Skip to main content

Tokoh Edisi 850 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Bersinergi Wujudkan Masyarakat Gemar Membaca Budaya membaca yang tinggi diawali dari tumbuhnya minat baca. Kemudian menjadi gemar dan cinta membaca. Akhirnya memelihara dan mengembangkan minat baca tersebut menjadi suatu yang bermanfaat. Minimal bagi diri pribadi untuk menambah pengetahuan, memperoleh keterampilan, dan memperluas wawasan. Oleh karena itu, upaya terus menggugah minat baca masyarakat pun dilaksanakan secara berkelanjutan oleh pemerintah, melalui berbagai program Perpustakaan Daerah.

M

enurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip (Bapusip) Provinsi Bali, Luh Putu Haryani, S.E., M.M., hal tersebut, membawa konsekuensi bagi perpustakaan daerah yang dituntut lebih siap dan profesional menyediakan jasa layanannya Apalagi dengan adanya Hari Buku Nasional, Hari Kunjungan Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca serta Gerakan Membaca Nasional. Salah satu langkah membudayakan gemar membaca sedini mungkin pada anak-anak dengan kondisi yang kondusif, harmonis dan komunikatif adalah melalui berbagai lomba. “Tahun ini kami kembali menggelar lomba bercerita tingkat SD, Gending Bali (Sinom, Pangkur) tingkat SMP, dan baca puisi Bali modern tingkat SMA se-Bali,” ujar Haryani. Pada lomba yang digelar selama tiga hari, yakni, 19 s.d. 21 Mei 2015 itu, Ia melihat anak-anak antusias mengikutinya. Semangat mereka sangat tinggi dalam menunjukkan

Luh Putu Haryani, S.E., M.M.

kebolehan di setiap jenis lomba. Dengan program lomba tersebut, mereka juga ditanamkan kecintaan pada budaya daerahnya. “Selain itu juga ada lomba lainnya berupa lomba

pustakawan, perpustakaan sekolah hingga perpustakaan desa. Kemudian mulai tahun ini kami menyelenggarakan pembinaan dan lanjut lomba gugus perpustakaan,” terangnya. Ia berharap dengan berbagai lomba yang telah dilaksanakan akan memberikan manfaat dan peran maksimal dalam upaya meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat sejak dini juga membudayakan penghargaan terhadap orang yang gemar membaca. Agenda lainnya untuk terus meningkatkan minat baca, Perpustakaan juga melakukan pembinaan ke sekolah- sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Juga ke desa-desa dengan perpustakaan keliling bagi masyarakat yang jauh dari perpustakaan umum. “Di sini perpustakaan juga menggugah kesadaran masyarakat di desa tentang pentingnya membaca, melalui kegiatan ceramah dan pertemuan dengan masyarakat di sana. Sebab, jika setiap komponen masyarakat ikut terlibat secara terus menerus,maka kita akan semakin gemar membaca dan pada akhirnya kualitas SDM meningkat, dan semua lapisan siap dengan globalisasi termasuk kedatangan MEA,” katanya. “Selain itu kami juga senantiasa meningkatkan fasilitas, sarana dan prasarana yang ada, memperbanyak koleksi perpustakaan. Dan. tentunya sesuai dengan kemajuan teknologi

Tips mengukur minat baca, dengan ­menjawab pertanyaan berikut: wBerapa

menit sehari kita habiskan untuk membaca? wBerapa banyak buku yang pernah kita baca? wBerapa buku yang kita miliki atau koleksi? wApakah setiap hari kita membaca berita dari surat kabar atau dari media elektronik lainnya? wApakah kita pernah mengisi waktu kosong kita dengan membaca? wBerapa sering kita mengunjungi perpustakaan?

juga menyedakan E. library, serta tak ketinggalan menyediakan kemudahan akses informasi melalui internet lengkap dengan free wifi,” cetusnya sembari menyampaikan kalau pembuatan kartu aggota perpustakaan gratis. KEMBANGKAN KEBIASAAN MEMBACA Untuk menjadikan masyarakat Bali khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sebagai masyarakat yang gemar membaca atau, tumbuhnya kebiasaan membaca masyarakar (reading habit society), Badan Perpustakaan Provinsi sebagai jalur instansi pembina sekaligus sebagai salah satu pusat informasi tidak pernah berhenti melakukan berbagai upaya. Berbagai gerakan minat baca di sekolah-sekolah maupun di desadesa sudah menjadi agenda utama perpustakaan daerah. Namun, Haryani mengharapakan alangkah baiknya jika dilengkapi pula dengan kesediaaan langkah secara pribadi

dilingkungan rumah tangga atau keluarga Selain itu, ia tetap mengimbau kepada para orangtua untuk mengembangkan kebiasaan membaca dalam keluarga terutama anak-anak. Tentunya dengan menyediakan bahan bacaan yang cukup dalam keluarga, mendorong anak untuk gemar membaca, membiasakan berkunjung ke toko buku dan jangan lupa datang perpustakaan. Sebaiknya memang upaya mewujudkan masyarakat gemar membaca harus dilakukan secara bersinergi dan terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun organsasi kemasyarakatan. Dengan demikian hak yang seluas-luasnya untuk mengaskses informasi, memperoleh layanan, dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan dipastikan akan diperoleh oleh seluruh anggota masyarakat seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang Perpustakaan (UU No. 43/2007). -Sri Ardhini


2

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Ekspresso

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Jangan hanya Pansel Ada dua berita nasional yang berkaitan dengan wanita di pertengahan Mei 2015. Pertama heboh mengenai “beras plastik” yang ditemukan pertama kali di Bekasi. Kedua, Presiden Jokowi menunjuk sembilan wanita menjadi Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK). Heboh “beras plastik” membuat pemerintah turun tangan. Dari hasil pemeriksaan awal diduga beras itu mengandung senyawa polyvinyl chloride dan senyawa-senyawa yang identik dengan pelentur bahan polyvinyl seperti BBP (Benzyl Butyl Phtalate), DEHP (Bis (2-ethylhexy phtalate), DINP (diisonony phtalate) yang dapat membahayakan tubuh manusia. Jika bahan-bahan yang biasa dipakai pembuat pipa dan kabel ini masuk perut manusia, tentu memberi dampak negatif bagi kesehatan manusia. Apapun dalihnya, beras yang dicampur bahan plastik tentu

tidak dapat dibenarkan. Beras merupakan bahan makanan pokok orang Indonesia sedangkan plastik bukan untuk dimakan. Pemerintah harus segera menyelesaikan polemik ini dan memberi jaminan agar masyarakat tenang, khususnya kaum wanita yang lebih banyak bertanggung jawab untuk urusan dapur. Sementara itu, Presiden Jokowi membuat kejutan deng a n m e n g u m u m k a n Pa n s e l KPK. Ada sembilan orang yang ditunjuk. Mereka adalah Destri Damayanti, ahli ekonomi keuangan dan moneter (Ketua merangkap anggota), Enny Nurbaningsih, pakar hukum tata negara (Wakil Ketua merangkap anggota), Harkristuti Harkrisnowo, pakar pidana hukum dan HAM (anggota), Betty Alisjahbana, ahli TI dan manajemen (anggota), Yenti Garnasih, ahli hukum pidana, ekonomi, dan pencucian uang (anggota), Supra Wimbarti, ahli psikologi SDM dan pendidikan (anggota), Natalia Subagyo, ahli tata kelola pemerintahan dan re-

formasi birokrasi (anggota), Diani Sadiawati, ahli hukum dan perundang-undangan (anggota), dan Meuthia Ganie Rochman, ahli sosiologi (anggota). Jokowi berharap komisioner yang terpilih nanti memiliki kemampuan yang lengkap, yang mampu memperkuat kelembagaan KPK dan yang mampu meningkatkan sinergi KPK dengan lembaga penegak hukum lainnya dalam rangka membangun sistem pencegahan dan pemberantasan korupsi. Banyak kalangan menilai pemilihan Pansel KPK yang semuanya wanita menjadi jalan tengah bagi Jokowi. Beban berat pun disandang Pansel KPK ini karena mereka harus memilih pimpinan KPK yang benar-benar mumpuni dan berkualitas. Kini masyarakat menunggu bagaimana kinerja para wanita profesional ini dalam menjaring dan memilih calon pimpinan KPK. Apakah akan ada kejutan dari Pansel KPK ini? Apakah akan ada wanita yang menjadi calon pimpinan KPK? Kita tungga saja. Saatnya wanita menunjukkan eksistensi dan kemampuan.

Misteri Tangisan Bayi Aku bersaudara enam orang dan hanya adikku yang bungsu berjenis kelamin laki-laki. Sejak kehadiran keponakanku yang berjenis kelamin laki-laki, kami sangat bergembira, terutama kakak dan iparku. Mereka melakukan kewajibannya semaksimal mungkin untuk membesarkan buah hatinya. Bagi mereka bayi menangis adalah hal yang wajar karana tangisan bayi merupakan ekspresi dari rasa haus, lapar, dingin, merasa tidak nyaman karena kencing atau buang air besar. Makin hari pertumbuhan ponakanku makin besar, namun yang paling membingungkan adalah tiap pukul 00.00 ia selalu menangis. Tentu saja hal tersebut membuat kakak dan iparku cemas serta gusar. Sebagai orangtua, kakakku berusaha menenangkan keponakanku dengan menimang-nimang supaya mau diam. Segala upaya dilakukan walaupun malam tak mengurungkan dia, harus menyanyi supaya bayinya bisa tenang, dan mau diam. Segala minyak bayi sudah dioleskan mulai dari minyak telon di kaki, minyak kayu putih di perut, masih juga menangis. Agar hal serupa tidak terulang lagi, sebagai keluarga yang baru punya momongan, iparku berta­

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

nya pada keluarga yang sudah duluan punya bayi. Atas petunjuk orang tersebut, di tempat mengubur ariarinya agar diberi sesajen berupa nasi kepel sehingga saudaranya tidak diganggu. Karena sudah melakukan apa yang disarankan, keluarga kakakku merasa tenang dan keponakan tidur seperti bayi yang lain. Namun, ini hanya bertahan beberapa hari. Mendatangi paranormal untuk mencari solusi juga sudah dilakukan. Petunjuk paranormal pun sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Kakakku sampai merasa trauma. Menjelang malam keluarganya itu sudah mulai dihantui rasa cemas. Jangan-jangan sebentar lagi bayinya akan menangis lagi. Apa yang di­ sangka selalu jadi kenyataan. Saking jengkel, sedih, marah, kecewa, takut bercampur jadi satu menghantui pikiran, iparku sudah menyiapkan strategi jika malam ini anaknya lagi menangis, dia akan melakukan apa saja yang ingin dilakukan.

Kali ini yang dia lakukan adalah mengambil kapak ke dapur, kemudian mendekati drum aspal yang tergeletak dekat dapur. Iparku memukul-mukul drum itu sekuat tenaga dengan kapak yang digenggam ditangannya. “Leak lamen layah ne bapanne amah. De anak cerik sing nawang apa ganggune!”(Setan jika lapar ini bapaknya makan. Jangan anak kecil yang tidak tahu apa-apa diganggu). Beberapa tetangga berdatangan sambil menasehati iparku agar menghentikan perbuatanya. Begitu drum itu sudah remuk dan keponakanku sudah tidak menangis lagi barulah iparku berhenti memukul drum bekas aspal yang tidak bersalah, telah menjadi sasaran kemarahan dan jengah yang luar biasa. Sejak amukan malam itu “OMG!” keponakanku tidak lagi menangis malam-malam. Ni Wayan Weti SMPN 2 Manggis

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 2.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Mozaik

Putu Wijaya

buruh

Pulang dari jalan-jalan pagi, Amat senyamsenyum. Ia duduk santak di teras rumah. Bu

Amat cemburu. “Katanya banyak orang cantik-cantik sekarang suka jalan-jalan pagi. Betul Pak?” “Apa?” “Bukan hanya orang tua-tua, perempuan cantik-cantik sekarang ikut-ikutan jalan-jalan pagi. Betul?” “Betul.” “Tadi ketemu siapa saja?” “Banyak.” “Cantik-cantik? “O, iya!” “Janda cantik yang baru pindahan itu ada?” “Apa lagi dia!” “Bapak ngobrol dengan dia?” “Iyalah kan tetangga.” “Lama?” “Bukan lama lagi, kelihatannya dia kesepian.” “Jadi pergi 3 jam dari subuh, sampai sarapan itu bukan olahraga, tapi ngobrol!” Amat ketawa. “Yah, bisa dibilang begitu.” Tiba-tiba terdengar bunyi pyangngng, cangkir jatuh. “Apa itu, Bu?” Tak dijawab. Amat terus berceloteh sambil senyam-senyum.. “Yah begitulan zamannya sekarang. Niatnya jalan-jalan, sport, akhirnya bergunjing. Buang-buang waktu saja. Untung isi percakapannya menarik. Kalau tidak, rugi. Meskipun dalihnya untuk lobbying, seperti kata pejabat dan konglomerat di lapangan golf. Ya kan, Bu?” Tak ada sahutan. Amat mengangkat pantatnya dari kursi, lalu masuk rumah. Ada cangkir pecah di lantai berbaur kopi. “Waduh, pasti ulah kucing kudisan itu lagi. Bu! Kucing brengsek itu bisa masuk lagi. Bilangin yang punya, sekali lagi piaraannya ngerusuhin tak buang ke sungai!” Amat terpaksa ngepel supaya lantai tidak lengket. Sementara keringatnya mulai membasahi keleknya ia terus berceloteh. “Tadi, Pak Baron, orang kaya itu juga ada di stadion.. Tapi dia sendiri tidak jalan-jalan. Ia mengantarkan anjing herdernya jalan-jalan. Tiap sebentar anjing itu berhenti lalu kencing dan berak. Pak Baron lalu mengeluarkan kertas tisu yang rupanya sudah disiapkan, lalu membungkus tahi anjingnya untuk kemudian dimasukkan ke kantong plastik yang juga sudah disiapkan.” Amat lalu ketawa. “Bapak jadi bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya yang mana tuannya? Pak Baron atau anjingnya?! Jadi rancu!” Sambil cekikikan, lalu Amat menyimpan alat pel di belakang. Ketika kembali, ia meneruskan celotehnya. “Pak Wayan, di rumahnya ada usaha kripik. Ia bos dengan buruh sekitar 30-an orang. Tapi di kantor tempatnya kerja, ia cuma satu di antara 50 buruh yang lain. Apa dia buruh atau majikan?” Amat ketawa lagi. “Banyak sekali yang bertentangan seperti siang dan malam dalam hidup ini. Sehingga kalau ada demo, seperti pada tanggal 1 Mei lalu, kita bingung. Pak Wayan itu termasuk kelompok pendemo atau kelompok yang di demo? Segalanya jadi rancu!” Tetap tak ada reaksi dari Bu Amat yang mendekam dalam kamar. Amat lalu kembali ke teras, melanjutkan lamunannya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Bu Amat langsung ke teras. Sebelum suaminya sempat buka mulut, ia berbisik lirih. “Yang punya lebih dari satu pekerjaan itu buruh. Majikan, hanya satu pekerjaan.” Amat menoleh. “Kita buruh atau majikan?” “Bapak buruh, karena di samping jalan-jalan bisa haha-hihi dengan perempuan cantik! Saya majikan, karena hanya menunggu suami!”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Tas Bathok Kelapa

Awalnya untuk Istri Tak ada istilah sampah bagi Anas Faisol (43), warga Desa Kali Glagah, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pecahan bathok kelapa yang pantas disebut sampah ini, justru disulap menjadi barang berharga. Karena bathok kelapa diolah sedemikian rupa sehingga menjadi tas cantik tiada tara. Elegan dan memesona.

T

Faisol

as cantik produksi Faisol ini banyak digemari wanita masa kini. “Tas ini saya buat tidak hanya sekadar tempat bawaan. Dengan menggunakan tas ini, seseorang akan kelihatan lebih cantik.” jelas Faisol. Benar saja apa yang dikatakan bapak dua anak ini. Karena setiap tas memiliki desain yang berbeda. Disesuaikan dengan wanita penggunanya. Mulai dari bagaimana bentuk postur tubuhnya. Gemuk, kurus, tinggi, pendek, semua ada ukurannya. Selain itu, wajah dan warna kulit juga menjadikan pertimbangan. Bentuk wajah dan

warna kulit ini menentukan pilihan warna yang cocok. “Kalau orangnya putih, warna apa saja saya kira cocok. Tapi kalau orangnya hitam, mending tas yang dipilih warnanya agak gelap. Jangan warna yang mencolok. Kecuali baju yang dikenakan motif ramai atau kembang-kembang, itu baru masuk. Tapi kalau polos, mending agak gelap, seperti warna coklat, abu-abu dan merah tua, “ ujar Faisol. Sekilas, memang tidak nampak bahwa tas produksi buatan Faisol terbuat dari bahan dasar bathok kelapa. Orang mengira terbuat dari kulit badak atau kulit rusa. Selain itu, jauh dari kesan murahan. Maklum, karena desain dan corak yang dihasilkan, sangat halus. Kalau tidak dipegang dan dilihat dari jarak dekat, tas buatan Faisol ini juga mirip dibuat dari kulit buaya. Gantungan tas yang digunakan, tidak kalah menariknya. Terkesan seperti kayu jati dan stigi. Padahal, itu murni dibuat dari kayu glugu. Pohon kelapa yang tidak digunakan. Sedangkan yang berbentuk tali, Faisol mengaku produk buatan pabrik. “Ini masih proses. Ke depan saya ingin semua produk tas saya khusus berbahan kelapa,” ujar lelaki kreatif ini. Diakui Faisol, usahanya yang baru digeluti 3 tahun ini masih belum maksimal. Masih banyak yang harus disesuaikan. Terutama pada

Tas Bathok kelapa yang cantik

trend dan karakter seseorang. Kendati demikian, Faisol mengaku sudah sangat bersyukur. Karena produk yang dihasilkan, sudah memilik pelanggan tetap. Dalam menjalankan binisnya ini, Faisol dibantu dengan puluhan karyawan. Ada laki-laki dan ada perempuan. Tapi mayoritas perempuan. Dalam sehari Faisol mampu mengahasilkan 350 buah tas jadi dari berbagai

macam ukuran. Mulai dari yang kecil, sedang, dan besar. SERAT ALAMI YANG INDAH Menurut Faisol, sukses itu tidak ada yang kebetulan. Tetapi rencana yang dibuktikan dengan niat sungguh-sungguh. Begitu juga dengan usaha Faisol ini. Waktu itu, dia terinspirasi dengan tumpukan

23

bathok kelapa yang berserakan di pasar. Tak lama kemudian, bathok kelapa itu dikumpulkan oleh tukang kebersihan lalu dibakar. Dari tukang sapu itu, ada satu keping sampah bathok kelapa yang terjatuh tepat di depan Faisol. Iseng-iseng, kemudian bathok kelapa itu diambilnya. Sejenak bathok kelapa itu dibolak-balik dan lihatnya. Ternyata, dari pengamatan Faisol, bathok kelapa memiliki serat alami yang indah. “Seratnya itu jelas. Apalagi kalau digosok halus, seratnya akan terlihat timbul dan alami,” ungkapnya. Setiba di rumah, Faisol kembali berpikir. Bathok kelapa itu, cocoknya buat apa? Sehingga tercetus ide buat tas. Saat itu juga, Faisol mengumpulkan bathok kelapa sendiri. Ia ambil dari beberapa penjual kelapa yang ada di pasar. Setelah terkumpul, Faisol melakukan eksperimen sendiri. Bathok kelapa itu dibersihkan dan kemudian dilem. Hasilnya, sangat mengejutnya. Ternyata tas buatannya itu terlihat alami dan memesona. “Awalnya ya dibuat istri saya. Tapi setelah teman-temannya tahu, minta dibuatkan,” kata Faisol. Dari situlah, awal usaha Faisol ini dimulai. Sedikit-demi sedikit dan kini sudah mulai banyak pelanggan. Pelanggan juga bervariasi, ada yang kelas bawah, menengah, dan atas. Untuk harganya sendiri, juga bervariatif mulai dari harga Rp 35 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dan lamanya pekerjaan. “Nggak mahal kok. Yang penting sama-sama jalan,” tegas Faisol. -Khoirul Abadi

Minum Kopi Tumbuk di Warung Modern

Kalangan menengah ke bawah mempunyai kebiasaan mencari tempat yang cocok dengan uang bawaannya. Jadi apabila mereka ingin menikmati secangkir kopi panas, tentu warung kopi sederhanalah yang dicarinya. Membuka usaha warung kopi seperti menyambut datangnya keuntungan. Saat ini di Ponorogo menjamur warung kopi, mulai dari warung kopi sederhana sampai banyaknya bermunculan kafe atau kedai kopi modern. Tentunya dengan target konsumen mereka yang berbeda. Harga secangkir kopi yang ditawarkan pun tidak sama. Kedai kopi modern biasanya menjual secangkir antara Rp 10 ribu sampai 20 ribu sedangkan warung kopi sederhana menjual secangkir kopi antara Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Peluang bisnis warung kopi ini akhirnya dilirik Ari Bilowo karena potensi keuntungan dari hobi orang Ponorogo menikmati kopi sambil

bercengkrama. Jengah menjadi kontraktor, dia memutuskan banting setir mengelola bisnis sendiri. Bisnis yang ditekuninya lumayan cepat berkembang. Ada dua kedai miliknya yang ada di wilayah kota Ponorogo yaitu warung kopi Oposisi di Jl. Pramuka dan warung kopi Partikelir di Jl. Parang Menang. Kopi yang dijual sebenarnya kopi tumbuk biasa, namun konsep warung kopinya ternyata menarik orang untuk berlama-lama berada di warungnya. “Saya sengaja mendesain warung seperti layaknya berada di sebuah rumah Joglo (rumah khas Jawa-red) ditambah dengan fasilitas wi-fi serta TV kabel. Orang datang tidak hanya untuk minum kopi namun juga untuk keperluan lain, jadi saya buat konsep seperti ini,” ujarnya. Dia tidak malu mengaku meniru gaya warkop konvensional. Namun, tetap ingin memasukkan unsur modern dalam bisnis kedai kopi miliknya. Untuk menarik perhatian anak muda, warung kopi miliknya dibuat modern dan nyaman untuk kongkow. “Konsepnya kopi-kopi nusantara, ada menu warkopnya juga seperti, gorengan. Tetapi agar beda, gorengannya seperti risol dibuat jadi modern, jadi lebih menarik,” imbuhnya Untuk membangun bisnis

warung kopi, dia mengaku menghabiskan modal sekitar Rp 60 juta. “Memang lumayan besar modal yang saya keluarkan, karena untuk luas tanah yang saya butuhkan sangat besar, agar bisa menampung pelanggan banyak, belum lagi untuk membeli bangunan Joglo harganya relatif mahal karena termasuk barang antik,” ungkapnya. Ari mengaku tidak menargetkan mendapat hasil yang besar, yang penting walau kecil tapi kalau dikalkulasi menjadi banyak. “Tiap hari sekitar Rp 200 sampai 300 ribu, kalau dikalikan 30 hari bisa mencapai jutaan, mengalir sajalah, yang penting bisa berjalan dan lancar tidak gulung tikar,” ucapnya. Dengan menjamurnya warung kopi yang ada di kota Ponorogo membuat Ari Bilowo ingin membuka cabang lagi namun dengan konsep yang modern. “Ingin buka lagi, tapi konsepnya berbeda, lebih modern, sehingga mereka yang kelas atas juga bisa menikmati kopi di warung kopi sesuai dengan gaya hidup mereka,” terangnya. -Dinar P. Perdana


22

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Keris, Perpaduan Senjata dan Seni Pemandangan tidak biasa terjadi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5). Siang itu banyak tokoh berkumpul mengerubuti sejumlah benda-benda pusaka yang sedang dipamerkan. Ya ternyata siang itu DPR sedang menggelar Pameran Keris Pusaka Nusantara.Pesertanya adalah para tokoh negeri ini yang ternyata memiliki hobi ­m engoleksi keris pusaka dan bertuah.

I

ni baru pertama kali DPR menggelar acara pameran keris. Karena baru pertama kali, maka pesertanya pun belum terlalu banyak. Umumnya adalah hasil koleksi keris para politisi. Di antaranya adalah milik Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang memang sejak lama dikenal sebagai kolektor keris. Koleksi lainnya adalah milik Fadli Zon, Wakil Ketua DPR serta milik tokoh senior hukum dan HAM, Adnan Buyung Nasution. Fadli Zon mengatakan, acara pameran keris nusantara ini selain untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional juga untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Menurutnya, ada banyak tokoh Indonesia suka mengoleksi keris. “Bung Karno, Pangeran Diponegoro dan hampir semua pemimpin Indonesia memiliki keris. Keris tidak hanya sebagai senjata tapi juga perpaduan seni, pahat, ukir. Kami berharap dengan adanya pameran ini dapat membangkitkan semangat kebangkita nasional dimana keris merupakan warisan budaya yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang,” katanya. Setelah pameran keris, tambah politikus Partai Gerindra ini, bisa jadi nantinya akan ada pameran batu akik, pameran lukisan, filateli, dll, digelar di DPR. “Jadi intinya, kita ingin ada budaya di DPR,” ucap Fadli seraya berharap agar masyarakat ikut mengapresiasi keris. “Keris –keris ini adalah asli Indoensia. Kita harapkan ini diapresiasi oleh seluruh bangsa, dimulai dari anggota DPR,” katanya lagi. Fadli sendiri mengaku mulai berburu keris sejak tahun 90-an, saat masih mahasiswa. Awalnya, karena kerap melihat keris-keris Indonesia yang dibeli orang asing. Akhirnya, Fadli sendiri pun tergerak untuk membeli keris. Keris pertamanya dibeli seharga Rp 2 juta. “Keris asal Jawa ini berpamor beras tumpah. Keris ini tadinya mau dibeli oleh orang Malaysia, tapi saya beli terlebih dahulu,” ucapnya. Kini koleksi kerisnya sudah mencapai 1.200 –an yang diperolehnya lewat membeli dari sesama kolektor, lelang tapi ada juga yang diberikan. Menurutnya, ia memiliki keris dari hampir semua daerah di Indonesia. Bahkan ia juga memiliki salah satu keris paling langka yakni sabuk inten Sumatera dan Megantoro. Yang juga dipamerkan dalam ajang ini adalah koleksi Fadli Zon paling tua yakni, keris Singosari yang berasal dari abad ke-11. Ini adalah koleksinya pa­

ling tua. Keistimewaan keris ini adalah kelangkaannya. Kemungkinan, kata kurator pameran, Basuki Teguh, keriskeris ini tertinggal saat ada ekspansi ke Melayu. Teguh menambahkan, salah satu yang menarik dari keris ini adalah kesempurnaan detailnya. “Keris adalah warisan adiluhung, nenek moyang leluhur kita. Ini kita pamerkan sebagai penghargaan pada leluhur kita,” tambahnya. –Diana Runtu

Ketua DPR Setya Novanto memegang koleksi golok milik Tjahjo Kumolo

Tjahjo Kumolo Koleksi Pedang Gaib Koleksi lain yang tak kalah menariknya adalah milik Mendagri Tjahjo Kumolo. Mantan anggota DPR ini selain memamerkan pedang gaib dari Kerajaan Banten. Lebih menarik lagi, karena menurut Tjahjo, senjata itu diperolehnya secara gaib. “Saya memperolehnya secara gaib, ini sepasang. Konon dulu ini dipakai untuk hukuman mati. Selain pedang ini, saya juga memiliki beberapa keris zaman Mataram dan Majapahit,” ungkap Tjahjo yang memiliki koleksi benda-benda pusaka sekitar 60-an. Selain pedang gaib itu, ia juga memamerkan golok tanduk domba yang panjangnya 1,5 meter. Tjahjo memang sejak lama dikenal sebagai kolektor benda-benda pusaka tanah air. Dulu,

ia termasuk gemar berburu benda-benda itu. “Saya suka barang-barang seni zaman dulu. Ini semata-mata untuk menjaga identitas nilai budaya kita yang tinggi, berkarakter dan bertuah,” katanya. Lain lagi dengan koleksi Adnan Buyung Nasution, tokoh senior bidang hukum dan HAM. Ada enam keris yang dipamerkan Bang Buyung, begitu ia biasa disapa, salah satunya adalah keris bertahtakan batu mulia. Keris yang disebut Tilam Upih ini diperkirakan berasal dari abad ke-16. Keris lainnya adalah, Parungsari dari Madura, dan keris Nagabasuki yang juga berasal dari Madura pada abad ke-14.

Di bagian lain tokoh keris nasional, Haryo­ no Haryoguritno yang juga mantan ajudan Bung Karno mengatakan, sejarah tokoh bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keris. Mulai dari Presiden Sukarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, Jenderal Besar Sudirman, Mantan Wakil Presiden Adam Malik hingga Bung Tomo memiliki keris. “Para pejuang Indonesia terdahulu tidak jauh dari keris,” katanya. Keris Indonesia telah diakui oleh UNESCO sebagai ‘A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity’ atau ‘Karya Agung Lisan Tak Benda Warisan Kemanusiaan’pada 25 November 2005. –Diana Runtu

Sosialita

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

3

D.A. Mas Shintya Dewi

Doa dan Jaga Kualitas Tiap orang menentukan pilihan kariernya dengan alasan yang berbedabeda, entah itu urusan materi, passion maupun latar belakang pendidikan. Namun, apapun alasan yang mendasarinya, sebuah pilihan profesi sudah sepatutnya dijalani dengan hati dan loyalitas tinggi.

sepenuh hati. Mulai dari tugas rumah tangga hingga memantau perkembangan ketiga buah hatinya, sebab saat ini sang suami tercinta masih menjalankan tugasnya di Jakarta. Shintya yang menerapkan komunikasi terbuka dengan keluarga ini mengatakan dalam mendidik ia lebih banyak memberi contoh langsung. “ Khusus untuk tugas saya sebagai dokter anastesi, saya berikan penjelasan pada anak-anak, seperti apa dan bagaimana saya dalam menjalankan tugas,” ujar ibu dari I Gd. Mahesa Deva Setiawan, Kadek Nandine Anestya Deva dan Komang Sanrisa Kanaya Deva ini. Ibu muda ini juga menyebut soal mendidik, almarhumah ibunya adalah inspirasinya., “Ibu orangnya sangat friendly dan penyayang tapi juga tegas dan pekerja keras. Pokoknya

B

D.A. Mas Shintya Dewi

iron lady banget. Dari kecil kami dididik harus mandiri. Walau ada pembantu, kami punya tugas masingmasing, termasuk tiap selesai makan harus cuci piring sendiri. Karena didikan beliau juga, sekarang saya rasakan manfaatnya. Tidak punya pembantu dunia tidak kiamat kok,” tuturnya tergelak. Meski waktunya terkesan padat, namun ternyata dokter yang dikenal energik dan multitalenta ini masih bisa menjalankan hobinya di jagat fashion. Malah tidak tanggung-tanggung ia menjadikannya usaha. Begitu juga urusan kebersamaan dengan

esain pakaian berbahan endek untuk putra- putrinya. Bahkan kemeja endek buatannya menjadi busana favorit sang ayah yang Rektor Universitas Warmadewa itu. Meski mengaku diawal usahanya ia tidak tahu apa-apa, namun ia tidak pernah malu untuk bertanya kepada siapa saja yang ahli dan tahu. Ditambah pengalamannya, melihat banyak brand luar yang harganya cukup mahal tersebut, sebenarnya digarapnnya di Indonesia. Ini juga makin menguatkannya membuka bisnis. “Saya ingin membuat semua bisa mengenakan produk berkualitas

dr. Shintya dan keluarga

egitu juga dengan sosok yang satu ini, dr. D.A. Mas Shintya Dewi, Sp.AN. Sebagai dokter anastesi, saat kunjungan praoperasi dan pembiusan, pada kesempatan yang cukup sempit itu, ia akan menjawab pertanyaan cerdas para pasien, bahwa ia bekerja sesuai SOP. Selain itu, katanya yang tidak kalah penting adalah selalu mengajak dan mengingatkan untuk berdoa demi kelancaran semua proses. Dalam menjalankan tugasnya istri dari I Komang Setiawan, S.E., M.Si., ini bersyukur, sebab banyak pula calon pasien operasi, sebelumnya sudah aktif mencari informasi di internet dan media lainnya, sehingga mengetahui apa risiko dan efek samping pembiusan yang sangat mungkin dihadapi. “Namun, biasanya setelah meluangkan waktu ngobrol, pasien akhirnya menyerahkan kepada saya

tentang pilihan teknik anastesi yang terbaik dan teraman bagi mereka berdasarkan pertimbangan keahlian saya,” ujar putri ketiga pasutri Prof. dr. Dw. Putu Widjana, DAP.E.,Sp.,Par.K, dan Dewa Ayu Putu Suliasih (almh) yang memiliki prinsip bekerja lebih menjaga kualitas daripada kuantitas ini. Bicara pengalaman, Shintya yang juga tercatat sebagai dosen Fakultas Kedokteran Unud ini menyatakan, memiliki kesan sangat beragam. Diantaranya beberapa email ucapan terima kasih yang diterimanya dari pasien–pasien orang asing yang sudah kembali ke negaranya dan merasakan kepuasan atas proses operasi yang dijalaninya di Bali. DOKTER YANG MOMPRENEUR Ketika disinggung aktivtas lainnya sebaga istri dan seorang ibu. Shintya mengatakan dia pun menjalankannya dengan senang dan

dr. Shintya dan koleksi busana karyanya

dr. Shintya di ruang produksinya

anak-anak, ia juga mampu mengatur waktunya untuk bisa bersama anakanaknya. Karena sekeluarga mereka hobi baca, maka salah satu acara akhir pekan bersama adalah ke toko buku. Makanya, tidak heran jika ia disebut juga dengan mompreneur Soal usaha , Shintya yang saat remajanya aktif modeling mengaku memang punya mimpi memiliki usaha bidang fashion. Ia pun hadir dengan merek produk “KS”, yang artinya Komang (nama suami) dan Shintya. Baginya rezeki datang karena mereka berdua selalu kompak. “Model desain kami adalah simpel tapi elegan dan tidak akan ketinggalan tren,” tandasnya. Urusan desain memang dikerjakannya sendiri, agar taste yang ia inginkan utuh. Setelahnya baru ia serahkan pada tukang potong dan penjahit yang membantunya. Dulu, katanya ia lebih banyak mendesain busana kerja, yang banyak dipesan kolega terdekatnya dan dikenakannya sendiri. Selain itu ia juga mend-

tapi bisa diperoleh dengan harga lokal,“ katanya dan menjelaskan saat ini baru sanggup melayani pelanggannya yang ada di Bali. “Belum lama ini saya sempat mencoba mengirim beberapa potong pakaian ke Dublin di Irlanda. Kebetulan di sana ada famili yang punyai toko fashion . Semoga nanti ada kelanjutannya,” kata Shintya. Selanjutnya dengan semangat ia mengatakan ke depannya, mesti memiliki target dan berani membuka toko di luar dan mimpinya juga brand- nya ini bisa bersaing dengan brand dari luar. Ketika ditanyakan kembali apakah menjalankan semuanya itu ia tidak kerepotan. “Ketika kita berpikir bisa mengerjakannya maka semua akan lancar,” cetus perempuan yang ramah ini sambil mengatakan tidak terlalu merasakan ada kendala karena yang dilakoninya berdasarkan kesukaan. “Apalagi saya juga punya suami yang selalu mendukung dan menjadi partner diskusi yang asyik,” tegasnya. -ard


4

Inspirasi

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Yenti Garnasih

Doktor Pertama Indonesia Bidang Pencucian Uang Tak pernah bercita-cita menjadi pakar hukum apalagi menggeluti bidang tindak pidana pencucian uang (TPPU), tapi jalan hidup justru membawanya ke jalur ini. Bidang yang dikenal ‘keras’ dan kebanyakan digeluti oleh laki-laki, justru dimasuki oleh Yenti Garnasih, doktor tindak pidana pencucian uang pertama di Indonesia.Dulu, saat Yenti mempelajari bidang ini tahun 90-an, TPPU masih asing bagi dunia hukum kita.

N

amun seiring waktu, ketika perang terhadap korupsi semakin digencarkan, bidang TPPU pun mencuat. Apalagi karena hampir kebanyakan kasus korupsi berkembang menjadi perkara TPPU. Maka Yenti pun menjadi salah satu sosok paling dicari untuk dimintakan pendapatnya terhadap berbagai kasus yang terjadi. Tak heran kalau wajahnya pun menjadi sering kita lihat di layar kaca. Maklum, dalam beberapa waktu belakangan ini, pemberitaan terkait korupsi dan TPPU marak di media massa. Kiprah Yenti ini di dunia hukum Indonesia tentu saja mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Tak heran kalau saat Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama Pansel Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis (21/5), nama Yenti Garnasih termasuk salah satu di antara sembilan wanita terpilih. Wanita kelahiran Sukabumi 11 Ja­­nuari 1959 ini mengaku sempat terkejut. Apalagi kabar itu datang dari koleganya di kampus juga para awak media. Sementara pihak pemerintah belum memberitahukannya secara resmi. “Tapi memang, kemarin (Rabu 20/5), ada orang yang menghubungi saya. Menanyakan kesediaan saya untuk dimajukan kepada presiden terkait hal ini. Tapi orang yang menghubungi saya itu bukan orang pemerintah. Jadi yang mencalonkan saya kepada presiden ada­ lah orang luar,” jelas pakar hukum pidana ekonomi dan pencucian uang ini. Maklum saja kalau Yenti kaget karena baru Rabu dia mendapat kabar kalau namanya akan dicalonkan pada Presiden, namun keesokan harinya atau Kamis, namanya sudah langsung tercantum di antara sembilan nama para srikandi Pansel KPK. Presiden Jokowi sendiri mengumumkan hal itu di Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sesaat sebelum bertolak ke Malang, Kamis (21/5). Selain nama Yenti Garnasih, delapan nama lainnya adalah; Destry Darmayanti (ahli ekonomi, keuangan dan moneter) , Enny Nurbaningsih (pakar hukum tata negara), Harkristuti Harkrisnowo (pakar hukum pidana dan HAM), Betti S Alisjahbana (pakar IT dan manajemen), Supra Wimbarti (ahli psikologi SDM dan pendidikan) , Natalia Subagyo (ahli tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi), Diani Sadiawati (ahli hukum yang juga Direktur Analisa Peraturan Perundang-undangan Bappenas ) dan Meuthia Ganie-Rochman (ahli sosiologi korupsi dan modal sosial). Keputusan Jokowi ini sempat mengejutkan publik karena tidak pernah dalam sejarah pembentukan Pansel KPK, seluruh anggotanya adalah perempuan. Tak heran kalau

beragam komentar bermunculan. Banyak yang memuji langkah Jokowi ini, dan menganggap ini adalah ‘ujian bagi perempuan’ untuk menunjukkan kemampuannya dalam memilih para calon pimpinan KPK. Namun ada juga yang mengeritik Jokowi karena sama sekali tidak melibatkan para pria dalam Pansel tersebut. Pengeritik beranggapan, bidang KPK adalah bidang keras karenanya Pansel itu harusnya juga melibatkan laki-laki. Tapi pandangan bias gender ini, boleh dibilang hanya disuarakan segelintir orang. Kebanyakan justru mendukung pilihan ini, karena para wanita terpilih ini selain profesional di bidangnya juga independen atau lepas dari keterikatannya dengan Parpol. Margarito Kamis, pakar hukum tata negara, misalnya, adalah salah satu yang sangat mengapresiasi pilihan Jokowi. Atas putusan ini, Margarito mengaku, dirinya bukan hanya mengangkat satu jempol untuk Jokowi tapi dua jempol. “Bagus, bagus, saya dukung itu,” tegas dosen Universitas Negeri Khairun Ternate. MANTAN MODEL YANG KEPINCUT ‘BIDANG LANGKA’ Berbicara tentang Yenti dan kiprahnya saat ini mungkin sudah banyak yang mengulas. Namun tahukah Anda kalau Yenti dulunya tidak pernah bercita-cita menjadi ahli hukum, apalagi menjadi pakar tindak pidana pencucian uang. Dia justru menyukai seni dan ingin berkiprah di bidang entertainment. Menariknya lagi, di masa mudanya dia pernah menjadi peragawati yang berlenggak-lenggok di catwalk juga menjadi model iklan. Menurut Yenti, bapaknya adalah sosok yang membuat dirinya mencintai seni sejak kecil. Untuk itu dia diikutkan les seni tari, menyanyi bahkan modeling. Untuk pendidikan, bapaknya yang perwira tinggi di jajaran TNI, tegas dan disiplin. Mereka harus mendapat rangking di sekolah. Apalagi kemudian ayahnya menjadi Bupati Purworejo tahun 1975-85. “Beliau menginginkan kami menjadi anak-anak berprestasi. Katanya, sebagai anak bupati kami akan sangat disorot karena itu harus mempunyai prestasi. Jadi kami harus mendapat rangking di sekolah,” kata Yenti

yang merupakan anak sulung dari enam bersaudara ini. Kedisiplinan sang ayah ini membentuk Yenti menjadi sosok pekerja keras. Setamat SMA, ia sempat kuliah jurusan seni dan sastra di IKIP Yogyakarta, namun tidak sampai lulus, karena menikah. Suaminya yang juga seorang tentara yang dinasnya berpindahpindah membuatnya untuk sementara tidak bisa melanjutkan kuliah. Anehnya, setelah mendapat kesempatan kuliah, pilihannya justru berubah jauh, ia ingin mengambil jurusan hukum. Ternyata ada pengalaman pribadi yang membuatnya berkeinginan mempelajari hukum. Yenti akhirnya menamatkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor. Saat pindah ke Jakarta, Yenti direkrut sebagaitenaga ahli di Kementerian Lingkungan Hidup, ia

Yenti Garnasih

juga meneruskan pendidikan S2 dan S3 di Universitas Indonesia. Jalan hidup orang memang tidak ada yang tahu. ‘Perkenalan’ Yenti dengan bidang TPPU pun awalnya bukan atas kemauannya sendiri. Suatu ketika, ujar Yenti, dia membantu beberapa delegasi guru besar yang dikirim Departemen Luar Negeri dan Departemen Hukum untuk mengikuti seminar di luar negeri. Tapi ketika ada seminar tentang money laundering, justru Yenti lah yang disuruh ikut seminar itu. Maklum saja, money laundering atau TPPU di tahun 90-an sungguh

masih menjadi suatu yang asing bagi hukum Indonesia. “Mungkin delegasi berpikir, apa itu money laundering, kasih saja ke Yenti,” ujar wanita ini mengenang pengalamannya di tahun 1995. Kala itu, ucapnya, dia masih bergelar master, sementara anggota delegasi di antaranya doktor dan professor. Yenti yang masih yunior sedih, karena sama seperti para doktor dan profesor itu, sesungguhnya TPPU pun masih menjadi sesuatu yang asing baginya. Tapi apa mau dikata, karena telah ditunjuk, maka dia pun terpaksa ikut seminar tersebut. Tak dinyana, berawal dari keterpaksaan itu, dia justru merasa tertarik dengan bidang itu. Masa itu, kata Yenti, Indonesia belum memiliki UU TPPU. Tak heran kalau Indonesia menjadi sorotan dunia karena menjadi ‘surga’ bagi tindak pencucian uang. UU TPPU, melarang orang menikmati hasil kejahatan. Jadi agar tidak ada korupsi maka hasil korupsi bisa dikenakan money laundering. Baru pada 2002, Indonesia pun memiliki UU TPPU. Sebenarnya, tambah Yentilagi, sosok lain yang juga memberinya dorongan untuk memperdalam bidang ini adalah Prof Dr Erman Rajagukguk, Ketua Program Pascasarjana FH Universitas Indonesia. Setelah berjuang keras, akhirnyaYenti pun berhasil mempertahankan disertasinya dihadapan sembilan orang penguji pada 2003. Ia menyabet gelar Doktor di bidang TPPU, sekaligus doktor pertama di bidang ini, dengan nilai ‘sangat memuaskan’. Asal tahu saja, untuk memperdalam ilmu ini, dia bukan hanya harus terbang ke Amerika tapi juga mempelajari hampir 600 buku dan 300 putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait kasus TPPU. AS menjadi pilihan Yenti karena negeri ini yang pertama kali di dunia memiliki undang undang antipencucian uang. –Diana Runtu

Mandalika

Batu Akik dalam Air

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

21

Suasana pameran ramai dipenuhi pengunjung. Tiap orang fokus mencari untuk menemukan batu yang cocok dengan selera masing­masing. Ada yang memilih dan memilah, menerawang hingga menyinari batu dengan lampu senter kecil. Tawar menawar pun terdengar dari berbagai sudut stan. Itulah yang terlihat dalam pameran batu akik yang digelar di Mataram, 15 s.d. 20 Mei 2015.

K

eramaian kunjungan pameran ini bahkan terlihat hingga di hari terakhir. Minat terhadap batu akik yang akhir-akhir ini men-

jadi fenomena hampir di seluruh daerah di Indonesia, termasuk Mataram, Nusa Tenggara Barat, memang sangat tinggi. Ini tampak pula pada pameran yang dilangsungkan di Taman

Sangkareang Mataram. Batubatu dari berbagai jenis tampak menggiurkan terutama bagi para pencinta batu, memenuhi ruangruang stan pameran. Batu-batu tersebut diletakkan dalam wadahwadah berisi air. “Di dalam air, batu-batu ini lebih menarik karena akan terlihat jelas serat, motif dan warnanya. Pembeli pun lebih mudah memilihnya,” ujar Didi, salah seorang penjual batu akik di pameran ini. Bukan hanya orang dewasa dan orangtua, anak-anak pun terlihat antusias mengerubungi batu-batu yang dijual para peserta. Meski tampak tidak terlalu paham dengan batu-batu yang ada di depannya, anak-anak ini asyik membicarakan batu yang belum digosok menjadi perhiasan tersebut. Itulah salah satu keuni-

kan dalam fenomena batu akik. Dari yang “menggilai” batu akik, hingga yang tidak paham bahkan yang tidak suka sekali pun, juga ikut membicarakan batu akik dari sudut pandang masing-masing dan dari apa yang mereka tahu tentang fenomena batu akik. Anak-anak bahkan membicarakan batu akik dari apa yang mereka dengar tiap hari di lingkungan sekitarnya. “Rasanya sih saat ini meskipun orang tidak suka batu akik, pasti ikut membicarakannya dan saya belum pernah mendengar ada yang membenci batu akik,” ungkap Toto, salah seorang penggemar batu akik yang tengah berbelanja di pameran ini. Ungkapan Toto ini seperti menggambarkan bahwa fenomena batu akik telah masuk di hampir seluruh lapisan masyarakat. Agus misalnya, demi membahagiakan dua anaknya, Rani dan

Bayu yang masing-masing berusia 7 dan 9 tahun, ia menyempatkan diri mengantar buah hatinya itu untuk mengunjungi pameran. “Biar mereka (anaknya) senang, karena rupanya di sekolah mereka juga membicarakan tentang batu akik dengan kawan-kawannya,” kata Agus tertawa. Ia sendiri mengaku tidak menggilai batu akik namun merespons fenomena ini, untuk menghangatkan pergaulan dan obrolan semata. Bagi Agus, untuk lebih menggelorakan obrolan tentang batu akik dalam pergaulannya, ia juga memiliki beberapa akik. Untuk mendapatkan batu akik tersebut ia tidak sampai memburunya melainkan membeli sesuai kemampuan atau bahkan memakainya jika ada yang memberi. Respons orang tentang fenomena ini memang beragam. –Naniek I. Taufan

M uti a r a Ka la h Pa m o r de n g a n B a t u A kik Pameran yang dikemas dalam acara “Rembaq Gemstone Fair 2015” dipadati pengunjung yang kebanyakan laki-laki. Mereka menelusuri satu demi satu stan pameran yang jumlahnya tidak kurang dari 50 stan. Harga batu yang ditawarkan sangat bervariasi mulai dari Rp 20 ribu hingga mencapai ratusan juta rupiah. Tidak hanya batu yang telah digosok menjadi perhiasan yang dijual, melainkan juga batu-batu yang masih dalam bentuk aslinya. Selain sebagai tempat untuk bertransaksi batu akik, pameran juga menjadi ruang bagi para pencinta batu untuk bersilaturahim sembari membaca peluang pasar. Inilah yang sedang dijajaki oleh Hasan dan istrinya Hidayati yang sebelum fenomena batu hangat seperti ini, mereka seharihari berjualan pernak-pernik perhiasan dari mutiara, seperti bros, liontin dan lainnya. Namun, ketika batu mulai banyak diburu, mereka juga mencoba peruntun-

gan dengan berjualan batu akik di rumahnya di Pagutan Karang Genteng. “Sejak demam batu akik naik beberapa bulan terakhir ini, kami mencoba menjual batubatuan dan ternyata cukup laku,” ungkap Hidayati yang mengaku beberapa bulan terakhir ini, batubatuan dagangannya lebih laku dibandingkan dengan berbagai perhiasan mutiara yang dijual sebelumnya. Jutaan bahkan puluhan juta rupiah berhasil diraup para penjual batu akik dalam pameran yang menghadirkan berbagai batu yang berasal dari Nusa Tenggara Barat bahkan dari luar daerah ini. Didi misalnya, salah seorang peserta pameran yang lebih banyak menjual batu dalam bentuk asli (belum jadi perhiasan), mengaku bisa mengantongi jutaan rupiah sehari. Batu-batu yang dijualnya adalah batu yang diburunya sendiri. “Saya berburu batu, mencari sendiri hingga ke gunung-gunung,

Pameran batu akik di Mataram

kebun maupun sungai di Lombok bagian selatan,” ujar pria asal Puyung Lombok Tengah ini. Ada yang ia temukan dengan mudah namun ada pula yang harus digalinya dengan biaya yang lebih mahal. Tidak kurang dari 10 jenis batu yang dijual dalam stan miliknya di pameran tersebut. Didi mengaku sudah satu tahun terakhir berjualan batu di rumahnya di Puyung. Namun baru-baru inilah demam batu membuat batu-batu koleksi dan dagangannya laku keras. Pameran ini menjadi salah satu ajang baginya untuk menjual sekaligus memperkenalkan batu khas Lombok yang berhasil didapatnya di alam, seperti Batu Sarang Tawon. “Batu Sarang Tawon

yang masih asli (belum digosok) harganya jutaan rupiah,” kata Didi yang juga menyediakan jasa gosok batu di rumahnya. Berbagai jenis batu dan rangka cincin maupun liontin memenuhi stan dan menghiasi pameran ini. Ribuan perhiasan batu memanjakan mata para pencinta batu lengkap dengan rangka cincin maupun liontinnya. Pembeli hanya tinggal memilih batu dan rangka yang sesuai, maka dapat pulang dengan batu akik yang diburunya. Selain menjual batu, ada pula yang menjual senter kecil yang biasa dipakai untuk menyenter batu agar jelas terlihat serat dan motifnya. Ada pula yang menjual berbagai pernakpernik batu yang tak hanya

cincin, melainkan liontin, gelang dan lainnya. Namun sayang, di antara banyaknya penjual yang menjual batu yang masih dalam bentuk asli, tidak ada yang menjual jasa gosok batu. Hal ini yang membuat beberapa pengunjung sempat merasa tidak maksimal ketika memperoleh batu-batu incarannya. “Sayangnya tidak ada jasa penggosokan batu. Tadinya mau beli batu dan sekarang sudah dapat tidak bisa langsung dipakai,” kata Tarmiji, salah seorang pembeli dari Lombok Timur. Tarmiji juga pembeli lainnya berharap bahwa jika ada pameran batu lagi, bisa lengkap dengan jasa penggosokan batu. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Lale Rasminingsih

Piawai Improvisasi Suara khas Lale Rasminingsih, salah seorang pembawa acara di Bagian Humas dan Protokol Setda Provinsi Nusa Tenggara Barat, kerap terdengar dalam acara-acara resmi Pemerintah Provinsi NTB. Tidak hanya pada acara rutin daerah ini, suara Lale yang bening juga mengisi kegiatan-kegiatan kunjungan Presiden RI ke Bumi Gora. Ibu dua anak ini, merupakan pembawa acara paling senior di antara lima pembawa acara lain di Humas dan Protokol Setda NTB. Empat pembawa acara andalan Humas Pemerintah Provinsi NTB lainnya yang kerap bergantian tugas dengan Lale adalah, Yayuk, Cendana, Dian, dan Nana.

L

ale Rasminingsih yang akrab disapa Anjung ini telah menjadi pembawa acara sejak pertama kali ia diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Pronvisi NTB, tahun 1993. “Saya menjadi pembawa acara di Humas sejak jadi Calon PNS tahun 1993 dan kala itu Humas masih menjadi Subbag. Protokol di bawah Bagian Rumah Tangga,” ungkapnya. Tiap kali membawa acara, Anjung tidak hanya mengandalkan suara khasnya melainkan juga ia pandai menjaga penampilan dan rasa percaya dirinya. Ia tidak tampak grogi apalagi demam panggung. Tiap tugas yang diberikan padanya sejauh ini selalu dilaksanakannya dengan mulus tanpa kesalahan berarti. Karena bisa

dibayangkan apa yang akan terjadi jika ia sampai salah dalam membawakan acara. Tidak hanya teguran melainkan juga ia akan terbebani secara psikis. Anjung selalu mempersiapkan diri sedetail mungkin tiap kali mendapat tugas membawakan acara-acara yang tergolong super penting seperti ini. Untuk dapat menguasai suasana, Anjung banyak belajar dari pengalamannya selama 22 tahun menjadi pembawa acara. Segala kekurangan dari pengalaman itu, ia tutupi dengan kepiawaiannya berimprovisasi. Tiap kali membawa acara adalah ilmu baru baginya. Saat memulai tugas ini, ia sempat mengikuti berbagai pelatihan atau Diklat seperti halnya bimbingan teknis protokol, MC dan lainnya. Di sanalah ia diingatkan bahwa ketika akan membawakan acara-acara resmi

khususnya kunjungan kenegaraan, agar selalu menyiapkan diri sedetail mungkin, tidak hanya kesiapan performa melainkan juga berkaitan dengan acara. Karena itulah ia mulai belajar berkoordinasi dengan panitia atau instansi yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Langkah-langkah inilah yang membuatnya akhirnya memahami pentingnya tugas sebagai seorang pembawa acara, meski ia mengaku di awal tugasnya itu, Anjung mengaku sempat grogi dan tidak percaya diri. Namun, ia terus belajar untuk bisa menjalankan tugas tersebut dengan baik bahkan dimulai dari menjadi pembawa acara biasa pada upacaraupacara rutin hari Senin di Kantor Gubernur NTB. “Awalnya saya belajar membawa acara pada acara-acara

Pengadaan dan perawatan fasilitas pelatihan (pesawat latih) Seperti yang kita ketahui, sebagian besar armada pesawat latih yang digunakan oleh sekolah-sekolah pilot di Indonesia adalah buatan Amerika. Dibutuhkan biaya ekstra untuk mendatangkannya dari luar ke dalam negeri dan belum termasuk tarif pajak yang lumayan tinggi. Begitu pula dalam masalah perawatan pesawat latih agar tetap berada dalam kondisi prima. Sejumlah komponen dan suku cadang pesawat juga harus didatangkan dari negara asalnya. Tingginya biaya-biaya tersebut berpengaruh besar pada biaya pendidikan pilot.

kecil seperti upacara bendera hari Senin di kantor,” ujarnya. Pada suatu ketika yang ia lupa tahunnya, Anjung diberikan tugas untuk membawakan acara penting pertama kalinya saat kunjungan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno ke Nusa Tenggara Barat. Ia mengaku sangat gugup kala itu. Ketika ia harus membawa acara pada kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Yang terakhir adalah saat ia membawakan acara di depan Presiden Joko Widodo, pada puncak peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora yang bertajuk Tambora Menyapa Dunia beberapa waktu lalu. “Perasaan saya campur aduk dalam rasa bangga, senang sekaligus gugup dan deg-degan,” kata ibunda dari Baiq Laila Annisa Ramdhani dan Baiq Nabila Zhalifunnafsi ini. Beruntung dari semua tugas membawakan acara yang diberikan padanya, selalu dilewatinya dengan sukses. Ini semua menjadi pengalaman berharga baginya. Namun, meski ia telah mahir dalam membawakan acara, Anjung sadar betul bahwa suaranyalah yang pertama kali didengar dan sepanjang acara berlangsung suaranya menjadi pemandu utama yang

Para Instruktur Amerika merupakan negara dengan jumlah sekolah pilot terbanyak di dunia, hingga mencapai 1500 sekolah saat ini. Dengan jumlah itu, tentunya jumlah tenaga instruktur pun banyak tersedia di sana. Sehingga, memungkinkan mereka memperhatikan perkembangan siswa secara individu. Hal ini juga akan meningkatkan kualitas pendidikan siswa itu sendiri.

Mengapa Memilih AHA (Aim High Aviation) Indonesia? AHA adalah partner dan konsultan resmi yang bekerjasama dengan beberapa sekolah pilot terbaik di Amerika. Hingga saat ini, AHA telah membantu puluhan siswa (yang jumlahnya terus bertambah), untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi pilot. Beberapa di antaranya sudah bergabung dengan perusahaan penerbangan terkemuka di dunia, baik sebagai pilot, kapten, atau First Officer. AHA memberikan paket pelatihan yang sangat lengkap, di antaranya terdiri dari Basic Ground Class, Simulator Training, juga FAA License (valid for a life time). AHA juga membantu pengurusan medical, visa, dan dokumen keimigrasian lainnya, serta pelajaran dasar Bahasa Inggris sebelum siswa berangkat ke Amerika. Untuk mendapatkan info lengkap yang diperlukan, silahkan hubungi AHA (Aim High Aviation) Indonesia di alamat dan nomor telepon kami di bawah ini. AHA Indonesia Jln. Panglima Besar Sudirman Kompleks Pertokoan Sudirman Agung Blok B-17, Denpasar Telepon: 0361 - 241 061/ 0812 3939 5761

MEWUJUDKAN KEMAKMURAN DALAM DIRI

S

langsung “menggerakkan” peralihan acara. Itu berarti tamu paling VIP pun akan menanti suaranya untuk memandu kegiatan berikutnya. Itulah sebabnya ia selalu menyiapkan diri semaksimal mungkin agar terhindar dari kesalahan-kesalahan fatal yang bisa saja membuat malu daerahnya. “Di samping hal-hal nonteknis lainnya, yang paling utama adalah mempersiapkan diri secara mental dan fisik juga harus prima,” ujar istri Alwan Basri ini. Ia dan keempat rekan lainnya selalu mengikuti arahan dan aturan baik dari panitia lokal di NTB maupun dari pusat. “Yang namanya mengurus acara kenegaraan pastinya saya dan rekan lainnya harus mengikuti aturanaturan protokoler yang sudah ditentukan agar semua berjalan lancar,” katanya. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Anjung ketika dapat mengantarkan acara dengan sukses. Dari seluruh perjalanannya dalam membawakan acara, bagi Anjung semuanya berkesan. “Ketika kami diminta untuk mengantarkan sebuah acara, baik itu acara kecil maupun besar dan semuanya berjalan lancar, maka ada kepuasan tersendiri yang kami rasakan,” katanya.

etiap orang berharap hidup ini penuh dengan kemakmuran, tapi banyak pula yang berpikir salah tentang kemakmuran, karena pemahaman kemakmuran hanya dipahami sebatas kekayaan atau uang saja. Kemakmuran sebenarnya adalah kondisi di mana terjadi keseimbangan antara kesehatan yang baik, hubungan yang harmonis, kelimpahan materi, dan pe­ ningkatan kualitas spiritual. Topik inilah yang di sampaikan Bunda Arsaningsih dalam SOUL Conference yang berlangsung di Hotel Mercure Harvestland Kuta Bali, pada tanggal 14-16 Mei 2015 de­ ngan tema “Prosperity Souluti­ on”. Acara seperti ini sudah ketiga kalinya diselenggarakan sebagai ajang silaturahmi,

Tepuk tangan yang sangat meriah senantiasa terdengar dari Ballroom Hotel Mercure Harvestland Kuta Bali, dipandu oleh MC Bpk. Arda yang heboh dan penuh semangat, sehingga membuat sesi demi sesi meng­ alir penuh gelak tawa dan keceriaan. Peserta SOUL Conference sangat antusias sekali mende­ ngar pemaparan yang disampaikan narasumber utama Bunda Arsaningsih, yang juga penulis buku Soul Reflection. Dengan gamblang beliau menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kemakmuran. Sese­orang bisa mengakses kemakmuran semesta bila kita sudah bisa melepaskan sadripu atau kualitas­kualitas negatif dalam diri kita, memiliki cinta kasih, rasa syukur dan mampu berserah secara total kepada Tuhan.

-Naniek I. Taufan

SEKOLAH PILOT BERKUALITAS LEBIH HEMAT DAN SINGKAT Tingginya biaya sekolah pilot di Indonesia, menimbulkan banyak persepsi dari para orangtua murid bahwa apabila sekolah pilot di dalam negeri saja sudah mahal apalagi kalau harus sekolah keluar negeri? Namun hal itu tidaklah benar. Apabila ditelusuri lebih lanjut, pada kenyataanya pendidikan sekolah pilot di Amerika biayanya ternyata lebih rendah dan durasi pendidikannya justru lebih singkat. Berikut ini faktor pendukungnya:

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Akomodasi

Tanpa Tes Penerimaan

Siswa di kelas

Siswa AAA

Terbang di California

Cockpit

Belajar terbang

Peserta dari Mexico memberi kesaksian tentang manfaat metode SOUL dalam hidupnya

dan menjadi agenda tahunan dari SOUL (Spirit Of Universal Life). Conference kali ini sangat me­r iah dengan dihadiri 152 peserta yang datang dari berbagai kota, yaitu Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang, Lombok, Portugal, Mexico dan tentunya peserta dari seluruh Bali. Memakai Polo shirt warna merah, para panitia menyambut kehadiran peserta SOUL Conference 2015 dengan gembira. Ternyata, warna merah merupakan simbol kemakmur­ an, sesuai dengan tema acara, kata panitia yang tentunya merupakan tim sukses penyelenggara acara akbar SOUL.

Hal ini juga dikuatkan oleh penjelasan Bapak Ustad Irawan Siswandi yang juga sebagai CEO SOUL (Spirit Of Universal Life), dengan pentingnya iman, taqwa dan tawakal untuk bisa mewujudkan rasa syukur dan berserah secara total kepada Tuhan. Materi SOUL Prosperity ini juga ditambahkan oleh dr. Rastho yang mengingatkan pentingnya metode SOUL Meter (Measurement Technique of Radiation) untuk mengukur semua kualitaskualitas negatif ataupun positif yang ada dalam diri kita. Pada acara SOUL Conference ini, keceriaan para peserta memeriahkan suasana. me­

Keceriaan para peserta di hari kedua SOUL Conference 2015

Narasumber Bunda Arsaningsih sedang memberi pemaparan tentang kemakmuran

reka diajak untuk menampilkan atraksi dan kreasi secara spontan sebagai ungkapan ke­gembiraan dan kebahagiaan. Masing-masing peserta dengan kelompoknya memberikan apresiasi kepada Bunda Arsa­ ningsih atas pembelajaran yang sudah diberikan selama ini. Baik beruapa SOUL Conference ataupun workshop SOUL Reflection, SOUL Meter, SOUL Creation, karena pembelajaran ini telah mampu menyentuh jiwa mereka dan membawa banyak jiwa tercerahkan. Me­ reka menjadi jiwa-jiwa dengan kualitas yang lebih bahagia, sehat dan penuh kemakmuran. Banyak peserta yang juga memberikan kesaksian­kesaksian atas hidup mereka

sebagai bukti manfaat metode SOUL yang telah mereka dapat­ kan. Mereka bercerita akan keajaiban atau mujizat Tuhan melalui tuntunan yang diajarkan oleh Bunda Arsaningsih lewat metode SOUL, sehingga membuat para peserta yang hadir menjadi terharu dan menangis. Kesaksian tersebut memperkuat keyakinan me­ reka untuk menjalani hidup dengan lebih ikhlas. SOUL Conference yang berlangsung selama 3 (tiga) hari berturut-turut diikuti secara antusias, dapat dilihat dari konsistensi kehadiran peserta dari awal hingga hari terakhir. Acara semakin meriah dengan berlimpahnya berbagai doorprize dari para sponsor, antara

5

lain: De Rose, Wellbeing Spa, Lady Marmalade Spa, Cleopatra Spa, Desainku, Mesari Land, PT BPR Bali Dananiaga, Celular World dan Operator TRI (3). Di akhir acara para peserta berfoto bersama dan menerima sertifikat dari SOUL. Banyak peserta yang mendaftar untuk mengikuti workshop yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Bali. Sebagai penutup, narasumber berpesan, “Penuhilah diri dengan rasa syukur serta keikhlasan dalam menjalani hidup, dan selalu berupaya semaksimal mungkin. Apabila ingin banyak menerima maka perbanyaklah pula memberi”. Mengakhiri acara Soul Con­ ference para peserta bernyanyi bersama Bunda Arsaningsih, disertai tepuk tangan yang sangat meriah, mereka juga saling berpelukan sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur. Acara dan workshop SOUL telah rutin diselenggarakan setiap bulannya baik di Jakarta maupun di Bali. Bagi yang berminat mengikuti workshop lebih lanjut dapat menghu­b ungi Soul Office ­J akarta: Gedung Sinar Kasih, Lantai 3, Jln. Dewi Sartika 136 D, Cawang Jakarta Timur, Tlp. (021) 29374104. Denpasar : Klinik Bersalin Anugrah, lantai 2, Jln. Gn. Sanghyang 118 D, Denpasar, Tlp. (0361) 419347, 0813-3863-3093. Website: www.soultc.com. –ten

Seluruh peserta SOUL Conference berfoto bersama

Peserta SOUL Conference mendapatkan surprise berupa dompet kemakmuran dengan dolar didalamnya


Sumiati

6

Women on Top

umiati menjadi salah satu penerima tamu di rumah keluarga I Ketut Wirten di Br. Tegal Sari, Desa Sumberkima, Kecamatan Gerogak, Buleleng. Wirten menjadi Duta Keluarga Harmonis dan Sejahtera yang mewakili Buleleng di tingkat Provinsi Bali. Usai penilaian, Sumiati menuturkan pengalamannya yang sudah duluan menjadi Duta Buleleng. “Saya sudah pernah mewakili Buleleng, sekarang saya mendampingi keluarga Pak Wirten. Apa pengalaman yang pernah saya lalui, saya bagikan ke keluarga ini. Tujuannya tentu agar

Berbagi Ilmu

mereka bisa menampilkan yang terbaik,” ungkap wanita yang akrab disapa Bu Luh ini. Sejak menikah dengan Nyoman Wijana dan dikaruniai empat anak (Eni Eka Windaryati, Ewi Wirawati, Ely Trisnawati, dan Ery Priyatama WP), Bu Luh tak pernah sepi kegiatan. Dari pagi, ia membereskan urusan rumah tangga, mulai dari menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya hingga membersihkan rumah. Setelah semua beres, barulah ia mengurus modes “Karya Murni” yang berada di sebelah rumah. Jika ada kegiatan di Br. Pegametan,

Desa Sumberkima, wanita kelahiran 24 Mei 1957 ini juga aktif. “Saya aktif di PKK bahkan pernah jadi PKK Teladan dan juara lomba UPPKS,” ujar penerima penghargaan Tokoh Perempuan Bali tahun 2012 ini. Walaupun hanya tamatan SMA, Bu Luh tak pernah surut untuk memberi semangat kepada anak-anaknya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi hingga ke jenjang S2. Semua anak-anaknya pun sukses di dunia pendidikan. Karier mereka pun sudah mapan. “Tak hanya anak-anak sendiri yang saya dukung, anak-anak di lingkungan rumah juga saya dukung. Kalau mereka tak bisa melanjutkan pendidikan, harus punya ketrampilan. Ibu-ibunya saya berikan keterampilan yang bisa diteruskan ke anak-anak,” ungkap nenek empat cucu ini. Keterampilan yang dimiliki Bu Luh diperoleh dari rajinnya ia mengikuti pelatihan. Tak hanya di Buleleng dan Denpasar, ia juga ikut pelatihan sampai ke Malang. Keaktifan ini sangat didukung suaminya yang selalu siap mengantarkan. Bahkan kini setelah suaminya pensiun sebagai Kepala SD, mereka bisa lebih banyak berkiprah di masyarakat.

sis. Hingga kini usaha modesnya sudah meluluskan lebih dari 1200 orang. Ada yang langsung membuka usaha sendiri dan ada yang berkelompok. Prinsip Bu Luh, kalau punya ilmu harus dibagi untuk orang lain. Kini usaha modesnya maju pesat. Pesanan banyak datang dari hotelhotel dan sekolah-sekolah yang ada di Buleleng. Dulu bahkan ada pesanan dari Denpasar. Tetapi, karena kewalahan untuk mengerjakan, mereka hanya fokus menggarap pasar Buleleng saja. Berkat ketekunannya di dunia jahit-menjahit dan kepeduliannya dalam membina tenaga kerja, Bu Luh pernah menerima penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja

yang kala itu dijabat Fahmi Idris. “Waktu ada kunjungan istri pimpinan negara peserta APEC ke Gianyar, saya juga diikutkan. Bangga rasanya bisa berhadapan langsung dengan ibu-ibu negara. Sama bangganya ketika saya bisa membantu ibu-ibu dan anak-anak putus sekolah,” kenang wanita yang tetap energik di usia tua ini. Satu harapan Bu Luh adalah ada anak-anaknya yang mau meneruskan usaha modes “Karya Murni”. Ia sudah mengungkapkan keinginan tersebut kepada keempat anaknya. Gayung pun bersambut karena anak-anak siap untuk menerima tongkat estafet dari sang ibu. –Ngurah Budi

Melawan Tragedi Nol Buku

Lakukan Senam Kebugaran Seksual agi wanita kadang malu untuk membicarakan masalah seksual dengan pasangannya. Hal ini dianggap tabu. Atau, mungkin karena budaya menganggap wanita hanya untuk melayani dan tunduk pada suami. Hubungan seks hanya sebatas rutinitas belaka yang membosankan hingga tak ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Bahkan ada suami yang berselingkuh gara-gara tidak merasakan “daya cengkram” vagina istrinya. Menurut Grace, jangan semata-mata salahkan pria 100% kalau pria selingkuh. Wanita juga harus memperbaiki diri, antara lain dengan memiliki daya cengkram vagina yang kuat. “Wanita normal pasti ingin memberikan kepuasan seksual secara maksimal kepada pasangannya. Seperti halnya pria perkasa yang dengan bangga mampu memberikan kepuasan seksual kepada pasangannya dengan berbagai cara dan gaya. Wanita akan bangga bila mampu memberi kepuasan seksual yang justru melebihi yang diidamkan kaum pria,” ujar Adolfina Grace Tangku-

dung, penulis buku “Senam Kebugaran Seksual” yang diluncurkan Kamis (28/5) di Taman Jepun, Denpasar. Buku yang berawal dari tesis berjudul “Pelatihan Kebugaran Seksual dengan Stan­ding Exercise dan Floor Exercise dapat Meningkatkan Kekuatan Otot Dasar Panggul Wanita Usia 35-50 Tahun di Denpasar” ini banyak mengupas tentang bagaimana melatih otot vagina. “Berkurangnya daya cengkram vagina da­ pat disebabkan karena mengendornya atau melemahnya kekuat­ an otot dasar panggul. Pemicunya antara lain persalinan yang terlampau sering, makin bertambahnya usia, beban psikologis yang berat, berat badan, pengaruh obat-obatan tanpa konsultasi dengan ahli medis, dan teknik pelatihan yang salah,” ujar Grace. Mengendornya kekuatan otot dasar panggul dapat menyebabkan menurunnya kualitas hubungan seksual. Hal ini karena daya cengkram otot pubococcygeus (otot yang melingkari vagina) selama melakukan hubungan seksual nmenjadi berkurang. Otot

yang mengendur bisa dirasakan pasangan, akibatnya hasrat untuk melakukan hubungan seksual menjadi tertekan atau hilang sama sekali. Prinsip pelatihan kebugaran seksual mencakup pelatihan secara isometric khususnya pada otot dasar panggul. Latihan dapat dilakukan dengan posisi duduk di lantai, bersimpuh, tidur miring, telungkup dan telentang. Dari penelitian terhadap 12 wanita dengan posisi latihan berdiri dan 12 wanita dengan posisi di lantai, hasilnya otot dasar panggul mereka menjadi makin kuat. Buku yang dibuat satu-satunya lulusan S2 Fisiologi Olahraga yang membidangi senam di Bali ini merupakan bentuk kepeduliannya terhadap kaum wanita khususnya di

Minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah dibanding nega­ ra lain. Hasil survei sejumlah lembaga internasional maupun dalam negeri menunjuk dengan jelas fakta tersebut. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, 91,68% orang Indonesia usia 10 tahun ke atas lebih gemar nonton televisi 91,68%, sementara yang suka membaca hanya 17,66%.

D

PENGHARGAAN DARI MENAKER Beberapa pelatihan yang pernah diikuti antara lain pemanfaatan batok kelapa, pembuatan dodol, selai nanas, dan menjahit. Dari semua pelatihan itu, menjahitlah yang membuat Bu Luh ek-

Banyak wanita yang telah menikah menjadi cemas karena rasa percaya diri merosot, kemampuan mempertahankan keharmonisan rumah tangga makin kendur. Bertambahnya usia menurunkan fungsi hormon bahkan ada yang merasa hanya menjadi objek pemuas hawa nafsu bagi suami.

Ade Pujiati

ata tersebut seolah memperkuat hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga internasional, seperti UNESCO, juga UNDP. Bahkan UNDP menyebut, indeks minat membaca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001. Yakni, dari setiap 1000 orang hanya 1 orang yang punya minat membaca. Dengan hasil yang memprihatinkan itu maka tak salah kalau budayawan Taufik Ismail sejak

Mau “Daya Cengkram” Vagina lebih Kuat?

B

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Wanita yang satu ini memiliki banyak prestasi, mulai dari tingkat kecamat­an hingga provinsi. Kiprahnya di bidang kemasyarakatan tak diragukan lagi. Menjelang usia 60 tahun, Ni Luh Sumiati tetap eksis membina ibu-ibu dan anak-anak putus sekolah di lingkungannya.

Luh

S

Edisi 850/ 25 -31 mei 2015

bidang seksual. Penelitian yang dilakukan Grace ini mendapat bimbingan Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And., AIFO. Dalam kata pengantar buku “Senam Kebugaran Seksual” ini, Prof Alex menulis masalah seksual merupakan masalah yang sangat umum di kalangan pasangan suamiistri. Bertambahnya usia secara progresif akan menurunkan kemampuan seksual seseorang. Melalui buku ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan yang ada sehingga orang dapat melakukan pelatihan fisik dan olahraga yang sesuai kaidah ilmiah. Bagi yang berminat mendapatkan buku ini bisa menghubungi Lala Studio, Grace Tangkudung atau toko-toko buku yang ada di Denpasar-wah

beberapa tahun lalu menyebut hal itu sebagai ‘Tragedi Nol Buku’, sebagai ungkapan keprihatinan sastrawan senior itu terhadap rendahnya budaya membaca di negeri ini. Rendahnya minat baca masyarakat, khususnya anak sekolah, juga menjadi keprihatinan aktivis pendidikan Ade Pujiati. Peraih Indi Woman Award 2013 bidang pendidikan, ini, berpendapat, menumbuhkan minat baca harus dilakukan semua pihak, bukan hanya pemer-

intah dan guru tapi juga para orangtua. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tegas Ade, harus membuat gebrakan nyata dengan mewajibkan murid sekolah untuk membaca buku. “Selama ini sebagian besar sekolah tidak menumbuh-kembangkan budaya membaca di kalangan muridnya. Anakanak tidak diwajibkan membaca buku. Berbeda dengan di luar negeri, dimana murid-muridnya diwajibkan membaca

buku dan itu dilakukan sejak dini,” ucap Ade. Kewajiban membaca buku, tegas Ade, diterapkan di sekolah yang dipimpinnya, SMP Ibu Pertiwi. Sekolah Menengah Pertama yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan ini, mengharuskan siswanya membaca 1-2 buku per-minggu. Mereka juga wajib membaca kliping koran yang sudah disediakan sekolah. Baik buku maupun hasil bacaan kliping koran inilah yang akan diujikan kepada siswa untuk mengetahui apakah mereka memahami isi buku yang dibacanya. “Program ini berlaku sejak mereka kelas 7 atau kelas 1 SMP. Setiap siswa wajib menamatkan 1-2 buku perminggu. Setelah itu mereka diminta menceritakan isi buku yang dibacanya di depan kelas. Selain itu, mereka juga wajib membaca kliping koran yang telah disediakan. Ini dilakukan secara berkelompok. Di luar itu, pada jam istirahat, anak-anak juga dianjurkan untuk membaca buku-buku di perpustakaan,” jelas Ade. Program ini boleh dibilang program ‘pemaksaan’ terhadap murid untuk belajar suka membaca. Disebut pemaksaan, karena kebanyakan murid tidak suka membaca. Mereka membaca karena kewajiban, karena terpaksa. Mengajak anak suka membaca, tambahnya, bukan hal yang mudah. Apalagi jika hal itu baru diperkenalkan setelah mereka berusia 12 tahun atau saat mereka SMP. Meski boleh dibilang agak terlambat, karena seharusnya, budaya membaca itu sudah diperkenalkan ketika mereka kecil atau setidaknya saat mereka SD. “Ini tidak mudah. Awalnya mereka membaca karena terpaksa, karena diwajibkan oleh sekolah. Dari pengalaman kami, memerlukan sekitar 2 tahun untuk membuat anak akhirnya menjadi gemar membaca. Baru setelah mereka

Bu, Sekarang Jadwal Beli Buku Kesukaan Ida Ayu Putu Widnyani membaca bukan karena ia berprofesi sebagai dosen. Namun, hobinya ini sudah ia tekuni sejak remaja. “Karena suka membaca, saya suka juga menulis. Selain di kertas, saya juga menulis di daun lontar,” ujarnya. Hobi membaca kini sudah menular kepada keempat buah hatinya. “Kalau saya membeli buku memang lebih banyak buku untuk mengajar sesuai bidang saya administrasi dan manajemen publik,” tutur dosen Universitas Ngurah Rai ini. Menurutnya, buku-buku yang berhubungan dengan mata kuliah yang ia ajar, sering agak sulit ia temui di toko buku di Denpasar. Karena itu, ia sering membeli lewat internet. “Saya banyak juga koleksi e-book untuk buku mengajar,” kata perempuan yang akrab disapa Dayu Widnyani ini. Namun, ketika mengajak anakanaknya membeli buku, ia juga kerap membeli buku di luar bidangnya mengajar. “Saya suka buku cerita klasik seperti Tantri, Kahli Gibran, buku motivasi hidup seperti Gede Prama,” kata Dayu Widnyani. Buku yang paling ia favoritkan, buku motivasi. Karena baginya, buku tersebut banyak memberi inspirasi dan motivasi diri agar menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Untuk kunjungan ke toko buku, ia rutin melakukannya tiap bulan. Itu dilakukan, dengan tujuan, memancing minat baca anak-anaknya. “Biasanya, kalau saya lupa, anak-anak pasti bilang, Bu sekarang jadwal beli buku,” ucapnya. Acara beli buku, ia jadikan sebagai jadwal refreshing bersama keluarga, sehingga juga bermanfaat secara emosional bagi keempat anak-anaknya. “Anak-anak merasa seperti liburan

Selain buku resep, ia juga kerap membeli buku yang berbau politik. “Buku politik untuk menambah wawasan dalam berpolitik,” kata Sari Galung. Ia menambahkan, selain buku politik dan resep, ia rutin berlangganan majalah terutama yang berhubungan dengan perempuan. “Majalah perempuan selain mengupas tentang lifestyle, saya suka sekali membaca tentang kisah-kisah yang inspiratif yang bisa memberi inspirasi bagi pembacanya. Misalnya, perjuangan seseorang mencapai kesuksesan,” ucapnya.

Ida Ayu Putu Widnyani

Sari Galung

pergi ke toko buku. Mereka sangat senang,” kata Dayu. Dayu tak pernah merencanakan membeli buku, setiap ke toko buku. Tujuannya, hanya mengantar anak-anak. Namun, ia selalu tertarik jika melihat ada buku baru. “Biasanya ada contoh yang bisa dibaca. Kalau dibaca bagus, jadinya saya beli,” ujarnya. Selain ke toko buku, Dayu juga rutin mengajak buah hatinya mengunjungi perpustakaan. Hal itu sudah ia lakukan sejak anak-anaknya masih TK. “Saya biasanya bawa anak-anak ke perpustakaan daerah Bali di Teuku Umar Denpasar. Tapi bukunya kadang tak lengkap. Apa yang dicari tidak ada. Walau begitu, anak-anak tetap suka diajak ke perpustakaan. Mereka anggap sama dengan pergi ke mal,” kata Dayu. Ia menambahkan, anak-anaknya suka sekali dengan komik. “Kalau lagi jenuh belajar, mereka bisa menjadikan membaca komik sebagai selingan. Tapi komik yang dipilih juga yang sesuai

dengan usia anak-anak. Pilihannya yang lebih banyak pelajaran hidup dan motivasi,” ujarnya. Sampai saat itu, untuk Dayu sendiri koleksi bukunya sudah ratusan. Baginya, mengoleksi aneka buku sama artinya dengan menimba ilmu. Dari membaca, ia mengatakan, banyak mendapatkan informasi dan wawasannya menjadi bertambah. Dayu senang, walaupun kecil, ia punya perpustakaan kecil di rumahnya. Sementara, bagi Sari Galung, membeli buku tak selalu ia lakukan. “Mungkin tiga bulan sekali baru beli satu,” kata politisi PDI Perjuangan ini. Ia paling suka membeli buku resep. Itu sesuai dengan hobinya yang suka memasak. Buku yang paling ia sukai buku resep Chinesse food. Mulai dari membuat cap cay, fuyung hai, babi kecap, cumi-cumi tepung saus manis, ikan kukus saus jahe, sudah dikuasainya. Semua ilmu memasak yang ia baca dari resep, biasanya ia praktikkan saat ada acara di rumah, misalnya arisan.

BELI LEBIH DARI SATU Lain lagi pengalaman Indah, yang banyak mengkoleksi buku tentang Informasi dan Teknologi (IT) dan dunia marketing. “Biasanya buku yang saya beli kalau tidak tentang IT pasti tentang marketing. Malah kalau ada yang bagus, bisa beli lebih dari satu,” kata wirausaha ini. Indah mengatakan, tiap habis gajian, selain belanja bulanan, pasti ia mampir ke toko buku. Ia selalu memilih belanja di mal yang dilengkapi dengan toko buku sehingga memudahkan menyalurkan hobinya. Perempuan usia 31 tahun ini menuturkan, dengan perkembangan IT, ia kerap juga membeli e-book. “Kalau lagi menunggu, saya buka tablet untuk baca e-book. Biasanya, pilihannya pada novel. Saya suka novel roman karena menghibur di saat stres karena pekerjaan,” ujar perempuan yang mengaku lebih suka membaca dibandingkan menonton sinetron ini. Indah mengatakan, koleksi buku IT-nya sudah ada 30 an. “Justru, koleksi novel yang paling banyak. Entah itu dalam bentuk buku atau ebook,” tutur Indah. –Wirati Astiti

19

kelas III SMP, mereka membaca buku bukan karena terpaksa, tapi karena inisiatif sendiri. Tapi jangan dilihat bagaimana akhirnya anak menjadi gemar membaca, melainkan bagaimana proses membuat anak itu menjadi gemar membaca. Kami melakukannya dengan banyak cara, termasuk mengharuskan mereka mencari hal-hal yang sulit, seperti arti kata bahasa Indonesia maupun Inggris lewat buku, lewat buku kamus. Meski di sekolah kami memiliki internet, namun untuk pelajaran-pelajaran tertentu, mereka lebih diarahkan mencari pemecahan masalah lewat buku,” ungkap Ade. TANTANGAN ERA DIGITAL Di masa sekarang ini, dimana kemajuan teknologi komunikasi dan informasi begitu pesat, kata Ade, ikut berdampak pada makin berkurangnya minat baca buku terhadap anak. “Sekarang anak-anak sudah bawa gadget, ada apa-apa selalu membuka internet. Mereka menjadi kurang suka membuka buku, karena merasa internet lebih mudah. Dan kami tidak ingin seperti itu. Kami ingin anak-anak terbiasa membaca buku, itu sebabnya berbagai program agar anak menjadi terbiasa dengan buku, intensif dilakukan. Selain itu, kami juga mewajibkan anak-anak menulis diary yang akan disampaikan mereka di depan kelas seminggu sekali. Ini dimaksudkan untuk memperbaiki bahasa Indonesia mereka,” paparnya lagi. Seharusnya, kata Ade, anak-anak dibiasakan dengan buku sejak usia balita. Memang, mereka ketika itu belum bisa membaca. Maka tugas orangtua adalah mendongeng kepada anakanaknya. Kebiasaan orangtua mendongeng ini, ucapnya, di masa sekarang semakin berkurang lantaran orangtua terlalu sibuk bekerja. Padahal dengan rajin mendongeng, apalagi jika sambil menunjukkan buku bergambar, itu akan merangsang anak untuk menyukai buku sejak dini. Selain di rumah, sekolah pun, khususnya sekolah dasar, memiliki program yang arahnya adalah menumbuhkembangkan minat baca anak-anak. Jika masih kelas 1-2, maka guru bisa melakukannya dengan cara mendongeng dan anak-anak diberi buku-buku bergambar. Sehingga ketika guru bercerita, anak-anak pun bisa melihat gambar-gambarnya lewat buku. Ketika anak sudah mencapai kelas 6, mereka mulai diwajibkan membaca buku-buku cerita. “Buku-buku anakanak kan lebih banyak gambar dari pada tulisan.Ini juga bisa melatih imajinasi anak. Ketika mereka masuk SMP, hal tersebut (kewajiban membaca buku) terus dilakukan, begitu pula di SMA,” katanya. Diakuinya, membaca bukan hanya lewat buku tapi di internet pun bisa dilakukan. Namun katanya, apa yang tertuang di internet itu umumnya adalah hal-hal yang bersifat ringkasan, rangkuman. Jika ingin mendetail maka kita harus melihat pada buku. “Dari pengetahuan saya, tidak ada orang yang menjadi addiction membaca lewat internet. Yang ada, addiction main game di internet. Tapi umumnya orang addiction membaca buku. Menurut saya, ketika ia berusia diri hingga belasan tahun, anak harus dibiasakan membaca buku. Kebiasaan itu akan terbawa hingga dia besar,” paparnya. Hal senada juga diungkap oleh Ketua Umum IKAPI, Lucya Adam Dewi, yang menyatakan, untuk membangun budaya membaca harus dimulai sejak usia dini dengan adanya pemaksaan program membaca di level pendidikan dasar. “Siswa diwajibkan membaca dan menulis,” ucapnya. Tantangan minat baca, kata Lucya, menjadi berat karena saat ini dunia bergeser ke era digital. Kalau di negara lain, era digital terjadi setelah masyarakatnya gemar membaca, sementaa di Indonesia, era digital masuk ketika masyarakatnya tidak gemar membaca. “Ini menjadi tantangan tersendiri,” katanya.—Diana Runtu


18

Kreasi

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Makin Sulit Motif Makin Mahal Harga Kecamatan Sidemen, Karangasem dikenal sebagai sentra tenun khas Bali. Pekerjaan menenun dilakoni wanita-wanita yang ada di desa ini. Ni Nengah Dani dan Kadek Supiani termasuk para penenun yang bertahan dalam menjaga eksisensi tenun Sidemen.

S

uara alat tenun cagcag yang dipakai Supiani dan kecepatan tangannya dalam memasukkan benang membuat kagum orang yang baru pertama kali melihat proses penenunan. “Saya belajar menenun sejak kecil. Kakak saya yang mengajari. Ini pekerjaan kaum perempuan usai mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” ungkap warga Dusun Ogang, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Karangasem ini. Untuk mengerjakan selembar (a rirang) kain songket, Supiani menghabiskan waktu seminggu. Jika ada pekerjaan adat di banjar, pengerjaan bisa lebih lama lagi. Selembar kain ini kemudian dijahit dengan lembaran lainnya sehingga menjadi satu lembar besar (a bidang). Motif yang dikerjakan beraneka ragam, diantaranya motif bulan, wayang, dan lainnya. Makin tinggi tingkat kesulitannya, harga kain akan makin mahal. Ia mencontohkan pembelian bahan bisa

menghabiskan minimal Rp 700 ribu. Dari bahan-bahan ini bisa menjadi tiga lembar kain besar yang dijual masing-masing minimal Rp 900 ribu. Jika dikalkulasikan, penenun bisa meraup untung lebih dari 50%. Pemasaran kain endek ini pun tak sulit karena sudah ada pengepul yang siap menampung. Kadang ada juga pemesan yang langsung datang ke penenun. Hasil kreasi para penenun tradisional ini memang banyak menarik perhatian konsumen. Dani menambahkan, selain menenun kain songket, kadang mereka juga menenun kain sutra. “Harga bahan baku memang lebih mahal, bisa mencapai Rp 1,7 juta. Tetapi, harga jual per lembar juga mahal, mulai Rp 1,5 juta. Rata-rata dari bahan baku tersebut bisa menjadi 3 lembar besar,” kata kakak Supiani ini. Peralatan tenun yang digunakan Supiani dan Dani tergolong sederhana. Ada galang, panalan,

apit, belida, bumbungan, gegilik, sorog, dan serat. Penenun duduk deng a n kaki diselonjorkan. Alat tenun disangkutkan ke pinggang. Setelah memasukkan benang sesuai dengan motif, tangan mereka begitu lincah untuk menarik dan mengikat. Keduanya men-

–Ngurah Budi

Story

Tingkatkan Brand Awareness Berlico Farma Pameran di Kongres ICMM ke-41 Berlico yang pabriknya berada di Yogyakarta sudah memproduksi beragam produk, yang terdiri dari produkproduk ethical, OTC, food supplement, dan medical herbal. Berbagai merek produk yang dipasarkan antara lain, Anacetine (obat penurun panas), Combicitrine (obat cacing), Berlosid (obat maag), Anabion (multivitamin anak-anak), Suprabion (multivitamin untuk orang dewasa), dan minyak telon cap 3 Anak. PT. Berlico Mulia Farma telah melakukan kerjasama dengan 50 Pedagang Besar Farmasi (PBF) untuk mendistribusikan produk perusahaan ke lebih dari 16 kota besar di seluruh Indonesia, dan akan terus meningkatkan jumlah kerja sama dengan PBF baik dalam maupun luar negeri. “Sido Muncul sudah mengekspor produk hingga ke benua Eropa, Amerika, dan Australia. Berlico tentu ingin mengikuti jejak Sido Muncul. Melalui pameran yang diikuti kalangan kedokteran militer seluruh dunia inilah kesempatan untuk mengenalkan produk-produk Berlico,” ungkap Marco. Setelah diakuisisi Sido Muncul Group, Berlico mengeluarkan Imuco, suplemen makanan yang berfungsi untuk memelihara daya tahan tubuh. Produk dalam bentuk sirup ini sarat kandungan Echinacea dan Zinc Picolinate dengan rasa madu yang dapat diminum mulai usia anak-anak hingga orang dewasa. Mekanisme kerja dari Enchinacea bersifat imunostimulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara itu, produk dari Sido Muncul yang terbaru adalah Tolak Angin Bebas Gula. Ini me­rupakan obat herbal terstandar yang dipersembahkan bagi pengidap diabetes dan pecinta herbal yang ingin mengurangi penggunaan gula.­ –wah

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

7

Suami Dirampas Harta Dikuras Dengan wajah cemas, Sarinah (53), datang ke rumah Ika, kawan dari salah seorang sahabatnya. Sesungguhnya, Sarinah tidak pernah mengenal Ika secara langsung. Ia hanya sering mendengar salah seorang sahabatnya menceritakan tentang Ika. Sarinah berharap bisa mencurahkan seluruh masalahnya, mengingat dari cerita sahabatnya, Ika memiliki pergaulan yang luas dan kenal de­ ngan banyak orang. Karena itulah Sarinah datang kepada­nya. “Saya seperti orang yang tidak tahu malu, datang pada orang yang tidak saya kenal. Saya tidak tahu harus ke mana mengeluh dan me­ minta bantuan,” kata Sarinah.

P

Berlico Mulia Farma, salah satu perusahaan farmasi dari Sido Muncul Group turut berpartisipasi dalam pameran yang diselenggarakan terkait pelaksanaan Kongres International Committee on Military Medicine (ICMM) ke-41 di BNDCC, Nusa Dua, 18 s.d. 22 Mei 2015. Manajer Pemasaran PT Berlico Mulia Farma, Marco Hidayat, menjelaskan keikutsertaan Berlico dalam ajang pameran obat-obatan dan peralatan farmasi ini untuk memperkenalkan produk-produk Berlico. “Kami ingin meningkatkan brand awareness Berlico sebagai perusahaan farmasi yang berada di bawah Grup Sido Muncul,” ujarnya didampingi dr. Marissa, M.Si (Product Development and Promotion Manager Berlico Farma) dan Erna Wahyuni, S.Si., Apt. (Head of Tolak Angin Production Division). Marco menjelaskan Sido Muncul mengakuisisi Berlico pada 1 September 2014 lalu, delapan bulan setelah Sido Muncul menjadi perusahaan publik. Akuisisi ini dilakukan karena adanya keinginan memadukan obat-obatan farmasi dengan produk herbal yang memang menjadi bisnis inti Sido Muncul. “Sido Muncul berkeinginan untuk melengkapi portofolio dengan memadukan antara obat-obatan farmasi dan produk herbal sesuai dengan kebutuhan konsumen,” jelas Marco.

Hasil tenunan yang sudah jadi

gaku pekerjaan menenun sangat membantu perekonomian keluarga. Dari hasil penjualan kain tenun, mereka bisa membantu suaminya. Selain itu, menenun dilakukan di rumah sehingga mereka tak perlu jauh-jauh untuk bekerja. Begitu pekerjaan rumah tangga beres, mereka langsung berkutat dengan alat tenun. Jika pesanan banyak dan harus selesai, mereka sampai lembur untuk menyelesaikannya. Karena sudah dikenal sebagai sentra tenun, kadang ada konsumen yang langsung datang ke rumah penenun untuk memesan. Kadang ada juga yang membeli tenunan yang sudah jadi. Mengenai kendala, Supiani maupun Dani mengaku lebih banyak dalam proses pengerjaan. “Benang yang dipakai kadang ada yang renyah, jadi harus hati-hati. Kalau salah, ya mengulang lagi,” ungkap Supiani. Mereka juga mengaku akan terus menenun sampai semampunya.

Life

agi itu, dibonceng anak perempuannya, Sarinah keluar masuk gang, bertanya ke sana kemari alamat rumah Ika yang ditujunya di seputar kawasan Sweta Cakranegara Mataram, NTB. Cukup lama ia mencari alamat dengan bertanya sana sini. “Saya memang tidak minta nomor kontak Bu Ika dari sahabat saya, karena saya malu ia tahu kalau saya ingin ketemu Bu Ika,” ungkapnya. Rupanya, selama ini ia selalu memperhatikan jika sahabatnya itu bercerita tentang Ika, juga alamat rumahnya. Cerita tentang lokasi rumah Ika tidak secara gamblang ia dapatkan karena terselip-selip dalam obrolan biasa. Namun sedikit banyak ia mengetahui lokasi rumah di seputaran Sweta tersebut. Setelah lebih kurang satu jam mencari, ia tiba di rumah Ika. Terselip rasa ragu, beberapa saat Sarinah berdiri di depan pintu pagar tertutup rumah Ika. Demi tekadnya meminta bantuan, Sarinah memencet bel dua kali. Beberapa saat kemudian, ada yang membuka pintu gerbang dan ia langsung mengutarakan ingin ketemu Ika. Pekerja rumah tersebut sedikit curiga dengan kehadirannya. Ia diminta duduk dan menunggu di teras. Cukup lama

barulah Ika keluar dan segera bertanya identitas Sarinah. “Mungkin karena Bu Ika tidak kenal saya, saya memaklumi kalau banyak ditanya-tanya,” ujarnya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan Ika selesai, Sarinah sudah menangis dan langsung mengatakan ingin minta bantuan. Dari sanalah kisah sedih Sarinah terungkap. Mulai dari suaminya yang menikah lagi secara diam-diam hingga memiliki dua anak baru ia ketahui sampai akhirnya aset-

asetnya dirampas oleh istri muda suaminya dengan cara menipunya. Sarinah merasa hidupnya hancur berkeping-keping. Setahun yang lalu, pengkhianatan suaminya terungkap lewat pengakuan suaminya itu yang rupanya tidak tahan menyimpan rahasia itu. “Sakiiiiittnyaaaa,” ung-

kapnya miris. Terhadap hal tersebut, Sarinah mengaku tidak dapat berbuat banyak. Menuntut cerai sepertinya mustahil mengingat empat anak yang harus ia biayai, dua di antaranya tengah kuliah. Dengan rasa sakit yang teramat sangat, Sarinah membiarkan hidupnya mengalir dalam linangan air mata yang tiada henti. Ketika bertemu dengan istri muda suaminya, meskipun marah melihat wajahnya, namun Sarinah hanya bisa diam. “Saya tidak tahu mengapa saya tidak bereaksi sama sekali,” kata Sarina yang akhirnya menyadari bahwa kemungkinan ia kena hipnotis istri muda suaminya. Jangankan mencakar atau menjambak rambut perempuan muda itu seperti yang pernah ia “rencanakan” dalam hati ketika ia bertemu dengannya, bicara saja Sarinah tak mampu melakukannya. Sejak itulah Sarinah semakin terpuruk. Jerat pertama datang dari ulah suaminya yang meminjam uang kepada rentenir sehingga istri muda suaminya datang kepadanya meminta bantuan untuk melunasi utang-utang tersebut. “Perempuan (istri muda suaminya) itu, meminta sertifikat rumah yang saya tempati, saya kasih,” katanya. Sertifikat itulah yang tidak disadari oleh Sarinah, ternyata rumahnya sudah digadaikan. Lalu ia kemudian sadar, dua bidang tanah yang dibelinya dengan cara susah payah, menabung bertahuntahun, juga tiba-tiba telah berpindah tangan. “Rupanya, suami saya yang memberikan sertifikat tanah tersebut,” kata Sarinah. Menurut Sarinah, suaminya meminjam uang Rp 60 juta kepada orang yang rencananya mau membeli tanah tersebut dengan harga Rp 260 juta. Penjualan tanah ini sesungguhnya memang diketahui oleh Sarinah, namun ia tidak mengetahui bahwa sertifikat sudah diserahkan oleh suaminya kepada istri mudanya. Dari sanalah kerumitan ber-

Silaturahmi GM PLN Distribusi Bali PLN Distribusi Bali resmi berganti kepemimpinan dari Syamsul Huda kepada Dodi Pangaribuan yang sebelumnya merupakan GM PLN Distribusi Riau Kepulauan Riau. Di depan awak media, di Renon, Kamis ( 21/5) Dodi mengatakan akan melakukan pemetaan dan menyelaraskan program kerja dengan kebijakan pimpinan PLN sebelumnya dan menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Pria yang 10 tahun lalu pernah bertugas di PLN Area Bali Selatan ini merasa bangga, pelayanan PLN Distribusi Bali, sudah memberikan pelayanan terbaik di antara PLN se-Indonesia. Untuk selalu memberikan yang terbaik, PLN Bali terus berbenah. Selama ini, untuk penyambungan listrik baru rumahtangga memerlukan waktu 10-12 hari. Kini, sedang ditargetkan bisa terlaksana 7-8 hari. Begitu juga, soal penanganan gangguan terus dilakukan perbaikan. PLN tak henti melakukan perbaikan dengan membuka komunikasi baik itu lewat website, SMS, call centre yang intinya ingin memberikan kepuasan pelanggan. –Wirati Astiti mula, di mana Sarinah juga menduga bahwa suaminya berada di bawah pe­ngaruh istri mudanya. Celaka­nya, sertifikat tanah yang dibelinya delapan tahun lalu itu, masih atas nama pemilik lama. Lalu entah bagaimana cara istri muda suaminya itu membuat sertifikat baru (balik nama) tanah tersebut atas nama pembeli, di mana Sarinah baru menerima uang Rp 60 juta. Sadar telah ditipu, Sarinah meminta pertanggungjawaban istri muda suaminya yang selalu berjanji melunasi harga tanah tersebut. “Saya tidak mau tahu urusan dengan pembeli, yang penting perempuan itu mengembalikan sertifikat saya atau membayar sisa harga tanah tersebut,” katanya. Inilah yang membuat Sarinah harus meminta tolong pada Ika. Meminta saran apa yang harus

dilakukannya. Beruntung ia masih menyimpan kwitansi jual beli dengan pemilik lama. Ika menyarankannya untuk melapor pada pihak yang berwajib. Lewat kenalannya seorang pengacara, Ika meminta bantuan untuk mendampingi Sarinah melaporkan kasusnya. Saat ini, Sarinah tengah menanti panggilan untuk diperiksa atas laporan kasusnya. Ia berharap, dapat memperoleh kembali hak-haknya demi anakanaknya. “Berat sekali cobaan yang diberikan Allah pada saya. Suami saya dirampas perempuan itu, lalu semua harta saya dikuras. Saya sudah tidak memikirkan suami, mau pergi selamanya juga tidak mengapa, yang penting rumah dan tanah saya bisa kembali demi anak-anak saya,” ujarnya penuh harap. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Mimbar Anak Bali 2015

Pengabdian dan Dedikasi untuk Anak Dalam rangka Hari Anak Nasional, ada dua kegiatan yang bertaraf nasional. Pertama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Forum Anak Nasioal (FAN). Kedua, Komnas Perlindungan Anak dengan Kongres Anak Indonesia (KAI). Keduanya melibatkan anak-anak perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia.

Nyoman Masni

U

ntuk Bali, tahun ini Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali yang dikomandani Ni Nyoman Masni, S.H., berkomitmen dengan BP3A Bali, melakukan kegiatan bersama memilih anakanak yang akan mewakili Bali baik untuk FAN maupun KAI. “Sebelum mengikuti KAI, ada kongres yang dilakukan di tingkat provinsi yang disebut Mimbar Anak Bali (MAB). Pelaksanaannya mengadopsi tata cara Kongres Anak Indonesia. Di sana ada seleksi melalui uj pengetahuan umum dan psikologi , mental-moral dan juga dilaksanakan outbond,” ujar Nyoman Masni dan mengatakan pelaksanaan KAI sudah menjadi tugas LPA sejak tahun 2003 hingga kini. Sebelumnya dilakukan seleksi di kabupaten/kota se-Bali, oleh Forum Anak Daerah (FAD) Bali bekerjasama dengan FAD daerah dan Badan KBPP setempat, memilih 5 anak untuk melaju ke tingkat provinsi. “45 orang anak terpilih dari seluruh Bali ini, disaring lagi menjadi 15 anak, yang dibagi dalam 5 komisi, yakni komisi pendidikan, kesehatan, perlindungan khusus, jaringan dan komisi partisipasi dan

ditambah 3 anak dari Duta Atribut. Selanjutnya dari 18 Duta Anak Bali tersebut , 9 anak akan menjadi peserta FAN dan 9 orang lainnya mengikuti KAI,” jelas Masni. Ia juga menyampaikan jika MAB diselenggarakan sejak tahun 2006,setelah Bali memiliki beberapa alumnus kongres. Mereka terpikir untuk melakukan penjaringan Duta Anak Bali, agar tidak bingung mencari peserta setiap tahunnya. Semangat anak –anak itu, kata Nyoman Masni yang mendorongnya ikut bersemangat mengurus mereka. Harapannya, siapa pun yang terpilih, mampu mewakili aspirasi anak-anak Bali di tingkat nasional. Ditanya soal semangat dan kenapa masih kuat, Nyoman Mansi mengaku betapa perjuangan anakanak Bali ini mampu menginspirasinya sebagai orangtua. “Saya juga bersyukur mereka mengerti apa yang harus diperjuangkan. Karena sebagian besar masih sekolah, tentu harus ada yang mensuport mereka dari belakang . Saya merelakan diri sebagai pembina mereka,” katanya serius. “Astungkara selama ini semua berjalan baik. Anak-anak itu tidak pernah mengecewakan. Justru mereka membuat harapan saya semakin besar, karena bisa menunjukkan keberhasilannya berorganisasi. Bahkan diantara mereka beberapa berhasil menjadi pemimpin muda Indonesia. Doi tahun 2006 (saat ini sedang mengkuti S2 di Amerika), Wahyu tahun 2007 (saat ini sudah menjad dokter), Dwi juga sudah dokter, ada yang sudah bekerja di LIPPI dan tempat terbaik lainnya, “ paparnya bangga. Masni juga menambahkan meski mereka saat sudah kerja dan tentu saja sibuk, namun masih mau memberikan dukungan dengan datang langsung di acara MAB.” Mereka saja ditengah kesibukannya masih bisa dan mau, kenapa saya tidak. Saya ingin mengisi sisa hidup dengan berkontribusi mencetak pemimpin masa depan yang cerdas dan berkualitas,”tandasnya.

Griya

17

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Patung Bali Antik Di Bali, hampir di setiap rumah pribadi maupun di ruang publik, bisa ditemui patung. Baik yang berukuran kecil, sedang, maupun besar,­ ­dengan berbagai jenis bentuknya. Keberadaan karya seni tiga dimensi yang menghiasi titik-titik tertentu ini tentunya memberi nilai plus bagi suasana yang ingin diciptakan.

SUARA ANAK BALI Ketua FAD Bali, LuhVida Sasmitha, mahasiswa Farmasi Unud, mengatakan Grand Final Mimbar Anak Bali, sebagai forum diskusi permasalahan perlindungan hak anak sukses dilaksanakan pada Senin (18/5) di Wantilan DPRD Badung. Pada MAB ke IX yang dihadiri Ketua L PA Bali, Perwakilan Badan PP/KB Kabupaten/ kota , dan pengurus FAD Provinsi Bali tersebut, berhasil melakukan Pemilhan Duta Anak Bali, yang akan menyalurkan aspirasi anak-anak Bali dan bertugas selama 1 tahun. Dalam sidang paripurna 1, tutur Vida mereka selain membahas tata tertib, juga ada presentasi Kabupaten membahas permasalahan anak ada di setiap kabupaten. Berikutnya dilanjutkan sidang komisi yang membahas permasalahan anak di Bali secara umum, dan bersamasama mencari solusinya. “Kami juga menerima kunjungan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, yang mem-

berikan suntikan semangat kepada seluruh peserta untuk mengikuti MAB selama 3 hari,” katanya Setelah semua kegiatan dilaksankan dilakukan penyusunan suara anak Bali yang merupakan hasil dari MAB yang menunjukkan suara-suara serta pemikiran dari seluruh anak-anak perwakilan seluruh Bal dan terpilihnya Duta Anak Bali 2015. “Duta Anak Bali bukan tujuan utama MAB, tapi untuk meningkatkan kepedulian terhadap berbagai permasalahan anak di Bali, dan mencari anak-anak yang bersedia mengabdi dan berdedikasi untuk anak Bali melalui Forum Anak Daerah Bali,” katanya. Berdasarkan pembahasan dalam Mimbar Anak Bali IX/2015 yang diselenggarakan pada 15 Mei s.d. 17 Mei 2015, dihasilkan Suara Anak Bali, yakni: Kami anak-anak yang mewakili kabupaten/kota se-Provinsi Bali menyatakan : - Memohon kepada pemerintah dan lapisan masyarakat untuk

-

-

-

-

-

turut serta mengawasi lingkungan pergaulan anak guna meminimalisir kejahatan seksual pada anak. Memohon kepada pemerintah untuk mengoptimalkan upaya pemerataan sarana dan prasarana di bidang pendidikan. Mengimbau kepada pemerintah untuk mengoptimalkan program pemerintah dalam upaya mengontrol peredaran makanan yang tidak layak dikonsumsi anak. Mengajak para orangtua untuk mengontrol penggunaan gadget pada anak dan menyarankan kepada pihak terkait membuat kegiatan yang menarik, kreatif, dan intensif guna mengurangi adiksi gadget pada anak. Memohon kepada pemerintah untuk membuat dan menetapkan suatu peraturan beserta sanksi bagi masyarakat dan atau organisasi yang melibatkan anak dalam kegiatan yang tidak layak diikuti. Siap mendukung program pemerintahan dalam segala upaya.

D

Patung Pandu

i kawasan Jalan Namun paling tidak, ia dan beBy Pass Ngurah berapa kerabatnya masih mewarisi Rai, Padanggalak, ilmu-ilmu mematung yang diajarkan Denpasar, ada besang kakek. Beberapa model paberapa tempat yang memajang tung primitif yang dibuatnya adalah kerajinan patung dari bahan batu Men Brayut, Pan Brayut, Legong, alam. Salah satunya, UD Sari Yasa. Janger, Pekak-Dadong, Pandu-Kunti, Selain mengerjakan patung dari Punta-Wijil, Ganesha, Raksasa, dan bahan paras putih Yogya, juga dari Bleganjur. bahan paras Bali yang didatangkan Satu set (satu pasang) patung, dari Singapadu, Gianyar. Seorang rata-rata diselesaikan dalam waktu pengerajinnya, Wayan Suada (39) tiga minggu. Untuk mendapatkan mengatakan, khusus di tempatnya kesan antik dan kuno, setelah bekerja ini, paras Bali banyak didifinishing dengan cat, patung gunakan untuk membuat patung paras Bali tersebut dioven agar model primitif. warna catnya mati, dan warnanya Patung bernuansa Bali yang masuk ke pori-pori batu. Inilah Wayan Suada terlihat antik dan kuno tersebut yang memberi kesan antik. “Hasil dikisahkan Suada pertamakali dibuat kakeknya, Nyoakhirnya persis seperti patung-patung di pura zaman Bawa (85) beberapa tahun silam, dan dipajang man dulu. Ini yang sebenarnya disebut patung Bali,” di showroom di Jln. By Pass Ida Bagus Mantra. Sejak ucap Suada. Selanjutnya, patung yang empat tahun itu, mulai banyak bermunculan patung-patung serupa. terakhir ini sedang tren, ditawarkan seharga Rp 6 “Namun, memang belum ada yang bisa membuat juta satu set, untuk ukuran 40cm x 40cm dengan bakalan dan ‘menghidupkan wajah’ seperti patung tinggi 1,5m. Sementara patung yang berukuran kakek,” ujar Suada kagum pada sang kakek yang kini lebih besar, 50cm x50cm tinggi 2m dihargai persetsudah tak bisa berkarya lagi karena dimakan usia. nya Rp 10 juta. –Inten Indrawati

Patung Kunti

–Sri Ardhini/Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Buaya versus Cecak

Seekor buaya sedang berjemur di pinggir sungai. Tibatiba ia mendengar percakapan cecak lakibini yang menempel di batang pohon waru. “Buaya itu sangat serakah! Dialah yang melahap semua telur burung yang bersarang Made Taro di semak-semak.” Buaya itu tersinggung. “Hai, Cecak! Badanmu kecil tetapi cakapmu besar. Lihatlah dirimu sendiri! Tidak pantas hewan nista membicarakan hewan besar dan bermartabat.” Cecak laki-bini itu diam saja. Ia melipat ekornya karena ketakutan. Ia tidak mengira buaya malas yang tidur-tiduran itu mendengar percakapan mereka berdua. Buaya itu belum puas dengan ucapannya sendiri. Ia mengangakan mulutnya yang lebar, mencari-cari di mana kedua cecak itu menempel. “Aku heran, mengapa Dewa menciptakan hewan nista seperti kau!” ocehnya lagi. “Hewan sebangsamu hanya bisa bersuara yang tak ada artinya.” Kedua cecak itu tersinggung juga, lalu jawabnya, “Bangsa cecak memang kecil dan suka bersuara. Tetapi sekali bersuara, semua manusia menghitung suara kami untuk menentukan nasib baik dan buruk. Lain dengan suaramu! Semua makhluk menutup telinganya, sebab suara serak dan memekakkan itu penuh kebohongan.” Buaya itu benar-benar marah. Ia mendekati

pohon yang dihuni kedua cecak itu, lalu berteriak sambil menggoyang-goyang batang pohon itu. “Hai, Cecak! Jangan banyak cakap! Kalau berani tunjukkanlah kesaktianmu! Ayo balapan mulai dari pohon waru ini sampai ke pohon ketapang! Pemenangnya berhak membunuh yang kalah.” “Baiklah!” jawab Cecak. “Tetapi jangan sekarang, sebab matahari hampir tenggelam. Besok saja, sehingga semua hewan menyaksikan perlombaan kita.” Singkat cerita, pagi keesokan harinya, semua hewan penghuni pinggir sungai itu berduyun-duyun menuju tempat perlombaan buaya versus cecak. Bagi mereka, perlombaan itu amat berarti, sebab mempertaruhkan hidup-mati. Yang ditunjuk menjadi wasit adalah burung jalak suren, karena ia bisa meniup peluit. “Priiit…!” peluit berbunyi. Cecak bergegas merayap, tetapi buaya santai saja. Bagi buaya, satu langkah sama dengan lima puluh langkah cecak. Menjelang menginjakkan kaki di pohon bekul, buaya memanggil cecak. “Caaak!” “Yaaak!” demikian jawaban cecak yang telah menempel di batang pohon bekul. Buaya mulai memperkencang jalannya. Menjelang menginjakkan kaki di pangkal pohon ketapang, buaya memanggil cecak. “Caaak!” “Yaaak! Aku di sini!” Ternyata cecak, hewan yang kecil itu terlebih dahulu sampai di garis akhir. Penonton bersorak gemuruh. Ketika wasit mengumumkan pemenangnya, tiba-tiba buaya itu mencebur ke sungai. “Sungguh kompak dan cerdas cecak itu!” kata wasit. “Buaya bodoh itu tidak tahu bahwa cecak yang di pohon waru, di pohon bekul dan di pohon ketapang adalah cecak yang berbeda.”

Patung Pan Brayut - Men Brayut

Patung Pekak - Dadong

Beberapa karya patung Bali antik

Patung Legong


16

Edukasi

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Seminar Malindo ke-4

Seminar Internasional Malindo dihadiri sedikitnya 500 peserta dari Indonesia dan Malaysia, menampilkan 107 pemakalah

K

etua Panitia Penyelenggara, Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum. mengatakan seminar ini penting dilakukan mengingat tahun 2015 ini Malaysia dan Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA ini dikatakannya penuh risiko karena disertai dengan perubahan yang sangat cepat. Hal ini menuntut manusia mengambil sikap dan pilihan hidup sehingga mampu bersaing dalam perubahan. “Untuk itu perlu peningkatan kualitas SDM yang berkomitmen dan mampu berkompetisi dalam era MEA,” ujarnya. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi. Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. mengimbuhkan, dalam

seminar internasional ini, difokuskan pada tema “Peranan Profesi Konseling dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean”. “Dalam MEA akan terjadi pasar bebas pada segala sektor termasuk SDM. Sehingga dituntut kualitas SDM untuk mega kompetisi ini,” ucapnya. Kerjasama dua negara bertetangga, Malaysia-Indonesia (Malindo) ini dimaksudkan agar SDM Malaysia dan Indonesia memiliki kesetaraan dalam profesi konseling. Malindo ke-1 tahun 2011 diselenggarakan di Malaysia, Malindo ke-2 di Padang (Indonesia), Malindo ke-3 di Magelang (Indonesia), dan Malindo ke-5 tahun 2016 direncanakan digelar di Kinabalu (Malaysia). Malindo digelar tiap bulan Mei karena bulan ini adalah bulan pendidikan baik di

Indonesia maupun Malaysia. Rektor IKIP PGRI Bali Made Suarta menegaskan profesi konseling inilah yang nanti cukup berperan dalam peningkatan kualitas SDM untuk berkompetisi. “Pelaksanaan seminar ini penekanannya pada peningkatan kualitas konselor yang nanti outputnya pada penanganan anak-anak didik di sekolah. Ujung tombaknya adalah guru. Dengan memiliki kemampuan konseling, guru diharapkan mampu mencegah seminimal mungkin kasus di sekolah untuk menghindari hal negatif,” ujarnya. Di Malaysia, kata Made Suarta, peran konselor luar biasa. Rekomendasi dari seorang konselor sangat menentukan ketika seseorang hendak menduduki jabatan di kepemerintahan, dll. IKIP PGRI Bali yang pernah berkesempatan melakukan audensi ke Malaysia bermaksud mencari perban­ dingan, apa kelemahan dan kelebihan Indonesia dalam hal ini. “Pemanfaatan konselor Indonesia belum maksimal,” ucapnya Presiden Persatuan Konseling Antar Bangsa (PERKAMA Internasional) yang Prof. Dato Abd Halim bin Mohd Hussin mengatakan tujuan diselenggarakannya seminar ini untuk bersama-sama menjalankan diskusi internasional agar hubungan antar dua negara tak hanya terjalin

Workshop dan Seminar Internasional “Malindo ke-4” yang digelar di Bali dibuka Wagub Bali Ketut Sudikerta ditandai dengan pemukulan gong

lewat adat dan budaya, tapi juga melalui ilmu konseling yang diamalkan pada kedua negara untuk menjadi maju. “Yakinlah bidang konseling adalah bidang yang bisa merubah dan membangun manusia. Perlu akal pikiran tinggi, dan memahami jiwa manusia. Untuk mengertikan orang lain, itu sesuatu yang susah,” ucapnya. Seminar Internasional Malindo yang digelar Jumat (22/5) sampai Sabtu (23/5) menampilkan 107 pemakalah , bagi 9 klompok ada 107 pemakalah, 79 dari Indonesia, 27 dari Malaysia, dan dari AS, dibuka Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta. Ia mengatakan, tema yang diangkat

Pendidikan merupakan investasi terbesar bagi putra-putri kita. Selain pendidikan pertama dan utama yang didapat di keluarga, pendidikan di sekolah juga memegang peranan penting. Karena itu, orangtua mesti pintar dan cerdas memilihkan sekolah untuk putra-putri tercintanya.

L

ingga Murti School (LMS) sebagai lembaga pra-sekolah sudah pula mempertimbangkan hal tersebut. Pembina Yayasan Pendidikan Dharma Sunu Mandare (YPDSM), Dr. Made Suarta, S.H.,M.Hum. mengatakan LMS komitmen menjadikan lembaga PAUD ini sebagai wadah anak mengasah daya pikir, mental, bakat, keterampilan, dan bersosialisasi dengan lingkungannya. “Tujuan akhir dari proses pembelajaran ini ditekankan tak hanya menjadikan anak cerdas akademis/intelektual, namun juga cerdas emosional dan spiritual,” tegas Suarta yang juga Rektor IKIP PGRI Bali ini. Dijelaskannya, penanaman pendidikan karakter untuk cerdas spiritual diimplementasikan lewat persembahyangan bersama tiap purnama-tilem. Peningkatan kecerdasan akademis digali lewat lomba bahasa, berhitung, mewarnai, dan sebagainya di lingkup internal dan eksternal. Mantan Ketua Program D-2 PGTK IKIP PGRI Bali ini mengatakan, pihaknya memiliki teknik-teknik penyampaian khusus agar anak menguasai calistung, yakni melalui bermain sehingga anak tidak

merasa dipaksa belajar. Kepala Sekolah PG/TK Lingga Murti School, AA Eka Yuliawati, S.Pd.

dalam seminar ini sangat relevan. Seminar Konseling yang dilakukan dua bangsa utk tinfktakan persaudara, negara ini dilihatnya memiliki beberapa makna. Di antaranya, menjalin persaudaraan kedua negara; menitikberatkan peran konselor untuk meningkatkan kualitas SDM, sektor ekonomi, dan sumber daya ekonomi melalui dunia pendidikan. “Tingkatkan kualitas, isi diri dengan ilmu, keterampilan, dan bangun komunikasi yang luas. Dengan begitu kita tak akan kalah bersaing dan tak tersisih dari SDM bangsa lain. Dari kegiatan yang positif ini saya berharap ada rumusan program untuk menghadapi MEA,” pungkasnya. -ten

S

eluruh siswa, mulai dari Playgroup, TK hingga SD DCC menyuguhkan persembahan spesial berupa festival tarian dengan garapan visualisasi yang menarik dan sangat memesona. Penonton yang hadir memenuhi ruangan tampak sangat menikmati pementasan muncul silih berganti dengan riang gembira. Suasana riang-gembira di dalam Gedung Ksirarnawa berbaur deng-

an kemeriahan penampilan aneka tarian, mulai dari tarian tradisional Bali berupa tari Pendet kemudian tarian modern seperti Ballet, Barbie Girls, Syalala, tari Payung, Dirty Beat, Zumba,tari India, hingga tarian Go Go Green yang menggambarkan anakanak peduli lingkungan. Kendati tahun ini yang digarap khusus tarian, namun antusias penonton tetap tak terbendung menyaksikannya. Betapa anak-anak Playgroup Senior yang masih imut-

Ballet oleh siswa Playgroup Senior DCC Hiburan Cak Ramayana persembahan mahasiswa-mahasiswi IKIP PGRI Bali

Ketut Arinatha

AA Eka Yuliawati

menambahkan proses belajar-mengajar di LMS berlangsung melalui bilingual, yakni bahasa nasional (Indonesia), bahasa internasional (Inggris) dan tak lepas juga dari bahasa daerah (Bali). Metode pembelajarannya sesuai misi LMS yakni meningkatkan pembelajaran berkualiatas, menggali bakat dan potensi anak didik sejak usia dini dengan menciptakan pendidikan yang memberi

Made Suarta

rasa aman dan nyaman (PAIKEM) de­ ngan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk memotivasi anak, di samping memperingati hari-hari besar, tiap bulan LMS rutin menggelar lomba bernuansa edukatif di internal sekolah, seperti lomba bahasa Inggris, lomba matematika, dan lomba mewarnai. Dan, di akhir tahun ajaran baru, seluruh anak diberi kesempatan tampil dalam Pentas Kreasi Anak yang akan dilaksanakan 6 Juni mendatang, dirangkaikan dengan acara perpisahan sekolah. Kegiatan-kegiatan ini tak lain bertujuan meningkatkan kreativitas dan sportivitas anak sejak dini sekaligus sebagai wadah mengenalkan budaya, dan melatih mental anak tampil di depan publik. Agung Yuliawati mengimbuhkan, kurikulum LMS berbasiskan spiderweb, satu topik dikembangkan menjadi banyak yang satu dengan lainnya saling berhubungan, disusun sedemikian rupa sebagai persiapan

anak masuk ke SD. Bakat anak lebih diasah lagi dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler wajib yakni sempoa, bahasa Inggris, komputer, menari, dan melukis. Dengan ekskul pilihan, renang, modeling, bahasa Jepang, singing & dancing. Bagi LMS yang berhasil meraih Juara II Lomba UKS tingkat TK sekota Denpasar Tahun 2014 ini, urusan kesehatan anak dan lingkungan juga menjadi prioritas. Pemeriksaan kesehatan seperti kesehatan gigi dan mulut (kesgilut) dan pemberian vitamin A, rutin dilaksanakan bekerjasama dengan Puskesmas Pembantu IV Densel. “Untuk melatih pembiasaan hidup sehat pada anak, hal paling sederhana yang kami lakukan adalah selalu mengingatkan anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Cara mencuci tangan yang baik dan benar pun kami tempel di dinding depan washtafel agar anak selalu ingat dan bisa menerapkannya secara mandiri,” ujarnya. Untuk menjaga kualitas proses belajar mengajar ini, Ketua Yayasan Ketut Arinatha, S.E. mengatakan secara berkesinambungan melakukan peningkatan SDM serta sarana dan parasana. Untuk saat ini LMS ditunjang dengan fasilitas ruang kelas ber-AC, audio visual, ruang komputer, perpustakaan, ruang musik dengan angklung dan keyboard, klinik (UKS), play ground indoor dan outdoor dengan berbagai macam mainan, serta sarana parkir yang memadai. –ten

Lingga Murti School (LMS)

Berbagai kegiatan Lingga Murti School

9

Sabtu (9/5), Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, kembali semarak. Panggung pertunjukannya menjadi megah dengan hiasan balon warna-warni. Hari itu Denpasar Children Centre (DCC) melangsungkan pagelaran Pentas Cilik DCC dengan mengusung tema ”Happy Dancing Day”.

Lingga Murti School (LMS)

Siapkan Anak Miliki 3 Kecerdasan

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

PENTAS CILIK DENPASAR CHILDREN CENTRE

Siapkan Konselor untuk Tingkatkan Kualitas SDM Workshop dan Seminar Internasional “Malindo ke-4” tahun ini diselenggarakan di Bali, bertempat di Hotel Harris, Kuta. IKIP PGRI Bali yang bertindak sebagai tuan rumah menyuguhkan berbagai hiburan, tari pembuka Pendet, tari kebesaran IKIP PGRI Bali Sang Hyang Pramesti Guru, dan Cak Ramayana. Tak kurang dari 500 peserta yang berasal dari Indonesia (Bali, Semarang, Yogya, Kalimantan) dan Malaysia sangat menikmati hiburan yang dibawakan oleh mahasiswamahasiswi IKIP PGRI Bali tersebut.

Dara

Menerima Pendaftaran Siswa Baru Tahun Ajaran 2015/2016 Syarat: Mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan fotokopi akte kelahiran Jln. Gurita Gg. Gurita I Pedungan, Denpasar Selatan Tlp. (0361) 8892308, 082 144813151 *Diskon Uang Gedung untuk pendaftar bulan Mei s.d. juni 2015

Tari Pendet oleh siswa DCC

imut, namun punya keberanian dan percaya diri yang tinggi ketika menyuguhkan tarian Ballet. Ekspresi mereka yang polos dan lucu, sungguh menggemaskan. Panggung pertunjukan menjadi megah selain karena penataan dekorasi layaknya sebuah pesta, juga dilengkapi dengan perangkat sound system yang berkualitas dari PREGINA Production. Di pengujung acara tak ketinggalan persembahan ensambel musik berupa permainan alat musik recorder dan pianika, yang dibawakan siswa kelas 4 dan 5 SD DCC. Acara kemudian disudahi dengan menya-

Ekspresi Kecerdasan dan Kegiatan Unggulan DCC Anak cerdas hanya di bidang intekletual belumlah cukup. Masih perlu diimbangi kecerdasan lainnya. Seperti, kecerdasan sosialemosional, kecerdas­ an dan musikal, serta kemandirian anak. Kecerdasan intelektual di Denpasar Children Centre (DCC) telah diasah melalui proses pemelajaran yang berkualitas di tengah suasana nyaman dan menyenangkan. Sementara potensi kecerdasan sosialemosional serta kemandirian anak dioptimalkan dengan wa h a n a p a g e l a ra n akbar berupa ”Pentas Cilik” . Agenda tahunan ini juga menjadi salah satu program unggulan DCC. Keseimbangan kecerdasan inilah yang senantiasa diolah oleh DCC, yang mengelola program pendidikan pra-sekolah dan sekolah dasar terpadu, yakni : Playgroup, TK dan SD. Dikatakan oleh Dr. Ir. IGA Oka Suryawardani, M.Mgt., pemilik dan Direktur DCC yang biasa dipanggil Bu Dani ini, acara tersebut adalah ruang bagi pengembangan talenta seni yang memang dibuka seluas-luasnya oleh DCC untuk seluruh siswa DCC. Mereka sengaja tampil untuk mempertontonkan talenta seni yang telah diasah. Pagelaran yang istimewa tersebut dipandu 8 anak sebagai pembawa acara (MC), yakni pasangan Esa Satria dan Tugek Alin; Serena dan Gek Tin; Gung

Adit dan Dyah Gayatri, serta Anggita Sekarayu dan Dayu Maha. Mereka hadir sebagai MC secara bergiliran dalam bahasa Bali, Indonesia, Inggris dan Jepang. Begitu pula dengan seluruh siswa pengisi acara yang tampil di panggung ketika itu, terlihat penuh semangat dan sangat menikmati. Mereka bergerak lepas dan bebas di setiap gilirannya menari. Aksi dan gaya mereka mampu memancarkan kemandirian mereka. ”Semuanya sudah mencerminkan hasil yang diharapkan dari stimulasi kecerdasan musikal serta program kemandirian anak yang dilaksanakan secara tepat dan terarah di DCC, sejak usia dini. Mereka akhirnya mampu mengoptimalkan potensi kecerdasannya, baik musikal, sosial-emosional, dan kemandirian, serta kemampuan berkomunikasi,” ujar Bu Dani. Selanjutnya, demi menjadikan siswa DCC berwawasan internasional, dikatakan oleh Ketua Yayasan DCC, Ir. Anak Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc., PhD. selain dipersiapkan dengan kemampuan berbahasa Inggris juga dilaksanakan program unggulan lainnya berupa Students Exchange Program. Pertukaran Siswa ke luar negeri ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa DCC, khususnya yang sudah kelas 5, untuk menimba ilmu serta pengalaman internasional. Tahun ini merupakan kunjungan yang ketujuh (7) kalinya ke Ironside State School di Brisbane - Australia. –ard

nyi bersama oleh siswa Playgroup, TK dan SD. Pentas Cilik DCC ini juga diliput oleh Bali TV dan akan disiarkan

pada acara ”Taman Sari” dalam dua episode yakni: Jumat 17 Juli 2015) pk. 11.00 dan Sabtu, 18 Juli 2015 pk. 14.30 Wita. –ard

Tari Dirty Beat oleh siswa TK B DCC

Tari In The Navy oleh siswa SD DCC kelas 1,2 dan 3

Ensamble Musdik oleh siswa SD DCC kelas 4 dan 5

Tari Syalala oleh siswa TK A DCC

MENERIMA SISWA BARU, TEMPAT TERBATAS SD CERDAS MANDIRI DENPASAR CHILDREN CENTRE

Jalan Bedugul 18 C, Sidakarya, Denpasar Informasi: Senin s.d. Jumat , Pkl. 08.00 - 16.00 Wita; Telepon: (0361) 725 725


10

Bugar

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Penyakit Jantung Koroner (PJK) dr I Made Junior Rina Artha, Sp.JP(K), FIHA Penulis adalah Spesialis & Konsultan Jantung dan Pembuluh darah Siloam Hospitals Bali) risiko akan berlipat kali menaikkan risiko total terhadap Penyakit Jantung Koroner.

dr I Made Junior Rina Artha, Sp.JP(K), FIHA

Penyakit Jantung Koroner pada mula­ nya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner) dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jaringan ikat, perkapuran, pembekuan darah dll, yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai Infark Jantung, yang dalam masyarakat di kenal dengan serangan jantung yang dapat me­ nyebabkan kematian mendadak. - - - - - - - - -

Beberapa faktor risiko terpenting Penyakit Jantung Koroner : Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi Kadar Kolesterol HDL rendah Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) Merokok Diabetes Mellitus Kegemukan / Obesitas Riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga Kurang olah raga Stress

Bila Anda menyandang salah satu atau beberapa faktor risiko tersebut diatas, Anda dianjurkan secara berkala meme­ riksakan kesehatan jantung Anda kepada seorang ahli. Adanya dua atau lebih faktor

Gejala Penyakit Jantung Koroner Gejala yang sering timbul adalah rasa berat atau tertekan atau tidak enak di daerah dada yang biasa disebut sebagai angina pectoris, yang timbul terutama saat beraktifitas atau ketika mengalami stress emosional dan biasanya keluhan akan hi­ lang setelah pasien beristirahat. Terkadang pasien merasakan sebagai sesak nafas. Keluhan angina tidak hanya bisa di­ rasakan di daerah dada, tetapi juga dapat dijumpai di daerah bahu, leher, punggung sampai ke ulu hati. Rasa nyeri dapat di­ sertai keringat dingin dan pusing. Akan tetapi banyak penderita yang mengalami gejala yang tidak khas atau bahkan tidak ada gejala sama sekali sampai terjadi serangan jantung mendadak dan dapat mengakibatkan kematian.

Deteksi Penyakit Jantung Koronerr Beberapa pemeriksaan dapat dilaku­ kan untuk mendeteksi adanya Penya­ kit Jantung Koroner antar lain : ECG/ Elektrokardiogram, Treadmill, Echokar­ diografi, MSCT Koroner, MRI, Nuklir dan Arteriografi Koroner (yang sering dikenal sebagai Kateterisasi). Dengan pemeriksaan ECG dapat dike­ tahui kemungkinan adanya kelainan pada jantung Anda. Kemudian bila dianggap perlu Anda akan dianjurkan untuk melakukan pe­ meriksaan Treadmill dan Echokardiografi. Berdasarkan hasil pemeriksaan terse­ but kemungkinan Anda akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan MSCT Koroner atau Arteriografi Koroner (Kate­ terisasi) yang mempunyai tingkat kete­ patan paling tinggi (99 - 100%) untuk memastikan apakah Anda mempunyai Penyakit Jantung koroner. Apakah Kateterisasi Jantung? Kateterisasi Jantung merupakan pe­ meriksaan yang bertujuan untuk meme­ riksa struktur serta fungsi jantung, ter­ masuk ruang jantung, katup jantung, otot jantung, serta pembuluh darah jantung termasuk pembuluh darah koroner, ter­ utama untuk mendeteksi adanya pembu­ luh darah jantung yang tersumbat. Prosedur tersebut dilakukan oleh Dok­ ter Spesialis Jantung dengan menggunakan alat Angiografi. Dengan pemberian zat kon­

tras melalui kateter, dokter dapat menge­ tahui secara tepat letak, luas, serta berat atau derajat penyempitan pembuluh darah koroner. Hasil akan di rekam secara jelas di dalam film atau CD (Compact Disc)

Bagaimana dengan hasil Kateterisasi Jantung? Dokter akan menjelaskan hasil film yang direkam selama tindakan dan ke­ mungkinan pengobatan selanjutnya. Bila hasil dari film tersebut diketahui adanya penyempitan pembuluh koroner, maka dokter akan memberitahukan tindakan pengobatan selanjutnya apakah cukup dengan obat atau dengan tindakan pe­ lebaran bagian pembuluh darah jantung yang menyempit atau tersumbat dengan menggunakan alat alat tertentu atau di­ tiup, Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty, di singkat PTCA atau akhir akhir ini disebut Percutaneous Coronary intervention yang disingkat PCI; atau harus dilakukan Operasi Jantung Terbuka (Open Heart Surgery) untuk memasang pembu­ luh darah baru menggantikan pembuluh darah jantung yang tersumbat Coronary

Artery Bypass Surgery disingkat CABG.

Bagaimana dengan risiko Kateterisasi Jantung? Dengan semakin canggihnya peralatan Angiografi dan berkembangnya teknik teknik baru, pada umumnya tindakan kateterisasi secara praktis dianggap tidak ada risiko. Apa yang dimaksud dengan tindakan “Peniupan” (PTCA-PCI)? Tindakan “peniupan” atau “balonisasi” atau “Angioplasti” bertujuan untuk me­ lebarkan penyempitan pembuluh koroner dengan menggunakan kateter khusus yang ujungnya mempunyai balon. Balon dimasukkan dan dikembangkan tepat ditempat penyempitan pembuluh darah jantung. Dengan demikian penyempitan tersebut menjadi terbuka. Untuk menyempurnakan hasil peniup­ an ini, kadang - kadang diperlukan tindak­ an lain yang dilakukan dalam waktu yang sama, seperti pemasangan ring atau cincin penyanggah (Stent), pengeboran kerak di dalam pembuluh darah (Rotablation) atau pengerokan kerak pembuluh darah (Directional Atherectomy).

Style

Gaya Ringan dan Fun

Sekelompok desainer muda yang menamakan diri Number 1, kali ini dipilih Tokoh untuk menyuguhkan warna atau tampilan baru gaya busana ready-to-wear. Karya yang juga dihadrikan dalam Indonesia Fashion Week di Jakarta beberapa waktu lalu ini, berisikan busana bergambar fiksi yang berhasil menyatukan unsur tradisional dan modern.

P

emilik Number 1 terdiri dari 13 personil yakni; Anindiya Dwi Putri, Ivanny Bellawati Sadha, Ratna Dian Purba, Radella Nathania Widodo, Firda Adora Pavitasari, Putri Rizky Maulina, Clara Sugandi, Afina Meyandra, Bogha Yasyurun, Franc i s c a Yo a n i t a , Fatimah, Icha Manangkasi dan Emiliana ini, memberi judul koleksi mereka “Picto

Fiction”. Picto diambil dari kata picture dan fiction, yang berarti berkaitan dengan fiksi pada desain. Unsur tradisionalnya direka dari wajah personil Number 1 sendiri, dilukis dalam karakter tokoh komik, berkostum ala Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Kemudian dan dicetak di atas bahan masa kini seperti interlock, parasut dan neoprene untuk kesan mode yang bercerita ringan dan fun. Sedangkan kesan modern mereka presentasikan dengan gaya busana sportif yang terdiri padu-padan terusan, cropped top, jaket panjang, jaket bomber, kulot, celana pendek mikro, hingga celana jodhpur. – Sri Ardhini

Potongan melintang pembuluh arteri yang normal/ sehat Potongan melintang pembuluh arteri yang menyempit karena timbunan kolesterol

Sebelum Tindakan

Sesudah Tindakan

F o t o - f o t o : A rse l an G anin

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

15


14

Jelita

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Atasi Penuaan Dini dengan Laser Salah satu hal yang paling ditakuti pria maupun wanita adalah penuaan dini. Padahal, penuaan dini adalah suatu proses alami yang dialami setiap mahluk hidup, tak terkecuali. Proses penuaan dari setiap orang sangat berbeda, ada yang berlangsung cepat (premature), ada juga yang berlangsung lambat ­(dikenal dengan awet muda).

B

anyak faktor yang dapat mempercepat proses penuaan, seperti faktor genetik, lingkungan (suhu, sinar matahari, kelembaban), perawatan dan penggunaan kosmetik yang salah. Banyak usaha pula yang telah dilakukan untuk memperlambat proses penuaan kulit tersebut. Seiring berkembangnya teknologi di bidang kecantikan, para ahli berlomba-lomba menemukan teknologi terbaik untuk mengatasi masalah penuaan dini. Dari hasil penelitian terakhir alat yang terbaik untuk mengatasi masalah penuaan dini adalah LHE (Alat Photo Therapy) yaitu Teknologi Photo Termolysis (Energi cahaya dan panas), yang menggunakan panas yang dihasilkan dari tembakan cahaya (Light Flash) sehingga dapat mencapai target kerusakan pada sel/organ. Dengan menggunakan internal filter sehingga proses photothermal yang dihasilkan jauh lebih efektif, efisien, dan tanpa efek samping.

dr. Inri Samaria

LHE baik digunakan bagi mereka yang mempunyai masalah pigmentasi (flek/sun spot), spider vein (pembuluh darah yang melebar), garis-garis penuaan pada wajah, acne, dan untuk menghilangkan bulu-bulu yang tidak diinginkan. Teknologi LHE ini pula yang

dimanfaatkan House of Dura Bali dalam beberapa program perawatannya. Dengan menggunakan teknologi LHE, House Of Dura Bali menawarkan layanan perawatan untuk mengatasi penuaan dini yang disebut dengan perawatan Dura Premium Flash (P-Flash), Dura 3 Magic Step, Dura Skin Rejuvenathing, dan Dura Skin Tightening yang disesuaikan dengan permasalahan kulit pasien. Sedangkan untuk mengatasi bulu-bulu yang tidak diinginkan disebut dengan perawatan Dura Flash Hair Remover yang bisa diaplikasikan untuk menghilangkan kumis, jenggot, bulu ketiak, bulu kaki/tangan yang memang dirasa-

kan sangat mengganggu. Selain itu tengnologi LHE juga sangat efektif untuk mengatasi jerawat. Menurut Dokter Konsultan House of dura Bali, dr. Inri Samaria, pasien yang melakukan perawatan LHE di House of Dura cukup banyak, karena permasalahan yang sering dialami oleh ibu-ibu (pada umumnya) adalah flek dan kerut­ an. “Teknologi

LHE sangat efektif untuk mengatasi flek dan kerutan-kerutan halus pada wajah. Secara umum flek yang cukup dalam pada wajah memang sangat sulit untuk dihilangkan. Karena flek memang tidak akan bisa hilang sepenuhnya meskipun dengan menggunakan krim malam. Namun dengan teknologi LHE flek akan memudar dan terlihat lebih menipis pada wajah,” ujarnya. –Inten Indarawati

Mitos

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Waspadai Gudik

11

di Permukiman Padat Penduduk

B

agus mengikuti program KKN di sebuah desa. Entah sejak kapan kakinya gatal-gatal dan berair. Saking g ­ atalnya, ia menggarukgaruk sampai terluka. Menurut p ­ engakuan Bagus, se­belumnya ada beberapa teman KKN-nya juga mengalami gejala yang sama. Se­telah diperiksak­an ke dokter, di­katakan bahwa itu penyakit gudik. Apa benar penyakit ini menular? Berikut p ­ en­jelasan d ­ r. Ketut Suteja Wibawa, Sp.KK, M.Kes. Mitos: Penyakit gudik bisa menular Fakta: Benar. Penyakit gudik atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai penyakit Scabies adalah penyakit menular yang dapat ditularkan melalui kontak langsung (kontak badan), ataupun melalui kontak tidak langsung melalui perantara alat-alat atau bahan yang dipakai oleh penderita. Misalnya ha­ nduk, sprei ataupun baju. Mitos: Penyakit gudik terjadi pada daerah yang kualitas sanitasinya rendah Fakta: Pada umumnya penyakit gudik/scabies memang terjadi pada daerah dengan sanitasi dan higienitas seseorang yang rendah. Tapi bisa juga mengenai orang yang berada

dalam lingkungan bersih, karena tertular dari teman-teman yang sudah menderita scabies. Penyakit ini sangat mudah menular pada lingkungan permukiman padat penduduk atau asrama-asrama yang meningkatkan intensitas kontak antara satu orang ke orang lain. Apa itu penyakit gudik? Penyakit gudik atau scabies adalah penyakit kulit karena infestasi parasit oleh kutu jenis Sarcoptes Scabei varietas Hominis. Penyakit ini sering dijumpai pada anak-anak, walaupun bisa menyerang semua usia. Biasanya sering dijumpai dimana orangorang yang bertempat tinggal pada lingkungan yang padat; kelompok masyarakat yang tinggal

bersama-sama (asrama, panti asuhan, panti jompo, dll.); lingkungan yang kurang bersih. Tanda dan gejala yang bisa dilihat pada penderita adalah: gatal yang meningkat terutama pada malam hari (Pruritus Nocturnal); terjadi pada orang-orang yang hidup berkelompok, menyerang permukimam padat; ditandai bintil-bintil kecil berair dan terutama mengenai bagian kulit yang tipis/halus seperti sela-sela jari tangan dan lipatan-lipatan ataupun bokong. Bagaimana penanganannya? Penanganan gudik/scabies dapat menggunakan obat-obat scabies seperti: (1) Permetrin; merupakan terapi pilihan, efektif terhadap semua stadium tungau,

dari telur sampai dewasa. Aman bagi bayi umur 2 bulan dan anakanak. (2) Sabun Sulfur; dapat membunuh larva dan kutu, tapi tidak dapat menghilangkan fase telur, berbau dan lengket. (3) Lindan/Gameksan; dapat membunuh kutu dan telur, tapi tidak untuk larva, berbahaya bagi susunan saraf pusat, tidak bisa digunakan pada bayi, anak-anak dan wanita hamil/menyusui. Dokter Suteja menyampaikan beberapa tips agar pengobatan optimal, di antaranya: (1) Gunakan obat sesuai aturan dan petunjuk dokter, (2) Obati juga seluruh anggota keluarga agar tidak terjadi infeksi silang/penularan antar anggota keluarga, (3) Pakaian, sprei, bantal guling harus direndam dengan air hangat 30 menit, dicuci, dijemur di terik

dr. Ketut Suteja Wibawa, Sp.KK, M.Kes

matahari kemudian disetrika (4) Parasit ini mati pada suhu >50°C, biasakan menjemur kasur, bantal guling, dan handuk. Bagaimana Pencegahannya? Untuk pencegahan, dokter yang praktik di Nirmala Klinik, Singaraja ini mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan tubuh, menghindari kontak langsung dengan penderita atau pun kontak tidak langsung melalui saling meminjam alat. –Inten Indrawati

Yang Tua yang Membara “Dok, umur saya 77 tahun, istri saya 71 tahun. Setiap saya minta berhubungan seks, istri susah mau. Padahal sudah lakukan pemanasan. Malahan diberikan uang untuk mencari pekerja seks, tetapi saya takut kena AIDS. ­Disuruh kawin lagi, malu sama cucu dan kumpi. Sampai kini saya tetap setia, cinta dan sayang dengan istri saya. Yang ingin saya tanyakan bagaimana membuat istri saya bisa lagi diajak berhubungan agar kembali kehidupan seks kami jadi membara? Terima kasih.” (Mangkrik, Amlapura) Kehilangan gairah seksual memang sering terjadi. Rasa tidak lagi menyenangkan seperti saat masih muda tentu saja dapat terjadi sejalan dengan penuaan. Jika dilihat dari usia, sudah bisa dipastikan pihak perempuan sudah mengalami henti haid atau menopause, di mana saat ini hormon seksual perempuan sudah menurun drastis dengan salah satu tanda yang bisa terlihat adalah berhentinya menstruasi. Sesungguhnya menurunnya hormon seks juga ditandai dengan lenyapnya gairah seksual, tidak terjadinya pelumasan pada vagina atau disebut lubrikasi, yang jika dipaksakan melakukan hubungan seksual akan menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman. Orgasme dan kenikmatan seksualpun sering kali tidak

lagi dirasakan. Jadi bisa dipahami saat usia ini hubungan seksual tidak lagi menyenangkan. Belum lagi ditambah keluhan lain yang sering muncul dalam aktivitas harian, beberapa diantaranya adalah perasaan tidak bersemangat, sering gelisah dan suasana hati yang juga tidak lagi nyaman. Tetapi sesungguhnya bukan berarti saat ini tidak bisa lagi menikmati aktivitas seksual. Memang yang perlu diketahui adalah dengan memeriksakan kadar hormon seksual dan reproduksinya, estrogen dan juga bisa progesteronnya. Juga boleh juga diketahui kadar hormon testosteronnya. Jangan salah, perempuan juga memiliki hormon testosteron, yang mungkin pada banyak orang ini identik dengan hormon seks laki-laki. Hormon testosteron

ini berperan dalam memunculkan dorongan seksual. Memang sejalan dengan penuaan, hormon-hormon ini mengalami penurunan, yang akhirnya juga berpengaruh dalam penurunan fungsi seks dan reproduksi. Jika ini dapat diperiksa, dan terjadi penurunan, dengan memberikan terapi pengganti hormon ini, akan bisa dipulihkan kembali keluhan yang ada, tentu semua ini harus dikonsultasikan dengan dokter, terutama yang paham pemberian terapi hormon. Selanjutnya, yang juga bisa dilakukan adalah jika memang hubungan seksual ingin dilakukan, tentu saja dengan melakukan komunikasi seksual yang lebih baik, untuk mengondisikan pasangan untuk mau kembali

mencoba melakukan aktivitas seksual tanpa ada rasa dipaksakan. Jika dorongan seksual masih ada, walau sedikit, bisa dimaksimalkan dengan perangsangan seksual yang perlahan, lebih lama, tanpa langsung melakukan seks penetratif (penis dimasukkan ke dalam vagina). Sentuhan, rabaan, ciuman di daerah peka rangsangan bisa kembali dilakukan dengan perlahan. Untuk membantu bangkitan seksual pada perempuan hingga muncul kembali pelumasan atau lubrikasi vagina agar vagina tidak kering dan membuat nyeri saat dipaksakan berhubungan seksual, saat ini bisa dibantu dengan obat yang membantu aliran darah menuju daerah vagina, yaitu obat golongan PDE5

Inhibitor dengan dosis setengah atau lebih kecil dari dosis yang diberikan buat laki-laki. Penggunaan jeli berbahan dasar air juga bisa direkomendasikan sebagai pengganti lubrikasi vagina, agar tidak lagi kering dan tidak menimbulkan rasa nyeri dan lecet saat berhubungan seksual. Dengan beberapa solusi ini, dapat dimungkinkan terjadi hubungan seksual lagi. Pilihan terakhir adalah, melakukan hubungan seksual, tetapi bukan hubungan seksual penetratif. Ini bisa dilakukan tanpa melakukan penetrasi penis ke dalam vagina. Mungkin meminta istri memasturbasikan suami adalah salah satu pilihan. Tentu dengan juga melakukan foreplay yang lebih maksimal.

Kirim surat Anda ke Redaksi T­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.


12

Kuliner

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Es Potong Singapura Aneka Rasa

Enak dan Nikmat

Anda penikmat es krim? Tentu sudah tak asing dengan es potong. Menu pelepas dahaga ini memang berasal dari Singapura. Namun, jika ingin menikmati es potong, tak perlu ke Singapura. Es potong bisa ditemui di beberapa outlet di mal. Kini, es potong juga hadir di Jalan Raya Sading. Es potong ini menjadi sangat spesial karena langsung dibuat sendiri. Pemiliknya, pasutri Ali dan Rini. “Yang buat es potongnya suami saya,” tutur Rini, saat ditemui di gerainya di Jalan Raya Sading dekat Perumahan Selaras ini.

W

alaupun baru buka tanggal 1 Mei, sambutan pembeli cukup ramai. “Kebetulan di sebelah warung saya, ada warnet dan penyewaan game online. Jadi pembeli kebanyakan anak-anak

yang suka ke warnet,” ucap ibu dua anak ini. Awalnya membuka gerai es potong, kata Rini, ia terinspirasi dari kepopuleran es potong tersebut. Selain itu, untuk mencari es potong, harus jauh-jauh ke mal. Apalagi, kedua anaknya sangat suka es krim.

Es potong rasa cokelat

Mulailah ia dan suami berpikir, untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Kebetulan suami saya suka sekali masak. Biasanya ia mencari resep-resep di internet. Kemudian dipraktikkan. Saya dan anak-anak jadi penilainya,” tutur Rini sembari tertawa. Untuk bahan utama es potong ini, ia memakai susu, kuning telur, gula pasir, dan tepung maizena. Varian rasa es potong ia buat bermacam-macam. Mulai dari

Ajarkan Anak Mandiri Uniknya, untuk mengisi waktu luang putri sulunggantar anak sekolah, les, bisa menemaninya belajar, nya, Aldarin, Rini mengajaknya belajar membuat es tapi tetap bisa juga menghasilkan uang,” kata Rini. potong. Menurut Rini, untuk urusan mixer, biasanya Ke depan, Rini ingin menambah varian rasa, yakni Aldarin suka membantu. Namun, kadang-kadang, kares potong rasa kopi, moca, dan cappucino. Ini pun ena terlalu lama, Aldarin berteriak memanggil ibunya. lantaran permintaan konsumen yang meminta ada “Capek juga lama pegang mixer. Tangannya pegal,” rasa tersebut. Selain varian es, masih banyak lagi tutur Aldarin sembari tertawa. Sesekali waktu, Aldarin menu-menu pilihan yang sedang digagas Rini dan juga ikut menyajikan roti bakar untuk pembeli. suaminya. “Masih coba-coba resep dulu. Kalau sudah Belajar menyalakan kompor, dilakukan siswa mantap, siap disajikan. Sekarang fokus dengan es kelas IV SD Bina Insan Mandiri Sejahtera ini, baru potong,” tutur Rini. seminggu lalu. “Saya belajar menyalakan kompor Gerai es potongnya buka mulai pukul 10.00 saat libur minggu lalu. Sekarang bisa bantu buat sampai 20.00. Tempatnya lumayan asyik untuk roti bakar,” tutur siswa yang pernah meraih juara II nongkrong, dan yang paling penting parkirnya luas. pidato berbahasa Inggris se-Mengwi, dan Juara IPA Namun, karena belum ada papan nama, pembeli serdan Matematika yang digelar Primagama ini. ing kebingungan mencari. “Kalau ditanya dimana jual Rini menuturkan, ia memang melatih putrinya es potong, ada di dekat perumahan sading selaras, agar mandiri. Cara mengajarnya juga dengan mempasti ketemu. Sekarang masih promosi dari mulut berikan contoh dan nasihat. “Pernah anak saya tanke mulut dari teman-teman anak saya,” ujar Rini. gannya kena minyak dan pisau. Tapi ia tak takut lagi Salah satu pembeli, Agusta mengatakan, sudah untuk mencoba belajar memasak,” kata Rini. kenyang makan satu es potong. “Porsinya besar. Jadi Selain mengajarkan anaknya mandiri, Rini juga bisa dimakan berdua,” tutur ibu dua anak ini. Dari ingin memperlihatkan kepada putrinya, mencari rasa, menurutnya, sangat pas manisnya dan tidak uang itu sulit dan penuh perjuangan, sehingga bisa membuat seret kerongkongan. –Wirati Astiti belajar menghargai uang. “Tapi, tetap saya ingatkan, tugas pokoknya belajar. Aldarin, di warung saja tetap membawa buku. Karena saya belum punya karyawan, jadi masih saya sendiri jaga warung. Kalau tak ada pembeli, sekalian menemani anak belajar,” kata Rini sembari tertawa. Aldarin menuturkan, awalnya ia takut juga dengan pisau. Tapi ia ingin belajar menggunakannya. Ia melihat dengan seksama cara ibunya menggunakan pisau. Kemudian ia berlatih dengan berhati-hati agar tangannya tidak terluka. Namun, karena kurang hatihati, tangannya pernah terkena pisau. Namun, kata Aldarin, ia tak takut, tapi menjadi lebih berani dan lebih berhati-hati. “Sama dengan saya, anak saya suka belajar mencoba sesuatu yang baru,” tambah Rini. Rini mengatakan, ia memang memilih menjadi wirausaha agar tetap bisa bekerja tapi tetap dapat menjaga kedua buah hatinya. Aldarin sedang mendemokan cara membuat roti bakar “Walau punya warung, saya tetap bisa men-

stroberi, cokelat, vanilla, melon, anggur, bluberi, durian, chocoberi, pelangi, rum raisin. “Es potong kami memang lebih banyak mengutamakan buah-buahan. Untuk rasa buah yang khas didapat dari bahan utama buah, bukan dari perasa kimia,” kata Rini. Ia pun menegaskan, es potongnya, tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan kimia. Air juga memakai air yang matang, jadi lebih sehat. Menurut Rini, pembeli anak-anak lebih suka es potong rasa cokelat, stroberi, pelangi, dan cocoberi. Sedangkan, orangtua lebih suka rasa durian. Untuk harga, ia mematok Rp 9.000, dan untuk es

potong varian buah yang sesuai musim Rp 10.000. Saat membuat es potong, ia menghabiskan susu ½ kilogram untuk masing-masing varian es. Itu pun kata Rini, tak langsung habis. Biasanya, ia akan membuat lagi, ketika persediaan sudah menipis. “Membuatnya tak selalu setiap hari. Kadang dua atau tiga hari. Yang paling sering habis rasa cokelat, itu yang paling favorit,” ucapnya. Untuk waktu pengerjaan es potong, ia lakukan, kadang siang atau sore hari. “Tergantung waktu santai suami saya. Tapi kalau es potongnya diborong pembeli, pernah malam-malam lembur buatnya. Membuatnya juga tak sulit kok. Tinggal di campur dan di-mixer sudah beres,” kata Rini. Ia menambahkan, namanya es potong karena sudah ada cetakannya yang membuat seperti terguat-gurat. Kemudian dipotong sesuai cetakannya tersebut. Cara penyajian, es potong diberi selembar roti tawar. Selain es potong, Rini juga menjual aneka roti bakar dengan isi cokelat, keju, cokelat keju dan special Al n Fab. Untuk minuman ada milkshake yang dilengkapi dengan es krim rasa vainila, cokelat, stoberi, dan matcha. -Wirati Astiti

Dari Lumpia bisa Sekolahkan Anak Lumpia merupakan satu camilan yang mudah kita temui di Pantai Sanur. Lumpia khas Pantai Sanur ini, bisa juga kita temui di Taman Kota Denpasar. Salah satu penjualnya, Alit.

P

erempuan asal Negara ini, dulunya pernah bekerja di salah satu warung makan di Tabanan. Bosnya seorang warga Tionghoa yang mengajarkanya membuat lumpia. “Beda lumpia

versi orang Cina. Bumbunya pakai taoco, gula, dan bawang merah. Kalau bumbu lumpia saya pakai kacang tanah dan petis,” tutur Alit yang sudah tiga tahun berjualan di Taman Kota Denpasar. Setelah menikah, ia mencoba

Lumpia buatan Alit diserbu pembeli

mengais rezeki dari berjualan lumpia. Ia dan suaminya Komang Suardana, bersama-sama berjualan lumpia di Taman Kota Denpasar. Dulunya, ia hanya membuat lumpia di rumah dan suaminya yang menjualnya. Sampai sekarang suaminya sudah 15 tahun berjualan lumpia. Selain mangkal di Taman Kota, suaminya juga keliling berjualan di sekitar Jalan Ahmad Yani Denpasar. Alit bertugas di rumah menjaga anakanaknya. Setelah anaknya besar, Alit juga mulai ikut berjualan lumpia. Ia biasanya berjualan mulai pukul 07.00 sampai 09.00 dan berlanjut pukul 16.00 sampai 18.00. Untuk kulitnya, Alit membuatnya sore hari setelah pulang dari berjualan. Tiap hari, ia menghabiskan 8 kilogram tepung terigu untuk bahan kulitnya. Pagi hari pukul 04, ia sudah siap meracik isi lumpia dan langsung memproses dan menggorengny. Ia merasa bangga, dari hasil penjualan lumpia ia berhasil menyekolahkan dua anaknya yang kini sudah masuk SMP. Alit menuturkan, sebelum berjualan lumpia, suaminya, bekerja di percetakan. Dari gajinya itu, mereka hanya bisa cukup makan.

Alit teringat pengalaman masa mudanya pernah membantu penjual lumpia. Ia meminta suaminya berhenti bekerja dan mencoba berjualan lumpia. “Awalnya memang jualan keliling dulu, sebelum Taman Kota ditata rapi seperti sekarang. Kalau sekarang tiap hari orang ramai ke Taman kota, jadi banyak pembeli,” tutur Alit. Selain Alit dan suaminya, masih banyak pedagang lumpia lainnya yang berjualan di Taman Kota. Namun, bagi Alit, ia tak takut saingan. Karena ia yakin, dengan banyaknya pengunjung, ia tetap kebagian rezeki. Menurutnya, banyak lumpia yang ada, tapi kelebihan lumpianya dari segi bumbu. “Campuran bumbu juga menentukan rasa menjadi lebih enak,”

13

imbuhnya tentang rahasia ke­ lezatan lumpia khas Alit ini. Ia juga punya trik jitu dalam menggaet pembeli. Ia memilih lokasi dekat tempat mainan yang dipasang di Taman Kota. Otomatis, daganganya diserbu pembeli yang sebagian besar anak-anak itu. Selain lumpia, ia juga melengkapi dagangannya dengan tahu goreng, tempe krispi, dan ote-ote. Alit mengakui, kadang karena cuaca misalnya hujan yang tak kunjung berhenti, lumpianya tidak habis. Biasanya, kata Alit, ia masih bisa menjualnya keesokan harinya dengan menggoreng kembali. Tapi, ia usahakan agar hanya masih bersisa sedikit. “Caranya dengan tambah keliling lagi, agar bisa laku,” kata Alit sembari tertawa.

Bihun Goreng Jawa Bola-bola Tongkol Sarwan

Roti bakar keju

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Bahan: 500 gr : tongkol kukus, dihaluskan 3 sdm : maizena 1 bungkus : penyedap rasa 2 butir : telur ½ sdt : lada halus 3 batang : daun bawang iris halus 2 sdm : bawang putih goreng, haluskan Minyak secukupnya Cara membuat : - Campur semua bahan menjadi satu, bentuk menjadi bola-bola kecil.

Bahan: 200 gr : bihun kering, seduh air panas, tiriskan 100 gr : udang kupas 100 gr : daging ayam, potong kecil-kecil 1 batang : daun pre iris serong 2 sdm : seledri yang dicincang kasar 1 sdm : kecap manis 70 ml : air Lada, garam, penyedap bubuk secukupnya Bumbu halus: 10 biji : bawang merah 4 siung : bawang putih 3 butir : kemiri sangrai 2 biji : cabai merah besar 4 biji : cabai kecil

- Panaskan minyak, masukkan bola-bola tongkol dengan api sedang, bolak-balik hingga

matang kecokelatan. - Siap untuk disajikan dengan saus sambal.

Jus Strawberri Es Cream

Bahan: 2 scop : es cream strawberri 70 ml : susu segar 20 ml : sirup merah 6 buah : strawberri segar Es batu secukupnya

Cara membuat: - Campur semua bahan, masukkan dalam blender, proses hingga halus. - Tuangkan dalam gelas saji, hiasi dengan stroberi yang telah dicincang di atasnya. - Sajikan selagi dingin.

Cara membuat: - Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan daun pre, udang dan daging ayam, masak hingga matang. - Masukkan garam, gula, lada, kecap, aduk hingga rata, masukkan air dan bihun. - Masak bihun hingga bumbu merata dan air mengering. Tambahkan seledri, angkat. - Masakan siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.


12

Kuliner

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Es Potong Singapura Aneka Rasa

Enak dan Nikmat

Anda penikmat es krim? Tentu sudah tak asing dengan es potong. Menu pelepas dahaga ini memang berasal dari Singapura. Namun, jika ingin menikmati es potong, tak perlu ke Singapura. Es potong bisa ditemui di beberapa outlet di mal. Kini, es potong juga hadir di Jalan Raya Sading. Es potong ini menjadi sangat spesial karena langsung dibuat sendiri. Pemiliknya, pasutri Ali dan Rini. “Yang buat es potongnya suami saya,” tutur Rini, saat ditemui di gerainya di Jalan Raya Sading dekat Perumahan Selaras ini.

W

alaupun baru buka tanggal 1 Mei, sambutan pembeli cukup ramai. “Kebetulan di sebelah warung saya, ada warnet dan penyewaan game online. Jadi pembeli kebanyakan anak-anak

yang suka ke warnet,” ucap ibu dua anak ini. Awalnya membuka gerai es potong, kata Rini, ia terinspirasi dari kepopuleran es potong tersebut. Selain itu, untuk mencari es potong, harus jauh-jauh ke mal. Apalagi, kedua anaknya sangat suka es krim.

Es potong rasa cokelat

Mulailah ia dan suami berpikir, untuk memanfaatkan peluang yang ada. “Kebetulan suami saya suka sekali masak. Biasanya ia mencari resep-resep di internet. Kemudian dipraktikkan. Saya dan anak-anak jadi penilainya,” tutur Rini sembari tertawa. Untuk bahan utama es potong ini, ia memakai susu, kuning telur, gula pasir, dan tepung maizena. Varian rasa es potong ia buat bermacam-macam. Mulai dari

Ajarkan Anak Mandiri Uniknya, untuk mengisi waktu luang putri sulunggantar anak sekolah, les, bisa menemaninya belajar, nya, Aldarin, Rini mengajaknya belajar membuat es tapi tetap bisa juga menghasilkan uang,” kata Rini. potong. Menurut Rini, untuk urusan mixer, biasanya Ke depan, Rini ingin menambah varian rasa, yakni Aldarin suka membantu. Namun, kadang-kadang, kares potong rasa kopi, moca, dan cappucino. Ini pun ena terlalu lama, Aldarin berteriak memanggil ibunya. lantaran permintaan konsumen yang meminta ada “Capek juga lama pegang mixer. Tangannya pegal,” rasa tersebut. Selain varian es, masih banyak lagi tutur Aldarin sembari tertawa. Sesekali waktu, Aldarin menu-menu pilihan yang sedang digagas Rini dan juga ikut menyajikan roti bakar untuk pembeli. suaminya. “Masih coba-coba resep dulu. Kalau sudah Belajar menyalakan kompor, dilakukan siswa mantap, siap disajikan. Sekarang fokus dengan es kelas IV SD Bina Insan Mandiri Sejahtera ini, baru potong,” tutur Rini. seminggu lalu. “Saya belajar menyalakan kompor Gerai es potongnya buka mulai pukul 10.00 saat libur minggu lalu. Sekarang bisa bantu buat sampai 20.00. Tempatnya lumayan asyik untuk roti bakar,” tutur siswa yang pernah meraih juara II nongkrong, dan yang paling penting parkirnya luas. pidato berbahasa Inggris se-Mengwi, dan Juara IPA Namun, karena belum ada papan nama, pembeli serdan Matematika yang digelar Primagama ini. ing kebingungan mencari. “Kalau ditanya dimana jual Rini menuturkan, ia memang melatih putrinya es potong, ada di dekat perumahan sading selaras, agar mandiri. Cara mengajarnya juga dengan mempasti ketemu. Sekarang masih promosi dari mulut berikan contoh dan nasihat. “Pernah anak saya tanke mulut dari teman-teman anak saya,” ujar Rini. gannya kena minyak dan pisau. Tapi ia tak takut lagi Salah satu pembeli, Agusta mengatakan, sudah untuk mencoba belajar memasak,” kata Rini. kenyang makan satu es potong. “Porsinya besar. Jadi Selain mengajarkan anaknya mandiri, Rini juga bisa dimakan berdua,” tutur ibu dua anak ini. Dari ingin memperlihatkan kepada putrinya, mencari rasa, menurutnya, sangat pas manisnya dan tidak uang itu sulit dan penuh perjuangan, sehingga bisa membuat seret kerongkongan. –Wirati Astiti belajar menghargai uang. “Tapi, tetap saya ingatkan, tugas pokoknya belajar. Aldarin, di warung saja tetap membawa buku. Karena saya belum punya karyawan, jadi masih saya sendiri jaga warung. Kalau tak ada pembeli, sekalian menemani anak belajar,” kata Rini sembari tertawa. Aldarin menuturkan, awalnya ia takut juga dengan pisau. Tapi ia ingin belajar menggunakannya. Ia melihat dengan seksama cara ibunya menggunakan pisau. Kemudian ia berlatih dengan berhati-hati agar tangannya tidak terluka. Namun, karena kurang hatihati, tangannya pernah terkena pisau. Namun, kata Aldarin, ia tak takut, tapi menjadi lebih berani dan lebih berhati-hati. “Sama dengan saya, anak saya suka belajar mencoba sesuatu yang baru,” tambah Rini. Rini mengatakan, ia memang memilih menjadi wirausaha agar tetap bisa bekerja tapi tetap dapat menjaga kedua buah hatinya. Aldarin sedang mendemokan cara membuat roti bakar “Walau punya warung, saya tetap bisa men-

stroberi, cokelat, vanilla, melon, anggur, bluberi, durian, chocoberi, pelangi, rum raisin. “Es potong kami memang lebih banyak mengutamakan buah-buahan. Untuk rasa buah yang khas didapat dari bahan utama buah, bukan dari perasa kimia,” kata Rini. Ia pun menegaskan, es potongnya, tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan kimia. Air juga memakai air yang matang, jadi lebih sehat. Menurut Rini, pembeli anak-anak lebih suka es potong rasa cokelat, stroberi, pelangi, dan cocoberi. Sedangkan, orangtua lebih suka rasa durian. Untuk harga, ia mematok Rp 9.000, dan untuk es

potong varian buah yang sesuai musim Rp 10.000. Saat membuat es potong, ia menghabiskan susu ½ kilogram untuk masing-masing varian es. Itu pun kata Rini, tak langsung habis. Biasanya, ia akan membuat lagi, ketika persediaan sudah menipis. “Membuatnya tak selalu setiap hari. Kadang dua atau tiga hari. Yang paling sering habis rasa cokelat, itu yang paling favorit,” ucapnya. Untuk waktu pengerjaan es potong, ia lakukan, kadang siang atau sore hari. “Tergantung waktu santai suami saya. Tapi kalau es potongnya diborong pembeli, pernah malam-malam lembur buatnya. Membuatnya juga tak sulit kok. Tinggal di campur dan di-mixer sudah beres,” kata Rini. Ia menambahkan, namanya es potong karena sudah ada cetakannya yang membuat seperti terguat-gurat. Kemudian dipotong sesuai cetakannya tersebut. Cara penyajian, es potong diberi selembar roti tawar. Selain es potong, Rini juga menjual aneka roti bakar dengan isi cokelat, keju, cokelat keju dan special Al n Fab. Untuk minuman ada milkshake yang dilengkapi dengan es krim rasa vainila, cokelat, stoberi, dan matcha. -Wirati Astiti

Dari Lumpia bisa Sekolahkan Anak Lumpia merupakan satu camilan yang mudah kita temui di Pantai Sanur. Lumpia khas Pantai Sanur ini, bisa juga kita temui di Taman Kota Denpasar. Salah satu penjualnya, Alit.

P

erempuan asal Negara ini, dulunya pernah bekerja di salah satu warung makan di Tabanan. Bosnya seorang warga Tionghoa yang mengajarkanya membuat lumpia. “Beda lumpia

versi orang Cina. Bumbunya pakai taoco, gula, dan bawang merah. Kalau bumbu lumpia saya pakai kacang tanah dan petis,” tutur Alit yang sudah tiga tahun berjualan di Taman Kota Denpasar. Setelah menikah, ia mencoba

Lumpia buatan Alit diserbu pembeli

mengais rezeki dari berjualan lumpia. Ia dan suaminya Komang Suardana, bersama-sama berjualan lumpia di Taman Kota Denpasar. Dulunya, ia hanya membuat lumpia di rumah dan suaminya yang menjualnya. Sampai sekarang suaminya sudah 15 tahun berjualan lumpia. Selain mangkal di Taman Kota, suaminya juga keliling berjualan di sekitar Jalan Ahmad Yani Denpasar. Alit bertugas di rumah menjaga anakanaknya. Setelah anaknya besar, Alit juga mulai ikut berjualan lumpia. Ia biasanya berjualan mulai pukul 07.00 sampai 09.00 dan berlanjut pukul 16.00 sampai 18.00. Untuk kulitnya, Alit membuatnya sore hari setelah pulang dari berjualan. Tiap hari, ia menghabiskan 8 kilogram tepung terigu untuk bahan kulitnya. Pagi hari pukul 04, ia sudah siap meracik isi lumpia dan langsung memproses dan menggorengny. Ia merasa bangga, dari hasil penjualan lumpia ia berhasil menyekolahkan dua anaknya yang kini sudah masuk SMP. Alit menuturkan, sebelum berjualan lumpia, suaminya, bekerja di percetakan. Dari gajinya itu, mereka hanya bisa cukup makan.

Alit teringat pengalaman masa mudanya pernah membantu penjual lumpia. Ia meminta suaminya berhenti bekerja dan mencoba berjualan lumpia. “Awalnya memang jualan keliling dulu, sebelum Taman Kota ditata rapi seperti sekarang. Kalau sekarang tiap hari orang ramai ke Taman kota, jadi banyak pembeli,” tutur Alit. Selain Alit dan suaminya, masih banyak pedagang lumpia lainnya yang berjualan di Taman Kota. Namun, bagi Alit, ia tak takut saingan. Karena ia yakin, dengan banyaknya pengunjung, ia tetap kebagian rezeki. Menurutnya, banyak lumpia yang ada, tapi kelebihan lumpianya dari segi bumbu. “Campuran bumbu juga menentukan rasa menjadi lebih enak,”

13

imbuhnya tentang rahasia ke­ lezatan lumpia khas Alit ini. Ia juga punya trik jitu dalam menggaet pembeli. Ia memilih lokasi dekat tempat mainan yang dipasang di Taman Kota. Otomatis, daganganya diserbu pembeli yang sebagian besar anak-anak itu. Selain lumpia, ia juga melengkapi dagangannya dengan tahu goreng, tempe krispi, dan ote-ote. Alit mengakui, kadang karena cuaca misalnya hujan yang tak kunjung berhenti, lumpianya tidak habis. Biasanya, kata Alit, ia masih bisa menjualnya keesokan harinya dengan menggoreng kembali. Tapi, ia usahakan agar hanya masih bersisa sedikit. “Caranya dengan tambah keliling lagi, agar bisa laku,” kata Alit sembari tertawa.

Bihun Goreng Jawa Bola-bola Tongkol Sarwan

Roti bakar keju

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Bahan: 500 gr : tongkol kukus, dihaluskan 3 sdm : maizena 1 bungkus : penyedap rasa 2 butir : telur ½ sdt : lada halus 3 batang : daun bawang iris halus 2 sdm : bawang putih goreng, haluskan Minyak secukupnya Cara membuat : - Campur semua bahan menjadi satu, bentuk menjadi bola-bola kecil.

Bahan: 200 gr : bihun kering, seduh air panas, tiriskan 100 gr : udang kupas 100 gr : daging ayam, potong kecil-kecil 1 batang : daun pre iris serong 2 sdm : seledri yang dicincang kasar 1 sdm : kecap manis 70 ml : air Lada, garam, penyedap bubuk secukupnya Bumbu halus: 10 biji : bawang merah 4 siung : bawang putih 3 butir : kemiri sangrai 2 biji : cabai merah besar 4 biji : cabai kecil

- Panaskan minyak, masukkan bola-bola tongkol dengan api sedang, bolak-balik hingga

matang kecokelatan. - Siap untuk disajikan dengan saus sambal.

Jus Strawberri Es Cream

Bahan: 2 scop : es cream strawberri 70 ml : susu segar 20 ml : sirup merah 6 buah : strawberri segar Es batu secukupnya

Cara membuat: - Campur semua bahan, masukkan dalam blender, proses hingga halus. - Tuangkan dalam gelas saji, hiasi dengan stroberi yang telah dicincang di atasnya. - Sajikan selagi dingin.

Cara membuat: - Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan daun pre, udang dan daging ayam, masak hingga matang. - Masukkan garam, gula, lada, kecap, aduk hingga rata, masukkan air dan bihun. - Masak bihun hingga bumbu merata dan air mengering. Tambahkan seledri, angkat. - Masakan siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.


14

Jelita

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Atasi Penuaan Dini dengan Laser Salah satu hal yang paling ditakuti pria maupun wanita adalah penuaan dini. Padahal, penuaan dini adalah suatu proses alami yang dialami setiap mahluk hidup, tak terkecuali. Proses penuaan dari setiap orang sangat berbeda, ada yang berlangsung cepat (premature), ada juga yang berlangsung lambat ­(dikenal dengan awet muda).

B

anyak faktor yang dapat mempercepat proses penuaan, seperti faktor genetik, lingkungan (suhu, sinar matahari, kelembaban), perawatan dan penggunaan kosmetik yang salah. Banyak usaha pula yang telah dilakukan untuk memperlambat proses penuaan kulit tersebut. Seiring berkembangnya teknologi di bidang kecantikan, para ahli berlomba-lomba menemukan teknologi terbaik untuk mengatasi masalah penuaan dini. Dari hasil penelitian terakhir alat yang terbaik untuk mengatasi masalah penuaan dini adalah LHE (Alat Photo Therapy) yaitu Teknologi Photo Termolysis (Energi cahaya dan panas), yang menggunakan panas yang dihasilkan dari tembakan cahaya (Light Flash) sehingga dapat mencapai target kerusakan pada sel/organ. Dengan menggunakan internal filter sehingga proses photothermal yang dihasilkan jauh lebih efektif, efisien, dan tanpa efek samping.

dr. Inri Samaria

LHE baik digunakan bagi mereka yang mempunyai masalah pigmentasi (flek/sun spot), spider vein (pembuluh darah yang melebar), garis-garis penuaan pada wajah, acne, dan untuk menghilangkan bulu-bulu yang tidak diinginkan. Teknologi LHE ini pula yang

dimanfaatkan House of Dura Bali dalam beberapa program perawatannya. Dengan menggunakan teknologi LHE, House Of Dura Bali menawarkan layanan perawatan untuk mengatasi penuaan dini yang disebut dengan perawatan Dura Premium Flash (P-Flash), Dura 3 Magic Step, Dura Skin Rejuvenathing, dan Dura Skin Tightening yang disesuaikan dengan permasalahan kulit pasien. Sedangkan untuk mengatasi bulu-bulu yang tidak diinginkan disebut dengan perawatan Dura Flash Hair Remover yang bisa diaplikasikan untuk menghilangkan kumis, jenggot, bulu ketiak, bulu kaki/tangan yang memang dirasa-

kan sangat mengganggu. Selain itu tengnologi LHE juga sangat efektif untuk mengatasi jerawat. Menurut Dokter Konsultan House of dura Bali, dr. Inri Samaria, pasien yang melakukan perawatan LHE di House of Dura cukup banyak, karena permasalahan yang sering dialami oleh ibu-ibu (pada umumnya) adalah flek dan kerut­ an. “Teknologi

LHE sangat efektif untuk mengatasi flek dan kerutan-kerutan halus pada wajah. Secara umum flek yang cukup dalam pada wajah memang sangat sulit untuk dihilangkan. Karena flek memang tidak akan bisa hilang sepenuhnya meskipun dengan menggunakan krim malam. Namun dengan teknologi LHE flek akan memudar dan terlihat lebih menipis pada wajah,” ujarnya. –Inten Indarawati

Mitos

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Waspadai Gudik

11

di Permukiman Padat Penduduk

B

agus mengikuti program KKN di sebuah desa. Entah sejak kapan kakinya gatal-gatal dan berair. Saking g ­ atalnya, ia menggarukgaruk sampai terluka. Menurut p ­ engakuan Bagus, se­belumnya ada beberapa teman KKN-nya juga mengalami gejala yang sama. Se­telah diperiksak­an ke dokter, di­katakan bahwa itu penyakit gudik. Apa benar penyakit ini menular? Berikut p ­ en­jelasan d ­ r. Ketut Suteja Wibawa, Sp.KK, M.Kes. Mitos: Penyakit gudik bisa menular Fakta: Benar. Penyakit gudik atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai penyakit Scabies adalah penyakit menular yang dapat ditularkan melalui kontak langsung (kontak badan), ataupun melalui kontak tidak langsung melalui perantara alat-alat atau bahan yang dipakai oleh penderita. Misalnya ha­ nduk, sprei ataupun baju. Mitos: Penyakit gudik terjadi pada daerah yang kualitas sanitasinya rendah Fakta: Pada umumnya penyakit gudik/scabies memang terjadi pada daerah dengan sanitasi dan higienitas seseorang yang rendah. Tapi bisa juga mengenai orang yang berada

dalam lingkungan bersih, karena tertular dari teman-teman yang sudah menderita scabies. Penyakit ini sangat mudah menular pada lingkungan permukiman padat penduduk atau asrama-asrama yang meningkatkan intensitas kontak antara satu orang ke orang lain. Apa itu penyakit gudik? Penyakit gudik atau scabies adalah penyakit kulit karena infestasi parasit oleh kutu jenis Sarcoptes Scabei varietas Hominis. Penyakit ini sering dijumpai pada anak-anak, walaupun bisa menyerang semua usia. Biasanya sering dijumpai dimana orangorang yang bertempat tinggal pada lingkungan yang padat; kelompok masyarakat yang tinggal

bersama-sama (asrama, panti asuhan, panti jompo, dll.); lingkungan yang kurang bersih. Tanda dan gejala yang bisa dilihat pada penderita adalah: gatal yang meningkat terutama pada malam hari (Pruritus Nocturnal); terjadi pada orang-orang yang hidup berkelompok, menyerang permukimam padat; ditandai bintil-bintil kecil berair dan terutama mengenai bagian kulit yang tipis/halus seperti sela-sela jari tangan dan lipatan-lipatan ataupun bokong. Bagaimana penanganannya? Penanganan gudik/scabies dapat menggunakan obat-obat scabies seperti: (1) Permetrin; merupakan terapi pilihan, efektif terhadap semua stadium tungau,

dari telur sampai dewasa. Aman bagi bayi umur 2 bulan dan anakanak. (2) Sabun Sulfur; dapat membunuh larva dan kutu, tapi tidak dapat menghilangkan fase telur, berbau dan lengket. (3) Lindan/Gameksan; dapat membunuh kutu dan telur, tapi tidak untuk larva, berbahaya bagi susunan saraf pusat, tidak bisa digunakan pada bayi, anak-anak dan wanita hamil/menyusui. Dokter Suteja menyampaikan beberapa tips agar pengobatan optimal, di antaranya: (1) Gunakan obat sesuai aturan dan petunjuk dokter, (2) Obati juga seluruh anggota keluarga agar tidak terjadi infeksi silang/penularan antar anggota keluarga, (3) Pakaian, sprei, bantal guling harus direndam dengan air hangat 30 menit, dicuci, dijemur di terik

dr. Ketut Suteja Wibawa, Sp.KK, M.Kes

matahari kemudian disetrika (4) Parasit ini mati pada suhu >50°C, biasakan menjemur kasur, bantal guling, dan handuk. Bagaimana Pencegahannya? Untuk pencegahan, dokter yang praktik di Nirmala Klinik, Singaraja ini mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan tubuh, menghindari kontak langsung dengan penderita atau pun kontak tidak langsung melalui saling meminjam alat. –Inten Indrawati

Yang Tua yang Membara “Dok, umur saya 77 tahun, istri saya 71 tahun. Setiap saya minta berhubungan seks, istri susah mau. Padahal sudah lakukan pemanasan. Malahan diberikan uang untuk mencari pekerja seks, tetapi saya takut kena AIDS. ­Disuruh kawin lagi, malu sama cucu dan kumpi. Sampai kini saya tetap setia, cinta dan sayang dengan istri saya. Yang ingin saya tanyakan bagaimana membuat istri saya bisa lagi diajak berhubungan agar kembali kehidupan seks kami jadi membara? Terima kasih.” (Mangkrik, Amlapura) Kehilangan gairah seksual memang sering terjadi. Rasa tidak lagi menyenangkan seperti saat masih muda tentu saja dapat terjadi sejalan dengan penuaan. Jika dilihat dari usia, sudah bisa dipastikan pihak perempuan sudah mengalami henti haid atau menopause, di mana saat ini hormon seksual perempuan sudah menurun drastis dengan salah satu tanda yang bisa terlihat adalah berhentinya menstruasi. Sesungguhnya menurunnya hormon seks juga ditandai dengan lenyapnya gairah seksual, tidak terjadinya pelumasan pada vagina atau disebut lubrikasi, yang jika dipaksakan melakukan hubungan seksual akan menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman. Orgasme dan kenikmatan seksualpun sering kali tidak

lagi dirasakan. Jadi bisa dipahami saat usia ini hubungan seksual tidak lagi menyenangkan. Belum lagi ditambah keluhan lain yang sering muncul dalam aktivitas harian, beberapa diantaranya adalah perasaan tidak bersemangat, sering gelisah dan suasana hati yang juga tidak lagi nyaman. Tetapi sesungguhnya bukan berarti saat ini tidak bisa lagi menikmati aktivitas seksual. Memang yang perlu diketahui adalah dengan memeriksakan kadar hormon seksual dan reproduksinya, estrogen dan juga bisa progesteronnya. Juga boleh juga diketahui kadar hormon testosteronnya. Jangan salah, perempuan juga memiliki hormon testosteron, yang mungkin pada banyak orang ini identik dengan hormon seks laki-laki. Hormon testosteron

ini berperan dalam memunculkan dorongan seksual. Memang sejalan dengan penuaan, hormon-hormon ini mengalami penurunan, yang akhirnya juga berpengaruh dalam penurunan fungsi seks dan reproduksi. Jika ini dapat diperiksa, dan terjadi penurunan, dengan memberikan terapi pengganti hormon ini, akan bisa dipulihkan kembali keluhan yang ada, tentu semua ini harus dikonsultasikan dengan dokter, terutama yang paham pemberian terapi hormon. Selanjutnya, yang juga bisa dilakukan adalah jika memang hubungan seksual ingin dilakukan, tentu saja dengan melakukan komunikasi seksual yang lebih baik, untuk mengondisikan pasangan untuk mau kembali

mencoba melakukan aktivitas seksual tanpa ada rasa dipaksakan. Jika dorongan seksual masih ada, walau sedikit, bisa dimaksimalkan dengan perangsangan seksual yang perlahan, lebih lama, tanpa langsung melakukan seks penetratif (penis dimasukkan ke dalam vagina). Sentuhan, rabaan, ciuman di daerah peka rangsangan bisa kembali dilakukan dengan perlahan. Untuk membantu bangkitan seksual pada perempuan hingga muncul kembali pelumasan atau lubrikasi vagina agar vagina tidak kering dan membuat nyeri saat dipaksakan berhubungan seksual, saat ini bisa dibantu dengan obat yang membantu aliran darah menuju daerah vagina, yaitu obat golongan PDE5

Inhibitor dengan dosis setengah atau lebih kecil dari dosis yang diberikan buat laki-laki. Penggunaan jeli berbahan dasar air juga bisa direkomendasikan sebagai pengganti lubrikasi vagina, agar tidak lagi kering dan tidak menimbulkan rasa nyeri dan lecet saat berhubungan seksual. Dengan beberapa solusi ini, dapat dimungkinkan terjadi hubungan seksual lagi. Pilihan terakhir adalah, melakukan hubungan seksual, tetapi bukan hubungan seksual penetratif. Ini bisa dilakukan tanpa melakukan penetrasi penis ke dalam vagina. Mungkin meminta istri memasturbasikan suami adalah salah satu pilihan. Tentu dengan juga melakukan foreplay yang lebih maksimal.

Kirim surat Anda ke Redaksi T­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.


10

Bugar

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Penyakit Jantung Koroner (PJK) dr I Made Junior Rina Artha, Sp.JP(K), FIHA Penulis adalah Spesialis & Konsultan Jantung dan Pembuluh darah Siloam Hospitals Bali) risiko akan berlipat kali menaikkan risiko total terhadap Penyakit Jantung Koroner.

dr I Made Junior Rina Artha, Sp.JP(K), FIHA

Penyakit Jantung Koroner pada mula­ nya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner) dan hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses seperti penimbunan jaringan ikat, perkapuran, pembekuan darah dll, yang kesemuanya akan mempersempit atau menyumbat pembuluh darah tersebut. Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai Infark Jantung, yang dalam masyarakat di kenal dengan serangan jantung yang dapat me­ nyebabkan kematian mendadak. - - - - - - - - -

Beberapa faktor risiko terpenting Penyakit Jantung Koroner : Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi Kadar Kolesterol HDL rendah Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) Merokok Diabetes Mellitus Kegemukan / Obesitas Riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga Kurang olah raga Stress

Bila Anda menyandang salah satu atau beberapa faktor risiko tersebut diatas, Anda dianjurkan secara berkala meme­ riksakan kesehatan jantung Anda kepada seorang ahli. Adanya dua atau lebih faktor

Gejala Penyakit Jantung Koroner Gejala yang sering timbul adalah rasa berat atau tertekan atau tidak enak di daerah dada yang biasa disebut sebagai angina pectoris, yang timbul terutama saat beraktifitas atau ketika mengalami stress emosional dan biasanya keluhan akan hi­ lang setelah pasien beristirahat. Terkadang pasien merasakan sebagai sesak nafas. Keluhan angina tidak hanya bisa di­ rasakan di daerah dada, tetapi juga dapat dijumpai di daerah bahu, leher, punggung sampai ke ulu hati. Rasa nyeri dapat di­ sertai keringat dingin dan pusing. Akan tetapi banyak penderita yang mengalami gejala yang tidak khas atau bahkan tidak ada gejala sama sekali sampai terjadi serangan jantung mendadak dan dapat mengakibatkan kematian.

Deteksi Penyakit Jantung Koronerr Beberapa pemeriksaan dapat dilaku­ kan untuk mendeteksi adanya Penya­ kit Jantung Koroner antar lain : ECG/ Elektrokardiogram, Treadmill, Echokar­ diografi, MSCT Koroner, MRI, Nuklir dan Arteriografi Koroner (yang sering dikenal sebagai Kateterisasi). Dengan pemeriksaan ECG dapat dike­ tahui kemungkinan adanya kelainan pada jantung Anda. Kemudian bila dianggap perlu Anda akan dianjurkan untuk melakukan pe­ meriksaan Treadmill dan Echokardiografi. Berdasarkan hasil pemeriksaan terse­ but kemungkinan Anda akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan MSCT Koroner atau Arteriografi Koroner (Kate­ terisasi) yang mempunyai tingkat kete­ patan paling tinggi (99 - 100%) untuk memastikan apakah Anda mempunyai Penyakit Jantung koroner. Apakah Kateterisasi Jantung? Kateterisasi Jantung merupakan pe­ meriksaan yang bertujuan untuk meme­ riksa struktur serta fungsi jantung, ter­ masuk ruang jantung, katup jantung, otot jantung, serta pembuluh darah jantung termasuk pembuluh darah koroner, ter­ utama untuk mendeteksi adanya pembu­ luh darah jantung yang tersumbat. Prosedur tersebut dilakukan oleh Dok­ ter Spesialis Jantung dengan menggunakan alat Angiografi. Dengan pemberian zat kon­

tras melalui kateter, dokter dapat menge­ tahui secara tepat letak, luas, serta berat atau derajat penyempitan pembuluh darah koroner. Hasil akan di rekam secara jelas di dalam film atau CD (Compact Disc)

Bagaimana dengan hasil Kateterisasi Jantung? Dokter akan menjelaskan hasil film yang direkam selama tindakan dan ke­ mungkinan pengobatan selanjutnya. Bila hasil dari film tersebut diketahui adanya penyempitan pembuluh koroner, maka dokter akan memberitahukan tindakan pengobatan selanjutnya apakah cukup dengan obat atau dengan tindakan pe­ lebaran bagian pembuluh darah jantung yang menyempit atau tersumbat dengan menggunakan alat alat tertentu atau di­ tiup, Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty, di singkat PTCA atau akhir akhir ini disebut Percutaneous Coronary intervention yang disingkat PCI; atau harus dilakukan Operasi Jantung Terbuka (Open Heart Surgery) untuk memasang pembu­ luh darah baru menggantikan pembuluh darah jantung yang tersumbat Coronary

Artery Bypass Surgery disingkat CABG.

Bagaimana dengan risiko Kateterisasi Jantung? Dengan semakin canggihnya peralatan Angiografi dan berkembangnya teknik teknik baru, pada umumnya tindakan kateterisasi secara praktis dianggap tidak ada risiko. Apa yang dimaksud dengan tindakan “Peniupan” (PTCA-PCI)? Tindakan “peniupan” atau “balonisasi” atau “Angioplasti” bertujuan untuk me­ lebarkan penyempitan pembuluh koroner dengan menggunakan kateter khusus yang ujungnya mempunyai balon. Balon dimasukkan dan dikembangkan tepat ditempat penyempitan pembuluh darah jantung. Dengan demikian penyempitan tersebut menjadi terbuka. Untuk menyempurnakan hasil peniup­ an ini, kadang - kadang diperlukan tindak­ an lain yang dilakukan dalam waktu yang sama, seperti pemasangan ring atau cincin penyanggah (Stent), pengeboran kerak di dalam pembuluh darah (Rotablation) atau pengerokan kerak pembuluh darah (Directional Atherectomy).

Style

Gaya Ringan dan Fun

Sekelompok desainer muda yang menamakan diri Number 1, kali ini dipilih Tokoh untuk menyuguhkan warna atau tampilan baru gaya busana ready-to-wear. Karya yang juga dihadrikan dalam Indonesia Fashion Week di Jakarta beberapa waktu lalu ini, berisikan busana bergambar fiksi yang berhasil menyatukan unsur tradisional dan modern.

P

emilik Number 1 terdiri dari 13 personil yakni; Anindiya Dwi Putri, Ivanny Bellawati Sadha, Ratna Dian Purba, Radella Nathania Widodo, Firda Adora Pavitasari, Putri Rizky Maulina, Clara Sugandi, Afina Meyandra, Bogha Yasyurun, Franc i s c a Yo a n i t a , Fatimah, Icha Manangkasi dan Emiliana ini, memberi judul koleksi mereka “Picto

Fiction”. Picto diambil dari kata picture dan fiction, yang berarti berkaitan dengan fiksi pada desain. Unsur tradisionalnya direka dari wajah personil Number 1 sendiri, dilukis dalam karakter tokoh komik, berkostum ala Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Kemudian dan dicetak di atas bahan masa kini seperti interlock, parasut dan neoprene untuk kesan mode yang bercerita ringan dan fun. Sedangkan kesan modern mereka presentasikan dengan gaya busana sportif yang terdiri padu-padan terusan, cropped top, jaket panjang, jaket bomber, kulot, celana pendek mikro, hingga celana jodhpur. – Sri Ardhini

Potongan melintang pembuluh arteri yang normal/ sehat Potongan melintang pembuluh arteri yang menyempit karena timbunan kolesterol

Sebelum Tindakan

Sesudah Tindakan

F o t o - f o t o : A rse l an G anin

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

15


16

Edukasi

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Seminar Malindo ke-4

Seminar Internasional Malindo dihadiri sedikitnya 500 peserta dari Indonesia dan Malaysia, menampilkan 107 pemakalah

K

etua Panitia Penyelenggara, Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum. mengatakan seminar ini penting dilakukan mengingat tahun 2015 ini Malaysia dan Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA ini dikatakannya penuh risiko karena disertai dengan perubahan yang sangat cepat. Hal ini menuntut manusia mengambil sikap dan pilihan hidup sehingga mampu bersaing dalam perubahan. “Untuk itu perlu peningkatan kualitas SDM yang berkomitmen dan mampu berkompetisi dalam era MEA,” ujarnya. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi. Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. mengimbuhkan, dalam

seminar internasional ini, difokuskan pada tema “Peranan Profesi Konseling dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean”. “Dalam MEA akan terjadi pasar bebas pada segala sektor termasuk SDM. Sehingga dituntut kualitas SDM untuk mega kompetisi ini,” ucapnya. Kerjasama dua negara bertetangga, Malaysia-Indonesia (Malindo) ini dimaksudkan agar SDM Malaysia dan Indonesia memiliki kesetaraan dalam profesi konseling. Malindo ke-1 tahun 2011 diselenggarakan di Malaysia, Malindo ke-2 di Padang (Indonesia), Malindo ke-3 di Magelang (Indonesia), dan Malindo ke-5 tahun 2016 direncanakan digelar di Kinabalu (Malaysia). Malindo digelar tiap bulan Mei karena bulan ini adalah bulan pendidikan baik di

Indonesia maupun Malaysia. Rektor IKIP PGRI Bali Made Suarta menegaskan profesi konseling inilah yang nanti cukup berperan dalam peningkatan kualitas SDM untuk berkompetisi. “Pelaksanaan seminar ini penekanannya pada peningkatan kualitas konselor yang nanti outputnya pada penanganan anak-anak didik di sekolah. Ujung tombaknya adalah guru. Dengan memiliki kemampuan konseling, guru diharapkan mampu mencegah seminimal mungkin kasus di sekolah untuk menghindari hal negatif,” ujarnya. Di Malaysia, kata Made Suarta, peran konselor luar biasa. Rekomendasi dari seorang konselor sangat menentukan ketika seseorang hendak menduduki jabatan di kepemerintahan, dll. IKIP PGRI Bali yang pernah berkesempatan melakukan audensi ke Malaysia bermaksud mencari perban­ dingan, apa kelemahan dan kelebihan Indonesia dalam hal ini. “Pemanfaatan konselor Indonesia belum maksimal,” ucapnya Presiden Persatuan Konseling Antar Bangsa (PERKAMA Internasional) yang Prof. Dato Abd Halim bin Mohd Hussin mengatakan tujuan diselenggarakannya seminar ini untuk bersama-sama menjalankan diskusi internasional agar hubungan antar dua negara tak hanya terjalin

Workshop dan Seminar Internasional “Malindo ke-4” yang digelar di Bali dibuka Wagub Bali Ketut Sudikerta ditandai dengan pemukulan gong

lewat adat dan budaya, tapi juga melalui ilmu konseling yang diamalkan pada kedua negara untuk menjadi maju. “Yakinlah bidang konseling adalah bidang yang bisa merubah dan membangun manusia. Perlu akal pikiran tinggi, dan memahami jiwa manusia. Untuk mengertikan orang lain, itu sesuatu yang susah,” ucapnya. Seminar Internasional Malindo yang digelar Jumat (22/5) sampai Sabtu (23/5) menampilkan 107 pemakalah , bagi 9 klompok ada 107 pemakalah, 79 dari Indonesia, 27 dari Malaysia, dan dari AS, dibuka Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta. Ia mengatakan, tema yang diangkat

Pendidikan merupakan investasi terbesar bagi putra-putri kita. Selain pendidikan pertama dan utama yang didapat di keluarga, pendidikan di sekolah juga memegang peranan penting. Karena itu, orangtua mesti pintar dan cerdas memilihkan sekolah untuk putra-putri tercintanya.

L

ingga Murti School (LMS) sebagai lembaga pra-sekolah sudah pula mempertimbangkan hal tersebut. Pembina Yayasan Pendidikan Dharma Sunu Mandare (YPDSM), Dr. Made Suarta, S.H.,M.Hum. mengatakan LMS komitmen menjadikan lembaga PAUD ini sebagai wadah anak mengasah daya pikir, mental, bakat, keterampilan, dan bersosialisasi dengan lingkungannya. “Tujuan akhir dari proses pembelajaran ini ditekankan tak hanya menjadikan anak cerdas akademis/intelektual, namun juga cerdas emosional dan spiritual,” tegas Suarta yang juga Rektor IKIP PGRI Bali ini. Dijelaskannya, penanaman pendidikan karakter untuk cerdas spiritual diimplementasikan lewat persembahyangan bersama tiap purnama-tilem. Peningkatan kecerdasan akademis digali lewat lomba bahasa, berhitung, mewarnai, dan sebagainya di lingkup internal dan eksternal. Mantan Ketua Program D-2 PGTK IKIP PGRI Bali ini mengatakan, pihaknya memiliki teknik-teknik penyampaian khusus agar anak menguasai calistung, yakni melalui bermain sehingga anak tidak

merasa dipaksa belajar. Kepala Sekolah PG/TK Lingga Murti School, AA Eka Yuliawati, S.Pd.

dalam seminar ini sangat relevan. Seminar Konseling yang dilakukan dua bangsa utk tinfktakan persaudara, negara ini dilihatnya memiliki beberapa makna. Di antaranya, menjalin persaudaraan kedua negara; menitikberatkan peran konselor untuk meningkatkan kualitas SDM, sektor ekonomi, dan sumber daya ekonomi melalui dunia pendidikan. “Tingkatkan kualitas, isi diri dengan ilmu, keterampilan, dan bangun komunikasi yang luas. Dengan begitu kita tak akan kalah bersaing dan tak tersisih dari SDM bangsa lain. Dari kegiatan yang positif ini saya berharap ada rumusan program untuk menghadapi MEA,” pungkasnya. -ten

S

eluruh siswa, mulai dari Playgroup, TK hingga SD DCC menyuguhkan persembahan spesial berupa festival tarian dengan garapan visualisasi yang menarik dan sangat memesona. Penonton yang hadir memenuhi ruangan tampak sangat menikmati pementasan muncul silih berganti dengan riang gembira. Suasana riang-gembira di dalam Gedung Ksirarnawa berbaur deng-

an kemeriahan penampilan aneka tarian, mulai dari tarian tradisional Bali berupa tari Pendet kemudian tarian modern seperti Ballet, Barbie Girls, Syalala, tari Payung, Dirty Beat, Zumba,tari India, hingga tarian Go Go Green yang menggambarkan anakanak peduli lingkungan. Kendati tahun ini yang digarap khusus tarian, namun antusias penonton tetap tak terbendung menyaksikannya. Betapa anak-anak Playgroup Senior yang masih imut-

Ballet oleh siswa Playgroup Senior DCC Hiburan Cak Ramayana persembahan mahasiswa-mahasiswi IKIP PGRI Bali

Ketut Arinatha

AA Eka Yuliawati

menambahkan proses belajar-mengajar di LMS berlangsung melalui bilingual, yakni bahasa nasional (Indonesia), bahasa internasional (Inggris) dan tak lepas juga dari bahasa daerah (Bali). Metode pembelajarannya sesuai misi LMS yakni meningkatkan pembelajaran berkualiatas, menggali bakat dan potensi anak didik sejak usia dini dengan menciptakan pendidikan yang memberi

Made Suarta

rasa aman dan nyaman (PAIKEM) de­ ngan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk memotivasi anak, di samping memperingati hari-hari besar, tiap bulan LMS rutin menggelar lomba bernuansa edukatif di internal sekolah, seperti lomba bahasa Inggris, lomba matematika, dan lomba mewarnai. Dan, di akhir tahun ajaran baru, seluruh anak diberi kesempatan tampil dalam Pentas Kreasi Anak yang akan dilaksanakan 6 Juni mendatang, dirangkaikan dengan acara perpisahan sekolah. Kegiatan-kegiatan ini tak lain bertujuan meningkatkan kreativitas dan sportivitas anak sejak dini sekaligus sebagai wadah mengenalkan budaya, dan melatih mental anak tampil di depan publik. Agung Yuliawati mengimbuhkan, kurikulum LMS berbasiskan spiderweb, satu topik dikembangkan menjadi banyak yang satu dengan lainnya saling berhubungan, disusun sedemikian rupa sebagai persiapan

anak masuk ke SD. Bakat anak lebih diasah lagi dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler wajib yakni sempoa, bahasa Inggris, komputer, menari, dan melukis. Dengan ekskul pilihan, renang, modeling, bahasa Jepang, singing & dancing. Bagi LMS yang berhasil meraih Juara II Lomba UKS tingkat TK sekota Denpasar Tahun 2014 ini, urusan kesehatan anak dan lingkungan juga menjadi prioritas. Pemeriksaan kesehatan seperti kesehatan gigi dan mulut (kesgilut) dan pemberian vitamin A, rutin dilaksanakan bekerjasama dengan Puskesmas Pembantu IV Densel. “Untuk melatih pembiasaan hidup sehat pada anak, hal paling sederhana yang kami lakukan adalah selalu mengingatkan anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Cara mencuci tangan yang baik dan benar pun kami tempel di dinding depan washtafel agar anak selalu ingat dan bisa menerapkannya secara mandiri,” ujarnya. Untuk menjaga kualitas proses belajar mengajar ini, Ketua Yayasan Ketut Arinatha, S.E. mengatakan secara berkesinambungan melakukan peningkatan SDM serta sarana dan parasana. Untuk saat ini LMS ditunjang dengan fasilitas ruang kelas ber-AC, audio visual, ruang komputer, perpustakaan, ruang musik dengan angklung dan keyboard, klinik (UKS), play ground indoor dan outdoor dengan berbagai macam mainan, serta sarana parkir yang memadai. –ten

Lingga Murti School (LMS)

Berbagai kegiatan Lingga Murti School

9

Sabtu (9/5), Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, kembali semarak. Panggung pertunjukannya menjadi megah dengan hiasan balon warna-warni. Hari itu Denpasar Children Centre (DCC) melangsungkan pagelaran Pentas Cilik DCC dengan mengusung tema ”Happy Dancing Day”.

Lingga Murti School (LMS)

Siapkan Anak Miliki 3 Kecerdasan

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

PENTAS CILIK DENPASAR CHILDREN CENTRE

Siapkan Konselor untuk Tingkatkan Kualitas SDM Workshop dan Seminar Internasional “Malindo ke-4” tahun ini diselenggarakan di Bali, bertempat di Hotel Harris, Kuta. IKIP PGRI Bali yang bertindak sebagai tuan rumah menyuguhkan berbagai hiburan, tari pembuka Pendet, tari kebesaran IKIP PGRI Bali Sang Hyang Pramesti Guru, dan Cak Ramayana. Tak kurang dari 500 peserta yang berasal dari Indonesia (Bali, Semarang, Yogya, Kalimantan) dan Malaysia sangat menikmati hiburan yang dibawakan oleh mahasiswamahasiswi IKIP PGRI Bali tersebut.

Dara

Menerima Pendaftaran Siswa Baru Tahun Ajaran 2015/2016 Syarat: Mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan fotokopi akte kelahiran Jln. Gurita Gg. Gurita I Pedungan, Denpasar Selatan Tlp. (0361) 8892308, 082 144813151 *Diskon Uang Gedung untuk pendaftar bulan Mei s.d. juni 2015

Tari Pendet oleh siswa DCC

imut, namun punya keberanian dan percaya diri yang tinggi ketika menyuguhkan tarian Ballet. Ekspresi mereka yang polos dan lucu, sungguh menggemaskan. Panggung pertunjukan menjadi megah selain karena penataan dekorasi layaknya sebuah pesta, juga dilengkapi dengan perangkat sound system yang berkualitas dari PREGINA Production. Di pengujung acara tak ketinggalan persembahan ensambel musik berupa permainan alat musik recorder dan pianika, yang dibawakan siswa kelas 4 dan 5 SD DCC. Acara kemudian disudahi dengan menya-

Ekspresi Kecerdasan dan Kegiatan Unggulan DCC Anak cerdas hanya di bidang intekletual belumlah cukup. Masih perlu diimbangi kecerdasan lainnya. Seperti, kecerdasan sosialemosional, kecerdas­ an dan musikal, serta kemandirian anak. Kecerdasan intelektual di Denpasar Children Centre (DCC) telah diasah melalui proses pemelajaran yang berkualitas di tengah suasana nyaman dan menyenangkan. Sementara potensi kecerdasan sosialemosional serta kemandirian anak dioptimalkan dengan wa h a n a p a g e l a ra n akbar berupa ”Pentas Cilik” . Agenda tahunan ini juga menjadi salah satu program unggulan DCC. Keseimbangan kecerdasan inilah yang senantiasa diolah oleh DCC, yang mengelola program pendidikan pra-sekolah dan sekolah dasar terpadu, yakni : Playgroup, TK dan SD. Dikatakan oleh Dr. Ir. IGA Oka Suryawardani, M.Mgt., pemilik dan Direktur DCC yang biasa dipanggil Bu Dani ini, acara tersebut adalah ruang bagi pengembangan talenta seni yang memang dibuka seluas-luasnya oleh DCC untuk seluruh siswa DCC. Mereka sengaja tampil untuk mempertontonkan talenta seni yang telah diasah. Pagelaran yang istimewa tersebut dipandu 8 anak sebagai pembawa acara (MC), yakni pasangan Esa Satria dan Tugek Alin; Serena dan Gek Tin; Gung

Adit dan Dyah Gayatri, serta Anggita Sekarayu dan Dayu Maha. Mereka hadir sebagai MC secara bergiliran dalam bahasa Bali, Indonesia, Inggris dan Jepang. Begitu pula dengan seluruh siswa pengisi acara yang tampil di panggung ketika itu, terlihat penuh semangat dan sangat menikmati. Mereka bergerak lepas dan bebas di setiap gilirannya menari. Aksi dan gaya mereka mampu memancarkan kemandirian mereka. ”Semuanya sudah mencerminkan hasil yang diharapkan dari stimulasi kecerdasan musikal serta program kemandirian anak yang dilaksanakan secara tepat dan terarah di DCC, sejak usia dini. Mereka akhirnya mampu mengoptimalkan potensi kecerdasannya, baik musikal, sosial-emosional, dan kemandirian, serta kemampuan berkomunikasi,” ujar Bu Dani. Selanjutnya, demi menjadikan siswa DCC berwawasan internasional, dikatakan oleh Ketua Yayasan DCC, Ir. Anak Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc., PhD. selain dipersiapkan dengan kemampuan berbahasa Inggris juga dilaksanakan program unggulan lainnya berupa Students Exchange Program. Pertukaran Siswa ke luar negeri ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa DCC, khususnya yang sudah kelas 5, untuk menimba ilmu serta pengalaman internasional. Tahun ini merupakan kunjungan yang ketujuh (7) kalinya ke Ironside State School di Brisbane - Australia. –ard

nyi bersama oleh siswa Playgroup, TK dan SD. Pentas Cilik DCC ini juga diliput oleh Bali TV dan akan disiarkan

pada acara ”Taman Sari” dalam dua episode yakni: Jumat 17 Juli 2015) pk. 11.00 dan Sabtu, 18 Juli 2015 pk. 14.30 Wita. –ard

Tari Dirty Beat oleh siswa TK B DCC

Tari In The Navy oleh siswa SD DCC kelas 1,2 dan 3

Ensamble Musdik oleh siswa SD DCC kelas 4 dan 5

Tari Syalala oleh siswa TK A DCC

MENERIMA SISWA BARU, TEMPAT TERBATAS SD CERDAS MANDIRI DENPASAR CHILDREN CENTRE

Jalan Bedugul 18 C, Sidakarya, Denpasar Informasi: Senin s.d. Jumat , Pkl. 08.00 - 16.00 Wita; Telepon: (0361) 725 725


8

Bunda & Ananda

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Mimbar Anak Bali 2015

Pengabdian dan Dedikasi untuk Anak Dalam rangka Hari Anak Nasional, ada dua kegiatan yang bertaraf nasional. Pertama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Forum Anak Nasioal (FAN). Kedua, Komnas Perlindungan Anak dengan Kongres Anak Indonesia (KAI). Keduanya melibatkan anak-anak perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia.

Nyoman Masni

U

ntuk Bali, tahun ini Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali yang dikomandani Ni Nyoman Masni, S.H., berkomitmen dengan BP3A Bali, melakukan kegiatan bersama memilih anakanak yang akan mewakili Bali baik untuk FAN maupun KAI. “Sebelum mengikuti KAI, ada kongres yang dilakukan di tingkat provinsi yang disebut Mimbar Anak Bali (MAB). Pelaksanaannya mengadopsi tata cara Kongres Anak Indonesia. Di sana ada seleksi melalui uj pengetahuan umum dan psikologi , mental-moral dan juga dilaksanakan outbond,” ujar Nyoman Masni dan mengatakan pelaksanaan KAI sudah menjadi tugas LPA sejak tahun 2003 hingga kini. Sebelumnya dilakukan seleksi di kabupaten/kota se-Bali, oleh Forum Anak Daerah (FAD) Bali bekerjasama dengan FAD daerah dan Badan KBPP setempat, memilih 5 anak untuk melaju ke tingkat provinsi. “45 orang anak terpilih dari seluruh Bali ini, disaring lagi menjadi 15 anak, yang dibagi dalam 5 komisi, yakni komisi pendidikan, kesehatan, perlindungan khusus, jaringan dan komisi partisipasi dan

ditambah 3 anak dari Duta Atribut. Selanjutnya dari 18 Duta Anak Bali tersebut , 9 anak akan menjadi peserta FAN dan 9 orang lainnya mengikuti KAI,” jelas Masni. Ia juga menyampaikan jika MAB diselenggarakan sejak tahun 2006,setelah Bali memiliki beberapa alumnus kongres. Mereka terpikir untuk melakukan penjaringan Duta Anak Bali, agar tidak bingung mencari peserta setiap tahunnya. Semangat anak –anak itu, kata Nyoman Masni yang mendorongnya ikut bersemangat mengurus mereka. Harapannya, siapa pun yang terpilih, mampu mewakili aspirasi anak-anak Bali di tingkat nasional. Ditanya soal semangat dan kenapa masih kuat, Nyoman Mansi mengaku betapa perjuangan anakanak Bali ini mampu menginspirasinya sebagai orangtua. “Saya juga bersyukur mereka mengerti apa yang harus diperjuangkan. Karena sebagian besar masih sekolah, tentu harus ada yang mensuport mereka dari belakang . Saya merelakan diri sebagai pembina mereka,” katanya serius. “Astungkara selama ini semua berjalan baik. Anak-anak itu tidak pernah mengecewakan. Justru mereka membuat harapan saya semakin besar, karena bisa menunjukkan keberhasilannya berorganisasi. Bahkan diantara mereka beberapa berhasil menjadi pemimpin muda Indonesia. Doi tahun 2006 (saat ini sedang mengkuti S2 di Amerika), Wahyu tahun 2007 (saat ini sudah menjad dokter), Dwi juga sudah dokter, ada yang sudah bekerja di LIPPI dan tempat terbaik lainnya, “ paparnya bangga. Masni juga menambahkan meski mereka saat sudah kerja dan tentu saja sibuk, namun masih mau memberikan dukungan dengan datang langsung di acara MAB.” Mereka saja ditengah kesibukannya masih bisa dan mau, kenapa saya tidak. Saya ingin mengisi sisa hidup dengan berkontribusi mencetak pemimpin masa depan yang cerdas dan berkualitas,”tandasnya.

Griya

17

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Patung Bali Antik Di Bali, hampir di setiap rumah pribadi maupun di ruang publik, bisa ditemui patung. Baik yang berukuran kecil, sedang, maupun besar,­ ­dengan berbagai jenis bentuknya. Keberadaan karya seni tiga dimensi yang menghiasi titik-titik tertentu ini tentunya memberi nilai plus bagi suasana yang ingin diciptakan.

SUARA ANAK BALI Ketua FAD Bali, LuhVida Sasmitha, mahasiswa Farmasi Unud, mengatakan Grand Final Mimbar Anak Bali, sebagai forum diskusi permasalahan perlindungan hak anak sukses dilaksanakan pada Senin (18/5) di Wantilan DPRD Badung. Pada MAB ke IX yang dihadiri Ketua L PA Bali, Perwakilan Badan PP/KB Kabupaten/ kota , dan pengurus FAD Provinsi Bali tersebut, berhasil melakukan Pemilhan Duta Anak Bali, yang akan menyalurkan aspirasi anak-anak Bali dan bertugas selama 1 tahun. Dalam sidang paripurna 1, tutur Vida mereka selain membahas tata tertib, juga ada presentasi Kabupaten membahas permasalahan anak ada di setiap kabupaten. Berikutnya dilanjutkan sidang komisi yang membahas permasalahan anak di Bali secara umum, dan bersamasama mencari solusinya. “Kami juga menerima kunjungan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, yang mem-

berikan suntikan semangat kepada seluruh peserta untuk mengikuti MAB selama 3 hari,” katanya Setelah semua kegiatan dilaksankan dilakukan penyusunan suara anak Bali yang merupakan hasil dari MAB yang menunjukkan suara-suara serta pemikiran dari seluruh anak-anak perwakilan seluruh Bal dan terpilihnya Duta Anak Bali 2015. “Duta Anak Bali bukan tujuan utama MAB, tapi untuk meningkatkan kepedulian terhadap berbagai permasalahan anak di Bali, dan mencari anak-anak yang bersedia mengabdi dan berdedikasi untuk anak Bali melalui Forum Anak Daerah Bali,” katanya. Berdasarkan pembahasan dalam Mimbar Anak Bali IX/2015 yang diselenggarakan pada 15 Mei s.d. 17 Mei 2015, dihasilkan Suara Anak Bali, yakni: Kami anak-anak yang mewakili kabupaten/kota se-Provinsi Bali menyatakan : - Memohon kepada pemerintah dan lapisan masyarakat untuk

-

-

-

-

-

turut serta mengawasi lingkungan pergaulan anak guna meminimalisir kejahatan seksual pada anak. Memohon kepada pemerintah untuk mengoptimalkan upaya pemerataan sarana dan prasarana di bidang pendidikan. Mengimbau kepada pemerintah untuk mengoptimalkan program pemerintah dalam upaya mengontrol peredaran makanan yang tidak layak dikonsumsi anak. Mengajak para orangtua untuk mengontrol penggunaan gadget pada anak dan menyarankan kepada pihak terkait membuat kegiatan yang menarik, kreatif, dan intensif guna mengurangi adiksi gadget pada anak. Memohon kepada pemerintah untuk membuat dan menetapkan suatu peraturan beserta sanksi bagi masyarakat dan atau organisasi yang melibatkan anak dalam kegiatan yang tidak layak diikuti. Siap mendukung program pemerintahan dalam segala upaya.

D

Patung Pandu

i kawasan Jalan Namun paling tidak, ia dan beBy Pass Ngurah berapa kerabatnya masih mewarisi Rai, Padanggalak, ilmu-ilmu mematung yang diajarkan Denpasar, ada besang kakek. Beberapa model paberapa tempat yang memajang tung primitif yang dibuatnya adalah kerajinan patung dari bahan batu Men Brayut, Pan Brayut, Legong, alam. Salah satunya, UD Sari Yasa. Janger, Pekak-Dadong, Pandu-Kunti, Selain mengerjakan patung dari Punta-Wijil, Ganesha, Raksasa, dan bahan paras putih Yogya, juga dari Bleganjur. bahan paras Bali yang didatangkan Satu set (satu pasang) patung, dari Singapadu, Gianyar. Seorang rata-rata diselesaikan dalam waktu pengerajinnya, Wayan Suada (39) tiga minggu. Untuk mendapatkan mengatakan, khusus di tempatnya kesan antik dan kuno, setelah bekerja ini, paras Bali banyak didifinishing dengan cat, patung gunakan untuk membuat patung paras Bali tersebut dioven agar model primitif. warna catnya mati, dan warnanya Patung bernuansa Bali yang masuk ke pori-pori batu. Inilah Wayan Suada terlihat antik dan kuno tersebut yang memberi kesan antik. “Hasil dikisahkan Suada pertamakali dibuat kakeknya, Nyoakhirnya persis seperti patung-patung di pura zaman Bawa (85) beberapa tahun silam, dan dipajang man dulu. Ini yang sebenarnya disebut patung Bali,” di showroom di Jln. By Pass Ida Bagus Mantra. Sejak ucap Suada. Selanjutnya, patung yang empat tahun itu, mulai banyak bermunculan patung-patung serupa. terakhir ini sedang tren, ditawarkan seharga Rp 6 “Namun, memang belum ada yang bisa membuat juta satu set, untuk ukuran 40cm x 40cm dengan bakalan dan ‘menghidupkan wajah’ seperti patung tinggi 1,5m. Sementara patung yang berukuran kakek,” ujar Suada kagum pada sang kakek yang kini lebih besar, 50cm x50cm tinggi 2m dihargai persetsudah tak bisa berkarya lagi karena dimakan usia. nya Rp 10 juta. –Inten Indrawati

Patung Kunti

–Sri Ardhini/Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Buaya versus Cecak

Seekor buaya sedang berjemur di pinggir sungai. Tibatiba ia mendengar percakapan cecak lakibini yang menempel di batang pohon waru. “Buaya itu sangat serakah! Dialah yang melahap semua telur burung yang bersarang Made Taro di semak-semak.” Buaya itu tersinggung. “Hai, Cecak! Badanmu kecil tetapi cakapmu besar. Lihatlah dirimu sendiri! Tidak pantas hewan nista membicarakan hewan besar dan bermartabat.” Cecak laki-bini itu diam saja. Ia melipat ekornya karena ketakutan. Ia tidak mengira buaya malas yang tidur-tiduran itu mendengar percakapan mereka berdua. Buaya itu belum puas dengan ucapannya sendiri. Ia mengangakan mulutnya yang lebar, mencari-cari di mana kedua cecak itu menempel. “Aku heran, mengapa Dewa menciptakan hewan nista seperti kau!” ocehnya lagi. “Hewan sebangsamu hanya bisa bersuara yang tak ada artinya.” Kedua cecak itu tersinggung juga, lalu jawabnya, “Bangsa cecak memang kecil dan suka bersuara. Tetapi sekali bersuara, semua manusia menghitung suara kami untuk menentukan nasib baik dan buruk. Lain dengan suaramu! Semua makhluk menutup telinganya, sebab suara serak dan memekakkan itu penuh kebohongan.” Buaya itu benar-benar marah. Ia mendekati

pohon yang dihuni kedua cecak itu, lalu berteriak sambil menggoyang-goyang batang pohon itu. “Hai, Cecak! Jangan banyak cakap! Kalau berani tunjukkanlah kesaktianmu! Ayo balapan mulai dari pohon waru ini sampai ke pohon ketapang! Pemenangnya berhak membunuh yang kalah.” “Baiklah!” jawab Cecak. “Tetapi jangan sekarang, sebab matahari hampir tenggelam. Besok saja, sehingga semua hewan menyaksikan perlombaan kita.” Singkat cerita, pagi keesokan harinya, semua hewan penghuni pinggir sungai itu berduyun-duyun menuju tempat perlombaan buaya versus cecak. Bagi mereka, perlombaan itu amat berarti, sebab mempertaruhkan hidup-mati. Yang ditunjuk menjadi wasit adalah burung jalak suren, karena ia bisa meniup peluit. “Priiit…!” peluit berbunyi. Cecak bergegas merayap, tetapi buaya santai saja. Bagi buaya, satu langkah sama dengan lima puluh langkah cecak. Menjelang menginjakkan kaki di pohon bekul, buaya memanggil cecak. “Caaak!” “Yaaak!” demikian jawaban cecak yang telah menempel di batang pohon bekul. Buaya mulai memperkencang jalannya. Menjelang menginjakkan kaki di pangkal pohon ketapang, buaya memanggil cecak. “Caaak!” “Yaaak! Aku di sini!” Ternyata cecak, hewan yang kecil itu terlebih dahulu sampai di garis akhir. Penonton bersorak gemuruh. Ketika wasit mengumumkan pemenangnya, tiba-tiba buaya itu mencebur ke sungai. “Sungguh kompak dan cerdas cecak itu!” kata wasit. “Buaya bodoh itu tidak tahu bahwa cecak yang di pohon waru, di pohon bekul dan di pohon ketapang adalah cecak yang berbeda.”

Patung Pan Brayut - Men Brayut

Patung Pekak - Dadong

Beberapa karya patung Bali antik

Patung Legong


18

Kreasi

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Makin Sulit Motif Makin Mahal Harga Kecamatan Sidemen, Karangasem dikenal sebagai sentra tenun khas Bali. Pekerjaan menenun dilakoni wanita-wanita yang ada di desa ini. Ni Nengah Dani dan Kadek Supiani termasuk para penenun yang bertahan dalam menjaga eksisensi tenun Sidemen.

S

uara alat tenun cagcag yang dipakai Supiani dan kecepatan tangannya dalam memasukkan benang membuat kagum orang yang baru pertama kali melihat proses penenunan. “Saya belajar menenun sejak kecil. Kakak saya yang mengajari. Ini pekerjaan kaum perempuan usai mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” ungkap warga Dusun Ogang, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Karangasem ini. Untuk mengerjakan selembar (a rirang) kain songket, Supiani menghabiskan waktu seminggu. Jika ada pekerjaan adat di banjar, pengerjaan bisa lebih lama lagi. Selembar kain ini kemudian dijahit dengan lembaran lainnya sehingga menjadi satu lembar besar (a bidang). Motif yang dikerjakan beraneka ragam, diantaranya motif bulan, wayang, dan lainnya. Makin tinggi tingkat kesulitannya, harga kain akan makin mahal. Ia mencontohkan pembelian bahan bisa

menghabiskan minimal Rp 700 ribu. Dari bahan-bahan ini bisa menjadi tiga lembar kain besar yang dijual masing-masing minimal Rp 900 ribu. Jika dikalkulasikan, penenun bisa meraup untung lebih dari 50%. Pemasaran kain endek ini pun tak sulit karena sudah ada pengepul yang siap menampung. Kadang ada juga pemesan yang langsung datang ke penenun. Hasil kreasi para penenun tradisional ini memang banyak menarik perhatian konsumen. Dani menambahkan, selain menenun kain songket, kadang mereka juga menenun kain sutra. “Harga bahan baku memang lebih mahal, bisa mencapai Rp 1,7 juta. Tetapi, harga jual per lembar juga mahal, mulai Rp 1,5 juta. Rata-rata dari bahan baku tersebut bisa menjadi 3 lembar besar,” kata kakak Supiani ini. Peralatan tenun yang digunakan Supiani dan Dani tergolong sederhana. Ada galang, panalan,

apit, belida, bumbungan, gegilik, sorog, dan serat. Penenun duduk deng a n kaki diselonjorkan. Alat tenun disangkutkan ke pinggang. Setelah memasukkan benang sesuai dengan motif, tangan mereka begitu lincah untuk menarik dan mengikat. Keduanya men-

–Ngurah Budi

Story

Tingkatkan Brand Awareness Berlico Farma Pameran di Kongres ICMM ke-41 Berlico yang pabriknya berada di Yogyakarta sudah memproduksi beragam produk, yang terdiri dari produkproduk ethical, OTC, food supplement, dan medical herbal. Berbagai merek produk yang dipasarkan antara lain, Anacetine (obat penurun panas), Combicitrine (obat cacing), Berlosid (obat maag), Anabion (multivitamin anak-anak), Suprabion (multivitamin untuk orang dewasa), dan minyak telon cap 3 Anak. PT. Berlico Mulia Farma telah melakukan kerjasama dengan 50 Pedagang Besar Farmasi (PBF) untuk mendistribusikan produk perusahaan ke lebih dari 16 kota besar di seluruh Indonesia, dan akan terus meningkatkan jumlah kerja sama dengan PBF baik dalam maupun luar negeri. “Sido Muncul sudah mengekspor produk hingga ke benua Eropa, Amerika, dan Australia. Berlico tentu ingin mengikuti jejak Sido Muncul. Melalui pameran yang diikuti kalangan kedokteran militer seluruh dunia inilah kesempatan untuk mengenalkan produk-produk Berlico,” ungkap Marco. Setelah diakuisisi Sido Muncul Group, Berlico mengeluarkan Imuco, suplemen makanan yang berfungsi untuk memelihara daya tahan tubuh. Produk dalam bentuk sirup ini sarat kandungan Echinacea dan Zinc Picolinate dengan rasa madu yang dapat diminum mulai usia anak-anak hingga orang dewasa. Mekanisme kerja dari Enchinacea bersifat imunostimulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara itu, produk dari Sido Muncul yang terbaru adalah Tolak Angin Bebas Gula. Ini me­rupakan obat herbal terstandar yang dipersembahkan bagi pengidap diabetes dan pecinta herbal yang ingin mengurangi penggunaan gula.­ –wah

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

7

Suami Dirampas Harta Dikuras Dengan wajah cemas, Sarinah (53), datang ke rumah Ika, kawan dari salah seorang sahabatnya. Sesungguhnya, Sarinah tidak pernah mengenal Ika secara langsung. Ia hanya sering mendengar salah seorang sahabatnya menceritakan tentang Ika. Sarinah berharap bisa mencurahkan seluruh masalahnya, mengingat dari cerita sahabatnya, Ika memiliki pergaulan yang luas dan kenal de­ ngan banyak orang. Karena itulah Sarinah datang kepada­nya. “Saya seperti orang yang tidak tahu malu, datang pada orang yang tidak saya kenal. Saya tidak tahu harus ke mana mengeluh dan me­ minta bantuan,” kata Sarinah.

P

Berlico Mulia Farma, salah satu perusahaan farmasi dari Sido Muncul Group turut berpartisipasi dalam pameran yang diselenggarakan terkait pelaksanaan Kongres International Committee on Military Medicine (ICMM) ke-41 di BNDCC, Nusa Dua, 18 s.d. 22 Mei 2015. Manajer Pemasaran PT Berlico Mulia Farma, Marco Hidayat, menjelaskan keikutsertaan Berlico dalam ajang pameran obat-obatan dan peralatan farmasi ini untuk memperkenalkan produk-produk Berlico. “Kami ingin meningkatkan brand awareness Berlico sebagai perusahaan farmasi yang berada di bawah Grup Sido Muncul,” ujarnya didampingi dr. Marissa, M.Si (Product Development and Promotion Manager Berlico Farma) dan Erna Wahyuni, S.Si., Apt. (Head of Tolak Angin Production Division). Marco menjelaskan Sido Muncul mengakuisisi Berlico pada 1 September 2014 lalu, delapan bulan setelah Sido Muncul menjadi perusahaan publik. Akuisisi ini dilakukan karena adanya keinginan memadukan obat-obatan farmasi dengan produk herbal yang memang menjadi bisnis inti Sido Muncul. “Sido Muncul berkeinginan untuk melengkapi portofolio dengan memadukan antara obat-obatan farmasi dan produk herbal sesuai dengan kebutuhan konsumen,” jelas Marco.

Hasil tenunan yang sudah jadi

gaku pekerjaan menenun sangat membantu perekonomian keluarga. Dari hasil penjualan kain tenun, mereka bisa membantu suaminya. Selain itu, menenun dilakukan di rumah sehingga mereka tak perlu jauh-jauh untuk bekerja. Begitu pekerjaan rumah tangga beres, mereka langsung berkutat dengan alat tenun. Jika pesanan banyak dan harus selesai, mereka sampai lembur untuk menyelesaikannya. Karena sudah dikenal sebagai sentra tenun, kadang ada konsumen yang langsung datang ke rumah penenun untuk memesan. Kadang ada juga yang membeli tenunan yang sudah jadi. Mengenai kendala, Supiani maupun Dani mengaku lebih banyak dalam proses pengerjaan. “Benang yang dipakai kadang ada yang renyah, jadi harus hati-hati. Kalau salah, ya mengulang lagi,” ungkap Supiani. Mereka juga mengaku akan terus menenun sampai semampunya.

Life

agi itu, dibonceng anak perempuannya, Sarinah keluar masuk gang, bertanya ke sana kemari alamat rumah Ika yang ditujunya di seputar kawasan Sweta Cakranegara Mataram, NTB. Cukup lama ia mencari alamat dengan bertanya sana sini. “Saya memang tidak minta nomor kontak Bu Ika dari sahabat saya, karena saya malu ia tahu kalau saya ingin ketemu Bu Ika,” ungkapnya. Rupanya, selama ini ia selalu memperhatikan jika sahabatnya itu bercerita tentang Ika, juga alamat rumahnya. Cerita tentang lokasi rumah Ika tidak secara gamblang ia dapatkan karena terselip-selip dalam obrolan biasa. Namun sedikit banyak ia mengetahui lokasi rumah di seputaran Sweta tersebut. Setelah lebih kurang satu jam mencari, ia tiba di rumah Ika. Terselip rasa ragu, beberapa saat Sarinah berdiri di depan pintu pagar tertutup rumah Ika. Demi tekadnya meminta bantuan, Sarinah memencet bel dua kali. Beberapa saat kemudian, ada yang membuka pintu gerbang dan ia langsung mengutarakan ingin ketemu Ika. Pekerja rumah tersebut sedikit curiga dengan kehadirannya. Ia diminta duduk dan menunggu di teras. Cukup lama

barulah Ika keluar dan segera bertanya identitas Sarinah. “Mungkin karena Bu Ika tidak kenal saya, saya memaklumi kalau banyak ditanya-tanya,” ujarnya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan Ika selesai, Sarinah sudah menangis dan langsung mengatakan ingin minta bantuan. Dari sanalah kisah sedih Sarinah terungkap. Mulai dari suaminya yang menikah lagi secara diam-diam hingga memiliki dua anak baru ia ketahui sampai akhirnya aset-

asetnya dirampas oleh istri muda suaminya dengan cara menipunya. Sarinah merasa hidupnya hancur berkeping-keping. Setahun yang lalu, pengkhianatan suaminya terungkap lewat pengakuan suaminya itu yang rupanya tidak tahan menyimpan rahasia itu. “Sakiiiiittnyaaaa,” ung-

kapnya miris. Terhadap hal tersebut, Sarinah mengaku tidak dapat berbuat banyak. Menuntut cerai sepertinya mustahil mengingat empat anak yang harus ia biayai, dua di antaranya tengah kuliah. Dengan rasa sakit yang teramat sangat, Sarinah membiarkan hidupnya mengalir dalam linangan air mata yang tiada henti. Ketika bertemu dengan istri muda suaminya, meskipun marah melihat wajahnya, namun Sarinah hanya bisa diam. “Saya tidak tahu mengapa saya tidak bereaksi sama sekali,” kata Sarina yang akhirnya menyadari bahwa kemungkinan ia kena hipnotis istri muda suaminya. Jangankan mencakar atau menjambak rambut perempuan muda itu seperti yang pernah ia “rencanakan” dalam hati ketika ia bertemu dengannya, bicara saja Sarinah tak mampu melakukannya. Sejak itulah Sarinah semakin terpuruk. Jerat pertama datang dari ulah suaminya yang meminjam uang kepada rentenir sehingga istri muda suaminya datang kepadanya meminta bantuan untuk melunasi utang-utang tersebut. “Perempuan (istri muda suaminya) itu, meminta sertifikat rumah yang saya tempati, saya kasih,” katanya. Sertifikat itulah yang tidak disadari oleh Sarinah, ternyata rumahnya sudah digadaikan. Lalu ia kemudian sadar, dua bidang tanah yang dibelinya dengan cara susah payah, menabung bertahuntahun, juga tiba-tiba telah berpindah tangan. “Rupanya, suami saya yang memberikan sertifikat tanah tersebut,” kata Sarinah. Menurut Sarinah, suaminya meminjam uang Rp 60 juta kepada orang yang rencananya mau membeli tanah tersebut dengan harga Rp 260 juta. Penjualan tanah ini sesungguhnya memang diketahui oleh Sarinah, namun ia tidak mengetahui bahwa sertifikat sudah diserahkan oleh suaminya kepada istri mudanya. Dari sanalah kerumitan ber-

Silaturahmi GM PLN Distribusi Bali PLN Distribusi Bali resmi berganti kepemimpinan dari Syamsul Huda kepada Dodi Pangaribuan yang sebelumnya merupakan GM PLN Distribusi Riau Kepulauan Riau. Di depan awak media, di Renon, Kamis ( 21/5) Dodi mengatakan akan melakukan pemetaan dan menyelaraskan program kerja dengan kebijakan pimpinan PLN sebelumnya dan menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Pria yang 10 tahun lalu pernah bertugas di PLN Area Bali Selatan ini merasa bangga, pelayanan PLN Distribusi Bali, sudah memberikan pelayanan terbaik di antara PLN se-Indonesia. Untuk selalu memberikan yang terbaik, PLN Bali terus berbenah. Selama ini, untuk penyambungan listrik baru rumahtangga memerlukan waktu 10-12 hari. Kini, sedang ditargetkan bisa terlaksana 7-8 hari. Begitu juga, soal penanganan gangguan terus dilakukan perbaikan. PLN tak henti melakukan perbaikan dengan membuka komunikasi baik itu lewat website, SMS, call centre yang intinya ingin memberikan kepuasan pelanggan. –Wirati Astiti mula, di mana Sarinah juga menduga bahwa suaminya berada di bawah pe­ngaruh istri mudanya. Celaka­nya, sertifikat tanah yang dibelinya delapan tahun lalu itu, masih atas nama pemilik lama. Lalu entah bagaimana cara istri muda suaminya itu membuat sertifikat baru (balik nama) tanah tersebut atas nama pembeli, di mana Sarinah baru menerima uang Rp 60 juta. Sadar telah ditipu, Sarinah meminta pertanggungjawaban istri muda suaminya yang selalu berjanji melunasi harga tanah tersebut. “Saya tidak mau tahu urusan dengan pembeli, yang penting perempuan itu mengembalikan sertifikat saya atau membayar sisa harga tanah tersebut,” katanya. Inilah yang membuat Sarinah harus meminta tolong pada Ika. Meminta saran apa yang harus

dilakukannya. Beruntung ia masih menyimpan kwitansi jual beli dengan pemilik lama. Ika menyarankannya untuk melapor pada pihak yang berwajib. Lewat kenalannya seorang pengacara, Ika meminta bantuan untuk mendampingi Sarinah melaporkan kasusnya. Saat ini, Sarinah tengah menanti panggilan untuk diperiksa atas laporan kasusnya. Ia berharap, dapat memperoleh kembali hak-haknya demi anakanaknya. “Berat sekali cobaan yang diberikan Allah pada saya. Suami saya dirampas perempuan itu, lalu semua harta saya dikuras. Saya sudah tidak memikirkan suami, mau pergi selamanya juga tidak mengapa, yang penting rumah dan tanah saya bisa kembali demi anak-anak saya,” ujarnya penuh harap. -Naniek I. Taufan


Sumiati

6

Women on Top

umiati menjadi salah satu penerima tamu di rumah keluarga I Ketut Wirten di Br. Tegal Sari, Desa Sumberkima, Kecamatan Gerogak, Buleleng. Wirten menjadi Duta Keluarga Harmonis dan Sejahtera yang mewakili Buleleng di tingkat Provinsi Bali. Usai penilaian, Sumiati menuturkan pengalamannya yang sudah duluan menjadi Duta Buleleng. “Saya sudah pernah mewakili Buleleng, sekarang saya mendampingi keluarga Pak Wirten. Apa pengalaman yang pernah saya lalui, saya bagikan ke keluarga ini. Tujuannya tentu agar

Berbagi Ilmu

mereka bisa menampilkan yang terbaik,” ungkap wanita yang akrab disapa Bu Luh ini. Sejak menikah dengan Nyoman Wijana dan dikaruniai empat anak (Eni Eka Windaryati, Ewi Wirawati, Ely Trisnawati, dan Ery Priyatama WP), Bu Luh tak pernah sepi kegiatan. Dari pagi, ia membereskan urusan rumah tangga, mulai dari menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya hingga membersihkan rumah. Setelah semua beres, barulah ia mengurus modes “Karya Murni” yang berada di sebelah rumah. Jika ada kegiatan di Br. Pegametan,

Desa Sumberkima, wanita kelahiran 24 Mei 1957 ini juga aktif. “Saya aktif di PKK bahkan pernah jadi PKK Teladan dan juara lomba UPPKS,” ujar penerima penghargaan Tokoh Perempuan Bali tahun 2012 ini. Walaupun hanya tamatan SMA, Bu Luh tak pernah surut untuk memberi semangat kepada anak-anaknya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi hingga ke jenjang S2. Semua anak-anaknya pun sukses di dunia pendidikan. Karier mereka pun sudah mapan. “Tak hanya anak-anak sendiri yang saya dukung, anak-anak di lingkungan rumah juga saya dukung. Kalau mereka tak bisa melanjutkan pendidikan, harus punya ketrampilan. Ibu-ibunya saya berikan keterampilan yang bisa diteruskan ke anak-anak,” ungkap nenek empat cucu ini. Keterampilan yang dimiliki Bu Luh diperoleh dari rajinnya ia mengikuti pelatihan. Tak hanya di Buleleng dan Denpasar, ia juga ikut pelatihan sampai ke Malang. Keaktifan ini sangat didukung suaminya yang selalu siap mengantarkan. Bahkan kini setelah suaminya pensiun sebagai Kepala SD, mereka bisa lebih banyak berkiprah di masyarakat.

sis. Hingga kini usaha modesnya sudah meluluskan lebih dari 1200 orang. Ada yang langsung membuka usaha sendiri dan ada yang berkelompok. Prinsip Bu Luh, kalau punya ilmu harus dibagi untuk orang lain. Kini usaha modesnya maju pesat. Pesanan banyak datang dari hotelhotel dan sekolah-sekolah yang ada di Buleleng. Dulu bahkan ada pesanan dari Denpasar. Tetapi, karena kewalahan untuk mengerjakan, mereka hanya fokus menggarap pasar Buleleng saja. Berkat ketekunannya di dunia jahit-menjahit dan kepeduliannya dalam membina tenaga kerja, Bu Luh pernah menerima penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja

yang kala itu dijabat Fahmi Idris. “Waktu ada kunjungan istri pimpinan negara peserta APEC ke Gianyar, saya juga diikutkan. Bangga rasanya bisa berhadapan langsung dengan ibu-ibu negara. Sama bangganya ketika saya bisa membantu ibu-ibu dan anak-anak putus sekolah,” kenang wanita yang tetap energik di usia tua ini. Satu harapan Bu Luh adalah ada anak-anaknya yang mau meneruskan usaha modes “Karya Murni”. Ia sudah mengungkapkan keinginan tersebut kepada keempat anaknya. Gayung pun bersambut karena anak-anak siap untuk menerima tongkat estafet dari sang ibu. –Ngurah Budi

Melawan Tragedi Nol Buku

Lakukan Senam Kebugaran Seksual agi wanita kadang malu untuk membicarakan masalah seksual dengan pasangannya. Hal ini dianggap tabu. Atau, mungkin karena budaya menganggap wanita hanya untuk melayani dan tunduk pada suami. Hubungan seks hanya sebatas rutinitas belaka yang membosankan hingga tak ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Bahkan ada suami yang berselingkuh gara-gara tidak merasakan “daya cengkram” vagina istrinya. Menurut Grace, jangan semata-mata salahkan pria 100% kalau pria selingkuh. Wanita juga harus memperbaiki diri, antara lain dengan memiliki daya cengkram vagina yang kuat. “Wanita normal pasti ingin memberikan kepuasan seksual secara maksimal kepada pasangannya. Seperti halnya pria perkasa yang dengan bangga mampu memberikan kepuasan seksual kepada pasangannya dengan berbagai cara dan gaya. Wanita akan bangga bila mampu memberi kepuasan seksual yang justru melebihi yang diidamkan kaum pria,” ujar Adolfina Grace Tangku-

dung, penulis buku “Senam Kebugaran Seksual” yang diluncurkan Kamis (28/5) di Taman Jepun, Denpasar. Buku yang berawal dari tesis berjudul “Pelatihan Kebugaran Seksual dengan Stan­ding Exercise dan Floor Exercise dapat Meningkatkan Kekuatan Otot Dasar Panggul Wanita Usia 35-50 Tahun di Denpasar” ini banyak mengupas tentang bagaimana melatih otot vagina. “Berkurangnya daya cengkram vagina da­ pat disebabkan karena mengendornya atau melemahnya kekuat­ an otot dasar panggul. Pemicunya antara lain persalinan yang terlampau sering, makin bertambahnya usia, beban psikologis yang berat, berat badan, pengaruh obat-obatan tanpa konsultasi dengan ahli medis, dan teknik pelatihan yang salah,” ujar Grace. Mengendornya kekuatan otot dasar panggul dapat menyebabkan menurunnya kualitas hubungan seksual. Hal ini karena daya cengkram otot pubococcygeus (otot yang melingkari vagina) selama melakukan hubungan seksual nmenjadi berkurang. Otot

yang mengendur bisa dirasakan pasangan, akibatnya hasrat untuk melakukan hubungan seksual menjadi tertekan atau hilang sama sekali. Prinsip pelatihan kebugaran seksual mencakup pelatihan secara isometric khususnya pada otot dasar panggul. Latihan dapat dilakukan dengan posisi duduk di lantai, bersimpuh, tidur miring, telungkup dan telentang. Dari penelitian terhadap 12 wanita dengan posisi latihan berdiri dan 12 wanita dengan posisi di lantai, hasilnya otot dasar panggul mereka menjadi makin kuat. Buku yang dibuat satu-satunya lulusan S2 Fisiologi Olahraga yang membidangi senam di Bali ini merupakan bentuk kepeduliannya terhadap kaum wanita khususnya di

Minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah dibanding nega­ ra lain. Hasil survei sejumlah lembaga internasional maupun dalam negeri menunjuk dengan jelas fakta tersebut. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, 91,68% orang Indonesia usia 10 tahun ke atas lebih gemar nonton televisi 91,68%, sementara yang suka membaca hanya 17,66%.

D

PENGHARGAAN DARI MENAKER Beberapa pelatihan yang pernah diikuti antara lain pemanfaatan batok kelapa, pembuatan dodol, selai nanas, dan menjahit. Dari semua pelatihan itu, menjahitlah yang membuat Bu Luh ek-

Banyak wanita yang telah menikah menjadi cemas karena rasa percaya diri merosot, kemampuan mempertahankan keharmonisan rumah tangga makin kendur. Bertambahnya usia menurunkan fungsi hormon bahkan ada yang merasa hanya menjadi objek pemuas hawa nafsu bagi suami.

Ade Pujiati

ata tersebut seolah memperkuat hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga internasional, seperti UNESCO, juga UNDP. Bahkan UNDP menyebut, indeks minat membaca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001. Yakni, dari setiap 1000 orang hanya 1 orang yang punya minat membaca. Dengan hasil yang memprihatinkan itu maka tak salah kalau budayawan Taufik Ismail sejak

Mau “Daya Cengkram” Vagina lebih Kuat?

B

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Wanita yang satu ini memiliki banyak prestasi, mulai dari tingkat kecamat­an hingga provinsi. Kiprahnya di bidang kemasyarakatan tak diragukan lagi. Menjelang usia 60 tahun, Ni Luh Sumiati tetap eksis membina ibu-ibu dan anak-anak putus sekolah di lingkungannya.

Luh

S

Edisi 850/ 25 -31 mei 2015

bidang seksual. Penelitian yang dilakukan Grace ini mendapat bimbingan Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And., AIFO. Dalam kata pengantar buku “Senam Kebugaran Seksual” ini, Prof Alex menulis masalah seksual merupakan masalah yang sangat umum di kalangan pasangan suamiistri. Bertambahnya usia secara progresif akan menurunkan kemampuan seksual seseorang. Melalui buku ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan yang ada sehingga orang dapat melakukan pelatihan fisik dan olahraga yang sesuai kaidah ilmiah. Bagi yang berminat mendapatkan buku ini bisa menghubungi Lala Studio, Grace Tangkudung atau toko-toko buku yang ada di Denpasar-wah

beberapa tahun lalu menyebut hal itu sebagai ‘Tragedi Nol Buku’, sebagai ungkapan keprihatinan sastrawan senior itu terhadap rendahnya budaya membaca di negeri ini. Rendahnya minat baca masyarakat, khususnya anak sekolah, juga menjadi keprihatinan aktivis pendidikan Ade Pujiati. Peraih Indi Woman Award 2013 bidang pendidikan, ini, berpendapat, menumbuhkan minat baca harus dilakukan semua pihak, bukan hanya pemer-

intah dan guru tapi juga para orangtua. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tegas Ade, harus membuat gebrakan nyata dengan mewajibkan murid sekolah untuk membaca buku. “Selama ini sebagian besar sekolah tidak menumbuh-kembangkan budaya membaca di kalangan muridnya. Anakanak tidak diwajibkan membaca buku. Berbeda dengan di luar negeri, dimana murid-muridnya diwajibkan membaca

buku dan itu dilakukan sejak dini,” ucap Ade. Kewajiban membaca buku, tegas Ade, diterapkan di sekolah yang dipimpinnya, SMP Ibu Pertiwi. Sekolah Menengah Pertama yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan ini, mengharuskan siswanya membaca 1-2 buku per-minggu. Mereka juga wajib membaca kliping koran yang sudah disediakan sekolah. Baik buku maupun hasil bacaan kliping koran inilah yang akan diujikan kepada siswa untuk mengetahui apakah mereka memahami isi buku yang dibacanya. “Program ini berlaku sejak mereka kelas 7 atau kelas 1 SMP. Setiap siswa wajib menamatkan 1-2 buku perminggu. Setelah itu mereka diminta menceritakan isi buku yang dibacanya di depan kelas. Selain itu, mereka juga wajib membaca kliping koran yang telah disediakan. Ini dilakukan secara berkelompok. Di luar itu, pada jam istirahat, anak-anak juga dianjurkan untuk membaca buku-buku di perpustakaan,” jelas Ade. Program ini boleh dibilang program ‘pemaksaan’ terhadap murid untuk belajar suka membaca. Disebut pemaksaan, karena kebanyakan murid tidak suka membaca. Mereka membaca karena kewajiban, karena terpaksa. Mengajak anak suka membaca, tambahnya, bukan hal yang mudah. Apalagi jika hal itu baru diperkenalkan setelah mereka berusia 12 tahun atau saat mereka SMP. Meski boleh dibilang agak terlambat, karena seharusnya, budaya membaca itu sudah diperkenalkan ketika mereka kecil atau setidaknya saat mereka SD. “Ini tidak mudah. Awalnya mereka membaca karena terpaksa, karena diwajibkan oleh sekolah. Dari pengalaman kami, memerlukan sekitar 2 tahun untuk membuat anak akhirnya menjadi gemar membaca. Baru setelah mereka

Bu, Sekarang Jadwal Beli Buku Kesukaan Ida Ayu Putu Widnyani membaca bukan karena ia berprofesi sebagai dosen. Namun, hobinya ini sudah ia tekuni sejak remaja. “Karena suka membaca, saya suka juga menulis. Selain di kertas, saya juga menulis di daun lontar,” ujarnya. Hobi membaca kini sudah menular kepada keempat buah hatinya. “Kalau saya membeli buku memang lebih banyak buku untuk mengajar sesuai bidang saya administrasi dan manajemen publik,” tutur dosen Universitas Ngurah Rai ini. Menurutnya, buku-buku yang berhubungan dengan mata kuliah yang ia ajar, sering agak sulit ia temui di toko buku di Denpasar. Karena itu, ia sering membeli lewat internet. “Saya banyak juga koleksi e-book untuk buku mengajar,” kata perempuan yang akrab disapa Dayu Widnyani ini. Namun, ketika mengajak anakanaknya membeli buku, ia juga kerap membeli buku di luar bidangnya mengajar. “Saya suka buku cerita klasik seperti Tantri, Kahli Gibran, buku motivasi hidup seperti Gede Prama,” kata Dayu Widnyani. Buku yang paling ia favoritkan, buku motivasi. Karena baginya, buku tersebut banyak memberi inspirasi dan motivasi diri agar menjadi lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Untuk kunjungan ke toko buku, ia rutin melakukannya tiap bulan. Itu dilakukan, dengan tujuan, memancing minat baca anak-anaknya. “Biasanya, kalau saya lupa, anak-anak pasti bilang, Bu sekarang jadwal beli buku,” ucapnya. Acara beli buku, ia jadikan sebagai jadwal refreshing bersama keluarga, sehingga juga bermanfaat secara emosional bagi keempat anak-anaknya. “Anak-anak merasa seperti liburan

Selain buku resep, ia juga kerap membeli buku yang berbau politik. “Buku politik untuk menambah wawasan dalam berpolitik,” kata Sari Galung. Ia menambahkan, selain buku politik dan resep, ia rutin berlangganan majalah terutama yang berhubungan dengan perempuan. “Majalah perempuan selain mengupas tentang lifestyle, saya suka sekali membaca tentang kisah-kisah yang inspiratif yang bisa memberi inspirasi bagi pembacanya. Misalnya, perjuangan seseorang mencapai kesuksesan,” ucapnya.

Ida Ayu Putu Widnyani

Sari Galung

pergi ke toko buku. Mereka sangat senang,” kata Dayu. Dayu tak pernah merencanakan membeli buku, setiap ke toko buku. Tujuannya, hanya mengantar anak-anak. Namun, ia selalu tertarik jika melihat ada buku baru. “Biasanya ada contoh yang bisa dibaca. Kalau dibaca bagus, jadinya saya beli,” ujarnya. Selain ke toko buku, Dayu juga rutin mengajak buah hatinya mengunjungi perpustakaan. Hal itu sudah ia lakukan sejak anak-anaknya masih TK. “Saya biasanya bawa anak-anak ke perpustakaan daerah Bali di Teuku Umar Denpasar. Tapi bukunya kadang tak lengkap. Apa yang dicari tidak ada. Walau begitu, anak-anak tetap suka diajak ke perpustakaan. Mereka anggap sama dengan pergi ke mal,” kata Dayu. Ia menambahkan, anak-anaknya suka sekali dengan komik. “Kalau lagi jenuh belajar, mereka bisa menjadikan membaca komik sebagai selingan. Tapi komik yang dipilih juga yang sesuai

dengan usia anak-anak. Pilihannya yang lebih banyak pelajaran hidup dan motivasi,” ujarnya. Sampai saat itu, untuk Dayu sendiri koleksi bukunya sudah ratusan. Baginya, mengoleksi aneka buku sama artinya dengan menimba ilmu. Dari membaca, ia mengatakan, banyak mendapatkan informasi dan wawasannya menjadi bertambah. Dayu senang, walaupun kecil, ia punya perpustakaan kecil di rumahnya. Sementara, bagi Sari Galung, membeli buku tak selalu ia lakukan. “Mungkin tiga bulan sekali baru beli satu,” kata politisi PDI Perjuangan ini. Ia paling suka membeli buku resep. Itu sesuai dengan hobinya yang suka memasak. Buku yang paling ia sukai buku resep Chinesse food. Mulai dari membuat cap cay, fuyung hai, babi kecap, cumi-cumi tepung saus manis, ikan kukus saus jahe, sudah dikuasainya. Semua ilmu memasak yang ia baca dari resep, biasanya ia praktikkan saat ada acara di rumah, misalnya arisan.

BELI LEBIH DARI SATU Lain lagi pengalaman Indah, yang banyak mengkoleksi buku tentang Informasi dan Teknologi (IT) dan dunia marketing. “Biasanya buku yang saya beli kalau tidak tentang IT pasti tentang marketing. Malah kalau ada yang bagus, bisa beli lebih dari satu,” kata wirausaha ini. Indah mengatakan, tiap habis gajian, selain belanja bulanan, pasti ia mampir ke toko buku. Ia selalu memilih belanja di mal yang dilengkapi dengan toko buku sehingga memudahkan menyalurkan hobinya. Perempuan usia 31 tahun ini menuturkan, dengan perkembangan IT, ia kerap juga membeli e-book. “Kalau lagi menunggu, saya buka tablet untuk baca e-book. Biasanya, pilihannya pada novel. Saya suka novel roman karena menghibur di saat stres karena pekerjaan,” ujar perempuan yang mengaku lebih suka membaca dibandingkan menonton sinetron ini. Indah mengatakan, koleksi buku IT-nya sudah ada 30 an. “Justru, koleksi novel yang paling banyak. Entah itu dalam bentuk buku atau ebook,” tutur Indah. –Wirati Astiti

19

kelas III SMP, mereka membaca buku bukan karena terpaksa, tapi karena inisiatif sendiri. Tapi jangan dilihat bagaimana akhirnya anak menjadi gemar membaca, melainkan bagaimana proses membuat anak itu menjadi gemar membaca. Kami melakukannya dengan banyak cara, termasuk mengharuskan mereka mencari hal-hal yang sulit, seperti arti kata bahasa Indonesia maupun Inggris lewat buku, lewat buku kamus. Meski di sekolah kami memiliki internet, namun untuk pelajaran-pelajaran tertentu, mereka lebih diarahkan mencari pemecahan masalah lewat buku,” ungkap Ade. TANTANGAN ERA DIGITAL Di masa sekarang ini, dimana kemajuan teknologi komunikasi dan informasi begitu pesat, kata Ade, ikut berdampak pada makin berkurangnya minat baca buku terhadap anak. “Sekarang anak-anak sudah bawa gadget, ada apa-apa selalu membuka internet. Mereka menjadi kurang suka membuka buku, karena merasa internet lebih mudah. Dan kami tidak ingin seperti itu. Kami ingin anak-anak terbiasa membaca buku, itu sebabnya berbagai program agar anak menjadi terbiasa dengan buku, intensif dilakukan. Selain itu, kami juga mewajibkan anak-anak menulis diary yang akan disampaikan mereka di depan kelas seminggu sekali. Ini dimaksudkan untuk memperbaiki bahasa Indonesia mereka,” paparnya lagi. Seharusnya, kata Ade, anak-anak dibiasakan dengan buku sejak usia balita. Memang, mereka ketika itu belum bisa membaca. Maka tugas orangtua adalah mendongeng kepada anakanaknya. Kebiasaan orangtua mendongeng ini, ucapnya, di masa sekarang semakin berkurang lantaran orangtua terlalu sibuk bekerja. Padahal dengan rajin mendongeng, apalagi jika sambil menunjukkan buku bergambar, itu akan merangsang anak untuk menyukai buku sejak dini. Selain di rumah, sekolah pun, khususnya sekolah dasar, memiliki program yang arahnya adalah menumbuhkembangkan minat baca anak-anak. Jika masih kelas 1-2, maka guru bisa melakukannya dengan cara mendongeng dan anak-anak diberi buku-buku bergambar. Sehingga ketika guru bercerita, anak-anak pun bisa melihat gambar-gambarnya lewat buku. Ketika anak sudah mencapai kelas 6, mereka mulai diwajibkan membaca buku-buku cerita. “Buku-buku anakanak kan lebih banyak gambar dari pada tulisan.Ini juga bisa melatih imajinasi anak. Ketika mereka masuk SMP, hal tersebut (kewajiban membaca buku) terus dilakukan, begitu pula di SMA,” katanya. Diakuinya, membaca bukan hanya lewat buku tapi di internet pun bisa dilakukan. Namun katanya, apa yang tertuang di internet itu umumnya adalah hal-hal yang bersifat ringkasan, rangkuman. Jika ingin mendetail maka kita harus melihat pada buku. “Dari pengetahuan saya, tidak ada orang yang menjadi addiction membaca lewat internet. Yang ada, addiction main game di internet. Tapi umumnya orang addiction membaca buku. Menurut saya, ketika ia berusia diri hingga belasan tahun, anak harus dibiasakan membaca buku. Kebiasaan itu akan terbawa hingga dia besar,” paparnya. Hal senada juga diungkap oleh Ketua Umum IKAPI, Lucya Adam Dewi, yang menyatakan, untuk membangun budaya membaca harus dimulai sejak usia dini dengan adanya pemaksaan program membaca di level pendidikan dasar. “Siswa diwajibkan membaca dan menulis,” ucapnya. Tantangan minat baca, kata Lucya, menjadi berat karena saat ini dunia bergeser ke era digital. Kalau di negara lain, era digital terjadi setelah masyarakatnya gemar membaca, sementaa di Indonesia, era digital masuk ketika masyarakatnya tidak gemar membaca. “Ini menjadi tantangan tersendiri,” katanya.—Diana Runtu


20

Nine

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Lale Rasminingsih

Piawai Improvisasi Suara khas Lale Rasminingsih, salah seorang pembawa acara di Bagian Humas dan Protokol Setda Provinsi Nusa Tenggara Barat, kerap terdengar dalam acara-acara resmi Pemerintah Provinsi NTB. Tidak hanya pada acara rutin daerah ini, suara Lale yang bening juga mengisi kegiatan-kegiatan kunjungan Presiden RI ke Bumi Gora. Ibu dua anak ini, merupakan pembawa acara paling senior di antara lima pembawa acara lain di Humas dan Protokol Setda NTB. Empat pembawa acara andalan Humas Pemerintah Provinsi NTB lainnya yang kerap bergantian tugas dengan Lale adalah, Yayuk, Cendana, Dian, dan Nana.

L

ale Rasminingsih yang akrab disapa Anjung ini telah menjadi pembawa acara sejak pertama kali ia diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Pronvisi NTB, tahun 1993. “Saya menjadi pembawa acara di Humas sejak jadi Calon PNS tahun 1993 dan kala itu Humas masih menjadi Subbag. Protokol di bawah Bagian Rumah Tangga,” ungkapnya. Tiap kali membawa acara, Anjung tidak hanya mengandalkan suara khasnya melainkan juga ia pandai menjaga penampilan dan rasa percaya dirinya. Ia tidak tampak grogi apalagi demam panggung. Tiap tugas yang diberikan padanya sejauh ini selalu dilaksanakannya dengan mulus tanpa kesalahan berarti. Karena bisa

dibayangkan apa yang akan terjadi jika ia sampai salah dalam membawakan acara. Tidak hanya teguran melainkan juga ia akan terbebani secara psikis. Anjung selalu mempersiapkan diri sedetail mungkin tiap kali mendapat tugas membawakan acara-acara yang tergolong super penting seperti ini. Untuk dapat menguasai suasana, Anjung banyak belajar dari pengalamannya selama 22 tahun menjadi pembawa acara. Segala kekurangan dari pengalaman itu, ia tutupi dengan kepiawaiannya berimprovisasi. Tiap kali membawa acara adalah ilmu baru baginya. Saat memulai tugas ini, ia sempat mengikuti berbagai pelatihan atau Diklat seperti halnya bimbingan teknis protokol, MC dan lainnya. Di sanalah ia diingatkan bahwa ketika akan membawakan acara-acara resmi

khususnya kunjungan kenegaraan, agar selalu menyiapkan diri sedetail mungkin, tidak hanya kesiapan performa melainkan juga berkaitan dengan acara. Karena itulah ia mulai belajar berkoordinasi dengan panitia atau instansi yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Langkah-langkah inilah yang membuatnya akhirnya memahami pentingnya tugas sebagai seorang pembawa acara, meski ia mengaku di awal tugasnya itu, Anjung mengaku sempat grogi dan tidak percaya diri. Namun, ia terus belajar untuk bisa menjalankan tugas tersebut dengan baik bahkan dimulai dari menjadi pembawa acara biasa pada upacaraupacara rutin hari Senin di Kantor Gubernur NTB. “Awalnya saya belajar membawa acara pada acara-acara

Pengadaan dan perawatan fasilitas pelatihan (pesawat latih) Seperti yang kita ketahui, sebagian besar armada pesawat latih yang digunakan oleh sekolah-sekolah pilot di Indonesia adalah buatan Amerika. Dibutuhkan biaya ekstra untuk mendatangkannya dari luar ke dalam negeri dan belum termasuk tarif pajak yang lumayan tinggi. Begitu pula dalam masalah perawatan pesawat latih agar tetap berada dalam kondisi prima. Sejumlah komponen dan suku cadang pesawat juga harus didatangkan dari negara asalnya. Tingginya biaya-biaya tersebut berpengaruh besar pada biaya pendidikan pilot.

kecil seperti upacara bendera hari Senin di kantor,” ujarnya. Pada suatu ketika yang ia lupa tahunnya, Anjung diberikan tugas untuk membawakan acara penting pertama kalinya saat kunjungan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno ke Nusa Tenggara Barat. Ia mengaku sangat gugup kala itu. Ketika ia harus membawa acara pada kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Yang terakhir adalah saat ia membawakan acara di depan Presiden Joko Widodo, pada puncak peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora yang bertajuk Tambora Menyapa Dunia beberapa waktu lalu. “Perasaan saya campur aduk dalam rasa bangga, senang sekaligus gugup dan deg-degan,” kata ibunda dari Baiq Laila Annisa Ramdhani dan Baiq Nabila Zhalifunnafsi ini. Beruntung dari semua tugas membawakan acara yang diberikan padanya, selalu dilewatinya dengan sukses. Ini semua menjadi pengalaman berharga baginya. Namun, meski ia telah mahir dalam membawakan acara, Anjung sadar betul bahwa suaranyalah yang pertama kali didengar dan sepanjang acara berlangsung suaranya menjadi pemandu utama yang

Para Instruktur Amerika merupakan negara dengan jumlah sekolah pilot terbanyak di dunia, hingga mencapai 1500 sekolah saat ini. Dengan jumlah itu, tentunya jumlah tenaga instruktur pun banyak tersedia di sana. Sehingga, memungkinkan mereka memperhatikan perkembangan siswa secara individu. Hal ini juga akan meningkatkan kualitas pendidikan siswa itu sendiri.

Mengapa Memilih AHA (Aim High Aviation) Indonesia? AHA adalah partner dan konsultan resmi yang bekerjasama dengan beberapa sekolah pilot terbaik di Amerika. Hingga saat ini, AHA telah membantu puluhan siswa (yang jumlahnya terus bertambah), untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi pilot. Beberapa di antaranya sudah bergabung dengan perusahaan penerbangan terkemuka di dunia, baik sebagai pilot, kapten, atau First Officer. AHA memberikan paket pelatihan yang sangat lengkap, di antaranya terdiri dari Basic Ground Class, Simulator Training, juga FAA License (valid for a life time). AHA juga membantu pengurusan medical, visa, dan dokumen keimigrasian lainnya, serta pelajaran dasar Bahasa Inggris sebelum siswa berangkat ke Amerika. Untuk mendapatkan info lengkap yang diperlukan, silahkan hubungi AHA (Aim High Aviation) Indonesia di alamat dan nomor telepon kami di bawah ini. AHA Indonesia Jln. Panglima Besar Sudirman Kompleks Pertokoan Sudirman Agung Blok B-17, Denpasar Telepon: 0361 - 241 061/ 0812 3939 5761

MEWUJUDKAN KEMAKMURAN DALAM DIRI

S

langsung “menggerakkan” peralihan acara. Itu berarti tamu paling VIP pun akan menanti suaranya untuk memandu kegiatan berikutnya. Itulah sebabnya ia selalu menyiapkan diri semaksimal mungkin agar terhindar dari kesalahan-kesalahan fatal yang bisa saja membuat malu daerahnya. “Di samping hal-hal nonteknis lainnya, yang paling utama adalah mempersiapkan diri secara mental dan fisik juga harus prima,” ujar istri Alwan Basri ini. Ia dan keempat rekan lainnya selalu mengikuti arahan dan aturan baik dari panitia lokal di NTB maupun dari pusat. “Yang namanya mengurus acara kenegaraan pastinya saya dan rekan lainnya harus mengikuti aturanaturan protokoler yang sudah ditentukan agar semua berjalan lancar,” katanya. Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Anjung ketika dapat mengantarkan acara dengan sukses. Dari seluruh perjalanannya dalam membawakan acara, bagi Anjung semuanya berkesan. “Ketika kami diminta untuk mengantarkan sebuah acara, baik itu acara kecil maupun besar dan semuanya berjalan lancar, maka ada kepuasan tersendiri yang kami rasakan,” katanya.

etiap orang berharap hidup ini penuh dengan kemakmuran, tapi banyak pula yang berpikir salah tentang kemakmuran, karena pemahaman kemakmuran hanya dipahami sebatas kekayaan atau uang saja. Kemakmuran sebenarnya adalah kondisi di mana terjadi keseimbangan antara kesehatan yang baik, hubungan yang harmonis, kelimpahan materi, dan pe­ ningkatan kualitas spiritual. Topik inilah yang di sampaikan Bunda Arsaningsih dalam SOUL Conference yang berlangsung di Hotel Mercure Harvestland Kuta Bali, pada tanggal 14-16 Mei 2015 de­ ngan tema “Prosperity Souluti­ on”. Acara seperti ini sudah ketiga kalinya diselenggarakan sebagai ajang silaturahmi,

Tepuk tangan yang sangat meriah senantiasa terdengar dari Ballroom Hotel Mercure Harvestland Kuta Bali, dipandu oleh MC Bpk. Arda yang heboh dan penuh semangat, sehingga membuat sesi demi sesi meng­ alir penuh gelak tawa dan keceriaan. Peserta SOUL Conference sangat antusias sekali mende­ ngar pemaparan yang disampaikan narasumber utama Bunda Arsaningsih, yang juga penulis buku Soul Reflection. Dengan gamblang beliau menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kemakmuran. Sese­orang bisa mengakses kemakmuran semesta bila kita sudah bisa melepaskan sadripu atau kualitas­kualitas negatif dalam diri kita, memiliki cinta kasih, rasa syukur dan mampu berserah secara total kepada Tuhan.

-Naniek I. Taufan

SEKOLAH PILOT BERKUALITAS LEBIH HEMAT DAN SINGKAT Tingginya biaya sekolah pilot di Indonesia, menimbulkan banyak persepsi dari para orangtua murid bahwa apabila sekolah pilot di dalam negeri saja sudah mahal apalagi kalau harus sekolah keluar negeri? Namun hal itu tidaklah benar. Apabila ditelusuri lebih lanjut, pada kenyataanya pendidikan sekolah pilot di Amerika biayanya ternyata lebih rendah dan durasi pendidikannya justru lebih singkat. Berikut ini faktor pendukungnya:

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Akomodasi

Tanpa Tes Penerimaan

Siswa di kelas

Siswa AAA

Terbang di California

Cockpit

Belajar terbang

Peserta dari Mexico memberi kesaksian tentang manfaat metode SOUL dalam hidupnya

dan menjadi agenda tahunan dari SOUL (Spirit Of Universal Life). Conference kali ini sangat me­r iah dengan dihadiri 152 peserta yang datang dari berbagai kota, yaitu Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang, Lombok, Portugal, Mexico dan tentunya peserta dari seluruh Bali. Memakai Polo shirt warna merah, para panitia menyambut kehadiran peserta SOUL Conference 2015 dengan gembira. Ternyata, warna merah merupakan simbol kemakmur­ an, sesuai dengan tema acara, kata panitia yang tentunya merupakan tim sukses penyelenggara acara akbar SOUL.

Hal ini juga dikuatkan oleh penjelasan Bapak Ustad Irawan Siswandi yang juga sebagai CEO SOUL (Spirit Of Universal Life), dengan pentingnya iman, taqwa dan tawakal untuk bisa mewujudkan rasa syukur dan berserah secara total kepada Tuhan. Materi SOUL Prosperity ini juga ditambahkan oleh dr. Rastho yang mengingatkan pentingnya metode SOUL Meter (Measurement Technique of Radiation) untuk mengukur semua kualitaskualitas negatif ataupun positif yang ada dalam diri kita. Pada acara SOUL Conference ini, keceriaan para peserta memeriahkan suasana. me­

Keceriaan para peserta di hari kedua SOUL Conference 2015

Narasumber Bunda Arsaningsih sedang memberi pemaparan tentang kemakmuran

reka diajak untuk menampilkan atraksi dan kreasi secara spontan sebagai ungkapan ke­gembiraan dan kebahagiaan. Masing-masing peserta dengan kelompoknya memberikan apresiasi kepada Bunda Arsa­ ningsih atas pembelajaran yang sudah diberikan selama ini. Baik beruapa SOUL Conference ataupun workshop SOUL Reflection, SOUL Meter, SOUL Creation, karena pembelajaran ini telah mampu menyentuh jiwa mereka dan membawa banyak jiwa tercerahkan. Me­ reka menjadi jiwa-jiwa dengan kualitas yang lebih bahagia, sehat dan penuh kemakmuran. Banyak peserta yang juga memberikan kesaksian­kesaksian atas hidup mereka

sebagai bukti manfaat metode SOUL yang telah mereka dapat­ kan. Mereka bercerita akan keajaiban atau mujizat Tuhan melalui tuntunan yang diajarkan oleh Bunda Arsaningsih lewat metode SOUL, sehingga membuat para peserta yang hadir menjadi terharu dan menangis. Kesaksian tersebut memperkuat keyakinan me­ reka untuk menjalani hidup dengan lebih ikhlas. SOUL Conference yang berlangsung selama 3 (tiga) hari berturut-turut diikuti secara antusias, dapat dilihat dari konsistensi kehadiran peserta dari awal hingga hari terakhir. Acara semakin meriah dengan berlimpahnya berbagai doorprize dari para sponsor, antara

5

lain: De Rose, Wellbeing Spa, Lady Marmalade Spa, Cleopatra Spa, Desainku, Mesari Land, PT BPR Bali Dananiaga, Celular World dan Operator TRI (3). Di akhir acara para peserta berfoto bersama dan menerima sertifikat dari SOUL. Banyak peserta yang mendaftar untuk mengikuti workshop yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Bali. Sebagai penutup, narasumber berpesan, “Penuhilah diri dengan rasa syukur serta keikhlasan dalam menjalani hidup, dan selalu berupaya semaksimal mungkin. Apabila ingin banyak menerima maka perbanyaklah pula memberi”. Mengakhiri acara Soul Con­ ference para peserta bernyanyi bersama Bunda Arsaningsih, disertai tepuk tangan yang sangat meriah, mereka juga saling berpelukan sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur. Acara dan workshop SOUL telah rutin diselenggarakan setiap bulannya baik di Jakarta maupun di Bali. Bagi yang berminat mengikuti workshop lebih lanjut dapat menghu­b ungi Soul Office ­J akarta: Gedung Sinar Kasih, Lantai 3, Jln. Dewi Sartika 136 D, Cawang Jakarta Timur, Tlp. (021) 29374104. Denpasar : Klinik Bersalin Anugrah, lantai 2, Jln. Gn. Sanghyang 118 D, Denpasar, Tlp. (0361) 419347, 0813-3863-3093. Website: www.soultc.com. –ten

Seluruh peserta SOUL Conference berfoto bersama

Peserta SOUL Conference mendapatkan surprise berupa dompet kemakmuran dengan dolar didalamnya


4

Inspirasi

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Yenti Garnasih

Doktor Pertama Indonesia Bidang Pencucian Uang Tak pernah bercita-cita menjadi pakar hukum apalagi menggeluti bidang tindak pidana pencucian uang (TPPU), tapi jalan hidup justru membawanya ke jalur ini. Bidang yang dikenal ‘keras’ dan kebanyakan digeluti oleh laki-laki, justru dimasuki oleh Yenti Garnasih, doktor tindak pidana pencucian uang pertama di Indonesia.Dulu, saat Yenti mempelajari bidang ini tahun 90-an, TPPU masih asing bagi dunia hukum kita.

N

amun seiring waktu, ketika perang terhadap korupsi semakin digencarkan, bidang TPPU pun mencuat. Apalagi karena hampir kebanyakan kasus korupsi berkembang menjadi perkara TPPU. Maka Yenti pun menjadi salah satu sosok paling dicari untuk dimintakan pendapatnya terhadap berbagai kasus yang terjadi. Tak heran kalau wajahnya pun menjadi sering kita lihat di layar kaca. Maklum, dalam beberapa waktu belakangan ini, pemberitaan terkait korupsi dan TPPU marak di media massa. Kiprah Yenti ini di dunia hukum Indonesia tentu saja mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Tak heran kalau saat Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama Pansel Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis (21/5), nama Yenti Garnasih termasuk salah satu di antara sembilan wanita terpilih. Wanita kelahiran Sukabumi 11 Ja­­nuari 1959 ini mengaku sempat terkejut. Apalagi kabar itu datang dari koleganya di kampus juga para awak media. Sementara pihak pemerintah belum memberitahukannya secara resmi. “Tapi memang, kemarin (Rabu 20/5), ada orang yang menghubungi saya. Menanyakan kesediaan saya untuk dimajukan kepada presiden terkait hal ini. Tapi orang yang menghubungi saya itu bukan orang pemerintah. Jadi yang mencalonkan saya kepada presiden ada­ lah orang luar,” jelas pakar hukum pidana ekonomi dan pencucian uang ini. Maklum saja kalau Yenti kaget karena baru Rabu dia mendapat kabar kalau namanya akan dicalonkan pada Presiden, namun keesokan harinya atau Kamis, namanya sudah langsung tercantum di antara sembilan nama para srikandi Pansel KPK. Presiden Jokowi sendiri mengumumkan hal itu di Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sesaat sebelum bertolak ke Malang, Kamis (21/5). Selain nama Yenti Garnasih, delapan nama lainnya adalah; Destry Darmayanti (ahli ekonomi, keuangan dan moneter) , Enny Nurbaningsih (pakar hukum tata negara), Harkristuti Harkrisnowo (pakar hukum pidana dan HAM), Betti S Alisjahbana (pakar IT dan manajemen), Supra Wimbarti (ahli psikologi SDM dan pendidikan) , Natalia Subagyo (ahli tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi), Diani Sadiawati (ahli hukum yang juga Direktur Analisa Peraturan Perundang-undangan Bappenas ) dan Meuthia Ganie-Rochman (ahli sosiologi korupsi dan modal sosial). Keputusan Jokowi ini sempat mengejutkan publik karena tidak pernah dalam sejarah pembentukan Pansel KPK, seluruh anggotanya adalah perempuan. Tak heran kalau

beragam komentar bermunculan. Banyak yang memuji langkah Jokowi ini, dan menganggap ini adalah ‘ujian bagi perempuan’ untuk menunjukkan kemampuannya dalam memilih para calon pimpinan KPK. Namun ada juga yang mengeritik Jokowi karena sama sekali tidak melibatkan para pria dalam Pansel tersebut. Pengeritik beranggapan, bidang KPK adalah bidang keras karenanya Pansel itu harusnya juga melibatkan laki-laki. Tapi pandangan bias gender ini, boleh dibilang hanya disuarakan segelintir orang. Kebanyakan justru mendukung pilihan ini, karena para wanita terpilih ini selain profesional di bidangnya juga independen atau lepas dari keterikatannya dengan Parpol. Margarito Kamis, pakar hukum tata negara, misalnya, adalah salah satu yang sangat mengapresiasi pilihan Jokowi. Atas putusan ini, Margarito mengaku, dirinya bukan hanya mengangkat satu jempol untuk Jokowi tapi dua jempol. “Bagus, bagus, saya dukung itu,” tegas dosen Universitas Negeri Khairun Ternate. MANTAN MODEL YANG KEPINCUT ‘BIDANG LANGKA’ Berbicara tentang Yenti dan kiprahnya saat ini mungkin sudah banyak yang mengulas. Namun tahukah Anda kalau Yenti dulunya tidak pernah bercita-cita menjadi ahli hukum, apalagi menjadi pakar tindak pidana pencucian uang. Dia justru menyukai seni dan ingin berkiprah di bidang entertainment. Menariknya lagi, di masa mudanya dia pernah menjadi peragawati yang berlenggak-lenggok di catwalk juga menjadi model iklan. Menurut Yenti, bapaknya adalah sosok yang membuat dirinya mencintai seni sejak kecil. Untuk itu dia diikutkan les seni tari, menyanyi bahkan modeling. Untuk pendidikan, bapaknya yang perwira tinggi di jajaran TNI, tegas dan disiplin. Mereka harus mendapat rangking di sekolah. Apalagi kemudian ayahnya menjadi Bupati Purworejo tahun 1975-85. “Beliau menginginkan kami menjadi anak-anak berprestasi. Katanya, sebagai anak bupati kami akan sangat disorot karena itu harus mempunyai prestasi. Jadi kami harus mendapat rangking di sekolah,” kata Yenti

yang merupakan anak sulung dari enam bersaudara ini. Kedisiplinan sang ayah ini membentuk Yenti menjadi sosok pekerja keras. Setamat SMA, ia sempat kuliah jurusan seni dan sastra di IKIP Yogyakarta, namun tidak sampai lulus, karena menikah. Suaminya yang juga seorang tentara yang dinasnya berpindahpindah membuatnya untuk sementara tidak bisa melanjutkan kuliah. Anehnya, setelah mendapat kesempatan kuliah, pilihannya justru berubah jauh, ia ingin mengambil jurusan hukum. Ternyata ada pengalaman pribadi yang membuatnya berkeinginan mempelajari hukum. Yenti akhirnya menamatkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor. Saat pindah ke Jakarta, Yenti direkrut sebagaitenaga ahli di Kementerian Lingkungan Hidup, ia

Yenti Garnasih

juga meneruskan pendidikan S2 dan S3 di Universitas Indonesia. Jalan hidup orang memang tidak ada yang tahu. ‘Perkenalan’ Yenti dengan bidang TPPU pun awalnya bukan atas kemauannya sendiri. Suatu ketika, ujar Yenti, dia membantu beberapa delegasi guru besar yang dikirim Departemen Luar Negeri dan Departemen Hukum untuk mengikuti seminar di luar negeri. Tapi ketika ada seminar tentang money laundering, justru Yenti lah yang disuruh ikut seminar itu. Maklum saja, money laundering atau TPPU di tahun 90-an sungguh

masih menjadi suatu yang asing bagi hukum Indonesia. “Mungkin delegasi berpikir, apa itu money laundering, kasih saja ke Yenti,” ujar wanita ini mengenang pengalamannya di tahun 1995. Kala itu, ucapnya, dia masih bergelar master, sementara anggota delegasi di antaranya doktor dan professor. Yenti yang masih yunior sedih, karena sama seperti para doktor dan profesor itu, sesungguhnya TPPU pun masih menjadi sesuatu yang asing baginya. Tapi apa mau dikata, karena telah ditunjuk, maka dia pun terpaksa ikut seminar tersebut. Tak dinyana, berawal dari keterpaksaan itu, dia justru merasa tertarik dengan bidang itu. Masa itu, kata Yenti, Indonesia belum memiliki UU TPPU. Tak heran kalau Indonesia menjadi sorotan dunia karena menjadi ‘surga’ bagi tindak pencucian uang. UU TPPU, melarang orang menikmati hasil kejahatan. Jadi agar tidak ada korupsi maka hasil korupsi bisa dikenakan money laundering. Baru pada 2002, Indonesia pun memiliki UU TPPU. Sebenarnya, tambah Yentilagi, sosok lain yang juga memberinya dorongan untuk memperdalam bidang ini adalah Prof Dr Erman Rajagukguk, Ketua Program Pascasarjana FH Universitas Indonesia. Setelah berjuang keras, akhirnyaYenti pun berhasil mempertahankan disertasinya dihadapan sembilan orang penguji pada 2003. Ia menyabet gelar Doktor di bidang TPPU, sekaligus doktor pertama di bidang ini, dengan nilai ‘sangat memuaskan’. Asal tahu saja, untuk memperdalam ilmu ini, dia bukan hanya harus terbang ke Amerika tapi juga mempelajari hampir 600 buku dan 300 putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait kasus TPPU. AS menjadi pilihan Yenti karena negeri ini yang pertama kali di dunia memiliki undang undang antipencucian uang. –Diana Runtu

Mandalika

Batu Akik dalam Air

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

21

Suasana pameran ramai dipenuhi pengunjung. Tiap orang fokus mencari untuk menemukan batu yang cocok dengan selera masing­masing. Ada yang memilih dan memilah, menerawang hingga menyinari batu dengan lampu senter kecil. Tawar menawar pun terdengar dari berbagai sudut stan. Itulah yang terlihat dalam pameran batu akik yang digelar di Mataram, 15 s.d. 20 Mei 2015.

K

eramaian kunjungan pameran ini bahkan terlihat hingga di hari terakhir. Minat terhadap batu akik yang akhir-akhir ini men-

jadi fenomena hampir di seluruh daerah di Indonesia, termasuk Mataram, Nusa Tenggara Barat, memang sangat tinggi. Ini tampak pula pada pameran yang dilangsungkan di Taman

Sangkareang Mataram. Batubatu dari berbagai jenis tampak menggiurkan terutama bagi para pencinta batu, memenuhi ruangruang stan pameran. Batu-batu tersebut diletakkan dalam wadahwadah berisi air. “Di dalam air, batu-batu ini lebih menarik karena akan terlihat jelas serat, motif dan warnanya. Pembeli pun lebih mudah memilihnya,” ujar Didi, salah seorang penjual batu akik di pameran ini. Bukan hanya orang dewasa dan orangtua, anak-anak pun terlihat antusias mengerubungi batu-batu yang dijual para peserta. Meski tampak tidak terlalu paham dengan batu-batu yang ada di depannya, anak-anak ini asyik membicarakan batu yang belum digosok menjadi perhiasan tersebut. Itulah salah satu keuni-

kan dalam fenomena batu akik. Dari yang “menggilai” batu akik, hingga yang tidak paham bahkan yang tidak suka sekali pun, juga ikut membicarakan batu akik dari sudut pandang masing-masing dan dari apa yang mereka tahu tentang fenomena batu akik. Anak-anak bahkan membicarakan batu akik dari apa yang mereka dengar tiap hari di lingkungan sekitarnya. “Rasanya sih saat ini meskipun orang tidak suka batu akik, pasti ikut membicarakannya dan saya belum pernah mendengar ada yang membenci batu akik,” ungkap Toto, salah seorang penggemar batu akik yang tengah berbelanja di pameran ini. Ungkapan Toto ini seperti menggambarkan bahwa fenomena batu akik telah masuk di hampir seluruh lapisan masyarakat. Agus misalnya, demi membahagiakan dua anaknya, Rani dan

Bayu yang masing-masing berusia 7 dan 9 tahun, ia menyempatkan diri mengantar buah hatinya itu untuk mengunjungi pameran. “Biar mereka (anaknya) senang, karena rupanya di sekolah mereka juga membicarakan tentang batu akik dengan kawan-kawannya,” kata Agus tertawa. Ia sendiri mengaku tidak menggilai batu akik namun merespons fenomena ini, untuk menghangatkan pergaulan dan obrolan semata. Bagi Agus, untuk lebih menggelorakan obrolan tentang batu akik dalam pergaulannya, ia juga memiliki beberapa akik. Untuk mendapatkan batu akik tersebut ia tidak sampai memburunya melainkan membeli sesuai kemampuan atau bahkan memakainya jika ada yang memberi. Respons orang tentang fenomena ini memang beragam. –Naniek I. Taufan

M uti a r a Ka la h Pa m o r de n g a n B a t u A kik Pameran yang dikemas dalam acara “Rembaq Gemstone Fair 2015” dipadati pengunjung yang kebanyakan laki-laki. Mereka menelusuri satu demi satu stan pameran yang jumlahnya tidak kurang dari 50 stan. Harga batu yang ditawarkan sangat bervariasi mulai dari Rp 20 ribu hingga mencapai ratusan juta rupiah. Tidak hanya batu yang telah digosok menjadi perhiasan yang dijual, melainkan juga batu-batu yang masih dalam bentuk aslinya. Selain sebagai tempat untuk bertransaksi batu akik, pameran juga menjadi ruang bagi para pencinta batu untuk bersilaturahim sembari membaca peluang pasar. Inilah yang sedang dijajaki oleh Hasan dan istrinya Hidayati yang sebelum fenomena batu hangat seperti ini, mereka seharihari berjualan pernak-pernik perhiasan dari mutiara, seperti bros, liontin dan lainnya. Namun, ketika batu mulai banyak diburu, mereka juga mencoba peruntun-

gan dengan berjualan batu akik di rumahnya di Pagutan Karang Genteng. “Sejak demam batu akik naik beberapa bulan terakhir ini, kami mencoba menjual batubatuan dan ternyata cukup laku,” ungkap Hidayati yang mengaku beberapa bulan terakhir ini, batubatuan dagangannya lebih laku dibandingkan dengan berbagai perhiasan mutiara yang dijual sebelumnya. Jutaan bahkan puluhan juta rupiah berhasil diraup para penjual batu akik dalam pameran yang menghadirkan berbagai batu yang berasal dari Nusa Tenggara Barat bahkan dari luar daerah ini. Didi misalnya, salah seorang peserta pameran yang lebih banyak menjual batu dalam bentuk asli (belum jadi perhiasan), mengaku bisa mengantongi jutaan rupiah sehari. Batu-batu yang dijualnya adalah batu yang diburunya sendiri. “Saya berburu batu, mencari sendiri hingga ke gunung-gunung,

Pameran batu akik di Mataram

kebun maupun sungai di Lombok bagian selatan,” ujar pria asal Puyung Lombok Tengah ini. Ada yang ia temukan dengan mudah namun ada pula yang harus digalinya dengan biaya yang lebih mahal. Tidak kurang dari 10 jenis batu yang dijual dalam stan miliknya di pameran tersebut. Didi mengaku sudah satu tahun terakhir berjualan batu di rumahnya di Puyung. Namun baru-baru inilah demam batu membuat batu-batu koleksi dan dagangannya laku keras. Pameran ini menjadi salah satu ajang baginya untuk menjual sekaligus memperkenalkan batu khas Lombok yang berhasil didapatnya di alam, seperti Batu Sarang Tawon. “Batu Sarang Tawon

yang masih asli (belum digosok) harganya jutaan rupiah,” kata Didi yang juga menyediakan jasa gosok batu di rumahnya. Berbagai jenis batu dan rangka cincin maupun liontin memenuhi stan dan menghiasi pameran ini. Ribuan perhiasan batu memanjakan mata para pencinta batu lengkap dengan rangka cincin maupun liontinnya. Pembeli hanya tinggal memilih batu dan rangka yang sesuai, maka dapat pulang dengan batu akik yang diburunya. Selain menjual batu, ada pula yang menjual senter kecil yang biasa dipakai untuk menyenter batu agar jelas terlihat serat dan motifnya. Ada pula yang menjual berbagai pernakpernik batu yang tak hanya

cincin, melainkan liontin, gelang dan lainnya. Namun sayang, di antara banyaknya penjual yang menjual batu yang masih dalam bentuk asli, tidak ada yang menjual jasa gosok batu. Hal ini yang membuat beberapa pengunjung sempat merasa tidak maksimal ketika memperoleh batu-batu incarannya. “Sayangnya tidak ada jasa penggosokan batu. Tadinya mau beli batu dan sekarang sudah dapat tidak bisa langsung dipakai,” kata Tarmiji, salah seorang pembeli dari Lombok Timur. Tarmiji juga pembeli lainnya berharap bahwa jika ada pameran batu lagi, bisa lengkap dengan jasa penggosokan batu. -Naniek I. Taufan


22

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Keris, Perpaduan Senjata dan Seni Pemandangan tidak biasa terjadi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5). Siang itu banyak tokoh berkumpul mengerubuti sejumlah benda-benda pusaka yang sedang dipamerkan. Ya ternyata siang itu DPR sedang menggelar Pameran Keris Pusaka Nusantara.Pesertanya adalah para tokoh negeri ini yang ternyata memiliki hobi ­m engoleksi keris pusaka dan bertuah.

I

ni baru pertama kali DPR menggelar acara pameran keris. Karena baru pertama kali, maka pesertanya pun belum terlalu banyak. Umumnya adalah hasil koleksi keris para politisi. Di antaranya adalah milik Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang memang sejak lama dikenal sebagai kolektor keris. Koleksi lainnya adalah milik Fadli Zon, Wakil Ketua DPR serta milik tokoh senior hukum dan HAM, Adnan Buyung Nasution. Fadli Zon mengatakan, acara pameran keris nusantara ini selain untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional juga untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Menurutnya, ada banyak tokoh Indonesia suka mengoleksi keris. “Bung Karno, Pangeran Diponegoro dan hampir semua pemimpin Indonesia memiliki keris. Keris tidak hanya sebagai senjata tapi juga perpaduan seni, pahat, ukir. Kami berharap dengan adanya pameran ini dapat membangkitkan semangat kebangkita nasional dimana keris merupakan warisan budaya yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang,” katanya. Setelah pameran keris, tambah politikus Partai Gerindra ini, bisa jadi nantinya akan ada pameran batu akik, pameran lukisan, filateli, dll, digelar di DPR. “Jadi intinya, kita ingin ada budaya di DPR,” ucap Fadli seraya berharap agar masyarakat ikut mengapresiasi keris. “Keris –keris ini adalah asli Indoensia. Kita harapkan ini diapresiasi oleh seluruh bangsa, dimulai dari anggota DPR,” katanya lagi. Fadli sendiri mengaku mulai berburu keris sejak tahun 90-an, saat masih mahasiswa. Awalnya, karena kerap melihat keris-keris Indonesia yang dibeli orang asing. Akhirnya, Fadli sendiri pun tergerak untuk membeli keris. Keris pertamanya dibeli seharga Rp 2 juta. “Keris asal Jawa ini berpamor beras tumpah. Keris ini tadinya mau dibeli oleh orang Malaysia, tapi saya beli terlebih dahulu,” ucapnya. Kini koleksi kerisnya sudah mencapai 1.200 –an yang diperolehnya lewat membeli dari sesama kolektor, lelang tapi ada juga yang diberikan. Menurutnya, ia memiliki keris dari hampir semua daerah di Indonesia. Bahkan ia juga memiliki salah satu keris paling langka yakni sabuk inten Sumatera dan Megantoro. Yang juga dipamerkan dalam ajang ini adalah koleksi Fadli Zon paling tua yakni, keris Singosari yang berasal dari abad ke-11. Ini adalah koleksinya pa­

ling tua. Keistimewaan keris ini adalah kelangkaannya. Kemungkinan, kata kurator pameran, Basuki Teguh, keriskeris ini tertinggal saat ada ekspansi ke Melayu. Teguh menambahkan, salah satu yang menarik dari keris ini adalah kesempurnaan detailnya. “Keris adalah warisan adiluhung, nenek moyang leluhur kita. Ini kita pamerkan sebagai penghargaan pada leluhur kita,” tambahnya. –Diana Runtu

Ketua DPR Setya Novanto memegang koleksi golok milik Tjahjo Kumolo

Tjahjo Kumolo Koleksi Pedang Gaib Koleksi lain yang tak kalah menariknya adalah milik Mendagri Tjahjo Kumolo. Mantan anggota DPR ini selain memamerkan pedang gaib dari Kerajaan Banten. Lebih menarik lagi, karena menurut Tjahjo, senjata itu diperolehnya secara gaib. “Saya memperolehnya secara gaib, ini sepasang. Konon dulu ini dipakai untuk hukuman mati. Selain pedang ini, saya juga memiliki beberapa keris zaman Mataram dan Majapahit,” ungkap Tjahjo yang memiliki koleksi benda-benda pusaka sekitar 60-an. Selain pedang gaib itu, ia juga memamerkan golok tanduk domba yang panjangnya 1,5 meter. Tjahjo memang sejak lama dikenal sebagai kolektor benda-benda pusaka tanah air. Dulu,

ia termasuk gemar berburu benda-benda itu. “Saya suka barang-barang seni zaman dulu. Ini semata-mata untuk menjaga identitas nilai budaya kita yang tinggi, berkarakter dan bertuah,” katanya. Lain lagi dengan koleksi Adnan Buyung Nasution, tokoh senior bidang hukum dan HAM. Ada enam keris yang dipamerkan Bang Buyung, begitu ia biasa disapa, salah satunya adalah keris bertahtakan batu mulia. Keris yang disebut Tilam Upih ini diperkirakan berasal dari abad ke-16. Keris lainnya adalah, Parungsari dari Madura, dan keris Nagabasuki yang juga berasal dari Madura pada abad ke-14.

Di bagian lain tokoh keris nasional, Haryo­ no Haryoguritno yang juga mantan ajudan Bung Karno mengatakan, sejarah tokoh bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keris. Mulai dari Presiden Sukarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, Jenderal Besar Sudirman, Mantan Wakil Presiden Adam Malik hingga Bung Tomo memiliki keris. “Para pejuang Indonesia terdahulu tidak jauh dari keris,” katanya. Keris Indonesia telah diakui oleh UNESCO sebagai ‘A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity’ atau ‘Karya Agung Lisan Tak Benda Warisan Kemanusiaan’pada 25 November 2005. –Diana Runtu

Sosialita

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

3

D.A. Mas Shintya Dewi

Doa dan Jaga Kualitas Tiap orang menentukan pilihan kariernya dengan alasan yang berbedabeda, entah itu urusan materi, passion maupun latar belakang pendidikan. Namun, apapun alasan yang mendasarinya, sebuah pilihan profesi sudah sepatutnya dijalani dengan hati dan loyalitas tinggi.

sepenuh hati. Mulai dari tugas rumah tangga hingga memantau perkembangan ketiga buah hatinya, sebab saat ini sang suami tercinta masih menjalankan tugasnya di Jakarta. Shintya yang menerapkan komunikasi terbuka dengan keluarga ini mengatakan dalam mendidik ia lebih banyak memberi contoh langsung. “ Khusus untuk tugas saya sebagai dokter anastesi, saya berikan penjelasan pada anak-anak, seperti apa dan bagaimana saya dalam menjalankan tugas,” ujar ibu dari I Gd. Mahesa Deva Setiawan, Kadek Nandine Anestya Deva dan Komang Sanrisa Kanaya Deva ini. Ibu muda ini juga menyebut soal mendidik, almarhumah ibunya adalah inspirasinya., “Ibu orangnya sangat friendly dan penyayang tapi juga tegas dan pekerja keras. Pokoknya

B

D.A. Mas Shintya Dewi

iron lady banget. Dari kecil kami dididik harus mandiri. Walau ada pembantu, kami punya tugas masingmasing, termasuk tiap selesai makan harus cuci piring sendiri. Karena didikan beliau juga, sekarang saya rasakan manfaatnya. Tidak punya pembantu dunia tidak kiamat kok,” tuturnya tergelak. Meski waktunya terkesan padat, namun ternyata dokter yang dikenal energik dan multitalenta ini masih bisa menjalankan hobinya di jagat fashion. Malah tidak tanggung-tanggung ia menjadikannya usaha. Begitu juga urusan kebersamaan dengan

esain pakaian berbahan endek untuk putra- putrinya. Bahkan kemeja endek buatannya menjadi busana favorit sang ayah yang Rektor Universitas Warmadewa itu. Meski mengaku diawal usahanya ia tidak tahu apa-apa, namun ia tidak pernah malu untuk bertanya kepada siapa saja yang ahli dan tahu. Ditambah pengalamannya, melihat banyak brand luar yang harganya cukup mahal tersebut, sebenarnya digarapnnya di Indonesia. Ini juga makin menguatkannya membuka bisnis. “Saya ingin membuat semua bisa mengenakan produk berkualitas

dr. Shintya dan keluarga

egitu juga dengan sosok yang satu ini, dr. D.A. Mas Shintya Dewi, Sp.AN. Sebagai dokter anastesi, saat kunjungan praoperasi dan pembiusan, pada kesempatan yang cukup sempit itu, ia akan menjawab pertanyaan cerdas para pasien, bahwa ia bekerja sesuai SOP. Selain itu, katanya yang tidak kalah penting adalah selalu mengajak dan mengingatkan untuk berdoa demi kelancaran semua proses. Dalam menjalankan tugasnya istri dari I Komang Setiawan, S.E., M.Si., ini bersyukur, sebab banyak pula calon pasien operasi, sebelumnya sudah aktif mencari informasi di internet dan media lainnya, sehingga mengetahui apa risiko dan efek samping pembiusan yang sangat mungkin dihadapi. “Namun, biasanya setelah meluangkan waktu ngobrol, pasien akhirnya menyerahkan kepada saya

tentang pilihan teknik anastesi yang terbaik dan teraman bagi mereka berdasarkan pertimbangan keahlian saya,” ujar putri ketiga pasutri Prof. dr. Dw. Putu Widjana, DAP.E.,Sp.,Par.K, dan Dewa Ayu Putu Suliasih (almh) yang memiliki prinsip bekerja lebih menjaga kualitas daripada kuantitas ini. Bicara pengalaman, Shintya yang juga tercatat sebagai dosen Fakultas Kedokteran Unud ini menyatakan, memiliki kesan sangat beragam. Diantaranya beberapa email ucapan terima kasih yang diterimanya dari pasien–pasien orang asing yang sudah kembali ke negaranya dan merasakan kepuasan atas proses operasi yang dijalaninya di Bali. DOKTER YANG MOMPRENEUR Ketika disinggung aktivtas lainnya sebaga istri dan seorang ibu. Shintya mengatakan dia pun menjalankannya dengan senang dan

dr. Shintya dan koleksi busana karyanya

dr. Shintya di ruang produksinya

anak-anak, ia juga mampu mengatur waktunya untuk bisa bersama anakanaknya. Karena sekeluarga mereka hobi baca, maka salah satu acara akhir pekan bersama adalah ke toko buku. Makanya, tidak heran jika ia disebut juga dengan mompreneur Soal usaha , Shintya yang saat remajanya aktif modeling mengaku memang punya mimpi memiliki usaha bidang fashion. Ia pun hadir dengan merek produk “KS”, yang artinya Komang (nama suami) dan Shintya. Baginya rezeki datang karena mereka berdua selalu kompak. “Model desain kami adalah simpel tapi elegan dan tidak akan ketinggalan tren,” tandasnya. Urusan desain memang dikerjakannya sendiri, agar taste yang ia inginkan utuh. Setelahnya baru ia serahkan pada tukang potong dan penjahit yang membantunya. Dulu, katanya ia lebih banyak mendesain busana kerja, yang banyak dipesan kolega terdekatnya dan dikenakannya sendiri. Selain itu ia juga mend-

tapi bisa diperoleh dengan harga lokal,“ katanya dan menjelaskan saat ini baru sanggup melayani pelanggannya yang ada di Bali. “Belum lama ini saya sempat mencoba mengirim beberapa potong pakaian ke Dublin di Irlanda. Kebetulan di sana ada famili yang punyai toko fashion . Semoga nanti ada kelanjutannya,” kata Shintya. Selanjutnya dengan semangat ia mengatakan ke depannya, mesti memiliki target dan berani membuka toko di luar dan mimpinya juga brand- nya ini bisa bersaing dengan brand dari luar. Ketika ditanyakan kembali apakah menjalankan semuanya itu ia tidak kerepotan. “Ketika kita berpikir bisa mengerjakannya maka semua akan lancar,” cetus perempuan yang ramah ini sambil mengatakan tidak terlalu merasakan ada kendala karena yang dilakoninya berdasarkan kesukaan. “Apalagi saya juga punya suami yang selalu mendukung dan menjadi partner diskusi yang asyik,” tegasnya. -ard


2

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Ekspresso

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Jangan hanya Pansel Ada dua berita nasional yang berkaitan dengan wanita di pertengahan Mei 2015. Pertama heboh mengenai “beras plastik” yang ditemukan pertama kali di Bekasi. Kedua, Presiden Jokowi menunjuk sembilan wanita menjadi Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK). Heboh “beras plastik” membuat pemerintah turun tangan. Dari hasil pemeriksaan awal diduga beras itu mengandung senyawa polyvinyl chloride dan senyawa-senyawa yang identik dengan pelentur bahan polyvinyl seperti BBP (Benzyl Butyl Phtalate), DEHP (Bis (2-ethylhexy phtalate), DINP (diisonony phtalate) yang dapat membahayakan tubuh manusia. Jika bahan-bahan yang biasa dipakai pembuat pipa dan kabel ini masuk perut manusia, tentu memberi dampak negatif bagi kesehatan manusia. Apapun dalihnya, beras yang dicampur bahan plastik tentu

tidak dapat dibenarkan. Beras merupakan bahan makanan pokok orang Indonesia sedangkan plastik bukan untuk dimakan. Pemerintah harus segera menyelesaikan polemik ini dan memberi jaminan agar masyarakat tenang, khususnya kaum wanita yang lebih banyak bertanggung jawab untuk urusan dapur. Sementara itu, Presiden Jokowi membuat kejutan deng a n m e n g u m u m k a n Pa n s e l KPK. Ada sembilan orang yang ditunjuk. Mereka adalah Destri Damayanti, ahli ekonomi keuangan dan moneter (Ketua merangkap anggota), Enny Nurbaningsih, pakar hukum tata negara (Wakil Ketua merangkap anggota), Harkristuti Harkrisnowo, pakar pidana hukum dan HAM (anggota), Betty Alisjahbana, ahli TI dan manajemen (anggota), Yenti Garnasih, ahli hukum pidana, ekonomi, dan pencucian uang (anggota), Supra Wimbarti, ahli psikologi SDM dan pendidikan (anggota), Natalia Subagyo, ahli tata kelola pemerintahan dan re-

formasi birokrasi (anggota), Diani Sadiawati, ahli hukum dan perundang-undangan (anggota), dan Meuthia Ganie Rochman, ahli sosiologi (anggota). Jokowi berharap komisioner yang terpilih nanti memiliki kemampuan yang lengkap, yang mampu memperkuat kelembagaan KPK dan yang mampu meningkatkan sinergi KPK dengan lembaga penegak hukum lainnya dalam rangka membangun sistem pencegahan dan pemberantasan korupsi. Banyak kalangan menilai pemilihan Pansel KPK yang semuanya wanita menjadi jalan tengah bagi Jokowi. Beban berat pun disandang Pansel KPK ini karena mereka harus memilih pimpinan KPK yang benar-benar mumpuni dan berkualitas. Kini masyarakat menunggu bagaimana kinerja para wanita profesional ini dalam menjaring dan memilih calon pimpinan KPK. Apakah akan ada kejutan dari Pansel KPK ini? Apakah akan ada wanita yang menjadi calon pimpinan KPK? Kita tungga saja. Saatnya wanita menunjukkan eksistensi dan kemampuan.

Misteri Tangisan Bayi Aku bersaudara enam orang dan hanya adikku yang bungsu berjenis kelamin laki-laki. Sejak kehadiran keponakanku yang berjenis kelamin laki-laki, kami sangat bergembira, terutama kakak dan iparku. Mereka melakukan kewajibannya semaksimal mungkin untuk membesarkan buah hatinya. Bagi mereka bayi menangis adalah hal yang wajar karana tangisan bayi merupakan ekspresi dari rasa haus, lapar, dingin, merasa tidak nyaman karena kencing atau buang air besar. Makin hari pertumbuhan ponakanku makin besar, namun yang paling membingungkan adalah tiap pukul 00.00 ia selalu menangis. Tentu saja hal tersebut membuat kakak dan iparku cemas serta gusar. Sebagai orangtua, kakakku berusaha menenangkan keponakanku dengan menimang-nimang supaya mau diam. Segala upaya dilakukan walaupun malam tak mengurungkan dia, harus menyanyi supaya bayinya bisa tenang, dan mau diam. Segala minyak bayi sudah dioleskan mulai dari minyak telon di kaki, minyak kayu putih di perut, masih juga menangis. Agar hal serupa tidak terulang lagi, sebagai keluarga yang baru punya momongan, iparku berta­

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

nya pada keluarga yang sudah duluan punya bayi. Atas petunjuk orang tersebut, di tempat mengubur ariarinya agar diberi sesajen berupa nasi kepel sehingga saudaranya tidak diganggu. Karena sudah melakukan apa yang disarankan, keluarga kakakku merasa tenang dan keponakan tidur seperti bayi yang lain. Namun, ini hanya bertahan beberapa hari. Mendatangi paranormal untuk mencari solusi juga sudah dilakukan. Petunjuk paranormal pun sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Kakakku sampai merasa trauma. Menjelang malam keluarganya itu sudah mulai dihantui rasa cemas. Jangan-jangan sebentar lagi bayinya akan menangis lagi. Apa yang di­ sangka selalu jadi kenyataan. Saking jengkel, sedih, marah, kecewa, takut bercampur jadi satu menghantui pikiran, iparku sudah menyiapkan strategi jika malam ini anaknya lagi menangis, dia akan melakukan apa saja yang ingin dilakukan.

Kali ini yang dia lakukan adalah mengambil kapak ke dapur, kemudian mendekati drum aspal yang tergeletak dekat dapur. Iparku memukul-mukul drum itu sekuat tenaga dengan kapak yang digenggam ditangannya. “Leak lamen layah ne bapanne amah. De anak cerik sing nawang apa ganggune!”(Setan jika lapar ini bapaknya makan. Jangan anak kecil yang tidak tahu apa-apa diganggu). Beberapa tetangga berdatangan sambil menasehati iparku agar menghentikan perbuatanya. Begitu drum itu sudah remuk dan keponakanku sudah tidak menangis lagi barulah iparku berhenti memukul drum bekas aspal yang tidak bersalah, telah menjadi sasaran kemarahan dan jengah yang luar biasa. Sejak amukan malam itu “OMG!” keponakanku tidak lagi menangis malam-malam. Ni Wayan Weti SMPN 2 Manggis

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 2.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Mozaik

Putu Wijaya

buruh

Pulang dari jalan-jalan pagi, Amat senyamsenyum. Ia duduk santak di teras rumah. Bu

Amat cemburu. “Katanya banyak orang cantik-cantik sekarang suka jalan-jalan pagi. Betul Pak?” “Apa?” “Bukan hanya orang tua-tua, perempuan cantik-cantik sekarang ikut-ikutan jalan-jalan pagi. Betul?” “Betul.” “Tadi ketemu siapa saja?” “Banyak.” “Cantik-cantik? “O, iya!” “Janda cantik yang baru pindahan itu ada?” “Apa lagi dia!” “Bapak ngobrol dengan dia?” “Iyalah kan tetangga.” “Lama?” “Bukan lama lagi, kelihatannya dia kesepian.” “Jadi pergi 3 jam dari subuh, sampai sarapan itu bukan olahraga, tapi ngobrol!” Amat ketawa. “Yah, bisa dibilang begitu.” Tiba-tiba terdengar bunyi pyangngng, cangkir jatuh. “Apa itu, Bu?” Tak dijawab. Amat terus berceloteh sambil senyam-senyum.. “Yah begitulan zamannya sekarang. Niatnya jalan-jalan, sport, akhirnya bergunjing. Buang-buang waktu saja. Untung isi percakapannya menarik. Kalau tidak, rugi. Meskipun dalihnya untuk lobbying, seperti kata pejabat dan konglomerat di lapangan golf. Ya kan, Bu?” Tak ada sahutan. Amat mengangkat pantatnya dari kursi, lalu masuk rumah. Ada cangkir pecah di lantai berbaur kopi. “Waduh, pasti ulah kucing kudisan itu lagi. Bu! Kucing brengsek itu bisa masuk lagi. Bilangin yang punya, sekali lagi piaraannya ngerusuhin tak buang ke sungai!” Amat terpaksa ngepel supaya lantai tidak lengket. Sementara keringatnya mulai membasahi keleknya ia terus berceloteh. “Tadi, Pak Baron, orang kaya itu juga ada di stadion.. Tapi dia sendiri tidak jalan-jalan. Ia mengantarkan anjing herdernya jalan-jalan. Tiap sebentar anjing itu berhenti lalu kencing dan berak. Pak Baron lalu mengeluarkan kertas tisu yang rupanya sudah disiapkan, lalu membungkus tahi anjingnya untuk kemudian dimasukkan ke kantong plastik yang juga sudah disiapkan.” Amat lalu ketawa. “Bapak jadi bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya yang mana tuannya? Pak Baron atau anjingnya?! Jadi rancu!” Sambil cekikikan, lalu Amat menyimpan alat pel di belakang. Ketika kembali, ia meneruskan celotehnya. “Pak Wayan, di rumahnya ada usaha kripik. Ia bos dengan buruh sekitar 30-an orang. Tapi di kantor tempatnya kerja, ia cuma satu di antara 50 buruh yang lain. Apa dia buruh atau majikan?” Amat ketawa lagi. “Banyak sekali yang bertentangan seperti siang dan malam dalam hidup ini. Sehingga kalau ada demo, seperti pada tanggal 1 Mei lalu, kita bingung. Pak Wayan itu termasuk kelompok pendemo atau kelompok yang di demo? Segalanya jadi rancu!” Tetap tak ada reaksi dari Bu Amat yang mendekam dalam kamar. Amat lalu kembali ke teras, melanjutkan lamunannya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Bu Amat langsung ke teras. Sebelum suaminya sempat buka mulut, ia berbisik lirih. “Yang punya lebih dari satu pekerjaan itu buruh. Majikan, hanya satu pekerjaan.” Amat menoleh. “Kita buruh atau majikan?” “Bapak buruh, karena di samping jalan-jalan bisa haha-hihi dengan perempuan cantik! Saya majikan, karena hanya menunggu suami!”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 850/ 25 - 31 Mei 2015

Tas Bathok Kelapa

Awalnya untuk Istri Tak ada istilah sampah bagi Anas Faisol (43), warga Desa Kali Glagah, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Pecahan bathok kelapa yang pantas disebut sampah ini, justru disulap menjadi barang berharga. Karena bathok kelapa diolah sedemikian rupa sehingga menjadi tas cantik tiada tara. Elegan dan memesona.

T

Faisol

as cantik produksi Faisol ini banyak digemari wanita masa kini. “Tas ini saya buat tidak hanya sekadar tempat bawaan. Dengan menggunakan tas ini, seseorang akan kelihatan lebih cantik.” jelas Faisol. Benar saja apa yang dikatakan bapak dua anak ini. Karena setiap tas memiliki desain yang berbeda. Disesuaikan dengan wanita penggunanya. Mulai dari bagaimana bentuk postur tubuhnya. Gemuk, kurus, tinggi, pendek, semua ada ukurannya. Selain itu, wajah dan warna kulit juga menjadikan pertimbangan. Bentuk wajah dan

warna kulit ini menentukan pilihan warna yang cocok. “Kalau orangnya putih, warna apa saja saya kira cocok. Tapi kalau orangnya hitam, mending tas yang dipilih warnanya agak gelap. Jangan warna yang mencolok. Kecuali baju yang dikenakan motif ramai atau kembang-kembang, itu baru masuk. Tapi kalau polos, mending agak gelap, seperti warna coklat, abu-abu dan merah tua, “ ujar Faisol. Sekilas, memang tidak nampak bahwa tas produksi buatan Faisol terbuat dari bahan dasar bathok kelapa. Orang mengira terbuat dari kulit badak atau kulit rusa. Selain itu, jauh dari kesan murahan. Maklum, karena desain dan corak yang dihasilkan, sangat halus. Kalau tidak dipegang dan dilihat dari jarak dekat, tas buatan Faisol ini juga mirip dibuat dari kulit buaya. Gantungan tas yang digunakan, tidak kalah menariknya. Terkesan seperti kayu jati dan stigi. Padahal, itu murni dibuat dari kayu glugu. Pohon kelapa yang tidak digunakan. Sedangkan yang berbentuk tali, Faisol mengaku produk buatan pabrik. “Ini masih proses. Ke depan saya ingin semua produk tas saya khusus berbahan kelapa,” ujar lelaki kreatif ini. Diakui Faisol, usahanya yang baru digeluti 3 tahun ini masih belum maksimal. Masih banyak yang harus disesuaikan. Terutama pada

Tas Bathok kelapa yang cantik

trend dan karakter seseorang. Kendati demikian, Faisol mengaku sudah sangat bersyukur. Karena produk yang dihasilkan, sudah memilik pelanggan tetap. Dalam menjalankan binisnya ini, Faisol dibantu dengan puluhan karyawan. Ada laki-laki dan ada perempuan. Tapi mayoritas perempuan. Dalam sehari Faisol mampu mengahasilkan 350 buah tas jadi dari berbagai

macam ukuran. Mulai dari yang kecil, sedang, dan besar. SERAT ALAMI YANG INDAH Menurut Faisol, sukses itu tidak ada yang kebetulan. Tetapi rencana yang dibuktikan dengan niat sungguh-sungguh. Begitu juga dengan usaha Faisol ini. Waktu itu, dia terinspirasi dengan tumpukan

23

bathok kelapa yang berserakan di pasar. Tak lama kemudian, bathok kelapa itu dikumpulkan oleh tukang kebersihan lalu dibakar. Dari tukang sapu itu, ada satu keping sampah bathok kelapa yang terjatuh tepat di depan Faisol. Iseng-iseng, kemudian bathok kelapa itu diambilnya. Sejenak bathok kelapa itu dibolak-balik dan lihatnya. Ternyata, dari pengamatan Faisol, bathok kelapa memiliki serat alami yang indah. “Seratnya itu jelas. Apalagi kalau digosok halus, seratnya akan terlihat timbul dan alami,” ungkapnya. Setiba di rumah, Faisol kembali berpikir. Bathok kelapa itu, cocoknya buat apa? Sehingga tercetus ide buat tas. Saat itu juga, Faisol mengumpulkan bathok kelapa sendiri. Ia ambil dari beberapa penjual kelapa yang ada di pasar. Setelah terkumpul, Faisol melakukan eksperimen sendiri. Bathok kelapa itu dibersihkan dan kemudian dilem. Hasilnya, sangat mengejutnya. Ternyata tas buatannya itu terlihat alami dan memesona. “Awalnya ya dibuat istri saya. Tapi setelah teman-temannya tahu, minta dibuatkan,” kata Faisol. Dari situlah, awal usaha Faisol ini dimulai. Sedikit-demi sedikit dan kini sudah mulai banyak pelanggan. Pelanggan juga bervariasi, ada yang kelas bawah, menengah, dan atas. Untuk harganya sendiri, juga bervariatif mulai dari harga Rp 35 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Tergantung tingkat kesulitan dan lamanya pekerjaan. “Nggak mahal kok. Yang penting sama-sama jalan,” tegas Faisol. -Khoirul Abadi

Minum Kopi Tumbuk di Warung Modern

Kalangan menengah ke bawah mempunyai kebiasaan mencari tempat yang cocok dengan uang bawaannya. Jadi apabila mereka ingin menikmati secangkir kopi panas, tentu warung kopi sederhanalah yang dicarinya. Membuka usaha warung kopi seperti menyambut datangnya keuntungan. Saat ini di Ponorogo menjamur warung kopi, mulai dari warung kopi sederhana sampai banyaknya bermunculan kafe atau kedai kopi modern. Tentunya dengan target konsumen mereka yang berbeda. Harga secangkir kopi yang ditawarkan pun tidak sama. Kedai kopi modern biasanya menjual secangkir antara Rp 10 ribu sampai 20 ribu sedangkan warung kopi sederhana menjual secangkir kopi antara Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Peluang bisnis warung kopi ini akhirnya dilirik Ari Bilowo karena potensi keuntungan dari hobi orang Ponorogo menikmati kopi sambil

bercengkrama. Jengah menjadi kontraktor, dia memutuskan banting setir mengelola bisnis sendiri. Bisnis yang ditekuninya lumayan cepat berkembang. Ada dua kedai miliknya yang ada di wilayah kota Ponorogo yaitu warung kopi Oposisi di Jl. Pramuka dan warung kopi Partikelir di Jl. Parang Menang. Kopi yang dijual sebenarnya kopi tumbuk biasa, namun konsep warung kopinya ternyata menarik orang untuk berlama-lama berada di warungnya. “Saya sengaja mendesain warung seperti layaknya berada di sebuah rumah Joglo (rumah khas Jawa-red) ditambah dengan fasilitas wi-fi serta TV kabel. Orang datang tidak hanya untuk minum kopi namun juga untuk keperluan lain, jadi saya buat konsep seperti ini,” ujarnya. Dia tidak malu mengaku meniru gaya warkop konvensional. Namun, tetap ingin memasukkan unsur modern dalam bisnis kedai kopi miliknya. Untuk menarik perhatian anak muda, warung kopi miliknya dibuat modern dan nyaman untuk kongkow. “Konsepnya kopi-kopi nusantara, ada menu warkopnya juga seperti, gorengan. Tetapi agar beda, gorengannya seperti risol dibuat jadi modern, jadi lebih menarik,” imbuhnya Untuk membangun bisnis

warung kopi, dia mengaku menghabiskan modal sekitar Rp 60 juta. “Memang lumayan besar modal yang saya keluarkan, karena untuk luas tanah yang saya butuhkan sangat besar, agar bisa menampung pelanggan banyak, belum lagi untuk membeli bangunan Joglo harganya relatif mahal karena termasuk barang antik,” ungkapnya. Ari mengaku tidak menargetkan mendapat hasil yang besar, yang penting walau kecil tapi kalau dikalkulasi menjadi banyak. “Tiap hari sekitar Rp 200 sampai 300 ribu, kalau dikalikan 30 hari bisa mencapai jutaan, mengalir sajalah, yang penting bisa berjalan dan lancar tidak gulung tikar,” ucapnya. Dengan menjamurnya warung kopi yang ada di kota Ponorogo membuat Ari Bilowo ingin membuka cabang lagi namun dengan konsep yang modern. “Ingin buka lagi, tapi konsepnya berbeda, lebih modern, sehingga mereka yang kelas atas juga bisa menikmati kopi di warung kopi sesuai dengan gaya hidup mereka,” terangnya. -Dinar P. Perdana


24

What’s Up

Edisi 850/ 25 - 31 mei 2015

Bersinergi Wujudkan Masyarakat Gemar Membaca Budaya membaca yang tinggi diawali dari tumbuhnya minat baca. Kemudian menjadi gemar dan cinta membaca. Akhirnya memelihara dan mengembangkan minat baca tersebut menjadi suatu yang bermanfaat. Minimal bagi diri pribadi untuk menambah pengetahuan, memperoleh keterampilan, dan memperluas wawasan. Oleh karena itu, upaya terus menggugah minat baca masyarakat pun dilaksanakan secara berkelanjutan oleh pemerintah, melalui berbagai program Perpustakaan Daerah.

M

enurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip (Bapusip) Provinsi Bali, Luh Putu Haryani, S.E., M.M., hal tersebut, membawa konsekuensi bagi perpustakaan daerah yang dituntut lebih siap dan profesional menyediakan jasa layanannya Apalagi dengan adanya Hari Buku Nasional, Hari Kunjungan Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca serta Gerakan Membaca Nasional. Salah satu langkah membudayakan gemar membaca sedini mungkin pada anak-anak dengan kondisi yang kondusif, harmonis dan komunikatif adalah melalui berbagai lomba. “Tahun ini kami kembali menggelar lomba bercerita tingkat SD, Gending Bali (Sinom, Pangkur) tingkat SMP, dan baca puisi Bali modern tingkat SMA se-Bali,” ujar Haryani. Pada lomba yang digelar selama tiga hari, yakni, 19 s.d. 21 Mei 2015 itu, Ia melihat anak-anak antusias mengikutinya. Semangat mereka sangat tinggi dalam menunjukkan

Luh Putu Haryani, S.E., M.M.

kebolehan di setiap jenis lomba. Dengan program lomba tersebut, mereka juga ditanamkan kecintaan pada budaya daerahnya. “Selain itu juga ada lomba lainnya berupa lomba

pustakawan, perpustakaan sekolah hingga perpustakaan desa. Kemudian mulai tahun ini kami menyelenggarakan pembinaan dan lanjut lomba gugus perpustakaan,” terangnya. Ia berharap dengan berbagai lomba yang telah dilaksanakan akan memberikan manfaat dan peran maksimal dalam upaya meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat sejak dini juga membudayakan penghargaan terhadap orang yang gemar membaca. Agenda lainnya untuk terus meningkatkan minat baca, Perpustakaan juga melakukan pembinaan ke sekolah- sekolah mulai SD, SMP hingga SMA. Juga ke desa-desa dengan perpustakaan keliling bagi masyarakat yang jauh dari perpustakaan umum. “Di sini perpustakaan juga menggugah kesadaran masyarakat di desa tentang pentingnya membaca, melalui kegiatan ceramah dan pertemuan dengan masyarakat di sana. Sebab, jika setiap komponen masyarakat ikut terlibat secara terus menerus,maka kita akan semakin gemar membaca dan pada akhirnya kualitas SDM meningkat, dan semua lapisan siap dengan globalisasi termasuk kedatangan MEA,” katanya. “Selain itu kami juga senantiasa meningkatkan fasilitas, sarana dan prasarana yang ada, memperbanyak koleksi perpustakaan. Dan. tentunya sesuai dengan kemajuan teknologi

Tips mengukur minat baca, dengan ­menjawab pertanyaan berikut: wBerapa

menit sehari kita habiskan untuk membaca? wBerapa banyak buku yang pernah kita baca? wBerapa buku yang kita miliki atau koleksi? wApakah setiap hari kita membaca berita dari surat kabar atau dari media elektronik lainnya? wApakah kita pernah mengisi waktu kosong kita dengan membaca? wBerapa sering kita mengunjungi perpustakaan?

juga menyedakan E. library, serta tak ketinggalan menyediakan kemudahan akses informasi melalui internet lengkap dengan free wifi,” cetusnya sembari menyampaikan kalau pembuatan kartu aggota perpustakaan gratis. KEMBANGKAN KEBIASAAN MEMBACA Untuk menjadikan masyarakat Bali khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sebagai masyarakat yang gemar membaca atau, tumbuhnya kebiasaan membaca masyarakar (reading habit society), Badan Perpustakaan Provinsi sebagai jalur instansi pembina sekaligus sebagai salah satu pusat informasi tidak pernah berhenti melakukan berbagai upaya. Berbagai gerakan minat baca di sekolah-sekolah maupun di desadesa sudah menjadi agenda utama perpustakaan daerah. Namun, Haryani mengharapakan alangkah baiknya jika dilengkapi pula dengan kesediaaan langkah secara pribadi

dilingkungan rumah tangga atau keluarga Selain itu, ia tetap mengimbau kepada para orangtua untuk mengembangkan kebiasaan membaca dalam keluarga terutama anak-anak. Tentunya dengan menyediakan bahan bacaan yang cukup dalam keluarga, mendorong anak untuk gemar membaca, membiasakan berkunjung ke toko buku dan jangan lupa datang perpustakaan. Sebaiknya memang upaya mewujudkan masyarakat gemar membaca harus dilakukan secara bersinergi dan terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun organsasi kemasyarakatan. Dengan demikian hak yang seluas-luasnya untuk mengaskses informasi, memperoleh layanan, dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan dipastikan akan diperoleh oleh seluruh anggota masyarakat seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang Perpustakaan (UU No. 43/2007). -Sri Ardhini


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 850 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu