Skip to main content

Tokoh Edisi 863 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

redaksi/iklan/langganan: tlp. (0361) 425 373, 416 676; faks. (0361) 425 373; e-mail: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id; website: www.tokoh.co.id

What’s Up

Semarak 17 Agustus 2015

Perayaan tujuhbelasan di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Jalak Bali Sesetan Denpasar yang diisi berbagai macam lomba dan pertunjukkan seni dari anak-anak

Upacara pengibaran bendera merah putih di halaman Gedung Pers Bali K. Nadha. Upacara diikuti karyawan Kelompok Media Bali Post

Karyawan Hotel Grand Hyatt Nusa Dua Bali melaksanakan upacara 17 Agustus di halaman hotel setempat. Selain upacara bendera acara juga dimeriahkan dengan lomba paduan suara Lagu Indonesia Raya

Upacara 17 Agustus di Cellular World diikuti seluruh karyawan Cellular World


2

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Ekspresso

DAri daPUr Redaksi

Buktikan dengan Karya Perayaan HUT ke-70 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah berlalu. Tetapi, suasana merah-putih masih terasa. Hiasan yang didominasi warna merah dan putih masih terlihat di beberapa tempat. Beberapa foto pelaksanaan kegiatan 17 Agustus kami sajikan di edisi ini. Agustus memang identik dengan merah dan putih. Tema “Ayo Kerja” pun masih banyak terpajang. Semoga tema ini bukan hanya sekadar tema. Tema ini harus diwujudkan dalam tiap aktkvitas yang bermanfaat. Salah satu sajian menarik minggu ini adalah aktivitas Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) yang memiliki kegiatan yang menampilkan dress code merah-putih. Tak ketinggalan disemarakkan aneka lomba yang sangat fun dan seru, khas 17 Agustusan seperti lomba membawa kelereng, memasukkan paku ke dalam botol sampai memecahkan balon. Salah satu pedomam KCKB, yakni bertemu, belajar dan beramal, ia kembali menekankan bahwa seluruh anggota, sebagai perempuan kreatif, hendaknya bisa membuktikan diri dengan berkarya. Satu sama lain saling mendukung, dengan penuh tanggung jawab tanpa merugikan teman lainnya. Aktivitas rutin berikutnya adalah mengedarkan kantung amal, sebagai salah satu cara mereka belajar untuk mere- tas sebuah

keikhlasan. Tiap tiga bulan sekali, seluruh hasil yang diperoleh dalam kantung amal tersebut, disalurkan kepada mereka yang memerlukan. Agenda tiga bulanan adalah donor darah dan penyerahan dana sosial. Ada juga sajian tentang aktivitas Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali yang menggandeng Rotary Club Bali Taman dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dalam rangka HUT ke-70 Proklamasi Kemerdekaan RI. Mereka menyelenggarakan “Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara”, Kamis (20/8) di Kantor Desa Sumerta Kelod, Jalan Drupadi, Renon, Denpasar. Kanker payudara bisa terkena pada siapa pun dan kapan pun. Kanker payudara adalah keadaan dima-

Nanya Harga Mobil

Saya punya pengalaman yang lucu berkaitan dengan polisi. Dulu saya pernah lupa pakai sabuk pengaman. Ketika distop polisi, saya beralasan, belum sempat memasang sabuk. Tetapi, saya tetap minta maaf dan mengaku salah. Untung polisinya pengertian. Berikutnya, saya lupa lagi pasang sabuk pengaman. Kali ini benar-benar lupa. Ketika ada razia, saya beralasan sakit perut. Kalau dipakaikan sabuk, rasanya menjadi tambah sakit. Saya pun “lolos” lagi dan diperbolehkan lewat. Ternyata tidak enak kalau terus-terusan ngeles. Saya pun berjanji untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas. Kelengkapan seperti SIM dan STNK pun tak pernah ketinggalan. Pokoknya

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

saya mau tertib berlalu lintas agar tenang di perjalanan. Nah, kejadian di pertengahan Agustus 2015 tak bisa saya lupakan. Pagi hari, saya ke pasar Kereneng. Setelah mendapatkan yang harus dibeli, saya pun melanjutkan perjalanan ke salah satu apotik. Begitu sampai di parkiran apotik, seorang polisi mendekati mobil. Saya mulai was-was. Perasaan tidak ada melanggar. SIM dan STNK sudah bawa. Sabuk pengaman sudah pakai. Apa lagi

na sel-sel pada jaringan payudara mengalami kondisi tidak normal dan bahkan dapat mengalami keganasan tidak terkendali. Hal ini bisa berasal dari komponen kelenjar (epitel saluran maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan lemak, pembuluh darah dan jaringan saraf payudara. Setelah penyuluhan dari dokter spesialis bedah ontologi, seluruh peserta juga diajak melakukan meditasi bersama yang dibimbing oleh Byang Mangku Hipno. Sebagai tabloid dengan segmen wanita dan keluarga, kami juga mengungkap potensi perempuan sebagai pemimpin. Kami menggunakan beberapa sudut pandang untuk mendapatkan sajian yang komprehensif. Semoga bisa memberi inspirasi bagi kaum perempuan. Salam salah saya. Saya benar-benar khawatir karena pak polisi itu sudah berdiri di samping mobil dan siap menyambut saya. “Bu..berapa harga mobil ini? Saya ditawari teman di Malang. Saya mau membandingkan harga,” ujarnya dengan sopan. Oh my God….saya jadi lega. Ternyata saya didekati bukan untuk ditilang. Pak polisi itu ingin menanyakan harga mobil. Kami pun berbincang-bincang di parkiran. Setelah mendapat informasi, ia pamit untuk melanjutkan perjalanan sedangkan saya masuk ke apotik. Ada-ada saja. Maria, Denpasar

GORO-GORO Merdeka

Arti kemerdekaan di hunian Amat, ternyata berbeda-beda. Ada yang memaknakannya sebagai, tiket untuk boleh berbuat apa saja, asal di rumah Putu Wijaya sendiri. Ada yang mengartikannya, bukan saja di rumah, di ruang publik pun boleh berbuat apa saja, asal tidak melanggar hukum. Ada yang mengartikan kemerdekaan adalah saat setiap orang boleh punya pendapat apa saja. Termasuk pendapat yang berbeda dengan pemerintah. Ada lagi yang lain. Bukan hanya perbedaan keyakinan, perbedaan bersuara pun tidak dilarang. Tetapi ada juga yang mengatakan berpendapat sebaliknya. Kemerdekaan justru berarti tidak merdeka. Karena akan banyak peraturan yang mengikat, membatasi, agar kemerdekaan yang satu tidak mengganggu kemerdekaan yang lain. “Nah, apa arti kemerdekaan kita?” tanya Bu Amat. “Apa bapak punya arti kemerdekaan yang lain? Biasanya kan bapak nyeleneh. Coba apa?” Amat tak menjawab. “Kemerdekaan yang membolehkan orang boleh berbuat apa saja di rumahnya?” lanjut Bu Amat, “Jelas salah. Mentang-mentang anak sendiri, apa boleh orang membunuh anaknya seperti singa? Jangankan membunuh anak, menelantarkan anak, sudah bisa dituntut! Ya, kan?!” Amat tak menjawab. “Kalau di rumah saja tidak boleh berbuat semena-mena seperti terhadap kecoak atau tikus, di muka umum pun dilarang. Telanjang di kamar mandi boleh, tapi siapa berani telanjang di muka umum kecuali orang gila! Ya, kan!” Amat tak menjawab. Bu Amat jadi gemas. “Apa ? Merdeka berkeyakinan berbeda dengan pemerintah? Kalau dalam beryakinan beragama, itu boleh. Adat istiadat berbeda tidak jadi masaalah. Tapi kalau dasar-dasar negara berbeda, tidak boleh!, Menurut mantu kita itu akan memicu separatisme, lalu tindakan subversif. Menurut mantu kita perbedaan itu bukan kemerdekaan harus dibasmi sebelum meranggas jadi negara dalam negara! Iya, kan? Apa yang mantumu katakan itu benar!!” Amat tetap diam. “Jangan hanya mengangguk-angguk, apa pendapat kita? Apa kita setuju berbeda keyakinan dengan pemerintah? Menjadi musuh dalam selimut? Itu namanya berkhianat. Sebab siapa pun pemerintah itu, itu kan hasil pilihan kita dalam pemilu. Harus dihormati diberikan dukungan jangan digoyang-goyang. Berikan kesempatan bekerja! Jangan dirongrong baru beberapa langkah. Kalau sudah salah separuh dari jangka waktunya, silakan. Perbaiki nanti. Tapi menang dulu dalam pemilu, kata Sugi, menantu kita itu. Tapi kalau hasilnya baik jangan pura-pura tidak tahu! Ya atau tidak?” Tetap tak dijawab. “Jangan diam saja, Pak, semua orang sudah menyatakan pendapatnya. Kalau Bapak diam saja nanti dituduh, apa, apa kata Sugi waktu itu? O ya, kalau diam saja nanti kita akan dicap oportunis. Ke mana angin berhembus ke situ pohon bergoyang. Mau dituduh jadi bunglon. Tidak punya pendapat, asal selamat terserah Bapak. Saya tidak mau. Meskipun satu rumah, satu tempat tidur, berbeda pendapat itu sah-sah saja, kata Sugi!” “Dan, memang dalam kemerdekaan kita jadi tidak merdeka. Karena banyak peraturan yang membatasi kemerdekaan kita, supaya tidak menginjak kemerdekaan orang lain yang sama-sama merdeka, seperti kita. Tapi tidak berarti kita tidak merdeka, karena, seperti kata Sugi, kita iklas menerimanya! Betul kan?! Nah sekarang bagaimana pendapat Bapak?” Bu Amat menoleh. Ternyata kursi kosong. Amat sudah pergi.

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

23

Bisnis Ternak Ayam Kampung Menggiurkan

Bisnis ternak ayam kampung nampaknya menjadi usaha primadona yang kian menggiurkan. Data pasar menunjukkan permintaan daging ayam kampung cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan permintaan daging ayam kampung di pasaran, salah satunya adalah kesadaran sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam organik atau daging ayam yang tidak melalui proses rekayasa genetika.

Y

atno, salah satu pengusaha ayam kampung yang ada di Ponorogo mengemukakan, untuk saat ini di kota besar seperti Jakarta, permintaan daging ayam kampung baru bisa terpenuhi sekitar 5% dari kebutuhan atau sekitar 280.000 ekor per hari. “Dengan data tersebut bisnis ternak ayam kampung menjadi peluang bisnis yang menggiurkan,”ujar Yatno yang juga pemasok daging ayam kampung ke Jakarta dan Surabaya. Dukungan pemerintah dalam

hal ini terhadap pengembangan bisnis ayam kampung untuk usaha mikro, kecil dan koperasi cukup positif. Saat ini sedang dibuat blue print sistem pengembangan ayam kampung. Dalam blue print ini akan memberikan perlindungan bagi peternak ayam kampung dalam skala usaha mikro, kecil dan koperasi dalam menjalankan usahanya. “Dengan begitu investor besar tidak boleh memasuki bisnis ayam kampung ini. Kapasitas pemeliharaan maksimal 10.000 ekor untuk satu peternak. Dengan pembatasan ini diharapkan usaha

Ternak ayam

ternak rakyat akan berkembang dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tegasnya. Kondisi usaha ternak ayam kampung saat ini masih diusahakan dengan cara tradisional dan belum melalui cara intensif. Baru sekitar 3400 peternak ayam kampung yang mengusahakannya secara intensif. Di luar itu masih dengan cara tradisional. “Setelah blue print ini selesai, diharapkan

peternak tradisional akan beralih pada usaha ternak ayam kampung secara intensif,” imbuhnya. Sepuluh tahun mendatang diharapkan pasokan ayam kampung akan mencapai 25 persen dari kebutuhan total daging ayam nasional. Padahal saat ini suplai ayam kampung baru mencapai 5.5 persen saja. Dengan target sebesar tersebut pengembangan bisnis ayam kampung akan

mampu menggerakkan ekonomi perdesaan yang notabenenya merupakan usaha skala mikro, kecil dan koperasi. “Pengembangan bisnis ternak ayam kampung sendiri tidak hanya bermanfaat bagi peternak tetapi juga sektor usaha lain misalnya nilai perdagangan dari pakan dan pengolahan daging ayam kampung,” ungkap Yatno. -Dinar Perdana

Bisnis Bunga Plastik Utamakan Komposisi

Viani Oktavia

Kata Bob Sadino (alm), usaha yang menguntungkan adalah usaha yang dibuka. Artinya, usaha itu bukan sekadar rencana. Tapi harus diwujudkan. Berani berspekulasi dengan dua risiko. Kalau tidak rugi, ya untung. Kata Bob Sadino inilah yang menginspirasi pengusaha bunga artifisial atau bunga plastik, Viani Oktavia, untuk bisnis bunga artifisial di Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Saat dikunjungi, wanita berkulit putih bersih ini sedang berada di ujung timur tokonya. Ia sibuk

merangkai bunga plastik dari varian anggrek yang sudah dipesan oleh salah satu pelangganya. Dilihat dari kerjanya, sangat cekatan. Plak, plek, plak, plek sudah membentuk bunga mirip aslinya. Indah mempesona. “Tinggal pasang begini saja. Paling lama hanya 10 menit sudah jadi,” ujar Viani yang sudah 3 tahun menggeluti usaha ini. Menurut Viani, usaha bunga Bunga artificial karya Viani artifisial ini, tidak ada yang sulit. Karena semua bahan sudah lakukan dengan cara belajar. Berani menjual bunga sungguhan, rentan dipesan dari pabrik. Hanya ting- mencoba dengan segala inovasi. rugi. Karena memberi pupuk dan gal pasang saja. Tapi kalau ingin Termasuk seperti ia pertama kali menyirami setiap hari. Belum lagi hasilnya bagus, pemilik harus memutuskan bisnis bunga artifi- kalau tanaman terserang hama, bisa sedikit variasi. Agar bunga sial ini. Waktu itu, Viani bingung bisa mati. Dari pertimbangan itu, kelihatan cantik alami. Contohnya mencari peluang usaha. Setelah akhirnya Viani memutuskan bisnis anggrek. Agar kelihatan benar- digali-gali, terdapat pada dirinya bunga plastik. Diawali dengan benar seperti asli, media yang sendiri yang hobi bunga. Setelah kecil-kecilan. Membeli beberapa digunakan harus dari potongan ditimbang-timbang, ia memutus- varian bunga kemudian dijual kayu atau pakis. kan sebagai penjual bunga. lagi. Hal yang utama adalah menTak lama kemudian, putusan Lambat laun, usaha yang digegatur komposisi batang, daun, itu berubah. Dengan pertim- luti ini terus berkembang. Karena dan bunga. Harus imbang. Kalau bangan risiko. Menurut Viani, banyak peminatnya. Terutama pada terlalu banyak basaat Lebaran dan Natal. “Kalau rugi tang hasilnya jelek. hampir nggak pernah. Justru banTerkesan kurang yak untungnya. Apalagi di bulansubur. Kalau banbulan tertentu, seperti Lebaran, yak daun, terkesan hasilnya lumayan,” ujarnya. mandul. Begitu Kendati demikian, perlu ketepula dengan terlalu latenan untuk menjual bunga banyaknya bunga, plastik. Tiap dua hari sekali harus terkesan kurang membersihkan debu yang menalami. “Pembagian empel di bunga-bunga tersebut. komposisi agar Pengerjaannya juga harus hati-hati. bunga terlihat canJika tidak, ditakutkan ada sambuntik, alami, dan asri gan yang protol atau rusak. “Tapi ini yang penting,” saya senang, kok. Selain hasil saya jelasnya Viani. juga bisa menikmati indahnya Ia mengakui, bunga-bunga ini,” tutur Viani. Viani Oktavia penjual bunga plastik semua itu bisa di-Khoirul Abadi


22

Sosialita

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Kompak Tekuni Hobi

Baris-Berbaris Diganti Kunjungan

Dua perempuan cantik ini, sama-sama eksis dengan hobinya. Yang satu, berstatus kakak ipar, Melati Pyo, serius menekuni hobinya di bidang tata rias. Yang belia, Sri Lestari, sang adik ipar, sedang asyik me­ngasah keterampilannya di bidang olah vokal. Seperti apa kiat ­mereka berdua agar bisa eksis di bidangnya masing-­masing? Berikut penuturannya kepada Tokoh, pekan lalu.

Maria Felicia Gunawan menerima bendera pusaka dari Presiden Jokowi

dan para pembina lainnya juga pelatih merasa sangat lega. Menurutnya sebelum acara dimulai, yang tegang dan nervous bukan hanya para pelaku di lapangan (Paskibraka) tapi juga mereka para pembina dan pelatih. “Aduh asal tahu saja, waktu sebelum acara, kita tuh rasanya tegang banget, was-was. Ada rasa khawatir gagal dan lain-lain. Stres!” ucapnya. Maklum, mereka juga pernah mendengar kisah-kisah menyedihkan tentang kegagalan Paskibraka, mulai dari bendera merah putih yang terpelintir alias tidak bisa terbentang dengan sempurna, sampai kisah soal pembawa baki bendera pusaka yang terjatuh. Tak heran kalau mereka pun takut naas itu menimpa mereka juga. “Sudah pasti kalau terjadi kesalahan, dampaknya akan besar sekali. Bukan hanya ditanggung anak-anak

tapi juga pembina dan pelatih akan terkena. Apalagi anak-anak, itu pasti akan terbawa seumur hidup,” katanya. Lalu dia pun bercerita tentang kisah pembawa baki bendera pusaka yang terjatuh ketika berjalan mundur. “Saya sempat dengar cerita itu yang katanya terjadi pada masa Orde Baru. Saat itu anak ini karena satu situasi dia harus maju beberapa langkah ke depan karena letak meja yang agak jauh. Nah ketika dia harus turun mundur, mungkin karena tegang, dia lupa menghitung bahwa langkahnya harus ditambah. Akibatnya, dia kira sudah menapak di tanah, ternyata masih berada di tangga, dan dia pun jatuh,” tuturnya. Menjadi pembawa baki bendera pusaka memang memiliki tekanan tersendiri karena setelah semuanya diam, pembawa baki inilah yang berg-

erak sendiri, menaiki dan menuruni tangga. Dia juga harus berhadapan dengan Presiden. Semua pandangan akan tertuju padanya. “Karena itu pemilihannya harus ekstra hati-hati dan ketat, kriterianya banyak, dan itu diamati selama masa pelatihan. Semua anak putri, memiliki kesempatan yang sama, mereka semua berlatih membawa baki bendera,” katanya. Ada banyak kriteria untuk seseorang bisa terpilih, bukan hanya performanya, tapi juga ketrampilannya. “Ada anak yang tenang tapi ketika berjalan turun tangga miring, ini berpotensi untuk jatuh ataupun ketidaktepatan pada barisan. Atau ada yang tanggannya gemetar saat memegang baki, padahal masih saat latihan dan belum berhadapan dengan Presiden ataupun menjadi sorotan orang,” katanya. –Diana Runtu

Maria Felicia Gunawan Maria Felicia Gunawan saat menjalani latihan sebelum bertugas di Istana Merdeka

K

egiatan sebagai Duta Belia pun tak kalah padatnya, di antaranya adalah melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai tempat, termasuk ke instansi-instansi pemerintah dan lembaga. “Kegiatan rutin mereka tetap dari pukul 07.00 hingga 18.00,” ungkap pembina Paskibraka 2015, Pingkan Margareth. “Jadi sampai saat ini mereka masih tetap sibuk dengan aganda yang padat seperti sebelumnya,” tambahnya. Yang berubah adalah pelatihan baris-berbaris yang biasanya dari pagi hingga sore, diganti dengan acara kunjungan-kunjungan yang mulai pagi hingga sore. Seusai kunjungan mereka tidak langsung istirahat, tapi masih mengikuti kelas pendidikan yang berlangsung hingga pukul 21.00. Jadi mereka tetap sangat sibuk,” ungkap Pingkan. Dalam satu hari, ada beberapa kunjungan yang harus dilakukan. Rabu (19/8) mereka melakukan empat kunjungan ke berbagai tempat, termasuk instansi/lembaga. Mereka tidak punya kesempatan berlehaleha. Kesempatan ngobrol-ngobrol santai, hanya saat di dalam bus. Jalan-jalan di Jakarta yang sangat macet juga menjadi pertimbangan, kenapa mereka sudah mulai meluncur ke lokasi-lokasi kunjungan sejak pagi sekali. Rombongan mereka sempat terlambat akibat dihadang kemacetan Jakarta. Padahal, katanya, mereka sudah berangkat dari asrama di Cibubur, Jakarta Timur, sejak pukul 5.30 menuju kantor Kementerian Pertahanan di Jl Medan Merdeka Barat. “Kami telat banget. Berang-

kat jam 5.30 baru sampai di kantor Menhan pukul 08.30. Padahal kami dijadwalkan bertemu Menhan pukul 07.00. Ini karena kemacetan Jakarta yang luar biasa, sekalipun masih pagi sekali. Kami sudah dikawal voorijder tapi tetap saja terganjal macet,” ujar Pingkan lagi. Mengantisipasi hal semacam itu, maka pada kunjungan ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, (21/8),diputuskan mereka berangkat pukul 05.00, agar bisa sampai tepat waktu. Menurut Pingkan, agenda rutin serta kunjungan-kunjungan itu masih akan berlangsung hingga tanggal 24 Agustus siang, sebelum mereka bertolak ke Kuala Lumpur Malaysia pada sore harinya. PEMBINA DAN PELATIH TEGANG Bercerita tentang kesuksesan anak-anak binaannya dalam melaksanakan penaikan dan penurunan bendera pada 17 Agustus di Istana Merdeka, Pingkan mengaku, dirinya

3

Melati Pyo dan Sri Lestari

Sibuknya Duta Belia

Tugas utama Paskibraka (pasukan pengibar bendera pusaka) Nasional memang sudah selesai pada HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus lalu, ketika anggota Paskibraka 2015 melakukan pengibaran dan penurunan bendera di Istana Merdeka. Tetapi, setelah event tersebut, mereka tidak lantas bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Penugasan mereka ternyata belum berakhir. Kini ke-68 anggota Paskibraka Nasional itu, menjalankan fungsi sebagai Duta Belia.

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Melati Pyo

Tata Rias Peluang yang Menjanjikan

P

erempuan usia 22 tahun ini, sudah sejak kecil menyukai dunia tata rias. Hobi itu bermula, ketika, ia setiap hari melihat sang nenek yang mengelola salon kecantik­an di Singaraja, sibuk melayani konsumen. Melati kecil, sering melihat sembari memp r a k t i k-

Trik Berjalan Mundur Menjadi Paskibraka Nasional memang membanggakan. Keberadaannya begitu menginspirasi anak-anak untuk bisa menjadi seperti mereka. Bahkan Presiden Jokowi pun mengaku dirinya sempat bercita-cita bisa masuk menjadi Paskibraka. Namun impiannya tidak terwujud. Begitu juga Maria Felicia Gunawan, anggota Paskibraka Nasional 2015 yang namanya mendadak terkenal lantaran terpilih sebagai pembawa baki bendera pusaka. Menjadi Paskibrakan Nasional saja sudah sangat bangga, apalagi kemudian terpilih di antara 34 putri, untuk menjadi pembawa baki, pasti rasa bangganya amat sangat. Apalagi, Cia, begitu namanya akrab disapa, menoreh sejarah sebagai siswi keturunan Tionghoa pertama yang menjadi pembawa baki bendera pusaka pada momen upacara detik-detik Proklamasi di Istana Negara. “Saya sangat bersyukur sekali. Terus terang saya tidak menyangka, karena teman-teman yang lain juga bagus, tapi kemudian saya yang terpilih. Saya juga bersyukur semuanya bisa berjalan dengan lancar dan baik,”

ungkap siswi SMA Kristen Penabur Gading Serpong, Banten, Jawa Barat, ini. Diakui Cia, meski tampilannya selalu senyum, bukan berarti dia tidak tegang. Namun, dia berusaha merilekskan pikirannya, berusaha agar tetap fokus, dan terutama menghilangkan rasa tegang. “Kakak-kakak pelatih juga mengajarkan kami bagaimana caranya agar tidak tegang, rileks, tapi tetap fokus. Itu yang saya lakukan sehingga saya bisa tenang menjalankannya,” tambah gadis bertinggi 172 cm Menurutnya untuk menjadi pembawa baki, ada beberapa hal yang diajarkan, antara lain soal keseimbangan, kaki ketika menapak harus dikasih tenaga. “Ada 13 anak tangga yang harus dinaiki dan dituruni secara mundur. Itu harus dihitung, jangan sampai salah. Selama masa pelatihan, kami mendapat bimbingan dari kakak-kakak pelatih lebih dari cukup. Kami juga diberi tahu tentang triktriknya agar tidak jatuh saat berjalan mundur menuruni tangga, bagaimana agar stabil, dll. Yang penting kita tetap tenang agar bisa lancar menjalankan tugas,” kata Cia. –Diana Runtu

kan de­ngan seksama. “Mungkin dari kecil karena kebiasaan melihat saya jadi ikut tertarik,” kata perempuan bernama lengkap Putu Melati Purbaningrat Yo, S.E. ini. Melati menuturkan, ia memang dibesarkan sang nenek. Karena itu, kesehariannya selalu mengikuti kegiat­ an neneknya itu. Di salon, awalnya ia hanya melihat. Namun, lama-kelamaan, Melati mulai belajar pelan-pelan tanpa ia sadari. “Dengan melihat setiap hari bakat saya tumbuh pelan-pelan, malah tanpa saya sadari,” ucap Melati yang kini sudah dikenal sebagai make up artis ini. Ilmu sang nenek yang piawai merias pengantin Bali dan Eropa, diserap Melati dengan penuh. Pelan tapi pasti, Melati mulai dipercaya membantu sang nenek di ­salon. Bagi Melati, keterampilan tata riasnya itu ternyata sangat berguna baginya setelah ia ­menikah. Tahun 2011, ia mengambil ujian kursus pengantin Eropa, payas agung, payas madya, dan pengantin Padang.

Setelah menikah, Melati, ­ isibukkan mengurus kedua anaknya d sehingga otomatis ia tak bisa lagi menyalurkan hobi tata riasnya. Setelah kedua buah hatinya, Kenzie dan Kenzo besar, Melati mulai pelan-pelan bisa menerima konsumen lagi. Saat ini ia masih dalam batas freelance, artinya menerima panggilan konsumen ke rumah. Menurut Melati, tingkat kesulitan dalam merias adalah mata orang sipit. Ia harus bisa menyiasati sehingga mata konsumennya itu, terlihat lebih tampak. Begitu juga urusan muka berjerawat. Ia harus membuat dasar mukanya halus terlebih dahulu sebelum menambahkan make up, agar terlihat natural. Sekarang ini, kata Melati, pelanggannya lebih suka bentuk alis yang natural. Biasanya, dalam tata rias pengantin Bali, bentuk alis dibuat kecil. Namun, banyak konsumen meminta, agar ­alisnya tetap dibuat natural. Biasanya, ia suka berkreasi di eyeshadow dan alis. Hasil kreasi Melati dapat dilihat di ­instagram cikomakeup. Walau disibukkan mengurus kedua buah hatinya dan menerima pesanan tata rias, Melati tetap meluangkan waktu melanjutkan pendidikannya ke jenjang magister. Saat ini ia sedang melanjutkan di Program Pasca­sarjana Unud Jurusan manajemen. Waktu ­kuliahnya mulai pukul 18.00 sampai 22.00, setiap hari Senin sampai Kamis. Disamping itu, ia ikut bergabung di Yayasan Sari Gurita yang ber­ gerak di bidang pendidikan dan sosial, dan dipercaya menjadi bendahara. Jam kerjanya mulai pagi sampai siang hari. Jika ia menerima pesanan make up ­pengantin Bali, ia sudah siap pukul 03.00. Biasanya menghabiskan waktu 2,5 jam. Untuk pesta atau wisuda, make up dan tata ram-

Sri Lestari

Ingin Luncurkan Single Bahasa Indonesia

G

adis manis ini baru saja menyandang predikat mahasiswi baru Undiknas University Jurusan Manajemen. Hobi menyanyi sudah ia tekuni sejak kecil secara otodidak. Hebatnya, ia tak pernah kursus menyanyi. “Mungkin sudah bakat menyanyi. Bapak saya juga suka menyanyi,” kata putri pasangan Nyoman Nirka dan Wayan Sari Galung ini. Gadis bernama lengkap Ni Komang Lestari ini, pernah mengeluarkan album waktu ia duduk di bangku SMP. Judulnya “Damai”. Ada 10 lagu dalam album tersebut. Beberapa lagunya diciptakan penyanyi Bali Mr. Botax. “Album itu berisi lagu-lagu Bali yang memberi pesan kepada manusia untuk saling mengasihi agar dunia ini damai,” kata alumnus SMAN 5 Denpasar ini. Setelah albumnya keluar, ia otomatis bergabung dalam Pramusti Bali. Dalam beberapa kesempatan bersama Pramusti Bali, ia pernah pentas di Taman Budaya

Art Centre, Denpasar. Sebelumnya, Lestari sering pentas di sekolah, dan acara-acara di banjarnya. Ia lebih sering ngaturang ngayah menyanyi tanpa menerima honor. Lestari kini mulai berekspansi dengan hobinya di bidang tarik suara. Bersama beberapa anggota Seka Teruna-teruni di banjar­nya, ia membentuk satu grup band dengan nama Widya Bakti Etnik Kontemporer. Band ini dibentuk bulan Maret lalu. Band ini sangat unik karena menyertakan gamelan sebagai perpaduan harmonisasi nada. Lestari dipercaya menjadi vokalis band. Etnik band sudah pentas beberapa kali; pertama, saat ulangtahun STT. Kedua, saat festival omedomedan di Banjar Kaja, Sesetan, dan ketiga, saat perayaan 17 Agustus di lapangan Arga Soka Pegok, Sesetan. Ada satu proyek sedang digagas Lestari. Ia ­ingin meluncurkan single lagu berbahasa Indonesia. “Semoga bisa segera terealisasi,” kata gadis yang mengidolakan artis Bali Mr. Botax, Triple XXX, dan Duo Thiwi ini. –ast

but bisa menghabiskan waktu 1,5 jam. Menurut Melati, peluang usaha di bidang tata rias, sangat menjanjikan. Apalagi, dengan kesibukan perempuan berkarier, tentu jasa tukang rias makin diperlukan. Melati tak mau mulukmuluk. Ia ingin menjalankan hidupnya ­dengan mengalir begitu saja. Walaupun, ke depan, ia memiliki target memiliki salon sendiri, namun, ia tak terlalu ngoyo. “Kalau berbenturan dengan acara anakanak, saya tak terima pesanan dulu. Biar bagaimana pun keluarga tetap nomor satu,” ucap istri I Wayan Umare Radita dan me­n antu ­p a s a n g a n ­N y o m a n Nirka dan Wayan Sari Galung ini. –ast


4

Inspirasi

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

WHDI Bali

Gelar Deteksi Dini Kanker Payudara

Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali menggandeng Rotary Club Bali Taman dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dalam rangka HUT ke-70 Kemerdekaan RI menyelenggarakan “Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara”, Kamis (20/8) di Kantor Desa Sumerta Kelod, Jalan Drupadi, Renon, Denpasar.

P

ada kegiatan yang dihadiri oleh Sekjen WHDI Pusat Wikanthi Yogi, Ketua dan anggota BKOW Bali, pengurus dan anggota WHDI Bali, juga perwakilan WHDI kabupaten/kota se-Bali, Rotary Club, Iwapi Bali dan Kepala Desa dan PKK Sumerta Kelod ini, sebelum sosialisasi disampaikan informasi tentang keberadaan Yayasan Kanker Payudara Indonesaia (YKPI) yang diketuai oleh Linda Agum Gumelar. Kanker payudara bisa terkena pada siapa pun dan kapan pun. Kanker payudara adalah keadaan dimana sel-sel pada jaringan payudara mengalami kondisi tidak normal

dan bahkan dapat mengalami keganasan tidak terkendali. Hal ini bisa berasal dari komponen kelenjar (epitel saluran maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan lemak, pembuluh darah dan jaringan saraf payudara. Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan dan masih menjadi pembunuh utama perempuan di Indonesia. Penyebab spesifik kanker payudara hingga kini masih belum diketahui, namun ada berbagai faktor diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara. Di antaranya adalah faktor reproduksi, penggunaan hormon, penyakit

keluarga dengan riwayat kanker payudara, maka segeralah memeriksakan diri ke dokter. Seperti diketahui selama ini kanker payudara identik dengan perempuan. Tak heran bila banyak pria kurang peduli terhadap gejala-gejala kanker payudara, yang dimulai dengan benjolan ada kedutan di kulit, perubahan di kulit, ada keluar cairan merah, terkadang puting tertarik ke dalam. Ketika kita kurang peduli dengan pentingnya deteksi dini sebagai upaya pencegahan, akibatnya dalam banyak kasus ditemukan sudah stadium lanjut sehingga peluang kesembuhannya sangat kecil. Jadi, deteksi dini memang penting agar peluang hidup bisa ditingkatkan.

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

fibrokistik, obesitas, radiasi, konsumsi lemak berlebihan, riwayat keluarga, life style dan faktor genetik. Karena itu pula, YKPI melalui kehadiran Wakil Ketua I YKPI Budiastuti A.Tusin, Wakil Ketua II Maya W. Suharnoko yang berbagi pengalaman tentang kanker yang sempat diderita dan keluarga mereka. Selanjutnya Bidang Penyuluhan dan Pelatihan, dr. Bob Adinata, Sp. B (K) Onk.,di Kantor Desa Sumerta Kelod memberikan edukasinya mengajak para perempuan Bali khususnya dan Indonesia umumnya untuk melakukan upaya pencegahan dengan deteksi dini kanker payudara. –Sri Ardhini

Budiastuti A. Tusin

Salah satunya dengan Periksa Payudara Sendiri yang populer disebut SADARI. Apakah SADARI dan mengapa harus dilakukan? Pemeriksaan payudara sendiri oleh pasien di rumah setiap bulan. Bagi perempuan yang masih haid, pemeriksaan dilakukan setelah selesai haid. Bagi mereka yang sudah menopause, SADARI dilakukan setiap tanggal tertentu yang mudah diingat, misalkan setiap tanggal 1 atau setiap tanggal kelahiran. Keadaan apa yang harus menjadi perhatian? Pada saat melakukan SADARI, yang harus menjadi perhatian adalah, keadaan-keadaan sebagai berikut : teraba benjolan, penebalan kulit, perubahan ukuran dan bentuk payudara, pengerutan

Peserta Sosialisasi deteksi Dini Kanker Payudara

kulit, keluar cairan dari puting susu, nyeri, pembengkakan lengan atas, dan teraba benjolan di ketiak atau leher. Jika ditemukan kelainan-kelainan tersebut atau terasa ada perubahan dibandingkan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara, atas segala informasi yang disampaikan pada kesempatan tersebut Kepala Desa Sumerta Kelod, I Gusti

Ketut Anom Suardana mengatakan bahwa acara tersebut dapat memberikan wawasan lebih bagi masyarakat tentang penyakit payudara, tumor dan kanker payudara, serta diingatkan kembali untuk mau melakukan SADARI. Setelah penyuluhan dari dokter spesialis bedah ontologi, dokter Bob, seluruh peserta juga diajak melakukan meditasi bersama yang dibimbing oleh Byang Mangku Hipno. – Sri Ardhini

Workshop Pemulihan Jiwa Guru Mangku Hipno bersama Brahmakunta Center kembali mempersembahkan untuk masyarakat Bali, sebuah fenomena pemulihan jiwa, sebuah pemurnian diri, penyadaran diri, pembangkitan diri, perubahan diri, dan pembebasan dari segala ikatan masa lalu yang buruk, pembebasan dari segala keputusasaan, penyakit, keluhan, kegagalan, penderitaan berkepanjangan. Sebuah penyelamatan melalui “WORKSHOP PEMULIHAN JIWA BERSAMA GURU MANGKU HIPNO”. Dengan metode BYSAId, yang telah terbukti nyata berhasil menyembuhkan dan mengakhiri penderitaan ratusan pasien dengan penyakit yang susah terdeteksi baik dari wilayah Indonesia maupun mancanegara. Melalui tutur kejernihan Guru Mangku Hipno akan menuntun dan mengajak Anda tanpa sadar detik demi detik, menit demi menit memasuki ruang baru yang disebut the miracle of zone ikhlas, dimana Anda akan dikeluarkan dari neraka menuju sorga kehidupan Anda. Workshop diadakan Minggu (23/8) pukul 15.00 s.d. 17.00 di Gedung PWI Bali, Jln. Gatot Subroto Tengah, Denpasar. Harga tiket Rp 350 ribu. Dapatkan bonus psikotherapi massal, teknik terhindar dari black magic dan teknik terhindar gendam. Untuk pesan antar tiket, hubungi: 0361-8442823, 085103112404 (Brahmakunta Center), 085738818906 (Jro Mangku Swandra), 085238640217 (Jro Abuck), 08563800133 (Jro Putu Anta), 0851 0013 3724 (Jro Ayuk), 08124681851 (Jro Musna), 085935051555 (Jro Made Chung). - bns

21

Mengenal Budaya NTB di BBLS Mengangkat tema “Discover Our Diverse Culture”, ditandai bedug yang ditabuh Gubernur NTB, Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2015 resmi dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Tari tradisional yang merupakan kolaborasi dari tiga etnis asli yang mendiami Lombok-Sumbawa, yakni Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu) yang dikemas secara kolosal dengan tema “Warna NTB dalam Nilai Tradisi”, memperlihatkan keberagaman dan kekayaan seni budaya Nusa Tenggara Barat.

Dari kiri: dr. Bob, Maya Suhanoko, Wikanthi Yoga, dan Gst. Ketut Anom

98% Kasus Kanker Payudara Bisa Diselamatkan Kini kanker payudara menjadi penyebab kematian yang paling tinggi. Meski demikian penyakit kanker payudara yang dianggap seperti monster ini masih bisa disembuhkan asalkan terdeteksi sejak dini. Hal ini dibuktikan dari data yang dihimpun oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) yang menunjukkan bahwa 98% kasus kanker payudara bisa diselamatkan jika berhasil dideteksi lebih awal. Sebab, ketika sel kanker lebih awal ditemukan maka akan tertolonglah sekian banyak perempuan dari kanker payudara. Selain menyampaikan berbagai penyakit payudara dan contoh-contoh penyakit kanker payudara yang pernah ditanganinya, dokter Bob juga mengingatkan jika memiliki

Mandalika

Motif tenun Sasak dalam busana peserta pawai budaya Bulan Budaya Lombok Sumbawa

B

ulan Budaya Lombok-Sumbawa merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat yang bertujuan untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya daerah. Gelar seni, tradisi dan budaya Nusa Tenggara Barat, sesungguhnya telah dilakukan sejak tahun 1994 dengan nama Pekan Apresiasi Budaya (PAB). Kegiatan ini berlangsung hanya selama satu minggu. Namun pada perkembangannya, Pemerintah Provinsi NTB menganggap penting kegiatan yang mengangkat nilai-nilai lokal dan keindahan tradisi serta budaya daerah ini, sehingga PAB kemudian berlangsung lebih lama yakni selama sebulan. Hal inilah yang membuat nama kegiatan ini berubah menjadi Bulan Apresiasi Budaya (BAB). Lalu

berkembang lagi menjadi Bulan Citra Budaya (BCB) hingga akhirnya di tahun 2015 ini menjadi bernama Bulan Budaya Lombok–Sumbawa (BBLS). Kegiatan ini merupakan media apresiasi bagi karya cipta/seni di Nusa Tenggara Barat yang tahun

ini dilaksanakan dari tanggal 18 Agustus – 24 September 2015. Sepanjang itu, BBLS akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan di antaranya Mataram Carnaval, Pentas Seni Daerah, Pekan Tenun Lombok Sumbawa, Fashion show tenun Lombok Sumbawa, pameran kain tenun dan Pameran kerajinan TP PKK NTB menyelenggarakan kegiatan bambu, ketak dan kerajinan dari pembinaan Iqro bagi para penghuni Panti Budhi Rini Mataram tanah liat, serta lainnya. “Bulan Budaya LombokSumbawa merupakan momen- Center Mataram, beberapa tum pengenalan budaya seba- waktu lalu. gai identitas suatu bangsa bagi Pencanangan kegiatan Bulan masyarakat NTB yang memi- Budaya Lombok-Sumbawa sekaliki keanekaragaman budaya ligus untuk mengangkat Citra dan kearifan lokal sehingga akan Budaya Nusa Tenggara Barat unlebih dikenal masyarakat dunia tuk turut mempromosikan wisata sebagai daerah yang kaya akan daerah ini dengan menampilkan budaya sebagai mana visi misi kesenian, karya kreatif dari berbaNusa Tenggara Barat, ’Beriman, gai etnis di NTB guna mendukung Berbudaya, Berdaya Saing dan target 2 juta kunjungan wisatawan Sejahtera,’’ ungkap Gubernur mancanegara ke NTB. NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi -Naniek I. Taufan ketika membuka Bulan Budaya Lombok Sumbawa di Islamic

Hj. Erica Zainul Majdi

Motif tenun Sasak dalam busana peserta pawai budaya Bulan Budaya Lombok Sumbawa

Gendang Beleq, alat musik tradisional Lombok

Pendekatan Berbasis Panti Terjerembab ke dunia hitam prostitusi, tentu saja tidak seorang pun menginginkannya. Namun karena berbagai alasan, banyak perempuan yang rela tidak rela akhirnya menjalani aktivitas ini. Inilah yang dialami para perempuan yang tadinya bekerja sebagai PSK kini menjalani rehabilitasi di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Budhi Rini Mataram. Mereka bukan orang yang harus dijauhi melainkan harus dirangkul dan dibimbing untuk kembali ke jalan yang benar. Hal inilah yang dilakukan oleh Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi NTB, yaitu merangkul mereka dengan berbagai program yang bermanfaat seperti kegiatan pembinaan Iqra yang baru-baru ini secara resmi

dibuka oleh Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi. Kegiatan yang bekerjasama dengan Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTB serta Himpunan Mahasiswa (Himmah) Universitas NW Pancor, Lombok Timur ini merupakan wujud kehadiran langsung dari pemerintah dalam memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah sosial melalui pendekatan berbasis panti, dengan proses pemberian layanan berupa pelaksanaan bimbingan teknis yang meliputi pembinaan fisik, mental, sosial, terutama pengubahan perilaku dan pelatihan keterampilan operasional premier. Salah satu bagian dari pelaksanaan pelayanan yang diberikan oleh panti yaitu pelaksanaan bimbingan mental dan spiritual melalui pembinaan Iqra’

(belajar membaca Al Quran mulai dari dasar) mengingat konsep dan pendekatan spiritual menjadi bagian penting dalam pelaksanaan terapi perubahan perilaku. Diharapkan dengan kegiatan seperti ini, para penghuni Panti Budhi Rini kelak tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW dengan baik dan benar, tapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “TP PKK percaya jika kita semua mampu membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Hadist, maka kita akan menjadi manusia yang lebih baik sesuai visi dan misi NTB yaitu beriman, berbudaya, berdaya saing dan sejahtera,” ungkap Erica di hadapan para penghuni panti dan seluruh undangan yang hadir. -Naniek I. Taufan

Pawai Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2015

Pawai Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2015

F o t o - f o t o : I b e n k / H m s - P e m p r o v. N T B


20

Nine

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Hj. Putu Selly Andayani

Setelah Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin pada tahun 1965, memimpin Kabupaten Bima sebagai Penjabat Bupati Bima, kini di tahun 2015 seorang perempuan kembali hadir mewarnai dunia pemimpin di Nusa Tenggara Barat.

H

j. Putu Selly Andayani, dilantik sebagai penjabat Wali Kota Mataram. Tidak main-main, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat mempercayakan Kota Mataram yang merupakan Ibu Kota Provinsi NTB, kepada istri dari politikus kawakan Rahmad Hidayat ini. Dan Selly menerima tugas dan tanggung jawab ini dengan komitmen bekerja keras yang dilandasi dengan keinginan beribadah. Ia menegaskan niatnya ini dalam satu kalimat lugas, bahwa ia diberikan tugas ini merupakan satu penghormatan dari pimpinannya. “Maka, saya tidak boleh main-main. Saya ingin beribadah dalam menjalani tugas dan tanggung jawab ini,” ungkapnya sembari tersenyum. Pribadinya yang hangat dan

akrab tetap menjadi sesuatu yang khas dalam diri Selly yang dilantik 10 Agustus 2015 ini. Caranya menyapa dan berkomunikasi dengan tamu-tamu yang datang di ruangannya beberapa waktu lalu, memperlihatkan keramahan ibu dari 11 anak ini. Sikapnya yang keibuan terutama kepada anak-anak dari LPA Kota Mataram yang juga turut hadir saat itu, memberi kesan “melindungi dan ngemong”. Hal ini membuat suasana obrolan menjadi rileks dan nyaman. Apalagi Selly bicara blakblakan dan terbuka, diselingi canda dan tawa membuatnya tidak ada batas dengan siapa pun. Hari itu, Selly menawarkan suasana lepas yang asyik bagi para tetamunya. Tapi, di balik sikapnya yang ramah dan keibuan itu, Selly adalah sosok yang tegas. Lihat saja, baru beberapa hari dilantik sebagai

Perjuangkan “Sabtu Bersih”

Hj. Putu Selly Andayani bersama masyarakat ketika aksi bersih-bersih yang merupakan target utamanya untuk menjadikan Kota Mataram bersih dan nyaman

Beberapa waktu lalu, Selly mulai memimpin Pegawai Negeri Sipil di Kota Mataram untuk melakukan aksi bersih-bersih di titik-titik yang selama ini dipenuhi sampah yang sangat mengganggu, khususnya dalam hal keindahan dan kenyamanan Kota Mataram. Inilah fokus pertama yang dilakukan Selly, soal penanganan sampah dan kebersihan kota. Tidak kurang dari 25 titik di Kota Mataram yang menjadi agenda kegiatan bersih-bersih. Untuk mewujudkan Kota Mataram yang bersih dan nyaman, Selly menggandeng berbagi pihak termasuk TNI dan Polri untuk bekerja bersama-sama menjadikan Mataram sebagai tempat yang bersih dari sampah. Perempuan kelahiran, Mataram, 15 September 1961 ini, menganggap serius soal sampah tersebut, sampai-sampai jika usulannya untuk lima hari kerja di Kota Mataram (yang kini sedang dikaji oleh Sekda Kota Mataram), bisa dilaksanakan, maka hari keenam yakni hari Sabtu akan menjadi Sabtu Bersih. “Seluruh PNS Kota Mataram, secara bergilir akan turun lapangan untuk menjalankan Sabtu Bersih mulai sekitar pukul 06.00 sampai sekitar pukul 10.00 wita, termasuk pula bekerja sama dengan TNI dan Polri,” ujarnya. Di waktunya yang tidak panjang sebagai Penjabat Wali Kota Mataram, Selly tidak memprogramkan hal yang muluk-muluk melainkan prioritasnya pada persoalan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Program pro-rakyat. Salah satunya soal kebersihan. Untuk ini, Selly sama sekali tidak ingin mengejar penghargaan apaapa, semisal Adipura melainkan ia hanya ingin bekerja dan bekerja. “Adipura tidak perlu dicari apalagi dikejar, biarkan datang sendiri jika memang pantas kita terima,” ungkapnya tegas. -Naniek I. Taufan

Penjabat Wali Kota Mataram, ia turun lapangan didampingi Pol. PP Kota Mataram untuk mengecek langsung dunia hiburan malam. Keluhan masyarakat yang selama ini diketahuinya, membuatnya mengambil langkah pertama untuk menertibkan kafe-kafe yang tidak berizin terutama yang menyalahi aturan dan menyerempet sebagai tempat prostitusi terselubung. Memakai jaket hitam, ia datangi salah satu kafe di Kota Mataram menyamar sebagai tamu. Belum banyak yang kenal dirinya sebagai Penjabat Wali Kota Mataram, adalah keuntungan

Turun lapangan saat Sidak kafe dan tempat hiburan malam hingga dinihari menjadi aktivitas baru Penjabat Walikota Mataram.

tersendiri baginya malam itu. Ia berdialog dengan petugas kafe, menanyakan berbagai informasi termasuk soal fasilitas kafe, hingga akhirnya ia mendapati kafe tersebut beroperasi tidak sesuai izin bahkan ada yang tidak memiliki izin. Kafe tidak berfungsi sebagaimana mestinya bahkan menjadi tempat prostitusi terselubung. Melihat kenyataan banyak PS-PS lokal yang dipekerjakan seperti ini, membuat hatinya tersentuh. Tanpa basa-basi, ketika pemilik kafe tidak dapat memperlihatkan izin, malam itu juga Selly menyegel kafe tersebut.

Hj. Putu Selly Andayani bersama keluarga usai dilantik sebagai Penjabat Walikota Mataram

“Menangis hati saya melihat PS-PS (Partner Song) lokal juga anak-anak muda yang berada di tempat yang salah seperti ini,” kata mantan Kadispenda Provinsi NTB ini. Karenanya ia bertekad untuk menertibkan tempat-tempat seperti ini. Inspeksi mendadak alias sidak kerap dilakukan Selly pada tempattempat yang sering dikeluhkan warga Kota Mataram, sampai larut malam bahkan hingga dini hari. Ia ingin melihat sendiri realita yang terjadi di Kota Mataram khususnya yang mengundang banyak keluhan masyarakat. Maka tidak heran langkahnya ini membuat kaget dan kelabakan pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari kegiatan ilegalnya. Selain ingin memberikan solusi terhadap warga Kota Mataram akan keluhan-keluhan masyarakat selama ini, lebih dari itu, dalam waktunya sebagai Penjabat Wali Kota yang tidak panjang ini, Selly ingin melihat Kota Mataram dengan luas yang hanya 63 kilometer persegi ini menjadi kota yang bersih dan “hidup”. Maka, tangannya mulai bekerja. Bekerja untuk membersihkan seluruh kota. -Naniek I. Taufan

Bersih Lingkungan, Bersih Hati, Bersih Pikiran Lebih dari itu semua, bagi Selly, kebersihan yang menjadi bagian dari iman dalam agamanya ini, membuat ia merasa perlu untuk hidup bersih bersama warga Kota Mataram. “Konsepnya bersih dulu lingkungannya. Lalu bersih hati, bersih pikiran maka bekerja juga bisa menjadi lebih enak dan nyaman,” ujar nenek dari delapan cucu ini. Saking seriusnya soal sampah ini, Selly bahkan mengatakan darurat

Hj. Putu Selly Andayani bersama suami dan salah seorang anaknya.

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Komunitas Cinta Kamen Bali

5

Rayakan HUT RI dengan Donor Darah dan Aksi Sosial

Tugas adalah

Penghormatan

Inspirasi

sampah. Maka ia menggerakkan Camat, Lurah dan perangkat lainnya serta 321 Kepala Lingkungan seKota Mataram untuk ikut serta berpartisiSampah di Kota Mataram menjadi target pertama Selly pasi menggeruntuk dibersihkan akkan masyarakat untuk peduli tangan. Tidak bisa sukses dapada sampah dan kebersihan lam sekejap namun semua lingkungan. Menangani sampah harus diupayakan semaksimal mungkin,” kata Selly yang sejak dari hilir hingga hulu. Selain soal penertiban tem- dilantik membuat waktu tidupat hiburan malam dan masalah rnya hanya sekitar 3 jam sehari. sampah, banyak program pro- Ia menerima konsekuensi itu rakyat lainnya yang tengah sebagai bagian dari tanggung dipersiapkan Selly termasuk jawab tugasnya. Baginya jika apa penertiban PKL agar lebih nya- yang dilakukannya kelak adalah man, baik bagi PKL-nya sendiri sebuah kesuksesan, maka apremaupun bagi masyarakat. Selly siasi atas kesuksesan itu bukan menyadari bahwa untuk me- untuk dirinya melainkan untuk nyukseskan semua ini ia tidak semua pihak yang telah bekerja bisa bekerja sendiri. Karenanya bersama dengan tekad dan sembari memperkuat komu- tanggung jawab tanpa pamrih. nikasi, ia menggandeng seluruh Dan ia meyakini bahwa apapun elemen masyarakat maupun masalah yang ada pasti bisa institusi lainnya untuk berproses dicarikan solusinya, asal ada kemauan untuk melakukannya bersama. “Semua butuh proses, tidak apalagi mampu bekerja sama bisa seperti membalik telapak dengan baik. -Naniek I. Taufan

Dalam rangka merayakan HUT ke-70 Kemerdekaan RI, “Komunitas Cinta Kamen Bali” (KCKB) yang resmi terbentuk pada Februari lalu, tak ketinggalan menyelenggarakan kegiatan dengan kemeriahan yang menciptakan rasa bahagia, Selasa (18/8) di D’Tunjung, Denpasar.

S

emangat memper­ingati Hari Kemerdekaan juga ditampilkan KCKB me­ lalui busana dengan dress code nuansa merah-putih. Tak ketinggalan disemarakkan aneka lomba yang sangat fun dan seru, khas 17Agustusan seperti, lomba membawa kelereng, memasukkan paku ke dalam botol sampai me­ mecahkan balon. Namun, inti pertemuan KCKB sore itu adalah menggelar arisan bulanan. Selain itu, mereka mengisi kesempatan dengan berbagi peng­ alaman, sambil menyelipkan pesanpesan moral yang berharga untuk seluruh anggota KCKB, termasuk tentang pentingnya rasa persatuan dan kesatuan yang kuat di antara mereka. Pada kesempatan tersebut Ni Putu Adnyani yang akrab disapa Bu Bara, menekankan perihal sikap positif. Berbekal salah satu pedomam KCKB, yakni bertemu, belajar dan beramal, ia kembali menekankan bahwa seluruh ang­ gota, sebagai perempuan kreatif, hendaknya bisa membuktikan diri dengan berkarya.

Satu sama lain saling mendukung, dengan penuh tang­ gung jawab tanpa merugikan teman lainnya. B u B a ra j u g a m e n ga j a k s e m u a anggota KCKB, un­ tuk bersama-sama menjaga marta­ bat perempuan Bali, dengan saling menghormati satu dengan yang lain­ nya, beretika dan menjunjung tinggi moralitas yang baik. Aktivitas rutin berikutnya ada­ lah mengedarkan kantung amal, sebagai salah satu cara mereka belajar untuk meretas sebuah keikhlasan. Setiap 3 bulan sekali, seluruh hasil yang diperoleh dalam kantung amal tersebut, disa­ lurkan kepada mereka yang memerlukan. Sedangkan agenda tiga bu­ lanan lainnya adalah donor darah dan pe­ nyerahan dana sosial. Mengenai kegiatan kantung amal yang sudah berjalan baik dan merupakan ide dari Yoseva Listyati, biasa dipanggil Bu Eva ini, rupanya dilanjutkan oleh Bu Bara dengan menambahkan, setiap anggota KCKB memiliki kotak receh di rumah. Maksudnya, mere­ka tidak hanya melakukannya di saat ber­ temu, namun melanjutkan dengan membuat kotak receh di rumah masing-masing yang bisa diisi oleh

semua penghuni rumah. Hal ini disambut baik oleh seluruh anggota KCKB, sebab de­­ngan ini juga berarti mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk ikut ambil bagian mengum­ pulkan dana sosial, dan setiap 3 bulan dibawa di pertemuan untuk dikumpulkan dan langsung disalurkan kepada mereka yang memerlukan. Bicara KCKB yang kini semakin dikenal dan bahkan berkibar, tentu tidak lepas dari dua sosok perem­ puan energik yang bernama Bu Bara dan Bu Eva. “Ide awal oleh Bu Bara, saya hanya meneruskan dan melaksanakan konsepnya, meng­ ingat Bu Bara juga sering keluar Bali mempromosikan kerajinan gold & silvernya. Kebetulan juga

saya banyak teman, kenapa tidak diajak bersama-sama dalam satu tim untuk mencintai, mengenakan dan melestarikan yang namanya kamen Bali,” papar Eva. Mengenai beberapa tanggapan yang menyebut-nyebut statusnya orang Jawa, dengan senyum manis Eva menyatakan bahwa KCKB adalah wadah atau persembahan dan rasa care yang bisa diberikannya untuk Bali, dimana ia menikah, berkeluar­

ga, bermasyarakat bahkan nanti juga diaben ketika sampai waktunya. Perihal kegiatan 3 bulanan ang­ gota KCKB, sepakat memilih momen pada Hari Kartini, 17 Agustusan dan Hari Ibu. Untuk edisi Agustus kali ini KCKB pun melaksanakan agenda sosial mereka yakni donor darah dan menyerahkan dana sosial. Di sini mereka membukti­ kan KCKB bukan hanya sekadar kumpul dan menggelar arisan, tapi di dalamnya ada agenda khusus kegiatan sosial. Setelah berkumpul dengan agenda rutin dan perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia, berikutnya Jumat (21/8), KCKB melakukan keg­ iatan donor darah langsung ke PMI yang berlokasi di RS Sanglah. Set­ elah donor darah, langsung melan­ jutkan langkah berikutnya menjen­ guk Komang Andika Pratama (13), pasien gagal ginjal, yang menginap

di ruang Pudak 3, untuk diberikan bantuan dana sosial yang berhasil dikumpulkan selama 3 bulan dari seluruh anggota KCKB. –ard

Komitmen Menjaga Aset Daerah Yang Indah Ada sejuta ide untuk mengolah kamen tradisional kita. Apa yang dilakukan KCKB yang terdiri dari perempuan dari beragam profesi dan usaha ini, kiranya bisa menginspirasi perempuan lainnya untuk lebih mencintai produk lokal dan terus berupaya membantu pemerintah mengembangkan keberadaan kain tradisional khas daerah Bali khususnya kamen sebagai aset kebanggaan bangsa Indonesia. Terlebih selama ini, bukan hanya di kalangan ang-

gota KCKB saja, namun banyak masyarakat di luar Bali mengatakan keindahan kamen Bali sangat layak menjadi tren busana. Untuk ini, mereka mewujudkannya dengan selalu mengenakannya di berbagai kesempatan. Melihat perjalannya selama ini, KCKB kedepannya diharapkan lebih banyak lagi mengajak perempuan Bali untuk mencintai kamen Bali. Apalagi, kamen (baca: kain) yang biasa dipadankan dengan kebaya sebagai busana khas Indonesia atau busana nasional, maka ketika mer-

eka memilih untuk menggunakan atau mengenakan dan mencintai kamen khususnya kamen Bali secara otomatis mereka turut serta melestarikan warisan budaya Bali yang juga milik Indonesia ini. Saat ini, dengan semangat Hari Kemerdekaan RI, KCKB mengajak semua perempuan bersama-sama menjadikan momen ini untuk menjaga produk budaya dan membangun daerah melalui berbagai kegiatan pelestarian dan pengembangan kamen Bali. -ard


6

Woman on Top

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Ni Made Sumiati

Meyadnya Melalui Tata Rias Melestarikan budaya Bali melalui tata rias dan busana adat Bali, demikianlah komitmen seorang Anak Agung Ayu Ketut Agung untuk turut meng-ajeg-kan Bali. Karena itu pula, secara berkesinambungan Bu Agung—sapaan karib pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung ini, menggelar roadshow tata rias, tak hanya di Bali, namun hingga ke luar Bali, dengan support penuh dari Viva Cosmetics dan masyarakat Bali. “Saya sangat berterima kasih kepada Viva Cosmetics, karena dalam tiap roadshow yang selalu diisi dengan pelatihan singkat tata rias, Viva selalu mensupport saya, sehingga kegiatan bisa lebih efektif,” ujar Bu Agung.

K

e r j a s a m a a n t a ra Bu Agung dan Viva Cosmetics telah berlangsung lama. Selain karena produk Viva yang asli buatan Indonesia ini sesuai dengan iklim tropis Indonesia, rupanya antara keduanya memiliki misi yang sama, yakni mengangkat budaya lokal. Bu Agung melalui tata rias, Viva melalui kosmetik yang bahan bakunya asli dari sumber alam Indonesia. “Saya lihat kegiatan Bu Agung sangat memperhatikan budaya dan membantu anakanak hingga mereka mendapatkan beasiswa, dsb. Saya rasa, ini patut didukung dan kami bisa bersinergi, bersama-sama melestarikan kearifan lokal,” ujar Yusuf Wiharto, Direktur Distribusi Viva Cosmetics Wilayah Indonesia Timur. Bu Agung mengimbuhkan, moto 3 Mu (mutu, mudah, murah) yang dijalankan Viva Cosmetics juga sejalan dengan moto hidupnya

yang selalu membagikan ilmu tata riasnya, baik melalui pelatihanpelatihan tata rias gratis, maupun kursus regular yang dari nilai nominalnya, sangat terjangkau. “Saya berprinsip, ilmu itu harus berbagi, karena dengan begitulah kita bisa mendapat ilmu yang lebih banyak lagi. Dan, untuk kursus tata rias regular di LKP Agung, harganya tidak mahal. Inilah yang saya pakai subsidi silang dengan memberikan beasiswa kursus gratis pada mereka yang kurang mampu,” papar penerima Penghargaan Parama Budaya dari Wali Kota Denpasar ini. Kegiatan pelatihan dan kursus tata rias tersebut dikatakan Bu Agung tak lain untuk pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan, dengan memberikan bekal keterampilan agar mereka bisa meningkatkan perekonomiannya. Tak heran jika tiap workshop tata rias, pesertanya selalu mem-

Jadilah Luh Luwih Perempuan yang maju se­bagai pemimpin, tentu tak mudah. Mereka dituntut bisa membagi waktu antara karier dan perannya sebagai istri dan ibu rumahtangga. Salah satu yang harus melakoni semua itu adalah ­Ni Made Sumiati. Workshop Tata Rias yang berlangsung di Gedung Balai Budaya Klungkung belum lama ini. Tampak Bu Agung (paling kiri), Wakil Ketua TP PKK Klungkung, Ny. Sri Kasta, lima penari legong dari Tiara Kusuma, dan Ny. Sri Utari Satria Naradha.

bludak. Seperti yang berlangsung di kabupeten-kabupaten/kota di Bali, yang merupakan kerjasama antara LKP Agung dengan Pemda setempat, Harian BisnisBali (Kelompok Media Bali Post), WHDI Bali, dan Viva Cosmetics. Workshop yang selau diisi demo merias oleh perias cilik Sagung Diva, siswa kelas VIII G SMPN 3 Denpasar ini juga terkadang turut dimeriahkan Tarian Legong Keraton oleh Tiara Kusuma Bali yang rata-rata sudah berusia lanjut. Tata rias Bali pun disambut meriah oleh masyarakat Makassar, dalam sebuah kesempatan sosialisasi di LKP Miranti yang berlokasi di Jalan Pettarani Kompleks Mutiara Blok A-1 No. 1 Penakung. “Kebetulan kami (LKP Agung) ada undangan bintek dari Kemendikbud yang bertempat di BP PNFI Regional III Makassar. Jadi untuk mengisi waktu, paginya saya memberikan pelatihan tata rias

Bali yang paling sederhana, yakni tengkuluk lelunakan,” ungkap Bu Agung. Mengapa tengkuluk lelunakan? Rupanya Bu Agung masih memiliki impian agar busana Bali ini bisa popular dan menjadi ikon Bali, seperti di Volendam. Busana tengkuluk lelunakan ini dan tata rias Bali lainnya juga kembali disosialisasikan di Mataram. Kursus Tata Rias Singkat Bersama Bu Agung itu digelar Sabtu (15/8) di Praya dengan peserta umum, dilanjutkan di Mataram menggandeng WHDI Mataram yang berlangsung di Gedung PHDI Mataram. Minggu (16/8) malam Bu Agung bersama tim langsung bertolak ke Bali, mengigat 17 Agustus mendapat tugas merias 70 paskibraka Provinsi Bali. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya

Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@ yahoo.com. website: www.salonagung.com. –inten

MULAI 11 JUTA BISA PUNYA VILLA HARMONIS di UBUD BALI

Saatnya Kita Punya Penghasilan Pasif. Saatnya Uang Bekerja Untuk Kita. Bila kita berbicara tentang ­bisnis Villa, hal ini identik ­dengan modal besar. Untuk itulah pelaku bisnis ini dimonopoli oleh orang-orang yang bermodal besar. Mereka sebagian besar berasal dari luar Bali, dan hanya sebagian kecil berasal dari Bali. Mayoritas orang Bali menjadi karyawan di villa-villa tersebut, dan hanya segelintir orang Bali yang menjadi Pemilik Villa.

S

ebagian besar penghasilan dari bisnis villa mengalir ke kantong-kantong Pemilik Villa. Sedangkan orang-orang Bali yang berprofesi sebagai karyawan di Villa tersebut hanya bisa mendapatkan penghasilan berupa gaji. Melihat fenomena ini, saya I Gede

Konsep Terkini Modal Dikembalikan 200% Dermawan merasa tertantang dan terpanggil untuk mencari solusi bagaimana caranya agar banyak orang bisa menjadi Pemilik Villa. Dengan modal keyakinan, keberanian dan tekad yang bulat akhirnya pada 24 Mei 2013, saya I Gede Dermawan bersama Ni Ketut Suciarini mendirikan PT Pengembang Properti Harmonis. PT dengan brand Harmonis Land bergerak di bidang pengembang real estate yang berkantor pusat di Denpasar. Villa Harmonis yang berlokasi di Banjar Juga, Desa Mas, Ubud Bali ini merupakan proyek Villa pertama dari Harmonis Land. Villa Harmonis ini berbasis ekonomi kerakyatan yang sejalan dengan prinsip gotong royong. Konsep Villa Harmonis ini sungguh menarik dan memungkinkan setiap orang bisa menjadi Pemilik Villa. Mulai 11Juta bisa menjadi Pemilik Villa Harmonis dengan manfaat yang berlimpah.

Adapun manfaat berlimpah yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Mendapat Voucher Menginap senilai 11Juta di Villa Harmonis ( 100% Balik Modal ). Voucher ini bisa digunakan sendiri bersama keluarga untuk menginap atau dijual kepada orang lain. Selanjutnya tinggal menikmati keuntungan selama 25 tahun. 2. Mendapat penghasilan pasif selama 25 tahun. Inilah penghasilan yang diidam-idamkan oleh para pengusaha karena dengan diam saja sudah bisa mendapatkan penghasilan ini. Di tahun ke-1, ke-2 dan ke-3 mendapat 10% dari Modal. Ini berarti di 3 tahun pertama sudah mendapat penghasilan pasif 30%. Di tahun ke-4 sampai dengan di tahun ke-25 mendapat penghasilan pasif setiap 6 bulan mengikuti untung Villa. Besarnya penghasilan pasif ini tergantung tingkat hunian. Semakin banyak tamu yang menginap semakin banyak penghasilan pasif yang akan diperoleh. 3. Di tahun ke-10 Modal Dikembalikan 100% tunai dan masih berhak menikmati penghasilan pasif lagi 15 tahun. 4. Peluang mendapat penghasilan aktif sesuai keinginan berupa komisi10% setiap mengajak tamu menginap di Villa Harmonis. Semakin banyak mengajak tamu menginap di Villa Harmonis semakin banyak pula penghasilan aktif yang akan didapat. 5. Berhak ikut undian Grand Prize berupa mobil BMW, Honda Jazz, Avanza & Emas Mutiara. Wow... Grand Prizenya luar biasa menarik. Bayangkan hanya dengan modal 11 Juta Anda berpeluang untuk memenangkan salah

satu dari tiga mobil tersebut. Siapa tahu nasib baik berpihak pada Anda. 6. Tergabung dalam Komunitas Pemilik Villa Harmonis. Setiap bulan para Pemilik Villa Harmonis akan diundang untuk mengikuti acara Gathering, Diskusi Bisnis dll. Dengan mengikuti acara ini Anda akan mendapatkan peluang berlimpah. 7. Mendapat ID Card Pemilik Villa Harmonis yang berisi nama, foto dan jabatan sebagai Pemilik Villa Harmonis. Anda berhak menyandang jabatan sebagai salah satu Pemilik Villa Harmonis. Dengan jabatan ini Anda lebih mudah meyakinkan orang lain untuk deal bisnis. Anda lebih dipercaya karena Pemilik Villa identik dengan banyak uang. 8. Mendapat Sertifikat Pemilik Villa Harmonis. Sertifikat ini Anda bisa pajang di ruang tamu rumah Anda. Secara psikologis manfaatnya sangat besar, bisa meningkatkan kepercayaan diri dan gengsi serta prestise di masyarakat. 9. Salinan Akta Perjanjian Kerjasama dari Notaris. Akta ini sebagai bukti sah Anda sebagai Pemilik Villa Harmonis. Di Akta ini tercantum segala hak dan kewajiban sebagai Pemilik Villa Harmonis. Untuk informasi lebih lanjut silakan hadiri Launching “Konsep Terkini “ Mulai 11 Juta Bisa Punya Villa Harmonis di Ubud Bali. Launching akan diadakan sekaligus di 2 (dua) tempat yang berbeda namun pada hari yang sama yaitu Minggu, 30-8-2015 pukul 10.00 wita di Grand Santhi Hotel, Jln. Patih Jelantik Denpasar, selanjutnya launching dilakukan pukul 18.00 wita di Warung Makan Ranggon Sunset, Jln. Pantai Penimbangan Barat, Pemaron - Singaraja Bali. Reservasi GRATIS + Makan +

I Gede Dermawan (Founder Villa Harmonis)

Door Prize. Silakan SMS Nama Anda / Hadir / Launching ke 081 999 646 318, 081 236 790 818 PIN : 57FF05D0 Dan ingat saksikan dialognya hari Senin, 24-8-2015 pukul 20.00 wita di Bali TV. Live Streaming www.balitv.tv

D

unia politik sudah digeluti Sumiati sejak lama. Setelah berkiprah di KPU Provinsi Bali, ia terpilih menjadi anggota DPRD Bali dalam dua periode, tahun 20092014 dan 2014-2019. Kini, kader PDI Perjuangan ini, mencalonkan dirinya menjadi wakil bupati Karangasem dalam Pilkada 2015. Menurutnya, sebagai perempuan Hindu, tentu ia tak mau salah langkah. Ia berprinsip, perempuan harus menjadi luh luwih, bukan luh luu. Ia mengatakan, ketika ia memutuskan untuk maju berpolitik, restu suami sangat diperlukan. Di samping itu, kata Sumiati, saat ia terjun ke politik, anak-anaknya sudah sukses dan sudah menikah, sehingga langkahnya lebih mantap berkiprah di dunia politik. Baginya, berkiprah di dunia politik, adalah masa ia memasuki tahapan wanaprasta. Ia menilai, dalam mengisi era kemerdekaan, istilah wanaprasta bisa diartikan mengabdikan diri kepada bangsa, negara, dan agama. “Zaman dulu, tahapan wanaprasta, oarng pergi ke hutan me­ngasingkan diri untuk ber-

tapa. Sementara, zaman sekarang, dengan berpolitik sudah merupakan tahapan wanaprasta di zaman modern. Hutan yang dimaksud zaman modern adalah hutan yang dihuni manusia,” ucapnya. Sebagai politisi yang sangat menjunjung tinggi ajaran Bung Karno, ia merasakan dengan berpolitik, ia banyak melakukan pengabdian kepada masyarakat. Disamping itu, kegiat­a n spiritual yang dilakoninya juga makin banyak. Misalnya, saaat ia masimakrama dengan masyarakat, jika melewati Pura Khayangan Jagat, ia bisa berhenti sejenak dan menghaturkan

puja bakti kepada Tuhan. Prinsipnya, dalam berpolitik, adalah berbuat baik kepada orang banyak, lingkungan, dan bakti kepada Tuhan. Ia menilai, semua kemurniannya dalam berpolitik juga ia artikan sebagai bekal untuk mati. “Saat kita mati, di sanalah kita akan dinilai apa saja kebaikan yang sudah diperbuat saat hidup. Bagi saya, dengan berpolitik saya bisa berbuat baik kepada orang lain dan sebagai sari pegae ring marcapada,” kata Sumiati. Walaupun berada di daerah yang menganut sistem patrinial, seorang perempuan juga harus berpartisipasi menjadi pemimpin. Justru, dalam penilaiannya, pemimpin perempuan adalah kunci kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan, dalam biduk rumahtangga. Sehebat apapun suami, pasti dia membutuhkan seorang istri yang membantunya mengatur rumahtangga dan mengurus keluarga. Seperti itu peran perempuan yang sangat luar biasa. Karena itu, sebagai langkah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, ia ikut berkiprah di politik praktis. Selain sudah berhasil menduduki anggota DPRD Bali dua kali periode, ia juga sedang berjuang maju sebagai wakil bupati. Sumiati menegaskan, dalam menjalankan prinsip­nya berpolitik, tak lepas dari ajaran agama yang bersumber pada kitab suci. “Karena itu, menjadi pemimpin perempuan memang bukan tugas yang mudah. Namun, perempuan harus berani mencoba,” kata Sumiati. –Wirati Astiti

Gereja Menerima Eksistensi Pemimpin Perempuan

Jumlah pemimpin perempuan makin banyak, mereka ada di berbagai bidang kehidupan, bahkan di bidang-bidang yang dulunya hanya ‘dikuasai’ kaum laki-laki. Di bidang agama pun demikian, Kristen Protestan misalnya. Pertumbuhan jumlah perempuan yang menjadi imam, pelayan maupun pengurus dalam sebuah organisasi kekristenan, mengalami kemajuan signifikan. “Kini boleh dibilang perdebatan itu sudah tidak ada lagi, setidaknya di lingkungan PGI (Persekutuan Gerejagereja di Indonesia) keberadaan pemimpin wanita telah diakui atau diterima,” ungkap Wakil Sekretaris Umum PGI Pusat, Pendeta Krise Anki Rotti Gosal. Hal itu terbukti dalam Sidang Raya PGI di Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara, November 2014 lalu, dimana untuk pertama kalinya sejak PGI berdiri tahun 1950 terpilih perempuan sebagai Ketua Umum PGI periode 2014-2019. Peserta Sidang Raya ketika itu adalah anggota PGI yang berjumlah 89 Sinode Gereja (dewan gereja), dimana 90% pucuk pimpinannya adalah laki-laki. “Beliau, Ketua Umum PGI terpilih Pendeta Henriette Lebang mendapat suara mayoritas dari keseluruhan peserta yang mayoritas laki-laki. Itu juga bisa dimaknai bahwa organisasi gereja mengakui dan menerima adanya pemimpin perempuan. Bahkan dalam kepengurusan Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI Pusat, dari 13 pimpinan, empat di antaranya adalah perempuan,” jelasnya. Menurutnya, perkembangan sekarang jauh menggembirakan dibanding masa lalu ketika masih ada gereja

Pendeta Krise Anki Rotti Gosal

yang tidak mengakui atau menerima pemimpin perempuan sebagai imam, sebagai pelayan. Seiring waktu telah terjadi perubahan-perubahan yang nyata dan kini sebagian besar gereja di Indonesia, telah menerima. Meskipun memang, masih ada yang masih kurang memberi kesempatan pada perempuan. “Kurang memberi kesempatan bukan berarti tidak menerima, ya. Perempuan tetap masuk di jajaran pemimpin tapi bukan sebagai pemimpin tertinggi. Namun, ini tetaplah sebuah kemajuan karena eksistensi perempuan telah diakui dan mereka dilibatkan dalam susunan kepengurusan pimpinan gereja,” katanya. Eksistensi pemimpin perempuan dalam organisasi gereja saat ini menunjukkan kemajuan pesat. Salah satu buktinya adalah, saat ini setidaknya ada lima pimpinan Sinode (dewan gereja) merupakan pendeta perempuan. PGI, lanjut Krise, terus mendorong peran

perempuan untuk terus kiprah aktif dalam berbagai kegiatan. Misalnya saja pada pertemuan atau sidang gerejagereja, dalam setiap undangan PGI selalu mencantumkan bahwa utusan dari gereja-gereja harus terdiri dari perempuan dan laki-laki. Kalaupun undangan hanya untuk dua orang, maka PGI selalu menegaskan bahwa salah satu utusan haruslah perempuan. Menurutnya, agenda pemberdayaan perempuan di lingkungan PGI sudah dimulai sejak dua dekade lalu. Semua berproses sampai akhirnya didapat hasil seperti sekarang. Dalam pra-sidang raya, lanjutnya, memberi kesempatan pada perempuan untuk bersuara yang hasilnya kemudian disampaikan dalam acara Sidang Raya. “Jadi dalam pemantauan saya, kini gereja yang tidak mengakui perempuan wanita dengan menyebut pemimpin wanita tidak alkitabiah, sudah tidak ada lagi,” tegasnya. Sekarang, tinggal bagaimana memainstreaming-kan gerakan ini ke gereja-gereja lokal agar kepemimpinan perempuan diberi ruang. Sebab, kadang, karena masih dipengaruhi oleh budaya setempat, hal ini masih terkendala. “Jadi sekarang penguatanpenguatan di tingkat lokal (gereja lokal) terus dilakukan, misalnya, lewat pelatihan-pelatihan kepemimpinan perempuan, dll. Kami di tingkat pusat juga melakukan advokasi, mempengaruhi kebijakan-kebijakan lokal. Seperti, mengharuskan perempuan ada dalam pengambilan keputusan di pusat maupun daerah, memberi anjuran agar sekurang-kurangnya 30% perempuan ada dalam struktur kepengurusan gereja lokal, dll,” tuturnya. –Diana Runtu

19

Perempuan Mampu dan Mau Keberadaan perempuan sebagai pemimpin, tak hanya ada dewasa ini. Jauh sebelumnya kita kenal kepemimpinan Cut Nyak Dien dan beberapa menteri di kabinet pemerintahan. Menurut Made Diah Lestari, S.Psi., M.Psi., Psi., ini adalah hal yang biasa. Bahkan ia menyebut sebuah penelitian yang dilakukan Eagly & Johannesen-Schimdt ( 2001), yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan tidak berbeda dalam hal potensi/kompetensi memimpin. “Ketika kita menganggap fenomena pemimpin perempuan sebagai suatu yang biasa atau sudah lumrah, maka disitulah sebenarnya pengakuan terhadap perempuan sudah mapan. Sebailknya, jika masyarakat masih menganggap fenomena ini sebagai hal yang luar biasa, maka sebenarnya kita masih meragukan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan,” ujar pengajar yang juga Sekretaris Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Unud ini. Efektivitas laki-laki dengan perempuan dalam memimpin pada dasarnya sama. Namun, akan efektif lagi jika yang bersangkutan punya kompetensi memimpin. Laki-laki pun dikatakannya bisa jadi tidak lebih efektif dibanding kan perempuan jika memang tidak ada kompetensi memimpin. Demikian sebaliknya. Terkadang penilaian orang yang dipimpin, yang masih mengkotak-kotakkan gender dan termakan gender stereotype, yang membuat image pemimpin perempuan lebih tidak capable dibandingkan laki-laki-laki. Seperti, moody, terlalu perasa, atau langsung underestimate saat perempuan berkiprah di bidang-bidang yang tergolong maskulin. Setiap individu selalu multirules dalam kehidupan. Demikian halnya perempuan sebagai anak plus istri plus ibu plus pekerja plus pelajar plus anggota masyarakat. Setiap peran ada tugas dan kewajiban. Selain itu ada ekspektasi peran juga. Seorang istri haruslah memahami suami. Seorang ibu harus merawat anaknya. Seorang anggota masyarakat contohnya banjar harus menyama braya. “Ekspektasi bisa terpenuhi jika individu mampu dan mau. Mampu berbicara soal keahlian, pengetahuan, dan kesediaan untuk membagi waktu. Mau berbicara soal motivasi untuk menjalani peran. Kemampuan dan kemauan, keduanya harus ada,” ujar Kabid Keilmuan, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Diah menyebut banyak contoh perempuan yang menjalani beragam peran di saat yang bersamaan dan berhasil di setiap sisi kehidupannya. Pekerjaan lancar tugas-tugas domestik juga lancar. “Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa bimbingan saya menemukan bahwa ibu-ibu pekerja memiliki psychological well being yang lebih tinggi dibandingkan ibu rumah tangga,” ujarnya. –Inten Indrawati

Made Diah Lestari, S.Psi., M.Psi., Psi


18

Kreasi

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Life

Story

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Jadi Ibu Sekaligus Ayah

Di media sosialnya, Husnanidiaty Nurdin yang akrab disapa Eni, sempat memposting foto ayah dan ibundanya yang masih mesra, saling mencintai di usia mereka yang telah sepuh. Ayahnya seorang jaksa bernama Nurdin Amin dan ibundanya Nurhayati AR adalah seorang bidan.

K

Matah Gede

Ni Calonarang

Calonarang merupakan seni pertunjukan Bali yang hingga kini dipandang angker masyarakatnya. Salah satu karakter atau tokoh terpenting dalam drama tari yang tak sem­barang waktu dipentaskan ini adalah Matah Gede. Tokoh ini adalah sebutan untuk si janda sihir dari Dirah, Ni Calonarang, sebagai manusia biasa sebelum berubah menjadi ratu leak dalam wujud yang dahsyat menyeramkan, Rangda. Uniknya, pada teater ­tradisional Bali, penokohan Matah Gede hanya terlihat dalam seni pentas calonarang. Tokoh ini memiliki karakter yang khas dan sekaligus menjadi identitas seni per­tunjukan calonarang, salah satu seni pentas Bali yang diduga sudah dikenal tahun 1825, era ­kejayaan kerajaan Klungkung.

D

alam drama tari Calonarang, Matah Gede hadir dengan jati diri perwatakan, tata busana, dan tata rias wajahnya. Pemberang adalah watak menonjol dari tokoh yang tak pernah lepas dari tongkatnya ini. Jika sedang naik pitam, sorot matanya yang menusuk tajam dilukiskan pantang dilawan jika tak ingin hangus terbakar. Memakai kain rembang dan kerudung putih serta tata polesan muka beraksen gurat-gurat keriput, penampilan tokoh ini menjadi lain dari yang lain, membangun struktur dramatik dan menghadirkan kekentalan tema utama teater ini yaitu se­bagai drama of magic. Keangkeran Matah Gede juga dibangun oleh dominasi tata ucapannya dalam bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno. Teater calonarang dengan tokoh Matah Gede sebagai ratu tenung ba­ nyak menarik minat para peneliti dan penulis. The drama of magic adalah sebutan yang diberikan oleh Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya Dance and Drama in Bali (1973).

Hooykaas dan Meulenhoff dalam bukunya Tjalon Arang Volksverhalen en Legen­den uit Bali (1979) menekankan telaahnya pada sastra calonarang sebagai sumber lakon seni pertunjuk­ an calonarang. I Made Bandem dan Frederik Eugene deBoer dalam Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition (1981) mengkaji juga drama tari calonarang sebagai magic dance of the street and graveyard. Begitu juga Miguel Cavarrubias dalam Island of Bali (1979) juga tak lupa membahas seni pentas Calonarang. Seni pentas calonarang yang hingga kini tak pernah kehilangan gereget itu berangkat dari sumber sastra yang diperkirakan muncul pada zaman pemerintahan raja Airlangga di Jawa Timur. Kiranya De Calon-arang (1926), adalah teks sastra calonarang terpen­t ing yang ditranskripsikan dalam bahasa Jawa Tengahan oleh Poerbacaraka dan telah diterjemahkan oleh Dr. Soewito Santoso dengan judul Calon arang Si Janda dari Girah (1975). Selain dari sumber sastra yang berbentuk prosa itu, Gaguritan Calonarang dalam tarikan puisi pun

menjadi acuan signifikan yang mengilhami dan menggiring para seniman seni pertunjukan calonarang. Hampir dalam semua sumber, baik yang tertulis maupun lisan, Ni Calonarang digambarkan sebagai seorang wani­ta penga­nut teluh yang jahat. Dikisahkan ia tersinggung berat hanya karana anak gadis satusatuanya, Ratnamangali, yang sudah dewasa belum ada yang melamar. Karena itu, para laki-laki perjaka dilabrak-labrak dan dimusuhinya. Dalam lakon yang berjudul Katun­ dung Ratnamangali, Ni Calonarang meradang kare­n a pelecehan dan penghinaan menantunya, Raja Airlangga. Ia marah bukan kepalang ketika putrinya diusir secara paksa oleh penguasa Kediri itu dengan tuduhan menebar petaka santet. Padahal Ni Calonarang sendiri sama sekali tak mengajarkan ilmu sesat tersebut pada anak semata wayangnya tersebut. Kare­na merasa harga dirinya diinjak-injak, dengan jantan ia menantang penguasa Airlangga. Lazimnya, tokoh Matah Gede atau Calonarang dimainkan oleh

penari pria yang sudah berumur. Soal umur mungkin untuk memudahkan memasuki karakter tokoh janda Dirah itu yang diinterpretasikan sebagai seorang nenek-nenek yang telah memiliki anak gadis perawan tua. Sedangkan mengenai kebiasaan pemeranan tokoh sihir ini dibawakan oleh aktor pria sudah demikian adanya sejak dulu. Ada dugaan, tranvesti memeran­kan karakter berlawanan jenis kelamin karena Ni Calona­rang adalah tokoh wanita yang berkarak­ter keras yang mungkin lebih pas dibawakan penari pria. Di beberapa kantong seni pertunjuk­an calonarang di Bali, selain harus pria juga ada syarat tambahan yaitu pemainnya seorang balian atau setidaknya orang yang paham dunia supranatural. Para penari terdahulu yang dikenang oleh masyarakat Bali sangat piawai memerankan tokoh Mata Gede diantaranya adalah I Rinda (Blahbatuh) dan I Kengguh (Singapadu), keduanya dari Kabupten Gianyar, serta I Monog dari Kedaton, Denpasar. Rinda yang banyak menekuni bidang sastra Bali memukau dengan kedalaman dan kepasihan bahasa Kawi-nya. Kengguh mempesona penonton dengan keindahan tata tari­

nya, dan Monog menggugah lewat gemuruh suaranya yang menggetarkan. Bahasa Kawi, keteram­p ilan estetik tari, dan warna vokal kiranya harus mutlak dimiliki oleh para seniman yang akan mem­bawakan Si Calonarang ini. Interpretasi penokohan Ni Calo­ narang dalam teater calonarang sangat senjang dalam penapsirannya pada film Indonesia yang mengangkat lakon bersumber dari calonarang. Dalam sinemategrafi buatan tahun 1985 itu, Si janda tenung Caonarang dimainkan oleh pemeran wanita. Penapsiran usia si Calonarang pun tidak renta seperti yang gambarkan pada umumnya oleh para pemeran Matah Gede dalam seni pertunjukan calonarang. Di film yang bertajuk “Ratu Sakti Calon Arang”, Si Janda dari Dirah digambarkan sebagai wanita sintal menggairahkan. Artis Suzanna (almarhum) yang memainkan Ni Calonarang memberi penafsiran yang gamang, dihadirkan sebagai wanita sakti yang berprilaku ketus namun kegenitgenitan. -Kadek Suartaya

isah-kasih orangtuanya itu membuat Eni merasa bahagia, bangga sekaligus terharu melihatnya. Kasih sayang seperti itu yang tidak bisa lagi ia rasakan, apalagi hingga usia tua seperti orangtuanya. Tiada habis ia bersyukur melihat orangtuanya diberi kesempatan untuk saling menyayangi hingga sepuh. Tentu saja Eni pantas terharu, karena ia diberi ujian oleh Allah untuk tidak bisa menyayangi suaminya dalam hidup bersama hingga sepuh seperti orangtuanya. Ia telah ditinggal saat usianya masih relatif muda. Usia Husnanidiaty Nurdin baru 39 tahun kala suaminya, Agus Pamudji Hendrarahardja, kembali ke pangkuan Allah SWT di tahun 2001 lalu. Usia yang terbilang masih muda untuk menjadi seorang single parent bagi kedua anak perempuannya, Evanur Hendrasari yang saat itu berusia 12 tahun dan Nursadrina Hendra Karamina yang masih berusia 7 tahun. Sebelum dapat berpikir tentang masa depan kedua putrinya itu tanpa seorang ayah, Eni, panggilan akrabnya, harus berhadapan dengan kondisi psikologi yang luar biasa berat akibat kesedihan dan rasa terpukul atas kepergian, lelaki yang sangat dicintainya tersebut. Banyak pertanyaan di kepalanya muncul atas cobaan yang diberikan padanya itu. Belum lagi ia sempat khawatir yang berlebihan yang berubah menjadi sebuah “ketakutan” dengan status janda dalam kehidupan selanjutnya. Hal ini membuatnya sempat menutup diri cukup lama. “Saya tidak berani keluar rumah dan tidak berani pula bertemu dengan orang. Saya takut akan pandangan orang terhadap saya yang tidak memiliki suami. Pikiran saya terkadang jadi kacau,” ungkapnya. Memang pada akhirnya ia menyadari bahwa ketakutan itu berlebihan namun begitulah adanya situasi yang pernah dihadapinya. Mengimbangi rasa sedih, Eni beruntung masih memiliki iman. Pelariannya melepas pedih perih itu hanya kepada Allah, Tuhan

yang menguatkan dirinya untuk bangkit dari rasa terpuruk yang yang sempat meremukan hidupnya. Menatap mata dua buah hatinya, membuat ia membalik hatinya untuk segera bangkit. “Mau diapakan anak-anak saya, anak perempuan lagi, jika saya terus sedih dan terpuruk?” Pertanyaan ini terus mengalir dalam kepalanya. Hingga akhirnya ia belajar untuk tegar. Sedikit demi sedikit sampai ia benar-benar tegar. Eni melihat ini sebagai sebuah kenyataan yang harus diterimanya dan untuk itu ia mempersiapkan diri agar bisa melangkah tegak menyongsong hidup dengan selalu bersyukur, sembari berikhtiar dan bersabar. “Yakin Allah bersama kita, asal ikhlas menerima cobaan-Nya,” katanya Eni yang kemudian mampu kembali berdiri tegak dari kejatuhan yang dalam. Namun proses ini tidak sebentar melainkan cukup lama harus ia hadapi. Eni lalu memulai menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi kedua putrinya. Yang utama ia ajarkan pada putri-putrinya itu adalah soal agama, sebagai pegangan utama. Ia mengajarkan anakanaknya untuk bersama-sama membaca Al Quran tiap kali usai salat khusunya Magrib dan Isya. Sejak tiada ayah dalam rumahnya, Eni dan kedua anaknya kehilangan imam. Maka ia berpikir bahwa mereka tidak boleh tidak memiliki imam dalam keterbatasan seperti itu. Mestinya ia bisa menjadi imam bagi kedua putrinya. Ia ingin sekaligus mengajarkan putri-putrinya agar bisa menjadi imam jika menghadapi situasi seperti ini. Ia ajarkan anakanaknya untuk menjadi imam dalam keluarga

mereka yang sama-sama perempuan ini. “Seiring mereka tumbuh besar, secara bergantian saya dan anak-anak menjadi imam saat kami salat berjamaah,” ujar Eni. Selain agama, prioritas berikutnya bagi kedua anaknya adalah soal pendidikan. Karena baginya, pendidikan diperlukan untuk menghadapi hidup yang penuh tantangaan ke depan. “Maka modal ilmu pengetahuan itu menjadi suatu keharusan termasuk pendidikan budi pekerti,” ungkap Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan & Kelautan, Kehutanan NTB ini. PELIHARA 40 AYAM Atas cobaan yang diberikan Allah kepadanya dirinya, Eni memaknainya sebagai sebuah “keberuntungan”. Karena dari sana ia

banyak belajar untuk hidup lebih mandiri lagi yang secara tidak disadari menjadikan ia sosok yang gigih. Dari sana pulalah tampaknya karakter kepemimpinannya dalam tugas dinasnya teruji. Ia menjadi salah seorang perempuan yang beberapa kali diberikan kepercayaan untuk memimpin institusi di Nusa Tenggara Barat. Dua yang terakhir adalah sebagai Kepala Badan Ketahanan Pangan NTB dan Kepala Bakorluh NTB. Eni membuktikan dirinya, bahwa sebagai single parent ia juga mampu menjalani kariernya dengan baik. Banyak hal yang juga ia ajarkan pada anak-anaknya, yang ia mulai dari rumahnya di Gunung Sari. Di pekarangan rumahnya yang relatif luas itu, nyaris tak ada lahan yang sia-sia. Eni memanfaatkan dengan maksimal lahan yang ada. Ia menanam berbagai jenis bunga, sayursayuran, cabe, buah-buahan berbagai jenis dari rambutan hingga durian bahkan pohon kelapa ada. Ia juga memelihara ikan di sebuah kolam bahkan ia memelihara

7

lebah madu. “Pokoknya lengkap,” ujarnya tertawa. Siapa sangka, tiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia harus memberi makan 40 ekor ayam peliharaannya. Demikian juga dengan angsa dan ikan-ikan, yang selalu mendapatkan makanan dari tangannya saat ia ada di rumah (tidak sedang tugas ke luar kota). “Kegiatan seperti ini merupakan kenikmatan yang tidak bisa dibayar dengan apapun,” katanya. Tampaknya energi positif yang disalurkannya dengan cara berkebun dan beternak seperti inilah yang membuat selalu bangun pagi dengan rasa percaya diri dan mantap untuk melangkah setiap hari. 14 tahun berlalu sejak kepergian suaminya, Eni kembali menemukan dirinya yang menyadari sepenuhnya bahwa Allah tidak akan memberi manusia cobaan maupun ujian di luar dari kemampuan orang yang dipilih-Nya. Eni menjalani hari-harinya dengan kenyataan ada hari ini dengan cinta dan rindu pada almarhum suaminya yang selalu ia pelihara dalam hatinya. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Mengajarkan Bahasa ke Anak

Ibarat Menuang Air ke Gelas

Bahasa menunjukkan budaya. Konsep ini sering digunakan untuk memahami budaya masyarakat. Karena itu, pengenalan bahasa sejak kecil menjadi salah satu media untuk pengenalan budaya.

A

danya temuan bahasa kasar dan vulgar di buku pelajaran bahasa Bali sempat mencuat pertengahan Agustus 2015. Hal ini mengundang keprihatinan karena penggunaan bahasa kasar itu dituangkan dalam buku. Muncul kekhawatiran, jika bahasa kasar ini dibukukan, akan terus diingat anak-anak. Di sisi lain, pembelajaran bahasa Bali sudah masuk dalam kurikulum SD. Kelas 1 pun sudah diperkenalkan dengan bahasa Bali. “Anak saya sudah dikenalkan tentang anggota tubuh. Begitu menyebut payudara dalam bahasa Bali, anak saya dan teman-temannya langsung tertawa. Sampai di rumah pun terus dia ucapkan. Sepupunya yang masih TK juga dia beritahu,” ungkap Bu Yati, seorang ibu dari Denpasar. Pengalaman Bu Yati mungkin dialami orangtua lainnya yang memiliki anak kecil. Anak kecil sangat mudah sekali menyerap bahasa. Apa yang mereka dengar, diingat, kemudian diucapkan lagi. Mereka belum bisa memilah mana bahasa yang baik dan mana yang masuk kategori vulgar. Menurut I Made Widiantara, S.Psi. M.Si, salah satu landasan perkembangan bahasa untuk membentuk seorang anak menjadi seorang manusia linguistik adalah faktor biologis. “Tiap anak yang terlahir di dunia ini mempunyai Language Acquisition Device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Pada tahuntahun awal masa perkembangan anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa. Faktor kognitif anak merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ilmuwan kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya,” ujar pengurus seksi Pengabdian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Naluri alamiah juga yang membuat manusia cenderung untuk lebih mudah mengingat yang negatif dibanding dengan yang positif. Ia mencontohkan jika ada orang baru masuk ke daerah baru, bahasalah yang dipelajari pertama. Namun, setelah sekian lama, mereka akan mengaku kalau bahasa

yang diajarkan pertama adalah bahasa gaul yang cenderung vulgar. Ia pun pernah mengalami hal seperti itu. Mengenai masuknya bahasa kasar dan vulgar dalam buku pelajaran, dosen Politeknik Negeri Bali dan Universitas Dwijendra Denpasar ini sangat menyayangkan. “Bahasa itu ada yang tertulis dan tidak tertulis. Kalau tertulis, bisa positif, bisa negatif. Kecenderungan, bahasa tertulis yang negatif lebih lama diingat. Anak-anak memiliki fase peniruan. Apa yang dilihat dan dibaca itu ditiru. Mereka belum bisa melakukan pemilahan,” paparnya. Widi mengutip Sigmund Freud, tentang 3 struktur kepribadian yaitu id, ego, dan super ego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada usia 7 tahun. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini. Ego bertujuan untuk menemukan cara yang realistis dalam rangka memuaskan id. Fungsi ego ini juga berguna untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh id berdasarkan kenyataan yang ada. Super ego yang mengatur dan mengarahkan tingkah laku (ego) manusia yang bermaksud untuk memuaskan dorongan-dorongan id, yaitu melalui aturan-aturan dalam masyarakat, agama, atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. JANGAN CAMPUR ADUK BAHASA Dalam hal ini peran orangtua sangat penting untuk lebih memperhatikan penggunaan bahasa di rumah dan di lungkungan. Bagus bahasa yang didengar, bagus juga perkembangan bahasa anak. Sebaliknya buruk bahasa yang didengar, buruk juga perkembangan bahasa anak. ”Jika anak meniru bahasa yang kasar atau vulgar, kemudian ia ditertawakan, sia anak bisa merasa bahasa yang ia ucapkan itu menarik perhatian orang. Padahal sejatinya bahsa itu tidal layak ia ucapkan,” ujar Widi. Penggunaan bahasa kasar seharusnya tidak sampai dimuat dalam buku. Bahasa kasar cenderung digunakan sebagai bahasa pergaulan untuk teman-teman

sebaya. Penggunaannya pun tidak sembarangan. Jangan sampai salah menggunakan bahasa ini akan menimbulkan konflik. Mengenai bahasa vulgar, Widi mengingatkan guru atau orangtua harus memberi pemahaman tentang apa yang diajarkan. Kalau di sekolah diberikan pelajaran bahasa tentang anggota tubuh, itu harus dibarengi dengan penjelasan bahwa yang disampaikan itu berada dalam lingkungan akademik. Jangan sampai bahasa yang dipelajari itu kemudian dijadikan bahan guyonan atau candaan. Anak-anak harus diingatkan bahwa bahasa vulgar itu hanya untuk diketahui dan tidak diumbar. Sama halnya dengan menjaga bagian vital tubuh yang harus dilindungi dan tidak dibiarkan terbuka atau menarik perhatian orang lain. Memberikan pemahaman bahasa yang baik dan benar ke-

pada anak ibarat memberikan air ke dalam gelas transparan. Kalau air yang jernih diberikan maka air jernih yang dilihat. Kalau bermacam-macam yang diberikan, yang terlihat juga akan bermacam-macam. Pada usia 2-4 tahun, bahasa ibu atau bahasa yang digunakan sehari-hari yang lebih diprioritaskan. Usia 6 tahun ke atas sudah boleh diperkenalkan dengan bahasa tambahan yang bisa menjadi bekal si anak. Jangan melakukan campur adik bahasa yang membuat anak sulit dalam berkomunikasi Ke depannya, Widi berharap

pemerintah melalui Dinas Pendidikan lebih memperketat pengawasan materi buku pelajaran. Jangan sampai ada kata-kata yang kasar dan vulgar yang masuk dalam buku pelajaran. Bahasa yang digunakan haruslah bahasa santun. Untuk menunjang hal tersebut, melibatan pihak lain untuk diajak diskusi dan melakukan verifikasi bisa dilakukan. Bagi orangtua, harus melakukan pendekatan humanis kepada anak karena anak merupakan karakter yang unik dan berbeda satu sama lain. Orangtua harus menjadi sahabat anak dan lebih banyak menanamkan hal-hal positif.

Disperindag Kota Denpasar

Gelar Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi. Karenanya pengembangan UKM mendapatkan perhatian yang besar dari Pemerintah Kota Denpasar. Demi kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar melaksanakan pelatihan “Membangun Jejaring dengan Eksportir” di Ruang Pertemuan Disperindag Kota Denpasar, di Lantai III, Gedung Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Jumat (21/8).

–Ngurah Budi

Sitiuasi Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

P

ada program pelatihan yang dihadiri oleh kalangan pengrajin/pengusaha ekspor dan unggulan ekspor di Kota Denpasar tersebut, menghadirkan pembicara Luh Kadek Budi Martini, S.E., M.M., yang memaparkan materi dengan tema “Peningkatan Inovasi Komoditi Unggulan dalam Rangka Meng-

gapai Peluang Ekspor”. Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar IA Dewi Citrawati didampingi Kasi Ekspor Impor A.Ag. Kartika Dewi, mengatakan pelatihan kali ini bertujuan memberikan wawasan kepada pengrajin unggulan ekspor dan pengusaha ekspor mengenai strategi mengembangkan dan mengelola produk-produk ung-

Berbicara perihal UMKM dan ASEAN Economic Community (AEC)/ Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), narasumber Budi Martini mengatakan kerjasama ekonomi ASEAN mengarah kepada pembentukan komunitas ekonomi ASEAN sebagai suatu integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil. MEA yang akan diberlakukan pada Desember 2015 ini, bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pengembangan budaya. Dikatakannya ada 4 pilar AEC, yakni terbentuknya pasar dan basis produksi tunggal, kawasan berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata dan integrasi dengan perekonomian dunia. Ia juga menyebutkan target pengembangan UMKM tahun 2015 , bahwa produtivitas dan daya saing UMKM harus terus meningkat. Dengan perkem-

bangan ekspor UMKM tumbuh hingga 20% per-tahunnya. Bertumbuhnya wirausaha baru yang inovatif serta meningkatkankan akses kredit perbankan bagi UMKM khususnya KUR sebesar Rp 100 triliun. Mengenai tantangan bagi UMKM dalam MEA 2015, katanya sangat banyak. Ia melihat persaingan makin tajam, walau sumber daya kita banyak tapi untuk memperoleh sumber daya tersebut diperlukan strategi khusus bagi para UMKM. UMKM juga harus menjaga dan meningkatkan daya saing sebagai industri kreatif dan inovatif. Selain itu UMKM juga harus meningkatkan standar, desain dan kualitas produk agar sesuai dengan ketentuan ASEAN, misalnya para UKM bisa melihat pada ketentuan ISO 26000. Tantangan penting lainnya, disebut Budi Martini meningkatkan UKM agar mampu memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang ada termasuk dalam kerangka

Dayu Citrawati

Agung Dewi

Wayan Gatra

gulan ekspor yang akan dihasilkan maupun yang sudah dihasilkan agar lebih memiliki nilai. Selain itu juga lebih bisa mandiri dalam memasuki persaingan pasar bebas dunia. Menurut Kepala Disperindag Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., Pemerintah Kota Denpasar terus meningkatkan perannya dalam memberdayakan UMKM disamping meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Pengembangan UMKM kedepan, perlu menggabungkan keunggulan lokal (lingkungan internal) dan peluang pasar global. Mengingat Kota Denpasar merupakan pusat perdagangan Provinsi Bali dengan fasilitas pendukungnya sangat memadai dalam menunjang aktivitas per-

dagangan tersebut. Dikatakannya, nilai komoditi unggulan di Kota Denpasar dalam 4 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 capaian ekspor kota Denpasar sebesar US $ 396.618.979, dengan komoditi penyumbang terbesar : hasil kerajinan 43, 79 %, industri 28, 44 %, pertanian 27, 29 %hasil perkebunan 0, 22 % dan lain-lain 0, 26 %. Untuk dapat meningkatkan daya saing dan pengembangan akses pasar global, katanya harus menggalakkan produk-produk ekspor potensial tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mempertahankan kualitas, harga dan desain. Demi mempertahankan pasar yang ada dan menggapai pasar yang baru, harus terus didukung oleh semua pihak

terutama dalam pengembangan produk dan pemasaran. Berbagai cara berpromosi bisa dilakukan, baik promosi melalui pameran langsung, media cetak maupun elektronik. Melalui promosi ini peluang yang dapat diraih adalah terbangunnya jejaring kerjasama usaha dalam mengembangkan potensi dan peluang komoditi produk unggulan untuk dikenal baik di pasar lokal maupun global/ internasional. Tentu di sini SDM memiliki peranan yang penting, sebab metode,sistem, produk dan proses dikembangkan dan diperbaharui. Sehingga nantinya mampu meningkatkan permintaan, pendapatan dan percepatan lainnya sehingga keunggulan merupakan nilai tambah tersendiri. –ard

Creative, Inovative dan Unique (CIU) Widiantara

Mendongeng Lima Menit

KERBAU PENARIK BAJAK

Malang benar nasib seorang petani bernama Gilang. Di desa itu, dialah petani yang paling miskin. Ia pekerja keras, menyangkul, mengairi sawah dan menanam benih padi, namun panen padinya gagal. Kalau saja panennya berhasil, ia bisa makan Made Taro sekali sehari; tetapi kalau gagal, terpaksalah ia makan lima hari sekali, bahkan enam hari sekali. “Mengapa nasibku tetap begini?” keluhnya pada suatu hari. “Petani tetanggaku bisa makan sekali sehari, bahkan di musim panen tiga kali sehari. Bukankah aku sudah membanting tulang mengolah tanah agar hasil panen berlipat ganda?” Setelah mengeluh, ia tidak lupa berdoa, mohon belas kasihan para dewa. Rupa-rupanya gerak-gerik dan doa petani yang rajin itu menarik perhatian Dewa Kesejahteraan yang bersemayam di atas langit. Sejak lama beliau ingin menolong petani itu, namun curiga, jangan-jangan petani itu menjadi sombong dan manja. Sang Dewa ingin agar petani itu menyadari bahwa hidup sejahtera hanya diperoleh dengan bekerja keras. Pada suatu hari Dewa Kesejahteraan memanggil seekor kerbau yang sudah biasa menjadi utusan ke bumi.

“Kerbau!” katanya. “Pergilah ke bumi! Sampaikan pesanku kepada seorang petani bernama Gilang!” “Pesan apa itu, Tuanku?” tanya Kerbau. “Katakan kepadanya, kalau kamu bekerja lebih keras, maka kamu akan kuberi makan tiga hari sekali.” Kerbau itu secepatnya turun ke bumi menemui Gilang. “Gilang! Ada pesan dari Dewa Kesejahteraan.” “Pesan apa itu?” “Kalau kamu bekerja lebih keras, maka kamu akan diberi makan tiga kali sehari.” Petani itu sangat gembira. Ia pun bekerja lebih keras. Timbul akalnya, tidak lagi mengolah tanah dengan cangkul, tetapi dengan bajak. Bajak itu ia tarik sendiri dari pagi sampai sore sehingga tanah sawah benar-benar gembur. Setelah kerbau melihat petani itu bekerja keras, lalu utusan dewa itu kembali ke atas langit. “Tuanku!” katanya di depan Dewa Kesejahteraan. “Petani itu sekarang sudah bekerja keras. Ia menggarap tanahnya dengan bajak yang ditariknya sendiri.” “Bagus! Apakah pesan lainnya sudah kau sampaikan?” “Sudah, Tuanku! Ia kuberitahu, bahwa ia akan makan tiga kali sehari.” “Apa katamu? Tiga kali sehari?” Dewa itu marah. Beliau memegang tanduk kerbau bodoh itu, lalu memelintir kupingnya. “Pesanku adalah tiga hari sekali, bukan tiga kali sehari. Sekarang kembalilah ke bumi! Kamu harus membantu petani itu menarik bajak sehingga ia bisa makan tiga kali sehari.”

17

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Sebagian peserta Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

kerjasama ASEAN. Dipaparkan pula perihal tantangan mengenai pemasaran dan jaringan usaha produk UMKM. Para pelaku UMKM di sini memiliki persepsi terhadap peluang MEA terbatas dan memandang besarnya pasar domestik yang mendorong pelaku usaha memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar tersebut. Begitu juga dengan kapasitas daya saing pelaku dan tenaga kerjanya. Harapannya adalah agar UMKM mampu memanfaatkan fasilitas sumber daya yang ada M e n g e n a i p r o d u k ya n g patut mendaptkan perhatian di antaranya ; Kualitas dan standardisasi; Isu global (green product); Kreativitas dan inovasi (nilai budaya, hand made, sentuhan teknologi); Characteristic global/ sesuai selera pasar S e m u a nya m e m e r l u k a n ketersediaan dan kualitas infrastruktur/sarana serta prasarana pemasaran yang lebih baik disertai harmonisasi kebijakan/regulasi yang mendukung pelaku usaha dalam peningkatan daya saing dan pengembangan usahanya. MEA, katanya harus disikapi dengan semangat sebab negara kita Indonesia memiliki keunggulan, seperti adanya 19 produk unggulan dan potensial ekspor ke ASEAN. Penerapan MEA semestinya tidak terlalu dikhawatirkan. Ke-19 produk unggulan tersebut, terdiri atas sembilan yang unggul, dan 10 produk

Budi Martini (berdiri) narasumber Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

potensial. Sembilan produk unggulan ekspor itu adalah tekstil dan produk tekstil, elektronik, karet, produk hutan, alas kaki, otomotif, udang, coklat/kakao dan kopi. Sedangkan 10 produk potensial ekspor ke ASEAN tersebut meliputi kulit dan produk kulit, peralatan dan instrumen medis, rempah-rempah, makanan olahan, essential oil, ikan dan produk ikan, produk kerajinan, perhiasan, bambu dan peralatan tulis selain kertas. Menyadarai keberadaan UMKM di Indonesia sangat signifikan pengaruhnya bagi pembangunan nasional senantiasa harus selalu dikembangkan dalam rangka menghadapi tantangan produk dan jasa yang dihasilkan dari negara lainnya, apalagi dengan akan diberlakukannya MEA akhir tahun

ini, sehingga perlu diciptakan berbagai strategi, salah satunya adalah mengembangkan produk “CIU” yakni produk yang Creative, Inovative dan Unique.

Creative, adalah menciptakan atau menghasilkan produk yang baru dan asli, yang sebelumnya belum dikenal ataupun memecahkan masalah baru yang dihadapi ataupun gabungan yang sudah ada dipadukan dengan sesuatu yang baru. Inovative , yakni kemampuan untuk menerapkan kreativitas d a l a m ra n gka m e n e m u ka n peluang. Serta, produk yang dihasilkan UMKM harus unique, khususnya dalam atribut yang melekat pada produk atau jasa tersebut berbeda dengan produk yang lain, spesial bahkan mungkin tidak ditemui di tempat lain. - ard


16

Edukasi

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Studi Banding STAIN Kudus ke IKIP PGRI Bali Selasa (18/8), Gedung Serbaguna IKIP PGRI Bali dipadati tak kurang dari 800 mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Jawa Tengah. Kunjungan mereka ke IKIP PGRI Bali ini bertajuk “Seminar Pendidikan dan Studi Banding Mahasiswa Tarbiyah STAIN Kudus”.

R

ektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. menyampaikan terimakasih dan merasa tersanjung karena menjadi pilihan dijadikan teman sharing dan tukar pendapat untuk saling mengisi Pada kesempatan itu, Made Suarta memperkenalkan para pejabat di lingkup IKIP PGRI Bali, sejarah singkat IKIP PGRI Bali dengan 5 Fakultas dan 9 Prodinya yang semua sudah terakreditasi, hingga prestasi-prestasi yang sudah diraih IKIP PGRI Bali. “Atas perjuangan dan kerjasama civitas akademika IKIP PGRI Bali, kini semua Prodi terakreditasi B. Ini juga menjadi kebanggan bagi kami,” ujarnya. Terkait prestasi, Made Suarta menyebut salah seorang mahasiswi berprestasi atas nama Asteria Yuniarti yang dalam acara hari itu sekaligus bertindak sebagai MC, berhasil menggondol Piala Ibu Negara sebagai Juara I GenRe tingkat Nasional tahun 2012. Prestasi di bidang olahraga, disampaikan Made Suarta juga tak kalah membanggakan. Karena atlet IKIP PGRI Bali tak hanya berhasil mengukir prestasi di tingkat regional, namun juga nasional bahkan sampai internasional. Prestasi teranyar dalam SEA Games 2015,

IKIP PGRI Bali mengirim atlet di 3 cabang olahraga atas nama Bangsa Indonesia, ketiganya meraih medali emas. “Cabang tinju atas nama Cornelis Kwangu Langu, cabang Silat beregu putri, dan Maria Natalia Londa meraih 2 emas di SEA games 2015, serta 1 emas di Asian Games 2014. Prestasi inilah yang membuat IKIP PGRI Bali makin dikenal di masyarakat luas, dan jurusan olahraga ini menjadi primadona karena respons masyakat cukup tinggi,” paparnya. Made Suarta melanjutkan, di bidang seni pun IKIP PGRI Bali cukup eksis, yakni dengan tampil di PKB secara reguler, di samping juga tampil mengisi acara terait adat, agama maupun hiburan, dari kampung ke kampung, hingga tempat suci. “Grup kesenian Arja ini gabungan dari beberapa Prodi, bahkan saya ada di dalamnya. Kami seringkali ngayah (tampil tanpa menerima honor) sambil menyosialisasikan keberadaan IKIP PGRI Bali di masyarakat. Mengundang datang melalui pementasan,” jelas Made Suarta sembari mengimbuhkan di IKIP PGRI Bali selalu terjaga kerukunan antarumat. Pada kesempatan tersebut, rombongan STAIN Kudus yang dipimpin Waka I Kurikulum, Dr. Syaekan Muchit., M.Pd. mengu-

Penandatanganan MoU antara STAIN Kudus yang diwakili Dr. Syaekan Muchit., M.Pd. (dua dari kanan) dengan IKIP PGRI Bali (Rektor Made Suarta), disaksikan Ketua Yayasan Artanegara, PR I IKIP PGRI Bali Pande Bawa, para pejabat di lingkup IKIP PGRI Bali dan peserta studi banding STAIN Kudus

capkan terimakasih karena diberi kesempatan untuk bisa menambah ilmu pengetahuan, dan bisa saling berbagi pengalaman antara STAIN Kudus dan IKIP PGRI Bali. Ia menyampaikan 3 alasan memilih IKIP PGRI Bali sebagai tempat PKL. Pertama, dari aspek kompetensi Prodi, yakni Prodi Pendidikan. “Kami mencari informasi universitas yang berbasis pendidikan, dan ketemulah IKIP PGRI Bali yang terakreditasi B dengan segugang prestasi hingga tingkat internasional. Artinya pilihan kami tepat dan tidak salah,” ujar Syaekan Muchit. Kedua, pilihan PKL di Bali mulai 17-21 Agustus ini pun bukan

tanpa alasan. Ia menyebut dari aspek budaya, Kota Kudus dan Bali punya sejarah yang cukup menarik, ada kesamaan. Di kudus ada namanya Menara Kudus yang dibuat oleh Sunan Kudus, salah satu Wali Songo. Dalam sejarah, Sunan Kudus sangat menganjurkan toleransi kepada agama Hindu, karena sebelum Islam datang, di Kudus banyak pemeluk agama Hindu. “Bahkan disana masih berlaku sampai sekarang dan dan diakui orang Kudus, bahwa ada kebiasaan orang Kudus tidak tdk berani menyembelih sapi. Alasannya, ini ajarannya Kanjeng Sunan Kudus yang mengatakan ini bagian dari toleransi dengan agama Hindu

Menikmati “Air Terjun Janda”

Kalau pergi ke Malang sempatkan mampir ke air terjun Coban Rondo. Berbeda dengan kebanyak­ an air terjun yang relatif sulit dijangkau, Coban Rondo relatif mudah dicapai, baik menggunakan kendaraan bermotor pribadi, maupun naik angkutan umum.

oleh Bu Ijah, penjual gorengan tak jauh dari lokasi adalah, pantang bagi pasangan suami istri mendatangi Coban Rondo sebelum usia pernikahannya melewati selapan. “Nek nekat yo iso dadi rondo,” ujar Ijah. Artinya, “Ya, kalau nekad bisa menjadi janda (juga)”.

C

oban (air terjun) Rondo (janda), diartikan sebagai “air terjun janda”. Ada juga yang mengartikan Coban (cobaan) Rondo (janda) alis “cobaan janda”. Lokasinya terletak sekitar 12 km dari Kota Batu, tepatnya di Desa Pandansari, Kecamatan Pujon. Sesungguhnya, selain Coban Rondo, masih ada sejumlah air terjun lagi, tak jauh dari situ. Di antaranya air terjun Coban Pelangi, Coban Manten, dan Coban Dudo. Coban Rondo adalah air terjun berketinggian 60 meter yang tak lepas dari mitos tragis Dewi Anjarwati. Kisahnya, tertulis dalam sebuah papan besar, yang bisa dibaca oleh pengunjung sekitar 30 meter sebelum kita bisa menikmati air terjun. Dalam ‘prasasti’ itu digambarkan, sepasang muda-mudi yang baru saja menikah. Mereka adalah Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi, dan Raden Baron Kusuma yang berasal dari Gunung Anjasmoro. Pernikahan yang dilandasi cinta dan restu, dilukiskan sebagai pernikahan yang bahagia. Suatu hari Dewi Anjarwati berkeinginan menjenguk mertua (orangtua Raden Baron Kusumo) di Gunung Anjasmoro. Akan tetapi, banyak pihak mencegah. Alasannya, pernikahan mereka belum berumur selapan (36 hari). Mitologi Jawa mempercayai, pasangan pengantin tidak boleh melakukan perjalanan jauh sebelum lewat selapan. Jika melanggar wewaler (adat-kebiasaan) itu, diyakini akan

saat itu. Sehingga kami menganggap bahwa Kudus dan Bali sangat dekat, ada hubungan sejarah yang cukup baik,” paparnya. Ketiga, dari aspek agama. Syaekan Muchit mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mewajibkan/diperintahkan oleh Allah harus bisa menciptakan kedamaian di dunia, ketenangan, ketentraman dengan siapa pun, termasuk juga dengan agama Hindu. Bahwa, Islam tak boleh apriori, tidak boleh bermusuhan dengan siapa pun, agama apapun, suku apapun, dan warna kulit apapun. “Kunjungan kami ke Bali ini menunjukkan agama Islam itu tidak apriori pada agama apapun. Kami tunjukkan dengan sikap hidup rukun, damai, sejahtera, bahagia saling menghormati, menghargai agama apa pun. Sehingga kami di sana (Kudus) juga tak pernah ada kontra antar-agama. Jadi klop ketemu dengan IKIP PGRI Bali yang juga sangat menjaga kerukunan umatnya,” jelasnya. Kunjungan STAIN Kudus ini pun diharapkan Syaekan Muchit bisa menambah pengalaman dan berbagi pengalaman, sehingga terjalin keakraban antara STAIN Kudus dan IKIP PGRI Bali. Ia pun mengundang IKIP PGRI Bali untuk berkunjung ke kampus STAIN Kudus. Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. mengimbuhkan, IKIP PGRI Bali secara terus menerus meningkatkan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain. “Dengan adanya kunjungan ini, mereka saling kenal dan tahu dunia luar untuk memperluas wawasan, cakrawala berpikir,” ucapnya. –ten

mendatangkan bala atau kesialan. Apa lacur, Dewi Anjarwati dan Raden Baron keukeuh pergi diikuti sejumlah pengikut, dan mengabaikan tradisi serta kepercayaan adat Jawa tersebut. Sedikit pongah, Raden Baron bahkan mengatakan, siap menerima risiko apa pun. Di tengah perjalanan, rombongan bertemu Joko Lelono. Nama “Joko Lelono” dalam banyak hikayat Jawa, sejatinya adalah anonim. Joko berarti lelaki, Lelono artinya pengembara. Jadi, setiap kisah yang menghadirkan sosok laki-laki pengembara dan tidak diketahui dengan pasti identitasnya, disebut “Joko Lelono”.

Joko Lelono kontan jatuh cinta kepada Dewi Anjarwati dan secara terus terang memintanya dari tangan Raden Baron Kusumo. Siapa pula suami yang merelakan istrinya diminta lelaki lain. Timbullah perselisihan yang berujung pada perkelahian sengit antara Raden Baron dan Joko Lelono. Dilukiskan, bahwa kedua ksatria itu sama-sama sakti. Perkelahian yang mengerahkan ilmu kanuragan pun berlangsung sengit dan dalam waktu yang lama. Di tengah perkelahian, Raden Baron Kusumo memberi perintah kepada para pengikutnya untuk membawa sang istri, Dewi Anjarwati ke suatu tempat di dekat “coban” (air terjun).

Perintah dipatuhi, Dewi Anjarwati dibawa ke lokasi yang disebut sang tuan. Cerita rakyat yang belum pernah teruji kebenarannya itu, mengisahkan bagaimana Dewi menanti dan menanti sang suami yang tengah berkelahi. Penantian panjang, namun sang suami tak kunjung datang. Dikisahkan, Dewi Anjarwati menangis di dekat sebuah batu besar, tak jauh dari coban. Ia mulai mengkhawatirkan sang suami, yang tidak akan kembali bersamanya lagi. Itu berarti, ia pun menjadi janda. Begitulah kisah yang melatarbelakangi nama Coban Rondo. Nama itu abadi hingga hari ini. Sebuah mitos lain, yang diucapkan

HUTAN PERAWAN Memasuki kawasan Coban Rondo, benar-benar sejuk. Sejuk di kulit karena hawa yang memang dingin. Pun, sejuk di mata, karena keperawanan hutan di sekeliling air terjun. Jadi tidak keliru jika ada yang berkelakar, biar pun janda, tetapi perawan. Kesejukan alam dan udara, sudah kita rasakan sejak kita memasuki kota Batu yang memang terletak di dataran tinggi Malang. Jalanan beraspal halus, memudahkan pengendara. Setidaknya sampai pada lokasi patung sapi pada ruas jalan Batu – Pujon, pengunjung disuguhi pemandangan alam yang indah. Patung sapi itu adalah check point menuju Coban Rondo. Dari patung tadi, jarak tempuh menyisakan 4 km lagi, hingga kita menatap sebuah gerbang bertuliskan ‘Welcome to Wana Wisata Coban Rondo’. Dataran yang tinggi dan akses berupa jalan beraspal mulus membuat lokasi Air Terjun Coban Rondo sebagai area camping ground favorit di Jawa Timur. Lokasi ini nyaris tak pernah sepi pengunjung, terlebih di hari atau musim libur. Sumber mata air Coban berasal dari daerah Kepundan, yang terletak sekitar 3-4 kilometer di dataran yang terletak di bagian atas air terjun. Air yang jernih dan sejuk, ditambah pemandangan kawasan hutan yang menakjubkan akan memudarkan rasa lelah. Tidak sedikit pengunjung yang mandi di bawah “shower alam” Coban Rondo. Selain dikenal sebagai objek wisata, lokasi di sekitar Coban Rondo juga sering dijadikan tempat bertirakat. –Diana Runtu

Dara

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Kulkul Segera Luncurkan Gatra

Bagi pengguna email, pasti pernah menerima email promosi. Email ini ada yang dibuka karena isinya menarik, namun ada yang dibiarkan tidak dibaca. Bagi pengirim email, tentu ingin mendapatkan kepastian apakah kirimannya sudah sampai dan dibaca atau hanya sampai tetapi belum dibaca.

U

ntuk mengatasi kegalauan si pengirim, empat anak muda kreatif yang tergabung dalam tim Kulkul membuat terobosan dengan aplikasi yang membuat si pengirim email bisa melacak apakah email-nya sudah dibaca apa belum. “Kami memberikan solusi marketing bagi klien yang ingin mendapat kepastian apakah email yang dikirim sudah dibaca apa belum,” ungkap Anggha Sanjaya Santoso, salah satu anggota Kulkul yang bertugas sebagai designer application. Anggha yang didampingi I Putu Andika Marda Putra (Dika), I Gede Bara Yuda Gautama (Bara), dan IB Tirta Keniten (Tirta) menjelaskan aplikasi ini diberi nama Gatra. “Gatra itu artinya kabar. Melalui aplikasi yang kami buat, kami ingin membantu klien untuk mengabarkan promosi mereka. Gatra memasilitasi pengguna untuk mengirimkan email secara massal, murah, mudah, dan atraktif,” imbuh Bara sebagai business relations. Aplikasi yang dibuat ini memungkinkan pengguna membuat sendiri format promosi mereka. Hanya perlu mengisi template yang sudah disiapkan dengan gambar dan teks, pengguna sudah punya materi promosi sendiri. Selanjutnya email bisa dikirimkan ke ribuan penerima atau yang dikenal dengan email blast. “Email yang sudah terkirim bisa dilacak statistiknya, berapa yang dibaca, berapa yang belum,” kata Dika yang mengurus bagian marketing dan keuangan. Klien yang mereka sasar di antaranya hotel, villa, biro per-

jalanan, dan berbagai usaha yang memerlukan promosi secara online. Aplikasi ini sudah diperkenalkan ketika mereka mengikuti pameran di D’TIK Festival di Denpasar dan Pameran Produksi Indonesia (PPI) di Surabaya. Tirta yang bertugas sebagai developer mengatakan sudah ada respons dari pengunjung. Mereka tertarik untuk mencoba aplikasi ini. Kulkul juga memberi jaminan data dari pelanggan aman karena mereka memiliki server sendiri. Privasi klien tetap dijaga. Bahkan aplikasi ini bisa disinkronisasi dengan media sosial. Khusus untuk klien premium akan diberikan bonus email ucapan selamat hari raya atau ulang tahun yang bisa diatur waktunya. RASA JENGAH Keempat anak muda ini memiliki passion yang sama di bidang teknologi informasi. Mereka sudah beberapa kali menggarap proyek bersama. Ketika ada peluang untuk masuk inkubator bisnis Kementerian Perindustrian, mereka pun mengajukan proposal Gatra sebagai start up. September 2015 ini, mereka menargetkan Gatra sudah siap untuk di-publish. Mengenai nama Kulkul, keempatnya mengaku ingin mencari sebuah nama yang mudah diingat dan berkesan. Dari beberapa ide, muncullah nama Kulkul. Bagi masyarakat Bali, kulkul merupakan alat komunikasi yang sangat penting. “Filosofinya sangat mendalam. Begitu dipukul, orangorang pasti langsung berkumpul. Dengan nama Kulkul ini, kami pun ingin mendapat perhatian. Begitu kami mengabarkan sesuatu, orang

Anggha sedang memberi penjelasan kepada pengunjung stand

tertarik,” jelas Tirta. Memiliki tugas untuk menyelesaikan proyek ini, membuat mereka harus bekerja keras dan semaksimal mungkin. Namun, mereka kadang dilanda kejenuhan. “Solusinya kami pergi menengok tim lain. Kadang kami bercanda dengan mereka. Intinya yang menghibur diri untuk menghapus kebosanan. Biasanya setelah berkunjung ke tim lain, kami mendapat gairah baru untuk memulai lagi. Kadang ada rasa

9

Stand pameran Kulkul di PPI Surayaba

jengah, yang lain kemajuannya sudah pesat maka kami pun harus melakukan hal yang sama,” kata Anggha. Tiap saat Anggha, Bara, Dika, dan Tirta selalu berkomunikasi untuk memaksimalkan apa yang

Tim Kulkul

sudah mereka rancang sehingga berhasil menjadi aplikasi yang bermanfaat. Selain itu, presentasi di hadapan mentor juga dilakukan untuk memantau seberapa ba­nyak kemajuan yang diraih Kulkul. –Ngurah Budi


10

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Bugar

APA DAN BAGAIMANA PENANGANAN LUKA BAKAR ?

Penyebab Luka Bakar rendam bagian tubuh yang hal tersebut. Langkah-langkah un­ Luka bakar dapat disebabkan mengalami luka bakar selama tuk mencegah terjadinya kebakaran oleh berbagai macam hal antara 10-15 menit. khususnya di rumah adalah : lain (dari paling sering) : - Pada luka bakar yang luas pasien - Pemasangan alarm asap - Api (55%) sebaiknya segera dibawa ke - Hati-hati saat menggoreng/me­ - Cairan panas (40%) seperti air klinik atau rumah sakit terdekat masak di dapur. panas untuk pertolongan lebih lanjut. - Jangan meninggalkan lilin me­ - Bahan kimia dan elektrik/ terse­ nyala. ngat listrik (5%) Tindakan Pencegahan - Puntung rokok harus dimatikan. Fakta bahwa 90% peristiwa luka - Jangan merokok di tempat tidur. Insiden Luka Bakar bakar sesungguhnya dapat dicegah, - Jauhkan korek api dari anakanak. Bedasarkan Usia maka mendorong beberapa lang­ - Bila terdapat kebakaran ,keluar­ Luka bakar dapat terjadi pada kah untuk mengurangi terjadinya lah segera. semua kelompok usia seperti : - Anak balita sampai usia 4 tahun yang merupakan 20% dari selu­ ruh korban luka bakar. Penyebab tersering dari kelompok usia ini adalah tersiram air panas secara tidak disengaja. - Anak usia sekolah dan remaja yang merupakan 10% dari selu­ ruh kasus luka bakar. - Kelompok pemuda dan usia produktif (15-64 tahun) meru­ pakan prosentase terbesar dari korban luka bakar (>60%) yang mayoritas disebabkan oleh api, dan sepertiga kasus terjadi karena kecelakaan di tempat Pendahuluan kerja. Peristiwa atau kasus luka bakar - Kelompok usia lanjut (10% dari dapat kita temui dalam kegiat­ seluruh korban luka bakar). an sehari – hari baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan Pertolongan Pertama kerja. Seringkali oleh kurangnya Luka Bakar pengetahuan tentang luka bakar - Jauhkan korban dari semua ob­ dan cara penanganannya maka jek yang menjadi penyebab luka makin memperparah kondisi luka bakar. bakar yang telah ada. Masyarakat - Segera lakukan langkah–langkah awam seringkali membubuhkan untuk mendinginkan luka bakar, berbagai macam bahan pada luka hal ini dapat dilakukan dengan bakar seperti pasta gigi, mentega, aturan “10-15” yaitu : minyak goreng, maupun salep anti­ - Dinginkan luka bakar dalam biotik. Penanganan luka bakar 10-15 menit. yang kurang tepat ini malah dapat - Gunakan air dingin (kira–kira memperparah keadaan luka bakar bersuhu 10 -15 ⁰C) Contoh luka bakar yang terjadi pada seorang anak akibat tersiram air panas bahkan menimbulkan infeksi. - Gunakan air mengalir atau

Berlaku sampai Desember 2015

Style

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Semarak Gaya

Merah Putih

Sesungguhnya, warna merah dan putih di arena mode sudah tak asing lagi. Namun, pada bulan Agustus, ­perpaduan kedua warna ini paling ramai digunakan dan menjadi lebih istimewa.

R

upanya tema hari kemerdekaan yang sarat nuansa merah - putih, juga kerap digunakan untuk tren busana. Apalagi gaya fashion merah - putih sangat identik dengan semangat dan kemeriahan. Beberapa wanita pengusaha di Bali ini pun hadir di berbagai acara mengenakan busana bernuansa merah – putih, demi turut menyemarakkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu cantik memakai siluet kebaya dengan beragam model kain dan rok midi. Ada juga padanan blus merah dengan

rok mini atau celana panjang. Semuanya menjadi pasangan sempurna untuk membuat penampilan semarak dan segar sepanjang hari. Apalagi semuanya piawai memilih aksesori seperti jam tangan, tas , sepatu hingga kalung hingga menambah tampilan semakin menarik Berikut beberapa pilihan busana yang terekam Tokoh pekan ini. Gaya merah -putih dengan kesan chic, sporty, playful hingga bergaya classy.Yang pasti semuanya menjadikan Perayaan Hari Kemerdekaan ke 70 - RI sebagai momen indah dengan busana merah putih. – Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Khasiat Minum Air Putih untuk Wajah

Mitos

Mengapa Anak Diimunisasi? Kenapa anak terus diimunisasi? Mungkin per­tanyaan ini kerap­ kali terbersit di benak tiap orangtua. Untuk itu, Tokoh meng­ hadirkan dr. Nyoman Sri Trisnawati, M.Kes. Kepala Puskesmas III Denpasar Selatan ini juga akan mengupas beberapa mitos tentang imuninasi. Berikut ulasannya.

Mitos : Bayi demam tidak boleh diimunisasi Fakta: Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Bila bayi menderita demam tinggi ≥ 38,5 derajat celcius, imunisasi sebaiknya ditunda dan dapat diberikan setelah bayi tidak lagi demam tinggi. Menurut rekomendasi dari WHO demam yang kurang dari 38 derajat celcius boleh dilakukan imunisasi, tetapi jika orangtua sangat keberatan terhadap pemberian imunisasi kepada bayi yang sedang sakit, jangan diberikan imunisasi. Kembalilah lagi jika bayinya sudah sehat serta diberikan informasi jadwal pemberian imunisasi selanjutnya pada hari yang telah ditentukan.

Kulit dapat memancarkan kondisi tubuh seseorang. Minum air yang cukup akan menjaga kesehatan tubuh secara ke­s eluruhan dan menjaga ke­ cantikan kulit.

B

enarkah hanya dengan mengonsumsi air putih kesehatan dan kecantikan kulit bisa terjaga? Berikut wawancara Tokoh dengan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, Laksmi Duarsa. Menurut Laksmi Duarsa, sekitar 50 sampai dengan 70 % massa tubuh, termasuk kulit kita merupakan cairan. Sumber cairan yang paling mudah diperoleh adalah air putih. Bicara kulit, maka kulit wajah yang pertama kali akan menjadi perhatian setiap orang. Karenanya, tidak heran jika orang - orang terutama perempuan ingin memiliki kulit wajah yang sehat, bersih dan segar. Minum air berfungsi menghindari terjadinya dehidrasi. Minum air juga berguna menghilangkan racun dan limbah di tubuh, sehingga tubuh bersih . Air diperlukan untuk memproses semua nutrisi dari makanan yang kita konsumsi dan membawanya ke seluruh sel. Dikatakan oleh Laksmi, sebagaimana organ lainnya di tubuh kita, kulit juga terbuat dari beberapa sel, yang juga memerlukan air supaya bisa berfungsi secara baik. Air sangat penting untuk menjaga kelembaban kulit, menutrisi sel-sel kulit, memenuhi kembali jaringan kulit serta menjaga elastisitas termasuk kecerahannya. Air dalam hal ini bisa menolong menekan munculnya tanda-tanda penuaan, seperti garis-garis halus ataupun keriput. “Kekurangan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan sembelit, alergi, asma dan yang lainnya termasuk kulit keriput, akibat keelastisannya berkurang. Apalagi setiap hari kita kehilangan air melalui urine, keringat, nafas, hingga BAB. Karenanya, penting terus mengisi tubuh dengan air, baik dengan minum atau mengonsumsi makanan yang mengandung air,” papar Laksmi. Dalam proses berkeringat, katanya lebih lanjut, kita kehilangan cukup banyak cairan. Berkeringat adalah proses alami yang membantu menurunkan suhu tubuh, sehingga tubuh tidak terlalu panas. Jadi, ketika kita berada di luar kemudian berkeringat

Mitos: Terlalu banyak vaksin akan membebani sistem imun Fakta : Tidak benar adanya. Dibandingkan dengan tantangan imunologis yang dihadapi oleh bayi setiap hari, maka tantangan dari komponenkomponen imunologis di dalam vaksin itu kecil sekali. Asalkan vaksin diberikan pada bagian tubuh yang berbeda, misalnya pada paha, lengan kiri dan kan a n , menggunakan alat suntik yang berlainan dan mengikuti ketentuan umum tentang pemberian vaksin.

tkh.net

berlebihan, sepatutnya minum air yang banyak untuk membantu mencegah dehidrasi. Laksmi juga mengatakan, minum cukup air bermanfaat mengurangi gangguan kulit diantaranya psioriasis, keriput dan eksim. Dengan minum air yang cukup akan meningkatkan metabolisme dan sistem pencernaan guna mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Minum cukup air juga mencegah kulit kering dan terjaga kelembabannya serta menjaga elastisitas pada kulit sehingga mencegah terjadinya kerutan. Selanjutnya air akan membuat kulit kita sehat, kenyal, tampak bersinar, dan cantik. Air adalah obat terbaik, katanya untuk membuat seseorang terlihat awet muda. Air menjadikan sel-sel kulit terhidrasi dan bekerja dengan baik, sehingga minum air juga bermanfaat mengeluarkan kotoran dan racun dari sistem tubuh, yang akan menjaga wajah lebih segar dan bersih serta mengurangi jerawat dan tentu akan memperlambat kulit dari keriput. Minum Air 8- 10 Gelas Sehari Berikutnya disampaikan ketika kita mandi air dingin, ini juga dapat menenangkan saraf serta mengurangi stres , yang semuanya berhubungan dengan kulit. Kalaupun kita senang berendam, lakukan cukup 3 menit, agar fungsinya meremajakan kulit. Sebaliknya jika berendam terlalu lama, akan mudah menghilangkan minyak alami. Mengenai air dingin, Laksmi juga mengatakan bagus digunakan membilas usai mencuci rambut. Ini untuk membuat rambut mengkilat, karena suhu dingin menyempitkan kutikula rambut, sehingga rambut menjadi halus.dan membuat rambut lebih kuat. “Air, hampir ¼ dari berat seluruh rambut kita. Dengan begitu minum dua liter air setiap hari akan membuat rambut bercahaya dan sehat. Rambut kita akan tumbuh subur di lingkungan yang bagus kelembabannya,” ucapnya. Laksmi menyatakan seperti kulit

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

kita, rambut juga perlu pelumasan dari dalam dan luar. Kurangnya kelembaban rambut akan mudah membuatnya menjadi kering dan rapuh. Sebab, ketika kita tidak minum cukup air untuk memenuhi kebutuhan tubuh sehari-hari, maka akar rambut sebagai sarana untuk menyerap air dan memberikan hidrasi ke rambut akan berkurang. Secara umum juga air akan memberi energi pada ujung saraf untuk meningkatkan vitalitas alami kulit dan akar rambut. Air minum juga membantu untuk menghilangkan masalah rambut seperti ketombe dan dermatitis seborrhea. Sekali lagi diingatkannya kalau tubuh kita terdiri dari 70 % air, katanya air sangat penting menjaga fitalitas tubuh. Cairan tubuh yang terdiri dari air akan membantu pencernaan, sirkulasi darah, penyerapan, produksi air liur, serta transportasi nutrisi ke seluruh tubuh. Selain itu air juga membantu mempertahankan suhu tubuh yang normal. Air membantu tubuh agar supaya tetap berfungsi dengan baik. “Otak kita terdiri hingga 90 % air, sementara itu jaringan tubuh dan otot-otot kita terdiri sampai 70 % air. Jadi, ketika tubuh kita kekurangan cairan, maka otak kita berhenti bekerja dan akan menyebabkan migrain serta sakit kepala akibat dehidrasi,” tuturnya. Pada saat kita kehilangan banyak air, maka ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga akan menumpahkan kelebihan beban pada hati. “Hati bertugas membantu membakar lemak menjadi energi, akan tapi ketika harus melakukan pekerjaan lebih banyak, maka ia tidak dapat membakar banyak lemak menjadi energi sebagaimana mestinya, sehingga lemak sebagian akan disimpan. Minumlah air dalam jumlah yang baik untuk mencegah penyimpanan lemak, serta untuk menjaga kesehatan,” kata Laksmi lebih lanjut. Jadi bisa dikatakan bahwa berat badan yang ideal adalah salah satu keuntungan dari cukup minum air. Air bisa membuat tubuh anda langsing. Air akan membantu mengontrol asupan makanan ketubuh dan melancarkan pencernaan. Air adalah minuman rendah kalori namun memiliki manfaat yang besar.

Selain wajah, ada juga mata, yang seringkali disebut mampu memancarkan kecantikan. Makanya, membasuh mata dengan air dingin merupakan cara terbaik menjaganya tetap menarik dan segar selain mencegah terjadinya iritasi. Mandi dan mencuci muka dengan air adalah cara terbaik untuk menjaga kulit wajah tetap bersih dan segar. Air akan membantu menghilangkan kotoran dan bahan-bahan kimia yang dapat merusak kulit. Selain itu , kata Laksmi rajin minum air putih merupakan cara yang efektif untuk detoksifikasi dan mengencangkan kulit. Jika air hangat dapat membuka poridan menghilangkan kotoran, maka air dingin akan membantu menutup dan mengecilkan pori-pori. Minum air yangcukup akan menjaga bibir anda tampak lembut dan cantik. Anda tidak akan mengalami bibir pecah-pecah lagi. Minum air putih 8-10 gelas sehari secara teratur agar dapat mencegah terjadinya dehidrasi. Dehidrasi sendiri akan berdampak buruk pada kulit yang menyebabkan kekeringan. Terpenuhinya kebutuhan air akan membuat kulit menjadi lembab dan lembut serta terasa halus dan dapat terhindari dari masalah bibir pecah-pecah. Dengan pengetahuan yang cukup, katanya maka air bisa sebagai pengganti paling tepat untuk perawatan kulit yang saat ini cukup mahal. – Sri Ardhini

Mitos: Tidak boleh memberikan ASI sesudah vaksin polio oral Fakta : Ini tergantung dari umur bayi. ASI dapat diberikan segera setelah imunisasi polio

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Analisis Sperma Salam hormat dokter, saya ingin menanyakan tentang tes sperma, wajibkah bagi saya seorang pria untuk memeriksakan sperma? Bagaimana prosedurnya dan apa saja makna dari hasilnya? Soalnya saya berencana memiliki keturunan, karena dulu saya pernah mengalami infeksi saluran kencing. Yang kedua, buah pelir saya yang sebelah kiri terasa lebih turun dan berukuran lebih besar dan berisi, apakah itu normal dok? Lalu kemana say harus memeriksakan diri? Mohon penjelasan, terima kasih. (Ketut Sumiartha)

T

es untuk mengetahui kualitas dari sperma laki-laki yang menggambarkan kesuburannya disebut dengan analisis sperma. Analisis sperma penting dilakukan untuk

menilai fungsi organ reproduksi laki-laki. Yang diperiksakan adalah ejakulat atau cairan sperma yang dikeluarkan dan ditampung hasil dari masturbasi atau sanggama terputus. Sebelum melakukan pemeriksaan disarankan untuk

oral pada bayi yang berumur lebih dari 1 minggu karena ASI yang diproduksi dalam 1 minggu pertama (mengandung kolostrum) yang mana terdapat antibodi dengan titer tinggi yang dapat mengikat vaksin polio oral. Mitos : Sesudah imunisasi, anak tidak akan tertular penyakit Fakta : Tidak sepenuhnya benar. Walaupun kemungkinannya kecil, bayi/anak yang telah diimunisasi masih dapat tertular penyakit tersebut, namun jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alamiah. Walau saat bayi sudah imunisasi lengkap, bukan berarti si bayi sudah aman dari ancaman penyakit sehingga mengapa ada imunisasi yang harus diulang. Imunisasi akan memberikan antibodi bagi anak. Setelah diimunisasi antibodi anak akan naik, tapi suatu saat antibodi tersebut akan turun lagi. Saat antibodi turun atau hampir habis harus diberi imunisasi lagi sehingga imunisasi ulangan sangat penting sekali. Kalau tidak diulang, antibodi dalam tubuh akan habis atau berkurang sehingga kemungkinan anak terserang penyakit akan lebih besar. Mitos: Setiap anak perlu mendapatkan imunisasi karena banyak kuman berbahaya di sekitarnya Fakta: Benar adanya bahwa bayi yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap dan anak batita mendapat imunisasi lanjutan akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan kepada adik, kakak dan teman-teman di sekitarnya. Imunisasi akan meningkatakan kekebalan tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut. Jadi selain bermanfaat untuk diri sendiri, imunisasi juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran di keluarga dan anak lain di sekitarnya. Mitos: Jika saat balita sudah diimunisasi lengkap, di sekolah tidak perlu imunisasi lagi Fakta: Itu tidak benar dan memang perlu diimunisasi lagi. Ada beberapa imunisasi yang perlu pengulangan di bangku sekolah dasar adalah imunisasi campak untuk kelas 1 pada bulan September dan imunisasi DT untuk kelas 1 dan Td untuk kelas 2 dan kelas 3 pada bulan November. Kenapa perlu imunisasi saat usia sekolah? Karena secara keseluruhan efektivitas melindungi gejala penyakit hanya berkisar 70-90%. Pada umur >10 tahun masih dijumpai kasus difteri dan kejadian luar biasa difteri terjadi pada anak yang sudah mendapat imunisasi terutama di daerah yang padat penduduk/

berpuasa dari hubungan seksual dulu, terbaik sekitar 3-5 hari dan sudah diperiksa selambatnya sejam sesudah ejakulasi. Yang dianalisis kemudian dari cairan sperma yang telah ditampung yaitu beberapa parameter, diantaranya yang penting adalah volume, konsentrasi, pergerakan, dan morfologi dari sperma. Lakilaki yang sehat secara reproduksi rata-rata mengeluarkan 2-5 cc cairan sperma dalam satu kali ejakulasi. Sementara konsentrasi sperma yang normal adalah di atas 20 juta per cc atau 40 juta secara keseluruhan. Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi sperma rendah, istilah kedokteran untuk konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia. Bila sama sekali tidak ada sperma disebut azoospermia. Sperma terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat berenang maju dan yang tidak. Hanya sperma yang dapat berenang maju dengan cepatlah yang dapat mencapai sel telur. Sperma yang tidak bergerak tidak ada gunanya. Menurut WHO, motilitas sperma digolongkan dalam empat tingkatan: a) sperma yang berenang maju dengan cepat dalam garis lurus seperti peluru ken-

11

tinggal berdekatan. Penyakit campak adalah penyakit yang sangat mudah menular dan mengakibatkan komplikasi yang berat. Vaksin campak memiliki efikasi kurang lebih 85%, sehingga masih terdapat anak-anak yang belum memiliki kekebalan dan menjadi kelompok rentan terhadap penyakit campak. Anak yang sudah divaksinasi saat bayi ternyata saat umur 5-7 tahun terdapat 28,3% masih terkena campak. Untuk memberantas tetanus diperlukan 5 kali suntikan tetanus toksoid sejak bayi sampai dewasa sehingga menimbulkan kekebalan sekitar 20 tahun lagi. Apa beda imunisasi dengan vaksin? Imunisasi atau vaksinasi adalah upaya untuk mendapat kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau bibit kuman yang telah dilemahkan/dimatikan ke dalam tubuh. Dengan memasukkan kuman/bibit penyakit tersebut tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada saatnya digunakan untuk melawan kuman/bibit penyakit yang menyerang tubuh manusia. Sedangkan vaksin adalah produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman (bakteri, virus atau riketsia) atau racun kuman (toxoid) yang telah dilemahkan atau dimatikan dan akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Kenapa anak-anak diimunisasi terus? Dokter Trisna menjelaskan, anak-anak terus diberikan imunisasi agar tidak mudah terserang penyakit. Imunisasi memberikan perlindungan menyeluruh terhadap penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada awal-awal kehidupan seorang bayi. Ada 5 jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun, yakni: imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC (Tuberkulosis) berat; imunisasi HB untuk mencegah penyakit hepatitis B dan kerusakan hati; imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio yang menyebabkan kelumpuhan; imunisasi DPT-HB-Hib (Pentavalen) untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan atau batuk 100 hari ), tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis (radang otak); Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otak dan kebutaan. Pada batita, juga wajib diberikan imunisasi lanjutan yang meliputi: imunisasi DPT-HB-Hib diberikan pada anak balita umur 18 bulan (1,5 tahun); imunisasi campak diberikan pada anak balita umur 24 bulan (2 tahun); imunisasi anak sekolah yang dikenal dengan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah ) yakni imunisasi campak untuk kelas 1 pada bulan September, serts imunisasi DT untuk kelas 1 dan Td untuk kelas 2 dan kelas 3 pada bulan November. –Inten Indrawati

dali, b) sperma yang berenang maju tetapi dalam garis melengkung atau bergelombang, atau dalam garis lurus tetapi lambat, c) sperma yang menggerakkan ekornya tetapi tidak melaju, d) sperma yang tidak bergerak sama sekali. Sperma kelas c dan d adalah sperma yang buruk. Laki-laki yang subur memproduksi paling tidak 50% sperma kelas a dan b. Bila proporsinya kurang dari itu, kemungkinan akan sulit memiliki anak. Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus panjang di tengahnya. Sperma yang ada dalam keadaan banyak dari bentuknya tidak normal disebut teratozoospermia. Bentuk seperti kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu besar, kepala ganda, tidak berekor, dll, adalah sperma abnormal dan tidak dapat membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang disebut normal. Laki-laki sehat memproduksi paling tidak 30% sperma berbentuk normal. Kesuburan laki-laki ditentukan oleh kombinasi keempat kriteria di atas, yaitu jumlah sperma yang cukup dan berbentuk sempurna dalam cairan

sperma yang dapat bergerak agresif. Dari interpretasi ini, jika ada masalah ketidaksuburan dari sebuah pasangan, bisa jadi sudah dapat ditelusuri penyebabnya. Dengan demikian, dokter dan timnya akan dapat membuat suatu rencana pengobatan untuk menjadi solusi ketidaksuburan seorang laki-laki. Tentang riwayat pernah mengalami infeksi menular seksual juga perlu diperiksakan lagi apakah infeksi masih aktif atau sudah tuntas. Jika masih aktif, infeksi harus diobati untuk membuat kualitas sperma juga menjadi lebih baik. Tentang ukuran dan bentuk buah pelir atau testis, memang perlu diketahui bahwa keduanya sesungguhnya tidak harus selalu simetris, dan sudah biasa jika testis kiri posisinya lebih turun atau lebih rendah di banding yang kanan. Tetapi jika dirasakan ada yang aneh, atau ada perbedaan ukuran yang ekstrim antara yang kiri dan kanan, ada baiknya juga diperiksakan ke dokter yang paham kesehatan seksual, karena jika ternyata ada abnormalitas pada testis memang dapat mengakibatkan gangguan kesuburan.


12

Kuliner

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Klepon Manis

21 Tahun Warung Mina

Hari Ulang Tahun Warung Mina menjadi sangat istimewa, Selasa (18/8) di Mina

Klepon merupakan makanan yang sangat dikenal di masyarakat Bali. Bentuknya bulat dan jika dimakan akan muncrat keluar gula merah cair. Agar lebih afdol klepon diberi parutan kelapa.

­Peguyangan. Selain dihadiri Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Wakil ­Gubernur Bali Ketut Sudikerta, ulang tahun juga dirangkaikan dengan pemberian tali kasih ­inspiring of life Dena dan Madiarta, dan sinergi program ANOM untuk orang miskin. HUT ke-21 tahun menjadi spesial karena juga dibarengi dengan ulangtahun ke-4 KIS

J

Band, yang merupakan band yang diproduseri Owner Mina, I Wayan Agus Setiawan. Sajian makanan spesial gurami santan kemangi menjadi suguhan para tamu yang hadir.

T

Pemotongan tumpeng oleh Agus Setiawan yang diserahkan kepada Made Patri

Gurami Sehat dan Enak Warung Mina memang meng­ khususkan dengan sajian ikan segar. Ikan gurami menjadi menu favorit Warung Mina. Ikan gurami meru­ pakan ikan air tawar yang sangat popular untuk dimakan, maupun dipelihara di aquarium. Ikan gurami banyak ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, dan Kamboja. Di Malaysia dan Sumatra, ikan ini dikenal dengan nama kaloi, di Thailand disebut pla rad. Sentral pembibitan gu­ rami yang besar: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Barat, Yogyakarta, Lampung, dan Sumatra Selatan. Ikan gurami memiliki waktu pembiakan yang lama, sekitar 8-10 bulan agar bisa

Resep ala Mister Mina Bakso Mr. Mina Bahan: 500 gr : fillet gurami 250 gr : tepung kanji 6 butir : putih telur 50 gr : bawang putih Garam dan merica secukupnya Cara membuat: - Gurami fillet dihaluskan. Cam­ purkan semua bahan. Aduk sampai adonan merata dan kental. - Panaskan air hingga mendidih. Cetak adonan menjadi bola-bo­ la kecil dengan bantuan ta­ngan dan sendok. Sesuaikan bentuk dengan selera dan direbus sam­ pai matang. Angkat bakso dan tiriskan. Siap digunakan.

dikonsumsi. Ikan gurami disebut ratu ikan tawar karena dagingnya tebal, lembut, dan gurih. Ikan gurami mengandung mi­ nyak esensial baik untuk jantung, Vit. A dan B yang tinggi, dan kadar lemak rendah. Protein ikan gurami untuk

Penampilan KIS Band

Patri, yang merupakan pensiunan TNI-AU ini. Istrinya, Ni Made Sari menjadi chef peramu resep-resep unggulan warung Mina. Pelan tapi pasti, Warung Mina mulai memikat hati konsumen, sampai akhirnya terbilang sukses sudah memiliki 10 outlet. Mulai dari Peguyangan 2 outlet, Ubud, Renon, Dalung, Petitenget, Legian 2 outlet, Sanur, dan Lombok. Menurut General Manager War­ ung Mina, Agus Setiawan, yang merupakan putra dari I Made ­Patri, perlu keberanian berekspansi dengan beberapa kali kegagalan. Ia menganggap, dari setiap kegagalan

merupakan pelajaran dan sebuah proses. “Saya hanya berprinsip, imajinasi, inovasi, kreativitas, harus selalu dilakukan. Itulah kiat Warung Mina,” kata Agus Setiawan. Ia mengatakan, konsep desain Warung Mina terinspirasi dari perjalanan hidupnya waktu kecil yang tinggal di daerah perdesa­ an. “Saya ingin ciptakan suasana kampung tapi tidak kampungan. Ciptakan suasana murah tapi tidak murahan,” ujar lelaki mantan atlet tinju ini. Saat ulang tahun, juga dilakukan peluncuran maskot Warung Mina, “Mister Mina”. -Wirati Astiti

membantu pertumbuhan balita. Gurami mencegah penyakit de­ generatif seperti kanker, hipertensi dan mengganti sel yang rusak, termasuk mencegah kulit kasar. Kadar protein ikan gurami lebih tinggi dibanding ikan lele, ikan nila, dan ikan mas. Sebaiknya memasak ikan gurami jangan digoreng terlalu lama karena banyak gizinya yang hilang.

Bu Luh Dewi

Kuah Bakso

Es Kweni Asik

Bahan: 200 gr : tulang ayam 30 gr : bawang merah 10 gr : seledri 10 gr : bawang putih digeprak 50 gr : prei 500 ml : air hangat Garam secukupnya Cara membuat: - Panaskan air sampai mendidih. Masukkan semua bahan dan

Ikan gurami goreng

masak tulang ayam sampai 2 jam dengan api kecil. - Saring kaldu dan siap digunakan untuk kuah bakso. Cara penyajian bakso: - Siapkan mangkuk, masukkan bakso gurami secukupnya. - Tambahkan tomat, cabai, seledri yang sudah diiris-iris. Taburi de­ ngan bawang goreng secukupnya. Siram dengan kuah ayam tadi. - Bakso gurami siap disajikan dengan nasi. -Wirati Astiti

ika berwisata ke Pantai Matahari Ter­ bit Sanur, Anda akan menjumpai seorang pedagang klepon yang berjualan di pinggir pan­ tai, namanya Bu Luh Dewi. Perempuan a s a l K a r a n g ­a s e m ini berjualan ber­ sama kedua putri­­ nya. Bu Luh Dewi hanya bisa dijumpai tiap hari Ming­gu di pan­ tai Matahari Terbit. Hari lain, ia berjualan keli­ling. Dia biasa mangkal di pinggir Pantai Matahari Terbit mulai pagi pukul 08.00 sampai 12.00. Kemudian, ia pulang sejenak untuk isti­r ahat dan kembali berjualan ke pantai sekitar pukul 15.00 sampai 19.00. Satu hari berjualan saat hari Minggu ia biasa meng­

habiskan 6 kilogram tepung beras sebagai bahan utama kle­ pon. Kadang, jika pengunjung pantai sepi, kleponnya masih tersisa sehingga terbuang. Na­ mun, biasanya, ia siasati dengan Bu Luh Dewi bersama kedua putrinya berjualan klepon di Pantai Matahari Terbit cara berkeliling di pantai alias jemput bola mencari pembeli tahari Terbit hanya dia seorang, daerah ­S empidi. Untuk datang agar kleponnya bisa habis. sehingga ia sudah dikenal warga k e S a n u r, i a m e n g e n d a r a i sepeda motor. Satu bungkus klepon, ia jual Rp sekitar pantai. Dibalik manis laklak dan kle­ Awal berjualan klepon, ia di­ 5.000. ajari ibu mertuanya yang sehari- pon Bu Luh Dewi, menyisa­k an hari berjualan di Tanah satu kisah pilu. Dua putrinya Lot, Tabanan. Ketika sejak tamat SD, sudah tidak sudah mahir, ia men­ melanjutkan sekolah. Kini, cari peruntungannya kedua putrinya itu menjadi sendiri berjualan. tulang punggung keluarga yang Ia memilih Pantai membantu berjualan klepon M a t a h a r i Te r b i t dan laklak. Setiap hari, Luh dan karena terbilang Dewi, kedua anaknya itu yang cukup ramai dikun­ mengerjakan klepon. Mulai jungi wisatawan selain dari mencampur adonan, me­ masyarakat Bali yang mulung sampai merebusnya, semua dilakoni kedua putrinya sering mandi ke sana. Untuk bahan utama te­ yang berusia 15 tahun itu. Ketika ditanya kenapa ke­ pung beras dan ketan, ia Selain klepon, Bu Luh Dewi m a s i h m e n g a m b i l d a r i i b u dua anaknya tidak melanjutkan juga menjual laklak. Laklak mertuanya. “Punya ibu mertua p e n d i d i k a n , B u L u h D e w i buatannya laris manis. Biasanya, tepungnya khusus, buatnya mengatakan, kedua anaknya siang hari sudah habis diborong nyelip,” kata Bu Luh Dewi. Ke­ tidak mau. Selain itu, mereka pembeli. Bu Luh Dewi sudah lengkapan bahan lain, se­p erti rela tak sekolah demi mem­ punya pelanggan khusus yang g u l a m e r a h , d a u n p a n d a n , prioritaskan pendidikan kakak biasa mandi ke Pantai Matahari daun suji, dan bahan-bahan s u l u n g n y a y a n g k i n i s u d a h Terbit. Selain itu, penjual laklak laklak, ia buat sendiri. Sehari- duduk di bangku SMA. dan klepon di daerah pantai Ma­ hari, Bu Luh Dewi tinggal di - Wirati Astiti

Ayam Masak Jahe

Sarwan

Gurami santan kemangi

13

Pantai Matahari Terbit

Bekerja dengan Hati

ak ada sukses tanpa perjuangan dan ker­ ja keras. Begitulah perjuangan pemilik Warung Mina yang sampai saat ini telah memiliki 10 outlet. Usaha ini dimulai I Made Patri sebagai petani ikan tahun 1990. Tahun 1995, ia mencoba memasok ikan ke hotelhotel. Bersama anak-anaknya ia tertarik mengembangkan kolam pancing. Mulailah dibarengi dengan warung makan. Tahun 1994, wa­ rung Mina berdiri dengan meja kursi seadanya. “Bermodal alat ma­ sak dan kompor sederhana, hanya bisa melayani 10 konsumen,” ujar

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai Gratis makan & minum

bagi pelanggan yang mengajak 5 orang teman/ kerabat.

Nasi Goreng Bali

eriah Murah Msih & Ber

Berlaku mulai tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 2 buah : kweni, kupas, potong dadu 1 buah : kelapa muda, serut dagingnya 1 sdm : selasih, rendam air panas hingga mengembang, tiriskan 400 ml : santan kental 2 lembar : daun pandan ikat simpul Garam dan es serut secukupnya Bahan sirup pandan: 300 gr : gula pasir 200 ml : air 2 lembar : daun pandanikat simpul

Cara membuat: - Membuat kuah santan : re­ bus santan bersama garam dan daun pandan sambil sesekali diaduk hingga men­ didih, angkat, biarkan dingin, sisihkan. - Membuat saus pandan : cam­ pur gula pasir, air, daun pandan dan garam menjadi satu, masak dengan api sedang, sambil sesekali diaduk, masak hingga mendidih dan gula larut, ang­ kat, saring. - Campur potongan kweni, selasih dan serutan kelapa menjadi satu, aduk, lalu cam­ pur juga saus pandan dan saus santan.

- Siapkan gelas saji, sajikan de­ ngan es serut, siap disajikan.

Bahan: 500 gr : ayam fille, potong menurut selera ½ buah : paprika merah, potong menurut selera 4 ruas : jari jahe, iris korek api 1 buah : bawang bombai, cincang kasar. 1 buah : bawang pre, cincang halus 2 sdm : kecap manis 100 ml : air 1 sdt : lada 7 buah : cabe kecil, cincang halus 2 sdm : margarin

Oseng Tongkol Suwir

Bahan: 2 ekor : 200 gr : 2 batang : 7 buah : 3 siung :

tongkol goreng, suwirsuwir, buang durinya tauge, buang akarnya kucai, potong menurut selera bawang merah, cincang kasar bawang putih, cincang halus

3 buah : cabe merah, cincang kasar 7 buah : cabe rawit, cincang halus 2 sdm : saus tiram 2 sdm : saus sambal 50 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Margarin secukupnya

Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara membuat: - Panaskan margarine, lalu tumis irisan bawang bombai, bawang pre dan bawang putih hingga harum, masukkan ayam, adukaduk merata dan masak hingga berubah warna, lalu masukkan air jahe dan bumbu-bumbu lainnya, masak hingga mendidih dan matang serta bumbu me­ resap, angkat, siap disajikan.

Cara membuat: - Panaskan margarin, lalu masukkan iri­ san bawang merah dan bawang putih, tumis hingga harum, masukkan irisan cabe besar merah dan kecil, aduk-aduk hingga layu, masukan suwiran ikan tongkol, air dan bahan-bahan bumbu lainnya, saus tiram, saus sambal, adukaduk hingga tercampur merata, lalu masukkan garam, gula, kaldu bubuk, aduk lagi dan masak hingga matang serta bumbu meresap, angkat, siap disajikan.


12

Kuliner

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Klepon Manis

21 Tahun Warung Mina

Hari Ulang Tahun Warung Mina menjadi sangat istimewa, Selasa (18/8) di Mina

Klepon merupakan makanan yang sangat dikenal di masyarakat Bali. Bentuknya bulat dan jika dimakan akan muncrat keluar gula merah cair. Agar lebih afdol klepon diberi parutan kelapa.

­Peguyangan. Selain dihadiri Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Wakil ­Gubernur Bali Ketut Sudikerta, ulang tahun juga dirangkaikan dengan pemberian tali kasih ­inspiring of life Dena dan Madiarta, dan sinergi program ANOM untuk orang miskin. HUT ke-21 tahun menjadi spesial karena juga dibarengi dengan ulangtahun ke-4 KIS

J

Band, yang merupakan band yang diproduseri Owner Mina, I Wayan Agus Setiawan. Sajian makanan spesial gurami santan kemangi menjadi suguhan para tamu yang hadir.

T

Pemotongan tumpeng oleh Agus Setiawan yang diserahkan kepada Made Patri

Gurami Sehat dan Enak Warung Mina memang meng­ khususkan dengan sajian ikan segar. Ikan gurami menjadi menu favorit Warung Mina. Ikan gurami meru­ pakan ikan air tawar yang sangat popular untuk dimakan, maupun dipelihara di aquarium. Ikan gurami banyak ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, dan Kamboja. Di Malaysia dan Sumatra, ikan ini dikenal dengan nama kaloi, di Thailand disebut pla rad. Sentral pembibitan gu­ rami yang besar: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Barat, Yogyakarta, Lampung, dan Sumatra Selatan. Ikan gurami memiliki waktu pembiakan yang lama, sekitar 8-10 bulan agar bisa

Resep ala Mister Mina Bakso Mr. Mina Bahan: 500 gr : fillet gurami 250 gr : tepung kanji 6 butir : putih telur 50 gr : bawang putih Garam dan merica secukupnya Cara membuat: - Gurami fillet dihaluskan. Cam­ purkan semua bahan. Aduk sampai adonan merata dan kental. - Panaskan air hingga mendidih. Cetak adonan menjadi bola-bo­ la kecil dengan bantuan ta­ngan dan sendok. Sesuaikan bentuk dengan selera dan direbus sam­ pai matang. Angkat bakso dan tiriskan. Siap digunakan.

dikonsumsi. Ikan gurami disebut ratu ikan tawar karena dagingnya tebal, lembut, dan gurih. Ikan gurami mengandung mi­ nyak esensial baik untuk jantung, Vit. A dan B yang tinggi, dan kadar lemak rendah. Protein ikan gurami untuk

Penampilan KIS Band

Patri, yang merupakan pensiunan TNI-AU ini. Istrinya, Ni Made Sari menjadi chef peramu resep-resep unggulan warung Mina. Pelan tapi pasti, Warung Mina mulai memikat hati konsumen, sampai akhirnya terbilang sukses sudah memiliki 10 outlet. Mulai dari Peguyangan 2 outlet, Ubud, Renon, Dalung, Petitenget, Legian 2 outlet, Sanur, dan Lombok. Menurut General Manager War­ ung Mina, Agus Setiawan, yang merupakan putra dari I Made ­Patri, perlu keberanian berekspansi dengan beberapa kali kegagalan. Ia menganggap, dari setiap kegagalan

merupakan pelajaran dan sebuah proses. “Saya hanya berprinsip, imajinasi, inovasi, kreativitas, harus selalu dilakukan. Itulah kiat Warung Mina,” kata Agus Setiawan. Ia mengatakan, konsep desain Warung Mina terinspirasi dari perjalanan hidupnya waktu kecil yang tinggal di daerah perdesa­ an. “Saya ingin ciptakan suasana kampung tapi tidak kampungan. Ciptakan suasana murah tapi tidak murahan,” ujar lelaki mantan atlet tinju ini. Saat ulang tahun, juga dilakukan peluncuran maskot Warung Mina, “Mister Mina”. -Wirati Astiti

membantu pertumbuhan balita. Gurami mencegah penyakit de­ generatif seperti kanker, hipertensi dan mengganti sel yang rusak, termasuk mencegah kulit kasar. Kadar protein ikan gurami lebih tinggi dibanding ikan lele, ikan nila, dan ikan mas. Sebaiknya memasak ikan gurami jangan digoreng terlalu lama karena banyak gizinya yang hilang.

Bu Luh Dewi

Kuah Bakso

Es Kweni Asik

Bahan: 200 gr : tulang ayam 30 gr : bawang merah 10 gr : seledri 10 gr : bawang putih digeprak 50 gr : prei 500 ml : air hangat Garam secukupnya Cara membuat: - Panaskan air sampai mendidih. Masukkan semua bahan dan

Ikan gurami goreng

masak tulang ayam sampai 2 jam dengan api kecil. - Saring kaldu dan siap digunakan untuk kuah bakso. Cara penyajian bakso: - Siapkan mangkuk, masukkan bakso gurami secukupnya. - Tambahkan tomat, cabai, seledri yang sudah diiris-iris. Taburi de­ ngan bawang goreng secukupnya. Siram dengan kuah ayam tadi. - Bakso gurami siap disajikan dengan nasi. -Wirati Astiti

ika berwisata ke Pantai Matahari Ter­ bit Sanur, Anda akan menjumpai seorang pedagang klepon yang berjualan di pinggir pan­ tai, namanya Bu Luh Dewi. Perempuan a s a l K a r a n g ­a s e m ini berjualan ber­ sama kedua putri­­ nya. Bu Luh Dewi hanya bisa dijumpai tiap hari Ming­gu di pan­ tai Matahari Terbit. Hari lain, ia berjualan keli­ling. Dia biasa mangkal di pinggir Pantai Matahari Terbit mulai pagi pukul 08.00 sampai 12.00. Kemudian, ia pulang sejenak untuk isti­r ahat dan kembali berjualan ke pantai sekitar pukul 15.00 sampai 19.00. Satu hari berjualan saat hari Minggu ia biasa meng­

habiskan 6 kilogram tepung beras sebagai bahan utama kle­ pon. Kadang, jika pengunjung pantai sepi, kleponnya masih tersisa sehingga terbuang. Na­ mun, biasanya, ia siasati dengan Bu Luh Dewi bersama kedua putrinya berjualan klepon di Pantai Matahari Terbit cara berkeliling di pantai alias jemput bola mencari pembeli tahari Terbit hanya dia seorang, daerah ­S empidi. Untuk datang agar kleponnya bisa habis. sehingga ia sudah dikenal warga k e S a n u r, i a m e n g e n d a r a i sepeda motor. Satu bungkus klepon, ia jual Rp sekitar pantai. Dibalik manis laklak dan kle­ Awal berjualan klepon, ia di­ 5.000. ajari ibu mertuanya yang sehari- pon Bu Luh Dewi, menyisa­k an hari berjualan di Tanah satu kisah pilu. Dua putrinya Lot, Tabanan. Ketika sejak tamat SD, sudah tidak sudah mahir, ia men­ melanjutkan sekolah. Kini, cari peruntungannya kedua putrinya itu menjadi sendiri berjualan. tulang punggung keluarga yang Ia memilih Pantai membantu berjualan klepon M a t a h a r i Te r b i t dan laklak. Setiap hari, Luh dan karena terbilang Dewi, kedua anaknya itu yang cukup ramai dikun­ mengerjakan klepon. Mulai jungi wisatawan selain dari mencampur adonan, me­ masyarakat Bali yang mulung sampai merebusnya, semua dilakoni kedua putrinya sering mandi ke sana. Untuk bahan utama te­ yang berusia 15 tahun itu. Ketika ditanya kenapa ke­ pung beras dan ketan, ia Selain klepon, Bu Luh Dewi m a s i h m e n g a m b i l d a r i i b u dua anaknya tidak melanjutkan juga menjual laklak. Laklak mertuanya. “Punya ibu mertua p e n d i d i k a n , B u L u h D e w i buatannya laris manis. Biasanya, tepungnya khusus, buatnya mengatakan, kedua anaknya siang hari sudah habis diborong nyelip,” kata Bu Luh Dewi. Ke­ tidak mau. Selain itu, mereka pembeli. Bu Luh Dewi sudah lengkapan bahan lain, se­p erti rela tak sekolah demi mem­ punya pelanggan khusus yang g u l a m e r a h , d a u n p a n d a n , prioritaskan pendidikan kakak biasa mandi ke Pantai Matahari daun suji, dan bahan-bahan s u l u n g n y a y a n g k i n i s u d a h Terbit. Selain itu, penjual laklak laklak, ia buat sendiri. Sehari- duduk di bangku SMA. dan klepon di daerah pantai Ma­ hari, Bu Luh Dewi tinggal di - Wirati Astiti

Ayam Masak Jahe

Sarwan

Gurami santan kemangi

13

Pantai Matahari Terbit

Bekerja dengan Hati

ak ada sukses tanpa perjuangan dan ker­ ja keras. Begitulah perjuangan pemilik Warung Mina yang sampai saat ini telah memiliki 10 outlet. Usaha ini dimulai I Made Patri sebagai petani ikan tahun 1990. Tahun 1995, ia mencoba memasok ikan ke hotelhotel. Bersama anak-anaknya ia tertarik mengembangkan kolam pancing. Mulailah dibarengi dengan warung makan. Tahun 1994, wa­ rung Mina berdiri dengan meja kursi seadanya. “Bermodal alat ma­ sak dan kompor sederhana, hanya bisa melayani 10 konsumen,” ujar

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai Gratis makan & minum

bagi pelanggan yang mengajak 5 orang teman/ kerabat.

Nasi Goreng Bali

eriah Murah Msih & Ber

Berlaku mulai tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 2 buah : kweni, kupas, potong dadu 1 buah : kelapa muda, serut dagingnya 1 sdm : selasih, rendam air panas hingga mengembang, tiriskan 400 ml : santan kental 2 lembar : daun pandan ikat simpul Garam dan es serut secukupnya Bahan sirup pandan: 300 gr : gula pasir 200 ml : air 2 lembar : daun pandanikat simpul

Cara membuat: - Membuat kuah santan : re­ bus santan bersama garam dan daun pandan sambil sesekali diaduk hingga men­ didih, angkat, biarkan dingin, sisihkan. - Membuat saus pandan : cam­ pur gula pasir, air, daun pandan dan garam menjadi satu, masak dengan api sedang, sambil sesekali diaduk, masak hingga mendidih dan gula larut, ang­ kat, saring. - Campur potongan kweni, selasih dan serutan kelapa menjadi satu, aduk, lalu cam­ pur juga saus pandan dan saus santan.

- Siapkan gelas saji, sajikan de­ ngan es serut, siap disajikan.

Bahan: 500 gr : ayam fille, potong menurut selera ½ buah : paprika merah, potong menurut selera 4 ruas : jari jahe, iris korek api 1 buah : bawang bombai, cincang kasar. 1 buah : bawang pre, cincang halus 2 sdm : kecap manis 100 ml : air 1 sdt : lada 7 buah : cabe kecil, cincang halus 2 sdm : margarin

Oseng Tongkol Suwir

Bahan: 2 ekor : 200 gr : 2 batang : 7 buah : 3 siung :

tongkol goreng, suwirsuwir, buang durinya tauge, buang akarnya kucai, potong menurut selera bawang merah, cincang kasar bawang putih, cincang halus

3 buah : cabe merah, cincang kasar 7 buah : cabe rawit, cincang halus 2 sdm : saus tiram 2 sdm : saus sambal 50 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Margarin secukupnya

Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara membuat: - Panaskan margarine, lalu tumis irisan bawang bombai, bawang pre dan bawang putih hingga harum, masukkan ayam, adukaduk merata dan masak hingga berubah warna, lalu masukkan air jahe dan bumbu-bumbu lainnya, masak hingga mendidih dan matang serta bumbu me­ resap, angkat, siap disajikan.

Cara membuat: - Panaskan margarin, lalu masukkan iri­ san bawang merah dan bawang putih, tumis hingga harum, masukkan irisan cabe besar merah dan kecil, aduk-aduk hingga layu, masukan suwiran ikan tongkol, air dan bahan-bahan bumbu lainnya, saus tiram, saus sambal, adukaduk hingga tercampur merata, lalu masukkan garam, gula, kaldu bubuk, aduk lagi dan masak hingga matang serta bumbu meresap, angkat, siap disajikan.


14

Jelita

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Khasiat Minum Air Putih untuk Wajah

Mitos

Mengapa Anak Diimunisasi? Kenapa anak terus diimunisasi? Mungkin per­tanyaan ini kerap­ kali terbersit di benak tiap orangtua. Untuk itu, Tokoh meng­ hadirkan dr. Nyoman Sri Trisnawati, M.Kes. Kepala Puskesmas III Denpasar Selatan ini juga akan mengupas beberapa mitos tentang imuninasi. Berikut ulasannya.

Mitos : Bayi demam tidak boleh diimunisasi Fakta: Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Bila bayi menderita demam tinggi ≥ 38,5 derajat celcius, imunisasi sebaiknya ditunda dan dapat diberikan setelah bayi tidak lagi demam tinggi. Menurut rekomendasi dari WHO demam yang kurang dari 38 derajat celcius boleh dilakukan imunisasi, tetapi jika orangtua sangat keberatan terhadap pemberian imunisasi kepada bayi yang sedang sakit, jangan diberikan imunisasi. Kembalilah lagi jika bayinya sudah sehat serta diberikan informasi jadwal pemberian imunisasi selanjutnya pada hari yang telah ditentukan.

Kulit dapat memancarkan kondisi tubuh seseorang. Minum air yang cukup akan menjaga kesehatan tubuh secara ke­s eluruhan dan menjaga ke­ cantikan kulit.

B

enarkah hanya dengan mengonsumsi air putih kesehatan dan kecantikan kulit bisa terjaga? Berikut wawancara Tokoh dengan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin, Laksmi Duarsa. Menurut Laksmi Duarsa, sekitar 50 sampai dengan 70 % massa tubuh, termasuk kulit kita merupakan cairan. Sumber cairan yang paling mudah diperoleh adalah air putih. Bicara kulit, maka kulit wajah yang pertama kali akan menjadi perhatian setiap orang. Karenanya, tidak heran jika orang - orang terutama perempuan ingin memiliki kulit wajah yang sehat, bersih dan segar. Minum air berfungsi menghindari terjadinya dehidrasi. Minum air juga berguna menghilangkan racun dan limbah di tubuh, sehingga tubuh bersih . Air diperlukan untuk memproses semua nutrisi dari makanan yang kita konsumsi dan membawanya ke seluruh sel. Dikatakan oleh Laksmi, sebagaimana organ lainnya di tubuh kita, kulit juga terbuat dari beberapa sel, yang juga memerlukan air supaya bisa berfungsi secara baik. Air sangat penting untuk menjaga kelembaban kulit, menutrisi sel-sel kulit, memenuhi kembali jaringan kulit serta menjaga elastisitas termasuk kecerahannya. Air dalam hal ini bisa menolong menekan munculnya tanda-tanda penuaan, seperti garis-garis halus ataupun keriput. “Kekurangan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan sembelit, alergi, asma dan yang lainnya termasuk kulit keriput, akibat keelastisannya berkurang. Apalagi setiap hari kita kehilangan air melalui urine, keringat, nafas, hingga BAB. Karenanya, penting terus mengisi tubuh dengan air, baik dengan minum atau mengonsumsi makanan yang mengandung air,” papar Laksmi. Dalam proses berkeringat, katanya lebih lanjut, kita kehilangan cukup banyak cairan. Berkeringat adalah proses alami yang membantu menurunkan suhu tubuh, sehingga tubuh tidak terlalu panas. Jadi, ketika kita berada di luar kemudian berkeringat

Mitos: Terlalu banyak vaksin akan membebani sistem imun Fakta : Tidak benar adanya. Dibandingkan dengan tantangan imunologis yang dihadapi oleh bayi setiap hari, maka tantangan dari komponenkomponen imunologis di dalam vaksin itu kecil sekali. Asalkan vaksin diberikan pada bagian tubuh yang berbeda, misalnya pada paha, lengan kiri dan kan a n , menggunakan alat suntik yang berlainan dan mengikuti ketentuan umum tentang pemberian vaksin.

tkh.net

berlebihan, sepatutnya minum air yang banyak untuk membantu mencegah dehidrasi. Laksmi juga mengatakan, minum cukup air bermanfaat mengurangi gangguan kulit diantaranya psioriasis, keriput dan eksim. Dengan minum air yang cukup akan meningkatkan metabolisme dan sistem pencernaan guna mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Minum cukup air juga mencegah kulit kering dan terjaga kelembabannya serta menjaga elastisitas pada kulit sehingga mencegah terjadinya kerutan. Selanjutnya air akan membuat kulit kita sehat, kenyal, tampak bersinar, dan cantik. Air adalah obat terbaik, katanya untuk membuat seseorang terlihat awet muda. Air menjadikan sel-sel kulit terhidrasi dan bekerja dengan baik, sehingga minum air juga bermanfaat mengeluarkan kotoran dan racun dari sistem tubuh, yang akan menjaga wajah lebih segar dan bersih serta mengurangi jerawat dan tentu akan memperlambat kulit dari keriput. Minum Air 8- 10 Gelas Sehari Berikutnya disampaikan ketika kita mandi air dingin, ini juga dapat menenangkan saraf serta mengurangi stres , yang semuanya berhubungan dengan kulit. Kalaupun kita senang berendam, lakukan cukup 3 menit, agar fungsinya meremajakan kulit. Sebaliknya jika berendam terlalu lama, akan mudah menghilangkan minyak alami. Mengenai air dingin, Laksmi juga mengatakan bagus digunakan membilas usai mencuci rambut. Ini untuk membuat rambut mengkilat, karena suhu dingin menyempitkan kutikula rambut, sehingga rambut menjadi halus.dan membuat rambut lebih kuat. “Air, hampir ¼ dari berat seluruh rambut kita. Dengan begitu minum dua liter air setiap hari akan membuat rambut bercahaya dan sehat. Rambut kita akan tumbuh subur di lingkungan yang bagus kelembabannya,” ucapnya. Laksmi menyatakan seperti kulit

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

kita, rambut juga perlu pelumasan dari dalam dan luar. Kurangnya kelembaban rambut akan mudah membuatnya menjadi kering dan rapuh. Sebab, ketika kita tidak minum cukup air untuk memenuhi kebutuhan tubuh sehari-hari, maka akar rambut sebagai sarana untuk menyerap air dan memberikan hidrasi ke rambut akan berkurang. Secara umum juga air akan memberi energi pada ujung saraf untuk meningkatkan vitalitas alami kulit dan akar rambut. Air minum juga membantu untuk menghilangkan masalah rambut seperti ketombe dan dermatitis seborrhea. Sekali lagi diingatkannya kalau tubuh kita terdiri dari 70 % air, katanya air sangat penting menjaga fitalitas tubuh. Cairan tubuh yang terdiri dari air akan membantu pencernaan, sirkulasi darah, penyerapan, produksi air liur, serta transportasi nutrisi ke seluruh tubuh. Selain itu air juga membantu mempertahankan suhu tubuh yang normal. Air membantu tubuh agar supaya tetap berfungsi dengan baik. “Otak kita terdiri hingga 90 % air, sementara itu jaringan tubuh dan otot-otot kita terdiri sampai 70 % air. Jadi, ketika tubuh kita kekurangan cairan, maka otak kita berhenti bekerja dan akan menyebabkan migrain serta sakit kepala akibat dehidrasi,” tuturnya. Pada saat kita kehilangan banyak air, maka ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga akan menumpahkan kelebihan beban pada hati. “Hati bertugas membantu membakar lemak menjadi energi, akan tapi ketika harus melakukan pekerjaan lebih banyak, maka ia tidak dapat membakar banyak lemak menjadi energi sebagaimana mestinya, sehingga lemak sebagian akan disimpan. Minumlah air dalam jumlah yang baik untuk mencegah penyimpanan lemak, serta untuk menjaga kesehatan,” kata Laksmi lebih lanjut. Jadi bisa dikatakan bahwa berat badan yang ideal adalah salah satu keuntungan dari cukup minum air. Air bisa membuat tubuh anda langsing. Air akan membantu mengontrol asupan makanan ketubuh dan melancarkan pencernaan. Air adalah minuman rendah kalori namun memiliki manfaat yang besar.

Selain wajah, ada juga mata, yang seringkali disebut mampu memancarkan kecantikan. Makanya, membasuh mata dengan air dingin merupakan cara terbaik menjaganya tetap menarik dan segar selain mencegah terjadinya iritasi. Mandi dan mencuci muka dengan air adalah cara terbaik untuk menjaga kulit wajah tetap bersih dan segar. Air akan membantu menghilangkan kotoran dan bahan-bahan kimia yang dapat merusak kulit. Selain itu , kata Laksmi rajin minum air putih merupakan cara yang efektif untuk detoksifikasi dan mengencangkan kulit. Jika air hangat dapat membuka poridan menghilangkan kotoran, maka air dingin akan membantu menutup dan mengecilkan pori-pori. Minum air yangcukup akan menjaga bibir anda tampak lembut dan cantik. Anda tidak akan mengalami bibir pecah-pecah lagi. Minum air putih 8-10 gelas sehari secara teratur agar dapat mencegah terjadinya dehidrasi. Dehidrasi sendiri akan berdampak buruk pada kulit yang menyebabkan kekeringan. Terpenuhinya kebutuhan air akan membuat kulit menjadi lembab dan lembut serta terasa halus dan dapat terhindari dari masalah bibir pecah-pecah. Dengan pengetahuan yang cukup, katanya maka air bisa sebagai pengganti paling tepat untuk perawatan kulit yang saat ini cukup mahal. – Sri Ardhini

Mitos: Tidak boleh memberikan ASI sesudah vaksin polio oral Fakta : Ini tergantung dari umur bayi. ASI dapat diberikan segera setelah imunisasi polio

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Analisis Sperma Salam hormat dokter, saya ingin menanyakan tentang tes sperma, wajibkah bagi saya seorang pria untuk memeriksakan sperma? Bagaimana prosedurnya dan apa saja makna dari hasilnya? Soalnya saya berencana memiliki keturunan, karena dulu saya pernah mengalami infeksi saluran kencing. Yang kedua, buah pelir saya yang sebelah kiri terasa lebih turun dan berukuran lebih besar dan berisi, apakah itu normal dok? Lalu kemana say harus memeriksakan diri? Mohon penjelasan, terima kasih. (Ketut Sumiartha)

T

es untuk mengetahui kualitas dari sperma laki-laki yang menggambarkan kesuburannya disebut dengan analisis sperma. Analisis sperma penting dilakukan untuk

menilai fungsi organ reproduksi laki-laki. Yang diperiksakan adalah ejakulat atau cairan sperma yang dikeluarkan dan ditampung hasil dari masturbasi atau sanggama terputus. Sebelum melakukan pemeriksaan disarankan untuk

oral pada bayi yang berumur lebih dari 1 minggu karena ASI yang diproduksi dalam 1 minggu pertama (mengandung kolostrum) yang mana terdapat antibodi dengan titer tinggi yang dapat mengikat vaksin polio oral. Mitos : Sesudah imunisasi, anak tidak akan tertular penyakit Fakta : Tidak sepenuhnya benar. Walaupun kemungkinannya kecil, bayi/anak yang telah diimunisasi masih dapat tertular penyakit tersebut, namun jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alamiah. Walau saat bayi sudah imunisasi lengkap, bukan berarti si bayi sudah aman dari ancaman penyakit sehingga mengapa ada imunisasi yang harus diulang. Imunisasi akan memberikan antibodi bagi anak. Setelah diimunisasi antibodi anak akan naik, tapi suatu saat antibodi tersebut akan turun lagi. Saat antibodi turun atau hampir habis harus diberi imunisasi lagi sehingga imunisasi ulangan sangat penting sekali. Kalau tidak diulang, antibodi dalam tubuh akan habis atau berkurang sehingga kemungkinan anak terserang penyakit akan lebih besar. Mitos: Setiap anak perlu mendapatkan imunisasi karena banyak kuman berbahaya di sekitarnya Fakta: Benar adanya bahwa bayi yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap dan anak batita mendapat imunisasi lanjutan akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan kepada adik, kakak dan teman-teman di sekitarnya. Imunisasi akan meningkatakan kekebalan tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut. Jadi selain bermanfaat untuk diri sendiri, imunisasi juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran di keluarga dan anak lain di sekitarnya. Mitos: Jika saat balita sudah diimunisasi lengkap, di sekolah tidak perlu imunisasi lagi Fakta: Itu tidak benar dan memang perlu diimunisasi lagi. Ada beberapa imunisasi yang perlu pengulangan di bangku sekolah dasar adalah imunisasi campak untuk kelas 1 pada bulan September dan imunisasi DT untuk kelas 1 dan Td untuk kelas 2 dan kelas 3 pada bulan November. Kenapa perlu imunisasi saat usia sekolah? Karena secara keseluruhan efektivitas melindungi gejala penyakit hanya berkisar 70-90%. Pada umur >10 tahun masih dijumpai kasus difteri dan kejadian luar biasa difteri terjadi pada anak yang sudah mendapat imunisasi terutama di daerah yang padat penduduk/

berpuasa dari hubungan seksual dulu, terbaik sekitar 3-5 hari dan sudah diperiksa selambatnya sejam sesudah ejakulasi. Yang dianalisis kemudian dari cairan sperma yang telah ditampung yaitu beberapa parameter, diantaranya yang penting adalah volume, konsentrasi, pergerakan, dan morfologi dari sperma. Lakilaki yang sehat secara reproduksi rata-rata mengeluarkan 2-5 cc cairan sperma dalam satu kali ejakulasi. Sementara konsentrasi sperma yang normal adalah di atas 20 juta per cc atau 40 juta secara keseluruhan. Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi sperma rendah, istilah kedokteran untuk konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia. Bila sama sekali tidak ada sperma disebut azoospermia. Sperma terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat berenang maju dan yang tidak. Hanya sperma yang dapat berenang maju dengan cepatlah yang dapat mencapai sel telur. Sperma yang tidak bergerak tidak ada gunanya. Menurut WHO, motilitas sperma digolongkan dalam empat tingkatan: a) sperma yang berenang maju dengan cepat dalam garis lurus seperti peluru ken-

11

tinggal berdekatan. Penyakit campak adalah penyakit yang sangat mudah menular dan mengakibatkan komplikasi yang berat. Vaksin campak memiliki efikasi kurang lebih 85%, sehingga masih terdapat anak-anak yang belum memiliki kekebalan dan menjadi kelompok rentan terhadap penyakit campak. Anak yang sudah divaksinasi saat bayi ternyata saat umur 5-7 tahun terdapat 28,3% masih terkena campak. Untuk memberantas tetanus diperlukan 5 kali suntikan tetanus toksoid sejak bayi sampai dewasa sehingga menimbulkan kekebalan sekitar 20 tahun lagi. Apa beda imunisasi dengan vaksin? Imunisasi atau vaksinasi adalah upaya untuk mendapat kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau bibit kuman yang telah dilemahkan/dimatikan ke dalam tubuh. Dengan memasukkan kuman/bibit penyakit tersebut tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada saatnya digunakan untuk melawan kuman/bibit penyakit yang menyerang tubuh manusia. Sedangkan vaksin adalah produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman (bakteri, virus atau riketsia) atau racun kuman (toxoid) yang telah dilemahkan atau dimatikan dan akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Kenapa anak-anak diimunisasi terus? Dokter Trisna menjelaskan, anak-anak terus diberikan imunisasi agar tidak mudah terserang penyakit. Imunisasi memberikan perlindungan menyeluruh terhadap penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada awal-awal kehidupan seorang bayi. Ada 5 jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun, yakni: imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC (Tuberkulosis) berat; imunisasi HB untuk mencegah penyakit hepatitis B dan kerusakan hati; imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio yang menyebabkan kelumpuhan; imunisasi DPT-HB-Hib (Pentavalen) untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan atau batuk 100 hari ), tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis (radang otak); Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otak dan kebutaan. Pada batita, juga wajib diberikan imunisasi lanjutan yang meliputi: imunisasi DPT-HB-Hib diberikan pada anak balita umur 18 bulan (1,5 tahun); imunisasi campak diberikan pada anak balita umur 24 bulan (2 tahun); imunisasi anak sekolah yang dikenal dengan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah ) yakni imunisasi campak untuk kelas 1 pada bulan September, serts imunisasi DT untuk kelas 1 dan Td untuk kelas 2 dan kelas 3 pada bulan November. –Inten Indrawati

dali, b) sperma yang berenang maju tetapi dalam garis melengkung atau bergelombang, atau dalam garis lurus tetapi lambat, c) sperma yang menggerakkan ekornya tetapi tidak melaju, d) sperma yang tidak bergerak sama sekali. Sperma kelas c dan d adalah sperma yang buruk. Laki-laki yang subur memproduksi paling tidak 50% sperma kelas a dan b. Bila proporsinya kurang dari itu, kemungkinan akan sulit memiliki anak. Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus panjang di tengahnya. Sperma yang ada dalam keadaan banyak dari bentuknya tidak normal disebut teratozoospermia. Bentuk seperti kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu besar, kepala ganda, tidak berekor, dll, adalah sperma abnormal dan tidak dapat membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang disebut normal. Laki-laki sehat memproduksi paling tidak 30% sperma berbentuk normal. Kesuburan laki-laki ditentukan oleh kombinasi keempat kriteria di atas, yaitu jumlah sperma yang cukup dan berbentuk sempurna dalam cairan

sperma yang dapat bergerak agresif. Dari interpretasi ini, jika ada masalah ketidaksuburan dari sebuah pasangan, bisa jadi sudah dapat ditelusuri penyebabnya. Dengan demikian, dokter dan timnya akan dapat membuat suatu rencana pengobatan untuk menjadi solusi ketidaksuburan seorang laki-laki. Tentang riwayat pernah mengalami infeksi menular seksual juga perlu diperiksakan lagi apakah infeksi masih aktif atau sudah tuntas. Jika masih aktif, infeksi harus diobati untuk membuat kualitas sperma juga menjadi lebih baik. Tentang ukuran dan bentuk buah pelir atau testis, memang perlu diketahui bahwa keduanya sesungguhnya tidak harus selalu simetris, dan sudah biasa jika testis kiri posisinya lebih turun atau lebih rendah di banding yang kanan. Tetapi jika dirasakan ada yang aneh, atau ada perbedaan ukuran yang ekstrim antara yang kiri dan kanan, ada baiknya juga diperiksakan ke dokter yang paham kesehatan seksual, karena jika ternyata ada abnormalitas pada testis memang dapat mengakibatkan gangguan kesuburan.


10

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Bugar

APA DAN BAGAIMANA PENANGANAN LUKA BAKAR ?

Penyebab Luka Bakar rendam bagian tubuh yang hal tersebut. Langkah-langkah un­ Luka bakar dapat disebabkan mengalami luka bakar selama tuk mencegah terjadinya kebakaran oleh berbagai macam hal antara 10-15 menit. khususnya di rumah adalah : lain (dari paling sering) : - Pada luka bakar yang luas pasien - Pemasangan alarm asap - Api (55%) sebaiknya segera dibawa ke - Hati-hati saat menggoreng/me­ - Cairan panas (40%) seperti air klinik atau rumah sakit terdekat masak di dapur. panas untuk pertolongan lebih lanjut. - Jangan meninggalkan lilin me­ - Bahan kimia dan elektrik/ terse­ nyala. ngat listrik (5%) Tindakan Pencegahan - Puntung rokok harus dimatikan. Fakta bahwa 90% peristiwa luka - Jangan merokok di tempat tidur. Insiden Luka Bakar bakar sesungguhnya dapat dicegah, - Jauhkan korek api dari anakanak. Bedasarkan Usia maka mendorong beberapa lang­ - Bila terdapat kebakaran ,keluar­ Luka bakar dapat terjadi pada kah untuk mengurangi terjadinya lah segera. semua kelompok usia seperti : - Anak balita sampai usia 4 tahun yang merupakan 20% dari selu­ ruh korban luka bakar. Penyebab tersering dari kelompok usia ini adalah tersiram air panas secara tidak disengaja. - Anak usia sekolah dan remaja yang merupakan 10% dari selu­ ruh kasus luka bakar. - Kelompok pemuda dan usia produktif (15-64 tahun) meru­ pakan prosentase terbesar dari korban luka bakar (>60%) yang mayoritas disebabkan oleh api, dan sepertiga kasus terjadi karena kecelakaan di tempat Pendahuluan kerja. Peristiwa atau kasus luka bakar - Kelompok usia lanjut (10% dari dapat kita temui dalam kegiat­ seluruh korban luka bakar). an sehari – hari baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan Pertolongan Pertama kerja. Seringkali oleh kurangnya Luka Bakar pengetahuan tentang luka bakar - Jauhkan korban dari semua ob­ dan cara penanganannya maka jek yang menjadi penyebab luka makin memperparah kondisi luka bakar. bakar yang telah ada. Masyarakat - Segera lakukan langkah–langkah awam seringkali membubuhkan untuk mendinginkan luka bakar, berbagai macam bahan pada luka hal ini dapat dilakukan dengan bakar seperti pasta gigi, mentega, aturan “10-15” yaitu : minyak goreng, maupun salep anti­ - Dinginkan luka bakar dalam biotik. Penanganan luka bakar 10-15 menit. yang kurang tepat ini malah dapat - Gunakan air dingin (kira–kira memperparah keadaan luka bakar bersuhu 10 -15 ⁰C) Contoh luka bakar yang terjadi pada seorang anak akibat tersiram air panas bahkan menimbulkan infeksi. - Gunakan air mengalir atau

Berlaku sampai Desember 2015

Style

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Semarak Gaya

Merah Putih

Sesungguhnya, warna merah dan putih di arena mode sudah tak asing lagi. Namun, pada bulan Agustus, ­perpaduan kedua warna ini paling ramai digunakan dan menjadi lebih istimewa.

R

upanya tema hari kemerdekaan yang sarat nuansa merah - putih, juga kerap digunakan untuk tren busana. Apalagi gaya fashion merah - putih sangat identik dengan semangat dan kemeriahan. Beberapa wanita pengusaha di Bali ini pun hadir di berbagai acara mengenakan busana bernuansa merah – putih, demi turut menyemarakkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Mereka begitu cantik memakai siluet kebaya dengan beragam model kain dan rok midi. Ada juga padanan blus merah dengan

rok mini atau celana panjang. Semuanya menjadi pasangan sempurna untuk membuat penampilan semarak dan segar sepanjang hari. Apalagi semuanya piawai memilih aksesori seperti jam tangan, tas , sepatu hingga kalung hingga menambah tampilan semakin menarik Berikut beberapa pilihan busana yang terekam Tokoh pekan ini. Gaya merah -putih dengan kesan chic, sporty, playful hingga bergaya classy.Yang pasti semuanya menjadikan Perayaan Hari Kemerdekaan ke 70 - RI sebagai momen indah dengan busana merah putih. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Studi Banding STAIN Kudus ke IKIP PGRI Bali Selasa (18/8), Gedung Serbaguna IKIP PGRI Bali dipadati tak kurang dari 800 mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, Jawa Tengah. Kunjungan mereka ke IKIP PGRI Bali ini bertajuk “Seminar Pendidikan dan Studi Banding Mahasiswa Tarbiyah STAIN Kudus”.

R

ektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. menyampaikan terimakasih dan merasa tersanjung karena menjadi pilihan dijadikan teman sharing dan tukar pendapat untuk saling mengisi Pada kesempatan itu, Made Suarta memperkenalkan para pejabat di lingkup IKIP PGRI Bali, sejarah singkat IKIP PGRI Bali dengan 5 Fakultas dan 9 Prodinya yang semua sudah terakreditasi, hingga prestasi-prestasi yang sudah diraih IKIP PGRI Bali. “Atas perjuangan dan kerjasama civitas akademika IKIP PGRI Bali, kini semua Prodi terakreditasi B. Ini juga menjadi kebanggan bagi kami,” ujarnya. Terkait prestasi, Made Suarta menyebut salah seorang mahasiswi berprestasi atas nama Asteria Yuniarti yang dalam acara hari itu sekaligus bertindak sebagai MC, berhasil menggondol Piala Ibu Negara sebagai Juara I GenRe tingkat Nasional tahun 2012. Prestasi di bidang olahraga, disampaikan Made Suarta juga tak kalah membanggakan. Karena atlet IKIP PGRI Bali tak hanya berhasil mengukir prestasi di tingkat regional, namun juga nasional bahkan sampai internasional. Prestasi teranyar dalam SEA Games 2015,

IKIP PGRI Bali mengirim atlet di 3 cabang olahraga atas nama Bangsa Indonesia, ketiganya meraih medali emas. “Cabang tinju atas nama Cornelis Kwangu Langu, cabang Silat beregu putri, dan Maria Natalia Londa meraih 2 emas di SEA games 2015, serta 1 emas di Asian Games 2014. Prestasi inilah yang membuat IKIP PGRI Bali makin dikenal di masyarakat luas, dan jurusan olahraga ini menjadi primadona karena respons masyakat cukup tinggi,” paparnya. Made Suarta melanjutkan, di bidang seni pun IKIP PGRI Bali cukup eksis, yakni dengan tampil di PKB secara reguler, di samping juga tampil mengisi acara terait adat, agama maupun hiburan, dari kampung ke kampung, hingga tempat suci. “Grup kesenian Arja ini gabungan dari beberapa Prodi, bahkan saya ada di dalamnya. Kami seringkali ngayah (tampil tanpa menerima honor) sambil menyosialisasikan keberadaan IKIP PGRI Bali di masyarakat. Mengundang datang melalui pementasan,” jelas Made Suarta sembari mengimbuhkan di IKIP PGRI Bali selalu terjaga kerukunan antarumat. Pada kesempatan tersebut, rombongan STAIN Kudus yang dipimpin Waka I Kurikulum, Dr. Syaekan Muchit., M.Pd. mengu-

Penandatanganan MoU antara STAIN Kudus yang diwakili Dr. Syaekan Muchit., M.Pd. (dua dari kanan) dengan IKIP PGRI Bali (Rektor Made Suarta), disaksikan Ketua Yayasan Artanegara, PR I IKIP PGRI Bali Pande Bawa, para pejabat di lingkup IKIP PGRI Bali dan peserta studi banding STAIN Kudus

capkan terimakasih karena diberi kesempatan untuk bisa menambah ilmu pengetahuan, dan bisa saling berbagi pengalaman antara STAIN Kudus dan IKIP PGRI Bali. Ia menyampaikan 3 alasan memilih IKIP PGRI Bali sebagai tempat PKL. Pertama, dari aspek kompetensi Prodi, yakni Prodi Pendidikan. “Kami mencari informasi universitas yang berbasis pendidikan, dan ketemulah IKIP PGRI Bali yang terakreditasi B dengan segugang prestasi hingga tingkat internasional. Artinya pilihan kami tepat dan tidak salah,” ujar Syaekan Muchit. Kedua, pilihan PKL di Bali mulai 17-21 Agustus ini pun bukan

tanpa alasan. Ia menyebut dari aspek budaya, Kota Kudus dan Bali punya sejarah yang cukup menarik, ada kesamaan. Di kudus ada namanya Menara Kudus yang dibuat oleh Sunan Kudus, salah satu Wali Songo. Dalam sejarah, Sunan Kudus sangat menganjurkan toleransi kepada agama Hindu, karena sebelum Islam datang, di Kudus banyak pemeluk agama Hindu. “Bahkan disana masih berlaku sampai sekarang dan dan diakui orang Kudus, bahwa ada kebiasaan orang Kudus tidak tdk berani menyembelih sapi. Alasannya, ini ajarannya Kanjeng Sunan Kudus yang mengatakan ini bagian dari toleransi dengan agama Hindu

Menikmati “Air Terjun Janda”

Kalau pergi ke Malang sempatkan mampir ke air terjun Coban Rondo. Berbeda dengan kebanyak­ an air terjun yang relatif sulit dijangkau, Coban Rondo relatif mudah dicapai, baik menggunakan kendaraan bermotor pribadi, maupun naik angkutan umum.

oleh Bu Ijah, penjual gorengan tak jauh dari lokasi adalah, pantang bagi pasangan suami istri mendatangi Coban Rondo sebelum usia pernikahannya melewati selapan. “Nek nekat yo iso dadi rondo,” ujar Ijah. Artinya, “Ya, kalau nekad bisa menjadi janda (juga)”.

C

oban (air terjun) Rondo (janda), diartikan sebagai “air terjun janda”. Ada juga yang mengartikan Coban (cobaan) Rondo (janda) alis “cobaan janda”. Lokasinya terletak sekitar 12 km dari Kota Batu, tepatnya di Desa Pandansari, Kecamatan Pujon. Sesungguhnya, selain Coban Rondo, masih ada sejumlah air terjun lagi, tak jauh dari situ. Di antaranya air terjun Coban Pelangi, Coban Manten, dan Coban Dudo. Coban Rondo adalah air terjun berketinggian 60 meter yang tak lepas dari mitos tragis Dewi Anjarwati. Kisahnya, tertulis dalam sebuah papan besar, yang bisa dibaca oleh pengunjung sekitar 30 meter sebelum kita bisa menikmati air terjun. Dalam ‘prasasti’ itu digambarkan, sepasang muda-mudi yang baru saja menikah. Mereka adalah Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi, dan Raden Baron Kusuma yang berasal dari Gunung Anjasmoro. Pernikahan yang dilandasi cinta dan restu, dilukiskan sebagai pernikahan yang bahagia. Suatu hari Dewi Anjarwati berkeinginan menjenguk mertua (orangtua Raden Baron Kusumo) di Gunung Anjasmoro. Akan tetapi, banyak pihak mencegah. Alasannya, pernikahan mereka belum berumur selapan (36 hari). Mitologi Jawa mempercayai, pasangan pengantin tidak boleh melakukan perjalanan jauh sebelum lewat selapan. Jika melanggar wewaler (adat-kebiasaan) itu, diyakini akan

saat itu. Sehingga kami menganggap bahwa Kudus dan Bali sangat dekat, ada hubungan sejarah yang cukup baik,” paparnya. Ketiga, dari aspek agama. Syaekan Muchit mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mewajibkan/diperintahkan oleh Allah harus bisa menciptakan kedamaian di dunia, ketenangan, ketentraman dengan siapa pun, termasuk juga dengan agama Hindu. Bahwa, Islam tak boleh apriori, tidak boleh bermusuhan dengan siapa pun, agama apapun, suku apapun, dan warna kulit apapun. “Kunjungan kami ke Bali ini menunjukkan agama Islam itu tidak apriori pada agama apapun. Kami tunjukkan dengan sikap hidup rukun, damai, sejahtera, bahagia saling menghormati, menghargai agama apa pun. Sehingga kami di sana (Kudus) juga tak pernah ada kontra antar-agama. Jadi klop ketemu dengan IKIP PGRI Bali yang juga sangat menjaga kerukunan umatnya,” jelasnya. Kunjungan STAIN Kudus ini pun diharapkan Syaekan Muchit bisa menambah pengalaman dan berbagi pengalaman, sehingga terjalin keakraban antara STAIN Kudus dan IKIP PGRI Bali. Ia pun mengundang IKIP PGRI Bali untuk berkunjung ke kampus STAIN Kudus. Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. mengimbuhkan, IKIP PGRI Bali secara terus menerus meningkatkan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain. “Dengan adanya kunjungan ini, mereka saling kenal dan tahu dunia luar untuk memperluas wawasan, cakrawala berpikir,” ucapnya. –ten

mendatangkan bala atau kesialan. Apa lacur, Dewi Anjarwati dan Raden Baron keukeuh pergi diikuti sejumlah pengikut, dan mengabaikan tradisi serta kepercayaan adat Jawa tersebut. Sedikit pongah, Raden Baron bahkan mengatakan, siap menerima risiko apa pun. Di tengah perjalanan, rombongan bertemu Joko Lelono. Nama “Joko Lelono” dalam banyak hikayat Jawa, sejatinya adalah anonim. Joko berarti lelaki, Lelono artinya pengembara. Jadi, setiap kisah yang menghadirkan sosok laki-laki pengembara dan tidak diketahui dengan pasti identitasnya, disebut “Joko Lelono”.

Joko Lelono kontan jatuh cinta kepada Dewi Anjarwati dan secara terus terang memintanya dari tangan Raden Baron Kusumo. Siapa pula suami yang merelakan istrinya diminta lelaki lain. Timbullah perselisihan yang berujung pada perkelahian sengit antara Raden Baron dan Joko Lelono. Dilukiskan, bahwa kedua ksatria itu sama-sama sakti. Perkelahian yang mengerahkan ilmu kanuragan pun berlangsung sengit dan dalam waktu yang lama. Di tengah perkelahian, Raden Baron Kusumo memberi perintah kepada para pengikutnya untuk membawa sang istri, Dewi Anjarwati ke suatu tempat di dekat “coban” (air terjun).

Perintah dipatuhi, Dewi Anjarwati dibawa ke lokasi yang disebut sang tuan. Cerita rakyat yang belum pernah teruji kebenarannya itu, mengisahkan bagaimana Dewi menanti dan menanti sang suami yang tengah berkelahi. Penantian panjang, namun sang suami tak kunjung datang. Dikisahkan, Dewi Anjarwati menangis di dekat sebuah batu besar, tak jauh dari coban. Ia mulai mengkhawatirkan sang suami, yang tidak akan kembali bersamanya lagi. Itu berarti, ia pun menjadi janda. Begitulah kisah yang melatarbelakangi nama Coban Rondo. Nama itu abadi hingga hari ini. Sebuah mitos lain, yang diucapkan

HUTAN PERAWAN Memasuki kawasan Coban Rondo, benar-benar sejuk. Sejuk di kulit karena hawa yang memang dingin. Pun, sejuk di mata, karena keperawanan hutan di sekeliling air terjun. Jadi tidak keliru jika ada yang berkelakar, biar pun janda, tetapi perawan. Kesejukan alam dan udara, sudah kita rasakan sejak kita memasuki kota Batu yang memang terletak di dataran tinggi Malang. Jalanan beraspal halus, memudahkan pengendara. Setidaknya sampai pada lokasi patung sapi pada ruas jalan Batu – Pujon, pengunjung disuguhi pemandangan alam yang indah. Patung sapi itu adalah check point menuju Coban Rondo. Dari patung tadi, jarak tempuh menyisakan 4 km lagi, hingga kita menatap sebuah gerbang bertuliskan ‘Welcome to Wana Wisata Coban Rondo’. Dataran yang tinggi dan akses berupa jalan beraspal mulus membuat lokasi Air Terjun Coban Rondo sebagai area camping ground favorit di Jawa Timur. Lokasi ini nyaris tak pernah sepi pengunjung, terlebih di hari atau musim libur. Sumber mata air Coban berasal dari daerah Kepundan, yang terletak sekitar 3-4 kilometer di dataran yang terletak di bagian atas air terjun. Air yang jernih dan sejuk, ditambah pemandangan kawasan hutan yang menakjubkan akan memudarkan rasa lelah. Tidak sedikit pengunjung yang mandi di bawah “shower alam” Coban Rondo. Selain dikenal sebagai objek wisata, lokasi di sekitar Coban Rondo juga sering dijadikan tempat bertirakat. –Diana Runtu

Dara

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Kulkul Segera Luncurkan Gatra

Bagi pengguna email, pasti pernah menerima email promosi. Email ini ada yang dibuka karena isinya menarik, namun ada yang dibiarkan tidak dibaca. Bagi pengirim email, tentu ingin mendapatkan kepastian apakah kirimannya sudah sampai dan dibaca atau hanya sampai tetapi belum dibaca.

U

ntuk mengatasi kegalauan si pengirim, empat anak muda kreatif yang tergabung dalam tim Kulkul membuat terobosan dengan aplikasi yang membuat si pengirim email bisa melacak apakah email-nya sudah dibaca apa belum. “Kami memberikan solusi marketing bagi klien yang ingin mendapat kepastian apakah email yang dikirim sudah dibaca apa belum,” ungkap Anggha Sanjaya Santoso, salah satu anggota Kulkul yang bertugas sebagai designer application. Anggha yang didampingi I Putu Andika Marda Putra (Dika), I Gede Bara Yuda Gautama (Bara), dan IB Tirta Keniten (Tirta) menjelaskan aplikasi ini diberi nama Gatra. “Gatra itu artinya kabar. Melalui aplikasi yang kami buat, kami ingin membantu klien untuk mengabarkan promosi mereka. Gatra memasilitasi pengguna untuk mengirimkan email secara massal, murah, mudah, dan atraktif,” imbuh Bara sebagai business relations. Aplikasi yang dibuat ini memungkinkan pengguna membuat sendiri format promosi mereka. Hanya perlu mengisi template yang sudah disiapkan dengan gambar dan teks, pengguna sudah punya materi promosi sendiri. Selanjutnya email bisa dikirimkan ke ribuan penerima atau yang dikenal dengan email blast. “Email yang sudah terkirim bisa dilacak statistiknya, berapa yang dibaca, berapa yang belum,” kata Dika yang mengurus bagian marketing dan keuangan. Klien yang mereka sasar di antaranya hotel, villa, biro per-

jalanan, dan berbagai usaha yang memerlukan promosi secara online. Aplikasi ini sudah diperkenalkan ketika mereka mengikuti pameran di D’TIK Festival di Denpasar dan Pameran Produksi Indonesia (PPI) di Surabaya. Tirta yang bertugas sebagai developer mengatakan sudah ada respons dari pengunjung. Mereka tertarik untuk mencoba aplikasi ini. Kulkul juga memberi jaminan data dari pelanggan aman karena mereka memiliki server sendiri. Privasi klien tetap dijaga. Bahkan aplikasi ini bisa disinkronisasi dengan media sosial. Khusus untuk klien premium akan diberikan bonus email ucapan selamat hari raya atau ulang tahun yang bisa diatur waktunya. RASA JENGAH Keempat anak muda ini memiliki passion yang sama di bidang teknologi informasi. Mereka sudah beberapa kali menggarap proyek bersama. Ketika ada peluang untuk masuk inkubator bisnis Kementerian Perindustrian, mereka pun mengajukan proposal Gatra sebagai start up. September 2015 ini, mereka menargetkan Gatra sudah siap untuk di-publish. Mengenai nama Kulkul, keempatnya mengaku ingin mencari sebuah nama yang mudah diingat dan berkesan. Dari beberapa ide, muncullah nama Kulkul. Bagi masyarakat Bali, kulkul merupakan alat komunikasi yang sangat penting. “Filosofinya sangat mendalam. Begitu dipukul, orangorang pasti langsung berkumpul. Dengan nama Kulkul ini, kami pun ingin mendapat perhatian. Begitu kami mengabarkan sesuatu, orang

Anggha sedang memberi penjelasan kepada pengunjung stand

tertarik,” jelas Tirta. Memiliki tugas untuk menyelesaikan proyek ini, membuat mereka harus bekerja keras dan semaksimal mungkin. Namun, mereka kadang dilanda kejenuhan. “Solusinya kami pergi menengok tim lain. Kadang kami bercanda dengan mereka. Intinya yang menghibur diri untuk menghapus kebosanan. Biasanya setelah berkunjung ke tim lain, kami mendapat gairah baru untuk memulai lagi. Kadang ada rasa

9

Stand pameran Kulkul di PPI Surayaba

jengah, yang lain kemajuannya sudah pesat maka kami pun harus melakukan hal yang sama,” kata Anggha. Tiap saat Anggha, Bara, Dika, dan Tirta selalu berkomunikasi untuk memaksimalkan apa yang

Tim Kulkul

sudah mereka rancang sehingga berhasil menjadi aplikasi yang bermanfaat. Selain itu, presentasi di hadapan mentor juga dilakukan untuk memantau seberapa ba­nyak kemajuan yang diraih Kulkul. –Ngurah Budi


8

Bunda & Ananda

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Mengajarkan Bahasa ke Anak

Ibarat Menuang Air ke Gelas

Bahasa menunjukkan budaya. Konsep ini sering digunakan untuk memahami budaya masyarakat. Karena itu, pengenalan bahasa sejak kecil menjadi salah satu media untuk pengenalan budaya.

A

danya temuan bahasa kasar dan vulgar di buku pelajaran bahasa Bali sempat mencuat pertengahan Agustus 2015. Hal ini mengundang keprihatinan karena penggunaan bahasa kasar itu dituangkan dalam buku. Muncul kekhawatiran, jika bahasa kasar ini dibukukan, akan terus diingat anak-anak. Di sisi lain, pembelajaran bahasa Bali sudah masuk dalam kurikulum SD. Kelas 1 pun sudah diperkenalkan dengan bahasa Bali. “Anak saya sudah dikenalkan tentang anggota tubuh. Begitu menyebut payudara dalam bahasa Bali, anak saya dan teman-temannya langsung tertawa. Sampai di rumah pun terus dia ucapkan. Sepupunya yang masih TK juga dia beritahu,” ungkap Bu Yati, seorang ibu dari Denpasar. Pengalaman Bu Yati mungkin dialami orangtua lainnya yang memiliki anak kecil. Anak kecil sangat mudah sekali menyerap bahasa. Apa yang mereka dengar, diingat, kemudian diucapkan lagi. Mereka belum bisa memilah mana bahasa yang baik dan mana yang masuk kategori vulgar. Menurut I Made Widiantara, S.Psi. M.Si, salah satu landasan perkembangan bahasa untuk membentuk seorang anak menjadi seorang manusia linguistik adalah faktor biologis. “Tiap anak yang terlahir di dunia ini mempunyai Language Acquisition Device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Pada tahuntahun awal masa perkembangan anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa. Faktor kognitif anak merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ilmuwan kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya,” ujar pengurus seksi Pengabdian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Naluri alamiah juga yang membuat manusia cenderung untuk lebih mudah mengingat yang negatif dibanding dengan yang positif. Ia mencontohkan jika ada orang baru masuk ke daerah baru, bahasalah yang dipelajari pertama. Namun, setelah sekian lama, mereka akan mengaku kalau bahasa

yang diajarkan pertama adalah bahasa gaul yang cenderung vulgar. Ia pun pernah mengalami hal seperti itu. Mengenai masuknya bahasa kasar dan vulgar dalam buku pelajaran, dosen Politeknik Negeri Bali dan Universitas Dwijendra Denpasar ini sangat menyayangkan. “Bahasa itu ada yang tertulis dan tidak tertulis. Kalau tertulis, bisa positif, bisa negatif. Kecenderungan, bahasa tertulis yang negatif lebih lama diingat. Anak-anak memiliki fase peniruan. Apa yang dilihat dan dibaca itu ditiru. Mereka belum bisa melakukan pemilahan,” paparnya. Widi mengutip Sigmund Freud, tentang 3 struktur kepribadian yaitu id, ego, dan super ego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada usia 7 tahun. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini. Ego bertujuan untuk menemukan cara yang realistis dalam rangka memuaskan id. Fungsi ego ini juga berguna untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh id berdasarkan kenyataan yang ada. Super ego yang mengatur dan mengarahkan tingkah laku (ego) manusia yang bermaksud untuk memuaskan dorongan-dorongan id, yaitu melalui aturan-aturan dalam masyarakat, agama, atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. JANGAN CAMPUR ADUK BAHASA Dalam hal ini peran orangtua sangat penting untuk lebih memperhatikan penggunaan bahasa di rumah dan di lungkungan. Bagus bahasa yang didengar, bagus juga perkembangan bahasa anak. Sebaliknya buruk bahasa yang didengar, buruk juga perkembangan bahasa anak. ”Jika anak meniru bahasa yang kasar atau vulgar, kemudian ia ditertawakan, sia anak bisa merasa bahasa yang ia ucapkan itu menarik perhatian orang. Padahal sejatinya bahsa itu tidal layak ia ucapkan,” ujar Widi. Penggunaan bahasa kasar seharusnya tidak sampai dimuat dalam buku. Bahasa kasar cenderung digunakan sebagai bahasa pergaulan untuk teman-teman

sebaya. Penggunaannya pun tidak sembarangan. Jangan sampai salah menggunakan bahasa ini akan menimbulkan konflik. Mengenai bahasa vulgar, Widi mengingatkan guru atau orangtua harus memberi pemahaman tentang apa yang diajarkan. Kalau di sekolah diberikan pelajaran bahasa tentang anggota tubuh, itu harus dibarengi dengan penjelasan bahwa yang disampaikan itu berada dalam lingkungan akademik. Jangan sampai bahasa yang dipelajari itu kemudian dijadikan bahan guyonan atau candaan. Anak-anak harus diingatkan bahwa bahasa vulgar itu hanya untuk diketahui dan tidak diumbar. Sama halnya dengan menjaga bagian vital tubuh yang harus dilindungi dan tidak dibiarkan terbuka atau menarik perhatian orang lain. Memberikan pemahaman bahasa yang baik dan benar ke-

pada anak ibarat memberikan air ke dalam gelas transparan. Kalau air yang jernih diberikan maka air jernih yang dilihat. Kalau bermacam-macam yang diberikan, yang terlihat juga akan bermacam-macam. Pada usia 2-4 tahun, bahasa ibu atau bahasa yang digunakan sehari-hari yang lebih diprioritaskan. Usia 6 tahun ke atas sudah boleh diperkenalkan dengan bahasa tambahan yang bisa menjadi bekal si anak. Jangan melakukan campur adik bahasa yang membuat anak sulit dalam berkomunikasi Ke depannya, Widi berharap

pemerintah melalui Dinas Pendidikan lebih memperketat pengawasan materi buku pelajaran. Jangan sampai ada kata-kata yang kasar dan vulgar yang masuk dalam buku pelajaran. Bahasa yang digunakan haruslah bahasa santun. Untuk menunjang hal tersebut, melibatan pihak lain untuk diajak diskusi dan melakukan verifikasi bisa dilakukan. Bagi orangtua, harus melakukan pendekatan humanis kepada anak karena anak merupakan karakter yang unik dan berbeda satu sama lain. Orangtua harus menjadi sahabat anak dan lebih banyak menanamkan hal-hal positif.

Disperindag Kota Denpasar

Gelar Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi. Karenanya pengembangan UKM mendapatkan perhatian yang besar dari Pemerintah Kota Denpasar. Demi kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar melaksanakan pelatihan “Membangun Jejaring dengan Eksportir” di Ruang Pertemuan Disperindag Kota Denpasar, di Lantai III, Gedung Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Jumat (21/8).

–Ngurah Budi

Sitiuasi Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

P

ada program pelatihan yang dihadiri oleh kalangan pengrajin/pengusaha ekspor dan unggulan ekspor di Kota Denpasar tersebut, menghadirkan pembicara Luh Kadek Budi Martini, S.E., M.M., yang memaparkan materi dengan tema “Peningkatan Inovasi Komoditi Unggulan dalam Rangka Meng-

gapai Peluang Ekspor”. Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar IA Dewi Citrawati didampingi Kasi Ekspor Impor A.Ag. Kartika Dewi, mengatakan pelatihan kali ini bertujuan memberikan wawasan kepada pengrajin unggulan ekspor dan pengusaha ekspor mengenai strategi mengembangkan dan mengelola produk-produk ung-

Berbicara perihal UMKM dan ASEAN Economic Community (AEC)/ Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), narasumber Budi Martini mengatakan kerjasama ekonomi ASEAN mengarah kepada pembentukan komunitas ekonomi ASEAN sebagai suatu integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil. MEA yang akan diberlakukan pada Desember 2015 ini, bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pengembangan budaya. Dikatakannya ada 4 pilar AEC, yakni terbentuknya pasar dan basis produksi tunggal, kawasan berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata dan integrasi dengan perekonomian dunia. Ia juga menyebutkan target pengembangan UMKM tahun 2015 , bahwa produtivitas dan daya saing UMKM harus terus meningkat. Dengan perkem-

bangan ekspor UMKM tumbuh hingga 20% per-tahunnya. Bertumbuhnya wirausaha baru yang inovatif serta meningkatkankan akses kredit perbankan bagi UMKM khususnya KUR sebesar Rp 100 triliun. Mengenai tantangan bagi UMKM dalam MEA 2015, katanya sangat banyak. Ia melihat persaingan makin tajam, walau sumber daya kita banyak tapi untuk memperoleh sumber daya tersebut diperlukan strategi khusus bagi para UMKM. UMKM juga harus menjaga dan meningkatkan daya saing sebagai industri kreatif dan inovatif. Selain itu UMKM juga harus meningkatkan standar, desain dan kualitas produk agar sesuai dengan ketentuan ASEAN, misalnya para UKM bisa melihat pada ketentuan ISO 26000. Tantangan penting lainnya, disebut Budi Martini meningkatkan UKM agar mampu memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang ada termasuk dalam kerangka

Dayu Citrawati

Agung Dewi

Wayan Gatra

gulan ekspor yang akan dihasilkan maupun yang sudah dihasilkan agar lebih memiliki nilai. Selain itu juga lebih bisa mandiri dalam memasuki persaingan pasar bebas dunia. Menurut Kepala Disperindag Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., Pemerintah Kota Denpasar terus meningkatkan perannya dalam memberdayakan UMKM disamping meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Pengembangan UMKM kedepan, perlu menggabungkan keunggulan lokal (lingkungan internal) dan peluang pasar global. Mengingat Kota Denpasar merupakan pusat perdagangan Provinsi Bali dengan fasilitas pendukungnya sangat memadai dalam menunjang aktivitas per-

dagangan tersebut. Dikatakannya, nilai komoditi unggulan di Kota Denpasar dalam 4 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 capaian ekspor kota Denpasar sebesar US $ 396.618.979, dengan komoditi penyumbang terbesar : hasil kerajinan 43, 79 %, industri 28, 44 %, pertanian 27, 29 %hasil perkebunan 0, 22 % dan lain-lain 0, 26 %. Untuk dapat meningkatkan daya saing dan pengembangan akses pasar global, katanya harus menggalakkan produk-produk ekspor potensial tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mempertahankan kualitas, harga dan desain. Demi mempertahankan pasar yang ada dan menggapai pasar yang baru, harus terus didukung oleh semua pihak

terutama dalam pengembangan produk dan pemasaran. Berbagai cara berpromosi bisa dilakukan, baik promosi melalui pameran langsung, media cetak maupun elektronik. Melalui promosi ini peluang yang dapat diraih adalah terbangunnya jejaring kerjasama usaha dalam mengembangkan potensi dan peluang komoditi produk unggulan untuk dikenal baik di pasar lokal maupun global/ internasional. Tentu di sini SDM memiliki peranan yang penting, sebab metode,sistem, produk dan proses dikembangkan dan diperbaharui. Sehingga nantinya mampu meningkatkan permintaan, pendapatan dan percepatan lainnya sehingga keunggulan merupakan nilai tambah tersendiri. –ard

Creative, Inovative dan Unique (CIU) Widiantara

Mendongeng Lima Menit

KERBAU PENARIK BAJAK

Malang benar nasib seorang petani bernama Gilang. Di desa itu, dialah petani yang paling miskin. Ia pekerja keras, menyangkul, mengairi sawah dan menanam benih padi, namun panen padinya gagal. Kalau saja panennya berhasil, ia bisa makan Made Taro sekali sehari; tetapi kalau gagal, terpaksalah ia makan lima hari sekali, bahkan enam hari sekali. “Mengapa nasibku tetap begini?” keluhnya pada suatu hari. “Petani tetanggaku bisa makan sekali sehari, bahkan di musim panen tiga kali sehari. Bukankah aku sudah membanting tulang mengolah tanah agar hasil panen berlipat ganda?” Setelah mengeluh, ia tidak lupa berdoa, mohon belas kasihan para dewa. Rupa-rupanya gerak-gerik dan doa petani yang rajin itu menarik perhatian Dewa Kesejahteraan yang bersemayam di atas langit. Sejak lama beliau ingin menolong petani itu, namun curiga, jangan-jangan petani itu menjadi sombong dan manja. Sang Dewa ingin agar petani itu menyadari bahwa hidup sejahtera hanya diperoleh dengan bekerja keras. Pada suatu hari Dewa Kesejahteraan memanggil seekor kerbau yang sudah biasa menjadi utusan ke bumi.

“Kerbau!” katanya. “Pergilah ke bumi! Sampaikan pesanku kepada seorang petani bernama Gilang!” “Pesan apa itu, Tuanku?” tanya Kerbau. “Katakan kepadanya, kalau kamu bekerja lebih keras, maka kamu akan kuberi makan tiga hari sekali.” Kerbau itu secepatnya turun ke bumi menemui Gilang. “Gilang! Ada pesan dari Dewa Kesejahteraan.” “Pesan apa itu?” “Kalau kamu bekerja lebih keras, maka kamu akan diberi makan tiga kali sehari.” Petani itu sangat gembira. Ia pun bekerja lebih keras. Timbul akalnya, tidak lagi mengolah tanah dengan cangkul, tetapi dengan bajak. Bajak itu ia tarik sendiri dari pagi sampai sore sehingga tanah sawah benar-benar gembur. Setelah kerbau melihat petani itu bekerja keras, lalu utusan dewa itu kembali ke atas langit. “Tuanku!” katanya di depan Dewa Kesejahteraan. “Petani itu sekarang sudah bekerja keras. Ia menggarap tanahnya dengan bajak yang ditariknya sendiri.” “Bagus! Apakah pesan lainnya sudah kau sampaikan?” “Sudah, Tuanku! Ia kuberitahu, bahwa ia akan makan tiga kali sehari.” “Apa katamu? Tiga kali sehari?” Dewa itu marah. Beliau memegang tanduk kerbau bodoh itu, lalu memelintir kupingnya. “Pesanku adalah tiga hari sekali, bukan tiga kali sehari. Sekarang kembalilah ke bumi! Kamu harus membantu petani itu menarik bajak sehingga ia bisa makan tiga kali sehari.”

17

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Sebagian peserta Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

kerjasama ASEAN. Dipaparkan pula perihal tantangan mengenai pemasaran dan jaringan usaha produk UMKM. Para pelaku UMKM di sini memiliki persepsi terhadap peluang MEA terbatas dan memandang besarnya pasar domestik yang mendorong pelaku usaha memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar tersebut. Begitu juga dengan kapasitas daya saing pelaku dan tenaga kerjanya. Harapannya adalah agar UMKM mampu memanfaatkan fasilitas sumber daya yang ada M e n g e n a i p r o d u k ya n g patut mendaptkan perhatian di antaranya ; Kualitas dan standardisasi; Isu global (green product); Kreativitas dan inovasi (nilai budaya, hand made, sentuhan teknologi); Characteristic global/ sesuai selera pasar S e m u a nya m e m e r l u k a n ketersediaan dan kualitas infrastruktur/sarana serta prasarana pemasaran yang lebih baik disertai harmonisasi kebijakan/regulasi yang mendukung pelaku usaha dalam peningkatan daya saing dan pengembangan usahanya. MEA, katanya harus disikapi dengan semangat sebab negara kita Indonesia memiliki keunggulan, seperti adanya 19 produk unggulan dan potensial ekspor ke ASEAN. Penerapan MEA semestinya tidak terlalu dikhawatirkan. Ke-19 produk unggulan tersebut, terdiri atas sembilan yang unggul, dan 10 produk

Budi Martini (berdiri) narasumber Pelatihan Membangun Jejaring dengan Eksportir

potensial. Sembilan produk unggulan ekspor itu adalah tekstil dan produk tekstil, elektronik, karet, produk hutan, alas kaki, otomotif, udang, coklat/kakao dan kopi. Sedangkan 10 produk potensial ekspor ke ASEAN tersebut meliputi kulit dan produk kulit, peralatan dan instrumen medis, rempah-rempah, makanan olahan, essential oil, ikan dan produk ikan, produk kerajinan, perhiasan, bambu dan peralatan tulis selain kertas. Menyadarai keberadaan UMKM di Indonesia sangat signifikan pengaruhnya bagi pembangunan nasional senantiasa harus selalu dikembangkan dalam rangka menghadapi tantangan produk dan jasa yang dihasilkan dari negara lainnya, apalagi dengan akan diberlakukannya MEA akhir tahun

ini, sehingga perlu diciptakan berbagai strategi, salah satunya adalah mengembangkan produk “CIU” yakni produk yang Creative, Inovative dan Unique.

Creative, adalah menciptakan atau menghasilkan produk yang baru dan asli, yang sebelumnya belum dikenal ataupun memecahkan masalah baru yang dihadapi ataupun gabungan yang sudah ada dipadukan dengan sesuatu yang baru. Inovative , yakni kemampuan untuk menerapkan kreativitas d a l a m ra n gka m e n e m u ka n peluang. Serta, produk yang dihasilkan UMKM harus unique, khususnya dalam atribut yang melekat pada produk atau jasa tersebut berbeda dengan produk yang lain, spesial bahkan mungkin tidak ditemui di tempat lain. - ard


18

Kreasi

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Life

Story

Edisi 863/ 24 - 30 agustus 2015

Jadi Ibu Sekaligus Ayah

Di media sosialnya, Husnanidiaty Nurdin yang akrab disapa Eni, sempat memposting foto ayah dan ibundanya yang masih mesra, saling mencintai di usia mereka yang telah sepuh. Ayahnya seorang jaksa bernama Nurdin Amin dan ibundanya Nurhayati AR adalah seorang bidan.

K

Matah Gede

Ni Calonarang

Calonarang merupakan seni pertunjukan Bali yang hingga kini dipandang angker masyarakatnya. Salah satu karakter atau tokoh terpenting dalam drama tari yang tak sem­barang waktu dipentaskan ini adalah Matah Gede. Tokoh ini adalah sebutan untuk si janda sihir dari Dirah, Ni Calonarang, sebagai manusia biasa sebelum berubah menjadi ratu leak dalam wujud yang dahsyat menyeramkan, Rangda. Uniknya, pada teater ­tradisional Bali, penokohan Matah Gede hanya terlihat dalam seni pentas calonarang. Tokoh ini memiliki karakter yang khas dan sekaligus menjadi identitas seni per­tunjukan calonarang, salah satu seni pentas Bali yang diduga sudah dikenal tahun 1825, era ­kejayaan kerajaan Klungkung.

D

alam drama tari Calonarang, Matah Gede hadir dengan jati diri perwatakan, tata busana, dan tata rias wajahnya. Pemberang adalah watak menonjol dari tokoh yang tak pernah lepas dari tongkatnya ini. Jika sedang naik pitam, sorot matanya yang menusuk tajam dilukiskan pantang dilawan jika tak ingin hangus terbakar. Memakai kain rembang dan kerudung putih serta tata polesan muka beraksen gurat-gurat keriput, penampilan tokoh ini menjadi lain dari yang lain, membangun struktur dramatik dan menghadirkan kekentalan tema utama teater ini yaitu se­bagai drama of magic. Keangkeran Matah Gede juga dibangun oleh dominasi tata ucapannya dalam bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno. Teater calonarang dengan tokoh Matah Gede sebagai ratu tenung ba­ nyak menarik minat para peneliti dan penulis. The drama of magic adalah sebutan yang diberikan oleh Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya Dance and Drama in Bali (1973).

Hooykaas dan Meulenhoff dalam bukunya Tjalon Arang Volksverhalen en Legen­den uit Bali (1979) menekankan telaahnya pada sastra calonarang sebagai sumber lakon seni pertunjuk­ an calonarang. I Made Bandem dan Frederik Eugene deBoer dalam Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition (1981) mengkaji juga drama tari calonarang sebagai magic dance of the street and graveyard. Begitu juga Miguel Cavarrubias dalam Island of Bali (1979) juga tak lupa membahas seni pentas Calonarang. Seni pentas calonarang yang hingga kini tak pernah kehilangan gereget itu berangkat dari sumber sastra yang diperkirakan muncul pada zaman pemerintahan raja Airlangga di Jawa Timur. Kiranya De Calon-arang (1926), adalah teks sastra calonarang terpen­t ing yang ditranskripsikan dalam bahasa Jawa Tengahan oleh Poerbacaraka dan telah diterjemahkan oleh Dr. Soewito Santoso dengan judul Calon arang Si Janda dari Girah (1975). Selain dari sumber sastra yang berbentuk prosa itu, Gaguritan Calonarang dalam tarikan puisi pun

menjadi acuan signifikan yang mengilhami dan menggiring para seniman seni pertunjukan calonarang. Hampir dalam semua sumber, baik yang tertulis maupun lisan, Ni Calonarang digambarkan sebagai seorang wani­ta penga­nut teluh yang jahat. Dikisahkan ia tersinggung berat hanya karana anak gadis satusatuanya, Ratnamangali, yang sudah dewasa belum ada yang melamar. Karena itu, para laki-laki perjaka dilabrak-labrak dan dimusuhinya. Dalam lakon yang berjudul Katun­ dung Ratnamangali, Ni Calonarang meradang kare­n a pelecehan dan penghinaan menantunya, Raja Airlangga. Ia marah bukan kepalang ketika putrinya diusir secara paksa oleh penguasa Kediri itu dengan tuduhan menebar petaka santet. Padahal Ni Calonarang sendiri sama sekali tak mengajarkan ilmu sesat tersebut pada anak semata wayangnya tersebut. Kare­na merasa harga dirinya diinjak-injak, dengan jantan ia menantang penguasa Airlangga. Lazimnya, tokoh Matah Gede atau Calonarang dimainkan oleh

penari pria yang sudah berumur. Soal umur mungkin untuk memudahkan memasuki karakter tokoh janda Dirah itu yang diinterpretasikan sebagai seorang nenek-nenek yang telah memiliki anak gadis perawan tua. Sedangkan mengenai kebiasaan pemeranan tokoh sihir ini dibawakan oleh aktor pria sudah demikian adanya sejak dulu. Ada dugaan, tranvesti memeran­kan karakter berlawanan jenis kelamin karena Ni Calona­rang adalah tokoh wanita yang berkarak­ter keras yang mungkin lebih pas dibawakan penari pria. Di beberapa kantong seni pertunjuk­an calonarang di Bali, selain harus pria juga ada syarat tambahan yaitu pemainnya seorang balian atau setidaknya orang yang paham dunia supranatural. Para penari terdahulu yang dikenang oleh masyarakat Bali sangat piawai memerankan tokoh Mata Gede diantaranya adalah I Rinda (Blahbatuh) dan I Kengguh (Singapadu), keduanya dari Kabupten Gianyar, serta I Monog dari Kedaton, Denpasar. Rinda yang banyak menekuni bidang sastra Bali memukau dengan kedalaman dan kepasihan bahasa Kawi-nya. Kengguh mempesona penonton dengan keindahan tata tari­

nya, dan Monog menggugah lewat gemuruh suaranya yang menggetarkan. Bahasa Kawi, keteram­p ilan estetik tari, dan warna vokal kiranya harus mutlak dimiliki oleh para seniman yang akan mem­bawakan Si Calonarang ini. Interpretasi penokohan Ni Calo­ narang dalam teater calonarang sangat senjang dalam penapsirannya pada film Indonesia yang mengangkat lakon bersumber dari calonarang. Dalam sinemategrafi buatan tahun 1985 itu, Si janda tenung Caonarang dimainkan oleh pemeran wanita. Penapsiran usia si Calonarang pun tidak renta seperti yang gambarkan pada umumnya oleh para pemeran Matah Gede dalam seni pertunjukan calonarang. Di film yang bertajuk “Ratu Sakti Calon Arang”, Si Janda dari Dirah digambarkan sebagai wanita sintal menggairahkan. Artis Suzanna (almarhum) yang memainkan Ni Calonarang memberi penafsiran yang gamang, dihadirkan sebagai wanita sakti yang berprilaku ketus namun kegenitgenitan. -Kadek Suartaya

isah-kasih orangtuanya itu membuat Eni merasa bahagia, bangga sekaligus terharu melihatnya. Kasih sayang seperti itu yang tidak bisa lagi ia rasakan, apalagi hingga usia tua seperti orangtuanya. Tiada habis ia bersyukur melihat orangtuanya diberi kesempatan untuk saling menyayangi hingga sepuh. Tentu saja Eni pantas terharu, karena ia diberi ujian oleh Allah untuk tidak bisa menyayangi suaminya dalam hidup bersama hingga sepuh seperti orangtuanya. Ia telah ditinggal saat usianya masih relatif muda. Usia Husnanidiaty Nurdin baru 39 tahun kala suaminya, Agus Pamudji Hendrarahardja, kembali ke pangkuan Allah SWT di tahun 2001 lalu. Usia yang terbilang masih muda untuk menjadi seorang single parent bagi kedua anak perempuannya, Evanur Hendrasari yang saat itu berusia 12 tahun dan Nursadrina Hendra Karamina yang masih berusia 7 tahun. Sebelum dapat berpikir tentang masa depan kedua putrinya itu tanpa seorang ayah, Eni, panggilan akrabnya, harus berhadapan dengan kondisi psikologi yang luar biasa berat akibat kesedihan dan rasa terpukul atas kepergian, lelaki yang sangat dicintainya tersebut. Banyak pertanyaan di kepalanya muncul atas cobaan yang diberikan padanya itu. Belum lagi ia sempat khawatir yang berlebihan yang berubah menjadi sebuah “ketakutan” dengan status janda dalam kehidupan selanjutnya. Hal ini membuatnya sempat menutup diri cukup lama. “Saya tidak berani keluar rumah dan tidak berani pula bertemu dengan orang. Saya takut akan pandangan orang terhadap saya yang tidak memiliki suami. Pikiran saya terkadang jadi kacau,” ungkapnya. Memang pada akhirnya ia menyadari bahwa ketakutan itu berlebihan namun begitulah adanya situasi yang pernah dihadapinya. Mengimbangi rasa sedih, Eni beruntung masih memiliki iman. Pelariannya melepas pedih perih itu hanya kepada Allah, Tuhan

yang menguatkan dirinya untuk bangkit dari rasa terpuruk yang yang sempat meremukan hidupnya. Menatap mata dua buah hatinya, membuat ia membalik hatinya untuk segera bangkit. “Mau diapakan anak-anak saya, anak perempuan lagi, jika saya terus sedih dan terpuruk?” Pertanyaan ini terus mengalir dalam kepalanya. Hingga akhirnya ia belajar untuk tegar. Sedikit demi sedikit sampai ia benar-benar tegar. Eni melihat ini sebagai sebuah kenyataan yang harus diterimanya dan untuk itu ia mempersiapkan diri agar bisa melangkah tegak menyongsong hidup dengan selalu bersyukur, sembari berikhtiar dan bersabar. “Yakin Allah bersama kita, asal ikhlas menerima cobaan-Nya,” katanya Eni yang kemudian mampu kembali berdiri tegak dari kejatuhan yang dalam. Namun proses ini tidak sebentar melainkan cukup lama harus ia hadapi. Eni lalu memulai menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi kedua putrinya. Yang utama ia ajarkan pada putri-putrinya itu adalah soal agama, sebagai pegangan utama. Ia mengajarkan anakanaknya untuk bersama-sama membaca Al Quran tiap kali usai salat khusunya Magrib dan Isya. Sejak tiada ayah dalam rumahnya, Eni dan kedua anaknya kehilangan imam. Maka ia berpikir bahwa mereka tidak boleh tidak memiliki imam dalam keterbatasan seperti itu. Mestinya ia bisa menjadi imam bagi kedua putrinya. Ia ingin sekaligus mengajarkan putri-putrinya agar bisa menjadi imam jika menghadapi situasi seperti ini. Ia ajarkan anakanaknya untuk menjadi imam dalam keluarga

mereka yang sama-sama perempuan ini. “Seiring mereka tumbuh besar, secara bergantian saya dan anak-anak menjadi imam saat kami salat berjamaah,” ujar Eni. Selain agama, prioritas berikutnya bagi kedua anaknya adalah soal pendidikan. Karena baginya, pendidikan diperlukan untuk menghadapi hidup yang penuh tantangaan ke depan. “Maka modal ilmu pengetahuan itu menjadi suatu keharusan termasuk pendidikan budi pekerti,” ungkap Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan & Kelautan, Kehutanan NTB ini. PELIHARA 40 AYAM Atas cobaan yang diberikan Allah kepadanya dirinya, Eni memaknainya sebagai sebuah “keberuntungan”. Karena dari sana ia

banyak belajar untuk hidup lebih mandiri lagi yang secara tidak disadari menjadikan ia sosok yang gigih. Dari sana pulalah tampaknya karakter kepemimpinannya dalam tugas dinasnya teruji. Ia menjadi salah seorang perempuan yang beberapa kali diberikan kepercayaan untuk memimpin institusi di Nusa Tenggara Barat. Dua yang terakhir adalah sebagai Kepala Badan Ketahanan Pangan NTB dan Kepala Bakorluh NTB. Eni membuktikan dirinya, bahwa sebagai single parent ia juga mampu menjalani kariernya dengan baik. Banyak hal yang juga ia ajarkan pada anak-anaknya, yang ia mulai dari rumahnya di Gunung Sari. Di pekarangan rumahnya yang relatif luas itu, nyaris tak ada lahan yang sia-sia. Eni memanfaatkan dengan maksimal lahan yang ada. Ia menanam berbagai jenis bunga, sayursayuran, cabe, buah-buahan berbagai jenis dari rambutan hingga durian bahkan pohon kelapa ada. Ia juga memelihara ikan di sebuah kolam bahkan ia memelihara

7

lebah madu. “Pokoknya lengkap,” ujarnya tertawa. Siapa sangka, tiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia harus memberi makan 40 ekor ayam peliharaannya. Demikian juga dengan angsa dan ikan-ikan, yang selalu mendapatkan makanan dari tangannya saat ia ada di rumah (tidak sedang tugas ke luar kota). “Kegiatan seperti ini merupakan kenikmatan yang tidak bisa dibayar dengan apapun,” katanya. Tampaknya energi positif yang disalurkannya dengan cara berkebun dan beternak seperti inilah yang membuat selalu bangun pagi dengan rasa percaya diri dan mantap untuk melangkah setiap hari. 14 tahun berlalu sejak kepergian suaminya, Eni kembali menemukan dirinya yang menyadari sepenuhnya bahwa Allah tidak akan memberi manusia cobaan maupun ujian di luar dari kemampuan orang yang dipilih-Nya. Eni menjalani hari-harinya dengan kenyataan ada hari ini dengan cinta dan rindu pada almarhum suaminya yang selalu ia pelihara dalam hatinya. -Naniek I. Taufan


6

Woman on Top

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Ni Made Sumiati

Meyadnya Melalui Tata Rias Melestarikan budaya Bali melalui tata rias dan busana adat Bali, demikianlah komitmen seorang Anak Agung Ayu Ketut Agung untuk turut meng-ajeg-kan Bali. Karena itu pula, secara berkesinambungan Bu Agung—sapaan karib pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung ini, menggelar roadshow tata rias, tak hanya di Bali, namun hingga ke luar Bali, dengan support penuh dari Viva Cosmetics dan masyarakat Bali. “Saya sangat berterima kasih kepada Viva Cosmetics, karena dalam tiap roadshow yang selalu diisi dengan pelatihan singkat tata rias, Viva selalu mensupport saya, sehingga kegiatan bisa lebih efektif,” ujar Bu Agung.

K

e r j a s a m a a n t a ra Bu Agung dan Viva Cosmetics telah berlangsung lama. Selain karena produk Viva yang asli buatan Indonesia ini sesuai dengan iklim tropis Indonesia, rupanya antara keduanya memiliki misi yang sama, yakni mengangkat budaya lokal. Bu Agung melalui tata rias, Viva melalui kosmetik yang bahan bakunya asli dari sumber alam Indonesia. “Saya lihat kegiatan Bu Agung sangat memperhatikan budaya dan membantu anakanak hingga mereka mendapatkan beasiswa, dsb. Saya rasa, ini patut didukung dan kami bisa bersinergi, bersama-sama melestarikan kearifan lokal,” ujar Yusuf Wiharto, Direktur Distribusi Viva Cosmetics Wilayah Indonesia Timur. Bu Agung mengimbuhkan, moto 3 Mu (mutu, mudah, murah) yang dijalankan Viva Cosmetics juga sejalan dengan moto hidupnya

yang selalu membagikan ilmu tata riasnya, baik melalui pelatihanpelatihan tata rias gratis, maupun kursus regular yang dari nilai nominalnya, sangat terjangkau. “Saya berprinsip, ilmu itu harus berbagi, karena dengan begitulah kita bisa mendapat ilmu yang lebih banyak lagi. Dan, untuk kursus tata rias regular di LKP Agung, harganya tidak mahal. Inilah yang saya pakai subsidi silang dengan memberikan beasiswa kursus gratis pada mereka yang kurang mampu,” papar penerima Penghargaan Parama Budaya dari Wali Kota Denpasar ini. Kegiatan pelatihan dan kursus tata rias tersebut dikatakan Bu Agung tak lain untuk pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan, dengan memberikan bekal keterampilan agar mereka bisa meningkatkan perekonomiannya. Tak heran jika tiap workshop tata rias, pesertanya selalu mem-

Jadilah Luh Luwih Perempuan yang maju se­bagai pemimpin, tentu tak mudah. Mereka dituntut bisa membagi waktu antara karier dan perannya sebagai istri dan ibu rumahtangga. Salah satu yang harus melakoni semua itu adalah ­Ni Made Sumiati. Workshop Tata Rias yang berlangsung di Gedung Balai Budaya Klungkung belum lama ini. Tampak Bu Agung (paling kiri), Wakil Ketua TP PKK Klungkung, Ny. Sri Kasta, lima penari legong dari Tiara Kusuma, dan Ny. Sri Utari Satria Naradha.

bludak. Seperti yang berlangsung di kabupeten-kabupaten/kota di Bali, yang merupakan kerjasama antara LKP Agung dengan Pemda setempat, Harian BisnisBali (Kelompok Media Bali Post), WHDI Bali, dan Viva Cosmetics. Workshop yang selau diisi demo merias oleh perias cilik Sagung Diva, siswa kelas VIII G SMPN 3 Denpasar ini juga terkadang turut dimeriahkan Tarian Legong Keraton oleh Tiara Kusuma Bali yang rata-rata sudah berusia lanjut. Tata rias Bali pun disambut meriah oleh masyarakat Makassar, dalam sebuah kesempatan sosialisasi di LKP Miranti yang berlokasi di Jalan Pettarani Kompleks Mutiara Blok A-1 No. 1 Penakung. “Kebetulan kami (LKP Agung) ada undangan bintek dari Kemendikbud yang bertempat di BP PNFI Regional III Makassar. Jadi untuk mengisi waktu, paginya saya memberikan pelatihan tata rias

Bali yang paling sederhana, yakni tengkuluk lelunakan,” ungkap Bu Agung. Mengapa tengkuluk lelunakan? Rupanya Bu Agung masih memiliki impian agar busana Bali ini bisa popular dan menjadi ikon Bali, seperti di Volendam. Busana tengkuluk lelunakan ini dan tata rias Bali lainnya juga kembali disosialisasikan di Mataram. Kursus Tata Rias Singkat Bersama Bu Agung itu digelar Sabtu (15/8) di Praya dengan peserta umum, dilanjutkan di Mataram menggandeng WHDI Mataram yang berlangsung di Gedung PHDI Mataram. Minggu (16/8) malam Bu Agung bersama tim langsung bertolak ke Bali, mengigat 17 Agustus mendapat tugas merias 70 paskibraka Provinsi Bali. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya

Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@ yahoo.com. website: www.salonagung.com. –inten

MULAI 11 JUTA BISA PUNYA VILLA HARMONIS di UBUD BALI

Saatnya Kita Punya Penghasilan Pasif. Saatnya Uang Bekerja Untuk Kita. Bila kita berbicara tentang ­bisnis Villa, hal ini identik ­dengan modal besar. Untuk itulah pelaku bisnis ini dimonopoli oleh orang-orang yang bermodal besar. Mereka sebagian besar berasal dari luar Bali, dan hanya sebagian kecil berasal dari Bali. Mayoritas orang Bali menjadi karyawan di villa-villa tersebut, dan hanya segelintir orang Bali yang menjadi Pemilik Villa.

S

ebagian besar penghasilan dari bisnis villa mengalir ke kantong-kantong Pemilik Villa. Sedangkan orang-orang Bali yang berprofesi sebagai karyawan di Villa tersebut hanya bisa mendapatkan penghasilan berupa gaji. Melihat fenomena ini, saya I Gede

Konsep Terkini Modal Dikembalikan 200% Dermawan merasa tertantang dan terpanggil untuk mencari solusi bagaimana caranya agar banyak orang bisa menjadi Pemilik Villa. Dengan modal keyakinan, keberanian dan tekad yang bulat akhirnya pada 24 Mei 2013, saya I Gede Dermawan bersama Ni Ketut Suciarini mendirikan PT Pengembang Properti Harmonis. PT dengan brand Harmonis Land bergerak di bidang pengembang real estate yang berkantor pusat di Denpasar. Villa Harmonis yang berlokasi di Banjar Juga, Desa Mas, Ubud Bali ini merupakan proyek Villa pertama dari Harmonis Land. Villa Harmonis ini berbasis ekonomi kerakyatan yang sejalan dengan prinsip gotong royong. Konsep Villa Harmonis ini sungguh menarik dan memungkinkan setiap orang bisa menjadi Pemilik Villa. Mulai 11Juta bisa menjadi Pemilik Villa Harmonis dengan manfaat yang berlimpah.

Adapun manfaat berlimpah yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Mendapat Voucher Menginap senilai 11Juta di Villa Harmonis ( 100% Balik Modal ). Voucher ini bisa digunakan sendiri bersama keluarga untuk menginap atau dijual kepada orang lain. Selanjutnya tinggal menikmati keuntungan selama 25 tahun. 2. Mendapat penghasilan pasif selama 25 tahun. Inilah penghasilan yang diidam-idamkan oleh para pengusaha karena dengan diam saja sudah bisa mendapatkan penghasilan ini. Di tahun ke-1, ke-2 dan ke-3 mendapat 10% dari Modal. Ini berarti di 3 tahun pertama sudah mendapat penghasilan pasif 30%. Di tahun ke-4 sampai dengan di tahun ke-25 mendapat penghasilan pasif setiap 6 bulan mengikuti untung Villa. Besarnya penghasilan pasif ini tergantung tingkat hunian. Semakin banyak tamu yang menginap semakin banyak penghasilan pasif yang akan diperoleh. 3. Di tahun ke-10 Modal Dikembalikan 100% tunai dan masih berhak menikmati penghasilan pasif lagi 15 tahun. 4. Peluang mendapat penghasilan aktif sesuai keinginan berupa komisi10% setiap mengajak tamu menginap di Villa Harmonis. Semakin banyak mengajak tamu menginap di Villa Harmonis semakin banyak pula penghasilan aktif yang akan didapat. 5. Berhak ikut undian Grand Prize berupa mobil BMW, Honda Jazz, Avanza & Emas Mutiara. Wow... Grand Prizenya luar biasa menarik. Bayangkan hanya dengan modal 11 Juta Anda berpeluang untuk memenangkan salah

satu dari tiga mobil tersebut. Siapa tahu nasib baik berpihak pada Anda. 6. Tergabung dalam Komunitas Pemilik Villa Harmonis. Setiap bulan para Pemilik Villa Harmonis akan diundang untuk mengikuti acara Gathering, Diskusi Bisnis dll. Dengan mengikuti acara ini Anda akan mendapatkan peluang berlimpah. 7. Mendapat ID Card Pemilik Villa Harmonis yang berisi nama, foto dan jabatan sebagai Pemilik Villa Harmonis. Anda berhak menyandang jabatan sebagai salah satu Pemilik Villa Harmonis. Dengan jabatan ini Anda lebih mudah meyakinkan orang lain untuk deal bisnis. Anda lebih dipercaya karena Pemilik Villa identik dengan banyak uang. 8. Mendapat Sertifikat Pemilik Villa Harmonis. Sertifikat ini Anda bisa pajang di ruang tamu rumah Anda. Secara psikologis manfaatnya sangat besar, bisa meningkatkan kepercayaan diri dan gengsi serta prestise di masyarakat. 9. Salinan Akta Perjanjian Kerjasama dari Notaris. Akta ini sebagai bukti sah Anda sebagai Pemilik Villa Harmonis. Di Akta ini tercantum segala hak dan kewajiban sebagai Pemilik Villa Harmonis. Untuk informasi lebih lanjut silakan hadiri Launching “Konsep Terkini “ Mulai 11 Juta Bisa Punya Villa Harmonis di Ubud Bali. Launching akan diadakan sekaligus di 2 (dua) tempat yang berbeda namun pada hari yang sama yaitu Minggu, 30-8-2015 pukul 10.00 wita di Grand Santhi Hotel, Jln. Patih Jelantik Denpasar, selanjutnya launching dilakukan pukul 18.00 wita di Warung Makan Ranggon Sunset, Jln. Pantai Penimbangan Barat, Pemaron - Singaraja Bali. Reservasi GRATIS + Makan +

I Gede Dermawan (Founder Villa Harmonis)

Door Prize. Silakan SMS Nama Anda / Hadir / Launching ke 081 999 646 318, 081 236 790 818 PIN : 57FF05D0 Dan ingat saksikan dialognya hari Senin, 24-8-2015 pukul 20.00 wita di Bali TV. Live Streaming www.balitv.tv

D

unia politik sudah digeluti Sumiati sejak lama. Setelah berkiprah di KPU Provinsi Bali, ia terpilih menjadi anggota DPRD Bali dalam dua periode, tahun 20092014 dan 2014-2019. Kini, kader PDI Perjuangan ini, mencalonkan dirinya menjadi wakil bupati Karangasem dalam Pilkada 2015. Menurutnya, sebagai perempuan Hindu, tentu ia tak mau salah langkah. Ia berprinsip, perempuan harus menjadi luh luwih, bukan luh luu. Ia mengatakan, ketika ia memutuskan untuk maju berpolitik, restu suami sangat diperlukan. Di samping itu, kata Sumiati, saat ia terjun ke politik, anak-anaknya sudah sukses dan sudah menikah, sehingga langkahnya lebih mantap berkiprah di dunia politik. Baginya, berkiprah di dunia politik, adalah masa ia memasuki tahapan wanaprasta. Ia menilai, dalam mengisi era kemerdekaan, istilah wanaprasta bisa diartikan mengabdikan diri kepada bangsa, negara, dan agama. “Zaman dulu, tahapan wanaprasta, oarng pergi ke hutan me­ngasingkan diri untuk ber-

tapa. Sementara, zaman sekarang, dengan berpolitik sudah merupakan tahapan wanaprasta di zaman modern. Hutan yang dimaksud zaman modern adalah hutan yang dihuni manusia,” ucapnya. Sebagai politisi yang sangat menjunjung tinggi ajaran Bung Karno, ia merasakan dengan berpolitik, ia banyak melakukan pengabdian kepada masyarakat. Disamping itu, kegiat­a n spiritual yang dilakoninya juga makin banyak. Misalnya, saaat ia masimakrama dengan masyarakat, jika melewati Pura Khayangan Jagat, ia bisa berhenti sejenak dan menghaturkan

puja bakti kepada Tuhan. Prinsipnya, dalam berpolitik, adalah berbuat baik kepada orang banyak, lingkungan, dan bakti kepada Tuhan. Ia menilai, semua kemurniannya dalam berpolitik juga ia artikan sebagai bekal untuk mati. “Saat kita mati, di sanalah kita akan dinilai apa saja kebaikan yang sudah diperbuat saat hidup. Bagi saya, dengan berpolitik saya bisa berbuat baik kepada orang lain dan sebagai sari pegae ring marcapada,” kata Sumiati. Walaupun berada di daerah yang menganut sistem patrinial, seorang perempuan juga harus berpartisipasi menjadi pemimpin. Justru, dalam penilaiannya, pemimpin perempuan adalah kunci kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan, dalam biduk rumahtangga. Sehebat apapun suami, pasti dia membutuhkan seorang istri yang membantunya mengatur rumahtangga dan mengurus keluarga. Seperti itu peran perempuan yang sangat luar biasa. Karena itu, sebagai langkah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, ia ikut berkiprah di politik praktis. Selain sudah berhasil menduduki anggota DPRD Bali dua kali periode, ia juga sedang berjuang maju sebagai wakil bupati. Sumiati menegaskan, dalam menjalankan prinsip­nya berpolitik, tak lepas dari ajaran agama yang bersumber pada kitab suci. “Karena itu, menjadi pemimpin perempuan memang bukan tugas yang mudah. Namun, perempuan harus berani mencoba,” kata Sumiati. –Wirati Astiti

Gereja Menerima Eksistensi Pemimpin Perempuan

Jumlah pemimpin perempuan makin banyak, mereka ada di berbagai bidang kehidupan, bahkan di bidang-bidang yang dulunya hanya ‘dikuasai’ kaum laki-laki. Di bidang agama pun demikian, Kristen Protestan misalnya. Pertumbuhan jumlah perempuan yang menjadi imam, pelayan maupun pengurus dalam sebuah organisasi kekristenan, mengalami kemajuan signifikan. “Kini boleh dibilang perdebatan itu sudah tidak ada lagi, setidaknya di lingkungan PGI (Persekutuan Gerejagereja di Indonesia) keberadaan pemimpin wanita telah diakui atau diterima,” ungkap Wakil Sekretaris Umum PGI Pusat, Pendeta Krise Anki Rotti Gosal. Hal itu terbukti dalam Sidang Raya PGI di Gunung Sitoli, Nias, Sumatera Utara, November 2014 lalu, dimana untuk pertama kalinya sejak PGI berdiri tahun 1950 terpilih perempuan sebagai Ketua Umum PGI periode 2014-2019. Peserta Sidang Raya ketika itu adalah anggota PGI yang berjumlah 89 Sinode Gereja (dewan gereja), dimana 90% pucuk pimpinannya adalah laki-laki. “Beliau, Ketua Umum PGI terpilih Pendeta Henriette Lebang mendapat suara mayoritas dari keseluruhan peserta yang mayoritas laki-laki. Itu juga bisa dimaknai bahwa organisasi gereja mengakui dan menerima adanya pemimpin perempuan. Bahkan dalam kepengurusan Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI Pusat, dari 13 pimpinan, empat di antaranya adalah perempuan,” jelasnya. Menurutnya, perkembangan sekarang jauh menggembirakan dibanding masa lalu ketika masih ada gereja

Pendeta Krise Anki Rotti Gosal

yang tidak mengakui atau menerima pemimpin perempuan sebagai imam, sebagai pelayan. Seiring waktu telah terjadi perubahan-perubahan yang nyata dan kini sebagian besar gereja di Indonesia, telah menerima. Meskipun memang, masih ada yang masih kurang memberi kesempatan pada perempuan. “Kurang memberi kesempatan bukan berarti tidak menerima, ya. Perempuan tetap masuk di jajaran pemimpin tapi bukan sebagai pemimpin tertinggi. Namun, ini tetaplah sebuah kemajuan karena eksistensi perempuan telah diakui dan mereka dilibatkan dalam susunan kepengurusan pimpinan gereja,” katanya. Eksistensi pemimpin perempuan dalam organisasi gereja saat ini menunjukkan kemajuan pesat. Salah satu buktinya adalah, saat ini setidaknya ada lima pimpinan Sinode (dewan gereja) merupakan pendeta perempuan. PGI, lanjut Krise, terus mendorong peran

perempuan untuk terus kiprah aktif dalam berbagai kegiatan. Misalnya saja pada pertemuan atau sidang gerejagereja, dalam setiap undangan PGI selalu mencantumkan bahwa utusan dari gereja-gereja harus terdiri dari perempuan dan laki-laki. Kalaupun undangan hanya untuk dua orang, maka PGI selalu menegaskan bahwa salah satu utusan haruslah perempuan. Menurutnya, agenda pemberdayaan perempuan di lingkungan PGI sudah dimulai sejak dua dekade lalu. Semua berproses sampai akhirnya didapat hasil seperti sekarang. Dalam pra-sidang raya, lanjutnya, memberi kesempatan pada perempuan untuk bersuara yang hasilnya kemudian disampaikan dalam acara Sidang Raya. “Jadi dalam pemantauan saya, kini gereja yang tidak mengakui perempuan wanita dengan menyebut pemimpin wanita tidak alkitabiah, sudah tidak ada lagi,” tegasnya. Sekarang, tinggal bagaimana memainstreaming-kan gerakan ini ke gereja-gereja lokal agar kepemimpinan perempuan diberi ruang. Sebab, kadang, karena masih dipengaruhi oleh budaya setempat, hal ini masih terkendala. “Jadi sekarang penguatanpenguatan di tingkat lokal (gereja lokal) terus dilakukan, misalnya, lewat pelatihan-pelatihan kepemimpinan perempuan, dll. Kami di tingkat pusat juga melakukan advokasi, mempengaruhi kebijakan-kebijakan lokal. Seperti, mengharuskan perempuan ada dalam pengambilan keputusan di pusat maupun daerah, memberi anjuran agar sekurang-kurangnya 30% perempuan ada dalam struktur kepengurusan gereja lokal, dll,” tuturnya. –Diana Runtu

19

Perempuan Mampu dan Mau Keberadaan perempuan sebagai pemimpin, tak hanya ada dewasa ini. Jauh sebelumnya kita kenal kepemimpinan Cut Nyak Dien dan beberapa menteri di kabinet pemerintahan. Menurut Made Diah Lestari, S.Psi., M.Psi., Psi., ini adalah hal yang biasa. Bahkan ia menyebut sebuah penelitian yang dilakukan Eagly & Johannesen-Schimdt ( 2001), yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan tidak berbeda dalam hal potensi/kompetensi memimpin. “Ketika kita menganggap fenomena pemimpin perempuan sebagai suatu yang biasa atau sudah lumrah, maka disitulah sebenarnya pengakuan terhadap perempuan sudah mapan. Sebailknya, jika masyarakat masih menganggap fenomena ini sebagai hal yang luar biasa, maka sebenarnya kita masih meragukan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan,” ujar pengajar yang juga Sekretaris Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Unud ini. Efektivitas laki-laki dengan perempuan dalam memimpin pada dasarnya sama. Namun, akan efektif lagi jika yang bersangkutan punya kompetensi memimpin. Laki-laki pun dikatakannya bisa jadi tidak lebih efektif dibanding kan perempuan jika memang tidak ada kompetensi memimpin. Demikian sebaliknya. Terkadang penilaian orang yang dipimpin, yang masih mengkotak-kotakkan gender dan termakan gender stereotype, yang membuat image pemimpin perempuan lebih tidak capable dibandingkan laki-laki-laki. Seperti, moody, terlalu perasa, atau langsung underestimate saat perempuan berkiprah di bidang-bidang yang tergolong maskulin. Setiap individu selalu multirules dalam kehidupan. Demikian halnya perempuan sebagai anak plus istri plus ibu plus pekerja plus pelajar plus anggota masyarakat. Setiap peran ada tugas dan kewajiban. Selain itu ada ekspektasi peran juga. Seorang istri haruslah memahami suami. Seorang ibu harus merawat anaknya. Seorang anggota masyarakat contohnya banjar harus menyama braya. “Ekspektasi bisa terpenuhi jika individu mampu dan mau. Mampu berbicara soal keahlian, pengetahuan, dan kesediaan untuk membagi waktu. Mau berbicara soal motivasi untuk menjalani peran. Kemampuan dan kemauan, keduanya harus ada,” ujar Kabid Keilmuan, Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Diah menyebut banyak contoh perempuan yang menjalani beragam peran di saat yang bersamaan dan berhasil di setiap sisi kehidupannya. Pekerjaan lancar tugas-tugas domestik juga lancar. “Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa bimbingan saya menemukan bahwa ibu-ibu pekerja memiliki psychological well being yang lebih tinggi dibandingkan ibu rumah tangga,” ujarnya. –Inten Indrawati

Made Diah Lestari, S.Psi., M.Psi., Psi


20

Nine

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Hj. Putu Selly Andayani

Setelah Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin pada tahun 1965, memimpin Kabupaten Bima sebagai Penjabat Bupati Bima, kini di tahun 2015 seorang perempuan kembali hadir mewarnai dunia pemimpin di Nusa Tenggara Barat.

H

j. Putu Selly Andayani, dilantik sebagai penjabat Wali Kota Mataram. Tidak main-main, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat mempercayakan Kota Mataram yang merupakan Ibu Kota Provinsi NTB, kepada istri dari politikus kawakan Rahmad Hidayat ini. Dan Selly menerima tugas dan tanggung jawab ini dengan komitmen bekerja keras yang dilandasi dengan keinginan beribadah. Ia menegaskan niatnya ini dalam satu kalimat lugas, bahwa ia diberikan tugas ini merupakan satu penghormatan dari pimpinannya. “Maka, saya tidak boleh main-main. Saya ingin beribadah dalam menjalani tugas dan tanggung jawab ini,” ungkapnya sembari tersenyum. Pribadinya yang hangat dan

akrab tetap menjadi sesuatu yang khas dalam diri Selly yang dilantik 10 Agustus 2015 ini. Caranya menyapa dan berkomunikasi dengan tamu-tamu yang datang di ruangannya beberapa waktu lalu, memperlihatkan keramahan ibu dari 11 anak ini. Sikapnya yang keibuan terutama kepada anak-anak dari LPA Kota Mataram yang juga turut hadir saat itu, memberi kesan “melindungi dan ngemong”. Hal ini membuat suasana obrolan menjadi rileks dan nyaman. Apalagi Selly bicara blakblakan dan terbuka, diselingi canda dan tawa membuatnya tidak ada batas dengan siapa pun. Hari itu, Selly menawarkan suasana lepas yang asyik bagi para tetamunya. Tapi, di balik sikapnya yang ramah dan keibuan itu, Selly adalah sosok yang tegas. Lihat saja, baru beberapa hari dilantik sebagai

Perjuangkan “Sabtu Bersih”

Hj. Putu Selly Andayani bersama masyarakat ketika aksi bersih-bersih yang merupakan target utamanya untuk menjadikan Kota Mataram bersih dan nyaman

Beberapa waktu lalu, Selly mulai memimpin Pegawai Negeri Sipil di Kota Mataram untuk melakukan aksi bersih-bersih di titik-titik yang selama ini dipenuhi sampah yang sangat mengganggu, khususnya dalam hal keindahan dan kenyamanan Kota Mataram. Inilah fokus pertama yang dilakukan Selly, soal penanganan sampah dan kebersihan kota. Tidak kurang dari 25 titik di Kota Mataram yang menjadi agenda kegiatan bersih-bersih. Untuk mewujudkan Kota Mataram yang bersih dan nyaman, Selly menggandeng berbagi pihak termasuk TNI dan Polri untuk bekerja bersama-sama menjadikan Mataram sebagai tempat yang bersih dari sampah. Perempuan kelahiran, Mataram, 15 September 1961 ini, menganggap serius soal sampah tersebut, sampai-sampai jika usulannya untuk lima hari kerja di Kota Mataram (yang kini sedang dikaji oleh Sekda Kota Mataram), bisa dilaksanakan, maka hari keenam yakni hari Sabtu akan menjadi Sabtu Bersih. “Seluruh PNS Kota Mataram, secara bergilir akan turun lapangan untuk menjalankan Sabtu Bersih mulai sekitar pukul 06.00 sampai sekitar pukul 10.00 wita, termasuk pula bekerja sama dengan TNI dan Polri,” ujarnya. Di waktunya yang tidak panjang sebagai Penjabat Wali Kota Mataram, Selly tidak memprogramkan hal yang muluk-muluk melainkan prioritasnya pada persoalan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Program pro-rakyat. Salah satunya soal kebersihan. Untuk ini, Selly sama sekali tidak ingin mengejar penghargaan apaapa, semisal Adipura melainkan ia hanya ingin bekerja dan bekerja. “Adipura tidak perlu dicari apalagi dikejar, biarkan datang sendiri jika memang pantas kita terima,” ungkapnya tegas. -Naniek I. Taufan

Penjabat Wali Kota Mataram, ia turun lapangan didampingi Pol. PP Kota Mataram untuk mengecek langsung dunia hiburan malam. Keluhan masyarakat yang selama ini diketahuinya, membuatnya mengambil langkah pertama untuk menertibkan kafe-kafe yang tidak berizin terutama yang menyalahi aturan dan menyerempet sebagai tempat prostitusi terselubung. Memakai jaket hitam, ia datangi salah satu kafe di Kota Mataram menyamar sebagai tamu. Belum banyak yang kenal dirinya sebagai Penjabat Wali Kota Mataram, adalah keuntungan

Turun lapangan saat Sidak kafe dan tempat hiburan malam hingga dinihari menjadi aktivitas baru Penjabat Walikota Mataram.

tersendiri baginya malam itu. Ia berdialog dengan petugas kafe, menanyakan berbagai informasi termasuk soal fasilitas kafe, hingga akhirnya ia mendapati kafe tersebut beroperasi tidak sesuai izin bahkan ada yang tidak memiliki izin. Kafe tidak berfungsi sebagaimana mestinya bahkan menjadi tempat prostitusi terselubung. Melihat kenyataan banyak PS-PS lokal yang dipekerjakan seperti ini, membuat hatinya tersentuh. Tanpa basa-basi, ketika pemilik kafe tidak dapat memperlihatkan izin, malam itu juga Selly menyegel kafe tersebut.

Hj. Putu Selly Andayani bersama keluarga usai dilantik sebagai Penjabat Walikota Mataram

“Menangis hati saya melihat PS-PS (Partner Song) lokal juga anak-anak muda yang berada di tempat yang salah seperti ini,” kata mantan Kadispenda Provinsi NTB ini. Karenanya ia bertekad untuk menertibkan tempat-tempat seperti ini. Inspeksi mendadak alias sidak kerap dilakukan Selly pada tempattempat yang sering dikeluhkan warga Kota Mataram, sampai larut malam bahkan hingga dini hari. Ia ingin melihat sendiri realita yang terjadi di Kota Mataram khususnya yang mengundang banyak keluhan masyarakat. Maka tidak heran langkahnya ini membuat kaget dan kelabakan pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari kegiatan ilegalnya. Selain ingin memberikan solusi terhadap warga Kota Mataram akan keluhan-keluhan masyarakat selama ini, lebih dari itu, dalam waktunya sebagai Penjabat Wali Kota yang tidak panjang ini, Selly ingin melihat Kota Mataram dengan luas yang hanya 63 kilometer persegi ini menjadi kota yang bersih dan “hidup”. Maka, tangannya mulai bekerja. Bekerja untuk membersihkan seluruh kota. -Naniek I. Taufan

Bersih Lingkungan, Bersih Hati, Bersih Pikiran Lebih dari itu semua, bagi Selly, kebersihan yang menjadi bagian dari iman dalam agamanya ini, membuat ia merasa perlu untuk hidup bersih bersama warga Kota Mataram. “Konsepnya bersih dulu lingkungannya. Lalu bersih hati, bersih pikiran maka bekerja juga bisa menjadi lebih enak dan nyaman,” ujar nenek dari delapan cucu ini. Saking seriusnya soal sampah ini, Selly bahkan mengatakan darurat

Hj. Putu Selly Andayani bersama suami dan salah seorang anaknya.

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Komunitas Cinta Kamen Bali

5

Rayakan HUT RI dengan Donor Darah dan Aksi Sosial

Tugas adalah

Penghormatan

Inspirasi

sampah. Maka ia menggerakkan Camat, Lurah dan perangkat lainnya serta 321 Kepala Lingkungan seKota Mataram untuk ikut serta berpartisiSampah di Kota Mataram menjadi target pertama Selly pasi menggeruntuk dibersihkan akkan masyarakat untuk peduli tangan. Tidak bisa sukses dapada sampah dan kebersihan lam sekejap namun semua lingkungan. Menangani sampah harus diupayakan semaksimal mungkin,” kata Selly yang sejak dari hilir hingga hulu. Selain soal penertiban tem- dilantik membuat waktu tidupat hiburan malam dan masalah rnya hanya sekitar 3 jam sehari. sampah, banyak program pro- Ia menerima konsekuensi itu rakyat lainnya yang tengah sebagai bagian dari tanggung dipersiapkan Selly termasuk jawab tugasnya. Baginya jika apa penertiban PKL agar lebih nya- yang dilakukannya kelak adalah man, baik bagi PKL-nya sendiri sebuah kesuksesan, maka apremaupun bagi masyarakat. Selly siasi atas kesuksesan itu bukan menyadari bahwa untuk me- untuk dirinya melainkan untuk nyukseskan semua ini ia tidak semua pihak yang telah bekerja bisa bekerja sendiri. Karenanya bersama dengan tekad dan sembari memperkuat komu- tanggung jawab tanpa pamrih. nikasi, ia menggandeng seluruh Dan ia meyakini bahwa apapun elemen masyarakat maupun masalah yang ada pasti bisa institusi lainnya untuk berproses dicarikan solusinya, asal ada kemauan untuk melakukannya bersama. “Semua butuh proses, tidak apalagi mampu bekerja sama bisa seperti membalik telapak dengan baik. -Naniek I. Taufan

Dalam rangka merayakan HUT ke-70 Kemerdekaan RI, “Komunitas Cinta Kamen Bali” (KCKB) yang resmi terbentuk pada Februari lalu, tak ketinggalan menyelenggarakan kegiatan dengan kemeriahan yang menciptakan rasa bahagia, Selasa (18/8) di D’Tunjung, Denpasar.

S

emangat memper­ingati Hari Kemerdekaan juga ditampilkan KCKB me­ lalui busana dengan dress code nuansa merah-putih. Tak ketinggalan disemarakkan aneka lomba yang sangat fun dan seru, khas 17Agustusan seperti, lomba membawa kelereng, memasukkan paku ke dalam botol sampai me­ mecahkan balon. Namun, inti pertemuan KCKB sore itu adalah menggelar arisan bulanan. Selain itu, mereka mengisi kesempatan dengan berbagi peng­ alaman, sambil menyelipkan pesanpesan moral yang berharga untuk seluruh anggota KCKB, termasuk tentang pentingnya rasa persatuan dan kesatuan yang kuat di antara mereka. Pada kesempatan tersebut Ni Putu Adnyani yang akrab disapa Bu Bara, menekankan perihal sikap positif. Berbekal salah satu pedomam KCKB, yakni bertemu, belajar dan beramal, ia kembali menekankan bahwa seluruh ang­ gota, sebagai perempuan kreatif, hendaknya bisa membuktikan diri dengan berkarya.

Satu sama lain saling mendukung, dengan penuh tang­ gung jawab tanpa merugikan teman lainnya. B u B a ra j u g a m e n ga j a k s e m u a anggota KCKB, un­ tuk bersama-sama menjaga marta­ bat perempuan Bali, dengan saling menghormati satu dengan yang lain­ nya, beretika dan menjunjung tinggi moralitas yang baik. Aktivitas rutin berikutnya ada­ lah mengedarkan kantung amal, sebagai salah satu cara mereka belajar untuk meretas sebuah keikhlasan. Setiap 3 bulan sekali, seluruh hasil yang diperoleh dalam kantung amal tersebut, disa­ lurkan kepada mereka yang memerlukan. Sedangkan agenda tiga bu­ lanan lainnya adalah donor darah dan pe­ nyerahan dana sosial. Mengenai kegiatan kantung amal yang sudah berjalan baik dan merupakan ide dari Yoseva Listyati, biasa dipanggil Bu Eva ini, rupanya dilanjutkan oleh Bu Bara dengan menambahkan, setiap anggota KCKB memiliki kotak receh di rumah. Maksudnya, mere­ka tidak hanya melakukannya di saat ber­ temu, namun melanjutkan dengan membuat kotak receh di rumah masing-masing yang bisa diisi oleh

semua penghuni rumah. Hal ini disambut baik oleh seluruh anggota KCKB, sebab de­­ngan ini juga berarti mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk ikut ambil bagian mengum­ pulkan dana sosial, dan setiap 3 bulan dibawa di pertemuan untuk dikumpulkan dan langsung disalurkan kepada mereka yang memerlukan. Bicara KCKB yang kini semakin dikenal dan bahkan berkibar, tentu tidak lepas dari dua sosok perem­ puan energik yang bernama Bu Bara dan Bu Eva. “Ide awal oleh Bu Bara, saya hanya meneruskan dan melaksanakan konsepnya, meng­ ingat Bu Bara juga sering keluar Bali mempromosikan kerajinan gold & silvernya. Kebetulan juga

saya banyak teman, kenapa tidak diajak bersama-sama dalam satu tim untuk mencintai, mengenakan dan melestarikan yang namanya kamen Bali,” papar Eva. Mengenai beberapa tanggapan yang menyebut-nyebut statusnya orang Jawa, dengan senyum manis Eva menyatakan bahwa KCKB adalah wadah atau persembahan dan rasa care yang bisa diberikannya untuk Bali, dimana ia menikah, berkeluar­

ga, bermasyarakat bahkan nanti juga diaben ketika sampai waktunya. Perihal kegiatan 3 bulanan ang­ gota KCKB, sepakat memilih momen pada Hari Kartini, 17 Agustusan dan Hari Ibu. Untuk edisi Agustus kali ini KCKB pun melaksanakan agenda sosial mereka yakni donor darah dan menyerahkan dana sosial. Di sini mereka membukti­ kan KCKB bukan hanya sekadar kumpul dan menggelar arisan, tapi di dalamnya ada agenda khusus kegiatan sosial. Setelah berkumpul dengan agenda rutin dan perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia, berikutnya Jumat (21/8), KCKB melakukan keg­ iatan donor darah langsung ke PMI yang berlokasi di RS Sanglah. Set­ elah donor darah, langsung melan­ jutkan langkah berikutnya menjen­ guk Komang Andika Pratama (13), pasien gagal ginjal, yang menginap

di ruang Pudak 3, untuk diberikan bantuan dana sosial yang berhasil dikumpulkan selama 3 bulan dari seluruh anggota KCKB. –ard

Komitmen Menjaga Aset Daerah Yang Indah Ada sejuta ide untuk mengolah kamen tradisional kita. Apa yang dilakukan KCKB yang terdiri dari perempuan dari beragam profesi dan usaha ini, kiranya bisa menginspirasi perempuan lainnya untuk lebih mencintai produk lokal dan terus berupaya membantu pemerintah mengembangkan keberadaan kain tradisional khas daerah Bali khususnya kamen sebagai aset kebanggaan bangsa Indonesia. Terlebih selama ini, bukan hanya di kalangan ang-

gota KCKB saja, namun banyak masyarakat di luar Bali mengatakan keindahan kamen Bali sangat layak menjadi tren busana. Untuk ini, mereka mewujudkannya dengan selalu mengenakannya di berbagai kesempatan. Melihat perjalannya selama ini, KCKB kedepannya diharapkan lebih banyak lagi mengajak perempuan Bali untuk mencintai kamen Bali. Apalagi, kamen (baca: kain) yang biasa dipadankan dengan kebaya sebagai busana khas Indonesia atau busana nasional, maka ketika mer-

eka memilih untuk menggunakan atau mengenakan dan mencintai kamen khususnya kamen Bali secara otomatis mereka turut serta melestarikan warisan budaya Bali yang juga milik Indonesia ini. Saat ini, dengan semangat Hari Kemerdekaan RI, KCKB mengajak semua perempuan bersama-sama menjadikan momen ini untuk menjaga produk budaya dan membangun daerah melalui berbagai kegiatan pelestarian dan pengembangan kamen Bali. -ard


4

Inspirasi

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

WHDI Bali

Gelar Deteksi Dini Kanker Payudara

Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali menggandeng Rotary Club Bali Taman dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dalam rangka HUT ke-70 Kemerdekaan RI menyelenggarakan “Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara”, Kamis (20/8) di Kantor Desa Sumerta Kelod, Jalan Drupadi, Renon, Denpasar.

P

ada kegiatan yang dihadiri oleh Sekjen WHDI Pusat Wikanthi Yogi, Ketua dan anggota BKOW Bali, pengurus dan anggota WHDI Bali, juga perwakilan WHDI kabupaten/kota se-Bali, Rotary Club, Iwapi Bali dan Kepala Desa dan PKK Sumerta Kelod ini, sebelum sosialisasi disampaikan informasi tentang keberadaan Yayasan Kanker Payudara Indonesaia (YKPI) yang diketuai oleh Linda Agum Gumelar. Kanker payudara bisa terkena pada siapa pun dan kapan pun. Kanker payudara adalah keadaan dimana sel-sel pada jaringan payudara mengalami kondisi tidak normal

dan bahkan dapat mengalami keganasan tidak terkendali. Hal ini bisa berasal dari komponen kelenjar (epitel saluran maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan lemak, pembuluh darah dan jaringan saraf payudara. Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan dan masih menjadi pembunuh utama perempuan di Indonesia. Penyebab spesifik kanker payudara hingga kini masih belum diketahui, namun ada berbagai faktor diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara. Di antaranya adalah faktor reproduksi, penggunaan hormon, penyakit

keluarga dengan riwayat kanker payudara, maka segeralah memeriksakan diri ke dokter. Seperti diketahui selama ini kanker payudara identik dengan perempuan. Tak heran bila banyak pria kurang peduli terhadap gejala-gejala kanker payudara, yang dimulai dengan benjolan ada kedutan di kulit, perubahan di kulit, ada keluar cairan merah, terkadang puting tertarik ke dalam. Ketika kita kurang peduli dengan pentingnya deteksi dini sebagai upaya pencegahan, akibatnya dalam banyak kasus ditemukan sudah stadium lanjut sehingga peluang kesembuhannya sangat kecil. Jadi, deteksi dini memang penting agar peluang hidup bisa ditingkatkan.

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

fibrokistik, obesitas, radiasi, konsumsi lemak berlebihan, riwayat keluarga, life style dan faktor genetik. Karena itu pula, YKPI melalui kehadiran Wakil Ketua I YKPI Budiastuti A.Tusin, Wakil Ketua II Maya W. Suharnoko yang berbagi pengalaman tentang kanker yang sempat diderita dan keluarga mereka. Selanjutnya Bidang Penyuluhan dan Pelatihan, dr. Bob Adinata, Sp. B (K) Onk.,di Kantor Desa Sumerta Kelod memberikan edukasinya mengajak para perempuan Bali khususnya dan Indonesia umumnya untuk melakukan upaya pencegahan dengan deteksi dini kanker payudara. –Sri Ardhini

Budiastuti A. Tusin

Salah satunya dengan Periksa Payudara Sendiri yang populer disebut SADARI. Apakah SADARI dan mengapa harus dilakukan? Pemeriksaan payudara sendiri oleh pasien di rumah setiap bulan. Bagi perempuan yang masih haid, pemeriksaan dilakukan setelah selesai haid. Bagi mereka yang sudah menopause, SADARI dilakukan setiap tanggal tertentu yang mudah diingat, misalkan setiap tanggal 1 atau setiap tanggal kelahiran. Keadaan apa yang harus menjadi perhatian? Pada saat melakukan SADARI, yang harus menjadi perhatian adalah, keadaan-keadaan sebagai berikut : teraba benjolan, penebalan kulit, perubahan ukuran dan bentuk payudara, pengerutan

Peserta Sosialisasi deteksi Dini Kanker Payudara

kulit, keluar cairan dari puting susu, nyeri, pembengkakan lengan atas, dan teraba benjolan di ketiak atau leher. Jika ditemukan kelainan-kelainan tersebut atau terasa ada perubahan dibandingkan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara, atas segala informasi yang disampaikan pada kesempatan tersebut Kepala Desa Sumerta Kelod, I Gusti

Ketut Anom Suardana mengatakan bahwa acara tersebut dapat memberikan wawasan lebih bagi masyarakat tentang penyakit payudara, tumor dan kanker payudara, serta diingatkan kembali untuk mau melakukan SADARI. Setelah penyuluhan dari dokter spesialis bedah ontologi, dokter Bob, seluruh peserta juga diajak melakukan meditasi bersama yang dibimbing oleh Byang Mangku Hipno. – Sri Ardhini

Workshop Pemulihan Jiwa Guru Mangku Hipno bersama Brahmakunta Center kembali mempersembahkan untuk masyarakat Bali, sebuah fenomena pemulihan jiwa, sebuah pemurnian diri, penyadaran diri, pembangkitan diri, perubahan diri, dan pembebasan dari segala ikatan masa lalu yang buruk, pembebasan dari segala keputusasaan, penyakit, keluhan, kegagalan, penderitaan berkepanjangan. Sebuah penyelamatan melalui “WORKSHOP PEMULIHAN JIWA BERSAMA GURU MANGKU HIPNO”. Dengan metode BYSAId, yang telah terbukti nyata berhasil menyembuhkan dan mengakhiri penderitaan ratusan pasien dengan penyakit yang susah terdeteksi baik dari wilayah Indonesia maupun mancanegara. Melalui tutur kejernihan Guru Mangku Hipno akan menuntun dan mengajak Anda tanpa sadar detik demi detik, menit demi menit memasuki ruang baru yang disebut the miracle of zone ikhlas, dimana Anda akan dikeluarkan dari neraka menuju sorga kehidupan Anda. Workshop diadakan Minggu (23/8) pukul 15.00 s.d. 17.00 di Gedung PWI Bali, Jln. Gatot Subroto Tengah, Denpasar. Harga tiket Rp 350 ribu. Dapatkan bonus psikotherapi massal, teknik terhindar dari black magic dan teknik terhindar gendam. Untuk pesan antar tiket, hubungi: 0361-8442823, 085103112404 (Brahmakunta Center), 085738818906 (Jro Mangku Swandra), 085238640217 (Jro Abuck), 08563800133 (Jro Putu Anta), 0851 0013 3724 (Jro Ayuk), 08124681851 (Jro Musna), 085935051555 (Jro Made Chung). - bns

21

Mengenal Budaya NTB di BBLS Mengangkat tema “Discover Our Diverse Culture”, ditandai bedug yang ditabuh Gubernur NTB, Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2015 resmi dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Tari tradisional yang merupakan kolaborasi dari tiga etnis asli yang mendiami Lombok-Sumbawa, yakni Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu) yang dikemas secara kolosal dengan tema “Warna NTB dalam Nilai Tradisi”, memperlihatkan keberagaman dan kekayaan seni budaya Nusa Tenggara Barat.

Dari kiri: dr. Bob, Maya Suhanoko, Wikanthi Yoga, dan Gst. Ketut Anom

98% Kasus Kanker Payudara Bisa Diselamatkan Kini kanker payudara menjadi penyebab kematian yang paling tinggi. Meski demikian penyakit kanker payudara yang dianggap seperti monster ini masih bisa disembuhkan asalkan terdeteksi sejak dini. Hal ini dibuktikan dari data yang dihimpun oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) yang menunjukkan bahwa 98% kasus kanker payudara bisa diselamatkan jika berhasil dideteksi lebih awal. Sebab, ketika sel kanker lebih awal ditemukan maka akan tertolonglah sekian banyak perempuan dari kanker payudara. Selain menyampaikan berbagai penyakit payudara dan contoh-contoh penyakit kanker payudara yang pernah ditanganinya, dokter Bob juga mengingatkan jika memiliki

Mandalika

Motif tenun Sasak dalam busana peserta pawai budaya Bulan Budaya Lombok Sumbawa

B

ulan Budaya Lombok-Sumbawa merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat yang bertujuan untuk mengapresiasi dan melestarikan budaya daerah. Gelar seni, tradisi dan budaya Nusa Tenggara Barat, sesungguhnya telah dilakukan sejak tahun 1994 dengan nama Pekan Apresiasi Budaya (PAB). Kegiatan ini berlangsung hanya selama satu minggu. Namun pada perkembangannya, Pemerintah Provinsi NTB menganggap penting kegiatan yang mengangkat nilai-nilai lokal dan keindahan tradisi serta budaya daerah ini, sehingga PAB kemudian berlangsung lebih lama yakni selama sebulan. Hal inilah yang membuat nama kegiatan ini berubah menjadi Bulan Apresiasi Budaya (BAB). Lalu

berkembang lagi menjadi Bulan Citra Budaya (BCB) hingga akhirnya di tahun 2015 ini menjadi bernama Bulan Budaya Lombok–Sumbawa (BBLS). Kegiatan ini merupakan media apresiasi bagi karya cipta/seni di Nusa Tenggara Barat yang tahun

ini dilaksanakan dari tanggal 18 Agustus – 24 September 2015. Sepanjang itu, BBLS akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan di antaranya Mataram Carnaval, Pentas Seni Daerah, Pekan Tenun Lombok Sumbawa, Fashion show tenun Lombok Sumbawa, pameran kain tenun dan Pameran kerajinan TP PKK NTB menyelenggarakan kegiatan bambu, ketak dan kerajinan dari pembinaan Iqro bagi para penghuni Panti Budhi Rini Mataram tanah liat, serta lainnya. “Bulan Budaya LombokSumbawa merupakan momen- Center Mataram, beberapa tum pengenalan budaya seba- waktu lalu. gai identitas suatu bangsa bagi Pencanangan kegiatan Bulan masyarakat NTB yang memi- Budaya Lombok-Sumbawa sekaliki keanekaragaman budaya ligus untuk mengangkat Citra dan kearifan lokal sehingga akan Budaya Nusa Tenggara Barat unlebih dikenal masyarakat dunia tuk turut mempromosikan wisata sebagai daerah yang kaya akan daerah ini dengan menampilkan budaya sebagai mana visi misi kesenian, karya kreatif dari berbaNusa Tenggara Barat, ’Beriman, gai etnis di NTB guna mendukung Berbudaya, Berdaya Saing dan target 2 juta kunjungan wisatawan Sejahtera,’’ ungkap Gubernur mancanegara ke NTB. NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi -Naniek I. Taufan ketika membuka Bulan Budaya Lombok Sumbawa di Islamic

Hj. Erica Zainul Majdi

Motif tenun Sasak dalam busana peserta pawai budaya Bulan Budaya Lombok Sumbawa

Gendang Beleq, alat musik tradisional Lombok

Pendekatan Berbasis Panti Terjerembab ke dunia hitam prostitusi, tentu saja tidak seorang pun menginginkannya. Namun karena berbagai alasan, banyak perempuan yang rela tidak rela akhirnya menjalani aktivitas ini. Inilah yang dialami para perempuan yang tadinya bekerja sebagai PSK kini menjalani rehabilitasi di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Budhi Rini Mataram. Mereka bukan orang yang harus dijauhi melainkan harus dirangkul dan dibimbing untuk kembali ke jalan yang benar. Hal inilah yang dilakukan oleh Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi NTB, yaitu merangkul mereka dengan berbagai program yang bermanfaat seperti kegiatan pembinaan Iqra yang baru-baru ini secara resmi

dibuka oleh Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi. Kegiatan yang bekerjasama dengan Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTB serta Himpunan Mahasiswa (Himmah) Universitas NW Pancor, Lombok Timur ini merupakan wujud kehadiran langsung dari pemerintah dalam memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah sosial melalui pendekatan berbasis panti, dengan proses pemberian layanan berupa pelaksanaan bimbingan teknis yang meliputi pembinaan fisik, mental, sosial, terutama pengubahan perilaku dan pelatihan keterampilan operasional premier. Salah satu bagian dari pelaksanaan pelayanan yang diberikan oleh panti yaitu pelaksanaan bimbingan mental dan spiritual melalui pembinaan Iqra’

(belajar membaca Al Quran mulai dari dasar) mengingat konsep dan pendekatan spiritual menjadi bagian penting dalam pelaksanaan terapi perubahan perilaku. Diharapkan dengan kegiatan seperti ini, para penghuni Panti Budhi Rini kelak tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW dengan baik dan benar, tapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “TP PKK percaya jika kita semua mampu membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Hadist, maka kita akan menjadi manusia yang lebih baik sesuai visi dan misi NTB yaitu beriman, berbudaya, berdaya saing dan sejahtera,” ungkap Erica di hadapan para penghuni panti dan seluruh undangan yang hadir. -Naniek I. Taufan

Pawai Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2015

Pawai Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2015

F o t o - f o t o : I b e n k / H m s - P e m p r o v. N T B


22

Sosialita

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Kompak Tekuni Hobi

Baris-Berbaris Diganti Kunjungan

Dua perempuan cantik ini, sama-sama eksis dengan hobinya. Yang satu, berstatus kakak ipar, Melati Pyo, serius menekuni hobinya di bidang tata rias. Yang belia, Sri Lestari, sang adik ipar, sedang asyik me­ngasah keterampilannya di bidang olah vokal. Seperti apa kiat ­mereka berdua agar bisa eksis di bidangnya masing-­masing? Berikut penuturannya kepada Tokoh, pekan lalu.

Maria Felicia Gunawan menerima bendera pusaka dari Presiden Jokowi

dan para pembina lainnya juga pelatih merasa sangat lega. Menurutnya sebelum acara dimulai, yang tegang dan nervous bukan hanya para pelaku di lapangan (Paskibraka) tapi juga mereka para pembina dan pelatih. “Aduh asal tahu saja, waktu sebelum acara, kita tuh rasanya tegang banget, was-was. Ada rasa khawatir gagal dan lain-lain. Stres!” ucapnya. Maklum, mereka juga pernah mendengar kisah-kisah menyedihkan tentang kegagalan Paskibraka, mulai dari bendera merah putih yang terpelintir alias tidak bisa terbentang dengan sempurna, sampai kisah soal pembawa baki bendera pusaka yang terjatuh. Tak heran kalau mereka pun takut naas itu menimpa mereka juga. “Sudah pasti kalau terjadi kesalahan, dampaknya akan besar sekali. Bukan hanya ditanggung anak-anak

tapi juga pembina dan pelatih akan terkena. Apalagi anak-anak, itu pasti akan terbawa seumur hidup,” katanya. Lalu dia pun bercerita tentang kisah pembawa baki bendera pusaka yang terjatuh ketika berjalan mundur. “Saya sempat dengar cerita itu yang katanya terjadi pada masa Orde Baru. Saat itu anak ini karena satu situasi dia harus maju beberapa langkah ke depan karena letak meja yang agak jauh. Nah ketika dia harus turun mundur, mungkin karena tegang, dia lupa menghitung bahwa langkahnya harus ditambah. Akibatnya, dia kira sudah menapak di tanah, ternyata masih berada di tangga, dan dia pun jatuh,” tuturnya. Menjadi pembawa baki bendera pusaka memang memiliki tekanan tersendiri karena setelah semuanya diam, pembawa baki inilah yang berg-

erak sendiri, menaiki dan menuruni tangga. Dia juga harus berhadapan dengan Presiden. Semua pandangan akan tertuju padanya. “Karena itu pemilihannya harus ekstra hati-hati dan ketat, kriterianya banyak, dan itu diamati selama masa pelatihan. Semua anak putri, memiliki kesempatan yang sama, mereka semua berlatih membawa baki bendera,” katanya. Ada banyak kriteria untuk seseorang bisa terpilih, bukan hanya performanya, tapi juga ketrampilannya. “Ada anak yang tenang tapi ketika berjalan turun tangga miring, ini berpotensi untuk jatuh ataupun ketidaktepatan pada barisan. Atau ada yang tanggannya gemetar saat memegang baki, padahal masih saat latihan dan belum berhadapan dengan Presiden ataupun menjadi sorotan orang,” katanya. –Diana Runtu

Maria Felicia Gunawan Maria Felicia Gunawan saat menjalani latihan sebelum bertugas di Istana Merdeka

K

egiatan sebagai Duta Belia pun tak kalah padatnya, di antaranya adalah melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai tempat, termasuk ke instansi-instansi pemerintah dan lembaga. “Kegiatan rutin mereka tetap dari pukul 07.00 hingga 18.00,” ungkap pembina Paskibraka 2015, Pingkan Margareth. “Jadi sampai saat ini mereka masih tetap sibuk dengan aganda yang padat seperti sebelumnya,” tambahnya. Yang berubah adalah pelatihan baris-berbaris yang biasanya dari pagi hingga sore, diganti dengan acara kunjungan-kunjungan yang mulai pagi hingga sore. Seusai kunjungan mereka tidak langsung istirahat, tapi masih mengikuti kelas pendidikan yang berlangsung hingga pukul 21.00. Jadi mereka tetap sangat sibuk,” ungkap Pingkan. Dalam satu hari, ada beberapa kunjungan yang harus dilakukan. Rabu (19/8) mereka melakukan empat kunjungan ke berbagai tempat, termasuk instansi/lembaga. Mereka tidak punya kesempatan berlehaleha. Kesempatan ngobrol-ngobrol santai, hanya saat di dalam bus. Jalan-jalan di Jakarta yang sangat macet juga menjadi pertimbangan, kenapa mereka sudah mulai meluncur ke lokasi-lokasi kunjungan sejak pagi sekali. Rombongan mereka sempat terlambat akibat dihadang kemacetan Jakarta. Padahal, katanya, mereka sudah berangkat dari asrama di Cibubur, Jakarta Timur, sejak pukul 5.30 menuju kantor Kementerian Pertahanan di Jl Medan Merdeka Barat. “Kami telat banget. Berang-

kat jam 5.30 baru sampai di kantor Menhan pukul 08.30. Padahal kami dijadwalkan bertemu Menhan pukul 07.00. Ini karena kemacetan Jakarta yang luar biasa, sekalipun masih pagi sekali. Kami sudah dikawal voorijder tapi tetap saja terganjal macet,” ujar Pingkan lagi. Mengantisipasi hal semacam itu, maka pada kunjungan ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, (21/8),diputuskan mereka berangkat pukul 05.00, agar bisa sampai tepat waktu. Menurut Pingkan, agenda rutin serta kunjungan-kunjungan itu masih akan berlangsung hingga tanggal 24 Agustus siang, sebelum mereka bertolak ke Kuala Lumpur Malaysia pada sore harinya. PEMBINA DAN PELATIH TEGANG Bercerita tentang kesuksesan anak-anak binaannya dalam melaksanakan penaikan dan penurunan bendera pada 17 Agustus di Istana Merdeka, Pingkan mengaku, dirinya

3

Melati Pyo dan Sri Lestari

Sibuknya Duta Belia

Tugas utama Paskibraka (pasukan pengibar bendera pusaka) Nasional memang sudah selesai pada HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus lalu, ketika anggota Paskibraka 2015 melakukan pengibaran dan penurunan bendera di Istana Merdeka. Tetapi, setelah event tersebut, mereka tidak lantas bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Penugasan mereka ternyata belum berakhir. Kini ke-68 anggota Paskibraka Nasional itu, menjalankan fungsi sebagai Duta Belia.

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Melati Pyo

Tata Rias Peluang yang Menjanjikan

P

erempuan usia 22 tahun ini, sudah sejak kecil menyukai dunia tata rias. Hobi itu bermula, ketika, ia setiap hari melihat sang nenek yang mengelola salon kecantik­an di Singaraja, sibuk melayani konsumen. Melati kecil, sering melihat sembari memp r a k t i k-

Trik Berjalan Mundur Menjadi Paskibraka Nasional memang membanggakan. Keberadaannya begitu menginspirasi anak-anak untuk bisa menjadi seperti mereka. Bahkan Presiden Jokowi pun mengaku dirinya sempat bercita-cita bisa masuk menjadi Paskibraka. Namun impiannya tidak terwujud. Begitu juga Maria Felicia Gunawan, anggota Paskibraka Nasional 2015 yang namanya mendadak terkenal lantaran terpilih sebagai pembawa baki bendera pusaka. Menjadi Paskibrakan Nasional saja sudah sangat bangga, apalagi kemudian terpilih di antara 34 putri, untuk menjadi pembawa baki, pasti rasa bangganya amat sangat. Apalagi, Cia, begitu namanya akrab disapa, menoreh sejarah sebagai siswi keturunan Tionghoa pertama yang menjadi pembawa baki bendera pusaka pada momen upacara detik-detik Proklamasi di Istana Negara. “Saya sangat bersyukur sekali. Terus terang saya tidak menyangka, karena teman-teman yang lain juga bagus, tapi kemudian saya yang terpilih. Saya juga bersyukur semuanya bisa berjalan dengan lancar dan baik,”

ungkap siswi SMA Kristen Penabur Gading Serpong, Banten, Jawa Barat, ini. Diakui Cia, meski tampilannya selalu senyum, bukan berarti dia tidak tegang. Namun, dia berusaha merilekskan pikirannya, berusaha agar tetap fokus, dan terutama menghilangkan rasa tegang. “Kakak-kakak pelatih juga mengajarkan kami bagaimana caranya agar tidak tegang, rileks, tapi tetap fokus. Itu yang saya lakukan sehingga saya bisa tenang menjalankannya,” tambah gadis bertinggi 172 cm Menurutnya untuk menjadi pembawa baki, ada beberapa hal yang diajarkan, antara lain soal keseimbangan, kaki ketika menapak harus dikasih tenaga. “Ada 13 anak tangga yang harus dinaiki dan dituruni secara mundur. Itu harus dihitung, jangan sampai salah. Selama masa pelatihan, kami mendapat bimbingan dari kakak-kakak pelatih lebih dari cukup. Kami juga diberi tahu tentang triktriknya agar tidak jatuh saat berjalan mundur menuruni tangga, bagaimana agar stabil, dll. Yang penting kita tetap tenang agar bisa lancar menjalankan tugas,” kata Cia. –Diana Runtu

kan de­ngan seksama. “Mungkin dari kecil karena kebiasaan melihat saya jadi ikut tertarik,” kata perempuan bernama lengkap Putu Melati Purbaningrat Yo, S.E. ini. Melati menuturkan, ia memang dibesarkan sang nenek. Karena itu, kesehariannya selalu mengikuti kegiat­ an neneknya itu. Di salon, awalnya ia hanya melihat. Namun, lama-kelamaan, Melati mulai belajar pelan-pelan tanpa ia sadari. “Dengan melihat setiap hari bakat saya tumbuh pelan-pelan, malah tanpa saya sadari,” ucap Melati yang kini sudah dikenal sebagai make up artis ini. Ilmu sang nenek yang piawai merias pengantin Bali dan Eropa, diserap Melati dengan penuh. Pelan tapi pasti, Melati mulai dipercaya membantu sang nenek di ­salon. Bagi Melati, keterampilan tata riasnya itu ternyata sangat berguna baginya setelah ia ­menikah. Tahun 2011, ia mengambil ujian kursus pengantin Eropa, payas agung, payas madya, dan pengantin Padang.

Setelah menikah, Melati, ­ isibukkan mengurus kedua anaknya d sehingga otomatis ia tak bisa lagi menyalurkan hobi tata riasnya. Setelah kedua buah hatinya, Kenzie dan Kenzo besar, Melati mulai pelan-pelan bisa menerima konsumen lagi. Saat ini ia masih dalam batas freelance, artinya menerima panggilan konsumen ke rumah. Menurut Melati, tingkat kesulitan dalam merias adalah mata orang sipit. Ia harus bisa menyiasati sehingga mata konsumennya itu, terlihat lebih tampak. Begitu juga urusan muka berjerawat. Ia harus membuat dasar mukanya halus terlebih dahulu sebelum menambahkan make up, agar terlihat natural. Sekarang ini, kata Melati, pelanggannya lebih suka bentuk alis yang natural. Biasanya, dalam tata rias pengantin Bali, bentuk alis dibuat kecil. Namun, banyak konsumen meminta, agar ­alisnya tetap dibuat natural. Biasanya, ia suka berkreasi di eyeshadow dan alis. Hasil kreasi Melati dapat dilihat di ­instagram cikomakeup. Walau disibukkan mengurus kedua buah hatinya dan menerima pesanan tata rias, Melati tetap meluangkan waktu melanjutkan pendidikannya ke jenjang magister. Saat ini ia sedang melanjutkan di Program Pasca­sarjana Unud Jurusan manajemen. Waktu ­kuliahnya mulai pukul 18.00 sampai 22.00, setiap hari Senin sampai Kamis. Disamping itu, ia ikut bergabung di Yayasan Sari Gurita yang ber­ gerak di bidang pendidikan dan sosial, dan dipercaya menjadi bendahara. Jam kerjanya mulai pagi sampai siang hari. Jika ia menerima pesanan make up ­pengantin Bali, ia sudah siap pukul 03.00. Biasanya menghabiskan waktu 2,5 jam. Untuk pesta atau wisuda, make up dan tata ram-

Sri Lestari

Ingin Luncurkan Single Bahasa Indonesia

G

adis manis ini baru saja menyandang predikat mahasiswi baru Undiknas University Jurusan Manajemen. Hobi menyanyi sudah ia tekuni sejak kecil secara otodidak. Hebatnya, ia tak pernah kursus menyanyi. “Mungkin sudah bakat menyanyi. Bapak saya juga suka menyanyi,” kata putri pasangan Nyoman Nirka dan Wayan Sari Galung ini. Gadis bernama lengkap Ni Komang Lestari ini, pernah mengeluarkan album waktu ia duduk di bangku SMP. Judulnya “Damai”. Ada 10 lagu dalam album tersebut. Beberapa lagunya diciptakan penyanyi Bali Mr. Botax. “Album itu berisi lagu-lagu Bali yang memberi pesan kepada manusia untuk saling mengasihi agar dunia ini damai,” kata alumnus SMAN 5 Denpasar ini. Setelah albumnya keluar, ia otomatis bergabung dalam Pramusti Bali. Dalam beberapa kesempatan bersama Pramusti Bali, ia pernah pentas di Taman Budaya

Art Centre, Denpasar. Sebelumnya, Lestari sering pentas di sekolah, dan acara-acara di banjarnya. Ia lebih sering ngaturang ngayah menyanyi tanpa menerima honor. Lestari kini mulai berekspansi dengan hobinya di bidang tarik suara. Bersama beberapa anggota Seka Teruna-teruni di banjar­nya, ia membentuk satu grup band dengan nama Widya Bakti Etnik Kontemporer. Band ini dibentuk bulan Maret lalu. Band ini sangat unik karena menyertakan gamelan sebagai perpaduan harmonisasi nada. Lestari dipercaya menjadi vokalis band. Etnik band sudah pentas beberapa kali; pertama, saat ulangtahun STT. Kedua, saat festival omedomedan di Banjar Kaja, Sesetan, dan ketiga, saat perayaan 17 Agustus di lapangan Arga Soka Pegok, Sesetan. Ada satu proyek sedang digagas Lestari. Ia ­ingin meluncurkan single lagu berbahasa Indonesia. “Semoga bisa segera terealisasi,” kata gadis yang mengidolakan artis Bali Mr. Botax, Triple XXX, dan Duo Thiwi ini. –ast

but bisa menghabiskan waktu 1,5 jam. Menurut Melati, peluang usaha di bidang tata rias, sangat menjanjikan. Apalagi, dengan kesibukan perempuan berkarier, tentu jasa tukang rias makin diperlukan. Melati tak mau mulukmuluk. Ia ingin menjalankan hidupnya ­dengan mengalir begitu saja. Walaupun, ke depan, ia memiliki target memiliki salon sendiri, namun, ia tak terlalu ngoyo. “Kalau berbenturan dengan acara anakanak, saya tak terima pesanan dulu. Biar bagaimana pun keluarga tetap nomor satu,” ucap istri I Wayan Umare Radita dan me­n antu ­p a s a n g a n ­N y o m a n Nirka dan Wayan Sari Galung ini. –ast


2

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

Ekspresso

DAri daPUr Redaksi

Buktikan dengan Karya Perayaan HUT ke-70 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sudah berlalu. Tetapi, suasana merah-putih masih terasa. Hiasan yang didominasi warna merah dan putih masih terlihat di beberapa tempat. Beberapa foto pelaksanaan kegiatan 17 Agustus kami sajikan di edisi ini. Agustus memang identik dengan merah dan putih. Tema “Ayo Kerja” pun masih banyak terpajang. Semoga tema ini bukan hanya sekadar tema. Tema ini harus diwujudkan dalam tiap aktkvitas yang bermanfaat. Salah satu sajian menarik minggu ini adalah aktivitas Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) yang memiliki kegiatan yang menampilkan dress code merah-putih. Tak ketinggalan disemarakkan aneka lomba yang sangat fun dan seru, khas 17 Agustusan seperti lomba membawa kelereng, memasukkan paku ke dalam botol sampai memecahkan balon. Salah satu pedomam KCKB, yakni bertemu, belajar dan beramal, ia kembali menekankan bahwa seluruh anggota, sebagai perempuan kreatif, hendaknya bisa membuktikan diri dengan berkarya. Satu sama lain saling mendukung, dengan penuh tanggung jawab tanpa merugikan teman lainnya. Aktivitas rutin berikutnya adalah mengedarkan kantung amal, sebagai salah satu cara mereka belajar untuk mere- tas sebuah

keikhlasan. Tiap tiga bulan sekali, seluruh hasil yang diperoleh dalam kantung amal tersebut, disalurkan kepada mereka yang memerlukan. Agenda tiga bulanan adalah donor darah dan penyerahan dana sosial. Ada juga sajian tentang aktivitas Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali yang menggandeng Rotary Club Bali Taman dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), dalam rangka HUT ke-70 Proklamasi Kemerdekaan RI. Mereka menyelenggarakan “Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara”, Kamis (20/8) di Kantor Desa Sumerta Kelod, Jalan Drupadi, Renon, Denpasar. Kanker payudara bisa terkena pada siapa pun dan kapan pun. Kanker payudara adalah keadaan dima-

Nanya Harga Mobil

Saya punya pengalaman yang lucu berkaitan dengan polisi. Dulu saya pernah lupa pakai sabuk pengaman. Ketika distop polisi, saya beralasan, belum sempat memasang sabuk. Tetapi, saya tetap minta maaf dan mengaku salah. Untung polisinya pengertian. Berikutnya, saya lupa lagi pasang sabuk pengaman. Kali ini benar-benar lupa. Ketika ada razia, saya beralasan sakit perut. Kalau dipakaikan sabuk, rasanya menjadi tambah sakit. Saya pun “lolos” lagi dan diperbolehkan lewat. Ternyata tidak enak kalau terus-terusan ngeles. Saya pun berjanji untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas. Kelengkapan seperti SIM dan STNK pun tak pernah ketinggalan. Pokoknya

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

saya mau tertib berlalu lintas agar tenang di perjalanan. Nah, kejadian di pertengahan Agustus 2015 tak bisa saya lupakan. Pagi hari, saya ke pasar Kereneng. Setelah mendapatkan yang harus dibeli, saya pun melanjutkan perjalanan ke salah satu apotik. Begitu sampai di parkiran apotik, seorang polisi mendekati mobil. Saya mulai was-was. Perasaan tidak ada melanggar. SIM dan STNK sudah bawa. Sabuk pengaman sudah pakai. Apa lagi

na sel-sel pada jaringan payudara mengalami kondisi tidak normal dan bahkan dapat mengalami keganasan tidak terkendali. Hal ini bisa berasal dari komponen kelenjar (epitel saluran maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan lemak, pembuluh darah dan jaringan saraf payudara. Setelah penyuluhan dari dokter spesialis bedah ontologi, seluruh peserta juga diajak melakukan meditasi bersama yang dibimbing oleh Byang Mangku Hipno. Sebagai tabloid dengan segmen wanita dan keluarga, kami juga mengungkap potensi perempuan sebagai pemimpin. Kami menggunakan beberapa sudut pandang untuk mendapatkan sajian yang komprehensif. Semoga bisa memberi inspirasi bagi kaum perempuan. Salam salah saya. Saya benar-benar khawatir karena pak polisi itu sudah berdiri di samping mobil dan siap menyambut saya. “Bu..berapa harga mobil ini? Saya ditawari teman di Malang. Saya mau membandingkan harga,” ujarnya dengan sopan. Oh my God….saya jadi lega. Ternyata saya didekati bukan untuk ditilang. Pak polisi itu ingin menanyakan harga mobil. Kami pun berbincang-bincang di parkiran. Setelah mendapat informasi, ia pamit untuk melanjutkan perjalanan sedangkan saya masuk ke apotik. Ada-ada saja. Maria, Denpasar

GORO-GORO Merdeka

Arti kemerdekaan di hunian Amat, ternyata berbeda-beda. Ada yang memaknakannya sebagai, tiket untuk boleh berbuat apa saja, asal di rumah Putu Wijaya sendiri. Ada yang mengartikannya, bukan saja di rumah, di ruang publik pun boleh berbuat apa saja, asal tidak melanggar hukum. Ada yang mengartikan kemerdekaan adalah saat setiap orang boleh punya pendapat apa saja. Termasuk pendapat yang berbeda dengan pemerintah. Ada lagi yang lain. Bukan hanya perbedaan keyakinan, perbedaan bersuara pun tidak dilarang. Tetapi ada juga yang mengatakan berpendapat sebaliknya. Kemerdekaan justru berarti tidak merdeka. Karena akan banyak peraturan yang mengikat, membatasi, agar kemerdekaan yang satu tidak mengganggu kemerdekaan yang lain. “Nah, apa arti kemerdekaan kita?” tanya Bu Amat. “Apa bapak punya arti kemerdekaan yang lain? Biasanya kan bapak nyeleneh. Coba apa?” Amat tak menjawab. “Kemerdekaan yang membolehkan orang boleh berbuat apa saja di rumahnya?” lanjut Bu Amat, “Jelas salah. Mentang-mentang anak sendiri, apa boleh orang membunuh anaknya seperti singa? Jangankan membunuh anak, menelantarkan anak, sudah bisa dituntut! Ya, kan?!” Amat tak menjawab. “Kalau di rumah saja tidak boleh berbuat semena-mena seperti terhadap kecoak atau tikus, di muka umum pun dilarang. Telanjang di kamar mandi boleh, tapi siapa berani telanjang di muka umum kecuali orang gila! Ya, kan!” Amat tak menjawab. Bu Amat jadi gemas. “Apa ? Merdeka berkeyakinan berbeda dengan pemerintah? Kalau dalam beryakinan beragama, itu boleh. Adat istiadat berbeda tidak jadi masaalah. Tapi kalau dasar-dasar negara berbeda, tidak boleh!, Menurut mantu kita itu akan memicu separatisme, lalu tindakan subversif. Menurut mantu kita perbedaan itu bukan kemerdekaan harus dibasmi sebelum meranggas jadi negara dalam negara! Iya, kan? Apa yang mantumu katakan itu benar!!” Amat tetap diam. “Jangan hanya mengangguk-angguk, apa pendapat kita? Apa kita setuju berbeda keyakinan dengan pemerintah? Menjadi musuh dalam selimut? Itu namanya berkhianat. Sebab siapa pun pemerintah itu, itu kan hasil pilihan kita dalam pemilu. Harus dihormati diberikan dukungan jangan digoyang-goyang. Berikan kesempatan bekerja! Jangan dirongrong baru beberapa langkah. Kalau sudah salah separuh dari jangka waktunya, silakan. Perbaiki nanti. Tapi menang dulu dalam pemilu, kata Sugi, menantu kita itu. Tapi kalau hasilnya baik jangan pura-pura tidak tahu! Ya atau tidak?” Tetap tak dijawab. “Jangan diam saja, Pak, semua orang sudah menyatakan pendapatnya. Kalau Bapak diam saja nanti dituduh, apa, apa kata Sugi waktu itu? O ya, kalau diam saja nanti kita akan dicap oportunis. Ke mana angin berhembus ke situ pohon bergoyang. Mau dituduh jadi bunglon. Tidak punya pendapat, asal selamat terserah Bapak. Saya tidak mau. Meskipun satu rumah, satu tempat tidur, berbeda pendapat itu sah-sah saja, kata Sugi!” “Dan, memang dalam kemerdekaan kita jadi tidak merdeka. Karena banyak peraturan yang membatasi kemerdekaan kita, supaya tidak menginjak kemerdekaan orang lain yang sama-sama merdeka, seperti kita. Tapi tidak berarti kita tidak merdeka, karena, seperti kata Sugi, kita iklas menerimanya! Betul kan?! Nah sekarang bagaimana pendapat Bapak?” Bu Amat menoleh. Ternyata kursi kosong. Amat sudah pergi.

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

23

Bisnis Ternak Ayam Kampung Menggiurkan

Bisnis ternak ayam kampung nampaknya menjadi usaha primadona yang kian menggiurkan. Data pasar menunjukkan permintaan daging ayam kampung cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan permintaan daging ayam kampung di pasaran, salah satunya adalah kesadaran sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam organik atau daging ayam yang tidak melalui proses rekayasa genetika.

Y

atno, salah satu pengusaha ayam kampung yang ada di Ponorogo mengemukakan, untuk saat ini di kota besar seperti Jakarta, permintaan daging ayam kampung baru bisa terpenuhi sekitar 5% dari kebutuhan atau sekitar 280.000 ekor per hari. “Dengan data tersebut bisnis ternak ayam kampung menjadi peluang bisnis yang menggiurkan,”ujar Yatno yang juga pemasok daging ayam kampung ke Jakarta dan Surabaya. Dukungan pemerintah dalam

hal ini terhadap pengembangan bisnis ayam kampung untuk usaha mikro, kecil dan koperasi cukup positif. Saat ini sedang dibuat blue print sistem pengembangan ayam kampung. Dalam blue print ini akan memberikan perlindungan bagi peternak ayam kampung dalam skala usaha mikro, kecil dan koperasi dalam menjalankan usahanya. “Dengan begitu investor besar tidak boleh memasuki bisnis ayam kampung ini. Kapasitas pemeliharaan maksimal 10.000 ekor untuk satu peternak. Dengan pembatasan ini diharapkan usaha

Ternak ayam

ternak rakyat akan berkembang dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tegasnya. Kondisi usaha ternak ayam kampung saat ini masih diusahakan dengan cara tradisional dan belum melalui cara intensif. Baru sekitar 3400 peternak ayam kampung yang mengusahakannya secara intensif. Di luar itu masih dengan cara tradisional. “Setelah blue print ini selesai, diharapkan

peternak tradisional akan beralih pada usaha ternak ayam kampung secara intensif,” imbuhnya. Sepuluh tahun mendatang diharapkan pasokan ayam kampung akan mencapai 25 persen dari kebutuhan total daging ayam nasional. Padahal saat ini suplai ayam kampung baru mencapai 5.5 persen saja. Dengan target sebesar tersebut pengembangan bisnis ayam kampung akan

mampu menggerakkan ekonomi perdesaan yang notabenenya merupakan usaha skala mikro, kecil dan koperasi. “Pengembangan bisnis ternak ayam kampung sendiri tidak hanya bermanfaat bagi peternak tetapi juga sektor usaha lain misalnya nilai perdagangan dari pakan dan pengolahan daging ayam kampung,” ungkap Yatno. -Dinar Perdana

Bisnis Bunga Plastik Utamakan Komposisi

Viani Oktavia

Kata Bob Sadino (alm), usaha yang menguntungkan adalah usaha yang dibuka. Artinya, usaha itu bukan sekadar rencana. Tapi harus diwujudkan. Berani berspekulasi dengan dua risiko. Kalau tidak rugi, ya untung. Kata Bob Sadino inilah yang menginspirasi pengusaha bunga artifisial atau bunga plastik, Viani Oktavia, untuk bisnis bunga artifisial di Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Saat dikunjungi, wanita berkulit putih bersih ini sedang berada di ujung timur tokonya. Ia sibuk

merangkai bunga plastik dari varian anggrek yang sudah dipesan oleh salah satu pelangganya. Dilihat dari kerjanya, sangat cekatan. Plak, plek, plak, plek sudah membentuk bunga mirip aslinya. Indah mempesona. “Tinggal pasang begini saja. Paling lama hanya 10 menit sudah jadi,” ujar Viani yang sudah 3 tahun menggeluti usaha ini. Menurut Viani, usaha bunga Bunga artificial karya Viani artifisial ini, tidak ada yang sulit. Karena semua bahan sudah lakukan dengan cara belajar. Berani menjual bunga sungguhan, rentan dipesan dari pabrik. Hanya ting- mencoba dengan segala inovasi. rugi. Karena memberi pupuk dan gal pasang saja. Tapi kalau ingin Termasuk seperti ia pertama kali menyirami setiap hari. Belum lagi hasilnya bagus, pemilik harus memutuskan bisnis bunga artifi- kalau tanaman terserang hama, bisa sedikit variasi. Agar bunga sial ini. Waktu itu, Viani bingung bisa mati. Dari pertimbangan itu, kelihatan cantik alami. Contohnya mencari peluang usaha. Setelah akhirnya Viani memutuskan bisnis anggrek. Agar kelihatan benar- digali-gali, terdapat pada dirinya bunga plastik. Diawali dengan benar seperti asli, media yang sendiri yang hobi bunga. Setelah kecil-kecilan. Membeli beberapa digunakan harus dari potongan ditimbang-timbang, ia memutus- varian bunga kemudian dijual kayu atau pakis. kan sebagai penjual bunga. lagi. Hal yang utama adalah menTak lama kemudian, putusan Lambat laun, usaha yang digegatur komposisi batang, daun, itu berubah. Dengan pertim- luti ini terus berkembang. Karena dan bunga. Harus imbang. Kalau bangan risiko. Menurut Viani, banyak peminatnya. Terutama pada terlalu banyak basaat Lebaran dan Natal. “Kalau rugi tang hasilnya jelek. hampir nggak pernah. Justru banTerkesan kurang yak untungnya. Apalagi di bulansubur. Kalau banbulan tertentu, seperti Lebaran, yak daun, terkesan hasilnya lumayan,” ujarnya. mandul. Begitu Kendati demikian, perlu ketepula dengan terlalu latenan untuk menjual bunga banyaknya bunga, plastik. Tiap dua hari sekali harus terkesan kurang membersihkan debu yang menalami. “Pembagian empel di bunga-bunga tersebut. komposisi agar Pengerjaannya juga harus hati-hati. bunga terlihat canJika tidak, ditakutkan ada sambuntik, alami, dan asri gan yang protol atau rusak. “Tapi ini yang penting,” saya senang, kok. Selain hasil saya jelasnya Viani. juga bisa menikmati indahnya Ia mengakui, bunga-bunga ini,” tutur Viani. Viani Oktavia penjual bunga plastik semua itu bisa di-Khoirul Abadi


24

Edisi 863/ 24 - 30 Agustus 2015

redaksi/iklan/langganan: tlp. (0361) 425 373, 416 676; faks. (0361) 425 373; e-mail: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id; website: www.tokoh.co.id

What’s Up

Semarak 17 Agustus 2015

Perayaan tujuhbelasan di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Jalak Bali Sesetan Denpasar yang diisi berbagai macam lomba dan pertunjukkan seni dari anak-anak

Upacara pengibaran bendera merah putih di halaman Gedung Pers Bali K. Nadha. Upacara diikuti karyawan Kelompok Media Bali Post

Karyawan Hotel Grand Hyatt Nusa Dua Bali melaksanakan upacara 17 Agustus di halaman hotel setempat. Selain upacara bendera acara juga dimeriahkan dengan lomba paduan suara Lagu Indonesia Raya

Upacara 17 Agustus di Cellular World diikuti seluruh karyawan Cellular World


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook