Skip to main content

Tokoh Edisi 868 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 868/ 28 September - 4 Oktober 2015

Saksikan Grand Final Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2015 Grand Final “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar Tahun 2015” siap digelar. Acara yang mengusung tema “Inspire And Harmony Of Wastra” ini bakal dilaksanakan di Hotel Aston Denpasar, Jumat, 2 Oktober 2015.

S

ebelumnya rangkaian acara seleski Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar yang keempat kalinya ini sudah pula dituntaskan dengan baik. Proses awal dimulai dengan tes tulis pada Sabtu ( 5/9), tes interview pada Minggu (6/9), meliputi sikap/tata krama, public speaking (communication act), kerjasama tim dalam kegiatan harian serta performance, di Aula Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar. Menurut Ketua Panita Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2015, AA Bagus Magha Sambara, peserta yang mengikuti seleksi tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni 195 orang peserta, yang berarti terjadi kenaikan hingga 50 % dibanding tahun sebelumnya. Jumlah peserta yang semakin banyak ini, katanya juga diikuti dengan peningkatan kualitas peserta

yang terdiri dari siswa-siswi SMA/ SMK, Perguruan Tinggi dan Umum. “Untuk proses seleksi kali ini berlangsung selama dua hari. Mulai dari tes tulis, catwalk hingga tes bakat,” terangnya. “Bangga melihat generasi muda sekarang memiliki kepedulian yang tinggi untuk turut melestarikan dan mengembangkan produk lokal kita, khususnya kain endek ini,” lanjut pemuda yang lebih akrab disapa Gung Gus ini. Dikatakannya setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat, berhasil terpilih 24 orang finalis, yaitu 12 Finalis Duta Endek Pria dan 12 Finalis Duta Endek Wanita. Selanjutnya para finalis juga telah memperoleh pembekalan seperti pelatihan desain dan mengenal motif endek pada Sabtu (12/9) serta pelatihan public speaking dan kepribadian pada Minggu (13/9).

Kunjungan Finalis Duta Endek ke Sekar Jepun

Berikutnya, seluruh finalis juga diajak visiting trip ke pengrajin endek Sekar Jepun pada Kamis (24/9). Dalam kesempatan tersebut dilakukan penilaian terhadap impression peserta tentang proses pembuatan endek. Selain sudah pula dituntaskan foto session dan pembuatan video bumper, dan akhirnya finalis

Suasana seleksi calon Finalis Duta Endek Kota Denpasar 2015

dikarantina menjelang hari H nanti,” paparnya.

Launching Lagu Duta Endek Gung Gus juga menyampaikan bahwa pada puncak acara atau pagelaran Grand Final, 2 Oktober mendatang , masih dengan motto

acara “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga” ke 24 finalis akan tampil untuk memperebutkan Juara I, II, III (putra-putri) , Juara Favorit yang dipilih penonton pada saat performance show dan Best of Inspiring , Best of Photogenic serta Best of Talent. Pada acara itu juga bakal dimeriahkan dengan berbagai suguhan hiburan oleh para Finalis Duta Endek Kota Denpasar 2015, juga para Duta Endek terpilih tahun sebelumnya. “ Satu hal yang istimewa di acara Grand Final yang didukung oleh Asbes Kota Denpasar, Turah Mayun (AAA), Tude Togog, Pertenunan Artha Dharma, Jegeg Bali Salon, Jaya Arsana Salon, Kwace, Katrin Sutawijaya, Devinta Tito (Sekar Jepun) dan Taksu Bali ini, bakal dilaksanakan “Launching lagu Duta Endek “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga ,” ujar Gung Gus. Dengan seluruh rangkaian kegiatan tersebut Gung Gus berharap tujuan dilaksanakannya Pemilihan Duta Endek, yakni : Menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan di kalangan remaja terhadap endek; Mempromosikan dan menyosialisasikan ragam endek sebagai produk kearifan lokal serta menjadi salah satu potensi unggulan Kota Denpasar; Sebagai usaha peningkatan kemampuan personel pelayanan informasi dan promosi endek; Mempersiapkan putra-putri terbaik Kota Denpasar yang berprestasi serta mampu menjadi Duta Endek Kota Denpasar; Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk lebih mengenal endek melalui Duta Endek Kota Denpasar; dan Membantu upaya Pemerintah Kota Denpasar dalam menyosialisasikan penggunaan produksi dalam negeri ini dapat tercapai. -ard


2

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

DAri daPUr Redaksi

Ekspresso

Sukses Milik Semua Tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional. Makna yang tersurat adalah tanggal tersebut merupakan tanggal yang istimewa bagi para penyandang gelar sarjana. Namun, ada makna tersirat yang perlu dicermati bersama. Sarjana identik dengan gelar akademik, gelar di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu pilar yang menentukan kemajuan bangsa. Untuk mewujudkan kemajuan tersebut, pemerintah terus memberikan perhatian terhadap dunia pendidikan. Urusan pendidikan pun ditangani dua Menteri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk jenjang pendidikan usia dini hingga menengah atas dan Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk jenjang pendidikan tinggi. Banyak hal yang kemudian dihadapi, salah satunya adalah munculnya lembaga pendidikan yang tak punya izin resmi tetapi berani menggelar wisuda. Acara wisuda bodong di Tangerang Selatan ini pun digerebek Kementerian Ristek dan Dikti. Mengapa ada orang yang mau mendapatkan gelar sarjana tanpa kuliah? Tentu banyak alasannya. Dari referensi yang ada, sarjana berasal dari bahasa Sanksekerta yang diartikan penciptaan. Dalam bahasa Inggris, digunakan istilah undergradueted. Ini merupakan gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan strata 1 yang sudah menempuh pendidikan antara 4 sampai 6 tahun. Umumnya gelar sarjana merupakan dambaan setiap orang, karena ini menunjukkan status pendidikan yang telah tinggi. Asumsinya dengan status pendidikan yang tinggi, status sosial juga akan lebih meningkat. Untuk menjadi sarjana, kini sudah banyak pilihan.

Bintang Mira, owner Bali Batiku bersama Ngurah Budi, Redaktur Pelaksana Tokoh dalam acara simakrama

Mau perguruan tinggi negeri bisa, mau pilih swasta juga bisa. Perguruan tinggi harus bersaing sehat untuk mendapat mahasiswa dan nantinya meluluskan sarjana yang berkualitas. Setelah memiliki gelar sarjana, mau apa? Semua kembali ke tujuan masing-masing. Ada yang untuk menambah ilmu, ada yang memakai untuk kenaikan pangkat dan jabatan. Apakah semua sarjana sukses? Belum tentu juga. Ada orang yang tak memiliki gelar sarjana bisa sukses. Masing-masing orang memiliki “garis tangan” yang berbeda dan sukses milik semua orang. Semua patut disyukuri karena itulah karunia Tuhan. Beragam tulisan mengenai pendidikan ini kami sajikan di halaman Sudut Pandang yang disambung di halaman Edukasi, Dara, dan Woman on Top. Kami ingin memberikan Sudut Pandang yang berbeda untuk pembaca dan masyarakat. Edisi minggu ini kami juga menampilkan promo Festival Keluarga 2015 yang akan kami laksanakan Minggu 8 November 2015 dan dirangkaikan dengan HUT ke-17 Tokoh. Kami akan menggandeng banyak mitra kerja untuk bersama-sama menyukseskan acara ini. Salah satunya, kami mendapat dukungan dari Bali Batiku. Semoga apa yang akan kita lakukan memberi manfaat untuk kita semua. Salam

Diselamatkan Catatan Teman

Bekerja di sebuah perusahaan, kita memang harus taat pada peraturan yang berlaku. Mulai dari jam kerja dan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh seluruh karyawan. Beberapa bulan lalu saya diterima bekerja di salah satu perusahan ternama di Denpasar. Saya merasa sangat senang ka­ rena saya dapat bekerja di per­ usahaan yang jaraknya sangat dekat dengan rumah saya. Di perusahaan ini jam kerja dibagi menjadi dua shift, ada shift pagi dan ada shift sore. Suatu hari saya mendapat tugas shift sore. Pada hari itu jumlah pengunjung sangat banyak apalagi saat malam hari. Dengan menahan rasa kantuk saya berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk melayani pengunjung. Hingga akhirnya jam pun menunjukkan pukul 22.00 pertanda sudah waktunya pulang untuk beristirahat. Setelah kantor tutup, saya bergegas pulang agar bisa beristirahat karena besok harus kerja pagi dan saya harus meng­ ikuti rapat bersama pimpinan. Keesokan harinya, karena pukul 07.00 harus sudah di kantor,

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

saya tidak dapat istirahat dengan maksimal. Saya pun berangkat ke kantor sambil menahan rasa kantuk. Tiba lah waktunya untuk rapat bersama pimpinan. Hal yang dibahas adalah tentang omzet dan pencapaian target. Membahas hal itu rasa kantuk saya semakin menjadi-jadi. Instruksi dari pimpinan, semua karyawan harus mencatat apa yang dibahas dalam rapat tersebut. Karena rasa kantuk saya tidak bisa diajak kompromi, saya hanya memperhatikan apa yang diucap­ kan oleh pimpinan saya tanpa mencatat. Pikir saya dalam hati, tidak mungkin si bos memeriksa seluruh catatan karyawan kan? Setelah sekian lama, rapat pun berakhir, dan saya merasa sangat lega. Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama. Tiba-

tiba pimpinan meminta semua catatan tentang apa yang dibahas dalam rapat tadi dikumpulkan. Yang tidak mengumpulkan akan dikenakan sanksi. Oh my God... Serasa ada petir menyambar kepala saya..!!! Ruang­ an yang awalnya dingin karena berAC mendadak terasa panas, ke­ ringat saya bercucuran. Saya pun kebingungan. Dalam kepanikan saya mengambil catatan teman dan langsung menyalinnya ke dalam catatan saya. Tidak banyak yang bisa saya catat, hanya inti-intinya saja. Saya pun dengan cepat dapat menyalin catatan teman saya dan segera mengumpulkannya. Akhirnya saya dapat mengum­ pulkan catatan itu walaupun hanya sedikit. Yaa... yang penting saya sudah berusaha. Berusaha menutupi kesalahan. Hehehe... Trisna, Denpasar

GORO-GORO

KIAT “Pak Jadi, tukang gado-gado itu brengsek,” kata Amat. “Dagangannya memang juara. Semua orang setuju. Bukan hanya rasanya selangit, juga Putu Wijaya kemasannya apik dan bersih”. “Apanya yang brengsek ? Kan langganan Bapak”. “Kelakuannya!” “Lho orangnya kan baik?” “Memang baik. Sebagai tetangga dia baik. Tapi sebagai pedagang, nol besar! Masak maunya sendiri yang dipakai. Kalau sudah punya duit, tiba-tiba pulang kampung seenak perutnya. Kadang sebulan dua bulan. Baru kalau duitnya habis, baru nongol lagi. Makanya dari 10 tahun yang lalu tidak punya rumah sendiri. Terus saja ngontrak di gang kumuh itu! Dasar Melayu, nggak bakal bisa maju!” “Lho Bapak kok marah? Apa salahnya orang pulang. Dia kan juga manusia?” “Manusia yang ditakdirkan miskin! Kalau dagang, tiru dong itu orang-orang Tionghoa, disiplin, tekun. Cari uang, ya cari uang! Jangan dicampur urusan yang lain-lain. Memangnya nasi campur?!” “Meskipun semua orang mengatakan gado-gado Pak Jadi enak, meskipun dipuji harganya murah, meskipun saya sendiri belum pernah membeli atau mencicipinya, saya kira gado-gado Pak Jadi biasa-biasa aja. Enaknya di mana?” “Cobalah dicicip sekali saja, nanti ketagihan!” “Ah, semua gado-gado sama saja, Pak. Kangkung, toge, kol, labu siam, kacang panjang dan saos kacang. Yang suka bumbu kacang pasti ketagihan. Tapi yang punya asam urat jangan cobacoba!” “ Memang. Tapi gado-gado Pak Jadi itu luar biasa, Bu! Jenius. Kabarnya, Pak Gubernur juga jadi langganannya!” “Masak?” “Coba tanya Pak Alit yaang kerja di gubernuran. Kata Pak Alit, pesuruh Gubernur yang tiap hari beli gado-gado Pak Jadi.” Bu Amat ketawa. “Kok ketawa!” “Habis, Bapak yang biasanya kritis, kok bisa dikecoh?” Amat terkajut. “Dikecoh bagaimana?” “Karena cerita Gubernur jadi langanan tukang gado-gado itu, membuat gado-gadonya jadi enak. Padahal bukan Pak Gubernur yang makan, tapi pesuruh itu sendiri. Dan bukan dibeli, tapi dikasi gratis. “ “Masak?” “Ya!” “Kenapa?” “ Karena dia calon mantu Pak Jadi. Dan Pak Jadi pulang-balik ke kampung itu, bukan kebodohan, tapi kiat, supaya orang tambah kangen pada gado-gadonya! Bagaimana gado-gado yang saya beli itu? Amat meringis. “Ini gado-gado kampung, nggak enak!” Amat berdiri, mau keluar. “Mau ke mana?” “Mau beli gado-gado Pak Jadi, kan tadi dibilang sudah balik dari kampung.” “Lha, itu gado-gado yang barusan Bapak makan, kan gadogado Pak Jadi!”

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

23

Ngopi Nang Lorong

Beli Kopi Bonus Cerita Ngopi sek ben gak salah paham. Jargon khas yang biasa diceletukkan masyarakat Surabaya begitu membudaya. Tak ayal, banyak masyarakat berkunjung ke warung kopi. Pengunjung bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk segelas kopi. Tak sekadar minum kopi, penikmat kopi juga saling bertukar pikiran. Bisnis kopi yang tak pernah mati ini kemudian dibidik Widi Antoro sebagai peluang usaha.

N

ongkrong nang Lorong adalah nama kedai kopi milik laki-laki yang selalu berpakaian tradisional ini. Puitis menjadi acuan Widi dalam pemberian nama kedainya. Kedai ini terletak di lorong depan rumahnya. Konsep yang diusung kedai beralamat Jalan Petemon IV/142 ini adalah tradisonal.

tkh/dona

Gaya Jogja dianggap paling cocok mewakili konsep tradisional. Agar tidak terkesan menjiplak, hanya simbol-simbol Jogja seperti angkringan yang diterapkan di kedainya. Tersedia 63 jenis kopi di kedai ini. Pengunjung bisa memilih sendiri kopi dalam toples yang telah diberi nama. Kopi pasar merupakan produk andalan laki-laki humo-

ris ini. Sedang, kopi mahal hanya sebagai pelengkap agar terkesan komplit. Kopi pasar sebagai tagline Nongkrong nang Lorong bukan tanpa sebab. Ia ingin memberdayakan penjual kopi tradisional di pasar agar tidak hilang digerus zaman. Tak lebih 15 penjual kopi tradisional yang masih bertahan di Surabaya. “Ini sebenarnya program pemberdayaan. Bukan sekadar usaha. Di pasar-pasar kadang masih ada orang jual kopi. Orangnya pasti tua-tua pasti. Itu barang langka,” tuturnya. Kopi asem dan kopi pacuan kuda adalah salah sedikit kopi pasar Surabaya. Ada kopi dijual utuh. Ada pula kopi dijitu (disiji pitu). Maksudnya, kopi satu campuran beras atau jagungnya tujuh. Kopi jitu yang dijual Widi berasal dari Mantingan, Blitar, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, dan Magetan. Kopi black merupakan kopi jitu terenak, berasal dari Malang. Selain itu, terdapat kopi kebon, dipanen dari kebun kopi. Kopi Rolak Banyuwangi, Kopi Jolong Pati adalah beberapa jenis

tkh/dona

kopi kebun. Sedangkan, kopi hasil pemberdayaan masyarakat adalah kopi Oah dari Pekalongan. Widi tak melulu menjual kopi. Bagi pelanggan yang tidak menyukai kopi, terdapat cokelat, es teh gula batu, es tape, wedhang uwuh, dan es jus. Gorengan dan nasi kucing merupakan camilan yang disediakan Widi. Uniknya, laki-laki kelahiran Blitar ini tidak menjual kopi kemasan. Baginya, kopi kemasan merupakan kapital besar, sehingga tidak perlu dipromosikan lagi. Nongkrong nang Lorong mengusung tema berbeda dengan warung kopi lain. Perbedaan ini terletak dari konsep pelayanan. Tak hanya dilayani langsung oleh pemilik, penikmat kopi pun disuguhi berbagai cerita oleh sang Empunya kedai. Mulai dari cerita jenis dan asal kopi hingga sharing pengalaman menjadi trik jitu menggaet konsumen. “Dalam khazanah pengalamanku, orang diceritani itu selalu suka. Tidak ada orang diceritani tidak suka. Dari 100 persen, paling yang tidak suka diceritani 20 persen. Jadi, masih ada pangsa 80

persen yang suka tak ceritani,” tukas laki-laki yang lama tinggal di Yogyakarta ini. Harga kopi yang dipatok Widi cukup murah. Kopi pasar dipatok Rp 3.000 sementara kopi paling mahal adalah kopi luwak robusta dari Dampit seharga Rp. 17.000. Widi turun tangan ke pelosok untuk mencari kopi. Ketika kunjungan kerja ke berbagai daerah, ia selalu menyempatkan diri berburu kopi. Hal inilah yang menyebabkan harga kopi Widi murah. Kedai kopi yang buka mulai pukul 17.00—24.00 ini mampu meraup omzet hingga Rp 800 ribu. Sayangnya, omzetnya saat ini Rp 400 ribu. Penurunan omzet ini tak lain imbas daya beli masyarakat turun akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Widi berharap masyarakat sekitar rumahnya diberdayakan. Tidak hanya rekruitmen tiga tetangga menjadi karyawannya, tetapi ibu-ibu yang banyak menganggur dapat berdaya. “Cita-citaku jajanan dibuat orang sekampung. Orang sekampung bisa berdaya. Jadi tidak di rumah saja,” kata Widi. -Nofianita Wahyuni

Dari Reseller Jadi Owner Bekerja keras tidak ada yang sia-sia. Dengan bekerja keras, ternyata dapat mengubah hidup seseorang. Sebut saja Andrean Suwanto. Dulu ia bekerja sebagai teller di sebuah bank. Kini berubah drastis menjadi pebisnis jual-beli telepon selular (ponsel) bekas. Sebelum sukses menggeluti bisnis pertelekomunikasian, ia sempat dirumahkan oleh pihak bank karena menikah sebelum kontrak habis. Tak putus asa, lakilaki 27 tahun ini memutar otak agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia akhirnya bekerja sebagai reseller. Reseller adalah pekerjaan dengan modal nol. Caranya ikut membantu menjualkan barang dagangan orang lain, misalnya minyak wangi, ponsel, tiket pesawat, dan lain sebagainya. Lambat laun, dengan modal yang didapat dari bekerja menjadi reseller, ia membuka pangsa pasarnya berbisnis jual-beli ponsel bekas. Alasannya memilih bisnis tersebut karena ponsel kini menjadi bagian dari kebutuhan pokok. “Dari yang muda

Andrean Suwanto

sampai yang tua, laki-laki maupun perempuan, semua membutuhkan ponsel, jadi bisnis tersebut dapat menjanjikan karena selalu dibutuhkan oleh masyarakat,” kata pria yang sering disapa Andre ini. Selain itu, ia memilih bisnis ponsel bekas karena untung yang didapat lebih banyak daripada menjual ponsel baru. Namun, setiap pekerjaan selalu mempunyai risiko. Risiko yang didapat terkadang kondisi ponsel yang rusak atau cacat sehingga harus

diperbaiki dan harga menjadi jatuh. Keuntungannya, jika mendapat ponsel yang kondisinya seperti baru, dapat dijual dengan harga tinggi. “Pangsa pasar saya lebih banyak kepada para pedagang, meskipun untungnya lebih sedikit, namun tetap lancar, yaitu sekitar 70%. Sedangkan langsung ke pembelinya sekitar 30% saja”, jelasnya. Pemasaran yang dilakukan oleh bapak satu anak ini, melalui online, antara lain Blackberry Massager (BBM) dan Facebook. Selain online, dia juga owner counter Etnis Cell di lantai tiga World Trade Center (WTC), Surabaya. Penjualannya bisa sampai ke luar kota dan pulau misalnya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Papua, dan lain-lain. Menurut Andre, usaha apa pun harus dilakukan dengan kerja keras, kecakapan, keuletan, dan harus menciptakan komunikasi yang baik dengan para customer, dan dapat dipercaya agar para konsumen tidak lari dan tidak kapok. “Sediakan juga masa garansi pribadi agar pembeli lebih percaya,” tegasnya. -Mega Purwaningrum

tkh/dona


22

Sosialita

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Jangan Biarkan Guru Kelaparan

Titi Wuryaning Tyas langsung lompat dari pembaringan ketika men­dengar kabar yang disiarkan di televisi bahwa pemerintah akan mengangkat honorer kategori dua (K2) menjadi CPNS secara bertahap hingga 2019. Para guru honorer itu tampak bersujud syukur, dan Tyas pun yang tadinya terbaring sakit, ikut sujud syukur.

I

a tak bisa ikut berdemo bersama teman-temannya karena penyakit maag kronis yang dideritanya tiba-tiba kambuh. Karena­ nya ia hanya bisa memonitor aksi mereka lewat televisi, sambil sesekali menelpon temannya guna menanyakan perkembangan terakhir. “Meski tidak berdemo saya mengikuti perkembangan aksi itu. Teman-teman di lapangan juga mengabari saya lewat telepon,” tutur Tyas sumringah. Janda tiga anak yang sudah 11 tahun mengabdi sebagai guru honorer di sekolah negeri, sangat berharap apa yang didengarnya hari itu akan menjadi kenyataan. Meski ini memang bukan sesuatu yang baru, karena sebelumnya, janji serupa juga pernah disampaikan, namun kali ini dia berharap ini bukan sekadar harapan kosong. Selasa (15/9), Jalan Gatot Subroto di depan Gedung DPR di Jl Gatot Subroto Jakarta, dipenuhi ribuan guru honorer dari Forum Honorer Kategori 2 dari berbagai daerah. Mereka berdemonstrasi saat Komisi II DPR RI, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menggelar rapat kerja. Salah satu tuntutannya adalah diangkat sebagai pegawai negeri sipil. Dalam Raker tersebut akhir­ nya disepakati untuk mengangkat tenaga honorer K2 untuk menjadi CPNS secara bertahap hingga 2019 dimulai pada 2016 mendatang. Selain honorer K2, juga akan diangkat honorer K1 yang pengangkatannya sebagai CPNS belum terealisasi. Kesepakatan Raker tersebut kemudian disam­ paikan kepada para demonstran yang langsung bersorak gembira. Meski diputuskan akan ada pengangkatan bagi honorer, namun tetap saja ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi para honorer tersebut. Di antaranya, telah bekerja satu tahun pada saat Januari 2005 di instansi negeri dan tidak pernah terputus, juga pernah mengikuti tes. “Saya telah memenuhi semua persyaratan itu, bahkan saya sudah dua kali tes CPNS, namun keduanya gagal. Di luar persyaratan itu, saya juga memenuhi persyaratan lainnya yakni memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidikan dan Tenaga Pendidik), dll. Semua syarat-syarat itu harus dimiliki saat kita mengikuti CPNS lalu. Semoga janji kali ini benarbenar terwujud,” ujar Tyas penuh harap. Menanggapi hal ini, Sekjen Fed-

Retno Listyarti

erasi Serikat Guru Seluruh Indonesia, Retno Listyarti mengatakan, dirinya menyambut gembira kabar tersebut. Namun, katanya, para guru jangan terlalu senang dulu karena sebenarnya tidak mudah mengangkat seluruh guru K2 yang berjumlah hampir 500.000 orang itu. Ada banyak aturan yang harus

dipatuhi terkait pengangkatan itu, salah satunya adalah Undang Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipin Negara. “Ini bukan sekadar masalah anggaran yang harus disediakan pemerintah tapi juga sejumlah peraturan yang ada. Pengangkatan tentunya tidak bisa membentur

undang-undang dan peraturan yang berlaku,” jelasnya. Para teman-teman guru K2, jelasnya, harus memahami ini. Benar, bahwa mereka memang harus memperjuangkan nasibnya. Namun di sisi lain, mereka juga harus realistis karena adanya berbagai peraturan yang bisa jadi

akan menghadang. Salah satu contohnya adalah ketersediaan anggaran. Pemerintah bukan hanya harus mengadakan anggaran penggajian tapi juga dana cadangan untuk pensiun. “Nah, kalau tidak salah dalam hitung-hitungan untuk dana cadangan pensiun harus disediakan sekitar Rp 900 triliun. Itu kan jumlah yang sangat besar,” ucapnya. Menurutnya hal yang paling memungkinkan saat ini dilakukan pemerintah adalah; pertama, mengangkat semua guru-guru K2 yang secara aturan sudah memenuhi atau memungkinkan menjadi PNS. Sementara bagi mereka yang karena peraturan tidak bisa diangkat menjadi PNS, maka diberi kompensansi. Antara lain mengangkat mereka menjadi pengawai pemerintah dengan ikatan kerja. Perbedaan keduanya (PNS dan non-PNS) adalah soal pensiun. Hanya PNS yang menerima pensiun, sedangkan soal besaran gaji dibuat sama. “Menurut saya ini salah satu cara yang paling memungkinkan saat ini,” ujarnya.

Kadek Andriani

Berlian makin Dilirik

Berlian merupakan batu permata yang memiliki pesona tersendiri bagi penggemarnya. Berlian tidak hanya dikenal sebagai ikon perhiasan yang tak pernah padam,dan permata yang abadi dengan keindahannya tapio juga memiliki nilai investasi. Apa yang dilakukan perempuan satu ini dengan berlian?

–Diana Runtu

GAJI BURUH LEBIH BESAR DARI GURU HONORER Diakuinya, masalah kesejahteraan memang menjadi alasan utama kenapa para guru honorer ini begitu ‘ngotot’ meminta pengangkatan jadi PNS. Pasalnya, gaji guruguru PNS yang berbeda sangat jauh dengan para guru honorer. Padahal beban kerjanya sama, atau kadang lebih besar ditimpakan kepada guru honorer. Namun selama ini kesejahteraan mereka kurang diperhatikan. Guru PNS misalnya, bisa mendapat gaji berjuta-juta, belum termasuk tunjangan dan lain-lain, sementara guru K2 tidak lebih dari dua juta. “Bahwa antara guru PNS dan guru honorer, gajinya memang bedanya jauh banget. Sehingga menurut saya, wajar kalau mereka melakukan penuntutan. Tentu hal ini harus didukung,” tegasnya. “Bayangkan, guru-guru yang bergelar S1, bahkan S2, gajinya kalah dengan buruh. Di Jakarta, UMR adalah Rp 2,7 juta, sementara guru K2 hanya mendapat di bawah Rp 2 juta. Bahkan guru negeri di bawah Kementerian

Agama nasibnya lebih memprihantikan lagi, ada yang honornya cuma Rp 300.000. Itu di Jakarta, entah bagaimana di daerah, bisa jadi lebih kecil lagi,” ungkap peraih penghargaan Indonesia Islamic Educator Awards 2013 ini. Jadi, tandasnya, seharusnya pemerintah tidak hanya memperhatikan guru-guru PNS yang gajinya kini sudah berlipat-lipat juta, tapi juga kesejahteraan guru honorer, minimal mereka diberi gaji yang sesuai dengan UMR Jakarta saat ini. “Jika kita semua ingin mutu pendidikan Indonesia bagus, harusnya nasib guru, kesejahteraan guru diperhatikan,” tegasnya. Namun demikian lanjutnya lagi, seharusnya pemerintah tidak hanya memperhatikan nasib guru K2 (guru honorer yang mengajar di sekolah negeri) tapi juga seluruh guru di negeri ini yang jumlahnya jauh melebihi guru honorer K2 saat ini. Mereka adalah guru-guru yang berada di sekolah-sekolah swasta. Mereka adalah juga tenaga pengajar di negeri ini, yang juga memiliki beban yang sama dengan

guru-guru di sekolah negeri. “Menurut saya, semua guru harus diperhatikan, baik itu guru negeri ataupun swasta. Kalau ingin kualitas pendidikan meningkat, maka hal pertama yang harus dipikirkan adalah gurunya jangan dibikin kelaparan. Karena kalau berbicara kualitas pendidikan, itu bukan hanya guru negeri tapi juga swasta. Mereka memiliki beban yang sama. Mereka (guru swasta) kan juga orang Indonesia,” tegasnya. Karena itu, ia menyarankan, agar ditetapkan standar gaji minimum guru melalui undang-undang dan itu berlaku untuk semua. Jika problemanya adalah sekolah swasta miskin tak mampu memberi gaji guru sebesar standar yang ditetapkan, maka pemerintah wajib membantu. “Jadi misalnya, berdasarkan standar tersebut, berapa kemampuan sekolah swasta memberi gaji gurunya. Kemudian kekurangannya ditutup oleh pemerintah. Menurut saya itu yang paling realistis untuk saat ini,” ujarnya. –Diana Runtu

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

M

enurut pemilik nama lengkap Ni Kadek Andriani, S.E. ini, berlian tergolong perhiasan yang menggoda, menarik meski cukup langka. Apalagi, dengan bertambah banyaknya peminat, harga berlian menjadi makin menanjak. “Berlian adalah permata dengan tingkat kekerasan sangat tinggi. Jika disimpan dalam waktu lama, bentuk dan karakternya tidak berubah. Makanya, investasi berlian

sangat aman untuk jangka panjang,’’ucap perempuan yang dikenal sangat ramah ini. Istri dari I Wayan Susena, S.E ini, meski kepincut pada permata yang paling wah sejagat ini sejak lama, namun mengembangkannya menjadi bisnis, baru dilakoninya beberapa tahun terakhir. Selain memang eksklusif juga memiliki standar yang jelas. Harganya pun pun relatif stabil. Apalagi berlian makin tinggi karat dan kejernihannya, harganya semakin mahal. Andri begitu ia biasa di sapa dalam menjalankan bisnisnya selain cukup memahami seluk-beluk berlian, ia juga kreatif berkreasi menyiapkan desaindesain istimewa. “Selama ini untuk penggemar berlian di Bali, kami memang menyiapkan desain khusus, bukan hanya yang modern tapi juga unik dan dijamin tidak pasaran,” tandas Andri yang sebelumnya cukup lama berkecimpung di dunia asuransi dengan prestasinya ini. Ia juga siap melayani model sesuai pesanan dan juga menyiapkan berbagai desain lainnya dengan berbagai ukuran. “Berlian yang mempunyai kualitas istimewa adalah berlian yang memantulkan warna cahaya dari semua arah. Apalagi terkena lampu,warna cahaya dan kesempurnaan sebuah berlian akan lebih keluar lagi,” tutur ibu dari I Putu Gede Erlangga

Arsena, Ni Kadek I n t a n P ra m e s t i dan Ni Komang Ayu Shelomitha yang sempat melihat langsung salah satu proses cutting berlian di Belanda beberapa waktu lalu ini. Hingga kini ia dengan koleksinya yang terus bertambah, Andri memastikan selalu konsisten memberikan produk dengan kualitas terbaik, memiliki standar menengah atas, yaitu color dan VVS1. Namun, tidak perlu khawatir karena ia tidak hanya menyediakan desain khusus tapi juga sesuai pesanan. “Berlian tak harus besar, dalam ukuran kecil pun berlian juga dapat indah dipandang mata,” tandas putri kedua pasutri I Made Adra dan Ni Wayan Meni ini.

ASET FAVORIT Andri juga menyatakan kalau berlian adalah salah satu perhiasan yang masih memiliki nilai jual kembali, sehingga beberapa orang menganggap berlian sebagai pelengkap fashion sekaligus juga sebagai salah satu instrumen investasi. “Makanya, tidak salah juga jika saat ini semakin banyak dari pasangan calon pengantin memilih cincin yang bertabur berlian,” katanya. Sambil menata koleksinya, ia bercerita tentang beragam jenis berlian, mengenai investasi berlian dikatakannya pilihannya ber­pulang pada Anda semua. Apakah memilih berlian menjadi sebuah aset investasi dalam bentuk butiran satuan utuh, atau dibentuk terpecah menjadi pasir berlian. Jenis berlian yang dipilih sebagai investasi minimal memiliki berat dua karat. Warna berlian untuk investasi sebaiknya berkisar di kode “D”, “E”, “F” dan tingkat kejernihan “VVS”. Ketika ditanya bagaimana cara menentukan keaslian berlian? Andri menyatakan kalau sudah biasa dengan cara melihat pakai mata telanjang pun bisa membedakan mana yang asli dengan yang bukan berlian.

“Pastinya, berlian yang bagus akan memancarkan cahaya yang indah. Namun, Anda tidak perlu khawatir kami ada alat untuk menguji keaslian sebuah berlian,” cetusnya. Penghobi baca dan travelling ini menyebut model atau potongan berlian merupakan satu hal yang sangat menentukan kualitas dan harganya. Itu karena hasil potongan akan menentukan pemantulan cahaya yang akan memperlihatkan keindahan kilauan batu berlian tersebut.Dalam memilih berlian,potongan atau model berlian bergantung pada selera pemakainya. Andri juga mengtakan sebelum memutuskan untuk berinvestasi berlian, perlu diketahui empat kunci terpenting dalam memilih berlian, yakni carat, color, clarity, dan cutting. Carat, merupakan satuan berat berlian yang setara dengan 0,2 gram berat emas. “Berbeda dengan carat pada emas yang menunjukkan kemurniannya,” tegas Andri. Color, warna berlian yang paling umum adalah putih kekuning-kuningan. Makin putih berlian tersebut, nilainya makin tinggi karena makin langka. Clarity merupakan kejernihan berlian. Selanjutnya, cutting adalah proses penggosokan berlian. ’’Bila cutting-nya tidak sempurna, berlian tersebut tidak akan bisa menghasilkan sinar atau pantulan cahaya yang gemerlap,” lanjutnya. Selama ini, dalam bentuk

Andri (tengah) dan para sahabat

3

perhiasan, berlian paling banyak dipadukan dengan emas putih. Sebab, emas putih mampu memantulkan cahaya berlian sehingga kilaunya makin memancar. Dari masa ke masa, berlian selalu menjadi jawara yang tak tertandingi. Trend-nya tidak pernah berlalu dari tahun ke tahun. Berlian memang jodoh­nya perempuan, mengenakan berlian bisa menambah kepercayaan diri seseorang. Berlian dengan acuan harga yang jelas yakni ukuran, karat, kejernihan dan kandungan emas di dalamnya.” Kalau sudah begini, perempuan mana yang bisa menolak kerlap-kerlip berlian ? Berlian akan tetap diminati sampai kapanpun. Prospeknya bagus jadi kenapa ditunda, ayo dipilih,” ujarnya berpromosi. -ard

Kadek Andriani


4

Inspirasi

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

S e p t i a n a Ya n t i

Berburu Anak Jalanan “I

Septiana Yanti

berkumpul anak jalanan, mengajak mereka untuk belajar. “Itu saya lakukan selama berbulan-bulan. Saya datang ke terminal, ke stasiun kereta api, mencari mereka,” ujarnya. Ketekunan dan kesabaran Septi akhirnya membuahkan hasil. Anak-anak didiknya tergerak untuk datang setiap Sabtu-Minggu tanpa harus dicari. “Ini sungguh mengharukan saya. Bahkan mereka bisa balik mempertanyakan saya, jika saya sampai absen mengajar,” ungkapnya. Menurut Septi, dirinya bahkan sebelum terlibat di SSC, sudah menyukai anak-anak. Karena itu, sekalipun menangani anak-anak jalanan ini terbilang sulit, namun dirinya mengaku enjoy. Bagi saya, mereka dengan latar belakangnya dan karakternya yang terbentuk karena hidup di jalanan, justru menarik dan memacu dirinya

Sebagian anak-anak jalanan di bogor sedang belajar di komunitas SSC

ide kreatif dalam mengajar. Septi bercerita, komunitas aktivitas sendiri, mereka memiliki Save Street Child atau SSC dididunia sendiri, mereka juga sudah rikan oleh Shefti Lailatul Latiefah terbiasa mencari uang sendiri atau akrab disapa Shei pada dengan mengamen, dll. Jadi kami 2011 di Jakarta. Sebelumnya ini sebagai pembimbing, pengajar, hanyalah sebuah gerakan yang harus pandai-pandai memberi dikumandangkan di media soprogram yang tepat sehingga bisa membuat si anak betah belajar dan pada akhirnya mereka pun datang sendiri untuk belajar tanpa harus dicari,” jelasnya. Ya n g p a s t i , tambahnya, dirinya ataupun pengajar lain tak mungkin marah atas prilaku anak-anak itu. “Wahh kami tidak mungkin marah ya, bisa kabur mereka. Anak-anak SAVE STEET CHILD sedang study tour di peternakan bogor Mencari mereka dan mengajak belajar saja sudah sulit, jadi nggak untuk terus memutar otak ba- sial tahun 2010 oleh Shei dan mungkin lah kami marah karena gaimana agar sajian materi yang kawan-kawannya. Ketika itu mereka melihat anak-anak putus diberikannya diminati mereka. prilaku mereka,” ucapnya. “Ini tantangan, ya. Saya suka sekolah berkeliaran di jalanan itu. Saya suka sesuatu yang penuh untuk mencari uang, baik dengan SUKA ANAK-ANAK Dulu, lanjut Septi, ketika di- tantangan, saya tidak suka yang mengamen, berjualan, dll. Shei rinya masih terlibat penuh sebagai monoton,” katanya. Bagi yang suka berempati pada kehidupan anakpengajar, setiap Sabtu-Minggu, tantangan, kondisi ini akan mem- anak ini, ia pun lalu mengajak yakni jadwal belajar SSC Bogor, buat si pengajar berpikir keras dan beberapa temannya untuk memdia harus mendatangi titik-titik pada akhirnya bisa melahirkan ide- bantu. Awalnya, hanya 10 anak putus sekolah yang dibantu. “Gerakan ini terus berkembang sehingga akhirnya terbentuk lah komunitas ‘Save Street Child’ (SSC) pada 2011 dengan target anak jalanan dan anak-anak rentan sosial. Maksudnya anak rentan sosial adalah anak-anak yang masih memiliki orangtua seperti pemulung, dll, yang putus sekolah dan mencari uang untuk membantu keluarganya. Dalam perkembangannya SSC akhirnya memiliki badan hukum yayasan. Dengan begitu,SSC menjadi lebih leluasa dalam mewujudkan visi dan misinya. Keberadaan SSC di Jakarta dengan berbagai kegiatannya, secara berkala Anak-anak jalanan menunjukkan karya mereka dipublikasikan lewat berbagai

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

21

Berqurban adalah Perbuatan dan Niat

Lapangan-lapangan umum yang ada di Mataram, kembali dipenuhi umat Islam yang berbondong-bondong datang untuk menunaikan Salat Idul Adha 1436 H, Kamis (24/9). Lapangan-lapangan yang menjadi pusat pelaksanaan Salat Idul Adha yang selalu dipadati warga tersebut salah satunya adalah di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat. Pada momen Salat Ied kali ini di Kantor Gubernur NTB hadir Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin beserta kepala-kepala SKPD Lingkup Provinsi Nusa Tenggara Barat. Imam Salat Ied dipimpin oleh Ust. H. M. Sudiharji dan Khatib TGH. Hasanain Djuaini, LC. MH, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain NW Narmada.

Cantik, lemah lembut, entah kenapa gadis ini justru memililih berkecimpung dengan anak-anak jalanan yang akrab dengan ‘dunia keras’. Itulah Septiana Yanti, yang kini menjabat Ketua Save Street Child wilayah Jabodeta (Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang). Gadis cantik yang baru menyadari passionnya di dunia pendidikan setelah tamat kuliah komputer.

ya saya baru sadar kalau saya suka dunia mengajar, menjadi pendidik beberapa saat setelah tamat kuliah. Itupun karena kebetulan saya bertemu seseorang yang kemudian menggali potensi yang saya miliki,” ungkap Septian Yanti yang mengaku memiliki ketertarikan pada pendidikan anak. Mendidik anak-anak jalanan, kata Septi, memiliki tantangan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Si pengajar, selain harus memiliki keterampilan mengajar, juga dibutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kreatif dan inovatif. Materi yang diajarkan jangan membosankan, mereka tidak suka. Bahkan ketidaksukaan itu bisa dilontarkan langsung oleh mereka tanpa tedeng aling-aling. Maklum saja, yang dihadapi adalah anak-anak yang terbiasa bebas berprilaku, mereka besar di jalanan. “Ini memang tidak mudah, tantangannya besar. Tapi bagi saya justru itu yang menarik. Apalagi mereka datang belajar awalnya bukan karena mereka yang mau tapi kami yang mencari mereka, mengajak mereka untuk belajar,” tutur gadis kelahiran 1988 ini. Untuk bisa ‘mengikat’ mereka agar memiliki keinginan belajar maka dibutuhkan program-program pendidikan yang mengena. Mereka tidak suka program-program yang monoton yang dianggap membosankan. “Kalau tidak suka, mereka akan mengekspresikan secara langsung tanpa segan. Misalnya, ‘Kak, kami bosan pelajaran itu’, ‘Kak, kok pelajarannya itu-itu saja’, ‘Kak ngantuk’, dll. Nah menghadapi demikian, kita sebagai pengajar tidak boleh marah tapi harus tetap sabar. Kalau mereka bosan atau mengantuk, ya, kita harus cepat mengubah cara, dll, sehingga perhatian anak bisa terfokus lagi.” “Kami belajar di teras rumah orang, kadang saat sedang belajar, ada temannya melintas, si anak bisa saja langsung berlari ke temannya. Kita tak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa marah juga. Tapi nanti perlahan kita memberi tahu mereka. Jadi cara pendekatannya memang beda sekali, harus perlahan. Mereka memang sulit fokus, pada awalnya. Saat sedang belajar mereka bilang, ‘Kak saya pergi dulu ya mau ngamen, cari uang’. Kami kan tidak bisa bilang, tidak. Jadi begitulah, mengikat anak-anak jalanan untuk tetap di kelas,tidak mudah. Apalagi mereka kan sebelumnya sudah punya

Mandalika

medsos. Walhasil, aksi sosial ini pun menarik anak-anak muda di berbagai daerah untuk juga mendirikan SSC di daerahnya. “Mereka (daerah) bertanya, apa mereka boleh mengembangkan SSC di daerahnya. Kami bilang, tentu bisa, asalkan tetap berada dalam koridor yang telah kami tentukan, visi, misi dan sistemnya harus sama dengan Jakarta,” jelas Septi sambil menambahkan, hingga sekarang, SSC telah ada di 17 kota, di antaranya, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Malang. Berbicara tentang jumlah relawan, Septi menyebut, saat ini SSC Jabodeta yang dipimpinnya tercatat memiliki sekitar 70 relawan. “Mereka ini tidak digaji, lho. Malah kadang keluar uang sendiri untuk operasional. Namun karena kecintaan dan keinginan agar anak-anak marjinalyang memiliki akses pendidikan minim, dapat menjadi generasi penerus bangsa dengan bekal yang memadai, mereka dengan suka rela melakukannya,” kata Septi. Di kelas SSC yang biasanya digelar Sabtu dan Minggu, anakanak mendapat banyak hal, seperti pendidikan character building, pendidikan dasar seperti membaca-menulis bagi mereka yang belum bisa, prakarya, dan lain-lain. Tak lupa juga diajarkan tentang pemberdayaan ekonomi. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa mendapatkan penghasilan dari apa yang diajarkan. Dengan demikian bisa mandiri secara ekonomi. “Untuk tenaga pengajar, kami juga mendatangkan dari luar SSC yang ahli di bidangnya,” tambah Septi. “SSC memang belum lama berdiri, baru empat tahun, namun banyak hal yang sudah dihasilkan. Seperti, banyak anak-anak yang tadinya tidak bisa membaca dan menulis, akhirnya bisa. Atau anak-anak remaja yang tadinya belajar di SSC, akhirnya mendapat pekerjaan, dll. Kami tentu sangat bangga dengan hasil ini,” ungkap Septi. –Diana Runtu

mudahkan amalan baik manusia diterima oleh Allah SWT. Ia lalu mengungkapkan kisah pengorbanan Qabil dan Habil sebagaimana yang tercantum dalam Al Quran. Dikisahkan ketika Qabil memberi materi yang banyak namun niatnya buruk, maka Allah menolaknya. Sedangkan Habil memberi materi yang sedikit namun dengan niat yang baik sehingga Allah menerima amalan baiknya itu. “Intinya semakin ikhlas niat dan semakin banyak jumlah pengorbanan akan menjadikan qurban seseorang lebih Wagub menyerahkan hewan qurban kepada TGS Hasanain Junaidi sempurna,” katanya dengan penekanan. Untuk menumbuhkan semangat berqurban, GH. Hasanain Djuaini dalam khotTuan Guru Hasanain juga mengutip kalimat para bahnya yang diberi judul Ibadah motivator, bahwa kesuksesan Qurban, Teknologi Ilahiyyah unitu menuntut pengorbanan. tuk Perbaikan Individu dan Sosial Dimana langkah awal yang itu, menyampaikan tentang makna berqurban baik dalam setiap rencana itu yang memiliki dua unsur yakni perbuatan dan adalah memberikan sesuatu niat ini, bagi umat Islam. Perbuatan dan niat kepada orang lain. “Para ahli tidak dapat dipisahkan karena keduanya akan strategi pembangunan sosial menjadi satu kesatuan dalam menentukan nilai juga menjadikan ‘mentalitas akhir sebuah pengorbanan. berqurban’ ini sebagai pra“Makna khusus qurban adalah menyemsyarat mutlak untuk menyatubelih hewan yang halal, milik kita yang sah kan masyarakat. Berkorban dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang adalah tradisi para pahlawan yang membutuhkannya dengan beberapa dan pejuang. Dengan semanpersyaratan tertentu. Sementara itu, makna gat pengorbanan suatu bangsa umumnya adalah berusaha mendekatkan diri yang miskin dan lemah dapat yang dalam konteks sosial adalah mendekatbangkit dan menjadi kuat,” kan diri dengan sesama makhluk. Dan dalam kata TGH. Hasanain dalam konteks ibadah, usaha mendekatkan ini adalah khotbah yang disampaikanantara kita dengan Allah SWT melalui berbanya dengan intonasi, diksi dan gai macam amalan-amalan yang disukai Allah penekanan-penekanan pada SWT,” ujarnya. titik-titik penting kalimatnya. Tuan Guru Hasanain juga mengingatkan -Naniek I. Taufan bahwa keikhlasan dalam berqurban akan me-

T

Suasana salat ied di lapangan Bumi Gora kantor Gubernur NTB

Wagub dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk berperan serta aktif dalam pembangunan daerah


20

Nine

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Maya Damayanti

Beli Pakaian Mahal untuk Dibongkar Kerap melihat ibundanya menjahit sejak ia kecil, bakat mengutak-atik busa­ na, tanpa disadari telah menuntun Maya Damayanti (54), menjadi seorang desainer. Bagaimana tidak, tiap hari ia menyaksikan ibunya yang sangat mencintai dunia jahit-menjahit bahkan hingga usianya kini yang telah meng­ injak 75 tahun belum juga mau berhenti menjahit, telah mengasah kemam­ puan dan kepekaan Maya dalam melahirkan karya-karya busana yang ba­ nyak digemari karena unik dan keindahan pemilihan bahannya.

M

aya tidak hanya melihat ibunya menjahit me­ lainkan ia terli­ bat ikut membantu ibundanya menyelesaikan jahitan pada tahap finishing, seperti mengesum dan menjahit kancing. “Sejak kecil saya sudah pegang jarum membantu ibu mengesum dan menjahit kancing,” kata Maya, salah seorang desainer busana-busana berbahan etnik Nusa Tenggara Barat. Dari sinilah, Maya kemudian tertarik meng­ geluti dunia busana. Tapi tunggu dulu. Meski tertarik dengan dunia busana, Maya tidak memilih sekolah khusus untuk menjadi desainer, melainkan ia berguru pada Sang Bunda. Meski dunia mode berkem­ bang dan lekas update, Maya tetap senang memakai dasar-dasar pola busana yang diajarkan ibundanya, dasar pola lama yang simpel yang sudah dipakai puluhan tahun bah­ kan sejak masa menjahit di zaman Belanda. “Dasar pola yang diajar­

kan ibu saya itu lebih mudah dan simpel saja, pola yang dipakainya sejak zaman Belanda,” ungkap ibu dari Ingrid (23) dan Laksmi (20) ini. Dengan kemampuannya yang hobi menggambar, membuat bakat dan keterampilan Maya dalam dunia busana ini menjadi lebih kuat di tengah tuntutan perkembangan mode yang begitu pesat. Meski ia menumpu pada pola lama, Maya mampu membukti­ kan dirinya sebagai salah seorang desainer yang diperhitungkan di Mataram. Ia banyak menerima un­ dangan dari berbagai even pameran bergengsi di Jakarta dan busanabusana karyanya banyak dipakai da­ lam even-even penting pula, baik di Mataram maupun di luar Mataram, khususnya even yang mengangkat Nusa Tenggara Barat. Sejak kecil Maya terhitung sangat jarang membeli baju jadi. “Kalaupun membeli baju biasanya umurnya hanya sebulan saja karena setelah itu tidak cocok. Saya lebih suka mendesain sendiri, buat pola

sendiri dan jahit sendiri,” ujarnya. Sebelum menjadi seorang de­ sainer, Maya dan ibundanya kerap membeli bahan di Jakarta. Mereka membeli bahan yang tidak ada di Lombok dan membuat busanabusana model terbaru yang dilihat di Jakarta. Sejak itulah Maya menya­ dari bahwa perkembangan mode itu berjalan begitu cepat. “Hanya tiga bulan sekali mode itu terus berubah,” kata Maya yang juga ter­ us mengupdate desainnya mengikuti perkembangan tersebut. Salah satu hobi mereka adalah membeli pakaian-pakaian mahal, tapi bukan untuk dipakai melainkan untuk dibongkar untuk dipelajari. “Kami ingin mengetahui secara langsung, apa sih yang membuat baju itu nyaman dan bagus di ba­ dan (jika dikenakan). Dari bongkar membongkar itulah kami pelajari triknya,” kata Maya tertawa. Belajar dasar-dasar pola pada ibundanya, Maya akhirnya tertarik untuk mengi­ kuti kursus fashion desain beberapa bulan di Yogyakarta. Kursus itu pun sesungguhnya iseng dilakukan untuk mengisi waktu setamat ia dari Fakul­ tas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1989. Namun kursus iseng inilah yang kemudian membawanya mengeta­ hui tentang textil, pola dan sifat kain serta managemen fashion. Karena menurutnya, jika tidak tahu pola dan sifat kain maka tidak gam­ pang untuk membuatnya menjadi busana yang nyaman dipakai dan enak dilihat saat dikenakan. Dan karena itulah, sekali lihat, Maya bisa mengetahui mana pakaian yang mahal dan mana yang biasa saja. –Naniek I. Taufan

Komitmen Gunakan Bahan Asli Lombok Sumbawa Seiring terus berkembangnya peminat desain-desain Maya, ia pun memikirkan hal yang lebih dari sekedar bicara soal desain me­ lainkan ia ingin mengkontribusikan bakat dan keterampilannya itu untuk mengangkat Nusa Tenggara Barat, dengan mulai mengangkat bahan-bahan lokal yang berbau etnik. Sekitar enam tahun terakhir, Maya memokuskan karya-karyanya pada bahan tenun ikat dan songket Lombok Sumbawa. Sejak itu ia tidak lagi membeli bahan dari luar melainkan membina penenun-penenun Lombok yang ada di Ungga Lombok Tengah. Tidak kurang dari 25 penenun di Ungga yang diberinya modal untuk mendukung mereka melahirkan tenunan-tenunan khas Lom­ bok untuk mengangkatnya menjadi busana-busana yang memiliki nilai tersendiri kala dikenakan. “Saat ini, 80% bahan yang saya pakai adalah murni bahan tradisional (bahan lokal) yang dibuat dengan cara manual (tenun tradisional),” ungkapnya. Maya juga mempertahankan keaslian motif dan corak khas NTB. Maka kerap ketika ada pesanan bahan tenun tradisional yang tidak mencirikan motif dan corak khas Lombok Sumbawa, ia dengan tegas menolaknya. “Biar pun memesan bahan 1.000 meter, jika tidak mencirikan motif dan corak khas Lombok Sumbawa, saya menolak untuk mengerjakannya,” kata Maya saat ditemui di butiknya di Jalan Pen­ didikan Mataram. Di butiknya ini Maya tidak pernah mengeluarkan bahan murah yang tidak asli, melainkan busana-busana dan bahanbahan asli yang ditenun secara tradisional demi mempertahankan kualitas dan kenyamanan konsumen. Karena dari sanalah identitas budaya Lombok Sumbawa akan terlihat. Bagi Maya kualitas dan keaslian bahan yang dipakai akan sangat mempengaruhi karyanya. Karena saat ini, menurutnya banyak keluar bahan-bahan yang dicetak (dibuat) dengan mesin bukan ditenun secara manual sehingga harganya lebih murah. Dari tenun ikat dan songket dengan motif dan corak khas Lombok Sumbawa yang indah, busana karyanya dijual dengan harga antara Rp 700 – Rp 1 jutaan. Harga ini bisa dibilang sebagai harga terima jadi. Dari desain, bahan hingga jadi busana. Bahan tenun yang Maya gunakan juga memiliki ciri tersendiri yakni tidak menggunakan benang emas melainkan tenunan warnawarna bersifat dop (tidak mengkilap). Desain-desain karya Maya tampaknya bisa langsung dikenali karena ia hanya memakai bahan tenunan asli karena ia memiliki komitmen tidak akan mengeluarkan karya busananya jika bukan dengan bahan yang asli Lombok Sum­ bawa. Inilah yang menjadi komitmen yang akan terus dipertahankan Maya, memakai kain dari bahan asli produk penenun tradisional Lombok Sumbawa. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Ni Ketut Suliati

5

Setengah Hari Anak Kandung Setengah Hari Anak Bangsa Menjadi guru adalah pilihan Ni Ketut ­S uliati, S.Pd. M.Pd. Sejak kecil ia sudah memiliki impian untuk berdiri di depan kelas meng­ ajar anak didik. Suka-duka ­s ebagai guru pun dilakoni istri Dewa Ketut Mustika ini. Tahun 2014 ia meraih predikat Guru Ber­ prestasi tingkat provinsi Bali ­untuk jenjang TK. Banyak pengalaman yang didapat ke­ tika “bertarung” di Jakarta.

S

uliati yang akrab disapa Bu Jero ini menuturkan dirinya menyelesaikan pen­ didikan SPG Saraswati tahun 1985. Selanjutnya warga Br. Riang Ancut, Desa Riang Gede, Penebel, Tabanan ini mengajar sebagai guru honor di TK Hara­ pan Ibu Tabanan. “Saya senang dengan anak-anak. Makanya memilih menjadi guru TK,” ungkapnya. Tahun 1999, ada lowongan untuk menjadi guru di Dinas Pendidikan Kota Denpasar. Bu Jero berhasil lulus dan ditu­ gaskan di TK Negeri Pembina Denpasar mulai tahun 2000. Perjalanan Tabanan-Denpasar pun ditempuh tiap hari dengan sepeda motor. Semangat Bu Jero tak hanya untuk mengajar. Ia juga seman­ gat untuk belajar. Selesai men­ gajar, ia kuliah di IKIP PGRI Bali.

“Waktu itu belum ada jurusan PAUD. Saya pilih jurusan Kon­ seling. Selesai S1, saya melanjut­ kan S2 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja konsentrasi Pendidikan Dasar. Biar linier, saya masuk Univer­ sitas Terbuka juga mengambil konsentrasi PAUD,” ujar ibu dua putri ini, Dewa Ayu Trisna Yuliati dan Dewa Ayu Candrayani. Walaupun sibuk untuk be­ lajar dan mengajar, perempuan kelahiran 25 Agustus 1964 ini tetap memperhatikan keluarg­ anya. “Dalam sehari, saya mem­ bagi waktu. Setengah hari untuk mengurus anak bangsa, setengah hari lagi untuk mengurus anak kandung. Suami dan anak-anak sangat memahami kondisi ini. Putri pertama malah ikut jejak saya menjadi guru. Itu pilihan­ nya. Putri kedua belum memilih untuk menekuni bidang apa,” tandasnya.

Suliati bersama anak didiknya

Dua ketika kuliah, ia pernah mengajak anaknya ikut karena tak ada yang menjaga. Dosennya sampai meledek dikatakan ada mahasiswa baru. Namun, dosen itu bisa memberi toleransi asal si anak tenang. Perjalanan sebagai guru tentu penuh suka-duka. Sampai saat ini Bu Jero melihat lebih banyak suka yang ia rasakan. Prinsip­ nya, menjadi guru itu akan se­ lalu dikenang. Guru ada di hati anak. Anak sama di mata guru. Kemana pun ia pergi, ada saja yang menyapa. Kadang Bu Jero lupa siapa yang menyapa, namun ia yakin penyapa itu mantan muridnya. Membuat anak-anak yang sedih menjadi gembira meru­ pakan kebahagiaan bagi Bu Jero. Hal ini membuat Bu Jero harus “masuk” ke dunia anak. Jangan malah “memaksa” anak masuk ke dunia orang dewasa.. Jika semua sudah dilakukan dengan senang hati tanpa keterpaksaan, hasilnya pun bisa memuaskan. INSPIRASI DARI ANAK CADEL Dukanya jika ada anak yang tidak bisa mengemukakan kon­ disinya. Biasanya ada anak yang sakit, tetapi tidak bisa menyam­ paikan. Sebagai guru harus peka dengan kondisi ini. “Inilah tan­ tangannya. Memahami kondisi anak sangatlah penting. Saya banyak belajar dari pengala­ man,” ungkap guru yang hobi memasak ini. Mengenai prestasinya seba­ gai Guru Berprestasi, Bu Jero menuturkan berawal dari lomba

di tingkat kecamatan. Dari kecamatan, dirinya masuk ke tingkat kota bahkan menjadi juara di tingkat provinsi. Ia menyebut Dra. Tjokorda Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd, sebagai salah satu pen­ dorongnya untuk terus menunjukkan prestasi. Dukungan juga diper­ oleh dari para koleganya di TK Negeri Pembina Denpasar dibawah pimpi­ nan Ni Nyoman Darmini, S.Pd, M.Pd. “Selama di Jakarta, saya bisa bersosialisasi dengan para guru dari seluruh Indonesia. Banyak penge­ tahuan untuk menambah wawasan. Target saya memberikan kemampuan terbaik,” ujarnya seraya mengatakan presentasinya berjudul “Meningkatkan Kemampuan Berbaha­ sa Anak melalui Cerita Bergambar”. Materi ini diangkat karena pengala­ mannya menangani anak-anak yang awalnya cadel atau belum lancar bicara akhirnya bisa lancer setelah belajar dengan cerita bergambar. Di ajang tingkat nasional ini Bu Jero meraih rangking 8.

Ni Ketut Suliati, S.Pd., M.Pd

Ia tak kecewa karena sudah mengeluarkan kemampuan­ nya semaksimal mungkin. Yang membanggakan, ia bisa bertemu langsung dengan Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yud­ hoyono. –Ngurah Budi

“Dalam sehari, saya membagi waktu. ­S etengah hari untuk mengurus anak ­b angsa, setengah hari lagi untuk mengurus anak kandung. Suami dan anak-anak sangat memahami kondisi ini...”


6

Women on Top

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Kejujuran lebih Penting dari Gelar Tinggal di sebuah kecamatan di Bima tidak menyurutkan langkah Sri Darsan (48), untuk semangat bekerja. Sebagai karyawan salah satu perusahaan asuransi, pekerjaan Sri tidaklah mudah. Karena ia harus menjual produk asuransi di perdesa­ an. Asuransi yang biasanya hanya dipahami oleh orang-orang di perkotaan yang memiliki penghasilan lebih. Butuh waktu lebih dari 20 tahun sejak pertama kali berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, untuk membuatnya menjadi salah seorang karya­ wan asuransi dengan tagihan ratusan sebulan mencapai nilai juta.

Sri Darsan

M

elihat apa yang dilakukan Sri yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah ini, kesuksesan tidaklah hanya dilihat dari gelar akademis maupun kemampuan ekonomi yang mapan untuk mendukung jalan meraih kesuksesan yang hakiki. Sri membuktikan hal tersebut. Lahir dari keluarga biasa cenderung sempat kekurangan di masa-masa remajanya membuat ia tak dapat menikmati bangku kuliah. Selepas SMA, ia memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk membantu orang tuanya. “Tidak punya biaya untuk kuliah saya memilih bekerja saja untuk membantu orang tua,” katanya. Hebatnya, Sri memilih perusahaan asuransi dan memilih pula berkarier di kampung halaman tempanya dilahirkan di Kecamatan Bolo. Sungguh sebuah pilihan yang berani karena pekerjaan tersebut penuh tantangan dan perjuangan menanti. Menawarkan asuransi pada masyarakat desa yang jauh

dari pengetahuan tentang hal tersebut. Tidak mudah bagi seorang Sri membuka wawasan masyarakat untuk mau mengasuransikan diri maupun pendidikan bagi anak-anak mereka. Di awal-awal menjalankan profesinya ini, Sri dipandang sebelah mata. “Ada yang bilang kalau asuransi itu haram hukumnya. Masyarakat kala itu menganggap bahwa tidak mungkin menyimpan uang sedikit kemudian mendapatkan hasil yang banyak seperti contoh, jika ada anggota keluarga yang meninggal maka ada jaminan pendidikan bagi yang keluarga yang diasuransikan,” ujarnya. Tekanan demi tekanan yang dihadapinya membuatnya bahkan sampai menangis. Karena tidak jarang pula ia ‘diusir’ jika datang dari satu rumah ke rumah lainnya. Namun dengan tekun dan telaten, tanpa memakai ilmu akademis, Sri melakukan pendekatan sesuai yang dibutuhkan pekerjaannya. Ia melatih diri untuk pandai bicara, melatih keluwesannya dan melatih kepekaannya terhadap lingkungan. Ia menjadi sosok yang ramah dan mudah bergaul. Manajemen diri dan prilaku serta mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang dibutuhkan oleh pekerjaannya jauh lebih berharga bagi Sri ketimbang gelar sarjana. Karena dengan begitu, Sri membuktikan dirinya sukses menjadi karyawan perusahaan asuransi yang kini memiliki ratusan nasabah. Tanpa gelar akademik apapun, Sri mampu mengubah cara pandang orang desa ter­ hadap pentingnya asuransi. Kini ia mampu hidup layak dengan profesi yang dijalaninya itu. Sri memang bukan se-

orang yang kaya raya melainkan ia mampu mengubah kehidupannya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya dengan bekerja tanpa gelar sarjana apapun. Jika dahulu ia berjalan kaki berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk menyampaikan tawaran, kini ia berkendara sepeda motor untuk datang menagih dari satu rumah ke rumah lainnya di empat

kecamatan di Kabupaten Bima. Ia juga telah memiliki rumah sendiri yang layak yang dihasilkan dari keringatnya sendiri. Bahkan ia sempat memiliki sebuah mobil bak terbuka yang disewakan. Untuk bisa berkarier dalam dunia asuransi yang tidak dipelajarinya secara akademik ini, Sri memiliki modal utama yang lebih penting dari gelar

sarjana, yakni kejujuran. Untuk dapat bertahan hingga lebih dari 20 tahun bergelimang hitungan uang dari ratusan nasabah itu, hanya kejujuran yang bisa menyelamatkannya. “Hanya satu prinsip yang saya pegang hingga hari ini, saya jujur pada diri sendiri untuk menjalani profesi ini dengan sebaik-baiknya,” katanya. –Naniek I. Taufan

19

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Datangkan Motivator sebelum Wisuda Pesatnya perkembangan zaman membuat pendidikan menjadi hal penting. Jika zaman dulu, pendidikan dianggap cukup sampai jenjang SMA, kini sudah berubah. Orang berlombalomba untuk menjadi sarjana dan meraih ilmu setinggi-tingginya.

B

icara sarjana berkualitas harus dimulai dari rekrutmen. Sistem rekrutmen yang baik juga merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan lulusan yang berkualitas. Demikian disampaikan Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Ketut ­Suastika, Sp. PD-KEMD. Menurut Prof. Suastika, selain dari rekrutmen, hal penting lainnya yang menentukan lulusan berkualitas adalah bagaimana proses yang terjadi di dalam kampus. “Mulai dari pendidikan, kurikulum, termasuk staf dosen dan penunjangnya lainnya. Baru kita bisa bicara lulusan,” ujarnya. Ia mengatakan, sistem rekrutmen di Universitas Udayana, sudah terpusat. Hanya 20 persen rekrutmen secara mandiri. Sistem rekrutmen sudah sedemikian rupa, sehingga sulit mengubah. “Jadi yang

bisa diubah hanya proses di dalam kampus,” kata mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unud ini. Satu hal yang menurutnya sangat penting, adalah reformasi kurikulum. “Kurikulum tidak boleh mati. Apakah ada yang sangat mendasar harus diperbaiki atau kontennya saja yang diubah sesuai perkembangan zaman, terutama bidang-bidang yang sedang menjadi fokus pemerintah. Semua membangun kurikulum agar menjadi lebih baik sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, fasilitas tempat pembelajaran juga ditingkatkan. Ia memberi contoh, misalnya bidang pertanian. Universitas Udayana memanfaatkan tanah yang diberi Pemda seperti di daerah Pegok, Sesetan, konsentrasi membangun taman perkebunan pertanian, pembelajaran dan riset. Selain itu, Universitas Udayana terus menin-

gkatkan dana penelitian dari 5% menjadi 10%. Ia berharap, akan semakin banyak penelitian bisa muncul, terutama ilmu-ilmu yang bisa diaplikasikan di masyarakat. “Ini salah satu usaha agar lulusan mampu bersaing,” tandasnya. Selain itu, Universitas Udayana juga membuka bursa kerja. Sampai saat ini, ia mengatakan, belum ada survei berapa lulusan yang terserap di dunia kerja. Namun, dengan digelarnya bursa kerja, ia berharap, dapat dimanfaatkan oleh para lulusan yang belum mendapatkan bekerja. Ada juga, kiat lain, yakni sehari sebelum wisuda para lulusan diberikan motivasi dari orang-orang yang sukses atau pejabat untuk berbagi ilmu, menambah wawasan para lulusan . “Aneh sarjana nganggur. Tamat SD saja kerja. Kok sarjana nganggur. Pengetahuan ada keterampilan ada, kecuali malas. Para motivator ini berbagi pengalaman, untuk menjadi sukses semua berawal dari nol dan memerlukan perjuangan dan kerja keras untuk mencapai kesuksesan,” kata Prof. Suastika. SARJANA HARUS BERKUALITAS BAGUS Sementara menurut Ketua APTISI Bali, Prof. Gede Sri Darma, D.B.A., ia merasa miris meli-

Prof. Sri Darma

Prof. Suastika

hat banyak lulusan sarjana tidak berkualitas. “Sebagai seorang pendidik yang peduli dengan anak bangsa dan persaingan global, saya sedih melihat fenomena lulusan sarjana tapi tidak berkualitas ­bagus,” ucapnya. Pria yang juga Rektor Undiknas University ini mengatakan, siapa yang tidak butuh uang. Tapi uang yang dibutuhkan ada misinya. Seorang advokat tugasnya membela klien. Tapi kalau klien salah, jangan ngajet kiri-kanan. Politisi juga begitu. Tugasnya, membela rakyat untuk kepentingan rakyat. Begitu juga kampus. Jangan mengutamakan kepentingan diri sendiri. Yang penting mahasiswa bayar, tidak peduli, mahasiswa itu pintar atau tidak, itu salah besar. Ia menilai, model seperti ini, sama saja dengan penjajahan di zaman sekarang. Sebagai ketua APTISI, ia tidak boleh menindak, hanya bisa mengimbau. APTISI merupakan asosiasi yang mewadahi PTS di Bali. “Kalau ada kebijakan yang salah atau merugikan PTS, kami sama-sama protes ke pemerintah. Ketika ada anggotanya yang

salah, kami tak bisa berbuat apa. Pemerintahlah yang seharusnya mengkiritisi PTS seperti itu, melalui Kopertis,” kata Prof. Sri Darma. Persoalan muncul lagi ketika masyarakat senang, Mereka perlu kepentingan sesaat agar kariernya bagus. Mereka mengatakan, saya tidak perlu kuliah lagi, saya sudah pintar, saya hanya perlu selembar kertas ijazah. Karena ada permintaan seperti hukum ekonomi. “Undiknas juga ikut kena getahnya dulu. Sempat terjadi penurunan jumlah mahasiswanya,” ujarnya. Sekarang mereka baru sadar. Pada PTS seperti itu, bisa terjadi delik aduan, ada polisi menindak, ada ketakutan juga. Mereka ­akhirnya berpikir, daripada di kemudian hari ada masalah, lebih baik cari kampus yang memang benar-benar berkualitas. “Sekarang ­U ndiknas mendapatkan keuntungan. Kelas sore untuk karyawan sangat melimpah. Namun, intinya, mari kita benahi moral bangsa ini dengan mencetak para sarjana yang berkualitas bagus dan siap bersaing,” tegas Prof. Sri Darma.-Wirati Astiti

Pintar Mengajar Cerdas Mendidik Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta, kini samasama memiliki pamor. Persaingan antara PTN dan PTS ini ditanggapi Koordinator Kopertis Wilayah VIII (Bali, NTT, NTB) Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. adalah suatu hal yang wajar dan harus. “PTS dalam menghasilkan output (alumni) memang harus bersaing, bersaing sehat yang kompetitif dengan mengedepankan persaingan berbasis regulasi,” ujarnya. PTS harus berlomba-lomba untuk melaksanakan manajemen mutu sehingga output-nya juga berbasis mutu. Yang dimaksud dengan mutu itu (di Indonesia), paling tidak adalah akreditasi prodi dan akreditasi institusi. “Jika PT baik negeri maupun swasta, prodi dan IPT (institusinya) terakreditasi itu dikatakan memenuhi standar nasional pendidikan tinggi, memenuhi kualifikasi,” jelasnya. Lalu, yang manakah PT yang berkualitas? Tentu saja PT yang akreditasi prodi maupun IPT-nya adalah A (unggulan), sesuai dengan Permendikbud 87 tahun 2014. Atau, B (baik sekali) atau C (baik saja). Itu indikator bahwa PT itu berkualitas. Namun jika melihat ukuran dunia, PT yang berkualitas adalah PT yang masuk dalam kategori 500 besar dunia. “Sampai saat ini PTS di Indonesia belum ada masuk, baru PTN saja. Hal ini terus didorong oleh pe-

merintah dengan terus diberikannya bantuan-bantuan, seperti beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) untuk mahasiswa berprestasi, Bidikmisi bagi mahasiswa miskin. Ini diberikan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas,” ujarnya. Dasi Astawa menyebutkan ada 3 langkah besar yang menjadi strategi PTS untuk menjadi hebat, dikagumi, dan unggulan. Yakni mentaati regulasi; meningkatkan kualitas SDM (dosen, administrasi terutama operator harus benar-benar tenaga yang canggih yang paham teknologi, mau bekerja keras dan bekerja cerdas); dan meningkatkan infrastruktur. Dosen-dosen juga harus meningkatkan kualitasnya dengan 3 cara, yakni melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, aktif melakukan interaksi, komunikasi untuk menambah soft skill, baik yang berkaitan dengan interaksi sosial maupun kecakapan misalnya di bidang berbahasa. Caranya, membaca banyak informasi, rajin ikut diskusi dan seminar. Juga rajin bergabung dengan teman yang memiliki kecerdasan lebih tinggi. “Ini 3 cara untuk meningkatkan kualitas SDM. Karena SDM yang cerdas itu paling tidak menguasai 7 kecakapan, yakni human skill, conceptual skill, design skill, managerial skill, technical skill, soft skill, spiritual skill harus bagus. Dengan demikian,

dosen itu tak akan hanya pintar mengajar, tetapi juga cerdas mendidik. Itu yang diharapkan,” tegasnya. Ia mengingatkan lagi, yang tak kalah penting dari 3 cara itu adalah infrastruktur pendidikan. Sebagai badan pengelola yakni yayasan, tidak boleh hanya berorientasi pada penerimaan mahasiswa dengan penerimaan uang.Tetapi bagaimana uang yang diterima itu harus dipergunakan meningkatkan infrastruktur seperti gedung, laboratorium, perpustakaan, termasuk peningkatan SDM baik gelar maupun nongelar. Jika tanpa demikian, PTS itu akan digilas oleh persaingan. Dan sekarang jika sudah digilas persaingan, apalagi kena isu-isu, misalkan bodong, proses pelajaran yang tidak benar, maka dalam hitungan 2-3 tahun PTS itu hilang, karena masyarakat semakin cerdas. Dasi Astawa menjelaskan, dari 153 PTS yang aktif, ada 21 institusi yang sudah terakreditasi. Dan, ini masih ada waktu sampai 2019. Inilah yang dikatakannya menjadi tolok ukur bahwa PTS itu sehat dengan 8 kriteria PTS Sehat. Bagaimana terkait kasus wisuda bodong yang banyak terjadi di luar Bali? Sampai saat ini Dasi Astawa mengaku belum menerima informasi PTS yang menyelenggarakan wisuda bodong. “Tetapi bagi PTS yang dinonaktifkan pemerintah dan

notabene masih memiliki izin, tetapi melakukan wisuda, itu ada laporannya. Karena ada konflik antara dua kubu, Kopertis tidak menghadirinya,” ungkapnya. Dasi Astawa menegaskan, oknum masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan tinggi (bukan PTS), tanpa mendapatkan izin operasional pemerintah (oleh Dikti maupun Departemen lain seperti Departemen Agama, Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan), namanya penyelenggaraan pendidikan tinggi itu bodong. Kalau sekarang misalnya PTS yang memilki izin operasion-

al ternyata tidak memproses mahasiswanya sesuai mekanisme dan peraturan yang benar, itu namanya PTS Kurang Sehat. Terhadap PTS ini, pemerintah dalam hal ini Kopertis berkewajiban melakukan pengawasan, pengendalian dan pembinaan (Wasdalbin) terhadap PTS-PTS yang tidak sehat seperti 8 indikator tersebut. “Oknum masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pendidikan bodong (ilegal), ini sebenarnya kewenangan para penegak hukum, bukan Kopertis. Hanya PTS yang punya izin (legal) yang menjadi kewenangan Kopertis untuk melakukan wasdalbin,” pungkasnya. –Inten Indrawati


18

Kreasi

Edisi 868/ 28 september - 4 Oktober 2015

Fotografi Vintage

Wujudkan Memori Masa Lalu Dunia fotografi selalu menarik perhatian. Beragam aktivitas yang diabadikan akan selalu dapat dipandangi. Kecanggihan teknologi bahkan bisa membuat momen sekarang seperti momen zaman dulu. Salah satu yang berkreasi di dunia fotografi vintage adalah Lukman Sinara dan Toni Handoko melalui Studione Sinten

“F

otografi adalah h o b i saya sejak umur 10 tahun saat belajar melukis. Kemampuan fotografi diperlukan baik untuk landscape maupun orang,” ujar Lukman. Ia lalu menuturkan alasan pemilihan nama Sinten. “Sinten” adalah bahasa Jawa yang berarti siapa. “Karena saya tinggal lama di Jakarta dan memutuskan untuk balik ke Yogyakarta untuk membuka usaha, saya ingin membuat orang penasaran, maka kata “siapa” atau sinten ini muncul. Siapakah orang ini yang baru datang? Sinten juga merupakan kepanjangan dari “SINara TEnan”. Karena usaha ini merupakan kombinasi dari passion saya di bidang seni, jadi ide ini murni dari hati saya, maka SINara TENan diartikan sebagai murni dari Sinara,” ujar pria kelahiran Semarang, 25 April 1968 ini. Setelah sukses di Kota Gudeg, Lukman membuka cabang di Bali. Alasannya membuka cabang di Bali karena Bali adalah tujuan destinasi liburan nomor satu di Indonesia baik domestik maupun mancanegara. “Saya masih menginginkan suasana Bali tahun 1920-1936 dimana banyak seniman mancanegara datang karena keunikannya. Selain dari itu, Bali adalah salah satu tempat tinggal impian saya, dimana budaya, alam, spiritual keragaman dan seni saling melengkapi dan menjadikan bali luar biasa,” ungkapnya. Mengenai pilihan fotografi vintage, Sinara memberi alasan, manusia tidak lepas dari memori, fotografi adalah salah satu media untuk mengenang dan mewujudkan memori tersebut. Indonesia mengalami zaman keemasan secara keseluruhan dan beberapa daerah, budaya yang unik yang seharusnya diangkat

, dikenang dan dipresentasikan dengan nilai tambah sesbagai bentuk karya seni “Saya ingin mengangkat budaya-budaya Indonesia dimana kita memfokuskan pada zaman-zaman golden age of Indonesia karena saya ingin berbagi ilmu, pengalaman, pengetahuan, dan harapan saya tentang budaya Indonesia pada masa keemasan tersebut,” ujarnya memberi alasan. Ide ini gabungan dari fotografi, lukisan, seni peran, dan barangbarang antik yang ia pelajari dan koleksi lebih dari 20 tahun. Lukman suka keliling Indonesia dengan mengunjungi desa wisata ataupun yang memiliki produk kerajinan dan mengoleksinya. “Saat saya memutuskan tinggal di Yogyakarta, saya bertemu dengan Toni Handoko, seorang desainer kaos/logo dengan keterampilan fotografi yang bagus. Saat kami berbincang untuk membuka foto studio, saya mengoptimalkan karakter Toni yang suka suasana tempo doeloe, terobsesi dengan suasana masa lalu, dan koleksi

beberapa barang lama. Ditambah Yogyakarta yang terkenal dengan lawasan, ditambah lagi bahwa wisatawan selalu datang untuk mengenang masa-masa mereka sekolah di Kota Pelajar. Maka kolaborasi ini kami satukan untuk mengenang dan mengembalikan memori tersebut. Khususnya masa keemasan Yogyakarta era 1950-1970,” kata Lukman lagi. Karena suka fotografi, ia menggabungkan skill background yang kuat tentang budaya Indonesia dan barang-barang yang sudah ia kumpulkan sejak lama dengan teknik fotografi dari Toni. Sejak itu muncullah Studio foto Sinten. Mengenai pembagian tugas dengan Toni, ia mengatakan Toni bertugas di Bali untuk memahami lebih dalam tentang budaya dan karakter Bali. Lukman mengembangkan studio yang di Yogyakarta dan potensi beberapa kota di Indonesia misalnya Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Sumatara Utara, Kalimantan Timur, dan Papua. Pengalaman paling berkesan didapat Lukman saat memotret anak-anak, anak balita, ataupun anak-anak autis. Ada tantangan tersendiri untuk mendapatkan momen dan potret yang diinginkan sesuai dengan karakter dan keseharian mereka. “Pernah juga saya kaget karena klien yang saya foto mirip sekali dengan almarhumah ibu saya, antara senang, takut, dan takjub menjadi satu,” kenangnya.

Life

Story

Edisi 868/ 28 september - 4 Oktober 2015

Pindah Rumah Hindari Kejaran Penagih Utang

Menggendong anak lelakinya yang masih berusia dua tahun, dengan menenteng dua tas pakaian yang tampak berat, Lilik (30), terlihat kesulitan turun dari bemo kota di wilayah Mataram, Nusa Tenggara Barat. Entah dari mana ia datang sampai akhirnya tiba di sebuah pangkalan ojek dekat wilayah Gunung Sari Mataram. Dari sini ia kemudian menumpang ojek menuju yang membawa ia dan anaknya serta dua tas besarnya rumah kawannya. Wajahnya muram dan sedih. Lukmana Sinara

Kini impian Lukman dan Toni adalah mengembangkan studio ini di kota-kota besar dengan tema budaya yang sesuai dengan kota tersebut, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Sumatara Utara, Kalimantan Timur, dan Papua. “Kami harap masyarakat Indonesia lebih men-

Beberapa karya Studio Sinten

genal, mempelajari, menghargai, dan mengembangkan budaya khas Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang mendalam. Indonesia kaya akan budaya luhur yang harus kita lestarikan, amalkan dan bangga menjadi Indonesia,” tegas Toni. –Ngurah Budi

7

T

iba di sebuah rumah kontrakan, Lilik diterima dengan baik oleh kawan kuliahnya yang bernama Indah itu. Indah memang sedikit kaget melihat Lilik datang dengan tas besar seperti itu. “Waktu dia (Lilik) telepon saya, dia hanya bilang mau bertemu saya dan suami saya, karena tidak sempat datang ke pernikahan kami. Dia memang bilang datang bersama anaknya, tapi saya tidak menyangka dia juga datang dengan begitu banyak barang,” ujar Indah yang akhirnya tahu kalau Lilik datang untuk menginap di rumahnya. Karena perkawanan mereka yang cukup dekat saat sama-sama kuliah beberapa waktu lalu di salah satu universitas swasta di Mataram, membuat Indah menerima Lilik dengan baik. “Dia akhirnya minta izin pada saya untuk menginap di rumah saya malam itu,” kata Indah. Indah menyangka ia menginap hanya semalam atau dua malam saja. Karena itu sebelum mengiyakan permintaan Lilik, Indah meminta persetujuan suaminya untuk menginapkan Lilik di rumahnya. “Ada rasa kasihan kami padanya setelah dia menceritakan bahwa ia tengah bermasalah dengan suaminya,” kata Indah. Namun, ketika akhirnya Lilik tidak pulang-pulang hingga dua minggu, Indah mulai gelisah. Di samping tidak enak pada suaminya, pasangan yang baru menikah beberapa bulan ini, juga jelas

merasa suasana tidak nyaman dengan kehadiran Lilik. Pasalnya, Lilik masih bersuami dan mereka tidak ingin disalahkan jika terjadi apa-apa pada Lilik dan anaknya. Belum lagi mereka yang hidup dengan penghasilan yang cukup untuk keluarga kecilnya, harus pula menanggung biaya hidup Lilik dan anaknya. Apal-

agi dalam kesehariannya, Lilik selalu bertengkar dengan para penelepon yang menghubunginya. “Ini yang bikin suasana rumah kami jadi tidak enak,” kata Indah. Sampai akhirnya, Indah mendapat kabar dari kawan-kawan kuliahnya yang mengetahui masalah Lilik yang sebenarnya. Lilik adalah perempuan yang hidup dengan gaya selangit. Sejak masa kuliahnya, Indah dan kawan-kawannya sudah melihat kecenderungan tingginya kemauannya Lilik. Ia tidak ingin yang biasa-biasa saja, melainkan menginginkan semua yang dimiliki atau yang dilakukan orang yang mampu. Sementara Lilik adalah anak yang lahir dari keluarga biasa saja. Menurut Indah, Lilik sebenarnya punya potensi dan bakat bekerja dengan keterampilan

yang dimilikinya. Namun ia tidak sabar menjalankan proses itu pelan-pelan melainkan prilakunya lebih cenderung melenceng saat menginginkan sesuatu yang di luar kemampuannya. Padahal, jika Lilik bekerja baik-baik di salah satu finance di Mataram, gajinya lumayan. “Tapi gayanya selalu tinggi,” kata Indah. Punya mobil mewah dengan cara berutang, bahkan pernah jalan-jalan ke luar negeri dengan uang utangan. Kasus yang terakhir yang diketahui oleh kawankawannya adalah Lilik menangani pembelian mobil dan sepeda motor dengan cara tunai. “Uang pembayaran mobil/ motor tersebut diambil Lilik. Tapi Lilik tidak membayarkannya tunai melainkan dicicil tiap bulan,” ujar Indah. Tidak hanya satu mobil/motor yang seperti ini yang ditangani Lilik, melainkan cukup banyak sehingga utangnya diperkirakan lebih dari setengah miliar rupiah. “Uang-uang tersebut, dia pakai jalan-jalan ke luar negeri ikut kapal pesiar,” kata Indah yang mendapat cerita dari hampir semua kawan mereka satu angkatan saat kuliah dulu. Kawan-kawan Indah memang kerap main ke rumah Indah dan saling bercerita tentang hal ini. Kedatangan Lilik ke rumah Indah akhirnya diketahui bahwa

ia tengah melarikan diri dari kejaran penagih utang. “Ditambah lagi mobil kredit miliknya yang ia gadaikan pada seseorang kini ditarik dealer karena ia tidak pernah membayar angsurannya. Orang tersebut sedang murka mencari-cari keberadaan Lilik untuk meminta kembali uangnya,” ujar Indah. Dari sanalah, Indah dan suaminya lalu berpikir untuk mengeluarkan Lilik dari rumah mereka. Ia dan suaminya tidak ingin terjadi keributan di rumah mereka jika para penagih utang tersebut tahu bahwa Lilik tinggal di rumahnya. Sebagai pasangan yang baru menikah, mereka sempat kesulitan bicara dengan Lilik untuk memintanya pulang ke rumahnya saja. Sampai akhirnya mereka menemukan alasan yang tepat agar Lilik keluar dari

rumah mereka tanpa menyakiti perasaannya. Lilik lalu pergi membawa anak dan dua tas miliknya. “Rupanya dia ke rumah kawan kami yang lain,” ujar Indah. Karena kelakuannya itu, Lilik memang telah kehilangan tempat untuk bersembunyi. Sebelum akhirnya “berlabuh” beberapa minggu di rumah Indah, rupanya sudah berbulan-bulan Lilik menumpang hidup dan bersembunyi, berpindah dari satu rumah kawan ke rumah kawannya yang lain. Karena hidup dengan kemauannya yang tinggi tanpa memikirkan kemampuannya, Lilik kini menerima akibatnya. Ia sengsara bahkan saat ini tengah menghadapi perceraian dengan suaminya yang sudah tidak lagi tahan menanggung malu atas ulahnya itu. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Griya

Matematika tak Sekadar

“Aku benci matematika,” ujar Rangga sembari menangis dan membanting bukunya. “Aku tak pernah bisa mengerjakan soal-soal matematika ini, dan teman-temanku menertawakanku,” ujarnya sambil meneteskan air mata di depan gurunya. Kejadian ini sering dijumpai di sekolah maupun di rumah sebagai keluhan anak terhadap sulitnya matematika. Betulkah matematika itu sulit?

D

Dr. Lidia kainya. Anak-anak itu sangat ajaib menyukai belajar matematika,” tegasnya. Yang membuat mereka kemudian berhenti menyukai matematika adalah saat dijejali dengan begitu banyak konsep abstrak dan angka di atas kertas yang tidak membunyikan apapun di otak mereka. Anak kemudian kesulitan membayangkan apa apilikasi dan keguanaan berbagai angka di kertas ini dengan dunia nyata. KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA Topik intelegensi adalah topik paling kontroversial dalam psikologi yang mengundang banyak pro dan kontra mengenai cara pendefinisian maupun pengukurannya. Beberapa mengatakan yang cerdas matematika itu intelligent (cerdas), jika ukuran intelegensi hanya matematika. Tetapi kecerdasan itu lebih luas dari itu. Intelegensi menandai kebermaknaan manusia karena intelegensilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Intelegensi berhubungan erat dengan berpikir, di mana berpikir melibatkan pengertian dan pengolahan informasi. Intelegensi didefinisikan oleh Sternberg, seorang tokoh peneliti intelegensi sebagai kemampuan dasar untuk mengerti tentang dunia dan mengatasi kendala-kendala yang ada. Itu sebabnya intelegensi sering dikatakan sebagai “making thinking possible” dan “making things possible”. Tokoh yang kemudian memulai mencetuskan mengenai kecerdasan ganda adalah Thurstone, yang kemudian disempurnakan oleh Howard Gardner menjadi teori kecerdasan ganda (multiple intelligence) yang menegaskan bahwa kecerdasan itu beragam, tidak hanya satu. Kecerdasan logika matematika cukup sentral dalam menentukan kecerdasan manusia. Banyak cara yang secara natural dapat digunakan untuk membentuk kecerdasan matematika. Misalnya seorang anak bayi belajar berhitung

misalnya dapat menggunakan jari kaki mereka, sambil menyentuh dengan lembut dan bersenandung “Satu-dua-tiga empat-lima-enamtujuh-delapan.” Ketika anak sudah lebih besar, kita dapat mengajak anak berjalanjalan di sekitar perumahan sambil menghitung pohon di sekeliling. Kegiatan-kegiatan sehari-hari lainnya seperti mengurutkan buah dari kecil ke besar atau keranjangkeranjang yang ada di rumah. Kita dapat melakukan di sela kegiatan tertentu semisal sambil menyiapkan makan malam. “Anak-anak sejak lahir memproduksi proses kreatif yang terus menerus dalam dirinya. Anakanak adalah pengobservasi sejati. Matematika adalah area yang penting dalam perkembangan koginitif. Gardner mengatakan kecerdasan logika matematika adalah di antara yang terpenting dari berbagai jenis kecerdasan untuk memprediksikan kecerdasan umum seorang anak. Dengan matematika, anak-anak belajar pola, keteraturan dalam dunia dan mengelompokkan serta mengkategorikan. Kemampuan ini sangat penting di kemudian hari untuk memampukan anak-anak beradaptasi dengan dunia yang terus berubah. Sayangnya banyak guru

17

Kerajinan Batu Bata Bali

Angka dan Rumus

r. L i d i a S a n d r a , M.Comp. Eng Sc., seorang pendidik matematika mengakui banyak anak memang tidak suka dengan matematika karena menurut mereka sulit. “Kebanyakan mereka yang tidak suka matematika ini terlebih dahulu menganggap matematika sulit, tidak nyaman dengan angka dan simbol yang rumit dan membosankan. Beberapa anak tidak menyukai matematika karena sudah lebih dahulu dibayangi momok ketakutan matematika bahkan dari orangtuanya, yang sering mengatakan matematika sulit nak, kamu harus banyak latihan, harus banyak belajar!” Hal ini makin membenamkan citra tidak menyenangkan dan “sadis” dari matematika,” ujar dosen Fakultas Psikologi Ukrida ini. Gambaran matematika yang penuh dengan rumus dan angka ini sebetulnya bukanlah mewakili matematika yang sebenarnya sangat mengasyikkan. Anak-anak sebetulnya secara natural menyukai simbol dan angka. Ingat saja, bagaimana dengan mudah dan riang gembira anak-anak menyanyikan “Satu..satu, aku sayang ibu” atau “One, two, buckle my shoe...” dan seterusnya. Ingat bagaimana saat kecil, kita menyukai permainan ular tangga atau petak umpet. Semua permainan membutuhkan keteraturan dan pola dan biasanya melibatkan angka, dan itu semua adalah matematika. Anak-anak secara ajaib mengingat gambar atau pola dengan mudah. Itulah inti matematika. Pengelola Preschool-High School Cendekia Harapan-Children’s House Jimbaran ini menambahkan anak-anak sejatinya mencintai pola dan keteraturan yang menjadi jantung matematika. “Anak-anak belajar menuang, melakukan kegiatan menyendok dan memindahkan benda dengan teratur. Melakukan kegiatan mencocokkan, berbagai kegiatan tersebut sebetulnya adalah cara belajar matematika paling dasar. Matematika adalah belajar tentang keteraturan dan pola di alam dan di sekitar kita. Jika kita biarkan saja, anak-anak sebetulnya memperoleh matematika melalui kegiatan seharihari tanpa disengaja. Jika kita terus melibatkan mereka dalam hitungan yang berarti, mereka akan terus menerus belajar matematika dengan lebih baik,” jelas anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini. Dr. Lidia kemudian menunjukkan knobbed cylinder box, peralatan di sekolah yang dikelolanya yang mengajarkan secara natural anakanak konsep dari kecil ke besar dengan konkrit. “Anak-anak dapat terus bermain ini tanpa bosan dan tidak pernah lelah. Mereka belajar membedakan dan membandingkan mana yang lebih dan mana yang kurang dan mereka sangat menyu-

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Kerajinan sanggah (tempat suci) di Bali sepertinya tak pernah surut. Buktinya, beberapa perajin sanggah yang berjejer di sepanjang Jalan By Pass IB Mantra tak pernah berhenti beraktivitas, meski saat ini diakui pasarannya menurun. “Beberapa bulan lalu, menjelang Hari Raya Galungan baru banyak pesanan, sampai-sampai kami kehabisan barang,” ungkap I Ketut Kartana (40), pemilik Pondok Batu Ukir yang kesehariannya ikut langsung turun tangan mengerjakan kerajinan sanggah.

Anak bermain knobbed cylinder box dan sekolah yang secara tradisional masih memaksakan anak-anak untuk langsung dapat menuliskan satu tanpa mengerti konsep angka 1, 2,3 dan seterusnya,” jelas Dr. Lidia.. Anak-anak terkadang dipaksa mengerjakan penghitungan abstrak tanpa penjelasan tentang bagaimana hal itu dalam kehidupan nyata. Mereka mengerjakan penghitungan tanpa arti di papan atau di kertas dan dipaksakan mengerjakan latihan yang di luar kapasitas pengertian anak-anak. Hal ini membuat beberapa anak-anak trauma dengan matematika. Memaksakan otak anak bekerja tidak sesuai dengan tahap perkembangannnya. Belajar pembagian misalnya jauh lebih mudah dengan memperlihatkan atau membawa kue/pizza yang dibagi seperdelapan misalnya. Inti mathematika adalah cara kita memberi makna dan melihat keteraturan dalam dunia. Dari matematika kita belajar bahwa ada pola di alam ini dan pada semesta. It is a way of making sense out of the world that we live in. Untuk membuat anakanak cerdas matematika, konsep matematika dulu harus dibenarkan dalam benak para pendidik dan orangtua. Matematika bukanlah angka atau sekadar rumus-rumus. Lebih luas dan dalam dari itu, matematika

adalah belajar menyibakkan misteri tentang ketetapan, pola dan keteraturan dalam hidup. Saat anak-anak diajak menguak misteri, mereka akan melompat kegirangan dan pada kenyataannya dunia ini adalah matematika. Belajar matematika tidak dimulai saat anak-anak berhitung atau mengenal angka tetapi dimulai saat anak hidup dan merasakan keteraturan pola dan ketetapan dalam hidup. Matematika dimulai dengan proses sederhana dimulai dari konsep yang kongkret dulu untuk dapat kemudian menjelaskan yang abstrak. Keterampilan dasar matematika dapat diasah melalui kegiatan sederhana seperti matching-menyamakan/ comparing-membandingkan, sorting-mengelompokkan, sequencing/ grading-mengurutkan. Gunakan banyak lagu dan permainan. “Tuhan itu selalu memberikan kekayaan pelajaran melalui alam dan barangbarang yang ada di sekitar kita untuk menjadi cerdas. Tidak perlu membeli alat-alat yang super mahal untuk menjadi cerdas matematika, cukup gunakan apa yang ada pada tubuh dan sekeliling kita. Kecintaan orangtua pada anak dan matematika adalah kunci untuk membuat anak terasah kecerdasan matematikanya,” tegas Dr. Lidia. –Ngurah Budi

P

ria asal Desa Medahan, Gia­ nyar ini meng­ aku dua bulan terakhir ekonomi agak lemah. Biasanya ia mempekerjakan 8 pengrajin, sekarang hanya 5 pekerja. “Padahal dewasa (hari baik) masih bagus, tapi penjualan minim, mungkin karena perekonomian juga lagi lesu dengan kenaikan harga dolar ini,” ujar Kartana mengira-ngira. Kartana adalah satu dari sekian pengrajin sanggah yang masih setia melakoni aktivitasnya, ada maupun tidak ada pesanan, ramai maupun sepi orderan. Paling tidak, ia berani menyetok sanggah padma dan tugu karang, karena sanggah model

itu yang umum dicari konsumen. Sementara untuk sanggah kemulan, taksu, dll. akan dibuatnya jika ada pesanan saja. Bahan material sanggah dari batu alam ini pun terus mengalami perubahan sesuai trennya. Sebelumnya, sempat tren sanggah dari batu putih (paras Yogya), dan batu hitam Karangasem. Namun sepertinya material paras dan batu bata Bali masih tetap diminati, tak pernah ditinggalkan. Jenis batu bata yang sering disebut batu bata Bali berasal dari Desa Tulikup Gianyar. Karena itu sering juga disebut batu bata Tulikup. Batu bata ini diproses dengan cara yang unik, sehingga memiliki pori yang lebih padat dan lebih berat dari bata biasa. Karena proses pembuatannya yang agak rumit inilah yang membuat harga batu bata Bali (Tulikup) lebih mahal dari batu bata biasa. Bata jenis ini biasa juga disebut batu bata gosok, karena

Mendongeng Lima Menit

nyanyian yang terpotong

Tersebutlah seorang anak yang malang. Ia cacat sejak lahir dan hidup sebatang kara. Punggungnya bungkuk dan matanya juling. Anak-anak nakal di desa itu setiap waktu mengejeknya sambil bernyanyi, “Ulung tanduk maan suling, punggung bungkuk mata Made Taro juling!” Anak malang yang dipanggil si Bungkuk atau si Juling itu diam saja. Ia hanya bisa merenung mengapa ia bernasib sejelek itu. Pada suatu hari ia bertekad untuk mengadu nasib di tempat lain. Ia lewati sungai, jurang dan hutan lebat. Ketika beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba ia melihat sekelompok anak-anak cebol keluar dari lubang pohon di sebelahnya. Ia takut, lalu segera bersembunyi. Dari tempat persembunyian itu ia menyaksikan anak-anak cebol itu menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi. “Ulung tanduk, ulung tanduk….!” Mula-mula penari itu berbaris lurus, kemudian melingkar meloncat-loncat berpegangan tangan. “Ulung tanduk, ulung tanduk …!” Indah benar tari dan nyanyian itu. Si Bungkuk mengira anak-anak cebol itu akan mengejeknya, tetapi ditunggutunggu, nyanyian yang biasa didengarnya itu tak pernah lengkap. Nyanyian yang terpotong itu makin lama makin indah. Tanpa disadarinya, si Bungkuk ikut bernyanyi, “Ulung tanduk, maan suling, ulung tanduk maan suling….!” Penari cebol itu mendengar nyanyian yang tambah lengkap itu. Mereka mencari sumber nyanyian itu. Wah, si Bungkuk! Mereka lalu mengajak si Bungkuk menari dan

bernyanyi bersama-sama. “Ulung tanduk maan suling, ulung tanduk maan suling ….!” Setelah istirahat, si Cebol yang mengetuai kelompok itu menanyai si Bungkuk. Si Bungkuk pun menceritakan nasibnya. Ternyata anak-anak cebol itu berasal dari desa yang sama dan menjadi korban ejekan anak-anak nakal yang sama. “Kamu tak perlu berkecil hati!” kata si Cebol sambil mengoleskan ramuan di punggung dan mata si Bungkuk. “Kembalilah ke desa!” Ajaib! Si Bungkuk seketika menjadi anak sempurna dan tampan. Tidak bungkuk dan tidak juling. Singkat cerita, setelah mengucapkan terimakasih kepada anak-anak cebol itu, si Bungkuk kembali ke desa. Anak-anak desa yang nakal itu mengerumuninya. Mereka kagum melihat ketampanan si Bungkuk. Bahkan mereka semua ingin mengikuti jejak si Bungkuk. Demikianlah, setelah menjalani pengalaman yang sama dengan si Bungkuk, anak-anak nakal itu kemudian bergabung dengan kelompok tari dan nyanyi si Cebol. “Ulung tanduk maan suling, ulung tanduk maan suling….!” Lama-kelamaan anak-anak nakal itu merasa nyanyian itu terpotong, lalu mereka menyanyikannya dengan lengkap. “Ulung tanduk maan suling, ulung tanduk maan suling, …! Tundun bungkuk mata juling, tundun bungkuk mata juling …!” Sambil menari dan menyanyi, secara diam-diam si Cebol mengoleskan ramuannya ke tubuh anak-anak nakal itu, lalu katanya, “Sekarang pulanglah kamu ke desa! Telah kuberikan apa yang kau inginkan.” Betapa gembiranya anak-anak nakal itu! Setelah memasuki desa, semua orang takut dan menjauhinya. Anak-anak nakal itu telah berubah menjadi monster.

Sanggah ukir

Sanggah kombinasi paras-bata Bali

Sanggah bata ekspose

Sanggah paras

I Ketut Kartana

dalam proses pemasangannya cukup digosok-gosokkan ke sesamanya dengan sedikit air dan sedikit semen sebagai perekatnya. Sebagai proses akhir dari pengerjaan, untuk menghindari serangan jamur dan lumut, umumnya batu alam ini diberi pelapin (coating). Kartana yang sudah 12 tahun melakoni aktivitasnya ini kini lebih banyak mengerjakan sanggah dari bata ekpose, dan kombinasi paras-bata. Ia menuturkan proses pembuatan sanggah kombinasi lebih sulit dibandingkan dengan sanggah ekspose yang tampilannya seperti bata press ini. Perbandingannya, untuk sanggah bata ekspose bisa dikerjakan sendiri selama 5 hari, sedangkan sanggah kombinasi menghabiskan waktu hingga 8 hari. “Apalagi jika ditambah dengan ukiran, akan memerlukan waktu 15 hari lagi,” imbuhnya. Proses itu pula yang kemudian memengaruhi harga jual sanggah-sanggah ini. Sebut saja untuk sanggah ukuran normal dengan luas alas 60 x 70 cm, ditawarkan Rp 3 juta untuk bata ekspose, Rp 4 juta untuk material kombinasi (paras-bata), dan Rp 5,5 juta untuk sanggah kombinasi yang berukir. Sementara untuk ukuran kecil yang ­­umum­n ya d i c a r i k o n s u m e n u n t u k ­perumahan­-­perumahan kecil, harga jual sanggah ini tak terlalu beda. Ini dikatakan Kartana, karena penghabisan material maupun waktu pengerjaannya tak terlalu jauh berbeda. Apalagi proses mengukir, sama-sama diselesaikan 15 hari. Ukuran kecil ini luas alasnya 50 x 50 cm. Sementara untuk harganya, hanya lebih murah Rp 500 ribu dari ukuran normal. –Inten Indrawati


16

Edukasi

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Pelajaran matematika siswa sekarang terlalu banyak teori ini-itu yang aplikasinya dalam kehidupannya hanya sebagian kecil. Tidakkan sebaiknya teori-teori yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dalam kehidupannya kelek, sehingga pembelajaran matematika tak membebani bahkan membuat siswa keder?

“S

esungguhnya matematika itu muncul dari aktivitas nyata manusia, sehingga mengajarkan matematika harusnya dimulai dari masalah sehari-hari yang dihadapi siswa. Dengan demikian siswa akan belajar lebih bermakna,” ungkap Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd. Bermakna ini dijelaskannya, mereka (siswa) tahu manfaat belajar matematika, tahu kapan matematika itu digunakan dalam kehidupannya. Konsep yang dipelajari menjadi punya arti; dipahami sebagai suatu disiplin yang terurut, terstruktur, dan memiliki keterkaitan satu dengan lainnya; serta diperoleh melalui proses pemecahan masalah yang bervariasi. Jadi, belajar matematika tidak hanya belajar untuk ulangan atau ujian saya. Pembelajaran matematika di sekolah dasar, menengah bahkan sampai perguruan tinggi cenderung bersifat tekstual bukan kontekstual. Sehingga pembelajaran bersifat teoritis, berupa aliran pengetahuan dari guru ke siswa, tanpa konstuksi pengetahuan oleh siswa. Pembelajaran yang teacher centred bukan student centred, pembelajaran power stearing bukan power sharing. Siswa hanya mengapal rumus-rumus praktis yang nantinya digunakan menjawab soal ujian. Pembelajaran matematika di sekolah yang seperti itulah mem-

Matematika untuk Pemecahan Masalah

bebani siswa, sehingga tidak salah pembelajaran matematika selama ini dikatakan terlalu teoritis. Mereka memahami berbagai macam rumus padahal di kehidupan mereka hanya menggunakan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Begitulah anggapan masyarakat selama ini. Bahkan yang lebih ekstrim lagi kenapa kita belajar x dan y? toh ke pasar berbelanja tidak memakai x dan y. Pendapat berbagai kalangan yang mungkin belum paham dengan esensi belajar matematika ada benarnya juga karena mereka melihat kenyataan yang terjadi di sekolah dengan kehidupan mereka seharihari. Siswa mempelajari trigonometri tetapi secara praktis belum tentu digunakan. “Perlu dipahami pula bahwa esensi belajar matematika adalah mampu menggunakan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, terutamanya logika matematika dan tahu apa manfaat matematika tersebut,” ucap Ketua Jurusan Pendidikan Matematika IKIP PGRI Bali ini. Berbagai manfaat belajar matematika di antaranya belajar berpikir sistematis, melalui urutanurutan yang teratur dan tertentu. Dengan belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis, belajar melatih lebih teliti, cermat, dan tidak ceroboh dalam bertindak, dll. Eka merujuk pada sebuah teori oleh Brownell seperti dikutip Reys, Dkk. (1998), bahwa matematika dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas ide, prinsip, dan proses sehingga keterkaitan

tingkatan konsep matematika yang dipelajari maka semakin tinggi pula penggunaannya.

Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd.

antar aspek-aspek tersebut harus dibangun dengan penekanan, bukan pada memori atau hapalan. Melainkan pada aspek penalaran atau intelegensi anak. Banyak materi matematika yang sebenarnya sangat dekat dengan keseharian siswa terutama untuk tingkat sekolah dasar. Menentukan untung, rugi maupun suku bunga bisa menggunakan konsep aritmatika sosial. Kenapa tulisan ambulance atau police ditulis terbalik (dari belakang ke depan)? Untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa menggunakan konsep percerminan. Contoh lain, Andi memiliki uang Rp 17.000 yang terdiri dari 1 lembar 10.000, 1 lembar 5.000 dan 1 lembar 2.000. Jika Andi berbelanja Rp 8.000, berapakah kembaliannya? Soal ini bisa diselesaikan dengan aljabar. Makin tinggi

HILANGKAN PHOBIA MATEMATIKA Sebagai seorang guru matematika ia berharap sebaiknya LPTK yang nantinya mencetak calon guru matematika khususnya, menggunakan tes bakat dalam menjaring calon mahasiswanya. Sehingga, mahasiswa nantinya benar-benar merupakan calon guru yang berbakat menjadi guru, bukan calon guru yang salah jurusan, atau calon guru yang kuliah keguruan karena ikut teman. Sementara untuk guru matematika, diharapkannya harus mengubah image guru yang keras, dan menakutkan. “Jadilah guru matematika yang murah senyum, guru yang menggunakan berbagai metode pembelajaran yang inovatif, memberikan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya,” tegasnya. Di satu sisi siswa takut dengan matematika, di sisi lain, anak yang sudah paham mengatakan matematika justru mengasyikkan. Eka Mahendra menjelaskan, takut dengan matematika (phobia matematika) atau dalam dunia pendidikan sering diistilahkan dengan anxeity mungkin masih dirasakan oleh beberapa siswa. Hal tersebut dikatakannya tentunya perlu diatasi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Di antaranya, kenali sumber ketakutan yang dialami oleh siswa, hadirkan pembelajaran matematika yang menyenangkan, hindari menggunakan pembelajaran pola lama

seperti drill, siswa disuruh mengapalkan perkalian tertentu, yang tidak bisa disuruh berdiri di depan kelas atau dilarang masuk kelas. “Gunakan penilaian yang mampu memotivasi siswa untuk belajar,” ingatnya. Matematika adalah ilmu pasti, jawabannya tidak bisa main kira-kira. Menanggapi istilah ini, Eka Mahendra mengatakan, masalah matematika apakah ilmu pasti atau tidak masih menjadi perdebatan. Kalau kita menjumlahkan 2 +3 maka jawaban yang benar sudah pasti 5 tidak yang lain. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana siswa mencari nilai 5 yang pasti itu. Tetapi kalau membagi, 1:3 = 0,3333 maka kita akan bertanya dalam hati apakah matematika itu sudah bukan ilmu pasti lagi tetapi ilmu kira-kira, karena kalau kita kalikan 3 dengan 0,33333 maka tidak akan pernah menemukan nilai 1. Jadi, makin banyak kita membuat angka 3 maka kita akan makin menuju ke kebenaran tetapi tidak benar. Melihat kondisi pendidikan saat ini, Eka Mahendra berharap pendidikan matematika ke depannya lebih menekankan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Karena kelemahan kita dibandingan siswa di negara lain adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Penelitian ini dilakukan oleh Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan PISA (Program for International Assessment of Student). “Materi matematika dari tingkat dasar sampai menengah sebaiknya dibuat lebih terstruktur tidak terpecah-pecah seperti saat ini,” tandasnya. –Inten Indrawati

Peluan g lewa t B e a s is wa Biaya pendidikan tinggi di Indonesia makin mahal. Tak heran banyak lulus sekolah menengah atas urung meneruskan pendidikannya karena ketidakmampuan membayar biaya perkuliahan yang terus naik dari waktu ke waktu. Tak heran kalau persentase mereka yang lulus SMA/SMK yang meneruskan ke perguruan tinggi, tetap rendah meski jumlah yang lulus terjadi peningkatan. Salah satu alasan kenapa tidak melanjutkan pendidikan karena biaya dan mereka tidak mampu membayarnya. Ya, biaya perkuliahan perguruan tinggi memang banyak dikeluhkan masyarakat. Walhasil, seolah keberadaan perguruan tinggi han-

ya lah diperuntukkan bagi mereka dari kalangan mampu. Sementara mereka dari kalangan bawah, pintu perguruan tinggi ‘seolah tertutup’. Salah satu peluang kalangan bawah untuk bisa lolos ke PT adalah beasiswa. Namun tentu peluang itu sangat terbatas sekali. Hal senada juga menjadi keprihatinan pengamat pendidikan Darmaningtyas. Penulis buku “Melawan Liberalisasi Pendidikan” ini dalam setiap kesempatan selalu menyoroti masalah mahalnya pendidikan tinggi di Indonesia. “Biaya kuliah di Indonesia mahal. Kenapa? Lalu kenapa India yang jumlah penduduknya banyak (terbesar kedua

di dunia) bisa membuat biaya sekolah murah. Kuliah di India itu murah, kualitasnya pun bagus. Ini karena perhatian pemerintahnya terhadap pendidikan sangat tinggi. Anggaran pendidikan di sana tinggi, itu sebabnya biaya pendidikan jadi murah. Biaya kuliah bisa sangat murah jika dibanding dengan Indonesia,” tutur pria kelahiran Gunungkidul, Yogyakarta itu. Meski biaya kuliah murah, namun mutunya diakui internasional. Hal ini terlihat dari hasil banyaknya lulusan perguruan tinggi di India yang bekerja di Eropa dan Amerika, mereka juga memegang jabatan-jabatan penting di sana. “Ini artinya apa? Artinya, mereka (India) berhasil menyelenggarakan pendidikan murah tapi kualitas tetap tinggi,” tegas anggota Dewan Penasihat Center for the Betterment of Education, itu. Karena itu, lanjut

Darman, orang India sempat terheran-heran begitu tahu biaya pendidikan di Indonesia begitu mahal. “Mereka makin ‘bingung’ lagi ketika tahu perguruan tinggi yakni PTN-PTN di Indonesia diswastanisasi,” ucapnya. Awal liberalisasi tingkat perguruan tinggi, tutur penulis buku “Tirani Kapital Dalam Pendidikan”, ini, dimulai dengan privatisasi empat perguruan tinggi terkemuka UI, UGM, ITB dan IPB menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara) pada tahun 2000. Konsekuensi dari privatisasi itu adalah subsidi untuk PT BHMN berkurang atau tetap, tapi PT yang bersangkutan dituntut untuk meningkatkan kualitas dan pelayanannya kepada mahasiswa. Walhasil, mau tidak mau PT memobilisasi pencarian dana dari banyak sumber, salah satunya yang paling mudah adalah dari mahasiswa. Maka sejak itu SPP di semua PTN terkemuka terus naik secara signifikan, kemudian juga dikembangkan teknik-teknik penerimaan mahasiswa baru yang melegitimasi pungutan besar. Bersyukur, akhirnya praktek

swastanisasi PTN itu terkoreksi meski belum pulih seperti sebelumnya. Koreksi tersebut tak lepas dari judicial review terhadap UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) dimana Mahkamah Konstitusi membatalkan undangundang tersebut pada 31 Maret 2010. Namun kemudian terbit UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang ternyata secara substansinya tidak jauh berbeda dengan isi UU BHP. Pemerintah juga mengeluarkan PP No 58 Tahun 2013 tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. “Jadi keberadaan PP No 58 ini seakan merupakan isyarat bahwa model pengembangan PTN dalam bentuk PT BHMN itu masih tetap dapat dilanjutkan hanya ‘bajunya’ saja yang ganti yakni PT BHMN menjadi PTN Badan Hukum,” paparnya. Konsekuensi dari liberalisasi pendidikan adalah pendidikan tidak lagi menjadi hak dasar setiap warga. “Tetapi menjadi barang dagangan (komoditas) sehingga hanya mereka yang mampu membayar lah yang dapat menikmatinya,” tandasnya. –Diana Runtu

Dara

9

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Jadilah Sarjana Humanis Permasalahan kompleks yang dihadapi masyarakat kita hari ini di Bali membutuhkan lompatan-lompatan pemikiran dan aksi. Di satu sisi kita menghadapi tantangan internal di bidang perekonomian, pertanian, kesehat­an, pendidikan, kepemudaan, lingkungan hidup dan sosial. Di sisi lain tantangan eksternal sedang siap menyongsong, ASEAN Economic Community (AEC) akan dimulai akhir tahun 2015 ini.

T

entunya di sini membutuhkan SDM-SDM yang siap bersaing dimana sebagian besar dari mereka tentunya dihasilkan di kampuskampus dan perguruan tinggi yang kita miliki. Peluang kampus untuk menjadi bagian dari perubahan sangat tinggi. Demikian diungkapkan Pande Putu Setiawan, S.T., M.M. Menurutnya peluang untuk menjadi tiang kokoh masyarakat madani bersama dengan pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri terbuka lebar. Untuk menjadi bagian dari perubahan, kita sendiri harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan

sarjana-sarjana seperti apa yang kampus bisa berikan kembali ke masyarakat “Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali per Maret 2015 mencatat jumlah penduduk miskin di Bali mencapai 196,71 ribu orang. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Namun dari pengalaman saya mengunjungi dan mengajar anak-anak serta bersua dengan masyarakat pelosok-pelosok desa di Bali beberapa tahun belakangan ini saya mendapati beberapa model kemiskinan lain,” tutur penerima Kick Andy Heroes 2014 ini. Kemiskinan model pertama

yang ditemuinya adalah miskin perhatian. Dengan mengunjungi mereka lebih sering kemiskinan model ini setidaknya dapat teratasi. Kemiskinan nomor dua adalah sebuah keadaan dimana masyarakat memiliki keluh kesah dan permasalahan namun tak mudah untuk menyampaikannya kepada pihak luar. Saluran penyampaian informasi yang mereka miliki sering tersumbat. Dengan membuka telinga dan mendengar lebih sering harapan mereka dari bawah setidaknya kemiskinan model seperti ini dapat segera dicarikan solusi. Kemiskinan terakhir dan terbesar kiranya adalah orang yang melihat kemiskinan itu terjadi namun berdiam diri. Kemiskinan model ini dapat diatasi dengan inisiatif-inisiatif kecil individual, maupun komunal dan bersamasama oleh semua pihak. Disinilah, menurut alumni Magister Manajemen UGM dan University of Victoria, Kanada, kaum terdidik, khususnya penyandang gelar sarjana dapat mengambil perannya mengatasi kemiskinan model di atas tadi. “Saya bersyukur pelan-pelan peran itu sepertinya mulai menjadi semacam kesadaran baru dan saya boleh artikan sebagai sebuah

Pande Putu Setiawan, S.T., M.M.

optimisme kecil. Setidaknya kegiatan orientasi kampus dimana saya diundang untuk berbagi cerita sebagai pemateri seperti di Student Day Universitas Udayana, Penerimaan Eksekutif Muda Universitas Mahasaraswati dan STMIK Primakara menjadi contoh kecil yang mungkin dari banyak yang lainnya,” ucapnya. APLIKASIKAN ILMU KE MASYARAKAT Orientasi kampus mengajak mereka mengenali tanggung jawab sosial, membawa mereka untuk melakukan perubahan-perubahan kecil sejak dini semacam mengumpulkan sembako dan alat tulis untuk dibagi kepada masyarakat luas yang sekaligus

mendekatkan kampus dengan masyarakat mereka sendiri. “Semoga bibit-bibit tanggung jawab sosial itu tersemai dan terus bertumbuh meluas. Tugas sejati kampus pada akhirnya mencetak ‘manusia’, bukan sekadar meluluskan calon pegawai atau sebagian jadi penganggur,” lanjutnya. Masyarakat terdidik, katanya seperti yang disyaratkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi menyiratkan satu tanggung jawab moral berharga bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah alat untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar alat untuk pemenuhan hasrat pribadi. Logikanya, tentu makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tanggung jawab moralnya kepada masyarakat kelas bawah (di desa-desa) makin besar. Bukan sebaliknya, menjauh. Seperti mereka yang telah meraih gelar, sepatutnya di aplikasikan kembali ke masyarakat dan bukan hanya untuk diri sendiri. Pande juga mengatakan harus makin banyak kaum terdidik yang mengambil peran. Tugas ia yang terdidik atau para sarjana inilah seyogyanya mendidik, mengabdi, bukan hanya untuk menghidupi diri. “Sukses para sarjana humanis dan majulah pendidikan Indonesia,” tegasnya. – Sri Ardhini

Faber-Castell Gelar Lomba Gambar

“Selamatkan Hutanku, Lestari Negeriku” Faber-Castell kembali mengajak seniman muda Indonesia untuk menyalur-

kan ide kreasinya dalam media seni lukis dan gambar melalui lomba gambar

Art & Graphic “Selamatkan Hutanku, Lestari Negeriku”. Sesuai temanya, lomba yang bekerjasama dengan WWF Indonesia ini akan menampung segala hal yang berhubungan dengan hutan dan kelestarian Indonesia. Ada 2 (dua) kategori dalam perlombaan yang dilaksanakan di 11 kota ini, kategori I (Kuliah & Umum) dan Kategori II (Pelajar SMP & SMA). Public Relations PT. Faber-Castell International Indonesia Andri Kurniawan mengatakan perlombaan akan berlangsung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Medan, Samarinda, Makassar, Pekanbaru, dan Palembang pada September hingga Oktober 2015. “Untuk Bali, lomba diadakan Minggu, 25 Oktober 2015 di Kampus ISI Denpasar. Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi Bu Ucky (081999861578),” ujarnya. Andri menambahkan akan ada hadiah jutaan rupiah untuk para pemenang.

“Duende Fashion & Art Festival” Acara bertajuk “Duende Fashion & Art Festival” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Desain Mode ISI Denpasar. Acara ini sebagai wadah aspirasi, kreativitas, dan apresiasi seni para generasi muda. Kegiatannya dikemas dalam berbagai konten acara yang digelar selama satu hari penuh. Ketua Panitia Acara, Ayu Putu Indah Yuniorika mengatakan “Duende Fashion & Art Festival, memiliki konsep acara yang menitikberatkan pada kebebasan dalam mengekspesikan seni. Konsep itu menginterpretasikan seni khususnya rumah mode, bahwa betapa industri fashion berkembang sedemikian rupa. Karenanya, rangkaian acaranya melibatkan beberapa fashion designer. Selain itu ada juga praktisi seni, mahasiswa, local brand serta para pengunjung yang dalam acara tersebut menjadi satu kesatuan. Meski kegiatan ini merupakan acara perdana yang diselenggarakan oleh HMJ Desain Mode ISI Denpasar, namun kehadiran para pelaku seni dengan gaya atau style- nya masing-masing berhasil memberi warna tersendiri. Terlihat ada kebebasan dalam mereka berekspresi, dan ini menjadikan acara mendapat apresiasi bukan hanya dari kalangan anak muda setempat tapi juga masyarakat umum. Kegiatan ini juga diisi peragaan busana dalam tema “Edgy Look”, “Kebaya Ready To Wear”, “60’S’ yang cukup menarik. Secara menyeluruh agenda dari Fashion & Art Festival tersebut berhasil memberikan alternatif ruang kreatif, dan inovatif juga menghibur. – Sri Ardhini


10

Bugar

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Pendekatan Non Farmakologis Pada Nyeri Kepala Tipe Tegang dr. Luh Kamiati SpKFR kepala dan leher yang tegang atau bahkan terdapat titik-titik tertentu di otot yang menyebakan penjalaran nyeri atau yang biasa disebut trigger points. Banyaknya faktor yang mempengaruhi munculnya nyeri kepala tipe tegang menyebabkan perlunya penanganan yang komprehensif. Selain terapi farmakologis dengan obat-obatan, ada pendekatan non farmakologis yang dapat membantu mengurangi gejala nyeri kepala tipe tegang. Mari kita bahas beberapa pendekatan berikut ini.

dr. Luh Kamiati SpKFR

Beberapa edisi yang lalu telah dibahas topik mengenai nyeri kepala. Nyeri kepala tipe tegang (tension type headache) merupakan bentuk nyeri kepala yang paling sering. Digambarkan sebagai nyeri tumpul, seperti ditekan, terikat, rasa penuh di area kepala seperti memakai topi atau helm. Nyeri kepala ini biasanya pada dirasakan pada kedua sisi. Tidak seperti migren, nyeri kepala tipe ini biasanya tidak berhubungan dengan aktivitas fisik dan tidak disertai gejala lain seperti mual atau muntah. Stres, kelelahan fisik atau mental, kurangnya waktu tidur, telat makan adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan munculnya nyeri kepala tipe ini. Oleh karena itu memiliki buku harian khusus untuk mencatat faktor-faktor yang mencetuskan nyeri sangatlah penting. Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab-penyebab lain dari nyeri kepala. Pada pemeriksaan palpasi, dapat ditemukan adanya otot-otot sekitar

Informasi Dan Identifikasi Faktor-Faktor Pencetus Analisa yang detil mengenai faktor pencetus sangat penting dilakukan karena hal ini mempengaruhi kekambuhan nyeri kepala. Faktor pencetus yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan fisik atau mental, pola makan yang telat dan tidak teratur, konsumsi kopi atau minuman berkafein dalam jumlah tinggi, dehidarsi, gangguan tidur, tidur yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, aktivitas fisik yang kurang atau berlebih, masalah psikologis, juga periode menstruasi dan gangguan hormonal. Perlu dijelaskan bahwa nyeri kepala atau nyeri otot yang terus menerus atau kronis bisa mengganggu mekanisme modulasi nyeri di otak sehingga jika sudah berlangsung lama, faktor yang seharusnya tidak menimbulkan nyeri dapat dianggap oleh otak kita sebagai pencetus nyeri. Hal ini dalam jangka lama dapat menyebabkan depresi atau ansietas (ganggguan cemas).

Latihan Relaksasi Tujuan latihan ini adalah untuk mengenali dan mengontrol ketegangan yang terjadi di tubuh kita. Pasien akan diajarkan untuk mengkontraksikan otot tertentu dan merelaksasikannya secara volunteer atau secara sadar. Relaksasi juga dapat dilakukan dengan latihan pernafasan dengan teknik tertentu. EMG Biofeedback Terapi ini menggunakan alat yang

dapat merekam aktivitas kontraksi otot tertentu dan mengubahnya menjadi umpan balik sinyal suara sehingga kita bisa mengetahui apakah otot kita sedang berkontraksi kuat atau sedang relaksasi. Pada saat kita sedang tegang atau stres, otot-otot kita berkontraksi tanpa kita sadari. Dengan alat ini, kita belajar untuk merelaksasikan otot-otot kita secara volunteer.

Terapi Fisik Terapi fisik adalah pendekatan non farmakologis yang paling banyak digunakan untuk nyeri kepala tipe tegang. Berbagai modalitas fisik dapat digunakan seperti terapi panas (hot packs, ultrasound, diathermy) maupun dingin (cool pack), stimulasi elektrik, massage dan therapeutic exercise atau terapi latihan. Latihan yang dimaksud bisa merupakan latihan peregangan untuk otot-otot tertentu yang tegang atau latihan aerobik yang secara umum dapat meningkatkan endorfin (hormon yang mempunyai efek mengurangi rasa nyeri). Jika terdapat gangguan postur, hal ini juga harus diperbaiki karena postur yang salah dapat menyebabkan ketegangan pada otot-otot tertentu. Dry needling Terapi ini merupakan terapi yang lebih invasif karena dilakukan dengan melakukan penusukan jarum pada titik-titik otot yang nyeri dan tegang.

Penusukan jarum pada otot yang tegang menimbulkan letupan listrik di otot yang menyebabkan otot yang tegang itu mengalami relaksasi dalam hitungan menit. Otot yang relaksasi tersebut akan menimbulkan refleks relaksasi pada otot yang lain bahkan pada otot polos dinding pembuluh darah atau pembuluh limfe. Tusukan jarum juga menimbulkan perdarahan lokal yang menstimulasi pembentukan growth factor (factor pertumbuhan seperti Platelet Derived Growth Factor), sintesis DNA, pembentukan kolagen dan protein. Karena bersifat invasif, terapi ini sebaiknya dilakukan oleh dokter yang kompeten.

Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy) Merupakan terapi psikologis yang bertujuan untuk mengajarkan pasien untuk mengidentifikasi pikiran dan keyakinan yang memunculkan stress dan memperberat nyeri yang dirasakan kemudian mengatasi pikiran-pikiran tersebut dan mengontrolnya. Demikian beberapa pilihan terapi non farmakologis pada nyeri kepala tipe tegang, Sampai saat ini belum ada satupun terapi tunggal yang mempunyai efektifitas tinggi untuk mengatasi nyeri kepala tipe tegang. Oleh karena itu pendekatan kombinasi berbagai terapi baik farmakologis maupun non farmakologis direkomendasikan untuk mencapai hasil yang maksimal.

Style

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Pesona Cahaya Kemilau

Salah satu cara mempresentasikan diri dan menyem­purnakan penampilan adalah aksesori. Saat ini, berlian menjadi aksesori unggulan dan semakin digemari.

P

endar permata yang ber­ kualitas selalu memantul cemerlang dan mengundang mata untuk memandang. Kini desain anting, cincin, kalung ataupun gelang berlian pun semakin bervariasi dari waktu ke waktu. Begitu juga dengan ukurannya, mulai dari yang mungil dan simpel hingga yang beruku­

ran besar dan mewah. Dilengkapi cutting yang sangat proporsional, menjadikan koleksi eksklusif ini semakin indah. Nah bagi yang ingin tampil istimewa dengan kilau cahaya yang menakjubkan dari berbagai sudut, maka aksesori ber­ lian dari Andri di halaman Style Tokoh pekan ini bisa menjadi pilihan. – Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Hindari Alergi Akibat Kosmetik Perempuan a dan make up bisa disebut sebuah rangkaian tak ter­ pisahkan. Benar saat ini, tak ter­hitung lagi banyaknya produk kosmetik yang ditawarkan untuk menunjang pe­ nampilan. Namun, jika tidak hati-hati atau kurang peduli, mereka bisa saja mengalami alergi karenanya.

Laksmi Duarsa

M

enurut dokter spesilais kulit Laksmi Duar­ sa, dari sekian banyak bahan kosmetik yang menimbulkan alergi, penyebab yang paling banyak adalah unsur pengawet kosmetik, zat warna tertentu, dan parfum. Akibat­ nya, kulit wajah bukan hanya mengalami peradangan bahkan bisa menjadi bengkak. Malah sering kita jumpai perempuan dengan jerawat parah, kulit mengelupas hebat hingga flek yang lebar. Laksmi Duarsa mengatakan, daerah yang sering terkena alergi kosmetik adalah bagian kulit wajah, dan area seputar telinga. “Alangkah baiknya jika setiap orang mengetahui apakah kulitnya memiliki intoleransi terhadap kosmetik, dengan melakukan tes sensitivitas kulit,” ujarnya. “Biasanya pada pemakaian produk pertama, tidak terlihat gejala dari alergi kosmetik ini, tapi selanjutnya akan terlihat. Reaksi dari tubuh terhadap zat alegran ini juga bisa bersi­ fat langsung dan tak langsung. Misalnya, saat menggunakan parfum, reaksi langsungnya berupa gatal – gatal di kulit atau baru akan muncul beberapa hari setelahnya. Ditekankannya bahwa ketika berbicara atas nama kecantikan, urusan kesehatan pun mesti menjadi perhatian.Apalagi setiap perempuan tentu ingin tampil menawan tanpa penyakit apa­

pun. “Khusus bagi para perem­ puan yang kulitnya sensitif, menggunakan kosmetik mesti lebih hati-hati. Sebab, lebih mudah terserang alergi. Di sini mereka perlu memilih produk perawatan dengan kandungan bahan aktif konsentrasi paling rendah demi menghindari ter­ jadinya alergi,” ujarnya. Masih bagi pemilik kulit sen­ sitif juga disarankan memakai pelembab yang tanpa bahan kimia aktif. Gejala sekecil apa­ pun, bisa menyebabkan penyakit serius jika tidak ditangani dengan benar. Dapat pula menggunakan kosmetik dengan label hypoal­ lergenic, yakni produk kosmetik yang ramah terhadap kulit. Telah dilakukan percobaan pada hypoallergenic ini pada beberapa orang, hasilnya menunjukkan sedikit yang alergi pada hypoallergenic,tapi tidak tertutup kemungkinan juga jika ada alergi saat menggunakan hypoallergenic ini. Diingatkannya pada kita semua untuk ter­ biasa memperhatikan kandungan di dalam produk kosmetik, se­ bagai salah satu cara mengatasi alergi kulit yang mungkin terjadi. Namaun mesti diwas­ padai juga, meskipun disebut­kan sudah ada tes anti alergi, belum tentu menjamin 100% aman. Sebab, kulit se­ tiap orang berbeda respons­nya terhadap setiap kandungan kos­ metik. “Begitu juga den­ gan peralatan make up seper­ti kuas atau spons bedak yang kotor mudah menimbulkan aler­gi. Maka, pastikan peralatan make up yang di­gunakan dalam keadaan bersih saat menggunakannya . Ke­ tika mengganti kosme­ tik, sebaiknya bersihkan dahulu peralatan make up dari bekas kosmetik yang lama,” tegasnya. KENALI TANDA ALERGI Laksmi Duarsa mengatakan setiap

memakai produk kosmetik baru, jangan lupa dites pada sebagian kulit. Namun, hindari mengetes produk kosmetik di bagian wa­ jah, tapi pilih bagian kulit lain yang kondisinya mirip, misalnya di belakang telinga atau di lipa­ tan siku tangan. Jika di bagian tersebut tidak ada ke­ luhan, maka hampir di­ pastikan kosmetik yang dites itu juga cocok untuk dipakai di wajah. “Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan, yakni mencuci tangan sebe­ lum memakai make up dan ingat mengecek tanggal kadaluarsanya,” cetusnya. Dan, yang tidak kalah penting adalah memulai pola hidup sehat.Seperti menjauhi alkohol, kopi, rokok, gula halus dan lemak jenuh, yang semuanya bertindak sebagai racun dalam tubuh. Pastinya juga olah raga adalah salah satu langkah detoksifikasi. Selanjutnya Laksmi Duarsa menyampaikan beberapa tanda alergi dan apa yang yang perlu diperhatikan dan dilakukan. Umumnya tanda pertama yang muncul ketika make up

tidak sesuai dengan kulit adalah warna kemerahan. Kondisi ini muncul beberapa saat setelah memakai make up, diawali rasa gatal dan panas. Ketika kulit alergi terhadap produk kosmetik, akan terasa gatal dan panas, kemudian men­

jadi kemerahan. Hal ini karena ada kandungan di dalam kosme­ tik yang tidak cocok terhadap kulit. Hentikan pemakaian dan cuci dengan air. Ada juga pembengkakan pada kelopak mata, seperti saat menge­nakan eye shadow, maska­ ra, atau eyeliner. Jika terjadi

Mitos

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Waspada Rabies

pembengkakan, atasi langsung, agar tidak merembet ke bagian lainnya. Penggunaan maskara atau eyeliner yang tidak cocok juga bisa menyebabkan alergi pada mata. Mata akan menjadi gatal dan kemerahan, bahkan bisa membuat kelopak mata tebal. Karenanya, kata Laksmi Duarsa hindari iming-iming produk yang tidak jelas mereknya. Selalu berha­ ti-hati memilih produk kecantikan, pilihlah yang sudah teruji khasiatnya, agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari Jangan menggaruk, menggosok pada kulit yang mengalami alergi, ini bisa memperparah keadaan kulit anda. Apabila alergi ini tidak hilang dalam 1 x 24 jam sebaiknya anda menghubungi dan minta pertolongan dokter. Sebelum menggunakan kosmetik, sebaiknya kita mem­ bersihkan kulit wajah terlebih dahulu agar terhindar dari iritasi. Namun, untuk lebih aman kita sebaiknya menggunakan produk kosmetik yang terdaftar di BPOM dan produk yang men­ gandung bahan alami.

Perkembangan rabies di Bali pada tahun 2015 memang mengalami peningkatan jumlah kematian yang cukup mengkhawatirkan dibandingkan tahun-tahun sebelum­ nya. “Sampai awal bulan September saja sudah mencapai 14 kasus, dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 1 kasus pada tahun 2013 dan 2 kasus pada tahun 2014,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM.

K

asus gigitan juga tidak menunjuk­ kan adanya tren penurunan, dengan rata-rata gigitan 100-120 kasus per hari. Hal ini juga tidak terlepas dari peningkatan kasus rabies pada anjing yang meningkat sangat tajam dan desa tertular (positif rabies juga makin banyak). “Ber­ dasarkan data dari Disnak pada tahun 2014 ditemukan sekitar 119 kasus hewan positif rabies, sedangkan sampai awal September 2015 sudah mencapai 347 kasus,” imbuhnya. Benarkah anjing peliharaan tidak berisiko tertular dan menularkan rabies? Kasus gigitan anjing meskipun anjing peliharaan mungkin saja bisa tertular rabies bila anjing tersebut dilepas/diliarkan atau pernah kontak dengan anjing rabies. Seperti kasus di Bangli dan di Karangasem, memang anjing peliharaan tetapi anjing tersebut lepas/diliarkan. Karena penularan rabies terjadi dari hewan yang tertular rabies sebelumnya, menggigit anjing sehat dan anjing tersebut akan menjadi anjing rabies. Fakta di Bali adalah anjing memang ada pemiliknya (dianggap anjing peliharaan), tetapi 80% anjing tersebut dilepas atau diliarkan. Hal ini tetap punya potensi yang besar untuk tertular rabies. Jadi anjing peliharaan yang dimaksud tidak berisiko tertular rabies adalah kalau anjing tersebut dirawat (diberi makan), diikat/dikandangkan sehingga tidak kon­ tak dengan anjing yang tertular rabies.

– Sri Ardhini

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di a ­ mplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

dr.Oka Negara, FIAS

Ditolak Istri ‘’Dok, saya sudah hampir setahun menikah tapi kenapa istri saya tidak pernah mau diajak berhubungan intim sampai sekarang ini, apakah ­mungkin istri saya takut sakit saat hubungan ­intim, dan apa solusinya agar saya bisa mendapatkan momen pertama saya,dok?” (Gus, 27 thn) Cukup terkejut juga saya saat membaca pertanyaan ini. Satu tahun tentu saja sebuah waktu yang cukup lama bagi sepasang suami istri untuk tidak melakukan hubungan seksual, padahal salah satu yang diharapkan dari sebuah pernikahan adalah memi­ liki keturunan, dan untuk menda­ patkan keturunan secara alamiah tentu saja harus dengan melakukan hubungan seksual. Hubungan seks saat ini memiliki beberapa fungsi,

11

diantaranya adalah fungsi reproduksi dan fungsi rekreasi. Reproduksi, seperti yang disebutkan tadi, untuk mendapatkan keturunan, sedangkan fungsi rekreasi adalah untuk men­ dapatkan kenikmatan, kesenangan, atau kenyamanan. Aktivitas seks yang dilakukan dengan baik, disertai komu­ nikasi seksual yang baik, justru akan membahagiakan dan meningkatkan kualitas hidup. Tentu saja yang kemu­ dian perlu dilakukan adalah dengan

Anjing tersebut divaksinasi rabies agar punya proteksi terhadap virus rabies. Kenapa kasus rabies masih saja menelan korban terutama di perdesaan? Sampai awal September 2014 memang sudah ada 162 kasus kematian. Dan dari kasus tersebut lebih dari 92% dikarenakan pasien tidak datang ke pelayanan kesehatan. Sehingga, tidak mendapatkan tatalaksana sesuai dengan prosedur tetap (protap). Tatalaksana kasus gigitan salah satunya adalah pemberian VAR atau VAR dengan SAR kalau memang ada indikasi yang kuat, dalam hal ini adalah kasus gigi­ tan oleh anjing yang menunjukkan gejala rabies atau positif rabies. Ini sangat terkait dengan kasus positif rabies pada hulunya yaitu anjing. Makin banyak kasus positif pada anjing, risiko kematian pada penduduk akan makin tinggi pula apabila pasien tidak datang ke pelayanan kesehatan. Terkait hal ini, dr. Suarjaya menjelaskan pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada tahun 2015 ini sudah melakukan berbagai upaya, salah satunya adalah meningkatkan upaya promosi kesehatan dengan pesan kunci adalah bila mengalami kasus gigitan anjing segera cuci luka dengan deterjen/sabun dan air mengalir selama 10-15 menit dan segera datang ke pelayanan kes­ ehatan untuk mendapatkan tatalaksana sesuai protap. Selain itu Dinas Kesehatan telah melaksanakan langkah-langkah untuk memastikan ketersedian VAR dan SAR dengan melakukan koordinasi dengan ber­ bagai pihak terutama dengan Biofarma, Kementerian Kesehatan, dan koordinasi antara kabupaten/kota dengan provinsi agar ketersedian VAR di kabupaten/ kota tidak sampai kosong. “Saat ini kami juga sedang roadshow ke kabupaten/kota untuk melakukan advokasi ke semua pemangku kepentingan agar dalam pengen­ dalian rabies mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten/Kota dengan menggerakkan semua SKPD terkait, termasuk desa pekraman dari Majelis Madya

membuka keran komunikasi seksual yang bisa jadi selama ini buntu. Tentu perlu pendekatan khusus jika selama ini tidak terbiasa terbuka berbicara tentang hal-hal yang berkaitan secara seksual dengan pasangan. Suka tidak suka, ini memang harus dilakukan. Ada beberapa hal juga yang perlu ditanyakan atau dicari tahu sebel­ umnya. Yang pertama adalah kepada diri sendiri, apakah bagi diri sendiri ini merupakan sebuah masalah besar yang harus dicari solusinya? Untuk pasangan awam, apalagi di usia masih muda, justru seharusnya di usia sekian dorongan seksual masih sedang hangat bahkan sedang membara. Kemudian dicari tahu dan bi­ carakan baik-baik, untuk menentukan apakah sesungguhnya kita sudah mengenal dengan baik pasangan kita seutuhnya, pernahkah melihatnya dengan jelas dalam keadaan sedang terbuka bersama, dan dilihat langsung kondisi fisiknya. Bukan bermaksud membodohi, tetapi pernah ada keja­ dian di mana seorang suami yang tidak pernah berhubungan seksual ternyata belakangan baru tersadar bahwa sesungguhnya yang dinikahi bukanlah seorang perempuan, karena selama ini tidak pernah melihat pasangan dalam keadaan tanpa busana, kalaupun tidur bersama juga mematikan lampu. Semoga bukan ini yang dimaksud. Jika bukan itu, pertanyaan berikutnya apakah selama ini sudah pernah men­ coba melakukan hubungan seksual walau dipaksakan? Kalau pernah, ba­ gaimana responsnya? Apakah menolak keras, atau mau mencoba melakukan hubungan seksual tetapi merasakan nyeri atau malah kita merasa kesuli­ tan untuk melakukan penetrasi atau

Desa Pekraman sampai tingkat Bendesa terkait dengan pembuatan perarem di desa, terutama desa-desa yang rawan rabies. Karena, pengendalian rabies tidak bisa diselesaikan hanya oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan tetapi perlu dukungan dan peran serta semua komponen masyarakat. Benarkah vaksin rabies mulai langka dan harganya mahal? “Memang ketersediaan VAR pada awal 2015 sempat mengalami kelangkaan, tetapi kami telah melakukan berbagai upaya seperti koordinasi dengan Biofarma sebagai distributor, termasuk menghadap ke Menteri Kesehatan untuk mengatasi kelangkaan VAR. Saat ini stok VAR sudah aman yaitu sekitar 20.000 vial lebih tersebar di semua kabupaten/kota,” jelasnya. Ia memaparkan, pada awal September Dinas Kesehatan sudah dialokasikan oleh Biofarma 14.000 vial (dari 85.000 yang dipesan) dan sudah didistribusi­ kan secara bertahap ke Dinas Kabupaten/Kota yang mengalami kekurangan stok VAR. “Ke depan kami akan terus berupaya agar sisa vaksin yang kami pesan bisa dipenuhi secara penuh dan bertahap. Di sisi lain kami secara internal berupaya meningkatkan pema­ haman dan ketrampilan petugas di rabies centre agar bisa melaksanakan tatalaksana sesuai protap terutama pemberian VAR/SAR agar benar-benar sesuai dengan indikasi yang kuat, dimana VAR/SAR hanya diberikan kepada mereka yang digigit oleh anjing yang terindikasi/ positif rabies (sesuai dengan protap),” imbuhnya. Untuk itu, dr. Suarjaya mengatakan penting diberi­ kan informasi kepada masyarakat bahwa pengendalian rabies tidak bisa dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Peternakan saja. Perlu dukungan dan peran semua pihak seperti Dinas Pendidikan bagaimana memberi­ kan informasi kepada anak didik tentang pencegahan dan penanganan rabies; Kepala Desa meningkatkan kepedulian terhadap wilayahnya bagaimana men­ dorong masyarakat tentang meningkatkan perilaku pemeliharaan anjing yang benar, melaporkan kalau ada kasus-kasus gigitan yang mencurigakan seperti 1 ekor anjing menggigit 4 sampai 5 orang atau lebih; desa pekraman membuat perarem yang berkait dengan rabies termasuk sanksi bagi krama yang meliarkan anjing serta peran kelompok masyarkat lainnya sesuai dengan potensi yang dimiliki. –Inten Indrawati

memasukkan penis ke dalam vagina? Kemungkinan diagnosisnya akhirnya beragam. Jika istri menolak karena merasa tidak memiliki gairah seksual, bisa saja yang terjadi adalah gang­ guan dorongan seksual yang menu­ run atau Hipoactive Sexual Desire. Jika menolak karena setelah dicoba ternyata terasa sakit, bisa saja yang terjadi adalah gangguan nyeri saat berhubungan seksual yang disebut dengan Dyspareunia. Kurangnya pe­ manasan seksual yang akhirnya tidak menimbulkan perlendiran vagina saat berhubungan seksual juga bisa ter­ jadi dan jika dipaksakan bisa memicu rasa nyeri. Jika sempat dicoba untuk berhubungan seksual tetapi terasa mulut vagina tertutup rapat karena ada kekejangan otot vagina, bisa saja yang terjadi adalah Vaginismus namanya. Ada kemungkinan lain­ nya juga adalah penolakan karena memang merasa ada rasa jijik buat melakukan hubungan seksual, yang disebut dengan Aversi Seksual. Satu kemungkinan lain yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah kira-kira ada orientasi seksual yang berbeda dari yang diharapkan suami, maksud­ nya sebenarnya jangan-jangan secara seksual si istri lebih tertarik kepada perempuan, dan bukan laki-laki, yang disebut dengan homoseksual, atau jika terjadi pada perempuan disebut den­ gan lesbian, dan baginya pernikahan adalah alasan untuk terlihat menjadi lebih wajar menurutnya di hadapan orang lain. Jadi sebenarnya cukup banyak pertanyaan, yang perlu dijawab dulu, jika hanya melihat keterangan singkat dari yang ditanyakan. Tetapi dari semua itu tentu saja pendekatan untuk melakukan diskusi terbuka

bersama pasangan, atau bisa disebut dengan berkomunikasi seksual adalah sebuah keharu­ san, sekaligus sebuah hal yang perlu hati-hati dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Kemudian seandainya yang kemungkinan ter­ jadi adalah beberapa gangguan yang berkaitan dengan hilangnya dorongan seksual, bisa kemudian mencari pertolongan ke dokter yang paham kesehatan seksual, untuk memastikan penyebabnya, siapa tahu terjadi penurunan level hormon testosteron, yang juga terdapat pada perempuan, sebagai hormon yang bertanggung jawab mengatur dorongan seksual. Jika yang terjadi adalah berkaitan de­ ngan tidak adanya lubrikasi vagina dan rasa nyeri jika dipaksakan untuk berhubungan seksual karena vagina yang tidak mengalami pelumasan, juga bisa dibantu oleh dokter dengan pemberian obat golongan PDE-5 inhibitor yang akan mem­ bantu pelebaran pembuluh darah seputar vagina. Jika ternyata yang terjadi adalah nyeri dyspareunia, atau kaku otot vagina yang disebut dengan vaginismus, atau malah penolakan yang berupa aversi sek­ sual, maka ini perlu penanganan dengan cermat dan hati-hati karena sering kali penyebabnya adalah permasalah­an psikis atau trauma psikologis seksual di masa lalu yang belum tuntas dan masih berdampak di saat sekarang. Jadi, pastikan dulu jenis gangguan dan penyebab pasti­ nya, untuk kemudian mendapatkan penanganan yang lebih baik dan lebih tepat. Semakin awal dikon­ sultasikan semakin baik.


12

Kuliner

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Lezatnya Bakso

100% Haram M

enurut Made, warna kuning mencolok dengan tulisan besar Bakso Celeng 100% Haram, sengaja dibuat untuk menarik perhatian konsumen. “Dulu saya pernah pakai label bakso babi. Sambutannya biasa saja. Tapi ketika saya ubah menjadi Bakso Celeng 100% Haram, pembeli luamayan banyak,” ujar pedagang bakso yang biasa berjualan di Jalan Ahmad Yani, Singaraja ini. Uniknya, Made bisa menghabiskan 15 s.d. 25 kilogram daging babi setiap hari. Sehari-hari, ia dibantu 8 orang karyawan. Sehari-hari Made memang berjualan dengan warung. Mobil kuningnya ini baru saja dipakai berjualan. Rencananya, akan digunakan untuk berjualan keliling ke pura-pura di Buleleng. Untuk di Denpasar, baru dua kali ia ikut pameran kuliner. Menurut Made kelebihan bakso babi buatannya, tanpa bahan pengawet dan bumbunya dari basa genep. “Yang paling

Bagi Anda yang senang minum jamu, apakah pernah meracik jamu sendiri? Pengalaman meracik jamu sendiri merupakan sensasi luar biasa. Dari mengumpulkan bahan kemudian mengolah lalu meminum sendiri. Pengalaman ini yang ditawarkan Taman Bhagawan dengan memperkenalkan Paon Jamu.

Bakso celeng

special proses pembuatannya sukla,” ujarnya. Satu porsi bakso, terdiri dari mi, sayur sawi, bakso, dan tahu. Selain bakso, ia juga menjual kerupuk dan lemak babi goreng krispi. Made menuturkan, ia sudah berjualan bakso 4 tahun lalu. Awalnya, ia membantu mertuanya berjualan babi guling. Terbersit keinginan untuk berjualan bakso karena memang ia dan suaminya, sangat menyukai makanan tersebut. Awalnya menumpang berjualan di warung mertua, kini, ia sudah punya warung sendiri. Jam buka mulai pukul 12 siang sampai 9 malam. Saat makan siang, warungnya sangat ramai. Bahkan, banyak

yang rela mengantri untuk dapat menikmati bakso celeng buatannya. –Wirati Astiti

“D

Made

Dari Rujak Tibah sampai Loloh Don Dadap Selain bakso celeng, ada yang unik juga namanya rujak tibah (pace) buatan mahasiswa Mahendradatta. Menurut Tiwi, cara membuat rujak tibah ini sangat mudah. Buah tibah yang sudah masak, diremas-remas kemudian ditambahkan air, diberi garam, terasi, cabai, gula merah, dan sedikit asam. Kemudian disaring dan siap diminum. “Rasanya enak sekali, dan segar ketika diminum siang hari,” ujar Pak Ngurah, salah satu pembeli rujak tibah ini. Lain lagi, penuturan mahasiswi yang bernama Lestari. Ia bersama teman-temannya menjual seran-seran, lauk-pauk khas Tampaksiring. Cara membuatnya, daging ayam dicincang halus, diberi basa genep. Aduk rata. Kemudian ditambahkan kacang merah yang sudah direbus. Kemudian dipulung-pulung dan digoreng. Selain lauk-pauk, ia juga menjual loloh don dadap. Cara membuatnya, don dadap diremas-remas,

engan semangat untuk terus menumbuhkan warisan, tradisi dan budaya, kami bekerjasama dengan Suwe Ora Jamu untuk menghidupkan kembali tradisi minum Jamu; minuman herbal tradisional dari Indonesia, yang terbuat dari bahan-bahan alami,” ujar Astari Siswanto, Director Taman Bhagawan. Istilah jamu sudah muncul di abad ke-15-16 bahkan di era Jawa Baru. Jamu adalah obat mujarab dari Indonesia. Sepanjang sejarah kuno Indonesia, jamu diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan yang kuat. Resep jamu

asli sangat dijaga sebagai rahasia keluarga, diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, saat ini tradisi menggunakan jamu sebagai obat sudah tidak lagi akrab dan umum dalam masyarakat modern Indonesia. “Melalui Paon Jamu Signature Workshop, beberapa aktivitas kegiatan yang bisa dilaksanakan antara lain adalah penjelasan tentang metode pembuatan jamu untuk mengungkap rahasia di balik layar resep jamu terbaik menggunakan bahan dasar jamu yang terbaik. Berbagai macam tanaman herbal alami menjadi bahan dasar jamu, di antaranya kunyit, lengkuas, jahe, serai, dan asam,” ujar Nova Dewi, acaraki

Nova sedang memperkenalkan bahan dasar pembuat jamu

5 buah : cabe rawit 7 buah : bawang merah

Sarwan

ditambahkan garam, gula merah, terasi, asam jawa, cabai rawit, dan air. Kemudian disaring dan airnya siap diminum. Menurutnya, loloh ini sangat bagus untuk panas dalam dan perut panas. Sementara, mahasiswi lain

yang bernama Intan, menjual lepet ikan khas Klungkung. Bentuk lepet ini seperti pepes ikan. Bahan utamanya, ikan laut yang dicampur dengan basa genep. Kemduian dibungkus daun pisang dan dibakar. –Wirati Astiti

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Beli 10 Mangkok Es

Gratis 1 Mangkok

riah Murah Meih & Bers

Tipat Kuah Ceker

Seran-seran

eka yang tertarik dengan jamu dan antusias untuk ingin tahu serta belajar tentang sisi lain budaya Indonesia. Nova juga menjelaskan jamu dengan berbagai manfaat kesehatan sesuai pilihan Anda, antara lain, Kunyit Asam (meningkatkan sirkulasi tubuh, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mendetoksifikasi dan memelihara kulit), Beras Ken-

Bakwan Mi

Es Cendol

Lepet Ikan

Bahan-bahan untuk jamu

(ahli pembuat jamu) dari Suwe Ora Jamu. I a m en a m b a h k a n d a l a m workshop ini, peserta diajarkan bagaimana membuat jamu dengan cara paling mudah dan juga memahami manfaat dari jamu. Dengan demikian mereka diharapkan bisa membuat jamu sendiri di rumah. Paon Jamu Signature Workshop ini terbuka untuk umum, terutama bagi mer-

Bakmi Goreng Pedas

Rujak Tibah

13

Mengungkap Rahasia di Balik Jamu

Celeng

Ada yang menarik dalam ajang pameran kuliner yang digelar Universitas Mahendradatta di ­depan Museum Bali, beberapa hari lalu. Ada satu stan menggunakan mobil dengan warna kuning yang sangat menarik perhatian berlabel besar “Bakso Celeng 100% Haram”. Pemiliknya pasutri ­Wintara Jaya dengan Made Andriani.

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Oktober 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 300 gr : mi basah, seduh dengan air panas, tiriskan 3 butir : telur, kocok lepas 150 gr : daging ayam tanpa tulang, potong dadu 5 buah : bakso udang, potong bulat 3 buah : sosis ayam, potong bulat 100 gr : wortel sedang, iris serong 150 ml : air 100 gr : kol, potong kasar 1 batang : bawang daun, iris serong 2 sdm : margarine 1 sdm : minyak wijen 2 sdm : kecap ikan 3 sdm : kecap asin

1 sdt : lada bubuk 1 sdm : bawang putih goreng Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus: 4 siung : bawang putih 7 buah : cabe merah kriting

Cara Membuat: Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan kocokan telur, lalu buat orak-arik, tambahkan daging ayam dan bakso juga sosis, aduk sampai berubah warna. Tambahkan air, biarkan mendidih, lalu masukkan wortel dan kol, masak setengah matang. Tambahkan mi dan daun bawang, lalu tambahkan lada, garam, gula, kaldu bubuk, kecap ikan, kecap manis dan bahan-bahan lainya, aduk-aduk hingga bumbu meresap di mi, pastikan matang, siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 200 gr : mi kering 2 butir : telur 1 buah : wortel, iris korek api 50 gr : toge 1 batang : daun bawang, iris halus 2 sdm : saus sambal 1 sdm : saus tomat 1 sdt : lada bubuk Minyak goreng secukupnya Garam, kaldu bubuk secukupnya

Bihun Goreng Renyah Bahan: 300 gr : 60 gr : 1lembar : 1 batang : 2 ruas :

bihun kering udang rebon, rendam air panas, tiriskan daun salam serai, memarkan jari lengkuas,

memarkan 1 sdm : air asam jawa Gula, garam, kaldu bubuk, ­minyak goreng secukupnya Bumbu halus: 5 buah : cabe merah besar

7 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih Cara Membuatnya: - Goreng bihun sampai mekar dan renyah, sisihkan. - Goreng udang rebon sampai

cur (meningkatkan stamina dan mengurangi sakit urat), Alang Alang (mengurangi panas dalam, menyembuhkan sariawan dan memudahkan buang air kecil), dan Rosella (membantu melindungi sistem kekebalan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol). Paon Jamu Signature Workshop merupakan pengalaman menarik dan mendidik bagi semua kalangan mengenai manfaat jamu. Peserta juga memperoleh pengetahuan secara praktik dari proses pembuatan jamu. “Selama ini kendala yang dihadapi adalah pengenalan rasa. Peserta terutama wisatawan asing belum terbiasa dengan bahan-bahan jamu. Tetapi, setelah mereka mencoba meracik sendiri, semuanya puas dan senang,” tegas Nova. –Ngurah Budi Cara Membuat: - Rendam mi dengan air panas mendidih hingga mengembang dan tiriskan. - Kocok telur dan semua bahan dicampur menjadi satu. juga wortel, toge, saus, garam, gula, garam, aduk hinga rata dan tercampur. - Panaskan minyak yang agak banyak, kemudian goreng adonan sesendok demi sesendok, goreng sampai berubah kuning kecokelatan dan matang. - Siap disajikan.

kering, angkat, sisihkan. - Tumis bumbu yang dihaluskan bersama daun salam, lengkuas dan serai sampai harum. Tambahkan air asam jawa, gula, garam, kaldu bubuk, aduk-aduk hingga matang dan gula larut, lalu masukkan bihun dan rebon goreng adukaduk hingga merata, angkat, sajikan.


12

Kuliner

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Lezatnya Bakso

100% Haram M

enurut Made, warna kuning mencolok dengan tulisan besar Bakso Celeng 100% Haram, sengaja dibuat untuk menarik perhatian konsumen. “Dulu saya pernah pakai label bakso babi. Sambutannya biasa saja. Tapi ketika saya ubah menjadi Bakso Celeng 100% Haram, pembeli luamayan banyak,” ujar pedagang bakso yang biasa berjualan di Jalan Ahmad Yani, Singaraja ini. Uniknya, Made bisa menghabiskan 15 s.d. 25 kilogram daging babi setiap hari. Sehari-hari, ia dibantu 8 orang karyawan. Sehari-hari Made memang berjualan dengan warung. Mobil kuningnya ini baru saja dipakai berjualan. Rencananya, akan digunakan untuk berjualan keliling ke pura-pura di Buleleng. Untuk di Denpasar, baru dua kali ia ikut pameran kuliner. Menurut Made kelebihan bakso babi buatannya, tanpa bahan pengawet dan bumbunya dari basa genep. “Yang paling

Bagi Anda yang senang minum jamu, apakah pernah meracik jamu sendiri? Pengalaman meracik jamu sendiri merupakan sensasi luar biasa. Dari mengumpulkan bahan kemudian mengolah lalu meminum sendiri. Pengalaman ini yang ditawarkan Taman Bhagawan dengan memperkenalkan Paon Jamu.

Bakso celeng

special proses pembuatannya sukla,” ujarnya. Satu porsi bakso, terdiri dari mi, sayur sawi, bakso, dan tahu. Selain bakso, ia juga menjual kerupuk dan lemak babi goreng krispi. Made menuturkan, ia sudah berjualan bakso 4 tahun lalu. Awalnya, ia membantu mertuanya berjualan babi guling. Terbersit keinginan untuk berjualan bakso karena memang ia dan suaminya, sangat menyukai makanan tersebut. Awalnya menumpang berjualan di warung mertua, kini, ia sudah punya warung sendiri. Jam buka mulai pukul 12 siang sampai 9 malam. Saat makan siang, warungnya sangat ramai. Bahkan, banyak

yang rela mengantri untuk dapat menikmati bakso celeng buatannya. –Wirati Astiti

“D

Made

Dari Rujak Tibah sampai Loloh Don Dadap Selain bakso celeng, ada yang unik juga namanya rujak tibah (pace) buatan mahasiswa Mahendradatta. Menurut Tiwi, cara membuat rujak tibah ini sangat mudah. Buah tibah yang sudah masak, diremas-remas kemudian ditambahkan air, diberi garam, terasi, cabai, gula merah, dan sedikit asam. Kemudian disaring dan siap diminum. “Rasanya enak sekali, dan segar ketika diminum siang hari,” ujar Pak Ngurah, salah satu pembeli rujak tibah ini. Lain lagi, penuturan mahasiswi yang bernama Lestari. Ia bersama teman-temannya menjual seran-seran, lauk-pauk khas Tampaksiring. Cara membuatnya, daging ayam dicincang halus, diberi basa genep. Aduk rata. Kemudian ditambahkan kacang merah yang sudah direbus. Kemudian dipulung-pulung dan digoreng. Selain lauk-pauk, ia juga menjual loloh don dadap. Cara membuatnya, don dadap diremas-remas,

engan semangat untuk terus menumbuhkan warisan, tradisi dan budaya, kami bekerjasama dengan Suwe Ora Jamu untuk menghidupkan kembali tradisi minum Jamu; minuman herbal tradisional dari Indonesia, yang terbuat dari bahan-bahan alami,” ujar Astari Siswanto, Director Taman Bhagawan. Istilah jamu sudah muncul di abad ke-15-16 bahkan di era Jawa Baru. Jamu adalah obat mujarab dari Indonesia. Sepanjang sejarah kuno Indonesia, jamu diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan yang kuat. Resep jamu

asli sangat dijaga sebagai rahasia keluarga, diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, saat ini tradisi menggunakan jamu sebagai obat sudah tidak lagi akrab dan umum dalam masyarakat modern Indonesia. “Melalui Paon Jamu Signature Workshop, beberapa aktivitas kegiatan yang bisa dilaksanakan antara lain adalah penjelasan tentang metode pembuatan jamu untuk mengungkap rahasia di balik layar resep jamu terbaik menggunakan bahan dasar jamu yang terbaik. Berbagai macam tanaman herbal alami menjadi bahan dasar jamu, di antaranya kunyit, lengkuas, jahe, serai, dan asam,” ujar Nova Dewi, acaraki

Nova sedang memperkenalkan bahan dasar pembuat jamu

5 buah : cabe rawit 7 buah : bawang merah

Sarwan

ditambahkan garam, gula merah, terasi, asam jawa, cabai rawit, dan air. Kemudian disaring dan airnya siap diminum. Menurutnya, loloh ini sangat bagus untuk panas dalam dan perut panas. Sementara, mahasiswi lain

yang bernama Intan, menjual lepet ikan khas Klungkung. Bentuk lepet ini seperti pepes ikan. Bahan utamanya, ikan laut yang dicampur dengan basa genep. Kemduian dibungkus daun pisang dan dibakar. –Wirati Astiti

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Beli 10 Mangkok Es

Gratis 1 Mangkok

riah Murah Meih & Bers

Tipat Kuah Ceker

Seran-seran

eka yang tertarik dengan jamu dan antusias untuk ingin tahu serta belajar tentang sisi lain budaya Indonesia. Nova juga menjelaskan jamu dengan berbagai manfaat kesehatan sesuai pilihan Anda, antara lain, Kunyit Asam (meningkatkan sirkulasi tubuh, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mendetoksifikasi dan memelihara kulit), Beras Ken-

Bakwan Mi

Es Cendol

Lepet Ikan

Bahan-bahan untuk jamu

(ahli pembuat jamu) dari Suwe Ora Jamu. I a m en a m b a h k a n d a l a m workshop ini, peserta diajarkan bagaimana membuat jamu dengan cara paling mudah dan juga memahami manfaat dari jamu. Dengan demikian mereka diharapkan bisa membuat jamu sendiri di rumah. Paon Jamu Signature Workshop ini terbuka untuk umum, terutama bagi mer-

Bakmi Goreng Pedas

Rujak Tibah

13

Mengungkap Rahasia di Balik Jamu

Celeng

Ada yang menarik dalam ajang pameran kuliner yang digelar Universitas Mahendradatta di ­depan Museum Bali, beberapa hari lalu. Ada satu stan menggunakan mobil dengan warna kuning yang sangat menarik perhatian berlabel besar “Bakso Celeng 100% Haram”. Pemiliknya pasutri ­Wintara Jaya dengan Made Andriani.

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Oktober 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 300 gr : mi basah, seduh dengan air panas, tiriskan 3 butir : telur, kocok lepas 150 gr : daging ayam tanpa tulang, potong dadu 5 buah : bakso udang, potong bulat 3 buah : sosis ayam, potong bulat 100 gr : wortel sedang, iris serong 150 ml : air 100 gr : kol, potong kasar 1 batang : bawang daun, iris serong 2 sdm : margarine 1 sdm : minyak wijen 2 sdm : kecap ikan 3 sdm : kecap asin

1 sdt : lada bubuk 1 sdm : bawang putih goreng Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus: 4 siung : bawang putih 7 buah : cabe merah kriting

Cara Membuat: Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan kocokan telur, lalu buat orak-arik, tambahkan daging ayam dan bakso juga sosis, aduk sampai berubah warna. Tambahkan air, biarkan mendidih, lalu masukkan wortel dan kol, masak setengah matang. Tambahkan mi dan daun bawang, lalu tambahkan lada, garam, gula, kaldu bubuk, kecap ikan, kecap manis dan bahan-bahan lainya, aduk-aduk hingga bumbu meresap di mi, pastikan matang, siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 200 gr : mi kering 2 butir : telur 1 buah : wortel, iris korek api 50 gr : toge 1 batang : daun bawang, iris halus 2 sdm : saus sambal 1 sdm : saus tomat 1 sdt : lada bubuk Minyak goreng secukupnya Garam, kaldu bubuk secukupnya

Bihun Goreng Renyah Bahan: 300 gr : 60 gr : 1lembar : 1 batang : 2 ruas :

bihun kering udang rebon, rendam air panas, tiriskan daun salam serai, memarkan jari lengkuas,

memarkan 1 sdm : air asam jawa Gula, garam, kaldu bubuk, ­minyak goreng secukupnya Bumbu halus: 5 buah : cabe merah besar

7 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih Cara Membuatnya: - Goreng bihun sampai mekar dan renyah, sisihkan. - Goreng udang rebon sampai

cur (meningkatkan stamina dan mengurangi sakit urat), Alang Alang (mengurangi panas dalam, menyembuhkan sariawan dan memudahkan buang air kecil), dan Rosella (membantu melindungi sistem kekebalan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol). Paon Jamu Signature Workshop merupakan pengalaman menarik dan mendidik bagi semua kalangan mengenai manfaat jamu. Peserta juga memperoleh pengetahuan secara praktik dari proses pembuatan jamu. “Selama ini kendala yang dihadapi adalah pengenalan rasa. Peserta terutama wisatawan asing belum terbiasa dengan bahan-bahan jamu. Tetapi, setelah mereka mencoba meracik sendiri, semuanya puas dan senang,” tegas Nova. –Ngurah Budi Cara Membuat: - Rendam mi dengan air panas mendidih hingga mengembang dan tiriskan. - Kocok telur dan semua bahan dicampur menjadi satu. juga wortel, toge, saus, garam, gula, garam, aduk hinga rata dan tercampur. - Panaskan minyak yang agak banyak, kemudian goreng adonan sesendok demi sesendok, goreng sampai berubah kuning kecokelatan dan matang. - Siap disajikan.

kering, angkat, sisihkan. - Tumis bumbu yang dihaluskan bersama daun salam, lengkuas dan serai sampai harum. Tambahkan air asam jawa, gula, garam, kaldu bubuk, aduk-aduk hingga matang dan gula larut, lalu masukkan bihun dan rebon goreng adukaduk hingga merata, angkat, sajikan.


14

Jelita

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Hindari Alergi Akibat Kosmetik Perempuan a dan make up bisa disebut sebuah rangkaian tak ter­ pisahkan. Benar saat ini, tak ter­hitung lagi banyaknya produk kosmetik yang ditawarkan untuk menunjang pe­ nampilan. Namun, jika tidak hati-hati atau kurang peduli, mereka bisa saja mengalami alergi karenanya.

Laksmi Duarsa

M

enurut dokter spesilais kulit Laksmi Duar­ sa, dari sekian banyak bahan kosmetik yang menimbulkan alergi, penyebab yang paling banyak adalah unsur pengawet kosmetik, zat warna tertentu, dan parfum. Akibat­ nya, kulit wajah bukan hanya mengalami peradangan bahkan bisa menjadi bengkak. Malah sering kita jumpai perempuan dengan jerawat parah, kulit mengelupas hebat hingga flek yang lebar. Laksmi Duarsa mengatakan, daerah yang sering terkena alergi kosmetik adalah bagian kulit wajah, dan area seputar telinga. “Alangkah baiknya jika setiap orang mengetahui apakah kulitnya memiliki intoleransi terhadap kosmetik, dengan melakukan tes sensitivitas kulit,” ujarnya. “Biasanya pada pemakaian produk pertama, tidak terlihat gejala dari alergi kosmetik ini, tapi selanjutnya akan terlihat. Reaksi dari tubuh terhadap zat alegran ini juga bisa bersi­ fat langsung dan tak langsung. Misalnya, saat menggunakan parfum, reaksi langsungnya berupa gatal – gatal di kulit atau baru akan muncul beberapa hari setelahnya. Ditekankannya bahwa ketika berbicara atas nama kecantikan, urusan kesehatan pun mesti menjadi perhatian.Apalagi setiap perempuan tentu ingin tampil menawan tanpa penyakit apa­

pun. “Khusus bagi para perem­ puan yang kulitnya sensitif, menggunakan kosmetik mesti lebih hati-hati. Sebab, lebih mudah terserang alergi. Di sini mereka perlu memilih produk perawatan dengan kandungan bahan aktif konsentrasi paling rendah demi menghindari ter­ jadinya alergi,” ujarnya. Masih bagi pemilik kulit sen­ sitif juga disarankan memakai pelembab yang tanpa bahan kimia aktif. Gejala sekecil apa­ pun, bisa menyebabkan penyakit serius jika tidak ditangani dengan benar. Dapat pula menggunakan kosmetik dengan label hypoal­ lergenic, yakni produk kosmetik yang ramah terhadap kulit. Telah dilakukan percobaan pada hypoallergenic ini pada beberapa orang, hasilnya menunjukkan sedikit yang alergi pada hypoallergenic,tapi tidak tertutup kemungkinan juga jika ada alergi saat menggunakan hypoallergenic ini. Diingatkannya pada kita semua untuk ter­ biasa memperhatikan kandungan di dalam produk kosmetik, se­ bagai salah satu cara mengatasi alergi kulit yang mungkin terjadi. Namaun mesti diwas­ padai juga, meskipun disebut­kan sudah ada tes anti alergi, belum tentu menjamin 100% aman. Sebab, kulit se­ tiap orang berbeda respons­nya terhadap setiap kandungan kos­ metik. “Begitu juga den­ gan peralatan make up seper­ti kuas atau spons bedak yang kotor mudah menimbulkan aler­gi. Maka, pastikan peralatan make up yang di­gunakan dalam keadaan bersih saat menggunakannya . Ke­ tika mengganti kosme­ tik, sebaiknya bersihkan dahulu peralatan make up dari bekas kosmetik yang lama,” tegasnya. KENALI TANDA ALERGI Laksmi Duarsa mengatakan setiap

memakai produk kosmetik baru, jangan lupa dites pada sebagian kulit. Namun, hindari mengetes produk kosmetik di bagian wa­ jah, tapi pilih bagian kulit lain yang kondisinya mirip, misalnya di belakang telinga atau di lipa­ tan siku tangan. Jika di bagian tersebut tidak ada ke­ luhan, maka hampir di­ pastikan kosmetik yang dites itu juga cocok untuk dipakai di wajah. “Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan, yakni mencuci tangan sebe­ lum memakai make up dan ingat mengecek tanggal kadaluarsanya,” cetusnya. Dan, yang tidak kalah penting adalah memulai pola hidup sehat.Seperti menjauhi alkohol, kopi, rokok, gula halus dan lemak jenuh, yang semuanya bertindak sebagai racun dalam tubuh. Pastinya juga olah raga adalah salah satu langkah detoksifikasi. Selanjutnya Laksmi Duarsa menyampaikan beberapa tanda alergi dan apa yang yang perlu diperhatikan dan dilakukan. Umumnya tanda pertama yang muncul ketika make up

tidak sesuai dengan kulit adalah warna kemerahan. Kondisi ini muncul beberapa saat setelah memakai make up, diawali rasa gatal dan panas. Ketika kulit alergi terhadap produk kosmetik, akan terasa gatal dan panas, kemudian men­

jadi kemerahan. Hal ini karena ada kandungan di dalam kosme­ tik yang tidak cocok terhadap kulit. Hentikan pemakaian dan cuci dengan air. Ada juga pembengkakan pada kelopak mata, seperti saat menge­nakan eye shadow, maska­ ra, atau eyeliner. Jika terjadi

Mitos

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Waspada Rabies

pembengkakan, atasi langsung, agar tidak merembet ke bagian lainnya. Penggunaan maskara atau eyeliner yang tidak cocok juga bisa menyebabkan alergi pada mata. Mata akan menjadi gatal dan kemerahan, bahkan bisa membuat kelopak mata tebal. Karenanya, kata Laksmi Duarsa hindari iming-iming produk yang tidak jelas mereknya. Selalu berha­ ti-hati memilih produk kecantikan, pilihlah yang sudah teruji khasiatnya, agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari Jangan menggaruk, menggosok pada kulit yang mengalami alergi, ini bisa memperparah keadaan kulit anda. Apabila alergi ini tidak hilang dalam 1 x 24 jam sebaiknya anda menghubungi dan minta pertolongan dokter. Sebelum menggunakan kosmetik, sebaiknya kita mem­ bersihkan kulit wajah terlebih dahulu agar terhindar dari iritasi. Namun, untuk lebih aman kita sebaiknya menggunakan produk kosmetik yang terdaftar di BPOM dan produk yang men­ gandung bahan alami.

Perkembangan rabies di Bali pada tahun 2015 memang mengalami peningkatan jumlah kematian yang cukup mengkhawatirkan dibandingkan tahun-tahun sebelum­ nya. “Sampai awal bulan September saja sudah mencapai 14 kasus, dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 1 kasus pada tahun 2013 dan 2 kasus pada tahun 2014,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM.

K

asus gigitan juga tidak menunjuk­ kan adanya tren penurunan, dengan rata-rata gigitan 100-120 kasus per hari. Hal ini juga tidak terlepas dari peningkatan kasus rabies pada anjing yang meningkat sangat tajam dan desa tertular (positif rabies juga makin banyak). “Ber­ dasarkan data dari Disnak pada tahun 2014 ditemukan sekitar 119 kasus hewan positif rabies, sedangkan sampai awal September 2015 sudah mencapai 347 kasus,” imbuhnya. Benarkah anjing peliharaan tidak berisiko tertular dan menularkan rabies? Kasus gigitan anjing meskipun anjing peliharaan mungkin saja bisa tertular rabies bila anjing tersebut dilepas/diliarkan atau pernah kontak dengan anjing rabies. Seperti kasus di Bangli dan di Karangasem, memang anjing peliharaan tetapi anjing tersebut lepas/diliarkan. Karena penularan rabies terjadi dari hewan yang tertular rabies sebelumnya, menggigit anjing sehat dan anjing tersebut akan menjadi anjing rabies. Fakta di Bali adalah anjing memang ada pemiliknya (dianggap anjing peliharaan), tetapi 80% anjing tersebut dilepas atau diliarkan. Hal ini tetap punya potensi yang besar untuk tertular rabies. Jadi anjing peliharaan yang dimaksud tidak berisiko tertular rabies adalah kalau anjing tersebut dirawat (diberi makan), diikat/dikandangkan sehingga tidak kon­ tak dengan anjing yang tertular rabies.

– Sri Ardhini

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di a ­ mplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

dr.Oka Negara, FIAS

Ditolak Istri ‘’Dok, saya sudah hampir setahun menikah tapi kenapa istri saya tidak pernah mau diajak berhubungan intim sampai sekarang ini, apakah ­mungkin istri saya takut sakit saat hubungan ­intim, dan apa solusinya agar saya bisa mendapatkan momen pertama saya,dok?” (Gus, 27 thn) Cukup terkejut juga saya saat membaca pertanyaan ini. Satu tahun tentu saja sebuah waktu yang cukup lama bagi sepasang suami istri untuk tidak melakukan hubungan seksual, padahal salah satu yang diharapkan dari sebuah pernikahan adalah memi­ liki keturunan, dan untuk menda­ patkan keturunan secara alamiah tentu saja harus dengan melakukan hubungan seksual. Hubungan seks saat ini memiliki beberapa fungsi,

11

diantaranya adalah fungsi reproduksi dan fungsi rekreasi. Reproduksi, seperti yang disebutkan tadi, untuk mendapatkan keturunan, sedangkan fungsi rekreasi adalah untuk men­ dapatkan kenikmatan, kesenangan, atau kenyamanan. Aktivitas seks yang dilakukan dengan baik, disertai komu­ nikasi seksual yang baik, justru akan membahagiakan dan meningkatkan kualitas hidup. Tentu saja yang kemu­ dian perlu dilakukan adalah dengan

Anjing tersebut divaksinasi rabies agar punya proteksi terhadap virus rabies. Kenapa kasus rabies masih saja menelan korban terutama di perdesaan? Sampai awal September 2014 memang sudah ada 162 kasus kematian. Dan dari kasus tersebut lebih dari 92% dikarenakan pasien tidak datang ke pelayanan kesehatan. Sehingga, tidak mendapatkan tatalaksana sesuai dengan prosedur tetap (protap). Tatalaksana kasus gigitan salah satunya adalah pemberian VAR atau VAR dengan SAR kalau memang ada indikasi yang kuat, dalam hal ini adalah kasus gigi­ tan oleh anjing yang menunjukkan gejala rabies atau positif rabies. Ini sangat terkait dengan kasus positif rabies pada hulunya yaitu anjing. Makin banyak kasus positif pada anjing, risiko kematian pada penduduk akan makin tinggi pula apabila pasien tidak datang ke pelayanan kesehatan. Terkait hal ini, dr. Suarjaya menjelaskan pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada tahun 2015 ini sudah melakukan berbagai upaya, salah satunya adalah meningkatkan upaya promosi kesehatan dengan pesan kunci adalah bila mengalami kasus gigitan anjing segera cuci luka dengan deterjen/sabun dan air mengalir selama 10-15 menit dan segera datang ke pelayanan kes­ ehatan untuk mendapatkan tatalaksana sesuai protap. Selain itu Dinas Kesehatan telah melaksanakan langkah-langkah untuk memastikan ketersedian VAR dan SAR dengan melakukan koordinasi dengan ber­ bagai pihak terutama dengan Biofarma, Kementerian Kesehatan, dan koordinasi antara kabupaten/kota dengan provinsi agar ketersedian VAR di kabupaten/ kota tidak sampai kosong. “Saat ini kami juga sedang roadshow ke kabupaten/kota untuk melakukan advokasi ke semua pemangku kepentingan agar dalam pengen­ dalian rabies mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten/Kota dengan menggerakkan semua SKPD terkait, termasuk desa pekraman dari Majelis Madya

membuka keran komunikasi seksual yang bisa jadi selama ini buntu. Tentu perlu pendekatan khusus jika selama ini tidak terbiasa terbuka berbicara tentang hal-hal yang berkaitan secara seksual dengan pasangan. Suka tidak suka, ini memang harus dilakukan. Ada beberapa hal juga yang perlu ditanyakan atau dicari tahu sebel­ umnya. Yang pertama adalah kepada diri sendiri, apakah bagi diri sendiri ini merupakan sebuah masalah besar yang harus dicari solusinya? Untuk pasangan awam, apalagi di usia masih muda, justru seharusnya di usia sekian dorongan seksual masih sedang hangat bahkan sedang membara. Kemudian dicari tahu dan bi­ carakan baik-baik, untuk menentukan apakah sesungguhnya kita sudah mengenal dengan baik pasangan kita seutuhnya, pernahkah melihatnya dengan jelas dalam keadaan sedang terbuka bersama, dan dilihat langsung kondisi fisiknya. Bukan bermaksud membodohi, tetapi pernah ada keja­ dian di mana seorang suami yang tidak pernah berhubungan seksual ternyata belakangan baru tersadar bahwa sesungguhnya yang dinikahi bukanlah seorang perempuan, karena selama ini tidak pernah melihat pasangan dalam keadaan tanpa busana, kalaupun tidur bersama juga mematikan lampu. Semoga bukan ini yang dimaksud. Jika bukan itu, pertanyaan berikutnya apakah selama ini sudah pernah men­ coba melakukan hubungan seksual walau dipaksakan? Kalau pernah, ba­ gaimana responsnya? Apakah menolak keras, atau mau mencoba melakukan hubungan seksual tetapi merasakan nyeri atau malah kita merasa kesuli­ tan untuk melakukan penetrasi atau

Desa Pekraman sampai tingkat Bendesa terkait dengan pembuatan perarem di desa, terutama desa-desa yang rawan rabies. Karena, pengendalian rabies tidak bisa diselesaikan hanya oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan tetapi perlu dukungan dan peran serta semua komponen masyarakat. Benarkah vaksin rabies mulai langka dan harganya mahal? “Memang ketersediaan VAR pada awal 2015 sempat mengalami kelangkaan, tetapi kami telah melakukan berbagai upaya seperti koordinasi dengan Biofarma sebagai distributor, termasuk menghadap ke Menteri Kesehatan untuk mengatasi kelangkaan VAR. Saat ini stok VAR sudah aman yaitu sekitar 20.000 vial lebih tersebar di semua kabupaten/kota,” jelasnya. Ia memaparkan, pada awal September Dinas Kesehatan sudah dialokasikan oleh Biofarma 14.000 vial (dari 85.000 yang dipesan) dan sudah didistribusi­ kan secara bertahap ke Dinas Kabupaten/Kota yang mengalami kekurangan stok VAR. “Ke depan kami akan terus berupaya agar sisa vaksin yang kami pesan bisa dipenuhi secara penuh dan bertahap. Di sisi lain kami secara internal berupaya meningkatkan pema­ haman dan ketrampilan petugas di rabies centre agar bisa melaksanakan tatalaksana sesuai protap terutama pemberian VAR/SAR agar benar-benar sesuai dengan indikasi yang kuat, dimana VAR/SAR hanya diberikan kepada mereka yang digigit oleh anjing yang terindikasi/ positif rabies (sesuai dengan protap),” imbuhnya. Untuk itu, dr. Suarjaya mengatakan penting diberi­ kan informasi kepada masyarakat bahwa pengendalian rabies tidak bisa dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Peternakan saja. Perlu dukungan dan peran semua pihak seperti Dinas Pendidikan bagaimana memberi­ kan informasi kepada anak didik tentang pencegahan dan penanganan rabies; Kepala Desa meningkatkan kepedulian terhadap wilayahnya bagaimana men­ dorong masyarakat tentang meningkatkan perilaku pemeliharaan anjing yang benar, melaporkan kalau ada kasus-kasus gigitan yang mencurigakan seperti 1 ekor anjing menggigit 4 sampai 5 orang atau lebih; desa pekraman membuat perarem yang berkait dengan rabies termasuk sanksi bagi krama yang meliarkan anjing serta peran kelompok masyarkat lainnya sesuai dengan potensi yang dimiliki. –Inten Indrawati

memasukkan penis ke dalam vagina? Kemungkinan diagnosisnya akhirnya beragam. Jika istri menolak karena merasa tidak memiliki gairah seksual, bisa saja yang terjadi adalah gang­ guan dorongan seksual yang menu­ run atau Hipoactive Sexual Desire. Jika menolak karena setelah dicoba ternyata terasa sakit, bisa saja yang terjadi adalah gangguan nyeri saat berhubungan seksual yang disebut dengan Dyspareunia. Kurangnya pe­ manasan seksual yang akhirnya tidak menimbulkan perlendiran vagina saat berhubungan seksual juga bisa ter­ jadi dan jika dipaksakan bisa memicu rasa nyeri. Jika sempat dicoba untuk berhubungan seksual tetapi terasa mulut vagina tertutup rapat karena ada kekejangan otot vagina, bisa saja yang terjadi adalah Vaginismus namanya. Ada kemungkinan lain­ nya juga adalah penolakan karena memang merasa ada rasa jijik buat melakukan hubungan seksual, yang disebut dengan Aversi Seksual. Satu kemungkinan lain yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah kira-kira ada orientasi seksual yang berbeda dari yang diharapkan suami, maksud­ nya sebenarnya jangan-jangan secara seksual si istri lebih tertarik kepada perempuan, dan bukan laki-laki, yang disebut dengan homoseksual, atau jika terjadi pada perempuan disebut den­ gan lesbian, dan baginya pernikahan adalah alasan untuk terlihat menjadi lebih wajar menurutnya di hadapan orang lain. Jadi sebenarnya cukup banyak pertanyaan, yang perlu dijawab dulu, jika hanya melihat keterangan singkat dari yang ditanyakan. Tetapi dari semua itu tentu saja pendekatan untuk melakukan diskusi terbuka

bersama pasangan, atau bisa disebut dengan berkomunikasi seksual adalah sebuah keharu­ san, sekaligus sebuah hal yang perlu hati-hati dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Kemudian seandainya yang kemungkinan ter­ jadi adalah beberapa gangguan yang berkaitan dengan hilangnya dorongan seksual, bisa kemudian mencari pertolongan ke dokter yang paham kesehatan seksual, untuk memastikan penyebabnya, siapa tahu terjadi penurunan level hormon testosteron, yang juga terdapat pada perempuan, sebagai hormon yang bertanggung jawab mengatur dorongan seksual. Jika yang terjadi adalah berkaitan de­ ngan tidak adanya lubrikasi vagina dan rasa nyeri jika dipaksakan untuk berhubungan seksual karena vagina yang tidak mengalami pelumasan, juga bisa dibantu oleh dokter dengan pemberian obat golongan PDE-5 inhibitor yang akan mem­ bantu pelebaran pembuluh darah seputar vagina. Jika ternyata yang terjadi adalah nyeri dyspareunia, atau kaku otot vagina yang disebut dengan vaginismus, atau malah penolakan yang berupa aversi sek­ sual, maka ini perlu penanganan dengan cermat dan hati-hati karena sering kali penyebabnya adalah permasalah­an psikis atau trauma psikologis seksual di masa lalu yang belum tuntas dan masih berdampak di saat sekarang. Jadi, pastikan dulu jenis gangguan dan penyebab pasti­ nya, untuk kemudian mendapatkan penanganan yang lebih baik dan lebih tepat. Semakin awal dikon­ sultasikan semakin baik.


10

Bugar

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Pendekatan Non Farmakologis Pada Nyeri Kepala Tipe Tegang dr. Luh Kamiati SpKFR kepala dan leher yang tegang atau bahkan terdapat titik-titik tertentu di otot yang menyebakan penjalaran nyeri atau yang biasa disebut trigger points. Banyaknya faktor yang mempengaruhi munculnya nyeri kepala tipe tegang menyebabkan perlunya penanganan yang komprehensif. Selain terapi farmakologis dengan obat-obatan, ada pendekatan non farmakologis yang dapat membantu mengurangi gejala nyeri kepala tipe tegang. Mari kita bahas beberapa pendekatan berikut ini.

dr. Luh Kamiati SpKFR

Beberapa edisi yang lalu telah dibahas topik mengenai nyeri kepala. Nyeri kepala tipe tegang (tension type headache) merupakan bentuk nyeri kepala yang paling sering. Digambarkan sebagai nyeri tumpul, seperti ditekan, terikat, rasa penuh di area kepala seperti memakai topi atau helm. Nyeri kepala ini biasanya pada dirasakan pada kedua sisi. Tidak seperti migren, nyeri kepala tipe ini biasanya tidak berhubungan dengan aktivitas fisik dan tidak disertai gejala lain seperti mual atau muntah. Stres, kelelahan fisik atau mental, kurangnya waktu tidur, telat makan adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan munculnya nyeri kepala tipe ini. Oleh karena itu memiliki buku harian khusus untuk mencatat faktor-faktor yang mencetuskan nyeri sangatlah penting. Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab-penyebab lain dari nyeri kepala. Pada pemeriksaan palpasi, dapat ditemukan adanya otot-otot sekitar

Informasi Dan Identifikasi Faktor-Faktor Pencetus Analisa yang detil mengenai faktor pencetus sangat penting dilakukan karena hal ini mempengaruhi kekambuhan nyeri kepala. Faktor pencetus yang paling sering dilaporkan adalah kelelahan fisik atau mental, pola makan yang telat dan tidak teratur, konsumsi kopi atau minuman berkafein dalam jumlah tinggi, dehidarsi, gangguan tidur, tidur yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, aktivitas fisik yang kurang atau berlebih, masalah psikologis, juga periode menstruasi dan gangguan hormonal. Perlu dijelaskan bahwa nyeri kepala atau nyeri otot yang terus menerus atau kronis bisa mengganggu mekanisme modulasi nyeri di otak sehingga jika sudah berlangsung lama, faktor yang seharusnya tidak menimbulkan nyeri dapat dianggap oleh otak kita sebagai pencetus nyeri. Hal ini dalam jangka lama dapat menyebabkan depresi atau ansietas (ganggguan cemas).

Latihan Relaksasi Tujuan latihan ini adalah untuk mengenali dan mengontrol ketegangan yang terjadi di tubuh kita. Pasien akan diajarkan untuk mengkontraksikan otot tertentu dan merelaksasikannya secara volunteer atau secara sadar. Relaksasi juga dapat dilakukan dengan latihan pernafasan dengan teknik tertentu. EMG Biofeedback Terapi ini menggunakan alat yang

dapat merekam aktivitas kontraksi otot tertentu dan mengubahnya menjadi umpan balik sinyal suara sehingga kita bisa mengetahui apakah otot kita sedang berkontraksi kuat atau sedang relaksasi. Pada saat kita sedang tegang atau stres, otot-otot kita berkontraksi tanpa kita sadari. Dengan alat ini, kita belajar untuk merelaksasikan otot-otot kita secara volunteer.

Terapi Fisik Terapi fisik adalah pendekatan non farmakologis yang paling banyak digunakan untuk nyeri kepala tipe tegang. Berbagai modalitas fisik dapat digunakan seperti terapi panas (hot packs, ultrasound, diathermy) maupun dingin (cool pack), stimulasi elektrik, massage dan therapeutic exercise atau terapi latihan. Latihan yang dimaksud bisa merupakan latihan peregangan untuk otot-otot tertentu yang tegang atau latihan aerobik yang secara umum dapat meningkatkan endorfin (hormon yang mempunyai efek mengurangi rasa nyeri). Jika terdapat gangguan postur, hal ini juga harus diperbaiki karena postur yang salah dapat menyebabkan ketegangan pada otot-otot tertentu. Dry needling Terapi ini merupakan terapi yang lebih invasif karena dilakukan dengan melakukan penusukan jarum pada titik-titik otot yang nyeri dan tegang.

Penusukan jarum pada otot yang tegang menimbulkan letupan listrik di otot yang menyebabkan otot yang tegang itu mengalami relaksasi dalam hitungan menit. Otot yang relaksasi tersebut akan menimbulkan refleks relaksasi pada otot yang lain bahkan pada otot polos dinding pembuluh darah atau pembuluh limfe. Tusukan jarum juga menimbulkan perdarahan lokal yang menstimulasi pembentukan growth factor (factor pertumbuhan seperti Platelet Derived Growth Factor), sintesis DNA, pembentukan kolagen dan protein. Karena bersifat invasif, terapi ini sebaiknya dilakukan oleh dokter yang kompeten.

Terapi Kognitif Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy) Merupakan terapi psikologis yang bertujuan untuk mengajarkan pasien untuk mengidentifikasi pikiran dan keyakinan yang memunculkan stress dan memperberat nyeri yang dirasakan kemudian mengatasi pikiran-pikiran tersebut dan mengontrolnya. Demikian beberapa pilihan terapi non farmakologis pada nyeri kepala tipe tegang, Sampai saat ini belum ada satupun terapi tunggal yang mempunyai efektifitas tinggi untuk mengatasi nyeri kepala tipe tegang. Oleh karena itu pendekatan kombinasi berbagai terapi baik farmakologis maupun non farmakologis direkomendasikan untuk mencapai hasil yang maksimal.

Style

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Pesona Cahaya Kemilau

Salah satu cara mempresentasikan diri dan menyem­purnakan penampilan adalah aksesori. Saat ini, berlian menjadi aksesori unggulan dan semakin digemari.

P

endar permata yang ber­ kualitas selalu memantul cemerlang dan mengundang mata untuk memandang. Kini desain anting, cincin, kalung ataupun gelang berlian pun semakin bervariasi dari waktu ke waktu. Begitu juga dengan ukurannya, mulai dari yang mungil dan simpel hingga yang beruku­

ran besar dan mewah. Dilengkapi cutting yang sangat proporsional, menjadikan koleksi eksklusif ini semakin indah. Nah bagi yang ingin tampil istimewa dengan kilau cahaya yang menakjubkan dari berbagai sudut, maka aksesori ber­ lian dari Andri di halaman Style Tokoh pekan ini bisa menjadi pilihan. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Pelajaran matematika siswa sekarang terlalu banyak teori ini-itu yang aplikasinya dalam kehidupannya hanya sebagian kecil. Tidakkan sebaiknya teori-teori yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dalam kehidupannya kelek, sehingga pembelajaran matematika tak membebani bahkan membuat siswa keder?

“S

esungguhnya matematika itu muncul dari aktivitas nyata manusia, sehingga mengajarkan matematika harusnya dimulai dari masalah sehari-hari yang dihadapi siswa. Dengan demikian siswa akan belajar lebih bermakna,” ungkap Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd. Bermakna ini dijelaskannya, mereka (siswa) tahu manfaat belajar matematika, tahu kapan matematika itu digunakan dalam kehidupannya. Konsep yang dipelajari menjadi punya arti; dipahami sebagai suatu disiplin yang terurut, terstruktur, dan memiliki keterkaitan satu dengan lainnya; serta diperoleh melalui proses pemecahan masalah yang bervariasi. Jadi, belajar matematika tidak hanya belajar untuk ulangan atau ujian saya. Pembelajaran matematika di sekolah dasar, menengah bahkan sampai perguruan tinggi cenderung bersifat tekstual bukan kontekstual. Sehingga pembelajaran bersifat teoritis, berupa aliran pengetahuan dari guru ke siswa, tanpa konstuksi pengetahuan oleh siswa. Pembelajaran yang teacher centred bukan student centred, pembelajaran power stearing bukan power sharing. Siswa hanya mengapal rumus-rumus praktis yang nantinya digunakan menjawab soal ujian. Pembelajaran matematika di sekolah yang seperti itulah mem-

Matematika untuk Pemecahan Masalah

bebani siswa, sehingga tidak salah pembelajaran matematika selama ini dikatakan terlalu teoritis. Mereka memahami berbagai macam rumus padahal di kehidupan mereka hanya menggunakan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Begitulah anggapan masyarakat selama ini. Bahkan yang lebih ekstrim lagi kenapa kita belajar x dan y? toh ke pasar berbelanja tidak memakai x dan y. Pendapat berbagai kalangan yang mungkin belum paham dengan esensi belajar matematika ada benarnya juga karena mereka melihat kenyataan yang terjadi di sekolah dengan kehidupan mereka seharihari. Siswa mempelajari trigonometri tetapi secara praktis belum tentu digunakan. “Perlu dipahami pula bahwa esensi belajar matematika adalah mampu menggunakan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, terutamanya logika matematika dan tahu apa manfaat matematika tersebut,” ucap Ketua Jurusan Pendidikan Matematika IKIP PGRI Bali ini. Berbagai manfaat belajar matematika di antaranya belajar berpikir sistematis, melalui urutanurutan yang teratur dan tertentu. Dengan belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis, belajar melatih lebih teliti, cermat, dan tidak ceroboh dalam bertindak, dll. Eka merujuk pada sebuah teori oleh Brownell seperti dikutip Reys, Dkk. (1998), bahwa matematika dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas ide, prinsip, dan proses sehingga keterkaitan

tingkatan konsep matematika yang dipelajari maka semakin tinggi pula penggunaannya.

Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd.

antar aspek-aspek tersebut harus dibangun dengan penekanan, bukan pada memori atau hapalan. Melainkan pada aspek penalaran atau intelegensi anak. Banyak materi matematika yang sebenarnya sangat dekat dengan keseharian siswa terutama untuk tingkat sekolah dasar. Menentukan untung, rugi maupun suku bunga bisa menggunakan konsep aritmatika sosial. Kenapa tulisan ambulance atau police ditulis terbalik (dari belakang ke depan)? Untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa menggunakan konsep percerminan. Contoh lain, Andi memiliki uang Rp 17.000 yang terdiri dari 1 lembar 10.000, 1 lembar 5.000 dan 1 lembar 2.000. Jika Andi berbelanja Rp 8.000, berapakah kembaliannya? Soal ini bisa diselesaikan dengan aljabar. Makin tinggi

HILANGKAN PHOBIA MATEMATIKA Sebagai seorang guru matematika ia berharap sebaiknya LPTK yang nantinya mencetak calon guru matematika khususnya, menggunakan tes bakat dalam menjaring calon mahasiswanya. Sehingga, mahasiswa nantinya benar-benar merupakan calon guru yang berbakat menjadi guru, bukan calon guru yang salah jurusan, atau calon guru yang kuliah keguruan karena ikut teman. Sementara untuk guru matematika, diharapkannya harus mengubah image guru yang keras, dan menakutkan. “Jadilah guru matematika yang murah senyum, guru yang menggunakan berbagai metode pembelajaran yang inovatif, memberikan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya,” tegasnya. Di satu sisi siswa takut dengan matematika, di sisi lain, anak yang sudah paham mengatakan matematika justru mengasyikkan. Eka Mahendra menjelaskan, takut dengan matematika (phobia matematika) atau dalam dunia pendidikan sering diistilahkan dengan anxeity mungkin masih dirasakan oleh beberapa siswa. Hal tersebut dikatakannya tentunya perlu diatasi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Di antaranya, kenali sumber ketakutan yang dialami oleh siswa, hadirkan pembelajaran matematika yang menyenangkan, hindari menggunakan pembelajaran pola lama

seperti drill, siswa disuruh mengapalkan perkalian tertentu, yang tidak bisa disuruh berdiri di depan kelas atau dilarang masuk kelas. “Gunakan penilaian yang mampu memotivasi siswa untuk belajar,” ingatnya. Matematika adalah ilmu pasti, jawabannya tidak bisa main kira-kira. Menanggapi istilah ini, Eka Mahendra mengatakan, masalah matematika apakah ilmu pasti atau tidak masih menjadi perdebatan. Kalau kita menjumlahkan 2 +3 maka jawaban yang benar sudah pasti 5 tidak yang lain. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana siswa mencari nilai 5 yang pasti itu. Tetapi kalau membagi, 1:3 = 0,3333 maka kita akan bertanya dalam hati apakah matematika itu sudah bukan ilmu pasti lagi tetapi ilmu kira-kira, karena kalau kita kalikan 3 dengan 0,33333 maka tidak akan pernah menemukan nilai 1. Jadi, makin banyak kita membuat angka 3 maka kita akan makin menuju ke kebenaran tetapi tidak benar. Melihat kondisi pendidikan saat ini, Eka Mahendra berharap pendidikan matematika ke depannya lebih menekankan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Karena kelemahan kita dibandingan siswa di negara lain adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Penelitian ini dilakukan oleh Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan PISA (Program for International Assessment of Student). “Materi matematika dari tingkat dasar sampai menengah sebaiknya dibuat lebih terstruktur tidak terpecah-pecah seperti saat ini,” tandasnya. –Inten Indrawati

Peluan g lewa t B e a s is wa Biaya pendidikan tinggi di Indonesia makin mahal. Tak heran banyak lulus sekolah menengah atas urung meneruskan pendidikannya karena ketidakmampuan membayar biaya perkuliahan yang terus naik dari waktu ke waktu. Tak heran kalau persentase mereka yang lulus SMA/SMK yang meneruskan ke perguruan tinggi, tetap rendah meski jumlah yang lulus terjadi peningkatan. Salah satu alasan kenapa tidak melanjutkan pendidikan karena biaya dan mereka tidak mampu membayarnya. Ya, biaya perkuliahan perguruan tinggi memang banyak dikeluhkan masyarakat. Walhasil, seolah keberadaan perguruan tinggi han-

ya lah diperuntukkan bagi mereka dari kalangan mampu. Sementara mereka dari kalangan bawah, pintu perguruan tinggi ‘seolah tertutup’. Salah satu peluang kalangan bawah untuk bisa lolos ke PT adalah beasiswa. Namun tentu peluang itu sangat terbatas sekali. Hal senada juga menjadi keprihatinan pengamat pendidikan Darmaningtyas. Penulis buku “Melawan Liberalisasi Pendidikan” ini dalam setiap kesempatan selalu menyoroti masalah mahalnya pendidikan tinggi di Indonesia. “Biaya kuliah di Indonesia mahal. Kenapa? Lalu kenapa India yang jumlah penduduknya banyak (terbesar kedua

di dunia) bisa membuat biaya sekolah murah. Kuliah di India itu murah, kualitasnya pun bagus. Ini karena perhatian pemerintahnya terhadap pendidikan sangat tinggi. Anggaran pendidikan di sana tinggi, itu sebabnya biaya pendidikan jadi murah. Biaya kuliah bisa sangat murah jika dibanding dengan Indonesia,” tutur pria kelahiran Gunungkidul, Yogyakarta itu. Meski biaya kuliah murah, namun mutunya diakui internasional. Hal ini terlihat dari hasil banyaknya lulusan perguruan tinggi di India yang bekerja di Eropa dan Amerika, mereka juga memegang jabatan-jabatan penting di sana. “Ini artinya apa? Artinya, mereka (India) berhasil menyelenggarakan pendidikan murah tapi kualitas tetap tinggi,” tegas anggota Dewan Penasihat Center for the Betterment of Education, itu. Karena itu, lanjut

Darman, orang India sempat terheran-heran begitu tahu biaya pendidikan di Indonesia begitu mahal. “Mereka makin ‘bingung’ lagi ketika tahu perguruan tinggi yakni PTN-PTN di Indonesia diswastanisasi,” ucapnya. Awal liberalisasi tingkat perguruan tinggi, tutur penulis buku “Tirani Kapital Dalam Pendidikan”, ini, dimulai dengan privatisasi empat perguruan tinggi terkemuka UI, UGM, ITB dan IPB menjadi PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara) pada tahun 2000. Konsekuensi dari privatisasi itu adalah subsidi untuk PT BHMN berkurang atau tetap, tapi PT yang bersangkutan dituntut untuk meningkatkan kualitas dan pelayanannya kepada mahasiswa. Walhasil, mau tidak mau PT memobilisasi pencarian dana dari banyak sumber, salah satunya yang paling mudah adalah dari mahasiswa. Maka sejak itu SPP di semua PTN terkemuka terus naik secara signifikan, kemudian juga dikembangkan teknik-teknik penerimaan mahasiswa baru yang melegitimasi pungutan besar. Bersyukur, akhirnya praktek

swastanisasi PTN itu terkoreksi meski belum pulih seperti sebelumnya. Koreksi tersebut tak lepas dari judicial review terhadap UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) dimana Mahkamah Konstitusi membatalkan undangundang tersebut pada 31 Maret 2010. Namun kemudian terbit UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang ternyata secara substansinya tidak jauh berbeda dengan isi UU BHP. Pemerintah juga mengeluarkan PP No 58 Tahun 2013 tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. “Jadi keberadaan PP No 58 ini seakan merupakan isyarat bahwa model pengembangan PTN dalam bentuk PT BHMN itu masih tetap dapat dilanjutkan hanya ‘bajunya’ saja yang ganti yakni PT BHMN menjadi PTN Badan Hukum,” paparnya. Konsekuensi dari liberalisasi pendidikan adalah pendidikan tidak lagi menjadi hak dasar setiap warga. “Tetapi menjadi barang dagangan (komoditas) sehingga hanya mereka yang mampu membayar lah yang dapat menikmatinya,” tandasnya. –Diana Runtu

Dara

9

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Jadilah Sarjana Humanis Permasalahan kompleks yang dihadapi masyarakat kita hari ini di Bali membutuhkan lompatan-lompatan pemikiran dan aksi. Di satu sisi kita menghadapi tantangan internal di bidang perekonomian, pertanian, kesehat­an, pendidikan, kepemudaan, lingkungan hidup dan sosial. Di sisi lain tantangan eksternal sedang siap menyongsong, ASEAN Economic Community (AEC) akan dimulai akhir tahun 2015 ini.

T

entunya di sini membutuhkan SDM-SDM yang siap bersaing dimana sebagian besar dari mereka tentunya dihasilkan di kampuskampus dan perguruan tinggi yang kita miliki. Peluang kampus untuk menjadi bagian dari perubahan sangat tinggi. Demikian diungkapkan Pande Putu Setiawan, S.T., M.M. Menurutnya peluang untuk menjadi tiang kokoh masyarakat madani bersama dengan pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri terbuka lebar. Untuk menjadi bagian dari perubahan, kita sendiri harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan

sarjana-sarjana seperti apa yang kampus bisa berikan kembali ke masyarakat “Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali per Maret 2015 mencatat jumlah penduduk miskin di Bali mencapai 196,71 ribu orang. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Namun dari pengalaman saya mengunjungi dan mengajar anak-anak serta bersua dengan masyarakat pelosok-pelosok desa di Bali beberapa tahun belakangan ini saya mendapati beberapa model kemiskinan lain,” tutur penerima Kick Andy Heroes 2014 ini. Kemiskinan model pertama

yang ditemuinya adalah miskin perhatian. Dengan mengunjungi mereka lebih sering kemiskinan model ini setidaknya dapat teratasi. Kemiskinan nomor dua adalah sebuah keadaan dimana masyarakat memiliki keluh kesah dan permasalahan namun tak mudah untuk menyampaikannya kepada pihak luar. Saluran penyampaian informasi yang mereka miliki sering tersumbat. Dengan membuka telinga dan mendengar lebih sering harapan mereka dari bawah setidaknya kemiskinan model seperti ini dapat segera dicarikan solusi. Kemiskinan terakhir dan terbesar kiranya adalah orang yang melihat kemiskinan itu terjadi namun berdiam diri. Kemiskinan model ini dapat diatasi dengan inisiatif-inisiatif kecil individual, maupun komunal dan bersamasama oleh semua pihak. Disinilah, menurut alumni Magister Manajemen UGM dan University of Victoria, Kanada, kaum terdidik, khususnya penyandang gelar sarjana dapat mengambil perannya mengatasi kemiskinan model di atas tadi. “Saya bersyukur pelan-pelan peran itu sepertinya mulai menjadi semacam kesadaran baru dan saya boleh artikan sebagai sebuah

Pande Putu Setiawan, S.T., M.M.

optimisme kecil. Setidaknya kegiatan orientasi kampus dimana saya diundang untuk berbagi cerita sebagai pemateri seperti di Student Day Universitas Udayana, Penerimaan Eksekutif Muda Universitas Mahasaraswati dan STMIK Primakara menjadi contoh kecil yang mungkin dari banyak yang lainnya,” ucapnya. APLIKASIKAN ILMU KE MASYARAKAT Orientasi kampus mengajak mereka mengenali tanggung jawab sosial, membawa mereka untuk melakukan perubahan-perubahan kecil sejak dini semacam mengumpulkan sembako dan alat tulis untuk dibagi kepada masyarakat luas yang sekaligus

mendekatkan kampus dengan masyarakat mereka sendiri. “Semoga bibit-bibit tanggung jawab sosial itu tersemai dan terus bertumbuh meluas. Tugas sejati kampus pada akhirnya mencetak ‘manusia’, bukan sekadar meluluskan calon pegawai atau sebagian jadi penganggur,” lanjutnya. Masyarakat terdidik, katanya seperti yang disyaratkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi menyiratkan satu tanggung jawab moral berharga bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah alat untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar alat untuk pemenuhan hasrat pribadi. Logikanya, tentu makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tanggung jawab moralnya kepada masyarakat kelas bawah (di desa-desa) makin besar. Bukan sebaliknya, menjauh. Seperti mereka yang telah meraih gelar, sepatutnya di aplikasikan kembali ke masyarakat dan bukan hanya untuk diri sendiri. Pande juga mengatakan harus makin banyak kaum terdidik yang mengambil peran. Tugas ia yang terdidik atau para sarjana inilah seyogyanya mendidik, mengabdi, bukan hanya untuk menghidupi diri. “Sukses para sarjana humanis dan majulah pendidikan Indonesia,” tegasnya. – Sri Ardhini

Faber-Castell Gelar Lomba Gambar

“Selamatkan Hutanku, Lestari Negeriku” Faber-Castell kembali mengajak seniman muda Indonesia untuk menyalur-

kan ide kreasinya dalam media seni lukis dan gambar melalui lomba gambar

Art & Graphic “Selamatkan Hutanku, Lestari Negeriku”. Sesuai temanya, lomba yang bekerjasama dengan WWF Indonesia ini akan menampung segala hal yang berhubungan dengan hutan dan kelestarian Indonesia. Ada 2 (dua) kategori dalam perlombaan yang dilaksanakan di 11 kota ini, kategori I (Kuliah & Umum) dan Kategori II (Pelajar SMP & SMA). Public Relations PT. Faber-Castell International Indonesia Andri Kurniawan mengatakan perlombaan akan berlangsung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Medan, Samarinda, Makassar, Pekanbaru, dan Palembang pada September hingga Oktober 2015. “Untuk Bali, lomba diadakan Minggu, 25 Oktober 2015 di Kampus ISI Denpasar. Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi Bu Ucky (081999861578),” ujarnya. Andri menambahkan akan ada hadiah jutaan rupiah untuk para pemenang.

“Duende Fashion & Art Festival” Acara bertajuk “Duende Fashion & Art Festival” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Desain Mode ISI Denpasar. Acara ini sebagai wadah aspirasi, kreativitas, dan apresiasi seni para generasi muda. Kegiatannya dikemas dalam berbagai konten acara yang digelar selama satu hari penuh. Ketua Panitia Acara, Ayu Putu Indah Yuniorika mengatakan “Duende Fashion & Art Festival, memiliki konsep acara yang menitikberatkan pada kebebasan dalam mengekspesikan seni. Konsep itu menginterpretasikan seni khususnya rumah mode, bahwa betapa industri fashion berkembang sedemikian rupa. Karenanya, rangkaian acaranya melibatkan beberapa fashion designer. Selain itu ada juga praktisi seni, mahasiswa, local brand serta para pengunjung yang dalam acara tersebut menjadi satu kesatuan. Meski kegiatan ini merupakan acara perdana yang diselenggarakan oleh HMJ Desain Mode ISI Denpasar, namun kehadiran para pelaku seni dengan gaya atau style- nya masing-masing berhasil memberi warna tersendiri. Terlihat ada kebebasan dalam mereka berekspresi, dan ini menjadikan acara mendapat apresiasi bukan hanya dari kalangan anak muda setempat tapi juga masyarakat umum. Kegiatan ini juga diisi peragaan busana dalam tema “Edgy Look”, “Kebaya Ready To Wear”, “60’S’ yang cukup menarik. Secara menyeluruh agenda dari Fashion & Art Festival tersebut berhasil memberikan alternatif ruang kreatif, dan inovatif juga menghibur. – Sri Ardhini


8

Bunda & Ananda

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Griya

Matematika tak Sekadar

“Aku benci matematika,” ujar Rangga sembari menangis dan membanting bukunya. “Aku tak pernah bisa mengerjakan soal-soal matematika ini, dan teman-temanku menertawakanku,” ujarnya sambil meneteskan air mata di depan gurunya. Kejadian ini sering dijumpai di sekolah maupun di rumah sebagai keluhan anak terhadap sulitnya matematika. Betulkah matematika itu sulit?

D

Dr. Lidia kainya. Anak-anak itu sangat ajaib menyukai belajar matematika,” tegasnya. Yang membuat mereka kemudian berhenti menyukai matematika adalah saat dijejali dengan begitu banyak konsep abstrak dan angka di atas kertas yang tidak membunyikan apapun di otak mereka. Anak kemudian kesulitan membayangkan apa apilikasi dan keguanaan berbagai angka di kertas ini dengan dunia nyata. KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKA Topik intelegensi adalah topik paling kontroversial dalam psikologi yang mengundang banyak pro dan kontra mengenai cara pendefinisian maupun pengukurannya. Beberapa mengatakan yang cerdas matematika itu intelligent (cerdas), jika ukuran intelegensi hanya matematika. Tetapi kecerdasan itu lebih luas dari itu. Intelegensi menandai kebermaknaan manusia karena intelegensilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Intelegensi berhubungan erat dengan berpikir, di mana berpikir melibatkan pengertian dan pengolahan informasi. Intelegensi didefinisikan oleh Sternberg, seorang tokoh peneliti intelegensi sebagai kemampuan dasar untuk mengerti tentang dunia dan mengatasi kendala-kendala yang ada. Itu sebabnya intelegensi sering dikatakan sebagai “making thinking possible” dan “making things possible”. Tokoh yang kemudian memulai mencetuskan mengenai kecerdasan ganda adalah Thurstone, yang kemudian disempurnakan oleh Howard Gardner menjadi teori kecerdasan ganda (multiple intelligence) yang menegaskan bahwa kecerdasan itu beragam, tidak hanya satu. Kecerdasan logika matematika cukup sentral dalam menentukan kecerdasan manusia. Banyak cara yang secara natural dapat digunakan untuk membentuk kecerdasan matematika. Misalnya seorang anak bayi belajar berhitung

misalnya dapat menggunakan jari kaki mereka, sambil menyentuh dengan lembut dan bersenandung “Satu-dua-tiga empat-lima-enamtujuh-delapan.” Ketika anak sudah lebih besar, kita dapat mengajak anak berjalanjalan di sekitar perumahan sambil menghitung pohon di sekeliling. Kegiatan-kegiatan sehari-hari lainnya seperti mengurutkan buah dari kecil ke besar atau keranjangkeranjang yang ada di rumah. Kita dapat melakukan di sela kegiatan tertentu semisal sambil menyiapkan makan malam. “Anak-anak sejak lahir memproduksi proses kreatif yang terus menerus dalam dirinya. Anakanak adalah pengobservasi sejati. Matematika adalah area yang penting dalam perkembangan koginitif. Gardner mengatakan kecerdasan logika matematika adalah di antara yang terpenting dari berbagai jenis kecerdasan untuk memprediksikan kecerdasan umum seorang anak. Dengan matematika, anak-anak belajar pola, keteraturan dalam dunia dan mengelompokkan serta mengkategorikan. Kemampuan ini sangat penting di kemudian hari untuk memampukan anak-anak beradaptasi dengan dunia yang terus berubah. Sayangnya banyak guru

17

Kerajinan Batu Bata Bali

Angka dan Rumus

r. L i d i a S a n d r a , M.Comp. Eng Sc., seorang pendidik matematika mengakui banyak anak memang tidak suka dengan matematika karena menurut mereka sulit. “Kebanyakan mereka yang tidak suka matematika ini terlebih dahulu menganggap matematika sulit, tidak nyaman dengan angka dan simbol yang rumit dan membosankan. Beberapa anak tidak menyukai matematika karena sudah lebih dahulu dibayangi momok ketakutan matematika bahkan dari orangtuanya, yang sering mengatakan matematika sulit nak, kamu harus banyak latihan, harus banyak belajar!” Hal ini makin membenamkan citra tidak menyenangkan dan “sadis” dari matematika,” ujar dosen Fakultas Psikologi Ukrida ini. Gambaran matematika yang penuh dengan rumus dan angka ini sebetulnya bukanlah mewakili matematika yang sebenarnya sangat mengasyikkan. Anak-anak sebetulnya secara natural menyukai simbol dan angka. Ingat saja, bagaimana dengan mudah dan riang gembira anak-anak menyanyikan “Satu..satu, aku sayang ibu” atau “One, two, buckle my shoe...” dan seterusnya. Ingat bagaimana saat kecil, kita menyukai permainan ular tangga atau petak umpet. Semua permainan membutuhkan keteraturan dan pola dan biasanya melibatkan angka, dan itu semua adalah matematika. Anak-anak secara ajaib mengingat gambar atau pola dengan mudah. Itulah inti matematika. Pengelola Preschool-High School Cendekia Harapan-Children’s House Jimbaran ini menambahkan anak-anak sejatinya mencintai pola dan keteraturan yang menjadi jantung matematika. “Anak-anak belajar menuang, melakukan kegiatan menyendok dan memindahkan benda dengan teratur. Melakukan kegiatan mencocokkan, berbagai kegiatan tersebut sebetulnya adalah cara belajar matematika paling dasar. Matematika adalah belajar tentang keteraturan dan pola di alam dan di sekitar kita. Jika kita biarkan saja, anak-anak sebetulnya memperoleh matematika melalui kegiatan seharihari tanpa disengaja. Jika kita terus melibatkan mereka dalam hitungan yang berarti, mereka akan terus menerus belajar matematika dengan lebih baik,” jelas anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini. Dr. Lidia kemudian menunjukkan knobbed cylinder box, peralatan di sekolah yang dikelolanya yang mengajarkan secara natural anakanak konsep dari kecil ke besar dengan konkrit. “Anak-anak dapat terus bermain ini tanpa bosan dan tidak pernah lelah. Mereka belajar membedakan dan membandingkan mana yang lebih dan mana yang kurang dan mereka sangat menyu-

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Kerajinan sanggah (tempat suci) di Bali sepertinya tak pernah surut. Buktinya, beberapa perajin sanggah yang berjejer di sepanjang Jalan By Pass IB Mantra tak pernah berhenti beraktivitas, meski saat ini diakui pasarannya menurun. “Beberapa bulan lalu, menjelang Hari Raya Galungan baru banyak pesanan, sampai-sampai kami kehabisan barang,” ungkap I Ketut Kartana (40), pemilik Pondok Batu Ukir yang kesehariannya ikut langsung turun tangan mengerjakan kerajinan sanggah.

Anak bermain knobbed cylinder box dan sekolah yang secara tradisional masih memaksakan anak-anak untuk langsung dapat menuliskan satu tanpa mengerti konsep angka 1, 2,3 dan seterusnya,” jelas Dr. Lidia.. Anak-anak terkadang dipaksa mengerjakan penghitungan abstrak tanpa penjelasan tentang bagaimana hal itu dalam kehidupan nyata. Mereka mengerjakan penghitungan tanpa arti di papan atau di kertas dan dipaksakan mengerjakan latihan yang di luar kapasitas pengertian anak-anak. Hal ini membuat beberapa anak-anak trauma dengan matematika. Memaksakan otak anak bekerja tidak sesuai dengan tahap perkembangannnya. Belajar pembagian misalnya jauh lebih mudah dengan memperlihatkan atau membawa kue/pizza yang dibagi seperdelapan misalnya. Inti mathematika adalah cara kita memberi makna dan melihat keteraturan dalam dunia. Dari matematika kita belajar bahwa ada pola di alam ini dan pada semesta. It is a way of making sense out of the world that we live in. Untuk membuat anakanak cerdas matematika, konsep matematika dulu harus dibenarkan dalam benak para pendidik dan orangtua. Matematika bukanlah angka atau sekadar rumus-rumus. Lebih luas dan dalam dari itu, matematika

adalah belajar menyibakkan misteri tentang ketetapan, pola dan keteraturan dalam hidup. Saat anak-anak diajak menguak misteri, mereka akan melompat kegirangan dan pada kenyataannya dunia ini adalah matematika. Belajar matematika tidak dimulai saat anak-anak berhitung atau mengenal angka tetapi dimulai saat anak hidup dan merasakan keteraturan pola dan ketetapan dalam hidup. Matematika dimulai dengan proses sederhana dimulai dari konsep yang kongkret dulu untuk dapat kemudian menjelaskan yang abstrak. Keterampilan dasar matematika dapat diasah melalui kegiatan sederhana seperti matching-menyamakan/ comparing-membandingkan, sorting-mengelompokkan, sequencing/ grading-mengurutkan. Gunakan banyak lagu dan permainan. “Tuhan itu selalu memberikan kekayaan pelajaran melalui alam dan barangbarang yang ada di sekitar kita untuk menjadi cerdas. Tidak perlu membeli alat-alat yang super mahal untuk menjadi cerdas matematika, cukup gunakan apa yang ada pada tubuh dan sekeliling kita. Kecintaan orangtua pada anak dan matematika adalah kunci untuk membuat anak terasah kecerdasan matematikanya,” tegas Dr. Lidia. –Ngurah Budi

P

ria asal Desa Medahan, Gia­ nyar ini meng­ aku dua bulan terakhir ekonomi agak lemah. Biasanya ia mempekerjakan 8 pengrajin, sekarang hanya 5 pekerja. “Padahal dewasa (hari baik) masih bagus, tapi penjualan minim, mungkin karena perekonomian juga lagi lesu dengan kenaikan harga dolar ini,” ujar Kartana mengira-ngira. Kartana adalah satu dari sekian pengrajin sanggah yang masih setia melakoni aktivitasnya, ada maupun tidak ada pesanan, ramai maupun sepi orderan. Paling tidak, ia berani menyetok sanggah padma dan tugu karang, karena sanggah model

itu yang umum dicari konsumen. Sementara untuk sanggah kemulan, taksu, dll. akan dibuatnya jika ada pesanan saja. Bahan material sanggah dari batu alam ini pun terus mengalami perubahan sesuai trennya. Sebelumnya, sempat tren sanggah dari batu putih (paras Yogya), dan batu hitam Karangasem. Namun sepertinya material paras dan batu bata Bali masih tetap diminati, tak pernah ditinggalkan. Jenis batu bata yang sering disebut batu bata Bali berasal dari Desa Tulikup Gianyar. Karena itu sering juga disebut batu bata Tulikup. Batu bata ini diproses dengan cara yang unik, sehingga memiliki pori yang lebih padat dan lebih berat dari bata biasa. Karena proses pembuatannya yang agak rumit inilah yang membuat harga batu bata Bali (Tulikup) lebih mahal dari batu bata biasa. Bata jenis ini biasa juga disebut batu bata gosok, karena

Mendongeng Lima Menit

nyanyian yang terpotong

Tersebutlah seorang anak yang malang. Ia cacat sejak lahir dan hidup sebatang kara. Punggungnya bungkuk dan matanya juling. Anak-anak nakal di desa itu setiap waktu mengejeknya sambil bernyanyi, “Ulung tanduk maan suling, punggung bungkuk mata Made Taro juling!” Anak malang yang dipanggil si Bungkuk atau si Juling itu diam saja. Ia hanya bisa merenung mengapa ia bernasib sejelek itu. Pada suatu hari ia bertekad untuk mengadu nasib di tempat lain. Ia lewati sungai, jurang dan hutan lebat. Ketika beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba ia melihat sekelompok anak-anak cebol keluar dari lubang pohon di sebelahnya. Ia takut, lalu segera bersembunyi. Dari tempat persembunyian itu ia menyaksikan anak-anak cebol itu menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi. “Ulung tanduk, ulung tanduk….!” Mula-mula penari itu berbaris lurus, kemudian melingkar meloncat-loncat berpegangan tangan. “Ulung tanduk, ulung tanduk …!” Indah benar tari dan nyanyian itu. Si Bungkuk mengira anak-anak cebol itu akan mengejeknya, tetapi ditunggutunggu, nyanyian yang biasa didengarnya itu tak pernah lengkap. Nyanyian yang terpotong itu makin lama makin indah. Tanpa disadarinya, si Bungkuk ikut bernyanyi, “Ulung tanduk, maan suling, ulung tanduk maan suling….!” Penari cebol itu mendengar nyanyian yang tambah lengkap itu. Mereka mencari sumber nyanyian itu. Wah, si Bungkuk! Mereka lalu mengajak si Bungkuk menari dan

bernyanyi bersama-sama. “Ulung tanduk maan suling, ulung tanduk maan suling ….!” Setelah istirahat, si Cebol yang mengetuai kelompok itu menanyai si Bungkuk. Si Bungkuk pun menceritakan nasibnya. Ternyata anak-anak cebol itu berasal dari desa yang sama dan menjadi korban ejekan anak-anak nakal yang sama. “Kamu tak perlu berkecil hati!” kata si Cebol sambil mengoleskan ramuan di punggung dan mata si Bungkuk. “Kembalilah ke desa!” Ajaib! Si Bungkuk seketika menjadi anak sempurna dan tampan. Tidak bungkuk dan tidak juling. Singkat cerita, setelah mengucapkan terimakasih kepada anak-anak cebol itu, si Bungkuk kembali ke desa. Anak-anak desa yang nakal itu mengerumuninya. Mereka kagum melihat ketampanan si Bungkuk. Bahkan mereka semua ingin mengikuti jejak si Bungkuk. Demikianlah, setelah menjalani pengalaman yang sama dengan si Bungkuk, anak-anak nakal itu kemudian bergabung dengan kelompok tari dan nyanyi si Cebol. “Ulung tanduk maan suling, ulung tanduk maan suling….!” Lama-kelamaan anak-anak nakal itu merasa nyanyian itu terpotong, lalu mereka menyanyikannya dengan lengkap. “Ulung tanduk maan suling, ulung tanduk maan suling, …! Tundun bungkuk mata juling, tundun bungkuk mata juling …!” Sambil menari dan menyanyi, secara diam-diam si Cebol mengoleskan ramuannya ke tubuh anak-anak nakal itu, lalu katanya, “Sekarang pulanglah kamu ke desa! Telah kuberikan apa yang kau inginkan.” Betapa gembiranya anak-anak nakal itu! Setelah memasuki desa, semua orang takut dan menjauhinya. Anak-anak nakal itu telah berubah menjadi monster.

Sanggah ukir

Sanggah kombinasi paras-bata Bali

Sanggah bata ekspose

Sanggah paras

I Ketut Kartana

dalam proses pemasangannya cukup digosok-gosokkan ke sesamanya dengan sedikit air dan sedikit semen sebagai perekatnya. Sebagai proses akhir dari pengerjaan, untuk menghindari serangan jamur dan lumut, umumnya batu alam ini diberi pelapin (coating). Kartana yang sudah 12 tahun melakoni aktivitasnya ini kini lebih banyak mengerjakan sanggah dari bata ekpose, dan kombinasi paras-bata. Ia menuturkan proses pembuatan sanggah kombinasi lebih sulit dibandingkan dengan sanggah ekspose yang tampilannya seperti bata press ini. Perbandingannya, untuk sanggah bata ekspose bisa dikerjakan sendiri selama 5 hari, sedangkan sanggah kombinasi menghabiskan waktu hingga 8 hari. “Apalagi jika ditambah dengan ukiran, akan memerlukan waktu 15 hari lagi,” imbuhnya. Proses itu pula yang kemudian memengaruhi harga jual sanggah-sanggah ini. Sebut saja untuk sanggah ukuran normal dengan luas alas 60 x 70 cm, ditawarkan Rp 3 juta untuk bata ekspose, Rp 4 juta untuk material kombinasi (paras-bata), dan Rp 5,5 juta untuk sanggah kombinasi yang berukir. Sementara untuk ukuran kecil yang ­­umum­n ya d i c a r i k o n s u m e n u n t u k ­perumahan­-­perumahan kecil, harga jual sanggah ini tak terlalu beda. Ini dikatakan Kartana, karena penghabisan material maupun waktu pengerjaannya tak terlalu jauh berbeda. Apalagi proses mengukir, sama-sama diselesaikan 15 hari. Ukuran kecil ini luas alasnya 50 x 50 cm. Sementara untuk harganya, hanya lebih murah Rp 500 ribu dari ukuran normal. –Inten Indrawati


18

Kreasi

Edisi 868/ 28 september - 4 Oktober 2015

Fotografi Vintage

Wujudkan Memori Masa Lalu Dunia fotografi selalu menarik perhatian. Beragam aktivitas yang diabadikan akan selalu dapat dipandangi. Kecanggihan teknologi bahkan bisa membuat momen sekarang seperti momen zaman dulu. Salah satu yang berkreasi di dunia fotografi vintage adalah Lukman Sinara dan Toni Handoko melalui Studione Sinten

“F

otografi adalah h o b i saya sejak umur 10 tahun saat belajar melukis. Kemampuan fotografi diperlukan baik untuk landscape maupun orang,” ujar Lukman. Ia lalu menuturkan alasan pemilihan nama Sinten. “Sinten” adalah bahasa Jawa yang berarti siapa. “Karena saya tinggal lama di Jakarta dan memutuskan untuk balik ke Yogyakarta untuk membuka usaha, saya ingin membuat orang penasaran, maka kata “siapa” atau sinten ini muncul. Siapakah orang ini yang baru datang? Sinten juga merupakan kepanjangan dari “SINara TEnan”. Karena usaha ini merupakan kombinasi dari passion saya di bidang seni, jadi ide ini murni dari hati saya, maka SINara TENan diartikan sebagai murni dari Sinara,” ujar pria kelahiran Semarang, 25 April 1968 ini. Setelah sukses di Kota Gudeg, Lukman membuka cabang di Bali. Alasannya membuka cabang di Bali karena Bali adalah tujuan destinasi liburan nomor satu di Indonesia baik domestik maupun mancanegara. “Saya masih menginginkan suasana Bali tahun 1920-1936 dimana banyak seniman mancanegara datang karena keunikannya. Selain dari itu, Bali adalah salah satu tempat tinggal impian saya, dimana budaya, alam, spiritual keragaman dan seni saling melengkapi dan menjadikan bali luar biasa,” ungkapnya. Mengenai pilihan fotografi vintage, Sinara memberi alasan, manusia tidak lepas dari memori, fotografi adalah salah satu media untuk mengenang dan mewujudkan memori tersebut. Indonesia mengalami zaman keemasan secara keseluruhan dan beberapa daerah, budaya yang unik yang seharusnya diangkat

, dikenang dan dipresentasikan dengan nilai tambah sesbagai bentuk karya seni “Saya ingin mengangkat budaya-budaya Indonesia dimana kita memfokuskan pada zaman-zaman golden age of Indonesia karena saya ingin berbagi ilmu, pengalaman, pengetahuan, dan harapan saya tentang budaya Indonesia pada masa keemasan tersebut,” ujarnya memberi alasan. Ide ini gabungan dari fotografi, lukisan, seni peran, dan barangbarang antik yang ia pelajari dan koleksi lebih dari 20 tahun. Lukman suka keliling Indonesia dengan mengunjungi desa wisata ataupun yang memiliki produk kerajinan dan mengoleksinya. “Saat saya memutuskan tinggal di Yogyakarta, saya bertemu dengan Toni Handoko, seorang desainer kaos/logo dengan keterampilan fotografi yang bagus. Saat kami berbincang untuk membuka foto studio, saya mengoptimalkan karakter Toni yang suka suasana tempo doeloe, terobsesi dengan suasana masa lalu, dan koleksi

beberapa barang lama. Ditambah Yogyakarta yang terkenal dengan lawasan, ditambah lagi bahwa wisatawan selalu datang untuk mengenang masa-masa mereka sekolah di Kota Pelajar. Maka kolaborasi ini kami satukan untuk mengenang dan mengembalikan memori tersebut. Khususnya masa keemasan Yogyakarta era 1950-1970,” kata Lukman lagi. Karena suka fotografi, ia menggabungkan skill background yang kuat tentang budaya Indonesia dan barang-barang yang sudah ia kumpulkan sejak lama dengan teknik fotografi dari Toni. Sejak itu muncullah Studio foto Sinten. Mengenai pembagian tugas dengan Toni, ia mengatakan Toni bertugas di Bali untuk memahami lebih dalam tentang budaya dan karakter Bali. Lukman mengembangkan studio yang di Yogyakarta dan potensi beberapa kota di Indonesia misalnya Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Sumatara Utara, Kalimantan Timur, dan Papua. Pengalaman paling berkesan didapat Lukman saat memotret anak-anak, anak balita, ataupun anak-anak autis. Ada tantangan tersendiri untuk mendapatkan momen dan potret yang diinginkan sesuai dengan karakter dan keseharian mereka. “Pernah juga saya kaget karena klien yang saya foto mirip sekali dengan almarhumah ibu saya, antara senang, takut, dan takjub menjadi satu,” kenangnya.

Life

Story

Edisi 868/ 28 september - 4 Oktober 2015

Pindah Rumah Hindari Kejaran Penagih Utang

Menggendong anak lelakinya yang masih berusia dua tahun, dengan menenteng dua tas pakaian yang tampak berat, Lilik (30), terlihat kesulitan turun dari bemo kota di wilayah Mataram, Nusa Tenggara Barat. Entah dari mana ia datang sampai akhirnya tiba di sebuah pangkalan ojek dekat wilayah Gunung Sari Mataram. Dari sini ia kemudian menumpang ojek menuju yang membawa ia dan anaknya serta dua tas besarnya rumah kawannya. Wajahnya muram dan sedih. Lukmana Sinara

Kini impian Lukman dan Toni adalah mengembangkan studio ini di kota-kota besar dengan tema budaya yang sesuai dengan kota tersebut, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Selatan, Sumatara Utara, Kalimantan Timur, dan Papua. “Kami harap masyarakat Indonesia lebih men-

Beberapa karya Studio Sinten

genal, mempelajari, menghargai, dan mengembangkan budaya khas Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang mendalam. Indonesia kaya akan budaya luhur yang harus kita lestarikan, amalkan dan bangga menjadi Indonesia,” tegas Toni. –Ngurah Budi

7

T

iba di sebuah rumah kontrakan, Lilik diterima dengan baik oleh kawan kuliahnya yang bernama Indah itu. Indah memang sedikit kaget melihat Lilik datang dengan tas besar seperti itu. “Waktu dia (Lilik) telepon saya, dia hanya bilang mau bertemu saya dan suami saya, karena tidak sempat datang ke pernikahan kami. Dia memang bilang datang bersama anaknya, tapi saya tidak menyangka dia juga datang dengan begitu banyak barang,” ujar Indah yang akhirnya tahu kalau Lilik datang untuk menginap di rumahnya. Karena perkawanan mereka yang cukup dekat saat sama-sama kuliah beberapa waktu lalu di salah satu universitas swasta di Mataram, membuat Indah menerima Lilik dengan baik. “Dia akhirnya minta izin pada saya untuk menginap di rumah saya malam itu,” kata Indah. Indah menyangka ia menginap hanya semalam atau dua malam saja. Karena itu sebelum mengiyakan permintaan Lilik, Indah meminta persetujuan suaminya untuk menginapkan Lilik di rumahnya. “Ada rasa kasihan kami padanya setelah dia menceritakan bahwa ia tengah bermasalah dengan suaminya,” kata Indah. Namun, ketika akhirnya Lilik tidak pulang-pulang hingga dua minggu, Indah mulai gelisah. Di samping tidak enak pada suaminya, pasangan yang baru menikah beberapa bulan ini, juga jelas

merasa suasana tidak nyaman dengan kehadiran Lilik. Pasalnya, Lilik masih bersuami dan mereka tidak ingin disalahkan jika terjadi apa-apa pada Lilik dan anaknya. Belum lagi mereka yang hidup dengan penghasilan yang cukup untuk keluarga kecilnya, harus pula menanggung biaya hidup Lilik dan anaknya. Apal-

agi dalam kesehariannya, Lilik selalu bertengkar dengan para penelepon yang menghubunginya. “Ini yang bikin suasana rumah kami jadi tidak enak,” kata Indah. Sampai akhirnya, Indah mendapat kabar dari kawan-kawan kuliahnya yang mengetahui masalah Lilik yang sebenarnya. Lilik adalah perempuan yang hidup dengan gaya selangit. Sejak masa kuliahnya, Indah dan kawan-kawannya sudah melihat kecenderungan tingginya kemauannya Lilik. Ia tidak ingin yang biasa-biasa saja, melainkan menginginkan semua yang dimiliki atau yang dilakukan orang yang mampu. Sementara Lilik adalah anak yang lahir dari keluarga biasa saja. Menurut Indah, Lilik sebenarnya punya potensi dan bakat bekerja dengan keterampilan

yang dimilikinya. Namun ia tidak sabar menjalankan proses itu pelan-pelan melainkan prilakunya lebih cenderung melenceng saat menginginkan sesuatu yang di luar kemampuannya. Padahal, jika Lilik bekerja baik-baik di salah satu finance di Mataram, gajinya lumayan. “Tapi gayanya selalu tinggi,” kata Indah. Punya mobil mewah dengan cara berutang, bahkan pernah jalan-jalan ke luar negeri dengan uang utangan. Kasus yang terakhir yang diketahui oleh kawankawannya adalah Lilik menangani pembelian mobil dan sepeda motor dengan cara tunai. “Uang pembayaran mobil/ motor tersebut diambil Lilik. Tapi Lilik tidak membayarkannya tunai melainkan dicicil tiap bulan,” ujar Indah. Tidak hanya satu mobil/motor yang seperti ini yang ditangani Lilik, melainkan cukup banyak sehingga utangnya diperkirakan lebih dari setengah miliar rupiah. “Uang-uang tersebut, dia pakai jalan-jalan ke luar negeri ikut kapal pesiar,” kata Indah yang mendapat cerita dari hampir semua kawan mereka satu angkatan saat kuliah dulu. Kawan-kawan Indah memang kerap main ke rumah Indah dan saling bercerita tentang hal ini. Kedatangan Lilik ke rumah Indah akhirnya diketahui bahwa

ia tengah melarikan diri dari kejaran penagih utang. “Ditambah lagi mobil kredit miliknya yang ia gadaikan pada seseorang kini ditarik dealer karena ia tidak pernah membayar angsurannya. Orang tersebut sedang murka mencari-cari keberadaan Lilik untuk meminta kembali uangnya,” ujar Indah. Dari sanalah, Indah dan suaminya lalu berpikir untuk mengeluarkan Lilik dari rumah mereka. Ia dan suaminya tidak ingin terjadi keributan di rumah mereka jika para penagih utang tersebut tahu bahwa Lilik tinggal di rumahnya. Sebagai pasangan yang baru menikah, mereka sempat kesulitan bicara dengan Lilik untuk memintanya pulang ke rumahnya saja. Sampai akhirnya mereka menemukan alasan yang tepat agar Lilik keluar dari

rumah mereka tanpa menyakiti perasaannya. Lilik lalu pergi membawa anak dan dua tas miliknya. “Rupanya dia ke rumah kawan kami yang lain,” ujar Indah. Karena kelakuannya itu, Lilik memang telah kehilangan tempat untuk bersembunyi. Sebelum akhirnya “berlabuh” beberapa minggu di rumah Indah, rupanya sudah berbulan-bulan Lilik menumpang hidup dan bersembunyi, berpindah dari satu rumah kawan ke rumah kawannya yang lain. Karena hidup dengan kemauannya yang tinggi tanpa memikirkan kemampuannya, Lilik kini menerima akibatnya. Ia sengsara bahkan saat ini tengah menghadapi perceraian dengan suaminya yang sudah tidak lagi tahan menanggung malu atas ulahnya itu. -Naniek I. Taufan


6

Women on Top

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Kejujuran lebih Penting dari Gelar Tinggal di sebuah kecamatan di Bima tidak menyurutkan langkah Sri Darsan (48), untuk semangat bekerja. Sebagai karyawan salah satu perusahaan asuransi, pekerjaan Sri tidaklah mudah. Karena ia harus menjual produk asuransi di perdesa­ an. Asuransi yang biasanya hanya dipahami oleh orang-orang di perkotaan yang memiliki penghasilan lebih. Butuh waktu lebih dari 20 tahun sejak pertama kali berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, untuk membuatnya menjadi salah seorang karya­ wan asuransi dengan tagihan ratusan sebulan mencapai nilai juta.

Sri Darsan

M

elihat apa yang dilakukan Sri yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah ini, kesuksesan tidaklah hanya dilihat dari gelar akademis maupun kemampuan ekonomi yang mapan untuk mendukung jalan meraih kesuksesan yang hakiki. Sri membuktikan hal tersebut. Lahir dari keluarga biasa cenderung sempat kekurangan di masa-masa remajanya membuat ia tak dapat menikmati bangku kuliah. Selepas SMA, ia memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk membantu orang tuanya. “Tidak punya biaya untuk kuliah saya memilih bekerja saja untuk membantu orang tua,” katanya. Hebatnya, Sri memilih perusahaan asuransi dan memilih pula berkarier di kampung halaman tempanya dilahirkan di Kecamatan Bolo. Sungguh sebuah pilihan yang berani karena pekerjaan tersebut penuh tantangan dan perjuangan menanti. Menawarkan asuransi pada masyarakat desa yang jauh

dari pengetahuan tentang hal tersebut. Tidak mudah bagi seorang Sri membuka wawasan masyarakat untuk mau mengasuransikan diri maupun pendidikan bagi anak-anak mereka. Di awal-awal menjalankan profesinya ini, Sri dipandang sebelah mata. “Ada yang bilang kalau asuransi itu haram hukumnya. Masyarakat kala itu menganggap bahwa tidak mungkin menyimpan uang sedikit kemudian mendapatkan hasil yang banyak seperti contoh, jika ada anggota keluarga yang meninggal maka ada jaminan pendidikan bagi yang keluarga yang diasuransikan,” ujarnya. Tekanan demi tekanan yang dihadapinya membuatnya bahkan sampai menangis. Karena tidak jarang pula ia ‘diusir’ jika datang dari satu rumah ke rumah lainnya. Namun dengan tekun dan telaten, tanpa memakai ilmu akademis, Sri melakukan pendekatan sesuai yang dibutuhkan pekerjaannya. Ia melatih diri untuk pandai bicara, melatih keluwesannya dan melatih kepekaannya terhadap lingkungan. Ia menjadi sosok yang ramah dan mudah bergaul. Manajemen diri dan prilaku serta mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang dibutuhkan oleh pekerjaannya jauh lebih berharga bagi Sri ketimbang gelar sarjana. Karena dengan begitu, Sri membuktikan dirinya sukses menjadi karyawan perusahaan asuransi yang kini memiliki ratusan nasabah. Tanpa gelar akademik apapun, Sri mampu mengubah cara pandang orang desa ter­ hadap pentingnya asuransi. Kini ia mampu hidup layak dengan profesi yang dijalaninya itu. Sri memang bukan se-

orang yang kaya raya melainkan ia mampu mengubah kehidupannya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya dengan bekerja tanpa gelar sarjana apapun. Jika dahulu ia berjalan kaki berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk menyampaikan tawaran, kini ia berkendara sepeda motor untuk datang menagih dari satu rumah ke rumah lainnya di empat

kecamatan di Kabupaten Bima. Ia juga telah memiliki rumah sendiri yang layak yang dihasilkan dari keringatnya sendiri. Bahkan ia sempat memiliki sebuah mobil bak terbuka yang disewakan. Untuk bisa berkarier dalam dunia asuransi yang tidak dipelajarinya secara akademik ini, Sri memiliki modal utama yang lebih penting dari gelar

sarjana, yakni kejujuran. Untuk dapat bertahan hingga lebih dari 20 tahun bergelimang hitungan uang dari ratusan nasabah itu, hanya kejujuran yang bisa menyelamatkannya. “Hanya satu prinsip yang saya pegang hingga hari ini, saya jujur pada diri sendiri untuk menjalani profesi ini dengan sebaik-baiknya,” katanya. –Naniek I. Taufan

19

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Datangkan Motivator sebelum Wisuda Pesatnya perkembangan zaman membuat pendidikan menjadi hal penting. Jika zaman dulu, pendidikan dianggap cukup sampai jenjang SMA, kini sudah berubah. Orang berlombalomba untuk menjadi sarjana dan meraih ilmu setinggi-tingginya.

B

icara sarjana berkualitas harus dimulai dari rekrutmen. Sistem rekrutmen yang baik juga merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan lulusan yang berkualitas. Demikian disampaikan Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. Ketut ­Suastika, Sp. PD-KEMD. Menurut Prof. Suastika, selain dari rekrutmen, hal penting lainnya yang menentukan lulusan berkualitas adalah bagaimana proses yang terjadi di dalam kampus. “Mulai dari pendidikan, kurikulum, termasuk staf dosen dan penunjangnya lainnya. Baru kita bisa bicara lulusan,” ujarnya. Ia mengatakan, sistem rekrutmen di Universitas Udayana, sudah terpusat. Hanya 20 persen rekrutmen secara mandiri. Sistem rekrutmen sudah sedemikian rupa, sehingga sulit mengubah. “Jadi yang

bisa diubah hanya proses di dalam kampus,” kata mantan Dekan Fakultas Kedokteran Unud ini. Satu hal yang menurutnya sangat penting, adalah reformasi kurikulum. “Kurikulum tidak boleh mati. Apakah ada yang sangat mendasar harus diperbaiki atau kontennya saja yang diubah sesuai perkembangan zaman, terutama bidang-bidang yang sedang menjadi fokus pemerintah. Semua membangun kurikulum agar menjadi lebih baik sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, fasilitas tempat pembelajaran juga ditingkatkan. Ia memberi contoh, misalnya bidang pertanian. Universitas Udayana memanfaatkan tanah yang diberi Pemda seperti di daerah Pegok, Sesetan, konsentrasi membangun taman perkebunan pertanian, pembelajaran dan riset. Selain itu, Universitas Udayana terus menin-

gkatkan dana penelitian dari 5% menjadi 10%. Ia berharap, akan semakin banyak penelitian bisa muncul, terutama ilmu-ilmu yang bisa diaplikasikan di masyarakat. “Ini salah satu usaha agar lulusan mampu bersaing,” tandasnya. Selain itu, Universitas Udayana juga membuka bursa kerja. Sampai saat ini, ia mengatakan, belum ada survei berapa lulusan yang terserap di dunia kerja. Namun, dengan digelarnya bursa kerja, ia berharap, dapat dimanfaatkan oleh para lulusan yang belum mendapatkan bekerja. Ada juga, kiat lain, yakni sehari sebelum wisuda para lulusan diberikan motivasi dari orang-orang yang sukses atau pejabat untuk berbagi ilmu, menambah wawasan para lulusan . “Aneh sarjana nganggur. Tamat SD saja kerja. Kok sarjana nganggur. Pengetahuan ada keterampilan ada, kecuali malas. Para motivator ini berbagi pengalaman, untuk menjadi sukses semua berawal dari nol dan memerlukan perjuangan dan kerja keras untuk mencapai kesuksesan,” kata Prof. Suastika. SARJANA HARUS BERKUALITAS BAGUS Sementara menurut Ketua APTISI Bali, Prof. Gede Sri Darma, D.B.A., ia merasa miris meli-

Prof. Sri Darma

Prof. Suastika

hat banyak lulusan sarjana tidak berkualitas. “Sebagai seorang pendidik yang peduli dengan anak bangsa dan persaingan global, saya sedih melihat fenomena lulusan sarjana tapi tidak berkualitas ­bagus,” ucapnya. Pria yang juga Rektor Undiknas University ini mengatakan, siapa yang tidak butuh uang. Tapi uang yang dibutuhkan ada misinya. Seorang advokat tugasnya membela klien. Tapi kalau klien salah, jangan ngajet kiri-kanan. Politisi juga begitu. Tugasnya, membela rakyat untuk kepentingan rakyat. Begitu juga kampus. Jangan mengutamakan kepentingan diri sendiri. Yang penting mahasiswa bayar, tidak peduli, mahasiswa itu pintar atau tidak, itu salah besar. Ia menilai, model seperti ini, sama saja dengan penjajahan di zaman sekarang. Sebagai ketua APTISI, ia tidak boleh menindak, hanya bisa mengimbau. APTISI merupakan asosiasi yang mewadahi PTS di Bali. “Kalau ada kebijakan yang salah atau merugikan PTS, kami sama-sama protes ke pemerintah. Ketika ada anggotanya yang

salah, kami tak bisa berbuat apa. Pemerintahlah yang seharusnya mengkiritisi PTS seperti itu, melalui Kopertis,” kata Prof. Sri Darma. Persoalan muncul lagi ketika masyarakat senang, Mereka perlu kepentingan sesaat agar kariernya bagus. Mereka mengatakan, saya tidak perlu kuliah lagi, saya sudah pintar, saya hanya perlu selembar kertas ijazah. Karena ada permintaan seperti hukum ekonomi. “Undiknas juga ikut kena getahnya dulu. Sempat terjadi penurunan jumlah mahasiswanya,” ujarnya. Sekarang mereka baru sadar. Pada PTS seperti itu, bisa terjadi delik aduan, ada polisi menindak, ada ketakutan juga. Mereka ­akhirnya berpikir, daripada di kemudian hari ada masalah, lebih baik cari kampus yang memang benar-benar berkualitas. “Sekarang ­U ndiknas mendapatkan keuntungan. Kelas sore untuk karyawan sangat melimpah. Namun, intinya, mari kita benahi moral bangsa ini dengan mencetak para sarjana yang berkualitas bagus dan siap bersaing,” tegas Prof. Sri Darma.-Wirati Astiti

Pintar Mengajar Cerdas Mendidik Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta, kini samasama memiliki pamor. Persaingan antara PTN dan PTS ini ditanggapi Koordinator Kopertis Wilayah VIII (Bali, NTT, NTB) Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si. adalah suatu hal yang wajar dan harus. “PTS dalam menghasilkan output (alumni) memang harus bersaing, bersaing sehat yang kompetitif dengan mengedepankan persaingan berbasis regulasi,” ujarnya. PTS harus berlomba-lomba untuk melaksanakan manajemen mutu sehingga output-nya juga berbasis mutu. Yang dimaksud dengan mutu itu (di Indonesia), paling tidak adalah akreditasi prodi dan akreditasi institusi. “Jika PT baik negeri maupun swasta, prodi dan IPT (institusinya) terakreditasi itu dikatakan memenuhi standar nasional pendidikan tinggi, memenuhi kualifikasi,” jelasnya. Lalu, yang manakah PT yang berkualitas? Tentu saja PT yang akreditasi prodi maupun IPT-nya adalah A (unggulan), sesuai dengan Permendikbud 87 tahun 2014. Atau, B (baik sekali) atau C (baik saja). Itu indikator bahwa PT itu berkualitas. Namun jika melihat ukuran dunia, PT yang berkualitas adalah PT yang masuk dalam kategori 500 besar dunia. “Sampai saat ini PTS di Indonesia belum ada masuk, baru PTN saja. Hal ini terus didorong oleh pe-

merintah dengan terus diberikannya bantuan-bantuan, seperti beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) untuk mahasiswa berprestasi, Bidikmisi bagi mahasiswa miskin. Ini diberikan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas,” ujarnya. Dasi Astawa menyebutkan ada 3 langkah besar yang menjadi strategi PTS untuk menjadi hebat, dikagumi, dan unggulan. Yakni mentaati regulasi; meningkatkan kualitas SDM (dosen, administrasi terutama operator harus benar-benar tenaga yang canggih yang paham teknologi, mau bekerja keras dan bekerja cerdas); dan meningkatkan infrastruktur. Dosen-dosen juga harus meningkatkan kualitasnya dengan 3 cara, yakni melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, aktif melakukan interaksi, komunikasi untuk menambah soft skill, baik yang berkaitan dengan interaksi sosial maupun kecakapan misalnya di bidang berbahasa. Caranya, membaca banyak informasi, rajin ikut diskusi dan seminar. Juga rajin bergabung dengan teman yang memiliki kecerdasan lebih tinggi. “Ini 3 cara untuk meningkatkan kualitas SDM. Karena SDM yang cerdas itu paling tidak menguasai 7 kecakapan, yakni human skill, conceptual skill, design skill, managerial skill, technical skill, soft skill, spiritual skill harus bagus. Dengan demikian,

dosen itu tak akan hanya pintar mengajar, tetapi juga cerdas mendidik. Itu yang diharapkan,” tegasnya. Ia mengingatkan lagi, yang tak kalah penting dari 3 cara itu adalah infrastruktur pendidikan. Sebagai badan pengelola yakni yayasan, tidak boleh hanya berorientasi pada penerimaan mahasiswa dengan penerimaan uang.Tetapi bagaimana uang yang diterima itu harus dipergunakan meningkatkan infrastruktur seperti gedung, laboratorium, perpustakaan, termasuk peningkatan SDM baik gelar maupun nongelar. Jika tanpa demikian, PTS itu akan digilas oleh persaingan. Dan sekarang jika sudah digilas persaingan, apalagi kena isu-isu, misalkan bodong, proses pelajaran yang tidak benar, maka dalam hitungan 2-3 tahun PTS itu hilang, karena masyarakat semakin cerdas. Dasi Astawa menjelaskan, dari 153 PTS yang aktif, ada 21 institusi yang sudah terakreditasi. Dan, ini masih ada waktu sampai 2019. Inilah yang dikatakannya menjadi tolok ukur bahwa PTS itu sehat dengan 8 kriteria PTS Sehat. Bagaimana terkait kasus wisuda bodong yang banyak terjadi di luar Bali? Sampai saat ini Dasi Astawa mengaku belum menerima informasi PTS yang menyelenggarakan wisuda bodong. “Tetapi bagi PTS yang dinonaktifkan pemerintah dan

notabene masih memiliki izin, tetapi melakukan wisuda, itu ada laporannya. Karena ada konflik antara dua kubu, Kopertis tidak menghadirinya,” ungkapnya. Dasi Astawa menegaskan, oknum masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan tinggi (bukan PTS), tanpa mendapatkan izin operasional pemerintah (oleh Dikti maupun Departemen lain seperti Departemen Agama, Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan), namanya penyelenggaraan pendidikan tinggi itu bodong. Kalau sekarang misalnya PTS yang memilki izin operasion-

al ternyata tidak memproses mahasiswanya sesuai mekanisme dan peraturan yang benar, itu namanya PTS Kurang Sehat. Terhadap PTS ini, pemerintah dalam hal ini Kopertis berkewajiban melakukan pengawasan, pengendalian dan pembinaan (Wasdalbin) terhadap PTS-PTS yang tidak sehat seperti 8 indikator tersebut. “Oknum masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pendidikan bodong (ilegal), ini sebenarnya kewenangan para penegak hukum, bukan Kopertis. Hanya PTS yang punya izin (legal) yang menjadi kewenangan Kopertis untuk melakukan wasdalbin,” pungkasnya. –Inten Indrawati


20

Nine

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Maya Damayanti

Beli Pakaian Mahal untuk Dibongkar Kerap melihat ibundanya menjahit sejak ia kecil, bakat mengutak-atik busa­ na, tanpa disadari telah menuntun Maya Damayanti (54), menjadi seorang desainer. Bagaimana tidak, tiap hari ia menyaksikan ibunya yang sangat mencintai dunia jahit-menjahit bahkan hingga usianya kini yang telah meng­ injak 75 tahun belum juga mau berhenti menjahit, telah mengasah kemam­ puan dan kepekaan Maya dalam melahirkan karya-karya busana yang ba­ nyak digemari karena unik dan keindahan pemilihan bahannya.

M

aya tidak hanya melihat ibunya menjahit me­ lainkan ia terli­ bat ikut membantu ibundanya menyelesaikan jahitan pada tahap finishing, seperti mengesum dan menjahit kancing. “Sejak kecil saya sudah pegang jarum membantu ibu mengesum dan menjahit kancing,” kata Maya, salah seorang desainer busana-busana berbahan etnik Nusa Tenggara Barat. Dari sinilah, Maya kemudian tertarik meng­ geluti dunia busana. Tapi tunggu dulu. Meski tertarik dengan dunia busana, Maya tidak memilih sekolah khusus untuk menjadi desainer, melainkan ia berguru pada Sang Bunda. Meski dunia mode berkem­ bang dan lekas update, Maya tetap senang memakai dasar-dasar pola busana yang diajarkan ibundanya, dasar pola lama yang simpel yang sudah dipakai puluhan tahun bah­ kan sejak masa menjahit di zaman Belanda. “Dasar pola yang diajar­

kan ibu saya itu lebih mudah dan simpel saja, pola yang dipakainya sejak zaman Belanda,” ungkap ibu dari Ingrid (23) dan Laksmi (20) ini. Dengan kemampuannya yang hobi menggambar, membuat bakat dan keterampilan Maya dalam dunia busana ini menjadi lebih kuat di tengah tuntutan perkembangan mode yang begitu pesat. Meski ia menumpu pada pola lama, Maya mampu membukti­ kan dirinya sebagai salah seorang desainer yang diperhitungkan di Mataram. Ia banyak menerima un­ dangan dari berbagai even pameran bergengsi di Jakarta dan busanabusana karyanya banyak dipakai da­ lam even-even penting pula, baik di Mataram maupun di luar Mataram, khususnya even yang mengangkat Nusa Tenggara Barat. Sejak kecil Maya terhitung sangat jarang membeli baju jadi. “Kalaupun membeli baju biasanya umurnya hanya sebulan saja karena setelah itu tidak cocok. Saya lebih suka mendesain sendiri, buat pola

sendiri dan jahit sendiri,” ujarnya. Sebelum menjadi seorang de­ sainer, Maya dan ibundanya kerap membeli bahan di Jakarta. Mereka membeli bahan yang tidak ada di Lombok dan membuat busanabusana model terbaru yang dilihat di Jakarta. Sejak itulah Maya menya­ dari bahwa perkembangan mode itu berjalan begitu cepat. “Hanya tiga bulan sekali mode itu terus berubah,” kata Maya yang juga ter­ us mengupdate desainnya mengikuti perkembangan tersebut. Salah satu hobi mereka adalah membeli pakaian-pakaian mahal, tapi bukan untuk dipakai melainkan untuk dibongkar untuk dipelajari. “Kami ingin mengetahui secara langsung, apa sih yang membuat baju itu nyaman dan bagus di ba­ dan (jika dikenakan). Dari bongkar membongkar itulah kami pelajari triknya,” kata Maya tertawa. Belajar dasar-dasar pola pada ibundanya, Maya akhirnya tertarik untuk mengi­ kuti kursus fashion desain beberapa bulan di Yogyakarta. Kursus itu pun sesungguhnya iseng dilakukan untuk mengisi waktu setamat ia dari Fakul­ tas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1989. Namun kursus iseng inilah yang kemudian membawanya mengeta­ hui tentang textil, pola dan sifat kain serta managemen fashion. Karena menurutnya, jika tidak tahu pola dan sifat kain maka tidak gam­ pang untuk membuatnya menjadi busana yang nyaman dipakai dan enak dilihat saat dikenakan. Dan karena itulah, sekali lihat, Maya bisa mengetahui mana pakaian yang mahal dan mana yang biasa saja. –Naniek I. Taufan

Komitmen Gunakan Bahan Asli Lombok Sumbawa Seiring terus berkembangnya peminat desain-desain Maya, ia pun memikirkan hal yang lebih dari sekedar bicara soal desain me­ lainkan ia ingin mengkontribusikan bakat dan keterampilannya itu untuk mengangkat Nusa Tenggara Barat, dengan mulai mengangkat bahan-bahan lokal yang berbau etnik. Sekitar enam tahun terakhir, Maya memokuskan karya-karyanya pada bahan tenun ikat dan songket Lombok Sumbawa. Sejak itu ia tidak lagi membeli bahan dari luar melainkan membina penenun-penenun Lombok yang ada di Ungga Lombok Tengah. Tidak kurang dari 25 penenun di Ungga yang diberinya modal untuk mendukung mereka melahirkan tenunan-tenunan khas Lom­ bok untuk mengangkatnya menjadi busana-busana yang memiliki nilai tersendiri kala dikenakan. “Saat ini, 80% bahan yang saya pakai adalah murni bahan tradisional (bahan lokal) yang dibuat dengan cara manual (tenun tradisional),” ungkapnya. Maya juga mempertahankan keaslian motif dan corak khas NTB. Maka kerap ketika ada pesanan bahan tenun tradisional yang tidak mencirikan motif dan corak khas Lombok Sumbawa, ia dengan tegas menolaknya. “Biar pun memesan bahan 1.000 meter, jika tidak mencirikan motif dan corak khas Lombok Sumbawa, saya menolak untuk mengerjakannya,” kata Maya saat ditemui di butiknya di Jalan Pen­ didikan Mataram. Di butiknya ini Maya tidak pernah mengeluarkan bahan murah yang tidak asli, melainkan busana-busana dan bahanbahan asli yang ditenun secara tradisional demi mempertahankan kualitas dan kenyamanan konsumen. Karena dari sanalah identitas budaya Lombok Sumbawa akan terlihat. Bagi Maya kualitas dan keaslian bahan yang dipakai akan sangat mempengaruhi karyanya. Karena saat ini, menurutnya banyak keluar bahan-bahan yang dicetak (dibuat) dengan mesin bukan ditenun secara manual sehingga harganya lebih murah. Dari tenun ikat dan songket dengan motif dan corak khas Lombok Sumbawa yang indah, busana karyanya dijual dengan harga antara Rp 700 – Rp 1 jutaan. Harga ini bisa dibilang sebagai harga terima jadi. Dari desain, bahan hingga jadi busana. Bahan tenun yang Maya gunakan juga memiliki ciri tersendiri yakni tidak menggunakan benang emas melainkan tenunan warnawarna bersifat dop (tidak mengkilap). Desain-desain karya Maya tampaknya bisa langsung dikenali karena ia hanya memakai bahan tenunan asli karena ia memiliki komitmen tidak akan mengeluarkan karya busananya jika bukan dengan bahan yang asli Lombok Sum­ bawa. Inilah yang menjadi komitmen yang akan terus dipertahankan Maya, memakai kain dari bahan asli produk penenun tradisional Lombok Sumbawa. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

Ni Ketut Suliati

5

Setengah Hari Anak Kandung Setengah Hari Anak Bangsa Menjadi guru adalah pilihan Ni Ketut ­S uliati, S.Pd. M.Pd. Sejak kecil ia sudah memiliki impian untuk berdiri di depan kelas meng­ ajar anak didik. Suka-duka ­s ebagai guru pun dilakoni istri Dewa Ketut Mustika ini. Tahun 2014 ia meraih predikat Guru Ber­ prestasi tingkat provinsi Bali ­untuk jenjang TK. Banyak pengalaman yang didapat ke­ tika “bertarung” di Jakarta.

S

uliati yang akrab disapa Bu Jero ini menuturkan dirinya menyelesaikan pen­ didikan SPG Saraswati tahun 1985. Selanjutnya warga Br. Riang Ancut, Desa Riang Gede, Penebel, Tabanan ini mengajar sebagai guru honor di TK Hara­ pan Ibu Tabanan. “Saya senang dengan anak-anak. Makanya memilih menjadi guru TK,” ungkapnya. Tahun 1999, ada lowongan untuk menjadi guru di Dinas Pendidikan Kota Denpasar. Bu Jero berhasil lulus dan ditu­ gaskan di TK Negeri Pembina Denpasar mulai tahun 2000. Perjalanan Tabanan-Denpasar pun ditempuh tiap hari dengan sepeda motor. Semangat Bu Jero tak hanya untuk mengajar. Ia juga seman­ gat untuk belajar. Selesai men­ gajar, ia kuliah di IKIP PGRI Bali.

“Waktu itu belum ada jurusan PAUD. Saya pilih jurusan Kon­ seling. Selesai S1, saya melanjut­ kan S2 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja konsentrasi Pendidikan Dasar. Biar linier, saya masuk Univer­ sitas Terbuka juga mengambil konsentrasi PAUD,” ujar ibu dua putri ini, Dewa Ayu Trisna Yuliati dan Dewa Ayu Candrayani. Walaupun sibuk untuk be­ lajar dan mengajar, perempuan kelahiran 25 Agustus 1964 ini tetap memperhatikan keluarg­ anya. “Dalam sehari, saya mem­ bagi waktu. Setengah hari untuk mengurus anak bangsa, setengah hari lagi untuk mengurus anak kandung. Suami dan anak-anak sangat memahami kondisi ini. Putri pertama malah ikut jejak saya menjadi guru. Itu pilihan­ nya. Putri kedua belum memilih untuk menekuni bidang apa,” tandasnya.

Suliati bersama anak didiknya

Dua ketika kuliah, ia pernah mengajak anaknya ikut karena tak ada yang menjaga. Dosennya sampai meledek dikatakan ada mahasiswa baru. Namun, dosen itu bisa memberi toleransi asal si anak tenang. Perjalanan sebagai guru tentu penuh suka-duka. Sampai saat ini Bu Jero melihat lebih banyak suka yang ia rasakan. Prinsip­ nya, menjadi guru itu akan se­ lalu dikenang. Guru ada di hati anak. Anak sama di mata guru. Kemana pun ia pergi, ada saja yang menyapa. Kadang Bu Jero lupa siapa yang menyapa, namun ia yakin penyapa itu mantan muridnya. Membuat anak-anak yang sedih menjadi gembira meru­ pakan kebahagiaan bagi Bu Jero. Hal ini membuat Bu Jero harus “masuk” ke dunia anak. Jangan malah “memaksa” anak masuk ke dunia orang dewasa.. Jika semua sudah dilakukan dengan senang hati tanpa keterpaksaan, hasilnya pun bisa memuaskan. INSPIRASI DARI ANAK CADEL Dukanya jika ada anak yang tidak bisa mengemukakan kon­ disinya. Biasanya ada anak yang sakit, tetapi tidak bisa menyam­ paikan. Sebagai guru harus peka dengan kondisi ini. “Inilah tan­ tangannya. Memahami kondisi anak sangatlah penting. Saya banyak belajar dari pengala­ man,” ungkap guru yang hobi memasak ini. Mengenai prestasinya seba­ gai Guru Berprestasi, Bu Jero menuturkan berawal dari lomba

di tingkat kecamatan. Dari kecamatan, dirinya masuk ke tingkat kota bahkan menjadi juara di tingkat provinsi. Ia menyebut Dra. Tjokorda Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd, sebagai salah satu pen­ dorongnya untuk terus menunjukkan prestasi. Dukungan juga diper­ oleh dari para koleganya di TK Negeri Pembina Denpasar dibawah pimpi­ nan Ni Nyoman Darmini, S.Pd, M.Pd. “Selama di Jakarta, saya bisa bersosialisasi dengan para guru dari seluruh Indonesia. Banyak penge­ tahuan untuk menambah wawasan. Target saya memberikan kemampuan terbaik,” ujarnya seraya mengatakan presentasinya berjudul “Meningkatkan Kemampuan Berbaha­ sa Anak melalui Cerita Bergambar”. Materi ini diangkat karena pengala­ mannya menangani anak-anak yang awalnya cadel atau belum lancar bicara akhirnya bisa lancer setelah belajar dengan cerita bergambar. Di ajang tingkat nasional ini Bu Jero meraih rangking 8.

Ni Ketut Suliati, S.Pd., M.Pd

Ia tak kecewa karena sudah mengeluarkan kemampuan­ nya semaksimal mungkin. Yang membanggakan, ia bisa bertemu langsung dengan Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yud­ hoyono. –Ngurah Budi

“Dalam sehari, saya membagi waktu. ­S etengah hari untuk mengurus anak ­b angsa, setengah hari lagi untuk mengurus anak kandung. Suami dan anak-anak sangat memahami kondisi ini...”


4

Inspirasi

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

S e p t i a n a Ya n t i

Berburu Anak Jalanan “I

Septiana Yanti

berkumpul anak jalanan, mengajak mereka untuk belajar. “Itu saya lakukan selama berbulan-bulan. Saya datang ke terminal, ke stasiun kereta api, mencari mereka,” ujarnya. Ketekunan dan kesabaran Septi akhirnya membuahkan hasil. Anak-anak didiknya tergerak untuk datang setiap Sabtu-Minggu tanpa harus dicari. “Ini sungguh mengharukan saya. Bahkan mereka bisa balik mempertanyakan saya, jika saya sampai absen mengajar,” ungkapnya. Menurut Septi, dirinya bahkan sebelum terlibat di SSC, sudah menyukai anak-anak. Karena itu, sekalipun menangani anak-anak jalanan ini terbilang sulit, namun dirinya mengaku enjoy. Bagi saya, mereka dengan latar belakangnya dan karakternya yang terbentuk karena hidup di jalanan, justru menarik dan memacu dirinya

Sebagian anak-anak jalanan di bogor sedang belajar di komunitas SSC

ide kreatif dalam mengajar. Septi bercerita, komunitas aktivitas sendiri, mereka memiliki Save Street Child atau SSC dididunia sendiri, mereka juga sudah rikan oleh Shefti Lailatul Latiefah terbiasa mencari uang sendiri atau akrab disapa Shei pada dengan mengamen, dll. Jadi kami 2011 di Jakarta. Sebelumnya ini sebagai pembimbing, pengajar, hanyalah sebuah gerakan yang harus pandai-pandai memberi dikumandangkan di media soprogram yang tepat sehingga bisa membuat si anak betah belajar dan pada akhirnya mereka pun datang sendiri untuk belajar tanpa harus dicari,” jelasnya. Ya n g p a s t i , tambahnya, dirinya ataupun pengajar lain tak mungkin marah atas prilaku anak-anak itu. “Wahh kami tidak mungkin marah ya, bisa kabur mereka. Anak-anak SAVE STEET CHILD sedang study tour di peternakan bogor Mencari mereka dan mengajak belajar saja sudah sulit, jadi nggak untuk terus memutar otak ba- sial tahun 2010 oleh Shei dan mungkin lah kami marah karena gaimana agar sajian materi yang kawan-kawannya. Ketika itu mereka melihat anak-anak putus diberikannya diminati mereka. prilaku mereka,” ucapnya. “Ini tantangan, ya. Saya suka sekolah berkeliaran di jalanan itu. Saya suka sesuatu yang penuh untuk mencari uang, baik dengan SUKA ANAK-ANAK Dulu, lanjut Septi, ketika di- tantangan, saya tidak suka yang mengamen, berjualan, dll. Shei rinya masih terlibat penuh sebagai monoton,” katanya. Bagi yang suka berempati pada kehidupan anakpengajar, setiap Sabtu-Minggu, tantangan, kondisi ini akan mem- anak ini, ia pun lalu mengajak yakni jadwal belajar SSC Bogor, buat si pengajar berpikir keras dan beberapa temannya untuk memdia harus mendatangi titik-titik pada akhirnya bisa melahirkan ide- bantu. Awalnya, hanya 10 anak putus sekolah yang dibantu. “Gerakan ini terus berkembang sehingga akhirnya terbentuk lah komunitas ‘Save Street Child’ (SSC) pada 2011 dengan target anak jalanan dan anak-anak rentan sosial. Maksudnya anak rentan sosial adalah anak-anak yang masih memiliki orangtua seperti pemulung, dll, yang putus sekolah dan mencari uang untuk membantu keluarganya. Dalam perkembangannya SSC akhirnya memiliki badan hukum yayasan. Dengan begitu,SSC menjadi lebih leluasa dalam mewujudkan visi dan misinya. Keberadaan SSC di Jakarta dengan berbagai kegiatannya, secara berkala Anak-anak jalanan menunjukkan karya mereka dipublikasikan lewat berbagai

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

21

Berqurban adalah Perbuatan dan Niat

Lapangan-lapangan umum yang ada di Mataram, kembali dipenuhi umat Islam yang berbondong-bondong datang untuk menunaikan Salat Idul Adha 1436 H, Kamis (24/9). Lapangan-lapangan yang menjadi pusat pelaksanaan Salat Idul Adha yang selalu dipadati warga tersebut salah satunya adalah di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat. Pada momen Salat Ied kali ini di Kantor Gubernur NTB hadir Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin beserta kepala-kepala SKPD Lingkup Provinsi Nusa Tenggara Barat. Imam Salat Ied dipimpin oleh Ust. H. M. Sudiharji dan Khatib TGH. Hasanain Djuaini, LC. MH, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain NW Narmada.

Cantik, lemah lembut, entah kenapa gadis ini justru memililih berkecimpung dengan anak-anak jalanan yang akrab dengan ‘dunia keras’. Itulah Septiana Yanti, yang kini menjabat Ketua Save Street Child wilayah Jabodeta (Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang). Gadis cantik yang baru menyadari passionnya di dunia pendidikan setelah tamat kuliah komputer.

ya saya baru sadar kalau saya suka dunia mengajar, menjadi pendidik beberapa saat setelah tamat kuliah. Itupun karena kebetulan saya bertemu seseorang yang kemudian menggali potensi yang saya miliki,” ungkap Septian Yanti yang mengaku memiliki ketertarikan pada pendidikan anak. Mendidik anak-anak jalanan, kata Septi, memiliki tantangan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Si pengajar, selain harus memiliki keterampilan mengajar, juga dibutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kreatif dan inovatif. Materi yang diajarkan jangan membosankan, mereka tidak suka. Bahkan ketidaksukaan itu bisa dilontarkan langsung oleh mereka tanpa tedeng aling-aling. Maklum saja, yang dihadapi adalah anak-anak yang terbiasa bebas berprilaku, mereka besar di jalanan. “Ini memang tidak mudah, tantangannya besar. Tapi bagi saya justru itu yang menarik. Apalagi mereka datang belajar awalnya bukan karena mereka yang mau tapi kami yang mencari mereka, mengajak mereka untuk belajar,” tutur gadis kelahiran 1988 ini. Untuk bisa ‘mengikat’ mereka agar memiliki keinginan belajar maka dibutuhkan program-program pendidikan yang mengena. Mereka tidak suka program-program yang monoton yang dianggap membosankan. “Kalau tidak suka, mereka akan mengekspresikan secara langsung tanpa segan. Misalnya, ‘Kak, kami bosan pelajaran itu’, ‘Kak, kok pelajarannya itu-itu saja’, ‘Kak ngantuk’, dll. Nah menghadapi demikian, kita sebagai pengajar tidak boleh marah tapi harus tetap sabar. Kalau mereka bosan atau mengantuk, ya, kita harus cepat mengubah cara, dll, sehingga perhatian anak bisa terfokus lagi.” “Kami belajar di teras rumah orang, kadang saat sedang belajar, ada temannya melintas, si anak bisa saja langsung berlari ke temannya. Kita tak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa marah juga. Tapi nanti perlahan kita memberi tahu mereka. Jadi cara pendekatannya memang beda sekali, harus perlahan. Mereka memang sulit fokus, pada awalnya. Saat sedang belajar mereka bilang, ‘Kak saya pergi dulu ya mau ngamen, cari uang’. Kami kan tidak bisa bilang, tidak. Jadi begitulah, mengikat anak-anak jalanan untuk tetap di kelas,tidak mudah. Apalagi mereka kan sebelumnya sudah punya

Mandalika

medsos. Walhasil, aksi sosial ini pun menarik anak-anak muda di berbagai daerah untuk juga mendirikan SSC di daerahnya. “Mereka (daerah) bertanya, apa mereka boleh mengembangkan SSC di daerahnya. Kami bilang, tentu bisa, asalkan tetap berada dalam koridor yang telah kami tentukan, visi, misi dan sistemnya harus sama dengan Jakarta,” jelas Septi sambil menambahkan, hingga sekarang, SSC telah ada di 17 kota, di antaranya, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Malang. Berbicara tentang jumlah relawan, Septi menyebut, saat ini SSC Jabodeta yang dipimpinnya tercatat memiliki sekitar 70 relawan. “Mereka ini tidak digaji, lho. Malah kadang keluar uang sendiri untuk operasional. Namun karena kecintaan dan keinginan agar anak-anak marjinalyang memiliki akses pendidikan minim, dapat menjadi generasi penerus bangsa dengan bekal yang memadai, mereka dengan suka rela melakukannya,” kata Septi. Di kelas SSC yang biasanya digelar Sabtu dan Minggu, anakanak mendapat banyak hal, seperti pendidikan character building, pendidikan dasar seperti membaca-menulis bagi mereka yang belum bisa, prakarya, dan lain-lain. Tak lupa juga diajarkan tentang pemberdayaan ekonomi. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa mendapatkan penghasilan dari apa yang diajarkan. Dengan demikian bisa mandiri secara ekonomi. “Untuk tenaga pengajar, kami juga mendatangkan dari luar SSC yang ahli di bidangnya,” tambah Septi. “SSC memang belum lama berdiri, baru empat tahun, namun banyak hal yang sudah dihasilkan. Seperti, banyak anak-anak yang tadinya tidak bisa membaca dan menulis, akhirnya bisa. Atau anak-anak remaja yang tadinya belajar di SSC, akhirnya mendapat pekerjaan, dll. Kami tentu sangat bangga dengan hasil ini,” ungkap Septi. –Diana Runtu

mudahkan amalan baik manusia diterima oleh Allah SWT. Ia lalu mengungkapkan kisah pengorbanan Qabil dan Habil sebagaimana yang tercantum dalam Al Quran. Dikisahkan ketika Qabil memberi materi yang banyak namun niatnya buruk, maka Allah menolaknya. Sedangkan Habil memberi materi yang sedikit namun dengan niat yang baik sehingga Allah menerima amalan baiknya itu. “Intinya semakin ikhlas niat dan semakin banyak jumlah pengorbanan akan menjadikan qurban seseorang lebih Wagub menyerahkan hewan qurban kepada TGS Hasanain Junaidi sempurna,” katanya dengan penekanan. Untuk menumbuhkan semangat berqurban, GH. Hasanain Djuaini dalam khotTuan Guru Hasanain juga mengutip kalimat para bahnya yang diberi judul Ibadah motivator, bahwa kesuksesan Qurban, Teknologi Ilahiyyah unitu menuntut pengorbanan. tuk Perbaikan Individu dan Sosial Dimana langkah awal yang itu, menyampaikan tentang makna berqurban baik dalam setiap rencana itu yang memiliki dua unsur yakni perbuatan dan adalah memberikan sesuatu niat ini, bagi umat Islam. Perbuatan dan niat kepada orang lain. “Para ahli tidak dapat dipisahkan karena keduanya akan strategi pembangunan sosial menjadi satu kesatuan dalam menentukan nilai juga menjadikan ‘mentalitas akhir sebuah pengorbanan. berqurban’ ini sebagai pra“Makna khusus qurban adalah menyemsyarat mutlak untuk menyatubelih hewan yang halal, milik kita yang sah kan masyarakat. Berkorban dan dagingnya dibagikan kepada orang-orang adalah tradisi para pahlawan yang membutuhkannya dengan beberapa dan pejuang. Dengan semanpersyaratan tertentu. Sementara itu, makna gat pengorbanan suatu bangsa umumnya adalah berusaha mendekatkan diri yang miskin dan lemah dapat yang dalam konteks sosial adalah mendekatbangkit dan menjadi kuat,” kan diri dengan sesama makhluk. Dan dalam kata TGH. Hasanain dalam konteks ibadah, usaha mendekatkan ini adalah khotbah yang disampaikanantara kita dengan Allah SWT melalui berbanya dengan intonasi, diksi dan gai macam amalan-amalan yang disukai Allah penekanan-penekanan pada SWT,” ujarnya. titik-titik penting kalimatnya. Tuan Guru Hasanain juga mengingatkan -Naniek I. Taufan bahwa keikhlasan dalam berqurban akan me-

T

Suasana salat ied di lapangan Bumi Gora kantor Gubernur NTB

Wagub dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk berperan serta aktif dalam pembangunan daerah


22

Sosialita

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

Jangan Biarkan Guru Kelaparan

Titi Wuryaning Tyas langsung lompat dari pembaringan ketika men­dengar kabar yang disiarkan di televisi bahwa pemerintah akan mengangkat honorer kategori dua (K2) menjadi CPNS secara bertahap hingga 2019. Para guru honorer itu tampak bersujud syukur, dan Tyas pun yang tadinya terbaring sakit, ikut sujud syukur.

I

a tak bisa ikut berdemo bersama teman-temannya karena penyakit maag kronis yang dideritanya tiba-tiba kambuh. Karena­ nya ia hanya bisa memonitor aksi mereka lewat televisi, sambil sesekali menelpon temannya guna menanyakan perkembangan terakhir. “Meski tidak berdemo saya mengikuti perkembangan aksi itu. Teman-teman di lapangan juga mengabari saya lewat telepon,” tutur Tyas sumringah. Janda tiga anak yang sudah 11 tahun mengabdi sebagai guru honorer di sekolah negeri, sangat berharap apa yang didengarnya hari itu akan menjadi kenyataan. Meski ini memang bukan sesuatu yang baru, karena sebelumnya, janji serupa juga pernah disampaikan, namun kali ini dia berharap ini bukan sekadar harapan kosong. Selasa (15/9), Jalan Gatot Subroto di depan Gedung DPR di Jl Gatot Subroto Jakarta, dipenuhi ribuan guru honorer dari Forum Honorer Kategori 2 dari berbagai daerah. Mereka berdemonstrasi saat Komisi II DPR RI, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menggelar rapat kerja. Salah satu tuntutannya adalah diangkat sebagai pegawai negeri sipil. Dalam Raker tersebut akhir­ nya disepakati untuk mengangkat tenaga honorer K2 untuk menjadi CPNS secara bertahap hingga 2019 dimulai pada 2016 mendatang. Selain honorer K2, juga akan diangkat honorer K1 yang pengangkatannya sebagai CPNS belum terealisasi. Kesepakatan Raker tersebut kemudian disam­ paikan kepada para demonstran yang langsung bersorak gembira. Meski diputuskan akan ada pengangkatan bagi honorer, namun tetap saja ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi para honorer tersebut. Di antaranya, telah bekerja satu tahun pada saat Januari 2005 di instansi negeri dan tidak pernah terputus, juga pernah mengikuti tes. “Saya telah memenuhi semua persyaratan itu, bahkan saya sudah dua kali tes CPNS, namun keduanya gagal. Di luar persyaratan itu, saya juga memenuhi persyaratan lainnya yakni memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidikan dan Tenaga Pendidik), dll. Semua syarat-syarat itu harus dimiliki saat kita mengikuti CPNS lalu. Semoga janji kali ini benarbenar terwujud,” ujar Tyas penuh harap. Menanggapi hal ini, Sekjen Fed-

Retno Listyarti

erasi Serikat Guru Seluruh Indonesia, Retno Listyarti mengatakan, dirinya menyambut gembira kabar tersebut. Namun, katanya, para guru jangan terlalu senang dulu karena sebenarnya tidak mudah mengangkat seluruh guru K2 yang berjumlah hampir 500.000 orang itu. Ada banyak aturan yang harus

dipatuhi terkait pengangkatan itu, salah satunya adalah Undang Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipin Negara. “Ini bukan sekadar masalah anggaran yang harus disediakan pemerintah tapi juga sejumlah peraturan yang ada. Pengangkatan tentunya tidak bisa membentur

undang-undang dan peraturan yang berlaku,” jelasnya. Para teman-teman guru K2, jelasnya, harus memahami ini. Benar, bahwa mereka memang harus memperjuangkan nasibnya. Namun di sisi lain, mereka juga harus realistis karena adanya berbagai peraturan yang bisa jadi

akan menghadang. Salah satu contohnya adalah ketersediaan anggaran. Pemerintah bukan hanya harus mengadakan anggaran penggajian tapi juga dana cadangan untuk pensiun. “Nah, kalau tidak salah dalam hitung-hitungan untuk dana cadangan pensiun harus disediakan sekitar Rp 900 triliun. Itu kan jumlah yang sangat besar,” ucapnya. Menurutnya hal yang paling memungkinkan saat ini dilakukan pemerintah adalah; pertama, mengangkat semua guru-guru K2 yang secara aturan sudah memenuhi atau memungkinkan menjadi PNS. Sementara bagi mereka yang karena peraturan tidak bisa diangkat menjadi PNS, maka diberi kompensansi. Antara lain mengangkat mereka menjadi pengawai pemerintah dengan ikatan kerja. Perbedaan keduanya (PNS dan non-PNS) adalah soal pensiun. Hanya PNS yang menerima pensiun, sedangkan soal besaran gaji dibuat sama. “Menurut saya ini salah satu cara yang paling memungkinkan saat ini,” ujarnya.

Kadek Andriani

Berlian makin Dilirik

Berlian merupakan batu permata yang memiliki pesona tersendiri bagi penggemarnya. Berlian tidak hanya dikenal sebagai ikon perhiasan yang tak pernah padam,dan permata yang abadi dengan keindahannya tapio juga memiliki nilai investasi. Apa yang dilakukan perempuan satu ini dengan berlian?

–Diana Runtu

GAJI BURUH LEBIH BESAR DARI GURU HONORER Diakuinya, masalah kesejahteraan memang menjadi alasan utama kenapa para guru honorer ini begitu ‘ngotot’ meminta pengangkatan jadi PNS. Pasalnya, gaji guruguru PNS yang berbeda sangat jauh dengan para guru honorer. Padahal beban kerjanya sama, atau kadang lebih besar ditimpakan kepada guru honorer. Namun selama ini kesejahteraan mereka kurang diperhatikan. Guru PNS misalnya, bisa mendapat gaji berjuta-juta, belum termasuk tunjangan dan lain-lain, sementara guru K2 tidak lebih dari dua juta. “Bahwa antara guru PNS dan guru honorer, gajinya memang bedanya jauh banget. Sehingga menurut saya, wajar kalau mereka melakukan penuntutan. Tentu hal ini harus didukung,” tegasnya. “Bayangkan, guru-guru yang bergelar S1, bahkan S2, gajinya kalah dengan buruh. Di Jakarta, UMR adalah Rp 2,7 juta, sementara guru K2 hanya mendapat di bawah Rp 2 juta. Bahkan guru negeri di bawah Kementerian

Agama nasibnya lebih memprihantikan lagi, ada yang honornya cuma Rp 300.000. Itu di Jakarta, entah bagaimana di daerah, bisa jadi lebih kecil lagi,” ungkap peraih penghargaan Indonesia Islamic Educator Awards 2013 ini. Jadi, tandasnya, seharusnya pemerintah tidak hanya memperhatikan guru-guru PNS yang gajinya kini sudah berlipat-lipat juta, tapi juga kesejahteraan guru honorer, minimal mereka diberi gaji yang sesuai dengan UMR Jakarta saat ini. “Jika kita semua ingin mutu pendidikan Indonesia bagus, harusnya nasib guru, kesejahteraan guru diperhatikan,” tegasnya. Namun demikian lanjutnya lagi, seharusnya pemerintah tidak hanya memperhatikan nasib guru K2 (guru honorer yang mengajar di sekolah negeri) tapi juga seluruh guru di negeri ini yang jumlahnya jauh melebihi guru honorer K2 saat ini. Mereka adalah guru-guru yang berada di sekolah-sekolah swasta. Mereka adalah juga tenaga pengajar di negeri ini, yang juga memiliki beban yang sama dengan

guru-guru di sekolah negeri. “Menurut saya, semua guru harus diperhatikan, baik itu guru negeri ataupun swasta. Kalau ingin kualitas pendidikan meningkat, maka hal pertama yang harus dipikirkan adalah gurunya jangan dibikin kelaparan. Karena kalau berbicara kualitas pendidikan, itu bukan hanya guru negeri tapi juga swasta. Mereka memiliki beban yang sama. Mereka (guru swasta) kan juga orang Indonesia,” tegasnya. Karena itu, ia menyarankan, agar ditetapkan standar gaji minimum guru melalui undang-undang dan itu berlaku untuk semua. Jika problemanya adalah sekolah swasta miskin tak mampu memberi gaji guru sebesar standar yang ditetapkan, maka pemerintah wajib membantu. “Jadi misalnya, berdasarkan standar tersebut, berapa kemampuan sekolah swasta memberi gaji gurunya. Kemudian kekurangannya ditutup oleh pemerintah. Menurut saya itu yang paling realistis untuk saat ini,” ujarnya. –Diana Runtu

Edisi 868/ 28 september - 4 oktober 2015

M

enurut pemilik nama lengkap Ni Kadek Andriani, S.E. ini, berlian tergolong perhiasan yang menggoda, menarik meski cukup langka. Apalagi, dengan bertambah banyaknya peminat, harga berlian menjadi makin menanjak. “Berlian adalah permata dengan tingkat kekerasan sangat tinggi. Jika disimpan dalam waktu lama, bentuk dan karakternya tidak berubah. Makanya, investasi berlian

sangat aman untuk jangka panjang,’’ucap perempuan yang dikenal sangat ramah ini. Istri dari I Wayan Susena, S.E ini, meski kepincut pada permata yang paling wah sejagat ini sejak lama, namun mengembangkannya menjadi bisnis, baru dilakoninya beberapa tahun terakhir. Selain memang eksklusif juga memiliki standar yang jelas. Harganya pun pun relatif stabil. Apalagi berlian makin tinggi karat dan kejernihannya, harganya semakin mahal. Andri begitu ia biasa di sapa dalam menjalankan bisnisnya selain cukup memahami seluk-beluk berlian, ia juga kreatif berkreasi menyiapkan desaindesain istimewa. “Selama ini untuk penggemar berlian di Bali, kami memang menyiapkan desain khusus, bukan hanya yang modern tapi juga unik dan dijamin tidak pasaran,” tandas Andri yang sebelumnya cukup lama berkecimpung di dunia asuransi dengan prestasinya ini. Ia juga siap melayani model sesuai pesanan dan juga menyiapkan berbagai desain lainnya dengan berbagai ukuran. “Berlian yang mempunyai kualitas istimewa adalah berlian yang memantulkan warna cahaya dari semua arah. Apalagi terkena lampu,warna cahaya dan kesempurnaan sebuah berlian akan lebih keluar lagi,” tutur ibu dari I Putu Gede Erlangga

Arsena, Ni Kadek I n t a n P ra m e s t i dan Ni Komang Ayu Shelomitha yang sempat melihat langsung salah satu proses cutting berlian di Belanda beberapa waktu lalu ini. Hingga kini ia dengan koleksinya yang terus bertambah, Andri memastikan selalu konsisten memberikan produk dengan kualitas terbaik, memiliki standar menengah atas, yaitu color dan VVS1. Namun, tidak perlu khawatir karena ia tidak hanya menyediakan desain khusus tapi juga sesuai pesanan. “Berlian tak harus besar, dalam ukuran kecil pun berlian juga dapat indah dipandang mata,” tandas putri kedua pasutri I Made Adra dan Ni Wayan Meni ini.

ASET FAVORIT Andri juga menyatakan kalau berlian adalah salah satu perhiasan yang masih memiliki nilai jual kembali, sehingga beberapa orang menganggap berlian sebagai pelengkap fashion sekaligus juga sebagai salah satu instrumen investasi. “Makanya, tidak salah juga jika saat ini semakin banyak dari pasangan calon pengantin memilih cincin yang bertabur berlian,” katanya. Sambil menata koleksinya, ia bercerita tentang beragam jenis berlian, mengenai investasi berlian dikatakannya pilihannya ber­pulang pada Anda semua. Apakah memilih berlian menjadi sebuah aset investasi dalam bentuk butiran satuan utuh, atau dibentuk terpecah menjadi pasir berlian. Jenis berlian yang dipilih sebagai investasi minimal memiliki berat dua karat. Warna berlian untuk investasi sebaiknya berkisar di kode “D”, “E”, “F” dan tingkat kejernihan “VVS”. Ketika ditanya bagaimana cara menentukan keaslian berlian? Andri menyatakan kalau sudah biasa dengan cara melihat pakai mata telanjang pun bisa membedakan mana yang asli dengan yang bukan berlian.

“Pastinya, berlian yang bagus akan memancarkan cahaya yang indah. Namun, Anda tidak perlu khawatir kami ada alat untuk menguji keaslian sebuah berlian,” cetusnya. Penghobi baca dan travelling ini menyebut model atau potongan berlian merupakan satu hal yang sangat menentukan kualitas dan harganya. Itu karena hasil potongan akan menentukan pemantulan cahaya yang akan memperlihatkan keindahan kilauan batu berlian tersebut.Dalam memilih berlian,potongan atau model berlian bergantung pada selera pemakainya. Andri juga mengtakan sebelum memutuskan untuk berinvestasi berlian, perlu diketahui empat kunci terpenting dalam memilih berlian, yakni carat, color, clarity, dan cutting. Carat, merupakan satuan berat berlian yang setara dengan 0,2 gram berat emas. “Berbeda dengan carat pada emas yang menunjukkan kemurniannya,” tegas Andri. Color, warna berlian yang paling umum adalah putih kekuning-kuningan. Makin putih berlian tersebut, nilainya makin tinggi karena makin langka. Clarity merupakan kejernihan berlian. Selanjutnya, cutting adalah proses penggosokan berlian. ’’Bila cutting-nya tidak sempurna, berlian tersebut tidak akan bisa menghasilkan sinar atau pantulan cahaya yang gemerlap,” lanjutnya. Selama ini, dalam bentuk

Andri (tengah) dan para sahabat

3

perhiasan, berlian paling banyak dipadukan dengan emas putih. Sebab, emas putih mampu memantulkan cahaya berlian sehingga kilaunya makin memancar. Dari masa ke masa, berlian selalu menjadi jawara yang tak tertandingi. Trend-nya tidak pernah berlalu dari tahun ke tahun. Berlian memang jodoh­nya perempuan, mengenakan berlian bisa menambah kepercayaan diri seseorang. Berlian dengan acuan harga yang jelas yakni ukuran, karat, kejernihan dan kandungan emas di dalamnya.” Kalau sudah begini, perempuan mana yang bisa menolak kerlap-kerlip berlian ? Berlian akan tetap diminati sampai kapanpun. Prospeknya bagus jadi kenapa ditunda, ayo dipilih,” ujarnya berpromosi. -ard

Kadek Andriani


2

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

DAri daPUr Redaksi

Ekspresso

Sukses Milik Semua Tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional. Makna yang tersurat adalah tanggal tersebut merupakan tanggal yang istimewa bagi para penyandang gelar sarjana. Namun, ada makna tersirat yang perlu dicermati bersama. Sarjana identik dengan gelar akademik, gelar di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu pilar yang menentukan kemajuan bangsa. Untuk mewujudkan kemajuan tersebut, pemerintah terus memberikan perhatian terhadap dunia pendidikan. Urusan pendidikan pun ditangani dua Menteri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk jenjang pendidikan usia dini hingga menengah atas dan Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk jenjang pendidikan tinggi. Banyak hal yang kemudian dihadapi, salah satunya adalah munculnya lembaga pendidikan yang tak punya izin resmi tetapi berani menggelar wisuda. Acara wisuda bodong di Tangerang Selatan ini pun digerebek Kementerian Ristek dan Dikti. Mengapa ada orang yang mau mendapatkan gelar sarjana tanpa kuliah? Tentu banyak alasannya. Dari referensi yang ada, sarjana berasal dari bahasa Sanksekerta yang diartikan penciptaan. Dalam bahasa Inggris, digunakan istilah undergradueted. Ini merupakan gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan strata 1 yang sudah menempuh pendidikan antara 4 sampai 6 tahun. Umumnya gelar sarjana merupakan dambaan setiap orang, karena ini menunjukkan status pendidikan yang telah tinggi. Asumsinya dengan status pendidikan yang tinggi, status sosial juga akan lebih meningkat. Untuk menjadi sarjana, kini sudah banyak pilihan.

Bintang Mira, owner Bali Batiku bersama Ngurah Budi, Redaktur Pelaksana Tokoh dalam acara simakrama

Mau perguruan tinggi negeri bisa, mau pilih swasta juga bisa. Perguruan tinggi harus bersaing sehat untuk mendapat mahasiswa dan nantinya meluluskan sarjana yang berkualitas. Setelah memiliki gelar sarjana, mau apa? Semua kembali ke tujuan masing-masing. Ada yang untuk menambah ilmu, ada yang memakai untuk kenaikan pangkat dan jabatan. Apakah semua sarjana sukses? Belum tentu juga. Ada orang yang tak memiliki gelar sarjana bisa sukses. Masing-masing orang memiliki “garis tangan” yang berbeda dan sukses milik semua orang. Semua patut disyukuri karena itulah karunia Tuhan. Beragam tulisan mengenai pendidikan ini kami sajikan di halaman Sudut Pandang yang disambung di halaman Edukasi, Dara, dan Woman on Top. Kami ingin memberikan Sudut Pandang yang berbeda untuk pembaca dan masyarakat. Edisi minggu ini kami juga menampilkan promo Festival Keluarga 2015 yang akan kami laksanakan Minggu 8 November 2015 dan dirangkaikan dengan HUT ke-17 Tokoh. Kami akan menggandeng banyak mitra kerja untuk bersama-sama menyukseskan acara ini. Salah satunya, kami mendapat dukungan dari Bali Batiku. Semoga apa yang akan kita lakukan memberi manfaat untuk kita semua. Salam

Diselamatkan Catatan Teman

Bekerja di sebuah perusahaan, kita memang harus taat pada peraturan yang berlaku. Mulai dari jam kerja dan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh seluruh karyawan. Beberapa bulan lalu saya diterima bekerja di salah satu perusahan ternama di Denpasar. Saya merasa sangat senang ka­ rena saya dapat bekerja di per­ usahaan yang jaraknya sangat dekat dengan rumah saya. Di perusahaan ini jam kerja dibagi menjadi dua shift, ada shift pagi dan ada shift sore. Suatu hari saya mendapat tugas shift sore. Pada hari itu jumlah pengunjung sangat banyak apalagi saat malam hari. Dengan menahan rasa kantuk saya berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk melayani pengunjung. Hingga akhirnya jam pun menunjukkan pukul 22.00 pertanda sudah waktunya pulang untuk beristirahat. Setelah kantor tutup, saya bergegas pulang agar bisa beristirahat karena besok harus kerja pagi dan saya harus meng­ ikuti rapat bersama pimpinan. Keesokan harinya, karena pukul 07.00 harus sudah di kantor,

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

saya tidak dapat istirahat dengan maksimal. Saya pun berangkat ke kantor sambil menahan rasa kantuk. Tiba lah waktunya untuk rapat bersama pimpinan. Hal yang dibahas adalah tentang omzet dan pencapaian target. Membahas hal itu rasa kantuk saya semakin menjadi-jadi. Instruksi dari pimpinan, semua karyawan harus mencatat apa yang dibahas dalam rapat tersebut. Karena rasa kantuk saya tidak bisa diajak kompromi, saya hanya memperhatikan apa yang diucap­ kan oleh pimpinan saya tanpa mencatat. Pikir saya dalam hati, tidak mungkin si bos memeriksa seluruh catatan karyawan kan? Setelah sekian lama, rapat pun berakhir, dan saya merasa sangat lega. Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama. Tiba-

tiba pimpinan meminta semua catatan tentang apa yang dibahas dalam rapat tadi dikumpulkan. Yang tidak mengumpulkan akan dikenakan sanksi. Oh my God... Serasa ada petir menyambar kepala saya..!!! Ruang­ an yang awalnya dingin karena berAC mendadak terasa panas, ke­ ringat saya bercucuran. Saya pun kebingungan. Dalam kepanikan saya mengambil catatan teman dan langsung menyalinnya ke dalam catatan saya. Tidak banyak yang bisa saya catat, hanya inti-intinya saja. Saya pun dengan cepat dapat menyalin catatan teman saya dan segera mengumpulkannya. Akhirnya saya dapat mengum­ pulkan catatan itu walaupun hanya sedikit. Yaa... yang penting saya sudah berusaha. Berusaha menutupi kesalahan. Hehehe... Trisna, Denpasar

GORO-GORO

KIAT “Pak Jadi, tukang gado-gado itu brengsek,” kata Amat. “Dagangannya memang juara. Semua orang setuju. Bukan hanya rasanya selangit, juga Putu Wijaya kemasannya apik dan bersih”. “Apanya yang brengsek ? Kan langganan Bapak”. “Kelakuannya!” “Lho orangnya kan baik?” “Memang baik. Sebagai tetangga dia baik. Tapi sebagai pedagang, nol besar! Masak maunya sendiri yang dipakai. Kalau sudah punya duit, tiba-tiba pulang kampung seenak perutnya. Kadang sebulan dua bulan. Baru kalau duitnya habis, baru nongol lagi. Makanya dari 10 tahun yang lalu tidak punya rumah sendiri. Terus saja ngontrak di gang kumuh itu! Dasar Melayu, nggak bakal bisa maju!” “Lho Bapak kok marah? Apa salahnya orang pulang. Dia kan juga manusia?” “Manusia yang ditakdirkan miskin! Kalau dagang, tiru dong itu orang-orang Tionghoa, disiplin, tekun. Cari uang, ya cari uang! Jangan dicampur urusan yang lain-lain. Memangnya nasi campur?!” “Meskipun semua orang mengatakan gado-gado Pak Jadi enak, meskipun dipuji harganya murah, meskipun saya sendiri belum pernah membeli atau mencicipinya, saya kira gado-gado Pak Jadi biasa-biasa aja. Enaknya di mana?” “Cobalah dicicip sekali saja, nanti ketagihan!” “Ah, semua gado-gado sama saja, Pak. Kangkung, toge, kol, labu siam, kacang panjang dan saos kacang. Yang suka bumbu kacang pasti ketagihan. Tapi yang punya asam urat jangan cobacoba!” “ Memang. Tapi gado-gado Pak Jadi itu luar biasa, Bu! Jenius. Kabarnya, Pak Gubernur juga jadi langganannya!” “Masak?” “Coba tanya Pak Alit yaang kerja di gubernuran. Kata Pak Alit, pesuruh Gubernur yang tiap hari beli gado-gado Pak Jadi.” Bu Amat ketawa. “Kok ketawa!” “Habis, Bapak yang biasanya kritis, kok bisa dikecoh?” Amat terkajut. “Dikecoh bagaimana?” “Karena cerita Gubernur jadi langanan tukang gado-gado itu, membuat gado-gadonya jadi enak. Padahal bukan Pak Gubernur yang makan, tapi pesuruh itu sendiri. Dan bukan dibeli, tapi dikasi gratis. “ “Masak?” “Ya!” “Kenapa?” “ Karena dia calon mantu Pak Jadi. Dan Pak Jadi pulang-balik ke kampung itu, bukan kebodohan, tapi kiat, supaya orang tambah kangen pada gado-gadonya! Bagaimana gado-gado yang saya beli itu? Amat meringis. “Ini gado-gado kampung, nggak enak!” Amat berdiri, mau keluar. “Mau ke mana?” “Mau beli gado-gado Pak Jadi, kan tadi dibilang sudah balik dari kampung.” “Lha, itu gado-gado yang barusan Bapak makan, kan gadogado Pak Jadi!”

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 868/ 28 september - 4 OKTOBER 2015

23

Ngopi Nang Lorong

Beli Kopi Bonus Cerita Ngopi sek ben gak salah paham. Jargon khas yang biasa diceletukkan masyarakat Surabaya begitu membudaya. Tak ayal, banyak masyarakat berkunjung ke warung kopi. Pengunjung bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk segelas kopi. Tak sekadar minum kopi, penikmat kopi juga saling bertukar pikiran. Bisnis kopi yang tak pernah mati ini kemudian dibidik Widi Antoro sebagai peluang usaha.

N

ongkrong nang Lorong adalah nama kedai kopi milik laki-laki yang selalu berpakaian tradisional ini. Puitis menjadi acuan Widi dalam pemberian nama kedainya. Kedai ini terletak di lorong depan rumahnya. Konsep yang diusung kedai beralamat Jalan Petemon IV/142 ini adalah tradisonal.

tkh/dona

Gaya Jogja dianggap paling cocok mewakili konsep tradisional. Agar tidak terkesan menjiplak, hanya simbol-simbol Jogja seperti angkringan yang diterapkan di kedainya. Tersedia 63 jenis kopi di kedai ini. Pengunjung bisa memilih sendiri kopi dalam toples yang telah diberi nama. Kopi pasar merupakan produk andalan laki-laki humo-

ris ini. Sedang, kopi mahal hanya sebagai pelengkap agar terkesan komplit. Kopi pasar sebagai tagline Nongkrong nang Lorong bukan tanpa sebab. Ia ingin memberdayakan penjual kopi tradisional di pasar agar tidak hilang digerus zaman. Tak lebih 15 penjual kopi tradisional yang masih bertahan di Surabaya. “Ini sebenarnya program pemberdayaan. Bukan sekadar usaha. Di pasar-pasar kadang masih ada orang jual kopi. Orangnya pasti tua-tua pasti. Itu barang langka,” tuturnya. Kopi asem dan kopi pacuan kuda adalah salah sedikit kopi pasar Surabaya. Ada kopi dijual utuh. Ada pula kopi dijitu (disiji pitu). Maksudnya, kopi satu campuran beras atau jagungnya tujuh. Kopi jitu yang dijual Widi berasal dari Mantingan, Blitar, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, dan Magetan. Kopi black merupakan kopi jitu terenak, berasal dari Malang. Selain itu, terdapat kopi kebon, dipanen dari kebun kopi. Kopi Rolak Banyuwangi, Kopi Jolong Pati adalah beberapa jenis

tkh/dona

kopi kebun. Sedangkan, kopi hasil pemberdayaan masyarakat adalah kopi Oah dari Pekalongan. Widi tak melulu menjual kopi. Bagi pelanggan yang tidak menyukai kopi, terdapat cokelat, es teh gula batu, es tape, wedhang uwuh, dan es jus. Gorengan dan nasi kucing merupakan camilan yang disediakan Widi. Uniknya, laki-laki kelahiran Blitar ini tidak menjual kopi kemasan. Baginya, kopi kemasan merupakan kapital besar, sehingga tidak perlu dipromosikan lagi. Nongkrong nang Lorong mengusung tema berbeda dengan warung kopi lain. Perbedaan ini terletak dari konsep pelayanan. Tak hanya dilayani langsung oleh pemilik, penikmat kopi pun disuguhi berbagai cerita oleh sang Empunya kedai. Mulai dari cerita jenis dan asal kopi hingga sharing pengalaman menjadi trik jitu menggaet konsumen. “Dalam khazanah pengalamanku, orang diceritani itu selalu suka. Tidak ada orang diceritani tidak suka. Dari 100 persen, paling yang tidak suka diceritani 20 persen. Jadi, masih ada pangsa 80

persen yang suka tak ceritani,” tukas laki-laki yang lama tinggal di Yogyakarta ini. Harga kopi yang dipatok Widi cukup murah. Kopi pasar dipatok Rp 3.000 sementara kopi paling mahal adalah kopi luwak robusta dari Dampit seharga Rp. 17.000. Widi turun tangan ke pelosok untuk mencari kopi. Ketika kunjungan kerja ke berbagai daerah, ia selalu menyempatkan diri berburu kopi. Hal inilah yang menyebabkan harga kopi Widi murah. Kedai kopi yang buka mulai pukul 17.00—24.00 ini mampu meraup omzet hingga Rp 800 ribu. Sayangnya, omzetnya saat ini Rp 400 ribu. Penurunan omzet ini tak lain imbas daya beli masyarakat turun akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Widi berharap masyarakat sekitar rumahnya diberdayakan. Tidak hanya rekruitmen tiga tetangga menjadi karyawannya, tetapi ibu-ibu yang banyak menganggur dapat berdaya. “Cita-citaku jajanan dibuat orang sekampung. Orang sekampung bisa berdaya. Jadi tidak di rumah saja,” kata Widi. -Nofianita Wahyuni

Dari Reseller Jadi Owner Bekerja keras tidak ada yang sia-sia. Dengan bekerja keras, ternyata dapat mengubah hidup seseorang. Sebut saja Andrean Suwanto. Dulu ia bekerja sebagai teller di sebuah bank. Kini berubah drastis menjadi pebisnis jual-beli telepon selular (ponsel) bekas. Sebelum sukses menggeluti bisnis pertelekomunikasian, ia sempat dirumahkan oleh pihak bank karena menikah sebelum kontrak habis. Tak putus asa, lakilaki 27 tahun ini memutar otak agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia akhirnya bekerja sebagai reseller. Reseller adalah pekerjaan dengan modal nol. Caranya ikut membantu menjualkan barang dagangan orang lain, misalnya minyak wangi, ponsel, tiket pesawat, dan lain sebagainya. Lambat laun, dengan modal yang didapat dari bekerja menjadi reseller, ia membuka pangsa pasarnya berbisnis jual-beli ponsel bekas. Alasannya memilih bisnis tersebut karena ponsel kini menjadi bagian dari kebutuhan pokok. “Dari yang muda

Andrean Suwanto

sampai yang tua, laki-laki maupun perempuan, semua membutuhkan ponsel, jadi bisnis tersebut dapat menjanjikan karena selalu dibutuhkan oleh masyarakat,” kata pria yang sering disapa Andre ini. Selain itu, ia memilih bisnis ponsel bekas karena untung yang didapat lebih banyak daripada menjual ponsel baru. Namun, setiap pekerjaan selalu mempunyai risiko. Risiko yang didapat terkadang kondisi ponsel yang rusak atau cacat sehingga harus

diperbaiki dan harga menjadi jatuh. Keuntungannya, jika mendapat ponsel yang kondisinya seperti baru, dapat dijual dengan harga tinggi. “Pangsa pasar saya lebih banyak kepada para pedagang, meskipun untungnya lebih sedikit, namun tetap lancar, yaitu sekitar 70%. Sedangkan langsung ke pembelinya sekitar 30% saja”, jelasnya. Pemasaran yang dilakukan oleh bapak satu anak ini, melalui online, antara lain Blackberry Massager (BBM) dan Facebook. Selain online, dia juga owner counter Etnis Cell di lantai tiga World Trade Center (WTC), Surabaya. Penjualannya bisa sampai ke luar kota dan pulau misalnya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Papua, dan lain-lain. Menurut Andre, usaha apa pun harus dilakukan dengan kerja keras, kecakapan, keuletan, dan harus menciptakan komunikasi yang baik dengan para customer, dan dapat dipercaya agar para konsumen tidak lari dan tidak kapok. “Sediakan juga masa garansi pribadi agar pembeli lebih percaya,” tegasnya. -Mega Purwaningrum

tkh/dona


24

What’s Up

Edisi 868/ 28 September - 4 Oktober 2015

Saksikan Grand Final Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2015 Grand Final “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar Tahun 2015” siap digelar. Acara yang mengusung tema “Inspire And Harmony Of Wastra” ini bakal dilaksanakan di Hotel Aston Denpasar, Jumat, 2 Oktober 2015.

S

ebelumnya rangkaian acara seleski Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar yang keempat kalinya ini sudah pula dituntaskan dengan baik. Proses awal dimulai dengan tes tulis pada Sabtu ( 5/9), tes interview pada Minggu (6/9), meliputi sikap/tata krama, public speaking (communication act), kerjasama tim dalam kegiatan harian serta performance, di Aula Graha Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar. Menurut Ketua Panita Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2015, AA Bagus Magha Sambara, peserta yang mengikuti seleksi tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni 195 orang peserta, yang berarti terjadi kenaikan hingga 50 % dibanding tahun sebelumnya. Jumlah peserta yang semakin banyak ini, katanya juga diikuti dengan peningkatan kualitas peserta

yang terdiri dari siswa-siswi SMA/ SMK, Perguruan Tinggi dan Umum. “Untuk proses seleksi kali ini berlangsung selama dua hari. Mulai dari tes tulis, catwalk hingga tes bakat,” terangnya. “Bangga melihat generasi muda sekarang memiliki kepedulian yang tinggi untuk turut melestarikan dan mengembangkan produk lokal kita, khususnya kain endek ini,” lanjut pemuda yang lebih akrab disapa Gung Gus ini. Dikatakannya setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat, berhasil terpilih 24 orang finalis, yaitu 12 Finalis Duta Endek Pria dan 12 Finalis Duta Endek Wanita. Selanjutnya para finalis juga telah memperoleh pembekalan seperti pelatihan desain dan mengenal motif endek pada Sabtu (12/9) serta pelatihan public speaking dan kepribadian pada Minggu (13/9).

Kunjungan Finalis Duta Endek ke Sekar Jepun

Berikutnya, seluruh finalis juga diajak visiting trip ke pengrajin endek Sekar Jepun pada Kamis (24/9). Dalam kesempatan tersebut dilakukan penilaian terhadap impression peserta tentang proses pembuatan endek. Selain sudah pula dituntaskan foto session dan pembuatan video bumper, dan akhirnya finalis

Suasana seleksi calon Finalis Duta Endek Kota Denpasar 2015

dikarantina menjelang hari H nanti,” paparnya.

Launching Lagu Duta Endek Gung Gus juga menyampaikan bahwa pada puncak acara atau pagelaran Grand Final, 2 Oktober mendatang , masih dengan motto

acara “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga” ke 24 finalis akan tampil untuk memperebutkan Juara I, II, III (putra-putri) , Juara Favorit yang dipilih penonton pada saat performance show dan Best of Inspiring , Best of Photogenic serta Best of Talent. Pada acara itu juga bakal dimeriahkan dengan berbagai suguhan hiburan oleh para Finalis Duta Endek Kota Denpasar 2015, juga para Duta Endek terpilih tahun sebelumnya. “ Satu hal yang istimewa di acara Grand Final yang didukung oleh Asbes Kota Denpasar, Turah Mayun (AAA), Tude Togog, Pertenunan Artha Dharma, Jegeg Bali Salon, Jaya Arsana Salon, Kwace, Katrin Sutawijaya, Devinta Tito (Sekar Jepun) dan Taksu Bali ini, bakal dilaksanakan “Launching lagu Duta Endek “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga ,” ujar Gung Gus. Dengan seluruh rangkaian kegiatan tersebut Gung Gus berharap tujuan dilaksanakannya Pemilihan Duta Endek, yakni : Menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan di kalangan remaja terhadap endek; Mempromosikan dan menyosialisasikan ragam endek sebagai produk kearifan lokal serta menjadi salah satu potensi unggulan Kota Denpasar; Sebagai usaha peningkatan kemampuan personel pelayanan informasi dan promosi endek; Mempersiapkan putra-putri terbaik Kota Denpasar yang berprestasi serta mampu menjadi Duta Endek Kota Denpasar; Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk lebih mengenal endek melalui Duta Endek Kota Denpasar; dan Membantu upaya Pemerintah Kota Denpasar dalam menyosialisasikan penggunaan produksi dalam negeri ini dapat tercapai. -ard


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook