritanya. Ketika menikahi Saleh, Sumiati sesungguhnya telah tahu bahwa suaminya itu menderita sakit yang parah. Apapun dilakukan oleh Sumiati untuk merawat suaminya ini. Dalam kondisi suaminya yang tak sadarkan diri waktu itu, Sumiati mendapatkan saran dari seorang Shin She untuk memberikan suaminya ramuan dari buah pria (pare) gunung. “Lima buah pria gunung yang berwarna hijau itu saya parut dan peras airnya. Lalu saya minumkan pada Mas Saleh,” katanya. Bagaikan mendapatkan mujizat, Saleh langsung tersadar setengah jam kemudian setelah ia koma selama empat hari. Dari sinilah bermula, Sumiati akhirnya menggunakan obat-obat herbal buatannya sendiri untuk merawat dan menyembuhkan suaminya. Ketiadaan biaya juga turut membuat Sumiati semakin rajin mempelajari khasiat-khasiat penting tumbuhan dari berbagai sumber. Tingginya biaya untuk merawat penyakit tersebut pada dokter spesialis penyakit dalam, membuat mereka berdua tidak sanggup untuk membiayainya. “Gaji kami waktu itu sangatlah kecil, sedangkan untuk biaya satu kali ke dokter spesialis penyakit dalam adalah Rp 500 ribu. Itu jumlah yang jauh lebih tinggi dari gaji kami berdua,” katanya. Mereka awalSumiati sedang meracik jamu herbal nya memang sem-
pat kebingungan untuk biaya berobat ini, karena penyakit yang diderita Saleh sebentar-sebentar kambuh dan Sumiati tidak tega melihat suaminya menderita. “Saya tidak tega melihatnya saat kambuh, wajah dan tubuhnya kuning semua, batuk parah. Makin keras batuknya dadanya akan memerah, jika batuk berkepanjangan merah itu akan terus tembus hingga ke punggungnya,” ujarnya. Saat kumat seperti ini, Saleh hanya bisa meringkuk menahan sakit. Ketika kumat, maka dengan susah payah Sumiati mencari dan memburu pria gunung sebagai obatnya. Tanaman ini memang tidak mudah didapatkan. Karena itu tiap kali mereka turun ke lapangan saat bekerja pada sebuah LSM di Mataram, yang utama mereka cari di daerah tempat yang mereka datangi khususnya daerah baru adalah pria gunung tersebut. Puncak sakit lever akut yang diderita oleh Saleh adalah di tahun 1993. Rajinnya Sumiati membuatkan obat herbal ini membuat penyakit Saleh perlahan-lahan namun pasti terus berkurang. Dengan takaran dan ukuran yang lama dipelajari oleh Sumiati, membuat suaminya itu terbebas dari penyakit lever. “Tidak boleh mengonsumsi dalam jumlah yang sembarang, melainkan ada takarannya,” ungkapnya. Atas nama cinta sang istri, Saleh pun terbebas dari penyakit yang menderanya. “Sampai saat ini, berdasarkan hasil check up, penyakit lever tersebut hilang dan tidak pernah kumat lagi,” ujar Sumiati. Belum selesai sampai di situ, Saleh juga mengidap penyakit kolestrol akut yang jauh di atas rata-rata normal. “Kalau kolestrolnya sedang naik, maka badan saya sampai-sampai tidak bisa bergerak,” kata Saleh. Ia juga pernah diserang penyakit penyumbatan pembuluh darah yang membuatnya sering pingsan mendadak. Sempat juga ia berobat ke dokter saraf. “Saat kambuh penyakit yang ini, dokter selalu menyutikkan obat di kepala saya,” ujar Saleh. Dokter saraf juga merujuknya untuk menjalani operasi kepala jika ingin sembuh. Biaya yang besar membuat mereka merasa tidak mampu untuk menjalani pengobatan ini. KELADI TIKUS Berbekal ilmu dan wawasan tentang tanaman obat dan khasiatnya, Sumiati kembali meracik jamu herbal
untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita suaminya. Inilah yang menjadi satu titik balik bagi Sumiati untuk terus mempelajari khasiat tanaman yang dapat menjadi obat herbal yang bebas bahan kimia. Ia rajin mengkliping koran, majalah, tulisan-tulisan dan lainnya yang membahas tentang tanaman obat dan khasiatnya. Jamu-jamu herbal yang diraciknya itulah yang membuat kingga kini, Saleh benar-benar sembuh dari berbagai sakit akut yang pernah dideritanya dan tidak pernah kumat lagi. “Tahun 2011, hasil check up Mas Saleh dinyatakan bersih dari penyakit-penyakit yang dideritanya. Normal semua,” kata Sumiati yang akhirnya menjadi peracik jamu
Jamu herbal yang dikemas untuk memudahkan saat diminum
herbal yang banyak dicari. Kisah sembuhnya Saleh dari berbagai penyakit berat yang dideritanya dan sembuh dengan jamu buatan istrinya, menyebar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya di tahun 2012, mulai banyak orang dengan penyakit-penyakit berat termasuk kanker ganas yang pernah merasakan khasiat jamu tersebut dan dapat sehat kembali. Bahkan menurut Sumiati, ada seorang perempuan dengan sakit kanker payudara yang luar biasa parah, datang padanya menjelang seminggu lagi akan menjalani operasi. Perempuan ini bahkan sempat “dipunggungi” oleh dokter yang menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan operasi. Sedangkan ia tidak ingin menjalani operasi tersebut.
7
Dengan keladi tikus, Sumiati mengobati kanker perempuan ini hingga akhirnya sembuh tanpa operasi. Memang cukup lama Sumiati mengobati kanker tersebut, sekitar delapan bulan. Dan selama itu, tiap kali diobati dan meminum jamu buatannya, meski perlahan-lahan, sakit itu menunjukkan perubahan yang sangat baik. Minggu pertama pengobatan perempuan ini merasakan lega dan nyaman. Minggu kedua ia sudah dapat menggunakan bra. Lalu tiga bulan kemudian terus mengecil karena sangat banyak darah yang terus keluar dari payudaranya. Begitu seterusnya. “Pengobatan herbal memang membutuhkan waktu yang lama untuk bereaksi karena jalannya material dari tumbuhan yang mengandung obat itu, secara alami,” katanya. Salah satu kekuatan jamu sebagai obat adalah mampu mendorong stamina tubuh lebih alami sehingga dapat dengan kuat melawan penyakit yang dalam tubuh. Sehingga jika tubuh kuat, maka akan mampu melawan penyakit itu sendiri, lanjutnya. Karena itulah, tiap kali ada pasien yang datang padanya, Sumiati selalu mengingatkan hal ini, bahwa pengobatan alternatif menggunakan jamu herbal ini tidak dapat bekerja instan. Tidak bisa sembuh segera melainkan bertahap karena kerja pengobatan ini alami. “Kalau mau sabar, mari saya obati,” katanya. Berbagai penyakit telah dapat diobati dengan jamu buatan Sumiati ini. Bahkan orang-orang dari luar Mataram yang mendapat cerita, banyak yang memesan jamu padanya. Sumiati secara rutin mengirimkan permintaan jamunya hingga ke Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Jakarta, Aceh, Yogyakarta, Bogor, Bandung, Jawa Timur, Madura, Malang dan kota-kota lainnya di Indonesia. Di tahun 2015 ini, lebih dari 300 pasien di berbagai daerah dan dengan berbagai penyakit yang telah dikirimi jamu buatannya. Bagi Sumiati, inilah hikmah dari derita sakit yang pernah dialami suaminya dulu, ia menjadi bisa membantu orang-orang yang sangat membutuhkan pengobatan bagi penyakitnya. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Baca Buku, Rangkum, dapat Hadiah
Membaca, menulis, dan berhitung (calistung) merupakan fondasi yang diberikan kepada anak-anak. Namun, seringkali calistung ini tidak diberikan secara intensif. Anak-anak hanya mendapatkan di sekolah. Seharusnya di rumah pun kegiatan ini dilanjutkan. Jangan sampai anak-anak malah lebih sibuk bermain games atau sibuk berkomentar di media sosial.
“B
erawal dari keprihatinan terhadap perkembangan media sosial yang begitu marak dan berdampak terhadap pola perilaku masyarakat. Masyarakat sekarang lebih menikmati dunia maya untuk eksistensi diri dibandingkan dengan menghabiskan waktu luang dengan membaca untuk mencari perkembangan kabar atau informasi terkini. Ini berdampak pada perilaku generasi baru untuk mengikuti perilaku seniornya. Keprihatinan terhadap generasi baru/generasi emas Indonesia ini yang menjadi titik berat perhatian kami,” ujar Ni Putu Suaryani, S.T., Ketua Yayasan Lentera Bhakti Nusantara saat berkunjung ke Redaksi Tokoh. Ia pun miris jika sejak baru lahir anak-anak sudah melihat pola kehidupan sosial masyarakat seperti sekarang ini. Apakah kita berdiam diri membiarkan Indonesia hancur karena kebodohan dimana saat itu kita sudah menjadi generasi lansia yang hanya bisa mengelus dada tanpa bisa berbuat apapun. “Dari keprihatinan inilah kami hadir ingin turut menjadi bagian dari perjuangan bangsa saat ini untuk mempersiapkan generasi baru Indonesia yang unggul, cerdas berkarakter. Walau hanya bermodalkan seman-
gat kami mencoba untuk membuat pola atau strategi agar masyarakat minimal muncul niat untuk membaca buku. Setelah itu kami dari yayasan mengolah niat tersebut menjadi sebuah kegiatan sehingga yang tadinya hanya sebatas niat berubah menjadi penasaran dan akhirnya mereka akan asyik dengan materi yang dibacanya dan pada akhirnya membaca menjadi sebuah kebiasaan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ani Wirasutha ini. Ia menyadari memang tidak mudah mengubah perilaku masyarakat seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan waktu, upaya dan usaha tanpa henti dan tak kenal lelah serta berkesinambungan untuk Indonesia masa depan. Ibarat menanam tanaman, harus menyiapkan bibit unggul dengan media yang baik sehingga tanaman tersebut akan tumbuh dengan sempurna dan memberikan manfaat untuk kehidupan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami menggandeng pemerintah, masyarakat, sekolah, dan pengusaha. Kami ingin aktivitas membaca menjadi sebuah kebiasaan yang dimulai dari rumah kemudian meluas ke sekolah dan masyarakat. Hal ini hasilnya tidak bisa instan tetapi nanti beberapa
Buat Buku sebelum Tamat
Kebiasaan membaca sangat mendukung kreativitas anak-anak. Selain mendapat pengetahuan, mereka bisa berkreasi dan menghasilkan sebuah karya. Hal inilah yang dilakukan siswa kelas 6 Cendekia Harapan Elementary School, Jimbaran. Dr. Lidia Sandra, M.Comp., Eng SC, Ketua Yayasan Griya Anak yang menaungi Sekolah Cendekia Harapan menuturkan sebelum tamat, siswa kelas 6 membuat buku. “Maret 2015 anak-anak meluncurkan buku “My Doodle Diary. Geography”. Salah satu modal untuk membuat buku adalah rajin membaca,” ujar perempuan yang juga dosen psikologi ini. Selain itu, siswa kelas 6 juga wajib membuat karya tulis sebelum tamat. Tahun ajaran 2015/2016 temanya Tokoh. Siswa boleh memilih tokoh yang pemikirannya ingin dikupas. Karya tulis itu berisi kritikan atau saran terhadap pemikiran tokoh. Untuk bisa mendapatkan karya tulis yang baik, siswa harus mencari berbagai referensi lalu membaca. –Ngurah Budi
Siswa harapan cendekia jimbaran
tahun kemudian ketika membaca menjadi sebuah hobi yang menyenangkan,” jelas ibu dua anak ini. BALI MEMBACA Ani bersama para kolega kemudian merancang sebuah pola awal untuk menjadikan membaca menjadi sebuah kegiatan menyenangkan. Masalah yang ada sekarang bahwa membaca buku adalah kegiatan yang menjemukan, berat dan sepertinya sangat terbebani apalagi dengan kondisi buku yang tebal dan tidak menarik. “Kami terinspirasi dari penjual mainan anak-anak di depan sekolah yang setiap hari kami lihat dimana terlihat anak-anak begitu antusias dan rasa ingin tahunya begitu besar terhadap salah satu mainan yang diinginkan. Anak-anak begitu antusias dan akhirnya membeli mainan yang sangat diinginkannya dan dari raut mukanya terlihat begitu puas dan bahagia. Dari sini kami memikirkan bahwa bagaimana caranya rasa senang, antusias dan penasaran itu kita pindahkan ke membaca. Tugas yang cukup berat tapi kami yakin bisa melakukannya
Ani Wirasutha
asalkan semua stakeholder bersinergi bersatu padu untuk mengawal gerakan “Bali Membaca untuk Gerakan Indonesia Membaca” yang dicanangkan 25 November 2015. Sasaran dari kegiatan ini menurut istri Agung Wirasutha ini adalah seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak sampai dewasa. Mengawali kegiatan Bali Membaca, mereka menyasar kepada anakanak usia 7-12 tahun dan dilakukan di luar jam sekolah mereka. Tujuannya adalah agar jam bermain anak bisa ditingkatkan kualitasnya yaitu belajar sambil bermain sehingga kegiatan-kegiatan negatif bisa dikurangi. Tiap anak yang membaca buku ditugaskan membuat rangkuman. Rangkuman ini dikumpulkan sekolah lalu penulisnya diberikan hadiah. Pemberian hadiah bekerja sama dengan stakeholder, misalnya dengan diskon pembelian minuman atau tiket arena rekreasi.
Sasaran berikutnya adalah membentuk kelompok belajar di masing-masing desa dengan pembentukan relawan Pemuda Peduli Membaca dimana pemuda pemuda inilah yang nantinya sebagai penggerak dan motivator generasi emas Indonesia untuk gemar membaca dan turut andil dalam mewujudkan generasi unggul, cerdas berkarakter. “Prinsip kami kalau sudah lingkungan diciptakan dengan membaca secara otomatis para junior akan mengikuti gerak langkah seniornya. Makin banyak orang yang terlibat dalam kegiatan membaca secara otomatis akan memberikan vibrasi bagi banyak orang untuk mengikuti trend membaca yang sedang bertumbuh dan berujung pada peningkatan budaya membaca bisa dipercepat,” tegas perempuan yang juga Komisioner KPI Bali ini. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit
Tokek yang suka mengoceh
Seekor tokek mengetuk pintu rumah Gajah. “Tokek, tokek, tokeeek…!” “Tidurlah, Tokek! Jangan mengganggu! Semua hewan sudah tidur,” seru Gajah. “Bagaimana aku bisa tidur? Setiap Made Taro kupejamkan mata, si Kunang-kunang mengelip-ngelipkan lampunya. Bukankah kau Kepala Desa? Laranglah dia, Gajah!” oceh Tokek. “Baiklah, besok kupanggil dia.” “Kunang-kunang! Hentikanlah perbuatanmu mengelip-ngelipkan lampu! Si Tokek susah tidur,” kata Gajah. “Kalau aku tidak mengelip-ngelipkan lampu, pasti banyak orang terpeleset, karena di jalan raya berserakan kotoran kerbau,” demikian Kunangkunang membela diri. “Bagus! Teruskanlah tindakan yang baik itu, Kunang-kunang!” kata Gajah. “Tokek, tokek, tokeeek…!” “Tidurlah, Tokek! Jangan mengganggu! Semua hewan sudah tidur,” seru Kepala Desa. “Bukankah kamu kusuruh melarang Kunangkunang mengelip-ngelipkan lampunya?” oceh Tokek. “Kunang-kunang mengelip-ngelipkan lampunya untuk penerangan jalan. Kamu tahu, di jalan raya banyak kotoran kerbau, sehingga orang-orang dapat menghindar.” “Kalau demikian, laranglah kerbau membuang
kotorannya di jalan raya!” oceh Tokek. Gajah, Kepala Desa itu harus menyelesaikan masalah itu dengan tuntas. Keesokan harinya ia mengusut si Kerbau. “Aku berak tidak di sembarang tempat, Gajah!” demikian Kerbau membela diri. “Aku hanya menimbuni lubang-lubang yang digenangi air oleh hujan. Apa yang terjadi kalau banyak orang terperosok jatuh ke lubang itu?” Gajah membenarkan tindakan si Kerbau. Ia segera memanggil hujan dan menjelaskan keluhan Tokek. “Aku sengaja menggenangi lubang dengan air. Di situlah nyamuk-nyamuk bertelur dan beranakpinak. Kalau tak ada nyamuk, apa yang dimakan oleh Tokek?” jawab Hujan. “Tokek, tokek, tokeeek …!” Tokek mengetuk pintu rumah Gajah dengan keras. “Lihat, Kepala Desa! Kunang-kunang masih saja mengerlip-ngerlipkan lampu. Tidakkah kau dapat menyelesaikan masalah ini?” “Sudah kutemukan masalahnya, Tokek!” jawab Gajah menggeram. “Kunang-kunang mengerlipngerlipkan lampu agar orang-orang tidak terpeleset. Kerbau membuang kotorannya untuk menimbuni lubang-lubang yang tergenang air hujan. Hujan menggenangi lubang dengan air, sehingga nyamuk-nyamuk bertelur dan beranak-pinak. Nah, pikirkanlah baik-baik, Tokek!” jawab Gajah lalu menutup pintu. Tokek yang suka mengoceh itu pulang dengan kecewa. Sebelum tidur, ia merenung. “Kalau tak ada nyamuk, apa yang kumakan?” “Tokek, tokek, tokeeek…!” Tokek pun tertidur lelap.
Griya
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
17
Berburu Kerajinan Kayu Bali Bali terkenal akan adat dan budayanya yang menjadi magnet bagi pariwisata Bali selama ini. Mereka yang berwisata ke Bali tentunya tak akan melewatkan memborong suvenir sebagai buah tangan. Pasar Sukawati menjadi salah satu tempat para wisatawan ini memburu berbagai macam suvenir yang umumnya merupakan hasil kerajinan tangan (handycraft).
M
eski menurut pengakuan salah seorang pedagang handycraft, Made Sukarti kunjungan ke Pasar Sukawati tak lagi seramai dulu dikarenakan kini telah menjamurnya keberadaan Pasar Oleh-oleh, ia dan suaminya Ketut Mulyana masih tetap melakoninya. Selain itu membuka lapak di Pasar Pagi Sukawati, pasutri ini juga membuka toko Merta Sari wood carving di Jalan Raya Sakah, Batuan, Sukawati,Gianyar-Bali.
Profesi ini sudah dilakoni pasutri tersebut sejak 15 tahun silam. Karena itu, mereka merasakan betul pergerakan pasar akan kebutuhan handycraft kayu ini. Di tokonya itu, mereka menawarkan berbagai kerajinan kayu, mulai dari topeng, patung, gantungan, hingga panil ukiran Bali. “Dulu patung abstrak ini paling ngetop, tapi sekarang tamu lebih banyak ke pasar oleh-oleh. Saat ini, panil bunga yang paling digemari tamu, terutama orang India,” ujar Sukarti. Wisatawan Jerman dikatakan-
nya lebih menyukai model patung-patung binatang. Bahkan sekarang ini persaingan pun semakin ketat karena menurut pengakuan seorang pelanggannya kepada Sukarti, kini banyak tamu yang mengambil handycraft kayu di Thailand, karena pengerjaannya memakai mesin yang otomatis harganya menjadi lebih murah. –Inten Indrawati
16
Edukasi
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
SMITH College
Penting Belajar Bahasa Asing Sejak Dini Kebutuhan pendidikan semakin meningkat, terutama di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Pemenuhan kebutuhan pendidikan baik formal maupun nonformal sangat dibutuhkan karena hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM Indonesia. Pendidikan nonformal/luar sekolah memiliki peran yang tak kalah penting. Pendidikan ini berfungsi membantu sang anak didik untuk memaksimalkan potensinya yang mungkin belum seluruhnya bisa diperoleh melalui jenjang pendidikan formal.
S
MITH College hadir di Kota Gianyar, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ingin turut serta memajukan pendidikan anakanak di Kota Gianyar dan sekitarnya. Bidang pendidikan yang diselenggarakan; kursus bahasa asing, bimbingan belajar dan bimbingan baca tulis
hitung (calistung). Direktur SMITH College Pande Putu Agus Eka Pertama, AK, MAcc. menuturkan, pada awalnya lembaga yang ia dirikan tahun 2010 ini fokus di bahasa asing dengan segmentasi pasar pada anak-anak. “Karena menurut kami, dengan menguasai bahasa asing (Inggris), orang Bali bisa hidup di Bali
Guru dan staf SMITH College
yang merupakan daerah pariwisata. Karena itu, belajar bahasa asing harus dari kecil agar tata bahasanya terlatih, dan mainset otomatis juga terlatih,” ujarnya. SMITH College yang kini memiliki 200 anak didik ini ditunjang dengan fasilitas audio-video, perpustakaan, dan diajar oleh guru-guru berpengalaman. Dalam satu kelas maksimal diikuti 10 anak didik agar lebih efektif. “Kapan saja anak-anak bisa masuk (mulai bimbingan). Karena kami memakai sistem placement test untuk menentukan si anak masuk ke level mana. Setelah itu, kapan pun bimbingan dimulai, tak masalah,” ujar Manager English Course I Wayan Sutantra, S.S. ini. Yang paling penting dari semua itu, dikatakan Pande Agus adalah belajar harus menyenangkan (fun learning). Karena dengan begitu, apapun yang diajarkan akan bisa diterima dengan baik. Untuk itu, khususnya di kelas Bahasa Inggris diterapkan beberapa kegiatan, seperti; Movie Programs, Listening Practices, Classroom English Games, Public English, Wall Magazines, English Corner, dan Outing Class. “Outing Class ini dilaksanakan 6 bulan sekali. Anak-anak diajak ke tempat-tempat wisata, belajar sambil bermain, dan juga siswa diajak untuk saling mengenal antarsiswa,” jelas Pande Agus. Selain itu, sebagai tahap evaluasi sekaligus menguji
9
Semua Karena Peran 3 Tangan
Suasana belajar di SMITH College
mental mereka, di akhir tahun ajaran, SMITH College mengadakan berbagai kompetisi, seperti story telling untuk bahasa inggris, lomba MIPA, menggambar dan mewarnai dll. “Respons masyarakat terhadap keberadaan lembaga kami cukup bagus. Karena itu tahun depan kami akan membuka kelas Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, ESP (English for
specific purposes) seperti bahasa Inggris untuk perhotelan & Restaurant, Guiding dan persiapan berangkat ke kapal pesiar. Prinsipnya, kami melihat kebutuhan pasar agar nanti generasi muda bisa bersaing. Yang paling penting adalah bahasa, karena bahasa adalah alat komunikasi. Dari bahasalah semuanya bisa dilakukan,” tandas Pande Agus. –ten
Outing class
SMITH College
Jalan Dharma Giri No. 99X Buruan, Gianyar-Bali. Tlp/faks: 0361-8958235
Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air dan dikelilingi oleh daratan. Kebanyakan danau berada di ketinggian yang lebih atas. Biasanya danau dikeliling gunung atau bukit. Hal ini membuat pemandangan danau menjadi indah. Di Bali, ada empat danau, Batur (Bangli), Beratan (Tabanan), Buyan (Buleleng), dan Tamblingan (Buleleng).
D
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Beberapa waktu lalu Tokoh sempat bertemu dengan Angga, salah seorang anggota Band XXX, yang juga dikenal memiliki Vijaya Store dengan produk yang sangat kental menghadirkan budaya Bali. Namun, pertemuan kali ini jadi berbeda sebab Angga baru saja selesai mengikuti program Indonesia China Youth Exchange Program, dan bersedia berkisah tentang pengalamannya.
Pesona Dua Danau “Bertetangga”
ari keempat danau ini, Beratan, Buyan dan dan Tamblingan “bertetangga”. Lokasi Buyan dan Tamblingan lebih dekat lagi dan dipisahkan perbukitan. Jika melintasi jalan raya Munduk menuju Seririt akan terlihat hamparan pepohonan yang memisahkan kedua danau ini. Danau Buyan berada di desa Pancasari, Buleleng sedangkan Tamblingan masuk wilayah desa Munduk, Buleleng. Pemandangan di kedua danau ini hampir mirip. Danau dikeliling kawasan perbukitan. Air danau yang kadang terlihat hijau kadang biru berpadu dengan hijaunya pepohonan. Namun, yang membuat miris adalah air danau terus mengalami penyusutan.
Dara
Pendangkalan yang paling jelas terlihat di Danau Buyan. Walaupun air danau mengalami pendangkalan, namun hal ini tidak mengurangi minat orang untuk berkunjung ke danau. Berfoto di tepian danau menjadi agenda wajib. Apalagi foto sembari beraksi seperti nelayan sedang menarik pedau (sampan). Atau, hanya sekadar duduk di ujung sampan. Gede Adhyasa dan Wayan Putra, dua warga Denpasar yang menyempatkan diri berkunjung ke kedua danau ini memanfaatkan kesempatan untuk berfoto. Mereka juga menjadikan cabang-cabang kayu tumbang sebagai latar untuk berfoto. Tak ketinggalan dermaga kayu di tepian danau Tamblingan. “Kesannya klasik kalau berfoto di cabang kayu di tepian danau. Tadi kami sudah berfoto di pedau. Banyak angle
Suasana danau Tamblingan
foto menarik di sini,” ujar Putra di tepian Danau Tamblingan. Sembari mencari lokasi yang bagus, mereka juga berbincang dengan nelayan yang mencari ikan di danau Tamblingan. Ternyata danau ini memiliki banyak ikan. Namun, cara mendapatkan ikan hanya boleh dengan memancing dan menjala. Di Danau Buyan, keduanya kembali berfoto. Dermaga di danau ini terbuat dari beton sehingga memudahkan mereka mendapatkan angle foto. Putra malah ikut naik sampan dan menikmati suasana danau. Hujan yang turun saat mereka berada di Danau Buyan tak menyurutkan niat untuk menikmati pemandangan alam. “Denpasar jarang hujan. Malah di Buyan hujan deras. Ini anugerah Tuhan,” ujar Adhyasa sembari membungkus kameranya. –Ngurah Budi
Suasana danau Buyan
bagi saya untuk mundur. Sudah terlanjur basah,” katanya lagi. Angga mengatakan mungkin karena ia hanya berfokus pada proses dan tidak memikirkan hasil, makanya merasa tanpa beban dalam melewati tahapan seleksi berikutnya. Seringkali, ketika ia merasa sangat lelah, yang bisa dilakukannya hanyalah tersenyum kemudian menyebut nama Tuhan. Apakah itu mengucapkan Om Namah Shivaya, Hare Khrisna, Gayatri Mantram, atau seringkali hanya mengguman, terima kasih Tuhan dan Leluhur. Menurut Angga juga hal ini terbukti sangat ampuh. Banyak hal terasa mudah dan lapang. Dan yang membuatnya benar-benar tidak percaya, setelah proses seleksi berakhir adalah, saat diumumkan Angga menjadi peringkat pertama seleksi Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada.
A
ngga mengatakan semuanya berawal dari ketika ia mengikuti seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2015, yang diselenggarakan oleh Kemenpora melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali. Dimana proses seleksi dilaksanakan dengan bantuan para alumni program PPAN yang tergabung dalam organisasi Purna Caraka Muda Indonesia Provinsi Bali. Dalam proses seleksi itu, kata Angga ia menjadi benar-benar menyadari bahwa ada 3 tangan yang berperan dalam hidup ini yaitu; tanda tangan, maksudnya ada usaha dan upaya yang dilakukannya; kemudian campur tangan, yaitu bantuan dari orang lain berupa masukan serta dukungan; dan yang paling berpengaruh adalah tangan Tuhan. “Tangan Tuhan saya katakan paling berpengaruh karena sebenarnya dalam seleksi tersebut saingan saya tidak bisa dikatakan ringan. Di atas kertas mereka jauh memiliki nilai di atas saya. Belum lagi fokus saya menjadi terbelah karena secara kebetulan di hari-hari yang sama saya juga mengikuti proses lomba wirausaha muda yang diselenggarakan oleh Kemenkop & UKM dengan bantuan Bali TV dan Bank Mandiri,” katanya. “Saya sangat menyadari, jika kita mengejar dua kelinci di saat yang bersamaan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun apa daya, saya sudah terlanjur lolos seleksi tahap awal di kedua lomba tersebut dan akan sulit
“Dan juga keesokan harinya saya ditelepon pihak BaliTV untuk menerima penghargaan sebagai 5 besar terbaik. Saya berhak akan bantuan dana penuh dari Kemenkop UKM sebanyak Rp 25juta . Sungguh satu minggu yang tak akan terlupakan seumur hidup saya,”katanya sumringah. Selanjutnya dengan penuh syukur dan Angga pun mengucap nama Tuhan sesering mungkin. “Benar kata orang, hal apapun menjadi mungkin jika kita berserah kepada-Nya. Sambil menunggu program berlangsung, saya pun mulai mempersiapkan diri sebaik
mungkin dengan bimbingan para alumni program di PCMI. Belajar tari, memperbaiki public speaking, meningkatkan bahasa Inggris, bahkan saya mengikuti kursus bahasa Prancis di Ubud yang jaraknya bisa dibilang tidak dekat dengan rumah saya,” papar pemilik Vijaya Store ini. Namun, dalam perjalanan tersebut, Tuhan kembali memainkan peranan-Nya. Tiba-tiba Angga mendapat kabar bahwa Program Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada (PPIK) tahun 2015 dibatalkan karena alasan yang belum jelas dari pihak Ke-
menpora. Seluruh peserta yang sudah lolos seleksi di realokasi ke program Pertukaran Pemuda Indonesia Tiongkok. “Sungguh hal yang kembali membuat terkejut. Tapi kembali saya sangat meyakini, semua sudah diatur oleh-Nya. Di saat teman-teman dari daerah lain curhat tentang kegalauan mereka karena program Kanada dibatalkan, mungkin saya orang pertama di grup sosmed peserta program PPIK yang mengatakan siap dan menerima jika memang harus dipindah ke China dengan waktu yang lebih singkat. --Radinia
Bangga jadi Orang Bali Awal September, adalah permulaan rangkaian program Pertukaran Pemuda Indonesia-Tiongkok yang diikutinya. Ia pun menjalani serangkaian pembekalan yang dikemas dalam bentuk pre-departure training selama 3 hari di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Baginya, mimpinya yang dulu kini menjadi nyata. Dalam proses pembekalan itu, Angga mendapatkan materi tentang kebijakan pemuda, peran pemuda dan kaitannya dengan Pembukaan UUD 1945, tentang kewajiban menjalankan post program activity (PPA) sebagai bagian dari community development hasil program pertukaran pemuda serta sosial entrepreneur. Akhirnya ia pun memulai programnya di Tiongkok. Di Beijing ia dijemput 4 orang oleh perwakilan dari All Youth China Federation yang menjadi host -nya Salah satu pengalaman menariknya saat di Beijing adalah pada hari ketiga di, dimana ia dan peserta lainnya selama seharian penuh diajak jalan-jalan menikmati Beijing dari pagi hingga malam. “Dua tempat yang sangat terkenal dan tak boleh terlewatkan jika menginjakan kaki di Beijing adalah The Great Wall (Tembok Besar
Cina) dan Forbidden City,” katanya dan mengatakan hari berikutnya di Beijing, Angga mengatakan menerima pembelajaran yang sebenarnya. Begitu juga hari-hari selanjutnya Angga mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran dari Tiongkok, termasuk mengunjungi Ningxia Museum. Berikutnya dari Tiongkok, mereka akan terbang menuju Fuzhou. “Saat melakukan proses check-in, saya mendapat masalah lagi, sama saat saya mengajukan visa ke Cina, nama di paspor tertulis Erlangga Bayu Rahmanda Putra, berbeda dengan nama di tiket saya yakni I Gusti Ngurah. Saya pun harus menjelaskan dengan bantuan penerjemah Mandarin bahwa nama I Gusti Ngurah itu adalah family name saya sebagai orang Bali dan disingkat menjadi I G.N. Lumayan menyita waktu namun tidak melunturkan kebanggaan saya sebagai orang Bali,” kisahnya Di antara berbagai kegiatan Angga dan rekan-rekannya juga sempat melakukan kunjungan ke Hua Qiao University. Di sini mereka melakukan forum diskusi dengan pihak kampus dan bertemu dengan mahasiswa lokal. “Di sana saya berkenalan dan banyak berbincang Andy, Heri, Refgy, mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Selain itu , kami berkesempatan mengunjungi Yayasan Anak Hujan, sebuah sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus terutama anak autis di Quan Zhou. Ketika tiba acara jamuan makam malam, kata Angga mereka menampilkan cultural performance untuk jamun makan sekaligus farewell party ini. “Di sini seluruh kontingen harus mengenakan pakaian adat daerahnya dan menjadi hal yang menarik bagi kami terutama bagi panitia lokal dari All China Youth Federation. Atas apa yang diterima dan dirasakan oleh Angga, sudah pasti katanya untuk semuanya ia bersyukur atas bantuan dan dukungan dari keluarganya, terutama kedua orangtuanya. “Mata saya pasti berkaca-kaca jika memikirkan apa yang telah mereka berikan untuk membantu saya,” ucapnya serius. -Radinia
10
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Bakteri Penting untuk Jaga Kesehatan? Bakteri, mungkin di masyarakat awam masih dianggap sebagai pembawa penyakit. Namun sesungguhnya, tak semua bakteri merupakan sumber penyakit. Ada beberapa bakteri justru dibutuhkan tubuh manusia. Berikut penjelasan Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr. Sc., Ph.D., Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Udayana, yang juga Vice President, Indonesian Society for Lactic Acid Bacteria.
“B
akteri, salah satu kelom pok mikro organisme, adalah bagian yang tidak da pat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bakteri berperan penting dalam produksi bahan pangan seperti keju, yogurt, tape, sayur asin, kecap dsb. Bakteri juga menghuni seluruh permukaan tubuh kita, yang terdiri dari jutaan bakteri yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh dari serangan organisme penyebab penyakit, membantu tubuh menguraikan berbagai jenis makan yang kita makan dan bahkan memproduksi vita min K di dalam usus manusia. Secara alamiah, sejak manu sia dilahirkan sudah membawa bakteri pada saluran pencer naannya yang diduga diperoleh pada saat bayi melalui saluran kelahirannya (liang vagina si ibu) serta ditemukan juga pada placenta. Jadi, bakteri memang sejak awal kehidupan sudah menjadi teman baik manusia dan bagaimana proses sebe narnya bakteri pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia masih dalam perdebatan sengit oleh para ahli mikrobiologi sa luran pencernaan. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak jenis bakteri penghuni saluran pencernaan akibat konsumsi jenis makanan yang semakin kompleks. Pada saluran pencernaan bayi hanya didominasi oleh Bifidobacteria, Lactobacilli, Enteroccoccus, Bacteroides, Eschericia coli, dan selanjutnya semakin kompleks menjadi sekitar 300-500 spe sies dalam saluran pencernaan manusia dewasa. Komposisi bakteri saluran pencernaan manusia men jadi parameter penting dalam status kesehatan. Manakala keseimbangan bakteri saluran pencernaan berubah akibat pola makan dan atau terapi obatobatan, maka munculah ber bagai penyakit, seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes, obesitas, berbagai jenis kanker saluran pencer naan, dan sebagainya. Sehingga, para ahli mulai mengetahui bahwa memelihara komposisi dan keseimbangan bakteri salu ran pencernaan manusia, adalah
faktor penting dalam menjaga kesehatan. “Bertolak dari inilah diperkenalkan Probiotik yang oleh WHO/FAO didefinisikan sebagai bakteri hidup yang ke tika dikonsumsi dalam keadaaan yang cukup akan mempengaruhi kesehatan hos-nya,” ungkap Doktor Mikrobiologi Terapan dan Peneliti Probiotik dan Bak teri saluran pencernaan ini. Bakteri yang umum dipergu
Bifidobacterium adalah yang paling populer dipergunakan sebagai probiotik dan ditam bahkan pada berbagai jenis yogurt dan susu fromula yang beredar secara komersial. SUSU MENGANDUNG BAKTERI? Aplikasi probiotik, juga su dah banyak dilakukan pada bayi dengan tujuan mempercepat re-
makan spesifik sehingga bakteri menguntungkan tersebut cepat berkembang biak dalam saluran pencernaan. Makanan untuk bakteri ini dikenal dengan istilah Prebiotik. Jenis prebi otik antara lain GOS (galacto oligoschharide), TOS (trans oligosacchraride), Inulin, FOS (fructo oligosaccharide). Prebi otik ini juga banyak diaplikasi kan pada susu formula sebagai
health.kompas.com
nakan sebagai probiotik, yang beredar di pasar saat ini adalah golongan bakteri asam laktat (bakteri penghasil asam laktat) yang paling umum terdapat pada susu yang asam seperti yoghurt, kefir, keju, dadih, susu kuda sumbawa, serta makanan terfermentasi seperti tape, dan asinan bogor. Jenis bakteri yang paling umum dipergunakan sebagai probiotik adalah Lactobacillus (seperti Lactobacillus casei Shirota (bakteri yakult), Lacto bacillus rhamnosus, Lactobacil lus acidophilus, Lactobacillus gasseri, Lactobcillus reuteri, Lactobacillus bulgaricus (bak teri pada yogurt), dll); golongan Bifidobacterium (seperti Bifido bacterium breve, Bifidobacte rium longum, Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium lactis, Bifidobacterium catenulatum, dll). Bifidobacterium adalah bakteri penting dalam saluran pencernaan bayi yang diberi air susu ibu. Lactococcus (seperti Lactococcu lactis, Lactococcus cremoris, bakteri ini paling ban yak pada keju dan kefir). Kelompok Lactobacillus dan
covery (menumbuhkan) bakteri menguntungkan pada saluran pencernaan bayi, seperti pada anak yang lahir caesar. Karena terbukti anak dengan kelahiran caesar pada saluran pencer naannya mengandung jenis Bifidobacterium (Bifidus) lebih sedikit dibandingkan dengan anak lahir normal. Demikian juga pada anak yang diberikan ASI dibandingkan dengan anak yang diberikan susu formula. Bi fidus memegang peran penting dalam kesehatan bayi, sehingga anak yang diberikan ASI dan la hir normal, dari hasil penelitian, mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik dari pada anak yang lahir caesar dan kurang mengonsumsi ASI. Dengan pengetahuan ini, sekarang banyak susu yang ditambahkan bakteri probi otik, seperti Bifidobacteriaum dan atau Lactobacillus dengan harapan sekaligus memberikan probiotik kepada bayi. Produk ini populer dengan nama susu probiotik. Seiring kemajuan iptek, ternyata bakteri mengun tungkan pada saluran pencer naan dapat diberikan jenis
susu-prebiotik. Dan gabungan Probiotik dan Prebiotik dikenal dengan Synbiotic, seperti pada susu formula dengan FOSbifidobacteria dsbnya.
Mitos
Style
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Modis dan Segar Gaya pakaian kasual endek kini makin banyak pilihan nya. Apakah itu dress, blus dipadukan dengan kulot, celana atau rok. Semua dapat disesuaikan dengan se lera dan gaya pemakainya. Seperti yang ditampilkan Tokoh pekan ini.
Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr. Sc., Ph.D.
Probiotik memberikan dampak tidak langsung dalam meningkatkan kesehatan manu sia. Karena peranannya sebagai salah satu komponen integral dalam ribuan jenis konsorsium bakteri pada saluran pencer naan manusia, maka probiotik diduga memberikan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri menyehatkan dalam tubuh yang mempengaruhi jalur metabolisme global tubuh. Se hingga efek tidak langsung pro biotik seperti mempengaruhi sistem imun manusia sehingga meningkatkan kekebalan tubuh, menghasilkan hasil metabolisme seperti asam organik rantai pendek yang mempengaruhi metabolisme empedu, lemak dan kolesterol tubuh, meng hambat pertumbuhan bakteri patogen yang masuk ke dalam tubuh bersama dengan makan atau minuman, mempengaruhi integritas dan permeabilitas saluran pencernaan, dan mem pengaruhi ekpresi berbagai gen pada tubuh manusia. “Mengingat bakteri saluran pencernaan memegang peranan penting terhadap kesehatan, mari galakkan konsumsi pangan terfermentasi tradisinal (tempe, tape, susu asam). Pupuklah bak teri saluran pencernaan Anda dengan konsumsi sayur dan buah (sumber serat), kurangan konsumsi lemak jenuh dan pro tein yeng berlebihan dan hindari stres,” tandasnya. –Inten Indrawati
Mesin Cuci dari Kaca Tempered
Terinspirasi dari design rumah yang modern dan minimalis ditambah dengan keunggulannya yang telah dipercaya masyarakat Indonesia pada kaca tempered yang membalut kulkas Belleza, PT Hartono Istana Teknologi dengan brand produknya yang ber nama Polytron belum lama ini mengadopsi kaca tempered pada mesin cuci. Produk teranyar di jajaran mesin cuci ini merupakan perpaduan teknologi dan design yang sempurna. Kaca tempered yang kuatnya telah teruji 5 kali lebih kuat dari kaca biasa kini di aplikasikan dan menyelimuti mesin cuci Twin Tube terbaru PWM 70 Series Primadona Samba Chrystaline. Santo Kadarusman, Public Relations dan Marketing Event Manager mengatakan, merupakan inovasi mesin cuci dua tabung dengan Glass Door Finishing per tama di Indonesia, dengan luxurious finishing sangat cocok bagi Anda yang detail terhadap interior design minimalis yang mewah dan elegan. Keunggulannya, motor penggerak dengan teknologi pulsator yang bertenaga dan mampu menghasilkan putaran air yang kuat dan merata sehingga pakaian bersih sempurna dari kotoran-kotoran tanpa merusak serat pakaian. -rls
A
palagi saat ini, motif endek terus berkembang dan makin banyak digunakan untuk mengisi kegiatan panggung fashion di Indonesia. Hal ini,
pulalah yang mendorong Tabloid Tokoh mengadakan lomba “Fashion Show Busana Casual” bertemakan “Touch of Endek”, beberapa waktu lalu. Busana kasual berbahan endek ini
lebih lagi digemari remaja yang aktif dan energik. Endek menjadi pilihan busana yang cukup menarik untuk sehari-hari, dalam berbagai suasana dan kegiatan. Dengan desain yang trendi mampu membalut pemakainya tampil ka sual namun modis dan segar. Selain bahan katun yang me mang nyaman, kini endek, seba gai salah satu produk identitas Bali di dunia fashion ini ber tambah populer, baik menjadi bahan utama maupun padupa dannya. – Sri Ardhini
15
14
Jelita
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Kecantikan yang Terpancar dari Dalam Selama ini sering kita sering mendengar saran untuk membeli produk atau alat kosmetik yang dapat dipakai untuk jangka panjang. Misalnya membeli alat perawatan untuk manikur dan pedikur, produk untuk rambut yang dapat digunakan sendiri di rumah. Masih banyak lagi langkah yang dapat dilakukan demi dapat menghemat anggaran, karena semuanya cukup di lakukan sendiri di rumah. dilakukannya di dalam ru mah saja, sekitar 15 – 30 menit.Tidak tanggungtanggung gerakannya pun diciptakannya sendiri, yang merupakan modi vikasi hasil olah pikirannya dari berbagai VCD yang pernah ditontonnya. Ia pun tak sungkan memperagakan beberapa gerakan yang selama ini rutin dilakukannya bersa Bintang Mira Swan Dewi ma-sama para staf Bali enarkah kita bisa tampil batiku. “Ada empat jenis gerakan, cantik setiap hari tanpa dimana setiap gerakan memiliki sebutan harus mengeluarkan tersendiri. Mulai dari gerakan cantik, biaya yang mahal. Ba gerakan sehat, gerakan kaya dan gaimana agar setiap orang, terutama gerakan baik hati. Dengan melaku perempuan tetap bisa tampil meme kannya secara rutin, hitungan 2 x 8 sona tanpa perlu mengeluarkan banyak masing-masing 4 kali, gerakan ini sangat anggaran. Itulah topik yang dibahas menunjang penampilan lebih bugar dan dalam sebuah Talk Show “Cantik Tidak wajah pun menjadi segar,” lanjutnya. Perlu Mahal” yang berlangsung pada Hal lain yang dilakukan Bintang Sabtu (14/10) di Auditorium Perdiknas, Mira agar bisa berpenampilan yang Jalan Tukad Yeh Aya, Denpasar. segar dan memancarkan kecantikan Talk Show dengan misi sosial ini, dari dalam, adalah sejak sekitar tahun menghadirkan desainer papan atas 2007, dirinya berupaya memilih berada Bali, Bintang Mira dan make up artis diantara orang-orang yang memberi (MUA) senior Bali Swan Dewi. Topik kannya lingkungan yang baik. Mereka seputar kecantikan yang mereka yang mau berbagi dan bersahabat. sampaikan terlihat lebih menekankan “Seperti semua yang hadir tentang kecantikan yang terpancar dari di ruangan ini, siap hari dalam atau inner beauty , namun tetap pasti tidak pernah lupa memerlukan dukungan kecantikan dari untuk berbuat baik. Selalu luar yang dilakukan dengan biaya yang semangat berbagi dengan tidak mahal. cinta kasih setiap harinya,” Bintang Mira dalam acara yang katanya dan menyebutkan dipenuhi oleh perempuan –perem Ade Rai termasuk salah puan yang siap menolong sesama ini, seorang sosok yang sukses mengatakan, tidak ada kecantikan yang dan baik hati. diperoleh dengan instan. Ada langkah Selain langkah yang su atau proses yang mesti dilakukan. Ia dah dilakukannya tersebut, pun dengan terbuka mencontohkan satu lagi kunci wajah ber apa yang pernah dialaminya dan apa sihnya, yakni Bintang Mira yang dilakukannya selama ini. tidak sungkan untuk me Ia tampil dengan tubuh proporsion minta maaf pada staf atau al dan wajah yang selalu segar. Namun, pegawainya sekalipun jika semuanya tidak diperoleh begitu saja. memang ia melakukan hal Maka ia pun dengan terbuka mema yang kurang berkenan. parkan bahwa dirinya dahulu pernah memiliki berat badan yang berlebih. JADI DIRI SENDIRI Pernah pula melakukan diet yang salah. Merias wajah atau Tetapi, dengan kesabaran dan dan make up sendiri seperti tekad dalam perjalanannya ia berhasil nya perlu bagi perempuan melakukan diet sehat. Terlebih setelah pada umumnya baik itu bertemu dan melakukan komunikasi ibu rumah tangga atau dengan Ade Rai, Bintang Mira sukses pun perempuan bekerja. menata pola makannya. “Ketika itu diet Apalagi untuk merias yang saya lakukan bukan untuk kurus, wajah sehari-hari cukup tapi untuk bugar, ” tegasnya. berdandan secara praktis Bagi seseorang yang ingin memiliki dan simpel, cukup dengan tubuh yang langsing, menurunkan berat memoleskan bedak dan badan sama seperti sebuah pelajaran lipstick. Termasuk jika tibayang sulit sekali untuk diselesaikan. tiba ada acara mendesak Apalagi jika puluhan resep diet telah yang mengharuskan tampil dicoba dan tidak berhasil. Disinilah kata beda, juga bisa melakukan Bintang Mira diperlukan untuk tidak nya, tanpa harus ke salon. cepat putus asa. Dengan begitu, biaya pun Dikatakan oleh pemilik usaha menjadi lebih hemat. Balibatiku ini, saat menjaga pola makan, Swan Dewi yang diakuinya sangat memerlukan motivasi juga pemilik New Melati, yang tinggi, agar semua berjalan dengan sempat menyampaikan baik. Selain langkah tersebut , Bintang akan lebih baik jika para Mira melengkapinya dengan mengelola perempuan belajar keter pemikirannya, melalui upaya menam ampilan untuk perawatan bah wawasan. Ia wewajibkan dirinya dan merias diri sendiri. melahap buku-buku orang sukses yang Sebab nantinya dengan mampu memotivasi dalam berbagai hal terus mengasahnya agar di kehidupan ini. mendapatkan hasil lebih Begitu juga untuk urusan yang baik dan pastinya akan memerlukan pembakaran kalori, semua menekan pengeluaran.
B
Disamping itu jika memang suatu saat tidak ada waktu lagi ke salon, dengan kemampuan merias wajah atau make up sendiri, tentu akan sangat membantu menyelasaikan masalah. Swan Dewi juga mengatakan kini jenis kosmetik semakin banyak dan terus mengeluarkan produk barunya. Namun, dengan mengetahui jenis kulit maka lebih mudah memilih produk yang sesuai kondisi bukan karena ikut-ikutan teman atau karena tergoda merek tertentu. Selain itu, katanyua perhati kan pula jenis kulit kemudian belilah produk kecantikan yang sesuai jenis kulit wajah. Sebab kebutuhan setiap orang akan berbeda. “Jangan tergoda karena merek atau harga tapi pilihlah yang cocok,” tandas Dewi yang pada acara itu juga sempat membagikan tips –tips make up dan menata rambut yang simpel. Make up, lanjutnya hanya sebagai pelengkap saja, yang sesungguhnya adalah kecantikan yang memancar dari dalam. Kalaupun menggunakan make up, tidak perlu berlebihan melainkan se suai dengan karakter. “Tidak menirukan gaya orang lain ,” katanya sembari me nambahkan selain belajar katerampilan
Bugar
Sebagian peserta talk show
Heny Santi mengatakan sependapat dengan Bintang Mira dan Swan Dewi. Selain kita memang sebaiknya menjaga pola makan bukan hanya demi pe nampilan tapi juga kesehatan, begitu juga kita mesti teliti dalam memi lih produk kecantikan untuk wajah. “Misalnya dengan melihat komposisi bahannya dan pastikan tidak ada yang berbahaya untuk wajah. Kita juga tidak lupa mengecek tanggal kadaluarsa yang tertera di produk dan pastikan produk yang akan kita beli sudah mendapat izin dari BPOM sehingga keamanannya terjamin,” katanya. Begitu juga yang dikatakan pe serta lainnya Dewi Su arjani, jika ingin hemat sebenarnya, berbagai perawatan kecantikan seperti merias wajah, manikur-pedikur, creambath hingga mandi lulur bisa dilakukan sendiri di rumah tanpa harus ke salon. “Cukuplah kita ke salon untuk potong rambut, karena sulit di lakukan sendiri,” pung kasnya. – Sri Ardhini
11
LENSA KONTAK RIGID GAS PERMEABLE UNTUK ATASI MATA SILINDER dr. Ariesanti Tri Handayani,SpM(K) Dokter Spesialis Mata Siloam Hospitals Bali
merias wajah, yang tidak kalah penting atau malah menjadi hal paling utama yang menentukan daya tarik seorang perempuan adalah menjadi dirinya sendiri atau be your self. Riasan juga dikatakannya bukan berarti sekadar memulaskan perona atau yang lainnya ke wajah. Sebelum mulai mendandani wajah, sangat pent ing lagi untuk mengenali dulu warna kulit, bentuk wajah dan kepribadian atau karakter diri. Biasanya rata-tara seseorang harus mencoba berkali-kali merias diri untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah seorang peserta talk show,
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Selama ini kita cukup Selain bahan pem bentuknya, ukuran mengenal istilah softlens, RGP – CL juga ber yaitu suatu lensa kon beda dengan softlens. tak lunak yang diletakkan Softlens berukuran di depan kornea untuk lebih besar dari kornea membantu memperbaiki tetapi RGP-CL diam tajam penglihatan pada eternya lebih kecil dan penderita kelainan refraksi masih dapat bergerak seperti mata minus atau apabila kita berkedip plus. Softlens sangatlah atau melirik karena lunak sehingga nyaman adanya lapisan airmata digunakan karena mengi di antara kornea dan kuti kelengkungan kornea. lensa kontak tersebut. Namun hal ini merupa Lapisan airmata ini kan salah satu kelemahan memiliki kekuatan re softlens karena bentuknya fraksi sehingga mem yang lunak tersebut tidak pengaruhi ukuran RGP dapat mengoreksi gang – CL yang akan dipak guan mata silinder yang ai. Selain itu lapisan air cukup besar. mata ini juga menjaga Tak banyak orang tahu kornea tetap basah bahwa jenis lensa kontak sehingga RGP – CL tidak hanya softlens tetapi masih menjadi pilihan ada juga lensa kontak yang untuk pasien dengan bentuknya lebih keras dan Sindroma Mata Kering menggunakan bahan yang atau Dry Eye Syndrome, berbeda dengan softlens, dr. Ariesanti Tri Handayani,SpM(K) yang merupakan kon yang dahulu disebut de tra indikasi untuk pemakaian sofltens. ngan hardlens, atau saat ini kita kenal dengan sebutan Apabila softlens dibuat secara massal, tidak demikian Rigid Gas Permeable Contact Lens (RGP-CL). Bahan dengan RGP - CL. Lensa ini dibuat secara customized RGP-CL yang keras inilah yang dapat membentuk alias disesuaikan dengan kelengkungan kornea dan uku kelengkungan kornea menjadi lebih rata sehingga ran kelainan refraksi pemakai, sehingga nantinya benar dapat mengatasi Astigmatisme atau yang sering disebut mata silinder. – benar pas dan nyaman digunakan. Sebelum memesan RGP – CL perlu terlebih dulu dilakukan pengukuran Astigmatisme merupakan kelainan refraksi mata beberapa parameter lensa kontak antara lain Base dimana sinar yang masuk ke dalam bola mata dibias curve, yaitu kelengkungan kornea pasien, Power atau kan pada beberapa titik di retina sehingga menghasil ukuran kelainan refraksi mata pasien dan posisi serta kan bayangan yang buram bagi penderitanya. Gejala kedudukan lensa tersebut di kornea. Pengukuran untuk Astigmatisme antara lain mata buram melihat jauh, pemesanan RGP - CL ini dilakukan oleh dokter ahli mata melihat benda seperti berbayang atau dobel dan ka yang berpengalaman dalam hal lensa kontak. dang melihat garis lurus menjadi bengkok atau miring. Cara pemakaian, penyimpanan dan pembersihan Sakit kepala terutama di daerah atas alis dan mata terasa cepat lelah juga merupakan salah satu gejala Astigmatisme. Mengapa RGP – CL dapat mengatasi silinder? Pada RGP – CL bahan yang digunakan adalah fluorinated silicone acrylate, yang menyebabkan bentuk RGP-CL lebih keras daripada softlens tetapi tajam penglihatan yang dihasilkan jauh lebih baik. Bahan silicone yang ada pada RGP – CL memungkinkan pertukaran oksigen dari lensa ke kornea lebih baik daripada softlens, se hingga dapat memperkecil resiko infeksi kornea pada pemakaian jangka panjang.
RGP – CL hampir sama dengan softlens. Cara pemasan gan RGP – CL ke kornea tidak berbeda dengan Softlens, hanya untuk melepasnya kita memerlukan alat bantu pipet bervakum untuk dapat menarik lensa tersebut dari kornea. RGP –CL juga harus dilepas setiap malam untuk menghindarkan resiko infeksi walaupun resikonya lebih kecil daripada softlens. Sebelum disimpan dalam tempatnya RGP – CL dicuci dulu dengan sabun khusus untuk menghilangkan minyak dan kotoran di lensa tersebut. Sebelum dan sesudah memakai atau melepas RGP – CL kita harus mencuci tangan terlebih dahulu dan mengelapnya dengan tissue bersih hingga kering. Jangan menyimpan dan mencuci lensa kontak anda dengan air karena air merupakan media yang potensial untuk berkembangnya parasit yang sering menimbulkan infeksi kornea pada pemakai lensa kontak. Rigid Gas Permeable Contact lens dapat secara op timal digunakan hingga 2 -3 tahun bahkan lebih, apa bila tidak terjadi perubahan ukuran maupun masalah pada lensa tersebut. Hal ini secara ekonomis lebih menguntungkan dibandingkan dengan softlens yang perlu penggantian secara rutin baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam meng gunakan RGP – CL ini adalah perlunya adaptasi saat memakai lensa kontak ini. Hal ini disebabkan karena bentuknya yang keras yang akan mengganjal saat pertama kali dipakai, sehingga pemakaian lensa ini dilakukan secara bertahap untuk mencapai kenya manan pemakaian. Hari pertama pemakaian cukup selama 1 jam dan diselingi istirahat, dan keesokan harinya lama pemakaiannya dapat ditingkatkan setiap hari sampai mata dapat beradaptasi dengan baik. Pada umumnya pasien akan merasa nyaman setelah 1 minggu pemakaian. Selain mengatasi mata silinder, RGP –CL merupa kan pilihan terapi bagi penderita kelainan refraksi di mana ukuran antara kedua mata berbeda jauh, yang disebut dengan anisometropia. Selain itu RGP – CL juga disarankan untuk anak – anak atau remaja yang memiliki minus atau plus yang tinggi yang ukurannya cenderung cepat bertambah. Pada beberapa studi penelitian disebutkan bahwa RGP – CL terbukti dapat menghambat penambahan minus dibandingkan dengan softlens. Lensa kontak ini akan membantu memper baiki penglihatan pada penderita kelainan refraksi yang dengan kacamata tajam penglihatannya tidak maksimal atau untuk pasien yang tidak suka berkacamata.
Courtesy of www.isec.my
12
Kuliner
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Ketongkol
Sarapan Kue Tradisional di Saga Merah Roof Top
Majukut Urap
Ingin mengenang masa lalu? Cobalah rasakan nikmatnya ketongkol majukut urap. Warung yang menjual makanan tradisional itu adalah Warung Buk Shintya, yang berlokasi di Banjar Tembau, Desa Marga, Kecamatan Marga- Tabanan. I Gusti Ayu Stiari adalah pedagang sekaligus pemilik warung yang selalu setia meladeni masyarakat Marga dengan menu ketongkolnya.
D
alam penyajiannya atau saat makan, tidak perlu pusing harus mengisi sayur atau lauk pauk. Cukup dengan membuka pembungkusnya lalu makan sudah pasti enak. Sebab, selain memiliki aroma yang khas, makanan milik masyarakat petani itu juga sangat gurih. Di
samping itu, ketongkol merupakan jenis makanan yang ramah lingkungan yang menggunakan bahan pembungkus dari daun. Memang, tidak gampang menemukan ketongkol. Selain rumit dalam membuatnya, bahan yang dipakai juga sudah semakin langka. Namun, di pinggir jalan Kota Desa Marga ada sebuah warung seder-
hana yang menjual jenis makanan tradisioal itu. Ketongkol disajikan dengan base gede (bumbu lengkap) bercampur ikan teri. Dilengkapi juga dengan jukut urab (sayur tradisional) dan telur rebus serta bawang goreng. Satu porsi dijual dengan harga Rp 5.000. Warung makanan tradisional ini sangat laris. Biasanya dibuka
Hangatkan Tenggorokan
Fasilitas yang disediakan hotel sangat menentu kan kepuasan konsumen. Selain itu, fasilitas juga harus didukung dengan kenyamanan dan keistimewaan. Hal inilah yang dilakukan Hotel Santika Seminyak dengan Saga Merah Roof Top.
D
mulai pukul 13.00 sampai pukul 15.00 wita. Walau demikian, terkadang ketongkol yang dijajakan itu habis sebelum waktunya karena ramai dibeli. Masyarakat lokal yang kurang bergairah makan biasanya menjadi pelanggannya. “Saya memiliki pelanggan dari luar Marga seperti dari Denpasar, Desa Kapal, Mengwi dan kelompok-kelompok bersepeda,” ucap Ayu Stiari. Awalnya, wanita kalem ini hanya menjual ketongkol dengan paduan tiga base (bumbu) yaitu sambel sera (terasi), sambel gerang
(teri) dan sambal manis. Kini, setelah memiliki pelanggan yang banyak, ia melengkapi dagangannya dengan ayam betutu, ayam sisit, ayam kare, nasi campur, nasi kuning dan berbagai jajan Bali. Ketongkol sangat identik dengan Hari Raya Nyepi karena menjadi makanan keluarga pada saat melakukan tapa brata (salah satunya puasa) di hari raya suci itu. Selain lembut, ketongkol juga tahan lama alias tidak gampang basi. Orang yang giginya lemah atau tidak memiliki gigi gampang mengonsumsinya.
dengan Bubuh Men Tasik
Bubuh Be Siap Maudus
Jika Anda berwisata ke Monumen Pahlawan Candi Margarana, objek Wisata Alas Kedaton atau ke Jatiluwih lewat Desa Marga, cobalah mampir ke Warung Men Tasik. Warung sederhana yang hanya menggunakan meja ini menyajikan makanan tradisional berupa bubuh (bubur). Dalam penyajiannya, bubuh dilengkapi dengan be siap maudus (daging ayam yang dimasak secara tradisional). Lokasinya berada di Desa Marga tepatnya di pusat Kota Kecamatan Marga atau sebelum di sebelah utara Kantor Pos. Sebelumnya ia berjualan di Banjar Lebah atau sebelah selatan Pura Pusertasik. Warung Men Tasik berdiri berjejer dengan warungwarung lain di kota kecamatan itu. Sebagai ciri, adanya banyak orang yang berdiri dan duduk ngantre di warung itu.
Bubuh Men Tasik sangat enak dan khas. Bumbunya terasa pas, sehingga sekali mencicipi pasti dibuat ketagihan. Dalam satu porsi berisi bubuh, basa nyuh, basa lalah, jukut urap dan be siap maudus. Akan menjadi lebih mantap jika ditambah krupuk atau rempeyek (camilan tradisional Bali). Dalam penyajiannya sangat ramah lingkungan yaitu menggunakan piring yang memakai alas daun pisang. Selain masyarakat lokal, keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal di Bali juga sering datang menikmati bubuh olahannya, bahkan ada yang sudah menjadi langganan. Tak terkecuali wisatawan asing yang diantar oleh guide dan travel juga menyantapnya. Wajar, bubuh be siap maudus yang dijajakan mulai pukul 13.00 wita itu dalam 2 sampai 3 jam sudah habis. “Saya tak pernah berjualan
sampai sore,” kata Ni Wayan Tasik. Masyarakat lokal banyak yang sengaja datang hanya untuk membeli bubuh. Alasannya untuk menghangatkan tenggorokan, apalagi bagi masyarakat yang sedang flu atau sakit lainnya. Pelanggannya kebanyakan dari Denpasar, yang merupakan para pengusaha. “Masyarakat di luar desa Marga juga banyak yang membelinya, sehingga kami sering menutup warung lebih awal,” ucapnya. Wayan Tasik merupakan pedagang generasi kedua. Ia melanjutkan dagangan ibunya (Men Tasik) yang sudah almarhum. Semua resep, baik bumbu dan cara pengolahan yang khas diwarisinya, sehingga pelanggan ibunya tetap mau datang. “Syukurnya saya bisa mengolah seperti ibu dulu,” ungkapnya. Selain meladeni para pelanggan setianya, Wayan Tasik juga pernah diundang pengelola hotel di kawasan Kuta untuk menjajakan bubuh be siap maudus kepada para tamu hotel. Pernah juga menyiapkan bubuh be siap maudus khusus bagi karyawan hotel pada sebuah perayaan hari raya suci. Juga sering diundang untuk meladeni acara resepsi. “Memang ada banyak hotel yang menawari untuk menjual bubuh di hotel, tapi saya menolaknya. Kasihan pelangan disini kecewa,” ujarnya. Jika sebelumnya ia hanya menjual bubuh saja, kini dilengkapi dengan beraneka jenis minuman, camilan dan kue-kue. –Budarsana
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
ari areal Roof Top, tamu bisa menyaksikan pemandangan wilayah Seminyak dan sekitarnya. Di pagi hari, tamu bisa menyaksikan matahari yang terbit di ufuk Timur sedangkan di senja hari bisa menyaksikan matahari tenggelam di ufuk Barat. “Kehadiran Saga Merah memang menjadi keistimewaan kami. Roof top ini bukan hanya untuk tempat makan tetapi bisa untuk beraneka kegiatan, misal-
nya acara talkshow, ulang tahun, arisan, wedding party, bahkan candle light dinner,” ungkap Kd. Dwi Yanni, Sales Manager Hotel Santika Seminyak. Pe r e m p u a n y a n g a k r a b disapa Angel ini menambahkan ruangan bertema classic colonial ini juga memiliki kolam renang yang bisa menambah suasana makin istimewa. Selama soft opening ini konsumen juga bisa mendapatkan diskon 10%. Sementara itu I Gusti Ngurah Rai, Assistant FB Manager men-
gatakan roof top ini berkapasitas 140-150 tempat duduk. “Keistimewaan yang kami tawarkan adalah breakfast yang menyajikan kue-kue tradisional baik dari Bali maupun luar Bali. Jamu juga ada. Ini yang membuat kami berbeda dengan hotel lain. Kami ingin mengusung tema budaya nusantara melalui kuliner yang disajikan untuk tamu,” ujarnya seraya menyebut kue kelepon, bubur sumsum, kolak ubi, dan bubur injin sebagai sajian spesial. Selain kue tradisional, menu sarapan yang standar disiapkan antara lain aneka bubur, soto, aneka olahan telur, menu nusantara hingga menu western. Lengkapnya sajian ini membuat hotel bintang tiga ini serasa hotel bintang lima. Waktu breakfast mulai pukul 06.00-10.30 sangat fleksibel.
Chinesse Food
ati Nikm Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
Dapatkan free ximilu setiap pembelanjaan Rp 50.000 ke atas
Nasi Cap Cay
iah Murah Mer & Bersih
Serabut Ice Cream
Berlaku mulai 1 s.d. 30 November 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Bahan: 1 ekor : bebek muda, potong potong menurut selera 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 2 batang : serai, memarkan 3 lembar : daun jeruk, buang tangkainya 2 sdm : kecap manis Gula, garam, kaldu bubuk, minyak goreng secukupnya. Sambal Pencit: 7 buah : bawang merah, cincang halus 3 siung : bawang putih, cincang halus 3 buah : cabe merah besar, cincang kasar 7 buah : cabe rawit, cincang halus 3 sdm : air jeruk nipis 1 sdt : terasi, haluskan 2 buah : mangga mangkal, potong korek api Daun kemangi, gula, garam, mi nyak goreng secukupnya
Roof top untuk candle light dinner
Cuaca cerah dinikmati dari roof top
Tradisional stall yang menyajikan kue-kue tradisional
Sarwan
13
Tamu masih diberi kesempatan untuk jika melewati waktu pukul 10.30. Namun, setelah itu pihak FB akan mengubah set up menjadi tempat lunch ala carte. Pukul 15.00-17.00 jadwal afternoon tea sembari menyaksikan pemandangan Seminyak dan sekitarnya. Pukul 17.00-19.00 saatnya happy
hour untuk beverage. Beli satu gratis satu. Hotel yang dipimpin General Manager Sang N. Gunarta ini juga menawarkan pool package. Bagi yang tidak menginap tetapi ingin berenang bisa mendapatkan minuman dan snack. Harga mulai Rp 125 ribu. –Ngurah Budi
Bebek Panggang Sambal Pencit Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 4 butir : kemiri sangrai 1 ruas : jari jahe 1 ruas : jari kunyit bakar 1 sdt : ketumbar
Cara Membuat: - Tumis bumbu halus, serai, daun jeruk, lengkuas hingga harum, lalu masukkan potongan bebek, tuangkan air, aduk-aduk rata, masukkan gula, kaldu bubuk, masak dengan api sedang hingga bebek matang dan lunak. Ang-
kat dan tiriskan. - Panaskan panci anti lengket, olesi dengan margarin, lalu panggang bebek sebentar sambil diolesi dengan kecap manis. Bolak-balik bebek, angkat, lalu siap untuk disajikan dengan nasi dan sambal pencit. Cara Membuat Sambal Pencit: - Panaskan minyak, tumis irisan bawang merah, bawang putih, irisan cabe merah dan cabe rawit hingga harum. Lalu masukkan air jeruk nipis, terasi, mangga, gula dan garam, aduk-aduk merata, angkat.
Kuah Asang Rusuk Bahan: 500 gr 700 ml 3 buah 2 buah 3 buah 9 buah 4 buah 4 buah 1 buah 50 gr 2 ruas
: iga sapi, potongpotong menurut selera : air : cabe merah besar, buang bijinya, iris korek api : cabe hijau besar, buang bijinya, iris korek api : cabe merah besar, iris serong : cabe rawit, cincang kasar : blimbing wuluh, potong dadu : tomat sedang, potong dadu : bawang pre, potong serong : daun blimbing muda, bersihkan : jari jahe, memarkan
2 buah : batang serai, memarkan 3 lbr : daun jeruk 1 sdt : lada ikat kemangi, petik daunnya, buang tangkainya Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Rebus iga sapi sampai mendidih, lalu buang airnya. Rebus ulang iga sapi bersama air 700 ml hingga lunak, masukkan jahe, serai, daun jeruk, irisan cabe merah besar, cabe hijau, cabe rawit dan semua bahan lainnya, lalu masak hingga bumbu meresap dan mendidih. - Masukkan daun kemangi dan daun belimbing muda dan iris daun bawang, masak sebentar. - Siap untuk disajikan.
12
Kuliner
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Ketongkol
Sarapan Kue Tradisional di Saga Merah Roof Top
Majukut Urap
Ingin mengenang masa lalu? Cobalah rasakan nikmatnya ketongkol majukut urap. Warung yang menjual makanan tradisional itu adalah Warung Buk Shintya, yang berlokasi di Banjar Tembau, Desa Marga, Kecamatan Marga- Tabanan. I Gusti Ayu Stiari adalah pedagang sekaligus pemilik warung yang selalu setia meladeni masyarakat Marga dengan menu ketongkolnya.
D
alam penyajiannya atau saat makan, tidak perlu pusing harus mengisi sayur atau lauk pauk. Cukup dengan membuka pembungkusnya lalu makan sudah pasti enak. Sebab, selain memiliki aroma yang khas, makanan milik masyarakat petani itu juga sangat gurih. Di
samping itu, ketongkol merupakan jenis makanan yang ramah lingkungan yang menggunakan bahan pembungkus dari daun. Memang, tidak gampang menemukan ketongkol. Selain rumit dalam membuatnya, bahan yang dipakai juga sudah semakin langka. Namun, di pinggir jalan Kota Desa Marga ada sebuah warung seder-
hana yang menjual jenis makanan tradisioal itu. Ketongkol disajikan dengan base gede (bumbu lengkap) bercampur ikan teri. Dilengkapi juga dengan jukut urab (sayur tradisional) dan telur rebus serta bawang goreng. Satu porsi dijual dengan harga Rp 5.000. Warung makanan tradisional ini sangat laris. Biasanya dibuka
Hangatkan Tenggorokan
Fasilitas yang disediakan hotel sangat menentu kan kepuasan konsumen. Selain itu, fasilitas juga harus didukung dengan kenyamanan dan keistimewaan. Hal inilah yang dilakukan Hotel Santika Seminyak dengan Saga Merah Roof Top.
D
mulai pukul 13.00 sampai pukul 15.00 wita. Walau demikian, terkadang ketongkol yang dijajakan itu habis sebelum waktunya karena ramai dibeli. Masyarakat lokal yang kurang bergairah makan biasanya menjadi pelanggannya. “Saya memiliki pelanggan dari luar Marga seperti dari Denpasar, Desa Kapal, Mengwi dan kelompok-kelompok bersepeda,” ucap Ayu Stiari. Awalnya, wanita kalem ini hanya menjual ketongkol dengan paduan tiga base (bumbu) yaitu sambel sera (terasi), sambel gerang
(teri) dan sambal manis. Kini, setelah memiliki pelanggan yang banyak, ia melengkapi dagangannya dengan ayam betutu, ayam sisit, ayam kare, nasi campur, nasi kuning dan berbagai jajan Bali. Ketongkol sangat identik dengan Hari Raya Nyepi karena menjadi makanan keluarga pada saat melakukan tapa brata (salah satunya puasa) di hari raya suci itu. Selain lembut, ketongkol juga tahan lama alias tidak gampang basi. Orang yang giginya lemah atau tidak memiliki gigi gampang mengonsumsinya.
dengan Bubuh Men Tasik
Bubuh Be Siap Maudus
Jika Anda berwisata ke Monumen Pahlawan Candi Margarana, objek Wisata Alas Kedaton atau ke Jatiluwih lewat Desa Marga, cobalah mampir ke Warung Men Tasik. Warung sederhana yang hanya menggunakan meja ini menyajikan makanan tradisional berupa bubuh (bubur). Dalam penyajiannya, bubuh dilengkapi dengan be siap maudus (daging ayam yang dimasak secara tradisional). Lokasinya berada di Desa Marga tepatnya di pusat Kota Kecamatan Marga atau sebelum di sebelah utara Kantor Pos. Sebelumnya ia berjualan di Banjar Lebah atau sebelah selatan Pura Pusertasik. Warung Men Tasik berdiri berjejer dengan warungwarung lain di kota kecamatan itu. Sebagai ciri, adanya banyak orang yang berdiri dan duduk ngantre di warung itu.
Bubuh Men Tasik sangat enak dan khas. Bumbunya terasa pas, sehingga sekali mencicipi pasti dibuat ketagihan. Dalam satu porsi berisi bubuh, basa nyuh, basa lalah, jukut urap dan be siap maudus. Akan menjadi lebih mantap jika ditambah krupuk atau rempeyek (camilan tradisional Bali). Dalam penyajiannya sangat ramah lingkungan yaitu menggunakan piring yang memakai alas daun pisang. Selain masyarakat lokal, keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal di Bali juga sering datang menikmati bubuh olahannya, bahkan ada yang sudah menjadi langganan. Tak terkecuali wisatawan asing yang diantar oleh guide dan travel juga menyantapnya. Wajar, bubuh be siap maudus yang dijajakan mulai pukul 13.00 wita itu dalam 2 sampai 3 jam sudah habis. “Saya tak pernah berjualan
sampai sore,” kata Ni Wayan Tasik. Masyarakat lokal banyak yang sengaja datang hanya untuk membeli bubuh. Alasannya untuk menghangatkan tenggorokan, apalagi bagi masyarakat yang sedang flu atau sakit lainnya. Pelanggannya kebanyakan dari Denpasar, yang merupakan para pengusaha. “Masyarakat di luar desa Marga juga banyak yang membelinya, sehingga kami sering menutup warung lebih awal,” ucapnya. Wayan Tasik merupakan pedagang generasi kedua. Ia melanjutkan dagangan ibunya (Men Tasik) yang sudah almarhum. Semua resep, baik bumbu dan cara pengolahan yang khas diwarisinya, sehingga pelanggan ibunya tetap mau datang. “Syukurnya saya bisa mengolah seperti ibu dulu,” ungkapnya. Selain meladeni para pelanggan setianya, Wayan Tasik juga pernah diundang pengelola hotel di kawasan Kuta untuk menjajakan bubuh be siap maudus kepada para tamu hotel. Pernah juga menyiapkan bubuh be siap maudus khusus bagi karyawan hotel pada sebuah perayaan hari raya suci. Juga sering diundang untuk meladeni acara resepsi. “Memang ada banyak hotel yang menawari untuk menjual bubuh di hotel, tapi saya menolaknya. Kasihan pelangan disini kecewa,” ujarnya. Jika sebelumnya ia hanya menjual bubuh saja, kini dilengkapi dengan beraneka jenis minuman, camilan dan kue-kue. –Budarsana
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
ari areal Roof Top, tamu bisa menyaksikan pemandangan wilayah Seminyak dan sekitarnya. Di pagi hari, tamu bisa menyaksikan matahari yang terbit di ufuk Timur sedangkan di senja hari bisa menyaksikan matahari tenggelam di ufuk Barat. “Kehadiran Saga Merah memang menjadi keistimewaan kami. Roof top ini bukan hanya untuk tempat makan tetapi bisa untuk beraneka kegiatan, misal-
nya acara talkshow, ulang tahun, arisan, wedding party, bahkan candle light dinner,” ungkap Kd. Dwi Yanni, Sales Manager Hotel Santika Seminyak. Pe r e m p u a n y a n g a k r a b disapa Angel ini menambahkan ruangan bertema classic colonial ini juga memiliki kolam renang yang bisa menambah suasana makin istimewa. Selama soft opening ini konsumen juga bisa mendapatkan diskon 10%. Sementara itu I Gusti Ngurah Rai, Assistant FB Manager men-
gatakan roof top ini berkapasitas 140-150 tempat duduk. “Keistimewaan yang kami tawarkan adalah breakfast yang menyajikan kue-kue tradisional baik dari Bali maupun luar Bali. Jamu juga ada. Ini yang membuat kami berbeda dengan hotel lain. Kami ingin mengusung tema budaya nusantara melalui kuliner yang disajikan untuk tamu,” ujarnya seraya menyebut kue kelepon, bubur sumsum, kolak ubi, dan bubur injin sebagai sajian spesial. Selain kue tradisional, menu sarapan yang standar disiapkan antara lain aneka bubur, soto, aneka olahan telur, menu nusantara hingga menu western. Lengkapnya sajian ini membuat hotel bintang tiga ini serasa hotel bintang lima. Waktu breakfast mulai pukul 06.00-10.30 sangat fleksibel.
Chinesse Food
ati Nikm Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
Dapatkan free ximilu setiap pembelanjaan Rp 50.000 ke atas
Nasi Cap Cay
iah Murah Mer & Bersih
Serabut Ice Cream
Berlaku mulai 1 s.d. 30 November 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Bahan: 1 ekor : bebek muda, potong potong menurut selera 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 2 batang : serai, memarkan 3 lembar : daun jeruk, buang tangkainya 2 sdm : kecap manis Gula, garam, kaldu bubuk, minyak goreng secukupnya. Sambal Pencit: 7 buah : bawang merah, cincang halus 3 siung : bawang putih, cincang halus 3 buah : cabe merah besar, cincang kasar 7 buah : cabe rawit, cincang halus 3 sdm : air jeruk nipis 1 sdt : terasi, haluskan 2 buah : mangga mangkal, potong korek api Daun kemangi, gula, garam, mi nyak goreng secukupnya
Roof top untuk candle light dinner
Cuaca cerah dinikmati dari roof top
Tradisional stall yang menyajikan kue-kue tradisional
Sarwan
13
Tamu masih diberi kesempatan untuk jika melewati waktu pukul 10.30. Namun, setelah itu pihak FB akan mengubah set up menjadi tempat lunch ala carte. Pukul 15.00-17.00 jadwal afternoon tea sembari menyaksikan pemandangan Seminyak dan sekitarnya. Pukul 17.00-19.00 saatnya happy
hour untuk beverage. Beli satu gratis satu. Hotel yang dipimpin General Manager Sang N. Gunarta ini juga menawarkan pool package. Bagi yang tidak menginap tetapi ingin berenang bisa mendapatkan minuman dan snack. Harga mulai Rp 125 ribu. –Ngurah Budi
Bebek Panggang Sambal Pencit Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 4 butir : kemiri sangrai 1 ruas : jari jahe 1 ruas : jari kunyit bakar 1 sdt : ketumbar
Cara Membuat: - Tumis bumbu halus, serai, daun jeruk, lengkuas hingga harum, lalu masukkan potongan bebek, tuangkan air, aduk-aduk rata, masukkan gula, kaldu bubuk, masak dengan api sedang hingga bebek matang dan lunak. Ang-
kat dan tiriskan. - Panaskan panci anti lengket, olesi dengan margarin, lalu panggang bebek sebentar sambil diolesi dengan kecap manis. Bolak-balik bebek, angkat, lalu siap untuk disajikan dengan nasi dan sambal pencit. Cara Membuat Sambal Pencit: - Panaskan minyak, tumis irisan bawang merah, bawang putih, irisan cabe merah dan cabe rawit hingga harum. Lalu masukkan air jeruk nipis, terasi, mangga, gula dan garam, aduk-aduk merata, angkat.
Kuah Asang Rusuk Bahan: 500 gr 700 ml 3 buah 2 buah 3 buah 9 buah 4 buah 4 buah 1 buah 50 gr 2 ruas
: iga sapi, potongpotong menurut selera : air : cabe merah besar, buang bijinya, iris korek api : cabe hijau besar, buang bijinya, iris korek api : cabe merah besar, iris serong : cabe rawit, cincang kasar : blimbing wuluh, potong dadu : tomat sedang, potong dadu : bawang pre, potong serong : daun blimbing muda, bersihkan : jari jahe, memarkan
2 buah : batang serai, memarkan 3 lbr : daun jeruk 1 sdt : lada ikat kemangi, petik daunnya, buang tangkainya Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Rebus iga sapi sampai mendidih, lalu buang airnya. Rebus ulang iga sapi bersama air 700 ml hingga lunak, masukkan jahe, serai, daun jeruk, irisan cabe merah besar, cabe hijau, cabe rawit dan semua bahan lainnya, lalu masak hingga bumbu meresap dan mendidih. - Masukkan daun kemangi dan daun belimbing muda dan iris daun bawang, masak sebentar. - Siap untuk disajikan.
14
Jelita
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Kecantikan yang Terpancar dari Dalam Selama ini sering kita sering mendengar saran untuk membeli produk atau alat kosmetik yang dapat dipakai untuk jangka panjang. Misalnya membeli alat perawatan untuk manikur dan pedikur, produk untuk rambut yang dapat digunakan sendiri di rumah. Masih banyak lagi langkah yang dapat dilakukan demi dapat menghemat anggaran, karena semuanya cukup di lakukan sendiri di rumah. dilakukannya di dalam ru mah saja, sekitar 15 – 30 menit.Tidak tanggungtanggung gerakannya pun diciptakannya sendiri, yang merupakan modi vikasi hasil olah pikirannya dari berbagai VCD yang pernah ditontonnya. Ia pun tak sungkan memperagakan beberapa gerakan yang selama ini rutin dilakukannya bersa Bintang Mira Swan Dewi ma-sama para staf Bali enarkah kita bisa tampil batiku. “Ada empat jenis gerakan, cantik setiap hari tanpa dimana setiap gerakan memiliki sebutan harus mengeluarkan tersendiri. Mulai dari gerakan cantik, biaya yang mahal. Ba gerakan sehat, gerakan kaya dan gaimana agar setiap orang, terutama gerakan baik hati. Dengan melaku perempuan tetap bisa tampil meme kannya secara rutin, hitungan 2 x 8 sona tanpa perlu mengeluarkan banyak masing-masing 4 kali, gerakan ini sangat anggaran. Itulah topik yang dibahas menunjang penampilan lebih bugar dan dalam sebuah Talk Show “Cantik Tidak wajah pun menjadi segar,” lanjutnya. Perlu Mahal” yang berlangsung pada Hal lain yang dilakukan Bintang Sabtu (14/10) di Auditorium Perdiknas, Mira agar bisa berpenampilan yang Jalan Tukad Yeh Aya, Denpasar. segar dan memancarkan kecantikan Talk Show dengan misi sosial ini, dari dalam, adalah sejak sekitar tahun menghadirkan desainer papan atas 2007, dirinya berupaya memilih berada Bali, Bintang Mira dan make up artis diantara orang-orang yang memberi (MUA) senior Bali Swan Dewi. Topik kannya lingkungan yang baik. Mereka seputar kecantikan yang mereka yang mau berbagi dan bersahabat. sampaikan terlihat lebih menekankan “Seperti semua yang hadir tentang kecantikan yang terpancar dari di ruangan ini, siap hari dalam atau inner beauty , namun tetap pasti tidak pernah lupa memerlukan dukungan kecantikan dari untuk berbuat baik. Selalu luar yang dilakukan dengan biaya yang semangat berbagi dengan tidak mahal. cinta kasih setiap harinya,” Bintang Mira dalam acara yang katanya dan menyebutkan dipenuhi oleh perempuan –perem Ade Rai termasuk salah puan yang siap menolong sesama ini, seorang sosok yang sukses mengatakan, tidak ada kecantikan yang dan baik hati. diperoleh dengan instan. Ada langkah Selain langkah yang su atau proses yang mesti dilakukan. Ia dah dilakukannya tersebut, pun dengan terbuka mencontohkan satu lagi kunci wajah ber apa yang pernah dialaminya dan apa sihnya, yakni Bintang Mira yang dilakukannya selama ini. tidak sungkan untuk me Ia tampil dengan tubuh proporsion minta maaf pada staf atau al dan wajah yang selalu segar. Namun, pegawainya sekalipun jika semuanya tidak diperoleh begitu saja. memang ia melakukan hal Maka ia pun dengan terbuka mema yang kurang berkenan. parkan bahwa dirinya dahulu pernah memiliki berat badan yang berlebih. JADI DIRI SENDIRI Pernah pula melakukan diet yang salah. Merias wajah atau Tetapi, dengan kesabaran dan dan make up sendiri seperti tekad dalam perjalanannya ia berhasil nya perlu bagi perempuan melakukan diet sehat. Terlebih setelah pada umumnya baik itu bertemu dan melakukan komunikasi ibu rumah tangga atau dengan Ade Rai, Bintang Mira sukses pun perempuan bekerja. menata pola makannya. “Ketika itu diet Apalagi untuk merias yang saya lakukan bukan untuk kurus, wajah sehari-hari cukup tapi untuk bugar, ” tegasnya. berdandan secara praktis Bagi seseorang yang ingin memiliki dan simpel, cukup dengan tubuh yang langsing, menurunkan berat memoleskan bedak dan badan sama seperti sebuah pelajaran lipstick. Termasuk jika tibayang sulit sekali untuk diselesaikan. tiba ada acara mendesak Apalagi jika puluhan resep diet telah yang mengharuskan tampil dicoba dan tidak berhasil. Disinilah kata beda, juga bisa melakukan Bintang Mira diperlukan untuk tidak nya, tanpa harus ke salon. cepat putus asa. Dengan begitu, biaya pun Dikatakan oleh pemilik usaha menjadi lebih hemat. Balibatiku ini, saat menjaga pola makan, Swan Dewi yang diakuinya sangat memerlukan motivasi juga pemilik New Melati, yang tinggi, agar semua berjalan dengan sempat menyampaikan baik. Selain langkah tersebut , Bintang akan lebih baik jika para Mira melengkapinya dengan mengelola perempuan belajar keter pemikirannya, melalui upaya menam ampilan untuk perawatan bah wawasan. Ia wewajibkan dirinya dan merias diri sendiri. melahap buku-buku orang sukses yang Sebab nantinya dengan mampu memotivasi dalam berbagai hal terus mengasahnya agar di kehidupan ini. mendapatkan hasil lebih Begitu juga untuk urusan yang baik dan pastinya akan memerlukan pembakaran kalori, semua menekan pengeluaran.
B
Disamping itu jika memang suatu saat tidak ada waktu lagi ke salon, dengan kemampuan merias wajah atau make up sendiri, tentu akan sangat membantu menyelasaikan masalah. Swan Dewi juga mengatakan kini jenis kosmetik semakin banyak dan terus mengeluarkan produk barunya. Namun, dengan mengetahui jenis kulit maka lebih mudah memilih produk yang sesuai kondisi bukan karena ikut-ikutan teman atau karena tergoda merek tertentu. Selain itu, katanyua perhati kan pula jenis kulit kemudian belilah produk kecantikan yang sesuai jenis kulit wajah. Sebab kebutuhan setiap orang akan berbeda. “Jangan tergoda karena merek atau harga tapi pilihlah yang cocok,” tandas Dewi yang pada acara itu juga sempat membagikan tips –tips make up dan menata rambut yang simpel. Make up, lanjutnya hanya sebagai pelengkap saja, yang sesungguhnya adalah kecantikan yang memancar dari dalam. Kalaupun menggunakan make up, tidak perlu berlebihan melainkan se suai dengan karakter. “Tidak menirukan gaya orang lain ,” katanya sembari me nambahkan selain belajar katerampilan
Bugar
Sebagian peserta talk show
Heny Santi mengatakan sependapat dengan Bintang Mira dan Swan Dewi. Selain kita memang sebaiknya menjaga pola makan bukan hanya demi pe nampilan tapi juga kesehatan, begitu juga kita mesti teliti dalam memi lih produk kecantikan untuk wajah. “Misalnya dengan melihat komposisi bahannya dan pastikan tidak ada yang berbahaya untuk wajah. Kita juga tidak lupa mengecek tanggal kadaluarsa yang tertera di produk dan pastikan produk yang akan kita beli sudah mendapat izin dari BPOM sehingga keamanannya terjamin,” katanya. Begitu juga yang dikatakan pe serta lainnya Dewi Su arjani, jika ingin hemat sebenarnya, berbagai perawatan kecantikan seperti merias wajah, manikur-pedikur, creambath hingga mandi lulur bisa dilakukan sendiri di rumah tanpa harus ke salon. “Cukuplah kita ke salon untuk potong rambut, karena sulit di lakukan sendiri,” pung kasnya. – Sri Ardhini
11
LENSA KONTAK RIGID GAS PERMEABLE UNTUK ATASI MATA SILINDER dr. Ariesanti Tri Handayani,SpM(K) Dokter Spesialis Mata Siloam Hospitals Bali
merias wajah, yang tidak kalah penting atau malah menjadi hal paling utama yang menentukan daya tarik seorang perempuan adalah menjadi dirinya sendiri atau be your self. Riasan juga dikatakannya bukan berarti sekadar memulaskan perona atau yang lainnya ke wajah. Sebelum mulai mendandani wajah, sangat pent ing lagi untuk mengenali dulu warna kulit, bentuk wajah dan kepribadian atau karakter diri. Biasanya rata-tara seseorang harus mencoba berkali-kali merias diri untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Salah seorang peserta talk show,
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Selama ini kita cukup Selain bahan pem bentuknya, ukuran mengenal istilah softlens, RGP – CL juga ber yaitu suatu lensa kon beda dengan softlens. tak lunak yang diletakkan Softlens berukuran di depan kornea untuk lebih besar dari kornea membantu memperbaiki tetapi RGP-CL diam tajam penglihatan pada eternya lebih kecil dan penderita kelainan refraksi masih dapat bergerak seperti mata minus atau apabila kita berkedip plus. Softlens sangatlah atau melirik karena lunak sehingga nyaman adanya lapisan airmata digunakan karena mengi di antara kornea dan kuti kelengkungan kornea. lensa kontak tersebut. Namun hal ini merupa Lapisan airmata ini kan salah satu kelemahan memiliki kekuatan re softlens karena bentuknya fraksi sehingga mem yang lunak tersebut tidak pengaruhi ukuran RGP dapat mengoreksi gang – CL yang akan dipak guan mata silinder yang ai. Selain itu lapisan air cukup besar. mata ini juga menjaga Tak banyak orang tahu kornea tetap basah bahwa jenis lensa kontak sehingga RGP – CL tidak hanya softlens tetapi masih menjadi pilihan ada juga lensa kontak yang untuk pasien dengan bentuknya lebih keras dan Sindroma Mata Kering menggunakan bahan yang atau Dry Eye Syndrome, berbeda dengan softlens, dr. Ariesanti Tri Handayani,SpM(K) yang merupakan kon yang dahulu disebut de tra indikasi untuk pemakaian sofltens. ngan hardlens, atau saat ini kita kenal dengan sebutan Apabila softlens dibuat secara massal, tidak demikian Rigid Gas Permeable Contact Lens (RGP-CL). Bahan dengan RGP - CL. Lensa ini dibuat secara customized RGP-CL yang keras inilah yang dapat membentuk alias disesuaikan dengan kelengkungan kornea dan uku kelengkungan kornea menjadi lebih rata sehingga ran kelainan refraksi pemakai, sehingga nantinya benar dapat mengatasi Astigmatisme atau yang sering disebut mata silinder. – benar pas dan nyaman digunakan. Sebelum memesan RGP – CL perlu terlebih dulu dilakukan pengukuran Astigmatisme merupakan kelainan refraksi mata beberapa parameter lensa kontak antara lain Base dimana sinar yang masuk ke dalam bola mata dibias curve, yaitu kelengkungan kornea pasien, Power atau kan pada beberapa titik di retina sehingga menghasil ukuran kelainan refraksi mata pasien dan posisi serta kan bayangan yang buram bagi penderitanya. Gejala kedudukan lensa tersebut di kornea. Pengukuran untuk Astigmatisme antara lain mata buram melihat jauh, pemesanan RGP - CL ini dilakukan oleh dokter ahli mata melihat benda seperti berbayang atau dobel dan ka yang berpengalaman dalam hal lensa kontak. dang melihat garis lurus menjadi bengkok atau miring. Cara pemakaian, penyimpanan dan pembersihan Sakit kepala terutama di daerah atas alis dan mata terasa cepat lelah juga merupakan salah satu gejala Astigmatisme. Mengapa RGP – CL dapat mengatasi silinder? Pada RGP – CL bahan yang digunakan adalah fluorinated silicone acrylate, yang menyebabkan bentuk RGP-CL lebih keras daripada softlens tetapi tajam penglihatan yang dihasilkan jauh lebih baik. Bahan silicone yang ada pada RGP – CL memungkinkan pertukaran oksigen dari lensa ke kornea lebih baik daripada softlens, se hingga dapat memperkecil resiko infeksi kornea pada pemakaian jangka panjang.
RGP – CL hampir sama dengan softlens. Cara pemasan gan RGP – CL ke kornea tidak berbeda dengan Softlens, hanya untuk melepasnya kita memerlukan alat bantu pipet bervakum untuk dapat menarik lensa tersebut dari kornea. RGP –CL juga harus dilepas setiap malam untuk menghindarkan resiko infeksi walaupun resikonya lebih kecil daripada softlens. Sebelum disimpan dalam tempatnya RGP – CL dicuci dulu dengan sabun khusus untuk menghilangkan minyak dan kotoran di lensa tersebut. Sebelum dan sesudah memakai atau melepas RGP – CL kita harus mencuci tangan terlebih dahulu dan mengelapnya dengan tissue bersih hingga kering. Jangan menyimpan dan mencuci lensa kontak anda dengan air karena air merupakan media yang potensial untuk berkembangnya parasit yang sering menimbulkan infeksi kornea pada pemakai lensa kontak. Rigid Gas Permeable Contact lens dapat secara op timal digunakan hingga 2 -3 tahun bahkan lebih, apa bila tidak terjadi perubahan ukuran maupun masalah pada lensa tersebut. Hal ini secara ekonomis lebih menguntungkan dibandingkan dengan softlens yang perlu penggantian secara rutin baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam meng gunakan RGP – CL ini adalah perlunya adaptasi saat memakai lensa kontak ini. Hal ini disebabkan karena bentuknya yang keras yang akan mengganjal saat pertama kali dipakai, sehingga pemakaian lensa ini dilakukan secara bertahap untuk mencapai kenya manan pemakaian. Hari pertama pemakaian cukup selama 1 jam dan diselingi istirahat, dan keesokan harinya lama pemakaiannya dapat ditingkatkan setiap hari sampai mata dapat beradaptasi dengan baik. Pada umumnya pasien akan merasa nyaman setelah 1 minggu pemakaian. Selain mengatasi mata silinder, RGP –CL merupa kan pilihan terapi bagi penderita kelainan refraksi di mana ukuran antara kedua mata berbeda jauh, yang disebut dengan anisometropia. Selain itu RGP – CL juga disarankan untuk anak – anak atau remaja yang memiliki minus atau plus yang tinggi yang ukurannya cenderung cepat bertambah. Pada beberapa studi penelitian disebutkan bahwa RGP – CL terbukti dapat menghambat penambahan minus dibandingkan dengan softlens. Lensa kontak ini akan membantu memper baiki penglihatan pada penderita kelainan refraksi yang dengan kacamata tajam penglihatannya tidak maksimal atau untuk pasien yang tidak suka berkacamata.
Courtesy of www.isec.my
10
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Bakteri Penting untuk Jaga Kesehatan? Bakteri, mungkin di masyarakat awam masih dianggap sebagai pembawa penyakit. Namun sesungguhnya, tak semua bakteri merupakan sumber penyakit. Ada beberapa bakteri justru dibutuhkan tubuh manusia. Berikut penjelasan Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr. Sc., Ph.D., Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Udayana, yang juga Vice President, Indonesian Society for Lactic Acid Bacteria.
“B
akteri, salah satu kelom pok mikro organisme, adalah bagian yang tidak da pat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bakteri berperan penting dalam produksi bahan pangan seperti keju, yogurt, tape, sayur asin, kecap dsb. Bakteri juga menghuni seluruh permukaan tubuh kita, yang terdiri dari jutaan bakteri yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh dari serangan organisme penyebab penyakit, membantu tubuh menguraikan berbagai jenis makan yang kita makan dan bahkan memproduksi vita min K di dalam usus manusia. Secara alamiah, sejak manu sia dilahirkan sudah membawa bakteri pada saluran pencer naannya yang diduga diperoleh pada saat bayi melalui saluran kelahirannya (liang vagina si ibu) serta ditemukan juga pada placenta. Jadi, bakteri memang sejak awal kehidupan sudah menjadi teman baik manusia dan bagaimana proses sebe narnya bakteri pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia masih dalam perdebatan sengit oleh para ahli mikrobiologi sa luran pencernaan. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak jenis bakteri penghuni saluran pencernaan akibat konsumsi jenis makanan yang semakin kompleks. Pada saluran pencernaan bayi hanya didominasi oleh Bifidobacteria, Lactobacilli, Enteroccoccus, Bacteroides, Eschericia coli, dan selanjutnya semakin kompleks menjadi sekitar 300-500 spe sies dalam saluran pencernaan manusia dewasa. Komposisi bakteri saluran pencernaan manusia men jadi parameter penting dalam status kesehatan. Manakala keseimbangan bakteri saluran pencernaan berubah akibat pola makan dan atau terapi obatobatan, maka munculah ber bagai penyakit, seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes, obesitas, berbagai jenis kanker saluran pencer naan, dan sebagainya. Sehingga, para ahli mulai mengetahui bahwa memelihara komposisi dan keseimbangan bakteri salu ran pencernaan manusia, adalah
faktor penting dalam menjaga kesehatan. “Bertolak dari inilah diperkenalkan Probiotik yang oleh WHO/FAO didefinisikan sebagai bakteri hidup yang ke tika dikonsumsi dalam keadaaan yang cukup akan mempengaruhi kesehatan hos-nya,” ungkap Doktor Mikrobiologi Terapan dan Peneliti Probiotik dan Bak teri saluran pencernaan ini. Bakteri yang umum dipergu
Bifidobacterium adalah yang paling populer dipergunakan sebagai probiotik dan ditam bahkan pada berbagai jenis yogurt dan susu fromula yang beredar secara komersial. SUSU MENGANDUNG BAKTERI? Aplikasi probiotik, juga su dah banyak dilakukan pada bayi dengan tujuan mempercepat re-
makan spesifik sehingga bakteri menguntungkan tersebut cepat berkembang biak dalam saluran pencernaan. Makanan untuk bakteri ini dikenal dengan istilah Prebiotik. Jenis prebi otik antara lain GOS (galacto oligoschharide), TOS (trans oligosacchraride), Inulin, FOS (fructo oligosaccharide). Prebi otik ini juga banyak diaplikasi kan pada susu formula sebagai
health.kompas.com
nakan sebagai probiotik, yang beredar di pasar saat ini adalah golongan bakteri asam laktat (bakteri penghasil asam laktat) yang paling umum terdapat pada susu yang asam seperti yoghurt, kefir, keju, dadih, susu kuda sumbawa, serta makanan terfermentasi seperti tape, dan asinan bogor. Jenis bakteri yang paling umum dipergunakan sebagai probiotik adalah Lactobacillus (seperti Lactobacillus casei Shirota (bakteri yakult), Lacto bacillus rhamnosus, Lactobacil lus acidophilus, Lactobacillus gasseri, Lactobcillus reuteri, Lactobacillus bulgaricus (bak teri pada yogurt), dll); golongan Bifidobacterium (seperti Bifido bacterium breve, Bifidobacte rium longum, Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium lactis, Bifidobacterium catenulatum, dll). Bifidobacterium adalah bakteri penting dalam saluran pencernaan bayi yang diberi air susu ibu. Lactococcus (seperti Lactococcu lactis, Lactococcus cremoris, bakteri ini paling ban yak pada keju dan kefir). Kelompok Lactobacillus dan
covery (menumbuhkan) bakteri menguntungkan pada saluran pencernaan bayi, seperti pada anak yang lahir caesar. Karena terbukti anak dengan kelahiran caesar pada saluran pencer naannya mengandung jenis Bifidobacterium (Bifidus) lebih sedikit dibandingkan dengan anak lahir normal. Demikian juga pada anak yang diberikan ASI dibandingkan dengan anak yang diberikan susu formula. Bi fidus memegang peran penting dalam kesehatan bayi, sehingga anak yang diberikan ASI dan la hir normal, dari hasil penelitian, mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik dari pada anak yang lahir caesar dan kurang mengonsumsi ASI. Dengan pengetahuan ini, sekarang banyak susu yang ditambahkan bakteri probi otik, seperti Bifidobacteriaum dan atau Lactobacillus dengan harapan sekaligus memberikan probiotik kepada bayi. Produk ini populer dengan nama susu probiotik. Seiring kemajuan iptek, ternyata bakteri mengun tungkan pada saluran pencer naan dapat diberikan jenis
susu-prebiotik. Dan gabungan Probiotik dan Prebiotik dikenal dengan Synbiotic, seperti pada susu formula dengan FOSbifidobacteria dsbnya.
Mitos
Style
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Modis dan Segar Gaya pakaian kasual endek kini makin banyak pilihan nya. Apakah itu dress, blus dipadukan dengan kulot, celana atau rok. Semua dapat disesuaikan dengan se lera dan gaya pemakainya. Seperti yang ditampilkan Tokoh pekan ini.
Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr. Sc., Ph.D.
Probiotik memberikan dampak tidak langsung dalam meningkatkan kesehatan manu sia. Karena peranannya sebagai salah satu komponen integral dalam ribuan jenis konsorsium bakteri pada saluran pencer naan manusia, maka probiotik diduga memberikan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri menyehatkan dalam tubuh yang mempengaruhi jalur metabolisme global tubuh. Se hingga efek tidak langsung pro biotik seperti mempengaruhi sistem imun manusia sehingga meningkatkan kekebalan tubuh, menghasilkan hasil metabolisme seperti asam organik rantai pendek yang mempengaruhi metabolisme empedu, lemak dan kolesterol tubuh, meng hambat pertumbuhan bakteri patogen yang masuk ke dalam tubuh bersama dengan makan atau minuman, mempengaruhi integritas dan permeabilitas saluran pencernaan, dan mem pengaruhi ekpresi berbagai gen pada tubuh manusia. “Mengingat bakteri saluran pencernaan memegang peranan penting terhadap kesehatan, mari galakkan konsumsi pangan terfermentasi tradisinal (tempe, tape, susu asam). Pupuklah bak teri saluran pencernaan Anda dengan konsumsi sayur dan buah (sumber serat), kurangan konsumsi lemak jenuh dan pro tein yeng berlebihan dan hindari stres,” tandasnya. –Inten Indrawati
Mesin Cuci dari Kaca Tempered
Terinspirasi dari design rumah yang modern dan minimalis ditambah dengan keunggulannya yang telah dipercaya masyarakat Indonesia pada kaca tempered yang membalut kulkas Belleza, PT Hartono Istana Teknologi dengan brand produknya yang ber nama Polytron belum lama ini mengadopsi kaca tempered pada mesin cuci. Produk teranyar di jajaran mesin cuci ini merupakan perpaduan teknologi dan design yang sempurna. Kaca tempered yang kuatnya telah teruji 5 kali lebih kuat dari kaca biasa kini di aplikasikan dan menyelimuti mesin cuci Twin Tube terbaru PWM 70 Series Primadona Samba Chrystaline. Santo Kadarusman, Public Relations dan Marketing Event Manager mengatakan, merupakan inovasi mesin cuci dua tabung dengan Glass Door Finishing per tama di Indonesia, dengan luxurious finishing sangat cocok bagi Anda yang detail terhadap interior design minimalis yang mewah dan elegan. Keunggulannya, motor penggerak dengan teknologi pulsator yang bertenaga dan mampu menghasilkan putaran air yang kuat dan merata sehingga pakaian bersih sempurna dari kotoran-kotoran tanpa merusak serat pakaian. -rls
A
palagi saat ini, motif endek terus berkembang dan makin banyak digunakan untuk mengisi kegiatan panggung fashion di Indonesia. Hal ini,
pulalah yang mendorong Tabloid Tokoh mengadakan lomba “Fashion Show Busana Casual” bertemakan “Touch of Endek”, beberapa waktu lalu. Busana kasual berbahan endek ini
lebih lagi digemari remaja yang aktif dan energik. Endek menjadi pilihan busana yang cukup menarik untuk sehari-hari, dalam berbagai suasana dan kegiatan. Dengan desain yang trendi mampu membalut pemakainya tampil ka sual namun modis dan segar. Selain bahan katun yang me mang nyaman, kini endek, seba gai salah satu produk identitas Bali di dunia fashion ini ber tambah populer, baik menjadi bahan utama maupun padupa dannya. – Sri Ardhini
15
16
Edukasi
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
SMITH College
Penting Belajar Bahasa Asing Sejak Dini Kebutuhan pendidikan semakin meningkat, terutama di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Pemenuhan kebutuhan pendidikan baik formal maupun nonformal sangat dibutuhkan karena hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM Indonesia. Pendidikan nonformal/luar sekolah memiliki peran yang tak kalah penting. Pendidikan ini berfungsi membantu sang anak didik untuk memaksimalkan potensinya yang mungkin belum seluruhnya bisa diperoleh melalui jenjang pendidikan formal.
S
MITH College hadir di Kota Gianyar, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ingin turut serta memajukan pendidikan anakanak di Kota Gianyar dan sekitarnya. Bidang pendidikan yang diselenggarakan; kursus bahasa asing, bimbingan belajar dan bimbingan baca tulis
hitung (calistung). Direktur SMITH College Pande Putu Agus Eka Pertama, AK, MAcc. menuturkan, pada awalnya lembaga yang ia dirikan tahun 2010 ini fokus di bahasa asing dengan segmentasi pasar pada anak-anak. “Karena menurut kami, dengan menguasai bahasa asing (Inggris), orang Bali bisa hidup di Bali
Guru dan staf SMITH College
yang merupakan daerah pariwisata. Karena itu, belajar bahasa asing harus dari kecil agar tata bahasanya terlatih, dan mainset otomatis juga terlatih,” ujarnya. SMITH College yang kini memiliki 200 anak didik ini ditunjang dengan fasilitas audio-video, perpustakaan, dan diajar oleh guru-guru berpengalaman. Dalam satu kelas maksimal diikuti 10 anak didik agar lebih efektif. “Kapan saja anak-anak bisa masuk (mulai bimbingan). Karena kami memakai sistem placement test untuk menentukan si anak masuk ke level mana. Setelah itu, kapan pun bimbingan dimulai, tak masalah,” ujar Manager English Course I Wayan Sutantra, S.S. ini. Yang paling penting dari semua itu, dikatakan Pande Agus adalah belajar harus menyenangkan (fun learning). Karena dengan begitu, apapun yang diajarkan akan bisa diterima dengan baik. Untuk itu, khususnya di kelas Bahasa Inggris diterapkan beberapa kegiatan, seperti; Movie Programs, Listening Practices, Classroom English Games, Public English, Wall Magazines, English Corner, dan Outing Class. “Outing Class ini dilaksanakan 6 bulan sekali. Anak-anak diajak ke tempat-tempat wisata, belajar sambil bermain, dan juga siswa diajak untuk saling mengenal antarsiswa,” jelas Pande Agus. Selain itu, sebagai tahap evaluasi sekaligus menguji
9
Semua Karena Peran 3 Tangan
Suasana belajar di SMITH College
mental mereka, di akhir tahun ajaran, SMITH College mengadakan berbagai kompetisi, seperti story telling untuk bahasa inggris, lomba MIPA, menggambar dan mewarnai dll. “Respons masyarakat terhadap keberadaan lembaga kami cukup bagus. Karena itu tahun depan kami akan membuka kelas Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, ESP (English for
specific purposes) seperti bahasa Inggris untuk perhotelan & Restaurant, Guiding dan persiapan berangkat ke kapal pesiar. Prinsipnya, kami melihat kebutuhan pasar agar nanti generasi muda bisa bersaing. Yang paling penting adalah bahasa, karena bahasa adalah alat komunikasi. Dari bahasalah semuanya bisa dilakukan,” tandas Pande Agus. –ten
Outing class
SMITH College
Jalan Dharma Giri No. 99X Buruan, Gianyar-Bali. Tlp/faks: 0361-8958235
Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air dan dikelilingi oleh daratan. Kebanyakan danau berada di ketinggian yang lebih atas. Biasanya danau dikeliling gunung atau bukit. Hal ini membuat pemandangan danau menjadi indah. Di Bali, ada empat danau, Batur (Bangli), Beratan (Tabanan), Buyan (Buleleng), dan Tamblingan (Buleleng).
D
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Beberapa waktu lalu Tokoh sempat bertemu dengan Angga, salah seorang anggota Band XXX, yang juga dikenal memiliki Vijaya Store dengan produk yang sangat kental menghadirkan budaya Bali. Namun, pertemuan kali ini jadi berbeda sebab Angga baru saja selesai mengikuti program Indonesia China Youth Exchange Program, dan bersedia berkisah tentang pengalamannya.
Pesona Dua Danau “Bertetangga”
ari keempat danau ini, Beratan, Buyan dan dan Tamblingan “bertetangga”. Lokasi Buyan dan Tamblingan lebih dekat lagi dan dipisahkan perbukitan. Jika melintasi jalan raya Munduk menuju Seririt akan terlihat hamparan pepohonan yang memisahkan kedua danau ini. Danau Buyan berada di desa Pancasari, Buleleng sedangkan Tamblingan masuk wilayah desa Munduk, Buleleng. Pemandangan di kedua danau ini hampir mirip. Danau dikeliling kawasan perbukitan. Air danau yang kadang terlihat hijau kadang biru berpadu dengan hijaunya pepohonan. Namun, yang membuat miris adalah air danau terus mengalami penyusutan.
Dara
Pendangkalan yang paling jelas terlihat di Danau Buyan. Walaupun air danau mengalami pendangkalan, namun hal ini tidak mengurangi minat orang untuk berkunjung ke danau. Berfoto di tepian danau menjadi agenda wajib. Apalagi foto sembari beraksi seperti nelayan sedang menarik pedau (sampan). Atau, hanya sekadar duduk di ujung sampan. Gede Adhyasa dan Wayan Putra, dua warga Denpasar yang menyempatkan diri berkunjung ke kedua danau ini memanfaatkan kesempatan untuk berfoto. Mereka juga menjadikan cabang-cabang kayu tumbang sebagai latar untuk berfoto. Tak ketinggalan dermaga kayu di tepian danau Tamblingan. “Kesannya klasik kalau berfoto di cabang kayu di tepian danau. Tadi kami sudah berfoto di pedau. Banyak angle
Suasana danau Tamblingan
foto menarik di sini,” ujar Putra di tepian Danau Tamblingan. Sembari mencari lokasi yang bagus, mereka juga berbincang dengan nelayan yang mencari ikan di danau Tamblingan. Ternyata danau ini memiliki banyak ikan. Namun, cara mendapatkan ikan hanya boleh dengan memancing dan menjala. Di Danau Buyan, keduanya kembali berfoto. Dermaga di danau ini terbuat dari beton sehingga memudahkan mereka mendapatkan angle foto. Putra malah ikut naik sampan dan menikmati suasana danau. Hujan yang turun saat mereka berada di Danau Buyan tak menyurutkan niat untuk menikmati pemandangan alam. “Denpasar jarang hujan. Malah di Buyan hujan deras. Ini anugerah Tuhan,” ujar Adhyasa sembari membungkus kameranya. –Ngurah Budi
Suasana danau Buyan
bagi saya untuk mundur. Sudah terlanjur basah,” katanya lagi. Angga mengatakan mungkin karena ia hanya berfokus pada proses dan tidak memikirkan hasil, makanya merasa tanpa beban dalam melewati tahapan seleksi berikutnya. Seringkali, ketika ia merasa sangat lelah, yang bisa dilakukannya hanyalah tersenyum kemudian menyebut nama Tuhan. Apakah itu mengucapkan Om Namah Shivaya, Hare Khrisna, Gayatri Mantram, atau seringkali hanya mengguman, terima kasih Tuhan dan Leluhur. Menurut Angga juga hal ini terbukti sangat ampuh. Banyak hal terasa mudah dan lapang. Dan yang membuatnya benar-benar tidak percaya, setelah proses seleksi berakhir adalah, saat diumumkan Angga menjadi peringkat pertama seleksi Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada.
A
ngga mengatakan semuanya berawal dari ketika ia mengikuti seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2015, yang diselenggarakan oleh Kemenpora melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali. Dimana proses seleksi dilaksanakan dengan bantuan para alumni program PPAN yang tergabung dalam organisasi Purna Caraka Muda Indonesia Provinsi Bali. Dalam proses seleksi itu, kata Angga ia menjadi benar-benar menyadari bahwa ada 3 tangan yang berperan dalam hidup ini yaitu; tanda tangan, maksudnya ada usaha dan upaya yang dilakukannya; kemudian campur tangan, yaitu bantuan dari orang lain berupa masukan serta dukungan; dan yang paling berpengaruh adalah tangan Tuhan. “Tangan Tuhan saya katakan paling berpengaruh karena sebenarnya dalam seleksi tersebut saingan saya tidak bisa dikatakan ringan. Di atas kertas mereka jauh memiliki nilai di atas saya. Belum lagi fokus saya menjadi terbelah karena secara kebetulan di hari-hari yang sama saya juga mengikuti proses lomba wirausaha muda yang diselenggarakan oleh Kemenkop & UKM dengan bantuan Bali TV dan Bank Mandiri,” katanya. “Saya sangat menyadari, jika kita mengejar dua kelinci di saat yang bersamaan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Namun apa daya, saya sudah terlanjur lolos seleksi tahap awal di kedua lomba tersebut dan akan sulit
“Dan juga keesokan harinya saya ditelepon pihak BaliTV untuk menerima penghargaan sebagai 5 besar terbaik. Saya berhak akan bantuan dana penuh dari Kemenkop UKM sebanyak Rp 25juta . Sungguh satu minggu yang tak akan terlupakan seumur hidup saya,”katanya sumringah. Selanjutnya dengan penuh syukur dan Angga pun mengucap nama Tuhan sesering mungkin. “Benar kata orang, hal apapun menjadi mungkin jika kita berserah kepada-Nya. Sambil menunggu program berlangsung, saya pun mulai mempersiapkan diri sebaik
mungkin dengan bimbingan para alumni program di PCMI. Belajar tari, memperbaiki public speaking, meningkatkan bahasa Inggris, bahkan saya mengikuti kursus bahasa Prancis di Ubud yang jaraknya bisa dibilang tidak dekat dengan rumah saya,” papar pemilik Vijaya Store ini. Namun, dalam perjalanan tersebut, Tuhan kembali memainkan peranan-Nya. Tiba-tiba Angga mendapat kabar bahwa Program Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada (PPIK) tahun 2015 dibatalkan karena alasan yang belum jelas dari pihak Ke-
menpora. Seluruh peserta yang sudah lolos seleksi di realokasi ke program Pertukaran Pemuda Indonesia Tiongkok. “Sungguh hal yang kembali membuat terkejut. Tapi kembali saya sangat meyakini, semua sudah diatur oleh-Nya. Di saat teman-teman dari daerah lain curhat tentang kegalauan mereka karena program Kanada dibatalkan, mungkin saya orang pertama di grup sosmed peserta program PPIK yang mengatakan siap dan menerima jika memang harus dipindah ke China dengan waktu yang lebih singkat. --Radinia
Bangga jadi Orang Bali Awal September, adalah permulaan rangkaian program Pertukaran Pemuda Indonesia-Tiongkok yang diikutinya. Ia pun menjalani serangkaian pembekalan yang dikemas dalam bentuk pre-departure training selama 3 hari di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Baginya, mimpinya yang dulu kini menjadi nyata. Dalam proses pembekalan itu, Angga mendapatkan materi tentang kebijakan pemuda, peran pemuda dan kaitannya dengan Pembukaan UUD 1945, tentang kewajiban menjalankan post program activity (PPA) sebagai bagian dari community development hasil program pertukaran pemuda serta sosial entrepreneur. Akhirnya ia pun memulai programnya di Tiongkok. Di Beijing ia dijemput 4 orang oleh perwakilan dari All Youth China Federation yang menjadi host -nya Salah satu pengalaman menariknya saat di Beijing adalah pada hari ketiga di, dimana ia dan peserta lainnya selama seharian penuh diajak jalan-jalan menikmati Beijing dari pagi hingga malam. “Dua tempat yang sangat terkenal dan tak boleh terlewatkan jika menginjakan kaki di Beijing adalah The Great Wall (Tembok Besar
Cina) dan Forbidden City,” katanya dan mengatakan hari berikutnya di Beijing, Angga mengatakan menerima pembelajaran yang sebenarnya. Begitu juga hari-hari selanjutnya Angga mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran dari Tiongkok, termasuk mengunjungi Ningxia Museum. Berikutnya dari Tiongkok, mereka akan terbang menuju Fuzhou. “Saat melakukan proses check-in, saya mendapat masalah lagi, sama saat saya mengajukan visa ke Cina, nama di paspor tertulis Erlangga Bayu Rahmanda Putra, berbeda dengan nama di tiket saya yakni I Gusti Ngurah. Saya pun harus menjelaskan dengan bantuan penerjemah Mandarin bahwa nama I Gusti Ngurah itu adalah family name saya sebagai orang Bali dan disingkat menjadi I G.N. Lumayan menyita waktu namun tidak melunturkan kebanggaan saya sebagai orang Bali,” kisahnya Di antara berbagai kegiatan Angga dan rekan-rekannya juga sempat melakukan kunjungan ke Hua Qiao University. Di sini mereka melakukan forum diskusi dengan pihak kampus dan bertemu dengan mahasiswa lokal. “Di sana saya berkenalan dan banyak berbincang Andy, Heri, Refgy, mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Selain itu , kami berkesempatan mengunjungi Yayasan Anak Hujan, sebuah sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus terutama anak autis di Quan Zhou. Ketika tiba acara jamuan makam malam, kata Angga mereka menampilkan cultural performance untuk jamun makan sekaligus farewell party ini. “Di sini seluruh kontingen harus mengenakan pakaian adat daerahnya dan menjadi hal yang menarik bagi kami terutama bagi panitia lokal dari All China Youth Federation. Atas apa yang diterima dan dirasakan oleh Angga, sudah pasti katanya untuk semuanya ia bersyukur atas bantuan dan dukungan dari keluarganya, terutama kedua orangtuanya. “Mata saya pasti berkaca-kaca jika memikirkan apa yang telah mereka berikan untuk membantu saya,” ucapnya serius. -Radinia
8
Bunda & Ananda
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Baca Buku, Rangkum, dapat Hadiah
Membaca, menulis, dan berhitung (calistung) merupakan fondasi yang diberikan kepada anak-anak. Namun, seringkali calistung ini tidak diberikan secara intensif. Anak-anak hanya mendapatkan di sekolah. Seharusnya di rumah pun kegiatan ini dilanjutkan. Jangan sampai anak-anak malah lebih sibuk bermain games atau sibuk berkomentar di media sosial.
“B
erawal dari keprihatinan terhadap perkembangan media sosial yang begitu marak dan berdampak terhadap pola perilaku masyarakat. Masyarakat sekarang lebih menikmati dunia maya untuk eksistensi diri dibandingkan dengan menghabiskan waktu luang dengan membaca untuk mencari perkembangan kabar atau informasi terkini. Ini berdampak pada perilaku generasi baru untuk mengikuti perilaku seniornya. Keprihatinan terhadap generasi baru/generasi emas Indonesia ini yang menjadi titik berat perhatian kami,” ujar Ni Putu Suaryani, S.T., Ketua Yayasan Lentera Bhakti Nusantara saat berkunjung ke Redaksi Tokoh. Ia pun miris jika sejak baru lahir anak-anak sudah melihat pola kehidupan sosial masyarakat seperti sekarang ini. Apakah kita berdiam diri membiarkan Indonesia hancur karena kebodohan dimana saat itu kita sudah menjadi generasi lansia yang hanya bisa mengelus dada tanpa bisa berbuat apapun. “Dari keprihatinan inilah kami hadir ingin turut menjadi bagian dari perjuangan bangsa saat ini untuk mempersiapkan generasi baru Indonesia yang unggul, cerdas berkarakter. Walau hanya bermodalkan seman-
gat kami mencoba untuk membuat pola atau strategi agar masyarakat minimal muncul niat untuk membaca buku. Setelah itu kami dari yayasan mengolah niat tersebut menjadi sebuah kegiatan sehingga yang tadinya hanya sebatas niat berubah menjadi penasaran dan akhirnya mereka akan asyik dengan materi yang dibacanya dan pada akhirnya membaca menjadi sebuah kebiasaan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ani Wirasutha ini. Ia menyadari memang tidak mudah mengubah perilaku masyarakat seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan waktu, upaya dan usaha tanpa henti dan tak kenal lelah serta berkesinambungan untuk Indonesia masa depan. Ibarat menanam tanaman, harus menyiapkan bibit unggul dengan media yang baik sehingga tanaman tersebut akan tumbuh dengan sempurna dan memberikan manfaat untuk kehidupan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami menggandeng pemerintah, masyarakat, sekolah, dan pengusaha. Kami ingin aktivitas membaca menjadi sebuah kebiasaan yang dimulai dari rumah kemudian meluas ke sekolah dan masyarakat. Hal ini hasilnya tidak bisa instan tetapi nanti beberapa
Buat Buku sebelum Tamat
Kebiasaan membaca sangat mendukung kreativitas anak-anak. Selain mendapat pengetahuan, mereka bisa berkreasi dan menghasilkan sebuah karya. Hal inilah yang dilakukan siswa kelas 6 Cendekia Harapan Elementary School, Jimbaran. Dr. Lidia Sandra, M.Comp., Eng SC, Ketua Yayasan Griya Anak yang menaungi Sekolah Cendekia Harapan menuturkan sebelum tamat, siswa kelas 6 membuat buku. “Maret 2015 anak-anak meluncurkan buku “My Doodle Diary. Geography”. Salah satu modal untuk membuat buku adalah rajin membaca,” ujar perempuan yang juga dosen psikologi ini. Selain itu, siswa kelas 6 juga wajib membuat karya tulis sebelum tamat. Tahun ajaran 2015/2016 temanya Tokoh. Siswa boleh memilih tokoh yang pemikirannya ingin dikupas. Karya tulis itu berisi kritikan atau saran terhadap pemikiran tokoh. Untuk bisa mendapatkan karya tulis yang baik, siswa harus mencari berbagai referensi lalu membaca. –Ngurah Budi
Siswa harapan cendekia jimbaran
tahun kemudian ketika membaca menjadi sebuah hobi yang menyenangkan,” jelas ibu dua anak ini. BALI MEMBACA Ani bersama para kolega kemudian merancang sebuah pola awal untuk menjadikan membaca menjadi sebuah kegiatan menyenangkan. Masalah yang ada sekarang bahwa membaca buku adalah kegiatan yang menjemukan, berat dan sepertinya sangat terbebani apalagi dengan kondisi buku yang tebal dan tidak menarik. “Kami terinspirasi dari penjual mainan anak-anak di depan sekolah yang setiap hari kami lihat dimana terlihat anak-anak begitu antusias dan rasa ingin tahunya begitu besar terhadap salah satu mainan yang diinginkan. Anak-anak begitu antusias dan akhirnya membeli mainan yang sangat diinginkannya dan dari raut mukanya terlihat begitu puas dan bahagia. Dari sini kami memikirkan bahwa bagaimana caranya rasa senang, antusias dan penasaran itu kita pindahkan ke membaca. Tugas yang cukup berat tapi kami yakin bisa melakukannya
Ani Wirasutha
asalkan semua stakeholder bersinergi bersatu padu untuk mengawal gerakan “Bali Membaca untuk Gerakan Indonesia Membaca” yang dicanangkan 25 November 2015. Sasaran dari kegiatan ini menurut istri Agung Wirasutha ini adalah seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak sampai dewasa. Mengawali kegiatan Bali Membaca, mereka menyasar kepada anakanak usia 7-12 tahun dan dilakukan di luar jam sekolah mereka. Tujuannya adalah agar jam bermain anak bisa ditingkatkan kualitasnya yaitu belajar sambil bermain sehingga kegiatan-kegiatan negatif bisa dikurangi. Tiap anak yang membaca buku ditugaskan membuat rangkuman. Rangkuman ini dikumpulkan sekolah lalu penulisnya diberikan hadiah. Pemberian hadiah bekerja sama dengan stakeholder, misalnya dengan diskon pembelian minuman atau tiket arena rekreasi.
Sasaran berikutnya adalah membentuk kelompok belajar di masing-masing desa dengan pembentukan relawan Pemuda Peduli Membaca dimana pemuda pemuda inilah yang nantinya sebagai penggerak dan motivator generasi emas Indonesia untuk gemar membaca dan turut andil dalam mewujudkan generasi unggul, cerdas berkarakter. “Prinsip kami kalau sudah lingkungan diciptakan dengan membaca secara otomatis para junior akan mengikuti gerak langkah seniornya. Makin banyak orang yang terlibat dalam kegiatan membaca secara otomatis akan memberikan vibrasi bagi banyak orang untuk mengikuti trend membaca yang sedang bertumbuh dan berujung pada peningkatan budaya membaca bisa dipercepat,” tegas perempuan yang juga Komisioner KPI Bali ini. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit
Tokek yang suka mengoceh
Seekor tokek mengetuk pintu rumah Gajah. “Tokek, tokek, tokeeek…!” “Tidurlah, Tokek! Jangan mengganggu! Semua hewan sudah tidur,” seru Gajah. “Bagaimana aku bisa tidur? Setiap Made Taro kupejamkan mata, si Kunang-kunang mengelip-ngelipkan lampunya. Bukankah kau Kepala Desa? Laranglah dia, Gajah!” oceh Tokek. “Baiklah, besok kupanggil dia.” “Kunang-kunang! Hentikanlah perbuatanmu mengelip-ngelipkan lampu! Si Tokek susah tidur,” kata Gajah. “Kalau aku tidak mengelip-ngelipkan lampu, pasti banyak orang terpeleset, karena di jalan raya berserakan kotoran kerbau,” demikian Kunangkunang membela diri. “Bagus! Teruskanlah tindakan yang baik itu, Kunang-kunang!” kata Gajah. “Tokek, tokek, tokeeek…!” “Tidurlah, Tokek! Jangan mengganggu! Semua hewan sudah tidur,” seru Kepala Desa. “Bukankah kamu kusuruh melarang Kunangkunang mengelip-ngelipkan lampunya?” oceh Tokek. “Kunang-kunang mengelip-ngelipkan lampunya untuk penerangan jalan. Kamu tahu, di jalan raya banyak kotoran kerbau, sehingga orang-orang dapat menghindar.” “Kalau demikian, laranglah kerbau membuang
kotorannya di jalan raya!” oceh Tokek. Gajah, Kepala Desa itu harus menyelesaikan masalah itu dengan tuntas. Keesokan harinya ia mengusut si Kerbau. “Aku berak tidak di sembarang tempat, Gajah!” demikian Kerbau membela diri. “Aku hanya menimbuni lubang-lubang yang digenangi air oleh hujan. Apa yang terjadi kalau banyak orang terperosok jatuh ke lubang itu?” Gajah membenarkan tindakan si Kerbau. Ia segera memanggil hujan dan menjelaskan keluhan Tokek. “Aku sengaja menggenangi lubang dengan air. Di situlah nyamuk-nyamuk bertelur dan beranakpinak. Kalau tak ada nyamuk, apa yang dimakan oleh Tokek?” jawab Hujan. “Tokek, tokek, tokeeek …!” Tokek mengetuk pintu rumah Gajah dengan keras. “Lihat, Kepala Desa! Kunang-kunang masih saja mengerlip-ngerlipkan lampu. Tidakkah kau dapat menyelesaikan masalah ini?” “Sudah kutemukan masalahnya, Tokek!” jawab Gajah menggeram. “Kunang-kunang mengerlipngerlipkan lampu agar orang-orang tidak terpeleset. Kerbau membuang kotorannya untuk menimbuni lubang-lubang yang tergenang air hujan. Hujan menggenangi lubang dengan air, sehingga nyamuk-nyamuk bertelur dan beranak-pinak. Nah, pikirkanlah baik-baik, Tokek!” jawab Gajah lalu menutup pintu. Tokek yang suka mengoceh itu pulang dengan kecewa. Sebelum tidur, ia merenung. “Kalau tak ada nyamuk, apa yang kumakan?” “Tokek, tokek, tokeeek…!” Tokek pun tertidur lelap.
Griya
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
17
Berburu Kerajinan Kayu Bali Bali terkenal akan adat dan budayanya yang menjadi magnet bagi pariwisata Bali selama ini. Mereka yang berwisata ke Bali tentunya tak akan melewatkan memborong suvenir sebagai buah tangan. Pasar Sukawati menjadi salah satu tempat para wisatawan ini memburu berbagai macam suvenir yang umumnya merupakan hasil kerajinan tangan (handycraft).
M
eski menurut pengakuan salah seorang pedagang handycraft, Made Sukarti kunjungan ke Pasar Sukawati tak lagi seramai dulu dikarenakan kini telah menjamurnya keberadaan Pasar Oleh-oleh, ia dan suaminya Ketut Mulyana masih tetap melakoninya. Selain itu membuka lapak di Pasar Pagi Sukawati, pasutri ini juga membuka toko Merta Sari wood carving di Jalan Raya Sakah, Batuan, Sukawati,Gianyar-Bali.
Profesi ini sudah dilakoni pasutri tersebut sejak 15 tahun silam. Karena itu, mereka merasakan betul pergerakan pasar akan kebutuhan handycraft kayu ini. Di tokonya itu, mereka menawarkan berbagai kerajinan kayu, mulai dari topeng, patung, gantungan, hingga panil ukiran Bali. “Dulu patung abstrak ini paling ngetop, tapi sekarang tamu lebih banyak ke pasar oleh-oleh. Saat ini, panil bunga yang paling digemari tamu, terutama orang India,” ujar Sukarti. Wisatawan Jerman dikatakan-
nya lebih menyukai model patung-patung binatang. Bahkan sekarang ini persaingan pun semakin ketat karena menurut pengakuan seorang pelanggannya kepada Sukarti, kini banyak tamu yang mengambil handycraft kayu di Thailand, karena pengerjaannya memakai mesin yang otomatis harganya menjadi lebih murah. –Inten Indrawati
18
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Life
Kreasi
Jadikan Lagu Bali Tuan Rumah di Negeri Sendiri
S
alah satu artis yang termasuk baru adalah Yudia. Perempuan bernama lengkap Ni Made Yudiartini ini bersiap meluncurkan mini album di tahun baru 2016. Album berjudul “Rubah Penampilan” ini berisi lima lagu, “Pules Pedidi”, “Suudang Je Bli”, “Yen Mula Saja”, “Sing Taen Jumah”, dan “Rubah Penampilan”. Mini album ini diproduksi Harta Pro milik Dek Artha. Yudia menuturkan perjalanan hidupnya lumayan panjang sebelum menapaki dunia lagu pop Bali. “Dari kecil, saya sudah suka menyanyi. Sering ikut paduan suara. Saya belajar sendiri. Saya tidak fanatik soal genre music. Bagi saya yang penting lagu dan musik enak didengar,” ungkap perempuan kelahiran Perancak, Jembrana, 6 Oktober 1980 ini. Hobi menyanyi ini terus dikembangkan sampai ia bekerja di Denpasar. Ia kerap “ngamen” di restoran untuk mengasah mentalnya. Ternyata kemampuan bernyanyinya bisa makin baik dan ia menjadi lebih percaya diri. Tahun 2001, Yudia menikah dengan Made Wira Mulyawan, warga Br. Bersih, Desa Darmasaba, Badung. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai dua putra Made Adi Wira Septiawan dan Nyoman Purnamadita Wira Febriawan. Aktivitas menyanyinya sempat berhenti karena ia sibuk mengurus keluarga.
Suatu ketika, ada lomba desa yang salah satu penilaiannya simulasi. Dari sini, Yudia diminta bernyanyi. Sang suami yang bekerja di hotel memberikan dukungan. Ia pun mulai eksis lagi di dunia tarik suara. Keaktifannya tak hanya urusan menyanyi. “Saya mengajak anak-anak muda untuk membuat seka janger. Tujuan saya, kesenian tradisional jangan sampai punah. Dari latihan menjangeran saya bertemu Pak Ketut Sana. Beliaulah yang mengajarkan saya bernyanyi dan memberikan lagu “Pules Pedidi”. Lagu ini kemudian direkam tahun 2014 di studio Harta Pro. Selanjutnya Bli Dek Artha menawarkan saya untuk membuat mini album,” jelas Yudia. Sejak berkiprah di dunia tarik suara, Yudia harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengurus keluarga. Bahkan di rumah ia berjualan keperluan upacara. Jika ada job manggung, kadang suami yang mengantarkan. Baginya dukungan keluarga sangat membantu sehingga ia bisa total dalam berkiprah di dunia lagu pop Bali. “Ada suka-duka menjadi penyanyi. Saya bisa kenal banyak orang, bisa ikut paguyuban pecinta gending Bali, bahkan bisa saling motivasi dengan sesama penyanyi. Dukanya, kalau telat datang ke acara atau kalau tidak disiplin latihan. Suami saya se ring mengingatkan orang disiplin maju
Yudia
lebih maju. Orang disiplin itu selangkah lebih maju. Ini yang selalu menjadi pegangan buat saya,” tegasnya. Dukungan dari anak juga didapat kan karena anaknya cerita bangga mendengar lagu ibunya di putar di radio. Yudia juga mendapat dukungan dan pesan dari orangtuanya agar tidak sombong dan masih banyak hal yang harus dilakukan. Karena itulah ia selalu mengatur waktu kapan harus mengurus keluarga, kapan ngayah di banjar, dan kapan mangggung untuk acara on air maupun off air. Saat Festival Keluarga Tokoh 2015, Yudia merupakan salah satu pengisi acara. Ia menyanyikan lagu “Pules Pedidi” dan “Suudang Je Bli”. “Impian saya yang utama adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik tetapi hobi menyanyi tersalurkan. Dengan menjadi penyanyi lagu Bali, saya ingin ikut melestarikan budaya
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Berburu “Pria Gunung” demi Suami
Yudia
Kehadiran penyanyi-penyanyi pendatang baru di blantika musik dan lagu Bali membuat penggemar tidak perlu khawatir. Berbagai macam genre yang ditawarkan akan menambah daftar pilihan. Ini akan membuat musik Bali makin mendapat tempat di hati penggemar.
Story
Setelah empat tahun terbebas dari berbagai penyakit berat, seperti, lever akut, kolesterol akut hingga penyumbatan pembuluh darah, Muhammad Saleh hanya bisa bersyukur kepada yang Maha Kuasa, yang telah memberinya kesempatan hidup bahagia bersama istrinya, Sumiati dan dua anaknya, Nathea Citra Suri (22) dan Garis Merah Mahardika (17).
L
Yudia saat tampil di Festival Keluarga Tokoh 2015
Bali. Saya ingin lagu Bali menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bagi generasi muda, ayo tunjukkan bakat di berbagai bidang. Tunjukkan kreativi-
tas kalian. Bagi penggemar musik Bali, belilah album yang asli. Jangan beli bajakan,” harapnya. –Ngurah Budi
ebih dari dua puluh tahun lalu, tepatnya di tahun 1992, ketika ia merantau ke Mataram untuk menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Biologi di Universitas Mataram, Saleh pernah mengalami koma selama empat hari akibat penyakit lever akut yang dideritanya. Ia sempat dirawat cukup lama di rumah sakit di Mataram kala itu sampai akhirnya ia koma selama dua hari di rumah sakit di Mataram. Namun, karena ketiadaan biaya, ia pun dibawa untuk dirawat di kampung halamannya, Situbondo. Melihat kondisinya yang demikian parah keluarga besarnya pun telah pasrah. Semua bersera h diri
pada ketentuan Allah SWT. “Saking sudah tiada lagi harapan, sampai-sampai saya sudah dingajikan, seperti orang menghadapi kematian,” ungkapnya mengenang. Beruntung Saleh mendapatkan istri yang begitu sabar dan tabah menghadapi sakit yang dideritanya. Ketika menikahi Saleh, Sumiati sesungguhnya telah tahu bahwa suaminya itu menderita sakit yang parah. Apapun dilakukan oleh Sumiati untuk merawat suaminya ini. Dalam kondisi suaminya yang tak sadarkan diri waktu itu, Sumiati mendapatkan saran dari seorang Shin She untuk memberikan suaminya ramuan dari buah pria (pare) gunung. “Lima buah pria gunung yang berwarna hijau itu saya parut dan peras airnya. Lalu saya minumkan pada Mas Saleh,” katanya. Bagaikan mendapatkan mujizat, Saleh langsung tersadar setengah jam kemudian setelah ia koma selama empat hari. Dari sinilah bermula, Sumiati akhirnya menggunakan obat-obat herbal buatannya sendiri untuk merawat dan menyembuhkan suaminya. Ketiadaan biaya juga turut membuat Sumiati semakin rajin mempelajari khasiat-khasiat penting tumbuhan dari berbagai sumber. Tingginya biaya untuk merawat penyakit tersebut pada dokter spesialis penyakit dalam, membuat mereka berdua tidak sanggup untuk membiayainya. “Gaji kami waktu itu sangatlah kecil, sedangkan untuk biaya satu kali ke dokter spesialis penyakit dalam adalah Rp 500 ribu. Itu jumlah yang jauh lebih tinggi dari gaji kami berdua,” katanya. Mereka awalSumiati sedang meracik jamu herbal nya memang sem-
pat kebingungan untuk biaya berobat ini, karena penyakit yang diderita Saleh sebentar-sebentar kambuh dan Sumiati tidak tega melihat suaminya menderita. “Saya tidak tega melihatnya saat kambuh, wajah dan tubuhnya kuning semua, batuk parah. Makin keras batuknya dadanya akan memerah, jika batuk berkepanjangan merah itu akan terus tembus hingga ke punggungnya,” ujarnya. Saat kumat seperti ini, Saleh hanya bisa meringkuk menahan sakit. Ketika kumat, maka dengan susah payah Sumiati mencari dan memburu pria gunung sebagai obatnya. Tanaman ini memang tidak mudah didapatkan. Karena itu tiap kali mereka turun ke lapangan saat bekerja pada sebuah LSM di Mataram, yang utama mereka cari di daerah tempat yang mereka datangi khususnya daerah baru adalah pria gunung tersebut. Puncak sakit lever akut yang diderita oleh Saleh adalah di tahun 1993. Rajinnya Sumiati membuatkan obat herbal ini membuat penyakit Saleh perlahan-lahan namun pasti terus berkurang. Dengan takaran dan ukuran yang lama dipelajari oleh Sumiati, membuat suaminya itu terbebas dari penyakit lever. “Tidak boleh mengonsumsi dalam jumlah yang sembarang, melainkan ada takarannya,” ungkapnya. Atas nama cinta sang istri, Saleh pun terbebas dari penyakit yang menderanya. “Sampai saat ini, berdasarkan hasil check up, penyakit lever tersebut hilang dan tidak pernah kumat lagi,” ujar Sumiati. Belum selesai sampai di situ, Saleh juga mengidap penyakit kolestrol akut yang jauh di atas rata-rata normal. “Kalau kolestrolnya sedang naik, maka badan saya sampai-sampai tidak bisa bergerak,” kata Saleh. Ia juga pernah diserang penyakit penyumbatan pembuluh darah yang membuatnya sering pingsan mendadak. Sempat juga ia berobat ke dokter saraf. “Saat kambuh penyakit yang ini, dokter selalu menyutikkan obat di kepala saya,” ujar Saleh. Dokter saraf juga merujuknya untuk menjalani operasi kepala jika ingin sembuh. Biaya yang besar membuat mereka merasa tidak mampu untuk menjalani pengobatan ini. KELADI TIKUS Berbekal ilmu dan wawasan tentang tanaman obat dan khasiatnya, Sumiati kembali meracik jamu herbal
untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita suaminya. Inilah yang menjadi satu titik balik bagi Sumiati untuk terus mempelajari khasiat tanaman yang dapat menjadi obat herbal yang bebas bahan kimia. Ia rajin mengkliping koran, majalah, tulisan-tulisan dan lainnya yang membahas tentang tanaman obat dan khasiatnya. Jamu-jamu herbal yang diraciknya itulah yang membuat kingga kini, Saleh benar-benar sembuh dari berbagai sakit akut yang pernah dideritanya dan tidak pernah kumat lagi. “Tahun 2011, hasil check up Mas Saleh dinyatakan bersih dari penyakit-penyakit yang dideritanya. Normal semua,” kata Sumiati yang akhirnya menjadi peracik jamu
Jamu herbal yang dikemas untuk memudahkan saat diminum
herbal yang banyak dicari. Kisah sembuhnya Saleh dari berbagai penyakit berat yang dideritanya dan sembuh dengan jamu buatan istrinya, menyebar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya di tahun 2012, mulai banyak orang dengan penyakit-penyakit berat termasuk kanker ganas yang pernah merasakan khasiat jamu tersebut dan dapat sehat kembali. Bahkan menurut Sumiati, ada seorang perempuan dengan sakit kanker payudara yang luar biasa parah, datang padanya menjelang seminggu lagi akan menjalani operasi. Perempuan ini bahkan sempat “dipunggungi” oleh dokter yang menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan operasi. Sedangkan ia tidak ingin menjalani operasi tersebut.
7
Dengan keladi tikus, Sumiati mengobati kanker perempuan ini hingga akhirnya sembuh tanpa operasi. Memang cukup lama Sumiati mengobati kanker tersebut, sekitar delapan bulan. Dan selama itu, tiap kali diobati dan meminum jamu buatannya, meski perlahan-lahan, sakit itu menunjukkan perubahan yang sangat baik. Minggu pertama pengobatan perempuan ini merasakan lega dan nyaman. Minggu kedua ia sudah dapat menggunakan bra. Lalu tiga bulan kemudian terus mengecil karena sangat banyak darah yang terus keluar dari payudaranya. Begitu seterusnya. “Pengobatan herbal memang membutuhkan waktu yang lama untuk bereaksi karena jalannya material dari tumbuhan yang mengandung obat itu, secara alami,” katanya. Salah satu kekuatan jamu sebagai obat adalah mampu mendorong stamina tubuh lebih alami sehingga dapat dengan kuat melawan penyakit yang dalam tubuh. Sehingga jika tubuh kuat, maka akan mampu melawan penyakit itu sendiri, lanjutnya. Karena itulah, tiap kali ada pasien yang datang padanya, Sumiati selalu mengingatkan hal ini, bahwa pengobatan alternatif menggunakan jamu herbal ini tidak dapat bekerja instan. Tidak bisa sembuh segera melainkan bertahap karena kerja pengobatan ini alami. “Kalau mau sabar, mari saya obati,” katanya. Berbagai penyakit telah dapat diobati dengan jamu buatan Sumiati ini. Bahkan orang-orang dari luar Mataram yang mendapat cerita, banyak yang memesan jamu padanya. Sumiati secara rutin mengirimkan permintaan jamunya hingga ke Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Jakarta, Aceh, Yogyakarta, Bogor, Bandung, Jawa Timur, Madura, Malang dan kota-kota lainnya di Indonesia. Di tahun 2015 ini, lebih dari 300 pasien di berbagai daerah dan dengan berbagai penyakit yang telah dikirimi jamu buatannya. Bagi Sumiati, inilah hikmah dari derita sakit yang pernah dialami suaminya dulu, ia menjadi bisa membantu orang-orang yang sangat membutuhkan pengobatan bagi penyakitnya. -Naniek I. Taufan
6
Gusti Ayu Nyoman Armini, S.Pd.
Upacara tiap Hari Menjadi guru bukanlah cita-cita sulung dari 6 bersaudara ini. De ngan keterbatasan ekonomi yang dibesarkan orangtua petani, Gusti Ayu Nyoman Armini harus mengurungkan niatnya menjadi perawat. “Saya diarahkan menjadi guru. Dengan pertimbangan orangtua agar kami enam bersaudara semua mendapatkan pendidikan,” kisahnya.
P
ertimbangan tersebut masuk akal. Karena pada zaman itu, untuk menjadi guru, setelah menamatkan pendidikan di sekolah guru (SPG/TGA) yang setingkat SMA, sudah bisa langsung kerja honor dan setahun kemudian diangkat menjadi guru. Setelah diangkat menjadi guru, 1 Desember 1977, Armini berkomit men untuk menyenangi, mendalami dan mengabdi di profesi tersebut. Ia pertamakali mengabdi SDN 29 Den pasar (sekarang SDN 7 Pemecutan). Waktu itu gajinya Rp 16 ribu, senilai dengan beras 1 kwintal yang harganya sekitar Rp 12 ribu. Meski demikian, semangatnya tak pernah pupus. Un tuk menambah penghasilan, Armini nyambi berjualan. Setelah berkeluarga, istri Drs. Dewa Nyoman Linggita ini pun sempat berpindah-pindah tempat mengajar. “Saya cari sekolah yang ada mes-nya, karena saya tidak pu nya kendaraan,” ungkapnya. Dengan segala keterbatasan, semangat be lajar Armini terus meluap hingga ia berhasil meneruskan pendidikan S-1 Keguruan di IKIP Singaraja. Setelah 20 tahun mengabdi di SDN 8 Padang sambian, 11 Februari 2011, Armini
ditugaskan di SDN 2 Padangsambian dan langsung ditunjuk sebagai kepala sekolah. Hal pertama yang ia lakukan di sekolah ini adalah melakukan perubahan-perubahan secara sekala dan niskala. Digelar upacara Rsi Gana untuk menetralkan alam, metirtaya tra dengan para guru, baru kemudian mulai menata sekolah, kebun, dan mengikuti lomba-lomba. Hal tersebut dikatakannya wajib dilakukan agar dalam melaksanakan proses belajar mengajar didapatkan ketentraman jiwa, dan ditunjang dengan sua sana sekolah yang nyaman tentunya potensi-potensi anak akan semakin berkembang. Terbukti memang, dalam 5 tahun kepemimpinannya, SDN 2Padang sambian banyak meraih prestasi, baik dalam bidang akademik, seni maupun olahraga. Prestasi yang pal ing bergengsi adalah, belum lama ini salah seorang siswa atas nama Putu Agus Mahardika Putra berhasil meng gondol Juara 1 Kumite Perorangan di tingkat internasional dalam cabang olahraga Karate. Prestasi lain SD yang sudah terakreditasi A ini yang juga tak bisa dilihat sebelah mata, di antaranya juara Olimpiade IPA dan Matematika
Mozaik
Woman on Top
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
tingkat Bali-Lombok, Olimpiade IPS, Science Competition, Lomba Meng gambar, Lomba Sekolah Sehat, dsb. Dari puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan ini, perempuan kelahiran Tabanan 60 tahun silam ini mengamati karakter budi pekerti anak sekarang sangat jauh merosot dibandingkan anak-anak dulu. Anakanak dulu sangat menghormati guru nya bahkan terkesan takut sehingga menuruti apa nasihat guru. “Namun anak-anak sekarang, antara murid dan guru sudah tidak ada jarak, guru dianggap teman, bahkan mereka sering curhat ke gurunya. Tapi inilah perkembangan zaman yang teknologi sudah maju, kami para guru pun di tuntut bisa menempatkan diri kapan sebagai guru dan ada saatnya juga sebagai teman,” tuturnya. Meski demikian, Armini tak putus asa untuk tetap konsisten memberi
Gusti Ayu Nyoman Armini, S.Pd.
kan pendidikan karakter pada anakanak didiknya. Dimulai saat pukul 7.15, setiap hari anak-anak dikumpul kan di halaman untuk mengikuti upac
ara (bukan apel bendera lengkap) dan memberikan penghormatan kepada sang saka merah putih. Setelah itu, mereka diajak sembahyang bersama, dan setelah itu diisi dengan menyanyi lagu-lagu kebangsaan, lagu Bali, juga pencerahan-pencerahan bagaimana menjadi anak yang baik, dsb. Hal tersebut dilakukan, dikatakan Armini untuk menumbuhkan rasa nasionalisme anak, menanamkan rasa kebangsaan, rasa bangga dan memiliki terhadap tanah air yang kita cinta ini. Di detik-detik akhir masa tugasnya ini, Armini yang akan memasuki masa pensiun per 31 Desember 2015 ini berharap penerusnya nanti bisa mempertahankan potensi dan bakat anak-anak, bahkan terus dikembang kan. “Harapan saya tentunya SDN 2 Padangsambian akan semakin maju,” ucap Armini sembari mengatakan tanggal 1 Desember 2015, SDN 2 Padangsambian yang memiliki 486 siswa ini akan merayakan ultahnya yang ke-64. –Inten Indrawati
Harga Tetap, Ukuran Berubah Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sangat berpengaruh terhadap sektor industri. Termasuk industri rumahan yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri tempe.
S
Tak mau merugi, para pengu saha harus mengurangi ukuran tempe guna menyiasati supaya bisa terus beroperasi. Terus me lemahnya nilai tukar rupiah terh adap dolar AS menembus angka Rp 13 ribu lebih ternyata juga
dirasakan oleh para pengusaha tempe rumahan di kawasan Ke lurahan Brotonegaran, Ponorogo. “Kami terpaksa harus mengu rangi ukuran tempe agar tidak bangkrut. Ukuran kami kurangi, tapi harganya tetap, tidak kami
Wisata di Kebun Mangga
You Are Rewarded dalam seberapa cepat tujuan akan terca pai jika mereka benar-benar terinspirasi. Inspirasi bagi mereka adalah trigger untuk mempercepat materialisasi tujuan yang ingin mereka capai. Inspirasi memberi mereka peluang untuk menyelesaikan pekerjaan dan mencapai hasil yang sem purna. Diskusi ini membawa kesimpulan bahwa it is rewarding to inspire purposeful people. Pada sebuah corporate business review, salah seorang panelis melempar sebuah pertanyaan; “Apa yang membuat seorang eksekutif ini selalu mencapai angka (target) yang diberikan?”. Belum terjawab, panelis lain menguatkan dengan pernyataan “Yes, she always get what she wants”. Seorang wanita eksekutif muda yang begitu termo tivasi dan selalu punya tujuan yang harus ia capai dalam jangka waktu tertentu. Ada beberapa wanita eksekutif yang datang dengan motivasi tinggi setiap harinya da lam perusahaan ini. Namun sorotan selalu tertuju pada satu wanita yang tampaknya memiliki kelebihan lain yakni inter-personal skill dan komunikasi yang ia anggap sebagai reward untuk dirinya. MAKING TOUGH DECISION Ketika wanita eksekutif dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit, mereka cenderung mencari pandangan dari luar. Terkadang semakin banyak pandangan atau pendapat yang mereka dengar justru membuat analisa berubah warna menjadi abu-abu; grey area. Pada tahap ini tidak mudah untuk kembali membuat matriks
analisa untuk membedakan daftar pe mikiran orang lain atau memang hasil dari analisa mereka sendiri. Terkadang, kenya manan diskusi mereka dengan orang lain justru membuat mereka semakin percaya pada arahan orang lain yang menggiring mereka untuk mencapai keputusan atas kepentingan orang lain. Tanpa disadari. Making tough decision benar-benar menuntut mereka untuk berpikir lebih obyektif. Hal lain yang tidak relevan rupanya dengan tegas harus diparkir dengan baik agar tidak mengganggu proses pengambilan keputusan yang sulit. Akhirnya, bagi mere ka, hal fundamental yang mempengaruhi mereka membuat keputusan adalah nilaiValue determines what to decide. Thus, value is another reward. INSPIRE PURPOSEFUL PEOPLE Menjadi inspirasi selalu merupakan hal yang luar biasa. Apa yang terjadi apabila inspirasi itu didapat oleh mereka yang se lalu memahat tujuan dalam setiap rencana dan langkah yang mereka ambil. Inspiring purposeful people dalam buku John Baldoni – Lead with Puspose, menjelaskan lebih
EYES WIDE OPEN Duduk dengan pertimbangan untuk bisa selalu maju tentu menuntut wanita eksekutif untuk mampu melihat dengan jelas, terbuka, obyektif dan faktual. Istilah yang mereka bisa pilih adalah melihat dan menimbang dari helicopter view atau bird eye view. Kemampuan melihat menjadi indikator kuat dalam kedewasaan mere ka dalam mempertimbangkan rencana membangung ke depan. Eyes wide open menggiring mereka untuk terus mencari dan mendapatkan development feedback dari pihak-pihak yang mereka anggap berkomitmen memberi dukungan atas kemajuan mereka. Development feedback tidak berdiri sendiri. Di sampingnya ada clear & honest criticisms. Beberapa wanita eksekutif muda barang kali belum mampu untuk mendengar dan menerima kritiks dari performance mere ka. Namun banyak di antara mereka yang justru mencari clear & honest criticisms dari pihak yang mereka percaya dapat membantu mereka menaiki tangga karir/ bisnis dengan jelas dan tepat. Mereka juga percaya bahwa kemampuan dan kemauan
mereka untuk melihat dengan lebih jelas dan luas adalah reward bagi mereka. CREATING LASTING ENGAGEMENT Apa yang muncul di pikiran mereka pada saat bertemu pertama kali dengan pelanggan, atau seseorang yang berpo tensi menjadi teman? Bagi tipe wanita visual mereka memiliki ketertarikan dari sisi penampilan dan bahasa tubuh. Dua hal ini menjadi alasan kuat untuk mereka membangun kontak dan komunikasi yang lebih lama. Bagi tipe audio, mereka lebih tertarik dengan bahasa atau kemampuan linguistik lawan bicara yang kemudian menjadi alasan kuat bagi mereka untuk mendalami komunikasi hingga mereka mampu menciptakan hubungan positif jangka panjang. Pertanyaan yang kemungkinan akan muncul adalah apakah akan terjadi masalah dalam hubungan di atas? Sederhana saja, tentu akan ada communication gap. Ba gaimana mereka menjembatani communication gap yang terjadi? Wanita eksekutif yang memiliki communication maturity atau kedewasaan komunikasi akan segera mulai merubah padangan mereka dan dengan pro-active mengambil langkah untuk men jembatani hubungan dan komunikasi. Men ciptakan dan membuat hubungan positif yang berlangsung sangat lama/creating long lasting engagement bagi mereka adalah sebuah reward. Saya setuju bahwa semua wanita memiliki sisi positif yang kita bahas di atas, sehingga membuat saya pun begitu yakin bahwa they are rewarded!
19
K i a t P e n g u s a h a Te m p e
ejumlah pengusaha tempe di Kabupaten Ponorogo, terancam gulung tikar meny usul kenaikan harga kedelai impor di tingkat pengecer yang menem bus angka Rp 7.200 per kilogram.
Armini saat memberikan wejangan kepada anak-anak didiknya
Edisi 876/ 23 - 29 november 2015
Untuk menghilangkan penat selama sepekan kini tidak hanya pergi ke kolam renang atau ke tempat hiburan, tetapi bisa bersama keluarga berwisata ke kebun mangga. Apalagi saat musim mangga yang mulai bulan Oktober. Kebun percobaan dan pene
litian tanaman mangga di desa Gerongan kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur termasuk objek yang bisa dikun jungi. Anda bisa memettik buah mangga yang masak di pohon kemudian bisa di makan di lokasi. Untuk memberikan kenyamanan para pengunjung saat ini pihak
kebun masih belum memberikan fasilitas yang memadai, hanya tempat duduk yang ada di bawah pohon mangga Lahan yang di tanami mangga ini seluas 7.68 hektare yang ditanami aneka macam buah mangga hasil pene litian dari para ahli tanaman dari pertanian khusus buah mangga.
naikkan. Harga kedelai naik, dari Rp 6.300 menjadi Rp 7.200 per kilogramnya,” ujar Supri, salah satu pengusaha tempe. Menurut Supri, kenaikan harga kedelai saat ini cukup dirasakan pengaruhnya oleh para pengusaha Sakur, S.P., Kepala Kantor Percobaan Kraton Pasuruan Jatim mengatakan pihaknya hanya melakukan penelitian buah mangga. “Beraneka buah mangga kami coba di sini.mulai mangga golek, mangga gadung, arum manis dll,” katanya. Kebun mangga buka mulai pukul 08.00-16.00 pada hari kerja dan 07.00-14.00 pada hari Minggu. Bagi warga yang akan mem bawa hasil memetik mangga bisa menghubungi tukang kebun yang berada di lokasi kebun mangga. Mangga hasil penelitian di kebun Grati, Kraton dan Rem bang Pasuruan, Jawa Timur ini pernah ikut kontes mangga dunia. Hasilnya, juara 2 setelah India. “Sekarang kami lebih intensif mencoba varietas baru untuk mengawinkan mangga lokal dengan mangga luar negeri. Permintaan buah mangga setiap tahun meningkat dari luar nege ri,” tegas Sakur. -M. Sobari
tempe. Karena lonjakan harga kedelai saat ini lebih tinggi dari biasanya. Para pengusaha hanya dapat bertahan dengan kondisi yang ada, sambil terus meman tau pergerakan nilai tukar dolar AS yang tidak menguntungkan. “Harga kedelai sudah mulai mer angkak naik secara bertahap, dari Rp 6.300 hingga Rp 6.700 per kilogramnya. Kini melonjak men jadi Rp 7.200 per kilogramnya. Kami pasrah dan bertahan dengan kondisi seperti ini,” keluhnya. Para pengusaha tempe lainnya berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai. Tingginya harga kedelai cukup memberatkan, terlebih konsumsi tempe masyarakat Ponorogo cukup tinggi. Menurut dia, saat ini pelaku usaha tempe bingung setelah harga kedelai naik sehingga men gancam keberlangsungan usaha kecil itu. Saat ini produksi tempe telah berkurang sekitar 60 persen. Para pengusaha tempe di sini sejak dulu menggunakan kedelai impor dari Argentina dan Amerika kare na pasokan kedelai lokal relatif ter batas, selain kualitasnya di bawah kedelai impor. Kenaikkan harga kedelai membuat mereka men geluarkan modal untuk produksi dua kali lipat dari biasanya, semula untuk 60 kilogram kedelai, namun kini menjadi 32 kilogram. “Kami sangat terpukul dengan kenaikan kedelai karena keun tungan relatif kecil akibat biaya produksi cukup tinggi. Kebanyakan pengusaha di sini bermodal relatif kecil, sedangkan harga satuan tempe di pasaran tidak naik,” ung kapnya. -Dinar Putra Perdana
20
Nine
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Hak Perempuan dalam Empat Buku
Perhatian terhadap pelaku tindak pidana yang dilakukan perempuan, tampaknya menjadi kajian yang menarik bagi Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.Hum., sehingga melahirkan empat buah buku yang konsen bicara terhadap perlindungan hukum bagi perempuan pelaku tindak pidana, terutama saat menjalani seluruh proses hukum atas tindak pidana yang dilakukannya. Di antara tidak banyak yang membahas tentang persoalan pidana mati bagi perempuan hamil yang berhadapan dengan hukum, ada empat buku yang diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pencari keadilan untuk mewujudkan hak-hak asazi bagi perempuan.
E
sebagai pelaku juga perlu dilindungi dengan kekhususan yang ada dalam dirinya sebagai seorang perempuan,” ujarnya. Kekhususan yang dimaksud antara lain, kehamilan, melahirkan, menyusui dan lainnya. Menurutnya, dalam UU Nomor 2 PNPS tahun 1964, mengatur tentang eksekusi mati bagi wanita hamil pelaku tindak pidana, pada saat 40 hari setelah melahirkan. Hal ini tentu saja melanggar HAM dan melanggar hak anak untuk mendapatkan ASI dari sang ibu, juga si anak akan kehilangan haknya untuk diasuh oleh ibunya. Karena itu buku yang berjudul Pembaharuan Hukum Pidana Tentang Eksekusi Pidana Mati Perempuan Hamil -Pokok-Pokok Pikiran Revisi Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964, memberikan masukan
berdasarkan kajian yang dapat memberikan keadilan dan HAM dalam kebijakan hukum pidana mati di waktu mendatang. “Apapun kejahatannya UU ini khusunya pasal 7, harus dirubah demi kepentingan hak-hak anak. Saya menawarkan pelaksanaan hukuman mati tersebut setidaknya sampai anak sudah dapat memilih yang baik dan tidak baik, sehingga memahami bahwa apa yang dilakukan oleh ibunya tersebut salah atau benar di mata hukum. Menanti hingga anak dapat mandiri,” kata Rodliyah. Dalam buku ini, Rodliyah juga menawarkan bahwa jika selama menjalani hukuman perilakunya berubah dapat saja hukuman pidana mati diganti dengan yang hukuman lain.
Prof. Dr. Hj. Rodliyah, S.H., M.H.
–Naniek I. Taufan
Lindungi Perempuan Pelaku Tindak Pidana
Buku lain yang juga membahas tentang hak perempuan pelaku tindak pidana adalah dengan judul, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pelaku Tindak Pidana. Cara pandang terhadap perempuan yang selalu ada terhadap hal ini, menurut Rodliyah cenderung diskriminatif dan subordinat dalam segala wilayah pribadi maupun sosial. “Perempuan seolah berada pada titik nol yang kerap menjadi kelompok yang rentan jadi korban. Dan, apakah perempuan ini mendapatkan perlindungan selama menjalani proses peradilan secara khusus?” ungkapnya. Selama ini menurutnya, hak sebagai tersangka dan terdakwa memang didapatkan namun hak pada saat menjalani proses hukum, pada tingkat penyidikan, penuntutan dan lainnya masih kerap belum dilakukan dengan baik. Pentingnya perlindungan terhadap hak perempuan pelaku tindak pidana selama proses penegakan hukum ini, karena kejahatan yang dilakukan oleh perempuan bukan semata-mata ia sebagai pelaku melainkan juga sebagai korban. “Secara biologis, perempuan berbeda dengan laki-laki. Perempuan mengalami masa-masa sulit ketika hamil, menstruasi, melahirkan dan menyusui. Perubahan hormonal
perempuan juga tidak mengalami pelecehan seksual seperti yang banyak terjadi. Perlindungan terhadap pelaku tindak pidana bukan berarti perempuan tidak boleh dihukum, melainkan dalam perjalanan proses hukumnya perempuan harus dilindungi. “Penegakan hukum harus tetap dilakukan namun harus juga melindungi hak-hak perempuan selama proses hukum berlangsung karena semua warga negara memiliki hak yang sama di depan hukum,” katanya. -Naniek I. Taufan
Buku tentang perlindungan hukum bagi perempuan pelaku tindak pidana
saat melewati masa-masa ini bisa sangat mempengaruhi kejiwaannya. Cara berpikirnya (logika) kalah dari tindakannya. Desakan yang ada dalam tubuh wanita akan sangat mengganggu kestabilan cara berpikir dan tindakannya,” katanya. Hal ini dibuktikan Rodliyah ke-
tika melakukan penelitian pada LP Wanita Semarang yang rata-rata mengakui tindakan pidana yang dilakukannya itu terjadi saat terpidana dalam kondisi menstruasi. Karena itulah buku ini menulis tentang pentingnya perlindungan hukum bagi perempuan pelaku tindak pidana selama proses peradilan dengan
memperhatikan hal-hal khusus yang dialami perempuan tersebut. Dua buku lainnya juga membahas hal yang sama bahwa perlindungan hukum terhadap perempuan itu, menurut Rodliyah harus benar-benar dilakukan, agar tidak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Agar selama proses peradilan
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Ni Putu Supasti
P r o f . D r. H j . R o d l i y a h , S H . , M H u m
mpat buku yang bicara tentang hak perempuan dalam hukum, yang ditulis oleh Guru Besar Hukum Pidana di Fakultas Hukum Universitas Mataram tersebut, yakni, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pelaku Tindak Pidana, Pemidanaan Terhadap Perempuan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Pidana Mati Terhadap Perempuan (Suatu Kajian Perbandingan), dan Pembaharuan Hukum Pidana Tentang Eksekusi Pidana Mati Perempuan Hamil -Pokok-Pokok Pikiran Revisi Undang-Undang Nomor 2/ Pnps/1964. Empat buku ini membahas bahwa perempuan sebagai pelaku tindak pidana harus juga mendapat perlindungan. “Dalam proses hukum yang dijalani, perempuan
Inspirasi
“Secara biologis, perempuan berbeda dengan lakilaki. Perempuan mengalami masa-masa sulit ketika hamil, menstruasi, melahirkan dan menyusui. Perubahan hormonal saat melewati masamasa ini bisa sangat mempengaruhi kejiwaannya. Cara berpikirnya (logika) kalah dari tindakannya. Desakan yang ada dalam tubuh wanita akan sangat mengganggu kestabilan cara berpikir dan tindakannya”
5
Dukung Pariwisata Melalui Pertanian
A
krab dengan kehidupan pertanian menjadikan dirinya banyak tahu tentang teknik mengolah persawahan. Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pertanian hampir semua dia kerjakan. Hal ini tak semata- mata untuk melangsungkan keberadaan ladang pertanian, namun juga sebagai mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup dan menghidupi keluarga. Di kawasan Subak Baluan, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, ada sosok perempuan yang tak canggung melakukan kegiatan membajak sawah menggunakan sapi. Hal ini dilakukannya tatkala sang suami yang juga seorang Pekaseh memilih melakukan kesibukan lain. “Karena tuntutan di zaman modern ini kami saling mengisi dalam melaksanakan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, “ ungkap Ni Putu Supasti. Keberadaan alam yang memberikan kekayaan melimpah menjadikan dirinya tak setengah hati dalam melaksanakan mengolah pertanian. Petak sawah, selain menghasilkan padi kualitas baik terbukti pula banyak menghasilkan jenis tanaman holtikultura dalam periode masa panen tertentu. Upaya ini tak lepas dari peran semua anggota keluarga bahkan dirinya. Pekerjaan yang biasa dilakukan laki – laki, biasa pula dilakukan oleh kaum perempuan. “ Disini tak memandang pria atau perempuan. Apapun perempuan bisa dikerjakan selagi bapak- bapaknya sibuk dengan pekerjaan lain, “ ujar perempuan yang hanya lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Kabupaten Tabanan ini. Dalam kesehariannya, di kawasan desa yang memiliki suhu sejuk ini bentuk kerja sama antara petani perempuan dan laki – laki benar- benar masih terlaksana. Dimana hubungan ini dilakukan bila sang suami memiliki pekerjaan lain, perempuanlah yang bertugas mengambil alih pekerjaan. Sinergi pertanian antara suami dan istri ini hanya bermodal dari bakat pengalaman. Secara perlahan mendapat perhatian serius pula dari pemerintah propinsi melalui pemerintah daerah. Dia mengakui, adanya peran serta pemerintah dalam memberikan berbagai pelatihan dalam memantapkan bakat bertani membawa sebuah perubahan. Partisipasi antara petani dan program yang dijalankan pemerintah, diakuinya memberi banyak manfaat. Melalui berbagai kelompok, dirinya selalu hadir menjadi perwakilan kelompok subak, selanjutanya dirinyalah yang kembali memberikan arahan kepada anggotanya yang menjadi bagian dari Kelompok Subak Baluan. “ Jika dulu pengetahuan kami mengolah sawah hanya bermodal pengalaman, kini dimantapkan lagi melalui pelatihan, “ ujar perempuan kelahiran 44 tahun silam ini.
DIMINATI WISATAWAN Apa yang dilakukan dalam kesehariannya, Supasti atau akrab disapa Bu Risa ini tak sekadar bergelut dengan lumpur dan perangkat pertanian. Guna meningkatkan taraf hidup di dalam bidang sektor pertanian, di kala senggang dirinya berpartisipasi aktif mempersembahkan atraksi wisata dalam memperkenalkan teknik pertanian kepada wisatawan. Melalui sebuah kearifan lokal ini, banyak sudah wisatawan yang kepincut akan keberadaan teknik mengolah sawah yang masih ter-
Ni Putu Supasti
bilang tradisional ini. Kemasan paket wisata yang difasilitasi oleh Rumah Desa ini menjadikan dirinya menambah semangat dalam menjalankan tugas petani selain sebagai ibu rumah tangga. “Kami selalu menampilkan aktifitas Ngelampit atau Matekap, untuk menambah daya tarik wisatawan, “ kata Supasti, istri dari Ketut Suparta yang juga sebagai Pekaseh di Subak Baluan. Dengan keberadaan Rumah Desa yang masih memiliki satu hubungan keluarga, ke depan dirinya yakin jika pertanian di Bali akan tetap eksis seiring
pesatnya alih fungsi lahan. Dia memandang, pertanian memiliki nilai kultur yang erat dengan tradisi Bali. Hubungan antara pertanian, budaya, serta tradisi Bali terbukti membawa magnet di dalam menarik kunjungan wisatawan utamanya wisatawan Eropa. “ Sebagai salah satu peran penting dalam pariwisata adalah pertanian. Tanpa adanya dukungan pertanian pariwisata Bali tidak akan ada, “ pungkas Ibu dua anak, yang salah satunya berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini. –Eka Juni
4
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Paulus Pangka
Inspirasi
Kalau Tulus Berkat pasti Mengalir Nama Paulus Pangka tentu tak asing lagi bagi sebagian orang. Di masa lalu namanya lekat dengan Museum Rekor Indonesia (Muri) dimana rekor dan prestasi anak bangsa dicatat dan dibukukan. Maklum saat itu dia adalah manajer Muri yang kerap kali tampil dalam event-event pemecahan rekor maupun pemberian penghargaan yang mendapat liputan luas dari media.
K
ini setelah tidak lagi di lembaga tersebut, Paulus Pangka ternyata masih berkutat di bidang tersebut. Rupanya pria berdarah NTT ini sudah kadung jatuh cinta dengan pekerjaan yang hasilnya memberi inspirasi banyak orang. “Bagi saya ini bukan sekadar pekerjaan biasa, tapi ada misi sosial yang diemban. Jadi bagaimana kita mengumpulkan prestasi-prestasi anak bangsa dari seluruh Indonesia, blusukan menggali potensi mereka, kemudian mengumumkannya ke masyarakat agar semua tahu bahwa kita memiliki orangorang berprestasi, orang-orang yang membanggakan, bagi saya itu semua lebih dari sekadar bekerja biasa,” tuturnya kepada Tokoh. Itu juga sebabnya mengapa ia mendirikan Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID) dimana ia menjadi direkturnya. “Rasanya bangga, haru, jika menemukan anak bangsa memiliki prestasi istimewa. Bukan hanya pemilik rekor yang bangga, saya dan masyarakat pun ikut bangga,” ungkapnya. Meskipun LEPRID lembaga baru, namun keberadaan Paulus Pangka yang sudah lama berkecimpung di bidang ini, membuat lembaga yang baru dua tahun berdiri bisa dengan cepat diterima masyarakat. Apalagi ia menguasai benar bagaimana cara ‘memburu’ prestasi-prestasi masyarakat yang tidak banyak diketahui masyarakat secara luas, ataupun hanya bersifat lokal, untuk diangkat ke tingkat nasional. Bahkan mungkin, kalau prestasi tersebut benar-benar luar biasa, ada kemungkinan untuk didaftarkan ke lembaga internasional untuk mendapat pengakuan. “Sebelum didirikan kami sudah membangun jaringan di seluruh Indonesia, mereka inilah yang bekerja di daerah-daerah untuk memantau prestasi-prestasi apa
Paulus Pangka dan Gubernur Sulawesi Selatan Yasin Limpo yang menerima penghargaan provinsi pertama yang lima tahun berturut-turut mendapat opini WTP dari BPK
saja yang ada atau yang dibuat masyarakat yang layak untuk dicatat LEPRID,” ungkapnya. Selama dua tahun berdiri, tambahnya, LEPRID telah mengoleksi sekitar 100 rekor yang didapat dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu yang cukup fenomenal adalah Patung Bunda Maria Tertinggi di Dunia di Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Patung yang diresmikan pada Agustus 2015 lalu ini, memiliki tinggi sekitar 42 meter. Patung ini memang sungguh istimewa. Secara spesifik, patung yang dikerjakan oleh tiga seniman yang dipimpin oleh RA Nugroho, memiliki tinggi 23 meter, ditambah penopang 19 meter, maka total tinggi patung mencapai 42 meter. Patung yang dibangun dengan teknik bongkar pasang tersebut, dibuat menghadap ke arah matahari terbit untuk menggambarkan Bunda Maria menyinari seluruh manusia, baik maupun jahat. Konon, di Bulgaria ada patung yang serupa namun tingginya hanya 32 meter. “Setelah dicek, ternyata tidak ada patung Bunda Maria di dunia
yang setinggi itu. Karena itu dalam pelabelan rekor disebut Patung Bunda Maria Tertinggi di Dunia,” ungkap Paulus Pangka yang kebetulan tengah berada di Jakarta untuk pengesahan rekor pemanah terbanyak yang digagas Kemenpora. Rekor lain yang cukup menarik adalah yang diukir Ilham Saputra yang mengendari vespa keliling 31 provinsi. Menurut Ilham, tutur Paulus, niatnya mengelilingi Indonesia untuk mengenal negerinya lebih jauh, sekaligus memperkuat wawasan kebangsaannya. “Aksi ini tentunya harus diapresiasi. Tapi prestasi yang tak kalah menariknya adalah yang dibuat Satria, yang menjadi gitaris termuda dalam event bergengsi ‘Jak Jazz’. Anak ini sungguh luar biasa,” kata Paulus Pangka dengan nada bangga. MEMBUKA LAPANGAN KERJA Berbeda dengan sebelumnya dimana ia hanya menjabat sebagai manajer, dengan membangun lembaga sendiri ia merasa kini lebih leluasa dalam melakukan pencatatan rekor. “Saya makin bersemangat menjalankan lemba-
ga ini karena mendapati respons bukan membeli barang yang sumasyarakat begitu bagus. Banyak dah ada di pasaran. orang dari berbagai daerah, bah“Iya, baik medali maupun piala, kan hingga ke Indonesia Timur, kami pesan khusus pada pengramendaftarkan prestasinya. Saya jinnya. Mereka (para pengrajin) sempat terkejut dengan respons ini sangat senang karena dengan yang luar biasa ini, ya maklum ini begitu kami juga telah membantu kan lembaga baru. Saya bersyu- menciptakan lapangan pekerjaan kur sekali, keberadaan lembaga bagi para pengrajin. Yah, tadinya kami diapresiasi dengan positif,” saya tidak sadar akan hal ini, ujarnya. ketika ada yang mengingatkan Meski ini lembaga baru, jum- bahwa sedikit banyak kami telah lah pendaftar rekor membludak, memberi lapangan pekerjaan bukan berarti semuanya diterima pada mereka, rasanya bersyukur begitu saja. Tetap saja, ucap Pau- sekali. Karena dengan demikian lus, ada kriteria-kriteria tertentu ada manfaat laindari kehadiran agar suatu prestasi dapat dicatat. LEPRID. Jadi bukan hanya untuk “Jadi tidak sembarangan atau asal- pemilik prestasi, atau masyarakat, asalan. Ini semua tentunya untuk tapi juga untuk para pengrajin. menjaga kredibilitas dari lembaga Khusus untuk piala dan medali, ini. Nomor satu adalah kualitas,” diberi lapisan khusus yang memtegasnya. buat kedua benda berharga itu Jadi, bukan soal berapa uang selain awet juga warnanya tidak yang dibayarkan untuk mencatat akan pudar,” paparnya. sebuah prestasi. Sekalipun misalMengenai dana operasional, nya, yang bersangkutan memiliki Paulus Pangka seraya tersenyum uang banyak, jika prestasi yang mengatakan, untuk sebuah perhendak dicatat tidak masuk krite- buatan baik, berkat Tuhan pasti ria, pasti akan ditolak. Sebaliknya, selalu mengalir. Artinya, sejauh sekalipun yang bersangkutan tidak ini pihaknya tidak merasa kesumemiliki dana, jika prestasinya litan masalah dana. Ada banyak memenuhi kriteria, apalagi kalau sumber, katanya, yang kadang masuk kategori luar biasa, pasti secara tak terduga mendonasi akan dicatat oleh LEPRID. lembaganya. Dana itulah yang “Artinya, uang bukanlah segala- digunakan untuk operasional, galanya. Sebagai lembaga nirlaba, dll. “Saya percaya, apabila kita kami memang menerima sum- berbuat baik dengan tulus, pasti bangan dari berbagai pihak untuk berkat yang mengalir. Itu saja,” membantu kerja LEPRID. Namun, ucapnya. –Diana Runtu uang bukan segala-galanya. Malah kami pernah beberapa kali bukan saja mengesahkan rekor yang dibuat tapi juga memberi santunan pada si pemilik rekor karena dia sangat membutuhkan,” papar Paulus Pangka seolah menjawab anggapan sebagian pihak bahwa untuk mencatat sebuah rekor atau prestasi seseorang harus membayar. Ada hal yang menarik dari paparan Paulus Pangka tentang lembaga barunya. Berbeda dari yang lain, katanya, lembaganya selain memberi piagam juga memberi piala dan medali pada penerima penghargaan. Yang menarik, medali maupun piala tersebut Paulus Pangka dan Satria, gitaris muda yang berkiprah di jak jazz dibuat secara khusus,
Mandalika
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
21
NTB Titipkan Mimpi dan Harapan dalam Kapsul Waktu
Ekspedisi Kapsul Waktu 2085, Gerakan Ayo Kerja akhirnya tiba di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 18 November 2015. Di lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB, tujuh mimpi dan harapan Nusa Tenggara Barat dimasukkan ke dalam kapsul waktu itu oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang berharap bahwa mimpi dan harapan tersebut dapat terwujud 70 tahun yang akan datang sesuai dengan masa perjalanan kapsul waktu. Kegiatan ini adalah proses menyiapkan diri untuk masa depan. Gubernur mengatakan bahwa mimpi tersebut menunjukkan optimisme dalam mewujudkan negara Indonesia menjadi lebih kuat dan lebih baik sesuai dengan apa yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945.
“K
esejahteraan umum sudah lebih terwujud, masyarakatnya lebih cerdas, seluruh tumpah darah kita dimana pun berada terlindungi oleh negara.
Kita sebagai bangsa dapat berkontribusi aktif dalam mewujudkan perdamaian di bumi yang kita cintai ini,” ungkap Majdi. Optimisme akan terwujudnya tujuh mimpi dan harapan masyarakat NTB yang tertanam dalam kapsul waktu
harus dirawat dan dipelihara. Tujuh mimpi dan harapan masyarakat NTB yang dibawa oleh kapsul waktu tersebut di antaranya adalah Indonesia negara yang merdeka, sehat, dan bermartabat; Selat Lombok men-
Gubernur NTB menandatangani mimpi dan harapan masyarakat NTB yang dibawa oleh kapsul waktu
Tujuh mimpi dan harapan Nusa Tenggara Barat dimasukan ke dalam kapsul waktu dan akan dibuka 70 tahun kemudian
jadi poros maritim dunia dengan terwujudnya Global Hubungan Bandar Khayangan; NTB sebagai pusat pengembangan ekonomi islam dunia; Pusat wisata world class berbasis adat istiadat dan budaya
daerah; Pelayanan kesehatan standar internasional di semua class; Anak Indonesia berprestasi diberi pendidikan gratis hingga S3; dan Sarana air bersih merata di setiap dusun/desa. –Naniek I. Taufan
Gubernur NTB melepas kapsul waktu yang membawa tujuh mimpi dan harapan masyarakat NTB
NTB Provinsi ke-23 Dilintasi Kapsul Waktu Rombongan Kapsul Waktu telah yang ingin merdeka dari para pen- jasama antara pemerintah dengan kapsul waktu dapat berjalan se- yang singkat, jadi kita harus giat melintasi 22 provinsi dan Provinsi jajah 70 tahun silam,” terangnya. masyarakat, sehingga mimpi dan suai dengan rencana. “Saya rasa untuk mengejar mimpi tersebut,” NTB adalah provinsi yang ke-23. Oleh karena itu, dibutuhkan ker- harapan yang ditanam ke dalam waktu 70 tahun adalah waktu ujarnya. Koordinator Panitia Ekspedisi kapsul waktu akan Daerah G70 M. Nur Haedin, menjelajah 43 kota di 34 S.Sos., menyampaikan kegiaprovinsi Indonesia selama 3 tan ini merupakan kegiatan bulan. Koordinator Panitia kebangsaan, di mana akan Nasional G70 Viddy Supit ada 34 koordinator panitia mengatakan ekspedisi kapdaerah yang terlibat dalam sul waktu diawali dari kota G70. Ekspedisi kapsul waktu Sabang Provinsi Banda Aceh akan menjelajah 43 kota di pada tanggal 22 September 34 provinsi Indonesia selama 2015 dan akan berakhir di 3 bulan dimulai dari bulan Merauke pada tanggal 21 September 2015. Secara Desember mendatang. resmi mobil kapsul waktu Nantinya kapsul ini akan disitu telah dilepas Menteri impan dalam museum kapsul Sekretaris Negara Pratiwaktu G70 di Merauke. kno. Ekspedisi kapsul waktu “Kapsul waktu berimerupakan kerja bersama, si mimpi dan harapan gotong royong skala namasyarakat dari setiap sional antara Panitia Nasional provinsi, yang mana seringGerakan Ayo Kerja 70 tahun kali mimpi itu banyak yang Indonesia Merdeka. tidak masuk akal, namun -Naniek I. Taufan bangsa Indonesia ini lahir Penyambutan Ekspedisi Kapsul Waktu 2085, Gerakan Ayo Kerja, di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat dari mimpi para pejuang Foto-foto: Humas Prov. NTB
22
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Wisata Pemakaman
Ngeri tapi Banyak Peminat Wisata ke pemakaman? Wah, baru mendengarnya saja sudah membuat bulu kuduk merinding karena seram. Tapi ternyata ada juga kelompok-kelompok tertentu yang memiliki agenda wisata ke pemakaman. Tentu saja tidak ke sembarang pemakaman melainkan pemakaman yang memiliki nilai sejarah. Salah satu pemakaman yang cukup menarik minat banyak orang, meski menyeramkan, adalah ke Museum Taman Prasasti yang terletak di kawasan Tanah Abang.
N
Salah satu patung di Taman Prasasti
amanya memang Museum Taman Prasasti, namun sebenarnya ini adalah kawasan pemakaman tempo dulu alias pemakaman zaman Belanda. Sebelum dijadikan ‘museum’ kompleks pemakaman para pejabat Belanda, beberapa di antaranya juga berasal di Inggris, disebut Kebon Jahe Ko-
ber. Dalam perkembangannya, kompleks pemakaman ini bukan hanya menjadi tempat dikebumikan para tokoh Belanda, tapi juga sejumlah tokoh Indonesia. Satu di antaranya adalah Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1966. Sementara sejumlah tokoh asal Belanda/Inggris yang dikebumikan di sini antara lain; AV
Makam para tokoh Belanda
Michiels (tokoh militer Belanda pada masa perang Buleleng), Dr. HF Roll (Pendiri Stovia atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda), JHR Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh), juga istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura, Olivia Marianne Raffles. Lantaran memiliki nilai sejarah tinggi itulah maka akhirnya kompleks pemakaman itu diputuskan menjad Museum Taman Prasasti yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1977. Kini di sana bukan hanya berisi kuburan Belanda tapi juga koleksi prasasti nisan kuno serta miniatur makam khas dari provinsi-provinsi di Indonesia, beserta koleksi kereta jenazah antik. Di sana juga kita bisa menyaksikan koleksi karya seni dari masa lampau, tentang betapa canggihnya para pematung, pemahat, kaligrafer serta sastrawan tempo dulu dalam berkarya. Yang namanya kompleks pemakaman, pada umumnya bernuansa sama, suram dan sunyi. Hal itu juga terjadi di Museum Taman Prasasti. Uniknya, meski terkesan seram, tercatat cukup banyak kelompok yang datang ke sana secara berombongan. Mulai dari kelompok-kelompok penelusur sejarah, hingga kelompok fotografer bersama para modelnya. Berdasarkan catatan sejarah,
Gerbang depan museum taman prasasti
kuburan Kebon Jahe Kober telah ada sejak jaman Belanda, yakni sekitar tahun 1795. Sejarah mencatat, kompleks pemakaman ini dibuka pada 28 Oktober 1795. Yang berarti pada 28 Oktober 2015 lalu, usia kompleks pemakaman ini mencapai 220 tahun. Konon pada masa itu sebuah wabah mematikan menyerang Batavia sehingga membuat
banyak orang Belanda meninggal. Saking banyaknya yang tewas, lahan pekuburan yang ada saat itu yakni yang berada di samping Gereja Baru (sekarang Museum Wayang), penuh. Akhirnya dibangunlah kompleks pemakaman baru untuk warga Belanda, yang letaknya dekat Kali Krukut. Salah satu makam yang cukup dikenal adalah makam Kapitan Jas. Tidak diketahui siapa sebenarnya Kapitan Jas itu, namun konon banyak orang percaya bahwa para peziarah yang mengunjungi makam itu akan diberi kesuburan dan kemakmuran. Karena cerita burung yang berkembang dari mulut ke mulut itu maka banyak pengunjung mampir ke makam ini. CERITA MENGERIKAN Selain menyimpang banyak
keseraman, ada satu yang cukup menonjol yang sudah pasti membuat pengunjung bergidik ngeri. Ada sebuah monumen dimana di atasnya terdapat tengkorak yang tertancap pada ujung tombak. Di dinding monumen itu tertulis kaliman dalam bahasa Belanda dan Jawa,”Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apa pun di tempat ini, sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722”. Di balik monumen menakutkan itu, ternyata juga menyimpan cerita mengerikan. Konon pada masa itu ada seorang tuan tanah keturunan Indo yang kaya raya bernama Pieter Elberverd. Karena tanahnya disita VOC tanpa ganti rugi, Pieter tidak terima, dan dia pun melakukan penentangan. Tidak hanya sampai di situ, Pieter juga merencanakan pemberontakan dengan menye rang Belanda pada perayaan malam tahun baru tahun 1722. Sayangnya, rencana itu kemudian dibocorkan oleh orang dekatnya. Walhasil, Pieter dan para pemberontak ditangkap dan dieksekusi dengan keji. Tangan dan kaki mereka diikat dengan tambang, dimana masing-masing tambang diikatkan pada kuda. Kemudian empat ekor kuda itu dilecut untuk berlari ke arah yang berlawanan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bentuk eksekusi yang mengerikan itu. Tubuh Pieter dan para pemberontak itu hancur, dan bagian dalam tubuhnya terburai. Kampung dimana Pieter dan kelompoknya dieksekusi kemudian dikenal sebagai Kampung Pecah Kulit. Nama itu muncul lantaran seluruh kulit Pieter terkelupas saat diesekusi. Belanda memberi hukuman keji itu sekaligus untuk menunjukkan ganjaran apa yang bakal diterima oleh orang yang mencoba melakukan pemberontakan. Tidak cukup sampai disitu ‘peringatan’ yang diberikan Belanda. Pada makam mereka pun dibuatkan semacam monumen dengan tengkorak yang tertancap tombak. Tubuh Pieter sendiri awalnya dimakamkan di kawasan Jacatra Weg atau kini dikenal dengan Jln. Pangeran Jayakarta. Di makam itu pun dibangun tugu peringatan sama seperti yang ada di Museum Prasasti. Namun saat kedatangan Belanda pada 1942, tugu itu dihancurkan. Beruntung, prasastinya berhasil diamankan. Replika prasasti itu lah kemudian didirikan kembali di Museum Taman Prasasti. –Diana Runtu
Sosialita Mira Andayani
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Jaga Spirit Kreativitas Kebaya makin digemari perempuan modern. Apalagi siluet kebaya yang seksi sekaligus elegan semakin memantapkan aura feminin pemakainya. Kebaya dengan beragam modifikasinya juga bisa dikenakan dalam berbagai kesempatan istimewa. Begitu diungkapkan Ni Ketut Mira Andayani, saat ditemui di acara HUT ke 17 Tokoh, di Wantilan Bali TV beberapa waktu lalu.
Mira bersama IA Selly D. Mantra
B
erbekal kecintaan pada dunia fashion, kini Mira makin yakin bahwa passion –nya memang berada di tengah geliat dunia mode, khususnya bisnis kebaya di Bali. Terlebih, karyanya semakin banyak diminati oleh perempuan dari berbagai usia dan kalangan, baik untuk lokal di Bali maupu di luar Bali. “Astungkara,
tapi saya masih harus belajar lebih banyak lagi soal mode kebaya, ” ucap Mira. “Saat ini semuanya ini bisa terus berkembang selain andil keluarga dan kerabat dekat juga karena dukungan dan perhatian dari sosok pengamat mode Kota Denpasar IA Selly D. Mantra yang rajin menekankan tentang fashion berbasis budaya atau mengolah budaya sebagai sumber penciptaan. Begitu juga dengan Ketua Asbest Kota Denpasar Rhea Cempaka yang selalu memacu seluruh pengurus dan anggotanya untuk semakin maju,” ucap ibunda Eric Kusuma Minardi ini. Untuk semua teman, sahabat, kerabat yang selama ini sangat berarti dan tidak henti menghargai karyakaryanya, perempuan yang selama ini dikenal dengan panggilan Mira Minardi ini, menyampaikan bahwa ia bakal menempati area baru untuk berkreasi dan memajang semua karyanya, di Banjar Bengkel tepatnya Jalan Nusa Indah No 5, Denpasar. Di tengah atmosfir kerjasama yang hangat ini, Mira semakin nyaman berkutat dengan keindahan setiap potong kebaya. Maka ketika bertemu dengan Tokoh, dan diajak berbicara tentang kebaya Mira sangat antusias. Ia mengakui memang sangat bergairah ketika ketika akan menggarap sebuah kebaya. Dengan melihat sepotong kain bekerja biasanya kreativitasnya terusik, dan karena menmang hobi maka dengan sangt mudah Mira dapat mengeksekusi kain tersebut menjadi sebuah kebaya yang bukan hanya nyaman di badan tapi juga sangat indah dipandang. Untuk proses perpindahan dan rasa nyaman bekerja dan berkreasi di lokasi ini ke depannya, dengan kerendah hatinya Mira memohon doa dengan mengundang sahabat, teman, kerabatnya untuk datang pada Minggu, 29 November 2015. “Jangan lupa saya tunggu kehadirannya mulai pagi sampai sore, tersedia koleksi kebaya terbaru dan berbagai songket serta endek padanannya juga item fashion lainnya yang istimewa,” ucapnya berpromosi.
3
Bicara soal karya atau desain yang digarapnya, namun meski berangkat dari kemapuan yang otodidak Mira kini dikenal dengan garis rancangan berkesan modern, seksi, feminin, dan elegan. “Namun, kalau namanya pesanan tentu semua disesuaikan dengan karakter pemakai dan momen digunakannya baru dikerjakan dengan gaya khas Mira. Sebab, saya akan bahagia jika mereka puas dengan hasil karya saya ,” ujar putri dari pasutri I Ketut Sutharma dan I Komang Murtini yang memiliki prinsip total dan sepenuh hati dalam bekerja ini. SIAPKAN KREASI AKHIR TAHUN Mira mengaku kemampuannya merancang adalah otodidak atau berkreasi dengan bakat alam, dan dibantu dengan pengalamannya selama menjadi model catwalk. Ketika itu ia juga melihat detil setiap busana yang dikenakannya muali dari bahan , warna dan juga detil yang ada. Untuk kesempatan bekerja sambil belajar ini ia menyebut nama Ari Agung dan Tjok Abi, dua sosok yang menggiringanya melangkah di dunia fashion. Selanjutnya kata Mira dalam perkembangannya ia juga merasa sangat terbantu banyak inspirasi yang diperolehnya dengan berbagai pelatihan yang diikutinya, baik yang difasilitasi Dekranasda Kota Denpasar, Dinas Koperasi maupun organisasi Asbest Kota Denpasar. Wawasan, kreativitas dan inovasinya pun bertambah dengan berbagai kesempatan mengikuti bazar mau-
Mira bersama Ny. Bintang Puspayoga
gan busananya. Kembali membahas kebaya yang menjadi kiprah utamanya di arena fashion, menurut Mira kebaya makin berkibar dengan karakter dan model yang beragam. Karena segala aktivitas mulai keagamaan, pekerjaan kantor, adat, seremonial bisnis, acara wisuda hingga peringatan hari nasional, semua perempuan menggunakan kebaya. Kalau bicara model, katanya ada yang minta didesainkan model yang simpel namun lebih banyak juga
Mira di acara HUT ke 17 Tokoh
puan pameran baik itu lokal seperti Denpasar Festival, Pesta Kesenian Bali hingga Sanur Festival. Begitu juga dengan pameran yang diikutinya di luar wilayah Bali. Selain semakin mengenal berbagai kerajinan lokal yang ada di Bali khususnya, dengan pengalamannya dan belajar dari para seniornya, Mira yang selama ini banyak bermain dengan brokat dan tile juga semakin kuat dalam memilih padu padan warna di setiap rancan-
yang dirancangkan dengan model yang sangat special atau limited edition dan glamor. “Khusus untuk anak muda, yang selama ini datang ke tempat saya mereka cenderungnya suka busana yang unik dan modis. Kalau mereka meminta dibuatkan kebaya tinggal menyesuaikan dengan karakter dan gaya personalnya , agar setelah dikenakan mereka bisa tampil beda baik untuk acara yudisium, wisuda
Mira bersama sebagian pengurus Asbest Kota Denpasar
atau menghadiri undangan upacara adat,” ujar Mira yang menyeimbangkan kesibukannya dengan yoga dan meditasi ini. Meski selama ini ia memiliki ciri sendiri dalam setiap kebaya –kebaya karyanya, namun Mira sangat fleksibel jika ada permintaan khusus dari pelanggannya. Soal model tentu bisa dikomunikasikan untuk cantik dan feminin dalam balutan aneka model kebaya yang dimodifikasi. Mau dibuatkan model kebaya modern berenda dengan berbagai model kerah , misalnya aksen kerah sabrina, ini bisa memberikan kesan lebih berisi terutama pada bagian dada. Khusus kebaya kerah sabrina juga, katanya sangat cocok untuk perempuan yang memiliki bentuk dada kecil. Selain itu, model kebaya ini mampu membantu mengoreksi bagian bawah tubuh yang lebar sehingga penampilan antara bagian atas serta bagian bawah tubuh tampak lebih seimbang. Sedangkan, model yang umum dan banyak juga diminta yakni detil kerah V, dapat menjadikan penampilan seseorang tampak lebih cantik, seksi juga langsing. Jika ingin tampil lebih glamor cukup memadupadankan dengan sepatu dan perhiasan saja. Bagi yang ingin tampil lebih seksi dan feminin, disarankan untuk mengenakan kebaya renda dengan model kerah halter. Model kebaya ini akan meningkatkan penampilan dan menonjolkan lekuk tubuh, membuat seluruh bagian tubuh tampak lebih sempurna. “Yang pasti dengan konsep modern feminim, elegan dan detail akan semakin menonjolkan keindahan tubuh pemakainya. Cocok untuk dikenakan saat pesta, hingga acara resmi,” ucap Mira sambil mengingatkan untuk datang ke - alamat barunya dan melihat kreasinya yang paling anyar. -ard
Mira saat menerangkan tentang detil karyanya dalam sebuah acara di BCIC Tohpati
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
GORO-GORO A m i mengunjungi Amat, bukan karena kangen. Ia mengusung sebuah pertanyaan yang bikin bapaknya Putu Wijaya blingsatan. “Dulu waktu Bapak jadi guru bahasa, apa saja yang Bapak ajarkan pada murid.” “Ya, pengetahuan bahasa!” “Kesusastraan?” “Tentu saja!” “Siapa Chairil Anwar?” Amat berpikir, lalu menjawab sekenanya. “Aku ini binatang jalang!” Ami tersenyum mengejek. “Ya itu, salah satu kalimat dalam sajaknya yang berjudul Aku. Waktu itu umumnya semua kita membahasakan diri dengan kata saya. Dengan maksud merendahkan diri, sesuai dengan hajat kolonial penjajah yang tidak mau kita merdeka. Chairil berontak, dia memelopori supaya orang punya harga diri dan membahasakan dirinya aku. Nah, sekarang anak, murid bahkan para pembantu semua PD, mereka membahasakan dirinya dengan kata aku. Jadi Chairil bukan hanya penyair, tapi juga pejuang dengan senjata kata-kata. Ia membawa revolusi mental!” Amat manggut-manggut. “Siapa WS Rendra?” Amat menjawab bersemangat. “Bersatulah Pelacur- Pelacur Jakarta!” Ami kontan memotong sengit. “Itu salah satu judul sajaknya yang terkenal. Tanggal 7 November lalu almarhum genap 80 tahun. Ada peringatan akbar tanggal 16 November di UIN, Ciputat, Tangsel, dari pagi hingga malam. Ada seminar, pemutaran video, pembacaan sajak dan beberapa tokoh memberikan testimoni. Salah satu testimoni menyebutkan, almarhum mewariskan 5 jurus langkah sakti yang bisa dipakai
Rendra
berjuang yaitu keberanian melawan, pantang menyerah, mempertimbangkan tradisi, kegagahan dalam kemiskinan dan melihat dari sudut pandang baru. Kelima kiat berekspresi kreatif itulah yang menyebabkan dia menjadi legenda!” Amat kembali manggut-manggut. “Bapak iangan cuma manggutmanggut tok. Bapak harus malu. Sebagai guru Bapak sudah salah mendidik mirid. Yang Bapak ajarkan hanya hapalan tahun-tahun kelahiran, kematian, tapi esensi-pembelajaran moralnya tidak disentuh. Itu semua dosa cetak biru pendidikan kita yang hanya mau mencetak manusia yang cerdas dan kompetitif tok. Pembelajaran budi-pekertI, humaniora diabaikan. Itu bencana nasional!” Amat manggut-manggut. “Jadi sekarang berhenti mengecam generasi muda malas, letoi, egois, acuh-tak acuh, tidakpedulian, lembek, bablas bahkan tak tahu adat.
Kritiklah habis pemberhalaan pada kecerdasan dan keinginan menang berkompetisi dalam era global yang sudah mengabaikan usaha penegakan nilai-nilai moral dan pembentukan karakter berkepribadian Indonesia dalam lubuk hati generasi muda. Pendidikan sekarang hanya penyiksaan dengan seabrek-abrek tugas yang membuat. Generasi muda stress. Itu semua akibat kepanikan para pembuat keputusan pendidikan yang kalang kabut ingin mencatkan belangnya, pada sejarah! Tanpa peduli desa-kala-patra! Chaos pendidikan ini harus diakhiri, Pak!” Selesai memuntahkan unekuneknya, Ami langsung pulang. Bu Amat yang tadinya tutup mulut, mulai mengorek Amat. “Kenapa lagi, anakmu itu, Pak?” Amat menjawab tanpa beban. “Akibat dosa pendidikan kita!” Bu Amat mengernyitkan kening. “Dosa pendidikan? Bukannya dosa guru-gurunya!?!”
Ekspresso bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Sekretariat Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257 “Share with Reporter” merupakan program kerjasama yang dilakukan Tokoh bersama relasi. Kegiatannya berupa sharing dan berbagi pengalaman dengan narasumber Redaktur Pelaksana Tokoh Ngurah Budi. Berikutnya, narasumber yang diajak berbagi bisa berasal dari berbagai kalangan, seperti musisi, desainer, novelis, dokter, dan yang lainnya. Namanya menjadi “Share with Musician”, “Share with Designer,” Share with Novelist”, atau “Share with Doctor”. Kegiatan perdana ini sudah dilakukan di Cendekia Harapan Elementary School, Jimbaran, Kamis (19/11) diikuti 30 siswa. Semoga kegiatan ini bisa memberi inspirasi bagi siswa.
Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website
Uang Keluar setelah Keluar ATM Suatu hari saya mengambil uang di ATM di salah satu bank. Biasanya saya mengambil uang di ATM terdekat yang saya temui. Kali ini, saya langsung ke ATM yang berada di banknya. Saat bertransaksi, datang seorang teman. Kami saling menyapa dan menanyakan kabar. Teman ini merupakan senior saya. Kami beda kantor tetapi berada dalam satu grup perusahaan. Saya hampir selesai mengambil uang ketika melihat teman itu kesulitan dengan mesin ATM. Ternyata uangnya tidak bisa keluar. Saya pun menawarkan agar dia menggunakan mesin ATM yang saya pakai setelah saya selesai. Tetapi, ia tidak mau. Setelah ATM-nya keluar, ia mening-
galkan mesin ATM untuk melapor ke petugas bank. Begitu dia keluar, uang ikut keluar dari mesin ATM. Saya kaget. “Oh my God…mesin ATM lambat mengeluarkan uang,” pikir saya. Saya langsung mengambil uang yang keluar itu. Untungnya tidak ada orang lain yang menggunakan mesin ATM itu. Saya lalu keluar untuk mengejar
teman itu. Saya sampai berteriak mengatakan uang sudah keluar. Teman saya yang sedang berbicara dengan satpam, ikut terkejut. Ia tak menyangka uang yang disangka “macet” ternyata bisa keluar. Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih karena menyelamatkan uangnya. Kami pun meninggalkan bank dengan perasaan plong. Asti, Denpasar
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
Sudut Pandang
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Susan Bachtiar
Belajar dari Anak-anak Sejumlah artis ternyata pernah menjadi guru sebelum terkenal di dunia entertainment. Misalnya saja Happy Salma, yang sempat menjadi guru TK namun kemudian melepas profesinya karena mulai sibuk di dunia entertainment. Begitu juga Susan Bachtiar, pemeran film ‘Cinta dari Wamena’ , ini, yang juga menjadi guru TK. Hanya bedanya, sekalipun sibuk Susan tidak melepas profesinya sebagai guru.
“S
aya menjadi guru sejak tahun 1996, mengajar bahasa Inggris,” ujar wanita kelahiran Jakarta 2 Mei 1973 ini. Kalau mau dibilang, kata Susan, awalnya menjadi guru bukanlah menjadi cita-citanya. Dulu, katanya, ia ingin menjadi dokter. Namun gagal tes terguruan tinggi negeri, membuatnya beralih menekuni dunia pendidikan. “Entah bagaimana, Tuhan punya rencana lain, saya pun akhirnya masuk Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris, ternyata saya menyukainya,” kata wanita
bernama lengkap Susan Meilani Bachtiar ini. Sembilan belas tahun berprofesi sebagai guru, membuat Susan boleh dibilang kaya akan pengalaman. Betapa tidak, ibu satu anak ini bukan saja berpengalaman mengajar di jenjang taman kanak-kanak, tapi juga ia telah menjajal mengajar mulai dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. “Semua sudah saya jalani. Namun dari pengalaman saya ternyata yang paling saya suka adalah mengajar TK. Saya merasa lebih enjoy. Kenapa? Karena saya suka anak-anak, dan merasa lebih fun,” ungkap Susan yang baru beberapa tahun terakhir
Anies Baswedan
Sukses Berawal dari Mimpi MENTERI Pendidikan Dasar Menengah dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan, hadir di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Sabtu (14/11). Kehadiran mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta itu, sehubungan dengan perjalanan Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 di Provinsi Bali. Bali sendiri merupakan provinsi yang ke-22, yang disinggahi kapsul mimpi tersebut. Anies Baswedan bersama Wagub Bali I Ketut Sudikerta, menyaksikan pembacaan cita wangsa Bali, mimpi rakyat Bali, yang dibacakan tujuh pelajar SMA berseragam Paskibra. Ketujuh mimpi rakyat Bali tersebut, hasil dari ribuan mimpi dan sudah tersaring. Hasil seleksi, representatif dari seluruh elemen masyarakat Bali, di antaranya siswa, mahasiswa, buruh, pekerja, birokrat, pekerja seni maupun veteran. Ketujuh mimpi rakyat Bali itu yakni, pendidikan gratis, Bali menjadi pusat sekolah pariwisata dunia, Bali bebas narkoba, dan menjadi rumah sakit rujukan internasional, mampu berkiprah dalam binsis nasional dan internasional, terbangunannya keharmonisan lingkungan dan alam, sebagai wujud dari Tri Hita Karana, terwujudnya keadilan sosial, terwujudnya pemerintahan yang akuntabel dan menjadi pemimpin nasional negeri nusantara. Anies Baswedan menegaskan bermimpi dan menuliskan mimpimimpi itu wajib. “Memiliki mimpi sama dengan memiliki cita-cita. Untuk mencapainya tentu harus belajar dengan tekun dan sungguhsungguh. Menuliskan mimpi itu sama dengan memikirkan masa depan jauh ke depan. Banyak orang yang sukses berawal dari mimpi. Ibarat seorang anak kecil yang menginginkan sebuah sepeda
Anies Baswedan
baru, sampai-sampai sepeda terbawa mimpi. Selanjutnya bagaimana si anak itu berusaha menabung sedikit demi sedikit sebagian uang jajan sekolahnya, setelah terkumpul, anak itu akan mampu mewujudkan mimpinya membeli sebuah sepeda baru. Masih banyak contoh mereka yang sukses itu bermula dari mimpi. Unutk itu bermimpilah yang tinggi, bercita-citalah yang tinggi untuk negeri tercinta Indonesia,” urainya. Ia pun menegaskan kepada pelajar dan mahasiswa yang hadir di acara tersebut untuk menulis mimpi setinggi-tingginya. Untuk menggapai mimpi itu hanya akan tercapai dengan bekerja keras. Anies juga menuturkan negara tercinta Republik Indonesia ini dibangun dengan cita-cita. Para pendiri negeri ini ketika terjajah dulu, mereka bermimpi bisa merebut negeri ini dari tangan penjajah. Awalnya banyak yang menertawakan mereka itu. Perjalanan waktu yang dibarengi dengan kerja keras, persatuan dan kesatuan, akhirnya kemerdekaan bangsa ini berhasil direbut dari penjajah. Karena itu
menjadi guru TK. Tiap pulang mengajar, tuturnya, ada saja pengalaman maupun cerita menarik didapat. Mulai dari kelucuan mereka, kepolosan mereka, yang terkadang secara tak sengaja seperti ‘menyentil’ orang dewasa. “Kadang secara tak sengaja ada saja entah itu tingkah laku atau perkataan yang begitu ‘mengena’ pada saya. Sampai saya berpikir, “ohh iya ya bener juga”. Jadi boleh dibilang dalam mengajar bukan mereka saja yang belajar tapi saya pun banyak belajar dari mereka. Misalnya, mengingatkan saya untuk lebih aware,” tutur istri Roger
bangsa yang besar adalah bangsa yang berpikir panjang. Memikirkan masa depan bangsa ini seribu tahun lagi. Berkali-kali Anies Baswedan mengajak para pelajar khususnya untuk tinggikan mimpi. Semakin tinggi mimipi seseorang, mereka memiliki pandangan yang jauh ke depan. Harus disadari pula jika kekayaan terbesar negeri ini adalah sumber daya manusia (SDM). SDM yang sehat dan terdidik akan dapat berpikir panjang, memikirkan masa depan bangsa dan negaranya. Generasi muda Indonesia diajak Anies agar tidak pernah puas dengan apa yang sudah diraih saat ini. Di sisi lain, melalui Kapsul Mimpi, Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 ini, generasi muda Bali khususnya, dimotivasi agar menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. “Tinggikan mimpimu dan berusahalah agar mimpi itu menjadi kenyataan. Berusahalah!,” kata Anies dengan penuh semangat. Ia pun memotivasi pelajar dan mahasiswa, agar menjadi pelaku sejarah perjalanan bangsa ini. Tak sekadar menjadi penonton. Hal yang sama telah dilakukan para pahlawan pejuang bangsa, yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan ini hingga darah penghabisan. Hasilnya, nama mereka tetap harum sampai kapan pun juga. “Pada peringatan 100 tahun Indonesia merdeka, anak-anak Indonesia saat ini yang akan menjadi pemimpin di negeri ini. Menjadi pemimpin di daerah, menjadi gubernur, bupati, camat dan pejabat lainnya di daerah,” harapnya. Ia pun menyempatkan diri untuk berdialog dengan pelajar dan mahasiswa. Kehadiran Abdee Negara, salah satu personel Slank menambah daya tarik acara ini selain tetabuhan baleganjur SMAN 3 Denpasar dan drum band. -Astra
Susan Bachtiar
Foto: kapanlagi.com
2
van Tongeren, seorang pria berkebangsaan Belanda ini. Namun, diakuinya mengajar anak-anak memang membutuhkan kesabaran ekstra. Bukan hanya terhadap anak didik tapi juga terhadap para orangtua. “Tapi saya kira yang namanya kesabaran, untuk pekerjaan apapun kesabaran selalu menjadi suatu ujian. Cuma yang harus kita pahami adalah sebandel-bandelnya anak-anak mereka adalah anakanak, kok, yang masih bisa dibilangin. Kecuali memang anak itu bermasalah banget, tapi itu kan
23
exceptional,” tuturnya. Mengajar anak TK, tambahnya, memang berbeda dengan mengajar anak yang lebih besar. “Kalau mengajar anak TK kita harus kreatif, berani cape, harusloncat-loncat..hehheh, juga sering memberi mimik lucu. Hal ini supaya anak-anak tertarik. Yahh meski agak lebih cape, tapi saya senang mengajar mereka. Interaksi belajar-mengajar dengan anak kecil terasa lebih alive, itu yang membuat saya suka,” kata pemeran film ‘Perempuan Punya Cerita’. Karena yang dihadapi adalah anak-anak TK, maka Susan menerapkan metode communicative approach dalam mengajar bahasa Inggris. Dia tidak mengajarkan mereka menulis ataupun membaca dalam bahasa Inggris. “Lebih pada communicative approach. Saya menggunakan media. Anakanak kan biasanya suka warna, gambar, cerita, menyanyi. Jadi ya seperti itu. Nah karena anakanak, meski tidak diajarkan membaca, namun kalau diulang setiap kali, maka mereka akan mengetahui objek-objek yang diterangkan di kelas,” jelas mantan presenter acara kuis Galileo, ini. –Diana Runtu
Guru Idola Guru yang Ramah
Guru merupakan salah satu profesi yang “menantang”. Beragam alasan yang membuat orang mau menjadi. “Alasan saya jadi guru adalah saya kagum dengan sosok guru yang sabar. Dari kekaguman itu, saya belajar sabar menghadapi siswa yang nakal. Jadi seorang guru itu tidak mudah menghadapi siswa yang bermasalah, membentuk kedisiplinan mereka, mengatur agar mereka mau melaksanakan kewajiban mereka di sekolah. Guru adalah orangtua kedua dari siswa. Banyak hal yang saya kagumi dari sosok guru. Selain sabar adalah penuh dengan cinta kasih terhadap siswa agar mereka mengerti arti dari berharganya seorang guru di masa pendidikan mereka,” ungkap Ni Putu Dwi Lestari Negari, S.Pd, guru olahraga SMK PGRI 4 Denpasar. Dwi yang juga atlet panah ini mengatakan yang bisa dibanggakan dari guru adalah selalu diingat oleh siswa, apalagi guru yang sangat mereka sukai akan selalu mereka ingat. Bangga karena bisa berbagi ilmu pengetahuan kepada siswa agar mereka tahu arti dari pendidikan. “Harapan saya adalah semoga ke depannya sosok guru bisa dihargai baik di bidang akademis maupun non akademis. Sekarang terkadang guru tidak semua rata dihargai jerih payah mereka. Ada sebagaian guru yang diabaikan jerih payahnya,” ungkapnya. Ia menambahkan kriteria guru idola biasanya dari siswa adalah guru yang ramah selalu bisa dekat dengan siswa dalam artian bergaul di sekolah sebagai teman mereka tapi ada batasannya. Apalagi anak-anak SMK biasanya mereka enggan untuk bicara atau sekadar candaan kecil dengan guru karena takut dengan alasan gurunya galak atau gurunya jutek. “Saya sebagai guru yang mengajar di SMK PGRI 4 Denpasar yang dipimpin Drs. I Ketut Suarya,M.Pd berusaha bergaul dengan siswa dengan candaan kecil untuk mereka,. Saya ingin siswa tahu bahwa tidak semua guru itu galak atau jutek,” ujarnya. –Ngurah Budi
Dwi Lestari foto bersama siswanya usai pelajaran olahraga
24
What’s Up
Edisi 876/ 23 - 29 November 2015
Pengalaman Guru Modeling
Tidak Ada Model Instan Mengembangkan usaha sekolah modeling ternyata gampanggampang susah. Hal ini diakui oleh Ari Agung, model senior Bali, pemilik Montana Modeling sejak tahun 1983 ini. Banyak hal yang mesti dikuasai seorang model, bukan hanya sekadar lenggaklenggok. Apalagi untuk bisa sukses mengotimalkan citra produk yang akan ditampilkannya.
P
embentukan kepribadian pun sangat penting agar bisa mencuri perhatian penonton. Model juga harus disiplin dan beretika.Karena itulah Ari Agung menjelaskan pentingnya sekolah model. Walaupun seseorang sudah memiliki bakat sebagai model, akan lebih baik apabila dibekali dengan pendidikan menjadi model.”Jika hanya punya bakat tapi tidak punya kemampuan, calon model tersebut tidak akan bisa memenuhi kebutuhan untuk menjadi seorang model profesional,” terangnya. Pada masanya Ari Agung dikenal sangat ketat dan on time. Para model tidak
boleh diantar orangtuanya. Namun, usai show dia akan mengantarkan semua modelnya sampai ke rumah masingmasing. “Saya tidak memberikan izin melanjutkan kegiatan lain setelah kami selesai show. Ini tanggung jawab kami pada orangtua mereka. Hal ini juga untuk menepis persepsi salah dari masyarakat dengan kesan negatifnya,” katanya Ari Agung mengatakan kelas modeling yang dibukanya saat sebelum bom Bali pertama tahun 2002 muridnya tergolong banyak. Namun setelah kejadian bom, perlahan murid–muridnya mulai menyusut. “Tdak berhenti namun tidak terlalu ramai,” cetusnya sampai akhir
Pengabdian Guru Nila
Nila dalam ruangan kelas ketika mengajar anak-anak dusun di SDN Tambora
Mengajar di sekolah yang berada di tengah kebun kopi yang dikelilingi hutan di kaki Gunung Tambora, adalah pengalaman tersendiri dalam pengabdian Nila Wijiastuti sebagai guru honorer di SDN Tambora di Desa Oibura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 50 murid yang berasal dari perkampungan sekitar kaki Gunung Tambora yang menuntut ilmu di sekolah terpencil dengan segala keterbatasan ini adalah penghibur bagi Nila. Hari-hari guru muda berusia 30 tahun ini adalah mengajar meski ia harus keluar masuk hutan dari dan menuju tempat tinggalnya di Dusun Pancasila Desa Tambora Kecamatan Pekat, Dompu NTB. Lulusan IKIP PGRI Jember ini begitu mencintai profesinya sebagai guru di sekolah terpencil seperti ini, demi mengantarkan ilmu bagi anak-anak dusun di sekolah ini. Delapan tahun terakhir Nila merelakan waktu dan tenaganya untuk mengabdi sebagai guru sukarela di sekolah nan jauh di ujung utara Pulau Sumbawa ini dengan ikhlas. Tidak banyak orang yang mau bersusah payah keluar masuk hutan seperti halnya Nila untuk mengajar dengan penuh keikhlasan di sekolah yang serba terbatas dan tidak menjanjikan kenyamanan fasilitas ini karena banyak sekolah yang lebih baik dan mudah dijangkau. Beberapa guru yang ditempatkan di sekolah ini, menurut Nila biasanya hanya datang satu atau dua kali saja saat pertama kali ditugaskan, lalu setelah itu nyaris tak pernah kembali lagi ke sekolah yang jarak tempuhnya 6-7 jam dari Kota Dompu dan Bima ini. “Kasihan anak-anak Tambora jika tidak ada guru yang mau mengajar mereka,” ungkap Nila tentang mengapa ia bergitu bersemangat mengajar meski harus menghadapi kesulitan-kesulitan
dalam pengabdiannya ini. Meski hanya sebagai guru honorer sejak tahun 2007 hingga kini, Nila menerima pengabdian ini sebagai bagian dari keinginannya melihat anak-anak dusun tersebut bisa mendapatkan pendidikan seperti halnya anak-anak lain di kota-kota. Meski medan jalan menuju sekolah ini terbilang berat, terutama di musim hujan, tidak membuat Nila menyerah. Hujan yang datang akan membuat jalan tanah berukuran kecil dan di bagianbagian tertentu bisa dibilang setapak ini, menjadi sangat licin dan berbahaya bagi keselamatannya, namun tidak membuat semangatnya surut. Ia terus memacu sepeda motornya, menaklukkan jalanan licin tersebut demi sebuah pengabdian. Ia bertekad harus sampai di sekolah ini tiap hari. Hanya karena alasan yang luar biasa saja yang membuatnya tidak hadir di sekolah. Jalan licin dan berbahaya, bukan perintang bagi guru dengan honorer tak seberapa dibandingkan gaji dan tunjangan sertifikasi guru di masa ini, dalam mengabdi bagi dunia pendidikan. “Kalau saya tidak masuk sekolah, kasihan anak-anak jadi tidak bisa belajar,” katanya. Tentu saja ini menjadi beban tanggung jawab tersendiri bagi Nila mengingat anak-anak yang bersekolah di SD ini juga datang dari kampungkampung sekitar hutan tersebut (Kampung Timur, Kampung Bali dan Dusun Tambora) dan guru yang mengajar di sekolah ini hanya lima orang termasuk di dalamnya juga Kepala Sekolah. Mereka juga menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah tidak mudah. Keterbatasan membuat mereka harus berjalan kaki dan berjuang melewati hutan dan jika hujan tiba, tidak jarang mereka basah ketika sampai di sekolah. -Naniek I. Taufan
nya beberapa tahun terakhir Ari Agung memilih mendidik secara privat. Teknik mengajar modeling yang biasa digunakannya ketika mengajar di kelas selama ini adalah standar mengajarnya seorang Titik Qadarsih. Ada senam kaki, senam tangan dan calon model pun mesti mengenakan baju senam.“Untuk menjadikan seorang model yang berkualitas dan terdidik tidak mudah. Semua dilakukan perlahan termasuk dalam menggunakan alat-alat bantu, agar langkah lebih lurus serta badan yang luwes dan indah di atas catwalk. Semuanya menuntut disiplin yang ketat tidak ada yang instan. Sebab, selain ekspresi, kelenturan tubuh penting untuk di foto atau pemotretan,” paparnya sambil menambahkan untuk kepribadian mereka juga diberikan pelatihan seperti cara berdiri, duduk, naik tangga, hingga cara berkomunikasi dan tata busana juga wawasan lainnya agar menjadi diri sendiri yang hangat, ramah dan beretika
Ditanya suka dan duka sebagai guru modeling, ibu dua anak ini mengatakan, baginya bisa mendidik calon model dengan benar adalah sebuah kebahagiaan. Sebab, ia bisa membentuk setiap model mampu tampil percaya diri dan berhasil memunculkan karakternya masing-masing. “Cobalah perhatikan model-model catwalk yang dulu dengan sekarang,” katanya. Bicara duka, dikatakannya yang sangat diingat adalah saat-saat awal membuka sekolah modeling. “Kala itu dunia model dan semua yang ada di dalamnya, oleh sebagian masyarakat masih mendapat cap negatif dan dianggap tak jauh dari dunia glamor, kelas premium bahkan ada yang menganggap tidak ada unsur edukasinya,” ujarnya. “Saat ini juga kami tidak bisa lagi mengajar seperti dahulu. Sebab anak sekarang susah diberi pengarahan. Mereka cepat bosan, tidak mau belajar dari awal tapi ingin cepat jadi model dan langsung ikut fashion show. Apalagi kalau dia merasa
Ari Agung
tinggi dan cantik maunya segera diajak show meskipun jalannya belum lurus dan belum luwes juga,” lanjutnya. Masih soal anggapan yang miring terlanjur melekat tersebut, menurut pemilik Montana Modeling ini anggapan itu salah. Sebab, terjun di dunia modeling justru mendatangkan dengan berbagai manfaat sekaligus memiliki nilai edukasi. Kalau pun ada yang kurang baik itu berpulang kembali pada oknumnya. – Sri Ardhini
Soroti Pengangkatan Guru Setahun dua tahun terakhir ini tak ada pengangkatan guru. Meski demikian minat masyarakat memilih profesi guru dengan melanjutkan ke sekolah keguruan, masih bagus. “Tak ada perubahan signifikan. Kalau pun angkanya menurun sedikit itu masih wajar. Tahun lalu kami menerima mahasiswa baru 700an, tahun ini 625 orang, jadi menurut saya ini masih stagnan,” ujar Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. Menurutnya, respons masyarakat ini tak lepas dari makin diperhatikannya nasib guru oleh pemerintah, dengan adanya sertifikasi guru. Namun di sisi lain, Made Suarta menyoroti tentang pengangkatan guru. Baginya, guru dan tenaga medis itu harus diangkat, tidak bisa tidak. “Pengangkatan pegawai mungkin saja bisa ditunda, tetapi yang terkait dengan kesehatan, terkait dengan kecerdasan bangsa, itu tak bisa ditunda. Guru harus diangkat. Hanya saja cara/sistemnya ada yang diangkat berdasarkan sistem kontrak, guru tidak tetap, ataupun guru tetap. Yang jelas kebutuhan akan guru tak akan pernah berhenti,” ujarnya. Suarta menegaskan, fakta di lapangan, banyak sekali guru yang pensiun. Jadi, pertimbangan ini (pengangkatan guru) menurutnya tak bisa ditawartawar lagi, karena guru berkaitan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia mengatakan, di IKIP PGRI Bali, rata-rata per tahun menamatkan 1.000 calon guru, itu pun 50 persennya sudah bekerja. “Sisanya yang 50 persen itu bisa mengisi guru-guru yang pensiun itu,” ujarnya. Sebetulnya kekurangan guru merupakan gejala nasional, realita di lapangan termasuk di Bali. Berdasarkan informasi dari media cetak pun, mulai dari Jembrana, Buleleng, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan hampir di setiap kabupaten/kota di Bali itu kekurangan guru. Angkanya tak lagi puluhan, namun sudah ratusan di masing-masing kabupaten di semua jenjang pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, Suarta yang vokal berteriak agar “pemerintah tidak menutup mata dan telinga” akan krisis guru di setiap kesempatan termasuk di media ini, kini bisa tersenyum lega. Paling tidak, pemerintah melalui media cetak telah menyikapinya dengan wacana akan mengangkat guru yang akan aktif per 2016 ini, termasuk guru Bahasa Bali. “Katanya pengangkatan guru akan dilakukan secepat mungkin dan akan dimanfaatkan tenaganya tahun ajaran 2016. Ini bagian dari sikap pemerintah yang sudah membuka mata dan telinga,” ujarnya sumringah. Dari pengamatannya, di sekolah-
sekolah yang kekurangan guru, kepala sekolah mengambil kebijakan dengan mengangkat guru-guru honorer, guru tidak tetap (GTT) yang mengajar di sekolah tersebut. “Dalam hal tanggung jawab, GTT itu berbeda dengan guru tetap. Guru tetap, selain mengajar dia juga mendidik dan terlibat penuh, sementara GTT tak sejauh itu. Tapi mungkin saja tak semua GTT seperti itu,” ucapnya. Jika saja pemerintah komitmen dan konsisten dengan ucapannya dalam rangka peningkatan kualitas, tentu pengangkatan guru tak bisa diabaikan.
Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum.
Bagaimana kita berbicara kualitas, sementara salah satu komponen/bagian dari peningkatan kualitas adalah guru saja masih kurang. “Di sisi lain, pemerintah menuntut peningkatan kualitas. Ini sudah tak relevan. Yang namanya guru, apalagi guru mengajar rangkap, apalagi guru mengajar tidak sesuai dengan bidang studi, janganlah berbicara kualitas di sana. Karena dengan mengajar rangkap sudah otomatis konsentrasi guru terpecah, tentu bisa dibayangkan kualitas apa yang diharapkan dari situasi seperti itu. Di sinilah pemerintah harus segera menyikapi kekurangan guru ini,” tegasnya lagi. Namun, Made Suarta optimis, tahun depan respons masyarakat akan makin bagus lagi seiring dengan adanya wacana yang diembuskan Wagub belum laam ini. “Pasti ada angin segar bagi dunia keguruan. Tidak ada pilihan lain, harus ada pengangkatan guru. Lucu kalau kita berbicara kualitas, tapi SDM/tenaga gurunya tidak ada. Sehebat apapun sarana prasarananya, jika yang menggerakkan (guru) tidak ada, mau bagaimana?,” ungkapnya. Kalaupun nantinya ada pengangkatan guru, Suarta berharap tak ada kepenti ngan politis di dalamnya. Pengangkatan guru tak boleh sembarangan, harus disesuaikan dengan kebutuhan. “Kalau saja pemerintah konsisten setiap tahun mengangkat guru, tentu tak akan terjadi seperti ini,” tandasnya. –Inten Indrawati
Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
Website: www.tokoh.co.id