24
What’s Up
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 September 2015
Gerhana Bulan Merah
Penanda Lahirnya Energi Maha Dahsyat ke Dunia
Gerhana Bulan Merah, itulah judul garapan seni kolaborasi dari Fakultas Seni Rupa dan Seni Pertunjukan ISI Denpasar ini. Kisah penanda lahirnya energy maha dahsyat ke dunia itu dipentaskan di Panggung Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Minggu (23/8). Pendukungnya merupakan mahasiswa ISI Denpasar dan anakanak setingkat SD dari Sanggar Maha Bajra Sandi yang saling mengisi hingga berhasil merajut kisah.
D
alam sebuah pertunjukan seni, objek biasanya menjadi latar yang hanya sebagai pendukung saja. Tetapi, beda halnya dengan sajian seni berdurasi sekitar 1 jam itu. Objek memiliki porsi yang sama dengan gerak, lighting, sound dan said. Bahkan semuanya sama-sama kuat, sehingga menjadi sebuah pertunjukan seni atraktif dan unik. Tak hanya tampil fantastis, tetapi juga sarat pendidikan serta pesan moral. Tema garapan mengangkat perpaduan hasil riset, mitos, prasasti, science, fakta yang diramu menjadi sebuah kisah dan dibungkus dalam sajian artistik. Beragam cara, sudut pandang serta kepercayaan dari masing-masing masyarakat dalam sebuah negara terkait dengan Gerhana Bulan Merah diterjemahkan secara lugas dan jelas. Baik yang mengganggap positif ataupun negatif. Arstistik director I Wayan Sujana atau yang akrab disapa Suklu mengatakan, dalam konsep pagelaran ini pihaknya sengaja memilih gerhana bulan sebagai tema. Selain memiliki makna pent-
ing, gerhana bulan merah juga dimakanai berbedabeda sesuai dengan kepercayaannya. “Gerhana bulan merah itu terjadi setiap 125 tahun sekali. Tanggal 28 September 2015 menjadi sangat penting,” katanya. Garapan seni instalasi ini memanfaatkan seluruh panggung Ardha Candra, termasuk tempat penonton. Di setiap sudut ada rakitan-rakitan bambu sebagai simbul planet Merkurius, Venus, Mars dan planet lainnya. Globe ada ditengah-tengah panggung, serta layar putih yang menyerupai bulan penuh dipasang diatas meru. “Karena tema Gerhana Bulan Merah, maka sangat tepat memilih Ardha Candra sebagai tempat pentasnya,” ucap Suklu. Penata tari yaitu I Gede Oka Surya Negara dan Ida Ayu Arya Satyani tampak cekatan membaca konsep garapan itu. Para penari mengeksplorasi planet-planet tersebut dengan kreatif. Mereka tak hanya bergarak indah, tetapi juga menjiwai setiap adegan serta menguasai panggung tanpa batas itu. Kolaborasi dari seniman anak-anak, remaja dan dewasa yang merupakan mahasiswa ISI Denpasar dan anak-anak setingkat SD itu juga berhasil merajut kisah diatas pentas. Apalagi musik iringannya menyatu karena merespons gerak para penari juga mendukung setiap adegan. I Nyoman Karyasa, sebagai penata musik mengeplorasi seluruh ruang sehingga tercipta suasana menjadi lebih hidup. Iringannya menonjolkan ritme serta dentuman beduk yang kuat. Musik cengceng memberi aksen serta mendukung suasana tari naga dari Tiongkok. Biola mendukung suasana hening, perkusi jembe memberi hentakan serta tawa-tawa digarap lebih dinamis. Gerhana Bulan Merah diawali dari gambaran alam yang kosong lewat layar lebar video mapping. Selanjutnya para penari anak-anak yang menggambarkan semuah kemurnian, energi utuh yang belum mengenal dualisme, seperti siang-malam, laki-laki-perempuan, baik-buruk, tinggirendah, besar-kecil, dan kuat-lemah. Penari belia ini melakukan gerakgerak lentur semacam yoga. Seniman lian yang berada di masing-masing planet merespons dengan gerak-gerak ta r i .
Anak-anak menari sambil menyanyi kan lagu tradisional masyarakat Hindu di Bali yaitu “dija bulane sing ngenah uli ibi”. Mereka mengepresikan masyarakat Hindu di Bali yang memaknai gerhana bulan merah secara positif dan negatif, seperti rasa cemas dimakan Kalarahu dan optisme setelah membunyikan kentongan Kalarahu akan lari. Dalam garapan itu juga memaparkan masyarakat Negeri Tirai Bambu. Masyarakat di sana menggambarkan naga memakan bulan. Para penari menarikan barong dengan kepala yang berbentuk kerangka saja. Berbeda dengan kepercayaan masyarakat Jepang yang menganggap ada pengaruh negatif ketika gerhana bulan ada. Hal itu dianggap sebagai penyebar virus yang dapat membawa petaka sehingga selalu menghindar. Para penari lantas memaparkan Suku Indian Navajo yang melakukan meditasi dan yoga ketika gerhana bulan merah terjadi. Mereka
percaya saat itu energi semesta itu sangat besar dan luar biasa. Orang besar yang tahu akan hal itu, maka berhenti sejenak untuk berkontemplasi untuk menyerap energi tersebut. Pada adegan berikutnya, Columbus yang tahu astronomi memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kebaikan kultur tertentu. Ia memerankan tipu daya terhadap suku Indian yang masih menganut sistem kanibal, memakan manusia. Columbus membohongi dan mengancam kalau kamu berani memakan manusia maka bulan akan dimakan roh jahat. Dengan tipu daya Columbus berhasil melakukan refleksi perbuatan. -Darsana
2
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Ekspresso
DAri daPUr Redaksi
Ayo Hidup Sehat
Dari kiri: Ngurah Budi (Redaktur Pelaksana Tokoh), Made Patri (perintis Warung Mina), dan Gde Palgunadi (Penanggung Jawab Tokoh) foto bersama usai penyerahan kenangkenangan saat kunjungan ke Warung Mina.
Awal September 2015, Porprov. Bali digelar di Buleleng. Ini merupakan ajang unjuk prestasi para atlet dari kabupaten/ kota di Bali. September juga identik dengan Hari Olahraga. Edisi kali ini kami tampilkan beberapa hal tentang olahraga, mulai dari kisah atlet panahan yang juga guru dan model. Ada pengalaman atlet tembak yang juga penulis novel dan model dalam mengarahkan putranya latihan menembak. Ada juga psikolog yang atlet panahan berbagi cerita tentang masa kecilnya.
Semua pengalaman tentang dunia olahraga ini bermuara pada satu hal, pola hidup sehat. Kalau tidak sehat, bagaimana
bisa menjadi atlet. Soal prestasi dan dukungan pemerintah, sudah ada yang mengurus. Pola hidup sehat hingga usia tua dilakoni Made Patri, perintis Warung Mina. Di masa mudanya ia adalah anggota TNI AU sekaligus penerjun. Setelah pensiun ia berkutat dengan air karena memelihara ikan. Dari ketekunannya ia berkembang menjadi usaha kuliner Warung Mina yang kini sudah berkembang di banyak tempat baik dikelola sendiri maupun diwara labakan. Tokoh berkesempatan untuk bertemu dengan Patri, Senin (24/8) di Warung Mina Pegu yangan sekaligus menyampaikan selamat ulang tahun ke-21 untuk Warung Mina. Banyak cerita yang ia ungkapkan dan harapan-harapannya ke depan. Semangat untuk terus berkreasi menjadi pemacu agar generasi muda bisa menjadi generasi yang lebih baik.
GORO-GORO menangis
Mengikuti upacara pengibaran dan penurunan bendera di televisi Amat menangis. Tapi ketika Ratni, kakak perempuan Bu Amat meninggal Amat diam saja. Waktu kejadian itu berlangsung, Bu Amat diam Putu Wijaya saja, meski pun dalam hatinya bertanya-tanya. Kini setelah beberapa saat lewat, Bu Amat tak hisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya. Namun sebelum ditanyakan, Amat menjelaskan. Ternyata ia memperhatikan dan tahu isi hati istrinya. “Ya, Ibu pasti heran kenapa bapak menangis melihat upacara bendera.” “Betul. Kenapa? Kok bendera ditangisi. Harusnya bapak bersyukur karena kita sudah merdeka.” Amat tersenyum. “Tapi waktu Kak Ratni, kakak saya meninggal, bapak kok malah diam saja. Banyak orang kasak-kusuk, mengatakan bapak seperti ngitung-ngitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk upacara, berapa kita akan kebagian warisannya!” Amat tertegun. “Itu namanya, salah kaprah, Pak!” Amat tidak menjawab. Bu Amat mulai kesal. “Merdeka kok menangis. Ada kemalangan kok diam saja? Aneh!” Amat menjawab lirih. “Begini, Bu. Memang menangis umumnya berarti sedih. Tapi banyak juga orang menangis pura-pura. Mereka menangis untuk mengelak, menutupi sesuatu, mengalihkan perhatian atau mengelabui.” “Bapak menangis karena apa?” “Karena terharu, setelah 350 tahun dijajah, akhirnya kita bisa mengibarkan sang merah putih. Bapak tidak bisa membendung rasa terharu, itu tangis gembira, Bu.” “Jadi karena itu, Bapak tidak menangis waktu Kak Ratni meninggal? Takut dianggap gembira atau terharu?” “Bukan.” “Kenapa? Kenapa. Bapak diam saja?” Amat termangu. “Kenapa diam saja, banyak orang kasak-kusuk mengatakan Bapak tak punya perasaan.” “Ya. Biar itu jadi urusan mereka. Diam itu, seperti juga menangis, artinya macam-macam. Ada diam berarti tak peduli, ada diam karena tak tahu atau karena tak setuju. Bapak diam, karena terlalu sedih. Dengan diam Bapak coba melupakan itu. Terlalu berat rasanya untuk menerima kenyataan, kakak yang setiap tahun datang untuk membopong Ami, tak ada lagi. Jadi bapak andaikan saja, Kak Ratni, hanya pergi jauh, pergi jauh sekali, tak tahu kapan akan kembali. Tapi masih ada. Bapak tak sanggup .....” Amat tak mampu melanjutkan. Air matanya menetes, membuat Bu Amat terdiam. Ia menarik napas panjang. Sambil berdiri, ia bertanya lirih, “Ini tangis yang mana?”
Mozaik
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Bros “Kayra Azra”
Dari Surabaya hingga Papua Handycraft peluang usaha yang diminati kaum hawa. Dengan modal yang tidak besar, keterampilan, ketekunan, dan ketelatenan, usaha ini dapat dijalankan. Bisnis tersebut dapat dijadikan salah satu tambahan penghasilan bagi ibu rumah tangga, karyawan, dan pelajar.
Norma Hati Nalari, salah seorang ibu rumah tangga ini menjalankan usaha yang bisa menopang hidupnya sejak Mei 2014. Awal mulanya, dari Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mulai membuat bros untuk dipakai sendiri. Lambat laun, teman-temannya tertarik dan mulai memesan bros handmade kepadanya. Setelah menikah, ibu dua anak ini mulai kembali menjalankan hobinya saat SMA. Produk yang dihasilkan adalah bros, headband, headpiece, dan kalung. Selain dari Surabaya, “Kayra Azra”, merek brosnya juga mendapatkan pesanan dari luar kota dan pulau, seperti Tegal, Samarinda, Padang, dan Papua. Omzet per-bulan mencapai Rp 1,5 juta. Harga yang ditawarkan ini mulai dari Rp 10.000-50.000.
Norma Hati Nalari
Hambatan dari bisnis handmade ini lama waktu pengiriman ke tempat tujuan. Namun, peluang dalam usaha ini masih terbuka lebar. Dalam satu hari, perempuan berambut panjang tersebut dapat menyelesaikan satu lusin handycraft. Pemasaran yang dilakukan Norma, secara online melalui media sosial, antara lain, Instagram, Facebook, dan Blackberry Messanger (BBM). “Saya ingin memperluas pemasaran dengan membuat website berbayar agar pelanggan dapat lebih percaya dan leluasa untuk melihat-lihat produk yang ditawarkan dan dapat memesan sesuai selera pelanggan,” kata perempuan yang tetap cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi. -Mega Purwaningrum
foto: Nur Jelang Margadinata
Lebih Menikmati Wirausaha
Pipi Klepon
Saya adalah seorang siswa kelas IX di salah satu SMP yang ada di Singaraja. Saya mempunyai teman bernama Tasya. Dari kelas VII kami memang sudah saling kenal dan akrab sampai saat ini. Teman saya yang berama Tasya itu pipinya sangat besar sehingga saya menjulukinya si “Pipi Klepon”. Pada suatu hari saat dia bermain di depan rumah bersama adiknya, dagang klepon keliling lewat di depan rumahnya. Ibu Tasya dan adiknya adalah penggemar berat jajanan ini, yaitu klepon. Lantas mereka membelinya lalu Tasya sendiri merasa jlebb.. karena ejekannya di sekolah adalah “Pipi
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Klepon”. Hari Minggu di pagi hari, Ibu Tasya mencoba mengecek HP Tasya. Tak disangka ibunya membaca sms yang saya kirim ke Tasya yang isinya “Woe Pipi Klepon”. Setelah mengetahui ejekannya Tasya “Pipi Klepon” Ibunya pun terus memanggilnya dengan sebutan tersebut. Oh my God.. sekarang Tasya tidak lagi dipanggil Tasya melainkan Pipi
Klepon. Tetapi Tasya senang, karena dia terkenal dengan panggilan “Pipi Klepon” sampai sampai display name BBM-nya diganti menjadi tasyapon, supaya terkenal katanya. Karlinda Gunawan
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
23
Sejak berhenti bekerja dari sebuah toko mebel, Aan, mulai aktif menekuni produksi barang mebel sendiri. Berbekal ketelatenan dan skill, dia memproduksi barang mebel seperti kitchen set, lemari, meja belajar, kursi, meja makan, dan lain sebagainya sesuai pesanan konsumen. Bapak tiga anak ini menekuni usaha mebel sejak 2013.
Dia lebih menikmati wirausahanya yang dilakukan di rumah daripada ikut kerja dengan orang lain. Kini, Aan, tidak sia-sia beralih dari karyawan menjadi pengrajin mebel. Dia sempat mendapat pesanan dari Timor Leste. Pesanan tersebut didapat melalui penyalur barang produksinya. “Saya sering mendapat pesanan model yang
variatif. Mebel-mebel ini dipesan untuk kebutuhan perumahan dan perkantoran,” kata Aan. Soal harga, Aan, menyesuaikan dengan hitungan meter sederhana ataupun rumitnya barang yang dipesan tak jadi masalah. Namun, jika barang yang dipesan cenderung rumit berpengaruh pada waktu pengerjaannya. “Pernah waktu itu dapat pesanan dari salah satu mahasiswa design Universitas Ciputra (UC), meja lipat. Ketika ditutup lipatanlipatan atas meja berbentuk limas ketika dibuka berbentuk meja agak melingkar. Hal tersebut yang membuat waktu pengerjaan agak lama, tetapi harganya tetap
sama. Per meter Rp 2 juta. Saya mematok harga menurut ukuran bukan kerumitan. Misal satu unit kitchen set ukuran tiga meter berarti sekitar Rp 6 juta,” ucap
lelaki berusia 42 tahun ini. Pesanan produknya banyak dari Jawa Timur (Jatim) seperti Malang dan Surabaya, serta beberapa dari luar pulau. Tak sedikit tetangga maupun kerabat yang memesan langsung kepadanya. Omzet dari usaha mebel mencapai Rp 10 juta tiap bulannya. “Namanya usaha, pasti ada ken dala maupun masalah. Kendala usaha berasal pada masalah pemasaran mebel. Belum mempunyai jaringan yang luas dan hanya mengandalkan pesanan,” jelasnya. Laki-laki yang beralamatkan di Lakar Santri, Surabaya ini berharap agar usahanya semakin dikenal banyak dan mudah memasarkan barang produksinya. -Nur Jelang Margadinata
foto: Nur Jelang Margadinata
22
Sosialita
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Mobil Lawas Jadi Futuristik Rupiah boleh terpuruk namun minat masyarakat mengunjungi pameran otomotif terakbar 2015 tak surut. Padahal harga tiket masuk untuk ‘cuci-mata’ di pameran otomotif itu, tidak murah. Ada dua pame ran otomotif berkelas internasional yang digelar dengan waktu yang bersamaan 20-30 Agustus 2015 yakni; Indonesia International Motor Show di JIExpoKemayoran, Jakarta Pusat, dan GAIKINDO Indonesia International Auto Show 2015(GIIAS) di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Kedua event ini menetapkan harga tiket yang sama yakni Rp 40.000 untuk weekday atau Senin-Kamis, dan Rp 60.000 untuk Jumat-Sabtu-Minggu.
mobil terbang‘Harry Poter’ yang dijuluki ‘Flying Ford Anglia’. Di mobil-mobil ini berada di stan ‘Movie Car’ dimana para pengunjung bisa ber-selfie ria. Menurut Ery Erlangga, Preside Dyandra, kesempatan mendatangkan mobil-mobil tersebut sungguh diluar dugaan. “Tuhan membuka jalan, mulai dari pendekatan dengan pihak terkait di Amerika hingga proses pengiriman, seperti mudah dan cepat. Tadinya kami hanya ingin membuat perbedaan dalam IIMS kali ini sesuai dengan tagline ‘The Essence of Motor Show’. Ternyata bukan hanya menghadirkan, kami juga bisa memiliki mobil ‘Batman’ dan ‘KITT’ karena museum pemiliknya di AS akan tutup,” jelasnya sembari menambahkan, nantinya seusai pameran, dua mobil ini akan dibawa berkeliling ke berbagai daerah. NONTON DALAM TRUK Yang juga menarik perhatian pengunjung adalah dipajangnya mobil koleksi Presiden Sukarno. Mobil dengan tiga warna berbeda ini, berada di Hall A. Booth mobil Presiden RI pertama ini, di-setting seolah berada di depan gedung tua yang bertuliskan ‘History Car’. Tak jauh dari sana ada mobil klasik milik Dono ‘Warkop’. “Pameran tahun ini rasanya beda, keren banget,” ucap Hendra yang mengaku setiap tahun berkunjung ke IIMS. “Gua datang ke dua pameran (IIMS di Kemayoran dan
“K
ami hanya mau melihatlihat. Memang ada rencana ganti mobil, tapi sekarang mau melihat-lihat dulu,” kata Ny Nani yang datang dari Bandung bersama suami dan dua anaknya untuk menonton pameran IIMS di Kemayoran. Mengunjungi pameran ini, katanya, memang sudah direncanakan karena tertarik bonus dan diskon. “Katanya banyak bonus dan biskon, jadi kami ke sini lihat-lihat. Lagi pula di sini lebih banyak pilihan,” ucap Ny Nani yang mengaku berniat membeli mobil keluarga. Bagi sebagian pengunjung yang
kerap mengunjungi pameran otomotif, merasa penampilan IIMS kali ini lebih berwarna dan menarik. Pengunjung bukan hanya disodorkan mobil-mobil terbaru dari yang harga di bawah Rp100 juta hingga yang berharga ‘wah’ tapi juga dibuat tercengang dengan hadirnya mobil-mobil klasik nan keren. Tak hanya itu, aneka acara hiburan plus atraksi motor ikut memberi suasana meriah. Namun, tentu saja, yang tak kalah mempesona pengunjung adalah kehadiran mobil-mobil yang tampil dalam film-film Hollywood. Mulai dari mobil ‘Batman’, ‘Knight Rider’, ‘Fast and Furious’ hingga
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Luh Gede Herryani
Dukung Perempuan di Pilkada Pemilihan umum kepala daerah (pilkada) memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan lembaga eksekutif di tingkat lokal. Melalui pilkada ditentukan siapa yang bakal berada di puncak kuasa pemerintahan daerah.
GIIAS di BSD Tangerang), menurut gua dua-duanya keren. Tapi yang bikin kagum ngeliat mobil-mobil klasik yang tampil seperti baru. Kalau lihat mobil baru keren kan udah biasa. Tapi lihat mobil antik tapi terlihat seperti baru, itu baru hebat. Yang punya pasti ‘top’ banget dalam ngerawatnya,” ujar Hendra bersemangat. Pameran mobil-mobil antik ini berada di Hall B yang sebelumnya dipakai konser oleh Ariana Grande. Ini merupakan kolaborasi The 8th Otoblitz Indonesia Classic Car Show (OICC-Show) 2015 dan pihak IIMS. Seperti yang sudah-sudah, pameran mobil klasik dalam setiap kali penampilannya selalu mendapat respons positif dari pengunjung, khususnya komunitas otomotif yang gemar pada data dan sejarah berbagai brand mobil kelas dunia. Salah satu yang ditampilkan kali ini adalah mobil kenegaraan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Mobil kepresidenan ini ditampilkan berdampingan dengan sepeda motor Vintage, Classic, Sport, Youngtimer, Retro, Modern Classic, hingga Future Classic Sport Cars milik para kolektor Indonesia serta mancanegara. “Adalah sebuah kehormatan karena OICCS tahun ini diundang berkolaborasi dan tampil bersama dalam IIMS 2015. Kami berharap sambil menikmati perkembangan mobil terkini, para pengunjung bisa
menyaksikan sejarah mobil-mobil klasik di Indonesia ,” ujar Azman Osman, Presiden Otoblitz Media Synergy. Yang juga bikin pengunjung geleng-geleng kepala adalah melihat kreativitas para pencinta mobil dalam memodifikasi mobilnya. Salah satu yang menyedot perhatian adalah tampilan mobil Chevrolet tahun 1952 yang dirombak total menjadi mobil futuristik. Mobil lawas sepanjang 5,4 meter ini hasil kreasi rumah modifikasi ‘Kupukupu Malam’ di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tempat lain yang juga banyak didatangi pengunjung adalah arena hiburan seperti Xdimo Cinema 8 D berteknologi paling mutakhir. Pengunjungnya bukan hanya anakanak tapi juga para orang dewasa yang ingin merasakan menonton sambil bertualang. Di sini penonton masuk ke dalam truk dimana di dalamnya hanya ada empat kursi. Mereka diajak bertualang ke berbagai situasi yang seolah nyata. Penonton berinteraksi langsung dengan situasi, kursi bergoyang mengikuti pergerakan di dalam film yang menghadirkan efek hujan, angin, petir, bahkan gempa. ‘Petualangan’ menjadi benar-benar seru. Nah untuk mencicipi itu semua, pengunjung dikenakan tiket Rp 30.000. Karena tempat terbatas, para pengunjung pun terpaksa harus mengantri dengan setia. –Diana Runtu
P
ersoalannya adalah bagaimana pelaksanaan pilkada tersebut melibatkan perempuan di dalamnya. Hal ini penting terkait dengan pilkada sebagai alat demokrasi. “Demokrasi secara substantif tidak bisa mengabaikan keterlibatan perempuan,” ujar Ketua DPC Partai Demokrat Buleleng Luh Gede Herryani, S.H., MKn. Karena itu, sudah semestinya pilkada tidak hanya menjadi ajang kontes politik bagi laki-laki saja. Dari berbagai data yang ada, Luh De mengakui betapa masih minimnya keterwakilan perempuan dalam pelaksanaan pilkada. Padahal, hadirnya berbagai kebijakan affirmative action dapat menjadi wahana baru bagi upaya memperluas ruang publik perempuan, khususnya dalam kancah politik. Rupanya kultur politik di Indonesia, perempuan masih dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat. Akibatnya, ruang gerak kaum perempuan berjalan belum terarah dan cenderung mengikuti jejak agensi politiknya. Meski secara menyeluruh peningkatkan partisipasi kaum perempuan belum juga paralel dengan perwuju-
dan politik kehadiran (the political of presence) yang signifikan, baik dalam peningkatan integritas, pengalaman, ataupun kapasitas. Dalam pilkada serentak ini, keterlibatan kaum perempuan memang masih terkesan minim, dan juga tidak banyak opini yang mengemuka tentang pentingnya keterlibatan perempuan dalam pemilukada demi meraih kursi
eksekutif di daerah. Namun, ia mengaku sedikit lega, di Bali ada sosok perempuan yang mengisi ajang pilkada tahun ini, seperti di Karangasem dan Tabanan. Menurut notaris, PPAT, Pejabat Lelang Kelas II, dan Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Buleleng ini, masih ada beberapa kendala yang dihadapi perempuan saat ini, di diantaranya tantangan diskursif atau ideologis, yaitu masih samar-samarnya ideologi yang menjadi panutan para perempuan dalam berpolitik, terutama ideologi yang berbasis gender. Akibatnya, ada politikus perempuan, baik di parlemen maupun eksekutif, cenderung mengikuti jejak kaum patriarki, bahkan ikut terjerembab dalam lingkup korupsi suap. Harus diakui juga masih adanya hambatan sosio-ekonomi perempuan, bahwa tidak semua dari mereka mempunyai modal sosial dan ekonomi seperti laki-laki. Selain itu juga hambatan politikus dan kelembagaan, terlihat dominannya laki-laki di setiap pengambilan keputusan dan kebijakan partai politik (parpol). Faktor yang tidak bisa dianggap enteng adalah masalah pribadi dan psikologi yang memaparkan realitas patriarki di masyarakat sering menjadi kendala utama ketika perempuan aktif di kancah politik. Perempuan enggan mendaftar menjadi calon kepala daerah dalam pilkada, juga karena stigma kotornya dunia politik dan tidak setimpalnya pengorbanan keluarga yang diberikan perempuan. Namun, katanya partai politik yang dimasukinya sebagai institusi demokrasi sejauh ini cukup memberi kesempatan perempuan selama ia mau terus berupaya memperbaiki dari sisi kualitas. Semoga apa yang dikhawatirkan banyak orang selama ini tidak menjadi mimpi buruk bagi masa depan perempuan dalam kancah politik kedepannya. Ia berharap agar kaumnya memahami kiprahnya ketika terjun di kancah politik dan tidak hanya memperjuangkan kepentingan pribadi atau partainya, namun dapat memainkan peran yang lebih luas yaitu kesetaraan dan keadilan gender. Sehingga dapat mewarnai sistem politik Indonesia. Kehadiran kaum perempuan dalam dunia politik ditujukan sebagai alternatif menjadi penyeimbang antara praktik kepartaian dengan aktivitas politik. Semoga , momentum pilkada serentak ini dapat menjadi pijakan bagi parpol untuk kembali menyemai kesadaran kader perempuannya dalam berpolitik. Termasuk mengefek-
tifkan komunikasi dan orientasi bersama demi mewujudkan isu pengarusutamaan gender.
TINGKATKAN PERAN PEREMPUAN Praktik demokrasi yang terjadi beberapa tahun belakang sudah mencapai banyak kemajuan. Tetapi di sisi lainnya ada penurunan sebab belum seimbangnya peran perempuan selaku pengambil keputusan politik strategis di pemerintahan pusat maupun daerah. Apalagi di Indonesia sendiri kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki di berbagai bidang kehidupan itu telah diatur dan dijamin dalam UndangUndang Dasar 1945. Luh Gede Herryani juga menyampaikan berdasarkan beberapa data indeks demokrasi terkait keterwakilan perempuan prosentasenya masih kecil dan bernilai merah baik itu variabel kebebasan sipil, variabel lembaga demokrasi juga variabel hak-hak politiknya. Seperti yang terjadi pada hasil pemilihan legislatif (pileg) 2014 lalu, menggambarkan persentase perempuan yang duduk di lembaga legislatif pusat , masih kecil, begitu pula di kabupaten/kota tidak memiliki keterwakilan perempuan di DPRD, di DPD, dan di DPR termasuk perempuan yang duduk di direksi 6,15 persen dan yang tercatat sebagai direksi badan usaha milik negara (BUMN) masih sangat kecil. Namun, langkah Presiden Joko Widodo menetapkan sembilan perempuan untuk menjadi anggota Panitia Seleksi KPK juga cukup menarik. Kesenjangan gender dalam bidang politik dan pengambilan keputusan tersebut selain berpotensi menghambat kemajuan perempuan, juga berpotensi memperlambat penyelesaian persoalan pembangunan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, sebagai upaya menu-
Luh Gede Herryani saat meeting dengan klien
3
jutkan peran perempuan di lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, Luh De meminta para penentu kebijakan memberikan ruang kebijakan afirmatif bagi perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di lembaga pemerintah tentu tanpa mengabaikan kualitas persyaratan yang ditentukan. Berbeda dengan pemilu legislatif di mana peran dan keterlibatan perempuan di legislatif didorong untuk mencapai keterwakilan 30%, baik di DPR maupun di DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Persoalan ini juga disampikan Luh De, meski ada UU No. 8/2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota belum menyinggung kebijakan afirmasi kepada perempuan dalam pencalonan kepala daerah, namun sangat diperlukan adanya komitmen dari penyelenggara dan parpol terkait pentingnya keterlibatan perempuan untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Ini penting, karena, pertama, dengan partisipasi perempuan menjadi kepala daerah dapat mendorong percepatan pembangunan demokrasi berkelanjutan. Adanya kesenjangan gender dalam bidang politik dan pengambilan keputusan, justru memperlambat penyelesaian masalah-masalah pembangunan kualitas sumber daya manusia. Kedua, secara sosiologisantropologis, kaum perempuan adalah komunitas potensial dan efektif dalam mengawal proses pemberdayaan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Perempuan di Indonesia menempati populasi mayoritas secara struktural, tetapi realitasnya tidak cukup berdaya dalam proses pembangunan bangsa karena kerap dibatasi oleh kekuasaan yang cenderung represif, diskriminatif dan memarjinalkan perempuan. Di samping itu, data statistik Indonesia secara umum menyebutkan pemilih perempuan di atas 50% di setiap pemilu. Juga, terbukti di setiap pemilu, perempuan memilih paling rajin serta setia dalam memilih calon impiannya. Lagi pula, jika perempuan maju menjadi kandidat, diharapkan aspirasi perempuan dapat disuarakan, selain bisa menginspirasi perempuan lain untuk berani tampil sebagai pemimpin daerah. Untuk itu, jika ada perempuan yang berani tampil untuk bersaing menjadi pemimpin daerah pada pilkada serentak pertama ini diharapkan pula para pemilih perempuan menjatuhkan pilihan mereka. Jika itu terjadi, maka besar kemungkinan para calon dari kalangan perempuan dapat dengan mudah meraih kursi kepala daerah. -ard
4
Inspirasi
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Ni Putu Dwi Lestari Negari
Senyum Itu Murah Tiga profesi digelutinya, guru, atlet panahan, dan fotomodel. Semuanya bisa dijalankan dengan senang hati oleh perempuan bernama lengkap Ni Putu Dwi Lestari Negari, S.Pd. ini. Dari ketiganya itu, Dwi memprioritaskan sebagai guru.
Mandalika
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Wajib Kenakan Tenun NTB dan Batik Sasambo
Tenun khas dan batik merupakan salah satu karya hasil kreativitas masyarakat suatu daerah yang dapat memberikan ciri dari identitas budaya daerah tersebut. Tiap daerah di Indonesia memiliki ragam hasil karya tradisional berupa tenun (ada juga batik) yang masing-masing memiliki ciri khas dengan keunikan sendiri. Hampir semua daerah memiliki tenun dengan ragam corak dan keunikan masing-masing, termasuk Nusa Tenggara Barat. Selain itu, NTB juga kini mengembangkan batik yang diberi nama Batik Sasambo. Penamaan Sasambo diambil dari inisial tiga suku asli yang ada di NTB yakni, Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu).
Ni Putu Dwi Lestari Negari
S
aat ditemui di SMK PGRI 4 Denpasar, Dwi baru saja usai mengajar olahraga. “Cita-cita saya memang menjadi guru olahraga. Guru olahraga perempuan sangat jarang. Persaingan sedikit, jadi peluang berkarier sangat besar. Selain itu, menjadi guru olahraga sangat menantang,” ujarnya. Dwi baru tiga minggu menjadi guru di sekolah yang dipimpin Drs. I Ketut Suarya, M.Pd ini. Sebelumnya, Dwi mengabdi di SD 1 Yeh Embang Kauh, Mendoyo sejak 2014. Ia merasa ada perbedaan menjadi guru SD dan dan SMK. Guru SD harus sabar karena membentuk siswa dari nol. Namun, ada kepuasan ketika anak didiknya berhasil. Hal ini dialaminya ketika melatih siswa untuk menjadi atlet tenis meja. Dari siswa yang belum berpengalaman, bisa dibina hingga menjadi juara tingkat kabupaten. Di level SMK, perempuan kelahiran 27 Desember 1988 ini tinggal memoles atlet-atlet yang sudah jadi. Pendekatan yang digunakan juga berbeda karena siswa SMK adalah remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri. “Saya menempatkan diri sebagai guru ketika jam pelajaran olahraga atau saat menjadi wali kelas. Tetapi, di luar jam pelajaran, kami sering ngobrol dengan siswa. Kesempatan ini saya gunakan untuk memberikan informasi tentang hal-hal yang dialami remaja,” ujar lulusan Undiksha Singaraja ini. Sebagai guru muda, Dwi mengaku kadang ada siswa yang iseng. Namun, ia tak menanggapinya. Ada juga siswa yang menganggapnya guru killer karena sering memberi tugas. Tugas yang
ia berikan berupa makalah dalam format tulisan tangan. Ada yang dikerjakan sendiri dan ada yang berkelompok. Menggunakan tulisan tangan membuat siswa kreatif. Minimal siswa membaca
sebelum menulis. Kalau diberikan membuat makalah dengan ketikan komputer, pola copy-paste sangat memungkinkan terjadi. Ia bisa menempatkan diri kapan harus santai dan kapan harus menjaga wibawa di hadapan murid. Dwi juga murah senyum dengan selalu mengingatkan senyum itu murah. “Kalau ada siswa yang cemberut saat pelajaran saya, saya panggil. Saya suruh senyum sendiri. Saya berikan teori tentang senyuman.,” kata pemilik moto hidup berjalan sesuai keadaan dan jangan neko-neko. TIGA BULAN Dwi juga berusaha mengenalkan panahan kepada siswa SMK PGRI 4 Denpasar. Sudah ada
beberapa yang tertarik, terutama siswa kelas XII. “Siswa kelas X dan XI sangat sibuk dengan kegiatan praktikum dan magang. Waktu agak longgar dimiliki siswa kelas XII. Beberapa diantaranya sudah ada yang tertarik untuk menjajal panahan,” ujar atlet yang membela Kabupaten Jembrana ini. Dwi menuturkan sejak SD ia menggeluti atletik nomor lari jarak pendek. Di jenjang SMP hingga SMA ia beralih ke jalan cepat. Prestasinya cukup lumayan untuk wilayah Jembrana. Ini pula yang membuatnya makin yakin untuk menggeluti dunia olahraga. Ketika kuliah, berat badanya 55 kg dan melebihi standar berat badan yang hanya 48 kg. “Ada teman yang mengajak ikut panahan. Saya mau saja, padahal tidak tahu tentang panahan. Waktu itu tahun 2007. Hanya tiga bulan latihan, saya sudah bisa. Mungkin sudah jodoh dengan panahan, saya bisa cepat menguasainya. Tahun 2008 saya sudah mulai ikut Kejurda dan Kejurnas. Tahun 2010 saya ikut Ganesha Open di ITB. Dari enam pemanah yang dikirim Bali, saya satu-satunya perempuan. Masuk 25 besar dari 216 peserta perempuan sudah saya syukuri,” ujar putri sulung pasangan I Nyoman Gd. Sumandia-AA Ayu Ngurah Prami ini. Kecintaan Dwi terhadap panahan membuat terus berlatih keras. Ia menjadikan cabang olahraga ini pilihan hatinya karena dengan panahan ia bisa sabar, fokus, konsentrasi, dan tenang. Kalau tidak bisa melakukan salah satu dari kriteria itu, ia sulit untuk
membidik sasaran. Tangan juga harus kuat untuk menyangga dan menarik busur. Tarikan busur satu pemanah dengan pemanah lainnya beda. Hal ini membuat satu alat yang sudah distel, tidak bisa digunakan pemanah lain. Kendala yang dihadapi adalah mahalnya peralatan panahan. Satu set busur nasional harganya bisa Rp 6 juta sedangkan 1 set busur compound bisa Rp 50 juta. Untuk compound, Dwi menggunakan alat milik pemkab Jembrana. Sebagai atlet, kakak Made Ngurah Mertayasa ini harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia mengajar Selasa-Jumat mulai jam ke-0 dan sore hari. Hari Sabtu dan Minggu dijadikan hari untuk latihan memanah. Jika berada di Jembrana, ia latihan bersama tim Jembrana di stadion Pecangakan. Namun, bila di D e n p a s a r, i a berlatihnya di lapangan Kapal dan SKB Kerobokan, ikut dengan pemanah Badung. Di ajang Porprov 2011 di Jembrana, Dwi berasil meraih perak. Dua tahun kemudian di Porprov Denpasar ia meraih perunggu. “Ibu saya sering nanya kapan emasnya. Saya jadi jengah. Semoga di Porprov 2015 Buleleng bisa meraih prestasi terbaik. Saingan makin berat. Banyak juniorjunior yang kini muncul,” ujar pemanah yang mengaku mengi-
dolakan dirinya sendiri ini. Perempuan asli Gulingan Tengah, Mengwi, Badung yang keluarganya menetap di Yeh Embang Kauh, Mendoyo, Jembrana ini juga menggeluti dunia model. “Teman-teman suka motret dan saya dijadikan model. Lokasi pemotretan sampai di Karangasem. Ini pun menyesuaikan dengan jadwal liburnya mengajar dan latihan memanah. “Saya menekuni profesi guru yang memang menjadi cita-cita sejak kecil, kemudian tampil sporty sebagai atlet panahan, bisa berubah lagi feminin saat menjadi foto model. Siap berubah penampilan sesuai keperluan,” ujarnya seraya menegaskan menolak untuk pemotretan dengan pakaian mini dan bikini –Ngurah Budi
21
K
eunikan dan kekhasan tenun NTB dan batik Sasambo menjadi modal yang baik untuk dikenal umum. Usaha dan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkenalkan tenun NTB dan Batik Sasambo di kancah nasional maupun internasional tengah dilakukan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB yang menginginkan tenun NTB dan Batik Sasambo dapat diterima seperti halnya batik Jawa. Hal ini terungkap dalam Seminar Wastra yang merupakan rangkaian dari Bulan Budaya Lombok Sumbawa di Taman Mayura, Mataram NTB, beberapa waktu lalu. Seminar yang dihadiri pula oleh Ketua Cita Tenun Indonesia Ny. Okke Hatta Rajasa,
designer nasional Dian Pelangi dan Barly Asmara, membuka mata dunia untuk melihat
Menenun menjadi salah satu aktivitas keseharian para perempuan tradisional NTB
betapa unik dan eksotisnya t e n u n N T B . “ Ka m i p u n y a keinginan yang kuat untuk menjadikan Tenun NTB dan Batik Sasambo seperti Batik Jawa, yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat dan bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” ungkap Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB Hj. Erica Zainul Majdi. Menurut Erica, rasa optimis akan diterimanya tenun NTB dan Batik Sasambo seperti halnya Batik Jawa, lebih karena telah didukung oleh kemajuan teknologi, baik bi-
dang informasi, processing dan kesadaran masyarakat yang telah dapat memberi kontribusi terhadap kedaulatan budaya dengan menggunakan produkproduk asli daerah, seperti
menenunnya dinilai tidak ada di tempat lain, membuktikan bahwa tangan-tangan terampil penenun NTB telah mampu membawa karyanya “bicara” pada podium yang semestinya.
Tenun khas NTB dikenakan Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi berserta istri
Tenun NTB dalam pentas fashion show pada Bulan Budaya Lombok Sumbawa
tenun dan batik Sasambo. Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat NTB pada tenun dan batik Sasambo adalah dengan mewajibkan jajarannya mengenakan Tenun NTB atau Batik Sasambo. Begitu juga di sekolah-sekolah. Keberhasilan Tenun NTB dalam memperoleh penghargaan Execellence of Handycraft karena proses teknik
Penghargaan ini jelas menjadi pemicu semangat daerah ini dalam memajukan tenun di NTB. Kekayaan tenun dan wastra milik NTB sangat indah, hanya saja dinilai masih memerlukan sentuhan tangan yang kreatif dan inovatif serta mampu mengolahnya dengan maksimal sehingga hasil kerajinan ini dapat menjadi kebanggan tidak hanya bagi NTB saja tetapi juga menjadi kebanggaan Indonesia. –Naniek I. Taufan
Tingkatkan Porsi APBD untuk PAUD Untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak di NTB yang jumlahnya cukup banyak, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga (Dikpora) NTB menggelar Gebyar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berlangsung beberapa waktu lalu. Secara rutin kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Pemuda dan Olahraga ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia. Pesan yang disampaikan melalui kegiatan semacam ini adalah sebagai bentuk pemerintah guna memastikan bahwa
anak-anak Indonesia khususnya anak-anak NTB mendapatkan seluruh haknya sesuai dengan kebutuhannya. “Insya Allah hakhak anak menjadi perhatian kita semua untuk dapat kita berikan. Hak mendapatkan kebahagiaan, hak suka cita, dan hak untuk bermain. Hak-hak yang melekat pada anak ini merupakan kewajiban orangtua untuk memenuhinya,” kata Drs. H. Lalu Syafi’i, M.M., Asisten III Administrasi Umum dan Kesejahteraan Rakyat, Setda. Nusa Tenggara Barat. PAUD-PAUD yang ada di NTB menurut Syafi’i, masih harus terus dievaluasi secara berkesinambungan untuk mengetahui
Kegiatan Gebyar PAUD NTB
apakah PAUD-PAUD yang ada saat ini bisa memberikan pendidikan yang benar-benar dibutuhkan oleh anak usia dini. Karena itulah, ke depannya Pemerintah Provinsi NTB juga akan memberikan perhatian yang sama antara PAUD dengan Pendidikan Dasar 9 tahun. Salah satu wujudnya adalah peningkatan porsi APBD untuk PAUD di tahun 2017 yang semula hanya sebesar 5% menjadi 20%. “Mudah-mudahan, peningkatan anggaran ini bisa berdampak optimal bagi peningkatan kualitas pengajar, infrastruktur, dan peningkatan kurikulum pendidikan anak usia dini,” kata Syafi’i. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Rosa Stuart
“Saya sudah terlanjur cinta dengan pariwisata,” ungkap Rosa Stuart, salah seorang perempuan yang aktif dalam bidang pariwisata di Nusa Tenggara Barat yang kini sebagai Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB. Kepedulian ibu dari tiga anak, Veronika Indriani (36), Kelly Anl (26) dan Mandalay (21) ini terhadap perkembangan dan kemajuan pariwisata NTB tidak hanya pada hal-hal yang besar melainkan juga memperhatikan hal sekecil apapun yang menyangkut pendukung-pendukung pariwisata seperti halnya soal lingkungan.
K
Rosa Stuart
mati suri digempur berbagai masalah, mulai dari krisis keuangan yang melanda dunia, krisis politik dalam negeri, munculnya SARS, Bom Bali I, Bom Bali II, kerusuhan massal berbau SARA
di Lombok, tragedi WTC dan berbagai faktor yang membuat runtuhnya pariwisata daerah ini hingga “sunyi senyap”. Kejatuhan ini memang sungguh menyakitkan mengingat di masa awal berkembangnya pariwisata NTB sekitar tahun 1980an pernah booming bahkan dunia sempat tercengang menyaksikan kemajuan pariwisata NTB yang berdasarkan data kunjungan wisatawan ke NTB, dikatakan tujuh tahun lebih cepat dari estimasi WTO ini. Di masa itu, ia pernah menginap di salah satu hotel yang selalu ramai dikunjungi di Senggigi, saat sarapan ia tak melihat seorang pun tamu yang makan di restoran hotel tersebut. “Sedih rasanya saya melihat hal itu. Benar-benar terpukul menyaksikan pariwisata NTB yang terpuruk begitu rupa,” ujar Rosa mengenang masa-masa sulit itu. Dari sanalah Rosa kemudian
P
Rosa Stuart (dua dari kanan) saat mengikuti kegiatan pariwisata di Singapura
sadar untuk memberikan kontribusinya bagi pariwisata NTB. Hebatnya, keterpanggilannya untuk ikut peduli dan membantu para pelaku pariwisata serta pemerintah daerah dalam hal ini, Rosa tidak berangkat sebagai pelaku pariwisata yang memiliki aset dalam bidang ini. Kala itu, Rosa yang seorang ibu rumah tangga ini, belum lama pulang kampung ke Lombok setelah 20 tahun (sejak tahun 1977) melanglangbuana ke berbagai negara mendampingi suaminya- tidak memiliki produk apapun terkait pariwisata. Ia tidak punya hotel, restoran atau bisnis lain yang berkaitan dengan
titik nol memulai membangun pariwisata, sangatlah sulit. Namun ia selalu membangkitkan optimisme dalam dirinya, sekecil apapun kontribusi yang diberikan pasti bisa membantu. Inilah bentuk kecintaannya pada dunia pariwisata. Maka ketika Pemerintah Provinsi NTB kala itu (1999) membentuk Badan Promosi Pariwisata Lombok Sumbawa atau yang dikenal dengan Lombok Sumbawa Promo (LSP), Rosa diajak untuk ikut bergabung dan menjadi Ketua Pelaksana Harian LSP. Ia dan rekan-rekan pengurus bahkan membuat promo paket
Rosa Stuart bersama pelaku pariwisata di NTB
Dalam suatu kegiatan bersama rekan-rekannya
lengkap tiga hari dua malam di Lombok hanya dengan 299 US Dollar. “Dengan biaya tersebut sudah dapat paket lengkap, mulai dari hotel, makan dan kebutuhan lainnya,” katanya. Usaha ini membuatnya sangat terharu mengingat bagaimana seluruh komponen pariwisata bahu-membahu saling mendukung dengan pemerintah daerah. “Saya kagum dengan semangat pelaku pariwisata saat itu. Mulai dari hotel kelas melati hingga
J u l i a Pe r e z
Bagi sebagian orang lulus sarjana mungkin biasa-biasa saja. Tapi tidak bagi artis kondang Julia Perez yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Untuk mencapai itu, wanita bernama asli Yuli Rachmawati ini yang harus berjuang ‘setengah-mati’.
Terlibat dalam LSP Jika dipikir-pikir, buat apa ia bersusah payah berkorban waktu, tenaga bahkan tak jarang dana pribadi untuk mengurus pariwisata sedangkan ia tidak memiliki aset maupun produk pariwisata yang akan memberinya keuntungan jika pariwisata membaik. Rosa tidak pernah berhitung jika berkaitan dengan urusan pariwisata. Dan berdasarkan pengalamannya dengan dunia luar, ia tahu benar untuk membangkitkan pariwisata yang berada pada titik nol akibat “terjun bebas” karena berbagai peristiwa yang mengancam keamanan, bukan
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Jadi Sarjana Setengah Mati
Selalu “Berkicau”
arenanya, pemilik hotel Villa Sayang ini selalu “berkicau” merespons kondisi lingkungan terutama soal kebersihan maupun sampah di manapun ia melihat sampah yang tidak tertangani. Tak jarang pula dalam kicauannya di media sosial itu, ia menandai pejabat di wilayah yang bersangkutan. Aktivitasnya sebagai pelaku pariwisata di NTB dan ditambah dengan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, membuat Rosa kerap terlihat terlibat maupun menghadiri berbagai even yang diselenggarakan di NTB. Apa yang membuat Rosa begitu jatuh hati pada pariwisata? Cukup panjang ia merunut perjalanannya mengikuti dan merasakan jatuh bangunnya pariwisata Nusa Tenggara Barat. Pedih perih guncangan pariwisata NTB yang pernah
Inspirasi
hotel berbintang seluruhnya ikut berpatisipasi,” ujar perempuan enerjik kelahiran, 26 Oktober 1959. Sejak itulah, sedikit demi sedikit pariwisata NTB melaju menuju kebangkitannya yang kedua. Pengalamannya melihat pariwisata di beberapa negara yang pernah ditinggalinya seperti Australia, Jepang dan Singapura, membuatnya sedikit banyak mengerti kontribusi apa yang harus diberikannya pada pari-
pariwisata. “Saya merasa terpanggil untuk ikut membantu sebisa dan semampu saya, sekecil apapun itu pokoknya saya ingin membantu,” katanya. Ia tidak ingin hanya ikut sedih saja, karena baginya itu percuma. Pariwisata NTB kala itu harus diberi perhatian khusus untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Dari rasa prihatinnya itu, ia mulai menyuarakan pariwisata NTB lewat kawan, sahabat dan kenalannya di luar negeri. Ia juga membuat majalah pariwisata dengan nama Inilah LombokSumbawa tahun 1998-2005 dan terlibat dalam Lombok Travel Mart. -Naniek I. Taufan
wisata NTB. Dan perjuangannya bersama seluruh komponen kepariwisataan NTB dalam mendukung pemerintah daerah pun berbuah manis. Pariwisata NTB sumringah, Rosa ikut lega. Kini, setelah pariwisata NTB berkembang ia baru memiliki produk pariwisata, berupa hotel dan guess house, pada tahun 2006. Villa Sayang miliknya yang kerap disebutnya sebagai hotel tengah sawah, selain bisa melihat sawah dan Gunung Rinjani hotel itu terbilang unik karena secara konsisten ia mengutamakan menyajikan kuliner tradisional atau makanan lokal yang khas Indonesia. Sejauh ini konsistensinya dalam menyajikan kuliner khas ini tidak pernah mendapat komplain dari tamunya yang 99% adalah tamu asing. “Mereka suka dan tidak pernah komplain,” katanya. Sejauh ini tidak banyak yang menolak atau tidak menyukai kuliner khas yang disajikannya. Namun begitu, jika ada permintaan, ia tetap menyiapkan makanan selera asing. Penyajian kuliner khas yang konsisten seperti ini adalah salah satu kecintaan dan kebanggaan nenek dari dua orang cucu ini pada daerahnya. -Naniek I. Taufan
asalnya, bukan hanya karena dia sibuk berkarier, tapi juga h arus m enj alani masa-masa kelam di balik jeruji besi lantaran kasusnya dengan Dewi Persik. Belum lagi setelah itu dia juga menderita penyakit cukup serius, kanker servick yang membuatnya harus menjalani pengobatan hingga ke negeri jiran. Jadi tak heran kalau pemeran film Gending Sriwijaya ini, sungguh merasa bahagia ketika akhirnya berhasil meraih impiannya sebagai sarjana hukum. Tak tanggungtanggung, Jupe bukan sekadar lulus namun ia meraih nilai cemerlang, alias ‘A’ pada ujian sidang skripsi. Saat penyusunan skripsi, kata Jupe, adalah salah satu masa terberat dalam hidupnya karena masa-masa itu berbagai rintangan dihadapinya. Dari mulai masuk penjara hingga divonis menderita kanker. “Bagi saya ini adalah perjuangan. Ini bukan sekadar lulus kuliah tapi lebih dari itu. Saya harus melalui fase-fase sulit dalam hidup saya. Saya harus masuk rutan, kemudian menderita sakit. Ketika di rumah sakit, saya tidak tahu apakah akan hidup atau mati, tapi saya berusaha meski dalam kondisi keterbatasan. Saya percaya asalkan ada kemauan, pasti ada jalan, pasti bisa. Dan akhirnya bisa menyelesaikan semuanya,” ungkapnya dengan nada terharu. Mengenang apa yang dialaminya itu, Jupe pun menitikkan air mata. “Yang bikin saya sedih adalah bagaimana saya harus ‘jatuh-bangun’ saat menimba ilmu. Tapi benar, semua indah pada waktunya. Saya sangat bersyukur atas anugerah Tuhan, sehingga saya memperoleh kekuatan dalam menjalankan semuanya,” ungkap peraih penghargaan ‘Pemeran Utama Wanita Terbaik’ Festival Film Bandung 2013. Dirinya, aku wanita kelahiran Juli 1980 ini, memulai semuanya
“Yang bikin saya sedih adalah bagaimana saya harus ‘jatuh-bangun’ saat menimba ilmu. Tapi benar, semua indah pada waktunya. Saya sangat bersyukur atas anugerah Tuhan, sehingga saya memperoleh kekuatan dalam menjalankan semuanya,”
dari bawah. Merintis karier sembari mengejar cita-cita menyelesaikan pendidikan formalnya.
Untuk semua itu, ia harus bekerja keras bahkan super keras. Sejak kecil, katanya, ia terbiasa hidup mandiri dan terbiasa berjuang. Itu juga yang membuatnya menjadi wanita tegar. “Saya ini bukan anak orang kaya, saya meraih semuanya dengan bekerja,” ucap Jupe yang akan diwisuda pada November mendatang. Gelar ini juga sekaligus pembuktian bagi pihak-pihak yang selama ini memandang sebelah mata pada dirinya. Nilai cemerlang yang diraihnya juga membuktikan bahwa dirinya tidak hanya sekadar lulus,
tapi ada ‘bobot’ di dalam kelulusannya itu. “Aku tidak mau berhenti hanya dengan gelar S-1. Aku mau melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Aku ingin hidup aku berguna untuk orang lain juga. Amien. Mungkin aku akan jadi pengacara atau jaksa, maka itu aku perlu memperdalam ilmu hukum, doakan ya,” tambahnya. –Diana Runtu
5
6
Woman on Top
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Deri Puspita Yani
Kerja Maksimal Dunia telekomunikasi sudah menjadi jalan hidup Deri Puspita Yani. Sejak lulus kuliah di Jurusan Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta tahun 2003, ia sudah menjadi menyatu dengan dunia ini. “Awalnya merasa terjebak, tetapi setelah dijalani ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi,” ungkap Regional Sales Manager XL Denpasar Greater ini.
P
erempuan asal Yogyakarta ini menuturkan setelah tamat kuliah ia diterima bekerja di salah satu perusahaan operator seluler. Tak lama kemudian ia pindah ke perusahaan penyedia alat komunikasi. Tahun 2010, Deri bergabung dengan XL. Tugas pertamanya di XL Cirebon. Karier ibu dua anak, Keyna Dean dan Yasmin ini melejit. Dari Cirebon ia dipromosikan ke Pekanbaru sebagai Manajer Data berlanjut ke Regional Manager Kepulauan Riau di Batam. Tahun 2010 ia mulai bertugas di Bali. “Dulu kalau ke Bali untuk
liburan. Tetapi, sejak bertugas di Bali, bukannya liburan tetapi kerja, kerja, kerja. Jalanjalannya ya sekalian kunjungan ke outlet,” kata Deri sembari tersenyum. Ia melihat karakter Bali yang sangat unik terutama kultur dan potensi ekonominya. Kalau liburan, Bali malah ramai dikunjungi wisatawan. Ini menjadi peluang bagi perusahaan telekomunikasi untuk memanfaatkan momen tersebut. Deri yang semasa kuliah dikenal sebagai gitaris band kampus ini mengaku pilihan bekerja di dunia telekomunikasi sebagai jebakan. “Dulu saya kira kalau perempuan kerja di dunia telekomunikasi, ndak bakal
dan berprestasi, perusahaan akan memberikan apresiasi. Salah satunya posisi di tempat lain dengan jabatan yang lebih tinggi. Pengalaman yang didapat di daerah lama bisa dipakai di daerah baru. Terlalu lama di suatu daerah malah bisa menghilangkan kreativitas, jadi wajar kalau sering ada mutasi untuk melahirkan kreativitas baru. Ini sebuah tantangan bagaimana beradaptasi dan meraih prestasi lagi. Bagi saya, hal ini yang saya
dipindah-pindah. Ternyata peluang bagi laki-laki dan perempuan sama. Sepanjang bisa menunjukkan kinerja yang baik
senangi. Ada kenyamanan dari sisi kinerja,” ujar suami Seif Eddine Fraj ini. Kesibukan sebagai wani ta karier tentu berdampak terhadap aktivitas keluarga. Namun, Deri tak perlu risau karena suaminya selalu memberi dukungan. “Suami selalu mendukung saya untuk bekerja maksimal. Pesannya, jangan pernah kerja setengahsetengah. Kalau sudah maksimal, hasilnya pasti maksimal,” kata perempuan yang hobi jalan-jalan dan punya impian untuk meraih prestasi setinggitingginya ini. Ia mengaku tak semua pekerjaan bisa dilakukan sendiri, baik di kantor maupun di rumah. Kuncinya adalah komunikasi dan koordinasi. Kalau sudah komunikasi dan koordinasi, pekerjaan yang berat akan menjadi lebih ringan. –Ngurah Budi
Cok Istri Muniarti
Seni Pendekatan pada Anak Menjadi guru bukanlah cita-citanya sejak kecil. Ia justru ingin menjadi perawat. Namun, impian tersebut harus ditutupnya rapat-rapat karena tak mendapat restu orangtua. “Pokoknya kamu harus sekolah guru,” demikian ucapan sang ayah kepada Cok Istri Murniati. Siapa menyangka, dengan restu ayahnya tersebut, Cok Istri yang sudah mengabdi sebagai guru sejak tahun 1979 di SD Saraswati 3 Denpasar, di tahun 2001 dipercaya menjabat Kepala Sekolah. Di bawah kepemimpinannnya, SD Saraswati 3 Denpasar kian menujukkan taringnya. Berbagai prestasi baik di bidang akademis maupun nonakademis diraih sekolah swasta yang berlokasi di Renon, Denpasar tersebut. Prestasi teranyar adalah SD Saraswati 3 Denpasar mewakili Bali ke tingkat nasional mengikuti lomba pada ajang FLS2N di Palembang, 23 s.d. 29 Agustus 2015. Terkait persiapannya “bertarung” di tingkat nasional ini, Cok Istri mengaku sudah siap, terlebih sudah melakukan persiapan sedini mungkin. Perempuan energik kelahiran Gianyar 56 tahun silam tersebut menjelaskan SD Saraswati 3 Denpasar kali ini mengirim Tari Kreasi Baru dengan judul Kuma Jaran dengan jumlah penari 5 orang, dan pantomin yang diperkuat dengan 2 siswa. “Kami berharap kedepannya mudah-mudahan anak-anak kami tetap bisa berkreativitas seperti sekarang ini.
Tanpa kreativitas, anak-anak tidak akan bisa berbuat apa,” ujarnya. Ia tak menyangkal, perjuangan SD Saraswari 3 Denpasar untuk melenggang ke FLS2N tingkat nasional ini sempat tersandung. “Di tahun 2013, SD Saraswati 3 Denpasar belum berhasil lolos di tingkat Provinsi Bali. Baru kemudian di tahun 2014, FLS2N yang diselenggarakan di Semarang kami berhasil menyabet Juara I Nasional pada bidang pidato serta masuk Nominee 12 besar pada bidang Tari Kreasi Baru,” tuturnya. Prestasi menonjol lainnya yang disabet SD Saraswati 3 Denpasar di tingkat nasional tahun 2014 adalah Juara I Sekolah Berdaya Mutu tentang Ekstrakurikuler Bidang Seni. Sebelumnya juga, pada tahun 2012 SD Saraswati 3 Denpasar berhasil meraih Harapan II pada bidang Tari Kreasi dan Cergam (Cerita Bergambar) yang dilaksanakan di Lombok. Cok Istri mengatakan, keberhasilan SD Saraswati 3 Denpasar tersebut tentunya tak terlepas dari kerjasama yang baik antara guru, anak, orangtua siswa, dan pihak sekolah/yayasan. “Konsep saya membina hubungan dengan guru sehingga anak banyak berprestasi sederhana saja. Intens melakukan komunikasi termasuk evaluasi dan motivasi, serta memberikan kepercayaan kepada guru di bidangnya masing-masing,” ungkapnya. Menyamakan persepsi dari beberapa orang tentunya tak segampang membalik-
kan telapak tangan. Perlu seni pendekatan. “Syukur sampai saat ini guru-guru memiliki kesadaran tinggi bahwa dalam tugas mengabdi dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan selalu menjaga toleransi antarwarga sekolah. Dengan begitu suasana nyaman akan tercipta, sehingga proses belajar mengajar di dalamnya termasuk berkreativitas pun turut terbawa imbas positif. Kondisi inilah yang akhirnya menelurkan anak-anak berprestasi yang mampu mengharumkan nama SD Saraswati 3 Denpasar. Lalu di zaman sekarang ini, bagaimana membuat anak agar patuh pada guru? “Sama saja. Perlu seni pendekatan pada anak. Biasanya, guru kami memiliki metode masing-masing untuk pendekatan pada anak atau menangani anak yang bermasalah,” ucapnya. Yang paling perlu diingat, guru menjadi model. Jadi guru tak harus memerintah atau membentak anak yang datng terlambat misalnya. Cukup dinasihati dan memberikan contoh dengan guru datang lebih awal. –Inten Indrawati
19
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Olahraga Rekreasi Utamakan Keakraban Selain memperoleh kesehatan dan kebugaran jasmani, olahraga rekreasi juga bertujuan untuk ke gembiraan, membangun hubungan sosial, melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional. Demikian disampaikan Ketua IV FORMI Bali Grace Tangkudung, S.Pd. M.Fis.
S
ejatinya, olahraga dibedakan menjadi 2 yakni olahraga prestasi dan olahraga rekreasi masyarakat. Olahraga prestasi memang menargetkan medali emas, perak, dan perunggu. Ada atlet, wasit, dan pelatih. Olahraga rekreasi masyarakat adalah olahraga yang lebih bersifat menghibur, olahraga miliknya masyarakat, yang lebih mengutamakan keakraban. FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) dibagi menjadi 3 bagian besar, yakni olahraga kesehatan dan kebugaran, olahraga tradisional dan budaya, serta olahraga petualangan dan tantangan. Yang termasuk olahraga kesehatan dan kebugaran ini adalag senam dan aerobic, di antaranya senam jantung sehat, senam Tera, senam PORPRI. Olahraga tradisional dan budaya mencakup, pencak silat budaya, tarik tambang, enggrang, gateball, gasing, gebug bantal, panahan tradisional, megalagala, makepung, dll. Skate board, street soccer, inline skate, dll., termasuk dalam olahraga petualangan dan tantangan. “Pokoknya semua olahraga tradisional yang sifatnya punya rakyat, bernaung di FORMI,” tegas Ketua Asosiasi Instruktur Aerobik dan Fitness Indonesia (ASIAFI) Bali ini. Ia menjelaskan, olahragaolahraga tradisional ini dihimpun
di seluruh Indonesia. Di Bali, FORMI terbentuk 29 September 2012. Beberapa waktu lalu, FORMI Bali sempat menggelar turnamen ceki yang disebut-sebut sebagai salah satu olahraga rekreasi. Hal ini cukup menjadi tanda tanya besar di masyarakat. “Di Bali khususnya, pandangan orang sudah terlanjur menggarisbawahi bahwa ceki adalah judi. Makanya kami mau membersihkan stigma
ini. FORMI mau mengatakan bahwa ceki itu olahraga otak seperti catur atau bridge. Memang harus pelan-pelan karena sudah terlanjur identik dengan judi,” jelasnya. Jika mau ditelusuri lebih dalam, apapun jenis olahraganya bisa dipakai judi. Sepakbola, tinju, golf, juga bisa judi, cuma tidak terlihat saja. “Sekarang ini kami masih menghimpun mereka. Seperti layang-layang sudah lama ada, tapi organisasinya tidak ada. Olahraga panahan tradisional belum masuk,” ujarnya. Namun, dari waktu ke waktu akan semakin banyak olahraga yang tadinya hanya dibuat rakyat untuk olahraga sendiri, kini dihimpun dalam bentuk organisasi, untuk memperkaya/menunjukkan bahwa FORMI ini kaya, olahr
aganya tak hanya sebatas kebugaran, namun juga mencakup olahraga tradisional yang selama ini jalan sendiri-sendiri, seperti gasing,” paparnya. Di Bali sendiri yang paling menonjol adalah senam dan aerobik. Karena memang olahraga tersebut selain sering diperlombakan, memang sudah ada dari dulu, jauh sebelum FORMI terbentuk di Bali. Sekali lagi Grace Tangkudung menegaskan, olahraga rekreasi ini tidak mengejar prestasi apalagi prestise. Kalaupun ada prestasi, tetap bukan utama karena sifatnya rekreasi. “Di sini, persaingannya kurang, namun tetap membugarkan masyarakat serta makin memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” tandasnya. –Inten Indrawati
Jangan Over Training
Grace Tangkudung, S.Pd., M.Fis.
oleh FORMI, sehingga nanti jika ada lomba, bisa terorganisasi dengan baik, ada kebersatuan. Semua olahraga ini dilombakan tetapi tidak mengacu pada medali, karena memang bukan olahraga prestasi, namun lebih ke hiburan yang bersifat rekreasi. FORMI merupakan induk organisasi olahraga yang merupakan satu-satunya wadah berhimpunnya organisasi olahraga rekreasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, baik secara nasional maupun di daerah. Menjadi mitra strategis pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam kerangka mendorong dan menggerakkan pembinaan dan pengembangan olahraga rekreasi
Menekuni dunia olahraga sebaiknya dimulai sejak kecil. Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan jika orangtua, terutaka perkembangan kejiwaan dan fisik. “Perkembangan kejiwaan misalnya dia akan meniru apa yang dilakukan orangtua atau orang terdekatnya. Kalau orangtua suka olahraga, anaknya juga suka olahraga. Kalau orangtua peminum atau perokok, anaknya juga demikian karena dia meniru,” ungkap Prof. Dr.dr. I Nyoman Adiputra, M.OH, Sp. Erg, AIFO, ahli Fisiologi dan Ergonomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Perkembangan kejiwaan ini harus dipantau oleh orangtua. Salah satu cara membentuk kelekatan hubungan orangtua dan anak ditunjukkan dengan pemberian cerita sebelum tidur. Cerita ini diberi muatan budi pekerti yang akan diingat anak. Selain itu, perkembangan kejiwaan juga dapat dilihat dari aktif atau tidaknya anak. Kalau anak hanya diam saja, ada kemungkinan dia sakit. Pada fase
anak-anak, seharusnya dia aktif bermain bersama teman-teman sebayanya. Hal yang sering terjadi, anak-anak yang seharusnya bebas bermain itu dilarang, tidak boleh begini tidak boleh begitu. “Orangtua cukup mengawasi saja. Namun, perhatikan juga waktu. Jangan sampai seharian bermain. Kalau waktunya makan, ya harus makan, waktunya belajar ya belajar,” ujar Prof. Adiputra. Dari sisi perkembangan fisik, bermain juga termasuk olahraga karena pengertian olahraga adalah ketika organ tubuh bergerak dan ada interaksi dengan orang lain. Olahraga bagi anak-anak tidak harus yang rumit. Bermain di lapangan sudah termasuk olahraga. “Hal yang harus diingat adalah anak dalam masa pertumbuhan jangan sampai over training atau kelebihan latihan. Perhatikan juga asupan nutrisi dengan kalori yang seimbang. Kalau makan banyak bergerak juga banyak,” ujar profesor yang juga penekun sastra Bali dan penerima anugerah Rancage Award 2015 ini.
Ia mengatakan sekarang banyak anak yang mengalami obesitas karena kurangnya mobilitas tetapi asupan makanan banyak. Misalnya nonton televisi atau bermain game sambil ngemil. Ini merupakan pola hidup yang tidak sehat. Karena itu, orangtua harus bisa mengajarkan pola hidup sehat kepada anak, salah satunya dengan mengajak berolahraga. Dari olahraga rutin bisa menghasilkan prestasi. –Ngurah Budi
Prof. Adiputra
Minim Dana Pembinaan tetap Berprestasi
Cok Istri Muniarti
Unggulan cabang olahraga di Bali disesuaikan dengan karakter dan budaya setempat. Menurut Ketua KONI Bali, Ketut Suwandi, cabang olahraga yang menjadi unggulan di Bali, lebih kepada olahraga perorangan yang menggunakan kecepatan seperti bela diri, renang, dan atletik. Untuk bela diri ada judo, silat, dan karate. Beberapa olahraga baru yang sudah mulai naik daun seperti kriket dan gateball. Menurutnya, tantangan olahraga di Bali selama ini, banyak atlet numplek di Denpasar dan Badung. Selain itu, sarana dan prasarana olahraga di Bali san gat minim. Misalnya lapangan sepakbola ataupun atletik masih kurang. Ia mengatakan, dana pembi-
naaan untuk atlet di Bali juga termasuk kecil. Begitu juga, dengan infrastruktur olahraga yang sangat terbatas. Padahal, dalam UU Nomor 5 Tahun 2007 disebutkan, pembinaaan olahraga dilakukan pemerintah. Dana pembinaan juga diberikan pemerintah dan pembangunan infrastruktur juga dilakukan pemerintah. Namun, dengan keterb atasan dana pembinaan dan infrastruktur, tidak memudarkan semangat para atlet Bali untuk berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Dalam Sea Games di Singapura, dari 47 emas yang didapatkan Indonesia, Bali menyumbangkan 5 emas. Dalam ajang Sea Games di Myanmar dari 44 emas yang didapatkan Indonesia, Bali menyumbang 7 emas. Dalam ajang
Ketut Suwandi
Asian Games, Bali juga ikut menyumbang emas. Dalam PON remaja tingkat Nasional tahun 2014, Bali menduduki
peringkat VI dari 34 provinsi. Padahal dana pembinaan atlit Bali hanya Rp 4 miliar, paling kecil dibandingkan provinsi lain, tapi Bali tetap bisa meraih prestasi. Artinya, potensi atlet Bali sangat luar biasa dan sangat perlu dilakukan pembinaan yang berkesinambungan. Ia menyebutkan, upaya untuk menggairahkan masing-masing kabupaten/kota, dengan memberikan kesempatan masingmasing kabupaten/kota menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) bergilir tiap dua tahun. Hal ini, memberi gairah kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mulai menata infrastruktur olahraga di ma sing-masing daerahnya. Porprov tahun 2015 akan digelar bulan September di kabupaten Bule-
leng. “Kabupaten Buleleng yang sebelumnya tidak punya kolam renang, kini sudah dibangun kolam renang yang refresentatif. Artinya, nanti generasi muda dari Kabupaten Buleleng yang berbakat bisa menyalurkan potensi mereka di bidang renang dan bisa berkembang,” kata Suwandi. Ia mengajak, pemerintah dan swatsa bersama-sama mem bangun olahraga di Bali, seperti pembangunan infrastruktur dan venue olahraga. Menurutnya, pembinaan olahraga bukan hanya untuk menghasilkan atlet berprestasi, namun, juga, untuk pem bangunan karakter generasi muda, dengan mengembangkan sikap sportif, jujur, dan berkarakter.-Wirati Astiti
18
Kreasi
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Gamelan Bali di Panggung Sejarah Di Bali terdapat 100 lebih istilah instrumen gamelan yang mencerminkan keragaman gamelan dari masa ke masa. Istilah instrumen gamelan dikaitkan juga dengan seni pertunjukkan dan profesi lain seperti nyanyian, teater, badut, tari, dan keahlian membuat perak, besi, dan tembaga.
K
elahiran dan per gerakan gamelan Bali memiliki dua kecen derungan bentuk dan jenis instrumen. Pertama, pergerak an dari instrumen yang berbentuk bulatan seperti nekara, gong bheri, gong ageng, ponggang, trompong, dan reyong. Kedua, pergerakan yang dimulai dari instrumen berbentuk bilah seperti tingklik, gender wayang, slonding, saron, galunggang petung, calung, dan gambang. Gabungan kedua bentuk dan jenis instrumen itu melahirkan gamelan Bali lengkap yang diberi nama gamelan gong lu ang. Instrumen selaput (kendang), dawai (rebab), dan tiup (suling) melengkapi gamelan luang itu untuk bertransformasi menjadi gamelan lain yang unik dan beragam. Keunikan gamelan Bali ini dibahas dalam buku yang berjudul “Gamelan Bali di atas Panggung Sejarah” hasil karya Prof. I Made Bandem. Bandem yang meluncurkan buku tersebut saat puncak perayaan Dies Natalis XIII STIKOM Bali, Sabtu (15/8) di Sanur, mengatakan, gagasan menulis sejarah gamelan Bali ini sesungguhnya sudah muncul ketika ia sedang menyelesia
kan studi di University of California Los Angeles tahun 1972. “Pada saat itu saya sedang menyusun tesis untuk memperoleh gelar Master of Arts da lam bidang etnologi tari yang berjudul panji Characterzation in the Gambuh Dance Drama,” tutur Bandem. Pembimbing utama penulisan te sis itu Ki Mantle Hood dalam proses penelitian menunjukkan kepada Bandem sebuah buku cerita Panji yang berjudul “Wangbang Wedeya: A Javanese Pandji Romance”. Buku itu diterjemahkan dan diberi pen gantar secara komprehensif seorang ahli sastra klasik yang bernama SO Robson. “Di dalam buku itu terda pat beberapa istilah gamelan yang saya yakini dijadikan pijakan dasar untuk meneliti sejarah gamelan Bali selanjutnya. Beranjak dari istilah gamelan yang terdapat dalam buku Wangbang Wedeya itu, saya men gumpulkan data sejarah mengenai gamelan dan mengkajinya secara bertahap,” katanya. Gamelan adalah sebuah ansambel yang terdiri dari bermacam-macam instrumen yang terbuat dari batu, kayu, bambu, besi, perunggu, kulit, dawai, dll yang menggunakan tangga
nada pelog dan slendro. Gamelan Bali terdiri dari isntrumen-instrumen idiofon (dipukul), membranofon (selaput), kordofon (dawai), dan aerofon (ditiup). Istilah gamelan juga men gandung pengertian sebagai lagu atau komposisi yang dihasilkan permainan dari ansambel itu. Sebagai ansambel yang jumlah nya lebih dari 30 jenis, gamelan Bali dapat dibagi menjadi 4 golongan yakni golongan tua, madya, baru, dan kontemporer. Setiap golongan memiliki keunikannya sendiri-sendiri dan masih memiliki kesinambungan antara satu golongan dengan golon gan lainnya. Menurut pembabakan sejarah Bali, gamelan golongan tua berkembang dari masa prasejarah sampai berakhirnya kerajaan Bali Kuna. Gamelan golongan madya mu lai dari kedatangan orang Majapahit, masa Gelgel sampai runtuhnya Kera jaan Kungkung, Gamelan golongan baru mulai dari awal sampai akhir abad ke-20. Golongan kontemporer mulai dari akhir abad ke 20 sampai abad ke-21. Gamelan Bali umumnya meng gunakan dua jenis laras (tangga nada) yakni pelog dan slendro. Laras pelog juga disebut saih gamelan dan diperkirakan dibawa ke Indonesia (Jawa dan Bali) oleh leluhur bangsa Indonesia orang Melayu Kuna pada masa prasejarah atau setidaknya awal Tarikh Masehi. Laras sledro disebut saih gender wayang dan baru muncul di Jawa abad VIII ketika ditemukan seperangkat gamelan slendro oleh bangsawan Jawa keturunan raja Sailendra dari Jawa Tengah. Sedan gkan mengenai keberadaan laras slendro di Bali diperkirakan muncul pada abad IX ketika berkuasanya Raja Kesari Warwadewa yang merupakan keturunan warga Sailendra yang memerintah Bali Tahun 882-914 Masehi. “Kini terbukanya Bali dengan dunia Barat menyebabkan munculnya gamelan Bali yang menggunakan tangga nada musik Barat dan tangga nada musik dunia lainnya,” ucapnya. Ia mengatakan, menurut filsafat, gamelan Bali erat dengan kosmologi agama Hindu yang berdasarkan prinsip pengider Bhuwana setiap nada gamelan berkaitan dengan para dewa penjuru dunia, beserta saktinya. Waktu setiap nada dikaitkan dengan karakter para dewa penguasa ke sembilan penjuru dunia. Gamelan Bali menggunakan prin sip ngumbang dan ngisep. Konsep ini lahir dari manisfestasi nilai-nilai ke hidupan orang Bali yang mendambak an rwabineda (laki-laki-perempuan, siang-malam, baik-buruk), yang ke mudian menimbulkan teknik pukulan yang disebut kotekan. Kotekan yang dirakit lewat prinsip ngempat dan neulin menghasilkan ubit-ubitan, tatorekan, dan cacandetan yang unik dan indah. Tingkatan nada dalam gamelan Bali diatur menjadi tiga tingkatan yakni suara rendah (buhloka sruti), suara menengah (arnawa sruti), dan suara tinggi (by
omantara sruti). Menurut Bandem, buku ini me maparkan perjalanan sejarah gamelan Bali dalam periode prasejarah sampai periode masyarakat masa kini. Para peneliti gamelan Bali sebelumnya sudah banyak yang menulis gamelan Bali melalui penelitian studi kasus, dan karya mereka sangat mendetail dan mendalam. Karya itu juga sangat berpengaruh pada generasi sekarang untuk mendalami dan mencintai gamelan Bali. Sayangnya, banyak diantara mereka tidak tertarik me neliti sejarah gamelan Bali secara lebih komprehensif. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya buku menge nai sejarah kesenian dan kebudayaan Bali yang dijadikan landasan peneli tian kesejarahan gamelan seperti yang ada sekarang. Ia menilai, periodesasi gamelan Bali yang dibuat oleh para peneliti terdahulu sudah waktunya untuk dis empurnakan karena perkembangan zaman dan penyebaran gamelan Bali yang super cepat. “Kini gamelan Bali tidak hanya dimiliki masyarakat Bali
Prof. I Made Bandem
yang bermukim di Bali, namun juga dimiliki masyarakat Bali di peran tauan. Bahkan gamelan Bali sudah menjadi milik dunia,” kata Ban dem. Penyebaran dan kepemilikan gamelan Bali menimbulkan akibat adanya pengaruh timbal-balik antara gamelan Bali dengan musik dunia lainnya yang tentu saja mengubah fungsi dan memperkaya khazanah gamelan Bali. Buku ini terdiri dari 8 Bab, yakni Bab I pengertian gamelan Bali dan kajian sumber pembahasan. Bab II asal mula gamelan Bali yang meliputi periode prasejarah sampai periode masa kini. Bab III proses pembentuk kan gamelan sebagai sebuah ansambel. Bab IV membahas kosmologi, etika, estetika, organisasi sosial, dan fungsi gamelan Bali. Bab V instrumentasi, laras, dan bentuk lagu. Bab VI pem bahasan mengenai orkestrasi, fungsi instrumen, dan teknik permainan. Bab VII kendang tunggal dalam gamelan gong kebyar. Bab VIII penutup. -Wirati Astiti
Diseminasi Implikasi Uji Kompetensi Wartawan
Program Studi Magister Ilmu Hukum.Univer sitas Udayana mengadakan pengabdian kepada masyarakat, Rabu (26/8) di Kubu Kopi, Denpasar. Kegiatan berupa diseminasi “Implikasi Uji Kompetensi Wartawan terhadap Kesadaran Hukum Pers Wartawan Media Cetak di Kota Denpasar” yang merupakan tesis I Made Adnyana. Dalam kesempatan tersebut hadir Dr. Putu Tuni Cakabawa Landra, S.H.,M.Hum sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum, Dr. I Ketut Sudantra, S.H.,M.H., dan Dr. Ni Nyoman Suker ti, S.H., M.H. sebagai pembimbing tesis Adnyana, serta puluhan wartawan di Denpasar. Kesempatan ini menjadi ajang diskusi di kalangan wartawan dan akademisi khususnya bidang hukum tentang perlunya kesadaran hukum di kalangan wartawan. Dari diskusi ini diharapkan akan berlanjut menjadi seminar yang bisa menghasilkan rekomendasi untuk diteruskan ke Dewan Pers.—wah
Life
Story
Enam belas tahun yang lalu, Rumi (41) bukan nama sebenarnya, masih ingat ketika kekasihnya Purwa (44) nama samaran, bersimpuh di kakinya memohon agar Rumi tidak meninggalkannya setelah empat tahun mereka menjalin kasih yang terbilang serius. Hari itu Rumi memang harus mengambil keputusan yang berpisah dengan Purwa karena dirasakannya ada perbedaan yang sangat prinsip di antara mereka berdua. Hal ini kerap memicu pertengkaran yang membuat mereka saling menyakiti.
S
esungguhnya Rumi tidak menginginkan perpisahan itu, namun ia harus mengambil keputusan tersebut demi kebaikan mereka berdua. Rumi dan Purwa memiliki rasa saling mencintai dan menyayangi yang begitu besar. Purwa sangat mencintai Rumi bah kan demikian mengistimewakan perempuan yang memiliki prinsip dalam hidupnya itu. Kekaguman Purwa pada Rumi membuatnya tidak akan pernah mampu me lupakan perempuan itu. “Saya masih tetap menyimpan rasa cinta padanya bahkan hingga hari ini,” ungkap Purwa dengan mata berbinar. Ketika menjadi sepasang keka sih, usia mereka masih 20-an tahun. Di usia seperti itu, Rumi sudah bisa mengambil keputusan penting da lam hidupnya. Ini membuat Purwa makin mengagumi keseluruhan hal tentang Rumi. “Tidak kurang dari tiga kali saya melamarnya,” kata Purwa yang tiap kali datang hanya mendapat penolakan dari Rumi. Purwa sendiri heran, ada apa den gan kekasihnya itu. “Bahkan orang tua Rumi mendorong saya untuk membujuk Rumi agar menikah dengan saya,” katanya. Hubungan Purwa dengan orangtua Rumi san gat akrab dan baik. Purwa memang dikenal sebagai laki-laki yang baik namun entah mengapa Rumi selalu menolak untuk menikah dengan nya. Kekaguman Purwa tidak hanya pada Rumi, melainkan pada orangtua Rumi yang menyerahkan sepenuhnya keputusan menerima atau menolaknya, ada di tangan Rumi. Mereka bukan tipe orangtua yang memaksakan kehendak pada anaknya meski mereka sangat
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
7
Tiga Kali Melamar Tiga Kali Ditolak
menginginkan Purwa menjadi menantu dalam keluarga. Bahkan menurut Purwa be berapa waktu sebelum ayah Rumi meninggal, ia pernah berpesan agar Rumi menerima Purwa menjadi suaminya. “Namun Rumi bersik eras tidak ingin menikah dengan saya,” kata Purwa tidak habis pikir. Hingga akhirnya Rumi meminta un tuk mengakhiri hubungan mereka dengan cara yang sangat dramatis. “Dia memandang saya dengan mesra saat akan memutus hubun gan kami. Rumi cinta sejati saya itu, ingin pergi dari kehidupan saya,” katanya sedih. Ia bahkan tahu kalau Rumi tidak memiliki kekasih lain selain dirinya. Malam yang dra matis itu, ia melihat Rumi sebagai sosok yang sangat misterius. Tidak banyak bicara dan melangkah menjauhi Purwa yang tanpa malu mengejarnya. Lalu di tempat yang tak begitu tampak oleh orang lain, Purwa bersimpuh memohon agar Rumi tidak meninggalkannya. “Sekali dalam hidup saya, saat itu lah saya menangis,” ujarnya yang akhirnya tahu bahwa tuduhannya pada Rumi tidak terbukti. Menu rutnya, kemungkinan Rumi tertekan karena ia menuduhnya telah berselingkuh. KEMBALI KE NTB S e j a k i t u , Ru m i menghilang dan tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Purwa me nelusuri keberadaan Rumi namun tak terla cak sama sekali. Ia hanya tahu Rumi masih berada di Nusa Tenggara Barat. Purwa yang merantau ke NTB saat kuliah ini akhirnya melanjutkan pendidikannya di Pulau Jawa. Ia sangat berharap bisa menemukan Rumi meski hanya sesaat. Namun waktu berjalan dan takdir berkata lain. Purwa akhirnya me nikah dengan perem puan yang rupanya ada lah jodohnya itu. Purwa menikah lebih dulu dari Rumi. Purwa lalu men jalankan hidup rumah tangganya dan memi liki anak-anak. Meski telah menikah, Purwa
“Dia memandang saya dengan mesra saat akan memutus hubunga n kami. Rumi cinta sejati saya itu, ingin pergi dari k ehidupan saya,”
tkh/net
ternyata masih sangat mengenang dan merindukan Rumi. Ia tidak bisa melupakan Rumi dalam hidupnya. Sampai-sampai ia memilih bek erja di NTB hanya demi menanti kesempatan bertemu dengan Rumi. “Saya ingin sekali bertemu dan melihatnya walau pun sesaat saja,” katanya. Matanya meman carkan binar cinta dan kepedihan saat menyebut nama Rumi. Saat di tanya mengapa ia memilih kembali ke NTB padahal ia punya peluang
bisnis yang lebih baik di Pulau Jawa. “Separuh hidup saya ada di NTB,” ungkap Purwa tersenyum tanpa menjelaskan maksudnya. Ketika akhirnya menemukan Rumi, ia tidak memiliki keberanian untuk masuk lebih jauh dalam ke hidupan perempuan yang sangat dikasihinya itu karena Rumi telah memiliki suami dan keluarga yang bahagia. Sungguh bahagia hidup Rumi dan begitu menderita hati Purwa mengetahuinya. Diam-diam
Purwa berusaha mendekati Rumi dengan berbagai cara, khususnya lewat telepon. Nomor kontak Rumi ia peroleh dari seorang rekannya yang mengenal Rumi. Ia begitu ingin mendengar suara perempuan yang membuatnya tergila-gila itu. Betapa teriris hati Purwa seka ligus menambah rasa kagum dan cintanya pada perempuan seder hana itu, manakala mendapati Rumi sangat mencintai suami dan keluarganya. “Gangguan” yang dilakukan oleh Purwa sama sekali tidak berpengaruh pada Rumi. “Betapa setianya dia,” ujarnya pendek. Rumi bahkan menasehati Purwa untuk tidak memiliki pikiran ingin berselingkuh dengannya, karena itu akan sia-sia. Ia begitu menghormati suaminya dan juga mengingatkan Purwa untuk meng hormati istri dan anak-anaknya dengan tidak menghubunginya untuk maksud yang “tidak-tidak”. Ia hanya berkomunikasi dengan Purwa sebagai seorang kawan. “Bagaimana saya tidak tergila-gila padanya?” katanya menutup obro lan. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Tugas Orangtua Mengarahkan bukan Memaksa
Orangtua memiliki peran penting dalam perjalanan hidup anak. Orangtua menjadi contoh bagi si anak. Apapun yang dilakukan orangtua bisa ditiru anak. Dalam dunia olahraga, hal ini sangat banyak terjadi. Jika orangtua atlet, anaknya memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi atlet.
Wulan Budisetyani
P
engalaman orangtua yang menjadi atlet dialami Helga Riftiana. Atlet tembak Kota Denpasar ini sering mengajak dua putranya, Kana dan Nanta untuk ikut menemani. Ternyata setelah beberapa kali ikut, Nanta tertarik. “Awalnya anak-anak mencoba latihan ternyata Nanta keterusan. Tidak ada paksaan saat latihan karena dia melakukan dengan senang hati,” ujar Helga yang juga model dan penulis novel ini. Sebagai ibu sekaligus partner latihan Nanta, Helga tak mau anaknya keteteran. Mereka pun mengatur jadwal antara sekolah dan latihan menembak. “Latihan maksimal 3 kali seminggu setelah sekolah dan les,” imbuh istri Made Ngurah Bagus Sakaputera ini. Helga berharap dengan menggeluti olahraga yang sama dengan dirinya, ia dapat ikut menga-
wasi serta memberikan arahan dan motivasi untuk anaknya. Prestasi yang diraih Nanta pun lumayan, juara II 10 M ARH Man Pelajar SD (Pompa) di Invasi Cabang Olahraga Andalan KONI Denpasar 2014 antar Kota se-Indonesia 21 Desember 2014 dan juara I 10 M ARH Man Pelajar SD (Pompa) Putra di Kejuaraan Menembak Walikota Cup 2015 22 Februari 2015. Jika bakat olahraga orangtua menurun kepada anak, itu merupakan hal yang wajar. “Kadang ada kesan orangtua memaksakan, padahal mereka hanya mengarahkan. Seringkali anak tidak tahu mereka mau menekuni apa. Sebagai orangtua harus peka terhadap karakter anak. Jika anak senang dengan apa yang diarahkan, silakan lanjutkan, jika tidak, sebaiknya komunikasikan,” ujar I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetyani, M.Psi, Psikolog. Perempuan yang akrab disapa Wulan ini berharap orangtua tidak melakukan trial and error kepada anak. Misalnya, apa yang diharapkan dari anak ternyata tidak sesuai ekspektasi orangtua lalu memaksa anak pindah cabang olahraga sampai memuaskan orangtua. Peran orangtua haruslah bijak dan belajar dari pengalaman karena tidak ada sekolah untuk orangtua. Semua berdasarkan apa yang dialami sendiri dan masing-masing orang berbeda.Contoh sederhananya, kalau anak merasa tidak senang dan tidak nyaman, ini artinya ada pemaksaan. Tetapi, kalau anak bisa menikmatinya, ini berarti orangtua berhasil mengarahkan. Wulan mencontohkan di-
Wulan berlatih panahan diikuti putranya
Nanta saat latihan menembak
rinya ketika kecil “dipaksa” untuk menjadi atlet. “Ayah saya pesilat yang kemudian beralih menekuni panahan. Saya bersama dua adik awalnya diikutkan tenis lapangan. Kami ogah-ogahan. Ada saja alasan untuk tidak latihan. Berikutnya disuruh ikut renang. Kami mulai suka. Apalagi kalau ikut lomba dan dapat juara. Lama-lama kami diarahkan untuk menekuni panahan karena zaman itu pemanah masih jarang,” ungkap Wulan. Masa kecil dan masa remajanya pun dihabiskan dengan berlatih dan berlatih di Bojonegoro, Jawa Timur. Pulang sekolah, ganti pakaian, makan, istirahat, lalu latihan. Begitu rutinitas yang dilakoni. Ketika
teman-temannya asyik bermain dan jalan-jalan, Wulan dan adikadiknya berkutat dengan busur dan anak panah dan bolak-balik Bojonegoro-Surabaya. Mereka bisa menikmati latihan karena sudah tahu implikasinya jika berprestasi. Buah dari kerja keras mereka terlihat saat mengikuti mengikuti berbagai kejuaraan panahan baik tingkat nasional maupun dunia membuat mereka bisa pergi ke luar negeri dengan gratis dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Adik bungsunya, Puruhito sampai saat ini menjadi pemanah andalan Indonesia yang sudah beberapa kali berlaga di kancah internasional. “Setelah dewasa saya sadar,
orangtua mengarahkan kami untuk menekuni panahan agar hasilnya bisa kami petik di kemudian hari. Fokus, disiplin, manajeman waktu, mengatasi tekanan merupakan hal-hal yang bisa didapatkan dari olahraga. Di sisi lain, saya pribadi menemukan persaingan juga bisa membuat orang yang dekat menjadi jauh. Inilah yang mendorong saya kemudian memilih menekuni psikologi,” ujar anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali dan psikolog olahraga di KONI Bali ini. Dari pengalamannya menangani atlet karena pernah menjadi pelatih panahan kemudian kini menjadi psikolog untuk atlet, Wulan mengamati sebagian besar atlet berasar dari keluarga atlet. Bakat mereka sudah ada, tinggal dipoles saja. Para atlet ini mengatakan menjadi atlet karena arahan orangtua atau arahkan guru karena dinilai memiliki potensi. Wulan yang memiliki seorang putra pun melihat anaknya memiliki bakat olahraga. “Suami saya dulu pesilat. Karena orangtuanya atlet, ternyata anak saya senang kalau diajak olahraga. Neneknya membelikan dia busur kecil. Saya hanya mengarahkan, tidak memaksa dia harus menekuni panahan seperti saya,” ujar dosen di Program Studi Ilmu Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana sejak 2009 ini. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit penemuan tiga ahli
Di sebuah desa tinggal empat orang anak bersahabat kental. Namanya Samba, Angkus, Taska dan Perdil. Mereka selalu pergi dan bermain bersama-sama. Namun, perjalanan waktu memaksa mereka Made Taro harus berpisah. Perdil, anak petani itu tidak mampu melanjutkan sekolah. Ia tetap setia menggembalakan dua ekor sapinya. Sedangkan tiga sahabatnya menuntut ilmu setinggi-tingginya di kota besar yang berbeda-beda. Walaupun berpisah, setiap liburan, mereka berempat berkumpul kembali melepas rindu. Suatu waktu, ketika mereka berkumpul, Samba mengajak teman-temannya pergi ke desa di seberang hutan. Tujuannya adalah mengamalkan ilmu yang diperolehnya di perguruan tinggi masing-masing. Walaupun Perdil tidak berilmu, namun tiga sahabatnya itu sepakat untuk mengajaknya bergabung. Di tengah hutan, mereka tiba-tiba menemukan tulang-belulang hewan berserakan. Samba yang ahli ‘hewan buas’ itu berkata, “Dilihat dari kerangkanya, ini pasti singa!” Ia mengumpulkan tulang-belulang itu lalu menyambung-nyambungnya. “Belum bisa disebut singa, kalau hewan itu tidak berdaging dan berbulu,” sambung Angkus yang ahli
‘daging hewan’ itu. Ia meraba-raba kerangka hewan itu. Setiap rabaan menghasilkan daging dan bulu. “Tunggu dulu!” cegah Taska yang menguasai ilmu ‘sambung nyawa’. “Sebelum hewan itu berdiri dan mengaum, ia belum boleh disebut singa. Ke dalam tubuhnya harus ditiupkan nyawa.” Perdil terkagum-kagum menyaksikan keahlian Samba dan Angkus. Namun setelah mendengar penjelasan Taska, sahabatnya yang ketiga itu, ia berteriak, “Jangan, jangan!” Samba, Angkus dan Taska tertawa cekikikan. “Kau tak perlu takut, Perdil! Hewan bodoh itu dapat dikendalikan,” seru ketiga sahabatnya itu. Taska mempertunjukkan keahliannya. Mulutnya komat-kamit sambil mengayun-ayunkan kedua telapak tangannya di atas bangkai singa itu. Perdil yang ketakutan itu segera memanjat pohon. Melihat tindakan konyol si Perdil, ketiga ahli itu tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh ajaib dan mengagumkan! Dari atas pohon Perdil melihat bangkai hewan itu berdiri tegak. Setelah menoleh kiri-kanan, singa yang bernyawa itu membelalakkan mata, memperlihatkan taring dan mengaum. Selanjutnya, sungguh mengerikan! Perdil menutup kedua matanya. Setelah singa yang buas itu pergi, Perdil turun dari pohon. Ia menangis di sebelah bangkai sahabatsahabatnya itu sambil berucap, “Keahlian memang harus diamalkan, tetapi untuk apa, kapan dan di mana.”
Griya
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Kreatif
17
di Ruang Tidur
Remaja
Mendesain ruang tidur remaja, tentunya berbeda dengan anak-anak, atau orang tua. Remaja umumnya menyukai desain yang simpel tanpa banyak pernak-pernik. Namun ada baiknya ditanyakan dulu keinginan anak remaja Anda, sebelum memulai “menyulap” kamarnya.
H
al berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan budget. Apakah budget Anda besar atau terbatas? Bagaimana caranya dengan dana yang minim, Anda bisa membuat ruang tidur yang nyaman untuk anak remaja Anda? Kali ini Tokoh mengintip kamar tidur remaja, putra dari Made Suparta di Denpasar. Ruangan kosong seluas 570 x 330 ini akan diperuntukkan kamar tidur untuk
putra sulungnya yang kini duduk di bangku SMA tersebut. Kondisi awal dinding ruang tersebut catnya banyak terkelupas. “Jika harus mengecat ulang, butuh waktu lama dan dana yang lumayan besar. Kebetulan ada teman memberikan masukan bagus, dinding ditutup pakai kain spanduk,” ujarnya. Setelah melihat beberapa desain, putranya pun memilih motif bata agar matching dengan style Bali di tampak depan kamarnya.
Ia juga meminta ada coretan namanya pada dinding kamar. “Dengan memakai kain spanduk ini, semuanya jadi mudah. Ingin desain apa saja bisa, mau pohonpohon, bunga, dsb., semuanya gampang. Setelah itu tinggal diprint,” papar Made Suparta. Untuk penutup lantai, Made Jaya sengaja tak memakai karpet, dengan pertimbangan susah perawatannya. Untuk memberikan aksen, ia memilih penutup lantai dari perlak dengan motif kotak-kotak hitam-putih. Perlak ini hanya dipasang pada bagian tempat tidur, segaris dengan rak TV. Sementara, satu set alat musik drum diletakkan di salah satu
sudut ruangan. Putranya itu memang hobi main musik. Jadilah ada studio mini di ruang tidurnya. Jadi, jika Anda ingin menyulap kamar
atau ruangan apa saja, namun budget minim, tak ada salahnya mencoba trik Made Suparta. Selamat berkreasi. –Inten Indrawati
16
Edukasi
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Dies Natalis XXXII & Wisuda Sarjana XXXV IKIP PGRI Bali
Widyaksara Award untuk 11 Tokoh Perintis
Wisuda Sarjana XXXV IKIP PGRI Bali kali ini terbilang istimewa, karena sekaligus dirangkaikan dengan Dies Natalis XXXII yang tepat jatuh pada Selasa (25/8), digelar di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur.
R
ektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. yang melepas 479 wisudawan me negaskan mereka telah memenuhi 4 kompetensi guru, yakni kompetensi profesional, kepribadian, sosial, dan pedagogik. Selain disiapkan menjadi calon guru profesional, mereka juga dibekali kewirausahaan lewat berbagai program pengembangan kewirausa haan di tiap program studi. Tentu saja ini sebagai modal penguatan diri untuk
menghadapi persaingan global/MEA 2015, dengan penguatan pengajaran bahasa Inggris dan IT. Untuk menunjang kewirausahaan dan sertifikat pendamping ijazah, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd. mengatakan, sudah dibangun beberapa lab keterampilan, di antaranya lab pe nyiaran, lab musik, lab kepewaraan, ba hasa, dan kepresenteran. Hal ini sesuai dengan orasi ilmiah yang disampaikan Dr. I Made Darmada, M.Pd. “Ekonomi
Kreatif dalam Baligovenic Culture Menuju Kreativitas Kehidupan”. Bahwa, IKIP PGRI Bali yang merupakan salah satu LPTK di Bali yang tak hanya menformat mahasiswanya menjadi calon guru, namun juga disiapkan un tuk menjadi wirausaha-wirausahawan muda yang berdaya saing tinggi. Hal ini diperkuat dalam salah satu point dalam orasi ilmiah tersebut yang menyebutkan, local wisdom sebagai kekayaan intelektual akan dapat me warnai setiap proses pengetahuan untuk merevitalisasi diri. Pengetahuan tradisional dapat dijadikan objek yang dieksplorasi untuk mendatangkan kes ejahteraan bersifat ekonomi kreatif. Implikasinya terhadap industri kreatif
Penerima Widyaksara Award IKIP PGRI Bali 2015
Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. didampingi para pembantu rektor melepas 479 sarjana wisudawan
yang memanfaatkan sosial, budaya, ekonomi, dan simbolik, untuk meraih keuntungan dan bermanfaat bagi sumber daya kaum muda untuk ber kreativitas, berinovasi, berwirausaha yang menjadi garda terdepan dalam ekonomi berkelanjutan. Untuk menunjang hal itu, Rektor Suarta mengimbuhkan penguatan pun dilakukan di institusi/lembaga dengan meningkatkan kualitas SDM, penguatan institusi dan prodi. “Upaya tersebut akhirnya terwujud, kini semua prodi di IKIP PGRI Bali terakreditasi B yang diperkuat dengan SK BAN-PT,” ucap nya. Tampil sebagai lulusan terbaik, Dewa Bagus Putu Rolingstun dari Prosi Sejarah, dengan IP 3,85. WIDYAKSARA AWARD “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Hal itu pula yang dilakukan institusi ini untuk 11 tokoh perintis dalam “membangun” IKIP PGRI Bali. Kesebelas penerima
Widyaksara Award IKIP PGRI Bali 2015 tersebut adalah Drs. I Gusti Agung Gede Oka (alm.)—Pendiri/Rektor Pertama IKIP PGRI Bali; Drs. Redha Gunawan,M.M. (alm.)—Pendiri/Ketua Yayasan Pertama/Pembatu Rektor II pertama IKIP PGRI Bali; I Gusti Ngurah Oka, S.H.—(Pendiri/Sekretaris Yayasan Pertama); Drs. IGB Arthanegara, S.H.,M.H.,M.Pd.—Pendiri/Wakil Ketua Yayasan Pertama, Dekan FPIPS Pertama IKIP PGRI Bali; Prof. Dr. I Gusti Ngurah Gorda, M.Si. (alm.)—Pembantu Rektor I Pertama IKIP PGRI Bali; Drs. AA Gde Raka (alm.)—Pembantu Rektor III Per tama IKIP PGRI Bali; Drs. N. Sutharjana (alm.)—Dekan Pertama FPOK IKIP PGRI Bali; Drs. I Gusti Ngurah Sukan tha (alm.)—Dekan Pertama FPTK IKIP PGRI Bali; I Gusti Ngurah Supartha, S.ST. (alm.)—Dekan Pertama FPBS IKIP PGRI Bali; Drs. Beratha Subawa (alm.)—Dekan Pertama FIP IKIP PGRI Bali, dan Drs. Putu Sedana (alm.)—Dekan pertama FPMIPA IKIP PGRI Bali. -ten
Peraih Bhakti Koperasi dan Satyalencana Wirakarya Drs. Ngakan Made Nata: “Kalau Mau Pasti Bisa”
Moto “Kalau Mau Pasti Bisa” bagi seorang Ngakan Made Nata bukan sekadar untaian kata indah. Moto yang sekaligus menjadi prin sip hidupnya itu, juga ‘berlaku’ bagi keluarganya bahkan menginspirasi seluruh karyawan di Koppas Srinadi Klungkung yang menjadi tempatnya bekerja sekaligus mengabdi.
N
gakan Nata, ayah dua putra, kelahiran Dawan Klod, 5 Agustus 1967 ini memiliki prestasi cukup membanggakan. Belasan prestasi diraihnya sejak bergabung di Ko ppas Srinadi sejak tahun 1987 lalu. Tidak saja tingkat kabupaten tetapi juga provinsi bahkan tingkat nasional. Penghargaan tertinggi Bhakti Koperasi & UKM dari Menteri Negara UKM RI pada 2010 lalu bukan penghargaan terakhir bagi suami Ni Ketut Kerti ini. Pengabdian nya selama 28 tahun di bidang koperasi membuahkan penghargaan bergengsi Sa tyalencana Wirakarya dari Presiden RI Joko Widodo yang diserahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika bersamaan dengan HUT Provinsi Bali, Jumat (14/8), di Denpasar. Penghargaan tersebut menjadi puncak prestasi bagi pria santun yang sudah ber kecimpung di koperasi sejak berusia 20 tahun ini. Sebelumnya penghargaan yang sama diraih Bupati Klungkung Nyoman Suwirta pada tahun 2005. Bagi Ketua Dekopinda Klungkung dua periode ini, niat mengabdi untuk memaju kan perkoperasian di Kabupaten Klungkung khususnya, tak akan pernah berhenti sekalipun memasuki usia pensiun, bahkan semangatnya tetap menggebu memotivasi
Bersama istri tercinta, saling mendukung di Koppas Srinadi.
teman seperjuangan meningkatkan kiprah dan kinerjanya di bidang koperasi. “Saya ingin mengubah image dan pola pikir (mindset) masyarakat bahwa kop erasi itu identik dengan usaha kecil, tidak profesional, tidak bisa berkembang dan segudang image negatif lainnya. Kalau kita mau, koperasi bisa sejajar dengan pelaku usaha lainnya dan ini sudah kita buktikan. Ke depan saya berharap koperasi betul-betul bisa berperan sebagai pilar utama perekonomian bangsa,” tutur Ketua Pengurus Koppas Sri nadi ini. TEKUN, GIGIH, FOKUS Prestasi dan keberhasilan yang diraih Ngakan Nata memang tak lepas Penghargaan Satyalencana Wirakarya tahun 2015 disematkan oleh Gubernur Bali Mangku Pastika.
dari karakternya yang tekun, gigih dan fokus dalam berjuang. Kendala yang dihadapinya bukan menjadi suatu penghalang untuk maju. “Untuk berhasil butuh fokus selain gigih dan tekun menjalaninya. Kreativitas dan inovasi dalam berusaha perlu dipacu untuk bisa memenangkan persaingan saat ini,” ujar penerima belasan sertifikat sebagai narasumber berbagai kegiatan koperasi & UKM ini. Meningkatkan prestasi dan kinerja usaha di bidang perkoperasian, menurut sarjana pendidikan ini mesti berjalan di jalur yang benar sesuai prinsip atau jati diri kope rasi. “Prinsip atau jati diri koperasi adalah ‘Dari, Oleh dan Untuk Anggota’. Jika prinsip itu sudah dijalankan dengan konsisten dan benar, saya rasa tidak ada koperasi yang mandeg atau bermasalah,” tegasnya. Soal SDM koperasi, lanjut Ngakan Nata memang menjadi prioritas dalam pengembangan koperasi. SDM yang kom peten mesti diciptakan melalui berbagai pelatihan. “Kami konsen dalam meningkat kan kompetensi SDM. Contohnya untuk posisi manajer, harus dipegang oleh SDM yang memiliki sertifikasi kompetensi sebagai
jogging ini, hidup harus dimaknai sebagai sebuah anugerah yang mesti dila koni secara benar. “Saya ingin menjalani hidup apa adanya. Live must go on,” katanya merendah. Ngakan Nata memi liki dua putra yakni Nga kan Putu Teja Hadinata (S1 Ekonomi Akuntansi Unud) dan Ngakan Made Yuda Winata (mahasiswa Jurusan Ekonomi Manaje men Unud). manajer. Ini untuk memenuhi persyaratan di era global,” sebutnya. AIR MENGALIR Filosofi hidup seorang Ngakan Nata ibarat air mengalir, apa adanya. Menjalani hidup penuh keikhlasan dan pengabdian total, baik pada keluarga, lingkungan sosial mau pun pekerjaan dan profesi yang ditekuninya saat ini. Tidak ada ambisi mengejar sesuatu di luar batas kemampuannya. Bagi pecinta alam yang hobi tracking dan
KOPERASI TERBESAR Koppas Srinadi berdiri tahun 1985 dan merupakan koperasi skala besar tingkat nasional (aset, omzet dan volume usaha). Koperasi dengan 12.134 anggota, 330 orang karyawan dengan aset mencapai Rp 180 milyar ini memiliki sembilan unit usaha yakni swalayan bangunan, wisata tirta, bengkel, radio, simpan pinjam, gro sir, supermarket Inti, swalayan mini dan percetakan/konveksi. -ari
Beberapa Tanda Jasa/Prestasi Bidang Koperasi: - Tanda Kehormatan Satyalencana Wirakarya dari Presiden RI Joko Widodo 2015. -Piagam Penghargaan Bhakti Koperasi & UKM dari Menteri Negara Koperasi & UKM RI 2010. -Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional 2007 dan 2012. - Koperasi Berprestasi Tingkat Provinsi Bali 2007, 2012 dan Peringkat II Koperasi Berprestasi Tingkat Provinsi Bali 2014. - Koperasi Berprestasi Tingkat Kabupaten Klungkung 2007, Peringkat I Koperasi Berprestasi Kabupaten Klungkung tahun 2011 dan 2014. - Penerima Koperasi Award dari Menteri Koperasi & UKM RI tahun 2007 dan 2012. - Penghargaan Dekopin Award 2012.
Dara
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Prestasi adalah Nilai Plus Seorang Guru
9
Salah satu kampus yang prestasi olahraganya berkibar adalah IKIP PGRI Bali. Mahasiswa-mahasiswi dari Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP PGRI Bali ini tak hanya mengharumkan nama lembaga atau regional, melainkan hingga nasional bahkan internasional. “Di IKIP PGRI Bali, cabor yang cukup berprestasi dan sudah menjuarai beberpata kompetisi di antaranya atletik, silat, tinju, kabaddi, panjat tebing,” ujar Dekan FPOK PGRI Bali Dr. Drs. I Wayan Adnyana, M.M., M.Erg.
P
embantu Dekan III FPOK Ida Ayu Kade Arisanthi Dewi, S.Pd., M.Fis., menambahkan cabor lain pun dinilainya cukup potensial un tuk dikembangkan. Ini dilihat dari peminatan mahasiswa dan perkembangan mereka mengikuti kejuaraan. “Kebetulan saya yang menangani basket. Kendala teru tama yang saya tangani di basket adalah kedisiplinan dan fasilitas, karena memerulkan lapangan khusus. Kami sudah melakukan MoU dengan beberapa tempat/ lapangan, namun jadwalnya ser ingkali terbentur waktu antara latihan dan kuliah,” ungkapnya. Wayan Adnyana menegaskan di IKIP PGRI Bali intinya tidak ter lalu fokus pada pencitraan prestasi atlet. “Fokusnya bagaimana kami mendidik mahasiswa untuk men jadi guru olahraga. Penekanannya pada guru olahraga,” ujarnya. Namun ia tak menyangkal mahasiswa yang menekuni cabang olahraga tertentu memiliki presta si-prestasi atau bakat-bakat dalam bidang-bidang tertentu. Bidangbidang ini diwadahi di Unit Keg iatan Mahasiswa (UKM). “Seperti silat, selain ada mata kuliah silat, ada UKM Silat, muncullah prestasi silat. Prestasi ini kemudian yang mendongkrak reputasi IKIP. Tapi sebenarnya titik fokusnya adalah tetap mencetak guru olahraga yang pendekatannya melalui sains. Sehingga nantinya mahasiswa kami tidak semata-mata mengajar olahraga hanya membawa lepri. Eksis dari pengajaran yang optimal ini menelurkan prestasi-prestasi. Dari sekian banyak mahasiswa, tentu tidak semuanya berprestasi, tapi di bidang kompetensi men jadi guru, itu yang kami capai,” ucapnya.
Wayan Adnyana menjelaskan, secara formal, dalam kurikulum, masing-masing cabang olahraga ada mata kuliahnya. Contoh silat, tetapi untuk eksternal ditan gani UKM yang masing-masing mahasiswa yang memiliki pemi natan yang sama di bidang silat bergabung menjadi satu di UKM Silat. “Masing-masing mahasiswa diwajibkan mengikuti UKM ter tentu sesuai peminatannya,” imbuhnya. Di UKM ini, dilanjutkan Dayu Kade, lebih pada spesifikasi un tuk mencetak prestasi sekaligus mencetak kedisiplinan. Dalam pendidikan formal, mahasiswa diajarkan teknik-teknik dasar. “Misalkan praktik teknik dasar basket. Kita tidak mengajarkan mahasiswa untuk bisa basket, tapi dia tau teknik drouble atau teknik lainnya. Di formal kami mengajar secara keseluruhan mengenai bagaimana kami men gajar kedisiplinan, bagaimana di lapangan, memberi contoh yang baik, teknik dasar, bahwa basket termasuk bagian dari permainan, perwasitan. Di sini hanya men genal umum. Jika masuk ke spesifikasinya masuk ke UKM. Di UKM ini mereka dibina dan di latih untuk menjadi berprestasi,” paparnya. FPOK IKIP PGRI Bali yang memiliki Prodi Olahraga Kes ehatan dan Rekreasi. Olahraga rekreasi ini dijelaskan Dayu Kade orientasinya lebih pendekatan ke alam. Ada mata kuliah tertentu yang berorientasi pada olahraga kreasi, misalkan kano. Apalagi di Bali, olahraga rekreasi sangat berpeluang besar untuk digarap. “Selain menjadi guru, sesuai den gan KKNI, kami juga menyasar untuk menggarap sektor pari
“Fokusnya bagaimana kami mendidik mahasiswa untuk menjadi guru olahraga. Penekanannya pada guru olahraga,”
Wayan Adnyana dan Dayu Kade kompak perkuat FPOK IKIP PGRI Bali
wisata,” imbuh Adnyana. Dan yang paling penting, mahasiswa dibebaskan memilih tanpa ada suatu beban. Antara prestasi dan pres tise mana yang dikedepankan? Adnyana menjelaskan, dalam konsep perolahragaan sebagai basic membuat segar, bugar, sehat. Dalam konsep ini ada be berapa yang memiliki kelebihankelebihan dalam bidang tertentu. Kecenderungan ini yang masuk
UKM tertentu sehingga memi liki prestasi. Prestasi itulah yang nanti membuat ber-prestise. “Seperti di IKIP PGRI Bali, para atlet yang berprestasi diberikan bonus-bonus dan diprioritaskan untuk mendapat beasiswa. Ini merupakan suatu prestise bagi si mahasiswa. Demikian halnya ketika mahasiswa tersebut ber prestasi di tingkat nasional mau pun internasional,” ucapnya. Dan yang paling penting
menurut Dayu Kade adalah jika mahasiswa sudah memiliki prestasi, diimbangi juga den gan perilaku yang baik. Apalagi sebagai mahasiswa IKIP PGRI Bali yang harus disadari bahwa dirinya tamat bukan sebagai atlet tetapi sebagai guru. Setidaknya, selain memiliki prestasi (sebagai nilai plus), dia juga memberikan contoh ke yang lain untuk tetap kuliah, sebagai motivator untuk adik adik-adiknya. –Inten Indrawati
10
Bugar
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Penderita Stroke Dapat Hidup Mandiri
Stroke masih merupakan pem bunuh ketigadi dunia dan pertama di Indonesia. Tidak hanya itu, stroke merupakan penyumbang terbesar angka disabilitas di seluruh dunia. Stroke terjadi karena gangguan aliran darah ke sel otak yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa disebabkan oleh perdarahan maupun penyum batan pembuluh darah. Akibat gang guan aliran darah ini, sel-sel di otak menjadi rusak. Selain kematian, stroke juga menimbulkan kecacatan. Menurut National Stroke Association, hanya 10% penderita stroke yang pulih hampir sempurna, 25% pulih dengan gangguan minor, 40% mengalami gangguan sedang sampai berat yang memerlukan perawatan khusus, dan 10% memerlukan perawatan di rumah-rumah perawatan (nursing home). Lima belas persen penderita stroke meninggal segera setelah se rangan, dansekitar 14% mengalami stroke ke dua pada tahun pertama setelah serangan. Beban biaya yang ditimbulkan akibat penyakit stroke sangat tinggi baik beban secara langsung akibat biaya perawatan maupun beban tidak langsung akibat hilangnya masa kerja atau produk tivitas seseorang. Tidak hanya bagi penderita stroke itu sendiri, beban juga dirasakan oleh keluarga yang merawat. Penderita stroke kehilan gan kemandiriannya sehingga me merlukan perawatan dan pendam pingan oleh pihak keluarga. Otak merupakan organ yang merupakan pusat pengatur seluruh kehidupan manusia. Saat seseorang mengalami stroke, dia kehilangan se bagian kemampuan atau ketrampilan yang pernah dimilikinya. Untungnya, sel otak memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri yang kita kenal dengan istilah neuro plastisitas. Neuroplastisitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berubah, mem pelajari hal-hal baru, dan memba ngun ketrampilan baru. Rehabilitasi membantu mengarahkan proses ini kearah yang benar atau memper baikinya jika mulai bergerak kearah yang salah. Rehabilitasi pada intinya adalah proses belajar. Sebagai con toh: belajar untuk mengkoordinasi kan kembali gerakan tungkai saat berjalan. Rehabilitasi juga meng ajarkan berbagai metoda baru dalam melakukan aktivitas sehari-hari sebagai kompensasi kecacatan yang ada. Misalnya bagaimana cara mandi dan berpakaian hanya dengan satu lengan, bagaimana berkomunikasi dengan efektif jika terdapat gang
guan berbahasa. Rehabilitasi paska stroke ber tujuan membantu penderita stroke mencapai kemandirian dan kuali tas hidupnya seoptimal mungkin meskipun tidak dapat mengem balikan kerusakan pada otak yang terjadi akibat serangan stroke. Se lain itu, rehabilitasi juga bertujuan mencegah komplikasi, mengajarkan metode adaptif, melatih sistem saraf pusat yang rusak dan memastikan penggunaan alat-alat bantu dengan benar. Rehabilitasi dimulai saat perawat an akut di rumah sakit saat kondisi umumpasien telah stabil sekitar 2448 jam setelah serangan. Pada fase akut ini, rehabilitasi bertujuan men jaga aliran darah ke otak sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih luas, serta mencegah komplikasi yang timbul. Pasien dan keluarga diajarkan posisi yang benar dan cara berubah posisi saat berbaring untuk mencegah terjadinya luka dekubitus. Selanjutnya, pasien dan keluarga diajarkan cara duduk, berdiri, mem pertahankan keseimbangan bahkan berjalan dengan atau tanpa bantuan. Setelah pasien pulang dari rumah sakit, rehabilitasi dapat dilanjut kan dengan rawat jalan. Aktivitasaktivitas yang lebih kompleks seperti mandi, berpakaian, menggunakan toilet juga diajarkan sehingga pasien dapat melakukannya meski dengan kondisi lengan atau tungkai yang lumpuh. Proses rehabilitasi dapat berlangsung dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun. Berbagai gangguan atau disabi litas dapat terjadi pada penderita stroke mulai dari gangguan mobili tas, gangguan sensori dan nyeri, gangguan rawat diri, gangguan ko munikasi dan menelan, gangguan proses pikir dan memori, serta gang guan fungsi otonom seperti buang air besar atau kecil. Semua gangguan ini mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari penderitanya. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain luka dekubitus, pneumonia, kekakuan sendi, menurunnya kebugaran, dan konstipasi. Rehabilitasi bagi penderita stroke harus dilakukan secara kom prehensif dengan pendekatan yang holistik. Oleh karena itu rehabilitasi harus dilakukan oleh tim yang men cakup berbagai bidang ilmu. Tim rehabilitasi medik biasanya terdiri dari dokter dalam hal ini biasanya dokter spesialis rehabilitasi medik, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, ortotis prostetis, perawat rehabilitasi, psikolog, pekerja sosial
dr. Sisca Susantio, Sp. KFR medik, bahkan rohaniawan. Dokter rehabilitasi medikber tanggung jawab mengkoordinasikan perawatan jangka panjang penderita stroke dengan merekomendasikan program rehabilitasi yang paling sesuai dengan kebutuhan individu tersebut. Dokter juga bertanggung jawab memperhatikan kesehatan umum penderita stroke dan mem berikan panduan untuk mencegah serangan stroke kedua dengan me ngontrol tekanan darah atau kadar gula darah dan mengurangai faktor risiko seperti merokok, alkohol, berat badan berlebih, hiperkolesterol. Da lam hal ini dokter rehabilitasi medik juga bekerja sama dalam tim dengan dokter neurologi, penyakit dalam, geriatri dan spesialis lainnya sesuai kondisi penderita. Fisioterapis memiliki peran melatih kemampuan motorik dan sensorik dengan penekanan pada gerakan. Fisioterapis membantu mengembalikan kekuatan otot, ketahanan otot dan kar diorespirasi, lingkup gerak sendi, pola jalan yang tidak normal untuk mencapai fung si motoric yang yang optimal. Penderita stroke cenderung menghindari penggunaan sisi tubuh yang lumpuh. Hal ini menyebabkan fenome na learned non use. Namun dengan menggerakan sisi yang terkena, hal ini dapat merangsang neuroplastisitas. Berbagai strategi dilakukan oleh fisioterapis termasuk stimulasi sensori dengan tapping atau stroking, latihan lingkup gerak sendi aktif atau pasif, maupunmetode se
perti constraint induced movement therapy dan mirror therapy. Terapis okupasi melatih pen derita stroke melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi, menggu nakan toilet, berpakaian, merawat diri sendiri, makan . Bahkan pada tingkat lanjut, terapis dapat meng ajarkan bagaimana beradaptasi untuk mengemudikan kendaraan. Terapis okupasi juga dapat mengajar kan bagaimana membangun strategi kompensasi dan menggunakan alat bantu untuk aktivitas sehari-hari. Misalnya penderita stroke yang tidak dapat mengancingkan baju atau memegang sendok, dapat dibantu de ngan menggunakan alat bantu untuk mengancingkan baju dan memegang sendok. Mereka juga membantu me rekomendasikan perubahan di ru mah untuk meningkatkan keamanan, mengurangi halangan dan memfasili tasi kondisi rumah (diberi pegangan di kamar mandi dan sebagainya). Terapis wicara membantu pen derita stroke dengan afasia (gang guan berbahasa) untuk kembali belajar menggunakan bahasa atau membangun cara komunikasi alter natif. Mereka juga membantu pen derita dengan gangguan fungsi me nelan dengan memberikan stimulasi dan latihan untuk mengembalikan kekuatan dan lingkup gerak sendi pada otot-otot menelan dan berbi cara. Penderita stroke dapat diajar kan posisi menelan alternative yang aman untuk mencegah aspirasi atau masuknya makanan ke saluran nafas. Jika diperlukan, konsistensi makanan dapat disesuaikan bagi penderita stroke yang proses menelannya be lum sempurna. Perawat rehabilitasi membantu memberikan perawatan bagi pen derita stroke. Mereka mengedukasi perawatan kesehatan rutin, seperti
pemberian obat, dan bagaimana me rawat kulit , dan berbagai kebutuhan khusus sesuai kondisi pasien. Mereka juga melatih caregiver(pelaku rawat) untuk memberi perawatan diri seperti mandi dan mengontrol inkontinensia. Jika masalah inkontinensia berlanjut, mereka akan membantu pelaku rawat untuk memakaikan kateter. Tim rehabilitasi medik juga terdiri dari ortotis prostetis yang membantu menyediakan ortosis/alat bantu seperti splint untuk menahan anggota gerak tubuh pada posisi ter tentu dan mencegah kekakuan sendi. Kelemahan otot juga dapat dibantu dengan pemberian splint. Gangguan emosional seperti de presi, ketakutan, kemarahan dan sebagainya seringkali menyertai pros es pemulihan paska stroke. Hal ini akan sangat mempengaruhi proses rehabilitasi. Peran psikolog mungkin diperlukan untuk membantu meng atasi gangguan emosional ini. Pekerja sosial medik memperhatikan kondisi finansial dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi proses rehabilitasi. Mi salnya mereka mengkaji kondisi rumah, apakah cukup memadai menggunakan untuk kursi roda dan sebagainya. Keberhasilan rehabilitasi pada pasien stroke dipengaruhi oleh kon disi pasien seperti tingkat kerusakan pada otak dan penyakit penyerta. Keahlian tim rehabilitasi juga me megang peranan penting. Kerjasama keluarga, teman, pelaku rawat juga merupakan faktor yang penting dalam proses rehabilitasi. Waktu rehabilitasi juga menentukan keber hasilan. Semakin awal rehabilitasi dilakukan, semakin mungkin pen derita stoke mendapatkan kembali kemampuan yang hilang. Dari berbagai sumber dr. Sisca Susantio, Sp. KFR
Style
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Endek Berkarakter Kekayaan wastra Indonesia, khususnya endek di Bali kini semakin beragam warna dan motif nya. Terlihat jelas, endek kini tidak hanya dimi liki oleh kelompok umur tertentu namun dapat dikenakan siapa saja dan di mana saja.
D
i tangan Dewi Anyar salah s e o r a n g d e sainer muda Kota Denpasar, bagian dari produk budaya ini pun dig arapnya dalam berbagai model busana yang kental dengan aroma modern.
Mulai dari busana untuk kegiata n formal, semi formal, feminin sampai yang kasual. Bisa berupa blus dengan rok mini, midi, maxi maupun model lain yang semuanya memunculkan kesan fashionable. Seperti yang tergambar dalam halaman Style Tokoh pekan ini,
sekelompok ibu muda tengah menikmati kebersamaan dalam suansan yang dinamis dan hangat Balutan busana dan aksesori yang dikenakan setiap ibu muda ini mewakili karakter dan gaya personalnya yang menarik. Busana yang mereka kenakan juga tetap sesuai jika digunakan dalam acara - acara yang bernu ansa lebih santai. Balutan busana yang sebagian besar terinspirasi dari iramanya gaya bohemian ini sangat nyaman dikenakan. Hal ini mampu menjadikan para pe makainya memiliki tampilan lebih muda, fresh dan tentunya enak dipandang. –Sri Ardhini
15
14
Jelita
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Jaga Penampilan dengan Akupuntur Pada saat ini banyak sekali jenis perawatan kecantikan yang ditawarkan oleh rumah kecantikan yang sekarang ada dimana-mana. Tentu semua tujuannya untuk meningkatkan penampil an agar lebih percaya diri. Untuk kesempatan kali ini Tokoh menghadirkan bahasan tentang akupuntur, mulai dari pengertian hingga manfaat akupuntur untuk kecantikan.
M
e n u rut dr. Gede Eddy Mulyadi, Akp, pemilik Manika Aesthetic Clinic di kawasan jalan Tukad Irawadi, Denpasar, akupuntur adalah pengobatan tradisional yang berasal dari Cina dengan cara menusukkan jarum steril ke titik-titik tertentu di bawah kulit. Jarum tersebut ditusukkan kemudian distimulasi
dengan alat stimulator sehingga titik titik akupuntur di jalur meridian di dalam tubuh dapat bekerja secara optimal. Dikatakannya manfaat akupuntur untuk kecantikan terbilang cukup banyak, seperti mengencangkan pipi dan dahi, mengurangi keriput dan kerutan di dahi, mengurangi jerawat, mencerahkan kulit wajah dan membantu proses regenerasi kulit. Terapi akupunktur kecantikan adalah untuk menjaga, mengobati dan mempertahankan keadaan Qi (energi) agar tetap seimbang. Jika kondisi ini terjaga, maka tubuh menjadi sehat. Yang berarti pula kecantikan alamiah yang akan
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Di Lawang Sewu mengenal Sepur
Dalam perjalanan balik ke Bogor mengendarai mobil, saya bersama keluarga menyempatkan menginap di Semarang. Kami pun mengunjungi salah satu tujuan wisata yang menjadi ikon kota Semarang, yaitu Lawang Sewu. Lawang Sewu memang terkenal dengan cerita mistis tentang penampakan hantu. Lawang Sewu lebih terkenal karena cerita mistis daripada fungsinya sebagai museum perkeretaapian di Indonesia.
L
langsung terpancar. Dikatakannya , teknik akupuntur sudah terkenal ampuh membantu mengobati berbagai jenis penyakit dengan efek samping yang sangat minimal. Secara umum peralatan yang dipakai dalam proses akupunktur wajah adalah jarum dengan ukuran mulai 1/4 cun (ukuran jarum akupunktur) sampai 1/2 cun (khusus untuk wajah). Terakhir yaitu alat stimulator yang dikaitkan ke jarum di wajah. Setelah wajah kita dibersihkan lalu ditusuk dengan kurang lebih 6 - 10 buah jarum kemudian distimulasi selama sekitar 10 - 20 menit. Akan lebih baik jika kita dalam keadaan rileks. Untuk wajah, katanya penusukan dilakukan di dahi, pelipis, bawah mata, sudut mulut, dagu dan pipi. Hasilnya bisa dirasakan perlahan, biasanya setelah selesai akupuntur wajah menjadi lebih kenyal dan cerah. Jika dilakukan rutin, wajah dan kulit pun lebih sehat karena peredaran darah dan titik-titik akupuntur di jalur meridian menjadi lancar.. Saat melakukan proses akupuntur, kata dokter Eddy tekniknya mesti dilakukan oleh tenaga profesional. Jarum yang digunakan harus steril. Jarum yang belum digunakan harus disimpan di tempat yang aman dan tersegel. CERAH DAN AWET MUDA Dokter Eddy mengatakan khusus untuk akupuntur wajah, ada berbagai jenis terapi. Pilihlah terapi yang cocok dan aman bagi kulit, sebab setiap terapi akan memberikan hasil yang berbeda bagi setiap orang, sesuai kondisi tubuhnya. Ketika keseimbangan tubuh dapat dijaga, kecantikan alami akan terpancar. Selain itu terapi akupuntur dipercaya dapat membuat seseorang menjadi awet muda jika rutin melakukannya.
Akupuntur juga bermanfaat mengencangkan kulit, mengurangi garis-garis halus atau keriput di wajah, me ngurangi lingkaran hitam di bawah mata, mengobati jerawat, mencerahkan kulit wajah dan mengecilkan pori-pori, meningkatkan aliran darah pada kulit dan mengatasi kerontokan rambut. Akupuntur lanjutnya dapat menghaluskan kulit . Dilakukan dengan merangsang sistem meridian yang menimbulkan reaksi untuk meningkatkan peredaran darah dan produksi kolagen agar dapat bertambah. Akupuntur juga bermanfaat mengencangkan kulit, mengurangi garis-garis halus atau keriput di wajah, mengurangi lingkaran hitam di bawah mata, mengobati jerawat, mencerahkan kulit wajah dan mengecilkan pori-pori, meningkatkan aliran darah pada kulit dan mengatasi kerontokan rambut. Cara kerjanya adalah penusukan titik akupunktur akan memberikan efek pada tempat perangsangan maupun di tempat yang jauh dari tempat perangsangan melalui jalur meridian. Akupuntur juga akan mendorong produksi kolagen, yaitu protein yang digunakan tubuh untuk menjaga kulit awet muda dan elastis. Sementara titik akupuntur untuk kecantikan wajah tidak hanya terletak di wajah saja, akan tetapi juga di kaki, tangan, kepala, dan juga pelipis. Jarum yang dipergunakan untuk terapi akupunktur ini adalah jarum hanya sekali pakai (disposable needle).
Akupuntur juga dikatakannya dapat membuat tubuh langsing. Terapi melangsingkan tubuh dengan akupuntur dikenal aman, tanpa efek samping karena menggunakan cara yang alami. Prinsip kerjanya dengan meningkatkan metabolisme tubuh melalui stimulasi titik titik akupuntur. Di sini terapi akan merangsang titik tertentu pada tubuh yang nantinya akan dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan memperlancar aliran darah. Untuk itu akupuntur sangat efektif untuk menurunkan berat badan. Kita akan mendapatkan hasil yang maksimal bila dilakukan rutin dan disiplin dalam mengatur pola makan disertai aktivitas olahraga yang memadai. Perlu diketahui bahwa akupuntur relatif aman untuk semua orang. Akupuntur hanya menggunakan media jarum, tanpa menggunakan obat kimia sehingga tanpa resiko. Selain itu, yang kedua, terapi akupuntur berlangsung dalam waktu singkat dan anda akan dapat merasakan hasil yang optimal. Misalnya dalam mencerahkan kulit, dibutuhkan waktu hanya 10 - 15 menit. – Sri Ardhini
11
awang Sewu, kalau diterjemahkan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia artinya seribu pintu. Sekilas memang bangunan di Lawang Sewu memiliki pintu seribu, padahal pintunya tidak mencapai seribu buah. Desain jendela yang tinggi dengan bukaan lebar terlihat lebih menyerupai pintu daripada jendela, itulah sebabnya masyarakat setempat menyebut gedung ini Lawang Sewu, pintu seribu. Pengelolaan bangunan Lawang Sewu ini berada di bawah Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api Persero. Dari seorang pemandu wisata, Masala (30 tahun), kami baru mengetahui bahwa dulunya bangunan Lawang Sewu ini merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), gedung perkantoran kereta api di zaman penjajah Belanda. Sebelumnya NIS berkantor di Stasiun Samarang. Namun, karena pertambahan jalur jaringan kereta yang makin banyak, berdampak pada penambahan pegawai teknisi dan tenaga administrasi menyebabkan
kapasitas bangunan tidak memadai. NIS kemudian memutuskan untuk mendirikan gedung perkantoran untuk memfasilitasi bertambahnya pegawai. Gedung ini di bangun pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada tahun 1907. Pada tahun itu, NIS menjadi kantor pusat manajemen perkereta apian Belanda di Jawa dan Sumatera. Kontruksi gedung perkantoran ini sangat memperhatikan situasi tropis Indonesia. Terdapat 3 gedung utama di kompleks ini. Gedung A, Gedung B dan Gedung C. Sementara Gedung C masih belum bisa dikunjungi karena tahap renovasi. Gedung A berdiri dengan gagah di barisan paling depan. Gedung berlantai dua itu didesain berpintu banyak dan jendela yang tinggi dan lebar untuk memperbanyak bukaan angin. Selain itu dibawah atap genteng didesain sebuah talang air untuk menampung air hujan yang dialirkan ke ruangan bawah tanah. Air yang ada dibawah tanah itu juga untuk menambah dingin lantai ruangan yang terbuat dari marmer. Untuk memenuhi kebutuhan air, perkantoran itu membuat sumur
Kirim surat Anda ke Redaksi T okoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
RAMBUT KELAMIN “Dok, saya mau tanya tentang rambut-rambut di kelamin saya. Suami saya sebenarnya lebih senang dan lebih bergairah kalau rambut pubis saya banyak, masalahnya kalau dibiarkan banyak terkadang saat berhubungan seksual bisa jadi nyeri karena ada saja rambut yang tertarik masuk oleh gesekan kelamin. Jadi saya lebih senang memotong sebagian rambut yang sudah panjang berlebihan, karena sepanjang yang saya tahu juga, rambut pubis perlu dipelihara dengan baik kan, Dok. Soalnya kalau dibiarkan terlalu banyak, saya menjadi risih. Cuma saja, banyak teman yang menyarankan saya mencabut rambut pubis atau menghabiskannya dengan cara di”waxing”. Menurut dokter, itu bagaimana? Terima kasih” (Diah, 23, Yogyakarta)
V
agina adalah salah satu organ vital yang harus dijaga kebersihannya. Selalu menjaga kebersihan vagina tidak hanya akan menguntungkan
perempuan, tetapi juga pasangannya. Pada kenyataannya, banyak perempuan yang kurang memperhatikan kebersihan vagina dan sekitarnya dan ini dapat memicu
sedalam 1 kilometer yang terletak di sebelah depan kiri kompleks. Air tanah dibuatkan saringan agar rasanya tidak asin mengingat Kota Semarang dekat dengan laut. Air tanah ini dulunya dipompa untuk menaikkannya di tower air yang berada di atas atas gedung. Air ini kemudian disalurkan ke gedung lainnya. Sampai sekarang air tetap dipakai untuk toilet. Di sebelah kanan terdapat toilet. Toilet ini masih mempertahankan wastafel lama dengan ukurannya yang besar dan lebar. Kita bisa melihat pameran material dan cetak biru konstruksi Bangunan Lawang Sewu terletak di sebelah kanan pintu pemeriksaan tiket. Dulunya gedung ini dipakai untuk bagian teknis, seperti memindahkan jalur rel kereta dan tempat untuk membeli tiket kereta. Nah di sini, saya baru tahu ternyata sepur itu bukan kereta api, seperti biasa orang Jawa bilang, tetapi sepur lebih tepatnya adalah jalur rel kereta-nya. Sehingga didalam panel pemindahan rel kereta api ditandai dengan nama Sepur I, Sepur II, Sepur III dan seterusnya. Selain itu di dalam gedung ini dipamerkan pula material pembuatan gedung Lawang Sewu yang dibawa langsung dari Eropa, mulai dari batu bata, genteng, batu marmer, bata alam dan lainnya. Kotak sekering ditempelkan disebuah papan lebar ditembok, dengan pegangan lampu yang terbuat dari keramik agar tidak mudah terbakar jika terjadi arus pendek. Pelistrikan zaman itu menggunakan genset.
kayu untuk naik ke atas, tempat untuk mengintai.
RUANG PAMERAN KERETA API Ruang pameran kereta api terdapat di gedung A. Begitu memasuki gedung, kita bisa melihat hiasan kaca patri buatan Belanda yang sangat Indah. Ada juga ruang pertemuan, dan bilik-bilik kantor yang terawat baik. Memasuki bagian belakang gedung A, kita bisa melihat foto-foto tentang sejarah kereta api di Indonesia. Jalur kereta api pertama kali di fokuskan di Jawa
Timur untuk kepentingan angkutan perkebunan Belanda. Baru kemudian berkembang ke daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera. Rel kereta api zaman Belanda di buat lebar karena selain difungsikan untuk mengangkut panen juga untuk mengangkut bahan material untuk pembangunan. Di ruangan ini Anda bisa melihat pernak pernik kereta api dari zaman dahulu, seperti karcis kereta, alat pelubang karcis, mesin penghitung uang dan lainnya. Kita juga melihat maket kereta api yang memperlihatkan desain interior kereta api, lengkap dengan restoran dan tempat tidur layaknya sebuah hotel. Untuk pendingin di dalam ruangan, mereka menaruh es balok di bagian atap kereta. Kita juga bisa menonton video kereta api pada zaman dulu di akhir ruang pameran. Gedung B juga merupakan ruang administrasi. Gedung A terlihat lebih mewah dari gedung B, gedung B material lantainya adalah ubin. Di dalamnya terdapat ruangan ruangan yang saling terhubung satu sama lain. Di sebelah kiri Gedung B, kita bisa melihat kali yang konon dulu itu tempat membuat mayat setelah disiksa oleh tentara Jepang. Di bagian atap, kita seperti berada di dalam lambung kapal, dengan kontruksi material kayu atap yang dipasang kokoh. Sewaktu Kodam Diponogoro menggunakan Lawang Sewu sebagai markas selama 16 tahun, tempat ini digunakan sebagai tempat bermain bulu tangkis. Di bagian atap kita melihat ada tangga
risiko kesehatan yang cukup serius. Termasuk salah satunya adalah tidak memperhatikan bagaimana merawat rambut kelamin. Ketika sudah mulai puber atau menuju dewasa, setiap orang akan mengalami perubahan pada fisiknya, salah satunya adalah tumbuhnya rambut-rambut, termasuk rambut di kelamin, yang disebut dengan rambut pubis. Apa yang dilakukan sebenar nya sudah cukup tepat, karena walaupun ternyata rambut pubis bisa menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area vagina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. Keringat dan rambut pubis dapat menyatu sehingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sese ring mungkin untuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakaian. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih.
Tentang mencabut rambut pubis, sebenarnya tidak akan menimbulkan akibat buruk apapun, selama dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. Tetapi tentu saja proses pencabut an seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada kemungkinan risiko lebih mudah mengalami perlecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesek an dengan pakaian dalam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina. Akan lebih baik pilihan bisa
dilakukan dengan menggunting atau mencukur rapi saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian rambut, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk melindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian rambut pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu. Satu lagi, jangan lupa buat selalu menjaga kebersihan pakai an dalam. Seringlah mengganti pakaian dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabiskan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan kelamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual.
TRANSPORTASI PUBLIK Masala mengatakan pada pendudukan Jepang, Lawang Sewu juga menjadi tempat penyiksaan. Ruangan bawah tanah sebagai tempat penampungan air di bawah bangunan Lawang Sewu dijadikan sebagai ruang tahanan. Banyak isu warga pernah melihat penampakan roh, bau-bau wangi atau suara jeritan dari kompleks Lawang Sewu ini. Sewaktu kami berfoto, iseng Masala berkomentar, “Tolong dicek foto-nya, siapa tahu ada nambah satu lagi”. Mendengar itu, meskipun siang hari bolong, membuat bulu kuduk kami bergidik. Lawang Sewu sekarang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hari Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional merupakan puncak puncak tingginya kunjungan wisatawan ke tempat ini. Oleh masyarakat setempat Lawang Sewu juga dijadikan sebagai tempat untuk berfoto-foto juga untuk foto pre-wedding. Berkunjung ke Lawang Sewu membawa ingatan ke masa lalu, betapa majunya Indonesia dengan cikal bakal transportasi publik seperti kereta api. Solusi angkutan massal yang ramah energi, mengurangi kemacetan dan sangat membantu untuk mendistribusikan barang dan jasa. Jika Anda berkunjung ke Semarang, pastikan untuk mampir ke Lawang Sewu.–Parama Dewi
Kuliner
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
12
Icip Pedasnya Masakan Manado
Rawon Babi ala Bu Tjok Sanur Rawon merupakan makanan Indonesia yang mempunyai bumbu khas. Ada satu tambahan bumbu yang memang sangat spesial yang membuat kuah rawon menjadi hitam yakni pangi atau kluwak. Isi dari rawon biasanya daging kambing dan daging sapi. Namun, rawon juga bisa dibuat dari daging babi. Kreasi makanan ini disajikan Tjok Agung Adnyani, salah seorang wirausaha kuliner Bali, dalam ajang Sanur Festival beberapa hari lalu.
S
elain menarik perhatian pengunjung sanur Festival, rawon babi racikan Bu Tjok, begitu ia akrab disapa, ternyata juga diminati turis asing. Salah seorang turis asing yang sempat mencicipi rawon babi ala Bu Tjok, adalah Dee asal AS. Peempuan usia 35 tahun ini, mengatakan senang mencoba aneka makanan Indonesia. “Saya suka nasi goreng, sate, rendang, dll. Saya sudah keliling Indonesia mencoba aneka makanan Indonesia,” tutur Dee. Ia mengatakan, sangat tertarik ketika megetahui ada rawon babi. “Yang saya tahu, rawon dari daging sapi dan da
Bu Tjok bersama Dee
Bu Tjok
ging kambing,” ujarnya terheran-heran kepada Bu Tjok. Rasa penasaran inilah yang membuatnya tak menolak ketika diminta mencoba rawon babi kreasi Bu Tjok. Sesaat setelah menyeruput kuahnya, Dee langsung berkata “Emm..enak sekali,” katanya sembari menga cungkan jempol. Menurut Bu Tjok, untuk bumbu rawonnya memang sengaja tidak diberi cabai. Kalau ingin pedas, bisa menambahkan sambal yang sudah disiapkan. Uniknya, isi rawon hanya menggunakan bagian daging, tanpa menyertakan lemak sehingga rasa rawon lebih enak. Untuk bumbu Bu Tjok menggunakan bumbu siap jadi buatannya yang sudah dibrand “Puri Racik”. Kemudian,
ia tambahkan kluwak agar warna kuah rawon menjadi hitam. Cara penyajian rawon babi; bihun, tauge mentah, seledri, telur rebus, dan kentang rebus ditata di mangkuk. Kemudian disiram dengan kuah rawon. Beri sedikit taburan brambang goreng dan siap disajikan. Sate Asam Manis Selain rawon babi, Bu Tjok juga menjual sate babi asam manis. Untuk bumbu daging sate, ada kemiri, ketumbar, cabai merah, asam, dan sedikit gula. Cara pengolahannya, daging babi direndam dengan campuran bumbu beberapa saat, sebelum ditusuk. Setelah bumbu meresap, sate langsung dibakar. Menurut Bu Tjok, kelezatan sate babinya terletak pada bumbu perendam daging. “Dengan bumbu itu, rasa sate menjadi lebih enak,” katanya. Agar lebih afdol, sate disajikan dengan bumbu sambal tomat. “Pas dan mantap sekali,” ucap Pak Gede yang sedang menikmati sate babi sembari berkeringat karena saking pedasnya. Yang unik lagi dari masakanBu
Tjok, sambel tuwung. De ngan bumbu jadi khas Puri Racik, ia tambahkan juga terasi dan cabai sebagai campuran bumbu sambel tuwung atau disebut terong Bali. Pengolahannya, tuwung digoreng setengah matang. Kemudian, tumis bumbu sampai harum. Masukkan tuwung dan aduk rata. Sambel tuwung siap disajikan sebagai teman makan nasi. “Tanpa lauk-pauk, makan nasi cukup dengan sambel tuwung saja sudah enak” kata Runner Up I Ibu Teladan Bali Tahun 2008 ini. Enjoy dan Happy Bu Tjok membuka stan kuliner mulai pukul 10.00 sampai 22.00. Ia selalu bersemangat melayani pembeli yang datang ke stannya. Tak sedikit pun terlihat rasa lelah di wajahnya. Menurut Bu Tjok, semua resep kesehatannya itu, karena ia selalu enjoy dan santai. Itu juga, yang ditanyakan Dee saat mengunjungi warung makan
Rawon babi
Bu Tjok. Sembari makan, Bu Tjok juga menjelaskan tentang kebudayaan Bali, terutama tentang makanan khas Bali. Walaupun Bu Tjok mengatakan, bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus, namun Dee begitu antusias mendengar penjelasan Bu Tjok. Dee mengatakan salut de ngan kreasi Bu Tjok, dan ia juga memuji keterampilan Bu Tjok berbahasa Inggris. Bahkan, obrolan sore itu, bukan hanya sekadar membahas soal makan an, malah melebar sampai ke topik bagaimana cara Bu Tjok menjaga kesehatan agar tetap fit. “Yang penting happy dan selalu tersenyum,” tutur perempuan yang lahir bertepatan dengan Hari Kartini ini, sembari tertawa. –Wirati Astiti
Bali Sruti, di Café Teduh, Jalan Diponegoro Denpasar. Ada dua makanan Manado yang sangat menarik, dabu-dabu ikan goreng dan woku ikan.
Bahan dabu-dabu; cabai rawit, cabai merah, tomat (merah maupun hijau) dan bawang merah. Cara membuatnya sangat mudah, cukup diiris saja. Memasaknya sangat praktis karena tidak perlu meng ulek. Setelah itu, cukup disiram dengan minyak goreng yang masih cukup hangat. Biasanya lebih enak kalau menggunakan minyak setelah menggoreng ayam atau ikan dan diberi perasan air jeruk nipis. Dabu-dabu bisa dipadukan dengan apa saja, ikan ataupun daging ayam, bisa digoreng atau dib akar. Semuanya enak dan lezat dan tak mengurangi rasa kenikmatan sensasi masakan pedas yang segar ini. Sedangkan, woku adalah bumbu masakan ala Manado yang kaya akan rasa dan aroma yang khas. Berbagai jenis bahan masakan
13
Dabu dabu ikan goreng
akan terasa sangat lezat dan harum bila menggunakan bumbu woku ini. Masakan menjadi gurih walau tanpa menggunakan santan. Perpaduan aroma wangi dari daun jeruk, daun kemangi, daun kunyit, daun pandan, serai, dan bumbubumbu lain dalam masakan woku menjadi makanan ini sangat spesial. Woku lebih cocok dipadukan dengan ikan. Bumbu woku ini
direbus, kemudian ditambahkan ikan, dimasak sampai daging ikan lunak. Masakan berkuah ini sangat cocok jika dimakan saat musim dingin atau Anda sedang flu, karena dapat menghangatkan badan. Jika Anda tertarik menikmati menu masakan Manado ini, Anda bisa mencobanya di Café Teduh. Selamat mencoba. –Wirati Astiti
Woku
Telur Panggang Isi Sosis
Telur Orak-arik Seafood Sarwan
Chinesse Food
ati Nikm Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai Dapatkan discount
riah Murah Meih & Bers Sambel tuwung
Manado memang identik dengan rasa masakan pedas. Ada menu ricarica (ayam atau ikan), woku, pampis (sejenis suwiran ikan) semuanya bisa dipastikan menggunakan banyak cabai. Ada juga yang terkenal dabu-dabu. Dabu-dabu di Manado artinya sambal. Dabu-dabu adalah sambal mentah yang diulek maupun diiris. Jenis kuliner dengan bahan utama cabai ini untuk memberikan sensasi rasa pedas.
Di Denpasar, ada juga tempat makan yang menjual masakan Manado. Tokoh berkesempatan mencoba dua masakan Manado ini, saat diskusi bersama LSM
Es Mie Ceria
Sate babi
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
10%
Es Campur Mutiara
Bagi yang merayakan ulang tahun di bulan September
Berlaku mulai 1 s.d. 30 September 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Bahan: 4 butir : telur, kocok lepas 50 ml : susu full cream 2 sdm : margarine 150 gr : udang kupas 100 gr : cumi, potong bulat bulat, buang tintanya 5 buah : bakso ikan, iris bulat tipis-tipis 3 siung : bawang putih ½ bawang : bombai, cincang halus 1 buah : cabe merah besar, buang bijinya, potong dadu. 1 sdt : lada bubuk. 1 sdt : kaldu bubuk. Garam, gula secukupnya.
Cara Membuat : - Campur telur ayam bersama susu full cream. Aduk-aduk rata, sisihkan. - Panaskan margarin dengan api sedang, lalu tuang campuran telur, aduk acak sampai telur agak hancur dan kaku. - Masukkan udang, cumi, bakso ikan, bawang bombay dan irisan cabe besar merah, lada bubuk, kaldu bubuk, garam, gula. Lalu, aduk-aduk hingga matang dan
bumbu meresap, siap disajikan.
Bahan: 6 butir 1 sdm 3 buah 100 gr
: telur : kaldu bubuk : sosis rasa apa saja, iris tipis : beby buncis, iris tipis 100 gr : keju parut 2 buah : jagung manis sisir 1 buah : wortel, iris dadu kecil 1 sdt : lada bubuk ¼ sdt : lada bubuk 1 sdm : bawang putih, cincang halus 1 sdm : margarin 1 sdm : tepung terigu Kaldu bubuk, gula, garam secukupnya
parut, jagung, buncis dan sosis lalu aduk rata. - Olesi pinggan anti panas dengan margarine. Taburi tepung terigu, tuang adonan telur, panggang sampai matang, angkat dan potong-potong sesuai selera. - Sajikan selagi panas dengan saus sambal siap pakai.
Cara Membuat: - Kocok telur bersama kaldu bubuk, lada, pala, garam dan gula sampai berserabut. - Masukkan irisan wortel, keju
Telur Masak Nenas Bahan: 10 butir : telur rebus, kupas, sayat-sayat 2 lembar : daun jeruk 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 200 ml : santal kental 100 ml : air ½ buah nanas, potong dadu Minyak secukupnya untuk menggoreng dan menumis
Kaldu bubuk, garam, gula secukupnya Bumbu yang Dihaluskan : 7 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 7 buah : cabe merah keriting ½ sdt : lada 3 butir : kemiri sangrai Cara Membuat: - Goreng telur, rebus sampai
kecokelatan, angkat, tiriskan. - Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai dan lengkuas sampai harum lalu tuang air sampai mendidih. - Masukkan telur, masak hingga mendidih dan masukkan irisan nanas. Lalu masukkan santan kental, kecilkan api, masak sampai kuah berkurang dan aduk-aduk agar santan tidak pecah serta bumbu meresap. - Siap disajikan.
Kuliner
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
12
Icip Pedasnya Masakan Manado
Rawon Babi ala Bu Tjok Sanur Rawon merupakan makanan Indonesia yang mempunyai bumbu khas. Ada satu tambahan bumbu yang memang sangat spesial yang membuat kuah rawon menjadi hitam yakni pangi atau kluwak. Isi dari rawon biasanya daging kambing dan daging sapi. Namun, rawon juga bisa dibuat dari daging babi. Kreasi makanan ini disajikan Tjok Agung Adnyani, salah seorang wirausaha kuliner Bali, dalam ajang Sanur Festival beberapa hari lalu.
S
elain menarik perhatian pengunjung sanur Festival, rawon babi racikan Bu Tjok, begitu ia akrab disapa, ternyata juga diminati turis asing. Salah seorang turis asing yang sempat mencicipi rawon babi ala Bu Tjok, adalah Dee asal AS. Peempuan usia 35 tahun ini, mengatakan senang mencoba aneka makanan Indonesia. “Saya suka nasi goreng, sate, rendang, dll. Saya sudah keliling Indonesia mencoba aneka makanan Indonesia,” tutur Dee. Ia mengatakan, sangat tertarik ketika megetahui ada rawon babi. “Yang saya tahu, rawon dari daging sapi dan da
Bu Tjok bersama Dee
Bu Tjok
ging kambing,” ujarnya terheran-heran kepada Bu Tjok. Rasa penasaran inilah yang membuatnya tak menolak ketika diminta mencoba rawon babi kreasi Bu Tjok. Sesaat setelah menyeruput kuahnya, Dee langsung berkata “Emm..enak sekali,” katanya sembari menga cungkan jempol. Menurut Bu Tjok, untuk bumbu rawonnya memang sengaja tidak diberi cabai. Kalau ingin pedas, bisa menambahkan sambal yang sudah disiapkan. Uniknya, isi rawon hanya menggunakan bagian daging, tanpa menyertakan lemak sehingga rasa rawon lebih enak. Untuk bumbu Bu Tjok menggunakan bumbu siap jadi buatannya yang sudah dibrand “Puri Racik”. Kemudian,
ia tambahkan kluwak agar warna kuah rawon menjadi hitam. Cara penyajian rawon babi; bihun, tauge mentah, seledri, telur rebus, dan kentang rebus ditata di mangkuk. Kemudian disiram dengan kuah rawon. Beri sedikit taburan brambang goreng dan siap disajikan. Sate Asam Manis Selain rawon babi, Bu Tjok juga menjual sate babi asam manis. Untuk bumbu daging sate, ada kemiri, ketumbar, cabai merah, asam, dan sedikit gula. Cara pengolahannya, daging babi direndam dengan campuran bumbu beberapa saat, sebelum ditusuk. Setelah bumbu meresap, sate langsung dibakar. Menurut Bu Tjok, kelezatan sate babinya terletak pada bumbu perendam daging. “Dengan bumbu itu, rasa sate menjadi lebih enak,” katanya. Agar lebih afdol, sate disajikan dengan bumbu sambal tomat. “Pas dan mantap sekali,” ucap Pak Gede yang sedang menikmati sate babi sembari berkeringat karena saking pedasnya. Yang unik lagi dari masakanBu
Tjok, sambel tuwung. De ngan bumbu jadi khas Puri Racik, ia tambahkan juga terasi dan cabai sebagai campuran bumbu sambel tuwung atau disebut terong Bali. Pengolahannya, tuwung digoreng setengah matang. Kemudian, tumis bumbu sampai harum. Masukkan tuwung dan aduk rata. Sambel tuwung siap disajikan sebagai teman makan nasi. “Tanpa lauk-pauk, makan nasi cukup dengan sambel tuwung saja sudah enak” kata Runner Up I Ibu Teladan Bali Tahun 2008 ini. Enjoy dan Happy Bu Tjok membuka stan kuliner mulai pukul 10.00 sampai 22.00. Ia selalu bersemangat melayani pembeli yang datang ke stannya. Tak sedikit pun terlihat rasa lelah di wajahnya. Menurut Bu Tjok, semua resep kesehatannya itu, karena ia selalu enjoy dan santai. Itu juga, yang ditanyakan Dee saat mengunjungi warung makan
Rawon babi
Bu Tjok. Sembari makan, Bu Tjok juga menjelaskan tentang kebudayaan Bali, terutama tentang makanan khas Bali. Walaupun Bu Tjok mengatakan, bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus, namun Dee begitu antusias mendengar penjelasan Bu Tjok. Dee mengatakan salut de ngan kreasi Bu Tjok, dan ia juga memuji keterampilan Bu Tjok berbahasa Inggris. Bahkan, obrolan sore itu, bukan hanya sekadar membahas soal makan an, malah melebar sampai ke topik bagaimana cara Bu Tjok menjaga kesehatan agar tetap fit. “Yang penting happy dan selalu tersenyum,” tutur perempuan yang lahir bertepatan dengan Hari Kartini ini, sembari tertawa. –Wirati Astiti
Bali Sruti, di Café Teduh, Jalan Diponegoro Denpasar. Ada dua makanan Manado yang sangat menarik, dabu-dabu ikan goreng dan woku ikan.
Bahan dabu-dabu; cabai rawit, cabai merah, tomat (merah maupun hijau) dan bawang merah. Cara membuatnya sangat mudah, cukup diiris saja. Memasaknya sangat praktis karena tidak perlu meng ulek. Setelah itu, cukup disiram dengan minyak goreng yang masih cukup hangat. Biasanya lebih enak kalau menggunakan minyak setelah menggoreng ayam atau ikan dan diberi perasan air jeruk nipis. Dabu-dabu bisa dipadukan dengan apa saja, ikan ataupun daging ayam, bisa digoreng atau dib akar. Semuanya enak dan lezat dan tak mengurangi rasa kenikmatan sensasi masakan pedas yang segar ini. Sedangkan, woku adalah bumbu masakan ala Manado yang kaya akan rasa dan aroma yang khas. Berbagai jenis bahan masakan
13
Dabu dabu ikan goreng
akan terasa sangat lezat dan harum bila menggunakan bumbu woku ini. Masakan menjadi gurih walau tanpa menggunakan santan. Perpaduan aroma wangi dari daun jeruk, daun kemangi, daun kunyit, daun pandan, serai, dan bumbubumbu lain dalam masakan woku menjadi makanan ini sangat spesial. Woku lebih cocok dipadukan dengan ikan. Bumbu woku ini
direbus, kemudian ditambahkan ikan, dimasak sampai daging ikan lunak. Masakan berkuah ini sangat cocok jika dimakan saat musim dingin atau Anda sedang flu, karena dapat menghangatkan badan. Jika Anda tertarik menikmati menu masakan Manado ini, Anda bisa mencobanya di Café Teduh. Selamat mencoba. –Wirati Astiti
Woku
Telur Panggang Isi Sosis
Telur Orak-arik Seafood Sarwan
Chinesse Food
ati Nikm Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai Dapatkan discount
riah Murah Meih & Bers Sambel tuwung
Manado memang identik dengan rasa masakan pedas. Ada menu ricarica (ayam atau ikan), woku, pampis (sejenis suwiran ikan) semuanya bisa dipastikan menggunakan banyak cabai. Ada juga yang terkenal dabu-dabu. Dabu-dabu di Manado artinya sambal. Dabu-dabu adalah sambal mentah yang diulek maupun diiris. Jenis kuliner dengan bahan utama cabai ini untuk memberikan sensasi rasa pedas.
Di Denpasar, ada juga tempat makan yang menjual masakan Manado. Tokoh berkesempatan mencoba dua masakan Manado ini, saat diskusi bersama LSM
Es Mie Ceria
Sate babi
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
10%
Es Campur Mutiara
Bagi yang merayakan ulang tahun di bulan September
Berlaku mulai 1 s.d. 30 September 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Bahan: 4 butir : telur, kocok lepas 50 ml : susu full cream 2 sdm : margarine 150 gr : udang kupas 100 gr : cumi, potong bulat bulat, buang tintanya 5 buah : bakso ikan, iris bulat tipis-tipis 3 siung : bawang putih ½ bawang : bombai, cincang halus 1 buah : cabe merah besar, buang bijinya, potong dadu. 1 sdt : lada bubuk. 1 sdt : kaldu bubuk. Garam, gula secukupnya.
Cara Membuat : - Campur telur ayam bersama susu full cream. Aduk-aduk rata, sisihkan. - Panaskan margarin dengan api sedang, lalu tuang campuran telur, aduk acak sampai telur agak hancur dan kaku. - Masukkan udang, cumi, bakso ikan, bawang bombay dan irisan cabe besar merah, lada bubuk, kaldu bubuk, garam, gula. Lalu, aduk-aduk hingga matang dan
bumbu meresap, siap disajikan.
Bahan: 6 butir 1 sdm 3 buah 100 gr
: telur : kaldu bubuk : sosis rasa apa saja, iris tipis : beby buncis, iris tipis 100 gr : keju parut 2 buah : jagung manis sisir 1 buah : wortel, iris dadu kecil 1 sdt : lada bubuk ¼ sdt : lada bubuk 1 sdm : bawang putih, cincang halus 1 sdm : margarin 1 sdm : tepung terigu Kaldu bubuk, gula, garam secukupnya
parut, jagung, buncis dan sosis lalu aduk rata. - Olesi pinggan anti panas dengan margarine. Taburi tepung terigu, tuang adonan telur, panggang sampai matang, angkat dan potong-potong sesuai selera. - Sajikan selagi panas dengan saus sambal siap pakai.
Cara Membuat: - Kocok telur bersama kaldu bubuk, lada, pala, garam dan gula sampai berserabut. - Masukkan irisan wortel, keju
Telur Masak Nenas Bahan: 10 butir : telur rebus, kupas, sayat-sayat 2 lembar : daun jeruk 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 200 ml : santal kental 100 ml : air ½ buah nanas, potong dadu Minyak secukupnya untuk menggoreng dan menumis
Kaldu bubuk, garam, gula secukupnya Bumbu yang Dihaluskan : 7 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 7 buah : cabe merah keriting ½ sdt : lada 3 butir : kemiri sangrai Cara Membuat: - Goreng telur, rebus sampai
kecokelatan, angkat, tiriskan. - Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai dan lengkuas sampai harum lalu tuang air sampai mendidih. - Masukkan telur, masak hingga mendidih dan masukkan irisan nanas. Lalu masukkan santan kental, kecilkan api, masak sampai kuah berkurang dan aduk-aduk agar santan tidak pecah serta bumbu meresap. - Siap disajikan.
14
Jelita
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Jaga Penampilan dengan Akupuntur Pada saat ini banyak sekali jenis perawatan kecantikan yang ditawarkan oleh rumah kecantikan yang sekarang ada dimana-mana. Tentu semua tujuannya untuk meningkatkan penampil an agar lebih percaya diri. Untuk kesempatan kali ini Tokoh menghadirkan bahasan tentang akupuntur, mulai dari pengertian hingga manfaat akupuntur untuk kecantikan.
M
e n u rut dr. Gede Eddy Mulyadi, Akp, pemilik Manika Aesthetic Clinic di kawasan jalan Tukad Irawadi, Denpasar, akupuntur adalah pengobatan tradisional yang berasal dari Cina dengan cara menusukkan jarum steril ke titik-titik tertentu di bawah kulit. Jarum tersebut ditusukkan kemudian distimulasi
dengan alat stimulator sehingga titik titik akupuntur di jalur meridian di dalam tubuh dapat bekerja secara optimal. Dikatakannya manfaat akupuntur untuk kecantikan terbilang cukup banyak, seperti mengencangkan pipi dan dahi, mengurangi keriput dan kerutan di dahi, mengurangi jerawat, mencerahkan kulit wajah dan membantu proses regenerasi kulit. Terapi akupunktur kecantikan adalah untuk menjaga, mengobati dan mempertahankan keadaan Qi (energi) agar tetap seimbang. Jika kondisi ini terjaga, maka tubuh menjadi sehat. Yang berarti pula kecantikan alamiah yang akan
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Di Lawang Sewu mengenal Sepur
Dalam perjalanan balik ke Bogor mengendarai mobil, saya bersama keluarga menyempatkan menginap di Semarang. Kami pun mengunjungi salah satu tujuan wisata yang menjadi ikon kota Semarang, yaitu Lawang Sewu. Lawang Sewu memang terkenal dengan cerita mistis tentang penampakan hantu. Lawang Sewu lebih terkenal karena cerita mistis daripada fungsinya sebagai museum perkeretaapian di Indonesia.
L
langsung terpancar. Dikatakannya , teknik akupuntur sudah terkenal ampuh membantu mengobati berbagai jenis penyakit dengan efek samping yang sangat minimal. Secara umum peralatan yang dipakai dalam proses akupunktur wajah adalah jarum dengan ukuran mulai 1/4 cun (ukuran jarum akupunktur) sampai 1/2 cun (khusus untuk wajah). Terakhir yaitu alat stimulator yang dikaitkan ke jarum di wajah. Setelah wajah kita dibersihkan lalu ditusuk dengan kurang lebih 6 - 10 buah jarum kemudian distimulasi selama sekitar 10 - 20 menit. Akan lebih baik jika kita dalam keadaan rileks. Untuk wajah, katanya penusukan dilakukan di dahi, pelipis, bawah mata, sudut mulut, dagu dan pipi. Hasilnya bisa dirasakan perlahan, biasanya setelah selesai akupuntur wajah menjadi lebih kenyal dan cerah. Jika dilakukan rutin, wajah dan kulit pun lebih sehat karena peredaran darah dan titik-titik akupuntur di jalur meridian menjadi lancar.. Saat melakukan proses akupuntur, kata dokter Eddy tekniknya mesti dilakukan oleh tenaga profesional. Jarum yang digunakan harus steril. Jarum yang belum digunakan harus disimpan di tempat yang aman dan tersegel. CERAH DAN AWET MUDA Dokter Eddy mengatakan khusus untuk akupuntur wajah, ada berbagai jenis terapi. Pilihlah terapi yang cocok dan aman bagi kulit, sebab setiap terapi akan memberikan hasil yang berbeda bagi setiap orang, sesuai kondisi tubuhnya. Ketika keseimbangan tubuh dapat dijaga, kecantikan alami akan terpancar. Selain itu terapi akupuntur dipercaya dapat membuat seseorang menjadi awet muda jika rutin melakukannya.
Akupuntur juga bermanfaat mengencangkan kulit, mengurangi garis-garis halus atau keriput di wajah, me ngurangi lingkaran hitam di bawah mata, mengobati jerawat, mencerahkan kulit wajah dan mengecilkan pori-pori, meningkatkan aliran darah pada kulit dan mengatasi kerontokan rambut. Akupuntur lanjutnya dapat menghaluskan kulit . Dilakukan dengan merangsang sistem meridian yang menimbulkan reaksi untuk meningkatkan peredaran darah dan produksi kolagen agar dapat bertambah. Akupuntur juga bermanfaat mengencangkan kulit, mengurangi garis-garis halus atau keriput di wajah, mengurangi lingkaran hitam di bawah mata, mengobati jerawat, mencerahkan kulit wajah dan mengecilkan pori-pori, meningkatkan aliran darah pada kulit dan mengatasi kerontokan rambut. Cara kerjanya adalah penusukan titik akupunktur akan memberikan efek pada tempat perangsangan maupun di tempat yang jauh dari tempat perangsangan melalui jalur meridian. Akupuntur juga akan mendorong produksi kolagen, yaitu protein yang digunakan tubuh untuk menjaga kulit awet muda dan elastis. Sementara titik akupuntur untuk kecantikan wajah tidak hanya terletak di wajah saja, akan tetapi juga di kaki, tangan, kepala, dan juga pelipis. Jarum yang dipergunakan untuk terapi akupunktur ini adalah jarum hanya sekali pakai (disposable needle).
Akupuntur juga dikatakannya dapat membuat tubuh langsing. Terapi melangsingkan tubuh dengan akupuntur dikenal aman, tanpa efek samping karena menggunakan cara yang alami. Prinsip kerjanya dengan meningkatkan metabolisme tubuh melalui stimulasi titik titik akupuntur. Di sini terapi akan merangsang titik tertentu pada tubuh yang nantinya akan dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan memperlancar aliran darah. Untuk itu akupuntur sangat efektif untuk menurunkan berat badan. Kita akan mendapatkan hasil yang maksimal bila dilakukan rutin dan disiplin dalam mengatur pola makan disertai aktivitas olahraga yang memadai. Perlu diketahui bahwa akupuntur relatif aman untuk semua orang. Akupuntur hanya menggunakan media jarum, tanpa menggunakan obat kimia sehingga tanpa resiko. Selain itu, yang kedua, terapi akupuntur berlangsung dalam waktu singkat dan anda akan dapat merasakan hasil yang optimal. Misalnya dalam mencerahkan kulit, dibutuhkan waktu hanya 10 - 15 menit. – Sri Ardhini
11
awang Sewu, kalau diterjemahkan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia artinya seribu pintu. Sekilas memang bangunan di Lawang Sewu memiliki pintu seribu, padahal pintunya tidak mencapai seribu buah. Desain jendela yang tinggi dengan bukaan lebar terlihat lebih menyerupai pintu daripada jendela, itulah sebabnya masyarakat setempat menyebut gedung ini Lawang Sewu, pintu seribu. Pengelolaan bangunan Lawang Sewu ini berada di bawah Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api Persero. Dari seorang pemandu wisata, Masala (30 tahun), kami baru mengetahui bahwa dulunya bangunan Lawang Sewu ini merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), gedung perkantoran kereta api di zaman penjajah Belanda. Sebelumnya NIS berkantor di Stasiun Samarang. Namun, karena pertambahan jalur jaringan kereta yang makin banyak, berdampak pada penambahan pegawai teknisi dan tenaga administrasi menyebabkan
kapasitas bangunan tidak memadai. NIS kemudian memutuskan untuk mendirikan gedung perkantoran untuk memfasilitasi bertambahnya pegawai. Gedung ini di bangun pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada tahun 1907. Pada tahun itu, NIS menjadi kantor pusat manajemen perkereta apian Belanda di Jawa dan Sumatera. Kontruksi gedung perkantoran ini sangat memperhatikan situasi tropis Indonesia. Terdapat 3 gedung utama di kompleks ini. Gedung A, Gedung B dan Gedung C. Sementara Gedung C masih belum bisa dikunjungi karena tahap renovasi. Gedung A berdiri dengan gagah di barisan paling depan. Gedung berlantai dua itu didesain berpintu banyak dan jendela yang tinggi dan lebar untuk memperbanyak bukaan angin. Selain itu dibawah atap genteng didesain sebuah talang air untuk menampung air hujan yang dialirkan ke ruangan bawah tanah. Air yang ada dibawah tanah itu juga untuk menambah dingin lantai ruangan yang terbuat dari marmer. Untuk memenuhi kebutuhan air, perkantoran itu membuat sumur
Kirim surat Anda ke Redaksi T okoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
RAMBUT KELAMIN “Dok, saya mau tanya tentang rambut-rambut di kelamin saya. Suami saya sebenarnya lebih senang dan lebih bergairah kalau rambut pubis saya banyak, masalahnya kalau dibiarkan banyak terkadang saat berhubungan seksual bisa jadi nyeri karena ada saja rambut yang tertarik masuk oleh gesekan kelamin. Jadi saya lebih senang memotong sebagian rambut yang sudah panjang berlebihan, karena sepanjang yang saya tahu juga, rambut pubis perlu dipelihara dengan baik kan, Dok. Soalnya kalau dibiarkan terlalu banyak, saya menjadi risih. Cuma saja, banyak teman yang menyarankan saya mencabut rambut pubis atau menghabiskannya dengan cara di”waxing”. Menurut dokter, itu bagaimana? Terima kasih” (Diah, 23, Yogyakarta)
V
agina adalah salah satu organ vital yang harus dijaga kebersihannya. Selalu menjaga kebersihan vagina tidak hanya akan menguntungkan
perempuan, tetapi juga pasangannya. Pada kenyataannya, banyak perempuan yang kurang memperhatikan kebersihan vagina dan sekitarnya dan ini dapat memicu
sedalam 1 kilometer yang terletak di sebelah depan kiri kompleks. Air tanah dibuatkan saringan agar rasanya tidak asin mengingat Kota Semarang dekat dengan laut. Air tanah ini dulunya dipompa untuk menaikkannya di tower air yang berada di atas atas gedung. Air ini kemudian disalurkan ke gedung lainnya. Sampai sekarang air tetap dipakai untuk toilet. Di sebelah kanan terdapat toilet. Toilet ini masih mempertahankan wastafel lama dengan ukurannya yang besar dan lebar. Kita bisa melihat pameran material dan cetak biru konstruksi Bangunan Lawang Sewu terletak di sebelah kanan pintu pemeriksaan tiket. Dulunya gedung ini dipakai untuk bagian teknis, seperti memindahkan jalur rel kereta dan tempat untuk membeli tiket kereta. Nah di sini, saya baru tahu ternyata sepur itu bukan kereta api, seperti biasa orang Jawa bilang, tetapi sepur lebih tepatnya adalah jalur rel kereta-nya. Sehingga didalam panel pemindahan rel kereta api ditandai dengan nama Sepur I, Sepur II, Sepur III dan seterusnya. Selain itu di dalam gedung ini dipamerkan pula material pembuatan gedung Lawang Sewu yang dibawa langsung dari Eropa, mulai dari batu bata, genteng, batu marmer, bata alam dan lainnya. Kotak sekering ditempelkan disebuah papan lebar ditembok, dengan pegangan lampu yang terbuat dari keramik agar tidak mudah terbakar jika terjadi arus pendek. Pelistrikan zaman itu menggunakan genset.
kayu untuk naik ke atas, tempat untuk mengintai.
RUANG PAMERAN KERETA API Ruang pameran kereta api terdapat di gedung A. Begitu memasuki gedung, kita bisa melihat hiasan kaca patri buatan Belanda yang sangat Indah. Ada juga ruang pertemuan, dan bilik-bilik kantor yang terawat baik. Memasuki bagian belakang gedung A, kita bisa melihat foto-foto tentang sejarah kereta api di Indonesia. Jalur kereta api pertama kali di fokuskan di Jawa
Timur untuk kepentingan angkutan perkebunan Belanda. Baru kemudian berkembang ke daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera. Rel kereta api zaman Belanda di buat lebar karena selain difungsikan untuk mengangkut panen juga untuk mengangkut bahan material untuk pembangunan. Di ruangan ini Anda bisa melihat pernak pernik kereta api dari zaman dahulu, seperti karcis kereta, alat pelubang karcis, mesin penghitung uang dan lainnya. Kita juga melihat maket kereta api yang memperlihatkan desain interior kereta api, lengkap dengan restoran dan tempat tidur layaknya sebuah hotel. Untuk pendingin di dalam ruangan, mereka menaruh es balok di bagian atap kereta. Kita juga bisa menonton video kereta api pada zaman dulu di akhir ruang pameran. Gedung B juga merupakan ruang administrasi. Gedung A terlihat lebih mewah dari gedung B, gedung B material lantainya adalah ubin. Di dalamnya terdapat ruangan ruangan yang saling terhubung satu sama lain. Di sebelah kiri Gedung B, kita bisa melihat kali yang konon dulu itu tempat membuat mayat setelah disiksa oleh tentara Jepang. Di bagian atap, kita seperti berada di dalam lambung kapal, dengan kontruksi material kayu atap yang dipasang kokoh. Sewaktu Kodam Diponogoro menggunakan Lawang Sewu sebagai markas selama 16 tahun, tempat ini digunakan sebagai tempat bermain bulu tangkis. Di bagian atap kita melihat ada tangga
risiko kesehatan yang cukup serius. Termasuk salah satunya adalah tidak memperhatikan bagaimana merawat rambut kelamin. Ketika sudah mulai puber atau menuju dewasa, setiap orang akan mengalami perubahan pada fisiknya, salah satunya adalah tumbuhnya rambut-rambut, termasuk rambut di kelamin, yang disebut dengan rambut pubis. Apa yang dilakukan sebenar nya sudah cukup tepat, karena walaupun ternyata rambut pubis bisa menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area vagina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. Keringat dan rambut pubis dapat menyatu sehingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sese ring mungkin untuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakaian. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih.
Tentang mencabut rambut pubis, sebenarnya tidak akan menimbulkan akibat buruk apapun, selama dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. Tetapi tentu saja proses pencabut an seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada kemungkinan risiko lebih mudah mengalami perlecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesek an dengan pakaian dalam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina. Akan lebih baik pilihan bisa
dilakukan dengan menggunting atau mencukur rapi saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian rambut, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk melindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian rambut pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu. Satu lagi, jangan lupa buat selalu menjaga kebersihan pakai an dalam. Seringlah mengganti pakaian dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabiskan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan kelamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual.
TRANSPORTASI PUBLIK Masala mengatakan pada pendudukan Jepang, Lawang Sewu juga menjadi tempat penyiksaan. Ruangan bawah tanah sebagai tempat penampungan air di bawah bangunan Lawang Sewu dijadikan sebagai ruang tahanan. Banyak isu warga pernah melihat penampakan roh, bau-bau wangi atau suara jeritan dari kompleks Lawang Sewu ini. Sewaktu kami berfoto, iseng Masala berkomentar, “Tolong dicek foto-nya, siapa tahu ada nambah satu lagi”. Mendengar itu, meskipun siang hari bolong, membuat bulu kuduk kami bergidik. Lawang Sewu sekarang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hari Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional merupakan puncak puncak tingginya kunjungan wisatawan ke tempat ini. Oleh masyarakat setempat Lawang Sewu juga dijadikan sebagai tempat untuk berfoto-foto juga untuk foto pre-wedding. Berkunjung ke Lawang Sewu membawa ingatan ke masa lalu, betapa majunya Indonesia dengan cikal bakal transportasi publik seperti kereta api. Solusi angkutan massal yang ramah energi, mengurangi kemacetan dan sangat membantu untuk mendistribusikan barang dan jasa. Jika Anda berkunjung ke Semarang, pastikan untuk mampir ke Lawang Sewu.–Parama Dewi
10
Bugar
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Penderita Stroke Dapat Hidup Mandiri
Stroke masih merupakan pem bunuh ketigadi dunia dan pertama di Indonesia. Tidak hanya itu, stroke merupakan penyumbang terbesar angka disabilitas di seluruh dunia. Stroke terjadi karena gangguan aliran darah ke sel otak yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa disebabkan oleh perdarahan maupun penyum batan pembuluh darah. Akibat gang guan aliran darah ini, sel-sel di otak menjadi rusak. Selain kematian, stroke juga menimbulkan kecacatan. Menurut National Stroke Association, hanya 10% penderita stroke yang pulih hampir sempurna, 25% pulih dengan gangguan minor, 40% mengalami gangguan sedang sampai berat yang memerlukan perawatan khusus, dan 10% memerlukan perawatan di rumah-rumah perawatan (nursing home). Lima belas persen penderita stroke meninggal segera setelah se rangan, dansekitar 14% mengalami stroke ke dua pada tahun pertama setelah serangan. Beban biaya yang ditimbulkan akibat penyakit stroke sangat tinggi baik beban secara langsung akibat biaya perawatan maupun beban tidak langsung akibat hilangnya masa kerja atau produk tivitas seseorang. Tidak hanya bagi penderita stroke itu sendiri, beban juga dirasakan oleh keluarga yang merawat. Penderita stroke kehilan gan kemandiriannya sehingga me merlukan perawatan dan pendam pingan oleh pihak keluarga. Otak merupakan organ yang merupakan pusat pengatur seluruh kehidupan manusia. Saat seseorang mengalami stroke, dia kehilangan se bagian kemampuan atau ketrampilan yang pernah dimilikinya. Untungnya, sel otak memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri yang kita kenal dengan istilah neuro plastisitas. Neuroplastisitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berubah, mem pelajari hal-hal baru, dan memba ngun ketrampilan baru. Rehabilitasi membantu mengarahkan proses ini kearah yang benar atau memper baikinya jika mulai bergerak kearah yang salah. Rehabilitasi pada intinya adalah proses belajar. Sebagai con toh: belajar untuk mengkoordinasi kan kembali gerakan tungkai saat berjalan. Rehabilitasi juga meng ajarkan berbagai metoda baru dalam melakukan aktivitas sehari-hari sebagai kompensasi kecacatan yang ada. Misalnya bagaimana cara mandi dan berpakaian hanya dengan satu lengan, bagaimana berkomunikasi dengan efektif jika terdapat gang
guan berbahasa. Rehabilitasi paska stroke ber tujuan membantu penderita stroke mencapai kemandirian dan kuali tas hidupnya seoptimal mungkin meskipun tidak dapat mengem balikan kerusakan pada otak yang terjadi akibat serangan stroke. Se lain itu, rehabilitasi juga bertujuan mencegah komplikasi, mengajarkan metode adaptif, melatih sistem saraf pusat yang rusak dan memastikan penggunaan alat-alat bantu dengan benar. Rehabilitasi dimulai saat perawat an akut di rumah sakit saat kondisi umumpasien telah stabil sekitar 2448 jam setelah serangan. Pada fase akut ini, rehabilitasi bertujuan men jaga aliran darah ke otak sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih luas, serta mencegah komplikasi yang timbul. Pasien dan keluarga diajarkan posisi yang benar dan cara berubah posisi saat berbaring untuk mencegah terjadinya luka dekubitus. Selanjutnya, pasien dan keluarga diajarkan cara duduk, berdiri, mem pertahankan keseimbangan bahkan berjalan dengan atau tanpa bantuan. Setelah pasien pulang dari rumah sakit, rehabilitasi dapat dilanjut kan dengan rawat jalan. Aktivitasaktivitas yang lebih kompleks seperti mandi, berpakaian, menggunakan toilet juga diajarkan sehingga pasien dapat melakukannya meski dengan kondisi lengan atau tungkai yang lumpuh. Proses rehabilitasi dapat berlangsung dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun. Berbagai gangguan atau disabi litas dapat terjadi pada penderita stroke mulai dari gangguan mobili tas, gangguan sensori dan nyeri, gangguan rawat diri, gangguan ko munikasi dan menelan, gangguan proses pikir dan memori, serta gang guan fungsi otonom seperti buang air besar atau kecil. Semua gangguan ini mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari penderitanya. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain luka dekubitus, pneumonia, kekakuan sendi, menurunnya kebugaran, dan konstipasi. Rehabilitasi bagi penderita stroke harus dilakukan secara kom prehensif dengan pendekatan yang holistik. Oleh karena itu rehabilitasi harus dilakukan oleh tim yang men cakup berbagai bidang ilmu. Tim rehabilitasi medik biasanya terdiri dari dokter dalam hal ini biasanya dokter spesialis rehabilitasi medik, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, ortotis prostetis, perawat rehabilitasi, psikolog, pekerja sosial
dr. Sisca Susantio, Sp. KFR medik, bahkan rohaniawan. Dokter rehabilitasi medikber tanggung jawab mengkoordinasikan perawatan jangka panjang penderita stroke dengan merekomendasikan program rehabilitasi yang paling sesuai dengan kebutuhan individu tersebut. Dokter juga bertanggung jawab memperhatikan kesehatan umum penderita stroke dan mem berikan panduan untuk mencegah serangan stroke kedua dengan me ngontrol tekanan darah atau kadar gula darah dan mengurangai faktor risiko seperti merokok, alkohol, berat badan berlebih, hiperkolesterol. Da lam hal ini dokter rehabilitasi medik juga bekerja sama dalam tim dengan dokter neurologi, penyakit dalam, geriatri dan spesialis lainnya sesuai kondisi penderita. Fisioterapis memiliki peran melatih kemampuan motorik dan sensorik dengan penekanan pada gerakan. Fisioterapis membantu mengembalikan kekuatan otot, ketahanan otot dan kar diorespirasi, lingkup gerak sendi, pola jalan yang tidak normal untuk mencapai fung si motoric yang yang optimal. Penderita stroke cenderung menghindari penggunaan sisi tubuh yang lumpuh. Hal ini menyebabkan fenome na learned non use. Namun dengan menggerakan sisi yang terkena, hal ini dapat merangsang neuroplastisitas. Berbagai strategi dilakukan oleh fisioterapis termasuk stimulasi sensori dengan tapping atau stroking, latihan lingkup gerak sendi aktif atau pasif, maupunmetode se
perti constraint induced movement therapy dan mirror therapy. Terapis okupasi melatih pen derita stroke melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi, menggu nakan toilet, berpakaian, merawat diri sendiri, makan . Bahkan pada tingkat lanjut, terapis dapat meng ajarkan bagaimana beradaptasi untuk mengemudikan kendaraan. Terapis okupasi juga dapat mengajar kan bagaimana membangun strategi kompensasi dan menggunakan alat bantu untuk aktivitas sehari-hari. Misalnya penderita stroke yang tidak dapat mengancingkan baju atau memegang sendok, dapat dibantu de ngan menggunakan alat bantu untuk mengancingkan baju dan memegang sendok. Mereka juga membantu me rekomendasikan perubahan di ru mah untuk meningkatkan keamanan, mengurangi halangan dan memfasili tasi kondisi rumah (diberi pegangan di kamar mandi dan sebagainya). Terapis wicara membantu pen derita stroke dengan afasia (gang guan berbahasa) untuk kembali belajar menggunakan bahasa atau membangun cara komunikasi alter natif. Mereka juga membantu pen derita dengan gangguan fungsi me nelan dengan memberikan stimulasi dan latihan untuk mengembalikan kekuatan dan lingkup gerak sendi pada otot-otot menelan dan berbi cara. Penderita stroke dapat diajar kan posisi menelan alternative yang aman untuk mencegah aspirasi atau masuknya makanan ke saluran nafas. Jika diperlukan, konsistensi makanan dapat disesuaikan bagi penderita stroke yang proses menelannya be lum sempurna. Perawat rehabilitasi membantu memberikan perawatan bagi pen derita stroke. Mereka mengedukasi perawatan kesehatan rutin, seperti
pemberian obat, dan bagaimana me rawat kulit , dan berbagai kebutuhan khusus sesuai kondisi pasien. Mereka juga melatih caregiver(pelaku rawat) untuk memberi perawatan diri seperti mandi dan mengontrol inkontinensia. Jika masalah inkontinensia berlanjut, mereka akan membantu pelaku rawat untuk memakaikan kateter. Tim rehabilitasi medik juga terdiri dari ortotis prostetis yang membantu menyediakan ortosis/alat bantu seperti splint untuk menahan anggota gerak tubuh pada posisi ter tentu dan mencegah kekakuan sendi. Kelemahan otot juga dapat dibantu dengan pemberian splint. Gangguan emosional seperti de presi, ketakutan, kemarahan dan sebagainya seringkali menyertai pros es pemulihan paska stroke. Hal ini akan sangat mempengaruhi proses rehabilitasi. Peran psikolog mungkin diperlukan untuk membantu meng atasi gangguan emosional ini. Pekerja sosial medik memperhatikan kondisi finansial dan hal-hal lain yang dapat mempengaruhi proses rehabilitasi. Mi salnya mereka mengkaji kondisi rumah, apakah cukup memadai menggunakan untuk kursi roda dan sebagainya. Keberhasilan rehabilitasi pada pasien stroke dipengaruhi oleh kon disi pasien seperti tingkat kerusakan pada otak dan penyakit penyerta. Keahlian tim rehabilitasi juga me megang peranan penting. Kerjasama keluarga, teman, pelaku rawat juga merupakan faktor yang penting dalam proses rehabilitasi. Waktu rehabilitasi juga menentukan keber hasilan. Semakin awal rehabilitasi dilakukan, semakin mungkin pen derita stoke mendapatkan kembali kemampuan yang hilang. Dari berbagai sumber dr. Sisca Susantio, Sp. KFR
Style
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Endek Berkarakter Kekayaan wastra Indonesia, khususnya endek di Bali kini semakin beragam warna dan motif nya. Terlihat jelas, endek kini tidak hanya dimi liki oleh kelompok umur tertentu namun dapat dikenakan siapa saja dan di mana saja.
D
i tangan Dewi Anyar salah s e o r a n g d e sainer muda Kota Denpasar, bagian dari produk budaya ini pun dig arapnya dalam berbagai model busana yang kental dengan aroma modern.
Mulai dari busana untuk kegiata n formal, semi formal, feminin sampai yang kasual. Bisa berupa blus dengan rok mini, midi, maxi maupun model lain yang semuanya memunculkan kesan fashionable. Seperti yang tergambar dalam halaman Style Tokoh pekan ini,
sekelompok ibu muda tengah menikmati kebersamaan dalam suansan yang dinamis dan hangat Balutan busana dan aksesori yang dikenakan setiap ibu muda ini mewakili karakter dan gaya personalnya yang menarik. Busana yang mereka kenakan juga tetap sesuai jika digunakan dalam acara - acara yang bernu ansa lebih santai. Balutan busana yang sebagian besar terinspirasi dari iramanya gaya bohemian ini sangat nyaman dikenakan. Hal ini mampu menjadikan para pe makainya memiliki tampilan lebih muda, fresh dan tentunya enak dipandang. –Sri Ardhini
15
16
Edukasi
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Dies Natalis XXXII & Wisuda Sarjana XXXV IKIP PGRI Bali
Widyaksara Award untuk 11 Tokoh Perintis
Wisuda Sarjana XXXV IKIP PGRI Bali kali ini terbilang istimewa, karena sekaligus dirangkaikan dengan Dies Natalis XXXII yang tepat jatuh pada Selasa (25/8), digelar di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur.
R
ektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. yang melepas 479 wisudawan me negaskan mereka telah memenuhi 4 kompetensi guru, yakni kompetensi profesional, kepribadian, sosial, dan pedagogik. Selain disiapkan menjadi calon guru profesional, mereka juga dibekali kewirausahaan lewat berbagai program pengembangan kewirausa haan di tiap program studi. Tentu saja ini sebagai modal penguatan diri untuk
menghadapi persaingan global/MEA 2015, dengan penguatan pengajaran bahasa Inggris dan IT. Untuk menunjang kewirausahaan dan sertifikat pendamping ijazah, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd. mengatakan, sudah dibangun beberapa lab keterampilan, di antaranya lab pe nyiaran, lab musik, lab kepewaraan, ba hasa, dan kepresenteran. Hal ini sesuai dengan orasi ilmiah yang disampaikan Dr. I Made Darmada, M.Pd. “Ekonomi
Kreatif dalam Baligovenic Culture Menuju Kreativitas Kehidupan”. Bahwa, IKIP PGRI Bali yang merupakan salah satu LPTK di Bali yang tak hanya menformat mahasiswanya menjadi calon guru, namun juga disiapkan un tuk menjadi wirausaha-wirausahawan muda yang berdaya saing tinggi. Hal ini diperkuat dalam salah satu point dalam orasi ilmiah tersebut yang menyebutkan, local wisdom sebagai kekayaan intelektual akan dapat me warnai setiap proses pengetahuan untuk merevitalisasi diri. Pengetahuan tradisional dapat dijadikan objek yang dieksplorasi untuk mendatangkan kes ejahteraan bersifat ekonomi kreatif. Implikasinya terhadap industri kreatif
Penerima Widyaksara Award IKIP PGRI Bali 2015
Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. didampingi para pembantu rektor melepas 479 sarjana wisudawan
yang memanfaatkan sosial, budaya, ekonomi, dan simbolik, untuk meraih keuntungan dan bermanfaat bagi sumber daya kaum muda untuk ber kreativitas, berinovasi, berwirausaha yang menjadi garda terdepan dalam ekonomi berkelanjutan. Untuk menunjang hal itu, Rektor Suarta mengimbuhkan penguatan pun dilakukan di institusi/lembaga dengan meningkatkan kualitas SDM, penguatan institusi dan prodi. “Upaya tersebut akhirnya terwujud, kini semua prodi di IKIP PGRI Bali terakreditasi B yang diperkuat dengan SK BAN-PT,” ucap nya. Tampil sebagai lulusan terbaik, Dewa Bagus Putu Rolingstun dari Prosi Sejarah, dengan IP 3,85. WIDYAKSARA AWARD “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Hal itu pula yang dilakukan institusi ini untuk 11 tokoh perintis dalam “membangun” IKIP PGRI Bali. Kesebelas penerima
Widyaksara Award IKIP PGRI Bali 2015 tersebut adalah Drs. I Gusti Agung Gede Oka (alm.)—Pendiri/Rektor Pertama IKIP PGRI Bali; Drs. Redha Gunawan,M.M. (alm.)—Pendiri/Ketua Yayasan Pertama/Pembatu Rektor II pertama IKIP PGRI Bali; I Gusti Ngurah Oka, S.H.—(Pendiri/Sekretaris Yayasan Pertama); Drs. IGB Arthanegara, S.H.,M.H.,M.Pd.—Pendiri/Wakil Ketua Yayasan Pertama, Dekan FPIPS Pertama IKIP PGRI Bali; Prof. Dr. I Gusti Ngurah Gorda, M.Si. (alm.)—Pembantu Rektor I Pertama IKIP PGRI Bali; Drs. AA Gde Raka (alm.)—Pembantu Rektor III Per tama IKIP PGRI Bali; Drs. N. Sutharjana (alm.)—Dekan Pertama FPOK IKIP PGRI Bali; Drs. I Gusti Ngurah Sukan tha (alm.)—Dekan Pertama FPTK IKIP PGRI Bali; I Gusti Ngurah Supartha, S.ST. (alm.)—Dekan Pertama FPBS IKIP PGRI Bali; Drs. Beratha Subawa (alm.)—Dekan Pertama FIP IKIP PGRI Bali, dan Drs. Putu Sedana (alm.)—Dekan pertama FPMIPA IKIP PGRI Bali. -ten
Peraih Bhakti Koperasi dan Satyalencana Wirakarya Drs. Ngakan Made Nata: “Kalau Mau Pasti Bisa”
Moto “Kalau Mau Pasti Bisa” bagi seorang Ngakan Made Nata bukan sekadar untaian kata indah. Moto yang sekaligus menjadi prin sip hidupnya itu, juga ‘berlaku’ bagi keluarganya bahkan menginspirasi seluruh karyawan di Koppas Srinadi Klungkung yang menjadi tempatnya bekerja sekaligus mengabdi.
N
gakan Nata, ayah dua putra, kelahiran Dawan Klod, 5 Agustus 1967 ini memiliki prestasi cukup membanggakan. Belasan prestasi diraihnya sejak bergabung di Ko ppas Srinadi sejak tahun 1987 lalu. Tidak saja tingkat kabupaten tetapi juga provinsi bahkan tingkat nasional. Penghargaan tertinggi Bhakti Koperasi & UKM dari Menteri Negara UKM RI pada 2010 lalu bukan penghargaan terakhir bagi suami Ni Ketut Kerti ini. Pengabdian nya selama 28 tahun di bidang koperasi membuahkan penghargaan bergengsi Sa tyalencana Wirakarya dari Presiden RI Joko Widodo yang diserahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika bersamaan dengan HUT Provinsi Bali, Jumat (14/8), di Denpasar. Penghargaan tersebut menjadi puncak prestasi bagi pria santun yang sudah ber kecimpung di koperasi sejak berusia 20 tahun ini. Sebelumnya penghargaan yang sama diraih Bupati Klungkung Nyoman Suwirta pada tahun 2005. Bagi Ketua Dekopinda Klungkung dua periode ini, niat mengabdi untuk memaju kan perkoperasian di Kabupaten Klungkung khususnya, tak akan pernah berhenti sekalipun memasuki usia pensiun, bahkan semangatnya tetap menggebu memotivasi
Bersama istri tercinta, saling mendukung di Koppas Srinadi.
teman seperjuangan meningkatkan kiprah dan kinerjanya di bidang koperasi. “Saya ingin mengubah image dan pola pikir (mindset) masyarakat bahwa kop erasi itu identik dengan usaha kecil, tidak profesional, tidak bisa berkembang dan segudang image negatif lainnya. Kalau kita mau, koperasi bisa sejajar dengan pelaku usaha lainnya dan ini sudah kita buktikan. Ke depan saya berharap koperasi betul-betul bisa berperan sebagai pilar utama perekonomian bangsa,” tutur Ketua Pengurus Koppas Sri nadi ini. TEKUN, GIGIH, FOKUS Prestasi dan keberhasilan yang diraih Ngakan Nata memang tak lepas Penghargaan Satyalencana Wirakarya tahun 2015 disematkan oleh Gubernur Bali Mangku Pastika.
dari karakternya yang tekun, gigih dan fokus dalam berjuang. Kendala yang dihadapinya bukan menjadi suatu penghalang untuk maju. “Untuk berhasil butuh fokus selain gigih dan tekun menjalaninya. Kreativitas dan inovasi dalam berusaha perlu dipacu untuk bisa memenangkan persaingan saat ini,” ujar penerima belasan sertifikat sebagai narasumber berbagai kegiatan koperasi & UKM ini. Meningkatkan prestasi dan kinerja usaha di bidang perkoperasian, menurut sarjana pendidikan ini mesti berjalan di jalur yang benar sesuai prinsip atau jati diri kope rasi. “Prinsip atau jati diri koperasi adalah ‘Dari, Oleh dan Untuk Anggota’. Jika prinsip itu sudah dijalankan dengan konsisten dan benar, saya rasa tidak ada koperasi yang mandeg atau bermasalah,” tegasnya. Soal SDM koperasi, lanjut Ngakan Nata memang menjadi prioritas dalam pengembangan koperasi. SDM yang kom peten mesti diciptakan melalui berbagai pelatihan. “Kami konsen dalam meningkat kan kompetensi SDM. Contohnya untuk posisi manajer, harus dipegang oleh SDM yang memiliki sertifikasi kompetensi sebagai
jogging ini, hidup harus dimaknai sebagai sebuah anugerah yang mesti dila koni secara benar. “Saya ingin menjalani hidup apa adanya. Live must go on,” katanya merendah. Ngakan Nata memi liki dua putra yakni Nga kan Putu Teja Hadinata (S1 Ekonomi Akuntansi Unud) dan Ngakan Made Yuda Winata (mahasiswa Jurusan Ekonomi Manaje men Unud). manajer. Ini untuk memenuhi persyaratan di era global,” sebutnya. AIR MENGALIR Filosofi hidup seorang Ngakan Nata ibarat air mengalir, apa adanya. Menjalani hidup penuh keikhlasan dan pengabdian total, baik pada keluarga, lingkungan sosial mau pun pekerjaan dan profesi yang ditekuninya saat ini. Tidak ada ambisi mengejar sesuatu di luar batas kemampuannya. Bagi pecinta alam yang hobi tracking dan
KOPERASI TERBESAR Koppas Srinadi berdiri tahun 1985 dan merupakan koperasi skala besar tingkat nasional (aset, omzet dan volume usaha). Koperasi dengan 12.134 anggota, 330 orang karyawan dengan aset mencapai Rp 180 milyar ini memiliki sembilan unit usaha yakni swalayan bangunan, wisata tirta, bengkel, radio, simpan pinjam, gro sir, supermarket Inti, swalayan mini dan percetakan/konveksi. -ari
Beberapa Tanda Jasa/Prestasi Bidang Koperasi: - Tanda Kehormatan Satyalencana Wirakarya dari Presiden RI Joko Widodo 2015. -Piagam Penghargaan Bhakti Koperasi & UKM dari Menteri Negara Koperasi & UKM RI 2010. -Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional 2007 dan 2012. - Koperasi Berprestasi Tingkat Provinsi Bali 2007, 2012 dan Peringkat II Koperasi Berprestasi Tingkat Provinsi Bali 2014. - Koperasi Berprestasi Tingkat Kabupaten Klungkung 2007, Peringkat I Koperasi Berprestasi Kabupaten Klungkung tahun 2011 dan 2014. - Penerima Koperasi Award dari Menteri Koperasi & UKM RI tahun 2007 dan 2012. - Penghargaan Dekopin Award 2012.
Dara
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Prestasi adalah Nilai Plus Seorang Guru
9
Salah satu kampus yang prestasi olahraganya berkibar adalah IKIP PGRI Bali. Mahasiswa-mahasiswi dari Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP PGRI Bali ini tak hanya mengharumkan nama lembaga atau regional, melainkan hingga nasional bahkan internasional. “Di IKIP PGRI Bali, cabor yang cukup berprestasi dan sudah menjuarai beberpata kompetisi di antaranya atletik, silat, tinju, kabaddi, panjat tebing,” ujar Dekan FPOK PGRI Bali Dr. Drs. I Wayan Adnyana, M.M., M.Erg.
P
embantu Dekan III FPOK Ida Ayu Kade Arisanthi Dewi, S.Pd., M.Fis., menambahkan cabor lain pun dinilainya cukup potensial un tuk dikembangkan. Ini dilihat dari peminatan mahasiswa dan perkembangan mereka mengikuti kejuaraan. “Kebetulan saya yang menangani basket. Kendala teru tama yang saya tangani di basket adalah kedisiplinan dan fasilitas, karena memerulkan lapangan khusus. Kami sudah melakukan MoU dengan beberapa tempat/ lapangan, namun jadwalnya ser ingkali terbentur waktu antara latihan dan kuliah,” ungkapnya. Wayan Adnyana menegaskan di IKIP PGRI Bali intinya tidak ter lalu fokus pada pencitraan prestasi atlet. “Fokusnya bagaimana kami mendidik mahasiswa untuk men jadi guru olahraga. Penekanannya pada guru olahraga,” ujarnya. Namun ia tak menyangkal mahasiswa yang menekuni cabang olahraga tertentu memiliki presta si-prestasi atau bakat-bakat dalam bidang-bidang tertentu. Bidangbidang ini diwadahi di Unit Keg iatan Mahasiswa (UKM). “Seperti silat, selain ada mata kuliah silat, ada UKM Silat, muncullah prestasi silat. Prestasi ini kemudian yang mendongkrak reputasi IKIP. Tapi sebenarnya titik fokusnya adalah tetap mencetak guru olahraga yang pendekatannya melalui sains. Sehingga nantinya mahasiswa kami tidak semata-mata mengajar olahraga hanya membawa lepri. Eksis dari pengajaran yang optimal ini menelurkan prestasi-prestasi. Dari sekian banyak mahasiswa, tentu tidak semuanya berprestasi, tapi di bidang kompetensi men jadi guru, itu yang kami capai,” ucapnya.
Wayan Adnyana menjelaskan, secara formal, dalam kurikulum, masing-masing cabang olahraga ada mata kuliahnya. Contoh silat, tetapi untuk eksternal ditan gani UKM yang masing-masing mahasiswa yang memiliki pemi natan yang sama di bidang silat bergabung menjadi satu di UKM Silat. “Masing-masing mahasiswa diwajibkan mengikuti UKM ter tentu sesuai peminatannya,” imbuhnya. Di UKM ini, dilanjutkan Dayu Kade, lebih pada spesifikasi un tuk mencetak prestasi sekaligus mencetak kedisiplinan. Dalam pendidikan formal, mahasiswa diajarkan teknik-teknik dasar. “Misalkan praktik teknik dasar basket. Kita tidak mengajarkan mahasiswa untuk bisa basket, tapi dia tau teknik drouble atau teknik lainnya. Di formal kami mengajar secara keseluruhan mengenai bagaimana kami men gajar kedisiplinan, bagaimana di lapangan, memberi contoh yang baik, teknik dasar, bahwa basket termasuk bagian dari permainan, perwasitan. Di sini hanya men genal umum. Jika masuk ke spesifikasinya masuk ke UKM. Di UKM ini mereka dibina dan di latih untuk menjadi berprestasi,” paparnya. FPOK IKIP PGRI Bali yang memiliki Prodi Olahraga Kes ehatan dan Rekreasi. Olahraga rekreasi ini dijelaskan Dayu Kade orientasinya lebih pendekatan ke alam. Ada mata kuliah tertentu yang berorientasi pada olahraga kreasi, misalkan kano. Apalagi di Bali, olahraga rekreasi sangat berpeluang besar untuk digarap. “Selain menjadi guru, sesuai den gan KKNI, kami juga menyasar untuk menggarap sektor pari
“Fokusnya bagaimana kami mendidik mahasiswa untuk menjadi guru olahraga. Penekanannya pada guru olahraga,”
Wayan Adnyana dan Dayu Kade kompak perkuat FPOK IKIP PGRI Bali
wisata,” imbuh Adnyana. Dan yang paling penting, mahasiswa dibebaskan memilih tanpa ada suatu beban. Antara prestasi dan pres tise mana yang dikedepankan? Adnyana menjelaskan, dalam konsep perolahragaan sebagai basic membuat segar, bugar, sehat. Dalam konsep ini ada be berapa yang memiliki kelebihankelebihan dalam bidang tertentu. Kecenderungan ini yang masuk
UKM tertentu sehingga memi liki prestasi. Prestasi itulah yang nanti membuat ber-prestise. “Seperti di IKIP PGRI Bali, para atlet yang berprestasi diberikan bonus-bonus dan diprioritaskan untuk mendapat beasiswa. Ini merupakan suatu prestise bagi si mahasiswa. Demikian halnya ketika mahasiswa tersebut ber prestasi di tingkat nasional mau pun internasional,” ucapnya. Dan yang paling penting
menurut Dayu Kade adalah jika mahasiswa sudah memiliki prestasi, diimbangi juga den gan perilaku yang baik. Apalagi sebagai mahasiswa IKIP PGRI Bali yang harus disadari bahwa dirinya tamat bukan sebagai atlet tetapi sebagai guru. Setidaknya, selain memiliki prestasi (sebagai nilai plus), dia juga memberikan contoh ke yang lain untuk tetap kuliah, sebagai motivator untuk adik adik-adiknya. –Inten Indrawati
8
Bunda & Ananda
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Tugas Orangtua Mengarahkan bukan Memaksa
Orangtua memiliki peran penting dalam perjalanan hidup anak. Orangtua menjadi contoh bagi si anak. Apapun yang dilakukan orangtua bisa ditiru anak. Dalam dunia olahraga, hal ini sangat banyak terjadi. Jika orangtua atlet, anaknya memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi atlet.
Wulan Budisetyani
P
engalaman orangtua yang menjadi atlet dialami Helga Riftiana. Atlet tembak Kota Denpasar ini sering mengajak dua putranya, Kana dan Nanta untuk ikut menemani. Ternyata setelah beberapa kali ikut, Nanta tertarik. “Awalnya anak-anak mencoba latihan ternyata Nanta keterusan. Tidak ada paksaan saat latihan karena dia melakukan dengan senang hati,” ujar Helga yang juga model dan penulis novel ini. Sebagai ibu sekaligus partner latihan Nanta, Helga tak mau anaknya keteteran. Mereka pun mengatur jadwal antara sekolah dan latihan menembak. “Latihan maksimal 3 kali seminggu setelah sekolah dan les,” imbuh istri Made Ngurah Bagus Sakaputera ini. Helga berharap dengan menggeluti olahraga yang sama dengan dirinya, ia dapat ikut menga-
wasi serta memberikan arahan dan motivasi untuk anaknya. Prestasi yang diraih Nanta pun lumayan, juara II 10 M ARH Man Pelajar SD (Pompa) di Invasi Cabang Olahraga Andalan KONI Denpasar 2014 antar Kota se-Indonesia 21 Desember 2014 dan juara I 10 M ARH Man Pelajar SD (Pompa) Putra di Kejuaraan Menembak Walikota Cup 2015 22 Februari 2015. Jika bakat olahraga orangtua menurun kepada anak, itu merupakan hal yang wajar. “Kadang ada kesan orangtua memaksakan, padahal mereka hanya mengarahkan. Seringkali anak tidak tahu mereka mau menekuni apa. Sebagai orangtua harus peka terhadap karakter anak. Jika anak senang dengan apa yang diarahkan, silakan lanjutkan, jika tidak, sebaiknya komunikasikan,” ujar I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetyani, M.Psi, Psikolog. Perempuan yang akrab disapa Wulan ini berharap orangtua tidak melakukan trial and error kepada anak. Misalnya, apa yang diharapkan dari anak ternyata tidak sesuai ekspektasi orangtua lalu memaksa anak pindah cabang olahraga sampai memuaskan orangtua. Peran orangtua haruslah bijak dan belajar dari pengalaman karena tidak ada sekolah untuk orangtua. Semua berdasarkan apa yang dialami sendiri dan masing-masing orang berbeda.Contoh sederhananya, kalau anak merasa tidak senang dan tidak nyaman, ini artinya ada pemaksaan. Tetapi, kalau anak bisa menikmatinya, ini berarti orangtua berhasil mengarahkan. Wulan mencontohkan di-
Wulan berlatih panahan diikuti putranya
Nanta saat latihan menembak
rinya ketika kecil “dipaksa” untuk menjadi atlet. “Ayah saya pesilat yang kemudian beralih menekuni panahan. Saya bersama dua adik awalnya diikutkan tenis lapangan. Kami ogah-ogahan. Ada saja alasan untuk tidak latihan. Berikutnya disuruh ikut renang. Kami mulai suka. Apalagi kalau ikut lomba dan dapat juara. Lama-lama kami diarahkan untuk menekuni panahan karena zaman itu pemanah masih jarang,” ungkap Wulan. Masa kecil dan masa remajanya pun dihabiskan dengan berlatih dan berlatih di Bojonegoro, Jawa Timur. Pulang sekolah, ganti pakaian, makan, istirahat, lalu latihan. Begitu rutinitas yang dilakoni. Ketika
teman-temannya asyik bermain dan jalan-jalan, Wulan dan adikadiknya berkutat dengan busur dan anak panah dan bolak-balik Bojonegoro-Surabaya. Mereka bisa menikmati latihan karena sudah tahu implikasinya jika berprestasi. Buah dari kerja keras mereka terlihat saat mengikuti mengikuti berbagai kejuaraan panahan baik tingkat nasional maupun dunia membuat mereka bisa pergi ke luar negeri dengan gratis dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Adik bungsunya, Puruhito sampai saat ini menjadi pemanah andalan Indonesia yang sudah beberapa kali berlaga di kancah internasional. “Setelah dewasa saya sadar,
orangtua mengarahkan kami untuk menekuni panahan agar hasilnya bisa kami petik di kemudian hari. Fokus, disiplin, manajeman waktu, mengatasi tekanan merupakan hal-hal yang bisa didapatkan dari olahraga. Di sisi lain, saya pribadi menemukan persaingan juga bisa membuat orang yang dekat menjadi jauh. Inilah yang mendorong saya kemudian memilih menekuni psikologi,” ujar anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali dan psikolog olahraga di KONI Bali ini. Dari pengalamannya menangani atlet karena pernah menjadi pelatih panahan kemudian kini menjadi psikolog untuk atlet, Wulan mengamati sebagian besar atlet berasar dari keluarga atlet. Bakat mereka sudah ada, tinggal dipoles saja. Para atlet ini mengatakan menjadi atlet karena arahan orangtua atau arahkan guru karena dinilai memiliki potensi. Wulan yang memiliki seorang putra pun melihat anaknya memiliki bakat olahraga. “Suami saya dulu pesilat. Karena orangtuanya atlet, ternyata anak saya senang kalau diajak olahraga. Neneknya membelikan dia busur kecil. Saya hanya mengarahkan, tidak memaksa dia harus menekuni panahan seperti saya,” ujar dosen di Program Studi Ilmu Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana sejak 2009 ini. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit penemuan tiga ahli
Di sebuah desa tinggal empat orang anak bersahabat kental. Namanya Samba, Angkus, Taska dan Perdil. Mereka selalu pergi dan bermain bersama-sama. Namun, perjalanan waktu memaksa mereka Made Taro harus berpisah. Perdil, anak petani itu tidak mampu melanjutkan sekolah. Ia tetap setia menggembalakan dua ekor sapinya. Sedangkan tiga sahabatnya menuntut ilmu setinggi-tingginya di kota besar yang berbeda-beda. Walaupun berpisah, setiap liburan, mereka berempat berkumpul kembali melepas rindu. Suatu waktu, ketika mereka berkumpul, Samba mengajak teman-temannya pergi ke desa di seberang hutan. Tujuannya adalah mengamalkan ilmu yang diperolehnya di perguruan tinggi masing-masing. Walaupun Perdil tidak berilmu, namun tiga sahabatnya itu sepakat untuk mengajaknya bergabung. Di tengah hutan, mereka tiba-tiba menemukan tulang-belulang hewan berserakan. Samba yang ahli ‘hewan buas’ itu berkata, “Dilihat dari kerangkanya, ini pasti singa!” Ia mengumpulkan tulang-belulang itu lalu menyambung-nyambungnya. “Belum bisa disebut singa, kalau hewan itu tidak berdaging dan berbulu,” sambung Angkus yang ahli
‘daging hewan’ itu. Ia meraba-raba kerangka hewan itu. Setiap rabaan menghasilkan daging dan bulu. “Tunggu dulu!” cegah Taska yang menguasai ilmu ‘sambung nyawa’. “Sebelum hewan itu berdiri dan mengaum, ia belum boleh disebut singa. Ke dalam tubuhnya harus ditiupkan nyawa.” Perdil terkagum-kagum menyaksikan keahlian Samba dan Angkus. Namun setelah mendengar penjelasan Taska, sahabatnya yang ketiga itu, ia berteriak, “Jangan, jangan!” Samba, Angkus dan Taska tertawa cekikikan. “Kau tak perlu takut, Perdil! Hewan bodoh itu dapat dikendalikan,” seru ketiga sahabatnya itu. Taska mempertunjukkan keahliannya. Mulutnya komat-kamit sambil mengayun-ayunkan kedua telapak tangannya di atas bangkai singa itu. Perdil yang ketakutan itu segera memanjat pohon. Melihat tindakan konyol si Perdil, ketiga ahli itu tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh ajaib dan mengagumkan! Dari atas pohon Perdil melihat bangkai hewan itu berdiri tegak. Setelah menoleh kiri-kanan, singa yang bernyawa itu membelalakkan mata, memperlihatkan taring dan mengaum. Selanjutnya, sungguh mengerikan! Perdil menutup kedua matanya. Setelah singa yang buas itu pergi, Perdil turun dari pohon. Ia menangis di sebelah bangkai sahabatsahabatnya itu sambil berucap, “Keahlian memang harus diamalkan, tetapi untuk apa, kapan dan di mana.”
Griya
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Kreatif
17
di Ruang Tidur
Remaja
Mendesain ruang tidur remaja, tentunya berbeda dengan anak-anak, atau orang tua. Remaja umumnya menyukai desain yang simpel tanpa banyak pernak-pernik. Namun ada baiknya ditanyakan dulu keinginan anak remaja Anda, sebelum memulai “menyulap” kamarnya.
H
al berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan budget. Apakah budget Anda besar atau terbatas? Bagaimana caranya dengan dana yang minim, Anda bisa membuat ruang tidur yang nyaman untuk anak remaja Anda? Kali ini Tokoh mengintip kamar tidur remaja, putra dari Made Suparta di Denpasar. Ruangan kosong seluas 570 x 330 ini akan diperuntukkan kamar tidur untuk
putra sulungnya yang kini duduk di bangku SMA tersebut. Kondisi awal dinding ruang tersebut catnya banyak terkelupas. “Jika harus mengecat ulang, butuh waktu lama dan dana yang lumayan besar. Kebetulan ada teman memberikan masukan bagus, dinding ditutup pakai kain spanduk,” ujarnya. Setelah melihat beberapa desain, putranya pun memilih motif bata agar matching dengan style Bali di tampak depan kamarnya.
Ia juga meminta ada coretan namanya pada dinding kamar. “Dengan memakai kain spanduk ini, semuanya jadi mudah. Ingin desain apa saja bisa, mau pohonpohon, bunga, dsb., semuanya gampang. Setelah itu tinggal diprint,” papar Made Suparta. Untuk penutup lantai, Made Jaya sengaja tak memakai karpet, dengan pertimbangan susah perawatannya. Untuk memberikan aksen, ia memilih penutup lantai dari perlak dengan motif kotak-kotak hitam-putih. Perlak ini hanya dipasang pada bagian tempat tidur, segaris dengan rak TV. Sementara, satu set alat musik drum diletakkan di salah satu
sudut ruangan. Putranya itu memang hobi main musik. Jadilah ada studio mini di ruang tidurnya. Jadi, jika Anda ingin menyulap kamar
atau ruangan apa saja, namun budget minim, tak ada salahnya mencoba trik Made Suparta. Selamat berkreasi. –Inten Indrawati
18
Kreasi
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
Gamelan Bali di Panggung Sejarah Di Bali terdapat 100 lebih istilah instrumen gamelan yang mencerminkan keragaman gamelan dari masa ke masa. Istilah instrumen gamelan dikaitkan juga dengan seni pertunjukkan dan profesi lain seperti nyanyian, teater, badut, tari, dan keahlian membuat perak, besi, dan tembaga.
K
elahiran dan per gerakan gamelan Bali memiliki dua kecen derungan bentuk dan jenis instrumen. Pertama, pergerak an dari instrumen yang berbentuk bulatan seperti nekara, gong bheri, gong ageng, ponggang, trompong, dan reyong. Kedua, pergerakan yang dimulai dari instrumen berbentuk bilah seperti tingklik, gender wayang, slonding, saron, galunggang petung, calung, dan gambang. Gabungan kedua bentuk dan jenis instrumen itu melahirkan gamelan Bali lengkap yang diberi nama gamelan gong lu ang. Instrumen selaput (kendang), dawai (rebab), dan tiup (suling) melengkapi gamelan luang itu untuk bertransformasi menjadi gamelan lain yang unik dan beragam. Keunikan gamelan Bali ini dibahas dalam buku yang berjudul “Gamelan Bali di atas Panggung Sejarah” hasil karya Prof. I Made Bandem. Bandem yang meluncurkan buku tersebut saat puncak perayaan Dies Natalis XIII STIKOM Bali, Sabtu (15/8) di Sanur, mengatakan, gagasan menulis sejarah gamelan Bali ini sesungguhnya sudah muncul ketika ia sedang menyelesia
kan studi di University of California Los Angeles tahun 1972. “Pada saat itu saya sedang menyusun tesis untuk memperoleh gelar Master of Arts da lam bidang etnologi tari yang berjudul panji Characterzation in the Gambuh Dance Drama,” tutur Bandem. Pembimbing utama penulisan te sis itu Ki Mantle Hood dalam proses penelitian menunjukkan kepada Bandem sebuah buku cerita Panji yang berjudul “Wangbang Wedeya: A Javanese Pandji Romance”. Buku itu diterjemahkan dan diberi pen gantar secara komprehensif seorang ahli sastra klasik yang bernama SO Robson. “Di dalam buku itu terda pat beberapa istilah gamelan yang saya yakini dijadikan pijakan dasar untuk meneliti sejarah gamelan Bali selanjutnya. Beranjak dari istilah gamelan yang terdapat dalam buku Wangbang Wedeya itu, saya men gumpulkan data sejarah mengenai gamelan dan mengkajinya secara bertahap,” katanya. Gamelan adalah sebuah ansambel yang terdiri dari bermacam-macam instrumen yang terbuat dari batu, kayu, bambu, besi, perunggu, kulit, dawai, dll yang menggunakan tangga
nada pelog dan slendro. Gamelan Bali terdiri dari isntrumen-instrumen idiofon (dipukul), membranofon (selaput), kordofon (dawai), dan aerofon (ditiup). Istilah gamelan juga men gandung pengertian sebagai lagu atau komposisi yang dihasilkan permainan dari ansambel itu. Sebagai ansambel yang jumlah nya lebih dari 30 jenis, gamelan Bali dapat dibagi menjadi 4 golongan yakni golongan tua, madya, baru, dan kontemporer. Setiap golongan memiliki keunikannya sendiri-sendiri dan masih memiliki kesinambungan antara satu golongan dengan golon gan lainnya. Menurut pembabakan sejarah Bali, gamelan golongan tua berkembang dari masa prasejarah sampai berakhirnya kerajaan Bali Kuna. Gamelan golongan madya mu lai dari kedatangan orang Majapahit, masa Gelgel sampai runtuhnya Kera jaan Kungkung, Gamelan golongan baru mulai dari awal sampai akhir abad ke-20. Golongan kontemporer mulai dari akhir abad ke 20 sampai abad ke-21. Gamelan Bali umumnya meng gunakan dua jenis laras (tangga nada) yakni pelog dan slendro. Laras pelog juga disebut saih gamelan dan diperkirakan dibawa ke Indonesia (Jawa dan Bali) oleh leluhur bangsa Indonesia orang Melayu Kuna pada masa prasejarah atau setidaknya awal Tarikh Masehi. Laras sledro disebut saih gender wayang dan baru muncul di Jawa abad VIII ketika ditemukan seperangkat gamelan slendro oleh bangsawan Jawa keturunan raja Sailendra dari Jawa Tengah. Sedan gkan mengenai keberadaan laras slendro di Bali diperkirakan muncul pada abad IX ketika berkuasanya Raja Kesari Warwadewa yang merupakan keturunan warga Sailendra yang memerintah Bali Tahun 882-914 Masehi. “Kini terbukanya Bali dengan dunia Barat menyebabkan munculnya gamelan Bali yang menggunakan tangga nada musik Barat dan tangga nada musik dunia lainnya,” ucapnya. Ia mengatakan, menurut filsafat, gamelan Bali erat dengan kosmologi agama Hindu yang berdasarkan prinsip pengider Bhuwana setiap nada gamelan berkaitan dengan para dewa penjuru dunia, beserta saktinya. Waktu setiap nada dikaitkan dengan karakter para dewa penguasa ke sembilan penjuru dunia. Gamelan Bali menggunakan prin sip ngumbang dan ngisep. Konsep ini lahir dari manisfestasi nilai-nilai ke hidupan orang Bali yang mendambak an rwabineda (laki-laki-perempuan, siang-malam, baik-buruk), yang ke mudian menimbulkan teknik pukulan yang disebut kotekan. Kotekan yang dirakit lewat prinsip ngempat dan neulin menghasilkan ubit-ubitan, tatorekan, dan cacandetan yang unik dan indah. Tingkatan nada dalam gamelan Bali diatur menjadi tiga tingkatan yakni suara rendah (buhloka sruti), suara menengah (arnawa sruti), dan suara tinggi (by
omantara sruti). Menurut Bandem, buku ini me maparkan perjalanan sejarah gamelan Bali dalam periode prasejarah sampai periode masyarakat masa kini. Para peneliti gamelan Bali sebelumnya sudah banyak yang menulis gamelan Bali melalui penelitian studi kasus, dan karya mereka sangat mendetail dan mendalam. Karya itu juga sangat berpengaruh pada generasi sekarang untuk mendalami dan mencintai gamelan Bali. Sayangnya, banyak diantara mereka tidak tertarik me neliti sejarah gamelan Bali secara lebih komprehensif. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya buku menge nai sejarah kesenian dan kebudayaan Bali yang dijadikan landasan peneli tian kesejarahan gamelan seperti yang ada sekarang. Ia menilai, periodesasi gamelan Bali yang dibuat oleh para peneliti terdahulu sudah waktunya untuk dis empurnakan karena perkembangan zaman dan penyebaran gamelan Bali yang super cepat. “Kini gamelan Bali tidak hanya dimiliki masyarakat Bali
Prof. I Made Bandem
yang bermukim di Bali, namun juga dimiliki masyarakat Bali di peran tauan. Bahkan gamelan Bali sudah menjadi milik dunia,” kata Ban dem. Penyebaran dan kepemilikan gamelan Bali menimbulkan akibat adanya pengaruh timbal-balik antara gamelan Bali dengan musik dunia lainnya yang tentu saja mengubah fungsi dan memperkaya khazanah gamelan Bali. Buku ini terdiri dari 8 Bab, yakni Bab I pengertian gamelan Bali dan kajian sumber pembahasan. Bab II asal mula gamelan Bali yang meliputi periode prasejarah sampai periode masa kini. Bab III proses pembentuk kan gamelan sebagai sebuah ansambel. Bab IV membahas kosmologi, etika, estetika, organisasi sosial, dan fungsi gamelan Bali. Bab V instrumentasi, laras, dan bentuk lagu. Bab VI pem bahasan mengenai orkestrasi, fungsi instrumen, dan teknik permainan. Bab VII kendang tunggal dalam gamelan gong kebyar. Bab VIII penutup. -Wirati Astiti
Diseminasi Implikasi Uji Kompetensi Wartawan
Program Studi Magister Ilmu Hukum.Univer sitas Udayana mengadakan pengabdian kepada masyarakat, Rabu (26/8) di Kubu Kopi, Denpasar. Kegiatan berupa diseminasi “Implikasi Uji Kompetensi Wartawan terhadap Kesadaran Hukum Pers Wartawan Media Cetak di Kota Denpasar” yang merupakan tesis I Made Adnyana. Dalam kesempatan tersebut hadir Dr. Putu Tuni Cakabawa Landra, S.H.,M.Hum sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum, Dr. I Ketut Sudantra, S.H.,M.H., dan Dr. Ni Nyoman Suker ti, S.H., M.H. sebagai pembimbing tesis Adnyana, serta puluhan wartawan di Denpasar. Kesempatan ini menjadi ajang diskusi di kalangan wartawan dan akademisi khususnya bidang hukum tentang perlunya kesadaran hukum di kalangan wartawan. Dari diskusi ini diharapkan akan berlanjut menjadi seminar yang bisa menghasilkan rekomendasi untuk diteruskan ke Dewan Pers.—wah
Life
Story
Enam belas tahun yang lalu, Rumi (41) bukan nama sebenarnya, masih ingat ketika kekasihnya Purwa (44) nama samaran, bersimpuh di kakinya memohon agar Rumi tidak meninggalkannya setelah empat tahun mereka menjalin kasih yang terbilang serius. Hari itu Rumi memang harus mengambil keputusan yang berpisah dengan Purwa karena dirasakannya ada perbedaan yang sangat prinsip di antara mereka berdua. Hal ini kerap memicu pertengkaran yang membuat mereka saling menyakiti.
S
esungguhnya Rumi tidak menginginkan perpisahan itu, namun ia harus mengambil keputusan tersebut demi kebaikan mereka berdua. Rumi dan Purwa memiliki rasa saling mencintai dan menyayangi yang begitu besar. Purwa sangat mencintai Rumi bah kan demikian mengistimewakan perempuan yang memiliki prinsip dalam hidupnya itu. Kekaguman Purwa pada Rumi membuatnya tidak akan pernah mampu me lupakan perempuan itu. “Saya masih tetap menyimpan rasa cinta padanya bahkan hingga hari ini,” ungkap Purwa dengan mata berbinar. Ketika menjadi sepasang keka sih, usia mereka masih 20-an tahun. Di usia seperti itu, Rumi sudah bisa mengambil keputusan penting da lam hidupnya. Ini membuat Purwa makin mengagumi keseluruhan hal tentang Rumi. “Tidak kurang dari tiga kali saya melamarnya,” kata Purwa yang tiap kali datang hanya mendapat penolakan dari Rumi. Purwa sendiri heran, ada apa den gan kekasihnya itu. “Bahkan orang tua Rumi mendorong saya untuk membujuk Rumi agar menikah dengan saya,” katanya. Hubungan Purwa dengan orangtua Rumi san gat akrab dan baik. Purwa memang dikenal sebagai laki-laki yang baik namun entah mengapa Rumi selalu menolak untuk menikah dengan nya. Kekaguman Purwa tidak hanya pada Rumi, melainkan pada orangtua Rumi yang menyerahkan sepenuhnya keputusan menerima atau menolaknya, ada di tangan Rumi. Mereka bukan tipe orangtua yang memaksakan kehendak pada anaknya meski mereka sangat
Edisi 864/ 31 agustus - 6 september 2015
7
Tiga Kali Melamar Tiga Kali Ditolak
menginginkan Purwa menjadi menantu dalam keluarga. Bahkan menurut Purwa be berapa waktu sebelum ayah Rumi meninggal, ia pernah berpesan agar Rumi menerima Purwa menjadi suaminya. “Namun Rumi bersik eras tidak ingin menikah dengan saya,” kata Purwa tidak habis pikir. Hingga akhirnya Rumi meminta un tuk mengakhiri hubungan mereka dengan cara yang sangat dramatis. “Dia memandang saya dengan mesra saat akan memutus hubun gan kami. Rumi cinta sejati saya itu, ingin pergi dari kehidupan saya,” katanya sedih. Ia bahkan tahu kalau Rumi tidak memiliki kekasih lain selain dirinya. Malam yang dra matis itu, ia melihat Rumi sebagai sosok yang sangat misterius. Tidak banyak bicara dan melangkah menjauhi Purwa yang tanpa malu mengejarnya. Lalu di tempat yang tak begitu tampak oleh orang lain, Purwa bersimpuh memohon agar Rumi tidak meninggalkannya. “Sekali dalam hidup saya, saat itu lah saya menangis,” ujarnya yang akhirnya tahu bahwa tuduhannya pada Rumi tidak terbukti. Menu rutnya, kemungkinan Rumi tertekan karena ia menuduhnya telah berselingkuh. KEMBALI KE NTB S e j a k i t u , Ru m i menghilang dan tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Purwa me nelusuri keberadaan Rumi namun tak terla cak sama sekali. Ia hanya tahu Rumi masih berada di Nusa Tenggara Barat. Purwa yang merantau ke NTB saat kuliah ini akhirnya melanjutkan pendidikannya di Pulau Jawa. Ia sangat berharap bisa menemukan Rumi meski hanya sesaat. Namun waktu berjalan dan takdir berkata lain. Purwa akhirnya me nikah dengan perem puan yang rupanya ada lah jodohnya itu. Purwa menikah lebih dulu dari Rumi. Purwa lalu men jalankan hidup rumah tangganya dan memi liki anak-anak. Meski telah menikah, Purwa
“Dia memandang saya dengan mesra saat akan memutus hubunga n kami. Rumi cinta sejati saya itu, ingin pergi dari k ehidupan saya,”
tkh/net
ternyata masih sangat mengenang dan merindukan Rumi. Ia tidak bisa melupakan Rumi dalam hidupnya. Sampai-sampai ia memilih bek erja di NTB hanya demi menanti kesempatan bertemu dengan Rumi. “Saya ingin sekali bertemu dan melihatnya walau pun sesaat saja,” katanya. Matanya meman carkan binar cinta dan kepedihan saat menyebut nama Rumi. Saat di tanya mengapa ia memilih kembali ke NTB padahal ia punya peluang
bisnis yang lebih baik di Pulau Jawa. “Separuh hidup saya ada di NTB,” ungkap Purwa tersenyum tanpa menjelaskan maksudnya. Ketika akhirnya menemukan Rumi, ia tidak memiliki keberanian untuk masuk lebih jauh dalam ke hidupan perempuan yang sangat dikasihinya itu karena Rumi telah memiliki suami dan keluarga yang bahagia. Sungguh bahagia hidup Rumi dan begitu menderita hati Purwa mengetahuinya. Diam-diam
Purwa berusaha mendekati Rumi dengan berbagai cara, khususnya lewat telepon. Nomor kontak Rumi ia peroleh dari seorang rekannya yang mengenal Rumi. Ia begitu ingin mendengar suara perempuan yang membuatnya tergila-gila itu. Betapa teriris hati Purwa seka ligus menambah rasa kagum dan cintanya pada perempuan seder hana itu, manakala mendapati Rumi sangat mencintai suami dan keluarganya. “Gangguan” yang dilakukan oleh Purwa sama sekali tidak berpengaruh pada Rumi. “Betapa setianya dia,” ujarnya pendek. Rumi bahkan menasehati Purwa untuk tidak memiliki pikiran ingin berselingkuh dengannya, karena itu akan sia-sia. Ia begitu menghormati suaminya dan juga mengingatkan Purwa untuk meng hormati istri dan anak-anaknya dengan tidak menghubunginya untuk maksud yang “tidak-tidak”. Ia hanya berkomunikasi dengan Purwa sebagai seorang kawan. “Bagaimana saya tidak tergila-gila padanya?” katanya menutup obro lan. -Naniek I. Taufan
6
Woman on Top
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Deri Puspita Yani
Kerja Maksimal Dunia telekomunikasi sudah menjadi jalan hidup Deri Puspita Yani. Sejak lulus kuliah di Jurusan Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta tahun 2003, ia sudah menjadi menyatu dengan dunia ini. “Awalnya merasa terjebak, tetapi setelah dijalani ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi,” ungkap Regional Sales Manager XL Denpasar Greater ini.
P
erempuan asal Yogyakarta ini menuturkan setelah tamat kuliah ia diterima bekerja di salah satu perusahaan operator seluler. Tak lama kemudian ia pindah ke perusahaan penyedia alat komunikasi. Tahun 2010, Deri bergabung dengan XL. Tugas pertamanya di XL Cirebon. Karier ibu dua anak, Keyna Dean dan Yasmin ini melejit. Dari Cirebon ia dipromosikan ke Pekanbaru sebagai Manajer Data berlanjut ke Regional Manager Kepulauan Riau di Batam. Tahun 2010 ia mulai bertugas di Bali. “Dulu kalau ke Bali untuk
liburan. Tetapi, sejak bertugas di Bali, bukannya liburan tetapi kerja, kerja, kerja. Jalanjalannya ya sekalian kunjungan ke outlet,” kata Deri sembari tersenyum. Ia melihat karakter Bali yang sangat unik terutama kultur dan potensi ekonominya. Kalau liburan, Bali malah ramai dikunjungi wisatawan. Ini menjadi peluang bagi perusahaan telekomunikasi untuk memanfaatkan momen tersebut. Deri yang semasa kuliah dikenal sebagai gitaris band kampus ini mengaku pilihan bekerja di dunia telekomunikasi sebagai jebakan. “Dulu saya kira kalau perempuan kerja di dunia telekomunikasi, ndak bakal
dan berprestasi, perusahaan akan memberikan apresiasi. Salah satunya posisi di tempat lain dengan jabatan yang lebih tinggi. Pengalaman yang didapat di daerah lama bisa dipakai di daerah baru. Terlalu lama di suatu daerah malah bisa menghilangkan kreativitas, jadi wajar kalau sering ada mutasi untuk melahirkan kreativitas baru. Ini sebuah tantangan bagaimana beradaptasi dan meraih prestasi lagi. Bagi saya, hal ini yang saya
dipindah-pindah. Ternyata peluang bagi laki-laki dan perempuan sama. Sepanjang bisa menunjukkan kinerja yang baik
senangi. Ada kenyamanan dari sisi kinerja,” ujar suami Seif Eddine Fraj ini. Kesibukan sebagai wani ta karier tentu berdampak terhadap aktivitas keluarga. Namun, Deri tak perlu risau karena suaminya selalu memberi dukungan. “Suami selalu mendukung saya untuk bekerja maksimal. Pesannya, jangan pernah kerja setengahsetengah. Kalau sudah maksimal, hasilnya pasti maksimal,” kata perempuan yang hobi jalan-jalan dan punya impian untuk meraih prestasi setinggitingginya ini. Ia mengaku tak semua pekerjaan bisa dilakukan sendiri, baik di kantor maupun di rumah. Kuncinya adalah komunikasi dan koordinasi. Kalau sudah komunikasi dan koordinasi, pekerjaan yang berat akan menjadi lebih ringan. –Ngurah Budi
Cok Istri Muniarti
Seni Pendekatan pada Anak Menjadi guru bukanlah cita-citanya sejak kecil. Ia justru ingin menjadi perawat. Namun, impian tersebut harus ditutupnya rapat-rapat karena tak mendapat restu orangtua. “Pokoknya kamu harus sekolah guru,” demikian ucapan sang ayah kepada Cok Istri Murniati. Siapa menyangka, dengan restu ayahnya tersebut, Cok Istri yang sudah mengabdi sebagai guru sejak tahun 1979 di SD Saraswati 3 Denpasar, di tahun 2001 dipercaya menjabat Kepala Sekolah. Di bawah kepemimpinannnya, SD Saraswati 3 Denpasar kian menujukkan taringnya. Berbagai prestasi baik di bidang akademis maupun nonakademis diraih sekolah swasta yang berlokasi di Renon, Denpasar tersebut. Prestasi teranyar adalah SD Saraswati 3 Denpasar mewakili Bali ke tingkat nasional mengikuti lomba pada ajang FLS2N di Palembang, 23 s.d. 29 Agustus 2015. Terkait persiapannya “bertarung” di tingkat nasional ini, Cok Istri mengaku sudah siap, terlebih sudah melakukan persiapan sedini mungkin. Perempuan energik kelahiran Gianyar 56 tahun silam tersebut menjelaskan SD Saraswati 3 Denpasar kali ini mengirim Tari Kreasi Baru dengan judul Kuma Jaran dengan jumlah penari 5 orang, dan pantomin yang diperkuat dengan 2 siswa. “Kami berharap kedepannya mudah-mudahan anak-anak kami tetap bisa berkreativitas seperti sekarang ini.
Tanpa kreativitas, anak-anak tidak akan bisa berbuat apa,” ujarnya. Ia tak menyangkal, perjuangan SD Saraswari 3 Denpasar untuk melenggang ke FLS2N tingkat nasional ini sempat tersandung. “Di tahun 2013, SD Saraswati 3 Denpasar belum berhasil lolos di tingkat Provinsi Bali. Baru kemudian di tahun 2014, FLS2N yang diselenggarakan di Semarang kami berhasil menyabet Juara I Nasional pada bidang pidato serta masuk Nominee 12 besar pada bidang Tari Kreasi Baru,” tuturnya. Prestasi menonjol lainnya yang disabet SD Saraswati 3 Denpasar di tingkat nasional tahun 2014 adalah Juara I Sekolah Berdaya Mutu tentang Ekstrakurikuler Bidang Seni. Sebelumnya juga, pada tahun 2012 SD Saraswati 3 Denpasar berhasil meraih Harapan II pada bidang Tari Kreasi dan Cergam (Cerita Bergambar) yang dilaksanakan di Lombok. Cok Istri mengatakan, keberhasilan SD Saraswati 3 Denpasar tersebut tentunya tak terlepas dari kerjasama yang baik antara guru, anak, orangtua siswa, dan pihak sekolah/yayasan. “Konsep saya membina hubungan dengan guru sehingga anak banyak berprestasi sederhana saja. Intens melakukan komunikasi termasuk evaluasi dan motivasi, serta memberikan kepercayaan kepada guru di bidangnya masing-masing,” ungkapnya. Menyamakan persepsi dari beberapa orang tentunya tak segampang membalik-
kan telapak tangan. Perlu seni pendekatan. “Syukur sampai saat ini guru-guru memiliki kesadaran tinggi bahwa dalam tugas mengabdi dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan selalu menjaga toleransi antarwarga sekolah. Dengan begitu suasana nyaman akan tercipta, sehingga proses belajar mengajar di dalamnya termasuk berkreativitas pun turut terbawa imbas positif. Kondisi inilah yang akhirnya menelurkan anak-anak berprestasi yang mampu mengharumkan nama SD Saraswati 3 Denpasar. Lalu di zaman sekarang ini, bagaimana membuat anak agar patuh pada guru? “Sama saja. Perlu seni pendekatan pada anak. Biasanya, guru kami memiliki metode masing-masing untuk pendekatan pada anak atau menangani anak yang bermasalah,” ucapnya. Yang paling perlu diingat, guru menjadi model. Jadi guru tak harus memerintah atau membentak anak yang datng terlambat misalnya. Cukup dinasihati dan memberikan contoh dengan guru datang lebih awal. –Inten Indrawati
19
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Olahraga Rekreasi Utamakan Keakraban Selain memperoleh kesehatan dan kebugaran jasmani, olahraga rekreasi juga bertujuan untuk ke gembiraan, membangun hubungan sosial, melestarikan dan meningkatkan kekayaan budaya daerah dan nasional. Demikian disampaikan Ketua IV FORMI Bali Grace Tangkudung, S.Pd. M.Fis.
S
ejatinya, olahraga dibedakan menjadi 2 yakni olahraga prestasi dan olahraga rekreasi masyarakat. Olahraga prestasi memang menargetkan medali emas, perak, dan perunggu. Ada atlet, wasit, dan pelatih. Olahraga rekreasi masyarakat adalah olahraga yang lebih bersifat menghibur, olahraga miliknya masyarakat, yang lebih mengutamakan keakraban. FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) dibagi menjadi 3 bagian besar, yakni olahraga kesehatan dan kebugaran, olahraga tradisional dan budaya, serta olahraga petualangan dan tantangan. Yang termasuk olahraga kesehatan dan kebugaran ini adalag senam dan aerobic, di antaranya senam jantung sehat, senam Tera, senam PORPRI. Olahraga tradisional dan budaya mencakup, pencak silat budaya, tarik tambang, enggrang, gateball, gasing, gebug bantal, panahan tradisional, megalagala, makepung, dll. Skate board, street soccer, inline skate, dll., termasuk dalam olahraga petualangan dan tantangan. “Pokoknya semua olahraga tradisional yang sifatnya punya rakyat, bernaung di FORMI,” tegas Ketua Asosiasi Instruktur Aerobik dan Fitness Indonesia (ASIAFI) Bali ini. Ia menjelaskan, olahragaolahraga tradisional ini dihimpun
di seluruh Indonesia. Di Bali, FORMI terbentuk 29 September 2012. Beberapa waktu lalu, FORMI Bali sempat menggelar turnamen ceki yang disebut-sebut sebagai salah satu olahraga rekreasi. Hal ini cukup menjadi tanda tanya besar di masyarakat. “Di Bali khususnya, pandangan orang sudah terlanjur menggarisbawahi bahwa ceki adalah judi. Makanya kami mau membersihkan stigma
ini. FORMI mau mengatakan bahwa ceki itu olahraga otak seperti catur atau bridge. Memang harus pelan-pelan karena sudah terlanjur identik dengan judi,” jelasnya. Jika mau ditelusuri lebih dalam, apapun jenis olahraganya bisa dipakai judi. Sepakbola, tinju, golf, juga bisa judi, cuma tidak terlihat saja. “Sekarang ini kami masih menghimpun mereka. Seperti layang-layang sudah lama ada, tapi organisasinya tidak ada. Olahraga panahan tradisional belum masuk,” ujarnya. Namun, dari waktu ke waktu akan semakin banyak olahraga yang tadinya hanya dibuat rakyat untuk olahraga sendiri, kini dihimpun dalam bentuk organisasi, untuk memperkaya/menunjukkan bahwa FORMI ini kaya, olahr
aganya tak hanya sebatas kebugaran, namun juga mencakup olahraga tradisional yang selama ini jalan sendiri-sendiri, seperti gasing,” paparnya. Di Bali sendiri yang paling menonjol adalah senam dan aerobik. Karena memang olahraga tersebut selain sering diperlombakan, memang sudah ada dari dulu, jauh sebelum FORMI terbentuk di Bali. Sekali lagi Grace Tangkudung menegaskan, olahraga rekreasi ini tidak mengejar prestasi apalagi prestise. Kalaupun ada prestasi, tetap bukan utama karena sifatnya rekreasi. “Di sini, persaingannya kurang, namun tetap membugarkan masyarakat serta makin memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” tandasnya. –Inten Indrawati
Jangan Over Training
Grace Tangkudung, S.Pd., M.Fis.
oleh FORMI, sehingga nanti jika ada lomba, bisa terorganisasi dengan baik, ada kebersatuan. Semua olahraga ini dilombakan tetapi tidak mengacu pada medali, karena memang bukan olahraga prestasi, namun lebih ke hiburan yang bersifat rekreasi. FORMI merupakan induk organisasi olahraga yang merupakan satu-satunya wadah berhimpunnya organisasi olahraga rekreasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, baik secara nasional maupun di daerah. Menjadi mitra strategis pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam kerangka mendorong dan menggerakkan pembinaan dan pengembangan olahraga rekreasi
Menekuni dunia olahraga sebaiknya dimulai sejak kecil. Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan jika orangtua, terutaka perkembangan kejiwaan dan fisik. “Perkembangan kejiwaan misalnya dia akan meniru apa yang dilakukan orangtua atau orang terdekatnya. Kalau orangtua suka olahraga, anaknya juga suka olahraga. Kalau orangtua peminum atau perokok, anaknya juga demikian karena dia meniru,” ungkap Prof. Dr.dr. I Nyoman Adiputra, M.OH, Sp. Erg, AIFO, ahli Fisiologi dan Ergonomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Perkembangan kejiwaan ini harus dipantau oleh orangtua. Salah satu cara membentuk kelekatan hubungan orangtua dan anak ditunjukkan dengan pemberian cerita sebelum tidur. Cerita ini diberi muatan budi pekerti yang akan diingat anak. Selain itu, perkembangan kejiwaan juga dapat dilihat dari aktif atau tidaknya anak. Kalau anak hanya diam saja, ada kemungkinan dia sakit. Pada fase
anak-anak, seharusnya dia aktif bermain bersama teman-teman sebayanya. Hal yang sering terjadi, anak-anak yang seharusnya bebas bermain itu dilarang, tidak boleh begini tidak boleh begitu. “Orangtua cukup mengawasi saja. Namun, perhatikan juga waktu. Jangan sampai seharian bermain. Kalau waktunya makan, ya harus makan, waktunya belajar ya belajar,” ujar Prof. Adiputra. Dari sisi perkembangan fisik, bermain juga termasuk olahraga karena pengertian olahraga adalah ketika organ tubuh bergerak dan ada interaksi dengan orang lain. Olahraga bagi anak-anak tidak harus yang rumit. Bermain di lapangan sudah termasuk olahraga. “Hal yang harus diingat adalah anak dalam masa pertumbuhan jangan sampai over training atau kelebihan latihan. Perhatikan juga asupan nutrisi dengan kalori yang seimbang. Kalau makan banyak bergerak juga banyak,” ujar profesor yang juga penekun sastra Bali dan penerima anugerah Rancage Award 2015 ini.
Ia mengatakan sekarang banyak anak yang mengalami obesitas karena kurangnya mobilitas tetapi asupan makanan banyak. Misalnya nonton televisi atau bermain game sambil ngemil. Ini merupakan pola hidup yang tidak sehat. Karena itu, orangtua harus bisa mengajarkan pola hidup sehat kepada anak, salah satunya dengan mengajak berolahraga. Dari olahraga rutin bisa menghasilkan prestasi. –Ngurah Budi
Prof. Adiputra
Minim Dana Pembinaan tetap Berprestasi
Cok Istri Muniarti
Unggulan cabang olahraga di Bali disesuaikan dengan karakter dan budaya setempat. Menurut Ketua KONI Bali, Ketut Suwandi, cabang olahraga yang menjadi unggulan di Bali, lebih kepada olahraga perorangan yang menggunakan kecepatan seperti bela diri, renang, dan atletik. Untuk bela diri ada judo, silat, dan karate. Beberapa olahraga baru yang sudah mulai naik daun seperti kriket dan gateball. Menurutnya, tantangan olahraga di Bali selama ini, banyak atlet numplek di Denpasar dan Badung. Selain itu, sarana dan prasarana olahraga di Bali san gat minim. Misalnya lapangan sepakbola ataupun atletik masih kurang. Ia mengatakan, dana pembi-
naaan untuk atlet di Bali juga termasuk kecil. Begitu juga, dengan infrastruktur olahraga yang sangat terbatas. Padahal, dalam UU Nomor 5 Tahun 2007 disebutkan, pembinaaan olahraga dilakukan pemerintah. Dana pembinaan juga diberikan pemerintah dan pembangunan infrastruktur juga dilakukan pemerintah. Namun, dengan keterb atasan dana pembinaan dan infrastruktur, tidak memudarkan semangat para atlet Bali untuk berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Dalam Sea Games di Singapura, dari 47 emas yang didapatkan Indonesia, Bali menyumbangkan 5 emas. Dalam ajang Sea Games di Myanmar dari 44 emas yang didapatkan Indonesia, Bali menyumbang 7 emas. Dalam ajang
Ketut Suwandi
Asian Games, Bali juga ikut menyumbang emas. Dalam PON remaja tingkat Nasional tahun 2014, Bali menduduki
peringkat VI dari 34 provinsi. Padahal dana pembinaan atlit Bali hanya Rp 4 miliar, paling kecil dibandingkan provinsi lain, tapi Bali tetap bisa meraih prestasi. Artinya, potensi atlet Bali sangat luar biasa dan sangat perlu dilakukan pembinaan yang berkesinambungan. Ia menyebutkan, upaya untuk menggairahkan masing-masing kabupaten/kota, dengan memberikan kesempatan masingmasing kabupaten/kota menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) bergilir tiap dua tahun. Hal ini, memberi gairah kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mulai menata infrastruktur olahraga di ma sing-masing daerahnya. Porprov tahun 2015 akan digelar bulan September di kabupaten Bule-
leng. “Kabupaten Buleleng yang sebelumnya tidak punya kolam renang, kini sudah dibangun kolam renang yang refresentatif. Artinya, nanti generasi muda dari Kabupaten Buleleng yang berbakat bisa menyalurkan potensi mereka di bidang renang dan bisa berkembang,” kata Suwandi. Ia mengajak, pemerintah dan swatsa bersama-sama mem bangun olahraga di Bali, seperti pembangunan infrastruktur dan venue olahraga. Menurutnya, pembinaan olahraga bukan hanya untuk menghasilkan atlet berprestasi, namun, juga, untuk pem bangunan karakter generasi muda, dengan mengembangkan sikap sportif, jujur, dan berkarakter.-Wirati Astiti
20
Nine
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Rosa Stuart
“Saya sudah terlanjur cinta dengan pariwisata,” ungkap Rosa Stuart, salah seorang perempuan yang aktif dalam bidang pariwisata di Nusa Tenggara Barat yang kini sebagai Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB. Kepedulian ibu dari tiga anak, Veronika Indriani (36), Kelly Anl (26) dan Mandalay (21) ini terhadap perkembangan dan kemajuan pariwisata NTB tidak hanya pada hal-hal yang besar melainkan juga memperhatikan hal sekecil apapun yang menyangkut pendukung-pendukung pariwisata seperti halnya soal lingkungan.
K
Rosa Stuart
mati suri digempur berbagai masalah, mulai dari krisis keuangan yang melanda dunia, krisis politik dalam negeri, munculnya SARS, Bom Bali I, Bom Bali II, kerusuhan massal berbau SARA
di Lombok, tragedi WTC dan berbagai faktor yang membuat runtuhnya pariwisata daerah ini hingga “sunyi senyap”. Kejatuhan ini memang sungguh menyakitkan mengingat di masa awal berkembangnya pariwisata NTB sekitar tahun 1980an pernah booming bahkan dunia sempat tercengang menyaksikan kemajuan pariwisata NTB yang berdasarkan data kunjungan wisatawan ke NTB, dikatakan tujuh tahun lebih cepat dari estimasi WTO ini. Di masa itu, ia pernah menginap di salah satu hotel yang selalu ramai dikunjungi di Senggigi, saat sarapan ia tak melihat seorang pun tamu yang makan di restoran hotel tersebut. “Sedih rasanya saya melihat hal itu. Benar-benar terpukul menyaksikan pariwisata NTB yang terpuruk begitu rupa,” ujar Rosa mengenang masa-masa sulit itu. Dari sanalah Rosa kemudian
P
Rosa Stuart (dua dari kanan) saat mengikuti kegiatan pariwisata di Singapura
sadar untuk memberikan kontribusinya bagi pariwisata NTB. Hebatnya, keterpanggilannya untuk ikut peduli dan membantu para pelaku pariwisata serta pemerintah daerah dalam hal ini, Rosa tidak berangkat sebagai pelaku pariwisata yang memiliki aset dalam bidang ini. Kala itu, Rosa yang seorang ibu rumah tangga ini, belum lama pulang kampung ke Lombok setelah 20 tahun (sejak tahun 1977) melanglangbuana ke berbagai negara mendampingi suaminya- tidak memiliki produk apapun terkait pariwisata. Ia tidak punya hotel, restoran atau bisnis lain yang berkaitan dengan
titik nol memulai membangun pariwisata, sangatlah sulit. Namun ia selalu membangkitkan optimisme dalam dirinya, sekecil apapun kontribusi yang diberikan pasti bisa membantu. Inilah bentuk kecintaannya pada dunia pariwisata. Maka ketika Pemerintah Provinsi NTB kala itu (1999) membentuk Badan Promosi Pariwisata Lombok Sumbawa atau yang dikenal dengan Lombok Sumbawa Promo (LSP), Rosa diajak untuk ikut bergabung dan menjadi Ketua Pelaksana Harian LSP. Ia dan rekan-rekan pengurus bahkan membuat promo paket
Rosa Stuart bersama pelaku pariwisata di NTB
Dalam suatu kegiatan bersama rekan-rekannya
lengkap tiga hari dua malam di Lombok hanya dengan 299 US Dollar. “Dengan biaya tersebut sudah dapat paket lengkap, mulai dari hotel, makan dan kebutuhan lainnya,” katanya. Usaha ini membuatnya sangat terharu mengingat bagaimana seluruh komponen pariwisata bahu-membahu saling mendukung dengan pemerintah daerah. “Saya kagum dengan semangat pelaku pariwisata saat itu. Mulai dari hotel kelas melati hingga
J u l i a Pe r e z
Bagi sebagian orang lulus sarjana mungkin biasa-biasa saja. Tapi tidak bagi artis kondang Julia Perez yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Untuk mencapai itu, wanita bernama asli Yuli Rachmawati ini yang harus berjuang ‘setengah-mati’.
Terlibat dalam LSP Jika dipikir-pikir, buat apa ia bersusah payah berkorban waktu, tenaga bahkan tak jarang dana pribadi untuk mengurus pariwisata sedangkan ia tidak memiliki aset maupun produk pariwisata yang akan memberinya keuntungan jika pariwisata membaik. Rosa tidak pernah berhitung jika berkaitan dengan urusan pariwisata. Dan berdasarkan pengalamannya dengan dunia luar, ia tahu benar untuk membangkitkan pariwisata yang berada pada titik nol akibat “terjun bebas” karena berbagai peristiwa yang mengancam keamanan, bukan
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Jadi Sarjana Setengah Mati
Selalu “Berkicau”
arenanya, pemilik hotel Villa Sayang ini selalu “berkicau” merespons kondisi lingkungan terutama soal kebersihan maupun sampah di manapun ia melihat sampah yang tidak tertangani. Tak jarang pula dalam kicauannya di media sosial itu, ia menandai pejabat di wilayah yang bersangkutan. Aktivitasnya sebagai pelaku pariwisata di NTB dan ditambah dengan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, membuat Rosa kerap terlihat terlibat maupun menghadiri berbagai even yang diselenggarakan di NTB. Apa yang membuat Rosa begitu jatuh hati pada pariwisata? Cukup panjang ia merunut perjalanannya mengikuti dan merasakan jatuh bangunnya pariwisata Nusa Tenggara Barat. Pedih perih guncangan pariwisata NTB yang pernah
Inspirasi
hotel berbintang seluruhnya ikut berpatisipasi,” ujar perempuan enerjik kelahiran, 26 Oktober 1959. Sejak itulah, sedikit demi sedikit pariwisata NTB melaju menuju kebangkitannya yang kedua. Pengalamannya melihat pariwisata di beberapa negara yang pernah ditinggalinya seperti Australia, Jepang dan Singapura, membuatnya sedikit banyak mengerti kontribusi apa yang harus diberikannya pada pari-
pariwisata. “Saya merasa terpanggil untuk ikut membantu sebisa dan semampu saya, sekecil apapun itu pokoknya saya ingin membantu,” katanya. Ia tidak ingin hanya ikut sedih saja, karena baginya itu percuma. Pariwisata NTB kala itu harus diberi perhatian khusus untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Dari rasa prihatinnya itu, ia mulai menyuarakan pariwisata NTB lewat kawan, sahabat dan kenalannya di luar negeri. Ia juga membuat majalah pariwisata dengan nama Inilah LombokSumbawa tahun 1998-2005 dan terlibat dalam Lombok Travel Mart. -Naniek I. Taufan
wisata NTB. Dan perjuangannya bersama seluruh komponen kepariwisataan NTB dalam mendukung pemerintah daerah pun berbuah manis. Pariwisata NTB sumringah, Rosa ikut lega. Kini, setelah pariwisata NTB berkembang ia baru memiliki produk pariwisata, berupa hotel dan guess house, pada tahun 2006. Villa Sayang miliknya yang kerap disebutnya sebagai hotel tengah sawah, selain bisa melihat sawah dan Gunung Rinjani hotel itu terbilang unik karena secara konsisten ia mengutamakan menyajikan kuliner tradisional atau makanan lokal yang khas Indonesia. Sejauh ini konsistensinya dalam menyajikan kuliner khas ini tidak pernah mendapat komplain dari tamunya yang 99% adalah tamu asing. “Mereka suka dan tidak pernah komplain,” katanya. Sejauh ini tidak banyak yang menolak atau tidak menyukai kuliner khas yang disajikannya. Namun begitu, jika ada permintaan, ia tetap menyiapkan makanan selera asing. Penyajian kuliner khas yang konsisten seperti ini adalah salah satu kecintaan dan kebanggaan nenek dari dua orang cucu ini pada daerahnya. -Naniek I. Taufan
asalnya, bukan hanya karena dia sibuk berkarier, tapi juga h arus m enj alani masa-masa kelam di balik jeruji besi lantaran kasusnya dengan Dewi Persik. Belum lagi setelah itu dia juga menderita penyakit cukup serius, kanker servick yang membuatnya harus menjalani pengobatan hingga ke negeri jiran. Jadi tak heran kalau pemeran film Gending Sriwijaya ini, sungguh merasa bahagia ketika akhirnya berhasil meraih impiannya sebagai sarjana hukum. Tak tanggungtanggung, Jupe bukan sekadar lulus namun ia meraih nilai cemerlang, alias ‘A’ pada ujian sidang skripsi. Saat penyusunan skripsi, kata Jupe, adalah salah satu masa terberat dalam hidupnya karena masa-masa itu berbagai rintangan dihadapinya. Dari mulai masuk penjara hingga divonis menderita kanker. “Bagi saya ini adalah perjuangan. Ini bukan sekadar lulus kuliah tapi lebih dari itu. Saya harus melalui fase-fase sulit dalam hidup saya. Saya harus masuk rutan, kemudian menderita sakit. Ketika di rumah sakit, saya tidak tahu apakah akan hidup atau mati, tapi saya berusaha meski dalam kondisi keterbatasan. Saya percaya asalkan ada kemauan, pasti ada jalan, pasti bisa. Dan akhirnya bisa menyelesaikan semuanya,” ungkapnya dengan nada terharu. Mengenang apa yang dialaminya itu, Jupe pun menitikkan air mata. “Yang bikin saya sedih adalah bagaimana saya harus ‘jatuh-bangun’ saat menimba ilmu. Tapi benar, semua indah pada waktunya. Saya sangat bersyukur atas anugerah Tuhan, sehingga saya memperoleh kekuatan dalam menjalankan semuanya,” ungkap peraih penghargaan ‘Pemeran Utama Wanita Terbaik’ Festival Film Bandung 2013. Dirinya, aku wanita kelahiran Juli 1980 ini, memulai semuanya
“Yang bikin saya sedih adalah bagaimana saya harus ‘jatuh-bangun’ saat menimba ilmu. Tapi benar, semua indah pada waktunya. Saya sangat bersyukur atas anugerah Tuhan, sehingga saya memperoleh kekuatan dalam menjalankan semuanya,”
dari bawah. Merintis karier sembari mengejar cita-cita menyelesaikan pendidikan formalnya.
Untuk semua itu, ia harus bekerja keras bahkan super keras. Sejak kecil, katanya, ia terbiasa hidup mandiri dan terbiasa berjuang. Itu juga yang membuatnya menjadi wanita tegar. “Saya ini bukan anak orang kaya, saya meraih semuanya dengan bekerja,” ucap Jupe yang akan diwisuda pada November mendatang. Gelar ini juga sekaligus pembuktian bagi pihak-pihak yang selama ini memandang sebelah mata pada dirinya. Nilai cemerlang yang diraihnya juga membuktikan bahwa dirinya tidak hanya sekadar lulus,
tapi ada ‘bobot’ di dalam kelulusannya itu. “Aku tidak mau berhenti hanya dengan gelar S-1. Aku mau melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Aku ingin hidup aku berguna untuk orang lain juga. Amien. Mungkin aku akan jadi pengacara atau jaksa, maka itu aku perlu memperdalam ilmu hukum, doakan ya,” tambahnya. –Diana Runtu
5
4
Inspirasi
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Ni Putu Dwi Lestari Negari
Senyum Itu Murah Tiga profesi digelutinya, guru, atlet panahan, dan fotomodel. Semuanya bisa dijalankan dengan senang hati oleh perempuan bernama lengkap Ni Putu Dwi Lestari Negari, S.Pd. ini. Dari ketiganya itu, Dwi memprioritaskan sebagai guru.
Mandalika
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Wajib Kenakan Tenun NTB dan Batik Sasambo
Tenun khas dan batik merupakan salah satu karya hasil kreativitas masyarakat suatu daerah yang dapat memberikan ciri dari identitas budaya daerah tersebut. Tiap daerah di Indonesia memiliki ragam hasil karya tradisional berupa tenun (ada juga batik) yang masing-masing memiliki ciri khas dengan keunikan sendiri. Hampir semua daerah memiliki tenun dengan ragam corak dan keunikan masing-masing, termasuk Nusa Tenggara Barat. Selain itu, NTB juga kini mengembangkan batik yang diberi nama Batik Sasambo. Penamaan Sasambo diambil dari inisial tiga suku asli yang ada di NTB yakni, Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu).
Ni Putu Dwi Lestari Negari
S
aat ditemui di SMK PGRI 4 Denpasar, Dwi baru saja usai mengajar olahraga. “Cita-cita saya memang menjadi guru olahraga. Guru olahraga perempuan sangat jarang. Persaingan sedikit, jadi peluang berkarier sangat besar. Selain itu, menjadi guru olahraga sangat menantang,” ujarnya. Dwi baru tiga minggu menjadi guru di sekolah yang dipimpin Drs. I Ketut Suarya, M.Pd ini. Sebelumnya, Dwi mengabdi di SD 1 Yeh Embang Kauh, Mendoyo sejak 2014. Ia merasa ada perbedaan menjadi guru SD dan dan SMK. Guru SD harus sabar karena membentuk siswa dari nol. Namun, ada kepuasan ketika anak didiknya berhasil. Hal ini dialaminya ketika melatih siswa untuk menjadi atlet tenis meja. Dari siswa yang belum berpengalaman, bisa dibina hingga menjadi juara tingkat kabupaten. Di level SMK, perempuan kelahiran 27 Desember 1988 ini tinggal memoles atlet-atlet yang sudah jadi. Pendekatan yang digunakan juga berbeda karena siswa SMK adalah remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri. “Saya menempatkan diri sebagai guru ketika jam pelajaran olahraga atau saat menjadi wali kelas. Tetapi, di luar jam pelajaran, kami sering ngobrol dengan siswa. Kesempatan ini saya gunakan untuk memberikan informasi tentang hal-hal yang dialami remaja,” ujar lulusan Undiksha Singaraja ini. Sebagai guru muda, Dwi mengaku kadang ada siswa yang iseng. Namun, ia tak menanggapinya. Ada juga siswa yang menganggapnya guru killer karena sering memberi tugas. Tugas yang
ia berikan berupa makalah dalam format tulisan tangan. Ada yang dikerjakan sendiri dan ada yang berkelompok. Menggunakan tulisan tangan membuat siswa kreatif. Minimal siswa membaca
sebelum menulis. Kalau diberikan membuat makalah dengan ketikan komputer, pola copy-paste sangat memungkinkan terjadi. Ia bisa menempatkan diri kapan harus santai dan kapan harus menjaga wibawa di hadapan murid. Dwi juga murah senyum dengan selalu mengingatkan senyum itu murah. “Kalau ada siswa yang cemberut saat pelajaran saya, saya panggil. Saya suruh senyum sendiri. Saya berikan teori tentang senyuman.,” kata pemilik moto hidup berjalan sesuai keadaan dan jangan neko-neko. TIGA BULAN Dwi juga berusaha mengenalkan panahan kepada siswa SMK PGRI 4 Denpasar. Sudah ada
beberapa yang tertarik, terutama siswa kelas XII. “Siswa kelas X dan XI sangat sibuk dengan kegiatan praktikum dan magang. Waktu agak longgar dimiliki siswa kelas XII. Beberapa diantaranya sudah ada yang tertarik untuk menjajal panahan,” ujar atlet yang membela Kabupaten Jembrana ini. Dwi menuturkan sejak SD ia menggeluti atletik nomor lari jarak pendek. Di jenjang SMP hingga SMA ia beralih ke jalan cepat. Prestasinya cukup lumayan untuk wilayah Jembrana. Ini pula yang membuatnya makin yakin untuk menggeluti dunia olahraga. Ketika kuliah, berat badanya 55 kg dan melebihi standar berat badan yang hanya 48 kg. “Ada teman yang mengajak ikut panahan. Saya mau saja, padahal tidak tahu tentang panahan. Waktu itu tahun 2007. Hanya tiga bulan latihan, saya sudah bisa. Mungkin sudah jodoh dengan panahan, saya bisa cepat menguasainya. Tahun 2008 saya sudah mulai ikut Kejurda dan Kejurnas. Tahun 2010 saya ikut Ganesha Open di ITB. Dari enam pemanah yang dikirim Bali, saya satu-satunya perempuan. Masuk 25 besar dari 216 peserta perempuan sudah saya syukuri,” ujar putri sulung pasangan I Nyoman Gd. Sumandia-AA Ayu Ngurah Prami ini. Kecintaan Dwi terhadap panahan membuat terus berlatih keras. Ia menjadikan cabang olahraga ini pilihan hatinya karena dengan panahan ia bisa sabar, fokus, konsentrasi, dan tenang. Kalau tidak bisa melakukan salah satu dari kriteria itu, ia sulit untuk
membidik sasaran. Tangan juga harus kuat untuk menyangga dan menarik busur. Tarikan busur satu pemanah dengan pemanah lainnya beda. Hal ini membuat satu alat yang sudah distel, tidak bisa digunakan pemanah lain. Kendala yang dihadapi adalah mahalnya peralatan panahan. Satu set busur nasional harganya bisa Rp 6 juta sedangkan 1 set busur compound bisa Rp 50 juta. Untuk compound, Dwi menggunakan alat milik pemkab Jembrana. Sebagai atlet, kakak Made Ngurah Mertayasa ini harus pandai-pandai mengatur waktu. Ia mengajar Selasa-Jumat mulai jam ke-0 dan sore hari. Hari Sabtu dan Minggu dijadikan hari untuk latihan memanah. Jika berada di Jembrana, ia latihan bersama tim Jembrana di stadion Pecangakan. Namun, bila di D e n p a s a r, i a berlatihnya di lapangan Kapal dan SKB Kerobokan, ikut dengan pemanah Badung. Di ajang Porprov 2011 di Jembrana, Dwi berasil meraih perak. Dua tahun kemudian di Porprov Denpasar ia meraih perunggu. “Ibu saya sering nanya kapan emasnya. Saya jadi jengah. Semoga di Porprov 2015 Buleleng bisa meraih prestasi terbaik. Saingan makin berat. Banyak juniorjunior yang kini muncul,” ujar pemanah yang mengaku mengi-
dolakan dirinya sendiri ini. Perempuan asli Gulingan Tengah, Mengwi, Badung yang keluarganya menetap di Yeh Embang Kauh, Mendoyo, Jembrana ini juga menggeluti dunia model. “Teman-teman suka motret dan saya dijadikan model. Lokasi pemotretan sampai di Karangasem. Ini pun menyesuaikan dengan jadwal liburnya mengajar dan latihan memanah. “Saya menekuni profesi guru yang memang menjadi cita-cita sejak kecil, kemudian tampil sporty sebagai atlet panahan, bisa berubah lagi feminin saat menjadi foto model. Siap berubah penampilan sesuai keperluan,” ujarnya seraya menegaskan menolak untuk pemotretan dengan pakaian mini dan bikini –Ngurah Budi
21
K
eunikan dan kekhasan tenun NTB dan batik Sasambo menjadi modal yang baik untuk dikenal umum. Usaha dan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkenalkan tenun NTB dan Batik Sasambo di kancah nasional maupun internasional tengah dilakukan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB yang menginginkan tenun NTB dan Batik Sasambo dapat diterima seperti halnya batik Jawa. Hal ini terungkap dalam Seminar Wastra yang merupakan rangkaian dari Bulan Budaya Lombok Sumbawa di Taman Mayura, Mataram NTB, beberapa waktu lalu. Seminar yang dihadiri pula oleh Ketua Cita Tenun Indonesia Ny. Okke Hatta Rajasa,
designer nasional Dian Pelangi dan Barly Asmara, membuka mata dunia untuk melihat
Menenun menjadi salah satu aktivitas keseharian para perempuan tradisional NTB
betapa unik dan eksotisnya t e n u n N T B . “ Ka m i p u n y a keinginan yang kuat untuk menjadikan Tenun NTB dan Batik Sasambo seperti Batik Jawa, yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat dan bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” ungkap Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB Hj. Erica Zainul Majdi. Menurut Erica, rasa optimis akan diterimanya tenun NTB dan Batik Sasambo seperti halnya Batik Jawa, lebih karena telah didukung oleh kemajuan teknologi, baik bi-
dang informasi, processing dan kesadaran masyarakat yang telah dapat memberi kontribusi terhadap kedaulatan budaya dengan menggunakan produkproduk asli daerah, seperti
menenunnya dinilai tidak ada di tempat lain, membuktikan bahwa tangan-tangan terampil penenun NTB telah mampu membawa karyanya “bicara” pada podium yang semestinya.
Tenun khas NTB dikenakan Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi berserta istri
Tenun NTB dalam pentas fashion show pada Bulan Budaya Lombok Sumbawa
tenun dan batik Sasambo. Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat NTB pada tenun dan batik Sasambo adalah dengan mewajibkan jajarannya mengenakan Tenun NTB atau Batik Sasambo. Begitu juga di sekolah-sekolah. Keberhasilan Tenun NTB dalam memperoleh penghargaan Execellence of Handycraft karena proses teknik
Penghargaan ini jelas menjadi pemicu semangat daerah ini dalam memajukan tenun di NTB. Kekayaan tenun dan wastra milik NTB sangat indah, hanya saja dinilai masih memerlukan sentuhan tangan yang kreatif dan inovatif serta mampu mengolahnya dengan maksimal sehingga hasil kerajinan ini dapat menjadi kebanggan tidak hanya bagi NTB saja tetapi juga menjadi kebanggaan Indonesia. –Naniek I. Taufan
Tingkatkan Porsi APBD untuk PAUD Untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak di NTB yang jumlahnya cukup banyak, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga (Dikpora) NTB menggelar Gebyar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berlangsung beberapa waktu lalu. Secara rutin kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Pemuda dan Olahraga ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia. Pesan yang disampaikan melalui kegiatan semacam ini adalah sebagai bentuk pemerintah guna memastikan bahwa
anak-anak Indonesia khususnya anak-anak NTB mendapatkan seluruh haknya sesuai dengan kebutuhannya. “Insya Allah hakhak anak menjadi perhatian kita semua untuk dapat kita berikan. Hak mendapatkan kebahagiaan, hak suka cita, dan hak untuk bermain. Hak-hak yang melekat pada anak ini merupakan kewajiban orangtua untuk memenuhinya,” kata Drs. H. Lalu Syafi’i, M.M., Asisten III Administrasi Umum dan Kesejahteraan Rakyat, Setda. Nusa Tenggara Barat. PAUD-PAUD yang ada di NTB menurut Syafi’i, masih harus terus dievaluasi secara berkesinambungan untuk mengetahui
Kegiatan Gebyar PAUD NTB
apakah PAUD-PAUD yang ada saat ini bisa memberikan pendidikan yang benar-benar dibutuhkan oleh anak usia dini. Karena itulah, ke depannya Pemerintah Provinsi NTB juga akan memberikan perhatian yang sama antara PAUD dengan Pendidikan Dasar 9 tahun. Salah satu wujudnya adalah peningkatan porsi APBD untuk PAUD di tahun 2017 yang semula hanya sebesar 5% menjadi 20%. “Mudah-mudahan, peningkatan anggaran ini bisa berdampak optimal bagi peningkatan kualitas pengajar, infrastruktur, dan peningkatan kurikulum pendidikan anak usia dini,” kata Syafi’i. -Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Mobil Lawas Jadi Futuristik Rupiah boleh terpuruk namun minat masyarakat mengunjungi pameran otomotif terakbar 2015 tak surut. Padahal harga tiket masuk untuk ‘cuci-mata’ di pameran otomotif itu, tidak murah. Ada dua pame ran otomotif berkelas internasional yang digelar dengan waktu yang bersamaan 20-30 Agustus 2015 yakni; Indonesia International Motor Show di JIExpoKemayoran, Jakarta Pusat, dan GAIKINDO Indonesia International Auto Show 2015(GIIAS) di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Kedua event ini menetapkan harga tiket yang sama yakni Rp 40.000 untuk weekday atau Senin-Kamis, dan Rp 60.000 untuk Jumat-Sabtu-Minggu.
mobil terbang‘Harry Poter’ yang dijuluki ‘Flying Ford Anglia’. Di mobil-mobil ini berada di stan ‘Movie Car’ dimana para pengunjung bisa ber-selfie ria. Menurut Ery Erlangga, Preside Dyandra, kesempatan mendatangkan mobil-mobil tersebut sungguh diluar dugaan. “Tuhan membuka jalan, mulai dari pendekatan dengan pihak terkait di Amerika hingga proses pengiriman, seperti mudah dan cepat. Tadinya kami hanya ingin membuat perbedaan dalam IIMS kali ini sesuai dengan tagline ‘The Essence of Motor Show’. Ternyata bukan hanya menghadirkan, kami juga bisa memiliki mobil ‘Batman’ dan ‘KITT’ karena museum pemiliknya di AS akan tutup,” jelasnya sembari menambahkan, nantinya seusai pameran, dua mobil ini akan dibawa berkeliling ke berbagai daerah. NONTON DALAM TRUK Yang juga menarik perhatian pengunjung adalah dipajangnya mobil koleksi Presiden Sukarno. Mobil dengan tiga warna berbeda ini, berada di Hall A. Booth mobil Presiden RI pertama ini, di-setting seolah berada di depan gedung tua yang bertuliskan ‘History Car’. Tak jauh dari sana ada mobil klasik milik Dono ‘Warkop’. “Pameran tahun ini rasanya beda, keren banget,” ucap Hendra yang mengaku setiap tahun berkunjung ke IIMS. “Gua datang ke dua pameran (IIMS di Kemayoran dan
“K
ami hanya mau melihatlihat. Memang ada rencana ganti mobil, tapi sekarang mau melihat-lihat dulu,” kata Ny Nani yang datang dari Bandung bersama suami dan dua anaknya untuk menonton pameran IIMS di Kemayoran. Mengunjungi pameran ini, katanya, memang sudah direncanakan karena tertarik bonus dan diskon. “Katanya banyak bonus dan biskon, jadi kami ke sini lihat-lihat. Lagi pula di sini lebih banyak pilihan,” ucap Ny Nani yang mengaku berniat membeli mobil keluarga. Bagi sebagian pengunjung yang
kerap mengunjungi pameran otomotif, merasa penampilan IIMS kali ini lebih berwarna dan menarik. Pengunjung bukan hanya disodorkan mobil-mobil terbaru dari yang harga di bawah Rp100 juta hingga yang berharga ‘wah’ tapi juga dibuat tercengang dengan hadirnya mobil-mobil klasik nan keren. Tak hanya itu, aneka acara hiburan plus atraksi motor ikut memberi suasana meriah. Namun, tentu saja, yang tak kalah mempesona pengunjung adalah kehadiran mobil-mobil yang tampil dalam film-film Hollywood. Mulai dari mobil ‘Batman’, ‘Knight Rider’, ‘Fast and Furious’ hingga
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Luh Gede Herryani
Dukung Perempuan di Pilkada Pemilihan umum kepala daerah (pilkada) memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan lembaga eksekutif di tingkat lokal. Melalui pilkada ditentukan siapa yang bakal berada di puncak kuasa pemerintahan daerah.
GIIAS di BSD Tangerang), menurut gua dua-duanya keren. Tapi yang bikin kagum ngeliat mobil-mobil klasik yang tampil seperti baru. Kalau lihat mobil baru keren kan udah biasa. Tapi lihat mobil antik tapi terlihat seperti baru, itu baru hebat. Yang punya pasti ‘top’ banget dalam ngerawatnya,” ujar Hendra bersemangat. Pameran mobil-mobil antik ini berada di Hall B yang sebelumnya dipakai konser oleh Ariana Grande. Ini merupakan kolaborasi The 8th Otoblitz Indonesia Classic Car Show (OICC-Show) 2015 dan pihak IIMS. Seperti yang sudah-sudah, pameran mobil klasik dalam setiap kali penampilannya selalu mendapat respons positif dari pengunjung, khususnya komunitas otomotif yang gemar pada data dan sejarah berbagai brand mobil kelas dunia. Salah satu yang ditampilkan kali ini adalah mobil kenegaraan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Mobil kepresidenan ini ditampilkan berdampingan dengan sepeda motor Vintage, Classic, Sport, Youngtimer, Retro, Modern Classic, hingga Future Classic Sport Cars milik para kolektor Indonesia serta mancanegara. “Adalah sebuah kehormatan karena OICCS tahun ini diundang berkolaborasi dan tampil bersama dalam IIMS 2015. Kami berharap sambil menikmati perkembangan mobil terkini, para pengunjung bisa
menyaksikan sejarah mobil-mobil klasik di Indonesia ,” ujar Azman Osman, Presiden Otoblitz Media Synergy. Yang juga bikin pengunjung geleng-geleng kepala adalah melihat kreativitas para pencinta mobil dalam memodifikasi mobilnya. Salah satu yang menyedot perhatian adalah tampilan mobil Chevrolet tahun 1952 yang dirombak total menjadi mobil futuristik. Mobil lawas sepanjang 5,4 meter ini hasil kreasi rumah modifikasi ‘Kupukupu Malam’ di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tempat lain yang juga banyak didatangi pengunjung adalah arena hiburan seperti Xdimo Cinema 8 D berteknologi paling mutakhir. Pengunjungnya bukan hanya anakanak tapi juga para orang dewasa yang ingin merasakan menonton sambil bertualang. Di sini penonton masuk ke dalam truk dimana di dalamnya hanya ada empat kursi. Mereka diajak bertualang ke berbagai situasi yang seolah nyata. Penonton berinteraksi langsung dengan situasi, kursi bergoyang mengikuti pergerakan di dalam film yang menghadirkan efek hujan, angin, petir, bahkan gempa. ‘Petualangan’ menjadi benar-benar seru. Nah untuk mencicipi itu semua, pengunjung dikenakan tiket Rp 30.000. Karena tempat terbatas, para pengunjung pun terpaksa harus mengantri dengan setia. –Diana Runtu
P
ersoalannya adalah bagaimana pelaksanaan pilkada tersebut melibatkan perempuan di dalamnya. Hal ini penting terkait dengan pilkada sebagai alat demokrasi. “Demokrasi secara substantif tidak bisa mengabaikan keterlibatan perempuan,” ujar Ketua DPC Partai Demokrat Buleleng Luh Gede Herryani, S.H., MKn. Karena itu, sudah semestinya pilkada tidak hanya menjadi ajang kontes politik bagi laki-laki saja. Dari berbagai data yang ada, Luh De mengakui betapa masih minimnya keterwakilan perempuan dalam pelaksanaan pilkada. Padahal, hadirnya berbagai kebijakan affirmative action dapat menjadi wahana baru bagi upaya memperluas ruang publik perempuan, khususnya dalam kancah politik. Rupanya kultur politik di Indonesia, perempuan masih dimanfaatkan untuk kepentingan politik sesaat. Akibatnya, ruang gerak kaum perempuan berjalan belum terarah dan cenderung mengikuti jejak agensi politiknya. Meski secara menyeluruh peningkatkan partisipasi kaum perempuan belum juga paralel dengan perwuju-
dan politik kehadiran (the political of presence) yang signifikan, baik dalam peningkatan integritas, pengalaman, ataupun kapasitas. Dalam pilkada serentak ini, keterlibatan kaum perempuan memang masih terkesan minim, dan juga tidak banyak opini yang mengemuka tentang pentingnya keterlibatan perempuan dalam pemilukada demi meraih kursi
eksekutif di daerah. Namun, ia mengaku sedikit lega, di Bali ada sosok perempuan yang mengisi ajang pilkada tahun ini, seperti di Karangasem dan Tabanan. Menurut notaris, PPAT, Pejabat Lelang Kelas II, dan Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Buleleng ini, masih ada beberapa kendala yang dihadapi perempuan saat ini, di diantaranya tantangan diskursif atau ideologis, yaitu masih samar-samarnya ideologi yang menjadi panutan para perempuan dalam berpolitik, terutama ideologi yang berbasis gender. Akibatnya, ada politikus perempuan, baik di parlemen maupun eksekutif, cenderung mengikuti jejak kaum patriarki, bahkan ikut terjerembab dalam lingkup korupsi suap. Harus diakui juga masih adanya hambatan sosio-ekonomi perempuan, bahwa tidak semua dari mereka mempunyai modal sosial dan ekonomi seperti laki-laki. Selain itu juga hambatan politikus dan kelembagaan, terlihat dominannya laki-laki di setiap pengambilan keputusan dan kebijakan partai politik (parpol). Faktor yang tidak bisa dianggap enteng adalah masalah pribadi dan psikologi yang memaparkan realitas patriarki di masyarakat sering menjadi kendala utama ketika perempuan aktif di kancah politik. Perempuan enggan mendaftar menjadi calon kepala daerah dalam pilkada, juga karena stigma kotornya dunia politik dan tidak setimpalnya pengorbanan keluarga yang diberikan perempuan. Namun, katanya partai politik yang dimasukinya sebagai institusi demokrasi sejauh ini cukup memberi kesempatan perempuan selama ia mau terus berupaya memperbaiki dari sisi kualitas. Semoga apa yang dikhawatirkan banyak orang selama ini tidak menjadi mimpi buruk bagi masa depan perempuan dalam kancah politik kedepannya. Ia berharap agar kaumnya memahami kiprahnya ketika terjun di kancah politik dan tidak hanya memperjuangkan kepentingan pribadi atau partainya, namun dapat memainkan peran yang lebih luas yaitu kesetaraan dan keadilan gender. Sehingga dapat mewarnai sistem politik Indonesia. Kehadiran kaum perempuan dalam dunia politik ditujukan sebagai alternatif menjadi penyeimbang antara praktik kepartaian dengan aktivitas politik. Semoga , momentum pilkada serentak ini dapat menjadi pijakan bagi parpol untuk kembali menyemai kesadaran kader perempuannya dalam berpolitik. Termasuk mengefek-
tifkan komunikasi dan orientasi bersama demi mewujudkan isu pengarusutamaan gender.
TINGKATKAN PERAN PEREMPUAN Praktik demokrasi yang terjadi beberapa tahun belakang sudah mencapai banyak kemajuan. Tetapi di sisi lainnya ada penurunan sebab belum seimbangnya peran perempuan selaku pengambil keputusan politik strategis di pemerintahan pusat maupun daerah. Apalagi di Indonesia sendiri kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki di berbagai bidang kehidupan itu telah diatur dan dijamin dalam UndangUndang Dasar 1945. Luh Gede Herryani juga menyampaikan berdasarkan beberapa data indeks demokrasi terkait keterwakilan perempuan prosentasenya masih kecil dan bernilai merah baik itu variabel kebebasan sipil, variabel lembaga demokrasi juga variabel hak-hak politiknya. Seperti yang terjadi pada hasil pemilihan legislatif (pileg) 2014 lalu, menggambarkan persentase perempuan yang duduk di lembaga legislatif pusat , masih kecil, begitu pula di kabupaten/kota tidak memiliki keterwakilan perempuan di DPRD, di DPD, dan di DPR termasuk perempuan yang duduk di direksi 6,15 persen dan yang tercatat sebagai direksi badan usaha milik negara (BUMN) masih sangat kecil. Namun, langkah Presiden Joko Widodo menetapkan sembilan perempuan untuk menjadi anggota Panitia Seleksi KPK juga cukup menarik. Kesenjangan gender dalam bidang politik dan pengambilan keputusan tersebut selain berpotensi menghambat kemajuan perempuan, juga berpotensi memperlambat penyelesaian persoalan pembangunan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, sebagai upaya menu-
Luh Gede Herryani saat meeting dengan klien
3
jutkan peran perempuan di lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, Luh De meminta para penentu kebijakan memberikan ruang kebijakan afirmatif bagi perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di lembaga pemerintah tentu tanpa mengabaikan kualitas persyaratan yang ditentukan. Berbeda dengan pemilu legislatif di mana peran dan keterlibatan perempuan di legislatif didorong untuk mencapai keterwakilan 30%, baik di DPR maupun di DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Persoalan ini juga disampikan Luh De, meski ada UU No. 8/2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota belum menyinggung kebijakan afirmasi kepada perempuan dalam pencalonan kepala daerah, namun sangat diperlukan adanya komitmen dari penyelenggara dan parpol terkait pentingnya keterlibatan perempuan untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Ini penting, karena, pertama, dengan partisipasi perempuan menjadi kepala daerah dapat mendorong percepatan pembangunan demokrasi berkelanjutan. Adanya kesenjangan gender dalam bidang politik dan pengambilan keputusan, justru memperlambat penyelesaian masalah-masalah pembangunan kualitas sumber daya manusia. Kedua, secara sosiologisantropologis, kaum perempuan adalah komunitas potensial dan efektif dalam mengawal proses pemberdayaan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Perempuan di Indonesia menempati populasi mayoritas secara struktural, tetapi realitasnya tidak cukup berdaya dalam proses pembangunan bangsa karena kerap dibatasi oleh kekuasaan yang cenderung represif, diskriminatif dan memarjinalkan perempuan. Di samping itu, data statistik Indonesia secara umum menyebutkan pemilih perempuan di atas 50% di setiap pemilu. Juga, terbukti di setiap pemilu, perempuan memilih paling rajin serta setia dalam memilih calon impiannya. Lagi pula, jika perempuan maju menjadi kandidat, diharapkan aspirasi perempuan dapat disuarakan, selain bisa menginspirasi perempuan lain untuk berani tampil sebagai pemimpin daerah. Untuk itu, jika ada perempuan yang berani tampil untuk bersaing menjadi pemimpin daerah pada pilkada serentak pertama ini diharapkan pula para pemilih perempuan menjatuhkan pilihan mereka. Jika itu terjadi, maka besar kemungkinan para calon dari kalangan perempuan dapat dengan mudah meraih kursi kepala daerah. -ard
2
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Ekspresso
DAri daPUr Redaksi
Ayo Hidup Sehat
Dari kiri: Ngurah Budi (Redaktur Pelaksana Tokoh), Made Patri (perintis Warung Mina), dan Gde Palgunadi (Penanggung Jawab Tokoh) foto bersama usai penyerahan kenangkenangan saat kunjungan ke Warung Mina.
Awal September 2015, Porprov. Bali digelar di Buleleng. Ini merupakan ajang unjuk prestasi para atlet dari kabupaten/ kota di Bali. September juga identik dengan Hari Olahraga. Edisi kali ini kami tampilkan beberapa hal tentang olahraga, mulai dari kisah atlet panahan yang juga guru dan model. Ada pengalaman atlet tembak yang juga penulis novel dan model dalam mengarahkan putranya latihan menembak. Ada juga psikolog yang atlet panahan berbagi cerita tentang masa kecilnya.
Semua pengalaman tentang dunia olahraga ini bermuara pada satu hal, pola hidup sehat. Kalau tidak sehat, bagaimana
bisa menjadi atlet. Soal prestasi dan dukungan pemerintah, sudah ada yang mengurus. Pola hidup sehat hingga usia tua dilakoni Made Patri, perintis Warung Mina. Di masa mudanya ia adalah anggota TNI AU sekaligus penerjun. Setelah pensiun ia berkutat dengan air karena memelihara ikan. Dari ketekunannya ia berkembang menjadi usaha kuliner Warung Mina yang kini sudah berkembang di banyak tempat baik dikelola sendiri maupun diwara labakan. Tokoh berkesempatan untuk bertemu dengan Patri, Senin (24/8) di Warung Mina Pegu yangan sekaligus menyampaikan selamat ulang tahun ke-21 untuk Warung Mina. Banyak cerita yang ia ungkapkan dan harapan-harapannya ke depan. Semangat untuk terus berkreasi menjadi pemacu agar generasi muda bisa menjadi generasi yang lebih baik.
GORO-GORO menangis
Mengikuti upacara pengibaran dan penurunan bendera di televisi Amat menangis. Tapi ketika Ratni, kakak perempuan Bu Amat meninggal Amat diam saja. Waktu kejadian itu berlangsung, Bu Amat diam Putu Wijaya saja, meski pun dalam hatinya bertanya-tanya. Kini setelah beberapa saat lewat, Bu Amat tak hisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya. Namun sebelum ditanyakan, Amat menjelaskan. Ternyata ia memperhatikan dan tahu isi hati istrinya. “Ya, Ibu pasti heran kenapa bapak menangis melihat upacara bendera.” “Betul. Kenapa? Kok bendera ditangisi. Harusnya bapak bersyukur karena kita sudah merdeka.” Amat tersenyum. “Tapi waktu Kak Ratni, kakak saya meninggal, bapak kok malah diam saja. Banyak orang kasak-kusuk, mengatakan bapak seperti ngitung-ngitung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk upacara, berapa kita akan kebagian warisannya!” Amat tertegun. “Itu namanya, salah kaprah, Pak!” Amat tidak menjawab. Bu Amat mulai kesal. “Merdeka kok menangis. Ada kemalangan kok diam saja? Aneh!” Amat menjawab lirih. “Begini, Bu. Memang menangis umumnya berarti sedih. Tapi banyak juga orang menangis pura-pura. Mereka menangis untuk mengelak, menutupi sesuatu, mengalihkan perhatian atau mengelabui.” “Bapak menangis karena apa?” “Karena terharu, setelah 350 tahun dijajah, akhirnya kita bisa mengibarkan sang merah putih. Bapak tidak bisa membendung rasa terharu, itu tangis gembira, Bu.” “Jadi karena itu, Bapak tidak menangis waktu Kak Ratni meninggal? Takut dianggap gembira atau terharu?” “Bukan.” “Kenapa? Kenapa. Bapak diam saja?” Amat termangu. “Kenapa diam saja, banyak orang kasak-kusuk mengatakan Bapak tak punya perasaan.” “Ya. Biar itu jadi urusan mereka. Diam itu, seperti juga menangis, artinya macam-macam. Ada diam berarti tak peduli, ada diam karena tak tahu atau karena tak setuju. Bapak diam, karena terlalu sedih. Dengan diam Bapak coba melupakan itu. Terlalu berat rasanya untuk menerima kenyataan, kakak yang setiap tahun datang untuk membopong Ami, tak ada lagi. Jadi bapak andaikan saja, Kak Ratni, hanya pergi jauh, pergi jauh sekali, tak tahu kapan akan kembali. Tapi masih ada. Bapak tak sanggup .....” Amat tak mampu melanjutkan. Air matanya menetes, membuat Bu Amat terdiam. Ia menarik napas panjang. Sambil berdiri, ia bertanya lirih, “Ini tangis yang mana?”
Mozaik
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 september 2015
Bros “Kayra Azra”
Dari Surabaya hingga Papua Handycraft peluang usaha yang diminati kaum hawa. Dengan modal yang tidak besar, keterampilan, ketekunan, dan ketelatenan, usaha ini dapat dijalankan. Bisnis tersebut dapat dijadikan salah satu tambahan penghasilan bagi ibu rumah tangga, karyawan, dan pelajar.
Norma Hati Nalari, salah seorang ibu rumah tangga ini menjalankan usaha yang bisa menopang hidupnya sejak Mei 2014. Awal mulanya, dari Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mulai membuat bros untuk dipakai sendiri. Lambat laun, teman-temannya tertarik dan mulai memesan bros handmade kepadanya. Setelah menikah, ibu dua anak ini mulai kembali menjalankan hobinya saat SMA. Produk yang dihasilkan adalah bros, headband, headpiece, dan kalung. Selain dari Surabaya, “Kayra Azra”, merek brosnya juga mendapatkan pesanan dari luar kota dan pulau, seperti Tegal, Samarinda, Padang, dan Papua. Omzet per-bulan mencapai Rp 1,5 juta. Harga yang ditawarkan ini mulai dari Rp 10.000-50.000.
Norma Hati Nalari
Hambatan dari bisnis handmade ini lama waktu pengiriman ke tempat tujuan. Namun, peluang dalam usaha ini masih terbuka lebar. Dalam satu hari, perempuan berambut panjang tersebut dapat menyelesaikan satu lusin handycraft. Pemasaran yang dilakukan Norma, secara online melalui media sosial, antara lain, Instagram, Facebook, dan Blackberry Messanger (BBM). “Saya ingin memperluas pemasaran dengan membuat website berbayar agar pelanggan dapat lebih percaya dan leluasa untuk melihat-lihat produk yang ditawarkan dan dapat memesan sesuai selera pelanggan,” kata perempuan yang tetap cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi. -Mega Purwaningrum
foto: Nur Jelang Margadinata
Lebih Menikmati Wirausaha
Pipi Klepon
Saya adalah seorang siswa kelas IX di salah satu SMP yang ada di Singaraja. Saya mempunyai teman bernama Tasya. Dari kelas VII kami memang sudah saling kenal dan akrab sampai saat ini. Teman saya yang berama Tasya itu pipinya sangat besar sehingga saya menjulukinya si “Pipi Klepon”. Pada suatu hari saat dia bermain di depan rumah bersama adiknya, dagang klepon keliling lewat di depan rumahnya. Ibu Tasya dan adiknya adalah penggemar berat jajanan ini, yaitu klepon. Lantas mereka membelinya lalu Tasya sendiri merasa jlebb.. karena ejekannya di sekolah adalah “Pipi
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Klepon”. Hari Minggu di pagi hari, Ibu Tasya mencoba mengecek HP Tasya. Tak disangka ibunya membaca sms yang saya kirim ke Tasya yang isinya “Woe Pipi Klepon”. Setelah mengetahui ejekannya Tasya “Pipi Klepon” Ibunya pun terus memanggilnya dengan sebutan tersebut. Oh my God.. sekarang Tasya tidak lagi dipanggil Tasya melainkan Pipi
Klepon. Tetapi Tasya senang, karena dia terkenal dengan panggilan “Pipi Klepon” sampai sampai display name BBM-nya diganti menjadi tasyapon, supaya terkenal katanya. Karlinda Gunawan
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
23
Sejak berhenti bekerja dari sebuah toko mebel, Aan, mulai aktif menekuni produksi barang mebel sendiri. Berbekal ketelatenan dan skill, dia memproduksi barang mebel seperti kitchen set, lemari, meja belajar, kursi, meja makan, dan lain sebagainya sesuai pesanan konsumen. Bapak tiga anak ini menekuni usaha mebel sejak 2013.
Dia lebih menikmati wirausahanya yang dilakukan di rumah daripada ikut kerja dengan orang lain. Kini, Aan, tidak sia-sia beralih dari karyawan menjadi pengrajin mebel. Dia sempat mendapat pesanan dari Timor Leste. Pesanan tersebut didapat melalui penyalur barang produksinya. “Saya sering mendapat pesanan model yang
variatif. Mebel-mebel ini dipesan untuk kebutuhan perumahan dan perkantoran,” kata Aan. Soal harga, Aan, menyesuaikan dengan hitungan meter sederhana ataupun rumitnya barang yang dipesan tak jadi masalah. Namun, jika barang yang dipesan cenderung rumit berpengaruh pada waktu pengerjaannya. “Pernah waktu itu dapat pesanan dari salah satu mahasiswa design Universitas Ciputra (UC), meja lipat. Ketika ditutup lipatanlipatan atas meja berbentuk limas ketika dibuka berbentuk meja agak melingkar. Hal tersebut yang membuat waktu pengerjaan agak lama, tetapi harganya tetap
sama. Per meter Rp 2 juta. Saya mematok harga menurut ukuran bukan kerumitan. Misal satu unit kitchen set ukuran tiga meter berarti sekitar Rp 6 juta,” ucap
lelaki berusia 42 tahun ini. Pesanan produknya banyak dari Jawa Timur (Jatim) seperti Malang dan Surabaya, serta beberapa dari luar pulau. Tak sedikit tetangga maupun kerabat yang memesan langsung kepadanya. Omzet dari usaha mebel mencapai Rp 10 juta tiap bulannya. “Namanya usaha, pasti ada ken dala maupun masalah. Kendala usaha berasal pada masalah pemasaran mebel. Belum mempunyai jaringan yang luas dan hanya mengandalkan pesanan,” jelasnya. Laki-laki yang beralamatkan di Lakar Santri, Surabaya ini berharap agar usahanya semakin dikenal banyak dan mudah memasarkan barang produksinya. -Nur Jelang Margadinata
foto: Nur Jelang Margadinata
24
What’s Up
Edisi 864/ 31 Agustus - 6 September 2015
Gerhana Bulan Merah
Penanda Lahirnya Energi Maha Dahsyat ke Dunia
Gerhana Bulan Merah, itulah judul garapan seni kolaborasi dari Fakultas Seni Rupa dan Seni Pertunjukan ISI Denpasar ini. Kisah penanda lahirnya energy maha dahsyat ke dunia itu dipentaskan di Panggung Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Minggu (23/8). Pendukungnya merupakan mahasiswa ISI Denpasar dan anakanak setingkat SD dari Sanggar Maha Bajra Sandi yang saling mengisi hingga berhasil merajut kisah.
D
alam sebuah pertunjukan seni, objek biasanya menjadi latar yang hanya sebagai pendukung saja. Tetapi, beda halnya dengan sajian seni berdurasi sekitar 1 jam itu. Objek memiliki porsi yang sama dengan gerak, lighting, sound dan said. Bahkan semuanya sama-sama kuat, sehingga menjadi sebuah pertunjukan seni atraktif dan unik. Tak hanya tampil fantastis, tetapi juga sarat pendidikan serta pesan moral. Tema garapan mengangkat perpaduan hasil riset, mitos, prasasti, science, fakta yang diramu menjadi sebuah kisah dan dibungkus dalam sajian artistik. Beragam cara, sudut pandang serta kepercayaan dari masing-masing masyarakat dalam sebuah negara terkait dengan Gerhana Bulan Merah diterjemahkan secara lugas dan jelas. Baik yang mengganggap positif ataupun negatif. Arstistik director I Wayan Sujana atau yang akrab disapa Suklu mengatakan, dalam konsep pagelaran ini pihaknya sengaja memilih gerhana bulan sebagai tema. Selain memiliki makna pent-
ing, gerhana bulan merah juga dimakanai berbedabeda sesuai dengan kepercayaannya. “Gerhana bulan merah itu terjadi setiap 125 tahun sekali. Tanggal 28 September 2015 menjadi sangat penting,” katanya. Garapan seni instalasi ini memanfaatkan seluruh panggung Ardha Candra, termasuk tempat penonton. Di setiap sudut ada rakitan-rakitan bambu sebagai simbul planet Merkurius, Venus, Mars dan planet lainnya. Globe ada ditengah-tengah panggung, serta layar putih yang menyerupai bulan penuh dipasang diatas meru. “Karena tema Gerhana Bulan Merah, maka sangat tepat memilih Ardha Candra sebagai tempat pentasnya,” ucap Suklu. Penata tari yaitu I Gede Oka Surya Negara dan Ida Ayu Arya Satyani tampak cekatan membaca konsep garapan itu. Para penari mengeksplorasi planet-planet tersebut dengan kreatif. Mereka tak hanya bergarak indah, tetapi juga menjiwai setiap adegan serta menguasai panggung tanpa batas itu. Kolaborasi dari seniman anak-anak, remaja dan dewasa yang merupakan mahasiswa ISI Denpasar dan anak-anak setingkat SD itu juga berhasil merajut kisah diatas pentas. Apalagi musik iringannya menyatu karena merespons gerak para penari juga mendukung setiap adegan. I Nyoman Karyasa, sebagai penata musik mengeplorasi seluruh ruang sehingga tercipta suasana menjadi lebih hidup. Iringannya menonjolkan ritme serta dentuman beduk yang kuat. Musik cengceng memberi aksen serta mendukung suasana tari naga dari Tiongkok. Biola mendukung suasana hening, perkusi jembe memberi hentakan serta tawa-tawa digarap lebih dinamis. Gerhana Bulan Merah diawali dari gambaran alam yang kosong lewat layar lebar video mapping. Selanjutnya para penari anak-anak yang menggambarkan semuah kemurnian, energi utuh yang belum mengenal dualisme, seperti siang-malam, laki-laki-perempuan, baik-buruk, tinggirendah, besar-kecil, dan kuat-lemah. Penari belia ini melakukan gerakgerak lentur semacam yoga. Seniman lian yang berada di masing-masing planet merespons dengan gerak-gerak ta r i .
Anak-anak menari sambil menyanyi kan lagu tradisional masyarakat Hindu di Bali yaitu “dija bulane sing ngenah uli ibi”. Mereka mengepresikan masyarakat Hindu di Bali yang memaknai gerhana bulan merah secara positif dan negatif, seperti rasa cemas dimakan Kalarahu dan optisme setelah membunyikan kentongan Kalarahu akan lari. Dalam garapan itu juga memaparkan masyarakat Negeri Tirai Bambu. Masyarakat di sana menggambarkan naga memakan bulan. Para penari menarikan barong dengan kepala yang berbentuk kerangka saja. Berbeda dengan kepercayaan masyarakat Jepang yang menganggap ada pengaruh negatif ketika gerhana bulan ada. Hal itu dianggap sebagai penyebar virus yang dapat membawa petaka sehingga selalu menghindar. Para penari lantas memaparkan Suku Indian Navajo yang melakukan meditasi dan yoga ketika gerhana bulan merah terjadi. Mereka
percaya saat itu energi semesta itu sangat besar dan luar biasa. Orang besar yang tahu akan hal itu, maka berhenti sejenak untuk berkontemplasi untuk menyerap energi tersebut. Pada adegan berikutnya, Columbus yang tahu astronomi memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kebaikan kultur tertentu. Ia memerankan tipu daya terhadap suku Indian yang masih menganut sistem kanibal, memakan manusia. Columbus membohongi dan mengancam kalau kamu berani memakan manusia maka bulan akan dimakan roh jahat. Dengan tipu daya Columbus berhasil melakukan refleksi perbuatan. -Darsana