24
What’s Up
Edisi 855/ 29 Juni - 5 juli 2015
Kreativitas Hindari Monoton Pesta Kesenian Bali masih menjadi tujuan bagi masyarakat. Hal ini diungkapkan Luh Gede Herryani, S.H., M.Kn. Menurutnya taksu PKB yang dimulai tahun 1979 dan digagas Gubernur Bali ketika itu Prof. IB Mantra sebagai wadah memamerkan kreativitas pengrajin dan aspirasi berkesenian Bali gaungnya masih sangat kuat.
A
jang yang tahun ini digelar untuk ke37 kalinya ini bisa diartikan program pemerintah untuk menggencarkan promosi kerajinan lokal dari usaha kecil menengah daerah. “Kehadiran PKB hingga saat ini masih mendapat respons positif, melihat cukup ramainya pengunjung lokal dan dari luar Bali. Perannya untuk mempromosikan kesenian dan produk unggulan Bali memang tak bisa terbantahkan, meski masih ada yang mengeluhkan persembahan keseniannya belum banyak berubah dan harga sewa stan yang meningkat dari tahun sebelumnya,” katanya. Notaris asal Buleleng ini juga mengatakan para produsen kerajinan di Bali yang hadir di PKB,
sebagian terlihat sudah memiliki kreativitas yang bagus dan lebih kuat. Sepetrti wujud-wujud desain aksesorinya juga menarik idenya begitu luas mulai dari benda untuk kegiatan ritual, kehidupan seharihari, hingga dari wujud tumbuhan dan binatang juga ada. Selanjutnya jika kita sempat melihat secara perlahan dan lebih detil cukup banyak pula produk hasil kerajinan tangan masyarakat Bali yang unik yang ditampilkan, meski belum merata semuanya. Baik melalui Drekaransda Kabupaten Kota maupun yang tampil secara aktif atau mandiri. “Kreativitas selalu diperlukan untuk menghindari kemonotonan., Perlu gagasan atau inovasi baru agar tidak mandeg dan menarik pastinya,” cetusnya.
Dewi Anyar
Ny. Bintang Puspayoga
Luh Gede Herryani
Selanjutnya ia juga menyinggung jika perkembangan kesenian yang ada di Bali sangat dipengaruhi perkembangan pariwisatanya. Rupanya, banyak produk kerajinan yang dipasarkan di Bali saat ini tidak hanya berasal dari Bali saja. Karenanya, kerajinan Bali sendiri harus bersaing dengan produk dari daerah lain. “Meski begitu, kerajinan karya pengrajin Bali, seperti yang ada di arena PKB masih tetap eksis dan diminati oleh pengunjung lokal utamanya maupun tamu domestik karena ide kreatifnya,”kata Luh De. Namun demikian menyoal tentang kualitas produk, ia mengatakan mungkin untuk selanjutnya penekanan akan kualitas ditingkatkan sekaligus disesuaikan dengan tema PKB yang tengah diusung. “Pastinya bukan sebatas memindahkan pasar seni ke tempat yang lain.Sebab harus diakui masih banyak produk yang dipajang juga biasa ditemui di pasar-pasar seni
selama ini. Kalaupun ada jangan sampai mendominasi tapi tetap ada peningkatan sebab Bali selama ini dikenal dengan kesan seni kreatifnya ,”ujarnya.
bersyukur selain ia secara mandiri ikut di PKB ini, selama ini Pemerintah Kota Denpasar juga ikut menggencarkan promosi melalui ‘website’ gratis yang disediakan dilengkapi dengan memberikan pelatihan kepada UKM untuk lebih mengetahui dan memahami standar pasar internasional untuk mengantisipasi MEA. Sedangkan Ny. Bintang Puspayoga, Ketua WHDI Provinsi Bali yang juga istri Menteri UMKM Puspayoga ketika berkesempatan mengunjungi beberapa stan pengrajin yang berada di bawah panggung terbuka Ardha Chandra menyatakan , bahwa kreativitas pengrajin Bali luar biasa. Karya-karya mereka yang dipajang terlihat semakin bervariasi dan memiliki inovasi serta keunikan tersendiri. Baik untuk produk fashion maupun handycraft lainnya. Melihat hasil karya cipta seni yang ada, PKB katanya masih menjadi kebanggaan lokal, nasional bahkan dunia. – Sri Ardhini
PKB MASIH JADI KEBANGGAAN Sementara Dewi Anyar yang mengikuti PKB untuk keenam kalinya menyampaikan jika sampai dengan minggu kedua pengunjung belum terlalu ramai. Penjualan juga belum ada peningkatan. “Semoga hari berikutnya bisa lebih bergairah pengunjungnya datang dan berminat pada produk-produk lokal,” harapnya. “Kami hadir disini juga ingin turut bersama-sama semua pihak untuk mengajak masyarakat berkampanye untuk mau menggunakan dan lebih mencintai produk lokal. Ini akan membantu meningkatkan perekonomian khususnya bagi para pelaku UKM kita,” lanjut Dewi yang tetap
Kepayang Tari Joged Menggerayangi Bali Tari Joged tak pernah lekang di tengah kehidupan masyarakat Bali, sejak zaman kerajaan dulu, hingga era globalisasi sekarang. Tengoklah gairah pementasannya di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-37 yang sedang digelar. Penampilan tari Joged duta Kota Denpasar (16/6), Kabupaten Karangasem (17/6), dan utusan Kabupaten Gianyar (20/6) di panggung terbuka Ksirarnawa, begitu semarak dirubung penonton. Parade Joged Bumbung yang dipentaskan pada sore hari itu menjadi salah satu tontonan favorit masyarakat. Sudah pasti, suguhan tari joged kabupaten lainnya akan semarak disesaki penggemar seni pertunjukan yang senantiasa mengundang keriuhan ini. Ngibing atau bagian tari ibingibingan adalah menu utama euforia keriuhan dalam pertunjukan joged. Para penonton pria yang berpartisipasi menari ke tengah arena pentas itu diundang lewat sentuhan kipas penari joged. Sebuah selendang diselempangkan terlebih dahulu di pinggang pria yang kena jawat sebelum berinteraksi menari. Pengibing yang memiliki keterampilan tari biasanya menunjukkan kemampuannya menimpali penari joged. Sedangkan pengibing yang tak punya kemampuan menari sering hanya unjuk kelucuan dan kesalahan tingkah. Tontonan joged di tengah arena
PKB sungguh menjadi hiburan yang riang ringan penuh tawa dan canda. Bagaimana dengan pentas tari joged di luar PKB? Belakangan, di sejumlah sudut di penjuru Bali, tari ibing-ibing secara elegan dan ceria seperti itu kurang tampak lagi. Begitu pula pada sebagian penari joged, tak perlu tersipu malumalu lagi ketika kena curi colek atau cium pengibing. Keindahan seni tari dalam pertunjukan joged masa kini cenderung tak menghiraukan estetika dan kesantunan. Erotisme dan sensualitas penari joged yang vulgar dan birahi agresif yang dipertontonkan si pengibing tampaknya menjadi menu utama. Banyak kalangan yang meri-
saukan nuansa mesum yang dibeber dalam pentas joged seperti itu. Citra tari joged pun tersungkur jadi kesenian rendahan. Hingga kini keberadaan joged bugil ria itu terus merebak, yang, dapat dipantau di You Tube dengan laku yang makin keblabasan. Hujatan apa yang mesti diberikan kepada tari joged seperti itu? Striptease ala Pulau Dewata? Sungguh ini adalah sebuah fenomena yang membingungkan dan menyesakkan dada. Joged sebagai sebuah ungkapan estetik dan media interaksi sosial, ternyata di suatu tempat terjerumus dalam jurang nista. Dari sejumlah sudut Bali, lewat kemajuan media telekomunikasi yang canggih
dan instans seperti sekarang tersebar tanpa batas ke segala penjuru dunia, menebar citra dan menciptakan image pada masyarakat, kesenian, dan budaya Bali. Joged porno itu telah mengerayangi, mencoreng moreng wajah Bali dan Indonesia. Upaya “pembinaan“ agar tari joged kembali pada relnya pun sempat digalakkan. Pada penghujung tahun 2005, Pemda Bali pernah menggelar lomba tari joged santun di Taman Budaya Denpasar. Secara berturut-turut sejak tiga tahun terakhir ini, Pemda Bali juga mendatangi langsung sekaasekaa joged agar kembali pentas yang lebih beretika. PKB juga menggelar tari joged dalam format lomba yang kriterianya mengedepankan sajian seni pentas estetis dan etis. Kabupaten Buleleng yang dicurigai memiliki penari atau grup joged erotis porno pernah menyelenggarakan lokakarya untuk menggariskan rambu-rambu estetika dan etika yang wajib ditaati oleh para penari atau grup joged. Berhasilkah segala upaya itu? Kiranya tidak! Biasanya, joged yang tampil dalam lomba atau dalam ruang publik yang formal adalah joged “baik-baik“. Sementara joged porno tetap liar dalam pangkuan komunitas-komunitas yang gamang dan permisif. Kejutan-kejutan budaya dan carut marut kehidupan rupanya bereskalasi pada sikap permisif sebagian masyarakat kita. Pola-pola moral yang
terdegradasi dalam kepanikan yang serba boleh itu, virusnya kini membiak di tengah-tengah masyarakat dalam segala implementasinya. Mungkin tari joged yang makin rajin diunggah di You Tube tersebut merupakan representasi dari telah runtuhnya tatanan kesantunan dan keluruhan budaya yang kita bangga-banggakan selama ini. Faktanya, sebagian masyarakat Bali, bisa menerima, suka menonton, bersemangat ngibing tari joged erotis nan meragsang itu. Hadirnya tari joged porno agaknya tak bisa dilepaskan, salah satunya, dari kehidupan “porno“ yang merubung masyarakat kekinian. Estetisasi seks tubuh perempuan kini gencar diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi masyarakat global. Di tengah ideologi pasar yang berorientasi uang dan tekanan ekonomi, para penari atau grup joged dengan modal kultural dan tubuh perempuan memasrahkan nasibnya berkiprah menggamit peluang di tengah persaingan hidup yang amat ketat ini. Jika saja ada kegiatan atau pekerjaan lainnya yang lebih menjanjikan untuk menyambung hidup, mungkin tak ada para perempuan Bali yang membenamkan martabat diri dan keluarganya menjadi penari joged porno yang honornya hanya cukup untuk beli gincu dan bedak murahan. -Kadek Suartaya
2
Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Sekolah Favorit Suasana bulan Juni ini sangat istimewa karena bertepatan dengan liburan sekolah, bulan puasa, pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Bagi anak sekolah, kesempatan liburan ini tentu bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan, melepaskan diri dari rutinitas sekolah. Namun, ada juga siswa yang kini sibuk. Mereka adalah siswa yang beralih dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, dan dari SMA ke jenjang kuliah. Tak hanya siswa yang sibuk, orangtua juga ikut sibuk. Informasi sekolah favorit menjadi incaran. Masuk sekolah favorit bisa mengangkat citra siswa termasuk orangtua. Sistem online yang ditetapkan pemerintah dalam prosedur masuk sekolah sudah dijalankan. Namun, tetap saja siswa harus datang ke sekolah tujuan untuk menyerahkan berkas-berkas. Bagi orang yang jeli, ada peluang untuk meringankan beban calon siswa. Caranya dengan membantu pendaftaran baik melalui jalur prestasi maupun jalur NEM. Sementara itu, bagi siswa yang tidak sibuk, mereka bisa
Buka Puasa bersama agen Koran di Shankara Resto, Sanur
memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan. Salah satunya ke arena PKB. Tahun ini PKB bertema, “Jagaddhita” yang memiliki makna memperkokoh kesejahteraan masyarakat. Bali mempunyai kekayaan yakni budaya Bali yang adi luhung. Budaya ada karena potensi sumber daya manusia kita yang kreatif dan inovatif. Inilah yang terus dipacu, untuk memunculkan desain baru di bidang kebudayaan, apakah itu seni tari, seni tabuh, kerajinan, dll yang memberi daya tarik pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya. Dalam PKB, lima kegiatan pokok, mulai dari pawai,
Salah Tas
Ternyata benar kata orangorang, makin bertambahnya usia, kita akan menjadi makin pikun akan sesuatu. Ini pula yang terjadi kepada diri saya, yang sampai sekarang kejadian itu sangat membekas menjadi kisah yang lucu saat saya dan istri mengingatnya. Karena saking lucunya, kejadian tersebut saya catat di buku agenda saya. Kejadiannya Minggu, 3 Mei 2015, kira-kira puku 16.00. Waktu itu, saya bersama istri pulang kampung mengurus keperluan mengurus surat-surat perpindahan domisili. Kami berdua berangkat pulang kampung dengan mengendarai sepeda motor. Anak-anak kebetulan sudah duluan dijemput oleh kakek dan neneknya. Karena ada dokumen yang kurang, kami berdua lalu mencari tempat fotokopi di perjalanan menuju kampung. Kira-kira setelah keliling mencari 1 jam, maka ketemulah tempat fotokopi yang agak sepi. Waktu itu, saya membawa
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
tas gendong warna hitam yang saya taruh di atas sadel motor. Lalu saya mengambil dokumen yang akan saya fotocopi. Berselang 15 menit kemudian, datang seorang bapakbapak berpakaian rapi, yang juga akan ikut memfotokopi beberapa surat-surat pentingnya. Selang beberapa menit, semua dokumen telah selesai saya fotokopi dan rencana mau membayar. Secara refleks, saya membuka resleting tas gendong hitam yang ada di sebelah saya untuk mencari dompet di dalamnya. Tapi tidak ketemu, lalu saya bongkar semua isi di dalam tas tersebut, saya keluarkan semuanya. Tapi tetap tidak ketemu. Dengan panik saya menanyakan kepada istri, mengapa dompet tidak ada didalam
pagelaran, lomba, kerajinan, dan sarasehan. Khusus sarasehan akan dipakai untuk mencari tema PKB hingga lima tahun ke depan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dijadwalkan hadir untuk menjadi keynote speaker. Berkaitan dengan bulan puasa, Kamis (25/6) malam, Kelompok Media Bali Post (KMB) mengadakan buka puasa bersama para agen koran di Shankara Resto, Sanur. Acara ramah tamah dihadiri para pimpinan media di KMB. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan untuk memperkuat tali silaturahmi antara KMb dengan para agen. tas? Dengan mata yang melotot, istri berbisik bahwa saya salah tas. “Oh my God.......ternyata saya tidak sadar, tas gendong yang saya obrak-abrik isinya itu milik bapak yang fotokopi tadi. Alamaak..memang dasar pikun. Tas gendong saya masih berada di atas sadel motor. Artinya, tas yang saya obrak-abrik tadi bukan tas saya. Untunglah bapak si pemilik tas itu lagi ke toilet. Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau si pemilik melihat saya mengobrak-abrik tasnya? Pasti akan diteriaki maling!! Dengan tergesa-gesa saya mengambil dompet dan langsung pergi. Muka saya pucat, memikirkan bagaimana nanti reaksi si pemilik tas melihat isi dalam tasnya sudah tidak beraturan tempatnya. Dasar saya pikun. Putra Setyawan, Jimbaran
Mozaik
GORO-GORO
kalah
Seorang teman lama mampir ke rumah Amat. Ia curhat mengatakan dirinya kalah. Lalu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi rasa kalah, Mat?” Putu Wijaya Ia tak mengatakan, kalah apa. Amat pun merasa kurang sopan kalau menanyakan, kalah apa. “Ya, menerima kekalahan itu.” “Sudah, saya sudah menerimanya tapi tetap saja kalah.” “Ya, itu berarti belum menerimanya.” “Jadi maksudnya saya harus menikmati kekalahan itu?” “Betul. Kira-kira begitu.” Tiba-tiba kawan itu marah. Ia berdiri sambil berkata ketus. “Kau enak saja ngomong begitu! Coba kau sendiri yang mengalaminya, baru tahu, bagaimana sakitnya kalah!” Amat bingung. Ia merasa sudah mencoba menjawab sesuatu yang tak jelas, kok dimarahi? “Bagaimana menjawab kalau tidak tahu kekalahannya dalam hal apa,” kata Amat mengadu pada istrinya. “Jangan-jangan sebenarnya ia tidak kalah, tapi menang!” “Makanya jangan asal jawab. Tanya dulu abc-nya. Kalau perlu jangan dijawab. Jangan-jangan dia tidak bertanya tapi mau menguji bapak. Atau ingin didengarkan saja. Kalau dijawab! Jelas dia akan marah.” Amat tak senang mendengar jawaban itu. “Lho, Ibu ini bagaimana! Bapak kan minta dukungan, kok malah diserang?!” ‘Habis Bapak tidak pernah nyimak apa kepentingan orang, selalu mengukur dari perasaan Bapak sendiri. Makin tua harus makin bijak, jangan makin terjebak. Nanti... .” “Sudah, cukup!” potong Amat, sambil berdiri dan jalan keluar. Ke teras, mendinginkan kepalanya yang kesal dengan duduk memandangi malam. Bu Amat tersenyum melihat suaminya kesal. “Biar dia tahu bagaimana kesalnya hati orang yang kalah,” bisiknya dalam hati. Lalu ia membuat kopi susu dan mengambil roti kembung yang diberikan tetangga. “Ada roti kembung, Pak. Dan, ini kopi susunya.” Amat terkejut. “Lho, bukannya mantri sudah melarang bapak minum kopi?” “Sekali, sekali, tak apa!” “Buka tidak mau, tapi kan jangan dulu, kata mantri.” “Ya, sudah, ini roti kembungnya saja!” “Bapak sudah kenyang.” “Tapi ini pemberian tetangga! Enak, kok!” “Tapi Bapak sudah kenyang!” “Jadi. Tidak mau?” “Bukan. Masih kenyang!” “Ya sudah kalau begitu dibuang saja!” Dengan marah Bu Amat mengangkat gelas kopi mau melemparkannya ke halaman. Amat cepat mencegah. “Sudah, sudah, nanti tak minum!” Amat langsung menegak kopi itu meskipun panas. Lalu memasukan roti kembung ke mulutnya. Bu Amat masuk ke rumah lagi sambil ngedumel. Amat terseyum. “Biar dia tahu bagaimana rasanya kalah,” bisik Amat dalam hati.
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Jenang Ponorogo
23
Peluang Usaha Jaga Tradisi Jenang lengket biasa juga disebut dodol. Bagi sebagian masyarakat, khususnya di Jawa menjadi salah satu sajian utama dalam menyambut hari-hari penting, seperti Lebaran, Natal, pertunangan maupun pernikahan.
P
jenang, saya menggunakan alat tradisional. Namun, penggunaan alat modern juga perlu dan penting untuk meningkatkan efisiensi dalam memproduksi. Untuk resep sendiri, kami menggunakan resep turun-temurun dari keluarga,” ungkap Sri Harijati, pemilik perusahaan jenang. Menurut Sri, jenang tradisional Ponorogo umumnya tidak menggunakan pengawet, karena inilah usia jenang tidak bisa lama. Bagi Sri, usia jenang yang tidak lama ini, bisa menjadi kendala namun juga bisa menjadi solusi untuk mengenalkan produknya. Dalam memproduksi jenang tradisional ini, Sri lebih memilih bermain aman, yaitu menganalisa terlebih
dulu hari-hari pasarannya. Dalam menekuni wirausaha kuliner kendala utama memang barang tidak terjual habis. Pembuatan jenang sendiri, menurut Sri sebenarnya sangat mudah, bahkan siapapun sekali melihat prosesnya pasti bisa membuat namun membutuhkan waktu yang cukup lama. “Bahan-
Jenang Ponorogo
ada acara pertunangan, menyajikan jenang untuk tamu yang datang merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga dengan baik. Menyajikan jenang untuk tamu, memiliki representasi akan rasa sayang dan saling berbagi. Karena inilah jenang tradisional menjadi begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Jenang memang selalu diidentikkan dengan kota Kudus
dan Garut, tapi siapa sangka jika kota kesenian seperti Ponorogo juga memiliki tradisi memproduksi jenang ini. Disini, jenang yang dijual merupakan jenang tradisional yang dibuat secara turun temurun, sehingga rasa dan aromanya begitu khas. Bahkan, saat ini jenang tradisional ini makin dilirik oleh para pegiat wirausaha dengan menampilkan kemasan yang lebih menjual dan menarik. “Untuk menjaga cita rasa
Sri Harijati
Hidup Berubah berkat Keset Roda kehidupan memang kadang di bawah dan kadang di atas. Gambaran itu juga terjadi dalam perjalanan hidup Agung Pamuji, warga Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Blitar. Dulu ia sempat menjadi buruh pabrik hingga salesman dari rumah ke rumah. Namun kehidupannya menjadi berubah setelah dia mampu menyulap kain perca dan bekas jok mobil bekas menjadi keset.
Deru suara mesin terdengar begitu riuh dari sebuah rumah yang sekaligus menjadi sebuah pabrik industri di Desa Minggirsari. Beberapa pekerja terlihat keluar masuk dari rumah tersebut, begitu juga saat melongok ke dalam, suasana industri dengan puluhan pekerja sangat kental. Seorang pria bertubuh agak tambun juga terlihat sibuk mengawasi, kemudian sekalikali ikut mengatur tumpukan keset
yang sudah siap dipasarkan. Dialah Agung Pamuji, yang juga pemilik industri kerajinan keset dari berbagai bahan bekas. Pria ramah tersebut langsung menemui tamu yang datang, dan mengajak untuk melihat-lihat proses pembuatan keset dari gabungan bekas jok mobil, karpet, hingga kain perca. Dia seolah tidak merasa khawatir sama sekali, jika tips dan rahasia pembuatan keset miliknya akan ditiru oleh orang lain. “Masingmasing orang sudah memiliki rezeki yang sudah diatur, jadi kalau ada yang mau berusaha di bisnis yang sama, ya tidak ada masalah sekali,” jelas pria 40 tahun ini. Namun Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang lebih besar melebihi kemampuan seorang manusia. Hingga suatu waktu, dirinya bertemu dengan kenalan lama yang mengajaknya berbisnis. Bukan hanya mengajak tapi juga mengajarkan cara membuat keset dari bahan bekas, hingga menunjukkan bagaimana memasarkan produk tersebut. “Dengan modal yang seadanya, saya mencoba membeli satu unit mesin jahit sebagai modal untuk bekerja. Sedangkan bahan baku juga masih disubsidi oleh teman saya itu,” ungkapnya. Semua itu berawal pada 2007 lalu. Merintis sesuatu memang sangat sulit, harapan tidak selalu semudah dibayangkan. Sebab, awalnya sangat sulit membuat
keset yang benar-benar tepat, artinya pas model dan gayanya, serta kekuatannya. Namun lambat laun kesulitan itu mulai teratasi, hingga mulai memproduksi keset buatan sendiri. “Awalnya, teman saya yang menampung . Namun lamakelamaan saya mulai mengantar sendiri barang produk sendiri itu ke toko-toko yang ada di seluruh wilayah Blitar,” akunya. Ternyata, dilanjutkan dia, keset produknya langsung mendapat sinyal positif dari pasar. Sebab, toko-toko tempatnya menitipkan barangnya kemudian menanyakan lagi stok keset produknya. Pasalnya, di toko tersebut kesetnya sudah laku dan dicari oleh masyarakat. “Setelah itu, syukur kepada Tuhan, orderan terus mengalir dari seluruh wilayah Blitar, bahkan mulai ada pesanan dari luar
bahannya tepung ketan atau tepung beras, gula jawa sebagai pemanis jenang. Untuk harga jenang biasanya antara Rp 10 ribu hingga 15 ribu,” ungkapnya. Pada awal-awal berdirinya dulu, Sri masih ingat betul jika saat itu dia dan sang kakek hanya menggunakan bahan baku 3–5 kg tepung ketan atau beras. Ketika itu, dia tidak membuat jenang setiap hari, melainkan mengikuti hari pasaran. Biasanya, Sri dan kakek akan berjualan di pasar Legi sebelah selatan. Konon, dulu pasar Legi bagian selatan yang belanja merupakan orang-orang kelas menengah ke atas, sehingga mereka umumnya akan beli jajan jenang tradisional untuk dibawa pulang. “Untuk melayani pembeli dari luar kota, kami juga siap mengirimkan jenang ke luar kota. Hingga saat ini, pengiriman jenang terjauh sudah menjangkau pulau Bali, Kalimantan dan Sumatera,” kenang Sri yang telah memiliki 25 karyawan ini. -Dinar Perdana
kota, dan itu terus meningkat,” ceritanya. Setelah kurang lebih tiga tahun lamanya, kondisi pekerjaan yang terus bertambah, dirinya hanya dibantu oleh keluarga dan beberapa tetangga merasa kewalahan. Akhirnya mulai menerima para pekerja dari desa lain yang berminat, terutama kenalan yang kesulitan untuk bekerja, para tetangga yang ingin ke luar negeri diajak untuk bergabung. Setelah hampir tujuh tahun memproduksi keset dari bahan bekas ini, para pekerja sudah mencapai sekitar 60 orang, mesin jahit yang awalnya hanya satu kini jumlahnya sudah ratusan unit. Saat ini, drinya merasa sangat bangga bisa mengajak para tetangga dan masyarakat yang kesulitan untuk ikut bekerja bersamanya. -Khoirul Abadi
Agung Pamuji juragan keset yang sukses
22
Sosialita
Edisi 855/29 Juni - 5 juli 2015
Taxi Uber yang Diuber-uber
S
Ahok
ebagai perbandingan, tarif buka pintu Taxi Uber Rp 7000, kenaikan per-km Rp 2.850 dan minimal bayar Rp 30.000. Bandingkan dengan taksi lain yang tarif buka pintu Rp 7.000, kenaikan per-kilometer Rp 3000 dan minimal bayar Rp 40.000.
Meski keberadaannya bo leh dib ilang menguntungkan setidaknya bagi pengguna jasa (karena murah dan nyaman), juga bagi para pengusaha rental mobil karena dengan adanya Uber, bisnis sewaan mobil mereka bisa berjalan bagus, namun ada banyak aturan yang dilanggar dengan beroperasinya taxi ini.
3
AA Ayu Ketut Agung
Kompak Lestarikan Busana Adat Bali
Di banyak negara ‘Taxi Uber’ mendapat penentangan. Taxi ini dinilai beroperasi tanpa mengikuti regulasi angkutan umum yang ada, juga keberadaannya menjadi ancaman bagi taksi resmi yang selama ini sudah eksis. Tarif Taxi Uber lebih murah ketimbang naik taksi legal. Sebagai pengguna jasa taksi tentulah mencari harga yang lebih murah. Soal kenyamanan, Taxi Uber tidak kalah dengan taksi biasa. Mobil-mobil yang digunakan adalah mobil-mobil pribadi yang terpelihara baik oleh pemiliknya.
Di Indonesia, Taxi Uber baru beroperasi di Jakarta (Jabodetabek), Bandung dan Bali. Namun sepertinya hanya Jakarta ---sejauh ini---yang bersikap keras. Pemda DKI Jakarta tidak bisa begitu saja menerima keberadaan angkutan ini. Untuk menjalankan bisnis angkutan umum harus memenuhi sejumlah persyaratan dan ini yang tidak dilakukan pihak Uber. Dengan dalih sebagai perusahaan teknologi, namun faktanya menjalankan bisnis angkutan umum, pihak Uber seolah enggan mematuhi segala persyaratan yang ada. Tak heran kalau Gubernur Jakarta, Basuki Tjahja Purnama, marah besar. Perintah menertibkan Taxi Uber kepada Dishub DKI Jakarta telah lama diorder, namun baru pekan lalu, sukses dilaksanakan oleh Dishub DKI dengan ditangkapnya lima sopir Uber. Itupun setelah pihak Dishub dan Organda DKI Jakarta
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang kosong, yang siap ditulisi. Karena itu, anak-anak dapat dibentuk sesuai keinginan orang-orang dewasa dan lingkungannya. Lingkungan inilah yang selanjutnya akan diterima anak sebagai sejumlah pengalaman yang telah disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Teori yang lebih dikenal dengan istilah “Tabularsa” ini kiranya mampu mewakili sosok Anak Agung Sagung Diva Wastuningtyas, yang Senin (22/6) terbang ke Jakarta khusus untuk menerima sertifikat lulus/kompeten dalam Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi dan Modern sebagai peserta termuda se-Indonesia, dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Sertifikat itu diserahkan langsung oleh Ketua Umum DPP Katalia (Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Indonesia) Hj. Koen Mulyono, S.E., M.A.
melakukan jebakan dengan cara berpura-pura menjadi calon penumpang yang memesan taksi. Menurut Ahok, pihak Uber tidak bisa ‘seenak udelnya’ menjalankan usaha di Jakarta. Harus mematuhi regulasi, tidak bisa tidak. “Jangan mengambil keuntungan tapi berujung menyusahkan banyak orang. Hidup di negara ini ada saling, aturannya ada. Nggak bisa saya untung, kamu mati, biarin! Emang negara nenek moyang lu, seenaknya?” ucapnya dengan nada tinggi. Menurut Ahok, Uber akan diberi izin beroperasi jika mau mematuhi aturan yang berlaku, termasuk soal pembayaran pajak. Hal lain yang merisaukan adalah ketidakjelasan alamat Taxi Uber. Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu, kemana konsumen harus mengeluh. “Kami akan izinkan jika semuanya jelas. Bayar pajak, lalu ada telepon kantor di Jakarta. Kita juga harus tahu mobil-mobilnya seperti apa, dll,” ungkap Ahok. “Solusinya mudah, tinggal bikin PT saja, apa susahnya?! Kami akan bantu karena kita memiliki Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Kalau enggak mau, berarti niatnya memang tidak benar. Lalu kamu ngotot bahwa kamu adalah perusahaan teknologi. Kalau kamu pintar teknologi, bisa nggak nyuri uang di bank? Tentu bisa! Salah atau enggak kalau nyuri duit di bank karena kepintaran teknologi?” kata Ahok lagi. Jadi, kata Ahok, jika ingin berusaha tetap harus mematuhi aturan yang ada, tidak bisa semaunya. Ia juga tak mau menerima alasan bahwa mereka adalah perusahan teknologi karena faktanya mereka menjalankan usaha yang terkait dengan transportasi. Taxi Uber mulai beroperasi di Indonesia, khususnya Jakarta, sejak tahun lalu. Perkembangan taksi ini memang boleh dibilang cukup pesat. Salah satu sebabnya adalah tarif yang murah dan kenyamanan. Salah satu perbedaan dengan taksi resmi adalah pembayaran penggunaan angkutan ini langsung lewat kartu
kredit yang ditagihkan seusai menggunakan taksi. Dengan begitu tidak ada transaksi uang cash untuk layanan ini. Di banyak negara di mana Taxi Uber beroperasi menimbulkan penentangan besar, bukan hanya dari pemerintah setempat tapi terlebih lagi dari para pengusaha angkutan umum yang merasa dirugikan dengan keberadaan Uber yang lebih murah. Kalaupun pada akhirnya taksii tersebut dilegalkan, itu karena---pada akhirnya--- pihak Uber mengikuti aturan yang berlaku di negara tersebut. Bisnis kreatif ini awalnya dari sebuah kota di negeri Paman Sam, San Francisco pada 2009, yang kemudian berekspansi ke banyak negara. Setidaknya Uber ada di 58 negara (300 kota). Di Jakarta, melalui implementasi teknologi terkini, Taxi Uber dapat dengan mudah dipesan melalui aplikasi mobile berbasis OS, Android dan Windows Phone. Dalam tampilan Anda akan melihat mulai dari posisi, petunjuk lokasi Taxi Uber, kontak dan posisi pengemudi yang merespons pesan, keterangan tarif, penjemputan, tombol pemesanan. Saat ini untuk menjalankan bisnisnya pihak Uber bekerja sama dengan para pengusaha rental, mulai dari pengusaha rental mobil dengan jenis sedang sampai mobil premium, seperti Mercy, Toyota Alphard, dll. Namun sepanjang tidak mematuhi aturan, agaknya para sopir Uber harus terus bermain kucing-kucingan dengan petugas. Kata Ahok, Taxi Uber ibarat taksi gelap atau PKL (pedagang kaki lima) yang berjualan semaunya. Jika tidak ada perbaikan, maka bukan mustahil upayaupaya penjebakan seperti kasus sebelumnya, akan terjadi lagi. Sejauh ini, kata pihak kepolisian, Uber hanya dikenai pasal penipuan. Namun tidak tertutup kemungkinan akan berkembang ke hal lain. Karena ada banyak aturan yang dilanggar, salah satunya tentang perlindungan konsumen. Ini lantaran ketidakjelasan alamat kantor Uber Jakarta. –Diana Runtu
Diva berkesempatan berfoto bersama Ibu SBY di tahun 2013
S
etelah sebelumnya, dara kelahiran tahun 2002 yang akrab disapa Diva ini, di usianya yang baru 11 tahun di tahun 2013, sudah ikut ujian Tata Rias Pengantin Bali Payas
Agung yang diadakan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK), dan ia dinyatakan lulus/kompeten. Tujuan awalnya, hanya ingin menguji mental dan kemampuan Diva di antara peserta lain.
Keterampilan merias Diva semakin terasah dengan kerap mengikuti roadshow-roadshow yang digelar LKP Agung bekerjasama dengan Viva Cosmetics dan Kelompok Media Bali Post maupun instansi atau organisasi lain. Kali ini, ia tak sekadar ikut, namun turut demo merias. “Awalnya sih deg-degan, tapi Ibu terus memberi semangat. Sekarang sudah biasa,” ungkap putri kedua dari Bu Agung dan I Gusti Ngurah Agung Ardana ini. Hampir tiap Minggu, LKP Agung menggelar roadshow tata rias. “Sengaja saya pilihkan hari minggu atau hari libur agar tidak mengganggu jam sekolah Diva,”imbuhnya. Tak hanya di Bali bahkan Sagung Diva ikut sampai keluar bali, sembari berwisata. Dari pengalamannya itu, di manapun digelar roadshow Tata Rias Pengantin Bali atau apapun yang bernuansa Bali, pesertanya selalu membludak. Ibu dan anak ini pun kompak berkolaborasi dalam tiap roadshow yang digelar, Diva memasang make up, Bu Agung memasang bunga. Apa yang dilakukan Bu Agung kepada putrinya ini
semata-mata ingin mengarahkan anak sejak dini untuk menguasai keterampilan tertentu, yang di dalamnya juga terkandung nilai ‘berbagi’. Bahwa, apapun yang dimiliki, dalam hal ini keterampilan tata rias, haruslah juga dibagi. Inilah prinsip hidup seorang Anak Agung Ayu Ketut Agung. Karena itu pula, roadshow-roadshow pelatihan tata rias sehari yang kerap ia laksanakan tersebut tanpa dipungut biaya. Keterampilan tata rias ini juga ia bekali kepada anak-anak putus sekolah atau mereka yang tak mampu, dengan memberikan beasiswa kursus. “Uang bukan segalanya, tapi memang semua membutuhkan uang. Karena itu, ada kursus regular ada juga beasiswa sehingga ada subsidi silang,” jelas ibu dari AA Sagung Istri Purnama (alm.) ini Eksistensi Bu Agung selama puluhan tahun bergelut di dunia tata rias ini membuat LKP Agung yang sudah menamatkan ribuan murid ini kerapkali dijadikan pusat studi banding, hingga oleh lembaga dari luar Bali. Kontribusi Bu Agung di dunia tata rias yang sekaligus turut melestarikan budaya Bali ini cukuplah besar. Karena itu pula, Bu Agung menerima
Tanpa disadari, lingkungan telah membentuk Diva. Ibunya yang tak lain adalah Anak Agung Ayu Ketut Agung, adalah pakar tata rias dan busana adat Bali yang sekaligus pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Tempat Uji Kompetensi (TUK) Tata Kecantikan Kulit dan Tata Rias Pengantin, serta pemilik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Agung, tempat belajar anak putus sekolah yang belum menamatkan pendidikannya di jenjang SD, SMP, dan SMA. Lokasi LKP, TUK, dan PKBM yang sekaligus menjadi tempat tinggal mereka ini selalu dipenuhi muridmurid. Jadi, mau tak mau pula Diva pasti melihat dan merekam dari lingkungannya itu. Dari kebiasaan mencorat-coret di tembok, kini Diva yang duduk di kelas VIII SMPN 3 Denpasar sudah piawai merias wajah. “Dia sudah serius belajar merias sejak kelas IV SD. Awalnya sejak TK ia mencorat-coret lipstik di tembok, kemudian pelanpelan saya memberikan pengertian dan arahkan bahwa lipstik dipasang di bibir,” ungkap Bu Agung. Selain itu, Diva juga sering diajak keluar kota oleh Bu Agung yang kerap diundang sebagai narasumber tata rias dan busana adat Bali. Setelahnya, sambil berwisata, Bu
Diva menerima sertifikat lulus/kompeten dalam Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi dan Modern sebagai peserta termuda se-Indonesia dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum Katalia, Hj. Koen Mulyono, S.E., M.A.
Agung pasti berkesempatan membeli kosmetik dan alat-alat merias di sebuah mal terbesar dan terlengkap di Jakarta. Diva pun diajak melihat dan memilih kuas yang kualitasnya bagus, wig, dan hairpiece. Juga, membedakan kosmetik yang bagus dan tidak bagus. Demikian halnya, ketika Bu Agung merias atau melakukan
roadshow ke daerah-daerah, Diva juga kerap diajak ikut. “Selesai ikut saya merias, dia saya beri reward sebagai pembelajaran dan juga agar dia termotivasi bahwa dalam hidup kita memerlukan keterampilan,” ujar penerima Anugerah Peduli Pendidikan (APP Award) dari Kemendikbud RI ini. –inten
DISKON 50% KURSUS TATA RIAS
Untuk mengisi liburan sekolah serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –inten
Hidup harus Berbagi
hingga ratusan penghargaan dari dalam dan luar negeri, di antaranya Penghargaan Parama Budaya dari Wali Kota Denpasar. –inten
Roadshow tata rias di Buleleng belum lama ini. Tampak Diva sedang demo merias dihadapan ratusan peserta pelatihan
4
Inspirasi
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Mandalika
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
21
I N y o m a n G e d e Wi d i a n t a r a
Bekerja dengan Hati Berkutat dengan mesin motor membuat jalan hidup Mang De penuh dengan lika-liku. Dari seorang mekanik service, ia beralih menjadi mekanik racing lalu menjadi modifikator. Pria bernama lengkap I Nyoman Gede Widiantara ini pun memberi perhatian khusus untuk pebalap motor pemula.
I Nyoman Gede Widiantara
S
uara mesin pemotong besi terdengar di rumah sekaligus bengkel Mang De di Banjar Belawan, Abiansemal, Badung. Suasana tak begitu ramai. Beberapa motor menunggu giliran untuk diservis. Kebanyakan motor itu jenis trail. “Sekarang lagi demam trail. Banyak yang memodikasi motor bebek menjadi trail dan ada juga yang memodif trailnya menjadi lebih sangar,” ujar Mang De. Ia menuturkan konsumen ada yang membawa foto sendiri atau ada yang meminta Mang De yang membuat modifikasinya. Untuk membuat seperti yang persis dengan foto, Mang De mengaku agak sulit. Ia hanya bisa 80% mendekati aslinya. Kendalanya adalah ukuran foto tidak sama dengan aslinya. Detail ukuran tidak bisa didapatkan. Selain itu, kalau foto motor dari luar negeri, suku cadang juga menjadi kendala. Untungnya konsumen paham dan menyerahkan sepenuhnya pengerjaan motor kepada ayah empat anak ini. Jika konsumen membebaskan Mang De untuk membuat modifikasi, ia akan lebih memudahkan Mang De untuk bereksplorasi. Ia banyak mencari inspirasi dari event-event motor. Dari berbagai hal yang dilihat kemudian dikombinasikan hingga menghasilkan karya kreatif. Bagian depan motor dan bagian belakang bisa beda merek tetapi, semua bisa menyatu.
“Dulu saya heran melihat bagaimana orang bisa membuat modifikasi motor. Saya lalu pelajari sendiri alias otodidak. Ternyata ada bagian-bagian yang bisa disambung. Begitu ada ide, langsung kerjakan. Lumayanlah, hasil kreasi modifikasi tidak mengecewakan. Yang penting antara konsumen dan modifikator saling komunikasi,” ujar suami Ni Luh Putu Wulan Sapitri ini. Motor yang dimodif Mang De bersama anak buahnya tak hanya trail tetapi ada juga konsumen yang ingin model JAP dan vespa. Semua bisa digarap asalkan mau sabar. Tak hanya itu, ia juga siap untuk melayani servis motor karena keahlian awalnya memang mekanik service. “Saya mengajak beberapa anak muda yang mau belajar tentang mesin. Kalau memang niat dan cocok, ayo belajar sama-sama. Saya lebih senang bekerja dengan hati. Beberapa anak muda yang pernah saya ajak sudah ada yang mandiri,” kata modifikator yang hasil karyanya pernah menjadi juara di beberapa ajang modifikasi ini. TENTUKAN MASA DEPAN Mang De menuturkan dirinya mulai menjadi mekanik tahun 2001 di Cahaya Surya Bali Indah (CSBI). Ia ditugaskan di mekanis service. Seiring perjalanan waktu, pria kelahiran 22 Juni 1982 ini mendapat kesempatan untuk belajar tentang racing dari Om Cia, salah satu tokoh otomotif di Bali. Selanjutnya Mang De pun dipindahkan menjadi mekanik racing CSBI. Hampir tujuh lama ia bergelut dengan dunia racing. “Banyak hal yang saya pelajari dari dunia racing. Mulai dari persiapan pebalap, motor, dan keperluan pendukung lainnya. Kalau tidak karena cinta motor, sangat sulit untuk bertahan. Biaya persiapan tidak sebanding dengan had-
Mang De saat memodifikasi sepeda motor
iah yang diraih. Ini menjadi salah satu faktor pebalap motor menjadi galau tentang masa depan mereka. Akhirnya ada yang pindah haluan menjadi pegawai, tetapi ada juga yang masih bertahan menekuni dunia balap,” ungkap Mang De. Berkurangnya jumlah kompetisi membuat Mang De harus berpikir agar ia punya masa depan. Akhirnya, Mang De memutuskan untuk mulai usaha sendiri di rumahnya dengan nama Mang De Motor. Ia pun pernah punya tim balap sendiri yang diberi nama Abiansemal Motor Sport (AMS). Timnya ini mendapat dukungan dari Suzuki, tempatnya bekerja dulu. Ternyata untuk bertahan di dunia balap motor cukup berat sehingga Mang De mengembangkan usaha modifikasi. Sejak tahun 2013, ia mulai menggarap modifikasi trail. Pangsa pasarnya cukup cerah dan peminatnya cukup banyak. Biaya yang dihabiskan untuk modifikasi motor juga tidak terlalu mahal, tergantung bentuk dan suku cadang yang dipakai. Rata-rata konsumen merogoh kocek
Rp 11 juta. Walaupun menekuni modifikasi, ia tetap menerima service motor balap. Demi kecintaan terhadap dunia balap motor, ada yang ngutang demi mendapatkan mesin racikan Mang De. Bagin Mang De, untuk mendapatkan kekuatan mesin maksimal tentu harus ada sinergi antara pebalap, mekanik, dan mesin motor termasuk bodi motor. Kini Mang De mendapat tugas untuk menangani mesin motor pebalap motor Kabupaten Badung yang akan diterjunkan di Porprov. Bali. Ia pun salut dengan para orangtua yang mau memberikan dukungan untuk anak-anaknya menekuni dunia balap. Ia pun berharap aturan dalam balap motor harus lebih ketat lagi sesuai dengan aturan IMI, diantaranya scruit sebelum dan sesudah balap motor. Setelah sekian lama menekuni
usahanya ini, Mang De mendapat dukungan dari BRI untuk kredit. Ia pun berani membuka toko di depan rumahnya. Toko disiapkan untuk menjual suku cadang dan service motor. Khusus modifikasi tetap dilakukan di halaman rumah. “Saya dulu waktu mendampingi tim balap CSBI ke Sirkuit Sentul, sering mendapat kesempatan jalanjalan ke Karawang. Saya masuk ke pabrik baut, ban, plastik, dan yang berhubungan dengan motor. Nomor kontak sudah saya simpan. Niatnya untuk menjalin kerja sama. Ternyata ponsel saya yang berisi nomor-nomor telepon itu hilang. Ternyata tidak ada usaha yang mudah. Tetapi, kini saya sudah yakin, ini adalah pilihan saya. Saya nanti tinggal mengatur sistem kerja saja,” tegasnya. –Ngurah Budi
“Saya mengajak beberapa anak muda yang mau belajar tentang mesin. Kalau memang niat dan cocok, ayo belajar samasama. Saya lebih senang bekerja dengan hati. Beberapa anak muda yang pernah saya ajak sudah ada yang mandiri”
Pedagang Takjil Musiman
Ramaikan Bulan Puasa Sekitar pukul tiga sore, para penjual takjil (makanan berbuka puasa), sudah mulai menyapu trotoar di sepanjang Jalan Majapahit Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ini adalah tempat mereka berdagang takjil dan menu berbuka puasa. Setelah itu puluhan pedagang kuliner khas berbuka puasa ini mulai menata beragam dagangan mereka. Pembeli mulai berdatangan sejak pukul setengah empat sore dan semakin ramai hingga menjelang berbuka puasa atau sebelum waktu Magrib tiba.
D
i sebuah rumah sederhana di Dasan Agung Mataram, Ana Rauzana Eroplan, terlihat tengah sibuk menyiapkan takjil untuk dijual di lapaknya di Jalan Pendidikan Mataram. Tiap pagi ia rajin ke pasar membeli bahan untuk membuat ragam takjil, seperti, kolak pisang,
bubur sumsum, sagu mutiara, bubur ketan dan macam takjil lainnya. Setidaknya ada tujuh menu takjil yang disiapkan perempuan gesit yang hobi memasak ini. Menu sederhana yang sangat memperhatikan kesehatan konsumen. Seluruh bahan yang dipakainya untuk meracik menu takjil adalah bahan-bahan yang segar, tanpa pengawet dan
tanpa sari manis. Murni gula dan tiap hari ia selalu menyediakan takjil yang baru dibuat. Bagi Ana, berjualan takjil bukan semata mencari keuntungan melainkan di samping karena hobi ia juga ingin mencari pahala dengan tetap mempertahankan pembuatan takjil yang sehat bagi konsumennya. Karenanya jika pun
Omzet Duakali Lipat Ana merupakan satu dari ratusan penjual takjil yang bermunculan di bulan puasa. Cukup banyak tempat penjualan takjil bermunculan di Mataram ketika bulan puasa tiba. Para penjual takjil dan menu berbuka puasa menyebar di pusat-pusat keramaian di Kota Mataram seperti yang paling diminati adalah di kompleks Pasar Ampenan, Pasar Kebon Roek, Jalan Udayana, Gomong, kawasan Rembige dan sekitarnya hingga seputar Jalan Majapahit. Kawasan Pasar Ampenan dan Pasar Kebon Roek menjadi tempat favorit para pedagang dan pembeli takjil juga menu berbuka puasa. Tiap tahun pedagang musimam ini selalu ikut meramaikan nuansa Ramadhan di Kota Mataram. Lapak-lapak yang tertata rapi dengan beragam kuliner menggunung di depan pedagang yang mengundang selera, memberi keleluasaan bagi para pembeli dalam memilih. Hanya di waktu bulan puasa saja para pedagang ini berjualan. Karena di hari-hari
biasa (di luar bulan puasa), kawasan ini tidak ramai pedagang, hanya satu atau dua pedagang makanan saja. Yang unik adalah bermunculannya pedagang musiman di kawasan Jalan Majapahit dalam beberapa tahun terakhir. Meski di hari lain di luar puasa, beberapa pedagang memang telah mangkal dan membuka lapak di sini, maka di bulan puasa kawasan ini
dipenuhi lapak-lapak yang sengaja dibuat dengan desain dan gaya yang lebih “keren”. Mereka yang berjualan di kawasan ini, kebanyakan anak muda yang kadang datang dengan mobil mereka untuk berjualan di sini. Pengunjung di sini tidak kalah ramainya dengan di pusat kuliner Ramadhan di Kebon Roek, Pasar Ampenan hingga Rembige. Penghasilan yang terhitung dengan
ada takjil yang tersisa (tidak laku), akan dibaginya untuk tetangga maupun familinya. “Saya tidak mau menjual kembali takjil yang kemarin, semuanya saya bagi-bagi
ke family dan tetangga,” ungkap Ana yang membuka dagangan takjil dua jam dalam sehari yakni dari pukul empat hingga enam sore. -Naniek I. Taufan
baik oleh Mar, salah seorang penjual salad buah di jalan Majapahit ini naik hingga dua kali lipat. Mar dan rekan-rekannya memang membuka lapak di kawasan ini tidak hanya di bulan puasa melainkan juga tiap hari dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau di hari biasa omzet sehari ratarata sekitar Rp 500ribu, namun di bulan puasa meningkat hingga Rp 900 ribu sampai dengan Rp 1 juta,” ungkapnya. Inilah yang membuat banyak bermunculannya para pedagang musiman di bulan puasa karena penghasilan yang lumayan. Rohaini yang berjualan di Pasar Kebon Roek juga mengaku, tiap Ramadhan tiba, ia membuka lapak dan dapat memperoleh keuntungan yang lumayan. “Lumayan ada uang untuk biaya merayakan lebaran,” katanya. Kebutuhan akan kuliner khas puasa yang cukup tinggi membuat menjamurnya para pedagang musiman ini. Selain Ana yang menyediakan sekitar 70 hingga 100 porsi takjil yang dijual dengan harga rata-rata Rp 5.000, ada pula Ani yang mampu menjual hingga ratarata 80 buah kelapa tiap hari dengan harga Rp 8.000/butir. Ia
berjualan dekat jembatan gantung Karang Baru. “Omzetnya sekitar Rp 600 ribuan sehari,” kata Ani yang tinggal di Karang Baru Mataram. Keberadaan para penjual takjil dan menu berbuka puasa yang ramai ini, terbilang sangat membantu warga. Sebagian warga memilih membeli makanan jadi dan siap saji dari pada memasak karena berbagai menu sudah tersedia. “Karena saya bekerja dari pagi hingga sore hari, maka lebih praktis beli saja. Toh… menunya sangat banyak dan tinggal pilih,” ujar Wanti, salah seorang pembeli yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan. Begitu pula dengan Prima yang mengaku sesekali memasak sendiri, sesekali pula membeli makanan jadi. Baginya, jika tidak terlalu sibuk ia akan memasak sendiri menu berbuka untuk keluarganya. Namun jika banyak pekerjaan kantor apalagi saat ini ia tengah mengikuti berbagai pelatihan, maka sore hari ia menyempatkan diri berbelanja di pusat kuliner ramadhan di Pasar Ampenan atau di kawasan Jalan Majapahit. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Ana Rauzan Eroplan
S
Ana Rauzan Eroplan
aat itu, Supriyanto tengah mengantar sahabatnya yang rupanya sepupu dari Ana. Itulah pertemuan pertama Ana dan Supriyanto yang berlanjut hingga ke pelaminan. Dan pada 3 Juli mendatang menjadi ulang tahun perkawinan mereka yang ke-40. Bukan hanya sihir pastel yang membuat Supriyanto jatuh hati pada Ana, melainkan cukup banyak alasan baginya untuk memperjuangkannya. Di samping karena keramahannya, wajah yang selalu dihiasi senyum dan mudah bergaul, membuat Supriyanto terpesona padanya. Tidak itu saja, gigih dan giatnya dalam bekerja menjadi alasan pelengkap bagi Supriyanto. Apalagi
Hanya 2 Jam Ia sengaja membuka “lapak” pagi di depan rumahnya untuk memudahkan ia mengawasi anakanaknya dan mengurus rumah. Meski menurutnya bisnis kuliner seperti ini sangat menjanjikan karena ia telah memiliki banyak pelanggan, Ana tidaklah ngoyo atau mengejar yang lebih. Melainkan ia berdagang santai saja. “Kalau di rumah tiap pagi di luar bulan puasa hanya dua jam sedangkan saat puasa jualan takjil juga hanya sekitar dua jam dari jam 16.00 wita sampai dengan jam 18.00 wita,” kata Ana yang puasa tahun ini membuka lapak takjilnya di Jalan Pendidikan sebelah barat Kampus AMM Mataram. Ana mengaku sangat menikmati aktivitasnya dalam mengisi masa pensiunnya ini. Ia akan kebingungan sendiri jika tidak berjualan. Bahkan ketika harus pergi keluar kota, dari bandara tempatnya bertolak pulang ke Lombok, ia sudah menelpon tiga karyawannya untuk menyiapkan bahan-bahan apa yang akan dimasak setiba ia di Lombok untuk berjualan esok harinya. Semangat Ana dalam menjalankan bisnis sederhananya ini juga karena mendapat dukungan penuh tidak
hanya dari suami, melainkan juga dari ketiga anaknya, Djaka Farezki (38), Didiet Radityo (35) dan Deradjad Ananto (31) hingga menantu bahkan cucu-cucunya. Inilah hiburan baginya setelah mengantar ketiga anak mereka menyelesaikan pendidikannya di Universitas Trisakti. Didukung suaminya, Ana memutuskan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi ketiga putranya. Untuk ukuran biasa, kuliah di universitas seperti Trisakti kala itu,
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
5
Gagas Komunitas Sahabat Alam
Jalankan Hobi di Masa Pensiun Pada suatu ketika, sebuah pastel gurih memiliki daya “sihir” yang luar biasa bagi H. Supriyanto Khafid, salah seorang wartawan senior di Mataram. Tentulah pastel itu bukan pastel biasa karena telah membangkitkan rasa cintanya pada seorang perempuan yang dari sorot matanya terlihat kegigihannya. Ana Rauzan Eroplan, hari itu menyuguhkan pastel biasa namun menjadi sangat istimewa bagi Supriyanto yang secara tidak sengaja bertemu dengan Ana di rumahnya di lingkungan Gomong Mataram.
Inspirasi Adeline Tiffanie Suwana
Ana Rauzana Eroplan sekeluarga saat pernikahan putra pertama mereka Djaka Farrezki dengan Prima Ayufatsari
Ana bukan tipe perempuan yang gengsi untuk melakukan hal-hal baik yang halal, seperti berjualan kue dan lainnya. Dari sanalah ia mengenal Ana sebagai sosok perempuan giat yang seluruh waktu dalam kehidupannya tidak ada yang siasia. Kesederhanaan Ana dalam memandang hidup berbanding lurus dengan kesederhanaan Supriyanto. Meski di masa mudanya Ana “berjaya” sebagai salah seorang karyawan Telkom Mataram dengan penghasilan yang tidak bisa dibilang sedikit, ia tetaplah Ana dengan cara berpikir sederhana dan tidak memelihara rasa gengsi dalam dirinya. Semasa muda, selain menjalankan tugasnya sebagai karyawan, lulusan SMKK jurusan Tata Boga di Mataram tahun
1973 ini, mengisi hari-harinya dengan berdagang kecil-kecilan berbagai kebutuhan rekan-rekan kantornya. Dan ini mendapat dukungan serius dari suaminya itu. “Mas Pri (panggilannya pada suaminya), sangat mendukung saya sejak dulu. Tidak pernah malu mengantar jemput saya belanja ke pasar bahkan hingga kini,” ungkap Ana bangga. Orang yang mengenal pasangan ini bisa saja “iri” melihat hangatnya kebersamaan mereka. Meski Ana telah pensiun sejak tahun 2002 dan Supriyanto masih aktif sebagai wartawan serta anak-anak mereka telah berhasil, keduanya masih selalu terlihat santai berboncengan sepeda motor pergi ke mana-mana, termasuk pergi ke pasar. Sedari muda hingga di masa tuanya kini, Ana yang sejak usia 19 tahun telah bekerja ini tidak pernah mau berhenti beraktivitas. Hobinya memasak dan berdagang masih tetap dilakoninya hingga kini. Ia berbisnis kuliner dalam kes-
ederhanaan. Sederhana kuliner yang dijualnya sederhana pula ia mengemasnya. Tiap pagi sekitar pukul 08.00 wita sampai pukul 10.00 wita, di depan rumahnya, perempuan kelahiran 1954 ini telah siap dengan deretan dagangan nasi kuning, nasi putih dan lainnya. Dan itu ia lakoni untuk mengisi masa pensiunnya. Begitu pula di saat bulan puasa seperti ini, Ana juga mengambil peran memeriahkan Ramadhan dengan berjualan beragam takjil. Hobinya memasak rupanya menurun langsung dari ibundanya. Ana tidak pernah belajar secara khusus tentang masak-memasak, melainkan karena bakatnya. Dan bakat itu ia maksimalkan untuk mengelola potensi dirinya sehingga mampu menghasilkan masukan tambahan bagi keluarganya. “Saya bisa memasak yang sederhana-sederhana saja, mudah dibuat dan bahan mudah diperoleh,” ungkap nenek dari empat cucu ini.
bukanlah keputusan mudah yang harus mereka ambil. Biaya yang tergolong besar untuk dapat kuliah di kampus ini, bukan menjadi halangan bagi Ana dan suaminya untuk memajukan pendidikan putra-putranya. Bertekad doa dan usaha, ketiga putra mereka lulus dengan baik dari universitas ini. Di kampus Trisakti ini, masingmasing anak mereka, Djaka yang pernah menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara tahun 1993 ini, lulus dari Sekolah Tinggi Managemen Transportasi Jurusan Transportasi Udara, Didiet lulus dalam bidang Teknologi Informatika serta Deradjad yang juga per-
nah menjadi Pembentang Bendera di Kantor Gubernur NTB saat menjadi anggota Paskib NTB tahun 1999, lulus di Fakultas Teknik Sipil Perencanaan. Ketiganya adalah kebanggaan Ana dan Supriyanto. Usai menuntaskan tugas dan tanggung jawab sebagai orangtua khususnya dalam pendidikan anak-anaknya, Ana dan suaminya kini menikmati hari dengan santai. Apalagi ketiga putranya itu telah bekerja dan dua di antaranya, yang pertama dan kedua telah menikah dan memberikan mereka empat cucu. Mengisi hari dengan hal-hal positif tanpa pandang gengsi seperti yang dilakukan Ana, membuat hidupnya senantiasa sehat dan
gembira serta tidak ada waktu yang sia-sia di tangannya. Hobi ini juga membuat Ana memikirkan tiga orang yang membantunya memasak dan bersihbersih selama ini. Mereka telah lama ikut membantu Ana, bahkan salah seorang di antara mereka telah bersama Ana sejak ia kecil. Ada yang diupah Rp 60 ribu perhari, ada pula yang mendapatkan Rp 3540 ribu/hari, tergantung beban tugas yang mereka lakukan di rumah tinggal Ana ini. Meski hanya tiga orang yang setia membantunya, dengan bisnis kuliner sederhana ala Ana, telah membantu ekonomi setidaknya bagi tiga keluarga ini.
Ana bersama anak-anaknya saat liburan ke Bali tahun 1986
Kini semakin banyak anak-anak muda yang peduli lingkungan. Mereka bahkan mengorganisir komunitasnya untuk melakukan berbagai aktivitas terkait pemeliharaan lingkungan. Salah satunya adalah Adeline Tiffanie Suwana. Namun ada catatan istimewa untuk Adel, begitu namanya akab disapa, karena dia memulainya pada saat usianya baru memasuki remaja, 11 tahun. Dia bahkan mendirikan ‘Komunitas Sahabat Alam’ sebagai wadah para pencinta lingkungan yang anggotanya kalangan muda, saat berusia 12 tahun, pada 2008. Padahal ketika itu isu-isu lingkungan, khususnya di Indonesia, belum terlalu hangat dibicarakan seperti saat ini. Bahkan isu global warming pun belum banyak orang yang ngeh. Tapi si kecil Adel justru sudah terketuk hati dan perhatiannya.
mereka dengan berbagai aktivitas bertema lingkungan. Mereka merancang berbagai kegiatan kreatif untuk mengaet anak-anak muda ikut berpartisipasi. Intinya, Adel dkk yang tergabung dalam ‘Sahabat Alam’ ingin menggugah kesadaran anak muda yang nota bene generasi penerus untuk mencintai alam dan lingkungannya. Atas perjuangannya ini, gadis kelahiran 26 Desember 1996 ini,
-Naniek I. Taufan
-Naniek I. Taufan
Adeline Tiffanie Suwana menerima golden green award
Konsistensinya terus berlanjut bahkan organisasi yang didirikannya sejak ia kelas II SMP ini terus berkembang dan berhasil menggaet ribuan anak muda setingkat SMP dan SMA untuk bergabung sebagai relawan. “Sampai sekarang kami telah melaksanakan lebih dari 130 kegiatan. Kegiatannya beragam, bukan hanya menanam pohon, tapi juga masalah sampah, penangkaran terumbu karang, seminar-seminar, lomba karya ilmiah, dll. Fokusnya adalah untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dalam pikiran generasi muda,” tutur Adelyang kini kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dirinya berharap semakin banyak anak muda yang konsen dan tanggap terhadap berbagai permasalahan lingkungan. Dengan begitu akan terbangun ketertiban dan keterjaan lingkungan dari kerusakan. Kegigihan Adel dan kawankawannya ini, memang patut diacungi jempol. Ketika anak-anak seusia mereka sibuk bermain, Adel dkk justru mengisi waktu
meraih banyak penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa penghargaan bergengsi dari luar negeri yang disabetnya antara lain; The International Diana Award 2013 dan sertifikat yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron pada 2014. The International Diana Award ini mulai diberikan tahun 1999 sebagai penghargaan kepada anak muda berusia 9-18 tahun yang telah memberikan kontribusi positif kepada komunitas di lingkungannya maupun di dunia internasional. Penghargaan lainnya adalah juara Eco Friendly 2009 karena peran nyatanya dalam pelestarian lingkungan. Eco Frienly adalah ajang internasional yang memilih anak-anak usia 8-16 tahun yang berperan nyata dalam pelestarian lingkungan hidup. Setahun setelah meraih Eco Friendly, anak kedua dari tiga bersaudara ini dipilih UNEP---United Nations Environment Programme adalah organisasi yang mengurusi masalah lingkungan hidup di PBB--- untuk menghadiri International Childres Conference on Biodiversity di Na-
Adeline Tiffanie Suwana
goya, Jepang. Ia juga dianugerahi World Summit Youth Award untuk kategori International Green Award . GARA-GARA JAKARTA BANJIR Bermula dari kejadian tujuh tahun lalu saat Jakarta terendam banjir. Ketika itu hampir sebagian besar kawasan Jakarta terendam dengan ketinggian bervariasi hingga 2 meter. Namun ada juga kawasan yang benar-benar tenggelam, salah satunya yang terletak di kawasan Kalibata Jakarta Selatan, pinggir Kali Ciliwung, yang ketinggian airnya mencapai 4 meter. Peristiwa banjir 2007 itu memang sungguh dahsyat. Akan halnya Adel, yang ketika itu baru berusia 11 tahun, tinggal di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sebuah kawasan yang cukup parah terendam banjir.Ketinggian air di kawasan Kelapa Gading ketika itu sempat mencapai 1 meter lebih. Walhasil, Adel dan keluarganya pun mengungsi. Rupanya kejadian banjir bandang itu begitu mengesankan untuk remaja kelas 1 SMP ini. Pemikirannya yang kritis tidak bisa menerima begitu saja kejadian tersebut, ia justru mencari tahu apa penyebabnya. Apalagi dia juga melihat kalau ternyata tidak semua daerah terendam banjir. Dia pun bertanya kepada orangtua maupun guru di sekolahnya tentang hal tersebut. Tidak puas dan masih penasaran, Adel pun mencari informasi lewat internet. Dari sana dia semakin tahu tentang pemanasan global dan apa dampaknya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Tidak sekadar tahu, tapi Adel juga memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dari diskusi dengan sejumlah sahabatnya, mereka pun memutuskan untuk melakukan aksi tanam pohon mangrove di Pantai Indah Kapuk. Ketika itu Adel dan teman-temannya berhasil mengumpulkan sejumlah remaja seting-
kat SMA, SMP, SD bahkan ada seorang anak TK. Mereka ini lah yang digerakkan Adel dan kawankawannya untuk menanam pohon mangrove di Hutan Mangrove di Angke, Kapuk, Jakarta Utara. “Menanam pohon adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungandan pohon bakau adalah salah satu jenis yang mempunyai banyak manfaat untuk lingkungan.Salah satu fungsi utama pohon-pohon bakau adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan. Jadi kami ke sana menanam bibit bakau,” kata peraih EFL Award pada ajang World Schools Debating Championships di Turki. Saat itu Adel tampil sebagai juara pertama debat antarpelajar sedunia. Sejak kegiatan kecil itu, Adel menjadi lebih menseriusi hal yang berkaitan dengan lingkungan. Dia pun berdiskusi dengan para sahabatnya, akhirnya lahirlah ‘Komunitas Sahabat Alam’ pada 6 Juli 2008. Lewat wadah tersebut, Adel dkk ingin agar anak-anak muda bisa tanggap atas berbagai permasalahan lingkungan dan peduli. Untuk itu, Adel dkk merancang berbagai kegiatan kreatif bertema lingkungan. Bukan hanya menanam pohon, tapi juga membersihkan sampah, pelepasan tukik (bayi penyu) di perairan Jakarta, seminar-seminar edukasi lingkungan, lomba karya ilmiah bertema lingkungan, dll. Salah satu yang teranyar adalah kegiatan komunitas ini dalam aksi penyelamatan burung kakaktua jambul kuning. Ketekunan dan konsistensi Adel dan teman-temannya, membuat Komunitas Sahabat Alam berkembang pesat. Jumlah anak muda yang menjadi anggotanya semakin bertambah, begitu juga aktivitas terkait lingkungan yang semakin padat. Kini jumlah relawan yang dimiliki komunitas ini sudah mencapai 25 ribu orang yang terdiri dari anak usia SD, SMP dan SMA. DANA PENDIDIKAN DIALIHKAN UNTUK KEGIATAN LINGKUNGAN Tentu saja, kata Adel, untuk semua kegiatan itu membutuhkan dana. Pada awalnya, kata Adel,
kegiatan mereka dibiayai dari kocek masing-masing. Dirinya, misalnya, mendapat suport dana dari orangtuanya. Dana itu sedianya adalah dana pendidikan Adel, namun karena gadis cerdas ini mendapat beasiswa dari sekolahnya maka dana pendidikan itu dialihkan untuk membiayai kegiatan Komunitas Sahabat Alam. “Untuk itu saya meminta orangtua agar mau mendukung dana kegiatan kami dengan dana pendidikan itu. Karena saya sudah mendapat bea siswa. Orangtua setuju,” ungkap mahasiswi Semester IV yang sekarang sedang magang di Otoritas Jasa Keuangan. Bukan cuma Adel, tapi para pendiri komunitas yang merupakan sahabat-sahabat Adel pun ikut merogoh kocek sendiri untuk membiayai kegiatannya. Selain itu, mereka juga aktif melakukan kegiatan pencarian dana berupa penjualan kaos dan pin. Orangtua Adel memang sangat mensuport kegiatan positif anaknya ini. Mereka bangga karena diusia belia Adel bukan hanya peduli lingkungan tapi juga melakukan tindakan nyata dengan membangun wadah bagi para anak muda yang peduli lingkungan. Mereka juga tidak khawatir dengan terganggunya pendidikan Adel karena terlalu sibuk berkegiatan, karena nyatanya, Adel tetap mampu mempertahakan prestasi akademiknya, meski sibuk menjadi aktivis lingkungan. Bantuan dari luar mulai datang setelah mendapat penghargaan ‘Tunas Lestari Kehati dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) pada 2009. Sejak itu organisasi ini mulai mendapat perhatian dari banyak pihak, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup. Bersamaan dengan itu bantuan dana pun mengalir deras seiring banyaknya penghargaan yang diterima komunitas ini baik dari dalam maupun luar negeri. Adel merasa optimis ke depannya akan makin banyak anak muda yang peduli pada lingkungan. Ia sendiri memiliki harapan, komunitas yang dipimpinnya akan berkembang bukan hanya di Jabodetabek tapi juga di luar pulau Jawa. –Diana Runtu.
Adeline Suwana terima ASEAN Champions of Biodiversity
6
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Minggu (21/6), dalam suasana pagi di tepi Pantai Mertasari Sanur, hiruk-pikuk peserta “SOUL Go Green and Clean” mengiringi matahari yang baru terbit di ufuk timur. SOUL Spirit Of Universal Life bersama Bunda Arsaningsih dan Yayasan Cahaya Cinta Kasih, bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) dan Desa Sanur Kauh melakukan kegiat an penanaman pohon bakau (mangrove) serta pohon cemara pantai di lokasi acara.
SOUL Go Green and Clean
S
e b a nya k 2 0 0 p o h o n mangrove dan 10 cemara pantai yang ditanam di tepian pantai, kegiatan ini sejalan dengan upacara Tumpek Uduh, yang juga dilakukan oleh umat Hindu Bali setiap 6 bulan sekali untuk menghormati setiap tanaman. Selain itu, acara ini juga diselenggarakan untuk mendukung salah satu program pemerintah Provinsi Bali menuju “Bali Go Green and Clean”, agar kita manusia dapat hidup selaras dengan alam ini. Diikuti oleh 100 orang lebih, yang terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa, termasuk di antaranya 40 siswa dan pembina dari sekolah SMP PGRI 3 Denpasar, turut serta mendukung kegiatan ini. Dalam rangka kegiatan ini juga melibatkan anak-anak kecil mulai usia 3 sampai 12 tahun yang tergabung dalam kelompok Soul Kids. Program pembelajaran Soul Kids yang telah rutin dilakukan setiap bulan ini merupakan kali pertama dilakukan di alam terbuka. Kegiatan Soul Kids kali ini juga mempunyai tujuan untuk mendukung kegiatan “Soul Go Green and Clean”. Anak-anak diajak untuk lebih mengenal dan peduli pada lingkungan alam sekitar sejak usia dini, dengan mengajarkan cara menanam tanaman yang nantinya bisa dipelihara di rumah mereka masing-masing.
Bunda Arsaningsih memberikan contoh menanam pohon bakau
“Apabila tidak ada tanaman maka kita tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Selain menghasilkan oksigen, tanaman juga menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan oleh tanaman ini dapat menyelaraskan alam ini,” kata Bunda Arsaningsih yang memberi pemahaman kepada peserta sesaat setelah kegiatan penanaman. Masing-masing tanaman memiliki energi, baik itu positif atau negatif, dan tergantung manusia mau menggunakannya untuk keperluan apa. Para leluhur kita dahulu sudah memahami konsep energi sehingga mereka bisa memilah mana pohon atau tanaman yang baik, misalnya untuk upacara keagamaan. Konsep energi merupa-
kan dasar dari apapun yang terjadi di alam ini. Selain menanam pohon, hal penting yang harus dilakukan adalah memeliharanya setiap hari.
“Anak Yatim Piatu adalah Amanah, Mari Lebih Peduli Mereka”
“I
ni adalah kerja bareng program Bhakti Ramadhan ke-15 APPAN (Asosiasi Pemerhati Panti Asuhan Nusantara) Bali yang kami gelar rutin setiap tahunnya,” ungkap Hj. Lusiana selaku Ketum APPAN Bali. Hj. Lusi menambahkan, Bhakti Ramadan ini adalah kegiatan yang dinantikan banyak pihak tidak saja anak-anak yatim piatu, pengurus panti tetapi juga anggota APPAN sendiri dan masyarakat lainnya. Buka puasa bersama ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi yang sulit bisa dilakukan,” terang istri Konsul Sri Langka untuk Indonesia ini. Menurut Hj. Lusi, APPAN Bali didirikan sejak 1992. Pendirinya antara lain Ibu Ari Murti, Ibu Ika Supriyanto dan Ibu Drajati Suyono. APPAN sebagai salah satu organisasi sosial untuk membantu meningkatkan pengelolaan dan pengembangan panti asuhan anak-anak yatim piatu/miskin sehingga sebagai generasi muda dapat tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya yang handal dan berwawasan luas, baik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) maupun dalam keimanan dan ketaqwaan (Imtaq), guna bersaing dan mengantisipasi semakin ketatnya persaingan di era globalisasi dan modernisasi saat ini.
“Kami selalu menjaga komitmen dan istiqomah untuk mencoba mengasah kepekaan sosial, berjamaah memperhatikan para anak yatim piatu ini. Mungkin itulah ungkapan yang pantas diucap bila mengikuti perjalanan sekelompok warga muslim se-Bali yang tergabung dalam APPAN Bali,” kata Hj. Lusi. Hadirnya APPAN Bali ini bertujuan untuk memperhatikan dan membantu para pengurus panti asuhan (PA) di Bali, mulai dari segi tata kelola organisasi panti agar tertib administrasi serta memasilitasi segala hal positif dari pihak pemerhati atau donatur lainnya guna menyalurkan bantuan PA yang tersebar di Bali. “Kami secara regular melakukan kunjungan, pendataan, pemberian dan penyaluran bantuan dari anggota APPAN Bali maupun pihak luar agar keberadaan panti asuhan di Bali khususnya dan se-Nusantara pada umumnya, bisa selalu termonitor dan berkesinambungan,” jelasnya. Diperkirakan 400-500 (dari sekitar 2000-red) anak yatim piatu dari 30 PA se-Bali yang hadir di acara ini. Senin (29/6) subuh, Hj. Lusi juga menggelar makan sahur bersama kaum dhuafa (tukang urut/pijat, tukang sampah, tukang parkir, pembantu RT, lansia,
Bunda Arsaningsih juga mengajarkan ”Kita dapat melakukan pemeliharaan tanaman selain secara fisik ataupun melakukannya secara energi. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita tanam dengan selalu merawatnya setiap hari”. Energi yang diperlukan oleh tumbuhan sementara ini berasal dari alam, misalnya dari matahari, energi bumi. Namun, pada saat manusia terhubung dengan energi Tuhan yaitu energi yang tertinggi di alam ini, maka kita dapat memanfaatkan energi ini untuk semua termasuk untuk tanaman. Karena energi Tuhan ini sangat halus dan lembut, penuh dengan energi cinta. Maka tanaman yang terus dikirimi energi cinta akan tumbuh lebih subur. Acara ini juga dilanjutkan dengan bersih-bersih pantai yaitu memungut sampah-sampah plastik yang berserakan di tepi Pantai Mertasari. Tentunya kegiatan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan yang bebas dari sampah plastik. “Kita sebagai manusia mempu-
nyai tugas untuk menyelaraskan alam, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana,” imbuh Bunda Arsaningsih. Hal ini sejalan dengan perwujudan salah satu misi SOUL yang menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan alam dan keterhubungan dengan Tuhan. Acara ini ditutup dengan foto bersama semua peserta serta komitmen dengan pelayanan untuk alam pada even berikutnya yang telah secara rutin dicanangkan oleh SOUL sebagai panitia penyelenggara. Selain kegiatan sosial, SOUL Spirit Of Universal Life juga mengadakan berbagai macam workshop, penyembuhan (Soul Healing) serta meditasi bersama. Untuk info dapat menghubungi SOUL Office Jakarta Gedung Sinar Kasih, Lantai 3 Jln. Dewi Sartika 136 D, Cawang Jakarta Timur, Tlp. (021) 29374104. Denpasar : Klinik Bersalin Anugrah, Lantai 2 Jln. Gunung Sanghyang 118 D, Denpasar Tlp. (0361) 419347 & 08510146-3858 (Arda). Atau akses kami di website : www.soultc.com. –ten
Kegiatan SOUL Go Green & Clean diikuti lebih dari 100 peserta
Dra Hj. Lusiana Sanato, S.H., M.H.
Apa yang disampaikan seorang Lusiana Sanato lewat ajakannya kepada kita semua adalah mari kita lebih peduli kepada anak-anak yatim piatu karena mereka adalah titipan sekaligus amanah dari Allah SWT. Kepeduliannya yang besar terhadap anak-anak kurang beruntung ini diungkapkannya dengan mengajak ratusan anak yatim piatu se-Bali untuk berbuka puasa bersama, Minggu (28/6) di Wisma Dewata Journey Service (DJS), Jln. By Pass Ngurah Rai 353 Sanur, Denpasar.
Women on Top
dll.) di lingkungan tempat tinggalnya Jln. Danau Tempe, Sanur, sekaligus berbagi biaya transpor mudik bagi mereka. “Biar mereka bisa mudik dan kumpul bersama keluarganya,” ungkap Hj. Lusi bersemangat. Pribadi Taqwa Hj. Lusiana adalah seorang muslimah pebisnis yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk menjalankan syariat Islam secara benar. Prinsip hidupnya adalah hidup dalam keberkahan, ketaqwaan dan untuk semata-mata beribadah kepada Allah SWT. Baginya, hidup ini harus dijalani secara seimbang antara keinginan duniawi dan rohani. “Yang paling saya takutkan adalah hidup tak berakal dan mati tak beriman. Segala sesuatu yang akan kita lakukan haruslah kita pikirkan lebih dulu agar tidak meleset dari cita-cita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” jelasnya. Dalam prinsip hidupnya, Hj. Lusi tidak neko-neko. Harta yang didapatkannya sebagian diperuntukkannya bagi sesamanya kaum dhuafa, anak-anak yatim piatu dan miskin. Rasa sosialnya yang tinggi membuat dirinya dikenal sebagai pribadi yang bertaqwa. Menurutnya, seseorang harus menghindarkan dirinya dari sifat serakah. “Manusia tidak akan pernah puas. Inilah yang memicu sifat keserakahan. Manusia juga tidak bisa terhindar dari hasutan orang bahkan manusia tak bisa lari dari kematian. Jika kita percaya dengan ketentuan Allah,
Hapus Kesan Pawai hanya untuk Pejabat Pesta Kesenian Bali (PKB) yang rutin diselenggarakan tiap tahun, mulai berbenah. Kesan monoton dan situasi layaknya pasar malam menjadi isu serius untuk dicarikan solusi. Dalam PKB XXXVII tahun ini, banyak terjadi perubahan format. Penataan stan kerajinan terlihat lebih rapi. Produk kerajinan dan kuliner yang dipamerkan juga merupakan produk khas Bali. Sendratari Ramayana dipilih menjadi headline PKB tahun ini. Berikut penjelasan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha kepada tokoh, menjawab beberapa kritikan menyangkut PKB.
T
ema PKB tahun ini, “Jagaddhita” memi liki makna memper kokoh kesejahteraan masyarakat. “Kita di Bali mempunyai kekayaan yakni budaya Bali yang adi luhung. Budaya ada karena potensi sumber daya manusia kita yang kreatif dan inovatif. Inilah yang terus kami pacu, untuk memunculkan desain baru di bidang kebudayaan, apakah itu seni tari, seni tabuh, kerajinan, dll yang memberi daya tarik pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya,” ujar Dewa Beratha. Dalam PKB, lima kegiatan pokok, mulai dari pawai, pagelaran, lomba, kerajinan, dan sarasehan. Perbedaan PKB tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pawai dimulai dari depan kantor gubernur. Jalurnya agak panjang
sehingga masyarakat dapat menonton dengan menyebar. Kemudian pawai terakhir menuju panggang kehormatan. “Tidak ada lagi kesan pawai hanya dinikmati para pejabat. Format pawai sudah diubah. Masyarakatlah yang menikmati pawai terlebih dahulu baru kemudian pejabat,” ucapnya. Sebagai daya tarik PKB tahun ini, digelar serial Ramayana yang sudah dimulai saat pembukaan oleh ISI Denpasar dengan tema “Ayodya Kertanegara”. Selanjutnya, parade gong kebyar kabupaten/kota, wajib me nampilkan setiap kanda dari Ramayana. “Akan ada 11 serial Ramayana sebagai headline PKB,” kata Dewa Beratha. Selain itu, daya tarik lain, adanya parade pelegongan . Untuk pameran kerajinan, kata Dewa Beratha, masyarakat pasti bisa
Kuliah S3 Meski sibuk mengelola beberapa bisnis miliknya di Bali dan Jakarta, Hj. Lusi juga mesti bolak-balik Bali–Jakarta untuk kuliah S3 Ilmu Hukum di Jakarta. “Saya pusing kalau nggak
lebih kepada upaya untuk membentengi bisnisnya. “Kalau kita tahu ilmu hukum, kita bisa membentengi bisnis kita sementara dengan ilmu ekonomi, kita bisa tahu peluang dan cara mengelola bisnis secara benar,” terang wanita kelahiran Bandar Lampung, 20 Agustus 1963 ini. Hj. Lusi adalah pebisnis tulen. Kemampuannya mengelola bisnis ditunjukkan dengan berdirinya beberapa bisnis miliknya di Bali dan Jakarta. Posisinya sebagai Komisaris PT Nur Dewata (DJS Tour dan sponsor Retirement Visa), Komisaris PT Bali Auction House (Balai Lelang Swasta), Komisaris PT Bali Ide, Komisaris PT Aura International, PT Global Sehat, PT Intan Property dan Ide Law Office. –ari
menyaksikan penataan stan sudah lebih rapi. Tujuannya, agar memberi kenyamanan bagi pengunjung sekaligus pengrajin. Begitu juga, seniman agar dapat berkreativitas tanpa ada suara bising. Dari segi penataan pameran sesuai blok. Tidak ada jenis barang yang sama. Sesuai namanya Pesta Kesenian Bali, kata Dewa Beratha, untuk tahun ini pameran kerajinan hanya fokus pada produk Bali. Begitu juga kuliner. Tidak ada kuliner yang dari luar Bali. Ini semua kata dia, beberapa perbaikan dalam PKB tahun ini. Memang ia meng akui, masih banyak kritikan soal peserta pameran. Karena itu, tahun ini sudah mulai dilakukan seleksi, bahwa, hanya pengrajin yang juga produser yang bisa berpameran. “Kami sudah meminta Disperindag melakukan verifikasi ke
Dewa Putu Beratha
lapangan agar memang betul-betul pengrajin yang berpameran. Ini sebagai bentuk komitmen kita bersama. Jangan di PKB mencari keuntungan pribadi, tapi kita semua berbuat untuk Bali,” katanya. Begitu juga soal keluhan seniman yang sulit parkir sudah diatasi tahun ini. “Parkir di depan kami khususkan untuk seniman. Memang ada keluhan, yang dulu bisa menikmati parkir itu secara gratis 24 jam. Kami harapkan mereka mengerti dan bisa berpindah ke lokasi parkir yang sudah disiapkan. Sementara, seniman yang datang untuk ngayah itu kami prioritaskan parkir di sana,” ucapnya. MENDIKBUD JADI KEYNOTE SPEAKER Tahun ini disamping mengadakan sarasehan sebagai bentuk evaluasi
Prioritaskan Pengrajin Komitmen pemerintah dalam perbaikan PKB mendapatkan apresiasi positif dari salah seorang pengrajin asal Jembrana. Ayu dari Amertha Busana yang menampilkan aneka songket dan endek khas Negara mengatakan, ia memang sudah melihat penataan PKB lebih baik. “Pe nataan stan sudah lebih rapi tidak sesak seperti pasar malam. Kami sebagai pengrajin diberikan prioritas,” kata perempuan asal Tegalcangkring Jembrana ini. Ayu merupakan pengrajin yang baru per
maka kita bisa membentengi hidup kita masing-masing. Bertaqwa adalah cara terbaik menghindarkan diri kita dari kesengsaraan dunia dan akhirat,” urainya.
k uliah. Maunya di Unud saja tetapi karena anak-anak di Jakarta dan ada bisnis juga, maka kuliah di Jakarta sekaligus nengok anak-anak,” kata wanita yang masih awet muda di usianya yang ke52 tahun ini. Penulis buku ‘Usaha Penanaman Modal di Indonesia’ ini menjalani hidup apa adanya meski untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis, dirinya juga harus berjuang, jatuh bangun. “Jatuh bangun itu biasa. Rugi pun pernah saya rasakan tetapi karena kita dibekali oleh akal/ilmu yang bermanfaat maka semua itu saya anggap sebagai ujian yang harus dilalui,” tuturnya merendah. Menekuni ilmu hukum dan ekonomi sekaligus, bagi Hj. Lusi bukan sekadar menyalurkan minat tetapi
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
tamakalinya pameran dengan stan sendiri. Dalam ajang PKB tahun-tahun sebelumnya, ia hanya menumpang menaruh produknya “Tak mudah mendapatkan stan untuk berpameran tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kabupaten yang melakukan seleksi siapa yang pantas ber pameran. Karena banyak juga yang berpameran bukan pengrajin dan produsen tapi hanya peda gang,” kata Ayu yang menyajikan aneka kain khas Negara dengan warna-warni yang lebih berani. Ia hanya berpesan, sebaiknya petugas Dis
perindag terus melakukan pemantauan setiap hari. Jangan hanya saat awal pameran saja, karena bisa saja produk luar Bali bisa masuk ke pameran tanpa ketahuan petugas. Saat ini, kata Ayu, banyak produk tiruan dengan harga yang lebih murah. “Memang produk asli endek dan songket harganya lebih mahal karena pengerjaan tangan. Kalau sudah ada produk tiruan yang dicap lebih laku, bagaimana nasib pengrajin?” ucapnya dengan nada tinggi. Ia berharap, dalam ajang PKB ini, pemerintah lebih memberikan apre
19
PKB tahun ini, dan mencari ben tuk PKB tahun depan, juga, untuk menghilangkan kesan monoton, akan ada lokakarya yang membahas PKB lima tahun ke depan. Sarasehan rencananya akan menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan sebagai keynote speaker. Perbaikan lain yang dilaku kan, adanya penyanggra untuk tim kesenian yang pentas. “Kritikan tahun sebelumnya, tidak adanya penyanggra. Tahun ini kami maksi malkan mahasiswa Unhi dan IHDN untuk menyanggra tim kesenian,” katanya. Soal keamanan juga sudah men jadi perhatian serius. Peserta pamer an setelah diabsen masuk bersamaan ke ruang pameran. Begitu juga saat tutup, keluar bersama-sama lewat satu pintu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keluhan tahun sebelumnya, ada peserta yang ke hilangan barang. Setiap Hari Minggu, Senin, dan Kamis dilakukan pertemuan untuk mengevaluasi, permasalahan yang muncul agar bisa segera diatasi. “Kami tak henti-henti mencari terus solusi agar PKB makin bermakna dan sesuai dengan harapan masyarakat Bali,” kata Dewa Beratha. Bagi pengrajin luar Bali, akan diberi kesempatan berpartisipasi dalam acara “Mahalango”, yakni setelah penutup an PKB mulai tanggal 12 Juli. Dalam waktu 1,5 bulan, selain pameran juga digelar berbagai pertunjukkan. Sebagai pembuka, akan ditampilkan kolaborasi Pramusti Bali dengan wayang Joblar. –Wirati Astiti
siasi kepada pengrajin yang juga produsen. Namun, dari keseluruhan, Ayu menyambut baik perbaikanperbaikan yang dilakukan PKB tahun ini. Sisca, salah satu pengunjung PKB mengatakan, sesuai namanya Pesta Kesenian Bali, disinilah produk-produk unggulan baik itu kesenian dan budaya yang harus ditampilkan. Apalagi, seperti dirinya yang memang orang luar Bali, tentu ajang PKB menjadi satu keharusan untuk datang karena memiliki daya tarik tersendiri. “Saya sangat me nikmati pameran aneka kerajinan, kuliner Bali, dan juga keseniannya. Ajang ini dapat juga men jadi satu promo bagi Bali yang memiliki keung gulan pariwisata budaya,” ucap perempuan asal Bandung yang memborong beberapa kain endek ini. -Wirati Astiti
18
Kreasi
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Pemerintrah Kota Denpasar melalui Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar, selama ini telah melaksanakan berbagai hal termasuk pelayan inklusif untuk para penyandang disabilitas. Kepedulian yang sangat tinggi dibuktikan dengan memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka unjuk kemampuan dan bakat, pelatihan untuk juga mengembangkan kreativitas. Dan, belum lama ini melakukan “Field Trip dan Sharing Love” untuk menyuntikkan motivasi dan semangat.
Field Trip & Sharing Love
Life
Story
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
galkannya di Lombok,” kata Rina. Sejak itu Karenina tidak lagi bisa berhubungan dengan Rakhmad, hingga akhirnya ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Lombok. Karirnya terbilang cemerlang. Lompatan-lompatan karier dilaluinya dengan mulus hingga ia mendapat posisi jabatan yang lumayan. Namun, semua kesibukan itu tidak membuat Karenina melupakan Rakhmad hingga ia sempat nekat datang ke Pulau Jawa, ke rumah Rakhmad. Hubungan percintaan mereka yang hangat rupanya masih saja mendapat penolakan dari orangtua Rakhmad. Karenina merasa penolakan itu sebagai sakit yang hebat.
Bagi Penyandang Disabilitas Bersama K3S Kota Denpasar
tkh/net
K
etua K3S Kota Denpasar, IA Selly D. Mantra yang menggagas acara mengatakan bahwa mereka para penyandang disabilitas adalah anak-anak yang istimewa dan luar biasa. Tuhan telah mencabut penglihatan atau pendengaran mereka,
tapi tidak untuk motivasi dan semangat hidup mereka. “Mereka tergolong tangguh dengan mimpi dan semangat belajar yang luar biasa. Mereka begitu tegar dengan senyuman yang selalu ditebar di setiap kesempatan,” ujarnya. Minggu (14/6) adalah hari yang
indah dan istimewa bagi temanteman penyandang disabilitas di Kota Denpasar. Hari itu mereka diajak melakukan perjalanan bersama yang dirancang oleh K3S Kota Denpasar untuk melakukan dharmayatra dan rekreasi ke tempat suci dan objek wisata dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila. Sekitar 400 anak disabilitas beserta para relawan berkumpul dan berangkat dari Kantor Walikota Denpasar mengenakan pakaian yang sama bertuliskan “I Stand for Disability Right”. Mereka adalah teman dan sahabat-sahabat para tunarungu, tunanetra, juga tunadaksa. Untuk kali ini mereka masing-masing ditemani seorang voluntir sebagai pendamping. Di antara anak-anak disabilitas tersebut, ada yang sudah mengikuti sekolah di sekolah umum di antaranya di SMA, ada yang kuliah di kampus bidang desain dan informatika di Bali, bahkan ada pula yang sudah bekerja di instansi swasta maupun Pemerintah Kota Denpasar.
dang disabilitas dapat bersosilaisasi dengan orang lain. Selain itu, ia juga berharap kepada K3S beserta Pemerintah Kota Denpasar agar acara seperti yang mereka jalani ketika itu dilangsungkan secara berkala. Sementara para relawan juga menyampaikan ucapan terima kasih-
nya, sebab mereka telah memperolah kesempatan untuk belajar dari teman-temannya yang disabilitas sembari menyatakan bahwa mereka adalah sama. Bahwa mereka sudah sepatutnya membaur, bersatu serta saling merangkul, selain juga belajar untuk lebih bersyukur dalam hidup ini. Selly D. Mantra mengaku terharu meihat mereka semua di sana memang berhasil melebur dengan melupakan perbedaan dan keterbatasan yang ada. Yang nampak adalah wajah-wajah sumringah yang memiliki rasa percaya diri dan bahagia.
“We Stand for Disability Right”
Bertempat di pelataran Pura Masceti, salah seorang gadis perwakilan dari penyandang tunanetra maju menyatakan ungkapan terima kasihnya kepada K3S Kota Denpasar yang telah menyelenggarakan kegiatan yang membuka kesempatan mereka selaku penyan-
Persembahyangan bersama kali itu, kata Selly D. Mantra dilaksanakan di Pura Masceti. Di sana lanjutnya, mereka semua bersyukur sembari memohon agar semua ren-
cana dilancarkan. Usai melakukan persembahyangan di sana dibuka kesempatan kepada para disabilitas untuk mengungkapkan kesan, pesan maupun harapan mereka. –ard
Berpetualang karena Patah Hati Entah sudah berapa jauh Karenina (50), berjalan menyusuri relung-relung hatinya yang terluka dalam perjalanan-perjalanan yang mestinya mustahil bagi orang lain namun nyata baginya. Hidup baginya seperti tiada lagi harapan akan masa depan. Tiada lagi rencana-rencana menata kehidupan berkeluarga apalagi percintaan. Ia seperti telah lepas dari pergaulan sosial yang normal, karena kini ia memilih banyak menyepi dan melakukan perjalanan. Uniknya, perjalanan yang dilakukannya mengalir begitu saja, tanpa pernah ia rencanakan secara khusus, melainkan di mana dan saat kapan ia ingin berjalan, sejauh-jauhnya perjalanan, maka saat itulah ia berangkat.
K
Selanjutnya, pada kesempatan yang sama Wali Kota Denpasar. IB Rai D. Mantra yang turut dalam acara tersebut, menyatakan sangat mengapresiasi acara rekreasi sambil belajar yang berlangsung baik yang dilaksanakan oleh K3S Kota Denpasar ini. Ia juga menekankan jika keterbatasan bukan halangan bagi kita semua. Dikatakannya bahwa kita semua berhak mendapatkan kesetaraan sosial yang sama. Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan tersebut bukanlah kegiatan yang pertama dan terakhir, tapi tetap dapat berlangsung terus nantinya dengan baik. Tak ketinggalan disampaikan pula apresiasi terhadap ide kreatif K3S yang telah membentuk wadah untuk merangkul para disabilitas di Kota Denpasar. Begitu pula dengan ketulusan para voluntir serta semua teman-teman disabilitas yang juga tulus bersedia turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya harapan Wali Kota Denpasar ini adalah agar semua pihak yang terlibat pada kegiatan saat itu turut merasa bahagia dan menikmati kebersamaan di setiap acara.. Berikutnya, rombongan mening-
galkan Pura Masceti menuju Taman Nusa. Di sana kegiatan dipandu salah seorang pengurus K3S, Rahtut XXX untuk menikmati santap siang bersama. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan pun semakin terasa tatkala Ketua K3S yang juga istri Wali Kota Denpasar, turut bersamasama membagikan nasi kepada peserta. Sambil menikmati makan siang, mereka dihibur dengan penampilan dari Leyonk Sinatra, Gede Bagus, XXX, dan pertunjukan pantomime. Terlihat jika peserta merasa sangat terhibur dan melebur dengan ikut bernyanyi bersama dengan para bintang tersebut. Selanjutnya, dilangsungkan field trip di kawasan Taman Nusa. Di sana juga mereka tak ketinggalan saling berbagi informasi sebelum akhirnya harus kembali ke Denpasar. Rupanya semua memeroleh pengalamannya masing-masing. Termasuk para relawan yang semakin menyadari bahwa di duniaTuhan menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan. Semuanya tidak patut disesali tapi untuk diterima dan disyukuri. We stand for disability right. -ard
arenina tidak pernah memikirkan soal biaya yang akan diperlukannya selama perjalanan tersebut, melainkan membebaskan pikirannya bahwa akan selalu ada jalan keluar selama perjalanannya. “Kan banyak kawan-kawan yang bisa saya kontak dan singgahi,” ungkapnya polos sembari tertawa. Jika dilihat dari cara hidupnya, orang bisa menilai Karenina tidak normal karena ia hidup di luar kebiasaan hidup orang normal. Apalagi di usianya yang setengah abad, Karenina tidak pernah memikirkan soal pendamping hidup juga kelihatannya tidak terbersit dalam benaknya membina hidup rumah tangga layaknya orang lain. Ia terlihat cuek dan santai. Jika ia ingin pergi dari Lombok, maka ia akan pergi. Dan jika ia ingin pulang ke Lombok, maka ia akan pulang. Semua sesuai dengan panggilan jiwanya, sendiri tanpa peduli pada hal-hal yang lazim atau
lumrah. Dalam pergaulan sehari-hari, Karenina juga lebih senang menyendiri meskipun berada dalam satu komunitas dengan kawan-kawannya bergaul selama ini. Beruntungnya, Karenina memiliki kawan-kawan yang baik dan mau mengerti dirinya. Bahkan sekalipun dirinya itu berbeda dari orang kebanyakan. Di sanalah Karenina berlindung. Seluruh kawnanya memaklumi mengapa Karenina menjadi seperti itu. Dulu, di masa mudanya, Karenina adalah sosok yang menyenangkan dan popular dalam pergaulan. Meski ia berasal dari keluarga sederhana, wajahnya yang menarik dengan bakat menyanyi yang terbilang bagus, membuatnya banyak diidolakan kawankawannya, terutama saat ia duduk di bangku SMA hingga kuliah. “Tiap kali tampil menyanyi dalam acara kampus, saya selalu berdiri paling depan karena saya suka kalau Karenina menyanyi,” ungkap Rina salah seorang rekannya.
Dia punya pesona yang tidak dimiliki orang lain. Setidaknya itulah yang disampaikan beberapa kawannya. Ketenaran Karenina di kalangan kawan-kawannya membuat seorang pemuda jatuh hati padanya. Pemuda bernama Rakhmad itu berasal dari keluarga kaya anak seorang direktur sebuah perusahaan di Mataram. Mereka menjalin hubungan yang terbilang serius sejak saat mereka duduk di bangku SMA bahkan hingga tamat kuliah. Hubungan yang cukup lama itu membuat keduanya dekat dan erat. Namun sayang, hubung an keduanya tidak mendapat restu dari orangtua Rakhmad. “Orangtua Rakhmad sangat menentang hubungan mereka,” kata salah seorang kawan Karenina yang lain. Namun begitu, keduanya tetap mempertahankan hubungan tersebut meski tahu orangtua Rakhmad sangat tidak menyukai Karenina. “Mungkin karena Karenina berasal dari keluarga biasa, jadi orangtua Rakhmad tidak menyetujui. Pernah suatu saat Rakhmad mengajak Karenina datang ke rumahnya untuk bertemu orangtuanya, namun mereka menolak bertemu Karenina. Saya tahu persis betapa sakitnya Kareni na waktu itu,” ungkap Rina. Karenina sempat murung berharihari mengetahui hubungan yang sudah mereka jalin selama bertahun-tahun belum juga direstui. Sampai puncaknya, Rakhmad dibawa orangtuanya ke Jawa. Mereka terpisah jarak yang begitu jauh. “Karenina menangis semalaman mengetahui Rakhmad terpaksa pergi mengikuti orangtuanya dan mening-
AKTIF DI MEDIA SOSIAL Ia pulang membawa rasa sakitnya hingga ke Lombok. Sejak itu, ia tidak lagi punya semangat. Di kantor ia lebih banyak menyendiri dan mulai tidak peduli sekitarnya. Karenina lebih asyik sendiri cenderung cuek. Meski begitu karirnya tetap baik karena ia sangat kreatif. Di puncak karirnya yang cemerlang itu, tidak ada yang menyangka kalau akhirnya tiba-tiba Karenina memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai PNS. “Kami semua sungguh kaget mendengar keputusan Karenina. Ia lalu lebih asyik dengan dirinya sendiri. Melakukan perjalana-perjalanan ke mana pun yang ia sukai,” ungkap Rina yang sudah dua tahun tidak ketemu Karenina karena ia
7
tidak tengah berada di Lombok. Kabar terakhir beberapa bulan yang lalu diterima kawan-kawannya di Lombok, Karenina sedang berada di Pulau Sulawesi. Mereka hanya sesekali mengetahui kabar Karenina lewat postingan-postingan status di berbagai media sosial yang dipergunakannya. “Itu pun cuma sesekali saja saya melihatnya tibatiba sudah berada di ujung negeri ini,” kata Rina tersenyum. Sesekali Karenina masih pulang ke Lombok. Setelah itu ia akan terus melanjutkan perjalanannya. Akhir-akhir ini ia seperti ingin meninggalkan Lombok. “Karenina itu kini hidup di mana saja. Dia sepertinya sudah tidak memikirkan tentang pernikahan apalagi rumah tangga,” ujar Rina. Karenina menjadi petualang karena patah hati dan rasa sakit yang teramat dalam. Hatinya benar-benar patah ketika cintanya pada Rakhmad tak dapat diraihnya. Apalagi kini Rakhmad telah menikah dan memiliki beberapa orang anak. Namun begitu, menurut kawankawannya di Lombok yang masih sering berkomunikasi dengannya, kini Karenina tampak lebih bersemangat dari biasanya. Sebuah foto yang dikirimkannya di dinding sosmed Rina, wajahnya tampak cerah dan bersemu. Ia foto berdua dengan laki-laki bule. “Kata Karenina, itu kekasihnya. Semoga inilah jalan yang mempertemukan Karenina dengan jodohnya,” kata Rina berharap agar hidup sahabatnya itu bisa kembali normal. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Kenalkan Kesenian pada Anak
sejak Dini
Pesta Kesenian Bali (PKB) yang bertepatan dengan hari liburan sekolah merupakan salah satu wahana bagi bagi orangtua untuk mengajak anak mengenalkan kesenian. Apalagi di PKB, ada pertunjukkan yang dimainkan anak-anak.
Padma
“A
nak-anak saya senang menonton dolanan anak. Tiap ada jadwal dolanan, mereka pasti menonton,” ungkap Made Sri Astuti, ibu dari Amri dan Mani. Selain menjadi penonton, Amri dan Mani juga ikut pentas gong kebyar anak-anak. Darah seni yang mengalir dari orangtuanya membuat kedua anak ini juga gemar kesenian. Menurut Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. tidak ada kata terlalu awal untuk mengenalkan kesenian pada anak, hanya saja “porsinya” tetap disesuaikan usia anak. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi akan bentukbentuk kesenian yang juga dapat digunakan sebagai media refreshing dan menyenangkan bagi anak. “Menurut teori perkembangan, bakat setiap anak termasuk bidang seni dapat diwarisi oleh orangtuanya. Namun ada faktor lainnya yang juga turut andil agar bakat tesebut dapat berkembang secara optimal yaitu pengalaman. Pengalaman anak diperoleh dari proses belajar, stimulasi yang diberikan oleh orangtua maupun mencontoh dari lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya setiap anak memiliki bakat seninya masing-masing. Ketika orangtua mulai melihat munculnya bakat seni di anak, maka orangtua dapat memfasilitasi anakanak sehingga dapat mengembangkan bakatnya tersebut. Tidak harus dengan media yang mahal, media yang sederhana namun bermakna dapat merangsang kemampuan seni anak,” ujar anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali ini. Namun, mahasiswi Magister Psikologi Profesi, Universitas Gadjah Mada ini menekankan bukan berarti ketika orangtua anak adalah seorang seniman, maka anak akan menjadi seorang seniman.
Ada kaitan antara bakat, minat dan kemauan. Sangat penting untuk mempertimbangkan minat anak terhadap bentuk kesenian yang disukai. Sekalipun seorang anak memiliki bakat yang diwarisi oleh orangtuanya, tetapi anak tidak memiliki ketertarikan dan kemauan untuk mengasah bakat tersebut, yang terjadi adalah bakat yang muncul tidak optimal. Sebaliknya, jika anak tidak memiliki bakat namun ada minat dan kemauan untuk mengasah, maka ada peluang hal tersebut menjadi bakat baru. “Beberapa contoh pengenalan kesenian yang dapat dilakukan oleh orangtua sesuai dengan tahapan usia anak adalah sebagai berikut. Pada usia 1-2 tahun anak bisa dikenalkan dengan media seni yang sederhana seperti merobek kertas warna-warni. Selain itu orangtua mendampingi anak ketika menggambar dengan media yang aman. Beranjak pada usia 3-4 tahun, anak boleh dikenalkan dengan mengajak anak menonton pertunjukkan tari dan drama. Sekalipun anak belum mampu memahaminya dengan sempurna, anak dapat belajar dan merekam peristiwa kesenian yang ia amati. Maka dari itu sangat perlu pendampingan dari orangtua untuk melakukan komunikasi sederhana dengan anak terkait kesenian yang disaksikan. Pada usia ini anak juga mulai dapat diajarkan tentang seni musik sederhana dan melukis, menggambar dengan media yang lebih kompleks. Kemudian pada anak usia sekolah dasar (6-12 tahun), anak dapat dikenalkan dengan kesenian yang semakin kompleks karena pada usia ini anak juga telah mengalami peningkatan perkembangan kognitif, sosio-emosional, dan motorik,” ujar perempuan yang akrab disapa Padma ini. Mengenalkan kesenian pada anak, memiliki dampak positif terhadap perkembangan anak. Sekian banyak bentuk kesenian yang ada tentunya dapat melatih dan mengasah perkembangan anak pada aspek kognitif, sosio-emosional, motorik, dan kreativitas. Misalnya saja pada seni menggambar dan melukis, anak akan mengasah kemampuan berpikir pada saat anakanak merencanakan akan menggambar apa. Selain itu anak-anak akan melatih kemampuan motorik halus saat menggambar dengan kuas, pensil warna, maupun alat menggambar lainnya. Anak juga akan melatih keterampilan mengelola emosinya, dimana saat menggambar maupun mewarnai hal-hal yang detail, anak menjadi lebih bersabar agar mampu menghasilkan gambar sesuai dengan keinginannya.
INDUSTRI KREATIF Pada sistem pendidikan sekarang, kemampuan akademis masih menjadi pertimbangan yang utama. Namun kemampuan seni dan akademis dapat berjalan beriringan dan melengkapi satu sama lainnya. Orangtua dapat mengajarkan pada anak akan prioritas kapan kedua hal tersebut dapat dilakukan, sehingga anak tidak lupa akan kewajiban akademisnya. Cara lain adalah menggunakan metode pembelajaran akademis yang terintegrasi dengan kesenian. Jika melihat lebih dalam, terdapat konsep multiple-intelligent yang menyatakan bahwa seni adalah salah satu bentuk kecerdasan. Konsep ini juga memberikan pandangan jika cerdas bukan semata-mata nilai matematika, bahasa, atau sains yang tinggi. Hanya saja, pendidikan di Indonesia belum memfasilitasinya secara penuh. Terlihat
juga, lapangan pekerjaan yang lebih mengapresiasi bidang tersebut. Namun jangan khawatir, kini mulai banyak tumbuh industri kreatif yang mengapresiasi seni. Misalnya, kesenian juga dapat digunakan sebagai media mengasah bakat anak selain bakat dalam bidang sains. Tanpa memungkiri, anak bahkan mampu mengkombinasikannya sehingga dapat mengoptimalkan pembelajaran mereka. Seperti halnya ketika anak mempelajari seni tari, anak juga akan berlatih tentang ketukan dan hitungan. Anak juga sekaligus akan mempelajari seni musik yang berpengaruh pada konsentrasi anak. Ketika tarian itu dilakukan secara berkelompok, memungkinkan anak melatih kemampuan sosialnya. Anak akan berinteraksi dengan penari-penari yang lainnya, kolaborasi, dan juga melatih emosi. Selain itu anak akan melatih keterampilan motorik kasar dan halusnya. Hal ini juga terjadi pada bentuk kesenian yang lainnya. Dengan langkah ini, orangtua dapat menyelaraskan kesenian dengan akademis. “Ada baiknya pengenalan kesenian pada anak disertai dengan pengenalan kebudayaan. Menurut teori kognitif sosial-budaya, interaksi sosial budaya berpengaruh
dalam perkembangan kognitif anak. Pengetahuan anak lebih dibangun melalui interaksi dengan orang lain dan benda budayanya. Pada usia anak-anak sekolah dasar, anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaannya. Anak-anak usia ini akan mulai mempelajari dan mengenal kebudayaan mereka sendiri,” jelas Padma. Banyak orangtua yang mengharapkan agar anak memiliki kemampuan akademis dan kesenian yang optimal. Tidak sedikit pula orangtua mengupayakan banyak hal agar harapannya tercapai, seperti mengikutkan les dan kursus sehingga muncul ataupun peningkatan kemampuan kesenian di bidang tertentu. Kembali pada manfaat seni pada anak yaitu media eksploratif sekaligus refreshing dan menyenangkan. Hal ini akan terjadi jika anak memiliki ketertarikan pada bidang seni tersebut. Jika itu merupakan bagian dari keputusan pribadi orangtua untuk memenuhi harapan mereka, sangat memungkinkan anak menjadi bosan, tidak menikmati bahkan murung dan tertekan. Jadi orangtua harus menyadari apakah pengenalan kesenian itu untuk anak atau pemenuhan harapan orangtua. –Ngurah Budi
Dolanan anak di PKB
Rayap dan Daun Teep
manusia sering membakar bangsa rayap? Kalau kau menyelamatkanku, maka aku akan melanjutkan keinginanku untuk memangsa manusia. Kau lihat nanti, tidak akan ada manusia yang berani membakar rayap.” Kelompok rayap itu mulai percaya. Atas perintah pemimpinnya, bangsa rayap itu lalu segera menghancurkan jerat yang melilit harimau itu. Lihat sekarang, harimau itu mulai bernapas lega. Kakinya menggeliat-geliat, matanya membesar dan wajahnya berseri-seri, lalu perlahan-lahan berdiri tegap. Dan kemudian …, harimau itu dengan lahapnya mencaplok rayap-rayap yang sedang bekerja. Bangsa rayap itu berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Namun, harimau serakah yang kelaparan itu tak henti-hentinya mencakar dan mencaploknya. Rayap-rayap yang sedang bertengger di ekor harimau, melihat keadaan yang membahayakan itu, lalu segera berlindung di bawah selembar daun teep. Tak lama kemudian harimau pembohong dan serakah itu masuk ke dalam hutan. “Keluarlah sekarang, Kawan Rayap!” kata daun teep seraya membuka diri. “Keadaan sudah aman. Harimau itu sudah pergi.” Beberapa ekor rayap yang masih hidup itu keluar seraya menoleh kiri-kanan. Tak seekor rayap pun yang tersisa. Sambil menangis, rayap itu mengucapkan terimakasih atas budi baik daun teep. “Tanpa pertolonganmu, tidak ada keturunan rayap di bumi ini. Kami berjanji tidak akan makan pohon teep selamanya.”
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Kreasi Lampu Mozaik Lampu menjadi unsur penerangan buatan baik di dalam maupun di luar ruangan. Kini fungsi lampu tak hanya sebagai penerangan, namun sudah sebagai unsure dekorasi. Pengrajin lampu berlomba-lomba menciptakan kreasi dan berinovasi baik dalam bentuk maupun bahannya.
S
Mendongeng Lima Menit Sekelompok rayap berbondongbondong mencari sumber makanan baru. Mereka menyeberang di bawah pohon teep yakni sejenis pohon jati yang tumbuh tidak jauh dari kediaman mereka. Konon di Made Taro seberang pohon itu banyak batang-batang pohon yang sudah lapuk. Itulah makanan pokok mereka. Tiba-tiba mereka mendengar erangan yang memilukan. “Hurgh, hurgh …, tolonglah aku, tolonglah aku, Rayap!” Gerombolan rayap itu mendekat ke arah erangan itu. Setelah dekat, tiba-tiba mereka mundur serempak. “Harimau! Harimau terperangkap jerat!” teriaknya. “Jangan takut, Rayap!” seru hewan yang mengerang itu. “Aku bukan harimau pemakan hewan. Aku adalah harimau pemakan manusia, sebab manusia itu sangat kejam terhadap hewan. Manusia ingin membalas dendam kepadaku, oleh karena itu aku dijeratnya. Tolonglah, Rayap! Hanya kau yang dapat membebaskanku!” “Tidak!” jawab bangsa rayap itu. “Harimau adalah pemakan hewan, kejam dan serakah!” “Percayalah, Kawan! Pernahkah kau mendengar cerita tentang manusia yang suka berburu hewan, memakan dan menjualnya? Bukankah
Griya
alah seorang pengrajin lampu saat ditemui di workshop sekaligus showroom-nya di Jalan By Pass Ngurah Rai Suwung Kauh, mengatakan sejak 6 tahun terakhir mencoba berkreasi dengan mengolaborasikan lampu berbahan dasar fiber, dengan cermin dan kaca. Pria asal Medan, B Sidauruk atau yang karip disapa Tessa ini menyebut kreasi lampunya itu lampu mozaik. Mozaik, karena memang pengerjaan akhir lampu ini ditempeli cermin atau kaca yang dipotong-potong kecil. Ada yang ditempel acak, ada pula yang ditempel seperti susunan bata.
“Saya memakai cermin yang tebalnya 0,2 mm. Sementara untuk kaca, saya pakai kaca bening yang kemudian diwarna sesuai kebutuhan,” jelasnya. Lampu mozaik yang dipajang di showroom Bonanza Lamp ini banyak diminati warga lokal dan mancanegara yang didominasi kewarganegaraan Spanyol. Banyak model yang ditawarkannya, seperti model merak, botol bawang, Ganesha, Budha, gajah, dll. “Baik tamu lokal maupun mancanegara, paling banyak yang suka model Ganesha dan Budha,” ungkapnya. Lampu mozaik yang ketika digantungkan dan terkena sinar
matahari ini akan memantulkan sinarnya kemana-mana ini, juga diminati etnis tertentu. Konsumen ini meyakini jika dipasang di depan rumah, lampu mozaik berfungsi untuk penolak bala. –Inten Indrawati
Beberapa model lampu mozaik
Tessa saat meladeni pembeli lampu mozaik
Bahan baku berupa cermin atau kaca yang dipotongpotong kecil sebelum kemudian ditempel di permukaan kap lampu
17
16
Edukasi
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Baksos IKIP PGRI Bali Tahun 2015
Bedah 3 Rumah di Tampaksiring Bakti sosial mahasiswa IKIP PGRI Bali tahun 2015 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat kembali digelar, Kamis (25/6) s.d. Sabtu (27/6). Kali ini baksos mengambil tempat di Desa Manukaya, Tampaksiring, Gianyar, sebuah desa yang penuh sejarah dan kaya dengan nilai historis. Diikuti 739 mahasiswa dengan 295 panitia.
P
embukaan dilaksanakan di Wantilan Pura Tirta Empul, dihadiri Bupati Gianyar yang diwakili Kabid Dikmen Disdikpora Gianyar, Camat Tampaksiring, Jro Bendesa Manukaya, para kelian banjar seDesa Manukaya, masyarakat Tampaksiring, serta civitas akademika IKIP PGRI Bali. Ketua Panitia Baksos, Dr. I Made Darmada, M. Pd. mengatakan baksos yang mengusung tema “Melalui Baksos Mahasiswa
IKIP PGRI Bali dapat Meningkatkan Pengabdian pada Masyarakat untuk Pembudayaan SDM Pendidik yang Berkarakter dan Berbudaya” ini diharapkan dapat memperkaya materi pada pengabdian IKIP PGRI Bali bagi masyarakat melalui visi IKIP PGRI Bali yang berwawasan kemasyarakatan dan bersinergi dengan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya, baksos yang digelar di Tampaksiring ini diisi dengan program bedah rumah yang diberikan kepada tiga
Tiga warga Tampaksiring penerima bedah rumah berfoto bersama Rektor IKIP PGRI Bali Made Suarta, Ketua Yayasan Arthanegara, Ketua Panitia Baksos Made Darmada, dan Kabid Dikmen Disdikpora Gianyar
warga kurang mampu, atas nama I Made Mara dari Banjar Temen, Desa Manukaya; I Wayan Kredek (Banjar Tegalsaet, Desa Pejeng Kangin); dan I Made Astawa (Banjar Belusung Kaja, Desa Pejeng Kaja). Masingmasing penerima bedah rumah memperoleh bantuan sebesar Rp 25 juta. “Bedah rumah merupakan program kepedulian terhadap kemaslahatan yang paling hakiki. Karena itu, IKIP PGRI Bali yang merupakan
Penanaman tanaman upakara di area kawasa suci Pura Tirta Empul, dilakukan secara simbolis oleh perwakilan Bupati Gianyar yang menanam pohon pucuk sesuai maskot Gianyar, dilajutkan oleh Rektor Made Suarta, Ketua Yayasan Arthanegara, dan jajaran pejabat lain di Tampaksiring
institusi yang mengayomi kemanusiaan sangat peduli pada warga masyarakat kita yang betul-betul perlu dibantu dalam kepemilikian rumah,” ujar Made Darmada. Jadikan IKIP PGRI Bali sebagai Klinik Pendidikan Selain bedah rumah, baksos juga diisi dengan melaksanakan layanan kesehatan khususnya mata, serta pemberian kaca mata gratis pada masyarakat Tampaksiring, yang merupakan organ yang vital bagi kehidupan; gotong royong, penanaman pohon bersama, penyuluhan dan workshop untuk pengembangan profesi guru berupa PTK, PTBK, PTS, PT untuk pengawas, serta artikel sebagai strategi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang selanjutnya menjadikan IKIP PGRI Bali sebagai Klinik Pendidikan. Juga, diisi dengan pemahaman bahaya narkoba dan HIV/AIDS, membangun kreativitas masyarakat melalui bidang seni, persembahyangan bersama dan berbagai kegiatan yang membaur dengan masyarakat yang tak lain bertujuan agar para peserta baksos bisa melihat, mendalami, dan nantinya mampu memecahkan permasalahan dalam masyarakat yang sesungguhnya. Terkait program bedah rumah yang merupakan program tetap dari IKIP PGRI Bali, yang sudah dimulai sejak 2012, yakni di Kota Denpasar sebanyak 9 unit rumah,
Karangasem 3 rumah dan 3 sekolah (2013), Klungkung 3 rumah (2014), Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. mengatakan, tindakan kecil ini semata-mata bertujuan untuk turut serta membantu mengatasi masalah kemiskinan di Bali. Karena itu, penerima program bedah rumah ini diseleksi betul, bahkan Rektor Made Suarta turut terjun ke lapangan untuk mengetahui kondisi rumah masyarakat calon penerimanya. “Kami ingin agar program bedah rumah ini tepat sasaran,” ucapnya. Seperti kondisi rumah warga di Banjar Tegalsaet, yang dikatakannya benar-benar pantas untuk dibantu. “Saya langsung melihat ke lokasi, setengah atap rumahnya jebol. Dan ketika hujan, sudah dipastikan kehujanan. Dan yang paling membuat saya terharu, masyarakat di sana akan membantu secara bergotong royong untuk membangun rumah itu, sehingga nilai bantuan Rp 25 juta (tanpa dipotong biaya apa-apa) itu murni bisa untuk biaya lain-lain diluar biaya tukang (tenaga). Ada nilai gotong royong di sini yang patut diacungi jempol,” tutur Made Suarta. Selain itu, program lain yang disodorkan IKIP PGRI Bali dalam baksos ini sudah tentu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tampaksiring. Sesuai isu yang berkembang saat ini bahwa untuk naik golongan, para guru SD, SMP, SMA terganjal pada pembuatan karya tulis. Karena itu, IKIP PGRI Bali memberikan workshop membuat karya tulis dan membantu memediasinya untuk dimuat di Jurnal Ilmiah yang sudah ber-ISSN. Bupati Gianyar yang diwakili Kabid Dikmen Disdikpora Gianyar menyambut baik dan berterimakasih dengan baksos yang digelar IKIP PGRI Bali ini. Kegiatan ini dikatakannya tentu akan berdampak positif khususnya di lokasi baksos. Kegiatan ini pun diharapkannya bisa berkelanjutan, yang secara tak langsung dapat mempercepat tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat Tampaksiring. “Harapan Pemkab Gianyar, adik-adik mahasiswa yang sebentar lagi menamatkan pendidikannya di IKIP PGRI Bali, menjadi tenaga pndidik yang berkualitas yang diikuti dengan kualitas proses pendidikan (PBM), sesuai dengan harapan IKIP PGRI Bali, orangtua dan masyarakat,” tandasnya. –ten
Yoga tidak Dibatasi Usia Melakukan yoga dapat membantu kita menggapai keseimbangan secara mental, emosional, spiritual, dan fisik, yang berarti pula kita akan memperoleh kesehatan Begitu disampaikan Ketua TP PKK Gianyar, Ny. Dayu Surya Adnyani Mahayastra, saat mengajak para ibu melakukan kegiatan “Yoga Bersama” dengan menghadirkan Bunda Dian dari Pasraman Rsi Markandya, Kamis (25/5) di Balai Budaya Gianyar.
D
alam Kegiatan “Yoga Bersama “ yang dihadiri ibu-ibu PKK, para lansia di Gianyar juga beberapa pengurus WHDI Provinsi tersebut, Bunda Dian mengatakan, melakukan yoga tidak terhalangi batasi usia. Semua dapat turut berlatih yoga. Begitu juga tak ada masalah dengan status sosial, profesi maupun kedudukan seseorang. Bunda Dian yang sehariharinya mengajar yoga di Pasraman Rsi Markandya di kawasan Jalan Hayam Wuruk Denpasar ini, pada kesempatan tersebut
juga menyampaikan bahwa bicara yoga, saat ini masih banyak orang salah persepsi. Ia menegaskan kalau yoga bukan untuk mencari kelenturan tubuh, tetapi mencari keseimbangan, jasmani dan rohani yang sehat. Selain itu, lanjutnya dengan yoga pula aura seseorang akan lebih cerah, disamping menumbuhkan kedamaian, cinta kasih, dan segala bentuk kebaikan. Kemudian sambil memberi contoh dan mengajak peserta melakukan beberapa gerakan yang mudah untuk dilakukan kembali di rumah, ia juga mengatakan yoga yang diajarkannya sekaligus juga
Bunda Dian dan peserta lansia
Sebagain peserta yoga bersama Bunda Dian
sebagai seni penyembuhan, yakni berupa perpaduan teknik olah tubuh, olah rasa dan olah jiwa dengan titik konsentrasi pada kesadaran prana. Yoga memang bukan sekadar olah tubuh, tetapi juga olah jiwa dan pikiran. (mine, body and soul). Karena itu pula dikatakannya saat berlatih disarankan menutup mata supaya dapat fokus bermeditasi pada nafas, badan, dan pikiran. Apalagi masyarakat sekarang, katanya mulai menyadari bahwa mereka memerlukan bentuk kegiatan olahraga yang tidak hanya menekankan pada aspek fisik semata namun juga yang menyentuh aspek psikologis dan mental. Seluruh peserta yang hadir untuk “Yoga Bersama” nampak sangat antusias. Termasuk ketika diberikan kesempatan untuk bertanya , peserta juga ramai menyampaikan berbagai hal terkait yoga yang ingin mereka ketahui. Mereka juga berharap kegia-
tan Yoga Bersama di Gianyar dapat dilakukan terjadwal dan berkelanjutan. Khusus untuk para lansia serta peserta yang baru mengikuti yoga, Bunda Dian menyarankan untuk melakukan semua gerakan
di ujung kemampuan. Ia juga kembali menekankan bahwa yoga adalah jalan untuk mencapai keseimbangan, mempertahankan kesehatan menyeluruh, fisik , mental, dan spiritual. – Sri Ardhini
Dara
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
9
I Made Sulang Aryawan
Lebih Mudah Sampaikan ke Remaja Menjadi orang yang menyosialisasikan program-program keluarga berencana khususnya yang menyasar remaja merupakan salah satu tugas Duta GenRe (Generasi Berencana). Tugas ini ternyata tak hanya menyasar kaum remaja, karena orangtua pun wajib tahu tentang dunia remaja.
T
ahun 2015, Duta GenRe kategori putra dimenangkan I Made Sulang Aryuawan. Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini berhak mewakili Bali ke tingkat nasional. Berbagai persiapan dilakukan pria yang akrab disapa Sulang ini. “Saya les tari Jauk untuk ditampilkan saat pentas budaya. Semoga Duta GenRe Bali bisa berkibar di tingkat nasional,” ujarnya mantap. Sulang yang lahir 14 Mei 1995 menuturkan dirinya sudah yakin bisa menjadi jawara di ajang pemilihan Duta GenRe 2015. “Tahun 2014 saya sudah ikut menjadi peserta. Tetapi, kalah. Pengalaman di tahun 2014 menjadi modal bagi saya untuk ikut lagi di tahun 2015,” ujarnya. Keyakinan Sulang ternyata berbuah kenyataan. Semua proses ia lalui hingga menjadi juara I. Materi tentang pendewasaan usia perkawinan, triad KRR, delapan fungsi keluarga dan life skill ia kuasai merupakan modalnya untuk menjadi yang terbaik. Pembinaan dari kampus dan seniornya juga membuat Sulang makin yakin akan kemampuannya. “Waktu ikut tahun 2014, saya baru semester II sedangkan peserta lain ratarata semester IV. Persiapan saya juga kurang bagus sehingga saat tampil saya kalang kabut. Ini menjadi pelajaran bagi saya untuk mempersiapkan diri lebih baik,” kenang mahasiswa yang banyak memiliki prestasi dalam lomba karya tulis ini. Ia menambahkan seleksi di internal Poltekkes lebih berat karena ada 30 pasang yang ikut. Pasangan terbaiklah yang berhak menjadi Duta GenRe dari Poltekkes. Karena ketatnya seleksi, selalu ada Duta GenRe yang berasal dari Po l t e k k e s D e n p a s a r. Ini menunjukkan konsistensi kampus ini untuk menjadikan mahasiswanya berprestasi dalam bidang kependudukan dan keluarga berencana. B e k a t GenRe pula mahasiswa di Poltekkes Denpasar menjadi memahami bagaimana program kependudukan, keluarga berencana termasuk kesehatan reproduksi, apalagi
mereka banyak bergelut di bidang kesehatan. “Duta GenRe tidak hanya sekadar memakai selempang. Banyak hal yang kami lakukan untuk menunjang pemahaman para remaja, antara lain memberikan ceramah kepada siswa, Seka Teruna, hingga para orangtua,” ujar anak kedua pasangan I Ketut Raka Sudarma-Ni Ketut Putri ini. BEDA AUDIENS BEDA PENYAMPAIAN Memberikan ceramah tentang kesehata n reproduksi kini menjadi rutinitas Sulang. Pria yang bercita-cita menjadi ahli gizi dan punya usaha katering diet ini selalu memperhatikan siapa yang akan diberikan ceramah. “Kalau yang diberikan materi itu anak SMP, saya lebih banyak berbicara dibanding memberikan gambar. Kalau audiens remaja, apalagi yang mahasiswa, saya lebih banyak mengajak mereka diskusi. Kadang ada yang malu bertanya, saya pancing akhirnya mau. Berbicara dengan sebaya lebih mudah dan nyambung. Yang paling sulit adalah berbicara dengan para orangtua. Usia mereka lebih tua dari saya dan mereka lebih berpengalaman. Saya pun lebih menekankan diskusi dan memberikan ilmu kepada pra aorangtua dengan harapan ilmu itu akan ditransfer ke anak-anaknya,” ujar adik Ni Putu Dewi Pusparini Pinatih ini. Sulang tak hanya memberikan ceramah di tingkat lokal. Ia juga didaulat menjadi narasumber di seminar nasional tentang Generasi Berencana yang diadakan di Universitas Ngurah Rai, Denpasar. Kemampuannya berbicara di depan umum pun terasah. Ia juga banyak dipoles Asteria, mantan Duta GenRe nasional dari Bali. Ketika ditanya mengenai remaja yang menikah karena hamil duluan, Sulang menanggapi dengan bijak sana. “Hal ini perlu
menjadi perhatian orangtua dan remaja. Orangtua jangan terlalu membebaskan anak saat pacaran. Remaja pun harus memahami tanggungjawabnya. Kalau sudah kejadian, ini risiko yang harus diambil. Langkah berikutnya adalah menjaga jarak kelahiran. Perlu ada konseling agar mereka menjadi lebih matang dan siap untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Jangan lagi mengulangi kesalahan terdahulu,” kata pria yang hobi menyanyi dan menjadi MC ini.
Kesibukan memberikan ceramah ini bagi Sulang tidak terlalu mengganggu kuliahnya. Ia lebih banyak memberikan ceramah pada sore atau malam hari. Kalaupun ada benturan, dan harus memilih, ia kadang minta izin dari kampus. “Kampus sanggat memahami tugas Duta GenRe. Kami bukan sekadar orang yang berselempang, tetapi kami menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya kesehatan reproduksi,” tegas juara II Lomba Pidato Kependudukan tahun 2015 ini.
Selain kampus, orangtua Sulang pun bisa memahami tugas Sulang. “Mereka sudah paham dan memberi dukungan asalkan saya bisa menjaga diri. Orangtua saya malah bilang, saya sudah jadi milik masyarakat jadi harus bisa membawa diri dan menjadi contoh yang baik. Pacar juga mendukung dan mengingatkan saya untuk menjaga diri,” kata Sulang yang tiap bulan siaran di Radio Pemerintah Kota Denpasar bersama PIK Mahasiswa Yowana Bhakti Poltekkes Denpasar ini. –Ngurah Budi
10
Bugar
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Mechanical Thrombectomy dr. Putu Gde Budhi Setiawan, Sp.BS Penulis adalah Spesialis Bedah Syaraf di Siloam Hospitals Bali
Pembuluh darah ialah jaringan penting dalam tubuh manusia, yang terhubung ke seluruh jaringan dan organ-organ tubuh manusia (jantung, paru, otak, ginjal, hati, dan organ tubuh lainnya) sebagai satu kesatuan sistem yang saling berhubungan 1 dengan yang lainnya. Pembuluh darah memiliki 3 lapisan yaitu tunika intima, tunika media dan tunika adventisia. Pembuluh darah secara garis besar terbagi atas pembuluh dr. Putu Gde Budhi Setiawan, Sp.BS darah bersih (arteri) dan pembuluh darah kotor (Vena), dimana kedua jenis pembuluh darah ini memiliki fungsi tersendiri.
Pembuluh darah otak, terhubung dengan jantung sebagai pemompa komponen darah bersih melalui arteri dan menerima komponen darah kotor melalui vena. Ukur an dari pembuluh darah otak bervariasi sesuai dengan usia, jenis kelamin, tekanan darah, ukuran tubuh, dan faktor lainnya. Semakin dalam pembuluh darah otak masuk memvaskularisasi otak, ukuran pembuluh darah otak semakin kecil. Rata2 ukuran arteri maupun vena pembuluh darah otak bervariasi, berkisar 0,8 cm - 0,2 cm. Thrombus ialah hasil dari komponen koagulasi/ pembekuan pembuluh darah setelah melalui tahap hemostasis. Thrombus pada umumnya bersifat fisiologis, namun pada keadaan tertentu dapat bersifat patologis. Thrombus fisiologis terbentuk dengan tujuan menutup pembuluh darah yang robek, sehingga mengurangi proses perdarahan dan memudahkan proses kesem-
buhan dari pembuluh darah yang robek. Thrombus patologis terbentuk pada orang dengan faktor resiko seperti Hipertensi, penyakit jantung bawaan, penyakit jantung koroner, obesitas, merokok, riwayat stroke ringan (Transient Ischemic Attack), dan faktor risiko lainnya, dimana thrombus ini terbentuk dengan sendiri nya didalam lapisan pembuluh darah, salah satunya pembuluh darah otak. Thrombus patologis ini sewaktu waktu bisa terlepas, baik sebagian maupun total, se hingga mengalir ke pembuluh darah otak dengan ukuran yang lebih kecil dan menimbulkan sumbatan. Bagian thrombus ini disebut dengan nama embolus. Proses penyumbatan pembuluh darah otak ini, pada akhirnya secara klinis menimbulkan gejala Stroke Ischemic/ Stroke non Hemorrhagic.
Style
Perpaduan Gaya Maskulin dan Feminin
Ranni Hatta seorang desainer busana muslim yang tengah naik daun, pekan ini memilihkan karyanya untuk penggemar rubrik Style Tokoh. Busana muslim ready-to-wear deluxe di bawah label namanya ini, bercerita tentang seorang perempuan detektif bernama Jane yang dikelilingi dan harus mengimbangi koleganya yang mayoritas kaum laki-laki.
L
ulusan LPTB Susan Budihardjo ini menampilkan karyanya dengan memadankan jas panjang berpotongan tegas khas pria dengan rok panjang Stroke adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, berdasar penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013. (http://www.litbang. depkes.go.id/node/639) Prevalensi menurut jenis kelamin, lebih banyak pada laki - laki dibandingkan perempuan. Kelompok umur penderita stroke tertinggi yaitu pada kelompok umur 50-70 tahun, dan semakin hari trend kejadian stroke berdasarkan umur semakin banyak pada usia yang lebih muda. Mechanical Thrombectomy ialah metode minimal invasive dalam penatalaksanaan terapi stroke ischemic /stroke non hemorrhagic. Metode ini dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas ruang CATH LAB/ruangan kateterisasi pembuluh darah. Tindakan dilakukan dibawah general anestesi atau local anestesi, sesuai dengan diagnosis dan indikasi pasien. Tindakan ini bersifat kegawat daruratan/emergency, diharapkan dengan melakukan tindakan dini, dapat memperbaiki gejala klinis yang dialami pasien dan mengurangi resiko morbiditas pasien. Mechanical thrombectomy tidak serta merta dilakukan begitu saja, karena pertimbangan klinis, diagnosis, prognosis dan keuntungan bagi pasien serta indikasi dalam dilakukannya tindakan ini.
Tindakan minimal invasive mechanical thrombectomy ini diharapkan menjadi salah satu metode dalam mengurangi angka kecacatan/morbiditas pada penderita stroke ischemic/stroke non hemoragic akut, bagi penderita dengan faktor resiko stroke sperti hipertensi, kelainan jantung, stres, merokok, hiperkolesterol, obesitas, dan faktor risiko lainnya, semestinya untuk melakukan pemeriksaan rutin guna mengevaluasi adanya risiko stroke di kemudian hari, karena pencegahan lebih baik daripada mengobati. Semakin dini penderita stroke mendapat penanganan (< 6jam pasca serangan), perbaikan klinis dan tingkat kecacatan diharapkan lebih baik.
TIME is BRAIN. TIME LOST is BRAIN LOST. Sumber :
http://www.uptodate.com/contents/initialassessment-and-management-of-acute-stroke http://stroke.ahajournals.org/content/37/12/3019.full
Randomized Assessment of Rapid Endovascular Treatment of Ischemic Stroke download by The New England Journal of Medicine, 2015
melambai ala perempuan yang lincah gemulai. Sebentar kemudian, sosok Jane yang menjadi inspirasinya tampil memanjangkan garis pinggang jaket bomber hingga sebatas paha dan memadukannya
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
dengan rok panjang a-line berlipit-lipit di bagian pinggang. Pendek kata, Jane hadir dalam gaya feminin-maskulin milik Rani yang mempertemukan rok dengan jaket, atau celana panjang berpipa lurus dengan blus longgar, dengan warna monokromatis hitam, putih, dan abu-abu, serta garis busana yang meleluasakan gerak untuk mendukung kebebasan dalam menjalankan tugas. Namun, bukan hanya bentuk yang secara jeli dicampurkan oleh Rani dalam satu ‘look’ saja, bahan juga ikut menjadi sasarannya dalam mencampuradukkan ide, misalnya memadankan bahan interlock dengan sutera poliester. Lalu ada juga bahan kaus, hingga wol. –Sri Ardhini
15
14
Jelita
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Tetap Segar dan Menarik di Rumah Sebagai seorang ibu rumah tangga, dapat dikatakan hampir 90% aktivitas yang dilakukannya di rumah. Begitu juga dengan usaha yang dijalankan semuanya bisa ditangani dari rumah, sehingga ia merasa tidak perlu berdandan apalagi mengenakan make up .
M
enurut Ida Rohida, pemilik Syafira Salon & Spa di Mataram ini, memang saat ini berhias bagi seseorang yang merasa hanya berdiam di rumah saja belum menjadi kebiasaan. Padahal, diam di rumah ataupun mereka menjalankan usaha dari rumah, bukan tidak mungkin akan menerima kunjungan tamu atau calon pembeli yang ingin melihat langsung. “Untuk ini alangkah baiknya, jika kita sebagai tuan rumah menerima tamu dalam kondisi yang rapi dan cantik.,” saran Ida Rohida. Ida Rohida juga mengatakan bukan berarti ketika berkegiatan hanya di dalam rumah, seorang perempuan tidak menjaga penampilannya termasuk tidak bersentuhan dengan alat –alat kecantikan. Sebagai seorang penata rias atau make up artis, baginya meski kita hanya di rumah tidak ada salahnya tetap menjaga penampilan, tampil cantik dengan sentuhan make up minimalis untuk kesan lebih segar. Dikatakannya pula , adalah sangat baik jika kita membiasakan diri berpenampilan rapi, wangi, dan menggunakan riasan wajah saat berada di rumah. “Sehingga saat ada tamu dating bahkan termasuk ketika suami dan anak-anak pulang, kondisi kita selalu segar tidak kucel,” ucapnya. Semua memang harus dijaga lanjutnya, baik itu kecantikan luar maupun kecantikan dari dalam (inner beauty). “Kecantikan luar dan inner beauty adalah kecantikan sejati, keduanya memiliki keterkaitan erat, tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan, rasanya tidak seorang perempuan pun yang tidak suka tampil cantik. Apalagi yang tercatat sebagai seorang istri,” katanya. Namun ,yang harus diingat kata Ida Rohida, Tuhan menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.Jadi, bagi kita yang berjenis kelamin perempuan, sudah pasti cantik. Kemudian, salah satu cara kita untuk bersyukur kepada sang pencipta atas karunia -Nya tersebut adalah dengan menjaga dan merawatnya. Untuk menjaga dan merawat wajah, katanya cukup dan bisa dilakukan di rumah. Sedangkan untuk menjaga penampilan sehari-hari, dapat menggunakan bantuan
kosmetik yang sesuai, dan tidak sembarangan atau bukan kosmetik illegal. “Nah, untuk selalu terlihat segar , jangan malas merias diri walau di rumah. Semua bisa dilakukan sendiri dan karena jika sudah biasa tidak memerlukan waktu lama,” cetusnya. Ida Rohida juga kembali menyatakan betapa pentingnya perempuan menyadari perlu berpenampilan rapi dan wangi selama di rumah. Bagaimanapun, tidak semata untuk keb a hagiaan rumah tangga, tapi juga bernilai untuk diri sendiri, menjadikan kita lebih bersemangat. “Make up atau tata rias dapat menjadi andalan untuk membantu membuat sedikit perubahan pada penampilan kita. Yang tadinya biasa berubah menjadi lebih cantik namun tetap alami,”pungkasnya. –Sri Ardhini
Tips Mengaplikasikan Make up Natural
l Sebelum memoleskan alat-alat make up di wajah, sebaiknya bersihkan wajah terlebih dahulu. Setelah dibersih kan gunakan pelembab yang sesuai dengan jenis dan warna kulit. l Kemudian oleskan tipis-tipis foundation yang sesuai dengan warna kulit, agar lebih terlihat natural dan alami. Dilanjutkan dengan memakai bedak tabur maupun bedak padat. Untuk ini gunakan kuas agar bedak menutup wajah dengan sempurna. Setelahnya, oleskan eyeshadow warna lembut dan natural. lDemi wajah terlihat lebih segar dan bercahaya, pemilik warna kulit putih, bisa mengoleskan warna eyeshadow yang sedikirt terang dan bagi kulit kuning langsat, dapat memakai warna coklat. Selanjutnya untuk lebih menghidupkan wajah rapikan alis dengan eyebrow atau pensil alis. lRiadsan wajah dapat dilengkapi dengan eyeliner yang fungsinya memperindah kelopak mata. Jika ingin menggunakan maskara, cukup lakukan satu kali sapuan, agar lebih natural. Sentuhan berikutnya adalah lipstik berwarna natural, atau satu tingkat di atas warna bibir. Langkah terakhir untuk make up simpel dan natural ini ,adalah poleskan tipis-tipis blush on berwarna natural untuk kesan fresh alami. – Sri Ardhini
Mitos
B
erbagai mitos tentang kebutuhan gizi dalam tubuh, sering kita dengar. Namun, seringkali mitos ini keliru. Karena itu, pada edisi kali ini Tokoh menghadirkan ahli gizi RS Sanglah Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih,M. Sc., Akp. Sp.GK, untuk meluruskannya. Berikut penjelasannya.
Mitos: Gula menyebabkan diabetes Fakta: Diabetes tak semata-mata karena kelebihan gula. Penyebab diabetes adalah, pertama, karena kekurangan insulin, kedua dikarenakan insulinnya resisten, sehingga tak mampu merubah gula menjadi bentuk lain. Insulin adalah hormon yang merubah gula menjadi bentuk lain yang bisa dimanfaatkan tubuh. Resisten itu terjadi pada orang gemuk, yang biasanya kelebihan mengonsumsi makanan. Sehingga, gula yang dihasilkan makan tidak mampu dirubah lagi.
Edisi 855/29 juni - 5 juli 2015
Gula Sebabkan Diabetes? Semetara kekurangan insulin, bisa karena faktor keturunan atau penyakit (yang bisa merusak organ penghasil insulin). Jadi, bukan tidak mengonsumsi gula (makanan manis-manis) untuk mencegah diabetes. Lebih tepatnya, untuk mencegah diabetes, kurangi konsumsi makanan yang dapat meningkatkan kadar gula cepat dalam darah. Yaitu, makanan yang mengandung gula sederhana dan memiliki kandungan serat yang rendah, seperti tepung-tepungan, gula, dan beberapa jenis buah berkadar gula tinggi seperti kurma, kismis, dan pisang. Mitos: Semua lemak buruk Fakta: Tidak semua lemak buruk, ada lemak baik dan lemak jahat. Namun, tidak baik mengonsumsi lemak melebihi 30 persen dari total kalori. Yang tergolong lemak “jahat” adalah lemak yang berasal dari sumber hewan terutama hewan darat, lemak yang dipanaskan dengan suhu yang tinggi (supaya menjadi krispi), dan lemak yang bersumber dari minyak yang dipakai berulang (jelantah). Lemak yang “baik” adalah lemak yang bersumber dari buah-buahan, seperti alpokat, kacang-kacangan, dan lemak dari ikan. Mitos: Gula cokelat/merah/ palm sugar lebih baik dibanding gula putih Fakta : Sampai saat ini belum ada data ilmiah yang
Kondom Gagal “Mau tanya dok, saya sempat melakukan kesalahan dan tergoda beberapa kali berhubungan seksual dengan orang lain yang bukan istri saya, saya melakukannya dengan beberapa teman kerja perempuan di kantor saya. Karena takut tertular infeksi kelamin, saya selalu menggunakan kondom. Tetapi saya sempat baca-baca kalau kondom katanya juga bisa gagal saat digunakan, misalnya karena bocor. Itu bagaimana dok? Bisa dijelaskan lagi?” (Robbie,29 thn)
K
etika seseorang melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan proteksi dan pencegahan, sebenarnya dia sudah mengundang risiko pada dirinya, bahkan pada keluarganya. Hubungan seksual yang berisiko tinggi merupakan penyebab utama penularan infeksi menular seksual, seperti gonore, kutil kelamin, herpes, sifilis, klamidia termasuk HIV AIDS. Karenanya memang benar bahwa kondom adalah hanya dan satu-satunya alat
11
pelindung yang telah terbukti dapat mengurangi risiko infeksi menular seksual termasuk HIV & AIDS selama orang yang berisiko tidak bisa kembali melakukan pencegahan buat tidak melakukan hubungan seksual gonta ganti pasangan seksual. Seberapa efektif sebenarnya penggunaan kondom? Berdasarkan studi pada orang-orang yang berperilaku seksual berisiko tinggi, dari 100 orang hanya kurang dari 1 orang yang akhirnya tertular infeksi menular seksual pada kelompok
menunjang bahwa gula merah lebih baik dibandingkan gula putih. Walaupun, dalam proses pembuatannya, gula merah lebih natural karena hanya dipanaskan, dibandingkan dengan gula putih yang dikristalkan. Mitos: Turunkan kolesterol dengan pantang makan seafood Fakta: Memang jenis seafood mengandung kolesterol, tetapi cara memasaknyalah yang menyebabkan kadar kolesterolnya makin tinggi. Mengonsumsi seafood dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah, sehingga orang yang menderita ganguan asam urat sebaiknya menghindari makan seafood. Mitos: Hindari karbohidrat agar berat badan cepat turun Fa kta : Bukan menghindari karbohidrat, tetapi mengurangi
total energi. Memang karbohidrat dan lemak adalah sumber energi utama. Bilamana karbohidrat terlalu tinggi ditambah dengan asupan lemak yang tinggi, maka kelebihan energi yang dihasilkan akan disimpan dalam bentuk lemak. Asupan lemak akan lebih meningkat jika makanan diproses dengan menggunakan minyak, misalkan digoreng ato dibakar dengan minyak, di samping makanan yang memang mengandung lemak tinggi. Inilah yang menyebabkan kegemukan. Untuk menurunkan berat badan, yang dilakukan adalah mengurangi jumlah energi dengan mengonsumsi makanan yang kndungan karbohidratnya rendah dan tinggi serat, seperti sayur-sayuran, dan umbiumbian.
Mitos: Hindari kacangkacangan karena berlemak Fakta: Kacang-kacangan memang mengandung lemak, tetapi lemak dalam kacang banyak yang baik. Di samping memang kacang banyak mengandung protein. Dengan mengonsumsi jumlah kacang yang tidak berlebihan, tidak akan meningkatkan kadar lemak dalam darah/tubuh. Mitos: Vegan berisiko menderita anemia Fakta: Benar, karena vegan (orang yang vegetarian) itu sama sekali tak mengonsumsi makanan dari sumber hewani. Sementara dalam tanaman, kandungan, vitamin B12 hampir tidak ada. Vitamin B12 ini merupakan bagian daripada sel darah merah. Jika Vitamin B12 ini tidak ada, akibatnya sel darah merah tidak terbentuk. Inilah yang menyebabkan anemia. –Inten Indrawati
pengguna kondom. Secara medis dan epidemiologis sudah terbukti bahwa akan terjadi penurunan risiko penularan infeksi menular seksual pada para pengguna kondom. Dari banyak studi juga diketahui bahwa kondom efektif mencegah HIV. Di samping angka penggunaan kondom pada masyarakat Indonesia masih rendah, penyebab kegagalan proteksi diyakini hanyalah karena satu alasan: kesalahan penggunaan kondom. Pengetahuan masyarakat tentang kondom masih sangat rendah sehingga orang masih belum menggunakannya secara tepat. Kegagalan kondom lebih sering disebabkan pemakainya tidak menggunakannya dengan benar, dan bukan karena mutu kondom itu sendiri. Juga karena lekatnya cap buruk yang dilabelkan masyarakat terhadap kondom menjadikan akses untuk membeli dan kecermatan penggunaannya menjadi tidak maksimal. Masih banyak orang yang malu untuk membeli kondom padahal memerlukannya. Demikian pula masih banyak yang tidak memperhatikan cara penggunaan yang baik, tidak memperhatikan masa kedaluwarsa kondom, masih banyak yang menyimpan di dompet atau di tempat yang panas dan terlampau lembab, dan masih banyak yang keliru dalam memasangnya selama hubungan seksual. Bila
digunakan secara benar dan konsisten, kondom mempunyai peranan penting dalam kesehatan umum masyarakat, khususnya dalam pencegahan infeksi menular seksual, termasuk HIV dan Hepatitis B. Penggunaan kondom yang baik akan mengurangi risiko terinfeksi penyakit-penyakit tersebut, bagi mereka yang tidak mampu berpuasa seks. Apa saja yang paling sering menjadi penyebab kegagalan penggunaan kondom? Yang paling sering dan mungkin adalah: Penyimpanan kondom yang tidak baik. Sering kali disimpan di dompet yang ketat dan panas sehingga bahan lateks bisa mengalami kerusakan, atau malah di tempat yang terlalu lembab dan berjamur Pemakaian kondom yang sudah kadaluarsa. Tentu saja jika digunakan akan menghilangkan daya proteksinya karena kondom berbahan lateks menjadi kehilangan kelenturan, kehilangan cairan pelumas sehingga mudah robek. Pemakaian kondom dalam keadaan mabuk. Ini tentu saja membuat penggunanya tidak bisa menggunakan secara tepat, atau terlepas saat menggunakannya. Kondom tersebut robek ketika dibuka dari bungkusan. Bisa jadi karena tidak cermat saat membuka, atau karena terkena kuku sehingga mengakibatkan robek.
Ini semua perlu diperhatikan, agar tidak gagal menggunakan kondom, karena sesungguhnya yang unik dari kondom adalah dalam fungsinya, yang tidak bisa dimiliki oleh alat kontrasepsi lain. Kondom memiliki fungsi ganda yaitu untuk mencegah penularan infeksi menular seksual juga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi. Hingga saat ini kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling efektif untuk mengurangi risiko penularan penyakit seksual. Suntik KB, pil KB, spiral atau IUD hingga susuk KB tidaklah mampu mencegah infeksi menular seksual. Bahkan vasektomi atau pemotongan saluran sperma pada laki-laki pun tidak mampu mencegah infeksi menular seksual. Satu lagi, jika ada orang yang sudah mengetahui dirinya mengidap infeksi menular seksual harusnya tetap menggunakan kondom untuk mencegah penularan pada pasangannya. Harus juga diperhatikan, apakah pasangan seksual juga mengalami keluhan yang sama, dan sudah sebaiknya diperiksakan juga ke dokter untuk menuntaskan bersama gangguan dan keluhan penyakit yang ada. Sudah sebaiknya juga, bila telah melakukan hubungan seksual yang berisiko dan tidak setia dengan pasangan agar melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui lebih dini apakah terinfeksi HIV juga.
Kirim surat Anda ke Redaksi T okoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
12
Kuliner
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Sambel Bejek Jika sedang melintas di jalan raya Belayu menuju Margarana Tabanan, Anda akan melihat satu warung nasi sederhana yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Warung ini terlihat jelas dari jalan raya. Letaknya di Banjar Gunung Siku Belayu. Bangunannya tanpa dinding, beratap asbes, dan berlantai tanah. Sangat sederhana. Namun, tiap hari pengunjung harus antri untuk merasakan segar dan nikmatnya sambal warung ini. Ada yang duduk di kursi kayu panjang, ada juga lesehan di bale. Inilah warung nasi Belayu Sambel Bejek.
Soto
eperti namanya, sambel bejek adalah menu andalan warung ini. Namun, sambel bejek ini tidak berdiri sendiri. Ayam suwir-suwir menjadi penemannya yang di-bejek (dicampur) dengan tangan bersama sambal khas racikan Pan Wiwin. Lelaki usia 44 tahun ini merupakan generasi kedua penerus warung nasi ini. Mulanya, ibunya, Men Kasih sebagai pencipta sambel bejek ini. Warung nasi ini sudah berdiri 8 tahun lalu. Menurut Pan Wiwin, sambel bejek merupakan makanan khas Belayu. Sambel bejek mirip dengan sambal matah khas Bali. Bedanya, sambal matah memakai terasi,
sedangkan sambel bejek tidak memakai terasi, dan menggunakan tambahan bongkot atau kecicang (semacam umbi-umbian). Campuran dari sambel bejek ini, bawang merah mentah yang diiris halus, dicampur dengan kecicang, cabai rawit potong dan garam. Ditambah lengis tandusan (minyak kelapa murni). Hanya itu, tapi keistimewaannya terletak pada bejekan tangan Pan Wiwin (cara mencampur sambal tersebut). Perpaduan sambal dan daging ayam benar-benar menyatu sampai tak terasa kalau di dalamnya ada bawang merah mentah. Seperti dituturkan Made, salah seorang konsumen yang mengatakan biasanya, dia tidak
suka dengan sambal dari irisan bawang merah mentah ini. Namun, setelah makan sambel bejek Pan Wiwin, ia takjum. “Biasanya saya tidak berani makan bawang mentah. Karena baunya yang menyengat. Tapi sambel bejek ini sangat beda, tak terasa sama sekali bawang merah mentahnya,” tutur lelaki karyawan swasta ini sembari mengelap keringatnya yang bercucuran lantaran kepedasan. Menurut Pan Wiwin, ia tidak mau membuat sambal dalam jumlah banyak. Dia hanya membuat antara tiga sampai lima porsi tiap satu kali proses pembuatan. Tujuannya, agar rasanya lebih segar dan tentu lebih enak. Bagi yang suka rasa pedas, bisa minta tambahan cabai potong lagi. Menu sambel bejek dihidangkan bersama nasi dan soto spesial. Soto bening ini berisi campuran bayam, toge, dan ayam suwir-suwir. Kemudian disiram dengan kuah panas dan diberi taburan brambang (bawang merah) goreng. Ayam suwir yang digunakan di dalam campuran soto sama dengan ayam suwir sambel bejek. Pertama, ayam direbus terlebih dahulu dengan basa genep. Setelah daging ayam matang, kemudian dipanggang. Setelah dipanggang siap digunakan untuk ayam suwirsuwir. Kuah rebusan ayam tadi, ia tambahkan air dan bumbu sebagai kuah soto. Dalam penyajian soto biasanya, Pan Wiwin langsung menambahkan kecap manis dan
Be siap sambal bejek
sedikit sambal cabai agar kuah soto lebih enak. Keahlian Pan Wiwin dalam membuat ayam suwir sangat terampil. Tanpa menoleh, ia sudah sangat mahir menyuwir daging ayam menjadi helaian yang sangat halus seperti benang. Begitu juga, irisan kecicang yang sangat tipis dan halus. Menurut Pan Wiwin, semua itu berkat kerja kerasnya belajar sejak duduk di bangku sekolah dasar. Aksi menyuwir daging ayam dan mengiris kecicang dan bawang merah menjadi tontonan menarik pembeli. Uniknya, konsumennya selain orang lokal Tabanan, juga dari beberapa wilayah di Bali, tamu luar Bali, termasuk turis asing. Bahkan, Pan Wiwin punya pelanggan setia dari Belanda dan Australia. “Setiap ke Bali, turis
itu pasti makan di sini,” kata Pan Wiwin. Satu porsi nasi sambel bejek ini dijual Rp 14 ribu. Warung buka mulai pukul 9 pagi dan tutup paling lambat pukul 1 siang. Saat mulai buka, sudah banyak pembeli yang mengantri. Menurut Pan Wiwin, walaupun pembelinya sangat ramai setiap hari ia belum tertarik untuk mengubah bentuk warungnya. “Cukup sederhana saja, agar mempunyai ciri khas,” kata Pan Wiwin yang sudah belajar meracik bumbu sejak SD ini. Sehari-hari Pan Wiwin dibantu istrinya dan 4 orang karyawan. Ia mengatakan sangat bangga, walau warungnya sangat sederhana, banyak pejabat sudah singgah dan makan di warungnya itu, salah satunya, Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. –Wirati Astiti
T
w o in one place, itulah yang Tokoh bisa katakan mengenai mengenai restoran Velvet Hypnotized.
Restoran yang terletak di RoofTop Beachwalk Kuta ini, menyajikan perpaduan indahnya sunset di pantai Kuta sambil menikmati hidangan dan merasakan hi ngar bingar malam di night club dalam satu tempat. Perpaduan indoor dan outdoor tempat ini menjadi nilai yang menarik un-
tuk datang ke sini. Anda akan langsung dimanjakan dengan pemandangan pantai yang indah. Anda akan merasakan angin pantai yang sejuk dengan kursi-kursi yang nyaman sambil menikmati hidangan pilihan Anda. Menyajikan menu internasional yang punya cita rasa tinggi sekaligus dengan harga yang terjangkau. Jam buka Velvet Hypnotized mulai pukul 11.00. Biasanya, momen sunset menjadi favorit pe ngunjung di tempat ini di area dinning-nya. Lalu ketika sudah di atas pukul 23.00 Anda bisa langsung menuju ke hypnotized
Aneka minuman
yang interiornya kental dengan nuansa Victorian modern dan juga dipenuhi kursi so fa berwa rn a red velvet yang elegan. Berdansa menikmati minuman dan juga menikmati musik dari DJ yang seru. Suasana restoran Velvet Hypnotized Walaupun Anda datang siang hari, tak off print. Sebelum pulang, Tomenghalangi kenyamanan yang koh berkesempatan mencoba Anda dapatkan. Seperti, ke- keeksotikan Velvet Hypnotized. datangan Tokoh yang sedang Sungguh memesona. –Wirati Astiti melihat-lihat lokasi untuk acara
Aneka pizza
Bebek Tumis Saus Tiram
Semur Daging Kecap Sarwan
Pan Wiwin saat mencampur ayam dengan sambel bejek
Bahan: 700 gr : daging sapi, potong tipis tipis 9 buah : bawang merah, cincang halus 4 siung : bawang putih, cincang halus 2 ruas : jari jahe, memarkan 1000 ml : air 1 sdt : lada bubuk 5 sdm : kecap manis 1 buah : tomat sedang, potong dadu 2 buah : kentang, potong me manjang jadi 6 atau 4 Gula, kaldu bubuk, lada bubuk, garam, minyak secukupnya Bawang putih goreng secukupnya
Sup Konro Pan Wiwin
13
Nikmati Eksotik Velvet Hypnotized
Belayu
Khas
S
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Bahan: 750 g : iga daging sapi, potong menurut selera 1,5 liter : air 3 ruas : jari kayu manis 4 butir : cengkih 3 lembar : daun salam 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 2 batang : daun bawang, iris halus
Cara membuat: - Tumis irisan bawang merah, bawang putih dan jahe hingga harum. Lalu masukkan daging, aduk-aduk hingga berubah warna. Masukkan air, masak dengan api sedang - Masukkan kecap manis dan
lada, biarkan hingga mendidih dan daging empuk. Lalu tambahkan gula, garam, kaldu bubuk, aduk-aduk hingga rata dan bumbu meresap. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
2 sdm : air rendaman asam jawa 2 sdm : bawang putih goreng Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya
Cara membuat: - Rebus irisan iga dengan air kayu manis, cengkih, daun salam, lengkuas dan air asam jawa. - Tumis bumbu halus sampai harum, lalu tuang tumisan bumbu halus ke dalam rebusan iga. Masak hingga bumbu meresap, iga empuk dan matang, lalu siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
Bumbu yang Dihaluskan: 9 buah : bawang merah. 4 siung : bawang putih. 1 sdt : lada butir. 1/2 sdt : pala 75 gr : kacang merah rebus 5 buah : kluwek, ambil dagingngya, rendam air panas
Bahan: 750 gr : daging bebek, potong memanjang 2 sdm : air jeruk nipis 4 siung : bawang putih, cincang halus 1 buah : bawang bombai, cincang kasar 3 ruas : jari jahe, memarkan 3 buah : cabe besar merah, cincang halus 10 buah : cabe rawit, cincang halus 1 buah : bawang pre, potong serong 3 sdm : saus tiram 2 sdm : kecap manis 3 sdm : saus raja rasa 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : tepung maizena, larutkan dengan air Air, maizena, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya
Cara membuat: - Lumuri daging bebek dengan air jeruk nipis, diamkan 5 menit lalu cuci hingga bersih, tiriskan. - Tumis irisan bawang bombai dan bawang putih hingga harum. Masukkan irisan bawang pre dan irisan cabe besar dan kecil, lalu masukkan daging bebek, aduk aduk hingga kecokelatan. Tambahkan air secukupnya, masukkan sisa-sisa bumbu lainnya kecuali tepung maizena. Masak hingga bebek empuk dan bumbu meresap, lalu biarkan hingga mengental, siram dengan tepung maizena yang sudah dicampur dengan air, aduk-aduk agar merata dan menggental. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
12
Kuliner
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Sambel Bejek Jika sedang melintas di jalan raya Belayu menuju Margarana Tabanan, Anda akan melihat satu warung nasi sederhana yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Warung ini terlihat jelas dari jalan raya. Letaknya di Banjar Gunung Siku Belayu. Bangunannya tanpa dinding, beratap asbes, dan berlantai tanah. Sangat sederhana. Namun, tiap hari pengunjung harus antri untuk merasakan segar dan nikmatnya sambal warung ini. Ada yang duduk di kursi kayu panjang, ada juga lesehan di bale. Inilah warung nasi Belayu Sambel Bejek.
Soto
eperti namanya, sambel bejek adalah menu andalan warung ini. Namun, sambel bejek ini tidak berdiri sendiri. Ayam suwir-suwir menjadi penemannya yang di-bejek (dicampur) dengan tangan bersama sambal khas racikan Pan Wiwin. Lelaki usia 44 tahun ini merupakan generasi kedua penerus warung nasi ini. Mulanya, ibunya, Men Kasih sebagai pencipta sambel bejek ini. Warung nasi ini sudah berdiri 8 tahun lalu. Menurut Pan Wiwin, sambel bejek merupakan makanan khas Belayu. Sambel bejek mirip dengan sambal matah khas Bali. Bedanya, sambal matah memakai terasi,
sedangkan sambel bejek tidak memakai terasi, dan menggunakan tambahan bongkot atau kecicang (semacam umbi-umbian). Campuran dari sambel bejek ini, bawang merah mentah yang diiris halus, dicampur dengan kecicang, cabai rawit potong dan garam. Ditambah lengis tandusan (minyak kelapa murni). Hanya itu, tapi keistimewaannya terletak pada bejekan tangan Pan Wiwin (cara mencampur sambal tersebut). Perpaduan sambal dan daging ayam benar-benar menyatu sampai tak terasa kalau di dalamnya ada bawang merah mentah. Seperti dituturkan Made, salah seorang konsumen yang mengatakan biasanya, dia tidak
suka dengan sambal dari irisan bawang merah mentah ini. Namun, setelah makan sambel bejek Pan Wiwin, ia takjum. “Biasanya saya tidak berani makan bawang mentah. Karena baunya yang menyengat. Tapi sambel bejek ini sangat beda, tak terasa sama sekali bawang merah mentahnya,” tutur lelaki karyawan swasta ini sembari mengelap keringatnya yang bercucuran lantaran kepedasan. Menurut Pan Wiwin, ia tidak mau membuat sambal dalam jumlah banyak. Dia hanya membuat antara tiga sampai lima porsi tiap satu kali proses pembuatan. Tujuannya, agar rasanya lebih segar dan tentu lebih enak. Bagi yang suka rasa pedas, bisa minta tambahan cabai potong lagi. Menu sambel bejek dihidangkan bersama nasi dan soto spesial. Soto bening ini berisi campuran bayam, toge, dan ayam suwir-suwir. Kemudian disiram dengan kuah panas dan diberi taburan brambang (bawang merah) goreng. Ayam suwir yang digunakan di dalam campuran soto sama dengan ayam suwir sambel bejek. Pertama, ayam direbus terlebih dahulu dengan basa genep. Setelah daging ayam matang, kemudian dipanggang. Setelah dipanggang siap digunakan untuk ayam suwirsuwir. Kuah rebusan ayam tadi, ia tambahkan air dan bumbu sebagai kuah soto. Dalam penyajian soto biasanya, Pan Wiwin langsung menambahkan kecap manis dan
Be siap sambal bejek
sedikit sambal cabai agar kuah soto lebih enak. Keahlian Pan Wiwin dalam membuat ayam suwir sangat terampil. Tanpa menoleh, ia sudah sangat mahir menyuwir daging ayam menjadi helaian yang sangat halus seperti benang. Begitu juga, irisan kecicang yang sangat tipis dan halus. Menurut Pan Wiwin, semua itu berkat kerja kerasnya belajar sejak duduk di bangku sekolah dasar. Aksi menyuwir daging ayam dan mengiris kecicang dan bawang merah menjadi tontonan menarik pembeli. Uniknya, konsumennya selain orang lokal Tabanan, juga dari beberapa wilayah di Bali, tamu luar Bali, termasuk turis asing. Bahkan, Pan Wiwin punya pelanggan setia dari Belanda dan Australia. “Setiap ke Bali, turis
itu pasti makan di sini,” kata Pan Wiwin. Satu porsi nasi sambel bejek ini dijual Rp 14 ribu. Warung buka mulai pukul 9 pagi dan tutup paling lambat pukul 1 siang. Saat mulai buka, sudah banyak pembeli yang mengantri. Menurut Pan Wiwin, walaupun pembelinya sangat ramai setiap hari ia belum tertarik untuk mengubah bentuk warungnya. “Cukup sederhana saja, agar mempunyai ciri khas,” kata Pan Wiwin yang sudah belajar meracik bumbu sejak SD ini. Sehari-hari Pan Wiwin dibantu istrinya dan 4 orang karyawan. Ia mengatakan sangat bangga, walau warungnya sangat sederhana, banyak pejabat sudah singgah dan makan di warungnya itu, salah satunya, Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. –Wirati Astiti
T
w o in one place, itulah yang Tokoh bisa katakan mengenai mengenai restoran Velvet Hypnotized.
Restoran yang terletak di RoofTop Beachwalk Kuta ini, menyajikan perpaduan indahnya sunset di pantai Kuta sambil menikmati hidangan dan merasakan hi ngar bingar malam di night club dalam satu tempat. Perpaduan indoor dan outdoor tempat ini menjadi nilai yang menarik un-
tuk datang ke sini. Anda akan langsung dimanjakan dengan pemandangan pantai yang indah. Anda akan merasakan angin pantai yang sejuk dengan kursi-kursi yang nyaman sambil menikmati hidangan pilihan Anda. Menyajikan menu internasional yang punya cita rasa tinggi sekaligus dengan harga yang terjangkau. Jam buka Velvet Hypnotized mulai pukul 11.00. Biasanya, momen sunset menjadi favorit pe ngunjung di tempat ini di area dinning-nya. Lalu ketika sudah di atas pukul 23.00 Anda bisa langsung menuju ke hypnotized
Aneka minuman
yang interiornya kental dengan nuansa Victorian modern dan juga dipenuhi kursi so fa berwa rn a red velvet yang elegan. Berdansa menikmati minuman dan juga menikmati musik dari DJ yang seru. Suasana restoran Velvet Hypnotized Walaupun Anda datang siang hari, tak off print. Sebelum pulang, Tomenghalangi kenyamanan yang koh berkesempatan mencoba Anda dapatkan. Seperti, ke- keeksotikan Velvet Hypnotized. datangan Tokoh yang sedang Sungguh memesona. –Wirati Astiti melihat-lihat lokasi untuk acara
Aneka pizza
Bebek Tumis Saus Tiram
Semur Daging Kecap Sarwan
Pan Wiwin saat mencampur ayam dengan sambel bejek
Bahan: 700 gr : daging sapi, potong tipis tipis 9 buah : bawang merah, cincang halus 4 siung : bawang putih, cincang halus 2 ruas : jari jahe, memarkan 1000 ml : air 1 sdt : lada bubuk 5 sdm : kecap manis 1 buah : tomat sedang, potong dadu 2 buah : kentang, potong me manjang jadi 6 atau 4 Gula, kaldu bubuk, lada bubuk, garam, minyak secukupnya Bawang putih goreng secukupnya
Sup Konro Pan Wiwin
13
Nikmati Eksotik Velvet Hypnotized
Belayu
Khas
S
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Bahan: 750 g : iga daging sapi, potong menurut selera 1,5 liter : air 3 ruas : jari kayu manis 4 butir : cengkih 3 lembar : daun salam 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 2 batang : daun bawang, iris halus
Cara membuat: - Tumis irisan bawang merah, bawang putih dan jahe hingga harum. Lalu masukkan daging, aduk-aduk hingga berubah warna. Masukkan air, masak dengan api sedang - Masukkan kecap manis dan
lada, biarkan hingga mendidih dan daging empuk. Lalu tambahkan gula, garam, kaldu bubuk, aduk-aduk hingga rata dan bumbu meresap. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
2 sdm : air rendaman asam jawa 2 sdm : bawang putih goreng Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya
Cara membuat: - Rebus irisan iga dengan air kayu manis, cengkih, daun salam, lengkuas dan air asam jawa. - Tumis bumbu halus sampai harum, lalu tuang tumisan bumbu halus ke dalam rebusan iga. Masak hingga bumbu meresap, iga empuk dan matang, lalu siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
Bumbu yang Dihaluskan: 9 buah : bawang merah. 4 siung : bawang putih. 1 sdt : lada butir. 1/2 sdt : pala 75 gr : kacang merah rebus 5 buah : kluwek, ambil dagingngya, rendam air panas
Bahan: 750 gr : daging bebek, potong memanjang 2 sdm : air jeruk nipis 4 siung : bawang putih, cincang halus 1 buah : bawang bombai, cincang kasar 3 ruas : jari jahe, memarkan 3 buah : cabe besar merah, cincang halus 10 buah : cabe rawit, cincang halus 1 buah : bawang pre, potong serong 3 sdm : saus tiram 2 sdm : kecap manis 3 sdm : saus raja rasa 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : tepung maizena, larutkan dengan air Air, maizena, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya
Cara membuat: - Lumuri daging bebek dengan air jeruk nipis, diamkan 5 menit lalu cuci hingga bersih, tiriskan. - Tumis irisan bawang bombai dan bawang putih hingga harum. Masukkan irisan bawang pre dan irisan cabe besar dan kecil, lalu masukkan daging bebek, aduk aduk hingga kecokelatan. Tambahkan air secukupnya, masukkan sisa-sisa bumbu lainnya kecuali tepung maizena. Masak hingga bebek empuk dan bumbu meresap, lalu biarkan hingga mengental, siram dengan tepung maizena yang sudah dicampur dengan air, aduk-aduk agar merata dan menggental. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
14
Jelita
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Tetap Segar dan Menarik di Rumah Sebagai seorang ibu rumah tangga, dapat dikatakan hampir 90% aktivitas yang dilakukannya di rumah. Begitu juga dengan usaha yang dijalankan semuanya bisa ditangani dari rumah, sehingga ia merasa tidak perlu berdandan apalagi mengenakan make up .
M
enurut Ida Rohida, pemilik Syafira Salon & Spa di Mataram ini, memang saat ini berhias bagi seseorang yang merasa hanya berdiam di rumah saja belum menjadi kebiasaan. Padahal, diam di rumah ataupun mereka menjalankan usaha dari rumah, bukan tidak mungkin akan menerima kunjungan tamu atau calon pembeli yang ingin melihat langsung. “Untuk ini alangkah baiknya, jika kita sebagai tuan rumah menerima tamu dalam kondisi yang rapi dan cantik.,” saran Ida Rohida. Ida Rohida juga mengatakan bukan berarti ketika berkegiatan hanya di dalam rumah, seorang perempuan tidak menjaga penampilannya termasuk tidak bersentuhan dengan alat –alat kecantikan. Sebagai seorang penata rias atau make up artis, baginya meski kita hanya di rumah tidak ada salahnya tetap menjaga penampilan, tampil cantik dengan sentuhan make up minimalis untuk kesan lebih segar. Dikatakannya pula , adalah sangat baik jika kita membiasakan diri berpenampilan rapi, wangi, dan menggunakan riasan wajah saat berada di rumah. “Sehingga saat ada tamu dating bahkan termasuk ketika suami dan anak-anak pulang, kondisi kita selalu segar tidak kucel,” ucapnya. Semua memang harus dijaga lanjutnya, baik itu kecantikan luar maupun kecantikan dari dalam (inner beauty). “Kecantikan luar dan inner beauty adalah kecantikan sejati, keduanya memiliki keterkaitan erat, tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan, rasanya tidak seorang perempuan pun yang tidak suka tampil cantik. Apalagi yang tercatat sebagai seorang istri,” katanya. Namun ,yang harus diingat kata Ida Rohida, Tuhan menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.Jadi, bagi kita yang berjenis kelamin perempuan, sudah pasti cantik. Kemudian, salah satu cara kita untuk bersyukur kepada sang pencipta atas karunia -Nya tersebut adalah dengan menjaga dan merawatnya. Untuk menjaga dan merawat wajah, katanya cukup dan bisa dilakukan di rumah. Sedangkan untuk menjaga penampilan sehari-hari, dapat menggunakan bantuan
kosmetik yang sesuai, dan tidak sembarangan atau bukan kosmetik illegal. “Nah, untuk selalu terlihat segar , jangan malas merias diri walau di rumah. Semua bisa dilakukan sendiri dan karena jika sudah biasa tidak memerlukan waktu lama,” cetusnya. Ida Rohida juga kembali menyatakan betapa pentingnya perempuan menyadari perlu berpenampilan rapi dan wangi selama di rumah. Bagaimanapun, tidak semata untuk keb a hagiaan rumah tangga, tapi juga bernilai untuk diri sendiri, menjadikan kita lebih bersemangat. “Make up atau tata rias dapat menjadi andalan untuk membantu membuat sedikit perubahan pada penampilan kita. Yang tadinya biasa berubah menjadi lebih cantik namun tetap alami,”pungkasnya. –Sri Ardhini
Tips Mengaplikasikan Make up Natural
l Sebelum memoleskan alat-alat make up di wajah, sebaiknya bersihkan wajah terlebih dahulu. Setelah dibersih kan gunakan pelembab yang sesuai dengan jenis dan warna kulit. l Kemudian oleskan tipis-tipis foundation yang sesuai dengan warna kulit, agar lebih terlihat natural dan alami. Dilanjutkan dengan memakai bedak tabur maupun bedak padat. Untuk ini gunakan kuas agar bedak menutup wajah dengan sempurna. Setelahnya, oleskan eyeshadow warna lembut dan natural. lDemi wajah terlihat lebih segar dan bercahaya, pemilik warna kulit putih, bisa mengoleskan warna eyeshadow yang sedikirt terang dan bagi kulit kuning langsat, dapat memakai warna coklat. Selanjutnya untuk lebih menghidupkan wajah rapikan alis dengan eyebrow atau pensil alis. lRiadsan wajah dapat dilengkapi dengan eyeliner yang fungsinya memperindah kelopak mata. Jika ingin menggunakan maskara, cukup lakukan satu kali sapuan, agar lebih natural. Sentuhan berikutnya adalah lipstik berwarna natural, atau satu tingkat di atas warna bibir. Langkah terakhir untuk make up simpel dan natural ini ,adalah poleskan tipis-tipis blush on berwarna natural untuk kesan fresh alami. – Sri Ardhini
Mitos
B
erbagai mitos tentang kebutuhan gizi dalam tubuh, sering kita dengar. Namun, seringkali mitos ini keliru. Karena itu, pada edisi kali ini Tokoh menghadirkan ahli gizi RS Sanglah Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih,M. Sc., Akp. Sp.GK, untuk meluruskannya. Berikut penjelasannya.
Mitos: Gula menyebabkan diabetes Fakta: Diabetes tak semata-mata karena kelebihan gula. Penyebab diabetes adalah, pertama, karena kekurangan insulin, kedua dikarenakan insulinnya resisten, sehingga tak mampu merubah gula menjadi bentuk lain. Insulin adalah hormon yang merubah gula menjadi bentuk lain yang bisa dimanfaatkan tubuh. Resisten itu terjadi pada orang gemuk, yang biasanya kelebihan mengonsumsi makanan. Sehingga, gula yang dihasilkan makan tidak mampu dirubah lagi.
Edisi 855/29 juni - 5 juli 2015
Gula Sebabkan Diabetes? Semetara kekurangan insulin, bisa karena faktor keturunan atau penyakit (yang bisa merusak organ penghasil insulin). Jadi, bukan tidak mengonsumsi gula (makanan manis-manis) untuk mencegah diabetes. Lebih tepatnya, untuk mencegah diabetes, kurangi konsumsi makanan yang dapat meningkatkan kadar gula cepat dalam darah. Yaitu, makanan yang mengandung gula sederhana dan memiliki kandungan serat yang rendah, seperti tepung-tepungan, gula, dan beberapa jenis buah berkadar gula tinggi seperti kurma, kismis, dan pisang. Mitos: Semua lemak buruk Fakta: Tidak semua lemak buruk, ada lemak baik dan lemak jahat. Namun, tidak baik mengonsumsi lemak melebihi 30 persen dari total kalori. Yang tergolong lemak “jahat” adalah lemak yang berasal dari sumber hewan terutama hewan darat, lemak yang dipanaskan dengan suhu yang tinggi (supaya menjadi krispi), dan lemak yang bersumber dari minyak yang dipakai berulang (jelantah). Lemak yang “baik” adalah lemak yang bersumber dari buah-buahan, seperti alpokat, kacang-kacangan, dan lemak dari ikan. Mitos: Gula cokelat/merah/ palm sugar lebih baik dibanding gula putih Fakta : Sampai saat ini belum ada data ilmiah yang
Kondom Gagal “Mau tanya dok, saya sempat melakukan kesalahan dan tergoda beberapa kali berhubungan seksual dengan orang lain yang bukan istri saya, saya melakukannya dengan beberapa teman kerja perempuan di kantor saya. Karena takut tertular infeksi kelamin, saya selalu menggunakan kondom. Tetapi saya sempat baca-baca kalau kondom katanya juga bisa gagal saat digunakan, misalnya karena bocor. Itu bagaimana dok? Bisa dijelaskan lagi?” (Robbie,29 thn)
K
etika seseorang melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan proteksi dan pencegahan, sebenarnya dia sudah mengundang risiko pada dirinya, bahkan pada keluarganya. Hubungan seksual yang berisiko tinggi merupakan penyebab utama penularan infeksi menular seksual, seperti gonore, kutil kelamin, herpes, sifilis, klamidia termasuk HIV AIDS. Karenanya memang benar bahwa kondom adalah hanya dan satu-satunya alat
11
pelindung yang telah terbukti dapat mengurangi risiko infeksi menular seksual termasuk HIV & AIDS selama orang yang berisiko tidak bisa kembali melakukan pencegahan buat tidak melakukan hubungan seksual gonta ganti pasangan seksual. Seberapa efektif sebenarnya penggunaan kondom? Berdasarkan studi pada orang-orang yang berperilaku seksual berisiko tinggi, dari 100 orang hanya kurang dari 1 orang yang akhirnya tertular infeksi menular seksual pada kelompok
menunjang bahwa gula merah lebih baik dibandingkan gula putih. Walaupun, dalam proses pembuatannya, gula merah lebih natural karena hanya dipanaskan, dibandingkan dengan gula putih yang dikristalkan. Mitos: Turunkan kolesterol dengan pantang makan seafood Fakta: Memang jenis seafood mengandung kolesterol, tetapi cara memasaknyalah yang menyebabkan kadar kolesterolnya makin tinggi. Mengonsumsi seafood dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah, sehingga orang yang menderita ganguan asam urat sebaiknya menghindari makan seafood. Mitos: Hindari karbohidrat agar berat badan cepat turun Fa kta : Bukan menghindari karbohidrat, tetapi mengurangi
total energi. Memang karbohidrat dan lemak adalah sumber energi utama. Bilamana karbohidrat terlalu tinggi ditambah dengan asupan lemak yang tinggi, maka kelebihan energi yang dihasilkan akan disimpan dalam bentuk lemak. Asupan lemak akan lebih meningkat jika makanan diproses dengan menggunakan minyak, misalkan digoreng ato dibakar dengan minyak, di samping makanan yang memang mengandung lemak tinggi. Inilah yang menyebabkan kegemukan. Untuk menurunkan berat badan, yang dilakukan adalah mengurangi jumlah energi dengan mengonsumsi makanan yang kndungan karbohidratnya rendah dan tinggi serat, seperti sayur-sayuran, dan umbiumbian.
Mitos: Hindari kacangkacangan karena berlemak Fakta: Kacang-kacangan memang mengandung lemak, tetapi lemak dalam kacang banyak yang baik. Di samping memang kacang banyak mengandung protein. Dengan mengonsumsi jumlah kacang yang tidak berlebihan, tidak akan meningkatkan kadar lemak dalam darah/tubuh. Mitos: Vegan berisiko menderita anemia Fakta: Benar, karena vegan (orang yang vegetarian) itu sama sekali tak mengonsumsi makanan dari sumber hewani. Sementara dalam tanaman, kandungan, vitamin B12 hampir tidak ada. Vitamin B12 ini merupakan bagian daripada sel darah merah. Jika Vitamin B12 ini tidak ada, akibatnya sel darah merah tidak terbentuk. Inilah yang menyebabkan anemia. –Inten Indrawati
pengguna kondom. Secara medis dan epidemiologis sudah terbukti bahwa akan terjadi penurunan risiko penularan infeksi menular seksual pada para pengguna kondom. Dari banyak studi juga diketahui bahwa kondom efektif mencegah HIV. Di samping angka penggunaan kondom pada masyarakat Indonesia masih rendah, penyebab kegagalan proteksi diyakini hanyalah karena satu alasan: kesalahan penggunaan kondom. Pengetahuan masyarakat tentang kondom masih sangat rendah sehingga orang masih belum menggunakannya secara tepat. Kegagalan kondom lebih sering disebabkan pemakainya tidak menggunakannya dengan benar, dan bukan karena mutu kondom itu sendiri. Juga karena lekatnya cap buruk yang dilabelkan masyarakat terhadap kondom menjadikan akses untuk membeli dan kecermatan penggunaannya menjadi tidak maksimal. Masih banyak orang yang malu untuk membeli kondom padahal memerlukannya. Demikian pula masih banyak yang tidak memperhatikan cara penggunaan yang baik, tidak memperhatikan masa kedaluwarsa kondom, masih banyak yang menyimpan di dompet atau di tempat yang panas dan terlampau lembab, dan masih banyak yang keliru dalam memasangnya selama hubungan seksual. Bila
digunakan secara benar dan konsisten, kondom mempunyai peranan penting dalam kesehatan umum masyarakat, khususnya dalam pencegahan infeksi menular seksual, termasuk HIV dan Hepatitis B. Penggunaan kondom yang baik akan mengurangi risiko terinfeksi penyakit-penyakit tersebut, bagi mereka yang tidak mampu berpuasa seks. Apa saja yang paling sering menjadi penyebab kegagalan penggunaan kondom? Yang paling sering dan mungkin adalah: Penyimpanan kondom yang tidak baik. Sering kali disimpan di dompet yang ketat dan panas sehingga bahan lateks bisa mengalami kerusakan, atau malah di tempat yang terlalu lembab dan berjamur Pemakaian kondom yang sudah kadaluarsa. Tentu saja jika digunakan akan menghilangkan daya proteksinya karena kondom berbahan lateks menjadi kehilangan kelenturan, kehilangan cairan pelumas sehingga mudah robek. Pemakaian kondom dalam keadaan mabuk. Ini tentu saja membuat penggunanya tidak bisa menggunakan secara tepat, atau terlepas saat menggunakannya. Kondom tersebut robek ketika dibuka dari bungkusan. Bisa jadi karena tidak cermat saat membuka, atau karena terkena kuku sehingga mengakibatkan robek.
Ini semua perlu diperhatikan, agar tidak gagal menggunakan kondom, karena sesungguhnya yang unik dari kondom adalah dalam fungsinya, yang tidak bisa dimiliki oleh alat kontrasepsi lain. Kondom memiliki fungsi ganda yaitu untuk mencegah penularan infeksi menular seksual juga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi. Hingga saat ini kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling efektif untuk mengurangi risiko penularan penyakit seksual. Suntik KB, pil KB, spiral atau IUD hingga susuk KB tidaklah mampu mencegah infeksi menular seksual. Bahkan vasektomi atau pemotongan saluran sperma pada laki-laki pun tidak mampu mencegah infeksi menular seksual. Satu lagi, jika ada orang yang sudah mengetahui dirinya mengidap infeksi menular seksual harusnya tetap menggunakan kondom untuk mencegah penularan pada pasangannya. Harus juga diperhatikan, apakah pasangan seksual juga mengalami keluhan yang sama, dan sudah sebaiknya diperiksakan juga ke dokter untuk menuntaskan bersama gangguan dan keluhan penyakit yang ada. Sudah sebaiknya juga, bila telah melakukan hubungan seksual yang berisiko dan tidak setia dengan pasangan agar melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui lebih dini apakah terinfeksi HIV juga.
Kirim surat Anda ke Redaksi T okoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
10
Bugar
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Mechanical Thrombectomy dr. Putu Gde Budhi Setiawan, Sp.BS Penulis adalah Spesialis Bedah Syaraf di Siloam Hospitals Bali
Pembuluh darah ialah jaringan penting dalam tubuh manusia, yang terhubung ke seluruh jaringan dan organ-organ tubuh manusia (jantung, paru, otak, ginjal, hati, dan organ tubuh lainnya) sebagai satu kesatuan sistem yang saling berhubungan 1 dengan yang lainnya. Pembuluh darah memiliki 3 lapisan yaitu tunika intima, tunika media dan tunika adventisia. Pembuluh darah secara garis besar terbagi atas pembuluh dr. Putu Gde Budhi Setiawan, Sp.BS darah bersih (arteri) dan pembuluh darah kotor (Vena), dimana kedua jenis pembuluh darah ini memiliki fungsi tersendiri.
Pembuluh darah otak, terhubung dengan jantung sebagai pemompa komponen darah bersih melalui arteri dan menerima komponen darah kotor melalui vena. Ukur an dari pembuluh darah otak bervariasi sesuai dengan usia, jenis kelamin, tekanan darah, ukuran tubuh, dan faktor lainnya. Semakin dalam pembuluh darah otak masuk memvaskularisasi otak, ukuran pembuluh darah otak semakin kecil. Rata2 ukuran arteri maupun vena pembuluh darah otak bervariasi, berkisar 0,8 cm - 0,2 cm. Thrombus ialah hasil dari komponen koagulasi/ pembekuan pembuluh darah setelah melalui tahap hemostasis. Thrombus pada umumnya bersifat fisiologis, namun pada keadaan tertentu dapat bersifat patologis. Thrombus fisiologis terbentuk dengan tujuan menutup pembuluh darah yang robek, sehingga mengurangi proses perdarahan dan memudahkan proses kesem-
buhan dari pembuluh darah yang robek. Thrombus patologis terbentuk pada orang dengan faktor resiko seperti Hipertensi, penyakit jantung bawaan, penyakit jantung koroner, obesitas, merokok, riwayat stroke ringan (Transient Ischemic Attack), dan faktor risiko lainnya, dimana thrombus ini terbentuk dengan sendiri nya didalam lapisan pembuluh darah, salah satunya pembuluh darah otak. Thrombus patologis ini sewaktu waktu bisa terlepas, baik sebagian maupun total, se hingga mengalir ke pembuluh darah otak dengan ukuran yang lebih kecil dan menimbulkan sumbatan. Bagian thrombus ini disebut dengan nama embolus. Proses penyumbatan pembuluh darah otak ini, pada akhirnya secara klinis menimbulkan gejala Stroke Ischemic/ Stroke non Hemorrhagic.
Style
Perpaduan Gaya Maskulin dan Feminin
Ranni Hatta seorang desainer busana muslim yang tengah naik daun, pekan ini memilihkan karyanya untuk penggemar rubrik Style Tokoh. Busana muslim ready-to-wear deluxe di bawah label namanya ini, bercerita tentang seorang perempuan detektif bernama Jane yang dikelilingi dan harus mengimbangi koleganya yang mayoritas kaum laki-laki.
L
ulusan LPTB Susan Budihardjo ini menampilkan karyanya dengan memadankan jas panjang berpotongan tegas khas pria dengan rok panjang Stroke adalah penyebab kematian nomor satu di Indonesia, berdasar penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013. (http://www.litbang. depkes.go.id/node/639) Prevalensi menurut jenis kelamin, lebih banyak pada laki - laki dibandingkan perempuan. Kelompok umur penderita stroke tertinggi yaitu pada kelompok umur 50-70 tahun, dan semakin hari trend kejadian stroke berdasarkan umur semakin banyak pada usia yang lebih muda. Mechanical Thrombectomy ialah metode minimal invasive dalam penatalaksanaan terapi stroke ischemic /stroke non hemorrhagic. Metode ini dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas ruang CATH LAB/ruangan kateterisasi pembuluh darah. Tindakan dilakukan dibawah general anestesi atau local anestesi, sesuai dengan diagnosis dan indikasi pasien. Tindakan ini bersifat kegawat daruratan/emergency, diharapkan dengan melakukan tindakan dini, dapat memperbaiki gejala klinis yang dialami pasien dan mengurangi resiko morbiditas pasien. Mechanical thrombectomy tidak serta merta dilakukan begitu saja, karena pertimbangan klinis, diagnosis, prognosis dan keuntungan bagi pasien serta indikasi dalam dilakukannya tindakan ini.
Tindakan minimal invasive mechanical thrombectomy ini diharapkan menjadi salah satu metode dalam mengurangi angka kecacatan/morbiditas pada penderita stroke ischemic/stroke non hemoragic akut, bagi penderita dengan faktor resiko stroke sperti hipertensi, kelainan jantung, stres, merokok, hiperkolesterol, obesitas, dan faktor risiko lainnya, semestinya untuk melakukan pemeriksaan rutin guna mengevaluasi adanya risiko stroke di kemudian hari, karena pencegahan lebih baik daripada mengobati. Semakin dini penderita stroke mendapat penanganan (< 6jam pasca serangan), perbaikan klinis dan tingkat kecacatan diharapkan lebih baik.
TIME is BRAIN. TIME LOST is BRAIN LOST. Sumber :
http://www.uptodate.com/contents/initialassessment-and-management-of-acute-stroke http://stroke.ahajournals.org/content/37/12/3019.full
Randomized Assessment of Rapid Endovascular Treatment of Ischemic Stroke download by The New England Journal of Medicine, 2015
melambai ala perempuan yang lincah gemulai. Sebentar kemudian, sosok Jane yang menjadi inspirasinya tampil memanjangkan garis pinggang jaket bomber hingga sebatas paha dan memadukannya
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
dengan rok panjang a-line berlipit-lipit di bagian pinggang. Pendek kata, Jane hadir dalam gaya feminin-maskulin milik Rani yang mempertemukan rok dengan jaket, atau celana panjang berpipa lurus dengan blus longgar, dengan warna monokromatis hitam, putih, dan abu-abu, serta garis busana yang meleluasakan gerak untuk mendukung kebebasan dalam menjalankan tugas. Namun, bukan hanya bentuk yang secara jeli dicampurkan oleh Rani dalam satu ‘look’ saja, bahan juga ikut menjadi sasarannya dalam mencampuradukkan ide, misalnya memadankan bahan interlock dengan sutera poliester. Lalu ada juga bahan kaus, hingga wol. –Sri Ardhini
15
16
Edukasi
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Baksos IKIP PGRI Bali Tahun 2015
Bedah 3 Rumah di Tampaksiring Bakti sosial mahasiswa IKIP PGRI Bali tahun 2015 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat kembali digelar, Kamis (25/6) s.d. Sabtu (27/6). Kali ini baksos mengambil tempat di Desa Manukaya, Tampaksiring, Gianyar, sebuah desa yang penuh sejarah dan kaya dengan nilai historis. Diikuti 739 mahasiswa dengan 295 panitia.
P
embukaan dilaksanakan di Wantilan Pura Tirta Empul, dihadiri Bupati Gianyar yang diwakili Kabid Dikmen Disdikpora Gianyar, Camat Tampaksiring, Jro Bendesa Manukaya, para kelian banjar seDesa Manukaya, masyarakat Tampaksiring, serta civitas akademika IKIP PGRI Bali. Ketua Panitia Baksos, Dr. I Made Darmada, M. Pd. mengatakan baksos yang mengusung tema “Melalui Baksos Mahasiswa
IKIP PGRI Bali dapat Meningkatkan Pengabdian pada Masyarakat untuk Pembudayaan SDM Pendidik yang Berkarakter dan Berbudaya” ini diharapkan dapat memperkaya materi pada pengabdian IKIP PGRI Bali bagi masyarakat melalui visi IKIP PGRI Bali yang berwawasan kemasyarakatan dan bersinergi dengan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya, baksos yang digelar di Tampaksiring ini diisi dengan program bedah rumah yang diberikan kepada tiga
Tiga warga Tampaksiring penerima bedah rumah berfoto bersama Rektor IKIP PGRI Bali Made Suarta, Ketua Yayasan Arthanegara, Ketua Panitia Baksos Made Darmada, dan Kabid Dikmen Disdikpora Gianyar
warga kurang mampu, atas nama I Made Mara dari Banjar Temen, Desa Manukaya; I Wayan Kredek (Banjar Tegalsaet, Desa Pejeng Kangin); dan I Made Astawa (Banjar Belusung Kaja, Desa Pejeng Kaja). Masingmasing penerima bedah rumah memperoleh bantuan sebesar Rp 25 juta. “Bedah rumah merupakan program kepedulian terhadap kemaslahatan yang paling hakiki. Karena itu, IKIP PGRI Bali yang merupakan
Penanaman tanaman upakara di area kawasa suci Pura Tirta Empul, dilakukan secara simbolis oleh perwakilan Bupati Gianyar yang menanam pohon pucuk sesuai maskot Gianyar, dilajutkan oleh Rektor Made Suarta, Ketua Yayasan Arthanegara, dan jajaran pejabat lain di Tampaksiring
institusi yang mengayomi kemanusiaan sangat peduli pada warga masyarakat kita yang betul-betul perlu dibantu dalam kepemilikian rumah,” ujar Made Darmada. Jadikan IKIP PGRI Bali sebagai Klinik Pendidikan Selain bedah rumah, baksos juga diisi dengan melaksanakan layanan kesehatan khususnya mata, serta pemberian kaca mata gratis pada masyarakat Tampaksiring, yang merupakan organ yang vital bagi kehidupan; gotong royong, penanaman pohon bersama, penyuluhan dan workshop untuk pengembangan profesi guru berupa PTK, PTBK, PTS, PT untuk pengawas, serta artikel sebagai strategi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang selanjutnya menjadikan IKIP PGRI Bali sebagai Klinik Pendidikan. Juga, diisi dengan pemahaman bahaya narkoba dan HIV/AIDS, membangun kreativitas masyarakat melalui bidang seni, persembahyangan bersama dan berbagai kegiatan yang membaur dengan masyarakat yang tak lain bertujuan agar para peserta baksos bisa melihat, mendalami, dan nantinya mampu memecahkan permasalahan dalam masyarakat yang sesungguhnya. Terkait program bedah rumah yang merupakan program tetap dari IKIP PGRI Bali, yang sudah dimulai sejak 2012, yakni di Kota Denpasar sebanyak 9 unit rumah,
Karangasem 3 rumah dan 3 sekolah (2013), Klungkung 3 rumah (2014), Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. mengatakan, tindakan kecil ini semata-mata bertujuan untuk turut serta membantu mengatasi masalah kemiskinan di Bali. Karena itu, penerima program bedah rumah ini diseleksi betul, bahkan Rektor Made Suarta turut terjun ke lapangan untuk mengetahui kondisi rumah masyarakat calon penerimanya. “Kami ingin agar program bedah rumah ini tepat sasaran,” ucapnya. Seperti kondisi rumah warga di Banjar Tegalsaet, yang dikatakannya benar-benar pantas untuk dibantu. “Saya langsung melihat ke lokasi, setengah atap rumahnya jebol. Dan ketika hujan, sudah dipastikan kehujanan. Dan yang paling membuat saya terharu, masyarakat di sana akan membantu secara bergotong royong untuk membangun rumah itu, sehingga nilai bantuan Rp 25 juta (tanpa dipotong biaya apa-apa) itu murni bisa untuk biaya lain-lain diluar biaya tukang (tenaga). Ada nilai gotong royong di sini yang patut diacungi jempol,” tutur Made Suarta. Selain itu, program lain yang disodorkan IKIP PGRI Bali dalam baksos ini sudah tentu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tampaksiring. Sesuai isu yang berkembang saat ini bahwa untuk naik golongan, para guru SD, SMP, SMA terganjal pada pembuatan karya tulis. Karena itu, IKIP PGRI Bali memberikan workshop membuat karya tulis dan membantu memediasinya untuk dimuat di Jurnal Ilmiah yang sudah ber-ISSN. Bupati Gianyar yang diwakili Kabid Dikmen Disdikpora Gianyar menyambut baik dan berterimakasih dengan baksos yang digelar IKIP PGRI Bali ini. Kegiatan ini dikatakannya tentu akan berdampak positif khususnya di lokasi baksos. Kegiatan ini pun diharapkannya bisa berkelanjutan, yang secara tak langsung dapat mempercepat tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat Tampaksiring. “Harapan Pemkab Gianyar, adik-adik mahasiswa yang sebentar lagi menamatkan pendidikannya di IKIP PGRI Bali, menjadi tenaga pndidik yang berkualitas yang diikuti dengan kualitas proses pendidikan (PBM), sesuai dengan harapan IKIP PGRI Bali, orangtua dan masyarakat,” tandasnya. –ten
Yoga tidak Dibatasi Usia Melakukan yoga dapat membantu kita menggapai keseimbangan secara mental, emosional, spiritual, dan fisik, yang berarti pula kita akan memperoleh kesehatan Begitu disampaikan Ketua TP PKK Gianyar, Ny. Dayu Surya Adnyani Mahayastra, saat mengajak para ibu melakukan kegiatan “Yoga Bersama” dengan menghadirkan Bunda Dian dari Pasraman Rsi Markandya, Kamis (25/5) di Balai Budaya Gianyar.
D
alam Kegiatan “Yoga Bersama “ yang dihadiri ibu-ibu PKK, para lansia di Gianyar juga beberapa pengurus WHDI Provinsi tersebut, Bunda Dian mengatakan, melakukan yoga tidak terhalangi batasi usia. Semua dapat turut berlatih yoga. Begitu juga tak ada masalah dengan status sosial, profesi maupun kedudukan seseorang. Bunda Dian yang sehariharinya mengajar yoga di Pasraman Rsi Markandya di kawasan Jalan Hayam Wuruk Denpasar ini, pada kesempatan tersebut
juga menyampaikan bahwa bicara yoga, saat ini masih banyak orang salah persepsi. Ia menegaskan kalau yoga bukan untuk mencari kelenturan tubuh, tetapi mencari keseimbangan, jasmani dan rohani yang sehat. Selain itu, lanjutnya dengan yoga pula aura seseorang akan lebih cerah, disamping menumbuhkan kedamaian, cinta kasih, dan segala bentuk kebaikan. Kemudian sambil memberi contoh dan mengajak peserta melakukan beberapa gerakan yang mudah untuk dilakukan kembali di rumah, ia juga mengatakan yoga yang diajarkannya sekaligus juga
Bunda Dian dan peserta lansia
Sebagain peserta yoga bersama Bunda Dian
sebagai seni penyembuhan, yakni berupa perpaduan teknik olah tubuh, olah rasa dan olah jiwa dengan titik konsentrasi pada kesadaran prana. Yoga memang bukan sekadar olah tubuh, tetapi juga olah jiwa dan pikiran. (mine, body and soul). Karena itu pula dikatakannya saat berlatih disarankan menutup mata supaya dapat fokus bermeditasi pada nafas, badan, dan pikiran. Apalagi masyarakat sekarang, katanya mulai menyadari bahwa mereka memerlukan bentuk kegiatan olahraga yang tidak hanya menekankan pada aspek fisik semata namun juga yang menyentuh aspek psikologis dan mental. Seluruh peserta yang hadir untuk “Yoga Bersama” nampak sangat antusias. Termasuk ketika diberikan kesempatan untuk bertanya , peserta juga ramai menyampaikan berbagai hal terkait yoga yang ingin mereka ketahui. Mereka juga berharap kegia-
tan Yoga Bersama di Gianyar dapat dilakukan terjadwal dan berkelanjutan. Khusus untuk para lansia serta peserta yang baru mengikuti yoga, Bunda Dian menyarankan untuk melakukan semua gerakan
di ujung kemampuan. Ia juga kembali menekankan bahwa yoga adalah jalan untuk mencapai keseimbangan, mempertahankan kesehatan menyeluruh, fisik , mental, dan spiritual. – Sri Ardhini
Dara
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
9
I Made Sulang Aryawan
Lebih Mudah Sampaikan ke Remaja Menjadi orang yang menyosialisasikan program-program keluarga berencana khususnya yang menyasar remaja merupakan salah satu tugas Duta GenRe (Generasi Berencana). Tugas ini ternyata tak hanya menyasar kaum remaja, karena orangtua pun wajib tahu tentang dunia remaja.
T
ahun 2015, Duta GenRe kategori putra dimenangkan I Made Sulang Aryuawan. Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini berhak mewakili Bali ke tingkat nasional. Berbagai persiapan dilakukan pria yang akrab disapa Sulang ini. “Saya les tari Jauk untuk ditampilkan saat pentas budaya. Semoga Duta GenRe Bali bisa berkibar di tingkat nasional,” ujarnya mantap. Sulang yang lahir 14 Mei 1995 menuturkan dirinya sudah yakin bisa menjadi jawara di ajang pemilihan Duta GenRe 2015. “Tahun 2014 saya sudah ikut menjadi peserta. Tetapi, kalah. Pengalaman di tahun 2014 menjadi modal bagi saya untuk ikut lagi di tahun 2015,” ujarnya. Keyakinan Sulang ternyata berbuah kenyataan. Semua proses ia lalui hingga menjadi juara I. Materi tentang pendewasaan usia perkawinan, triad KRR, delapan fungsi keluarga dan life skill ia kuasai merupakan modalnya untuk menjadi yang terbaik. Pembinaan dari kampus dan seniornya juga membuat Sulang makin yakin akan kemampuannya. “Waktu ikut tahun 2014, saya baru semester II sedangkan peserta lain ratarata semester IV. Persiapan saya juga kurang bagus sehingga saat tampil saya kalang kabut. Ini menjadi pelajaran bagi saya untuk mempersiapkan diri lebih baik,” kenang mahasiswa yang banyak memiliki prestasi dalam lomba karya tulis ini. Ia menambahkan seleksi di internal Poltekkes lebih berat karena ada 30 pasang yang ikut. Pasangan terbaiklah yang berhak menjadi Duta GenRe dari Poltekkes. Karena ketatnya seleksi, selalu ada Duta GenRe yang berasal dari Po l t e k k e s D e n p a s a r. Ini menunjukkan konsistensi kampus ini untuk menjadikan mahasiswanya berprestasi dalam bidang kependudukan dan keluarga berencana. B e k a t GenRe pula mahasiswa di Poltekkes Denpasar menjadi memahami bagaimana program kependudukan, keluarga berencana termasuk kesehatan reproduksi, apalagi
mereka banyak bergelut di bidang kesehatan. “Duta GenRe tidak hanya sekadar memakai selempang. Banyak hal yang kami lakukan untuk menunjang pemahaman para remaja, antara lain memberikan ceramah kepada siswa, Seka Teruna, hingga para orangtua,” ujar anak kedua pasangan I Ketut Raka Sudarma-Ni Ketut Putri ini. BEDA AUDIENS BEDA PENYAMPAIAN Memberikan ceramah tentang kesehata n reproduksi kini menjadi rutinitas Sulang. Pria yang bercita-cita menjadi ahli gizi dan punya usaha katering diet ini selalu memperhatikan siapa yang akan diberikan ceramah. “Kalau yang diberikan materi itu anak SMP, saya lebih banyak berbicara dibanding memberikan gambar. Kalau audiens remaja, apalagi yang mahasiswa, saya lebih banyak mengajak mereka diskusi. Kadang ada yang malu bertanya, saya pancing akhirnya mau. Berbicara dengan sebaya lebih mudah dan nyambung. Yang paling sulit adalah berbicara dengan para orangtua. Usia mereka lebih tua dari saya dan mereka lebih berpengalaman. Saya pun lebih menekankan diskusi dan memberikan ilmu kepada pra aorangtua dengan harapan ilmu itu akan ditransfer ke anak-anaknya,” ujar adik Ni Putu Dewi Pusparini Pinatih ini. Sulang tak hanya memberikan ceramah di tingkat lokal. Ia juga didaulat menjadi narasumber di seminar nasional tentang Generasi Berencana yang diadakan di Universitas Ngurah Rai, Denpasar. Kemampuannya berbicara di depan umum pun terasah. Ia juga banyak dipoles Asteria, mantan Duta GenRe nasional dari Bali. Ketika ditanya mengenai remaja yang menikah karena hamil duluan, Sulang menanggapi dengan bijak sana. “Hal ini perlu
menjadi perhatian orangtua dan remaja. Orangtua jangan terlalu membebaskan anak saat pacaran. Remaja pun harus memahami tanggungjawabnya. Kalau sudah kejadian, ini risiko yang harus diambil. Langkah berikutnya adalah menjaga jarak kelahiran. Perlu ada konseling agar mereka menjadi lebih matang dan siap untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Jangan lagi mengulangi kesalahan terdahulu,” kata pria yang hobi menyanyi dan menjadi MC ini.
Kesibukan memberikan ceramah ini bagi Sulang tidak terlalu mengganggu kuliahnya. Ia lebih banyak memberikan ceramah pada sore atau malam hari. Kalaupun ada benturan, dan harus memilih, ia kadang minta izin dari kampus. “Kampus sanggat memahami tugas Duta GenRe. Kami bukan sekadar orang yang berselempang, tetapi kami menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya kesehatan reproduksi,” tegas juara II Lomba Pidato Kependudukan tahun 2015 ini.
Selain kampus, orangtua Sulang pun bisa memahami tugas Sulang. “Mereka sudah paham dan memberi dukungan asalkan saya bisa menjaga diri. Orangtua saya malah bilang, saya sudah jadi milik masyarakat jadi harus bisa membawa diri dan menjadi contoh yang baik. Pacar juga mendukung dan mengingatkan saya untuk menjaga diri,” kata Sulang yang tiap bulan siaran di Radio Pemerintah Kota Denpasar bersama PIK Mahasiswa Yowana Bhakti Poltekkes Denpasar ini. –Ngurah Budi
8
Bunda & Ananda
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Kenalkan Kesenian pada Anak
sejak Dini
Pesta Kesenian Bali (PKB) yang bertepatan dengan hari liburan sekolah merupakan salah satu wahana bagi bagi orangtua untuk mengajak anak mengenalkan kesenian. Apalagi di PKB, ada pertunjukkan yang dimainkan anak-anak.
Padma
“A
nak-anak saya senang menonton dolanan anak. Tiap ada jadwal dolanan, mereka pasti menonton,” ungkap Made Sri Astuti, ibu dari Amri dan Mani. Selain menjadi penonton, Amri dan Mani juga ikut pentas gong kebyar anak-anak. Darah seni yang mengalir dari orangtuanya membuat kedua anak ini juga gemar kesenian. Menurut Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi. tidak ada kata terlalu awal untuk mengenalkan kesenian pada anak, hanya saja “porsinya” tetap disesuaikan usia anak. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi akan bentukbentuk kesenian yang juga dapat digunakan sebagai media refreshing dan menyenangkan bagi anak. “Menurut teori perkembangan, bakat setiap anak termasuk bidang seni dapat diwarisi oleh orangtuanya. Namun ada faktor lainnya yang juga turut andil agar bakat tesebut dapat berkembang secara optimal yaitu pengalaman. Pengalaman anak diperoleh dari proses belajar, stimulasi yang diberikan oleh orangtua maupun mencontoh dari lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya setiap anak memiliki bakat seninya masing-masing. Ketika orangtua mulai melihat munculnya bakat seni di anak, maka orangtua dapat memfasilitasi anakanak sehingga dapat mengembangkan bakatnya tersebut. Tidak harus dengan media yang mahal, media yang sederhana namun bermakna dapat merangsang kemampuan seni anak,” ujar anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali ini. Namun, mahasiswi Magister Psikologi Profesi, Universitas Gadjah Mada ini menekankan bukan berarti ketika orangtua anak adalah seorang seniman, maka anak akan menjadi seorang seniman.
Ada kaitan antara bakat, minat dan kemauan. Sangat penting untuk mempertimbangkan minat anak terhadap bentuk kesenian yang disukai. Sekalipun seorang anak memiliki bakat yang diwarisi oleh orangtuanya, tetapi anak tidak memiliki ketertarikan dan kemauan untuk mengasah bakat tersebut, yang terjadi adalah bakat yang muncul tidak optimal. Sebaliknya, jika anak tidak memiliki bakat namun ada minat dan kemauan untuk mengasah, maka ada peluang hal tersebut menjadi bakat baru. “Beberapa contoh pengenalan kesenian yang dapat dilakukan oleh orangtua sesuai dengan tahapan usia anak adalah sebagai berikut. Pada usia 1-2 tahun anak bisa dikenalkan dengan media seni yang sederhana seperti merobek kertas warna-warni. Selain itu orangtua mendampingi anak ketika menggambar dengan media yang aman. Beranjak pada usia 3-4 tahun, anak boleh dikenalkan dengan mengajak anak menonton pertunjukkan tari dan drama. Sekalipun anak belum mampu memahaminya dengan sempurna, anak dapat belajar dan merekam peristiwa kesenian yang ia amati. Maka dari itu sangat perlu pendampingan dari orangtua untuk melakukan komunikasi sederhana dengan anak terkait kesenian yang disaksikan. Pada usia ini anak juga mulai dapat diajarkan tentang seni musik sederhana dan melukis, menggambar dengan media yang lebih kompleks. Kemudian pada anak usia sekolah dasar (6-12 tahun), anak dapat dikenalkan dengan kesenian yang semakin kompleks karena pada usia ini anak juga telah mengalami peningkatan perkembangan kognitif, sosio-emosional, dan motorik,” ujar perempuan yang akrab disapa Padma ini. Mengenalkan kesenian pada anak, memiliki dampak positif terhadap perkembangan anak. Sekian banyak bentuk kesenian yang ada tentunya dapat melatih dan mengasah perkembangan anak pada aspek kognitif, sosio-emosional, motorik, dan kreativitas. Misalnya saja pada seni menggambar dan melukis, anak akan mengasah kemampuan berpikir pada saat anakanak merencanakan akan menggambar apa. Selain itu anak-anak akan melatih kemampuan motorik halus saat menggambar dengan kuas, pensil warna, maupun alat menggambar lainnya. Anak juga akan melatih keterampilan mengelola emosinya, dimana saat menggambar maupun mewarnai hal-hal yang detail, anak menjadi lebih bersabar agar mampu menghasilkan gambar sesuai dengan keinginannya.
INDUSTRI KREATIF Pada sistem pendidikan sekarang, kemampuan akademis masih menjadi pertimbangan yang utama. Namun kemampuan seni dan akademis dapat berjalan beriringan dan melengkapi satu sama lainnya. Orangtua dapat mengajarkan pada anak akan prioritas kapan kedua hal tersebut dapat dilakukan, sehingga anak tidak lupa akan kewajiban akademisnya. Cara lain adalah menggunakan metode pembelajaran akademis yang terintegrasi dengan kesenian. Jika melihat lebih dalam, terdapat konsep multiple-intelligent yang menyatakan bahwa seni adalah salah satu bentuk kecerdasan. Konsep ini juga memberikan pandangan jika cerdas bukan semata-mata nilai matematika, bahasa, atau sains yang tinggi. Hanya saja, pendidikan di Indonesia belum memfasilitasinya secara penuh. Terlihat
juga, lapangan pekerjaan yang lebih mengapresiasi bidang tersebut. Namun jangan khawatir, kini mulai banyak tumbuh industri kreatif yang mengapresiasi seni. Misalnya, kesenian juga dapat digunakan sebagai media mengasah bakat anak selain bakat dalam bidang sains. Tanpa memungkiri, anak bahkan mampu mengkombinasikannya sehingga dapat mengoptimalkan pembelajaran mereka. Seperti halnya ketika anak mempelajari seni tari, anak juga akan berlatih tentang ketukan dan hitungan. Anak juga sekaligus akan mempelajari seni musik yang berpengaruh pada konsentrasi anak. Ketika tarian itu dilakukan secara berkelompok, memungkinkan anak melatih kemampuan sosialnya. Anak akan berinteraksi dengan penari-penari yang lainnya, kolaborasi, dan juga melatih emosi. Selain itu anak akan melatih keterampilan motorik kasar dan halusnya. Hal ini juga terjadi pada bentuk kesenian yang lainnya. Dengan langkah ini, orangtua dapat menyelaraskan kesenian dengan akademis. “Ada baiknya pengenalan kesenian pada anak disertai dengan pengenalan kebudayaan. Menurut teori kognitif sosial-budaya, interaksi sosial budaya berpengaruh
dalam perkembangan kognitif anak. Pengetahuan anak lebih dibangun melalui interaksi dengan orang lain dan benda budayanya. Pada usia anak-anak sekolah dasar, anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaannya. Anak-anak usia ini akan mulai mempelajari dan mengenal kebudayaan mereka sendiri,” jelas Padma. Banyak orangtua yang mengharapkan agar anak memiliki kemampuan akademis dan kesenian yang optimal. Tidak sedikit pula orangtua mengupayakan banyak hal agar harapannya tercapai, seperti mengikutkan les dan kursus sehingga muncul ataupun peningkatan kemampuan kesenian di bidang tertentu. Kembali pada manfaat seni pada anak yaitu media eksploratif sekaligus refreshing dan menyenangkan. Hal ini akan terjadi jika anak memiliki ketertarikan pada bidang seni tersebut. Jika itu merupakan bagian dari keputusan pribadi orangtua untuk memenuhi harapan mereka, sangat memungkinkan anak menjadi bosan, tidak menikmati bahkan murung dan tertekan. Jadi orangtua harus menyadari apakah pengenalan kesenian itu untuk anak atau pemenuhan harapan orangtua. –Ngurah Budi
Dolanan anak di PKB
Rayap dan Daun Teep
manusia sering membakar bangsa rayap? Kalau kau menyelamatkanku, maka aku akan melanjutkan keinginanku untuk memangsa manusia. Kau lihat nanti, tidak akan ada manusia yang berani membakar rayap.” Kelompok rayap itu mulai percaya. Atas perintah pemimpinnya, bangsa rayap itu lalu segera menghancurkan jerat yang melilit harimau itu. Lihat sekarang, harimau itu mulai bernapas lega. Kakinya menggeliat-geliat, matanya membesar dan wajahnya berseri-seri, lalu perlahan-lahan berdiri tegap. Dan kemudian …, harimau itu dengan lahapnya mencaplok rayap-rayap yang sedang bekerja. Bangsa rayap itu berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Namun, harimau serakah yang kelaparan itu tak henti-hentinya mencakar dan mencaploknya. Rayap-rayap yang sedang bertengger di ekor harimau, melihat keadaan yang membahayakan itu, lalu segera berlindung di bawah selembar daun teep. Tak lama kemudian harimau pembohong dan serakah itu masuk ke dalam hutan. “Keluarlah sekarang, Kawan Rayap!” kata daun teep seraya membuka diri. “Keadaan sudah aman. Harimau itu sudah pergi.” Beberapa ekor rayap yang masih hidup itu keluar seraya menoleh kiri-kanan. Tak seekor rayap pun yang tersisa. Sambil menangis, rayap itu mengucapkan terimakasih atas budi baik daun teep. “Tanpa pertolonganmu, tidak ada keturunan rayap di bumi ini. Kami berjanji tidak akan makan pohon teep selamanya.”
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Kreasi Lampu Mozaik Lampu menjadi unsur penerangan buatan baik di dalam maupun di luar ruangan. Kini fungsi lampu tak hanya sebagai penerangan, namun sudah sebagai unsure dekorasi. Pengrajin lampu berlomba-lomba menciptakan kreasi dan berinovasi baik dalam bentuk maupun bahannya.
S
Mendongeng Lima Menit Sekelompok rayap berbondongbondong mencari sumber makanan baru. Mereka menyeberang di bawah pohon teep yakni sejenis pohon jati yang tumbuh tidak jauh dari kediaman mereka. Konon di Made Taro seberang pohon itu banyak batang-batang pohon yang sudah lapuk. Itulah makanan pokok mereka. Tiba-tiba mereka mendengar erangan yang memilukan. “Hurgh, hurgh …, tolonglah aku, tolonglah aku, Rayap!” Gerombolan rayap itu mendekat ke arah erangan itu. Setelah dekat, tiba-tiba mereka mundur serempak. “Harimau! Harimau terperangkap jerat!” teriaknya. “Jangan takut, Rayap!” seru hewan yang mengerang itu. “Aku bukan harimau pemakan hewan. Aku adalah harimau pemakan manusia, sebab manusia itu sangat kejam terhadap hewan. Manusia ingin membalas dendam kepadaku, oleh karena itu aku dijeratnya. Tolonglah, Rayap! Hanya kau yang dapat membebaskanku!” “Tidak!” jawab bangsa rayap itu. “Harimau adalah pemakan hewan, kejam dan serakah!” “Percayalah, Kawan! Pernahkah kau mendengar cerita tentang manusia yang suka berburu hewan, memakan dan menjualnya? Bukankah
Griya
alah seorang pengrajin lampu saat ditemui di workshop sekaligus showroom-nya di Jalan By Pass Ngurah Rai Suwung Kauh, mengatakan sejak 6 tahun terakhir mencoba berkreasi dengan mengolaborasikan lampu berbahan dasar fiber, dengan cermin dan kaca. Pria asal Medan, B Sidauruk atau yang karip disapa Tessa ini menyebut kreasi lampunya itu lampu mozaik. Mozaik, karena memang pengerjaan akhir lampu ini ditempeli cermin atau kaca yang dipotong-potong kecil. Ada yang ditempel acak, ada pula yang ditempel seperti susunan bata.
“Saya memakai cermin yang tebalnya 0,2 mm. Sementara untuk kaca, saya pakai kaca bening yang kemudian diwarna sesuai kebutuhan,” jelasnya. Lampu mozaik yang dipajang di showroom Bonanza Lamp ini banyak diminati warga lokal dan mancanegara yang didominasi kewarganegaraan Spanyol. Banyak model yang ditawarkannya, seperti model merak, botol bawang, Ganesha, Budha, gajah, dll. “Baik tamu lokal maupun mancanegara, paling banyak yang suka model Ganesha dan Budha,” ungkapnya. Lampu mozaik yang ketika digantungkan dan terkena sinar
matahari ini akan memantulkan sinarnya kemana-mana ini, juga diminati etnis tertentu. Konsumen ini meyakini jika dipasang di depan rumah, lampu mozaik berfungsi untuk penolak bala. –Inten Indrawati
Beberapa model lampu mozaik
Tessa saat meladeni pembeli lampu mozaik
Bahan baku berupa cermin atau kaca yang dipotongpotong kecil sebelum kemudian ditempel di permukaan kap lampu
17
18
Kreasi
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Pemerintrah Kota Denpasar melalui Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar, selama ini telah melaksanakan berbagai hal termasuk pelayan inklusif untuk para penyandang disabilitas. Kepedulian yang sangat tinggi dibuktikan dengan memberikan ruang seluas-luasnya untuk mereka unjuk kemampuan dan bakat, pelatihan untuk juga mengembangkan kreativitas. Dan, belum lama ini melakukan “Field Trip dan Sharing Love” untuk menyuntikkan motivasi dan semangat.
Field Trip & Sharing Love
Life
Story
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
galkannya di Lombok,” kata Rina. Sejak itu Karenina tidak lagi bisa berhubungan dengan Rakhmad, hingga akhirnya ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Lombok. Karirnya terbilang cemerlang. Lompatan-lompatan karier dilaluinya dengan mulus hingga ia mendapat posisi jabatan yang lumayan. Namun, semua kesibukan itu tidak membuat Karenina melupakan Rakhmad hingga ia sempat nekat datang ke Pulau Jawa, ke rumah Rakhmad. Hubungan percintaan mereka yang hangat rupanya masih saja mendapat penolakan dari orangtua Rakhmad. Karenina merasa penolakan itu sebagai sakit yang hebat.
Bagi Penyandang Disabilitas Bersama K3S Kota Denpasar
tkh/net
K
etua K3S Kota Denpasar, IA Selly D. Mantra yang menggagas acara mengatakan bahwa mereka para penyandang disabilitas adalah anak-anak yang istimewa dan luar biasa. Tuhan telah mencabut penglihatan atau pendengaran mereka,
tapi tidak untuk motivasi dan semangat hidup mereka. “Mereka tergolong tangguh dengan mimpi dan semangat belajar yang luar biasa. Mereka begitu tegar dengan senyuman yang selalu ditebar di setiap kesempatan,” ujarnya. Minggu (14/6) adalah hari yang
indah dan istimewa bagi temanteman penyandang disabilitas di Kota Denpasar. Hari itu mereka diajak melakukan perjalanan bersama yang dirancang oleh K3S Kota Denpasar untuk melakukan dharmayatra dan rekreasi ke tempat suci dan objek wisata dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila. Sekitar 400 anak disabilitas beserta para relawan berkumpul dan berangkat dari Kantor Walikota Denpasar mengenakan pakaian yang sama bertuliskan “I Stand for Disability Right”. Mereka adalah teman dan sahabat-sahabat para tunarungu, tunanetra, juga tunadaksa. Untuk kali ini mereka masing-masing ditemani seorang voluntir sebagai pendamping. Di antara anak-anak disabilitas tersebut, ada yang sudah mengikuti sekolah di sekolah umum di antaranya di SMA, ada yang kuliah di kampus bidang desain dan informatika di Bali, bahkan ada pula yang sudah bekerja di instansi swasta maupun Pemerintah Kota Denpasar.
dang disabilitas dapat bersosilaisasi dengan orang lain. Selain itu, ia juga berharap kepada K3S beserta Pemerintah Kota Denpasar agar acara seperti yang mereka jalani ketika itu dilangsungkan secara berkala. Sementara para relawan juga menyampaikan ucapan terima kasih-
nya, sebab mereka telah memperolah kesempatan untuk belajar dari teman-temannya yang disabilitas sembari menyatakan bahwa mereka adalah sama. Bahwa mereka sudah sepatutnya membaur, bersatu serta saling merangkul, selain juga belajar untuk lebih bersyukur dalam hidup ini. Selly D. Mantra mengaku terharu meihat mereka semua di sana memang berhasil melebur dengan melupakan perbedaan dan keterbatasan yang ada. Yang nampak adalah wajah-wajah sumringah yang memiliki rasa percaya diri dan bahagia.
“We Stand for Disability Right”
Bertempat di pelataran Pura Masceti, salah seorang gadis perwakilan dari penyandang tunanetra maju menyatakan ungkapan terima kasihnya kepada K3S Kota Denpasar yang telah menyelenggarakan kegiatan yang membuka kesempatan mereka selaku penyan-
Persembahyangan bersama kali itu, kata Selly D. Mantra dilaksanakan di Pura Masceti. Di sana lanjutnya, mereka semua bersyukur sembari memohon agar semua ren-
cana dilancarkan. Usai melakukan persembahyangan di sana dibuka kesempatan kepada para disabilitas untuk mengungkapkan kesan, pesan maupun harapan mereka. –ard
Berpetualang karena Patah Hati Entah sudah berapa jauh Karenina (50), berjalan menyusuri relung-relung hatinya yang terluka dalam perjalanan-perjalanan yang mestinya mustahil bagi orang lain namun nyata baginya. Hidup baginya seperti tiada lagi harapan akan masa depan. Tiada lagi rencana-rencana menata kehidupan berkeluarga apalagi percintaan. Ia seperti telah lepas dari pergaulan sosial yang normal, karena kini ia memilih banyak menyepi dan melakukan perjalanan. Uniknya, perjalanan yang dilakukannya mengalir begitu saja, tanpa pernah ia rencanakan secara khusus, melainkan di mana dan saat kapan ia ingin berjalan, sejauh-jauhnya perjalanan, maka saat itulah ia berangkat.
K
Selanjutnya, pada kesempatan yang sama Wali Kota Denpasar. IB Rai D. Mantra yang turut dalam acara tersebut, menyatakan sangat mengapresiasi acara rekreasi sambil belajar yang berlangsung baik yang dilaksanakan oleh K3S Kota Denpasar ini. Ia juga menekankan jika keterbatasan bukan halangan bagi kita semua. Dikatakannya bahwa kita semua berhak mendapatkan kesetaraan sosial yang sama. Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan tersebut bukanlah kegiatan yang pertama dan terakhir, tapi tetap dapat berlangsung terus nantinya dengan baik. Tak ketinggalan disampaikan pula apresiasi terhadap ide kreatif K3S yang telah membentuk wadah untuk merangkul para disabilitas di Kota Denpasar. Begitu pula dengan ketulusan para voluntir serta semua teman-teman disabilitas yang juga tulus bersedia turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya harapan Wali Kota Denpasar ini adalah agar semua pihak yang terlibat pada kegiatan saat itu turut merasa bahagia dan menikmati kebersamaan di setiap acara.. Berikutnya, rombongan mening-
galkan Pura Masceti menuju Taman Nusa. Di sana kegiatan dipandu salah seorang pengurus K3S, Rahtut XXX untuk menikmati santap siang bersama. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan pun semakin terasa tatkala Ketua K3S yang juga istri Wali Kota Denpasar, turut bersamasama membagikan nasi kepada peserta. Sambil menikmati makan siang, mereka dihibur dengan penampilan dari Leyonk Sinatra, Gede Bagus, XXX, dan pertunjukan pantomime. Terlihat jika peserta merasa sangat terhibur dan melebur dengan ikut bernyanyi bersama dengan para bintang tersebut. Selanjutnya, dilangsungkan field trip di kawasan Taman Nusa. Di sana juga mereka tak ketinggalan saling berbagi informasi sebelum akhirnya harus kembali ke Denpasar. Rupanya semua memeroleh pengalamannya masing-masing. Termasuk para relawan yang semakin menyadari bahwa di duniaTuhan menciptakan manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan. Semuanya tidak patut disesali tapi untuk diterima dan disyukuri. We stand for disability right. -ard
arenina tidak pernah memikirkan soal biaya yang akan diperlukannya selama perjalanan tersebut, melainkan membebaskan pikirannya bahwa akan selalu ada jalan keluar selama perjalanannya. “Kan banyak kawan-kawan yang bisa saya kontak dan singgahi,” ungkapnya polos sembari tertawa. Jika dilihat dari cara hidupnya, orang bisa menilai Karenina tidak normal karena ia hidup di luar kebiasaan hidup orang normal. Apalagi di usianya yang setengah abad, Karenina tidak pernah memikirkan soal pendamping hidup juga kelihatannya tidak terbersit dalam benaknya membina hidup rumah tangga layaknya orang lain. Ia terlihat cuek dan santai. Jika ia ingin pergi dari Lombok, maka ia akan pergi. Dan jika ia ingin pulang ke Lombok, maka ia akan pulang. Semua sesuai dengan panggilan jiwanya, sendiri tanpa peduli pada hal-hal yang lazim atau
lumrah. Dalam pergaulan sehari-hari, Karenina juga lebih senang menyendiri meskipun berada dalam satu komunitas dengan kawan-kawannya bergaul selama ini. Beruntungnya, Karenina memiliki kawan-kawan yang baik dan mau mengerti dirinya. Bahkan sekalipun dirinya itu berbeda dari orang kebanyakan. Di sanalah Karenina berlindung. Seluruh kawnanya memaklumi mengapa Karenina menjadi seperti itu. Dulu, di masa mudanya, Karenina adalah sosok yang menyenangkan dan popular dalam pergaulan. Meski ia berasal dari keluarga sederhana, wajahnya yang menarik dengan bakat menyanyi yang terbilang bagus, membuatnya banyak diidolakan kawankawannya, terutama saat ia duduk di bangku SMA hingga kuliah. “Tiap kali tampil menyanyi dalam acara kampus, saya selalu berdiri paling depan karena saya suka kalau Karenina menyanyi,” ungkap Rina salah seorang rekannya.
Dia punya pesona yang tidak dimiliki orang lain. Setidaknya itulah yang disampaikan beberapa kawannya. Ketenaran Karenina di kalangan kawan-kawannya membuat seorang pemuda jatuh hati padanya. Pemuda bernama Rakhmad itu berasal dari keluarga kaya anak seorang direktur sebuah perusahaan di Mataram. Mereka menjalin hubungan yang terbilang serius sejak saat mereka duduk di bangku SMA bahkan hingga tamat kuliah. Hubungan yang cukup lama itu membuat keduanya dekat dan erat. Namun sayang, hubung an keduanya tidak mendapat restu dari orangtua Rakhmad. “Orangtua Rakhmad sangat menentang hubungan mereka,” kata salah seorang kawan Karenina yang lain. Namun begitu, keduanya tetap mempertahankan hubungan tersebut meski tahu orangtua Rakhmad sangat tidak menyukai Karenina. “Mungkin karena Karenina berasal dari keluarga biasa, jadi orangtua Rakhmad tidak menyetujui. Pernah suatu saat Rakhmad mengajak Karenina datang ke rumahnya untuk bertemu orangtuanya, namun mereka menolak bertemu Karenina. Saya tahu persis betapa sakitnya Kareni na waktu itu,” ungkap Rina. Karenina sempat murung berharihari mengetahui hubungan yang sudah mereka jalin selama bertahun-tahun belum juga direstui. Sampai puncaknya, Rakhmad dibawa orangtuanya ke Jawa. Mereka terpisah jarak yang begitu jauh. “Karenina menangis semalaman mengetahui Rakhmad terpaksa pergi mengikuti orangtuanya dan mening-
AKTIF DI MEDIA SOSIAL Ia pulang membawa rasa sakitnya hingga ke Lombok. Sejak itu, ia tidak lagi punya semangat. Di kantor ia lebih banyak menyendiri dan mulai tidak peduli sekitarnya. Karenina lebih asyik sendiri cenderung cuek. Meski begitu karirnya tetap baik karena ia sangat kreatif. Di puncak karirnya yang cemerlang itu, tidak ada yang menyangka kalau akhirnya tiba-tiba Karenina memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai PNS. “Kami semua sungguh kaget mendengar keputusan Karenina. Ia lalu lebih asyik dengan dirinya sendiri. Melakukan perjalana-perjalanan ke mana pun yang ia sukai,” ungkap Rina yang sudah dua tahun tidak ketemu Karenina karena ia
7
tidak tengah berada di Lombok. Kabar terakhir beberapa bulan yang lalu diterima kawan-kawannya di Lombok, Karenina sedang berada di Pulau Sulawesi. Mereka hanya sesekali mengetahui kabar Karenina lewat postingan-postingan status di berbagai media sosial yang dipergunakannya. “Itu pun cuma sesekali saja saya melihatnya tibatiba sudah berada di ujung negeri ini,” kata Rina tersenyum. Sesekali Karenina masih pulang ke Lombok. Setelah itu ia akan terus melanjutkan perjalanannya. Akhir-akhir ini ia seperti ingin meninggalkan Lombok. “Karenina itu kini hidup di mana saja. Dia sepertinya sudah tidak memikirkan tentang pernikahan apalagi rumah tangga,” ujar Rina. Karenina menjadi petualang karena patah hati dan rasa sakit yang teramat dalam. Hatinya benar-benar patah ketika cintanya pada Rakhmad tak dapat diraihnya. Apalagi kini Rakhmad telah menikah dan memiliki beberapa orang anak. Namun begitu, menurut kawankawannya di Lombok yang masih sering berkomunikasi dengannya, kini Karenina tampak lebih bersemangat dari biasanya. Sebuah foto yang dikirimkannya di dinding sosmed Rina, wajahnya tampak cerah dan bersemu. Ia foto berdua dengan laki-laki bule. “Kata Karenina, itu kekasihnya. Semoga inilah jalan yang mempertemukan Karenina dengan jodohnya,” kata Rina berharap agar hidup sahabatnya itu bisa kembali normal. -Naniek I. Taufan
6
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Minggu (21/6), dalam suasana pagi di tepi Pantai Mertasari Sanur, hiruk-pikuk peserta “SOUL Go Green and Clean” mengiringi matahari yang baru terbit di ufuk timur. SOUL Spirit Of Universal Life bersama Bunda Arsaningsih dan Yayasan Cahaya Cinta Kasih, bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) dan Desa Sanur Kauh melakukan kegiat an penanaman pohon bakau (mangrove) serta pohon cemara pantai di lokasi acara.
SOUL Go Green and Clean
S
e b a nya k 2 0 0 p o h o n mangrove dan 10 cemara pantai yang ditanam di tepian pantai, kegiatan ini sejalan dengan upacara Tumpek Uduh, yang juga dilakukan oleh umat Hindu Bali setiap 6 bulan sekali untuk menghormati setiap tanaman. Selain itu, acara ini juga diselenggarakan untuk mendukung salah satu program pemerintah Provinsi Bali menuju “Bali Go Green and Clean”, agar kita manusia dapat hidup selaras dengan alam ini. Diikuti oleh 100 orang lebih, yang terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa, termasuk di antaranya 40 siswa dan pembina dari sekolah SMP PGRI 3 Denpasar, turut serta mendukung kegiatan ini. Dalam rangka kegiatan ini juga melibatkan anak-anak kecil mulai usia 3 sampai 12 tahun yang tergabung dalam kelompok Soul Kids. Program pembelajaran Soul Kids yang telah rutin dilakukan setiap bulan ini merupakan kali pertama dilakukan di alam terbuka. Kegiatan Soul Kids kali ini juga mempunyai tujuan untuk mendukung kegiatan “Soul Go Green and Clean”. Anak-anak diajak untuk lebih mengenal dan peduli pada lingkungan alam sekitar sejak usia dini, dengan mengajarkan cara menanam tanaman yang nantinya bisa dipelihara di rumah mereka masing-masing.
Bunda Arsaningsih memberikan contoh menanam pohon bakau
“Apabila tidak ada tanaman maka kita tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Selain menghasilkan oksigen, tanaman juga menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan oleh tanaman ini dapat menyelaraskan alam ini,” kata Bunda Arsaningsih yang memberi pemahaman kepada peserta sesaat setelah kegiatan penanaman. Masing-masing tanaman memiliki energi, baik itu positif atau negatif, dan tergantung manusia mau menggunakannya untuk keperluan apa. Para leluhur kita dahulu sudah memahami konsep energi sehingga mereka bisa memilah mana pohon atau tanaman yang baik, misalnya untuk upacara keagamaan. Konsep energi merupa-
kan dasar dari apapun yang terjadi di alam ini. Selain menanam pohon, hal penting yang harus dilakukan adalah memeliharanya setiap hari.
“Anak Yatim Piatu adalah Amanah, Mari Lebih Peduli Mereka”
“I
ni adalah kerja bareng program Bhakti Ramadhan ke-15 APPAN (Asosiasi Pemerhati Panti Asuhan Nusantara) Bali yang kami gelar rutin setiap tahunnya,” ungkap Hj. Lusiana selaku Ketum APPAN Bali. Hj. Lusi menambahkan, Bhakti Ramadan ini adalah kegiatan yang dinantikan banyak pihak tidak saja anak-anak yatim piatu, pengurus panti tetapi juga anggota APPAN sendiri dan masyarakat lainnya. Buka puasa bersama ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi yang sulit bisa dilakukan,” terang istri Konsul Sri Langka untuk Indonesia ini. Menurut Hj. Lusi, APPAN Bali didirikan sejak 1992. Pendirinya antara lain Ibu Ari Murti, Ibu Ika Supriyanto dan Ibu Drajati Suyono. APPAN sebagai salah satu organisasi sosial untuk membantu meningkatkan pengelolaan dan pengembangan panti asuhan anak-anak yatim piatu/miskin sehingga sebagai generasi muda dapat tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya yang handal dan berwawasan luas, baik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) maupun dalam keimanan dan ketaqwaan (Imtaq), guna bersaing dan mengantisipasi semakin ketatnya persaingan di era globalisasi dan modernisasi saat ini.
“Kami selalu menjaga komitmen dan istiqomah untuk mencoba mengasah kepekaan sosial, berjamaah memperhatikan para anak yatim piatu ini. Mungkin itulah ungkapan yang pantas diucap bila mengikuti perjalanan sekelompok warga muslim se-Bali yang tergabung dalam APPAN Bali,” kata Hj. Lusi. Hadirnya APPAN Bali ini bertujuan untuk memperhatikan dan membantu para pengurus panti asuhan (PA) di Bali, mulai dari segi tata kelola organisasi panti agar tertib administrasi serta memasilitasi segala hal positif dari pihak pemerhati atau donatur lainnya guna menyalurkan bantuan PA yang tersebar di Bali. “Kami secara regular melakukan kunjungan, pendataan, pemberian dan penyaluran bantuan dari anggota APPAN Bali maupun pihak luar agar keberadaan panti asuhan di Bali khususnya dan se-Nusantara pada umumnya, bisa selalu termonitor dan berkesinambungan,” jelasnya. Diperkirakan 400-500 (dari sekitar 2000-red) anak yatim piatu dari 30 PA se-Bali yang hadir di acara ini. Senin (29/6) subuh, Hj. Lusi juga menggelar makan sahur bersama kaum dhuafa (tukang urut/pijat, tukang sampah, tukang parkir, pembantu RT, lansia,
Bunda Arsaningsih juga mengajarkan ”Kita dapat melakukan pemeliharaan tanaman selain secara fisik ataupun melakukannya secara energi. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita tanam dengan selalu merawatnya setiap hari”. Energi yang diperlukan oleh tumbuhan sementara ini berasal dari alam, misalnya dari matahari, energi bumi. Namun, pada saat manusia terhubung dengan energi Tuhan yaitu energi yang tertinggi di alam ini, maka kita dapat memanfaatkan energi ini untuk semua termasuk untuk tanaman. Karena energi Tuhan ini sangat halus dan lembut, penuh dengan energi cinta. Maka tanaman yang terus dikirimi energi cinta akan tumbuh lebih subur. Acara ini juga dilanjutkan dengan bersih-bersih pantai yaitu memungut sampah-sampah plastik yang berserakan di tepi Pantai Mertasari. Tentunya kegiatan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan yang bebas dari sampah plastik. “Kita sebagai manusia mempu-
nyai tugas untuk menyelaraskan alam, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana,” imbuh Bunda Arsaningsih. Hal ini sejalan dengan perwujudan salah satu misi SOUL yang menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan alam dan keterhubungan dengan Tuhan. Acara ini ditutup dengan foto bersama semua peserta serta komitmen dengan pelayanan untuk alam pada even berikutnya yang telah secara rutin dicanangkan oleh SOUL sebagai panitia penyelenggara. Selain kegiatan sosial, SOUL Spirit Of Universal Life juga mengadakan berbagai macam workshop, penyembuhan (Soul Healing) serta meditasi bersama. Untuk info dapat menghubungi SOUL Office Jakarta Gedung Sinar Kasih, Lantai 3 Jln. Dewi Sartika 136 D, Cawang Jakarta Timur, Tlp. (021) 29374104. Denpasar : Klinik Bersalin Anugrah, Lantai 2 Jln. Gunung Sanghyang 118 D, Denpasar Tlp. (0361) 419347 & 08510146-3858 (Arda). Atau akses kami di website : www.soultc.com. –ten
Kegiatan SOUL Go Green & Clean diikuti lebih dari 100 peserta
Dra Hj. Lusiana Sanato, S.H., M.H.
Apa yang disampaikan seorang Lusiana Sanato lewat ajakannya kepada kita semua adalah mari kita lebih peduli kepada anak-anak yatim piatu karena mereka adalah titipan sekaligus amanah dari Allah SWT. Kepeduliannya yang besar terhadap anak-anak kurang beruntung ini diungkapkannya dengan mengajak ratusan anak yatim piatu se-Bali untuk berbuka puasa bersama, Minggu (28/6) di Wisma Dewata Journey Service (DJS), Jln. By Pass Ngurah Rai 353 Sanur, Denpasar.
Women on Top
dll.) di lingkungan tempat tinggalnya Jln. Danau Tempe, Sanur, sekaligus berbagi biaya transpor mudik bagi mereka. “Biar mereka bisa mudik dan kumpul bersama keluarganya,” ungkap Hj. Lusi bersemangat. Pribadi Taqwa Hj. Lusiana adalah seorang muslimah pebisnis yang ingin mendedikasikan hidupnya untuk menjalankan syariat Islam secara benar. Prinsip hidupnya adalah hidup dalam keberkahan, ketaqwaan dan untuk semata-mata beribadah kepada Allah SWT. Baginya, hidup ini harus dijalani secara seimbang antara keinginan duniawi dan rohani. “Yang paling saya takutkan adalah hidup tak berakal dan mati tak beriman. Segala sesuatu yang akan kita lakukan haruslah kita pikirkan lebih dulu agar tidak meleset dari cita-cita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” jelasnya. Dalam prinsip hidupnya, Hj. Lusi tidak neko-neko. Harta yang didapatkannya sebagian diperuntukkannya bagi sesamanya kaum dhuafa, anak-anak yatim piatu dan miskin. Rasa sosialnya yang tinggi membuat dirinya dikenal sebagai pribadi yang bertaqwa. Menurutnya, seseorang harus menghindarkan dirinya dari sifat serakah. “Manusia tidak akan pernah puas. Inilah yang memicu sifat keserakahan. Manusia juga tidak bisa terhindar dari hasutan orang bahkan manusia tak bisa lari dari kematian. Jika kita percaya dengan ketentuan Allah,
Hapus Kesan Pawai hanya untuk Pejabat Pesta Kesenian Bali (PKB) yang rutin diselenggarakan tiap tahun, mulai berbenah. Kesan monoton dan situasi layaknya pasar malam menjadi isu serius untuk dicarikan solusi. Dalam PKB XXXVII tahun ini, banyak terjadi perubahan format. Penataan stan kerajinan terlihat lebih rapi. Produk kerajinan dan kuliner yang dipamerkan juga merupakan produk khas Bali. Sendratari Ramayana dipilih menjadi headline PKB tahun ini. Berikut penjelasan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha kepada tokoh, menjawab beberapa kritikan menyangkut PKB.
T
ema PKB tahun ini, “Jagaddhita” memi liki makna memper kokoh kesejahteraan masyarakat. “Kita di Bali mempunyai kekayaan yakni budaya Bali yang adi luhung. Budaya ada karena potensi sumber daya manusia kita yang kreatif dan inovatif. Inilah yang terus kami pacu, untuk memunculkan desain baru di bidang kebudayaan, apakah itu seni tari, seni tabuh, kerajinan, dll yang memberi daya tarik pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya,” ujar Dewa Beratha. Dalam PKB, lima kegiatan pokok, mulai dari pawai, pagelaran, lomba, kerajinan, dan sarasehan. Perbedaan PKB tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pawai dimulai dari depan kantor gubernur. Jalurnya agak panjang
sehingga masyarakat dapat menonton dengan menyebar. Kemudian pawai terakhir menuju panggang kehormatan. “Tidak ada lagi kesan pawai hanya dinikmati para pejabat. Format pawai sudah diubah. Masyarakatlah yang menikmati pawai terlebih dahulu baru kemudian pejabat,” ucapnya. Sebagai daya tarik PKB tahun ini, digelar serial Ramayana yang sudah dimulai saat pembukaan oleh ISI Denpasar dengan tema “Ayodya Kertanegara”. Selanjutnya, parade gong kebyar kabupaten/kota, wajib me nampilkan setiap kanda dari Ramayana. “Akan ada 11 serial Ramayana sebagai headline PKB,” kata Dewa Beratha. Selain itu, daya tarik lain, adanya parade pelegongan . Untuk pameran kerajinan, kata Dewa Beratha, masyarakat pasti bisa
Kuliah S3 Meski sibuk mengelola beberapa bisnis miliknya di Bali dan Jakarta, Hj. Lusi juga mesti bolak-balik Bali–Jakarta untuk kuliah S3 Ilmu Hukum di Jakarta. “Saya pusing kalau nggak
lebih kepada upaya untuk membentengi bisnisnya. “Kalau kita tahu ilmu hukum, kita bisa membentengi bisnis kita sementara dengan ilmu ekonomi, kita bisa tahu peluang dan cara mengelola bisnis secara benar,” terang wanita kelahiran Bandar Lampung, 20 Agustus 1963 ini. Hj. Lusi adalah pebisnis tulen. Kemampuannya mengelola bisnis ditunjukkan dengan berdirinya beberapa bisnis miliknya di Bali dan Jakarta. Posisinya sebagai Komisaris PT Nur Dewata (DJS Tour dan sponsor Retirement Visa), Komisaris PT Bali Auction House (Balai Lelang Swasta), Komisaris PT Bali Ide, Komisaris PT Aura International, PT Global Sehat, PT Intan Property dan Ide Law Office. –ari
menyaksikan penataan stan sudah lebih rapi. Tujuannya, agar memberi kenyamanan bagi pengunjung sekaligus pengrajin. Begitu juga, seniman agar dapat berkreativitas tanpa ada suara bising. Dari segi penataan pameran sesuai blok. Tidak ada jenis barang yang sama. Sesuai namanya Pesta Kesenian Bali, kata Dewa Beratha, untuk tahun ini pameran kerajinan hanya fokus pada produk Bali. Begitu juga kuliner. Tidak ada kuliner yang dari luar Bali. Ini semua kata dia, beberapa perbaikan dalam PKB tahun ini. Memang ia meng akui, masih banyak kritikan soal peserta pameran. Karena itu, tahun ini sudah mulai dilakukan seleksi, bahwa, hanya pengrajin yang juga produser yang bisa berpameran. “Kami sudah meminta Disperindag melakukan verifikasi ke
Dewa Putu Beratha
lapangan agar memang betul-betul pengrajin yang berpameran. Ini sebagai bentuk komitmen kita bersama. Jangan di PKB mencari keuntungan pribadi, tapi kita semua berbuat untuk Bali,” katanya. Begitu juga soal keluhan seniman yang sulit parkir sudah diatasi tahun ini. “Parkir di depan kami khususkan untuk seniman. Memang ada keluhan, yang dulu bisa menikmati parkir itu secara gratis 24 jam. Kami harapkan mereka mengerti dan bisa berpindah ke lokasi parkir yang sudah disiapkan. Sementara, seniman yang datang untuk ngayah itu kami prioritaskan parkir di sana,” ucapnya. MENDIKBUD JADI KEYNOTE SPEAKER Tahun ini disamping mengadakan sarasehan sebagai bentuk evaluasi
Prioritaskan Pengrajin Komitmen pemerintah dalam perbaikan PKB mendapatkan apresiasi positif dari salah seorang pengrajin asal Jembrana. Ayu dari Amertha Busana yang menampilkan aneka songket dan endek khas Negara mengatakan, ia memang sudah melihat penataan PKB lebih baik. “Pe nataan stan sudah lebih rapi tidak sesak seperti pasar malam. Kami sebagai pengrajin diberikan prioritas,” kata perempuan asal Tegalcangkring Jembrana ini. Ayu merupakan pengrajin yang baru per
maka kita bisa membentengi hidup kita masing-masing. Bertaqwa adalah cara terbaik menghindarkan diri kita dari kesengsaraan dunia dan akhirat,” urainya.
k uliah. Maunya di Unud saja tetapi karena anak-anak di Jakarta dan ada bisnis juga, maka kuliah di Jakarta sekaligus nengok anak-anak,” kata wanita yang masih awet muda di usianya yang ke52 tahun ini. Penulis buku ‘Usaha Penanaman Modal di Indonesia’ ini menjalani hidup apa adanya meski untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis, dirinya juga harus berjuang, jatuh bangun. “Jatuh bangun itu biasa. Rugi pun pernah saya rasakan tetapi karena kita dibekali oleh akal/ilmu yang bermanfaat maka semua itu saya anggap sebagai ujian yang harus dilalui,” tuturnya merendah. Menekuni ilmu hukum dan ekonomi sekaligus, bagi Hj. Lusi bukan sekadar menyalurkan minat tetapi
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
tamakalinya pameran dengan stan sendiri. Dalam ajang PKB tahun-tahun sebelumnya, ia hanya menumpang menaruh produknya “Tak mudah mendapatkan stan untuk berpameran tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kabupaten yang melakukan seleksi siapa yang pantas ber pameran. Karena banyak juga yang berpameran bukan pengrajin dan produsen tapi hanya peda gang,” kata Ayu yang menyajikan aneka kain khas Negara dengan warna-warni yang lebih berani. Ia hanya berpesan, sebaiknya petugas Dis
perindag terus melakukan pemantauan setiap hari. Jangan hanya saat awal pameran saja, karena bisa saja produk luar Bali bisa masuk ke pameran tanpa ketahuan petugas. Saat ini, kata Ayu, banyak produk tiruan dengan harga yang lebih murah. “Memang produk asli endek dan songket harganya lebih mahal karena pengerjaan tangan. Kalau sudah ada produk tiruan yang dicap lebih laku, bagaimana nasib pengrajin?” ucapnya dengan nada tinggi. Ia berharap, dalam ajang PKB ini, pemerintah lebih memberikan apre
19
PKB tahun ini, dan mencari ben tuk PKB tahun depan, juga, untuk menghilangkan kesan monoton, akan ada lokakarya yang membahas PKB lima tahun ke depan. Sarasehan rencananya akan menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan sebagai keynote speaker. Perbaikan lain yang dilaku kan, adanya penyanggra untuk tim kesenian yang pentas. “Kritikan tahun sebelumnya, tidak adanya penyanggra. Tahun ini kami maksi malkan mahasiswa Unhi dan IHDN untuk menyanggra tim kesenian,” katanya. Soal keamanan juga sudah men jadi perhatian serius. Peserta pamer an setelah diabsen masuk bersamaan ke ruang pameran. Begitu juga saat tutup, keluar bersama-sama lewat satu pintu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keluhan tahun sebelumnya, ada peserta yang ke hilangan barang. Setiap Hari Minggu, Senin, dan Kamis dilakukan pertemuan untuk mengevaluasi, permasalahan yang muncul agar bisa segera diatasi. “Kami tak henti-henti mencari terus solusi agar PKB makin bermakna dan sesuai dengan harapan masyarakat Bali,” kata Dewa Beratha. Bagi pengrajin luar Bali, akan diberi kesempatan berpartisipasi dalam acara “Mahalango”, yakni setelah penutup an PKB mulai tanggal 12 Juli. Dalam waktu 1,5 bulan, selain pameran juga digelar berbagai pertunjukkan. Sebagai pembuka, akan ditampilkan kolaborasi Pramusti Bali dengan wayang Joblar. –Wirati Astiti
siasi kepada pengrajin yang juga produsen. Namun, dari keseluruhan, Ayu menyambut baik perbaikanperbaikan yang dilakukan PKB tahun ini. Sisca, salah satu pengunjung PKB mengatakan, sesuai namanya Pesta Kesenian Bali, disinilah produk-produk unggulan baik itu kesenian dan budaya yang harus ditampilkan. Apalagi, seperti dirinya yang memang orang luar Bali, tentu ajang PKB menjadi satu keharusan untuk datang karena memiliki daya tarik tersendiri. “Saya sangat me nikmati pameran aneka kerajinan, kuliner Bali, dan juga keseniannya. Ajang ini dapat juga men jadi satu promo bagi Bali yang memiliki keung gulan pariwisata budaya,” ucap perempuan asal Bandung yang memborong beberapa kain endek ini. -Wirati Astiti
20
Nine
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Ana Rauzan Eroplan
S
Ana Rauzan Eroplan
aat itu, Supriyanto tengah mengantar sahabatnya yang rupanya sepupu dari Ana. Itulah pertemuan pertama Ana dan Supriyanto yang berlanjut hingga ke pelaminan. Dan pada 3 Juli mendatang menjadi ulang tahun perkawinan mereka yang ke-40. Bukan hanya sihir pastel yang membuat Supriyanto jatuh hati pada Ana, melainkan cukup banyak alasan baginya untuk memperjuangkannya. Di samping karena keramahannya, wajah yang selalu dihiasi senyum dan mudah bergaul, membuat Supriyanto terpesona padanya. Tidak itu saja, gigih dan giatnya dalam bekerja menjadi alasan pelengkap bagi Supriyanto. Apalagi
Hanya 2 Jam Ia sengaja membuka “lapak” pagi di depan rumahnya untuk memudahkan ia mengawasi anakanaknya dan mengurus rumah. Meski menurutnya bisnis kuliner seperti ini sangat menjanjikan karena ia telah memiliki banyak pelanggan, Ana tidaklah ngoyo atau mengejar yang lebih. Melainkan ia berdagang santai saja. “Kalau di rumah tiap pagi di luar bulan puasa hanya dua jam sedangkan saat puasa jualan takjil juga hanya sekitar dua jam dari jam 16.00 wita sampai dengan jam 18.00 wita,” kata Ana yang puasa tahun ini membuka lapak takjilnya di Jalan Pendidikan sebelah barat Kampus AMM Mataram. Ana mengaku sangat menikmati aktivitasnya dalam mengisi masa pensiunnya ini. Ia akan kebingungan sendiri jika tidak berjualan. Bahkan ketika harus pergi keluar kota, dari bandara tempatnya bertolak pulang ke Lombok, ia sudah menelpon tiga karyawannya untuk menyiapkan bahan-bahan apa yang akan dimasak setiba ia di Lombok untuk berjualan esok harinya. Semangat Ana dalam menjalankan bisnis sederhananya ini juga karena mendapat dukungan penuh tidak
hanya dari suami, melainkan juga dari ketiga anaknya, Djaka Farezki (38), Didiet Radityo (35) dan Deradjad Ananto (31) hingga menantu bahkan cucu-cucunya. Inilah hiburan baginya setelah mengantar ketiga anak mereka menyelesaikan pendidikannya di Universitas Trisakti. Didukung suaminya, Ana memutuskan untuk memberikan pendidikan terbaik bagi ketiga putranya. Untuk ukuran biasa, kuliah di universitas seperti Trisakti kala itu,
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
5
Gagas Komunitas Sahabat Alam
Jalankan Hobi di Masa Pensiun Pada suatu ketika, sebuah pastel gurih memiliki daya “sihir” yang luar biasa bagi H. Supriyanto Khafid, salah seorang wartawan senior di Mataram. Tentulah pastel itu bukan pastel biasa karena telah membangkitkan rasa cintanya pada seorang perempuan yang dari sorot matanya terlihat kegigihannya. Ana Rauzan Eroplan, hari itu menyuguhkan pastel biasa namun menjadi sangat istimewa bagi Supriyanto yang secara tidak sengaja bertemu dengan Ana di rumahnya di lingkungan Gomong Mataram.
Inspirasi Adeline Tiffanie Suwana
Ana Rauzana Eroplan sekeluarga saat pernikahan putra pertama mereka Djaka Farrezki dengan Prima Ayufatsari
Ana bukan tipe perempuan yang gengsi untuk melakukan hal-hal baik yang halal, seperti berjualan kue dan lainnya. Dari sanalah ia mengenal Ana sebagai sosok perempuan giat yang seluruh waktu dalam kehidupannya tidak ada yang siasia. Kesederhanaan Ana dalam memandang hidup berbanding lurus dengan kesederhanaan Supriyanto. Meski di masa mudanya Ana “berjaya” sebagai salah seorang karyawan Telkom Mataram dengan penghasilan yang tidak bisa dibilang sedikit, ia tetaplah Ana dengan cara berpikir sederhana dan tidak memelihara rasa gengsi dalam dirinya. Semasa muda, selain menjalankan tugasnya sebagai karyawan, lulusan SMKK jurusan Tata Boga di Mataram tahun
1973 ini, mengisi hari-harinya dengan berdagang kecil-kecilan berbagai kebutuhan rekan-rekan kantornya. Dan ini mendapat dukungan serius dari suaminya itu. “Mas Pri (panggilannya pada suaminya), sangat mendukung saya sejak dulu. Tidak pernah malu mengantar jemput saya belanja ke pasar bahkan hingga kini,” ungkap Ana bangga. Orang yang mengenal pasangan ini bisa saja “iri” melihat hangatnya kebersamaan mereka. Meski Ana telah pensiun sejak tahun 2002 dan Supriyanto masih aktif sebagai wartawan serta anak-anak mereka telah berhasil, keduanya masih selalu terlihat santai berboncengan sepeda motor pergi ke mana-mana, termasuk pergi ke pasar. Sedari muda hingga di masa tuanya kini, Ana yang sejak usia 19 tahun telah bekerja ini tidak pernah mau berhenti beraktivitas. Hobinya memasak dan berdagang masih tetap dilakoninya hingga kini. Ia berbisnis kuliner dalam kes-
ederhanaan. Sederhana kuliner yang dijualnya sederhana pula ia mengemasnya. Tiap pagi sekitar pukul 08.00 wita sampai pukul 10.00 wita, di depan rumahnya, perempuan kelahiran 1954 ini telah siap dengan deretan dagangan nasi kuning, nasi putih dan lainnya. Dan itu ia lakoni untuk mengisi masa pensiunnya. Begitu pula di saat bulan puasa seperti ini, Ana juga mengambil peran memeriahkan Ramadhan dengan berjualan beragam takjil. Hobinya memasak rupanya menurun langsung dari ibundanya. Ana tidak pernah belajar secara khusus tentang masak-memasak, melainkan karena bakatnya. Dan bakat itu ia maksimalkan untuk mengelola potensi dirinya sehingga mampu menghasilkan masukan tambahan bagi keluarganya. “Saya bisa memasak yang sederhana-sederhana saja, mudah dibuat dan bahan mudah diperoleh,” ungkap nenek dari empat cucu ini.
bukanlah keputusan mudah yang harus mereka ambil. Biaya yang tergolong besar untuk dapat kuliah di kampus ini, bukan menjadi halangan bagi Ana dan suaminya untuk memajukan pendidikan putra-putranya. Bertekad doa dan usaha, ketiga putra mereka lulus dengan baik dari universitas ini. Di kampus Trisakti ini, masingmasing anak mereka, Djaka yang pernah menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara tahun 1993 ini, lulus dari Sekolah Tinggi Managemen Transportasi Jurusan Transportasi Udara, Didiet lulus dalam bidang Teknologi Informatika serta Deradjad yang juga per-
nah menjadi Pembentang Bendera di Kantor Gubernur NTB saat menjadi anggota Paskib NTB tahun 1999, lulus di Fakultas Teknik Sipil Perencanaan. Ketiganya adalah kebanggaan Ana dan Supriyanto. Usai menuntaskan tugas dan tanggung jawab sebagai orangtua khususnya dalam pendidikan anak-anaknya, Ana dan suaminya kini menikmati hari dengan santai. Apalagi ketiga putranya itu telah bekerja dan dua di antaranya, yang pertama dan kedua telah menikah dan memberikan mereka empat cucu. Mengisi hari dengan hal-hal positif tanpa pandang gengsi seperti yang dilakukan Ana, membuat hidupnya senantiasa sehat dan
gembira serta tidak ada waktu yang sia-sia di tangannya. Hobi ini juga membuat Ana memikirkan tiga orang yang membantunya memasak dan bersihbersih selama ini. Mereka telah lama ikut membantu Ana, bahkan salah seorang di antara mereka telah bersama Ana sejak ia kecil. Ada yang diupah Rp 60 ribu perhari, ada pula yang mendapatkan Rp 3540 ribu/hari, tergantung beban tugas yang mereka lakukan di rumah tinggal Ana ini. Meski hanya tiga orang yang setia membantunya, dengan bisnis kuliner sederhana ala Ana, telah membantu ekonomi setidaknya bagi tiga keluarga ini.
Ana bersama anak-anaknya saat liburan ke Bali tahun 1986
Kini semakin banyak anak-anak muda yang peduli lingkungan. Mereka bahkan mengorganisir komunitasnya untuk melakukan berbagai aktivitas terkait pemeliharaan lingkungan. Salah satunya adalah Adeline Tiffanie Suwana. Namun ada catatan istimewa untuk Adel, begitu namanya akab disapa, karena dia memulainya pada saat usianya baru memasuki remaja, 11 tahun. Dia bahkan mendirikan ‘Komunitas Sahabat Alam’ sebagai wadah para pencinta lingkungan yang anggotanya kalangan muda, saat berusia 12 tahun, pada 2008. Padahal ketika itu isu-isu lingkungan, khususnya di Indonesia, belum terlalu hangat dibicarakan seperti saat ini. Bahkan isu global warming pun belum banyak orang yang ngeh. Tapi si kecil Adel justru sudah terketuk hati dan perhatiannya.
mereka dengan berbagai aktivitas bertema lingkungan. Mereka merancang berbagai kegiatan kreatif untuk mengaet anak-anak muda ikut berpartisipasi. Intinya, Adel dkk yang tergabung dalam ‘Sahabat Alam’ ingin menggugah kesadaran anak muda yang nota bene generasi penerus untuk mencintai alam dan lingkungannya. Atas perjuangannya ini, gadis kelahiran 26 Desember 1996 ini,
-Naniek I. Taufan
-Naniek I. Taufan
Adeline Tiffanie Suwana menerima golden green award
Konsistensinya terus berlanjut bahkan organisasi yang didirikannya sejak ia kelas II SMP ini terus berkembang dan berhasil menggaet ribuan anak muda setingkat SMP dan SMA untuk bergabung sebagai relawan. “Sampai sekarang kami telah melaksanakan lebih dari 130 kegiatan. Kegiatannya beragam, bukan hanya menanam pohon, tapi juga masalah sampah, penangkaran terumbu karang, seminar-seminar, lomba karya ilmiah, dll. Fokusnya adalah untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dalam pikiran generasi muda,” tutur Adelyang kini kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dirinya berharap semakin banyak anak muda yang konsen dan tanggap terhadap berbagai permasalahan lingkungan. Dengan begitu akan terbangun ketertiban dan keterjaan lingkungan dari kerusakan. Kegigihan Adel dan kawankawannya ini, memang patut diacungi jempol. Ketika anak-anak seusia mereka sibuk bermain, Adel dkk justru mengisi waktu
meraih banyak penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa penghargaan bergengsi dari luar negeri yang disabetnya antara lain; The International Diana Award 2013 dan sertifikat yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron pada 2014. The International Diana Award ini mulai diberikan tahun 1999 sebagai penghargaan kepada anak muda berusia 9-18 tahun yang telah memberikan kontribusi positif kepada komunitas di lingkungannya maupun di dunia internasional. Penghargaan lainnya adalah juara Eco Friendly 2009 karena peran nyatanya dalam pelestarian lingkungan. Eco Frienly adalah ajang internasional yang memilih anak-anak usia 8-16 tahun yang berperan nyata dalam pelestarian lingkungan hidup. Setahun setelah meraih Eco Friendly, anak kedua dari tiga bersaudara ini dipilih UNEP---United Nations Environment Programme adalah organisasi yang mengurusi masalah lingkungan hidup di PBB--- untuk menghadiri International Childres Conference on Biodiversity di Na-
Adeline Tiffanie Suwana
goya, Jepang. Ia juga dianugerahi World Summit Youth Award untuk kategori International Green Award . GARA-GARA JAKARTA BANJIR Bermula dari kejadian tujuh tahun lalu saat Jakarta terendam banjir. Ketika itu hampir sebagian besar kawasan Jakarta terendam dengan ketinggian bervariasi hingga 2 meter. Namun ada juga kawasan yang benar-benar tenggelam, salah satunya yang terletak di kawasan Kalibata Jakarta Selatan, pinggir Kali Ciliwung, yang ketinggian airnya mencapai 4 meter. Peristiwa banjir 2007 itu memang sungguh dahsyat. Akan halnya Adel, yang ketika itu baru berusia 11 tahun, tinggal di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sebuah kawasan yang cukup parah terendam banjir.Ketinggian air di kawasan Kelapa Gading ketika itu sempat mencapai 1 meter lebih. Walhasil, Adel dan keluarganya pun mengungsi. Rupanya kejadian banjir bandang itu begitu mengesankan untuk remaja kelas 1 SMP ini. Pemikirannya yang kritis tidak bisa menerima begitu saja kejadian tersebut, ia justru mencari tahu apa penyebabnya. Apalagi dia juga melihat kalau ternyata tidak semua daerah terendam banjir. Dia pun bertanya kepada orangtua maupun guru di sekolahnya tentang hal tersebut. Tidak puas dan masih penasaran, Adel pun mencari informasi lewat internet. Dari sana dia semakin tahu tentang pemanasan global dan apa dampaknya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Tidak sekadar tahu, tapi Adel juga memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dari diskusi dengan sejumlah sahabatnya, mereka pun memutuskan untuk melakukan aksi tanam pohon mangrove di Pantai Indah Kapuk. Ketika itu Adel dan teman-temannya berhasil mengumpulkan sejumlah remaja seting-
kat SMA, SMP, SD bahkan ada seorang anak TK. Mereka ini lah yang digerakkan Adel dan kawankawannya untuk menanam pohon mangrove di Hutan Mangrove di Angke, Kapuk, Jakarta Utara. “Menanam pohon adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungandan pohon bakau adalah salah satu jenis yang mempunyai banyak manfaat untuk lingkungan.Salah satu fungsi utama pohon-pohon bakau adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan. Jadi kami ke sana menanam bibit bakau,” kata peraih EFL Award pada ajang World Schools Debating Championships di Turki. Saat itu Adel tampil sebagai juara pertama debat antarpelajar sedunia. Sejak kegiatan kecil itu, Adel menjadi lebih menseriusi hal yang berkaitan dengan lingkungan. Dia pun berdiskusi dengan para sahabatnya, akhirnya lahirlah ‘Komunitas Sahabat Alam’ pada 6 Juli 2008. Lewat wadah tersebut, Adel dkk ingin agar anak-anak muda bisa tanggap atas berbagai permasalahan lingkungan dan peduli. Untuk itu, Adel dkk merancang berbagai kegiatan kreatif bertema lingkungan. Bukan hanya menanam pohon, tapi juga membersihkan sampah, pelepasan tukik (bayi penyu) di perairan Jakarta, seminar-seminar edukasi lingkungan, lomba karya ilmiah bertema lingkungan, dll. Salah satu yang teranyar adalah kegiatan komunitas ini dalam aksi penyelamatan burung kakaktua jambul kuning. Ketekunan dan konsistensi Adel dan teman-temannya, membuat Komunitas Sahabat Alam berkembang pesat. Jumlah anak muda yang menjadi anggotanya semakin bertambah, begitu juga aktivitas terkait lingkungan yang semakin padat. Kini jumlah relawan yang dimiliki komunitas ini sudah mencapai 25 ribu orang yang terdiri dari anak usia SD, SMP dan SMA. DANA PENDIDIKAN DIALIHKAN UNTUK KEGIATAN LINGKUNGAN Tentu saja, kata Adel, untuk semua kegiatan itu membutuhkan dana. Pada awalnya, kata Adel,
kegiatan mereka dibiayai dari kocek masing-masing. Dirinya, misalnya, mendapat suport dana dari orangtuanya. Dana itu sedianya adalah dana pendidikan Adel, namun karena gadis cerdas ini mendapat beasiswa dari sekolahnya maka dana pendidikan itu dialihkan untuk membiayai kegiatan Komunitas Sahabat Alam. “Untuk itu saya meminta orangtua agar mau mendukung dana kegiatan kami dengan dana pendidikan itu. Karena saya sudah mendapat bea siswa. Orangtua setuju,” ungkap mahasiswi Semester IV yang sekarang sedang magang di Otoritas Jasa Keuangan. Bukan cuma Adel, tapi para pendiri komunitas yang merupakan sahabat-sahabat Adel pun ikut merogoh kocek sendiri untuk membiayai kegiatannya. Selain itu, mereka juga aktif melakukan kegiatan pencarian dana berupa penjualan kaos dan pin. Orangtua Adel memang sangat mensuport kegiatan positif anaknya ini. Mereka bangga karena diusia belia Adel bukan hanya peduli lingkungan tapi juga melakukan tindakan nyata dengan membangun wadah bagi para anak muda yang peduli lingkungan. Mereka juga tidak khawatir dengan terganggunya pendidikan Adel karena terlalu sibuk berkegiatan, karena nyatanya, Adel tetap mampu mempertahakan prestasi akademiknya, meski sibuk menjadi aktivis lingkungan. Bantuan dari luar mulai datang setelah mendapat penghargaan ‘Tunas Lestari Kehati dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) pada 2009. Sejak itu organisasi ini mulai mendapat perhatian dari banyak pihak, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup. Bersamaan dengan itu bantuan dana pun mengalir deras seiring banyaknya penghargaan yang diterima komunitas ini baik dari dalam maupun luar negeri. Adel merasa optimis ke depannya akan makin banyak anak muda yang peduli pada lingkungan. Ia sendiri memiliki harapan, komunitas yang dipimpinnya akan berkembang bukan hanya di Jabodetabek tapi juga di luar pulau Jawa. –Diana Runtu.
Adeline Suwana terima ASEAN Champions of Biodiversity
4
Inspirasi
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Mandalika
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
21
I N y o m a n G e d e Wi d i a n t a r a
Bekerja dengan Hati Berkutat dengan mesin motor membuat jalan hidup Mang De penuh dengan lika-liku. Dari seorang mekanik service, ia beralih menjadi mekanik racing lalu menjadi modifikator. Pria bernama lengkap I Nyoman Gede Widiantara ini pun memberi perhatian khusus untuk pebalap motor pemula.
I Nyoman Gede Widiantara
S
uara mesin pemotong besi terdengar di rumah sekaligus bengkel Mang De di Banjar Belawan, Abiansemal, Badung. Suasana tak begitu ramai. Beberapa motor menunggu giliran untuk diservis. Kebanyakan motor itu jenis trail. “Sekarang lagi demam trail. Banyak yang memodikasi motor bebek menjadi trail dan ada juga yang memodif trailnya menjadi lebih sangar,” ujar Mang De. Ia menuturkan konsumen ada yang membawa foto sendiri atau ada yang meminta Mang De yang membuat modifikasinya. Untuk membuat seperti yang persis dengan foto, Mang De mengaku agak sulit. Ia hanya bisa 80% mendekati aslinya. Kendalanya adalah ukuran foto tidak sama dengan aslinya. Detail ukuran tidak bisa didapatkan. Selain itu, kalau foto motor dari luar negeri, suku cadang juga menjadi kendala. Untungnya konsumen paham dan menyerahkan sepenuhnya pengerjaan motor kepada ayah empat anak ini. Jika konsumen membebaskan Mang De untuk membuat modifikasi, ia akan lebih memudahkan Mang De untuk bereksplorasi. Ia banyak mencari inspirasi dari event-event motor. Dari berbagai hal yang dilihat kemudian dikombinasikan hingga menghasilkan karya kreatif. Bagian depan motor dan bagian belakang bisa beda merek tetapi, semua bisa menyatu.
“Dulu saya heran melihat bagaimana orang bisa membuat modifikasi motor. Saya lalu pelajari sendiri alias otodidak. Ternyata ada bagian-bagian yang bisa disambung. Begitu ada ide, langsung kerjakan. Lumayanlah, hasil kreasi modifikasi tidak mengecewakan. Yang penting antara konsumen dan modifikator saling komunikasi,” ujar suami Ni Luh Putu Wulan Sapitri ini. Motor yang dimodif Mang De bersama anak buahnya tak hanya trail tetapi ada juga konsumen yang ingin model JAP dan vespa. Semua bisa digarap asalkan mau sabar. Tak hanya itu, ia juga siap untuk melayani servis motor karena keahlian awalnya memang mekanik service. “Saya mengajak beberapa anak muda yang mau belajar tentang mesin. Kalau memang niat dan cocok, ayo belajar sama-sama. Saya lebih senang bekerja dengan hati. Beberapa anak muda yang pernah saya ajak sudah ada yang mandiri,” kata modifikator yang hasil karyanya pernah menjadi juara di beberapa ajang modifikasi ini. TENTUKAN MASA DEPAN Mang De menuturkan dirinya mulai menjadi mekanik tahun 2001 di Cahaya Surya Bali Indah (CSBI). Ia ditugaskan di mekanis service. Seiring perjalanan waktu, pria kelahiran 22 Juni 1982 ini mendapat kesempatan untuk belajar tentang racing dari Om Cia, salah satu tokoh otomotif di Bali. Selanjutnya Mang De pun dipindahkan menjadi mekanik racing CSBI. Hampir tujuh lama ia bergelut dengan dunia racing. “Banyak hal yang saya pelajari dari dunia racing. Mulai dari persiapan pebalap, motor, dan keperluan pendukung lainnya. Kalau tidak karena cinta motor, sangat sulit untuk bertahan. Biaya persiapan tidak sebanding dengan had-
Mang De saat memodifikasi sepeda motor
iah yang diraih. Ini menjadi salah satu faktor pebalap motor menjadi galau tentang masa depan mereka. Akhirnya ada yang pindah haluan menjadi pegawai, tetapi ada juga yang masih bertahan menekuni dunia balap,” ungkap Mang De. Berkurangnya jumlah kompetisi membuat Mang De harus berpikir agar ia punya masa depan. Akhirnya, Mang De memutuskan untuk mulai usaha sendiri di rumahnya dengan nama Mang De Motor. Ia pun pernah punya tim balap sendiri yang diberi nama Abiansemal Motor Sport (AMS). Timnya ini mendapat dukungan dari Suzuki, tempatnya bekerja dulu. Ternyata untuk bertahan di dunia balap motor cukup berat sehingga Mang De mengembangkan usaha modifikasi. Sejak tahun 2013, ia mulai menggarap modifikasi trail. Pangsa pasarnya cukup cerah dan peminatnya cukup banyak. Biaya yang dihabiskan untuk modifikasi motor juga tidak terlalu mahal, tergantung bentuk dan suku cadang yang dipakai. Rata-rata konsumen merogoh kocek
Rp 11 juta. Walaupun menekuni modifikasi, ia tetap menerima service motor balap. Demi kecintaan terhadap dunia balap motor, ada yang ngutang demi mendapatkan mesin racikan Mang De. Bagin Mang De, untuk mendapatkan kekuatan mesin maksimal tentu harus ada sinergi antara pebalap, mekanik, dan mesin motor termasuk bodi motor. Kini Mang De mendapat tugas untuk menangani mesin motor pebalap motor Kabupaten Badung yang akan diterjunkan di Porprov. Bali. Ia pun salut dengan para orangtua yang mau memberikan dukungan untuk anak-anaknya menekuni dunia balap. Ia pun berharap aturan dalam balap motor harus lebih ketat lagi sesuai dengan aturan IMI, diantaranya scruit sebelum dan sesudah balap motor. Setelah sekian lama menekuni
usahanya ini, Mang De mendapat dukungan dari BRI untuk kredit. Ia pun berani membuka toko di depan rumahnya. Toko disiapkan untuk menjual suku cadang dan service motor. Khusus modifikasi tetap dilakukan di halaman rumah. “Saya dulu waktu mendampingi tim balap CSBI ke Sirkuit Sentul, sering mendapat kesempatan jalanjalan ke Karawang. Saya masuk ke pabrik baut, ban, plastik, dan yang berhubungan dengan motor. Nomor kontak sudah saya simpan. Niatnya untuk menjalin kerja sama. Ternyata ponsel saya yang berisi nomor-nomor telepon itu hilang. Ternyata tidak ada usaha yang mudah. Tetapi, kini saya sudah yakin, ini adalah pilihan saya. Saya nanti tinggal mengatur sistem kerja saja,” tegasnya. –Ngurah Budi
“Saya mengajak beberapa anak muda yang mau belajar tentang mesin. Kalau memang niat dan cocok, ayo belajar samasama. Saya lebih senang bekerja dengan hati. Beberapa anak muda yang pernah saya ajak sudah ada yang mandiri”
Pedagang Takjil Musiman
Ramaikan Bulan Puasa Sekitar pukul tiga sore, para penjual takjil (makanan berbuka puasa), sudah mulai menyapu trotoar di sepanjang Jalan Majapahit Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ini adalah tempat mereka berdagang takjil dan menu berbuka puasa. Setelah itu puluhan pedagang kuliner khas berbuka puasa ini mulai menata beragam dagangan mereka. Pembeli mulai berdatangan sejak pukul setengah empat sore dan semakin ramai hingga menjelang berbuka puasa atau sebelum waktu Magrib tiba.
D
i sebuah rumah sederhana di Dasan Agung Mataram, Ana Rauzana Eroplan, terlihat tengah sibuk menyiapkan takjil untuk dijual di lapaknya di Jalan Pendidikan Mataram. Tiap pagi ia rajin ke pasar membeli bahan untuk membuat ragam takjil, seperti, kolak pisang,
bubur sumsum, sagu mutiara, bubur ketan dan macam takjil lainnya. Setidaknya ada tujuh menu takjil yang disiapkan perempuan gesit yang hobi memasak ini. Menu sederhana yang sangat memperhatikan kesehatan konsumen. Seluruh bahan yang dipakainya untuk meracik menu takjil adalah bahan-bahan yang segar, tanpa pengawet dan
tanpa sari manis. Murni gula dan tiap hari ia selalu menyediakan takjil yang baru dibuat. Bagi Ana, berjualan takjil bukan semata mencari keuntungan melainkan di samping karena hobi ia juga ingin mencari pahala dengan tetap mempertahankan pembuatan takjil yang sehat bagi konsumennya. Karenanya jika pun
Omzet Duakali Lipat Ana merupakan satu dari ratusan penjual takjil yang bermunculan di bulan puasa. Cukup banyak tempat penjualan takjil bermunculan di Mataram ketika bulan puasa tiba. Para penjual takjil dan menu berbuka puasa menyebar di pusat-pusat keramaian di Kota Mataram seperti yang paling diminati adalah di kompleks Pasar Ampenan, Pasar Kebon Roek, Jalan Udayana, Gomong, kawasan Rembige dan sekitarnya hingga seputar Jalan Majapahit. Kawasan Pasar Ampenan dan Pasar Kebon Roek menjadi tempat favorit para pedagang dan pembeli takjil juga menu berbuka puasa. Tiap tahun pedagang musimam ini selalu ikut meramaikan nuansa Ramadhan di Kota Mataram. Lapak-lapak yang tertata rapi dengan beragam kuliner menggunung di depan pedagang yang mengundang selera, memberi keleluasaan bagi para pembeli dalam memilih. Hanya di waktu bulan puasa saja para pedagang ini berjualan. Karena di hari-hari
biasa (di luar bulan puasa), kawasan ini tidak ramai pedagang, hanya satu atau dua pedagang makanan saja. Yang unik adalah bermunculannya pedagang musiman di kawasan Jalan Majapahit dalam beberapa tahun terakhir. Meski di hari lain di luar puasa, beberapa pedagang memang telah mangkal dan membuka lapak di sini, maka di bulan puasa kawasan ini
dipenuhi lapak-lapak yang sengaja dibuat dengan desain dan gaya yang lebih “keren”. Mereka yang berjualan di kawasan ini, kebanyakan anak muda yang kadang datang dengan mobil mereka untuk berjualan di sini. Pengunjung di sini tidak kalah ramainya dengan di pusat kuliner Ramadhan di Kebon Roek, Pasar Ampenan hingga Rembige. Penghasilan yang terhitung dengan
ada takjil yang tersisa (tidak laku), akan dibaginya untuk tetangga maupun familinya. “Saya tidak mau menjual kembali takjil yang kemarin, semuanya saya bagi-bagi
ke family dan tetangga,” ungkap Ana yang membuka dagangan takjil dua jam dalam sehari yakni dari pukul empat hingga enam sore. -Naniek I. Taufan
baik oleh Mar, salah seorang penjual salad buah di jalan Majapahit ini naik hingga dua kali lipat. Mar dan rekan-rekannya memang membuka lapak di kawasan ini tidak hanya di bulan puasa melainkan juga tiap hari dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau di hari biasa omzet sehari ratarata sekitar Rp 500ribu, namun di bulan puasa meningkat hingga Rp 900 ribu sampai dengan Rp 1 juta,” ungkapnya. Inilah yang membuat banyak bermunculannya para pedagang musiman di bulan puasa karena penghasilan yang lumayan. Rohaini yang berjualan di Pasar Kebon Roek juga mengaku, tiap Ramadhan tiba, ia membuka lapak dan dapat memperoleh keuntungan yang lumayan. “Lumayan ada uang untuk biaya merayakan lebaran,” katanya. Kebutuhan akan kuliner khas puasa yang cukup tinggi membuat menjamurnya para pedagang musiman ini. Selain Ana yang menyediakan sekitar 70 hingga 100 porsi takjil yang dijual dengan harga rata-rata Rp 5.000, ada pula Ani yang mampu menjual hingga ratarata 80 buah kelapa tiap hari dengan harga Rp 8.000/butir. Ia
berjualan dekat jembatan gantung Karang Baru. “Omzetnya sekitar Rp 600 ribuan sehari,” kata Ani yang tinggal di Karang Baru Mataram. Keberadaan para penjual takjil dan menu berbuka puasa yang ramai ini, terbilang sangat membantu warga. Sebagian warga memilih membeli makanan jadi dan siap saji dari pada memasak karena berbagai menu sudah tersedia. “Karena saya bekerja dari pagi hingga sore hari, maka lebih praktis beli saja. Toh… menunya sangat banyak dan tinggal pilih,” ujar Wanti, salah seorang pembeli yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan. Begitu pula dengan Prima yang mengaku sesekali memasak sendiri, sesekali pula membeli makanan jadi. Baginya, jika tidak terlalu sibuk ia akan memasak sendiri menu berbuka untuk keluarganya. Namun jika banyak pekerjaan kantor apalagi saat ini ia tengah mengikuti berbagai pelatihan, maka sore hari ia menyempatkan diri berbelanja di pusat kuliner ramadhan di Pasar Ampenan atau di kawasan Jalan Majapahit. -Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 855/29 Juni - 5 juli 2015
Taxi Uber yang Diuber-uber
S
Ahok
ebagai perbandingan, tarif buka pintu Taxi Uber Rp 7000, kenaikan per-km Rp 2.850 dan minimal bayar Rp 30.000. Bandingkan dengan taksi lain yang tarif buka pintu Rp 7.000, kenaikan per-kilometer Rp 3000 dan minimal bayar Rp 40.000.
Meski keberadaannya bo leh dib ilang menguntungkan setidaknya bagi pengguna jasa (karena murah dan nyaman), juga bagi para pengusaha rental mobil karena dengan adanya Uber, bisnis sewaan mobil mereka bisa berjalan bagus, namun ada banyak aturan yang dilanggar dengan beroperasinya taxi ini.
3
AA Ayu Ketut Agung
Kompak Lestarikan Busana Adat Bali
Di banyak negara ‘Taxi Uber’ mendapat penentangan. Taxi ini dinilai beroperasi tanpa mengikuti regulasi angkutan umum yang ada, juga keberadaannya menjadi ancaman bagi taksi resmi yang selama ini sudah eksis. Tarif Taxi Uber lebih murah ketimbang naik taksi legal. Sebagai pengguna jasa taksi tentulah mencari harga yang lebih murah. Soal kenyamanan, Taxi Uber tidak kalah dengan taksi biasa. Mobil-mobil yang digunakan adalah mobil-mobil pribadi yang terpelihara baik oleh pemiliknya.
Di Indonesia, Taxi Uber baru beroperasi di Jakarta (Jabodetabek), Bandung dan Bali. Namun sepertinya hanya Jakarta ---sejauh ini---yang bersikap keras. Pemda DKI Jakarta tidak bisa begitu saja menerima keberadaan angkutan ini. Untuk menjalankan bisnis angkutan umum harus memenuhi sejumlah persyaratan dan ini yang tidak dilakukan pihak Uber. Dengan dalih sebagai perusahaan teknologi, namun faktanya menjalankan bisnis angkutan umum, pihak Uber seolah enggan mematuhi segala persyaratan yang ada. Tak heran kalau Gubernur Jakarta, Basuki Tjahja Purnama, marah besar. Perintah menertibkan Taxi Uber kepada Dishub DKI Jakarta telah lama diorder, namun baru pekan lalu, sukses dilaksanakan oleh Dishub DKI dengan ditangkapnya lima sopir Uber. Itupun setelah pihak Dishub dan Organda DKI Jakarta
Edisi 855/ 29 juni - 5 juli 2015
Anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang kosong, yang siap ditulisi. Karena itu, anak-anak dapat dibentuk sesuai keinginan orang-orang dewasa dan lingkungannya. Lingkungan inilah yang selanjutnya akan diterima anak sebagai sejumlah pengalaman yang telah disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Teori yang lebih dikenal dengan istilah “Tabularsa” ini kiranya mampu mewakili sosok Anak Agung Sagung Diva Wastuningtyas, yang Senin (22/6) terbang ke Jakarta khusus untuk menerima sertifikat lulus/kompeten dalam Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi dan Modern sebagai peserta termuda se-Indonesia, dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Sertifikat itu diserahkan langsung oleh Ketua Umum DPP Katalia (Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Indonesia) Hj. Koen Mulyono, S.E., M.A.
melakukan jebakan dengan cara berpura-pura menjadi calon penumpang yang memesan taksi. Menurut Ahok, pihak Uber tidak bisa ‘seenak udelnya’ menjalankan usaha di Jakarta. Harus mematuhi regulasi, tidak bisa tidak. “Jangan mengambil keuntungan tapi berujung menyusahkan banyak orang. Hidup di negara ini ada saling, aturannya ada. Nggak bisa saya untung, kamu mati, biarin! Emang negara nenek moyang lu, seenaknya?” ucapnya dengan nada tinggi. Menurut Ahok, Uber akan diberi izin beroperasi jika mau mematuhi aturan yang berlaku, termasuk soal pembayaran pajak. Hal lain yang merisaukan adalah ketidakjelasan alamat Taxi Uber. Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu, kemana konsumen harus mengeluh. “Kami akan izinkan jika semuanya jelas. Bayar pajak, lalu ada telepon kantor di Jakarta. Kita juga harus tahu mobil-mobilnya seperti apa, dll,” ungkap Ahok. “Solusinya mudah, tinggal bikin PT saja, apa susahnya?! Kami akan bantu karena kita memiliki Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Kalau enggak mau, berarti niatnya memang tidak benar. Lalu kamu ngotot bahwa kamu adalah perusahaan teknologi. Kalau kamu pintar teknologi, bisa nggak nyuri uang di bank? Tentu bisa! Salah atau enggak kalau nyuri duit di bank karena kepintaran teknologi?” kata Ahok lagi. Jadi, kata Ahok, jika ingin berusaha tetap harus mematuhi aturan yang ada, tidak bisa semaunya. Ia juga tak mau menerima alasan bahwa mereka adalah perusahan teknologi karena faktanya mereka menjalankan usaha yang terkait dengan transportasi. Taxi Uber mulai beroperasi di Indonesia, khususnya Jakarta, sejak tahun lalu. Perkembangan taksi ini memang boleh dibilang cukup pesat. Salah satu sebabnya adalah tarif yang murah dan kenyamanan. Salah satu perbedaan dengan taksi resmi adalah pembayaran penggunaan angkutan ini langsung lewat kartu
kredit yang ditagihkan seusai menggunakan taksi. Dengan begitu tidak ada transaksi uang cash untuk layanan ini. Di banyak negara di mana Taxi Uber beroperasi menimbulkan penentangan besar, bukan hanya dari pemerintah setempat tapi terlebih lagi dari para pengusaha angkutan umum yang merasa dirugikan dengan keberadaan Uber yang lebih murah. Kalaupun pada akhirnya taksii tersebut dilegalkan, itu karena---pada akhirnya--- pihak Uber mengikuti aturan yang berlaku di negara tersebut. Bisnis kreatif ini awalnya dari sebuah kota di negeri Paman Sam, San Francisco pada 2009, yang kemudian berekspansi ke banyak negara. Setidaknya Uber ada di 58 negara (300 kota). Di Jakarta, melalui implementasi teknologi terkini, Taxi Uber dapat dengan mudah dipesan melalui aplikasi mobile berbasis OS, Android dan Windows Phone. Dalam tampilan Anda akan melihat mulai dari posisi, petunjuk lokasi Taxi Uber, kontak dan posisi pengemudi yang merespons pesan, keterangan tarif, penjemputan, tombol pemesanan. Saat ini untuk menjalankan bisnisnya pihak Uber bekerja sama dengan para pengusaha rental, mulai dari pengusaha rental mobil dengan jenis sedang sampai mobil premium, seperti Mercy, Toyota Alphard, dll. Namun sepanjang tidak mematuhi aturan, agaknya para sopir Uber harus terus bermain kucing-kucingan dengan petugas. Kata Ahok, Taxi Uber ibarat taksi gelap atau PKL (pedagang kaki lima) yang berjualan semaunya. Jika tidak ada perbaikan, maka bukan mustahil upayaupaya penjebakan seperti kasus sebelumnya, akan terjadi lagi. Sejauh ini, kata pihak kepolisian, Uber hanya dikenai pasal penipuan. Namun tidak tertutup kemungkinan akan berkembang ke hal lain. Karena ada banyak aturan yang dilanggar, salah satunya tentang perlindungan konsumen. Ini lantaran ketidakjelasan alamat kantor Uber Jakarta. –Diana Runtu
Diva berkesempatan berfoto bersama Ibu SBY di tahun 2013
S
etelah sebelumnya, dara kelahiran tahun 2002 yang akrab disapa Diva ini, di usianya yang baru 11 tahun di tahun 2013, sudah ikut ujian Tata Rias Pengantin Bali Payas
Agung yang diadakan oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK), dan ia dinyatakan lulus/kompeten. Tujuan awalnya, hanya ingin menguji mental dan kemampuan Diva di antara peserta lain.
Keterampilan merias Diva semakin terasah dengan kerap mengikuti roadshow-roadshow yang digelar LKP Agung bekerjasama dengan Viva Cosmetics dan Kelompok Media Bali Post maupun instansi atau organisasi lain. Kali ini, ia tak sekadar ikut, namun turut demo merias. “Awalnya sih deg-degan, tapi Ibu terus memberi semangat. Sekarang sudah biasa,” ungkap putri kedua dari Bu Agung dan I Gusti Ngurah Agung Ardana ini. Hampir tiap Minggu, LKP Agung menggelar roadshow tata rias. “Sengaja saya pilihkan hari minggu atau hari libur agar tidak mengganggu jam sekolah Diva,”imbuhnya. Tak hanya di Bali bahkan Sagung Diva ikut sampai keluar bali, sembari berwisata. Dari pengalamannya itu, di manapun digelar roadshow Tata Rias Pengantin Bali atau apapun yang bernuansa Bali, pesertanya selalu membludak. Ibu dan anak ini pun kompak berkolaborasi dalam tiap roadshow yang digelar, Diva memasang make up, Bu Agung memasang bunga. Apa yang dilakukan Bu Agung kepada putrinya ini
semata-mata ingin mengarahkan anak sejak dini untuk menguasai keterampilan tertentu, yang di dalamnya juga terkandung nilai ‘berbagi’. Bahwa, apapun yang dimiliki, dalam hal ini keterampilan tata rias, haruslah juga dibagi. Inilah prinsip hidup seorang Anak Agung Ayu Ketut Agung. Karena itu pula, roadshow-roadshow pelatihan tata rias sehari yang kerap ia laksanakan tersebut tanpa dipungut biaya. Keterampilan tata rias ini juga ia bekali kepada anak-anak putus sekolah atau mereka yang tak mampu, dengan memberikan beasiswa kursus. “Uang bukan segalanya, tapi memang semua membutuhkan uang. Karena itu, ada kursus regular ada juga beasiswa sehingga ada subsidi silang,” jelas ibu dari AA Sagung Istri Purnama (alm.) ini Eksistensi Bu Agung selama puluhan tahun bergelut di dunia tata rias ini membuat LKP Agung yang sudah menamatkan ribuan murid ini kerapkali dijadikan pusat studi banding, hingga oleh lembaga dari luar Bali. Kontribusi Bu Agung di dunia tata rias yang sekaligus turut melestarikan budaya Bali ini cukuplah besar. Karena itu pula, Bu Agung menerima
Tanpa disadari, lingkungan telah membentuk Diva. Ibunya yang tak lain adalah Anak Agung Ayu Ketut Agung, adalah pakar tata rias dan busana adat Bali yang sekaligus pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Tempat Uji Kompetensi (TUK) Tata Kecantikan Kulit dan Tata Rias Pengantin, serta pemilik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Agung, tempat belajar anak putus sekolah yang belum menamatkan pendidikannya di jenjang SD, SMP, dan SMA. Lokasi LKP, TUK, dan PKBM yang sekaligus menjadi tempat tinggal mereka ini selalu dipenuhi muridmurid. Jadi, mau tak mau pula Diva pasti melihat dan merekam dari lingkungannya itu. Dari kebiasaan mencorat-coret di tembok, kini Diva yang duduk di kelas VIII SMPN 3 Denpasar sudah piawai merias wajah. “Dia sudah serius belajar merias sejak kelas IV SD. Awalnya sejak TK ia mencorat-coret lipstik di tembok, kemudian pelanpelan saya memberikan pengertian dan arahkan bahwa lipstik dipasang di bibir,” ungkap Bu Agung. Selain itu, Diva juga sering diajak keluar kota oleh Bu Agung yang kerap diundang sebagai narasumber tata rias dan busana adat Bali. Setelahnya, sambil berwisata, Bu
Diva menerima sertifikat lulus/kompeten dalam Uji Kompetensi Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi dan Modern sebagai peserta termuda se-Indonesia dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum Katalia, Hj. Koen Mulyono, S.E., M.A.
Agung pasti berkesempatan membeli kosmetik dan alat-alat merias di sebuah mal terbesar dan terlengkap di Jakarta. Diva pun diajak melihat dan memilih kuas yang kualitasnya bagus, wig, dan hairpiece. Juga, membedakan kosmetik yang bagus dan tidak bagus. Demikian halnya, ketika Bu Agung merias atau melakukan
roadshow ke daerah-daerah, Diva juga kerap diajak ikut. “Selesai ikut saya merias, dia saya beri reward sebagai pembelajaran dan juga agar dia termotivasi bahwa dalam hidup kita memerlukan keterampilan,” ujar penerima Anugerah Peduli Pendidikan (APP Award) dari Kemendikbud RI ini. –inten
DISKON 50% KURSUS TATA RIAS
Untuk mengisi liburan sekolah serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –inten
Hidup harus Berbagi
hingga ratusan penghargaan dari dalam dan luar negeri, di antaranya Penghargaan Parama Budaya dari Wali Kota Denpasar. –inten
Roadshow tata rias di Buleleng belum lama ini. Tampak Diva sedang demo merias dihadapan ratusan peserta pelatihan
2
Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Sekolah Favorit Suasana bulan Juni ini sangat istimewa karena bertepatan dengan liburan sekolah, bulan puasa, pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB). Bagi anak sekolah, kesempatan liburan ini tentu bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan, melepaskan diri dari rutinitas sekolah. Namun, ada juga siswa yang kini sibuk. Mereka adalah siswa yang beralih dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA, dan dari SMA ke jenjang kuliah. Tak hanya siswa yang sibuk, orangtua juga ikut sibuk. Informasi sekolah favorit menjadi incaran. Masuk sekolah favorit bisa mengangkat citra siswa termasuk orangtua. Sistem online yang ditetapkan pemerintah dalam prosedur masuk sekolah sudah dijalankan. Namun, tetap saja siswa harus datang ke sekolah tujuan untuk menyerahkan berkas-berkas. Bagi orang yang jeli, ada peluang untuk meringankan beban calon siswa. Caranya dengan membantu pendaftaran baik melalui jalur prestasi maupun jalur NEM. Sementara itu, bagi siswa yang tidak sibuk, mereka bisa
Buka Puasa bersama agen Koran di Shankara Resto, Sanur
memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan. Salah satunya ke arena PKB. Tahun ini PKB bertema, “Jagaddhita” yang memiliki makna memperkokoh kesejahteraan masyarakat. Bali mempunyai kekayaan yakni budaya Bali yang adi luhung. Budaya ada karena potensi sumber daya manusia kita yang kreatif dan inovatif. Inilah yang terus dipacu, untuk memunculkan desain baru di bidang kebudayaan, apakah itu seni tari, seni tabuh, kerajinan, dll yang memberi daya tarik pariwisata Bali sebagai pariwisata budaya. Dalam PKB, lima kegiatan pokok, mulai dari pawai,
Salah Tas
Ternyata benar kata orangorang, makin bertambahnya usia, kita akan menjadi makin pikun akan sesuatu. Ini pula yang terjadi kepada diri saya, yang sampai sekarang kejadian itu sangat membekas menjadi kisah yang lucu saat saya dan istri mengingatnya. Karena saking lucunya, kejadian tersebut saya catat di buku agenda saya. Kejadiannya Minggu, 3 Mei 2015, kira-kira puku 16.00. Waktu itu, saya bersama istri pulang kampung mengurus keperluan mengurus surat-surat perpindahan domisili. Kami berdua berangkat pulang kampung dengan mengendarai sepeda motor. Anak-anak kebetulan sudah duluan dijemput oleh kakek dan neneknya. Karena ada dokumen yang kurang, kami berdua lalu mencari tempat fotokopi di perjalanan menuju kampung. Kira-kira setelah keliling mencari 1 jam, maka ketemulah tempat fotokopi yang agak sepi. Waktu itu, saya membawa
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
tas gendong warna hitam yang saya taruh di atas sadel motor. Lalu saya mengambil dokumen yang akan saya fotocopi. Berselang 15 menit kemudian, datang seorang bapakbapak berpakaian rapi, yang juga akan ikut memfotokopi beberapa surat-surat pentingnya. Selang beberapa menit, semua dokumen telah selesai saya fotokopi dan rencana mau membayar. Secara refleks, saya membuka resleting tas gendong hitam yang ada di sebelah saya untuk mencari dompet di dalamnya. Tapi tidak ketemu, lalu saya bongkar semua isi di dalam tas tersebut, saya keluarkan semuanya. Tapi tetap tidak ketemu. Dengan panik saya menanyakan kepada istri, mengapa dompet tidak ada didalam
pagelaran, lomba, kerajinan, dan sarasehan. Khusus sarasehan akan dipakai untuk mencari tema PKB hingga lima tahun ke depan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dijadwalkan hadir untuk menjadi keynote speaker. Berkaitan dengan bulan puasa, Kamis (25/6) malam, Kelompok Media Bali Post (KMB) mengadakan buka puasa bersama para agen koran di Shankara Resto, Sanur. Acara ramah tamah dihadiri para pimpinan media di KMB. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan untuk memperkuat tali silaturahmi antara KMb dengan para agen. tas? Dengan mata yang melotot, istri berbisik bahwa saya salah tas. “Oh my God.......ternyata saya tidak sadar, tas gendong yang saya obrak-abrik isinya itu milik bapak yang fotokopi tadi. Alamaak..memang dasar pikun. Tas gendong saya masih berada di atas sadel motor. Artinya, tas yang saya obrak-abrik tadi bukan tas saya. Untunglah bapak si pemilik tas itu lagi ke toilet. Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau si pemilik melihat saya mengobrak-abrik tasnya? Pasti akan diteriaki maling!! Dengan tergesa-gesa saya mengambil dompet dan langsung pergi. Muka saya pucat, memikirkan bagaimana nanti reaksi si pemilik tas melihat isi dalam tasnya sudah tidak beraturan tempatnya. Dasar saya pikun. Putra Setyawan, Jimbaran
Mozaik
GORO-GORO
kalah
Seorang teman lama mampir ke rumah Amat. Ia curhat mengatakan dirinya kalah. Lalu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi rasa kalah, Mat?” Putu Wijaya Ia tak mengatakan, kalah apa. Amat pun merasa kurang sopan kalau menanyakan, kalah apa. “Ya, menerima kekalahan itu.” “Sudah, saya sudah menerimanya tapi tetap saja kalah.” “Ya, itu berarti belum menerimanya.” “Jadi maksudnya saya harus menikmati kekalahan itu?” “Betul. Kira-kira begitu.” Tiba-tiba kawan itu marah. Ia berdiri sambil berkata ketus. “Kau enak saja ngomong begitu! Coba kau sendiri yang mengalaminya, baru tahu, bagaimana sakitnya kalah!” Amat bingung. Ia merasa sudah mencoba menjawab sesuatu yang tak jelas, kok dimarahi? “Bagaimana menjawab kalau tidak tahu kekalahannya dalam hal apa,” kata Amat mengadu pada istrinya. “Jangan-jangan sebenarnya ia tidak kalah, tapi menang!” “Makanya jangan asal jawab. Tanya dulu abc-nya. Kalau perlu jangan dijawab. Jangan-jangan dia tidak bertanya tapi mau menguji bapak. Atau ingin didengarkan saja. Kalau dijawab! Jelas dia akan marah.” Amat tak senang mendengar jawaban itu. “Lho, Ibu ini bagaimana! Bapak kan minta dukungan, kok malah diserang?!” ‘Habis Bapak tidak pernah nyimak apa kepentingan orang, selalu mengukur dari perasaan Bapak sendiri. Makin tua harus makin bijak, jangan makin terjebak. Nanti... .” “Sudah, cukup!” potong Amat, sambil berdiri dan jalan keluar. Ke teras, mendinginkan kepalanya yang kesal dengan duduk memandangi malam. Bu Amat tersenyum melihat suaminya kesal. “Biar dia tahu bagaimana kesalnya hati orang yang kalah,” bisiknya dalam hati. Lalu ia membuat kopi susu dan mengambil roti kembung yang diberikan tetangga. “Ada roti kembung, Pak. Dan, ini kopi susunya.” Amat terkejut. “Lho, bukannya mantri sudah melarang bapak minum kopi?” “Sekali, sekali, tak apa!” “Buka tidak mau, tapi kan jangan dulu, kata mantri.” “Ya, sudah, ini roti kembungnya saja!” “Bapak sudah kenyang.” “Tapi ini pemberian tetangga! Enak, kok!” “Tapi Bapak sudah kenyang!” “Jadi. Tidak mau?” “Bukan. Masih kenyang!” “Ya sudah kalau begitu dibuang saja!” Dengan marah Bu Amat mengangkat gelas kopi mau melemparkannya ke halaman. Amat cepat mencegah. “Sudah, sudah, nanti tak minum!” Amat langsung menegak kopi itu meskipun panas. Lalu memasukan roti kembung ke mulutnya. Bu Amat masuk ke rumah lagi sambil ngedumel. Amat terseyum. “Biar dia tahu bagaimana rasanya kalah,” bisik Amat dalam hati.
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Edisi 855/ 29 Juni - 5 JUlI 2015
Jenang Ponorogo
23
Peluang Usaha Jaga Tradisi Jenang lengket biasa juga disebut dodol. Bagi sebagian masyarakat, khususnya di Jawa menjadi salah satu sajian utama dalam menyambut hari-hari penting, seperti Lebaran, Natal, pertunangan maupun pernikahan.
P
jenang, saya menggunakan alat tradisional. Namun, penggunaan alat modern juga perlu dan penting untuk meningkatkan efisiensi dalam memproduksi. Untuk resep sendiri, kami menggunakan resep turun-temurun dari keluarga,” ungkap Sri Harijati, pemilik perusahaan jenang. Menurut Sri, jenang tradisional Ponorogo umumnya tidak menggunakan pengawet, karena inilah usia jenang tidak bisa lama. Bagi Sri, usia jenang yang tidak lama ini, bisa menjadi kendala namun juga bisa menjadi solusi untuk mengenalkan produknya. Dalam memproduksi jenang tradisional ini, Sri lebih memilih bermain aman, yaitu menganalisa terlebih
dulu hari-hari pasarannya. Dalam menekuni wirausaha kuliner kendala utama memang barang tidak terjual habis. Pembuatan jenang sendiri, menurut Sri sebenarnya sangat mudah, bahkan siapapun sekali melihat prosesnya pasti bisa membuat namun membutuhkan waktu yang cukup lama. “Bahan-
Jenang Ponorogo
ada acara pertunangan, menyajikan jenang untuk tamu yang datang merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga dengan baik. Menyajikan jenang untuk tamu, memiliki representasi akan rasa sayang dan saling berbagi. Karena inilah jenang tradisional menjadi begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Jenang memang selalu diidentikkan dengan kota Kudus
dan Garut, tapi siapa sangka jika kota kesenian seperti Ponorogo juga memiliki tradisi memproduksi jenang ini. Disini, jenang yang dijual merupakan jenang tradisional yang dibuat secara turun temurun, sehingga rasa dan aromanya begitu khas. Bahkan, saat ini jenang tradisional ini makin dilirik oleh para pegiat wirausaha dengan menampilkan kemasan yang lebih menjual dan menarik. “Untuk menjaga cita rasa
Sri Harijati
Hidup Berubah berkat Keset Roda kehidupan memang kadang di bawah dan kadang di atas. Gambaran itu juga terjadi dalam perjalanan hidup Agung Pamuji, warga Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Blitar. Dulu ia sempat menjadi buruh pabrik hingga salesman dari rumah ke rumah. Namun kehidupannya menjadi berubah setelah dia mampu menyulap kain perca dan bekas jok mobil bekas menjadi keset.
Deru suara mesin terdengar begitu riuh dari sebuah rumah yang sekaligus menjadi sebuah pabrik industri di Desa Minggirsari. Beberapa pekerja terlihat keluar masuk dari rumah tersebut, begitu juga saat melongok ke dalam, suasana industri dengan puluhan pekerja sangat kental. Seorang pria bertubuh agak tambun juga terlihat sibuk mengawasi, kemudian sekalikali ikut mengatur tumpukan keset
yang sudah siap dipasarkan. Dialah Agung Pamuji, yang juga pemilik industri kerajinan keset dari berbagai bahan bekas. Pria ramah tersebut langsung menemui tamu yang datang, dan mengajak untuk melihat-lihat proses pembuatan keset dari gabungan bekas jok mobil, karpet, hingga kain perca. Dia seolah tidak merasa khawatir sama sekali, jika tips dan rahasia pembuatan keset miliknya akan ditiru oleh orang lain. “Masingmasing orang sudah memiliki rezeki yang sudah diatur, jadi kalau ada yang mau berusaha di bisnis yang sama, ya tidak ada masalah sekali,” jelas pria 40 tahun ini. Namun Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang lebih besar melebihi kemampuan seorang manusia. Hingga suatu waktu, dirinya bertemu dengan kenalan lama yang mengajaknya berbisnis. Bukan hanya mengajak tapi juga mengajarkan cara membuat keset dari bahan bekas, hingga menunjukkan bagaimana memasarkan produk tersebut. “Dengan modal yang seadanya, saya mencoba membeli satu unit mesin jahit sebagai modal untuk bekerja. Sedangkan bahan baku juga masih disubsidi oleh teman saya itu,” ungkapnya. Semua itu berawal pada 2007 lalu. Merintis sesuatu memang sangat sulit, harapan tidak selalu semudah dibayangkan. Sebab, awalnya sangat sulit membuat
keset yang benar-benar tepat, artinya pas model dan gayanya, serta kekuatannya. Namun lambat laun kesulitan itu mulai teratasi, hingga mulai memproduksi keset buatan sendiri. “Awalnya, teman saya yang menampung . Namun lamakelamaan saya mulai mengantar sendiri barang produk sendiri itu ke toko-toko yang ada di seluruh wilayah Blitar,” akunya. Ternyata, dilanjutkan dia, keset produknya langsung mendapat sinyal positif dari pasar. Sebab, toko-toko tempatnya menitipkan barangnya kemudian menanyakan lagi stok keset produknya. Pasalnya, di toko tersebut kesetnya sudah laku dan dicari oleh masyarakat. “Setelah itu, syukur kepada Tuhan, orderan terus mengalir dari seluruh wilayah Blitar, bahkan mulai ada pesanan dari luar
bahannya tepung ketan atau tepung beras, gula jawa sebagai pemanis jenang. Untuk harga jenang biasanya antara Rp 10 ribu hingga 15 ribu,” ungkapnya. Pada awal-awal berdirinya dulu, Sri masih ingat betul jika saat itu dia dan sang kakek hanya menggunakan bahan baku 3–5 kg tepung ketan atau beras. Ketika itu, dia tidak membuat jenang setiap hari, melainkan mengikuti hari pasaran. Biasanya, Sri dan kakek akan berjualan di pasar Legi sebelah selatan. Konon, dulu pasar Legi bagian selatan yang belanja merupakan orang-orang kelas menengah ke atas, sehingga mereka umumnya akan beli jajan jenang tradisional untuk dibawa pulang. “Untuk melayani pembeli dari luar kota, kami juga siap mengirimkan jenang ke luar kota. Hingga saat ini, pengiriman jenang terjauh sudah menjangkau pulau Bali, Kalimantan dan Sumatera,” kenang Sri yang telah memiliki 25 karyawan ini. -Dinar Perdana
kota, dan itu terus meningkat,” ceritanya. Setelah kurang lebih tiga tahun lamanya, kondisi pekerjaan yang terus bertambah, dirinya hanya dibantu oleh keluarga dan beberapa tetangga merasa kewalahan. Akhirnya mulai menerima para pekerja dari desa lain yang berminat, terutama kenalan yang kesulitan untuk bekerja, para tetangga yang ingin ke luar negeri diajak untuk bergabung. Setelah hampir tujuh tahun memproduksi keset dari bahan bekas ini, para pekerja sudah mencapai sekitar 60 orang, mesin jahit yang awalnya hanya satu kini jumlahnya sudah ratusan unit. Saat ini, drinya merasa sangat bangga bisa mengajak para tetangga dan masyarakat yang kesulitan untuk ikut bekerja bersamanya. -Khoirul Abadi
Agung Pamuji juragan keset yang sukses
24
What’s Up
Edisi 855/ 29 Juni - 5 juli 2015
Kreativitas Hindari Monoton Pesta Kesenian Bali masih menjadi tujuan bagi masyarakat. Hal ini diungkapkan Luh Gede Herryani, S.H., M.Kn. Menurutnya taksu PKB yang dimulai tahun 1979 dan digagas Gubernur Bali ketika itu Prof. IB Mantra sebagai wadah memamerkan kreativitas pengrajin dan aspirasi berkesenian Bali gaungnya masih sangat kuat.
A
jang yang tahun ini digelar untuk ke37 kalinya ini bisa diartikan program pemerintah untuk menggencarkan promosi kerajinan lokal dari usaha kecil menengah daerah. “Kehadiran PKB hingga saat ini masih mendapat respons positif, melihat cukup ramainya pengunjung lokal dan dari luar Bali. Perannya untuk mempromosikan kesenian dan produk unggulan Bali memang tak bisa terbantahkan, meski masih ada yang mengeluhkan persembahan keseniannya belum banyak berubah dan harga sewa stan yang meningkat dari tahun sebelumnya,” katanya. Notaris asal Buleleng ini juga mengatakan para produsen kerajinan di Bali yang hadir di PKB,
sebagian terlihat sudah memiliki kreativitas yang bagus dan lebih kuat. Sepetrti wujud-wujud desain aksesorinya juga menarik idenya begitu luas mulai dari benda untuk kegiatan ritual, kehidupan seharihari, hingga dari wujud tumbuhan dan binatang juga ada. Selanjutnya jika kita sempat melihat secara perlahan dan lebih detil cukup banyak pula produk hasil kerajinan tangan masyarakat Bali yang unik yang ditampilkan, meski belum merata semuanya. Baik melalui Drekaransda Kabupaten Kota maupun yang tampil secara aktif atau mandiri. “Kreativitas selalu diperlukan untuk menghindari kemonotonan., Perlu gagasan atau inovasi baru agar tidak mandeg dan menarik pastinya,” cetusnya.
Dewi Anyar
Ny. Bintang Puspayoga
Luh Gede Herryani
Selanjutnya ia juga menyinggung jika perkembangan kesenian yang ada di Bali sangat dipengaruhi perkembangan pariwisatanya. Rupanya, banyak produk kerajinan yang dipasarkan di Bali saat ini tidak hanya berasal dari Bali saja. Karenanya, kerajinan Bali sendiri harus bersaing dengan produk dari daerah lain. “Meski begitu, kerajinan karya pengrajin Bali, seperti yang ada di arena PKB masih tetap eksis dan diminati oleh pengunjung lokal utamanya maupun tamu domestik karena ide kreatifnya,”kata Luh De. Namun demikian menyoal tentang kualitas produk, ia mengatakan mungkin untuk selanjutnya penekanan akan kualitas ditingkatkan sekaligus disesuaikan dengan tema PKB yang tengah diusung. “Pastinya bukan sebatas memindahkan pasar seni ke tempat yang lain.Sebab harus diakui masih banyak produk yang dipajang juga biasa ditemui di pasar-pasar seni
selama ini. Kalaupun ada jangan sampai mendominasi tapi tetap ada peningkatan sebab Bali selama ini dikenal dengan kesan seni kreatifnya ,”ujarnya.
bersyukur selain ia secara mandiri ikut di PKB ini, selama ini Pemerintah Kota Denpasar juga ikut menggencarkan promosi melalui ‘website’ gratis yang disediakan dilengkapi dengan memberikan pelatihan kepada UKM untuk lebih mengetahui dan memahami standar pasar internasional untuk mengantisipasi MEA. Sedangkan Ny. Bintang Puspayoga, Ketua WHDI Provinsi Bali yang juga istri Menteri UMKM Puspayoga ketika berkesempatan mengunjungi beberapa stan pengrajin yang berada di bawah panggung terbuka Ardha Chandra menyatakan , bahwa kreativitas pengrajin Bali luar biasa. Karya-karya mereka yang dipajang terlihat semakin bervariasi dan memiliki inovasi serta keunikan tersendiri. Baik untuk produk fashion maupun handycraft lainnya. Melihat hasil karya cipta seni yang ada, PKB katanya masih menjadi kebanggaan lokal, nasional bahkan dunia. – Sri Ardhini
PKB MASIH JADI KEBANGGAAN Sementara Dewi Anyar yang mengikuti PKB untuk keenam kalinya menyampaikan jika sampai dengan minggu kedua pengunjung belum terlalu ramai. Penjualan juga belum ada peningkatan. “Semoga hari berikutnya bisa lebih bergairah pengunjungnya datang dan berminat pada produk-produk lokal,” harapnya. “Kami hadir disini juga ingin turut bersama-sama semua pihak untuk mengajak masyarakat berkampanye untuk mau menggunakan dan lebih mencintai produk lokal. Ini akan membantu meningkatkan perekonomian khususnya bagi para pelaku UKM kita,” lanjut Dewi yang tetap
Kepayang Tari Joged Menggerayangi Bali Tari Joged tak pernah lekang di tengah kehidupan masyarakat Bali, sejak zaman kerajaan dulu, hingga era globalisasi sekarang. Tengoklah gairah pementasannya di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-37 yang sedang digelar. Penampilan tari Joged duta Kota Denpasar (16/6), Kabupaten Karangasem (17/6), dan utusan Kabupaten Gianyar (20/6) di panggung terbuka Ksirarnawa, begitu semarak dirubung penonton. Parade Joged Bumbung yang dipentaskan pada sore hari itu menjadi salah satu tontonan favorit masyarakat. Sudah pasti, suguhan tari joged kabupaten lainnya akan semarak disesaki penggemar seni pertunjukan yang senantiasa mengundang keriuhan ini. Ngibing atau bagian tari ibingibingan adalah menu utama euforia keriuhan dalam pertunjukan joged. Para penonton pria yang berpartisipasi menari ke tengah arena pentas itu diundang lewat sentuhan kipas penari joged. Sebuah selendang diselempangkan terlebih dahulu di pinggang pria yang kena jawat sebelum berinteraksi menari. Pengibing yang memiliki keterampilan tari biasanya menunjukkan kemampuannya menimpali penari joged. Sedangkan pengibing yang tak punya kemampuan menari sering hanya unjuk kelucuan dan kesalahan tingkah. Tontonan joged di tengah arena
PKB sungguh menjadi hiburan yang riang ringan penuh tawa dan canda. Bagaimana dengan pentas tari joged di luar PKB? Belakangan, di sejumlah sudut di penjuru Bali, tari ibing-ibing secara elegan dan ceria seperti itu kurang tampak lagi. Begitu pula pada sebagian penari joged, tak perlu tersipu malumalu lagi ketika kena curi colek atau cium pengibing. Keindahan seni tari dalam pertunjukan joged masa kini cenderung tak menghiraukan estetika dan kesantunan. Erotisme dan sensualitas penari joged yang vulgar dan birahi agresif yang dipertontonkan si pengibing tampaknya menjadi menu utama. Banyak kalangan yang meri-
saukan nuansa mesum yang dibeber dalam pentas joged seperti itu. Citra tari joged pun tersungkur jadi kesenian rendahan. Hingga kini keberadaan joged bugil ria itu terus merebak, yang, dapat dipantau di You Tube dengan laku yang makin keblabasan. Hujatan apa yang mesti diberikan kepada tari joged seperti itu? Striptease ala Pulau Dewata? Sungguh ini adalah sebuah fenomena yang membingungkan dan menyesakkan dada. Joged sebagai sebuah ungkapan estetik dan media interaksi sosial, ternyata di suatu tempat terjerumus dalam jurang nista. Dari sejumlah sudut Bali, lewat kemajuan media telekomunikasi yang canggih
dan instans seperti sekarang tersebar tanpa batas ke segala penjuru dunia, menebar citra dan menciptakan image pada masyarakat, kesenian, dan budaya Bali. Joged porno itu telah mengerayangi, mencoreng moreng wajah Bali dan Indonesia. Upaya “pembinaan“ agar tari joged kembali pada relnya pun sempat digalakkan. Pada penghujung tahun 2005, Pemda Bali pernah menggelar lomba tari joged santun di Taman Budaya Denpasar. Secara berturut-turut sejak tiga tahun terakhir ini, Pemda Bali juga mendatangi langsung sekaasekaa joged agar kembali pentas yang lebih beretika. PKB juga menggelar tari joged dalam format lomba yang kriterianya mengedepankan sajian seni pentas estetis dan etis. Kabupaten Buleleng yang dicurigai memiliki penari atau grup joged erotis porno pernah menyelenggarakan lokakarya untuk menggariskan rambu-rambu estetika dan etika yang wajib ditaati oleh para penari atau grup joged. Berhasilkah segala upaya itu? Kiranya tidak! Biasanya, joged yang tampil dalam lomba atau dalam ruang publik yang formal adalah joged “baik-baik“. Sementara joged porno tetap liar dalam pangkuan komunitas-komunitas yang gamang dan permisif. Kejutan-kejutan budaya dan carut marut kehidupan rupanya bereskalasi pada sikap permisif sebagian masyarakat kita. Pola-pola moral yang
terdegradasi dalam kepanikan yang serba boleh itu, virusnya kini membiak di tengah-tengah masyarakat dalam segala implementasinya. Mungkin tari joged yang makin rajin diunggah di You Tube tersebut merupakan representasi dari telah runtuhnya tatanan kesantunan dan keluruhan budaya yang kita bangga-banggakan selama ini. Faktanya, sebagian masyarakat Bali, bisa menerima, suka menonton, bersemangat ngibing tari joged erotis nan meragsang itu. Hadirnya tari joged porno agaknya tak bisa dilepaskan, salah satunya, dari kehidupan “porno“ yang merubung masyarakat kekinian. Estetisasi seks tubuh perempuan kini gencar diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi masyarakat global. Di tengah ideologi pasar yang berorientasi uang dan tekanan ekonomi, para penari atau grup joged dengan modal kultural dan tubuh perempuan memasrahkan nasibnya berkiprah menggamit peluang di tengah persaingan hidup yang amat ketat ini. Jika saja ada kegiatan atau pekerjaan lainnya yang lebih menjanjikan untuk menyambung hidup, mungkin tak ada para perempuan Bali yang membenamkan martabat diri dan keluarganya menjadi penari joged porno yang honornya hanya cukup untuk beli gincu dan bedak murahan. -Kadek Suartaya